P. 1
METODOLOGI PERIWAYATAN HADIS

METODOLOGI PERIWAYATAN HADIS

|Views: 63|Likes:
Published by SANGKALAD

More info:

Published by: SANGKALAD on Mar 14, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/05/2013

pdf

text

original

METODOLOGI PERIWAYATAN HADIS (Kajian Terhadap Periwayatan Hadis bi al-Lafẓīy wa al-Ma‟na dan Metode al-Taḥammul al-Ḥadīth wa Adāʻuhū) Oleh

: Akh. Syaiful Rijal PAI-FIQIH (A) PASCASARJANA IAIN SUNAN AMPEL 2010 A. Pendahuluan Hadis Nabi Saw. merupakan sumber ajaran Islam kedua setelah al-Qur‟an yang dihadirkan sebagai salah satu petunjuk bagi umat Islam dalam menjalankan tuntunan agamanya. Keberadaan hadis dalam kehidupan masyarakat menjadi penting tatkala dalam al-Qur‟an tidak didapatkan penjelasan yang rinci dalam suatu persoalan. Namun, kehadiran hadis sebagai sumber pokok ajaran Islam, memang banyak dipersoalkan, hal ini berkaitan dengan matan, perawi, sanad dan lainnya, yang kesemuanya menjadi penentu boleh atau tidaknya suatu hadis untuk dijadikan hujjah. Hal ini yang menyebabkan ijtihad para ulama hadis bisa melahirkan dua komponen ilmu dalam mempelajari, memahami, menganalisa dan mengamalkan hadis Nabi saw, yaitu yang dikenal dengan ilmu riwayah dan ilmu dirayah hadis . Keduanya tidak dapat dipisahkan sebagai dasar untuk mengetahui otentisitas hadis. Di awal masa Islam sudah timbul perbedaan pemahaman dalam penyampaian redaksi hadis yang dilakukan para sahabat antara tekstual dengan kontekstual sehingga melahirkan apa yang disebut dengan periwayatan hadis bi al-lafẓi wa al-ma‟na. Pada tingkat selanjutnya ada permasalahan dalam tata cara penerimaan dan penyampaian hadis yang dikenal dengan istilah taḥammul alḥadīth wa adā‟uhū, yang bisa menentukan kualitas sebuah hadis karena terkait dengan orang yang meriwayatkannya. Dalam makalah ini kami akan mendeskripsikan dan menganalisa lebih jauh tentang taḥammul alḥadīth wa adā‟uhū dan periwayatan hadis bi al- lafẓi wa al-ma‟na, sebagai salah satu bidang cakupan penentu kevalidan sebuah hadis. B. Definisi Periwayatan Hadis bi al-Lafẓiy dan bi al-Ma‟na Ada dua tata cara dalam proses transmisi redaksi hadis, yakni periwayatan yang dilakukan secara lafal dan periwayatan secara makna. 1. Definisi Periwayatan Hadis bi al-Lafẓiy Periwayatan hadis dengan lafal adalah cara periwayatan hadis yang disampaikan sesuai dengan lafal yang disabdakan oleh Nabi saw. secara persis tanpa ada perubahan sedikitpun pada tatanan kalimatnya. Atau dengan kata lain, meriwayatkan hadis dengan lafal yang masih asli dari Nabi saw. Riwayat hadis dengan lafal ini sebenarnya tidak ada persoalan, karena sahabat menerima langsung dari Nabi baik melalui perkataan maupun perbuatan, dan pada saat itu sahabat langsung menulis atau menghafalnya. Sahabat yang terkenal ketat dalam menjaga otentisitas redaksi hadis adalah Abdullah bin Umar. Ia tidak memperkenankan adanya pengurangan atau penambahan satu huruf pun dari redaksi hadis. Dalam sebuah kasus, ia pernah menegur „Ubaid bin Amir ketika meletakkan puasa dalam lima prinsip Islam pada urutan nomor tiga yang seharusnya ada pada urutan nomor empat sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi saw. Dikisahkan pula bahwa Barrā‟ ibn „Āzib pernah diajari oleh rasulullah saw. sebuah do‟a sebelum tidur yang didalamnya ada kata “bi nabiyyika” dan ketika itu al-Barra‟ menyakan apakah kata itu bisa diganti dengan “bi rasūlika” beliau menolak, dan tetap meneruskan dengan kata “bi nabiyyika”. Untuk lebih jelasnya penulis bisa menyajikan bentuk doa yang diajarkan oleh Nabi saw kepada al-Barra‟ bin „Azib, sebagai berikut;

ٔ‫ٚ د ان ٗ ف سا شك طاْسا ف رٕ سد ٚ ً ٛ ُك ث ى ق م: ان هٓى أ س هًد ٔجٓٙ ان ٛك ٔف ٕ ظد أيس٘ ان ٛك إذا أ‬ . Hadis yang bisa dijadikan contoh untuk lafal ibadah ini seperti bacaan dzikir yang diriwayatkan dari Shaddad bin Aus ra.” c. Hadis yang berkaitan dengan masalah aqidah seperti tentang dzat dan sifat Allah. ulama ushul dan ulama hadis yang tidak memberikan ruang sedikitpun pada periwayatan hadis secara makna. Jawāmi‟ al-kalimah (ungkapan-ungkapan Nabi saw yang sarat makna) karena Nabi saw memiliki faṣaḥaḥ dalam perkataan yang tidak dimiliki yang lainnya. syahadat. Aku berlindung pada-Mu dari keburukan apa yang aku lakukan‟. dan sebagainya. ” b. Aku akui segala nikmat-Mu bagiku. Hal demikian dilakukan karena mengingat peringatan keras Nabi saw yang akan memasukkan mereka pada golongan pendusta hadis. seperti.‫ٔأن جأخ ظٓس٘ ان ٛك ال ي هجأ ٔال ي ُجٗ اال ان ٛك. Dari Abū Hurairah ra. demikian juga jika dibaca pada waktu pagi. ‫ان ٛايح ٔٚ ٕ٘ ان سًا ت ًٛ ٛ ُّ ث ى ٚ ٕل: أَ ا ان ً هك أٚ ٍ ي هٕ األزض ؟ ٚ ثط هللا األزض ٚ ٕو‬ .ٚ ً سٙ ف ًاخ د م ان ج ُح أٔ ك اٌ يٍ أْم‬ “Paling tingginya ucapan istighfar adalah: „Ya Allah Engkaulah Tuhanku. Bisa diambil contoh seperti sabda Nabi saw tentang umat Islam. dan aku lindungkan harapanku pada-Mu. Ya Allah aku sejahterakan wajahku di hadapan-Mu. rukun iman. Engkau menciptakanku maka aku adalah hamba-Mu. Akan tetapi dalam kenyataannya periwayatan hadis dengan lafal ini sangat sedikit jumlahnya. Ciri-ciri hadis yang memang harus diriwayatkan dengan lafal ini hanya terbatas pada antara lain: a. tiada pelindung dan tempat berharap selain kepada Engkau. bahwa Rasulullah saw. Mereka mewajibkan periwayatan hadis dengan lafal. dan lain sebagainya. dan ku akui segala dosa ini padaMu maka ampunilah aku karena tiada yang bisa mengampuni segala dosaku selain Engkau. Jika mereka menemukan keraguan untuk meriwayatkan sebuah hadis. إذا ق ال د‬ ٚ ‫ٔأت ٕ ن ك ت رَ ثٙ ف اغ س ن ٙ ف إَ ّ ال‬ ‫ان ج ُح ٔإذا ق ال د ٍٛ ٚ ص ثخ ف ًاخ يٍ ٚ ٕيّ ي ث هّ. aku pasrahkan urusanku pada-Mu. ُّ ‫ان ً س هى يٍ س هى ان ً س هًٌٕ يٍ ن ساَ ّ ٔٚ دِ . Sikap demikian tidak hanya terjadi di tingkatan pada sahabat tetapi dapat ditemui pula dari pendapat segolongan ulama fiqh. rukun Islam. Hadis yang merupakan lafal-lafal ibadah (ta‟abbudiyyah). doa. dan tidak memperbolehkan periwayatan dengan makna sama sekali. zikir. bersabda. bahwa Rasulullah saw. Jika ini dibaca pada waktu sore kemudian ia mati maka ia langsung masuk surga atau ia termasuk dari penduduk surga. mereka memilih diam. Dan atas janji dan ancaman-Mu aku lakukan semampuku. Untuk kategori ini penulis mengambil contoh hadis tentang sifat Allah swt. ٔان ًٓاجس يٍ ْجس يا َ ٓٗ هللا‬ “Orang Islam itu adalah orang yang orang-orang Islam lainnya selamat dari lidah dan tangannya. tiada Tuhan selain Engkau.” Tingkat kepedulian para sahabat dalam menjaga otentisitas hadis ini tergambar jelas ketika mereka tidak gegabah dalam meriwayatkan hadis sebelum mereka yakin betul kebenaran lafal dan ketepatan huruf serta memahami maknanya. ٙ‫سٛد االسر از: انهٓى أَد زتٙ ال إنّ إال أَد ه رُٙ ٔأَا ثد ٔأَا هٗ ٓد ٔٔ د يا اسر د أتٕ نك تُ ًرك ه‬ ٍٛ ‫س ان رَ ٕب إال أَ د أ ٕذ ت ك يٍ شس يا ص ُ د. أي ُد ت ك رات ك ان ر٘ أَ صن د َٔ ث ٛك ان ر٘ أز س هد‬ “Apabila kamu berbaring di tempat tidurmu dalam keadaan suci lalu meletakkakan tangan kananmu (pada kepalamu sebagai bantal) maka berdoalah. bersabda. seperti tentang bacaan azan. Aku beriman pada kitab yang Engkau turunkan dan kepada nabi yang Engkau utus.

Hal ini dikarenakan para sahabat memiliki kualitas daya ingatan yang beragam. baik perkataan. Di samping itu. Bisa didefinisikan bahwa periwayatan hadis dengan makna adalah periwayatan hadis dengan maknanya saja sedangkan redaksinya disusun sendiri oleh orang yang meriwayatkan. atau wa al-lafẓ li al-Bukhārīy”. ibadah dan yang mengandung kalimat-kalimat yang sarat makna dari Nabi saw. yang tidak semua dalam bentuk perkataan sehingga keharusan periwayatan hadis harus dengan lafal itu tidak bisa terjadi. tanpa ada penambahan atau pengurangan sedikitpun. ada yang kuat dan ada pula yang lemah. lebih senang dilempar ke dalam neraka daripada kembali pada kekufuran sesudah ia diselamatkan oleh Allah.“Pada hari kiamat Allah menggenggam bumi dan melipat langit dengan tangan kanan-Nya. Adapun hadis-hadis yang sudah terhimpun dan dibukukan dalam kitab-kitab tertentu (seperti sekarang). yaitu tidak boleh masuk pada ranah hadis yang berbau aqidah. Tetapi dalam kenyataannya. penetapan. Muhammad bin Sirin. periwayatan hadis itu diperketat agar tidak terjadi periwayatan yang bukan dari Nabi saw. mengingat karena para sahabat memiliki pengetahuan bahasa Arab yang tinggi (faṣaḥaḥ). Kemudian Dia berfirman. dimanakah para raja dunia itu?‟” Namun ketika dihadapkan pada persoalan bahwa hadis bukan hanya berbentuk perkataan saja tetapi juga dengan perbuatan dan ketetapan Nabi saw. Menukil atau meriwayatkan hadis secara makna ini hanya diperbolehkan ketika hadis-hadis belum terkodifikasi. Karena itu. mereka berpendapat bahwa periwayatan redaksi hadisnya secara makna sepenuhnya hanya diperbolehkan pada tingkatan sahabat. 2. wa al-lafẓ li Muslīm. tampak sangat jelas bahwa periwayatan hadis secara makna itu ada dan diperbolehkan. Atau dengan kata lain. lalu disampaikan oleh para sahabat dengan lafal atau susunan redaksi mereka sendiri. kita bisa menjumpai komentar hadis “muttafaq „alayh. Definisi Periwayatan Hadis bi al-Ma‟na Dalam sejarah perjalanan hadis diketahui bahwa sepeninggal Rasulullah saw. Yaitu. kemungkinan masanya sudah lama sehingga yang masih diingat hanya maksudnya sementara apa yang diucapkan Nabi sudah tidak diingatnya lagi. Menurut hemat penulis. sehingga redaksi hadis tidak mengalami perubahan sama sekali. dan Sa‟lab bin Nahwiy. Raja‟ bin Haywah. para ulama yang bersikeras mempertahankan riwayat hadis secara lafal. seperti Abu Bakar al-Arabi. tetapi mereka menyandarkannya pada Nabi saw demi kepentingan diri atau kelompok mereka. tidak diperbolehkan merubahnya dengan lafal/matan yang lain meskipun maknanya tetap tanpa ada perubahan. ٌ‫ال ٚ جد ادد د الٔج االٚ ًاٌ د رٗ ٚ ذة ان ًس ال ٚ ذ ثّ اال هلل ٔ د رٗ اٌ ٚ رف ف ٗ ان ُاز ادة ان ّٛ يٍ ا‬ .‫ًا‬ ْ‫ٚ سج ع ان ٗ ان ك س ت د إٌ اَ رِ هللا ٔد رٗ ٚ كٌٕ هللا ٔز سٕن ّ ادة ان ّٛ يًا سٕا‬ “Tidaklah seseorang akan mendapatkan manisnya iman sampai ia mencintai seseorang hanya karena Allah. perbuatan. banyak dijumpai hadis yang memiliki makna sama tapi diungkapkan dengan redaksi yang berbeda-beda. Dengan demikian. Qasim bin Muhammad. meskipun tidak setingkat dengan susunan kalimat Nabi saw. dan Allah dan rasul-Nya lebih dicintai daripada lainnya”. Untuk memperjelas adanya hadis yang diriwayatkan secara makna penulis akan memberikan gambaran contoh sebagai berikut. periwayatan secara lafal tidak mungkin seluruh hadis bisa dilaksanakan mengingat pengertian hadis itu sendiri merupakan segala sesuatu yang disandarkan pada Nabi saw. apa yang diungkapkan oleh Rasulullah saw hanya dipahami maksudnya saja. tekad dan cita-cita Nabi saw. dan mereka telah menyaksikan secara langsung keadaan dan perbuatan Nabi saw. „Akulah yang Raja Diraja. Tentunya hal ini tetap dalam batasan-batasan yang telah diungkapkan oleh para ulama di atas. dengan mengharuskan para perawi menyampaikan hadis apa adanya. .

“Aku telah mendengarkan hadis dari sepuluh perawi yang mengandung makna sama tapi diungkapkan berbeda-beda. memahami apa yang diriwayatkan. Imam Mawardi mewajibkan menyampaikan hadis dengan maknanya jika susunan lafalnya tidak bisa diingat lagi. sebab jika hadis tersebut tidak tersampaikan meski dengan maknanya. namun keduanya diungkapkan dengan redaksi yang berbeda. dan lain sebagainya. mengetahui hal-hal yang memalingkan makna dari lafal dan hendaklah dia dari orang yang menyampaikan hadis persis sebagaimana yang didengar. Gambaran kondisi ini juga yang memperkuat pendapat . Tetapi apabila ia menyampaikan hadis secara yang didengarnya. „Amr bin „Ash. tidak lagi kita khawatir bahwa dia memalingkan hadis kepada yang bukan maknanya. boleh meriwayatkan dengan makna apabila dia tidak ingat lagi lafal yang asli.” Dari penjelasan ini nyatalah bahwa orang yang mengetahui hal-hal yang memalingkan makna dari lafal. Abū Hurairah. tetapi dengan syarat ia termasuk orang yang berilmu sangat dalam mengenai Bahasa Arab. karena di dalam ucapan-ucapan nabi sendiri terdapat faṣaḥaḥ yang tidak terdapat pada perawinya. baik dalam penggunaan lafal maupun susunannya.‫ًا ٔأٌ ٚ ذة ان ًس ال ٚ ذ ثّ ث الز يٍ ك ٍ ف ّٛ ٔجد د الٔج‬ ْ‫اإلٚ ًاٌ: أٌ ٚ كٌٕ هللا ٔز سٕن ّ أدة إن ّٛ يًا سٕا‬ . karena apabila diriwayatkan dengan makna sedang dia seorang yang tidak mengetahui hal-hal yang memalingkan makna niscaya tidaklah dapat kita mengetahui boleh jadi ia memalingkan yang halal kepada yang haram. “Jika seseorang tidak lupa kepada lafal hadis niscaya tidak boleh dia menyebutkan hadis itu dengan bukan lafalnya. Bahkan. antara lain. „Ikrāmah. Imam Shāfi‟iy menerangkan tentang sifat-sifat perawi. Hadis di atas sama-sama menerangkan tema tentang iman.” Pendapat lain diungkapkan oleh Ibnu Sirin . Kalau tidak demikian maka tidak diperbolehkan meriwayatkan hadis hanya dengan maknanya saja dan wajib menyampaikan dengan lafal yang ia dengan dari gurunya.‫إال هلل ٔأٌ ٚ كسِ أٌ ٚ ٕد ف ٙ ان ك س ك ًا ٚ كسِ أٌ ٚ رف ف ٙ ان ُاز‬ “Tiga hal yang membuat seseorang akan merasakan manisnya iman. lafal dan maknanya. maka ia termasuk orang yang menyembunyikan sumber hukum Islam. Dalam kesempatan lain Al-Māwardiy juga berpendapat. ia mencintai seseorang karena Allah dan membenci kembali kepada kekufuran sebagaimana ia membenci untuk dicampakkan ke dalam neraka”. 3. Sikap Para Sahabat dan Jumhur Ulama terhadap Periwayatan Hadis bi al-Ma‟na Para sahabat yang banyak menerima hadis dengan redaksi yang beragam. karena dia telah menerima hadis. Secara tidak langsung mereka memperbolehkan meriwayatkan hadis secara makna. dan berpandangan luas tentang fiqh beserta istilahistilah hukum di dalamnya sehingga akan tetap terjaga dari pemahaman yang berlainan dan hilangnya kandungan hukum dari hadis tersebut. mengetahui sistem penyampaian dan penyusunan kalimatnya. Ibnu Abbās. yaitu hadis itu sendiri. adalah „Alī bin Abī Ṭālib. yaitu Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari lainnya. Anas bin Mālik. Jumhur ulama pun sebenarnya telah sepakat memperbolehkan seseorang mendatangkan atau meriwayatkan hadis dengan maknanya saja tidak harus dengan lafal aslinya. “Hendaknya orang yang menyampaikan hadis itu seorang yang kepercayaan tentang agamanya lagi terkenal bersifat benar dalam pembicaraannya.” Dengan pengakuan di atas menunjukkan bahwa periwayatan hadis dengan makna sudah tidak asing lagi di kalangan umat Islam. bukan diriwayatkan dengan makna. Dan hendaklah ia benar-benar memelihara kitabnya jika dia meriwayatan dengan hadis itu dari kitabnya.

setelah meriwayatkan hadis mereka mengatakan “aw kamā qāla” (atau seperti yang disabdakan Nabi saw). sedangkan menurut istilah adalah mengambil sebuah hadis dari seorang guru dengan cara atau metode tertentu (sebagaimana yang akan dibahas selanjutnya). ulama hadis mempersoalkan tentang boleh tidaknya perawi hadis meringkas atau memenggal matan hadis. Nabi saw bersabda. apabila peringkasan dilakukan oleh periwayat hadis. yang melakukan peringkasan haruslah orang yang benar-benar telah mengetahui kandungan hadis yang bersangkutan. c. Sesungguhnya berpangkal dari perbedaan tentang boleh-tidaknya periwayatan secara makna. Abu Darda‟. Hadis riwayat al-Baihaqiy dari Abdullah bin al-Ukaymah al-Laith. Pendapat yang terakhir ini banyak diikuti oleh ulama hadis. syarat yang dimaksud adalah: a. dan lain-lain. termasuk di dalamnya imam mazhab yang empat.jumhur ulama tentang pembolehan meriwayatkan hadis dengan makna. “aw nahwa hādha” (atau riwayat sejenis ini). d. Dan sebaliknya kegiatan menyampaikan atau meriwayatkan hadis dari seorang perawi kepada orang lain disebut dengan istilah al-adā‟. Metodologi al-Taḥammul wa al-Adāʻ Hadis Dalam ilmu hadis istilah yang digunakan oleh ulama ahli hadis tentang proses penerimaan dan periwayatan hadis (al-Taḥammul wa al-Adāʻ). 1. ulama berbeda pendapat tentang periwayatan hadis dengan cara meringkas atau memenggal matan tersebut. syarat. Syarat Kelayakan Penerima dan Penyampai Hadis Dalam kelayakan si penerima hadis para ulama memfokuskan diri pada pengambil hadis dari . Menurut penulis. ‫ا ف ال ت أضإذا ن ى ذ ذ هٕا دسايا ٔال ذ ذسيٕا د الل‬ “Jika kalian tidak merubah yang halal menjadi haram dan yang haram menjadi halal maka itu tidak apa-apa” Untuk menjaga sikap kehati-hatiannya dalam setiap meriwayatkan hadis para sahabat. Anas bin Malik. yang melakukan ringkasan bukanlah periwayat hadis yang bersangkutan. tidak terpenggal kalimat yang mengandung kata pengecualian (al-istithnā‟). C. ada yang membolehkannya tanpa syarat dan ada yang membolehkannya dengan syarat-syarat tertentu. maka harus ada hadis yang dikemukakan secara sempurna. penghinggaan (al-ghāyah) dan yang semacamnya. e. Pendapat yang cukup realistik dan hati-hati adalah pendapat yang membolehkannya dengan catatan harus dipenuhi syarat-syarat tertentu. Hadis Rasulullah saw menjadi landasan untuk memperkuat pendapat para ulama yang memperbolehkan meriwayatkan hadis secara makna. Praktek seperti ini sering dilakukan oleh Abdullah Ibnu Mas‟ūd. tabi‟in dan para ahli hadis setelah mereka sudah mentradisikan ungkapan khusus sebagai tanda bahwa hadis yang diriwayatkannya dilakukan secara makna. “aw qarīban minhu” (atau yang mendekati). Ada yang melarangnya. atau “aw shibhahu” (atau riwayat yang serupa). terutama mengenai keadaan peperangan atau peristiwa tertentu. Maka sepatutnya kiranya kita mengikuti jejak mereka dalam setiap selesai mengutarakan sebuah hadis sebagai sikap kehati-hatian kita atau memang ada keraguan dalam membacakan susunan kalimatnya. b. Definisi al-Taḥammul al-Hadith dan al-Adāʻ al-Hadīth Pengertian al-taḥammul menurut bahasa yaitu bentuk maṣdar dari : ‫ . Selajutnya. 2. peringkasan tidak merusak petunjuk dan penjelasan yang terkandung dalam hadis yang bersangkutan.ٚرذًم ذذًال –ذذًم‬Dikatakan ‫ دًهّ األيس‬maknanya adalah “membebankan suatu urusan kepadanya”.

maka ia sudah masuk usia tamyiz. Sudah barang tentu. c. kriteria di atas merupakan penentu diterima tidaknya riwayat hadis yang mereka sampaikan. Baligh dan berakal sehat. Al-‟adalah. Umur minimalnya lima tahun.” b. pintar. Metode al-Taḥammul al-Ḥadīth dan Sighat-Sighat al-Adā‟ Metode al-Taḥammul al-Ḥadīth adalah tata cara penerimaan hadis dari seorang guru kepada . c. Namun permasalahan yang muncul kemudian adalah mengenai ukuran tamyiz itu sendiri bagi bisa dipandang berbeda-beda. dan sebagainya. Karena tidak tertutup kemungkinan ada seorang perawi hadis yang ketika menerima hadis ia masih kecil sehingga dimungkinkan juga periwayatan hadisnya tidak sesuai dengan apa yang diterima dari gurunya. Ini menunjukkan secara jelas tentang keabsahan anak yang belum baligh mendengarkan hadis. Pendapat ini dikemukakan oleh al-Hafīẓ Musa bin Hārūn al-Hammāl.kalangan anak-anak. bak ketika menerima pelajaran hadits maupun menyampaikannya. Adapun orang yang menyampaikan (adā‟ al-hadīth) hadis harus memenuhi syarat sebagai berikut: a. dan tidak pelupa. Meskipun kegiatan menerima hadis di kalangan anak-anak masih diperbolehkan tetapi dalam menyampaikan atau meriwayatkan hadis mereka belum bisa diterima. a. Terbukti bahwa beberapa ahli hadis seperti al-A‟mash aktif menyebarkan hadis pada anak-anak. “aku masih ingat siraman Nabi saw dari timba ke mukaku. Hadis yang diriwayatkan oleh orang yang tidak mukallaf tidak dapat diterima. Perbedaan tersebut tergambar sebagai berikut. orang seperti ini mempunyai hafalan yang kuat. Salah satu syarat tidak terpenuhi maka gugurlah ia sebagai perawi hadis. dan selalu menjaga diri sedapat mungkin tidak melakukan dosa kecil. tabi‟in dan ulama fiqh tetap saja menerima hadis mereka tanpa ada pemilihan antara hadis yang mereka terima di waktu para sahabat tadi belum baligh dan sesudah baligh. Abdullah bin Abbās. Contoh dari kalangan sahabat pada saat mereka masih belia sudah menerima hadis adalah seperti Ḥasan Ḥusain. yaitu ukuran tamyiz. Orang ini tidak mau melakukan dosa besar. Hal ini memiliki relevansi dengan periwatan hadis yang dilakukan oleh seseorang yang di waktu menerima atau mendengar hadis ia belum masuk Islam dan menyampaikannya ketika sudah masuk Islam. Mahmūd bin Rabī‟. Menurut analisa penulis. baik mutaqaddimīn maupun muta‟akhkhirīn. Ini dilandaskan pada riwayat Imam al-Bukhārīy dalam ṣaḥīḥnya dari hadis Muḥammad bin Rabī‟ ra. Hadis yang diriwayatkan oleh non Islam tidak dapat diterima. maka hadisnya pun juga bisa diterima. Dengan kata lain. Untuk itulah para ulama juga berbeda dalam menentukan boleh dan tidaknya anak yang belum baligh menerimakan hadis. dan aku ketika itu berusia lima tahun. b. Keabsahan mendengarkan hadis bagi anak-anak jika ia telah memahami isi pembicaraan dan mampu memberikan jawaban. Al-dhabtu. Anās bin Mālik. 3. d. boleh menerima hadis di waktu belum baligh dan diriwayatkannya pada waktu sudah baligh dan riwayat hadisnya bisa diterima. Dimaksudkan di sini adalah teliti dan cermat. Ada syarat ukuran usia dari perawi yang masih anak-anak untuk bisa mendengarkan riwayat hadis. Abū Sa‟id al-Khuḍriy. Namun demikian para sahabat. Kegiatan mendengar oleh anak-anak itu bisa absah jika ia sudah bisa membedakan antara sapi dan himar. Abdullah bin Zubayr. berkata. Sebenarnya kegiatan mengumpulkan dan meriwayatkan hadis pada anak-anak sudah biasa terjadi di kalangan ulama. Pendapat ini dirumuskan oleh ulama hadis mutaqaddimīn. Islam. Yang dimaksud dengan persyaratan ini adala sifat yang melekat pada seorang periwayat hadis sehingga ia selalu setia terhadap Islam.

Beberapa kumpulan ulama pula menganggap cara ini tidak tepat dan ini salah satu dari dua pendapat yang dinukilkan dari Imam al-Shāfi‟iy. ada juga yang membaginya menjadi sembilan . membacakan kitab. Mengenai pembagian ijazah dalam meriwayatkan hadis para ulama berbeda pendapat. metode inilah yang paling kuat. yaitu: 1) Yang paling baik dengan mengatakan: ٌ‫( أجاش نٙ فال‬si fulan telah mengijazahkan kepada saya). Kategori ini adalah bagian ijazah tanpa munawalah yang paling tinggi. “saya memberi ijazah kepada si fulan dan anak yang akan dilahirkan”. Lafadz-lafadz Penyampaian. “Saya memberi ijazah kepada anda untuk meriwayatkan hadis-hadis yang saya dengar”. atau ḥaddathanā qirā‟atan „alayh. yaitu seorang murid membacakan hadis dihadapan guru. yaitu. Metode penerimaan hadis ada 8. 3) Istilah ulama muta`akhkhirīn: Lafadz la batik gnaragnep helo hilipid ini nad (imak adapek nakiapmaynem)‫-أَ ثأَ ا‬Wijādah. Bagaimanapun. khilaf tentang keharusan pemakaiannya. Para ulama membagi al-munawalah dalam dua bentuk. Al-Munāwalah. [1] al- . Istilah yang dipakai adalah: Anba‟anā. Istilah yang dipakai adalah: Akhbaranā. Ungkapan yang dipakai adalah: Sami‟tu. Memberi ijazah kepada orang yang tidak ada. Memberi ijazah kepada orang yang tidak tertentu dengan riwayat yang tidak tertentu seperti saya memberi ijazah kepada orang-orang di zaman saya untuk meriwayatkan hadis-hadis yang saya dengar. tanya-jawab atau dikte. Al-ijāzah. ḥaddathanī. Sementara bagian-bagian ijazah yang lain. yaitu pemberian ijin seorang guru kepada murid untuk meriwayatkan hadis tanpa membacakan hadis satu per satu. Guru memberi ijazah kepada orang tertentu untuk menerima riwayat yang tidak tertentu seperti dia mengatakan. yaitu: a. sedangkan dia meriwayatkan beberapa kitab sunan. dan sebagainya. yaitu suatu metode penyampaian langsung antara guru dengan murid. 4. d. Namun di sini penulis hanya menyajikannya dalam lima kategori saja. 1. c. 2. Al-samā‟. yaitu seseorang memberitahukan satu atau beberapa buah hadis atau kitab hadis kepada orang lain. Ada yang mengatakan dibagi menjadi delapan . penerimaan dan periwayatan hadis dengan cara ini (ijazah) merupakan penerimaan lemah dan belum pantas untuk langsung menerimanya. 2) Diharuskan dengan lafadz sama‟ yang mempunyai ketenntuan seperti ‫( ددثُا إجاشج‬dia telah menceritakan kepada kami secara ijazah) atau ‫جشاجإ اٌزبرأ‬ (dia telah mengabarkan kepada kami secara ijazah). bentuknya bisa membaca hafalan. “saya memberi ijazah kepada anda untuk meriwayatkan kitab sunan”. 3. contohnya. atau “saya memberi ijazah kepada Muḥammad bin Khālid al-Dimashqiy. padahal banyak orang yang mempunyai nama ini. Dalam metode ini seorang guru dapat mengoreksi hadis yang dibacakan murid. 5. “Saya memberi ijazah kepadamu meriwayatkan Sahih al-Bukhari”.muridnya. Al-‟ardhu atau al-qirā‟ah. Guru membacakan hadis. sedangkan sighat-sighat al-adā‟ adalah ungkapan-ungkapan yang dipergunakan ketika meriwayatkan atau menyampaikan hadis kepada muridnya sebagai sarana untuk menunjukkan cara pengambilan hadis yang diambil dari gurunya. Hukum untuk bagian pertama di atas adalah ṣaḥīḥ menurut pendapat mayoritas ulama dan dipakai secara berterusan serta harus meriwayatkan dengan cara ini dan beramal dengannya. Memberi ijazah kepada orang yang tidak diketahui atau riwayat yang tidak diketahui seperti. Dalam proses penyampaian hadis. Guru memberi izin kepada orang tertentu untuk riwayat yang tertentu seperti dia mengatakan. akhbaranā ijāzatan atau ḥaddathanā ijāzatan. b.

Hukumnya kontroversial. Ulama hadis berbeda pendapat mengenai hukum bagian yang kedua ini. sedangkan ulama Shāfi‟iyyah menerimanya. Al-wijādah. Sighat yang digunakan seperti “wajadtu bi khatti fulānin kadzā”.” dan ulama hadis menghukuminya boleh. g. bahwa hadis ini atau kitab hadis ini adalah hasil periwayatannya dari seseorang tanpa menyebut namanya dan tanpa ada izin untuk meriwayatkannya. menyatakan bahwa para ulama yang memperbolehkan mengamalkan hadis dengan metode al-wijādah ini menyandarkan pada sabda Rasulullah saw: ٌُٕ‫أ٘ ان ه أ جة إنٛكى إًٚاَا؟ قانٕا: انًال كح قال ٔكٛ ال ٚ يٌُٕ ْٔى ُد زتٓى؟ ٔذكسٔا األَثٛا ف ال: ٔكٛ ال ٚ ي‬ ‫ٔان ٕدٙ ٚ ُصل ه ٛٓى؟ ق ان ٕا: ف ُذٍ ق ال: ٔك ٛ ال ذ ي ٌُٕ ٔأَ ا ت ٍٛ أظٓسك ى؟ ق ان ٕا: ف ًٍ ٚ ا ز سٕل‬ ‫جعوج ٘با ز٘دح ٌو و احلأ ٖوزادلا ٔ دوحا ِأز( ”؟ قال: قٕو ٚأذٌٕ يٍ ت دكى ٚجدٌٔ صذ ا ٚ يٌُٕ تًا فٛٓا هللا‬ (ٖ‫االَ صاز‬ . Pendapat ini didukung oleh Imam Nawawi dan Ibnu Ṣālaḥ. Al-waṣiyyah. tapi kebanyakan ulama hadis tidak memperbolehkan meriwayatkannya. Ungkapan al-ada‟ yang dipergunakan adalah nawalanī.” dan dihukumi tidak boleh untuk meriwayatkannya pada orang lain. namun juga ada yang tidak membolehkannya. Banyak pendapat berkenaan dengan metode al-wijādah. cenderung memasukkan pada kumpulan hadis ḍa‟īf-nya. Syekh al-Albany dalam kitabnya “Al-Ḍa‟īfah”. “aku ijazahkan hadis yang aku tulis ini”. namun kebanyakan memperbolehkan meriwayatkannya. mereka membolehkan mengamalkan hadis dengan cara periwayatan al-wijādah. f. Ulama Malikiyah berpendapat.[2] al-munāwalah tanpa ada ijazah seperti guru menulis surat yang berisi hadis Nabi saw tapi tanpa ada ijazah untuk meriwayatkannya dari penulisnya. bahwa metode al-wijādah tidak bisa diterima riwayatnya. h. e. Sighat yang dipakai seperti “a‟lamanī shaykhīy bi kadhā”. “ini kumpulan riwayat hadisku yang aku dengar dari si Fulan. bahwa orang yang menulis kitab kumpulan hadis yang ditemukan itu adalah orang yang terpercaya dan sanad hadisnya ṣaḥīḥ. “Inilah yang mesti dilakukan pada masa-masa akhir ini. yaitu guru menginformasikan kepada muridnya. Lain halnya dengan golongan ulama Shāfi‟iyyah.munawalah yang disertai ijazah seperti seseorang mengatakan. Ulama dari Mālikiyyah menolak metode ini. Sighat yang digunakan seperti “awṣā ilayya fulān bi kadhā atau akhbaranī fulān bi kadhā waṣiyyatan”. Sebagaimana diisyaratkan oleh al-Budaihi. atau akhbaranā munāwalatan wa ijāzatan. “ini riwayat hadisku dari si Fulan. sehingga jika sudah terpenuhi semua syarat tersebut maka wajib mengamalkannya. nawalanī ijāzatan. Ulama hadis membaginya dua macam. [2] Kedua yang tanpa adanya ijazah seperti perkataan. terputus jalan periwayatannya karena tidak adanya pertemuan langsung antara guru dengan murid. maka riwayatkanlah dariku. Karena seandainya pengamalan itu tergantung pada periwayatan hadis maka akan tertutuplah pintu pengamalan hadis yang dinukil (dari Nabi saw) karena tidak mungkin terpenuhi syarat periwayatan padanya. Ini dihukumi ṣaḥīḥ dan sighat al-adā‟ yang dipergunakan adalah kataba ilayya fulān. Ibnu Ṣālaḥ mengatakan. Hukumnya boleh karena guru mewasiatkan kitab miliknya bukan riwayatnya. karena metode ini masuk kategori maqthū‟. yaitu guru mewasiatkan buku catatan hadis kepada muridnya sebelum meninggal dunia. yaitu seseorang menemukan catatan hadis seseorang tanpa ada rekomendasi untuk meriwayatkan hadis tersebut.” Tentu saja pembolehan ini ada batasannya. I‟lām al-shaykh. akhbaranī fulān kitābatan atau ḥaddathanī fulān kitābatan. Al-Sayūṭiy dan al-Baiquni kemudian dijadikan argumen oleh al-„Imād bin Kathīr. Al-Mukātabah. yaitu seseorang memberi catatan hadis kepada orang lain. [1] al-mukatabah yang disertai ijazah seperti perkataan.

. Al-Aḥdaliy. Demikian makalah ini penulis sajikan. penulis mengucapkan banyak terima kasih atas segala koreksi dan kesediaannya untuk membimbing penulis. Akhirnya. Usūl al-Ḥadīth: Pokok-Pokok Ilmu Hadits. Ḥasan Muḥammad Maqbūliy. apabila masih banyak kekurangan dan kesalahan dari segi penulisan dan pembahasan setelah dilakukan revisi karena minimnya referensi yang ada. Al-Baghdādiy. 1971. al-Darimi dan alHakim dari Abi Juma‟ah al-Anshari). Beirut: Dār al-Fikr. Uṣūl al-Ḥadīth „Ulūmuhū wa Muṣṭalaḥuhū.” Mereka (para sahabat) menyebut: “Para nabi. Ilmu Mushthalah Hadis: Disertai Keterangan dan Skemanya. Adnan Qohhar.” Beliau menjawab: “Bagaimana kalian tidak beriman. Juz I. 1980 Al-Khāṭib.” Nabi saw bersabda: “Bagaimana mereka tidak beriman. Muḥammad „Ajjāj. Fatḥ. maka penulis mohon maaf yang tiada batasnya. Muṣṭalaḥ al-Ḥadīth wa Rijāluhū. 2003.” D. Qodirun Nur dan Ahmad Musyfiq. Al-Khaṭīb. 1999. Beirut: Dār al-Fikr. Majmū‟ah Rasā‟il fi „Ulūm al-Ḥadīth. terj. Al-Shāfi‟iy. (Mesir: Maktabah wa Maṭba‟ah al-Muṣṭafā. Kemudian metode tahammul dan al-ada‟ hadis merupakan sesuatu yang harus dipenuhi karena menyangkut kevalidan sebuah hadis. Al-Mas‟udiy. dan ini memang banyak beredar. Muḥammad Ajjāj. Al-Khāṭib. Bustami dan Salam. al-Ma‟arif. al-Risālah. terj. mereka mendapatkan lembaran-lembaran lalu mereka beriman dengan apa yang di dalamnya. 2004. sedang aku ada di tengah-tengah kalian. Ahmad bin Hanbal. Bandung: PT. (Haidar Abad: al-Ma‟arif al„Uthmaniyah. Muḥammad „Alawiy. al-Khaṭīb. Kitāb al-Kifāyah fi „ilm al-Riwāyah. Surabaya: al-Hidayah. Beirut: Dār al-Kutub al„Ilmiyyah. 1971.”Nabi saw menjawab: “Bagaimana mereka tidak beriman. 1435 H. Metodologi Kritik Hadis.” (HR. Ikhtiṣār Muṣṭalaḥ al-Ḥadīth. sedang mereka di sisi Tuhan mereka. (Jakarta: Gaya Media Pratama. 2009. tt. Al-Bukhāriy. hadis yang diriwayatkan secara makna. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Raja Grafindo Persadu. Riyāḍ: „Ālam al-Ma‟rifah. Penutup Dari uraian di atas dapat penulis simpulkan bahwa periwayatan hadis secara lafal memang seharusnya dilakukan namun tidak tertutup kemungkinan untuk bisa menghindari. „Ilm Uṣūl al-Ḥadīth. Al-Wasīṭ fi „Ulūm wa Muṣṭalaḥ al-Ḥadīth. tt. Al-Jāmi‟ al-Ṣaḥīḥ wahuwa Sunan alTurmidhīy. Yaman: Maktabah al-Jail al-Jadīd. sedang wahyu turun kepada mereka. Al-Rahmān. Al-Turmīdhiy. 1998 Al-Mālikiy. M.” Mereka mengatakan: “Lalu siapakah wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Orang-orang yang datang setelah kalian. Fadlil Sa‟id an-Nadwi. Jakarta: PT.Terjemah: H. 1993. Al-Khāṭib. Muḥammad „Ajjāj. Daftar Pustaka Abū Shuhbah.” Mereka mengatakan: “Kalau begitu kami. Beirut: Dār al-Fikr.“Makhluk mana yang menurut kalian (para sahabat) paling menakjubkan keimanannya?” Mereka berkata: “Para malaikat. 1975. Muḥammad bin Idrīs. (Kairo: al-Maṭba‟ah al-Salafiyyah wa Maktabatuha. 1974. al-Sunnah Qabla al-Tadwīn. al-Jāmi‟ al-Ṣaḥīḥ al-Bukhāriy. Abu „Isa Muḥammad bin „Isa bin Saurah. Juz V. Abu „Abdullah Muhammad bin Isma‟il. Muḥammad bin Muḥammad. Al-Baghdādiy.

Muhaimin. 1930. Ṣubḥiy. dan PTAIS. . 1999. Mudzakir. Al-Manhaj al-Ḥadīth fi Muṣṭalaḥ al-Ḥadīth.Mudasir. kitab al-Īmān. Tajab. „Ulūm al-Ḥadīth wa Muṣṭalaḥuhu. Pustaka Setia. Muḥammad. Abu al-Ḥusain bin al-Ḥajjāj al-Nasaiburiy. Ṣaḥīḥ Muslīm. 2000. Bandung: CV. Ulumul Hadis: Untuk Fakultas Tarbiyah Komponen MKDK. Muhammad Ahmad. Kaedah Kesahihan Sanad Hadis: Telaah Kritis dan Tinjauan dengan Pendekatan Sejarah. Ṣaliḥ. Bandung: CV. STAIN. Syuhudi. Mudjib. Ilmu Hadis: Untuk IAIN. Ṭaḥḥān. Surabaya: Karya Abditama. Dimensi-Dimensi Studi Islam. 1991. 1995. Muslīm. 2004. Riyāḍ: Maktabah al-Ma‟ārif. bab “Persoalan Tentang Iman”. Beirut: Dār al-Kutub al-„Ilmiyyah. 1994. Beirut: Dār al-„Ilm li al-Malayīn. Pustaka Setia. Jakarta: Bulan Bintang.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->