P. 1
Benarkah Sholahuddin al

Benarkah Sholahuddin al

|Views: 369|Likes:
Published by shecutesib9835

More info:

Published by: shecutesib9835 on Mar 10, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/07/2013

pdf

text

original

Benarkah Sholahuddin al-Ayyubi Pencetus Perayaan Maulid Nabi?

Feb 5 Posted by admin Oleh : Ustadz Ahmad Sabiq bin Abdul Latif Abu Yusuf hafidzahullah Alkisah Ada sebuah kisah yang cukup masyhur di negeri nusantara ini tentang peristiwa pada saat menjelang Perang Salib. Ketika itu kekuatan kafir menyerang negeri Muslimin dengan segala kekuatan dan peralatan perangnya. Demi melihat kekuatan musuh tersebut, sang raja muslim waktu itu, Sholahuddin al-Ayyubi, ingin mengobarkan semangat jihad kaum muslimin. Maka beliau membuat peringatan maulid nabi. Dan itu adalah peringatan maulid nabi yang pertama kali dimuka bumi. Begitulah cerita yang berkembang sehingga yang dikenal oleh kaum Muslimin bangsa ini, penggagas perayaan untuk memperingati kelahiran Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam ini adalah Imam Sholahuddin al Ayyubi. Akan tetapi benarkah cerita ini? Kalau tidak, lalu siapa sebenarnya pencetus peringatan malam maulid nabi? Dan bagaimana alur cerita sebenarnya? Kedustaan Kisah Ini Anggapan bahwa Imam Sholahuddin al Ayyubi adalah pencetus peringatan malam maulid nabi adalah sebuah kedustaan yang sangat nyata. Tidak ada satu pun kitab sejarah terpercaya –yang secara gamblang dan rinci menceritakan kehidupan Imam Sholahuddin al Ayyubi- menyebutkan bahwa beliau lah yang pertama kali memperingati malam maulid nabi. Akan tetapi, para ulama ahli sejarah justru menyebutkan kebalikannya, bahwa yang pertama kali memperingati malam maulid nabi adalah para raja dari Daulah Ubaidiyyah, sebuah Negara (yang menganut keyakinan) Bathiniyyah Qoromithoh meskipun mereka menamakan dirinya sebagai Daulah Fathimiyyah. Merekalah yang dikatakan oleh Imam al Ghozali: “Mereka adalah sebuah kaum yang tampaknya sebagai orang Syiah Rafidhah padahal sebenarnya mereka adalah orangorang kafir murni.” Hal ini dikatakan oleh al Miqrizi dalam al-Khuthoth: 1/280, al Qolqosyandi dalam Shubhul A’sya: 3/398, as Sandubi dalam Tarikh Ihtifal Bil Maulid hal.69, Muhammad Bukhoit al Muthi‟I dalam Ahsanul Kalam hal.44, Ali Fikri dalam Muhadhorot beliau hal.84, Ali Mahfizh dalam al ‘Ibda’ hal.126. Imam Ahmad bin Ali al Miqrizi berkata: “Para kholifah Fathimiyyah mempunyai banyak perayaan setiap tahunnya. Yaitu perayaan tahun baru, perayaan hari asyuro, perayaan maulid nabi, maulid Ali bin Abi Tholib, maulid Hasan, maulid Husein, maupun maulid Fathimah az

Zahro‟, dan maulid kholifah. (Juga ada) perayaan awal Rojab, awal Sya‟ban, nisfhu Sya‟ban, awal Romadhon, pertengahan Romadhon, dan penutup Ramadhon…” [al Mawa’izh:1/490] Kalau ada yang masih mempertanyakan: bukankah tidak hanya ulama yang menyebutkan bahwa yang pertama kali membuat acara peringatan maulid nabi ini adalah raja yang adil dan berilmu yaitu Raja Mudhoffar penguasa daerah Irbil? Kami jawab: Ini adalah sebuah pendapat yang salah berdasarkan yang dinukil oleh para ulama tadi. Sisi kesalahan lainnya adalah bahwa Imam Abu Syamah dalam al Ba’its ‘Ala Inkaril Bida’ wal h\Hawadits hal.130 menyebutkan bahwa raja Mudhoffar melakukan itu karena mengikuti Umar bin Muhammad al Mula, orang yang pertama kali melakukannya. Hal ini juga disebutkan oleh Sibt Ibnu Jauzi dalam Mir’atuz Zaman: 8/310. Umar al Mula ini adalah salah seorang pembesar sufi, maka tidaklah mustahil kalau Syaikh Umar al Mula ini mengambilnya dari orangorang Ubaidiyyah. Adapun klaim bahwa Raja Mudhoffar sebagai raja yang adil, maka urusan ini kita serahkan kepada Allah akan kebenarannya. Namun, sebagian ahli sejarah yang sezaman dengannya menyebutkan hal yang berbeda. Yaqut al Hamawi dalam Mu’jamul Buldan 1/138 berkata: “Sifat raja ini banyak kontradiktif, dia sering berbuat zalim, tidak memperhatikan rakyatnya, dan senang mengambil harta mereka dengan cara yang tidak benar.” [lihat al Maurid Fi ‘Amanil Maulid kar.al Fakihani – tahqiq Syaikh Ali- yang tercetak dalam Rosa’il Fi Hukmil Ihtifal Bi Maulid an Nabawi: 1/8] Alhasil, pengingatan maulid nabi pertama kali dirayakan oleh para raja Ubaidiyyah di Mesir. Dan mereka mulai menguasai Mesir pada tahun 362H. Lalu yang pertama kali merayakannya di Irak adalah Umar Muhammad al Mula oleh Raja Mudhoffar pada abad ketujuh dengan penuh kemewahan. Para sejarawan banyak menceritakan kejadian itu, diantaranya al Hafizh Ibnu Katsir dalam Bidayah wan Nihayah: 13/137 saat menyebutkan biografi Raja Mudhoffar berkata: “Dia merayakan maulid nabi pada bulan Robi‟ul Awal dengan amat mewah. As Sibt berkata: “Sebagian orang yang hadir disana menceritakan bahwa dalam hidangan Raja Mudhoffar disiapkan lima ribu daging panggang, sepuluh ribu daging ayam, seratus ribu gelas susu, dan tiga puluh ribu piring makanan ringan…” Imam Ibnu Katsir juga berkata: “Perayaan tersebut dihadiri oleh tokoh-tokoh agama dan para tokoh sufi. Sang raja pun menjamu mereka, bahkan bagi orang sufi ada acara khusus, yaitu bernyanyi dimulai waktu dzuhur hingga fajar, dan raja pun ikut berjoget bersama mereka.” Ibnu Kholikan dalam Wafayat A’yan 4/117-118 menceritakan: “Bila tiba awal bulan Shofar, mereka menghiasi kubah-kubah dengan aneka hiasan yang indah dan mewah. Pada setiap kubah ada sekumpulan penyanyi, ahli menunggang kuda, dan pelawak. Pada hari-hari itu manusia libur kerja karena ingin bersenang-senang ditempat tersebut bersama para penyanyi. Dan bila maulid kurang dua hari, raja mengeluarkan unta, sapi, dan kambing yang tak terhitung jumlahnya, dengan diiringi suara terompet dan nyanyian sampai tiba dilapangan.” Dan pada malam mauled, raja mengadakan nyanyian setelah sholat magrib di benteng.”

Setelah penjelasan diatas, maka bagaimana dikatakan bahwa Imam Sholahuddin al Ayyubi adalah penggagas maulid nabi, padahal fakta sejarah menyebutkan bahwa beliau adalah seorang raja yang berupaya menghancurkan Negara Ubaidiyyah. [1] Siapakah Gerangan Sholahuddin al Ayyubi [2] Beliau adalah Sultan Agung Sholahuddin Abul Muzhoffar Yusuf bin Amir Najmuddin Ayyub bin Syadzi bin Marwan bin Ya‟qub ad Duwini. Beliau lahir di Tkrit pada 532 H karena saat itu bapak beliau, Najmuddin, sedang menjadi gubernur daerah Tikrit. Beliau belajar kepada para ulama zamannya seperti Abu Thohir as Silafi, al Faqih Ali bin Binti Abu Sa‟id, Abu Thohir bin Auf, dan lainnya. Nuruddin Zanki (raja pada saat itu) memerintah beliau untuk memimpin pasukan perang untuk masuk Mesir yang saat itu di kuasai oleh Daulah Ubaidiyyah sehingga beliau berhasil menghancurkan mereka dan menghapus Negara mereka dari Mesir. Setelah Raja Nuruddin Zanki wafat, beliau yang menggantikan kedudukannya. Sejak menjadi raja beliau tidak lagi suka dengan kelezatan dunia. Beliau adalah seorang yang punya semangat tinggi dalam jihad fi sabilillah, tidak pernah didengar ada orang yang semisal beliau. Perang dahsyat yang sangat monumental dalam kehidupan Sholahuddin al Ayyubi adalah Perang Salib melawan kekuatan kafir salibis. Beliau berhasil memporak porandakan kekuatan mereka, terutama ketika perang di daerah Hithin. Muwaffaq Abdul Lathif berkata: “Saya pernah datang kepada Sholahuddin saat beliau berada di Baitul Maqdis (Palestina, red), ternyata beliau adalah seorang yang sangat dikagumi oleh semua yang memandangnya, dicintai oleh siapapun baik orang dekat maupun jauh. Para panglima dan prajuritnya sangat berlomba-lomba dalam beramal kebaikan. Saat pertama kali aku hadir di majelisnya, ternyata majelis beliau penuh dengan para ulama, beliau banyak mendengarkan nasihat dari mereka.” Adz Dzahabi berkata: “Keutamaan Sholahuddin sangat banyak, khususnya dalam masalah jihad. Beliau pun seorang yang sangat dermawan dalam hal memberikan harta benda kepada para pasukan perangnya. Beliau mempunyai kecerdasan dan kecermatan dalam berfikir, serta tekad yang kuat.” Sholahuddin al Ayyubi wafat di Damaskus setelah subuh pada hari Rabu 27 Shofar 589 H. Masa pemerintahan beliau adalah 20 tahun lebih. Note: [1] Untuk lebih lengkapnya tentang sejarah peringatan maulid nabi dan hokum memperingatinya, silahkan dilihat risalah Akhuna al- Ustadz Abu Ubaidah “Polemik Perayaan Maulid Nabi” [2] Disarikan dari Siyar A’lamin Nubala’: 15/434 no.5301

Sumber: Diketik ulang dari Majalah al Furqon Edisi 09 Thn.XIII, Robi‟uts Tsani 1430/April 2009, Hal.57-58 Link Terkait: 1. Download Audio: “Polemik Perayaan Maulid Nabi – Ustadz Abu Ubaidah Yusuf asSidawi Hafizhahullah 2. Menjawab Syubhat-Syubhat Perayaan Maulid Nabi – Ustadz Abu Ubaidah Yusuf as-Sidawi Hafizhahullah 3. Mengkritisi Sejarah Perayaan Maulid Nabi – Ustadz Abu Ubaidah Yusuf as-Sidawi Hafizhahullah 4. Barzanji Kitab Induk Peringatan Maulid Nabi Shallallahu „Alaihi wa Sallam 5. Peringatan Maulid Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam Menurut Syari‟at Islam – Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawas Hafizhahullah Dipublikasikan kembali oleh : Al Qiyamah – Moslem Weblog

Rate this:

Rate This

Sebarkan Artikel Ini:
         

Facebook88 Twitter6 Digg Reddit StumbleUpon LinkedIn Email Print

Like this:

Suka One blogger likes this post.

Posted on Februari 5, 2011, in Kisah Tidak Nyata and tagged Bid'ah, Kisah Dusta Sejarah Maulid, Kisah Tidak Nyata, Maulid, Sejarah Maulid, Sholahuddin al Ayyubi. Bookmark the permalink. 16 Komentar. ← Menjawab Syubhat-Syubhat Perayaan Maulid Nabi dan Benarkah Ibnu Taimiyyah Rahimahullah Mendukung Maulid Nabi? Siapakah Pemerintahan Yang Bodoh?! [Oleh: Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat] →
  

Tinggalkan sebuah Komentar Trackbacks (2)

1. Shalehoddin | Februari 9, 2010 pukul 9:50 am Assalamu‟alaikum Warahmatullohi Wabarakatuh. Perayaan Maulid Nabi memang banyak digandrungi oleh masyarakat (kebanyakan masyarakat awam,pen) hal dapat dibuktikan dengan antusias mereka memperingatinya dengan berbagai cara dan kegiatan yang di atasnamakan perintah agama, itu sungguh ironis. Yang semakin sulit untuk memberantas itu adalah adanya sifat ashobiya terhadap tokoh/kiyai yang biasanya jebolan pondok, kalau ada orang yang bukan jebolan pondok mengatakan bahwa maulid nabi sesat dan bid‟ah, mereka langsung bilang Kyia anu dan tokoh anu tidak melarangnya, sekarang yang perlu kita pikirkan bagaimana cara menghilangkan sifat ashobiyah itu pada masyarakat khususnya masyarakat awam agama. Dengan ini kami mohon cara yang baik dan syar‟i tanpa harus menghilangkan toleransi agar bisa menjelaskan kepada msyarakat tentang Peringatan Maulid Nabi, Wassalam. Balas
o

admin | Februari 9, 2010 pukul 8:11 pm wa‟alaykumussalam warahmatullah wabarakatuh, benar antum akh.. jazakallah khairan atas komentarnya Balas

2. Ulil Amri | Februari 13, 2010 pukul 11:34 pm KENALILAH WAHABI DENGAN CIRI-CIRI: 1. Suka Membid‟ahkan Bahkan Mengkafirkan 2. Suka Memutarbalikkan Fakta Dan Sejarah Seperti Yang Tersebut Diatas.

Inilah Sejarah Lain Tentang Shalahuddun Al-Ayyubi Dan Maulid Nabi Besar Sayyidina Muhammad Rasulullah Shallallahu „Alaihi Wa Sallam Hikmah Maulid Nabi Muhammad Oleh: Auki Akbar, Ali Yahya, Anom Yusuf, Rizki Tian Bahari dan Rahmatan Zuhri PS SMPN-I Kota Bengkulu Pendahuluan Maulid Nabi Muhammad, saw adalah sebuah upacara atau peringatan untuk mengenang lahirnya Nabi Muhammad, saw. Nabi Muhammad merupakan penyebar agama islam. Dalam hidupnya, dia memiliki perilaku yang baik, sehingga disebut sebagai uswatun hasanah (contoh teladan yang baik). Ide maulid nabi terjadi pada saat Salahudin (berasal dari suku Ayyub) mengeluarkan instruksi kepada seluruh jemaah haji. Ia menghimbau agar jemaah haji setelah kembali ke kampungnya masing-masing mensosialisasikan perayaaan Maulid Nabi. Salahuddin menyatakan bahwa mulai tahun 580 H (1184 M), setiap 12 Rabiul-awal, dirayakan sebagai hari Maulid Nabi dan diisi dengan berbagai kegiatan yang membangkitkan semangat juang umat Islam. Salahuddin ditentang oleh para ulama, sebab sejak zaman Nabi peringatan seperti itu tidak ada. Lagi pula hari raya resmi menurut ajaran agama hanya ada dua, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Akan tetapi Salahuddin kemudian menegaskan bahwa perayaan Maulid Nabi hanyalah kegiatan yang menyemarakkan syiar agama, bukan perayaan yang bersifat ritual, sehingga tidak dapat dikategorikan bid‟ah yang terlarang. Dampak Maulid Nabi Muhammad SAW Salahuddin Al Ayyubi dalam literatur sejarah Eropa dikenal dengan nama Saladin berasal dari dinasti Ayyub (setingkat gubernur). Ia memerintah dari tahun 1174-1193 M atau 570-790 H. Ia bukanlah orang Arab melainkan dari suku Kurdi. Pusat kesultanannya berada di kota Qahirah (Kairo), Mesir. Daerah kekuasaannya membentang dari Mesir sampai Suirah dan Semenanjung Arabia. Pada masa itu, dunia Islam sedang mendapatkan serangan gelombang demi gelombang dari berbagai bangsa Eropa (Perancis, Jerman, Inggris). Inilah yang dikenal dengan Perang Salib atau the Crusade. Pada tahun 1099 laskar eropa merebut Yerusalem. Umat Islam saat itu kehilangan semangat perjuangan (jihad) (sama seperti sekarang), dan persaudaraan (ukhuwah) (sama sepaerti sekarang), sebab secara politis terpecah belah dalam banyak kerajaan dan kesultanan, meskipun khalifah tetap satu, yaitu Bani Abbas di bagdad, sebagai lambang persatuan spiritual. Guna menghidupkan jihad umat Islam untuk merebut kembali Yerusalem, Salahuddin meminta persetujuan dari Khalifah di Bagdad yakni An-Nashir agar umat Islam di seluruh dunia merayakan hari lahir Nabi Muhammad saw. Menurut salahuddin semangat juang umat islam harus dihidupkan kembali dengan cara mempertebal kecintaan umat kepada nabi mereka. Ternyata ide yang dilontarkan salahuddin ini disambut baik oleh khalifah. Maka, pada musim ibadah haji bulan dzulhijjah 579 H (1183 M), salahuddin sebagai penguasa baramain (dua tanah suci, Mekah dan madinah) mengeluarkan instruksi kepada seluruh jamaah haji. Ia menghimbau agar jemaah haji setelah kembali ke kampungnya masing-masing mensosialisasikan perayaan Maulid Nabi. Salahuddin menyatakan bahwa mulai tahun 580 H (1184 M), setiap tanggal 12 Rabiul-Awal, dirayakan sebagai hari Maulid Nabi dan diisi dengan berbagai kegiatan yang

membangkitkan semangat juang umat Islam. Salahuddin ditentang oleh para ulama, sebab sejak zaman Nabi peringatan seperti itu tidak pernah ada. Lagi pula hari raya resmi menurut ajaran agama hanya ada dua, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Akan tetapi Salahuddin kemudian menegaskan bahwa perayaan Maulid Nabi hanyalah kegiatan yang menyemarakkan syiar agama, bukan perayaan yang bersifat ritual, sehingga tidak dapat dikategorikan bid‟ah yang terlarang. Ternyata peringatan Maulid Nabi yang diselenggarakan Sultan salahuddin itu menimbulkan efek yang luar biasa. Semangat umat Islam untuk berjihad bergelora kembali. Salahuddin berhasil menghimpun kekuatan, sehingga pada tahun 1187 (583 H) Yerusalem direbut oleh Salahuddin dari tangan bangsa Eropa. Dibawah kepemimpinannya, perang salib diakhiri dengan sedikit korban. Tak seperti tentara salib yang menduduki Jerusalem dan membunuh semua muslin yang tersisa, pasukan Salahuddin mengawal umat Kristen dan memastikan jiwa mereka selamat saat keluar Jerusalem. Begitulah akhlak Islam dalam perang yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Maulid Kotekstual Berangkat dari latar belakang histories maulid tersebut, jelas bahwa maulid itu sangat bergantung kepada konteks. Jika dahulu Salahuddin berhadapan dengan tentara salib, bagaimana dengan kondisi umat Islam sekarang? Untuk itu diperlukan kejelian dalam melihat permasalahan yang dihadapi oleh umat Islam saat ini. Diantara persoalan besar yang dihadapi adalah kemelaratan, kemiskinan dan kebodohan serta perpecahan di tubuh umat Islam yang terkadang berakhir dengan konflik berdarah. Keempat persoalan tersebut adalah masalah klasik yang belum terpecahkan sampai detik ini. Adapun amsalah kontemporer yang dihadapi oleh umat adalah terorisme, kekerasan atas nama agama, tatanan dunia yang tidak adil, korupsi, narkoba, judi, pornografi, nepotisme, dan hal-hal lain yang berbau takhayul. Isu-isu ini semstinya diangkat oleh mubaligh, ustaz, da‟I ke permukaan dan dibicarakan dalam peringatan Maulid Nabi. Syukur-syukur kita mampu menemukan jalan keluarnya. Adalah lebih baik, jika dari sebuah peringatan maulid kita dapat melahirkan sebuah aksi nyata atau program yang kongkrit yang bisa langsung dirasakan masyarakat seperti pemberdayaan di bidang pendidikan dan ekonomi. Pemberdayaan di dua bidang ini mempunyai peran sentral dalam menangkis umat dari kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan. Kebodohan dan kemiskinan umat Islam ini mesti secepatnya dihilangkan karena dua hal ini merupakan satu faktir utama yang menjerambabkan umat Islam dalam aksi kekerasan atau terorisme, perbuatan meluluhlantakan citra Islam sebagai agama damai di tengah percaturan politik global. Jika maulid tidak lagi kontekstual, tidak mempunyai daya pecut menggugah semangat juang kita untuk melakukan langkah kongkret bagi kemjuan dan kemakmuran, hanya sebatas emosional saja, sangat dikhawatirkan umat islam akan terlempar pada romantisme sejarah. Perlahan namun pasti kita pun mengkultuskan Nabi Muhammad saw sebagai orang suci yang memiliki keistimewaan ketuhanan. Padahal, Al Qur‟an menyebutkan bahwa Nabi Muhammad saw itu adalah manusia biasa (QS Al-Kahfi 18:110). Penegasan Al Qur‟an ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad itu adalah manusia biasa seperti manusia lainnya. Hanya saja bedanya Nabi Muhammad saw itu mendapat wahyu dari Allah sebagai utusan Allah kepada umat manusia. Rasulullah berhasil melepaskan diri dari jerat hawa nafsu dan tampil sebagai insane al-kamil, manusia yang senantiasa hidup dalam tuntunan nilai-nilai Ilahi. Kesimpulan

Maulid nabi Muhammad bukanlah bid‟ah yang terlarang karena dengan adanya Maulid Nabi itu masyarakat dapat memperkuat imannya. Saat ini, banyak manusia yang telah melakukan perbuatan tercela. Perbuatan tercela ini berasal dari ketidaktaatan manusia kepada Alalh swt. Salah satu cara untuk mempertahankan akhlak yang baik pada umat Islam adalah merayakan hal-hal yang bernuansa Islami seperti Maulid Nabi. Sumber: http://yahyaali.wordpress.com/2009/05/08/hikmah-maulid-nabi-muhammad/ Perang Salib, Shalahuddin dan Peringatan Maulid Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS Al Ahzab [33]: 21). Setiap Rabi‟ul Awwal, umat Muslim sibuk menyiapkan varian agenda dalam rangka memperingati kelahiran Rasulullah SAW yang jatuh pada tangal 12 Rabi‟ul Awal. Namun tak ada yang tahu, apa semangat digagasnya peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang pertama kali dilakukan Shalahuddin Al-Ayyubi, panglima perang Mesir. Ia mengusulkan ide itu pada Sultan Mesir, Muzaffar ibn Baktati, yang terkenal arif dan bijaksana. Ia sangat menghormati sosok Shalahuddin, yang di kemudian hari membawa kemenangan bagi tentara Muslim dalam Perang Salib. Shalahuddin juga merupakan panglima Islam di masa Khalifah Muiz Liddinillah dari dinasti Bani Fathimiyah di Mesir (berkuasa 365 H/975 M). Gagasan Shalahuddin sederhana. Pada masa itu masjid Al Aqsha diambil alih dan diubah menjadi gereja. Kondisi tersebut diperparah oleh keadaan pasukan Islam yang mengalami penurunan ghirah perjuangan dan renggangnya ukhuwah Islamiyah. Dari situlah Shalahuddin memiliki gagasan untuk menghidupkan kembali semangat juang dan persatuan umat dengan cara merefleksikan dan mempertebal kecintaan kepada Rasulullah. Selanjutnya digelarlah peringatan Maulid Nabi yang disambut luar biasa oleh seluruh kaum Muslimin kala itu. �Semangat Shalahuddin untuk memperingati Mauild Nabi dalam rangka mengajak ummat Islam untuk back to Quran dan Sunnah. Akhirnya peperangan dimenangkan oleh pasukan Islam. Peringatan Maulid ini banyak manfaatnya,� jelas ketua Majelis Ulama Indonesia, KH Syukri Zakrasyi. Apa yang digelorakan Shalahuddin membuahkan hasil di kemudian hari. Jerusalem berhasil direbut. Di bawah kepemimpinannya, Perang Salib diakhiri dengan sedikit jumlah korban. Tak seperti saat tentara Kristen menduduki Jerusalem dan membunuh semua Muslim yang tersisa, pasukan Shalahuddin mengawal umat Kristen dan memastikan jiwa mereka selamat saat keluar dari Jerusalem. Begitulah akhlak Islam seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW. Tidak mentang-mentang menang dan berkuasa, maka bebas melakukan penindasan. Muslim Indonesia pantas meniru sejarah Rasulullah dan sejarah lahirnya peringatan maulid Nabi. Sedikit banyak, situasi Muslim saat ini hampir sama dengan situasi umat Islam masa Shalahuddin Al-Ayubi. Selain terpuruk secara politik, ekonomi, sosial, budaya, dan akidah, juga tidak ada kebanggaan sebagai Muslim. Berkaca lagi pada pribadi Nabi SAW, itulah semangat yang diusung Shalahuddin. Itu pula agaknya yang harus kita lakukan saat ini. ”Dalam kondisi bangsa yang penuh ujian seperti sekarang ini, sangat pantas jika kita melihat figur Rasulullah SAW terutama

dalam membangun masyarakatnya yang berlandaskan nilai-nilai Ilahi. Beliau itu memiliki akhlak yang sangat terpuji: jujur, tanggungjawab dan kebersamaan,” ujar Prof Dr KH Didin Hafidhuddin Msc, direktur Pasca Sarjana Univeristas Ibnu Khaldun Bogor. (dam/RioL) Perang Salib Perang keagamaan antara umat Kristen Eropa dan umat Islam Asia selama hampir dua abad (1096-1291) dikenal dengan nama Perang Salib. Perang itu terjadi sebagai reaksi umat Kristen terhadap umat Islam. Sejak tahun 632, sejumlah kota penting dan tempat suci umat Kristen dikuasai oleh umat Islam. Akibatnya, umat Kristen merasa terganggu ketika hendak berziarah ke kota suci Yerusalem. Umat Kristen tentu saja ingin merebut kembali kota itu. Perang itu disebut Perang Salib karena pasukan Kristen menggunakan tanda salib sebagai simbol pemersatu dan untuk menunjukkan bahwa peperangan yang mereka lakukan adalah perang suci. Faktor utama penyebab terjadinya Perang Salib adalah agama, politik dan sosial ekonomi. Faktor agama, sejak Dinasti Seljuk merebut Baitulmakdis dari tangan Dinasti Fatimiah pada tahun 1070, pihak Kristen merasa tidak bebas lagi menunaikan ibadah ke sana. Hal ini disebabkan karena para penguasa Seljuk menetapkan sejumlah peraturan yang dianggap mempersulit mereka yang hendak melaksanakan ibadah ke Baitulmakdis. Bahkan mereka yang pulang berjiarah sering mengelu karena mendapatkan perlakuan jelek oleh orang-orang Seljuk yang fanatik. Umat Kristen merasa perlakuan para penguasa Dinasti Seljuk sangat berbeda dengan para penguasa Islam lainnya yang pernah menguasai kawasan itu sebelumnya. Faktor politik, dipicu oleh kekalahan Bizantium –sejak 330 disebut Konstantinopel (Istambul)– di Manzikart (Malazkirt atau Malasyird, Armenia) pada tahun 1071 dan jatuhnya Asia Kecil ke bawah kekuasaan Seljuk terlah mendorong Kaisai Alexius I Comnenus (Kaisar Constantinopel) untuk meminta bantuan kepada Paus Urbanus dalam usahanya untuk mengembalikan kekuasaannya di daerah-daerah pendudukan Dinasti Seljuk. Di lain pihak, kondisi kekuasaan Islam pada waktu itu sedang melemah, sehingga orangorang Kristen Eropa berani untuk ikut mengambil bagian dalam Perang Salib. Ketika itu Dinasti Seljuk di Asia Kecil sedang mengalami perpecahan, Dinasti Fatimiah di Mesir dalam keadaan lumpuh, sementara kekuasaan Islam di Spanyol semakin goyah. Situasi semakin bertambah parah karena adanya pertentangan segitiga antara khalifah Fatimiah di Mesir, khalifah Abbasiyah di Baghdad dan amir Umayyah di Cordoba yang memproklamirkan dirinya sebagai penguasa Kristen di Eropa untuk merebut satu persatu daerah-daerah kekuasaan Islam, seperti Dinasti-dinasti kecil di Edessa dan Baitulmakdis. Sementara faktor sosial ekonomi dipicu oleh pedagang-pedagang besar yang berada di pantai timur Laut Tengah, terutama yang berada di kota Venezia, Genoa dan Pisa, berambisi untuk menguasai sejumlah kota-kota dagang di sepanjang pantai Timur dan selatan Laut Tengah untuk memperluas jaringan dagang mereka. Untuk itu mereka rela menanggung sebagian dana perang Salib dengan maksud menjadikan kawasan itu sebagai pusat perdagangan mereka apabila pihak Kristen Eropa memperoleh kemenangan. Sejarawan Philip K Hitti penulis buku The History of The Arabs membagi Perang Salib ke dalam tiga periode. Periode pertama disebut periode penaklukkan daerah-daerah kekuasaan Islam. pasukan Salib yang dipimpin oleh Godfrey of Bouillon mengorganisir strategi perang dengan rapih. Mereke berhasil menduduki kota suci Palestina

(Yerusalem) tanggal 7 Juni 1099. Pasukan Salib ini melakukan pembantaian besarbesaran selama lebih kurang satu minggu terhadap umat Islam tanpa membedakan lakilaki dan perempuan, anak-anak dan dewasa, serta tua dan muda. Kemenangan pasukan Salib dalam periode ini telah mengubah peta dunia Islam dan situasi di kawasan itu. Periode kedua, disebut periode reksi umat Islam (1144-1192). Jatuhnya daerah kekuasaan Islam ke tangan kaum Salib membangkitkan kesadaran kaum Muslimin untuk menghimpun kekuatan guna menghadapi mereka. Di bawah komando Imaduddin Zangi, gubernur Mosul, kaum Muslimin bergerak maju membendung serangan kaum Salib. Bahkan mereka berhasil merebut kembali Allepo dan Edessa. Keberhasilan kaum muslimin meraih berbagai kemenangan, terutama setelah muculnya Salahuddin Yusuf alAyyubi (Saladin) di Mesir yang berhasil membebaskan Baitulmakdis (Jerusalem) pada 2 Oktober 1187, telah membangkitkan kembali semangat kaum Salib untuk mengirim ekspedisi militer yang lebih kuat. Periode ketiga, berlangsung tahun 1193 hingga 1291 ini lebih dikenal dengan periode kehancuran di dalam pasukan Salib. Hal ini disebabkan karena periode ini lebih disemanganti oleh ambisi politik untuk memperoleh kekuasaan dan sesuatu yang bersifat material dari pada motivasi agama. Sumber: http://swaramuslim.com/galery/more.php?id=A5536_0_18_0_M Balas 3. doktermuslim | Februari 16, 2010 pukul 11:36 pm ijin copy paste Balas
o

admin | Februari 18, 2010 pukul 9:09 pm silahkan akhi Balas

4. faisal | Februari 19, 2010 pukul 10:00 pm izin copas Balas 5. totok | Februari 20, 2010 pukul 8:14 am nohon copy dan paste utk dishare ke temen. Insya Allah tetap comitted kaidah ilmiyah dan tanpa tujuan komersial. Balas

o

admin | Februari 20, 2010 pukul 8:20 pm silahkan, barakallohu fiik Balas

6. anti-wahabi | September 7, 2010 pukul 7:13 am Wahabi adalah antek yahudi generasi Dajjal …. Jangan ikuti wahabi karena aqidah mereka benar-benar sesat aqidah mereka hampir sama dengan golongan mutasyabih …ikutilah Aqidah Asy-ariyah aqidah yang dianut oleh jumhur(mayoritas Ulama)… Dan ingatlah imam yang anda agung-agungkan Ibnu Taimiyyah telah bertaubat pada akhir hayatnya dan mendukung peringatan maulid Nabi (silakan anda baca di kitab-kitab beliau). Balas
o

agusisdiyanto | September 8, 2010 pukul 9:28 pm wah…ada informasi baru nich….. kepada “anti-wahabi” mohon bantuannya untuk menunjukkan tulisan Ibnu Taimiyyah yang menerangkan beliau ruju‟ atau taubat dari pemahaman awal beliau. Judul kitabnya apa dan di bagian/bab apa beliau bicara tentang hal ini. Sehingga saya yang baru belajar agama ini mudah melacak referensi yang anda sebutkan tersebut. Smoga informasi dari anda nantinya berguna bagi kita semua. Balas

o

Abu Hassan | Februari 16, 2011 pukul 4:19 pm Go Wahaby….!!!!! Go Wahaby….!!!!! ayo teruskan Jihadmu dengan Ilmu…..!!!! sebarkan da‟wahmu dengan Ilmu…..!!!! dan biarkan orang-orang bodoh itu berbicara tanpa ilmu…..!!!!! Vote for Wahaby, Ibn Taimiyah, Albany, Ibn Baz, Ibn Utsaimin…!!!! Balas

7. alipha1984 | Oktober 31, 2010 pukul 5:41 am artikel ini berlandaskan wahabi. wahabi didirikan oleh penghuni kampung badui yang paling lambat masuk islam yaitu an najd

kota yang paling banyak melahirkan nabi palsu, nabi sendiri menyebutnya sebagai tanduk setan. jadi secara psikologi kaum wahabi adalah ortodoks dalam berfikir tapi keras kepala karena didukung oleh penguasa. karena pergerakan wahabi yang menentang pertama adalah khalifah usmaniyah di turki yang notabene bermzhb hnbali dan sufi berkembang pesat disna, akibatnya dendam dgn kaum sufi Balas 8. Sule | Februari 10, 2011 pukul 9:09 am

Sholahuddin Al Ayyubi (532 – 589 H)
Posted by redaksi On 20 June 2007 25 Commented
inShare

Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab (13-23 H/634-644 M) Jerussalam dapat dikuasai oleh kaum muslimin dalam suatu penyerahan kuasa secara damai. Sayidina Umar sendiri datang ke Jerussalem untuk menerima penyerahan kota Suci itu atas desakan dan persetujuan Uskup Agung Sophronius. Berabad abad lamanya kota itu berada di bawah pentadbiran Islam, tapi penduduknya bebas memeluk agama dan melaksanakan ajaran agamanya masing-masing tanpa ada gangguan. Orang-orang Kristian dari seluruh dunia juga bebas datang untuk mengerjakan haji di kota Suci itu dan mengerjakan upacara keagamaannya. Berabad abad lamanya kota itu berada di bawah pentadbiran Islam, tapi penduduknya bebas memeluk agama dan melaksanakan ajaran agamanya masing-masing tanpa ada gangguan. Orang-orang Kristian dari seluruh dunia juga bebas datang untuk mengerjakan haji di kota Suci itu dan mengerjakan upacara keagamaannya. Orang-orang Kristian dari Eropah datang mengerjakan haji dalam jumlah rombongan yang besar dengan membawa obor dan pedang seperti tentara. Sebahagian dari mereka mempermainkan pedang dengan dikelilingi pasukan gendang dan seruling dan diiringkan pula oleh pasukan bersenjata lengkap. Sebelum Jerussalem ditadbir Kerajaan Seljuk pada tahun 1070, upacara seperti itu dibiarkan saja oleh umat Islam, kerana dasar toleransi agama. Setelah Kerajaan Seljuk memerintah, upacara seperti itu dilarang dengan alasan keselamatan. Mungkin kerana upacara tersebut semakin berbahaya. Lebih-lebih lagi kumpulan-kumpulan yang mengambil bahagian dalam upacara itu sering menyebabkan pergaduhan dan huruhara. Disebutkan bahawa pada tahun 1064 ketua Uskup memimpin pasukan seramai 7000 orang jemaah haji yang terdiri dari kumpulan Baronbaron dan para pahlawan telah menyerang orang-orang Arab dan orang-orang Turki. Sebelum Jerussalem ditadbir Kerajaan Seljuk pada tahun 1070, upacara seperti itu dibiarkan saja oleh umat Islam, kerana dasar toleransi agama. Akan tetapi apabila Kerajaan Seljuk memerintah, upacara seperti itu tidak dibernarkan, dengan alasan keselamatan. Mungkin kerana upacara tersebut semakin berbahaya. Lebih-lebih lagi kumpulan-kumpulan yang mengambil bahagian

dalam upacara itu sering menyebabkan pergaduhan dan huruhara. Disebutkan bahawa pada tahun 1064 ketua Uskup memimpin pasukan seramai 7000 orang jemaah haji yang terdiri dari kumpulan Baron-baron dan para pahlawan telah menyerang orang-orang Arab dan orang-orang Turki. Tindakan Seljuk itu menjadi salah anggapan oleh orang-orang Eropah. Pemimpin-pemimpin agama mereka menganggap bahwa kebebasan agamanya diganggu oleh orang-orang Islam dan menyeru agar Tanah Suci itu dibebaskan dari genggaman umat Islam. Patriach Ermite adalah paderi yang paling lantang membangkitkan kemarahan umat Kristian. Dalam usahanya untuk menarik simpati umat Kristian, Ermite telah berkeliling Eropah dengan mengenderai seekor keledai sambil memikul kayu Salib besar, berkaki ayam dan berpakaian compang camping. Dia telah berpidato di hadapan orang ramai sama ada di dalam gereja, di jalan-jalan raya atau di pasar-pasar. Katanya, dia melihat pencerobohan kesucian ke atas kubur Nabi Isa oleh Kerajaan Turki Seljuk. Diceritakan bahawa jemaah haji Kristian telah dihina, dizalimi dan dinista oleh orang-orang Islam di Jerussalem. Serentak dengan itu, dia menggalakkan orang ramai agar bangkit menyertai perang untuk membebaskan Jerussalem dari tangan orang Islam. Hasutan Ermite berhasil dengan menggalakkan Paus Urbanus II mengumumkan ampunan seluruh dosa bagi yang bersedia dengan suka rela mengikuti Perang Suci itu, sekalipun sebelumnya dia merupakan seorang perompak, pembunuh, pencuri dan sebagainya. Maka keluarlah ribuan umat Kristian untuk mengikuti perang dengan memikul senjata untuk menyertai perang Suci. Mereka yang ingin mengikuti perang ini diperintahkan agar meletakkan tanda Salib di badannya, oleh kerana itulah perang ini disebut Perang Salib. Paus Urbanus menetapkan tarikh 15 Ogos 1095 bagi pemberangkatan tentera Salib menuju Timur Tengah, tapi kalangan awam sudah tidak sabar menunggu lebih lama lagi setelah dijanjikan dengan berbagai kebebasan, kemewahan dan habuan. Mereka mendesak Paderi Patriach Ermite agar berangkat memimpin mereka. Maka Ermite pun berangkat dengan 60,000 orang pasukan, kemudian disusul oleh kaum tani dari Jerman seramai 20.000, datang lagi 200,000 orang menjadikan jumlah keseluruhannya 300,000 orang lelaki dan perempuan. Sepanjang perjalanan, mereka di izinkan merompak, memperkosa, berzina dan mabuk-mabuk. Setiap penduduk negeri yang dilaluinya, selalu mengalu-alukan dan memberikan bantuan seperlunya. Akan tetapi sesampainya di Hongaria dan Bulgaria, sambutan sangat dingin, menyebabkan pasukan Salib yang sudah kekurangan makanan ini marah dan merampas harta benda penduduk. Penduduk di dua negeri ini tidak tinggal diam. Walau pun mereka sama-sama beragama Kristian, mereka tidak senang dan bertindak balas. Terjadilah pertempuran sengit dan pembunuhan yang mengerikan. Dari 300,000 orang pasukan Salib itu hanya 7000 sahaja yang selamat sampai di Semenanjung Thracia di bawah pimpinan sang Rahib. Ketika pasukan Salib itu telah mendarat di pantai Asia kecil, pasukan kaum Muslimin yang di pimpin oleh Sultan Kalij Arselan telah menyambutnya dengan hayunan pedang. Maka terjadilah pertempuran sengit antara kaum Salib dengan pasukan Islam yang berakhir dengan hancur binasanya seluruh pasukan Salib itu.

Setelah kaum itu musnah sama sekali, muncullah pasukan Salib yang dipimpin oleh anak-anak Raja Godfrey dari Lorraine Perancis, Bohemund dari Normandy dan Raymond dari Toulouse. Mereka berkumpul di Konstantinopel dengan kekuatan 150,000 laskar, kemudian menyeberang selat Bosfur dan melanggar wliayah Islam bagaikan air bah. Pasukan kaum Muslimin yang hanya berkekuatan 50,000 orang bertahan mati-matian di bawah pimpinan Sultan Kalij Arselan. Satu persatu kota dan Benteng kaum Muslimin jatuh ke tangan kaum Salib, memaksa Kalij Arselan berundur dari satu benteng ke benteng yang lain sambil menyusun kekuatan dan taktik baru. Bala bantuan kaum Salib datang mencurah-curah dari negara-negara Eropah. Sedangkan Kalij Arselan tidak dapat mengharapkan bantuan dari wilayah-wilayah Islam yang lain, kerana mereka sibuk dengan kemelut dalaman masing-masing. Setelah berlaku pertempuran sekian lama, akhirnya kaum Salib dapat mengepung Baitul Maqdis, tapi penduduk kota Suci itu tidak mahu menyerah kalah begitu saja. Mereka telah berjuang dengan jiwa raga mempertahankan kota Suci itu selama satu bulan. Akhirnya pada 15 Julai 1099, Baitul Maqdis jatuh ke tangan pasukan Salib, tercapailah cita-cita mereka. Berlakulah keganasan luar biasa yang belum pernah terjadi dalam sejarah umat manusia. Kaum kafir Kristian itu telah menyembelih penduduk awam Islam lelaki, perempuan dan kanak-kanak dengan sangat ganasnya. Mereka juga membantai orang-orang Yahudi dan orang-orang Kristian yang enggan bergabung dengan kaum Salib. Keganasan kaum Salib Kristian yang sangat melampau itu telah dikutuk dan diperkatakan oleh para saksi dan penulis sejarah yang terdiri dari berbagai agama dan bangsa. Seorang ahli sejarah Perancis, Michaud berkata: “Pada saat penaklukan Jerussalem oleh orang Kristian tahun 1099, orang-orang Islam dibantai di jalan-jalan dan di rumah-rumah. Jerussalem tidak punya tempat lagi bagi orang-orang yang kalah itu. Beberapa orang mencoba mengelak dari kematian dengan cara menghendap-hendap dari benteng, yang lain berkerumun di istana dan berbagai menara untuk mencari perlindungan terutama di masjid-masjid. Namun mereka tetap tidak dapat menyembunyikan diri dari pengejaran orang-orang Kristian itu. Tentera Salib yang menjadi tuan di Masjid Umar, di mana orang-orang Islam cuba mempertahankan diri selama beberapa lama menambahkan lagi adegan-adegan yang mengerikan yang menodai penaklukan Titus. Tentera infanteri dan kaveleri lari tunggang langgang di antara para buruan. Di tengah huru-hara yang mengerikan itu yang terdengar hanya rintihan dan jeritan kematian. Orang-orang yang menang itu memijak-mijak tumpukan mayat ketika mereka lari mengejar orang yang cuba menyelamatkan diri dengan sia-sia. Raymond d‟Agiles, yang menyaksikan peristiwa itu dengan mata kepalanya sendiri mengatakan: “Di bawah serambi masjid yang melengkung itu, genangan darah dalamnya mencecah lutut dan mencapai tali kekang kuda.” Michaud berkata: “Semua yang tertangkap yang disisakan dari pembantaian pertama, semua yang telah diselamatkan untuk mendapatkan upeti, dibantai dengan kejam. Orang-orang Islam itu dipaksa terjun dari puncak menara dan bumbung-bumbung rumah, mereka dibakar hidup -hidup , diheret dari tempat peersembunyian bawah tanah, diheret ke hadapan umum dan dikurbankan di tiang gantungan.

Air mata wanita, tangisan kanak-kanak, begitu juga pemandangan dari tempat Yesus Kristus memberikan ampun kepada para algojonya, sama sekali tidak dapat meredhakan nafsu membunuh orang-orang yang menang itu. Penyembelihan itu berlangsung selama seminggu. Beberapa orang yang berhasil melarikan diri, dimusnahkan atau dikurangkan bilangannya dengan perhambaan atau kerja paksa yang mengerikan.” Gustav Le Bon telah mensifatkan penyembelihan kaum Salib Kristian sebagaimana katakatanya: “Kaum Salib kita yang “bertakwa” itu tidak memadai dengan melakukan berbagai bentuk kezaliman, kerosakan dan penganiayaan, mereka kemudian mengadakan suatu mesyuarat yang memutuskan supaya dibunuh saja semua penduduk Baitul Maqdis yang terdiri dari kaum Muslimin dan bangsa Yahudi serta orang-orang Kristian yang tidak memberikan pertolongan kepada mereka yang jumlah mencapai 60,000 orang. Orang-orang itu telah dibunuh semua dalam masa 8 hari saja termasuk perempuan, kanak-kanak dan orang tua, tidak seorang pun yang terkecuali. Ahli sejarah Kristian yang lain, Mill, mengatakan: “Ketika itu diputuskan bahawa rasa kasihan tidak boleh diperlihatkan terhadap kaum Muslimin. Orang-orang yang kalah itu diheret ke tempat-tempat umum dan dibunuh. Semua kaum wanita yang sedang menyusu, anak-anak gadis dan anak-anak lelaki dibantai dengan kejam. Tanah padang, jalan-jalan, bahkan tempat-tempat yang tidak berpenghuni di Jerusssalem ditaburi oleh mayat-mayat wanita dan lelaki, dan tubuh kanak-kanak yang koyak-koyak. Tidak ada hati yang lebur dalam keharuan atau yang tergerak untuk berbuat kebajikan melihat peristiwa mengerikan itu.” Jatuhnya kota Suci Baitul Maqdis ke tangan kaum Salib telah mengejutkan para pemimpin Islam. Mereka tidak menyangka kota Suci yang telah dikuasainya selama lebih 500 tahun itu boleh terlepas dalam sekelip mata. Mereka sedar akan kesilapan mereka kerana berpecah belah. Para ulama telah berbincang dengan para Sultan, Emir dan Khalifah agar mengambil berat dalam perkara ini. Usaha mereka berhasil. Setiap penguasa negara Islam itu bersedia bergabung tenaga untuk merampas balik kota Suci tersebut. Di antara pemimpin yang paling gigih dalam usaha menghalau tentera Salib itu ialah Imamuddin Zanki dan diteruskan oleh anaknya Emir Nuruddin Zanki dengan dibantu oleh panglima Asasuddin Syirkuh. Setelah hampir empat puluh tahun kaum Salib menduduki Baitul Maqdis, Shalahuddin AlAyyubi baru lahir ke dunia. Keluarga Shalahuddin taat beragama dan berjiwa pahlawan. Ayahnya, Najmuddin Ayyub adalah seorang yang termasyhur dan beliau pulalah yang memberikan pendidikan awal kepada Shalahuddin. Sholahuddin Yusuf bin Najmuddin Ayyub dilahirkan di Takrit Irak pada tahun 532 Hijrah /1138 Masihi dan wafat pada tahun 589 H/1193 M di Damsyik. Sholahuddin terlahir dari keluarga Kurdish di kota Tikrit (140km barat laut kota Baghdad) dekat sungai Tigris pada tahun 1137M. Masa kecilnya selama sepuluh tahun dihabiskan belajar di Damaskus di lingkungan anggota dinasti Zangid yang memerintah Syria, yaitu Nuruddin Zangi. Selain belajar Islam, Sholahuddin pun mendapat pelajaran kemiliteran dari pamannya Asaddin Shirkuh, seorang panglima perang Turki Seljuk. Kekhalifahan. Bersama dengan pamannya

Sholahuddin menguasai Mesir, dan mendeposisikan sultan terakhir dari kekhalifahan Fatimiah (turunan dari Fatimah Az-Zahra, putri Nabi Muhammad SAW). Pada tahun 549 H/1154 M, panglima Asasuddin Syirkuh memimpin tenteranya merebut dan menguasai Damsyik. Shalahuddin yang ketika itu baru berusia 16 tahun turut serta sebagai pejuang. Pada tahun 558 H/1163 Masihi, panglima Asasuddin membawa Shalahuddin Al-Ayyubi yang ketika itu berusia 25 tahun untuk menundukkan Daulat Fatimiyah di Mesir yang diperintah oleh Aliran Syiah Ismailiyah yang semakin lemah.Usahanya berhasil. Khalifah Daulat Fatimiyah terakhir Adhid Lidinillah dipaksa oleh Asasuddin Syirkuh untuk menandatangani perjanjian. Akan tetapi, Wazir besar Shawar merasa cemburu melihat Syirkuh semakin popular di kalangan istana dan rakyat. Dengan senyap-senyap dia pergi ke Baitul Maqdis dan meminta bantuan dari pasukan Salib untuk menghalau Syirkuh daripada berkuasa di Mesir. Pasukan Salib yang dipimpin oleh King Almeric dari Jerussalem menerima baik jemputan itu. Maka terjadilah pertempuran antara pasukan Asasuddin dengan King Almeric yang berakhir dengan kekalahan Asasuddin. Setelah menerima syarat-syarat damai dari kaum Salib, panglima Asasuddin dan Shalahuddin dibenarkan balik ke Damsyik. Kerjasama Wazir besar Shawar dengan orang kafir itu telah menimbulkan kemarahan Emir Nuruddin Zanki dan para pemimpin Islam lainnya termasuk Baghdad. Lalu dipersiapkannya tentera yang besar yang tetap dipimpin oleh panglima Syirkuh dan Shalahuddin Al-Ayyubi untuk menghukum si pengkhianat Shawar. King Almeric terburu-buru menyiapkan pasukannya untuk melindungi Wazir Shawar setelah mendengar kemaraan pasukan Islam. Akan tetapi Panglima Syirkuh kali ini bertindak lebih pantas dan berhasil membinasakan pasukan King Almeric dan menghalaunya dari bumi Mesir dengan aib sekali. Panglima Shirkuh dan Shalahuddin terus mara ke ibu kota Kaherah dan mendapat tentangan dari pasukan Wazir Shawar. Akan tetapi pasukan Shawar hanya dapat bertahan sebentar saja, dia sendiri melarikan diri dan bersembunyi. Khalifah Al-Adhid Lidinillah terpaksa menerima dan menyambut kedatangan panglima Syirkuh buat kali kedua. Suatu hari panglima Shalahuddin Al-Ayyubi berziarah ke kuburan seorang wali Allah di Mesir, ternyata Wazir Besar Shawar dijumpai bersembunyi di situ. Shalahuddin segera menangkap Shawar, dibawa ke istana dan kemudian dihukum bunuh. Khalifah Al-Adhid melantik panglima Asasuddin Syirkuh menjadi Wazir Besar menggantikan Shawar. Wazir Baru itu segera melakukan perbaikan dan pembersihan pada setiap institusi kerajaan secara berperingkat. Sementara anak saudaranya, panglima Shalahuddin Al-Ayyubi diperintahkan membawa pasukannya mengadakan pembersihan di kota-kota sepanjang sungai Nil sehingga Assuan di sebelah utara dan bandar-bandar lain termasuk bandar perdagangan Iskandariah. Wazir Besar Syirkuh tidak lama memegang jawatannya, kerana beliau wafat pada tahun 565 H/1169 M. Khalifah Al-Adhid melantik panglima Shalahuddin Al-Ayyubi menjadi Wazir Besar menggantikan Syirkuh dengan mendapat persetujuan pembesar-pembesar Kurdi dan Turki. Walaupun berkhidmat di bawah Khalifah Daulat Fatimiah, Shalahuddin tetap menganggap Emir Nuruddin Zanki sebagai ketuanya.

Nuruddin Zanki berulang kali mendesak Shahalahuddin agar menangkap Khalifah Al-Adhid dan mengakhiri kekuasaan Daulat Fatimiah untuk seterusnya diserahkan semula kepada Daulat Abbasiah di Baghdad. Akan tetapi Shalahuddin tidak mahu bertindak terburu-buru, beliau memperhatikan keadaan sekelilingnya sehingga musuh-musuh dalam selimut betul-betul lumpuh. Barulah pada tahun 567 H/1171 Masihi, Shalahuddin mengumumkan penutupan Daulat Fatimiah dan kekuasaan diserahkan semula kepada Daulat Abbasiah. Maka doa untuk Khalifah Al-Adhid pada khutbah Jumaat hari itu telah ditukar kepada doa untuk Khalifah Al-Mustadhi dari Daulat Abbasiah. Ketika pengumuman peralihan kuasa itu dibuat, Khalifah Al-Adhid sedang sakit kuat, sehingga beliau tidak mengetahui perubahan besar yang berlaku di dalam negerinya dan tidak mendengar bahawa Khatib Jumaat sudah tidak mendoakan dirinya lagi. Sehari selepas pengumuman itu, Khalifah Al-Adhid wafat dan dikebumikan sebagaimana kedudukan sebelumnya, yakni sebagai Khalifah. Dengan demikian berakhirlah kekuasaan Daulat Fatimyah yang dikuasai oleh kaum Syi‟ah selama 270 tahun. Keadaan ini sememangnya telah lama ditunggu-tunggu oleh golongan Ahlussunnah di seluruh negara Islam lebih-lebih lagi di Mesir sendiri. Apalagi setelah Wazir Besar Shawar berkomplot dengan kaum Salib musuh Islam. Pengembalian kekuasaan kepada golongan Sunni itu telah disambut meriah di seluruh wilayah-wilayah Islam, lebih-lebih di Baghdad dan Syiria atas restu Khalifah Al-Mustadhi dan Emir Nuruddin Zanki. Mereka sangat berterima kasih kepada Panglima Shalahuddin Al-Ayyubi yang dengan kebijaksanaan dan kepintarannya telah menukar suasana itu secara aman dan damai. Serentak dengan itu pula, Wazir Besar Shalahuddin Al-Ayyubi telah merasmikan Universiti Al-Azhar yang selama ini dikenal sebagai pusat pengajian Syiah kepada pusat pengajian Ahlussunnah Wal Jamaah. Semoga Allah membalas jasa-jasa Shalahuddin. Walaupun sangat pintar dan bijak mengatur strategi dan berani di medan tempur, Shalahuddin berhati lembut, tidak mahu menipu atasan demi kekuasaan dunia. Beliau tetap setia pada atasannya, tidak mahu merampas kuasa untuk kepentingan peribadi. Kerana apa yang dikerjakannya selama ini hanyalah mencari peluang untuk menghalau tentera Salib dari bumi Jerussalem. Untuk tujuan ini, beliau berusaha menyatu padukan wilayah-wilyah Islam terlebih dahulu, kemudian menghapuskan para pengkhianat agama dan negara agar peristiwa Wazir Besar Shawar tidak berulang lagi. Di Mesir, beliau telah berkuasa penuh, tapi masih tetap taat setia pada kepimpinan Nuruddin Zanki dan Khalifah di Baghdad. Tahun 1173 M, Emir Nuruddin Zanki wafat dan digantikan oleh puteranya Ismail yang ketika itu baru berusia 11 tahun dan bergelar Mulk al Shalih. Para ulama dan pembesar menginginkan agar Emir Salahudin mengambil alih kuasa kerana tidak suka kepada Mulk al-Shalih keran selalu cuai melaksanakan tanggungjawabnya dan suka bersenangsenang. Akan tetapi Shalahuddin tetap taat setia dan mendoakan Mulk al Saleh dalam setiap khutbah Jumaat, bahkan mengabadikannya pada mata wang syiling.

Apabila Damsyik terdedah pada serangan kaum Salib, barulah Shalahudin menggerakkan pasukannya ke Syiria untuk mempertahankan kota itu daripada jatuh. Tidak lama kemudian Ismail wafat, maka Shalahuddin menyatukan Syria dengan Mesir dan menubuhkan Emirat AlAyyubiyah dengan beliau sendiri sebagai Emirnya yang pertama. Tiada berapa lama kemudian, Sultan Shalahuddin dapat menggabungkan negeri-negeri An-Nubah, Sudan, Yaman dan Hijaz ke dalam kekuasaannya yang besar. Negara di Afirka yang telah diduduki oleh askar Salib dari Normandy, juga telah dapat direbutnya dalam masa yang singkat. Dengan ini kekuasaan Shalahuddin telah cukup besar dan kekuatan tenteranya cukup ramai untuk mengusir tentera kafir Kristian yang menduduki Baitul Maqdis selama berpuluh tahun. Sifatnya yang lemah lembut, zuhud, wara‟ dan sederhana membuat kaum Muslimin di bawah kekuasaannya sangat mencintainya. Demikian juga para ulama sentiasa mendoakannya agar citacita sucinya untuk merampas semula Tanah Suci berhasil dengan segera. Setelah merasa kuat, Sultan Shalahuddin menumpukan perhatiannya untuk memusnahkan tentera Salib yang menduduki Baitul Maqdis dan merebut kota Suci itu semula. Banyak rintangan dan problem yang dialami oleh Sultan sebelum maksudnya tercapai. Siasah yang mula-mula dijalankannya adalah mengajak tentera Salib untuk berdamai. Pada lahirnya, kaum Salib memandang bahawa Shalahuddin telah menyerah kalah, lalu mereka menerima perdamaian ini dengan sombong. Sultan sudah menjangka bahawa orang-orang kafir Kristian itu akan mengkhianati perjanjian, maka ini akan menjadi alasan bagi beliau untuk melancarkan serangan. Untuk ini, beliau telah membuat persiapan secukupnya. Ternyata memang betul, baru sebentar perjanjian ditandatangani, kaum Salib telah mengadakan pelanggaran. Maka Sultan Shalahuddin, segera bergerak melancarkan serangan, tapi kali ini masih gagal dan beliau sendiri hampir kena tawan. Beliau kembali ke markasnya dan menyusun kekuatan yang lebih besar. Suatu kejadian yang mengejutkan Sultan dalam suasana perdamaian adalah tindakan seorang panglima Salib Count Rainald de Chatillon yang bergerak dengan pasukannya untuk menyerang kota Suci Makkah dan Madinah. Akan tetapi pasukan ini hancur binasa digempur mujahid Islam di laut Merah dan Count Rainald dan sisa pasukannya balik ke Jerussalem. Dalam perjalanan, mereka telah berjumpa dengan satu iring-iringan kafilah kaum Muslimin yang didalamnya terdapat seorang saudara perempuan Sultan Shalahuddin. Tanpa berfikir panjang, Count dan kuncu-kuncunya menyerang kafilah tersebut dan menawan mereka termasuk saudara perempuan kepada Shalahuddin. Dengan angkuh Count berkata: “Apakah Muhammad, Nabi mereka itu mampu datang untuk menyelamatkan mereka?” Seorang anggota kafilah yang dapat meloloskan diri terus lari dan melapor kepada Sultan apa yang telah terjadi. Sultan sangat marah terhadap pencabulan gencatan senjata itu dan mengirim perutusan ke Jerussalem agar semua tawanan dibebaskan. Tapi mereka tidak memberikan jawapan. Ekoran kejadian ini, Sultan keluar membawa pasukannya untuk menghukum kaum Salib yang sering mengkhianati janji itu. Terjadilah pertempuran yang sangat besar di gunung Hittin sehingga dikenal dengan Perang Hittin.

Dalam pertempuran ini, Shalahuddin menang besar. Pasukan musuh yang berjumlah 45,000 orang hancur binasa dan hanya tinggal beberapa ribu saja yang sebagian besarnya menjadi tawanan termasuk Count Rainald de Chatillon sendiri. Semuanya diangkut ke Damaskus. Count Rainald yang telah menawan saudara perempuan Sultan dan mempersendakan Nabi Muhammad itu digiring ke hadapan beliau. “Nah, bagaimana jadinya yang telah nampak oleh engkau sekarang? Apakah saya tidak cukup menjadi pengganti Nabi Besar Muhammad untuk melakukan pembalasan terhadap berbagai penghinaan engkau itu?” tanya Sultan Shalahuddin. Shalahuddin mengajak Count agar masuk Islam, tapi dia tidak mahu. Maka dia pun dihukum bunuh kerana telah menghina Nabi Muhammad. Setelah melalui berbagai peperangan dan menaklukkan berbagai benteng dan kota, sampailah Sultan Shalahuddin pada matlamat utamanya iaitu merebut Baitul Maqdis. Kini beliau mengepung Jerussalem selama empat puluh hari membuat penduduk di dalam kota itu tidak dapat berbuat apa-apa dan kekurangan keperluan asas. Waktu itu Jerussalem dipenuhi dengan kaum pelarian dan orang-orang yang selamat dalam perang Hittin. Tentera pertahanannya sendiri tidak kurang dari 60,000 orang. Pada mulanya Sultan menyerukan seruan agar kota Suci itu diserahkan secara damai. Beliau tidak ingin bertindak seperti yang dilakukan oleh Godfrey dan orang-orangnya pada tahun 1099 untuk membalas dendam. Akan tetapi pihak Kristian telah menolak tawaran baik dari Sultan, bahkan mereka mengangkat Komandan Perang untuk mempertahankan kota itu. Kerana mereka menolak seruan, Sultan Shalahuddin pun bersumpah akan membunuh semua orang Kristian di dalam kota itu sebagai membalas dendam ke atas peristiwa 90 tahun yang lalu. Mulailah pasukan kaum Muslimin melancarkan serangan ke atas kota itu dengan anak panah dan manjanik. Kaum Salib membalas serangan itu dari dalam benteng. Setelah berlangsung serangan selama empat belas hari, kaum Salib melihat bahawa pintu benteng hampir musnah oleh serangan kaum Muslimin. Para pemimpin kaum Salib mulai merasa takut melihat kegigihan dan kekuatan pasukan Muslim yang hanya tinggal menunggu masa untuk melanggar masuk. Beberapa pemimpin Kristian telah keluar menemui Sultan Shalahuddin menyatakan hasratnya untuk menyerahkan kota Suci secara aman dan minta agar nyawa mereka diselamatkan. Akan tetapi Sultan menolak sambil berkata: “Aku tidak akan menaklukkan kota ini keculai dengan kekerasan sebagaimana kamu dahulu menaklukinya dengan kekerasan. Aku tidak akan membiarkan seorang Kristian pun melainkan akan kubunuh sebagaimana engkau membunuh semua kaum Muslimin di dalam kota ini dahulu.” Setelah usaha diplomatik mereka tidak berhasil, Datuk Bandar Jerussalem sendiri datang menghadap Sultan dengan merendah diri dan minta dikasihani, memujuk dan merayu dengan segala cara. Sultan Shalahuddin tidak menjawabnya. Akhirnya ketua Kristian itu berkata: “Jika tuan tidak mahu berdamai dengan kami, kami akan balik dan membunuh semua tahanan (terdiri dari kaum Muslimin seramai 4000 orang) yang ada pada kami. Kami juga akan membunuh anak cucu kami dan perempuan-perempuan kami. Setelah itu kami akan binasakan rumah-rumah dan bangunan-bangunan yang indah-indah, semua harta dan perhiasan yang ada pada kami akan dibakar. Kami juga akan memusnahkan Kubah

Shahra‟, kami akan hancurkan semua yang ada sehingga tidak ada apa-apa yang boleh dimanfaatkan lagi. Selepas itu, kami akan keluar untuk berperang mati-matian, kerana sudah tidak ada apa-apa lagi yang kami harapkan selepas ini. Tidak seorang pun boleh membunuh kami sehingga sebilangan orang-orang tuan terbunuh terlebih dahulu. Nah, jika demikian keadaannya, kebaikan apalagi yang tuan boleh harapkan?” Setelah mendengar kata-kata nekat dan ugutan itu, Sultan Shalahuddin menjadi lembut dan kasihan dan bersedia untuk memberikan keamanan. Beliau meminta nasihat para ulama yang mendampinginya mengenai sumpah berat yang telah diucapkannya. Para ulama mengatakan bahawa beliau mesti menebus sumpahnya dengan membayar Kifarat sebagaimana yang telah disyariatkan. Maka berlangsunglah penyerahan kota secara aman dengan syarat setiap penduduk mesti membayar wang tebusan. Bagi lelaki wajib membayar sepuluh dinar, perempuan lima dinar dan kanak-kanak dua dinar sahaja. Barangsiapa yang tidak mampu membayar tebusan, akan menjadi tawanan kaum Muslimin dan berkedudukan sebagai hamba. Semua rumah, senjata dan alat-alat peperangan lainnya mesti ditinggalkan untuk kaum Muslimin. Mereka boleh pergi ke manamana tempat yang aman untuk mereka. Mereka diberi tempo selama empat puluh hari untuk memenuhi syarat-syaratnya, dan Barangsiapa yang tidak sanggup menunaikannya sehinnga lewat dari waktu itu, ia akan menjadi tawanan. Ternyata ada 16,000 orang Kristian yang tidak sanggup membayar wang tebusan. Semua mereka ditahan sebagai hamba. Maka pada hari Jumaat 27 Rajab 583 Hijrah, Sultan Shalahuddin bersama kaum Muslimin memasuki Baitul Maqdis. Mereka melaungkan “Allahu Akbar” dan bersyukur kehadirat Allah s.w.t. Air mata kegembiraan menitis di setiap pipi kaum Muslimin sebaik saja memasuki kota itu. Para ulama dan solehin datang mengucapkan tahniah kepada Sultan Shalahuddin di atas perjuangannya yang telah berhasil. Apalagi tarikh tersebut bersamaan dengan tarikh Isra‟ Nabi S.A.W dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Pada hari Jumaat tersebut, kaum Muslimin tidak sempat melaksankan solat Jumaat di Masjidil Aqsa kerana sempitnya waktu. Mereka terpaksa membersihkan Masjid Suci itu dari babi, kayu-kayu salib, gambar-gambar rahib dan patungpatung yang dipertuhan oleh kaum Kristian. Barulah pada Jumaat berikutnya mereka melaksanakan solat Jumaat di Masjidil Aqsa buat pertama kalinya dalam masa 92 tahun. Kadi Muhyiddin bin Muhammad bin Ali bin Zaki telah bertindak selaku khatib atas izin Sultan Shalahuddin. Kejatuhan Jerussalem ke tangan kaum Muslimin telah membuat Eropah marah. Mereka melancarkan kutipan yang disebut “Saladin tithe”, yakni derma wajib untuk melawan Shalahuddin yang hasilnya digunakan untuk membiayai perang Salib. Dengan angkatan perang yang besar, beberapa orang raja Eropah berangkat untuk merebut kota Suci itu semula. Maka terjadilah perang Salib ketiga yang sangat sengit. Namun demikian, Shalahuddin masih dapat mempertahankan Jerussalem sehingga perang tamat. Setahun selepas perang Salib ke tiga itu, Sultan Shalahuddin pulang kerahmatullah. Semoga Allah mencucuri rahmat ke atasnya, amin. Pribadi Seorang Panglima

Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi terbilang sebagai pahlawan dan Panglima Islam yang besar. Pada beliau terkumpul sifat-sifat berani, wara‟, zuhud, khusyu‟, pemurah, pemaaf, tegas dan lain-lain sifat terpuji. Para ulama dan penulis sejarah telah memberikan kepujian yang melangit. Sifat pemurah dan pemaafnya diakui oleh lawan mahupun kawan. Seorang penulis sejarah mengatakan: “Hari kematiannya merupakan kehilangan besar bagi agama Islam dan kaum Muslimin, kerana mereka tidak pernah menderita semenjak kehilangan keempat-empat Khalifah yang pertama (Khulafaurrasyidin). Istana, kerajaan dan dunia diliputi oleh wajah-wajah yang tertunduk, seluruh kota terbenam dalam dukacita, dan rakyat mengikuti keranda jenazahnya dengan tangisan dan ratapan.” Sultan Shalahuddin adalah seorang pahlawan yang menghabiskan waktunya dengan bekerja keras siang dan malam untuk Islam. Hidup nya sangat sederhana. Minumnya hanya air kosong, makanannya sederhana, pakaiannya dari jenis yang kasar. Beliau sentiasa menjaga waktu-waktu solat dan mengerjakannya secara berjamaah. Dikatakan bahawa beliau sepanjang hayatnya tidak pernah terlepas dari mengerjakan solat jamaah, bahkan ketika sakit yang membawa pada ajalnya, beliau masih tetap mengerjakan solat berjamaah. Sebaik saja imam masuk berdiri di tempatnya, beliau sudah siap di dalam saf. Beliau suka mendengarkan bacaan Al-Quran, Hadis dan ilmu pengetahuan. Dalam bidang Hadis, beliau memang mendengarkannya secara teratur, sehingga beliau boleh mengenal jenis-jenis hadis. Hatinya sangat lembut dan pemurah, sering menangis apabila mendengarkan hadis. Di dalam buku The Historians‟ History of the World disebutkan sifat-sifat Shalahuddin sebagai berikut: “Keberanian dan keberhasilan Sultan Shalahuddin itu terjelma seluruhnya pada perkembangan keperibadian yang luar biasa. Sama seperti halnya dengan Emir Imamuddin Zanki dan Emir Nuruddin Zanki, beliau juga merupakan seorang Muslim yang taat. Sudah menjadi kebiasaan bagi Sultan Shalahuddin membacakan Kitab Suci Al-Quran kepada pasukannya menjelang pertempuran berlangsung. Beliau juga sangat disiplin mengqada setiap puasanya yang tertinggal dan tidak pernah lalai mengerjakan solat lima waktu sampai pada akhir hayatnya. Minumannya tidak lain dari air kosong saja, memakai pakaian yang terbuat dari bulu yang kasar, dan mengizinkan dirinya untuk dipanggil ke depan pengadilan. Beliau mengajar sendiri anakanaknya mengenai agama Islam…….” Seluruh kaum Muslimin yang menyaksikan kewafatannya menitiskan air mata apabila Sultan yang mengepalai negara yang terbentang luas dari Asia hingga ke Afrika itu hanya meninggalkan warisan 1 dinar dan 36 dirham. Tidak meninggalkan emas, tidak punya tanah atau kebun. Padahal berkhidmat pada kerajaan berpuluh tahun dan memegang jawatan sebagai panglima perang dan Menteri Besar sebelum menubuhkan Emirat Ayyubiyah. Kain yang dibuat kafannya adalah betul-betul dari warisan beliau yang jelas-jelas halal dan sangat sederhana. Anak beliau yang bernama Fadhal telah masuk ke liang lahad meletakkan jenazah ayahnya. Dikatakan bahawa beliau dikebumikan bersama-sama pedangnya yang dipergunakan dalam setiap peperangan agar dapat menjadi saksi dan dijadikannya tongkat kelak pada hari kiamat. Rahimahullahu anh. Salahudin Al-Ayubi, beliaulah yang meneladankan satu konsep dan budaya yaitu perayaan hari lahir Nabi Muhammad SAW yang kita kenal dengan sebutan maulud atau maulid, berasal dari kata milad yang artinya tahun, bermakna seperti pada istilah ulang tahun. Berbagai perayaan

ulang tahun di kalangan/organisasi muslim sering disebut sebagai milad atau miladiyah, meskipun maksudnya adalah ulang tahun menurut penanggalan kalender Masehi. Sumber : http://www.darulnuman.com/mkisah/kisah019.html Popularity: 34% [?]
Incoming search terms:
         

dinasti ayyubiyah salahudin al ayubi salahuddin al ayyubi kisah salahuddin al ayyubi salahuddin al-ayyubi shalahuddin al ayyubi sejarah dinasti ayyubiyah shalahudin al ayyubi kisah salahudin al ayubi sejarah dinasti al-ayyubiyah

inShare

25 Responses to “Sholahuddin Al Ayyubi (532 – 589 H)”
1. hamba ALLAH says: Saturday, 5 July 2008 at 1:13 pm

SUbHanALLAh….
2. deni says: Saturday, 7 February 2009 at 2:40 pm

Subhanallah…adakah Indonesia kelak mempunya Pemimpin ya seperti Sultan Solahudhin…?…

3.

sholihuddin says: Sunday, 8 February 2009 at 12:50 am

semoga saya mendapatkan berkah beliau….

nama gue kan mirip

4.

rifai says: Tuesday, 5 May 2009 at 11:18 am

Pemimpin tuh kaya gitu,,, jangan cuman mentingin golongan ama partai aje.. pikirin donk rakyatnye… ALLAHU AKBAR!!!!!!

5.

albertho says: Wednesday, 13 May 2009 at 9:16 pm

kaum muslimin dan muslimah masa kini khususnya di Indonesia seyogianya mencontohi sikap pemimpinnya Salahudin-al-ayyubi Beliau mengajak para pengikutnya meneriakan ALLAHu AKBAR dan maju berperang jika ada yang menentang bukan seperti yang sering terjadi sekarang ini banyak yang turun ke jalan meneriakan ALLAHU AKBAR dan malah menimbulkan pertentangan karna dianggap mengganggu ketertiban lalu lintas APAKAH KITA MAU MENCONTOHI SIAPA>>>?????

6.

albertho says: Wednesday, 13 May 2009 at 9:19 pm

lantas bagaimana sikap kita yang semestinya???? berperang melawan siapa yang menentang ataukah sebaliknya malah memunculkan pertentangan yang justru melahirkan pertikaian????
7. anis fuad hasan BR says: Tuesday, 19 May 2009 at 4:44 am

Subhanallah…. Maha Tahu Allah atas segala hal yang diperbuat hambanya, sejak Nabi pertama, Adam Alaihi Salam. Sampai Nabi Pemberi Syafaat atas seluruh umat yang meyakini Sang Pencipta hingga akhir hayatnya, Muhammad Salallahu Alaihi Wasallam. Sungguh luar biasa, puji syukur diri Panjatkan Kehadirat Ilahi Robby atas ciptaan_Nya yang semoga menjadi inspirator dan motivator perjuangan kita menuju Mardhotillah wa

fi sabilillah. amin semoga beliau terkaruniai syurga firdaus atas apa yang telah beliau dedikasikan. Terlahirlah wahai Ibnu ayyub sang pengelana gurun penerus pedang jihad…! Allahu Akbar…Allahu Akbar Walillahi Hamd

8.

tyas says: Monday, 20 July 2009 at 12:44 pm

musuh yg nyata adalah orang yg mengaku islam tetapi selalu menyalahkan syariat agama!! sepert JIL AKKBB DLL. anda siap syahid!!!!

9.

ziko says: Wednesday, 14 October 2009 at 3:51 pm

salam semuanya coba kalo semua pemimpin seperti itu duia aman sejahtera
10. Fauzi says: Wednesday, 4 November 2009 at 7:52 pm

Subahanallah Ibnu Ayyub al khalifah lil muslimin. hebat sekali,, mmbaca nya saja sudah bisa membuat kita merinding apalgi kita hidup dalam zaman beliau,, meskipun bgtu adakah orang yang akan memimpin kita dalam naungan khilafah kembali seperti Ibnu Ayyub
11. indah hati says: Monday, 4 January 2010 at 2:45 pm

smga kelak lhir pmmpin yg spt beliau..amien

12.

Hudi says: Wednesday, 7 April 2010 at 11:28 am

semoga Allah mengampuni dosa2nya, dan semoga Allah memberikan Rahmat-Nya unuk Shalahuddin Al Ayyubi kelak di hari kiamat.

dan bagi kita semoga Allah mengirim seorang Khalifah pemimpin pilihan Allah bukan pemimpin hasil pemilu buatan orang2 kafir.

13.

anang says: Wednesday, 14 April 2010 at 10:13 am

subhanallah

14.

iga_indah says: Tuesday, 25 May 2010 at 11:53 am

subhanallah…saya jadi merinding membacanya… benar-benar menggetarkan…
15. ali akbar lmj says: Wednesday, 26 May 2010 at 11:15 pm

ALLAHU AKBAR semoga ALLAH membalas semua amal kebaikan sultan salahudin al ayubi dan menempatkannya di tempat yang mulia amin
16. abbas says: Thursday, 22 July 2010 at 11:27 pm

allah huakbaR…. semoga allah memberikan tempat yg indah di sisinya yaitu surga … kisah ini telah membangkitkan kita untuk berjuang menegakkan syariat islam.

17.

ridho says: Thursday, 5 August 2010 at 10:51 pm

subhanallah, ya Allah sorgalah baginya..,dan jadikanlah kami umat muslim bersatu,, melanjutkan perjuangan beliau

18.

Muhammad Aulia Rahman says:

Monday, 4 October 2010 at 1:50 pm

Allahuakbar semoga kita dapat sepertinya dan menjadi lebih baik

19.

Abu Azka says: Sunday, 28 November 2010 at 6:02 am

subhanallah memang begitu sang ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaah… tapi akhi ada yang perlu dikoreksi beliau bukan pendiri atau pencetus Maulid nabi .. tapi Daulat Fatimiyaah itulah yang membuat maulid nabi. Silahkan di google lagi mungkin salah satunya ini http://irhamnirofiun.blogspot.com/2010/02/benarkah-shalahuddin-al-ayyubipencetus.html

20.

Mohammad Ershadt Hamin says: Tuesday, 4 January 2011 at 1:39 pm

sesungguhnya Allah ta‟ala menghendaki keadilan, kebenaran, keberanian, dan kecerdasan sang pahlawan islam Salahuddin Al-Ayyubi…ALLAH HUAKBAR
21. irfan says: Monday, 10 January 2011 at 4:27 pm

SHOLAHUDDIN AL AYYUBI, SALAH SATU TOKOH ISLAM YANG SANGAT DISEGANI KARENA TINGGINYA ILMU,PERILAKU YANG BAIK, DERMAWAN, SANTUN DAN ISTIQOMAH BELIAU JUGA SEORANG PEMBERANI, BAGI SIAP SAJA KAUM MUSLIMIN HENDAKLAH IA MENDIDIK ANAKNYA SEPERTI SHOLAHUDDIN AGAR KELAK KITA AKAN TERSENYUM MELIHAT KEBERHASILAN ISLAM
22. rizki aulia says: Monday, 24 January 2011 at 9:53 pm

maka lebih baik kita mencontohkan salahuddin ait yg disebut pemimpin yg profesional gak macam gayuss????

23.

anggie says: Thursday, 10 February 2011 at 9:02 am

Anda yakin bahwa Sultan Salahudin Al-Ayubi yg meneladankan konsep dan budaya perayaan hari lahir Nabi Muhammad SAW atau yg biasa disebut Maulid?? Kalau boleh tahu dari mana informasi itu anda dapatkan? Terima kasih untuk infonya dan itu benar-benar berguna sekali buat saya.
24. wawan polaman says: Thursday, 8 December 2011 at 1:12 pm

ALLAHU AKBAR !!!!!!!…..ALLAHU AKBAR…!!!!! SKRANG KITA BUTUH LAGI SULTAN ALAYUBI YANG KE-2 DAN SETERUSNYA….AMINN…

25.

Afif mrfive says: Thursday, 26 January 2012 at 11:24 am

Sangat bangga ketika Sholahuddin al ayubi hidup di tahun 2012, yang akan membawa islam pada masa kejayaannya Sejarah maulid nabi moehamad – Perayaan maulid Nabi, pertama kali dirintis oleh Shalahuddin al-Ayyubi, sultan Mesir dari Bani Ayyub yang memerintah pada 570-590 Hijriah atau 1174-1193 Masehi dengan daerah kekuasaan yang membentang dari Mesir sampai Suriah dan Semenanjung Arabia. Ketika itu dunia Islam tengah terlibat dalam perang salib berhadapan dengan bangsa Eropa, terutama bangsa Perancis, Jerman, dan Inggris. Pada 1099, pasukan gabungan eropa berhasil merebut Yerusalem dengan mengubah Masjid Al-Aqsha menjadi gereja. Ketika itu dunia Islam seperti kehilangan semangat jihad dan ukhuwah, sebab secara politis terpecah belah dalam beberapa kerajaan dan kesultanan meskipun khalifahnya satu, yaitu Khalifah Bani Abbas di Baghdad, Iraq. Melihat suasana lesu itu, Shalahuddin berusaha untuk membangkitkan semangat jihad kaum muslimin dengan menggelar Maulid Nabi pada 12 Rabiul Awwal. Menurutnya, semangat jihad itu harus dibangkitkan kembali dengan cara mempertebal kecintaan umat kepada Rasulullah SAW. Namun gagasan itu sebenarnya bukan usulan dia, tetapi usulan dari saudara iparnya, Muzaffaruddin Gekburi, yaitu seorang atabeg (bupati) di Irbil, Suriah Utara. Awalnya, gagasan Shalahuddin ditentang para ulama, sebab sejak zaman Nabi perayaan maulid itu tidak ada. Apalagi, di dalam agama islam hari raya resmi cuma ada 2 yaitu, Hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Namun Shalahuddin menegaskan bahwa perayaan Maulid hanyalah semarak

syiar Islam, bukan perayaan yang bersifat ritual, sehingga tidak dikategorikan sebagai bid‟ah. Kebetulan Khlaifah An Nashir di Baghdad pun menyetujuinya. Maka, di tengah musim haji pada 579 Hijriah atau 1183 Masehi, shalahuddin mengimbau seluruh jamaah hajji agar setiap tahun merayakan maulid Nabi di kampong halaman masingmasing. Salah satu kegiatan yang dalam maulid yang pertama kali digelar oleh Shalahuddin pada 580 H/1184 M adalah sayembara menulis riwayat Nabi yang diikuti oleh sejumlah ulama dan sasterawan. Setelah diseleksi, pemenang pertamanya dalahSyaikh Ja‟far Al-Barzanji-yang menulis riwayat Rasulullah SAW dan keluhuran akhlaknya dalam bentuk syair yang panjang, yaitu Maulid Barzanji. Ternyata, peringatan Maulid Nabi yang digagas oleh Shalahuddin al-Ayyubi mampu menggelorakan semangat jihad kaum muslim dalam menghadapi serangan agresi Barat dalam Perang salib. Shalahuddin berhasil menghimpun kekuatan, sehingga Yerusalem berhasil direbut pada 583 H atau 1187 M. Pada zaman sekarang, kebanyakan muslim di Negara-negara Islam merayakan Maulid Nabi, diantaranya: Mesir, Syria, Lebanon, Yordania, Palestina, Iraq, Kuwait, Uni Emirat Arab (tidak secra resmi karena mereka menyambut secara sembunyi-sembunyi di rumah masing-masing), Sudan, Yaman, Libya, Tunisia, Algeria, Maroko, Mauritania, Djibouti, Somalia, Turki, Pakistan, India, Sri Lanka, Iran, Afghanistan, Azerbaidjan, Uzbekistan, Turkistan, Bosnia, Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura, dan kebanyakan Negara islam yang lain. Di kebanyakan Negara Arab, Maulidurrasul Saw merupakan hari cuti umum. Oleh karena itu, sangatlah pantas bagi kita untuk selalu memperingati kelahiran beliau sebagai bentuk syukur dan terima kasih yang dalam kepada Allah SWT atas karunia-Nya yang agung dengan lahirnya Rasulullah SAW.”man ahabbani fahuwwa ma‟i fil-jannah” (al-hadits aw kama qala).

Sumber: http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/2264510-sejarah-maulid-nabimuhammad/#ixzz1ohYGuZAF

Api Sejarah Peringatan Maulid
Shodiq Ramadhan | Selasa, 24 Januari 2012 | 12:19:32 WIB | Hits: 1229 | 9 Komentar More Sharing ServicesShare | Share on facebook Share on twitter Share on email Share on print Share on reddit

Kaum

muslimin

rahimakumullah,

Kita telah memasuki bulan Rabiul Awwal. Sudah menjadi tradisi kaum muslimin di seluruh dunia memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad saw. pada 12 Rabiul Awwal, atau biasa dikenal dengan peringatan Maulid Nabi. Berbagai bentuk peringatan diadakan oleh mayoritas umat Islam di Indonesia, baik di kantor-kantor, maupun di perumahan dan perkampungan, dari kota besar hingga ke pelosok-pelosok daerah.

Kaum

muslimin

rahimakumullah,

Sebagian saudara kita tidak mau mengadakan acara peringatan Maulid Nabi saw dengan pendapat bahwa peringatan maulid itu tidak dilakukan di masa Nabi saw. Sehingga mereka khawatir bahwa itu perbuatan bid’ah yang dilarang oleh Islam. Atau bila dilaksanakan dengan menyerupai umat Nasrani yang memperingati hari kelahiran Nabi Isa a.s dengan perayaan Natal Yesus Kristus maka itu juga dilarang berdasarkan larangan menyerupai suatu kaum sebagaimana disebut dalam hadits Nabi saw.:

“Siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dalam golongan kaum itu”
(Sunan abu Dawud Juz

4/78).

Tentu saja pendapat dan sikap tersebut perlu kita hormati dan tidak perlu menjadikan perpecahan di antara kita sesama umat Islam. Hanya saja, bukan berarti yang tidak dikerjakan Rasulullah saw adalah pasti bid’ah sesat dan pasti masuk neraka pelakunya. Sebab, tatkala Umar bin Khatthab r.a. mengusulkan pengumpulan dan pembukuan Al Quran, Khalifah Abu Bakar r.a. juga khawatir karena Rasulullah saw tidak mengerjakannya. Namun Umar r.a. berhasil meyakinkan Khalifah As Shiddiq r.a bahwa itu adalah perbuatan baik yang tidak bertentangan dengan syariat. Ibnu Hajar Asqalany menyebut pembukuan Al Quran oleh Khalifah Abu Bakar itu masuk dalam bab membuat sunnah hasanah (tradisi yang baik) sesuai hadits Rasul :

“Siapa saja yang membuat suatu tradisi yang baik (tidak bertentangan dengan syariat) maka dia mendapatkan pahala dan pahala orang yang mengerjakannya”

Maka tidaklah seseorang setelah Abu Bakar r.a mengumpulkan Al Quran melainkan beliau akan mendapatkan pahala serupa dengannya hingga hari kiamat (lihat Fathul Baari Syarah Sahih Bukhari Juz 9/13).

Kaum

muslimin

rahimakumullah,

Menurut catatan sejarah (lihat ensliklopedia Wikipedia), perayaan Maulid Nabi pertama kali dibuat pada masa pemerintahan Sultan Salahuddin Al-Ayyubi (1138-1193). Tujuannya adalah untuk membangkitkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW serta meningkatkan semangat juang kaum muslimin dalam Perang Salib melawan pasukan Kristen Eropa dalam upaya merebut kota Al Quds (Yerusalem) dan sekitarnya. Dengan peringatan Maulid, Sultan Shalahudin Al Ayyubi berhasil menggelorakan semangat jihad tentara mujahidin yang beliau miliki hingga berhasil mengalahkan pasukan tentara gabungan salib dari Eropa yang dipimpin oleh Raja Inggris Richard Lion Heart dan mengembalikan Palestina dan Masjidil Aqsha ke tangan kaum muslimin. Dengan demikian, berkobarnya semangat jihad fi sabilillah, yakni memerangi musuh agar bendera kalimat tauhid Lailahaillallah Muhammad Rasulullah sebagai satu-satunya bendera yang berkibar di bumi Islam Palestina, itulah api sejarah Maulid yang diadakan oleh Sultan Shalahudin al Ayyubi. Allahu Akbar!

Kaum

muslimin

rahimakumullah,

Oleh karena itu, jika hari ini kita memperingati maulid Nabi saw., maka mari kita ikuti jejak Sultan Shalahuddin Al Ayyubi sebagai orang yang pertama kali memperingati maulid untuk tujuan membangkitkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, serta meningkatkan semangat juang kaum muslimin saat ini. Apalagi bumi Palestina dan Masjidil Aqsha hari ini sedang dibawa cengkeraman kaki penjajah Zionis Yahudi Israel. Dalam kondisi tanah Palestina dan Masjidil Aqsha dikuasai Zionis Israel, kewajiban para penguasa muslim di seluruh dunia Islam adalah membangkitkan semangat jihad kaum muslimin dan mengirim tentara regular maupun kopassusnya untuk membebaskan Palestina dan al Aqsha dari pendudukan Yahudi Israel hingga Israel mengembalikan semua tanah Palestina yang mereka rampas dari kaum muslimin sejak mereka dimigrasikan imperialis Inggris ke tanah itu pasca perang dunia pertama pada tahun 1920-an. Dan kewajiban kaum muslimin, khususnya para ulama dan pimpinan umat Islam melakukan amar ma’ruf kepada penguasa muslim dengan mengingatkan kembali para penguasa muslim agar melaksanakan kewajiban tersebut. Di sinilah momentum peringatan maulid Nabi saw bisa digunakan untuk menguraikan kembali sejarah perjuangan dan jihad baginda Nabi Muhammad saw. hingga

mendapatkan berbagai pertolongan Allah dan kemenangan dari Perang Badar sampai penaklukan kota Mekkah (Fathu Makkah) dan masuknya seluruh wilayah Jazirah Arab ke dalam wilayah kekuasaan baginda Rasulullah saw. yang diabadikan oleh Allah SWT dalam Al Quran Surat Al Fath, An Nashr, dan berbagai surat lainnya. Bagus sekali bila para ulama, habaib, dan muballigh yang berbicara pada acara peringatan maulid menerangkan tafsir dari Surat Al Fath 1-3 yang biasa dibaca dalam kitab maulid. Misalnya Tafsir Jalalain menerangkan ayat innaa fatahna laka fathan mubiina sebagai berikut:

“Sesungguhnya kami putuskan pembebasaan kota Mekkah dan kota-kota lainnya di masa mendatang dengan jihad yang engkau (Muhammad saw.) lakukan sebagai kemenangan yang nyata”.
Pembacaan tafsir itu akan memberikan pencerahan bahwa kemenangan yang nyata itu diperoleh oleh Baginda Rasulullah saw dengan amal jihad yang beliau lakukan setelah beliau menjadi kepala negara di kota Madinah. Sehingga delapan tahun kemudian, yakni pada tahun 8 Hijrah Rasulullah saw, berhasil masuk kota Mekkah dengan kekuatan 10 ribu tentara mujahidin hingga Abu Sofyan, pemimpin kota Mekkah, buruburu menyerah dan masuk Islam. Allahu Akbar! Juga bisa ditambahkan uraian berbagai penaklukan wilayah dunia di masa Khalifah Rasyidah yang empat, khususnya penaklukan-penaklukan spektakuler di masa Khalifah Umar bin Khatthab yang berhasil menaklukkan Persia dan memukul mundur Kaisar Rumawi dari Syam ke Konstantinopel pada tahun 15H. Dan perlu dikisahkan sejarah perjuangan dan jihad Sultan Shalahuddin Al Ayyubi yang berhasil mengungguli tentara gabungan salib dari Eropa dan membuat Raja Richard menarik seluruh pasukannya untuk kembali ke Eropa. Ini semua untuk meningkatkan keimanan dan kecintaan umat Islam kepada Allah, Rasulullah, dan jihad fi sabilillah yang merupakan kewajiban tertinggi sebagaimana disebut dalam Al Quran Surat At Taubah 24. Semoga dengan peringatan maulid yang diadakan jamaah yang hadir dapat mengkristalkan semangat jihad fi sabilillah dalam diri mereka.

Kaum

muslimin

rahimakumullah,

Tugas mulia umat Islam hari ini adalah memilih presiden yang mampu menjadikan negara kita negara yang maju dan kuat dengan menerapkan syariat Islam, syariat Allah Yang Maha Kuasa, sebagai hukum yang berlaku yang menebarkan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh warga negara, bahkan mampu menyebarkannya ke seluruh dunia serta membebaskan mereka yang terjajah dan tertindas, sebagai bentuk riil dari kerahmatan Islam bagi seluruh alam. Allah SWT berfirman:

Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta

alam.

(QS.

Al

Anbiya

107).

Baarakallah lii walakum…

Komentar

duri dua
2012-02-09 13:30:46 @Sutardi:Bukan bid'ah saja ,tapi..tasyabbuh...! “Sggh kalian akn ikuti jln org sblm kalian sejengkal 2x,sehasta 2x smp org itu masuk ke liang dhob, pasti kalian ikuti.” Kami (sahabat) brkata,“Ya Rasulullah, yg diikuti itu Yahudi & Nashrani?” Belia

andi tenri
2012-02-06 14:37:07 ass. Tujuan peringatan maulid ada benarnya jg krn tujuanx utk lebih mengenal sosok Rsulullah SAW. tapi yg jadi masalah skrg, byk masyarakat didaerah2 yg merayakan maulid bisa dikatakan bid'ah bahkan jauh dari syariat islam. seperti membuang sesajen dilaut

Abdul Rahman Nur Roi
2012-02-01 20:36:01 ‫ب عد اما .د ساها من خاب وق د زك اها من اف لح ق د ب ي ته، ال وع لى هللا ر سول محمد ع لى وال س الم وال ص الة هللا ب سم‬ kalau perayaan maulid menjadikan perpecahan, mending ...

Khoyrul
2012-01-30 14:18:59 Memperingati Maulid Kanjeng Nabi SAW tidak lain adl sarana untuk memperkenalkan Baginda SaW, kalo tak ada peringatan Maulid... maka semakin jauhlah kita dari mengenal dan memngingat perjuanagan Beliau SAW... buat saudaraku yg mengingkari adanya peringatan

mbah azam
2012-01-27 14:11:52 Partai, perusahaan, ormas, bahkan ormas Islampun sama mengadakan peringatan maulid/lahir/bedirinya. Kenapa peringatan maulid Nabi dikatakan sesat padahal itu bertujuan MENGINGAT perjuangan (perilaku & akhlak) beliau sehingga kita termotivasi (bersemangat

tansri
2012-01-25 12:41:13

Artikel ini perlu diperdebatkan. Pertama, ada Qiyas yang salah, menyamakan apa yang dilakjukan Umar RA dengan peringatan maulid, tentu tidak pas.Kedua, sejarah yang mengatakan bahwa Salahudin Al Ayubi yang pertama menjadi pelopor peringatan maulid ini mas

cep ahmad sopyan
2012-01-25 09:42:33 ya alloh...jadikanlah peringatan-peringatan maulid dimanapun, kapanpun dan bagaimanapun menjadi suatu wasilah tambahnya keberkahan untuk seluruh umat khususnya kami umat islam. amiiin....

mehdivikia
2012-01-25 09:21:06 afwan, kayanya akan lebih bagus kalau sejarah perayaan maulid ini dikaji lebih mendalam. pasalnya, dalam beberapa kitab disebutkan yang pertama kali merayakan maulid itu adalah daulah fatimiyah dari kalangan syia'ah. daulah kelak ditaklukkan oleh salahudd

Sutardi Ammar
2012-01-24 13:01:54 seandainya acara seperti memperingati kelahiran Nabi SAW tidak menjadi syiar seperti sekarang, apalah jadinya ummat ini. masih ada acara2 seperti ini (spt maulid, dll) saja masih jauh dari tuntunan-nya, apalagi kalo sampai dibilang bid'ah, ah apa jadinya

1

Televisi Bencong, Jangan Harap Meliput Aksi Umat Islam
Shodiq Ramadhan | Sabtu, 10 Maret 2012 | 14:28:38 WIB | Hits: 93 | 0 Komentar More Sharing ServicesShare | Share on facebook Share on twitter Share on email Share on print Share on reddit

Jakarta (SI ONLINE) - Televisi-televisi liberal yang gemar menayangkan aksi kaum Liberal dan menyudutkan FPI mendapat kritikan tajam dari Ketua Umum Front Pembela Islam Habib Rizieq Syihab. Habib Rizieq menganggap televisi-televisi itu telah menjadi bencong. Karena itu dia mengingatkan umat Islam, meskipun aksi Indonesia Tanpa Liberal, Jumat (9/3/2012) dihadiri ribuan orang agar tidak berharap terlalu banyak pada liputan televisi. "Saudara kemarin di tempat ini ada bencong-bencong demo. Yang demo homo, lesbi, liberal, cuma 50 orang. Cuma 50 ekor. Tapi televisi merelay langsung, semua tv ikut meliput. Bahkan ada tv liberal yang ikut menyiarkan secara langsung. Berarti tv-tv sudah jadi bencong semua", kata Habib Rizieq saat orasi di Bunderan HI, kemarin. Habib Rizieq lantas membandingkan dengan aksi yang dilakukan oleh Forum Umat Islam (FUI). Meskipun ribuan umat Islam hadir mengikuti aksi itu, televisi tidak bakal menyiarkannya secara objektif.

Ribuan massa umat Islam memadati ruas jalan MH Thamrin menuju Medan Merdeka Barat. Foto: Budi al Faruq "Sekarang umat Islam yang kumpul ini ribuan, tapi jangan mimpi masuk TV", kata Habib sambil tersenyum. "Kenapa?. karena kita bukan bencong, karena kita bukan homo, karena kita bukan lesbi, karena kita bukan koruptor. Dan karena kita bukan setan, juga bukan iblis," lanjutnya. Habib Rizieq lantas menyindir, jika besok ada seorang bencong demo menuntut pembubaran FPI, pasti masuk TV lagi. "Besok pagi ada satu bencong demo, bubarkan FPI, masuk tv lagi. Tapi kalau Ustadz Khathatath yang demo hatta 10 ribu yang demo tidak masuk tv. Sebab kita bukan homo, kita bukan lesbi", tandasnya. Habib Rizieq menegaskan bahwa umat Islam tidak pernah takut dengan televisi-televisi sekuler liberal itu. "Apa kita takut dengan tv?. Tidak!. Presiden aja kita lawan, apalagi tv-tv yang kurang ajar", katanya. Liputan media massa liberal terhadap aksi umat Islam ini memang tidak objektif. Televisi melaporkan hanya ratusan massa umat Islam, sementara media online menulis 150 orang yang mengikuti demo Indonesia Tanpa Liberal. Ketahuan sekali wartawan media Liberal memang tidak pandai berhitung. Atau kecerdasan menghitung mereka ditutupi oleh kejahatan dan kebencian terhadap umat Islam?.

Habib Rizieq: SBY Harus Introspeksi, Istananya Harus Diruqyah
Shodiq Ramadhan | Sabtu, 10 Maret 2012 | 11:09:28 WIB | Hits: 198 | 1 Komentar More Sharing ServicesShare | Share on facebook Share on twitter Share on email Share on print Share on reddit

Jakarta (SI ONLINE) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) balik diminta introspeksi diri oleh Ketua Umum Front Pembela Islam Habib Muhammad Rizieq Syihab. Permintaan ini merupakan balasan langsung atas ucapan SBY sebulan lalu yang mengatakan bahwa FPI harus introspeksi diri. Mengapa SBY wajib introspeksi diri?. Setidaknya ada delapan hal yang membuat SBY harus introspeksi. "Pertama, sampai saat ini SBY masih takut untuk membubarkan Ahmadiyah. Kedua, petinggi-petinggi partai SBY terlibat korupsi", kata Habib Rizieq dalam orasinya di Bunderan HI, Jakarta, dalam Apel Siaga Umat Indonesia Tanpa Liberal, Jumat (9/3/2012). Alasan ketiga, kata Habib Rizieq, karena SBY diduga menutup-nutupi kasus Skandal Century 6,7 Triliyun. Padahal penuntasan kasus tersbut sudah menjadi amanat rakyat yang diputuskan oleh DPR RI. "Amanat rakyat yang sudah diputuskan oleh DPR RI untuk menuntaskan Kasus Century 6,7 triliyun yang sampai saat ini justru SBY berusaha menutup-nutupinya, betul?", kata Habib. Alasan keempat, penggangguran makin banyak. Kelima, orang kelaparan makin banyak. Keenam, Liberal makin bebas dan ketujuh bencong makin banyak. "Jadi siapa yang harus introspeksi diri?", tanya Habib yang dijawab secara bersama oleh massa, "SBY".

Ya, SBY lah orang pertama di negeri ini yang harus introspeksi diri. Menurut Habib Rizieq, partai SBY juga turut melakukan kekerasan dalam sejumlah kasus pilkada di berbagai daerah dengan membakar kantor-kantor pemerintah. "Jadi siapa yang haru introspeksi diri. Kalau SBY tidak introspeksi diri, yang mesti dibubarkan FPI atau SBY?", tanya Habib yang lagi-lagi dijawab massa dengan teriakan, "SBY". Agar proses introspeksi diri SBY berlangsung dengan tenang tanpa ada gangguan, Habib Rizieq menyerukan agar umat Islam melakukan ruqyah untuk membersihkan istana SBY dari pengaruhh setan-setan dan iblis-iblis liberal. "Selama masih ada setan dan iblis liberal di sekitar SBY, SBY tidak bisa introspeksi", kata Habib. Karena itu Habib Rizie sore kemarin mengajak ribuan massa umat Islam untuk mendatangi Istana Negara guna melakukan ruqyah. "Kalau banyak setan dan iblis, kita mesti kesana. Kita usir setan dan iblis, supaya SBY bisa introspeksi diri", kata Habib. Tidak lama setelah Habib Rizieq menyampaikan orasi, ribuan massa umat Islam dari berbagai ormas Islam itu pun bergerak menuju depan Istana Negara. Sebelumnya semua peserta aksi telah dihimbau untuk mengambil air wudhu di kolam Bunderan HI. Sesampainya di depan istana, dipimpin Habib Rizieq, massa menunaikan shalat Ashar berjamaah.

Sorry ya Hanung, Ternyata Umat Islam yang Anti Liberal Jauh Lebih Banyak!
Shodiq Ramadhan | Jumat, 09 Maret 2012 | 20:56:50 WIB | Hits: 2420 | 26 Komentar More Sharing ServicesShare | Share on facebook Share on twitter Share on email Share on print Share on reddit

Jakarta (SI ONLINE) - Ribuan umat Islam, mayoritas berbusana putih-putih mengikuti Apel Siaga Umat "Indonesia Tanpa Liberal", di Bunderan HI, Jakarta, Jumat (9/3/2012). Hujan yang mengguyur Jakarta setelah sholat Jum'at tak menjadi penghalang bagi umat Islam untuk mengikuti aksi itu. Apel siaga diikuti oleh segala kalangan usia, mulai dari anak-anak, remaja, bapak-bapak dan ibu-ibu. Puluhan ormas Islam turun ke jalan. Bahkan ada artis dan vokalis band underground juga tergabung dalam aksi menolak Liberal itu. Umat Islam hadir dari segala penjuru Jakarta dan sekitarnya. Ini sekaligus menjawab tantangan sutradara Liberal Hanung Bramantyo yang pada Selasa, (14/2/2012), lalu menantang umat Islam untuk membuktikan siapa yang sesuangguhnya mayoritas, kelompok Liberal kawan-kawan Hanung atau umat Islam yang menolak Liberal. Hari ini, tantangan itu terjawab. Ternyata, umat Islam yang anti Liberal jauh lebih banyak dari kelompok Liberal yang melakukan aksi di Bunderan HI 14 Februari lalu yang hanya diikuti 50 orang saja. Itupun gabungan para bencong, kaum homo, perempuan dugem dan lelaki berambut gimbal penuh tatto. Jika dibandingkan, kesimpulannya mereka yang aksi 14 Februari lalu berwajah dan bermuka gelap, hitam....sedangkan hari ini mereka yang anti Liberal terlihat lebih cerah. Putih... Selasa sore, 14 Februari lalu Hanung menantang dengan mengatakan, "Terimakasih. Sudah saatnya, sudah saatnya kita harus menunjukkan siapa sebenarnya yang mayoritas dan siapa yang minoritas. Jangan sampai kita melihat, anak-anak kita melihat, saudara-saudara kita melihat, bahwa yang minoritas itu adalah yang merasa mayoritas dan mayoritas hanya diam saja", kata Hanung. Berikut foto aksi "Indonesia Tanpa Liberal" yang diambil oleh fotografer Suara Islam,

Budi

Al

Faruq:

Ketua Umum DPP FPI Habib Muhammad Rizieq Syihab berorasi di Bunderan HI Jakarta

Ribuan massa melakukan long march dari Bunderan HI ke depan Istana Negara Jakarta

Sekjen FUI KH M Al Khaththath bersama Habib Rizieq berjalan memimpin massa aksi

Giant banner yang dipasang di papan baliho depan Istana Negara Jakarta

KH M Al Khaththath membacakan pernyataan pers FUI

Ribuan umat Islam menunaikan sholat Ashar berjamaah di depan Istana Negara

Ketua DPP FPI Munarman SH berorasi, "Liberal Merusak Bangsa"

Dua buah buku Liberal dibakar, salah satunya "Lubang Hitam Agama" karya Sumanto

Salah satu peserta aksi mencolok gambar dedengkot JIL, Ulil Abshar Abdalla

Indonesia Sejahtera Tanpa SBY-Boediono; Tolak Kenaikan BBM; Indonesia Damai Tanpa Liberal

Indonesia Aman Tanpa Ahmadiyah

Indonesia Sejahtera Tanpa SBY-Boediono

Artis Fauzi "ajiiib" Baadilla ikut orasi menolak JIL

Vokalis TENGKORAK, Ombat Nasution, Menolak JIL

Bassist Purgatory, Bonti, menolak JIL

Anak-anak pun berteriak, "Indonesia Aman Tanpa Ahmadiyah" Rep: Shodiq Ramadhan

Komentar

elina sanif
2012-03-10 14:01:12 gak cuma gak nongol di TV,koran Republika Sabtu 10 Maret 2012 pun gak nongol, ada apa ya? aneh...aneh...aneh

fajar
2012-03-10 13:01:19 apa sih hebatnya si hanung itu, baru bisa buat film aja sombongnya endak ketulungan, tunggu aja azab Allah menimpamu

agus slamet
2012-03-10 12:45:14 Allohu Akbar itu demo yang sangat dinanti-nanti. Selama JIL dan antek- anteknya, JIL dan krocokroconya, JIL dan kutu-kutunya berada di Indonesia jangan berharap bangsa ini akan sakinah mawadah dan warohmah. Kapan FUI bandung, Jabar bergeraaakkk.......

sari
2012-03-10 12:11:06 subhanallah.... like this too much... Allahu Akbar.....

zionis killer
2012-03-10 11:00:09 Yah...si hanung kacian... Baru kokay seujung kuku malah murtad, cepet tobat luh...

fahmi
2012-03-10 10:54:45 MAKASSAR tunggu giliran siap turun.... Indonesia tanpa LIBERAL.... Indonesia sejahtera tanpa SBYBoediono... Indonesia damai tanpa AHMADIYAH.... ALLAHU AKBAR..ALLAHU AKBAR...ALLAHU AKBAR...

Tolak JIL
2012-03-10 10:53:35

Indonesia tanpa liberal

solihin
2012-03-10 10:17:17 Allahuakbar.....

Diah
2012-03-10 09:04:01 alhamdulillah saya rasa umat Islam anti JIL lebih banyak tapi menurut saya sebaiknya tidak mengajak anak2. justru akan membuat citra umat Islam yang memanfaatkan anak2.

Robet morangkil
2012-03-10 09:02:38 Akhirnya Alloh Menjawab kesombongan si Hanung .banyak Umat Islam dan masyarakt lainnya tdk stju dngn libral,Jin eh JIl,kita malu Anak2 kt dipmpn sma orng tdk bermoral,bencong ,pelacur,tato ,,ih seram,trh ksh,umat islam yg berdemo

123

Harusnya Peringatan Maulid Nabi Bangkitkan Semangat Jihad
Shodiq Ramadhan | Minggu, 19 Februari 2012 | 08:34:57 WIB | Hits: 322 | 2 Komentar More Sharing ServicesShare | Share on facebook Share on twitter Share on email Share on print Share on reddit

Jakarta (SI ONLINE) - Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw yang dilakukan umat Islam selama berbulan-bulan selama ini nyaris tak berkesan apa-apa. Umat Islam tetap dalam kondisi terpuruk. Bahkan umat yang mayoritas ini seperti dihinakan di negerinya sendiri. Kaum minoritas seolah terus melecehkan umat Islam. Peristiwan terakhir adalah

ketika segelintir preman di Palangkaraya mengancam membunuh empat pimpinan pusat FPI. "Seharusnya sesuai misi awal peringatan Maulid Nabi oleh Shalahudin Al-Ayyubi, peringatan Maulid harus dijadikan momentum membangkitkan semangat berjihad", kata aktivis DDII Bekasi Ustadz Bernard Abdul Jabbar saat berbicara dalam Majelis Taarrub Ilallah dan Temu Pembaca Suara Islam Ke-20 di Masjid Baiturahman, Jl Sahardjo, Tebet, Jakarta Selatan, Sabtu (18/2/2012). Bernard menambahkan bahwa hasil peringatan Maulid Nabi di zaman Maulid adalah berhasil terkumpulnya umat Islam dengan gelora jihad untuk melawan tentara Salib dan membesakan Jerussalem. "Nah sekarang Al Aqsha masih dikuasai Israel, harusnya peringatan Maulid Nabi bisa membangkitkan semangat untuk membebaskan Al Aqsha", kata mantan misionaris itu. Sebelum Bernard, dalam acara yang mengambil tema "Meneladani Jihad Shalahuddin Al Ayyubi" itu, Wakil Amir Majelis Mujahidin Ustadz Abu Jibril juga turut berbicara. Ustadz Abu Jibril menegaskan bahwa Jihad dalam Islam adalah sebuah kewajiban sebagaimana wajibnya shalat, puasa, zakat dan haji. Islam, lanjut Abu Jibril, tak pernah bisa dipisahkan dengan jihad. "Tauhid, sholat, jihad tak bisa dipisahkan," katanya. Abu Jibril juga mengingatkan, jika umat Islam meninggalkan jihad maka mereka akan dihinakan. Sebaliknya, umat Islam akan menjadi mulia jika kembali menggalakkan jihad fi sabilillah. "Seluruh kehidupan umat Islam akan lebih baik jika jihad ditegakkan", katanya. Dia mengaku prihatin dengan kondisi umat Islam yang saat ini terus dihinakan kafir minoritas. Abu Jibril mencontohkan dalam Kasus Century, SBY tak pernah menanggapi dengan semangat. Begitu pula dengan Kasus Ahmadiyah atau bahkan korupsi para kader Partai Demokrat. tetapi begitu terjadi Insiden Palangkaraya, SBY langsung bersemangat. "Begitu ormas Oslam muncul, dia bicara dengan mengatakan FPI harus muhasabah (introspeksi diri, red)", kata Abu Jibril menirukan SBY.

MEMAHAMI MAKNA AL-BARZANJI
Pada waktu-waktu tertentu dimasyarakat pada umumnya kita sering membacakan kitab Al Barzanji. Di Indonesia, kita biasa menyebutnya “kitab Barzanji” atau “syair Barzanji”. Di berbagai belahan Dunia Islam, syair Barzanji lazimnya dibacakan dalam kesempatan memperingati hari kelahiran (maulid) Sang Nabi. Dengan mengingat-ingat riwayat Sang Nabi, seraya memanjatkan shalawat serta salam untuknya, orang berharap mendapat berkah keselamatan, kesejahteraan, dan ketenteraman. Sudah lazim pula, tak terkecuali di negeri kita, syair Barzanji didendangkan biasanya, di kala menyambut bayi yang baru lahir dan mencukur rambutnya. Karena itu adalah sebuah tradisi yang sering dilakukan dari dahulu.

Oleh karena itu juga kita harus bisa memahami makna dan tujuan dari Al Barzanji itu sendiri karena pada saat sekarang ini kita sering mendapati pemahaman yang lain tentang syair tersebut yang sering kita lakukan pada umumnya, ada yang mengatakan itu dilarang (Haram) untuk dilakukan karena itu perbuatan tersebut tidak dilakukan Rasulallah SAW (Bid‟ah). Meraka mengatakan hal tersebut tapi meraka juga tidak memahami makna bid‟ah itu sendiri. Dari berbagai pemahaman yang timbul dikalangan masyarkat pada masa sekarang, saya sedikit-banyaknya ingin memberikan sedikit pengetahuan mengenai Al Barzanji. a) Sejarah Al Barzanji

Al Barzanji erat kaitannya dengan Perayaan Maulid yang ada pada masyarakat pada umumnya. Perayaan Maulid pada mulanya dirintis oleh Shalahuddin Al-Ayyubi. Yang sebenarnya Maulid tersebut berperan menghidupkan kembali Maulid yang pernah ada pada masa Dinasti Fatimiyah. Tujuannya, membangkitkan semangat jihad (perjuangan) dan ittihad (persatuan) tentara Islam melawan crusaders (Pasukan Salib) yang saat itu memang memerlukan keteguhan dan keteladanan. Dari itulah muncul anggapan, Shalahuddin adalah penggagas dan peletak dasar peringatan Maulid Nabi. Adapun historisitas Al Barzanji berawal dari lomba menulis riwayat dan puji-pujian kepada Nabi yang diselenggarakan Shalahuddin pada 580 H/1184 M. Dalam kompetisi itu, karya indah Syekh Ja`far al-Barzanji tampil sebagai yang terbaik. Sejak itulah Kitab Al-Barzanji mulai disosialisasikan pembacaanya ke seluruh penjuru dunia oleh salah seorang gubernur Salahudin yakni Abu Sa`id al-Kokburi, Gubernur Irbil, Irak Di Indonesia, tradisi Berzanji bukan hal baru, terlebih di kalangan Nahdliyyin (sebutan untuk warga NU). Berzanji tidak hanya dilakukan pada peringatan Maulid Nabi, namun kerap diselenggarakan pula pada tiap malam Jumat, pada upacara kelahiran, akikah dan potong rambut, pernikahan, syukuran, dan upacara lainnya. Bahkan, pada sebagian besar pesantren, Berjanjen telah menjadi kurikulum wajib. Selain al-Barzanji, terdapat pula kitab-kitab sejenis yang juga bertutur tentang kehidupan dan kepribadian Nabi. Misalnya, kitab Shimthu al-Durar karya al-Habib Ali bin Muhammad bin Husain al-Habsyi. Ada pula al-Burdah karya al-Bushiri dan al-Diba’ karya Abdurrahman alDiba‟iy. Namun, yang masyhur di masyarakat adalah al-Barzanji dan al-Diba‟. Al Barjanji sendiri merupakan karya tulis berupa puisi yang terbagai atas 2 bagian yaitu Natsar dan Nazhom. Bagian natsar mencakup 19 sub-bagian yang memuat 355 untaian syair, dengan mengolah bunyi ah pada tiap-tiap rima akhir. Keseluruhnya merunutkan kisah Nabi Muhammad SAW, mulai saat-saat menjelang Nabi dilahirkan hingga masa-masa tatkala beliau mendapat tugas kenabian. Sementara, bagian Nazhom terdiri dari 16 subbagian berisi 205 untaian syair penghormatan, puji-pujian akan keteladanan ahlaq mulia Nabi SAW, dengan olahan rima akhir berbunyi nun. b) Apakah Al Barzanji itu dilarang (Haram) untuk dilakukan dan Bagaimana Hukum dasarnya Al Barzanji?

Mengenai hal ini erat kaitannya pula dengan pro-kontra Al Barjanji? Pihak yang pro menganggap pembacaan Al Barzanji adalah refleksi kecintaan umat terhadap figur Nabi, pemimpin agamanya

sekaligus untuk senantiasa mengingatkan kita supaya meneladani sifat-sifat luhur Nabi Muhammad SAW. Kecintaan pada Nabi berarti juga kecintaan, ketaatan kepada Allah. Adapun pihak kontra memandang Barjanji hanyalah karya sastra yang walau mungkin mengambil inspirasi dari 2 sumber hukum haq Islam yakni Al Qur’an dan hadist. Wajarlah bila kemudian pihak kontra menghukumi pembacaan Barjanji juga bacaan sejenis lainya semisal Diba', Burdah, Simthuddurar itu Bid’ah atau mengada-ada dalam ibadah yang justru sangat jelas dilarang agama. Sebuah hadist Nabi riwayat Bukhari Muslim menyatakan, ”Barangsiapa menimbulkan sesuatu yang baru dalam urusan (agama) kita yang bukan dari ajarannya maka tertolak.” (HR. Bukhari).

Berdasarkan kemanfaatan maka Al barzanji itu boleh dilakukan walaupun termasuk bid’ah ( bid’ah hasanah ) Nabi saw memperbolehkan berbuat Bid'ah hasanah. Nabi saw memperbolehkan kita melakukan Bid'ah hasanah selama hal itu baik dan tidak menentang syariah, sebagaimana sabda beliau saw :

"Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam Islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yang buruk dalam Islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya" (Shahih Muslim hadits no.1017, demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi). Dan keterangan lain dari ulama : 1. Al Hafidh Al Muhaddits Al Imam Muhammad bin Idris Assyafii rahimahullah (Imam Syafii) Berkata Imam Syafii bahwa Bid'ah terbagi dua, yaitu Bid'ah mahmudah (terpuji) dan Bid'ah madzmumah (tercela), maka yang sejalan dengan sunnah maka ia terpuji, dan yang tidak selaras dengan sunnah adalah tercela, beliau berdalil dengan ucapan Umar bin Khattab ra mengenai shalat tarawih : "inilah sebaik baik Bid'ah". (Tafsir Imam Qurtubiy juz 2 hal 86-87) 2. Al Imam Al Hafidh Muhammad bin Ahmad Al Qurtubiy rahimahullah "Menanggapi ucapan ini (ucapan Imam Syafii), maka kukatakan (Imam Qurtubi berkata) bahwa makna hadits Nabi saw yang berbunyi : "seburuk buruk permasalahan adalah hal yang baru, dan semua Bid'ah adalah dhalalah" (wa syarrul umuuri muhdatsaatuha wa kullu bid atin dhalaalah), yang dimaksud adalah hal hal yang tidak sejalan dengan Alqur an dan Sunnah Rasul saw, atau perbuatan Sahabat radhiyallahu anhum, sungguh telah diperjelas mengenai hal ini oleh hadits lainnya : "Barangsiapa membuat buat hal baru

yang baik dalam Islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yang buruk dalam Islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya" (Shahih Muslim hadits no.1017) dan hadits ini merupakan inti penjelasan mengenai Bid'ah yang baik dan Bid'ah yang sesat". (Tafsir Imam Qurtubiy juz 2 hal 87) Itulah dasar hukum yang bisa dipegang berkaitan Al Barzanji Yang telah dilakukan dari dulu sampai sekarang dari Para Ulama dan para Muhaddist terdahulu, Maka bila muncul pemahaman di akhir zaman yang bertentangan dengan pemahaman para Muhaddits maka mestilah kita berhati hati darimanakah ilmu mereka, berdasarkan apa pemahaman mereka, atau seorang yang disebut imam padahal ia tak mencapai derajat hafidh atau muhaddits, atau hanya ucapan orang yang tak punya sanad, hanya menukil menukil hadits dan mentakwilkan semaunya tanpa memperdulikan fatwa fatwa para Imam. Dafar Pustaka  Tafsir Imam Qurtubiy  1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) Oleh : Dr. Muhammad Faiz Almath
Diposkan oleh Nigara Family di 17:21 Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook Reaksi: 5 komentar:

Anonim mengatakan...

Assalamualaikum. Bagaimana jika Bazanji tersebut di yakini sebagai suatu ritual yang di anggap sebgai bentukibadah pada Allah? Lalu bagaimana dengan masyarakat yang tidak mengetahui isi barzanji tetapi terus melakukan dengan niat sebagai ibadah, apakah ada hal ini bukannya suatu kebodohan?
6 Desember 2010 05:56

Anonim mengatakan...

kan tolabul 'ilmi faridotun....itu dosa bagi orang yang bodoh,semua kan pake ilmu.tapi bila hati sang orang bodoh tersbut yakin bahwa karna untuk mengharap ridho Illahi dan Syafa'at Rosul dan karna mahabbah pda Alloh dan RosulNYa.maka Alloh maha mengetahuinya.bahwa di terima dan di tolaknya amaliah seseorang itu urusan Alloh....saya sllalu khusnudzon BILLah...amin
13 Januari 2011 09:27

Anonim mengatakan...

kan tolabul 'ilmi faridotun....itu dosa bagi orang yang bodoh,semua kan pake ilmu.tapi bila hati sang orang bodoh tersbut yakin bahwa karna untuk mengharap ridho Illahi dan Syafa'at Rosul dan karna mahabbah pda Alloh dan RosulNYa.maka Alloh maha mengetahuinya.bahwa di terima dan di tolaknya amaliah seseorang itu urusan Alloh....saya sllalu khusnudzon BILLah...amin
13 Januari 2011 09:28

Al-kafir mengatakan...

sempit sekali tradisi pembacaan berjanzi dicap sebagai sebuah ritual, membaca/menyimak kitab apa sih ritualnya? apa gara-gara ritualnya tak diajarkan langsung oleh nabi anda, anda tak mau membacanya? pembacaan berjanzi dalam artian pembacaan sejarah/tarikh nabi menurut saya adalah sebuah ibadah. jauh lebih baik berkumpul membaca berjanzi daripada nonton sinetron dirumah, atau berkumpul mencibir kitab-kitab yang bukan karya syech-syech anda, seolah anda kalau berkesempatan dan mampu akan melenyapkan semua kitab dan pembaca kitabnya sekalian? kebodohan bagi yg belum mengerti isi dan makna dari berjanzi bukan argumen untuk melarang pembacaan kitab ini. ingat, belajar yang paling dasar dan mudah adalah membaca. membaca kitab berjanzi berarti belajar tentang sirah nabi, walaupun sebatas membaca atau lanjut sampai tahu maknanya itu tergantung dari usaha si fulan untuk belajar. dari sekian banyak muslim kawan anda, berapa banyak diantara yang tahu dari surat alfatihah? padahal dilafalkan tiap hari, apa itu juga bukan kebodohan? saya yakin kalau kitab ini bukan berbahasa arab, bukan dibuat oleh syeikh dan hakim asal madinah, misalnya berbahasa indonesia pasti anda mau baca. karena isinya sama saja seperti buku sirah nabi yang anda baca sehari-hari bahkan mungkin buku yg anda baca itu bersumber dari kitab ini. silakan carikan kitab pembanding dg kitab ini, adakah kitab sirah nabi yang dikemas dalam untaian syair seperti ini? mari sama-sama belajar, belajar memahami sesuatu sebelum anda mencapnya sebagai benar-salah setidaknya bagi anda sendiri.
9 Februari 2011 07:04

MACAN BAWUK mengatakan...

Orang yang dengan kedangkalan pengetahuan dan ilmunya selalu mem-bid'ah-kan atau bahkan mengharam-haramkan amalan membaca sirrah nabawiyyah adalah orang yang sombong dengan kebodohannya....Hidup dan Semangatkan Majlis Pembacaan AlBarzanji....!!

Maulid Nabi, Kitab Al-Barzanji dan Sejarah Perlawanan Umat Islam
Written by Redaksi Agama, Oase, Sejarah 16 February 2011 - 1,839 views

Oleh M Chozin Amirullah*

Hari ini, tanggal 12 Rabiul Awal 1432 adalah bertepatan dengan peringatan hari kelahiran nabi Besar Muhammad SAW. Muhammad SAW dilahirkan pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awal tahun Gajah („aamil fiil), yaitu 53 tahun sebelum penanggalan Hijriyah dimulai atau bertepatan dengan tahun 570 Masehi. Tahun kelahiran Nabi disebut tahun Gajah karena bertepatan dengan peristiwa penyerangan Makkah oleh Gubernur dari kekaisaran Bizantium di Syiria bernama Abrahah. Peristiwa tersebut diabadikan oleh Al-quran dalam surat Al-fiil (gajah) yang intinya mengisahkan kegagalan penyerangan tersebut. Meski tidak disyariatkan secara khusus selama hidup Nabi, peringatan Maulid Nabi sebagai upacara untuk mengenang hari kelahiran Muhammad Saw adalah bagian yang tidak terpisahkan dari budaya Islam di seluruh dunia. Sebagai seorang yang pernah tumbuh dalam lingkungan Islam tradisional pantai utara Jawa, Mulid Nabi selalu memberikan kesan tersendiri pada masa kanak-kanak saya. Di kampung, kami merayakan hari tersebut dengan sangat meriah, mulai pagi hari para ibu kami membuat masakanmasakan istimewa untuk dibawa ke langgar, musholla ataupun masjid. Sorenya, kami berkumpul di sana membuat upacara Maulid dengan melantunkan shalawat dan puji-pujian kepada Nabi. Tak jarang kami juga menyelenggarakan pengajian akbar dengan mengundang dai terkondang di kota kami. Sebelum pengajian akbar, kami membuat pawai besar-besaran yang diikuti para pelajar madrasah dan orang tuanya. Kisah-kisah perjalanan Nabi menjadi inti utama ceramah para dai yang hadir pengajian akbar kami. Puncak acara perayaan adalah pembacaan kita AlBarzanji yang dibacakan secara bergilir oleh lantunan suara-suara indah kami.

Saat-saat pembacaan kitab maulid Al-Barzanji adalah bagian yang paling membuat saya terkesan. Kami duduk membentuk lingkaran besar dengan masing-masing membawa kitab AlBarzanji di tangannya. Dengan dibuka oleh bait pertama berbunyi abtadi‟ul imlaa bismidzdzaatil „aliyyah (artinya: kami memulai komuni ini dengan nama dzat yang maha mulia), masingmasing dari kami mendapat jatah untuk membaca bait-bait syair dalam kita tersebut. Sebenarnya, kitab tersebut sebenarnya bukan hanya dibaca pada saat perayaan Maulid saja, bahkan setiap malam Jum‟at kami selalu membacanya dengan menggunakan loud speaker dari musholla. Saking seringnya membaca saya sendiri pernah sampai hafal hampir semua bait-baitnya yang berjumlah sekitar 560 syair itu. Bukan hanya itu, kitab Maulid Al-Barzanji juga dibaca ketika ada acara-acara khusus seperti kelahiran bayi, pindah rumah, dan upacara tujuh bulan kelahiran. Keindahan diksi prosa–puitis mengenai sejarah kehidupan Nabi sangat terasa saat kami membaca kita Al-barzanji secara berjamaah. Membaca bait-bait dalam kitab Al-barzanji membuat kami seperti terlibat langsung dalam penggalan-penggalan hidup bersama Rasulullah SAW. Saat yang paling mengesankan buat saya membaca adalah ketika kami sampai pada bab mahalul qiyam, saat mana para hadirin diminta berdiri dan kemudian melantunkan syair-syair pujian kepada Nabi dengan lagu yang indah dan merdu. Aura trance mulai terasa pada fase tersebut, saat melantunkannya tiba-tiba kami merasa serasa sangat dekat dengan Sang Nabi dan kadang merasa seperti berada langsung di hadapannya. Sering di antara kami ada yang sampai menangis terisak-isak saking tak kuatnya menahan rasa „isyq (rindu) kepada Sang Nabi pujaan. Ya Nabi salâm „alaika (Wahai Sang Nabi, salam untukmu) Ya Rasûl salâm ‘alaika (Wahai Sang Rasul, salam untukmu) Ya Habîb salâm ‘alaika (Wahai Sang Kekasih, salam untukmu) ShalawatulLâh ‘alaika (Shalawat Allah selalu teruntuk padamu)

Kitab Maulid Al-Barzanji, Kitab Perlawanan Kaum Muslim

Tidak banyak yang tahu bahwa sesunggunya peringatan Maulid Nabi diciptakan sebagai bagian dari cara membangkitkan semangat kaum Muslim untuk melawan terhadap penyerangan besar-besaran yang dilakukan oleh tentara the Crusader dari daratan Eropa. Pada tahun 1099M, ekspansi besar-besaran tentara the crusader telah berhasil berhasil menguasai Yerusalem (Palestina) dan hal tersebut menjadikan umat Islam kehilangan semangat perjuangan. Secara politis umat Islam terpecah-belah dalam banyak kerajaan atapun kesultanan, dan mereka tidak punya semangat persaudaraan. Muncullah Sultan Salahuddin Al-Ayyubi (memerintah dari tahun 1174-1193M dengan pusat pemerintahan di Kairo, Mesir) tampil mempimpin perlawanan. Meskipun bukan orang Arab melainkan dari suku Kurdi, Salahuddin berhasil membangkitkan semangat juang umat Islam dengan cara mempertebal kecintaan mereka kepada Nabi Muhammad SAW. Salahuddin menginstruksikan agar setiap tahun umat Islam di seluruh dunia merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW secara massal. Pada musim ibadah haji tahun 579H (1183M) – waktu Makkah belum dikuasai oleh Dinasti Ibnu Saud seperti sekarang ini – Sultan Salahuddin menginstruksikan agar sekembalinya dari Makkah, para jamaah haji mensosialisasikan Maulid Nabi di daerahnya masing-masing melalui berbagai kegiatan yang meriah. Tujuannya jelas membangkitkan solidaritas dan semangat perjuangan umat Islam.

Salahuddin Al-ayubi Dalam rangka mendukung gerakan penyadaran tersebut, dipopulerkanlah sebuah buku prosasyair berjudul „Iqd Al-Jawhar fi Mawlid An-Nabiyyil Azhar (kalung permata pada kelahiran Nabi ternama) atau lebih dikenal dengan kitab Maulid Al-Barzanji, yang berisi sejarah kemuliaan kehidupan Rasullah SAW. Kitab tersebut dikarang oleh seorang ulama kenamaan asal bernama Syaikh Ja`far bin Husain bin Abdul Karim bin Muhammad Al-Barzanji. Saat ini kitab tersebut lebih populer dengan nama kitab Al-Barzanji semenjak keturunan Syaikh Ja‟far AlBarzanji, yaitu Syaikh Syaikh Mahmud Al-Barzanji memimpin pemberontakan terhadap Inggris yang pada waktu itu menguasai Irak pada tahun 1920-an. Kitab Maulid Al-Barzanji adalah salah satu kitab maulid yang paling populer dan paling luas tersebar ke pelosok negeri Islam. Kandungannya merupakan khulasah (ringkasan) Sirah Nabawiyah yang meliputi kisah kelahirannya, pengutusannya menjadi rasul, hijrah, akhlaq, peperangan hingga wafatnya. Dengan bahasa yang sangat puitis, pada bagian awal kitab dilukisahkan peristiwa kelahiran Muhammad SAW ditandai dengan banyaknya peristiwa ajaib seperti angin yang tenang berhembus, binatang-binatang yang tiba-tiba terdiam dan tumbuhtumbuhan yang merundukkan daun-daunnya sebagai tanda penghormatan atas kehadirannya. Dikisahkan pula bahwa Muhammad terlahirkan dengan bersujud kepada Allah dan pada saat yang bersamaan istana-istana para durjana tergoncang. Istana Raja Kisra retak dengan empat belas berandanya sampai terjatuh ke tanah. Demikian juga api sesembahan raja Persia yang tak pernah padam selama ribuat tahun, tiba-tiba padam saat terlahir Sang Nabi. Kitab Maulid Al-barzanji juga menceritakan keagungan akhlak dan kemampuan politik Muhammad secara indah. Pada tiga puluh lima tahun, Sang Nabi mampu mendamaikan kabilahkabilah yang berselisih dalam hal penentuan peletakan batu Hajar Aswad di Ka‟bah yang menjadi simbol spiritualitas suku-suku Arab waktu itu. Saat masing-masing suku merasa paling berhak terhadap penentuan tempat Hajar Aswad, Sang Nabi tampil dengan meminta kepada setiap kabilah memegang setiap ujung sorban yang dijadikan sarana untuk meletakkan Hajar Aswad pada tempatnya. Penggunaan bahasa-bahasa puitik dalam pengisahan sejarah nabi menciptakan suasana mistis dan membangkitkan semangat pembacanya. Bagi pembaca yang mengerti bahasa Arab fushah,

akan merasakan betul betapa sang pengarang sangat terpukau dengan keagungan akhlak sosok Muhammad. Saking terpukaunya, pengarang menyebut Sang Nabi dalam sapaan-sapaan bahasa kosmik seperti ”Wahai Engkau Sang Mentari, Wahai Engkau Sang Rebulan, Wahai Engkau Cahaya di atas Cahaya dan sebagainya“. Ringkasnya, karya Al-Barzanji bukanlah sekedar tulisan untuk menjadi bacaan referensi, melainkan kumpulan gubahan kata-kata yang membangkitkan kesadarann perlawanan. Keyataannya, pembacaan kitab Al-Barzanji dalam peringatan-peringatan Maulid Nabi yang digalakkan oleh Sultan Salahuddin berhasil membangkitkan kesadaran umat Islam melawan tentara the Crusader. Pada tahun 1187M, Sultan Salahuddin berhasil menghimpun kembali kekuatan umat dan merebut kembali Yerusalem, Masjidil Aqsa dikembalikan lagi fungsinya sebagai masjid. Sayangnya, saat ini, di kampungku kitab tersebut sudah jarang yang membacanya. Penduduk kampungku sudah tidak punya waktu lagi membaca Kitab Maulid, sebab waktu mereka habis untuk menonton sinetron di TV-TV swasta. Ah, bagaimana aku mengharap revolusi?

Sayyid Ja’far Al Barzanji – Mufti Madinah (1126 – 1184 H)
Posted by redaksi On 23 June 2007 11 Commented
inShare

Sayyid Ja‟far bin Sayyid Hasan bin Sayyid „Abdul Karim bin Sayyid Muhammad bin Sayyid Rasul al-Barzanji adalah seorang ulama besar keturunan Junjungan Nabi s.a.w. dari keluarga Saadah al-Barzanji yang masyhur berasal dari Barzanj di Iraq. Beliau dilahirkan di Kota Madinah al-Munawwarah pada tahun 1126H. Segala usul Sayyid Ja‟far semuanya merupakan ulama terkemuka yang terkenal dengan ilmu dan amal, keutamaan dan kesholehan. Sayyid Muhammad bin „Alwi bin „Abbas al-Maliki dalam “Haul Ihtifaal bi dzikra al-Mawlid anNabawi asy-Syarif” menulis pada halaman 99 :-

Al-‟Allaamah al-Muhaddits al-Musnid as-Sayyid Ja‟far bin Hasan bin „Abdul Karim al-Barzanji adalah MUFTI ASY-SYAFI`IYYAH di Kota Madinah al-Munawwarah. Telah berlaku perselisihan tentang tarikh kewafatannya, di mana sebahagiannya menyebut yang beliau meninggal pada tahun 1177H. Imam az-Zubaidi dalam “al-Mu‟jam al-Mukhtash” menulis bahawa beliau wafat tahun1184H, di mana Imam az-Zubaidi pernah berjumpa dengan beliau dan menghadiri majlis pengajiannya di Masjid Nabawi yang mulia. Beliau adalah pengarang kitab mawlid yang masyhur dan terkenal dengan nama “Mawlid al-Barzanji“. Sebahagian ulama menyatakan bahawa nama karangannya tersebut sebagai “I’qdul Jawhar fi mawlid an-Nabiyyil Azhar“. Mawlid karangan beliau ini adalah di antara kitab mawlid yang paling tersohor dan paling luas tersebar ke pelosok negeri „Arab dan Islam, baik di Timur maupun di Barat. Bahkan ramai kalangan „Arab dan „Ajam yang menghafalnya dan mereka membacanya dalam perhimpunan-perhimpunan agama yang munasabah. Kandungannya merupakan khulaashah (ringkasan) sirah nabawiyyah yang meliputi kisah lahir baginda, perutusan baginda sebagai rasul, hijrah, akhlak, peperangan sehingga kewafatan baginda…………….

Kitab “Mawlid al-Barzanji” ini telah disyarahkan oleh al-‟Allaamah al-Faqih asy-Syaikh Abu „Abdullah Muhammad bin Ahmad yang terkenal dengan panggilan Ba`ilisy yang wafat tahun 1299H dengan satu syarah yang memadai, cukup elok dan bermanfaat yang dinamakan “al-Qawl al-Munji ‘ala Mawlid al-Barzanji” yang telah banyak kali diulang cetaknya di Mesir. Di samping itu, kitab Mawlid Sidi Ja‟far al-Barzanji ini telah disyarahkan pula oleh para ulama kenamaan umat ini. Antara yang masyhur mensyarahkannya ialah Syaikh Muhammad bin Ahmad „Ilyisy al-Maaliki al-‟Asy‟ari asy-Syadzili al-Azhari dengan kitab “al-Qawl al-Munji ‘ala Mawlid al-Barzanji“. Beliau ini adalah seorang ulama besar keluaran al-Azhar asy-Syarif, bermazhab Maliki lagi Asy`ari dan menjalankan Thoriqah asy-Syadziliyyah. Beliau lahir pada tahun 1217H (1802M) dan wafat pada tahun 1299H (1882M). Selain itu ulama kita kelahiran Banten, Pulau Jawa, yang terkenal sebagai ulama dan penulis yang produktif dengan banyak karangannya, yaitu Sayyidul „Ulama-il Hijaz, an-Nawawi atsTsani, Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani al-Jawi turut menulis syarah yang lathifah bagi “Mawlid al-Barzanji” dan karangannya itu dinamakannya “Madaarijush Shu`uud ila Iktisaa-il Buruud“. Kemudian, Sayyid Ja‟far bin Sayyid Isma`il bin Sayyid Zainal „Abidin bin Sayyid Muhammad al-Hadi bin Sayyid Zain yang merupakan suami kepada satu-satunya anak Sayyid Ja‟far al-Barzanji, telah juga menulis syarah bagi “Mawlid al-Barzanji” tersebut yang dinamakannya “al-Kawkabul Anwar ‘ala ‘Iqdil Jawhar fi Mawlidin Nabiyil Azhar“. Sayyid Ja‟far ini juga adalah seorang ulama besar keluaran al-Azhar asy-Syarif. Beliau juga merupakan seorang Mufti Syafi`iyyah. Karangan-karangan beliau banyak, antaranya: “Syawaahidul Ghufraan ‘ala Jaliyal Ahzan fi Fadhaa-il Ramadhan“, “Mashaabiihul Ghurar ‘ala Jaliyal Kadar” dan “Taajul Ibtihaaj ‘ala Dhau-il Wahhaaj fi Israa` wal Mi’raaj“. Beliau juga telah menulis sebuah manaqib yang menceritakan perjalanan hidup dan ketinggian nendanya Sayyid Ja‟far al-Barzanji dalam kitabnya “ar-Raudhul A’thar fi Manaqib as-Sayyid Ja’far“. Kembali kepada Sidi Ja‟far al-Barzanji, selain dipandang sebagai mufti, beliau juga menjadi khatib di Masjid Nabawi dan mengajar di dalam masjid yang mulia tersebut. Beliau terkenal bukan sahaja kerana ilmu, akhlak dan taqwanya, tapi juga dengan kekeramatan dan kemakbulan doanya. Penduduk Madinah sering meminta beliau berdoa untuk hujan pada musim-musim kemarau. Diceritakan bahawa satu ketika di musim kemarau, sedang beliau sedang menyampaikan khutbah Jumaatnya, seseorang telah meminta beliau beristisqa` memohon hujan. Maka dalam khutbahnya itu beliau pun berdoa memohon hujan, dengan serta merta doanya terkabul dan hujan terus turun dengan lebatnya sehingga seminggu, persis sebagaimana yang pernah berlaku pada zaman Junjungan Nabi s.a.w. dahulu. Menyaksikan peristiwa tersebut, maka sebahagian ulama pada zaman itu telah memuji beliau dengan bait-bait syair yang berbunyi:-

‫ط مٝ اٌ فزٚق ب اٌ ع باص ل دِا * ٚ ٔ حٓ ب ج ع فز غ ١ ثا ط م ١ ٕا‬ ‫ف ذان ٚ ط ١ ٍت ٌ ُٙ ٚ ٘ذا * ٚ ط ١ ٍ ت ٕا إِاَ اٌ عارف ١ ٕا‬
Dahulu al-Faruuq dengan al-‟Abbas beristisqa` memohon hujan Dan kami dengan Ja‟far pula beristisqa` memohon hujan Maka yang demikian itu wasilah mereka kepada Tuhan Dan ini wasilah kami seorang Imam yang „aarifin

Sidi Ja‟far al-Barzanji wafat di Kota Madinah dan dimakamkan di Jannatul Baqi`, sebelah bawah maqam beliau dari kalangan anak-anak perempuan Junjungan Nabi s.a.w. Karangannya membawa umat ingatkan Junjungan Nabi s.a.w., membawa umat kasihkan Junjungan Nabi s.a.w., membawa umat rindukan Junjungan Nabi s.a.w. Setiap kali karangannya dibaca, pasti sholawat dan salam dilantunkan buat Junjungan Nabi s.a.w. Juga umat tidak lupa mendoakan Sayyid Ja‟far yang telah berjasa menyebarkan keharuman pribadi dan sirah kehidupan makhluk termulia keturunan Adnan. Allahu … Allah.

‫اٌ ٍُٙ اغ فز ٌ ٕا طج ٘ذٖ اٌ بزٚد اٌ ّح بزة اٌ ٌّٛ د٠ ت‬ ٖ‫ط ١دٔ ا ج ع فز ِٓ إٌ ٝ اٌ بزسٔ ج ٔ ظ ب تٗ ٚ ِ ٕ تّا‬ ‫ق ٌ ٗ اٌ فٛس ب مزب ه ٚ اٌ زجاء ٚ األِ ٕ ١تٚ حك‬ ٖ‫ٚ اج عً ِع اٌ ّ مزب ١ٓ ِ م ١ ٍٗ ٚ ط ى ٕا‬ ٗ١ ‫ٚ ا ط تزٌ ٗ ع ١ بٗ ٚ عجشٖ ٚ ح صزٖ ٚ ع‬ ٖ‫ٚ و ات بٙا ٚ ل ارئ ٙا ٚ ِٓ ا صاخ إٌ ١ٗ طّ عٗ ٚ ا ص غا‬
Ya Allah ampunkan pengarang jalinan mawlid indah nyata Sayyidina Ja‟far kepada Barzanj ternisbah dirinya Kejayaan berdamping denganMu hasilkan baginya Juga kabul segala harapan dan cita-cita Jadikanlah dia bersama muqarrabin berkediaman dalam syurga Tutupkan segala keaiban dan kelemahannya Segala kekurangan dan kekeliruannya Seumpamanya Ya Allah harap dikurnia juga Bagi penulis, pembaca serta pendengarnya

ٍُ ‫ٚ ص ٍٝ هللا ع ٍٝ ط ١دٔ ا ِحّد ٚ ع ٍٝ اٌ ٗ ٚ صح بٗ ٚ ط‬ ٓ١ ّ ٌ‫ٚ اٌ حّد هلل رب اٌ عا‬
Sumber : http://bahrusshofa.blogspot.com/2007/05/sayyid-jafar-mufti-madinah-2.html

Popularity: 8% [?]
Incoming search terms:
        

barzanji al barzanji albarzanji albanzanji maulid al barzanji jar bar zanji maulid barzanji jar jafar bin hasan al-barzanji sejarah lahirnya syair al-barasanji

pengarang kitab al barzanji

inShare

11 Responses to “Sayyid Ja‟far Al Barzanji – Mufti Madinah (1126 – 1184 H)”
1. Y Sugiarto says: Friday, 1 February 2008 at 11:12 pm

Sungguh luar biasa beliau ” Ya Allah ampunkan pengarang jalinan mawlid indah nyata Sayyidina Ja‟far kepada Barzanj ternisbah dirinya Kejayaan berdamping denganMu hasilkan baginya Juga kabul segala harapan dan cita-cita Jadikanlah dia bersama muqarrabin berkediaman dalam syurga Tutupkan segala keaiban dan kelemahannya Segala kekurangan dan kekeliruannya Seumpamanya Ya Allah harap dikurnia juga Bagi penulis, pembaca serta pendengarnya” A m i n ya Alooh A m i n .

2.

nul eureus ka DUA says: Tuesday, 11 March 2008 at 10:52 pm

tuh pelopor kasyirikan oge,dipuji-puji,teuing kumaha fikiran jalma2teh bingung ah…

3.

nunuh says: Friday, 5 December 2008 at 11:07 pm

Ya Allah mudah2an kami yang ada di akhir zaman ini diberi pengetahuan keilmuan keagamaan seperti mereka sehingga kami bisa mencapai puncak dari puncaknya ibadah.. Jauhkan perasaan jelek kami kepada mereka, kami sadar keilmuan kami jauh daripada mereka
4. alba says: Tuesday, 1 December 2009 at 11:11 am

amppunilah segala dosa ummat nabiulloh muhammad saw yang membaca bait-bait maulid assyeikh ja‟far albarzanji dan semoga alloh meridhoi sang pengarang bait syair dan doa maulid albarzanji. aminnn

5.

fuad says: Friday, 12 March 2010 at 4:34 pm

pelopor kemusyrikan?.., kemusyrikan yang gmana mas….? orang musyrik yang do‟anya d kabul allah ada gak yah?, kayak nya gak ada, imam al-barzanji adalah ulama besar, tega, anda mengkafirkannya, ati2 loh kemusyrikan nya blik lg…, astaghfirullah.

6.

mustafa Adnani says: Thursday, 22 July 2010 at 12:53 pm

Pro dan contra terhadap tokoh, apakah dari sisi pribadinya, gagasannya atau hasil karyanya, sudah biasa terjadi dari zaman ke zaman. Yang perlu kita lebih dekati lagi, dari sekian tokoh yang kita senangi atau kita tidak senangi, pernahkan kita memahami/mengkaji hasil karyanya. Ane lihat komentar-komentar di atas, tidak berangkat dari pengkajian kitab Berzanjinya sendiri. Yang pro atau yang simpati akan tetap mempertahankannya.Itulah cinta buta, alias berkacamata kuda. Ana kasi contoh, setiap bab dalam kitab (Al Barzanji Natsar) selalu dipisahkan dengan do‟a bersama: „Aththirllahumma qabrahul karimm, bi „arfin sydziyim minashalaati watasliim, artinya: Ya Allah, harumkanlah kuburannya (Rasulullah) yang mulia, dengan bau harum dari shalawat dan kesejahteraannya. Atau (di antaranya) sebaris sajak:Wa raawadathu jibaalu, bi antakuuna dzahaban fa-abaahu, artinya:Gunung-gunung menawarkan diri untuk menjadi emas (bagi beliau) namun beliau menolak. Demikianlah bahasa sastra yang melukiskan kemuliaannya, sehingga terkesan memaksakan sasatranya lebih unggul dari bahasa sastra Al Quran, atau nilai-nilai mistis seperti: mengharumkan kubur. Harumnya nama Rasulullah bukan dari kuburannya yang wangi. Sebelum sampai ke Al Berzanji, Al Quranlah harus dikuasai terlebih dulu.

7.

Laila says: Monday, 30 August 2010 at 2:30 pm

Sangat bakhil org yg mndngar nabi Muhammad Shollallohu‟alaihi wa sallaam tpi tdak brsholawat pdanya.. Ga da ruginya qta mengamalkan mawlid al barzanji,, toh isinya tntang sejarah dan khdupan junjungan kita Nabi Muhammad shollallohu‟alaihi wa sallam..kitab ni menggambarkan beliau baginda Rosul dgn indahnya..dan jgan prnah

bndingkan Al Qur‟an dgn mawlid Al Barzanji,krna memang brbda,,Al Qur‟an adlah Kalamulloh,ktinggian bhasa&sastranya tdk da yg menandingi.. Sdangkan Mawlid Al Barzanji adlah karangan manusia yg mengagumi baginda Rosululloh.. Dan sngat tdak manusiawi,jika da yg mengatakan musyrik jika mengangumi bginda Rosulullah.. Dan apabila anda mnyatakan se2org musyrik,tpi pda knyataannya tdak,maka andalah yg musyrik.. Wallohua‟lam..

8.

Mustafa Adnani says: Tuesday, 11 January 2011 at 9:23 am

To : Laila, posted on 30August2010 @2:30 pm. Ass. Agama dg perkembangannya telah bergulir laksana gelindingan bola salju. Membesar dan membesar. Bila Al Quran sebagai panduan Rasulullah serta para sahabat pada zamannya, hanya berpegang kpd wahyu (pd waktu itu belum ada mush-haf), maka pada zaman berikutnya, tatanan agama bergulir terus seiring dgn kebutuhan. Dari situlah gelindingan mulai muncul, seperti munculnya berbagai informasi ttg kerasulullah-an, yg kemudian dijuduli Al Hadits (bari kemudian terkodifikasi/dibukukan sekitar 120H. Itulah salah satu gelindingan ilmu setelah Al Quran. Kita tidak akan mampu berapa banyaknya penambahan informasi selain Al Quran.Dari derivasi sangat memungkinkan memunculkan deviasi. Ungkapan Sallallahu „alayhi wasalam (SAW) tidak akan tercetus kalau Rasulullah itu masih hidup. Bila kita berpegang kepada Al Quran, munculnya shalawat berdasarkan QS33:56 (Artinya : Allah dan Para Malaikat (selalu, mengikuti bentuk kalimatdg kata keraja modhori‟ atau continous tense) brshalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yg beriman, shalwatat-lah dan bertaslimlah kalian kpd-nya SAJA). Kenyataannya shalawat itu berubah menjadi: Kepada Muhammad (Rasul/Nabi Allah), ditambah kepada keluarganya (kelompk ahlul bayt)ditambah lagi para shahabatnya (kelompok sunniy). Inilah gelindingan-gelindingan yg pada awalnya tidak ada, namun inilah perkembangan dlm dunia agama manapun. Secara eimologis, dari kata shallayushalli, akan muncul kata benda SHALAT dan tashliyah. SHALAT dlm bentuk jamak (prural) adalah SHALAWAT. Kenyataannya shalat diartikan shalat sebagaimana kita shalat(wajib ataupun sunnah) sedangkan shalawat adalah bacaan yg ditujukan kepada Rasulullah (plus SAW)yg kemudian akibat dari kemelut berlomba menjunjung tingga (Rasul Allah), orang Syi‟ah titip juga kata-kata Wa Ala aalihi, dan orang Sunni (kelompk pemerintah pd waktu itu)ikut nyantel wa shahbihi, dan berujung pada kita semua. Kalau mau, semestinya redaksi tashliah itu berbunyai: Salawat serta Salam sejahtera yg telah diperoleh Rasulullah (sehingga bergelar SAW) mudah-mudah akan tercurah juga kepada Keluarganya, para sahabatnya, juga kepada kita sekalian, Kan enak tuh. Nah itu salah satu deviasi dlm agama. Makanya bagi yg fanatis ber-Barjanzi-ria termasuk dermawan (tidak bakhil) kpd ungkapan SAW (Sallallahu „Alyhi Wassalam) ruang lingkup ngajinya agar diperlebar, sehingga berwawasan lebih luas. Kita bahas dari kebahasaan dan makna tentang SHALAT & SHALAWAT. Insya Allah kelak tidak akan menohok ,

menyalahkan orang lain atau bahkan menyatakan……(musyrik/Inkarussunah/murtad?).Setidaknya, tereliminir buruk sangka atau pengen menang sendiri. Yg ada saling menghargai. Wass.

9.

Siti Makiyah says: Tuesday, 18 January 2011 at 10:08 pm

Ass. Sediiiiih banget! Katanya harus saling menghargai, tidak boleh berburuk sangka, tapi komentnya ga ada indikasi ke sono. Mungkin agama lain sudah membahas apaaaa gitu buat kemajuan agamanya, negaranya, kita masih berkutat dengan……………, apa orang islam itu banyak nganggurnya ya?! Sebenarnya sudah berbuat apa kita buat agama kita. Apakah kita sudah meng-islamkan 1 (satu) saja non muslim? Atau apakah karena kita sangat TIDAK BERDAYA sehingga lebih asyik ngaduk-ngaduk sesama muslim saja? Wass

10.

Mustafa Adnani says: Tuesday, 15 February 2011 at 11:54 pm

To : Siti Makiyah, entry on Tuesday, 18 January 2011 @10.0pm. Ass.Ane gak tahu umur anti berapa tahun, yg jelas kalau Anti mau tahu, sejauhmana kemahiran saja baca Syariful Anaam, Burdah, Barjanzi Natsar Al Barzanji Nadhom, Ad Diiba‟i, Insya Allah gak memalukan, karena sejak kecil (umur 10 tahun/th 1955)biasa menghufadznya. Keinginan mendapat lebih, dalam hal ilmu (sebagaimana keinginan mendapat lebih ihwal dunia) akan mengangkat diri kita kepada luasnya wawasan atau cara pandang. Bila ane ditanya tentang apa yg telah ana kerjakan, satu di antara nya apa yg Anti istilahka NGADUK-NGADUK, yg hemar Ane sebagai metoda pencerahan befikir, seperti apa sejarah itu berjalan sehingga sampai kini faham/ilmu itu menjadi anutan kita. Hasil lainnya (yg jarang dikerjakan orang lain), tidak kurang dri 5 orang asing (Canada, Amerika dan Turki), ane Islamkan/bersertifikat dan menikahkan mereka dgn Muslimah Indonesia. Atau boleh jadi ane yg salah pasang, memberikan pelajaran tentang dalil pythagoras atau logaritma kepada anak TK., Sorry for the incovience caused.Wass.

11.

Mustafa Adnani says: Wednesday, 16 February 2011 at 8:18 am

Ass.Ketidak-akuratan informsi sudah biasa terjadi. Atau boleh jadi dari pihak kita (pembaca) yg salah tangkap thdp maksudnya. Dalam hal ini, karya tulis yg sangat populer ini, disusun oleh Syaikh Al Barzanji. Dari informasi lainnya disebutkan bahwa penulisan karya sastra ini terkait dengan Perang Salib (1096-1291),yg pada waktu

Salahuddin Yusuf Al Ayubi menguasai Mesir (1174-1193M) berusaha meningkatkan semangat perjuangan Islam. Tergagas oleh kegiatan kaum Nasrani yg senantiasa merayakan hari Natal, maka sang ponakannya, Muzaffaruddin Gekburi, menyarakan kpd pamannya (Salahuddin) untuk melakukan hal yang serupa, yakni memperingati kelahiran Rasulullah SAW.Pd thn 579H atau 1183M, Salahuddin minta persetujuan Khalifah An Nashiir di Baghdad. Singktkata khalifah setuju. Maka sejak tahun 580H atau 1184M, setiap tgl 12 Rabiul Awal dirayakanlah maulid Nabi dgn mambaca karya tulis, di antaranya karya tulis Al Barzanji tadi(dlm kitab Maulid sekarang ini, juga ada kitab Syariful Anam, Al Burdah dan karya Tulis Syaikh Ad Diiba‟i), dimana dlm upaya meningkatkan semangat Islam ini, Salahuddin mengadakan sayembara karya tulis (sastra) dan hasil karya tulis syaikh Al Barzanjilah yg keluar sebagai pemenang. Namun di selasela kisah yg sangat rasional ini, ada sestu kejanggalan. Bila Syaikh Al Barzanji itu dilahirkan pada tahun 1126H dan wafat thn 1177H, berarti bila mengikuti kalender Masehi akan jatuh, sekitar 1759M tahun lahirnya dan tahun wafatnya 1810M, sedangkan Perang Salib berlangsung dari tahun 1096M hingga tahun 1291M. Atau boleh jadi penulis sejarah sala meletakkan tahun, semestinya ditulis H (Hijriah)namun ditulis M (Masehi)?. Itupun tidak cocok. Bagi para pemalas mencari kebenaran akan mengatkan: “Untuk apa kutak-kutik/mencari hal-hal yg tidak bermanfaat” atau “Itu kan sudah kehendak Tuhan”.

Banyak cara untuk menyatakan cinta kepada Rasulullah saw. Apapun caranya selama tidak menyeleweng dari tuntunan syariah yang diajarkanya kepada para sahabatnya haruslah dihargai. Karena menghormati orang yang mencintai Rasulullah saw sama artinya dengan mencintainya. Begitu pula sebaliknya. Barang siapa yang tidak suka kepada orang yang memuji Rasulullah saw berarti ia pun tidak cinta kepada Rasulullah saw na’udzubillah(mengenai hukum membaca Albarzanji dan perayaan maulid telah diterangkan dalam rubrik ini) Rasa cinta yang telah mengkristal dalam kalbu itu selanjutnya berubah dalam berbagai bentuknya dalam dunia nyata. Diantaranya adalah berbagai sastra puja-puji kepada Rasulullah saw dalam berbagai macam sya‟ir yang indah.Sebagai rasa cinta kami kepada Rasulullah saw rubrik ubudiyah selama bulan maulid ini insyaallah akan memaparkan berbagai macam karya sastra para pecinta Rasulullah saw yang berisikan puja dan puji kepada Rsulullah saw yang telah akrab dengan kehidupan muslim Nusantara seperti kitab Al-barzanji, Al-diba’i, Maulid Syaraful Anam dan lain sebagainya. Al-Barzanji sebenarnya bukanlah nama kitab atau buku, tetapi nama penulisnya yaitu Syekh Ja‟far ibn Hasan ibn Abdul Karim ibn Muhammad al-Barzanji. Seorang sufi dan mufti di kalangan syafi‟iyyah asal Madinah yang lahir pada tahun 1690 M dan meninggal pada 1763 M. Sebutan Albarzanji sebagai nama marga bagi penulisnya, jauh lebih terkenal dibandingkan dengan nama kitab itu sendiri yaitu ‘Iqdul Jawahir. Bahkan di wilayah Nusantara ini, jika

sengaja disebutkan nama kitab Iqdul Jawahir banyak orang yang tidak faham, jauh lebih mafhum jika disebutkan Al-barzanji. Kata ‘Iqdul Jawahir secara leterlek berarti untaian permata. Sesuai dengan namanya, kitab ini merepresentasikan Rasulullah saw sebagai uswatun hasanah. Rasulullah saw bagi dunia seperti untaian mutiara keindahannya menyilaukan dunia. Oleh karena itu, penulisan kisahnyapun dengan kata-kata yang indah pula agar sesuai dengan kisahnya. Sosok yang indah, akhlaq yang indah harus ditulis dengan sastra yang indah. Inilah makna untaian mutiara Iqdul Jawahir. Dalam konteks sejarah kelahiran Iqdul Jawahir atau Al-Barzanji, perang salib yang melibatkan Sultan Shalahuddin Yusuf Al-Ayyubi yang memerintah dinasti Bani Ayyub dengan tentara Salib (Inggris, Prancis dan Jerman) Pada tahun 1099 M menjadi latar yang sangat mengharukan. Di tengah himpitan semangat kemenangan tentara Salib yang sedang merayakan Natal serta keberhasilan menguasai Masjidil Aqsha, Sultan Shalahuddin Yusuf Al-Ayyubi mencoba memompa semangat kaum Muslimin dengan menggelar perayaan kelahiran Rasulullah saw secara besar-besaran. Hal ini dilakukan dengan tujuan mengimbangi perayaan Natal mereka. Ide yang disuarakan oleh Sultan Shalahuddin ini sebenarnya berasal dari iparnya yaitu Mudzaffaruddin Gekburi yang menjadi Atabeg (setingkat Bupati) di Irbil, Suriah Utara. Khalifah An-Nashir yang memegang pemerintahan di Baghdad amat menyambut baik ide serta seruan ini. Maka pada bulan Dzulhijjah 579 H / 1183 M, ketika musim haji tiba, Sultan Salahuddin sebagai penguasa resmi Haramain (dua tanah suci, Mekah dan Madinah) menghimbau kepada seluruh jamaah haji, agar sekembalinya dari ibadah haji segera mentradisikan perayaan maulid Nabi di daerah masing-masing. Oleh karena itu mulai tahun 580 H / 1184 M tiap tanggal 12 Rabiul Awal harus dirayakan peringatan Maulid Nabi saw dengan berbagai kegiatan yang dapat membangkitkan semangat umat Islam. Ternyata peringatan Maulid Nabi saw yang diselenggarakan Sultan Salahuddin itu membuahkan hasil yang positif. Semangat umat Islam menghadapi Perang Salib bergelora kembali. Salahuddin berhasil menghimpun kekuatan, sehingga pada tahun 1187 (583 H) Yerusalem direbut kembali oleh Salahuddin dari tangan bangsa Eropa, dan Masjidil Aqsa akhirnya kembali menjadi masjid setelah sempat dijadikan gereja oleh pasukan salip. Sultan Salahuddin sendiri memperingati peringatan Maulid Nabi saw yang pertama kali ini dengan menyelenggarakan sayembara penulisan riwayat hidup Rasulullah saw. Sayembara ini diikuti oleh Seluruh ulama dan sastrawan pada zamannya. Dan akhirnya sebagai pemenang adalah Syaikh As-Sayid Ja`far Al-Barzanji dengan karyanya yang berjudul ‘Iqdul Jawahir. ‘Iqdul Jawahir merupakan biografi Nabi Muhammad saw yang ditulis menurut gaya puitika Arab. Karya ini terbagi dua: Natsar (prosa) dan Nadzom (puisi). Bagian Natsar terdiri atas 19 sub bagian yang di dalamnya juga memuat 355 syair. Seluruhnya menuturkan riwayat Nabi Muhammad saw, mulai dari saat-saat menjelang beliau dilahirkan hingga masa tatkala dilantik menjadi Nabi. Sementara, bagian Nadzom terdiri atas 16 sub bagian yang memuat 205 untaian syair.

Sebagaimana karakter syair Arab, ‘Iqdul Jawahir banyak menggunakan berbagai kata yang diambil dari fenomena alam jagad raya seperti matahari, bulan, purnama, cahaya, satwa, batu, dan lain-lain. Kata-kata itu diolah sedemikian rupa, bahkan disenyawakan dengan shalawat dan doa, sehingga melahirkan sejumlah besar metafor yang gemilang. Silsilah Sang Nabi sendiri, misalnya, dilukiskan sebagai “Untaian Mutiara”. Keunggulan ‘Iqdul Jawahir sebagai karya sastra terbukti dengan mendunianya karya ini di pelosok penujur negeri Muslim. Bahkan ketinggian bahasanya memerlukan syarah yang banyak ditulis oleh para ulama diantaranya adalah Al-‟Allaamah Al-Faqih Asy-Syaikh Abu „Abdullah Muhammad bin Ahmad yang terkenal dengan panggilan Ba`ilisy yang wafat tahun 1299 H ‘AlQawl Al-Munji ‘ala Mawlid Al-Barzanji’ yang telah banyak kali diulang cetaknya di Mesir. Juga Syaikh Muhammad bin Ahmad „Ilyisy Al-Maaliki Al-‟Asy‟ari Asy-Syadzili Al-Azhari dengan kitab ‟Al-Qawl Al-Munji ‘ala Maulid Al-Barzanji‟. Beliau ini adalah seorang ulama besar keluaran Al-Azhar Asy-Syarif, bermazhab Maliki lagi Asy`ari dan menjalankan Thoriqah AsySyadziliyyah. Beliau lahir pada tahun 1217 H / 1802M dan wafat pada tahun 1299 H / 1882M. dan Juga Ulama Nusantara sendiri yaitu Syaikh Muhammad Nawawi Al-Bantani Al-Jawi turut menulis syarah yang lathifah bagi Maulid Al-Barzanji dan karangannya itu dinamakannya „Madaarijush Shu`uud ila Iktisaail Buruud‟ kitab inilah yang sering dibaca diberbagai pesantren di Jawa secara kilatan (tiga atau dua kali pertemuan) dalam rangka memperingati hari maulid. Kemudian, Sayyid Ja‟far bin Sayyid Isma`il bin Sayyid Zainal „Abidin bin Sayyid Muhammad Al-Hadi bin Sayyid Zain yang merupakan suami satu-satunya anak Sayyid Ja‟far Al-Barzanji, juga telah menulis syarah bagi Maulid Al-Barzanj tersebut yang dinamakannya „Al-Kawkabul Anwar ‘ala ‘Iqdil Jawhar fi Maulidin Nabiyil Azhar‟. Beliau juga telah menulis sebuah manaqib yang menceritakan perjalanan hidup dan ketinggian mertuanya Sayyid Ja‟far Al-Barzanji dalam kitabnya “Ar-Raudhul A’thar fi Manaqib As-Sayyid Ja’far”. Dengan demikian Al-Barzanji atau ‘Iqdul Jawahir adalah karya sastra berasaskan rasa cinta kepada paduka Nabi yang Mulia, yang entah mengapa karya ini berhasil menyemangati para tentara muslim dalam perang Salip dan berhasil mengembalikan Masjidil Aqsha. Untaian kata Indah yang dipadukan dengan tulusnya niat dengan penuh hormat dan harap mampu menarik berkah dari Rasulullah manusia yang Mulia. Demikian pula dengan pembacaan al-Barzanji di Nusantara, semua dilakukan dengan penuh pengharapan menanti syafaat di yaumil qiyamat . Di kalangan pesantren tradisi membaca Al-barzanji ini disebut dengan berzanjenan. Bagi kaum Nahdliyyin Al-Barzanji menjadi salah satu cara bertawassul kepada Rasulullah saw. Dengan menuturkan kisah kehidupan Rasulullah saw dan bershalawat atasnya, orang mengharap adanya kebaikan dalam kehidupan. Di pesantren tradisi membaca Al-Barzanji merupakan sebuah kegiatan yang dilaksanakan setiap malam jum‟at atau malam selasa. Membaca dengan beramai-ramai, dengan suara lantang dengan kraeasi nada yang bermacam melahirkan semangat tinggi. Bagi kehidupan santri yang setiap harinya bergumul dengan kitab kuning, mengaji dan maknani, membaca berzanji adalah sebuah hiburan tersendiri, disamping juga tabarrukan kepada Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah saw. Tradisi ini tidak hanya ada dalam dunia pesantren saja, tetapi juga masyarakat awam. Untuk momen-momen tertentu mereka bersama-sama membaca Al-barzanji dengan niat tabarrukan kepada Rasulullah saw. Misalnya ketika hari ketujuh kelahiran seorang bayi, atau ketika

menjelang pesta pernikahan, bisa juga ketika menghuni rumah baru dan lain sebagainya. Seringkali berzanjenan diiringi dengan rebana atau terbang yang menggema. Pembaca dan juga sahibul hajat sama seperti Sultan Salahuddin yang berharap kebaikan dari pembacaan alBarzanji. Jika tentara salip saja bisa ditaklukkan apalagi hanya sekedar kejahatan dan keburukan. Lantas siapakah sebenarya Syaikh As-Sayid Ja‟far Al-Barzanji itu? Ia dilahirkan pada Kamis awal bulan Zulhijjah tahun 1126 (Desember 1714 M) di Madinah Al-Munawwaroh serta wafat pada hari Selasa, selepas Asar, 4 Sya‟ban tahun 1177 H (6 Februari 1764 M) di Kota Madinah. Beliau dimakamkan di pemakaman Baqi‟. Secara Nasab beliau bersandar langsung hingga Rasulullah saw. lengkapnya Sayid Ja‟far bin Hasan bin Abdul Karim bin Muhammad bin Sayid Rasul bin Abdul Sayid bin Abdul Rasul bin Qalandar bin Abdul Sayid bin Isa bin Husain bin Bayazid bin Abdul Karim bin Isa bin Ali bin Yusuf bin Mansur bin Abdul Aziz bin Abdullah bin Ismail bin Al-Imam Musa Al-Kadzim bin Al-Imam Ja‟far As-Sodiq bin Al-Imam Muhammad Al-Baqir in Al-Imam „Ali Zainal Abidin bin Al-Imam Husain bin Sayidah Fathimah Az-Zahra binti Rasulullah Muhammad Saw. Syaikh As-Sayid Ja‟far Al-Barzanji dikenal sebagai seorang ulama yang menguasai banyak cabang ilmu, diantaranya ialah ilmu Sharaf, Nahwu, Manthiq, Ma‟ani, Bayan, Adab, Fiqh, Usulul Fiqh, Faraidh, Hisab, Usuluddin, Hadits, Usul Hadits, Tafsir, Hikmah, Handasah, Al„Arudh, Kalam, Lughah, Sirah, Qiraat, Suluk, Tasawuf, Kutub Ahkam, Rijalul Ahadits, dan Mustholahul Ahadits. Selain itu, Syaikh As-Sayid Ja‟far Al-Barzanji, juga adalah seorang khatib serta pengajar di Masjid Nabawi. Beliau terkenal bukan saja karena ilmu, akhlak dan taqwanya, namun masyhur pula dengan karamah serta kemakbulan doanya. Penduduk Madinah acap kali meminta pada beliau berdo‟a untuk turunnya hujan pada musim-musim kemarau. Hingga terucap sebuah syair yang artinya: Dahulu al-Faruq dengan al-’Abbas beristisqa` memohon hujan Dan kami dengan Ja’far beristisqa` memohon itu datang Maka yang demikian wasilah mereka kepada Tuhan Dan ini adalah wasilah kami dengan Imam bermata hati terang Dengan demikian, sastra yang lahir dari seorang alim (dhahir dan bathin) yang luar biasa , guna menghormati orang yang paling mulia, pastilah memiliki nilai yang istimewa. Perayaan Maulid Nabi dan Kontroversi Ma'na Bid‟ah Peryataan bahwa perayaan maulid Nabi adalah amalan bid'ah adalah peryataan sangat tidak tepat, karena bid'ah adalah sesuatu yang baru atau diada-adakan dalam Islam yang tidak ada landasan sama sekali dari dari Al-Qur'an dan asSunah. Adapun maulid walaupun suatu yang baru di dalam Islam akan tetapi memiliki landasan dari Al-Qur'an dan as-Sunah. Pada maulid Nabi di dalamya banyak sekali nilai ketaatan, seperti: sikap syukur, membaca dan mendengarkan bacaan Al-Quran, bersodaqoh, mendengarkan mauidhoh hasanah atau menuntut ilmu, mendengarkan kembali sejarah dan keteladanan Nabi, dan membaca sholawat yang kesemuanya telah dimaklumi bersama bahwa hal tersebut sangat dianjurkan oleh agama dan ada dalilnya di dalam Al-Qur'an dan as-Sunah. Pengukhususan Waktu

Ada yang menyatakan bahwa menjadikan maulid dikatakan bid'ah adalah adanya pengkhususan (takhsis) dalam pelakanaan di dalam waktu tertentu, yaitu bulan Rabiul Awal yang hal itu tidak dikhususkan oleh syariat. Pernyataan ini sebenarnaya perlu di tinjau kembali, karena takhsis yang dilarang di dalam Islam ialah takhsis dengan cara meyakini atau menetapkan hukum suatu amal bahwa amal tersebut tidak boleh diamalkan kecuali hari-hari khusus dan pengkhususan tersebut tidak ada landasan dari syar'i sendiri(Dr Alawy bin Shihab, Intabih Dinuka fi Khotir: hal.27). Hal ini berbeda dengan penempatan waktu perayaan maulid Nabi pada bulan Rabiul Awal, karena orang yang melaksanakan maulid Nabi sama sekali tidak meyakini, apalagi menetapkan hukum bahwa maulid Nabi tidak boleh dilakukan kecuali bulan Robiul Awal, maulid Nabi bisa diadakan kapan saja, dengan bentuk acara yang berbeda selama ada nilai ketaatan dan tidak bercampur dengan maksiat. Pengkhususan waktu maulid disini bukan kategori takhsis yang di larang syar'i tersebut, akan tetapi masuk kategori tartib (penertiban). Pengkhususan waktu tertentu dalam beramal sholihah adalah diperbolehkan, Nabi Muhammad sendiri mengkhusukan hari tertentu untuk beribadah dan berziaroh ke masjid kuba, seperti diriwatkan Ibnu Umar bahwa Nabi Muhammad mendatangi masjid Kuba setiap hari Sabtu dengan jalan kaki atau dengan kendaraan dan sholat sholat dua rekaat di sana (HR Bukhari dan Muslim). Ibnu Hajar mengomentari hadis ini mengatakan: "Bahwa hadis ini disertai banyaknya riwayatnya menunjukan diperbolehkan mengkhususan sebagian hari-hari tertentu dengan amalamal salihah dan dilakukan terus-menerus".(Fathul Bari 3: hal. 84) Imam Nawawi juga berkata senada di dalam kitab Syarah Sahih Muslim. Para sahabat Anshor juga menghususkan waktu tertentu untuk berkumpul untuk bersama-sama mengingat nikmat Allah,( yaitu datangnya Nabi SAW) pada hari Jumat atau mereka menyebutnya Yaumul 'Urubah dan direstui Nabi. Jadi dapat difahami, bahwa pengkhususan dalam jadwal Maulid, Isro' Mi'roj dan yang lainya hanyalah untuk penertiban acara-acara dengan memanfaatkan momen yang sesui, tanpa ada keyakinan apapun, hal ini seperti halnya penertiban atau pengkhususan waktu sekolah, penghususan kelas dan tingkatan sekolah yang kesemuanya tidak pernah dikhususkan oleh syariat, tapi hal ini diperbolehkan untuk ketertiban, dan umumnya tabiat manusia apabila kegiatan tidak terjadwal maka kegiatan tersebut akan mudah diremehkan dan akhirnya dilupakan atau ditinggalkan. Acara maulid di luar bulan Rabiul Awal sebenarnya telah ada dari dahulu, seperti acara pembacaan kitab Dibagh wal Barjanji atau kitab-kitab yang berisi sholawat-sholawat yang lain yang diadakan satu minggu sekali di desa-desa dan pesantren, hal itu sebenarnya adalah kategori maulid, walaupun di Indonesia masyarakat tidak menyebutnya dengan maulid, dan jika kita berkeliling di negara-negara Islam maka kita akan menemukan bentuk acara dan waktu yang berbeda-beda dalam acara maulid Nabi, karena ekpresi syukur tidak hanya dalam satu waktu tapi harus terus menerus dan dapat berganti-ganti cara, selama ada nilai ketaatan dan tidak dengan jalan maksiat.

Semisal di Yaman, maulid diadakan setiap malam jumat yang berisi bacaan sholawat-sholawat Nabi dan ceramah agama dari para ulama untuk selalu meneladani Nabi. Penjadwalan maulid di bulan Rabiul Awal hanyalah murni budaya manusia, tidak ada kaitanya dengan syariat dan barang siapa yang meyakini bahwa acara maulid tidak boleh diadakan oleh syariat selain bulan Rabiul Awal maka kami sepakat keyakinan ini adalah bid'ah dholalah. Tak Pernah Dilakukan Zaman Nabi dan Sohabat Di antara orang yang mengatakan maulid adalah bid'ah adalah karena acara maulid tidak pernah ada di zaman Nabi, sahabat atau kurun salaf. Pendapat ini muncul dari orang yang tidak faham bagaimana cara mengeluarkan hukum(istimbat) dari Al-Quran dan as-Sunah. Sesuatu yang tidak dilakukan Nabi atau Sahabat –dalam term ulama usul fiqih disebut at-tark – dan tidak ada keterangan apakah hal tersebut diperintah atau dilarang maka menurut ulama ushul fiqih hal tersebut tidak bisa dijadikan dalil, baik untuk melarang atau mewajibkan. Sebagaimana diketahui pengertian as-Sunah adalah perkatakaan, perbuatan dan persetujuan beliau. Adapun at-tark tidak masuk di dalamnya. Sesuatu yang ditinggalkan Nabi atau sohabat mempunyai banyak kemungkinan, sehingga tidak bisa langsung diputuskan hal itu adalah haram atau wajib. Disini akan saya sebutkan alasan-alasan kenapa Nabi meninggalkan sesuatu: 1. Nabi meniggalkan sesuatu karena hal tersebut sudah masuk di dalam ayat atau hadis yang maknanya umum, seperti sudah masuk dalam makna ayat: "Dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.''(QS Al-Haj: 77). Kebajikan maknanya adalah umum dan Nabi tidak menjelaskan semua secara rinci. 2. Nabi meninggalkan sesutu karena takut jika hal itu belai lakukan akan dikira umatnya bahwa hal itu adalah wajib dan akan memberatkan umatnya, seperti Nabi meninggalkan sholat tarawih berjamaah bersama sahabat karena khawatir akan dikira sholat terawih adalah wajib. 3. Nabi meninggalkan sesuatu karena takut akan merubah perasaan sahabat, seperti apa yang beliau katakan pada siti Aisyah: "Seaindainya bukan karena kaummu baru masuk Islam sungguh akan aku robohkan Ka'bah dan kemudian saya bangun kembali dengan asas Ibrahim as. Sungguh Quraiys telah membuat bangunan ka'bah menjadi pendek." (HR. Bukhori dan Muslim) Nabi meninggalkan untuk merekontrusi ka'bah karena menjaga hati mualaf ahli Mekah agar tidak terganggu. 4. Nabi meninggalkan sesuatu karena telah menjadi adatnya, seperti di dalam hadis: Nabi disuguhi biawak panggang kemudian Nabi mengulurkan tangannya untuk memakannya, maka ada yang berkata: "itu biawak!", maka Nabi menarik tangannya kembali, dan beliu ditanya: "apakah biawak itu haram? Nabi menjawab: "Tidak, saya belum pernah menemukannya di bumi kaumku, saya merasa jijik!" (QS. Bukhori dan Muslim) hadis ini menunjukan bahwa apa yang ditinggalkan Nabi setelah sebelumnya beliu terima hal itu tidak berarti hal itu adalah haram atau dilarang. 5. Nabi atau sahabat meninggalkan sesuatu karena melakukan yang lebih afdhol. Dan adanya

yang lebih utama tidak menunjukan yang diutamai (mafdhul) adalah haram.dan masih banyak kemungkinan-kemungkinan yang lain (untuk lebih luas lih. Syekh Abdullah al Ghomariy. Husnu Tafahum wad Dark limasalatit tark) Dan Nabi bersabda:" Apa yang dihalalakan Allah di dalam kitab-Nya maka itu adalah halal, dan apa yang diharamkan adalah haram dan apa yang didiamkan maka itu adalah ampunan maka terimalah dari Allah ampunan-Nya dan Allah tidak pernah melupakan sesuatu, kemudian Nabi membaca:" dan tidaklah Tuhanmu lupa".(HR. Abu Dawud, Bazar dll.) dan Nabi juga bersabda: "Sesungguhnya Allah menetapkan kewajiban maka jangan enkau sia-siakan dan menetapkan batasan-batasan maka jangan kau melewatinya dan mengharamkan sesuatu maka jangan kau melanggarnya, dan dia mendiamkan sesuatu karena untuk menjadi rahmat bagi kamu tanpa melupakannya maka janganlah membahasnya".(HR.Daruqutnhi) Dan Allah berfirman:"Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya."(QS.Al Hasr:7) dan Allah tidak berfirman dan apa yang ditinggalknya maka tinggalkanlah. Maka dapat disimpulkan bahwa "at-Tark" tidak memberi faidah hukum haram, dan alasan pengharaman maulid dengan alasan karena tidak dilakukan Nabi dan sahabat sama dengan berdalil dengan sesuatu yang tidak bisa dijadikan dalil! Imam Suyuti menjawab peryataan orang yang mengatakan: "Saya tidak tahu bahwa maulid ada asalnya di Kitab dan Sunah" dengan jawaban: "Tidak mengetahui dalil bukan berarti dalil itu tidak ada", peryataannya Imam Suyutiy ini didasarkan karena beliau sendiri dan Ibnu Hajar alAsqolaniy telah mampu mengeluarkan dalil-dalil maulid dari as-Sunah. (Syekh Ali Jum'ah. AlBayanul Qowim, hal.28) Zarnuzi Ghufron Ketua LMI-PCINU Yaman dan sekarang sedang belajar di Fakultas Syariah wal Qonun Univ Al-Ahgoff, Hadramaut, Yaman Merayakan Maulid Nabi SAW (1) Memang Rasulullah SAW tidak pernah melakukan seremoni peringatan hari lahirnya. Kita belum pernah menjumpai suatu hadits/nash yang menerangkan bahwa pada setiap tanggal 12 Rabi‟ul Awwal (sebagian ahli sejarah mengatakan 9 Rabiul Awwal), Rasulullah SAW mengadakan upacara peringatan hari kelahirannya. Bahkan ketika beliau sudah wafat, kita belum pernah mendapati para shahabat r.a. melakukannya. Tidak juga para tabi`in dan tabi`it tabi`in. Menurut Imam As-Suyuthi, tercatat sebagai raja pertama yang memperingati hari kelahiran Rasulullah saw ini dengan perayaan yang meriah luar biasa adalah Raja Al-Mudhaffar Abu Sa`id Kukburi ibn Zainuddin Ali bin Baktakin (l. 549 H. - w.630 H.). Tidak kurang dari 300.000 dinar beliau keluarkan dengan ikhlas untuk bersedekah pada hari peringatan maulid ini. Intinya menghimpun semangat juang dengan membacakan syi‟ir dan karya sastra yang menceritakan kisah kelahiran Rasulullah SAW. Di antara karya yang paling terkenal adalah karya Syeikh Al-Barzanji yang menampilkan riwayat kelahiran Nabi SAW dalam bentuk natsar (prosa) dan nazham (puisi). Saking

populernya, sehingga karya seni Barzanji ini hingga hari ini masih sering kita dengar dibacakan dalam seremoni peringatan maulid Nabi SAW. Maka sejak itu ada tradisi memperingati hari kelahiran Nabi SAW di banyak negeri Islam. Inti acaranya sebenarnya lebih kepada pembacaan sajak dan syi`ir peristiwa kelahiran Rasulullah SAW untuk menghidupkan semangat juang dan persatuan umat Islam dalam menghadapi gempuran musuh. Lalu bentuk acaranya semakin berkembang dan bervariasi. Di Indonesia, terutama di pesantren, para kyai dulunya hanya membacakan syi‟ir dan sajak-sajak itu, tanpa diisi dengan ceramah. Namun kemudian ada muncul ide untuk memanfaatkan momentum tradisi maulid Nabi SAW yang sudah melekat di masyarakat ini sebagai media dakwah dan pengajaran Islam. Akhirnya ceramah maulid menjadi salah satu inti acara yang harus ada, demikian juga atraksi murid pesantren. Bahkan sebagian organisasi Islam telah mencoba memanfaatkan momentum itu tidak sebatas seremoni dan haflah belaka, tetapi juga untuk melakukan amal-amal kebajikan seperti bakti sosial, santunan kepada fakir miskin, pameran produk Islam, pentas seni dan kegiatan lain yang lebih menyentuh persoalan masyarakat. Kembali kepada hukum merayakan maulid Nabi SAW, apakah termasuk bid`ah atau bukan? Memang secara umum para ulama salaf menganggap perbuatan ini termasuk bid`ah. Karena tidak pernah diperintahkan oleh Rasulullah saw dan tidak pernah dicontohkan oleh para shahabat seperti perayaan tetapi termasuk bid‟ah hasanah (sesuatu yang baik), Seperti Rasulullah SAW merayakan kelahiran dan penerimaan wahyunya dengan cara berpuasa setiap hari kelahirannya, yaitu setia hari Senin Nabi SAW berpuasa untuk mensyukuri kelahiran dan awal penerimaan wahyunya.

ٍُ‫ف١ٗ : ”ط ً عٓ صَٛ ا ٕ١ٓ فماي عٓ بٟ لتادة األٔصارٞ ر ٟ هللا عٕٗ: ْ رطٛي هللا صٍٝ هللا عٍ١ٗ ٚط‬ ٍُ‫ٌٚدث ٚف١ٗ ٔشي عٍٟ رٚاٖ ِظ‬
“Dari Abi Qotadah al-Anshori RA sesungguhnya Rasulullah SAW pernah ditanya mengenai puasa hari senin. Rasulullah SAW menjawab: Pada hari itu aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku.” (H.R. Muslim) Kita dianjurkan untuk bergembira atas rahmat dan karunia Allah SWT kepada kita. Termasuk kelahiran Nabi Muhammad SAW yang membawa rahmat kepada alam semesta. Allah SWT berfirman:

‫ّتٗ فبذٌه فٍ١فزحٛا ٘ٛ ١ز ِّا ٠جّعْٛلً بف ً هللا ٚبزح‬
“Katakanlah: ‘Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.‟ ” (QS.Yunus:58). Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari. Hadits itu menerangkan bahwa pada setiap hari senin, Abu Lahab diringankan siksanya di Neraka dibandingkan dengan hari-hari

lainnya. Hal itu dikarenakan bahwa saat Rasulullah saw lahir, dia sangat gembira menyambut kelahirannya sampai-sampai dia merasa perlu membebaskan (memerdekakan) budaknya yang bernama Tsuwaibatuh Al-Aslamiyah. Jika Abu Lahab yang non-muslim dan Al-Qur‟an jelas mencelanya, diringankan siksanya lantaran ungkapan kegembiraan atas kelahiran Rasulullah SAW, maka bagaimana dengan orang yang beragama Islam yang gembira dengan kelahiran Rasulullah SAW? HM Cholil Nafis MA Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masa’il (LBM) PBNU Merayakan Maulid Nabi SAW (2) Jika sebagian umat Islam ada yang berpendapat bahwa merayakan Maulid Nabi SAW adalah bid‟ah yang sesat karena alasan tidak pernah dikerjakan oleh Rasulullah saw sebagaimana dikatakan oleh beliau:

ٞ‫ٌت رٚاٖ بٛ داٚد ٚاٌتزِذ‬

‫إ٠اوُ ِٚحد اث األِٛر ف ْ وً بدعت‬

Hindarilah amalan yang tidak ku contohkan (bid`ah), karena setiap bid`ah menyesatkan. (HR Abu Daud dan Tarmizi) Maka selain dalil dari Al-Qur‟an dan Hadits Nabi tersebut, juga secara semantik (lafzhi) kata „kullu‟ dalam hadits tersebut tidak menunjukkan makna keseluruhan bid‟ah (kulliyah) tetapi „kullu‟ di sini bermakna sebagian dari keseluruhan bid‟ah (kulli) saja. Jadi, tidak seluruh bid‟ah adalah sesat karena ada juga bid’ah hasanah, sebagaimana komentar Imam Syafi‟i:

٠ ‫زباْ ِا حد‬

‫اٌّحد اث‬

ٌ‫ي ِٚا حد ِٓ اٌ ١ز ٠ ا‬

ٌ‫اٌ وتابا ٚطٕت ٚ زا ٚإجّاعا فٙذٖ بدعت ا‬ ‫١ ا ِٓ اٌه فٟٙ ِحد ت غ١ز ِذِِٛت‬

Sesuatu yang diada-adakan (dalam agama) ada dua macam: Sesuatu yang diada-adakan (dalam agama) bertentangan dengan Al-Qur‟an, Sunnah Nabi SAW, prilakuk sahabat, atau kesepakatan ulama maka termasuk bid‟ah yang sesat; adapun sesuatu yang diada-adakan adalah sesuatu yang baik dan tidak menyalahi ketentuan (al Qur‟an, Hadits, prilaku sahabat atau Ijma‟) maka sesuatu itu tidak tercela (baik). (Fathul Bari, juz XVII: 10) Juga realitas di dunia Islam dapat menjadi pertimbangan untuk jawaban kepada mereka yang melarang maulid Nabi SAW. Ternyata fenomena tradisi maulid Nabi SAW itu tidak hanya ada di Indonesia, tapi merata di hampir semua belahan dunia Islam. Kalangan awam diantara mereka barangkali tidak tahu asal-usul kegiatan ini. Tetapi mereka yang sedikit mengerti hukum agama berargumen bahwa perkara ini tidak termasuk bid`ah yang sesat karena tidak terkait dengan ibadah mahdhah atau ritual peribadatan dalam syariat. Buktinya, bentuk isi acaranya bisa bervariasi tanpa ada aturan yang baku. Semangatnya justru pada momentum untuk menyatukan semangat dan gairah ke-islaman. Mereka yang melarang peringatan maulid Nabi SAW sulit membedakan antara ibadah dengan syi‟ar Islam. Ibadah adalah sesuatu yang baku (given/tauqifi) yang datang dari Allah SWT, tetapi syi‟ar adalah sesuatu yang ijtihadi, kreasi umat Islam dan situasional serta mubah.

Perlu dipahami, sesuatu yang mubah tidak semuanya dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Imam as-Suyuthi mengatakan dalam menananggapi hukum perayaan maulid Nabi SAW:

‫ة ِات١ض ر ِٓ اٌمز ْ ٚرٚا٠ت األ بار ٚاٌجٛاب عٕدٞ ْ صً عًّ اٌٌّٛد اٌذٞ ٘ٛ اجتّا إٌاص ٚلز‬ ّ٠ ُ ‫د ٌُٙ طّا ٠ وٍٛٔٗ اٌٛاردة فٟ ِبد ِزإٌبٟ صً اهلل عٍ١ٗ ٚطً َ ِاٚلع فٟ ٌِٛدٖ ِٓ ا ٠اث‬ ‫ة عٍٝ اٌه ِٓ اٌبد اٌحظٕت اٌتٟ ٠ثاب عٍ١ٙا صاحبٙا ٌّا ف١ٗ ِٓ تع ١ُ لدر إٌبٟٚ٠ٕصزفٛٔٗ ِٓ غ١ز س٠اد‬ ٠‫ي ٜ هللا عٍ١ٗ ٚطٍُ ٚإ ٙاراٌفز ٚا طتب ار بٌّٛدٖ اٌ ز‬
Menurut saya asal perayaan maulid Nabi SAW, yaitu manusia berkumpul, membaca al-Qur‟an dan kisah-kisah teladan Nabi SAW sejak kelahirannya sampai perjalanan hidupnya. Kemudian dihidangkan makanan yang dinikmati bersama, setelah itu mereka pulang. Hanya itu yang dilakukan, tidak lebih. Semua itu tergolong bid‟ah hasanah(sesuatu yang baik). Orang yang melakukannya diberi pahala karena mengagungkan derajat Nabi SAW, menampakkan suka cita dan kegembiraan atas kelahiran Nabi Muhamad saw yang mulia. (Al- Hawi Lil-Fatawa, juz I, h. 251-252) Pendapat Ibnu Hajar al-Haithami: “Bid‟ah yang baik itu sunnah dilakukan, begitu juga memperingati hari maulid Rasulullah SAW.” Pendapat Abu Shamah (guru Imam Nawawi): ”Termasuk hal baru yang baik dilakukan pada zaman ini adalah apa yang dilakukan tiap tahun bertepatan pada hari kelahiran Rasulullah saw. dengan memberikan sedekah dan kebaikan, menunjukkan rasa gembira dan bahagia, sesungguhnya itu semua berikut menyantuni fakir miskin adalah tanda kecintaan kepada Rasulullah SAW dan penghormatan kepada beliau, begitu juga merupakan bentuk syukur kepada Allah atas diutusnya Rasulullah SAW kepada seluruh alam semesta”. Untuk menjaga agar perayaan maulid Nabi SAW tidak melenceng dari aturan agama yang benar, sebaiknya perlu diikuti etika-etika berikut: 1. Mengisi dengan bacaan-bacaan shalawat kepada Rasulullah SAW. 2. Berdzikir dan meningkatkan ibadah kepada Allah SWT. 3. Membaca sejarah Rasulullah SAW dan menceritakan kebaikan-kebaikan dan keutamaankeutamaan beliau. 4. Memberi sedekah kepada yang membutuhkan atau fakir miskin. 5. Meningkatkan silaturrahim. 6. Menunjukkan rasa gembira dan bahagia dengan merasakan senantiasa kehadiran Rasulullah SAW di tengah-tengah kita. 7. Mengadakan pengajian atau majlis ta‟lim yang berisi anjuran untuk kebaikan dan mensuritauladani Rasulullah SAW. HM Cholil Nafis MA Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masa’il (LBM) PBNU

AL – BARZANJI HISTORY (SEJARAH AL-BARZANJI)

Al-Barzanji atau Berzanji adalah suatu do‟a-do‟a, puji-pujian dan penceritaan riwayat Nabi Muhammad saw yang biasa dilantunkan dengan irama atau nada. Isi Berzanji bertutur tentang kehidupan Nabi Muhammad saw yakni silsilah keturunannya, masa kanak-kanak, remaja, dewasa, hingga diangkat menjadi rasul. Didalamnya juga mengisahkan sifat-sifat mulia yang dimiliki Nabi Muhammad serta berbagai peristiwa untuk dijadikan teladan umat manusia. Nama Barzanji diambil dari nama pengarangnya, seorang sufi bernama Syaikh Ja‟far bin Husin bin Abdul Karim bin Muhammad Al – Barzanji. Beliau adalah pengarang kitab Maulid yang termasyur dan terkenal dengan nama Mawlid Al-Barzanji. Karya tulis tersebut sebenarnya berjudul „Iqd Al-Jawahir (kalung permata) atau „Iqd Al-Jawhar fi Mawlid An-Nabiyyil Azhar. Barzanji sebenarnya adalah nama sebuah tempat di Kurdistan, Barzanj. Nama Al-Barzanji menjadi populer tahun 1920-an ketika Syaikh Mahmud Al-Barzanji memimpin pemberontakan nasional Kurdi terhadap Inggris yang pada waktu itu menguasai Irak. Kitab Maulid Al-Barzanji karangan beliau ini termasuk salah satu kitab maulid yang paling populer dan paling luas tersebar ke pelosok negeri Arab dan Islam, baik Timur maupun Barat. Bahkan banyak kalangan Arab dan non-Arab yang menghafalnya dan mereka membacanya dalam acara-acara keagamaan yang sesuai. Kandungannya merupakan Khulasah (ringkasan) Sirah Nabawiyah yang meliputi kisah kelahiran beliau, pengutusannya sebagai rasul, hijrah, akhlaq, peperangan hingga wafatnya. Syaikh Ja‟far Al-Barzanji dilahirkan pada hari Kamis awal bulan Zulhijjah tahun 1126 di Madinah Al-Munawwaroh dan wafat pada hari Selasa, selepas Asar, 4 Sya‟ban tahun 1177 H di Kota Madinah dan dimakamkan di Jannatul Baqi`, sebelah bawah maqam beliau dari kalangan anak-anak perempuan Junjungan Nabi saw. Sayyid Ja‟far Al-Barzanji adalah seorang ulama‟ besar keturunan Nabi Muhammad saw dari keluarga Sa‟adah Al Barzanji yang termasyur, berasal dari Barzanj di Irak. Datuk-datuk Sayyid Ja‟far semuanya ulama terkemuka yang terkenal dengan ilmu dan amalnya, keutamaan dan keshalihannya. Beliau mempunyai sifat dan akhlak yang terpuji, jiwa yang bersih, sangat pemaaf dan pengampun, zuhud, amat berpegang dengan Al-Quran dan Sunnah, wara‟, banyak berzikir, sentiasa bertafakkur, mendahului dalam membuat kebajikan bersedekah,dan pemurah. Nama nasabnya adalah Sayid Ja‟far ibn Hasan ibn Abdul Karim ibn Muhammad ibn Sayid Rasul ibn Abdul Sayid ibn Abdul Rasul ibn Qalandar ibn Abdul Sayid ibn Isa ibn Husain ibn Bayazid ibn Abdul Karim ibn Isa ibn Ali ibn Yusuf ibn Mansur ibn Abdul Aziz ibn Abdullah ibn Ismail ibn Al-Imam Musa Al-Kazim ibn Al-Imam Ja‟far As-Sodiq ibn Al-Imam Muhammad Al-Baqir ibn Al-Imam Zainal Abidin ibn Al-Imam Husain ibn Sayidina Ali r.a. Semasa kecilnya beliau telah belajar Al-Quran dari Syaikh Ismail Al-Yamani, dan belajar tajwid serta membaiki bacaan dengan Syaikh Yusuf As-So‟idi dan Syaikh Syamsuddin Al-Misri.Antara guru-guru beliau dalam ilmu agama dan syariat adalah : Sayid Abdul Karim Haidar Al-Barzanji, Syeikh Yusuf Al-Kurdi, Sayid Athiyatullah Al-Hindi. Sayid Ja‟far Al-Barzanji telah menguasai banyak cabang ilmu, antaranya: Shoraf, Nahwu, Manthiq, Ma‟ani, Bayan, Adab, Fiqh, Usulul Fiqh, Faraidh, Hisab, Usuluddin, Hadits, Usul Hadits, Tafsir, Hikmah, Handasah, A‟rudh, Kalam, Lughah, Sirah, Qiraat, Suluk, Tasawuf, Kutub Ahkam, Rijal, Mustholah.

Syaikh Ja‟far Al-Barzanji juga seorang Qodhi (hakim) dari madzhab Maliki yang bermukim di Madinah, merupakan salah seorang keturunan (buyut) dari cendekiawan besar Muhammad bin Abdul Rasul bin Abdul Sayyid Al-Alwi Al-Husain Al-Musawi Al-Saharzuri Al-Barzanji (10401103 H / 1630-1691 M), Mufti Agung dari madzhab Syafi‟i di Madinah. Sang mufti (pemberi fatwa) berasal dari Shaharzur, kota kaum Kurdi di Irak, lalu mengembara ke berbagai negeri sebelum bermukim di Kota Sang Nabi. Di sana beliau telah belajar dari ulama‟-ulama‟ terkenal, diantaranya Syaikh Athaallah ibn Ahmad Al-Azhari, Syaikh Abdul Wahab At-Thanthowi AlAhmadi, Syaikh Ahmad Al-Asybuli. Beliau juga telah diijazahkan oleh sebahagian ulama‟, antaranya : Syaikh Muhammad At-Thoyib Al-Fasi, Sayid Muhammad At-Thobari, Syaikh Muhammad ibn Hasan Al A‟jimi, Sayid Musthofa Al-Bakri, Syaikh Abdullah As-Syubrawi AlMisri. Syaikh Ja‟far Al-Barzanji, selain dipandang sebagai mufti, beliau juga menjadi khatib di Masjid Nabawi dan mengajar di dalam masjid yang mulia tersebut. Beliau terkenal bukan saja karena ilmu, akhlak dan taqwanya, tapi juga dengan kekeramatan dan kemakbulan doanya. Penduduk Madinah sering meminta beliau berdo‟a untuk hujan pada musim-musim kemarau. Historisitas Al-Barzanji tidak dapat dipisahkan dengan momentum besar perihal peringatan maulid Nabi Muhammad saw untuk yang pertama kali. Maulid Nabi atau hari kelahiran Nabi Muhammad saw pada mulanya diperingati untuk membangkitkan semangat umat Islam. Sebab waktu itu umat Islam sedang berjuang keras mempertahankan diri dari serangan tentara salib Eropa, yakni dari Prancis, Jerman, dan Inggris. Kita mengenal itu sebagai Perang Salib atau The Crusade. Pada tahun 1099 M tentara salib telah berhasil merebut Yerusalem dan menyulap Masjidil Aqsa menjadi gereja. Umat Islam saat itu kehilangan semangat perjuangan dan persaudaraan ukhuwah. Secara politis memang umat Islam terpecah-belah dalam banyak kerajaan dan kesultanan. Meskipun ada satu khalifah tetap satu dari Dinasti Bani Abbas di kota Baghdad sana, namun hanya sebagai lambang persatuan spiritual. Adalah Sultan Salahuddin Yusuf Al-Ayyubi -dalam literatur sejarah Eropa dikenal dengan nama Saladin, seorang pemimpin yang pandai mengena hati rakyat jelata. Salahuddin memerintah para tahun 1174-1193 M atau 570-590 H pada Dinasti Bani Ayyub- katakanlah dia setingkat Gubernur. Meskipun Salahuddin bukan orang Arab melainkan berasal dari suku Kurdi, pusat kesultanannya berada di kota Qahirah (Kairo), Mesir, dan daerah kekuasaannya membentang dari Mesir sampai Suriah dan Semenanjung Arabia. Menurut Salahuddin, semangat juang umat Islam harus dihidupkan kembali dengan cara mempertebal kecintaan umat kepada Nabi mereka. Salahuddin mengimbau umat Islam di seluruh dunia agar hari lahir Nabi Muhammad SAW, yang setiap tahun berlalu begitu saja tanpa diperingati, kini harus dirayakan secara massal. Sebenarnya hal itu bukan gagasan murni Salahuddin, melainkan usul dari iparnya, Muzaffaruddin Gekburi yang menjadi Atabeg (setingkat Bupati) di Irbil, Suriah Utara. Untuk mengimbangi maraknya peringatan Natal oleh umat Nasrani, Muzaffaruddin di istananya sering menyelenggarakan peringatan maulid nabi, cuma perayaannya bersifat lokal dan tidak setiap tahun. Adapun Salahuddin ingin agar perayaan maulid nabi menjadi tradisi bagi umat Islam di seluruh dunia dengan tujuan meningkatkan semangat juang, bukan sekadar perayaan ulang tahun biasa.

Ketika Salahuddin meminta persetujuan dari Khalifah di Baghdad yakni An-Nashir, ternyata Khalifah setuju. Maka pada musim ibadah haji bulan Dzulhijjah 579 H / 1183 M, Salahuddin sebagai penguasa Haramain (dua tanah suci, Mekah dan Madinah) mengeluarkan instruksi kepada seluruh jemaah haji, agar jika kembali ke kampung halaman masing-masing segera menyosialkan kepada masyarakat Islam di mana saja berada, bahwa mulai tahun 580 / 1184 M tanggal 12 Rabiul Awal dirayakan sebagai hari Maulid Nabi dengan berbagai kegiatan yang membangkitkan semangat umat Islam. Pada mulanya gagasan Salahuddin ditentang oleh para ulama. Sebab sejak zaman Nabi peringatan seperti itu tidak pernah ada. Lagi pula hari raya resmi menurut ajaran agama cuma ada dua, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Akan tetapi Salahuddin kemudian menegaskan bahwa perayaan Maulid Nabi hanyalah kegiatan yang menyemarakkan syiar agama, bukan perayaan yang bersifat ritual, sehingga tidak dapat dikategorikan bid`ah yang terlarang. Salah satu kegiatan yang di prakarsai oleh Sultan Salahuddin pada peringatan Maulid Nabi yang pertama kali tahun 1184 (580 H) adalah menyelenggarakan sayembara penulisan riwayat Nabi beserta puji-pujian bagi Nabi dengan bahasa yang seindah mungkin. Seluruh ulama dan sastrawan diundang untuk mengikuti kompetisi tersebut. Pemenang yang menjadi juara pertama adalah Syaikh Ja`far Al-Barzanji. Ternyata peringatan Maulid Nabi yang diselenggarakan Sultan Salahuddin itu membuahkan hasil yang positif. Semangat umat Islam menghadapi Perang Salib bergelora kembali. Salahuddin berhasil menghimpun kekuatan, sehingga pada tahun 1187 (583 H) Yerusalem direbut oleh Salahuddin dari tangan bangsa Eropa, dan Masjidil Aqsa menjadi masjid kembali, sampai hari ini. Kitab Al-Barzanji ditulis dengan tujuan untuk meningkatkan kecintaan kepada Rasulullah SAW dan meningkatkan gairah umat. Dalam kitab itu riwayat Nabi saw dilukiskan dengan bahasa yang indah dalam bentuk puisi dan prosa (nasr) dan kasidah yang sangat menarik. Secara garis besar, paparan Al-Barzanji dapat diringkas sebagai berikut: (1) Sislilah Nabi adalah: Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muttalib bin Hasyim bin Abdul Manaf bin Qusay bin Kitab bin Murrah bin Fihr bin Malik bin Nadar bin Nizar bin Maiad bin Adnan. (2) Pada masa kecil banyak kelihatan luar biasa pada dirinya. (3) Berniaga ke Syam (Suraih) ikut pamannya ketika masih berusia 12 tahun. (4) Menikah dengan Khadijah pada usia 25 tahun. (5) Diangkat menjadi Rasul pada usia 40 tahun, dan mulai menyiarkan agama sejak saat itu hingga umur 62 tahun. Rasulullah meninggal di Madinah setelah dakwahnya dianggap telah sempurna oleh Allah SWT. Dalam Barzanji diceritakan bahwa kelahiran kekasih Allah ini ditandai dengan banyak peristiwa ajaib yang terjadi saat itu, sebagai genderang tentang kenabiannya dan pemberitahuan bahwa Nabi Muhammad adalah pilihan Allah. Saat Nabi Muhammad dilahirkan tangannya menyentuh lantai dan kepalanya mendongak ke arah langit, dalam riwayat yang lain dikisahkan Muhammad dilahirkan langsung bersujud, pada saat yang bersamaan itu pula istana Raja Kisrawiyah retak terguncang hingga empat belas berandanya terjatuh. Maka, Kerajaan Kisra pun porak poranda. Bahkan, dengan lahirnya Nabi Muhammad ke muka bumi mampu memadamkan api sesembahan Kerajaan Persi yang diyakini tak bisa dipadamkan oleh siapapun selama ribuan tahun.

Keagungan akhlaknya tergambarkan dalam setiap prilaku beliau sehari-hari. Sekitar umur tiga puluh lima tahun, beliau mampu mendamaikan beberapa kabilah dalam hal peletakan batu Hajar Aswad di Ka‟bah. Di tengah masing-masing kabilah yang bersitegang mengaku dirinya yang berhak meletakkan Hajar Aswad, Rasulullah tampil justru tidak mengutamakan dirinya sendiri, melainkan bersikap akomodatif dengan meminta kepada setiap kabilah untuk memegang setiap ujung sorban yang ia letakan di atasnya Hajar Aswad. Keempat perwakilan kabilah itu pun lalu mengangkat sorban berisi Hajar Aswad, dan Rasulullah kemudian mengambilnya lalu meletakkannya di Ka‟bah. Kisah lain yang juga bisa dijadikan teladan adalah pada suatu pengajian seorang sahabat datang terlambat, lalu ia tidak mendapati ruang kosong untuk duduk. Bahkan, ia minta kepada sahabat yang lain untuk menggeser tempat duduknya, namun tak ada satu pun yang mau. Di tengah kebingungannya, Rasulullah saw memanggil sahabat tersebut dan memintanya duduk di sampingnya.. Tidak hanya itu, Rasul kemudian melipat sorbannya lalu memberikannya pada sahabat tersebut untuk dijadikan alas tempat duduk. Melihat keagungan akhlak Nabi Muhammad, sahabat tersebut dengan berlinangan air mata lalu menerima sorban tersebut namun tidak menjadikannya alas duduk, tetapi justru mencium sorban Nabi Muhammad saw tersebut. Bacaan shalawat dan pujian kepada Rasulullah bergema saat kita membacakan Barzanji di acara peringatan maulid Nabi Mauhammad saw, Ya Nabi salâm „alaika, Ya Rasûl salâm „alaika, Ya Habîb salâm „alaika, ShalawatulLâh „alaika… (Wahai Nabi salam untukmu, Wahai Rasul salam untukmu, Wahai Kekasih salam untukmu, Shalawat Allah kepadamu…) Kemudian, apa tujuan dari peringatan maulid Nabi dan bacaan shalawat serta pujian kepada Rasulullah? Dr. Sa‟id Ramadlan Al-Bûthi menulis dalam Kitab Fiqh Al-Sîrah Al-Nabawiyyah: “Tujuannya tidak hanya untuk sekedar mengetahui perjalanan Nabi dari sisi sejarah saja. Tapi, agar kita mau melakukan tindakan aplikatif yang menggambarkan hakikat Islam yang paripurna dengan mencontoh Nabi Muhammad saw.” Sarjana Jerman peneliti Islam, Annemarie Schimmel dalam bukunya, Dan Muhammad adalah Utusan Allah: Penghormatan terhadap Nabi saw dalam Islam (1991), , menerangkan bahwa teks asli karangan Ja‟far Al-Barzanji, dalam bahasa Arab, sebetulnya berbentuk prosa. Namun, para penyair kemudian mengolah kembali teks itu menjadi untaian syair, sebentuk eulogy bagi Sang Nabi. Pancaran kharisma Nabi Muhammad saw terpantul pula dalam sejumlah puisi, yang termasyhur: Seuntai gita untuk pribadi utama, yang didendangkan dari masa ke masa. Untaian syair itulah yang tersebar ke berbagai negeri di Asia dan Afrika, tak terkecuali Indonesia. Tidak tertinggal oleh umat Islam penutur bahasa Swahili di Afrika atau penutur bahasa Urdu di India, kita pun dapat membaca versi bahasa Indonesia dari syair itu, meski kekuatan puitis yang terkandung dalam bahasa Arab kiranya belum sepenuhnya terwadahi dalam bahasa kita sejauh ini. Secara sederhana kita dapat mengatakan bahwa karya Ja‟far Al-Barzanji merupakan biografi puitis Nabi Muhammad saw. Dalam garis besarnya, karya ini terbagi dua: „Natsar‟ dan „Nadhom‟. Bagian Natsar terdiri atas 19 sub bagian yang memuat 355 untaian syair, dengan mengolah bunyi “ah” pada tiap-tiap rima akhir. Seluruhnya menurutkan riwayat Nabi

Muhammad saw, mulai dari saat-saat menjelang beliau dilahirkan hingga masa-masa tatkala paduka mendapat tugas kenabian. Sementara, bagian Nadhom terdiri atas 16 sub bagian yang memuat 205 untaian syair, dengan mengolah rima akhir “nun”. Dalam untaian prosa lirik atau sajak prosaik itu, terasa betul adanya keterpukauan sang penyair oleh sosok dan akhlak Sang Nabi. Dalam bagian Nadhom misalnya, antara lain diungkapkan sapaan kepada Nabi pujaan” Engkau mentari, Engkau rebulan dan Engkau cahaya di atas cahaya“. Di antara idiom-idiom yang terdapat dalam karya ini, banyak yang dipungut dari alam raya seperti matahari, bulan, purnama, cahaya, satwa, batu, dan lain-lain. Idiom-idiom seperti itu diolah sedemikian rupa, bahkan disenyawakan dengan shalawat dan doa, sehingga melahirkan sejumlah besar metafor yang gemilang. Silsilah Sang Nabi sendiri, misalnya, dilukiskan sebagai “Untaian Mutiara”. Betapapun, kita dapat melihat teks seperti ini sebagai tutur kata yang lahir dari perspektif penyair. Pokok-pokok tuturannya sendiri, terutama menyangkut riwayat Sang Nabi, terasa berpegang erat pada Alquran, hadist, dan sirah nabawiyyah. Sang penyair kemudian mencurahkan kembali rincian kejadian dalam sejarah ke dalam wadah puisi, diperkaya dengan imajinasi puitis, sehingga pembaca dapat merasakan madah yang indah. Salah satu hal yang mengagumkan sehubungan dengan karya Ja‟far Al-Barzanji adalah kenyataan bahwa karya tulis ini tidak berhenti pada fungsinya sebagai bahan bacaan. Dengan segala potensinya, karya ini kiranya telah ikut membentuk tradisi dan mengembangkan kebudayaan sehubungan dengan cara umat Islam diberbagai negeri menghormati sosok dan perjuangan Nabi Muhammad saw. Kitab Maulid Al-Barzanji ini telah disyarahkan oleh Al-‟Allaamah Al-Faqih Asy-Syaikh Abu „Abdullah Muhammad bin Ahmad yang terkenal dengan panggilan Ba`ilisy yang wafat tahun 1299 H dengan satu syarah yang memadai, cukup elok dan bermanfaat yang dinamakan „AlQawl Al-Munji „ala Mawlid Al-Barzanji‟ yang telah banyak kali diulang cetaknya di Mesir. Di samping itu, telah disyarahkan pula oleh para ulama kenamaan umat ini. Antara yang masyhur mensyarahkannya ialah Syaikh Muhammad bin Ahmad „Ilyisy Al-Maaliki Al-‟Asy‟ari Asy-Syadzili Al-Azhari dengan kitab ‟Al-Qawl Al-Munji „ala Maulid Al-Barzanji‟. Beliau ini adalah seorang ulama besar keluaran Al-Azhar Asy-Syarif, bermazhab Maliki lagi Asy`ari dan menjalankan Thoriqah Asy-Syadziliyyah. Beliau lahir pada tahun 1217 H / 1802M dan wafat pada tahun 1299 H / 1882M. Ulama kita kelahiran Banten, Pulau Jawa, yang terkenal sebagai ulama dan penulis yang produktif dengan banyak karangannya, yaitu Sayyidul Ulamail Hijaz, An-Nawawi Ats-Tsani, Syaikh Muhammad Nawawi Al-Bantani Al-Jawi turut menulis syarah yang lathifah bagi Maulid al-Barzanji dan karangannya itu dinamakannya „Madaarijush Shu`uud ila Iktisaail Buruud‟. Kemudian, Sayyid Ja‟far bin Sayyid Isma`il bin Sayyid Zainal „Abidin bin Sayyid Muhammad Al-Hadi bin Sayyid Zain yang merupakan suami kepada satu-satunya anak Sayyid Ja‟far alBarzanji, juga telah menulis syarah bagi Maulid Al-Barzanj tersebut yang dinamakannya „Al-

Kawkabul Anwar „ala „Iqdil Jawhar fi Maulidin Nabiyil Azhar‟. Sayyid Ja‟far ini juga adalah seorang ulama besar keluaran Al-Azhar Asy-Syarif. Beliau juga merupakan seorang Mufti Syafi`iyyah. Karangan-karangan beliau banyak, antaranya: “Syawaahidul Ghufraan „ala Jaliyal Ahzan fi Fadhaail Ramadhan”, “Mashaabiihul Ghurar „ala Jaliyal Kadar” dan “Taajul Ibtihaaj „ala Dhauil Wahhaaj fi Israa` wal Mi‟raaj”. Beliau juga telah menulis sebuah manaqib yang menceritakan perjalanan hidup dan ketinggian nendanya Sayyid Ja‟far Al-Barzanji dalam kitabnya “Ar-Raudhul A‟thar fi Manaqib As-Sayyid Ja‟far”. Kitab Al-Barzanji dalam bahasa aslinya (Arab) dibacakan dalam berbagai macam lagu; rekby (dibaca perlahan), hejas (dibaca lebih keras dari rekby ), ras (lebih tinggi dari nadanya dengan irama yang beraneka ragam), husein (memebacanya dengan tekanan suara yang tenang), nakwan membaca dengan suara tinggi tapi nadanya sama dengan nada ras, dan masyry, yaitu dilagukan dengan suara yang lembut serta dibarengi dengan perasaan yang dalam Di berbagai belahan Dunia Islam, syair Barzanji lazimnya dibacakan dalam kesempatan memeringati hari kelahiran Sang Nabi. Dengan mengingat-ingat riwayat Sang Nabi, seraya memanjatkan shalawat serta salam untuknya, orang berharap mendapat berkah keselamatan, kesejahteraan, dan ketenteraman. Sudah lazim pula, tak terkecuali di negeri kita, syair Barzanji didendangkan – biasanya, dalam bentuk standing ovation – dikala menyambut bayi yang baru lahir dan mencukur rambutnya. Pada perkembangan berikutnya, pembacaan Barzanji dilakukan di berbagai kesempatan sebagai sebuah pengharapan untuk pencapaian sesuatu yang lebih baik. Misalnya pada saat kelahiran bayi, upacara pemberian nama, mencukur rambut bayi, aqiqah, khitanan, pernikahan, syukuran, kematian (haul), serta seseorang yang berangkat haji dan selama berada disana. Ada juga yang hanya membaca Barzanji dengan berbagai kegiatan keagamaan, seperti penampilan kesenian hadhrah, pengumuman hasil berbagai lomba, dan lain-lain, dan puncaknya ialah mau‟idhah hasanah dari para muballigh atau da‟i. Kini peringatan Maulid Nabi sangat lekat dengan kehidupan warga Nahdlatul Ulama (NU). Hari Senin tanggal 12 Rabi‟ul Awal kalender hijriyah (Maulud). Acara yang disuguhkan dalam peringatan hari kelahiran Nabi ini amat variatif, dan kadang diselenggarakan sampai hari-hari bulan berikutnya, bulan Rabius Tsany (Bakda Mulud). Ada yang hanya mengirimkan masakanmasakan spesial untuk dikirimkan ke beberapa tetangga kanan dan kiri, ada yang menyelenggarakan upacara sederhana di rumah masing-masing, ada yang agak besar seperti yang diselenggarakan di mushala dan masjid-masjid, bahkan ada juga yang menyelenggarakan secara besar-besaran, dihadiri puluhan ribu umat Islam. Para ulama NU memandang peringatan Maulid Nabi ini sebagai bid‟ah atau perbuatan yang di zaman Nabi tidak ada, namun termasuk bid‟ah hasanah (bid‟ah yang baik) yang diperbolehkan dalam Islam. Banyak memang amalan seorang muslim yang pada zaman Nabi tidak ada namun sekarang dilakukan umat Islam, antara lain: berzanjen, diba‟an, yasinan, tahlilan (bacaan Tahlilnya, misalnya, tidak bid‟ah sebab Rasulullah sendiri sering membacanya), mau‟idhah hasanah pada acara temanten dan mauludan.

Dalam „Madarirushu‟ud Syarhul‟ Barzanji dikisahkan, Rasulullah SAW bersabda: “Siapa menghormati hari lahirku, tentu aku berikan syafa‟at kepadanya di hari kiamat.” Sahabat Umar bin Khattab secara bersemangat mengatakan: “Siapa yang menghormati hari lahir Rasulullah sama artinya dengan menghidupkan Islam!”
*) Diambil dari berbagai sumber

Kesesatan Kitab Barzanji, Qashidah Burdah, dan Maulid Syarafil Anam
8 March 2009 | Filed under: Dunia Islam | Posted by: nahimunkar.com

Muqaddimah Kitab Barzanji adalah kitab yang sangat popular di kalangan kaum Muslimin di Indonesia. Kitab ini merupakan bacaan wajib pada acara-acara Barzanji atau diba‟ yang merupakan acara rutin bagi sebagian kaum muslimin di Indonesia. Kitab Barzanji ini terkandung di dalam kitab Majmu‟atu Mawalid wa-Ad‟iyyah yang merupakan kumpulan dari beberapa tulisan seperti: Qoshidah Burdah, Maulid Syarafil Anam, Maulid Barzanji, Aqidatul Awwam, Rotib al-Haddad, Maulid Diba‟i, dan yang lainnya. Kitab yang popular ini di dalamnya banyak sekali penyelewengan-penyelewengan dari syari‟at Islam bahkan berisi kesyirikan dan kekufuran yang wajib dijauhi oleh setiap Muslim. Karena itulah Insya Allah dalam pembahasan kali ini akan kami jelaskan kesesatankesesatan kitab ini dan kitab-kitab yang menyertainya dalam kitab, sebagai nasehat keagamaan bagi saudara-saudara kaum muslimin dan sekaligus sebagai jawaban kami atas permintaan sebagian pembaca yang menanyakan isi kitab ini. Dan sebagai catatan bahwa cetakan kitab yang kami jadikan acuan dalam pembahasan ini adalah cetakan PT. Al-Ma‟arif Bandung.

Maulid Barzanji dan Kesesatan-Kesesatannya Maulid Barazanji yang terkandung dalam kitab Majmu‟atu Mawalid wa Ad‟iyyah ini dalam halaman 72-147, di dalamnya terdapat banyak sekali kesalahan-kesalahan dalam aqidah, seperti kalimat-kalimat yang ghuluw(melampaui batas syar‟I) terhadap Nabi, kalimat-kalimat kekufuran, kesyirikan, serta hikayat-hikayat lemah dan dusta. Di antara kesesatan-kesesatan kitab ini adalah: 1. Mengamini Adanya “Nur Muhammad”

Penulis berkata dalam halaman 72-73:

‫ٚأصٍٝ ٚ أعٍُ ػٍٝ إٌٛس اٌّٛصٛف ثبٌزمذَ ٚ األٌٚ١خ‬
Dan aku ucapkan selawat dan salam atas cahaya yang disifati dengan yang dahulu dan yang awal Kami katakan: ini adalah aqidah Shufiyyah yang batil, orang-orang Shufiyyah beranggapan bahwa semua yang ada di alam semesta ini diciptakan dari nur (cahaya) Muhammad kemudian bertebaran di alam semesta. Keyakinan ini merupakan ciri khas dari kelompok Shufiyyah, keyakinan mereka ini hampir-hampir selalu tercantum dalam kitabkitab mereka. Ibnu Atho as-Sakandari berkata: “Seluruh nabi diciptakan dari Ar-Rohmah dan Nabi kita Muhammad adalah „Ainur Rahmah.” (Lathaiful Minan hal. 55) Merupakan hal yang diketahui setiap muslim bahwasanya Rasulullah adalah manusia biasa yang dimuliakan oleh Allah dengan risalah-Nya sebagaimana para rasul yang lainnya, Allah berfirman:

َ َ ٌ ِ َ ِّٗ‫لًُ إَِّّٔب أََٔب ثَؾش ِضٍُىُ ٠ُٛحٝ إٌَِٟ أََّّٔب إٌَِٙىُ إٌٌَِٗ ٚاحذ فَّْٓ وبَْ ٠َشجٛا ٌِمَبء سثِّٗ فٍَ١َؼًّ ػًّل صبٌِحب ٚ ََل ٠ُؾشنْ ثِؼجَبدح سث‬ ُ ْ َ ُْ ِْ ٌَ ِ َ َِ ِ ِ ْ َ ‫َ َ ِ ْ ْ َ ْ َ َا َ ا‬ ْ ُ ُ َ َّ َ ْ )111(‫أَحذاا‬ َ
“Katakanlah:”Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku:”Bahwa sesungguhnya Ilah kalian itu adalah Ilah Yang Esa”.” (QS. Al-Kahfi : 110)

2. Membawakan Hikayat-HikayatDusta Seputar Kelahiran Nabi
Penulis berkata dalam halaman 77-79 dari kitab Majmu‟atu Mawalid wa Ad‟iyyah ini:

‫ٚ ٔطمذ ثحٍّٗ وً داثخ ٌمش٠ؼ ثفصبح األٌغٓ اٌؼشث١خ‬

ٖ‫ٚ خشد األعشح ٚ األصٕبَ ػٍٝ اٌٛجٖٛ ٚ األفٛا‬
‫ٚ رجبؽشد ٚحٛػ اٌّؾبسق ٚ اٌّغبسة ٚ دٚاثٙب اٌجحش٠خ‬ ‫حضش أِٗ ٌ١ٍخ ٌِٛذٖ اع١خ ٚ ِش٠ُ فٟ ٔغٛح ِٓ اٌحظ١شح اٌمذع١خ‬
Dan memberitahukan tentang dikandungnya beliau setiap binatang ternak Quraisy dengan Bahasa Arab yang fasih! Dan tersungkurlah tahta-tahta dan berhala-berhala atas wajah-wajah dan mulut-mulut mereka! Dan saling memberi kabar gembira binatang-binatang liar di timur dan di barat beserta binatang-binatang lautan! Saat malam kelahirannya datang kepada ibunya Asiyah dan Maryam beserta para wanita dari surga! Kami katakan: Kisah ini adalah kisah yang lemah dan dusta sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama hadits. (Lihat Siroh Nabawiyyah Shohiihah 1/97-100)

3. Bertawassul denga Dzat Nabi
Penulis berkata pada halaman 106 dari kitab Majmu‟atu Mawalid wa Ad‟iyyah ini:

‫ٚ ٔزٛعً إٌ١ه ثؾشف اٌزاد اٌّحّذ٠خ‬ ٖ‫ٚ ِٓ ٘ٛ آخش األٔج١بء ثصٛسرٗ ٚ أٌُٚٙ ثّؼٕب‬ ‫ٚثآٌٗ وٛاوت أِٓ اٌجش٠خ‬
Dan kami bertawassul kepadaMu dengan kemuliaan dzat Muhammad Dan yang dia adalah akhir para nabi secara gambaran dan yang paling awal secara makna Dan dengan para keluarganya bintang-bintang keamanan manusia Kami katakan: Tawassul dengan dzat Nabi dan keluarganya serta orang-orang yang sudah mati adalah tawassul yang bid‟ah dan dilarang. Tidak ada satupun doa-doa dari Kitab dan Sunnah yang terdapat di dalamnya tawassul dengan jah atau kehormatan atau hak

atau kedudukan dari para makhluk. Banyak para imam yang mengingkari tawasssultawassul bid‟ah ini. al-Imam Abu Hanifah berkata: “Tidak selayaknya bagi seorang pun berdoa kepada Allah kecuali denganNya, aku membenci jika dikatakan: “Dengan ikatan-ikatan kemuliaan dari arsyMu, atau dengan hak makhlukMu.” Dan ini juga perkataan al-Imam Abu Yusuf. (Fatawa Hindiyyah 5/280) Syeikh al-Albani berkata: “ Yang kami yakin dan kami beragama kepada Allah dengannya bahwa tawassul-tawassul ini tidaklah diperbolehkan dan tidak disyari‟atkan, karena tidak ada dalil yang bisa dijadikan hujjah padanya, tawassul-tawassul ini telah diingkari oleh para ulama ahli tahqiq dari masa ke masa.” (at-Tawassul anwa‟uhu wa Ahkamuhu hal. 46-47)

4. Menyatakan Bahwa Kedua Orang Tua Nabi Dihidupkan Lagi dan
Masuk Islam Penulis berkata dalam halaman 114:

ْ‫ٚلذ أصجحب ٚهللا ِٓ أً٘ اإل٠ّب‬ ‫ٚ جبء ٌٙزا فٟ اٌحذ٠ش ؽٛا٘ذ‬ ٌٗ‫فغٍُ فئْ هللا جً جًل‬ ْ‫لذ٠ش ػٍٝ اإلح١بء فٝ وً أح١ب‬
Dan sesungguhnya keduanya (Abdullah dan Aminah) telah menjadi ahli iman Dan telah datang hadits tentang ini dengan syawahidnya (penguat-penguatnya) Maka terimalah karena sesungguhnya Allah mampu menghidupkan di setiap waktu

Kami katakan: Hadits tentang dihidupkannya kedua orang tua Nabi dan berimannya keduanya kepada Nabi adalah hadits yang dusta. Syaikh Ibnu Taimiyyah berkata: “Hadits ini tidak shohih menurut ahli hadits, bahkan mereka sepakat bahwa hadits itu adalah dusta dan diada-adakan…Hadits ini di samping palsu juga bertentangan dengan al-Qur‟an, hadits shohih dan ijma.”(Majmu‟ Fatawa 4/324)

5. Berdoa dan Beristighotsah kepada Nabi

Penulis berkata dalam halaman 1114:

‫٠ب ثؾ١ش ٠ب ٔز٠ش‬ ‫فؤغضٕٟ ٚ أجشٟٔ ٠ب ِج١ش ِٓ اٌغؼ١ش‬ ‫٠ب ٌٟٚ اٌحغٕبد ٠ب سف١غ اٌذسجبد‬ ‫وفش ػٕٟ اٌزٔٛة ٚ اغفش ػٕٟ اٌغ١ؤد‬
Wahai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan Tolonglah aku dan selamatkan aku, wahai penyelamat dari neraka Sa‟ir Wahai pemilik kebaikan-kebaikan dan pemilik derajat-derajat Hapuskanlah dosa-dosa dariku dan ampunilah kesalahan-kesalahanku

Kami katakan: Ini adalah kesyirikan dan kekufuran yang nyata karena penulis berdoa kepada Nabi dan menjadikan Nabi sebagai penghapus dosa, dan penyelamat dari azab neraka, padahal Allah berfirman:

ِْٓ ‫لًُ إَِّّٔب أَدػُٛ سثِّٟ ٚ ََل أُؽشن ثِٗ أَحذاا(10)لًُ إِِّٟٔ ََل أٍَِِه ٌَىُ ضشا ٚ ََل سؽذاا(10)لًُ إِِّٟٔ ٌَْٓ ٠ُج١شِٟٔ َِٓ هللاِ أَحذ ٌَْٚٓ أَجذ‬ ْ َ ْ َ َ َ ‫ْ ُ ُ ْ َ ّا‬ َ ِ َ ِ ُ ِ ْ َ ِ َِ َ ٌ َ َّ ِ َ ْ ْ )00(‫دُِٚٔٗ ٍِزَحذاا‬ َ ُْ ِ
“Katakanlah: “Sesungguhnya Aku hanya menyembah Rabbku dan akau tidak mempersekutukan sesuatupun denganNya.” Katakanlah: “Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan suatu kemudharatan pun kepadamu dan tidak pula suatu kemanfaatan.” Katakanlah: “Sesungguhnya aku sekali-kali tiada seorangpun dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali aku tidak akan memperoleh tempat berlindung selain daripada-Nya.” (QS. Al-Jin: 20-22) Syaikh Abdur Rohman bin Nashir as-Sa‟di berkata: “Katakanlah kepada mereka wahai rosul sebagai penjelasan dari hakikat dakwahmu: “Sesungguhnya Aku hanya menyembah Rabbku dan aku tidak mempersekutukan sesuatupun denganNya.” Yaitu aku mentauhidkan-Nya, Dialah Yang Maha Esa tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku lepaskan semua yang selain Allah dari berhala dan tandingan-tandingan, dan semua sesembahan yang disembah oleh orang-orang musyrik selain-Nya. “Katakanlah: “Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan suatu kemudharatan pun kepadamu dan tidak pula suatu kemanfaatan.” Karena aku adalah seorang hamba yang tidak memiliki sama sekali perintah dan urusan. .” Katakanlah: “Sesungguhnya aku sekali-kali tiada seorangpun dapat

melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali aku tidak akan memperoleh tempat berlindung selain daripada-Nya.” Yaitu tidak ada seorang pun yang dapat aku mintai perlindungan agar menyelamatkanku dari adzab Allah. Jika saja Rasulullah yang merupakan makhluk yang paling sempurna, tidak memiliki kemadhorotan dan kemanfaatan, dan tidak bisa menahan dirinya dari Allah sedikitpun, jika Dia menghendaki kejelekan padanya, maka yang selainnya dari makhluk lebih pantas untuk tidak bisa melakukan itu semua.” (Tafsir alKarimir Rohman hal. 1522 cet. Dar Dzakhoir) Ayat-ayat di atas dengan jelas menunjukkan atas larangan berdo‟a kepada Rasulullah dan bahwa Rasulullah tidak bisa menyelamatkan dirinya dari adzab Allah apalagi menyelamatkan yang lainnya !

Qoshidah Burdah Dan Kesesatan-Kesesatannya

Qoshidah Burdah terkandung dalam kitab Majmu‟atu Mawalid wa Ad‟iyyah di dalam halaman 148-173. Qoshidah ini ditulis oleh Muhammad al-Bushiri seorang tokoh tarikat Syadziliyyah. Qoshidah Burdah adalah kumpulan bait-bait sya‟ir yang di dalamnya terdapat banyak sekali kalimat-kalimat kesyirikan dan kekufuran yang nyata, di antara bait dari qoshidah tersebut adalah:

‫فإى هي جىدك الدًيا و ضرتها‬
ٍُ‫ِٚٓ ػٍِٛه ػٍُ اٌٍٛح ٚاٌم‬

Maka sesungguhnya dunia dan akhirat adalah dari kemurahanmu wahai Nabi Dan dari ilmumu ilmu lauh dan qolam (hal 172 dari kitab Majmu‟atu Mawalid wa Ad‟iyyah)

Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin mengomentari perkataan Bushiri di atas dengan berkata: “Ini termasuk kesyirikan yang terbesar, karena menjadikan dunia dan akhirat berasal dari Nabi yang konsekwensinya bahwasanya Allah sama sekali tidak punya peran…” (Qaulul Mufid 1/218)

Maulid Syarofil-Anam dan Kesesatan-Kesesatannya

Maulid Syarofil Anam terkandung dalam kitab Majmu‟atu Mawalid wa Ad‟iyyah ini dalam halaman 217, dia juga merupakan kumpulan bait-bait sya‟ir yang di dalamnya terdapat banyak sekali kalimat-kalimat yang ghuluw terhadap Nabi, di antara contoh-contoh kalimat tersebut adalah:

‫٠ب ِبحٟ اٌزٔٛة‬ ‫٠ب جبٌٟ اٌىشٚة‬

‫اٌغًلَ ػٍ١ه‬ ‫اٌغًلَ ػٍ١ه‬

Keselamatan semoga terlimpah atas mu wahai penghapus dosa Keselamatan semoga terlimpah atasmu wahai penghilang duka-duka Mawalid wa Ad‟iyyah hal. 3 dan 4) (kitab Majmu‟atu

‫٠ب سعٛي هللا ٠ب خ١ش وً األٔج١بء‬

‫ًجٌا هي هاوية يا زكي الوٌصب‬
Wahai Rasulullah wahai yang terbaik dari semua Nabi Selamatkanlah kami dari neraka Hawiyah wahai pemilik jabatan yang suci (hal. 8 dari kitab Majmu‟atu Mawalid wa Ad‟iyyah)

Kami katakan: Ini adalah kesyirikan dan kekufuran yang nyata karena penulis berdoa kepada Nabi dan menjadikan Nabi sebagai penghapus dosa, penghilang kedukaan, dan penyelamat dari azab neraka, padahal Nabi tidak kuasa mendatangkan suatu kemudhorotan pun dan tidak pula suatu kemanfaatan kepada siapa pun, tiada seorang pun dapat melindunginya dari azab Allah dan tidak akan memperoleh tempat berlindung selain daripada-Nya, sebagaimana dalam ayat 20-22 dari Surat al-Jin di atas.

Kemudian di dalam kitab Maulid Syarofil Anam juga terkandung banyak kisah-kisah yang lemah dan dusta sebagaimana dalam kitab Barzanji di atas, seperti kisah bahwasanya ibunda Rasulullah ketika mengandung beliau tidak merasa berat sama sekali, Rasulullah dilahirkan dalam keadaan sudah dikhitan, bercelak, berhala-berhala jatuh tersungkur, bergoncanglah singgasana Kisro, dan matilah api orang-orang Majusi (kitab Majmu‟atu Mawalid wa Ad‟iyyah hal. 10-12). Kisah-kisah ini adalah kisah-kisah yang lemah dan dusta sebagaimana dijelaskan oleh para ulama hadits (Lihat Siroh Nabawiyah Sohihah 1/97-100). (Dipetik dari tulisan Abu Ahmad As-Salafi, Majalah Al-Fuqon, Gresik, edisi 09 tahun VI/ Robi‟uts Tsani 1428 /Mei 2007, halaman 41-44).

Fatwa: Maulid Al-Barzanji Bid’ah

Pertanyaan: Di sisi kami ada yang dinamai dengan Al-Barzanji, yaitu ekspresi untuk berkumpulnya orang-orang lalu mereka mengulang-ulang sierah/ sejarah Rasul dan mereka bershalawat atasnya dengan lagu tertentu dan mereka mengerjakannya itu di sisi kami dalam acaraacara atau dalam pengantenan-pengantenan.

Fatwa: Al-hamdulillah, shalawat dan salam atas Rasulillah dan atas keluarganya dan sahabatnya. Adapun setelah itu: Maka ini adalah perkara muhdats (diada-adakan secara baru, kata lain dari bid‟ah, red), tidak pernah dikerjakan oleh (para sahabat) orang sebaik-baik ummat ini sesudah nabinya, yaitu mereka para sahabat Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam beserta agungnya kecintaan mereka terhadap beliau. Seandainya itu baik maka pasti mereka telah mendahului kita kepadanya. Kita wajib mengagungkan Nabi shallallahu „alaihi wa sallam, dan kita saling mengkaji sierah/ sejarah beliau agar kita mendapatkan petunjuk dengan pentunjuk beliau dan mengikuti jejak beliau, tetapi beserta ikut kepada beliau shallallahu „alaihi wa sallam dalam hal yang disyari‟atkannya, dan tidak membuat-buat ibadah-ibadah baru yang beliau tidak membawakannya, atau tambahan atas ibadah-ibadah yang telah disyari‟atkannya. Karena hal itu termasuk sebab-sebab ditolaknya amal atas pelakunya. Maka sungguh telah bersabda Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam:

ٍُ‫“ِْٓ ػًّ ػًّلا ٌَ١ظ ػٍَ١ٗ أِشٔب فَُٙٛ سد ” سٚاٖ اٌجخبسٞ ِٚغ‬ ُ ِ َ َ ْ َ َ َ ِ َ َ َ َ
Barangsiapa beramal suatu amalan bukan berdasarkan atas perintah kami maka dia tertolak. (Diriwayatkan Al-Bukhari, Muslim dan lainnya) Wallahu a‟lam (Mufti Markaz fatwa dengan bimbingan Dr Abdullah Al-Faqih, Fatawa Ash-Shabakah AlIslamiyyah juz 8 halaman 147, nomor fatwa 15215, judul: Maulid Al-Barzanji bid‟ah, tanggal fatwa 28 Muharram 1423H/ islamweb).

Teks Fatwa: Maulid al-Barzanji Bid’ah: )741

‫فزبٜٚ اٌؾجىخ اإلعًلِ١خ – (ط 8 / ؿ‬
71271

: ٜٛ‫سلُ اٌفز‬

‫ػٕٛاْ اٌفزٜٛ : ٌِٛذ اٌجشصٔجٟ ثذػخ‬
7421

َ‫ربس٠خ اٌفزٜٛ : 82 ِحش‬ ‫اٌغؤاي‬

‫ػٕذٔب ؽٟء ٠غّٝ ثبٌجشصٔجٟ ٚ٘ٛ ػجبسح أْ ٠جزّغ إٌبط ف١شددْٚ ع١شح اٌشعٛي‬ ‫ٚ٠صٍْٛ ػٍ١ٗ ثٕغُ ِؼ١ٓ ٚ٠فؼٍٛٔٗ ػٕذٔب فٟ إٌّبعجبد أٚ فٟ اَلػشاط؟‬ ٜٛ‫اٌفز‬ :‫اٌحّذ هلل ٚاٌصًلح ٚاٌغًلَ ػٍٝ سعٛي هللا ٚػٍٝ آٌٗ ٚصحجٗ أِب ثؼذ‬ ‫فٙزا أِش ِحذس ٌُ ٠فؼٍٗ خ١ش ٘زٖ األِخ ثؼذ ٔج١ٙب، ُٚ٘ أصحبة سعٛي هللا صٍٝ هللا‬ .ٗ١ٌ‫ػٍ١ٗ ٚعٍُ ِغ ػظ١ُ حجُٙ ٌٗ، ٌٚٛ وبْ خ١شاا ٌغجمٛٔب إ‬

ٟ‫ٚػٍ١ٕب أْ ٔؼظُ إٌجٟ صٍٝ هللا ػٍ١ٗ ٚعٍُ ٚٔزذاسط ع١شرٗ ٌٕٙزذٞ ثٙذ٠ٗ ٚٔمزف‬ ٌُ ‫أصشٖ، ٌٚىٓ ِغ اَلرجبع ٌٗ صٍٝ هللا ػٍ١ٗ ٚعٍُ ف١ّب ؽشػٗ، ٚػذَ إحذاس ػجبداد‬ ٍٝ‫٠ؤد ثٙب، أٚ اٌض٠بدح ػٍٝ اٌؼجبداد اٌزٟ ؽشػٙب، فئْ رٌه ِٓ أعجبة سد اٌؼًّ ػ‬ ”‫صبحجٗ، فمذ لبي صٍٝ هللا ػٍ١ٗ ٚعٍُ: “ِٓ ػًّ ػًّلا ٌ١ظ ػٍ١ٗ أِشٔب فٙٛ سد‬ ٟ‫سٚاٖ اٌجخبسٞ ِٚغٍُ ٚغ١شّ٘ب، ٚلذ عجك ث١بْ رؼش٠ف اٌجذػخ ٚضٛاثطٙب ف‬ .‫جٛاة ثشلُ: 711 فٍ١شاجغ‬ .ٍُ‫ٚهللا أػ‬ ٗ١‫اٌّفزٟ: ِشوض اٌفزٜٛ ثئؽشاف د.ػجذهللا اٌفم‬
Foto: Halo Semarang

191

0share

0share

198

Baca Juga:
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Fatwa Syaikh Utsaimin tentang Perayaan Maulid Nabi Pelecehan terhadap Kitab Suci Al-Qur’an …. Mengenal Kitab Dusta Tadzkirah Fatwa Tentang Hukum Perayaan Maulid Nabi Kesesatan LDII dan Ahmadiyah Mengenal Kitab Suci Al-Qur’an Ahmadiyah dan Kesesatan Lainnya Memilah Kesesatan dari Kebenaran

Berikut beberapa artikel baru sejak kunjungan terakhir Anda:
         

ICMI Kritik Putusan MK Ar Rajihi Hadiahkan Pahala untuk Raja Abdul Aziz Setelah MK bertingkah terhadap UU Perkawinan, Giliran Komnas HAM dukung nikah beda agama Siapa yang tidak setuju dengan amar ma’ruf nahi munkar? Gerombolan Liberal bagai hama tapi justru dipiara untuk merusak Islam[i] Sikap Pendukung Radio RASIL Pro Syiah dan Seperti Sikap Media KAFIR Bubrah tenan! Sampah kondom di DPR mencuat lagi Sistem Monarki Saudi Arabia VS Sistem Demokrasi Ala Indonesia, Mana Lebih Sukses Mensejahterakan Rakyat? Pernyataan Para Ulama’ Islam tentang Syi’ah Rafidhah Mengapa Tidak Berempati terhadap Rakyat Jelata?

Agar tidak terlewat artikel terbaru, silakan Berlangganan Gratis (via email/RSS)
Masuk log
 

Tulisan ini saja Semua tulisan di blog

Berlangganan komentar untuk tulisan ini saja lewat...
 

 

Pengumpan RSS Berlangganan lewat email
Alamat ema

Berlangganan

Ikuti diskusi ini

Komentar (53)

Sedang masuk log... Tutup

Masuk log ke IntenseDebate Or create an account
Nama pengguna atau Email: Katasandi:

Lupa nama pengguna?
OpenID Batal Masuk log

Tutup

WordPress.com

Nama pengguna atau Email: Katasandi:

Lost your password?
301591

Batal Masuk log

Tutup

Masuk log menggunakan OpenID kamu Atau buat sebuah akun menggunakan OpenID
URL OpenID: Kembali Batal Masuk log Papan instrumen | Ubah profil | Log keluar

http:// http://nahimunkar

Masuk log sebagai

Urutkan menurut: Tanggal Penilaian Aktivitas terakhir

-4 Dukung Tentang

Hakim Moesthaf · 156 minggu yang lalu
Assalam mualaikum wr wb. Betul sekali ustad. Sekarang ini semakin marak saja penyebaran kitab barzanji di kalangan umat Islam dan seolah itu wajib adanya. Padahal, perbuatan itu adalah perbuatan bid'ah yang jelas dilarang oleh Nabi Muhammad SAW apalagi oleh Allah SWT. Namun, jika kita menegur atau memeringatkan kepada mereka, mereka selalu mengatakan kitalah yang sesat. Bagaimanakah caranya mengingatkan mereka ya Ustad? Saya pribadi menyarankan agar para dai Salafush Salih untuk terus memeringatkan mereka agar tidak terpuruk kepada kekufuran dan kesesatan yang nyata seperti digambarkan beliau SAW. Artinya, para Ustad Salafush Salih tidak saja berdakwah di kalangan para salafy saja tapi di masjid-masjid umum yang selama ini menjadi ahlul bid'ah yang mayoritas di Indonesia. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan rahmat dan hidayahnya kepada kita semua. Amin Ya Rabbal Alamin. Laporkan
no

Jawab

0 Dukung Tentang

Abu Rasyid · 153 minggu yang lalu
Kesesatan atas perkara-perkara bid'ah akan terus berkembang pesat di mana-mana. Hal ini karena Pemerintah tidak punya undang-undang yang jelas untuk mengatur Dien ini. Pemerintah sebagai pihak yang berkuasa berlepas diri, sedangkan masyarakat menganggap bebesnya beragama. Dan pada akhirnya setiap kelompok beragama sesuai dengan keyakinannya masing-masing. Laporkan
no

Jawab

0 Dukung Tentang

Aba · 151 minggu yang lalu

Terima kasih atas ilmunya, semoga Allah swt membalas berlipat ganda atas perjuangan nahyi munkarnya, amiiien ! Laporkan
no

Jawab

+2 Dukung Tentang

Adlan · 129 minggu yang lalu
Jangan lah sekali-kali menyesatkan orang lain... Sesungguhnya ALLAH lah yang maha benar... Laporkan
no

Jawab

+1 Dukung Tentang

nasrulhaq · 126 minggu yang lalu
assalamualaikum.. semoga qta menjadi muslim yg wasatan..telah anda paparkan sangat lengkap tentang asumsi kesesatan kitab barzanji,dll. saya ingin kepada anda yang namanya taqlid,sebab saya melihat anda mencomot sebuah pemikiran yg didisain menjadi sebuah fatwa..serta memaksakan interpretasi anda terhadap teks-teks suci.. Laporkan
no

Jawab

+1 Dukung Tentang

nasrulhaq · 126 minggu yang lalu
assalamualaikum.. semoga qta menjadi muslim yg wasatan..telah anda paparkan sangat lengkap tentang asumsi kesesatan kitab barzanji,dll. saya ingin menanyakan kepada anda yang namanya taqlid,sebab saya melihat anda mencomot sebuah pemikiran yg didisain menjadi sebuah fatwa..serta memaksakan interpretasi anda terhadap teks-teks suci.. Laporkan
no

Jawab

0 Dukung Tentang

ibnu_hibban · 107 minggu yang lalu
Assalamu alaikum wr wb Syukron atas mauidlloh dan penjelasannya, semoga antum dapat keberkahan, dan di ampuni atas natizah yang di himpit oleh hawa nafsu dan merasa telah menjadi seorang ulama akhli mufti. ana sarankan antum lebih banyak langi mengarungi bahtera lautan ilmu allah. Laporkan
no

Jawab

+3 Dukung Tentang

aq al Fakir · 106 minggu yang lalu
Kemudian bagaiman dengan kitab maulid shimthuddurror yang telah ditulis oleh al alamanah al imam alhabib ali bin muhammad bin husein alhabsy. mohon dijelaskan juga Laporkan
no

Jawab

0 Dukung Tentang

luqman al hakim · 98 minggu yang lalu
wah ternyata sangat dekat dengan kekufuran dan justru kaadng kita terlena hal semacam itu.... oya ustad kalo boleh saya copy di blog saya agar dapat dijadikan sebagai pelajaran dan cerminan bagi kita semua yang peduli dengan akidah islamiyah Laporkan
no

Jawab

1 Jawab · Aktif kurang dari 1 menit yang lalu 0 Dukung Tentang

Annas · 97 minggu yang lalu
Assalamu'alaikum, jangan pernah menjelek-jelekan muslim lain, yang Maha Benar itu Allah. Yang tahu tentang amalan kita tertolak atau tidak hanyalah Allah semata, Wassalamu'alaikum Laporkan

no

Jawab

1 Jawab · Aktif 5 minggu yang lalu +2 Dukung Tentang

Dienul Islam · 90 minggu yang lalu
Yang benar Hanya Allah,jangan suka menghukum suatu golongan dengan Bid'ah, Kalau bicara Bid'ah Kita semua mengerjakan Bid'ah....termasuk website ini.... Laporkan
no

Jawab

1 Jawab · Aktif 6 minggu yang lalu +3 Dukung Tentang

Adam · 87 minggu yang lalu
website memang Bid'ah,tapi bid'ah dunia/bid'ah Hasanah,tapi kalau dalam agama semua bid'ah sesat,yang bilang sesat Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam didalam hadis Muslim, ‫الل بدع وكل محد ات ا ا مور و ر محمد هد ال د وخير هللا كتاب الحدي خير ف ن بعد ما‬ ‫بدع محد وكل محد ات ا ا مور و ر : رواي وف‬ ‫رواي وف‬ ‫الل بدع وكل بدع محد وكل محد ات ا ا مور و ر : ال سا‬ ‫الل وكل‬ ‫ال ار ف‬

“Amma ba’du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitab Allah, dan sebaik-baik tuntunan adalah tuntunan Muhammad, dan sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan dan setiap bid’ah adalah kesesatan”. (HSR. Muslim dari Jabir radhiallahu 'anhuma) Urusan dunia kita disuruh buat bid'ah sebanyak-banyaknya,tapi urusan agama tidak ada satu hadispun kita disuruh buat bid'ah. Buat Dienul Islam kalau mau lebih jelas silahkan buka www.rasuldahri.com Laporkan

no

Jawab

2 Jawab · Aktif 6 minggu yang lalu +4 Dukung Tentang

abi · 56 minggu yang lalu
Baik yang merasa itu bid'ah atau tidak. Mari berdoa bersama2 kepada Allah SWT. Mudah2an kita semua di berikan Allah rahmatNya dan hidayah, taufiq.Agar kita semua beribadah ke jalan yg benar. Ihdinashirothol mustaqim... Amiin Laporkan
no

Jawab

0 Dukung Tentang

shy · 46 minggu yang lalu
Pikiran manusia sangat mudah disesatkan... admin perbanyak istighfar, cari guru yang silsilahnya jelas, belajar baru berkomentar... Laporkan
no

Jawab

1 Jawab · Aktif 9 minggu yang lalu +1 Dukung Tentang

zoen · 35 minggu yang lalu
Hanya kepada Allah SWT segala pujian dan permohonan patut disampaikan, hanya Salawat bagi Rasulullah, tidak ada medium apapun yg boleh dijadikan perantara utk Hablumminallah. Laporkan

no

Jawab

+3 Dukung Tentang

Abuerzha · 34 minggu yang lalu
@df71b84ac53ed4cfb84c0f4bc30081cf:disqus maksudnya guru bersanad?? mana buktinya kl bersanad sampe Rosululloh..lhaa amalan2 yg dilakukan aja ga sesuai dan mencocoki sunnah Rosululloh?? gitu kok mo dibilang ahlul bait..hati2 semua org jg bisa Kang ngaku2 ahlul bait..jgn dilihat 'keturunan' coba lihat amlan/ibadahnya sesuai ga dgn pemahaman Rosulullo dan para sahabat Rodhiallohuanhum.. Laporkan
no

Jawab

+2 Dukung Tentang

Ibnu Syakieb · 34 minggu yang lalu
sudah sunatullah klo dakwah tauhid, dakwah para rasul, akan selalu ditentang oleh para pengekor hawa nafsu...hingga Allah kunci hati mereka yg enggan menerima kebenaran.. Laporkan
no

Jawab

-1 Dukung Tentang

Rosyied ahmad · 17 minggu yang lalu
assalam,,,,

bid'ah,,,sebenarnya apa sih arti bid'ah?sesuatu yang baru?sesuatu yang belum pernah dilakukan maupun di ajarkan oleh nabi? sesuatu yang tidak terdapat dalam qur'an dan hadist?atau apa? kita memang tidak akan pernah habisnya memperdebatkan masalah bid'ah, saya berpikir itu malah akan memperenggang persatuan umat islam di dunia ini. perdebatan itu saya pikir tidak ada gunanya toh kedua belah pihak masih tetap bersikukuh dengan pendapat masing masing, tak ada yang mau mengalah. praktis saja jika kita lihat keduanya juga memmpunyai dasar yang kuat tentang pendapatpendapatnya tersebut,sudah lah biarkan masing-masing enjoy dengan keyakinannya tersebut, jangan saling tuduh, saling serang, saling kafir mengkafirkan, toh keyakinan mereka yang (disebut-sebut para ahli bid'ah) tidak pernah memaksa, menggangu maupun sampai mengancam orang-orang disekitar mereka. saya takut adanya klaim, saling tuduh, kafir mengkafirkan itu malah akan memperkeruh ukhuwah islamiyyah kita, ayolah kita saling hormat, menghargai, rukun , seperti apa yang rasulullah lakukan dahulu. ciptakan islam damai seperti dahulu lagi,,,,maturswun. wassalam. Laporkan
no

Jawab

4 Jawab · Aktif 6 minggu yang lalu +2 Dukung Tentang

‫ 61 ·امر حان‬minggu yang lalu
‫م ومما ة ال ص لوا ن ي ق يمو و ل غ يب ب ا ن م و ي وء ي ن ال ذ‬ Laporkan
no

‫ف قون رزق‬

‫ي‬

Jawab

+1 Dukung Tentang

Gugus Gustian · 16 minggu yang lalu
alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah... semoga kita bisa tetap berada di atas sunnah dan memahaminya sesuai dengan pemahaman yg haq, insya Allah... semoga Allah memberikan hidayah kepada kita, dan senantiasa menetapkan hati kita kepada agama-Nya...

aamiin :) Laporkan
no

Jawab

+2 Dukung Tentang

iwan karyana · 14 minggu yang lalu
kalau yg di ajarkan oleh ustadz/guru berbeda dengan ajaran alquran tentu saja saya tidak akan turuti. sepatutnyalah ikuti saja yang ada dalam alquran, saya pribadi ga ada urusan dengan semua aliran apapun, karena memang tidak ada ajaran berdasarkan aliran tertentu, kecuali aturan/hukum yang ada di alquran. kepada admin, terima kasih saya jadi mengetahui yang benar. semoga Allah selalu melimpahkan taufik dan hidayahnya selalu. amin Laporkan
no

Jawab

+2 Dukung Tentang

ana · 11 minggu yang lalu
yang sering muncul di indonesia ini , sering mengkafirkan tapi tak tau kekafirannya, sering menyalahkan tak tau kesalahannya. Laporkan
no

Jawab

1 Jawab · Aktif 1 minggu yang lalu +3 Dukung Tentang

wahyu · 9 minggu yang lalu
Ada kitab-kitab yang dianggap kitab suci selain Al Qur'an yaitu : Barzanji, Ihya Ulumuddin, dll Laporkan
no

Jawab

+2 Dukung Tentang

Suarni Burdad · 8 minggu yang lalu
di sebagian kelompok masyarakat , kitab ini digemari untuk di baca/dilagukan. semoga mereka mengerti apa yang mereka kerjakan. Laporkan
no

Jawab

0 Dukung Tentang

junedi ubaidillah · 7 minggu yang lalu
assalamu'alaikum..semangat dalam dakwah. .http://tentarakecilku.blogspot.com/ Laporkan
no

Jawab

Fatwa Tentang Hukum Perayaan Maulid Nabi

Pertanyaan : Apa hukum perayaan hari kelahiran Nabi?

Jawaban :

Pertama: Malam kelahiran Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam tidak diketahui secara pasti, tapi sebagian ulama kontemporer memastikan bahwa itu pada malam kesembilan Rabi‟ul Awal, bukan malam kedua belasnya. Kalau demikian, perayaan pada malam kedua belas tidak benar menurut sejarah.

Kedua: Dipandang dari segi syar‟iat, perayaan itu tidak ada asalnya. Seandainya itu termasuk syari‟at Allah, tentu Nabi shallallahu „alaihi wa sallam telah melakukannya dan telah menyampaikannya kepada ummatnya, dan seandainya beliau melakukan dan menyampaikannya, tentulah syari‟at ini akan terpelihara, karena Allah telah berfirman, .]9 :

ْ َّ ‫{ إَِّٔب َٔحُٓ َٔضٌَٕب اٌزوش ٚإَِّٔب ٌَُٗ ٌَحبفِظُْٛ } [عٛسح اٌحجش‬ َ ْ َ َ َ ْ ِّ

“Sesungguhnya Kami-lah yang menururnkan al-Qur‟an, dan sesungguhnya Kami benarbenar memeliharanya.” (Al-Hijr: 9)

Karena tidak demikian, maka diketahui perayaan (maulid) itu bukan dari agama Allah, dan jika bukan dari agama Allah, maka tidak boleh kita beribadah dengannya dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan itu. Untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah, Allah telah menetapkan cara tertentu untuk mencapainya, yaitu yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam. Bagaimana mungkin kita, sebagai hamba biasa, mesti membuat cara sendiri yang berasal dari diri kita untuk mengantarkan kita mencapainya? Sungguh perbuatan ini merupakan kejahatan terhadap hak Allah karena kita melakukan sesuatu dalam agama-Nya yang tidak berasal dari-Nya, lain dari itu, perbuatan ini berarti mendustakan firman Allah,

ِٟ‫اٌ١ََٛ أَوٍّذُ ٌَىُ د٠َٕىُ ٚأَرّّذُ ػٍَ١ىُ ِٔؼّز‬ َ ْ ُْْ َ ْ َ ْ َ ُْ ِ ُْ َْ ْ َ ْ ْ
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku.” (Al-Maaidah: 3)

Kami katakan: Perayaan (maulid) ini, jika memang termasuk kesempurnaan agama, mestinya telah ada semenjak sebelum wafatnya Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam, dan jika tidak termasuk kesempurnaan agama, maka tidak mungkin termasuk agama, karena Allah telah berfirman, ‫اليَىْ م أَكو ْلت لَكن ديٌَكن‬ ُْ ِ ُْ ُ َ ْ َ ْ “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu”. Orang yang mengklaim bahwa ini termasuk kesempurnaan agama dan diadakan setelah wafatnya Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam, maka ucapannya mengandung pendustaan terhadap ayat yang mulia tadi. Tidak diragukan lagi, bahwa orang-orang yang menyelenggarakan perayaan hari kelahiran Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam hanyalah hendak mengagungkan Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam dan menunjukkan kecintaan terhadap beliau serta membangkitkan semangat yang ada pada mereka. Semua ini termasuk ibadah, mencintai Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam juga merupakan ibadah, bahkan tidak sempurna keimanan seseorang sehingga menjadikan Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam lebih dicintai daripada dirinya sendiri, anaknya, orang tuanya dan manusia lainnya. Mengagungkan Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam juga termasuk ibadah. Demikian juga kecenderungan terhadap Nabi shallallahu „alaihi wa sallam termasuk bagian dari agama, karena mengandung kecenderungan terhadap syariatnya. Jadi perayaan hari kelahiran Nabi shallallahu „alaihi wa sallam untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mengagungkan RasulNya merupakan ibadah. Karena ini merupakan ibadah, sementara ibadah itu sama sekali tidak boleh dilakukan sesuatu yang baru dalam agama Allah yang tidak berasal darinya, maka perayaan hari kelahiran (maulid) ini bid‟ah dan haram. Kemudian dari itu, kami juga mendengar, bahwa dalam perayaan ini terdapat kemunkaran-kemunkaran besar yang tidak diakui syari‟at, naluri dan akal, di mana para pelakunya mendendangkan qasidah-qasidah yang mengandung ghuluw (berlebih-lebihan) dalam mengagungkan Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam, sampai-sampai memposisikan beliau lebih utama dari Allah. Na‟udzubillah. Di antaranya pula, kami mendengar dari kebodohan para pelakunya, ketika dibacakan kisah kelahiran beliau, lalu kalimat bacaannya itu sampai kepada kalimat “wulida al-musthafa” mereka semuanya berdiri dengan satu kaki, mereka berujar bahwa ruh Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam hadir di situ maka kami berdiri memuliakannya. Sungguh ini suatu kebodohan. Kemudian dari itu, berdirinya mereka tidak termasuk adab, karena Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam sendiri tidak menyukai orang berdiri untuknya, Para sahabat beliau merupakan orang-orang yang mencintai dan memuliakan beliau, tidak pernah berdiri untuk beliau, karena mereka tahu bahwa beliau tidak menyukainya, padahal saat itu beliau masih hidup. Bagaimana bisa kini khayalan-khayalan mereka seperti itu?

Bid‟ah ini — yaitu bid‟ah maulid— terjadi setelah berlalunya tiga generasi yang utama (sahabat Nabi shallallahu „alaihi wa sallam, tabi‟ien, dan tabi‟it tabi‟ien; red) dan di dalam

‫‪bid‟ah maulid itu terjadi apa yang mengiringinya berupa perkara-perkara yang munkar‬‬ ‫‪(buruk) yang aslinya di dalam agama tidak ada, di samping itu ada pula di dalam perayaan‬‬ ‫‪maulid itu ikhtilath (campur aduk) antara lelaki dan perempuan, dan kemunkaran‬‬‫.)132 ‪kemunkaran lainnya. (Majmu‟ Fatawa dan Rasaail Ibn „Utsaimin, juz 2 halaman‬‬

‫‪Teks Fatwa Syaikh Ibn „Utsaimin Tentang Maulid‬‬

‫130)‬

‫ِجّٛع فزبٜٚ ٚسعبئً اثٓ ػض١ّ١ٓ – (ط 0 / ؿ‬

‫)053(ٚعئً فض١ٍخ اٌؾ١خ جضاٖ هللا ػٓ اإلعًلَ ٚاٌّغٍّ١ٓ خ١ش اٌجضاء : ػٓ حىُ‬ ‫اَلحزفبي ثبٌٌّٛذ إٌجٛٞ ؟‬ ‫فؤجبة لبئًلا : أَٚلا : ٌ١ٍخ ٌِٛذ اٌشعٛي ، صٍٝ هللا ػٍ١ٗ ٚعٍُ ، ٌ١غذ ِؼٍِٛخ ػٍٝ‬ ‫اٌٛجٗ اٌمطؼٟ ، ثً إْ ثؼض اٌؼصش٠١ٓ حمك أٔٙب ٌ١ٍخ اٌزبعغ ِٓ سث١غ األٚي‬ ‫ٌٚ١غذ ٌ١ٍخ اٌضبٟٔ ػؾش ِٕٗ، ٚح١ٕئز فجؼً اَلحزفبي ٌ١ٍخ اٌضبٟٔ ػؾش ِٕٗ َل أصً‬ ‫ٌٗ ِٓ إٌبح١خ اٌزبس٠خ١خ.‬ ‫صبٔ١ب ا : ِٓ إٌبح١خ اٌؾشػ١خ فبَلحزفبي َل أصً ٌٗ أ٠ضب ا ألٔٗ ٌٛ وبْ ِٓ ؽشع هللا‬ ‫ٌفؼٍٗ إٌجٟ ، صٍٝ هللا ػٍ١ٗ ٚعٍُ، أٚ ثٍغٗ ألِزٗ ٌٚٛ فؼٍٗ أٚ ثٍغٗ ٌٛجت أْ ٠ىْٛ‬ ‫ِحفٛظب ا ألْ هللا– رؼبٌٝ– ٠مٛي إٔب ٔحٓ ٔضٌٕب اٌزوش ٚإٔب ٌٗ ٌحبفظْٛ( (1) فٍّب ٌُ‬ ‫٠ىٓ ؽٟء ِٓ رٌه ػٍُ أٔٗ ٌ١ظ ِٓ د٠ٓ هللا ، ٚإرا ٌُ ٠ىٓ ِٓ د٠ٓ هللا فئٔٗ َل ٠جٛص‬ ‫ٌٕب أْ ٔزؼجذ ثٗ هلل – ػض ٚجً – ٚٔزمشة ثٗ إٌ١ٗ ، فئرا وبْ هللا رؼبٌٝ – لذ ٚضغ‬ ‫ٌٍٛصٛي إٌ١ٗ طش٠مب ا ِؼ١ٕب ا ٚ٘ٛ ِب جبء ثٗ اٌشعٛي ، صٍٝ هللا ػٍ١ٗ ٚعٍُ ، فى١ف‬ ‫٠غٛؽ ٌٕب ٚٔحٓ ػجبد أْ ٔؤرٟ ثطش٠ك ِٓ ػٕذ أٔفغٕب ٠ٛصٍٕب إٌٝ هللا؟ ٘زا ِٓ‬ ‫اٌجٕب٠خ فٟ حك هللا – ػض ٚجً- أْ ٔؾشع فٟ د٠ٕٗ ِب ٌ١ظ ِٕٗ، وّب أٔٗ ٠زضّٓ‬ ‫رىز٠ت لٛي هللا – ػض ٚجً-: (اٌ١َٛ أوٍّذ ٌىُ د٠ٕىُ ٚأرّّذ ػٍ١ىُ ٔؼّزٟ( (0)‬ ‫__________‬
‫“9 . ”‬

‫)1(عٛسح اٌحجش ، ا٢٠خ‬

‫3.“‬

‫)2(عٛسح اٌّبئذح ، ا٢٠خ “‬

‫030)‬

‫ِجّٛع فزبٜٚ ٚسعبئً اثٓ ػض١ّ١ٓ - (ط 0 / ؿ‬

‫فٕمٛي :٘زا اَلحزفبي إْ وبْ ِٓ وّبي اٌذ٠ٓ فًل ثذ أْ ٠ىْٛ ِٛجٛداا لجً ِٛد‬ ‫اٌشعٛي ، ػٍ١ٗ اٌصًلح ٚاٌغًلَ ، ٚإْ ٌُ ٠ىٓ ِٓ وّبي اٌذ٠ٓ فئٔٗ َل ٠ّىٓ أْ ٠ىْٛ‬ ‫ِٓ اٌذ٠ٓ ألْ هللا – رؼبٌٝ – ٠مٛي : ( اٌ١َٛ أوٍّذ ٌىُ د٠ٕىُ( ِٚٓ صػُ أٔٗ ِٓ‬ ‫وّبي اٌذ٠ٓ ٚلذ حذس ثؼذ اٌشعٛي ، صٍٝ هللا ػٍ١ٗ ٚعٍُ ، فئْ لٌٛٗ ٠زضّٓ رىز٠ت‬ ‫٘زٖ ا٢٠خ اٌىش٠ّخ، َٚل س٠ت أْ اٌز٠ٓ ٠حزفٍْٛ ثٌّٛذ اٌشعٛي ، ػٍ١ٗ اٌصًلح‬ ‫ٚاٌغًلَ ، إّٔب ٠ش٠ذْٚ ثزٌه رؼظ١ُ اٌشعٛي ،ػٍ١ٗ اٌصًلح ٚاٌغًلَ، ٚإظٙبس ِحجزٗ‬ ‫ٚرٕؾ١ظ اٌُّٙ ػٍٝ أْ ٠ٛجذ ُِٕٙ ػبطفخ فٟ رٌه اَلحزفبي ٌٍٕجٟ ، صٍٝ هللا ػٍ١ٗ‬ ‫ٚعٍُ ، ٚوً ٘زا ِٓ اٌؼجبداد ؛ ِحجخ اٌشعٛي ، صٍٝ هللا ػٍ١ٗ ٚعٍُ ، ػجبدح ثً َل‬ ‫٠زُ اإل٠ّبْ حزٝ ٠ىْٛ اٌشعٛي، صٍٝ هللا ػٍ١ٗ ٚعٍُ ، أحت إٌٝ اإلٔغبْ ِٓ ٔفغٗ‬ ‫ٌٚٚذٖ ٚٚاٌذٖ ٚإٌبط أجّؼ١ٓ ، ٚرؼظ١ُ اٌشعٛي ، صٍٝ هللا ػٍ١ٗ ٚعٍُ ، ِٓ‬ ‫اٌؼجبدح ، وزٌه إٌٙبة اٌؼٛاطف ٔحٛ إٌجٟ ، صٍٝ هللا ػٍ١ٗ ٚعٍُ ، ِٓ اٌذ٠ٓ أ٠ضب ا‬ ‫ٌّب ف١ٗ ِٓ اٌّ١ً إٌٝ ؽش٠ؼزٗ ، إراا فبَلحزفبي ثٌّٛذ إٌجٟ ، صٍٝ هللا ػٍ١ٗ ٚعٍُ ،‬ ‫ِٓ أجً اٌزمشة إٌٝ هللا ٚرؼظ١ُ سعٌٛٗ ، صٍٝ هللا ػٍ١ٗ ٚعٍُ ، ػجبدح ٚإرا وبْ‬ ‫ػجبدح فئٔٗ َل ٠جٛص أثذاا أْ ٠حذس فٟ د٠ٓ هللا ِبٌ١ظ ِٕٗ ، فبَلحزفبي ثبٌٌّٛذ ثذػخ‬ ‫ِٚحشَ ، صُ إٕٔب ٔغّغ أٔٗ ٠ٛجذ فٟ ٘زا اَلحزفبي ِٓ إٌّىشاد اٌؼظ١ّخ ِبَل ٠مشٖ‬ ‫ؽشع َٚل حظ َٚل ػمً فُٙ ٠زغْٕٛ ثبٌمصبئذ اٌزٟ ف١ٙب اٌغٍٛ فٟ اٌشعٛي ، ػٍ١ٗ‬ ‫اٌصًلح ٚاٌغًلَ ، حزٝ جؼٍٖٛ أوجش ِٓ هللا – ٚاٌؼ١بر ثبهلل- ِٚٓ رٌه أ٠ضب ا إٔٔب ٔغّغ‬ ‫ِٓ عفب٘خ ثؼض اٌّحزفٍ١ٓ أٔٗ إرا رًل اٌزبٌٟ لصخ اٌٌّٛذ صُ ٚصً إٌٝ لٌٛٗ ” ٌٚذ‬ ‫اٌّصطفٝ” لبِٛا جّ١ؼب ا ل١بَ سجً ٚاحذ ٠مٌْٛٛ : إْ سٚح اٌشعٛي ، صٍٝ هللا ػٍ١ٗ‬ ‫ٚعٍُ ، حضشد فٕمَٛ إجًلَلا ٌٙب ٚ٘زا عفٗ ، صُ إٔٗ ٌ١ظ ِٓ األدة أْ ٠مِٛٛا ألْ‬ ‫اٌشعٛي ، صٍٝ هللا ػٍ١ٗ ٚعٍُ ، وبْ ٠ىشٖ اٌم١بَ ٌٗ فؤصحبثٗ ُٚ٘ أؽذ إٌبط حجّب ا‬ ‫ٌٗ ٚأؽذ ِٕب رؼظ١ّب ا‬

)033

‫ِجّٛع فزبٜٚ ٚسعبئً اثٓ ػض١ّ١ٓ - (ط 0 / ؿ‬

ٟ‫ٌٍشعٛي ، صٍىبهلل ػٍ١ٗ ٚعٍُ، َل ٠مِْٛٛ ٌٗ ٌّب ٠شْٚ ِٓ وشا٘١زٗ ٌزٌه ٚ٘ٛ ح‬ !‫فى١ف ثٙزٖ اٌخ١بَلد؟‬ ‫ٚ٘زٖ اٌجذػخ – أػٕٟ ثذػخ اٌٌّٛذ – حصٍذ ثؼذ ِضٟ اٌمشْٚ اٌضًلصخ اٌّفضٍخ‬ ‫ٚحصً ف١ٙب ِب ٠صحجٙب ِٓ ٘زٖ األِٛس إٌّىشح اٌزٟ رخً ثؤصً اٌذ٠ٓ فضًلا ػّب‬ .‫٠حصً ف١ٙب ِٓ اَلخزًلط ث١ٓ اٌشجبي ٚإٌغبء ٚغ١ش رٌه ِٓ إٌّىشاد‬
16 0share 0share 17

Baca Juga:
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Fatwa Syaikh Utsaimin tentang Perayaan Maulid Nabi FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA TENTANG PERAYAAN NATAL BERSAMA Fatwa Syeikh `Utsaimin Tentang Hukum Ucapan Happy Christmas [Selamat Natal] Menganggap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Hadir FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA NOMOR : 4 TAHUN 2005 Tentang ABORSI Fatwa Bid’ahnya Acara Tahun Baru di Masjid Hukum Merayakan Valentine’s Day NABI-NABI PALSU DAN PARA PENYESAT UMAT Turunnya Nabi Isa ‘Alaihis Salam Sebelum Qiyamat Tentang Propaganda Pluralisme Agama

Masuk log
 

Tulisan ini saja Semua tulisan di blog

Berlangganan komentar untuk tulisan ini saja lewat...
 

 

Pengumpan RSS

Berlangganan lewat email
Alamat ema

Berlangganan

Ikuti diskusi ini

Komentar (4)

Sedang masuk log... Tutup

Masuk log ke IntenseDebate Or create an account
Nama pengguna atau Email: Katasandi:

Lupa nama pengguna?
OpenID Batal Masuk log

Tutup

WordPress.com

Nama pengguna atau Email: Katasandi:

Lost your password?

301591

Batal Masuk log

Tutup

Masuk log menggunakan OpenID kamu Atau buat sebuah akun menggunakan OpenID
URL OpenID: Kembali Batal Masuk log Papan instrumen | Ubah profil | Log keluar

http:// http://nahimunkar

Masuk log sebagai

Urutkan menurut: Tanggal Penilaian Aktivitas terakhir

0 Dukung Tentang

abu tabriz · 156 minggu yang lalu
Betul haram, masalahnya pihak-pihak yang melaksanakan ikut ndompleng kekuasaan, memakai sarana instansi- instansi / uang dinas / menekan kepala 2 sekolah SD.SMP,SMU lewat surat nota Dinas di jadikan kegiatan wajib tahunan, ini terjadi di Bekasi yang memanfaatkan seperti ini ya temen 2 bintang 9, bola dunia bagaimana tadz menghadapinya. Laporkan
no

Jawab

3 Jawab · Aktif 4 minggu yang lalu 0 Dukung Tentang

senju hendra uchiha · 5 minggu yang lalu
kita sbg manusia biasa tbk pntas juga m'beri fatwa2 halal&haram ttg suatu perkara agama.,., algkah baiknya kita serahkan saja pada para ulama yang lebih memiliki pengethuan dari pada kita !! klo memang maulid nabi dilarang dlm syari'at.,. knp kita tdk kompak mnangani ,maslah ini ?! bahkan di slruh pnjura dunia kbnyakan masih malakukan perkara ini !! Laporkan
no

Jawab

0 Dukung Tentang

Ibnu Yahya · 5 minggu yang lalu
^ hendra Lha, itu khan udah di jawab sama ulama nya (Fatwa Syaikh Utsaimin)... makanya akhi, ILMU lebih dahulu sebelum komen.. inget prinsip : Al-'Ilmu Qoblal Qouli waL Amal (berilmu seblum bicara dan beramal / beribadah) NB : jangan kebanyakan baca manga Naruto aj y... heheh... pis ah... afwan, jangan dimasukin ati... :) Laporkan
no

Jawab

0 Dukung Tentang

adhie · 4 minggu yang lalu

Di Masa Akhir Zaman sekarang ini lebih banyak ULAMA - ULAMA yang menyesatkan umat dengan berbagai cara, Smoga masih ada Ulama yang benar-benar bisa menegakan syariat ISLAM yang BENAR sesuai dengan Tuntunan Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah SAW. Semoga kita terlindungi dari Bid'ah-bid'ah yang nyata maupun yang tersamarkan..

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->