ASPEK BIOETIKA DALAM PENANGANAN KASUS PENYAKIT MENULAR SEKSUAL PADA REMAJA DI YOGYAKARTA Alfani Fajar Ilmawan1 Linda

Rosita2 Syaefuddin Ali Akhmad3 INTISARI Latar Belakang : Saat ini diperkirakan terdapat 340 juta kasus penyakit menular seksual yang dapat disembuhkan ditemukan setiap tahunnya di seluruh dunia. Proporsi terbesar kasus penyakit menular seksual terjadi di wilayah Asia Selatan dan Asia Tenggara. (WHO, 2007). Tingginya kasus penyakit menular seksual pada remaja dan usia muda tidak saja menimbulkan permasalahan kesehatan namun juga permasalahan etika dalam penanggulangan kasus-kasus ini. Tujuan Penelitian : Untuk mengetahui isu bioetik yang menonjol dalam penanganan kasus penyakit menular seksual pada remaja di Yogyakarta dan pandangan dokter terhadap isu-isu dan dilema-dilema bioetika yang muncul dalam pelayanan kesehatan penyakit menular seksual pada remaja. Metode Peneilitan : Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan triangulasi berupa pengambilan data sekunder, in-depth interview dan studi referensi dalam penyusunannya. Subjek penelitian adalah seluruh dokter pada Poli Kebidanan dan Kandungan serta Poli Kulit dan Kelamin di rumah sakit PKU Yogyakarta. Hasil Penelitian : Kasus penyakit menular seksual yang ditemukan dalam rentang waktu 1 Januari 2010 sampai 31 Desember di RS PKU Yogyakarta didapatkan sebanyak 24 dengan frekuensi tertinggi pada usia 25 sampai 45 tahun yakni sejumlah 14 kasus dan 6 kasus PMS diderita oleh pasien usia remaja ( ≤19 tahun). Kasus yang terbanyak ditemukan adalah Gonorrhea (87,5%), HIV (8,33%) dan Sifilis (4,16%). Isu etika yang ditemui dokter dalam penanganan PMS pada remaja terutama dalam hal penggalian informasi tentang perilaku seksual yang beresiko, penyampaian informasi kepada wali atau orang tua pasien, pengambilan keputusan terapi pada pasien remaja serta menjaga kerahasiaan pasien. Dilema bioetik yang ditemui dokter dalam penanganan kasus PMS pada remaja adalah adanya konflik dari aspek confidentiality, dengan aspek non maleficence. Dalam menangani dilema etik dalam kasus – kasus sensitif seperti itu ketiga responden melakukan pendekatan dengan mempertimbangkan aspek autonomy dan confidentiality pasiennya. Kesimpulan : Isu etika yang ditemui dokter dalam penanganan PMS pada remaja terutama dalam hal penggalian informasi, penyampaian informasi, pengambilan keputusan terapi serta menjaga kerahasiaan pasien. Dilema bioetik yang terutama ditemui oleh dokter dalam penanganan kasus PMS pada remaja adalah adanya konflik dari aspek confidentiality, dengan aspek non maleficence. Kata Kunci
1 2 3

: Bioetik, Dilema bioetik, Penyakit Menular Seksual, Remaja

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia Kepala Prodi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia Staf Departemen Biokimia Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia

2010 until December 31st 2010. Keywords 1 2 3 : Bioethics. treatment decision making and confidentiality. Saat ini diperkirakan terdapat 340 juta kasus penyakit menular seksual yang dapat disembuhkan ditemukan setiap . Results : The data from PKU Yogyakarta Hospital there are 24 cases of STIs found from January 1st. (WHO.16%). treatment decision making and confidentiality. This high prevalence of sexual transmitted infections among adolescence.BIOETHICAL ASPECTS ON SEXUAL TRANSMITTED INFECTIONS TREATMENT AMONG ADOLESCENCE IN YOGYAKARTA Alfani Fajar Ilmawan1 Linda Rosita2 Syaefuddin Ali Akhmad3 ABSTRACT Background : WHO estimates that 340 million new cases of STIs have occurred worldwide in 1999. not only causing medical problems but also triggering various ethical problems to emerge. While bioethical dilemma at the treatment of STIs among adolescents are mainly because the conflict of confidentiality and non maleficence. Most frequent cases are from Gonorrhea (87. Adoslecence Faculty of Medicine Student Islamic University of Indonesia Chief of Educational Programme Faculty of Medicine Islamic University of Indonesia Department of Biochemistry Faculty of Medicine Islamic University of indonesia PENDAHULUAN Penyakit Menular Seksual adalah berbagai macam sindrom klinis yang disebabkan oleh pathogen yang didapat atau ditularkan melalui aktivitas seksual (CDC. Conclusions : Ethical issues that being countered by doctors when treating STIs among adolescents mainly around the history taking about high risk sexual activity. Ethical issues that being countered by doctors when treating STIs among adolescents mainly around the history taking about high risk sexual activity. Sexual Transmitted Infections. The research subjects are doctors at Genitourinary and Obstetric/Gynecology divisions of PKU Yogyakarta Hospital. in-depth interview and references study. 2010). While bioethical dilemma at the treatment of STIs among adolescents are mainly because the conflict of confidentiality and non maleficence. On overcoming this ethical dillema the three respondents examine the aspect of autonomy and confidentiality of their respective patients. 2007). Objectives : To know bioethical issues and dilemmas in the treatment of STIs among adolescence in Yogyakarta and the perspective of physician towards ethical issues and dilemmas occurs. Penyakit Menular Seksual adalah sekelompok penyakit infeksi yang penyebarannya terjadi melalui kontak seksual manusia dengan manusia.5%). Menurut WHO. Bioethical dilemmas. HIV (8. Methods : This research uses a qualitative research method with a triangulations of secondary data.3%) and Syphilis (4. The largest number of new infections occurred in the region of South Asia and Southeast Asia.

Hal ini menyebabkan seorang dokter tidak saja dituntut untuk memberikan penanganan kasus penyakit menular seksual pada remaja sesuai dengan aspek ilmu pengetahuannya saja tetapi juga sesuai dengan aspek etika yang sesuai dengan permasalahan etika yang dihadapi oleh dokter dalam prakteknya. Dokter adalah penyedia pelayanan kesehatan yang sudah menjalani pendidikan dan pelatihan khusus dan mempunyai gelar di bidang kedokteran. Secara global infeksi ini menyebabkan beban ekonomi dan kesehatan yang besar. HIV/AIDS. Adapun kasus penyakit menular seksual yang digunakan adalah Gonorrhea.tahunnya di seluruh dunia pada pria dan wanita berusia 15-49 tahun. diikuti Afrika sub Sahara. diikuti dengan kelompok usia 15-19 tahun. Dalam penelitian ini dokter yang dijadikan subjek penelitian adalah dokter spesialis Obstetri/Ginekologi serta spesialis Kulit dan Kelamin yang sebelumnya memiliki pengalaman menangani kasus penyakit menular seksual pada remaja HASIL DAN PEMBAHASAN Data kasus penyakit menular seksual diambil dari rumah sakit PKU Yogyakarta dengan ketentuan kasus penyakit menular seksual yang ditemukan dalam rentang waktu 1 Januari 2010 sampai 31 Desember 2010. dengan perkiraan jumlah sampel sebanyak 3 orang. 2007). Tingginya kasus penyakit menular seksual pada remaja dan usia muda tidak saja menimbulkan permasalahan kesehatan namun juga permasalahan etika dalam penanggulangan kasus-kasus ini. Dalam penelitian ini definisi remaja adalah anak berusia 10 – 19 tahun dengan riwayat Penyakit Menular Seksual. Jumlah sampel bersifat tentative. Subjek penelitian adalah seluruh dokter pada Poli Kebidanan dan Kandungan serta Poli Kulit dan Kelamin di rumah sakit PKU Yogyakarta. in-depth interview dan studi referensi dalam penyusunannya. dengan angka kejadian tertinggi terjadi pada kelompok usia 20-24 tahun. Sifilis. Penyakit menular seksual menurut WHO adalah berbagai macam sindrom klinis yang terutama ditularkan melalui aktivitas dan kontak seksual dari satu orang ke orang lainnya. lalu Amerika Latin dan Karibia. DEFINISI OPERASIONAL Remaja menurut Depkes RI adalah anak berusia 10 – 19 tahun. terutama di negaranegara berkembang dimana penyakit ini menyebabkan kerugian ekonomi hingga sebesar 17 % (WHO. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara purposive sampling yaitu teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu. Pertimbangan tersebut adalah dokter yang menangani kasus penyakit menular seksual dengan usia remaja. Proporsi terbesar kasus penyakit menular seksual terjadi di wilayah Asia Selatan dan Asia Tenggara. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui isu bioetik yang menonjol dalam penanganan kasus penyakit menular seksual pada remaja di Yogyakarta dan pandangan dokter terhadap isu-isu dan dilema-dilema bioetika yang muncul dalam pelayanan kesehatan penyakit menular seksual pada remaja. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan case study dan triangulasi sumber data berupa pengambilan data sekunder. Bakterial Vaginosis dan Trikomoniasis Data kasus penyakit menular seksual diambil dari rumah sakit PKU Yogyakarta dengan ketentuan kasus penyakit menular seksual yang ditemukan dalam rentang waktu 1 Januari 2010 sampai 31 Desember . Klamidia.

33%) Distribusi kasus PMS di RS PKU Yogyakarta menunjukkan bahwa kasus PMS terutama ditemukan pada pasien pria dengan rentang usia 24 – 45 tahun. meningkat tajam dibanding tahun 2006 berjumlah 77 kasus. pada tahun 2007.2010. Gambar 2. Bakterial Vaginosis dan Trikomoniasis.33%) dan sifilis 1 kasus (4. Frekuensi Kasus PMS di RS PKU Yogyakarta HIV.16%).3 8.. sedangkan pada pasien dengan rentang usia 15 -24 Kasus yang paling sering ditemui pada pasien Penyakit Menular Seksual di Rumah Sakit PKU Yogyakarta adalah Gonorrhea dengan 21 kasus (87. Berdasarkan data yang diperoleh dari data profil kesehatan Kab/Kota. ada kecenderungan meningkat ya dalam lima tahun terakhir ini. Sedangkan kasus Infeksi Menular di Provinsi D. Sifilis. kasus HIV AIDS berjumlah 31 orang.33%) diikuti kategori usia 15 – 24 tahun dengan 8 kasus (33. dimana ditemukan sebanyak 13 kasus. Kasus terbesar sebanyak 11 orang yang terjadi di kabupaten Bantul dan Sleman. HIV/AIDS. seperti yang diungkapkan salah seorang responden berikut : “.16% Gonorrh ea. Ketiga responden sendiri memiliki pengetahuan dan pengalaman yang baik mengenai konsep etika dan bioetika serta dalam menangani kasus Penyakit Menular Seksual. 8. Dan ketiganya mengakui adanya peningkatan jumlah kasus Penyakit Menular Seksual yang diderita usia remaja. 4. Hal ini sangat jauh menurun dibanding tahun 2006 sebesar 69 kasus. Tabel 3. Peningkatan jumlah kasus dimungkinkan karena semakin baiknya pelaporan serta hasil zero survai terutama di kota Yogyakarta. didapatkan kasus sebanyak 24 dengan frekuensi tertinggi didapatkan pada pasien dengan rentang usia 25 sampai 45 tahun yakni sejumlah 14 kasus.50% Pada pengambilan data di rumah sakit PKU Yogyakarta.Yogyakarta pada tahun 2007 berjumlah 260 orang. Terutama karena perilaku anak – . 87.33% Sifilis.. Distribusi Pasien PMS Berdasarkan Jenis Kelamin Usia 15 – 24 25 – 45 >45 Total Pria 4 13 2 19 Wanita 4 1 0 5 Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa kasus Penyakit Menular Seksual di RS PKU Yogyakarta paling sering ditemui pada pasien dengan rentang usia 25 – 45 tahun dengan jumlah sebanyak 14 kasus (58. Tabel 1. Adapun kasus penyakit menular seksual yang digunakan adalah Gonorrhea. Klamidia.3 58. Kasus terbanyak ditemukan di Kota Yogyakarta berjumlah 202 kasus.3 100 tahun distribusi kasus PMS ditemukan berimbang antara jumlah pasien pria dan wanita. sedangkan 6 kasus diantaranya diderita pasien berusia remaja.33%) dan pasien berusia >45 tahun dengan 2 kasus (8.I.5%) diikuti dengan HIV sebanyak 2 kasus (8.Kasus PMS Berdasarkan Usia Usia 0 – 14 15 – 24 25 – 45 >45 Total Frekuensi 0 8 14 2 24 Presentase (%) 0 33.

. Prinsip – prinsip rasional dalam penanganan dilema etik adalah prinsip utama bioetik yaitu Beneficence. 118 – 130)” Dalam penuturannya ketiga responden terutama menghadapi isu dalam penggalian informasi tentang perilaku pasien. Dalam menangani dilema etik dalam kasus – kasus sensitif seperti itu ketiga responden melakukan pendekatan dengan mempertimbangkan aspek autonomy dan confidentiality pasiennya seperti yang diungkapkan seorang responden sebagai berikut : “. para ahli kerap melakukan pengambilan keputusan dengan pendekatan yang menitikberatkan pada . Kasus seperti ini memunculkan konflik antara kedua prinsip utama bioetik yaitu Beneficence dengan Autonomy. (NS1. Aspek ini menjadi pertimbangan karena dalam pengambilan keputusan hal – hal yang berkaitan dengan kepercayaan dan nilai seseorang bisa amat berbeda dan bersifat prinsipal sehingga hampir tidak mungkin untuk dirubah. Kepercayaan dan nilai yang berlaku dalam masyarakat adalah aspek selanjutnya yang perlu dipertimbangkan. maka semakin bertanggung jawab dan berhati – hati kita dalam mengambil suatu keputusan tersebut. 2007). dalam kasus remaja yang didampingi orang tua. Jadi saya tanyakan kepada si anak apakah saya perlu memberitahukan pada orang tua kondisi ini pada orang tua atau tidak? Kalau dia keberatan . contohnya antara pilihan untuk melakukan penatalaksanaan yang harus dilakukan pada seorang pasien yang menentang dilakukannya intervensi tersebut. kepercayaan dan nilai yang berlaku dalam masyarakat. prinsip – prinsip rasional dan faktor ekstrinsik. menjaga kerahasiaan pasien dan pengambilan keputusan penanganannya Ketiga responden juga mengungkapkan dilema etik yang ditemui dalam penanganan kasus Penyakit Menular Seksual pada remaja adalah timbulnya konflik antara keinginan seorang dokter untuk menyembuhkan dan mencegah penyebaran penyakit dengan hak sang pasien atas privasinya. Pada situasi seperti diatas. Pertimbangan informasi aktual dalam penanganan dilema etik artinya dalam melakukan pendekatan penanganan mengunakan data – data terbaru dari kasus yang serupa merupakan acuan yang utama dalam pertimbangan pengambilan keputusan. Dalam prakteknya kerangka kerja dari prinsip – prinsip diatas dapat saling bertentangan satu sama lain.. Keempatnya memiliki bobot yang sama tetapi dapat mengalahkan satu sama lain tergantung konteks permasalahan dan kebijakan yang dihadapi (Steinbock.anak muda saat ini yang cenderung lebih bebas dalam bergaul (NS2. Menurut Young (2010) kita bertindak sesuai dengan nilai dan kepercayaan yang kita hargai karena hal inilah yang memberikan kita makna dalam hidup sehingga kedua hal ini kita pegang dengan teguh. Hal tersebut antara lain adalah informasi faktual. Informasi faktual bisa didapatkan melalui jurnal – jurnal penelitian yang dilakukan oleh para ahli maupun cara penanganan seorang dokter dalam menghadapi kasus – kasus baru yang terjadi di masyarakat. Justice dan Autonomy serta beberapa aturan turunannya yaitu Veracity.. Privacy dan Confidentiality serta Informed Consent.. saya berusaha menjaga untuk tetap menghargai privasinya si anak tersebut. Non maleficence. Keempat prinisip dan aturan – aturan turunannya merupakan prima facie yang mengikat. Fidelity. 101-116)” Menurut Young (2010) terdapat empat area yang perlu dipertimbangkan dalam menganalisa atau menangani dilema etik yang muncul dalam kasus – kasus sensitif dalam praktek kedokteran sehari – hari. Semakin jelas data yang digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan.

menjaga kerahasiaan yang dipercayakan seseorang kepada kita sebagai muslim merupakan hal yang diwajibkan. KESIMPULAN Kasus penyakit menular seksual yang ditemukan dalam rentang waktu 1 Januari 2010 sampai 31 Desember 2010 di RS PKU Yogyakarta didapatkan populasi sebanyak 24 dengan frekuensi tertinggi didapatkan pada pasien dengan rentang usia 25 sampai 45 tahun yakni sejumlah 14 kasus. 2005). Atas hal itu maka seorang dokter diwajibkan untuk tetap menjaga rahasia yang dia ketahui baik dari penglihatan.spesifikasi dan keseimbangan (Beauchamp & Childress. 2005) Dalam sudut pandang Islam. 2009). sebagaimana lazimnya ketentuan mengenai perjanjian harus memenuhi syarat – syarat yang ditentukan dalam KUHPerd yaitu antara lain kesepekatan mereka yang mengikatkan diri. seperti yang diatur dalam KUHPerd pasal 1330. kecakapan dalam membuat suatu perikatan. Dari pembahasan ini diketahui bahwa dalam aspek hukum. suatu pokok persoalan tertentu dan suatu sebab yang tidak terlarang. mengingkari janji – janjinya dan dia berkhianat ketika diberi kepercayaan “. hubungan antara dokter dan pasien merupakan suatu perikatan yang objeknya berupa pelayanan medis dan sebagai sahnya sebuah perjanjian. dan karenanya tidak memenuhi persyaratan sahnya suatu perjanjian. Pendekatan spesifikasi dalam mengatasi konflik antara dua prinsip yang bertentangan adalah dengan cara menjabarkan secara jelas makna dan cakupan suatu prinsip sehingga dapat diketahui batasan – batasan maupun aturan yang berlaku dalam menghadapi suatu dilema etik yang terjadi. kecuali jika ia dinyatakan tidak cakap untuk hal itu. karena seorang pasien akan dengan suka rela memberitahukan informasi yang dirahasiakan dan bersifat pribadi. pendengaran maupun hasil deduksinya. Isu etika yang ditemui dokter dalam penanganan PMS pada remaja terutama dalam hal penggalian informasi . yaitu antara lain adalah anak yang belum dewasa. idealnya pengambilan keputusan pemeriksaan dan penatalaksanaan pada pasien anak yang belum dewasa seharusnya diwakilkan dan diketahui oleh walinya. Semangat Islam juga menekankan bahwa diperlukan adanya suatu hukum yang meliputi hak seorang pasien dalam melindungi rahasianya yang dipercayakan kepada seorang dokter yang menanganinya (Sachedina. Sehingga. Terlebih dalam hal ini seorang dokter. seorang anak yang belum dewasa dinyatakan belum cakap untuk mengambil keputusan maupun melakukan perikatan. pendekatan keseimbangan adalah dengan cara mempertimbangkan derajat dan bobot kedua prinsip yang bertentangan tersebut sehingga salah satu dari kedua prinsip tersebut dapat diutamakan dalam pengambilan keputusan (Beauchamp & Childress. orang yang ditaruh dibawah pengampunan dan perempuan yang telah kawin dalam hal – hal yang ditentukan undang – undang. 1467 dan 1640. Dalam aspek hukum perdata. Dengan kasus penyakit menular seksual yang dialami pasien dengan usia remaja ( ≤ 19 tahun ) terdapat 6 kasus. Kasus yang paling sering ditemui pada pasien penyakit menular seksual di rumah sakit PKU Yogyakarta adalah Gonorrhea dengan 21 kasus diikuti dengan HIV sebanyak 2 kasus dan sifilis 1 kasus dan kesemua penderita penyakit menular seksual pada usia remaja di rumah sakit PKU Yogyakarta didiagnosis dengan infeksi gonorrhea. Hal ini didasarkan pada hadits yang disabdakan rasulullah SAW tentang tanda – tanda orang munafik. yaitu “ dia berdusta saat berkata kata. Kecakapan dalam membuat perjanjian pada dasarnya dimiliki oleh semua orang. Di sisi lain.

I. Hauth. Black. (2010). Alva.. N. K. Goodwyn.. Sexual Transmitted Infections .. Etika dan Hukum Kesehatan. I. A. L. M. & Nathaniel. Ethics and Issues in Contemporary Nursing. New York: Mac Millan Reference. L. (2007).. (2000). New York: McGraw-Hill. E. (2008). Profil Kesehatan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.. M. Leveno.. 160-184. F. A. Erlanger Medical Ethics Orientation Manual. Tennesse: University of Tennesse. B. DeCherney. (2008). A. Dilema bioetik yang terutama ditemui oleh dokter dalam penanganan kasus PMS pada remaja adalah adanya DAFTAR PUSTAKA Beauchamp. J. B.. C. Dewi. (2009). CDC. Callahan. Current Diagnosis and Treatment Obstetric and Gynecology. Singapore: Thomson Learning Asia. Current Methods of Laboratory Diagnosis of Chlamydia trachomatis. 169-176. J. M. & Hauser. G. S. Atlanta: Center For Disease Control and Prevention. L. Canchihuaman. T. & de Barbeyrac. Braunwald.. European Society of Clinical Microbiology and Infectious Diseases . (2010). Yogyakarta: Dinas Kesehatan DIY. Pregnancy Outcome in Women Infected with Chlamydia trachomatis: a populationbased cohort study in Washington State. Bioethics. H. J. (2002). 278-286). F.. D. Rouse. K. C. Yogyakarta: Pustaka Book Publisher. dengan aspek veracity dan non maleficence. E. & Jennings. Clinical Microbiology Review . 314-318. Fauci. L. Bebear.. (2008).. J. A. Post. Genital Chlamydia Trachomatis Infections. (1997). penyampaian informasi kepada wali atau orang tua pasien. M. Jakarta: Program AIDS Nasional. American Journal of Public Health . Encyclopedia of Bioethics (hal. Dinas Kesehatan DIY. New York: McGraw-Hill. Y. Principles of Biomedical Ethics. 4-10. & Childress. C. Sexually Transmitted Diseases Treatment Guideline. & Spong. S. Nathan. & Hawes. Dehne. D. (2005). (2007).. (2002). & Laufer. Dalam menangani dilema etik dalam kasus – kasus sensitif seperti itu ketiga responden terutama melakukan pendekatan dengan mempertimbangkan aspek autonomy dan confidentiality pasiennya Cunningham. Burkhardt.. K. Geneva: WHO. Singapore: Oxford University Press. Harrison's Principle of Internal Medicine 17th Ed. Kasper.. Departemen Kesehatan Indonesia. (2005).. Indonesia : HIV Epidemiological Situation and Health Sector Response. Blas. A. Callahan. (2004). Sexually Transmitted Infections Among Adolescents: The Need for Adequate Health Service. Dalam S. C. L. konflik dari aspek confidentiality. Depkes RI. E. L. D. S. (2009). M.. Williams Obstetric... D. Bloom. Ethics and Public Health: Forging a Strong Relationship. . A. pengambilan keputusan terapi pada pasien remaja serta menjaga kerahasiaan pasien. & Riedner. Singapore: McGraw-Hill. G. T. F..tentang perilaku seksual yang beresiko. S.

bbc. (2007). Human Reproduction Update . L.... Maskur. Daili. Sokol. dari Eubios: http://www. & Eggert-Kruse. B... Jacobalis. Murray. & J. M... Bienz. Judanarso. (2007). J. Sherrad. Jakarta: EGC... J. Bioethics Dictionary. & Makalew. F. Eckert.. Pollard. Oxford: Oxford University Press. International Handbook of Chlamydia. Color Atlas of Medical Microbiology. Gazzard.. D. Hanafiah. (2011). J.Garrett. D. R.. D.. J. H. S. H.eubios. Sachrowardi. J. Bioetik Isu dan Dilema. (2005). an Application and Review. Atalanta: Blackwell Science.. Philadelphia: Elsevier. Chlamydia trachomatis: Impact on Human Reproduction.info/biodict. (1993).. 102-107). & Bamford. Stebbing. (2006). W. R. K. I. Dalam S. Singapore: Oxford University Press. Eubios Ethics Institute. Mellins. (1998). R. C. Journal of Chiropractic Humanities . W. 513-516. (2008).. November 15). T. Stuttgart: Thieme. (2000). R. K. Perkembangan Ilmu Kedokteran. 2011. A. M. Rogstad. 2011. M. C. BBC news: Health. Gillespie. P. Medical Microbiology And Infection At A Glance. M. Leavitt. H. Dipetik June 05. A. J.htm#dict Marcell. V. D. New Jersey: Prentice Hall. Haslemere: Alden Press. D. 1872-80. Klitzman. & Basbeth. (2007). F. & Zinkernagel. & Wiener. Kamus Saku Kedokteran Dorland. F..uk/2/hi/7654432. Zubier. J.. Promoting Legal and Ethical Awareness. J. Kayser... (2007). Baron. M. Macer. H. Oxford: British Association of Sexual Health and HIV. Jakarta: Pensil234. Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan. A Cross-Cultural Introduction to Bioethics. Mechanism of Disease: Where Does HIV Live? The New England Journal of Medicine . W. F. B. D. Nelson Textbook of Pediatrics. (1999). (2008). M. Pollard. The Four Quadrant Approach to Clinical Ethics Case. R. The Four Principles of Biomedical Ethics: A Foundation for Current Bioethical Debate. A. Marhefka. & Pfaller. L. J. Sachedina. A. Makes. 31-42. Bailie. Z. Scott. October 26). Washington: ASM Press. Journal of Clinical Ethics . (2008. R. Macer. . (2005).stm Sokol. Jorgensen. United Kingdom National Guideline of The Management of Trichomonas Vaginalis. 433-447. & Douek. Islamic Biomedical Ethics. Vaginosis Bakterial. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. (2007). L. S. (2008). & Garrett. H. (2008). Dipetik June 6. M. (2005. (2004). Azariah. dari BBC news: http://news. Steinbock. Health Care Ethics: Principle and Problems. Landry. Chlamydia and Chlamydophila. Jakarta: EGC. (2009). F. R. Lawrence. Jakarta: Sagung Seto. J Med Ethics ... Paavonen. (2009). & Amir. (2005). Ethical Issues Concerning Disclosures of HIV Diagnoses to Perinatally Infected Children and Adolescents. M. Infeksi Menular Seksual (hal. A. The Oxford Handbook of Bioethics. Q. St Louis: Mosby Elsevier. K. B.co. I... Reiss. S.. et al. E. 3440. Etika Medis dan Bioetika.

html Williams. Thiele.int/hiv/pub/surveillance/s earo_2010/en/index. Dipetik September 24. J. 2011. Berlin: Springer-Verlag. WHO.who. R. September 3).int/reproductivehealth/pu blications/rtis/RHR_06_10/en/ WHO. Global Prevalence and Incidence of Selected Curable Sexual Transmitted Infections : Overview and Estimates. dari http://www. WHO Case Definitions of HIV Survelliance and Revised Clinical Staging and Immunological Classification of HIVrelated Disease in Adults and Children.. Sexually Transmitted Disease. Bioethics in A Small World. 2011. (2001. Global Strategy for The Prevention and Control of Sexually Transmitted Infections :20062015. Geneva: WHO. Dipetik May 17.int/hiv/pub/vct/hivstaging /en/index.html WHO. R. (2010. F. R. (2007. WHO. dari WHO: http://www.pdf WHO.int/hiv/pub/sti/who_hiv_a ids_2001. Dipetik May 13. E.who.. Infectious Disease of The Female Genital Tract.who. dari WHO: http://www. (2005). The Second Decade: Improving Adolescent Healt and Development. 2011.int WHO. New York: Wolters Kluwer. Dipetik June 27. 2011. . L. Panduan Etika Medis. & Ashcroft. dari WHO: http://www. July 5). S. HIV/AIDS in the South-East Asia Region: progress report 2010.who. October 24). 2011. R. (2009).Sweet. (1998). (2007.who. Dipetik May 9. Yogyakarta: Pusat Studi Kedokteran Islam Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. May 13). (2007. & Gibss. March 14). dari WHO: http://www. (2006).02.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful