P. 1
Apa Itu Penyakit Menular Seksual

Apa Itu Penyakit Menular Seksual

|Views: 333|Likes:
Published by Hiron Putra Keo

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Hiron Putra Keo on Mar 11, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/06/2013

pdf

text

original

Apa itu Penyakit Menular Seksual?

Oleh redaksi pada Kam, 12/27/2007 - 11:37.

Referensi

Apa yang dimaksud dengan PMS? PMS adalah singkatan dari Penyakit Menular Seksual, yang berarti suatu infeksi atau penyakit yang kebanyakan ditularkan melalui hubungan seksual (oral, anal atau lewat vagina). PMS juga diartikan sebagai penyakit kelamin, atau infeksi yang ditularkan melalui hubungan seksual. Harus diperhatikan bahwa PMS menyerang sekitar alat kelamin tapi gejalanya dapat muncul dan menyerang mata, mulut, saluran pencernaan, hati, otak, dan organ tubuh lainnya. Contohnya, baik HIV/AIDS dan Hepatitis B dapat ditularkan melalui hubungan seks tapi keduanya tidak terlalu menyerang alat kelamin. Mengapa kita membutuhkan informasi tentang PMS? Jika kita melakukan hubungan seksual dengan orang lain, walaupun hanya sekali, kita dapat terkena PMS. Apa hubungan organ-organ reproduksi dengan PMS? Kebanyakan PMS membahayakan organ-organ reproduksi. Pada wanita, PMS menghancurkan diding vagina atau leher rahim, biasanya tanpa tanda-tanda infeksi. Pada pria, yang terinfeksi lebih dulu adalah saluran air kencing. Jika PMS tidak diobati dapat menyebabkan keluarnya cairan yang tidak normal dari penis dan berakibat sakit pada waktu buang air kecil. PMS yang tidak diobati dapat mempengaruhi organ-organ reproduksi bagian dalam dan menyebabkan kemandulan baik pada pria atau wanita. Bagian tubuh mana yang dapat terpengaruh PMS? Pada wanita Saluran indung telur Indung telur rahim kandung kencing leher rahim vagina saluran kencing anus Pada pria: kandung kencing vas deferens prostat penis epididymis testicle saluran kencing kantung zakar seminal vesicle anus

Apa bahaya PMS? Ada beberapa bahaya PMS, yaitu:         Kebanyakan PMS dapat menyebabkan kita sakit Beberapa PMS dapat menyebabkan kemandulan Beberapa PMS dapat menyebabkan keguguran PMS dapat menyebabkan kanker leher rahim Beberapa PMS dapat merusak penglihatan, otak dan hati PMS dapat menular kepada bayi PMS dapat menyebabkan kita rentan terhadap HIV/AIDS Beberapa PMS ada yang tidak bisa disembuhkan

Beberapa PMS seperti halnya HIV/AIDS dan Hepatitis B dapat menyebabkan kematian.

Apa saja tipe-tipe PMS? Ada banyak jenis PMS. Yang paling umum dan paling penting untuk diperhatikan adalah:       Gonore Klamidia Herpes Kelamin Sifilis Hepatitis B HIV/AIDS

Pada saat ini, klamidia lebih banyak diperhatikan. Seperti halnya gonore, klamidia dapat menyebabkan kemandulan. Herpes menyebabkan gejala-gejala yang bisa muncul dan hilang seumur hidup. Sifilis dapat menyebabkan kerusakan yang berat jika tidak diobati. Sementara AIDS, yang disebabkan oleh HIV menghancurkan sistem kekebalan tubuh, membuat orang sakit dan bahkan meninggal. Dapatkah PMS disembuhkan? Tidak semua PMS dapat disembuhkan. PMS yang disebabkan oleh virus, seperti HIV/AIDS, herpes kelamin dan Hepatitis B adalah contoh PMS yang tidak dapat disembuhkan. HIV/AIDS merupakan yang paling berbahaya. HIV/AIDS tidak dapat disembuhkan dan merusak sistem kekebalan tubuh manusia yang memiliki peranan paling penting dalam melawan penyakit. Banyak orang meninggal karena AIDS disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh mereka tidak dapat melawan infeksi. Herpes kelamin memiliki gejala yang muncul-hilang dan bisa terasa sangat sakit jika penyakit tsb sedang aktif. Pada herpes, obat-obatan hanya bisa digunakan untuk mengobati gejala saja, tapi virus yang menyebabkan herpes tetap hidup di dalam tubuh selamanya. Apakah setiap PMS memiliki gejala? Tidak! Terkadang, PMS tidak menunjukkan gejala sama sekali, sehingga kita tidak tahu kalau kita sudah terinfeksi. PMS dapat bersifat asymptomatic (tidak memiliki gejala) baik pada pria atau wanita. Beberapa PMS baru menunjukkan tanda-tanda dan gejala berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahuntahun setelah terinfeksi. Pada wanita, PMS bahkan tidak dapat terdeteksi. Walaupun seseorang tidak menunjukkan gejala-gejala terinfeksi PMS, dan tidak mengetahui bahwa mereka terkena PMS, mereka tetap bisa menulari orang lain. Orang yang terinfeksi HIV biasanya tidak menunjukkan gejala setelah bertahun-tahun terinfeksi. Tidak seorangpun dapat menentukan apakah betul atau tidak seseorang terinfeksi hanya berdasarkan penampilannya saja. Walaupun orang tsb mungkin terlihat sehat, mereka masih bisa menularkan HIV kepada orang lain. Kadang, orang yang sudah terinfeksi HIV tidak sadar bahwa mereka mengidap virus tsb, karena mereka merasa sehat dan bisa tetap aktif. Hanya tes laboratorium yang dapat menunjukkan seseorang telah terinfeksi HIV atau tidak. Apa gejala PMS yang paling umum? PMS kadang tidak memiliki gejala. Gejala yang mungkin muncul termasuk:  Keluar Cairan/keputihan yang tidak normal dari vagina atau penis. Pada wanita, terjadi peningkatan keputihan. Warnanya bisa menjadi lebih putih, kekuningan, kehijauan, atau kemerahmudaan. Keputihan bisa memiliki bau yang tidak sedap dan berlendir.

      

Pada pria, rasa panas seperti terbakar atau sakit selama atau setelah kencing, biasanya disebabkan oleh PMS. Pada wanita, beberapa gejala dapat disebabkan oleh PMS tapi juga disebabkan oleh infeksi kandung kencing yang tidak ditularkan melalui hubungan seksual. Luka terbuka dan atau luka basah disekitar alat kelamin atau mulut. Luka tersebut dapat terasa sakit atau tidak. Tonjolan kecil-kecil (papules) disekitar alat kelamin Kemerahan di sekitar alat kelamin Pada pria, rasa sakit atau kemerahan terjadi pada kantung zakar Rasa sakit diperut bagian bawah yang muncul dan hilang, dan tidak berhubungan dengan menstruasi Bercak darah setelah hubungan seksual

Berikut tabel gejala umum PMS Gejala Luka Perempuan Laki-laki

Luka dengan atau tanpa rasa sakit, disekitar alat kelamin, anus, mulut atau bagian tubuh yang lain. Tonjolan kecil-kecil, diikuti luka yang sangat sakit di sekitar alat kelamin Cairan dari vagina bisa gatal, kekuningan, kehijauan, berbau atau berlendir. Duhtubuh bisa juga keluar dari anus. PMS pada wanita biasanya tidak menyebabkan sakit atau burning urination Cairan bening atau berwarna berasal dari pembukaan kepala penis atau anus.

Cairan tidak normal

Sakit pada saat bunag air kecil

Perubahan warna kulit Tonjolan seperti jengger ayam Sakit pada bagian bawah perut

Rasa terbakar atau rasa sakit selama atau setelah urination terkadang diikuti dengan duhtubuh dari penis terutama di bagian telapak tangan atau kaki. Perubahan bias menyebar ke seluruh bagian tubuh Tumbuh tomjolan seperti jengger ayam di sekitar alat kelamin Rasa sakit yang muncul dan hilang, yang tidak berkaitan dengan menstruasi bisa menjadi tanda infeksi saluran reproduksi (infeksi yang telah berpindah ke bagian dalam system reproduksi, termasuk servik, tuba falopi, dan ovarium) Kemerahan pada sekitar alat kelamin, atau diantara kaki         Kemerahan pada sekitar alat kelamin, kemerahan dan sakit di kantong zakar

Kemerahan

Gejala lain dari HIV/AIDS

Demam Keringat malam Sakit kepala Kemerahan di ketiak, paha atau leher Mencret yang terus menerus Penurunan berat badan secara cepat Batuk, dengan atau tanpa darah Bintik ungu kebiruan pada kulit

Walaupun seseorang mungkin mengalami beberapa dari gejala-gejala tersebut, diperhatikan bahwa penyakit yang lain juga dapat menyebabkan gejala-gejala ini. Jika muncul gejala-gejala tersebut, lebih baik dikonsultasikan dengan dokter secepatnya. Bagaimana kita bisa terinfeksi PMS? Kebanyakan PMS didapat dari hubungan seks yang tidak aman. Yang dimaksud dengan seks yang tidak aman, adalah:    Melakukan hubungan seksual lewat vagina tanpa kondom (penis di dalam vagina) Melakukan hubungan seksual lewat anus tanpa kondom (penis di dalam anus) Hubugan seksual lewat oral atau karaoke (penis di dalam mulut tanpa kondom atau mulut menyentuh alat kelamin wanita)

Adakah cara lain orang dapat tertular PMS? Cara lain seseorang dapat tertular PMS juga melalui: Darah Dari tansfusi darah yang terinfeksi, menggunakan jarum suntik bersama, atau benda tajam lainnya ke bagian tubuh untuk menggunakan obat atau membuat tato. Ibu hamil kepada bayinya Penularan selama kehamilan, selama proses kelahiran. Setelah lahir, HIV bisa menular melalui menyusui. Jadi Selain cara di atas, PMS tidak menular? Ya. PMS tidak menular melalui:        Duduk bersebelahan dengan penderita PMS Penggunaan toilet bersama penderita Bekerja terlalu keras Menggunakan kolam renang umum, pemandian air panas atau sauna bersama Berjabatan tangan dengan penderita Bersin-bersin Keringat

PMS sering ditemukan pada cairan seksual (cairan vagina dan sperma) dan darah. PMS ditularkan saat cairan seksual dari orang yang terinfeksi memasuki tubuh orang lain. Kenapa perempuan lebih berisiko tertular PMS dari pada pria? Perempuan lebih rentan tertular PMS dibandingkan dengan laki-laki. Alasan utamanya adalah:    Saat berhubungan seks, dinding vagina dan leher rahim langsung terpapar oleh cairan sperma. Jika sperma terinfeksi oleh PMS, maka perempuan tsb pun bisa terinfeksi Jika perempuan terinfeksi PMS, dia tidak selalu menunjukkan gejala. Tidak munculnya gejala dapat menyebabkan infeksi meluas dan menimbulkan komplikasi Banyak orang -- khususnya perempuan dan remaja -- enggan untuk mencari pengobatan karena mereka tidak ingin keluarga atau masyarakat tahu mereka menderita PMS.

Bagaimana Akibat buruk PMS bagi seseorang? Jika dibiarkan saja tanpa ditangani, PMS dapat menghancurkan orang yang terinfeksi, seperti:       Kemandulan baik pria atau wanita Kanker leher rahim pada wanita Kehamilan di luar rahim Infeksi yang menyebar Bayi lahir dengan kelahiran yang tidak seharusnya, seperti lahir sebelum cukup umur, berat badan lahir rendah, atau terinfeksi PMS Infeksi HIV

(Sumber: UNAIDS dan WHO 1998, Alan Guttmacher Institute 1998).

PENYAKIT MENULAR SEKSUAL
Oleh redaksi pada Rab, 12/26/2007 - 13:45.

Referensi

Penyakit menular seksual, atau PMS adalah berbagai infeksi yang dapat menular dari satu orang ke orang yang lain melalui kontak seksual. Menurut the Centers for Disease Control (CDC) terdapat lebih dari 15 juta kasus PMS dilaporkan per tahun. Kelompok remaja dan dewasa muda (15-24 tahun) adalah kelompok umur yang memiliki risiko paling tinggi untuk tertular PMS, 3 juta kasus baru tiap tahun adalah dari kelompok ini. Hampir seluruh PMS dapat diobati. Namun, bahkan PMS yang mudah diobati seperti gonore telah menjadi resisten terhadap berbagai antibiotik generasi lama. PMS lain, seperti herpes, AIDS, dan kutil kelamin, seluruhnya adalah PMS yang disebabkan oleh virus, tidak dapat disembuhkan. Beberapa dari infeksi tersebut sangat tidak mengenakkan, sementara yang lainnya bahkan dapat mematikan. Sifilis, AIDS, kutil kelamin, herpes, hepatitis, dan bahkan gonore seluruhnya sudah pernah dikenal sebagai penyebab kematian. Beberapa PMS dapat berlanjut pada berbagai kondisi seperti Penyakit Radang Panggul (PRP), kanker serviks dan berbagai komplikasi kehamilan. Sehingga, pendidikan mengenai penyakit ini dan upaya-upaya pencegahan penting untuk dilakukan. Penting untuk diperhatikan bahwa kontak seksual tidak hanya hubungan seksual melalui alat kelamin. Kontak seksual juga meliputi ciuman, kontak oral-genital, dan pemakaian “mainan seksual”, seperti vibrator. Sebetulnya, tidak ada kontak seksual yang dapat benar-benar disebut sebagai “seks aman” . Satu-satunya yang betul-betul “seks aman” adalah abstinensia. Hubungan seks dalam konteks hubungan monogamy di mana kedua individu bebas dari IMS juga dianggap “aman”. Kebanyakan orang menganggap berciuman sebagai aktifitas yang aman. Sayangnya, sifilis, herpes dan penyakit-penyakit lain dapat menular lewat aktifitas yang nampaknya tidak berbahaya ini. Semua bentuk lain kontak seksual juga berisiko. Kondom umumnya dianggap merupakan perlindungan terhadap IMS. Kondom sangat berguna dalam mencegah beberapa penyakit seperti HIV dan gonore. Namun kondom kurang efektif dalam mencegah herpes, trikomoniasis dan klamidia. Kondom memberi proteksi kecil terhadap penularan HPV, yang merupakan penyebab kutil kelamin.
Beberapa penyakit menular seksual:

Klamidia – klamidia adalah PMS yang sangat berbahaya dan biasanya tidak menunjukkan gejala; 75% dari perempuan dan 25% dari pria yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala sama sekali.

      

Gonore – gonore adalah salah satu PMS yang sering dialporkan. 40% penderita akan mengalami Penyakit Radang Panggul (PRP) jika tidak diobati, dan hal tersebut dapat menyebabkan kemandulan. Hepatitis B – vaksin pencegahan penyakit ini sudah ada, tapi sekali terkena penyakit ini tidak dapat disembuhkan; dapat menyebabkan kanker hati. Herpes – terasa nyeri dan dapat hilang timbul; dapat diobati untuk mengurangi gejala tetapi tidak dapat disembuhkan. HIV/AIDS – dikenal pertama kali pada tahun 1984, AIDS adalah penyebab kematian ke enam pada laki-laki dan perempuan muda. Virus ini fatal dan menimbulkan rasa sakit yang cukup lama sebelum kemudian meninggal. Human Papilloma Virus (HPV) & Kutil kelamin – PMS yang paling sering, 33% dari perempuan memiliki virus ini, yang dapat menyebabkan kanker serviks dan penis dan nyeri pada kelamin. Sifilis – jika tidak diobati dapat menyebabkan kerusakan otak dan hati yang serius. Trikomoniasis – dapat menyebabkan keputihan yang berbusa atau tidak ada gejala sama sekali. Pada perempuan hamil dapat menyebabkan kelahiran premature.

Klamidia
Tipe: Bakterial Cara Penularan: Hubungan seks vaginal dan anal. Gejala: Sampai 75% kasus pada perempuan dan 25% kasus pada laki-laki tidak menunjukkan gejala. Gejala yang ada meliputi keputihan yang abnormal, dan rasa nyeri saat kencing baik pada laki-laki maupun perempuan. Perempuan juga dapat mengalami rasa nyeri pada perut bagian bawah atau nyeri saat hubungan seksual, pada lakilaki mungkin akan mengalami pembengkakan atau nyeri pada testis. Pengobatan: Infeksi dapat diobati dengan antibiotik. Namun pengobatan tersebut tidak dapat menghilangkan kerusakan yang timbul sebelum pengobatan dilakukan. Konsekuensi yang mungkin terjadi pada orang yang terinfeksi: Pada perempuan, jika tidak diobati, sampai 30% akan mengalami Penyakit Radang Panggul (PRP) yang pada gilirannya dapat menyebabkan kehamilan ektopik, kemandulan dan nyeri panggul kronis. Pada laki-laki, jika tidak diobati, klamidia akan menyebabkan epididymitis, yaitu sebuah peradangan pada testis (tempat di mana sperma disimpan), yang mungkin dapat menyebabkan kemandulan. Individu yang terinfeksi akan berisiko lebih tinggi untuk terinfeksi HIV jika terpapar virus tersebut. Konsekuensi yang mungkin terjadi pada janin dan bayi baru lahir: lahir premature, pneumonia pada bayi dan infeksi mata pada bayi baru lahir yang dapat terjadi karena penularan penyakit ini saat proses persalinan. Pencegahan: Tidak melakukan hubungan seksual secara vaginal maupun anal dengan orang yang terinfeksi adalah satu-satunya cara pencegahan yang 100% efektif. Kondom dapat mengurangi tetapi tidak dapat menghilangkan sama sekali risiko tertular penyakit ini.

Gonore
Tipe: Bakterial Cara penularan: Hubungan seks vaginal, anal dan oral. Gejala: Walaupun beberapa kasus tidak menunjukkan gejala, jika gejala muncul, sering hanya ringan dan muncul dalam 2-10 hari setelah terpapar. Gejala-gejala meliputi discharge dari penis, vagina, atau rektum dan rasa panas atau gatal saat buang air kecil.

Pengobatan: Infeksi dapat disembuhkan dengan antibiotik. Namun tidak dapat menghilangkan kerusakan yang timbul sebelum pengobatan dilakukan. Konsekuensi yang mungkin timbul pada orang yang terinfeksi: Pada perempuan jika tidak diobati, penyakit ini merupakan penyebab utama Penyakit Radang Panggul, yang kemudian dapat menyebabkan kehamilan ektopik, kemandulan dan nyeri panggul kronis. Dapat menyebabkan kemandulan pada pria. Gonore yang tidak diobati dapat menginfeksi sendi, katup jantung dan/atau otak. Konsekuensi yang mungkin timbul pada janin dan bayi baru lahir: Gonore dapat menyebabkan kebutaan dan penyakit sistemik seperti meningitis dan arthritis sepsis pada bayi yang terinfkesi pada proses persalinan. Untuk mencegah kebutaan, semua bayi yang lahir di rumah sakit biasanya diberi tetesan mata untuk pengobatan gonore. Pencegahan: Tidak melakukan hubungan seksual baik vaginal, anal dan oral dengan orang yang terinfeksi adalah satu-satunya cara yang 100% efektif untuk pencegahan. Kondom dapat mengurangi tetapi tidak dapat menghilangkan sama sekali risiko penularan penyakit ini.

Hepatitis B (HBV)
Tipe: Viral Cara Penularan: Hubungan seks vaginal, oral dan khususnya anal; memakai jarum suntik bergantian; perlukaan kulit karena alat-alat medis dan kedokteran gigi; melalui transfusi darah. Gejala: Sekitar sepertiga penderita HBV tidak menunjukkan gejala. Gejala yang muncul meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, lemah, kehilangan nafsu makan, muntah dan diare. Gejala-gejala yang ditimbulkan karena gangguan di hati meliputi air kencing berwarna gelap, nyeri perut, kulit menguning dan mata pucat. Pengobatan: Belum ada pengobatan. Kebanyakan infeksi bersih dengan sendirinya dalam 4-8 minggu. Beberapa orang menjadi terinfeksi secara kronis. Konsekuensi yang mungkin timbul pada orang yang terinfeksi: Untuk orang-orang yang terinfeksi secara kronis, penyakit ini dapat berkembang menjadi cirrhosis, kanker hati dan kerusakan sistem kekebalan. Konsekuensi yang mungkin timbul pada janin dan bayi baru lahir: Perempuan hamil dapat menularkan penyakit ini pada janin yang dikandungnya. 90% bayi yang terinfeksi pada saat lahir menjadi karier kronik dan berisiko untuk tejadinya penyakit hati dan kanker hati. Mereka juga dapat menularkan virus tersebut. Bayi dari seorang ibu yang terinfeksi dapat diberi immunoglobulin dan divaksinasi pada saat lahir, ini berpotensi untuk menghilangkan risiko infeksi kronis. Pencegahan: Tidak melakukan hubungan seks dengan orang yang terinfeksi khususnya seks anal, di mana cairan tubuh, darah, air mani dan secret vagina paling mungkin dipertukarkan adalah satu-satunya cara pencegahan yang 100% efektif mencegah penularan virus hepatitis B melalui hubungan seks. Kondom dapat menurunkan risiko tetapi tidak dapat sama sekali menghilangkan risiko untuk tertular penyakit ini melalui hubungan seks. Hindari pemakaian narkoba suntik dan memakai jarum suntik bergantian. Bicarakan dengan petugas kesehatan kewaspadaan yang harus diambil untuk mencegah penularan Hepatitis B, khususnya ketika akan menerima tranfusi produk darah atau darah. Vaksin sudah tersedia dan disarankan untuk orang-orang yang berisiko terkena infeksi Hepatitis B. Sebagai tambahan, vaksinasi Hepatitis B sudah dilakukan secara rutin pada imunisasi anak-anak sebagaimana direkomendasikan oleh the American Academy of Pediatrics.

Herpes Genital (HSV-2)
Tipe: Viral Cara Penularan: Herpes menyebar melalui kontak seksual antar kulit dengan bagian-bagian tubuh yang terinfeksi saat melakukan hubungan seks vaginal, anal atau oral. Virus sejenis dengan strain lain yaitu Herpes Simplex Tipe 1

(HSV-1) umumnya menular lewat kontak non-seksual dan umumnya menyebabkan luka di bibir. Namun, HSV-1 dapat juga menular lewat hubungan seks oral dan dapat menyebabkan infeksi alat kelamin. Gejala-gejala: Gejala-gejala biasanya sangat ringan dan mungkin meliputi rasa gatal atau terbakar; rasa nyeri di kaki, pantat atau daerah kelamin; atau keputihan. Bintil-bintil berair atau luka terbuka yang terasa nyeri juga mungkin terjadi, biasanya di daerah kelamin, pantat, anus dan paha, walaupun dapat juga terjadi di bagian tubuh yang lain. Luka-luka tersebut akan sembuh dalam beberapa minggu tetapi dapat muncul kembali. Pengobatan: Belum ada pengobatan untuk penyakit ini. Obat anti virus biasanya efektif dalam mengurangi frekuensi dan durasi (lamanya) timbul gejala karena infeksi HSV-2. Konsekuensi yang Mungkin Terjadi pada Orang yang Terinfeksi: Orang yang terinfeksi dan memiliki luka akan meningkat risikonya untuk terinfeksi HIV jika terpapar sebab luka tersebut menjadi jalan masuk virus HIV. Konsekuensi yang Mungkin Terjadi pada Janin dan Bayi: Perempuan yang mengalami episode pertama dari herpes genital pada saat hamil akan memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terjadinya kelahiran prematur. Kejadian akut pada masa persalinan merupakan indikasi untuk dilakukannya persalinan dengan operasi cesar sebab infeksi yang mengenai bayi yang baru lahir akan dapat menyebabkan kematian atau kerusakan otak yang serius. Pencegahan: Tidak melakukan hubungan seks secara vaginal, anal dan oral dengan orang yang terinfeksi adalah satu-satunya cara pencegahan yang 100% efektif mencegah penularan virus herpes genital melalui hubungan seks. Kondom dapat mengurangi risiko tetapi tidak dapat samasekali menghilangkan risiko tertular penyakit ini melalui hubungan seks. Walaupun memakai kondom saat melakukan hubungan seks, masih ada kemungkinan untuk tertular penyakit ini yaitu melalui adanya luka di daerah kelamin.

HIV/AIDS
Tipe: Viral Cara Penularan: Hubungan seks vaginal, oral dan khususnya anal; darah atau produk darah yang terinfeksi; memakai jarum suntik bergantian pada pengguna narkoba; dan dari ibu yang terinfeksi kepada janin dalam kandungannya, saat persalinan, atau saat menyusui. Gejala-gejala: Beberapa orang tidak mengalami gejala saat terinfeksi pertama kali. Sementara yang lainnya mengalami gejala-gejala seperti flu, termasuk demam, kehilangan nafsu makan, berat badan turun, lemah dan pembengkakan saluran getah bening. Gejala-gejala tersebut biasanya menghilang dalam seminggu sampai sebulan, dan virus tetap ada dalam kondisi tidak aktif (dormant) selama beberapa tahun. Namun, virus tersebut secara terus menerus melemahkan sistem kekebalan, menyebabkan orang yang terinfeksi semakin tidak dapat bertahan terhadap infeksi-infeksi oportunistik. Pengobatan: Belum ada pengobatan untuk infeksi ini. Obat-obat anti retroviral digunakan untuk memperpanjang hidup dan kesehatan orang yang terinfeksi. Obat-obat lain digunakan untuk melawan infeksi oportunistik yang juga diderita. Konsekuensi yang Mungkin Terjadi pada Orang yang Terinfeksi: Hampir semua orang yang terinfeksi HIV akhirnya akan menjadi AIDS dan meninggal karena komplikasi-komplikasi yang berhubungan dengan AIDS. Konsekuensi yang Mungkin Terjadi pada Janin dan Bayi: 20-30% dari bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi HIV akan terinfeksi HIV juga dan gejala-gejala dari AIDS akan muncul dalam satu tahun pertama kelahiran. 20% dari bayi-bayi yang terinfeksi tersebut akan meninggal pada saat berusia 18 bulan. Obat antiretroviral yang diberikan pada saat hamil dapat menurunkan risiko janin untuk terinfeksi HIV dalam proporsi yang cukup besar. Lihat Prenatal Risk Assessment: AIDS untuk infomasi lebih lanjut tentang AIDS dan kehamilan. Pencegahan: Tidak melakukan hubungan seksual dengan orang yang terinfeksi, khususnya hubungan seks anal, di mana cairan tubuh, darah, air mani atau secret vagina paling mungkin dipertukarkan, adalah satu-satunya cara yang 100% efektif untuk mencegah penularan HIV melalui hubungan seks. Kondom dapat menurunkan risiko penularan tetapi tidak menghilangkan sama sekali kemungkinan penularan. Hindari pemakaian narkoba suntik dan saling

berbagi jarum suntik. Diskusikan dengan petugas kesehatan tindakan kewaspadaan yang harus dilakukan untuk mencegah penularan HIV, terutama saat harus menerima transfusi darah maupun produk darah.

Sebuah ciuman, apakah sekedar sebuah ciuman?
Bahkan ciuman dapat merupakan sumber infeksi. Menurut Centers for Disease Control Amerika Serikat, "Ciuman dengan mulut terbuka dianggap sebagai aktifitas seksual yang sangat kecil risikonya untuk terjadinya penularan HIV. Namun, ciuman dengan mulut terbuka dalam waktu yang lama dapat merusak mulut atau bibir sehingga memungkinkan HIV berpindah dari orang yang terinfeksi ke pasangannya dan memasuki tubuh pasangan tersebut melalui luka yang ada di mulut. Karena adanya kemungkinan risiko penularan ini, CDC merekomendasikan pelarangan untuk berciuman dengan mulut terbuka dengan pasangan yang terinfeksi. Sebuah kasus mengindikasikan adanya seorang perempuan yang terinfeksi HIV dari pasangannya karena terpapar darah yang terkontaminasi saat melakukan ciuman dengan mulut terbuka. Morbidity and Mortality Weekly Report tanggal 11 Juli 11, 1997, berisi artikel tentang hal ini". Sumber: Centers for Disease Control (info lebih lanjut.)

Human Papilloma Virus (HPV)
Tipe: Viral Cara Penularan: Hubungan seksual vaginal, anal atau oral. Gejala-gejala: Tonjolan yang tidak sakit, kutil yang menyerupai bunga kol tumbuh di dalam atau pada kelamin, anus dan tenggorokan. Pengobatan: Tidak ada pengobatan untuk penyakit ini. Kutil dapat dihilangkan dengan cara-cara kimia, pembekuan, terapi laser atau bedah. Konsekuensi yang Mungkin Terjadi pada Orang yang Terinfeksi: HPV adalah virus yang menyebabkan kutil kelamin. Beberapa strains dari virus ini berhubungan kuat dengan kanker serviks sebagaimana halnya juga dengan kanker vulva, vagina, penis dan anus. Pada kenyataannya 90% penyebab kanker serviks adalah virus HPV. Kanker serviks ini menyebabkan kematian 5.000 perempuan Amerika setiap tahunnya. Konsekuensi yang Mungkin Terjadi pada Janin dan Bayi: Pada bayi-bayi yang terinfeksi virus ini pada proses persalinan dapat tumbuh kutil pada tenggorokannya yang dapat menyumbat jalan nafas sehingga kutil tersebut harus dikeluarkan. Pencegahan: Tidak melakukan hubungan seks secara vaginal, anal dan oral dengan orang yang terinfeksi adalah satu-satunya cara pencegahan yang 100% efektif mencegah penularan. Kondom hampir tidak berfungsi sama sekali dalam mencegah penularan virus ini melalui hubungan seks.

Sifilis
Tipe: Bakterial Cara Penularan: Cara penularan yang paling umum adalah hubungan seks vaginal, anal atau oral. Namun, penyakit ini juga dapat ditularkan melalui hubungan non-seksual jika ulkus atau lapisan mukosa yang disebabkan oleh sifilis kontak dengan lapisan kulit yang tidak utuh dengan orang yang tidak terinfeksi. Gejala-gejala: Pada fase awal, penyakit ini menimbulkan luka yang tidak terasa sakit atau "chancres" yang biasanya muncul di daerah kelamin tetapi dapat juga muncul di bagian tubuh yang lain, jika tidak diobati penyakit akan

berkembang ke fase berikutnya yang dapat meliputi adanya gejala ruam kulit, demam, luka pada tenggorokan, rambut rontok dan pembengkakan kelenjar di seluruh tubuh. Pengobatan: Penyakit ini dapat diobati dengan penisilin; namun, kerusakan pada organ tubuh yang telah terjadi tidak dapat diperbaiki. Konsekuensi yang Mungkin Terjadi pada Orang yang Terinfeksi: Jika tidak diobati, sifilis dapat menyebabkan kerusakan serius pada hati, otak, mata, sistem saraf, tulang dan sendi dan dapat menyebabkan kematian. Seorang yang sedang menderita sifilis aktif risikonya untuk terinfeksi HIV jika terpapar virus tersebut akan meningkat karena luka (chancres) merupakan pintu masuk bagi virus HIV. Konsekuensi yang Mungkin Terjadi pada Janin dan Bayi: Jika tidak diobati, seorang ibu hamil yang terinfeksi sifilis akan menularkan penyakit tersebut pada janin yang dikandungnya. Janin meninggal di dalam dan meninggal pada periode neonatus terjadi pada sekitar 25% dari kasus-kasus ini. 40-70% melahirkan bayi dengan sifilis aktif. Jika tidak terdeteksi, kerusakan dapat terjadi pada jantung, otak dan mata bayi. Pencegahan: Tidak melakukan hubungan seks secara vaginal, anal dan oral dengan orang yang terinfeksi adalah satu-satunya cara pencegahan yang 100% efektif mencegah penularan sifilis melalui hubungan seksual. Kondom dapat mengurangi tetapi tidak menghilangkan risiko tertular penyakit ini melalui hubungan seks. Masih ada kemungkinan tertular sifilis walaupun memakai kondom yaitu melalui luka yang ada di daerah kelamin. Usaha untuk mencegah kontak non-seksual dengan luka, ruam atau lapisan bermukosa karena adanya sifilis juga perlu dilakukan.

Trikomoniasis
Tipe: Disebabkan oleh protozoa Trichomonas vaginalis. Prevalensi: Trikomoniasis adalah PMS yang dapat diobati yang paling banyak terjadi pada perempuan muda dan aktif seksual. Diperkirakan, 5 juta kasus baru terjadi pada perempuan dan laki-laki. Cara Penularan: Trikomoniasis menular melalui kontak seksual. Trichomonas vaginalis dapat bertahan hidup pada benda-benda seperti baju-baju yang dicuci, dan dapat menular dengan pinjam meminjam pakaian tersebut. Gejala-gejala: Pada perempuan biasa terjadi keputihan yang banyak, berbusa, dan berwarna kuning-hijau. Kesulitan atau rasa sakit pada saat buang air kecil dan atau saat berhubungan seksual juga sering terjadi. Mungkin terdapat juga nyeri vagina dan gatal atau mungkin tidak ada gejala sama sekali. Pada laki-laki mungkin akan terjadi radang pada saluran kencing, kelenjar, atau kulup dan/atau luka pada penis, namun pada laki-laki umumnya tidak ada gejala. Pengobatan: Penyakit ini dapat disembuhkan. Pasangan seks juga harus diobati. Konsekuensi yang Mungkin Terjadi pada Orang yang Terinfeksi: Radang pada alat kelamin pada perempuan yang terinfeksi trikomoniasis mungkin juga akan meningkatkan risiko untuk terinfeksi HIV jika terpapar dengan virus tersebut. Adanya trikomoniasis pada perempuan yang juga terinfeksi HIV akan meningkatkan risiko penularan HIV pada pasangan seksualnya. Konsekuensi yang Mungkin Terjadi pada Janin dan Bayi: Trikomoniasis pada perempuan hamil dapat menyebabkan ketuban pecah dini dan kelahiran prematur. Pencegahan: Tidak melakukan hubungan seks secara vaginal dengan orang yang terinfeksi adalah satu-satu cara pencegahan yang 100% efektif mencegah penularan trikomoniasis melalui hubungan seksual. Kondon dan berbagai metode penghalang sejenis yang lain dapat mengurangi tetapi tidak menghilangkan risiko untuk tertular penyakit ini melalui hubungan seks. Hindari untuk saling pinjam meminjam handuk atau pakaian dengan orang lain untuk mencegah penularan non-seksual dari penyakit ini.

Infeksi Saluran Reproduksi lain yang tidak dipaparkan di sini di antaranya:

        

Bakterial Vaginosis – Menyebabkan nyeri saat buang air kecil, jika tidak diobati dapat menyebabkan kegagalan ginjal. Kandidiasis - Kandidiasis, atau infeksi jamur, sesungguhnya bukan PMS namun dapat juga ditularkan melalui hubungan seksual, menyebabkan rasa seperti terbakar, gatal dan tidak nyaman. Dapat diobati dengan obat yang dijual tanpa resep, namun biasanya dapat kambuh. info lebih lanjut. Chancroid – Luka atau bintil yang besar dan nyeri, dapat pecah. Granuloma Inguinale – Menyebabkan luka-luka yang tidak terasa sakit yang dapat membesar dan mudah berdarah. Lymphogranuloma Venereum – Menyebabkan lesi-lesi, luka dan abses pada lipat paha. Molluscum Contagiosum – Virus ini menyebabkan lesi-lesi yang halus dan mengkilap yang harus dihilangkan satu per satu oleh dokter. Mucopurulent Cervicitis (MPC) – Menyebabkan keluarnya keputihan dari serviks, dapat menyebabkan Penyakit Radang Panggul atau keguguran pada ibu hamil. Nongonococcal Urethritis (NGU) – Mengenai laki-laki dan dapat menyebabkan masalah pada saat buang air kecil, dapat disebabkan oleh klamidia. Penyakit Radang Panggul/Pelvic Inflammatory Disease (PID) – Dapat disebabkan oleh berbagai bakteri, menular melalui hubungan seksual atau cara-cara lain. Dapat menyebabkan rasa nyeri, kemandulan dan bahkan kematian.

penyakit menular seksual pada wanita
Tanda Tanda Penyakit Menular Seksual di Wanita Penyakit menular seksual, atau PMS adalah berbagai infeksi yang dapat menular dari satu orang ke orang yang lain melalui kontak seksual. Hampir seluruh PMS dapat diobati. Namun, bahkan PMS yang mudah diobati seperti gonore telah menjadi resisten terhadap berbagai antibiotik generasi lama. PMS lain, seperti herpes, AIDS, dan kutil kelamin, seluruhnya adalah PMS yang disebabkan oleh virus, tidak dapat disembuhkan. Beberapa dari infeksi tersebut sangat tidak mengenakkan, sementara yang lainnya bahkan dapat mematikan. Sifilis, Trichomoniasis, AIDS, kutil kelamin, herpes, hepatitis, dan bahkan gonore seluruhnya sudah pernah dikenal sebagai penyebab kematian. Beberapa PMS dapat berlanjut pada berbagai kondisi seperti Penyakit Radang Panggul (PRP), kanker serviks dan berbagai komplikasi kehamilan. Sehingga, pendidikan mengenai penyakit ini dan upaya-upaya pencegahan penting untuk dilakukan. Misalnya, Trichomoniasis yang disebabkan oleh parasit yang disebut Trichomonas vaginalis, ditularkan khususnya melalui kontak seksual secara langsung. Penyakit ini juga dapat ditularkan melalui mutual masturbation dan berbagai sex toys (alat bantuk seks). Tanda dan gejalanya pada perempuan? Gejala umumnya muncul dalam 4-20 hari setelah infeksi. Perempuan yang terinfeksi parasit Trichomonas akan mengeluarkan cairan dari vagina berwarna kuning kehijauan atau abu-abu serta berbusa dalam jumlah banyak, kadangkala disertai pendarahan dan bau tidak sedap, gatal pada vulva sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman.

Sering buang air kecil dan terasa sakit, pembengkakan vulva, rasa tidak nyaman selama berhubungan seksual dan sakit di wilayah perut. pendarahan di serviks mungkin terjadi, namun ini bukan gejala umum. Sebelum menuju ke dokter langganan, mari kita kenali dulu gejala-gejala penyakit menular seksual pada perempuan.. Perubahan pada cairan Miss V (lebih kental, tidak berwarna, baunya menusuk) beberapa hari hingga dua minggu setelah masa menstruasi. Sakit, rasa terbakar, atau gatal saat berkemih yang berlangsung selama 24 jam. Sakit selama melakukan hubungan intim dengan pasangan. Sakit atau terasa berat pada area pelvis atau perut bagian bawah. Gatal, rasa terbakar atau sakit pada area atau sekitar wilayah genital. Luka, ruam, melepuh, bengkak, seperti kutil pada sekitar organ genital. Terjadi bercak pada Miss V atau bahkan pendarahan setelah hubungan intim. Gejala umum dari infeksi seperti demam dan kelelahan atau kurang energi. Penyakit menular seksual pada perempuan hamil kemungkinan akan menyebabkan masalah antara lain berat lahir rendah pada bayi, kelahiran prematur, infeksi pada bayi yang baru lahir (pneumonia, infeksi mata atau masalah pada sistem saraf). Infeksi tersebut kemungkinan mengancam kehidupan bayi atau menyebabkan masalah jangka panjang yang serius atau bahkan cacat tetap. Perempuan yang mengalami episode pertama dari herpes genital pada saat hamil akan memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terjadinya kelahiran prematur. Kejadian akut pada masa persalinan merupakan indikasi untuk dilakukannya persalinan dengan operasi cesar sebab infeksi yang mengenai bayi yang baru lahir akan dapat menyebabkan kematian atau kerusakan otak yang serius. Tidak melakukan hubungan seks secara vaginal, anal dan oral dengan orang yang terinfeksi adalah satu-satunya cara pencegahan yang 100% efektif mencegah penularan PMS melalui hubungan seks. Penyakit menular seksual, atau PMS adalah berbagai infeksi yang dapat menular dari satu orang ke orang yang lain melalui kontak seksual. Gatal, rasa terbakar atau sakit pada area atau sekitar wilayah genital. Luka, ruam, melepuh, bengkak, seperti kutil pada sekitar organ genital. Terjadi bercak pada Miss V atau bahkan pendarahan setelah hubungan intim. Gejala umum dari infeksi seperti demam dan kelelahan atau kurang energi. Penyakit menular seksual pada perempuan hamil kemungkinan akan menyebabkan masalah antara lain berat lahir rendah pada bayi, kelahiran prematur, infeksi pada bayi yang baru lahir (pneumonia, infeksi mata atau masalah pada sistem saraf). Infeksi tersebut kemungkinan mengancam kehidupan bayi atau menyebabkan masalah jangka panjang yang serius atau bahkan cacat tetap. Perempuan yang mengalami episode pertama dari herpes genital pada saat hamil akan memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terjadinya kelahiran prematur. Kejadian akut pada masa persalinan merupakan indikasi untuk dilakukannya persalinan dengan operasi cesar sebab infeksi yang

mengenai bayi yang baru lahir akan dapat menyebabkan kematian atau kerusakan otak yang serius.

Penyakit Menular Seksual
August 15th, 2009 lusa Leave a comment Go to comments

Penyakit menular seksual merupakan penyakit yang ditakuti oleh setiap orang. Angka kejadian penyakit ini termasuk tinggi di Indonesia. Kelompok resiko yang rentan terinfeksi tentunya adalah seseorang yang sering “jajan” alias punya kebiasaan perilaku yang tidak sehat. Penyakit menular seksual yang nantinya kita bahas disini antara lain :
1. 2. 3. 4. Herpes Gonorea Sifilis Chlamidia

Herpes Pengertian, adalah infeksi akut pada genetalia dengan gejala khas berupa vesikel. Etiologi Disebabkan oleh virus herpes simpleks tipe II. Cara penularan melalui hubungan kelamin, tanpa melalui hubungan kelamin seperti : melalui alat-alat tidur, pakaian, handuk,dll atau sewaktu proses persalinan/partus pervaginam pada ibu hamil dengan infeksi herpes pada alat kelamin luar. Perbedaan HSV tipe I dengan tipe II
HSV tipe I Predileksi Kulit dan mukosa di luar HSV tipe II Kulit dan mukosa daerah genetalia dan perianal Membentuk pock besar dan tebal

Kultur pada chorioallatoic membran (CAM) dari telur ayam Serologi Sifat lain

Membentuk bercak kecil

Antibodi terhadap HSV tipe I Tidak bersifat onkogeni

Antibodi terhadap HSV tipe II Bersifat onkogeni

Epidemiologi

Herpes simpleks virus tipe II ditemukan pada wanita pelacur 10x lebih tinggi daripada wanita normal. Sedangkan HSV tipe I sering dijumpai pada kelompok dengan sosioekonomi rendah. Patogenesis Infeksi herpes genitalis dapat sebagai infeksi primer maupun sebagai infeksi rekuren.

Infeksi primer – Infeksi primer terjadi bila virus dari luar masuk ke dalam tubuh penderita, DNA dari tubuh penderita melakukan penggabungan dan mengadakan multiplikasi. Pada saat itu, tubuh hospes belum memiliki antibodi yang spesifik hingga menimbulkan lesi lebih luas. Selanjutnya virus menjalar melalui serabut syaraf sensorik menuju ganglion sakralis (syaraf regional) dan berdiam disana. Infeksi rekuren – Infeksi rekuren terjadi pada suatu waktu bila ada faktor tertentu (trigger factor) sehingga virus mengalami reaktivitas dan multiplikasi kembali.

Gambaran Klinis (Tanda dan Gejala)
   

Timbul erupsi bintik kemerahan, disertai rasa panas dan gatal pada kulit region genitalis. Terkadang disertai demam, seperti influenza, setelah 2-3 hari bintik kemerahan berubah menjadi vesikel disertai nyeri. 5-7 hari, vesikel pecah dan keluar cairan jernih sehingga timbul keropeng. Kadang dapat kambuh lagi.

Komplikasi
   

Gangguan mobilitas, vaginitis, urethritis, sistitis dan fisura ani herpetika terjadi bila mengenai region genetalia. Abortus Anomali kongenital Infeksi pada neonatus (konjungtifitis/ keratis, ensefalitis, vesikulitis kutis, ikterus, dan anomali konvulsi).

Penanganan
       

Lakukan pemeriksaan serologi (STS). Atasi nyeri dan demam dengan parasetamol 3 x 500 mg. Bersihkan lesi dengan larutan antiseptic dan kompres dengan air hangat. Keringkan dan oleskan acyclovir 5% topikal setelah nyeri berkurang. Berikan acyclovir tablet 200 mg tiap 4 jam. Rawat inap bila terjadi demam tinggi, nyeri hebat, retensi urin, konvulsi, neurosis, reaksi neurologik lokal, ketuban pecah dini maupun partus prematurus. Berikan pengobatan pada pasangan berupa acyclovir oral selama 7 hari. Bila terpaksa partus pervaginam, hindari transmisi ke bayi atau penolong.

Gonorhea

Pengertian, adalah penyakit kelamin yang bisa terjadi pada pria maupun wanita.Disebut juga penyakit kencing nanah atau GO. Penyebab Penyebabnya adalah kuman Neisseria Gonorrhoea, disebut juga gonokokus, berbentuk diplokokus. Kuman ini menyerang selaput lendir dari :
    

Vagina, saluran kencing dan daerah rahim/ leher rahim. Saluran tuba fallopi. Anus dan rektum. Kelopak mata. Tenggorokan.

Tanda Dan Gejala Penularan melalui oral, anal dan vaginal seks. Hampir 90% penderita GO tidak memperlihatkan keluhan dan gejala. Tanda pada penderita GO baik lelaki dan perempuan, bisa tanpa keluhan dan gejala. Lelaki
   

Keluar cairan putih kekuning-kuningan melalui penis. Terasa panas dan nyeri pada waktu kencing. Sering buang air kecil. Terjadi pembengkakan pada pelir (testis).

Perempuan
  

Pengeluaran cairan vagina tidak seperti biasa. Panas dan nyeri saat kencing. Keluhan dan gejala terkadang belum tampak meskipun sudah menular ke saluran tuba fallopi.

Bila gejala sudah meluas ke arah PID (Pelvic Inflamatory Disease) maka sering timbul :
     

Nyeri perut bagian bawah. Nyeri pinggang bagian bawah. Nyeri sewaktu hubungan seksual. Perdarahan melalui vagina diantara waktu siklus haid. Mual-mual. Terdapat infeksi rektum atau anus.

Bila GO tidak diobati maka ± 1% dari lelaki dan wanita, akan terjadi DGI atau Dessiminated Gonorrhoe Infection. Tanda dan gejalanya berupa demam, bercak di kulit, persendian bengkak

dan nyeri, peradangan pada dinding rongga jantung, peradangan selaput pembungkus otak serta meningitis. Komplikasi Komplikasi dapat timbul pada bayi, lelaki maupun perempuan dewasa. 1. Lelaki – prostatitis (radang kelenjar prostat), adanya jaringan parut pada saluran kencing (urethra), mandul/ infertil, peradangan epididimis, 2. Perempuan – PID, infertil, gangguan menstruasi kronis, peradangan selaput lendir rahim setelah melahirkan (post partum endometriosis), abortus, cistitis (peradangan kandung kencing), peradangan disertai pus. Pencegahan
  

Menghindari seks bebas (free sex). Monogami. Penggunaan kondom saat vaginal, oral maupun anal seks.

Penanganan 1. Pada masa kehamilan, berikan antibiotika seperti : a) Ampisilin 2 gram IV dosis awal, lanjutkan dengan 3 x 1 gram per oral selama 7 hari. b) Ampisilin + Sulbaktan 2,25 gram oral dosis tunggal. c) Spektinomisin 2 gram IM dosis tunggal. d) Seftriakson 500 mg IM dosis tunggal. 2. Masa nifas, berikan antibiotika seperti : a) Xiprofloksasin 1 gram dosis tunggal. b) Trimethroprim + Sulfamethoksazol (160 mg + 800 mg) 5 kaplet dosis tunggal. 3. Oftalmia neonatorum (konjungtivitis) : a) Garamisin tetes mata 3 x 2 tetes. b) Antibiotika – Ampisilin 50 mg/ kgBB IM selama 7 hari; Amoksisilin + asam klamtanat 50 mg/ kgBB IM selama 7 hari; Seftriakson 50 mg/ kgBB IM dosis tunggal. 4. Lakukan konseling tentang metode barier dalam melakukan hubungan seksual. 5. Berikan pengobatan yang sama pada pasangannya. 6. Buat jadual kunjungan ulang dan pastikan pasangan & pasien akan menyelesaikan pengobatan hingga tuntas. Sifilis Pengertian

Adalah penyakit yang disebabkan oleh Treponema Pallidum, bersifat kronik dan sistematik. Nama lain adalah Lues venereal atau raja singa. Penyebab Penyebabnya adalah Treponema Pallidum, termasuk ordo Spirochaecrales, familia Spirochaetaceae dan genus Treponema. Bentuk spiral teratur, panjang 6-15 µm, lebar 0,15 µm, terdiri atas 8-24 lekukan. Pembiakan secara pembelahan melintang, pada stadium aktif terjadi setiap 30 jam. Klasifikasi Sifilis terbagi menjadi sifilis congenital dan sifilis akuista. 1. Sifilis Kongenital, terbagi atas : a) Dini (sebelum 2 tahun); b) Lanjut (sesudah 2 tahun); Stigmata 2. Sifilis Akuista, terbagi : a) Klinik; b) Epidemiologik Menurut caranya sifilis dibagi menjadi tiga stadium yaitu : Stadium I (SI); Stadium II (SII); Stadium III (SIII) Secara epidemiologik, WHO membagi menjadi :
 

Stadium dini menular ( dalam waktu 2 tahun sejak infeksi), terdiri dari SI, SII, stadium rekuren dan stadium laten dini. Stadium lanjut tak menular (setelah 2 tahun sejak infeksi), terdiri atas stadium laten lanjut dan SIII.

Komplikasi

Pada kehamilan: a) Kurang dari 16 minggu : kematian janin (sifilis fetalis). b) Stadium lanjut : prematur, gangguan pertumbuhan intra uterin, cacat berat (pnemonia, sirosis hepatika, splenomegali, pankreas kongenital, kelainan kulit dan osteokondritis).

Tanda dan gejala
 

Lesi (berupa ulkus, soliter, dasar bersih, batas halus, bentuk bulat/longitudinal). Tanpa nyeri tekan.

Penanganan 1. Menerapkan prinsip pencegahan infeksi pada persalinan. 2. Menerapkan prinsip pencegahan infeksi pada penggunaan instrumen.

3. Pemberian antibiotika, misal : Benzalin pensilin 4,8 juta unit IM setiap minggu dengan 4x pemberian; Dofsisiklin 200 mg oral dosis awal, dilanjutkan 2×100 mg oral hingga 20 hari; Sefriakson 500 mg IM selama 10 hari. 4. Sebelum pemberian terapi pada bayi dengan dugaan/ terbukti menderita sifilis kongenital, maka dilakukan pemeriksaan cairan serebrospinalis dan uji serologik tiap bulan sampai negatif. Berikan antibiotik : Benzalin pensilin 200.000 IU/ kgBB per minggu hingga 4x pemberian; Sefriakson 50 mg/ kg BB dosis tunggal (per hari 10 hari). 5. Lakukan konseling preventif, pengobatan tuntas dan asuhan mandiri. 6. Memastikan pengobatan lengkap dan kontrol terjadwal. 7. Pantau lesi kronik atau gejala neurologik yang menyertai. Chlamydia Pengertian Adalah infeksi yang disebabkan oleh kuman Chlamydia trachomatis dan dapat diobati. Penyebab Kuman Chlamydia trachomatis. Penularan Kuman ini menyerang sel pada selaput lendir : a) Uretra, vagina, serviks dan endometrium. b) Saluran tuba fallopi. c) Anus dan rektum. d) Kelopak mata. e) Tenggorokan (insiden jarang). Chlamydia paling sering menyerang pada usia muda dan remaja. Penularannya dapat melalui : hubungan seksual secara oral, anal maupun oral seks; hubungan seksual dengan tangan, sehingga cairan mani terpercik ke mata; dari ibu ke bayi sewaktu proses persalinan. Tanda dan gejala Sekitar 75 % perempuan dan 50% laki-laki yang tertular Chalmydia tidak menunjukkan tanda dan gejala. Keluhan dan gejala biasanya timbul sekitar 3 minggu setelah tertular kuman chlamydia. Adapun tanda dan gejalanya adalah : 1. Menderita proktitis (radang rektum), urethritis (radang saluran kencing) dan konjungtivitis (radang selaput putih mata). 2. Pada wanita : keluar cairan dari vagina; perasaan panas dan nyeri sewaktu buang air kecil

3. Bila sudah menyebar ke tuba fallopi, akan timbul : nyeri perut bagian bawah; nyeri sewaktu coitus; timbul perdarahan pervaginam diantara siklus haid; demam dan mual-mual 4. Pada pria : keluar cairan kuning seperti pus dari penis; nyeri dan rasa terbakar sewaktu kencing; nyeri dan bengkak pada testis Komplikasi Perempuan
PID

Laki-laki

Bayi baru lahir

ProstitisTimbul jaringan parut KebutaanPneumoni (radang pada urethra paru)

Infertil Infertil Radang kandung kencing (cyctitis) Radang serviks (servisitis) Pencegahan 1) Hindari seks bebas; 2) Monogami; 3) Gunakan kondom saat hubungan seks baik dengan oral, anal maupun vaginal seks. Penanganan 1. Doksisiklin per oral 2x sehari selama 7 hari. 2. Asitromisin dengan pemberian dosis tunggal (kontraindikasi untuk ibu hamil, gunakan eritromisin, amoksilin, azitromisin). 3. Lakukan follow-up pada penderita dengan : a) Apakah obat yang diberikan sudah diminum sesuai anjuran. b) Pasangan seksual juga harus diperiksa dan diobati. c) Jangan melakukan hubungan seks, bila pengobatan belum selesai. d) Lakukan periksa ulang 3-4 bulan setelah selesai pengobatan. Referensi Adobe Reader- [HIV-AIDSbooklet_part3.pdf]. Adobe Reader- [SSH-6135-IND.pdf]. Chlamydia Dan Gonorea. Harahap, M, 1984. Penyakit Menular Seksual. Gramedia, Jakarta. Manuaba, IBG, 1999. Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita. Arcan. Jakarta. Rabe, Thomas, 2002. Buku Saku Ilmu Kandungan, Hipokrates, Jakarta. Epididimis Kematian

Sarwono, 2000. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal. Yayasan Bina Pustaka. Jakarta. Yatim, Faisal (2005). Penyakit Kandungan. Myoma, Kanker Rahim/ Leher Rahim Dan Indung Telur, Kista, Serta Gangguan Lainnya. Jakarta.

Tulisan Sejenis : 1. Penyakit Imunologi HIV AIDS 2. Gangguan dan Masalah Haid dalam Sistem Reproduksi 3. Kanker Leher Rahim (Ca Cerviks) Categories: Ginekologi Tags: chlamidia, gonorea, herpes, sifilis Comments (8) Trackbacks (0) Leave a comment Trackback

1. ardy February 16th, 2010 at 11:07 | #1 Reply | Quote

peyakit ini sngt berbahaya
2. lusa February 23rd, 2010 at 20:06 | #2 Reply | Quote

@ardy : betul.. betul.. betul.. Oleh karna itu, perlu bagi kita untuk berperilaku seksual yang sehat.. ok

3. whie March 13th, 2010 at 15:08 | #3

Reply | Quote

tmn sy laki2, penis dy berdarah apa itu tmsk sipilis??? berbahaya kah???

4. RIKHA March 31st, 2010 at 14:49 | #4 Reply | Quote

asw… sahabat subhanalah ilmunya, saya izin copy bwt tambahan ilmu , trims
5. lusa April 4th, 2010 at 16:58 | #5 Reply | Quote

@RIKHA Silakan saja mbak “Rikha”… smoga bermanfaat… dan terima kasih sudah berkunjung…

6. lusa April 6th, 2010 at 13:48 | #6 Reply | Quote

@whie Belum tentu “Whie”.. Untuk mendiagnosa itu sifilis atau bukan perlu pengkajian dan pemeriksaan yang tepat. Tanda dan gejala sifilis sangat banyak dan manifestasinya tergantung dari stadium penyakit ini, bahkan sebelum dilakukan uji serologi untuk mendiagnosa apakah itu sifilis atau bukan sangatlah sulit.

Perdarahan pada penis, perlu dikaji disebabkan oleh apa dulu.. Oleh karena itu, saya sarankan konsultasikan ke ahlinya (ahli kandungan atau ahli kulit kelamin). Sebagai wacana tentang sifilis, ada beberapa referensi yang mungkin bisa dibaca: http://en.wikipedia.org/wiki/Syphilis http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/001327.htm http://www.tanyadokter.com/disease.asp?id=1000714 Semoga bermanfaat…

7. the heart April 29th, 2010 at 13:45 | #7 Reply | Quote

..mau nanya.. tahun yang lalu saya melakukan hubungan seksual dengan teman saya dan . hari kemudian saya mengeluarkan cairan kuning dan kemaluan saya terasa dingin …lalu cairan tersebut itu hilang dengan sendirinya…terus kaki saya sering pegal pegal dan pinggang saya sering sakit terdapat kuti kecil kecil di sekitar kepala kemaluan saya dan yang paling saya heran apa bila saya makan makan an seperti ikan daging (terutama) AYAM TELUR DAN PEDAS KEMALUAN SAYA LANGSUNG GATAL>>>dan nafsu makan saya berkurang berat badan saya pun menurun STELAH KENCING KELAMIN PUN SERING PERIH DAN KERIPUT SEPERTI INFEKSI hanya itu saya pernah demam tapi itu juga gara gara tipes …GA ADA BUANG AIR BATUK ATAU PUN GEJALA AIDS LAIN NYA… ……saya minta tolong penyakit itu termasuk jenis penyakit kelamin yang mana dan penyembuhannya seperti apa serta tolong sekalian obatnya saya ingin berobat ke dokter tapi saya termaksuk orang yang tidak mampu…..SEKARANG SAYA SUDAH TAUBAT DAN INGIN MENIKAH TAPI SAYA TIDAK MAU PENYAKIT SAYA MENULAR KE CALON ISTRI SAYA NANTI…TRIMA KASIH
8. lusa May 16th, 2010 at 01:18 | #8 Reply | Quote

@the heart :

Mohon maaf sebelumnya kepada “the heart”. Penyakit menular seksual bagaikan permainan pingpong, dalam artian “apabila si wanita sudah terinfeksi maka pasangannya terkena juga”. Berdasarkan keluhan yang disampaikan, ada kemungkinan saja Anda terkena salah satu dari penyakit menular seksual di atas. Apalagi jika Anda (mohon maaf), pernah melakukan hubungan seksual yang “tidak sehat” atau mempunyai perilaku seksual “tidak sehat”. Untuk memastikan diagnosa, diperlukan pengkajian yang mendalam dan pemeriksaan secara detail. Sehingga pengobatan yang diberikan sesuai dengan penyebabnya. Apakah disebabkan oleh jamur, kuman maupun virus. Jadi tidak sembarang memberikan pengobatan pada penyakit Anda. Saya menyarankan, tetaplah periksa ke pelayanan kesehatan yang memadai. Untuk meringankan beban biaya pemeriksaan, cobalah datang ke puskesmas terlebih dahulu dan minta surat rujukan ke rumah sakit pemerintah (bila perlu). Sekarang ini, banyak cara untuk memperoleh keringanan biaya berobat di rumah sakit. Antara lain dengan SKTM, jamkesmas, surat miskin dsb.. Saya mengucapkan syukur dan selamat kepada “the heart”, yang akan menuju hidup Anda lebih berarti.. Semoga selalu diberikan yang terbaik oleh Tuhan..
Seksualitas dan Penyakit Menular Seksual

Ada dua jenis penyakit menular seksual yang paling umum yaitu Human Pappilomavirus (HPV) dan Chlamydia, keduanya menyebar tanpa menunjukkan adanya gejala tertentu. Para penderita HPV pada umumnya tidak akan mengetahui terkena virus itu setelah tiga minggu. Mereka tidak akan merasa sakit dan merasa sehat saja. Padahal virus tersebut sangat berbahaya jika tidak segera diobati. Virus tersebut akan menyebabkan perubahan sel-sel pada leher rahim yang pada kasus tertentu akan mengakibatkan penyakit kanker. Dalam kasus chlamydia, sebagian besar penderita juga tidak menunjukkan gejala tertentu. Jika positif terinfeksi chlamydia, sebaiknya Anda dan pasangan menjalani pengobatan antibiotik selama tujuh hari. Bila tidak segera diperiksakan, virus ini bisa menyebabkan penyakit radang rongga pinggul, yaitu infeksi pada saluran reproduksi bagian atas, serta bisa menyebabkan kemandulan. Karena itu, setiap wanita di bawah 25 tahun yang telah melakukan hubungan seks secara aktif sebaiknya melakukan tes chlamydia, setidaknya setahun sekali.

Spermicide Bisa Bikin Alergi Jika Anda rajin memakai zat pembunuh sperma yang disebut spermicide sebagai salah satu pendukung alat kontrasepsi, hati-hati, deh. Apalagi bila vagina Anda terasa gatal, pedih, serta dipenuhi dengan bintilbintil kemerahan. Bisa jadi Anda alergi terhadap zat tersebut.

Jika Anda menggunakan jenis foam (busa) atau suppository (kapsul yang dimasukkan ke dalam vagina), cobalah menggantinya dengan jenis krim atau gel. Untuk mencegah alergi, pilihlah kondom yang tidak dilapisi spermicide atau konsultasikan pada dokter Anda mengenai metode kontrasepsi hormonal lainnya. Satu lagi, sebenarnya spermicide tidak dapat mencegah penularan penyakit seksual seperti HIV, chlamydia dan gonorrhea. Untuk perlindungan maksimal, gunakan saja spermicide dan kondom.

Rajin Olahraga = Seks Bergairah Ingin mencapai kehidupan seks yang bergairah dan penuh sensasi? Yang pasti jawabannya bukan melulu bentuk tubuh yang aduhai lagi menawan. Karena bentuk tubuh menawan bisa tidak berarti lantaran kurangnya kebugaran. Sebaliknya, tubuh yang kurang seksi sekalipun namun bugar, justru akan mendatangkan sensasi seksual yang luar biasa! Belum percaya? Semua itu tentu ada alasannya. Menurut beberapa pakar seksologi, tidak bisa dipungkiri kalau yang namanya seks itu erat kaitannya dengan aktifitas fisik. Artinya, saat aktifitas seksual berlangsung dibutuhkan adanya kekuatan otot-otot, fleksibelitas serta daya tahan tubuh. Tidak heran jika lantas olahraga dijadikan salah satu penunjang terciptanya kehidupan seksual yang bergairah. Yang menjadi pertanyaan, olahraga atau latihan-latihan macam apa yang ampuh memberi suntikan gairah bagi kehidupan seksual tersebut? Penasaran? Ikuti saja yang berikut ini: Latihlah daerah bagian atas tubuh. Wilayah perut ke atas ini memegang peranan yang lumayan penting. Karena pada wilayah tersebutlah terdapat organ seksual seperti payudara. Tentunya Anda ingin payudara terlihat kencang bukan? Pun perlu diingat pentingnya melatih kekuatan otot-otot lengan Anda, entah itu dengan dumble ataupun dengan menggunakan buku-buku tebal seperti kamus atau ensiklopedi misalnya. Pentingnya melatih PC alias pubococcyceal mucles. Otot-otot ini dikenal dengan otot cinta karena berada di seputar wilayah vagina. Dengan melatih PC ini, menurut para pakar, akan menguatkan dan mengencangkan struktur bagian dalam vagina. Melatih bagian bokong. Bokong yang kencang bukan cuma membuat Anda lebih pe-de, pun tentunya akan semakin menarik perhatian dan gairah pasangan Anda, bukan? Latihan lainnya, seperti lompat tali, jogging, dan bersepeda statis juga perlu dilakukan. Apa hubungannya latihan-latihan tersebut dengan kehidupan seksual? Banyak gerak seperti yang dilakukan dalam latihanlatihan tersebut sedikit banyak akan membakar kalori dan mengurangi lemak dalam tubuh kita. Akibat positifnya kemudia, tubuh kita menjadi lebih ringan dan bugar. Nah, kalau tubuh bugar dan sehat maka kehidupan seksual pun biasanya tak kalah menyenangkan. Untuk latihan-latihan di atas, disarankan oleh para ahli agar Anda melakukan latihan-latihn tersebut dengan bantuan instruktur yang profesional. Dengan begitu tujuan Anda untuk mencapai kehidupan seksual yang menggairahkan sekaligus bugar itu pun bakal segera terkabul. Selamat berlatih !

Hormon dan Gairah Seks Estrogen hanya sedikit - atau bahkan tidak - memiliki efek terhadap gairah seks. Walau penurunan produksi estrogen pada masa menopause membuat fisik wanita berubah sehingga mempengaruhi perilaku seksual, hasrat untuk berhubungan intim biasanya nggak lenyap 100 persen. Justru banyak wanita di usia matang lebih tertarik pada seks, dan merasa hubungan seks mereka lebih menyenangkan karena nggak perlu takut hamil lagi. Sedangkan hormon testosteron sangat diperlukan agar fungsi seksual berjalan normal pada pria dan

wanita. Meski testosteron merupakan hormon pria, hormon ini juga diproduksi ovarium wanita dalam jumlah lebih sedikit. Tanpa testosteron, hasrat seks tak akan pernah muncul. Perilaku kita tidak semata-mata ditentukan hormon tetapi juga oleh faktor psikologis, sosial, budaya, ekonomi, dan norma-norma moral yang rumit. Sampai kini, belum bisa dibuktikan bahwa gairah seks wanita lebih kuat dari biasanya pada siklus usia pertengahan. Memang, sih, beberapa penelitian telah mendokumentasikan hasrat yang lebih besar pada saat dan tidak lama setelah proses ovulasi terjadi. Tapi itu, kan, nggak pasti juga…. Pada masa pra-ovulasi, gelora seksual tidak betul-betul padam karena sperma masih bisa bertahan hidup di dalam vagina selama 72 jam. Bukti lain menunjukkan, wanita yang teratur berhubungan intim memiliki siklus menstruasi lebih pendek ketimbang wanita yang tidak aktif secara seksual. Wanita dengan tingkat testosteron tinggi memperlihatkan lebih banyak respons vaginal yang jelas terhadap rangsangan erotis. Tapi wanita yang sama bisa saja sama sekali tidak merasakan kepuasan seks dengan pasangannya. Tak ada yang tahu pasti kenapa hasilnya bisa begitu. Diduga, sih, masturbasi atau onani memang tergantung pada tingkat testosteron. Dengan membaca cerita bertema seks, dan cerita itu membuat hormon menjadi tinggi. Tapi tenang saja, hormon itu tidak punya efek apa pun terhadap aktivitas seks yang dilakukan bersama pasangan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->