P. 1
Analisis Alkohol

Analisis Alkohol

|Views: 1,678|Likes:

More info:

Published by: Adzhar Iskandar Faturuzi on Mar 13, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/10/2013

pdf

text

original

BAB I

PENDAHULUAN

Alkohol merupakan zat yang berbahaya dan juga bermanfaat karena dapat digunakan sebagai bahan pelarut bagi zat yang tidak larut dalam air dan juga berkhasiat sebagai antipiretik. Namun dikatakan berbahaya karena dapat

mengakibatkan ketergantungan jika digunakan dalam jumlah yang banyak dan dikonsumsi secara sembarangan. Penggunaan alkohol saat ini kita ketahui sangat banyak, utamanya dalam makanan atau minuman sehingga penggunaannya dalam masyarakat sudah sangat meluas dan tidak dapat dicegah lagi. Di negaara-negara barat alkohol merupakan salah satu masalah sosial yang tidak dapat ditangani lagi. Di Indonesia hal ini masih dapat diatasi namun tidak dapat dipungkiri penggunaan alkohol bisa mendorong terjadinya kegiatan - kegiatan yang sangat meresahkan masyarakat seperti pencurian dan kejahatan-kejahatan lainnya. Di Indonesia ada peraturan sendiri tentang alkohol, mengingat banyaknya produk yang berada di pasaran yang mengandung alkohol salah satunya terdapat pada sampel yang akan digunakan. Untuk itu dilakukan percobaan ini, karena percobaan ini kita dapat mengetahui kadar alkohol yang terdapat pada sampel. Maksud percobaaan ini adalah Untuk mengetahui kadar alkohol yang terdapat dalam suatu produk makanan dan minuman yang beredar di pasaran.

Tujuan percobaan adalah untuk menentukan kadar alkohol yang terdapat dalam minuman Topi miring Prinsip percobaan ini adalah Analisis alkohol yang dilakukan dengan cara destilasi (penyulingan) kemudian hasil destilat yang diperoleh dimasukkan kedalam piknometer kemudian diukur selanjutnya ditimbang.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Uraian Materi

Alkohol merupakan suatu bahan yang mempunyai efek farmakologi dan cenderung menimbulkan ketergantungan serta berinteraksi dengan obat lain (Guntur M, 2004). Pada alkoholisme terdapat variasi dalam derajat gangguan psikologik, nutrisi, ketergantungan fisik dan hilangnya control. Peminum alkohol juga sering terlibat dengan penggunaan-penggunaan obat lain seperti sedative amfetamin bahkan juga narkotik. Motivasi peminum alcohol adalah untuk mendapatkan euphoria, melepaskan emosi serta melepaskan diri sementara dengan depresi atau anastesi yang dialaminya (Guntur M, 2004). Penggunaan alkohol secara kronis meningkatkan kapasitas metabolisme terhadap alkohol. Hal ini menyebabkan toleransi farmakokinetik. Kecepatan metabolisme alcohol ini turun menjadi normal kembali beberapa minggu setelah kebiasaan minum alkohol dihentikan. Selain itu, alkohol juga memperlihatkan toleransi farmakodinamik artinya tanda-tanda keracunan baru mulai timbul pada kadar alkohol darah yang lebih tinggi dibanding kadar yang menimbulkan

keracunan pada orang bukan bukan peminum alcohol. Peminum dengan kadar alkohol di atas 200 mg masih dapat mengerjakan tugas yang sulit, sedangkan pada

orang normal yang separuhnya sudah menimbulkan keracunan yang nyata (Guntur M, 2004). Turunan alkohol dapat digunakan untuk antiseptik pada pembedahan dan pada kulit, misalnya etanol dan isopropyl alcohol. Selain itu juga dapat digunakan sebagai pengawet, misalnya benzyl alkohol, karbutanol, dan dapat juga dijadikan untuk mensterilkan udara, dalam bentuk aerosol, misalnya etilen glikol , propilen glikol dan trimetil glikol (Armadji S, 1989). Pada senyawa turunan alifatik, dengan bertambahnya jumlah atom C, kelarutan senyawa dalam air akan menurun dan kelarutan dalam lemak meningkat, sehingga meningkat pula aktifitasnya. Misalnya alkohol primer lebih aktif upa dibandingkan dengan alcohol tersier. Adanya ikatan rangkap mempunyai efek serupa dengan adanya percabangan, contohnya asil alkohol dibandingkan dengan n-propil alkohol (Armadji s, 1989). Turunan alkohol dapat menimbulkan denaturasi protein sel bakteri dan proses tersebut memerlukan air, hal ini ditunjang oleh fakta bahwa alkohol absolute yang tidak mengandung air, mempunyai aktifitas bakteri lebih rendah dibandingkan Dengan alkohol yang mengandung air, selain dari pada turunan , alkohol juga menghambat system fosforilasi dan efeknya terlihat jelas pada mitokondria, yaitu pada hubungan subrtrat Nikotinamida Adenin Dinikleatida (NAD) (Armadji S, 1989).

B. Uraian Bahan

1.

Aquadest (DEPKES RI Edisi III hal 96) Nama Resmi Nama Lain Rumus Kimia Berat molekul Pemerian Penyimpanan Kegunaan : AQUADESTILLATA : Air Suling : H2O : 18,02 : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa : Dalam wadah tertutup rapat : Pelarut

2.

Asam sulfat (DEPKES RI Edisi III hal 52) Nama Resmi Nama Lain Rumus Molekul Berat Molekul Pemerian : ACIDUM SULFURICUM : Asam sulfat : H2SO4 : 98,07 : cairan kental seperti minyak, korosif, tidak berwarna, jika ditambahkan ke dalam air akan menimbulkan panas. : Dalam wadah tertutup baik : Zat tambahan

Penyimpanan Kegunaan 3.

Topi miring (Minuman beralkohol golongan B) Mengandung : 1000 gram air, destilasi fermentasi beras ketan, pengaroma dan perasa jenever.

BAB III

METODE KERJA

A. Alat dan Bahan

1.

Alat-alat yang digunakan a. Alat destilat b. Asbes c. Erlenmeyer d. Gelas ukur e. Gelas kimia f. Labu destilasi g. Pipet tetes h. Piknometer i. j. Statif Timbangan analitik

2.

Bahan – bahan yang digunakan a. Aquadest b. Aluminium foil c. Asam sulfat d. Sampel Topi miring

B. Prosedur kerja

1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan 2. Dipipet 50 ml cairan uji kedalam labu destilat 3. Ditimbang aquadest hingga diperoleh destilat sebanyak 46 - 47 ml 4. Destilat yang diperoleh dimasukkan dalam piknometer 50 ml yang beratnya telah diketahui dengan pasti 5. Dicukupkan volumenya dengan aquadest kemudian ditimbang 6. Terlebih dahulu timbang berat kosong pikno dan pikno isi air 7. Hitung berat jenis relative dan tentukan kadar etanolnya menggunakan daftar bobot jenis dan kadar etanol yang terdapat dalam FI Edisi IV.

BAB IV

HASIL PRAKTIKUM

Berat piknometer kosong Berat piknometer kosong + air Berat piknometer kosong + air + destilat

= 27,9 g = 76,2 g = 74,8 g

BJ =

( pikno kosong + destilat + air ) – berat pikno kosong ( pikno kosong + air ) – berat pikno kosong 74,8 – 27,9 76,2 − 27,9 46,9 48,3

BJ =

BJ =

BJ = 0,971 g Menurut Depkes RI Edisi IV hal 1221 0,9710 = 18,77 0,9721 = 17,93 0,9721 – 0,9710 0,9711 – 0,9710 0,0011 0,0001

% K =

% K =

% K = 11 %

% K = 18,77 – 11 % K = 7,77 % Untuk menentukan adanya penyimpangan : 7,77 % = 0,56; 0,56 < 1 14 %

Reaksi : H2SO4 + H20 2C2H5OH + H2SO4

→ →

H3O+ + H2SO4(C2H5)2SO4 + 2H2O

BAB V

PEMBAHASAN

Alkohol digunakan secara luas dalam industri ditempat lain sehingga akan terminum dengan tidak sengaja. Bila disimpan dalam botol dengan etiket yang keliru. Dosis letal alkohol sangat sulit ditentukan. Alkohol cepat diabsorpi dari saluran cerna bagian atas dan tersebut dalam jaringan-jaringan sesuai kandungan airnya, efek utamanya adalah despersi SSP. Pada percobaan ini mengukur kadar alkohol dalam minuman keras dengan piknometer, dimana sampel yang digunakan adalah Topi miring yang kadar alkoholnya pada etiket adalah 14%. Pengujian sampel dilakukan dengan cara diambil sampel sebanyak 50 ml lalu ditambahkan aquadest 100 ml kemudian didestilasi setelah itu dimasukkan kedalam piknometer kosong, sebelumnya ditimbang terlebih dahulu pikno kosong, pikno ditambah air dan selanjutnya pikno ditambah sampel yang telah didestilasi. Dimana berat pikno kosong adalah 27,9 gram, pikno ditambah air beratnya 76,2 gram dan pikno ditambah sampel beratnya 74,8 gram. Jadi, berat jenisnya adalah 0,971 gram. Berdasarkan data tersebut maka dapat diketahui kadar alkohol dalam sampel adalah 7,77%. Hal ini tidak sesuai dengan yang tercantum pada etiket. Ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya penyimpangan kadar alcohol antara lain: kesalahan dalam penimbangan, alat destilasi yang digunakan masih

klasik sehingga hasil destilat yang diperoleh kurang baik, ketidak telitian dalam pembacaan skala. Adapun efek alkohol terhadap tubuh bila digunakan secara berlebih yaitu: 1. Terhadap SSP; alkohol mendispersi SSP, sama seperti anastetik daya ikat, konsentrasi dan kesadaran menjadi tumpul dan lama-lama hilang. 2. Terhadap sistem kardiovaskuler; Efek langsung terhadap darah sangat kecil tekanan darah, tetapi dalam konsumsi lama dapat merusak jantung menetap. 3. Terhadap saluran cerna; Alkohol meransang sekresi asam lambung dan saliva. Alkohol meransang pelepasan gastrin, karena merupakan stimulan sekresi asam lambung yang kuat. 4. Terhadap hati, keracunan akut alkohol pada manusia tidak menyebabkan gangguan fungsi hati menetap, tetapi bila diminum secara kronuk dapat menimbulkan berbagai kerusakan yang berhubungan dosis. 5. Efek teratogenik; Alkohol menimbulkan efek teratogenik kelaianan SSP berupa IQ rendah dan mikrosetas, pertumbuhan lambat itu sebabnya wanita hamil dilarang mengkonsumsi alkohol karena dapat membunuh bayi. Pada proses pengerjaan sebelum sampel atau cairan uji destilasi ditambahkan asam sulfat P terlebih dahulu, tujuannya adalah agar pada saat destilasi dapat terjadi reaksi asam kuat selain untuk mencegah buih sehingga tidak ikut naik ke kondensor. Dari hasil praktikum analisis alkohol berat jenis yang didapat adalah 0,9711 gram dan % K yang didapat diperoleh 7,77%, sedangkan kadar alkohol yang tertera pada etiket sampel 14%, penyimpangan yang terjadi 0,56 yang kurang dari 1 sehingga tidak begitu berpengaruh.

Berdasarkan hasil % kadar yang diperoleh, maka sample “Topi Miring”, termasuk dalam minuman beralkohol golongan B1. Penggolongan didasarkan atas penggolongan minuman mengandung alcohol sebagai berikut: No. 1 2 3 4 5 Golongan A1 A2 B1 B2 C Kadar alkohol ( % ) <1 >1 - 5 >5 - 15 >15 - 20 > 20

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil dari percobaan yang dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa :  BJ alkohol yang terdapat pada minuman keras Topi Miring adalah 0,9711 gram.  % K dari Topi miring adalah 7,77 %

B. Saran

Kami sebagai praktikan sangat mengharapkan arahan dan bimbingan dari kakak asisten baik dalam praktikum maupun dalam pembuatan laporan.

DAFTAR PUSTAKA

Armadji S, 1989. Analisis Bahan Makanan Dan Pertanian. Yogyakarta: Liberty. Dirjen POM, 1979. Farmakope Indonesia; ed III. Jakarta: Departemen kesehatan RI. Dirjen POM, 1995. Farmakope Indonesia; ed IV. Jakarta: Departemen kesehatan RI. Djide M, Natsir. 2003. Mikrobiologi Farmasi. Makassar: Fakultas MIPA Universitas Hasanuddin. Tim Dosen dan Asisten, 2006. Penuntun Praktikum Analisis Bahan Makanan Dan Minuman. Makassar: Laboratorium kimia Farmasi, Fakultas MIPA Universitas Indonesia Timur.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->