EPILEPSI

I.

Definisi Epilepsi adalah suatu gangguan serebral kronik dengan berbagai macam etiologi, yang

dirincikan oleh timbulnya serangan paroksismal yang berkala, akibat lepas muatan listrik neuronneuron serebral secara eksesif. Serangan epileptik adalah gejala yang timbul secara tiba-tiba dan menghilang secara tibatiba pula. Serangan yang hanya bangkit sekali saja tidak boleh dianggap sebagai serangan epileptic, tetapi serangan yang timbul secara berkala pada waktu-waktu tertentu barulah dapat dijuluki serangan epileptik. Dalam bahasa Inggris digunakan istilah seizure Konvulsi atau dalam bahasa Inggris convulsion berarti gerakan otot tonik klonik yang bangkit secara involuntar. Istilah kejang dapat digunakan sebagai sinonim dari konvulsi. Tetapi baik kejang atau konvulsi tidak boleh digunakan sebagai sinonim dari serangan epileptik, oleh karena serangan epileptik tidak selamanya bersifat motorik.
II.

Klasifikasi Klasifikasi menurut Commission on classification and terminology of the international

Leauge against Epilepsy: A. Sawan parsial (fokal, lokal) A. 1. Sawan parsial sederhana (kesadaran tidak terganggu)
1. Dengan gejala motorik a. Fokal motorik tidak menjalar b. Fokal motorik menjalar (epilepsy Jackson) c. Versif d. Postural e. Disertai gangguan fonasi 2. Dengan gejala somatosensoris atau sensoris spesial (halusianasi sederhana) a. Somatosensoris b. Visual c. Auditoris d. Olfaktoris e. Gustatoris f. Vertigo

klonik) 1. 3. Dengan penurunan kesadaran sejak awitan a. Sawan umum (konvulsif atau non-konvulsif) B. Dengan gejala atau tanda gangguan saraf otonom (sensasi epigastrium. berkeringat. 2. B. Gangguan tonus yang lebihjelas . Sawan parsial sederhana yang menjadi bangkitan parsial kompleks lalu berkembang menjadi bangkitan umum. Dengan automatisme A. Awitan (serangan) parsial sederhana diikuti penurunan kesadaran a. Sawan parsial yang berkembang menjadi bangkitan umum (tonik-klonik. Hanya penurunan kesadaran b. Sawan Parsial kompleks (disertai gangguan kesadaran) 1. Dengan automatisme 2. memberat.1. Dengan komponen autonom kondisi b hingga f dapat tersendiri atau dalam kombinasi B. pucat. Sawan pafsial kompleks (B) yang berkembang menjadi bangkitan umum 3. piloereksi. Disfasia b. Sawan lena (absence) a.1. Dengan gejala parsial sederhana A1-A4 b. dilatasi pupil) 4.3. Afektif e. Dengan gejala psikik (gangguan fungsi luhur) a. Dengan komponen atonik d. Lena tidak khas (atypical absence). Dengan automatisme f. Hanya dengan penurunan kesadaran b. Sawan parsial sederhana (A) yang berkembang menjadi bangkitan umum 2.2. Ilusi f. tonik. Dengan komponen klonik ringan c.1. Kognitif d. Dengan komponen tonik e. dapat disertai a. Dismnesia c. Halusinasi kompleks (berstruktur) A.

Epilepsi fokal dengan gejala tunggal sederhana . Patofisiologi Dasar serangan epilepsi ialah gangguan fungsi neuron-neuron otak dan transmisi pada sinaps. Sawan atonik C. Konvulsi febril 2.Automatismus . Epilepsi umum: a.Motorik . dan Cl. Epilepsi neonatal III. sedangkan keadaan sebaliknya .b.Sensorik . Awitan dan handekan yang tidak mendadak B. Grand mal c. Tiap sel hidup.3. Sawan klonik B.Fenomen-fenomen psikik 3. Sawan tonik klonik B. Petit mal b.Spasmus infantile . Sawan tidak tergolongkan Klasifikasi menurut simptomatologi adalah: 1.Autonomik b. Sawan Tonik B. yakni membrane sel mudah dilalui oleh ion K dari ruang ekstraseluler ke intraseluler dan kurang sekali oleh ion Ca. sehingga di dalam sel terdapat kosentrasi tinggi ion K dan kosentrasi rendah ion Ca.5. Epilepsi parsial: a. Na.2. Potensial membrane neuron bergantung pada permeabilitas selektif membrane neuron.Epilepsi mioklonik anak-anak d. Sawan mioklonik. kejang mioklonik sekali atau berulang-ulang B. Epilepsi mioklonik . termasuk neuron-neuron otak mempunyai kegiatan listrik yang disebabkan oleh adanya potensial membrane sel.6. Na dan Cl. Epilepsi parsial dengan gejala kompleks majemuk .4.

tidak teratur dan terkendali. membrane neuron mempunyai potensial listrik tertentu dan berada dalam keadaan polarisasi. Hal ini misalnya terjadi dalam keadaan fisiologik apabila potensial aksi tiba di neuron. Influks Ca akan mencetuskan letupan depolarisasi membrane dan lepas muatan listrik berlebihan. Factor genetik. Perbedaan konsentrasi ion-ion inilah yang menimbulkan potensial membran. ada beberapa penyakit yang bersifat herediter yang disertai bangkitan kejang seperti sklerosis tuberose. Ujung terminal neuron-neuron berhubungan dengan dendrite-dendrit dan badan-badan neuron yang lain. Jika hasil pengaruh kedua jenis lepas muatan listrik dan terjadi transmisi impuls atau rangsang. hipoglikemia. membentuk sinaps dan merubah polarisasi membran neuron berikutnya. angiomatosis ensefalotrigeminal. Suatu sifat khas serangan epilepsy ialah bahwa beberapa saat serangan berhenti akibat pengaruh proses inhibisi. Keadaan lain yang dapat menyebabkan suatu serangan epilepsy terhenti ialah kelelahan neuron-neuron akibat habisnya zat-zat yang penting untuk fungsi otak IV.menerus berlepasmuatan memegang peranan. Selain itu juga system-sistem inhibisi pra dan pasca sinaptik yang menjamin agar neuron-neuron tidak terus. diantaranya keadaan patologik. dapat merubah atau mengganggu fungsi membaran neuron sehingga membrane mudah dilampaui oleh ion Ca dan Na dari ruangan ekstra ke intra seluler. hipoparatiroidisme. Aksi potensial akan mencetuskan depolarisasi membrane neuron dan seluruh sel akan melepas muatan listrik. Diantara neurotransmitter. Ada dua jenis neurotransmitter. Oleh berbagai factor. Etiologi 1. 3.aspartat dan asetilkolin sedangkan neurotransmitter inhibisi yang terkenal ialah gamma amino butyric acid (GABA) dan glisin. Lepas muatan listrik demikian oleh sejumlah besar neuron secara sinkron merupakan dasar suatu serangan epilepsy. Idiopatik 2. neurofibromatosis. fenilketonuria. Di duga inhibisi ini adalah pengaruh neuron-neuron sekitar sarang epileptic.terdapat diruang ekstraseluler. pada kejang demem dan breath holding spells . Dalam keadaan istirahat.neurotransmitter eksitasi dapat disebut glutamate. Factor herediter. yakni neurotransmitter eksitasi yang memudahkan depolarisasi atau lepas muatan listrik dan neurotransmitter inhibisi yang menimbulkan hiperpolarisasi sehingga sel neuron lebih stabil dan tidak mudah melepaskan listrik.

Gangguan metabolik. infeksi d. alcohol f. atropi. hematoma subdural 8. malformasi. V. hipoglikemia. fotosensitif VI.dan lain-lain. obat-obat tertentu e. Faktor Pencetus Faktor-faktor pencetusnya dapat berupa : a. stress emosional c.toxoplasmosis 7. kontusio serebri. Trauma. kuarng tidur b. Kelainan pembuluh darah. fenotiazin.gangguan keseimbangan hormone. Diagnosis 1. hiponatremia 6. Neoplasma otak dan selaputnya 9. porensefali. penyakit kolagen 10. agenesis korpus kalosum 5. Keracunan. Anamnesa / Aloanamnesa Epilepsi umum: Major : Grand mal (meliputi 75% kasus epilepsi) meliputi tipe primer dan sekunder. Manifestasi klinik: kedua golongan epilepsi grand mal tersebut sama. timbale (Pb). penyakit darah. Lain-lain.air 11.4. degenerasi serebral. Pada epilepsi grand mal simtomatik selalu didahului aura yang memberi manifestasi sesuai dengan letak fokus . Kelainan congenital otak. Epilesi grand mal ditandai dengan hilang kesadaran dan bangkitan tonik-tonik. radang yang disebabkan bakteri atau virus pada otak dan selaputnya. Infeksi. kapur barus. perubahan hormonal g. hipokalsemia. hematoma subaraknoid. perbedaan terletak pada ada tidaknya aura yaitu gejala pendahulu atau preiktal sebelum serangan kejang-kejang. terlalu lelah h.

midriasis pupil. mengecap sesuatu. Bangkitan terjadi demikian cepatnya sehingga sukar diketahui apakah ada kehilangan kesadaran atau tidak.epileptogen pada permukaan otak. Kejang tonik-klonik berlangsung 2 -. Meliputi kira-kira 3 -. Minor: Elipesi petit mal yang sering disebut pykno epilepsi ialah epilepsi umum yang idiopatik. Bangkitan dapat berlangsung beberapa ratus kali dalam sehari. . Ketiga jenis bangkitan ini (petit mal. Kejang tonik ini kemudian disusul dengan kejang klonik yang seolah-olah mengguncang-guncang dan membanting-banting tubuh si sakit ke tanah. otot-otot berkontraksi sangat hebat. Kemudian penderita mengalami kejang tonik. lengan fleksi dan tungkai ekstensi. refleks cahaya negatif. Setelah sadar biasanya penderita dapat melanjutkan aktivitas semula. Bangkitan mioklonus Bangkitan berupa gerakan involunter misalnya anggukan kepala.3 menit. Bangkitan sendiri dimulai dengan hilang kesadaran sehingga aktivitas penderita terhenti.5 tahun dengan taraf kecerdasan yang normal. Aura dapat berupa perasaan tidak enak. melihat sesuatu. Bangkitan berupa kehilangan kelola sikap tubuh karena menurunnya tonus otot dengan tiba-tiba dan cepat sehingga penderita jatuh atau mencari pegangan dan kemudian dapat berdiri kembali. Pola EEG khas berupa gelombang runcing dan lambat dengan frekuensi 3 per detik. mencium bau-bauan tak enak. harus murni dan hilang kesadaran hanya beberapa detik. Bangkitan ini sangat peka terhadap rangsang sensorik. mudah ditanggulangi hanya dengan satu macam obat. Bangkitan petit mal yang tak ditanggulangi 50% akan menjadi grand mal. termenung dan kalau tak diganggu akan tidur beberapa jam. sakit kepala dan sebagainya. Selain kejang-kejang terlihat aktivitas vegetatif seperti berkeringat. Umumnya timbul pada anak sebelum pubertas (4-5 tahun). Frekuensi bangkitan dapat setiap jam sampai setahun sekali. Kejang berhenti secara berangsur-angsur dan penderita dalam keadaan stupor sampai koma. Sikap berdiri atau duduk sering kali masih dapat dipertahankan Kadang-kadang terlihat gerakan alis. Petit mal yang tidak akan timbul lagi pada usia dewasa dapat diramalkan berdasarkan 4 ciri: Timbul pada usia 4 -.4% dari kasus epilepsi. Kira-kira 4—5 menit kemudian penderita bangun. mioklonus dan akinetik) dapat terjadi pada seorang penderita dan disebut trias Lennox-Gastaut. mulut berbuih dan sianosis. Bangkitan berupa kehilangan kesadaran yang berlangsung tak lebih dari 10 detik. kelopak dan bola mata. penderita terjatuh. Bangkitan akinetik. mendengar suara gemuruh. fleksi lengan yang teijadi berulang-ulang. Udara paru-paru terdorong keluar dengan deras sehingga terdengar jeritan yang dinamakan jeritan epilepsi.

Jenis epilepsi ini juga dikenal sebagai salaamspasm atau sindroma West. namun selalu dihubungkan dengan kerusakan otak yang luas seperti proses degeneratif. halusinasi dengan automatisme membaca. tungkai tertarik ke atas. kadang-kadang disertai teriakan atau tangisan. Manifestasi klinik ialah sebagai berikut: Kesadaran hilang sejenak. Timbul pada bayi 3 -. Jarang terlihat pada usia sebelum 10 tahun. . infeksi dan gangguan pertumbuhan. Penderita seringkali dapat melihat sendiri gerakan otot yang misalnya dimulai pada ujung jari tangan. sianosis dan berkeringat. lengan ekstensi. dalam keadaan hilang kesadaran ini penderita masuk ke alam pikiran antara sadar dan mimpi (twilight state). Bangkitan kejang pada salah satu atau sebagian anggota badan tanpa disertai dengan hilang kesadaran. Manifestasi yang kompleks ini bersifat psikomotorik. miosis atau midriasis pupil. gangguan akibat trauma. Manifestasi klinik fokalitas ini sangat kompleks karena fokus epileptogennya terletak di lobus temporalis dan bagian otak ini meliputi kawasan pengecap. pendengar. Bangkitan psikik berupa halusinasi dan bangkitan motorik la-zimnya berupa automatisme. halusinasi dengan automatisme penglihatan. Fokus epileptogen terletak di korteks motorik. nyeri pada salah satu bagian tubuh. Manifestasi klinik ini disebut Jacksonian marche Epilepsi parsial ( 20% dari seluruh kasus epilepsi).6 bulan dan lebih sering pada anak laki-laki. Penyebab yang pasti belum diketahui. perasaan posisi abnormal atau perasaan kehilangan salah satu anggota badan. penghidu dan kawasan asosiatif antara ketiga indra tersebut dengan kawasan penglihatan. Bangkitan somato sensorik dengan fokus terletak di gyrus post centralis memberi gejala kesemutan. Bangkitan sensorik Bangkitan yang terjadi tergantung dari letak fokus epileptogen pada koteks sensorik. dalam keadaan ini timbul gejala fokalisasi yang terdiri dari halusinasi dan automatisme yang berlangsung beberapa detik sampai beberapajam. Epilepsi lobus temporalis. Aktivitas listrik pada bangkitan ini dapat menyebar ke neron sekitarnya dan dapat mencapai korteks motorik sehingga terjadi kejang-kejang. Halusinasi dan automatisme yang mungkin timbul : Halusinasi dengan automatisme pengecap. pendengaran atau perasaan aneh. Bangkitan dapat berupa gerakan kepala kedepan atau keatas. kemudian ke otot lengan bawah dan akhirnya seluruh lengan. Memperlihatkan gejala fokalitas yang khas sekali. dan oleh karena itu epilepsi jenis ini dulu disebut epilepsi psikomotor.Spasme infantil. Bangkitan motorik.

hiponatremia. fundus okuli mungkin menunjukkan tanda-tanda korio renitis. kalsium. leukemia yang menyerang otak. Hemangioma pada muka dapat menjadi tanda adanya penyakit Sturge-Weber. ureum dalam darah. bilirubin. sklerosis tuberosa. diukur kelilingnya. dan adenoma seboseum pada muka pada skelrosi tuberose. dicatat besarnya dan bentuk kepala. bercak-bercak putih. uremia. kraniofaringeoma. 4. . dan refleks tonik leher. Pemeriksaan cairan otak dapat mengungkapkan adanya radang pada otak atau selaputnya. Klasifikasi abnormal dapat dijumpai pada toksoplasmosis. magnesium. hidrosefalis. Fontanel akan menonjol bila tekanan dalam rongga kepala meningkat.ekstrimitas. penyakit inklusi sitomegalik. Arteriografi dan pneumoensefalografi dilakukan bila perlu. Pada kulit dicari adanya tanda neurofibromatosis berupa bercak-bercak coklat. hiperbilirubinemia. Pemerikasaan fisik - Pada bayi Pada pemeriksaan diselidiki apakah adanya kelainan bawaan. Pada toksoplasmosis. - Pada anak dan orang dewasa Pemeriksaan umum dan neurologis dilakukan seperti biasa. toksoplasmosis susunan saraf sentral. metastasis tumor ganas. hipernatremia. tubuh. miktosefali. refleks hisap. meningeoma. ekstrimitas. hipokalemia. Penting pula diperiksa pH darah karena alkalosis mungkin pula disertai kejang. Pada pemeriksaan neurologis harus diperiksa refleks Moro. hipomagnesemia. keadaan fontanel. Kelainan yang mungkin ditemukan ialah makrosefali. Auskultasi dan transluminasi kepala. Sken tomografik olahan computer menunjukkan kelainan-kelainan pada tengkorak dan dalam rongga intrakranium. 3. refleks pegang. adanya perdarahan otak atau perdarahan subaraknoid. oligodendroglioma. muka. Yang memudahkan timbulnya kejang ialah keadaan hipoglikemia. natrium. Mencari kelainan bawaan. asimetri pada badan.2. Pemeriksaan Laboratorium Perlu diperiksa kadar glukosa. Pemeriksaan radiologis Pada foto rontgen kepala dapat dilihat adanya kelainan-kelainan pada tengkorak. asimetri pada kepala.

menyebabkan kesadaran menurun.runcing lambat. Hipoglikemia Hipoglikemia didahului rasa lapar. Keadaan ini biasanya terjadi pada penderita-penderitajantung. 2. berkeringat. penderita menjadi gelisah. . Sinkope Sinkope ialah keadaan kehilangan kesadaran sepintas akibat kekurangan aliran darah ke dalam otak dan anoksia.gelombang paku. biasanya ketika penderita sedang berdiri. Dengan dibaringkan horizontal penderita segera membaik. Pada fase permulaan.Elektroensefalografi (EEG) merupakan pemeriksaan penunjang yang informative yang dapat dapat memastikan diagnosis epilepsy. berkeringat. 5. Keracunan Keracunan alcohol. 4. Pada keadaan ini penurunan kesadaran berlangsung lama yang mungkin pula didapati pada epilepsi. Sebabnya adalah tensi darah yang menurun mendadak. penenang. obat tidur. Diagnosis Banding 1. mulut kering. Pada keadaan ini dijumpai kelainan-kelainan neurologis seperti diplopia. Pemeriksaan psikologis atau psikiatris Untuk diagnosis bila diperlukan uji coba yang dapat menunjukkan naik turunnya kesadaran. tampak pucat.Gelombang yang di temukan pada EEG berupa gelombang runcing. tremor. VII. disartria. ataksia dan lain-lain. tekanan darah rendah. Kesadaran dapat menurun perlahan-lahan.paku lambat. palpitasi. 3. misalnya test Bourdon-Wiersma. merasa pusing. Kesadaran menurun secara berangsur. Pemeriksaan tambahan lain adalah pemeriksaan foto polos kepala 5. Gangguan j antung Gangguan fungsi dan irama jantung dapat timbul dalam serangan-serangan yang mungkin timbul dalam serangan-serangan yang mungkin pula mengakibatkan pingsan. nadi melemah. pandangan mengelam. Gangguan sepintas peredaran darah otak Gangguan sepintas peredaran darah dalam batang otak dengan macam-macam sebab dapat mengakibatkan timbulnya serangan pingsan.

Pavor nokturnus. Serangan hetang dan sianotik (Breath holding spells) Serangan hetang atau somoron ada dua bentuk yaitu bentuk sianotik dan bentuk palida. Serangan ini sering menakutkan penderita karena ia dapat bernafas. Narkolepsi Pada narkolepsi terjadi serangan-serangan perasaan mengantuk yang tidak dapat dikendalikan. menangis. Serangan biasanya terjadi di hadapan orang-orang yang hadir karena ingin menarik perhatian. Bentuk sianotik disebabkan oleh henti sementara pernafasan dan bentuk palida oleh henti jantung sementara. atau perubahan pasca serangan seperti terdapat pada epilepsy. gangguan penglihatan. Migren Pada migren gejala-gejala juga timbul mendadak dalam serangan-serangan. atau gejala. VIII. Pada fase vasokontriksi dapat timbul nausea. Sentuhan ringan atau rangsangan auditoris dapat mengakhiri paralisi tersebut yang biasanya berlangsung hanya beberapa detik. mulas. yang terjadi bila terbangun pada tidur tingkat empat.gejala neurologis sesisi. 9. namun tidak dapat bergerak. muntah. dan kadang-kadang disertai halusinasi visual atau auditoris yang berlangsung cepat disertai meningkatnya frekeuensi jantung dan pernafasan. Setelah itu ia tidur lagi dan keesokan harinya ia tidak ingat sama sekali apa yang terjadi semalam. 8. mengompol. tetapi pada anak pulihnya agak lambat. 7.. Histeria Kejang fungsional atau psikologis sering terdapat pada wanita 7-15 tahun. Biasanya gejala-gejala ini reversible. 11. Tatalaksana Tatalaksana epilepsy meliputi tiga bidang: . Jarang terjadi luka-luka akibat jatuh. kekau Pavor noktornus merupakan gangguan tidur yang paroksismal.6. Gerakan-gerakan yang terjadi tidak menyerupai kejang tonik klonik. Timbulnya serangan sering berhubungan dengan stress. lindur. ketakutan. Anak marah-marah. tetapi bias menyerupai sindroma hiperventilasi. menggerakan mata. EEG biasanya normal 10. Paralisis tidur Biasanya terjadi menjelang tiduratau bangun dan sering didahului halusinasi visual dan auditoris.

Golongan benzodiazepam Diazepam Dikenal sebagai obat penenang. Terapi kausal Terapi kausal dapat dilakukan pada epilepsy simtomatik yang sebabnya dapat ditemukan. Indikasi: epilepsi umum khusus epilepsi Grand Mal tipe sadar. Golongan hidantoin Fenitoin Merupakan golongan hidantoin yang sering dipakai. 2.1. Rehabilitasi. Dosis: dewasa 200 mg / hari. diberikan antibiotic atau obat-obat lain yang dapat memberantas penyebabnya. Penegakan diagnosis yang mengenai jenis bangkitan. Kerjanya membatasi penjalaran aktivitas serangan dengan menaikkan ambang rangsang. sosisalisasi. Golongan barbiturat Fenobarbital Merupakan golongan baribiturat yang bekerja lama (long acting). anak 3-5 mg/kgBB/hari 3. - Pada gangguan peredaran darah otak pemberian oksigen mungkin dapat membantu mengatasi keadaan hipoksia yang terjadi. . Kerja obat ini antara lain penghambatan penjalaran rangsang dari fokus ke bagian lain di otak. Terapi medikamentosa anti kejang 1. b. Indikasi: epilepsy umum khususnya grand mal tipe tidur. epilepsi fokal dan dapat juga untuk epilepsi lobus temporalis. - Pada neoplasma dan perdarahan di dalam rongga intrakranium mungkin diperlukan tindakan operatif. edukasi Tujuan pokok terapi epilepsy adalah membebaskan penderita darisernagn epilepsi. misalnya: - Pada infeksi susunan saraf pusat dan selaputnya. anak 4-8 mg / hari. 300 mg / hari 2. tanpa mengganggu fungsi normal susunan saraf pusat agar penderita dapat menjalani kehidupannya tanpa gangguan. Terapi dapat dibagi dalam dua golongan: a. epilepsi fokal. penyebabnya dengan tepat. tetapi merupakan obat pilihan utama untuk status epileptik. maks. Dosis: dewasa 300-600 mg / hari. Terapi 3.

dan bias lebih dari 5 tahun sesudah serangan terakhir obat dihentikan. Prognosis Pasien epilepsy yang berobat teratur.4 gr/hari dimulai dengan 600 mg/hari. Sesudah remisi. Asetazolamid Dikenal sebagai diuretic.kemungkinan munculnya serangan ulang paling sering didapat pada sawan tonik-klonik dan sawan parsial kompleks. tetapi pada pengobatan epilepsi mempunyai cara kerja menstabilkan keluar masuknya natrium pada sel otak. dewasa 0. Dosis: anak 20-30 mg?kgBB/hari. Demikian pula usia muda lebih mudah mengalami relaps sesudah remisi. X. karena kebanyakan kasus terjadi tanpa diketahui penyebabnya. anak 1 bulan-5 tahun 0.Diperkirakan 30% pasien tidak mengalami remisis meskipun minum obat dengan teratur. 4. dapat diulang setiap 4jam. Anak > 5 tahun5-10 mg im/iv.8-1.pasien tidak mengalami sawan lagi. Indikasi: dapat dipakai pada epilepsi Petit Mal. Golongan suksinimid Etosuksimid Indikasi: epilepsi petit mal murni Dosis: 20-30 mg.kgBB/hari 5. sebagai kombinasi dengan obat lain. Golongan anti epilepsi lainnya Sodium valproat Indikasi: epilepsi petit mal murni.Dosis: dewasa 2-10 mg im/iv. .dikatakan telah mengalami remisi.1/3 akan bebas dari serangnan paling sedikit 2 tahun. Pencegahan Hingga saat ini tidak ada cara untuk mencegah epilepsi. dan pada epilepsi Grand Mal dimana serangannya sering datang bethubungan dengan siklus menstruasi. Dosis: sehari total 8-30 mg/kgBB Karbamazepin Indikasi: Epilepsi lobus temporalis dengan epilepsi Grand Mal Dosis: Dewasa 800-1200mg/hari IX.2-2 mg im/iv. dapat pula untuk epilepsi pada lobus temporalis yang refarakter.

Soemarmo.net . Penuntun Neurologi. Jakarta: Binarupa Aksara Ilmukedokteran.REFERENSI Markam.

com .Medicafarma.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful