P. 1
Chapter II

Chapter II

|Views: 2,347|Likes:

More info:

Published by: YakopPither_SimopiarefMeage_ on Mar 09, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/24/2013

pdf

text

original

Berikut ini akan dijelaskan beberapa faktor utama yang menyebabkan

atau memicu terjadinya ketimpangan distribusi pendapatan. Pertumbuhan

Universitas Sumatera Utara

GNP per kapita yang cepat tidak secara otomatis meningkatkan tingkat

hidup rakyat banyak. Bahkan pertumbuhan GNP per kapita di beberapa

negara sedang berkembang seperti Pakistan, India, Kenya, dan lain-lain telah

menimbulkan penurunan absolut dalam tingkat hidup orang miskin di

perkotaan dan pedesaan. Apa yang disebut dengan proses penetesan ke

bawah (trickle down effect) dari manfaat pertumbuhan ekonomi bagi orang

miskin tidak terjadi.

Adelman dan Morris (1973) dalam Arsyad (2004) mengemukakan 8

faktor yang menyebabkan ketimpangan distribusi pendapatan di negara-

negara sedang berkembang, yaitu:

a. Pertambahan penduduk yang tinggi yang mengakibatkan menurunnya

pendapatan per kapita;

b. Inflasi dimana pendapatan uang bertambah tetapi tidak diikuti secara

proporsional dengan pertambahan produksi barang-barang;

c. Ketimpangan pembangunan antar daerah;

d. Investasi yang sangat banyak dalam proyek-proyek yang padat modal

(capital intensive), sehingga persentase pendapatan modal dari tambahan

harta lebih besar dibandingkan dengan persentase pendapatan yang

berasal dari kerja, sehingga pengangguran bertambah;

e. Rendahnya mobilitas sosial;

Universitas Sumatera Utara

f. Pelaksanaan kebijaksanaan industri substitusi impor yang mengakibatkan

kenaikan harga-harga barang hasil industri untuk melindungi usaha-

usaha golongan kapitalis;

g. Memburuknya nilai tukar (term of trade) bagi negara-negara sedang

berkembang dalam perdagangan dengan negara-negara maju, sebagai

akibat ketidakelastisan permintaan negara-negara terhadap barang ekspor

negara-negara sedang berkembang; dan

h. Hancurnya industri-industri kerajinan rakyat seperti pertukangan,

industri rumah tangga, dan lain-lain.

Kecenderungan peningkatan ketimpangan distribusi pendapatan

sejalan dengan pertumbuhan ekonomi tidak saja terjadi di negara-negara

sedang berkembang saja, namun juga terjadi di negara-negara industri maju.

Studi dari Jantti (1997) dan Mule (1998) dalam Tambunan (2001)

memperlihatkan bahwa perkembangan ketimpangan pendapatan antara

kaum kaya dan kaum miskin di Swedia, Inggris, Amerika Serikat dan

beberapa negara lainnya di Eropa Barat menunjukkan suatu kecenderungan

yang meningkat selama dekade 1970-an dan 1980-an. Dari studi Jantti

disimpulkan bahwa semakin besarnya ketimpangan dalam distribusi

pendapatan di negara-negara tersebut disebabkan oleh pergeseran-

pergeseran demografi, perubahan pasar buruh dan perubahan kebijakan-

Universitas Sumatera Utara

kebijakan publik. Dalam hal perubahan pasar buruh, membesarnya

kesenjangan pendapatan dari kepala keluarga dan semakin besarnya andil

pendapatan dari istri di dalam jumlah pendapatan keluarga merupakan dua

faktor penyebab penting.

Ekonomi aglomerasi atau ekonomi eksternal yang tercipta karena

terkonsentrasinya para produsen telah diterima luas sebagai salah satu penyebab

terciptanya kota. Eksternalitas dalam spasial dalam arti berkaitan dengan kedekatan

(proximity) antar perusahaan, dimana perusahaan menerima keuntungan eksternal

(external benefits) dengan berlokasi saling berdekatan satu dengan yang lain.

Weber adalah salah seorang yang pertama-tama mengajukan pertanyaan

mengapa pabrik-pabrik cenderung berlokasi saling berdekatan. Menurut Weber,

ekonomi aglomerasi (deglomerasi) menentukan apakah industri terkonsentrasi di

suatu tempat atau tersebar di lebih dari satu tempat. Karena itu, ekonomi aglomerasi

disebabkan oleh faktor-faktor aglomerasi yang unik, bukan hanya karena orientasi

lokasi seperti orientasi tenaga kerja (labor orientation) dan transportasi (transport

orientation).

Hoover mengkritik teori aglomerasi Weber sebagai tidak membedakan tiga

kekuatan (forces) yang mempengaruhi biaya produksi (production costs), yaitu (i)

ekonomi skala besar (large-scale economies), suatu skala ekonomi internal terhadap

perusahaan pada suatu lokasi tertentu (Mills; Dixit,); (ii) ekonomi lokalisasi

(localization economies), eksternal terhadap perusahaan pada suatu lokasi tertentu

Universitas Sumatera Utara

tetapi internal terhadap industri (Henderson; Ogawa dan Fujita; dan Fujita dan

Ogawa); (iii) ekonomi urbanisasi (urbanization economies), eksternal terhadap

industri pada suatu lokasi tertentu tetapi internal terhadap kawasan perkotaan (Arnott;

Kanemoto; dan Upton).

Sebagian besar model ukuran kota (city size) yang menjelaskan keberadaan

ekonomi aglomerasi mendasarkan analisa mereka pada alokasi pertanian

(agricultural allocation theory) dari von Thunen. Dalam modelnya, von Thunen

memperlihatkan kota besar tunggal (a single large city) di tengah-tengah suatu

dataran yang subur. Produk-produk tertentu yang biaya transportasi paling tinggi di

produksi berlokasi paling dekat dengan kota dengan tujuan mengurangi biaya

transportasi. Terdapat hubungan terbalik (inverse) antara sewa tanah (land rent) dan

biaya transportasi, semakin jauh jarak suatu lokasi dari kota semakin rendah tingkat

sewa tanah. Keberlakuan hubungan ini dengan mudah diubah menjadi zona

konsentris (concentric zone) dari teori sewa-perkotaan (urban-rent theory). Caranya

adalah dengan mengubah pusat kota di tengah-tengah dataran menjadi distrik pusat

bisnis (central business district/CDB). Untuk selanjutnya distrik pusat bisnis akan

kita sebut sebagai DPB. Lokasi DPB berada tepat di tengah kota dikelilingi oleh

daerah pinggiran kota suburbs) dimana para konsumen dan pekerja tinggal. Semua

kegiatan produksi berlokasi di DPB.

Dua karya utama dalam ekonomi skala besar adalah makalah-makalah yang

ditulis berturut-turut oleh Mills dan Dixit. Mills mengasumsikan suatu kota berpusat

Universitas Sumatera Utara

tunggal (monocentric) dengan tiga jenis produksi: barang, transportasi, dan

perumahan. Mills selanjutnya menganggap adanya skala hasil yang meningkat

(increasing returns to scale), karena itu produsen barang bersifat monopoli. Mills

memperlihatkan secara analitis bahwa semakin besar tingkat peningkatan hasil

(increasing returns) dalam produksi barang, semakin tidak elastis (in elastic)

permintaan terhadap barang tersebut. Persyaratan ini diperlukan bagi produsen agar

dapat membayar nilai produk marginal (value of marginal product) dari faktor-faktor

produksi (inputs).

Model struktur kota yang bersifat lebih umum dikembangkan oleh Dixit.

Tema utama dari karya Dixit adalah ukuran kota optimum (optimum city size) yang

ditentukan oleh keseimbangan antara skala ekonomi produksi (economies of scale in

production) dan disekonomi (diseconomies) transportasi disebabkan oleh kemacetan

lalulintas (congestion). Dixit membuat asumsi bahwa hanya terdapat satu perusahaan

yang memproduksi komoditi tunggal dan skala hasil yang meningkat. Seperti model

yang dikembangkan oleh Mills, model yang dikembangkan oleh Mills, Dixit

beramsusi produsen barang adalah monopoli beralokasi di PDB. Namun

dibandingkan dengan model Mills, model yang dikembangkan oleh Dixit bersifat

umum. Dixit mengintegrasikan manfaat sebagai fungsi dari barang industri dan

perumahan (tanah). Model Dixit memperlihatkan analitis bahwa tingkat skala

peningkatan (degree of increasing returns) sama dengan rasio sewa tanah terhadap

nilai output.

Universitas Sumatera Utara

Sekalipun model Dixit memberikan sumbangan besar pada pemahaman kita

mengenai ekonomi aglomerasi dalam suatu rangka yang lebih umum, namun kritik

keras terhadap model ini adalah pemberlakuan skala ekonomi dalam sistem monopoli

dianggap terlalu sederhana. Skala peningkatan internal (internal returns to scale) bagi

produsen yang memiliki kekuatan monopoli susah untuk diterima sebagai penyebab

ekonomi aglomerasi. Model ini tidak memberikan banyak penjelasan terhadap

keadaan kota modern sebenarnya. Fenomena suatu kota modern adalah terdapat

banyak produsen dan terjadi perdagangan antarkota, keadaan ini jauh berbeda dari

keadaan pasar monopoli. Kritik ini juga berlaku pada model yang dikembangkan oleh

Mills.

Ketidakpuasan terhadap proposisi bahwa ekonomi skala besar merupakan

penentu konsentrasi industri di daerah perkotaan besar mengarah pada usaha-usaha

untuk mengembangkan model teoritis yang dapat menjelaskan keberadaan ekonomi

lokalisasi. Ekonomi aglomerasi dalam pengertian ekonomi lokalisasi dianalisa, antara

lain, oleh Henderson. Ciri utama dari model Henderson adalah mengasumsikan

terdapat banyak perusahaan kecil di daerah perkotaan yang masing-masing

memandang dirinya berhadapan dengan teknologi berskala hasil yang konstan

(constant returns to scale), sementara itu industri secara keseluruhan memperoleh

peningkatan hasil (increasing returns) yaitu skala ekonomi bersifat eksternal terhadap

perusahaan. Kita dapat menyebut jenis eksternalitas seperti ini sebagai skala ekonomi

ala Chipman, karena Chipman yang mengusulkan pendekatan ini. Karena itu, produk

Universitas Sumatera Utara

marginal tenaga kerja pribadi (private marginal product of labor) dalam industri

berbeda dengan produk marginal sosial (social marginal product). Keadaan ini

mempertahankan keberlakuan habisnya (exhaustion) penerimaan perusahaan untuk

pembayaran faktor-faktor produksi atau penerimaan sama dengan pengeluaran.

Pasar dicirikan oleh persaingan sempurna karena setiap perusahaan yang ikut

serta dalam persaingan (entering) diuntungkan oleh eksternalitas skala ekonomi

industri. Henderson mengintegrasikan faktor eksternalitas pada peubah (variable)

output dari fungsi produksi, karena itu kita anggap model Henderson memperlihatkan

ekonomi lokalisasi (Juoro, 1989).

Pendapatan merupakan salah satu variabel yang menentukan pengembangan

wilayah. Dalam proses pembangunan wilayah terjadi ketimpangan pendapatan

(Nishiola 1994).

Menurut Kim dkk (2003) ketimpangan pendapatan dapat dipengaruhi oleh

empat variabel yaitu pendidikan, kesempatan kerja, infrastruktur dan jaringan

informasi. Menurut Song dkk (2000) terdapat lima variabel yang menjadi faktor yang

mempengaruhi terjadinya ketimpangan pendapatan yaitu investasi, infrastruktur,

modal manusia, jumlah penduduk dan letak geografis. Menurut hasil penelitian

Rahman (2002) ketimpangan pendapatan dapat dipengaruhi oleh skill dan

penggunaan teknologi dalam proses produksi. Menurut Wilder dkk. (1999) perbedaan

tingkat pendidikan dan budaya masyarakat merupakan faktor yang dapat

mempengaruhi ketimpangan pendapatan, sedangkan hasil penelitian Ding (2002)

Universitas Sumatera Utara

menanggapi tentang kebijakan pemerintah dapat mempengaruhi ketimpangan.

Shangkar dan Shah (2003) kebijakan pembangunan yang berkaitan dengan alokasi

dana pembangunan yang tidak berimbangan dapat menyebabkan ketimpangan

pendapatan. Menurut Mukhopadhaya (2003) menyatakan bahwa kebijakan

pemerintah terhadap kaum imigran dapat menyebabkan terjadi ketimpangan

pendapatan di masyarakat.

Sejumlah studi empirik berusaha untuk menjelaskan faktor-faktor penyebab

ketimpangan distribusi pendapatan dari berbagai tinjauan. Beberapa studi

menyampaikan beberapa variabel makro-ekonomi berpengaruh terhadap distribusi

pendapatan seperti inflasi dan pengangguran menurut studi Mocan (1999) dan Blejer

dan Guererro (1990).

Sejumlah studi empirik lain secara spesifik menguji faktor lain seperti

faktor ekonomi dan institusional dalam mempengaruhi distribusi

pendapatan, antara lain oleh Li et al. (2000) yang menguji pengaruh korupsi

terhadap distribusi pendapatan, Tanninen (1999) menguji pengaruh

pengeluaran pemerintah terhadap distribusi pendapatan, serta Bourgignon

dan Morrison (1998) menguji pengaruh dualisme terutama hubungannya

dengan pertanian terhadap distribusi pendapatan. Beberapa penelitian lebih

lanjut menguji kombinasi faktor-faktor tersebut seperti pengeluaran

pemerintah, tingkat pembangunan, dan sebagainya dilakukan oleh Deininger

dan Squire (1998), Vanhoudt (2000), dan Barro (2000).

Universitas Sumatera Utara

Sementara itu penelitian yang menyangkut pengukuran ketimpangan distribusi

pendapatan yang terjadi di daerah di Indonesia antara lain di Kutai Kartanegara oleh

BPS (2005) yang menemukan koefisien Gini sebesar 0,31. Koefisien Gini ini

mengindikasikan ketimpangan distribusi yang cukup rendah. Hal ini didukung

dengan keberhasilan kebijakan dalam menurunkan kemiskinan di kabupaten tersebut.

Penelitian lain khususnya di Kabupaten Banyumas pernah dilakukan oleh Suroso dkk

(2005) yang menemukan ketimpangan distribusi pendapatan di Banyumas tahun 2005

dengan koefisien Gini sebesar 0,432. Koefisien Gini tersebut mengindikasikan

ketimpangan pendapatan yang cukup besar. Hasil ini juga menunjukkan

kecenderungan yang meningkat dibanding keadaan sebelumnya. Dibandingkan

dengan Kabupaten Kutai Kartanegara, maka Kabupaten Banyumas yang memiliki

pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita lebih rendah menujukkan

ketimpangan distribusi pendapatan yang relatif tinggi.

Pendapatan masyarakat yang merata, sebagai suatu sasaran merupakan

masalah yang sulit dicapai, namun berkurangnya kesenjangan adalah salah satu tolok

ukur keberhasilan pembangunan. Indikator yang cukup baik untuk mengukur tingkat

pemerataan pendapatan masyarakat adalah distribusi pendapatan masyarakat diantara

golongan penduduk (golongan pendapatan). Pendapatan masyarakat sangat

tergantung dari lapangan usaha, pangkat dan jabatan pekerjaan, tingkat pendidikan

umum, produktivitas, prospek usaha, permodalan dan lain-lain. Faktor-faktor tersebut

menjadi penyebab perbedaan tingkat pendapatan penduduk. Indikator distribusi

Universitas Sumatera Utara

pendapatan yang didekati dengan pengeluaran per kapita akan memberikan petunjuk

aspek pemerataan pendapatan yang telah tercapai. Walaupun hal ini tidak

mencerminkan tingkat pendapatan yang sebenarnya namun paling tidak memberikan

petunjuk untuk melihat arah dari perkembangan yang terjadi. Selama ini untuk

mendapatkan informasi mengenai pendapatan sebenarnya menemui bermacam

kendala diantaranya: tidak terus terangnya responden memberikan informasi yang

sebenarnya, ada yang membesarkan ada pula yang mengecilkan. Selain itu terkadang

menjadi tidak etis pada sebagian orang untuk meminta informasi mengenai

pendapatan yang sebenarnya.

Sulitnya mendapatkan tingkat pendapatan yang sebenarnya menjadi alasan

penggunaan pendekatan pengeluaran untuk mengetahui distribusi pendapatan

masyarakat. Dalam realitanya tingkat pengeluaran akan berbanding lurus dengan

tingkat pendapatan. Semakin besar pendapatan masyarakat maka akan semakin besar

tingkat pengeluaran. Asumsi ini menjadi acuan dalam kajian untuk mengukur

distribusi pendapatan masyarakat.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->