Daftar Isi: A. 1. Pengertian Hukum Agraria a. dalam arti luas b. dalam arti sempit 2. Hak Bangsa Indonesia 3.

Hak Menguasai Negara a. Hak Pengelolaan b. Hak Ulayat 4. Sumber Sumber dan Azas azas Hukum Tanah Nasional 5. Jenis jenis Hak Individual v/s konversi 6. Landreform 7. BPN, sebagai Lembaga yang mengembangkan dan menyelenggarakan politik dan kebijakan Pertanahan B. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Hukum Condominium (Strata Title) Hak Tanggungan Peralihan dan Pemindahan Hak Penggabungan, pemisahan, Pendaftaran Tanah Flowchart Pendaftaran Tanah (13 skim) Pajak dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PBB, PPH, BPHTB, Uang Pemasukan, dsb) 8. Pembebasan, pengahapusan Hak 9. Perolehan Tanah untuk keperluan Pembangunan dan Penanaman Modal 10. Secondary Mortgage Fasility

Disusun : Dina Napitupulu
1

BAB I HUKUM PERTANAHAN
1.1 PENGERTIAN
Tanah menurut UUPA dilihat pada : 1. Pasal 1 ayat (4) : pengertian bumi, selain : - permukaan bumi - tubuh bumi dibawahnya - serta yang berada dibawah air 2. Pasal 4 ayat (1) : ………….atas pemukaan bumi yang disebut Tanah

Ruang angkasa diatasnya ---- Air -----------Tubuh Bumi 

Tanah

Nilai tanah diukur dengan luas, bukan ditentukan oleh kemampuan menghasilkan (tanaman maupun nilainya diukur dengan berat (ton), Volume (m³ / maupun gerobak). Pasir, tanah liat, kapur, batu, dsb yang diambil untuk dimanfaatkan, bukan termasuk tanah, akan tetapi termasuk mineral/tambang (kekayaan alam).

1.2

HUKUM
1. Hukum tidak tertulis = Hukum Adat 2. Hukum tertulis = - UU - UUPA - Perjanjian - Keputusan 1.2.1 HUKUM AGRARIA NASIONAL Hukum Agraria Nasional yang meliputi : b. 1. Berdasar atas hukum adat tentang tanah 2. Sederhana 3. Menjamin kepastian hukum bagi seluruh rakyat Indonesia. 4. Tidak mengabaikan unsure-unsur yang bersandar pada hukum agama. 2

b. 1. Memberi kemungkinan akan tercapainya fungsi bumi, air dan ruang angkasa. 2. Sesuai dengan kepentingan rakyat Indonesia 3. Memenuhi pula keperluan menurut permintaan zaman dalam segala soal agrarian.

c. Mewujudkan penjelmaan Pancasila sebagai asas kerohanian Negara dan cita-cita Bangsa seperti tercantum dalam pembukaan UUD ’45. d. Merupakan pelaksanaan Dekrit Presiden (pasal 33 ayat 3 UUD ’45) yang mewajibkan Negara untuk mengatur pemilikan dan memimpin penggunaannya, sehingga semua tanah dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat, baik secara perorangan maupun secara gotong royong. Perlu ditekukkan sendi-sendi dan disusun ketentuan-ketentuan pokok baru dalam bentuk undang-undang → yang merupakan dasar bagi penyusunan hokum agrarian maksimal. (KONSIDERAN UUPA).

Pasal 33 ayat (3) UUD 1945
(3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat

UU. 5/1960 = UUPA

TANAH TUHAN Hak Bangsa Ps. 1 ayat (2) BANGSA INDONESIA HAK MENGUASAI Ps. 2 ayat (1, 2, 3, 4) NEGARA

Ayat (2) : Hak menguasai dari Negara termasuk dalam ayat (1) memberi wewenang : a. Mengatur dan menyelenggarakan : peruntukan, penggunaan, persediaan dan pemeliharaan barang. 3

perikanan 5. Gadai 6. transmigrasi. belum dilekati/dimintaan hak atas tanah oleh perorangan (Ps. HGB Bangunan * c. sekunder : Usaha * a. TANAH TUHAN Hak Bangsa Ps. R. c.pengelolaan . Sewa 5. Peribadatan-suci lainnya (Res Sacre) 3. Dijga-dipelihara Negara (Res Nullius) Tanah Hak : tanah yang telah dimintakan hak oleh perorangan atau dipunyai oleh perorangan. hak guna 2. Yg sudah ada RUT HK adapt (Ps. social (Res Communes) 4.4 ayat 1 UUPA Hak Ulayat . 16 ayat 1) 1. Pusat kehidupan masyarakat. Hak Guna b. Hak memungut Hasil 8. Industri. Hak membuka f. A.memunggut hasil hutan 1. Hak Pakai d. A.tanggungan . 2/4 UUPA Pelaksanaan hak menguasai yang dilimpahkan kepada masyarakat hukum adat Tanah Negara : tanah yang masih langsung dikuasai oleh Negara. Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dan perbuatan hukum yang mencegah B. 1 (2) UUPA BANGSA INDONESIA Hak Menguasai Ps. A. R.b. HP 4. 14 ayat 1 UUPA). Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dengan B. HGU 3. Bagi hasil Tanah 7. untuk keperluan : 1. 2 UUPA NEGARA INDONESIA Ps. Hak lain-lain : . Negara (Res Publigue) 2.Rumah susun 4 . A. peternakan.membuka tanah . hak milik yg dapat diberikan (Ps. pertambangan 6. pokok : hak milik 2. Produksi pertanian. Hak Sewa e.

merupakan urusan pertanahan sbb : SIKLUS KEGIATAN BIDANG PERTANAHAN PENGURUSAN HAK-HAK TANAH PENDAFTARAN TANAH Pasal 2 ayat (2b). dan Pasal 17 Urusan Pertanahan merupakan satu kesatuan yang utuh-bulat. saling kait mengkait dan saling mengisi satu sama lain. Pasal 9. CATATAN 5 . Pasal 7. Pasal 13. Pasal 20 s/d Pasal 38 Pasal 58 ADMINISTRASI DAN ORGANISASI Ps. Pasal 19. Pasal 16. pasal 14.* ada sejak UUPA 1. 2 AYAT (1) TATA GUNA TANAH Pasal 2 ayat (2a) Pasal 8. Dan harus dilaksanakan secara terpadu. Pasal 18. Pasal 6. sedang fungsi organisasi dan administrasi merupakan proses dan unsure yang harus mendukung pelaksanaan keempat fungsi teknis lainnya. Pasal 23. Pasal 4. Jika salah satu fungsi tidak terlaksana dengan baik.3 URUSAN PERTANAHAN Dengan mencermati UUPA. Pasal 32. sama penting dan kedudukannya. Pasal 11. meskipun secara teknis dapat dibedakan . dan pasal 15 LANDREFORM Pasal 2 ayat (2). tujuan pemanfaatan tanah seperti dimaksud sila V Pancasila pasal 33/3 UUD 1945 dan pasal 2/3 UUPA tidak akan terwujud. tidak dapat dipisah-pisahkan. Pelaksanaan fungsi pertanahancenderung merupakan suatu siklus yang tidak berujung pangkal.

Berdasarkan Keppres RI No. 1/2/44-5381. Jend. 1955 s/d 1966 Berdasar Keppres No. 55/1955 dibentuk kementrian Agraria (Mandiri) 3. 1966 s/d 1968 Berdasarkan Keppres 63-64/1966 diurus direktorat Jenderal Agraria dan Transmigrasi Departemen Dalam Negeri. urusan pertanahan menjadi wewenang : Direkt. 26/1988 tanggal 11/7-1988 dibentuk BPN 6 . 4. 2. Mendagri 6/11-1968 No. 17-18/8-1945 s/d 1955 Urusan pertanahan tetap berada dilingkungan departemen dalam Negeri. penguasaan dan pemilikan tanah. Harus dicapai yaitu : I. 2. Tertib administrasi pertanahan III. Tertib penggunaan tanah IV. Kep. Tertib hukum pertanahan II.4 INTITUSI YANG MENANGANI PERTANAHAN Intitusi-intitusi yang menangani pertanahan adalah : 1.TAP MPR IV/MPR/1978 JO KEPPRES RI No. Direktorat Jend. menegaskan tercapainya : CATUR TERTIB PERTANAHAN yang : 1. serta program-program khusus untuk menunjang usaha peningkatan kemampuandan potensi petani-petani tidak bertanah atau mempunyai tanah sempit. Agraria Dept Dalam Negeri. 1988 – Berdasarkan Keppres No. Merupakan landasan pokok kebijaksanaan bidang pertanahan untuk mengadakan penataan kembali penggunaan. Dalam Negeri. 44 dan 45 JO. 94/95.P. Tertib pemeliharaan tanah dan lingkungan hidup 1. Berdasarkan Kep.7/1979. Men Dalam Negeri No. Agraria merupakan komponen dari Dep. 1/2/22-4186 dan 15/11-1968 No. U.

dan memperhatikan daya tampung dan dukung lingkungan. pemilikan. Menghormati-menjunjung tinggi HAM c. ekologis sesuai kondisi sosbud setempat i. Memelihara-mempertahankan keutuhan NKRI. melalui peningkatan kualitas SDM e. Transparansi. Mengembangkan Demokrasi. Keberlanjutan memberi manfaat optimal. Rakyat. penggunaan. Optimalisasi dan Partisipasi Rakyat f.D Alam g. Prinsip pemanfaatan dan pemeliharaan S. sekarangmendatang.TAP MPR IX/MPR /2001 Agraria a. Mengakui-menghormati hak masyarakat. Keadilan : penguasaan. kelestarian. b. h. Fungsi social. Menghormati supremasi hukum dengan mengakomodasikeanekaraga man Unifikasi Hukum d. Keterpaduan-koordinasi antar sektor j. kepatuhan hukum. hukum adapt 7 Pelaksanaan Hukum Agraria fungsinya tidak sesuai pasal 33/3 UUD 1945 Pembaharuan .D Agraria dan S.

Propinsi. 3. penggunaan pemanfaatan tanah (landreform) yang adil dengan memperhatikan pemilikan tanah rakyat. pemilikan. Pengkajian ulang Perundang-undangan Agraria dalam rangka sinkronisasi kebijaksanaan antara sector demi terwujudnya Perundang-undangan yang didasarkan Prinsip-prinsip pembaharuan 2. Desa dalam alokasi manajemen S. 6.alam. 3. 66) 1. pemilikan.D. 5. Pendataan pertanahan melalui inventaris dan registrasi : penguasaan. Keseimbangan hak-kewajiban Pem (pusat. Alam l. Memperluas pemberian akses informasi kepada masyarakat mengenai potensi SDA di daerahnya dan mendorong terwujudnya tanggung jawab social untuk menggunakan teknologi ramah lingkungan termasuk teknologi tradisional. Menyelesaikan konflik berkenaan SDA yang timbul selama ini sekaligus mengantisipasi potensi konflik dimasa mendatang guna menjamin terlaksananya penegakan hukum dengan didasarkan atas Prinsip-prinsip pembaharuan. Memperkuat kelembagaan dan kewenangan dalam rangka mengemban pelaksanaan pembaharuan agrarian dan menyelesaikan konflik-konflik yang berkenaan dengan SDA yang terjadi. Desentralisasi wewenang Nasional.AS. A.D. Melakukan pengkajian ulang terhadap berbagai peraturan-UUan yang berkaitan dengan SDA dalam rangka sinkronisasi kebijakan antara sector yang berdasarkan Prinsip-prinsip pembaharuan.6/2) 1. Mewujudkan optimalisasi pemanfaatan berbagai SDA melalui identifikasi / inventarisasi kualitas / kuantitas SDA sebagai potensi dalam pembangunan nasional. 2. B. daerah) Pengelolaan masyarakat-individu S. penggunaan dan pemanfaatan tanah secara komprehensif dan sistematis dalam rangka pelaksanaan Landreform. Penataan kembali : penguasaan.D. Mengupayakan pembiayaan dalam melaksanakan program pembaharuan agrarian dan penyelesaian konflik-konflik SDA yang terjadi. 4. Arah Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Alam : (B. 8 . Kabupaten/Kota.dan keragaman budaya bangsa atas SDA-SDA k. Arah Kebijaksanaan Pembaharuan Agraria : (A. baik perkotaanpedesaan.

5. Penetapan subyek dan obyek retribusi tanah. 1. Pengadaan tanah untuk kepentingan pembangunan c. 6. Pelimpahan penguasaan bidang pertanahan kepada daerah merupakan tugas pembantu (medebewind) → wewenang menentukan garis kebijaksanaan pertahanan yang bersifat policy adalah wewenang pemerintah pusat. menurut sifat-asas merupakan tugas pemerintah (pusat). Penyelesaian sengketa tanah garapan d. f. 4 UUPA. Penyelesaian masalah ganti kerugian dan santunan tanah untuk pembangunan e. 3. Pemanfaatan dan penyelesaian tanah kosong h. dan pelayanan pertanahan termasuk …… lintas Kabupaten / Kota. serta ganti kerugian tanah kelebihan maksimum dan tanah absentee. 2. bidang agrarian (tanah). Menyelesaikan konflik-konflik pemanfaatan SDA yang timbul selama ini sekaligus dapat mengantisipasi potensi konflik dimasa mendatang guna menjamin terlaksananya penegakan hukum dengan didasarkan atas Prinsip-prinsip pembaharuan. A.4. yang pelaksanaannya didaerah (dapat) dilimpahkan kepada Pemerintah daerah atau masyarakat hukum adapt. Pasal 13/1 UU 32/2004 (Otonomi Daerah): Urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintah daerah propinsi merupakan urusan dalam skala propinsi yang meliputi 16 item termasuk : pertanahan. Kewenangan mengatur dalam bentuk peraturan daerah hanya dibenarkan setelah kewenangan tersebut diserahkan menjadi urusan rumah tangga daerah dalam rangka otonomi. Perencanaan penggunaan tanah wilayah Kabupaten / Kota. Memperhatikan sifat & karakteristik dari berbagai jenis sumber daya alam dan melakukan upaya-upaya meningkatkan nilai tambah dari produk SDA tersebut. Pemberian izin membuka tanah i. 9 . diatur dengan PP. Keppres 34/2003 Tentang Kebijakan Nasional di Bidang Pertanahan Pasal 2 : Kewenangan pemerintah dibidang pertanahan yang dilaksanakan oleh pemerintah Kabupaten / Kota : a. Menyusun strategi pemanfaatan SDA yang didasarkan pada optimalisasi manfaat dengan memperhatikan kepentingan dan kondisi daerah maupun nasional. Pemberian izin lokasi b.5 KELEMBAGAAN / KEWENANGAN BIDANG PERTANAHAN Mendasarkan Ps 33/3 UUD 1945 JO Ps 2/1. Penetapan dan penyelesaian masalah tanah ulayat g.

2 UUPA) HAK MENGUASAI NEGARA PRIVAT / PERDATA TANAH DIHAKI SECARA FISIK MENGUASAI TANPA HAK MENGUASAI DENGAN HAK DARI PIHAK LAIN 10 . Perpres No. Regional maupun sektoral merupakan urusan Pemerintah → BPN. PENGUASAAN TANAH YURIDIS HAK PUBLIK (Ps. Apabila kewenangan-kewenangan diatas bersifat lintas Kabupaten / Kota. dilaksanakan oleh Pemerintah Propinsi. 10 Tahun 2006 Urusan tanah baik : Nasional. B.

R. A. yang dapat diberikan kepada dan dipunyai oleh : orang. Pengertian Hak Atas Tanah { Pasal 4 ayat (2)} Hak yang memberi wewenang untuk mempergunakan : tanah. ditentukan adanya macam-macam hak atas permukaan bumi yang disebut tanah.1. Tanah ------Air Tubuh bumi  Batasan – batasan : 11 . A tersebut. orang-orang serta badan hukum. demikian pula Tubuh bumi Air Ruang di atasnya Sekedar dipergunakan langsung  Berhubungan dengan penggunaan tanah dalam batas lain yang lebih tinggi.6 HAK ATAS TANAH  Pasal 2 ayat (2b) : menentukan dan mengatur hubunganhubungan hukum antara orangorang dengan B. Pasal 4 ayat (1) : atas dasar hak menguasai …….

Pasal 11. Hak gadai b. 13 ( gotong royong ) e. Hak guna air b.7 MACAM HAK ATAS TANAH  Pasal 16 ayat (1) : a. Pasal 7 ( luas maksimum ) c. Pasal 15 ( memelihara ) f. 12. Hak menumpang d. Hak sewa tanah pertanian 12   . Pasal 18 ( dicabut ) 2. Hak guna ruang angkasa Pasal 53 ayat (1) : Hak – hak yang sifatnya sementara dimaksud pasal 16 ayat (1) ialah : a. Hak – hak lain yang tidak termasuk dalam hak – hak tersebut di atas yang akan ditetapkan dengan Undang – Undang serta hak – hak yang sifatnya sementara sebagai yang disebutkan dalam pasal 53 Pasal 16 ayat (2) : Hak – hak atas air dan ruang angkasa dimaksud pasal 4 ayat (3) ialah : a. Hak pakai e. Hak sewa f. Hak membuka tanah g. Hak memungut hasil hutan h. Pasal 6 ( fungsi sosial ) b. Hak pemeliharaan dan penangkapan ikan c. Hak guna bangunan d. Peraturan Lain : Misal UU Narkotika Dilarang menanam ganja 1. Hak milik b. Hak guna usaha c.1. UUPA : a. Hak usaha bagi hasil c. Pasal 10 ( mengerjakan sendiri ) d.

Tak terbatas Subyek Hak WNI BH Khusus Ciri – ciri lain .M) dengan WNI Direktur P.Didaftarkan .Memungut hasil 25 – 35 th 25 th WNI BHI 30 th 20 th .Pertanian .Selama diperlukan WNI  BHI  BHA ada di Indonesia Sewa Bangunan Membuka tanah. bagi hasil.Menggunakan .P .Macam H.Pembangunan . akan dihapuskan.Dialihkan .Pertanian .M Kewenangan . Pakai .Turun temurun .Pembangunan Jangka Waktu .Sesuai untuk bangunan perjanjian (T.Beralih .Dibebani hak tanggungan HGU HGB H.sementara. dikarenakan dalam perkembangan -mempergunakan TM oleh bukan pemiliknya dibatasi dan diatur dengan 13 . memungut hasil hutan Gadai.Mempergunakan . sewa tanah .Tertentu = 25 th .

baru sebagian kecil. numpang HPL menumbuhkan perundang pemerasan sesama undangan manusia . Yang deselenggarakan oleh kraton Yogyakarta ( Kadipaten Pakualaman ) Fiskal Kadaster HUKUM AGRARIA NASIONAL Menjamin kepastian hukum bagi seluruh rakyat Indonesia. Untuk hak grant ( di Medan ) d.P. Bagi rakyat asli.Y ) b. Dalam perkembangan tanah mempunyai nilai ekonomis yang makin tinggi dan dapat menimbulkan kerawanan di masyarakat dengn meningkatnya jumlah penduduk dan pembangunan. tidak menjamin kepastian hukum.A 14 .Instansi PGM BH (khusus) HUKUM AGRARIA LAMA 1.pertanian. Dualistis 3.Untuk tugas . Yang dialkukan oleh Subak ( di Bali ) c.U.I. Yang dilaksanakan oleh Lurah ( wilayah Kab. PEMBENTUKAN U. Berdasarkan tujuan sendi – sendi dari pemerintah perjanjian dan sebagian lainnya lagi dipengaruhi olehnya 2. adalah : a.Serahkan kepada pihak III - . DI D.

Untuk memberikan kepastian hukum mengenai hak – hak atas tanah bagi rakyat seluruhnya PENDAFTARAN TANAH Pasal 19. Pendaftaran  hak – hak atas tanah dan peralihan hak – hak tersebut c. Tujuan  untuk menjamin kepastian hukum b.P diatur biaya – biaya P. 15 . Penyelenggaraan  oleh pemerintah c. Untuk mengadakan kesatuan dan kesederhanaan dalam Hukum Pertanahan c. Pasal 32. Kemungkinan penyelenggaraannya menurut pertimngan menteri 4. Pasal 23. meliputi : a. Mengingat keadaan Negara dan masyarakat b. Pasal 38 1. perpetaan dan pembukuan tanah b. Pemberian surat – surat tanda bukti hak yang berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat 3. Pasal 19 ayat (1) Berisi : a. Pengukuran. Pasal 19 ayat (2) Kegiatan Pendaftaran Tanah.T dengan ketentuan bahwa rakyat yang tidak mampu dibebaskan dari pembayaran biaya teresebut.P ( PP 10/1961  PP 24/19997 ) 2. UMUM 1. Juk – lak  menurut ketentuan P.Penjelasan Umum Meletakkan Dasar – Dasar : a. Daerah  diseluruh wilayah Indonesia d. Keperluan lalu lintas sosial – ekonomis c. Pasal 19 ayat (3) Penyelenggaraan – Pelaksanaan : a.8 KETENTUAN POKOK PENDAFTARAN TANAH A. Pasal 19 ayat (4) Pembiayaan : Dalam P. Bagi penyusunan Hukum Agraria Nasional b.

1/1966 : . Dalam bentuk peta dan daftar mengenali bidang – bidang tanah.Demikian juga setiap peralihan dan hapusnya hak tersebut Harus didaftarkan menurut KTTN pasal 19 3. Bidang tanah adalah bagianpermukaan bumi yang merupakan suatu bidang yang berbatas 16 . berkesinambungan da teratur b. Rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah secara terus menerus. pengolahan. Termasuk pemberian sertifikat sebagai surat tanda bukti haknya bagi bidang – bidang tanah yang sudah ada haknya dan hak milik S.B.S. KHUSUS 1.Hak Milik .Pendaftaran ayat (1) merupakan alat pembuktian yang kuat mengenai  hapusnya hak milik. 4.Hak pakai di atas tanah Negara . 32.T adalah : a. hapusnya dan pembebanannya dan hak – hak lain . Meliputi pengumpulan.Demikian juga setiap peralihan dan penghapusan HGB Harus didaftarkan menurut KTTN pasal 19 Ayat (2) Pendaftaran ayat (1) merupakan alat pembuktian yang kuat mengenai hapusnya HGB serta sahnya peralihan hak tersebut kecuali hapus karena jangka waktunya berakhir.Hak pengelolaan  Pendaftaran Tanah Pasal 19  Kewajiban pemerintah untuk penyelenggaraannya Pasal 23.HGB termasuk syarat – syarat pemberiannya . 38  Kewajiban subyek hak untuk mendaftarkan  Pengertian Pendaftaran Tanah P. serta hak – hak tertentu yang membebaninya.Harus didaftarkan menurut KTTN ( pasal 19 ) Ayat (2) . Pasal 23 ayat (1) dan (2) Hak Milik ( HM ) Ayat (1) . satuan rumah susun d. Pasal 32 ayat (1) dan (2) Hak Guna Usaha ( HGU ) Ayat (1) . PMA No.Demikian Pula  setiap peralihan. Pasal 38 ayat (1) dan (2) Hak Guna Bangunan ( HGB ) Ayat (1) .HGU termasuk syarat – syarat pemberiannya . sahnya peralihan dan pembebasan hak tersebut 2.R. pembukuan dan penyajian serta pemeliharaan data fisik – yuridis c.

Untuk terselenggaranya tertib administrasi pertanahan  setiap bidang tanah dan peralihannya. Menyediakan informasi kepada pihak – pihakyang berkepentingan termasuk pemerintah.Data fisik berupa keterangan mengenai letak. terdiri : a.P. sementara yang wajib daftar yang melekat di atas tanah Negara 2. Hak Guna Usaha ( HGU ) 3. yang diambil dari peta pendaftaran d. Peta pendaftaran. Daftar tanah adalah dokumen dalam bentuk daftar yang memuat identitas bidang tanah dengan system penomeran c. Hak Milik ( HM ) 2.T dalam daftar umum. pembebanan dan hapusnya wajib di daftar 17 . yang menggambarkan bidang atau bidang – bidang tanah untuk keperluan pembukuan tanah b. Hak Guna Bangunan ( HGB ) 4. Dipunyai dengan 1. pemegang hak. Daftar nama yaitu dokumen dalam bentuk daftar yang memuat keterangan penguasaan tanah dengan sesuatu hak oleh perseorangan – badan hokum T. Surat ukur adalah dokumen memuat data fisik bidang tanah dalam bentuk peta dan uraian. Bidang – bidang tanah yang dipunyai dengan : 1.T ( Tidak terbuka untuk umum ) 3. Data disajikan kantor pertanahan bagian T. Tanah Wakaf 3. Untuk HGB – HP. Pembukuan tanah Negara dalam daftar tanah dan tidak diterbitkan sertifikat  Tujuan Pendaftaran Tanah ( Pasal 3 PP 24/1997) Sesuai dengan pasal 19 UUPA. meliputi : 1.Data yuridis adalah keterangan mengenai status hokum bidang tanah – satuan rumah susun yang didaftar. agar dengan mudah dapat memperoleh data yang diperlukan dalam melakukan perbuatan hukum. Hak Tanggungan 5. Obyek Pendaftaran Tanah Menurut Pasal 9 PP 24/1997 A. Tanah Hak Pengelolaan 2. hak pihak lain serta beban – beban lain yang membebaninya 2.U.T. Tanah Negara CATATAN : 1. tujuannya dalam rangka menjamin kepastian hukum di bidang pertanahan ( Rechts Kadaster  Legal Cadastre ). Hak Milik Satuan rumah Susun ( HMSRS ) 4. Hak Pakai ( HP ) B. batas dan luas termasuk ada tidaknya bangunan . Memberikan kepastian dan perlindungna hukum kepada pemegang hak yang bersangkutan  diberikan sertifikat sebagai surat tanda bukti hak yang sudah dibukukan dalam buku tanah yang berisi daftar yuridis dan data fisik suatu obyek pendaftaran .

bahwa pendaftaran perlu diselenggarakan secara teliti dan cermat sehingga hasilnya dapat memberikan jaminan kepastian hukum sesuai tujuan pendaftaran tanah itu sendiri 3. Terjangkau : Dimaksudkan keterjangkauan bagi pihak – pihak yang memerlukan. pemegang hak. pasal 23 ayat (2). Sederhana : Dimaksudkan agar ketentuan – ketentuan pokoknya maupun prosedurnya dengan mudah dapat dipahami oleh pihak – pihak yang berkepentingan. pasal 32 ayat (2). Asas Pendaftaran Tanah 1. sebagai alat pembuktian sepanjang data fisik – yuridis sesuai dengan yang ada dala surat ukur dan buku tanah dan tidak dapat dibuktikan sebaliknya baik 18 . Mutakir : Dimaksudkan kelengkapan yang memadai dalam pelaksanaannya dan kesinambungan dalam pemeliharaan datanya. sehingga data yang tersimpan di kantor pertanahan selalu sesuai dengan keadaan nyata di lapangan dan masyarakat dpat memperoleh keterangan mengenai data yang benar setiap saat dan untuk itulah diberlakukan Azaz Terbuka. Data yang tersedia harus menunjukkan keadaan yang mutakir.  Sistem Pendaftaran Yang Digunakan Sistem pendaftaran hak { Registration of Titles  bukan system pendaftaran akta ( Registration of Deeds) }  Dengan system buku tanah yang berisi data fisik – yuridis dan pencatatan pada surat ukurnya  merupakan bukti bahwa hak. maksudnya.  Kekuatan Pembuktian Sertifikat Berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat. pasal 38 ayat (2) UUPA }  bukan negative murni. Pelayanan yang diberikan dalam rangka penyelenggaraan pendaftaran tanah harus bisa terjakau oleh para pihak yang memerlukan. 4. Aman : Dimaksudkan untuk menunjukkan. Untuk itu perlu di ikuti kewajiban mendaftar dan pencatatan perubahan – perubahan yang terjadi di kemudian hari. terutama para pemegang hak atas tanah 2. khususnya dengan memperhatikan keperluan dan kemampuan golongan ekonomi lemah. dan bidang tanah yang diuraikan dalam surat ukur secara hukum telah didaftar ( Pasal 29  diterbitkan sertifikat )  Sistem Publikasi Yang Digunakan Sistem negative yang mengandung unsure positif karena menghasilkan surat – surat tanah bukti hak yang berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat { pasal 19 ayat (2). artinya meskipun system negative tetapi kegiatan – kegiatan yang bersangkutan dilaksanakan secara seksama agar data yang disajikan sejauh mungkin dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya.

Penjelasan pasal 32 ayat (2) : Pendaftaran tanah yang penyelenggaranyaannya diperintahkan oleh UUPA tidak menggunakan system publikasi positif yang kebenaran data disajikan dan dijamin Negara. maka hilanglah hak untuk menuntut kembali tanah tersebut. kemudian tanah itu dikerjakan orang lain. Putusan 7/ 3 – 59 No.dalam melakukan perbuatan hukum sehari – hari maupun berperkara pengadilan { pasal 32 ayat (1) } Kelemahan Sistem Publikasi Negatif : pihak yang namanya tercantum sebagai pemegang hak dalam buku tanah ( Sertifikat selalu menghadapi kemungkinan gugatan dari pihak lain yang yang merasa mempunyai tanah )  Untuk hal ini sebetulnya ada lembaga Alguisitive Veryaring atau Adverse Possession ( keadaan yang menimbulkan hak tetapi tidak dikenakan dalam hukum adat )  Sebaliknya dalam hukum adapt mengenal lembaga Recatsver Werring. ditegaskan dalam pasal 32 ayat (1) : Dalam hal atas sesuatu bidang tanah sudah diterbitkan sertifikat secara sah atas nama orang atau badan hokum yang memperoleh hak tersebut dengan itikad baik dan secara nyata menguasainya. 329/K/SIP/1957 3. yaitu jika seseorang selama sekian waktu membiarkan tanahnya tidak dikerjakan. 70/K/SIP/1959 5. Putusan 10/ 1 – 57 No. 361/K/SIP/1958 4. ( hapusnya hak karena diterlantarkan )  Dengan pengertian demikian pasal 32 ayat (2) bukan menciptakan hukum baru melainkan sebagai penerapan ketentuan hukum yang sudah ada dalam hukum adat. Putusan 26/11 – 58 No. maka pihak yang merasa mempunyai hak atas tanah itu tidak dapat lagi menuntut pelaksanaan hak tersebut apabila dalam waktu 5 (lima) tahun sejak diterbitkan sertifikan tidak mengajukan keberatan secara tertulis kepada pemegang sertifikat dan kepala kantor pertanahan yang bersangkutan ataupun tidak mengajukan gugatan pada pengadilan mengenai penguasaan tanah atau penerbitan sertifikat. yang merupakan bagian dari hokum tanah Nasional dan sekaligus memberikan wujud kongkrit dalam penerapan ketentuan UUPA mengenai penelantaran tanah. 210/K/SIP/1955 2. Dalam system publikasi negative. yang memperoleh dengan itikad baik. Putusan 24/ 9 – 58 No.  Dalam Yurisprudensi Mahkamah Agung : 1. Putusan 7/ 3 – 59 No. neskipun negative murni 19 . Negara tidak menjamin kebenaran data untuk disajikan. 161/K/SIP/2958 Untuk memberi perlindungan hukum kepada para pemegang sertifikat hak.

kecuali untuk pendaftaran HGU. Untuk tetap berpegang pada system publikasi negative 2. Akta Pemindahan. Pejabat pembuat akta tanah ( PPAT ). Pembuatan Akta Surat Kuasa Membebankan Hak Tanggungan ( SKMHT ) ( Notaris ). Pembagian Hak Bersama ( Pasal 51 ) 4). Untuk secara seimbang memberi kepastian hokum kepada yang beritikad baikmenguasai bidang tanah dan didaftar sebagai pemegang hak dalam buku tanah dengan sertifikat sebagai tanda bukti  Satuan Wilayah Tata Usaha Pendaftaran Tanah Pembukuan data fisik – yuridis dilakukan desa/kelurahan demi desa/kelurahan. Membuat akta pemindahan H. Pembebanan Hak ( Pasal 44 ) 3). Membuat akta hak tanggungan ( Pasal 1 ayat (11) UUHT ) 6).  Akta PPAT adalah sumber utama dalam rangka pemeliharaan data pendaftaran tanah. kecuali kegiatan – kegiatan tertentu yang ditugaskan kepada pihak lain yang pemanfaatannya melebihi wilayah kerja Kepala Kantor Pertanahan. Satuan tata usahanya adalah Kabupaten – Kotamadya ( pasal 10 )  Penyelenggara – Pelaksana Pendaftaran Tanah 1.S  pembebanannya ( UU 16/1985 ) 20 . HPL. R. ( Pasal 19 ayat (1) UUPA ja pasal 5 PP 24/1997 ) 2. Pembuatan Akta Ikrar Wakaf ( PPAIW ). 3.  PPAT diangkat  diberhentikan Menteri/Kerbin untuk mempermudah rakyat di daerah terpencil yang belum/tidak ada PPAT. Hak tanggungan dan tanah Negara. Pelaksana pendaftaran tanah oleh Kepala Kantor Pertanahan. yaitu :  Pejabat umum yang diberi kewenangan untuk membuat akta – akta tanah sebagai yang diatur dalam perundang – undangan antara lain . ( Ketentuan umum tentang PPAT diatur dalam PP )  Kegiatan PPAT dalam membantu pendaftaran tanah : 1). yaitu Kepala Desa yang menguasai keadaan daerah yang bersangkutan ( Pasal 7 ). Risalah Lelang ( Pejabat Lelang ). Penyelenggara pemerintah ( BPN ). Misalnya.Prosedur menunjukkan jelas adanya usaha untuk sejauh mungkin memperoleh dan menyajikan data yang benar karena memang dimaksudkan untuk menjamin kepastian hokum Maksud ketentuan ini : 1. dan Ajudikasi dalam Pendaftaran Tanah secara sistematik ( Pnitia Ajudikasi ) ( Pasal 6 ). Pemindahan Hak ( Pasal 37 s/d 40 ) 2). Pembebanan Hak atas Tanah dan Akta Pemberian Kuasa untuk Membebankan Hak Tanggungan.S. Sanksi Administratif jika mengabaikan ketentuan – ketentuan yang berlaku ( Pasal 62 ) 5).M. ditunjuk PPAT sementara. pengukuran titik dasar teknik dan pemetaan fotogrametri.

meliputi pengumpulan  penetapan kebenaran data fisik dan data yuridis mengenai satu atau beberapa obyek pendaftaran tanah untuk keperluan pendaftarannya. …. Panitia Ajudikasi Dalam melaksanakan pendaftaran secara sistematik dibantu panitian ajudikasi yang dibentuk MNA/Kep. 4.T 2). Mengingat keadaan Negara dan masyarakat 2. BPN yang mempunyai kemampuan bidang P. Anggota : 1). Satgas Pengukuran  pemetaan 2). Ajudikasi adalah kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka proses pendafataran untuk pertama kali. Satgas Administrasi Pasal 19 ayat (1) UUPA PP 10/1961 PP 24/1997 Pasal 19 ayat (3)UUPA Pasal 13 PP 24/1997 Pendaftaran tanah diselenggarakan : 1. Kemungkinan penyelenggaraannya menurut pertimbangan Menteri 1.dilaksanakan secara sistematik dan sporadic 2. Satgas Pengumpul Data Yuridis 3).T 3).T secara sistematik dida – sarkan suatu rencana kerja dan dilaksanakan diwilayah – wilayah yang ditetapkan Menteri 3.H. Tetua Adat ( jika perlu ) c. Ketua ( merangkap anggota )  BPN b. Selain yang telah dilaksanakan secara 21 . P. BPN. Seorang Pamong Desa 5). Panitia terdiri : a.Sebagai pejabat yang bertugas khusus dibidang pelaksanaan sebagian kegiatan pendaftaran tanah PPAT adalah PTUN. Keperluan lalu lintas sosial ekonomis 3. BPN yang mempunyai kemampuan bidang P. Desa ( Kepala Desa ) 4). 3 Satgas : 1).

atas permohonan. BERTAHAP 22 . dilakukan secara sporadic. yang berkepentingan.sistematik.

S) Hak Lama (pasal 24) : 1.Penggantian yang lama Penyajian DKTA T.Rusak .S.PENDAFTARAN TANAH UNTUK PERTAMA KALI Pengumpulan dan Pengolahan data fisik Pembuatan Penetapan peta dasar batas – batas pendaftara bidang tanah n Pembuatan Pembuatan Pengukuran. hanya boleh dibawa keluar untuk keperluan penyelesaian perkara di pengadilan Dengan izin tertulis Menteri/yang ditunduk Dapat diberikan petikan.Surat Umum .Peta pendaftaran . SK Pemberian Hak Akta Pembebanan Hak Milik Akta Ikrar Wakaf (tanah wakaf) Akta Pemisahan (H.R.P.Hilang .M. Pernyataan yang bersangkutan Pembukuan (pasal 29) Buku tanah = data fisik yuridis Penerbitan Sertifikat Sertifikat baru/pertama Sertifikat pengganti . Bukti Tertulis 2.T → Daftar Umum . kecuali daftar nama 23 . 3. 2.Daftar tanah .U. 4. rekaman → azas keterbukaan. Keterangan Saksi 3.Buku Tanah . salinan. pemetaan surat ukur daftar bidang – bidang tanah tanah dan pembuatan peta pendaftaran Pembuktian Hak dan Pembukuannya Hak Baru (pasal 23) : Pembuktian ( pasal 23 ) 1.Daftar Nama Penyimpanan daftar umum dan dokumen Disimpan di kantor pertanahan.

H ditujukan : Kepala Kantor Pertanahan Dati II Kodya/Kabupaten 24 .H diperlukan : 1.B yang dialihkan kepada badan hukum 4. 59/DDA/1970  I. H. H. Bila yang dialihkan tanah pertanian → berkaitan dengan ketentuan Landreform 2.H : Untuk pengendalian atas mutasi pemilikan tanah – bangunan  Permohonan I.P. penerima.P.G.IJIN PEMINDAHAN HAK → - PMA 14/1961 Jo SK Mendagri No. pembeli telah mempunyai 5 bidang tanah Catatan : Kalau permohonan izin ditolak maka sesuai dengan pasal 3 akta jual – beli.P. pembeli – penerima diberi kuasa untuk menjual kepada orang lain yang memenuhi syarat  Tujuan Perlunya I. Dialihkan tanah hak guna usaha 3.P yang dialihkan kepada badan hokum atau orang asing 5. Untuk tanah pekarangan.

D.38. HMSRS Dengan Likuidasi Akta PPAT : Pemindahan Hak Kantor Pertanahan F.A. 39.K Pejabat yang berwenang memberi perpanjangan H.40 25 . HPL. PENGGABUNGAN/PELEBURAN Tidak Likuidasi Akta Penggabungan/ Peleburan PERSEROAN KOPERASI HAT. PERPANJANGAN WAKTU H. PEMBAGIAN HAK BERSAMA Pemegang Hak Bersama Kantor Pertanahan Akta PPAT Ps.T Pasal 47 Pemohon Kantor Pertanahan S.

berdaulat. Pemilikan.TANAH TUHAN BANGSA INDONESIA NEGARA Untuk mencapai sebesar – besarnya kemakmuran rakyat. dalam arti kebahagiaan. bahkan banyak yang sama sekali tidak memiliki menguasai Penataan kembali tentang . kesejahteraan dan kemerdekaan dalam masyarakat dan Negara hukum Indonesia yang merdeka.menguasai tanah yang sangat luas. Penguasaan dan cara Pengusahaan Tanah ( ) UUPA Pasal ………… 26 . sebaliknya sebagian besar penduduk hanya memiliki – menguasai tanah sangat sempit. adil – makmur (Ps. sebagian kecil penduduk memiliki .2/2) Pemilikan – Penguasaan Tanah Sebelum Penjajahan Sebatas kemampuan untuk mengolah tanah Zaman Penjajahan Pengaruh individualisme – kapitalisme – liberialisme → terjadi ketimpangan .

Larangan pemilikan tanah pertanian secara absentee 3. 3. kelebihan batas maksimum dan tanah – tanah absentee 4. 2. 4. Mengakui hak milik perseorangan Membatasi hak milik perseorangan Tidak ada yang pakai sewenang – wenang dan tidak ada …………. Aspek Sosial – Politik 1) Mengakhiri system tuan tanah dan menghapuskan pemilikan – penguasaan tanah yang luas 2) Mengadakan pembagian yang adil atas sumber – sumber penghidupan rakyat tani berupa tanah dengan maksud agar ada pembagian hasil yang adil pula c. Pengaturan kembali perjanjian bagi hasil pertanian 6. Tidak berjiwa komunis – kapitalis → tetapi senar – benar berjiwa Pancasilais 27 . Penetapan batas minimum pemilikan tanah pertanian 7. Larangan untuk memiliki/menguasai tanah pertanian yang melampaui batas 2. Redistribusi tanah pertanian yang berasal dari . Pengaturan tentang pengembalian dan penebusan tanah pertanian yang digadaikan 5.PROGRAM LANDREFORM : 1. Aspek Sosial – Ekonomi 1) Memperkuat hak milik serta memberi sisi fungsi social hak milik atas tanah 2) Memperbaiki produksi Nasional khususnya sector oertanian guna mempertinggi penghasilan dan taraf hidup rakyat b. Larangan melakukan perbuatan yang mengakibatkan pemecahan pemilikan tanah pertanian menjadi bagian – bagian yang terlampau kecil SASARAN LANDREFORM : Untuk mempertinggi penghasilan dan taraf hidup petani – penggarap – buruh sebagai landasan atau prasyarat terselenggaranya pembangunan ekonomi menuju masyarakat dan adil – makmur berdasarkan Pancasila → tanah untuk petani → a. Aspek Mental Psikologis 1) Meningkatkan kegairahan kerja bagi para petani penggarap – buruh dengan jalan memberikan kepastian hak pemilikan tanah 2) Memperbaiki hubungan kerja antara emilik tanah dan penggarap LANDREFORM DI INDONESIA : 1.

Jumlah penduduk . 17/1.Status hak milik . Obyek Hak .Jenis tanah pertanian → selain tanah pekarangan  Batas Luas Maksimum : (Ps. yang dikenai ketentuan UUL : 1.Faktor lain – lain 28 . Status hak milik 2.2 UUPA UU No. Subyek Hak .PEMILIKAN – PENGUASAAN TANAH Ps. 7 UUPA Untuk tidak merugikan kepentingan umum mak pemilikan atau penguasaan tanah yang melampaui batas tidak diperkenankan Dengan perundang – undangan ditetapkan batas luas maksimum dan/atau minimum tanah yang boleh dipunyai oleh satu keluarga/badan hukum Ps. 1960 Tentang penetapan luas tanah pertanian.Orang –orang ( satu keluarga ) 2. 56 PRP Th.Seorang . Penyelesaian gadai tanah hak milk pertanian Landreform = terbatas tanah – tanah 1. Undang – undang Landreform Berisi : 1. ½ UUL) Ditujukan tercapainya pemerataan pemilikan – penguasaan tanah pertanian dengan memperhatikan : . Penetapan batas minimum pemilikan – penguasaan tanah hak milik pertanian 3. Penetapan batas maksimum pemilikan – penguasaan tanah hak milik pertanian 2.Luas daerah . Jenis tanah pertanian  Ps 1/1 UUL.

kelebihan seorang anggota ditambah (+) 10 %. dan dilarang mengalihkan sebagian – seluruhnya tanpa ijin  Bagi keluarga yang setelah berlalunya UU ini memperoleh tambahan. tanah sawah ditambah (+) 30 %  Satu keluarga ( 7 orang anggota ).50 51 .5 Ha 5 Ha TANAH KERING 20 Ha 12 Ha 9 Ha 6 Ha  Jika pemilikan 2 jenis tanah. didaerah : . tanah sawah ditambah (+) 20 % .KETENTUAN BATAS MAKSIMUM DAERAH Tidak padat Padat : Kurang padat Cukup Padat Sangat Padat PENDUDUK 0 .Tidak padat. maksimum 50 %  Bagi keluarga yang memiliki melebihi batas maksimum. sehingga pemilihannya melampaui batas maksimum dalam waktu 1 th sejak perolehan wajib mengakhiri pemilihannya 29 .250 251 . wajib melapor.400 401 - LUAS SAWAH 15Ha 10 Ha 7.Padat.

30 . tidak masalah. di………. apabila mengakibatkan : . tidak masalah. untuk dijual. akan mengakibatkan berlangsungnya pemilikan < 2 Ha 3. kecuali warisan dilarang.Berlangsungnya pemilikan yang luasnya < 2 Ha IMPLEMENTASI 1.Timbulnya. ditentukan : Pasal 9/1 : Pemindahan hak milik atas tanah pertanian.BATAS MINIMUM PEMILIKAN TANAH PERTANIAN  Harapan pemilikan tanah pertanian bagi setiap petani minim 2 Ha. Untuk mencapai itu. Tapi jika pembeli belum punya sebelumnya. x mempunyai 2. y mempunyai < 2 Ha dijual seluruhnya. Praktek.5 Ha. akan dijual 0. .5 Ha. tapi bagi pembeli jka belum punya sebelumnya akan mengakibatkan timbulnya pemilik < 2 Ha yang baru 2.

diadakan pula pembatasan cara pemilikan. Mengalihkan hak atas tanahnya kepada orang lain di kecamatan tempat letak tanah itu.2 : Pelaksanaan – pengecualiannya diatur dalam peraturan perundang – undangan * Mengerjakan = mengusahakan # menggunakan Pengecualian : Dapat mempergunakan buruh tani yang pencegahan cara – cara pemerasan dapat dilakukan dengan pemberian upah yang layak. yaitu tidak boleh secara absentee ( tidak ditempat ). Pindah ke kecamatan letak tanah tersebut 31 . harus diakhiri ( dalam waktu 6 bulan ) dengan : 1. Pelaksanaan : Disamping diadakan pembatasan luas maksimum.PENGUSAHAAN TANAH PERTANIAN Pasal 10/1 : Setiap orang dan badan huum yang mempunyai sesuatu hak atas tanah pertanian pada azasnya di wajibkan mengerjakan atau mengusahakannya sendiri secara aktif dengan mencegah cara – cara pemerasan Pasal 10/1. PP No. 224/1961 Jo. PP No. namun pemegang hak masih tetap melakukan pengawasan langsung dalam mengusahakan tanahnya. 4/1977 Pasal 3 PP 224/1961 : Pemilikan tanah pertanian yang pemiliknya bertempat tinggal di luar kecamatan letak tanah hak milik pertaniannya berada. PP No. 41/1964 Jo. yang pengaturannya lebih lanjut dalam . atau 2.

demikian pula jika memperoleh dari warisan ( Pasal 3 b. Pasal 7/2 32 . Jika dalam pasal 3 d PP 41/1964 dilarang semua bentuk pemindahan hak tanah pertanian yang menyebabkan pemilikan di luar kecamatan ( absentee ) dengan sendirinya termasuk oleh Pegawai Negeri. seorang Pegawai Negeri dalam waktu 2 tahun menjelang masa pensiun diperbolehkan membeli tanah pertanian secara absentee seluas 2/5 dari batas maksimum. termasuk istri dan anak – anak yang masih menjadi tanggungannya 4. yang dipersamakan Pegawai Negeri termasuk : . PENYELESAIAN GADAI TANAH PERTANIAN Pasal 7/1 Untuk gadai yang sudah berlangsung 7 th.Janda Pensiunan Pegawai Negeri selama tidak menikah lagi dengan seorang taulan Pegawai Negeri 6. Menunaikan kewajiban agama 3. Pemilik tanah bertempat tinggal di kecamatan yang berbatasan dengan kecamatan tempat letak tanah jika jarak antara tempat tinggal pemilik dan tanahnya masih memungkinkan mengerjakan tanah secara efisien. c PP 41/1964) dan meninggalkan tanahnya 2 th berturut – turut 5. menurut pertimbangan panitia Landreform setempat 2. sehingga jika pension dalam setahun juga harus mengakhiri pemilikan absentee – nya dengan pindah tempat tinggal ke kecamatan letak tanah berada. Dalam perkembangan menurut PP 4/1977. Sedang menjalankan tugas Negara. Menurut pasal 6 PP4/1977.Kewajiban/keharusan Mengakhiri Tidak Berlaku Lagi : 1.Janda Pegawai Negeri . yaitu Pegawai Negeri Sipil atau ABRI yang masih aktif. penggadai wajib mengembalikan tanah pertaniannya tanpa permintaan uang tebusan. Sedang menjalankan tugas Negara.Pensiunan Pegawai Negeri .

Gadai setelah UU ini. dapat diselesaikan/diakhiri dengan ketentuan sebagai berikut : 7 + ½ . yang belum berlangsung 7 th.waktu berlangsung X Uang Gadai 7 33 .

34 .

35 .

36 .

37 .

38 .

39 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful