GAMBARAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK YANG DILAKUKAN OLEH PERAWAT PADA KLIEN DENGAN PERILAKU KEKERASAN DI RSJSH BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pada dasarnya komunikasi terapeutik merupakan komunikasi interpersonal (antar pribadi) yang profesional mengarah pada tujuan kesembuhan pasien dengan titik kualitas hubungan interpersonal. spesialis jiwa seyogianya menempatkan pasien bukan sekedar obyek, melainkan juga subyek yang punya latar belakang sosial budaya nilai harapan, perasaan, keinginan, dan kekhawatiran serta mendambakan kebahagiaan. Sikap ini melihat orang lain sebagai manusia individu yang patut dihargai. Menerima tidak berarti menyetujui semua perilaku orang lain atau rela menanggung akibat perilakunya. Tenaga medis spesialis jiwa menyampaikan semua informasi yang diperlukan mengenai manfaat dan risiko pengobatan. Sementara itu, pasien sendiri yang mempertimbangkan dan memutuskan apa yang terbaik bagi dirinya. Dalam sikap kesetaraan, tenaga medis tidak mempertegas perbedaan. Status boleh jadi berbedat,tetapi komunikasi tenaga medis dengan pasien tidak vertikal. Tenaga medis tidak menggurui, tetapi berbincang pada tingkat yang sama. Dengan kesetaraan,tenaga medis mengomunikasikan penghargaan dan rasa hormat pada perbedaan pandangan dan keyakinan. Hubungan tenaga medis spesialis jiwa dengan pasien harus dianggap sebagai hubungan antara mitra medis yang saling membutuhkan untuk memerangi keadaan sakit pasien. Komunikasi terapeutik ini akan efektif hanya melalui penggunaan dan latihan yang sering. Melatih diri menggunakan komunikasi interpersonal yang terapeutik akan ,meningkatkan kepekaan tenaga medis terhadap perasaan pasien. Saat pasien mengungkapkan keluhanya pada saat itulah pengobatan dalam proses terapeutik sudah dimulai. Keterampilan komunikasi terapeutik bukan bawaan, melainkan dipelajari. Sayang banyak tenaga medis spesialis jiwa yang tidak menyadari hal ini. Mengingat banyaknya penduduk yang mengalami gangguan jiwa dan kemungkinan rendahnya kesadaran akan arti penting komunikasi terapeutik bidang kajian komunikasi terapeutik ini perlu dipertimbangkan di perguruan tinggi. Bidang kajian ini justru lebih penting bagi para calon ahli spesialis jiwa dokter, bidan dan perawat sarjana kesehatan, apoteker. dan manajer rumah sakit. (http://pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2009/01/kompas-membangun2.pdf) Tahun 2008, hasil penelitian Riset Kesehatan Dasar Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan 2007 menyebutkan bahwa prevalensi warga Jawa Barat mengalami gangguan mental emosional tertinggi se-Indonesia dengan kisaran 20%. Artinya, satu dari lima orang dewasa mengalami gangguan jiwa.Penelitian terakhir membuat kesimpulan bahwa 37% warga Jabar mengalami gangguan jiwa dari tingkat rendah sampai tinggi. Pada 2004 baru ada 13.908 orang dan pada 2005 meningkat menjadi 16.923 orang. Bila dihitung dari tahun 2002, ada penambahan 44,22 persen sehingga rata-rata setiap tahun ada pertambahan

Bagaimana penerapan kontrak terapeutik pada fase orientasi yang dilakukan perawat pada klien dengan perilaku kekerasan d. Bagaimana penerapan salam terapeutik pada fase orientasi yang dilakukan perawat pada klien dengan perilaku kekerasan b. salah satu kendala klasik yang sering muncul adalah terbatasnya sumber tenaga medis spesialis jiwa. pencegahan penyakit (preventif). sedangkan pasien yang akan berkonsultasi umumnya cukup banyak.Untuk mengatasi masalah kesehatan mental ini. Di sisi lain prinsip dasar komunikasi kesehatan yang sering kali terabaikan oleh tenaga medis spesialis jiwa adalah pentingnya komunikasi terapeutik mereka dengan pasien. . Berapa lama pengalaman kerja perawat yang menangani klien dengan perilaku kekerasan e. dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif). komunikasi terapeutik tenaga medis spesialis jiwa yang lebih baik berkontribusi signifikan terhadap kesehatan pasien. penyembuhan penyakit (kuratif).126 pasien. (http://sudiryoblog. komunikasi tenaga medis spesialis jiwa dengan pasien umumnya bersifat formal dan terbatas. Apa tingkat pendidikan perawat yang menerapkan komunikasi terapeutik pada klien dengan perilaku kekerasan f. Sementara itu. Padahal. ada juga anggapan pada sebagian tenaga medis bahwa mereka tidak membutuhkan keahlian lain kecuali mendiagnosis penyakit dan melakukan tindakan medis untuk menyembuhkan penyakit. Tujuan Umum Untuk mengeahui gambaran komunikasi terapeutik yang dilakukan oleh perawat pada klien dengan perilaku kekerasan di RSJSH. Apa jenis kelamin perawat yang menerapkan komunikasi terapeutik pada klien dengan perilaku kekerasan C. Masalah kejiwaan memang sudah pada tingkat yang sangat memprihatinkan. Berbagai upaya pelayanan kesehatan mental telah dilakukan oleh pemerintah daerah/dinas kesehatan melalui peningkatan kesehatan (promotif). Rumusan Masalah a. Bagaimana penerapan evaluasi/ validasi pada fase orientasi yang dilakukan perawat pada klien dengan perilaku kekerasan c.sekitar 1. Berdasarkan pengamatan. Tujuan Penelitian 1.html) B.blogspot. Berapakah usia perawat yang menerapkan komunikasi terapeutik pada klien dengan perilaku kekerasan g.com/2009/07/komunikasitherapeutik-pada-klien.

Untuk mengetahui penerapan evaluasi/ validasi pada fase orientasi yang dilakukan perawat pada pasien dengan perilaku kekerasan di RSJSH. 7). 4).Untuk mengetahui jenis kelamin perawat yang menerapkan komunikasi terapeutik pada klien dengan perilaku kekerasan di RSJSH. 6).Untuk mengetahui tingkat pendidikan perawat yang menerapkan komunikasi terapeutik pada klien dengan perilaku kekerasan di RSJSH. Manfaat Penelitian a.1.Untuk mengetahui penerapan kontrak terapeutik pada fase orientasi yang dilakukan perawat pada pasien dengan perilaku kekerasan di RSJSH.Untuk mengetahui usia perawat yang menerapkan komunikasi terapeutik pada klien dengan perilaku kekerasan di RSJSH. 3). Untuk mengetahui komunikasi terapeutik yang dilakukan oleh perawat pada klien dengan perilaku kekerasan di RSJSH. Untuk menambah wawasan perawat tentang komunikasi terapeutik pada klien dengan perilaku kekerasan. c. b. D. Sebagai bahan pertimbangan untuk penulisan riset selanjutnya. Tujuan Khusus 1). 5). 2). Sebagai tambahan literature dalam proses keperawatan pada klien dengan perilaku kekerasan.Untuk mengetahui berapa lama pengalaman kerja perawat yamg menangani klien dengan perilaku kekekrasan di RSJSH. . Sebagai tambaan referensi dalam perpustakaan di Akper Depkes Bandung d.

perawat membantu dan pasien menerima bantuan (Indrawati. namun harus direncanakan. Oleh karena itu komunikasi terapeutik memegang peranan penting memecahkan masalah yang dihadapi pada dasarnya komunikasi terapeutik merupakan komunikasi proposional yang mengarah pada tujuan yaitu penyembuhan pasien pada komunikasi terapeutik terdapat dua komponen penting yaitu proses komunikasinya dan efek komunikasinya. Komunikasi terapeutik termasuk komunikasi untuk personal dengan titik tolak saling memberikan pengertian antar petugas kesehatan dengan pasien. Komunikasi dalam bidang keperawatan merupakan proses untuk menciptakan hubungan antara tenaga kesehatan dan pasien untuk mengenal kebutuhan pasien dan menentukan rencana tindakan serta kerjasama dalam memenuhi kebutuhan tersebut. . b. mengungkap perasaan dan mengkaji masalah dan evaluasi tindakan yang dilakukan oleh perawat (Indrawati. 2003 : 50).Mengulang keraguan membantu dalam pengambilan tindakan yang efektif dan mempengaruhi orang lai lingkungan fisik dan dirinya. Persoalan mendasar dan komunikasi in adalah adanya saling membutuhan antara perawat dan pasien. dan merupakan tindakan profesional. kemudian melupakan pasien sebagai manusia dengan beragam latar belakang dan masalahnya (Arwani. membantu pasien memperjelas dan mengurangi beban perasaan dan pikiran mempertahakan kekuatan egonya. sehingga dapat dikategorikan ke dalam komunikasi pribadi di antara perawat dan pasien. Membantu mengambil tindakan yang efektif untuk mengubah situasi yang ada. Komunikasi terapeutik bukan pekerjaan yang bisa dikesampingkan. 2003 48). jangan sampai karena terlalu asyik bekerja. 2003 50). Akan tetapi. Mengidentifikasi. Menurut Purwanto komunikasi terapeutik merupakan bentuk keterampilan dasar utnuk melakukan wawancara dan penyuluhan dalam artian wawancara digunakan pada saat petugas kesehatan melakukan pengkajian member penyuluhan kesehatan dan perencaan perawatan. Tujuan dari komunikasi terapeutik : a. c. bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien (Indrawati. 2003 48). Definisi Komunikasi Terapeutik Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar. Komunikasi terapeutik termasuk komunikasi interpersonal dengan titik tolak saling memberikan pengertian antar perawat dengan pasien. Komunikasi Terapeutik 2. 2003 : 48). disengaja. Manfaat Komunikasi Terapeutik Manfaat komunikasi terapeutik adalah untuk mendorong dan menganjurkan kerja sama antara perawat dan pasien melalui hubungan perawat dan pasien. Tujuan Komunikasi Terapeutik (Indrawati.BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1.

jika pengirim pesan tidak mampu menerjemahkan kata dan ucapan. tetapi hubungan sosial biasa. Penggunaan contoh bisa membuat penjelasan lebih mudah untuk dipahami. Ulang bagian yang penting dari pesan yang disampaikan. dan jika ini digunakan oleh perawat. mengapa. observasi dan ingatan. Szilagyi (1984). Banyak istilah teknis yang digunakan dalam keperawatan dan kedokteran. Kata-kata adalah alat atau simbol yang dipakai untuk mengekspresikan ide atau perasaan. atau menguraikan obyek. Menurut Potter dan Perry (1993) dalam Purba (2003). komunikasi terjadi pada tiga tingkatan yaitu intrapersonal.Membantu pasien untuk memperjelas dan mengurangi beban perasaan dan pikiran serta dapat mengambil tindakan yang efektif untuk pasien. Bila perawat tidak memperhatikan hal ini. Jenis Komunikasi Terapeutik Komunikasi merupakan proses kompleks yang melibatkan perilaku dan memungkinkan individu untuk berhubungan dengan orang lain dan dunia sekitarnya. Kejelasan dapat dicapai dengan berbicara secara lambat dan mengucapkannya dengan jelas. Penerimaan pesan perlu mengetahui apa. dengan menggunakan kata-kata yang mengekspresikan ide secara sederhana. Komunikasi verbal biasanya lebih akurat dan tepat waktu. 1. membantu mempengaruhi orang lain. hubungan perawat-klien tersebut bukanlah hubungan yang memberikan dampak terapeutik yang mempercepat kesembuhan klien. pendek dan langsung. Kualitas asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien sangat dipengaruhi oleh kualitas hubungan perawat-klien. klien dapat menjadi bingung dan tidak mampu mengikuti petunjuk atau . Menurut Potter dan Perry (1993). Komunikasi Verbal yang efektif harus: 1) Jelas dan ringkas Komunikasi yang efektif harus sederhana. Keuntungan komunikasi verbal dalam tatap muka yaitu memungkinkan tiap individu untuk berespon secara langsung. membangkitkan respon emosional. lingkungan fisik dan diri sendiri. 2) Perbendaharaan Kata (Mudah dipahami) Komunikasi tidak akan berhasil. Sering juga untuk menyampaikan arti yang tersembunyi. bagaimana. kapan. Komunikasi Verbal Jenis komunikasi yang paling lazim digunakan dalam pelayanan keperawatan di rumah sakit adalah pertukaran informasi secara verbal terutama pembicaraan dengan tatap muka. interpersonal dan publik. tertulis dan non-verbal yang dimanifestasikan secara terapeutik. Makin sedikit kata-kata yang digunakan makin kecil keniungkinan teijadinya kerancuan. Swansburg (1990). dan menguji minat seseorang. Ringkas. dan Tappen (1995) dalam Purba (2003) ada tiga jenis komunikasi yaitu verbal. siapa dan dimana.

Perilaku Kekerasan 2. perawat harus peka terhadap ketepatan waktu untuk berkomunikasi. dan atau sexua litas ( Nanda. Kata serius dipahami klien sebagai suatu kondisi mendekati kematian. menyimak isyarat nonverbal dari pendengar yang mungkin menunjukkan. 5) Waktu dan Relevansi Waktu yang tepat sangat penting untuk menangkap pesan. tetapi waktu tidak tepat dapat menghalangi penerimaan pesan secara akurat. Begitu pula komunikasi verbal akan lebih bermakna jika pesan yang disampaikan berkaitan dengan minat dan kebutuhan klien. perasaan atau ide yang terdapat dalam suatu kata. Daripada mengatakan “Duduk. 2005 ). tetapi perawat akan menggunakan kata kritis untuk menjelaskan keadaan yang mendekati kematian. 2000). Kendatipun pesan diucapkan secara jelas dan singkat. sedangkan arti konotatif merupakan pikiran. emosional. kebutuhan yang tidak terpenuhi yang dirasakan sebagai ancaman ( Stuart dan Sunden. Selaan yang lama dan pengalihan yang cepat pada pokok pembicaraan lain mungkin akan menimbulkan kesan bahwa perawat sedang menyembunyikan sesuatu terhadap klien. Perawat juga bisa menanyakan kepada pendengar apakah ia berbicara terlalu lambat atau terlalu cepat dan perlu untuk diulang. . Selaan yang tepat dapat dilakukan dengan memikirkan apa yang akan dikatakan sebelum mengucapkannya.mempelajari informasi penting. 3) Arti denotatif dan konotatif Arti denotatif memberikan pengertian yang sama terhadap kata yang digunakan. terutama sangat penting ketika menjelaskan tujuan terapi. Ucapkan pesan dengan istilah yang dimengerti klien. Pengertian Perilaku Kekerasan Perilaku kekerasan adalah perilaku individu yang dapat membahayakan orang. memberi waktu kepada pendengar untuk mendengarkan dan memahami arti kata. 1997 ). diri sendiri baik secar fisik. Perilaku kekerasan atau agresif merupakan suatu bentuk perilaku yang bertujuan untuk melukai seseorang secara fisik maupun psikologis (Berkowitz. Marah merupakan perasaan jengkel yang timbul sebagai respon terhadap kecemasan. Selaan perlu digunakan untuk menekankan pada hal tertentu. Oleh karena itu. 1. Perawat sebaiknya tidak berbicara dengan cepat sehingga kata-kata tidak jelas. Ketika berkomunikasi dengan keperawat harus hati-hati memilih kata-kata sehingga tidak mudah untuk disalah tafsirkan. tidak waktunya untuk menjelaskan resiko operasi. 1. sementara saya akan mengauskultasi paru paru anda” akan lebih baik jika dikatakan “Duduklah sementara saya mendengarkan paru-paru anda”. Bila klien sedang menangis kesakitan. terapi dan kondisi klien. 1993 dalam Depkes. 4) Selaan dan kesempatan berbicara Kecepatan dan tempo bicara yang tepat turut menentukan keberhasilan komunikasi verbal.

kegagalan yang dialami dapat menimbulkan frustasi yang kemudian dapat timbul agresif atau amuk. 3. Individu dapat merusak diri sendiri. 2. Faktor Predisposisi Berbagai pengalaman yang dialami tiap orang yang merupakan faktor predisposisi. Faktor predisposisi dan faktor presipitasi dari perilaku kekerasan (Keliat. Tanda dan Gejala Keliat (2002) mengemukakan bahwa tanda -tanda marah adalah sebagai . Sosial budaya. Faktor Presipitasi Faktor presipitasi dapat bersumber dari klien. d ihina. Kemarahan atau rasa tidak setuju yang dinyatakan atau diungkapkan tanpa menyakiti orang lain akan memberi kelegaan pada individu dan tidak akan menimbulkan masalah. Perilaku. dianiaya atau sanksi penganiayaan. keputusasaan. 1997 dalam Depkes. Amuk atau kekerasan adalah perasaan marah dan bermusuhan yang kuat disertai kehilangan kontrol diri. dan lingkungan (Stuart and Sundeen. lobus temporal dan ketidakseimbangan neurotransmiter turut berperan dalam terjadinya perilaku kekerasan. sering mengobservasi kekerasan di rumah atau diluar rumah. budaya tertutup dan membahas secara diam (pasif agresif) dan kontrol sosial yang tidak pasti terhadap perilaku kekerasan akan menciptakan seolah-olah perilaku kekerasan diterima ( permisive) 4. Bioneurologis. dan kekerasan merupakan faktor penyebab yang lain. banyak pendapat bahwa kerusakan sistim limbik. percaya diri yang kurang dapat menjadi penyebab perilaku kekerasan. Kegagalan yang menimbulkan frustasi dapat menimbulkan respon pasif dan melarikan diri atau respon melawan dan menantang. Respon menyesuaikan dan menyelesaikan merupakan respon adaptif. Pasif adalah suatu keadaan dimana individu tidak mampu untuk mengungkapkan perasaan yang sedang dialami untuk menghindari suatu tuntutan nyata. padat. Psikologis. ketidakberdayaan. artinya mungkin terjadi/mu ngkin tidak terjadi perilaku kekerasan jika faktor berikut dialami oleh individu: 1. Masa kanak -kanak yang tidak menyenangkan yaitu perasaan ditolak.Keberhasilan individu dalam berespon terhadap kemarahan dapat menimbulkan respon asertif. 2002) adalah : a. kehilangan orang yang dicintai atau pekerjaan. semua aspek ini mestimulasi individu mengadopsi perilaku kerasan. Frustasi adalah respon yang terjadi akibat gagal mencapai tujuan. 2. lobus frontal. Dalam keadaan ini tidak ditemukan alternatif lain. Demikian pula dengan situasi lingkungan yang ribut. kritikan yang mengarah pada penghinaan. Respon melawan dan menantang merupakan respon yang maladaptif yaitu agresif–kekerasan. Kondisi klien seperti kelemahan fi sik (penyakit fisik). Agresif adalah perilaku yang menyertai marah da n merupakan dorongan untuk bertindak dalam bentuk destruktif dan masih terkontrol. lingkungan atau interaksi dengan orang lain. 2001). orang lain. reinforcement yang diterima pada saat melakukan kekerasan. b.

ejekan dan humor. Episode manik tertentu. jengkel. Respon terhadap marah dapat diekspresikan secara eksternal maupun internal.berikut : a. h. sarkasme. e. Ciri paranoid pada pasien psikotik. kekerasan. c. tidak bermoral. Kegembiraan katatonik. b. asbak). sehingga perasaan marah dapat diatasi (Depkes. Emosi : tidak adekuat. cemas dan marah merupakan bagian kehidupan sehari -hari yang harus dihadapi oleh setiap individu. 2000). Fisik : muka merah. global atau dengan temuan lobus fantolis. Secara eksternal dapat berupa perilaku kekerasan sedangkan secara internal dapat berupa perilaku depresi dan penyakit fisik. Apabila perasaan marah diekspresikan dengan perilaku kekerasan. menu runkan ketegangan. Intoksikasi alkohol atau zat lain. Perilaku yang tidak asertif seperti perasaan marah dilakukan individu karena merasa tidak kuat. g. Ancaman verbal atau fisik. kebajikan/kebenaran diri. Agitasi psikomator progresif. Cara demikian tentunya tidak akan menyelesaikan masalah bahkan dapat menimbulkan kemarahan yang berkepanjangan dan dapat menimbulkan tingkah laku destruktif. Membawa senjata atau benda lain yang dapat digunakan sebagai senjata (misalnya : garpu. Halusinasi dengar dengan perilaku kekerasan tetapi tidak semua pas ien berada pada resiko tinggi. d. meremehkan. l. pandangan tajam. bawel. i. Stress dapat menyebabkan kecemasan yan g menimbulkan perasaan tidak menyenangkan dan terancam. 1997) adalah: a. berdebat. Tindakan kekerasan belum lama. d. kebejatan. keraguan. keringat. e. kreativitas terhambat. seperti tindakan kekerasan yang ditujukan kepada orang lain maupun lingkungan. Episode depresif teragitasi tertentu. k. Patofisiologi Terjadinya Marah Depkes (2000) mengemukakan bahwa stress. nafas pendek. Sosial : menarik diri. c. Kecemasan dapat menimbulkan kemarahan yang mengarah pada perilaku kekerasan. penolakan. rasa terganggu. Spiritual : kemahakuasaan. j. Penyakit otak. marah (dendam). Mengekspresikan marah dengan perilaku konstruktif dengan menggunakan kata-kata yang dapat dimengerti dan diterima tanpa menyakiti orang lain. f. biasanya dilakukan individu karena ia merasa kuat. Individu akan pura-pura tidak marah atau melarikan diri dari rasa marahnya sehingga rasa marah tidak terungkap. pengasingan. penyerangan. termasuk kekerasan terhadap barang milik. Tanda ancaman kekerasan (Kaplan and Sadock. Kemarahan demikian akan menimbulkan rasa bermusuhan yang lama dan pada suatu saat dapat . lebih jarang pada temuan lobus temporalis (kontroversial). akan memberikan perasaan lega. sakit fisik. 4. 3. tidak aman. Gangguan kepribadian (kekerasan. atau diskontrol implus). b. Intelektual : mendominasi. penyalahgunaan obat dan tekanan darah.

Pengalaman kerja perawat Tingkat pendidikan Usia Jenis kelamin Komunikasi Terapeutik BAB III KERANGKA KONSEP 1. 2. Kerangka Konsep Pada dasar Gambaran komunikasi terapeutik yang dilakukan oleh perawat pada klien nya dengan perilaku kekerasan di RS. 3. Salam Terapeutik 2. 3.menimbulkan kemarahan destruktif yang ditujukan kepada diri sendiri (Depkes. 4. Kerangka Teori Langkah Komunikasi : 1. Lama pengalaman kerja perawat yamg menangani klien dengan perilaku kekekrasan di RSMM. Faktor yang Mempengaruhi Komunikasi Terapeutik 1. 7. Jenis kelamin perawat yang menerapkan komunikasi terapeutik pada klien dengan perilaku kekerasan di RSMM 1. 2000) 1. Penerapan kontrak terapeutik pada fase orientasi yang dilakukan perawat pada pasien dengan perilaku kekerasan di RSMM. Marzoeki Mahdi Tahun 2009 kom unik asi terapeutik merupakan komunikasi interpersonal (antarpribadi) yang profesional mengarah . 6. Tingkat pendidikan perawat yang menerapkan komunikasi terapeutik pada klien dengan perilaku kekerasan di RSMM. Usia perawat yang menerapkan komunikasi terapeutik pada klien dengan perilaku kekerasan di RSMM. 5. 2. Penerapan evaluasi/ validasi pada fase orientasi yang dilakukan perawat pada pasien dengan perilaku kekerasan di RSMM. 4. Kontrak Terapeutik Faktor Lain : 1. Evaluasi/ Validasi 3. Komunikasi terapeutik yang dilakukan oleh perawat pada klien dengan perilaku kekerasan di RSMM.

pendapat yang sedang berkembang. Sikap ini melihat orang lain sebagai manusia individu yang patut dihargai. Tidak ada uji hipotesis. Definisi Operasional BAB IV METODOLOGI 1. pendapat yang sedang berkembang. karakteristik. perubahan. 1. aktivitas. perasaan. Populasi . Furchan ( 2004:447 ) menjelaskan bahwa penelitian adalah penelitian yang dirancang untuk memperoleh informasi tentang status sesuatu gejala saat penelitian dilakukan. Penelitian deskriptif adalah suatu bentuk penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan fenomena-fenomena yang ada baik secara alamiah maupun buatan manusia. spesialis jiwa seyogianya menempatkan pasien bukan sekedar obyek.pada tujuan kesembuhan pasien dengan titik kualitas hubungan interpersonal. Tenaga medis spesialis jiwa menyampaikan semua informasi yang diperlukan mengenai manfaat dan risiko pengobatan. Populasi dan Sampel 1. misalnya kondisi atau hubungan yang ada. melainkan juga subyek yang punya latar belakang sosial budaya nilai harapan. Penelitian deskriptif mempunyai karakteristik seperti yang dikemukakan furchan ( 2004 ) bahwa 1). Penelitian deskriptif cenderung menggambarkan suatu fenomena apa adanya secara teraturketat. 2).Oleh karena itu peneliti mengangkat judul diatas. Tidak ada perlakuan yang diberikan/ dikendallikan. keinginan. Menerima tidak berarti menyetujui semua perilaku orang lain atau rela menanggung akibat perilakunya. Tidak ada perlakuan yang diberikan/ dikendallikan. 2). Furchan ( 2004:447 ) menjelaskan bahwa penelitian adalah penelitian yang dirancang untuk memperoleh informasi tentang status sesuatu gejala saat penelitian dilakukan. Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang berusaha mendeskripsika dan mengintrepertasikan sesuatu. pasien sendiri yang mempertimbangkan dan memutuskan apa yang terbaik bagi dirinya. mengutamakan obyektivitas dan dilakukan secara cermat. Fenomena itu bisa berupa bentuk. proses yang sedang berlangsung atau tentang kecenderungan yang tengah berlangsung. dan kekhawatiran serta mendambakan kebahagia-an. hubungan. 3). 2006:72 ). Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang berusaha mendeskripsika dan mengintrepertasikan sesuatu. Penelitian deskriptif cenderung menggambarkan suatu fenomena apa adanya secara teraturketat. Tidak ada uji hipotesis. misalnya kondisi atau hubungan yang ada. mengutamakan obyektivitas dan dilakukan secara cermat. proses yang sedang berlangsung atau tentang kecenderungan yang tengah berlangsung. 3). Disain Disain penelitian yang akan diteliti termasuk ke dalam disain deskriptif dengan cara wawancara dan quisioner. kesamaan. Penelitian deskriptif mempunyai karakteristik seperti yang dikemukakan furchan ( 2004 ) bahwa 1). 1. dan perbedaan antara fenomena yang satu dengan yang lainnya ( sukadinata. Sementara itu.

2) Karakteristik a) Inklusi : Perawat yang ada di RSMM di ruang Srikandi dengan pendidikan D3. lama bekerja minimal 2 tahun. 2) Populasi Study : Perawat yang menerapkan komunikasi terapeutik di RSMM di ruang Srikandi. 1. Cara Cara pengambilan sample yang digunakan adalah secara quota sampling. Sampel 1) Jumlah Cara pengambilan sample dengan minimal 30 responden. usia 2235 tahun. jenis kelamin pria dan wanita. Peneliti memilih cara ini karena dengan cara quota sampling peneliti akan lebih mudah dan cepat memperoleh data yang dibutuhkan. 1. Quota sampling adalah metode memilih sample yang mempunyai cirri-ciri tertentu dalam jumlah atau quota yang diinginkan. 1.1) Populasi Target : Perawat yang menerapkan komunikasi terapeutik di RSMM Kota Bogor. lama bekerja minimal 2 tahun. data yang dikumpulkan/ didapat melalui wawancara dan quisioner. jenis kelamin pria dan wanita namun sedang cuti. . usia 22-35 tahun. b) Eksklusi : Perawat yang ada di RSMM di ruang Srikandi dengan pendidikan D3. 1.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful