PROPOSAL BELAJAR GERAK

D I S U S U N OLEH:

BELAJAR GERAK Pendahuluan Pada dasarnya belajar gerak (motor learning) merupakan suatu proses belajar yang memiliki tujuan untuk mengembangkan berbagai keterampilan gerak yang optimal secara efisien dan efektif. Seiring dengan itu, Schmidt (1989: 34) menegaskan bahwa belajar gerak merupakan suatu rangkaian asosiasi latihan atau pengalaman yang dapat mengubah kemampuan gerak ke arah kinerja keterampilan gerak tertentu. Sehubungan dengan hal tersebut, perubahan keterampilan gerak dalam belajar gerak merupakan indikasi terjadinya proses belajar gerak yang dilakukan oleh seseorang. Dengan demikian, keterampilan gerak yang diperoleh bukan hanya dipengaruhi oleh faktor kematangan gerak melainkan juga oleh faktor proses belajar gerak. Di sisi lain, pengaruh dari belajar gerak tampak pada perbedaan yang nyata dari tingkat keterampilan gerak seorang anak yang mendapatkan perlakukan pembelajaran gerak intensif dengan yang tidak. Pada kelompok anak yang mendapatkan perlakuan belajar gerak intensif menunjukan kurva kenaikan progresif dan permanen. Sementara itu, dalam pemerolehan keterampilan gerak dipengaruhi oleh beberapa faktor; (1) faktor individu subyek didik, (2) faktor proses belajar dan (3) faktor situasi belajar. Faktor individu subyek belajar dalam belajar gerak akan merujuk pada adanya perbedaan potensi yang dimiliki subyek didik. Perbedaan potensi kemampuan gerak yang dimiliki oleh subyek didik ini secara fundamental akan memberikan pengaruh terhadap pemerolehan keterampilan gerak. Perbedaan potensi kemampuan gerak memiliki implikasi terhadap usaha penyusunan program pembelajaran gerak Oxendine (1984:56) menegaskan bahwa perbedaan potensi kemampuan gerak yang dimiliki oleh seorang secara nyata akan memberikan pengaruh terhadap kecepatan, ketepatan dan tingkat perolehan keterampilan gerak. Sementara itu, dalam proses pemerolehan keterampilan gerak, seseorang harus melalui beberapa tahapan, yaitu ; (1) tahap formasi rencana, (2) tahap latihan dan (3) tahap otomatisasi.(Rahantoknam, 1989:78) Tahapan Belajar Gerak 1. Tahap Formasi Rencana Tahap formasi rencana merupakan tahap di mana seseorang sedang menerima rangsangan pada alat-alat reseptor. nya sebagai masukan bagi sistem memorinya. Pada tahap ini, seorang yang sedang belajar gerak akan mengalami beberapa tahapan proses belajar, sebagai berikut; (1) tahap menerima dan memproses masukan, (2) proses kontrol dan keputusan dan (3) unjuk kerja keterampilan. Pada fase formasi rencana yang yang diawali dengan tahap masukan, pada dasarnya seorang yang belajar gerak berada pada tahap menerima informasi tentang bentuk dan pola keterampilan gerak yang kelak harus dilakukannya. Masukan informasi pada subyek didik dapat dilakukan melalui alat-alat reseptornya, seperti penglihatan, sentuhan, pendengaran dan

penciuman. Namun demikian dalam belajar gerak penglihatan dan pendengaran merupakan reseptor yang dominan dalam menerima informasi belajar gerak. Tahap kedua adalah proses pengolahan informasi. Tahap ini merupakan tahap analisis infomasi yang masuk. Sebelum respons kinetik diberikan terhadap suatu stimuli, informasi akan dianalisis melalui; (1) identifikasi stimulus, (2) seleksi respons dan (3) pemograman respons. Identifikasi stimulus merupakan awal dari rangkaian pengenalan stimulus yang diterima seseorang dengan memberikan analisis terhadap ling- kungan dari suatu variasi sumber informasi, bentuk informasi, sentuhan, penglihatan (besar kecil, warna, cepat lambat), pendengaran (keras halus, lambat cepat). Hasil identifikasi stimulus ini akan menjadi bentuk yang representatif bagi seleksi respons yang harus diberikan terhadap suatu bentuk stimuli. Pada tahap seleksi respons akan dilakukan seleksi terhadap berbagai kemungkinan respons yang harus diberikan terhadap suatu stimuli. Seleksi respons akan disesuaikan dengan keadaan lingkungan. Berbagai kemungkinan bentuk gerak akan diprogramkan untuk memberikan respons. Dalam pe-mograman respons dilakukan pengorganisasian tugas dari sistem motorik sebagai dasar respons kinetik. Sebelum respons kinetik sebagai jawaban dimunculkan, maka program dari respons akan mempertim bangkan bentuk stimulus yang telah diidentifikasi pada tahap sebelumnya. Bila tahapan rangkaian proses pengolahan informasi telah dilakukan, maka pola rencana gerak telah terbentuk dalam sistem memori seseorang. Pola rencana gerak yang berinteraksi dengan lingkungan stimulus pada akhirnya akan menjadi respons kinetik seperti yang diunjukkerjakan oleh seseorang. Respons kinetik sebagai keluaran dari suatu proses sistem akan ber-hubungan dengan kecepatan memberikan reaksi dan pengambilan keputusan. Untuk memberikan respons kinetik dengan cepat dan tepat, menurut Abdoellah (1987:45) berkaitan dengan potensi kemampuan gerak yang dimiliki oleh seseorang. Dari model yang sederhana di atas oleh para ahli belajar gerak dikembangkan beberapa teori belajar gerak. Dalam hal ini Singer (1993:98) mengembangkan teori model belajar gerak yang diawali dengan proses pengolahan informasi. Dari teori tersebut tampak bahwa Singer mengembangkan model belajar gerak yang mengkombinasikan proses pengo-lahan informasi, adaptasi dengan sibernetika. Teori proses pengolahan infromasi dalam model ini berkaitan dengan tahap saat seseorang menerima masukan dan memproses informasi menjadi rencana gerak dalam memorinya. Kemudian, proses adaptasi tampak pada mekanisme dari perencanaan gerak menjadi suatu unjukkerja keterampilan gerak seseorang. Sedangkan teori sibernatika tampak dari proses mekanisme otoregulasi umpanbalik yang harus dan dapat dimunculkan secara intrisik. Sebagai suatu masukan dalam sistem mekanisasi organisme masuknya informasi merupakan tahap penerimaan stimulus yang segera diubah dan disesuaikan dengan situasi stumulus melalui tahapan yang sistematik. Hal tersebut berhubungan dengan mekanisme sistem saraf dan hormon. Dalam hal ini, reseptor merupakan fungsi utama untuk menerima informasi dan melalui sistem saraf segera diubah menjadi tanda masukan bagi sistem memori. Masukan informasi akan mengalami proses interaksi dan adaptasi dengan berbagai faktor individual. Sehubungan dengan ini, kemampuan individu dalam mengadopsi dan memproses suatu informasi akan berbeda antara yang satu dengan lainnya. Pada sisi lain, faktor situasi

Ateng (1994:35) menegaskan tidak ada media pendidikan serealitas pendidikan gerak untuk menanamkan sikap sportif. cahaya. seperti menghargai orang lain. (1) kemampuan gerak lokomotor. (1) ranah psikomotor. Sehubungan dengan hal tersebut. Pada sisi lain. (2) kemampuan fisik. fungsi penyimpanan memori memiliki dua fungsi yaitu. Sementara itu. Dengan memahami potensi indvidu dan tujuan yang hendak dicapai maka dapat diciptakan situasi belajar yang kondusif. Kartono (1989: 67) menegaskan bahwa pemberian pengalaman gerak yang luas kepada anak merupakan tindakan yang bijaksana dalam usaha mempengaruhi perkembangan anak. berjuang keras dan sebagainya. hubungan antara reseptor (situasi informasi) dengan efektor bukan hanya terjadi karena proses pengolahan informasi dan habitual melainkan proses tersebut akan terjadi secara otoregulator atau sibernetika. Kemampuan bergerak memuat masing-masing. Sehubungan dengan hal di atas. Kesederhanaan dan kejelasan informasi dalam belajar gerak berkaitan dengan bentuk-bentuk gerak yang menjadi bahan belajar. faktor pengenalan dan proprioseptik dari informasi angat penting. Profil tugas belajar gerak mengacu pada tujuan belajar yang hendak dicapai dalam suatu proses kegiatan belajar. Melalui gerak. Rancang bangun yang efektif dari situasi belajar akan memberikan kontribusi yang nyata terhadap rangkaian proses pemerolehan keterampilan gerak. Mekanisme sibernetik antara efektor dan reseptor merupakan konpensasi dari proses habitual belajar gerak dan situasi stimuli. bekerja sama. situasi belajar berhubungan dengan analisis kemampuan individu subyek belajar dan profil tugas yang kelak dilakukanya. Untuk pemerolehan keterampilan gerak. Pada ranah psimotor intensi belajar gerak memuat dua tujuan utama. (2) ranah kognitif dan (3) ranah afektif. sebagai (1) penerima dari masukan stimuli yang kemudian akan dikenali dan diringkas. Dalam belajar gerak. pada dasarnya anak sedang mengadakan interaksi dan komunikasi dengan dunia luarnya dalam usaha melengkapi pengatahuan dan sikapnya. (2) kemampuan gerak manipulasi dan (3) kemampuan gerak . jarak tingkat kesukaran saat informasi diterima reseptor merupakan salah satu faktor dominan yang mempengaruhi seorang dalam menerima dan mengubah informasi tersebut. Pengaruh dari proses belajar terhadap ranah kognitif dan afektif bukanlah pengaruh tidak langsung melainkan pengaruh langsung seperti halnya terhadap perkembangan gerak. Makin sederhana dan jelasnya informasi yang masuk akan makin cepat diterima dan simpan dalam sistem memori. orientasi dari belajar gerak tidak hanya sekedar pada usaha pengembangan berbagai keterampilan gerak melainkan melalui belajar gerak akan dikembangkan pula komponen lain dari subyek didik.eksternal seperti tempat. dan (2) transmisi yang mendekatkan informasi ke mekanisme persepsi untuk dikenali atau ditempatkan pada penyimpanan jangka panjang untuk dihubungkan dengan memori. Pada tahap manapun dari rangkaian belajar gerak senantiasa dibutuhkan situasi belajar yang kondusif. (1) kemampuan bergerak. Dalam pembentukan sikap subyek didik. Pada sisi lain. maka faktor situasi belajar merupakan salah satu faktor yang akan memberikan pengaruh dalam proses pembelajaran gerak. perlu ditegaskan bahwa belajar gerak memiliki beberapa intensi yang meliputi perkembangan.

Sedangkan kemampuan fisik memuat masing-masing. dan tempo. Namun demikian. (1) kesegeran jasmani dan (2) kesegaran gerak. Sehubungan dengan hal tersebut. . Rahantoknam (1989) menegaskan bahwa pada tahap ini dua hal yang perlu mendapatkan perhatian. Oleh karenanya melalui frekuensi pengulangan yang efektif pola gerak makin permanen terbentuk dalam sistem memori seseorang. Ada individu yang memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan frekuensi belajar tinggi. Pada tahap ini di mana pola gerak yang telah terbentuk dalam sistem memori sedang diunjuk kerjakan. yakni frekuensi pengulangan.stabilisasi. Salah satu indikasi permenannya pola gerak yang terbentuk dalam sistem memori adalah dengan makin baiknya tinkat koordinasi gerak yang dapat dilakukan oleh seseorang. Unjuk kerja keterampilan pada awalnya dilakukan dengan tingkat koordinasi yang rendah. baik yang dilakukan dalam satuan berkali belajar maupun yang berhubungan dengan jumlah pengulangan yang dilakukan dalam satu minggu. perlu ditegaskan bahwa suatu pola gerak yang telah tersimpan dengan permanen dalam sistem memori seseorang mempermudah bagianya untuk memanggil kembali bila ia menginginkannya. Ia dapat mengatasi berbagai kendala fisik dan dan psikis yang menekannya. Efektivitas frekuensi pengulangan memiliki karakter yang individualistik. frekuensi belajar tidak selamanya memiliki hubungan yang linear dengan kemampuan individu terhadap perolehan keterampilan gerak seseorang. Tahap Latihan Tahap kedua dari belajar gerak adalah tahap latihan. Variasi bentuk latihan yang memperyimbangkan beragam situasi dan kondisi secara langsung dapat memperkaya seseorang dalam memberikan respons kinetik yang dikonvensikan dengan situasi dan kondisi. Hebert. juga dapat memperbaiki kualitas pola gerak yang terbentuk dalam sistem memori. Frekuensi pengulangan di samping memperkuat hubungan antara reseptor dan efektor. Sehubungan dengan adanya perbedaan kemampuan individu maka kebutuhan frekuensi pengulanganpun akan berbeda-beda. Oleh karenanya tinggi-rendahnya frekuensi pengulangan yang dilakukan oleh individu sangat tergantung pada kemampuan individu. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dalam situasi pembelajaran gerak tidak hanya dikembangkan keterampilan gerak melainkan dengan segera dapat dikembangkan pula faktor-faktor lain yang menjadi komponen dalam perkembangan totalitas anak. intensitas. Bila keterampilan gerak terus dilakukan dengan pengulangan dan umpan yang efektif dapat mempercepat proses otomatisasi gerak. Hal-hal di atas secara multilateral dapat dikembangkan melalui program pembelajaran gerak yang efektif. Frekuensi pengulangan pada dasarnya merujuk pada berapa kali seorang melakukan pengulangan gerakan. Sehubungan dengan hal tersebut. Setiap individu memiliki keterbatasan kecenderungan dan kemampuan untuk beradaptasi dengan frekuensi belajar. Landin dan Solmon (2001) menemukan hubungan antara frekuensi pengulangan dengan kemampuan individu. 2. Makin baik kemampuan individu makin rendah frekuensi pengulangan yang dibutuhkannya.

di samping faktor kelejasan. Itupun untuk mendapatkan pola gerak yang sederhana. Seperti diketahui dalam kehidupan sehari-hari. kemampuan fisik sangat mendukung untuk memperoleh keterampilan gerak. paling sedikit harus dilakukan dua kali perminggu. pertama adalah frekuensi pengulangan berhubungan dengan jumlah pertemuan yang dilakukan oleh seseorang dalam satuan waktu tertentu. perhatian terhadap waktu istirahat sama pentingnya dengan waktu perlakuan. frekuensi pengulangan yang dilakukan oleh seseorang dapat berhubungan dengan dua hal utama. adalah bahwa frekuensi pengulangan berhubungan dengan jumlah perlakuan yang dapat dilakukan dalam satuan minggu. Dalam proses penguatan pola gerak dalam sistem memori antara satu informasi dengan lainnya saling berinteraksi. Gangguan yang terjadi di antara dua informasi yang disajikan tidak jarang dapat menggeser pengalaman yang belum permanen dalam sistem memori. Tiap individu memiliki kebutuhan waktu yang berbeda-beda sesuai dengan kemampuannya. Dengan kemampuan fisik yang baik. Informasi belajar merupakan salah satu dari berbagai informasi yang diterima oleh seseorang. Berapa jumlah frekuensi yang dibutuhkan oleh seseorang agar ia dapat menguasai suatu keterampilan gerak tertentu? Berapa lama jeda waktu di antara frekusensi tersebut? Tentu saja relatif. Untuk menguasai pola gerak yang kompleks dibutuhkan waktu pengulangan yang lebih banyak lagi. kederhanaan. pengulangan dapat dilakukan dengan baik. baik yang berhubungan dengan pengalaman verbal maupun pengalaman gerak. dalam hal ini frekuensi pengulangan berhubungan dengan dalam satu minggu berapa kali seseorang harus mengulang gerakkan yang dipelajari. Di samping hal itu. kuat dan harmonisnya informasi juga faktor keefektifan pengulangan dan umpan balik merupakan faktor yang tidak dapat diabaikan. Perhatian terhadap waktu istirahat diantara waktu perlakuan berhubungan beberapa gangguan yang mungkin muncul dan dapat mengganggu memori yang belum permanen. Untuk dapat menampilkan suatu keterampilan yang berulang-ulang dengan kualitas kinerja relatif sama dibutuhkan kemampuan fisik. Sehubungan dengan hal di atas. Dengan demikian. bahkan tidak menutup kemungkinan akan saling bertindih. Kemampuan fisik secara langsung menjadi landasan bagi pengulangan gerakkan yang dilakukan oleh seseorang. Dalam usaha memperoleh suatu keterampilan gerak. agar pola gerak dapat terbentuk dengan permanen dalam sistem memori. khususnya kemampuan fisik yang secara langsung berhubungan dengan proses pengulangan gerakkan yang dilakukan oleh seseorang dalam waktu yang relatif lama. Sehubungan dengan hal tersebut. Kedua. Bila pengulangan dilakukan dengan intensitas rendah atau dengan dengan interval waktu yang relatif lama. yang terjadi dalam sistem memori bukan hanya penggeseran informasi .Frekuensi pengulangan yang efektif dapat mengurangi tingkat gangguan dalam pembentukan pola gerak secara permanen. Informasi-informasi tersebut sangat penting untuk membentuk pengalaman-pengalaman dalam kehidupan seseorang. Sehubungan dengan hal tersebut. seseorang akan menerima berbagai informasi. Bila ini terjadi maka unjuk kerja keterampilam yang dimunculkan dengan koordinasi yang rendah. seperti daya tahan jantung dan otot. Pengulangan-pengulangan gerakkan yang dilakukan efektif dapat memperbaiki koordinasi gerak.

4. Dengan pengulangan yang efektif. Mengenai gerak. Intensitas tinggi. 3. Pada sisi lain. Bila hubungan antara reseptor dengan efektor terjadi dengan efektif maka segera dapat diidikasikan bahwa unjuk kerja keterampilan dilakukan dengan efektif. Konsep Gerak Gerak suatu benda dapat diamati melalui perubahan posisi dan perpindahan kedudukannya. lambat laun gerakkan dapat dilakukan dengan otomatisasi. Bila intensitas diturunkan menjadi sedang dan rendah maka ia dapat melakukan aktivitas fisik yang relatif lebih lama daripada intensitas tinggi. Perubahan posisi yang dimaksud contohnya menekuk siku dan berjongkok. Gerakkan otomatisasi dapat terjadi karena terjadinya hubungan yang permanen antara reseptor dengan efektor. Lapuknya informasi dalam memori dapat menyebabkan informasi tersebut terhapus dan bahkan menjadi hilang. Anak membutuhkan waktu istirahat di antara dua atau lebih perlakuan kerja fisik. Intensitas kerja fisik tinggi mendorong anak untuk melakukan aktivitas fisik dalam waktu yang relatif singkat. Mahendra dan Ma¶mun (1996:59) menjelaskan: Dalam kamus bahasa Inggris kata gerak diterjemahkan sebagai sinonim dari kata ³motor´ dan ³movement´. Aktivitas fisik dengan intensitas tinggi dan rendah memiliki implikasi yang berbeda terhadap kemampuan anak untuk melakukan aktivitas dan waktu istirahat. sedang dan rendah membutuhkan waktu istirahat yang relatif berbeda. Bila hal ini terjadi. Tahap Otmatisasi Tahap ini meruapakan tahap akhir dari rangkaian proses belajar. Konsep dan Klasifikasi Gerak a.sajal mekainkan terjadi pula pelapukan informasi. . Demikian pula dengan waktu istirahat. Permanen hubungan antara keduanya merupakan mata rantai dari hubungan reseptor-efektor. maka seseorang akan sulit bahkan tidak dapat mengingat apa-apa yang pernah dipelajarinya. kurangnya intensitas dalam frekuensi pengulangan dapat menjadi sebab kurang permanennya hubungan antara dendrit dan axon pada sistem saraf. Waktu istirahat dibutuhkan anak untuk dapat mengembalikan kemampuannya. Gerakkan otomatisasi merupakan hasil dari latihan yang dilakukan dengan efektif. secara fisiologis anak memiliki kemampuan yang terbatas dalam beradaptasi dengan intensitas kerja fisik tertentu. Secara fisiologis. Gerakkan otomatiasi dalam mekanismennya tidak lagi dikoordinasikan oleh sistem syaraf pusat melainkan pada jalur singkat pada sistem saraf otonom. Sesungguhnya pengertian kedua kata ini berbeda. sedangkan perpindahan kedudukan atau tempat contohnya berjalan dan berlari.

³Kemampuan gerak seseorang yang khas adalah hasil dari interaksi yang kompleks dari pengaruh keturunan dan lingkungan. karena mengubah tenaga kimia menjadi tenaga mekanis sehingga menyebabkan terjadinya gerakan tubuh. diam berarti tidak bergerak terhadap sekitarnya. ³Kegiatan yang mengubah kedudukan pada suatu tempat karena alas an tertentu. Rotella dan McClenaghan yang dialih bahasakan oleh Dwijowinoto (1993:143) menjelaskan tentang definisi gerak yaitu. sedangkan ³motor´ adalah gerak yang bersifat internal atau dari dalam.´ Lebih lanjut Hidayat (1990:49) mengemukakan. Dwijowinoto (1993:142) menjelaskan. Semua bentuk gerakan terjadi oleh karena dipengaruhi oleh sejumlah gaya. Berkaitan dengan pengertian gerak tersebut di atas.³Movement´ adalah gerak yang bersifat eksternal atau dari luar dan mudah diamati.´ Ada tiga unsur yang menyebabkan terjadinya gerakan.´ Smith (1968) yang dikutip oleh Dwijowinoto (1993:143) mengemukakan. Tulang-tulang dari kerangka dan persendian merupakan satu kesatuan alat gerak yang memiliki kemungkinan gerak (range of motion) tertentu. Oleh karena itu otot sering dimisalkan sebagai motor dari tubuh manusia.´ Hidayat . ³Gerakan manusia dapat kita amati karena adanya perubahan posisi dari tubuh atau anggota tubuh dalam ruang dan waktu. ³Bergerak adalah lawan dari diam. Gaya di sini tidak lain adalah kontraksi otot. dan sukar diamati. yaitu: tulang sebagai alat penggerak. sedangkan bergerak adalah bila kedudukannya di dalam ruang dan waktu berubah. otot sebagai sumber penggerak dan persendian yang memungkinkan terjadinya gerakan. Hidayat (1990:30) menjelaskan. Otot merupakan sumber gerak yang dapat disamakan dengan motor listrik.´ Pate. konstan. ³Gerakan yang efisien adalah gerakan yang menopang keberhasilan penampilan olahraga. perlu dijelaskan pula mengenai gerak yang efisien. Artinya tulangtulang sebagai alat gerak dapat melakukan suatu gerakan sesuai dengan persendiannya dan kontraksi ototnya.

seperti bertepuk tangan.´ b.´ . gerakan dapat dibagi menjadi gerakan lokomotor dan nonlokomotor.(1990:32) mengemukakan. yaitu dari segi ruang atau jarak (space) dan dari sistem otot. dan sliding.´ Supandi dan Seba (1993:44) mengkategorikan gerakan menjadi beberapa macam. Gerakan nonlokomotor adalah gerakan yang tidak menyebabkan perpindahan tempat. melangkah. Ditinjau dari sistem otot gerakan dapat dibagi tiga. yaitu: ³1) Gerakan translasional yaitu gerakan yang berpindah-pindah tempat. Dilihat dari segi ruang dan jarak (space) gerakan dibagi atas: 1) gerakan lokomotor dan 2) gerakan nonlokomotor. berputar. 2) ekstensi. dan meliukkan badan. yaitu sebagai berikut: Gerakan dapat ditinjau dari dua segi. 3) Gerakan oskilasional yaitu gerakan berayun. melenting. Mahendra dan Ma¶mun (1996:59) bahwa. Klasifikasi Gerak Dilihat dari segi ruang dan jarak. manipulation. Fleksi adalah gerakan kontraksi otot yang menyebabkan gerakan membengkok.´ Lebih lanjut Hidayat (1990:33) menyatakan. skipping. ³Gerakan lokomotor adalah gerakan yang menyebabkan terjadinya perpindahan tempat seperti berjalan. ³Dari sudut efisiensi gerak. Selanjutnya Gallahue (1992:379) menyatakan. dan 3) rotasi. 2) Gerakan rotasional yaitu gerakan berputar pada sumbu. Ekstensi adalah gerakan meluruskan atau membentangkan yang berlawanan dengan fleksi. ³ « Classify movement into the categories of locomotion. aktivitas olahraga yang dilakukan dengan kecepatan sedang/optimum (relatif).´ Sedangkan Kephart (1990) yang dikutip Mahendra dan Ma¶mun (1996:59) membagi gerakan manusia dalam tiga tipe. akan dapat dikontrol dan dikuasai serta mencapai hasil yang lebih baik. yaitu: 1) fleksi. and stability. ³Berlari atau berenang dengan kecepatan yang tetap (artinya tidak mengubah-ubah kecepatan) lebih efisien daripada berlari atau berenang dengan selalu mengubah-ubah kecepatan. berlari. melompat. Rotasi adalah gerakan berputar pada satu sumbu.

Gerakan-gerakan ini terjadi atas dasar gerakan refleks yang berhubungan dengan badannya. . Giriwijoyo (1992:78) menjelaskan.´ Harrow (1991) mengelompokkan gerakan manusia menjadi: 1. sedangkan refleks tak bersyarat adalah gerakan refleks yang terjadi secara otomatis tanpa melalui proses latihan. yaitu: Refleks bersyarat (conditional reflex) dan refleks tak bersyarat (unconditional reflex). Gerakan refleks 2. merupakan bawaan sejak lahir dan terjadi tanpa melalui latihan. yaitu ³Berdasarkan perubahan tempat. Kemampuan mengamati (Perceptual abilities) 4. Gerakan-gerakan dasar fundamental dibagi atas: gerakan lokomotor. ³Refleks adalah gerakan involunter yang sangat cepat dan sangat efisien yang hanya akan melibatkan komponen saraf dan otot yang benarbenar diperlukan untuk gerakan itu. Kemampuan fisik (Physical abilities) 5. Kemampuan komunikatif Gerakan refleks adalah gerakan atau tindakan manusia yang timbul sebagai reaksi terhadap suatu stimulus tanpa keterlibatan kesadaran.Hidayat (1990:49) mengklasifikasikan bentuk-bentuk gerakan manusia. Gerakan dasar (Basic fundamental movement) 3.´ Refleks bersyarat adalah gerakan-gerakan refleks yang terjadi karena suatu latihan. Gerakan refleks dapat dibagi menjadi dua macam. Gerakan keterampilan (Skill movement) 6. perubahan volume dan perubahan sikap/posisi. Perubahan-perubahan tersebut disebabkan adanya kontraksi otot. nonlokomotor dan gerakan manipulatif. Gerakan dasar fundamental merupakan pola gerakan yang menjadi dasar untuk ketangkasan gerak yang lebih kompleks.

c.c. yaitu: Fase belajar motorik: b. Penguasaan irama gerakan bagi individu yang masih ada pada fase belajar tingkat pertama ini masih sangat belum sempurna. dan transfer kemampuan berbagai situasi dan kondisi. Secara sederhana luas gerakan dapat diartikan sebagai besarnya ruangan yang terpakai oleh bagian tubuh atau tubuh secara keseluruhan dalam pelaksanaan suatu gerakan. Penguasaan kemampuan hubungan gerakan yang dimiliki oleh undividu yang dimiliki oleh individu yang berada pada fase belajar tingkat pertama juga masih sangat tidak sempurna. 2. Fase belajar motorik tingkat kedua yaitu perkembangan penguasaan koordinasi halus. . individu yang belajar baru mampu memperlihatkan sruktur dasar garakan. 3. Fase belajar motorik tingkat ketiga yaitu penstabilan kemampuan koordinasi halus. d. Masing-masing fase perkembangan seperti yang dikemukakan diatas ditinjau berdasarkan tingkat keterampilan seseorang dalam memecahkan atau melaksanakan tugas-tugas gerakan olahraga. Pada fase belajar tingkat pertama. maka fase belajar motorik tingkat pertama memiliki ciri-ciri seperti yang dikemukakan oleh Kiram (1991:145) sebagai berikut: 1. Pada fase pertama. Fase belajar motorik tingkat pertama yaitu perkembangan penguasaan koordinasi secara kasar. 4. kemampuan automatisasi. jika dilihat dari sudut kemampuan koordinasi. Fase-fase Gerak Pendapat Meinel yang dikutip oleh Kiram (1991:133) membagi fase-fase belajar motorik dalam 3 fase.

6. sehingga aktivitas yang dilakukan dapat mencapai tujuan pengajaran. secara sederhana dapat diartikan sebagai kontinyuitas jalannya suatu gerakan. teknik dan strategi permainan/ olahraga. intelektual. Keterampilan gerak merupakan kemampuan yang seharusnya dimiliki oleh siswa sebagai bekal dalam menjalani kehidupan seharihari. kerjasama). Apabila seorang anak mempunyai keterampilan gerak yang baik. Kelancaran gerakan adalah aliran gerakan. --- . emosi dan sosial. Dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani guru diharapkan mengajarkan berbagai keterampilan gerak dasar. Kecepatan gerakan. DIMENSI PEMBELAJARAN KETERAMPILAN GERAK DALAM PENDIDIKAN JASMANI Abstrak Pembelajaran keterampilan gerak merupakan salah satu bagian dari pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah. mental. maka dia mempunyai kesempatan yang besar untuk dapat menguasai kecakapan hidup yang dibutuhkan. namun melibatkan unsur fisik. Kata-kata kunci: Pembelajaran keterampilan gerak. . dan pembiasaan pola hidup sehat.5. yang kepadanya dibebankan tanggung jawab untuk mencapai tujuan pembelajaran agar anak memiliki keterampilan gerak yang memadai. intemalisasi nilai-nilai (sportivitas. Pendidikan jasmani. Selain itu. Dalam pelaksanaan pendidikan jasmani melalui pengajaran yang konvensional di dalam kelas yang bersifat kajian teoritis. aktivitas yang diberikan dalam pengajaran harus mendapatkan sentuhan didaktik-metodik. jujur.

Keterampilan gerak merupakan kemampuan yang seharnsnya dimiliki oleh siswa sebagai bekal dalam menjalani kehidupan sehari-hari. sehingga anak dapat belajar. Hal ini disebabkan oleh pandangan sebagian orang terhadap pendidikan jasmani ymlg menurutnya hanya mendatangkan kelelahan saja. Keadaan ini teIjadi hamper di semua jenjang pendidikan mulai SD sampai SMA. Salah satu hal yang paling menyedihkan dari semua situasi dalam pembelajaran adalah ketika para guru mengajar tetapi anakanak tidak belajar.Olahraga. Terutama apabila guru tidak memahami apa yang harus dilakukan untuk menciptakan kondisi-kondisi tertentu. terlebih mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan bukan hal yang mudah dalam situasi pembelajaran. yang kepadanya dibebankan tanggung jawab untuk mencapai pembelajaran agar anak memiliki keterampilan gerak yang memadai. makadia mempunyai kesempatan yang besar untuk dapat menguasai kecakapan hidup yang dibutuhkan. Untuk dapat mencapai tujuan pencapaian keterampilan gerak yang baik melalui pembelajaran pendidikan jasmani bukan merupakan upaya yang mudah. Pembelajaran keterampilan gerak merupakan salah satu bagian dari pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah. yang mengakibatkan rendahnya tingkat keterampilan gerak siswa di sekolah. Untuk itu tulisan ini memberikan gambaran mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pencapaian pembelajarml . Apabila seorang anak mempunyai keterampilan gerak yang baik. Hal ini terjadi karena guru tidak memahami bagaimana siswa belajar. Bagaimana anak belajar? Apa yang dipelajari anak? Hasil apa yang dicapai? Semua itu merupakan pertanyaan yang harns mampu dijawab oleh seorang guru. Edisi Agustus 2006 Gurn mengajar karena menginginkan siswa balajar. Kemudian diperparah lagi dengan alokasi waktu yang diberikan oleh kurikulum yang belum sesuai dengan kebutuhan yang disyaratkan. Persoalan yang muncul adalah bagaimana guru pendidikan jasmani dapat menciptakan. Membuat anak belajar. mendorong dan mengelola situasi pembelajaran dengan segenap kemampummya agar anak dapat belajar dan mencapai tujuan yang diharapkan.

kebugaran jasmani. penalaran dan tindakall moral melalui kegiatan aktivitas jasmani dan olahraga (Thomas. Dalam proses pembelajaran pendidikan . Pendidikan jasmani memberikan kesempatan pada siswa untuk terlibat langsung dalam aneka pengalaman belajar melalui aktivitas jasmani. pendidikan jasmani bertujuan ulltuk mengembangkan aspek kesehatan. Pembekalan pengalaman belajar itu diarahkan untuk membina. keterampilan sosial. tetapi juga mengembangkan seluruh potensi siswa (Singer and Dick. 1980: 193). keterampilan berpikir kritis. inovatif. Oleh karena itu pelaksanaan pendidikan jasmani harus diarahkan pada pencapaian tujuall tersebut. dan memelihara kesegaran jasmani serta pemahaman terhadap gerak manusia (Singer. Tujuan pendidikan jasmani bukan hanya mengembangkan ranah jasmani. sekaligus membentuk gaya hidup sehat dan aktif sepalljang hayat. 1988:59).Selanjutnya dinyatakan bahwa pendidikan jasmani merupakan media untuk mendorong perkembangan keterampilan motorik. olahraga yang dilakukan secara sistematis. Melalui pendidikan jasmani diharapkan siswa dapat memperoleh berbagai pengalaman untuk mengungkapkan kesan pribadi yang menyenangkan. 1960: 16). serta pembiasaall pola hidup sehat yang bermuara untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan yang seimbang (Corbin. kreatif.m penghayatan nilai-nilai (sikap-melltal-emosiollal-spiritual dan sosial). 1975:36). stabilitas emosional. bermain.keterampilan gerak melalui pendidikan jasmani di sekolah. meningkatkan. terampil. Dimensl Pembe/ajaran Keterampilan Gerak Da/am Pendidikan Jasmani PENDIDIKAN JASMANI DI SEKOLAH SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN GERAK Pendidikan jasmani pada dasarnya merupakan bagian integral dari sistem pendidikan secara keseluruhan. Secara lengkap. terarah. pelldidikan jasmani memiliki peran sang at penting dalam mengintensifikasikan penyelenggaraan pendidikan sebagai suatu proses pembinaan manusia yang berlangsung seumur hidup. kemampuan fisik. Thomas and Lee. Untuk itu menurut Singer (1975:34). dan terencana. pengetahuan dan penalaran.

sehingga aktivitas yang dilakukan dapat mencapai tujuan pengajaran.jasmani guru diharapkan mengajarkan berbagai keterampilan gerak dasar. Kejelasan mengenai tujuan pembelajaran berupa keterampilan yang harus dikuasai merupakan keadaan yang harus diketahui oleh anak untuk membantu efektivitas pembelajaran. Selain itu aktivitas yang diberikan dalam pengajaran harus mendapatkan sentuhan didaktik-metodik. Meskipun terdengar sebagai suatu hal yang sederhana. namun melibatkan unsure fisik. emosi dan so sial. memberikan stimulus. menurut beberapa penelitian memberikan pengaruh yang positif terhadap efektivitas pembelajaran. (2) kesempatan untuk merespon. dan tidak adak pendidikan yang lengkap tanpa adanya pendidikan jasmani. teknik dan strategi permainanlolahraga. merupakan hal penting saat pembelajaran berlangsung. Memahami apa yang harus dipelajari. FAKTOR-FAKTOR UTAMA YANG MEMPENGARUHI BELAJAR GERAK Pada dasarnya pencapaian keterampilan belajar gerak dipengaruhi oleh beberapa factor. kadang-kadang guru memberikan begitu banyak . Untuk itu dalam pelaksanaan pendidikan jasmani tidak hanya melalui pengajaran konvensional di dalam kelas yang bersifat kajian teoritis. kerjasama). intelektual. masing-masing adalah sebagai berikut. (3) adanya umpan balik. Penjelasan secmoa singkat. intemalisasi nilai Olahraga. dan (4) reinforcement. Dalam pembelajaran situasi seperti ini sering disebut sebagai cara "memberi stimulus". Tidak ada pendidikan yang tidak mempunyai sasaran pedagogis. Menurut Magill (1984:44) faktorfaktor yang mempengaruhi belajar gerak adalah: (1) memahami apa yang harus dipelajari. Karena gerak sebagai aktivitas jasmani adalah dasar bagi manusia untuk mengenai dunia dan dirinya sendiri yang secara alamiah berkembang searah dengan perkembangan jaman. mental. jujur. dan pembiasaan pola hidup sehat. Di satu sisi. Edisi Agustus 2006 (sportivitas.

Instruksi secara verbal. dan alat-alat pembelajaran. demonstrasi dan berbagai alat Bantu mengajar dapat digunakan sebagai alat untuk memperjelas tujuan belajar. Di sisi lain guru mungkin menganalisis keterampilan dengan jelasnya. akibatnya anak tidak dapat merespon sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. . Kesempatan untuk merespon. Secara tradisional. sehingga meningkatkan kuantitas latihan. Hal ini menunjuk kepada respon yang berkualitas yang harus didapatkan oleh anak. Dengan kata lain dapat dijelaskan bahwa siswa harus termotivasi untuk mencapai tujuan belajar dan mendapatkan umpan balik mengenai usahanya tersebut. Setelah dilakukan koreksi sebagai umpan balik. Dari beberapa penelitian yang dilakukan di sekolah. guru sering menggunakan pendekatan drill sehingga anak harus berdiri diam sambil menunggu giliran. Secara umum dapat dikatakan bahwa anak belajar dengan baik ketika mereka dapat menjelaskan atau mendemonstrasikan dengan baik keterampilan yang diharapkan atau tujuan belajar yang ingin dicapai. cara mengorganisir anak dalam lingkungan belajar. sehingga sulit dimengerti oleh anak-anak terutama ketgerampilan apa yang akan dicapai. Banyak studi yang telah dilakukan mengenai jadwal praktik. yang kesemuanya memberikan hasil yang signifikan karena tingginya kualitas merespon dari anak-anak. Banyak juga pendapat yang menyatakan bahwa dengan memberikan kesempatan kepada anak untuk lebih terlibat dalam pembelajaran merupakan cara untuk mencapai tujuan pembelajaran gerak. tetapi bukan respon yang berkualitas. jelas banya kesempatan untuk merespon dmerupakan factor dominant yang mempengarauhi penguasaan saat pembelajaran berlangsung. ukuran kelas. dan menjelaskan tugas dengan tidak jelas.instruksi. barulah anakDimensi Pembe/ajaran Keterampilan Gerak Da/am Pendidikan Jasmani anak memahami apa yang sebenamya diinginkan oleh guru. sehingga terlalu overload informasi. Hal ini berbeda dengan pendekatan pembelajaran gerak yang memberikan kebebasan gerak secara aktif kepada anak. Karena kadang-kadang anak memimiliki banyak kesempatan untuk merespon sepanjang pembelajaran.

Seberapa eepat siswa melakukannya tergantung pada umpan balik yang diterima. Penguatml biasanya digmnbm'kan sebagai rangkaian penguatan yang mengikuti suatu perilaku tertentu dml . siswa akan menggambar lebih panjang dari garis pertama. maka siswa akan berusaha untuk melakukmmya dengan memperkirakan panjang garis terse but. tanpa umpan balik belajar tidak akan Olahraga. Untuk itu guru harus belajar menjadi ahli dalam memberikan umpan balik. Reinforcement. Edisi Agustus 2006 teljadi. mungkin. mungkin siswa dapat dengan eepat merespon untuk memperbaiki. maka semakin eepat siswa belajar. tetapi apabila umpan balik itu berbunyi 2 em lebih pendek. Apabila umpan balik berbunyi terlalu pendek atau terlalu panjang. Seeara teoritik sulit untuk membedakan antara umpan balik dan penguatan. Keuntungan dari pembelajaran gerak adalah kaya akan umpan balik. Umpan balik. dapat dikatakan bahwa semakin tepat informasi yang diterima sebagai umpan balik. maka siswa akan segera memperbaikinya. maka siswa akan merespon dengan terlebih dahulu mengira-ngira panjang 2 em tersebut. atau mungkin lebih pendek. Setelah diberikan umpan balik bahwa garis itu kurang panjang atau kurang pendek. jeli menetapkan kekurmlgan atau kelebihan penguasaan gerak serta memberikan koreksi yang sesuai dengan kebutuhan anak berdasarkan analisis yang dilakukan. Hal ini menunjukkan bahwa umpan balik yang berbeda akan memberikml presisi yang berbeda terhadap tugas yang diberikan. Untuk itu. Jika siswa diminta menggambar garis sepanjang 20 em tanpa menggunakan penggaris. dan memberikan respon segera setelah informasi mengenai tujuan tersebut dieapai. Sebagian besar keterampilan gerak ymlg diberikan dalam pendidikan jasmani di sekolah mempunyai tujuan. yang meliputi kemampuan untuk menganalisis performa. Apabila siswa ditugaskan untuk membuat garsi kedua dengan pmljang yang sarna.dan makin banyak anak memberikan respon makin banyak anak tersebut belajar. Telah diketahui bahwa umpan balik sangat diperlukan dalam pembelajaran.

Ketika guru mengajar dengan anak-anak yang memiliki motivasi tinggi. 1984: 16). KATEGORI PEMBELAJARAN GERAK Sejak beberapa tahun yang lalu pembelajaran gerak telah dikategorikan berdasarkan tahap-tahap pencapaian tujuan.meningkatkan kesempatan bahwa perilaku tersebut akan terulang. sehingga anak dapat memulai keterampilan pada tahap yang benar. Pada dasarnya kata-kata tersebut merupakan umpan balik sekaligus penguatan. pengakuan dari teman. Yanto. kenyataannya perilaku pada rnasingmasing kemampuan gerak rnasuk ke dalam kategori yang sama. Ketika guru berkata. Kondisi yang diperlukan untuk mencapai tujuan berbeda antara kategori satu dengan yang lain. tetapi apabila anak tidak termotivasi untuk belajar. sebagai factor dasar dalam belajar. tanda penghargaan. antara lain seperti kata-kata dari guru. Apabila anak akan belajar keterampilan tertentu. Penguatan dapat dilakukan dalam berbagai bentuk. memperoleh keterampilan yang lebih baik. Dengan memahami tujuan belajar untuk setiap kategori. system kategori ini dapat membantu guru untuk mengetahui keterampilan apa yang sudah dikuasai. Dengan demikian sangat penting bagi guru untuk Dimensi Pembelajaran Keterampilan Gerak Dalam Pendidikan Jasmani mengetahui bahwa penguatan. yang meliputi aspek-aspek motivasional dalam penguasaan keterampilan gerak. Semua komponen dalam pembelajaran memerlukan motivasi agar mau belajar. Keuntungan menggunakan pendekatan kategori ini adalah setiap kategori saling berhubungan atau mempunyai keterkaitan. . "Bagus. perhatian dari orang tua. Sedangkan umpan balik mengikuti respon yang tampak. pembelajaran akan lebih mudah. Untuk belajar pada tahap tertentu anak harus sudah menguasai kemampuan pada tahap sebelumnya. maka yang terjadi adalah kebalikal1l1ya. memenangkan pertandingan. pertahankan ayunan lenganmu". Menendang bola mungkin nampak sebagai keterampilan yang berbeda dengan memukul bola dari batting tee pada softbaal. Setiap kategori menampilkan tujuan pembelajaran yang sangat jelas. guru dapat merancang tugas-tugas yang sesuai dengan tahap pembelajaran gerak (Sage.

Pada dasamya anak bereaksi terhadap situasi pembelajaran secara emosional. 1983:198). Tes mengenai emosional dalam belajar hanya dapat dilakukan dengan mengamati kecenderungan perilaku anak dalam melibatkan diri atau menghindar saat melakukan aktivitas belajar (Callahan and Clark. tetapi karena kemampuan kognitf lebih mudah untuk dikenali.a otomatis dalam suatu . Tahap ini dapat dikatakan dikuasai ketika kemampuan dapat dilakukan secara cepat dan seCaI.Adapun tahap-tahap dalam sistem kategori ini secara hiirarki adalah sebagai berikut. Respons sederhana. O/ahraga. Respons emosional positif (melibatkan diri) akan mendorong anak untuk belajar. Contohnya antara lain melompat. mereka tidak akan mencapai apa yang diharapkan. Penekanannya hanya pada penguasaan keterampilan. Hal ini bukan berarti bahwa ranah kognitif tidak penting. tetapi ketika anak mempunyai respons emosi negative terhadap situasi belajar. Belaiar kemampuan emosional. Perilaku yang dapat diamati pada anak yang merespons secara emosional adalah ketika anak berusaha menghindar ataupun melibatkan diri saat pembelajaran berlangsung. Edisi Agustus 2006 Perlu dicatat bahwa tahap-tahap beJajar yang dikutip di atas masuk ke dalam ranah psikomotor dan bukan pada ranah kognitif. Pada tahap ini penguasaan keterampilan gerak difokuskan kepada belajar merespons gerak sederhana. mengayun kayu pemukul dan melempar bola.

Formasi konsep gerak. sehingga memberikan kesempatan kepada anak untuk mengembangkan respons yang sesuai. Pada saat belajar bagaimana menendang bola. atau bergerak mengikuti irama musik. yaitu difokuskan kepada kemampuan anak untuk menampilkan respons yang sesuai terhadap serangkaian stimulus. Sebagai contoh adalah memukul bola hasil lemparan. 1982: 1-7). 140 Dimensi Pembe/ajaran Keterampilan Gerak Da/am Pendidikan Jasmani Belajar membedakan respons. Membedakan respons ganda. Sebagai contoh memukul bola diam dan menendang bola diam. menendang bola bergerak. Tetapi anak akan belajar mengelompokkan responsrespons sebagai suatu konsep.rangkaian gerak YaIlg efisien tanpa bantuan dari seorang guru. Pada tahap ini anak hams mempelajari sejumlah respons dan mengetahui bagaimana memilih suatu respons untuk situasi tertentu. sehingga untuk menendang bola terse but dengan baik. anak mengembangkan bermacam-macam respons sesuai dengan kebutuhan . Tahap ini mempakan tahap yang paling sering terjadi dalam situasi belajar pendidikan jasmani. Hal ini akan membawa implikasi pada pengayaan dan keragaman lingkungan belajar dengan memberikan banyak kesempatan pada anak untuk merespons berbagai situasi belajar yang berbeda. Respons sederhana akan terbentuk seiring dengan kesesuaian antara bentuk gerak dengan efisiensi gerak tubuh. Belajar pada tahap ini memerlukan penguasaan respons sederhana yang akan terkait dengan situasi belajar dengan rang sang an tertetnu. Belajar pada tahap ini memerlukan banyak latihan yang melibatkan banyak rangsangan yang berbentuk situasisituasi belajar. Kemampuan pada tahap ini diukur dengan menilai kecakapan anak dalam menampilkan tugas gerak yang sesuai atau respons yang ditunjukkan terhadap rangsangan yang diberikan tanpa bantuan dari luar (Bigge. Anak belajar bahwa bola bergerak dengan pola yang sama meskipun datang dari arah yang berbeda. anak tidak akan mempelajarinya secara terpisah dan anaktidak akan be1ajar menendang untuk setiap bola umpan yang bervariasi.

Pada saat bermain basket anak menggiring bola. pola gerak maupun focus gerak. Pada sepakbola dapat . Edisi Agustus 2006 Pendidikan gerak sarat akan konsep pembelajaran gerak baik sebagai tahap penguasaan gerak. Di dalamnya terdapat pendekatan. dan mendarat dengan baik. Keterampilan kompleks. Dengan kata lain. sehingga pelompat tinggi tahu kapan harus melompat. anak akan menggeneralisasikan berbagai respons ke dalam korisep dan membedakan konsep-konsep terse but sesuai dengan situasi. kapan harus menghindari rintangan mistar. dan saat mendarat. Ketika anak telah memperoleh konsep-konsep tersebut dan dapat membedakannya. Kemampuan pada tahap rantai gerak dapat ditunjukkan ketika gerak dapat dilakukan dengan luwes dan memiliki sinkronisasi tinggi dengan isyarat-isyarat gerak. Rantai gerak. Rantai gerak bekerja bersama sebagai suatu rangkaian yang harmonis. mereka dapat mengaplikasikannya untuk mengatasi masalah. 1980:66). Pada tahap ini anak telah dapat membedakan isyarat-isyarat yang datang diantara banyak isyarat dalam suatu kelompok. dan pada saat yang tepat mengoper bola tersebut kepada ternan seregu untuk dimasukkan ke dalam ring. kesesuaian momentum gerak.(Schuur. Keterampilan kompleks menuntut anak untuk dapat memiliki kombinasi dari rantai gerak sesuai dengan urutan yang benar. 141 1 Olahraga.masalah gerak. Pada saat bermain bolavoli anak dapat menerima servis law an untuk kemudian diarahkan kepada pengumpan agar ternan yang lain dapat melakukan smash. Melompat melewati mistar pada lompat tinggi merupakan salah satu contoh mengenai rantai gerak. Sarna dengan ketika akan mengembangkan konsep tentang mobil dan bagaimana membedakan antara sedan dan truk. Rantai gerak merupakan serangkaian respons gerak sederhana yang dikuasai secara efektif dan efisien yang ditampilkan sesuai dengan isyarat khusus. ketepatan waktu melompat.

Penilaian juga dapat dilakukan terhadap proses. 1983:269-270). keterampilan kompleks sering disebut dengan keterampilan terbuka. Sedangkan lawannya adalah keterampilan tertutup di mana tuntutan lingkungan 142 Dimensi Pembe/ajaran Keterampilan Gerak Da/am Pendidlkan Jasmani dapat dengan mudah diramalkan. pada saat akhir pembelajaran. karena tuntutan lingkungan yang tidak dapat diramalkan. Keterampilan tertutup dapat dianalogikan dengan rantai gerak. Dalam penggunaan model pembelajaran dengan pendekatan taktik. Hal ini sangat pel1ting untuk mengetahui kemajuan anak dari waktu ke waktu. Dalam pendidikan jasmani. atau memasukkan bola ke gawang lawan setelah menerima umpan dari ternan seregu (Bucher and Koenig. Keterampilan kompleks biasanya memerlukan waktu yang lama untuk dapat menguasaillya. guru harus dapat menilai keterampilan gerak bukan sekedar menguasai keterampilan gerak . pada saat pembelajaran berlangsung atau dilakukan terhadap hasil. Dengan demikian apabila keterampilan gerak menjadi tujuan utama dalam pendekatan pembelajaran. maka kegiatan penilaian seharusnya dilakukan secara terus-menerus. Untuk tujuan meningkatkan keterampilan gerak anak. sert melihat kemajuan belajar siswa (fonnatit). yang memungkinkan guru mampu menentukan atau membuat keputusan yang benar mengenai pencapaian belajar siswa. Penilaian dapat dilakukal1 dengal1 stujual1 untuk mel1etapkan l1ilai atau mel1etapkan umpal1 balik untuk mendiagnosis kelebihan dan kekural1gal1 proses pembelajaran yang sedang berlangsung (sumatit). penilaian hams bermuara pada semua aspek keterampilan. PENGEMBANGAN ASSESMEN UNTUK PEMBELAJARAN KETERAMPILAN GERAK Proses penilaian pada dasarnya merupakan bagian integral dari proses pembelaran olahraga. Sesuai dengan sifat dan fungsinya sebagai dokumen (catatan) pribadi setiap anak.menggocek bola melewati lawan. penilaian yang bersifat menyeluruh (proses dan hasil) lebih tepat digunakan.

yang intormasinya hanya dapat dikumpulkan melalui pengamatan berdasarkan indicator-indikator yang telah ditentukan. maka penilaian secat"a otentik hams dilakukan. menahan terjadinya skor atau untuk memecahkan masalah-masalah taktis mempunyai peluang yang lebih besar. Untuk dapat melakukan penilaiatl secm"a otentik diperlukan perencanaan yang baik. Pengembangan instrument hams dilakukan agar pengamatan yang dilakukan dapat mencakup aspek-aspek yang akan dinilai. Instrumen penilaian hams mencakup kemampuankemampuan yang ditampilkan untuk menyelesaikan masalah-masalah . Edisi Agustus 2006 memberikan gambaran bahwa pengambilan keputusan dalam keterampilan bermain softball merupakan hal penting untuk dimiliki. kesempatan untuk membuat skor. dapat mencapai base I. tetapi lebih pada pengambilan keputusan secara taktis untuk dapat memecahkan masalah-masalah dalam permainan yang dihadapi. Sebagai contoh.dasar (teknik dasar) saja. sehingga dalam permaian. Untuk dapat menjamin terlaksananya penilaian secat"a menyeluruh seperti telah dikemukakan di atas. Hal ini karena aspek-aspek yang akan diukur merupakan berbagai perilaku yang ditampilkan secara langsung. dalam olahraga permainan softball. tetapi ternan seregu mati atau tidak dapat maju ke base berikutnya. COl1toh di atas 143 --Olahraga. keberhasilan dalam melakukan permainan tidak hanya ditentukan oleh kerasnya pukulan atau tepatnya melempar. maka observasi atau pengamatan merupakan teknik yang paling sesuai untuk digunakan dalam menilai keterampilan gerak. Terhadap halhal semacam ini penilaian jarang dilakukan. Memukul dengan pelan tetapi dapat memajukan pelari seregu ke base berikutnya lebih baik daripada memukul .keras. Penilaian dikatakan otentik apabila menilai apa adanya dan dilakukan manakala anak menampilkan perilaku yang diharapkan (keterampilan bermain softball) dalam situasi nyata. Berdasarkan karakteristik penilaian secm"a otentik tersebut.

Constance R. Charles A. Methods and .. Koenig. oleh karena gerak sebagai aktivitas jasmani merupakan dasar alami bagi manusia untuk belajar mengenai dunia dan dirinya sendiri. yang berkembang sesuai dengan kemajuan jaman serta orientasi pendidikan yang berlaku. Pemodelan pembelajaran dari mulai yang bersifat embrio hingga menjadi bagian profesional guru dalam mengajar pendidikan jasmani akan dapat meningkatkan percaya diri guru dan meningkatkan relevansi pendidikan serta berujung pada makin meningkatnya mutu pendidikan jasmani di Indonesia. perkembangan jasmani dan rohani peserta didik. aktif yang dapat menggiring pada kesegaran jasmani. Ketersediaan sarana prasarana. daB perbedaan keyakinan guru yang menyebabkan munculnya variasi penekanan nilai dan tujuan kpendidikan jasmani merupakan sesuatu yang pasti ada. memiliki kebiasaan hidup sehat. jelaslah bagi guru bahwa pendidikan jasmani mempunyai arti penting bagi peningkatan life skill dalam pendewasaan peserta didik. Oleh karena itu penyelenggat"aan pendidikan jasmani hams lebih dikembangkan ke arah yang lebih optimal sehingga peserta didik akan lebih kreatif. PENUTUP Pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan yang berisikan serangkaian materi pelajaran yang memberikan kontribusi nyata dalam kehidupan sehari-hari sebagai upaya meningkatkan pertumbuhan. 144 Dimensi Pembe/ajaran Keterampilan Gerak Da/am Pendidikan Jasmani Pendidikan jasmani memiliki sasaran pedagogis yang jelas dan teerarah. Berbagai variasi tersebut merupakan bagian integral dari munculnya berbagai embrio model pembelajaran pendidikan jasmani yang sejalan dengan konsep pembelajaran pendidikan jasmani (Steinhart. 1992. teratnpil. perbedaan karakteristik siswa. Dengan adanya ungkapan terse but. 1995). DAFT AR PUST AKA Bucher. Judith R. (1983). dan memiliki pengetahuan serta pemahaman terhadap gerak manusia.. inovatif. sehingga tidak mungkin selalu disamakan.gerak.

gerakan itu asal dan rupanya.Gerakanya yang dimilik kepandaian mengisap. melingkar dll. gerakan instink di sebabkan oleh dorongan dari dalam diri untuk memuaskan dorongan itu. Louis.materialsfor Secondary School Physical Education. menurunkan. misalnyakeserasian gerakan tangan dan kaki padawaktu kita sedang berjalan. diperoleh dari alam sejakdilahirkan.mendorong dan menarik. (Ed. . ATexbook of Motor Development.Kemampuan gerak lain adalah berjalan.3.Macam ± macam gerakan 1 . pada masa awal dan pembentukanpola gerak dasar. mengocok.matulkan bola atau mengiringbola a.kemampuan gerak dasar kemampuan gerak dasar merupakan kemampuan yangbiasa siswa lakukan guna meningkatkan kualitas hidup. Bentuk ± bentuk kemampuan manupulatif terdiri dari : 1. M o t o r i k s t a t i s Gerakan tubuh sebagai upaya untukmemperoleh keseimbangan. The CV.. adayang terjadi diluar kemauan gerakan dan biasanyakurang disadari karena ia berjalan otomatis.). M ot or i k k et a n g ka s a n . St. memutar. kemampauannonlocomotor terdiri dari menekuk dan meregang.Geraka n mendorong ( melempar. Dubuque. Callahan. dan meloncat. menangkat. g e r a k a n i n s t i n k t i f gerakan ini adalah kemampuan bertindak tetap. Kemampuan gerak dasar di bagi menjadi 3 bagian : 1.3.2. Corbin. Gerakan menerima ( menangkap ) obyek adalahkemampuan penting yang dapat di ajarkan denganmengunakan yang terbuat bantalan karet. dorongan atauperangsangannya datang dari dalam diri sendiri. tidakmempergunakan pikiran. (1983) Foundation of Education. 2nd Edition. (1980). berlari. Clark.tampa ada ruang gerak yang memadai. Perangsangitu menimbulkan reaksi seperti mana berkedip kalausilau. yaitu adagerakan yang merupakan akibat dari kemauan.3 . batuk kalau salah telan. Gerak dasar tersebut meliputi berjalan. G e r a k a n r e f l e k s Gerakan refleks disebabkan oleh dorongan yangdatang dari luar berbentuk perangsang.Perkembangan penguasaan gerak terjadi sejalan denganpertumbuhan fisik. ( bolamelicin ) atau macam ± macam bola yang lainya. tetapi bagianlain dari tubuh tubuh juga dapat digunakan.meremas remas jari ± jari tangan dll Beberapa macam metorik Gerakan . New York: Macmillan Publishing Company Inc. melompat. dan lari.Gerakan memantul. K e ma m p u a n ma ni p u l a t i f Kemampuan manipulatif dikembangkan ketika ananktengah menguasai macam ± macam obyek. Iowa: Wm C. Mosby Company.Kemampuaan non ± locomot or Kemampuan non ± locomotor dilakukan di tempat. Brown Company Publishers. kita bagi gerakanitu menjadi 3 golong :1 . Joseph F. agarlebih mudah mengenali geraknya.Kemampuan melibatkan tangan dan kaki. memukul. Leonard H.berlari.2 .skipping. melompat. G e r a k a n s p o n t a n Pada gerakan spontan. Charles B.menendang ) 2.mulanya dirasakan sebagai tidak bertujuan.2. k e ma mp u a n l o c o mo t or kemampuaan locomotor digunakan untukmemindahkan tubuh dari satu ketempat lain atau untukmengagngkat tubuh keatas seperti : lompat dan loncat. sepertimenggoyang ± goyang kaki yang tergantung. muntah kalau merasapahit.melipat.

Koenig.and Walter Dick. (1980). New York: Harper &Row Publishers. Richard A. Leslie 1. (1984). Charles B. George H. St. 2nd Edition. (Ed. Thomas. Teaching Physical Education: A System Approach. Singer. Motor Learning: Concepts and Application. Lee. New Jersey: Prentice-Hall. (1982). Inc. Constance R. New York: Macmillan Publishing Company Inc. Khaterine T. Evelyn L. Dubuque. Madison Wisconsin: Brown and Benchmark Publishers. Brown Company Publishers. Clark. Boston: Houghton Miffin Company. Schurr. Amelia M. ATexbook of Motor Development. Callahan. Learning Theoriesfo Teachers.. The CV. Corbin. Principles of Instructional Design. . (1980). Englewood Cliffs. Methods and materialsfor Secondary School Physical Education.. Robert M. Edisi Agustus 2006 Gagne. Iowa: Wm.). Motor Learning and Control: A Neuropsychological Approach. Bigge. Leonard H. Jerry R. (1979). Singer. (1983) Foundation of Education. Brown Publishers.. Louis. Dubuque. Morris. (1984). (1980).. Olahraga. (1988). New York: Macmillan Publishing Co. (1983). Robert N. Sage. Mosby Company. Motor Learning and Human Performance: An Application to Physical Education Skills. 2ndEdition.DAFTAR PUSTAKA Bucher. 3m Edition. (1975). Robert N. Rinehart and Winstoin. Thomas. Joseph F. C. L. Inc.. Movement Experiences for Children: A Humanistic Approach to Elementary School Physical Education. Charles A.. Magill. Iowa: Wm C. New York: Holt. Briggs.

. Champaign Illinois: Human Kinetics Books.Physical Education for Children: Concepts into Practice.

Dan diserahkan pada saat Kuliah Kamis tanggal 15 maret 2012. Berikut saya sampaikan bahan untuk F1. Jelaskan sistem energi yang anda tahu dikaitkan dengan aktivitas olahraga ? 2. . Mengapa Asam laktat dapat dikatakan sebagai bahan enegri setengah jadi ? Hanya tiga topik. Silakan kerjakn di rumah masing-masing. 1.Bahan F1 (MK Fisiologi Olahraga) Kepada Mhs untuk MK FISIOLOGI OLAHRAGA hari Kamis. Apa manfaat pemahaman sistem energi bagi penerapan latihan olahraga ? 3. Hari kamis saya berada di Simeuleu.

.

Penutup .

Oxendine. 1985 Marteniuk. Ronald. 1992 Magill. P and Dauer. Pendidikan Olahraga. Inc. Information Processing in Motor Skills. London: Collier Macmillan Publishers. Englewood New Hall. Rujukan Terpilih Abdulkadir Ateng. 1987. 1984 Jersey: Prentice Pangrazi. A. Movement in Early Chilhood and Elementary Education. B. Sebagai bagian dari teori belajar. Belajar Gerak. B. 1989) Schmidt. komunikasi dan fisiologi yang memiliki koneksi langsung dengan teori belajar gerak. Perkembangan Motorik dan Belajar Gerak Pada Anak-anak Sekolah Dasar. Champaign: Human Kinetic Publishers. fisiologi dan psikologi. Joseph. 1981). E. (Jakarta: FPOK IKIP Jakarta. Asas dan Landasan Pendidikan Jasmani. tampaknya perlu dilakukan analisis komprehensif terhadap beberapa teori psikologi. C Brown Publisher. P. Mineapolis: Burgess Publishing Company. N. dengan seksama. maka tampak bahwa sesungguhnya belajar gerak memiliki instensi dan koneksi yang kuat dengan teori belajar. Jakarta: Yayas-an Pengembangan Olahraga Indonesia. Karena memang lulusaan dari institusi ini akan berhadapan langsung dengan dunia aktivitas gerak manusia. Champaign: Human Books. 1988 ²²²²²²²²±. secara khusus dapat diartikan sebagai suatu proses perubahan atau modifikasi tingkah laku individu akibat dari latihan dan kondisi lingkungan (Drowatzky. Motor Learning: Concepts and Aplications. teori belajar gerak dapat dipahami dan diimplementasikan sebagai bagian integral dari pengembangan kompetensi professional guru. 1990 ²²²²²²²²-. untuk lebih memahami teori belajar gerak secara komprehensif. A. Robert. 1991 Kinetics Singer. Richard. Lebih . 1980 Belajar gerak. Motor Learning and Human Performance. Sementara itu. G. 1981 Rahantoknam. Sehubungan dengan hal tersebut. Dengan demikian. Victor. Jakarta: P2TK Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Dubuque: Wm. memasukkan teori belajar gerak sebagai bagian integral dari seperangkat mata kuliah di Fakultas Ilmu Keolahragaan/Fakultas Pendidikan Olahraga/Jurusan Pendidikan olahraga merupakan suatu tindakan yang tepat. Motor Control and Learning: A Behavioral Emphasis. New York: Holt Rinhat an Winston. Richard. tahapan belajar juga merupakan bagian dari teori komunikasi. Pshychology of Motor Learning. Jakarta: IKIP Jakarta 1993 ²²²²²²²².Bila kita cermati uraian di atas. Motor Learning Performance. Robert.

yaitu: a) merupakan merangkaian proses. menyatakan bahwa belajar gerak mempunyai beberapa ciri. Dalam belajar gerak ada beberapa gerak dasar yang harus dikuasai oleh setiap anak usia dini. e) bisa menimbulkan efek negatif. Adapun gerak dasar yang dimaksudkan dapat digambarkan sebagai berikut: .lanjut Schmidt (1988). b) menghasilkan kemampuan untuk berespon. bersifat relatif permanen. c) tidak dapat diamati secara langsung. d) sebagai hasil latihan.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.