P. 1
SEJARAH PENULISAN AL-QUR'AN

SEJARAH PENULISAN AL-QUR'AN

|Views: 165|Likes:
Published by Syifa' AlAbreer

More info:

Published by: Syifa' AlAbreer on Mar 09, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/03/2013

pdf

text

original

Wahdah Islamiyah

SEJARAH PENULISAN AL-QUR’AN
Ditulis oleh Administrator Saturday, 28 October 2006 Terakhir Diperbaharui Saturday, 09 December 2006

SEJARAH PENULISAN AL-QUR’AN DAN PERKEMBANGANNYA PASCA UTSMAN HINGGA SEKARANG Oleh: Muhammad Ikhsan (Mahasiswa S2 UI Jakarta Program Studi Kajian Islam Dan Timur Tengah Kekhususan Kajian Islam)

PENDAHULUAN Setelah panitia penulisan mushaf al-Qur’an yang ditunjuk dan diawasi langsung oleh Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan r.a. selesai menunaikan tugasnya, beliau kemudian melakukan beberapa langkah penting sebelum kemudian mendistribusikan mushaf-mushaf itu ke beberapa wilayah Islam. Langkah-langkah penting itu adalah:[1] Membacakan naskah final tersebut di hadapan para sahabat. Ini dimaksudkan sebagai langkah verifikasi, terutama dengan suhuf yang dipegang oleh Hafshah binti ‘Umar r.a.[2]

2. Membakar seluruh manuskrip al-Qur’an lain. Sebab dengan selesainya mushaf resmi tersebut, keberadaan pecahanpecahan tulisan al-Qur’an dianggap tidak diperlukan lagi. Dan itu sama sekali tidak mengundang keberatan para sahabat. Ali bin Abi Thalib r.a. menggambarkan peristiwa itu dengan mengatakan, “Demi Allah, dia (‘Utsman) tidak melakukan apa yang ia lakukan terhadap mushaf-mushaf itu kecuali (ia melakukannya) di hadapan kami semua.”[3]

Setelah melakukan dua langkah tersebut, ‘Utsman bin ‘Affan r.a kemudian mulai melakukan pengiriman mushaf al-Qur’an ke beberapa wilayah Islam. Para ulama Islam sendiri berbeda pendapat tentang jumlah eksemplar mushaf yang ditulis dan disebarkan pada waktu itu. Al-Zarkasyi misalnya menggambarkan ragam pendapat itu dengan mengatakan, “Abu ‘Amr al-Dany menyatakan dalam kitab al-Muqni’: mayoritas ulama berpandangan bahwa ketika ‘Utsman menuliskan mushaf-mushaf itu ia membuatnya dalam 4 (eksemplar), lalu mengirimkan satu eksemplar ke setiap wilayah: Kufah, Bashrah dan Syam, lalu menyisakan satu eksemplar di sisinya. Ada pula yang mengatakan bahwa beliau menuliskan sebanyak 7 eksemplar. (Selain yang telah disebutkan –pen) ia menambahkan untuk Mekkah, Yaman, dan Bahrain. (AlDany) mengatakan: ‘Pendapat pertamalah yang paling tepat, dan itu dipegangi para imam.’”[4]

Sementara al-Suyuthi menyebutkan pendapat lain –disamping pendapat di atas- yang menurutnya masyhur, bahwa jumlah mushaf itu ada 5 eksemplar.[5] Semua naskah itu ditulis di atas kertas, kecuali naskah yang dikhususkan ‘Utsman bin ‘Affan r.a untuk dirinya –yang kemudian dikenal juga dengan al-Mushaf al-Imam-. Sebagian ulama mengatakan ditulis di atas lembaran kulit rusa.[6] Mushaf-mushaf tersebut oleh para ahli al-Rasm kemudian diberi nama sesuai dengan kawasannya. Naskah yang diperuntukkan untuk Madinah dan Mekkah kemudian dikenal dengan sebutan Mushaf Hijazy, yang diperuntukkan untuk Kufah dan Bashrah disebut sebagai Mushaf ‘Iraqy, dan yang dikirim ke Syam dikenal dengan sebutan Mushaf Syamy.[7]

Dalam proses pendistribusian ini, ada langkah penting lainnya yang juga tidak lupa dilakukan oleh ‘Utsman bin ‘Affan r.a. Yaitu menyertakan seorang qari’ dari kalangan sahabat Nabi saw bersama dengan mushaf-mushaf tersebut. Tujuannya tentu saja untuk menuntun kaum muslimin agar dapat membaca mushaf-mushaf tersebut sebagaimana diturunkan oleh Allah kepada Rasul-Nya. Ini tentu saja sangat beralasan, sebab naskah-naskah mushaf ‘Utsmani tersebut hanya mengandung huruf-huruf konsonan, tanpa dibubuhi baris maupun titik. Tanpa adanya para qari’ penuntun itu, kesalahan baca sangat mungkin terjadi. Ini sekaligus menegaskan bahwa pewarisan pembacaan al-Qur’an –yang juga berarti pewarisan al-Qur’an itu sendiri- sepenuhnya didasarkan pada proses talaqqi, bukan pada realitas rasm yang tertuang pada lembaran-lembaran mushaf belaka.[8]
http://www.wahdah.or.id/wis Powered by: Joomla! Generated: 8 March, 2012, 20:04

bacalah salah satu ayat alQur’an tapi lakukanlah lahn terhadapnya!” Ketika Abu al-Aswad lewat. yaitu pasca kodifikasi Khalifah ‘Utsman r. ‘Ubaidullah. disamping tentu saja meningkatnya interaksi muslimin Arab dengan orang-orang non Arab –muslim ataupun non muslim-. hingga sekarang terdapat banyak perkembangan baru dalam perbanyakan naskah tersebut. Dan ketika naskah-naskah itu dikirim ke berbagai wilayah. Dan semoga bermanfaat! PERKEMBANGAN BARU PENULISAN MUSHAF PASCA UTSMAN Pemberian Harakat (Nuqath al-I’rab) Sebagaimana telah diketahui. Konsekwensi dari perluasan wilayah ini adalah banyaknya orang-orang non Arab yang kemudian masuk ke dalam Islam. lalu kaum muslimin pun melakukan langkah duplikasi terhadap mushaf-mushaf tersebut. dengan tujuan agar rasm (tulisan) tersebut dapat mengakomodir ragam qira’at yang diterima lalu diajarkan oleh Rasulullah saw.or. 2012. orang inipun membaca firman Allah yang berbunyi: “Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrik. al-‘ujmah (kekeliruan dalam menentukan jenis huruf) dan al-lahn (kesalahan dalam membaca harakat huruf) menjadi sebuah fenomena yang tak terhindarkan. Maka cobalah Anda menuliskan sesuatu yang dapat memperbaiki bahasa orang-orang itu dan membuat mereka membaca alQur’an dengan benar. salah seorang gubernur yang diangkat oleh Mu’awiyah bin Abi Sufyan r. Hal ini kemudian menjadi sumber kekhawatiran tersendiri di kalangan penguasa muslim. Dalam kurun yang cukup panjang. Mu’awiyah pun mengirimkan surat teguran kepada Ziyad atas kejadian itu.” Abu al-Aswad sendiri pada mulanya menyatakan keberatan untuk melakukan tugas itu. untuk wilayah Bashrah (45-53 H). Perkembangan-perkembangan itulah yang akan dikaji secara singkat dalam makalah ini. Tidak hanya di kalangan kaum muslimin non-Arab. terutama untuk keperluan pribadi mereka masingmasing. Langkah ini sengaja ditempuh oleh Khalifah ‘Utsman r. Akibatnya. untuk menghadap Mu’awiyah. pasca pendistribusian naskah-naskah mushaf ‘Utsmani tersebut. Ziyad pun menulis surat kepada Abu al-Aswad alDu’aly[11]: “Sesungguhnya orang-orang non-Arab itu telah semakin banyak dan telah merusak bahasa orang-orang Arab. terjadilah berbagai perluasan dan pembukaan wilayah-wilayah baru. kaum muslimin telah memiliki sebuah mushaf rujukan –karena itulah ia disebut sebagai al-mushaf al-imam-. 20:04 .” (al-Taubah: 3) http://www. Sejak saat itu. Terutama karena mengingat mushaf al-Qur’an yang umum tersebar saat itu tidak didukung dengan alat bantu baca berupa titik dan harakat. Dalam beberapa referensi[10] disebutkan bahwa yang pertama kali mendapatkan ide pemberian tanda bacaan terhadap mushaf al-Qur’an adalah Ziyad bin Abihi. Meskipun upaya itu sama sekali tidak berarti merubah hakikat al-Qur’an sebagai Kalamullah. lalu berpesan: “Jika Abu al-Aswad lewat di jalan ini. Saat ‘Ubaidullah datang menghadapnya. Mu’awiyah terkejut melihat bahwa anak muda itu telah melakukan banyak al-lahn dalam pembicaraannya. mulailah upaya-upaya penulisan ulang naskah Al-Qur’an berdasarkan mushaf ‘Utsmani untuk memenuhi kebutuhan kaum muslimin akan mushaf al-Qur’an.[9] Hal ini berlangsung selama kurang lebih 40 tahun lamanya. Tanpa buang waktu.a. Namun Ziyad membuat semacam ‘perangkap’ kecil untuk mendorongnya memenuhi permintaan Ziyad.a.a. Ia menyuruh seseorang untuk menunggu di jalan yang biasa dilalui Abu al-Aswad. Dan duplikasi itu tetap dilakukan tanpa adanya penambahan titik ataupun harakat terhadap kata-kata dalam mushaf tersebut.wahdah. namun juga di kalangan muslimin Arab sendiri. Kisah munculnya ide itu diawali ketika Mu’awiyah menulis surat kepadanya agar mengutus putranya.Wahdah Islamiyah Tentu saja. bahwa naskah mushaf ‘Utsmani generasi pertama adalah naskah yang ditulis tanpa alat bantu baca yang berupa titik pada huruf (nuqath al-i’jam) dan harakat (nuqath al-i’rab) –yang lazim kita temukan hari ini dalam berbagai edisi mushaf al-Qur’an-. semuanya pun menerima langkah tersebut. Dalam masa itu.id/wis Powered by: Joomla! Generated: 8 March.

Ê )ta(. 20:04 . Tepatnya pada Khalil bin Ahmad al-Farahidy (w.id/wis Powered by: Joomla! Generated: 8 March. tidak dalam huruf hidup bahasa Yunani maupun sistem tanda titiknya. lalu stafnya sembari memegang mushaf memberikan harakat pada huruf terakhir setiap kata dengan warna yang berbeda dengan warna tinta kata-kata dalam mushaf tersebut. seorang tokoh ensiklopedi Bahasa Arab terkemuka.menemukan tanda bacaan pertama (untuk Bahasa Syriak) pada abad ketujuh.berbeda dengan yang digunakan orang Irak. “Maha mulia Allah! Tidak mungkin Ia berlepas diri dari Rasul-Nya!” ujarnya. )Ëtsa(. sementara Sibawaih. Ini kemudian mendorong penggunaan tanda ini. Demikianlah. 170 H). Bashrah lebih berkembang.sistem diakritikal Syriak begitu mirip tanda yang digunakan oleh al-Du’aly. Pemberian tanda ini bertujuan untuk membedakan antara huruf-huruf yang memiliki bentuk penulisan yang sama. [14] Dan seperti yang disimpulkan oleh al-A’zhamy. Tapi seiring dengan meningkatnya kuantitas interaksi muslimin Arab dengan bangsa non-Arab.[15] Namun lagi-lagi perlu ditegaskan. Pada penulisan mushaf ‘Utsmani pertama. dan tanwin ditandai dengan dua titik. dan DR. Ditambah lagi. Metode pemberian harakat itu adalah Abu al-Aswad membaca al-Qur’an dengan hafalannya. Fakta lain adalah bahwa tata bahasa Syriak dapat dikatakan menemukan identitasnya melalui upaya Hunain bin Ishaq.[16] Yakub (Yacob?) Raha sendiri –menurut B. Ada yang menulis tanda itu dengan bentuk kubus (murabba’ah). Harakat fathah ditandai dengan satu titik di atas huruf. di sana tidak ada metode tanda diakritikal dalam bahasa Syriak. Seperti pada huruf È(ba).or.Davidson. Jadi pertanyaannya: siapa yang meminjam pada siapa?[18] Pemberian Titik pada Huruf (Nuqath al-I’jam) Pemberian tanda titik pada huruf ini memang dilakukan belakangan dibanding pemberian harakat. bahwa perbedaan ini sama sekali tidak mempengaruhi apalagi mengubah bacaan Kalamullah. Dan setiap kali usai dari satu halaman. mereka kemudian menambahkan tanda sukun (yang menyerupai bentuk kantong air) dan tasydid (yang menyerupai bentuk busur) yang diletakkan di bagian atas huruf. Biskop Damaskus. ‘Izzat Hassanmenyimpulkan bahwa tanda harakat ini sebenarnya dipinjam oleh Bahasa Arab dari Bahasa Syriak.[12] Murid-murid Abu al-Aswad kemudian mengembangkan beberapa variasi baru dalam penulisan bentuk harakat tersebut. Bila dihitung.meninggal dunia pada tahun 69 H (688 M). tokoh besar tata Bahasa Arab penulis al-Kitab (sebuah referensi puncak dalam Nahwu) meninggal pada tahun 180 H (796 M). Sistem titik yang digunakan penduduk Mekah –misalnya. Bacaan itu didengarkan oleh Abu al-Aswad. Begitu pula sistem penduduk Madinah berbeda dengan yang digunakan oleh penduduk Bashrah. Sementara Abu al-Aswad al-Du’aly –penemu tanda diakritikal Bahasa Arab. Apalagi sejarah mencatat bahwa Hunain pernah belajar Bahasa Arab di Bashrah. menyatakan: Ini jelas yakin tanpa diragukan bahwa pada zaman Yakub dari Raha. hingga kemudian penduduk Madinah mengadopsi sistem mereka. dan itu membuatnya terpukul. Ia pun menunjuk seorang pria dari suku ‘Abd al-Qais untuk membantu usahanya itu. yang meninggal di awal abad kedelapan masehi.Davidson[17]. Maka tidak mungkin Hunain dapat disebut memberikan pengaruh pada tata Bahasa Arab. Tetapi –mengutip alA’zhamy. nampaknya setiap wilayah kemudian mempraktekkan sistem titik yang berbeda. Ia masih tetap seperti yang diturunkan Allah kepada Rasulullah saw.untuk mengakomodir ragam qira’at yang ada.wahdah.Yusuf Dawud Iqlaimis. Inilah yang kemudian membuatnya memenuhi permintaan yang diajukan oleh Ziyad. sedangkan Theophilus menemukan huruf hidup Bahasa Yunani pada abad ke delapan. namun pengucapannya berbeda. huruf-huruf ini ditulis tanpa menggunakan titik pembeda. Israil Wilfinson. Salah satu hikmahnya adalah –seperti telah disebutkan. Dalam hal ini.[13] Dalam perkembangan selanjutnya. dan akhir abad kedelapan itu sama dengan tahun 184 H. dhammah ditandai dengan titik didepannya. Ada beberapa pendapat yang berbeda mengenai siapakah yang pertama kali menggagas penggunaan tanda titik ini http://www. Abu alAswad pun memeriksanya kembali sebelum melanjutkan ke halaman berikutnya. kesalahan pembacaan jenis huruf-huruf tersebut (al-‘ujmah) pun merebak. Hunain sendiri dilahirkan pada tahun 194 H (810 M). 2012. -seperti yang dicontohkan oleh B. kasrah ditandai dengan satu titik dibawahnya. dan ada pula yang menulisnya dalam bentuk lingkaran yang dikosongkan bagian tengahnya.Wahdah Islamiyah Tapi ia mengganti bacaan “wa rasuluhu” menjadi “wa rasulihi”. akhir abad ketujuh masehi itu sama dengan tahun 81 H. Tanda pertama yang diberikan oleh Abu al-Aswad adalah harakat (nuqath al-i’rab). ada yang menulisnya dengan bentuk lingkaran utuh. Satu hal lagi yang perlu disebutkan di sini. bahwa beberapa peneliti –seperti Guidi. dan Abu al-Aswad pun membaca al-Qur’an dan stafnya memberikan tanda itu.

mereka memberikan satu titik bawah untuk fa’.wahdah. dan tinta merah untuk harakat. keduanya ditulis dalam bentuk yang sama.170 H).[24] Tanda titik ini ditulis dengan warna yang sama dengan huruf. kuning untuk hamzah. shilah. merah untuk harakat.” [27] http://www. sedangkan pasangan Ýfa’ dan Þ qaf. dan syakl (harakat) dengan warna yang sama. b. Di sinilah sejarah mencatat peran Khalil bin Ahmad al-Farahidy (w. ä nun. mad. Dan tradisi ini terus berlangsung hingga akhir kekuasaan Khilafah Umawiyah dan berdirinya Khilafah ‘Abbasiyah pada tahun 132 H. untuk pasangan Ósin dan Ô syin. [23] Nuqath al-I’jam atau tanda titik ini pada mulanya berbentuk lingkaran. c. tasydid. Ini disebabkan karena huruf ini memiliki tiga ‘gigi’.id/wis Powered by: Joomla! Generated: 8 March. kasrah dengan bentuk huruf ya’ kecil dibawahnya dan dhammah dengan bentuk huruf waw kecil diatasnya. Hal ini rupanya menjadi sumber kebingungan baru dalam membedakan antara satu huruf dengan huruf lainnya. lalu lingkaran yang berlobang bagian tengahnya. gubernur Irak waktu itu (75-95 H). Ê ta. keduanya lalu memutuskan untuk menghidupkan kembali tradisi nuqath ali’jam (pemberian titik untuk membedakan pelafalan huruf yang memiliki bentuk yang sama). kasrah. Õshad dan Ödhad. naskah-naskah mushaf pun berwarna-warni. Ia kemudian menetapkan bentuk fathah dengan huruf alif kecil yang terlentang diletakkan di atas huruf. untuk memberikan solusi terhadap ‘wabah’ al-‘ujmah di tengah masyarakat. Íha’. sangat memungkinkan untuk menulis huruf. dan íya’.[25] Akhirnya. Bahkan ada sebagian mushaf pribadi yang menggunakan warna berbeda untuk membedakan jenis i’rab sebuah kata. Namun pendapat yang paling kuat nampaknya mengarah pada Nashr bin ‘Ashim[19] dan Yahya bin Ya’mar[20]. Sedangkan tanwin dibentuk dengan mendoublekan penulisan masing-masing tanda tersebut. untuk rangkaian huruf Ìjim. meski berbeda untuk yang lainnya. sedangkan huruf-huruf yang kedua diberikan satu titik di atasnya (al-i’jam). untuk membedakan antara Ïdal dan Ðdzal. sebab keduanya adalah yang paling ahli dalam bahasa dan qira’at. lalu berkembang menjadi bentuk kubus. agar tidak sama dan dapat dibedakan dengan tanda harakat (nuqath al-i’rab) yang umumnya berwarna merah. Di Madinah. Dengan metode ini. Tapi di sini muncul lagi sebuah masalah. serta Ú‘ain dan Û gha huruf pertama dari setiap pasangan itu diabaikan tanpa titik (al-ihmal). Ini diawali ketika Khalifah Abdul Malik bin Marwan memerintahkan kepada al-Hajjaj bin Yusuf al-Tsaqafy. Penerapannya adalah sebagai berikut: a. dan satu titik atas untuk qaf. Hanya saja kaum muslimin di wilayah Timur Islam lebih cenderung memberi satu titik atas untuk fa’ dan dua titik atas untuk qaf. Ë tsa. di Andalusia. dan pemberian satu titik saja diatasnya akan menyebabkan ia sama dengan huruf nun. mereka menggunakan empat warna: hitam untuk huruf. 2012.or.[22] Al-ihmal adalah membiarkan huruf tanpa titik. mereka menggunakan tinta hitam untuk huruf dan nuqath al-i’jam. dan al-i’jam adalah memberikan titik pada huruf.Wahdah Islamiyah untuk mushaf al-Qur’an. dan Îkha’.[26] Al-Daly mengatakan: “Dengan demikian. Øtha’ dan Ùzha’. i’jam (tanda titik huruf). yaitu melingkar. baik nuqath al-i’rab maupun nuqath al-i’jam. Muncullah metode al-ihmal dan al-i’jam. Ñra’ dan Òzay. banyak terjadi kreasi dalam penggunaan warna untuk tanda-tanda baca dalam mushaf. sedangkan yang kedua diabaikan. sukun. Berbeda dengan kaum muslimin yang berada di wilayah Barat Islam (Maghrib). seharusnya jika mengikuti aturan sebelumnya. huruf pertama diabaikan tanpa titik satupun. Disamping beberapa tanda lain. [21] Setelah melewati berbagai pertimbangan. Seperti telah dijelaskan. Pada masa ini. dan hijau untuk hamzah alwashl. dan hamzah. Pertimbangan yang sama juga menyebabkan pemberian titik berbeda pada huruf-huruf È ba’. 20:04 . Al-Hajjaj pun memilih Nahsr bin ‘Ashim dan Yahya bin Ya’mar untuk misi ini. Khalil (al-Farahidy) telah meletakkan 8 tanda: fathah. dhammah. d. huruf pertama dan ketiga diberi titik. sedangkan huruf kedua (syin) diberikan tiga titik. Tetapi semuanya hampir sepakat untuk menggunakan tinta hitam untuk huruf dan nuqath al-i’jam. maka yang pertama diabaikan dan yang kedua diberikan satu titik diatasnya.

ÇáÛÇææä.id/wis Powered by: Joomla! Generated: 8 March. Ketika Nabat kemudian berhijrah ke utara Jazirah Arab (wilayah Syam). ya. Karena itu para ulama membagi metode penulisan huruf Arab menjadi 2 jenis: rasm ‘Utsmany dan rasm imla’i. 2012.tumbuh dan besar di kota Mekkah. 20:04 . Antara Rasm ‘Utsmani dan Rasm Imla’i Sebagaimana yang diketahui. Diantara karya yang mengulas ilmu ini adalah al-Muqni’ karya Abu ‘Amr al-Dany dan al-Tanzil karya Abu Dawud Sulaiman bin Najah. Terdapat 10 karakter huruf yang diberi tanda titik..[34] Untuk keperluan ini. Menyikapi batu nisan Raqusy ini. al-A’zhamy mengomentarinya dengan mengatakan.Wahdah Islamiyah Terkait dengan hal ini. para ulama al-Qur’an kemudian menyusun sebuah ilmu yang dikenal dengan nama ilmu Rasm alQur’an. sebuah inskripsi Arab sebelum Islam yang tertua.[31] Jadi sebenarnya Nabatean adalah bagian dari bangsa dan tradisi Arab itu sendiri. Berikut ini beberapa sisi penting perbedaan rasm ‘Utsmany dengan rasm imla’i[35]: 1. Dokumentasi dalam dua bahasa di atas kertas papyrus. Wallahu a’lam. Keturunannya-lah yang kemudian mendirikan Dinasti Nabatean sekitar 600 SM hingga 50 M. semestinya ia membawa serta alphabet dan Bahasa Arab bersamanya.s. O’Conner menyebutnya sebagai gabungan acak antara Nabatean dan Arab. setidaknya hingga tahun 58 H. antara lain[28]: 1. Ada beberapa penemuan kuno yang menunjukkan hal tersebut. atau ya’.[30] Gruendler sendiri mengakui bahwa para penulis teks Nabatean berbahasa Arab.or. Yaitu bahwa tanda titik (nuqath al-i’jam) ternyata telah dikenal dalam tradisi Bahasa Arab kuno pra Islam atau setidaknya pada masa awal Islam sebelum mushaf ‘Utsmani ditulis.[29] Tetapi pertanyaannya adalah siapakah Nabatean itu sesungguhnya? Kita mengetahui bahwa Ismail a. “Jika orang Nabatean berbicara dalam Bahasa Arab. –putra tertua Nabi Ibrahim a. kha. syin. ada suatu fakta sejarah yang unik. tapi mengakuinya sebagai teks yang sangat bernilai untuk para peneliti Arab. zay. Batu nisan Raqusy (di Mada’in Shaleh). Dokumentasi ini menunjukkan penggunaan titik untuk huruf nun.[33] Sehingga tepatlah jika disimpulkan bahwa apa yang dilakukan oleh Nashr bin ‘Ashim dan Yahya bin Ya’mar adalah sebuah upaya menghidupkan kembali tradisi itu dengan beberapa inovasi baru yang disesuaikan dengan kebutuhan. Sedangkan yang kedua adalah aturan baku yang umum digunakan untuk penulisan kata-kata Arab sebagaimana ia diucapkan. dan ta. Batu nisan ini mencatat adanya tanda titik di atas huruf dal. dan al-Qur’an sebagai ‘Turkish Bible’ (Bible orang Turki)?”[32] 2.s. para peneliti Barat dapat dikatakan berbeda pandangan. (Asy-Syu’ara’:94). Mereka semua dilahirkan dan dididik di sekitar Jazirah Arab yang logisnya menggunakan Bahasa Arab sebagai bahasa mereka. diantaranya adalah Nabat (Nebajoth). fa. bahwa cara penulisan (rasm) yang terdapat dalam mushaf ‘Utsmany berbeda dan tidak sama dengan cara penulisan yang umum digunakan dalam aturan-aturan imla’ Bahasa Arab. yaitu: nun. waw. ÇáäÈííä http://www. Tepatnya di tengah komunitas suku Jurhum. ra’ dan syin. Diduga ditulis pada tahun 267 M. kha. Cantineau dan Gruendler menganggapnya sebagai teks Nabatean (al-Nabth). tahun 22 H (sekarang disimpan di Perpustakaan Nasional Austria). Sedangkan Healy dan Smith (1989) dengan yakin menyebutnya sebagai dokumentasi Arab tertua. Suku ini sendiri berbahasa Arab. Ismail sendiri dikaruniai 12 putra. dan (Al-Baqarah: 61). Ketiga kata ini jika ditulis berdasarkan rasm imla’i adalah: ÇáÚÇáãíä. Dalam hal ini. maka membedakan antara Bahasa Arab dan Nabatean adalah sebuah kesalahan yang dipaksakan. lantas siapakah yang memberinya nama Bahasa Nabatean? Apakah ada bukti bahwa mereka menyebut bahasa mereka sebagai Bahasa Nabatean? Atau mungkin ini diambil dari kecenderungan yang sama dalam memberi label kepada umat Islam sebagai ‘Muhammadan’ (pengikut Muhammad). Ditambah dengan beberapa temuan lainnya. Islam sebagai ‘Muhammadanism’ (ajaran Muhammad). syin. Seperti yang terdapat pada ayat: (Al-Fatihah:1). ba. tsa. dan zay. Jenis yang pertama khusus digunakan untuk penulisan ayat al-Qur’an sesuai dengan mushaf ‘Utsmany.wahdah. dzal. Sehingga apabila fakta bahwa mereka berasal dari keturunan bangsa Arab (Ismail) dan mereka pun berbahasa Arab. Penghapusan alif. dzal.

waw. namun kedua makna itu tidak saling bertentangan. Teori ini kemudian dijawab oleh beberapa ahli al-Qur’an muslim. Qira’at itu berbeda lafazh.[36] Tapi salah satu yang terpenting adalah dengan metode ini ragam qira’at yang berbeda dapat terwakili dalam mushaf ‘Utsmany.[37] Meskipun ini kemudian terbantahkan dengan dasar bahwa metode inilah yang digunakan oleh para sahabat menuliskan al-Qur’an di hadapan Rasulullah saw. b. Salah satunya adalah Goldziher dalam bukunya Madzahib al-Tafsir al-Islamy. maka itu terbantahkan dengan kenyataan bahwa sejauh ini –sejak 1400 tahun lamanya-. dan ya’. Dengan alasan bahwa itu akan lebih memudahkan pembacaan. Tidak dapat dipungkiri. Ia menyatakan bahwa ketidakjelasan dan ketidakkonsistenan itu bermakna bahwa teks-teks al-Qur’an dengan segala varian qira’atnya saling bertentangan. orang-orang lain tidak akan melontarkan kecaman bahwa karya mereka (penulisan al-Qur’an tanpa ‘rasm ‘Utsmany’ –pen) juga adalah usaha yang dilakukan oleh orang-orang jahil buta huruf?”[39] Perbedaan Qira’at dalam Membaca al-Qur’an “Apakah ragam qira’at muncul akibat karakteristik rasm ‘utsmany atau ia telah ada jauh sebelum itu?” Ini adalah sebuah pertanyaan lain yang juga mengusik kalangan peneliti al-Qur’an. terutama sebagian kalangan orientalis.or. Ketiga kata ini jika ditulis berdasarkan rasm imla’i adalah: æÌíÁ. Kedua kata ini jika ditulis dalam rasm imla’i adalah: Úä ãÇ. 20:04 . Goldziher –misalnya.[41] Kesimpulan ini tentu saja dibantah oleh al-Qadhy. masyhur dan shahihnya. dan tidak dapat dibuktikan mana yang valid (tsabit) dan yang tidak. sehingga membuka peluang untuk hal itu. 2012.menganggap adanya variasi qira’at itu sebagai bukti yang menunjukkan bahwa alQur’an adalah satu-satunya teks wahyu yang dipenuhi dengan ketidakjelasan (idhthirab) dan ketidakkonsistenan (‘adam ats-tsabat). bila diteliti dari yang mutawatir. Karena itu ia kemudian bersifat tauqifiyah. Berikut ini adalah ikhtisar jawaban Syekh Abd al-Fattah terhadap teori Goldziher: Goldziher –menurut al-Qadhy.(al-Nisa’:91). Penambahan alif. tidak dapat dipahami maknanya dengan jelas. namun bermakna sama. (al-A’raf:145). namun dipisahkan dalam rasm ‘Utsmany. Padahal perbedaan qira’at dalam al-Qur’an. Pemisahan dan penyambungan. Seperti yang terdapat dalam ayat: †QWÙWÆ (al-Baqarah: 74) dan ßá ãÇ. Sebagai contoh adalah: http://www. dan (al-Dzariyat: 47). ÓÃÑíßã. kata yang digarisbawahi dibaca dengan huruf sin. Sebagaimana yang akan dijelaskan nanti. Begitu pula sebaliknya. ßáãÇ Penulisan al-Qur’an berdasarkan rasm ‘Utsmany memiliki banyak hikmah –sebagaimana disebutkan oleh para ulama qira’at-. “Apakah mereka percaya bahwa setelah beberapa abad nanti. salah satunya adalah Syekh Abd al-Fattah Abd al-Ghany al-Qadhy[40] yang menyusun buku kecil berjudul Al-Qira’at fi Nazhar alMustasyriqin wa al-Mulhidin. Seperti: [ÇáÝÇÊÍÉ:6] “Tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus. hampir tidak ada masalah berarti di tengah kaum muslimin dalam membaca al-Qur’an. bahwa ada upaya untuk mengganti sistem rasm ‘Utsmany dengan sistem imla’ yang umum berlaku. tidak akan lepas dari 2 kategori berikut: a. ada yang seharusnya dipisah namun disambungkan dalam rasm ‘Utsmany. Qira’at itu berbeda baik dari segi lafazh dan makna. Seperti yang terdapat pada ayat: (Az-Zumar:69).[38] Adapun jika alasannya adalah untuk memudahkan pembacaan. Salah satu teori yang ia kemukakan adalah bahwa perbedaan qira’at itu muncul karena karakteristik rasm ‘Utsmany yang memang ‘bermasalah’ –tanpa titik dan harakat-. ÈÃíÏ 3. Artinya ada kata seharusnya secara imla’ disambung. namun dengan makna yang tidak berbeda.wahdah.id/wis Powered by: Joomla! Generated: 8 March.nampaknya bermasalah dengan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya variasi qira’at dalam al-Qur’an. kecuali yang memang tidak punya keinginan untuk mempelajari bacaannya.” Dalam qira’at yang lain. Lagi pula –kata al-A’zhamy-.Wahdah Islamiyah 2.

Menurutnya. bagaimana Kami menyatukannya. Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan r. lalu menutupinya dengan daging. [42] Dengan demikian. perbedaan qira’at yang terdapat dalam al-Qur’an dapat dikategorikan dalam apa yang disebut oleh para ulama dengan ikhtilaf tanawwu’ (perbedaan yang bersifat variatif) dan bukan ikhtilaf tadharub. Ini menunjukkan bahwa varian qira’at sepenuhnya didasarkan pada riwayat dan talaqqi.[43] Atau dengan kata lain perbedaan yang terjadi dapat dijelaskan dan diarahkan kepada pengertian yang tepat.[45] Kedua. perbedaan qira’at itu sudah ada. Tujuan utamanya untuk mencegah kemungkinan ada orang yang membacanya tidak sebagaimana yang diajarkan Rasulullah.menyebabkan lahirnya berbagai kemungkinan variasi dalam qira’at. Tidak hanya itu. lalu menghidupkannya kembali. Sebagai contoh misalnya. Jika karakter asal huruf Arab itulah yang menjadi satu-satunya sebab munculnya varian qira’at. namun sama sekali tidak ada pertentangan.” Dalam qira’at yang lain. yaitu huruf mim tanpa alif sesudahnya. Firman Allah Ta’ala: [ÇáÝÇÊÍÉ:4] á ÚãÑÇä:26] [ÇáäÇÓ:2] Kata ãáß dalam ketiga ayat ini memiliki bentuk tulisan yang sama. meskipun kedua qira’at ini berbeda. Dan untuk ayat ketiga (al-Nas: 2). mereka sepakat untuk membacanya pendek (tanpa alif setelah mim). Namun bersama dengan itu. hanya karena menganggap bacaannya itu sesuai atau mungkin dibaca berdasarkan rasm ‘utsmany. baik dari segi pembacaan maupun kedudukannya dalam kalimat (i‘rab). 20:04 . 2012.[44] Al-Qadhy kemudian memberikan catatan kritisnya terhadap masalah ini. mereka sepakat untuk membacanya panjang (dengan alif setelah mim). Hal lain yang diangkat oleh Goldziher dan dikritisi oleh al-Qadhy adalah kesimpulannya yang menyebutkan salah satu penyebab utama terjadinya perbedaan qira’at al-Qur’an kembali pada karakter asal huruf Arab yang digunakan dalam penulisan Mushaf ‘Utsmany. maka Ia akan menyatukan tulang-belulangnya. Rasm ‘utsmany kemudian hanya berupaya menampung semua perbedaan qira’at yang telah ada sebelumnya. Lagi-lagi riwayat adalah tulang punggung utama dalam menentukan keabsahan sebuah qira’at. Sebab bila Allah berkehendak untuk membangkitkan makhluq. beliau mengirim pula para ahli alQur’an untuk mengajarkan cara membacanya sebagaimana yang mereka terima dari Rasulullah saw. kesimpulan ini sama sekali tidak benar berdasarkan hal-hal berikut: Pertama. Ada yang membaca dengan pendek (tanpa alif setelah mim).id/wis Powered by: Joomla! Generated: 8 March.[46] Ketiga. Mengapa “kasus ayat pertama” tidak terulang pada kedua ayat ini? Bukankah baik bacaan panjang maupun pendek pada mim di kedua ayat terakhir ini sangat http://www. Dan untuk membuktikan kesimpulannya itu. Sehingga variasi qira’at itu tidak lebih dari sekedar ijtihad dan pilihan para qurra’. Sementara untuk ayat kedua (Ali Imran: 26).a tidak cukup hanya mengirim beberapa eksemplar mushaf tersebut ke berbagai wilayah Islam.or. Sejarah Islam telah mencatat dan membuktikan. riwayat dan varian qira’at itu sendiri telah tersebar dan “digunakan” di berbagai wilayah Islam sejak masa Rasulullah saw. Hal ini yang kemudian –menurut Goldziher. Akan tetapi para qurra’ ternyata hanya berbeda saat membaca ayat pertama (al-Fatihah: 4). dan tidak didasarkan pada periwayatan dari Rasulullah saw. Karakter asal itu adalah ketiadaan titik dan tanda baca (harakat) yang dapat membedakan satu huruf dengan huruf yang lain. huruf zay pada kata yang digarisbawahi diganti dengan syin (ääÔÑåÇ) dengan harakat yang sama. Itu artinya sebelum al-Qur’an tertuang dan tertulis dengan rasm ‘utsmany. ia mencontohkannya dengan beberapa ayat al-Qur’an. bahwa al-Qur’an –dengan semua riwayat dan varian qira’atnyatelah “terpelihara” di tangan para sahabat Nabi jauh sebelum al-Qur’an itu kemudian dibukukan di masa kekhalifaan Umar r. Bila diperhatikan.a.wahdah. maka tentu qira’at apapun yang shahih dan memungkinkan untuk dibaca berdasarkan rasm ‘utsmany adalah qira’at yang legal secara syar’i. dan ada pula yang membaca panjang (dengan alif setelah mim).Wahdah Islamiyah [ÇáÈÞÑÉ:259] “Dan lihatlah tulang belulang itu. Ketika Mushaf ‘Utsmany selesai ditulis. Namun kenyataannya tidak demikian. yang berarti “Kami membangkitkannya (setelah mati)”.

[49] Dari 5 contoh yang diangkat oleh Goldziher –terkait dengan kesimpulannya ini-. Maka ia pun –menurut Goldziher. dalam hal qira’at al-Qur’an. bahwa ketika mengangkat hal ini.Wahdah Islamiyah memungkinkan bila ditinjau dari sudut rasm ‘utsmany? Ini menunjukkan bahwa baik kesepakatan mereka untuk berbeda pada ayat pertama dan sepakat pada kedua ayat selanjutnya sepenuhnya berdasarkan riwayat dari Rasulullah saw. Tidak pula pada perawi tertentu.wahdah. lalu saling membunuh satu sama lain. Goldziher juga menyertakan contoh ayatayat yang dianggapnya sebagai bukti kebenaran kesimpulannya itu. menurut al-Qadhy dua di antaranya memang benar sebagai varian qira’at yang tsabit (seperti yang terdapat dalam surah al-Nisa’: 94). ‘Seandainya aku tidak harus membaca (al-Qur’an) sebagaimana ia dibaca. Syeikh al-Mufassirin Imam Ibn Jarir al-Thabary menyebutkan dalam tafsirnya. Tidak hanya itu. shahihah atau syadz. sehingga berubah menjadi huruf ya’. baik itu dari kalangan alQurra’ al-‘Asyarah. Di samping itu –menurut al-Qadhy-. tetapi semata-mata karena berasal dari jalur periwayatan yang shahih.menegaskan bahwa dasar pemunculan varian qira’at sama sekali tidak berangkat dari “terbukanya” rasm ‘utsmany untuk kemungkinan bacaan tertentu. Tidak ada seorang pun ulama qira’at yang memperdulikan dan bersandar padanya… Cukuplah sebagai bukti kemunkarannya bahwa ia tidak disandarkan kepada qari’ (baca: ahli qira’at) tertentu. kecuali apa yang disebutkan Goldziher ini.memindahkan 2 titik yang terdapat pada huruf ta’ dari atas ke bawah. Ini adalah bukti paling jelas yang menunjukkan bahwa yang menjadi pijakan dalam qira’at adalah naqli dan sanad. bukan rasm dan khat. Ia tidak lebih dari sebuah qira’at yang tertolak. mereka tidak berani melampaui dan berkreasi melebihi apa yang telah diriwayatkan kepada mereka. 2012. bahwa Qatadah menafsirkan ayat ini dengan mengatakan: ‘Mereka berdiri dalam dua barisan shaf. Ia mengatakan. 117H) ketika membaca ayat 54 dalam surah alBaqarah: [ÇáÈÞÑÉ:54] Qatadah memandang bahwa hukuman “bunuh diri” dalam ayat ini terlalu ekstrim dan tidak sesuai dengan kadar kesalahan yang dilakukan oleh Bani Israil. hingga dikatakan http://www. Namun ternyata.adalah apa yang dilakukan oleh Qatadah al-Bashry (w. [47] Keempat.[48] Demikian beberapa jawaban al-Qadhy terhadap kesimpulan Goldziher terkait dengan sebab kemunculan varian qira’at AlQur’an. Sebagai contoh –menurut Goldziher. “Abu ‘Amr mengatakan padaku. Seperti telah disinggung sebelumnya. Namun pernyataan ini dibantah oleh al-Qadhy. Kesimpulan Goldziher lainya yang dibantah oleh al-Qadhy adalah yang menyatakan bahwa pemahaman seorang penafsir klasik terhadap sebuah ayat juga turut berperan dalam lahirnya sebuah varian qira’at. sehingga menjadi ÊÓÊßËÑæä . 828M) mengatakan.” Al-Qadhy membantah hal ini dengan –sekali lagi. 154H). ayat 48: [ÇáÃÚÑÇÝ:48] Menurut Goldziher. tidak memiliki sanad yang dapat diandalkan. maka niscaya aku akan membaca seperti ini pada huruf yang ini dan yang ini…’”. Sehingga (qira’at yang disebutkan Goldziher ini –pen) tidak termasuk dalam kategori qira’ah yang mutawatir. dan Qatadah al-Bashry sendiri tidak diletakkan dalam barisan para qurra’ serta tidak ada satupun qira’at yang dinisbatkan kepadanya. Diantaranya surat al-A’raf. Sebuah ungkapan yang menunjukkan bahwa Abu ‘Amr “rela” menyelisihi madzhabnya sendiri dalam ilmu Nahwu demi mengikuti atsar dan riwayat.or. 20:04 . Tidak ada satupun yang membaca dengan menggunakan huruf tsa’ sebagai ganti huruf ba’. sebagian ahli qira’at membaca dengan mengganti huruf ba’ pada kata yang digarisbawahi dengan huruf tsa’. Di antara mereka adalah Imam Abu ‘Amr bin al-‘Ala’ al-Bashry (w. Lahirlah varian qira’at baru yang berbunyi ÝÃÞíáæÇ ÃäÝÓßã berarti “maka bertaubatlah sungguh-sungguh dengan menyesali kesalahan yang telah dilakukan. mereka bahkan memiliki madzhab tersendiri dalam ilmu Nahwu dan menjadi tujuan utama para pengkaji ilmu tersebut. Dari Qatadah sendiri telah dinukilkan bahwa ia menafsirkan ayat ini dengan tafsir yang justru menyelisihi qira’atnya itu. juga tidak ada seorang pun dari empat qurra’ tambahan lainnya. terdapat para ulama ahli bahasa Arab yang telah mencapai puncak keahlian di dalamnya. Penjelasan ini semakin dikuatkan oleh Al-Qadhy dengan menyatakan. namun –sekali lagimunculnya varian itu tidak bertitik tolak pada rasm Al-Qur’an. qira’at Qatadah ini tidak pernah dinukil oleh para qurra’ yang diakui. al-Ashma’iy (w. masyhurah. Dalam deretan para qurra’ yang sepuluh (al-Qurra’ al-‘Asyarah).id/wis Powered by: Joomla! Generated: 8 March.

or.’ Ibnu Katsir menyebutkan dalam Tafsirnya: ‘Qatadah mengatakan: ‘(Allah) memerintahkan kaum itu (Bani Israil) dengan perintah yang sangat berat. bahwa al-Hajjaj dengan segala kezhalimannya tercatat dalam sejarah sebagai salah seorang pemimpin yang sangat keras perhatiannya terhadap mushaf ‘Utsmany. Rasm ‘utsmany justru disusun dengan karakternya yang khas untuk mengakomodir ragam qira’at tersebut. al-Qadhy bahkan hampir memastikan bahwa qira’at ini adalah sesuatu yang ‘disusupkan’ kepada Qatadah. Ia bahkan menyuruh ‘Ashim al-Jahdary. dan justru menguatkan tuduhan kaum Syi’ah bahwa al-Qur’an telah mengalami penyimpangan. maka mereka mengambilnya dan menggantinya dengan 60 dirham untuk pemiliknya. Maka (pembunuhan) itu menjadi taubat bagi yang hidup.[51] Kesimpulan dari ini semua adalah bahwa perbedaan qira’at sepenuhnya bertumpu pada riwayat (baca: wahyu). dan kesyahidan bagi yang mati. 2. hingga Allah menuntaskan hukumannya pada mereka. namun ia tertuduh qadariyah dan tasyayyu’. Tuduhan ini sebenarnya sangat tidak berdasar.[52] Salah satu yang menjadi pegangan tuduhan ini adalah riwayat ‘Auf bin Abi Jamilah yang menyebutkan bahwa al-Hajjaj telah mengubah 11 huruf dalam mushaf ‘Utsmany. dan taubat bagi yang masih hidup. Sangat tidak logis jika ia mampu melakukan sebuah “revolusi” sedahsyat ini tanpa mendapatkan penentangan. Jika mereka menemukan mushaf yang menyelisihi mushaf ‘Utsmany.[54] Masih Adakah Manuskrip al-Mushaf al-Imam? Yang dimaksud oleh pertanyaan ini adalah apakah dari sekian naskah mushaf ‘Utsmany yang disiapkan oleh Khalifah http://www. Lalu berjatuhanlah senjata itu dari tangan mereka. Ditambah lagi ‘Auf bin Abi Jamilah –meskipun ia seorang yang tsiqah-. Apakah Al-Hajjaj bin Yusuf (w. Ia dituduh telah melakukan perubahan dan membuang beberapa huruf mushaf ‘Utsmany. dan ‘Ali bin Ashma’ untuk meneliti mushaf yang tersebar di tengah masyarakat.wahdah. 3. dan bukan ‘sekedar’ sebuah penyesalan.id/wis Powered by: Joomla! Generated: 8 March. 95 H) Melakukan Perubahan Terhadap Al-Qur’an? Ini adalah tuduhan klasik yang ditujukan kepada al-Hajjaj bin Yusuf. 4. Seandainya pun al-Hajjaj mampu melakukan itu dengan kekuasaannya. 2012. riwayat ini terkesan menyudutkan Khilafah Umawiyah. Dan para ulama telah memberikan jawabannya sebagai berikut: 1. diantaranya : (alBaqarah: 259) dan (al-Ma’idah:48). Salah satu perawinya adalah ‘Abbad bin Shuhaib. dan bukan merupakan hasil penyesuain terhadap karakter rasm ‘ustmany. Atsar yang diriwayatkan oleh ‘Auf bin Abi Jamilah ini misalnya dha’if jiddan (lemah sekali). dan bahwa semua itu ia lakukan demi mencari muka dengan cara meneguhkan Khilafah Umawiyah. lalu mengumpulkan semua mushaf tua kemudian melenyapkannya. bahwa ia menulis 6 mushaf yang kemudian dikirim ke berbagai wilayah. Dan seperti yang kita lihat. Al-Hajjaj hanyalah seorang gubernur di sebuah kota Islam. baik dari atasannya maupun para ulama Islam. Maka (pembunuhan) itu menjadi kesyahidan bagi yang terbunuh. 20:04 .[50] Ini menunjukkan bahwa Qatadah sendiri memahami bahwa “perintah bunuh diri” dalam ayat ini adalah “saling membunuh” yang sesungguhnya. Maka mereka pun berdiri saling membunuh senjata tajam. Riwayat-riwayat yang dijadikan landasan tuduhan ini sangat lemah. Najiyah bin Rumh. Dalam perubahan yang dituduhkan pada al-Hajjaj itu. tapi sangat mustahil ia dapat menundukkan hati ribuan penghafal al-Qur’an dan mengapus hafalan yang telah terukir di hati mereka. Ia seorang yang matruk.[53] Satu hal yang juga patut dicatat. tidak ada satupun yang menunjukkan dukungan terhadap Bani Umayyah dan pembatalan terhadap Khilafah Abbasiyah. haditsnya lemah dan salah seorang da’i qadariyah.Wahdah Islamiyah pada mereka untuk berhenti. Allah pun menghentikan pembunuhan itu dari mereka.

[57] Tetapi terlepas dari itu semua. pemunculan mesin cetak dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. pada tahun 1465. saat terbunuh. sebuah metode yang dari zaman ke zaman telah membuktikan bahwa ia tidak akan membiarkan satupun kesalahan yang menyimpang dari mushaf ‘Utsmany. PENULISAN AL-QUR’AN PASCA PENEMUAN MESIN CETAK PADA TAHUN 1436 M (840 H) Tidak dapat dipungkiri bahwa penemuan mesin cetak oleh Johannes Guttenberg pada tahun 1436 M (840 H) menjadi awal baru yang cemerlang bagi penyebaran ilmu. maka sejarah mencatat bahwa Turki merupakan negara yang pertama kali menerima teknologi ini. maka ia adalah hasil transkrip yang sama dengan sistem mushaf ‘Utsmany. 4. 2012. hingga kemudian beberapa mesjid di wilayah Islam mengaku menyimpan mushaf tersebut. Diduga teknologi ini masuk bersama dengan masuknya imigran Yahudi ke wilayah Khilafah ‘Utsmaniyah.. Ini terjadi sekitar tahun 1551 M. Powered by: Joomla! Generated: 8 March. Istanbul. Yunani. mesin yang sama muncul di Roma. bahwa mushaf tersimpan di Mesir. Dalam makalah tersebut. beliau menjelaskan bahwa persoalan ini bermula dari keberadaan mushaf yang dahulu dipegang oleh Khalifah ‘Utsman hingga beliau menemui syahidnya. Latin dan Spanyol. Dalam imigrasi itu mereka membawa serta mesin cetak untuk beberapa bahasa: Ibrani.Wahdah Islamiyah ‘Utsman dan timnya masih ada yang tersisa hingga saat ini? Persoalan ini telah lama menjadi pertanyaan dan karena itu pula ada banyak dugaan yang berkitar di sekelilingnya. Ghanim Qaduri menguatkan pandangan bahwa sudah sangat sulit saat ini untuk menemukan naskah utuh dari mushaf yang ditulis pada abad pertama atau kedua hijriyah. ada atau tidaknya naskah manuskrip al-mushaf al-imam ini sama sekali tidak mempengaruhi orisinalitas al-Qur’an. Setelah membantah klaim keberadaan mushaf ini. Tidak lama setelah itu. pada tahun 1471 di Barcelona.or. dimana pada beberapa lembaran mushaf itu ditemukan noda darah beliau r. bahwa mushaf ini tersimpan di Bashrah bahwa mushaf ini ada di Tashkend bahwa mushaf ini ada di Himsh (Suriah) bahwa mushaf ini tersimpan di Museum Topkapi. namun dengan cepatnya penemuan ini menyebar ke berbagai wilayah Eropa lainnya di luar Jerman. 20:04 http://www. dan pada tahun 1474 di Inggris.wahdah. di Lebanon. mesin cetak mulai dikenal pada tahun 1610. Meskipun pada mulanya.. budaya dan peradaban. Dr. Adapun lembaran-lembaran lainnya. ia kemudian menyatakan.”[56] Lalu ia kemudian menggambarkan perpindahan mushaf itu dari satu tempat ke tempat lain. Sahar al-Sayyid menyebutkan 5 tempat yang mengaku menyimpan mushaf tersebut –dan ia juga sekaligus membantah kebenaran klaim tersebut secara panjang lebar[55]-: 1. karena landasan utama penukilan al-Qur’an adalah riwayat dan talaqqi dari generasi ke generasi. pada tahun 1470 di Paris. Meskipun ada yang bersikeras dengan keberadaan mushaf ini. Sedangkan di wilayah Arab lainnya. Sahar al-Sayyid dalam makalahnya yang berjudul “Adhwa’ ‘ala Mushaf ‘Utsman Radhiyallahu ‘Anhu wa Rihlatuhu Syarqan wa Gharban”. Ia hanya mengandungi 4 lembar saja (dari naskah aslinya –pen). hingga akhirnya tidak terdengar kabarnya sejak tahun 745 H –ketika mushaf itu dikembalikan oleh Portugal kepada Sultan al-Mariny di Fas.id/wis . Mushaf ini kemudian tetap berada di Madinah selama beberapa waktu setelah terbunuhnya ‘Utsman. Guttenberg sangat merahasiakan penemuannya ini.[59] Adapun di wilayah Timur (Islam dan Arab).[58] Dan pada tahun 1486 M. Lalu kemudian menghilang entah ke mana. 5. 2. negara asal Guttenberg. ditemukanlah mesin cetak pertama dengan menggunakan huruf Arab. “Saya kira untuk menyingkap kekaburan yang menyelimuti mushaf ‘Utsman al-Imam adalah mushaf yang mulanya tersimpan di Jami’ Cordova itu bukanlah mushaf utuh yang dahulu dibaca ‘Utsman pada hari kematiannya. Salah seorang peneliti yang menjelaskan masalah ini dengan panjang lebar adalah DR.a. 3. Dan itu semua membutuhkan bukti materil yang kuat dan penelitian dari berbagai sudut. namun DR.

yaitu tidak mematuhi tata rasm ‘ustmany dan lebih banyak menggunakan rasm imla’iy. 2012. Hanya saja kualitas kertas dan cetakannya agak buruk. Ia menegaskan bahwa tujuannya menjalankan proyek ini bukan untuk menyebarkan ajaran Islam di kalangan orang Protestan. Syekh Hifny Nashif.Wahdah Islamiyah 2. muncul sebuah cetakan khusus mushaf al-Qur’an di kota Luzig. juga di India dan Turki sejak tahun 1887. juga muncul cetakan mushaf al-Qur’an yang dipimpin oleh Maulaya ‘Utsman. Syekh Mushthafa ‘Inany dan Syekh Ahmad al-Iskandary. Sedangkan di wilayah Hijaz (Saudi Arabia). mesin cetak mulai dikenal pada tahun 1706. sedangkan di kawasan Jazirah Arabia. dengan berbagai dugaan seputar motivasi pemusnahan itu. dan kesalahan lain terkait dengan penamaan surat. semuanya memiliki kesalahan yang sama dengan mushaf-mushaf versi Eropa. di Palestina dan Yordania pada tahun 1830. di Mesir. Salah satu sebabnya adalah karena cetakancetakan tersebut menyelisihi kaidah rasm ‘utsmany yang shahih. tapi untuk mempelajari Bahasa Arab dan Islam. Beberapa cetakan mushaf di wilayah Islam yang juga pernah muncul ternyata sama saja. yaitu pada tahun 1879. 3. Mushaf versi ini kemudian dikenal dengan nama mushaf al-Mikhallalaty. namun sangat disayangkan memiliki banyak sekali kesalahan. terdapat perbedaan pandangan tentang hal ini. Versi ini juga disertai dengan lembar koreksi yang memuat kesalahan cetak dan koreksinya. ketika sebuah percetakan bernama al-Mathba’ah al-Bahiyyah berdiri di Kairo. Lalu di tahun 1848. Percetakan ini kemudian mencetak sebuah mushaf yang ditulis oleh seorang ulama qiraat bernama Syekh Ridhwan bin Muhammad. negara pertama yang mengenal mesin cetak adalah Yaman.id/wis Powered by: Joomla! Generated: 8 March. beliau komitmen dengan rasm ‘utsmany dan memberikan tanda waqf .or. Di Irak juga mesin ini mulai dikenal pada tahun yang sama. Pada tahun 1834. Versi ini juga komitmen menggunakan rasm ‘utsmany dan penggunaan tanda waqf.[60] Percetakan Al-Qur’an Pertama Menurut DR. Di sini patut dicatat bahwa meskipun kalangan Eropa memiliki perhatian khusus dalam upaya percetakan mushaf al-Qur’an.[62] Kondisi terus berlanjut hingga tahun 1890 M. Pittsburg-. Pada tahun 1787. meski tidak mencantumkan nomor-nomor ayat. 20:04 . serta terjemah dan catatan komentar terhadapnya. Namun juga kemudian disepakati bahwa cetakan ini lalu dimusnahkan atas perintah Paus saat itu. DR. 4. dicetak dengan tinta hitam. percetakan al-Qur’an pertama setidaknya dilakukan di tiga tempat di Eropa: 1. 5. Terdapat penggantian posisi huruf. Versi cetakan ini terdiri teks al-Qur’an itu sendiri. Ebrahami Hincklmani. Batavia pada tahun 1698. di Rusia –tepatnya di St. suatu hal yang kemudian mendorong para ulama al-Azhar untuk membentuk panitia penulisan baru yang terdiri atas: Syekh Muhammad ‘Ali Khalaf al-Husainy. yang diupayakan oleh Flugel. Dan ia menjadi pilihan utama diantara semua jenis mushaf yang ada. Versi ini sendiri disiapkan oleh seorang pendeta Italia bernama Ludvico Marracei Lucersi. Seperti yang muncul di Teheran pada tahun 1828 dan 1833 M. hilangnya huruf tertentu dari satu kata. Cetakan pertama mushaf ini muncul pada http://www. Dalam mushaf ini. Yahya menyebutkan bahwa cetakan ini masih tersimpan hingga kini di beberapa perpustakaan dunia. 3. Cetakan ini memiliki kelebihan dari segi penggunaan jenis huruf yang lebih bagus dari 2 versi cetakan sebelumnya. Termasuk juga siapa yang memimpin proyek ini. muncul pula cetakan lain di Qazan yang dipimpin oleh Muhammad Syakir Murtadha. seperti Dar al-Kutub alMishriyyah dan Perpustakaan Universitas King Su’ud di Riyadh. namun hasil upaya ini belum mendapatkan perhatian kaum muslimin. ia juga menuliskan pengantar yang memuat penjelasan tentang sejarah penulisan al-Qur’an dan rasm berdasarkan kitab al-Muqni’ karya Imam al-Dany dan kitab al-Tanzil karya Abu Dawud. pemunculan mesin cetak sangat terkait dengan invasi Napoleon Bonaparte terhadap Mesir pada tahun 1798. Tetapi yang pasti salah satu dari versi cetak ini ditemukan oleh Angela Novo di perpustakaan seorang pendeta di Bunduqiyah. Venesia atau Roma pada kisaran tahun 1499 sampai 1538 M. Proyek percetakan ini dilakukan oleh seorang orientalis Jerman yang beraliran Protestan.wahdah. di Suria. teknologi ini mulai dikenal pada tahun 1909. Cetakan ini terdiri dari 560 halaman. Yahya Mahmud Junaid[61]. yang lebih dikenal sebagai al-Mikhallalaty. 2. Cetakan ini terdiri dari 466 halaman. Hamburg pada tahun 1694. Disamping itu.

Percetakan Mushaf di Saudi Arabia[63] Percetakan mushaf di Saudi Arabia bermula pada tahun 1949. Tiga puluh tahun kemudian. di Mesir kembali dibentuk sebuah lajnah yang dipimpin langsung oleh Syeikhul Azhar dan beranggotakan: Syekh Abdul Fattah al-Qadhy. dan tidak hanya mencakup kantor dan percetakan. 2012. 2. pada tahun 1947 dimulailah proses percetakan mushaf ukuran besar.000 real. Ustadz Muhammad Thahir al-Kurdy untuk menulis mushaf yang sesuai dengan kaidah rasm ‘utsmany. tapi juga perumahan. rumah sakit. Mushaf Makkah al-Mukarramah ini kemudian mendapatkan sambutan yang hangat. dan akhir setiap juz juga diakhiri pada akhir halaman. 2. Kompleks percetakan ini berdiri di atas tanah seluas 250. 3. hizb. Surat kabar Umm al-Qura edisi 19 Mei 1950 menyebutkan beberapa karakteristik mushaf ini. dan beberapa ulama lainnya. muncul pula mushaf edisi baru yang dicetak di kota Jeddah. Mencetak mushaf al-Qur’an sesuai qira’at riwayat Warsy dari Nafi’ al-Madany. Syekh ‘Abd al-Zhahir Abu al-Samh –imam dan khathib Masjidil Haram-. Syekh Ali Muhammad al-Dhabba’ dan Syekh ‘Abdul Halim Basyuni.000 meter persegi. lapangan olah raga dan sarana lainnya.or.wahdah. antara lain: 1. draft mushaf itu kemudian diperiksa ulang oleh sebuah team ulama. Mencetak mushaf al-Qur’an sesuai qira’at riwayat Hafsh dari ‘Ashim –qira’at yang dibaca oleh mayoritas kaum muslimin di dunia-. Setelah diperiksa oleh tim ini. Hingga akhirnya pada tahun 1984 (bertepatan dengan bulan Muharram 1405 H). ketika sebuah edisi mushaf yang dikenal dengan nama Mushaf Makkah al-Mukkaramah dicetak oleh Syarikah Mushaf Makkah al-Mukarramah. pemerintah Kerajaan Arab Saudi resmi membuka sebuah percetakan al-Qur’an terbesar di dunia. Ditulis sesuai dengan rasm ‘utsmany.[64] Berikut ini sekilas program kerja Kompleks Percetakan ini: 1. Tim ini kemudian memeriksa ulang mushaf dengan merujuk kepada kitab-kitab qiraat. 4. Mekkah-. Ketika cetakan pertama ini habis. Setelah al-Kurdy menyelesaikan tugasnya. Qira’at ini dibaca di sebagian besar Powered by: Joomla! Generated: 8 March. di Saudi bahkan di luar Saudi. Lalu setelah itu. tepatnya di kota Madinah al-Munawwarah. dicetaklah mushaf dengan ragam ukuran lainnya. restoran. mereka juga telah bersepakat dengan seorang ahli khat ternama.Wahdah Islamiyah tahun 1923 M. dan mendapatkan sambutan di dunia Islam. tepatnya pada tahun 1979. perusahaan ini mendatangkan sebuah mesin cetak dari Amerika untuk mencetak mushaf dengan berbagai ukuran. usaha percetakan al-Qur’an pun berjalan di berbagai belahan dunia Islam. draft tersebut kemudian dikirim kepada Masyikhah al-Azhar yang kemudian mengesahkan draft mushaf tersebut. nisf hizb dan rubu’ hizb ditandai dengan tanda lengkungan bulan sabit. Selain itu. Setelah itu disiapkanlah cetakan kedua mushaf al-Qur’an dalam bentuk yang lebih teliti. tafsir dan ulumul Qur’an. 20:04 http://www. setiap juz terdiri dari 20 halaman.id/wis . awal setiap halaman dimulai dengan ayat baru. Dengan modal awal 200. Seiring dengan itu. kecuali juz amma. dan jumlah ayatnya 6236 –sesuai versi kufy-. seperti al-Sayyid Ahmad Hamid al-Tijy –seorang guru qiraat di Madrasah al-Falah. rasm. Bahkan Raja Saudi waktu itu. pusat perbelanjaan. Syekh Muhammad ‘Ali al-Najjar. dan akhir setiap halaman ditutup dengan akhir ayat pula. permulaan juz dimulai dari awal halaman. Abd al-‘Aziz Al-Su’ud memberikan dukungan moril dan materil kepada para pelaksana proyek ini. Setelah melewati proses penulisan dan koreksi selama 5 tahun. yang kemudian diselesaikan pada akhir tahun 1949.

Lebanon. Jam’u al-Qur’an fi Marahilihi al-Tarikhiyyah: Muhammad Syar’i Abu Zaid. kalimat per kalimat. Tugas resensi mata kuliah Ulumul Qur’an. Cetakan ketiga. Zaqaziq. Gema Insani Press. Seperti yang dijelaskan para ulama akidah: dengan lisan siapapun ia dibacakan.wahdah.Wahdah Islamiyah negara-negara Maghrib (Maroko. Saat ini sedang menyiapkan pencetakan mushaf berdasarkan qira’at riwayat Qalun dari Nafi’ al-Madany. Setiap pengawas dan pemeriksa dilengkapi stempel khusus yang dibubuhkan pada bagian akhir mushaf. al-Qur’an tetaplah Kalamullah. jumlah ayatnya 6214 ayat. 2. Wallahu a’lam bi al-shawab. 3. Sahar al-Sayyid ‘Abd al-‘Aziz Salim.id/wis . 1419 H.or. DAFTAR PUSTAKA 1. Al-Itqan fi Ulum al-Qur’an: Jalal al-Din al-Suyuthy. ditambah Senegal. Tunisia. kata per kata. Cetakan pertama. al-Qur’an yang termuat didalamnya tetap terjaga keasliannya.[66] PENUTUP Dari uraian di atas. Powered by: Joomla! Generated: 8 March.net/ver2/archive/printarticle. Mencetak terjemahan al-Qur’an dalam berbagai bahasa dunia. Inovasi apapun yang dikembangkan dalam penulisannya. 6. dengan tulisan siapapun ia dituliskan. 1410 H. Universitas Indonesia. M. Mushthafa Dieb al-Bugha. Al-A’lam: Khair al-Din al-Zarakly. dimana tak satu pun upaya untuk menyimpangkan isinya melainkan dengan segera tersingkap di tangan para ulama.[65] Proses percetakan di Majma’ ini berjalan sangat ketat.M.t. 20:04 http://www.t. Chad. 5. 8. Bahkan pekerja yang berhasil menemukan satu kesalahan akan mendapatkan imbalan bonus dari pihak penanggung jawab percetakan ini. Tetapi selama itu pula. Tesis master bidang Tafsir dan ‘Ulumul Qur’an. 4. Jakarta. dan Mauritania). khususnya yang menggeluti bidang al-Qur’an dan semua bidang ilmunya. 7. dan Nigeria. Berbagai inovasi kemudian dikembangkan dalam penulisan ulang dan penggandaan naskahnya. 3. di media apapun ia ditorehkan. Universitas Kuwait. April 2005. Hal ini terbukti oleh perjalanan sejarah. Ditulis dengan khat maghribi yang sesuai dengan rasm ‘utsmany. Al-Khat al-Qur’any wa al-Khat al-Imla’iy. sama sekali tidak mengubah eksistensinya sebagai Kalamullah. Dar al-Malayin. Tahqiq: DR. 2005. Merekam bacaan al-Qur’an dengan suara para qurra’ yang masyhur. Ini tentu saja tidak lepas dari metode pewarisan yang sangat unik dalam menyampaikan al-Qur’an dari kurun demi kurun. Ini untuk memudahkan pengusutan kesalahan yang terjadi dalam proses pengerjaan. Dar Ibn Katsir. Cetakan pertama. t. t. DR. Makalah dalam Seminar Tarikh al-Ummah al-Islamiyyah baina al-Maudhu’iyyah wa al-Tahayyuz.islamweb. Adhwa’ ‘ala Mushaf ‘Utsman wa Rihlatihi Syarqan wa Gharban: DR. al-A’zhamy. 5. kita dapat melihat bahwa mushaf ‘Utsmany telah melalui perjalanan yang sangat panjang melintasi kurun waktu 14 abad lamanya.php?id=14680. www. Mesir. Aljazair. 4. huruf demi huruf. The History of The Qur’anic Text from Revelation to Compilation: Prof. Goldziher dan Varian Qira’at al-Qur’an (Resensi Terhadap ‘Al-Qira’at fi Nazhar al-Mustasyriqin wa al-Mulhidin): Muhammad Ikhsan. Al-Burhan fi ‘Ulum al-Qur’an: Badr al-Din al-Zarkasyi. Dar al-Turats. 1989. 2012.

Mathba’ah Hassan. www.com/Display. Abha-KSA. Al-Thaba’at al-Mubakkirah li al-Mushaf al-Syarif. 22 sebagaimana dalam The History of The Qur’anic Text. hal. Cetakan pertama 1996.asp?section=4&l=arb&f+write0005&trans= 14. t. Tarikhuhu. 20. 2012. Mesir. dan The History of Qur’anic Text. [11] Nama lengkapnya adalah Zhalim bin ‘Amr al-Du’aly al-Kinany. Jakarta. www. hal.105-106. Al-Khaththatah (al-Kitabah al-‘Arabiyyah): ‘Abd al-‘Aziz al-Daly.105. Sementara al-A’zhamy mendukung pendapat Profesor Syauqi Dhaif bahwa ada 8 eksemplar mushaf telah dibuat. 16. Dar al-Fikr.asp?section=4&l=arb&f+write0014&trans 25. dan Nuqath al-Mushaf al-Syarif. T.Majma’ al-Malik Fahd li Thiba’ah al-Mushaf al-Syarif. www.com/Display. www. Al-Mushaf al-‘Utsmany.islamlib. 1 [10] Lih. (1/132).qurancomplex. [6] Lih. Ihsan Abbas.asp?section=4&l=arb&f+write0003&trans 22. 19.t.qurancomplex. 13. [2] Lih. Manahil al-‘Irfan. Al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an. Tarikh al-Mushaf al-Syarif: ‘Abd al-Fattah al-Qadhy. Hal Katabahu ‘Utsman Biyadihi. Shubh al-A’sya.5 [7] Ibid. Dar alTsaqafah. Cetakan kedua. Wafayat al-A’yan wa Anba’ Abna’ al-Zaman: Abu al-‘Abbas Ahmad bin Khillikan. [8] Lih.asp?section=4&l=arb&f+write0011&trans 24. Kairo. Turut serta http://www. The History of The Qur’anic Text. Kairo. Nuqath al-Mushaf al-Syarif. www.qurancomplex. 1400 H-1998 M.com/Display.t. Cetakan pertama 1426 H.qurancomplex.id/wis Powered by: Joomla! Generated: 8 March.qurancomplex. [9] Lih.t. Pustaka Al-Kautsar.or. Tafsir Ibn Katsir 7/450. Uslub al-‘Amal fi Kitabah Mashahif al-Majma’ wa Thab’iha. Al-Qira’at fi Nazhar al-Mustasyriqin wa al-Mulhidin: Abd al-Fattah Abd al-Ghany al-Qadhy.asp?section=4&l=arb&f+write00013&trans= 11. Al-Qur’an dan Qiroat: Abduh Zulfidar Akaha. Maktabah al-Khanjy. 1/334. Hal Huwa Maujudun Al’an: ‘Awadh Ahmad al-Syihry. 21. Manahil al-‘Irfan fi Ulum al-Qur’an: Muhammad ‘Abd al-‘Azhim al-Zarqany. Lih. 18. 73.Wahdah Islamiyah 9. hal.1.Al-Qur’an antara Fakta dan Fiksi: Taufik Adnan Amal. 74-75. Tahqiq: DR. 1408 H. Dar al-Ma’rifah.php?page=article&mode=print&id=108 17.asp?section=4&l=arb&f+write0010&trans 23.t. Shubh al-A’sya fi Shina’ah al-Insya’: Abu al-Abbas Ahmad bin Ali al-Qalaqsyandy. Kairo.qurancomplex. seorang ahli sejarah Syiah yang berpendapat bahwa jumlah eksemplarnya adalah sembilan. 20:04 . hal. [3] Kitab al-Mashahif. www. www. hal. Beirut. hal. Tarikh al-Mushaf al-Syarif. hal. Mathba’ah al-Amiriyyah. Qishshah al-Nuqath wa al-Syakl fi al-Mushaf al-Syarif: ‘Abd al-Hayy al-Farmawy. T. Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim: Abul Fida’ Isma’il ibn ‘Umar ibn Katsir. T. Beirut. (1/330).com/Display. Kairo. [1] Lih. 15. Ia adalah salah seorang pemuka tabi’in. Thiba’ah al-Mushaf al-Syarif fi al-Mamlakah al-‘Arabiyyah al-Su’udiyyah. T. 10. hal.com/Display. Ia juga mengutip pendapat al-Ya’qubi. 3/156. dan Naqth al-Mushaf al-Syarif. Maktabah al-Masyhad al-Husainy. [5] Lih. 12.Tathawwur al-Kitabah al-‘Arabiyyah. 106. Universitas Malik Khalid. hal. Dar al-Salam. The History of The Qur’anic Text. Beirut.com/Display.t.107. Al-Mushaf al-‘Utsmany.com/id/index. Taushifuhu. 1307 H.wahdah. Tarikh al-Mushaf. [4] Al-Burhan fi ‘Ulum al-Qur’an. hal.

[16] Al-Lam’ah al-Shahiyyah fi Nahw al-Lughah al-Siryaniyah. Lih.133-134. hal. Al-Khat al-Qur’any wa al-Khat al-Imla’iy. Seorang alim dalam al-Qur’an dan Nahwu. [20] Nama lengkapnya adalah Abu Sa’id Yahya bin Ya’mar al-Qaisy al-‘Adawany.wahdah. Al-A’lam. [19] Nama lengkapnya adalah Nashr bin ‘Ashim al-Laitsy al-Nahwy. hal. Penggunaan keempat tanda tersebut untuk mushaf al-Qur’an kemudian baru direalisasikan di masa pemerintahan Mu’awiyah. hal. [33] Ibid. Ia pun menjalankan tugas itu dan menetapkan empat tanda diakritikal (harakat) yang akan diletakkan pada ujung huruf tiap kata. dan Qishshah al-Nuqath wa al-Syakl.Wahdah Islamiyah dalam pasukan Ali bin Abi Thalib r. juga seorang faqih yang menguasai ilmu Nahwu. hal. 3/340. hal. 2012. hal. Meninggal tahun 90 H. Dikenal juga sebagai Nashr al-Huruf. [21] Wafayat al-A’yan. Lih. Nuqath al-Mushaf al-Syarif. sebagaimana dalam The History of The Qur’anic Text. hal. 135. 159. hal. hal. hal. 154. http://www. 20:04 . [32] The History of The Qur’anic Text.a. hal. Seorang tabi’in.3 [27] Al-Khaththatah. 1 [31] The Development of The Arabic Script.158-161. hal. sebagaimana dalam The History of The Qur’anic Text. [29] Ibid. [28] Lih. seperti uraian di atas. hal. Meninggal tahun 100 H. 1-5. hal. 135. hal. dalam peristiwa perang Shiffin tahun 37 H. 80 [25] Ibid. juga Tathawwur al-Kitabah al-‘Arabiyyah. [34] Lih. sebagaimana dalam The History of The Qur’anic Text. The History of The Qur’anic Text. Lih. 9/225. hal. Lih. hal. 151-153. 1 [35] Ibid. [30] The History of The Qur’anic Text. 12.id/wis Powered by: Joomla! Generated: 8 March. hal. [14] Qishshah al-Nuqath wa al-Syakl fi al-Mushaf. 82-85 [26] Nuqath al-Mushaf al-Syarif. [17] Syriac Reading Lessons. [22] Nuqath al-Mushaf al-Syarif. Al-A’zhamy menjelaskan bahwa yang pertama kali menyuruh Abu al-Aswad menulis sebuah referensi tata Bahasa Arab adalah Khalifah Umar r. 125.1.or. hal. Ia termasuk yang berpandangan lebih mengutamakan Ahlul bait tapi tanpa merendahkan sahabat-sahabat Nabi yang lain. Tanda ini ditulis dengan warna merah untuk membedakannya dengan huruf yang ditulis dengan tinta hitam. The History of The Qur’anic Text. Ia dipercaya sebagai orang pertama yang memunculkan ilmu Nahwu dan memberikan tanda bacaan pada mushaf al-Qur’an. hal. 2 [23] Shubh al-A’sya. Al-Qur’an dan Qiroat. 154156. 169. The History of The Qur’anic Text. Berguru pada Abu al-Aswad al-Du’aly dalam ilmu al-Qur’an dan Nahwu.156. 3/158. [24] Ibid. [15] The History of The Qur’anic Text. 3/152-155. 134-135. al-Kitabah al-‘Arabiyyah.a. Al-Qur’an Antara Fakta dan Fiksi. hal. hal. 1-2 [36] Lih. Termasuk tabi’in generasi awal. hal. hal. Lih. 62. Ia kemudian meninggal dalam peristiwa wabah (tha’un) Amwas tahun 69 H. 68-69 [37] Lih. 72-86. [13] Shubh al-A’sya. hal. 8/343. hal.160 [18] Lih. Al-A’lam. Al-A’lam. 2/32. 59-69.

Tarikh al-Mushaf al-Syarif.. 1/264 [53] Lih. hal. Al-Qur’an dan Qiroat. 24. 516-525. hal. 1 [59] Ibid. 43-47. 9 [42] Ibid. hal. [47] Ibid. 165. 23.Wahdah Islamiyah [38] Lih. hal. hal.or. hal. sebagaimana disebutkan dalam Al-Qira’at fi Nazhar Al-Mustasyriqin. hal.5. 85. [63] Lih. 25. hal. 1 [65] Ibid. 3-7 [56] Ibid. hal. hal. hal.. [51] Penjelasan ini sepenuhnya diinukil dari Goldziher dan Varian Qira’at Al-Qur’an (tugas resensi matakuliah Ulumul Qur’an). hal 90. hal. sebagaimana disebutkan dalam Al-Qira’at fi Nazhar al-Mustasyriqin. hal. hal. 89. [46] Ibid. hal. [50] Ibid.. hal... hal. 162 [55] Lih. 60 [39] The History of The Qur’anic Text. hal. [41] Madzahib At-Tafsir Al-Islamy. Adhwa’ ‘ala Mushaf ‘Utsman. Jam’u al-Qur’an fi Marahilihi. 2-4. dan Tarikh al-Thiba’ah. hal. 20:04 . hal. hal. 11-14 [43] Ibid. hal. Thiba’ah al-Mushaf al-Syarif fi al-Mamlakah al-‘Arabiyyah al-Su’udiyyah. Majma’ al-Malik Fahd li Thiba’ah al-Mushaf al-Syarif. hal. hal. 8 [57] Al-Mushaf al-‘Utsmany. 18-19. 1-3. Bahasan ini sepenuhnya merujuk pada dua sumber ini. 3-8. [62] Lih. [48] Ibid. 77. hal. Manahil al-‘Irfan.id/wis Powered by: Joomla! Generated: 8 March. [61] Lih. Tarikh Thiba’ah al-Qur’an al-Karim. 6 [58] Madkhal ila Tarikh Nasyr al-Turats al-‘Araby. hal. 42-43. 8.. 161-162 [54] Ibid. 2 http://www. [64] Lih. hal.. [60] Tarikh al-Thiba’ah. 18 dan hal. [49] Ibid. [45] Ibid. hal.wahdah. dan al-Thaba’at al-Mubakkirah li al-Mushaf al-Syarif.. [52] Lih. 2012. 1-2. 14 [44] Madzahib al-Tafsir al-Islamy. hal. [40] Beliau pernah menjabat sebagai Ketua jurusan qira’at pada Universitas Islam Madinah dan Ketua Lajnah Pentashhih Mushhaf di Mesir.

http://www. 20:04 . 2012. hal. 7. Uslub al-‘Amal fi Kitabah Mashahif al-Majma’ wa Thab’iha.or.wahdah.id/wis Powered by: Joomla! Generated: 8 March.Wahdah Islamiyah [66] Lih.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->