P. 1
Konsep, Teori Dan Kasus Gerakan Sosial

Konsep, Teori Dan Kasus Gerakan Sosial

5.0

|Views: 2,968|Likes:
Published by alek-al-hadi-9335
Materi Kuliah Gerakan Sosial Jurusan Sosiologi
Materi Kuliah Gerakan Sosial Jurusan Sosiologi

More info:

Published by: alek-al-hadi-9335 on Mar 10, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPTX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/11/2015

pdf

text

original

Pertemuan Ke-2. Abdul Kholek. S.

Sos, MA

Upaya kolektif untuk mencapai tujuan bersama, melalui tindakan kolektif (collective action) diluar lingkup lembaga-lembaga yang mapan (Gidden,

dalam Suharko : 2)

Gerakan sosial merupakan tantangan-tantangan kolektif yang didasarkan pada tujuan bersama, solidaritas, interaksi berkelanjutan dengan para elit, penentang dan pemegang wewenang (Sidney

Tarrow, dalam Suharko : 3)

Gerakan sosial sebagai upaya mengadakan perubahan melalui interaksi yang mengandung perseteruan dan berkelanjutan antara warganegara dengan negara (Carlos Tilly)

Gerakan sosial diartikan sebagai kelompok yang terorganisir secara tidak ketat dalam rangka tujuan sosial, terutama dengan agenda merubah struktur maupun nilai sosial. (Mansour Fakih;2002) Gerakan sosial sebagai seperangkat keyakinan dan tindakan yang tak terlembaga dilakukan oleh sekelompok orang untuk memajukan dan menghalangi perubahan dalam masyarakat (Robert

Misel, 2004:6)

Gerakan sosial adala hubungan defensive individuindividu untuk melindungi ruang publik dan private mereka dalam melawan serbuan dari sistem negara dan pasar (Jurgen Habermas; 2007)

Gerakan sosial kondusif terjadi pada masyarakat yang sedang mangalami perubahan, transisional menuju perubahan. (McAdam, Tarrow, Tilly, dalam

Mustain, 2007:28)

Situasi perubahan dan trasisi menyebabkan semakin terbukanya kesempatan aktor untuk merespons, memobilisasi struktur sosial dan budaya, yang memungkinkan terjadinya komunikasi, koordinasi dan komitmen diantara aktor. Kesamaan persepsi memunculkan kesadaran bersama yang merupakan landasan dari gerakan sosial.

Gerakan sosial mulai dikenal sejak abad ke18 pada waktu Revolusi Prancis, hingga abad ke-21 sekarang ini. Laju gerakan sosial tidak terlepas dari setting sosial yang melatarinya. Dekade terakhir perkembangan gerakan sosial semakin kompleks baik variasi, frekuensi, maupun intensitas gerakan.

(Gerakan Sosial, Suharko dan Fadhila Putra :5, 13)

1)

Urbanisasi Migrasi masyarakat dari desa ke perkotaan dengan latar belakang keragaman, tetapi memiliki tujuan yang relatif sama, berinteraksi, berkumpul dan berorganisasi. Kondisi ini merupakan awal munculnya gerakan sosial. Industrialisasi Konsentrasi massa pekerja dalam suatu tempat, dengan tujuan yang relatif sama, dibingkai oleh isu ketidakadilan, melahirkan perjuangan kelas. Kondisi ini juga sering melatari lahirnya gerakan sosial.

2)

3)

Pendidikan Massa (Mass Education) Adanya ruang pendidikan massa, bertemu dan berkumpulnya banyak orang. Didukung penyebaran ide melalui media massa abad 18 dengan koran dan dewasa ini dengan media internet, telah memberikan dukungan lahirnya berbagai variasi baru dari gerakan sosial.

4)

Penyebaran Gagasan Demokrasi dan Hak-Hak Politik Demokratisasi telah memberikan ruang publik yang lebih demokratis sehingga keran kebebasan bersuara dan berserikat, telah menjadi pemicu munculnya gerakan sosial untuk mencapai tujuan bersama dengan lebih efektif. (Sidney Tarrow, 1998)

1)

2)

Tantangan Kolektif (collective challenge) Adanya tantangan yang mengharuskan dipilihnya perlawanan melalui aksi langsung terhadap pemegang otoritas, kelompok atau aturan kultural lainnya. Agenda tersebut merupakan trik untuk menarik perhatian konstituen, pihak ketiga atau pihak lawan. Tujuan Bersama (common purpose) Adanya klaim bersama untuk menentang pihak lawan, pemegang otoritas atau elit, merupakan tujuan berpartisipasinya masyarakat dalam gerakan.

3)

4)

Solidaritas dan Identitas Kolektif Gerakan sosial akan terjadi jika pemimpin atau aktor menggali lebih dalam solidaritas atau identitas yang biasanya bersumber dari nasionalisme, etnisitas, dan keyakinan agama. Memelihara Politik Perlawanan Memelihara aksi kolektif dalam interaksi dengan pihak lawan. Merupakan faktor penting yang menandai sebuah penentangan berubah menjadi gerakan sosial. (Sidney Tarrow, dalam Suharko ;5)

1)

TEORI PERILAKU KOLEKTIF (collective action) Teori ini berpijak pada pendekatan fsikologi sosial. Konsep-konsep yang berhubungan dengan teori ini yaitu ketegangan (strain), stres (stress), massa (mass society), emosi (emotion) ketidakrasional (irrationality), penularan perasaan (contagion), keterasingan (alienation), frustasi (frustation). (Khaldermasns, dalam Dempos Manulu; 2009). Penekananan konsep tersebut sehingga menjadikan individu sebagai pusat dari analisis teori perilaku kolektif.

Asumsi dasar dari teori ini bahwa gerakan sosial muncul sebagai respon terhadap perubahan sosial yang berlangsung cepat. Diakibatkan oleh ; 1) ketidakmampuan insitusi-institusi dan mekanisme kontrol sosial memproduksi kohesi sosial, 2) Upaya masyarakat bereaksi terhadap situasi krisis, dengan membangun keyakinan bersama (shared belief) sebagai landasan baru bagi solidaritas.  Kritik Teori : kritik terhadap teori ini karena gerakan sosial dianggap hanya sebagai respons emosional dan irasional saat terjadi ketegangan sosial. Sehingga teori ini kurang memberikan perhatian pada basis gerakan dalam membangun gerakan yang lebih besar.

2)

TEORI

mobilization)

MOBILISASI

SUMBER

DAYA

(resource

Tesis utama teori ini ketidakpuasan tidak selalu melahirkan protes karena individu merupakan aktor rasional (mempertimbangkan untung rugi). Gerakan sosial akan muncul dan bertahan dengan mobilisasi sumber daya (material maupun nonmaterial), yang ada didalam organisasi gerakan. Organisasi gerakan menjadi pusat analisis.  Kritik : Terlalu mengedepankan rasionalitas, kurang memperhatikan aspek kesadaran, cita-cita, kultur, dan ideologi. Dalam organisasi gerakan muncul gejala birokratisasi, oligarki, dan institusionalisasi. Gerakan sosial diposisikan sebagai pasif dan objek.

3)

TEORI PROSES POLITIK (political proces) Tesis utama teori ini bahwa struktur dan peluang politik mempengaruhi kelangsungan gerakan sosial. Dimensi Peluang Politik :  Tingkat keterbukaan dan ketertutupan sistem politik  Stabilitas dan instabilitas  Ada atau tidaknya pengelompokan elit  Kapasitas negara cenderung menidas. (McAdam. 1996:27)

Kritik Terhadap Teori : Teori ini cenderung memposisikan gerakan sebagai kondisi yang pasif. Terlalu luas dalam melihat peluang politik, yang hakikatnya tidak selamanya menguntungkan gerakan.

4)

TEORI GERAKAN SOSIAL BARU(new social movement). GSB : Sebagai sebagai acuan teoritis sekaligus praxis. Respon terhadap dominasi teori gerakan sosial marxis, yang melihat buruh sebagai aktor utama gerakan sosial. Ciri GSB : a) Tujuan/ideologi : melawan tata sosial yang didominasi negara dan pasar. b) Pengorganisasian; menggunakan saluran diluar politik normal, demo yang menggangu. c) Struktur : responsif, terbuka, terdesentralisasi d) Aktor; kelas menengah baru e) Medan/area; melintasi sekat bangsa dan masyarakat. (Suharko; 2006:9)

Teori Klasik (1950an) Fsikologi Sosial

Gerakan Sosial Baru (1960-1970-an) non materialitik (humanitas, budaya)

Teori Neo-Klasik (Pasca 1950-an) Fungsional dan Marxis

Sumber : Klasifikasi Menurut Sing; 2001:8

 

Gerakan Sosial Menutup Pabrik Inti Indorayon Utama (IIU), di Sumatera Utara. Baca Lembar Kasus (10 Menit) Indentifikasi dan pahami kasus berdasarkan konsep dan teori yang telah dipaparkan sebelumnya ?

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->