Contoh interaksi obat dengan makanan/minuman atau nutrient 1.

obat-obat antialergi golongan antihistamin (Benadryl, Claritin, CTM, Zyrtec, Incidal, dll) merupakan obat bersifat asam lemah yang absorpsinya terjadi di lambung. Maka seharusnya diminum saat perut kosong (satu jam sblm makan atau 2 jam sesudah makan) atau cukup diminum dengan air putih saja. Jika diminum dengan susu, adanya pencernaan susu akan menghambat proses absorpsi di lambung, efek obat menjadi lambat. 2. Obat pain killer dan antiinflamasi (anti rematik, anti Gout/asam urat, anti bengkak). Obat golongan ini sebagian besar bersifat asam agak tinggi (ibuprofen=Nurofen, advil, aspirin, aspilet, aspro, asam mefenamat=ponstan, mefinal) walaupun absorpsi terjadi di lambung, namun karena keasaman yang tinggi tsb akan menimbulkan efek samping nyeri lambung, maka seharusnya diminum bersama susu, atau sebentar sesudah makan. Walaupun jelas ada penundaan absorpsi, namun karena mengingat efek sampingnya yang jauh lebih berbahaya, maka lebih baik menunda absorpsi dengan makan/minum susu tsb. Begitu pula dengan obat anti inflamasi golongan non steroid (diclofenac/voltaren, difflam, cataflam) dan steroid (deksametason, metil prednisolon/meptin, medrol, prednisone/deltasone, cortisone asetat/cortef), harus diminum sesudah makan atau bersama susu. Lain lagi dengan parasetamol (panadol, tempra, lylenol), karena bersifat lebih basa lemah dan diabsorpsi di usus, maka lebih baik obat jenis ini diminum sebelum makan, diikuti makanan sehingga akan segera sampai di usus, terjadilah proses absorpsi. 3. Secara umum untuk antibiotik (penisilin=amoksisilin, ampisilin, ciproflokasasin, ofloksasin, eritromisin, azitromisin, metronidasol, cotrimoksasol) seharusnya diminum saat perut kosong. Minum cukup dengan air putih. Karena absorpsi terjadi di lambung. Hal menarik terjadi khusus dengan golongan tetrasiklin (tetrasiklin, oksitetrasiklin, doksisiklin, minosiklin). Bila obat golongan ini diminum dengan susu atau daiyr product yang mengandung kalsium (yogurt), atau diminum bersama obat suplemen mengandung zat besi dan kalsium (multivitamin dan mineral), atau obat sakit maag (mengandung kalsium, magnesium, atau aluminium), maka mineral valensi 2 dan 3 ini akan membentuk senyawa komplaeks ermolekul besar dengan golongan tetrasiklin. Obat golongan tetrasiklin sama sekali tidak terabsorpsi sehingga tidak akan muncul efek farmakologi yang diinginkan pasien, kemungkinan besar terjadi kegagalan terapi. Obat jerawat biasanya mengandung golongan tetrasiklin ini. Hal serupa juga berlaku untuk obat antijamur (griseofulvin, ketokonazol, fluconazol). Jangan diminum bersama susu, dairy product, multivitamin dan mineral, obat antasid untuk sakit maag. 4. Obat asma mengandung teofilin atau aminofilin, adanya makanan lemak tinggi atau cafein akan meningkatkan efek samping teofilin (terjadi gangguan di jantung, palpitasi). Jangan minum obat asma ini dengan kopi atau sesudah makan lemak tinggi. Makana berkadar tinggi karbohidrat seperti nasi akan menurunkan jumlah teofilin yang terabsorpsi. (Aminofilin sesudah masuk tubuh akan membentuk teofilin juga =prodrug). 5. Obat antikolesterol lovastatin, simvastatin, pravastatin, dengan adanya susu atau makanan akan meningkatkan absorpsi obat. Maka lebih baik diminum dengan susu atau sesudah makan (kurang dari 2 jam sesudah makan). 6. Obat cacing (pirantel pamoat) juga lebih baik diminum dengan susu atau sesudah makan, karena akan terjadi peningkatan absorpsi dengan makanan/susu

7. sebaiknya obat diminum dengan susu. karena tingginya kalium akan meningkatkan efek oat golongan ini sehingga bisa muncul efek samping di jantung. jeruk. Obat antihipertensi ACEinhibitor (captopril dan golongannya=capoten. jus buah. teh. Jadi. Tidak bisa dilakukan generalisasi : tidak boleh minum obat dengan susu. sayuran berhijau daun). minum obat harus sesudah makan. sebelum atau sesudah makan sangat bervariasi tergantung golongan obat (beserta sifat fisika kimia dan faktor lainnya yang terkait). .accupril) jangan diminum bersama jus buah atau sayuran yang mengandung tinggi kalium/potasium (pisang. vasotec. ini image dalam masyarakat yang harus diubah demi keberhasilan terapi obat. air putih.

dan saraf pascaganglion berakhir pada sel efektor (Tjay & Rahardja. sistem mengendalikan dan mengatur kemauan. dan 4. alat-alat dalaman dan otot-otot polos. IX dan X menuju ke medulla oblongata. serta pernapasan (Tjay & Rahardja. Neurotransmitter yang memperantarakan perpindahan impuls di serabut aferen belum jelas dipahami. IX dan X. keseimbangan air. dan peredaran darah. pravertebral dan ganglia terminal. Obat-obat yang sanggup mempengaruhi fungsi sistem syaraf otonom. Anatomi Susunan Saraf Otonom Sistem saraf otonom membawa impuls saraf dari susunan saraf pusat ke organ efektor melalui 2 jenis serat saraf eferen yaitu saraf praganglion dan saraf pascaganglion. Dengan demikian. kelenjar-kelenjar. metabolisme karbohidrat dan lemak. Saraf otonom juga berhubungan dengan saraf somatik. pelvikus yang berasal dari bagian sacral segmen 2. Sistem syaraf ini terdiri dari atas serabut syaraf-syaraf. keringat dan pencernaan) dan juga otot jantung. pelvikus. pembuluh darah. vagus. hipotalamus dan hipofisis yang mengatur suhu tubuh. tekanan. Sistem ini berhubungan dengan refleks untuk mempertahankan tekanan darah. dan N. Pada susunan saraf pusat terdapat beberapa pusat otonom. sebaliknya kejadian somatik dapat mempengaruhi fungsi organ otonom. Termasuk kelompok ini pula adalah beberapa kelenjar (ludah. badan karotis dan aorta yang diteruskan melalui N.Sistem syaraf otonom Posted by Valdis Rein on 12:44 PM Sistem syaraf otonom yang dikenal juga dengan nama sistem syaraf vegetatif. 3. dan saraf otonom lainnya. Walaupun demikian masih ada pusat yang lebih tinggi lagi yang dapat mempengaruhinya yaitu korpus striatum dan korteks serebrum yang dianggap sebagai koordinator antara sistem otonom dan somatik (Tjay & Rahardja. ganglion. tetapi suatu otot lurik. splanknikus. Hipotalamus dianggap sebagai pusat sistem saraf otonom. sistem saraf otonom tersebar luas di seluruh tubuh dan fungsinya adalah mengatur secara otomatis keadaan fisiologi yang konstan. ganglion-ganglion dan jaringan syaraf yang mensyarafi jantung. sehingga tidak dikenal obat yang secara spesifik dapat mempengaruhi serabut aferen otonom. dalam sistem ini termasuk ganglia paravertebral. Lingkaran refleks saraf otonom terdiri dari serat aferen yang sentripental disalurkan melalui N. sistem syaraf visceral atau sistem syaraf tidak sadar. seperti suhu badan. pusat tidur dan sebagainya. Serat aferen misalnya yang berasal dari presoreseptor dan kemoreseptor dalam sinus karotikus. 2002). Sebagian besar neuron praganglion parasimpatis berakhir di sel-sel ganglion yang tersebar merata atau yang terdapat pada dinding organ efektor (Mutschler. yang sebagai pengecualian bukan merupakan otot polos. 2002). yaitu di medulla oblongata terdapat pengatur pernapasan dan tekanan darah. 1991). bekerja berdasarkan kemampunannya untuk meniru atau memodifikasi aktivitas neurohimor-transmitor tertentu yang dibebaskan oleh serabut syaraf otonom di ganglion atau sel-sel (organ-organ) efektor. Sistem parasimpatis atau kraniosakral outflow disalurkan melalui saraf otak ke III. Tidak jelas perbedaan antara serabut aferen sistem saraf otonom dengan serabut aferen sistem somatik. Salah satu dugaan adalah substansi P yang terdapat di serabut sensoris aferen akar . 2002). Serat eferen terbagi dalam sistem simpatis dan parasimpatis. Sistem simpatis disalurkan melalui serat torakolumbal dari torakal 1 sampai lumbal 3. frekuensi jantung dan pernapasan (Mutschler. 1991). Serat eferen yang disalurkan melalui saraf praganglion. VII. Badan sel serat-serat ini terletak di ganglia dalam kolumna dorsalis dan ganglia sensorik dari saraf kranial tertentu.

Obat otonom Obat-obat otonom adalah obat yang dapat memengaruhi penerusan impuls dalam sistem saraf otonom dengan jalan mengganggu sintesa. Sistem ini mengatur fungsi-fungsi yang tidak di bawah kesadaran dan kemauan. Saraf otonom menginervasi sel efektor yang bersifat otonom. otikus dan pelvis. saraf otonom pasca ganglion tidak bermielin. saraf somatik tidak membentuk pleksus. • Peristaltik saluran cerna. Saraf otonom membentuk pleksus yang terletak di luar susunan saraf pusat. Saraf somatik hanya mempunyai satu jenis neuron motorik. polipeptida vasoaktif intestinal (VIP. kelenjar air ludah. pembebasan. submandibula. Terdapat beberapa kemungkinan tempat pengaruh obat pada transmisi sistem kolinergik maupun adrenergik. Cara kerja obat otonom Obat otonom mempengaruhi transmisi neurohumoral dengan cara menghambat atau mengintensifkannya. yakni ganglio pravertebralis dan ganglia paravertebralis. Sebaliknya. jika saraf somatik putus maka otot rangka yang bersangkutan mengalami paralisis disusul atropi otot (Mutschler. 2002). atau penguraian neurotransmitter atau memengaruhi kerjanya atas reseptor khusus. kelenjar lembung. Saraf somatik diselubungi sarung mielin. Terdapat 5 perbedaan pokok antara saraf otonom dan saraf somatik yaitu 1. di antaranya: • Sirkulasi. • Tonus semua otot polos lain (misalnya kandung empedu. 2. • Sekresi kelenjar keringat. ureter. 3. 2009). 5.dorsal ganglia dan tanduk dorsal medulla spinalis. uterus). Vasoactive Intestinal Polipeptide) dan kolesistokinin juga diduga berperan pada penyampaian impuls aferen dari organ otonom. artinya sel efektor itu dapat berfungsi tanpa persarafan. Peptida lain yaitu somatostatin. yaitu: 1. Fungsi Sistem Saraf Otonom Sistem saraf otonom berfungsi untuk memelihara keseimbangan dalam organism (sistem dunia dalam). dengan cara menaikkan atau menurunkan frekuensi pernapasan dan penyempitan atau pelebaran otot bronkhus. Tetapi sinaps saraf otonom parasimpatis berakhir di ganglia parasimpatis. Sinaps saraf otonom simpatis terletak dalam ganglia yang berada di medulla spinalis. yang terdapat di luar organ yang dipersarafi. pterigopalatina. Hambatan pada sintesis atau penglepasan transmitter a. Enfekalin di interneuron medulla spinalis dorsalis di area substansia gelatinosa berefek antinosiseptif yang ditimbulkan lewat aksi prasipnatik dan pascasipnatik. Saraf otonom menginervasi semua struktur dalam tubuh kecuali otot rangka. 1991). kandung kemih. yang berasal dari otak atau medulla spinalis langsung menuju otot rangka tanpa melalui ganglia. kelenjar usus. • Pernapasan. 1991). yakni ganglia siliaris. Kolinergik . 4. menghambat penglepasan substansi P (Mutschler. Substansi P diduga berfungsi pada penyampaian stimulus nyeri ke pusat. dan kelenjarkelenjar lain (Wawansumantri. Akibatnya adalah dipengaruhinya fungsi otot polos dan organ jantung dan kelenjar (Tjay & Rahardja. penimbunan. dengan cara menaikkan atau menurunkan aktivitas jantung dan khususnya melalui penyempitan atau pelebaran pembuluh-pembuluh darah.

metildopa. Hambatan destruksi transmitter a. pargilin. Guanetidin dan bretilium juga mengganggu penyimpanan norepinefrin dengan akibat pengosongan norepinefrin di vesikel. Hambatan proses ini oleh kokain dan imipramin mendasari peningkatan respon terhadap perangsangan simpatis oleh obat tersebut. seperti dopa sendiri didekarboksilasi dan dihidroksilasi menjadi α-metil norepinefrin. dengan memblok transport aktif norepinefrin dan transmitter lain misalnya 5-HT dan dopamin ke dalam vesikel menyebabkan pengosongan transmitter secara lambat dari vesikel. disusul dengan blockade. Norepinefrin di luar vesikel akan dipecah oleh MAO. terjadi penurunan aktivitas yang bermanifestasi sebagai penurunan tekanan darah. Ikatan dengan reseptor Obat yang menduduki reseptor dan dapat menimbulkan efek yang mirip dengan efek transmitter disebut agonis. b. Kokain dan antidepresi trisiklik menghambat ambilan kembali norepinefrin ke ujung saraf adrenergik. b. Tiramin. Monoaminoksidase-A yang menghambat MAO . Kolinergik Racun laba-laba black widow yaitu latroroksin menyebabkan penglepasan asetilkolin (eksositosis) yang berlebihan. Toksin botulinus menghambat penglepasan asetilkolin di semua saraf kolinergik. Toksin tetanus mempunyai mekanisme kerja yang serupa. Toksin botulinum memproteolisis protein membrane. 3. b. iproniazid. sedangkan penghambat MAO misalnya tranisilpromin. Penghambat COMT misalnya entakapon hanya sedikit meningkatkan respon katekolamin. efek yang terlihat dapat berlawanan. Sebaliknya reserpin. sintaksin dan SNAP-25 (synaptosome associated protein) yang berperan dalam fusi membran vesikel dengan membran prasinaps dalam eksositosis vesikel kolinergik. penghambat dopa dekarboksilase. dan nialamid hanya meningkatkan efek tiramin tetapi tidak meningkatkan efek katekolamin. Akibat pengosongan depot norepinefrin di ujung saraf. Kolinergik Antikolinesterase merupakan kelompok besar zat yang menghambat destruksi asetilkolin karena menghambat AChE. Toksin tersebut memblok secara irreversibel penglepasan asetilkolin dari gelembung saraf di ujung akson dan merupakan salah satu toksin paling poten yang dikenal. Adrenergik Ambilan kembali norepinefrin setelah penglepasannya di ujung saraf merupakan mekanisme utama penghentian transmisi adrenergik. 4.Hemikolinium menghambat ambilan kolin ke dalam ujung saraf dan dengan demikian mengurangi sintesis asetilkolin. Bretilium dan guanetidin menghambat penglepasan neurotransmitter dari vesikel. Obat yang hanya menduduki reseptor tanpa menimbulkan efek langsung mengakibatkan berkurang atau hilangnya efek transmitter pada sel tersebut karena tergesernya transmitter dari reseptor disebut antagonis atau bloker. Tergantung dari kecepatan dan lamanya penglepasan. enzim yang mengkatalisis tahap penentu laju sintesis (rate limiting slope) norepinefrin. dengan akibat perangsangan berlebihan di reseptor muskarinik oleh asetilkolin dan terjadinya perangsangan disusul blockade di reseptor nikotinik. Sekarang telah dikembangkan MAO yang lebih selektif. amfetamin dan obat sejenis menyebabkan penglepasan norepinefrin yang relatif cepat dan singkat sehingga menghasilkan efek simpatomimetik . Adrenergik Banyak obat dapat meningkatkan penglepasan norepinefrin. efedrin. Sebaliknya. Adrenergik Metiltirosin memblok sintesis norepinefrin dengan menghambat tirosin-hidroksilase. Menyebabkan penglepasan transmitter a. 2.

scribd. 2009. Obat-Obat Penting. January 9. 2002. Pearce. Edisi 5. ITB. C. Jakarta Tjay. Parasimpatomimetik atau kolinergik Efek obat golongan ini menyerupai efek yang ditimbulkan oleh aktivitas susunan saraf parasimpatis. E. Gramedia Pustaka Umum. T. Parasimpatolitik atau penghambat kolinergik Golongan obat yang menghambat timbulnya efek akibat aktivitas susunan saraf parasimpatis 4. Obat ganglion Golongan obat yang merangsang atau menghambat penerusan impuls di ganglion (Pearce. H dan K. Penerbit Gramedia. Bandung. 2. 2012 Sistem syaraf otonom . 2002. DAFTAR PUSTAKA Mutschler. Simpatolitik atau penghambat adrenergik Golongan obat yang menghambat timbulnya efek akibat aktivitas susunan saraf simpatis. 5. Jakarta Wawansumantri. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Simpatomimetik atau adrenergik Efek obat golongan ini menyerupai efek yang ditimbulkan oleh aktivitas susunan saraf simpatis. 1991. Rahardja. Dinamika Obat. Penggolongan Obat Otonom Menurut efek utamanya maka obat otonom dapat dibagi dalam 5 golongan. yaitu: 1. 1991). E. 2002). Available online at http://www. Sistem Syaraf Pada Manusia.pemecah norepinefrin dan 5-HT dan penghambat MAO-B yang mneghambat pemecahan dopamin (Mutschler. 3. Val Rein's blog     Home Downloads Contact me Free Ebook Categories Chat Box Monday.com/doc/13342264/Sistem-Saraf-Pada-Manusia [diakses tanggal 26 Maret 2010].

dan N. Substansi P diduga berfungsi pada penyampaian stimulus nyeri ke pusat. tetapi suatu otot lurik. pelvikus yang berasal dari bagian sacral segmen 2. pravertebral dan ganglia terminal. Peptida lain yaitu somatostatin. Dengan demikian.Posted by Valdis Rein on 12:44 PM Sistem syaraf otonom yang dikenal juga dengan nama sistem syaraf vegetatif. sistem mengendalikan dan mengatur kemauan. Neurotransmitter yang memperantarakan perpindahan impuls di serabut aferen belum jelas dipahami. 2002). frekuensi jantung dan pernapasan (Mutschler. Badan sel serat-serat ini terletak di ganglia dalam kolumna dorsalis dan ganglia sensorik dari saraf kranial tertentu. Saraf otonom juga berhubungan dengan saraf somatik. 2002). 2002). yang sebagai pengecualian bukan merupakan otot polos. Tidak jelas perbedaan antara serabut aferen sistem saraf otonom dengan serabut aferen sistem somatik. sistem saraf otonom tersebar luas di seluruh tubuh dan fungsinya adalah mengatur secara otomatis keadaan fisiologi yang konstan. Serat eferen yang disalurkan melalui saraf praganglion. seperti suhu badan. Serat aferen misalnya yang berasal dari presoreseptor dan kemoreseptor dalam sinus karotikus. polipeptida vasoaktif . Anatomi Susunan Saraf Otonom Sistem saraf otonom membawa impuls saraf dari susunan saraf pusat ke organ efektor melalui 2 jenis serat saraf eferen yaitu saraf praganglion dan saraf pascaganglion. splanknikus. alat-alat dalaman dan otot-otot polos. Sistem simpatis disalurkan melalui serat torakolumbal dari torakal 1 sampai lumbal 3. pembuluh darah. badan karotis dan aorta yang diteruskan melalui N. dan peredaran darah. serta pernapasan (Tjay & Rahardja. Serat eferen terbagi dalam sistem simpatis dan parasimpatis. IX dan X menuju ke medulla oblongata. Sebagian besar neuron praganglion parasimpatis berakhir di sel-sel ganglion yang tersebar merata atau yang terdapat pada dinding organ efektor (Mutschler. Pada susunan saraf pusat terdapat beberapa pusat otonom. Termasuk kelompok ini pula adalah beberapa kelenjar (ludah. ganglion. Sistem parasimpatis atau kraniosakral outflow disalurkan melalui saraf otak ke III. 1991). ganglion-ganglion dan jaringan syaraf yang mensyarafi jantung. 3. IX dan X. dan 4. sehingga tidak dikenal obat yang secara spesifik dapat mempengaruhi serabut aferen otonom. dan saraf pascaganglion berakhir pada sel efektor (Tjay & Rahardja. sebaliknya kejadian somatik dapat mempengaruhi fungsi organ otonom. Hipotalamus dianggap sebagai pusat sistem saraf otonom. bekerja berdasarkan kemampunannya untuk meniru atau memodifikasi aktivitas neurohimor-transmitor tertentu yang dibebaskan oleh serabut syaraf otonom di ganglion atau sel-sel (organ-organ) efektor. kelenjar-kelenjar. sistem syaraf visceral atau sistem syaraf tidak sadar. pusat tidur dan sebagainya. keseimbangan air. Sistem syaraf ini terdiri dari atas serabut syaraf-syaraf. Salah satu dugaan adalah substansi P yang terdapat di serabut sensoris aferen akar dorsal ganglia dan tanduk dorsal medulla spinalis. dan saraf otonom lainnya. pelvikus. vagus. Walaupun demikian masih ada pusat yang lebih tinggi lagi yang dapat mempengaruhinya yaitu korpus striatum dan korteks serebrum yang dianggap sebagai koordinator antara sistem otonom dan somatik (Tjay & Rahardja. Sistem ini berhubungan dengan refleks untuk mempertahankan tekanan darah. 1991). Lingkaran refleks saraf otonom terdiri dari serat aferen yang sentripental disalurkan melalui N. yaitu di medulla oblongata terdapat pengatur pernapasan dan tekanan darah. VII. keringat dan pencernaan) dan juga otot jantung. dalam sistem ini termasuk ganglia paravertebral. hipotalamus dan hipofisis yang mengatur suhu tubuh. tekanan. metabolisme karbohidrat dan lemak. Obat-obat yang sanggup mempengaruhi fungsi sistem syaraf otonom.

4. Akibatnya adalah dipengaruhinya fungsi otot polos dan organ jantung dan kelenjar (Tjay & Rahardja. Tetapi sinaps saraf otonom parasimpatis berakhir di ganglia parasimpatis. jika saraf somatik putus maka otot rangka yang bersangkutan mengalami paralisis disusul atropi otot (Mutschler. • Pernapasan. uterus). Saraf otonom membentuk pleksus yang terletak di luar susunan saraf pusat. Terdapat 5 perbedaan pokok antara saraf otonom dan saraf somatik yaitu 1. kelenjar lembung. Terdapat beberapa kemungkinan tempat pengaruh obat pada transmisi sistem kolinergik maupun adrenergik. otikus dan pelvis. kandung kemih. Obat otonom Obat-obat otonom adalah obat yang dapat memengaruhi penerusan impuls dalam sistem saraf otonom dengan jalan mengganggu sintesa. Fungsi Sistem Saraf Otonom Sistem saraf otonom berfungsi untuk memelihara keseimbangan dalam organism (sistem dunia dalam). submandibula. Enfekalin di interneuron medulla spinalis dorsalis di area substansia gelatinosa berefek antinosiseptif yang ditimbulkan lewat aksi prasipnatik dan pascasipnatik. Cara kerja obat otonom Obat otonom mempengaruhi transmisi neurohumoral dengan cara menghambat atau mengintensifkannya. kelenjar usus. artinya sel efektor itu dapat berfungsi tanpa persarafan. yaitu: 1. Kolinergik Hemikolinium menghambat ambilan kolin ke dalam ujung saraf dan dengan demikian mengurangi sintesis asetilkolin. Saraf somatik hanya mempunyai satu jenis neuron motorik. dengan cara menaikkan atau menurunkan aktivitas jantung dan khususnya melalui penyempitan atau pelebaran pembuluh-pembuluh darah. atau penguraian neurotransmitter atau memengaruhi kerjanya atas reseptor khusus. yakni ganglio pravertebralis dan ganglia paravertebralis. 2. Sebaliknya. saraf somatik tidak membentuk pleksus. kelenjar air ludah. pembebasan. Saraf otonom menginervasi semua struktur dalam tubuh kecuali otot rangka. dan kelenjarkelenjar lain (Wawansumantri. 2009).intestinal (VIP. Toksin botulinus menghambat penglepasan asetilkolin di semua . ureter. yakni ganglia siliaris. pterigopalatina. • Tonus semua otot polos lain (misalnya kandung empedu. 5. Sinaps saraf otonom simpatis terletak dalam ganglia yang berada di medulla spinalis. 1991). Hambatan pada sintesis atau penglepasan transmitter a. • Peristaltik saluran cerna. Vasoactive Intestinal Polipeptide) dan kolesistokinin juga diduga berperan pada penyampaian impuls aferen dari organ otonom. yang terdapat di luar organ yang dipersarafi. • Sekresi kelenjar keringat. di antaranya: • Sirkulasi. 2002). yang berasal dari otak atau medulla spinalis langsung menuju otot rangka tanpa melalui ganglia. Saraf somatik diselubungi sarung mielin. dengan cara menaikkan atau menurunkan frekuensi pernapasan dan penyempitan atau pelebaran otot bronkhus. menghambat penglepasan substansi P (Mutschler. penimbunan. 1991). Saraf otonom menginervasi sel efektor yang bersifat otonom. 3. Sistem ini mengatur fungsi-fungsi yang tidak di bawah kesadaran dan kemauan. saraf otonom pasca ganglion tidak bermielin.

Ikatan dengan reseptor Obat yang menduduki reseptor dan dapat menimbulkan efek yang mirip dengan efek transmitter disebut agonis. b. Guanetidin dan bretilium juga mengganggu penyimpanan norepinefrin dengan akibat pengosongan norepinefrin di vesikel. Toksin botulinum memproteolisis protein membrane. 3. Adrenergik Ambilan kembali norepinefrin setelah penglepasannya di ujung saraf merupakan mekanisme utama penghentian transmisi adrenergik.saraf kolinergik. efek yang terlihat dapat berlawanan. Tergantung dari kecepatan dan lamanya penglepasan. Monoaminoksidase-A yang menghambat MAO pemecah norepinefrin dan 5-HT dan penghambat MAO-B yang mneghambat pemecahan dopamin (Mutschler. Kolinergik Antikolinesterase merupakan kelompok besar zat yang menghambat destruksi asetilkolin karena menghambat AChE. metildopa. amfetamin dan obat sejenis menyebabkan penglepasan norepinefrin yang relatif cepat dan singkat sehingga menghasilkan efek simpatomimetik . Tiramin. seperti dopa sendiri didekarboksilasi dan dihidroksilasi menjadi α-metil norepinefrin. dengan akibat perangsangan berlebihan di reseptor muskarinik oleh asetilkolin dan terjadinya perangsangan disusul blockade di reseptor nikotinik. terjadi penurunan aktivitas yang bermanifestasi sebagai penurunan tekanan darah. Sekarang telah dikembangkan MAO yang lebih selektif. iproniazid. pargilin. disusul dengan blockade. Sebaliknya reserpin. . 4. 2. Norepinefrin di luar vesikel akan dipecah oleh MAO. b. Menyebabkan penglepasan transmitter a. Hambatan destruksi transmitter a. Akibat pengosongan depot norepinefrin di ujung saraf. Adrenergik Metiltirosin memblok sintesis norepinefrin dengan menghambat tirosin-hidroksilase. Toksin tetanus mempunyai mekanisme kerja yang serupa. Hambatan proses ini oleh kokain dan imipramin mendasari peningkatan respon terhadap perangsangan simpatis oleh obat tersebut. dan nialamid hanya meningkatkan efek tiramin tetapi tidak meningkatkan efek katekolamin. Obat yang hanya menduduki reseptor tanpa menimbulkan efek langsung mengakibatkan berkurang atau hilangnya efek transmitter pada sel tersebut karena tergesernya transmitter dari reseptor disebut antagonis atau bloker. Penghambat COMT misalnya entakapon hanya sedikit meningkatkan respon katekolamin. dengan memblok transport aktif norepinefrin dan transmitter lain misalnya 5-HT dan dopamin ke dalam vesikel menyebabkan pengosongan transmitter secara lambat dari vesikel. Kokain dan antidepresi trisiklik menghambat ambilan kembali norepinefrin ke ujung saraf adrenergik. sintaksin dan SNAP-25 (synaptosome associated protein) yang berperan dalam fusi membran vesikel dengan membran prasinaps dalam eksositosis vesikel kolinergik. enzim yang mengkatalisis tahap penentu laju sintesis (rate limiting slope) norepinefrin. 1991). Adrenergik Banyak obat dapat meningkatkan penglepasan norepinefrin. Toksin tersebut memblok secara irreversibel penglepasan asetilkolin dari gelembung saraf di ujung akson dan merupakan salah satu toksin paling poten yang dikenal. Bretilium dan guanetidin menghambat penglepasan neurotransmitter dari vesikel. efedrin. b. Kolinergik Racun laba-laba black widow yaitu latroroksin menyebabkan penglepasan asetilkolin (eksositosis) yang berlebihan. Sebaliknya. sedangkan penghambat MAO misalnya tranisilpromin. penghambat dopa dekarboksilase.

2. 3. ITB.com/doc/13342264/Sistem-Saraf-Pada-Manusia [diakses tanggal 26 Maret 2010]. Pearce. Parasimpatomimetik atau kolinergik Efek obat golongan ini menyerupai efek yang ditimbulkan oleh aktivitas susunan saraf parasimpatis. E. Obat-Obat Penting. 2002).scribd. Available online at http://www. H dan K. Rahardja. DAFTAR PUSTAKA Mutschler. Obat ganglion Golongan obat yang merangsang atau menghambat penerusan impuls di ganglion (Pearce. 5. . C. 2009. Jakarta Tjay. Penerbit Gramedia. Simpatomimetik atau adrenergik Efek obat golongan ini menyerupai efek yang ditimbulkan oleh aktivitas susunan saraf simpatis. T. Bandung. Jakarta Wawansumantri. yaitu: 1. Simpatolitik atau penghambat adrenergik Golongan obat yang menghambat timbulnya efek akibat aktivitas susunan saraf simpatis. 2002. E. Parasimpatolitik atau penghambat kolinergik Golongan obat yang menghambat timbulnya efek akibat aktivitas susunan saraf parasimpatis 4.Penggolongan Obat Otonom Menurut efek utamanya maka obat otonom dapat dibagi dalam 5 golongan. Edisi 5. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. 2002. 1991. Dinamika Obat. Sistem Syaraf Pada Manusia. Gramedia Pustaka Umum.

Medula adrenal.Obat Sistem Syaraf Otonom 2:15 AM S7 Group Email This BlogThis! Share to Twitter Share to Facebook Digolongkan menjadi . SSO SARAF PARASIMPATIS Neurotransmitter : Asetil Kolin (Ach) Reaksi : Asetil Ko Enzim A + Kolin ==> Asetil kolin Reseptor dari Asetil Kolin : Resptor muskarinik (pada otot polos) terbagi atas : M1 : Terdapat pada sel-sel otak dan sel-sel parietal lambung M2 : Terdapat pada jantung M3 : Terdapat pada otot polos dan kelenjar.      Parasimpatomimetik / Kolinergik Simpatomimetik / Adrenergik Parasimpatolitik / Kolinolitik Simpatolitik Obat ganglion.Ganglia otonom (simpul saraf) . Reseptor Nikotinik ( pada otot rangka ) terdapat pada : . Obat-obat yang bekerja pada saraf parasimpatis : Kolinomimetik = Kolinergik = Parasimpatomimetik .

meningkatkan motilitas usus.Obat yang kerjanya mirip dengan asetil kolin dibagi atas : <!> Bekerja langsung pada reseptor Ach. konstipasi. yaitu : Nikotinik agonis (Ganglion stimulan) Tidak digunakan dalam klinis. * Pilokarpin (pada tetes mata) Untuk mengurangi tekanan intra okuler pada penderita glaukoma. secara reversibel pada miastenia gravis). * Yang bekerja secara irreversibel Dari golongan senyawa fosfor organik Contoh > Insektisida Paration dan Malation. retensi urin dan impoten. sedangkan Betanekol mempunyai kekuatan 10 kali Ach Digunakan untuk menstimulasi peristaltik ureter pada kandung kemih & menurunkan kapasitas kandung kemih (biasa digunkan pada penyakit ginjal atau sesudah operasi). . <!> Antagonis Muskarinik Bekerja memblok efek asetilkolin yang dilepaskan dari postganglion saraf parasimpatis. Contoh > Nikotin Muskarinik agonis * Karbakol dan Betanekol Karbakol mempunyai kekuatan 800 kali Ach. <!> Bloker Ganglion Menyebabkan hipotensi. Kolinolitik = parasimpatolitik Merupakan antagonis reseptor kolinergik yang terbagi menjadi . Atropin dan Hyosin (Scopolamin) * Medikasi pre-anestesi pada saat operasi untuk menghambat sekresi bronkus yang berlebihan. <!> Antikolinesterase = Anti Asetil kolin Esterase Bekerja menginhibisi enzim asetilkolin esterase yang berperan dalam perubahan asetilkolin menjadi asam asetat dan kolin. untuk pengobatan glaukoma). meningkatkan salivasi dan ekskresi bronkus. midriasis. Contoh : Trimetaphan (Digunakan untuk memelihara kondisi hipotensi pada saat operasi). Yang bekerja Edrphonium (Untuk pengobatan * Fisostigmin (Dalam sediaan tetes mata * Neostigmin & Piridostigmin. sehingga asetilkolin dapat secara bebas mencapai reseptornya. mulut kering. Atropin yang merupakan alkaloid dari tanaman Atropa belladona merupakan prototipe dari golongan ini.

SSO SIMPATIS Neurotransmiter : Yang dihasilkan oleh ujung. <*> α2. Terdapat pada ujung saraf adrenergik.* Sebagai antispasmodik untuk mengatasi * Pengobatan Parkinson’s Disease (Benzatropin). Iprotropium (Merupakan terapi tambahan pada pengobatan asma). Adrenal ==> Adrenalin“SSO Simpatis berperan penting dalam pengaturan organ-organ jantung dan vascular”. Hyosin (Untuk mabuk perjalanan). peredaran darah jantung. . sel kemih. kelamin. sel-sel efektor pada otak. RESEPTOR SSO SIMPATIS Reseptor α (Subtipe : α1 dan α2) <*> α1. β pankreas dan platelet . Saraf simpatis ==> Nor Adrenalin / Nor Epinefrin Yang dihasilkan oleh medula. kejang pada saluran cerna. Tropicamid (Untuk mendilatasi pupil mata). Terdapat pada otot polos pembuluh darah.

Memperantai liposis dalam jaringan lemak. <*> β2. <*> β3. Bronkus. dan sebagainya. <*> β1. . Menimbulkan perangsangan jantung dan peningkatan sekresi renin di ginjal. <*> β2.Reseptor β (Subtipe : β1. Dimana aktivasi reseptor. Jaringan adiposa. sal cerna dan sel kemih. peredaram darah. <*> β1. Terdapat pada jantung. β2 dan β3) Berdasarkan perbedaan selektivitas pada bidang agonis & antagonisnya. Relaksasi otot polos bronkus . <*> β3.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful