P. 1
Makalah Hukum Pertanahan-1

Makalah Hukum Pertanahan-1

|Views: 2,013|Likes:
Published by Eck Graham Bell

More info:

Published by: Eck Graham Bell on Mar 12, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/13/2013

pdf

text

original

Daftar Isi: A. 1. Pengertian Hukum Agraria a. dalam arti luas b. dalam arti sempit 2. Hak Bangsa Indonesia 3.

Hak Menguasai Negara a. Hak Pengelolaan b. Hak Ulayat 4. Sumber Sumber dan Azas azas Hukum Tanah Nasional 5. Jenis jenis Hak Individual v/s konversi 6. Landreform 7. BPN, sebagai Lembaga yang mengembangkan dan menyelenggarakan politik dan kebijakan Pertanahan B. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Hukum Condominium (Strata Title) Hak Tanggungan Peralihan dan Pemindahan Hak Penggabungan, pemisahan, Pendaftaran Tanah Flowchart Pendaftaran Tanah (13 skim) Pajak dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PBB, PPH, BPHTB, Uang Pemasukan, dsb) 8. Pembebasan, pengahapusan Hak 9. Perolehan Tanah untuk keperluan Pembangunan dan Penanaman Modal 10. Secondary Mortgage Fasility

Disusun : Dina Napitupulu
1

BAB I HUKUM PERTANAHAN
1.1 PENGERTIAN
Tanah menurut UUPA dilihat pada : 1. Pasal 1 ayat (4) : pengertian bumi, selain : - permukaan bumi - tubuh bumi dibawahnya - serta yang berada dibawah air 2. Pasal 4 ayat (1) : ………….atas pemukaan bumi yang disebut Tanah

Ruang angkasa diatasnya ---- Air -----------Tubuh Bumi 

Tanah

Nilai tanah diukur dengan luas, bukan ditentukan oleh kemampuan menghasilkan (tanaman maupun nilainya diukur dengan berat (ton), Volume (m³ / maupun gerobak). Pasir, tanah liat, kapur, batu, dsb yang diambil untuk dimanfaatkan, bukan termasuk tanah, akan tetapi termasuk mineral/tambang (kekayaan alam).

1.2

HUKUM
1. Hukum tidak tertulis = Hukum Adat 2. Hukum tertulis = - UU - UUPA - Perjanjian - Keputusan 1.2.1 HUKUM AGRARIA NASIONAL Hukum Agraria Nasional yang meliputi : b. 1. Berdasar atas hukum adat tentang tanah 2. Sederhana 3. Menjamin kepastian hukum bagi seluruh rakyat Indonesia. 4. Tidak mengabaikan unsure-unsur yang bersandar pada hukum agama. 2

b. 1. Memberi kemungkinan akan tercapainya fungsi bumi, air dan ruang angkasa. 2. Sesuai dengan kepentingan rakyat Indonesia 3. Memenuhi pula keperluan menurut permintaan zaman dalam segala soal agrarian.

c. Mewujudkan penjelmaan Pancasila sebagai asas kerohanian Negara dan cita-cita Bangsa seperti tercantum dalam pembukaan UUD ’45. d. Merupakan pelaksanaan Dekrit Presiden (pasal 33 ayat 3 UUD ’45) yang mewajibkan Negara untuk mengatur pemilikan dan memimpin penggunaannya, sehingga semua tanah dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat, baik secara perorangan maupun secara gotong royong. Perlu ditekukkan sendi-sendi dan disusun ketentuan-ketentuan pokok baru dalam bentuk undang-undang → yang merupakan dasar bagi penyusunan hokum agrarian maksimal. (KONSIDERAN UUPA).

Pasal 33 ayat (3) UUD 1945
(3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat

UU. 5/1960 = UUPA

TANAH TUHAN Hak Bangsa Ps. 1 ayat (2) BANGSA INDONESIA HAK MENGUASAI Ps. 2 ayat (1, 2, 3, 4) NEGARA

Ayat (2) : Hak menguasai dari Negara termasuk dalam ayat (1) memberi wewenang : a. Mengatur dan menyelenggarakan : peruntukan, penggunaan, persediaan dan pemeliharaan barang. 3

Hak Pakai d. A. Pusat kehidupan masyarakat. transmigrasi. HGB Bangunan * c. peternakan. HP 4. Gadai 6. 14 ayat 1 UUPA). Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dengan B. R. 1 (2) UUPA BANGSA INDONESIA Hak Menguasai Ps. Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dan perbuatan hukum yang mencegah B. 2/4 UUPA Pelaksanaan hak menguasai yang dilimpahkan kepada masyarakat hukum adat Tanah Negara : tanah yang masih langsung dikuasai oleh Negara. untuk keperluan : 1.Rumah susun 4 .tanggungan .b. social (Res Communes) 4. perikanan 5. belum dilekati/dimintaan hak atas tanah oleh perorangan (Ps. Sewa 5. A. hak guna 2.pengelolaan . Hak lain-lain : . Negara (Res Publigue) 2. Hak Sewa e. c. Produksi pertanian. Hak memungut Hasil 8.memunggut hasil hutan 1. Dijga-dipelihara Negara (Res Nullius) Tanah Hak : tanah yang telah dimintakan hak oleh perorangan atau dipunyai oleh perorangan. Bagi hasil Tanah 7.4 ayat 1 UUPA Hak Ulayat . A. Industri. sekunder : Usaha * a. pertambangan 6. TANAH TUHAN Hak Bangsa Ps. Hak membuka f. Peribadatan-suci lainnya (Res Sacre) 3. HGU 3. 16 ayat 1) 1.membuka tanah . R. Hak Guna b. A. pokok : hak milik 2. Yg sudah ada RUT HK adapt (Ps. 2 UUPA NEGARA INDONESIA Ps. hak milik yg dapat diberikan (Ps.

CATATAN 5 . Pasal 13. sedang fungsi organisasi dan administrasi merupakan proses dan unsure yang harus mendukung pelaksanaan keempat fungsi teknis lainnya. Pasal 19. tujuan pemanfaatan tanah seperti dimaksud sila V Pancasila pasal 33/3 UUD 1945 dan pasal 2/3 UUPA tidak akan terwujud. Dan harus dilaksanakan secara terpadu. Pasal 4. Pelaksanaan fungsi pertanahancenderung merupakan suatu siklus yang tidak berujung pangkal. Pasal 11. Jika salah satu fungsi tidak terlaksana dengan baik. Pasal 7. Pasal 32. Pasal 18. Pasal 20 s/d Pasal 38 Pasal 58 ADMINISTRASI DAN ORGANISASI Ps.* ada sejak UUPA 1. sama penting dan kedudukannya. dan Pasal 17 Urusan Pertanahan merupakan satu kesatuan yang utuh-bulat. Pasal 9. pasal 14. tidak dapat dipisah-pisahkan. Pasal 16. Pasal 6. Pasal 23. 2 AYAT (1) TATA GUNA TANAH Pasal 2 ayat (2a) Pasal 8. saling kait mengkait dan saling mengisi satu sama lain. dan pasal 15 LANDREFORM Pasal 2 ayat (2). meskipun secara teknis dapat dibedakan . merupakan urusan pertanahan sbb : SIKLUS KEGIATAN BIDANG PERTANAHAN PENGURUSAN HAK-HAK TANAH PENDAFTARAN TANAH Pasal 2 ayat (2b).3 URUSAN PERTANAHAN Dengan mencermati UUPA.

4 INTITUSI YANG MENANGANI PERTANAHAN Intitusi-intitusi yang menangani pertanahan adalah : 1. 44 dan 45 JO. Tertib administrasi pertanahan III. 1/2/44-5381. menegaskan tercapainya : CATUR TERTIB PERTANAHAN yang : 1.7/1979. Jend. 2. penguasaan dan pemilikan tanah. 1988 – Berdasarkan Keppres No. 1/2/22-4186 dan 15/11-1968 No.TAP MPR IV/MPR/1978 JO KEPPRES RI No.P. Agraria merupakan komponen dari Dep. Harus dicapai yaitu : I. U. 17-18/8-1945 s/d 1955 Urusan pertanahan tetap berada dilingkungan departemen dalam Negeri. Dalam Negeri. Berdasarkan Keppres RI No. serta program-program khusus untuk menunjang usaha peningkatan kemampuandan potensi petani-petani tidak bertanah atau mempunyai tanah sempit. Mendagri 6/11-1968 No. Berdasarkan Kep. 2. Men Dalam Negeri No. 55/1955 dibentuk kementrian Agraria (Mandiri) 3. 4. 26/1988 tanggal 11/7-1988 dibentuk BPN 6 . Merupakan landasan pokok kebijaksanaan bidang pertanahan untuk mengadakan penataan kembali penggunaan. 1955 s/d 1966 Berdasar Keppres No. Agraria Dept Dalam Negeri. Tertib hukum pertanahan II. Direktorat Jend. 1966 s/d 1968 Berdasarkan Keppres 63-64/1966 diurus direktorat Jenderal Agraria dan Transmigrasi Departemen Dalam Negeri. Tertib penggunaan tanah IV. 94/95. Kep. urusan pertanahan menjadi wewenang : Direkt. Tertib pemeliharaan tanah dan lingkungan hidup 1.

Mengakui-menghormati hak masyarakat. Keadilan : penguasaan. penggunaan. Fungsi social. b. Prinsip pemanfaatan dan pemeliharaan S. h. dan memperhatikan daya tampung dan dukung lingkungan. pemilikan.D Agraria dan S. Keberlanjutan memberi manfaat optimal.D Alam g. kepatuhan hukum. Mengembangkan Demokrasi. sekarangmendatang. melalui peningkatan kualitas SDM e. Transparansi. Menghormati-menjunjung tinggi HAM c. Rakyat. Keterpaduan-koordinasi antar sektor j. Memelihara-mempertahankan keutuhan NKRI. hukum adapt 7 Pelaksanaan Hukum Agraria fungsinya tidak sesuai pasal 33/3 UUD 1945 Pembaharuan . kelestarian. ekologis sesuai kondisi sosbud setempat i.TAP MPR IX/MPR /2001 Agraria a. Optimalisasi dan Partisipasi Rakyat f. Menghormati supremasi hukum dengan mengakomodasikeanekaraga man Unifikasi Hukum d.

Desentralisasi wewenang Nasional. 2. Mengupayakan pembiayaan dalam melaksanakan program pembaharuan agrarian dan penyelesaian konflik-konflik SDA yang terjadi.D. penggunaan dan pemanfaatan tanah secara komprehensif dan sistematis dalam rangka pelaksanaan Landreform. 66) 1. 6. daerah) Pengelolaan masyarakat-individu S. penggunaan pemanfaatan tanah (landreform) yang adil dengan memperhatikan pemilikan tanah rakyat.D. Pendataan pertanahan melalui inventaris dan registrasi : penguasaan.alam. Arah Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Alam : (B. baik perkotaanpedesaan. Melakukan pengkajian ulang terhadap berbagai peraturan-UUan yang berkaitan dengan SDA dalam rangka sinkronisasi kebijakan antara sector yang berdasarkan Prinsip-prinsip pembaharuan.6/2) 1. Pengkajian ulang Perundang-undangan Agraria dalam rangka sinkronisasi kebijaksanaan antara sector demi terwujudnya Perundang-undangan yang didasarkan Prinsip-prinsip pembaharuan 2. 4. Memperluas pemberian akses informasi kepada masyarakat mengenai potensi SDA di daerahnya dan mendorong terwujudnya tanggung jawab social untuk menggunakan teknologi ramah lingkungan termasuk teknologi tradisional.dan keragaman budaya bangsa atas SDA-SDA k. 3. Menyelesaikan konflik berkenaan SDA yang timbul selama ini sekaligus mengantisipasi potensi konflik dimasa mendatang guna menjamin terlaksananya penegakan hukum dengan didasarkan atas Prinsip-prinsip pembaharuan. Arah Kebijaksanaan Pembaharuan Agraria : (A. Kabupaten/Kota. Mewujudkan optimalisasi pemanfaatan berbagai SDA melalui identifikasi / inventarisasi kualitas / kuantitas SDA sebagai potensi dalam pembangunan nasional. Propinsi. B.D. Desa dalam alokasi manajemen S. Keseimbangan hak-kewajiban Pem (pusat.AS. A. pemilikan. 3. 8 . pemilikan. Penataan kembali : penguasaan. Memperkuat kelembagaan dan kewenangan dalam rangka mengemban pelaksanaan pembaharuan agrarian dan menyelesaikan konflik-konflik yang berkenaan dengan SDA yang terjadi. Alam l. 5.

Penetapan dan penyelesaian masalah tanah ulayat g. A. Kewenangan mengatur dalam bentuk peraturan daerah hanya dibenarkan setelah kewenangan tersebut diserahkan menjadi urusan rumah tangga daerah dalam rangka otonomi. bidang agrarian (tanah). 2. Penetapan subyek dan obyek retribusi tanah. Pelimpahan penguasaan bidang pertanahan kepada daerah merupakan tugas pembantu (medebewind) → wewenang menentukan garis kebijaksanaan pertahanan yang bersifat policy adalah wewenang pemerintah pusat. 3. serta ganti kerugian tanah kelebihan maksimum dan tanah absentee. f. yang pelaksanaannya didaerah (dapat) dilimpahkan kepada Pemerintah daerah atau masyarakat hukum adapt. Perencanaan penggunaan tanah wilayah Kabupaten / Kota. 4 UUPA. Pemanfaatan dan penyelesaian tanah kosong h. Penyelesaian sengketa tanah garapan d. diatur dengan PP.5 KELEMBAGAAN / KEWENANGAN BIDANG PERTANAHAN Mendasarkan Ps 33/3 UUD 1945 JO Ps 2/1. Pasal 13/1 UU 32/2004 (Otonomi Daerah): Urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintah daerah propinsi merupakan urusan dalam skala propinsi yang meliputi 16 item termasuk : pertanahan. Pemberian izin lokasi b. Pemberian izin membuka tanah i. Memperhatikan sifat & karakteristik dari berbagai jenis sumber daya alam dan melakukan upaya-upaya meningkatkan nilai tambah dari produk SDA tersebut.4. menurut sifat-asas merupakan tugas pemerintah (pusat). 6. Menyusun strategi pemanfaatan SDA yang didasarkan pada optimalisasi manfaat dengan memperhatikan kepentingan dan kondisi daerah maupun nasional. Penyelesaian masalah ganti kerugian dan santunan tanah untuk pembangunan e. Menyelesaikan konflik-konflik pemanfaatan SDA yang timbul selama ini sekaligus dapat mengantisipasi potensi konflik dimasa mendatang guna menjamin terlaksananya penegakan hukum dengan didasarkan atas Prinsip-prinsip pembaharuan. 1. dan pelayanan pertanahan termasuk …… lintas Kabupaten / Kota. Pengadaan tanah untuk kepentingan pembangunan c. Keppres 34/2003 Tentang Kebijakan Nasional di Bidang Pertanahan Pasal 2 : Kewenangan pemerintah dibidang pertanahan yang dilaksanakan oleh pemerintah Kabupaten / Kota : a. 5. 9 .

10 Tahun 2006 Urusan tanah baik : Nasional. dilaksanakan oleh Pemerintah Propinsi. Apabila kewenangan-kewenangan diatas bersifat lintas Kabupaten / Kota. Perpres No. 2 UUPA) HAK MENGUASAI NEGARA PRIVAT / PERDATA TANAH DIHAKI SECARA FISIK MENGUASAI TANPA HAK MENGUASAI DENGAN HAK DARI PIHAK LAIN 10 . Regional maupun sektoral merupakan urusan Pemerintah → BPN. B. PENGUASAAN TANAH YURIDIS HAK PUBLIK (Ps.

yang dapat diberikan kepada dan dipunyai oleh : orang. Tanah ------Air Tubuh bumi  Batasan – batasan : 11 .6 HAK ATAS TANAH  Pasal 2 ayat (2b) : menentukan dan mengatur hubunganhubungan hukum antara orangorang dengan B. A tersebut. R. A. orang-orang serta badan hukum. ditentukan adanya macam-macam hak atas permukaan bumi yang disebut tanah. Pasal 4 ayat (1) : atas dasar hak menguasai …….1. demikian pula Tubuh bumi Air Ruang di atasnya Sekedar dipergunakan langsung  Berhubungan dengan penggunaan tanah dalam batas lain yang lebih tinggi. Pengertian Hak Atas Tanah { Pasal 4 ayat (2)} Hak yang memberi wewenang untuk mempergunakan : tanah.

12. Hak guna bangunan d. Hak gadai b. Hak guna air b. UUPA : a. Hak – hak lain yang tidak termasuk dalam hak – hak tersebut di atas yang akan ditetapkan dengan Undang – Undang serta hak – hak yang sifatnya sementara sebagai yang disebutkan dalam pasal 53 Pasal 16 ayat (2) : Hak – hak atas air dan ruang angkasa dimaksud pasal 4 ayat (3) ialah : a. Pasal 18 ( dicabut ) 2. Hak pakai e. Hak guna ruang angkasa Pasal 53 ayat (1) : Hak – hak yang sifatnya sementara dimaksud pasal 16 ayat (1) ialah : a. 13 ( gotong royong ) e. Pasal 15 ( memelihara ) f. Pasal 6 ( fungsi sosial ) b.1. Peraturan Lain : Misal UU Narkotika Dilarang menanam ganja 1. Hak sewa f. Hak memungut hasil hutan h. Pasal 10 ( mengerjakan sendiri ) d. Hak menumpang d. Hak pemeliharaan dan penangkapan ikan c. Hak guna usaha c. Pasal 11. Hak membuka tanah g. Pasal 7 ( luas maksimum ) c. Hak sewa tanah pertanian 12   . Hak usaha bagi hasil c. Hak milik b.7 MACAM HAK ATAS TANAH  Pasal 16 ayat (1) : a.

Pembangunan Jangka Waktu . Pakai .Menggunakan . memungut hasil hutan Gadai.Mempergunakan .Sesuai untuk bangunan perjanjian (T.Pembangunan .Dialihkan . akan dihapuskan.Turun temurun .sementara. dikarenakan dalam perkembangan -mempergunakan TM oleh bukan pemiliknya dibatasi dan diatur dengan 13 .Pertanian . sewa tanah .Macam H.Memungut hasil 25 – 35 th 25 th WNI BHI 30 th 20 th .Selama diperlukan WNI  BHI  BHA ada di Indonesia Sewa Bangunan Membuka tanah.Pertanian .Didaftarkan .P . bagi hasil.Dibebani hak tanggungan HGU HGB H.M Kewenangan .M) dengan WNI Direktur P.Beralih .Tertentu = 25 th .Tak terbatas Subyek Hak WNI BH Khusus Ciri – ciri lain .

Bagi rakyat asli. baru sebagian kecil.Serahkan kepada pihak III - . Untuk hak grant ( di Medan ) d. DI D.pertanian. Yang dilaksanakan oleh Lurah ( wilayah Kab. tidak menjamin kepastian hukum.P. Dualistis 3. Yang dialkukan oleh Subak ( di Bali ) c. numpang HPL menumbuhkan perundang pemerasan sesama undangan manusia .I.Untuk tugas . Dalam perkembangan tanah mempunyai nilai ekonomis yang makin tinggi dan dapat menimbulkan kerawanan di masyarakat dengn meningkatnya jumlah penduduk dan pembangunan.Y ) b. Berdasarkan tujuan sendi – sendi dari pemerintah perjanjian dan sebagian lainnya lagi dipengaruhi olehnya 2.A 14 .Instansi PGM BH (khusus) HUKUM AGRARIA LAMA 1. Yang deselenggarakan oleh kraton Yogyakarta ( Kadipaten Pakualaman ) Fiskal Kadaster HUKUM AGRARIA NASIONAL Menjamin kepastian hukum bagi seluruh rakyat Indonesia. adalah : a. PEMBENTUKAN U.U.

Juk – lak  menurut ketentuan P. Bagi penyusunan Hukum Agraria Nasional b. meliputi : a. Pemberian surat – surat tanda bukti hak yang berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat 3. Pasal 32. Pasal 19 ayat (4) Pembiayaan : Dalam P.T dengan ketentuan bahwa rakyat yang tidak mampu dibebaskan dari pembayaran biaya teresebut. Mengingat keadaan Negara dan masyarakat b. Pengukuran. Pasal 19 ayat (3) Penyelenggaraan – Pelaksanaan : a. Pasal 23.Penjelasan Umum Meletakkan Dasar – Dasar : a.P diatur biaya – biaya P.P ( PP 10/1961  PP 24/19997 ) 2. Daerah  diseluruh wilayah Indonesia d. Pasal 19 ayat (1) Berisi : a. Untuk mengadakan kesatuan dan kesederhanaan dalam Hukum Pertanahan c. Pasal 38 1. perpetaan dan pembukuan tanah b. Pendaftaran  hak – hak atas tanah dan peralihan hak – hak tersebut c. 15 . Kemungkinan penyelenggaraannya menurut pertimngan menteri 4. Keperluan lalu lintas sosial – ekonomis c. Penyelenggaraan  oleh pemerintah c. Tujuan  untuk menjamin kepastian hukum b. UMUM 1.8 KETENTUAN POKOK PENDAFTARAN TANAH A. Pasal 19 ayat (2) Kegiatan Pendaftaran Tanah. Untuk memberikan kepastian hukum mengenai hak – hak atas tanah bagi rakyat seluruhnya PENDAFTARAN TANAH Pasal 19.

pembukuan dan penyajian serta pemeliharaan data fisik – yuridis c. 1/1966 : .Hak pengelolaan  Pendaftaran Tanah Pasal 19  Kewajiban pemerintah untuk penyelenggaraannya Pasal 23. Rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah secara terus menerus.Hak Milik . PMA No. sahnya peralihan dan pembebasan hak tersebut 2. Pasal 23 ayat (1) dan (2) Hak Milik ( HM ) Ayat (1) . 38  Kewajiban subyek hak untuk mendaftarkan  Pengertian Pendaftaran Tanah P. hapusnya dan pembebanannya dan hak – hak lain . Pasal 32 ayat (1) dan (2) Hak Guna Usaha ( HGU ) Ayat (1) .HGU termasuk syarat – syarat pemberiannya .Demikian Pula  setiap peralihan. Termasuk pemberian sertifikat sebagai surat tanda bukti haknya bagi bidang – bidang tanah yang sudah ada haknya dan hak milik S. Dalam bentuk peta dan daftar mengenali bidang – bidang tanah.T adalah : a. pengolahan.Demikian juga setiap peralihan dan penghapusan HGB Harus didaftarkan menurut KTTN pasal 19 Ayat (2) Pendaftaran ayat (1) merupakan alat pembuktian yang kuat mengenai hapusnya HGB serta sahnya peralihan hak tersebut kecuali hapus karena jangka waktunya berakhir. berkesinambungan da teratur b.Hak pakai di atas tanah Negara . KHUSUS 1.Harus didaftarkan menurut KTTN ( pasal 19 ) Ayat (2) .R. Bidang tanah adalah bagianpermukaan bumi yang merupakan suatu bidang yang berbatas 16 .Pendaftaran ayat (1) merupakan alat pembuktian yang kuat mengenai  hapusnya hak milik. 32. satuan rumah susun d. 4.Demikian juga setiap peralihan dan hapusnya hak tersebut Harus didaftarkan menurut KTTN pasal 19 3. serta hak – hak tertentu yang membebaninya.B.HGB termasuk syarat – syarat pemberiannya .S. Meliputi pengumpulan. Pasal 38 ayat (1) dan (2) Hak Guna Bangunan ( HGB ) Ayat (1) .

Tanah Negara CATATAN : 1. batas dan luas termasuk ada tidaknya bangunan . Tanah Hak Pengelolaan 2. Bidang – bidang tanah yang dipunyai dengan : 1. pembebanan dan hapusnya wajib di daftar 17 .P. Obyek Pendaftaran Tanah Menurut Pasal 9 PP 24/1997 A. Menyediakan informasi kepada pihak – pihakyang berkepentingan termasuk pemerintah. Hak Guna Bangunan ( HGB ) 4. Dipunyai dengan 1. Memberikan kepastian dan perlindungna hukum kepada pemegang hak yang bersangkutan  diberikan sertifikat sebagai surat tanda bukti hak yang sudah dibukukan dalam buku tanah yang berisi daftar yuridis dan data fisik suatu obyek pendaftaran .T. Hak Guna Usaha ( HGU ) 3. Untuk HGB – HP. meliputi : 1. sementara yang wajib daftar yang melekat di atas tanah Negara 2. terdiri : a. hak pihak lain serta beban – beban lain yang membebaninya 2. pemegang hak. Hak Tanggungan 5. Pembukuan tanah Negara dalam daftar tanah dan tidak diterbitkan sertifikat  Tujuan Pendaftaran Tanah ( Pasal 3 PP 24/1997) Sesuai dengan pasal 19 UUPA. agar dengan mudah dapat memperoleh data yang diperlukan dalam melakukan perbuatan hukum.T ( Tidak terbuka untuk umum ) 3. yang diambil dari peta pendaftaran d. Daftar nama yaitu dokumen dalam bentuk daftar yang memuat keterangan penguasaan tanah dengan sesuatu hak oleh perseorangan – badan hokum T. tujuannya dalam rangka menjamin kepastian hukum di bidang pertanahan ( Rechts Kadaster  Legal Cadastre ). Daftar tanah adalah dokumen dalam bentuk daftar yang memuat identitas bidang tanah dengan system penomeran c. Peta pendaftaran. Hak Milik Satuan rumah Susun ( HMSRS ) 4.Data yuridis adalah keterangan mengenai status hokum bidang tanah – satuan rumah susun yang didaftar.U.T dalam daftar umum. Hak Milik ( HM ) 2. yang menggambarkan bidang atau bidang – bidang tanah untuk keperluan pembukuan tanah b.Data fisik berupa keterangan mengenai letak. Surat ukur adalah dokumen memuat data fisik bidang tanah dalam bentuk peta dan uraian. Untuk terselenggaranya tertib administrasi pertanahan  setiap bidang tanah dan peralihannya. Data disajikan kantor pertanahan bagian T. Hak Pakai ( HP ) B. Tanah Wakaf 3.

 Kekuatan Pembuktian Sertifikat Berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat. Terjangkau : Dimaksudkan keterjangkauan bagi pihak – pihak yang memerlukan. Mutakir : Dimaksudkan kelengkapan yang memadai dalam pelaksanaannya dan kesinambungan dalam pemeliharaan datanya. sehingga data yang tersimpan di kantor pertanahan selalu sesuai dengan keadaan nyata di lapangan dan masyarakat dpat memperoleh keterangan mengenai data yang benar setiap saat dan untuk itulah diberlakukan Azaz Terbuka. Sederhana : Dimaksudkan agar ketentuan – ketentuan pokoknya maupun prosedurnya dengan mudah dapat dipahami oleh pihak – pihak yang berkepentingan. 4. pemegang hak. pasal 23 ayat (2).  Sistem Pendaftaran Yang Digunakan Sistem pendaftaran hak { Registration of Titles  bukan system pendaftaran akta ( Registration of Deeds) }  Dengan system buku tanah yang berisi data fisik – yuridis dan pencatatan pada surat ukurnya  merupakan bukti bahwa hak. artinya meskipun system negative tetapi kegiatan – kegiatan yang bersangkutan dilaksanakan secara seksama agar data yang disajikan sejauh mungkin dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Data yang tersedia harus menunjukkan keadaan yang mutakir. maksudnya. bahwa pendaftaran perlu diselenggarakan secara teliti dan cermat sehingga hasilnya dapat memberikan jaminan kepastian hukum sesuai tujuan pendaftaran tanah itu sendiri 3. sebagai alat pembuktian sepanjang data fisik – yuridis sesuai dengan yang ada dala surat ukur dan buku tanah dan tidak dapat dibuktikan sebaliknya baik 18 . dan bidang tanah yang diuraikan dalam surat ukur secara hukum telah didaftar ( Pasal 29  diterbitkan sertifikat )  Sistem Publikasi Yang Digunakan Sistem negative yang mengandung unsure positif karena menghasilkan surat – surat tanah bukti hak yang berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat { pasal 19 ayat (2). Asas Pendaftaran Tanah 1. Untuk itu perlu di ikuti kewajiban mendaftar dan pencatatan perubahan – perubahan yang terjadi di kemudian hari. Pelayanan yang diberikan dalam rangka penyelenggaraan pendaftaran tanah harus bisa terjakau oleh para pihak yang memerlukan. Aman : Dimaksudkan untuk menunjukkan. terutama para pemegang hak atas tanah 2. khususnya dengan memperhatikan keperluan dan kemampuan golongan ekonomi lemah. pasal 32 ayat (2). pasal 38 ayat (2) UUPA }  bukan negative murni.

70/K/SIP/1959 5. neskipun negative murni 19 . 161/K/SIP/2958 Untuk memberi perlindungan hukum kepada para pemegang sertifikat hak.dalam melakukan perbuatan hukum sehari – hari maupun berperkara pengadilan { pasal 32 ayat (1) } Kelemahan Sistem Publikasi Negatif : pihak yang namanya tercantum sebagai pemegang hak dalam buku tanah ( Sertifikat selalu menghadapi kemungkinan gugatan dari pihak lain yang yang merasa mempunyai tanah )  Untuk hal ini sebetulnya ada lembaga Alguisitive Veryaring atau Adverse Possession ( keadaan yang menimbulkan hak tetapi tidak dikenakan dalam hukum adat )  Sebaliknya dalam hukum adapt mengenal lembaga Recatsver Werring. Putusan 7/ 3 – 59 No. maka pihak yang merasa mempunyai hak atas tanah itu tidak dapat lagi menuntut pelaksanaan hak tersebut apabila dalam waktu 5 (lima) tahun sejak diterbitkan sertifikan tidak mengajukan keberatan secara tertulis kepada pemegang sertifikat dan kepala kantor pertanahan yang bersangkutan ataupun tidak mengajukan gugatan pada pengadilan mengenai penguasaan tanah atau penerbitan sertifikat. yang memperoleh dengan itikad baik. Putusan 24/ 9 – 58 No. Penjelasan pasal 32 ayat (2) : Pendaftaran tanah yang penyelenggaranyaannya diperintahkan oleh UUPA tidak menggunakan system publikasi positif yang kebenaran data disajikan dan dijamin Negara. Negara tidak menjamin kebenaran data untuk disajikan. ( hapusnya hak karena diterlantarkan )  Dengan pengertian demikian pasal 32 ayat (2) bukan menciptakan hukum baru melainkan sebagai penerapan ketentuan hukum yang sudah ada dalam hukum adat. 361/K/SIP/1958 4. Putusan 26/11 – 58 No. yaitu jika seseorang selama sekian waktu membiarkan tanahnya tidak dikerjakan. Putusan 7/ 3 – 59 No. Putusan 10/ 1 – 57 No.  Dalam Yurisprudensi Mahkamah Agung : 1. Dalam system publikasi negative. 329/K/SIP/1957 3. maka hilanglah hak untuk menuntut kembali tanah tersebut. 210/K/SIP/1955 2. yang merupakan bagian dari hokum tanah Nasional dan sekaligus memberikan wujud kongkrit dalam penerapan ketentuan UUPA mengenai penelantaran tanah. kemudian tanah itu dikerjakan orang lain. ditegaskan dalam pasal 32 ayat (1) : Dalam hal atas sesuatu bidang tanah sudah diterbitkan sertifikat secara sah atas nama orang atau badan hokum yang memperoleh hak tersebut dengan itikad baik dan secara nyata menguasainya.

pengukuran titik dasar teknik dan pemetaan fotogrametri. Pelaksana pendaftaran tanah oleh Kepala Kantor Pertanahan. Membuat akta hak tanggungan ( Pasal 1 ayat (11) UUHT ) 6). Hak tanggungan dan tanah Negara. dan Ajudikasi dalam Pendaftaran Tanah secara sistematik ( Pnitia Ajudikasi ) ( Pasal 6 ). Pembebanan Hak ( Pasal 44 ) 3). ( Pasal 19 ayat (1) UUPA ja pasal 5 PP 24/1997 ) 2.S. Pejabat pembuat akta tanah ( PPAT ). Misalnya. Pembebanan Hak atas Tanah dan Akta Pemberian Kuasa untuk Membebankan Hak Tanggungan. Untuk tetap berpegang pada system publikasi negative 2. Pemindahan Hak ( Pasal 37 s/d 40 ) 2). ditunjuk PPAT sementara. Akta Pemindahan.  Akta PPAT adalah sumber utama dalam rangka pemeliharaan data pendaftaran tanah. Untuk secara seimbang memberi kepastian hokum kepada yang beritikad baikmenguasai bidang tanah dan didaftar sebagai pemegang hak dalam buku tanah dengan sertifikat sebagai tanda bukti  Satuan Wilayah Tata Usaha Pendaftaran Tanah Pembukuan data fisik – yuridis dilakukan desa/kelurahan demi desa/kelurahan.M. Penyelenggara pemerintah ( BPN ). 3. Pembagian Hak Bersama ( Pasal 51 ) 4). kecuali kegiatan – kegiatan tertentu yang ditugaskan kepada pihak lain yang pemanfaatannya melebihi wilayah kerja Kepala Kantor Pertanahan. R. ( Ketentuan umum tentang PPAT diatur dalam PP )  Kegiatan PPAT dalam membantu pendaftaran tanah : 1). Satuan tata usahanya adalah Kabupaten – Kotamadya ( pasal 10 )  Penyelenggara – Pelaksana Pendaftaran Tanah 1. HPL. Pembuatan Akta Ikrar Wakaf ( PPAIW ).  PPAT diangkat  diberhentikan Menteri/Kerbin untuk mempermudah rakyat di daerah terpencil yang belum/tidak ada PPAT. yaitu :  Pejabat umum yang diberi kewenangan untuk membuat akta – akta tanah sebagai yang diatur dalam perundang – undangan antara lain . Sanksi Administratif jika mengabaikan ketentuan – ketentuan yang berlaku ( Pasal 62 ) 5). Membuat akta pemindahan H. kecuali untuk pendaftaran HGU. Risalah Lelang ( Pejabat Lelang ). yaitu Kepala Desa yang menguasai keadaan daerah yang bersangkutan ( Pasal 7 ). Pembuatan Akta Surat Kuasa Membebankan Hak Tanggungan ( SKMHT ) ( Notaris ).Prosedur menunjukkan jelas adanya usaha untuk sejauh mungkin memperoleh dan menyajikan data yang benar karena memang dimaksudkan untuk menjamin kepastian hokum Maksud ketentuan ini : 1.S  pembebanannya ( UU 16/1985 ) 20 .

T 3). Tetua Adat ( jika perlu ) c. 3 Satgas : 1). …. Satgas Pengumpul Data Yuridis 3). Mengingat keadaan Negara dan masyarakat 2.dilaksanakan secara sistematik dan sporadic 2.T 2). Desa ( Kepala Desa ) 4).H. Satgas Administrasi Pasal 19 ayat (1) UUPA PP 10/1961 PP 24/1997 Pasal 19 ayat (3)UUPA Pasal 13 PP 24/1997 Pendaftaran tanah diselenggarakan : 1. Kemungkinan penyelenggaraannya menurut pertimbangan Menteri 1. P. Seorang Pamong Desa 5). BPN yang mempunyai kemampuan bidang P. meliputi pengumpulan  penetapan kebenaran data fisik dan data yuridis mengenai satu atau beberapa obyek pendaftaran tanah untuk keperluan pendaftarannya.T secara sistematik dida – sarkan suatu rencana kerja dan dilaksanakan diwilayah – wilayah yang ditetapkan Menteri 3. Satgas Pengukuran  pemetaan 2). Ketua ( merangkap anggota )  BPN b. Keperluan lalu lintas sosial ekonomis 3. Panitia terdiri : a. 4. BPN yang mempunyai kemampuan bidang P. BPN. Panitia Ajudikasi Dalam melaksanakan pendaftaran secara sistematik dibantu panitian ajudikasi yang dibentuk MNA/Kep. Selain yang telah dilaksanakan secara 21 .Sebagai pejabat yang bertugas khusus dibidang pelaksanaan sebagian kegiatan pendaftaran tanah PPAT adalah PTUN. Anggota : 1). Ajudikasi adalah kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka proses pendafataran untuk pertama kali.

atas permohonan. BERTAHAP 22 .sistematik. yang berkepentingan. dilakukan secara sporadic.

pemetaan surat ukur daftar bidang – bidang tanah tanah dan pembuatan peta pendaftaran Pembuktian Hak dan Pembukuannya Hak Baru (pasal 23) : Pembuktian ( pasal 23 ) 1.Buku Tanah .S. SK Pemberian Hak Akta Pembebanan Hak Milik Akta Ikrar Wakaf (tanah wakaf) Akta Pemisahan (H. hanya boleh dibawa keluar untuk keperluan penyelesaian perkara di pengadilan Dengan izin tertulis Menteri/yang ditunduk Dapat diberikan petikan. Keterangan Saksi 3.Hilang .Rusak .Surat Umum .Daftar Nama Penyimpanan daftar umum dan dokumen Disimpan di kantor pertanahan.T → Daftar Umum . 4.Penggantian yang lama Penyajian DKTA T.PENDAFTARAN TANAH UNTUK PERTAMA KALI Pengumpulan dan Pengolahan data fisik Pembuatan Penetapan peta dasar batas – batas pendaftara bidang tanah n Pembuatan Pembuatan Pengukuran. Bukti Tertulis 2.R. 3.U. kecuali daftar nama 23 . salinan.Daftar tanah .P. rekaman → azas keterbukaan. 2.S) Hak Lama (pasal 24) : 1.M.Peta pendaftaran . Pernyataan yang bersangkutan Pembukuan (pasal 29) Buku tanah = data fisik yuridis Penerbitan Sertifikat Sertifikat baru/pertama Sertifikat pengganti .

Untuk tanah pekarangan.G. pembeli telah mempunyai 5 bidang tanah Catatan : Kalau permohonan izin ditolak maka sesuai dengan pasal 3 akta jual – beli. Dialihkan tanah hak guna usaha 3. penerima.H diperlukan : 1. Bila yang dialihkan tanah pertanian → berkaitan dengan ketentuan Landreform 2.H : Untuk pengendalian atas mutasi pemilikan tanah – bangunan  Permohonan I.P.P yang dialihkan kepada badan hokum atau orang asing 5. H.IJIN PEMINDAHAN HAK → - PMA 14/1961 Jo SK Mendagri No.B yang dialihkan kepada badan hukum 4. pembeli – penerima diberi kuasa untuk menjual kepada orang lain yang memenuhi syarat  Tujuan Perlunya I. 59/DDA/1970  I. H.H ditujukan : Kepala Kantor Pertanahan Dati II Kodya/Kabupaten 24 .P.P.

40 25 . HPL.D. 39. PERPANJANGAN WAKTU H. PENGGABUNGAN/PELEBURAN Tidak Likuidasi Akta Penggabungan/ Peleburan PERSEROAN KOPERASI HAT.A.K Pejabat yang berwenang memberi perpanjangan H. HMSRS Dengan Likuidasi Akta PPAT : Pemindahan Hak Kantor Pertanahan F. PEMBAGIAN HAK BERSAMA Pemegang Hak Bersama Kantor Pertanahan Akta PPAT Ps.T Pasal 47 Pemohon Kantor Pertanahan S.38.

TANAH TUHAN BANGSA INDONESIA NEGARA Untuk mencapai sebesar – besarnya kemakmuran rakyat. berdaulat.2/2) Pemilikan – Penguasaan Tanah Sebelum Penjajahan Sebatas kemampuan untuk mengolah tanah Zaman Penjajahan Pengaruh individualisme – kapitalisme – liberialisme → terjadi ketimpangan . bahkan banyak yang sama sekali tidak memiliki menguasai Penataan kembali tentang . Penguasaan dan cara Pengusahaan Tanah ( ) UUPA Pasal ………… 26 .menguasai tanah yang sangat luas. Pemilikan. kesejahteraan dan kemerdekaan dalam masyarakat dan Negara hukum Indonesia yang merdeka. sebagian kecil penduduk memiliki . sebaliknya sebagian besar penduduk hanya memiliki – menguasai tanah sangat sempit. dalam arti kebahagiaan. adil – makmur (Ps.

PROGRAM LANDREFORM : 1. Larangan untuk memiliki/menguasai tanah pertanian yang melampaui batas 2. Penetapan batas minimum pemilikan tanah pertanian 7. Larangan melakukan perbuatan yang mengakibatkan pemecahan pemilikan tanah pertanian menjadi bagian – bagian yang terlampau kecil SASARAN LANDREFORM : Untuk mempertinggi penghasilan dan taraf hidup petani – penggarap – buruh sebagai landasan atau prasyarat terselenggaranya pembangunan ekonomi menuju masyarakat dan adil – makmur berdasarkan Pancasila → tanah untuk petani → a. Aspek Mental Psikologis 1) Meningkatkan kegairahan kerja bagi para petani penggarap – buruh dengan jalan memberikan kepastian hak pemilikan tanah 2) Memperbaiki hubungan kerja antara emilik tanah dan penggarap LANDREFORM DI INDONESIA : 1. kelebihan batas maksimum dan tanah – tanah absentee 4. Larangan pemilikan tanah pertanian secara absentee 3. 3. Pengaturan kembali perjanjian bagi hasil pertanian 6. Pengaturan tentang pengembalian dan penebusan tanah pertanian yang digadaikan 5. Mengakui hak milik perseorangan Membatasi hak milik perseorangan Tidak ada yang pakai sewenang – wenang dan tidak ada …………. 4. Redistribusi tanah pertanian yang berasal dari . 2. Aspek Sosial – Ekonomi 1) Memperkuat hak milik serta memberi sisi fungsi social hak milik atas tanah 2) Memperbaiki produksi Nasional khususnya sector oertanian guna mempertinggi penghasilan dan taraf hidup rakyat b. Tidak berjiwa komunis – kapitalis → tetapi senar – benar berjiwa Pancasilais 27 . Aspek Sosial – Politik 1) Mengakhiri system tuan tanah dan menghapuskan pemilikan – penguasaan tanah yang luas 2) Mengadakan pembagian yang adil atas sumber – sumber penghidupan rakyat tani berupa tanah dengan maksud agar ada pembagian hasil yang adil pula c.

Status hak milik . Undang – undang Landreform Berisi : 1.Jumlah penduduk . 56 PRP Th. Status hak milik 2.Luas daerah . 7 UUPA Untuk tidak merugikan kepentingan umum mak pemilikan atau penguasaan tanah yang melampaui batas tidak diperkenankan Dengan perundang – undangan ditetapkan batas luas maksimum dan/atau minimum tanah yang boleh dipunyai oleh satu keluarga/badan hukum Ps.Jenis tanah pertanian → selain tanah pekarangan  Batas Luas Maksimum : (Ps. Subyek Hak .Faktor lain – lain 28 . yang dikenai ketentuan UUL : 1. 1960 Tentang penetapan luas tanah pertanian. Penetapan batas maksimum pemilikan – penguasaan tanah hak milik pertanian 2.PEMILIKAN – PENGUASAAN TANAH Ps.2 UUPA UU No.Seorang . Penetapan batas minimum pemilikan – penguasaan tanah hak milik pertanian 3.Orang –orang ( satu keluarga ) 2. Obyek Hak . ½ UUL) Ditujukan tercapainya pemerataan pemilikan – penguasaan tanah pertanian dengan memperhatikan : . Penyelesaian gadai tanah hak milk pertanian Landreform = terbatas tanah – tanah 1. Jenis tanah pertanian  Ps 1/1 UUL. 17/1.

Padat.250 251 .400 401 - LUAS SAWAH 15Ha 10 Ha 7. kelebihan seorang anggota ditambah (+) 10 %.Tidak padat.5 Ha 5 Ha TANAH KERING 20 Ha 12 Ha 9 Ha 6 Ha  Jika pemilikan 2 jenis tanah. sehingga pemilihannya melampaui batas maksimum dalam waktu 1 th sejak perolehan wajib mengakhiri pemilihannya 29 .KETENTUAN BATAS MAKSIMUM DAERAH Tidak padat Padat : Kurang padat Cukup Padat Sangat Padat PENDUDUK 0 . didaerah : . dan dilarang mengalihkan sebagian – seluruhnya tanpa ijin  Bagi keluarga yang setelah berlalunya UU ini memperoleh tambahan. wajib melapor. tanah sawah ditambah (+) 20 % .50 51 . tanah sawah ditambah (+) 30 %  Satu keluarga ( 7 orang anggota ). maksimum 50 %  Bagi keluarga yang memiliki melebihi batas maksimum.

Timbulnya. tidak masalah. 30 .BATAS MINIMUM PEMILIKAN TANAH PERTANIAN  Harapan pemilikan tanah pertanian bagi setiap petani minim 2 Ha. . di………. Praktek. y mempunyai < 2 Ha dijual seluruhnya. x mempunyai 2.Berlangsungnya pemilikan yang luasnya < 2 Ha IMPLEMENTASI 1. tapi bagi pembeli jka belum punya sebelumnya akan mengakibatkan timbulnya pemilik < 2 Ha yang baru 2.5 Ha. Tapi jika pembeli belum punya sebelumnya. tidak masalah.5 Ha. ditentukan : Pasal 9/1 : Pemindahan hak milik atas tanah pertanian. akan mengakibatkan berlangsungnya pemilikan < 2 Ha 3. apabila mengakibatkan : . kecuali warisan dilarang. akan dijual 0. untuk dijual. Untuk mencapai itu.

41/1964 Jo. yang pengaturannya lebih lanjut dalam . harus diakhiri ( dalam waktu 6 bulan ) dengan : 1. PP No.PENGUSAHAAN TANAH PERTANIAN Pasal 10/1 : Setiap orang dan badan huum yang mempunyai sesuatu hak atas tanah pertanian pada azasnya di wajibkan mengerjakan atau mengusahakannya sendiri secara aktif dengan mencegah cara – cara pemerasan Pasal 10/1. diadakan pula pembatasan cara pemilikan. Pindah ke kecamatan letak tanah tersebut 31 . 224/1961 Jo. 4/1977 Pasal 3 PP 224/1961 : Pemilikan tanah pertanian yang pemiliknya bertempat tinggal di luar kecamatan letak tanah hak milik pertaniannya berada. PP No. yaitu tidak boleh secara absentee ( tidak ditempat ).2 : Pelaksanaan – pengecualiannya diatur dalam peraturan perundang – undangan * Mengerjakan = mengusahakan # menggunakan Pengecualian : Dapat mempergunakan buruh tani yang pencegahan cara – cara pemerasan dapat dilakukan dengan pemberian upah yang layak. PP No. atau 2. Pelaksanaan : Disamping diadakan pembatasan luas maksimum. Mengalihkan hak atas tanahnya kepada orang lain di kecamatan tempat letak tanah itu. namun pemegang hak masih tetap melakukan pengawasan langsung dalam mengusahakan tanahnya.

yang dipersamakan Pegawai Negeri termasuk : . penggadai wajib mengembalikan tanah pertaniannya tanpa permintaan uang tebusan. seorang Pegawai Negeri dalam waktu 2 tahun menjelang masa pensiun diperbolehkan membeli tanah pertanian secara absentee seluas 2/5 dari batas maksimum. Pasal 7/2 32 .Janda Pensiunan Pegawai Negeri selama tidak menikah lagi dengan seorang taulan Pegawai Negeri 6. c PP 41/1964) dan meninggalkan tanahnya 2 th berturut – turut 5.Janda Pegawai Negeri . termasuk istri dan anak – anak yang masih menjadi tanggungannya 4. sehingga jika pension dalam setahun juga harus mengakhiri pemilikan absentee – nya dengan pindah tempat tinggal ke kecamatan letak tanah berada. yaitu Pegawai Negeri Sipil atau ABRI yang masih aktif.Pensiunan Pegawai Negeri . Dalam perkembangan menurut PP 4/1977. menurut pertimbangan panitia Landreform setempat 2. Menurut pasal 6 PP4/1977. Sedang menjalankan tugas Negara. Sedang menjalankan tugas Negara. Menunaikan kewajiban agama 3. demikian pula jika memperoleh dari warisan ( Pasal 3 b. Pemilik tanah bertempat tinggal di kecamatan yang berbatasan dengan kecamatan tempat letak tanah jika jarak antara tempat tinggal pemilik dan tanahnya masih memungkinkan mengerjakan tanah secara efisien. PENYELESAIAN GADAI TANAH PERTANIAN Pasal 7/1 Untuk gadai yang sudah berlangsung 7 th. Jika dalam pasal 3 d PP 41/1964 dilarang semua bentuk pemindahan hak tanah pertanian yang menyebabkan pemilikan di luar kecamatan ( absentee ) dengan sendirinya termasuk oleh Pegawai Negeri.Kewajiban/keharusan Mengakhiri Tidak Berlaku Lagi : 1.

waktu berlangsung X Uang Gadai 7 33 .Gadai setelah UU ini. yang belum berlangsung 7 th. dapat diselesaikan/diakhiri dengan ketentuan sebagai berikut : 7 + ½ .

34 .

35 .

36 .

37 .

38 .

39 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->