PENETAPAN KADAR KARET KERING (KKK

)


PENGOLAHAN HASIL TANAMAN PERKEBUNAN
(PPM 1601)



Oleh


Achmad Fauzi Thaher (09722001)
Achmad Iqbal (09722001)
Ade Lestikasari (09722002)


PROGRAM STUDI
PRODUKSI DAN MANAJEMEN INDUSTRI PERKEBUNAN






JURUSAN BUDIDAYA TANAMAN PERKEBUNAN
POLITEKNIK NEGERI LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2012

I. PENDAHULUAN




1.1 Latar Belakang

Lateks adalah suatu sistem koloid dimana partikel karet dilapisi oleh
protein dan fosfolipid. Protein ini akan memberikan muatan negatif yang
mengelilingi partikel karet sehingga mencegah terjadinya interaksi antara sesama
partikel karet, dengan demikian sistem koloid lateks akan tetap stabil. Namun
dengan adanya mikroorganisme maka protein yang terdapat dalam partikel karet
akan rusak dan terjadilah interaksi antara partikel karet membentuk flokulasi atau
gumpalan.
Pembekuan atau koagulasi bertujuan untuk mempersatukan (merapatkan)
butir-butir karet yang terdapat dalam cairan lateks, supaya menjadi suatu
gumpalan atau koagulum. Untuk membuat koagulum ini, lateks perlu dibubuhi
bahan pembeku (koagulan) seperti asam semut atau asam cuka. Lateks segar yang
diperoleh dari hasil sadapan mempunyai pH 6,5. Agar dapat terjadi penggumpalan
atau koagulasi, pH yang mendekati netral tersebut harus diturunkan sampai pH
4,7.
Di dalam proses pengolahan karet, hal pertama yang dilakukan adalah,
pada saat setelah panen, dilakukan pengujian kadar karet kering, hal ini bertujuan
untuk taksasi produksi, penentuan jumlah bahan yang akan digunakan, dan
sebagai acuan penetapan mutu lateks yang dihasilkan. Pengujian kadar karet
kering (KKK), dapat dilakukan dengan 2 metode yaitu dengan metode
laboratorium dan metode kebun.
Berdasarkan uraian diatas maka untuk memahami tentang pengujian KKK
lateks maka dilakukan praktik tentang penetapan KKK latek dengan 2 metode
pengujian yaitu metode laboratorium dan metode kebun.





1.2 TujuanPraktikum

1. Mengetahui kadar karet kering dalam larutan lateks.
2. Mengetahui komposisi senyawa yang ada di dalam larutan lateks.
3. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kadar karet kering lateks.
4. Mengetahui proses/ cara pengukuran kadar karet kering di dalam lateks.
5. Mengetahui adanya pengaruh perbedaan pengukuran kadar karet kering
lateks.



































II. TINJAUAN PUSTAKA





Lateks merupakan emulsi kompleks yang mengandung protein, alkaloid,
pati, gula, (poli) terpena, minyak, tanin, resin, dan gum. Pada banyak tumbuhan
lateks biasanya berwarna putih, namun ada juga yang berwarna kuning, jingga,
atau merah. Susunan bahan lateks dapat dibagi menjadi dua komponen.
Komponen pertama adalah bagian yang mendispersikan atau memancarkan
bahan-bahan yang terkandung secara merata yang disebut seru. Bahan-bahan
bukan karet yang terlarut dalam air, seperti protein, garam-garam mineral, enzim,
dan lainnya termasuk ke dalam serum. Komponen kedua adalah bagian yang
didispersikan, terdiri dari butir-butir karet yang dikelilingi lapisan tipis protein.
Bahan bukan karet yang jumlahnya relatif kecil ternyata mempunyai peran
penting dalam mengendalikan kestabilan sifat lateks dan karetnya. Lateks
merupakan suspensi koloidal dari air dan bahan-bahan kimia yang terkandung di
dalamnya. Bagian-bagian yang terkandung tersebut tidak larut sempurna,
melainkan terpencar secara homogen atau merata di dalam air. Partikel karet di
dalam lateks terletak tidak saling berdekatan,melainkan saling menjauh karena
masing-masing partikel memiliki muatan listrik. Gaya tolak menolak muatan
listrik ini menimbulkan gerak brown. Di dalam lateks, isoprene diselimuti oleh
lapisan protein sehingga partikel karet bermuatan listrik.
Kadar Karet Kering (KKK) adalah kandungan padatan karet per satuan
berta(%). KKK lateks atau bekuan sangat penting untuk diketahui karena selain
dapat digunakan sebagai pedoman penentuan harga juga merupakan standar dalam
pemberian bahan kimia untuk pengolahan RSS, TPC, dan lateks pekat. Kadar
karet kering pada lateks tergantung dari beberapa faktor antara lain jenis klon,
umur pohon, waktu penyadapan, musim, suhu uadara serta letak tinggi dari
permukaan laut. Pengolahan lateks segar didahului dengan penetapan kadar karet
kering. Kadar karet kering adalah jumlah karet yang terdapat dalam lateks. Kadar
karet kering diperlukan untuk menentukan jumlah bahan yang dibutuhkan dalam
proses pengolahan dan taksasi produksi karet olahan.
Pengetahuan akan kadar karet kering juga digunakan dalan pengenceran
lateks. Pengenceran ini bertujuan untuk mendapatkan keseragaman hasil,
memudahkan pencampuran bahan, dan memudahkan proses penggilingan lateks
beku. Penentuan kadar karet karing lateks cara kebun merupakan cara paling
praktis dan umum digunakan di perkebunan berpengalaman, dengan faktor
koreksi dari rata-rata data sebelumnya kebun bersangkutan. Untuk tingkat
ketelitian penentuan kadar karet kering dapat dilakukan dengan metode
laboratorium.




































III. METODE PELAKSANAAN




3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Waktu = Senin, 5 Maret 2012 pkl. 13.00-15.00 WIB
Tempat = Laboratorium Politeknik Negeri Lampung

3.2 Alat dan Bahan
1. Alat
- Beacker glass 50 ml, 100 ml, 250 ml
- Erlenmeyer 50 ml, 100 ml, 250 ml
- Gelas ukur 10 ml, 50 ml
- Hot plate
- Botol aquades
- Pipet tetes
- Pengaduk
- Timbangan
- Gilingan tangan
- Nampan plastik
- Jerigen 5 lt, 20 lt
- pH meter atau kertas lakmus
- Kipas angin
- Desikator
- Buret
- Corong
- Oven
2. Bahan
- Lateks segar
- Aquades
- Asam Formiat
- Amoniak (NH
3
)
3.3 Prosedur Kerja
a. Penetapan kadar karet kering cara kebun
1. Mengambil 50 ml lateks dan tempatkan dalam gelas piala, kemudian ukur
pH lateks terlebih dahulu.
2. Beri beberapa tetes asam formiat (sekitar 50-60 tetes), aduk secara merata
lalu biarkan membeku.sebelum membeku, ukur pH lateks terlebih dahulu.
3. Giling lateks yang telah membeku sebanyak 7 kali sampai serumnya
hilang, dan keringkan dengan selembar kain lap kering ( hindarkan kontak
karet dengan tangan).
4. untuk memastikan kering gunakan kipas angin untuk mengering-anginkan.
5. Timbang dengan teliti karet kering angin, kemudian hitung dengan rumus
KKK cara kebun di bawah ini :
Kadar Karet Kering (KKK) = berat krep kering x FK x 100%
Dimana : FK =faktor koreksi yang ditetapkan berdasarkan rata-rata data
kebun yang berkisar 0.72 dan 0.74.

b. Penetapan kadar karet kering dengan metode laboratorium
1. Menuangkan lateks sebanyak 25 ml ke dalam gelas ukur yang sebelumnya
telah diketahui beratnya, secara perlahan-lahan, kemudiancatat beratnya
(berat lateks adalah berat total dikurangi berat gelas ukur/wadah).
Kemudian ukur pH lateks.
2. Lateks dibekukan dengan asam asetat atau asam Iormiat 5° sebangayk
25-30 tetes dan sebelum membeku diukur terlebih dahu;u pH lates
selanjutnya dipanaskan di atas penangas air pada suhu 80 C sampai
serumnya menjadi jernih.
3. Koagulump atau bekuan digiling menjadi krep dengan ketebalan 1-2 mm
dan dicuci.
4. Krep kemudian dikeringanginkan di dalam oven dengan suhu 110 C
selama 1 jam, setelah itu dinginkan dalam desikator dan timbang
5. rumus perhitungan KKK adalah ditunjukkan pada persamaan berikut :
Kadar Karet Kering (KKK) = (berat karet kering oven/berat lateks) x
100%
IV. HASIL PRAKTIKUM DAN PEMBAHSAN




4.1 Hasil Praktikum

1. Penetapan KKK lateks metode kebun
Ulangan Perlakuan
Berat kering
angin (g)
Berat
Lateks (g)
pH
KKK
(%)
I
50 ml lateks + asam
formiat 5%
32,7 60,1 9 39.2
II
50 ml lateks + asam
formiat 5%
34,8 61,7 9 40,6
Rata-rata KKK 39.9


2. Penetapan KKK latek Metode laboratorium
Ulangan Perlakuan
Berat kering
oven (g)
Berat
lateks (g)
pH
KKK
(%)
I
25 ml lateks + asam
formia 5%
10.9 28.8 9 37,8
II
25 ml lateks + asam
formiat 5%
11.7 29.2 9 40,1
Rata-rata KKK 38,95



4.2 Pembahasan

Dari hasil praktikum didapatkan hasil bahwa penetapan kadar karet kering
(KKK) lateks dengan 2 metode ternyata tidak berbeda nyata antara hasil KKK
yang didapatkan antara metode kebun dan metode laboratorium. Walaupun pada
metode kebun hanya meggunakan data berat kering angin namun dalam
perhitungannya menggunakan faktor koreksi rerata kebun, yang bertujuan unutk
meminimalkan kesalahan atau meningkatkan tingkat ketelitian daripada hasil yang
didapatkan sehingga hasil yang didapatkan dengan metode kebun tidak berbeda
nyata dengan pengujian yang tingkat keteliatiannya lebih tinggi yaitu dengan
metode laboratorium. Dengan demikian maka penetapan KKK latek dengan
metode kebun layak dilakukan mengingat faktor lingkungan (lokasi) dan waktu,
sehingga pengolahan karet dapat dilakukan dengan efisien.

























KESIMPULAN


1. Hasil penetapan KKK lateks dengan metode kebun dan metode laboratorium
tidak berbeda nyata.
2. Untuk efisiensi waktu maka metode kebun unutk penetapan KKK lateks yang
bertujuan untuk taksasi produksi dan acuan mutu latek, dapat digunakan.
























DAFTAR PUSTAKA


___________ . 1980. Pengolahan Karet. BPP Perkebunan Karet Bogor.

Abednego, J.G., 1979. Pengetauan Dasar Teknologi Karet. Kursus Pengendalian
Mutu Standard Indonesian Rubber. Direktorat Standarisasi, Normalisasi,
dan Pengendalian Mutu, Departemen Perdagangan dan Koperasi. Jakarta.

Edison, Rahmat,. Ersan. 2012. BPP Pengolahan Hasil Tanaman Perkebunan.
Politeknik Negeri Lampung. Bandar Lampung.




Namun dengan adanya mikroorganisme maka protein yang terdapat dalam partikel karet akan rusak dan terjadilah interaksi antara partikel karet membentuk flokulasi atau gumpalan. PENDAHULUAN 1.I.7. Di dalam proses pengolahan karet. Berdasarkan uraian diatas maka untuk memahami tentang pengujian KKK lateks maka dilakukan praktik tentang penetapan KKK latek dengan 2 metode pengujian yaitu metode laboratorium dan metode kebun.5. Agar dapat terjadi penggumpalan atau koagulasi. Pengujian kadar karet kering (KKK). Lateks segar yang diperoleh dari hasil sadapan mempunyai pH 6.1 Latar Belakang Lateks adalah suatu sistem koloid dimana partikel karet dilapisi oleh protein dan fosfolipid. hal ini bertujuan untuk taksasi produksi. dan sebagai acuan penetapan mutu lateks yang dihasilkan. dapat dilakukan dengan 2 metode yaitu dengan metode laboratorium dan metode kebun. supaya menjadi suatu gumpalan atau koagulum. pada saat setelah panen. Protein ini akan memberikan muatan negatif yang mengelilingi partikel karet sehingga mencegah terjadinya interaksi antara sesama partikel karet. Pembekuan atau koagulasi bertujuan untuk mempersatukan (merapatkan) butir-butir karet yang terdapat dalam cairan lateks. lateks perlu dibubuhi bahan pembeku (koagulan) seperti asam semut atau asam cuka. pH yang mendekati netral tersebut harus diturunkan sampai pH 4. dengan demikian sistem koloid lateks akan tetap stabil. Untuk membuat koagulum ini. . hal pertama yang dilakukan adalah. dilakukan pengujian kadar karet kering. penentuan jumlah bahan yang akan digunakan.

Mengetahui proses/ cara pengukuran kadar karet kering di dalam lateks.2 TujuanPraktikum 1. Mengetahui kadar karet kering dalam larutan lateks. Mengetahui adanya pengaruh perbedaan pengukuran kadar karet kering lateks.1. 5. 2. 3. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kadar karet kering lateks. . 4. Mengetahui komposisi senyawa yang ada di dalam larutan lateks.

jingga. Kadar karet kering adalah jumlah karet yang terdapat dalam lateks.II. atau merah. tanin. Komponen pertama adalah bagian yang mendispersikan atau memancarkan bahan-bahan yang terkandung secara merata yang disebut seru. isoprene diselimuti oleh lapisan protein sehingga partikel karet bermuatan listrik. dan lainnya termasuk ke dalam serum. Kadar karet kering diperlukan untuk menentukan jumlah bahan yang dibutuhkan dalam proses pengolahan dan taksasi produksi karet olahan. namun ada juga yang berwarna kuning. dan gum. Kadar karet kering pada lateks tergantung dari beberapa faktor antara lain jenis klon. KKK lateks atau bekuan sangat penting untuk diketahui karena selain dapat digunakan sebagai pedoman penentuan harga juga merupakan standar dalam pemberian bahan kimia untuk pengolahan RSS. TPC. minyak. Bahan bukan karet yang jumlahnya relatif kecil ternyata mempunyai peran penting dalam mengendalikan kestabilan sifat lateks dan karetnya. Kadar Karet Kering (KKK) adalah kandungan padatan karet per satuan berta(%). TINJAUAN PUSTAKA Lateks merupakan emulsi kompleks yang mengandung protein. Bahan-bahan bukan karet yang terlarut dalam air. seperti protein. resin. . enzim. alkaloid. Komponen kedua adalah bagian yang didispersikan. dan lateks pekat. Susunan bahan lateks dapat dibagi menjadi dua komponen. Bagian-bagian yang terkandung tersebut tidak larut sempurna. Pengolahan lateks segar didahului dengan penetapan kadar karet kering. musim. Di dalam lateks. Gaya tolak menolak muatan listrik ini menimbulkan gerak brown. gula. melainkan terpencar secara homogen atau merata di dalam air.melainkan saling menjauh karena masing-masing partikel memiliki muatan listrik. umur pohon. Partikel karet di dalam lateks terletak tidak saling berdekatan. (poli) terpena. terdiri dari butir-butir karet yang dikelilingi lapisan tipis protein. suhu uadara serta letak tinggi dari permukaan laut. Pada banyak tumbuhan lateks biasanya berwarna putih. garam-garam mineral. Lateks merupakan suspensi koloidal dari air dan bahan-bahan kimia yang terkandung di dalamnya. waktu penyadapan. pati.

Pengetahuan akan kadar karet kering juga digunakan dalan pengenceran lateks. Penentuan kadar karet karing lateks cara kebun merupakan cara paling praktis dan umum digunakan di perkebunan berpengalaman. . memudahkan pencampuran bahan. dengan faktor koreksi dari rata-rata data sebelumnya kebun bersangkutan. dan memudahkan proses penggilingan lateks beku. Pengenceran ini bertujuan untuk mendapatkan keseragaman hasil. Untuk tingkat ketelitian penentuan kadar karet kering dapat dilakukan dengan metode laboratorium.

Buret .Pengaduk .Corong . Bahan .Kipas angin . 13. 20 lt .Amoniak (NH3) .1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Waktu Tempat = Senin.pH meter atau kertas lakmus . 5 Maret 2012 pkl.Timbangan .Beacker glass 50 ml.00-15.Jerigen 5 lt. Alat .III.Oven 2.Lateks segar . 100 ml. 50 ml .Hot plate .Asam Formiat .Gelas ukur 10 ml.2 Alat dan Bahan 1. METODE PELAKSANAAN 3. 250 ml .Aquades . 100 ml.00 WIB = Laboratorium Politeknik Negeri Lampung 3. 250 ml .Erlenmeyer 50 ml.Desikator .Botol aquades .Nampan plastik .Gilingan tangan .Pipet tetes .

Beri beberapa tetes asam formiat (sekitar 50-60 tetes). Koagulump atau bekuan digiling menjadi krep dengan ketebalan 1-2 mm dan dicuci.72 dan 0. rumus perhitungan KKK adalah ditunjukkan pada persamaan berikut : Kadar Karet Kering (KKK) = (berat karet kering oven/berat lateks) x 100% . Penetapan kadar karet kering cara kebun 1. 3. Kemudian ukur pH lateks. 4. kemudiancatat beratnya (berat lateks adalah berat total dikurangi berat gelas ukur/wadah). dan keringkan dengan selembar kain lap kering ( hindarkan kontak karet dengan tangan). untuk memastikan kering gunakan kipas angin untuk mengering-anginkan. Penetapan kadar karet kering dengan metode laboratorium 1. 2. 2. selama 1 jam. 3. Giling lateks yang telah membeku sebanyak 7 kali sampai serumnya hilang.3 Prosedur Kerja a.74. Menuangkan lateks sebanyak 25 ml ke dalam gelas ukur yang sebelumnya telah diketahui beratnya. secara perlahan-lahan.sebelum membeku. b. ukur pH lateks terlebih dahulu. Timbang dengan teliti karet kering angin. 5. kemudian hitung dengan rumus KKK cara kebun di bawah ini : Kadar Karet Kering (KKK) = berat krep kering x FK x 100% Dimana : FK =faktor koreksi yang ditetapkan berdasarkan rata-rata data kebun yang berkisar 0.3. setelah itu dinginkan dalam desikator dan timbang 5. sampai serumnya menjadi jernih. aduk secara merata lalu biarkan membeku. 4. Mengambil 50 ml lateks dan tempatkan dalam gelas piala. kemudian ukur pH lateks terlebih dahulu.

7 29.8 I 9 II 11.2 Pembahasan Dari hasil praktikum didapatkan hasil bahwa penetapan kadar karet kering (KKK) lateks dengan 2 metode ternyata tidak berbeda nyata antara hasil KKK yang didapatkan antara metode kebun dan metode laboratorium.95 4.1 Hasil Praktikum 1.2 I 9 II 34. HASIL PRAKTIKUM DAN PEMBAHSAN 4. Penetapan KKK lateks metode kebun Ulangan Perlakuan 50 ml lateks + asam formiat 5% 50 ml lateks + asam formiat 5% Rata-rata KKK Berat kering angin (g) 32.8 61.9 2. Walaupun pada metode kebun hanya meggunakan data berat kering angin namun dalam . Penetapan KKK latek Metode laboratorium Ulangan Perlakuan 25 ml lateks + asam formia 5% 25 ml lateks + asam formiat 5% Rata-rata KKK Berat kering oven (g) 10.9 Berat lateks (g) 28.1 pH KKK (%) 39.1 38.7 Berat Lateks (g) 60.8 pH KKK (%) 37.2 9 40.6 39.IV.7 9 40.

Dengan demikian maka penetapan KKK latek dengan metode kebun layak dilakukan mengingat faktor lingkungan (lokasi) dan waktu. sehingga pengolahan karet dapat dilakukan dengan efisien. .perhitungannya menggunakan faktor koreksi rerata kebun. yang bertujuan unutk meminimalkan kesalahan atau meningkatkan tingkat ketelitian daripada hasil yang didapatkan sehingga hasil yang didapatkan dengan metode kebun tidak berbeda nyata dengan pengujian yang tingkat keteliatiannya lebih tinggi yaitu dengan metode laboratorium.

. dapat digunakan. 2.KESIMPULAN 1. Hasil penetapan KKK lateks dengan metode kebun dan metode laboratorium tidak berbeda nyata. Untuk efisiensi waktu maka metode kebun unutk penetapan KKK lateks yang bertujuan untuk taksasi produksi dan acuan mutu latek.

1980. dan Pengendalian Mutu. Rahmat. Politeknik Negeri Lampung. J.G.DAFTAR PUSTAKA ___________ . Kursus Pengendalian Mutu Standard Indonesian Rubber. Pengetauan Dasar Teknologi Karet. Normalisasi. Pengolahan Karet. Ersan. Bandar Lampung. . BPP Perkebunan Karet Bogor. 2012. Direktorat Standarisasi.. Edison. 1979. Departemen Perdagangan dan Koperasi. Abednego. BPP Pengolahan Hasil Tanaman Perkebunan. Jakarta..

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful