Daftar Isi: A. 1. Pengertian Hukum Agraria a. dalam arti luas b. dalam arti sempit 2. Hak Bangsa Indonesia 3.

Hak Menguasai Negara a. Hak Pengelolaan b. Hak Ulayat 4. Sumber Sumber dan Azas azas Hukum Tanah Nasional 5. Jenis jenis Hak Individual v/s konversi 6. Landreform 7. BPN, sebagai Lembaga yang mengembangkan dan menyelenggarakan politik dan kebijakan Pertanahan B. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Hukum Condominium (Strata Title) Hak Tanggungan Peralihan dan Pemindahan Hak Penggabungan, pemisahan, Pendaftaran Tanah Flowchart Pendaftaran Tanah (13 skim) Pajak dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PBB, PPH, BPHTB, Uang Pemasukan, dsb) 8. Pembebasan, pengahapusan Hak 9. Perolehan Tanah untuk keperluan Pembangunan dan Penanaman Modal 10. Secondary Mortgage Fasility

Disusun : Dina Napitupulu
1

BAB I HUKUM PERTANAHAN
1.1 PENGERTIAN
Tanah menurut UUPA dilihat pada : 1. Pasal 1 ayat (4) : pengertian bumi, selain : - permukaan bumi - tubuh bumi dibawahnya - serta yang berada dibawah air 2. Pasal 4 ayat (1) : ………….atas pemukaan bumi yang disebut Tanah

Ruang angkasa diatasnya ---- Air -----------Tubuh Bumi 

Tanah

Nilai tanah diukur dengan luas, bukan ditentukan oleh kemampuan menghasilkan (tanaman maupun nilainya diukur dengan berat (ton), Volume (m³ / maupun gerobak). Pasir, tanah liat, kapur, batu, dsb yang diambil untuk dimanfaatkan, bukan termasuk tanah, akan tetapi termasuk mineral/tambang (kekayaan alam).

1.2

HUKUM
1. Hukum tidak tertulis = Hukum Adat 2. Hukum tertulis = - UU - UUPA - Perjanjian - Keputusan 1.2.1 HUKUM AGRARIA NASIONAL Hukum Agraria Nasional yang meliputi : b. 1. Berdasar atas hukum adat tentang tanah 2. Sederhana 3. Menjamin kepastian hukum bagi seluruh rakyat Indonesia. 4. Tidak mengabaikan unsure-unsur yang bersandar pada hukum agama. 2

b. 1. Memberi kemungkinan akan tercapainya fungsi bumi, air dan ruang angkasa. 2. Sesuai dengan kepentingan rakyat Indonesia 3. Memenuhi pula keperluan menurut permintaan zaman dalam segala soal agrarian.

c. Mewujudkan penjelmaan Pancasila sebagai asas kerohanian Negara dan cita-cita Bangsa seperti tercantum dalam pembukaan UUD ’45. d. Merupakan pelaksanaan Dekrit Presiden (pasal 33 ayat 3 UUD ’45) yang mewajibkan Negara untuk mengatur pemilikan dan memimpin penggunaannya, sehingga semua tanah dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat, baik secara perorangan maupun secara gotong royong. Perlu ditekukkan sendi-sendi dan disusun ketentuan-ketentuan pokok baru dalam bentuk undang-undang → yang merupakan dasar bagi penyusunan hokum agrarian maksimal. (KONSIDERAN UUPA).

Pasal 33 ayat (3) UUD 1945
(3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat

UU. 5/1960 = UUPA

TANAH TUHAN Hak Bangsa Ps. 1 ayat (2) BANGSA INDONESIA HAK MENGUASAI Ps. 2 ayat (1, 2, 3, 4) NEGARA

Ayat (2) : Hak menguasai dari Negara termasuk dalam ayat (1) memberi wewenang : a. Mengatur dan menyelenggarakan : peruntukan, penggunaan, persediaan dan pemeliharaan barang. 3

Gadai 6. Produksi pertanian. pokok : hak milik 2. 2/4 UUPA Pelaksanaan hak menguasai yang dilimpahkan kepada masyarakat hukum adat Tanah Negara : tanah yang masih langsung dikuasai oleh Negara. Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dan perbuatan hukum yang mencegah B. Hak membuka f. Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dengan B. Hak memungut Hasil 8. A. hak guna 2.4 ayat 1 UUPA Hak Ulayat . 14 ayat 1 UUPA). Bagi hasil Tanah 7. TANAH TUHAN Hak Bangsa Ps. belum dilekati/dimintaan hak atas tanah oleh perorangan (Ps. Pusat kehidupan masyarakat. A. Dijga-dipelihara Negara (Res Nullius) Tanah Hak : tanah yang telah dimintakan hak oleh perorangan atau dipunyai oleh perorangan. transmigrasi. 16 ayat 1) 1.Rumah susun 4 . social (Res Communes) 4. Industri. HGU 3. A. HGB Bangunan * c.b. Sewa 5. sekunder : Usaha * a. peternakan. hak milik yg dapat diberikan (Ps. A.memunggut hasil hutan 1. Hak Sewa e. untuk keperluan : 1. 2 UUPA NEGARA INDONESIA Ps.pengelolaan . Negara (Res Publigue) 2. pertambangan 6.membuka tanah . Yg sudah ada RUT HK adapt (Ps. Hak Pakai d.tanggungan . R. R. perikanan 5. HP 4. Hak lain-lain : . Hak Guna b. Peribadatan-suci lainnya (Res Sacre) 3. 1 (2) UUPA BANGSA INDONESIA Hak Menguasai Ps. c.

dan pasal 15 LANDREFORM Pasal 2 ayat (2). saling kait mengkait dan saling mengisi satu sama lain. Pasal 4. 2 AYAT (1) TATA GUNA TANAH Pasal 2 ayat (2a) Pasal 8. CATATAN 5 . merupakan urusan pertanahan sbb : SIKLUS KEGIATAN BIDANG PERTANAHAN PENGURUSAN HAK-HAK TANAH PENDAFTARAN TANAH Pasal 2 ayat (2b). Jika salah satu fungsi tidak terlaksana dengan baik. Pasal 18. pasal 14. sedang fungsi organisasi dan administrasi merupakan proses dan unsure yang harus mendukung pelaksanaan keempat fungsi teknis lainnya. Pasal 7. tujuan pemanfaatan tanah seperti dimaksud sila V Pancasila pasal 33/3 UUD 1945 dan pasal 2/3 UUPA tidak akan terwujud. Dan harus dilaksanakan secara terpadu. Pasal 20 s/d Pasal 38 Pasal 58 ADMINISTRASI DAN ORGANISASI Ps. sama penting dan kedudukannya. Pasal 32.* ada sejak UUPA 1. Pasal 9. Pasal 6. Pasal 11. tidak dapat dipisah-pisahkan. Pelaksanaan fungsi pertanahancenderung merupakan suatu siklus yang tidak berujung pangkal.3 URUSAN PERTANAHAN Dengan mencermati UUPA. Pasal 23. dan Pasal 17 Urusan Pertanahan merupakan satu kesatuan yang utuh-bulat. Pasal 13. meskipun secara teknis dapat dibedakan . Pasal 19. Pasal 16.

Tertib penggunaan tanah IV. 4. 94/95.4 INTITUSI YANG MENANGANI PERTANAHAN Intitusi-intitusi yang menangani pertanahan adalah : 1. Kep. Tertib pemeliharaan tanah dan lingkungan hidup 1. Mendagri 6/11-1968 No. penguasaan dan pemilikan tanah.7/1979. Tertib hukum pertanahan II.P. 1966 s/d 1968 Berdasarkan Keppres 63-64/1966 diurus direktorat Jenderal Agraria dan Transmigrasi Departemen Dalam Negeri. Agraria merupakan komponen dari Dep. Harus dicapai yaitu : I. serta program-program khusus untuk menunjang usaha peningkatan kemampuandan potensi petani-petani tidak bertanah atau mempunyai tanah sempit. Berdasarkan Keppres RI No. 26/1988 tanggal 11/7-1988 dibentuk BPN 6 .TAP MPR IV/MPR/1978 JO KEPPRES RI No. 17-18/8-1945 s/d 1955 Urusan pertanahan tetap berada dilingkungan departemen dalam Negeri. Jend. 44 dan 45 JO. 1/2/44-5381. Tertib administrasi pertanahan III. Agraria Dept Dalam Negeri. 2. 1955 s/d 1966 Berdasar Keppres No. Berdasarkan Kep. U. Men Dalam Negeri No. Direktorat Jend. urusan pertanahan menjadi wewenang : Direkt. menegaskan tercapainya : CATUR TERTIB PERTANAHAN yang : 1. 1/2/22-4186 dan 15/11-1968 No. Merupakan landasan pokok kebijaksanaan bidang pertanahan untuk mengadakan penataan kembali penggunaan. 1988 – Berdasarkan Keppres No. Dalam Negeri. 2. 55/1955 dibentuk kementrian Agraria (Mandiri) 3.

Rakyat. pemilikan.TAP MPR IX/MPR /2001 Agraria a. sekarangmendatang.D Alam g.D Agraria dan S. Prinsip pemanfaatan dan pemeliharaan S. Transparansi. Menghormati supremasi hukum dengan mengakomodasikeanekaraga man Unifikasi Hukum d. ekologis sesuai kondisi sosbud setempat i. kepatuhan hukum. penggunaan. melalui peningkatan kualitas SDM e. Keadilan : penguasaan. Mengakui-menghormati hak masyarakat. kelestarian. Fungsi social. Menghormati-menjunjung tinggi HAM c. Mengembangkan Demokrasi. b. Keterpaduan-koordinasi antar sektor j. hukum adapt 7 Pelaksanaan Hukum Agraria fungsinya tidak sesuai pasal 33/3 UUD 1945 Pembaharuan . Memelihara-mempertahankan keutuhan NKRI. h. Optimalisasi dan Partisipasi Rakyat f. Keberlanjutan memberi manfaat optimal. dan memperhatikan daya tampung dan dukung lingkungan.

Penataan kembali : penguasaan.D. 3. baik perkotaanpedesaan.alam. Melakukan pengkajian ulang terhadap berbagai peraturan-UUan yang berkaitan dengan SDA dalam rangka sinkronisasi kebijakan antara sector yang berdasarkan Prinsip-prinsip pembaharuan. Mengupayakan pembiayaan dalam melaksanakan program pembaharuan agrarian dan penyelesaian konflik-konflik SDA yang terjadi.D. Keseimbangan hak-kewajiban Pem (pusat. B. 6. 3. Alam l. Pengkajian ulang Perundang-undangan Agraria dalam rangka sinkronisasi kebijaksanaan antara sector demi terwujudnya Perundang-undangan yang didasarkan Prinsip-prinsip pembaharuan 2. daerah) Pengelolaan masyarakat-individu S.AS. 8 .dan keragaman budaya bangsa atas SDA-SDA k. Memperkuat kelembagaan dan kewenangan dalam rangka mengemban pelaksanaan pembaharuan agrarian dan menyelesaikan konflik-konflik yang berkenaan dengan SDA yang terjadi. 66) 1. Pendataan pertanahan melalui inventaris dan registrasi : penguasaan. A. Arah Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya Alam : (B. penggunaan pemanfaatan tanah (landreform) yang adil dengan memperhatikan pemilikan tanah rakyat. Kabupaten/Kota. Memperluas pemberian akses informasi kepada masyarakat mengenai potensi SDA di daerahnya dan mendorong terwujudnya tanggung jawab social untuk menggunakan teknologi ramah lingkungan termasuk teknologi tradisional. 4. Desa dalam alokasi manajemen S. Arah Kebijaksanaan Pembaharuan Agraria : (A. 5.6/2) 1.D. pemilikan. Desentralisasi wewenang Nasional. Propinsi. 2. Menyelesaikan konflik berkenaan SDA yang timbul selama ini sekaligus mengantisipasi potensi konflik dimasa mendatang guna menjamin terlaksananya penegakan hukum dengan didasarkan atas Prinsip-prinsip pembaharuan. penggunaan dan pemanfaatan tanah secara komprehensif dan sistematis dalam rangka pelaksanaan Landreform. pemilikan. Mewujudkan optimalisasi pemanfaatan berbagai SDA melalui identifikasi / inventarisasi kualitas / kuantitas SDA sebagai potensi dalam pembangunan nasional.

Pelimpahan penguasaan bidang pertanahan kepada daerah merupakan tugas pembantu (medebewind) → wewenang menentukan garis kebijaksanaan pertahanan yang bersifat policy adalah wewenang pemerintah pusat. Perencanaan penggunaan tanah wilayah Kabupaten / Kota. 2. Pemberian izin membuka tanah i. Penyelesaian masalah ganti kerugian dan santunan tanah untuk pembangunan e. Pasal 13/1 UU 32/2004 (Otonomi Daerah): Urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintah daerah propinsi merupakan urusan dalam skala propinsi yang meliputi 16 item termasuk : pertanahan. serta ganti kerugian tanah kelebihan maksimum dan tanah absentee. dan pelayanan pertanahan termasuk …… lintas Kabupaten / Kota. Pengadaan tanah untuk kepentingan pembangunan c. 6. Pemberian izin lokasi b. Penyelesaian sengketa tanah garapan d. f. Menyusun strategi pemanfaatan SDA yang didasarkan pada optimalisasi manfaat dengan memperhatikan kepentingan dan kondisi daerah maupun nasional. menurut sifat-asas merupakan tugas pemerintah (pusat). A. Pemanfaatan dan penyelesaian tanah kosong h. 9 . Keppres 34/2003 Tentang Kebijakan Nasional di Bidang Pertanahan Pasal 2 : Kewenangan pemerintah dibidang pertanahan yang dilaksanakan oleh pemerintah Kabupaten / Kota : a. Penetapan subyek dan obyek retribusi tanah. 5.5 KELEMBAGAAN / KEWENANGAN BIDANG PERTANAHAN Mendasarkan Ps 33/3 UUD 1945 JO Ps 2/1. yang pelaksanaannya didaerah (dapat) dilimpahkan kepada Pemerintah daerah atau masyarakat hukum adapt. 3. bidang agrarian (tanah). diatur dengan PP.4. Kewenangan mengatur dalam bentuk peraturan daerah hanya dibenarkan setelah kewenangan tersebut diserahkan menjadi urusan rumah tangga daerah dalam rangka otonomi. Penetapan dan penyelesaian masalah tanah ulayat g. 4 UUPA. Menyelesaikan konflik-konflik pemanfaatan SDA yang timbul selama ini sekaligus dapat mengantisipasi potensi konflik dimasa mendatang guna menjamin terlaksananya penegakan hukum dengan didasarkan atas Prinsip-prinsip pembaharuan. Memperhatikan sifat & karakteristik dari berbagai jenis sumber daya alam dan melakukan upaya-upaya meningkatkan nilai tambah dari produk SDA tersebut. 1.

Regional maupun sektoral merupakan urusan Pemerintah → BPN. 2 UUPA) HAK MENGUASAI NEGARA PRIVAT / PERDATA TANAH DIHAKI SECARA FISIK MENGUASAI TANPA HAK MENGUASAI DENGAN HAK DARI PIHAK LAIN 10 . PENGUASAAN TANAH YURIDIS HAK PUBLIK (Ps. Apabila kewenangan-kewenangan diatas bersifat lintas Kabupaten / Kota. Perpres No. 10 Tahun 2006 Urusan tanah baik : Nasional. B. dilaksanakan oleh Pemerintah Propinsi.

ditentukan adanya macam-macam hak atas permukaan bumi yang disebut tanah. orang-orang serta badan hukum.6 HAK ATAS TANAH  Pasal 2 ayat (2b) : menentukan dan mengatur hubunganhubungan hukum antara orangorang dengan B. Pengertian Hak Atas Tanah { Pasal 4 ayat (2)} Hak yang memberi wewenang untuk mempergunakan : tanah. A. yang dapat diberikan kepada dan dipunyai oleh : orang. A tersebut. R. Pasal 4 ayat (1) : atas dasar hak menguasai ……. Tanah ------Air Tubuh bumi  Batasan – batasan : 11 .1. demikian pula Tubuh bumi Air Ruang di atasnya Sekedar dipergunakan langsung  Berhubungan dengan penggunaan tanah dalam batas lain yang lebih tinggi.

Pasal 18 ( dicabut ) 2. Hak – hak lain yang tidak termasuk dalam hak – hak tersebut di atas yang akan ditetapkan dengan Undang – Undang serta hak – hak yang sifatnya sementara sebagai yang disebutkan dalam pasal 53 Pasal 16 ayat (2) : Hak – hak atas air dan ruang angkasa dimaksud pasal 4 ayat (3) ialah : a. 13 ( gotong royong ) e. Hak membuka tanah g. Hak sewa tanah pertanian 12   . Peraturan Lain : Misal UU Narkotika Dilarang menanam ganja 1. Hak usaha bagi hasil c. 12. Hak gadai b. Hak guna usaha c.7 MACAM HAK ATAS TANAH  Pasal 16 ayat (1) : a. Pasal 10 ( mengerjakan sendiri ) d. Hak guna air b. Hak memungut hasil hutan h.1. Hak guna ruang angkasa Pasal 53 ayat (1) : Hak – hak yang sifatnya sementara dimaksud pasal 16 ayat (1) ialah : a. UUPA : a. Pasal 6 ( fungsi sosial ) b. Hak guna bangunan d. Hak sewa f. Pasal 15 ( memelihara ) f. Hak pemeliharaan dan penangkapan ikan c. Hak pakai e. Pasal 11. Hak milik b. Pasal 7 ( luas maksimum ) c. Hak menumpang d.

Pertanian . Pakai .Selama diperlukan WNI  BHI  BHA ada di Indonesia Sewa Bangunan Membuka tanah.Turun temurun .Dialihkan .Macam H.Tertentu = 25 th .M) dengan WNI Direktur P.Didaftarkan . dikarenakan dalam perkembangan -mempergunakan TM oleh bukan pemiliknya dibatasi dan diatur dengan 13 .Pembangunan . akan dihapuskan.Beralih . sewa tanah . memungut hasil hutan Gadai.Mempergunakan .M Kewenangan .sementara. bagi hasil.Dibebani hak tanggungan HGU HGB H.Pembangunan Jangka Waktu .Tak terbatas Subyek Hak WNI BH Khusus Ciri – ciri lain .Memungut hasil 25 – 35 th 25 th WNI BHI 30 th 20 th .Sesuai untuk bangunan perjanjian (T.P .Menggunakan .Pertanian .

P.I. DI D.pertanian.Y ) b. Dualistis 3. Yang deselenggarakan oleh kraton Yogyakarta ( Kadipaten Pakualaman ) Fiskal Kadaster HUKUM AGRARIA NASIONAL Menjamin kepastian hukum bagi seluruh rakyat Indonesia. Yang dilaksanakan oleh Lurah ( wilayah Kab. Untuk hak grant ( di Medan ) d. adalah : a.A 14 . Bagi rakyat asli.Instansi PGM BH (khusus) HUKUM AGRARIA LAMA 1.U.Serahkan kepada pihak III - . Yang dialkukan oleh Subak ( di Bali ) c. PEMBENTUKAN U.Untuk tugas . Berdasarkan tujuan sendi – sendi dari pemerintah perjanjian dan sebagian lainnya lagi dipengaruhi olehnya 2. tidak menjamin kepastian hukum. Dalam perkembangan tanah mempunyai nilai ekonomis yang makin tinggi dan dapat menimbulkan kerawanan di masyarakat dengn meningkatnya jumlah penduduk dan pembangunan. numpang HPL menumbuhkan perundang pemerasan sesama undangan manusia . baru sebagian kecil.

Penyelenggaraan  oleh pemerintah c. Pasal 19 ayat (4) Pembiayaan : Dalam P.T dengan ketentuan bahwa rakyat yang tidak mampu dibebaskan dari pembayaran biaya teresebut. Pasal 19 ayat (1) Berisi : a. Pasal 19 ayat (3) Penyelenggaraan – Pelaksanaan : a. UMUM 1. Mengingat keadaan Negara dan masyarakat b. Untuk memberikan kepastian hukum mengenai hak – hak atas tanah bagi rakyat seluruhnya PENDAFTARAN TANAH Pasal 19.Penjelasan Umum Meletakkan Dasar – Dasar : a. 15 .P ( PP 10/1961  PP 24/19997 ) 2. Pasal 38 1. perpetaan dan pembukuan tanah b. meliputi : a. Pasal 19 ayat (2) Kegiatan Pendaftaran Tanah.P diatur biaya – biaya P. Juk – lak  menurut ketentuan P. Pendaftaran  hak – hak atas tanah dan peralihan hak – hak tersebut c. Untuk mengadakan kesatuan dan kesederhanaan dalam Hukum Pertanahan c. Pengukuran. Tujuan  untuk menjamin kepastian hukum b. Daerah  diseluruh wilayah Indonesia d. Pasal 23. Pasal 32. Keperluan lalu lintas sosial – ekonomis c. Bagi penyusunan Hukum Agraria Nasional b. Pemberian surat – surat tanda bukti hak yang berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat 3.8 KETENTUAN POKOK PENDAFTARAN TANAH A. Kemungkinan penyelenggaraannya menurut pertimngan menteri 4.

Pasal 32 ayat (1) dan (2) Hak Guna Usaha ( HGU ) Ayat (1) . satuan rumah susun d. Rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah secara terus menerus.Pendaftaran ayat (1) merupakan alat pembuktian yang kuat mengenai  hapusnya hak milik. berkesinambungan da teratur b.B. KHUSUS 1.T adalah : a.R.Harus didaftarkan menurut KTTN ( pasal 19 ) Ayat (2) . 4. Pasal 38 ayat (1) dan (2) Hak Guna Bangunan ( HGB ) Ayat (1) . Termasuk pemberian sertifikat sebagai surat tanda bukti haknya bagi bidang – bidang tanah yang sudah ada haknya dan hak milik S.Hak pengelolaan  Pendaftaran Tanah Pasal 19  Kewajiban pemerintah untuk penyelenggaraannya Pasal 23. Bidang tanah adalah bagianpermukaan bumi yang merupakan suatu bidang yang berbatas 16 .Demikian juga setiap peralihan dan penghapusan HGB Harus didaftarkan menurut KTTN pasal 19 Ayat (2) Pendaftaran ayat (1) merupakan alat pembuktian yang kuat mengenai hapusnya HGB serta sahnya peralihan hak tersebut kecuali hapus karena jangka waktunya berakhir. 32. pengolahan.Hak Milik .S. pembukuan dan penyajian serta pemeliharaan data fisik – yuridis c.HGU termasuk syarat – syarat pemberiannya .Demikian juga setiap peralihan dan hapusnya hak tersebut Harus didaftarkan menurut KTTN pasal 19 3. Pasal 23 ayat (1) dan (2) Hak Milik ( HM ) Ayat (1) .Hak pakai di atas tanah Negara . serta hak – hak tertentu yang membebaninya. Meliputi pengumpulan. 1/1966 : . 38  Kewajiban subyek hak untuk mendaftarkan  Pengertian Pendaftaran Tanah P. PMA No. hapusnya dan pembebanannya dan hak – hak lain . sahnya peralihan dan pembebasan hak tersebut 2. Dalam bentuk peta dan daftar mengenali bidang – bidang tanah.Demikian Pula  setiap peralihan.HGB termasuk syarat – syarat pemberiannya .

U. Tanah Wakaf 3. Data disajikan kantor pertanahan bagian T. yang diambil dari peta pendaftaran d. Pembukuan tanah Negara dalam daftar tanah dan tidak diterbitkan sertifikat  Tujuan Pendaftaran Tanah ( Pasal 3 PP 24/1997) Sesuai dengan pasal 19 UUPA. Peta pendaftaran. Hak Guna Usaha ( HGU ) 3. Daftar tanah adalah dokumen dalam bentuk daftar yang memuat identitas bidang tanah dengan system penomeran c.Data fisik berupa keterangan mengenai letak. tujuannya dalam rangka menjamin kepastian hukum di bidang pertanahan ( Rechts Kadaster  Legal Cadastre ).T dalam daftar umum. Hak Tanggungan 5. yang menggambarkan bidang atau bidang – bidang tanah untuk keperluan pembukuan tanah b. Dipunyai dengan 1.T ( Tidak terbuka untuk umum ) 3. Hak Guna Bangunan ( HGB ) 4.P. agar dengan mudah dapat memperoleh data yang diperlukan dalam melakukan perbuatan hukum. pembebanan dan hapusnya wajib di daftar 17 . Untuk HGB – HP. Untuk terselenggaranya tertib administrasi pertanahan  setiap bidang tanah dan peralihannya. batas dan luas termasuk ada tidaknya bangunan . Hak Milik Satuan rumah Susun ( HMSRS ) 4. sementara yang wajib daftar yang melekat di atas tanah Negara 2. Daftar nama yaitu dokumen dalam bentuk daftar yang memuat keterangan penguasaan tanah dengan sesuatu hak oleh perseorangan – badan hokum T.Data yuridis adalah keterangan mengenai status hokum bidang tanah – satuan rumah susun yang didaftar. Hak Milik ( HM ) 2. Bidang – bidang tanah yang dipunyai dengan : 1. Tanah Hak Pengelolaan 2. hak pihak lain serta beban – beban lain yang membebaninya 2. Menyediakan informasi kepada pihak – pihakyang berkepentingan termasuk pemerintah. Obyek Pendaftaran Tanah Menurut Pasal 9 PP 24/1997 A.T. Hak Pakai ( HP ) B. meliputi : 1. terdiri : a. pemegang hak. Tanah Negara CATATAN : 1. Memberikan kepastian dan perlindungna hukum kepada pemegang hak yang bersangkutan  diberikan sertifikat sebagai surat tanda bukti hak yang sudah dibukukan dalam buku tanah yang berisi daftar yuridis dan data fisik suatu obyek pendaftaran . Surat ukur adalah dokumen memuat data fisik bidang tanah dalam bentuk peta dan uraian.

Mutakir : Dimaksudkan kelengkapan yang memadai dalam pelaksanaannya dan kesinambungan dalam pemeliharaan datanya. pasal 32 ayat (2). pasal 38 ayat (2) UUPA }  bukan negative murni. Terjangkau : Dimaksudkan keterjangkauan bagi pihak – pihak yang memerlukan. khususnya dengan memperhatikan keperluan dan kemampuan golongan ekonomi lemah.  Kekuatan Pembuktian Sertifikat Berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat. Asas Pendaftaran Tanah 1. maksudnya. Aman : Dimaksudkan untuk menunjukkan. sebagai alat pembuktian sepanjang data fisik – yuridis sesuai dengan yang ada dala surat ukur dan buku tanah dan tidak dapat dibuktikan sebaliknya baik 18 . pasal 23 ayat (2). artinya meskipun system negative tetapi kegiatan – kegiatan yang bersangkutan dilaksanakan secara seksama agar data yang disajikan sejauh mungkin dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. dan bidang tanah yang diuraikan dalam surat ukur secara hukum telah didaftar ( Pasal 29  diterbitkan sertifikat )  Sistem Publikasi Yang Digunakan Sistem negative yang mengandung unsure positif karena menghasilkan surat – surat tanah bukti hak yang berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat { pasal 19 ayat (2). Untuk itu perlu di ikuti kewajiban mendaftar dan pencatatan perubahan – perubahan yang terjadi di kemudian hari.  Sistem Pendaftaran Yang Digunakan Sistem pendaftaran hak { Registration of Titles  bukan system pendaftaran akta ( Registration of Deeds) }  Dengan system buku tanah yang berisi data fisik – yuridis dan pencatatan pada surat ukurnya  merupakan bukti bahwa hak. terutama para pemegang hak atas tanah 2. Data yang tersedia harus menunjukkan keadaan yang mutakir. Sederhana : Dimaksudkan agar ketentuan – ketentuan pokoknya maupun prosedurnya dengan mudah dapat dipahami oleh pihak – pihak yang berkepentingan. pemegang hak. bahwa pendaftaran perlu diselenggarakan secara teliti dan cermat sehingga hasilnya dapat memberikan jaminan kepastian hukum sesuai tujuan pendaftaran tanah itu sendiri 3. Pelayanan yang diberikan dalam rangka penyelenggaraan pendaftaran tanah harus bisa terjakau oleh para pihak yang memerlukan. 4. sehingga data yang tersimpan di kantor pertanahan selalu sesuai dengan keadaan nyata di lapangan dan masyarakat dpat memperoleh keterangan mengenai data yang benar setiap saat dan untuk itulah diberlakukan Azaz Terbuka.

yang memperoleh dengan itikad baik. maka hilanglah hak untuk menuntut kembali tanah tersebut. 329/K/SIP/1957 3. Negara tidak menjamin kebenaran data untuk disajikan. 70/K/SIP/1959 5. neskipun negative murni 19 .dalam melakukan perbuatan hukum sehari – hari maupun berperkara pengadilan { pasal 32 ayat (1) } Kelemahan Sistem Publikasi Negatif : pihak yang namanya tercantum sebagai pemegang hak dalam buku tanah ( Sertifikat selalu menghadapi kemungkinan gugatan dari pihak lain yang yang merasa mempunyai tanah )  Untuk hal ini sebetulnya ada lembaga Alguisitive Veryaring atau Adverse Possession ( keadaan yang menimbulkan hak tetapi tidak dikenakan dalam hukum adat )  Sebaliknya dalam hukum adapt mengenal lembaga Recatsver Werring. Penjelasan pasal 32 ayat (2) : Pendaftaran tanah yang penyelenggaranyaannya diperintahkan oleh UUPA tidak menggunakan system publikasi positif yang kebenaran data disajikan dan dijamin Negara. ( hapusnya hak karena diterlantarkan )  Dengan pengertian demikian pasal 32 ayat (2) bukan menciptakan hukum baru melainkan sebagai penerapan ketentuan hukum yang sudah ada dalam hukum adat. 210/K/SIP/1955 2. Putusan 7/ 3 – 59 No. Putusan 26/11 – 58 No. Putusan 24/ 9 – 58 No.  Dalam Yurisprudensi Mahkamah Agung : 1. yang merupakan bagian dari hokum tanah Nasional dan sekaligus memberikan wujud kongkrit dalam penerapan ketentuan UUPA mengenai penelantaran tanah. kemudian tanah itu dikerjakan orang lain. 361/K/SIP/1958 4. Putusan 10/ 1 – 57 No. yaitu jika seseorang selama sekian waktu membiarkan tanahnya tidak dikerjakan. Putusan 7/ 3 – 59 No. maka pihak yang merasa mempunyai hak atas tanah itu tidak dapat lagi menuntut pelaksanaan hak tersebut apabila dalam waktu 5 (lima) tahun sejak diterbitkan sertifikan tidak mengajukan keberatan secara tertulis kepada pemegang sertifikat dan kepala kantor pertanahan yang bersangkutan ataupun tidak mengajukan gugatan pada pengadilan mengenai penguasaan tanah atau penerbitan sertifikat. ditegaskan dalam pasal 32 ayat (1) : Dalam hal atas sesuatu bidang tanah sudah diterbitkan sertifikat secara sah atas nama orang atau badan hokum yang memperoleh hak tersebut dengan itikad baik dan secara nyata menguasainya. Dalam system publikasi negative. 161/K/SIP/2958 Untuk memberi perlindungan hukum kepada para pemegang sertifikat hak.

( Pasal 19 ayat (1) UUPA ja pasal 5 PP 24/1997 ) 2. kecuali kegiatan – kegiatan tertentu yang ditugaskan kepada pihak lain yang pemanfaatannya melebihi wilayah kerja Kepala Kantor Pertanahan. Misalnya. pengukuran titik dasar teknik dan pemetaan fotogrametri. Pembebanan Hak ( Pasal 44 ) 3).  Akta PPAT adalah sumber utama dalam rangka pemeliharaan data pendaftaran tanah. 3. Penyelenggara pemerintah ( BPN ). R. Pembuatan Akta Ikrar Wakaf ( PPAIW ).S. ( Ketentuan umum tentang PPAT diatur dalam PP )  Kegiatan PPAT dalam membantu pendaftaran tanah : 1). yaitu Kepala Desa yang menguasai keadaan daerah yang bersangkutan ( Pasal 7 ). HPL. Risalah Lelang ( Pejabat Lelang ). Untuk secara seimbang memberi kepastian hokum kepada yang beritikad baikmenguasai bidang tanah dan didaftar sebagai pemegang hak dalam buku tanah dengan sertifikat sebagai tanda bukti  Satuan Wilayah Tata Usaha Pendaftaran Tanah Pembukuan data fisik – yuridis dilakukan desa/kelurahan demi desa/kelurahan. Pembuatan Akta Surat Kuasa Membebankan Hak Tanggungan ( SKMHT ) ( Notaris ). Membuat akta pemindahan H. Sanksi Administratif jika mengabaikan ketentuan – ketentuan yang berlaku ( Pasal 62 ) 5). ditunjuk PPAT sementara. Pemindahan Hak ( Pasal 37 s/d 40 ) 2). Pejabat pembuat akta tanah ( PPAT ). Pembebanan Hak atas Tanah dan Akta Pemberian Kuasa untuk Membebankan Hak Tanggungan. Membuat akta hak tanggungan ( Pasal 1 ayat (11) UUHT ) 6).M.  PPAT diangkat  diberhentikan Menteri/Kerbin untuk mempermudah rakyat di daerah terpencil yang belum/tidak ada PPAT. Pembagian Hak Bersama ( Pasal 51 ) 4). yaitu :  Pejabat umum yang diberi kewenangan untuk membuat akta – akta tanah sebagai yang diatur dalam perundang – undangan antara lain . Untuk tetap berpegang pada system publikasi negative 2. Pelaksana pendaftaran tanah oleh Kepala Kantor Pertanahan. dan Ajudikasi dalam Pendaftaran Tanah secara sistematik ( Pnitia Ajudikasi ) ( Pasal 6 ). Hak tanggungan dan tanah Negara.S  pembebanannya ( UU 16/1985 ) 20 . Akta Pemindahan. Satuan tata usahanya adalah Kabupaten – Kotamadya ( pasal 10 )  Penyelenggara – Pelaksana Pendaftaran Tanah 1. kecuali untuk pendaftaran HGU.Prosedur menunjukkan jelas adanya usaha untuk sejauh mungkin memperoleh dan menyajikan data yang benar karena memang dimaksudkan untuk menjamin kepastian hokum Maksud ketentuan ini : 1.

Seorang Pamong Desa 5). BPN yang mempunyai kemampuan bidang P. BPN yang mempunyai kemampuan bidang P. Tetua Adat ( jika perlu ) c. 3 Satgas : 1). Selain yang telah dilaksanakan secara 21 . Kemungkinan penyelenggaraannya menurut pertimbangan Menteri 1. …. Panitia Ajudikasi Dalam melaksanakan pendaftaran secara sistematik dibantu panitian ajudikasi yang dibentuk MNA/Kep.Sebagai pejabat yang bertugas khusus dibidang pelaksanaan sebagian kegiatan pendaftaran tanah PPAT adalah PTUN. Satgas Pengukuran  pemetaan 2). Anggota : 1).dilaksanakan secara sistematik dan sporadic 2. 4. P. Satgas Administrasi Pasal 19 ayat (1) UUPA PP 10/1961 PP 24/1997 Pasal 19 ayat (3)UUPA Pasal 13 PP 24/1997 Pendaftaran tanah diselenggarakan : 1. meliputi pengumpulan  penetapan kebenaran data fisik dan data yuridis mengenai satu atau beberapa obyek pendaftaran tanah untuk keperluan pendaftarannya.T 3). Panitia terdiri : a.H.T 2). Keperluan lalu lintas sosial ekonomis 3. Satgas Pengumpul Data Yuridis 3). Ketua ( merangkap anggota )  BPN b. Mengingat keadaan Negara dan masyarakat 2. Ajudikasi adalah kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka proses pendafataran untuk pertama kali. BPN. Desa ( Kepala Desa ) 4).T secara sistematik dida – sarkan suatu rencana kerja dan dilaksanakan diwilayah – wilayah yang ditetapkan Menteri 3.

BERTAHAP 22 . dilakukan secara sporadic.sistematik. atas permohonan. yang berkepentingan.

4. 2.Hilang .U.PENDAFTARAN TANAH UNTUK PERTAMA KALI Pengumpulan dan Pengolahan data fisik Pembuatan Penetapan peta dasar batas – batas pendaftara bidang tanah n Pembuatan Pembuatan Pengukuran.Peta pendaftaran .T → Daftar Umum .S. Pernyataan yang bersangkutan Pembukuan (pasal 29) Buku tanah = data fisik yuridis Penerbitan Sertifikat Sertifikat baru/pertama Sertifikat pengganti . rekaman → azas keterbukaan. pemetaan surat ukur daftar bidang – bidang tanah tanah dan pembuatan peta pendaftaran Pembuktian Hak dan Pembukuannya Hak Baru (pasal 23) : Pembuktian ( pasal 23 ) 1.Surat Umum .Buku Tanah .M. SK Pemberian Hak Akta Pembebanan Hak Milik Akta Ikrar Wakaf (tanah wakaf) Akta Pemisahan (H. kecuali daftar nama 23 .Daftar Nama Penyimpanan daftar umum dan dokumen Disimpan di kantor pertanahan.Rusak .Penggantian yang lama Penyajian DKTA T. Bukti Tertulis 2.S) Hak Lama (pasal 24) : 1. salinan. Keterangan Saksi 3. 3.R. hanya boleh dibawa keluar untuk keperluan penyelesaian perkara di pengadilan Dengan izin tertulis Menteri/yang ditunduk Dapat diberikan petikan.Daftar tanah .P.

pembeli – penerima diberi kuasa untuk menjual kepada orang lain yang memenuhi syarat  Tujuan Perlunya I. pembeli telah mempunyai 5 bidang tanah Catatan : Kalau permohonan izin ditolak maka sesuai dengan pasal 3 akta jual – beli.H ditujukan : Kepala Kantor Pertanahan Dati II Kodya/Kabupaten 24 .P. H.G.P yang dialihkan kepada badan hokum atau orang asing 5.P. Untuk tanah pekarangan.H : Untuk pengendalian atas mutasi pemilikan tanah – bangunan  Permohonan I.H diperlukan : 1. 59/DDA/1970  I.P.IJIN PEMINDAHAN HAK → - PMA 14/1961 Jo SK Mendagri No. Dialihkan tanah hak guna usaha 3. Bila yang dialihkan tanah pertanian → berkaitan dengan ketentuan Landreform 2. penerima. H.B yang dialihkan kepada badan hukum 4.

K Pejabat yang berwenang memberi perpanjangan H.A.38. HPL.D. PENGGABUNGAN/PELEBURAN Tidak Likuidasi Akta Penggabungan/ Peleburan PERSEROAN KOPERASI HAT. PEMBAGIAN HAK BERSAMA Pemegang Hak Bersama Kantor Pertanahan Akta PPAT Ps. HMSRS Dengan Likuidasi Akta PPAT : Pemindahan Hak Kantor Pertanahan F. PERPANJANGAN WAKTU H. 39.T Pasal 47 Pemohon Kantor Pertanahan S.40 25 .

sebagian kecil penduduk memiliki .2/2) Pemilikan – Penguasaan Tanah Sebelum Penjajahan Sebatas kemampuan untuk mengolah tanah Zaman Penjajahan Pengaruh individualisme – kapitalisme – liberialisme → terjadi ketimpangan .TANAH TUHAN BANGSA INDONESIA NEGARA Untuk mencapai sebesar – besarnya kemakmuran rakyat. berdaulat. Penguasaan dan cara Pengusahaan Tanah ( ) UUPA Pasal ………… 26 .menguasai tanah yang sangat luas. kesejahteraan dan kemerdekaan dalam masyarakat dan Negara hukum Indonesia yang merdeka. bahkan banyak yang sama sekali tidak memiliki menguasai Penataan kembali tentang . sebaliknya sebagian besar penduduk hanya memiliki – menguasai tanah sangat sempit. adil – makmur (Ps. Pemilikan. dalam arti kebahagiaan.

kelebihan batas maksimum dan tanah – tanah absentee 4. Larangan untuk memiliki/menguasai tanah pertanian yang melampaui batas 2. Pengaturan tentang pengembalian dan penebusan tanah pertanian yang digadaikan 5. Penetapan batas minimum pemilikan tanah pertanian 7. Pengaturan kembali perjanjian bagi hasil pertanian 6. 3.PROGRAM LANDREFORM : 1. Mengakui hak milik perseorangan Membatasi hak milik perseorangan Tidak ada yang pakai sewenang – wenang dan tidak ada …………. Aspek Sosial – Ekonomi 1) Memperkuat hak milik serta memberi sisi fungsi social hak milik atas tanah 2) Memperbaiki produksi Nasional khususnya sector oertanian guna mempertinggi penghasilan dan taraf hidup rakyat b. 4. Larangan melakukan perbuatan yang mengakibatkan pemecahan pemilikan tanah pertanian menjadi bagian – bagian yang terlampau kecil SASARAN LANDREFORM : Untuk mempertinggi penghasilan dan taraf hidup petani – penggarap – buruh sebagai landasan atau prasyarat terselenggaranya pembangunan ekonomi menuju masyarakat dan adil – makmur berdasarkan Pancasila → tanah untuk petani → a. Larangan pemilikan tanah pertanian secara absentee 3. Tidak berjiwa komunis – kapitalis → tetapi senar – benar berjiwa Pancasilais 27 . Aspek Sosial – Politik 1) Mengakhiri system tuan tanah dan menghapuskan pemilikan – penguasaan tanah yang luas 2) Mengadakan pembagian yang adil atas sumber – sumber penghidupan rakyat tani berupa tanah dengan maksud agar ada pembagian hasil yang adil pula c. Aspek Mental Psikologis 1) Meningkatkan kegairahan kerja bagi para petani penggarap – buruh dengan jalan memberikan kepastian hak pemilikan tanah 2) Memperbaiki hubungan kerja antara emilik tanah dan penggarap LANDREFORM DI INDONESIA : 1. 2. Redistribusi tanah pertanian yang berasal dari .

Jumlah penduduk . yang dikenai ketentuan UUL : 1. Status hak milik 2.Orang –orang ( satu keluarga ) 2.Jenis tanah pertanian → selain tanah pekarangan  Batas Luas Maksimum : (Ps.Luas daerah .2 UUPA UU No. Penetapan batas minimum pemilikan – penguasaan tanah hak milik pertanian 3. Penetapan batas maksimum pemilikan – penguasaan tanah hak milik pertanian 2. Undang – undang Landreform Berisi : 1. ½ UUL) Ditujukan tercapainya pemerataan pemilikan – penguasaan tanah pertanian dengan memperhatikan : . Penyelesaian gadai tanah hak milk pertanian Landreform = terbatas tanah – tanah 1. Jenis tanah pertanian  Ps 1/1 UUL. 7 UUPA Untuk tidak merugikan kepentingan umum mak pemilikan atau penguasaan tanah yang melampaui batas tidak diperkenankan Dengan perundang – undangan ditetapkan batas luas maksimum dan/atau minimum tanah yang boleh dipunyai oleh satu keluarga/badan hukum Ps. Subyek Hak . 1960 Tentang penetapan luas tanah pertanian.Seorang .Status hak milik . 17/1.PEMILIKAN – PENGUASAAN TANAH Ps. 56 PRP Th. Obyek Hak .Faktor lain – lain 28 .

Tidak padat.250 251 . didaerah : .KETENTUAN BATAS MAKSIMUM DAERAH Tidak padat Padat : Kurang padat Cukup Padat Sangat Padat PENDUDUK 0 . dan dilarang mengalihkan sebagian – seluruhnya tanpa ijin  Bagi keluarga yang setelah berlalunya UU ini memperoleh tambahan.5 Ha 5 Ha TANAH KERING 20 Ha 12 Ha 9 Ha 6 Ha  Jika pemilikan 2 jenis tanah.50 51 . sehingga pemilihannya melampaui batas maksimum dalam waktu 1 th sejak perolehan wajib mengakhiri pemilihannya 29 . tanah sawah ditambah (+) 20 % . maksimum 50 %  Bagi keluarga yang memiliki melebihi batas maksimum. tanah sawah ditambah (+) 30 %  Satu keluarga ( 7 orang anggota ). wajib melapor. kelebihan seorang anggota ditambah (+) 10 %.Padat.400 401 - LUAS SAWAH 15Ha 10 Ha 7.

Berlangsungnya pemilikan yang luasnya < 2 Ha IMPLEMENTASI 1. akan dijual 0. tapi bagi pembeli jka belum punya sebelumnya akan mengakibatkan timbulnya pemilik < 2 Ha yang baru 2. ditentukan : Pasal 9/1 : Pemindahan hak milik atas tanah pertanian. di……….5 Ha. untuk dijual. akan mengakibatkan berlangsungnya pemilikan < 2 Ha 3.BATAS MINIMUM PEMILIKAN TANAH PERTANIAN  Harapan pemilikan tanah pertanian bagi setiap petani minim 2 Ha.Timbulnya. x mempunyai 2. . y mempunyai < 2 Ha dijual seluruhnya. apabila mengakibatkan : . Tapi jika pembeli belum punya sebelumnya. tidak masalah. tidak masalah. 30 . Praktek. kecuali warisan dilarang. Untuk mencapai itu.5 Ha.

PP No. 4/1977 Pasal 3 PP 224/1961 : Pemilikan tanah pertanian yang pemiliknya bertempat tinggal di luar kecamatan letak tanah hak milik pertaniannya berada. yang pengaturannya lebih lanjut dalam . diadakan pula pembatasan cara pemilikan. Mengalihkan hak atas tanahnya kepada orang lain di kecamatan tempat letak tanah itu. Pindah ke kecamatan letak tanah tersebut 31 . atau 2. PP No. Pelaksanaan : Disamping diadakan pembatasan luas maksimum. 41/1964 Jo. 224/1961 Jo.2 : Pelaksanaan – pengecualiannya diatur dalam peraturan perundang – undangan * Mengerjakan = mengusahakan # menggunakan Pengecualian : Dapat mempergunakan buruh tani yang pencegahan cara – cara pemerasan dapat dilakukan dengan pemberian upah yang layak. harus diakhiri ( dalam waktu 6 bulan ) dengan : 1. yaitu tidak boleh secara absentee ( tidak ditempat ). PP No.PENGUSAHAAN TANAH PERTANIAN Pasal 10/1 : Setiap orang dan badan huum yang mempunyai sesuatu hak atas tanah pertanian pada azasnya di wajibkan mengerjakan atau mengusahakannya sendiri secara aktif dengan mencegah cara – cara pemerasan Pasal 10/1. namun pemegang hak masih tetap melakukan pengawasan langsung dalam mengusahakan tanahnya.

yaitu Pegawai Negeri Sipil atau ABRI yang masih aktif.Kewajiban/keharusan Mengakhiri Tidak Berlaku Lagi : 1. demikian pula jika memperoleh dari warisan ( Pasal 3 b. Sedang menjalankan tugas Negara. Pasal 7/2 32 . seorang Pegawai Negeri dalam waktu 2 tahun menjelang masa pensiun diperbolehkan membeli tanah pertanian secara absentee seluas 2/5 dari batas maksimum. c PP 41/1964) dan meninggalkan tanahnya 2 th berturut – turut 5. PENYELESAIAN GADAI TANAH PERTANIAN Pasal 7/1 Untuk gadai yang sudah berlangsung 7 th. Pemilik tanah bertempat tinggal di kecamatan yang berbatasan dengan kecamatan tempat letak tanah jika jarak antara tempat tinggal pemilik dan tanahnya masih memungkinkan mengerjakan tanah secara efisien. Sedang menjalankan tugas Negara. termasuk istri dan anak – anak yang masih menjadi tanggungannya 4. Menurut pasal 6 PP4/1977. Menunaikan kewajiban agama 3. yang dipersamakan Pegawai Negeri termasuk : .Janda Pensiunan Pegawai Negeri selama tidak menikah lagi dengan seorang taulan Pegawai Negeri 6. penggadai wajib mengembalikan tanah pertaniannya tanpa permintaan uang tebusan. sehingga jika pension dalam setahun juga harus mengakhiri pemilikan absentee – nya dengan pindah tempat tinggal ke kecamatan letak tanah berada.Janda Pegawai Negeri . menurut pertimbangan panitia Landreform setempat 2.Pensiunan Pegawai Negeri . Jika dalam pasal 3 d PP 41/1964 dilarang semua bentuk pemindahan hak tanah pertanian yang menyebabkan pemilikan di luar kecamatan ( absentee ) dengan sendirinya termasuk oleh Pegawai Negeri. Dalam perkembangan menurut PP 4/1977.

waktu berlangsung X Uang Gadai 7 33 .Gadai setelah UU ini. yang belum berlangsung 7 th. dapat diselesaikan/diakhiri dengan ketentuan sebagai berikut : 7 + ½ .

34 .

35 .

36 .

37 .

38 .

39 .

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.