KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kehadapa Tuhan Yang Maha Esa.

Karena berkat berkahdan rahmatNya, kami dapat menyelesaikan laporan Biokimia ini dengan tepat waktu. Kamimenyadari bahwa laporan ini masih memiliki banyak kekurangan. Oleh karena itu, kamiharap para dosen pembimbing dapat memberikan saran dan kritik untuk memperbaiki laporanini. Sehingga di lain waktu, kami tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama dalam pembuatan laporan. Dan dapat membuat laporan dengan baik dan benar sesuai denganketentuan.Akhir kata kami ucapkan terima kasih, semoga laporan ini dapat bermanfaat terutama bagi para mahasiswa analis kesehatan Dibedakan

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN BAB II TUJUAN BAB III BAHAN DAN PROSEDUR KERJA BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB V KESIMPULAN DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN A. MAKSUD Dasar TeoriKarbohidrat merupakan senyawa karbon yang banyak dijumpai di alam,terutama sebagai penyusun utama jaringan tumbuh-tumbuhan. Nama lainkarbohidrat adalah sakarida (berasal dari bahasa latin saccharum = gula). Senyawakarbohidrat adalah polihidroksi aldehida atau polihidroksi keton yangmengandung unsur-unsur karbon (C), hidrogen (H), dan oksigen (O) denganrumus empiris total (CH 2 O) n

batang. yang terdiri atasdua satuan monosakarida dan dapat dihidrolisis menjadi monosakarida. yaitu:1.diantaranya glukosa yang mempunyai rumus molekul C 6 H 12 O 6 . Bentuk C yang dimiliki dan sebagai aldosa atau ketosa. sedangkan yang lain sebagi penyusun struktur di dalam dinding sel dan jaringan pengikat. karbohidrat disintesis daro CO 2 dan H 2 O melalui rosesfotosinteseis dalam sel berklorofil dengan bantuan sinar matahari.Karbohidrat dalam tubuh manusia dan hewandibentuk dari beberapa asam amino. Beberapa polisakarida berfungsi sebagai bentuk penyimpanan bagi monosakarida. Polisakarida : karbohidrat yang tersusun lebih dari sepuluh satuanmonosakarida dan dapat berantai lurus atau bercabang. Karbohidrat paling sederhana adalah monosakarida. hewan. dan fruktosa.dapat diketahui bahwa senyawa ini merupakansuatu polimer yang tersusun atas monomer.3. Oligosakarida : karbohidrat yang tersusun dari dua sampai sepuluh satuanmonosakarida.dan tumbuhan disamping lemak dan protein. Karbohidratyang dihasilkan merupakan cadangan makanan yang disimpan dalam akar.Karbohidrat merupakan bahan yang sangat diperlukan tubuh manusia.2. Sebagian besar karbohidrat yang ditemukan di alam terdapat sebagai polisakarida dengan berat molekul tinggi. Senyawa ini dalam jaringanmerupakan cdangan makanan atau energi yang disimpan dalam sel. Monosakarida : karbohidrat paling sederhana yang tidak dapat dihidrolisismenjadi ini dibedakan kembali menurut jumlah atom karbohidrat lain. dan sebagian besar diperolehdari makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Berdasarkan monomer yang menyusunnya. Monosakarida yang terpentingadalah galaktosa.dan biji sebagai pati (amilum). maltosa. Contoh lainnya tercantum dalamtabel. gliserol lemak.Contoh: sukrosa. Karbohidrat dalam sel tubuhdisimpan dalam hati dan jaringan otot dalam bentuk glikogen. dan laktosa.Pada tumbuhan. karbohidrat menjadi 3 golongan. glukosa.monomer.. Oligosakarida yang umum adalah disakarida. Klasifikasi Karbohidrat Dari rumus umum karbohidrat. Polisakarida dapatdihidrolisis oleh asam atau enzim tertentu yang kerjanya .

Pada awal program yodisasi garam terjadi penurunan prevalensi gondok. Hidrolisissebagian polisakarida menghasilkan oligosakarida dan dapat digunakan untuk menentukan struktur molekul polisakarida. Di satu pihak masyarakat dianjurkan untuk mengonsumsi garam beryodium. Mengidentifikasi adanya karbohidrat dalam sutau bahan secara kualitatif. Cont juanTujuan dari percobaan ini :1. Ketidakefektifan umumnya terjadi justru karena kegagalan pasokan.spesifik. bahkan bila digunakan membuat sambal atau masakan dengan cabai yang dihaluskan dan penambahan cuka yodium akan hilang. Apabila ini benar. namun di lain pihak ada informasi yang menyatakan bahwa sebagian besar yodium dalam garam rusak pada saat proses pemasakan. Di Guatemala.4. . merupakan pekerjaan mubazir yang sia-sia. Membedakan antara monosakarida dan disakarida dan membuktikan adanyaketosa. Namun sebelum kita menarik kesimpulan yang begitu drastis fakta justru menunjukkan bahwa yodisasi garam sangat efektif dalam menanggulangi GAKY.5. dan Afrika. Amerika Latin. prevalensi gondok kembali meningkat.! MAKALAH ini ditulis karena adanya kontroversi dalam masyarakat tentang garam beryodium. Sehingga masyarakat dianjurkan untuk menambahkan garam beryodium setelah makanan masak. Mengidentifikasi hasil hidrolisis amilum dan sukros Yodium Tidak Rusak atau Hilang dalam Pemasakan. fluktuasi pasokan garam beryodium justru semakin memperkuat bukti bahwa garam beryodium sangat efektif untuk menanggulangi masalah GAKY. Bukti empiris dari pengalaman di banyak negara di dunia dari Amerika Utara. maka gugur semua teori dan upaya untuk mencegah gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY) dengan yodisasi garam yang sudah dilakukan lebih dari 20 tahun. prevalensi gondok turun drastis. Membuktikan adanya polisakarida dan adanya gula pereduksi.3. Hal ini membuktikan bahwa yodium masih ada dan dapat dimanfaatkan oleh tubuh. seperti di Afrika dan Mediteran. Setelah situasi normal pasokan garam beryodium dapat berlangsung secara lancar. apa yang dilakukan pemerintah selama ini. Asia..2. Saat terganggu pasokan garam beryodium karena peperangan. Membedakan antara glukosa dan galaktosa. Hal ini ditunjukkan oleh penelitian-penelitian maupun dalam program penanggulangan GAKY di dalam negeri maupun beberapa negara di dunia. Jadi. kalau ada yang menyatakan bahwa yodium hilang maupun rusak dalam pemasakan mesti ada sesuatu yang keliru. Ini berarti. Apalagi jenis bumbu yang digunakan negara Amerika Latin pun banyak menggunakan lada dan cabai. menunjukkan bahwa garam yodium sangat efektif dalam penanggulangan GAKY.

Metode ini dapat mendeteksi yodium bila kadarnya paling rendah 10 ppm.1 persen.9 persen. namun karena menggunakan alat yang lebih sensitif masih 15 persen yodium yang terdeteksi. yang pada intinya menyatakan yodisasi garam untuk penanggulangan GAKY tidak ada gunanya. dan bahkan masih ada para ahli gizi pada awal Juli 2002 saat Kongres Persatuan Ahli Gizi dan Temu Ilmiah di Jakarta yang masih menganggap bahwa yodium rusak atau hilang dalam pemasakan menggunakan cabai atau cuka. Begitu melihat hasil ini peneliti langsung memaparkan hasil penelitiannya dalam suatu pertemuan.9 persen pada yodium 40 ppm. dan bukti empiris dari penggunaan garam beryodium di dunia. Pada kadar yodium 40 ppm yodium yang terdeteksi 17. Bukittinggi (daerah pengonsumsi cabai merah). Penambahan cabai rawit mengakibatkan yodium yang terdeteksi menjadi lebih rendah. Namun. . Penelitian dengan yodium yang diberi label menunjukkan bahwa penggunaan cabai dalam masakan. 90 persen masih dapat dideteksi di dalam makanan. dibandingkan dengan cabai merah. mengukur kadar yodium dalam urine murid wanita SLTA di Yogyakarta (daerah bukan pengonsumsi cabai). bahwa informasi rusaknya dan hilangnya garam beryodium dalam pemasakan adalah tidak benar. Berdasarkan temuan ini disimpulkan bahwa sebagian besar yodium hilang dalam pemasakan. Penambahan cuka makan 25 persen selain cabai mengakibatkan yodium yang dideteksi masih 77 persen. Puslitbang Gizi juga melakukan penelitian yang sama. dan yodium yang masih ada dalam masakan dapat dicerna tubuh. Kronologis pemasakan Pada tahun 1996 suatu penelitian dilakukan di Bali untuk mengukur kadar yodium dalam sayuran dengan cabai dan masakan dengan menggunakan metode yodometri. terutama bila dimasak dengan cabai dan apalagi bila ditambah cuka. bahkan ilmuwan. Beberapa mereka-reka kejadian ini dengan menghubungkan sifat yodium dalam bentuk I2 yang mudah menguap. pada tahun 1999 dua penelitian telah dilakukan oleh Puslitbang Gizi dengan bantuan dana dari Unicef. Penelitian laboratorium yaitu dengan pelabelan di yodium dengan metode radio isotop untuk melacak yodium dari garam dalam masakan. yang ditunjukkan dengan tingginya kadar yodium dalam urine anak sekolah di ketiga daerah penelitian. Penelitian laboratorium menunjukkan bahwa yodium masih ada di dalam masakan. Penambahan cuka ternyata juga memperkecil yodium yang dapat terdeteksi dengan metode Wet Digestion sampai 11. 1.3 persen pada yodium 80 ppm.6 persen pada penambahan garam dengan kadar 80 ppm. Dengan cara ini kadar yodium serendah-rendahnya 1 ppm dapat didieteksi. Penelitian epidemiolgi. sedangkan pada yodium 80 ppm yang terdeteksi 15. namun hanya 17. Kebenaran penelitian Namun. contoh. tidak ada yodium yang dapat dideteksi. Lebih ironis lagi. Dengan penambahan cabai merah saja yodium yang terdeteksi hanya 22. upaya pembuktian masih belum memuaskan semua orang. sudah dilakukan upaya untuk menjelaskan kebenaran masalah ini oleh departemen terkait dan Unicef. Penelitian ini dilakukan untuk membuktikan apakah yodium dalam garam yang dimasukkan ke dalam masakan masih dapat dimanfaatkan oleh tubuh. Analisis pada masakan dengan dua jenis cabai yang berbeda serta penambahan cuka yang berbeda menunjukkan yodium yang masih dapat dideteksi berkisar antara 14 persen sampai 22 persen untuk penambahan garam dengan yodium 40 ppm dan antara 10 persen sampai 17 persen pada penambahan yodium 80 ppm. hanya metode yang digunakan lebih teliti yaitu dengan Wet Digestion yang kemudian dibaca dengan colorimetry. Dua hasil penelitian ini saling menunjang. kontroversi masih tetap ada di masyarakat umum. Untuk menyelamatkan program yang sudah dilaksanakan dan mengurangi kesia-siaan dari yodisasi garam.Sebenarnya. Hasil analisis ulang terhadap campuran garam beryodium 40 ppm dan 80 ppm juga serupa. pertanyaan ini muncul dalam Seminar Nasional GAKY yang di adakan 4-6 November 2001 di Semarang. pejabat. Usulan sederhana yang tidak sederhana seperti yang telah dibahas di atas. Karena itu. 2. Hasilnya juga sama. keluarlah anjuran untuk membubuhkan garam setelah hidangan masak (matang). Untuk mengetahui kebenaran dari hasil penelitian ini. Hal ini didasarkan kepada fakta. dan Tombatu serta Kawangkoan di Sulawesi Utara (daerah pengonsumsi cabai rawit). Hasilnya.

Kesimpulannya adalah bila digunakan garam dengan kadar yodium 30 ppm. atau dengan colorimetri. Pertanyaan yang timbul adalah. dengan kedua cara ini akan memberikan hasil yang sangat baik. Pada saat KIO3 berada dalam garam pengujian. Sumber : Kompas (23 Agustus 2002) . Namun. akibatnya tidak bisa terdeteksi dengan titrasi maupun colorimetri. memang tidak semua yodium dapat dideteksi hanya 90 persen dan penambahan cuka mengakibatkan yodium yang terdeteksi hanya tinggal 77 persen. walaupun dalam pengujian secara kimiawi yodium tidak dapat dideteksi. namun dalam tubuh yodium dapat diserap. masingmasing di Gunung Kidul. pertanyaan lain muncul apakah yodium yang terikat dalam garam kompleks dapat dimanfaatkan oleh tubuh? Lebih jauh lagi. maka konsumsi yodium 165 mg per orang per hari. yang masih lebih tinggi dari kebutuhan 150 mg per hari. Karena dalam reaksi dengan asam kuat akan timbul yodium bebas yang dapat dideteksi dengan titrasi.0 mg/L. baik dengan titrasi maupun colorimetry. Walaupun demikian. terbukti dengan kadar yodium dalam urine yang masih di atas 100 mg/L. dan Minahasa. apalagi cabai yang mempunyai rumus kimia yang panjang. Semua masih berada di atas batas 100 mg/L.0 mg/L.Penelitian kadar yodium dalam urine di tiga daerah menunjukkan yodium dalam urine murid perempuan SLTA masih tinggi. begitu dicampur dengan bumbu yodium membentuk ikatan kompleks. 174. dan 129. Hal ini terbukti dengan pelabelan yodium dengan menggunakan radio isotop. Yodium bebas inilah yang dideteksi. yang mengakibatkan munculnya yodium bebas. Bukittinggi. Namun.5 mg/L. Median yodium dalam urine murid perempuan SLTA sampel masing-masing 212. Padahal yodium tidak hilang atau rusak. ternyata yodium terdeteksi berada dalam makanan yang bersangkutan. sehingga penambahan asam kuat pun sebagian besar yodium tidak terurai bebas. kenapa dengan metode iodometri dan wet digestion hanya sedikit bahkan tidak ada sama sekali yodium yang dapat diidentifikasi dalam makanan dengan bumbu cabai dan apalagi ditambah cuka? Secara kasar kedua metode ini menggunakan dasar reaksi kimiawi. walaupun ibu memasak dengan cara memasukkan garam selama proses pemasakan (tidak harus ditunggu setelah yang dimasak matang). 77 persen sudah cukup memenuhi kebutuhan yodium bila digunakan garam dengan kadar yodium 30 ppm. dengan amylum. Namun. yang menunjukkan bahwa wilayah yang bersangkutan tidak termasuk daerah kekurangan yodium.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful