EPILEPSI

I.

Definisi Epilepsi adalah suatu gangguan serebral kronik dengan berbagai macam etiologi, yang

dirincikan oleh timbulnya serangan paroksismal yang berkala, akibat lepas muatan listrik neuronneuron serebral secara eksesif. Serangan epileptik adalah gejala yang timbul secara tiba-tiba dan menghilang secara tibatiba pula. Serangan yang hanya bangkit sekali saja tidak boleh dianggap sebagai serangan epileptic, tetapi serangan yang timbul secara berkala pada waktu-waktu tertentu barulah dapat dijuluki serangan epileptik. Dalam bahasa Inggris digunakan istilah seizure Konvulsi atau dalam bahasa Inggris convulsion berarti gerakan otot tonik klonik yang bangkit secara involuntar. Istilah kejang dapat digunakan sebagai sinonim dari konvulsi. Tetapi baik kejang atau konvulsi tidak boleh digunakan sebagai sinonim dari serangan epileptik, oleh karena serangan epileptik tidak selamanya bersifat motorik.
II.

Klasifikasi Klasifikasi menurut Commission on classification and terminology of the international

Leauge against Epilepsy: A. Sawan parsial (fokal, lokal) A. 1. Sawan parsial sederhana (kesadaran tidak terganggu)
1. Dengan gejala motorik a. Fokal motorik tidak menjalar b. Fokal motorik menjalar (epilepsy Jackson) c. Versif d. Postural e. Disertai gangguan fonasi 2. Dengan gejala somatosensoris atau sensoris spesial (halusianasi sederhana) a. Somatosensoris b. Visual c. Auditoris d. Olfaktoris e. Gustatoris f. Vertigo

Hanya dengan penurunan kesadaran b. Gangguan tonus yang lebihjelas . 3. pucat. Disfasia b. Awitan (serangan) parsial sederhana diikuti penurunan kesadaran a. Dengan gejala atau tanda gangguan saraf otonom (sensasi epigastrium. Dismnesia c. klonik) 1. Dengan automatisme f. 2. dilatasi pupil) 4. berkeringat. Sawan pafsial kompleks (B) yang berkembang menjadi bangkitan umum 3. Afektif e. Dengan gejala parsial sederhana A1-A4 b. Dengan automatisme A. tonik. Sawan parsial sederhana yang menjadi bangkitan parsial kompleks lalu berkembang menjadi bangkitan umum. Halusinasi kompleks (berstruktur) A. Hanya penurunan kesadaran b. Sawan umum (konvulsif atau non-konvulsif) B. Ilusi f.1. Sawan lena (absence) a. Dengan automatisme 2. Dengan komponen klonik ringan c. piloereksi. Dengan komponen autonom kondisi b hingga f dapat tersendiri atau dalam kombinasi B. Dengan penurunan kesadaran sejak awitan a.1. Dengan gejala psikik (gangguan fungsi luhur) a. B. memberat. Dengan komponen tonik e.3. Dengan komponen atonik d.1.2. Kognitif d. Sawan Parsial kompleks (disertai gangguan kesadaran) 1. Lena tidak khas (atypical absence). dapat disertai a. Sawan parsial yang berkembang menjadi bangkitan umum (tonik-klonik. Sawan parsial sederhana (A) yang berkembang menjadi bangkitan umum 2.

Konvulsi febril 2. Na. dan Cl.3. Awitan dan handekan yang tidak mendadak B. sedangkan keadaan sebaliknya .Epilepsi mioklonik anak-anak d. Epilepsi fokal dengan gejala tunggal sederhana .6.Sensorik .Fenomen-fenomen psikik 3. Patofisiologi Dasar serangan epilepsi ialah gangguan fungsi neuron-neuron otak dan transmisi pada sinaps. Na dan Cl. yakni membrane sel mudah dilalui oleh ion K dari ruang ekstraseluler ke intraseluler dan kurang sekali oleh ion Ca.Automatismus . Tiap sel hidup. Epilepsi umum: a.Motorik . Sawan mioklonik.4. Epilepsi parsial dengan gejala kompleks majemuk .2. termasuk neuron-neuron otak mempunyai kegiatan listrik yang disebabkan oleh adanya potensial membrane sel. Grand mal c. Epilepsi neonatal III.b.Autonomik b. Epilepsi parsial: a. Sawan tonik klonik B. Sawan atonik C.Spasmus infantile . sehingga di dalam sel terdapat kosentrasi tinggi ion K dan kosentrasi rendah ion Ca. Potensial membrane neuron bergantung pada permeabilitas selektif membrane neuron. Petit mal b. Sawan klonik B.5. Sawan tidak tergolongkan Klasifikasi menurut simptomatologi adalah: 1. Epilepsi mioklonik . kejang mioklonik sekali atau berulang-ulang B. Sawan Tonik B.

Factor genetik.aspartat dan asetilkolin sedangkan neurotransmitter inhibisi yang terkenal ialah gamma amino butyric acid (GABA) dan glisin. Lepas muatan listrik demikian oleh sejumlah besar neuron secara sinkron merupakan dasar suatu serangan epilepsy. pada kejang demem dan breath holding spells . 3. Idiopatik 2. Aksi potensial akan mencetuskan depolarisasi membrane neuron dan seluruh sel akan melepas muatan listrik. Influks Ca akan mencetuskan letupan depolarisasi membrane dan lepas muatan listrik berlebihan. Factor herediter. Ujung terminal neuron-neuron berhubungan dengan dendrite-dendrit dan badan-badan neuron yang lain. tidak teratur dan terkendali. dapat merubah atau mengganggu fungsi membaran neuron sehingga membrane mudah dilampaui oleh ion Ca dan Na dari ruangan ekstra ke intra seluler. neurofibromatosis. ada beberapa penyakit yang bersifat herediter yang disertai bangkitan kejang seperti sklerosis tuberose.neurotransmitter eksitasi dapat disebut glutamate. fenilketonuria.menerus berlepasmuatan memegang peranan. Diantara neurotransmitter. Keadaan lain yang dapat menyebabkan suatu serangan epilepsy terhenti ialah kelelahan neuron-neuron akibat habisnya zat-zat yang penting untuk fungsi otak IV. hipoparatiroidisme. Dalam keadaan istirahat.terdapat diruang ekstraseluler. Ada dua jenis neurotransmitter. Di duga inhibisi ini adalah pengaruh neuron-neuron sekitar sarang epileptic. Oleh berbagai factor. Etiologi 1. yakni neurotransmitter eksitasi yang memudahkan depolarisasi atau lepas muatan listrik dan neurotransmitter inhibisi yang menimbulkan hiperpolarisasi sehingga sel neuron lebih stabil dan tidak mudah melepaskan listrik. hipoglikemia. Selain itu juga system-sistem inhibisi pra dan pasca sinaptik yang menjamin agar neuron-neuron tidak terus. Suatu sifat khas serangan epilepsy ialah bahwa beberapa saat serangan berhenti akibat pengaruh proses inhibisi. membrane neuron mempunyai potensial listrik tertentu dan berada dalam keadaan polarisasi. membentuk sinaps dan merubah polarisasi membran neuron berikutnya. diantaranya keadaan patologik. Hal ini misalnya terjadi dalam keadaan fisiologik apabila potensial aksi tiba di neuron. Jika hasil pengaruh kedua jenis lepas muatan listrik dan terjadi transmisi impuls atau rangsang. Perbedaan konsentrasi ion-ion inilah yang menimbulkan potensial membran. angiomatosis ensefalotrigeminal.

perubahan hormonal g. Infeksi. timbale (Pb). degenerasi serebral. radang yang disebabkan bakteri atau virus pada otak dan selaputnya. Kelainan congenital otak. stress emosional c. V. obat-obat tertentu e. hematoma subdural 8. hipoglikemia. fotosensitif VI.dan lain-lain. kuarng tidur b. malformasi. atropi. kapur barus. Keracunan. kontusio serebri. Kelainan pembuluh darah. terlalu lelah h. porensefali. Pada epilepsi grand mal simtomatik selalu didahului aura yang memberi manifestasi sesuai dengan letak fokus .toxoplasmosis 7.4. penyakit kolagen 10. penyakit darah. perbedaan terletak pada ada tidaknya aura yaitu gejala pendahulu atau preiktal sebelum serangan kejang-kejang. Gangguan metabolik.air 11. Manifestasi klinik: kedua golongan epilepsi grand mal tersebut sama. hiponatremia 6. agenesis korpus kalosum 5. hematoma subaraknoid. fenotiazin. hipokalsemia. Anamnesa / Aloanamnesa Epilepsi umum: Major : Grand mal (meliputi 75% kasus epilepsi) meliputi tipe primer dan sekunder. Neoplasma otak dan selaputnya 9. Faktor Pencetus Faktor-faktor pencetusnya dapat berupa : a. Diagnosis 1.gangguan keseimbangan hormone. Lain-lain. Trauma. infeksi d. alcohol f. Epilesi grand mal ditandai dengan hilang kesadaran dan bangkitan tonik-tonik.

Ketiga jenis bangkitan ini (petit mal. Umumnya timbul pada anak sebelum pubertas (4-5 tahun). Bangkitan mioklonus Bangkitan berupa gerakan involunter misalnya anggukan kepala. mioklonus dan akinetik) dapat terjadi pada seorang penderita dan disebut trias Lennox-Gastaut. Kejang tonik ini kemudian disusul dengan kejang klonik yang seolah-olah mengguncang-guncang dan membanting-banting tubuh si sakit ke tanah. sakit kepala dan sebagainya. Aura dapat berupa perasaan tidak enak. fleksi lengan yang teijadi berulang-ulang.epileptogen pada permukaan otak. Bangkitan akinetik.3 menit. mendengar suara gemuruh. Kemudian penderita mengalami kejang tonik. refleks cahaya negatif. Bangkitan dapat berlangsung beberapa ratus kali dalam sehari.4% dari kasus epilepsi. Bangkitan ini sangat peka terhadap rangsang sensorik. Petit mal yang tidak akan timbul lagi pada usia dewasa dapat diramalkan berdasarkan 4 ciri: Timbul pada usia 4 -. Bangkitan berupa kehilangan kelola sikap tubuh karena menurunnya tonus otot dengan tiba-tiba dan cepat sehingga penderita jatuh atau mencari pegangan dan kemudian dapat berdiri kembali. Bangkitan petit mal yang tak ditanggulangi 50% akan menjadi grand mal.5 tahun dengan taraf kecerdasan yang normal. Kejang berhenti secara berangsur-angsur dan penderita dalam keadaan stupor sampai koma. penderita terjatuh. Meliputi kira-kira 3 -. Minor: Elipesi petit mal yang sering disebut pykno epilepsi ialah epilepsi umum yang idiopatik. mencium bau-bauan tak enak. termenung dan kalau tak diganggu akan tidur beberapa jam. otot-otot berkontraksi sangat hebat. kelopak dan bola mata. Kira-kira 4—5 menit kemudian penderita bangun. Bangkitan sendiri dimulai dengan hilang kesadaran sehingga aktivitas penderita terhenti. melihat sesuatu. . mulut berbuih dan sianosis. mudah ditanggulangi hanya dengan satu macam obat. Setelah sadar biasanya penderita dapat melanjutkan aktivitas semula. Kejang tonik-klonik berlangsung 2 -. Selain kejang-kejang terlihat aktivitas vegetatif seperti berkeringat. Bangkitan berupa kehilangan kesadaran yang berlangsung tak lebih dari 10 detik. midriasis pupil. mengecap sesuatu. Udara paru-paru terdorong keluar dengan deras sehingga terdengar jeritan yang dinamakan jeritan epilepsi. lengan fleksi dan tungkai ekstensi. Pola EEG khas berupa gelombang runcing dan lambat dengan frekuensi 3 per detik. Sikap berdiri atau duduk sering kali masih dapat dipertahankan Kadang-kadang terlihat gerakan alis. harus murni dan hilang kesadaran hanya beberapa detik. Frekuensi bangkitan dapat setiap jam sampai setahun sekali. Bangkitan terjadi demikian cepatnya sehingga sukar diketahui apakah ada kehilangan kesadaran atau tidak.

sianosis dan berkeringat. Aktivitas listrik pada bangkitan ini dapat menyebar ke neron sekitarnya dan dapat mencapai korteks motorik sehingga terjadi kejang-kejang. Bangkitan motorik. Manifestasi yang kompleks ini bersifat psikomotorik. Timbul pada bayi 3 -.Spasme infantil. Epilepsi lobus temporalis. Manifestasi klinik ini disebut Jacksonian marche Epilepsi parsial ( 20% dari seluruh kasus epilepsi). dalam keadaan ini timbul gejala fokalisasi yang terdiri dari halusinasi dan automatisme yang berlangsung beberapa detik sampai beberapajam. Bangkitan sensorik Bangkitan yang terjadi tergantung dari letak fokus epileptogen pada koteks sensorik. Penyebab yang pasti belum diketahui. infeksi dan gangguan pertumbuhan. pendengaran atau perasaan aneh. Penderita seringkali dapat melihat sendiri gerakan otot yang misalnya dimulai pada ujung jari tangan. Jarang terlihat pada usia sebelum 10 tahun. . dan oleh karena itu epilepsi jenis ini dulu disebut epilepsi psikomotor. miosis atau midriasis pupil. halusinasi dengan automatisme membaca. nyeri pada salah satu bagian tubuh. Manifestasi klinik ialah sebagai berikut: Kesadaran hilang sejenak. namun selalu dihubungkan dengan kerusakan otak yang luas seperti proses degeneratif. Bangkitan psikik berupa halusinasi dan bangkitan motorik la-zimnya berupa automatisme. Bangkitan kejang pada salah satu atau sebagian anggota badan tanpa disertai dengan hilang kesadaran. Halusinasi dan automatisme yang mungkin timbul : Halusinasi dengan automatisme pengecap. Jenis epilepsi ini juga dikenal sebagai salaamspasm atau sindroma West. pendengar. Memperlihatkan gejala fokalitas yang khas sekali. gangguan akibat trauma. perasaan posisi abnormal atau perasaan kehilangan salah satu anggota badan. Bangkitan somato sensorik dengan fokus terletak di gyrus post centralis memberi gejala kesemutan. Manifestasi klinik fokalitas ini sangat kompleks karena fokus epileptogennya terletak di lobus temporalis dan bagian otak ini meliputi kawasan pengecap. kemudian ke otot lengan bawah dan akhirnya seluruh lengan. tungkai tertarik ke atas. halusinasi dengan automatisme penglihatan. dalam keadaan hilang kesadaran ini penderita masuk ke alam pikiran antara sadar dan mimpi (twilight state). Bangkitan dapat berupa gerakan kepala kedepan atau keatas. lengan ekstensi. penghidu dan kawasan asosiatif antara ketiga indra tersebut dengan kawasan penglihatan. Fokus epileptogen terletak di korteks motorik.6 bulan dan lebih sering pada anak laki-laki. kadang-kadang disertai teriakan atau tangisan.

dicatat besarnya dan bentuk kepala. hidrosefalis. hipokalemia. muka. tubuh. Pemerikasaan fisik - Pada bayi Pada pemeriksaan diselidiki apakah adanya kelainan bawaan. meningeoma.ekstrimitas. hiponatremia. ureum dalam darah. fundus okuli mungkin menunjukkan tanda-tanda korio renitis. Fontanel akan menonjol bila tekanan dalam rongga kepala meningkat. Penting pula diperiksa pH darah karena alkalosis mungkin pula disertai kejang. Pada kulit dicari adanya tanda neurofibromatosis berupa bercak-bercak coklat. kalsium. Auskultasi dan transluminasi kepala. Pemeriksaan Laboratorium Perlu diperiksa kadar glukosa. Kelainan yang mungkin ditemukan ialah makrosefali. - Pada anak dan orang dewasa Pemeriksaan umum dan neurologis dilakukan seperti biasa. Klasifikasi abnormal dapat dijumpai pada toksoplasmosis. bilirubin. Pemeriksaan radiologis Pada foto rontgen kepala dapat dilihat adanya kelainan-kelainan pada tengkorak. leukemia yang menyerang otak. adanya perdarahan otak atau perdarahan subaraknoid. penyakit inklusi sitomegalik. . Sken tomografik olahan computer menunjukkan kelainan-kelainan pada tengkorak dan dalam rongga intrakranium. natrium. 4. Pada pemeriksaan neurologis harus diperiksa refleks Moro. Mencari kelainan bawaan.2. 3. magnesium. dan refleks tonik leher. sklerosis tuberosa. metastasis tumor ganas. ekstrimitas. uremia. diukur kelilingnya. Hemangioma pada muka dapat menjadi tanda adanya penyakit Sturge-Weber. kraniofaringeoma. asimetri pada kepala. miktosefali. hipernatremia. bercak-bercak putih. Pemeriksaan cairan otak dapat mengungkapkan adanya radang pada otak atau selaputnya. Arteriografi dan pneumoensefalografi dilakukan bila perlu. refleks hisap. toksoplasmosis susunan saraf sentral. hipomagnesemia. keadaan fontanel. Pada toksoplasmosis. asimetri pada badan. dan adenoma seboseum pada muka pada skelrosi tuberose. Yang memudahkan timbulnya kejang ialah keadaan hipoglikemia. refleks pegang. hiperbilirubinemia. oligodendroglioma.

Gangguan j antung Gangguan fungsi dan irama jantung dapat timbul dalam serangan-serangan yang mungkin timbul dalam serangan-serangan yang mungkin pula mengakibatkan pingsan. Sebabnya adalah tensi darah yang menurun mendadak. Sinkope Sinkope ialah keadaan kehilangan kesadaran sepintas akibat kekurangan aliran darah ke dalam otak dan anoksia. misalnya test Bourdon-Wiersma. Kesadaran dapat menurun perlahan-lahan. Keadaan ini biasanya terjadi pada penderita-penderitajantung. biasanya ketika penderita sedang berdiri. 4. Gangguan sepintas peredaran darah otak Gangguan sepintas peredaran darah dalam batang otak dengan macam-macam sebab dapat mengakibatkan timbulnya serangan pingsan. . menyebabkan kesadaran menurun. tampak pucat. Kesadaran menurun secara berangsur. nadi melemah. Diagnosis Banding 1. ataksia dan lain-lain. 5. tekanan darah rendah. mulut kering. VII. berkeringat. penderita menjadi gelisah. Pemeriksaan psikologis atau psikiatris Untuk diagnosis bila diperlukan uji coba yang dapat menunjukkan naik turunnya kesadaran.runcing lambat.gelombang paku. palpitasi. Pada keadaan ini dijumpai kelainan-kelainan neurologis seperti diplopia. merasa pusing. Dengan dibaringkan horizontal penderita segera membaik. Hipoglikemia Hipoglikemia didahului rasa lapar. obat tidur.paku lambat. Pada keadaan ini penurunan kesadaran berlangsung lama yang mungkin pula didapati pada epilepsi. Pemeriksaan tambahan lain adalah pemeriksaan foto polos kepala 5. tremor. Pada fase permulaan. 3.Elektroensefalografi (EEG) merupakan pemeriksaan penunjang yang informative yang dapat dapat memastikan diagnosis epilepsy.Gelombang yang di temukan pada EEG berupa gelombang runcing. berkeringat. pandangan mengelam. penenang. disartria. Keracunan Keracunan alcohol. 2.

Narkolepsi Pada narkolepsi terjadi serangan-serangan perasaan mengantuk yang tidak dapat dikendalikan. lindur. EEG biasanya normal 10. Tatalaksana Tatalaksana epilepsy meliputi tiga bidang: . gangguan penglihatan. tetapi pada anak pulihnya agak lambat. namun tidak dapat bergerak. 7. menggerakan mata. Setelah itu ia tidur lagi dan keesokan harinya ia tidak ingat sama sekali apa yang terjadi semalam. VIII. Migren Pada migren gejala-gejala juga timbul mendadak dalam serangan-serangan. Serangan biasanya terjadi di hadapan orang-orang yang hadir karena ingin menarik perhatian. Serangan hetang dan sianotik (Breath holding spells) Serangan hetang atau somoron ada dua bentuk yaitu bentuk sianotik dan bentuk palida. Jarang terjadi luka-luka akibat jatuh. mulas. 8. ketakutan. 11. Gerakan-gerakan yang terjadi tidak menyerupai kejang tonik klonik. kekau Pavor noktornus merupakan gangguan tidur yang paroksismal. Serangan ini sering menakutkan penderita karena ia dapat bernafas. Pavor nokturnus. Paralisis tidur Biasanya terjadi menjelang tiduratau bangun dan sering didahului halusinasi visual dan auditoris. dan kadang-kadang disertai halusinasi visual atau auditoris yang berlangsung cepat disertai meningkatnya frekeuensi jantung dan pernafasan.6. Biasanya gejala-gejala ini reversible. mengompol. Bentuk sianotik disebabkan oleh henti sementara pernafasan dan bentuk palida oleh henti jantung sementara. Sentuhan ringan atau rangsangan auditoris dapat mengakhiri paralisi tersebut yang biasanya berlangsung hanya beberapa detik. 9. tetapi bias menyerupai sindroma hiperventilasi. atau perubahan pasca serangan seperti terdapat pada epilepsy. Pada fase vasokontriksi dapat timbul nausea. Histeria Kejang fungsional atau psikologis sering terdapat pada wanita 7-15 tahun.gejala neurologis sesisi. Timbulnya serangan sering berhubungan dengan stress. yang terjadi bila terbangun pada tidur tingkat empat.. Anak marah-marah. menangis. atau gejala. muntah.

- Pada neoplasma dan perdarahan di dalam rongga intrakranium mungkin diperlukan tindakan operatif. Terapi kausal Terapi kausal dapat dilakukan pada epilepsy simtomatik yang sebabnya dapat ditemukan. epilepsi fokal. maks. Terapi 3. Terapi medikamentosa anti kejang 1. epilepsi fokal dan dapat juga untuk epilepsi lobus temporalis. Golongan barbiturat Fenobarbital Merupakan golongan baribiturat yang bekerja lama (long acting). Kerja obat ini antara lain penghambatan penjalaran rangsang dari fokus ke bagian lain di otak. misalnya: - Pada infeksi susunan saraf pusat dan selaputnya. diberikan antibiotic atau obat-obat lain yang dapat memberantas penyebabnya. Golongan hidantoin Fenitoin Merupakan golongan hidantoin yang sering dipakai. Indikasi: epilepsy umum khususnya grand mal tipe tidur. Indikasi: epilepsi umum khusus epilepsi Grand Mal tipe sadar. . 300 mg / hari 2. Terapi dapat dibagi dalam dua golongan: a. edukasi Tujuan pokok terapi epilepsy adalah membebaskan penderita darisernagn epilepsi. 2. anak 4-8 mg / hari. Golongan benzodiazepam Diazepam Dikenal sebagai obat penenang. sosisalisasi. penyebabnya dengan tepat. Dosis: dewasa 300-600 mg / hari. Dosis: dewasa 200 mg / hari. tanpa mengganggu fungsi normal susunan saraf pusat agar penderita dapat menjalani kehidupannya tanpa gangguan. anak 3-5 mg/kgBB/hari 3.1. Rehabilitasi. Kerjanya membatasi penjalaran aktivitas serangan dengan menaikkan ambang rangsang. - Pada gangguan peredaran darah otak pemberian oksigen mungkin dapat membantu mengatasi keadaan hipoksia yang terjadi. b. tetapi merupakan obat pilihan utama untuk status epileptik. Penegakan diagnosis yang mengenai jenis bangkitan.

2-2 mg im/iv. Anak > 5 tahun5-10 mg im/iv. Dosis: anak 20-30 mg?kgBB/hari.kgBB/hari 5. Indikasi: dapat dipakai pada epilepsi Petit Mal. dan pada epilepsi Grand Mal dimana serangannya sering datang bethubungan dengan siklus menstruasi. sebagai kombinasi dengan obat lain. anak 1 bulan-5 tahun 0. Dosis: sehari total 8-30 mg/kgBB Karbamazepin Indikasi: Epilepsi lobus temporalis dengan epilepsi Grand Mal Dosis: Dewasa 800-1200mg/hari IX. Pencegahan Hingga saat ini tidak ada cara untuk mencegah epilepsi. Asetazolamid Dikenal sebagai diuretic. dapat pula untuk epilepsi pada lobus temporalis yang refarakter. Golongan suksinimid Etosuksimid Indikasi: epilepsi petit mal murni Dosis: 20-30 mg.4 gr/hari dimulai dengan 600 mg/hari.1/3 akan bebas dari serangnan paling sedikit 2 tahun. Sesudah remisi. karena kebanyakan kasus terjadi tanpa diketahui penyebabnya. Prognosis Pasien epilepsy yang berobat teratur. Demikian pula usia muda lebih mudah mengalami relaps sesudah remisi. tetapi pada pengobatan epilepsi mempunyai cara kerja menstabilkan keluar masuknya natrium pada sel otak. 4.kemungkinan munculnya serangan ulang paling sering didapat pada sawan tonik-klonik dan sawan parsial kompleks.Diperkirakan 30% pasien tidak mengalami remisis meskipun minum obat dengan teratur. .8-1.pasien tidak mengalami sawan lagi. dapat diulang setiap 4jam.dikatakan telah mengalami remisi. dewasa 0. Golongan anti epilepsi lainnya Sodium valproat Indikasi: epilepsi petit mal murni.Dosis: dewasa 2-10 mg im/iv.dan bias lebih dari 5 tahun sesudah serangan terakhir obat dihentikan. X.

REFERENSI Markam. Soemarmo. Jakarta: Binarupa Aksara Ilmukedokteran.net . Penuntun Neurologi.

Medicafarma.com .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful