P. 1
Adab bermajelis

Adab bermajelis

|Views: 267|Likes:
Published by Fahmi Ali

More info:

Published by: Fahmi Ali on Mar 11, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/04/2014

pdf

text

original

Adab-adab dalam Bermajelis 1

:
1.Mengucapkan salam kepada ahli majelis jika ia hendak masuk dan
duduk pada majelis tersebut, hendaknya ia mengikuti majelis tersebut hingga selesai. Jika ia hendak meninggalkan majelis tersebut, ia harus meminta izin kepada ahli majelis lalu mengucapkan salam.

2.Tidak menyuruh seseorang berdiri, pindah atau bergeser agar ia
menempati tempat duduknya, dan selayaknya bagi ahli majelis yang telah duduk dalam majelis merenggangkan tempat duduknya, agar seseorang yang mendatangi majelis tadi mendapatkan tempat duduk. Hal ini sebagaimana dalam hadits Rasulullah : ‫ل يقيمن أحدكم رجل من مجلسه ث لم يجل لس‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫“ فيه, ولكن توسغوا او تفسحوا‬Janganlah kalian menyuruh ّ ّ temannya bangkit dari tempat duduknya, akan tetapi hendaklah kamu memperluasnya.” (Muttafaq ‘alaihi).

3. Tidak memisahkan dua orang yang sedang duduk agar ia dapat

duduk di tengah tengahnya, kecuali dengan seizinnya, sebagaimana dalam hadits Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wa sallam : ‫يفلرق بيلن إثنيلن إل بلإذﻧﻬا ل يلح ل لرجلل أن‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ّ “Tidak halal bagi seorang laki-laki duduk di antara dua orang dengan memisahkan mereka kecuali dengan izinnya.” (HR Abu Dawud dan Turmudzi, hadits Hasan) majelis kemudian kembali lagi, maka ia lebih berhak duduk di tempat yang ditinggalkannya tadi. Sebagaimana dalam sabda Nabi Sholallohu ‘alaihi wa sallam: ‫إذا قام احدكم من مجلس ثم‬ ‫“ رج لع إلي له فﻬ لو أح لق ب له‬Apabila seseorang bangkit dari ‫ّ ل‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ل‬ duduknya lalu ia kembali, maka ia lebih berhaq duduk di tempatnya tadi.” (HR Abu Dawud dan Turmudzi, hadits Hasan)

4. Apabila seseorang bangkit dari tempat duduknya meninggalkan

5. Tidak duduk di tengah-tengah halaqoh/majelis, dalilnya :

‫من جلس في وسط الحلقة أ ن رس لول الل له ص للى‬ ‫ّل‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫الله عليه و سلم لعن‬ ّ
1

Disarikan dari Minhajul Muslim karya Syaikh Abu Bakar Al-Jaza'iri, hal. 139-141, Fashlu Tsamin (Bab VIII), fi Adabi Al-Julusi wa Al-Majlisi (Adab dalam bermajlis).

memasukkan tangan ke hidung. dan sikap-sikap lainnya yang menunjukkan ketidakhormatan kepada majelis. muhadharah (ceramah) ataupun pertemuan. Seseorang di dalam majelis hendaknya memperhatikan adabadab sebagai berikut : 2 ‫مضل له، ومن يضلل فل هادي له، وأشﻬد أن ل إله إل‬ ‫الله وحده ل شريك له، وأشﻬد أ ن محمدا عبده ورسوله‬ dimana Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wa sallam senantiasa membacanya setiap akan khuthbah. bersenda gurau ataupun berbantah-bantahan yang sia-sia. tidak merasa paling benar (ujub) dan sombong ketika berbicara. 1     Kesalahan dalam Majelis : 1. tanpa perlu berputar-putar dan berbasa-basi kesana ke mari. Turmudzi. yakni dengan cara menyuruh seseorang 7. Tidak terlalu banyak berbicara. dengan suara yang jahr (keras) dalam rangka membuka majelis. dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu.35 Termasuk pula membaca Al-Fatihah pada permulaan majelis sebagai pembuka. ataupun melanggar batas hubungan lelaki dengan wanita muslimah bukan mahram. namun hendaklah kita menghindarkan diri dari duduk di tengah halaqoh. membuka sebagaimana berikut majelis dengan khutbatul hajah 8. Shahih). Bicara yang perlu dan penting saja.” (Abu Dawud) 6. ceramah. Menjawab salam ketika seseorang masuk ke majelis atau meninggalkan majelis. Membuka majelis dengan senantiasa melazimkan tilawah Al-Qur’an. Mendengarkan orang lain berbicara hingga selesai dan tidak memotong pembicaraannya. 2. Tidak berbicara dengan meremehkan dan tidak menghormati ahli majelis lain. aku memohon pengampunan-Mu dan2 bertaubat kepada-Mu. Diriwayatkan pula oleh Turmudzi. Lafadhnya adalah sebagai berikut :   ‫سللبحاﻧك اللﻬللم وبحمللدك أشللﻬد ان ل إللله إل أﻧللت‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫)أستغفرك وآتوب إليك )حديث صحيح رواه ترمذي‬ Artinya : “Maha Suci Engkau ya Allah. banyak menguap. Tidak berbicara dua orang saja dengan berbisik-bisik tanpa melibatkan ahli majelis lainnya. Disunnahkan menutup majelis dengan do’a kafaratul majelis.“Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wa sallam melaknat orang yang duduk di tengah-tengah halaqoh. Walaupun dha’if dan tak dapat digunakan sebagai hujjah. Ra'isul majelis mengajak jama’ah (ahli majelis) membaca atau mengucapkan basmalah secara bersama-sama. 3 4 . berbasabasi dengannya. untuk melunturkan dosa selama di majelis. Disunnahkan ‫إ ن الحمد لله ﻧحمده وﻧستعينه وﻧستغفره، وﻧعوذ بالله‬ ‫من شرور أﻧفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يﻬده الله فل‬ ّ 2 Hadits dho’if dalam Dho’if Abu Dawud.  Duduk dengan tenang dan sopan. Tidak menganyam jari. baik pada pernikahan. ketika Nabi ditanya tentang do’a tersebut.” (HR. Tidak memandang ajnabiyah (wanita bukan mahram). baik kholwat (berduaduaan antara laki-laki dan wanita bukan mahram) maupun ikhtilath (bercampur baur antara laki-laki dan perempuan bukan mahram). dan sunnah inipun dilanjutkan oleh sahabat-sahabat lainnya. sebagai sikap berjaga-jaga dan berhati-hati. tidak banyak bergerak dan  duduk pada tempatnya. beliau menjawab. mempermainkan jenggot atau cincinnya.

ditanya sebagai berikut : Pertanyaan : Pembukaan muhadharah (ceramah) dan nadwah (pertemuan) dengan membaca sesuatu dari Al-Qur’an. di mana ahli majelis mengamini bacaan do’a ra'isul majelis. Kemudian mengusap wajah dengan telapak tangan. hamdalah. Akan tetapi jika pertemuan atau muhadharah tersebut mengambil suatu tema/bahasan tertentu dan ada seseorang yang ingin membaca sesuatu dari Al.3 Mengenai hal ini. Adapun selalu mengucapkan salam selama di tengah-tengah majelis adalah termasuk perkara yang tak ada tuntunannya dari Rasulullah. sholawat dan istighfar. Karena dalil yang warid dari Rasulullah adalah salam setiap hendakmeninggalkan majelis ataupun memasukinya. .6 5.Menyuruh seseorang membaca Al-Qur’an.Membacanya secara jahr.ceramah). maka yang demikian adalah diperbolehkan.Terkadang. tampak bahwa : . yakni pada saat akan bermajlis. 5 Salam adalah termasuk ibadah mutlak. . padahal tidak ada dalil yang menunjukkan kaifiyat yang demikian dari hadits-hadits Rasulullah. bahwa Nabi membuka pertemuan tersebut dengan sesuatu dari Al. Ini adalah kurang sesuai atau tidak pada tempatnya. yang tidak terikat dengan waktu. ada yang kurang dalam majelis tersebut .Qur’an.Membacanya dengan bersama-sama/jama’i.7 6. Misalnya. maka yang demikian ini adalah tidak layak diamalkan. 6 Yang menjadi titik rawan terjerumusnya kepada bid’ah amalan ini adalah : . 4 Dari penjelasan Syaikh 'Utsaimin rahimahullah tersebut.Menyenantiasakannya atau melakukannya secara terus menerus (istimrar). padahal tak ada satu pun sunnah yang menunjukkan hal demikian. Dan adapun menjadikan pembukaan suatu pertemuan atau muhadharah dengan ayat Al-Qur’an secara terus menerus seolah-olah sunnah yang dituntunkan. Bid’ah tilawah ini ditinjau dari segi : . maka yang demikian pada hakikatnya telah mencukupi. Syaikh Muhammad bin Shalih 'Utsaimin rahimahullah. maka tidaklah mengapa. istighfar dan kafaratul majelis secara bersama-sama. tidaklah aku ketahui. dan mengambil tema yang ada hubungannya dengan bahasan. seakanakan sunnah yang dituntunkan. padahal biasanya ra'isul majelis yang membuka majelis telah membaca ayat-ayat Al-Qur’an pada muqoddimahnya. apakah termasuk perkara yang disyari'atkan? Jawab : Saya tak mengetahui sunnah yang demikian dari Rasulullah. . . selama tidak dilaksanakan terus menerus. dan untuk memuqoyyadkan dibutuhkan dalil khusus. dan kesalahan yang bersifat adab.Mengkhususkan hamdalah. dengan suara yang jahr dan secara terus menerus.4 3 3.Qur’an yang ada hubungannya dari bahasan tema tersebut untuk dijadikannya sebagai pembuka. padahal Nabi ‘alaihi sholatu wa salam pernah mengumpulkan para sahabatnya ketika hendak perang atau ketika hendak membahas perkara penting kaum muslimin. Yang termasuk sunnah adalah mengucapkan salam setiap akan masuk atau meninggalkan majelis.Jika sekiranya tilawah Al-Qur’an disenantiasakan secara terus menerus. Namun menyenantiasakannya berarti termasuk memuqoyyadkan waktunya tanpa ada dasarnya dari Rasulullah. kecuali do’a kafaratul majelis. dalam kitab Al-Bida’. Selalu mengucapkan atau memulai dengan salam setiap hendak berbicara dalam majelis. . maka ini adalah bid’ah yang nyata. maka hal ini termasuk memuqoyyadkan ibadah qiro’ah Al-Qur’an dengan waktu khusus. padahal untuk menetapkannya dibutuhkan dalil dari Rasulullah. jika tidak tilawah.Jika sekiranya dilakukan pada sesekali waktu. dibacakan ayat-ayat tentang qishahs atau jihad.5 4. maka dikhawatirkan terjerumus kepada bid’ah. karena mengingat bahwa do’a termasuk ibadah mutlak. ayat yang dibaca berlainan dengan bahasan atau tema majelis/muhadhoroh. Adapun membaca amin dengan keras dan mengusap wajah adalah termasuk kaifiyat baru yang tak dituntunkan Nabi. 7 Berdo’a pada akhir majelis pada asalnya diperbolehkan. karena sesungguhnya telah warid hadits tentangnya. . dalam menutup suatu majelis. Mengakhiri majelis dengan selalu berdo’a.Menyenantiasakan membaca Al-Qur’an pada pembukaan majelis atau muhadharah (pengajian. Apalagi jika timbul perasaan ataupun pikiran. Dan kesalahan lainnya yang menyelisihi kaidah amaliyah sehingga termasuk ibadah.membaca ayat dari Al-Qur’an. . baik saat akan memberikan usulan di tengah-tengah majelis ataupun setiap dimintai pendapat. Mengakhiri majelis dengan mengajak jama’ah (ahli majelis) untuk membaca sholawat. dalam muhadhoroh yang membahas mengenai pernikahan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->