P. 1
Tingkat Kesadaran - Copy

Tingkat Kesadaran - Copy

|Views: 1,122|Likes:

More info:

Published by: Muhammad Ilham Burhan on Mar 13, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/25/2013

pdf

text

original

Sections

  • Posisi klien untuk pemeriksaan
  • Pemeriksaan Fisik
  • 3. Tanda-tanda vital
  • 4. Kepala
  • Mengukur Suhu Oral
  • Pengertian
  • Tujuan
  • Persiapan alat
  • Prosedur pelaksanaan
  • Mengukur Suhu rektal
  • Mengukur suhu ketiak/aksila
  • b. Mengukur tekanan darah
  • Dilakukan pada
  • c. Menghitung denyut nadi radial
  • Dilakukan
  • d. Menghitung pernapasan
  • e. Menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan
  • Menimbang berat badan
  • Timbangan berdiri
  • Timbangan duduk (kursi)
  • Timbangan tidur (bed)
  • Mengukur tinggi badan
  • Prosedur pelaksanan
  • Inspensi dada
  • Palpasi dada
  • Ekspansi dada
  • Tektil fremitus
  • Auskultasi paru
  • Tujuan instruksional
  • Karakteristik nadi menurut usia
  • Usia Frekuensi
  • Irama Amplitudo
  • Nilai rata-rata tekanan darah
  • Usia Nilai rata-rata
  • Inspeksi Dan Palpasi
  • Cara kerja inspeksi dan palpasi
  • PERKUSI
  • AUSKULTASI
  • Perbedaan bunyi jantung menurut area auskultasi
  • Cara kerja auskultasi bunyi jantung
  • Hepar
  • Kandung Empedu
  • Limpa
  • Aorta
  • Pemeriksaan Asites
  • Colok Dubur
  • c. Auskultasi
  • Perkusi Batas Hati
  • Perkusi Lambung
  • Prosedur pelaksaan
  • Inspeksi
  • Kelopak mata
  • Konjungtiva dan sclera
  • Kornea
  • Pupil dan iris
  • Pergerakan bola mata
  • Medan penglihatan
  • Pemeriksaan ketajaman penglihatan
  • Pengkajian tahap I
  • Pengkajian tahap II
  • Penglihatan warana
  • Palpasi mata
  • Auskultasi
  • Inspeksi dan palpasi telinga luar
  • Pemeriksaan pendengaran
  • Menggunakan bisikan
  • Menggunakan arloji
  • Menggunakan garpu tala
  • Pemeriksaan Rinne
  • Pemeriksaan Weber
  • Saraf kranial
  • Saraf sensorik
  • Refleks tendo dalam
  • Refleks kutaneus
  • Tujuan;
  • a. Inspeksi
  • b. Palpasi
  • a. Prosedur pengkajian fisik genitalia pria
  • Palpasi
  • b. Prosedur pemeriksaan fisik genitalia wanita

TUGAS 1. Tingkat kesadaran 1. Kompos mentis : Sadar sepenuhnya, dapat menjawab semua pertanyaan tentang keadaan sekelilingnya 2.

Apatis : Sikap acuh tak acuh. Keadaan kesadaran yang segan berhubungan dengan sekitarnya 3. Somnolen: Keadaan kesadaran yang mau tidur saja. Dengan diberikan rangsangan nyeri, klien dapat bangun, namun setelahnya akan jatuh tertidur lagi. 4. Delirium: Keadaan motorik yang kacau, berteriak-teriak, memberontak, dan tidak sadar terhadap orang lain, tempat, dan waktu. 5. Sopor/semikoma: Keadaan kesadaran yang menyerupai koma, reaksi hanya dapat ditimbulkan dengan rangsang nyeri. 6. Koma: Keadaan kesadaran yang hilang sama sekali dan tidak dapat dibangunkan dengan rangsang apapun.

TUGAS 2. A. PEMERIKSAAN HEAD TO TOE Tujuan Untuk mendapatkan data-data tentang klien yang akan memberikan gambaran mengenai keadaan kesehatan klien, agar dapat memberikan asuhan keperawatan yang tepat. Posisi klien untuk pemeriksaan 1. Duduk Area yang akan diperiksa:  Kepala leher dan punggung  Dada depan dan belakang  Paru-paru, buah dada dan ketiak  Jantung dan vital sign  Ekstremitas dan refleks-refleks 2. Terlentang Area yang akan diperiksa:  Area yang diperiksa  Kepala dan leher  Dada depan dan paru-paru  Buah dada  Ketiak  Jantung abdomen  Ekstremitas dan refleks 3. Dorsal recumbent Area yang akan diperiksa:  Kepala dan leher  Dada depan dan paru-paru  Buah dada  Ketiak  Jantung  Jantung abdomen  Genetalia 4. Litotomi Area yang akan diperiksa:  Alat kelamin wanita dan rektum

 Saluran reproduksi wanita 5. Sim’s Area yang akan diperiksa:  Rektum  Vagina 6. Tengkurap Area yang akan diperiksa:  Sistem muskuloskeletal 7. Genu pektoral Area yang akan diperiksa:  rektum

Pemeriksaan Fisik

1. Keadaan Umum 2. Tingkat kesadaran:

: ringan, sedang, berat

a. Kompos mentis, sadar penuh b. Apati : klien tampak segan berhubungan dengan sekitarnya, tampak acuh tak acuh c. Samnolen : klien dapat dibangunkan dengan rangsangan dan akan membuat respon motorik dan verbal yang layak, klien akan tertidur lagi bila rangsangan dihentikan. d. Delirium : ketidaksadaran terhadap sekitarnya disertai kacau motorik. e. Stupor atau semi koma : 1) Keadaan tidak sadar menyerupai koma, tetapi respon terhadap rangsang nyeri masih ada, refleks-refleks masih dapat ditimbulkan. 2) Biasanya sudah ada inkontinensia. f. Koma : 1) Keadaan tidak sadar yang terendah 2) Tidak ada respon terhadap rangsangan nyeri

3) Refleks tendon, kornea, pupil, batuk menghilang 4) Terdapat inkontinensia urin dan alvi 5) Lengan/tungkai bawah flat foot. 3. Tanda-tanda vital a. Tekanan darah : b. Denyut nadi c. Suhu badan d. Pernafasan e. Berat badan : : : :

f. Tinggi badan : 4. Kepala a. Inseksi - Warna rambut
- Kuantitas rambut - Distribusi rambut - Kulit kepala - Bentuk kepala : Hitam/merah/dll : Lebat/jarang (miksedema)/dll : Merata/alopesia/dll : Benjolan/lesi (kista, psoriasis)/ketombe : Mesocephalus/hydrocephalus/depresi tulang tengkorak karena trauma - Wajah : Kesimetrisan (paralisis fasial) ekspresi wajah (afek depresi datar, mood : marah, sedih) - Kulit wajah : Warna (pucat), distribusi rambut (berbulu), lesi (jerawat, kanker kulit) b. Palpasi - Tekstur rambut - Kulit kepala - Kulit wajah 5. Mata a. Uji penglihatan - Tajam penglihatan : visus (OD/OS) (lakukan pemeriksaan visus) : Kasar (miksedema)/halus (hipertiroidisme) : Benjolan/nyeri tekan : Tekstur (halus/kasar), nyeri tekan, benjolan.

- Lapang pandang

: lakukan uji konfrontasi Normal (superior 40 derajat/lateral 90 derajat/medial 60 derajat/inferior 70 derajat) Hemianopsia/defek kuadrantik (stoke)

b. Inspeksi - Posisi/kesejajaran - Alis mata - Kelopak mata : eksoftalamus, strabismus : dermatitis seborea : bengkak pada tepi kelopak mata, kalazion, ektropion, ptosis, xantelasma - Apparatus lakrimal - Konjungtiva - Sclera - Kornea, iris, lensa - Pupil : pembengkakan sakus lakrimalis : mata merah : ikterik : opasitas kornea, katarak : ukuran (diameter 3 mm), bentuk (miosis/midriasis) Kesimetrisan (anisokor/isokor) Reaksi terhadap cahaya (isokor/tidak ada paralisis N. III - Otot ekstaokuler : refleks kornea terhadap cahaya tengah

(ketidakseimbangan muscular) - Enam arah cardinal : mengikuti ke segala arah Pandangan - Fundus : (menggunakan oftalmoskop : alternatif)

c. Palpasi - Kelopak mata : benjolan/nyeri tekan

- Bola mata teraba lunak (sama kiri/kanan) 6. Telinga a. Inspeksi - Aurikula - Liang telinga : keloid, kista dermoid, cauli flower : (gunakan spekulum dan otoskop) Serumen, bengkak, eritema - Gendang telinga b. Palpasi - Tragus, mastoid : nyeri tekan : menonjol kemerahan, perforasi

Hidung dan Sinus a. Cara: ketukan garpu tala ditelapak tangan letakkan di puncak kepala. .Uji garputala : benjolan : dapat mendengar bisikan : dapat mendengar detik jam tangan : untuk menilai apakah klien ketulian klien disebabkan oleh tuli kondusif atau tuli perseptif.Hidung dalam   Mukosa nasal Septum nasal : pembengkakan.Rinne (positif/negative) : untuk membandingkan hantaran udara dan hantaran tulang.Aurikula c.Weber (positif/negative) : untuk melihat hantaran tulang untuk melihat lateralisasi suara. 7. Palpasi . klien akan mendengar lebih keras pada sisi yang terganggu. pembengkakan .. kemerahan. Hasil: tuli kondusif. kemerahan : deviasi. sianosis .Uji bisikan .Uji detik jam .Hidung luar : lurus. cepat pindahkan garpu tala ke telinga. pernafasan cuping hidung. Sedangkan. Sinus : nyeri tekan. Cara : suruh klien menutup telinga dengan ibu jari pegang tangkai garpu tala yang sudah bergetar dan letakkan pada prosesus mastoideus sampai tidak terdengar lagi.Hidung. . tuli sensori neural klien akan mendengar lebih keras pada sisi yang sehat. Hasil : tes rinne positif bila hantaran udara lebih baik dari hantaran ulang. tanyakan apakah klien masih mendengar. Uji pendengaran . benjolan . Inspeksi . bengkak. perforasi b.

nyeri tekan (istirahat/menelan) .) b. massa.Trakea . mukosa oral .Arteri karotis . tortikollis : deviasi trakea : pembesaran : benjolan.Lidah : sianosis. kering : luka : gingivitis. nyeri tekan : benjolan. nyeri tekan .Denyut karotis : limfadenopati servikal : deviasi trakea : amplitudo dan kontur denyut karotis (diperiksa dari belakang) . Palpasi .Mukosa oral .Kelenjar tiroid : jaringan perut.Bibir..Lidah 9.Palatum . jumlah gigi. Palpasi . bercak putih Kesimetrisan palatum durum (pasien mengucapkan ah.Leher . b.Gigi . ompong : torus palatines : selaput putih/halus/varices/ulkus/benjolan Kesimetrisan (deviasi). Mulut dan Faring a. Auskultasi .Apakah ada distensi vena jugularis.Kelenjar tiroid : bruit : bruit : nodul.8.Kelenjar tiroid c.Kelenjar limfe . pucat.Faring : benjolan : kemerahan.Gusi . lesi (kanker) . penyakit periodontis :karies dentis. Inspeksi . goiter.Trakea . Inspeksi . Leher a.Dasar mulut .Bibir .

. cairan. bronkial.Bentuk dada pasien : normochest. barrel chest. trakeal : crakles (halus dan kasar) dan bunyi yang kontinu (mengi. stridor. retraksi interkostal Kontraksi inspirasi sternokleidomastoideus. Palpasi . Perkusi .Bunyi suara nafas yang : bronkofoni/egofoni/bisikan pektoriloqui ditransmisikan . flail chest . Toraks dan Paru a.Paru : resonan (paru) hiperresonan (emfisema. jaringan padat) Datar/redup (efusi pleura) d. biot. fraktur iga Massa. bronkovesikular. Inspeksi . saluran sinus Ekspansi dada (simetris/tidak) Taktil fremitus (seimbang/ peningkatan/penurunan local atau umum) c. dan ronki) . bradipnea) Deformitas atau ketidaksimetrisan Gangguan atau penyimpangan gerakan pernafasan Pengembangan dada simetris kiri dan kanan Irama (hiperpnea. Auskultasi .Dada posterior : deformitas atau asimetris (kifoskoliosis) Retraksi inspirasi supraklavikular Kelambanan gerak pernafasan unilateral b.Toraks dan gerak nafas : frekuensi (takipnea. pectus excavatum Pektus carinatum . cheyne-stoke.Bunyi nafas tambahan : vesikular.Dada : nyeri tekan. pneumotoraks) Pekak (pneumonia lobaris.10.Frekuensi dan irama : 14 – 16 x/menit (dewasa) > 44 x/menit (bayi) Bunyi nafas . desau) Retraksi inspirasi supraklavikular.

Aksila : ruam.11. pigmentasi. diameter. lemak : ukuran. deviasi) Ruam. arah putting (inversi. area Epigastrik . murni dan teratur) Bunyi jantung 1 pulmonal (ICS II garis parasternal kiri.Bunyi tambahan : murmur. thrill (stenosis aorta/polmonal) : pembesaran ventrikel kanan 12.Putting : ginekomastia.Thrill . infeksi. rabas putting .Payudara : ukuran dan simetris Kontur (pendataran. S2 menonjol. ulkus. Perkusi . murni dan teratur) . Payudara dan Aksila a.Bunyi jantung : bunyi jantung 1 aorta (ICS II garis parasternal kanan. limfadenopati . Inspeksi .Interkostal kanan dan Kiri dekat sternum c. retraksi. Inspeksi . bentuk. amplitude (terus-menerus/menyebar) b.Jantung d.Pria . Auskultasi . murni dan teratur) Bunyi jantung 2 trikuspid (ICS IV garis parasternal kiri.Parasternum kiri. Jantung a. bentuk lesung) Penampilan kulit (edema) . Palpasi . bunyi jantung 3 dan 4 : redup pada area jantung : pulsasi.Implus apical : ada/tidak : letak (ICS 5 garis midklavikularis kiri). kanker. murni dan teratur) Bunyi jantung 2 mitral (ICS V garis midklavikularis kiri.

delimitasi (batas).Limpa : tidak teraba (miring ke kanan.Aksila 13.Limpa d.Hati : nyeri otot.Bruit . Auskultasi . dan durasi : ada/tidak (obstruksi GI) : ada/tidak (peningkatan aneurisma aorta) 6 – 12 cm garis midklavikular kanan . nodulus (letak. nyeri tekan : pulsasi aorta .Dinding abdomen . Perkusi . striae. bentuk Konsistensi. : nodus aksilaris (bengkak. Paplasi .Aorta : pembesar.Pristaltik usus c.Hepar : bunyi timpani/hipertimpani/pekak : 4 – 8 cm pada garis midsternal : peningkatan/penurunan motilitas : terdengar/tidak : frekuensi.Ginjal . tumor .Kulit .Pulsasi b. vena : hernia.Ringan .Umbilicus . nyeri lepas. dan mobilitas) .Bentuk. ukuran. Abdomen a. nyeri tekan : kaku seperti papan : tepi hepar (pada saat menarik nafas) : pekak pada kiri bawah dada anterior Batas hati (margin kostal) Nyeri tekan. Paplasi . Inspeksi .b. nyeri tekan. kesimetrisan : jaringan perut. massa tumor . penonjolan suprapubik.Abdomen . interval.Payudara : konsistensi.Gelombang peristaltik . tungkai fleksi pada pinggang dan lutut) . inflamasi : penonjolan pinggang.Bising usus . nyeri tekan : tumor.Dalam . nyeri takan) pembesaran hati atau limpa.

dislokasi : gaya berjalan. deformitas.Penis : ruam. pembengkakan patella . atrofi b. deformitas. kesejajaran. kalus. benjolan : hernia. rambut pubis. Palpasi . nyeri tekan. ruam : haemorhoid. nyeri tekan. atrofi. Inspeksi . benjolan. rentang gerak. herpes.Kulit .. kontur. benjolan. rentang gerak. parut : fimosis. Genetalia dan Anus a. Siku. rabas : pembesaran kelenjar bartholini. tumor : kemerahan.Siku . rabas. perkembangan.Vagina b. benjolan.Ascites : pergeseran bunyi pekak (telentang dan menyamping Gelombang cairan 14.Kulit . meatus (hipospadia.Skrotum .Pergelangan kaki : hallux valgus. kutil. nyeri tekan. krepitasi Pergelangan : benjolan. kontur (kasar/halus) : benjolan.Pinggul . herpes.Anus .Bahu : kontur bahu. kontur. herpes . kontur. nyeri tekan. parut.Anus . perubahan warna kulit. rentang gerak : rentang gerak. lingkar bahu (atrofi. : benjolan. hidrokel. Inspeksi . Palpasi . kutil.Lutut : dislokasi. kista.Bahu. korda tendinea keras : pembesaran prostat. pembengkakan : cara berjalan. Ekstremitas a. peradangan.Penis . dislokasi) Rentang gerak sendi . kontur.Strotum . rabas) . corns. striktur urethra : jumlah testis.Pergelangan tangan .Vagina 15. nyeri tekan.

.Pinggul. ischiadika pada saat tungkai diangkat ke atas lurus. Refleks .Achilles Percussion Refleks . peradangan.Brudsinsky II : kelima jari kaki plantar fleksi : tungkai tidak fleksi pada saat dagu ditekuk ke dada : tungkai kanan tidak fleksi pada saat tungkai kiri difleksikan pada panggul dan lutut . Lutut. parut. krepitasi Pergelangan c.Brudsinsky I .Refleks triceps .Kernig sign : fleksi panggul 90 derajat kemudian mengekstensikan lutut pasien.Knee Percussion : ekstensi pada perkusi 2 (0 – 4) Refleks . nyeri tekan.Refleks biceps .Babinsky refleks . tidak nyeri pada paha . : fleksi pada perkusi 2 (0 – 4) : ekstenis pada perkusi 2 (0 – 4) : plantar fleksi pada perkusi 2 (0 – 4) .Laseque : tidak nyeri sepanjang m. : benjolan.

denyut nadi) dan sewaktu mengukur tinggi dan berat badan. Lihat tabel berikut tentang tingkat kesadaran Kesadaran Kompos mentis Tanda Sadar sepenuhnya. berteriak-teriak. dan kesadaran. sedang. PEMERIKSAAN PERSISTEM 1. normal. apati. somnolen. sikap terpaksa karena nyeri. apati. atau tidak tampak sakit. perkawinan. waktu. dan tidak sadar terhadap orang lain. suhu. tetapi jatuh tidur lagi. yaitu suku. Bila pasien berbaring. Ada beberapa hal yang perlu diamati untuk mengetahui keadaan umum pasien. tempat.B.kondisi psikologis. Selama pemeriksaan lihat cara berbaring dan mobilitas pasien. Keadaan sakit diamata apakah berat. delirium. pakaian. Apati Keadaan kesadaran yang segan untuk berhuungan dengan kehidupan sekitarnya. cara berbaring dan mobilitas. ringan. dilanjutkan sewaktu mengukur tanda-tanda vital (tekanan darah. apakah aktif atau pasif. Pemeriksaan keadaan umum Keadaan umum pasien diamati mulai saat pertama kali bertemu dengan pasien. atau gelisah. pernafasan. Amati pula status gizi apakah tergolong gemuk. atau kurus. dapat menjawab semua pertanyaan tentang keadaan sekelilingnya. jenis kelamin. Dapat dibangunkan dengan rangsangan nyeri. . Kesadaran pasien diamati apakah sadar sepenuhnya (kompos mentis). atau koma). status gizi. Amati pasien sewaktu masuk ke ruangan. amati dari kepala ke kaki (sefacaudal). kebersihan. sikapnya acuh tak acuh Somnolen Keadaan kesadaran yang mau tidur saja. perkiraan usia. semikoma. Delirium Keadaan kacau motorik yang sangat memberontak.

Mengukur suhu Mengukur Suhu Oral Pengertian Mengukur suhu tubuh dengan menggunakan termometer yang di tempatkan di mulut. perawat perlu mempertimbankan data yang diperoleh dari riwayat keperawatan. 2. Tanda-tanda vital diukur setelah pasien diatur dalam posisi yang nyaman serta keadaan umum diketahui. Tujuan Mengetahui suhu tubuh klien untuk menentukan tindakan keperawatan dan membantu menentukan diagnosis Persiapan alat Baki berisi    Thermometer air raksa/termometer elektrik siap pakai Bengkok Kertas tisu dalam tempatnya .Sopor/semikoma Keadaan kesadaran yang menyerupai koma reaksi hanya dapat ditimbulkan dengan rangsangan nyeri. nadi.dan pernafasan. serta keadaan emosi pasien karena hal ini sangat berpengaruh terhadap hasil pengukuran tanda vital. Hal-hal yang perlu diukur disini adlah tekanan darah. Pemeriksaan tanda-tanda vital a. suhu. keluhan status perkembangan/pertumbuhan. Koma Keadaan kesadaran yang hilang sama sekali dan tidak dapat dibangunkan dengan ransangan apapun. serta berat badan dan tinggi badan. Dalam mengukur tanda-tanda vital.

Keluarkan termometer dengan hati-hati Tindakan yang hati-hati mencegah ketidaknyamanan klien 9. Dokumentasikan dalam catatan perawatan. Suruh klien membuka mulut. 8. Cuci tangan dan pakai sarung tangan mengurangi penyebaran mikroorganisme 4. Mempertahankan posisi termometer yang tepat. pegangi thermometer. . 5. Biarkan termometer di tempat tersebut. 7. Tempatkan termometer di bawah lidah klien dalam kantung sublingual lateral ke tengah rahan bawah. Baca tingkai air raksa atau digitnya 11. Bersihkan termometer air raksa (lihat kotak cara membersihkan termometer air raksa). area reservoir adalah area yang paling banyak terkontaminasi. Beri tahu klien tentang prosedur dan tujuannya mengurangi ansietas klien 3. Bagian ujung termometer adalah area paling sedikit terkontaminasi. Pecahnya termometer dapat mencenderai mukosa mulut dan menyebabkan keracunan merkuri. Cuci tangan 15. Bawah alat ke dekat klien 2. 14. 10.  Termometer air raksa: 2-3 menit  Termometer digital : sampai sinyal terdengar dan petunjuk digit dapat terbaca. 12. Minta klien untuk menahan termometer dengan bibir terkutup dan hindari penggigitan. Sarun tangan  Buku catatan Prosedur pelaksanaan 1. Kembalikan termometer pada tempatnya. Turunkan tingkat air raksa/kembalikan thermometer digital ke skala awal 13. Panas dari pembuluh darah superficial di bawah lidah menghasikan pembacaan suhu 6. Bersihkan thermometer menggunakan tisu dengan gerakan memutar dari atas ke arah reservoir kemudian buang tisunya. Jika klien tidak mampu menahan termometer dalam mulut. Mencegah kontak mikroorganisme dengan tangan pemeriksa.

Menghilangkan ansietas klien. air bersih dalam tenpatnya Sarun tangan Buku catatan dan alat tulis Prosedur pelaksanaan 1. Memberikan pemajanan optimal area anak untuk penempatan thermometer dengan tepat. 6. Buka pakaian yang menutupi bokong klien.5-3. desinfekta. Pasang tirai atau penutup (gorden/pintu) ruangan. Melumasi ujung thermometer dengan vaselin sekitar 2. Cuci tangan dan gunakan sarung tangan. Menjaga privasi klien dan meminimalkan rasa malu.Mengukur Suhu rektal Pengertian Mengukur suhu tubuh dengan menggunakan termometer yang di tempatkan di rectum.  Bayi/ anak: tengkurap atau telentang. Beri tahu klien tentang prosedur dan tujuannya.2-2. Tujuan Mengetahui suhu tubuh klien untuk menentukan tindakan keperawatan dan membantu menentukan diagnosis. 3.5 cm untuk bayi/anak-anak . Bawa alat ke dekat klien. 4.5 cm untuk orang dewasa dan 1. 2. Persiapan alat Baki berisi:       Termometer air raksa/termometer digital siap pakai Bengkok Vaselin/pelumas larut air Larutan sabun. Mengurangi penyebaran mikroorganisme. Atur posisi klien  Dewasa: sims atau miring dan kaki sebelah atas di tekuk ke arah perut. 5. 7.

Mencegah kontak mikroorganisme dengan tangan pemeriksa. 9.5 cm pada orang dewasa dan 1. sedangkan area reservoir adalah paling banyak terkontaminasi. Lepaskan sarung tangan dan cuci tangan. 19. Tujuan Mengetahui suhu tubuh klien untuk menentukan tindakan keperawatan dan membantu menentukan diagnosis. Baca tingkat air raksa dan digitnya. Lap area anal untuk memberikan pelumas atau feses dan rapikan klien. Mengukur suhu ketiak/aksila Pengertian Mengukur suhu badan dengan menggunankan thermometer yang ditempatkan di aksila. 10.Pelumas akan meminimalkan trauma terhadap mukosa rektal selama pemasukan termometer. cedera pada klien dapat dihindari. Dengan memegang thermometer. 13. Dokumentasikan dalam catatan perawatan. Membuka anus dengan menaikkan bokong atas dengan tangan kiri (untuk orang dewasa). 8. regangkan kedua bokong dengan jari-jari. Peregangan bokong total akan memajankan anus. Menurunkan transmisi mikroorganisme. Minta klien menarik napas dalam dan masukkan thermometer secara perlahan ke dalam anus sekitar 3. 16. 15. Pegang thermometer di tempatnya selama 2-3 menit (orang dewasa) dan 5 menit (untuk anak-anak). 12. . bersihkan thermometer air raksa. 11. Pemasangan yang optimal adalah 2-3 menit. Keluarkan thermometer dengan hati-hati. Memberikan kenyaman pada klien. 17. Bagian ujung thermometer adalah area paling sedikit terkontaminasi. 14. Kembalikan thermometer ke tempatnya.5 cm pada bayi.2-2. Turunkan thermometer air raksa/ kembalikan digital ke skala awal. Jika bayi tengkurap di tempat tidur. Tindakan yang hati-hati mencegah ketidaknyamanan klien. 18. Bersihkan thermometer menggunakan tisu dengan gerakan memutar dari atas kearah reservoir kemudian buang tisu.

Masukkan thermometer ke tengah ketiak. Baca tingkat air raksa atau digitnya.Persiapan alat Baki berisi :       Termometer air raksa/ atau thermometer digital siap pakai. air bersih dalam tempatnya Kertas tisu dalam tempatnya Sarung tangan Buku catatan dan alat tulis Prosedur pelaksanaan 1. Cuci tangan dan pakai sarung tangan. dan silangkan lengan bawah klien. Bengkok Larutan sabun. Mencegah kontak mikroorganisme dengan tangan pemeriksa. Mengurangi penyebaran mikrooranisme. 10. desinfektan. 3. Turunnkan tingkat air raksa/ atau kembalikan thermometer digital ke skala awal. Ambil thermometer dan bersihkan menggunakan tisu dengan gerakan memutar dari atas kea rah reservoir kemudian buang tisunya. Bantu klien untuk duduk atau posisi berbaring terlentang. Bersihkan thermometer air raksa. Bantu klien merpikan bajunya. turunkan lengan. Buka pakaian pada lengan klien. 13. Menghilangkan ansietas klien. 8. 11. 9.  Digital: sampai sinyal terdengar atau petunjuk digit terbaca. 7. . Bawa alat ke dekat klien. Menjaga privasi klien dan meminimalkan rasa malu. Kembalikan thermometer ke tempatnya. sedangkan area reservoir adalah area yang paling banyak terkontaminasi. 12. Pertahankan thermometer:  Air raksa selama 5-10 menit. Mempertahankan posisi yan tepat dari thermometer di atas pembuluh darah aksila. 6. 5. Beri tahu klien tentang prosedur dan tujuannya. 2. Pasang tirai atau tutup gorden. 4. Bagian ujung thermometer adalah area paling sedikit terkontaminasi.

Mengukur tekanan darah Pengertian Melakukan pengukuran tekanan darah (hasil curah jantung dan tahanan pembuluh perifer) dengan menggunakan sfigmomanometer. lengan disokong setinggi jantung. Cuci tangan. Atur posisi klien: duduk dan berbaring dengan nyaman. Menghilangkan mikroorganisme untuk meghindari penyebarannya terhadap klien. 15. Jelaskan tindakan yang akan dilakukan beserta tujuannya. Cuci tangan. . Mengurangi penyebaran mikroorganisme. Tujuan Mengetahui keadaan hemodinamika klien dan keadaan kesehatan secarah menyeluruh. Bawa alat ke dekat klien. 3. b. 4. dan telapak tangan menghadap ke atas. Dilakukan pada    Setiap klien yang baru dirawat Setiap klien secara rutin Klien sesuai kebutuhan Persiapan alat Baki berisi:      Stetoskop Sfigmomanometer air raksa atau android dengan balon udara dan manset Kapas alcohol dalam tempatnya Bengkok Buku catatan dan alat tulis Prosedur pelaksanaan 1.14. Dokumentasikan dalam catatan perawatan. 2.

Mencegah kebocoran udara saat pengembangan. Bagian telinga stetoskop seharusnya mengikuti sudut liang telinga pemeriksa untuk mempermudah pendengaran. Bunyi yang samar dapat mengakibatkan pengukuran yang salah. Kempiskan manset spenuhnya dan tunggu selama 30 detik. 8. 15. Palpasi arteri brakialis sambil memompa manset sampai tekanan 30 mm Hg di atas titik hilangnya denyut arteri. Perlahan kempiskan manset perhatikan sampai denyut kembali teraba (sistolik palpasi). Bunyi korotkoff pertama menandakan tekanan sistolik. Pastikan manometer terletak setinggi titik pandang mata dan perawat berdiri tidak lebih dari satu meter jauhnya. 12. 16.5 cm di atas sis denyuk arteri brakialis. . Pusatkan anak panah yang terterah pada manset ke arteri brakialis dan lingkarkan manset pada lengan atas secara rapi dan tidak ketat. Penempatan stetoskop memastikan penerimaan bunyi optimim. Mengidentifikasi perkiraan tekanan sistolik dan menentukan titik pengembangkan maksimal untuk pembacaan akurat. Buka pakaian yang menutupi lengan. Tempatkan bagian telinga stetoskop pada telinga pemeriksa. Stetoskop akan diletakkan di atas arteri tanpa menyentuh manset. Posisi lengan di atas jantung akan menyebabkan hasil pengukuran rendah yang salah. Memastikan ketepatan letak manset. 11. Penurunan air raksa yang terlalu cepat atau terlalu lamban dapat menyebabkan pembacaan hasil pengukuran yang salah. 13. 7. Tutup kondong tekanan searah putaran jarum jam sampai kencang. 14. 5. 6. Buka kutup secara perlahan sehingga memungkikan air raksa turun rata-rata 2-3 mm Hg per detik. Pompa manset sampai tekanan 30 mm Hg di atas palpasi sistolik klien. Perhatikan titik pada manometer saat bunyi pertama jelas terdengar. Cari kembali arteri brakialis dan tempatkan diafragma stetoskop di atasnya. Memastikan ketepatan pengukuran sistolik. 10.Pengaturan posisi dapat memudahkan penempatan manset. Mencegah ketidaktepatan pembacaan air raksa. Mencegah kongesti vena dan hasil pengukuran tinggi yang tidak akurat. Penempatan manset yang longgar menyebabkan hasil pengukuran tinggi yang salah. Palpasi arteri brakialis dan tempatkan manset 2. Mencegah kesenjangan auskultasi. 9.

Mengetahui keadaan umum klien. tunggu sampai 30 detik. Mengikuti perjalanan penyakit. 21. 24. Dilakukan    Pada klien yang baru masuk untuk dirawat. 20. Secara rutin pada klien yang sedang dirawat. Pengembangan terus menerus menyebabkan oklusi arteri dan matirasa atau kesenutan pada lengan klien. Bunyi korotkoff keempat sebagai tekanan diastolic pada orang dewasa. Mencegah kongesti vena dan pembacaan tinggi yang salah. 19. Menghitung denyut nadi radial Pengertian Menghitung ferkuensi denyut nadi (loncatan aliran darah yang dapat teraba pada berbagai titik tubuh ) melalui perabaan pada nadi. c. 23. Lanjutkan membuka kutup secara bertahap dan perhatikan titik hilangnya bunyi.17. Tutup lengan atas dan bantu klien untuk posisi yang diinginkan. Informasikan hasil kepada klien. Pencatatan tanda vital dengan segera. Buka manset dan lipat serta simpan dengan baik. Dokumentasikan hasil tindakan pada cacatan perawatan. 22. 18. Sewaktu-waktu sesuai kebutuhan klien. Mengetahui integritas system kardiovaskular. Jika prosedur di ulang. Disinfeksi bagian telinga (ear piece) stetoskop dan bagian diafragma stetoskop dengan kapas alcohol. 25. Mencuici tangan. Tujuan     Mengetahui jumlah denyut nadi dalam satu menit. Mempertahankan kenyaman klien. . Meningkatkan partisipasi pada perawatan. Mengontrol penyebaran mikroorganisme bila perawat saling bergantian menggunakan stetoskop. Kempiskan manset dengan cepat dan total. Pemeliharaan yang tepat terhadap alat memengaruhi keakuratan instrument.

9. Sat denyutan teratur. Julurkan pergelangan dengan telapak tangan ke bawah. sisi dalam pergelangan tangan klien. 12. 10. 4. mulai menghitung frekuensi denyut. 11. Tempatkan kedua atau tiga jari tangan pemeriksa di atas lekukan radial searah ibi jari. hitung selama satu menit penuh. . Prosedur pelaksanaan 1. Buku catatan dan alat tulis. Jika denyut teratur. Menghitung pernapasan Pengertian Menghitung jumlah pernapasan (inspirasi yang diikuti ekspirasi) dalam satu menit. d. Tempatkan alat di dekat klien. Berikan tekanan ringan di atas radius. Dokumentasikan pada catatan perawatan. letakkan tangannya menyilang di dada bawahnya dengan pergelangan terbuka dan telapak tangan ke bawah.  Juka duduk. dan kesetaraan denyut. hitung selama 30 detik dan kalikan hasilnya dengan 2.Persiapan alat   Arloji tangan dengan jarum detik atau layar digital atau polsteller. Bantu klien ke posisi terlentang atau duduk.  Jika terlentang. 5. abaikan denyutan awal kemudian relakskan tekanan sehingga denyutan menjadi mudah di palpasi. Jika denyut tidak teratur dan pada klien yang baru pertama kali di lakukan pemeriksaan. Bantu klien ke posisi yang nyaman. 2. irama. Cuci tangan. Kaji kekuatan. tekuk sikunya 90º dan sangga lengan bawahnya di atas kursi atau tangan pemeriksa. Jelaskan tindakan yang akan dilakukan beserta tujuannya. 6. 3. 7. dengan menggunakan 8. Cuci tangan 13.

Secara rutin pada klien yang sedang di rawat 3. Observasi siklus pernapasan lengkap (sekali inspirasi dan sekali ekspirasi). 8. Jelaskan tindakan yang akan di lakukan dan tujuannya. e. 5. Dokumentasikan. atau tempatkan tangan pemeriksa langsung pada abdomen atas klien. Saat menghitung. lihat pada jarum detik jam tangan dan hitung frekuensinya 7. 4. Letakkan lengan klien pada posisi rileks menyilang abdomen atau dada bagian bawahnya. catat keadaan pernapasan. hitung respirasi selama 30 detik dan kalikan dua.Tujuan     Mengetahui keadaan umum klien Mengetahui jumlah dan sifat pernpasan dalam 1 menit Mengikuti perkembangan penyakit Membantu menegakkan diagnosis. Cuci tangan 11. Sewaktu-waktu. Tempatkan alat di samping klien. 10. Buku catatan dan alat tulis Prosedur pelaksanaan 1. Jika irama teratur. 3. Jika pernapasan tidak teratur. Dilakukan 1. Cuci tangan klien. Menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan Menimbang berat badan Pengertian Menimbang berat badan dengan mempergunakan timbangan badan . Setelah siklus terobservasi. 9. hitung satu menit penuh. Pada klien yang baru masuk untuk dirawat 2. sesuai kebutuhan klien Persiapan alat   Arloji tangan dengan jarum detik atau layar digital atau polsteller. 2. 6.

3. Pindahkan klien ke timbangan Tutup lengan kursi timbangan ke depan dan kuncilah. 6. Bantu klien naik ke timbangan 5. Beri tahu klien Bawa klien ke dekat timbangan Kunci timbangan agar tidak bergerak Tempatkan timbangan di samping tempat tidur/ kursi roda klien dengan lengan kursi timbangan terbuka. Atur resiko berat 6. beri tahu klien untuk berdiri tegak di atas timbangan. 4. 7. Beri tahu klien 2. 8. 7. 2. Bantu klien turun dari timbangan.tidur) Prosedur pelaksanaan Timbangan berdiri 1.Tujuan     Mengetahui barat badan dan perkembangannya Membantu menentukan program pengobatan (dosis) Menentukan status nutrisi klien Menentukan status cairan klien Persiapan alat Timbangan badan (berdiri. duduk. Ukur berat klien Buka kunci lengan kursi timbangan dan pindahkan klien ke tempat tidur atau kursi roda. Untuk mengukur tinggi badan. . Timbangan duduk (kursi) 1. Kembalikan timbangan ke posis semula. Beri tahu klien untuk memakai baju yang tidak tebal dan melepas sandal (sepatu) 4. 8. Tempatkan handuk kertas di atas timbangan 3. 5.

3. Persiapan alat Pita ukur Prosedur pelaksanaan 1. 3. Bantu klien turun dari timbangan. 7.Timbangan tidur (bed) 1. Beritahu klien 2. 5. 4. Mengukur tinggi badan Pengertian Mengukur tinggi badan dengan alat pengukur. Mengetahui fungsi dan bentuk hidung 2. 6. 2. Bawa klien ke dekat timbangan. Pemeriksaan sistem pernapasan a. Tujuan Menegetahui tinggi badan dan perkembangannya. Arahkan klien disisi timbangan Lepaskan kerangka pengaman Rendahkan stretcher terhadap matras Angkat klien ke timbangan Ukur berat badan klien Kembalikan klien ke posisi semula. Beritahu klien untuk menghadap ke perawat (saling berhadapan) 4. Menentukan status nutrisi klien. Pemeriksaan hidung Tujuannya 1. Beri tahu klien akan di timbang dan juga privasinya. Bantu klien naik ke timbangan berdiri yang dilengkapi dengan alat ukur tinggi badan 3. Ukur tinggi badan klien 6. Menentukan kesimetrisan struktur dan adanya implamasi atau infeksi . 8. Beritahu klien untuk berdiri tegak di atas timbangan 5.

dll. 2. Inpeksi hidung bagian dalam 1) pasang lampu kepala secara ade kuat meneragi lubang hidung. 7) Letakkan jari pada masing-masing sisi arkus nasal dan palpasi dengan lembut. 4. Mengetahui bentuk leher serta organ yang berkaitan 3. 4) Adanya kesimetrisan lubang hidung. 6) Lepas spekulum secara perlahan.bengkak) . 8) Kaji mobilitas sektum hidung b. jelaskan karakteristik jumlah dan warnanya 6) Lakukan palpasi lembut pada batang dan jaringan lunak terhadap nyeri dan massa. 5. 3) Amati keadaan kulit hidung terhadap warna dan adanya pembengkakan.Persiapan alat 1. Pemeriksaan leher Tujuan 1. darah. Memeriksa system limpatik . Jika terdapat secret. 5) Oserpasi pengeluaran dan pelebaran lubang hidung. 3.sekresi. lalu gerakkan jari dari batang ke ujung hidung. 5) Amati kartilago dan dinding rongga hidung serta selaput lender (warna. Inpeksi dan palpasi hudung bagian luar 1) Pemeriksa duduk berhadapan dengan klien dan atur penerangan . 2) Amati bentuk dan tulang hidung dari sisi depan samping dan atas. 3) Amati posisi sektum hidung 4) Pasang ujung spekulum hidung sehingga rongga hidung dapat di amati. b. 2) Tekang hidung secara lembut untuk mengepaluasi ujung hidung dan bagian anterior lubang hidung. Menentukan strutur intergritas leher 2. Spekulum hidung Senter kecil Lampu penerang Sarung tangan bila di perlukan Prosedur pelaksanaan a.

dalam suatu sudut yang terbentuk oleh klavikula dan sternokleidomastoideus. adanya massa.Persiapan alat 1. 3) Instruksikan klien untuk minum atau menelan agar memudahkan palpasi 4) Jika teraba kelenjar tiroid. Inspeksi Amati bentuk leher.samping dan belakang 2. 7) Nodus servikal superficial terhadap sternomastoideus. . adanya jaringan paru. Untuk memeriksa nodus limfe. Pengamatan di lakukan dari garis tenga sisi depan leher. 5) Nodus submental pada garis tengah beberapa cm di belakang ujung mandibula. 1) Nodus oksipital pada dasar tengkorak 2) Nodus aurikular posterior di atas mastoid. 9) Nodus supraklavikula. Stetoskop Prosedur pelaksanaan 1. Gunakan bantalan ketiga jari tengah dan memalpasi dengan lembut masing-masing jaringan limfe dengan gerakan memutar. c. Periksa setiap nodus dengan urutan sebagai berikut. 6) Nodus submaksilaris pada garis tengah di belakang ujung mandibula. dengan cara: 1) Letakkan tangan pada leher klien 2) Palpasi fosa suprasternal dengan jari telunjuk dan jari tengah. 3) Nodus preaurikular tepat di depan telinga 4) Nodus tonsilar pada sudut mandi bula. dan permukaannya e. pembengkakan. d. sepanjang tepi anterior trapeziuz. 1) Periksa berdiri di samping kanan klien. waeran kulit. ukuran. konsistensi. Palpasi trakea dengan cara. Palpasi a. buat klien dengan leher sedikit fleksi ke depan atau mengarah ke sisi pemeriksaan untuk merelaksasikan jaringan dan oto-otot b. pastikan bentuk. 8) Nodus servikal posterior. Palpasi kelenjar tiroid.

dan ke samping sehingga kedudukan trakea dapat di ketahui. taktil fremitus. diameter anteroposterior lebih panjang dari proximodistal 9.  Mengkaji aliran udara melalui batang trakeobrokial. Beri pengjelasan pada klien tentang apa yang akan di lakukan oleh pemeriksa dan anjurkan klien untuk tetap santai/ rileks.dll Persiapan alat    Stetoskop Penggaris sentimeter Pensil penanda Prosedur pelaksanan Inspensi dada 1. irama pernapasan  Mengetahui adanya nyeri tekan. Bentuk torak. Atur posisi klien.  Mengetahui frekuensi. diameter anteroposteriol sama denga proximodistal . Buka baju klien dan perlihatkan badan klien sebatas pinggang 2. sternum. kesimetrisan. diameter anteroposterior lebih pendek dari proximodistal 10. peradangan. keadaan kulit dinding dada. Pigeon chest. Normal chest. ke bawah. 3. 7. ekspansi. kesimetrisan. Pemeriksaan dada Tujuan  Mengetahui bentuk. Funnel chest. Lakukan pengamatan bentuk dada dari sisi. c.  Mengetahui adanya sumbatan aliran udara. kesimetrisan scapula  Sisi kanan  Sisi kiri klien 5. 4. Inspeksi bentuk dada secara keseluruhan untuk mengetahui kelainan bentuk dada dan tentukan frekuensi respirasi 6. yaitu:  Depan: perhatikan klavikula. dan tulang rusuk  Belakang: perhatikan bentuk tulang belakang.  Mengetahui keadaan paru. rongga pleura  Mengetahui batas paru-paru dengan organ lain di sekitarnya. duduk atau berdiri. sifat. diameter proximodistal lebih panjang dari anterodistal 8.2) Letakkan jari tengah pada bagian bawah trakea dan raba trakea ke atas. Barrel chest. massa. keadaan kulit.

11. Letakkan kedua tangan pemeriksa di punggung klien ibu jari di letakkan sepanjang penonjolan spinal setinggi iga ke 10 dengan telapak menyentuh permukaan posterior. apakah terdapat retrasi interkostasi selama bernapas. pernafasan cuping hidung. Tulang belakang bengkok ke sanping 13. Rasakan gerakan dinding dada dan bandingkan sisi kanan dan sisi kiri. perhatikan getaran ke samping sewaktu klien bernapas. Bandingkan gerakan kedua sisi dinding dada. minta klien untuk bernapas dalam. 4. Letakkan telapak tangan pada bagian belakang dinding dada dekat apeks paru. jaringan perut. 4. 15. 5. Setelah ekshalasi. Scoliosis. Bandingkan fremitus pada kedua sisi paru dan di antara apeks dasar paru. retraksi suprasternal. Ulangi langkah tersebut dengan tangan bergerak ke bagian dasar paru. atau kelainana lainnya. 2. Palpasi dada Ekspansi dada 1. 2. Amati pernafasan klien. retraksi intercosta. observasi gerakan ibu jari pemeriksa. tulang belakang bengkok ke depan 12. Berdiri di depan klien dan letakkan kedua telapak tangan secara datar pada dinding dada klien. 7. Lakukan palpasi taktil fremitus pada dinding dada anterior. frekuensi ( 16 – 24 X per-menit ). Perkusi dada . Lordosis. Anjurkan klien untuk menarik napas. Kyposis. Amati keadaan kulit dada. Tektil fremitus 1. tulang belakang bengkok ke belakang 14. Minta klien untuk berbicara lebih keras atau dengan nada lebih rendah jika fremitus redup. letakkan tangan pemeriksaan pada sisi dada lateral klien. Pemeriksa berdiri di belakan klien. 6. Jari-jari harus terletak ±5 cm terpisah dengan titik ibu jari pada spinal dan jari lain ke lateral 6. 3. 5. Instruksikan klien untuk mengucapkan bilangan “ sembilan-sembilan” 3.

9. Auskultasi paru 1. 8. 10. Instruksikan klien bernapas secara perlahan dan dalam dengan mulut sedikit tertutup. Pada wanita jarak antara kedua tanda ini normalnya 3-5 cm. Untuk perkusi paru anterior. Instrusikan klien untuk menghembuskan napas secara maksimal dan menahannya. 2. Instruksikan klien untuk menarik napas panjang dan menahannya untuk mendeterminasi gerakan diafragma. 3. Lakukan perkusi sepanjang garis skapula sampai pada lokasi batas bawah samapi resonan berubah menjadi redup. lakukan perkusi mulai dari puncak paru ke bawah. 6. Lakukan perkusi dari bunyi redup/ tanda I ke atas. 5. pada pria 5-6 cm. 7. . Gunakan diafragma stetoskop untuk orang dewasa dan bell untuk anakanak. Letakkan stetoskop dengan kuat pada kulit di atas area interkosta. Tandai area redupnya bunyi dengan pensil/spidol. Anjurkan posisi klien duduk atau berdiri. 11.1. 3. 4. Biasanya bunyi redup ke -2 di temukan di atas tanda I. beri tanda pada kulit tempat di temukan bunyi redup (tandaII) 12. Untuk perkusi paru posterior. Catat hasil auskultasi. Bandingkan sisi kiri dan kanan. Mulai auskultasi dengan urutan yang benar. Ukur jarak antara tanda I dan tanda II. Atur posisi klien supinasi/telentang 2. Bandingkan sisi kanan dan kiri 4. Dengarkan inspirasi dan ekspirasi pada setiap tempat 6. perkusi di mulai dari atas klavikula ke bawah pada spesium interkostalis dengan interval 4-5 cm mengikuti pola sistematik. 5.

Mengevaluasi hasil pengkajian. d. pola tidur dan terjaga (jumlah tidur. bangun untuk berkemih. misalnya setelah mengalami stress atau berupaya melakukan sesuatu. apakah masalah kesehatan yang dialami . Mendemonstrasikan teknik inspeksi.4. atau sering mengalami infeksi tenggorokan. masalah koordinasi. dan kaki bengkak. sering istirahat sewaktu bermain. Sewaktu mengkaji anak. b. auskultasi. kesulitan sewaktu makan. Mengidentifikasi aspek-aspek riwayat kesehatan/pengkajian pada sistem kardiovaskuler. dan perkusi dalam sistem kardiovaskuler. pola pemecahan masalah dan stress (penyebab stress dan cara mengatasinya). palpasi. Pada wanita hamil. apakah sering pusing sewaktu mengubah posisi dan apakah pasien mengalami napas pendek. Mengidentifikasi persiapan yang diperlukan dalam pengkajian sistem kardiovaskuler. ikut sertakan anak selama mewawancarai orang tua. Pertimbangan perkembangan perlu diperhitungkan khususnya pada pasien anak dan wanita hamil. rencana latihan. tekanan darah tinggi. peningkatan berat badan). sering pusing sewaktu mengubah posisi. kelelahan. perubahan jadwal/ kemampuan olahraga. pola nutrisi (jenis makanan. mendengkur. Pada pasien lansia. perawat perlu menyadari bahwa kondisi sistem kardiovaskuler yang berubah menyebabkan lebih mudah mengalami gangguan. minuman beralkohol). c. pola aktivitas dan olahraga (rutinitas. diet khusus. rekreasi). e. Data pola pemeliharaan kesehatan dikumpulkan dengan mengajukan pertanyaan tentang kebiasaan pribadi (merokok. Ajukan pertanyaan tentang apakah anak mengalami pertumbuhan lambat. Menjelaskan tanda-tanda normal/gejala umum atau keluhan yang berkaitan dengan sistem kardiovaskuler. Data pola peranan-kekerabatan dikumpulkan dengan menanyakan pendapat pasien tentang kesehatannya. ajukan pertanyaan tentang apakah ia mengalami gangguan jantung (murmur jantung). tampak biru sewaktu menagis. Pemeriksaan sistem kardiovaskuler Tujuan instruksional Peserta didik keperawatan diharapkan mampu: a. makanan berlemak. ikut kegiatan olahraga. napas pendek). Ajukan pertanyaan tentang apakah jantung berdenyut lebih keras.

2001). dan dorsalis pedis. Frekuensi denyut nadi secara normal bergantung pada usia seseorang yang secara praktis. Dalam mengkaji denyut nadi. yaitu besar tekanan yang dihasilkan ventrikel kiri saat istirahat (angka diastolik). setidak-tidaknya sudah istirahat 5 menit. brakial. femoral. frekuensi. tidak makan/merokok dalam 30 menit sebelum diukur. antara lain sfigmomanometer dan manset harus baik dan sesuai.mengubah pola hidupnya. dan . Nilai normal rata-rata tekanan sistol pada orang dewasa adalah 100-400 mm hg. radial. dan kekuatan amplitudonya. identifikasi. mudah dipalpasi Tekanan darah arteri menggambarkan dua hal. serta hubungan intim antara suami istri. obat jenis glikosida jantung yang tergolong sebagai digitalis dan digunakan pada pasien fibrilasi atrium stabil yang permanen/persisten (Brithish Heart Foundation. misalnya digoksin. pengukuran denyut nadi juga dilakukan oleh perawat sebelum memberi obat-obat tertentu kepada pasien. Pada orang dewasa. perawat harus memperhatikan beberapa hal. pemasangan/pengukuran yang tepat. Denyut nadi menggambarkan perubahan tekanan pada ventrikel kiri jantung yang dapat diketahui dengan meraba denyut nadi karotis. Selain sebagai bagian dari pengukuran tanda-tanda vital dan penegakan diagnosis. tibial posterior. Karakteristik nadi menurut usia Usia Di bawah 1 bulan Di bawah 1 tahun 2 tahun 6 tahun 10 tahun 14 tahun Di atas 14 tahun Frekuensi (x/mnt) 90-170 80-160 80-120 75-115 70-110 65-100 60-100 Irama Teratur Amplitudo Kuat. popliteal. Tekanan darah diatas 140/90 mmhg biasanya digolongkan sebagai tekanan darah tinggi. pasien rileks. sedangkan rata-rata tekanan diastole adalah 60-90 mmhg. Untuk mendapatkan data tekanan darah yang akurat. kualitas. peran dan tugas di rumah.

namun bila vena jugularis terlihat sekitar 3. duduk. Apeks ventrikel kiri menyentuh dinding anterior dada dan sejajar dengan garis midklavikula serta terletak pada atau dekat ruang interkostal ke-7. Titik tempat apeks menyentuh dinding anterior dada dikenal sebagai titik impuls maksiomal. Inspeksi Dan Palpasi Area jantung (prekordial) diinspeksi dan dipalpasi secara simultan untuk mengetahui adanya ketidaknormalan denyutan atau dorongan (heaves). Pada orang dewasa. Dasar jantung terletak di bagian atas dan apeks jantung di bagian bawah. perawat harus mampu mengidentifikasi posisi jantung di bawah sternum dan tulang rusuk serta mengetahui batas-batas jantung. Apabila vena jugularis tetap datar dan terlihat di atas klavikula berarti normal. atau berbaring.sebaiknya tekanan darah diukur dua kali pada lengan yang berbeda dalam posisi berdiri. yakni pasien mengalami penurunan kesadaran tiba-tiba disebabkan oleh kehilangan fungsi otak secara mendadak akibat ketidak cakupan sirkulasi ke otak. dan monitor holter. tamponade jantung.5 cm di atas sudut sternal (tempat klavikula kanan dan kiri bertemu) berarti tekanan vena jugularis meniggi. pasien sering memerlukan pengukuran tekanan darah dengan posisi berbaring. Untuk mengukur tekanan vena ini. Nilai rata-rata tekanan darah Usia Di bawah satu tahun 2 tahun 4 tahun 6 tahun 10 tahun Remaja Dewasa Nilai rata-rata 63 (teknik flush) 96/30 98/60 105/60 112/64 120/75 130/80 Pengukuran tekanan vena dapat dilakukan dengan mudah. dan berdiri serta pemeriksaan lain seperti EKG. atau obstruksi vena kava superior. pasien mengambil posisi duduk dengan sudut 45o. miisalnya sinkop. Palpasi area jantung membutuhkan keterampilan khusus dan keterampilan ini penting . Pada gangguan tertentu. Dalam melakukan pemeriksaan. sebagian besar jantung terletak di samping kiri sternum dan sebagian kecil berada di samping kanan sternum. elektrofisiologi. Tekanan vena yang meniggi biasanya didapatkan pada pasien gagal jantung kongestif.

pindahkan jari-jari anda ke bawah sepanjang tiga ruang interkostal kiri. 8. Area ventrikel atau tricuspid terletak di ruang interkostal kiri menghadap sternum. Hasil palpasi dijelaskan lokasinya. Palpasi dilakukan secara sistematis mengikuti struktur anatomi jantung mulai dari area aorta. 3. lakukan inspeksi dan palpasi pada area epigastrium di dasar sternum. dan garis aksila. Inspeksi dan kemudian palpasi area aorta dan area pulmonal untuk mengetahui ada atau tidaknya pulsasi. Ukuran jantung dapat diketahui dengan mengamati lokasi pulsasi apical. . midklavikula. Sudut ini akan terasa seperti bagian sternum. area pulmonal. Cara kerja inspeksi dan palpasi 1. Untuk menentukan batas sisi kanan dan kiri. pulsasi ini bergeser secara lateral ke garis midklavikula. PERKUSI Perkusi jantung dilakukan untuk mengetahui ukuran dan bentuk jantung secara kasar. Area aorta terletak diruang interkostal ke-2 kanan dan area pulmonal terletak di ruang interkostal ke-2 kiri. Amati ada atau tidaknya pulsasi. Dari area pulmonal. 5. 4. Inspeksi dan palpasi pulsasi pada area apical. area tricuspid. Bantu pasien mengatur posisi terlentang dan perawat pemeriksa berdiri di sisi kanan pasien. Tentukan lokasi sudut Louis dengan palpasi. 7. Perawat melakukan perkusi jantung hanya dalam keadaan yang sangat diperlukan dan praktik di laboratorium dilakukan oleh perawat yang mendalami permasalahan jantung (perawat spesialis jantung). Sekitar 50% orang dewasa akan memperlihatkan pulsasi apical. Perkusi dilakukan dengan meletakkan jari tengah tangan kiri sebagai plesimeter (landasan) rapatrapat pada dinding dada. dan area epigastrium. perkusi dilakukan dari arah samping ke tengah dada. Perkusi dapat dilakukan dari semua arah menuju letak jantung. Dari area tricuspid. pindahkan tangan anda secara lateral 5-7 cm ke garis midklavikula kiri tempat ditemukan area apical atau titik impuls maksimal. area apical.bagi perawat dengan keahlian atau spesialisasi jantung. 2. jarak dari garis midsternal. 6. Batas atas jantung diketahui dengan melakukan perkusi dari atas ke bawah. Pindah jari-jari ke bawah ke arah tiap sisi sudut sehingga akan teraba ruang interkostal ke-2. yaitu pada ruang interkostal ke berapa. Apabila jantung membesar. Untuk mengetahui pulsasi aorta. Sudut ini terletak di antara manubrium dan badan sternum.

tetapi nada S1 lebih rendah dan nada S2 tinggi. Bunyi jantung kadang-kadang sulit didengar karena dinding toraks terlalu tebal. Bunyi jantung pertama (S1) timbul akibat penutupan katup mitral dan trikuspidalis.5. bunyi S3 dapat menjadi tanda adanya gagal jantung. Perkusi dapat pula dilakukan dari arah sternum keluar dengan jari yang stasioner secara paralel pada ruang interkostal sampai suara redup tidak terdengar. jarak rongga anteroposterior terlalu besar. bunyi ini dihasilkan oleh penutupan katup-katup jantung. Bunyi jantung kedua (S2) timbul akibat penutupan katup aorta dan pulmonal.Perawat hendaknya mengetahui lokasi redup jantung. Bila ada. misalnya setelah olahraga. S1 didekskripsikan sebagai bunyi “lub” dan S2 sebagai “dub”.7 dan 10 cm ke arah kiri dari garis midsternal pada ruang interkostal ke-4. Batas kiri umunya tidak lebih dari 4. Bunyi S3 dan S4 dapat di dengar lebih jelas pada area apical dengan menggunakan bagian sungkup (bel) stetoskop. Secara normal tidak ada bunyi lain yang terdengar selama periodeperiode di atas. Jarak kedua bunyi adalah satu detik atau kurang. Biasanya S1 terdengar lebih keras daripada S2. Ukur jarak dari garis midsternal dan tentukan dalam sentimeter. Dengan adanya foto rontgen. pada saat emosi. S1 terdengar lebih keras pada keadaan takikardia. Diastole merupakan periode saat ventrikel relaksasi yang dimulai dari bunyi jantung kedua berakhir pada saat atau mendekati bunyi jantung pertama. demam. bunyi ini terdengar saat mendekati akhir diastole sebelum bunyi jantung pertama (S1) dan terdengar . Bila didapatkan pada orang dewasa. Sistol biasanya lebih pendek dari pada diastole. perawat perlu mengetahui bunyi normal jantung. Bunyi S2 juga dapat terdengar lebih keras. Periode yang berkaitan dengan bunyi jantung S1 dan S2 adalah periode sistol dan periode diastole. perkusi area jantung jarang dilakukan karena gambaran jantung dapat dinilai pada hasil foto toraks anteroposterior. atau karena kondisi patologis tertentu. misalnya pada penderita hipertitensi. AUSKULTASI Jantung dapat didengar dengan auskultasi. S3 normal terdengar pada anak-anak dan dewasa muda.. S4 jarang terdengar pada orang normal. Bunyi S3 muncul pada awal diastole yang terdengar seperti “lub-dub-dee”. dan 8. atau anemia. Periode sistol adalah periode saat ventrikel berkontraksi yang dimulai dari bunyi jantung pertama sampai bunyi jantung jkedua. Pada tingkat dasar. tetapi pemeriksa yang sudah berpengalaman dapat mendengar berbagai bunyi tambahan (S3 dan S4) selama periode diastole.

Perhatikan dan tentukan area auskultasi.dengarkan S1 sambil melakukan palpasi nadi karotis. 2. Kaji ritme dan frekuensi jantung secara umum.>pendek dari pada dari pada S1. S1 “dub” Lebih keras Lebih keras atau sama atau sama dengan S2 dengan S2 Intensitas Intensitas kurang atau kurang atau sama sama dengan S1 dengan S1 Sistol pada interval S1 dan S2 Diastole antara S2 dan S1 Auskultasi harus dilakukan pada lima area auskultasi utama dengan menggunakan stetoskop bagian diafragma kemudian dengan bagian bel (sungkup). Lima area utama yang digunakan untuk mendengarkan bunyi jantung adalah katup aorta. “lub” Intensitas >S2 Intensitas > S2 Lebih keras dari pada S1 S2 Nada Lebih keras tinggi. Perbedaan bunyi jantung menurut area auskultasi Bunyi atau fase S1 ciri Aorta pulmonal trikuspi apikal Tumpul. nada <S2. Anjurkan pasien untuk bernapas secara normal kemudian menahan napas saat ekspirasi. trikuspidalis. pulmonalis.S2). apical. Cara kerja auskultasi bunyi jantung 1.kira-kira seperti “dee-lub-dub(S4.S1. Bunyi S4 dapat menjadi tanda adanya hipertensi. Gunakan tekanan yang lembut sewaktu menggunakan bagian diafragma dan tekanan yang mantap sewaktu menggunakan bagian bel. Bunyi S1 . dan epigastrium.

bentuk. 5. minta pasien untuk berbalik kesamping dan inspeksi mengenai ada tidaknya pembesaran area antara iga-iga dan panggul. Konsentrasikan pada diastole yang merupakan interval yang lebih panjang daripada sistol. 9) Inspeksi abdomen untuk gerakan pernapasan yang normal. . maka jarak kedua simpul makin menjauh. kemudian menghirup/inhalasi dan menahan napas. Pemeriksaan sistem pencernaan a. 8) Bila terjadi penegangan abdomen. dan striae serta bayangan vena dan pergerakkan abnormal. adanya splitting S1 (bunyi S1 ganda yang terjadi dalam waktu yang sangat berimpitan). bila terjadi peningkatan perenggangan abdomen. Konsentrasikan pada sistol. Anjurkan pasien bernapas secara normal. dan inflamasi dari umbilikus. perhatikan secara seksama untuk mengetahui adanya bunyi tambahan atau murmur (durasi sistol dan diastole adalah sebanding pada saat frekuensi jantung meningkat. 7) Perhatikan pula gerakan permukaan. jaringan parut. 5) Pemeriksa berdirilah pada sisi kanan pasien dan perhatikan kulit dan warna abdomen. Bila abdomen tampak menegang. bentuk perut. tanyakan kepada pasien apakah abdomen terasa lebih tegang dari biasanya. 4. pengaruh respirasi. lakukan monitoring. simetrisitas. luka. 6. Inspeksi 1) Pasien berbaring terlentang dengan kedua tangan di sisi tubuh. pola vena. 6) Perhatikan posisi. massa. lidah untuk melihat ada tidaknya kelainan.3. warna. 4) Perhatikan ada tidaknya penegangan abdomen. dengarkan bunyi S2 secara seksama untuk mengetahui apakah ada splitting S2 saat inspirasi. 2) Inspeksi cavum oris. dengarkan secara seksama untuk mengetahui adanya bunyi tambahan atau murmur S1 pada awal sistol. pembesaran atau penegangan. 3) Letakan bantal kecil dibawah lutut dan dibelakang kepala untuk melemaskan/relaksasi otot. seirama denyut nadi karotis.otot abdomen. Dengarkan bunyi S2 untuk mengetahui apakah S2 menjadi bunyi tunggal. Perhatikan intensitas. Anjurkan pasien untuk menghembuskan dan menahan napas. adanya kelainan/variasi. Buatlah simpul dikedua sisi tali/ perban untuk menandai dimana batas lingkar abdomen. ukur lingkar abdomen dengan memasang tali/ perban seputar abdomen melalui umbilikus. 5.

5 cm. 2) Pemeriksa disamping kanan dan menghadap pasien. 3) Letakkan tangan kiri pemeriksa dibawah torak/ dada kanan posterior pasien pada iga kesebelas dan keduabelas dan tekananlah kearah atas. jari-jari mengarah ke kepala / superior pasien dan ekstensikan sehingga ujung-ujung jari terletak di garis klavikular di bawah batas bawah hati. 4) Letakkan telapak tangan kanan di atas abdomen.jari ekstensi dan berhimpitan serta pertahankan sejajar permukaan abdomen. lokasi. untuk mengetahui keadaaan organ dan mendeteksi adanya massa yang kurang jelas teraba selama palpasi 6) Perhatikan karakteristik dari setiap massa pada lokasi yang dalam. 4) Palpasi dimulai perlahan dan hati-hati dari superfisial sedalam 1 cm untuk mendeteksi area nyeri. penegangan abnormal atau adanya massa. 9) Minta pasien mengangkat kepala dari meja periksa untuk melihat kontraksi otot-otot abdominal Hepar 1) Posisi pasien tidur terlentang. palpasi Abdomen 1) Posisi pasien berbaring terlentang dan pemeriksa disebelah kanannya.5 – 7. 5) Bila otot sudah lemas dapat dilakukan palpasi sedalam 2. 2) Lakukan palpasi ringan di tiap kuadran abdomen dan hindari area yang telah diketahui sebelumnya sebagai titik bermasalah. 3) Tempatkan tangan pemeriksa diatas abdomen secara datar.10) Mintalah pasien mengangkat kepalanya dan perhatikan adanya gerakan peristaltik atau denyutan aortik. b. 8) Bila ditemukan rasa nyeri. konsistensi. uji akan adanya nyeri lepas. meliputi ukuran. seperti apendisitis. tekan dalam kemudian lepas dengan cepat untuk mendeteksi apakah nyeri timbul dengan melepaskan tekanan. bentuk. nyeri. denyutan dan gerakan 7) Perhatikan wajah pasien selama palpasi untuk melihat adanya tanda/ rasa tidak nyaman. dengan jari. .

5) Tekanlah ujung jari kearah limpa kemudian minta pasien untuk menarik napas dalam.5) Kemudian tekanlah dengan lembut ke dalam dan ke atas. 7) Palpasi di bawah tepi hati pada sisi lateral dari otot rektus. 3) Letakkan telapak tangan kiri pemeriksa dibawah dada kanan posterior pasien pada iga XI dan XII dan tekananlah kearah atas. Kandung Empedu 1) Posisi pasien tidur terlentang. maka posisi pasien berbaring miring kekanan dengan kedua tungkai bawah difleksikan. 8) Pada keadaan tertentu diperlukan Schuffner test Aorta 1) Posisi pasien tidur terlentang 2) Pemeriksa disamping kanan dan menghadap pasien 3) Pergunakan ibu jari dan jari telunjuk tangan kanan. jari-jari mengarah ke kepala / superior pasien dan ekstensikan sehingga ujung-ujung jari terletak di garis klavikular di bawah batas bawah hati. 6) Mintalah pasien menarik napas dan coba meraba tepi hati saat abdomen mengempis. 2) Pemeriksa disamping kanan dan menghadap pasien. Limpa 1) Posisi pasien tidur terlentang 2) Pemeriksa disamping kanan dan menghadap pasien 3) Letakkan secara menyilang telapak tangan kiri pemeriksa di bawah pinggang kiri pasien dan tekanlah keatas. 4) Letakkan telapak tangan kanan dengan jari-jari ektensi diatas abdomen dibawah tepi kiri kostal. . 6) Minta pasien menarik napas dan cobalah meraba tepi hati saat abdomen mengempis. 8) Bila diduga ada penyakit kandung empedu. minta pasien untuk menarik napas dalam selama palpasi. 6) Palpasilah tepi limpa saat limpa bergerak ke bawah kearah tangan pemeriksa 7) Apabila dalam posisi terlentang tidak bisa diraba. 5) Kemudian tekan lembut ke dalam dan ke atas. 4) Letakkan telapak tangan kanan di atas abdomen.

Pemeriksaan dapat dilakukan dengan satu tangan maupun dua tangan (bimanual. 6) Rasakan impuls / getaran gelombang cairan dengan ujung jari tangan yang satunya atau bisa juga menggunakan sisi ulnar dari tangan untuk merasakan getaran gelombang cairan. lithotomi. 2) Pemeriksa disamping kanan dan menghadap pasien. maupun knee-chest. Pemeriksaan ini dapat dilakukan pada pasien dalam posisi miring (symposisi). Oleh karena itu colok dubur dilakukan serileks mungkin menggunakan lubrikasi. satu tangannya di atas pelvis). Sebaiknya penderita kencing terlebih dahulu. hipoaktif. Bila mungkin diperlukan 5 menit terus menerus untuk mendengar sebelum pemeriksaan menentukan tidak adanya bising usus. 4) Minta pasien atau asisten untuk menekan perut pasien dengan sisi ulnar tangan dan lengan atas tepat disepanjang garis tengah dengan arah vertikal. c. 3) Letakkan kepala stetoskop sisi diafragma di daerah kuadran kiri bawah. 4) Dengarkan bising usus apakah normal. Berikan tekanan ringan. 5) Letakkan tangan pemeriksa dikedua sisi abdomen dan ketuklah dengan tajam salah satu sisi dengan ujung. jam 6 ke arah sacrum dan jam 12 ke arah pubis. hiperaktif. minta pasien agar tidak berbicara. mudah kontraksi. Pemeriksaan Asites 1) Posisi pasien tidur terlentang. Pada posisi lithotomi diagnosis letak kelainan menggunakan posisi jam yakni jam 3 sebelah kanan.ujung jari pemeriksa. 3) Prosedur ini memerlukan tiga tangan. jam 9 sebelah kiri. Auskultasi 1) Pasien berbaring terlentang dengan tangan dikedua sisi. . tidak ada bising usus dan perhatikan frekwensi/karakternya. Colok dubur perlu hati-hati karena sifat anus yang sensitif. 2) Letakan bantal kecil dibawah lutut dan dibelakang kepala.4) Palpasilah dengan perlahan namun dalam ke arah abdomen bagian atas tepat garis tengah. Colok Dubur Pemeriksaan abdomen dapat diakhiri dengan colok dubur (sifatnya kurang menyenangkan sehingga ditaruh paling akhir).

geser perlahan keatas. Abdomen Lakukan perkusi di empat kuadran dan perhatikan suara yang timbul pada saat melakukannya dan bedakan batas-batas dari organ dibawah kulit. tandai batas bawah hati tersebut. 3) Ukur jarak antara subcostae kanan kebatas bawah hati. ginjal. pankreas. 4) Gelembung udara lambung bila di perkusi akan berbunyi timpani . untuk mendengarkan bunyi desiran dibagian epigastrik dan pada tiap kuadran diatas arteri aortik. Organ berongga seperti lambung. femoral dan aorta torakal. limfa. d. 2) Pemeriksa disamping kanan dan menghadap pasien. lanjutkan pemeriksaan dengan sistematis dan dengarkan tiap kuadran abdomen. Pada orang kurus mungkin dapat terlihat gerakan peristaltik usus atau denyutan aorta. Perkusi. sampai terjadi perubahan suara dari timpani menjadi pekak. 6) Jarak batas atas dengan bawah hati berkisar 6 – 12 cm dan pergerakan bagian bawah hati pada waktu bernapas yaitu berkisar 2 – 3 cm. 2) Lakukan perkusi pada garis midklavikular kanan setinggi umbilikus. Perkusi Batas Hati 1) Posisi pasien tidur terlentang dan pemeriksa berdirilah disisi kanan pasien. ginjal.5) Bila bising usus tidak mudah terdengar. sedangkan bunyi pekak terdapat pada hati. kandung kemih berbunyi timpani. 6) Kemudian gunakan sisi bel stetoskop. usus. 4) Batas hati bagian bawah berada ditepi batas bawah tulang iga kanan. 5) Batas hati bagian atas terletak antara celah tulang iga ke 5 sampai ke celah tulang iga ke 7. 3) Lakukan perkusi pada tulang iga bagian bawah anterior dan bagian epigastrium kiri. iliaka. Perkusi Lambung 1) Posisi pasien tidur terlentang.

Gunakan sarung tangan jika ada secret di tepi kelopak mata. inspeksi posisi dan warna kelopak mata. Pemeriksaan mata Tujuan  Mengetahui bentuk dan fungsi mata  Mengetahui adanya kelainan pada mata Persiapan alat      Senter kecil Surat kabar/ majalah Kartu snellen Penutup mata Sarun tangan (jika perlu) Prosedur pelaksaan Inspeksi Kelopak mata 1. 6. 4. Anjurkan klien memejamkan matanya. Anjurkan klien melihat lurus ke depan. Amati warna sclera melihat reaksi berkedip. 3. minta klien untuk membuka mata. 4. 2. 2. Tari kelopak mata bagian bawah dengan menggunakan ibu jari. Jika di perlukan. 3. amati konjungtiva bagian atas. 5. Perhatikan frekuensi reflex berkedip mata. Bandingkan mata kiri dan kanan. . catat jika terdapat inspeksi. Amati pertumbuhan rambut pada kelopak mata dan posisi bulu mata. Amati ke adaan konjungtiva dan kantuing konjungtiva bagian bawah. Untuk ispeksi kelopak mata bawah. serta pada pinggir kelopak mata dan catat setiap kelainan yang ada. yaitu dengan membuka atau membalik kelopak mata atas dengan posisi pemeriksaan berdiri di belakang klien. 6. Anjurkan klien untuk melihat lurus ke depan. Pemeriksaan sistem pengindraan a. Konjungtiva dan sclera 1.6. Amati bentuk dan keadaan kulit pada kelopak mata. pus atau warnanya tidak normal/ anemis 5.

2. 4. keselarasan pupil. 2. Lakukan uji sensitivitas kornea. diagonal ke atas dank e bawah kanan. inspeksi kejernihan dan tekstur korea. yaitu atas dan bawah kiri. Pupil dan iris 1. 6.  Amati perubahan pupil dan akomodasi melalui konsriksi saat melihat objek yang dekat Pergerakan bola mata 1. lalu dengan cahaya tidak langsung.jika bdi temukan nistagmus Amati apakah kedua mata memengang lurus kepan atau salah satu deviasi. 7. dan reaksi terhadap cahaya.  Amati mengecilnya pupil yang sedang di sinari  Lakukan pada pupil yang lain. Uji refleks pupil terhadap cahaya:  Sinari pupil klien dengan senter dari samping. Anjurkan klien untuk melihat lurus ke depan Amati kedua bola mata apakah diam atau nistagmus (pergerakan secara sdpontan) Amati bentuk. Luruskan jari telunjuk dan dekatkan pada klien dengan jarak 15-30 cm Instksikan klien agar mengikuti gerakan jari pemeriksa ke 8 arah tetapan utama. Periksa refleks akomodasi:  Anjurkan klien untuk menatap suatu objek yang jatuh (dinding yang jauh)  Anjurkan klien untuk menatap objek pemeriksa (jari/pensil) yang di pegang 10 cm dari batang hidung klien. dengan menyentuhkan gulungan kapas steril. 4. 2. 3. bentuk. 3. frekuensi (cepat/lambat). amplitude (luas/sempit) bola mata.Kornea 1. untuk melihat reaksi berkedip. Atur percahayaan kamar menjadi sedikit redup Pegang kepala dan dagu klien agar tidak bergerak-gerak Ispeksi ukuran. Berdiri di sisi klien. 5. Pemeriksa berdiri di deapn klien kira-kira 60 cm . Jaga jari agar tetap dalam lapang pandang penglihatan normal. 5. Medan penglihatan 1.

3. 2. 5. lanjutkan pemeriksaan ke tahap II Pengkajian tahap II 1. Siapkan kartu Ichihara . 6. Anjurkan klien yang berkacamata untuk memakai kacamatanya. Pemeriksaan ketajaman penglihatan Pengkajian tahap I 1. 3. Perhatikan jarak naskah yang di pegang klien dengan matanya. 2. 7. Lakukan pemeriksaan pada mata sebelah kiri dengan menutup mata kanan Penglihatan warana 1. 4. 6. 6. Jika klien mengalami kesulitan membaca. Tutup mata yang tidak di periksa (pemeriksa ataupun klien) Instruksikan klien untuk melihat lurus ke depan dan memfokuskan pada satu titik pandang. 5. Siapkan kartu snellen/kartu E untuk klien dewasa atau kartu gambar untuk anak-anak. Minta klien untuk membaca surat kabar/ majalah/ buku. Gerakan jari pada jarak yang sebanding dengan panjang lengan di luar lapan penglihatan. Jaga jari agar selalu tetap di tengah antara pemeriksa dan klien Kaji mata sebelahnya. Atur penerangan ruangan yang cukup sehingga kartu dapat terbaca dengan jelas 4. Insruksikan klien untuk menutup mata kiri 5. Minta klien untuk membaca dengan keras untuk memastikan bahwa klien tidak buta huruf. 3. 4. Periksa mata kanan dengan menyuruh klien untuk menbaca mulai huruf yang paling kecil dan catat huruf terakhir yang masih bisa terbaca oleh klien. Atur tempat duduk klien dengan jarak 5-6 meter dari kartu tersebut. Perlahan tarik jari pemeriksa mendekat. Pastikan cahaya ruangan cukup terang. Minta klien untuk memberi tahu pemeriksa jika ia melihat jari pemeriksa.2.

Persiapan alat  Arloji berjarum detil  Garpu tala  Spekulum telinga  Lampu kepala Prosedur pelaksanaan Inspeksi dan palpasi telinga luar 1. 3. ukuran. gendang telinga. b. 4. bentuk. Anjurkan klien untuk memejamkan mata 2.2. jika memungjinkan Posisi pemeriksaan menghadap ke sisi telinga yang di kaji Atur pencahayaan dengan menggunakan auroskop. dan fungsi pendengaran. Lakukan palpasi dengan memegang telinga menggunakan jari telunjuk dan jempol. Instruksikan klien untuk menyebutkan gambar atau angka yang ada pada kartu tersebut Palpasi mata 1. Bantu klien dalam posisi duduk. Dengan menekan-nekan bola mata. Instruksikan klien untuk menutup kelopak mata 2. 2. Pastikan ruangan cukup terang 3. adanya lesi/massa dan kesimetrisan. Bandingkan dengan hasil normal. Inspeksi telinga luar terhadap posisi. Auskultasi 1. periksa nilai konsistennya dan (adanya) nyeri tekan. warna. Perhatikan adanya bising. Pemeriksaan telinga Tujuan Mengetahui keadaan telinga luar. Palpasi kedua mata dengan jari telunjuk di atas kelopak mata sisi kiri dan sisi kanan 3. Letakkan bagian diafragma stetoskop pada kelopak mata. lampu kepala. . hygiene. 3. atau sumber cahaya lain sehingga tangan pemerisaan bebas bekerja. saluaran telinga. 5.

Bandingkan telinga kiri dan telinga kanan. 2. atau kotoran/serumen pada lubang telinga Pemeriksaan pendengaran Menggunakan bisikan 1. 5. 10. pegang daun telinga/heliks dan perlahan-lahan tarik ke daun telinga ke atas dank e belakan sehingga lurus dan menjadi mudah diamati  Pada anak-anak. Atur posisi klien berdiri membelakangi pemeriksaan pada jarak 4-6 m. Minta klien untuk memberi tahu pemeriksaan jika ia mendengar detak arloji. Inspeksi lubang pendengaran eksternal dengan cara berikut:  Pada orang dewasa. Periksa adanya peradangan. missal “tujuh enam” 4. Menggunakan garpu tala Pemeriksaan Rinne 1. . Pindahkan posisi arloji perlahan-lahan menjauhi telinga dan minta klien untuk member tahu pemeriksaan jika ia tidak mendengar sampai jarak 30 cm dari telinga.6. 9. Minta klien untuk mengulangi bilangan yang di dengar. tarik daun telinga ke bawah. 4. 3. Ciptakan suasana ruangan yang tenang. Instruksikan klien untuk menutup salah satu telinga yang tidak di periksa. Menggunakan arloji 1. Pegang garpu tala pada tangkainya dan pukulkan ke telapak atau buku jari tangan yang berlawanan. yaitu dari jaringan lunak ke jaringan keras dan catat jika ada nyeri. Pegang arloji dan dekatkan ke telinga klien 3. Palpasi kartilago telinga luar secara sistematis. 2. Periksa telinga lainnya dengan cara yang sama. Bisikan suatu bilangan. perdarahan. Lakukan penekanan pada area tragus ke dalam dan tulang telinga di bawah daun telinga. 7. 8.

3. Catat hasil pemeriksaan pendengaran tersebut c. darah. 5) Oserpasi pengeluaran dan pelebaran lubang hidung. Pemeriksaan hidung Tujuannya 1. Pengang garpu tala pada tangkainya dan pukulkan ke telapak atau buku jari tangan yang berlawanan. Letakkan tangkai garpu tala pada prosesus mastoideus klien 3. Angka garpu tala dan dengan cepat tempatkan di depan lubang telinga klien 1-2 cm dengan posisi garpu tala parallel terhadap lubung telinga luar klien. Letakkan tangkai garpu tala ditengah puncak kepala klien. Mengetahui fungsi dan bentuk hidung 2. Jika terdapat secret. 3. dll. Spekulum hidung Senter kecil Lampu penerang Sarung tangan bila di perlukan Prosedur pelaksanaan a. 2) Amati bentuk dan tulang hidung dari sisi depan samping dan atas. 2. Inpeksi dan palpasi hudung bagian luar 1) Pemeriksa duduk berhadapan dengan klien dan atur penerangan . 4. jelaskan karakteristik jumlah dan warnanya . Pemeriksaan Weber 1. Tanyakan pada klien apakah bunyi terdengar sama jelas pada kedua telinga atau lebih jelas pada salah satu telinga.2. 4) Adanya kesimetrisan lubang hidung. 4. Menentukan kesimetrisan struktur dan adanya implamasi atau infeksi Persiapan alat 1. Anjurkan klien untuk memberi tahu pemeriksaan jika ia tidak merasakan getaran lagi. 3) Amati keadaan kulit hidung terhadap warna dan adanya pembengkakan. 4. Catat hasil pemeriksaan pendengaran tersebut. 5. 2. 5.

5. Senter kecil. botol berisi air dengan. 4. lalu gerakkan jari dari batang ke ujung hidung. 7. 6.sekresi. Persiapan alat 1. 9. 8) Kaji mobilitas sektum hidung b. Prosedur pelaksanaan Pengkajian .bengkak) . fungsi motorik. Koin atau klip kertas. Refleks hammer. Botol kecil-kecil berisi zat beraroma. dan refleks.6) Lakukan palpasi lembut pada batang dan jaringan lunak terhadap nyeri dan massa. Botol berisi air panas. 3) Amati posisi sektum hidung 4) Pasang ujung spekulum hidung sehingga rongga hidung dapat di amati. 8. Inpeksi hidung bagian dalam 1) pasang lampu kepala secara ade kuat meneragi lubang hidung. 7. 3. fungsi sensorik. 6) Lepas spekulum secara perlahan. 5) Amati kartilago dan dinding rongga hidung serta selaput lender (warna. 7) Letakkan jari pada masing-masing sisi arkus nasal dan palpasi dengan lembut. Bahan bacaan. Pemeriksaan sistem persyarafan Tujuan Mengetahui integritas system pernapasan yang meliputi fungsi saraf cranial. 2) Tekang hidung secara lembut untuk mengepaluasi ujung hidung dan bagian anterior lubang hidung. 2. Pembersihan berujung kapas. Sudip lidah. Jarum.

 Genakan sudip lidah untuk menimbulkan refleks gag. Vagus (sensasi faring. kontradiksi-dilatasi pupil) Kaji arah pandangan. penggerak otot rahang)  Sentuhan ringan kornea dengan usapan kapas untuk menguji refleks kornea. Troklear (gerak bola mata ke atas ke bawah) Kaji arah tatapan 5. mengertikan kesimetrisannya. atau manis pada bagian belakang belakang lidah. 2. 4.  Kaji kemampuan klien untuk mengatukan gigi saat memalpasi otot-otot meseter dan temporal.  Ukuran sensasi dari sentuhan ringan dan nyeri menyilang pada kulit wajah. Glosofaringeal (pengecapan. mengencangkan wajah. 11. Olfaktorius (penciuman) Minta klien untuk mengidentifikasi aroma-aroma bukan pengiritasi.  Minta klien mengidentifikasi rasa asin atau manis di lidah bagian depan. seperti kopi dan vanilla.Saraf kranial 1. asin. 7. Abdusen (gerakan bola mata menyamping) Kaji arah tatapan. Trigeminal (sensoris kulit wajah. observasi gerakan palatum dan faringeal. menaikkan dan menurunkan alis mata. Okulomotor (gerakan ekstraokular mata. 6. 10. gerakan pita suara)  Minta klien bersuara “ah”. 9. gerak lidah)  Minta klien untuk mengedintifikasi rasa asam.  Periksa keras bicara klien.  Gunakan sudip lidah untuk menimbulkan refleks gag. ukur reaksi pupil terhadap pantulan cahaya dan akomodasinya. Optik (penglihatan) Minta klien untuk membaca bahan bacaan cetak saat klien sedang mengenakan kacamata. Auditori (pendengaran) Pemeriksaan kemampuan klien untuk mendengar kata-kata yang dibicarakan.  Minta klien untuk menggerakkan lidahnya. Aksesoris (gerakan kepala dan bahu) . Fasial (ekspresi fasial dan pengecapan)  Meminta klien tersenyum. 8. kemampuan menelan. megembungkan pipi. 3.

Minta klien untuk mengeluarkan bahu dan memalingkan kepala ke sisi yang tahan pemeriksa secara pasif.  Pukul ibu jari anda dengan refleks hammer. Saraf sensorik 1. tunggu dua detik di antara dua perangsangan. Berikan rangsangan dengan urutan yang acak dan tidak dapat diperkirakan untuk menjaga perhatian klien.  Letakkan ibu jari anda di fosa antekubital di dasar tendon biseps dan jarijari lain anda di atas tendon biseps. perhatikan area-area yang dirasakan baal atau terjadi peningkatan kepekatan. 12.  Stereognosis: berikan klien memgang objek (koin atau klip kertas) waktu beberapa detik untuk engidentifikasi objek/benda tersebut. 2. minta klien untuk mengidentifikasi sensasi tersebut dan letak sensasi tersebut terasa.  Suhu: sentuhkan kulit klien dengan botol berisis air panas atau air dingin. 2. Minta klien untuk menutup mata. dan pergelangan tangan. secara bergantian tekankan ujung atau tumpul jarum ke permukaan kulit. Refleks triseps  Letakkan lengan penderita di atas lengan pemeriksa. Refleks Refleks tendo dalam 1. 3. siku.  Vibrasi: tempelkan batang dari garpu tala yang bergetar ke area sendi interfalangeal distal jari-jari tangan. Jika ditemukan defisit. ibu jari kaki. Refleks biseps  Fleksikan lengan klien pada bagian siku sampai 45 º dengan telapak tangan menghadap ke bawah. Hipoglosal (posisi lidah) Minta klien mengeluarkan lidah kea rah garis tengah dan menggerakkannya dari satu sisi ke sisi yang lainnya.  Nyeri superfisial: minta untuk mengatakan kepada anda kapan saatnya sensasi tumpul dan tajam terasa. tandai area tersebut dengan seksama untuk mengukur luasnya gangguan yang terjadi. . Minta klien untuk mengatakannya kepada anda apakah jari kakinya sedang naik atau turun.

 Minta klien untuk merilekskan lengan bawah. Abdominal .  Atau minta klien berbaring terlentang dan sokong lutut dalam posisi fleksi 90º. Refleks Achilles  Minta klien untuk mempertahankan posisi. 3. Refleks brakioradialis  Letakkan lengan bawah penderita di atas lengan bawah pemeriksa. tangan yang lain memukulkan refleks hammer pada tendo patella.  Tangan kiri pemeriksa memegang pergelangan kaki pasien agar kaki tetap pada tempatnya.  Raba triseps untuk memastikan bahwa otot tidak tegang.  Minta klien untuk merilekskakn lengan bawahnya. 5.  Lakukan penggirosen telapak kaki bagian lateral dari posterior ke anterior.  Rangsang ringan area perineal dengan sebuah pembersih kapas. sfingter ani akan berkontraksi.  Respon positif apabila terdapat gerakan dorsofleksi ibu jari dan pengembangan jari kaki lainnya. 6. Refleks plantar (Babinski)  Pasien diposisikan berbaring supinasi dengan dengan ke dua kaki diluruskan.  Normalnya. Gluteal  Minta klien melakukan posisi berbaring miring dan buka pantai klien.  Satu tangan meraba tangan penderita bagian distal.  Pukul tendo triseps yang lewat fosa olekrani dengan refleks hammer. Refleks kutaneus 1. Tempatkan lengan bawah penderita dalam posisi antara fleksi dan ekstensi. Refleks patella  Minta klien duduk dengan tungkai bergantung di tempat tidur atau kursi. 4. 2.  Tempatkan lengan bawah klien dalam posisi antara fleksi dan estensi serta posisi sedikit pronasi.  Pukul tendo brakialis pada radius bagian distal dengan menggunakan ujung datar refleks hammer.  Raba daerah tendo patella. seperti pada pengujian patella.

bandingkan kekuatan otot ekstremitas kanan dengan ekstremitas kiri. Amati adanya otot dan tendo untuk mengetahui kemungkinan kontruktur yang ditunjukkan oleh malposisi suatu bagian tubuh. skrotum akan naik pada daerah yang dirangsang   8. Tekan kulit abdominal dengan dasar pembersih berujung kapas di atas batas lateral otot-otot rektus abdominal ke arah garis tengah.Minta klien berdiri atau berbaring telentang. 6. kekuatan atau adanya gangguan pada bagianbagian tertentu. . 2. Pemeriksaan sistem musculoskeletal Tujuan. 4. Inspeksi ukuran otot.   Memperoleh data dasar tentang otot. Amati kekuatan suatu bagian tubuh dengan cara member penahanan secara resisten. Mengetahui adanya mobilitas. tulang. 3. Persiapan alat Meteran Prosedur pelaksanaan Otot 1.  Ulangi pengujian ini pada masing-masing kuadran abdominal 3. bandingkan satu sisi dengan sisi yang lain dan amati adanya atrofi atau hipertrofi. Kremasterik  Tekan bagian paha atas dalam dari klien pria dengan pembersih berujung kapas  Normalnya. Lakukan palpasi pada saat otot istrahat dan pada saat otot bergerak secara aktif dan pasif untuk mengetahui adanya kelemahan (flasiditas). Uji kekuatan otot dengan cara menyuruh klien menarik atau mendorong tangan pemeriksa. dan persendian. ukur keduanya dengan menggunakan meteran. Jika didapatkan perbedaan antara kedua sisi. kontraksi tiba-tiba secara involunter (spastisitas) 5.

2. nodul. bengkak. nyeri tekan ga). silikon kateter atau urostomy atau supra pubik kateter. Tangan kanan diletakkan dengan lembut pada kuadran kanan atas di lateral otot rectus. Amati keadaan tulang untuk mengetahui adanya pembengkakan. output/jumlah urine 24 jam. Persendian 1. 4. Pasien diminta membuang nafas dan berhenti napas. kekeruhan dan ada/tidaknya sedimen. Kaji rentang gerak persendian (Range of Motion. paralel pada costa ke-12. 2) Kaji keluhan gangguan frekuensi BAK. Tangan kiri diletakkan dengan lembut pada kuadran kiri atas . warna.Tulang 1. b. 3. adanya dysuria dan hematuria. dll. Pemeriksaan sistem perkemihan a. Catatan hasil pemeriksaan. Tangan kiri diletakkan di belakang penderita. 3. ujung cari menyentuh sudut costovertebral (angkat untuk mendorong ginjal ke depan). 4) Kaji kembali riwayat pengobatan dan pengkajian diagnostik yang terkait dengan sistem perkemihan. Palpasi persendian untuk mengetahui adanya nyeri tekan. ROM). 3) Inspeksi penggunaan condom catheter. folleys catheter. Inspeksi persendian untuk mengetahui adanya kelainan persendian. pada puncak inspirasi tekan tangan kanan dalam-dalam di bawah arcus aorta untuk menangkap ginjal di antar kedua tangan (tentukan ukuran. 3) Dilanjutkan dengan palpasi Ginjal Kiri : Pindah di sebelah kiri penderita. Amati kenormalan susunan tulang dan adanya deformitas. 9. 2. Tangan kanan untuk menyangga dan mengangkat dari belakan. Palpasi 1) Palpasi adanya distesi bladder (kandung kemih) 2) Untuk melakukan palpasi Ginjal Kanan: Posisi di sebelah kanan pasien. serta riwayat infeksi saluran kemih. minta pasien menarik nafas dalam. lepaskan tangan kanan. gerakan. Inspeksi 1) Kaji kebiasaan pola BAK. dan rasakan bagaimana ginjal kembali waktu ekspirasi. Palpasi untuk mengetahui adanya edema atau nyeri tekan.

integritas. Palpasi 1) Adanya nyeri. Inspeksi 1) Kaji integritas kulit warna flushing. bekas operasi/skar. jaundice. Pemeriksaan sistem integumen a. 2) Kaji membrane mukosa. kulit 3) Kaji bentuk. c. bentuk. drain. edema. Pemeriksaan sistem reproduksi a. Perkusi Untuk pemeriksaan ketok ginjal prosedur tambahannya dengan mempersilahkan penderita untuk duduk menghadap ke salah satu sisi. pigmentasi yang tidak teratur. dan penurunan suhu. Prosedur pengkajian fisik genitalia pria Inspeksi . turgor. Satu tangan diletakkan pada sudut kostovertebra kanan setinggi vertebra torakalis 12 dan lumbal 1 dan memukul dengan sisi ulnar dengan kepalan tangan (ginjal kiri). warna kuku. dekubitus. Penderita diminta untuk memberiksan respons terhadap pemeriksaan bila ada rasa sakit. 4) Kaji adanya luka. 11. Satu tangan diletakkan pada sudut kostovertebra kanan setinggi vertebra torakalis 12 dan lumbal 1 dan memukul dengan sisi ulnar dengan kepalan tangan (ginjal kanan). dan keadaan umum. 10.di lateral otot rectus. dan pemeriksa berdiri di belakang penderita. b. 3) Turgor kulit. 5) Palpasi Capillary refill time : warna kembali normal setelah 3 – 5 detik. mobilisasi. normal < 3 detik 4) Area edema dipalpasi untuk menentukan konsistensi. pada puncak inspirasi tekan tangan kiri dalam-dalam di bawah arcus aorta untuk menangkap ginjal di antar kedua tangan (normalnya jarang teraba). temperatur. minta pasien menarik nafas dalam. cyanosis. 2) Tekstur kulit.

Saluran sperma berada di bagian atas lateral skrotum dan terasa keras. 5) Palpasi area inguinal dan femoral untuk mengetahui adanya hernia dengan cara sebagai berikut: a) Gunakan tangan kanan perawat untuk sisi kanan klien dan tangan kiri perawat untuk sisi kiri klien b) Masukkan jari telunjuk perawat ke dalam kulit skrotu yang longgar dan pada cincin inguinalis eksternal c) Anjurkan klien unuk mengedan atau batuk. b. amati lubang uretra dalam gland penis. bentuk. Epididimis berad diatas testis dan meluas ke belakang. Secara normal lubang uretra berada di tengah gland. 3) Palpasi epididimis antara ibu jari dan jari telunjuk. keadaan kulit penis serta kelainan yang tampak pada penis dan sekitarnya 2) Pegang pens dan buka kulup penis (pada pria yang tidak disunat). lakukan palpasi paha anterior pada area saluran femoral e) Anjurkan klien untuk batuk f) Catat adanya pembengkakan atau nyeri tekan pada area saluran femoral. nodula. Palpasi 1) Lakukan palpasi penis untuk mengetahui adanya nyeri tekan.1) Inspeksi penyebaran rambut pubis. d) Sementara untuk mengetahui hernia femoral. Amati adanya kelainan pada lubang penis (seperti skar. sering kali hernia akan kembali ke perut. bengakak ulkus. tonjolan yang akan dipalpasi akan muncul di area ini. g) Anjurkan klien untuk berbaring. Bila ada hernia inguinalis. 2) Lakukan palpasi skrotum dan testis dengan menggunakan ibu jari dan dua jari pertama perawat pada setiap testis untuk mengetahui ukuran. maupun adanya massa. 4) Palpasi saluran sperma. peradangan. ataupun cairan yang keluar. konsistensi. Prosedur pemeriksaan fisik genitalia wanita Langkah pengkajian adalah sebagai berikut: . 3) Inspeksi skrotum (hingga ke belakang area skrotum) dan amati adanya kelainan seperti kemerahan. dan keluaran) dan gland penis.

luka. serta setiap suara paru yang abnormal seperti mengi. Suhu tubuh pasien dicatat dan observasi dilakukan untuk mengamati gejala menggigil dan perspirasi. d. purpura atau pendarahan subkutan. konsistensi dan keluhan nyeri tekan saat palpasi harus dicatat. takikardia. krepitasi. f. dan ronkhi. ukuran. dan vomitus serta diare.1) Anjurkan klien untuk mengosongkan kandung kemih sebelum dilakukan pemeriksaan fisik 2) Atur pasien dalam posisi litotomi dan selimuti bagian yang tidak diperiksa atau di kaji 3) Awali dengan mengamati rambut pubis. Pemeriksaan sistem imunologi a. Status gasterointestinal pasien dinilai dengan mengecek kemungkinan hepatosplenomegali. b. Buka labia mayora dan amati bagian dalam labia mayora. dan anemia. g. Perhatikan adanya pembengkakan. maka lokasi. ataupun pengeluaran sekret. c. Pada pemeriksaan jasmani. dan uretra. kondisi kulit dan membran mukosa pasien harus dinilai untuk menentukan lesi. Pasien juga dikaji untuk memnemukan rinitas. Status respiratorius pasien dievaluasi dengan memantau frekuensi pernapasan dan menilai adanya gejala batuk baik batuk kering maupun batuk produktif. Status kardiovaskuler dievaluasi dengan memeriksa kemungkinan hipotensi. dermatitis. hiperventilasi dan bronkospasme. hematuria. labia minora. dan keluaran. jika kelenjar limfe atau nodus limfatikus teraba. 12. kolitis. leukoplakia dan eksoria. perhatikan apakah ada lesi. aritma. h. urtikaria. inflamasi. e. perhatikan distribusi dan sesuaikan dengan kondisi dengan usia perkmbangan klien 4) Amati kulit dan area pubis. ulkus. Pemeriksaan sendi-sendi dilakukan untuk menilai nyeri tekanan serta pembengkakan dan keterbatasan kisaran gerak. . klitoris. Status urogenital dinilai dengan mengamati tanda-tanda infeksi saluran kemih dalam hal ini sering kencing atau ras aterbakar saat buang air kecil. vaskulitis. dan pengeluaran sekret dari uretra. Kelenjar limfe servikal anterior serta posterior. aksilaris dan inguinalis harus dipalpasi untuk menemukan pembesaran.

i. Status nutrisi pasien. gangguan pendengaran. tingkat stres dan kemampuan untuk mengatasi masalah juga harus dinilai bersama dengan usianya dan setiap keterbatasan fungsional seperti keadaan mudah lelah serta ketahanan tubuh. Pemeriksaan pasien juga dilakukan dengan menilai perubahan pada status neurosensorik yaitu gangguan fungsi kognitif. sakit kepala serta migran. perubahan visual. j. ataksia. dan tetani. .

Jakarta: EGC Priharjo.Eni. Keterampilan dan prosedur laboratorium keperawatan dasar. Suddart & Brunner. 2006. Kusyati.DAFTAR PUSTAKA Idris.2. Makassar: CV. . Jakarta: EGC. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Vol. -----------------------. Berkah Utami. Edisi 8. 2001. Wahbah. Jakarta: EGC. Pengkajian Fisik Keperawatan.2. 2006. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Vol. 2001. Edisi 2. Kebutuhan Dasar Manusia. 2007. Jakarta: EGC. Edisi 8. Robert.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->