P. 1
skripsi

skripsi

|Views: 571|Likes:
Published by Samsuri Ibn Latief

More info:

Published by: Samsuri Ibn Latief on Mar 12, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/11/2013

pdf

text

original

PENERAPAN KONSEPMULTIPLE INTELLIGENCES

DALAM MEWUJUDKAN SEKOLAH UNGGUL
(Studi Kasus di SD YIMA Islamic School Bondowoso)
SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri
Maulana Malik Ibrahim Malang
Untuk Memenuhi Persyaratan Guna Memperoleh Gelar
Strata Satu Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)
Oleh:
Salim Haddar
06110062
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
April, 2010
HALAMAN PERSETUJUAN
PENERAPAN KONSEPMULTIPLE INTELLIGENCES
DALAM MEWUJUDKAN SEKOLAH UNGGUL
(Studi Kasus di SD YIMA Islamic School Bondowoso)
SKRIPSI
Oleh:
Salim Haddar
06110062
Telah disetujui
Pada Tanggal, 06 Maret 2010
Oleh Dosen Pembimbing
Abdul Malik Karim. M.Pd.I
NIP. 19760616 200501 1 005
Mengetahui,
Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam
Drs. H. Moh. Padil, M. Pd.I
NIP. 150 267 235
HALAMAN PENGESAHAN
PENERAPANKONSEP MULTIPLE INTELLIGENCES
DALAM MEWUJUDKAN SEKOLAH UNGGUL
(Studi Kasus di SD YIMA Islamic School Bondowoso)
SKRIPSI
Dipersiapkan dan disusun oleh
Salim Haddar (06110062)
Telah dipertahankan di depan dewan penguji pada tanggal 20 April 2010 dengan
nilai A dan telah dinyatakan diterima sebagai salah satu persyaratan
untuk memperoleh gelar strata satu Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)
Pada tanggal: 20 April 2010
Panitia Ujian Tanda Tangan
Ketua Sidang
Dr.
NIP.
Sekretaris Sidang
Dr.
NIP.
Pembimbing
Abdul Malik Karim, M. Pd.I
NIP. 197606162005011005
Penguji Utama
Dr.
NIP.
Mengesahkan,
Dekan Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri
Maulana Malik Ibrahim Malang
Dr. H.M. Zainuddin, MA
NIP. 196203071995031001
Abdul Malik Karim, M. Pd.I
Dosen Fakultas Tarbiyah
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
NOTA DINAS PEMBIMBING
Hal : Salim Haddar Malang, 8 April 2010
Lamp : 4 (Empat) Eksemplar
Kepada Yth.
Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Malang
di
Malang
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Sesudah melakukan beberapa kali bimbingan, baik dari segi isi, bahasa,
maupun tehnik penulisan, dan setelah membaca skripsi mahasiswa tersebut di
bawah ini:
Nama : Salim Haddar
NIM : 06110062
Jurusan : Pendidikan Agama Islam
Judul Skripsi : Penerapan Konsep Multiple Intelligences dalam
Mewujudkan Sekolah Unggul (Studi Kasus di SD YIMA
Islamic School Bondowoso)
maka selaku pembimbing, kami berpendapat bahwa skripsi tersebut adalah layak
diajukan untuk diujikan. Demikian, mohon dimaklumi adanya.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Pembimbing,
Abdul Malik Karim, M. Pd.I
NIP. 197606162005011005
SURAT PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan, bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya
yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan pada suatu perguruan
tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya, juga tidak terdapat karya atau hasil
penelitian orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan
disebutkan dalam daftar pustaka.
Malang, 8 April 2010
Salim Haddar
HALAMAN PERSEMBAHAN
Dengan untaian rasa syukur atas nikmat yang telah Allah berikan, maka
kupersembahkan karya ini kepada:
Orang Tuaku Tercinta:
(Al Habib Muhcsin Bin Salim Al Haddar dan Syarifah Nurul Binti
Muhammad Al Muchdhar).
Hababahku:
(Hababah Salma binti Salim Al Muchdhar dan Alm.Hababah
Rugaiyah binti Umar BSA )
Saudara-saudaraku tersayang:
(Ahmad, Muzna, Salma, Hud dan Fathimah)
Serta tak lupa pula Sahabat-sahabat terbaikku:
(ِِAbdul Qodir Assegaf, Abdillah Al Haddar, Muhammad Al Idrus,
Jadid Assegaf, Mustafa Al Cheired dan semua jama’ah Alawiyyin
yang ada di Malang )
serta teman-temanku yang tidak dapat aku sebutkan satu persatu, ku ucapkan
terima kasih telah menemaniku di saat suka maupun duka.
Dan tak lupa semua pihak yang turut serta membantu dalam
penyelesaian skripsi ini, terima kasih atas semuanya...
Semoga Allah membalas kebaikan kalian dengan yang setimpal.
Amiiin…
MOTTO
َﺪْ ﻌَﺑ ﺎَﻤِﻟ َ ﻞِ ﻤَﻋَو ُ ﮫَﺴْﻔَﻧ َناَ د ْﻦَﻣ ُﺲﱢ ﯿَﻜْﻟا
ﺎَھاَ ﻮَ ھ ُﮫَﺴْﻔَﻧ َﻊَﺒْﺗَأ ْ ﻦَﻣ ُﺰِﺟﺎَﻌْﻟاَ و ِتْﻮَ ﻤْﻟا
ﱠﻨَﻤَﺗَو ِﮫﱠﻠﻟا ﻰَ ﻠَ ﻋ ﻰ ) ﺪﻤﺣا هاور (
“Orang yang cerdas adalah mereka yang mampu
mengendalikan nafsunya dan beramal (berbuat) untuk masa
sesudah mati,Sedang orang yang lemah ialah mereka yang
mengikuti nafsunya dan berangan-angan kepada Allah”.
(Hadist riwayat Ahmad)
1

1
Di kutip dari kitab Nashoihul ‘Ibad , Syekh Muhammad Nawawi , hal 82
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah, hanya dengan izin-Nya terlaksana segala macam
kebijakan dan diraih segala macam kasuksesan, dan atas karunia serta nikmat-Nya
pula, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini, sholawat dan salam
semoga senantiasa tercurahkan atas junjungan kita, Nabi besar Muhammad saw.
Kelurga, dan anak cucu beliau. Tak lupa kami haturkan salam sejahtera bagi para
sahabat beliau dan juga orang-orang yang mengikuti jejak mereka hingga akhir
jaman kelak.
Penulisan Skripsi ini dimaksud untuk memenuhi salah satu persyaratan
dalam menyelesaikan program Sarjana Pendidikan Agama Islam Universitas
Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang sebagai wujud serta partisipasi
penulis dalam mengembangkan dan mengaktualisasikan ilmu-ilmu yang telah
penulis peroleh selama dibangku kuliah kuliah.
Penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada semua
pihak yang telah menbantu penulisan skripsi ini, baik secara langsung maupun
tidak langsung. Oleh karena itu, penulis menyampaikan terima kasih kepada:
1. Walid dan Umma yang menjadi kebanggaan penulis yang selalu memberi
dukungan dan dorongan dari beliau, baik itu material maupun spiritual di
waktu penulis merasa kehilangan kepercayaan diri.
2. Bapak Prof. Dr. H. Imam Suprayogo selaku Rektor Universitas Islam Negeri
Maulana Malik Ibrahim Malang
3. Bapak Dr. H. M. Zainuddin, MA selaku Dekan Fakultas Tarbiyah Universitas
Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
4. Bapak Drs. H. Moh. Padil, M. Pd.I selaku Ketua Jurusan Pendidikan Agama
Islam Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
5. Bapak Abdul Malik Karim, M.Pd.I selaku Dosen Pembimbing, yang telah
membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyusun skripsi ini
6. Bapak dan Ibu Dosen Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim
Malang, yang telah memberikan ilmunya kepada penulis selama 4 tahun.
7. Bapak Abdul Wasith S.Pd.I selaku kepala Sekolah SD YIMA Islamic School
Bondowoso, yang telah menberikan izin kepada penulis untuk mengadakan
penelitian di SD YIMA Islamic School Bondowoso
8. Ibu Gamar selaku konsultan ahli di SD YIMA Islamic School Bondowoso
yang telah memberi arahan agar peneliti dapat melaksanakan penelitian
dengan baik.
9. Seluruh elemen SD YIMA Islamic School Bondowoso yang bersedia
membantu dalam proses penelitian.
10. Sahabat-sahabatku Gus Hadhori Al Bangkalany, Gus Qodir Al Maduristy,
Gus Hafidz Al Pabeany, Fauzy Al Barahwaly dan segenap penghuni kos
“Tadjab” center.
11. Teman-teman angkatan 2006 yang telah memberikan dukungan dan setia
menemani selama ini.
12. Serta semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini
Semoga Allah SWT, melimpahkan Rahmat dan Karunia-Nya kepada kita
semua. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa didunia ini tidak ada yang
sempurna. Begitu juga dari penulisan skripsi ini, yang tidak luput dari kekurangan
dan kesalahan. Oleh karena itu, dengan segala ketulusan dan kerendahan hati
penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang bersifat kontruktif demi
penyempurnaan skripsi ini.
Akhirnya dengan segala bentuk kekurangan dan kesalahan, penulis
berharap sungguh dengan rahmat dan izin-Nya mudah-mudahan skripsi ini
bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pihak-pihak yang bersangkutan.
Malang, 6 April 2010

Salim Haddar
NIM 06110062
DAFTAR GAMBAR
Gambar I Macam-macam kecerdasan menurut Howard Gardner......................... 20
Gambar II Kegiatan pembelajaran di toko swalayan.............................................. 94
DAFTAR LAMPIRAN
1. Denah Sekolah
2. Struktur Organisasi SD YIMA Islamic School Bondowoso
3. Data Guru dan Pegawai SD YIMA Islamic School Bondowoso
4. Data Jumlah siswa SD YIMA Islamic School Bondowoso tiga tahun terakhir.
5. Data Sarana Prasarana SD YIMA Islamic School Bondowoso
6. Hasil Analisis MIR (Mutiple Intelligence Research)
7. Penilaian Kognitif
8. Penilaian Afektif
9. Penilaian Psikomotor
10. Penilaian Portofolio
11. Form konsultasi lesson plan
12. Form observasi kelas
13. Foto-foto kegiatan
14. Daftar Riwayat Hidup
15. Surat Penelitian Kepada Kepala SD YIMA Islamic School Bondowoso
16. Surat Keterangan telah Melaksanakan Penelitian dari SD YIMA Islamic
School Bondowoso
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ............................................................................................. i
HALAMAN PERSETUJUAN ............................................................................ ii
HALAMAN PENGESAHAN .............................................................................. iii
HALAMAN NOTA DINAS PEMBIMBING .................................................... iv
HALAMAN PERNYATAAN............................................................................... v
HALAMAN PERSEMBAHAN ........................................................................... vi
HALAMAN MOTTO .......................................................................................... vii
KATA PENGANTAR .......................................................................................... viii
DAFTAR GAMBAR............................................................................................. xi
DAFTAR LAMPIRAN......................................................................................... xii
DAFTAR ISI ......................................................................................................... xiii
ABSTRAK ............................................................................................................ xvi
BAB I : PENDAHULUAN .................................................................................. 1
A. Latar Belakang Masalah .................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ............................................................................. 8
C. Tujuan Penelitian .............................................................................. 8
D. Manfaat Penelitian ............................................................................ 8
E. Sistematika Pembahasan ................................................................... 9
BAB II : KAJIAN TEORI ................................................................................... 12
A. Konsep Multiple Intelligences........................................................... 12
1. Pengertian Intelligence .................................................................. 12
2. Pengertian Multiple Intelligences .................................................. 16
3. Macam-macam Multiple Intelligences .......................................... 23
B. Sekolah Unggul ................................................................................. 40
1. Pengertian Sokolah Unggul ......................................................... 40
2. Kriteria Sekolah Unggul ............................................................. 44
C. Evaluasi Kinerja Guru..................................................................... 48
1. Pengertian Evaluasi Kinerja Guru ............................................... 48
2. Pelaksanaan Evaluasi Kinerja Guru............................................. 51
D. Proses Penerapan Konsep Multiple Intelligences Dalam
Mewujudkan Sekolah Unggul ........................................................ 54
BAB III : METODOLOGI PENELITIAN ........................................................ 63
A. Pendeketan dan Jenis Penelitian ..................................................... 63
B. Kehadiran Peneliti .......................................................................... 64
C. Lokasi Penelitian ............................................................................ 66
D. Jenis Data dan Sumber Data .......................................................... 67
E. Teknik Pengumpulan Data ............................................................. 69
F. Teknik Analisis Data ...................................................................... 71
G. Pengecekan Keabsahan Temuan..................................................... 72
H. Tahap-tahap Penelitian ................................................................... 73
BAB IV: HASIL PENELITIAN ......................................................................... 75
A. Deskripsi Obyek Penelitian .......................................................... 75
1. Sejarah berdirinya SD YIMA Islamic School Bondowoso ........ 75
2. Kondisi Lingkungan dan Letak Geografis SD YIMA Islamic
School Bondowoso ..................................................................... 78
3. Identitas Sekolah ......................................................................... 79
4. Visi ,Misi dan Tujuan Sekolah ................................................... 79
5. Struktur Organisasi SD YIMA Islamic School Bondowoso ....... 83
6. Keadaan Guru / Pegawai SD YIMA Islamic School Bondowoso 83
7. Keadaan Siswa SD YIMA Islamic School Bondowoso ............. 85
8. Keadaan Sarana Prasarana di SD YIMA Islamic School
Bondowoso ................................................................................. 86
B. Penyajian Dan Analisis Data ........................................................ 88
1. Desain Konsep Multiple Intelligences di SD Yima Islamic
School Bondowoso ..................................................................... 88
2. Implementasi Konsep Multiple Intelligences di SD YIMA Islamic
School Bondowoso ................................................................................. 92
3. Evaluasi dari pengimplementasian Konsep Multiple Intelligences
di SD YIMA Islamic School Bondowoso ............................................. 110
BAB V: PEMBAHASAN ................................................................................... 115
A. Desain Konsep Multiple Intelligences di SD Yima Islamic School
Bondowoso ...................................................................................... 115
B. Implementasi Konsep Multiple Intelligences di SD YIMA Islamic
School Bondowoso ....................................................................................... 117
C. Evaluasi dari pengimplementasian Konsep Multiple Intelligences di
SD YIMA Islamic School Bondowoso ...................................................... 121
BAB VI : PENUTUP ............................................................................................ 124
A. Kesimpulan .................................................................................... 124
B. Saran ............................................................................................... 127
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
ABSTRAK
Salim Haddar. 2010. Penerapan Konsep Multiple Intelligences Dalam Mewujudkan
Sekolah Unggul (studi kasus di SD YIMA Islamic School Bondowoso). Skripsi, Jurusan
Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah, Universitas Islam Negeri Maulana
Malik Ibrahim Malang. Abdul Malik Karim, M.Pd.I
Kata kunci: Multiple Intelligences, Sekolah Unggul
Ketika konsep Multiple Intelligences ditarik dalam ranah pendidikan,
paradigma pendidikan pun mengalami banyak koreksi. Hampir mayoritas pendidikan di
sekolah sekarang ini cenderung kurang menghargai seluruh potensi para peserta
didiknya. Konsep Multiple Intelligences yang menitikberatkan pada ranah keunikan
selalu menemukan kelebihan setiap anak. Lebih jauh lagi, konsep ini percaya bahwa
tidak ada anak yang bodoh sebab setiap anak pasti memiliki minimal satu kelebihan.
Apabila kelebihan tersebut dapat terdeteksi sejak awal, otomatis kelebihan itu adalah
potensi kepandaian sang anak. Atas dasar itu seharusnya sekolah menerima siswa
barunya dalam kondisi apapun. Sekolah yang telah mengimplementasikan konsep
Multiple Intelligences di dalamnya. Salah satunya yaitu SD Yayasan Islam Madrasah
Al-Falah Al-Khairiyah (YIMA) Islamic School Bondowoso. Sekolah ini dulunya adalah
sekolah yang sedikit terbelakang dan bermutu rendah. Akhirnya setelah
menerapkan konsep Multiple Intelligences, dalam waktu singkat sekolah tersebut
berubah menjadi sekolah yang unggul dan mendapat kepercayaan masyarakat.
Berdasarkan realita tersebut, serta diiringi dengan keingintahuan yang lebih dalam
tentang penerapan Multiple Intelligences di sekolah, maka peneliti tertarik untuk
merumuskan masalah salah satunya adalah bagaimana implementasi konsep Multiple
Intelligences di SD YIMA Islamic School Bondowoso. Rumusan tersebut bertujuan
untuk mengetahui bentuk implementasi konsep Multiple Intelligences di SD YIMA
Islamic School Bondowoso.
Dengan menggunakan pendekatan Deskriptif-Kualitatif. Penelitian ini
bertujuan untuk mendapatkan gambaran yang objektif, faktual, akurat dan
sistematis, mengenai fenomena-fenomena yang ada di obyek penilitian. Untuk
mengumpulkan data digunakan beberapa metode yaitu, observasi, interview, dan
dokumentasi. Kemudian data yang telah terkumpul tersebut dianalisis melalui tiga
cara, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Desain konsep penerapan
Multiple Intelligences di SD YIMA Islamic School Bondowoso secara global
meliputi tiga tahap penting yaitu input, proses, dan output. (2) Implementasi
Konsep Multiple Intelligences di SD YIMA Islamic School Bondowoso dapat dilihat
dari tiga tahap penting yaitu input, proses, dan output. (a) Input. Dalam penerimaan
siswa barunya sekolah ini menggunakan sistem kuota artinya sekolah ini akan
menutup pendaftaran apabila kuota terpenuhi. Kemudian siswa yang telah diterima akan
mengikuti proses Multiple Intelligences Research (MIR). MIR adalah semacam alat
riset psikologis yang mengeluarkan diskripsi kecenderungan kecerdasan majemuk
anak dan gaya belajarnnya. (b) Proses. Tahapan ini adalah tahapan pada proses
pembelajaran. Hampir seluruh proses pembelajarannya difokuskan pada kondisi
siswa beraktivitas. guru-guru di SD YIMA Islamic School ini juga sudah
berpengalaman dalam menggunakan strategi pembelajaran Multiple Intelligences
pada proses pembelajarannya. Hal tersebut ditandai dengan seringnya sekolah ini
melaksanakan pelatihan guru. (c) Output. Tahapan ini adalah penilaian otentik.
yakni penilaian yang dilakukan terhadap keseluruhan kompetensi yang telah
dipelajari siswa dan dalam penilaian ini siswa dinilai dari 3 ranah, yaitu kognitif,
psikomotorik dan afektif. (3) Secara tekhnis pelaksanaan evaluasi di SD YIMA
terbagi menjadi tiga tahap yaitu: Konsultasi lesson plan (rencana pembelajaran),
Observasi kelas dan Feed back (umpan balik).
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kunci pokok kemajuan suatu bangsa dan negara adalah terletak pada
bidang pendidikan. Negeri ini sedang berjuang keras untuk meningkatkan kualitas
pendidikan, namun hasilnya belum memuaskan. Kini upaya meningkatkan
kualitas pendidikan ditempuh dengan membuka sekolah-sekolah unggulan,
Sekolah unggulan dipandang sebagai salah satu alternatif yang efektif untuk
meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus kualitas SDM. Sekolah unggulan
diharapkan melahirkan manusia-manusia unggul yang amat berguna untuk
membangun negeri yang kacau balau ini. Tak dapat dipungkiri setiap orang tua
menginginkan anaknya menjadi manusia unggul. Hal ini dapat dilihat dari animo
masyarakat untuk mendaftarkan anaknya ke sekolah-sekolah unggulan. Setiap
tahun ajaran baru sekolah-sekolah unggulan dibanjiri calon siswa, karena adanya
keyakinan bisa melahirkan manusia-masnusia unggul.
Ada sebuah kisah menarik yang dibuat oleh Munif Chatib di dalam
bukunya “Sekolahnya Manusia” kisah tersebut bercerita tentang seorang ibu yang
rela berkeringat ketika berdesak-desakan melihat hasil pengumuman penerimaan
anaknya di sekolah favorit atau sekolah unggulan. Sekolah tersebut hanya
menerima 350 siswa, sedangkan pendaftar dan calon siswa yang mengikuti tes
penerimaan berjumlah lebih dari 1000 orang. Dapat dibayangkan betapa ketatnya
seleksi masuk ke sekolah tersebut. Tak lama kemudian, seorang ibu dengan wajah
kusut dan sedih keluar dari kerumunan, lalu berteriak memanggil anaknya. Si
anak dengan harap-harap cemas menghampiri ibunya. Ia berharap ibunya
menyampaikan kabar gembira tentang pengumuman hasil tes tersebut. Namun
kata sang ibu, “Nak, Nak… percuma Ibu kursuskan kamu, privat lagi, sudah
bayarnya mahal, masak tes gitu aja kamu tidak lulus. Temanmu yang biasa-biasa
saja di terima, masak kamu ini tidak di terima? Dasar bodoh!”
2
Peristiwa seperti kisah di atas ini hampir selalu terjadi setiap tahun ajaran
baru di hampir seluruh wilayah Indonesia. Tanpa disadari, si Ibu telah melakukan
penghancuran mental dan pemasungan kecerdasan pada anaknya dengan celaan
“bodoh” hanya karena gagal dalam tes masuk sekolah favorit atau sekolah unggul.
Pertanyaan yang penting untuk kita pikirkan saat ini adalah: Apa sih konsep
unggul itu sebenarnya? Benarkah sekolah-sekolah unggulan itu mampu
melahirkan manusia-manusia unggul? Benarkah sekolah unggul itu adalah
sekolah yang memilih dan menyeleksi dengan ketat kualitas akademis calon
siswanya? Lalu bagaimana semestinya sekolah itu menerapkan pola penerimaan
siswa barunya?
Dari sisi ukuran muatan keunggulan, sekolah unggulan di Indonesia juga
tidak memenuhi syarat. Sekolah unggulan di Indonesia hanya mengukur sebagian
kecerdasan yang dimiliki siswanya, yakni hanya menekankan kepada kecerdasan
logika-matematika dan bahasa saja. Dalam konsep yang sesungguhnya, sekolah
unggul adalah sekolah yang secara terus menerus meningkatkan kinerjanya dan
menggunakan sumberdaya yang dimilikinya secara optimal untuk menumbuh-

2
Munif Chatib, Sekolahnya Manusia (Bandung: Kaifa, 2009) hlm.91
kembangkan prestasi siswa secara menyeluruh. Berarti bukan hanya beberapa
kecerdasan saja yang ditumbuh-kembangkan, melainkan seluruh potensi
kecerdasan seperti kecerdasan kinetis, musical, visual-spatial, interpersonal,
intrapersonal, dan naturalis. Jenis-jenis kecerdasan intelektual tersebut dikenal dengan
sebutan kecerdasan majmuk (Multiple Intelligences) yang diperkenalkan oleh Howard
Gardner pada tahun 1983.
Sesungguhnya Allah telah menciptakan manusia sebagai makhluk
yang sangat sempurna. Dalam bahasa Al-Qur’an, Allah telah menciptakan
manusia dalam sebaik-baiknya bentuk. Sebagaimana disebutkan dalam
Firmannya: “…
.1l !´.1l> ´_..·¸¸¦ _· _.>¦ ¸,¡1. 
Dan sungguh telah kami ciptakan manusia dalam sebaik-baiknya bentuk”
(QS al-Tin, 4).
3

Sejatinya setiap anak dilahirkan cerdas dengan membawa potensi dan
keunikan masing-masing yang memungkinkan mereka untuk menjadi cerdas. Jadi
sangat tidak pantaslah seandainya sebuah sekolah hanya memperhatikan salah
satu dari beberapa macam kecerdasan yang dimiliki oleh seorang siswa.
Ketika konsep Multiple Intelligences ditarik dalam ranah pendidikan,
paradigma pendidikan pun mengalami banyak koreksi sebagaimana yang telah penulis
ungkapkan di atas. Hampir mayoritas pendidikan di sekolah sekarang ini cenderung
kurang menghargai seluruh potensi para peserta didiknya.

3
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan terjemah, (Qudus : PT Menara Qudus, 1973) hlm.598.
Konsep Multiple Intelligences yang menitikberatkan pada ranah keunikan selalu
menemukan kelebihan setiap anak. Lebih jauh lagi, konsep ini percaya bahwa tidak ada
anak yang bodoh sebab setiap anak pasti memiliki minimal satu kelebihan. Apabila
kelebihan tersebut dapat terdeteksi sejak awal, otomatis kelebihan itu adalah potensi
kepandaian sang anak. Atas dasar itu seharusnya sekolah menerima siswa barunya
dalam kondisi apapun. Tugas sekolahlah meneliti kondisi siswa secara psikologis
dengan cara mengetahui kecenderungan kecerdasan siswa melaui metode riset yang
dinamakan Multiple Intelligences Research (MIR). Dan hasil riset ini dapat digunakan
para guru untuk mempelajari gaya belajar setiap siswa sehingga tercipta pembelajaran
yang efektif dan menyenangkan.
4
Oleh karena itu, pola penerimaan siswa baru bagi sekolah yang menerapkan
Multiple Intelligences tidak menerapkan tes-tes formal untuk menyaring siswa
sebagaimana yang dilakukan sekolah pada umumnya. Jumlah siswa yang mendaftar di
sekolah yang menerapkan Multiple Intelligences harus sesuai dengan kapasitas siswa
yang akan diterima. Apabila sebuah sekolah berkapasitas 100 siswa dalam penerimaan
siswa barunya, maka ketika pendaftar telah mencapai 100 siswa, pendaftaran akan
ditutup.
Pola ini tentu sangat berbeda sekali dengan pola umum yang diterapkan sekolah
di Indonesia yang membuka pendaftaran sebanyak-banyaknya, kemudian mengadakan
tes seleksi. Dari 350 pendaftar, yang diterima hanya 100 siswa. Siapakah siswa tersebut?
Pastinya mereka adalah siswa yang menduduki peringkat dari 1 sampai 100 dari 350
calon siswa atau mungkin yang mampu menyumbang dana dalam jumlah besar kepada

4
Munif Chatib, op.cit, hlm .92.
sekolah. Lantas, bagaimana nasib 250 siswa yang tidak lolos? Pastinya stigma sebagai
anak yang gagal masuk sekolah unggulan akan terus melekat seumur dan membayang
dalam pikiran selamanya.
Pada dasarnya, sekolah unggul adalah sekolah yang fokus pada kualitas
pembelajaran, bukan pada kualitas input siswanya. Kualitas proses pembelajaran
bergantung pada kualitas para guru yang mengajar di sekolah tersebut. Apabila kulitas
guru di sekolah tersebut baik, mereka akan berperan sebagai “agen pengubah” siswanya.
Sekolah unggul adalah sekolah yang para gurunya mampu menjamin semua siswa akan
dibimbing ke arah perubahan yang lebih baik, bagaimanapun kualitas akademis dan
moral yang mereka miliki. Dengan kata lain, sekolah yang mampu mengubah kualitas
akademis dan moral siswanya dari negative menjadi positif, itulah sekolah unggul.
5
Sekolah yang benar-benar menghargai segala macam keunikan setiap siswa
harus dengan senang hati menerima semua siswa apa adanya, tanpa pandang bulu dan
tanpa memilih siswa dengan tes seleksi. Ini dilakukan karena prinsip sekolah tersebut
adalah “tidak ada siswa bodoh”. Lantas bagaimana proses penerimaan siswa baru
apabila tidak ada siswa yang di anggap bodoh? Bagaimana cara menilai dan mengukur
perkembangan kemajuan siswa dan sekolah tersebut terutama dalam hal keberhasilan
proses belajar-mengajarnya?
Pertanyaan ini telah dijawab oleh sekolah-sekolah yang telah
mengimplementasikan konsep Multiple Intelligences di dalamnya. Salah satunya yaitu
sekolah yang saat ini menjadi buah bibir masyarakat di kota Bondowoso, Jawa Timur,

5
Ibid, hlm. 93.
yaitu SD Yayasan Islam Madrasah Al-Falah Al-Khairiyah (YIMA) Islamic School
Bondowoso. Sekolah ini dulunya adalah sekolah yang sedikit terbelakang dan
bermutu rendah. Akhirnya setelah menerapkan konsep Multiple Intelligences, dalam
waktu singkat sekolah tersebut berubah menjadi sekolah yang unggul dan
mendapat kepercayaan masyarakat.
Sekolah ini cukup unik dan berani berbeda dalam penerimaan siswa
barunya (PSB). SD YIMA menggunakan alat riset bernama Multiple Intelligences
Research (MIR) dalam PSB. MIR ini bukan alat tes seleksi masuk, melainkan sebuah
riset yang ditujukan kepada siswa dan orang tuanya untuk mengetahui kecenderungan
kecerdasan siswa yang paling menonjol dan berpengaruh. Melalui MIR, siswa dan guru
dapat mengetahui banyak hal, seperti grafik kecenderungan kecerdasan siswa, gaya
belajar siswa, dan kegiatan kreatif yang disarankan, yang tentunya berbeda antara satu
siswa dan siswa lain. Setiap hasil MIR menyatakan bahwa pada hakikatnya tidak ada
siswa yang bodoh. Setiap siswa pasti memiliki kecenderungan kecerdasan yang
merupakan hasil dari kebiasaan-kebiasaan siswa tersebut dalam berinteraksi, baik
dengan dirinya sendiri (mengenal potensi diri) maupun dengan pihak lain.
Di SD YIMA Islamic School Bondowoso, setiap siswa yang mendaftarkan diri
dan mengikuti proses MIR dinyatakan langsung diterima. Hasil MIR akan dipakai oleh
setiap guru untuk mempelajari gaya belajar setiap siswa. Kemudian para guru menyusun
lesson plan (rencana pengajaran) berdasarkan analisis hasil MIR. Dengan analisis hasil
MIR ini, guru harus berusaha menyesuaikan gaya mengajarnya dengan gaya belajar
siswa. Oleh karena itu, di SD YIMA banyak ditemukan pembelajaran sebuah bidang
studi secara individual dan siswa selalu berada dalam suasana yang menyenangkan
dalam beraktivitas. Hasil MIR ini juga menjadi alat untuk membagi kelas dan pedoman
guru untuk bahan skenario pembelajaran.
Setelah tiga tahun MIR diujicobakan di SD YIMA Islamic School Bondowoso
dan atas berkat rahmat Allah swt, sekarang SD YIMA menjadi salah satu SD terbaik se-
Kabupaten Bondowoso. Padahal terdapat beragam kemampuan siswa di sana. Ada pula
siswa yang mengidap kecenderungan autis. Namun, berkat kesabaran menyesuaikan
gaya belajarnya dengan gaya mengajar guru, kepercayaan diri dan kemandirian siswa
tersebut meningkat pesat. Sehingga lambat laun siswa tersebut sifatnya hampir
mendekati anak normal biasanya.
Kesimpulannya, sekolah unggul adalah sekolah yang memanusiakan manusia,
dalam arti menghargai potensi yang ada pada diri siswa. Sekolah yang membuka
pintunya pada semua siswa, bukan dengan menyeleksinya dengan tes-tes formal yang
memiliki interval nilai berupa angka-angka untuk menyatakan batasan diterima atau
tidak.
Berdasarkan fenomena dan latar belakang di atas serta diiringi dengan
keingintahuan yang lebih dalam tentang penerapan Multiple Intelligences di sekolah,
maka peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “ Penerapan Konsep
Multiple Intelligences Dalam Mewujudkan Sekolah Unggul” (studi kasus di SD
YIMA Islamic School Bondowoso)
B. Rumusan Masalah
Melihat latar belakang diatas, disini peneliti akan memfokuskan
permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimanakah desain konsep Multiple Intelligences di SD YIMA Islamic
School Bondowoso?
2. Bagaimanakah implementasi konsep Multiple Intelligences di SD YIMA
Islamic School Bondowoso?
3. Bagaimanakah evaluasi dari pengimplementasian konsep Multiple Intelligences
di SD YIMA Islamic School Bondowoso?
C. Tujuan Penelitian
Melihat rumusan masalah diatas, maka tujuan-tujuan dari penelitian ini
meliputi hal-hal sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui desain konsep Multiple Intelligences yang diterapkan di
SD YIMA Islamic School Bondowoso.
2. Untuk mengetahui implementasi konsep Multiple Intelligences di SD YIMA
Islamic School Bondowoso.
3. Untuk mengetahui evaluasi dari pengimplementasian konsep Multiple
Intelligences di SD YIMA Islamic School Bondowoso.
D. Kegunaan Penelitian
Adapun kegunaan atau manfaat dari penelitian ini, meliputi tiga hal , yaitu:
1. Bagi lembaga: Secara kelembagaan, penelitian ini ingin mengungkapkan
tentang konsep Multiple Intelligences yang diterapkan di sekolah sehingga
siapapun yang berkepentingan bisa mengambil manfaatnya dengan
mengacu pada hasil penelitian ini. Dan penelitian ini mungkin bisa
memberi kontribusi pada penambahan kekayaan literatur tentang konsep
Multiple Intelligences yang saat ini sedang diterapkan di SD YIMA Islamic
School Bondowoso pada khususnya dan sekolah-sekolah lain yang menerapkan
konsep serupa pada umumnya.
2. Bagi pengembangan keilmuan: sebagai wahana untuk memperkaya
khazanah pengetahuan kita terutama dalam bidang Multiple Intelligences
yang saat ini sudah banyak diterapkan di sekolah.
3. Manfaat bagi penulis: sebagai wahana penambah luasan keilmuan tentang
kependidikan terutama dalam bidang yang menitikberatkan pada konsep
Multiple Intelligences yang diterapkan oleh sekolah.
E. Sistematika Pembahasan
Sistematika pembahasan merupakan rangkuman sementara dari isi skripsi,
yakni suatu gambaran tentang isi skripsi secara keseluruhan dan dari sistematika
itulah dapat dijadikan satu arahan bagi pembaca untuk menelaahnya. Secara
berurutan dalam sistematika ini adalah sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Dalam bab pendahuluan ini dikemukakan tentang latar belakang masalah,
rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, batasan istilah dan
sistematika pembahasan
BAB II KAJIAN TEORI
Dalam bab kajian teori ini dikemukakan kajian tentang Konsep Multiple
Intelligence (kecerdasan ganda), meliputi: pengertian Intelligence (kecerdasan),
pengertian Multiple Intelligence dan Macam-Macam Multiple Intelligence serta
kajian tentang Sekolah Unggul, meliputi: Pengertian Sekolah Unggul dan
Kriteria Sekolah Unggul serta yang terakhir kajian tentang Konsep Multiple
Intelligences Dalam Mewujudkan Sekolah Unggul.
BAB III METODE PENELITIAN
Dalam bab ini akan dikemukakan tentang pendekatan dan jenis penelitian,
kehadiran peneliti, lokasi penelitian, jenis data dan sumber data, teknik
pengumpulan data, teknik analisa data, pengecekan keabsahan temuan serta
tahap-tahap penelitian.
BAB IV HASIL PENELITIAN
Dalam bab hasil penelitian ini akan dibahas tentang penyajian data yang
berkaitan dengan hasil yang didapat dalam penelitian, yang terdiri dari Deskripsi
Obyek Penelitian, Penyajian Data dan Analisis Data. Deskripsi Obyek Penelitian
menjelaskan tentang Sejarah Berdirinya SD YIMA Islamic School Bondowoso,
Kondisi Lingkungan dan Letak Geografis SD YIMA Islamic School
Bondowoso, Struktur Organisasi SD YIMA Islamic School Bondowoso,
Keadaan Guru / Pegawai SD YIMA Islamic School Bondowoso, Keadaan Siswa
SD YIMA Islamic School Bondowoso, dan Keadaan Sarana Prasarana SD
YIMA Islamic School Bondowoso. Sedangkan Penyajian Data dan Analisis Data
membahas tentang Desain Konsep Multiple Intelligences di SD YIMA Islamic
School Bondowoso, Implementasi Konsep Multiple Intelligences di SDYIMA Islamic
School Bondowoso dan Evaluasi Dari Pengimplementasian Konsep Multiple
Intelligences di SD YIMA Islamic School Bondowoso.
BAB V PEMBAHASAN
Dalam bab pembahasan ini akan dipaparkan tentang keterkaitan
antara kajian teori dengan hasil penelitian yang membahas tentang Desain
Konsep Multiple Intelligences di SD YIMA Islamic School Bondowoso,
Implementasi Konsep Multiple Intelligences di SD YIMA Islamic School Bondowoso
dan Evaluasi Dari Pengimplementasian Konsep Multiple Intelligences di SD YIMA
Islamic School Bondowoso.
BAB VI PENUTUP
Dalam bab penutup ini akan dipaparkan kesimpulan dan saran-saran.
Kesimpulan merupakan rangkuman hasil penelitian yang telah diuraikan secara
lengkap dalam BAB IV dan terkait langsung dengan rumusan masalah serta
tujuan penelitian. Sedangkan saran selalu bersumber pada temuan penelitian,
pembahasan dan kesimpulan hasil penelitian yang ditujukan kepada pihak-pihak
yang terkait lansung dengan penelitian.
BAB II
KAJIAN TEORI
A. KONSEP MULTIPLE INTELLIGENCES
1. Pengertian Intelligence (Kecerdasan)
Kecerdasan merupakan salah satu anugerah besar dari Allah SWT kepada
manusia dan menjadikannya sebagai salah satu kelebihan manusia dibandingkan
dengan makhluk lainnya. Dengan kecerdasannya, manusia dapat terus menerus
mempertahankan dan meningkatkan kualitas hidupnya yang semakin kompleks,
melalui proses berfikir dan belajar secara terus menerus. Selain manusia,
sesungguhnya hewan pun diberikan kecerdasan namun dalam kapasitas yang
sangat terbatas. Oleh karena itu untuk mempertahankan keberlangsungan
hidupnya lebih banyak dilakukan secara instingtif (naluriah).
David Weschler memberikan rumusan tentang kecerdasan sebagai suatu
kapasitas umum dari individu untuk bertindak, berpikir rasional dan berinteraksi
dengan lingkungan secara efektif.
6
Menurut beberapa teori, kecerdasan atau
intelegensi terkait dengan cara individu berbuat, apakah berbuat dengan cara yang
cerdas atau kurang cerdas atau tidak cerdas sama sekali. Suatu perbuatan cerdas
ditandai oleh perbuatan yang cepat dan tepat. Cepat dan tepat dalam memahami
suatu masalah, menarik kesimpulan serta mengambil keputusan atau tindakan.
Lantas, apa sesungguhnya kecerdasan itu ? Sebenarnya hingga saat ini
para ahli pun tampaknya masih mengalami kesulitan untuk mencari rumusan yang

6
Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan (Bandung: Rosda Karya,
2005), hlm. 93.
komprehensif tentang kecerdasan. Dalam hal ini, C.P. Chaplin memberikan
pengertian kecerdasan sebagai kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri
terhadap situasi baru secara cepat dan efektif. Sementara itu, Anita E. Woolfolk
mengemukakan bahwa menurut teori lama, kecerdasan meliputi tiga pengertian,
yaitu :
1) kemampuan untuk belajar.
2) keseluruhan pengetahuan yang diperoleh; dan
3) kemampuan untuk beradaptasi dengan dengan situasi baru atau lingkungan pada
umumnya.
7
Jika kita merujuk ke pendapat Howard Gardner, dia memberikan definisi
tentang kecerdasan sebagai berikut:
1. Kecakapan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam kehidupan.
2. Kecakapan untuk mengembangkan masalah untuk dipecahkan.
3. Kecakapan untuk membuat sesuatu atau melakukan sesuatu yang bermanfaat
di dalam kehidupan.
8
Gardner juga mendefinisikan bahwa inteligensi itu merupakan kemampuan
untuk memecahkan persoalan dan menghasilkan produk dalam suatu setting yang
bermacam-macam dan dalam situasi yang nyata. Berdasarkan pengertian dapat
dipahami bahwa inteligensi bukanlah kemampuan seseorang untuk menjawab
soal-soal tes IQ dalam ruang tertutup yang terlepas dari lingkungannya. Akan
tetapi, inteligensi memuat kemampuan seseorang untuk memecahkan persoalan

7
Ibid, hlm. 94
8
Imanuella F. Rachmani, Multiple Intelligences Mengenali Dan Merangsang Potensi Anak
(Jakarta: PT Aspirasi Pemuda,2003) hlm. 6.
yang nyata dan dalam situasi yang bermacam-macam. Gardner menekankan pada
kemampuan memecahkan persoalan yang nyata, karena seseorang memiliki
kemampuan inteligensi yang tinggi bila ia dapat menyelesaikan persoalan hidup
yang nyata, bukan hanya dalam teori. Semakin seseorang terampil dan mampu
menyelesaikan persoalan kehidupan yang situasinya bermacam-macam dan
kompleks, semakin tinggi inteligensinya.
9
Dari pengertian kecerdasan dari beberapa pakar diatas sudah sangat jelas
bahwa kecerdasan bukan kemampuan seseorang dalam menjawab tes IQ dalam
kamar tertutup, melainkan kecerdasan itu dapat dilihat dari bagaimana
kemampuan seseorang untuk memecahan persoalan-persoalan nyata dalam situasi
yang bermacam-macam dalam kehidupan ini
Kecerdasan telah ada dan mengakar dalam saraf manusia, terutama dalam
otak yang merupakan pusat seluruh aktivitas manusia. Pada anak usia 0-3 tahun
terjadi proses pertumbuhan sel-sel saraf serta pembentukan koneksi (hubungan
antara sel-sel saraf). Setelah berumur 4-5 tahun, pertumbuhan otak akan mencapai
80%. Pengaruh pada perkembangan neuron dalam SSP (sistem saraf pusat) akan
meningkatkan kemampuan daya pikir yang lebih kompleks. Penyerapan informasi
dari luar diri semakin banyak. Selanjutnya ketika anak usia anak mencapai 6 tahun
lebih terjadi perluasan ruang gerak serta hubungan sosial yang lebih rumit.
Kondisi ruang gerak dan peluasan lingkungan memberi informasi yang semakin

9
Baharudin dan Esa Nur Wahyuni, Teori Belajar Dan Pembelajaran (Jogjakarta: Ar-Ruzz
Media, 2007), hlm. 145.
banyak dan berubah-ubah. Inilah masa-masa ideal untuk meningkatkan
kemampuan fungsional dari struktur otak yang telah terbentuk.
10
Kecerdasan terbentuk ketika pertumbuhan struktur dan fungsi otak
mencapai tahap tertinggi. Kondisi ini terjadi selama rentang waktu 12 tahun
pertama. Selama rentang waktu 0-3 tahun dan 6-9 tahun merupakan kondisi
terbesar jumlah pembentukan jalur koneksi yang kemungkinan hilangnya jalur
koneksi dan kemungkinan hilangnya jalur tersebut pada sistem saraf. Koneksi
yang menghasilkan persepsi baik atau positif selaras dengan nilai-nilai kecerdasan
yang harus dibentuk semaksimal mungkin. Sebaliknya koneksi sel-sel saraf yang
menghasilkan persepsi buruk harus dicegah dan diputuskan jika telah terjadi.
11
Perkembangan struktur dan fungsi otak yang sedang tumbuh melalui tiga
tahapan, mulai dari otak primitif, (action brain), otak limbik (feeling brain), dan
akhirnya ke neocortex atau disebut juga thought brain (otak pikir), meski saling
berkaitan, ketiganya punya fungsi sendiri-sendiri. Otak primitif mengatur fisik
untuk bertahan hidup, mengelola gerak refleks, mengendalikan gerak motorik,
memantau fungsi tubuh, dan memproses informasi yang masuk dari panca indra.
Saat menghadapi ancaman atau keadaan bahaya, bersama dengan otak limbik,
otak primitif menyiapkan reaksi untuk menghadapi atau lari dari kondisi kendala
(fight or flight response). Manusia akan bereaksi secara fisik dan emosi terlebih
dahulu sebelum otak pikir sempat memproses informasi.
12

10
Sutan Surya, Melejitkan Multiple Intelligence Sejak Dini (Yogyakarta : Andi, 2007), hlm.1.
11
Ibid, hlm 5.
12
Ibid, hlm 5-6.
Otak limbik memproses emosi seperti rasa suka dan tidak suka, cinta dan
benci. Otak ini sebagai penghubung otak pikir dan otak primitif. Artinya, otak
primitif dapat diperintah mengikuti kehendak otak pikir, disaat lain otak pikir
dapat dikunci untuk tidak melayani otak limbik dan primitif selama keadaan
darurat, baik nyata maupun tidak.
13
Otak pikir, yang merupakan bentuk daya pikir tertinggi dan bagian otak
yang paling objektif, menerima masukan dari otak primitif dan otak limbik.
Namun, ia butuh waktu lebih banyak untuk memproses informasi yang masuk dari
otak primitif dan otak limbik. Otak pikir juga merupakan tempat bergabungnya
pengalaman, ingatan, perasaan, tindakan, dan kemampuan berpikir untuk
melahirkan gagasan dan tindakan. Jika si kecil masih berumur dibawah 6 tahun,
pengalaman dan sikap kritis atau keingintahuannya akan menghasilkan kontruksi
emosional dan kecerdasan. Selama itu pula terjadi pertumbuhan otak kira-kira
80%, sesuai dengan faktor-faktor pendukung yang mempengaruhinya. Jika kita
ingin menjadikan si kecil lebih pandai, selama waktu itu adalah periode yang
krusial pertumbuhannya. Selanjutnya otak anak disini dapat mengalami
pertumbuhan maksimum. Sebelum anak berusia empat tahun, otak primitif dan
otak limbik sudah 80% tereliminasi. Setelah umur 6-7 tahun bergeser ke otak
pikir. Awalnya dari belahan otak kanan yang antara lain bertugas merespon citra
visual.
14
2. Pengertian Multiple Intelligences (Kecerdasan Ganda)

13
Ibid, hlm 6.
14
Ibid, hlm.7.
Multiple Intelligences adalah istilah atau teori dalam kajian tentang ilmu
kecerdasan yang memiliki arti “kecerdasan ganda” atau “kecerdasan majemuk”.
Teori ini ditemukan dan dikembangkan oleh Howard Gardner, seorang psikolog
perkembangan dan profesor pendidikan dari Graduate School Of Education,
Harvad University, Amerika Serikat. Dia juga adalah penulis Frames of Mind:
The Theory of Multiple Intelligences (Basic Books, 1983/1993), Multiple
Intelligences: The Theory in PracticeIntelligence Reframed: Multiple
Intelligences for the 21st Century (Basic`Books, 1993), dan (Basic Books, 1993).
Saat ini dia juga salah satu direktur Project Zero di Harvard Graduate School of
Education. Project Zero adalah pusat penelitian dan pendidikan yang
mengembangkan cara belajar, berpikir, dan kreativitas dalam mempelajari suatu
bidang bagi individu dan institusi.
15
Multiple intelligences merupakan sebuah penilaian yang melihat secara
deskriptif bagaimana individu menggunakan kecerdasannya untuk memecahkan
masalah dan menghasilkan sesuatu. Pendekatan ini merupakan alat untuk melihat
bagaimana pikiran manusia mengoperasikan dunia, baik itu benda-benda kongkret
maupun hal-hal yang absrtak.
Di dalam teorinya Gardner menjelaskan bahwa setiap orang memilki
bermacam-macam kecerdasan, tetapi dengan kadar pengembangan yang berbeda
antara kecerdasan yang satu dengan kecerdasan lainnya. Pengertian inteligensi
Gardner ini berbeda dengan pengertian yang dipahami sebelumnya. Sebelum
Gardner, pengukuran IQ (Intelligence Question) seseorang didasarkan pada tes IQ

15
Paul Suparno, Teory Intelligensi Ganda Dan Aplikasinya Di Sekolah (Yogyakarta: Kanisius,
2004), hlm 17
saja, yang hanya menonjolkan kecerdasan matematis-logis dan linguistik.
Sehingga, mungkin saja dijumpai orang yang nilai tes IQ-nya tinggi tetapi dalam
kehidupan sehari-harinya tidak sukses dalam menjalin hubungan dengan orang
lain. Menurut Gardner, pengukuran intelligensi yang menekankan pada
kemampuan matematis logis dan linguistik ini telah menafikan kecerdasan-
kecerdasan yang lain.
16
Penemuan Gardner tentang inteligensi seseorang telah mengubah konsep
kecerdasan. Menurut Gardner, kecerdasan seseorang diukur bukan dengan tes
tertulis, tetapi bagaimana seseorang dapat memecahkan problem nyata dalam
kehidupan. Inteligensi seseorang dapat dikembangkan melalui pendidikan dan
jumlahnya banyak, hal ini berbeda dengan konsep lama yang menyatakan bahwa
inteligensi seseorang tetap mulai sejak manusia lahir sampai kelak dewasa, dan
tidak dapat diubah secara signifikan.
Bagi Gardner, suatu kemampuan disebut inteligensi bisa menunjukkan
suatu kemahiran dan keterampilan seseorang untuk memecahkan masalah dan
kesulitan yang ditemukan dalam hidupnya. Selanjutnya kemahiran tersebut dapat
menciptakan suatu produk baru dan bahkan dapat menciptakan persoalan
berikutnya yang dapat mengembangkan ilmu pengetahuan baru yang lebih maju
dan canggih. Misalnya, kemampuan interpersonal, suatu kemampuan untuk
menjalin relasi dengan orang lain. Kemampuan interpersonal akan dapat
memecahkan persoalan-persoalan yang berkaitan dengan orang lain. Sekaligus
dengan kemampuan tersebut seseorang dapat mengembangkan kemampuan

16
Colin Rose dan Malcom, Cara Cepat Belajar Abad XXI (Bandung : Nuansa, 2002), hal. 57.
interpersonal yang lebih terpola untuk meningkatkan relasi dengan orang lain,
bahkan dapat menjadi penengah terhadap konflik-konflik masyarakat. Dengan
perkembangan tersebut, maka akan muncul teori-teori tentang relasi antar manusia
yang lebih canggih. Jadi, dalam kemampuan itu ada dua unsur, yaitu pengetahuan
dan keahlian.
17
Setiap kecerdasan didasarkan, paling sedikit pada awalnya, pada potensi
biologis, yang kemudian diekpresikan sebagai hasil faktor-faktor genetik dan
lingkungan yang saling mempengaruhi. Walaupun seseorang mungkin
memandang suatu kecerdasan dalam isolasi individual luar biasa seperti orang
yang amat cerdas dalam bidang tertentu tetapi nyaris tidak memahami bidang
yang lain (idiot savant). Secara umum, individual menunjukkan beberapa
kecerdasan. Memang, setelah bayi yang masih amat muda, kecerdasan tidak
pernah dijumpai dalam bentuk murni. Sebaliknya, kecerdasan tertanam dalam
berbagai sistem simbol, seperti bahasa yang dipakai berbicara dan sistem gambar,
sistem membuat catatan, seperti peta dan musik atau pencatatan dan matematika
dan bidang-bidang pengetahuan, seperti kewartawanan dan teknik mekanika. Jadi,
pendidikan pada suatu saat mewakili pemeliharaan kecerdasan seperti telah
diwakili sepanjang waktu dalam berbagai sistem mode budaya.
18
Secara jelasnya Gardner mengungkapkan bahwa tidak ada anak bodoh
atau pintar. Yang ada, anak yang menonjol dalam salah satu atau beberapa jenis
kecerdasan tersebut. Dengan demikian, dalam menilai dan menstimulasi

17
Ibid, hlm. 147.
18
Ibid, hlm. 133.
kecerdasan anak, orang tua dan guru selayaknya dengan jeli dan cermat
merancang sebuah metode khusus. Dalam menstimulasi kecerdasan anak, dapat
dikatakan, kecerdasan tertentu bisa jadi diasah agar terampil. Tetapi, pada
dasarnya, setiap manusia memiliki kecenderungan untuk cerdas di satu bidang
tanpa harus bersusah payah mengasahnya.
Esensi teori multiple intelligences menurut Gardner adalah menghargai
keunikan setiap orang, berbagai variasi cara belajar, mewujudkan sejumlah model
untuk menilai mereka, dan cara yang hampir tak terbatas untuk
mengaktualisasikan diri didunia ini dalam bidang tertentu yang akhirnya diakui.
Menurut hasil penelitiannya, Gardner menyatakan bahwa di dalam diri setiap
orang terdapat delapan jenis kecerdasan dintaranya seperti kecerdasan logika-
matematika, linguistik (berbahasa), visual-spasial, kinestetik (gerak tubuh),
musikal, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis..
19

19
Howar Gardner, Multiple Intelligences. The Theory In Practice (New York: Basic Books, 1993)
hal . 38.
Gambar 1: Macam-macam kecerdasan menurut Howard Gardner
Kedelapan kecerdasan tersebut bisa saja dimiliki oleh setiap individu,
hanya saja dalam taraf berbeda. Selain itu, kecerdasan ini juga tidak berdiri
sendiri, terkadang bercampur dengan kecerdasan lain. Misalnya saja, bila kelak
seorang anak menjadi seorang ahli bedah, ia juga membutuhkan kecerdasan
visual-spasial yang menonjol untuk menggunakan pisau bedahnya, juga
kecerdasan gerak tubuh untuk kelenturan tangannya ketika menggunakan pisau
bedah. Dalam hal ini, orang tua sangat perlu menyikapi dan mengembangkan
potensi anaknya yang mungkin berbeda dengan kakak atau adik kandungnya atau
juga anak-anak lain seusianya dengan cara memberi stimulus atau rangsangan
tertentu untuk mengembangkan potensi si buah hati tersebut.
Multiple Intelligences membantu orang tua mengenal kekuatan dan
kekurangan anak-anaknya. Tapi janganlah cepat-cepat mengambil kesimpulan
kecerdasan si anak, misalnya, cocok menjadi atlet, menjadi akuntan, menjadi
musisi atau lainnya tanpa memberikan kesempatan padanya untuk mengeksplorasi
dunia, bekerja dengan keterampilan sendiri dan mengembangkan kemampuannya
sendiri. Tentu, keseimbangan adalah salah satu tujuan Gardner dalam mengupas
perihal beberapa tipe kecerdasan. Untuk itu, ia menyarankan orang tua untuk
mengasah satu kecerdsan si anak yang menonjol, misalnya kecerdasan musiknya,
sekaligus menstimulasi kecerdasan logika-matematika atau linguistiknya.
20
Memang bisa jadi anak-anak kita tak lantas menjadi seperti pemusik
cemerlang yang mendunia sekaliber Rihana dan Beethoven atau dalam skop
nasional seperti Anang, Krisdayanti atau Ungu maupun pencipta musik kreatif
seperti Melly Goeslow. Begitu pula menjadi penulis besar seperti J.K. Rowling
penulis cerita dari Harry Potter atau novelis nasional seperti Habiburrahman El
Shirazy. Namun, kehidupan anak tetap perlu diperkaya melalui pengembangan
berbagai jenis kecerdasan di tingkat memungkinkan. Jika si anak memiliki
peluang untuk belajar melalui kelebihan-kelebihannya, maka akan muncul
perubahan-perubahan kognitif, emosional, sosisal atau bahkan perubahan fisik
yang positif dan menakjubkan.
Menurut Thomas Amstrong, salah satu cara terbaik untuk mengenali
kecerdasan yang paling berkembang dari para siswa adalah dengan mengamati
kenakalan mereka di kelas. Siswa yang memiliki kecerdasan linguistik tinggi akan
sering menyela pembicaraan, siswa yang memiliki kecerdasan spasial tinggi akan
suka cora—coret dan melamun, siswa yang memiliki kecerdasan interpersonal
tinggi akan suka mengobrol, dan siswa yang memiliki kecerdasan kinestetis-
jasmani tidak bisa duduk diam, sedangkan siswa yang memiliki minat tinggi pada
alam mungkin akan membawa binatang ke dalam kelas tanpa izin. Melalui
kenakalan mereka tersebut, secara metaforis mereka berkata; “Inilah cara saya
belajar Pak/Bu guru, dan apabila Anda tidak mengajari saya melalui cara belajar

20
Imanuella F. Rachmani, op. cit., hlm.8.
saya yang paling alamiah, apa yang akan terjadi? Bagainapun juga saya akan tetap
melakukannya.” Kenakalan yang berkaitan dengan kecerdasan tertentu ini,
kemudian menjadi semacam seruan minta tolong-indikator diagnostik tentang
bagaimana seorang siswa seharusnya mendapatkan pengajaran.
21
3. Macam-macamMultiple Intelligences
a) Kecerdasan Linguistik ( Linguistic intelligence)
Kecerdasan linguistik adalah kemampuan untuk menggunakan kata-kata
secara efektif, baik secara lisan maupun tulisan. Kecerdasan ini mencakup
kepekaan terhadap arti kata, urutan kata, suara, ritme dan intonasi dari kata yang
di ucapkan. Termasuk kemampuan untuk mengerti kekuatan kata dalam
mengubah kondisi pikiran dan menyampaikan informasi. Kecerdasan ini
berkaitan juga dengan penggunaan dan pengembangan bahasa secara umum
seperti yang dimiliki para pencipta lagu, para penulis, editor, jurnalis, penyair,
orator, penceramah maupun pelawak. Contoh orang yang memiliki kecerdasan
linguistik ini adalah; Sukarno, Martin Luther, J.K. Rowling, Melly Goeslow dan
sebagainya.
22
Orang yang berinteligensi linguistik tinggi akan berbahasa lancar, baik dan
lengkap. Ia mudah mengembangkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa,
mudah belajar beberapa bahasa, mudah mengerti urutan arti kata-kata dalam
belajar bahasa. Mereka juga mudah untuk menjelaskan, mengajarkan,

21
Thomas Amstrong. Sekolah Para Juara (Bandung: Kaifa, 2002), hal. 44
22
Imanuella F. Rachmani, op. cit., hlm.13.
menceritakan pemikirannya kepada orang lain. Mereka lancar berdebat, mudah
ingat dan bahkan dapat menghafal beberapa surat di dalam Al-Qur’an dengan
waktu singkat.
Keterampilan berbahasa menuntut kemampuan menyimpan berbagai
informasi, yang berarti berkaitan dengan proses berfikir. Kecerdasan bahasa
kerap kali juga diikuti keterampilan bersosialisasi. Karena dalam bersosialisasi
umumnya anak-anak mengandalkan keterampilan berbicara. Namun, anak yang
cerdas berbahasa bukan jaminan bahwa ia akan cerdas di bidang lain, seperti
cerdas logika-matematika, cerdas musik atau cerdas gerakan tubuh. Demikian
pula sebaliknya, anak yang cerdas di suatu bidang lain, belum tentu cerdas di
bidang linguistik.
23
Potensi kecerdasan berbahasa yang dimiliki seorang anak juga perlu dilatih
dan dikembangkan. Bisa saja anak tampak begitu terampil berbahasa ketika
masih balita, tetapi kemudian menghilang di usia-usia selanjutnya. Jadi, pola
asuh orang tua sangat berpengaruh dalam hal ini. Anak yang tidak diberi
kesempatan berbicara atau selalu dikritik saat mengemukakan pendapatnya,
misalnya, ia akan kehilangan kemampuan dan keterampilanya dalam
mengungkapkan ide dan perasaannya.
Mengajak anak berbicara merupakan rangsangan paling sederhana yang
dapat dilakukan orang tua untuk mengasah kecerdasan linguistik buah hatinya.
Seorang ibu atau ayah dapat berkomunikasi dan menstimulasi anak dengan
banyak cara. Mungkin dengan menyentuh tubuhnya sambil berkata, sambil

23
Paul Suparno, op. cit., hlm.26.
bercerita atau bahkan sambil bernyanyi sekalipun. Meskipun anak kita tidak bisa
memahami dengan apa yang kita bicarakan, ceritakan atau yang kita nyanyikan,
mendengar saja pun sudah cukup. Karena mendengar merupakan sebuah unsur
yang sangat penting dalam memahami sebuah bahasa.
b) Kecerdasan Logika-Matematika. (Logical-mathematical intelligence)
Kecerdasan logika dan matematika adalah kemampuan seseorang dalam
memecahkan masalah. Ia mampu memikirkan dan menyusun solusi (jalan
keluar) dengan urutan yang logis (masuk akal). Ia suka angka, urutan, logika dan
keteraturan. Ia mengerti pola hubungan, ia mampu melakukan proses berpikir
deduktif dan induktif. Proses berpikir deduktif artinya cara berpikir dari hal-hal
yang besar kepada hal-hal yang kecil. Proses berpikir induktif artinya cara
berpikir dari hal-hal yang kecil kepada hal-hal yang besar. Ini adalah jenis
keterampilan yang sangat dikembangkan pada diri insinyur, ilmuwan, ekonom,
akuntan, detektif, dan para anggota profesi hukum.
24
Orang yang mempunyai inteligensi matematis-logis sangat mudah
membuat klasifikasi dan kategorisasi dalam pemikiran serta cara mereka
bekerja. Dalam menghadapi banyak persoalan, dia akan mencoba
mengelompokkannya sehingga mudah dilihat mana yang pokok dan yang tidak,
mana yang berkaitan antara yang satu dengan yang lain, serta mana juga yang
merupakan persoalan lepas. Maka, dia tidak mudah bingung. Mereka juga

24
Imanuella F. Rachmani, op. cit., hlm.27.
dengan mudah membuat abstraksi dan suatu persoalan yang luas dan bermacam-
macam sehingga dapat melihat inti persoalan yang dihadapi dengan jelas.
Kecedasan logika matematika juga terkait erat dengan kecerdasan
linguistik, terutama dalam kaitananya dengan penjabaran alasan-alasan logika-
matematika. Gardner menjelaskan bahwa Seseorang dengan kecerdasan logika-
matematika menonjol, dapat mengkonstruksikan sebuah solusi sebelum hal itu
diartikulasikan. Gardner mengkategorikan kecerdasan logika-matematika
seseorang kerapkali tak hanya mengandalkan keterampilan seseorang
menganalisis, melainkan juga sebuah kemampuan intuitif menuju sebuah
jawaban atau solusi.
25
Dapat dikatakan, kecerdasan tertentu bisa jadi diasah agar
terampil, meskipun pada dasarnya setiap manusia memiliki kecenderungan
untuk cerdas di satu bidang tanpa harus bersusah payah mengasahnya.
Orang dengan kemampuan logika-matematika yang baik, pada dasarnya
haus akan pencarian rumus atau pola. Hal ini biasanya diawali dengan
kesukaannya terlibat dalam kegiatan dengan konsep matematis yang kental.
Mengapa matematika? Karena matematika merupakan salah satu bidang yang
pada dasarnya berusaha mencari pola atau rumusan. Namun kemudian, minat
anak-anak yang memiliki tingkat kecerdasan logika-matematika yang tinggi
akan merambah, tidak hanya pada kegiatan unsure strategis dan matematis,
melainkan juga pada kegiatan yang bersifat analitis dan mengkonsep.
Semakin tinggi tingkat usia seseorang maka kegiatan yang mereka geluti
akan semakin bersifat abstrak, sehingga anak-anak yang memiliki kecerdasan

25
Howar Gardner, Multiple Intelligences. The Theory In Practice (New York: Basic Books, 1993)
hlm 34
logika-matematika yang sangat baik biasanya memilih profesi yang
mengandalkan abstraksi logis-simbolis. Misalnya saja, mereka kelak akan
memilih profesi sebagai seorang filusuf, peneliti, insinyur.
Tokoh-tokoh dunia dengan kecerdasan logika-matematika yang luas biasa
antara lain; Archimedes, tokoh penemu yang dikenal dengan seruan Eureka, Sir
Isaac Newton, pencetus hukum Gravitasi, Galileo, penemu teleskop,
Phytagoras, penemu hukum matematika phytagoras, Einstein, pencetus hukum
relativitas, Copernicus, pencetus konsep bumi bulat.
26
c) Kecerdasan Visual-Spasial (Spatial-Visual intelligence)
Kecerdasan visual dan spasial adalah kemampuan untuk melihat dan
mengamati dunia visual dan spasial secara akurat (cermat). Visual artinya
gambar, spasial yaitu hal-hal yang berkenaan dengan ruang atau tempat.
Kecerdasan ini melibatkan kesadaran akan warana, garis, bentuk, ruang, ukuran
dan juga hubungan di antara elemen-elemen tersebut. Kecerdasan ini juga
melibatkan kemampuan untuk melihat obyek dari berbagai sudut pandang.
Kecerdasan visual-spasial ini memungkinkan orang membayangkan
bentuk-bentuk geometri atau tiga dimensi dengan lebih mudah. Ini karena ia
mampu mengamati dunia spasial secara akurat dan mentransformasi presepsi ini.
Termasuk didalamnya adalah kapasitas untuk menvisualisasikan, menghadirkan
visual dengan grafik atau ide spasial, dan untuk mengarahkan diri sendiri dalam
ruang secara cepat.

26
Imanuella F. Rachmani, op. cit., hlm.28.
Visual-spasial bisa diartikan juga sebagai sebuah model yang melihat
secara deskriptif bagaimana seorang individu menggunakan kecerdasan mereka
untuk memecahkan masalah dan menghasilkan bentuk. Pendekatan ini
merupakan sarana bagaimana pikiran manusia mengoprasikan isi dunia, baik itu
orang, objek atau suara. Anak-anak dengan kecerdasan visual-spasial yang tinggi
biasanya berpikir mengunakan gambar atau image. Mereka juga menyukai
kegiatan yang ada hubungannya dengan visual-spasial, seperti bermain puzzle,
menggambar, bermain balok, membangun bentuk, mendesain, merancang atau
menggambar pola.
Anak-anak dengan kecenderungan kecerdasan ini biasanya mengamati
lingkungan secara holistik, menyimpan informasi dalam bentuk nonsekuen. Ini
dikarenakan kekuatan proses belahan otak bagian kanan. Dan seseorang yang
memiliki kecerdasan ini juga punya presepsi yang tepat tentang suatu benda
dengan ruang di sekitarnya, ia dapat memandang dari segala sudut. Maka, ia
dapat menggambarkan kedudukan ruang dengan baik. Dalam kehidupan sehari-
hari, seoarang yang memiliki kecerdasan ini dengan mudah akan menemukan
jalan dalam ruang dan suatu tempat, ia meliihat peta kota dengan mudah. Dan ia
tidak mudah bingung apabila berada pada suatu daerah karena ia akan cepat
beradaptasi dan dapat mudah mencari jalan keluar kembali.
Imajinasi orang yang memiliki kecerdasan ini sungguh aktif, mereka juga
dapat mengungkapkan gagasannya dalam grafik yang lebih jelas dan ringkas.
Orang yang memiliki jenis kecerdasan ini kelak dimungkinkan akan berprofesi
sebagai arsitek, seniman, pemahat, pelaut, fotografer, dan perencana strategis.
Beberapa tokoh yang memiliki kecenderungan kecedasan ini diantaranya adalah:
Pablo Picasso (pelukis internasional), Sidharta (seorang pemahat), Affandi
(pelukis di Yogyakarta).
27
d) Kecerdasan Gerak-Tubuh (Bodily-kinesthetic intelligence)
Kecerdasan gerak tubuh atau ialah kemampuan dalam menggunakan tubuh
kita secara terampil untuk mengungkapkan ide, pemikiran dan perasaan.
Kecerdasan ini juga meliputi keterampilan fisik dalam bidang koordinasi,
keseimbangan, daya tahan, kekuatan, kelenturan dan kecepatan. Kemampuan
seperti ini biasanya dimiliki oleh para atlet, aktor, pemahat, ahli bedah atau
seniman tari.
Kecerdasan gerakan tubuh yang sering juga disebut body smart ini,
memang penemuan Gardner yang paling controversial, karena beberapa oaring
berpendapat control terhadap fisik bukanlah bentuk dari kecerdasan. Namun,
Gardner dan peneliti-peneliti lain dalam bidang multiple intelligences
mempertahankan pendapatnya. Individu dengan kecerdasan gerakan tubuh,
secara alami memilliki tubuh yang atletis dan memiliki keterampilan fisik. Ia
juga meimiliki kemampuan dan merasakan bagaimana seharusnya tubuh
membentuk. Mereka ahli menggunakan seluruh tubuh untuk mengekspresikan
ide dan perasaan, dan dalam penggunaan tangan untuk manghasilkan atau
memindahkan sesuatu. Kecerdasan ini juga termasuk keterampilan koordinasi,
keseimbangan, kelenturan, kekuatan, fleksibilitas dan kecepatan.
28

27
Ibid, hlm.42.
28
Paul Suparno, op. cit., hlm.35.
Orang yang mimiliki kecerdasan gerak tubuh dapat dengan mudah
mengungkapkan diri dengan gerak tubuh mereka. Apa yang mereka pikirkan dan
rasakan dengan mudah diekspresikan dengan gerak tubuh, dengan tarian dan
ekspresi tubuh. Mereka juga dengan mudah dapt memainkan mimik, drama, dan
peran. Mereka dengan lihai melakukan gerakan tubuh dalam olahraga dengan
segala macam variasinya. Secara sederhana, mereka dapat menyalurkan apa
yang mereka hidupi dengan gerak tubuh. Orang yang kuat dalam kecerdasan
gerak tubuh juga sangat baik dalam menjalankan operasi bila ia seorang dokter
bedah.
Siswa yang yang mempunyai kecerdasan gerak tubuh biasanya suka
menari, olahraga, dan suka bergerak. Siswa ini biasanya tidak suka diam, ingin
selalu menggerakkan tubuhnya. Bila ada waktu luang dan tidak ada pelajaran,
anak-anak dengan kecerdasan gerak tubuh ini dengan segara berlari-lari dan
bermain di lapangan sekolah. Seorang pendidik yang melihat siswa-siswinya
berlatih tari atau dansa akan dengan cepat mengenali siswa mana yang memiliki
inteligensi yang paling menonjol di sini. Demikian pula seorang pelatih sepak
bola dengan cepat akan tahu siswa yang mana punya kelihaian lebih dalam
mengolah bola. Beberapa tokoh berikut ini termasuk orang yang memiliki
kecerdasan gerak tubuh yang sangat luar biasa, diantaranya; Cristian Ronaldo
(pemain sepak bola terbaik dunia), Usain Bolt (pelari tercepat di dunia),
Martha Graham (penari balet), Jaky Chan (aktor film laga ), Simon Santoso
(pemain bulu tangkis nasional)
e) Kecerdasan Musikal (Musical intelligence)
Kecerdasan musik adalah kemampuan untuk menikmati, mengamati,
membedakan, mengarang, membentuk dan mengekspresikan bentuk-bentuk
musik. Kecerdasan ini meliputi kepekaan terhadap ritme, melodi dan timbre dari
musik yang didengar. Musik mempunyai pengaruh yang sangat besar
terhadap perkembangan kemampuan matematika dan ilmu sains dalam diri
seseorang. Apabila seorang anak tumbuh dan dididik dalam sebuah setting
budaya yang mengagungkan keterampilan atau kemampuan musik, besar
kemungkinan potensi musik anak terasah dan berkembang.
29
Orang yang menonjol kecerdasan musikalnya sangat peka terhadap suara
dan musik. Mereka dengan mudah belajar dan bermain musik secara baik.
Bahkan, sejak kecil sering kali mereka dapat menangkap dan mengerti struktur
musik. Itulah yang banyak dialami oleh para komponis musik. Mereka dengan
mudah juga menciptakan melodi dan lagu. Mereka menyenangi dan tidak mudah
bosan dengan apapun yang berbau musik. Banyak dari mereka mudah menyanyi
dan menjadi hidup dalam pentas-pentas musik. Yang menonjol adalah mereka
dapat mengungkapkan perasaan dan pemikirannya dalam bentuk musik. Mereka
dengan mudah mempelajari sesuatu bila dikaitkan dengan musik atau dalam
lagu.
30
Telah di teiliti di 17 negara terhadap kemampuan anak didik usia 14 tahun
dalam bidang sains. Dalam penelitian itu ditemukan bahwa anak dari negara
Belanda, Jepang dan Hongaria mempunyai prestasi tertinggi di dunia. Saat di

29
Imanuella F. Rachmani, op. cit., hlm.72.
30
Paul Suparno, op. cit., hlm.37.
teliti lebih mendalam ternyata ketiga negara ini memasukkan unsur ini ke dalam
kurikulum mereka. Selain itu musik juga dapat menciptakan suasana yang rileks
namun waspada, dapat membangkitkan semangat, merangsang kreativitas,
kepekaan dan kemampuan berpikir. Belajar dengan menggunakan musik yang
tepat akan sangat membantu kita dalam meningkatkan daya ingat. Kecerdasan
jenis ini adalah bakat yang dimiliki oleh para musisi, komposer, perekayasa
rekaman.
Bagi para pendidik, kecerdasan musikal sering dilihat sebagai sebuah
bakat musik yang bersumber pada kemampuan alamiah atau karunia yang hanya
dimiliki oleh orang-orang tertentu. Dengan demikian kecerdasan yang
diasosiasikan dengan konsep kemampuan bermusik, selalu dianggap tidak
berhubungan dengan tingkat pencapaian atau prestasi tinggi dalam area atau
bidang akademik lain. Padahal sebenarnya tidaklah demikian, karena kecerdasan
musikal juga berkaitan dengan kecerdasan linguistik dan kecerdasan logika
matematika. Memang seseorang yang cerdas musik belum tentu dapat menjadi
komposer hebat apabila tidak memiliki kemampuan linguistik serta logika
matematika yang baik. Untuk itu, upaya mengasah kecerdasan musik tak hanya
ditujukan untuk prestasi musikal, melainkan perlu diupayakan juga menjaga
keseimbangan perkembangan anak.
Tokoh-tokoh dengan kecerdasan musikal yang tinggi adalah para
komponis dan musisi terkenal dunia, seperti Mozart, Bach, Beethoven,
Debussy, Jhon Lenon, dan Carlos Santana. Selain memiliki kecerdasan
musikal yang tinggi, mereka juga memiliki kecerdasan lain yang mendukung
kecerdasan yang dimilikinya seperti kecerdasan logika matematika atau
linguistik. Hal ini dibuktikan dengan bagaimana mereka mengatur ritme lagu,
merancang program-program musik dan bahkan menjadi guru musik.
31
Secara
singkat, meskipun kecerdasan musikal tak tampak sebagai bentuk kecerdasan
yang nyata, seperti kecerdasan logika matematika atau linguistik, tetapi apabila
dilihat dari sudut pandang neurologi, pemahaman dan keterampilan musikal
seseorang berkembang selaras dengan bentuk kecerdasan lain.
f) Kecerdasan Interpersonal (Interpersonal intelligence)
Kecerdasan interpersonal ialah kemampuan untuk mengerti dan menjadi
peka terhadap perasaan, intensi, motivasi, watak, temperamen, serta gerakan
tubuh orang lain. Kepekaan akan ekspresi wajah, suara, isyarat dari orang lain
juga termasuk dalam kecerdasan ini. Secara umum kecerdasan interpersonal
berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk menjalin relasi dan komunikasi
dengan berbagai orang. Kecerdasan ini juga mampu untuk masuk ke dalam diri
orang lain, mengerti dunia orang lain, mengerti pandangan, sikap orang lain dan
umumnya dapat memimpin kelompok. Kecerdasan jenis ini biasanya dimiliki
oleh para pemimpin, para guru, fasilitator, motivator, polisi, pemuka agama, dan
penggerak massa.
32
Orang yang memiliki kecerdasan interpersonal tinggi biasanya sangat
mudah bekerja sama dengan orang lain, mudah berkomunikasi dengan orang
lain. Hubungan dengan orang lain bagi mereka yang memiliki kecerdasan ini

31
ibid, hlm.38.
32
Imanuella F. Rachmani, op. cit., hlm.84.
sungguh serasa sangat menyenangkan. Mereka dengan mudah mengenali dam
membedakan perasaan serta apa yang dialami teman dan orang lain. Kebanyakan
mereka peka terhadap teman, terhadap penderitaan orang lain, dan mudah
berempati yakni mampu memahami dan merasakan perasaan orang lain saat
berinteraksi dengan orang tersebut. Banyak diantaranya suka member masukan
kepada teman, saudara atau orang lainnya hal ini bertujuan agar mereka maju.
Maka, tidak jarang sekali dia berperan sebagai komunikator, sebagai fasilitator
dalam pertemuan atau dalam perbincangan masalah penting. Dan mereka juga
dengan mudah menjadi penggerak massa karena kemampuannya mendekati
massa itu. Bila menjadi pemimpin, orang yang memiliki kecerdasan ini
biasannya disukai karena pendekatannya yang baik kepada para anggota,
mengerti dan menghargai perasaan anggota.
Kecerdasan ini juga merupakan faktor utama yang turut mempengaruhi
kesuksesan seorang anak menjalin hubungan sosial di lingkungannya. Karena
dengan kecerdasan inilah seorang anak cenderung lebih baik dan mudah
menjalin interaksi sosial. Anak yang memiliki kecenderungan kecerdasan ini
juga menyenangi kegiatan yang menuntut bekerja sama dengan orang lain,
seperti dalam kelompok olahraga atau sebagainya dan anak yang memiliki
kecerdasan ini juga gemar berhumor saat berkomunikasi dan menjalin hubungan
dengan lingkungan sosialnya. Dalam konteks belajar, anak yang memiliki
kecerdasan interpersonal lebih suka belajar dengan orang lain, lebih suka
mengadakan studi kelompok. Dalam suatu kelas, bila guru memberikan
pekerjaan atau tugas secara bebas, siswa-siswa yang memiliki kecerdasan
interpersonal akan dengan cepat berdiri dan mencari teman yang mau diajak
kerja sama.
Walaupun anak sering mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan
kecerdasan interpersonalnya saat tengah melakukan kegiatan di sekolah, namun
tak ada salahnya apabila orang tuapun turut mendukung si anak kala berada di
rumah. Orang tua dapat memberi rangsangan yang mendukung perkembangan
kecerdasan interpersonal anak dengan memberinya contoh yang baik dalam
bertingkah laku dan berbahasa, membimbingnya dalam memecahkan suatu
masalah, mangajaknya berdiskusi, mengajarkan menghargai orang lain, dan
mengajarkan anak untuk mampu mendengarkan pendapat dan berempati
terhadap orang lain. Ini semua disebut prilaku prososial, yaitu latihan kesiapan
yang diperlukan anak agar kelak perilakunya dapat diterima di lingkungan
sosial.
g) Kecerdasan Intrapersonal (Intrapersonal intelligence)
Kecerdasan intrapersonal atau cerdas diri adalah kemampuan yang
berhubungan dengan kesadaran dan pengetahuan tentang diri sendiri serta
kemampuan untuk bertindak secara adaptatif berdasar pengenalan diri itu, dapat
memahami kekuatan dan kelemahan diri sendiri, mampu memotivasi dirinya
sendiri dan melakukan disiplin diri. Orang yang memilki kecerdasan ini sangat
menghargai nilai, etika dan moral, serta memiliki kesadaran tinggi akan
gagasan-gagasannya. Ia sadar akan tujuannya hidupnya sehingga tidak ragu-ragu
untuk mengambil keputusan pribadi. Kecerdasan seperti ini biasanya dimiliki
oleh para filosof, penyuluh agama, pembimbing, serta kadang kala pemimpin
juga memiliki kecerdasan ini.
Orang yang memiliki Kecerdasan ini biasanya mudah berkonsentrasi
dengan baik karena dapat mengatur perasaan dan emosinya sehingga kelihatan
sangat tenang. Pengenalan akan dirinya sungguh sangat mendalam dan
seimbang, kesadaran spiritualitasnya juga sangat tinggi. Orang tipe ini
kebanyakan refleksif dan suka bekerja sendirian. Bahkan, kadang kala mereka
suka menyepi sendiri di tempat terasing. Sehingga tidak heran jika kita melihat
seorang siswa yang memilih untuk mengasingkan diri dan termenung di suatu
tempat ketika siswa-siswa lain tengah asyik bermain pada jam istirahat. Atau
bahkan tidak tertarik jika gurunya memberikan tugas kelompok. Guru yang tidak
tahu sering mamarahi siswa ini karena dianggap tidak menanggapi perintah.
Padahal dengan mengasingkan diri itu seorang siswa dapat berpikir dalam.
Perlu diketahui, bahwasanya anak bertipe kecerdasan intrapersonal ini
bukanlah anak yang tergolong dalam individu yang anti sosial, karena
sesungguhnya dengan kecerdasan intrapersonal anak ini kelak akan tumbuh
menjadi seorang individu yang memiliki kepekaan sangat baik saat melakukan
relasi dengan individu lainnya. Ia dapat melakukan introspeksi diri, memiliki
proses berfikir yang dalam, memiliki kebebasan untuk berkreativitas, memiliki
intuisi yang baik, dan memiliki motivasi diri yang baik pula. Dengan kecerdasan
intrapersonal yang menonjol, seorang anak memiliki keinginan kuat untuk
meraih suatu tujuan yang ingin ia capai, memiliki rasa percaya diri yang baik,
dan juga memiliki cara berfikir yang positif kala menghadapi berbagai pendapat
dari berbagai topik pembicaraan.
Tokoh-tokoh seperti Neil Amstrong, Helen Keller, Columbus, atau pun
Sir Edmond Hilarry merupakan beberapa contoh orang yang memiliki
kehidupan sukses dengan kecerdsan intrapersonal luar biasa yang mereka miliki.
Jika seorang anak mampu mengembangkan kecerdasan intrapersonalnya dengan
baik, maka dia akan memiliki kesuksesan yang baik pula di masa datang.
Dengan demikian ada baiknya apabila orang tua tak terburu-buru mengira buah
hatinya bermasalah dalam hal hubungan sosial karena sikap diam dan
pemalunya. Justru orang tua harus lebih memiliki kepekaan dalam meliihat
kelebihan salah satu aspek kecerdasan yang dimiliki anaknya.
33
h) Kecerdasan Naturalis ( Naturalist intelligence)
Kecerdasan naturalis adalah kemampuan untuk mengenali, membedakan,
mengungkapkan dan membuat kategori terhadap apa yang di jumpai di alam
maupun lingkungan. Intinya adalah kemampuan manusia untuk mengenali
tanaman, hewan dan bagian lain dari alam semesta, melakukan pemilahan-
pemilahan runtut dalam dunia kealaman, dan menggunakan kemampuan ini
secara produktif- misalnya berburu, bertani, atau melakukan penelitian biologi.
Kecerdasan seperti ini biasanya dimiliki oleh para pecinta alam, para petani,
pendaki gunung, pemburu.
Ide Gardner tentang kecerdasan naturalis baru muncul pada tahun 1995
dan dipublikasikan tahun 1997. Sampai sekarang teori tentang kecerdasan ini

33
ibid, hlm.103.
masih terus dalam proses penyempurnaan. Orang tua dan guru mungkin sangat
berminat dengan kecerdasan yang satu ini, karena manifestasi dari kecerdasan
ini sangatlah tidak lazim. Bahkan kerap kali tidak muncul dalam proses belajar
mengajar di sekolah. Misalnya saja, anak lebih suka bermain di luar rumah
seperti di taman atau di kebun, anak tampak lebih senang menyendiri mengamati
barisan semut dan meneliti bunga-bunga, memandangai awan atau bermain-main
dengan hewan peliharaan seperti anjing, kucing atau kelinci.
Siswa yang memiliki kecerdasan naturalis tinggi biasanya dapat dilihat
dari kemampuannya mengenal, mengklafikasi, dan menggolongkan tanaman-
tanaman, binatang serta alam mini yang ada di sekolah. Mengenali anak dengan
kecerdasan naturalis sama seperti mangenali kecerdasan di bidang lainnya. Bila
anak dengan mudah menandai pola dan benda-benda alam, dapat mengingat
benda-benda alam yang ada di lingkungannya, serta gemar mengamati,
menyukai binatang-binatang dan menandai hal-hal yang khas pada binatang itu,
maka ia dapat dikatakan memiliki kecerdasan naturalis yang tinggi. Selain itu,
anak dengan kecenderungan kecerdasan ini juga sangat menikmati aktivitas
berkemah, serta duduk diam mengamati perbedaan dan perubahan alam.
Gardner mengatakan, kecerdasan naturalis adalah kecerdasan yang
dimiliki semua orang sejak lahir sampai awal-awal kehidupannya. Anak-anak
kecil menunujukkan kecerdasan ini lebih baik dibandingkann orang dewasa.
Mengapa? Karena anak-anak menikmati lingkungan alam secara mandalam dan
tidak menganggap lingkungan sekitarnya hanyalah lartar belakang dari setiap
peristiwa yang ia alami. Mungkin yang dimaksud adalah, anak-anak kecil tidak
mangambil jarak dengan lingkungan sekitarnya. Ia dan alam masih menyatu.
Kecerdasan naturalis ini akan semakin terasa apabila anak-anak tersebut
tetap tinggal di lingkungan yang terus-menerus memberinya rangsangan. Anak-
anak yang hidup dalam budaya agraris atau petani, pemburu dan nelayan,
umumnya memiliki kecerdasan naturalis yang menonjol, dan kecerdasan ini
bertahan hingga mereka dewasa. Hal ini karena mereka terus-menerus hidup
dalam lingkungan yang menuntutnya menggunakan kecerdasan naturalis yang
mereka miliki. Salah satu contoh tokoh terkenal dunia yang memiliki
kecenderungan kecerdasan naturalis tinggi adalah Charles Darwin.
Kemampuan Darwin untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasi serangga,
burung, ikan, mamalia, membantu mengembangkan teori evolusi.
34
Menurut Gardner, dalam diri seseorang terdapat delapan kecerdasan
tersebut. Delapan kecerdasan yang dimiliki oleh manusia ini mengungkapkan
kepada kita bahwa ada banyak jendela menuju satu ruangan yang sama di mana
subjek-subjek pelajaran dapat didekati dari berbagai perspektif. Dan ketika siswa
mampu menggunakan bentuk-bentuk kecerdasan mereka yang paling kuat,
mereka akan menemukan bahwa belajar itu mudah dan menyenangkan.
Kedelapan kecerdasan dalam diri seseorang ini dapat dikembangkandan
ditingkatkan secara memadahi sehingga dapat berfungsi bagi orang tersebut. Ini
menunjukkan bahwa kedelapan kecerdasan itu bukan hal yang sudah mati tidak
terkembangkan, melainkan masih dapat ditingkatkan. Disinilah pendidikan

34
Paul Suparno, op. cit., hlm.43.
mempunyai fungsi, yaitu membantu agar setiap kecerdasan pada diri seseorang
berkembang optimal.
Gardner juga mengungkapkan bahwa seorang siswa akan mudah
menangkap materi yang disampaikan guru, bila materi itu disamapaikan dengan
menggunakan pendekatan kecerdasan yang dimiliki oleh siswa tersebut. Maka,
seorang siswa yang memiliki kecerdasan kinestetik-tubuh dapat juga mempelajari
fisika dengan mudah bila pelajaran itu disajikan dengan tari atau gerak. Di sinilah
tantangan bagi guru untuk merencanakan pengejarannya yang sesuai dengan
kecerdasan siswa.
Ada baiknya kita mulai menjajaki jenis kecerdasan kita sendiri mana yang
sudah berkembang dan mana yang belum. Dari delapan kecerdasan tersebut,
manakah yang menjadi keunggulan kita dan mana yang belum kita gunakan
secara maksimal?. Dengan mengetahui bahwa anda memilki kelebihan atau
kekurangan pada kecerdasan tertentu, kita akan dapat berbenah diri dan
meningkatakn kemampuan kita semaksimal mungkin.
B. SEKOLAH UNGGUL
1. Pengertian Sokolah Unggul
Sekolah adalah lembaga pendidikan formal yang didirikan oleh
masyarakat untuk belajar anak-anak yang berumur empat tahun keatas.
35
Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang menunjang pembanguna
masyarakat. Oleh karena itu kegiatan sekolah dalam semua bidang harus relevan
dengan kegiatan masayarakat, khususnya masyarakat, dimana sekolah itu

35
Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam(IPI) (Bandung: Pustaka Setia, 1998), hlm. 233
berada. Hubungan timbal balik yang sebaik-baiknya antara sekolah dan
masyarakat sangat diperlukan agar peningakatan mutu pendidikan dan kegiatan
pembangunan saling menunjang.
36
Sekolah unggul merupakan lembaga pendidikan yang lahir dari sebuah
keinginan untuk memiliki sekolah yang mampu berprestasi di tingkat nasional
dan dunia dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi oleh ditunjang
oleh akhlakul karimah. sekolah unggul dikembangkan untuk mencapai
keistimewaan dalam keluaran pendidikannya. Untuk mencapai keistimewaan
tersebut, maka masukan, proses pendidikan, guru dan tenaga kependidikan,
manajemen, layanan pendidikan, serta sarana penunjangnya harus diarahkan
untuk menunjang tercapainya tujuan tersebut.
37
Konsep sekolah unggulan menimbulkan berbagai arti yang berbeda dalam
masyarakat saat ini, bahkan kian merebak dan ramai, manakala masing-masing
orang mempunyai konsep tersendiri tentang sekolah yang mempunyai kualitas
unggul. Pengertian sekolah unggul sebenarnya mempunyai beberapa tipe yang
masing-masing memiliki ciri khas sendiri-sendiri bila inputnya unggul,
meskipun proses belajar mengajarnya tidak luar biasa, maka lulusnya akan
bermutu unggul. Keunggulan sekolah ini memang merupakan bawaan sebelum
siswa masuk ke sekolah tersebut.
38

36
Perum Penerbit, Pedoman Umum Penyelenggara Administrasi Sekolah Menengah, (Jakarta,
Balai pustaka, 1989). hlm. 358.
37
Departemen Agama RI, Desain Pengembangan Madrasah (Jakarta: Direktorat Jenderal
Kelembagaan Agama Islam, 2004), hlm 41.
38
Moedjiarto, Sekolah Unggul (metodologi untuk meningkatkan mutu pendidikan),Jakarta, Duta
Graha Pustaka, 2002. hlm3.
Sekolah unggulan yang sebenarnya dibangun secara bersama-sama oleh
seluruh warga sekolah, bukan hanya oleh pemegang otoritas pendidikan. Dalam
konsep sekolah unggulan yang saat ini diterapkan, untuk menciptakan prestasi
siswa yang tinggi maka harus dirancang kurikulum yang baik yang diajarkan
oleh guru-guru yang berkualitas tinggi. Padahal sekolah unggulan yang
sebenarnya, keunggulan akan dapat dicapai apabila seluruh sumber daya sekolah
dimanfaatkan secara optimal. Berarti tenaga administrasi, pengembang
kurikulum di sekolah, kepala sekolah, dan penjaga sekolah pun harus dilibatkan
secara aktif. Karena semua sumber daya tersebut akan menciptakan iklim
sekolah yang mempu membentuk keunggulan sekolah.
Keunggulan sekolah terletak pada bagaimana cara sekolah merancang-
bangun sekolah sebagai organisasi. Maksudnya adalah bagaimana struktur
organisasi pada sekolah itu disusun, bagaimana warga sekolah berpartisipasi,
bagaimana setiap orang memiliki peran dan tanggung jawab yang sesuai dan
bagaimana terjadinya pelimpahan dan pendelegasian wewenang yang disertai
tangung jawab. Semua itu bermuara kepada kunci utama sekolah unggul adalah
keunggulan dalam pelayanan kepada siswa dengan memberikan kesempatan
untuk mengembangkan potensinya.
Bila boleh mengkritisi, pelaksanaan sekolah unggulan di Indonesia
memiliki banyak kelemahan diantaranya:
Pertama, sekolah unggulan di sini membutuhkan legitimasi dari
pemerintah bukan atas inisiatif masyarakat atau pengakuan masyarakat.
Sehingga penetapan sekolah unggulan cenderung bermuatan politis dari pada
muatan edukatifnya. Apabila sekolah unggulan didasari atas pengakuan
masyarakat maka pemerintah tidak perlu mengucurkan dana lebih kepada
sekolah unggulan, karena masyarakat akan menanggung semua biaya atas
keunggulan sekolah itu.
Kedua, sekolah unggulan hanya melayani golongan kaya, sementara itu
golongan miskin tidak mungkin mampu mengikuti sekolah unggulan walaupun
secara akademis memenuhi syarat. Untuk mengikuti kelas unggulan, selain harus
memiliki kemampuan akademis tinggi juga harus menyediakan uang jutaan
rupiah. Artinya penyelenggaraan sekolah unggulan bertentangan dengan prinsip
equity yaitu terbukanya akses dan kesempatan yang sama bagi setiap orang
untuk menikmati pendidikan yang baik. Keadilan dalam penyelenggaraan
pendidikan ini amat penting agar kelak melahirkan manusia-manusia unggul
yang memiliki hati nurani yang berkeadilan.
Ketiga, profil sekolah unggulan kita hanya dilihat dari karakteristik
prestasi yang tinggi berupa NEM, input siswa yang memiliki NEM tinggi,
ketenagaan berkualitas, sarana prasarana yang lengkap, dana sekolah yang besar,
kegiatan belajar mengajar dan pengelolaan sekolah yang kesemuanya sudah
unggul. Wajar saja bila bahan masukannya bagus, diproses di tempat yang baik
dan dengan cara yang baik pula maka keluarannya otomatis bagus. Yang
seharusnya disebut unggul adalah apabila masukan biasa-biasa saja atau kurang
baik tetapi diproses ditempat yang baik dengan cara yang baik pula sehingga
keluarannya bagus.
Oleh karena itu penyelenggaraan sekolah unggulan harus segera
direstrukturisasi agar benar-benar bisa melahirkan manusia unggul yang
bermanfaat bagi negeri ini. Bibit-bibit manusia unggul di Indonesia cukup besar
karena prefalensi anak berbakat sekitar 2 %, artinya setiap 1.000 orang terdapat
20 anak berbakat. Berdasarkan prakiraan Lembaga Demografi UI (1991)
penduduk usia sekolah di Indonesia tahun 2000 diperkirakan sebesar
76.478.249, maka kita akan memiliki anak berbakat (baca: unggul) sebanyak
1.529.565 orang. Jumlah ini cukup untuk memenuhi kebutuhan pimpinan dari
tingkat nasional, propinsi, kabupaten/kota, dan kecamatan.
39
Beda lagi dengan apa yang dikatakan oleh Munif Chatib dalam bukunya
“Sekolahnya Manusia” dia mengatakan bahwa:
“Sekolah unggul adalah sekolah yang fokus pada kualitas pembelajaran, bukan
pada kualitas input siswanya. Kualitas proses pembelajaran bergantung pada
kualitas para guru yang mengajar di sekolah tersebut. Apabila kulitas guru di
sekolah tersebut baik, mereka akan berperan sebagai “agen pengubah” siswanya.
Sekolah unggul adalah sekolah yang para gurunya mampu menjamin semua siswa
akan dibimbing ke arah perubahan yang lebih baik, bagaimanapun kualitas
akademis dan moral yang mereka miliki. Dengan kata lain, sekolah yang mampu
mengubah kualitas akademis dan moral siswanya dari negative menjadi positif,
itulah sekolah unggul.”
40
2. Kriteria Sekolah Unggul
Sekolah unggulan adalah sekolah yang mampu membawa setiap siswa
mencapai kemampuannya secara terukur dan mampu ditunjukkan prestasinya
tersebut. Berikut ini beberapa kriteria sebuah sekolah bisa dikatakan unggulan:

39
Nurkolis, Sekolah Unggulan Yang Tidak Unggul.(Jakarta: Jurnal Pendidikan, 2006)
40
Munif Chatib, op.cit, hlm .93.
pertama, program sekolah unggulan tidak perlu memisahkan antara anak
yang memiliki bakat keunggulan dengan anak yang tidak memiliki bakat
keunggulan. Kelas harus dibuat heterogen sehingga anak yang memiliki bakat
keunggulan bisa bergaul dan bersosialisasi dengan semua orang dari tingkatan
dan latar berlakang yang beraneka ragam. Pelaksanaan pembelajaran harus
menyatu dengan kelas biasa, hanya saja siswa yang memiliki bakat keunggulan
tertentu disalurkan dan dikembangkan bersama-sama dengan anak yang
memiliki bakat keunggulan serupa. Misalnya anak yang memiliki bakat
keunggulan seni tetap masuk dalam kelas reguler, namun diberi pengayaan
pelajaran seni.
Kedua, dasar pemilihan keunggulan tidak hanya didasarkan pada
kemampuan intelegensi dalam lingkup sempit yang berupa kemampuan logika-
matematika seperti yang diwujudkan dalam test IQ. Keunggulan seseorang dapat
dijaring melalui berbagai keberbakatan seperti yang hingga kini dikenal adanya
8 macam kecerdasan.
Ketiga, sekolah unggulan jangan hanya menjaring anak yang kaya saja
tetapi menjaring semua anak yang memiliki bakat keunggulan dari semua
kalangan. Berbagai sekolah unggulan yang dikembangkan di Amerika justru
untuk membela kalangan miskin. Misalnya Effectif School yang dikembangkan
awal 1980-an oleh Ronald Edmonds di Harvard University adalah untuk
membela anak dari kalangan miskin karena prestasinya tak kalah dengan anak
kaya. Demikian pula dengan School Development Program yang dikembangkan
oleh James Comer ditujukan untuk meningkatkan pendidikan bagi siswa yang
berasal dari keluarga miskin. Accellerated School yang diciptakan oleh Henry
Levin dari Standford University juga memfokuskan untuk memacu prestasi yang
tinggi pada siswa kurang beruntung atau siswa beresiko. Essential school yang
diciptakan oleh Theodore Sizer dari Brown University, ditujukan untuk
memenuhi kebutuhan siswa kurang mampu.
Keempat, sekolah unggulan harus memiliki model manajemen sekolah
yang unggul yaitu yang melibatkan partisipasi semua stakeholder sekolah,
memiliki kepemimpinan yang kuat, memiliki budaya sekolah yang kuat,
mengutamakan pelayanan pada siswa, menghargasi prestasi setiap siswa
berdasar kondisinya masing-masing, terpenuhinya harapan siswa dan berbagai
pihak terkait dengan memuaskan.
41
Itu semua akan tercapai apabila pengelolaan sekolah telah mandiri di atas
pundak sekolah sendiri bukan ditentukan oleh birokrasi yang lebih tinggi. Saat
ini amat tepat untuk mengembangkan sekolah unggulan karena terdapat dua
suprastruktur yang mendukung yaitu:
Pertama, UU No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dimana
pendidikan termasuk salah satu bidang yang didesentralisasikan. Dengan adanya
kedekatan birokrasi antara sekolah dengan Kabupaten/Kota diharapkan perhatian
pemerintah daerah terhadap pengembangan sekolah unggulan semakin serius.
Kedua, adanya UU No. 25 tahun 2000 tentang Program Pembangunan
Nasional Tahun 2000-2004 yang didalamnya memuat bahwa salah satu program
pendidikan pra-sekolah, pendidikan dasar dan pendidikan menengah adalah

41
A Ghozali. et.al.. Administrasi Sekolah. (Jakarta: Cahaya Budi. 1977) hlm.74.
terwujudnya pendidikan berbasis masyarakat/sekolah. Melalui pendidikan
berbasis masyarakat/sekolah inilah warga sekolah akan memiliki kekuasaan
penuh dalam mengelola sekolah.
42
Di dalam bukunya ”Reformasi Visi Pendidikan Islam” Imam Suprayogo
juga menjelaskan bahwa jenis sekolah unggulan itu ada tiga yaitu:
1) Sekolah unggulan karena inputnya memang sudah terdiri dari siswa unggul
yang di jarring melalui seleksi ketat dan memiliki NEM/NUN yang sudah
ditentukan haarus tinggi. Dengan demikian, sebenarnya input bagi sekolah
tersebut adalah siswa yang sudah unggul, meskipun prosesnya tidak luar
biasa dugaan kita lulusan akan tetap bermutu unggul. Jadi unggul ini
“alamiah”
2) Sekolah unggul dalam hal fasilitas, karena fasilitas unggul maka sudah
barang tentu harga atau biaya pendidikannya juga tinggi. Fasiilitas yang
super lengkap ini bisa menyangkut fasilitas, asrama belajar lengkap, rasio
guru murid yang baik dengan harapan proses belajar akan berjalan lancar dan
lulusannya juga akan bermutu tinggi.
3) Sekolah unggulan yang penekanannya pada iklim belajar yang positif di
lingkungan sekolah. Tipe inilah yang banyak digalakkan di negara maju.
Dalam hal ini sekolah unggulan adalah yang mampu memproses siswa
bermutu rendah waktu masuk sekolah (input rendah) menjadi lulusan
bermutu tinggi.
43

42
Ibid, hlm. 76.
43
Imam Suprayogo, Reformasi Visi Pendidikan Islam (Malang: STAIN Press. 1999) hal .46
Setiap sekolah akan menjadi sekolah unggulan apabila diberi wewenang
untuk mengelola dirinya sendiri dan diberi tanggung jawab penuh. Selama
sekolah-sekolah hanya dijadikan alat oleh birokrasi di atasnya maka sekolah
tidak akan pernah menjadi sekolah unggulan. Bisa saja semua sekolah menjadi
sekolah unggulan yang berbeda-beda berdasarkan pontensi dan kebutuhan
warganya. Apabila semua sekolah telah menjadi sekolah unggulan maka tidak
sulit bagi negeri ini untuk bangkit dari keterpurukannya.
C. EVALUASI KINERJA GURU
1. Pengertian Evaluasi Kinerja Guru
Terdapat beberapa istilah yang mempunyai keterkaitan dengan evaluasi
tetapi memiliki penekanan pada aspek tetentu. Evaluasi merupakan terjemahan
bahasa Inggris evaluation yang identik dengan penilaian. Dalam penulisan ini
kedua istilah tersebut akan digunakan secara bersama-sama atau bergantian.
Istilah lain yaang mempunyai makna hampir sama dengan evaluasi adalah
assessment dan measurement (pengukuran). Membahas evaluasi tidak akan
terlepas dari pengukuran dan penilaian.
Evaluasi juga diartikan sebagai proses menyediakan informasi untuk
membuat keputusan. Evaluasi diartikan juga sebagai proses menetapkan
pertimbangan nilai berdasarkan pada peristiwa tentang suatu program atau
produk.
44
Evaluasi juga diartikan sebagai proses menentukan kesesuaian pada
produk, tujuan, prosedur, program, pendekatan dan fungsi. Kata kunci dari
pengertian evaluasi adalah proses, pertimbangan dan nilai. Jadi evaluasi
merupakan suatu proses yang dilakukan terhadap suatu kegiatan. Kegiatan dapat
berupa suatu program yang sudah direncanakan, sehingga untuk mengetahui
keberhasilan dan manfaatnya dilakukan proses penilaian. Evaluasi sebagai suatu
proses hanya menyiapkan data kepada pengambilan keputusan. Data yang
disediakan mengandung nilai yang dapat memberikan arti tergantung pada
pertimbangan yang dilakukan oleh pengambil keputusan.
45
Evaluasi kinerja merupakan kelanjutan dari kegiatan rekrutmen dan seleksi
atau penempatan pekerjaan. Evaluasi juga merupakan salah satu dari langkah
pemberdayaan guru atau pegawai dalam proses untuk menghasilkan tenaga yang
profesional, yang sangat berpengaruh dalam peningkatan mutu pendidikan. Pada
umumnya orang-orang yang berkecimpung dalam manajemen sumber daya
manusia berpendapat bahwa evaluasi kinerja para pegawai merupakan bagian
penting dari seluruh proses kegiatan karyawan yang bersangkutan. Pentingnya
evaluasi kinerja yang rasional dan diterapkan secara obyektif adalah merupakan
kepentingan bagi pegawai yang bersangkutan dan kepentingan organisasi. Bagi
para karyawan atau pegawai, evaluasi tersebut berperan sebagai umpan balik
tentang berbagai hal seperti kemampuan, keletihan, kekurangan, dan potensi yang
pada gilirannya akan sangat bermanfaat untuk menentukan tujuan, jalur, rencana

44
Mary Lee Smith & Glass Gene V. Research and Evaluation in Educationa and the Social
Science, (Englewood Cliffs New Jersey: Prentice Hall, Inc, 1987)
45
Bruce Shertzer & Shelley Stone, Fundamental of Guidance, Fouth Edition, (USA: 1981Purdue
Univercity), hlm. 464
dan pengembangan karirnya. Sedangkan bagi organisasi itu sendiri, evaluasi
kinerja pegawai atau karyawan adalah sangat penting arti serta peranannya dalam
pengambilan keputusan tentang berbagai hal, seperti identifikasi kebutuhan
38program pendidikan dan pelatihan, rekrutmen, seleksi, program pengenalan,
penempatan, promosi sistem imbalan dan berbagai aspek lain dari keseluruhan
program manajemen sumber daya manusia secara efektif.
46
Yang dimaksud evaluasi kinerja guru dalam penelitian ini adalah evaluasi
yang dilakukan kepada semua guru yang ada di dalam suatu organisasi pendidikan
pada tahap akhir setelah melalui tahap-tahap penelitian, perencanaan dan
penggiatan. Evaluasi secara umum diartikan sebagai suatu pengukuran atau
penilaian terhadap suatu perencanaan yang telah dilakukan oleh suatu organisasi
yang bisa dilakukan pada pertengahan bulan, akhir bulan atau pertengahan tahun
atau akhir tahun.
Secara spesifik pengertian evaluasi kinerja menurut Hadari Nawawi dalam
Frank Jefkins, Public Relations, merupakan penilaian secara sistematik tentang
relevansi antara tugas-tugas yang diberikan dengan pelaksanaannya oleh seorang
pegawai dengan cara mengidentifikasi, mengukur dan mengelola pekerjaan yang
dilaksanakan oleh para pekerja di lingkungan suatu organisasi. Kegiatan
pengukuran tersebut merupakan usaha untuk menetapkan keputusan tentang
sukses atau tidaknya pelaksanaan pekerjaan yang dilakukan oleh karyawan.
47

46
Sondang P. Siagian, Manajemen Sumber Daya Manusia, (Jakarta, PT. Bumi Aksara: 2002),
hlm. 223.
47
Frank Jefkins, Public Relations, (Jakarta, PT Rajawali Press:1992), hlm.157.
Evaluasi kinerja dalam hal ini disebut juga dengan penilaian kinerja.
Penilaian dilakukan secara sitematis terhadap kinerja karyawan dan potensi
mereka untuk berkembang. Penilaian kinerja mencakup prestasi kerja, cara
bekerja, dan pribadi mereka. Sedangkan penilaian terhadap potensi untuk
berkembang mencakup kreativitas dan hasil belajar atau kemampuan
mengembangkan profesinya.
48
Yang dimaksud dengan prestasi kerja ialah hasil pekerjaan, apakah
pekerjaan tersebut sudah sesuai dengan kritetia yang telah ditentukan sebelumnya
dan apakah sudah tepat penyelesaiannya dengan alokasi waktu yang telah
diberikan. Apakah hasil pekerjaan itu sudah memenuhi akuntabilitas atau sekedar
selesai. Cara bekerja mencakup ciri-ciri efektivitas dan efifiensi dalam bekerja.
Sedangkan ukuran penilaian pribadi karyawan ialah butir-butir pancasila yang
telah diuraikan antara lain sudah termasuk di dalamnya dedikasi dan motifasi yang
tinggi untuk berjuang dalam dunia pendidikan.
Kreativitas seorang karyawan atau guru dapat dilihat dari aktifitas orang
tersebut dalam melaksanakan tugas sehari-hari. Orang yang kreatif sering
berinisiatif melakukan sesuatu yang belum pernah ada di lingkungan kerjanya dan
bahkan sering mengemukakan ide-ide yang baru. Kalau seseorang sedang belajar,
juga akan tampak pada hasil karyanya yang tidak monoton, suatu hasil karya yang
menunjukkan buah pikiran baru dan berguna bagi pengembangan dan proses
pendidikan.
2. Pelaksanaan Evaluasi Kinerja Guru

48
Made Pidarta, Manajemen Pendidikan Indonesia, (Jakarta, Rineka Cipta: 2004), hlm. 135.
Pada hakekatnya pelaksaan program evaluasi kinerja merupakan fungsi
administrasi yang dilaksanakan agar tugas, fungsi tanggung jawab dan wewenang
yang telah diorganisasikan berjalan sesuai dengan kebijakan dan rencana yang
telah ditetapkan dalam rangka mencapai tujuan secara efektif dan efisien.
Pelaksanaan dalam sebuah manajemen adalah aktualisasi perencanaan yang
dicanangkan oleh organisasi. Jadi dalam pelaksanaan evaluasi kinerja
menerangkan mengenai bagaimana proses evaluasi kinerja tersebut dilaksanakan.
Dalam pelaksanaan program evaluasi kinerja terdapat beberapa komponen yang
sangat diperlukan, diantaranya adalah motivasi, komunikasi, dan kepemimpinan.
49
Motivasi menyangkut perilaku manusia dan merupakan sebuah unsur yang
vital dalam manajemen. Motivasi dapat diartikan sebagai membuat seseorang
menyelesaikan pekerjaan dengan semangat, karena orang itu ingin melakukannya.
Motivasi akan memunculkan semangat bekerja dan pantang menyerah saat
menghadapi pelbagai tantangan dan hambatan. Untuk memotivasi anggota
organisasi, perlu dibangun sikap kebersamaan dan keterbukaan sehingga anggota
yang baru masuk sekalipun akan merasa menjadi bagian utuh yang diharapkan
kiprahnya.
50
Komponen penting lainnya dalam tahap pelaksanaan adalah komunikasi.
Komunikasi merupakan kegiatan untuk menyampaikan informasi secara timbal
balik sehingga tidak terjadi kesalahpahaman. Terhentinya informasi akan
menyebabkan kemacetan interaksi sehingga pada akhirnya akan memunculkan
masalah baru. Sering dikatakan bahwa siapa yang menguasai informasi, dialah
yang akan menguasai dunia. Oleh sebab itulah, jalannya arus informasi harus

49
Sudjana, Manajemen Program Pendidikan, (Bandung, Falah Production, 2004), hlm. 86
50
George R. Terry & Leslie W. Rue, Dasar-Dasar Manajemen, (Jakarta, PT. Bumi Aksara: 2005),
hlm. 168
berlangsung secara lancar. Kendala yang tak jarang dijumpai adalah adanya pihak
tertentu yang mengaburkan informasi atau bahkan menutup informasi.
Keserakahan semacam ini akan membuat pintu-pintu informasi dan pada akhirnya
akan merugikan banyak kalangan.
Ketika informasi masuk dalam dunia manajemen, seluruh personel
organisasi harus memiliki kesamaan visi untuk bekerja sama memajukan lembaga.
Setiap masalah harus diselesaikan dengan segera. Jika suatu gejala tidak baik di
sebuah organisasi, dan kenyataan itu dibiarkan berlarut-larut, yang terjadi
kemudian adalah saling curiga, saling menuduh dan bahkan saling menjatuhkan.
Ini adalah akibat logis dari terputusnya arus komunikasi. Komunikasi dapat
diklasifikasikan ke dalam dua jenis, komunikasi vertikal dan komunikasi
horizontal. Komunikasi vertikal adalah komunikasi yang dibangun antara atasan
dan bawahan secara simultan. Komunikasi vertikal dari atas bisa berupa
pengarahan atau instruksi di samping nasehat atau penilaian. Sedangkan
komunikasi dari bawah bisa berbentuk laporan, pengaduan, permintaan, saran, dan
kritik.
51
Komunikasi jenis kedua adalah komunikasi horizontal, yakni komunikasi
yang dibangun antaranggota, antar bidang atau antarkelompok yang sifatnya lebih
fleksibel. Komunikasi semacam ini akan lebih mudah menyelasaikan masalah
karena tidak dibatasi oleh hirarki atau jenjang jabatan. Ketika kedua jenis
komunikasi ini berlangsung secara efektif, lembaga apapun termasuk lembaga

51
Sukarna, Dasar-Dasar Manajemen, (Bandung, Mandar Maju: 1992), hlm. 93
pendidikan akan mudah membuat terobosan cemerlang untuk memberdayakan
anggotanya.
Unsur terakhir yang penting dalam pelaksanaan adalah kepemimpinan.
Kepemimpinan adalah unsur yang esensial dalam sebuah organisasi.
kepemimpinan tidak lepas dari karakter individu yang sering ditentukan oleh
lingkungan keluarga, lingkungan bergaul, belajar atau tempat kerja. Bakat
kepemimpinan membutuhkan stimulus dari luar sehingga bakat itu dapat tumbuh
dan berkembang secara maksimal. Kepemimpinan yang baik tidak lahir dari
konflik kepentingan yang akan memenangkan kelompoknya dan menghancurkan
lawannya. Sesungguhnya, pemimpin yang diidamkan adalah sosok pemimpin
yang menjadi tumpuan harapan semua orang, dan bukan golongan atau kelompok
tertentu.
52
D. PROSES PENERAPAN KONSEP MULTIPLE INTELLIGENCES
DALAM MEWUJUDKAN SEKOLAH UNGGUL
Ada sebuah ilustrasi menarik yang dibuat oleh Thomas Armstrong di
dalam bukunya "In Their Own Way: Discovering and Encouraging Your Child's
Multiple Intelligences", Ilustrasi itu berupa dongeng dalam dunia binatang.
Dimana di dalam buku tersebut di kisahkan bahwa pada suatu hari para binatang
besar di hutan ingin mengadakan sekolah bagi para binatang kecil. Para binatang
besar itu ingin mengajarkan mata pelajaran yang dianggap penting untuk
keberhasilan hidup di hutan, yaitu pelajaran memanjat, terbang, berlari, berenang,

52
Sudirman, Zakat Dalam Pusaran Arus Modernitas, (Malang, UIN Malang Press: 2007), hlm. 89
dan menggali dan sebagainya. Tetapi, para binatang besar itu tidak dapat sepakat
untuk menentukan kurikulum atau mata pelajaran mana yang paling penting dan
cocok bagi para siswanya. Sebagai keputusan, akhirnya seluruh siswa diharuskan
mengikuti seluruh mata pelajaran yang telah di tetapkan tadi. Saat sekolah dibuka
dan menerima murid dari penjuru hutan, semuanya berbahagia. Semua berjalan
lancar dan bergembira pada awalnya sampai suatu ketika terjadilah sebuah
peristiwa.
Dimana Seekor kelinci yang menjadi siswa di sekolah tersebut mengalami
masalah. Tak ada seorang pun di hutan yang tak mengetahui bahwa kelinci
terkenal piawai berlari. Tapi saat mengikuti kelas berenang, ternyata kelinci nyaris
tenggelam. Pengalaman itu mengguncangkan kelinci. Dia berusaha terus berusaha
mengikuti pelajaran berenang walaupun berada dalam trauma. Akibatnya, kelinci
tak dapat lari secepat sebelumnya. Demikian pun murid lain menghadapi masalah.
Elang yang dikenal jago terbang ternyata menghadapi masalah dalam pelajaran
menggali. Dia tak dapat berprestasi dalam pelajaran menggali sehingga harus
belajar ekstra yang membuatnya melupakan keahlian terbangnya.
Demikianlah, Kesulitan demi kesulitan dialami oleh binatang-binatang
kecil lainnya, seperti bebek, burung pipit, bunglon, ular, dan sebagainya. Para
binatang kecil itu tidak memiliki kesempatan lagi untuk berprestasi dalam bidang
keahlian mereka masing-masing. Sebab, mereka dipaksa melakukan hal-hal yang
tidak menghargai sifat alami mereka.
53

53
Thomas Amstrong, , op. cit., hlm.14.
Melalui ilustrasi di atas, Thomas Armstrong mencoba menggambarkan
posisi teori Multiple Intelligences yang seharusnya diterapakan di sekolah.
Kecenderungan model pembelajaran di sekolah yang hanya mengembangkan dua
jenis kecerdasan yaitu kecerdasan bahasa dan kecerdasan logika-matematika
sering membuat anak-anak dinilai gagal. Padahal, anak-anak yang dianggap gagal
dalam sistem sekolah tersebut mungkin memiliki bentuk kecerdasan lain seperti
kecerdasan ruang/spasial, kinestetis-jasmani, musikal, interpersonal, intrapersonal,
dan naturalis. Walaupun mereka tidak kompatibel dengan sistem sekolah yang
ada, bukan berarti mereka bodoh dan tak akan berhasil di masyarakat. Mereka
hanya memiliki kecerdasan dan cara belajar yang berbeda dengan yang biasanya
digunakan di sekolah pada umumnya.
Membangun sekolah, pada hakikatnya adalah membangun keunggulan
sumber daya manusia. Sayangnya, banyak sekali sekolah yang secara sadar atau
tidak, malah membunuh potensi siswa-siswa didiknya. Banyak sekolah yang
hanya mengukur sebagian dari kecerdasan yang dimiliki siswanya, yakni hanya
menekankan kepada kecerdasan logika-matematika dan bahasa saja tanpa
mengukur kecerdasan lainnya. Hal inilah yang menyebabkan banyak sekolah
membunuh potensi siswa-siswa didiknya karena tidak menghargai seluruh
kecerdasan yang dimilki siswa tersebut.
Dalam konsep yang sesungguhnya, sekolah yang baik adalah sekolah yang
secara terus menerus meningkatkan kinerjanya dan menggunakan sumberdaya
yang dimilikinya secara optimal untuk menumbuh-kembangkan prestasi siswa
secara menyeluruh. Berarti bukan hanya beberapa kecerdasan saja yang
ditumbuh-kembangkan, melainkan seluruh potensi kecerdasan. Betapa cantiknya
sebuah proses belajar dalam sebuah kelas apabila guru memandang semua
siswanya pandai dan cerdas, serta para siswanya merasakan semua pelajaran yang
diajarkan mudah dan menarik. Kelas tersebut akan hidup dan terasa nyaman.
Keluar dari kelas tersebut, semua siswa mendapatkan pengalaman pertama yang
sangat luar biasa dan tak akan lupa seumur hidup. Apabila kelas seperti itu terjadi
pada jutaan kelas di seluruh sekolah di Indonesia, pasti negara ini akan menjadi
negara maju yang diperhitungkan oleh dunia.
Pada dasarnya sekolah unggul adalah sekolah yang fokus pada kualitas
proses pembelajaran, bukan pada kualitas input siswanya. Kualitas proses
pembelajaran bergantung pada kualitas guru yang bekerja di sekolah tesebut.
Apabila kualitas guru di sekolah tersebut baik, mereka akan berperan sebagai agen
pengubah siswanya. Sekolah unggul adalah sekolah yang para gurunya mampu
menjamin semua siswa akan dibimbing ke arah perubahan yang lebih baik,
bagaimanapun kualiats akademis dan moral yang mereka miliki. Dengan kata lain,
sekolah yang guru gurunya mampu mengubah kualitas akademis dan moral
siswanya dari negatif menjadi positif itulah sekolah unggul.
54
Menurut Chatib kita akan mendapati sekolah unggul seperti kriteria yang
sempurna apabila sekolah tersebut menerapkan multiple intelligences pada
sistemya. Atau lebih tepatnya menggunakan Multiple Intelligences System (MIS).
Multiple Intelligences System (MIS) adalah sebuah pemahaman tentang
bagaimana menerapkan Multiple Intelligences di sekolah. Penerapan Multiple

54
Munif Chatib, op.cit, hlm .93.
Intelligence itu secara global meliputi 3 tahap penting, yaitu input, proses, dan
output.
a. Tahap Input
Pada input, sekolah menggunakan Multiple Intelligence Resarch (MIR),
yaitu semacam alat riset psikologis yang mengeluarkan diskripsi
kecenderungan kecerdasan majemuk anak dan gaya belajarnya. Data ini
dipakai agar guru mengetahui gaya belajar masing-masing siswanya.
Penerimaan siswa barunya tergantung jumlah kursi. Jadi sekolah tersebut
menerima siswa tanpa tes masuk.
b. Tahap proses
Pada proses, gaya mengajar gurunya harus sama dengan gaya belajar
siswanya. disinilah letak keampuhan strategi mulitple intelligences yang
jumlahnya beragam. Seorang guru menggunakan pendekatan individual jika
dalam kelas terdapat anak yang slow learner. Guru harus menjadi katalisator
dan fasilitator. Ujung dari proses belajar adalah para siswa diharapkan mampu
membuat produk-produk yang luar biasa. Dalam proses pembelajaran ini setiap
guru harus menyesuaikan gayanya dalam mengajar dengan gaya belajar siswa
yang telah diketahui dari hasil MIR pada tahap input tadi. Hasil MIR tersebut
dijadikan pedoman setiap guru untuk masuk kedunia siswa sehingga siswa
merasa nyaman dan tidak berhadapan dengan risiko kegagalan dalam proses
belajar, karena pada sebelumnya guru sudah mengetahui kecenderungan gaya
belajar siswa sesuai kecerdsannya.
c. Tahap output
Pada output, sekolah menggunakan penilaian otentik. Yaitu sebuah
penilaian berdasarkan nilai asli setiap anak. Penilaian otentik adalah penilaian
berbasis proses dimana seorang guru menilai siswa pada saat proses
pembelajaran berlangsung bukan pada saat akhir pembelajaran. Dalam
penilaian ini setiap aktivitas siswa dinilai dari 3 ranah, yaitu kognitif,
psikomotorik dan afektif.
55
Paradigma yang paling mendasar dari Multiple Intelligences system ini
adalah perubahan konsep tentang makna kecerdasan secara mendasar yang
berbeda sama sekali dengan konsep-konsep sebelumnya. Bahwa kecerdasan
seseorang tidak dibatasi pada tes formal (tes IQ, EQ, dan sejenisnya), setiap siswa
adalah juara dengan cara yang berbeda. Setiap siswa akan diperlakukan secara
spesifik berdasarkan ragam kecerdasan dan gaya belajarnya, sehingga
memungkinkan tercapainya tujuan pembelajaran dengan baik. Dan dimanapun
implementasi konsep multiple intelligences di sekolah pasti intinya terletak pada
proses pembelajaran.
Oleh sebab itu, Amstrong dalam bukunya Paul Suparno, memberikan
beberapa strategi yang perlu diperhatikan dalam pengajaran dengan menggunakan
teori kecerdasan ganda. Secara umum strategi itu sebagai berikut:
1. Kecerdasan Linguistik dapat dilakukan dengan memberikan kesempatan
kepada siswa untuk bercerita, menuliskan kembali yang dipelajari atau
menerbitkan majalah dinding. Dengan kata lain, setelah mempelajari topic
tertentu siswa perlu diberi kesempatan untuk mengungkapkan pemikirannya

55
Munif chatib, Multiple Intelligences Sebagai Sistem (Makalah Training pelatihan Guru di SD
YIMA Islamic school tgl 23 November 2009)
dengan menuliskan kembali lewat susunan kata-kata yang dibuatnya sendiri.
2. Kecerdasan Matematis-logis dapat diwujudkan dalam bentuk menghitung,
membuat kategorisasi atau penggolongan, membuat pemikiran ilmiah dengan
proses ilmiah, membuat analogi dan sebagainya.
3. Kecerdasan Ruang-visual dapat diungkapkan dengan visualisasi materi,
dengan membuat sketsa, gambar, symbol, grafik, mengadakan tour keluar
kelas, mengadakan eksperimen di laboratorium dan sebagainya.
4. Kecerdasan Kinestetik-badani dapat diungkapkan dengan bentuk ekspresi
gerak badan. Bentuk-bentuk seperti mendramatisir, membuat teater, membuat
hands-on-activiteis tentang materi yang dipelajari sangat membantu dalam
mengungkapkan kecerdasan kinestetik-badani.
5. Kecerdasan Musikal dapat diungkapkan dengan memberikan kesempatan
dan as kepada siswa untuk menyanyi, membuat lagu atau mengungkapkan
materi dalam bentuk suara.
6. Kecerdasan Interpersonal dapat diekspresikan dalam bentuk kegiatan
sharing, diskusi kelompok, kerjasama membuat proyek atau praktikum
bersama, permainan bersama maupun membuat simulasi bersama. Yang perlu
diperhatikan adalah bahwa setiap siswa dalam kelompok haruslah aktif,
sehingga kerjasama tidak hanya dikuasai oleh beberapa siswa sedangkan yang
lainnya pasif. Siswa yang tidak begitu lancar bekerjasama perlu dibantu untuk
lebih berani.
7. Kecerdasan Intrapersonal dapat dikembangkan dengan memberikan waktu
sendiri kepada siswa untuk refleksi dan berfikir sejenak. Permasalahan yang
deberikan tipe terbuka dimana siswa secara mandiri dapat mengungkapkan
gagasannya. Guru perlu belajar untuk menyajikan materi dengan memasukkan
perasaan, humor dan keseriusannya. Dengan kata lain, sikap pribadi guru perlu
juga ditunjukkan untuk membantu siswa yang intrapersonal.
8. Kecerdasan naturalis dapat diungkapkan dengan mengajak siswa untuk
melihat apakah topik tang dipelajari ada kaitannya dengan lingkungan hidup
mereka, dengan alam tempat mereka hidup. Siswa dapat diajak dan
mengamati tanaman yang ada di taman dan di kebun atau bahkan diajak untuk
mengamati prilaku hewan yang ada disekitar kita seperti burung, kelinci,
ayam, kambing dan binatang ternak lainnya.
56
Dari semua strategi pengajaran yang digunakan oleh guru dalam
mengembangkan kecerdasan ganda, maka proses pembelajaran dapat berlangsung
sesuai dengan kecerdasan yang dominan pada siswa dengan memperhatikan setiap
kecerdasan yang dimilikioleh siswa-siswa.
Dan tidak dapat dipungkiri lagi, salah satu unsur yang sangat penting
dalam proses pembelajaran adalah evaluasi. Evaluasi perlu disesuaikan dengan
tujuan dan cara mengajar seorang guru. Secara umum evaluasi perlu lebih luas
dan menyeluruh, bahkan perlu memasukkan unsur lingkungan dan situasi nyata
untuk dapat mengukur seluruh kemampuan siswa. Berbagai bentuk evaluasi
seperti tertulis, lisan, dalam bentuk proyek, tugas bersama, refleksi pribadi, bentuk
prestasi yang dapat ditampilkan di depan umum, dalam keaktifan proses
pembelajaran, pemantauan guru selama pembelajaran dan sebagainya perlu

56
Paul Suparno, Teory Intelligensi Ganda Dan Aplikasinya Di Sekolah (Yogyakarta: Kanisius,
2004), hlm 92.
digunakan dalam evaluasi sebagai kesatuan. Sedapat mungkin kedelapan
kecerdasan juga terukur dalam evaluasi tersebut. Segi hitungan, tulisan, musik,
gerak, ruang, kerjasama, refleksi dan lingkungan perlu diperhatikan. Yang perlu
diperhatikan disini adalah evaluasi harus beranekaragam, disesuaikan dengan
pendekatan pembelajaran kecerdasan ganda yang juga beranekaragam.
Bentuk evaluasi yang ditekankan oleh Amstrong dalam bukunya Paul
Suparno yaitu evaluasi portofolio yakni penilaian selama proses belajar, dan soal
tertulis. Ini sangat sesuai untuk mengevaluasi siswa, senada dengan pendekatan
kecerdasan ganda. Portofolio yaitu laporan tugas-tugas siswa selama seluruh
proses pembelajaran. Termasuk di dalamnya adalah laporan tertulis, hasil diskusi
kelompok, hasil refleksi pribadi, tugas, gambar, laporan computer, slide atau
video bila pernah dibuat. Tugas-tugas informal yang pernah dikerjakan siswa,
seperti catatan atau draf lagu, permainan, kerja kelompok kecil, perlu
dikumpulkan juga. Penilaian selama proses belajar perlu dikumpulkan. Guru
perlu selalu memantau dan memberikan penilaian singkat kepada setiap siswa
selama proses belajar, selama diskusi, selama mereka bermain bersama sesuai
materi dan selama meraka aktif berpartisipasi dalam pembelajaran. Soal tertulis
yang diberikan kepada siswa perlu juga dirumuskan sesuai dengan ketujuh
kecerdasan ganda tersebut. Perlu ada persoalan logika, musical, ruang, gerak,
erflkesi pribadi dan juga bahasa tertulis.
57
Selain itu juga untuk mewujudkan sekolah unggul yang berbasis multiple
intelligences perlu adanya evaluasi dari segi pendidik, hal ini yang dimaksud

57
Ibid, hlm. 94.
adalah guru. Jadi, setiap guru yang mengajar harus dievaluasi demi terlaksananya
pembelajaran yang baik sesuai kriteria multiple intelligences. Semua orang yakin
bahwa guru memiliki andil yang sangat besar terhadap keberhasilan pembelajaran
di sekolah. Guru sangat berperan dalam membantu perkembangan peserta didik
untuk mewujudkan tujuan hidupnya secara optimal. Keyakinan itu muncul karena
manusia adalah manusia lemah, yang dalam perkembangannya senantiasa
membutuhkan orang lain, sejak lahir, bahkan pada saat meninggal. Semuanya
menunjukkan bahwa setiap orang membutuhkan orang lain dalam
perkembangannya, demikian halnya peserta didik, ketika orangtua mendaftarkan
anaknya ke sekolah pada saat itu juga ia menaruh harapan pada guru, agar
anaknya dapat berkembang secara optimal. Minat, bakat, kemampuan dan
potensi-potensi yang dimiliki oleh peserta didik tidak akan berkembang secara
optimal tanpa bantuan guru.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Metode penelitian merupakan sistem atau cara kerja yang harus dilakukan
dalam sebuah penelitian, seorang peneliti diharuskan dapat memilih dan
menentukan metode yang tepat dan fleksibel guna mencapai tujuannya. Dan demi
terwujudnya tujuan tersebut maka metode penelitian yang penulis gunakan dapat
diklasifikasikan sebagai berikut:
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Berdasarkan jenisnya penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan
pendekatan deskriptif. Penelitian deskriptif merupakan penelitian terhadap
fenomena atau populasi tertentu yang diperoleh peneliti dari subjek berupa
individu, organisasional, industri atau perspektif yang lain. Adapun tujuannya
adalah untuk menjelaskan aspek-aspek yang relevan dengan fenomena yang
diamati, menjelaskan karakteristik fenomena atau masalah yang ada.
58
Pada umumnya penelitian deskriptif ini tidak menggunakan hipotesis (non
hipotesis) sehingga dalam penelitiannya tidak perlu merumuskan hipotesis. Dalam
penelitian deskriptif data yang dikumpulkan bukan angka-angka, akan tetapi
berupa kata-kata atau gambar. Data yang dimaksud mungkin berasal dari naskah
wawancara, catatan lapangan, foto, video, tape, dokumen pribadi, catatan atau
memo dan dokumen resmi lainnya.
59

58
Subekti Imam, Desain dan Analisis Data dalam Penelitian Kuantitatif (Malang: STAIN Malang,
2000), hlm. 12
59
Moleong, Lexy, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Rosda Karya,2002), hlm. 6
Menurut Suharsimi, ada tiga macam pendekatan yang termasuk kedalam
penelitian deskriptif, yaitu penelitian kasus atau studi kasus (case-studies),
penelitian kausal komparatif, dan penelitian koralasi.
60
Dalam penelitian ini
peneliti menggunakan pendekatan studi kasus. Studi kasus adalah pendekatan
untuk mendeskripsikan suatu latar, obyek atau peristiwa tertentu secara rinci dan
mendalam, Pendapat ini juga diperkuat oleh Winarno, dia mengatakan bahwa
studi kasus adalah metode penelitian yang memusatkan perhatian pada suatu
kasus secara intensif dan mendetail, subyek yang diselidiki terdiri dari satu
kesatuan unit yang dipandang sebagi kasus.
61
Dalam penelitian ini peneliti berusaha menggambarkan keadaan
sebenarnya yang ada di SD YIMA Islamic School mulai letak geografis sekolah,
kondisi masyarakat sekitar sekolah, keadaan siswa dan guru yang ada di sekolah,
serta yang tidak ketinggalan pula mengenai konsep Multiple Intelligences yang
diterapkan sekolah tersebut.
B. Kehadiran peneliti
Kehadiran peneliti dalam penelitian kualitatif mutlak diperlukan, karena
peneliti sendiri merupakan alat (instrumen) pengumpul data yang utama
sehingga kehadiran peneliti mutlak diperlukan dalam menguraikan data
nantinya. Karena dengan terjun langsung ke lapangan maka peneliti dapat
melihat secara langsung fenomena di daerah lapangan seperti "kedudukan
peneliti dalam penelitian kualitatif cukup rumit. Ia sekaligus merupakan

60
Arikunto Suharsimi, ProsedurPenelitian Suatu Pendekatan Praktek (Jakarta: Rineka
Cipta,1998), hlm. 247
61
Wiinarno Surahmad, Dasar Dan Teknik Penelitian (Bandung: Trasito, 1994) hlm 105
perencana, pelaksana pengumpulan data, analisis, penafsir data, dan pada
akhirnya ia menjadi pelapor hasil penelitiannya".
62
Sedangkan kehadiran peneliti dalam penelitian ini diketahui statusnya
sebagai peneliti oleh subyek atau informan, dengan terlebih dahulu mengajukan
surat izin penelitian kelembaga yang terkait. Adapun peran peneliti dalam
penelitian ini adalah sebagai pengamat berperan serta yaitu peneliti tidak
sepenuhnya sebagai pemeran serta tetapi masih melakukan fungsi pengamatan.
Peneliti disini pada waktu penelitian mengadakan pengamatan langsung,
sehingga diketahui fenomena-fenomena yang nampak. Secara umum kehadiran
peneliti dilapangan dilakukan dalam 3 tahap yaitu:
a) Penelitian pendahuluan yang bertujuan mengenal lapangan penelitian.
b) Pengumpulan data, dibagian ini peneliti secara khusus menyimpulkan data.
c) Evaluasi data yang bertujuan menilai data yang diperoleh di lapangan
penelitian dengan kenyataan yang ada.
Peneliti telah melakukan penelitian pendahuluan di SD YIMA Islamic
School pada hari sabtu tanggal 26 Desember 2009, hal ini bertujuan agar peneliti
mengenal lebih jauh lagi tentang objek penelitian. Pada penelitian pendahuluan
ini peneliti melakukan interview singkat dengan konsultan pendidikan yang
sedang menangani sekolah tersebut. Konsultan pendidikan itu bernama Munif
Chatib, dia adalah seorang pakar Multiple Intelligences lulusan Supercamp
Oceanside California USA yang salah satu bukunya di jadikan referensi dalam
penelitian ini. Beliau menjelaskan bahwa:

62
Lexy.J.Meleong, Op.Cit. , hlm. 121
“Penerapan Multiple Intelligences di sekolah ini secara global meliputi 3 tahap
penting, yaitu input, proses, dan output.
a. Pada input, kita menggunakan Multiple Intelelligence Resarch (MIR)
semacam alat riset psikologis yang mengeluarkan diskripsi kecenderungan
kecerdasan majemuk anak dan gaya belajarnnya. Data ini dipakai agar guru
mengetahui gaya belajar masing-masing siswanya. Penerimaan siswa barunya
tergantung jumlah kursi. Jadi kita terima siswa tanpa tes masuk, hanya MIR
itu saja.
b. Pada proses, gaya mengajar gurunya harus sama dengan gaya belajar
siswanya. disinilah letak keampuhan strategi mulitple intelligence yang
jumlahnya beragam. Kita menggunakan pendekatan individual jika dalam
kelas terdapat anak yg slow learner. Guru harus menjadi katalisator dan
fasilitator. Ujung dari proses belajar adalah para siswa diharapkan mampu
membuat produk-produk. Luar biasa.
c. Pada output, kita menggunakan penilaian otentik. Setiap aktivitas siswa
dinilai dari 3 ranah, yaitu kognitif, psikomotorik dan afektif. Soal-soal tesnya
sangat manusiawi dan banyak dengan metode open book”
63
Dari kutipan interview singkat tersebut peneliti dapat melihat bagaimana
upaya seorang Munif chatib sebagai konsultan ahli dalam upaya mengembangkan
sekolah ini munggunakan konsep Multiple Intelligences sehingga berkat tangan
dingin beliau sekolah ini yang dulunya terbelakang dan kurang mendapatkan
kepercayaan masyarakat sekarang sudah menjadi sekolah favorit yang mendapat
kepercayaan banyak orang.
C. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di salah satu sekolah favorit yang ada di kota
Bondowoso, atau tepatnya di SD Yayasan Islam Madrasah Al-Falah Al-Khairiyah
(YIMA) Islamic School Bondowoso. Sekolah ini terletak di jalan KH. Hasyim
Asyari No 326. Bondowoso. Secara geografis sekolah ini terletak di kelurahan
Kademangan Bondowoso atau tepatnya di wilayah perkampungan warga

63
Hasil interview tanggal 26 Desember 2009, 10:00 wib
naturalisasi Arab yang notabene memiliki lingkungan masyarakat yang sangat
religus serta kentalnya budaya Arab pada wilayah tersebut. Kondisi masyarakat di
sana sangat heterogen baik segi ekonomi, pengetahuan atau latar belakang
pendidikannya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Ketua Kelurahan Kademangan
Bapak Ali Zainal, dimana beliau mengatakan:
“Sebagaimana yang anda ketahui, memang di kelurahan kedemangan ini
mayoritas warganya adalah warga keturunan arab yang memiliki latar belakang
budaya islam yang sangat kental serta keaneka ragaman kondisi sosial ekonomi
dan latar pedidikannya.”
64
Peneliti menentukan SD Yayasan Islam Madrasah Al-Falah Al-Khairiyah
(YIMA) Islamic School Bondowoso sebagai tempat penelitian dikarenakan
ketertarikan peneliti akan konsep Multiple Intelligences yang diterapkan oleh
sekolah tersebut, dimana sekolah tersebut dulunya adalah sekolah yang sedikit
terbelakang dan bermutu rendah. Akhirnya setelah menerapkan konsep Multiple
Intelligences , dalam waktu singkat sekolah tersebut berubah menjadi sekolah
yang unggul dan mendapat kepercayaan masyarakat. Itulah salah satu alasan
mengapa peneliti memilih sekolah tersebut sebagai lokasi penelitian. Yang
kedua yaitu karena letak sekolah tersebut tidak jauh dari tempat tinggal peneliti,
yang hanya berjarak sekitar 50 meter dari tempat tinggal peneliti, sehingga hal
ini sangat dimungkinkan bagi peneliti untuk memperoleh dan mengolah data
secara langsung dan cepat.

64
Hasil Interview tgl 8 maret 2010, 19:00 wib
D. Jenis Data dan Sumber Data
Jenis data dalam penelitian ini adalah data kualitatif, maka bentuk data
utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan selebihnya adalah
data tambahan seperti dokumen dan lain-lain.
6
Sedangkan Sumber data dalam
penelitian adalah subjek darimana data dapat diperoleh. Apabila peneliti
menggunakan kuesioner atau wawancara dalam pengumpulan datanya, maka
data disebut responden, yaitu orang yang merespon atau menjawab pertanyaan
peneliti, baik pertanyaan tertulis maupun lisan.
65
Menurut sumbernya data penelitian digolongkan menjadi dua yaitu data
primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari
subjek penelitian dengan menggunakan alat pengukuran atau alat pengambilan
data langsung pada subjek sebagai sumber informasi yang dicari. Dan data
sekunder adalah data yang diperoleh lewat pihak lain, tidak langsung diperoleh
oleh peneliti dari subjek penelitiannya. Data sekunder biasanya berwujud data
dokumentasi atau data laporan yang tersedia.
66
Adapun sumber data dari penelitian ini adalah:
1. Data Primer
Sumber data primer merupakan data yang dikumpulkan, diolah dan
disajikan oleh peneliti dari sumber utama. Dalam penelitian ini yang menjadi

6
Ibid. , hlm. 112.
65
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik (Jakarta:Rineka Cipta,
2006), hlm. 129.
66
Syaifuddin Azwar, Metode Penelitian (Yogyakarta:Pustaka Belajar, 2005), hlm. 91.
sumber data utama yaitu kepala sekolah, konsultan pendidikan yang ada disana
serta para guru dan staf yang ada di SD YIMA Islamic School Bondowoso.
2. Data Sekunder
Sumber data sekunder merupakan sumber data pelengkap yang berfungsi
melengkapi data yang di perlukan oleh data primer. Adapun sumber data
sekunder yang diperlukan yaitu: buku-buku, foto dan dokumen tentang SD
YIMA Islamic School Bondowoso.
E. Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data dan informasi sebagai bahan utama yang relevan
dan objektif, maka dalam penelitian ini peneliti menggunakan beberapa teknik
pengumpulan data, diantaranya:
a. Observasi
Observasi atau pengamatan merupakan suatu teknik atau cara
mengumpulkan data dengan jalan mengadakan pengamatan terhadap kegiatan
yang sedang berlangsung. Kegiatan tersebut bisa berkenaan dengan cara guru
mengajar, siswa belajar, kepala sekolah yang memberikan arahan dan
sebagainya.
Observasi dapat dilakukan secara partisipatif ataupun nonpartisipatif.
Dalam observasi partisipatif pengamat ikut serta dalam kegiatan yang sedang
berlangsung. Dalam observasi non partisipatif pengamat tidak ikut serta dalam
kegiatan.
67
Dalam penelitian ini observasi yang dilakukaan peneliti adalah
observasi partisipatif karena pada penelitian ini memungkinkan peneliti untuk

67
Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan (Bandung: Remaja Rosdakarya,
2007), hlm. 220.
terjun langsung dalam setiap aktivitas atau kegiatan yang ada di di SD YIMA
Islamic School Bondowoso. Hal ini bertujuan untuk lebih mengabsahkan data
yang peneliti peroleh dari metode pengumpulan data sebelumya.
Peneliti mengobservasi guna untuk memperoleh data tentang keadaan di
SD YIMA Islamic School Bondowoso, mulai dari segi letak, keadaan gografis,
sarana prasarana pendidikan, keadaan guru dan murid, proses pembelajarannya
serta yang paling penting adalah untuk mengetahui macam-macam kegiatan atau
aktivitas sekolah yang berhubungan penerapan multiple inntelligences yang ada
di sana.
b. Interview atau Wawancara
Metode interview yaitu merupakan suatu proses tanya jawab lisan, dimana
dua orang atau lebih berhadap-hadapan secara fisik, yang satu dapat melihat
muka yang lain, mendengarkan dengan telinganya sendiri, suara adalah alat
kesimpulan informasi yang langsung tentang beberapa jenis data sosial, baik
yang terpendam (tercatat).
68
Metode wawancara atau metode interview dipergunakan kalau seseorang
untuk tujuan suatu tugas tertentu, mencoba mendapatka keterangan atau
pendirian secara lisan dari seorang responden, dengan bercakap-cakap
berhadapan muka dengan orang itu.
69
Dalam penelitian ini peneliti akan

68
Amirul Hadi dan Haryono, Metodologi Penelitian Tindakan (Bandung: Pustaka Setia, 2005),
hlm. 135.
69
Koentjaraningrat. Metode-metode Penelitian Masyarakat. (Jakarta:PT. Gramedia Pustaka Utama,
1997) hlm. 129
mewawancarai Kepala Sekolah, Para Guru, dan siswa, konsultan pendidikan
yang ada di sana, serta informan lain terkait dengan masalah yang dibahas.
c. Metode Dokumentasi
Metode dokumentasi adalah pengumpulan data melalui dokumentasi atau
catatan-catatan penting, surat kabar, internet dan sebagainya. Penggunaan
metode ini sudah lama digunakan dalam penelitian sebagai sumber data dapat
dimanfaatkan untuk menguji, menafsirkan, bahkan meramalkan, baik dokumen
itu merupakan dokumen pribadi maupun resmi. Dibandingkan dengan metode
lain, maka metode ini agak tidak begitu sulit, dalam arti apabila ada kekeliruan
sumber datanya masih tetap, belum berubah. Dengan metode dokumentasi yang
diamati bukan benda hidup tetapi benda mati.
70
Adapun dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode dokumentasi
untuk mencari data tentang sejarah berdirinya SD YIMA Islamic School
Bondowoso, struktur organisasi, data guru dan siswa.
F. Teknik Analisa Data
Analisis data menurut Patton yang dikutip oleh Moleong, adalah proses
mengatur urutan data, mengorganisasikannya kedalam suatu pola, kategori dan
satuan uraian dasar. Sedangkan menurut Bogdan dan Taylor, analisa data adalah
proses yang merinci usaha secara formal untuk menemukan tema dan
merumuskan ide seperti yang disarankan oleh data dan sebagai usaha untuk
memberikan bantuan pada tema dan ide itu.
71

70
Suharsimi Arikunto, op.cit, hlm 231.
71
Lexy J. Moeleong, op.cit, hlm. 103.
Dalam penelitian ini yang digunakan penulis dalam menganalisa data yang
sudah diperoleh adalah dengan cara deskriptif kualitatif (non statistik), yaitu
dilakukan dengan menggambarkan data yang diperoleh dengan kata-kata atau
kalimat dimana dengan analisis deskriptif ini peneliti berusaha memaparkan
secara detail tentang hasil penelitian sesuai dengan data yang berhasil
dikumpulkan.
Setelah semua data yang diperlukan dalam penelitian terkumpul, maka
dilakukan pemilahan secara selektif disesuaikan dengan permasalahan yang
diangkat dalam penelitian, selanjutnya dilakukan pengolahan dengan proses
editing, yaitu dengan meneliti kembali data-data yang didapat, apakah data
tersebut sudah cukup baik dan dapat segera dipersiapkan untuk proses
berikutnya. Kemudian setelah diolah, data tersebut harus di analisis agar dapat
disajikan atau dipaparkan dengan baik untuk kesempurnaan penulisan skripsi.
Pada umumnya penelitian deskriptif merupakan penelitian non hipotesis.
Penelitian deskriptif dibedakan dalam dua jenis penelitian menurut sifat-sifat
analisa datanya, yaitu riset deskriptif yang bersifat ekploratif dan riset deskriptif
yang bersifat developmental.
72
Dalam hal ini penulis menggunakan deskriptif yang bersifat ekploratif,
yaitu dengan menggambarkan keadaan atau status fenomena yang ada di SD
YIMA Islamic School Bondowoso tentang bagaimana aktivitas tindakan dalam
menerapkan Multiple Intelligences.

72
Suharsimi Arikunto, op.cit, hlm. 195.
G. Pengecekan Keabsahan Temuan
Teknik yang digunakan untuk menetukan keabsahan data dalam
penelitian ini yaitu:
1. Perpanjangan Keikutsertaan
Dilakukan dengan memperpanjang waktu penelitian. Dengan
memperpanjang keikutsertaan dalam penelitian akan memungkinkan
peningkatan derajat kepercayaan data yang dikumpulkan karena perpanjangan
keikutsertaan, peneliti akan banyak mempelajari dan dapat menguji ketidak
benaran informasi.
2. Ketekunan Pengamatan
Ketekunan pengamatan bertujuan untuk memenuhi kedalaman data. Ini
berarti bahwa penelitian hendaknya mengadakan pengamatan dengan teliti dan
rinci secara berkesinambungan terhadap faktor-faktor yang menonjol.
3. Triangulasi
Triangulasi adalah "Teknik pemerikasaan keabsahan data yang
memanfaatkan sesuatu yang lain diluar itu untuk keperluan pengecekan atau
sebagai pembanding terhadap data itu"
13
. Teknik Triangulasi yang digunakan
dalam penelitian ini adalah pemeriksaan melalui sumber lain yaitu waka
kurikulum dan beberapa siswa. Hal ini dapat dicapai dengan jalan melihat semua
data dengan realitas yang nampak pada proses aktivitas yang ada di tempat
penelitian. Hal ini dimaksudkan untuk memeriksa dan melihat kesesuaian data

13
Lexy. J. Meleong, Op.Cit. , hlm. 178
yang diperoleh dengan kegiatan sebenarnya di SD YIMA Islamic School
Bondowoso.
Selain itu, untuk mengecek keabsahan data juga bisa dilakukan dengan:
a) Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara.
b) Membandingkan hasil pengamatan dengan isi dokumen yang berkaitan
73
.
H. Tahap-tahap Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan melalui tiga tahap pertama, tahap orientasi,
kedua tahap pengumpulan data (lapangan), atau tahap eksplorasi, ketiga adalah
tahap analisis dan penafsiran data. Ketiga tahap-tahap ini sesuai dengan pendapat
dari yang pertama adalah mengetahui gambaran yang tepat tentang latar belakang
penelitian. Tahap kedua adalah tahap eksplorasi fokus pada tahap ini mulai
memasuki proses pengumpulan data. Tahap yang terakhir adalah tahap penentuan
tehnik yang digunakan untuk memeriksa keabsahan data.
74
Ketiga tahap di atas dilakukan oleh peneliti pada tahap pertama yaitu
orientasi. Peneliti melakukan kunjungan dari lokasi penelitian yang mana
penelitian, menentukan informan sehingga pada penelitian menyiapkan
kelengkapan penelitian dan mendiskusikan rencana penelitian.
Tahap kedua adalah tahap eksplorasi. Pada tahap ini dilakukan
pengumpulan data dengan cara wawancara dengan subyek dan informan
penelitian mengkaji dokumen berupa fakta-fakta yanga ada dan berkaitan dengan
penelitian dan melaksanakan observasi dengan hadir langsung di SD YIMA

73
Ibid, hlm 178
74
Ibid, hlm 239
Islamic School Bondowoso. Serta melakukan wawancara dengan para informan
yakni kepala sekolah, konsultan dan guru, serta informan terkait lainnya.
Ketiga adalah tahap dimana pengecekan dan pemeriksaan data. Pada tahap
ini dilakukan pengecekan dan perbaikan baik dari segi bahasa dan segi
sistematikanya. Tehnik yang dilakukan pada tahap ini adalah dengan tehnik
perpanjangan waktu, diskusi dengan teman sejawat dan menggunakan referensi.
Agar hasil dari penelitian ini dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya.
BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. DESKRIPSI OBYEK PENELITIAN
1. Sejarah berdirinya SD YIMA Islamic School Bondowoso
YIMA adalah kependekan dari Yayasan Islam Madrasah Al Khairiyah.
SD YIMA merupakan lembaga pendidikan yang berada dibawah naungan
yayasan Al Khairiyah, yayasan ini berdiri pada tahun 1912. Lembaga Yayasan
Al Khairiyah didalamnya meliputi PAUD,TK, SD,SMP dan Madaras Aliyah.
Berdirinya SD YIMA dilatar belakangi oleh keinginan Yayasan Al
Khairiyah untuk membuka paradigma baru mengenai sekolah unggul. Salah satu
cara yang ditempuh oleh Yayasan Al Khairiyah adalah membuka sekolah
dengan nama SD YIMA Islamic School.
Pada mulanya sekolah ini masih berstatus MI (Madrasah Ibtidaiyah) Al
Khairiyah, baru tepatnya pada bulan agustus 2006 Keputusan Pengurus Yayasan
Al Khairiyah Nomor : 001/C/YA/SK/VIII/2006, Tanggal 28 Agustus 2006,
tentang Perubahan status dan nama MI Al Khairiyah menjadi SD YIMA Islamic
School, dimana sekolah yang mencoba merangkak ke paradigma baru mengenai
sekolah unggul. Sebagaimana yang kita ketahui sebelumnya sekolah ini dulunya
berakreditasi B, karena kegigigihan dan usaha dari Yayasan untuk
mengmbangkan sekolah ini pada akhirnya mendapat akreditasi A.
YIMA adalah sekolah yang menempatkan belajar efektif sebagai indikator
utama. Dimana proses belajar didalam kelas dirancang secara efekif sehingga
berhasil membuat siswa mengerti dan antusias dalam pembelajaran. Selain itu
YIMA memiliki guru yang professional yang mampu mengajar dengan pola
efektif berdasarkan kecerdasan yang dimiliki siswanya, sehingga mampu dan
berhasil membuat siswanya berprestasi dengan latar belakang dan kemampuan
yang beragam dalam proses pembelajaranya. Sehingga tidak ada lagi anak yang
dinilai bodoh, maka dengan paradigma lama Yayasan Al Khairiyah membangun
YIMA Islamic School untuk menjadi sebuah sekolah yang benar-benar ungggul.
Selain itu ada beberapa alasan yang melatarbelakangi ingin merubah
image public dimana masyarakat menganggap bahwa Al Khairiayah itu adalah
sebuah lembaga milik Al Khairiyah yang diartikan hanya untuk komunitas arab
karena berada dilingkungan warga keturunan arab sehingga tidak mampu
menyerap siswa dari luar (bukan arab). Maka dengan alasan itu yayasan Al
Khairiyah ingin merubah image public tersebut dengan memperkenalkan ke
masyarakat bahwa Al Khairiyah adalah lembaga atau sekolah milik masyarakat,
bukan warga keturunan arab saja. Dengan mengenalkan beberapa misi YIMA
yaitu: meningkatkan proses belajar berkualitas, meningkatkan proses belajar
menyenangkan, menciptakan semua pelajaran mudah, semua anak pandai dan
dengan visinya yaitu mewujudkan insan unggul, berprestasi dan berakhlaqul
karimah.
SD YIMA Islamic School ini didisain dengan konsep sekolah unggul
yakni sebagai sekolahnya manusai yang memiliki 8 Pilar yakni :
a. Religion and Character Building
1)Sekolah yang mempunyai pandangan dunia dan visi Islam,
2)Pembelajaran jiwa,
3)Pengembangan pemikiran,
4)Aplikasi akhlakul karimah
5) Muatan kurikulum terdiri dari 60% pendidikan Agama, dan 40%
pendidikan umum
6)Bidang studi Character Building
b. Agent of Change
Sekolah yang berperan sebagai agen pengubah kondisi siswanya dari
kondisi negatif menjadi kondisi positif.
c. The Best Process
Sekolah yang mengedepankan proses pembelajaran yang berkualitas dan
menyenangkan untuk semua kondisi.
d. The Best Teachers
Guru sebagai fasilitator dan katalisator, mengajar dengan menyesuaikan
gaya belajar siswa dan selalu memantik rasa ingin tahu siswa.
e. Active Learning
Sekolah dengan strategi belajar menitik beratkan pada keaktifan siswa,
sehingga siswa mempunyai target untuk BISA APA selain TAHU APA.
f. Applied Learning
Sekolah yang mengaitkan materi belajar dengan kehidupan nyata sehari-
hari, sehingga siswa tidak hanya belajar konsep-konsep abstrak tetapi
pembelajaran yang langsung diaplikasikan.
g. Multiple Intelligence Research
Sekolah yang mempunyai paradigma setiap siswa mempunyai
kecenderungan kecerdasan yang beragam, sehingga semua siswa adalah
bintang, semua siswa adalah juara dengan cara yang berbeda-beda.
h. Management Control
Sekolah yang mempunyai siklus kontrol dalam proses pembelajaran,
mulai dari perencanaan mengajar, konsultasi, observasi kelas dan analisa
perbaikan yang dilakukan secara terus- menerus.
Itulah sekilas informasi yang dapat kami gambarkan tentang sejarah dan
arah tujuan berdirinya sekolah ini.
2. Kondisi Lingkungan dan Letak Geografis SD YIMA Islamic School
Bondowoso
SD YIMA terletak di jalan Hos Cokroaminoto No.2 (tampak samping),
atau tepatnya jalan KH Asy’ari no.326 (tampak depan) Bondowoso Secara
geografis sekolah ini terletak di kelurahan Kademangan Bondowoso atau tepatnya
di wilayah perkampungan warga naturalisasi Arab yang notabene memiliki
lingkungan masyarakat yang sangat religus serta kentalnya budaya Arab pada
wilayah tersebut. Kondisi masyarakat di sana sangat heterogen baik segi ekonomi,
pengetahuan atau latar belakang pendidikannya. Hal ini sesuai dengan pernyataan
Ketua Kelurahan Kademangan Bapak Ali Zainal, dimana beliau mengatakan:
“Sebagaimana yang anda ketahui, memang di kelurahan kedemangan ini
mayoritas warganya adalah warga keturunan arab yang memiliki latar belakang
budaya islam yang sangat kental serta keaneka ragaman kondisi sosial ekonomi
dan latar pedidikannya.”
75

75
Hasil Interview tgl 8 maret 2010, 19:00 wib
SD YIMA berdiri di atas lahan seluas 1200 m
2
yang merupakan tanah
milik Yayasan. Dari keseluruhan areal tanah tersebut sebagian besar sudah
dimanfaatkan untuk pengembangan sekolah meliputi penambahan kelas,
laboratorium dan sebagainya.
3. Identitas Sekolah
Nama sekolah : SD Yima Islamic School
Status : Terakreditasi (A)
Nomor statistik sekolah :101452201036
NPSN : 20522386
Nomor telp. / fax : 0332 - 427033
Alamat : Jl. Kh. Asy’ari 326
Kecamatan : Bondowoso
Kabupaten / kota : Bondowoso
Kode pos : 68217
Alamat website : www.alfalah_alkhairiyah.com
E – mail : yima_is@yahoo.co.id
Tahun berdiri : 1912
Waktu belajar : pagi hari
4. Visi ,Misi dan Tujuan Sekolah
a) VISI
“TERWUJUDNYA INSAN RELIGIUS YANG AKTIF, KREATIF DAN
TANGGUH”
b) MISI
a. Mewujudkan struktur kurikulum dengan prinsip 70% muatan keagamaan
dan 30 % non keagamaan, berwawasan internasional dan adaptif
b. Mewujudkan perangkat kurikulum yang mutakhir, lengkap, efektif, efisien
dan berwawasan Internasional
c. Membangun budaya Islami dan disiplin dilingkungan sekolah maupun
diluar sekolah bagi Civitas Akedemik
d. Meningkatkan kesejahteraan guru dan karyawan
e. Menerapkan Multiple Intelligence System (MIS) dalam berbagai aspek
f. Mengoptimalkan Manejemen Berbasis Sekolah.
g. Meningkatkan Sumber Daya Manusia yang religius, professional,
berkualitas dan mempunyai komitmen, loyalitas dan disiplin yang tinggi
h. Meningkatkan sarana dan pra sarana pendukung terhadap peyelenggaraan
pendidikan
c) TUJUAN
1. Tujuan Jangka Pendek
a. Menghasilkan struktur kurikulum yang adaptif dan berwawasan
Internasional
b. Menghasilkan atau memenuhi perangkat kurikulum yang mutakhir,
lengkap sehingga bisa mendukung dan mempermudah terhadap
ketercapaian muatan struktur kurikulum
c. Munculnya Kemampuan/kompetensi dan bakat anak didik, dan terbina
dengan baik yang bersifat akademis maupun non akademis
d. Terciptanya prilaku hidup yang Islami bagi civitas akademik baik di
lingkungan sekolah maupun di luar lingkungan sekolah
e. Terwujudnya Multiple Intellegence System (MIS) dengan sinergis
f. Terdapatnya strategi-strategi pembelajaran yang sesuai dengan
karakteristik Multiple Intelligence, sehingga proses pembelajaran lebih
bermakna dan materi-materi ajar mudah diserap oleh semua anak
g. Terlaksananya pola manajemen sekolah yang efektif dan efisien
h. Mempunyai Sumber Daya Manusia yang religious, professional dan
mempunyai komitmen dan loyalitas yang tinggi
i. Adanya sistem penghargaan dan punishmen yang proporsional bagi
guru dan karyawan serta peserta didik
j. Terdapatnya pola komunikasi yang baik, efektif dan efisien antara
lembaga sekolah, yayasan serta orang tua peserta didik
k. Adanya tingkat kedisiplinan yang tinggi dari guru, karyawan, orang tua
dan peserta didik
l. Terdapatnya administrasi yang mapan dan lengkap
m. Adanya sistem yang akurat dalam mengontrol manajemen
n. Terdapatnya akuntabilitas yang baik dari masing-masing fungsi
manajemen sekolah terhadap Kepala Sekolah dan akuntabilitas yang
baik dari kepala sekolah terhadap yayasan atau konsultan
o. Terdapatnya peraturan sekolah yang baku dan jelas bagi seluruh civitas
akademik
p. Bertambahnya atau terpenuhinya sarana dan pra sarana primer seperti ;
musholla, meubeler dan papan data
2. Tujuan Jangka Menengah
a. Menghasilkan struktur kurikulum dengan prosentase 70 % muatan
keagamaan dan 30 % muatan non keagamaan
b. Terpenuhinya seluruh sarana dan prasarana
c. Terdapatnya sistem administrasi berbasis komputer
d. Adanya output yang mumpuni dari aspek akademis dan non akademis.
3. Tujuan Jangka Panjang
a. Adanya trust yang tinggi dari masyarakat terhadap penyelenggaraan
pendidikan SD YIMA Islamic School khususnya masyarakat sekitar ,
masyarakat Bondowoso pada umumnya
b. Adanya trust dan dukungan yang tinggi dari dinas pendidikan
kabupaten dan pemerintah.
c. Adanya kemandirian yang tinggi dalam penyelenggaraan pendidikan
khusunya pada aspek pembiayaan
d. Tersedianya Sumber Daya Manusia yang professional di setiap
bidangya
e. Adanya lingkungan sekolah yang asri, tata ruang dan kantor yang
proporsional
f. Menjadi sekolah percontohan di Bondowoso dan sekitarnya
76

76
Dokumen Sekolah
5. Struktur Organisasi SD YIMA Islamic School Bondowoso
Setiap organisasi atau lembaga pasti menginginkan pencapaian tujuan
yang telah diprogramkan secara maksimal, karena itu diperlukan koordinasi
seluruh personalia secara baik sesuai dengan komposisi dan proporsinya masing-
masing. Efektifitas kerja perlu mendapatkan perhatian secara serius, sehingga
kendala yang kemungkinan akan terjadi dapat diantisipasi dan diselesaikan
secara cermat.
Salah satu langkah untuk mewujudkan koordinasi personal sekolah secara
mantap disusunlah struktur organisasi yang mencakup keseluruhan bidang
garapan atau spesialisasi tugas dengan harapan program yang dicanangkan dapat
berjalan serempak. Di samping itu dengan adanya struktur organisasi diharapkan
dapat dihindari kesimpangsiuran dalam pelaksanaan tugas masing-masing
bidang, bahkan dapat memperlancar arus komunikasi, baik secara horisontal
maupun secara vertikal.
Untuk lebih jelasnya mengenai struktur organisasi SD YIMA Islamic
School Bondowoso dapat dilihat pada Lampiran 1
77
6. Keadaan Guru / Pegawai SD YIMA Islamic School Bondowoso
Guru memiliki tugas utama melaksanakan proses pembelajaran dan
mendidik serta membimbing siswa untuk mencapai prestasi belajar secara
optimal. Oleh karena itu, pemberian tugas terhadap guru SD YIMA Islamic
School Bondowoso diupayakan semaksimal mungkin sesuai kompetensi yang

77
Dokumen Sekolah
dimilikinya secara proporsional. Hal ini dimaksudkan agar dalam pelaksanaan
proses belajar mengajar dapat mewujudkan keberhasilan secara optimal.
Sebagai tenaga profesional, dalam menjalankan tugasnya guru SD YIMA
Islamic School Bondowoso harus mempunyai profil sebagai berikut: (1) selalu
menempatkan diri sebagai seseorang mukmin dan muslim dimana saja ia berada;
(2) memiliki wawasan keilmuan yang luas serta profesionalisme dan dedikasi
yang tinggi; (3) kreatif, dinamis dan inovatif dalam pengembangan keilmuan; (4)
bersikap dan berperilaku amanah, berakhlak mulia dan dapat menjadi contoh bagi
civitas akademika yang lain.
Mengenai kondisi guru dan pegawai di SD YIMA Islamic School
Bondowoso secara keseluruhan berjumlah 33 orang yang terdiri dari guru dan
pegawai yang masing-masing berjumlah 28 guru dan 5 pegawai termasuk tukang
kebun dan penjaga sekolah. Untuk mengetahui lebih jelas kondisi guru dan
karyawan ini dapat dilihat pada (Lampiran 2)
Seiring dengan pesatnya kemajuan sekaligus untuk meningkatkan mutu
pendidikan, maka SD YIMA Islamic School Bondowoso terus mengadakan
pembenahan dengan mengadakan pembinaan terhadap para guru dan pegawai.
Pembinaan ini dilakukan baik melalui peningkatan profesionalisme
ketenagakerjaan antara lain memberikan kesempatan untuk melanjutkan
pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, pelatihan guru, kursus, seminar, kuliah,
penataran-penataran, diklat dan lain sebagainya.
Berdasarkan interview dengan Kepala Sekolah diperoleh informasi bahwa
jumlah guru dan pegawai di SD YIMA Islamic School Bondowoso cukup
memadahi dan sudah sesuai dengan standar sekolah yang ideal. Namun demikian,
kepala SD YIMA Islamic School Bondowoso menambahkan bahwa jumlah
tenaga TU masih perlu penambahan terutama bagian inventerisasi dan
penggandaan. Sedangkan untuk guru yang belum memenuhi kualifikasi
profesional ditinjau dari tingkat pendidikan yang dimilikinya telah ditugaskan
untuk melanjutkan studi ke jenjang S-1. Tenaga kerja sebagai pustakawan perlu
penambahan seorang yang ahli di bidang komputer multimedia. Hal ini bertujuan
agar peminjaman dan pengembalian buku dapat melalui komputerisasi. Begitu
juga untuk laboratorium diperlukan tenaga ahli khusus yang menangani
pengaturan dan perawatan peralatan untuk praktikum.
7. Keadaan Siswa SD YIMA Islamic School Bondowoso
Jumlah siswa-siswi SD YIMA. Tahun ajaran 2009-2010 sebanyak 345
siswa yang terdiri dari kelas I berjumlah 3 kelas, kelas II terdiri dari 3 kelas, kelas
III terdiri dari 3 kelas, kelas IV terdiri dari 2 kelas, kelas V terdiri dari 2 kelas, dan
kelas VI terdiri dari 2 kelas. Untuk lebih jelas tentang kondisi siswa SD YIMA
dapat dilihat pada Lampiran 3.
Ditinjau dari segi perkembangannya, jumlah siswa SD YIMA
menunjukkan adanya peningkatan. Hal ini secara tidak langsung membuktikan
semakin besar animo masyarakat untuk memasukkan anaknya ke lembaga
pendidikan ini. Bahkan jumlah pendaftar ke SD YIMA dari tahun ke tahun selalu
melimpah dan melebihi daya tampung sekolah. Hal ini sesuai dengan hasil
interview dengan kepala SD YIMA Bapak Abd Wasith, dimana beliau
mengatakan :
“Melihat semakin banyaknya jumlah siswa yang mendaftar di sekolah ini, maka
dalam proses penerimaan siswa baru di SD YIMA menggunakan sistem kuota
artinya Apabila sekolah ini berkapasitas 100 siswa dalam penerimaan siswa barunya,
maka ketika pendaftar telah mencapai 100 siswa, pendaftaran akan ditutup. Jadi kami
sebagai kepala sekolah tidak menerapkan test seleksi masuk dalam PSB. Siswa yang
diterima akan mengikuti proses Multiple Intelligences Research (MIR). MIR adalah
semacam alat riset psikologis yang mengeluarkan diskripsi kecenderungan
kecerdasan majemuk anak dan gaya belajarnya. MIR ini bukan alat tes seleksi
masuk, melainkan sebuah riset yang ditujukan kepada siswa dan orang tuanya untuk
mengetahui kecenderungan kecerdasan siswa yang paling menonjol dan berpengaruh.
Melalui MIR, siswa dan guru dapat mengetahui banyak hal, seperti grafik
kecenderungan kecerdasan siswa, gaya belajar siswa, dan kegiatan kreatif yang
disarankan, yang tentunya berbeda antara satu siswa dan siswa lain. Setiap hasil MIR
menyatakan bahwa pada hakikatnya tidak ada siswa yang bodoh. Setiap siswa pasti
memiliki kecenderungan kecerdasan yang merupakan hasil dari kebiasaan-kebiasaan
siswa tersebut dalam berinteraksi, baik dengan dirinya sendiri (mengenal potensi diri)
maupun dengan pihak lain.”
78
Mengingat jumlah siswa yang relatif banyak dan bersifat heterogen, maka
pihak sekolah senantiasa berusaha untuk mewujudkan kondisi siswa yang tertib,
disiplin dan mengutamakan belajar. Untuk merealisir keinginan tersebut disusun
tata tertib dan pengawasan terhadap aktivitas siswa di sekolah. Di samping itu
untuk menghindari tindakan pelanggaran tata tertib oleh para siswa, setiap
tindakan atau perbuatan yang melanggar tata tertib dikenai poin dengan bobot
sesuai dengan jenis pelanggarannya.
8. Keadaan Sarana Prasarana SD YIMA Islamic School Bondowoso
Sarana dan prasarana merupakan salah satu faktor yang ikut menunjang
keberhasilan pendidikan, karena itu keberadaan sarana yang memadahi dan
representatif senantiasa mendapatkan perhatian secara serius di SD YIMA.
Sebelum memaparkan lebih jauh tentang kondisi sarana prasarana pendidikan

78
Hasil interview tanggal 3 maret 2010, 19:00 wib
perlu dikemukakan bahwa keseluruhan tanah yang dimiliki SD YIMA seluas 1200
m
2
dengan rincian sebagai berikut:
Status : Milik Yayasan
Luas Tanah : 1.200 m
2
Luas Bangunan : 426 m
2
Luas Halaman : 124 m
2
Luas Lap. Olahraga : 200 m
2
Luas Kebun : 236 m
2
Lain-lain : 214 m
2
Dari tabel di atas diketahui bahwa sarana prasarana yang berupa bangunan
gedung berada di atas tanah seluas 1200 m
2
. Sarana yang dimaksud antara lain 15
ruang belajar, ruang kepala sekolah, ruang tata usaha, perpustakaan, laboratorium
dan komputer, ruang multimedia, masjid, gedung serba guna, koperasi siswa,
gudang, kamar mandi kepala sekolah dan guru serta kamar mandi siswa. Di
samping itu terdapat juga satu ruang UKS dan satu ruang lagi untuk kegiatan
keorganisasian siswa. Halaman sekolah yang luas yang digunakan untuk
pelaksanaan upacara juga dapat dimanfaatkan untuk menunjang proses belajar
mengajar olah raga di samping lapangan basket dan volley yang sudah
disediakan. Untuk lebih jelas tentang kondisi sarana prasarana SD YIMA dapat
dilihat pada Lampiran 4
B. PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA
Setelah data terkumpul dengan metode observasi, interview dan
dokumentasi, peneliti dapat menganalisis hasil penelitian dengan tehnik deskriptif
kualitatif, artinya peneliti akan menggambarkan, menguraikan, dan
menginterpretasikan data-data yang telah terkumpul sehingga akan memperoleh
gambaran secara umum dan menyeluruh.
Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti lakukan di SD Yima Islamic
School Bondowoso tentang konsep Multiple Intelligences dalam mewujudkan
sekolah unggul adalah sebagai berikut:
1. Desain Konsep Multiple Intelligences di SD Yima Islamic School Bondowoso
Pembelajaran merupakan proses bagaimana belajar dan mengajar.
Pembelajaran ini merupakan syarat yang sangat penting dan menentukan demi
tercapainya penyelenggaraan pendidikan yang bermutu. Artinya, tujuan kegiatan
pembelajaran adalah mengubah tingkah laku, baik yang yang menyangkut
pengetahuan, keterampilan maupun sikap, atau bahkan meliputi segenap aspek
organisme atau pribadi. Agar tujuan pembelajaran tersebut dapat tercapai, maka
proses belajar mengajarnya harus menyesuaikan dengan kerja kondisi otak dan
berbagai kecerdasan anak, agar semua anak bisa mendapatkan peluang
mengembangkan sikap kecerdasan yang dimilikinya melalui proses pembelajaran
tersebut. Pembelajaran itu akan lebih efektif, efisien, dan produktif apabila dalam
proses pembelajarannya dikemas dalam suasana yang menyenangkan.
SD YIMA adalah satu-satunya lembaga pendidikan di Bondowoso yang
menerapkan konsep Multiple Intelligences. Penerapan Multiple Intelligences di
SD YIMA secara umum adalah strategi pengkondisian suatu proses pembelajaran
yang aktif dan menyenangkan berdasarkan kecerdasan masing-masing anak didik
dan sangat dibutuhkan guru yang benar-benar kreatif dalam pelaksanaannya.
Penerapan Multiple Intelligences di SD YIMA ini secara global meliputi 3 tahap
penting, yaitu input, proses, dan output. Dan ketiga tahapan penting tersebut
tergabung dalam satu sistem yang bernama Multiple Intelligences System (MIS).
MIS yaitu semua sistem yang holistik dari proses pendidikan dari mulai input,
proses dan outputnya.
Hal ini sesuai dengan pernyataan Munif Chatib selaku CEO Konsultan di
SD YIMA, beliau menyatakan bahwa:
“Desain konsep Penerapan Multiple Intelligences di sekolah ini secara global
meliputi 3 tahap penting, yaitu input, proses, dan output. Pada input, kita
menggunakan Multiple Intelelligence Resarch (MIR) semacam alat riset
psikologis yang mengeluarkan diskripsi kecenderungan kecerdasan majemuk
anak dan gaya belajarnnya. Data ini dipakai agar guru mengetahui gaya belajar
masing-masing siswanya. Bagi kita, tidak ada anak bodoh dan tidak ada
pelajaran yang sulit. Pada proses, gaya mengajar gurunya harus sama dengan
gaya belajar siswanya. disinilah letak keampuhan strategi Multiple Intelligences
yang jumlahnya beragam. Kita menggunakan pendekatan individual jika dalam
kelas terdapat anak yg slow learner. Guru harus menjadi katalisator dan
fasilitator. Ujung dari proses belajar adalah para siswa diharapkan mampu
membuat produk-produk. Luar biasa. Pada output, kita menggunakan penilaian
otentik. Setiap aktivitas siswa dinilai dari 3 ranah, yaitu kognitif, psikomotorik
dan afektif. Soal-soal tesnya sangat manusiawi dan banyak dengan metode open
book”
79
Pada dasarnya pembelajaran pada pokok bahasan atau mata pelajaran
apapun harus diupayakan berlangsung secara aktif, kreatif, efektif dan
menyenangkan. Dan penerapan Multiple Intelligences itu sendiri sebenarnya
sangat membantu guru dalam mewujudkan tercapainya tujuan pembelajaran,

79
Hasil interview tanggal 1 maret 2010, 09:00 wib
sehingga tidak ada alasan bagi guru untuk mempertahankan pola pembelajaran
konvensional yang cenderung membuat siswa jenuh belajar. Melalui pembelajaran
berbasis Multiple Intelligences ini siswa memperoleh kesempatan untuk ikut aktif
dalam proses pembelajaran atau bahkan belajar sesuai dengan gaya belajarnya
masing-masing, sehingga tidak jarang siswa selalu berada dalam suasana yang
menyenangkan dalam aktivitas pembelajarannya.
Hal senada juga diungkapkan oleh konsultan ahli SD YIMA Gamar S.Pd,
dimana beliau mengatakan:
“Desain konsep penerapan MI (multiple intelligences) intinya terletak pada tiga
hal penting yaitu input, proses dan outputnya. Jadi ketiga hal tersebut harus
sesuai dengan pola Multiple Intelligences yang dimiliki oleh siswa. dan
bagaimana membuat sebuah proses pembelajaran yang menyenangkan dan
disesuaikan dengan gaya belajar siswa berdasarkan Multiple Intelligences yang
dimilikinya. Rumusnya adalah gaya mengajar guru harus sama dengan gaya
belajar siswa, jadi guru harus megetahui bagaimana gaya belajar siswa yakni
dengan menjadikan hasil MIR (Multiple Intelligences Research) pada input
sebagai pedoman bagi guru dalam mengajar.”
80
Lebih lanjut lagi dia menjelaskan:
”Sekolah unggul itu biasanya dilihat dari kualitas guru baik kompetensinya
ataupun fasilitas sekolah yang tersedia biasanya identik dengan kemewahan.
Tetapi kalau di SD YIMA Islamic School Bondowoso yang kami mengatakan
sekolah unggul yaitu dengan menggunakan konsep Multiple Intelegences yang
mana setiap siswa dikategorikan menggunakan proses MIR yang dilihat dari
kecerdasan yang dimiliki tiap-tiap siswa.”.
81
Desain konsep Multiple Intelligences yang diterapkan oleh SD YIMA ini
memang ditekankan pada proses pembelajaraannya, hal ini disebabkan karena

80
Hasil interview tanggal 1 maret 2010, 12:20 wib
81
Hasil interview tanggal 3 maret 2010, 10:15 wib
dengan proses pembelajaran berbasis Multiple Intelligences diharapkan sekolah
ini akan mencapai tujuan pendidikan sebagaimana yang tercantum dalam Undang-
undang Sistem Pendidikan Nasional, pasal I, Ayat I yang berbunyi:
“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar
dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan
dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara”
82
Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran guru dituntut untuk bisa
menciptakan suasana belajar yang kondusif, sehingga memungkinkan dapat
mendorong peserta didik secara leluasa mengembangkan ktreativitasnya dengan
bantuan guru. Untuk ketercapaian suasana tersebut, salah satu cara yang ditempuh
oleh guru adalah dengan menguasai tekhnik atau metode penyampaian materi
yang tepat dalam proses pembelajaran sesuai dengan materi yang diajarkan dan
kemampuan anak didik yang menerima. Disinilah pentingnya kemampuan guru
untuk membuat suasana dan cara belajar dengan menggunakan berbagai metode
dan pendekatan yang atraktif, mampu merangsang seluruh indera peserta didik
yang akan mengarah pada tiga aspek pada tahap output nanti, yakni penilaian
otentik yang berdasarkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa.
Dari pemaparan di atas, sudah jelas sekali bagaimana desain konsep
Multiple Intelligences yang diterapkan di SD YIMA berjalan dengan lancar dan baik
mulai dari input, proses ataupun outputnya sehingga menyebabkan sekolah ini unggul
dan menjadi aset berharga bagi kabupaten Bondowoso serta menjadi barometer sekolah
unggulan di Bondowoso.

82
Undang-undang Sisdiknas, 2003. hal 2
2. Implementasi Konsep Multiple Intelligences di SD YIMA Islamic School
Bondowoso
Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Munif Chatib selaku CEO konsultan
di SD YIMA, implementasi Multiple Intelligences di sekolah ini secara global
meliputi 3 tahap penting, yaitu input, proses, dan output.
Pada bagian ini peneliti akan mengupas satu persatu dari ketiga tahapan
tersebut berdasarkan pengamatan, interview atau observasi yang peneliti lakukan
di sekolah ini.
a. Input
Pada tahap input, sekolah ini menggunakan Multiple Intelligence Research
(MIR) dalam penerimaan siswa barunya, proses penerimaan siswa baru di SD
YIMA ini menggunakan sistem kuota artinya Apabila sekolah ini berkapasitas 100
siswa dalam penerimaan siswa barunya, maka ketika pendaftar telah mencapai 100
siswa, pendaftaran akan ditutup. Jadi sekolah ini tidak menerapkan test seleksi masuk
dalam PSB. Kemudian siswa yang telah diterima akan mengikuti proses Multiple
Intelligences Research (MIR). MIR adalah alat riset psikologis yang mengeluarkan
diskripsi kecenderungan kecerdasan majemuk anak dan gaya belajarnnya. Data
ini dipakai agar guru mengetahui gaya belajar masing-masing siswanya. Dan
dari analisis terhadap kecenderungan kecerdasan tersebut, dapat disimpulkan
gaya belajar terbaik bagi seseorang.
Keterangan di atas sesuai dengan hasil interview dengan kepala SD YIMA
Bapak Abd Wasith, dimana beliau mengatakan :
“Melihat semakin banyaknya jumlah siswa yang mendaftar di sekolah ini, maka
dalam proses penerimaan siswa baru di SD YIMA menggunakan sistem kuota
artinya Apabila sekolah ini berkapasitas 100 siswa dalam penerimaan siswa barunya,
maka ketika pendaftar telah mencapai 100 siswa, pendaftaran akan ditutup. Jadi kami
sebagai kepala sekolah tidak menerapkan test seleksi masuk dalam PSB. Siswa yang
diterima akan mengikuti proses Multiple Intelligences Research (MIR). MIR adalah
semacam alat riset psikologis yang mengeluarkan diskripsi kecenderungan
kecerdasan majemuk anak dan gaya belajarnya. MIR ini bukan alat tes seleksi
masuk, melainkan sebuah riset yang ditujukan kepada siswa dan orang tuanya untuk
mengetahui kecenderungan kecerdasan siswa yang paling menonjol dan berpengaruh.
Melalui MIR, siswa dan guru dapat mengetahui banyak hal, seperti grafik
kecenderungan kecerdasan siswa, gaya belajar siswa, dan kegiatan kreatif yang
disarankan, yang tentunya berbeda antara satu siswa dan siswa lain. Setiap hasil MIR
menyatakan bahwa pada hakikatnya tidak ada siswa yang bodoh. Setiap siswa pasti
memiliki kecenderungan kecerdasan yang merupakan hasil dari kebiasaan-kebiasaan
siswa tersebut dalam berinteraksi, baik dengan dirinya sendiri (mengenal potensi diri)
maupun dengan pihak lain.”
83
MIR (Multiple Intelligences Research) merupakan tahap awal dari tiga
tahapan penting dalam menrapkan Multiple Intelligences. MIR adalah instrumen
riset yang dapat memberikan deskripsi tentang kecenderungan kecerdasan
seseorang. Dari analisis terhadap kecenderungan kecerdasan tersebut, dapat
disimpulkan gaya belajar terbaik bagi seseorang. Gaya belajar disini diartikan
dengan cara dan pola bagaimana sebuah informasi dapat dengan baik dan sukses
diterima oleh otak seseorang. Oleh sebab itu, seharusnya setiap guru memiliki
data tentang gaya belajar siswanya masing-masing. Kemudian setiap guru harus
menyesuaikan gayanya dalam mengajar dengan gaya belajar siswa yang telah
diketahui dari hasil MIR. Dari hasil MIR tersebut setiap guru akan masuk
kedunia siswa sehingga siswa merasa nyaman dan tidak berhadapan dengan
risiko kegagalan dalam proses belajar. Inilah yang dimaksud asas utama
quantum learning oleh Bobbi DePorter, yaitu masuk kedunia siswa.

83
Hasil interview tanggal 3 maret 2010, 19:00 wib
MIR di SD YIMA dilaksanakan setiap pada saat penerimaan siwa baru.
Hasil MIR pada penerimaan siwa baru menjadi data penting bagi guru di sana
untuk mengetahui kondisi siswa, terutama mengetahui informasi tentang gaya
belajarnya. Selanjutnya, MIR dapat dilaksanakan pada setiap tahun kenaikan
kelas. Hal ini sesuai dengan pernyataan Abd Wasith selaku Kepala Sekolah:
“MIR di sekolah ini setidaknya dilakukan setahun sekali tepatnya pada PSB
(Penerimaan Siswa Baru) dan selanjutnya dilaksanakan setiap tahun pada
kenaikan kelas. MIR ini biasanya dilaksanakan 3 bulan sebelum kenaikan kelas.
MIR di sekolah ini bertujuan untuk penentuan kelas dan gaya belajar siswa pada
saat di kelas nantinya”
84
Secara tekhnis pelaksanaan MIR di SD YIMA sangat sederhana. Dimana
ada sebuah tim khusus yang terdiri dari beberapa guru yang dipercaya untuk
pelaksanaan MIR, guru tersebut bukan guru sembarangan melainkan guru yang
sudah beberapa kali mendapatkan pelatihan khusus pelaksanaan MIR dari NEXT
WORLDVIEW yaitu semacam perusahaan yang bekerja dibidang konsultan
pendidikan dan pelatihan Multiple Intelligences di Surabaya. Jadi dari pelatihan
tersebut MIR di sekolah ini benar-benar professional dalam pelaksanaannya.
Dalam pelaksanaannya orang tua wali siswa diminta untuk mendampingi
anaknya agar nantinya tidak hanya guru yang tahu kecerdasan siswa melainkan
orang tuanya juga. Seorang guru memeriksa 3-4 siswa, dan setiap siswa
membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam. Waktu pelaksanaannya biasanya pada
saat jam pelajaran efektif dan bertempat di lab atau di aula. Wujud pemeriksaan
MIR berupa semacam tes psikologis meliputi bagaimana kecenderungan
kecerdasan siswa, afektivitas siswa ketika di rumah, dan sebagainya. Dan hasil

84
Hasil interview tanggal 3 maret 2010, 10:00 wib
analisis dari analisis MIR dijadikan acuan dalam mengajar, karena didalamnya
berisi arahan kepada guru untuk mengajar sesuai dengan kecenderungan
kecerdasan yang dimiliki siswa. untuk lebih jelasnya hasil analisis MIR tersebut
bisa dilihat pada Lampiran 5
Sehubungan dengan hal ini juga, Tuti Isnawati, selaku Guru Matematika
SD YIMA mengatakan:
“Sekolah ini cukup unik dan berani berbeda dalam proses penerimaan siswa
barunya (PSB). SD YIMA menggunakan alat riset yang bernama Multiple
Intelegent Research (MIR) dalam PSB. Ini bukan alat tes seleksi masuk
melainkan sebuag riset yang ditujukan pada siswa dan orang tuanya untuk
mengetahui kecenderungan kecerdasan siswa yang paling menonjol dan
berpengaruh. Dan hasil dari MIR ini juga dijadikan pedoman bagi guru dalam
proses mengajar untuk menyesuaikan kecenderungan gaya belajar siswa
berdasarkan kecerdasannya tadi. Hal ini yang membuat sekolah ini unggul.
Selain itu manajemen yang digunakan di SD ini sudah sangat bagus sehingga
segala sesuatu yang akan dilaksanakan dapat terkontrol oleh Kepala Sekolah”
85
Bapak Abdul Wasith juga menjelaskan:
“Selain digunakan untuk mengetahui kecenderungan gaya belajar siswa sesuai
kecerdasannya, MIR juga digunakan untuk proses pembagian kelas. Jadi setiap
anak dibagi kelasnya masing-masing sesuai kecenderungan kecerdasannya.
Tetapi tidak mungkin kami membagi kelas berdasarkan seluruh jumlah
kecerdasan yang dimiliki siswa, melainkan kami membaginya hanya dengan tiga
kelas, sesuai dengan ketiga kecerdasan yang paling menonjol diantara mereka,
yaitu kecerdasan linguistik, logis-matematis dan kinestetis.”
86
Berdasarkan pemaparan diatas, peneliti sangat yakin bahwa MIR adalah
riset yang luar biasa untuk membantu guru menemukan gaya belajar siswa.
Dengan MIR yang dilakukan rutin setiap tahun, setiap siswa akan memiliki data

85
Hasil interview tanggal 3 maret 2010, 12:00 wib
86
Hasil interview tanggal 3 maret 2010, 10:00 wib
riwayat kecerdasan yang memungkinkan seseorang lebih cepat menemukan
kondisi akhir terbaiknya. MIR yang dilakukan secara berkala terhadap seseorang
dalam hubungannya dengan proses belajar mengajar akan menjadi akselerator
bagi seseorang untuk menemukan kondisi terbaik. Setelah mempelajari tentang
MIR ini peneliti bertambah yakin bahwa potensi bakat itu harus dipicu dan
dikembangkan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Gardner bahwa kecerdasan
seseorang itu berkembang, tidak statis, kecerdasan seseorang lebih berkaitan
dengan kebiasaan, yaitu prilaku yang diulang-ulang.
b. Proses
Tahapan ini adalah tahapan pada proses pembelajaran, dimana nantinya
gaya mengajar guru harus sama dengan gaya belajar siswanya. disinilah letak
keampuhan strategi pembelajaran Multiple Intelligences yang jumlahnya
beragam dan sangat banyak seiring dengan kreativitas seorang guru dalam
mengajar. Terkadang sebuah aktivitas pembelajaran mengandung beberapa
strategi Multiple Intelligences. Namun sebaliknya, pelaksanaan strategi ini akan
menjadi lebih mudah jika langkah awal difokuskan pada model dan aktivitas
pembelajaran terlebih dahulu, baru setelah itu dilakukan analisis terhadap
aktivitas tersebut berkaitan dengan kecerdasan apa saja.
Berdasarkan pengamatan awal yang peneliti lakukan di beberapa kelas di
SD YIMA, strategi pembelajaran Multiple Intelligences terlihat sangat mudah
diterapkan di sana, hal ini tidak lain karena guru di sekolah ini sudah
menyesuaikan betul bagaimana cara mengajarnya sesuai dengan gaya belajar
siswa berdasarkan hasil MIR. Mungkin hal ini juga disebabkan seringnya adanya
pelatihan guru yang dilakukan di SD YIMA.
Pelatihan guru ini dilakukan oleh konsultan pendidikan di sekolah ini
atau mengundang ahli pendidikan. Pelatihan ini dilaksanakan dua kali setiap
bulan. Pelatihan ini bertujuan untuk memnerikan pengertian kepada guru
tentang bagaimana sebuah proses pembelajaran yang ideal. Mengingat
pembelajaran yang diterapkan di SD YIMA adalah pembelajaran dengan
pendekatan Multiple Intelligences, maka langkah pelatihan yang diberikan
kepada guru adalah bagaimana mengenal cara kerja otak siswa sehingga
memudahkan dan mengkondisikan kelas, pertama guru harus tahu bagaimana
mensetting kondisi kelas sesuai gaya belajar siswa. Kedua, dalam pelatihan
tersebut juga diajarkan bagaimana proses pembuatan lesson plan yang di
dalamnya mencakup kegiatan awal sampai akhir proses. Dalam lesson plan
guru harus menggambarkan seluruh kegiatanyang akan dilaksanakan beserta
seluruh alat pendukung dan sumber belajar sampai proses pengambilan nilai.
Hal ini senada dengan apa yang telah disampaikan oleh Bapak Abdul
Wasith selaku kepala sekolah:
“Masa depan sebuah sekolah di tentukan oleh sebuah kekuatan. Dan jika saja
kami memiliki kekuatan, kekuatan tersebut adalah program utama di sekolah
kami, yaitu pelatihan guru. Guru tidak hanya cukup membaca metode-metode
pembelajaran terbaru, guru harus dilatiha di dalamnya, seperti halnya aktor
atau penyair perlu berlatih. Setelah itu guru baru bisa mengajarkannya kepada
orang lain.”
87

87
Hasil interview tanggal 8 maret 2010, 09:15 wib
Selanjutnya pada pelatihan tersebut juga dijelaskan bagaimana atau
tentang hal-hal yang mendukung proses pembelajaran seperti, memecahkan
suasana kaku dalam kelas, scene setting, cara menghafal cepat, menulis dengan
cara mind mapping, memancing pertanyaan, menghukum, memberi reward,
menganalisis kegiatan siswa, sampai penilaiannya. Dalam penelitian ini juga
guru dibekali beberapa gambaran tentang penguasaan kelas yang terdiri dari
berbagai kemampuan.
Tentunya peneliti menyadari bahwa selama beberapa hari mengadakan
penelitian di sini ternyata peneliti menemukan banyak sekali strategi
pembelajaran dengan contoh-contoh aktivitas-aktivitas yang menarik siswa dan
kesemua strategi dan contoh aktivitas tersebut tidak sanggup peneliti uraian
dalam pemaparan ini. Tentunya dalam pemaran yang sekarang ini peneliti
ingin menggambarkan dan menjelaskan gambaran umum berikut contoh-
contoh yang menarik tentang beberapa strategi pembelajaran dengan konsep
Multiple Intelligences.
Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh kepala sekolah bahwa kelas di SD
YIMA dibagi menjadi tiga kelas sesuai dengan kecerdasan siswa yang paling
menonjol berdasarkan hasil MIR. Peneliti mengadakan pengamatan pada pada
kelas II saja. Karena kelas II dinilai peniliti sudah cukup mewakili dari
pengimplementasian pembelajaran berbasis Multiple Intelligences yang
diterapkan sekolah ini. Kelas kelas II dibagi menjadi tiga kelas yaitu kelas IIa,
IIb, dan IIc sesuai dengan kecenderungan kecerdasan yang dimiliki siswa-
siswinya. dengan perincian kelas yaitu: kelas IIa adalah kumpulan siswa yang
memiliki kecenderungan kecerdasan matematis-logis, kelas IIb kecerdasan
visual spasial dan kelas IIc kecerdasan naturalis.
Peneliti mengadakan pengamatan kelas pada tanggal 8-10 Maret 2010.
Dimulai dari kelas IIa, IIb sampai kelas IIc. Berikut ini hasil pengamatan peneliti
di kelas-kelas tersebut:
1) Kelas II a
Peneliti mengadakan pengamatan di kelas IIa Pada tanggal 8 Maret
2010. Sebagaimana yang diketahui kelas ini adalah kelas yang siswanya
memiliki kecenderungan kecerdasan matematis-logis.
Pada pagi hari sekitar jam 08.00 sebelum peneliti memasuki kelas IIa
ternyata seluruh siswa kelas IIa sudah berbaris rapi di depan kelasnya.
Peneliti bertanya kepada Bu Tuti selaku guru matematika, ternyata siswa-
siswa tersebut berbaris karena hendak mengunjungi sebuah toko swalayan
yang letaknya tak jauh dari sekolah. Wajah-wajah ceria dengan senyum manis
siswa menambah cerahnya mentari pagi. Tak lama kemudian sampailah
mereka ke toko swalayan yang pada pagi itu masih sepi pengunjung.
Seminggu sebelumnya, Bu Tuti telah menghubungi pemiliki toko
swalayan untuk meminta izin mengadakan program environment learning di
sana. Sesuai sekenario dalam lesson plan (rencana pembelajaran), beberapa
siswa disiapkan menjadi kasir dan yang lainnya menjadi pembeli. Betapa
lucunya ketika proses pembelajaran itu dimulai. Anak-anak yang berperan
sebagai pembeli mulai memilih barang, lalu membawanya ke kasir. Siswa
yang menjadi kasir kemudian menghitung, menjumlah, mengurangi,
terkadang juga mengalikan barang-barang yang telah dibeli.
Ketika peneliti bertanya kepada Ibu Tuti, “Apa yang sebenarnya mereka
pelajari?” kemudian Bu Tuti menjawab “mereka belajar aplikasi langsung
tentang pemjumlahan-pengurangan dan perkalian, Anak-anak memahami
secara langsung bagaimana penjumlahan itu bisa terjadi, dan bagaimana
pengurangan itu bisa terjadi. Anak-anak itu juga menjadi paham fungsi
praktis mempelajari penjumlahan, pengurangan dan perkalian dalam
kehidupan mereka.”
Suasana di toko swalayan itu menjadi ramai sebab suara anak-anak
yang riang gembira terdengar melebihi alunan musik dari loudspeakers yang
ada di sudut-sudut langit toko. Anak-anak juga dengan serius mendengar
instruksi dan penjelasan dari Bu Tuti. Sampai-sampai ada sebuah kejadian
menarik yang sulit dilupakan oleh peneliti dan Bu Tuti. Dimana ada seorang
siswa yang menangis karena ingin duduk di kursi kasir yang sebenarnya.
Setelah diberi kesempatan menjadi kasir beneran selama 10 menit, baru dia
bersedia kembali ke sekolah dengan tersenyum puas dan menyalami semua
karyawan di toko swalayan itu.
Sungguh luarbiasa strategi pembelajaran yang diterapkan oleh Bu Tuti,
dimana dia bisa menyesuaikan gaya belajar siswa dengan kecerdasanya
sehinga seluruh materi yang ada pada lesson plan tersampaikan dengan baik.
Dilain pihak strategi yang diterapkan oleh Bu Tuti tadi juga dapat
menumbuhkan kecerdasan lainnya. Karena dari aktivitas di toko swalayan
tadi selain kecerdasan matematis-logis, pembelajarannya juga berkaitan
dengan kecerdasan interpersonal, kinestetis dan linguistik.
2) Kelas IIb
Peneliti mengadakan pengamatan di kelas IIb Pada tanggal 9 Maret 2010.
Sebagaimana yang diketahui kelas ini adalah kelas yang siswanya memiliki
kecenderungan kecerdasan visual-spasial.
Ketika peneliti hendak memasuki kelas IIb, peneliti melihat petugas lab
membawa proyektor ke dalam kelas, ternyata setelah diamati lebih lanjut lagi
proyektor tersebut digunakan Bu Ani selaku guru akidah akhlak untuk
mengadakan movie learning yaitu salah satu strategi pembelajaran yang
berkaitan dengan kecerdsan spasial visual. Peniliti agak heran dengan strategi
yang diterapkan Bu Ani ini karena sebatas peniliti ketahui bahwa jarang
sekali atau bahkan tidak ada seorang guru yang menerapkan movie learning
untuk anak setingkat kelas 2 SD. Tetapi peneliti semakin kagum dengan
antusias para siswa untuk mengikuti program movie learning ini.
Film yang akan ditonton adalah film kartun Upin & Ipin dimana film
tersebut dinilai banyak memberikan sedikit masukan ataupun pelajaran bagi
prilaku siswa. sebelum pemutaran film, siswa dibagi menjadi beberapa
kelompok. Setiap kelompok diberi pertanyaan-pertanyaan penting untuk di
analisis saat film berlangsung dan setelah film selasai. Pada saat film diputar,
semua siswa serius memperhatikan sambil memegang alat tulis. Sesekali
mereka mencatat hal-hal yang dianggap penting dan berkaitan dengan
pertanyaan yang dibagikan oleh gurunya.
Setelah film selesai, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi untuk
membahas film tersebut dipandu oleh guru. Bagi peliti yang pada saat itu juga
menonton film Upin-Ipin, komentar dan analisis para siswa dalam diskusi itu
berbobot luar biasa. Siswa kelas IIb tersebut mampu membuat analisis prilaku
yang baik dengan hipotesis-hipotesis yang belum pernah ada sebelumnya. Hal
ini menandakan bahwa pembelajaran dengan metode movie learning sangat
berhasil diterapkan di kelas tersebut.
Metode movie learning ternyata sangat disukai oleh siswa. Daya analisis
mereka terpacu sehingga mereka menjadi kreatif dalam beropini bagai
pengamat ahli yang mengomentari sebuah prilaku seseorang yang dapat
diimplikasikan kekehidupan pribadi siswa. aktivitas pembelajaran seperti ini
selain kecerdasan visual spasial juga dapat meningkatkan kecerdasan
linguistik, interpersonal dan kecerdasan musikal.
3) Kelas IIc
Peneliti mengadakan pengamatan di kelas IIc Pada tanggal 9 Maret
2010. Sebagaimana yang diketahui kelas ini adalah kelas yang siswanya
memiliki kecenderungan kecerdasan naturalis.
Wajah siswa di kelas IIc itu dipenuhi rasa penasaran ketika peniliti dan
Bu Fitri selaku guru sains membawa dua ekor kelinci kedalam kelas.
Kemudian Bu Fitri menyuruh beberapa siswa untuk membantu menyiapkan
sejumlah jenis sayur mayur dan benda-benda lain. Ada segenggam kacang
hijau, jagung, beras, sayur, bayam, kangkung, wortel, dan sayuran lain. Dua
kelinci itu kemudian diletakkan di tengah kelas. Dengan segera pandangan
semua siswa di kelas itu tertuju pada meja tempat kelinci dan sayur mayur
tersebut akan “berinteraksi”.
Sambil sedikit terlibat dorong mendorong, para siswa sangat antusias
mengerumuni kelinci dan sayur mayur itu. Terdapat 10 macam buah, sayur,
dan biji-biji yang ditempatkan di atas meja. Bu Fitri meminta semua siswa
untuk menebak sepuluh benda itu mana saja yang menjadi makanan kelinci.
Saya melihat sendiri bagaimana semangatnya para siswa memperhatikan
benda-benda yang ada di atas meja sambil melihat wajah-wajah kelinci yang
bingung karena dikelilingi banyak anak. Anak-anak segera bertanya satu
sama lain tentang biji kacang hijau. Tentang wortel dan sebagainya. Mereka
kemudian memberikan contreng pada tabel yang suda disiapkan ibu guru
sebelumnya. Tabel tersebut dinamakan tabel hipotesis.
Setelah semua siswa menebak, kini tiba pembuktian hipotesis dilakukan.
Satu persatu siswa maju untuk memberikan masing-masing makanan yang
ada di atas meja kepada kelinci dan diminta mencatat makanan mana saja
yang dimakan oleh kelinci dan mana yang tidak. Suasana di dalam kelas
menjadi semarak. Ada siswa yang bertanya kepada guru mengapa biji kacang
hijau tidak di sukai oleh kelinci, dan banyak lagi kejadian menarik yang dapat
peniliti amati dan catat.
Setelah pembuktian hipotesis selesai, barulah semua siswa diajak
berkumpul dan menganalisis. Pada awalnya perkiraan peneliti anak-anak
tidak akan tertarik pada tahap ini. Ternyata, dugaan peneliti keliru, puluhan
pertanyaan yang menandakan keingintahuan besar para siswa muncul. Semua
pertanyaan tersebut dicatat oleh Bu Fitri dan dijawab sesuai dengan tingkat
pemahaman siswa.
Pada tahap akhir, Bu Fitri dan para siswa menarik kesimpulan apa saja
makanan kelinci dan mengapa kelinci menyukainya. Kesimpulan ini
berkaitan dengan struktur gigi kelinci, habitat tempat tinggal kelinci, dan
cirri-ciri lainya mengenai kehidupan kelinci. Peneliti sempat menghitung
waktu yang dibutuhkan untuk model aktivitas tadi tidak kurang dari 35 menit.
Peneliti sangat puas sekali melihat strategi pembelajaran ini berjalan
dengan baik. Anak-anak terlihat senang dengan pembelajaran seperti ini
meskipun bayak yang masih penasaran. Keesokan harinya peneliti terkejut
ketika beberapa orang tua mengabarkan bahwa sore hari setelah pembelajaran
itu, banyak anak yang menceritakan pengalaman menarik tersebut kepada
orang tuanya. Mereka meminta orangtuanya untuk ikut melakukan penelitian
lebih mendalam tentang lebih banyak binatang lagi. Beberapa anak ingin
meneliti makanan ayam, anak lain ingin meneliti makanan kambing dan sapi,
dan masih banyak lagi keinginan untuk meneliti makanan binatang lainnya.
Dari model pembelajaran ini peneliti dapat menarik kesimpulan bahwa
metode pembelajaran ini sangat cocok untuk diterapkan kepada siswa yang
memiliki kecenderungan kecerdasan naturalis diatas rata-rata. Dan model
pembelajaran ini juga terbukti mampu meroketkan ketertarikan siswa
terhadap ilmu pengetahuan, khususnya sains. Selain kecerdasan naturalis
ternyata sebenarnya pembelajaran tersebut merupakan perpaduan dari
beberapa kecerdasan lain, diantaranya terdapat perpaduan antara kecerdasan
matematis-logis, kecerdasan linguistik, kecerdasan intrapersonal dan
kecerdasan interpersonal.
Berdasarkan pengamatan yang sudah peneliti lakukan pada ketiga kelas
di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa proses pembelajaran berbasis
Multiple Intelligences yang diterapkan di SD YIMA Islamic School Bondowoso
cukup berjalan secara optimal. Dimana setiap pembelajarannya peneliti
menemukan banyak kesesuaian antara gaya mengajar guru dan gaya belajar siswa
yang memiliki kecenderungan kecerdasan yang bermacam-macam. Dan juga
hampir seluruh pembelajarannya difokuskan pada kondisi siswa beraktivitas.
Peneliti juga melihat guru-guru di SD YIMA Islamic School ini sudah
berpengalaman dalam menggunakan strategi pembelajaran Multiple Intelligences
pada proses pembelajarannya. Sehingga tidak salah apabila saat ini SD YIMA
Islamic School menjadi barometer dan sekaligus sekolah percontohan di
Kabupaten Bondowoso.
Selain melakukan observasi di kelas peneliti juga menyempatkan untuk
melakukan interview dengan beberapa siswa terkait penerapan pembelajaran di
kelas-kelas mereka.
Berikut ini tanggapan beberapa siswa terkait penerapan Multiple
Intelligences di kelasnya:
88

88
Hasil interview tanggal 5 maret 2010, 10:00 wib
a. Aku senang sekolah ini menerapkan Multiple Intelligences, dan enak aku
belajarnya di luar terus. Gurunya juga enak kalo ngajar gak pernah
marah. Aku kalo belajar sambil main lo di kelas, (Fatimah Muchsin,
kelas IV SD YIMA)
b. Menurut saya sekolah saya sudah unggul dari sekolah lainnya karena
sekolah ini menerapkan Multiple Intelligences. saya kalo belajar sesuai
dengan apa yang saya inginkan. Saya belajaranya juga gak hanya di
dalam kelas aja. Gurunya enak juga mengajarnya, (Salehuddin, kelas V
SD YIMA)
c. Sudah 6 tahun saya sekolah disini gak ada masalah. Setahu saya setiap
ajaran baru ada MIR dan guru-guru selalu rapat untuk proses
pembelajaran siswanya. Setiap 1 bulan sekali saya belajarnya di luar
sekolah misalnya ke kantor-kantor untuk mengenal lebih dalan apa yang
kita pelajari. Menurut saya sekolah ini sudah unggul. Guru juga semua
sudah sarjana jadi kita gak pernah khawatir masalah pelajaran yang
disampaikan (Fatimah ratu, kelas VI SD YIMA)
Dari pemaparan beberapa siswa di atas terlihat bagaimana siswa tersebut
sangat menyukai konsep Multiple Intelligences pada pembelajaran mereka.
Sehingga dampak dari pembelajaran ini ternyata cukup jitu untuk merangsang
siswa-siwa agar berkereatif untuk menemukan hal-hal baru dalam dunianya sesuai
dengan pendekatan kecerdasan yang dimilikinya.
c. Output
Tahap ini adalah tahapan terakhir dari 3 tahap penting penerapan konsep
Multiple Intelligences di sekolah. Tahapan terakhir ini adalah proses penilaian
dari proses pembelajaran. Dalam pembelajaran dengan pendekatan Multiple
Intelligences penilaian yang digunakan adalah penilaian otentik. Penilaian
otentik adalah sebuah penilaian terhadap sosok utuh seorang siswa yang bukan
diukur dari segi kognitif saja melainkan diukur juga dari segi afektif siswa dan
segi psikomotoriknya. Bisa dikatakan juga penilaian otentik ini adalah penilaian
berbasis proses, artinya penilaian ini diambil berdasarkan proses
berkesinambungan yang dilakukan dari awal pertemuan, proses pembelajaran
sampai menjadi laporan akhir. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Waka
Kurikulum Bapak Ahmad:
“Dalam penilaian otentik, kemajuan siswa dilihat dari kompetensi siswa tersebut
dalam menerima pelajaran. Kompetensi siswa dapat dilihat dari keseluruhan
proses pembelajaran. Pada saat sebuah proses berlangsung, maka disitulah waktu
yang tepat untuk mendapat atau mengambil penilaian. Sehingga pada saat guru
selesai mengajar, maka guru tersebut sudah mendapat nilai dari proses
pembelajaran tersebut.”
89
Hal senada juga disampaikan oleh kepala sekolah Bapak Abd Wasith:
“Penilaian otentik dilukakan pada proses pembelajaran bukan pada akhir
pembelajaran. Sehingga dengan model penilaian otentik ini sekolah dapat
sewaktu-waktu mengetahui hasil siswa tanpa harus mununggu sampai akhir
semsester atau akhir tahun pembelajaran.”
90
Penilaian otentik di sekolah ini dilakukan terhadap keseluruhan kompetensi
yang telah dipelajari siswa melalui kegiatan pembelajaran. Dan sebagaimana
telah dijelaskan di atas bahwa dalam penilaian ini siswa dinilai dari 3 ranah,
yaitu kognitif, psikomotorik dan afektif.
1) Penilaian kognitif
Penilaian kognitif di SD YIMA dinilai melalui tes lisan, berupa
pertanyaan lisan yang digunakan untuk mengetahui daya serap siswa terhadap
masalah yang berkaitan dengan materi. Dan bentuk tes tulis, dilakukan untuk
mengungkap penguasaan siswa mulai dari jenjang pengetahuan, pemahaman,
penerapan, analisis, sintesis sampai pada evaluasi dalam bentuk esay singkat,

89
Hasil interview tanggal 8 maret 2010, 09:30 wib
90
Hasil interview tanggal 5 maret 2010, 08:00 wib
menjodohkan, pilihan ganda, uraian obyektif, uraian non obyektif, hubungan
sebab akibat, hubungan kontek, klasifikasi atau kombinasinya. Penilaian pada
aspek kognitif ini dilakukan setelah siswa mempelajari satu kompetensi dasar
yang harus dicapai dalam pembelajaran. Untuk lebih jelasnya dari wujud
penilaian kognitif ini dapat dilihat pada Lampiran 6.
2) Penilaian afektif
Pada penilaian ranah afektif SD YIMA telah membuat indikator yang
dibuat oleh sekolah sebagai tolok ukur. Tolok ukur ini dibuat untuk penilaian
afektif di dalam dan di luar kelas. Adapaun indikator afektif untuk di dalam
dan di luar kelas yaitu: kekhusu’an anak dalam beribadah, kedisiplinan siswa,
kapatuhan kepada guru, kesetiakawanan, respon pada materi. Penilaian afektif
ini diilakukan selama berlangsungnya proses pembelajaran baik yang
dilakukan di dalam atau di luar kelas. Untuk lebih jelasnya dari wujud
penilaian afektif ini dapat dilihat pada Lampiran 7.
3) Penilaian psikomotorik
Dalam penilaian ranah psikomotorik bentuk kompentesi yang dinilai
adalah segala macam kompentensi yang dapat diraih dengan aktivitas
pembelajaran bukan tes, melainkan sebuah aktivitas yang memerlukan gerak
tubuh atau perbuatan, kinerja, imajinasi, kreativitas dan karya-karya
intelektual. Contohnya yaitu tes menggambar, tes identifikasi, tes simulasi, tes
menggunakan alat-alat, dan sebagainya. Penilaian psikomotorik ini dilakukan
selama berlangsungnya proses pembelajaran. Untuk lebih jelasnya dari wujud
penilaian penilaian psikomotorik ini dapat dilihat pada Lampiran 8.
Hal yang perlu mendapat perhatian lebih dalam penilaian ini adalah
kesinambungan penilaian dalam penerapanya antar tiga ranah tersebut dan dalam
hal ini SD YIMA merekam secara administratif ketiga ranah tersebut dalam
sebuah portofolio, sebabagaimana wujud penilaiannya dapat dilihat pada.
Lampiran 9.
Hasil penilaian dari tiga ranah tersebut langsung di input dalam data
penilaian siswa oleh seorang operator dan hasil interpretasi bisa diakses kapan
saja oleh sekolah ataupun pihak lain yang ingin mengetahui tanpa harus
menunggu laporan hasil akhir. Sehingga perkembangan siswa setiap hari, minggu,
sampai hitungan bulan bisa diketahui dengan cepat. Sebagaimana yang
disampaikan oleh Ibu Gamar:
“Hasil penilaian otentik yang didapat oleh guru dari satu komptensi dasar dapat
langsung diinput dalam computer kami yang sudah ada operator ahlinya. Bentuk
penilaian ini selain otentik juga meringankan beban administrasi yang selama ini
menjadi momok banyak guru.”
91
Berdsarkan pemaparan diatas dapat diketahui bahwa penilaian otentik
adalah penilaian yang berbasis proses. Penilaian ini merupakan rangkuman
seluruh kompetensi yang telah dipelajari siswa melalui kegiatan pembelajaran.
Jadi, seadainya ada wali siswa yang ingin mengetahui kompentesi anaknya tidak
harus menunggu sampai akhir semester, mereka bisa kapan saja dapat mengetahui
kompetensi anaknya melalui penilaian otentik ini.
3. Evaluasi dari pengimplementasian Konsep Multiple Intelligences di SD
YIMA Islamic School Bondowoso

91
Hasil interview tanggal 8 maret 2010, 09:00 wib
Dalam sebuah program sangat dibutuhkan sebuah evaluasi. Evaluasi ini
ditujukan untuk menilai sejauh mana program tersebut terlaksana sesuai dengan
tujuan awal program itu dibuat. Selain itu juga, evaluasi juga ditujukan untuk
memberikan umpan balik untuk mengadakan berbagai macam penyempurnaan
terhadap kekurangan-kekurangan yang ada.
Evaluasi dari pengimplementasian konsep Multiple Intelligences di SD
YIMA secara keseluruhan terletak pada efektivitas kinerja guru dalam mengajar
menggunakan konsep multiple intelligences, jadi evaluasi ini dilihat sejauh mana
seorang guru berhasil dalam menerapkan metode atau gaya mengajar sesuai
Multiple Intelligences siswa. Seorang guru merupakan kunci sukses keberhasilan
dalam penerapan pembelajaran berbasis multiple intelligences di sekolah ini.
Sebagaimana yang disampaikan oleh Munif Chatib:
“Setiap unsur sekolah ini punya andil yang besar untuk mensukseskan konsep
multiple intelligences, tetapi elemen yang terpenting adalah seorang guru.
Sekolah unggul yang menganut konsep “the best proses” seperti sekolah ini
dapat berhasil apabila didukung oleh kualitas guru yang professional. Aset
terbesar dan paling bernilai di sebuah sekolah adalah guru yang berkualitas
dalam mengajarnya.”
92
Jadi sudah jelas mengapa dalam evaluasi di sekolah ini lebih ditekankan
pada sosok guru dari pada unsur sekolah lainya. Hal senada juga disampaikan Abd
Wasith selaku kepala sekolah SD YIMA, dimana beliau mengatakan:
“Karena guru memiliki peranan paling besar dalam pembelajaran Multiple
Intelligences ini, maka sekolah pun memberikan evaluasi khusus kepada guru-
guru dengan harapan guru dapat meningkatkan kualitas pembelajarannya.
93
Hal ini juga disampaikan oleh Ibu Tuti selaku guru matematika:

92
Hasil interview tanggal 8 maret 2010, 09:00 wib
93
Hasil interview tanggal 4 maret 2010, 12:30 wib
“Pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang berkualitas artinya
pembelajaran itu harus menyenangkan, dan guru yang paling banyak berperan
dalam membuat pembelajaran itu menyenangkan.”
94
Lebih lanjut lagi Waka kurikulum Bapak Ahmad mengungkapkan:
“Intinya dalam penerapan multiple intelligences, proses pembelajaran merupakan
hal yang paling mendasar sehingga menuntut kreatifitas seorang guru sebagai
“pemroses”, dalam sekolah yang baik guru yang berkualitas menjadi faktor
terdepan dalam membuat siswa untuk aktif dalam belajar, jadi dalam
pembelajaran itu bukan ditekankan pada siswa yang harus pandai.
95
Dari beberapa pernyataan di atas dapat peneliti simpulkan bahwa
pendidikan yang bermutu sangat tergantung pada keberadaan guru yang bermutu
atau berkualitas dan keberadaan guru yang bermutu merupakan syarat mutlak
tercapainya proses pembelajaran yang diinginkan. Guru adalah sebuah potret yang
selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari upaya mencerdaskan bangsa. Diakui
atau bahkan dilupakan guru adalah salah satu komponen pencipta peradaban yang
tak dapat dipungkiri bahwa tugas dan tanggung jawabnya lebih besar secara
moral, dan hendaknya semua itu dipandang secara positif. Karena inilah
kesempatan seorang guru untuk mendarmabaktikan dirinya semaksimal mungkin
demi nusa bangsa dan negara.
Berdasarkan interview dengan konsultan dan kepala sekolah dapat dapat
peneliti simpulkan bahwa secara tekhnis pelaksanaan evaluasi di SD YIMA
terbagi menjadi beberapa tahap yaitu:
1. Konsultasi lesson plan ( Rencana Pembelajaran)

94
Hasil interview tanggal 5 maret 2010, 08:00 wib
95
Hasil interview tanggal 5 maret 2010, 09:00 wib
Setelah mendapat pelatihan tentang membuat sebuah pembelajaran yang
ideal, guru membuat persiapan dalam bentuk lesson plan sesuai dengan jenis
kelas dan bidang studi yang diajarkannya. Namun guru belum bisa langsung
menuangkannya ke dalam kelas karena harus melalui tahap konsultasi dengan
konsultan. Tujuannya tidak lain adalah hanya untuk mereduksi berbagai
macam kendala-kendala yang kemungkinan akan terjadi dan juga sekaligus
konsultan bisa mengetahui kualitas lesson plan yang akan dijadikan acuan guru
di dalam kelas. Dengan lesson plan dapat diketahui juga bagaimana gambaran
proses pembelajaran yang akan berlangsung. Dalam tahap konsultasi ini guru
mendiskusikan rencana strategi mengajar yang sudah disusun berdasarkan gaya
belajar siswa yang sudah diketahui, terkait materi, strategi, media, teaching
aids dan sebagainya. Jika dalam tahap ini lesson plan yang dibuat oleh guru
dianggap tidak berkulitas maka konsultan harus memberikan solusi.
Sebagaimana yang disampaikan oleh Ibu Gamar:
“Aturan mainnnya dalam konsultasi, konsultan menilai kualitas sebuah lesson
plan yang dibuat oleh guru, namun kadang-kadang yang sudah dianggap baik
oleh guru belum bisa diterapkan dikelas menurut konsultan. Jika sudah mutlak
begitu, konsultan memberikan beberapa jalan keluar berupa arahan-arahan
bagaimana membuat lesson plan yang baik. Namun hal tersebut dilakukan
konsultan sesekali saja tidak teruss-menerus, hal ini bertujuan supaya guru
tidak malas untuk membuat lesson plan.”
96
Yang membuat perbedaan dari lesson plan yang dibuat oleh guru yang
menerima penerapan Multiple Intelligences dengan yang tidak, biasanya kulitas
guru Multiple Intelligences lesson plannya orisinil, kreatif, dan up to dete,

96
Hasil interview tanggal 8 maret 2010, 11:00 wib
karena dalam pembuatannya selalu dipantau oleh konsultan yang
berpengalaman. Sebgaimana yang disampaikan oleh Bapak Abd Wasith:
“Lesson plan yang dibuat oleh guru dibawah pantauan konsultan biasanya
lebih orisinil, akurat, dan penuh dengan kreativitas. Karena selama ini sekolah-
sekolah yang tidak menerapkan Multiple Intelligences dalam prosesnya jarang
mengontrol lesson plan yang dibuat oleh gurunya. Kalaupun ada itupun
biasanya lesson plan dari tahun ajaran kemarin hanya disesuaikan sedikit
tanggal serta kegiatannya.
97
Untuk lebih jelasnya mengenai cohtoh form untuk konsultasi lesson plan
yang dilakukan konsultan kepada para guru dapat dilihat pada Lampiran 10.
2. Observasi kelas
Observasi biasanya dilakukan oleh konsultan dan kepala sekolah di
dalam kelas atau di tempat belajar yang biasa dipakai oleh guru dalam
mengadakan kegiatan pembelajaran. Hal tersebut dilakukan agar konsultan
atau kepala sekolah mengtahui langsung bagaimana cara mengajar guru. Dan
juga melihat tentang bagaimana singkronisasi antara lesson plan yang dibuat
dengan kenyataan di lapangan. Sehingga nantinya ada sedikit perbaikan dalam
kegiatan pembelajaran berikutnya.
Untuk lebih jelasnya mengenai form observasi yang dilakukan oleh
konsultan ketika mengamati proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru
dapat dilihat pada Lampiran 11.
3. Feed Back
Feed back atau umpan balik adalah evaluasi terakhir dari konsultan untuk
menjelaskan hasil dari observasi pada proses pembelajaran yang dilakukan

97
Hasil interview tanggal 8 maret 2010, 11:30 wib
oleh guru. Pada tahap evaluasi ini biasanya terjadi dialog dan interaksi yang
intens antara guru dan konsultan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang
terjadi dalam proses pembelajaran serta perbaikan kualitas lesson plan yang
dibuat. Hal ini brtujuan untuk menemukan gaya mengajar maupun gaya belajar
yang cocok.
Kita semua yakin bahwa guru memiliki andil yang sangat besar terhadap
keberhasilan pembelajaran di sekolah. Guru sangat berperan dalam membantu
perkembangan peserta didik untuk mewujudkan tujuan hidupnya secara optimal.
Keyakinan itu muncul karena manusia adalah manusia lemah, yang dalam
perkembangannya senantiasa membutuhkan orang lain, sejak lahir, bahkan pada
saat meninggal. Semuanya menunjukkan bahwa setiap orang membutuhkan orang
lain dalam perkembangannya, demikian halnya seorang siswa yang membutuhkan
seorang guru untuk meningkatkan dan mengembangkan kemampuan dan potensi-
potensi yang dimilikinya secara optimal. Kini sudah jelaslah mengapa evaluasi
dari penerapan Multiple Intelligences di SD YIMA Islamic School terletak pada
efektitas dan kerja gurunya.
BAB V
PEMBAHASAN
Setelah ditemukan data yang peneliti harapkan, baik dari hasil observasi,
interview maupun dokumentasi, pada uraian ini akan kami sajikan uraian bahasan
sesuai dengan rumusan masalah penelitian dan tujuan penelitian. Pada
pembahasan ini peneliti akan mengintegrasikan temuan yang ada di lapangan
kemudian memodifikasi teori yang ada dan kemudian membangun teori yang baru
serta menjelaskan tentang implikasi-implikasi dari hasil penelitian.
A. Desain Konsep Multiple Intelligences di SD YIMA Islamic School Bondowoso
Kunci utama keunggulan sebuah sekolah itu terletak pada pelayanan
terhadap siswanya dengan memberikan kesempatan untuk mengembangkan
potensi-potensi yang dimilikinya. Sekolah unggul adalah sekolah yang apabila
kualitas inputnya biasa-biasa dan kualitas outputnya luar biasa. Jadi, intinya
adalah Sekolah unggul adalah sekolah yang fokus pada kualitas pembelajarannya.
Dengan kata lain, sekolah yang mampu mengubah kualitas akademis dan moral
siswanya dari negatif menjadi positif, itulah sekolah unggul.
Dari kajian teori pada bab dua dan hasil penelitian yang sudah dipaparkan
pada bab empat, setidaknya terdapat persamaan persepsi yang saling melengkapi
satu sama lain. Di dalam kajian teori dijelaskan bahwa untuk membuat sekolah
itu menjadi unggul pertama-tama yang harus di perbaiki adalah adalah proses
pembelajarannya, yakni bagaimanakah gaya belajar dan mengajar guru dan
siswanya di dalam kelas untuk menghasilkan sebuah lulusan yang bermutu
tinggi.
Hal ini selaras dengan desain konsep Multiple Intelligences yang
diterapkan di SD YIMA. Dimana desain konsep penerapan MI (multiple
intelligences) di sekolah ini intinya terletak pada tiga hal penting yaitu input,
proses dan outputnya. Jadi ketiga hal tersebut harus sesuai dengan pola multiple
intelligences yang dimiliki oleh siswa. dan bagaimana membuat sebuah proses
pembelajaran yang menyenangkan dan disesuaikan dengan gaya belajar siswa
berdasarkan multiple intelligences yang dimilikinya. Rumusnya adalah gaya
mengajar guru harus sama dengan gaya belajar siswa, jadi guru harus megetahui
bagaimana gaya belajar siswa yakni dengan menjadikan hasil MIR (Multiple
Intelligences Research) pada input sebagai pedoman bagi guru dalam mengajar.
Dari hasil penelitian dapat dilihat bagaimana upayanya dalam
mewujudkannya sebagai sekolah unggul, SD YIMA menekankan desain konsep
multiple intelligences pada proses pembelajaraannya. Hal ini dibuktikan
bagaimana SD YIMA menerapkan MIR (Multiple Intelligences Research)
dalam penerimaan siswa barunya untuk mengetahui gaya belajar siswa yang
kelak sangat berpengaruh pada proses pembelajarannya. Berdasarkan kesesuaian
antara kajian teori dan hasil data yang diperoleh oleh peneliti, maka dalam hal
ini peneliti dapat menyimpulkan bahwa proses pembelajaran merupakan ruh dari
sebuah sekolah. Jadi, apabila ruh tersebut hilang, maka sekolah akan hancur dan
tak berguna meskipun kondisi fisik sekolah tersebut sangat baik dan dapat
dipertegas lagi bahwa unggul tidaknya sebuah sekolah terletak pada kualitas
proses pembelajarannya.
B. Implementasi Konsep Multiple Intelligences di SD YIMA Islamic School
Bondowoso
Dalam kajian teori dijelaskan bahwasanya sekolah yang baik adalah
sekolah yang secara terus menerus meningkatkan kinerjanya dan menggunakan
sumberdaya yang dimilikinya secara optimal untuk menumbuh-kembangkan
prestasi siswa secara menyeluruh. Berarti bukan hanya beberapa kecerdasan saja
yang ditumbuh-kembangkan, melainkan seluruh potensi kecerdasan. Dan betapa
indahnya sebuah proses belajar dalam sebuah kelas apabila guru memandang
semua siswanya pandai dan cerdas, serta para siswanya merasakan semua
pelajaran yang diajarkan mudah dan menarik. Sungguh kelas tersebut akan hidup
dan terasa nyaman.
Sebagaimana yang telah dipaparkan pada bab sebelumnya bahwa
implementasi konsep Multiple Intelligences yang di SD YIMA Islamic School
meliputi tiga tahap penting yaitu: input, proses dan outputnya. Peneliti dapat
menyimpulkan bahwa pengimplementasian konsep Multiple Intelligences di
sekolah ini sudah sangat baik dan cukup optimal.
a) Input
Pada tahap input, sekolah ini menggunakan Multiple Intelligence Research
(MIR) dalam penerimaan siswa barunya dan proses penerimaan siswa baru di
SD YIMA menggunakan sistem kuota artinya Apabila sekolah ini berkapasitas
100 siswa dalam penerimaan siswa barunya, maka ketika pendaftar telah mencapai
100 siswa, pendaftaran akan ditutup. Jadi sekolah inin tidak menerapkan test seleksi
masuk dalam PSB.
Dari temuan yang peneliti peroleh diatas, sudah jelas bagaimana SD YIMA
Islamic School berusaha untuk menciptakan sebuah proses pembelajaran yang
sangat berkualitas dengan cara mengidentifikasi kecerdasan siswanya terlebih
dahulu. Hal ini merupakan langkah jitu yang dijadikan acuan oleh para guru
dalam mengajar sehingga dalam proses pembelajarannya terjadi kesesuaian
antara gaya mengajar guru dan gaya belajar siswa yang memiliki kecenderungan
kecerdasan yang bermacam-macam. Sehingga dalam proses pembelajarannya
tidak jarang ditemukan kondisi siswa yang terlihat senang dan aktif mengikuti
pembelajaran.
Di dalam kajian teori dijelaskan bahwa Sekolah unggulan adalah sekolah
yang mampu membawa setiap siswanya mencapai kemampuan secara terukur
dan mampu ditunjukkan melalui prestasi. Jadi MIR (Multiple Intelligences
Research) ini merupakan langkah awal bagaimana seorang siswa dapat
menemukan kemampuan aslinya yang kelak akan berguna baginya pada saat
proses belajar berlangsung.
b) Proses
Tahapan ini adalah tahapan pada proses pembelajaran, dimana nantinya
gaya mengajar guru harus sama dengan gaya belajar siswanya. Berdasarkan
pengamatan yang peneliti lakukan di beberapa kelas di SD YIMA, strategi
pembelajaran Multiple Intelligences terlihat sangat mudah diterapkan di sana,
hal ini tidak lain karena guru di sekolah ini sudah menyesuaikan betul
bagaimana cara mengajarnya sesuai dengan gaya belajar siswa berdasarkan
kecenderungan kecerdasannya.
Pada saat melakukan pengamatan dibeberapa kelas yang siswanya memiliki
kecenderungan kecerdasan matematis-logis, visual-spasial dan naturalis, peneliti
menemukan berbagai macam strategi pembelajaran di dalamnya mulai dari
mengunjungi toko swalayan, menonton film hingga membawa dua ekor kelinci
ke dalam kelas. Peneliti sungguh merasa senang sekali melihat strategi
pembelajaran yang diterapkan di beberapa kelas tersebut berjalan dengan baik.
Para siswanya juga terlihat senang dan memiliki antusiasme yang sangat tinggi
dalam mengikuti proses pembelajarannya.
Dalam bab kajian teori di atas, Thomas Amstrong dalam bukunya Paul
Suparno menjelaskan bahwa:
“Strategi pengajaran yang harus digunakan oleh guru dalam
mengembangkan kecerdasan ganda, strategi dalam proses pembelajarannya harus
berlangsung sesuai dengan kecerdasan yang dominan pada siswa dengan
memperhatikan setiap kecerdasan yang dimiliki oleh siswa-siswa.”
98
Penjelasan Amstrong di atas sesuai dengan proses pembelajaran berbasis
Multiple Intelligences yang diterapkan di SD YIMA Islamic School Bondowoso.
Dimana proses pembelajarannya cukup berjalan secara optimal dan disetiap
pembelajarannya peneliti menemukan banyak kesesuaian antara gaya mengajar
guru dan gaya belajar siswa yang memiliki kecenderungan kecerdasan yang
bermacam-macam sebagaimana yang telah diungkapkan di atas.

98
Paul Suparno, op. cit., hlm.92.
c) Output
Tahap ini adalah tahapan terakhir dari 3 tahap penting penerapan konsep
Multiple Intelligences di sekolah. Tahapan terakhir ini adalah proses penilaian
dari proses pembelajaran. Dalam pembelajaran dengan pendekatan Multiple
Intelligences penilaian yang digunakan adalah penilaian otentik. Penilaian
otentik di sekolah ini dilakukan terhadap keseluruhan kompetensi yang telah
dipelajari siswa melalui kegiatan pembelajaran. Dan sebagaimana telah
dijelaskan di atas bahwa dalam penilaian ini siswa dinilai dari 3 ranah, yaitu
kognitif, psikomotorik dan afektif.
Bisa dikatakan juga penilaian otentik ini adalah penilaian berbasis proses,
artinya penilaian ini diambil berdasarkan proses berkesinambungan yang
dilakukan dari awal pertemuan, proses pembelajaran sampai menjadi laporan
akhir. Sebagaimana yang peneliti temui pada obyek penelitian bahwasanya
dalam penilaian otentik, kemajuan siswa itu dilihat dari kompetensi siswa
tersebut dalam menerima pelajaran. Kompetensi siswa dapat dilihat dari
keseluruhan proses pembelajaran. Pada saat sebuah proses berlangsung, maka
disitulah waktu yang tepat untuk mendapat atau mengambil penilaian. Sehingga
pada saat guru selesai mengajar, maka guru tersebut sudah mendapat nilai dari
proses pembelajaran tersebut.
Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwasanya penilaian otentik ini
merupakan sebuah penilaian yang bertujuan untuk memperoleh ukuran
keberhasilan proses pembelajaran. Jadi sudah tepat apabila dalam pembelajaran
yang berbasis multiple intelligences ini penilaian yang digunakan adalan
penilaian yang berbasis proses. Artinya penilaian ini diambil berdasarkan proses
berkesinambungan yang dilakukan dari awal pertemuan, proses pembelajaran
sampai menjadi laporan akhir.
C. Evaluasi dari pengimplementasian Konsep Multiple Intelligences di SD
YIMA Islamic School Bondowoso
Dalam kajian teori dijelaskan bahwa kualitas proses pembelajaran bergantung
pada kualitas para guru yang mengajar di sekolah. Apabila kualitas guru di sekolah
tersebut baik, maka akan baik pula proses pembelajaran di sekolah itu. Sekolah unggul
adalah sekolah yang para gurunya mampu menjamin semua siswa akan dibimbing ke
arah perubahan yang lebih baik, bagaimanapun kualitas akademis dan moral yang
mereka miliki.
Menyesuaikan dari apa yang telah didapat pada kajian teori, tidak salah
seandainya SD YIMA Islamic School ini mengadakan evaluasi khusus terhadap
para gurunya. Karena guru memiliki peranan paling besar dalam pembelajaran
Multiple Intelligences ini, maka sekolah pun memberikan evaluasi khusus kepada
guru-guru dengan harapan guru dapat meningkatkan kualitas pembelajarannya.
Dari sini peneliti dapat menyimpulkan bahwa pendidikan yang bermutu
sangat tergantung pada keberadaan guru yang bermutu atau berkualitas dan
keberadaan guru yang bermutu merupakan syarat mutlak tercapainya proses
pembelajaran yang diinginkan. Jadi sudah sangat tepat sendainya evaluasi dari
pengimplementasian konsep Multiple Intelligences di SD YIMA secara
keseluruhan terletak pada efektivitas kinerja gurunya dalam mengajar. Evaluasi
ini dilihat sejauh mana seorang guru berhasil dalam menerapkan metode atau gaya
mengajar sesuai Multiple Intelligences siswa.
Proses pembelajaran merupakan hal penting untuk tercapainya tujuan
pendidikan. Dalam hal ini diperlukan SDM yang bermutu terutama pada guru
pengajar, karena guru merupakan faktor utama dalam pembelajaran baik di kelas
ataupun di luar kelas. Oleh karena itu mengapa SD YIMA memberikan perhatian
khusus terhadap evaluasi para gurunya dengan menerapkan beberapa proses
tahapan evaluasi mulai dari konsultasi lesson plan (rencana pembelajaran),
observasi kelas oleh konsultan dan evaluasi yang terakhir berupa feed back atau
umpan balik untuk menindak lanjuti hasil dari observasi kelas tadi.
Intinya dalam penerapan Multiple Intelligences, proses pembelajaran
merupakan hal yang paling vital atau bagaikan ruh dari sebuah sekolah, maju
tidaknya sebuah sekolah biasanya ditentukan oleh baik tidaknya proses
pembelajaran di lembaga tersebut. Kualitas proses pembelajaran bergantung pada
kualitas guru yang bekerja di sekolah tesebut. Apabila kualitas guru di sekolah
tersebut baik, mereka akan berperan sebagai agen pengubah siswanya. Dan hal ini
berdampak pada prestasi sekolah tersebut. Sehingga tidak salah apabila SD YIMA
memberikan perhatian khusus melalui berbagai bentuk evaluasi terhadap gurunya.
Dan hal ini sesuai juga dengan pernyataan Munif Chatib dalam bukunya
“Sekolahnya Manusia” bahwa:
“Sekolah unggul adalah sekolah yang para gurunya mampu menjamin semua
siswa akan dibimbing ke arah perubahan yang lebih baik, bagaimanapun kualiats
akademis dan moral yang mereka miliki. Dengan kata lain, sekolah yang guru
gurunya mampu mengubah kualitas akademis dan moral siswanya dari negatif
menjadi positif itulah sekolah unggul”
99
Setiap unsur SD YIMA Islamic School ini punya andil yang besar untuk
mensukseskan konsep Multiple Intelligences, tetapi elemen yang terpenting
adalah seorang guru. Sekolah unggul yang menganut konsep “the best proses”
seperti sekolah ini dapat berhasil apabila didukung oleh kualitas guru yang
professional. Jadi sudah jelas mengapa dalam evaluasi di sekolah ini lebih
ditekankan pada sosok guru dari pada unsur sekolah lainya.

99
Munif Chatib, op.cit, hlm .93.
BAB VI
PENUTUP
A. Kesimpulan
Uraian pada bab-bab yang telah disampaikan di atas membawa peneliti
pada kesimpulan sebagaimana berikut :
1. Desain konsep Multiple Intelligences di SD YIMA Islamic School Bondowoso
secara global meliputi tiga tahap penting yaitu input, proses, dan output. Pada
input, sekolah ini menggunakan Multiple Intelelligence Resarch (MIR) yaitu
semacam alat riset psikologis yang mengeluarkan diskripsi kecenderungan
kecerdasan majemuk anak dan gaya belajarnnya. Pada proses, gaya mengajar
gurunya harus sama dengan gaya belajar siswanya. Pada proses ini guru
menggunakan pendekatan individual sesuai dengan kecerdasan siswa pada
saat mengajar. Sedangkan pada output, sekolah ini menggunakan penilaian
otentik, yaitu penilaian berbasis proses yang menilai sosok utuh seorang siswa
dari dari 3 ranah, yaitu kognitif, psikomotorik dan afektifnya.
2. Implementasi Konsep Multiple Intelligences di SD YIMA Islamic School
Bondowoso sudah berjalan sangat baik. Dalam hal ini dapat dilihat dari tiga tahap
penting yaitu input, proses, dan output.
a. Input
Pada tahap input sekolah ini tidak menerapkan test seleksi masuk dalam
penerimaan siswa baru (PSB). Melainkan menggunakan sistem kuota artinya
sekolah ini akan menutup pendaftaran apabila kuota terpenuhi. Kemudian siswa
yang telah diterima akan mengikuti proses Multiple Intelligences Research (MIR).
MIR di sekolah ini setidaknya dilakukan setahun sekali tepatnya pada PSB
(Penerimaan Siswa Baru) ini, dan selanjutnya dilaksanakan setiap tahun pada
kenaikan kelas. MIR ini dilaksanakan 3 bulan sebelum kenaikan kelas. MIR
di sekolah ini bertujuan untuk penentuan kelas dan menentukan
kecenderungan gaya belajar siswa pada saat di kelas nantinya.
b. Proses
Tahapan ini adalah proses pembelajaran. Proses pembelajaran berbasis
Multiple Intelligences yang diterapkan di SD YIMA Islamic School
Bondowoso menggunakan berbagai macam metode pembelajaran
diantaranya environment learning, contectual learning dan sebagainya.
Pada pembelajarannya ditemukan banyak kesesuaian antara gaya mengajar
guru dan gaya belajar siswa. Hampir seluruh pembelajarannya difokuskan
pada kondisi siswa beraktivitas. Guru-guru di SD YIMA Islamic School
ini juga sudah berpengalaman dalam menggunakan strategi pembelajaran
Multiple Intelligences pada proses pembelajarannya. Hal tersebut ditandai
dengan seringnya sekolah ini melaksanakan pelatihan guru. Pelatihan ini
dilakukan oleh konsultan pendidikan dan dilaksanakan dua kali setiap
bulan. Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan pengertian kepada guru
tentang bagaimana sebuah proses pembelajaran yang ideal.
c. Output
Tahap ini adalah tahapan terakhir dari 3 tahap penting penerapan konsep
Multiple Intelligences di sekolah. Tahapan ini adalah penilaian dari proses
pembelajaran. Penilaian yang digunakan adalah penilaian otentik. Penilaian
otentik di sekolah ini dilakukan terhadap keseluruhan kompetensi yang telah
dipelajari siswa melalui kegiatan pembelajaran dan dalam penilaian ini siswa
dinilai dari 3 ranah, yaitu kognitif, psikomotorik dan afektif.
3. Evaluasi dari pengimplementasian Konsep Multiple Intelligences di SD YIMA
Islamic School Bondowoso secara keseluruhan terletak pada efektivitas kinerja
guru dalam mengajar menggunakan konsep Multiple Intelligences, jadi
evaluasi ini dilihat sejauh mana seorang guru berhasil dalam menerapkan
metode atau gaya mengajar sesuai Multiple Intelligences siswa. Secara tekhnis
pelaksanaan evaluasi di SD YIMA terbagi menjadi tiga tahap yaitu:
a) Konsultasi lesson plan (rencana pembelajaran)
Sebelum mengajar guru wajib membuat persiapan dalam bentuk lesson
plan dan lesson plan tersebut harus melalui tahap konsultasi dengan
konsultan. Hal ini bertujuan untuk mengetahui kualitas lesson plan yang
akan dijadikan acuan guru di dalam kelas
b) Observasi kelas
Observasi kelas ini dilakukan oleh konsultan dan kepala sekolah untuk
mengetahui langsung bagaimana cara mengajar guru. Dan melihat
singkronisasi antara lesson plan yang dibuat dengan kenyataan di lapangan.
c) Feed back
Feed back adalah evaluasi terakhir dari konsultan untuk menjelaskan hasil
dari observasi yang dilakukan pada proses pembelajaran. Hal ini bertujuan
untuk menemukan gaya mengajar maupun gaya belajar yang cocok.
B. Saran
1. Bagi Lembaga Pendidikan
Hal ini khususnya ditujukan kepada SD YIMA Islamic School Bondowoso
sebagai lembaga formal hendaknya:
a. Lembaga ini lebih meningkatkan personil approach (pendekatan individu)
terhadap guru dan siswa, sehingga mudah memperoleh informasi tentang
perkembangan dan gaya belajarnya. Dengan demikian akan mudah diketahui
permasalahan-permasalahan yang timbul yang dapat menghambat
pelaksanaan pendidikan terutama yang berkaitan dengan implementasi
pembelajaran berbasis multiple intelligences.
b. Lebih meningkatkan hubungan dengan orang tua murid dan masyarakat
sehingga akan membantu memperlancar penerapan konsep pembelajaran
berbasis multiple intelligence dengan metode yang bervariasi. Jadi tidak
hanya diterapkan di sekolah, di rumahpun orang tua harus mencoba.
2. Bagi Guru
Hal ini khususnya ditujukan kepada seluruh guru di SD YIMA Islamic
School Bondowoso hendaknya:
a. Dapat mengimplementasikan pembelajaran berbasis Multiple Intelligences
sebaik mungkin dan Berusaha menciptakan metode-metode yang benar-benar
sesuai dengan keinginan dan gaya belajar siswa.
b. Menambah wawasan baru tentang metode-metode pembelajaran yang efektif,
penuh kekreatifan dalam mengaktifkan siswa dan menjadikan siswa merasa
senang dalam belajar.
DAFTAR PUSTAKA
Amstrong, Thomas. 2002. Sekolah Para Juara. Bandung: Kaifa
Arikunto Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.
Jakarta:Rineka Cipta
Baharudin dan Esa Nur Wahyuni. 2007. Teori Belajar Dan Pembelajaran.
Jogjakarta: Ar-Ruzz Media
Chatib Munif. 2009. Sekolahnya Manusia, Bandung: Kaifa
Chatib Munif. Multiple Intelligences Sebagai Sistem Makalah Training pelatihan
Guru di SD YIMA Islamic School Bondowoso 23 November 2009
Departemen Agama RI. 2004. Desain Pengembangan Madrasah. Jakarta:
Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam
Departemen Agama RI. 1973. Al-Qur’an dan terjemah. Qudus : PT Menara
Qudus
Ghozali, Ahmad. 1977. Administrasi Sekolah. Jakarta: Cahaya Budi
Hadi Amirul dan Haryono. 2005. Metodologi Penelitian Tindakan. Bandung:
Pustaka Setia
Gardner, Howard. 1993. Multiple Intelligences. The Theory In Practice. New
York: Basic Books
Imam Subekti. 2000. Desain dan Analisis Data dalam Penelitian Kuantitatif.
Malang: STAIN Press
Jefkins, Frank. 1992. Public Relations, Jakarta: PT Rajawali Press.
Rachmani, Imanuella F. 2003. Multiple Intelligences: Mengenali Dan
Merangsang Potensi Anak. Jakarta: PT Aspirasi Pemuda
Koentjaraningrat. 1997. Metode-metode Penelitian Masyarakat. Jakarta: PT.
Gramedia Pustaka Utama
Moedjiarto, 2002. Sekolah Unggul: metodologi untuk meningkatkan mutu
pendidikan. Surabaya: Duta Graha Pustaka
Moleong, Lexy. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Rosda Karya
Nurkolis. 2006. Sekolah Unggulan Yang Tidak Unggul. Jakarta: Jurnal Pendidikan
Perum Penerbit. 1989. Pedoman Umum Penyelenggara Administrasi Sekolah
Menengah. Jakarta: Balai pustaka
Pidarta, Made. 2004. Manajemen Pendidikan Indonesia, Jakarta: Rineka Cipta.
Rose Colin dan Nicholl j Malcolm. 2002. Cara Belajar Cepat Abad XXI.
Bandung: Nuansa.
Shertzer, Bruce & Shelley Stone, 1981. Fundamental of Guidance, Fouth Edition,
USA: Purdue Univercity.
Siagian, Sondang P. Manajemen Sumber Daya Manusia, Jakarta, PT. Bumi
Aksara: 2002
Smith, Mary Lee & Glass Gene V. 1987. Research and Evaluation in Educationa
and the Social Science, Englewood Cliffs New Jersey: Prentice Hall.
Sudirman, 2007. Zakat Dalam Pusaran Arus Modernitas, Malang: UIN Malang
Press.
Sudjana, 2004. Manajemen Program Pendidikan, Bandung: Falah Production.
Sukarna, 1992. Dasar-Dasar Manajemen, Bandung: Mandar Maju
Susan Albers Mohrman, et.al. 1994. School Based Management, , San Francisco:
Organizing for High Performance
Surya Sutan. 2007. Melejitkan Multiple Intelligence Sejak Dini. Yogyakarta :
Andi
Suparno Paul. 2004. Teory Intelligensi Ganda Dan Aplikasinya Di Sekolah.
Yogyakarta: Kanisius
Suprayogo, Imam Prof, Dr. 1999. Reformasi Pendidikan Islam. Malang: STAIN
Press
Syaodih Nana Sukmadinata. 2005. Landasan Psikologi Proses Pendididkan.
Bandung: Rosda Karya.
Syaodih Nana Sukmadinata. 2007. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung:
Rosda Karya
Surahmad Wiinarno. 1994. Dasar Dan Teknik Penelitian. Bandung: Trasito
Syaifuddin Azwar. 2005. Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Belajar
Terry, George R. & Leslie W. Rue, 2005. Dasar-Dasar Manajemen, Jakarta: PT.
Bumi Aksara.
Uhbiyati Nur. 1998. Ilmu Pendidikan Islam(IPI). Bandung: Pustaka Setia.

HALAMAN PERSETUJUAN

PENERAPAN KONSEP MULTIPLE INTELLIGENCES DALAM MEWUJUDKAN SEKOLAH UNGGUL (Studi Kasus di SD YIMA Islamic School Bondowoso) SKRIPSI

Oleh:

Salim Haddar 06110062

Telah disetujui Pada Tanggal, 06 Maret 2010 Oleh Dosen Pembimbing

Abdul Malik Karim. M.Pd.I NIP. 19760616 200501 1 005

Mengetahui, Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam

Drs. H. Moh. Padil, M. Pd.I NIP. 150 267 235

HALAMAN PENGESAHAN

PENERAPAN KONSEP MULTIPLE INTELLIGENCES DALAM MEWUJUDKAN SEKOLAH UNGGUL
(Studi Kasus di SD YIMA Islamic School Bondowoso) SKRIPSI Dipersiapkan dan disusun oleh Salim Haddar (06110062) Telah dipertahankan di depan dewan penguji pada tanggal 20 April 2010 dengan nilai A dan telah dinyatakan diterima sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar strata satu Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I) Pada tanggal: 20 April 2010
Panitia Ujian Ketua Sidang Dr. NIP. Sekretaris Sidang Dr. NIP. Pembimbing Abdul Malik Karim, M. Pd.I NIP. 197606162005011005 Penguji Utama Dr. NIP. Tanda Tangan

Mengesahkan, Dekan Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Dr. H.M. Zainuddin, MA NIP. 196203071995031001

Abdul Malik Karim. baik dari segi isi. Pd. Demikian. mohon dimaklumi adanya. M. maupun tehnik penulisan. 197606162005011005 .I Dosen Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang NOTA DINAS PEMBIMBING Hal : Salim Haddar Lamp : 4 (Empat) Eksemplar Kepada Yth. Pd. Wassalamu’alaikum Wr. Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Malang di Malang Assalamu’alaikum Wr. Abdul Malik Karim. bahasa. 8 April 2010 Judul Skripsi : Islamic School Bondowoso) maka selaku pembimbing. Wb. Sesudah melakukan beberapa kali bimbingan.I NIP. Wb. M. kami berpendapat bahwa skripsi tersebut adalah layak diajukan untuk diujikan. dan setelah membaca skripsi mahasiswa tersebut di bawah ini: Nama NIM Jurusan : Salim Haddar : 06110062 : Pendidikan Agama Islam Penerapan Konsep Multiple Intelligences dalam Mewujudkan Sekolah Unggul (Studi Kasus di SD YIMA Malang. Pembimbing.

kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka. bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan pada suatu perguruan tinggi. 8 April 2010 Salim Haddar . juga tidak terdapat karya atau hasil penelitian orang lain.SURAT PERNYATAAN Dengan ini saya menyatakan. dan sepanjang pengetahuan saya. Malang.

A ِ Jadid Assegaf. terima kasih atas semuanya. maka kupersembahkan karya ini kepada: Orang Tuaku Tercinta: (Al Habib Muhcsin Bin Salim Al Haddar dan Syarifah Nurul Binti Muhammad Al Muchdhar). Semoga Allah membalas kebaikan kalian dengan yang setimpal. Hud dan Fathimah) Serta tak lupa pula Sahabat-sahabat terbaikku: (ِ bdul Qodir Assegaf. Muhammad Al Idrus. Hababahku: (Hababah Salma binti Salim Al Muchdhar dan Alm. Dan tak lupa semua pihak yang turut serta membantu dalam penyelesaian skripsi ini.HALAMAN PERSEMBAHAN Dengan untaian rasa syukur atas nikmat yang telah Allah berikan. Salma. Amiiin… .. Muzna. ku ucapkan terima kasih telah menemaniku di saat suka maupun duka.. Mustafa Al Cheired dan semua jama’ah Alawiyyin yang ada di Malang ) serta teman-temanku yang tidak dapat aku sebutkan satu persatu.Hababah Rugaiyah binti Umar BSA ) Saudara-saudaraku tersayang: (Ahmad. Abdillah Al Haddar.

(Hadist riwayat Ahmad)1 1 Di kutip dari kitab Nashoihul ‘Ibad .Sedang orang yang lemah ialah mereka yang mengikuti nafsunya dan berangan-angan kepada Allah”.MOTTO ‫ﱢﺲ ﻣ د ﺴ ُ و ِ َ ﻟ ْﺪ‬ َ ‫اﻟْﻜَﯿ ُ َﻦْ َانَ ﻧَﻔْ َﮫ َﻋَﻤﻞ ِﻤَﺎ ﺑَﻌ‬ ‫اﻟْﻤﻮْتِ َاﻟْ َﺎﺟِ ُ َﻦ أَﺗْ َﻊَ ﻧَﻔْ َ ُ ھ َاھَﺎ‬ ‫َ و ﻌ ﺰ ﻣ ْ ﺒ ﺴﮫ َﻮ‬ (‫َ َ َ ﱠﻰ ﻋَﻰ اﻟﱠ ِ )رواه اﺣﻤﺪ‬ ‫وﺗﻤﻨ َﻠ ﻠﮫ‬ “Orang yang cerdas adalah mereka yang mampu mengendalikan nafsunya dan beramal (berbuat) untuk masa sesudah mati. hal 82 . Syekh Muhammad Nawawi .

baik secara langsung maupun tidak langsung. dan anak cucu beliau. Kelurga. H. Oleh karena itu.KATA PENGANTAR Segala puji bagi Allah. sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan atas junjungan kita. Penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah menbantu penulisan skripsi ini. Penulisan Skripsi ini dimaksud untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam menyelesaikan program Sarjana Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang sebagai wujud serta partisipasi penulis dalam mengembangkan dan mengaktualisasikan ilmu-ilmu yang telah penulis peroleh selama dibangku kuliah kuliah. hanya dengan izin-Nya terlaksana segala macam kebijakan dan diraih segala macam kasuksesan. Nabi besar Muhammad saw. Tak lupa kami haturkan salam sejahtera bagi para sahabat beliau dan juga orang-orang yang mengikuti jejak mereka hingga akhir jaman kelak. Walid dan Umma yang menjadi kebanggaan penulis yang selalu memberi dukungan dan dorongan dari beliau. sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Imam Suprayogo selaku Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang . baik itu material maupun spiritual di waktu penulis merasa kehilangan kepercayaan diri. dan atas karunia serta nikmat-Nya pula. Bapak Prof. 2. Dr. penulis menyampaikan terima kasih kepada: 1.

Pd. H. Gus Qodir Al Maduristy. Pd. yang telah membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyusun skripsi ini 6. 9. Bapak Abdul Wasith S.Pd. M. Moh.I selaku Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang 5. Serta semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini . H. Zainuddin. 7. Bapak Dr. yang telah memberikan ilmunya kepada penulis selama 4 tahun. Sahabat-sahabatku Gus Hadhori Al Bangkalany. 12. Bapak Drs. 10. 11. MA selaku Dekan Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang 4. Seluruh elemen SD YIMA Islamic School Bondowoso yang bersedia membantu dalam proses penelitian. Ibu Gamar selaku konsultan ahli di SD YIMA Islamic School Bondowoso yang telah memberi arahan agar peneliti dapat melaksanakan penelitian dengan baik.I selaku kepala Sekolah SD YIMA Islamic School Bondowoso. Fauzy Al Barahwaly dan segenap penghuni kos “Tadjab” center. Gus Hafidz Al Pabeany. Bapak Abdul Malik Karim.I selaku Dosen Pembimbing. Bapak dan Ibu Dosen Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Padil. M. yang telah menberikan izin kepada penulis untuk mengadakan penelitian di SD YIMA Islamic School Bondowoso 8.3. Teman-teman angkatan 2006 yang telah memberikan dukungan dan setia menemani selama ini. M.

yang tidak luput dari kekurangan dan kesalahan.Semoga Allah SWT. Akhirnya dengan segala bentuk kekurangan dan kesalahan. Malang. melimpahkan Rahmat dan Karunia-Nya kepada kita semua. Oleh karena itu. 6 April 2010 Salim Haddar NIM 06110062 . Penulis menyadari sepenuhnya bahwa didunia ini tidak ada yang sempurna. Begitu juga dari penulisan skripsi ini. penulis berharap sungguh dengan rahmat dan izin-Nya mudah-mudahan skripsi ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pihak-pihak yang bersangkutan. dengan segala ketulusan dan kerendahan hati penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang bersifat kontruktif demi penyempurnaan skripsi ini.

.......... Kegiatan pembelajaran di toko swalayan.............. 20 94 ...................DAFTAR GAMBAR Gambar I Gambar II Macam-macam kecerdasan menurut Howard Gardner.............................

Struktur Organisasi SD YIMA Islamic School Bondowoso 3. Surat Penelitian Kepada Kepala SD YIMA Islamic School Bondowoso 16. Daftar Riwayat Hidup 15. Data Sarana Prasarana SD YIMA Islamic School Bondowoso 6. Penilaian Kognitif 8. Penilaian Afektif 9. Denah Sekolah 2. Data Guru dan Pegawai SD YIMA Islamic School Bondowoso 4. Penilaian Psikomotor 10. Foto-foto kegiatan 14. Hasil Analisis MIR (Mutiple Intelligence Research) 7. Form observasi kelas 13. Penilaian Portofolio 11. Form konsultasi lesson plan 12. 5.DAFTAR LAMPIRAN 1. Surat Keterangan telah Melaksanakan Penelitian dari SD YIMA Islamic School Bondowoso . Data Jumlah siswa SD YIMA Islamic School Bondowoso tiga tahun terakhir.

................................................................................................................................................................................................. Pengertian Intelligence ........ Pengertian Multiple Intelligences ......... HALAMAN NOTA DINAS PEMBIMBING ...................... B............................................................ 3........... 2............................................................................................................. Konsep Multiple Intelligences..................................... Macam-macam Multiple Intelligences ........................... BAB II : KAJIAN TEORI ........................................................................... HALAMAN PERSETUJUAN ....................................................... D............................................. i ii iii iv v vi vii viii xi xii xiii xvi 1 1 8 8 8 9 12 12 12 16 23 ............... 1......... Manfaat Penelitian ............................................................................... Rumusan Masalah ......................DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ............................... DAFTAR ISI ..................................................................................................... Tujuan Penelitian .......................... BAB I : PENDAHULUAN ........ A.................................. HALAMAN MOTTO ................................................. HALAMAN PENGESAHAN ..................................................................................................................................... HALAMAN PERSEMBAHAN ...................................................................... KATA PENGANTAR ............................................... DAFTAR LAMPIRAN ............... DAFTAR GAMBAR........................ A.................................................................................. E........ Latar Belakang Masalah ............................................................................................. Sistematika Pembahasan ............................................................................................................. HALAMAN PERNYATAAN.................................................................. C..................................................................................... ABSTRAK .............................

.................................. C....... BAB IV : HASIL PENELITIAN ........ C................................................................. 2. Pengertian Evaluasi Kinerja Guru .......... Proses Penerapan Konsep Multiple Intelligences Dalam 40 40 44 48 48 51 Mewujudkan Sekolah Unggul ..................................... Evaluasi Kinerja Guru ................................. D................................................................................................................................................... Pelaksanaan Evaluasi Kinerja Guru................................................................................................. Teknik Analisis Data ............................................................. 2....... 4........................... 3.. 1.......................Misi dan Tujuan Sekolah ........... 1................. A.................................... G.............. Pendeketan dan Jenis Penelitian ...................... Identitas Sekolah ................................................ 2.......................................................B.............. Visi ... Sekolah Unggul . F........................................................ Pengecekan Keabsahan Temuan ........ Kriteria Sekolah Unggul ........... Kehadiran Peneliti ............................................................................. D............... A.................................... Pengertian Sokolah Unggul .... BAB III : METODOLOGI PENELITIAN ........................................ B.................... 1.............................. Teknik Pengumpulan Data ........ 54 63 63 64 66 67 69 71 72 73 75 75 75 78 79 79 .................. Sejarah berdirinya SD YIMA Islamic School Bondowoso ........................................................................................... H.......... E............ Deskripsi Obyek Penelitian ......... Kondisi Lingkungan dan Letak Geografis SD YIMA Islamic School Bondowoso ............... Jenis Data dan Sumber Data .. Lokasi Penelitian ........... Tahap-tahap Penelitian .....................................................................................

..........................5.......... B........... Penyajian Dan Analisis Data .... Desain Konsep Multiple Intelligences di SD Yima Islamic School Bondowoso ............. 1. BAB V : PEMBAHASAN ..... DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN 83 83 85 86 88 88 92 110 115 115 117 121 124 124 127 ................................................................ A......... Implementasi Konsep Multiple Intelligences di SD YIMA Islamic School Bondowoso ................................................................................................................................................................ 6........................ Keadaan Guru / Pegawai SD YIMA Islamic School Bondowoso 7................... BAB VI : PENUTUP ............. Desain Konsep Multiple Intelligences di SD Yima Islamic School Bondowoso ........................ Implementasi Konsep Multiple Intelligences di SD YIMA Islamic School Bondowoso ........................................................................ 8................................ Keadaan Siswa SD YIMA Islamic School Bondowoso . C............................................................................................................ Saran ..... Evaluasi dari pengimplementasian Konsep Multiple Intelligences di SD YIMA Islamic School Bondowoso .................... Evaluasi dari pengimplementasian Konsep Multiple Intelligences di SD YIMA Islamic School Bondowoso ............................ 2................................. Keadaan Sarana Prasarana di SD YIMA Islamic School Bondowoso .... Struktur Organisasi SD YIMA Islamic School Bondowoso .. 3.. B................................................. Kesimpulan .................................................................................................................................................... B..... A.......................................................

M. Salah satunya yaitu SD Yayasan Islam Madrasah Al-Falah Al-Khairiyah (YIMA) Islamic School Bondowoso. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Rumusan tersebut bertujuan untuk mengetahui bentuk implementasi konsep Multiple Intelligences di SD YIMA Islamic School Bondowoso. paradigma pendidikan pun mengalami banyak koreksi. dan dokumentasi. otomatis kelebihan itu adalah potensi kepandaian sang anak. faktual. Penerapan Konsep Multiple Intelligences Dalam Mewujudkan Sekolah Unggul (studi kasus di SD YIMA Islamic School Bondowoso). Akhirnya setelah menerapkan konsep Multiple Intelligences. Sekolah yang telah mengimplementasikan konsep Multiple Intelligences di dalamnya. Berdasarkan realita tersebut.I Kata kunci: Multiple Intelligences. (a) Input. Abdul Malik Karim. Jurusan Pendidikan Agama Islam. Fakultas Tarbiyah. Untuk mengumpulkan data digunakan beberapa metode yaitu. dan output. 2010. Konsep Multiple Intelligences yang menitikberatkan pada ranah keunikan selalu menemukan kelebihan setiap anak. dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. (b) Proses. Sekolah ini dulunya adalah sekolah yang sedikit terbelakang dan bermutu rendah. Apabila kelebihan tersebut dapat terdeteksi sejak awal. guru-guru di SD YIMA Islamic School ini juga sudah . Skripsi. penyajian data.Pd. (2) Implementasi Konsep Multiple Intelligences di SD YIMA Islamic School Bondowoso dapat dilihat dari tiga tahap penting yaitu input. Dengan menggunakan pendekatan Deskriptif-Kualitatif.ABSTRAK Salim Haddar. serta diiringi dengan keingintahuan yang lebih dalam tentang penerapan Multiple Intelligences di sekolah. Hampir seluruh proses pembelajarannya difokuskan pada kondisi siswa beraktivitas. mengenai fenomena-fenomena yang ada di obyek penilitian. yaitu reduksi data. Lebih jauh lagi. interview. akurat dan sistematis. dan output. Kemudian data yang telah terkumpul tersebut dianalisis melalui tiga cara. dalam waktu singkat sekolah tersebut berubah menjadi sekolah yang unggul dan mendapat kepercayaan masyarakat. maka peneliti tertarik untuk merumuskan masalah salah satunya adalah bagaimana implementasi konsep Multiple Intelligences di SD YIMA Islamic School Bondowoso. Sekolah Unggul Ketika konsep Multiple Intelligences ditarik dalam ranah pendidikan. Dalam penerimaan siswa barunya sekolah ini menggunakan sistem kuota artinya sekolah ini akan menutup pendaftaran apabila kuota terpenuhi. observasi. Atas dasar itu seharusnya sekolah menerima siswa barunya dalam kondisi apapun. proses. Kemudian siswa yang telah diterima akan mengikuti proses Multiple Intelligences Research (MIR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Desain konsep penerapan Multiple Intelligences di SD YIMA Islamic School Bondowoso secara global meliputi tiga tahap penting yaitu input. Tahapan ini adalah tahapan pada proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran yang objektif. proses. Hampir mayoritas pendidikan di sekolah sekarang ini cenderung kurang menghargai seluruh potensi para peserta didiknya. konsep ini percaya bahwa tidak ada anak yang bodoh sebab setiap anak pasti memiliki minimal satu kelebihan. MIR adalah semacam alat riset psikologis yang mengeluarkan diskripsi kecenderungan kecerdasan majemuk anak dan gaya belajarnnya.

Hal tersebut ditandai dengan seringnya sekolah ini melaksanakan pelatihan guru.berpengalaman dalam menggunakan strategi pembelajaran Multiple Intelligences pada proses pembelajarannya. (c) Output. Observasi kelas dan Feed back (umpan balik). (3) Secara tekhnis pelaksanaan evaluasi di SD YIMA terbagi menjadi tiga tahap yaitu: Konsultasi lesson plan (rencana pembelajaran). Tahapan ini adalah penilaian otentik. . yakni penilaian yang dilakukan terhadap keseluruhan kompetensi yang telah dipelajari siswa dan dalam penilaian ini siswa dinilai dari 3 ranah. yaitu kognitif. psikomotorik dan afektif.

Sekolah tersebut hanya menerima 350 siswa. Tak lama kemudian. namun hasilnya belum memuaskan. Sekolah unggulan dipandang sebagai salah satu alternatif yang efektif untuk meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus kualitas SDM. Dapat dibayangkan betapa ketatnya seleksi masuk ke sekolah tersebut. karena adanya keyakinan bisa melahirkan manusia-masnusia unggul. Ada sebuah kisah menarik yang dibuat oleh Munif Chatib di dalam bukunya “Sekolahnya Manusia” kisah tersebut bercerita tentang seorang ibu yang rela berkeringat ketika berdesak-desakan melihat hasil pengumuman penerimaan anaknya di sekolah favorit atau sekolah unggulan. Latar Belakang Kunci pokok kemajuan suatu bangsa dan negara adalah terletak pada bidang pendidikan. Setiap tahun ajaran baru sekolah-sekolah unggulan dibanjiri calon siswa. Sekolah unggulan diharapkan melahirkan manusia-manusia unggul yang amat berguna untuk membangun negeri yang kacau balau ini. Tak dapat dipungkiri setiap orang tua menginginkan anaknya menjadi manusia unggul. seorang ibu dengan wajah . Kini upaya meningkatkan kualitas pendidikan ditempuh dengan membuka sekolah-sekolah unggulan. Hal ini dapat dilihat dari animo masyarakat untuk mendaftarkan anaknya ke sekolah-sekolah unggulan. sedangkan pendaftar dan calon siswa yang mengikuti tes penerimaan berjumlah lebih dari 1000 orang.BAB I PENDAHULUAN A. Negeri ini sedang berjuang keras untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

Namun kata sang ibu. 2009) hlm. masak kamu ini tidak di terima? Dasar bodoh!”2 Peristiwa seperti kisah di atas ini hampir selalu terjadi setiap tahun ajaran baru di hampir seluruh wilayah Indonesia. si Ibu telah melakukan penghancuran mental dan pemasungan kecerdasan pada anaknya dengan celaan “bodoh” hanya karena gagal dalam tes masuk sekolah favorit atau sekolah unggul. sekolah unggul adalah sekolah yang secara terus menerus meningkatkan kinerjanya dan menggunakan sumberdaya yang dimilikinya secara optimal untuk menumbuh2 Munif Chatib.kusut dan sedih keluar dari kerumunan. Dalam konsep yang sesungguhnya. Temanmu yang biasa-biasa saja di terima. masak tes gitu aja kamu tidak lulus. Pertanyaan yang penting untuk kita pikirkan saat ini adalah: Apa sih konsep unggul itu sebenarnya? Benarkah sekolah-sekolah unggulan itu mampu melahirkan manusia-manusia unggul? Benarkah sekolah unggul itu adalah sekolah yang memilih dan menyeleksi dengan ketat kualitas akademis calon siswanya? Lalu bagaimana semestinya sekolah itu menerapkan pola penerimaan siswa barunya? Dari sisi ukuran muatan keunggulan. sudah bayarnya mahal. Si anak dengan harap-harap cemas menghampiri ibunya. Ia berharap ibunya menyampaikan kabar gembira tentang pengumuman hasil tes tersebut. Sekolah unggulan di Indonesia hanya mengukur sebagian kecerdasan yang dimiliki siswanya. Sekolahnya Manusia (Bandung: Kaifa. Tanpa disadari. sekolah unggulan di Indonesia juga tidak memenuhi syarat.91 . privat lagi. “Nak. Nak… percuma Ibu kursuskan kamu. yakni hanya menekankan kepada kecerdasan logika-matematika dan bahasa saja. lalu berteriak memanggil anaknya.

intrapersonal. (Qudus : PT Menara Qudus.3 Sejatinya setiap anak dilahirkan cerdas dengan membawa potensi dan keunikan masing-masing yang memungkinkan mereka untuk menjadi cerdas. 4). Allah telah menciptakan manusia dalam sebaik-baiknya bentuk. melainkan seluruh potensi kecerdasan seperti kecerdasan kinetis. Al-Qur’an dan terjemah. Dalam bahasa Al-Qur’an.598. Ketika konsep Multiple Intelligences ditarik dalam ranah pendidikan. . interpersonal. 3 Departemen Agama RI.kembangkan prestasi siswa secara menyeluruh. visual-spatial. dan naturalis. musical. Sesungguhnya Allah telah menciptakan manusia sebagai makhluk yang sangat sempurna. Hampir mayoritas pendidikan di sekolah sekarang ini cenderung kurang menghargai seluruh potensi para peserta didiknya. Jadi sangat tidak pantaslah seandainya sebuah sekolah hanya memperhatikan salah satu dari beberapa macam kecerdasan yang dimiliki oleh seorang siswa. 1973) hlm. Berarti bukan hanya beberapa kecerdasan saja yang ditumbuh-kembangkan. paradigma pendidikan pun mengalami banyak koreksi sebagaimana yang telah penulis ungkapkan di atas. Sebagaimana disebutkan dalam Firmannya: “…        Dan sungguh telah kami ciptakan manusia dalam sebaik-baiknya bentuk” (QS al-Tin. Jenis-jenis kecerdasan intelektual tersebut dikenal dengan sebutan kecerdasan majmuk (Multiple Intelligences) yang diperkenalkan oleh Howard Gardner pada tahun 1983.

Siapakah siswa tersebut? Pastinya mereka adalah siswa yang menduduki peringkat dari 1 sampai 100 dari 350 calon siswa atau mungkin yang mampu menyumbang dana dalam jumlah besar kepada 4 Munif Chatib. maka ketika pendaftar telah mencapai 100 siswa. Jumlah siswa yang mendaftar di sekolah yang menerapkan Multiple Intelligences harus sesuai dengan kapasitas siswa yang akan diterima. yang diterima hanya 100 siswa.92. Dari 350 pendaftar. Dan hasil riset ini dapat digunakan para guru untuk mempelajari gaya belajar setiap siswa sehingga tercipta pembelajaran yang efektif dan menyenangkan. Atas dasar itu seharusnya sekolah menerima siswa barunya dalam kondisi apapun. hlm . Tugas sekolahlah meneliti kondisi siswa secara psikologis dengan cara mengetahui kecenderungan kecerdasan siswa melaui metode riset yang dinamakan Multiple Intelligences Research (MIR).cit. pola penerimaan siswa baru bagi sekolah yang menerapkan Multiple Intelligences tidak menerapkan tes-tes formal untuk menyaring siswa sebagaimana yang dilakukan sekolah pada umumnya. Lebih jauh lagi. Apabila sebuah sekolah berkapasitas 100 siswa dalam penerimaan siswa barunya.4 Oleh karena itu. op. Pola ini tentu sangat berbeda sekali dengan pola umum yang diterapkan sekolah di Indonesia yang membuka pendaftaran sebanyak-banyaknya. konsep ini percaya bahwa tidak ada anak yang bodoh sebab setiap anak pasti memiliki minimal satu kelebihan. pendaftaran akan ditutup. .Konsep Multiple Intelligences yang menitikberatkan pada ranah keunikan selalu menemukan kelebihan setiap anak. kemudian mengadakan tes seleksi. otomatis kelebihan itu adalah potensi kepandaian sang anak. Apabila kelebihan tersebut dapat terdeteksi sejak awal.

hlm. itulah sekolah unggul. Dengan kata lain.5 Sekolah yang benar-benar menghargai segala macam keunikan setiap siswa harus dengan senang hati menerima semua siswa apa adanya. Salah satunya yaitu sekolah yang saat ini menjadi buah bibir masyarakat di kota Bondowoso. bagaimana nasib 250 siswa yang tidak lolos? Pastinya stigma sebagai anak yang gagal masuk sekolah unggulan akan terus melekat seumur dan membayang dalam pikiran selamanya. Kualitas proses pembelajaran bergantung pada kualitas para guru yang mengajar di sekolah tersebut. Ini dilakukan karena prinsip sekolah tersebut adalah “tidak ada siswa bodoh”. sekolah unggul adalah sekolah yang fokus pada kualitas pembelajaran. 5 Ibid. Sekolah unggul adalah sekolah yang para gurunya mampu menjamin semua siswa akan dibimbing ke arah perubahan yang lebih baik. sekolah yang mampu mengubah kualitas akademis dan moral siswanya dari negative menjadi positif. bagaimanapun kualitas akademis dan moral yang mereka miliki.sekolah. Lantas. tanpa pandang bulu dan tanpa memilih siswa dengan tes seleksi. bukan pada kualitas input siswanya. Jawa Timur. Apabila kulitas guru di sekolah tersebut baik. mereka akan berperan sebagai “agen pengubah” siswanya. Pada dasarnya. Lantas bagaimana proses penerimaan siswa baru apabila tidak ada siswa yang di anggap bodoh? Bagaimana cara menilai dan mengukur perkembangan kemajuan siswa dan sekolah tersebut terutama dalam hal keberhasilan proses belajar-mengajarnya? Pertanyaan ini telah dijawab oleh sekolah-sekolah yang telah mengimplementasikan konsep Multiple Intelligences di dalamnya. 93. .

Setiap siswa pasti memiliki kecenderungan kecerdasan yang merupakan hasil dari kebiasaan-kebiasaan siswa tersebut dalam berinteraksi. SD YIMA menggunakan alat riset bernama Multiple Intelligences Research (MIR) dalam PSB. setiap siswa yang mendaftarkan diri dan mengikuti proses MIR dinyatakan langsung diterima. guru harus berusaha menyesuaikan gaya mengajarnya dengan gaya belajar siswa. Sekolah ini cukup unik dan berani berbeda dalam penerimaan siswa barunya (PSB). Kemudian para guru menyusun lesson plan (rencana pengajaran) berdasarkan analisis hasil MIR. dan kegiatan kreatif yang disarankan. Di SD YIMA Islamic School Bondowoso. seperti grafik kecenderungan kecerdasan siswa. siswa dan guru dapat mengetahui banyak hal. Oleh karena itu.yaitu SD Yayasan Islam Madrasah Al-Falah Al-Khairiyah (YIMA) Islamic School Bondowoso. yang tentunya berbeda antara satu siswa dan siswa lain. Melalui MIR. Hasil MIR akan dipakai oleh setiap guru untuk mempelajari gaya belajar setiap siswa. Setiap hasil MIR menyatakan bahwa pada hakikatnya tidak ada siswa yang bodoh. melainkan sebuah riset yang ditujukan kepada siswa dan orang tuanya untuk mengetahui kecenderungan kecerdasan siswa yang paling menonjol dan berpengaruh. di SD YIMA banyak ditemukan pembelajaran sebuah bidang . Sekolah ini dulunya adalah sekolah yang sedikit terbelakang dan bermutu rendah. dalam waktu singkat sekolah tersebut berubah menjadi sekolah yang unggul dan mendapat kepercayaan masyarakat. Dengan analisis hasil MIR ini. baik dengan dirinya sendiri (mengenal potensi diri) maupun dengan pihak lain. MIR ini bukan alat tes seleksi masuk. gaya belajar siswa. Akhirnya setelah menerapkan konsep Multiple Intelligences.

Ada pula siswa yang mengidap kecenderungan autis. berkat kesabaran menyesuaikan gaya belajarnya dengan gaya mengajar guru. Kesimpulannya. dalam arti menghargai potensi yang ada pada diri siswa. Sekolah yang membuka pintunya pada semua siswa. sekolah unggul adalah sekolah yang memanusiakan manusia. bukan dengan menyeleksinya dengan tes-tes formal yang memiliki interval nilai berupa angka-angka untuk menyatakan batasan diterima atau tidak. kepercayaan diri dan kemandirian siswa tersebut meningkat pesat. Sehingga lambat laun siswa tersebut sifatnya hampir mendekati anak normal biasanya. Berdasarkan fenomena dan latar belakang di atas serta diiringi dengan keingintahuan yang lebih dalam tentang penerapan Multiple Intelligences di sekolah. Hasil MIR ini juga menjadi alat untuk membagi kelas dan pedoman guru untuk bahan skenario pembelajaran. sekarang SD YIMA menjadi salah satu SD terbaik seKabupaten Bondowoso.studi secara individual dan siswa selalu berada dalam suasana yang menyenangkan dalam beraktivitas. Namun. Setelah tiga tahun MIR diujicobakan di SD YIMA Islamic School Bondowoso dan atas berkat rahmat Allah swt. maka peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “ Penerapan Konsep Multiple Intelligences Dalam Mewujudkan Sekolah Unggul” (studi kasus di SD YIMA Islamic School Bondowoso) . Padahal terdapat beragam kemampuan siswa di sana.

2. D. Bagi lembaga: Secara kelembagaan. maka tujuan-tujuan dari penelitian ini meliputi hal-hal sebagai berikut: 1. Bagaimanakah desain konsep Multiple Intelligences di SD YIMA Islamic School Bondowoso? 2. Tujuan Penelitian Melihat rumusan masalah diatas. Kegunaan Penelitian Adapun kegunaan atau manfaat dari penelitian ini. Untuk mengetahui evaluasi dari pengimplementasian konsep Multiple Intelligences di SD YIMA Islamic School Bondowoso. disini peneliti akan memfokuskan permasalahan sebagai berikut: 1. meliputi tiga hal . Untuk mengetahui desain konsep Multiple Intelligences yang diterapkan di SD YIMA Islamic School Bondowoso. penelitian ini ingin mengungkapkan tentang konsep Multiple Intelligences yang diterapkan di sekolah sehingga siapapun yang berkepentingan bisa mengambil manfaatnya dengan . Rumusan Masalah Melihat latar belakang diatas. Bagaimanakah evaluasi dari pengimplementasian konsep Multiple Intelligences di SD YIMA Islamic School Bondowoso? C. Untuk mengetahui implementasi konsep Multiple Intelligences di SD YIMA Islamic School Bondowoso. 3. Bagaimanakah implementasi konsep Multiple Intelligences di SD YIMA Islamic School Bondowoso? 3.B. yaitu: 1.

batasan istilah dan sistematika pembahasan BAB II KAJIAN TEORI Dalam bab kajian teori ini dikemukakan kajian tentang Konsep Multiple Intelligence (kecerdasan ganda). meliputi: pengertian Intelligence (kecerdasan). 3. rumusan masalah. 2. Bagi pengembangan keilmuan: sebagai wahana untuk memperkaya khazanah pengetahuan kita terutama dalam bidang Multiple Intelligences yang saat ini sudah banyak diterapkan di sekolah.mengacu pada hasil penelitian ini. . kegunaan penelitian. Sistematika Pembahasan Sistematika pembahasan merupakan rangkuman sementara dari isi skripsi. Dan penelitian ini mungkin bisa memberi kontribusi pada penambahan kekayaan literatur tentang konsep Multiple Intelligences yang saat ini sedang diterapkan di SD YIMA Islamic School Bondowoso pada khususnya dan sekolah-sekolah lain yang menerapkan konsep serupa pada umumnya. tujuan penelitian. yakni suatu gambaran tentang isi skripsi secara keseluruhan dan dari sistematika itulah dapat dijadikan satu arahan bagi pembaca untuk menelaahnya. E. Secara berurutan dalam sistematika ini adalah sebagai berikut : BAB I PENDAHULUAN Dalam bab pendahuluan ini dikemukakan tentang latar belakang masalah. Manfaat bagi penulis: sebagai wahana penambah luasan keilmuan tentang kependidikan terutama dalam bidang yang menitikberatkan pada konsep Multiple Intelligences yang diterapkan oleh sekolah.

. dan Keadaan Sarana Prasarana SD YIMA Islamic School Bondowoso. Kondisi Lingkungan dan Letak Geografis SD YIMA Islamic School Bondowoso.pengertian Multiple Intelligence dan Macam-Macam Multiple Intelligence serta kajian tentang Sekolah Unggul. BAB III METODE PENELITIAN Dalam bab ini akan dikemukakan tentang pendekatan dan jenis penelitian. Penyajian Data dan Analisis Data. Sedangkan Penyajian Data dan Analisis Data membahas tentang Desain Konsep Multiple Intelligences di SD YIMA Islamic School Bondowoso. Implementasi Konsep Multiple Intelligences di SD YIMA Islamic School Bondowoso dan Evaluasi Dari Pengimplementasian Konsep Multiple Intelligences di SD YIMA Islamic School Bondowoso. Struktur Organisasi SD YIMA Islamic School Bondowoso. pengecekan keabsahan temuan serta tahap-tahap penelitian. Deskripsi Obyek Penelitian menjelaskan tentang Sejarah Berdirinya SD YIMA Islamic School Bondowoso. lokasi penelitian. teknik pengumpulan data. teknik analisa data. Keadaan Guru / Pegawai SD YIMA Islamic School Bondowoso. meliputi: Pengertian Sekolah Unggul dan Kriteria Sekolah Unggul serta yang terakhir kajian tentang Konsep Multiple Intelligences Dalam Mewujudkan Sekolah Unggul. yang terdiri dari Deskripsi Obyek Penelitian. jenis data dan sumber data. BAB IV HASIL PENELITIAN Dalam bab hasil penelitian ini akan dibahas tentang penyajian data yang berkaitan dengan hasil yang didapat dalam penelitian. Keadaan Siswa SD YIMA Islamic School Bondowoso. kehadiran peneliti.

pembahasan dan kesimpulan hasil penelitian yang ditujukan kepada pihak-pihak yang terkait lansung dengan penelitian. Sedangkan saran selalu bersumber pada temuan penelitian.BAB V PEMBAHASAN Dalam bab pembahasan ini akan dipaparkan tentang keterkaitan antara kajian teori dengan hasil penelitian yang membahas tentang Desain Konsep Multiple Intelligences di SD YIMA Islamic School Bondowoso. . Kesimpulan merupakan rangkuman hasil penelitian yang telah diuraikan secara lengkap dalam BAB IV dan terkait langsung dengan rumusan masalah serta tujuan penelitian. BAB VI PENUTUP Dalam bab penutup ini akan dipaparkan kesimpulan dan saran-saran. Implementasi Konsep Multiple Intelligences di SD YIMA Islamic School Bondowoso dan Evaluasi Dari Pengimplementasian Konsep Multiple Intelligences di SD YIMA Islamic School Bondowoso.

Oleh karena itu untuk mempertahankan keberlangsungan hidupnya lebih banyak dilakukan secara instingtif (naluriah). berpikir rasional dan berinteraksi dengan lingkungan secara efektif. Cepat dan tepat dalam memahami suatu masalah.BAB II KAJIAN TEORI A. KONSEP MULTIPLE INTELLIGENCES 1. Suatu perbuatan cerdas ditandai oleh perbuatan yang cepat dan tepat. 2005). Pengertian Intelligence (Kecerdasan) Kecerdasan merupakan salah satu anugerah besar dari Allah SWT kepada manusia dan menjadikannya sebagai salah satu kelebihan manusia dibandingkan dengan makhluk lainnya. kecerdasan atau intelegensi terkait dengan cara individu berbuat. hlm. menarik kesimpulan serta mengambil keputusan atau tindakan. David Weschler memberikan rumusan tentang kecerdasan sebagai suatu kapasitas umum dari individu untuk bertindak. manusia dapat terus menerus mempertahankan dan meningkatkan kualitas hidupnya yang semakin kompleks. . sesungguhnya hewan pun diberikan kecerdasan namun dalam kapasitas yang sangat terbatas. Landasan Psikologi Proses Pendidikan (Bandung: Rosda Karya. 93. melalui proses berfikir dan belajar secara terus menerus. apakah berbuat dengan cara yang cerdas atau kurang cerdas atau tidak cerdas sama sekali. Lantas.6 Menurut beberapa teori. apa sesungguhnya kecerdasan itu ? Sebenarnya hingga saat ini para ahli pun tampaknya masih mengalami kesulitan untuk mencari rumusan yang 6 Nana Syaodih Sukmadinata. Selain manusia. Dengan kecerdasannya.

Kecakapan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam kehidupan. Sementara itu. Rachmani. 2) keseluruhan pengetahuan yang diperoleh. Anita E. Woolfolk mengemukakan bahwa menurut teori lama. yaitu : 1) kemampuan untuk belajar.7 Jika kita merujuk ke pendapat Howard Gardner. Kecakapan untuk membuat sesuatu atau melakukan sesuatu yang bermanfaat di dalam kehidupan. kecerdasan meliputi tiga pengertian. dan 3) kemampuan untuk beradaptasi dengan dengan situasi baru atau lingkungan pada umumnya. Dalam hal ini. 3. Chaplin memberikan pengertian kecerdasan sebagai kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif. dia memberikan definisi tentang kecerdasan sebagai berikut: 1. Kecakapan untuk mengembangkan masalah untuk dipecahkan. 2. 6.2003) hlm. C. hlm. Akan tetapi. 94 Imanuella F. . inteligensi memuat kemampuan seseorang untuk memecahkan persoalan 7 8 Ibid.komprehensif tentang kecerdasan.P.8 Gardner juga mendefinisikan bahwa inteligensi itu merupakan kemampuan untuk memecahkan persoalan dan menghasilkan produk dalam suatu setting yang bermacam-macam dan dalam situasi yang nyata. Berdasarkan pengertian dapat dipahami bahwa inteligensi bukanlah kemampuan seseorang untuk menjawab soal-soal tes IQ dalam ruang tertutup yang terlepas dari lingkungannya. Multiple Intelligences Mengenali Dan Merangsang Potensi Anak (Jakarta: PT Aspirasi Pemuda.

Pada anak usia 0-3 tahun terjadi proses pertumbuhan sel-sel saraf serta pembentukan koneksi (hubungan antara sel-sel saraf).9 Dari pengertian kecerdasan dari beberapa pakar diatas sudah sangat jelas bahwa kecerdasan bukan kemampuan seseorang dalam menjawab tes IQ dalam kamar tertutup. Kondisi ruang gerak dan peluasan lingkungan memberi informasi yang semakin 9 Baharudin dan Esa Nur Wahyuni. . hlm.yang nyata dan dalam situasi yang bermacam-macam. melainkan kecerdasan itu dapat dilihat dari bagaimana kemampuan seseorang untuk memecahan persoalan-persoalan nyata dalam situasi yang bermacam-macam dalam kehidupan ini Kecerdasan telah ada dan mengakar dalam saraf manusia. Pengaruh pada perkembangan neuron dalam SSP (sistem saraf pusat) akan meningkatkan kemampuan daya pikir yang lebih kompleks. Penyerapan informasi dari luar diri semakin banyak. terutama dalam otak yang merupakan pusat seluruh aktivitas manusia. Gardner menekankan pada kemampuan memecahkan persoalan yang nyata. Selanjutnya ketika anak usia anak mencapai 6 tahun lebih terjadi perluasan ruang gerak serta hubungan sosial yang lebih rumit. Teori Belajar Dan Pembelajaran (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media. bukan hanya dalam teori. Setelah berumur 4-5 tahun. 145. karena seseorang memiliki kemampuan inteligensi yang tinggi bila ia dapat menyelesaikan persoalan hidup yang nyata. Semakin seseorang terampil dan mampu menyelesaikan persoalan kehidupan yang situasinya bermacam-macam dan kompleks. semakin tinggi inteligensinya. pertumbuhan otak akan mencapai 80%. 2007).

banyak dan berubah-ubah. Inilah masa-masa ideal untuk meningkatkan kemampuan fungsional dari struktur otak yang telah terbentuk.10 Kecerdasan terbentuk ketika pertumbuhan struktur dan fungsi otak mencapai tahap tertinggi. Kondisi ini terjadi selama rentang waktu 12 tahun pertama. Selama rentang waktu 0-3 tahun dan 6-9 tahun merupakan kondisi terbesar jumlah pembentukan jalur koneksi yang kemungkinan hilangnya jalur koneksi dan kemungkinan hilangnya jalur tersebut pada sistem saraf. Koneksi yang menghasilkan persepsi baik atau positif selaras dengan nilai-nilai kecerdasan yang harus dibentuk semaksimal mungkin. Sebaliknya koneksi sel-sel saraf yang menghasilkan persepsi buruk harus dicegah dan diputuskan jika telah terjadi.11 Perkembangan struktur dan fungsi otak yang sedang tumbuh melalui tiga tahapan, mulai dari otak primitif, (action brain), otak limbik (feeling brain), dan akhirnya ke neocortex atau disebut juga thought brain (otak pikir), meski saling berkaitan, ketiganya punya fungsi sendiri-sendiri. Otak primitif mengatur fisik untuk bertahan hidup, mengelola gerak refleks, mengendalikan gerak motorik, memantau fungsi tubuh, dan memproses informasi yang masuk dari panca indra. Saat menghadapi ancaman atau keadaan bahaya, bersama dengan otak limbik, otak primitif menyiapkan reaksi untuk menghadapi atau lari dari kondisi kendala (fight or flight response). Manusia akan bereaksi secara fisik dan emosi terlebih dahulu sebelum otak pikir sempat memproses informasi.12

10 11 12

Sutan Surya, Melejitkan Multiple Intelligence Sejak Dini (Yogyakarta : Andi, 2007), hlm.1. Ibid, hlm 5. Ibid, hlm 5-6.

Otak limbik memproses emosi seperti rasa suka dan tidak suka, cinta dan benci. Otak ini sebagai penghubung otak pikir dan otak primitif. Artinya, otak primitif dapat diperintah mengikuti kehendak otak pikir, disaat lain otak pikir dapat dikunci untuk tidak melayani otak limbik dan primitif selama keadaan darurat, baik nyata maupun tidak.13 Otak pikir, yang merupakan bentuk daya pikir tertinggi dan bagian otak yang paling objektif, menerima masukan dari otak primitif dan otak limbik. Namun, ia butuh waktu lebih banyak untuk memproses informasi yang masuk dari otak primitif dan otak limbik. Otak pikir juga merupakan tempat bergabungnya pengalaman, ingatan, perasaan, tindakan, dan kemampuan berpikir untuk melahirkan gagasan dan tindakan. Jika si kecil masih berumur dibawah 6 tahun, pengalaman dan sikap kritis atau keingintahuannya akan menghasilkan kontruksi emosional dan kecerdasan. Selama itu pula terjadi pertumbuhan otak kira-kira 80%, sesuai dengan faktor-faktor pendukung yang mempengaruhinya. Jika kita ingin menjadikan si kecil lebih pandai, selama waktu itu adalah periode yang krusial pertumbuhannya. Selanjutnya otak anak disini dapat mengalami pertumbuhan maksimum. Sebelum anak berusia empat tahun, otak primitif dan otak limbik sudah 80% tereliminasi. Setelah umur 6-7 tahun bergeser ke otak pikir. Awalnya dari belahan otak kanan yang antara lain bertugas merespon citra visual.14 2. Pengertian Multiple Intelligences (Kecerdasan Ganda)

13 14

Ibid, hlm 6. Ibid, hlm.7.

Multiple Intelligences adalah istilah atau teori dalam kajian tentang ilmu kecerdasan yang memiliki arti “kecerdasan ganda” atau “kecerdasan majemuk”. Teori ini ditemukan dan dikembangkan oleh Howard Gardner, seorang psikolog perkembangan dan profesor pendidikan dari Graduate School Of Education, Harvad University, Amerika Serikat. Dia juga adalah penulis Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences (Basic Books, 1983/1993), Multiple Intelligences: The Theory in PracticeIntelligence Reframed: Multiple

Intelligences for the 21st Century (Basic`Books, 1993), dan (Basic Books, 1993). Saat ini dia juga salah satu direktur Project Zero di Harvard Graduate School of Education. Project Zero adalah pusat penelitian dan pendidikan yang mengembangkan cara belajar, berpikir, dan kreativitas dalam mempelajari suatu bidang bagi individu dan institusi.15 Multiple intelligences merupakan sebuah penilaian yang melihat secara deskriptif bagaimana individu menggunakan kecerdasannya untuk memecahkan masalah dan menghasilkan sesuatu. Pendekatan ini merupakan alat untuk melihat bagaimana pikiran manusia mengoperasikan dunia, baik itu benda-benda kongkret maupun hal-hal yang absrtak. Di dalam teorinya Gardner menjelaskan bahwa setiap orang memilki bermacam-macam kecerdasan, tetapi dengan kadar pengembangan yang berbeda antara kecerdasan yang satu dengan kecerdasan lainnya. Pengertian inteligensi Gardner ini berbeda dengan pengertian yang dipahami sebelumnya. Sebelum Gardner, pengukuran IQ (Intelligence Question) seseorang didasarkan pada tes IQ
15

Paul Suparno, Teory Intelligensi Ganda Dan Aplikasinya Di Sekolah (Yogyakarta: Kanisius, 2004), hlm 17

suatu kemampuan untuk menjalin relasi dengan orang lain. Cara Cepat Belajar Abad XXI (Bandung : Nuansa. Selanjutnya kemahiran tersebut dapat menciptakan suatu produk baru dan bahkan dapat menciptakan persoalan berikutnya yang dapat mengembangkan ilmu pengetahuan baru yang lebih maju dan canggih. mungkin saja dijumpai orang yang nilai tes IQ-nya tinggi tetapi dalam kehidupan sehari-harinya tidak sukses dalam menjalin hubungan dengan orang lain. tetapi bagaimana seseorang dapat memecahkan problem nyata dalam kehidupan. kecerdasan seseorang diukur bukan dengan tes tertulis. yang hanya menonjolkan kecerdasan matematis-logis dan linguistik. Menurut Gardner. 2002). Bagi Gardner. dan tidak dapat diubah secara signifikan. Menurut Gardner. Kemampuan interpersonal akan dapat memecahkan persoalan-persoalan yang berkaitan dengan orang lain. hal. kemampuan interpersonal. pengukuran intelligensi yang menekankan pada kemampuan matematis logis dan linguistik ini telah menafikan kecerdasankecerdasan yang lain. Sekaligus dengan kemampuan tersebut seseorang dapat mengembangkan kemampuan 16 Colin Rose dan Malcom. suatu kemampuan disebut inteligensi bisa menunjukkan suatu kemahiran dan keterampilan seseorang untuk memecahkan masalah dan kesulitan yang ditemukan dalam hidupnya.saja. Sehingga. Misalnya. 57.16 Penemuan Gardner tentang inteligensi seseorang telah mengubah konsep kecerdasan. . hal ini berbeda dengan konsep lama yang menyatakan bahwa inteligensi seseorang tetap mulai sejak manusia lahir sampai kelak dewasa. Inteligensi seseorang dapat dikembangkan melalui pendidikan dan jumlahnya banyak.

Dengan demikian. 133. seperti bahasa yang dipakai berbicara dan sistem gambar. dalam kemampuan itu ada dua unsur. . anak yang menonjol dalam salah satu atau beberapa jenis kecerdasan tersebut. Jadi. Memang.18 Secara jelasnya Gardner mengungkapkan bahwa tidak ada anak bodoh atau pintar. seperti peta dan musik atau pencatatan dan matematika dan bidang-bidang pengetahuan. kecerdasan tertanam dalam berbagai sistem simbol. yaitu pengetahuan dan keahlian. setelah bayi yang masih amat muda. maka akan muncul teori-teori tentang relasi antar manusia yang lebih canggih.interpersonal yang lebih terpola untuk meningkatkan relasi dengan orang lain. pada potensi biologis. Secara umum. Dengan perkembangan tersebut. 147. Yang ada. yang kemudian diekpresikan sebagai hasil faktor-faktor genetik dan lingkungan yang saling mempengaruhi. hlm. Sebaliknya.17 Setiap kecerdasan didasarkan. Walaupun seseorang mungkin memandang suatu kecerdasan dalam isolasi individual luar biasa seperti orang yang amat cerdas dalam bidang tertentu tetapi nyaris tidak memahami bidang yang lain (idiot savant). Jadi. paling sedikit pada awalnya. bahkan dapat menjadi penengah terhadap konflik-konflik masyarakat. sistem membuat catatan. dalam menilai dan menstimulasi 17 18 Ibid. kecerdasan tidak pernah dijumpai dalam bentuk murni. individual menunjukkan beberapa kecerdasan. seperti kewartawanan dan teknik mekanika. hlm. pendidikan pada suatu saat mewakili pemeliharaan kecerdasan seperti telah diwakili sepanjang waktu dalam berbagai sistem mode budaya. Ibid.

The Theory In Practice (New York: Basic Books. linguistik (berbahasa)..19 19 Howar Gardner. kinestetik (gerak tubuh). setiap manusia memiliki kecenderungan untuk cerdas di satu bidang tanpa harus bersusah payah mengasahnya. Dalam menstimulasi kecerdasan anak. 1993) hal . musikal. orang tua dan guru selayaknya dengan jeli dan cermat merancang sebuah metode khusus. kecerdasan tertentu bisa jadi diasah agar terampil. visual-spasial. Menurut hasil penelitiannya. interpersonal. pada dasarnya. berbagai variasi cara belajar. Esensi teori multiple intelligences menurut Gardner adalah menghargai keunikan setiap orang. dan naturalis. Gardner menyatakan bahwa di dalam diri setiap orang terdapat delapan jenis kecerdasan dintaranya seperti kecerdasan logikamatematika. mewujudkan sejumlah model untuk menilai mereka. Tetapi. 38. . dan cara yang hampir tak terbatas untuk mengaktualisasikan diri didunia ini dalam bidang tertentu yang akhirnya diakui. dapat dikatakan.kecerdasan anak. intrapersonal. Multiple Intelligences.

terkadang bercampur dengan kecerdasan lain. ia juga membutuhkan kecerdasan visual-spasial yang menonjol untuk menggunakan pisau bedahnya. Dalam hal ini. Misalnya saja. Tentu. keseimbangan adalah salah satu tujuan Gardner dalam mengupas perihal beberapa tipe kecerdasan. hanya saja dalam taraf berbeda. orang tua sangat perlu menyikapi dan mengembangkan potensi anaknya yang mungkin berbeda dengan kakak atau adik kandungnya atau juga anak-anak lain seusianya dengan cara memberi stimulus atau rangsangan tertentu untuk mengembangkan potensi si buah hati tersebut. cocok menjadi atlet. Multiple Intelligences membantu orang tua mengenal kekuatan dan kekurangan anak-anaknya. misalnya. menjadi musisi atau lainnya tanpa memberikan kesempatan padanya untuk mengeksplorasi dunia. Tapi janganlah cepat-cepat mengambil kesimpulan kecerdasan si anak.Gambar 1: Macam-macam kecerdasan menurut Howard Gardner Kedelapan kecerdasan tersebut bisa saja dimiliki oleh setiap individu. bila kelak seorang anak menjadi seorang ahli bedah. ia menyarankan orang tua untuk . Untuk itu. kecerdasan ini juga tidak berdiri sendiri. Selain itu. bekerja dengan keterampilan sendiri dan mengembangkan kemampuannya sendiri. juga kecerdasan gerak tubuh untuk kelenturan tangannya ketika menggunakan pisau bedah. menjadi akuntan.

Rowling penulis cerita dari Harry Potter atau novelis nasional seperti Habiburrahman El Shirazy. Rachmani. “Inilah cara saya belajar Pak/Bu guru.20 Memang bisa jadi anak-anak kita tak lantas menjadi seperti pemusik cemerlang yang mendunia sekaliber Rihana dan Beethoven atau dalam skop nasional seperti Anang. siswa yang memiliki kecerdasan spasial tinggi akan suka cora—coret dan melamun. maka akan muncul perubahan-perubahan kognitif. sosisal atau bahkan perubahan fisik yang positif dan menakjubkan. Menurut Thomas Amstrong.. dan apabila Anda tidak mengajari saya melalui cara belajar 20 Imanuella F. op. Begitu pula menjadi penulis besar seperti J. Jika si anak memiliki peluang untuk belajar melalui kelebihan-kelebihannya. Namun.K. siswa yang memiliki kecerdasan interpersonal tinggi akan suka mengobrol. sedangkan siswa yang memiliki minat tinggi pada alam mungkin akan membawa binatang ke dalam kelas tanpa izin. hlm. emosional. dan siswa yang memiliki kecerdasan kinestetisjasmani tidak bisa duduk diam. Siswa yang memiliki kecerdasan linguistik tinggi akan sering menyela pembicaraan.mengasah satu kecerdsan si anak yang menonjol. sekaligus menstimulasi kecerdasan logika-matematika atau linguistiknya. salah satu cara terbaik untuk mengenali kecerdasan yang paling berkembang dari para siswa adalah dengan mengamati kenakalan mereka di kelas. secara metaforis mereka berkata. Krisdayanti atau Ungu maupun pencipta musik kreatif seperti Melly Goeslow. cit.8. kehidupan anak tetap perlu diperkaya melalui pengembangan berbagai jenis kecerdasan di tingkat memungkinkan. Melalui kenakalan mereka tersebut. . misalnya kecerdasan musiknya.

ritme dan intonasi dari kata yang di ucapkan. cit. Ia mudah mengembangkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa. Termasuk kemampuan untuk mengerti kekuatan kata dalam mengubah kondisi pikiran dan menyampaikan informasi. apa yang akan terjadi? Bagainapun juga saya akan tetap melakukannya. J. . mudah belajar beberapa bahasa. para penulis. Rowling. Contoh orang yang memiliki kecerdasan linguistik ini adalah. hal. Mereka juga mudah untuk menjelaskan. 44 Imanuella F. penceramah maupun pelawak. Rachmani.. op. kemudian menjadi semacam seruan minta tolong-indikator diagnostik tentang bagaimana seorang siswa seharusnya mendapatkan pengajaran.22 Orang yang berinteligensi linguistik tinggi akan berbahasa lancar. Kecerdasan ini mencakup kepekaan terhadap arti kata. baik secara lisan maupun tulisan. mudah mengerti urutan arti kata-kata dalam belajar bahasa. baik dan lengkap. orator. hlm. urutan kata.saya yang paling alamiah. Kecerdasan ini berkaitan juga dengan penggunaan dan pengembangan bahasa secara umum seperti yang dimiliki para pencipta lagu. suara. mengajarkan. 21 22 Thomas Amstrong.13. Martin Luther. Melly Goeslow dan sebagainya. Sekolah Para Juara (Bandung: Kaifa.” Kenakalan yang berkaitan dengan kecerdasan tertentu ini. 2002). Macam-macam Multiple Intelligences a) Kecerdasan Linguistik ( Linguistic intelligence) Kecerdasan linguistik adalah kemampuan untuk menggunakan kata-kata secara efektif. editor. jurnalis.21 3.K. Sukarno. penyair.

Mereka lancar berdebat.menceritakan pemikirannya kepada orang lain. sambil 23 Paul Suparno. Kecerdasan bahasa kerap kali juga diikuti keterampilan bersosialisasi.26. Keterampilan berbahasa menuntut kemampuan menyimpan berbagai informasi. hlm. . cit. misalnya. Jadi. Anak yang tidak diberi kesempatan berbicara atau selalu dikritik saat mengemukakan pendapatnya. anak yang cerdas berbahasa bukan jaminan bahwa ia akan cerdas di bidang lain. yang berarti berkaitan dengan proses berfikir. tetapi kemudian menghilang di usia-usia selanjutnya. Mungkin dengan menyentuh tubuhnya sambil berkata.23 Potensi kecerdasan berbahasa yang dimiliki seorang anak juga perlu dilatih dan dikembangkan. cerdas musik atau cerdas gerakan tubuh. Bisa saja anak tampak begitu terampil berbahasa ketika masih balita. Karena dalam bersosialisasi umumnya anak-anak mengandalkan keterampilan berbicara. belum tentu cerdas di bidang linguistik. Demikian pula sebaliknya. op. pola asuh orang tua sangat berpengaruh dalam hal ini. mudah ingat dan bahkan dapat menghafal beberapa surat di dalam Al-Qur’an dengan waktu singkat.. Namun. Mengajak anak berbicara merupakan rangsangan paling sederhana yang dapat dilakukan orang tua untuk mengasah kecerdasan linguistik buah hatinya. seperti cerdas logika-matematika. ia akan kehilangan kemampuan dan keterampilanya dalam mengungkapkan ide dan perasaannya. Seorang ibu atau ayah dapat berkomunikasi dan menstimulasi anak dengan banyak cara. anak yang cerdas di suatu bidang lain.

Ini adalah jenis keterampilan yang sangat dikembangkan pada diri insinyur. Meskipun anak kita tidak bisa memahami dengan apa yang kita bicarakan. logika dan keteraturan. hlm. . Karena mendengar merupakan sebuah unsur yang sangat penting dalam memahami sebuah bahasa.24 Orang yang mempunyai inteligensi matematis-logis sangat mudah membuat klasifikasi dan kategorisasi dalam pemikiran serta cara mereka bekerja. dan para anggota profesi hukum. detektif.27. op.bercerita atau bahkan sambil bernyanyi sekalipun.. mendengar saja pun sudah cukup. Mereka juga 24 Imanuella F. ekonom. b) Kecerdasan Logika-Matematika. ceritakan atau yang kita nyanyikan. Proses berpikir induktif artinya cara berpikir dari hal-hal yang kecil kepada hal-hal yang besar. serta mana juga yang merupakan persoalan lepas. dia akan mencoba mengelompokkannya sehingga mudah dilihat mana yang pokok dan yang tidak. ilmuwan. Ia mampu memikirkan dan menyusun solusi (jalan keluar) dengan urutan yang logis (masuk akal). Ia mengerti pola hubungan. Rachmani. ia mampu melakukan proses berpikir deduktif dan induktif. Proses berpikir deduktif artinya cara berpikir dari hal-hal yang besar kepada hal-hal yang kecil. Maka. akuntan. (Logical-mathematical intelligence) Kecerdasan logika dan matematika adalah kemampuan seseorang dalam memecahkan masalah. dia tidak mudah bingung. cit. Ia suka angka. mana yang berkaitan antara yang satu dengan yang lain. Dalam menghadapi banyak persoalan. urutan.

Kecedasan logika matematika juga terkait erat dengan kecerdasan linguistik. 1993) hlm 34 . terutama dalam kaitananya dengan penjabaran alasan-alasan logikamatematika. meskipun pada dasarnya setiap manusia memiliki kecenderungan untuk cerdas di satu bidang tanpa harus bersusah payah mengasahnya. The Theory In Practice (New York: Basic Books. Gardner menjelaskan bahwa Seseorang dengan kecerdasan logikamatematika menonjol. Namun kemudian. minat anak-anak yang memiliki tingkat kecerdasan logika-matematika yang tinggi akan merambah. Semakin tinggi tingkat usia seseorang maka kegiatan yang mereka geluti akan semakin bersifat abstrak. melainkan juga sebuah kemampuan intuitif menuju sebuah jawaban atau solusi. pada dasarnya haus akan pencarian rumus atau pola.dengan mudah membuat abstraksi dan suatu persoalan yang luas dan bermacammacam sehingga dapat melihat inti persoalan yang dihadapi dengan jelas. Multiple Intelligences. seseorang Gardner tak mengkategorikan hanya kecerdasan logika-matematika seseorang kerapkali mengandalkan keterampilan menganalisis.25 Dapat dikatakan. sehingga anak-anak yang memiliki kecerdasan 25 Howar Gardner. Hal ini biasanya diawali dengan kesukaannya terlibat dalam kegiatan dengan konsep matematis yang kental. melainkan juga pada kegiatan yang bersifat analitis dan mengkonsep. Orang dengan kemampuan logika-matematika yang baik. dapat mengkonstruksikan sebuah solusi sebelum hal itu diartikulasikan. Mengapa matematika? Karena matematika merupakan salah satu bidang yang pada dasarnya berusaha mencari pola atau rumusan. kecerdasan tertentu bisa jadi diasah agar terampil. tidak hanya pada kegiatan unsure strategis dan matematis.

menghadirkan visual dengan grafik atau ide spasial. peneliti. penemu teleskop. Visual artinya gambar. Phytagoras. Copernicus. Archimedes. Rachmani. Tokoh-tokoh dunia dengan kecerdasan logika-matematika yang luas biasa antara lain. Galileo. bentuk. mereka kelak akan memilih profesi sebagai seorang filusuf. pencetus hukum Gravitasi. insinyur. Misalnya saja. ruang. Kecerdasan ini juga melibatkan kemampuan untuk melihat obyek dari berbagai sudut pandang. dan untuk mengarahkan diri sendiri dalam ruang secara cepat.28. ukuran dan juga hubungan di antara elemen-elemen tersebut. op. cit. 26 Imanuella F. tokoh penemu yang dikenal dengan seruan Eureka. pencetus konsep bumi bulat.26 c) Kecerdasan Visual-Spasial (Spatial-Visual intelligence) Kecerdasan visual dan spasial adalah kemampuan untuk melihat dan mengamati dunia visual dan spasial secara akurat (cermat).. Einstein. pencetus hukum relativitas. Ini karena ia mampu mengamati dunia spasial secara akurat dan mentransformasi presepsi ini. Kecerdasan visual-spasial ini memungkinkan orang membayangkan bentuk-bentuk geometri atau tiga dimensi dengan lebih mudah. spasial yaitu hal-hal yang berkenaan dengan ruang atau tempat. Sir Isaac Newton. Kecerdasan ini melibatkan kesadaran akan warana. garis.logika-matematika yang sangat baik biasanya memilih profesi yang mengandalkan abstraksi logis-simbolis. . Termasuk didalamnya adalah kapasitas untuk menvisualisasikan. penemu hukum matematika phytagoras. hlm.

mereka juga dapat mengungkapkan gagasannya dalam grafik yang lebih jelas dan ringkas. baik itu orang. bermain balok. Pendekatan ini merupakan sarana bagaimana pikiran manusia mengoprasikan isi dunia. pelaut. Anak-anak dengan kecenderungan kecerdasan ini biasanya mengamati lingkungan secara holistik. Anak-anak dengan kecerdasan visual-spasial yang tinggi biasanya berpikir mengunakan gambar atau image. Dan ia tidak mudah bingung apabila berada pada suatu daerah karena ia akan cepat beradaptasi dan dapat mudah mencari jalan keluar kembali. Mereka juga menyukai kegiatan yang ada hubungannya dengan visual-spasial. Maka. mendesain. . seniman. Orang yang memiliki jenis kecerdasan ini kelak dimungkinkan akan berprofesi sebagai arsitek. seoarang yang memiliki kecerdasan ini dengan mudah akan menemukan jalan dalam ruang dan suatu tempat. Dalam kehidupan seharihari. fotografer. ia dapat memandang dari segala sudut. menyimpan informasi dalam bentuk nonsekuen. Ini dikarenakan kekuatan proses belahan otak bagian kanan. Dan seseorang yang memiliki kecerdasan ini juga punya presepsi yang tepat tentang suatu benda dengan ruang di sekitarnya. dan perencana strategis.Visual-spasial bisa diartikan juga sebagai sebuah model yang melihat secara deskriptif bagaimana seorang individu menggunakan kecerdasan mereka untuk memecahkan masalah dan menghasilkan bentuk. pemahat. Imajinasi orang yang memiliki kecerdasan ini sungguh aktif. objek atau suara. merancang atau menggambar pola. membangun bentuk. menggambar. ia meliihat peta kota dengan mudah. seperti bermain puzzle. ia dapat menggambarkan kedudukan ruang dengan baik.

Kecerdasan gerakan tubuh yang sering juga disebut body smart ini.35. Affandi (pelukis di Yogyakarta). ahli bedah atau seniman tari.Beberapa tokoh yang memiliki kecenderungan kecedasan ini diantaranya adalah: Pablo Picasso (pelukis internasional). Individu dengan kecerdasan gerakan tubuh.. Namun. kelenturan dan kecepatan.28 27 28 Ibid. memang penemuan Gardner yang paling controversial. Mereka ahli menggunakan seluruh tubuh untuk mengekspresikan ide dan perasaan. hlm.27 d) Kecerdasan Gerak-Tubuh (Bodily-kinesthetic intelligence) Kecerdasan gerak tubuh atau ialah kemampuan dalam menggunakan tubuh kita secara terampil untuk mengungkapkan ide. Kecerdasan ini juga meliputi keterampilan fisik dalam bidang koordinasi. keseimbangan. Gardner dan peneliti-peneliti lain dalam bidang multiple intelligences mempertahankan pendapatnya. Paul Suparno. pemahat. dan dalam penggunaan tangan untuk manghasilkan atau memindahkan sesuatu. keseimbangan. secara alami memilliki tubuh yang atletis dan memiliki keterampilan fisik. hlm. Ia juga meimiliki kemampuan dan merasakan bagaimana seharusnya tubuh membentuk. kekuatan. cit. karena beberapa oaring berpendapat control terhadap fisik bukanlah bentuk dari kecerdasan. daya tahan. kekuatan. Kecerdasan ini juga termasuk keterampilan koordinasi. . Kemampuan seperti ini biasanya dimiliki oleh para atlet. Sidharta (seorang pemahat). op. aktor. kelenturan. pemikiran dan perasaan. fleksibilitas dan kecepatan.42.

Orang yang mimiliki kecerdasan gerak tubuh dapat dengan mudah mengungkapkan diri dengan gerak tubuh mereka. Apa yang mereka pikirkan dan rasakan dengan mudah diekspresikan dengan gerak tubuh, dengan tarian dan ekspresi tubuh. Mereka juga dengan mudah dapt memainkan mimik, drama, dan peran. Mereka dengan lihai melakukan gerakan tubuh dalam olahraga dengan segala macam variasinya. Secara sederhana, mereka dapat menyalurkan apa yang mereka hidupi dengan gerak tubuh. Orang yang kuat dalam kecerdasan gerak tubuh juga sangat baik dalam menjalankan operasi bila ia seorang dokter bedah. Siswa yang yang mempunyai kecerdasan gerak tubuh biasanya suka menari, olahraga, dan suka bergerak. Siswa ini biasanya tidak suka diam, ingin selalu menggerakkan tubuhnya. Bila ada waktu luang dan tidak ada pelajaran, anak-anak dengan kecerdasan gerak tubuh ini dengan segara berlari-lari dan bermain di lapangan sekolah. Seorang pendidik yang melihat siswa-siswinya berlatih tari atau dansa akan dengan cepat mengenali siswa mana yang memiliki inteligensi yang paling menonjol di sini. Demikian pula seorang pelatih sepak bola dengan cepat akan tahu siswa yang mana punya kelihaian lebih dalam mengolah bola. Beberapa tokoh berikut ini termasuk orang yang memiliki kecerdasan gerak tubuh yang sangat luar biasa, diantaranya; Cristian Ronaldo (pemain sepak bola terbaik dunia), Usain Bolt (pelari tercepat di dunia),

Martha Graham (penari balet), Jaky Chan (aktor film laga ), Simon Santoso (pemain bulu tangkis nasional) e) Kecerdasan Musikal (Musical intelligence)

Kecerdasan musik adalah kemampuan untuk menikmati, mengamati, membedakan, mengarang, membentuk dan mengekspresikan bentuk-bentuk musik. Kecerdasan ini meliputi kepekaan terhadap ritme, melodi dan timbre dari musik yang didengar. Musik mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan kemampuan matematika dan ilmu sains dalam diri seseorang. Apabila seorang anak tumbuh dan dididik dalam sebuah setting budaya yang mengagungkan keterampilan atau kemampuan musik, besar kemungkinan potensi musik anak terasah dan berkembang.29 Orang yang menonjol kecerdasan musikalnya sangat peka terhadap suara dan musik. Mereka dengan mudah belajar dan bermain musik secara baik. Bahkan, sejak kecil sering kali mereka dapat menangkap dan mengerti struktur musik. Itulah yang banyak dialami oleh para komponis musik. Mereka dengan mudah juga menciptakan melodi dan lagu. Mereka menyenangi dan tidak mudah bosan dengan apapun yang berbau musik. Banyak dari mereka mudah menyanyi dan menjadi hidup dalam pentas-pentas musik. Yang menonjol adalah mereka dapat mengungkapkan perasaan dan pemikirannya dalam bentuk musik. Mereka dengan mudah mempelajari sesuatu bila dikaitkan dengan musik atau dalam lagu.30 Telah di teiliti di 17 negara terhadap kemampuan anak didik usia 14 tahun dalam bidang sains. Dalam penelitian itu ditemukan bahwa anak dari negara Belanda, Jepang dan Hongaria mempunyai prestasi tertinggi di dunia. Saat di

29 30

Imanuella F. Rachmani, op. cit., hlm.72. Paul Suparno, op. cit., hlm.37.

teliti lebih mendalam ternyata ketiga negara ini memasukkan unsur ini ke dalam kurikulum mereka. Selain itu musik juga dapat menciptakan suasana yang rileks namun waspada, dapat membangkitkan semangat, merangsang kreativitas, kepekaan dan kemampuan berpikir. Belajar dengan menggunakan musik yang tepat akan sangat membantu kita dalam meningkatkan daya ingat. Kecerdasan jenis ini adalah bakat yang dimiliki oleh para musisi, komposer, perekayasa rekaman. Bagi para pendidik, kecerdasan musikal sering dilihat sebagai sebuah bakat musik yang bersumber pada kemampuan alamiah atau karunia yang hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu. Dengan demikian kecerdasan yang diasosiasikan dengan konsep kemampuan bermusik, selalu dianggap tidak berhubungan dengan tingkat pencapaian atau prestasi tinggi dalam area atau bidang akademik lain. Padahal sebenarnya tidaklah demikian, karena kecerdasan musikal juga berkaitan dengan kecerdasan linguistik dan kecerdasan logika matematika. Memang seseorang yang cerdas musik belum tentu dapat menjadi komposer hebat apabila tidak memiliki kemampuan linguistik serta logika matematika yang baik. Untuk itu, upaya mengasah kecerdasan musik tak hanya ditujukan untuk prestasi musikal, melainkan perlu diupayakan juga menjaga keseimbangan perkembangan anak. Tokoh-tokoh dengan kecerdasan musikal yang tinggi adalah para komponis dan musisi terkenal dunia, seperti Mozart, Bach, Beethoven, Debussy, Jhon Lenon, dan Carlos Santana. Selain memiliki kecerdasan musikal yang tinggi, mereka juga memiliki kecerdasan lain yang mendukung

mudah berkomunikasi dengan orang lain. motivasi. merancang program-program musik dan bahkan menjadi guru musik.32 Orang yang memiliki kecerdasan interpersonal tinggi biasanya sangat mudah bekerja sama dengan orang lain. Kepekaan akan ekspresi wajah. sikap orang lain dan umumnya dapat memimpin kelompok. polisi.84.38.. intensi. seperti kecerdasan logika matematika atau linguistik. Secara umum kecerdasan interpersonal berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk menjalin relasi dan komunikasi dengan berbagai orang. isyarat dari orang lain juga termasuk dalam kecerdasan ini. watak. motivator. meskipun kecerdasan musikal tak tampak sebagai bentuk kecerdasan yang nyata.kecerdasan yang dimilikinya seperti kecerdasan logika matematika atau linguistik. . fasilitator. para guru.31 Secara singkat. suara. Kecerdasan jenis ini biasanya dimiliki oleh para pemimpin. mengerti dunia orang lain. mengerti pandangan. temperamen. Rachmani. cit. pemahaman dan keterampilan musikal seseorang berkembang selaras dengan bentuk kecerdasan lain. tetapi apabila dilihat dari sudut pandang neurologi. pemuka agama. dan penggerak massa. serta gerakan tubuh orang lain. f) Kecerdasan Interpersonal (Interpersonal intelligence) Kecerdasan interpersonal ialah kemampuan untuk mengerti dan menjadi peka terhadap perasaan. hlm. Imanuella F. hlm. Hubungan dengan orang lain bagi mereka yang memiliki kecerdasan ini 31 32 ibid. op. Kecerdasan ini juga mampu untuk masuk ke dalam diri orang lain. Hal ini dibuktikan dengan bagaimana mereka mengatur ritme lagu.

mengerti dan menghargai perasaan anggota. bila guru memberikan pekerjaan atau tugas secara bebas. Maka. siswa-siswa yang memiliki kecerdasan . lebih suka mengadakan studi kelompok. Dalam suatu kelas. tidak jarang sekali dia berperan sebagai komunikator. Kecerdasan ini juga merupakan faktor utama yang turut mempengaruhi kesuksesan seorang anak menjalin hubungan sosial di lingkungannya. terhadap penderitaan orang lain. orang yang memiliki kecerdasan ini biasannya disukai karena pendekatannya yang baik kepada para anggota. saudara atau orang lainnya hal ini bertujuan agar mereka maju.sungguh serasa sangat menyenangkan. Dan mereka juga dengan mudah menjadi penggerak massa karena kemampuannya mendekati massa itu. Karena dengan kecerdasan inilah seorang anak cenderung lebih baik dan mudah menjalin interaksi sosial. anak yang memiliki kecerdasan interpersonal lebih suka belajar dengan orang lain. Bila menjadi pemimpin. sebagai fasilitator dalam pertemuan atau dalam perbincangan masalah penting. dan mudah berempati yakni mampu memahami dan merasakan perasaan orang lain saat berinteraksi dengan orang tersebut. Dalam konteks belajar. seperti dalam kelompok olahraga atau sebagainya dan anak yang memiliki kecerdasan ini juga gemar berhumor saat berkomunikasi dan menjalin hubungan dengan lingkungan sosialnya. Kebanyakan mereka peka terhadap teman. Mereka dengan mudah mengenali dam membedakan perasaan serta apa yang dialami teman dan orang lain. Anak yang memiliki kecenderungan kecerdasan ini juga menyenangi kegiatan yang menuntut bekerja sama dengan orang lain. Banyak diantaranya suka member masukan kepada teman.

interpersonal akan dengan cepat berdiri dan mencari teman yang mau diajak kerja sama. dan mengajarkan anak untuk mampu mendengarkan pendapat dan berempati terhadap orang lain. yaitu latihan kesiapan yang diperlukan anak agar kelak perilakunya dapat diterima di lingkungan sosial. serta memiliki kesadaran tinggi akan gagasan-gagasannya. Walaupun anak sering mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan kecerdasan interpersonalnya saat tengah melakukan kegiatan di sekolah. Kecerdasan seperti ini biasanya dimiliki . dapat memahami kekuatan dan kelemahan diri sendiri. Ini semua disebut prilaku prososial. Orang tua dapat memberi rangsangan yang mendukung perkembangan kecerdasan interpersonal anak dengan memberinya contoh yang baik dalam bertingkah laku dan berbahasa. g) Kecerdasan Intrapersonal (Intrapersonal intelligence) Kecerdasan intrapersonal atau cerdas diri adalah kemampuan yang berhubungan dengan kesadaran dan pengetahuan tentang diri sendiri serta kemampuan untuk bertindak secara adaptatif berdasar pengenalan diri itu. mengajarkan menghargai orang lain. Ia sadar akan tujuannya hidupnya sehingga tidak ragu-ragu untuk mengambil keputusan pribadi. etika dan moral. Orang yang memilki kecerdasan ini sangat menghargai nilai. mampu memotivasi dirinya sendiri dan melakukan disiplin diri. mangajaknya berdiskusi. namun tak ada salahnya apabila orang tuapun turut mendukung si anak kala berada di rumah. membimbingnya dalam memecahkan suatu masalah.

oleh para filosof, penyuluh agama, pembimbing, serta kadang kala pemimpin juga memiliki kecerdasan ini. Orang yang memiliki Kecerdasan ini biasanya mudah berkonsentrasi dengan baik karena dapat mengatur perasaan dan emosinya sehingga kelihatan sangat tenang. Pengenalan akan dirinya sungguh sangat mendalam dan seimbang, kesadaran spiritualitasnya juga sangat tinggi. Orang tipe ini kebanyakan refleksif dan suka bekerja sendirian. Bahkan, kadang kala mereka suka menyepi sendiri di tempat terasing. Sehingga tidak heran jika kita melihat seorang siswa yang memilih untuk mengasingkan diri dan termenung di suatu tempat ketika siswa-siswa lain tengah asyik bermain pada jam istirahat. Atau bahkan tidak tertarik jika gurunya memberikan tugas kelompok. Guru yang tidak tahu sering mamarahi siswa ini karena dianggap tidak menanggapi perintah. Padahal dengan mengasingkan diri itu seorang siswa dapat berpikir dalam. Perlu diketahui, bahwasanya anak bertipe kecerdasan intrapersonal ini bukanlah anak yang tergolong dalam individu yang anti sosial, karena sesungguhnya dengan kecerdasan intrapersonal anak ini kelak akan tumbuh menjadi seorang individu yang memiliki kepekaan sangat baik saat melakukan relasi dengan individu lainnya. Ia dapat melakukan introspeksi diri, memiliki proses berfikir yang dalam, memiliki kebebasan untuk berkreativitas, memiliki intuisi yang baik, dan memiliki motivasi diri yang baik pula. Dengan kecerdasan intrapersonal yang menonjol, seorang anak memiliki keinginan kuat untuk meraih suatu tujuan yang ingin ia capai, memiliki rasa percaya diri yang baik,

dan juga memiliki cara berfikir yang positif kala menghadapi berbagai pendapat dari berbagai topik pembicaraan. Tokoh-tokoh seperti Neil Amstrong, Helen Keller, Columbus, atau pun Sir Edmond Hilarry merupakan beberapa contoh orang yang memiliki kehidupan sukses dengan kecerdsan intrapersonal luar biasa yang mereka miliki. Jika seorang anak mampu mengembangkan kecerdasan intrapersonalnya dengan baik, maka dia akan memiliki kesuksesan yang baik pula di masa datang. Dengan demikian ada baiknya apabila orang tua tak terburu-buru mengira buah hatinya bermasalah dalam hal hubungan sosial karena sikap diam dan pemalunya. Justru orang tua harus lebih memiliki kepekaan dalam meliihat kelebihan salah satu aspek kecerdasan yang dimiliki anaknya.33 h) Kecerdasan Naturalis ( Naturalist intelligence) Kecerdasan naturalis adalah kemampuan untuk mengenali, membedakan, mengungkapkan dan membuat kategori terhadap apa yang di jumpai di alam maupun lingkungan. Intinya adalah kemampuan manusia untuk mengenali tanaman, hewan dan bagian lain dari alam semesta, melakukan pemilahanpemilahan runtut dalam dunia kealaman, dan menggunakan kemampuan ini secara produktif- misalnya berburu, bertani, atau melakukan penelitian biologi. Kecerdasan seperti ini biasanya dimiliki oleh para pecinta alam, para petani, pendaki gunung, pemburu. Ide Gardner tentang kecerdasan naturalis baru muncul pada tahun 1995 dan dipublikasikan tahun 1997. Sampai sekarang teori tentang kecerdasan ini
33

ibid, hlm.103.

masih terus dalam proses penyempurnaan. Orang tua dan guru mungkin sangat berminat dengan kecerdasan yang satu ini, karena manifestasi dari kecerdasan ini sangatlah tidak lazim. Bahkan kerap kali tidak muncul dalam proses belajar mengajar di sekolah. Misalnya saja, anak lebih suka bermain di luar rumah seperti di taman atau di kebun, anak tampak lebih senang menyendiri mengamati barisan semut dan meneliti bunga-bunga, memandangai awan atau bermain-main dengan hewan peliharaan seperti anjing, kucing atau kelinci. Siswa yang memiliki kecerdasan naturalis tinggi biasanya dapat dilihat dari kemampuannya mengenal, mengklafikasi, dan menggolongkan tanamantanaman, binatang serta alam mini yang ada di sekolah. Mengenali anak dengan kecerdasan naturalis sama seperti mangenali kecerdasan di bidang lainnya. Bila anak dengan mudah menandai pola dan benda-benda alam, dapat mengingat benda-benda alam yang ada di lingkungannya, serta gemar mengamati, menyukai binatang-binatang dan menandai hal-hal yang khas pada binatang itu, maka ia dapat dikatakan memiliki kecerdasan naturalis yang tinggi. Selain itu, anak dengan kecenderungan kecerdasan ini juga sangat menikmati aktivitas berkemah, serta duduk diam mengamati perbedaan dan perubahan alam. Gardner mengatakan, kecerdasan naturalis adalah kecerdasan yang dimiliki semua orang sejak lahir sampai awal-awal kehidupannya. Anak-anak kecil menunujukkan kecerdasan ini lebih baik dibandingkann orang dewasa. Mengapa? Karena anak-anak menikmati lingkungan alam secara mandalam dan tidak menganggap lingkungan sekitarnya hanyalah lartar belakang dari setiap

Kemampuan Darwin untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasi serangga. Hal ini karena mereka terus-menerus hidup dalam lingkungan yang menuntutnya menggunakan kecerdasan naturalis yang mereka miliki. mereka akan menemukan bahwa belajar itu mudah dan menyenangkan. Mungkin yang dimaksud adalah..43. pemburu dan nelayan. Ini menunjukkan bahwa kedelapan kecerdasan itu bukan hal yang sudah mati tidak terkembangkan. dalam diri seseorang terdapat delapan kecerdasan tersebut. . Delapan kecerdasan yang dimiliki oleh manusia ini mengungkapkan kepada kita bahwa ada banyak jendela menuju satu ruangan yang sama di mana subjek-subjek pelajaran dapat didekati dari berbagai perspektif. membantu mengembangkan teori evolusi. cit. melainkan masih dapat ditingkatkan. op. hlm. Ia dan alam masih menyatu. mamalia. anak-anak kecil tidak mangambil jarak dengan lingkungan sekitarnya. burung. Anakanak yang hidup dalam budaya agraris atau petani. Kecerdasan naturalis ini akan semakin terasa apabila anak-anak tersebut tetap tinggal di lingkungan yang terus-menerus memberinya rangsangan.peristiwa yang ia alami. ikan. Kedelapan kecerdasan dalam diri seseorang ini dapat dikembangkandan ditingkatkan secara memadahi sehingga dapat berfungsi bagi orang tersebut.34 Menurut Gardner. dan kecerdasan ini bertahan hingga mereka dewasa. Dan ketika siswa mampu menggunakan bentuk-bentuk kecerdasan mereka yang paling kuat. umumnya memiliki kecerdasan naturalis yang menonjol. Salah satu contoh tokoh terkenal dunia yang memiliki kecenderungan kecerdasan naturalis tinggi adalah Charles Darwin. Disinilah pendidikan 34 Paul Suparno.

Pengertian Sokolah Unggul Sekolah adalah lembaga pendidikan formal yang didirikan oleh masyarakat untuk belajar anak-anak yang berumur empat tahun keatas. 233 . kita akan dapat berbenah diri dan meningkatakn kemampuan kita semaksimal mungkin. seorang siswa yang memiliki kecerdasan kinestetik-tubuh dapat juga mempelajari fisika dengan mudah bila pelajaran itu disajikan dengan tari atau gerak. yaitu membantu agar setiap kecerdasan pada diri seseorang berkembang optimal. Maka. Gardner juga mengungkapkan bahwa seorang siswa akan mudah menangkap materi yang disampaikan guru. bila materi itu disamapaikan dengan menggunakan pendekatan kecerdasan yang dimiliki oleh siswa tersebut. hlm. Ada baiknya kita mulai menjajaki jenis kecerdasan kita sendiri mana yang sudah berkembang dan mana yang belum. dimana sekolah itu 35 Nur Uhbiyati. khususnya masyarakat. Dari delapan kecerdasan tersebut.35 Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang menunjang pembanguna masyarakat. Ilmu Pendidikan Islam(IPI) (Bandung: Pustaka Setia. B. Di sinilah tantangan bagi guru untuk merencanakan pengejarannya yang sesuai dengan kecerdasan siswa. Dengan mengetahui bahwa anda memilki kelebihan atau kekurangan pada kecerdasan tertentu. manakah yang menjadi keunggulan kita dan mana yang belum kita gunakan secara maksimal?. SEKOLAH UNGGUL 1. Oleh karena itu kegiatan sekolah dalam semua bidang harus relevan dengan kegiatan masayarakat.mempunyai fungsi. 1998).

Keunggulan sekolah ini memang merupakan bawaan sebelum siswa masuk ke sekolah tersebut. Pedoman Umum Penyelenggara Administrasi Sekolah Menengah.38 36 Perum Penerbit. Departemen Agama RI. manajemen. Hubungan timbal balik yang sebaik-baiknya antara sekolah dan masyarakat sangat diperlukan agar peningakatan mutu pendidikan dan kegiatan pembangunan saling menunjang. manakala masing-masing orang mempunyai konsep tersendiri tentang sekolah yang mempunyai kualitas unggul. Desain Pengembangan Madrasah (Jakarta: Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam. hlm. bahkan kian merebak dan ramai. Balai pustaka. Pengertian sekolah unggul sebenarnya mempunyai beberapa tipe yang masing-masing memiliki ciri khas sendiri-sendiri bila inputnya unggul. 36 Sekolah unggul merupakan lembaga pendidikan yang lahir dari sebuah keinginan untuk memiliki sekolah yang mampu berprestasi di tingkat nasional dan dunia dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi oleh ditunjang oleh akhlakul karimah. Duta Graha Pustaka. layanan pendidikan. proses pendidikan. 37 38 . maka masukan.berada. Sekolah Unggul (metodologi untuk meningkatkan mutu pendidikan). 37 Konsep sekolah unggulan menimbulkan berbagai arti yang berbeda dalam masyarakat saat ini. 1989). meskipun proses belajar mengajarnya tidak luar biasa. (Jakarta. hlm 3.Jakarta. 358. guru dan tenaga kependidikan. hlm 41. 2002. Untuk mencapai keistimewaan tersebut. 2004). serta sarana penunjangnya harus diarahkan untuk menunjang tercapainya tujuan tersebut. maka lulusnya akan bermutu unggul. sekolah unggul dikembangkan untuk mencapai keistimewaan dalam keluaran pendidikannya. Moedjiarto.

Maksudnya adalah bagaimana struktur organisasi pada sekolah itu disusun. Padahal sekolah unggulan yang sebenarnya. Bila boleh mengkritisi. bukan hanya oleh pemegang otoritas pendidikan. dan penjaga sekolah pun harus dilibatkan secara aktif. pengembang kurikulum di sekolah. kepala sekolah. Karena semua sumber daya tersebut akan menciptakan iklim sekolah yang mempu membentuk keunggulan sekolah.Sekolah unggulan yang sebenarnya dibangun secara bersama-sama oleh seluruh warga sekolah. Keunggulan sekolah terletak pada bagaimana cara sekolah merancangbangun sekolah sebagai organisasi. keunggulan akan dapat dicapai apabila seluruh sumber daya sekolah dimanfaatkan secara optimal. Sehingga penetapan sekolah unggulan cenderung bermuatan politis dari pada . bagaimana warga sekolah berpartisipasi. Berarti tenaga administrasi. pelaksanaan sekolah unggulan di Indonesia memiliki banyak kelemahan diantaranya: Pertama. untuk menciptakan prestasi siswa yang tinggi maka harus dirancang kurikulum yang baik yang diajarkan oleh guru-guru yang berkualitas tinggi. bagaimana setiap orang memiliki peran dan tanggung jawab yang sesuai dan bagaimana terjadinya pelimpahan dan pendelegasian wewenang yang disertai tangung jawab. sekolah unggulan di sini membutuhkan legitimasi dari pemerintah bukan atas inisiatif masyarakat atau pengakuan masyarakat. Dalam konsep sekolah unggulan yang saat ini diterapkan. Semua itu bermuara kepada kunci utama sekolah unggul adalah keunggulan dalam pelayanan kepada siswa dengan memberikan kesempatan untuk mengembangkan potensinya.

dana sekolah yang besar. sementara itu golongan miskin tidak mungkin mampu mengikuti sekolah unggulan walaupun secara akademis memenuhi syarat. Artinya penyelenggaraan sekolah unggulan bertentangan dengan prinsip equity yaitu terbukanya akses dan kesempatan yang sama bagi setiap orang untuk menikmati pendidikan yang baik. input siswa yang memiliki NEM tinggi. kegiatan belajar mengajar dan pengelolaan sekolah yang kesemuanya sudah unggul. Ketiga. sarana prasarana yang lengkap. Yang seharusnya disebut unggul adalah apabila masukan biasa-biasa saja atau kurang baik tetapi diproses ditempat yang baik dengan cara yang baik pula sehingga keluarannya bagus. Wajar saja bila bahan masukannya bagus.muatan edukatifnya. sekolah unggulan hanya melayani golongan kaya. ketenagaan berkualitas. Kedua. . Untuk mengikuti kelas unggulan. diproses di tempat yang baik dan dengan cara yang baik pula maka keluarannya otomatis bagus. karena masyarakat akan menanggung semua biaya atas keunggulan sekolah itu. Keadilan dalam penyelenggaraan pendidikan ini amat penting agar kelak melahirkan manusia-manusia unggul yang memiliki hati nurani yang berkeadilan. profil sekolah unggulan kita hanya dilihat dari karakteristik prestasi yang tinggi berupa NEM. Apabila sekolah unggulan didasari atas pengakuan masyarakat maka pemerintah tidak perlu mengucurkan dana lebih kepada sekolah unggulan. selain harus memiliki kemampuan akademis tinggi juga harus menyediakan uang jutaan rupiah.

2006) Munif Chatib. sekolah yang mampu mengubah kualitas akademis dan moral siswanya dari negative menjadi positif.249. Sekolah Unggulan Yang Tidak Unggul. op. Jumlah ini cukup untuk memenuhi kebutuhan pimpinan dari tingkat nasional. Apabila kulitas guru di sekolah tersebut baik.565 orang. Kriteria Sekolah Unggul Sekolah unggulan adalah sekolah yang mampu membawa setiap siswa mencapai kemampuannya secara terukur dan mampu ditunjukkan prestasinya tersebut.(Jakarta: Jurnal Pendidikan. kabupaten/kota. Sekolah unggul adalah sekolah yang para gurunya mampu menjamin semua siswa akan dibimbing ke arah perubahan yang lebih baik.93. artinya setiap 1.529. Kualitas proses pembelajaran bergantung pada kualitas para guru yang mengajar di sekolah tersebut. hlm . bukan pada kualitas input siswanya. itulah sekolah unggul. Berdasarkan prakiraan Lembaga Demografi UI (1991) penduduk usia sekolah di Indonesia tahun 2000 diperkirakan sebesar 76. Berikut ini beberapa kriteria sebuah sekolah bisa dikatakan unggulan: 39 40 Nurkolis. propinsi.39 Beda lagi dengan apa yang dikatakan oleh Munif Chatib dalam bukunya “Sekolahnya Manusia” dia mengatakan bahwa: “Sekolah unggul adalah sekolah yang fokus pada kualitas pembelajaran. mereka akan berperan sebagai “agen pengubah” siswanya. Dengan kata lain. . bagaimanapun kualitas akademis dan moral yang mereka miliki.478. maka kita akan memiliki anak berbakat (baca: unggul) sebanyak 1.cit. dan kecamatan. Bibit-bibit manusia unggul di Indonesia cukup besar karena prefalensi anak berbakat sekitar 2 %.Oleh karena itu penyelenggaraan sekolah unggulan harus segera direstrukturisasi agar benar-benar bisa melahirkan manusia unggul yang bermanfaat bagi negeri ini.” 40 2.000 orang terdapat 20 anak berbakat.

Kelas harus dibuat heterogen sehingga anak yang memiliki bakat keunggulan bisa bergaul dan bersosialisasi dengan semua orang dari tingkatan dan latar berlakang yang beraneka ragam. Misalnya Effectif School yang dikembangkan awal 1980-an oleh Ronald Edmonds di Harvard University adalah untuk membela anak dari kalangan miskin karena prestasinya tak kalah dengan anak kaya. sekolah unggulan jangan hanya menjaring anak yang kaya saja tetapi menjaring semua anak yang memiliki bakat keunggulan dari semua kalangan. Misalnya anak yang memiliki bakat keunggulan seni tetap masuk dalam kelas reguler. program sekolah unggulan tidak perlu memisahkan antara anak yang memiliki bakat keunggulan dengan anak yang tidak memiliki bakat keunggulan. Ketiga. Pelaksanaan pembelajaran harus menyatu dengan kelas biasa. dasar pemilihan keunggulan tidak hanya didasarkan pada kemampuan intelegensi dalam lingkup sempit yang berupa kemampuan logikamatematika seperti yang diwujudkan dalam test IQ. namun diberi pengayaan pelajaran seni.pertama. Demikian pula dengan School Development Program yang dikembangkan oleh James Comer ditujukan untuk meningkatkan pendidikan bagi siswa yang . Berbagai sekolah unggulan yang dikembangkan di Amerika justru untuk membela kalangan miskin. Kedua. Keunggulan seseorang dapat dijaring melalui berbagai keberbakatan seperti yang hingga kini dikenal adanya 8 macam kecerdasan. hanya saja siswa yang memiliki bakat keunggulan tertentu disalurkan dan dikembangkan bersama-sama dengan anak yang memiliki bakat keunggulan serupa.

adanya UU No. . 41 Itu semua akan tercapai apabila pengelolaan sekolah telah mandiri di atas pundak sekolah sendiri bukan ditentukan oleh birokrasi yang lebih tinggi.al. Accellerated School yang diciptakan oleh Henry Levin dari Standford University juga memfokuskan untuk memacu prestasi yang tinggi pada siswa kurang beruntung atau siswa beresiko. Kedua.berasal dari keluarga miskin. et. (Jakarta: Cahaya Budi.. pendidikan dasar dan pendidikan menengah adalah 41 A Ghozali. Dengan adanya kedekatan birokrasi antara sekolah dengan Kabupaten/Kota diharapkan perhatian pemerintah daerah terhadap pengembangan sekolah unggulan semakin serius. ditujukan untuk memenuhi kebutuhan siswa kurang mampu. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dimana pendidikan termasuk salah satu bidang yang didesentralisasikan. menghargasi prestasi setiap siswa berdasar kondisinya masing-masing. Saat ini amat tepat untuk mengembangkan sekolah unggulan karena terdapat dua suprastruktur yang mendukung yaitu: Pertama.74. Administrasi Sekolah. terpenuhinya harapan siswa dan berbagai pihak terkait dengan memuaskan. 25 tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional Tahun 2000-2004 yang didalamnya memuat bahwa salah satu program pendidikan pra-sekolah. memiliki kepemimpinan yang kuat. memiliki budaya sekolah yang kuat. Essential school yang diciptakan oleh Theodore Sizer dari Brown University. 1977) hlm. Keempat. sekolah unggulan harus memiliki model manajemen sekolah yang unggul yaitu yang melibatkan partisipasi semua stakeholder sekolah. mengutamakan pelayanan pada siswa. UU No.

Reformasi Visi Pendidikan Islam (Malang: STAIN Press. asrama belajar lengkap. Jadi unggul ini “alamiah” 2) Sekolah unggul dalam hal fasilitas. Fasiilitas yang super lengkap ini bisa menyangkut fasilitas. Melalui pendidikan berbasis masyarakat/sekolah inilah warga sekolah akan memiliki kekuasaan penuh dalam mengelola sekolah. meskipun prosesnya tidak luar biasa dugaan kita lulusan akan tetap bermutu unggul. rasio guru murid yang baik dengan harapan proses belajar akan berjalan lancar dan lulusannya juga akan bermutu tinggi.terwujudnya pendidikan berbasis masyarakat/sekolah. sebenarnya input bagi sekolah tersebut adalah siswa yang sudah unggul. 3) Sekolah unggulan yang penekanannya pada iklim belajar yang positif di lingkungan sekolah. Dalam hal ini sekolah unggulan adalah yang mampu memproses siswa bermutu rendah waktu masuk sekolah (input rendah) menjadi lulusan bermutu tinggi. 76. hlm. Dengan demikian.42 Di dalam bukunya ”Reformasi Visi Pendidikan Islam” Imam Suprayogo juga menjelaskan bahwa jenis sekolah unggulan itu ada tiga yaitu: 1) Sekolah unggulan karena inputnya memang sudah terdiri dari siswa unggul yang di jarring melalui seleksi ketat dan memiliki NEM/NUN yang sudah ditentukan haarus tinggi.43 42 43 Ibid.46 . Imam Suprayogo. karena fasilitas unggul maka sudah barang tentu harga atau biaya pendidikannya juga tinggi. 1999) hal . Tipe inilah yang banyak digalakkan di negara maju.

Evaluasi merupakan terjemahan bahasa Inggris evaluation yang identik dengan penilaian. Apabila semua sekolah telah menjadi sekolah unggulan maka tidak sulit bagi negeri ini untuk bangkit dari keterpurukannya. EVALUASI KINERJA GURU 1. Evaluasi diartikan juga sebagai proses menetapkan pertimbangan nilai berdasarkan pada peristiwa tentang suatu program atau . Bisa saja semua sekolah menjadi sekolah unggulan yang berbeda-beda berdasarkan pontensi dan kebutuhan warganya. Membahas evaluasi tidak akan terlepas dari pengukuran dan penilaian. Istilah lain yaang mempunyai makna hampir sama dengan evaluasi adalah assessment dan measurement (pengukuran). Dalam penulisan ini kedua istilah tersebut akan digunakan secara bersama-sama atau bergantian.Setiap sekolah akan menjadi sekolah unggulan apabila diberi wewenang untuk mengelola dirinya sendiri dan diberi tanggung jawab penuh. Selama sekolah-sekolah hanya dijadikan alat oleh birokrasi di atasnya maka sekolah tidak akan pernah menjadi sekolah unggulan. C. Evaluasi juga diartikan sebagai proses menyediakan informasi untuk membuat keputusan. Pengertian Evaluasi Kinerja Guru Terdapat beberapa istilah yang mempunyai keterkaitan dengan evaluasi tetapi memiliki penekanan pada aspek tetentu.

Kegiatan dapat berupa suatu program yang sudah direncanakan. Research and Evaluation in Educationa and the Social Science. 1987) 45 Bruce Shertzer & Shelley Stone. kekurangan. Pentingnya evaluasi kinerja yang rasional dan diterapkan secara obyektif adalah merupakan kepentingan bagi pegawai yang bersangkutan dan kepentingan organisasi. Inc. rencana 44 Mary Lee Smith & Glass Gene V. pendekatan dan fungsi. (Englewood Cliffs New Jersey: Prentice Hall. keletihan. 464 . pertimbangan dan nilai. Data yang disediakan mengandung nilai yang dapat memberikan arti tergantung pada pertimbangan yang dilakukan oleh pengambil keputusan. Fouth Edition. Fundamental of Guidance. jalur. Kata kunci dari pengertian evaluasi adalah proses. evaluasi tersebut berperan sebagai umpan balik tentang berbagai hal seperti kemampuan. Evaluasi juga merupakan salah satu dari langkah pemberdayaan guru atau pegawai dalam proses untuk menghasilkan tenaga yang profesional. program. Pada umumnya orang-orang yang berkecimpung dalam manajemen sumber daya manusia berpendapat bahwa evaluasi kinerja para pegawai merupakan bagian penting dari seluruh proses kegiatan karyawan yang bersangkutan. prosedur.44 Evaluasi juga diartikan sebagai proses menentukan kesesuaian pada produk. Jadi evaluasi merupakan suatu proses yang dilakukan terhadap suatu kegiatan. Evaluasi sebagai suatu proses hanya menyiapkan data kepada pengambilan keputusan. Bagi para karyawan atau pegawai. yang sangat berpengaruh dalam peningkatan mutu pendidikan. (USA: 1981Purdue Univercity).produk. dan potensi yang pada gilirannya akan sangat bermanfaat untuk menentukan tujuan. sehingga untuk mengetahui keberhasilan dan manfaatnya dilakukan proses penilaian. tujuan.45 Evaluasi kinerja merupakan kelanjutan dari kegiatan rekrutmen dan seleksi atau penempatan pekerjaan. hlm.

hlm.157. Manajemen Sumber Daya Manusia.47 46 Sondang P. PT.46 Yang dimaksud evaluasi kinerja guru dalam penelitian ini adalah evaluasi yang dilakukan kepada semua guru yang ada di dalam suatu organisasi pendidikan pada tahap akhir setelah melalui tahap-tahap penelitian. PT Rajawali Press:1992). hlm. Kegiatan pengukuran tersebut merupakan usaha untuk menetapkan keputusan tentang sukses atau tidaknya pelaksanaan pekerjaan yang dilakukan oleh karyawan. merupakan penilaian secara sistematik tentang relevansi antara tugas-tugas yang diberikan dengan pelaksanaannya oleh seorang pegawai dengan cara mengidentifikasi. promosi sistem imbalan dan berbagai aspek lain dari keseluruhan program manajemen sumber daya manusia secara efektif. Evaluasi secara umum diartikan sebagai suatu pengukuran atau penilaian terhadap suatu perencanaan yang telah dilakukan oleh suatu organisasi yang bisa dilakukan pada pertengahan bulan. perencanaan dan penggiatan. akhir bulan atau pertengahan tahun atau akhir tahun. Secara spesifik pengertian evaluasi kinerja menurut Hadari Nawawi dalam Frank Jefkins. Public Relations. 223. 47 . Public Relations. program pengenalan. seperti identifikasi kebutuhan 38program pendidikan dan pelatihan. mengukur dan mengelola pekerjaan yang dilaksanakan oleh para pekerja di lingkungan suatu organisasi. penempatan. Frank Jefkins.dan pengembangan karirnya. seleksi. (Jakarta. rekrutmen. Siagian. Bumi Aksara: 2002). (Jakarta. evaluasi kinerja pegawai atau karyawan adalah sangat penting arti serta peranannya dalam pengambilan keputusan tentang berbagai hal. Sedangkan bagi organisasi itu sendiri.

(Jakarta. 135. dan pribadi mereka. hlm. cara bekerja.48 Yang dimaksud dengan prestasi kerja ialah hasil pekerjaan. Penilaian dilakukan secara sitematis terhadap kinerja karyawan dan potensi mereka untuk berkembang.Evaluasi kinerja dalam hal ini disebut juga dengan penilaian kinerja. Manajemen Pendidikan Indonesia. Penilaian kinerja mencakup prestasi kerja. Cara bekerja mencakup ciri-ciri efektivitas dan efifiensi dalam bekerja. Sedangkan penilaian terhadap potensi untuk berkembang mencakup kreativitas dan hasil belajar atau kemampuan mengembangkan profesinya. Sedangkan ukuran penilaian pribadi karyawan ialah butir-butir pancasila yang telah diuraikan antara lain sudah termasuk di dalamnya dedikasi dan motifasi yang tinggi untuk berjuang dalam dunia pendidikan. apakah pekerjaan tersebut sudah sesuai dengan kritetia yang telah ditentukan sebelumnya dan apakah sudah tepat penyelesaiannya dengan alokasi waktu yang telah diberikan. Rineka Cipta: 2004). 2. Kalau seseorang sedang belajar. suatu hasil karya yang menunjukkan buah pikiran baru dan berguna bagi pengembangan dan proses pendidikan. Orang yang kreatif sering berinisiatif melakukan sesuatu yang belum pernah ada di lingkungan kerjanya dan bahkan sering mengemukakan ide-ide yang baru. Kreativitas seorang karyawan atau guru dapat dilihat dari aktifitas orang tersebut dalam melaksanakan tugas sehari-hari. . Pelaksanaan Evaluasi Kinerja Guru 48 Made Pidarta. Apakah hasil pekerjaan itu sudah memenuhi akuntabilitas atau sekedar selesai. juga akan tampak pada hasil karyanya yang tidak monoton.

Pada hakekatnya pelaksaan program evaluasi kinerja merupakan fungsi administrasi yang dilaksanakan agar tugas.49 Motivasi menyangkut perilaku manusia dan merupakan sebuah unsur yang vital dalam manajemen. Rue. Motivasi dapat diartikan sebagai membuat seseorang menyelesaikan pekerjaan dengan semangat. dialah yang akan menguasai dunia. jalannya arus informasi harus 49 50 Sudjana. Jadi adalah aktualisasi perencanaan yang dalam pelaksanaan evaluasi kinerja menerangkan mengenai bagaimana proses evaluasi kinerja tersebut dilaksanakan. Oleh sebab itulah. (Jakarta. fungsi tanggung jawab dan wewenang yang telah diorganisasikan berjalan sesuai dengan kebijakan dan rencana yang telah ditetapkan dalam rangka mencapai tujuan secara efektif dan efisien. perlu dibangun sikap kebersamaan dan keterbukaan sehingga anggota yang baru masuk sekalipun akan merasa menjadi bagian utuh yang diharapkan kiprahnya. Terry & Leslie W. (Bandung. 168 . dan kepemimpinan.50 Komponen penting lainnya dalam tahap pelaksanaan adalah komunikasi. hlm. komunikasi. diantaranya adalah motivasi. PT. 2004). Untuk memotivasi anggota organisasi. Komunikasi merupakan kegiatan untuk menyampaikan informasi secara timbal balik sehingga tidak terjadi kesalahpahaman. Motivasi akan memunculkan semangat bekerja dan pantang menyerah saat menghadapi pelbagai tantangan dan hambatan. Dasar-Dasar Manajemen. Manajemen Program Pendidikan. Terhentinya informasi akan menyebabkan kemacetan interaksi sehingga pada akhirnya akan memunculkan masalah baru. Sering dikatakan bahwa siapa yang menguasai informasi. Bumi Aksara: 2005). Pelaksanaan dalam sebuah manajemen dicanangkan oleh organisasi. Dalam pelaksanaan program evaluasi kinerja terdapat beberapa komponen yang sangat diperlukan. hlm. 86 George R. karena orang itu ingin melakukannya. Falah Production.

antar bidang atau antarkelompok yang sifatnya lebih fleksibel. Sedangkan komunikasi dari bawah bisa berbentuk laporan. dan kenyataan itu dibiarkan berlarut-larut. Keserakahan semacam ini akan membuat pintu-pintu informasi dan pada akhirnya akan merugikan banyak kalangan.51 Komunikasi jenis kedua adalah komunikasi horizontal. Jika suatu gejala tidak baik di sebuah organisasi. hlm. Mandar Maju: 1992). komunikasi vertikal dan komunikasi horizontal. (Bandung. saling menuduh dan bahkan saling menjatuhkan. lembaga apapun termasuk lembaga 51 Sukarna. Kendala yang tak jarang dijumpai adalah adanya pihak tertentu yang mengaburkan informasi atau bahkan menutup informasi. Dasar-Dasar Manajemen. Ketika informasi masuk dalam dunia manajemen. Komunikasi dapat diklasifikasikan ke dalam dua jenis. 93 . Ini adalah akibat logis dari terputusnya arus komunikasi. Komunikasi vertikal adalah komunikasi yang dibangun antara atasan dan bawahan secara simultan. saran. pengaduan.berlangsung secara lancar. Komunikasi vertikal dari atas bisa berupa pengarahan atau instruksi di samping nasehat atau penilaian. yakni komunikasi yang dibangun antaranggota. dan kritik. permintaan. Setiap masalah harus diselesaikan dengan segera. Ketika kedua jenis komunikasi ini berlangsung secara efektif. Komunikasi semacam ini akan lebih mudah menyelasaikan masalah karena tidak dibatasi oleh hirarki atau jenjang jabatan. seluruh personel organisasi harus memiliki kesamaan visi untuk bekerja sama memajukan lembaga. yang terjadi kemudian adalah saling curiga.

Kepemimpinan adalah unsur yang esensial dalam sebuah organisasi. Ilustrasi itu berupa dongeng dalam dunia binatang. terbang. (Malang. belajar atau tempat kerja. Sesungguhnya. hlm. 89 . lingkungan bergaul. Zakat Dalam Pusaran Arus Modernitas. kepemimpinan tidak lepas dari karakter individu yang sering ditentukan oleh lingkungan keluarga. Dimana di dalam buku tersebut di kisahkan bahwa pada suatu hari para binatang besar di hutan ingin mengadakan sekolah bagi para binatang kecil. pemimpin yang diidamkan adalah sosok pemimpin yang menjadi tumpuan harapan semua orang. Para binatang besar itu ingin mengajarkan mata pelajaran yang dianggap penting untuk keberhasilan hidup di hutan. PROSES PENERAPAN KONSEP MULTIPLE INTELLIGENCES DALAM MEWUJUDKAN SEKOLAH UNGGUL Ada sebuah ilustrasi menarik yang dibuat oleh Thomas Armstrong di dalam bukunya "In Their Own Way: Discovering and Encouraging Your Child's Multiple Intelligences". 52 Sudirman. yaitu pelajaran memanjat. berlari. dan bukan golongan atau kelompok tertentu. Unsur terakhir yang penting dalam pelaksanaan adalah kepemimpinan.52 D. Bakat kepemimpinan membutuhkan stimulus dari luar sehingga bakat itu dapat tumbuh dan berkembang secara maksimal. Kepemimpinan yang baik tidak lahir dari konflik kepentingan yang akan memenangkan kelompoknya dan menghancurkan lawannya. UIN Malang Press: 2007).pendidikan akan mudah membuat terobosan cemerlang untuk memberdayakan anggotanya. berenang.

dan menggali dan sebagainya. dan sebagainya. Elang yang dikenal jago terbang ternyata menghadapi masalah dalam pelajaran menggali.53 53 Thomas Amstrong. para binatang besar itu tidak dapat sepakat untuk menentukan kurikulum atau mata pelajaran mana yang paling penting dan cocok bagi para siswanya. Para binatang kecil itu tidak memiliki kesempatan lagi untuk berprestasi dalam bidang keahlian mereka masing-masing.. Dia berusaha terus berusaha mengikuti pelajaran berenang walaupun berada dalam trauma. cit. ternyata kelinci nyaris tenggelam. Tetapi. Akibatnya. Demikianlah. hlm.14. Saat sekolah dibuka dan menerima murid dari penjuru hutan. semuanya berbahagia. Tak ada seorang pun di hutan yang tak mengetahui bahwa kelinci terkenal piawai berlari. Kesulitan demi kesulitan dialami oleh binatang-binatang kecil lainnya. Sebagai keputusan. Semua berjalan lancar dan bergembira pada awalnya sampai suatu ketika terjadilah sebuah peristiwa. Dimana Seekor kelinci yang menjadi siswa di sekolah tersebut mengalami masalah. Tapi saat mengikuti kelas berenang. . kelinci tak dapat lari secepat sebelumnya. Demikian pun murid lain menghadapi masalah. Dia tak dapat berprestasi dalam pelajaran menggali sehingga harus belajar ekstra yang membuatnya melupakan keahlian terbangnya. Sebab. ular. mereka dipaksa melakukan hal-hal yang tidak menghargai sifat alami mereka. burung pipit. bunglon. akhirnya seluruh siswa diharuskan mengikuti seluruh mata pelajaran yang telah di tetapkan tadi. op. . seperti bebek. Pengalaman itu mengguncangkan kelinci.

banyak sekali sekolah yang secara sadar atau tidak. yakni hanya menekankan kepada kecerdasan logika-matematika dan bahasa saja tanpa mengukur kecerdasan lainnya. Thomas Armstrong mencoba menggambarkan posisi teori Multiple Intelligences yang seharusnya diterapakan di sekolah. Dalam konsep yang sesungguhnya. musikal. Hal inilah yang menyebabkan banyak sekolah membunuh potensi siswa-siswa didiknya karena tidak menghargai seluruh kecerdasan yang dimilki siswa tersebut. intrapersonal. malah membunuh potensi siswa-siswa didiknya. kinestetis-jasmani. Walaupun mereka tidak kompatibel dengan sistem sekolah yang ada. bukan berarti mereka bodoh dan tak akan berhasil di masyarakat. Membangun sekolah. sekolah yang baik adalah sekolah yang secara terus menerus meningkatkan kinerjanya dan menggunakan sumberdaya yang dimilikinya secara optimal untuk menumbuh-kembangkan prestasi siswa secara menyeluruh.Melalui ilustrasi di atas. Mereka hanya memiliki kecerdasan dan cara belajar yang berbeda dengan yang biasanya digunakan di sekolah pada umumnya. pada hakikatnya adalah membangun keunggulan sumber daya manusia. Banyak sekolah yang hanya mengukur sebagian dari kecerdasan yang dimiliki siswanya. Padahal. Sayangnya. anak-anak yang dianggap gagal dalam sistem sekolah tersebut mungkin memiliki bentuk kecerdasan lain seperti kecerdasan ruang/spasial. dan naturalis. Berarti bukan hanya beberapa kecerdasan saja yang . Kecenderungan model pembelajaran di sekolah yang hanya mengembangkan dua jenis kecerdasan yaitu kecerdasan bahasa dan kecerdasan logika-matematika sering membuat anak-anak dinilai gagal. interpersonal.

Atau lebih tepatnya menggunakan Multiple Intelligences System (MIS). Multiple Intelligences System (MIS) adalah sebuah pemahaman tentang bagaimana menerapkan Multiple Intelligences di sekolah.54 Menurut Chatib kita akan mendapati sekolah unggul seperti kriteria yang sempurna apabila sekolah tersebut menerapkan multiple intelligences pada sistemya. semua siswa mendapatkan pengalaman pertama yang sangat luar biasa dan tak akan lupa seumur hidup. Penerapan Multiple 54 Munif Chatib. Betapa cantiknya sebuah proses belajar dalam sebuah kelas apabila guru memandang semua siswanya pandai dan cerdas. hlm .cit. mereka akan berperan sebagai agen pengubah siswanya. op. sekolah yang guru gurunya mampu mengubah kualitas akademis dan moral siswanya dari negatif menjadi positif itulah sekolah unggul. Sekolah unggul adalah sekolah yang para gurunya mampu menjamin semua siswa akan dibimbing ke arah perubahan yang lebih baik. bukan pada kualitas input siswanya. Dengan kata lain. Apabila kualitas guru di sekolah tersebut baik. Kelas tersebut akan hidup dan terasa nyaman. Pada dasarnya sekolah unggul adalah sekolah yang fokus pada kualitas proses pembelajaran. Kualitas proses pembelajaran bergantung pada kualitas guru yang bekerja di sekolah tesebut. serta para siswanya merasakan semua pelajaran yang diajarkan mudah dan menarik.ditumbuh-kembangkan. melainkan seluruh potensi kecerdasan. . Apabila kelas seperti itu terjadi pada jutaan kelas di seluruh sekolah di Indonesia. Keluar dari kelas tersebut.93. bagaimanapun kualiats akademis dan moral yang mereka miliki. pasti negara ini akan menjadi negara maju yang diperhitungkan oleh dunia.

Hasil MIR tersebut dijadikan pedoman setiap guru untuk masuk kedunia siswa sehingga siswa merasa nyaman dan tidak berhadapan dengan risiko kegagalan dalam proses belajar. b. sekolah menggunakan Multiple Intelligence Resarch (MIR). gaya mengajar gurunya harus sama dengan gaya belajar siswanya. Penerimaan siswa barunya tergantung jumlah kursi. Dalam proses pembelajaran ini setiap guru harus menyesuaikan gayanya dalam mengajar dengan gaya belajar siswa yang telah diketahui dari hasil MIR pada tahap input tadi. karena pada sebelumnya guru sudah mengetahui kecenderungan gaya belajar siswa sesuai kecerdsannya. disinilah letak keampuhan strategi mulitple intelligences yang jumlahnya beragam. Data ini dipakai agar guru mengetahui gaya belajar masing-masing siswanya. yaitu semacam alat riset psikologis yang mengeluarkan diskripsi kecenderungan kecerdasan majemuk anak dan gaya belajarnya. proses. c. Tahap output .Intelligence itu secara global meliputi 3 tahap penting. Guru harus menjadi katalisator dan fasilitator. yaitu input. a. Seorang guru menggunakan pendekatan individual jika dalam kelas terdapat anak yang slow learner. Jadi sekolah tersebut menerima siswa tanpa tes masuk. dan output. Tahap Input Pada input. Ujung dari proses belajar adalah para siswa diharapkan mampu membuat produk-produk yang luar biasa. Tahap proses Pada proses.

menuliskan kembali yang dipelajari atau menerbitkan majalah dinding. Dan dimanapun implementasi konsep multiple intelligences di sekolah pasti intinya terletak pada proses pembelajaran. Dengan kata lain.Pada output. Bahwa kecerdasan seseorang tidak dibatasi pada tes formal (tes IQ. sekolah menggunakan penilaian otentik. setiap siswa adalah juara dengan cara yang berbeda. EQ.55 Paradigma yang paling mendasar dari Multiple Intelligences system ini adalah perubahan konsep tentang makna kecerdasan secara mendasar yang berbeda sama sekali dengan konsep-konsep sebelumnya. sehingga memungkinkan tercapainya tujuan pembelajaran dengan baik. Penilaian otentik adalah penilaian berbasis proses dimana seorang guru menilai siswa pada saat proses pembelajaran berlangsung bukan pada saat akhir pembelajaran. dan sejenisnya). memberikan beberapa strategi yang perlu diperhatikan dalam pengajaran dengan menggunakan teori kecerdasan ganda. psikomotorik dan afektif. Amstrong dalam bukunya Paul Suparno. setelah mempelajari topic tertentu siswa perlu diberi kesempatan untuk mengungkapkan pemikirannya 55 Munif chatib. Multiple Intelligences Sebagai Sistem (Makalah Training pelatihan Guru di SD YIMA Islamic school tgl 23 November 2009) . Oleh sebab itu. Yaitu sebuah penilaian berdasarkan nilai asli setiap anak. Dalam penilaian ini setiap aktivitas siswa dinilai dari 3 ranah. Setiap siswa akan diperlakukan secara spesifik berdasarkan ragam kecerdasan dan gaya belajarnya. yaitu kognitif. Secara umum strategi itu sebagai berikut: 1. Kecerdasan Linguistik dapat dilakukan dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk bercerita.

Kecerdasan Interpersonal dapat diekspresikan dalam bentuk kegiatan sharing. Kecerdasan Intrapersonal dapat dikembangkan dengan memberikan waktu sendiri kepada siswa untuk refleksi dan berfikir sejenak. membuat kategorisasi atau penggolongan. permainan bersama maupun membuat simulasi bersama. grafik. membuat pemikiran ilmiah dengan proses ilmiah. Permasalahan yang . symbol. membuat teater. gambar. 3. Bentuk-bentuk seperti mendramatisir. dengan membuat sketsa. 5. kerjasama membuat proyek atau praktikum bersama. Kecerdasan Kinestetik-badani dapat diungkapkan dengan bentuk ekspresi gerak badan. Kecerdasan Ruang-visual dapat diungkapkan dengan visualisasi materi. membuat hands-on-activiteis tentang materi yang dipelajari sangat membantu dalam mengungkapkan kecerdasan kinestetik-badani. membuat lagu atau mengungkapkan materi dalam bentuk suara. 7. Kecerdasan Musikal dapat diungkapkan dengan memberikan kesempatan dan as kepada siswa untuk menyanyi. 4. 6. mengadakan tour keluar kelas. mengadakan eksperimen di laboratorium dan sebagainya. Siswa yang tidak begitu lancar bekerjasama perlu dibantu untuk lebih berani. 2. Kecerdasan Matematis-logis dapat diwujudkan dalam bentuk menghitung. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa setiap siswa dalam kelompok haruslah aktif. diskusi kelompok. membuat analogi dan sebagainya. sehingga kerjasama tidak hanya dikuasai oleh beberapa siswa sedangkan yang lainnya pasif.dengan menuliskan kembali lewat susunan kata-kata yang dibuatnya sendiri.

Dan tidak dapat dipungkiri lagi. kelinci.56 Dari semua strategi pengajaran yang digunakan oleh guru dalam mengembangkan kecerdasan ganda. lisan. dalam bentuk proyek. Dengan kata lain. 8. kambing dan binatang ternak lainnya. Teory Intelligensi Ganda Dan Aplikasinya Di Sekolah (Yogyakarta: Kanisius. bentuk prestasi yang dapat ditampilkan di depan umum. Evaluasi perlu disesuaikan dengan tujuan dan cara mengajar seorang guru. Berbagai bentuk evaluasi seperti tertulis. Siswa dapat diajak dan mengamati tanaman yang ada di taman dan di kebun atau bahkan diajak untuk mengamati prilaku hewan yang ada disekitar kita seperti burung. Guru perlu belajar untuk menyajikan materi dengan memasukkan perasaan. pemantauan guru selama pembelajaran dan sebagainya perlu 56 Paul Suparno. hlm 92. salah satu unsur yang sangat penting dalam proses pembelajaran adalah evaluasi. ayam. dengan alam tempat mereka hidup. sikap pribadi guru perlu juga ditunjukkan untuk membantu siswa yang intrapersonal. 2004).deberikan tipe terbuka dimana siswa secara mandiri dapat mengungkapkan gagasannya. bahkan perlu memasukkan unsur lingkungan dan situasi nyata untuk dapat mengukur seluruh kemampuan siswa. humor dan keseriusannya. . Secara umum evaluasi perlu lebih luas dan menyeluruh. refleksi pribadi. Kecerdasan naturalis dapat diungkapkan dengan mengajak siswa untuk melihat apakah topik tang dipelajari ada kaitannya dengan lingkungan hidup mereka. dalam keaktifan proses pembelajaran. maka proses pembelajaran dapat berlangsung sesuai dengan kecerdasan yang dominan pada siswa dengan memperhatikan setiap kecerdasan yang dimilikioleh siswa-siswa. tugas bersama.

Ini sangat sesuai untuk mengevaluasi siswa. erflkesi pribadi dan juga bahasa tertulis.57 Selain itu juga untuk mewujudkan sekolah unggul yang berbasis multiple intelligences perlu adanya evaluasi dari segi pendidik. Perlu ada persoalan logika. senada dengan pendekatan kecerdasan ganda. hal ini yang dimaksud 57 Ibid. ruang. gerak. Yang perlu diperhatikan disini adalah evaluasi harus beranekaragam. Portofolio yaitu laporan tugas-tugas siswa selama seluruh proses pembelajaran. gerak. Soal tertulis yang diberikan kepada siswa perlu juga dirumuskan sesuai dengan ketujuh kecerdasan ganda tersebut. tugas. gambar. kerja kelompok kecil. refleksi dan lingkungan perlu diperhatikan. musical. Sedapat mungkin kedelapan kecerdasan juga terukur dalam evaluasi tersebut. perlu dikumpulkan juga. slide atau video bila pernah dibuat. hasil diskusi kelompok.digunakan dalam evaluasi sebagai kesatuan. Termasuk di dalamnya adalah laporan tertulis. hlm. hasil refleksi pribadi. . musik. disesuaikan dengan pendekatan pembelajaran kecerdasan ganda yang juga beranekaragam. ruang. Guru perlu selalu memantau dan memberikan penilaian singkat kepada setiap siswa selama proses belajar. kerjasama. tulisan. dan soal tertulis. 94. laporan computer. Bentuk evaluasi yang ditekankan oleh Amstrong dalam bukunya Paul Suparno yaitu evaluasi portofolio yakni penilaian selama proses belajar. selama mereka bermain bersama sesuai materi dan selama meraka aktif berpartisipasi dalam pembelajaran. selama diskusi. Tugas-tugas informal yang pernah dikerjakan siswa. seperti catatan atau draf lagu. Segi hitungan. permainan. Penilaian selama proses belajar perlu dikumpulkan.

Guru sangat berperan dalam membantu perkembangan peserta didik untuk mewujudkan tujuan hidupnya secara optimal. Minat. sejak lahir. agar anaknya dapat berkembang secara optimal. bahkan pada saat meninggal. setiap guru yang mengajar harus dievaluasi demi terlaksananya pembelajaran yang baik sesuai kriteria multiple intelligences. bakat. . kemampuan dan potensi-potensi yang dimiliki oleh peserta didik tidak akan berkembang secara optimal tanpa bantuan guru.adalah guru. Keyakinan itu muncul karena manusia adalah manusia lemah. Semuanya menunjukkan bahwa setiap orang membutuhkan orang lain dalam perkembangannya. yang dalam perkembangannya senantiasa membutuhkan orang lain. demikian halnya peserta didik. Semua orang yakin bahwa guru memiliki andil yang sangat besar terhadap keberhasilan pembelajaran di sekolah. ketika orangtua mendaftarkan anaknya ke sekolah pada saat itu juga ia menaruh harapan pada guru. Jadi.

6 . Adapun tujuannya adalah untuk menjelaskan aspek-aspek yang relevan dengan fenomena yang diamati. hlm. foto.2002). menjelaskan karakteristik fenomena atau masalah yang ada. tape. Pendekatan dan Jenis Penelitian Berdasarkan jenisnya penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. hlm. 2000). industri atau perspektif yang lain. catatan atau memo dan dokumen resmi lainnya. akan tetapi berupa kata-kata atau gambar. Dan demi terwujudnya tujuan tersebut maka metode penelitian yang penulis gunakan dapat diklasifikasikan sebagai berikut: A.58 Pada umumnya penelitian deskriptif ini tidak menggunakan hipotesis (non hipotesis) sehingga dalam penelitiannya tidak perlu merumuskan hipotesis. Desain dan Analisis Data dalam Penelitian Kuantitatif (Malang: STAIN Malang. Lexy. catatan lapangan. Penelitian deskriptif merupakan penelitian terhadap fenomena atau populasi tertentu yang diperoleh peneliti dari subjek berupa individu. video. dokumen pribadi. 12 59 Moleong. Dalam penelitian deskriptif data yang dikumpulkan bukan angka-angka. organisasional. Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Rosda Karya.59 58 Subekti Imam. seorang peneliti diharuskan dapat memilih dan menentukan metode yang tepat dan fleksibel guna mencapai tujuannya. Data yang dimaksud mungkin berasal dari naskah wawancara.BAB III METODOLOGI PENELITIAN Metode penelitian merupakan sistem atau cara kerja yang harus dilakukan dalam sebuah penelitian.

dia mengatakan bahwa studi kasus adalah metode penelitian yang memusatkan perhatian pada suatu kasus secara intensif dan mendetail. ProsedurPenelitian Suatu Pendekatan Cipta.1998). 247 Praktek (Jakarta: Rineka 61 Wiinarno Surahmad. Karena dengan terjun langsung ke lapangan maka peneliti dapat melihat secara langsung fenomena di daerah lapangan seperti "kedudukan peneliti dalam penelitian kualitatif cukup rumit.61 Dalam penelitian ini peneliti berusaha menggambarkan keadaan sebenarnya yang ada di SD YIMA Islamic School mulai letak geografis sekolah. Ia sekaligus merupakan 60 Arikunto Suharsimi. Kehadiran peneliti Kehadiran peneliti dalam penelitian kualitatif mutlak diperlukan. obyek atau peristiwa tertentu secara rinci dan mendalam. kondisi masyarakat sekitar sekolah. subyek yang diselidiki terdiri dari satu kesatuan unit yang dipandang sebagi kasus. penelitian kausal komparatif. ada tiga macam pendekatan yang termasuk kedalam penelitian deskriptif.60 Dalam penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan studi kasus. karena peneliti sendiri merupakan alat (instrumen) pengumpul data yang utama sehingga kehadiran peneliti mutlak diperlukan dalam menguraikan data nantinya. Pendapat ini juga diperkuat oleh Winarno. yaitu penelitian kasus atau studi kasus (case-studies).Menurut Suharsimi. keadaan siswa dan guru yang ada di sekolah. B. Dasar Dan Teknik Penelitian (Bandung: Trasito. 1994) hlm 105 . hlm. serta yang tidak ketinggalan pula mengenai konsep Multiple Intelligences yang diterapkan sekolah tersebut. dan penelitian koralasi. Studi kasus adalah pendekatan untuk mendeskripsikan suatu latar.

62 Sedangkan kehadiran peneliti dalam penelitian ini diketahui statusnya sebagai peneliti oleh subyek atau informan. Pada penelitian pendahuluan ini peneliti melakukan interview singkat dengan konsultan pendidikan yang sedang menangani sekolah tersebut. dibagian ini peneliti secara khusus menyimpulkan data. sehingga diketahui fenomena-fenomena yang nampak. hlm. Peneliti telah melakukan penelitian pendahuluan di SD YIMA Islamic School pada hari sabtu tanggal 26 Desember 2009. Konsultan pendidikan itu bernama Munif Chatib.perencana. dengan terlebih dahulu mengajukan surat izin penelitian kelembaga yang terkait.Cit. b) Pengumpulan data. Op.Meleong. Adapun peran peneliti dalam penelitian ini adalah sebagai pengamat berperan serta yaitu peneliti tidak sepenuhnya sebagai pemeran serta tetapi masih melakukan fungsi pengamatan. c) Evaluasi data yang bertujuan menilai data yang diperoleh di lapangan penelitian dengan kenyataan yang ada. dan pada akhirnya ia menjadi pelapor hasil penelitiannya". Secara umum kehadiran peneliti dilapangan dilakukan dalam 3 tahap yaitu: a) Penelitian pendahuluan yang bertujuan mengenal lapangan penelitian. . Peneliti disini pada waktu penelitian mengadakan pengamatan langsung. penafsir data.J. Beliau menjelaskan bahwa: 62 Lexy. dia adalah seorang pakar Multiple Intelligences lulusan Supercamp Oceanside California USA yang salah satu bukunya di jadikan referensi dalam penelitian ini. pelaksana pengumpulan data. hal ini bertujuan agar peneliti mengenal lebih jauh lagi tentang objek penelitian. 121 . analisis.

C. Guru harus menjadi katalisator dan fasilitator.“Penerapan Multiple Intelligences di sekolah ini secara global meliputi 3 tahap penting. hanya MIR itu saja. Hasyim Asyari No 326. gaya mengajar gurunya harus sama dengan gaya belajar siswanya. Pada output. Data ini dipakai agar guru mengetahui gaya belajar masing-masing siswanya. Pada input. dan output. kita menggunakan penilaian otentik. Setiap aktivitas siswa dinilai dari 3 ranah. Jadi kita terima siswa tanpa tes masuk. Soal-soal tesnya sangat manusiawi dan banyak dengan metode open book”63 Dari kutipan interview singkat tersebut peneliti dapat melihat bagaimana upaya seorang Munif chatib sebagai konsultan ahli dalam upaya mengembangkan sekolah ini munggunakan konsep Multiple Intelligences sehingga berkat tangan dingin beliau sekolah ini yang dulunya terbelakang dan kurang mendapatkan kepercayaan masyarakat sekarang sudah menjadi sekolah favorit yang mendapat kepercayaan banyak orang. Pada proses. Secara geografis sekolah ini terletak di kelurahan Kademangan Bondowoso atau tepatnya di wilayah perkampungan warga 63 Hasil interview tanggal 26 Desember 2009. Sekolah ini terletak di jalan KH. Penerimaan siswa barunya tergantung jumlah kursi. Luar biasa. proses. Ujung dari proses belajar adalah para siswa diharapkan mampu membuat produk-produk. kita menggunakan Multiple Intelelligence Resarch (MIR) semacam alat riset psikologis yang mengeluarkan diskripsi kecenderungan kecerdasan majemuk anak dan gaya belajarnnya. a. Bondowoso. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di salah satu sekolah favorit yang ada di kota Bondowoso. disinilah letak keampuhan strategi mulitple intelligence yang jumlahnya beragam. Kita menggunakan pendekatan individual jika dalam kelas terdapat anak yg slow learner. yaitu input. 10:00 wib . b. c. psikomotorik dan afektif. yaitu kognitif. atau tepatnya di SD Yayasan Islam Madrasah Al-Falah Al-Khairiyah (YIMA) Islamic School Bondowoso.

naturalisasi Arab yang notabene memiliki lingkungan masyarakat yang sangat religus serta kentalnya budaya Arab pada wilayah tersebut.” 64 Peneliti menentukan SD Yayasan Islam Madrasah Al-Falah Al-Khairiyah (YIMA) Islamic School Bondowoso sebagai tempat penelitian dikarenakan ketertarikan peneliti akan konsep Multiple Intelligences yang diterapkan oleh sekolah tersebut. dalam waktu singkat sekolah tersebut berubah menjadi sekolah yang unggul dan mendapat kepercayaan masyarakat. yang hanya berjarak sekitar 50 meter dari tempat tinggal peneliti. Itulah salah satu alasan mengapa peneliti memilih sekolah tersebut sebagai lokasi penelitian. dimana sekolah tersebut dulunya adalah sekolah yang sedikit terbelakang dan bermutu rendah. memang di kelurahan kedemangan ini mayoritas warganya adalah warga keturunan arab yang memiliki latar belakang budaya islam yang sangat kental serta keaneka ragaman kondisi sosial ekonomi dan latar pedidikannya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Ketua Kelurahan Kademangan Bapak Ali Zainal. Akhirnya setelah menerapkan konsep Multiple Intelligences . 64 Hasil Interview tgl 8 maret 2010. pengetahuan atau latar belakang pendidikannya. 19:00 wib . dimana beliau mengatakan: “Sebagaimana yang anda ketahui. sehingga hal ini sangat dimungkinkan bagi peneliti untuk memperoleh dan mengolah data secara langsung dan cepat. Kondisi masyarakat di sana sangat heterogen baik segi ekonomi. Yang kedua yaitu karena letak sekolah tersebut tidak jauh dari tempat tinggal peneliti.

D. 91. Dalam penelitian ini yang menjadi 6 Ibid. tidak langsung diperoleh oleh peneliti dari subjek penelitiannya. 112. baik pertanyaan tertulis maupun lisan. Metode Penelitian (Yogyakarta:Pustaka Belajar. diolah dan disajikan oleh peneliti dari sumber utama. Dan data sekunder adalah data yang diperoleh lewat pihak lain. 2006). Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari subjek penelitian dengan menggunakan alat pengukuran atau alat pengambilan data langsung pada subjek sebagai sumber informasi yang dicari. Syaifuddin Azwar. 129. maka bentuk data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain. maka data disebut responden. Apabila peneliti menggunakan kuesioner atau wawancara dalam pengumpulan datanya.6 Sedangkan Sumber data dalam penelitian adalah subjek darimana data dapat diperoleh. Jenis Data dan Sumber Data Jenis data dalam penelitian ini adalah data kualitatif.65 Menurut sumbernya data penelitian digolongkan menjadi dua yaitu data primer dan data sekunder. hlm. 2005).66 Adapun sumber data dari penelitian ini adalah: 1. hlm. 65 66 . yaitu orang yang merespon atau menjawab pertanyaan peneliti. hlm. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik (Jakarta:Rineka Cipta. . Data Primer Sumber data primer merupakan data yang dikumpulkan. Data sekunder biasanya berwujud data dokumentasi atau data laporan yang tersedia. Suharsimi Arikunto.

diantaranya: a. Observasi dapat dilakukan secara partisipatif ataupun nonpartisipatif. maka dalam penelitian ini peneliti menggunakan beberapa teknik pengumpulan data. Data Sekunder Sumber data sekunder merupakan sumber data pelengkap yang berfungsi melengkapi data yang di perlukan oleh data primer. 220. 2007). Teknik Pengumpulan Data Untuk memperoleh data dan informasi sebagai bahan utama yang relevan dan objektif. siswa belajar. konsultan pendidikan yang ada disana serta para guru dan staf yang ada di SD YIMA Islamic School Bondowoso. hlm. Adapun sumber data sekunder yang diperlukan yaitu: buku-buku. Kegiatan tersebut bisa berkenaan dengan cara guru mengajar. Dalam observasi non partisipatif pengamat tidak ikut serta dalam kegiatan. E. Dalam observasi partisipatif pengamat ikut serta dalam kegiatan yang sedang berlangsung. Observasi Observasi atau pengamatan merupakan suatu teknik atau cara mengumpulkan data dengan jalan mengadakan pengamatan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung. foto dan dokumen tentang SD YIMA Islamic School Bondowoso. 2. kepala sekolah yang memberikan arahan dan sebagainya.sumber data utama yaitu kepala sekolah. .67 Dalam penelitian ini observasi yang dilakukaan peneliti adalah observasi partisipatif karena pada penelitian ini memungkinkan peneliti untuk 67 Nana Syaodih Sukmadinata. Metode Penelitian Pendidikan (Bandung: Remaja Rosdakarya.

baik yang terpendam (tercatat). Hal ini bertujuan untuk lebih mengabsahkan data yang peneliti peroleh dari metode pengumpulan data sebelumya. 129 69 . suara adalah alat kesimpulan informasi yang langsung tentang beberapa jenis data sosial. dengan bercakap-cakap berhadapan muka dengan orang itu.69 Dalam penelitian ini peneliti akan 68 Amirul Hadi dan Haryono. Metodologi Penelitian Tindakan (Bandung: Pustaka Setia. Peneliti mengobservasi guna untuk memperoleh data tentang keadaan di SD YIMA Islamic School Bondowoso. mencoba mendapatka keterangan atau pendirian secara lisan dari seorang responden. (Jakarta:PT. Interview atau Wawancara Metode interview yaitu merupakan suatu proses tanya jawab lisan. Metode-metode Penelitian Masyarakat.terjun langsung dalam setiap aktivitas atau kegiatan yang ada di di SD YIMA Islamic School Bondowoso. proses pembelajarannya serta yang paling penting adalah untuk mengetahui macam-macam kegiatan atau aktivitas sekolah yang berhubungan penerapan multiple inntelligences yang ada di sana. keadaan guru dan murid. 1997) hlm. 135. keadaan gografis. dimana dua orang atau lebih berhadap-hadapan secara fisik. yang satu dapat melihat muka yang lain. Gramedia Pustaka Utama. hlm. 2005). b. Koentjaraningrat. sarana prasarana pendidikan. mendengarkan dengan telinganya sendiri. mulai dari segi letak.68 Metode wawancara atau metode interview dipergunakan kalau seseorang untuk tujuan suatu tugas tertentu.

data guru dan siswa. Para Guru. Moeleong. Teknik Analisa Data Analisis data menurut Patton yang dikutip oleh Moleong. dalam arti apabila ada kekeliruan sumber datanya masih tetap. belum berubah.cit. op. baik dokumen itu merupakan dokumen pribadi maupun resmi. Metode Dokumentasi Metode dokumentasi adalah pengumpulan data melalui dokumentasi atau catatan-catatan penting. c. struktur organisasi. bahkan meramalkan. konsultan pendidikan yang ada di sana. op. kategori dan satuan uraian dasar. adalah proses mengatur urutan data. F. serta informan lain terkait dengan masalah yang dibahas. . hlm 231. Penggunaan metode ini sudah lama digunakan dalam penelitian sebagai sumber data dapat dimanfaatkan untuk menguji. Sedangkan menurut Bogdan dan Taylor. hlm. dan siswa.71 70 71 Suharsimi Arikunto. Dibandingkan dengan metode lain. maka metode ini agak tidak begitu sulit. internet dan sebagainya. menafsirkan. surat kabar. Dengan metode dokumentasi yang diamati bukan benda hidup tetapi benda mati. 103.mewawancarai Kepala Sekolah. analisa data adalah proses yang merinci usaha secara formal untuk menemukan tema dan merumuskan ide seperti yang disarankan oleh data dan sebagai usaha untuk memberikan bantuan pada tema dan ide itu. Lexy J.cit. mengorganisasikannya kedalam suatu pola.70 Adapun dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode dokumentasi untuk mencari data tentang sejarah berdirinya SD YIMA Islamic School Bondowoso.

Setelah semua data yang diperlukan dalam penelitian terkumpul. maka dilakukan pemilahan secara selektif disesuaikan dengan permasalahan yang diangkat dalam penelitian. 72 Suharsimi Arikunto. selanjutnya dilakukan pengolahan dengan proses editing. 195.Dalam penelitian ini yang digunakan penulis dalam menganalisa data yang sudah diperoleh adalah dengan cara deskriptif kualitatif (non statistik). hlm. yaitu dengan menggambarkan keadaan atau status fenomena yang ada di SD YIMA Islamic School Bondowoso tentang bagaimana aktivitas tindakan dalam menerapkan Multiple Intelligences. op. yaitu dengan meneliti kembali data-data yang didapat. . apakah data tersebut sudah cukup baik dan dapat segera dipersiapkan untuk proses berikutnya. Penelitian deskriptif dibedakan dalam dua jenis penelitian menurut sifat-sifat analisa datanya. Kemudian setelah diolah.cit.72 Dalam hal ini penulis menggunakan deskriptif yang bersifat ekploratif. data tersebut harus di analisis agar dapat disajikan atau dipaparkan dengan baik untuk kesempurnaan penulisan skripsi. yaitu dilakukan dengan menggambarkan data yang diperoleh dengan kata-kata atau kalimat dimana dengan analisis deskriptif ini peneliti berusaha memaparkan secara detail tentang hasil penelitian sesuai dengan data yang berhasil dikumpulkan. Pada umumnya penelitian deskriptif merupakan penelitian non hipotesis. yaitu riset deskriptif yang bersifat ekploratif dan riset deskriptif yang bersifat developmental.

178 . Meleong. Hal ini dapat dicapai dengan jalan melihat semua data dengan realitas yang nampak pada proses aktivitas yang ada di tempat penelitian. Teknik Triangulasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah pemeriksaan melalui sumber lain yaitu waka kurikulum dan beberapa siswa. Op.G. Pengecekan Keabsahan Temuan Teknik yang digunakan untuk menetukan keabsahan data dalam penelitian ini yaitu: 1. Ketekunan Pengamatan Ketekunan pengamatan bertujuan untuk memenuhi kedalaman data. 2. akan Dengan keikutsertaan penelitian memungkinkan peningkatan derajat kepercayaan data yang dikumpulkan karena perpanjangan keikutsertaan. hlm. Perpanjangan Keikutsertaan Dilakukan memperpanjang dengan memperpanjang dalam waktu penelitian. J. peneliti akan banyak mempelajari dan dapat menguji ketidak benaran informasi. Ini berarti bahwa penelitian hendaknya mengadakan pengamatan dengan teliti dan rinci secara berkesinambungan terhadap faktor-faktor yang menonjol. Triangulasi Triangulasi adalah "Teknik pemerikasaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu"13. . 3.Cit. Hal ini dimaksudkan untuk memeriksa dan melihat kesesuaian data 13 Lexy.

Selain itu. Tahap-tahap Penelitian Penelitian ini dilaksanakan melalui tiga tahap pertama. ketiga adalah tahap analisis dan penafsiran data. hlm 239 .74 Ketiga tahap di atas dilakukan oleh peneliti pada tahap pertama yaitu orientasi. Tahap kedua adalah tahap eksplorasi. b) Membandingkan hasil pengamatan dengan isi dokumen yang berkaitan73. Ketiga tahap-tahap ini sesuai dengan pendapat dari yang pertama adalah mengetahui gambaran yang tepat tentang latar belakang penelitian.yang diperoleh dengan kegiatan sebenarnya di SD YIMA Islamic School Bondowoso. menentukan informan sehingga pada penelitian menyiapkan kelengkapan penelitian dan mendiskusikan rencana penelitian. hlm 178 Ibid. Tahap kedua adalah tahap eksplorasi fokus pada tahap ini mulai memasuki proses pengumpulan data. H. kedua tahap pengumpulan data (lapangan). Tahap yang terakhir adalah tahap penentuan tehnik yang digunakan untuk memeriksa keabsahan data. Peneliti melakukan kunjungan dari lokasi penelitian yang mana penelitian. atau tahap eksplorasi. tahap orientasi. untuk mengecek keabsahan data juga bisa dilakukan dengan: a) Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara. Pada tahap ini dilakukan pengumpulan data dengan cara wawancara dengan subyek dan informan penelitian mengkaji dokumen berupa fakta-fakta yanga ada dan berkaitan dengan penelitian dan melaksanakan observasi dengan hadir langsung di SD YIMA 73 74 Ibid.

Agar hasil dari penelitian ini dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya. serta informan terkait lainnya. Serta melakukan wawancara dengan para informan yakni kepala sekolah. konsultan dan guru. diskusi dengan teman sejawat dan menggunakan referensi.Islamic School Bondowoso. Tehnik yang dilakukan pada tahap ini adalah dengan tehnik perpanjangan waktu. Ketiga adalah tahap dimana pengecekan dan pemeriksaan data. . Pada tahap ini dilakukan pengecekan dan perbaikan baik dari segi bahasa dan segi sistematikanya.

Sebagaimana yang kita ketahui sebelumnya sekolah ini dulunya berakreditasi B. yayasan ini berdiri pada tahun 1912. Lembaga Yayasan Al Khairiyah didalamnya meliputi PAUD. YIMA adalah sekolah yang menempatkan belajar efektif sebagai indikator utama. baru tepatnya pada bulan agustus 2006 Keputusan Pengurus Yayasan Al Khairiyah Nomor : 001/C/YA/SK/VIII/2006.TK. SD. SD YIMA merupakan lembaga pendidikan yang berada dibawah naungan yayasan Al Khairiyah.BAB IV HASIL PENELITIAN A. Tanggal 28 Agustus 2006. DESKRIPSI OBYEK PENELITIAN 1. Sejarah berdirinya SD YIMA Islamic School Bondowoso YIMA adalah kependekan dari Yayasan Islam Madrasah Al Khairiyah. dimana sekolah yang mencoba merangkak ke paradigma baru mengenai sekolah unggul. tentang Perubahan status dan nama MI Al Khairiyah menjadi SD YIMA Islamic School. Salah satu cara yang ditempuh oleh Yayasan Al Khairiyah adalah membuka sekolah dengan nama SD YIMA Islamic School. Berdirinya SD YIMA dilatar belakangi oleh keinginan Yayasan Al Khairiyah untuk membuka paradigma baru mengenai sekolah unggul. Dimana proses belajar didalam kelas dirancang secara efekif sehingga .SMP dan Madaras Aliyah. karena kegigigihan dan usaha dari Yayasan untuk mengmbangkan sekolah ini pada akhirnya mendapat akreditasi A. Pada mulanya sekolah ini masih berstatus MI (Madrasah Ibtidaiyah) Al Khairiyah.

semua anak pandai dan dengan visinya yaitu mewujudkan insan unggul. maka dengan paradigma lama Yayasan Al Khairiyah membangun YIMA Islamic School untuk menjadi sebuah sekolah yang benar-benar ungggul. Maka dengan alasan itu yayasan Al Khairiyah ingin merubah image public tersebut dengan memperkenalkan ke masyarakat bahwa Al Khairiyah adalah lembaga atau sekolah milik masyarakat. bukan warga keturunan arab saja. SD YIMA Islamic School ini didisain dengan konsep sekolah unggul yakni sebagai sekolahnya manusai yang memiliki 8 Pilar yakni : a.berhasil membuat siswa mengerti dan antusias dalam pembelajaran. Dengan mengenalkan beberapa misi YIMA yaitu: meningkatkan proses belajar berkualitas. Selain itu ada beberapa alasan yang melatarbelakangi ingin merubah image public dimana masyarakat menganggap bahwa Al Khairiayah itu adalah sebuah lembaga milik Al Khairiyah yang diartikan hanya untuk komunitas arab karena berada dilingkungan warga keturunan arab sehingga tidak mampu menyerap siswa dari luar (bukan arab). berprestasi dan berakhlaqul karimah. menciptakan semua pelajaran mudah. Selain itu YIMA memiliki guru yang professional yang mampu mengajar dengan pola efektif berdasarkan kecerdasan yang dimiliki siswanya. sehingga mampu dan berhasil membuat siswanya berprestasi dengan latar belakang dan kemampuan yang beragam dalam proses pembelajaranya. meningkatkan proses belajar menyenangkan. Religion and Character Building 1)Sekolah yang mempunyai pandangan dunia dan visi Islam. . Sehingga tidak ada lagi anak yang dinilai bodoh.

sehingga siswa tidak hanya belajar konsep-konsep abstrak tetapi pembelajaran yang langsung diaplikasikan. dan 40% pendidikan umum 6)Bidang studi Character Building b. 3)Pengembangan pemikiran. Agent of Change Sekolah yang berperan sebagai agen pengubah kondisi siswanya dari kondisi negatif menjadi kondisi positif. Active Learning Sekolah dengan strategi belajar menitik beratkan pada keaktifan siswa. 4)Aplikasi akhlakul karimah 5) Muatan kurikulum terdiri dari 60% pendidikan Agama. . e. sehingga siswa mempunyai target untuk BISA APA selain TAHU APA. The Best Teachers Guru sebagai fasilitator dan katalisator. d. c. mengajar dengan menyesuaikan gaya belajar siswa dan selalu memantik rasa ingin tahu siswa. f. The Best Process Sekolah yang mengedepankan proses pembelajaran yang berkualitas dan menyenangkan untuk semua kondisi.2)Pembelajaran jiwa. Applied Learning Sekolah yang mengaitkan materi belajar dengan kehidupan nyata seharihari.

pengetahuan atau latar belakang pendidikannya.g. Itulah sekilas informasi yang dapat kami gambarkan tentang sejarah dan arah tujuan berdirinya sekolah ini. atau tepatnya jalan KH Asy’ari no. sehingga semua siswa adalah bintang.” 75 75 Hasil Interview tgl 8 maret 2010. Multiple Intelligence Research Sekolah yang mempunyai paradigma setiap siswa mempunyai kecenderungan kecerdasan yang beragam. memang di kelurahan kedemangan ini mayoritas warganya adalah warga keturunan arab yang memiliki latar belakang budaya islam yang sangat kental serta keaneka ragaman kondisi sosial ekonomi dan latar pedidikannya. 19:00 wib . h.326 (tampak depan) Bondowoso Secara geografis sekolah ini terletak di kelurahan Kademangan Bondowoso atau tepatnya di wilayah perkampungan warga naturalisasi Arab yang notabene memiliki lingkungan masyarakat yang sangat religus serta kentalnya budaya Arab pada wilayah tersebut. semua siswa adalah juara dengan cara yang berbeda-beda.menerus. dimana beliau mengatakan: “Sebagaimana yang anda ketahui. 2. konsultasi. Kondisi Lingkungan dan Letak Geografis SD YIMA Islamic School Bondowoso SD YIMA terletak di jalan Hos Cokroaminoto No.2 (tampak samping). Management Control Sekolah yang mempunyai siklus kontrol dalam proses pembelajaran. mulai dari perencanaan mengajar. Kondisi masyarakat di sana sangat heterogen baik segi ekonomi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Ketua Kelurahan Kademangan Bapak Ali Zainal. observasi kelas dan analisa perbaikan yang dilakukan secara terus.

co. / fax Alamat Kecamatan Kabupaten / kota Kode pos Alamat website E – mail Tahun berdiri Waktu belajar 4. Visi .alfalah_alkhairiyah.com : yima_is@yahoo.427033 : Jl. Asy’ari 326 : Bondowoso : Bondowoso : 68217 : www. 3.Misi dan Tujuan Sekolah a) VISI “TERWUJUDNYA INSAN RELIGIUS YANG AKTIF.id : 1912 : pagi hari . Dari keseluruhan areal tanah tersebut sebagian besar sudah dimanfaatkan untuk pengembangan sekolah meliputi penambahan kelas. KREATIF DAN TANGGUH” b) MISI : SD Yima Islamic School : Terakreditasi (A) :101452201036 : 20522386 : 0332 . laboratorium dan sebagainya. Identitas Sekolah Nama sekolah Status Nomor statistik sekolah NPSN Nomor telp.SD YIMA berdiri di atas lahan seluas 1200 m2 yang merupakan tanah milik Yayasan. Kh.

Munculnya Kemampuan/kompetensi dan bakat anak didik. efektif. Meningkatkan kesejahteraan guru dan karyawan e. loyalitas dan disiplin yang tinggi h. Mengoptimalkan Manejemen Berbasis Sekolah. g.a. Menghasilkan struktur kurikulum yang adaptif dan berwawasan Internasional b. Membangun budaya Islami dan disiplin dilingkungan sekolah maupun diluar sekolah bagi Civitas Akedemik d. Meningkatkan sarana dan pra sarana pendukung terhadap peyelenggaraan pendidikan c) TUJUAN 1. Tujuan Jangka Pendek a. Menghasilkan atau memenuhi perangkat kurikulum yang mutakhir. lengkap sehingga bisa mendukung dan mempermudah terhadap ketercapaian muatan struktur kurikulum c. berwawasan internasional dan adaptif b. Menerapkan Multiple Intelligence System (MIS) dalam berbagai aspek f. Mewujudkan struktur kurikulum dengan prinsip 70% muatan keagamaan dan 30 % non keagamaan. Meningkatkan Sumber Daya Manusia yang religius. efisien dan berwawasan Internasional c. professional. dan terbina dengan baik yang bersifat akademis maupun non akademis . berkualitas dan mempunyai komitmen. Mewujudkan perangkat kurikulum yang mutakhir. lengkap.

yayasan serta orang tua peserta didik k. Terdapatnya akuntabilitas yang baik dari masing-masing fungsi manajemen sekolah terhadap Kepala Sekolah dan akuntabilitas yang baik dari kepala sekolah terhadap yayasan atau konsultan o. Terdapatnya peraturan sekolah yang baku dan jelas bagi seluruh civitas akademik . karyawan. Adanya sistem yang akurat dalam mengontrol manajemen n.d. Terciptanya prilaku hidup yang Islami bagi civitas akademik baik di lingkungan sekolah maupun di luar lingkungan sekolah e. Adanya tingkat kedisiplinan yang tinggi dari guru. efektif dan efisien antara lembaga sekolah. Adanya sistem penghargaan dan punishmen yang proporsional bagi guru dan karyawan serta peserta didik j. Mempunyai Sumber Daya Manusia yang religious. orang tua dan peserta didik l. professional dan mempunyai komitmen dan loyalitas yang tinggi i. Terdapatnya administrasi yang mapan dan lengkap m. sehingga proses pembelajaran lebih bermakna dan materi-materi ajar mudah diserap oleh semua anak g. Terlaksananya pola manajemen sekolah yang efektif dan efisien h. Terdapatnya strategi-strategi pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik Multiple Intelligence. Terdapatnya pola komunikasi yang baik. Terwujudnya Multiple Intellegence System (MIS) dengan sinergis f.

masyarakat Bondowoso pada umumnya b. Adanya trust yang tinggi dari masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan SD YIMA Islamic School khususnya masyarakat sekitar . Bertambahnya atau terpenuhinya sarana dan pra sarana primer seperti . Adanya lingkungan sekolah yang asri. Adanya trust dan dukungan yang tinggi dari dinas pendidikan kabupaten dan pemerintah. Terdapatnya sistem administrasi berbasis komputer d. musholla. 3. Terpenuhinya seluruh sarana dan prasarana c. Tujuan Jangka Panjang a. Menjadi sekolah percontohan di Bondowoso dan sekitarnya76 76 Dokumen Sekolah . Adanya kemandirian yang tinggi dalam penyelenggaraan pendidikan khusunya pada aspek pembiayaan d. tata ruang dan kantor yang proporsional f. Tujuan Jangka Menengah a. c. meubeler dan papan data 2. Adanya output yang mumpuni dari aspek akademis dan non akademis.p. Tersedianya Sumber Daya Manusia yang professional di setiap bidangya e. Menghasilkan struktur kurikulum dengan prosentase 70 % muatan keagamaan dan 30 % muatan non keagamaan b.

Oleh karena itu. karena itu diperlukan koordinasi seluruh personalia secara baik sesuai dengan komposisi dan proporsinya masingmasing. Struktur Organisasi SD YIMA Islamic School Bondowoso Setiap organisasi atau lembaga pasti menginginkan pencapaian tujuan yang telah diprogramkan secara maksimal. pemberian tugas terhadap guru SD YIMA Islamic School Bondowoso diupayakan semaksimal mungkin sesuai kompetensi yang 77 Dokumen Sekolah . Untuk lebih jelasnya mengenai struktur organisasi SD YIMA Islamic School Bondowoso dapat dilihat pada Lampiran 177 6. bahkan dapat memperlancar arus komunikasi. Keadaan Guru / Pegawai SD YIMA Islamic School Bondowoso Guru memiliki tugas utama melaksanakan proses pembelajaran dan mendidik serta membimbing siswa untuk mencapai prestasi belajar secara optimal. baik secara horisontal maupun secara vertikal.5. sehingga kendala yang kemungkinan akan terjadi dapat diantisipasi dan diselesaikan secara cermat. Efektifitas kerja perlu mendapatkan perhatian secara serius. Salah satu langkah untuk mewujudkan koordinasi personal sekolah secara mantap disusunlah struktur organisasi yang mencakup keseluruhan bidang garapan atau spesialisasi tugas dengan harapan program yang dicanangkan dapat berjalan serempak. Di samping itu dengan adanya struktur organisasi diharapkan dapat dihindari kesimpangsiuran dalam pelaksanaan tugas masing-masing bidang.

berakhlak mulia dan dapat menjadi contoh bagi civitas akademika yang lain. pelatihan guru. penataran-penataran. dinamis dan inovatif dalam pengembangan keilmuan. Hal ini dimaksudkan agar dalam pelaksanaan proses belajar mengajar dapat mewujudkan keberhasilan secara optimal. (2) memiliki wawasan keilmuan yang luas serta profesionalisme dan dedikasi yang tinggi. Berdasarkan interview dengan Kepala Sekolah diperoleh informasi bahwa jumlah guru dan pegawai di SD YIMA Islamic School Bondowoso cukup . seminar. (4) bersikap dan berperilaku amanah. diklat dan lain sebagainya. kuliah. (3) kreatif. dalam menjalankan tugasnya guru SD YIMA Islamic School Bondowoso harus mempunyai profil sebagai berikut: (1) selalu menempatkan diri sebagai seseorang mukmin dan muslim dimana saja ia berada. Untuk mengetahui lebih jelas kondisi guru dan karyawan ini dapat dilihat pada (Lampiran 2) Seiring dengan pesatnya kemajuan sekaligus untuk meningkatkan mutu pendidikan. Sebagai tenaga profesional. kursus. Mengenai kondisi guru dan pegawai di SD YIMA Islamic School Bondowoso secara keseluruhan berjumlah 33 orang yang terdiri dari guru dan pegawai yang masing-masing berjumlah 28 guru dan 5 pegawai termasuk tukang kebun dan penjaga sekolah.dimilikinya secara proporsional. maka SD YIMA Islamic School Bondowoso terus mengadakan pembenahan dengan mengadakan pembinaan terhadap para guru dan pegawai. Pembinaan ini dilakukan baik melalui peningkatan profesionalisme ketenagakerjaan antara lain memberikan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Keadaan Siswa SD YIMA Islamic School Bondowoso Jumlah siswa-siswi SD YIMA. Tahun ajaran 2009-2010 sebanyak 345 siswa yang terdiri dari kelas I berjumlah 3 kelas. kelas III terdiri dari 3 kelas. Hal ini bertujuan agar peminjaman dan pengembalian buku dapat melalui komputerisasi. Hal ini sesuai dengan hasil interview dengan kepala SD YIMA Bapak Abd Wasith. jumlah siswa SD YIMA menunjukkan adanya peningkatan. Namun demikian. 7.memadahi dan sudah sesuai dengan standar sekolah yang ideal. kelas V terdiri dari 2 kelas. Bahkan jumlah pendaftar ke SD YIMA dari tahun ke tahun selalu melimpah dan melebihi daya tampung sekolah. kelas II terdiri dari 3 kelas. Hal ini secara tidak langsung membuktikan semakin besar animo masyarakat untuk memasukkan anaknya ke lembaga pendidikan ini. Sedangkan untuk guru yang belum memenuhi kualifikasi profesional ditinjau dari tingkat pendidikan yang dimilikinya telah ditugaskan untuk melanjutkan studi ke jenjang S-1. Ditinjau dari segi perkembangannya. Untuk lebih jelas tentang kondisi siswa SD YIMA dapat dilihat pada Lampiran 3. kelas IV terdiri dari 2 kelas. Begitu juga untuk laboratorium diperlukan tenaga ahli khusus yang menangani pengaturan dan perawatan peralatan untuk praktikum. dan kelas VI terdiri dari 2 kelas. Tenaga kerja sebagai pustakawan perlu penambahan seorang yang ahli di bidang komputer multimedia. kepala SD YIMA Islamic School Bondowoso menambahkan bahwa jumlah tenaga TU masih perlu penambahan terutama bagian inventerisasi dan penggandaan. dimana beliau mengatakan : .

siswa dan guru dapat mengetahui banyak hal. karena itu keberadaan sarana yang memadahi dan representatif senantiasa mendapatkan perhatian secara serius di SD YIMA. Keadaan Sarana Prasarana SD YIMA Islamic School Bondowoso Sarana dan prasarana merupakan salah satu faktor yang ikut menunjang keberhasilan pendidikan.“Melihat semakin banyaknya jumlah siswa yang mendaftar di sekolah ini. Untuk merealisir keinginan tersebut disusun tata tertib dan pengawasan terhadap aktivitas siswa di sekolah. MIR ini bukan alat tes seleksi masuk. seperti grafik kecenderungan kecerdasan siswa. pendaftaran akan ditutup. yang tentunya berbeda antara satu siswa dan siswa lain. MIR adalah semacam alat riset psikologis yang mengeluarkan diskripsi kecenderungan kecerdasan majemuk anak dan gaya belajarnya. maka dalam proses penerimaan siswa baru di SD YIMA menggunakan sistem kuota artinya Apabila sekolah ini berkapasitas 100 siswa dalam penerimaan siswa barunya.”78 Mengingat jumlah siswa yang relatif banyak dan bersifat heterogen. maka pihak sekolah senantiasa berusaha untuk mewujudkan kondisi siswa yang tertib. Siswa yang diterima akan mengikuti proses Multiple Intelligences Research (MIR). Setiap hasil MIR menyatakan bahwa pada hakikatnya tidak ada siswa yang bodoh. Setiap siswa pasti memiliki kecenderungan kecerdasan yang merupakan hasil dari kebiasaan-kebiasaan siswa tersebut dalam berinteraksi. Melalui MIR. Di samping itu untuk menghindari tindakan pelanggaran tata tertib oleh para siswa. setiap tindakan atau perbuatan yang melanggar tata tertib dikenai poin dengan bobot sesuai dengan jenis pelanggarannya. gaya belajar siswa. melainkan sebuah riset yang ditujukan kepada siswa dan orang tuanya untuk mengetahui kecenderungan kecerdasan siswa yang paling menonjol dan berpengaruh. Jadi kami sebagai kepala sekolah tidak menerapkan test seleksi masuk dalam PSB. maka ketika pendaftar telah mencapai 100 siswa. 8. Sebelum memaparkan lebih jauh tentang kondisi sarana prasarana pendidikan 78 Hasil interview tanggal 3 maret 2010. disiplin dan mengutamakan belajar. 19:00 wib . dan kegiatan kreatif yang disarankan. baik dengan dirinya sendiri (mengenal potensi diri) maupun dengan pihak lain.

kamar mandi kepala sekolah dan guru serta kamar mandi siswa.200 m2 426 m2 124 m2 200 m2 236 m2 214 m2 Dari tabel di atas diketahui bahwa sarana prasarana yang berupa bangunan gedung berada di atas tanah seluas 1200 m2 . Olahraga Luas Kebun Lain-lain : : : : : : : Milik Yayasan 1. gedung serba guna. perpustakaan. ruang kepala sekolah. gudang. Untuk lebih jelas tentang kondisi sarana prasarana SD YIMA dapat dilihat pada Lampiran 4 B.perlu dikemukakan bahwa keseluruhan tanah yang dimiliki SD YIMA seluas 1200 m2 dengan rincian sebagai berikut: Status Luas Tanah Luas Bangunan Luas Halaman Luas Lap. Sarana yang dimaksud antara lain 15 ruang belajar. Halaman sekolah yang luas yang digunakan untuk pelaksanaan upacara juga dapat dimanfaatkan untuk menunjang proses belajar mengajar olah raga di samping lapangan basket dan volley yang sudah disediakan. koperasi siswa. PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA . ruang multimedia. Di samping itu terdapat juga satu ruang UKS dan satu ruang lagi untuk kegiatan keorganisasian siswa. masjid. laboratorium dan komputer. ruang tata usaha.

SD YIMA adalah satu-satunya lembaga pendidikan di Bondowoso yang menerapkan konsep Multiple Intelligences. peneliti dapat menganalisis hasil penelitian dengan tehnik deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti lakukan di SD Yima Islamic School Bondowoso tentang konsep Multiple Intelligences dalam mewujudkan sekolah unggul adalah sebagai berikut: 1. dan menginterpretasikan data-data yang telah terkumpul sehingga akan memperoleh gambaran secara umum dan menyeluruh. baik yang yang menyangkut pengetahuan. agar semua anak bisa mendapatkan peluang mengembangkan sikap kecerdasan yang dimilikinya melalui proses pembelajaran tersebut. Pembelajaran itu akan lebih efektif. keterampilan maupun sikap. efisien. tujuan kegiatan pembelajaran adalah mengubah tingkah laku. artinya peneliti akan menggambarkan. Desain Konsep Multiple Intelligences di SD Yima Islamic School Bondowoso Pembelajaran merupakan proses bagaimana belajar dan mengajar. Penerapan Multiple Intelligences di SD YIMA secara umum adalah strategi pengkondisian suatu proses pembelajaran . menguraikan. atau bahkan meliputi segenap aspek organisme atau pribadi. interview dan dokumentasi.Setelah data terkumpul dengan metode observasi. maka proses belajar mengajarnya harus menyesuaikan dengan kerja kondisi otak dan berbagai kecerdasan anak. Pembelajaran ini merupakan syarat yang sangat penting dan menentukan demi tercapainya penyelenggaraan pendidikan yang bermutu. Agar tujuan pembelajaran tersebut dapat tercapai. Artinya. dan produktif apabila dalam proses pembelajarannya dikemas dalam suasana yang menyenangkan.

proses. Pada input. 79 Hasil interview tanggal 1 maret 2010. efektif dan menyenangkan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Munif Chatib selaku CEO Konsultan di SD YIMA. Setiap aktivitas siswa dinilai dari 3 ranah. yaitu kognitif. Kita menggunakan pendekatan individual jika dalam kelas terdapat anak yg slow learner. tidak ada anak bodoh dan tidak ada pelajaran yang sulit. dan output. Pada proses. gaya mengajar gurunya harus sama dengan gaya belajar siswanya. proses dan outputnya. Soal-soal tesnya sangat manusiawi dan banyak dengan metode open book”79 Pada dasarnya pembelajaran pada pokok bahasan atau mata pelajaran apapun harus diupayakan berlangsung secara aktif. dan output.yang aktif dan menyenangkan berdasarkan kecerdasan masing-masing anak didik dan sangat dibutuhkan guru yang benar-benar kreatif dalam pelaksanaannya. Data ini dipakai agar guru mengetahui gaya belajar masing-masing siswanya. kita menggunakan Multiple Intelelligence Resarch (MIR) semacam alat riset psikologis yang mengeluarkan diskripsi kecenderungan kecerdasan majemuk anak dan gaya belajarnnya. Penerapan Multiple Intelligences di SD YIMA ini secara global meliputi 3 tahap penting. Ujung dari proses belajar adalah para siswa diharapkan mampu membuat produk-produk. psikomotorik dan afektif. Pada output. MIS yaitu semua sistem yang holistik dari proses pendidikan dari mulai input. disinilah letak keampuhan strategi Multiple Intelligences yang jumlahnya beragam. 09:00 wib . beliau menyatakan bahwa: “Desain konsep Penerapan Multiple Intelligences di sekolah ini secara global meliputi 3 tahap penting. yaitu input. yaitu input. Luar biasa. kita menggunakan penilaian otentik. proses. Guru harus menjadi katalisator dan fasilitator. kreatif. Dan penerapan Multiple Intelligences itu sendiri sebenarnya sangat membantu guru dalam mewujudkan tercapainya tujuan pembelajaran. Bagi kita. Dan ketiga tahapan penting tersebut tergabung dalam satu sistem yang bernama Multiple Intelligences System (MIS).

dimana beliau mengatakan: “Desain konsep penerapan MI (multiple intelligences) intinya terletak pada tiga hal penting yaitu input. Rumusnya adalah gaya mengajar guru harus sama dengan gaya belajar siswa. dan bagaimana membuat sebuah proses pembelajaran yang menyenangkan dan disesuaikan dengan gaya belajar siswa berdasarkan Multiple Intelligences yang dimilikinya. Melalui pembelajaran berbasis Multiple Intelligences ini siswa memperoleh kesempatan untuk ikut aktif dalam proses pembelajaran atau bahkan belajar sesuai dengan gaya belajarnya masing-masing. Jadi ketiga hal tersebut harus sesuai dengan pola Multiple Intelligences yang dimiliki oleh siswa. Hal senada juga diungkapkan oleh konsultan ahli SD YIMA Gamar S.”. hal ini disebabkan karena 80 81 Hasil interview tanggal 1 maret 2010.Pd. sehingga tidak jarang siswa selalu berada dalam suasana yang menyenangkan dalam aktivitas pembelajarannya.sehingga tidak ada alasan bagi guru untuk mempertahankan pola pembelajaran konvensional yang cenderung membuat siswa jenuh belajar.81 Desain konsep Multiple Intelligences yang diterapkan oleh SD YIMA ini memang ditekankan pada proses pembelajaraannya. proses dan outputnya. 12:20 wib Hasil interview tanggal 3 maret 2010. jadi guru harus megetahui bagaimana gaya belajar siswa yakni dengan menjadikan hasil MIR (Multiple Intelligences Research) pada input sebagai pedoman bagi guru dalam mengajar. 10:15 wib .”80 Lebih lanjut lagi dia menjelaskan: ”Sekolah unggul itu biasanya dilihat dari kualitas guru baik kompetensinya ataupun fasilitas sekolah yang tersedia biasanya identik dengan kemewahan. Tetapi kalau di SD YIMA Islamic School Bondowoso yang kami mengatakan sekolah unggul yaitu dengan menggunakan konsep Multiple Intelegences yang mana setiap siswa dikategorikan menggunakan proses MIR yang dilihat dari kecerdasan yang dimiliki tiap-tiap siswa.

afektif. dalam proses pembelajaran guru dituntut untuk bisa menciptakan suasana belajar yang kondusif. yakni penilaian otentik yang berdasarkan aspek kognitif.dengan proses pembelajaran berbasis Multiple Intelligences diharapkan sekolah ini akan mencapai tujuan pendidikan sebagaimana yang tercantum dalam Undangundang Sistem Pendidikan Nasional. pasal I. 2003. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. salah satu cara yang ditempuh oleh guru adalah dengan menguasai tekhnik atau metode penyampaian materi yang tepat dalam proses pembelajaran sesuai dengan materi yang diajarkan dan kemampuan anak didik yang menerima. Ayat I yang berbunyi: “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. masyarakat. 82 Undang-undang Sisdiknas. Untuk ketercapaian suasana tersebut. kepribadian. akhlak mulia. dan psikomotorik siswa. pengendalian diri. Disinilah pentingnya kemampuan guru untuk membuat suasana dan cara belajar dengan menggunakan berbagai metode dan pendekatan yang atraktif. bangsa dan Negara”82 Oleh karena itu. proses ataupun outputnya sehingga menyebabkan sekolah ini unggul dan menjadi aset berharga bagi kabupaten Bondowoso serta menjadi barometer sekolah unggulan di Bondowoso. hal 2 . mampu merangsang seluruh indera peserta didik yang akan mengarah pada tiga aspek pada tahap output nanti. kecerdasan. sehingga memungkinkan dapat mendorong peserta didik secara leluasa mengembangkan ktreativitasnya dengan bantuan guru. Dari pemaparan di atas. sudah jelas sekali bagaimana desain konsep Multiple Intelligences yang diterapkan di SD YIMA berjalan dengan lancar dan baik mulai dari input.

interview atau observasi yang peneliti lakukan di sekolah ini. Kemudian siswa yang telah diterima akan mengikuti proses Multiple Intelligences Research (MIR). sekolah ini menggunakan Multiple Intelligence Research (MIR) dalam penerimaan siswa barunya. MIR adalah alat riset psikologis yang mengeluarkan diskripsi kecenderungan kecerdasan majemuk anak dan gaya belajarnnya.2. a. proses penerimaan siswa baru di SD YIMA ini menggunakan sistem kuota artinya Apabila sekolah ini berkapasitas 100 siswa dalam penerimaan siswa barunya. Pada bagian ini peneliti akan mengupas satu persatu dari ketiga tahapan tersebut berdasarkan pengamatan. yaitu input. proses. maka ketika pendaftar telah mencapai 100 siswa. maka dalam proses penerimaan siswa baru di SD YIMA menggunakan sistem kuota . implementasi Multiple Intelligences di sekolah ini secara global meliputi 3 tahap penting. dan output. dapat disimpulkan gaya belajar terbaik bagi seseorang. dimana beliau mengatakan : “Melihat semakin banyaknya jumlah siswa yang mendaftar di sekolah ini. pendaftaran akan ditutup. Data ini dipakai agar guru mengetahui gaya belajar masing-masing siswanya. Input Pada tahap input. Keterangan di atas sesuai dengan hasil interview dengan kepala SD YIMA Bapak Abd Wasith. Dan dari analisis terhadap kecenderungan kecerdasan tersebut. Implementasi Konsep Multiple Intelligences di SD YIMA Islamic School Bondowoso Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Munif Chatib selaku CEO konsultan di SD YIMA. Jadi sekolah ini tidak menerapkan test seleksi masuk dalam PSB.

gaya belajar siswa. 83 Hasil interview tanggal 3 maret 2010. Dari analisis terhadap kecenderungan kecerdasan tersebut. seharusnya setiap guru memiliki data tentang gaya belajar siswanya masing-masing. Dari hasil MIR tersebut setiap guru akan masuk kedunia siswa sehingga siswa merasa nyaman dan tidak berhadapan dengan risiko kegagalan dalam proses belajar.artinya Apabila sekolah ini berkapasitas 100 siswa dalam penerimaan siswa barunya. yaitu masuk kedunia siswa.”83 MIR (Multiple Intelligences Research) merupakan tahap awal dari tiga tahapan penting dalam menrapkan Multiple Intelligences. 19:00 wib . baik dengan dirinya sendiri (mengenal potensi diri) maupun dengan pihak lain. dapat disimpulkan gaya belajar terbaik bagi seseorang. pendaftaran akan ditutup. siswa dan guru dapat mengetahui banyak hal. MIR adalah semacam alat riset psikologis yang mengeluarkan diskripsi kecenderungan kecerdasan majemuk anak dan gaya belajarnya. Setiap hasil MIR menyatakan bahwa pada hakikatnya tidak ada siswa yang bodoh. MIR adalah instrumen riset yang dapat memberikan deskripsi tentang kecenderungan kecerdasan seseorang. dan kegiatan kreatif yang disarankan. MIR ini bukan alat tes seleksi masuk. Siswa yang diterima akan mengikuti proses Multiple Intelligences Research (MIR). Oleh sebab itu. Inilah yang dimaksud asas utama quantum learning oleh Bobbi DePorter. Kemudian setiap guru harus menyesuaikan gayanya dalam mengajar dengan gaya belajar siswa yang telah diketahui dari hasil MIR. Setiap siswa pasti memiliki kecenderungan kecerdasan yang merupakan hasil dari kebiasaan-kebiasaan siswa tersebut dalam berinteraksi. Melalui MIR. melainkan sebuah riset yang ditujukan kepada siswa dan orang tuanya untuk mengetahui kecenderungan kecerdasan siswa yang paling menonjol dan berpengaruh. maka ketika pendaftar telah mencapai 100 siswa. Jadi kami sebagai kepala sekolah tidak menerapkan test seleksi masuk dalam PSB. Gaya belajar disini diartikan dengan cara dan pola bagaimana sebuah informasi dapat dengan baik dan sukses diterima oleh otak seseorang. yang tentunya berbeda antara satu siswa dan siswa lain. seperti grafik kecenderungan kecerdasan siswa.

dan sebagainya. Seorang guru memeriksa 3-4 siswa. Waktu pelaksanaannya biasanya pada saat jam pelajaran efektif dan bertempat di lab atau di aula. MIR di sekolah ini bertujuan untuk penentuan kelas dan gaya belajar siswa pada saat di kelas nantinya”84 Secara tekhnis pelaksanaan MIR di SD YIMA sangat sederhana. Dalam pelaksanaannya orang tua wali siswa diminta untuk mendampingi anaknya agar nantinya tidak hanya guru yang tahu kecerdasan siswa melainkan orang tuanya juga. terutama mengetahui informasi tentang gaya belajarnya. Wujud pemeriksaan MIR berupa semacam tes psikologis meliputi bagaimana kecenderungan kecerdasan siswa. Jadi dari pelatihan tersebut MIR di sekolah ini benar-benar professional dalam pelaksanaannya. MIR dapat dilaksanakan pada setiap tahun kenaikan kelas. 10:00 wib . dan setiap siswa membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam.MIR di SD YIMA dilaksanakan setiap pada saat penerimaan siwa baru. Dan hasil 84 Hasil interview tanggal 3 maret 2010. Hasil MIR pada penerimaan siwa baru menjadi data penting bagi guru di sana untuk mengetahui kondisi siswa. Selanjutnya. Dimana ada sebuah tim khusus yang terdiri dari beberapa guru yang dipercaya untuk pelaksanaan MIR. MIR ini biasanya dilaksanakan 3 bulan sebelum kenaikan kelas. guru tersebut bukan guru sembarangan melainkan guru yang sudah beberapa kali mendapatkan pelatihan khusus pelaksanaan MIR dari NEXT WORLDVIEW yaitu semacam perusahaan yang bekerja dibidang konsultan pendidikan dan pelatihan Multiple Intelligences di Surabaya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Abd Wasith selaku Kepala Sekolah: “MIR di sekolah ini setidaknya dilakukan setahun sekali tepatnya pada PSB (Penerimaan Siswa Baru) dan selanjutnya dilaksanakan setiap tahun pada kenaikan kelas. afektivitas siswa ketika di rumah.

Tuti Isnawati. Jadi setiap anak dibagi kelasnya masing-masing sesuai kecenderungan kecerdasannya. karena didalamnya berisi arahan kepada guru untuk mengajar sesuai dengan kecenderungan kecerdasan yang dimiliki siswa. Dengan MIR yang dilakukan rutin setiap tahun. Hal ini yang membuat sekolah ini unggul. melainkan kami membaginya hanya dengan tiga kelas. untuk lebih jelasnya hasil analisis MIR tersebut bisa dilihat pada Lampiran 5 Sehubungan dengan hal ini juga. Tetapi tidak mungkin kami membagi kelas berdasarkan seluruh jumlah kecerdasan yang dimiliki siswa. 12:00 wib Hasil interview tanggal 3 maret 2010.analisis dari analisis MIR dijadikan acuan dalam mengajar. Ini bukan alat tes seleksi masuk melainkan sebuag riset yang ditujukan pada siswa dan orang tuanya untuk mengetahui kecenderungan kecerdasan siswa yang paling menonjol dan berpengaruh.”86 Berdasarkan pemaparan diatas. yaitu kecerdasan linguistik. Selain itu manajemen yang digunakan di SD ini sudah sangat bagus sehingga segala sesuatu yang akan dilaksanakan dapat terkontrol oleh Kepala Sekolah”85 Bapak Abdul Wasith juga menjelaskan: “Selain digunakan untuk mengetahui kecenderungan gaya belajar siswa sesuai kecerdasannya. SD YIMA menggunakan alat riset yang bernama Multiple Intelegent Research (MIR) dalam PSB. selaku Guru Matematika SD YIMA mengatakan: “Sekolah ini cukup unik dan berani berbeda dalam proses penerimaan siswa barunya (PSB). logis-matematis dan kinestetis. sesuai dengan ketiga kecerdasan yang paling menonjol diantara mereka. Dan hasil dari MIR ini juga dijadikan pedoman bagi guru dalam proses mengajar untuk menyesuaikan kecenderungan gaya belajar siswa berdasarkan kecerdasannya tadi. 10:00 wib 86 . peneliti sangat yakin bahwa MIR adalah riset yang luar biasa untuk membantu guru menemukan gaya belajar siswa. MIR juga digunakan untuk proses pembagian kelas. setiap siswa akan memiliki data 85 Hasil interview tanggal 3 maret 2010.

Namun sebaliknya. MIR yang dilakukan secara berkala terhadap seseorang dalam hubungannya dengan proses belajar mengajar akan menjadi akselerator bagi seseorang untuk menemukan kondisi terbaik. tidak statis. kecerdasan seseorang lebih berkaitan dengan kebiasaan. strategi pembelajaran Multiple Intelligences terlihat sangat mudah diterapkan di sana. yaitu prilaku yang diulang-ulang. Berdasarkan pengamatan awal yang peneliti lakukan di beberapa kelas di SD YIMA. pelaksanaan strategi ini akan menjadi lebih mudah jika langkah awal difokuskan pada model dan aktivitas pembelajaran terlebih dahulu. baru setelah itu dilakukan analisis terhadap aktivitas tersebut berkaitan dengan kecerdasan apa saja. Setelah mempelajari tentang MIR ini peneliti bertambah yakin bahwa potensi bakat itu harus dipicu dan dikembangkan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Gardner bahwa kecerdasan seseorang itu berkembang. hal ini tidak lain karena guru di sekolah ini sudah menyesuaikan betul bagaimana cara mengajarnya sesuai dengan gaya belajar . b. Proses Tahapan ini adalah tahapan pada proses pembelajaran. disinilah letak keampuhan strategi pembelajaran Multiple Intelligences yang jumlahnya beragam dan sangat banyak seiring dengan kreativitas seorang guru dalam mengajar.riwayat kecerdasan yang memungkinkan seseorang lebih cepat menemukan kondisi akhir terbaiknya. dimana nantinya gaya mengajar guru harus sama dengan gaya belajar siswanya. Terkadang sebuah aktivitas pembelajaran mengandung beberapa strategi Multiple Intelligences.

Dalam lesson plan guru harus menggambarkan seluruh kegiatanyang akan dilaksanakan beserta seluruh alat pendukung dan sumber belajar sampai proses pengambilan nilai. yaitu pelatihan guru. seperti halnya aktor atau penyair perlu berlatih. Dan jika saja kami memiliki kekuatan. Pelatihan guru ini dilakukan oleh konsultan pendidikan di sekolah ini atau mengundang ahli pendidikan. Kedua. 09:15 wib . maka langkah pelatihan yang diberikan kepada guru adalah bagaimana mengenal cara kerja otak siswa sehingga memudahkan dan mengkondisikan kelas. Hal ini senada dengan apa yang telah disampaikan oleh Bapak Abdul Wasith selaku kepala sekolah: “Masa depan sebuah sekolah di tentukan oleh sebuah kekuatan. kekuatan tersebut adalah program utama di sekolah kami. Mengingat pembelajaran yang diterapkan di SD YIMA adalah pembelajaran dengan pendekatan Multiple Intelligences. dalam pelatihan tersebut juga diajarkan bagaimana proses pembuatan lesson plan yang di dalamnya mencakup kegiatan awal sampai akhir proses. Setelah itu guru baru bisa mengajarkannya kepada orang lain. Pelatihan ini bertujuan untuk memnerikan pengertian kepada guru tentang bagaimana sebuah proses pembelajaran yang ideal. pertama guru harus tahu bagaimana mensetting kondisi kelas sesuai gaya belajar siswa.”87 87 Hasil interview tanggal 8 maret 2010. Guru tidak hanya cukup membaca metode-metode pembelajaran terbaru. Pelatihan ini dilaksanakan dua kali setiap bulan.siswa berdasarkan hasil MIR. guru harus dilatiha di dalamnya. Mungkin hal ini juga disebabkan seringnya adanya pelatihan guru yang dilakukan di SD YIMA.

Selanjutnya pada pelatihan tersebut juga dijelaskan bagaimana atau tentang hal-hal yang mendukung proses pembelajaran seperti. scene setting. memancing pertanyaan. Tentunya peneliti menyadari bahwa selama beberapa hari mengadakan penelitian di sini ternyata peneliti menemukan banyak sekali strategi pembelajaran dengan contoh-contoh aktivitas-aktivitas yang menarik siswa dan kesemua strategi dan contoh aktivitas tersebut tidak sanggup peneliti uraian dalam pemaparan ini. Peneliti mengadakan pengamatan pada pada kelas II saja. menganalisis kegiatan siswa. Dalam penelitian ini juga guru dibekali beberapa gambaran tentang penguasaan kelas yang terdiri dari berbagai kemampuan. IIb. sampai penilaiannya. Karena kelas II dinilai peniliti sudah cukup mewakili dari pengimplementasian pembelajaran berbasis Multiple Intelligences yang diterapkan sekolah ini. menghukum. menulis dengan cara mind mapping. cara menghafal cepat. dan IIc sesuai dengan kecenderungan kecerdasan yang dimiliki siswasiswinya. Kelas kelas II dibagi menjadi tiga kelas yaitu kelas IIa. memecahkan suasana kaku dalam kelas. Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh kepala sekolah bahwa kelas di SD YIMA dibagi menjadi tiga kelas sesuai dengan kecerdasan siswa yang paling menonjol berdasarkan hasil MIR. Tentunya dalam pemaran yang sekarang ini peneliti ingin menggambarkan dan menjelaskan gambaran umum berikut contohcontoh yang menarik tentang beberapa strategi pembelajaran dengan konsep Multiple Intelligences. memberi reward. dengan perincian kelas yaitu: kelas IIa adalah kumpulan siswa yang .

ternyata siswasiswa tersebut berbaris karena hendak mengunjungi sebuah toko swalayan yang letaknya tak jauh dari sekolah. Anak-anak yang berperan sebagai pembeli mulai memilih barang. beberapa siswa disiapkan menjadi kasir dan yang lainnya menjadi pembeli. Seminggu sebelumnya. Sesuai sekenario dalam lesson plan (rencana pembelajaran). Sebagaimana yang diketahui kelas ini adalah kelas yang siswanya memiliki kecenderungan kecerdasan matematis-logis. Wajah-wajah ceria dengan senyum manis siswa menambah cerahnya mentari pagi. Dimulai dari kelas IIa. Berikut ini hasil pengamatan peneliti di kelas-kelas tersebut: 1) Kelas II a Peneliti mengadakan pengamatan di kelas IIa Pada tanggal 8 Maret 2010. Tak lama kemudian sampailah mereka ke toko swalayan yang pada pagi itu masih sepi pengunjung. IIb sampai kelas IIc. lalu membawanya ke kasir. Siswa .memiliki kecenderungan kecerdasan matematis-logis. Peneliti mengadakan pengamatan kelas pada tanggal 8-10 Maret 2010.00 sebelum peneliti memasuki kelas IIa ternyata seluruh siswa kelas IIa sudah berbaris rapi di depan kelasnya. kelas IIb kecerdasan visual spasial dan kelas IIc kecerdasan naturalis. Pada pagi hari sekitar jam 08. Peneliti bertanya kepada Bu Tuti selaku guru matematika. Bu Tuti telah menghubungi pemiliki toko swalayan untuk meminta izin mengadakan program environment learning di sana. Betapa lucunya ketika proses pembelajaran itu dimulai.

dimana dia bisa menyesuaikan gaya belajar siswa dengan kecerdasanya sehinga seluruh materi yang ada pada lesson plan tersampaikan dengan baik. mengurangi. baru dia bersedia kembali ke sekolah dengan tersenyum puas dan menyalami semua karyawan di toko swalayan itu. dan bagaimana pengurangan itu bisa terjadi. Setelah diberi kesempatan menjadi kasir beneran selama 10 menit.” Suasana di toko swalayan itu menjadi ramai sebab suara anak-anak yang riang gembira terdengar melebihi alunan musik dari loudspeakers yang ada di sudut-sudut langit toko. pengurangan dan perkalian dalam kehidupan mereka. Dimana ada seorang siswa yang menangis karena ingin duduk di kursi kasir yang sebenarnya. Anak-anak itu juga menjadi paham fungsi praktis mempelajari penjumlahan. menjumlah. Sampai-sampai ada sebuah kejadian menarik yang sulit dilupakan oleh peneliti dan Bu Tuti. Sungguh luarbiasa strategi pembelajaran yang diterapkan oleh Bu Tuti.yang menjadi kasir kemudian menghitung. Dilain pihak strategi yang diterapkan oleh Bu Tuti tadi juga dapat . Ketika peneliti bertanya kepada Ibu Tuti. “Apa yang sebenarnya mereka pelajari?” kemudian Bu Tuti menjawab “mereka belajar aplikasi langsung tentang pemjumlahan-pengurangan dan perkalian. Anak-anak memahami secara langsung bagaimana penjumlahan itu bisa terjadi. Anak-anak juga dengan serius mendengar instruksi dan penjelasan dari Bu Tuti. terkadang juga mengalikan barang-barang yang telah dibeli.

Sebagaimana yang diketahui kelas ini adalah kelas yang siswanya memiliki kecenderungan kecerdasan visual-spasial. siswa dibagi menjadi beberapa kelompok. Karena dari aktivitas di toko swalayan tadi selain kecerdasan matematis-logis. peneliti melihat petugas lab membawa proyektor ke dalam kelas. semua siswa serius memperhatikan sambil memegang alat tulis. Pada saat film diputar. kinestetis dan linguistik. sebelum pemutaran film. Film yang akan ditonton adalah film kartun Upin & Ipin dimana film tersebut dinilai banyak memberikan sedikit masukan ataupun pelajaran bagi prilaku siswa. Tetapi peneliti semakin kagum dengan antusias para siswa untuk mengikuti program movie learning ini. 2) Kelas IIb Peneliti mengadakan pengamatan di kelas IIb Pada tanggal 9 Maret 2010. Ketika peneliti hendak memasuki kelas IIb. ternyata setelah diamati lebih lanjut lagi proyektor tersebut digunakan Bu Ani selaku guru akidah akhlak untuk mengadakan movie learning yaitu salah satu strategi pembelajaran yang berkaitan dengan kecerdsan spasial visual. Peniliti agak heran dengan strategi yang diterapkan Bu Ani ini karena sebatas peniliti ketahui bahwa jarang sekali atau bahkan tidak ada seorang guru yang menerapkan movie learning untuk anak setingkat kelas 2 SD.menumbuhkan kecerdasan lainnya. pembelajarannya juga berkaitan dengan kecerdasan interpersonal. Sesekali . Setiap kelompok diberi pertanyaan-pertanyaan penting untuk di analisis saat film berlangsung dan setelah film selasai.

3) Kelas IIc Peneliti mengadakan pengamatan di kelas IIc Pada tanggal 9 Maret 2010. Kemudian Bu Fitri menyuruh beberapa siswa untuk membantu menyiapkan sejumlah jenis sayur mayur dan benda-benda lain. Hal ini menandakan bahwa pembelajaran dengan metode movie learning sangat berhasil diterapkan di kelas tersebut. Siswa kelas IIb tersebut mampu membuat analisis prilaku yang baik dengan hipotesis-hipotesis yang belum pernah ada sebelumnya. aktivitas pembelajaran seperti ini selain kecerdasan visual spasial juga dapat meningkatkan kecerdasan linguistik. interpersonal dan kecerdasan musikal. Daya analisis mereka terpacu sehingga mereka menjadi kreatif dalam beropini bagai pengamat ahli yang mengomentari sebuah prilaku seseorang yang dapat diimplikasikan kekehidupan pribadi siswa. Metode movie learning ternyata sangat disukai oleh siswa. Setelah film selesai. kegiatan dilanjutkan dengan diskusi untuk membahas film tersebut dipandu oleh guru. Bagi peliti yang pada saat itu juga menonton film Upin-Ipin. Ada segenggam kacang . Wajah siswa di kelas IIc itu dipenuhi rasa penasaran ketika peniliti dan Bu Fitri selaku guru sains membawa dua ekor kelinci kedalam kelas. Sebagaimana yang diketahui kelas ini adalah kelas yang siswanya memiliki kecenderungan kecerdasan naturalis.mereka mencatat hal-hal yang dianggap penting dan berkaitan dengan pertanyaan yang dibagikan oleh gurunya. komentar dan analisis para siswa dalam diskusi itu berbobot luar biasa.

kini tiba pembuktian hipotesis dilakukan. sayur. dan banyak lagi kejadian menarik yang dapat peniliti amati dan catat. Tentang wortel dan sebagainya. dan sayuran lain. Dengan segera pandangan semua siswa di kelas itu tertuju pada meja tempat kelinci dan sayur mayur tersebut akan “berinteraksi”. wortel. para siswa sangat antusias mengerumuni kelinci dan sayur mayur itu. dan biji-biji yang ditempatkan di atas meja. jagung. beras. Sambil sedikit terlibat dorong mendorong. Terdapat 10 macam buah. bayam. barulah semua siswa diajak berkumpul dan menganalisis. Satu persatu siswa maju untuk memberikan masing-masing makanan yang ada di atas meja kepada kelinci dan diminta mencatat makanan mana saja yang dimakan oleh kelinci dan mana yang tidak. Pada awalnya perkiraan peneliti anak-anak . kangkung. Saya melihat sendiri bagaimana semangatnya para siswa memperhatikan benda-benda yang ada di atas meja sambil melihat wajah-wajah kelinci yang bingung karena dikelilingi banyak anak.hijau. Ada siswa yang bertanya kepada guru mengapa biji kacang hijau tidak di sukai oleh kelinci. Bu Fitri meminta semua siswa untuk menebak sepuluh benda itu mana saja yang menjadi makanan kelinci. Suasana di dalam kelas menjadi semarak. Mereka kemudian memberikan contreng pada tabel yang suda disiapkan ibu guru sebelumnya. Setelah pembuktian hipotesis selesai. Tabel tersebut dinamakan tabel hipotesis. sayur. Anak-anak segera bertanya satu sama lain tentang biji kacang hijau. Dua kelinci itu kemudian diletakkan di tengah kelas. Setelah semua siswa menebak.

Selain kecerdasan naturalis . dan cirri-ciri lainya mengenai kehidupan kelinci. Peneliti sempat menghitung waktu yang dibutuhkan untuk model aktivitas tadi tidak kurang dari 35 menit. banyak anak yang menceritakan pengalaman menarik tersebut kepada orang tuanya. Beberapa anak ingin meneliti makanan ayam. khususnya sains. dan masih banyak lagi keinginan untuk meneliti makanan binatang lainnya. anak lain ingin meneliti makanan kambing dan sapi. Kesimpulan ini berkaitan dengan struktur gigi kelinci. Keesokan harinya peneliti terkejut ketika beberapa orang tua mengabarkan bahwa sore hari setelah pembelajaran itu. puluhan pertanyaan yang menandakan keingintahuan besar para siswa muncul. Anak-anak terlihat senang dengan pembelajaran seperti ini meskipun bayak yang masih penasaran. dugaan peneliti keliru. Bu Fitri dan para siswa menarik kesimpulan apa saja makanan kelinci dan mengapa kelinci menyukainya. Ternyata. Pada tahap akhir. Semua pertanyaan tersebut dicatat oleh Bu Fitri dan dijawab sesuai dengan tingkat pemahaman siswa. Dan model pembelajaran ini juga terbukti mampu meroketkan ketertarikan siswa terhadap ilmu pengetahuan.tidak akan tertarik pada tahap ini. habitat tempat tinggal kelinci. Peneliti sangat puas sekali melihat strategi pembelajaran ini berjalan dengan baik. Mereka meminta orangtuanya untuk ikut melakukan penelitian lebih mendalam tentang lebih banyak binatang lagi. Dari model pembelajaran ini peneliti dapat menarik kesimpulan bahwa metode pembelajaran ini sangat cocok untuk diterapkan kepada siswa yang memiliki kecenderungan kecerdasan naturalis diatas rata-rata.

Peneliti juga melihat guru-guru di SD YIMA Islamic School ini sudah berpengalaman dalam menggunakan strategi pembelajaran Multiple Intelligences pada proses pembelajarannya. peneliti dapat menyimpulkan bahwa proses pembelajaran berbasis Multiple Intelligences yang diterapkan di SD YIMA Islamic School Bondowoso cukup berjalan secara optimal.ternyata sebenarnya pembelajaran tersebut merupakan perpaduan dari beberapa kecerdasan lain. Dimana setiap pembelajarannya peneliti menemukan banyak kesesuaian antara gaya mengajar guru dan gaya belajar siswa yang memiliki kecenderungan kecerdasan yang bermacam-macam. Berikut ini tanggapan beberapa siswa terkait penerapan Multiple Intelligences di kelasnya:88 88 Hasil interview tanggal 5 maret 2010. Dan juga hampir seluruh pembelajarannya difokuskan pada kondisi siswa beraktivitas. Sehingga tidak salah apabila saat ini SD YIMA Islamic School menjadi barometer dan sekaligus sekolah percontohan di Kabupaten Bondowoso. kecerdasan intrapersonal dan kecerdasan interpersonal. 10:00 wib . Selain melakukan observasi di kelas peneliti juga menyempatkan untuk melakukan interview dengan beberapa siswa terkait penerapan pembelajaran di kelas-kelas mereka. Berdasarkan pengamatan yang sudah peneliti lakukan pada ketiga kelas di atas. diantaranya terdapat perpaduan antara kecerdasan matematis-logis. kecerdasan linguistik.

Menurut saya sekolah saya sudah unggul dari sekolah lainnya karena sekolah ini menerapkan Multiple Intelligences. Guru juga semua sudah sarjana jadi kita gak pernah khawatir masalah pelajaran yang disampaikan (Fatimah ratu. Setahu saya setiap ajaran baru ada MIR dan guru-guru selalu rapat untuk proses pembelajaran siswanya. c. kelas VI SD YIMA) Dari pemaparan beberapa siswa di atas terlihat bagaimana siswa tersebut sangat menyukai konsep Multiple Intelligences pada pembelajaran mereka. Gurunya enak juga mengajarnya. Menurut saya sekolah ini sudah unggul. Saya belajaranya juga gak hanya di dalam kelas aja. Bisa dikatakan juga penilaian otentik ini adalah penilaian berbasis proses. Aku kalo belajar sambil main lo di kelas. Output Tahap ini adalah tahapan terakhir dari 3 tahap penting penerapan konsep Multiple Intelligences di sekolah. saya kalo belajar sesuai dengan apa yang saya inginkan. Sudah 6 tahun saya sekolah disini gak ada masalah. kelas V SD YIMA) c. dan enak aku belajarnya di luar terus.a. artinya penilaian ini diambil berdasarkan proses . Aku senang sekolah ini menerapkan Multiple Intelligences. Penilaian otentik adalah sebuah penilaian terhadap sosok utuh seorang siswa yang bukan diukur dari segi kognitif saja melainkan diukur juga dari segi afektif siswa dan segi psikomotoriknya. (Salehuddin. (Fatimah Muchsin. Tahapan terakhir ini adalah proses penilaian dari proses pembelajaran. kelas IV SD YIMA) b. Sehingga dampak dari pembelajaran ini ternyata cukup jitu untuk merangsang siswa-siwa agar berkereatif untuk menemukan hal-hal baru dalam dunianya sesuai dengan pendekatan kecerdasan yang dimilikinya. Gurunya juga enak kalo ngajar gak pernah marah. Dalam pembelajaran dengan pendekatan Multiple Intelligences penilaian yang digunakan adalah penilaian otentik. Setiap 1 bulan sekali saya belajarnya di luar sekolah misalnya ke kantor-kantor untuk mengenal lebih dalan apa yang kita pelajari.

Dan bentuk tes tulis. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Waka Kurikulum Bapak Ahmad: “Dalam penilaian otentik. maka guru tersebut sudah mendapat nilai dari proses pembelajaran tersebut. 1) Penilaian kognitif Penilaian kognitif di SD YIMA dinilai melalui tes lisan. analisis. Kompetensi siswa dapat dilihat dari keseluruhan proses pembelajaran.”90 Penilaian otentik di sekolah ini dilakukan terhadap keseluruhan kompetensi yang telah dipelajari siswa melalui kegiatan pembelajaran. Dan sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa dalam penilaian ini siswa dinilai dari 3 ranah. berupa pertanyaan lisan yang digunakan untuk mengetahui daya serap siswa terhadap masalah yang berkaitan dengan materi. 09:30 wib Hasil interview tanggal 5 maret 2010.”89 Hal senada juga disampaikan oleh kepala sekolah Bapak Abd Wasith: “Penilaian otentik dilukakan pada proses pembelajaran bukan pada akhir pembelajaran. psikomotorik dan afektif.berkesinambungan yang dilakukan dari awal pertemuan. Pada saat sebuah proses berlangsung. Sehingga dengan model penilaian otentik ini sekolah dapat sewaktu-waktu mengetahui hasil siswa tanpa harus mununggu sampai akhir semsester atau akhir tahun pembelajaran. 89 90 Hasil interview tanggal 8 maret 2010. 08:00 wib . proses pembelajaran sampai menjadi laporan akhir. maka disitulah waktu yang tepat untuk mendapat atau mengambil penilaian. dilakukan untuk mengungkap penguasaan siswa mulai dari jenjang pengetahuan. penerapan. yaitu kognitif. kemajuan siswa dilihat dari kompetensi siswa tersebut dalam menerima pelajaran. Sehingga pada saat guru selesai mengajar. sintesis sampai pada evaluasi dalam bentuk esay singkat. pemahaman.

kreativitas dan karya-karya intelektual. tes identifikasi. Contohnya yaitu tes menggambar. Untuk lebih jelasnya dari wujud penilaian afektif ini dapat dilihat pada Lampiran 7. 3) Penilaian psikomotorik Dalam penilaian ranah psikomotorik bentuk kompentesi yang dinilai adalah segala macam kompentensi yang dapat diraih dengan aktivitas pembelajaran bukan tes.menjodohkan. uraian non obyektif. kedisiplinan siswa. 2) Penilaian afektif Pada penilaian ranah afektif SD YIMA telah membuat indikator yang dibuat oleh sekolah sebagai tolok ukur. Penilaian psikomotorik ini dilakukan selama berlangsungnya proses pembelajaran. respon pada materi. . tes menggunakan alat-alat. hubungan sebab akibat. Adapaun indikator afektif untuk di dalam dan di luar kelas yaitu: kekhusu’an anak dalam beribadah. Penilaian afektif ini diilakukan selama berlangsungnya proses pembelajaran baik yang dilakukan di dalam atau di luar kelas. kapatuhan kepada guru. kesetiakawanan. pilihan ganda. kinerja. Penilaian pada aspek kognitif ini dilakukan setelah siswa mempelajari satu kompetensi dasar yang harus dicapai dalam pembelajaran. hubungan kontek. klasifikasi atau kombinasinya. uraian obyektif. melainkan sebuah aktivitas yang memerlukan gerak tubuh atau perbuatan. Tolok ukur ini dibuat untuk penilaian afektif di dalam dan di luar kelas. Untuk lebih jelasnya dari wujud penilaian penilaian psikomotorik ini dapat dilihat pada Lampiran 8. imajinasi. Untuk lebih jelasnya dari wujud penilaian kognitif ini dapat dilihat pada Lampiran 6. tes simulasi. dan sebagainya.

minggu. Hasil penilaian dari tiga ranah tersebut langsung di input dalam data penilaian siswa oleh seorang operator dan hasil interpretasi bisa diakses kapan saja oleh sekolah ataupun pihak lain yang ingin mengetahui tanpa harus menunggu laporan hasil akhir.Hal yang perlu mendapat perhatian lebih dalam penilaian ini adalah kesinambungan penilaian dalam penerapanya antar tiga ranah tersebut dan dalam hal ini SD YIMA merekam secara administratif ketiga ranah tersebut dalam sebuah portofolio. Sehingga perkembangan siswa setiap hari. Jadi. 3. seadainya ada wali siswa yang ingin mengetahui kompentesi anaknya tidak harus menunggu sampai akhir semester. Lampiran 9. Bentuk penilaian ini selain otentik juga meringankan beban administrasi yang selama ini menjadi momok banyak guru. 09:00 wib .”91 Berdsarkan pemaparan diatas dapat diketahui bahwa penilaian otentik adalah penilaian yang berbasis proses. Evaluasi dari pengimplementasian Konsep Multiple Intelligences di SD YIMA Islamic School Bondowoso 91 Hasil interview tanggal 8 maret 2010. mereka bisa kapan saja dapat mengetahui kompetensi anaknya melalui penilaian otentik ini. Penilaian ini merupakan rangkuman seluruh kompetensi yang telah dipelajari siswa melalui kegiatan pembelajaran. sebabagaimana wujud penilaiannya dapat dilihat pada. sampai hitungan bulan bisa diketahui dengan cepat. Sebagaimana yang disampaikan oleh Ibu Gamar: “Hasil penilaian otentik yang didapat oleh guru dari satu komptensi dasar dapat langsung diinput dalam computer kami yang sudah ada operator ahlinya.

93 Hal ini juga disampaikan oleh Ibu Tuti selaku guru matematika: 92 93 Hasil interview tanggal 8 maret 2010. Evaluasi ini ditujukan untuk menilai sejauh mana program tersebut terlaksana sesuai dengan tujuan awal program itu dibuat. evaluasi juga ditujukan untuk memberikan umpan balik untuk mengadakan berbagai macam penyempurnaan terhadap kekurangan-kekurangan yang ada. Sekolah unggul yang menganut konsep “the best proses” seperti sekolah ini dapat berhasil apabila didukung oleh kualitas guru yang professional. Selain itu juga. Hal senada juga disampaikan Abd Wasith selaku kepala sekolah SD YIMA. jadi evaluasi ini dilihat sejauh mana seorang guru berhasil dalam menerapkan metode atau gaya mengajar sesuai Multiple Intelligences siswa. Evaluasi dari pengimplementasian konsep Multiple Intelligences di SD YIMA secara keseluruhan terletak pada efektivitas kinerja guru dalam mengajar menggunakan konsep multiple intelligences. 09:00 wib Hasil interview tanggal 4 maret 2010. 12:30 wib . Sebagaimana yang disampaikan oleh Munif Chatib: “Setiap unsur sekolah ini punya andil yang besar untuk mensukseskan konsep multiple intelligences.Dalam sebuah program sangat dibutuhkan sebuah evaluasi. dimana beliau mengatakan: “Karena guru memiliki peranan paling besar dalam pembelajaran Multiple Intelligences ini. maka sekolah pun memberikan evaluasi khusus kepada guruguru dengan harapan guru dapat meningkatkan kualitas pembelajarannya.”92 Jadi sudah jelas mengapa dalam evaluasi di sekolah ini lebih ditekankan pada sosok guru dari pada unsur sekolah lainya. Aset terbesar dan paling bernilai di sebuah sekolah adalah guru yang berkualitas dalam mengajarnya. tetapi elemen yang terpenting adalah seorang guru. Seorang guru merupakan kunci sukses keberhasilan dalam penerapan pembelajaran berbasis multiple intelligences di sekolah ini.

“Pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang berkualitas artinya pembelajaran itu harus menyenangkan. 08:00 wib Hasil interview tanggal 5 maret 2010. jadi dalam pembelajaran itu bukan ditekankan pada siswa yang harus pandai. Konsultasi lesson plan ( Rencana Pembelajaran) 94 95 Hasil interview tanggal 5 maret 2010. Karena inilah kesempatan seorang guru untuk mendarmabaktikan dirinya semaksimal mungkin demi nusa bangsa dan negara. Guru adalah sebuah potret yang selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari upaya mencerdaskan bangsa. proses pembelajaran merupakan hal yang paling mendasar sehingga menuntut kreatifitas seorang guru sebagai “pemroses”.”94 Lebih lanjut lagi Waka kurikulum Bapak Ahmad mengungkapkan: “Intinya dalam penerapan multiple intelligences. Diakui atau bahkan dilupakan guru adalah salah satu komponen pencipta peradaban yang tak dapat dipungkiri bahwa tugas dan tanggung jawabnya lebih besar secara moral. dan hendaknya semua itu dipandang secara positif. dalam sekolah yang baik guru yang berkualitas menjadi faktor terdepan dalam membuat siswa untuk aktif dalam belajar. dan guru yang paling banyak berperan dalam membuat pembelajaran itu menyenangkan. 95 Dari beberapa pernyataan di atas dapat peneliti simpulkan bahwa pendidikan yang bermutu sangat tergantung pada keberadaan guru yang bermutu atau berkualitas dan keberadaan guru yang bermutu merupakan syarat mutlak tercapainya proses pembelajaran yang diinginkan. Berdasarkan interview dengan konsultan dan kepala sekolah dapat dapat peneliti simpulkan bahwa secara tekhnis pelaksanaan evaluasi di SD YIMA terbagi menjadi beberapa tahap yaitu: 1. 09:00 wib .

teaching aids dan sebagainya. 11:00 wib . Dalam tahap konsultasi ini guru mendiskusikan rencana strategi mengajar yang sudah disusun berdasarkan gaya belajar siswa yang sudah diketahui. dan up to dete. namun kadang-kadang yang sudah dianggap baik oleh guru belum bisa diterapkan dikelas menurut konsultan. biasanya kulitas guru Multiple Intelligences lesson plannya orisinil.”96 Yang membuat perbedaan dari lesson plan yang dibuat oleh guru yang menerima penerapan Multiple Intelligences dengan yang tidak. 96 Hasil interview tanggal 8 maret 2010. guru membuat persiapan dalam bentuk lesson plan sesuai dengan jenis kelas dan bidang studi yang diajarkannya. Jika dalam tahap ini lesson plan yang dibuat oleh guru dianggap tidak berkulitas maka konsultan harus memberikan solusi. media. Tujuannya tidak lain adalah hanya untuk mereduksi berbagai macam kendala-kendala yang kemungkinan akan terjadi dan juga sekaligus konsultan bisa mengetahui kualitas lesson plan yang akan dijadikan acuan guru di dalam kelas. Namun guru belum bisa langsung menuangkannya ke dalam kelas karena harus melalui tahap konsultasi dengan konsultan. kreatif.Setelah mendapat pelatihan tentang membuat sebuah pembelajaran yang ideal. Sebagaimana yang disampaikan oleh Ibu Gamar: “Aturan mainnnya dalam konsultasi. konsultan memberikan beberapa jalan keluar berupa arahan-arahan bagaimana membuat lesson plan yang baik. Jika sudah mutlak begitu. konsultan menilai kualitas sebuah lesson plan yang dibuat oleh guru. strategi. terkait materi. hal ini bertujuan supaya guru tidak malas untuk membuat lesson plan. Dengan lesson plan dapat diketahui juga bagaimana gambaran proses pembelajaran yang akan berlangsung. Namun hal tersebut dilakukan konsultan sesekali saja tidak teruss-menerus.

Observasi kelas Observasi biasanya dilakukan oleh konsultan dan kepala sekolah di dalam kelas atau di tempat belajar yang biasa dipakai oleh guru dalam mengadakan kegiatan pembelajaran. 11:30 wib .karena dalam pembuatannya selalu dipantau oleh konsultan yang berpengalaman. Sebgaimana yang disampaikan oleh Bapak Abd Wasith: “Lesson plan yang dibuat oleh guru dibawah pantauan konsultan biasanya lebih orisinil. Untuk lebih jelasnya mengenai form observasi yang dilakukan oleh konsultan ketika mengamati proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru dapat dilihat pada Lampiran 11.97 Untuk lebih jelasnya mengenai cohtoh form untuk konsultasi lesson plan yang dilakukan konsultan kepada para guru dapat dilihat pada Lampiran 10. Hal tersebut dilakukan agar konsultan atau kepala sekolah mengtahui langsung bagaimana cara mengajar guru. akurat. Sehingga nantinya ada sedikit perbaikan dalam kegiatan pembelajaran berikutnya. Dan juga melihat tentang bagaimana singkronisasi antara lesson plan yang dibuat dengan kenyataan di lapangan. Karena selama ini sekolahsekolah yang tidak menerapkan Multiple Intelligences dalam prosesnya jarang mengontrol lesson plan yang dibuat oleh gurunya. Kalaupun ada itupun biasanya lesson plan dari tahun ajaran kemarin hanya disesuaikan sedikit tanggal serta kegiatannya. 2. 3. dan penuh dengan kreativitas. Feed Back Feed back atau umpan balik adalah evaluasi terakhir dari konsultan untuk menjelaskan hasil dari observasi pada proses pembelajaran yang dilakukan 97 Hasil interview tanggal 8 maret 2010.

bahkan pada saat meninggal. demikian halnya seorang siswa yang membutuhkan seorang guru untuk meningkatkan dan mengembangkan kemampuan dan potensipotensi yang dimilikinya secara optimal. Kita semua yakin bahwa guru memiliki andil yang sangat besar terhadap keberhasilan pembelajaran di sekolah. yang dalam perkembangannya senantiasa membutuhkan orang lain.oleh guru. Hal ini brtujuan untuk menemukan gaya mengajar maupun gaya belajar yang cocok. sejak lahir. Semuanya menunjukkan bahwa setiap orang membutuhkan orang lain dalam perkembangannya. Pada tahap evaluasi ini biasanya terjadi dialog dan interaksi yang intens antara guru dan konsultan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi dalam proses pembelajaran serta perbaikan kualitas lesson plan yang dibuat. Guru sangat berperan dalam membantu perkembangan peserta didik untuk mewujudkan tujuan hidupnya secara optimal. Keyakinan itu muncul karena manusia adalah manusia lemah. . Kini sudah jelaslah mengapa evaluasi dari penerapan Multiple Intelligences di SD YIMA Islamic School terletak pada efektitas dan kerja gurunya.

intinya adalah Sekolah unggul adalah sekolah yang fokus pada kualitas pembelajarannya. A. Jadi. sekolah yang mampu mengubah kualitas akademis dan moral siswanya dari negatif menjadi positif.BAB V PEMBAHASAN Setelah ditemukan data yang peneliti harapkan. setidaknya terdapat persamaan persepsi yang saling melengkapi satu sama lain. yakni bagaimanakah gaya belajar dan mengajar guru dan . Dengan kata lain. itulah sekolah unggul. Sekolah unggul adalah sekolah yang apabila kualitas inputnya biasa-biasa dan kualitas outputnya luar biasa. Desain Konsep Multiple Intelligences di SD YIMA Islamic School Bondowoso Kunci utama keunggulan sebuah sekolah itu terletak pada pelayanan terhadap siswanya dengan memberikan kesempatan untuk mengembangkan potensi-potensi yang dimilikinya. baik dari hasil observasi. Dari kajian teori pada bab dua dan hasil penelitian yang sudah dipaparkan pada bab empat. Pada pembahasan ini peneliti akan mengintegrasikan temuan yang ada di lapangan kemudian memodifikasi teori yang ada dan kemudian membangun teori yang baru serta menjelaskan tentang implikasi-implikasi dari hasil penelitian. pada uraian ini akan kami sajikan uraian bahasan sesuai dengan rumusan masalah penelitian dan tujuan penelitian. interview maupun dokumentasi. Di dalam kajian teori dijelaskan bahwa untuk membuat sekolah itu menjadi unggul pertama-tama yang harus di perbaiki adalah adalah proses pembelajarannya.

maka sekolah akan hancur dan tak berguna meskipun kondisi fisik sekolah tersebut sangat baik dan dapat . Rumusnya adalah gaya mengajar guru harus sama dengan gaya belajar siswa. proses dan outputnya. maka dalam hal ini peneliti dapat menyimpulkan bahwa proses pembelajaran merupakan ruh dari sebuah sekolah. Berdasarkan kesesuaian antara kajian teori dan hasil data yang diperoleh oleh peneliti. Jadi ketiga hal tersebut harus sesuai dengan pola multiple intelligences yang dimiliki oleh siswa. Hal ini selaras dengan desain konsep Multiple Intelligences yang diterapkan di SD YIMA. Dari hasil penelitian dapat dilihat bagaimana upayanya dalam mewujudkannya sebagai sekolah unggul. Dimana desain konsep penerapan MI (multiple intelligences) di sekolah ini intinya terletak pada tiga hal penting yaitu input. Hal ini dibuktikan bagaimana SD YIMA menerapkan MIR (Multiple Intelligences Research) dalam penerimaan siswa barunya untuk mengetahui gaya belajar siswa yang kelak sangat berpengaruh pada proses pembelajarannya. apabila ruh tersebut hilang. SD YIMA menekankan desain konsep multiple intelligences pada proses pembelajaraannya. Jadi.siswanya di dalam kelas untuk menghasilkan sebuah lulusan yang bermutu tinggi. dan bagaimana membuat sebuah proses pembelajaran yang menyenangkan dan disesuaikan dengan gaya belajar siswa berdasarkan multiple intelligences yang dimilikinya. jadi guru harus megetahui bagaimana gaya belajar siswa yakni dengan menjadikan hasil MIR (Multiple Intelligences Research) pada input sebagai pedoman bagi guru dalam mengajar.

Sungguh kelas tersebut akan hidup dan terasa nyaman. Dan betapa indahnya sebuah proses belajar dalam sebuah kelas apabila guru memandang semua siswanya pandai dan cerdas. Peneliti dapat menyimpulkan bahwa pengimplementasian konsep Multiple Intelligences di sekolah ini sudah sangat baik dan cukup optimal. proses dan outputnya.dipertegas lagi bahwa unggul tidaknya sebuah sekolah terletak pada kualitas proses pembelajarannya. melainkan seluruh potensi kecerdasan. Berarti bukan hanya beberapa kecerdasan saja yang ditumbuh-kembangkan. sekolah ini menggunakan Multiple Intelligence Research (MIR) dalam penerimaan siswa barunya dan proses penerimaan siswa baru di SD YIMA menggunakan sistem kuota artinya Apabila sekolah ini berkapasitas . Sebagaimana yang telah dipaparkan pada bab sebelumnya bahwa implementasi konsep Multiple Intelligences yang di SD YIMA Islamic School meliputi tiga tahap penting yaitu: input. Implementasi Konsep Multiple Intelligences di SD YIMA Islamic School Bondowoso Dalam kajian teori dijelaskan bahwasanya sekolah yang baik adalah sekolah yang secara terus menerus meningkatkan kinerjanya dan menggunakan sumberdaya yang dimilikinya secara optimal untuk menumbuh-kembangkan prestasi siswa secara menyeluruh. a) Input Pada tahap input. B. serta para siswanya merasakan semua pelajaran yang diajarkan mudah dan menarik.

b) Proses Tahapan ini adalah tahapan pada proses pembelajaran. dimana nantinya gaya mengajar guru harus sama dengan gaya belajar siswanya. Di dalam kajian teori dijelaskan bahwa Sekolah unggulan adalah sekolah yang mampu membawa setiap siswanya mencapai kemampuan secara terukur dan mampu ditunjukkan melalui prestasi. Sehingga dalam proses pembelajarannya tidak jarang ditemukan kondisi siswa yang terlihat senang dan aktif mengikuti pembelajaran. Hal ini merupakan langkah jitu yang dijadikan acuan oleh para guru dalam mengajar sehingga dalam proses pembelajarannya terjadi kesesuaian antara gaya mengajar guru dan gaya belajar siswa yang memiliki kecenderungan kecerdasan yang bermacam-macam. pendaftaran akan ditutup. strategi . sudah jelas bagaimana SD YIMA Islamic School berusaha untuk menciptakan sebuah proses pembelajaran yang sangat berkualitas dengan cara mengidentifikasi kecerdasan siswanya terlebih dahulu.100 siswa dalam penerimaan siswa barunya. Jadi MIR (Multiple Intelligences Research) ini merupakan langkah awal bagaimana seorang siswa dapat menemukan kemampuan aslinya yang kelak akan berguna baginya pada saat proses belajar berlangsung. maka ketika pendaftar telah mencapai 100 siswa. Jadi sekolah inin tidak menerapkan test seleksi masuk dalam PSB. Dari temuan yang peneliti peroleh diatas. Berdasarkan pengamatan yang peneliti lakukan di beberapa kelas di SD YIMA.

visual-spasial dan naturalis. Dalam bab kajian teori di atas. hlm. cit. op.”98 Penjelasan Amstrong di atas sesuai dengan proses pembelajaran berbasis Multiple Intelligences yang diterapkan di SD YIMA Islamic School Bondowoso. . hal ini tidak lain karena guru di sekolah ini sudah menyesuaikan betul bagaimana cara mengajarnya sesuai dengan gaya belajar siswa berdasarkan kecenderungan kecerdasannya. strategi dalam proses pembelajarannya harus berlangsung sesuai dengan kecerdasan yang dominan pada siswa dengan memperhatikan setiap kecerdasan yang dimiliki oleh siswa-siswa.92.. Peneliti sungguh merasa senang sekali melihat strategi pembelajaran yang diterapkan di beberapa kelas tersebut berjalan dengan baik.pembelajaran Multiple Intelligences terlihat sangat mudah diterapkan di sana. Dimana proses pembelajarannya cukup berjalan secara optimal dan disetiap pembelajarannya peneliti menemukan banyak kesesuaian antara gaya mengajar guru dan gaya belajar siswa yang memiliki kecenderungan kecerdasan yang bermacam-macam sebagaimana yang telah diungkapkan di atas. Para siswanya juga terlihat senang dan memiliki antusiasme yang sangat tinggi dalam mengikuti proses pembelajarannya. 98 Paul Suparno. peneliti menemukan berbagai macam strategi pembelajaran di dalamnya mulai dari mengunjungi toko swalayan. Thomas Amstrong dalam bukunya Paul Suparno menjelaskan bahwa: “Strategi pengajaran yang harus digunakan oleh guru dalam mengembangkan kecerdasan ganda. menonton film hingga membawa dua ekor kelinci ke dalam kelas. Pada saat melakukan pengamatan dibeberapa kelas yang siswanya memiliki kecenderungan kecerdasan matematis-logis.

Bisa dikatakan juga penilaian otentik ini adalah penilaian berbasis proses. maka guru tersebut sudah mendapat nilai dari proses pembelajaran tersebut. psikomotorik dan afektif. yaitu kognitif. Pada saat sebuah proses berlangsung. proses pembelajaran sampai menjadi laporan akhir.c) Output Tahap ini adalah tahapan terakhir dari 3 tahap penting penerapan konsep Multiple Intelligences di sekolah. Penilaian otentik di sekolah ini dilakukan terhadap keseluruhan kompetensi yang telah dipelajari siswa melalui kegiatan pembelajaran. Tahapan terakhir ini adalah proses penilaian dari proses pembelajaran. Dan sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa dalam penilaian ini siswa dinilai dari 3 ranah. Sehingga pada saat guru selesai mengajar. artinya penilaian ini diambil berdasarkan proses berkesinambungan yang dilakukan dari awal pertemuan. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwasanya penilaian otentik ini merupakan sebuah penilaian yang bertujuan untuk memperoleh ukuran keberhasilan proses pembelajaran. kemajuan siswa itu dilihat dari kompetensi siswa tersebut dalam menerima pelajaran. maka disitulah waktu yang tepat untuk mendapat atau mengambil penilaian. Kompetensi siswa dapat dilihat dari keseluruhan proses pembelajaran. Sebagaimana yang peneliti temui pada obyek penelitian bahwasanya dalam penilaian otentik. Jadi sudah tepat apabila dalam pembelajaran yang berbasis multiple intelligences ini penilaian yang digunakan adalan . Dalam pembelajaran dengan pendekatan Multiple Intelligences penilaian yang digunakan adalah penilaian otentik.

proses pembelajaran sampai menjadi laporan akhir. Apabila kualitas guru di sekolah tersebut baik. Evaluasi dari pengimplementasian Konsep Multiple Intelligences di SD YIMA Islamic School Bondowoso Dalam kajian teori dijelaskan bahwa kualitas proses pembelajaran bergantung pada kualitas para guru yang mengajar di sekolah. Artinya penilaian ini diambil berdasarkan proses berkesinambungan yang dilakukan dari awal pertemuan. Menyesuaikan dari apa yang telah didapat pada kajian teori. C. Dari sini peneliti dapat menyimpulkan bahwa pendidikan yang bermutu sangat tergantung pada keberadaan guru yang bermutu atau berkualitas dan keberadaan guru yang bermutu merupakan syarat mutlak tercapainya proses pembelajaran yang diinginkan. Karena guru memiliki peranan paling besar dalam pembelajaran Multiple Intelligences ini. Jadi sudah sangat tepat sendainya evaluasi dari pengimplementasian konsep Multiple Intelligences di SD YIMA secara keseluruhan terletak pada efektivitas kinerja gurunya dalam mengajar. Evaluasi . maka akan baik pula proses pembelajaran di sekolah itu. bagaimanapun kualitas akademis dan moral yang mereka miliki.penilaian yang berbasis proses. tidak salah seandainya SD YIMA Islamic School ini mengadakan evaluasi khusus terhadap para gurunya. maka sekolah pun memberikan evaluasi khusus kepada guru-guru dengan harapan guru dapat meningkatkan kualitas pembelajarannya. Sekolah unggul adalah sekolah yang para gurunya mampu menjamin semua siswa akan dibimbing ke arah perubahan yang lebih baik.

proses pembelajaran merupakan hal yang paling vital atau bagaikan ruh dari sebuah sekolah. Intinya dalam penerapan Multiple Intelligences. Kualitas proses pembelajaran bergantung pada kualitas guru yang bekerja di sekolah tesebut.ini dilihat sejauh mana seorang guru berhasil dalam menerapkan metode atau gaya mengajar sesuai Multiple Intelligences siswa. Dan hal ini berdampak pada prestasi sekolah tersebut. Dengan kata lain. Proses pembelajaran merupakan hal penting untuk tercapainya tujuan pendidikan. karena guru merupakan faktor utama dalam pembelajaran baik di kelas ataupun di luar kelas. Sehingga tidak salah apabila SD YIMA memberikan perhatian khusus melalui berbagai bentuk evaluasi terhadap gurunya. maju tidaknya sebuah sekolah biasanya ditentukan oleh baik tidaknya proses pembelajaran di lembaga tersebut. Dan hal ini sesuai juga dengan pernyataan Munif Chatib dalam bukunya “Sekolahnya Manusia” bahwa: “Sekolah unggul adalah sekolah yang para gurunya mampu menjamin semua siswa akan dibimbing ke arah perubahan yang lebih baik. mereka akan berperan sebagai agen pengubah siswanya. bagaimanapun kualiats akademis dan moral yang mereka miliki. Oleh karena itu mengapa SD YIMA memberikan perhatian khusus terhadap evaluasi para gurunya dengan menerapkan beberapa proses tahapan evaluasi mulai dari konsultasi lesson plan (rencana pembelajaran). sekolah yang guru . Apabila kualitas guru di sekolah tersebut baik. Dalam hal ini diperlukan SDM yang bermutu terutama pada guru pengajar. observasi kelas oleh konsultan dan evaluasi yang terakhir berupa feed back atau umpan balik untuk menindak lanjuti hasil dari observasi kelas tadi.

. Sekolah unggul yang menganut konsep “the best proses” seperti sekolah ini dapat berhasil apabila didukung oleh kualitas guru yang professional.gurunya mampu mengubah kualitas akademis dan moral siswanya dari negatif menjadi positif itulah sekolah unggul”99 Setiap unsur SD YIMA Islamic School ini punya andil yang besar untuk mensukseskan konsep Multiple Intelligences. Jadi sudah jelas mengapa dalam evaluasi di sekolah ini lebih ditekankan pada sosok guru dari pada unsur sekolah lainya.93. 99 Munif Chatib. op. hlm .cit. tetapi elemen yang terpenting adalah seorang guru.

Pada proses. Pada input. Kesimpulan Uraian pada bab-bab yang telah disampaikan di atas membawa peneliti pada kesimpulan sebagaimana berikut : 1. Melainkan menggunakan sistem kuota artinya sekolah ini akan menutup pendaftaran apabila kuota terpenuhi. Dalam hal ini dapat dilihat dari tiga tahap penting yaitu input. Pada proses ini guru menggunakan pendekatan individual sesuai dengan kecerdasan siswa pada saat mengajar. sekolah ini menggunakan Multiple Intelelligence Resarch (MIR) yaitu semacam alat riset psikologis yang mengeluarkan diskripsi kecenderungan kecerdasan majemuk anak dan gaya belajarnnya. Sedangkan pada output. Kemudian siswa . 2. dan output. sekolah ini menggunakan penilaian otentik. yaitu penilaian berbasis proses yang menilai sosok utuh seorang siswa dari dari 3 ranah. psikomotorik dan afektifnya. proses.BAB VI PENUTUP A. yaitu kognitif. Implementasi Konsep Multiple Intelligences di SD YIMA Islamic School Bondowoso sudah berjalan sangat baik. a. proses. gaya mengajar gurunya harus sama dengan gaya belajar siswanya. Input Pada tahap input sekolah ini tidak menerapkan test seleksi masuk dalam penerimaan siswa baru (PSB). Desain konsep Multiple Intelligences di SD YIMA Islamic School Bondowoso secara global meliputi tiga tahap penting yaitu input. dan output.

Proses pembelajaran berbasis Multiple Intelligences yang diterapkan di SD YIMA Islamic School Bondowoso menggunakan berbagai macam metode pembelajaran diantaranya environment learning. Pada pembelajarannya ditemukan banyak kesesuaian antara gaya mengajar guru dan gaya belajar siswa. b.yang telah diterima akan mengikuti proses Multiple Intelligences Research (MIR). Hampir seluruh pembelajarannya difokuskan pada kondisi siswa beraktivitas. contectual learning dan sebagainya. Proses Tahapan ini adalah proses pembelajaran. Output Tahap ini adalah tahapan terakhir dari 3 tahap penting penerapan konsep Multiple Intelligences di sekolah. MIR di sekolah ini bertujuan untuk penentuan kelas dan menentukan kecenderungan gaya belajar siswa pada saat di kelas nantinya. MIR di sekolah ini setidaknya dilakukan setahun sekali tepatnya pada PSB (Penerimaan Siswa Baru) ini. Pelatihan ini dilakukan oleh konsultan pendidikan dan dilaksanakan dua kali setiap bulan. Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan pengertian kepada guru tentang bagaimana sebuah proses pembelajaran yang ideal. c. Tahapan ini adalah penilaian dari proses . dan selanjutnya dilaksanakan setiap tahun pada kenaikan kelas. Hal tersebut ditandai dengan seringnya sekolah ini melaksanakan pelatihan guru. Guru-guru di SD YIMA Islamic School ini juga sudah berpengalaman dalam menggunakan strategi pembelajaran Multiple Intelligences pada proses pembelajarannya. MIR ini dilaksanakan 3 bulan sebelum kenaikan kelas.

Penilaian yang digunakan adalah penilaian otentik. jadi evaluasi ini dilihat sejauh mana seorang guru berhasil dalam menerapkan metode atau gaya mengajar sesuai Multiple Intelligences siswa. 3. Secara tekhnis pelaksanaan evaluasi di SD YIMA terbagi menjadi tiga tahap yaitu: a) Konsultasi lesson plan (rencana pembelajaran) Sebelum mengajar guru wajib membuat persiapan dalam bentuk lesson plan dan lesson plan tersebut harus melalui tahap konsultasi dengan konsultan. . Penilaian otentik di sekolah ini dilakukan terhadap keseluruhan kompetensi yang telah dipelajari siswa melalui kegiatan pembelajaran dan dalam penilaian ini siswa dinilai dari 3 ranah. c) Feed back Feed back adalah evaluasi terakhir dari konsultan untuk menjelaskan hasil dari observasi yang dilakukan pada proses pembelajaran. Dan melihat singkronisasi antara lesson plan yang dibuat dengan kenyataan di lapangan. Evaluasi dari pengimplementasian Konsep Multiple Intelligences di SD YIMA Islamic School Bondowoso secara keseluruhan terletak pada efektivitas kinerja guru dalam mengajar menggunakan konsep Multiple Intelligences. Hal ini bertujuan untuk menemukan gaya mengajar maupun gaya belajar yang cocok. Hal ini bertujuan untuk mengetahui kualitas lesson plan yang akan dijadikan acuan guru di dalam kelas b) Observasi kelas Observasi kelas ini dilakukan oleh konsultan dan kepala sekolah untuk mengetahui langsung bagaimana cara mengajar guru.pembelajaran. yaitu kognitif. psikomotorik dan afektif.

Dengan demikian akan mudah diketahui permasalahan-permasalahan yang timbul yang dapat menghambat pelaksanaan pendidikan terutama yang berkaitan dengan implementasi pembelajaran berbasis multiple intelligences.B. di rumahpun orang tua harus mencoba. . Lembaga ini lebih meningkatkan personil approach (pendekatan individu) terhadap guru dan siswa. sehingga mudah memperoleh informasi tentang perkembangan dan gaya belajarnya. b. Lebih meningkatkan hubungan dengan orang tua murid dan masyarakat sehingga akan membantu memperlancar penerapan konsep pembelajaran berbasis multiple intelligence dengan metode yang bervariasi. Jadi tidak hanya diterapkan di sekolah. Bagi Guru Hal ini khususnya ditujukan kepada seluruh guru di SD YIMA Islamic School Bondowoso hendaknya: a. Bagi Lembaga Pendidikan Hal ini khususnya ditujukan kepada SD YIMA Islamic School Bondowoso sebagai lembaga formal hendaknya: a. b. Saran 1. Dapat mengimplementasikan pembelajaran berbasis Multiple Intelligences sebaik mungkin dan Berusaha menciptakan metode-metode yang benar-benar sesuai dengan keinginan dan gaya belajar siswa. Menambah wawasan baru tentang metode-metode pembelajaran yang efektif. penuh kekreatifan dalam mengaktifkan siswa dan menjadikan siswa merasa senang dalam belajar. 2.

Bandung: Kaifa Arikunto Suharsimi. Teori Belajar Dan Pembelajaran. Administrasi Sekolah. 1993. Metodologi Penelitian Tindakan. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media Chatib Munif. Jakarta: PT. Metode-metode Penelitian Masyarakat. Jakarta:Rineka Cipta Baharudin dan Esa Nur Wahyuni. Multiple Intelligences: Mengenali Dan Merangsang Potensi Anak. 2000. 2002. 2005. Bandung: Kaifa Chatib Munif. Jakarta: Cahaya Budi Hadi Amirul dan Haryono. Desain Pengembangan Madrasah. Qudus : PT Menara Qudus Ghozali. The Theory In Practice. Bandung: Pustaka Setia Gardner. Imanuella F. 1997. Rachmani. Public Relations. New York: Basic Books Imam Subekti. Frank. 2006. Sekolah Para Juara. Multiple Intelligences. Jakarta: PT Aspirasi Pemuda Koentjaraningrat. Gramedia Pustaka Utama . 1992. Howard. 2009. 1977. Desain dan Analisis Data dalam Penelitian Kuantitatif. Thomas. Al-Qur’an dan terjemah. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. 2007. Jakarta: Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama RI. Multiple Intelligences Sebagai Sistem Makalah Training pelatihan Guru di SD YIMA Islamic School Bondowoso 23 November 2009 Departemen Agama RI. 2004. Malang: STAIN Press Jefkins. Sekolahnya Manusia. 1973. 2003.DAFTAR PUSTAKA Amstrong. Ahmad. Jakarta: PT Rajawali Press.

1994. Imam Prof. 2002. Sudirman. 1987. Made. Bandung: Mandar Maju Susan Albers Mohrman. USA: Purdue Univercity. Pedoman Umum Penyelenggara Administrasi Sekolah Menengah. San Francisco: Organizing for High Performance Surya Sutan. Manajemen Program Pendidikan. Melejitkan Multiple Intelligence Sejak Dini. Malang: UIN Malang Press. Malang: STAIN Press . 1992. Zakat Dalam Pusaran Arus Modernitas. Dasar-Dasar Manajemen. Jakarta: Rineka Cipta. Fundamental of Guidance. 2002. 2004. et. Bandung: Falah Production. Metodologi Penelitian Kualitatif. Sondang P. Sukarna. Reformasi Pendidikan Islam. PT. Lexy. Jakarta: Balai pustaka Pidarta. Bruce & Shelley Stone. 2004. Bandung: Rosda Karya Nurkolis.Moedjiarto. . Dr. 2002. Sekolah Unggul: metodologi untuk meningkatkan mutu pendidikan. 2007. Mary Lee & Glass Gene V. Englewood Cliffs New Jersey: Prentice Hall. 2004. Rose Colin dan Nicholl j Malcolm. Bandung: Nuansa. Siagian. Sudjana. 1999. Yogyakarta: Kanisius Suprayogo. Research and Evaluation in Educationa and the Social Science. Surabaya: Duta Graha Pustaka Moleong. Bumi Aksara: 2002 Smith. Manajemen Pendidikan Indonesia. School Based Management.al. Sekolah Unggulan Yang Tidak Unggul. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Jurnal Pendidikan Perum Penerbit. 1981. Jakarta. Fouth Edition. Teory Intelligensi Ganda Dan Aplikasinya Di Sekolah. Yogyakarta : Andi Suparno Paul. Shertzer. 1989. 2007. Cara Belajar Cepat Abad XXI. 2006.

Dasar Dan Teknik Penelitian. Bumi Aksara.Syaodih Nana Sukmadinata. Uhbiyati Nur. Bandung: Pustaka Setia. Bandung: Trasito Syaifuddin Azwar. Dasar-Dasar Manajemen. Landasan Psikologi Proses Pendididkan. Ilmu Pendidikan Islam(IPI). 2005. 1998. Bandung: Rosda Karya. Jakarta: PT. Yogyakarta: Pustaka Belajar Terry. . 1994. 2005. & Leslie W. George R. Rue. Syaodih Nana Sukmadinata. 2007. 2005. Bandung: Rosda Karya Surahmad Wiinarno. Metode Penelitian Pendidikan. Metode Penelitian.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->