P. 1
Sosiolinguistik Mengkaji Hubungan Bahasa Dan Masyarakat

Sosiolinguistik Mengkaji Hubungan Bahasa Dan Masyarakat

|Views: 2,517|Likes:
Published by Norhana Md Zin

More info:

Published by: Norhana Md Zin on Mar 11, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/27/2013

pdf

text

original

Sosiolinguistik mengkaji hubungan bahasa dan masyarakat, yang nengaitkan dua bidang yang dapat dikaji secara terpisah

, yaitu struktur formal bahasa oleh linguistik dan struktur masyarakat oleh sosiologi (Wardhaugh 1984: 4; Holmes 1993: 1; Hudson 1996: 2). Istilah sosiolinguistik itu sendiri baru muncul pada tahun 1952 dalam Kaya Haver C Currie (dalam Dittmar 1976: 27) yang menyatakan perlu adanya kajian mengenai hubungan antara perilaku ujaran dengan status sosial. Disiplin ini mulai berkembang pada akhir tahun 60-an yang diujungtombaki oleh Committee on Sociolinguistics of the Social Science Research Council (1964) dan Research Committee on Sociolinguistics of the International Sociology Association (1967). Jurnal sosiolinguistik baru terbit pada awal tahun 70-an, yakni Language in Society (1972) dan International Journal of Sociology of Language (1974). Dari kenyataan itu dapat dimengerti bahwa sosiolinguistik merupakan bidang yang relatif baru. Pemilihan bahasa dalam masyarakat multibahasa merupakan gejala yang menarik untuk dikaji dari perspektif sosiolingistik. Bahkan Fasold (1984: 180) mengemukakan bahwa sosiolionguistik dapat menjadi bidang studi karena adanya pemilihan bahasa. Fasold memberikan ilustrasi dengan istilah societal multilingualism yang mengacu pada kenyataan adanya banyak bahasa dalam masyarakat. Tidaklah ada bahasan tentang diglosia apabila tidak ada variasi tinggi dan rendah. Pada kenyataannya setiap bab dari buku sosiolinguistik karya Fasold (1984) memusatkan pada paparan tentang kemungkinan adanya pemilihan bahasa yang dilakukan masyarakat terhadap penggunaan variasi bahasa. Statistik sekalipun menurut Fasold tidak akan diperlukan dalam sosiolinguistik apabila tidak ada variasi penggunaan bahasa dan pemilihan di antara variasivariasi tersebut. KONSEP DAN KATEGORI PEMILIHAN BAHASA Dalam masyarakat multibahasa tersedia berbagai kode, baik berupa bahasa, dialek, variasi, dan gaya untuk digunakan dalam interaksi sosial. Untuk istilah terakhir, Kartomihardjo (1988) lebih suka mempergunakan istilah ragam sebagai padanan dari style. Dengan tersedianya kode-kode itu, anggoa masyarakat akan memilih kode yang tersedia sesuai dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Dalam interaksi sehari-hari, anggota masyarakat secara konstan mengubah variasi penggunaan bahasanya. Pemilihan bahasa menurut Fasold (1984: 180) tidak sesederhana yang kita bayangkan, yakni memilih sebuah bahasa secara keseluruhan (whole language) dalam suatu peristiwa komunikasi. Kita membayangkan seseorang yang menguasai dua bahasa atau lebih harus memilih bahasa mana yang akan ia gunakan. Misalnya, seseorang yang menguasai bahasa Jawa dan bahasa Indonesia harus memilih salah satu di antara kedua bahasa itu ketika berbicara kepada orang lain dalam peristiwa komunikasi. Dalam pemilihan bahasa terdapat tiga kategori pemilihan. Pertama, dengan memilih satu variasi dari bahasa yang sama (intra language variation). Apabila seorang penutur bahasa Jawa berbicara kepada orang lain dengan menggunakan bahasa Jawa krama, misalnya, maka ia telah melakukan pemilihan bahasa kategori pertama ini. Kedua, dengan melakukan alih kode (code switching), artinya menggunakan satu bahasa pada satu keperluan dan menggunakan bahasa yang lain pada keperluan lain dalam satu peristiwa komunikasi. Ketiga, dengan melakukan

yaitu pemakaian satu kata. (2) partisipan dalam interkasi. Groesjean (1982: 136) mengemukakan empat faktor yang mempengaruhi pemilihan bahasa dalam interaksi sosial. Faktor situasi mengacu pada (1) lokasi atau latar.campur kode (code mixing) artinya menggunakan satu bahasa tertentu dengan bercampur serpihan-serpihan dari bahasa lain. keberhasilan anak. Evin-Tripp (1972) mengidentifikaskan empat faktor utama sebagai penanda pemilihan bahasa penutur dalam interkasi sosial. (2) penciptaan jarak sosial. peristiwa-peristiwa aktual. kebiasaan rutin (salam. dan perannnya dalam hubungan dengan mitra tutur. yaitu (1) alih kode situasional (situational switching) dan (2) alih kode metaforis. Di Indonesia. Faktor kedua mencakup hal-hal seperti usia. meminta maaf. atau mengucapkan terima kasih). Fatkor fungsi iteraksi mencakupi aspek (1) menaikkan status. Nababan (1978: 7) menyebutnya dengan istilah bahasa gado-gado untuk pemakaian bahasa campuran antara bahasa Indonesia dan bahasa daerah. permohonan. Peristiwa alih kode dapat terjadi karena beberapa faktor. jenis kelamin. dan topik harga barang di pasar. Di Filipina menurut Sibayan dan Segovia (1980: 113) disebut mix-mix atau halu-halu atau taglish untuk pemakaian bahasa campuran antara bahasa Tagalog dan bahasa Inggris. atau frase. pekerjaan. Faktor kedua menyangkut penekanan kata-kata tertentu atau penghindaran terhadap kata-kata yang tabu. FAKTOR PEMILIHAN BAHASA Pemilihan bahasa dalam interaksi sosial masyarakat dwibahasa/multibahasa disebabkan oleh berbagai faktor sosial dan budaya. Campur kode merupakan peristiwa percampuran dua atau lebih bahasa atau ragam bahasa dalam suatu peristiwa tutur. (3) topik percakapan. dan tawar-menawar barang di pasar. Hubungan dengan mitra tutur dapat berupa hubungan akrab dan berjarak. (3) tingkat formalitas. rapat di keluarahan. kuliah. . Faktor pertama dapat berupa hal-hal seperti makan pagi di lingkungan keluarga. Faktor pertama menyangkut situasi seperti kehadiran orang ketiga dalam peristiwa tutur yang sedang berlangsung dan perubahan topik pembicaraan. Faktor ketiga dapat berupa topik tentang pekerjaan. dan (4) fungsi interaksi. dan (2) tipe kosakata. Faktor keempat berupa fuingsi interaksi seperti penawaran. yaitu (1) latar (waktu dan tempat) dan situasi. Menurut Blom dan Gumperz (1972: 408-409) teradapat dua macam alih kode. status sosial ekonomi. (2) situasi. yakni respon penutur terhadap situasi tutur dan faktor retoris. Reyfield (1970: 54-58) berdasarkan studinya terhadap masyarakat dwibahasa Yahudi-Inggris di Amerika mengemukakan dua faktor utama. (3) isi wacana. (2) kehadiran pembicara monolingual. dan (4) memerintah atau meminta. ungkapan. yaitu (1) partisipan. dan (4) tingkat keakraban. Di dalam masyarakat tutur Jawa yang diteliti ini juga terdapat gejala ini. Senada dengan Evin-Tripp. (3) melarang masuk/ mengeluarkan seseorang dari pembicaraan. dan (4) fungsi interaksi. menyanmpaikan informasi. Faktor isi wacana mengacu pada (1) topik pembicaraan. Alih kode yang pertama terjadi karena perubahan situasi dan alih kode yang kedua terjadi karena bahasa atau ragam bahasa yang dipakai merupakan metafor yang melambangkan identitas penutur. Gejala seperti ini cenderug mendekati pengertian yang dikemukakan oleh Haugen (1972: 79-80) sebagai bahasa campuran (mixture of language). selamatan kelahiran di sebuah keluarga.

dan partisipan. Pendekatan ini lebih berorientasi pada individu seperti motivasi individu daripada berorientasi pada masyarakat.Dari paparan berbagai faktor di atas. di sekolah akan memilih bahasa Spanyol. Dalam penelitiannya tentang pemilihan bahasa Guarani dan Spanyol di Paraguay Rubin menyimpulkan bahwa lokasi interaksi yaitu (1) desa. (1973). Ketiga pendekatan itu dapat dijelaskan sebagai berikut. yaitu pendekatan sosiologi. ketetanggaan. (2) sekolah. dan pendekatan antropologi. misalnya keluarga. Di desa pembicara akan memilih bahaa Guarani. PENDEKATAN KAJIAN PEMILIHAN BAHASA Kajian pemilihan bahasa menurut Fasold (1984: 183) dapat dilakukan berdasarkan tiga pendekatan. dan pekerjaan. dan di tempat umum memilih bahasa Spanyol. Gal (1982) menemukan bukti bahwa karakteristik penutur dan mitra tutur merupakan faktor yang paling menentukan dalam pemilihan bahasa dalam masyarakat tersebut. . Dalam pemilihan bahasa salah satu situasi lebih dominan daripada situasi lain. Pendekatan ini pertama kali dikemukakan oleh Fishman (1964). penutur itu dikatakan berada pada ranah keluarga. Sebagai contoh. Rubin (1982) menemukan faktor penentu yang terpenting adalah lokasi tempat berlangsungya peristiwa tutur. Pendekatan sosiologi berkaitan dengan analisis ranah. Situasi yang dimaksud adalah (1) kebutuhan personal (personal needs). dan (3) tempat umum sangat menentukan pemilihan bahasa masyarakat. apabila penutur berbicara di rumah dengan seorang anggota keluarga mengenai sebuah topik. dan tempat komunikasi di dalam keselarasan dengan pranata masyarakat dan merupakan bagian dari aktivitas masyarakat tutur (Fishman dalam Pride dan Holmes (eds) 1972). (2) situasi latar belakang (background situation) dan (3) situasi sesaat (immediate situation). Herman (dalam Fasold 1984) mengemukakan teori situasi tumpang tindih yang mempengaruhi seseorang di dalam memilih bahasa. Ranah didefinisikan pula sebagai konsepsi sosiokultural yang diabstraksikan dari topik komunikasi. pendekatan psikologi sosial. Berbeda dengan pendekatan sosiologi. agama. yang perlu diperhatikan adalah bahwa tidak terdapat faktor tunggal yang dapat mempengaruhi pemilihan bahasa sesorang. Kajian penelitian pemilihan bahasa yang pernah dilakukan menunjukkan bahwa suatu faktor menduduki kedudukan yang lebih penting daripada faktor lain. serta Bourhish dan Taylor (1977). (1987) mengemukakakan bahwa ranah adalah konsep teoretis yang menandai satu situasi interaksi yang didasarkan pada pengalaman yang sama dan terikat oleh tujuan dan kewajiban yang sama. Karya-karya penting kajian pemilihan bahasa dengan pendekatan psikologi sosial telah dilakukan oleh Herman (1968). Giles et al. Di bagian lain Fishman (dalam Amon et al. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah faktor-faktor itu memiliki kedudukan yang sama pentingnya?. sedangkan faktor topik dan latar merupakan faktor yang kurang menentukan dalam pemilihan bahasa dibanding faktor partisipan. hubungan peran antar-komunikator. Ranah menurut Fishman merupakan konstalasi faktor lokasi. Berbeda dengan Gal. pendekatan psikologi sosial lebih tertarik pada proses psikologis manusia daripada kategori dalam masyarakat luas. topik. Pemilihan ranah dalam penelitian ini mengacu pada pendapat Fishman.

Perbedaannya adalah bahwa apabila psikologi sosial memandang dari sudut kebutuhan psikologis penutur. pendekatan yang ketiga menempatkan nilai yang tinggi pada perilaku takterkontrol yang alamiah. pendekatan antropologi tertarik dengan bagaimana seorang penutur berhubungan dengan struktur masyarakat. psikologi sosial. Seperti halnya pendekatan psikologi sosial. Implikasi dari metode ini adalah bahwa pengamat adalah peneliti yang menjadi anggota kelompok yang ditelitinya (Wiseman dan Aron 1970: 49). Sebagai contoh. akomodasi ke bawah. Kedua. yakni observasi terlibat (participant observation). dan antropologi. Pengertian kedwibahasaan selalu berkembang mulai dari pengertian yang ketat sampai kepada pengertian yang longgar. Pandangan Herman dan Giles tersebut mengimplikasikan adanya hubungan yang maknawi antara tingkat kondisi psikologis peserta tutur dan pemilihan bahasanya. Hal ini membimbing peneliti untuk menggunakan metode penelitian yang jarang digunakan oleh sosiologi dan psikologi sosial. untuk mengungkap permasalahan pemilihan bahasa perlu pula dilakukan kajian dari segi kondisi psikologis orang per orang dalam masyarakat tutur ketika mereka melakukan pemilihan bahasa atau ragam bahasa. Kajian pemilihan bahasa juga bertemali dengan situasi semacam itu sebab untuk menentukan pemilihan bahasa atau ragam bahasa tertentu pastilah ada bahasa atau ragam lain yang digunakan dalam komunikasi sehari-hari sebagai pendamping sekaligus pembanding. Menurut Giles terdapat dua arah akomodasi penutur dalam peristiwa tutur. Dari segi metodologi kajian terdapat perbedaan antara pendekatan sosiologi. Australia Timur menghabiskan waktu satu tahun untuk tinggal di sebuah keluarga setempat. Dengan menggunakan metode observasi terlibat ini antropolog dapat memberikan perspektif penjelasan atas pemilihan bahasa berdasarkan persepsinya sebagai penutur sebuah kelompok atau lebih yang dimasukinya selama mengadakan penelitian. Dua pendekatan pertama yang disebut lebih mengarahkan kajiannya pada data kuesioner dan observasi atas subjek yang ditelitinya. Blommfield dalam bukunya Language (1933) memberikan batasan kedwibahasaan sebagai gejala penguasaan bahasa seperti penutur jati (native speaker). akomodasi ke atas yang terjadi apabila penutur menyesuaikan pemilihan bahasanya dengan pemilihan bahasa mitra tutur. Sementara itu. KEDWIBAHASAAN DAN DIGLOSIA Pada umumnya sosiolinguistik mengkaji masyarakat dwibahasa atau multibahasa (Appel dan Muysken 1987. pendekatan antropologi memandangnya dari bagaimana seseorang memilih bahasa untuk mengungkapkan nilai kebudayaan (Fasold 1984: 193). Batasan . Edwards 1994). penelitian yang dilakukan oleh Susan Gal (yang mempublikasikan hasilnya tahun 1979) di Oberwart. yang terjadi apabila penutur menginginkan agar mitra tuturnya menyesuaikan dengan pemilihan bahasanya. Pertama. Penelitian pemilihan bahasa dalam masyarakat tutur Jawa di Banyumas ini pun tidak terlepas dari permasalahan kedwibahasaan. Dengan demikian.Giles (1977: 321-324) mengajukan teori akomodasi (accommodation theory). Kesesuaian pendekatan antropologi dengan penelitian ini terletak pada faktor kultural yang mempengaruhi pemilihan bahasa masyarakat tutur.

Ragam yang disebut pertama adalah ragam bahasa tinggi (T) yang dipakai dalam situasi resmi. bukan ciri kode melainkan ciri pengungkapan. Haugen (1972) merumuskan kedwibahasaan dengan rumusan yang lebih longgar. Di setiap negara itu terdapat dua ragam bahasa yang berbeda. serta bahasa Prancis dan kreol di Haiti.ini mengimplikasikan pengertian bahwa seorang dwibahasawan adalah orang yang menguasai dua bahasa dengan sama baiknya. Mengerti dua bahasa dirumuskan sebagai menguasai dua sistem kode yang berbeda dari bahasa yang berbeda atau bahasa yang sama. masing-masing adalah Katharevusa dan Dhimtiki di Yunani. Dengan membading-bandingkan pengertian kedwibahasaan dari para ahli di atas. Fishman (1972: 92) menganjurkan bahwa dalam mengkaji masyarakat dwibahasa atau multibahasa hendaknya diperhatikan kaitannya dengan ada tidaknya diglosia. dan khotbah di tempat-tempat ibadah) dianggap . Istilah diglosia diperkenalkan pertama kali oleh Ferguson (1959) untuk melukiskan situasi kebahasaan yang terdapat di Yunani. Ini berarti bahwa seorang dwibahasawan tidak perlu menguasai bahasa kedua secara aktif produktif sebagaimana dituntut oleh Bloomfield. Rumusan ini diikuti oleh Haugen (1972) mengenai dua bahasa. dan Weinreich. dan Haiti. pengertian Haugen dijadikan kerangka konsep dalam penelitian ini karena gambaran kedwibahasaan anggota masyarakat memperlihatkan berbagai tingkat penguasaan bahasa atau ragam bahasa yang tampak di dalam pemakaiannya. Kedwibahasaan dirumuskan sebagai praktik pemakaian dua bahasa secara bergantian oleh seorang penutur. Kondisi dan situasi yang dihadapi dwibahasawan turut menentukan pergantian bahasa-bahasa yang dipakai. bukan bersifat sosial melainkan individual. Mackey. Situasi yang demikan tentu di luar batasan kedwibahasaan yang ketat sebagaimana diungkapkan oleh Bloomfield. Ragam bahasa yang dipakai di dalam situasi resmi (seperti perkuliahan. dan juga merupakan karakteristik pemakaian bahasa. Pandangan Mackey didukung oleh Weinreich (1970). Macnamara (1967) mengemukakan rumusan yang lebih longgar. yaitu tahu dua bahasa. Al-fusha dan Ad-dirij di negara-negara Arab. Padahal sosiolinguistik berkepentingan dalam hal tersebut. Schriftsprache dan Schweizerdeutsch di Swis. Permasalahan kebahasaan yang dapat muncul berkaitan dengan batasan tersebut adalah bagaimana kalau kemampuan seseorang dalam bahasa kedua hanya sebatas mengerti dan dapat memahami tuturan bahasa kedua tetapi tidak mampu bertutur sehingga dalam praktik pemakaian bahasa yang melibatkan dirinya. sidang parlemen. sedangkan yang disebut kedua adalah ragam bahasa Rendah (R) yang dipakai dalam situasi sehari-hari tak resmi. Seorang dwibahasawan tidak harus menguasai secara aktif dua bahasa. Mackey (dalam Fishman ed 1968: 555) berpendapat bahwa kedwibahasaan bukanlah gejala bahasa sebagai sistem melainkan sebagai gejala penuturan. Swis. meskipun kemampuan dalam bahasa kedua hanya sampai batas minimal. melainkan cukup apabila ia memiliki kemampuan reseptif dalam bahasa kedua. negara-negara Arab. Menurutnya kedwibahasaan itu mengacu kepada pemilikan kemampuan sekurang-kurangnya bahasa pertama dan bahasa kedua. ia tidak dapat memakainya secara bertanti-ganti. penguasaan bahasa kedua secara pasif pun dipandang cukup menjadikan seseorang disebut dwibahasawan.

yang dipelajari melalui pendidikan formal dan sebagian besar dipakai untuk keperluan formal lisan dan tertulis tetapi tidak dipakai di sektor apa pun di dalam masyarakat itu untuk percakapan sehari-hari). Oleh karena itu. “ … diglossia exits not only in multilingual societies which officially recognize several “language”. yaitu bahwa ragam-ragam bahasa itu mengisi alokasi fungsi masing-masing dan bahwa ragam T hanya dipakai di dalam situasi resmi dan ragam R di dalam situasi yang tidak atau kurang resmi. Di samping perbedaan. Oleh Fishman (1972: 92) diglosia diartikan sebagai berikut. Di samping itu. Sebaliknya. and not only in societies which employ separate dialects. diglosia dapat juga ditemukan pada masyarakat yang mengenal lebih dai dua bahasa. ragam inilah yang dipakai sebagai bahasa sastra di kalangan para pemakainya. Mengingat latar belakang sejarah ragam ini yang sudah sejak lama mengenal ragam tulis dan menikmati gengsi yang tinggi itu. yang berasal dari waktu yang lampau atau yang berasal dari masyarakat bahasa lain. Pengertian tentang diglosia kemudian dikembangkan oleh Fishman (1972: 92). yang terkodifikasikan secara rapi (dan yang tatabahasanya lebih rumit). the vehicle of a large and respected body of written literature. Penguasaan atas ragam-ragam itu dapat dipakai sebagai penentu terpelajar atau tidaknya seseorang. Penguasaan atas ragam ini merupakan kebanggaan bagi pemakainya. Fishman juga berpendapat bahwa diglosia tidak hanya terdapat pada masyarakat yang mengenal satu bahasa dengan dua ragam bahasa semata-mata. either of an earlier period or in another speech community. registers. Istilah diglosia tidak hanya dikenakan pada ragam tinggi dan rendah dari bahasa yang sama akan tetapi juga dikenakan pada bahasa yang sama sekali tidak serumpun. Ragam ini mengalami proses pembakuan dan harus dipelajari di sekolah. there is a very divergent. Oleh karena itu. or funcitonally differentiated language varieties of whatever kind” (… diglosia tidak hanya terdapat di dalam masyakat aneka bahasa yang secara resmi mengakui beberapa bahasa”. yang di samping adanya dialek-dialek utama dari bahasa (yang mungkin meliputi ragam-ragam baku setempat).sebagai bahasa yang bergengsi tinggi oleh masyarakat bahasa yang bersangkutan. which is learned largely by formal education and is used for most written and formal spoken purposes but is not used in any sector of the community for the ordinary conversation”. in addition to the primary dialects of the language (which may include a satandard or regional standars). orang yang hanya menguasai ragam rendah saja sering merasa malu karena hal itu menunjukkan tingkat pendidikannya yang rendah. tetapi terdapat juga di dalam . dan tidak hanya terdapat terdapat di dalam masyarakat yang menggunakan ragam sehari-hari dan klasik. ragam bahasa yang dipakai di dalam situasi tidak resmi adalah ragam bahasa yang dipakai sehari-hari di rumah. masyarakat pemakainya tidak perlu mempelajari ragam bahasa ini di sekolah. juga mengenal suatu ragam yang ditinggikan. Definisi diglosia yang diberikan oleh Ferguson adalah sebagai berikut: “Diglosia is a relatively stable language situation in which. ada juga persamaan antara keduanya. yang sangat berbeda. Yang menjadi tekanannya adalah perbedaan fungsi kedua bahasa tau ragam bahasa yang bersangkutan. ragam R tidak tercantum sebagai mata pelajaran di sekolah. sedangkan tidak setiap orang mempunyai kesempatan untuk mempelajarinya. (Diglosia adalah suatu situasi kebahasaan yang relatif stabil. Ragam ini tidak mengenal ragam tulis dan tidak menjadi sasaran pembakuan bahasa. Oleh para pemakainya ragam ini dianggap berkedudukan rendah dan tidak bergengsi. highly codified (often grammatically more complex) superposed variety.

Demikian juga halnya dengan masalah yang ketiga. Berbagai laporan hasil penelitian di beberapa tempat yang berbeda. Situasi kebahasaan seperti itu terdapat di Tanganyika. Oleh karena itu. dan (d) masyarakat yang tidak bilingual tetapi diglosik.masyarakat bahasa yang memakai logat-logat. Keadaan seperti ini didapatkan di Khalapur yang terletak di sebelah utara New Dehli. Oleh Fasold keadaan seperti itu digambarkan sebagai berikut: Tinggi Rendah 1 Rendah 2 Rendah 3 Rendah 4 Masalah yang kedua adalah masalah yang menyangkut pertanyaan apakah gejala diglosia itu hanya terwujud di dalam pembagian ragam bahasa yang menjadi pembagian serba dua. Di samping itu. . tetapi salah satu dari ragam R itu merupakan ragam tinggi (T) terhadap ragam r lain. masalah bungan genetis bahasa. yang masing-masing disebutnya sebagai double overlapping diglossia (diglosia bertindih ganda). masalah pembagian yang serba dua. (c) masyarakat yang tidak bilingual dan sekaligus tidak diglosik. (b) masyarakat bahasa yang bilingual tetapi tidak diglosik. Diglosia ganda adalah situasi kebahasaan yang mengenal ragam T dan ragam R dan di dalam masing-masing ragam terdapat ragam t dan ragam r juga. Masalah pertama dipersoalkan karena adanya kemungkinan adanya masyarakat bahasa yang menganggap ragam T justru bukan sebagai ragam T. maka situasi semacam ini bukanlah situasi diglosia tetapi sekedar siatuasi yang mengenal adanya bahasa baku dan dialek. Fasold malah mencatat adanya gejala yang mirip seperti diglosia yang melibatkan hubungan antara subdialek dan antara gaya seperti yang terjadi di dalam bahasa Rusia. yakni ragam tinggi dan ragam rendah semata-mata. Fasold memberikan pengertian “masyarakat diglosik” sebagai satuan masyarakat yang memiliki ragamT dan ragam R bersama-sama. Dari pengamatan terhadap jenis. atau ragam-ragam jenis apa pun yang berbeda secara fungsional. dan linear polyglossia (poliglosia linear). Kalau demikian halnya. Fasold mengambil simpulan bahwa ada beberapa jenis diglosia. Antara ragam T dan ragam R tidak harus ada hubungan genetis. ada pendapat lain dari Fasold (1984) yang mencatat ada empat masalah yang perlu diperjelas.jenis diglosia di berbagai negara itu dapat disimpulkan bahwa istilah diglosia tidak harus diartikan sebagai situasi kebahasaan yang hanya melibatkan dua ragam saja. Diglosia bertindih ganda adalah situasi kebahasaan yang mengenal ragam T dan R juga. menurut batasan Fishman dapat dibedakan adanya (a) masyarakat bahasa yang bilingual sekaligus diglosik. Mikilifi (1978) menyebutnya dengan istilah polgylgossia). India (Gumperz (1964). laras-laras. masing-masing yang berkaitan dengan masalah bahasa baku dan dialek. Implikasi teoretis dari definisi di atas. Ada kemungkinan juga bahwa masyarakat diglosik itu memiliki ragam T yang sama tetapi ragam R yang berbeda-beda dan ini berarti bahwa masyarakat itu merupakan masyarakat diglosik yang berbeda-beda pula. dan masalah fungsi.

untuk situasi-situasi yang dianggap sebagai lebih formal dan terjaga.Berdasarkan pertimbangan itu semua. untuk situasi yang dianggap sebagai lebih resmi. Pandangan demikan memang cukup beralasan karena pada dasarnya bahasa adalah bagian dari suatu sistem sosial. Istilah etnografi komunikasi (ethnography of communication) merupakan pengembangan dari etnografi berbahasa (etnography of speaking). Fasold mengusulkan nama baru menjadi broad diglossia (diglosia luas) yang diartikan sebagai “ the reservation of higly valued segments of community’s linguistic repertoire (which are not the first to be learned. Ancangan sosiolinguistik dalam kajian ini dipusatkan pada model fungsional pemakaian bahasa pada dimensi sosial budaya masyarakat tuturnya. Kerangka yang mula-mula disebut dengan etnografi pertuturan itu pada akhirnya berkembang menjadi etnografi komunikasi. gejala diglosik di Banyumas bukanlah sekedar gejala diglosik biner melainkan lebih mirip dengan diglosia ganda seperti dikemukakan oleh Fasold (1985). for situations perceived as more informal and intimate”… ( pelestarian segmen khazanah bahasa yang dinilai sangat tinggi (yang tidak dipelajari pertama kali. ancangan itu . tetapi dipelajari lebih kemudian dan dipelajari secara lebih sadar. Konsep etnografi berbahasa oleh Hymes (1972: 37) dimaksudkan sebagai kajian situasi dan penggunaan tutur serta pola dan fungsi tutur dalam tindak tutur yang rutin dan khusus. from stylistic differences to separate languages. Pengembangan istilah itu dimaksudkan oleh Hymes (1980: 8) untuk memfokuskan kerangka acuan karena pemerian tempat bahasa di dalam suatu kebudayaan bukan pada bahasa itu sendiri melainkan pada komunikasinya. 1973. Berdasarkan hasil pengamatan di dalam masyarakat Banyumas. situasi diglosia di Indonesia selalu dilihat sebagai gejala diglosia biner seperti yang dikemukakan oleh Ferguson (1959). Etnografi komunikasi adalah salah satu ancangan yang dapat digunakan di dalam penelitian hubungan bahasa dengan manusia (masyarakat). berapa derajat pun hubungan kebahasaannya dengan segmen yang dinilai lebih tinggi. and the reservation of less highly valued segments (which are learned first with little or no conscious effort). dan Moeliono (1988). biasanya melalui pendidikan formal) dalam suatu masyarakat. Fishman (1971). but are learned later and more consciously. Kerangka etnografis melibatkan beraneka faktor yang terdapat di dalam pertuturan. maka bahasa juga tidak dapat dilepaskan dari faktor-faktor budaya. of any degree of linguistic relatedneess to the higher valued segments. Model yang dimaksud adalah Model Etnografi Komunikasi yang dikembangkan oleh Hymes (1972. usually through formal education) for situations perceived as more formal and guarded. dari (hanya sekedar) perbedaan stilistik sampai perbedaan bahasa. Suwito (1987). satu di antaranya adalah sosiolinguistik. Pada dasarnya. Karena sistem sosial erat sekali hubungannya dengan sistem budaya. Faktor yang demikian itu sering pula dikatakan berkaitan erat dengan faktor sosial. Hubungan bahasa dengan sistem sosial budaya dapat dikaji dari berbagai disiplin. ETNOGRAFI KOMUNIKASI SEBAGAI MODEL ANALISIS Pemakaian bahasa dalam komunikasi selain ditentukan oleh faktor-faktor linguistik juga ditentukan oleh faktor-faktor nonlinguistik atau luar bahasa. 1980). Sepanjang pengetahuan penulis ini. dan pelestarian segmen yang dinilai kurang tinggi (yang dipelajari pertama kali dengan sedikit usaha atau tanpa usaha yang disadari).

uturan tutur). bagaimana bagian-bagian tersebut tersusun di dalam suatu cara bahasa di dalam arti yang sangat luas dan bagaimana pola-pola yang ada berhubungan secara sistematis dengan aspek-aspek kebudayaan lainnya. hakikat dan batasan masyarakat bahasa. Nada tutur diwujudkan. daerah geografis. sedangkan suasana tutur mengacu pada suasana psikologis (baik bersifat resmi maupun tidak rsemi) tindak tutur dilaksanakan. alat komunikasi. Ends (tujuan tutur). Dalam sebuah peristiwa tutur. komponen komunikatif.berusaha memberikan gambaran etnografis masyarakat bahasa yang di antaranya mencakup pola komunikasi. Perubahan topik tutur dalam peristiwa tutur akan berpengaruh terhadap pemilihan bahasa. Menurut Hymes (1972. fungsi komunikasi. Selanjutnya. Pada tingkat masyarakat. Tempat tutur mengacu pada keadaan fisik. Pemilihan bahasa antar-peserta tutur ditentukan oleh perbedaan dimensi vertikal dan dimensi horisontal. Norms (norma tutur) dan Genre (jenis tutur). Key (nada tutur). dan individu. Disebut demikian karena memang perwujudan makna sebuah tuturan atau ujaran ditentukan oleh komponen tutur. kategori percakapan. dan sikap serta konsepsi tentang bahasa dan manusia. dan kedudukan dalam masyarakat. status sosial eknomi. baik ditujukan kepada individu maupun masyarakat sebagai sasarnnya. Act sequence (topik . kelompok. Topik tuturan mengacu pada apa yang dibicarakan (massage content) dan cara penyampaiannya (massage form). komunikasi biasanya terbentuk melalui fungsinya. mitra tutur. Pola bahasa terdapat pada semua tingkat komunikasi seperti masyarakat. Tujuan tutur merupakan hasil yang diharapkan atau yang tidak diharapkan dari tujuan tindak tutur. perubahan air . ciri-ciri dimensi sosial budaya yang bersifat etik dapat digolongkan dalam delapan komponen yang bersifat emik (bandingkan dengan Poedjosudarmo 1975). dan jenis pekerjaan. baik berupa tingkah laku verbal maupun nonverbal. beberapa topik tutur dapat muncul secara berurutan. Perilaku bahasa diakui mempunyai pola teratur dan mempunyai kendala yang dapat dinyatakan di dalam bentuk-bentuk norma bahasa. hubungan bahasa dengan pikiran dan organisasi sosial. penduduk kota atau desa. dan perilaku bahasa lainnya. umur. dan mengubah perilaku (konatif). Partisipant (peserta tutur). Perbedaan dimensi kedua antara lain meliputi perbedaan tingkat keakraban antarpeserta tutur. Nada tutur verbal mengacu pada perubahan bunyi bahasa. Etnografi komunikasi terarah pada penyelidikan keteraturan yang terdapat di dalam penggunaan bahasa serta bagaimana bagian-bagian komunikasi dibentuk. Latar tutur meliputi tempat tutur dan suasana tutur. Kedelapan komponen itu disebut sebagai komponen tutur (speach component). Dimensi pertama meliputi perbedaan umur. Nada tutur non-verbal dapat berujud gerak anggota badan. membujuk. yang dapat menunjukkan keseriusan. Cara bahasa juga terbentuk menurut tingkat pendidikan. dan orang yang dituturkan. Kedelapan komponen tutur itu diakronimkan denang SPEAKING: Setting (latar). status sosial. Komunikasi tentunya juga terbentuk menurut peran dan kelompok tertentu di tengah-tengah masyarakat serta menurut jenis kelamin. kehumoran. dan ciri-ciri organisasi sosial lainnya. atau kesantaian tindak tutur. 1980: 9-18). Suatu tuturan mungkin bertujuan menyampaikan buah pikiran. Peserta tutur mengacu pada penutur.

Poedjosudarma (1979) memasukkan adegan tutur sebagai salah satu komponen tutur. iklan dan sebagainya. dan (13) norma kebahasaan lainnya. (3) kehendak tutur. yang oleh Hymes ditempatkan di luar komponen tutur bersama dengan situasi tutur.muka. Kedelapan variabel komponen tutur Hymes tidaklah sepenuhnya digunakan dalam setiap pemerian fenomena pemakaian bahasa dalam dimensi sosial budaya. Adapun jenis tutur meliputi kategori kebahasaan seperti prosa. Like this: . ragam. melebihi jumlah komponen tutur yang dipakai sebagai dasarnya. Dalam kajiannya terhadap pemakaian tingkat tutur bahasa Jawa Poedjosudarmo (1979) juga telah memaparkan komponen tutur. Akibatnya adalah bahwa komponen tutur dalam versinya menjadi lebih rinci dan lebih luas. yang merupakan faktor yang banyak berpengaruh terhadap bentuk tutur. sedangkan Hymes (1972) tampak lebih menaruh perhatian pada latar tutur. Ketiga belas komponen tutur itu dapatlah disebutkan di sini satu demi satu: (1) pribadi penutur. doa. (4) angggapan penutur terhadap mitra tutur. Beberapa pengembangan yang dilakukan oleh Poedjosudamo disesuaikan dengan situasi kebahasaan di Indonesia. Sarana tutur dapat berupa sarana lisan. tulis. Hymes (1972) menganggap pokok tutur sebagai pusat tindak tutur. puisi. kehendak tutur. Perbedaan komponen tutur yang dikemukakan oleh Poedjosudarmo dan Hymes terletak pada jenis dan jumlah komponen. yang tampak dengan dikemukakannya lebih dulu secara berturut-turut adalah pribadi penutur. Poedjosudarmo (1979) lebih menaruh perhatian terhadap aspek peserta tutur. kedelapan variabel komponen tersebut tidak selalu hadir secara bersamaan dalam sebuah peristiwa tutur tertentu. Konsep komponen tutur yang disampaikan oleh Poedjosudarmo sebetulnya merupakan pengembangan konsep Hymes (1972) tentang peranan komponen tutur dalam rangka komunikasi. dongeng. Bentuk tutur dapat berupa bahasa sebagai sistem mandiri. (9) sarana tutur. sedangkan norma interpretasi merupakan norma yang dimiliki oleh kelompok masyarakat tutur tertentu. maka Poedjosudarmo menyebut tiga belas butir komponen tutur. (8) pokok pembicaraan. (2) warna emosi. Poedjosudarmo (1979) menganggap pokok tutur hanya merupakan salah satu butir komponen tutur yang peranannya banyak dipengaruhi oleh komponen tutur lain. Norma tutur berhubungan dengan norma interaksi dan norma interpretasi/ Yang dimaksud norma interaksi adalah norma yang bertalian dengan boleh–tidaknya sesuatu dilaksanakan oleh peserta tutur pada waktu tuturan berlangsung. khususnya di Jawa. Untuk itu pembatasan variabel komponen tutur yang sesuai dengan fokus pemerian pemilihan bahasa Jawa dan bahasa Indonesia dalam penelitian ini sangatlah diperlukan. Dalam aspek lain. (12) bentuk wacana. legenda. kuliah. Dalam kenyataannya. dan sorot mata. tetapi tergantung pada fokus variabel yang diperhatikan. dan kehadiran orang ketiga. anggapan terhadap mitra tutur. (11) ekologi percakapan. Jika Hymes (1972) mengemukakan delapan komponen tutur. (6) nada dan suasana bicara. Sarana tutur mengacu pada saluran tutur dan bentuk tutur. (7) adegan tutur. warna emosi. Sementara itu. dan register. (10) urutan bicara. dan isyarat. (5) kehadiran orang ketiga. variasi bahasa seperti dialek.

2009 pada 4:34 am | Balas Fenty TERIMA KASIH BAPAK-BAPAK UNTUK ARTIKELNYA… BENER-BENER BERMANFAAT… TERUS BERKARYA YA… 2. 3. pada Oktober 25. sukses selalu ya pak… mohon izin untuk copy tulisan2 bapak… terima kasih imam yuliarto 4. pada Juni 19. 2010 pada 1:09 pm | Balas LAS Suhaeb . sungguh suatu kebahagiaan tersendiri bagi saya dapat diajar langsung oleh bapak dalam mata kuliah sosiolinguistik. 2009 pada 4:17 am | Balas niswatun khasanah Aslm..Suka Be the first to like this post. pada Oktober 6. pada September 2. 2010 pada 7:29 am | Balas salam kenal. Ditulis dalam Artikel | 5 Komentar 5 Tanggapan 1.terima kasih pak atas ilmu yang telah diberikan oleh bapak kepada saya khususnya dan teman-teman prodo pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia pada umumnya.

pada April 28. Kirim Komentar 1330615061 88 0   SELAMAT DATANG DI FORUM MASYARAKAT BAHASA Pencarian untuk: . Fill in your details below or click an icon to log in: (wajib)(Address never made public)(wajib)( Log Out / Ubah )( Log Out / Ubah )( Log Out / Ubah ) Beritahu saya balasan komentar lewat surat elektronik....Terimakasih …artikel yang sangat bermanfaat… sayang Daftar Pustaka tidak di masukkan. 5. Komentar RSS Tinggalkan Balasan guest Enter your comment here. 2011 pada 10:22 am | Balas muliadi terimakasih pak atas artikelnya terus berkarya ya pak.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->