Pemeriksaan Darah Samar Benzidine Test

I.

Tujuan Untuk mengetahui adanya perdarahan kecil yang tidak dapat dinyatakan secara makroskopik atau mikroskopik.

II.

Metode Metode yang digunakan adalah metode benzidine test.

III.

Prinsip Hemoglobin yang bersifat sebagai peroksidase akan menceraikan hidrogen peroksida menjadi air dan 0 nascens (On). On akan mengoksidasi zat warna tertentu yang menimbulkan perubahan warna.

IV.

Dasar Teori Dalam keadaan normal dua pertiga tinja terdiri dari air dan sisa makanan, zat hasil sekresi saluran pencernaan, epitel usus,bakteri apatogen, asam lemak, urobilin, gas indol, skatol dan sterkobilinogen. Pada keadaan patologik seperti diare didapatkan peningkatan sisa makanan dalam tinja, karena makanan melewati saluran pencernaan dengan cepat dan tidak dapat diabsorpsi secara sempurna. Bahan pemeriksaan tinja sebaiknya berasal dari defekasi spontan, jika pemeriksaan sangat diperlukan contoh tinja dapat diambil dengan jari bersarung dari rektum. Untuk pemeriksaan rutin dipakai tinja sewaktu dan sebaiknya tinja diperiksa dalam keadaan segar karena bila dibiarkan mungkin sekali unsur unsur dalam tinja menjadi rusak. Pemeriksaan tinja terdiri atas pemeriksaan makroskopik, mikroskopik dan kimia. Pemeriksaan makroskopik tinja meliputi pemeriksaan jumlah, warna, bau, darah, lendir dan parasit. Dalam keadaan normal jumlah tinja berkisar antara 100250gram per hari. Tinja normal mempunyai konsistensi agak lunak dan bebentuk. Pada diare konsistensi menjadi sangat lunak atau cair, sedangkan sebaliknya tinja

Alat 1. Protozoa biasanya didapati dalam bentuk kista. Eritrosit hanya terlihat bila terdapat lesi dalam kolon. Strongyloides stercoralis dan sebagainya. Dalam keadaan normal dapat ditemukan beberapa sel epitel yaitu yang berasal dari dinding usus bagian distal. sel epitel. Dari semua pemeriksaan ini yang terpenting adalah pemeriksaan terhadap protozoa dan telur cacing. Tinja normal kuning coklat dan warna ini dapat berubah mejadi lebih tua dengan terbentuknya urobilin lebih banyak. On akan mengoksidasi zat warna tertentu yang menimbulkan perubahan warna.yang keras atau skibala didapatkan pada konstipasi. Pemeriksaan mikroskopik meliputi pemeriksaan protozoa. Prinsip pemeriksaan ini hemoglobin yang bersifat sebagai peroksidase akan menceraikan hidrogen peroksida menjadi air dan 0 nascens (On). Indol. leukosit. Pengaduk . bila konsistensi tinja cair baru didapatkan bentuk trofozoit. rektum atau anus. Necator americanus. eritosit. skatol dan asam butirat menyebabkan bau normal pada tinja. Dalam tinja normal mungkin terlihat kristal tripel fosfat. Enterobius vermicularis. Objek glass 2. Pemeriksaan kimia tinja yang terpenting adalah pemeriksaan terhadap darah samar. Adanya darah dalam tinja selalau abnormal. kristal dan sisa makanan. V. Pemeriksaan darah samar dalam tinja dapat dilakukan dengan menggunakan tablet reagens. Trichuris trichiura. Tes terhadap darah samar untukmengetahui adanya perdarahan kecil yang tidak dapat dinyatakan secara makroskopik atau mikroskopik. telur cacing. Dalam keadaan normal dapat terlihat beberapa leukosit dalam seluruh sediaan. Bau busuk didapatkan jika dalam usus terjadi pembusukan protein yang tidak dicerna dan dirombak oleh kuman. Telur cacing yang mungkin didapat yaitu Ascaris lumbricoides. Pipet tetes 3. kalsium oksalat dan asam lemak.

Bahan 1. Ditambahkan sedikit bubuk benzidine. 3. 2. Disiapkan alat dan bahan yang diperlukan. Sampel feses 2. H2O2 4. Interpretasi Hasil : Hijau Hijau kebiruan Biru Biru pekat =+ = ++ = +++ = ++++ B. Sampel 1 nama : Ni Wayan Ratna umur : jenis kelamin : Perempuan Hasil : warna hijau kebiruan = ++ . Sampel feses ditetesi secukupnya pada objek glass. VIII. Ditambahkan 2 tetes H2O2. Bubuk benzidine 3. 4. 5. Ditambahkan 2 tetes asam cuka dan dicampur homogen. Cara Kerja 1. Hasil Pengamatan A. dan dicampur homogen. Asam asetat VII. dicampur homogen dan diamati perubahan warnanya.VI.

C. Pemeriksaan tinja terdiri atas pemeriksaan makroskopik. darah. Untuk pemeriksaan rutin dipakai tinja sewaktu dan sebaiknya tinja diperiksa dalam keadaan segar karena bila dibiarkan mungkin sekali unsur unsur dalam tinja menjadi rusak. Pada diare konsistensi menjadi sangat lunak atau cair. Bau busuk didapatkan jika dalam usus terjadi pembusukan protein yang tidak dicerna dan dirombak oleh kuman. gas indol. urobilin. Dalam keadaan normal jumlah tinja berkisar antara 100-250gram per hari. Tinja normal mempunyai konsistensi agak lunak dan bebentuk. Bahan pemeriksaan tinja sebaiknya berasal dari defekasi spontan. epitel usus. mikroskopik dan kimia. Pada keadaan patologik seperti diare didapatkan peningkatan sisa makanan dalam tinja. Pemeriksaan makroskopik tinja meliputi pemeriksaan jumlah. Pembahasan Dalam keadaan normal dua pertiga tinja terdiri dari air dan sisa makanan. skatol dan asam butirat menyebabkan bau normal pada tinja. . lendir dan parasit. zat hasil sekresi saluran pencernaan. warna. Sampel 2 Nama : Gusti Ngurah Agung Arta Yasa Umur : Jenis kelamin : Laki-laki Hasil : warna hijau kebiruan = ++ IX. karena makanan melewati saluran pencernaan dengan cepat dan tidak dapat diabsorpsi secara sempurna.bakteri apatogen. jika pemeriksaan sangat diperlukan contoh tinja dapat diambil dengan jari bersarung dari rektum. asam lemak. bau. Indol. Tinja normal kuning coklat dan warna ini dapat berubah mejadi lebih tua dengan terbentuknya urobilin lebih banyak. sedangkan sebaliknya tinja yang keras atau skibala didapatkan pada konstipasi. skatol dan sterkobilinogen.

Necator americanus.Pemeriksaan mikroskopik meliputi pemeriksaan protozoa. Elisabeth J.Jakarta:Penerbit Buku Kedokteran EGC. Dan sampel 2 didapat terbentuknya warna hijau kebiruan. kristal dan sisa makanan. Daftar Pustaka Gandasoebrata.Penuntun Laboratorium Klinik. Dan sampel 2 didapat terbentuknya warna hijau kebiruan. XI. dengan nilai +2. Enterobius vermicularis.Jakarta: PT Dian Rakyat.Buku Saku Patofisiologi. dengan nilai +2. Adanya darah dalam tinja selalau abnormal. Kesimpulan Dalam praktikum digunakan 2 sampel.2001. Sampel 1 didapat hasil dengan terbentuk warna hijau kebiruan. sel epitel. dengan nilai +2. dengan nilai +2. Sampel 1 didapat hasil dengan terbentuk warna hijau kebiruan. Trichuris trichiura. Biasanya tes dilakukan pada penderita yang dicurigai adanya perdrahan pada saluran kencing maupun pencernaan. Telur cacing yang mungkin didapat yaitu Ascaris lumbricoides. Strongyloides stercoralis dan sebagainya. Dalam keadaan normal dapat terlihat beberapa leukosit dalam seluruh sediaan. Biasanya tes dilakukan pada penderita yang dicurigai adanya perdrahan pada saluran kencing maupun pencernaan. bila konsistensi tinja cair baru didapatkan bentuk trofozoit. kalsium oksalat dan asam lemak.R. Dalam tinja normal mungkin terlihat kristal tripel fosfat. Tes terhadap darah samar untuk mengetahui adanya perdarahan kecil yang tidak dapat dinyatakan secara makroskopik atau mikroskopik. leukosit.(Halaman 518-519) . X. Eritrosit hanya terlihat bila terdapat lesi dalam kolon. eritosit. Pemeriksaan kimia tinja yang terpenting adalah pemeriksaan terhadap darah samar. telur cacing. Dari semua pemeriksaan ini yang terpenting adalah pemeriksaan terhadap protozoa dan telur cacing. Protozoa biasanya didapati dalam bentuk kista.(Halaman 180-185) Corwin. rektum atau anus.1999. Dalam praktikum digunakan 2 sampel. Dalam keadaan normal dapat ditemukan beberapa sel epitel yaitu yang berasal dari dinding usus bagian distal.

pukul 16.id/consultation/14/apa-itu-pemeriksaan-tinja-dg-koh-danbedanya pemeriksaan-tinja-rutin.- http://www.co.30 ) .kalbe.htm ( Diakses pada 28 Maret 2011.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful