P. 1
HUJAN-01

HUJAN-01

|Views: 75|Likes:
Published by Rendi Septian

More info:

Published by: Rendi Septian on Mar 12, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/28/2013

pdf

text

original

Penakar Hujan Biasa (manual raingauge

)

Jenis Alat Ukur Hujan
Pencatat Hujan Otomatis (automatic raingauge)

Pencatat Jungkit (Tipping Bucket)

Pencatat Pelampung (Tipping Float )

Mengatur aliran angin yang melewati corong c.Persyaratan dalam penempatan stasiun hujan : 1. dengan memperhatikan : a. Hindari penempatan pada lereng. Standar pemasangan 2. Lokasi yang berada pada kecepatan angin kecil b. Hindari kecepatan yang terlalu besar. 5. Dipasang tirai (windshield) . Jarak rintangan tidak boleh kurang dari 4X tinggi rintangan terdekat. 3. Di sekitar lokasi ditanami rumput atau kerikil. 4.

A = luas permukaan corong. Data yang diperoleh dalam bentuk harian. Penakar Hujan Biasa a. Dilakukan pengamatan secara teratur setiap hari (24 jam) dan pada jam pengamatan yang sama (jam 9 pagi).Cara Pengukuran : 1. d. b. Air hujan yang terkumpul dalam gelas ukur (dalam 24 jam). dengan V = volume air hujan. . c. Dihitung : d = V/A.

(3) pelampung dihubungkan dengan alat pencatat grafis. b. air dalam pelampung akan tersedot keluar yang mengakibatkan alat penulis turun ke posisi nol (Soemarto. Pencatat Jungkit (Tipping Bucket) Alat ukur tipe jungkit ini dibagi dalam 2 ruangan yang diatur sedemikian rupa.Cara Pengukuran : 2. dan (4) apabila pencatatan mencapai (d) = 10 mm. apabila satu terisi kemudian menjungkit dan menjadi kosong. Pencatat Hujan Otomatis a. Hal ini menyebabkan ruangan yang satunya berada pada posisi yang akan diisi oleh corong. kemudian tercatat secara otomatis dan bertahap. . 1995). Setiap jungkit menunjukkan suatu tinggi hujan (d). (2) pelampung akan terangkat. Pencatat Pelampung (Tipping Float) Proses pencatatan curah hujan yang masuk dalam alat pencatatan tipe pelampung adalah: (1) curah hujan yang tertangkap tertumpah ke dalam pelampung.

Hasil Pencatatan Hujan Otomatis 10 mm 0 .

50 m  penangkapan 84 – 96 % penampung h keras Tinggi h = 0. Penakar Hujan Biasa corong Corong dengan luas permukaan 4 dm2 dan dengan : Tinggi h = 1.40 m  penangkapannya 93 – 97 % gelas ukur .1.

Alat pengukur hujan tipe jungkit (tipping bucket) .2. Penakar Hujan Otomatis Saringan Tipping bucket Pipa pembuang Gambar.

Penakar Hujan Otomatis j m l j = corong k = bak penampung l = pelampung m = mesin pencatat n = sipon k n Gambar.2. Alat pengukur hujan tipe pelampung (tipping float) .

Curah Hujan Jam-Jaman Gambar 2. 1987) . Curah Hujan Tahunan b.3 Distribusi frekuensi curah hujan (Sumber: Suyono Sosrodarsono. bulanan. Beberapa distribusi dapat digambarkan seperti di bawah ini. Curah Hujan Bulanan c. F a. Curah Hujan Harian b. yaitu tahunan.Frekuensi Pengukuran Pola frekuensi hujan menurut waktu pencatatan. harian dan jam-jaman.

.1. n n = banyaknya stasiun hujan Hasil yang baik (dipercaya) Stasiun hujan ditempatkan secara merata di dalam DAS .  d n d d  i n i 1 n d = tinggi curah hujan rata-rata (mm) d1.. d2 = tinggi curah hujan pada stasiun hujan 1. n d1  d 2  d 3  . 2. Rata-Rata Aljabar Didapat dari rata-rata hitung untuk semua stasiun yang ada dalam DAS.

Luas daerah hujan dianggap diwakili oleh salah satu stasiun hujan bersangkutan yang dibatasi oleh garis-garis poligon.. 3. Bentuk jaringan segitiga dengan menghubungkan setiap stasiun dengan garis. Luas relatif berbanding dengan luas DAS merupakan koefisien pengalinya. Tarik garis sumbu (garis berat) untuk setiap segitiga. 2.2. d A1d1  A2 d 2  A3 d 3  ..  An n n Ai d i Ad d   i i i 1 A1 i 1 A .. 4. Poligon Thiessen ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● Langkah pengerjaan : 1.  An d n A1  A2  A3  .

● ● ● ● ● .

Sta 1 Hujan (d) 2 Luas 3 Koefisien 4 dxK (2) x (3) 5 1 d1 A1 1 = A1/A  1 x d1 2 3 d2 d3 A2 A3 2 = A2/A 3 = A3/A 2 x d2  3 x d3 n dn Jumlah An A n = An/A  n x dn d .5. Perhitungan dilakukan secara tabelaris.

.. 3. Diperlukan jaringan stasiun hujan yang relatif lebih padat. 2. ..3.. Hasil lebih teliti. Isohyet ● d2 = 60 mm d1 = 40 mm d5 = 110 mm ● ● d4 = 100 mm d0 = 30 mm ● ● d3 = 80 mm d 0  d1 d  dn d  d2 A1  1 A2  .  n1 An 2 2 2 d A1  A2  . Subyektifitas dalam penggambaran isohyet.  An d d i 1  d i  2 Ai i 1 n  Ai i 1 n d i 1  d i  2 Ai  i 1 A n 1.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->