P. 1
SASTRA KONTEMPORER

SASTRA KONTEMPORER

|Views: 1,843|Likes:
Published by Ahmad Darmansyah

More info:

Published by: Ahmad Darmansyah on Mar 09, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/11/2013

pdf

text

original

SASTRA KONTEMPORER

Sastra kontemporer adalah karya sastra yang muncul sekitar tahun 70-an, bersifat eksperimental, memiliki sifat-sifat yang “menyimpang” dari konvensi-konvensi sastra yang berlaku biasa atau umum. Sastra kontemporer muncul sebagai reaksi terhadap sastra konvensional yang sudah beku dan tidak kreatif lagi. Sastra kontemporer merambah pada seluruh jenis karya sastra, seperti novel, puisi, dan drama. Tokoh-tokoh sastra ini pada zamannya termasuk sastrawan mudah pada tahun 70-an. Munculnya sastra kontemporer merupakan reaksi terhadap sastra konvensional yang dianggap telah mendominasi eksistensi karya sastra. Bahkan sastrawan mudah merasa “sumpeg” dengan karya sastra yang telah ada karena merasa terbelenggu daya kreasinya. (J. Prapta Diharja, SJ) Sastra kontemporer juga bias dikatakan sastra mutaakhir krena pada masa itu sastra ini dianggap sebagai ujung dari penciptaan karya sastra pada masanya dan juga bias dibilang sastra moderen seiring periode waktu tetapi antara sastra moderen dan mutaakhir bukan hanya sebatas periode waktu tetapi juga karena pola piker seorang pengarang yang memiliki pola pemikiran yang lain dari pada pengarang lain pada masanya yang berarti sebuah kemajuan berfikir untuk menciptakan karya sastra. (Tafsir budi darma) Pada karya sastra yang berjudul sepisaupi karya Sutardji Calzoum Bahri adalah puisi kontemporer karena terlepas dari konvensi, kalau dilihat dari masa pembuatan dan pola berfikir pengarang merupakan puisi mutaakhir dan moderen kerena periode dan cara berfikir yang lain dari pada pengarang lain pada masanya (kemajuan berfikir) A. LANDASAN TEORI Mariorie Boulton menjelaskan bahwa bunyi vokal panjang lebih khidmat dan lebih mendamaikan hati. Konsonan /b/ dan /p/ adalah konsonan eksplosif yang mampu memberikan sugesti kecepatan, gerakan, dan memberikan kesan remeh atau cemoohan. Konsonan /m/, /n/, dan /ng/ memberikan efek adanya dengungan (echo), nyanyian, musik, dan kadang-kadang bersifat sinis. Konsonan /l/ memberikan sugesti pada gerakan yang mengalir pelan-pelan, melambai-lambai, menggairahkan, damai, dan kadang-kadang bersifat mewah. Konsonan /k/, /g/, /kh/, dan /st/ memberikan sugesti akan suasana penuh kekerasan, gerakan yang tak seragam, konflik, namun kadang-kadang mengandung kebencian. Sedangkan konsonan /s/ dan /sy/ mensugesti timbulnya suasana mengejek, lembut, lancar, dan kadang-kadang menimbulkan perasaan yang menyejukkan. Konsonan /z/ berhubungan dengan konteks suasana kekerasan. Konsonan /f/ dan /w/ berhubungan dengan keadaan angin, sayap burung, dan gerakan di udara. Konsonan /t/ dan /d/ mirip seperti /k/ dan /g/, tetapi tanpa empati dan banyak digunakan untuk melukiskan gerakan yang pendenk. Konsonan /r/ berhubungan dengan gerakan dan suara. Konsonan /d/ berhubungan dengan keras lunaknya suatu gerakan. (Boulton, 1979:58) Sastra kontemporer juga bias dikatakan sastra mutaakhir krena pada masa itu sastra ini dianggap sebagai ujung dari penciptaan karya sastra pada masanya dan juga bias dibilang sastra moderen seiring periode waktu tetapi antara sastra moderen dan mutaakhir bukan hanya sebatas periode waktu tetapi juga karena pola piker seorang pengarang yang memiliki pola pemikiran yang lain dari pada pengarang lain pada masanya yang berarti sebuah kemajuan berfikir untuk menciptakan karya sastra. (Tafsir budi darma) B. ANALISIS Puisi yang berjudul “sepisaupi” banyak menggunakan fonem /s/ dan /p/. Jika merujuk pada pernyataan Boulton, bunyi /s/ mensugesti timbulnya suasana mengejek, lembut, lancar, dan kadang-kadang menimbulkan perasaan yang menyejukkan, sedangkan /p/ adalah konsonan eksplosif yang mampu memberikan sugesti kecepatan, gerakan, dan memberikan kesan remeh atau cemoohan. Sepisaupi jika didengarkan seperti mantra. Hal itu dikarenakan penggabungan kata-kata sepi dan pisau jika dibaca tanpa putus kita akan dapat menangkap makna dari sepi dan pisau itu. Efek /s/ dan /p/ pada “sepisaupi” menimbulkan efek magis, dan efek penggunaan fonem tersebut berpengaruh pada pengucapan puisi yang dibaca dengan cepat dan terdengar seperti mantra. Efek magis yang murni pada puisi tersebut juga dapat kita

lihat dari pengulangan-pengulangan (repetisi) seperti pada mantra. Sepisau, sepisaupa, sepisaupi, begitu banyak diulang-ulang dalam puisi ini. Puisi-puisi sejenis ini memang tidak terlalu kuat dalam gaya bahasa, simbol atau permainan kata. Puisi ini adalah teori pemecahan (fusi) kata, permainan bentuk, pemaknaan baru, dan puisi menurut juga adalah mengembalikan kata pada mantra. Asonansi: Pengulangan bunyi vokal yang sama pada kata/perkataan yang berurutan dalam baris-baris puisi. Pengulangan begini menimbulkan kesan kehalusan, kelembutan, kemerduan atau keindahan bunyi. Yerdapat pada kata : Sepisapanya Keranjang Sepisaupa Sepisaupi Aliterasi: Pengulangan bunyi konsonan yang sama dalam baris-baris puisi; biasanya pada awal kata/perkataan yang berurutan. Pengulangan seperti itu menimbulkan kesan keindahan bunyi. Terdapat pada kata : sepisaupa sepisapanya nyanyi Makna Adalah suatu semiotika atau symbol yang terdapat pada puisi. sepi dan pisau jika dibaca tanpa putus kita akan dapat menangkap makna dari sepi dan pisau itu. Efek /s/ dan /p/ pada “sepisaupi” menimbulkan efek magis, dan efek penggunaan fonem tersebut berpengaruh pada pengucapan puisi yang dibaca dengan cepat dan terdengar seperti mantra SEPISAUPI sepisau luka sepisau duri sepikul dosa sepukau sepi sepisau duka serisau diri sepisau sepi sepisau nyanyi sepisaupa sepisaupi sepisapanya sepikau sepi sepisaupa sepisaupi sepikul diri keranjang duri sepisaupa sepisaupi sepisaupa sepisaupi sepisaupa sepisaupi sampai pisauNya ke dalam nyanyi. Parafrase puisi Sepisau luka sepisau duri merupakan bentuk luka yang yang teramat sangat yang pernah dialami, penggambaran dari dosa yang telah dilakukan dan membuat penyesalan yang mendalam,kerena dosa yang telah dilakukan membuat perenungan dalam kesendirian, ketika kesendirian itu yang dirasakan hanyalah penyesalan sepisaupa sepisaupi pelukisan akan pisau dan sepi seolah-olah kesendirian yang menyakitkan, sepisapanya sepikau sepi disini takadalagi sapaan kerena kesepian yang telah dialami, sepisaupa sepisaupi pengulangan kata ini adalah penguatan tentang kesepian, sepikul diri keranjang duri adalah siksaan kesepian yang dialami sendiri dan harus ditanggung olehnya tanpa seorangpun yang membantu, sepisaupa sepisaupi penguatan kesepian yang dialami terulang-ulang sampai akhir yang selalu mendramatisir kisah kesendirian ini, sampai pisauNya ke dalam nyanyi kesedihan akan kesepian selalu menghantui diri selamanya seakan-akan irama kesepian bagai lagu dalam hati.

SASTRA KONTEMPORER

Sastra kontemporer pada awalnya sangat tidak lazim di Indonesia, sastra yang lebih dominan dengan karakter klasik bangsa Indonesia dahulu yang mana seni pada saat itu lebih di dominasi oleh karya-karya pujangga lama yang lebih mengedepankan sisi konvensionalnya. Kelahiran sastra kotemporer merupakan gebrakan awal yang di usung oleh sosok Sutardji C.B Sastra kontemporer lahir karena adanya pergeseran nilai kehidupan dan tatanan dalam masyarakat secara menyeluruh dan tidak di pengaruhi dengan adanya kebiasaan masyarakat di sekitarnya. Pada dasarnya sastra kontemporer Indonesia lebih cenderung di pengaruhi oleh sastra Barat atau Eropa. Dan ciri salah satu karakter sastra kontemporer Indonesia adalah ” seni untuk seni “ Dan sastra kontemporer merupakan bentuk seni yang mengobrak-abrik tatanan bahasa atau kata. Karakteristik sastra kontemporer di huni oleh para pemburu dalam sejarah sastra suatu bangsa – bangsa, titik tolaknya adalah sastra yang sudah ada dalam masyarakat. Karakteritas yang sangat menonjol pada karya sastra kontemporer ini adalah karyanya yang sangat non – konvensional sehingga hal ini menjadi suatu mengapa dalam karya sastra ini cenderung kurang diminati oleh para pembaca pada umumnya. Ciri atau karakteritas sastra kontemporer atau sering disebut dengan sastra Avant Garde ini yaitu sastra yang sudah jelas penokohannya atau dan karakter tokoh. Kritikus Umar Junus pernah menyatakan bahwa tradisi sastra Indsonesia modern adalah tradisi pembaharuan. Merupakan suatu karakter dari sastra kontemporer adalah karya seni yang menunjukan gaya atau pokok yang digarap, khususnya yang dilaksanakan secara eksperimental. Karya semacam ini menyimpang dari kelaziman yang telah mentradisi. Tujuannya adalah mencapai keabsolutan seni.menciptakan tingkat penciptaan yang setinggi – tingginya. Semboyan jelas : ‘’seni untuk seni. Mereka tidak peduli apakah karya semacam itu dapat dipahami oleh lingkungannya atau tidak. Mereka mencipta demi kemajuan bangsanya.Inilah sebabnya sering muncul tuduhan bahwa avant garde hanya berkarya untuk para kritikus seni yang berwibawa saja. Karakteristik sastra kontemporer atau avant garde ini bertumpu kepada seni yang telah mentradisi. Karakteristik avant garde ini diciptakan oleh para seniman tidak dengan ‘’eksperiment’’ tidak dengan coba – coba , tidak dengan lempar dadu’.Para seniman pencipta karya sastra kontemporer ini ini bekerja melalui proses penciptaan yang panjang. Melalui pencarian yang panjang dan bertanggungjawab. Sastra kontemporer adalah karya sastra yang muncul sekitar tahun 70-an, bersifat eksperimental, memiliki sifat-sifat yang “menyimpang” dari konvensi-konvensi sastra yang berlaku biasa atau umum. Sastra kontemporer muncul sebagai reaksi terhadap sastra konvensional yang sudah beku dan tidak kreatif lagi. Sastra kontemporer merambah pada seluruh jenis karya sastra, seperti novel, puisi, dan drama. Tokoh-tokoh sastra ini pada zamannya termasuk sastrawan mudah pada tahun 70-an. Munculnya sastra kontemporer merupakan reaksi terhadap sastra konvensional yang dianggap telah mendominasi eksistensi karya sastra. Bahkan sastrawan mudah merasa “sumpeg” dengan karya sastra yang telah ada karena merasa terbelenggu daya kreasinya.

cuplikan puisi Sutardji berikut ini, POT pot apa pot itu pot kaukah pot aku pot pot pot yang jawab pot pot pot pot kaukah pot itu yang jawab pot pot pot pot kaukah pot aku pot pot pot potapa pot itu potkaukah potaku? POT Kata pot bisa saja bukan berarti vas bunga, tetapi dapat berarti sesuatu yang lain dari itu, misalnya pot berarti sesuatu yang penting atau sesuatu yang harus dijawab, suatu peristiwa. Pot bisa menjadi pertanyaan dan sekaligus jawaban, berpindah-pindah. Representasi globalisasi itu semakin terlihat pada Angkatan 2000 sastra Indonesia (juga dapat dikatakan sebagai sastra kontemporer), kebebasan dalam tema, terutama mengenai perselingkuhan dan seksualitas perempuan yang lebih terbuka, berani, dan ekstrim. Misalnya Ayu Utami dengan dua novelnya Saman dan Larung yang melakukan pemberontakan atas norma seksualitas dan menggambarkan tokoh perempuan dengan kehidupan yang lebih bebas. Empat sekawan tokoh perempuan dalam kedua novel itu digambarkan turut berperan dalam pergerakan bawah tanah yang selalu mengadakan demonstrasi-demonstrasi menentang kebijakan penguasa. Kedua novel itu juga bercerita tentang perselingkuhan dan kegiatan seksual yang dilakukan oleh keempat tokoh perempuan itu secara agresif. Dewi Lestari dengan tiga novelnya, yakni Supernova, Akar, dan Petir yang menggambarkan dunia sains, dunia maya dalam internet, kisah percintaan yang digambarkan melalui dunia maya tersebut. ***** NB; sedikit catatan tentang sastra kontemporer, menyediakan beberapa pesanan yang beberapa kali hadir menyapa hanya untuk menanyakan apa dan bagaimana sastra kontemporer itu sebenarnya, sedikit berbagi kulit luar akan keindahan di balik sastra kontemporer.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->