BAB I PENDAHULUAN

Sebagian besar energi metabolik yang dihasilkan didalam jaringan berasala dari oksidari karbohidrat dan triasilgliserol, yang bersama-sama meberikan energi sampai 90 persen kebutuhan energi laki-laki dewasa. Sisanya sebanyak 10 persen-15 persen tergantung pada makanan yang diberikan oleh osidasi asam amino. Walaupun asam amino terutama sebagai unit pembangun bagi biosintesis protein, molekul ini dapat mengalami degradasi oksidatif didalam tiga keadaan metabolik yang berbeda. (1) Selama putaran dinamik normal protein tubuh, asam amino yang dibebasan, jika tidak diperlukan untuk sintesis protein tubuh yang baru maka protein ini dapat mengalami degradasi oksidatif. (2) Jika asam amino termakan dalam jumlah yang melebihi kebutuhan tubuh terhadap sintesis protein, kelebihan ini dapat dikatabolisis, karena asam amino tidak dapat disimpan. (3) Selama berpuasa atau pada penderita diabetes mellitus, apabila karbohidrat tidak tersedia, atau tidak dimanfaatkan sebagaimana mestinya maka protein tubuh dimanfaatkan sebagai bahan bakar. Pada keadaan yang berlainan, asam amino membebaskan gugus aminonya, dan asam α-keto yang terbentuk dapat teroksidasi menjadi karbondioksida dan air, sebagian melalui siklus asam sitrat.

1

sebagai analog dengan asam amino yang bersangkutan. Pada manusia dan kebanyakan vertebrata daratan. Pembebasan gugus α-amino dari kebanyakan asam L-amino dikatalisa oleh enzim yang disebut transaminase atau aminotransferase. atau hilangnya gugus amino di dalam reaksi ini. Reaksi transaminase oleh enzim transaminase (piridoksal fosfat) Pada reaksi ini.BAB II PEMBAHASAN A. karena α-ketoglutarat teraminasi pada saat asam α-amino mengalami deaminasi. Gambar 1. yang kita kenal juga sebagai transaminasi. Asam L-α-amino + α-ketoglutarat ↔ asam α-keto + L-glutamat Perhatikan bahwa kita tidak menjumpai deaminasi total. sehingga dihasilkan asam α-keto. bentuk ini adalah urea. membentuk L-glutamat. Pemindahan Gugus α-Amino Dikatalis oleh Transaminase Gugus α-amino dari ke 20 asam L-amino yang biasa dijumpai pada protein. Reaksi ini juga menyebabkan aminasi αketoglutarat. Jika tidak dipergunakan kembali untuk sintesis asam amino yang baru atau produk nitrogen lainnya. Tujuan keseluruhan reaksi transaminasi 2 . gugus αamino dipindahkan secara enzimatik ke atom karbon α pada α-ketoglutarat. gugus amino ini dikumpulkan dan lambat laun diubah menjadi satu produk akhir yang dapat dikeluarkan. pada akhirnya dipindahkan pada tahap tertentu dalam degradatif oksidatif molekul tersebut.

Kebanyakan transaminase bersifat spesifik bagi α-ketoglutarat sebagai molekul penerima gugus amino di dalam reaksi ini seperti dituliskan di atas.glutamate (alanin transaminase) 3 . Jadi katabolisme gugus asam amino menyatu menjadi produk tunggal. yakni L-glutamat. yang dinamakan sesuai dengan molekul pemberi aminonya. Namun demikian. Beberapa transaminase yang paling penting. enzim tersebut tidak terlalu spesifik bagi substratnya yang lain. ditunjukkan oleh persamaan di bawah ini: L-Alanin + α – ketoglutarat ↔ piruvat + L.adalah mengumpulkan gugus amino dari berbagai asam amino dalam bentuk hanya satu asam amino. yaitu asam L-amino yang emberikan gugus aminonya.

L-Aspartat + α–ketoglutarat ↔ oksaloasetat + L-glutamat (aspartat tansaminase) L-Leusin + α–ketoglutarat ↔ α. α-ketoglutarat merupakan senyawa umum penerima gugus amino dari kebanyakan asam amino yang lain. L-glutamat yang terbentuk berperan untuk menyampaikan gugus amino kepada lintas iosintetik tertentu atau menuju ke urutan akhir reaksi ini. gugus prostetik bertindak sebagaimolekul pembawa sementara gugus amino (yang bersifat dapat balik) dari suatu asam amino menuju α-ketoglutarat. Reaksi yang dikatalisis oleh transminase bersifat dapat balik.0. molekul ini mengalami perubahan dapat balik di antara bentuk aldehidanya. Piridoksal fosfat berfungsi sebagai senyawa antara pembawa gugus amino pada sisi aktif transaminase. Harga ∆Gº’ bagi reaksi tersebut. merupakan turunan piridoksin atau vitamin B6. dan bentuk teraminasinya piridoksamin fosfat. Dengan cara ini. hasil buangan bernitrogen dibentuk dan lalu dikeluarkan dari tubuh. piridoksal fosfat. yang dapat memberikan gugus aminonya kepada α-ketoglutarat. Di sini. 4 .ketoisokaproat + L-glutamat (leusin transaminase) L-Tirosin + α–ketoglutarat ↔ P-hidroksitenilpiruvat + L-glutamat (tirosin transaminase) Jadi. Semua transaminase memiliki gugus prostetik yang terikat kuat dan mekanisme reaksi yang bersifat umum. karena tetapan keseimbangannya mencapai kira-kira 1. Selama berlangsungnya siklus katalistik. Gugus prostetik piridoksal fosfat. oleh karenanya mendekati nol. yang dapat menerima gugus amino.

substrat pertama harus meninggalkan sisi aktif enzim sebelum substrat kedua dapat terikat. Molekul ini sekarang membentuk basa Schiff dengan α-ketoglutarat yang datang. Jadi. menerima gugus amino dari piridoksamin fosfat. Pada reaksi tersebut. dan meninggalkan enzim. pada hakekatnya melalui kebalikan reaksi yang membentuknya. dan kerangka karbon asam amino yang terikat kovalen pada gugus prostetik dalam bentuk pirikdosamin fosfat. asam amino yang datang mengikat sisi aktif. dan meninggalkan enzim dalam bentuk suatu asam α-keto. yang segera menerima gugus asam amino.Gambar 2. asam α-keto yang datang diikat. Lalu. Metabolisme Vitamer-Vitamer Vitamin B6 Pada Sel Hewan Transaminase merupakan contoh klasik enzim-enzim yang mengkatalisis reaksi ping-pong bimolecular. sekarang dalam bentuk suatu asam amino. membentuk senyawa antara yang berikatan kovalen. yaitu sejenis senyawa yang disebut basa Schiff. Gugus karbonil dari piridoksal fosfat yang terikat oleh enzim bergabung dengan gugus α-amino dari asam amino yang datang. 5 . memberikan gugus aminonya ke piridoksal fosfat. Suatu perpindahan ikatan ganda C=N terjadi setelah itu.

yang merupakan produk reaksi suksinil-KoA sintetase di dalam siklus asam sitrat. menyebabkan α-ketoglutarat tersedia bagi siklus asam sitrat dan membebaskan NH3 untuk dikeluarkan di dalam tubuh. Glutamat dan glutamate dehidronase memegang peranan yang unik di dalam metabolism golongan amino.3NH4 + NADH + H+ Enzim ini terdapat hanya dalam mitokondria. masing-masing mengandung satu rantai polipeptida yang terdiri dari 500 residu. yaitu pada matriksnya. Berat molekulnya kira-kira 300. Sebaliknya.Pengukuran aktivitas transminase alanin dan aspartat di alam serum darah merupakan prosedur diagnostic yang penting di dalam ilmu kedokteran. karena glutamate merupakan satu-satunya asam amino dengan gugus α-amino yang dapat secara langsung dilepaskan pada kecepatan tinggi dengan cara tersebut. Glutamate mengalami deaminasi oksidatif oleh aktivitas L-glutamat dehigronase. tetapi dihambat oleh GTP.000. aktivitas glutamate dehidrogenase meningkat. B. 6 . yang memerlukan NAD+ sebagai molekul penerima ekuivalen pereduksi: L-glutamat+ + NAD+ + H2O ↔ α-ketoglutarat2. Bilamana sel hati memerlukan bahan bakar bagi siklus asam sitrat untuk membentuk ATP. dan enzim ini terdiri dari enam subunit yang identik terhadap sesamanya. Glutamate dehidronase merupakan enzim alosterik yang kompleks. Pengukuran ini juga dipergunakan untuk mendetaksi pengaruh racun beberapa kimiawi industri. Ammonia Dibentuk dari Glutamat Kita telah melihat bahwa gugus amino dipindahkan dari hampir semua asam α-amino oleh transaminasi ke α-ketoglutarat membentuk L-glutamat. deaminasi oksidatif glutamate menjadi terhambat. bilamana GTP terakumulasi di dalam mitikondria sebagai akibat aktivitas yang tinggi pada siklus asam sitrat. Glutamate dehidronase menyababkan terbentuknya hampir semua ammonia di dalam jaringan hewan. yang digunakan untuk menentukan gawatnya serangan jantung dan untuk memantau penyembuhan penyakit ini. Enzim tersebut diaktifkan dengan kuat oleh modulator positif ADP.

glutamate dehidrogenase bekerja dalam arah kebalikannya. Gambar 1. ornitin. Dalam hal ini. mereduksi ammonia dan α-ketoglutarat untuk memebentuk glutamate. Walaupun ornitin dan sitrulin juga merupakan asam 7 .+ H2O Penggunaan kedua koenzim yang berbeda oleh glutamate dehidrogenase untuk membebaskan dan menarik NH3 memungkunkan regulasi yang tak tergantung pada deaminasi glutamate dan aminasi αketoglutarat. yaitu siklus urea. walaupun keduanya dikatalisa oleh enzim yang sama. Arginin tentunya merupakan salah satu asam amino baku yang ditemukan pada protein. ammonia yang dihasilkan dari deaminasi asam amino diubah menjadi urea di dalam hati oleh mekanisme siklik. seperti dituliskan di atas.Ammonia dapat dihemat dan digunakan kembali di dalam sintesis asam amino. Namun demikian. dan bukannya hanya kebalikan dari reaksi yang berkaitan dengan NAD. atau arginin. reaksi ini dijalankan oleh reaksi yang berkaitan dengan NADP. NADPH + NH4+ + α-ketoglutarat2. Urea Dibentuk oleh Siklus Urea Pada hewan. Krebs dan Henseleit menemukan bahwa kecepatan pembentukan urea dari ammonia oleh irisan tipis hati yang disuspensikan di dalam medium buffer aerobic dipercepat oleh penambahan salah satu dari tiga senyawa spesifik. yang sederhana. ureotelik.→ NADP+ + glutamate. sitrulin. yang pertama kali ditemukan leh Hans Krebs dan Kurt Henseleit pada 1932. C. Ketiga asam amino yang ditemukan oleh Krebs.

tetapi hanya hewan ureotelik yang dilengkapi sejumlah besar enzim arginase. golongan ini tidak terdapat sebagai unit pembangun molekul protein. Arginin + H2O  ornitin + urea Krebs menyimpulkan bahwa suatu proses siklik terjadi. yang mengkatalisis hidrolisis tak dapat balik arginin. Gambar. dengan ornitin memegang peranan serupa dengan oksalaasetat di dalam siklus asam sitrat. dengan pembentukan kembali molekul ornitin. Ornitrin yang diregenerasi ini lalu siap untuk memulai putaran selanjutnya siklus urea ini. Molekul kedua ammonia ditambahkan ke sitrulin. 8 . Ketiga senyawa ini merangsang aktivitas sintesis urea jauh melampaui aktivitas senyawa bernitrogen umum lainnya yang diuji. yang lalu terhidrolisis menghasilkan urea. Arginin telah lama diketahui dapat terhidrolisa menjadi ornitin dan urea oleh kerja enzim arginase. Struktur ketiga senyawa aktif ini memperlihatkan bahwa ketiganya mungkin berhubungan satu sama lain dalam satu urutan. dengan ornitin sebagai pemula sitrulin dan selanjutnya sitrulin menjadi pemula arginin. membentuk urea dan ornitrin.α-amino. Semua organisme yang mampu melakukan biosintesis arginin dapat mengkatalisis reaksi-reaksi ini sampai ke titik arginin. Siklus urea seperti yang pertama dikemukakan oleh Krebs dan Henseleit. Molekul ornitin bergabung dengan satu molekul NH3 dan satu CO2 membentuk sitrulin. membentuk arginin.

tidak beracun dan larut di dalam air. Siklus Urea 9 . merupakan senyawa netral. D. yang merupakan produk siklus ini. Molekul ini diangkut melalui darah menuju ginjal dan dikeluarkan ke dalam urin.Urea. Siklus Urea Terdiri Atas Beberapa Tahap Kompleks Gambar 3.

Reaksi ini membutuhkan energy. Perhatikan bahwa gugus fosfat ujung dari dua molekul ATP dipergunakan untuk membentuk satu molekul karbamoil fosfat.3 kkal/mol Karbamoil fosfat sintetase I merupakan enzim pengatur. Reaksi ini dikatalisis oleh glutamate dehidrogenase. enzim ini memerlukan N-asetilglutamat sebagai modulator positif atau perangsangnya. Reaksi pada pembentukan siturulin 10 .+ 2 ADP + Pi Mg2+ CO2 + NH3 + 2 ATP + H2O H2N C N-asetil glutamat Karbamoil fosfat o ΔG = -3. Dalam reaksi pembentukan karbamil fosfat ini. Karbamoil fosfat merupakan senyawa berenergi tinggi. untuk membendakannya dari bentuk sitosolnya (II). 2. bersama-sama dengan karbon dioksida yang dihasilkan di dalam mitokondria oleh respirasi. untuk membentuk karbamoil fosfat di dalam matriks. karenanya reaksi ini melibatkan dua mol ATP yang diubah menjadi ADP. pada suatu reaksi yang bergantung kepada ATP. yang memerlukan NAD+. Reaksi pada sintesis karbamil fosfat Amonia bebas yang terbentuk segera dipergunakan. Glutamat. Disamping itu sebagai kofaktor dibutuhkan Mg2+ dan N-asetil-glutamat.+ NH4+ + NADH + H+ 1.+ NAD+ + H2O ↔ α-ketoglutarat2. molekul ini dapat dipandang sebagai suatu pemberi gugus karbamoil yang telah diaktifkan. satu mol ammonia bereaksi dengan satu mol karbondioksida dengan bantuan enzim karbamilfosfat sintetase. Angka Romawi ini menunjukkan bentuk mitokondria enzim ini. O O O P OO.Gugus amino pertama yang memasuki siklus urea muncul dalam bentuk ammonia bebas. yang dikatalisis oleh enzim karbamoil fosfat sintetase I. oleh deasimenasi oksidatif glutamate di dalam mitokondria sel hati.

yang sebaliknya diberikan dari L-glutamat oleh kerja aspartat transaminase. karbamoil fosfat memberikan gugus karbamoilnya kepada ornitin untuk membentuk sitrulin dan membebaskan fosfatnya. suatu enzim yang tergantung kepada Mg2+.Pada tahap selanjutnya dari siklus urea. dalam suatu reaksi yang dikatalisis oleh ornitin transkarbamoilase yang terdapat pada bagian mitokondria sel hati.+ H+ NH2 C O HN OPO3H2 O NH2 CH2 CH2 CH2 HCNH2 COOH + H2N C CH2 CH2 CH2 HCNH2 COOH + H3PO4 karbamilfosfat L-siturulin L-ornitin Sitrulin yang terbentuk sekarang meninggalkan mitokondria dan menuju ke dalam sitosol sel hati. Gugus amino yang kedua sekarang datang dalam bentuk L-aspartat. Reaksi ini dikatalisa oleh arginosuksinat sintetase sitosol hati. Oksalasetat + L-glutamat ↔ L-aspartat + α-ketoglutarat L-Glutamat tentunya menerima gugus amino dari kebanyakan asam amino umum lainnya oleh transaminasi menjadi α-ketoglutarat. Pemindahan gugus amino kedua ke sitrulin terjadi dengan reaksi pemadatan di antara gugus amino aspartat dan karbon karbonil sitrulin dengan adanya ATP. Reaksi pada asam argininosuksinat 11 . yakni enzim mitokondria yang memerlukan Mg2+. Karbamoil fosfat + ornitin  sitrulin + Pi. 3. untuk membentuk agininosuksinat.

kembai menuju kumpulan senyawa antara siklus asam sitrat. Reaksi ini berlangsung dengan bantuan enzim argininosuksinat sintese. Reaksi ini berlangsung dengan bantuan enzim argininosuksinase.Selanjutnya siturulin bereaksi dengan asam aspartat membentuk asam argininosuksinat. suatu enzim yang terdapat dalam hati dan ginjal. 4. Dalam reaksi tersebut ATP merupakan sumber energy dengan jalan melepaskan gugus fosfat dan berubah menjadi AMP. Reaksi pada penguraian asam argininosuksinat Dalam reaksi ini asam asam argininosuksinat diuraikan menjadi arginin dan asam fumarat. Argininosuksinat ↔ arginin + fumarat Fumarat yang terbentuk. Sitrulin + aspartat + ATP → argininosuksinat + AMP + PPi + H+ COOH COOH C HN CH2 COOH NH CH CH2 COOH NH2 C HN O NH C HN OH Mg2+ + H2NCH + ATP NH + AMP + PP CH2 CH2 CH2 HCNH2 COOH CH2 CH2 CH2 HCNH2 COOH CH2 CH2 CH2 HCNH2 COOH asam aspart L-siturulin enolat L-siturulin asam argininosuksinat Pada tahap selanjutnya argininosuksinat segera terurai oleh argininosuksinat liase untuk membentuk arginin dan fumarat bebas. 12 .

maka pembentukan satu molekul urea membutuhkan empat ikatan fosfat berenergi tinggi. Enzim yang bekerja sebagai katalis dalam reaksi penguaraian ini adalah arginase yang terdapat dalam hati.NH C HN NH COOH NH CH CH2 COOH HN C NH2 H CO2H + C C CH2 CH2 CH2 HCNH2 COOH CH2 CH2 CH2 HCNH2 COOH HOOC H asam fumarat asam argininosuksinat L-arginin 5. Reaksi keseluruhan siklus urea ini aialah sebagai berikut: 2NH3 + CO2 + 3 ATP + 2 H2O Urea + 2 ADP + AMP + 2 Pi + PPi Oleh karena pirofosfat yang terbentuk dalam reaksi ini (PPi) terhidrolisis lebih lanjut menjadi fosfat. 13 . Ornitin yang terbentuk dalam reaksi hidrolisis ini bereaksi kembali dengan karbamiklfosfat untuk siturulin. Demikian seterusnya reaksi berlangsung secara berulang-ulang sehingga merupakan suatu siklus. Proses kimia dalam siklus urea ini terjadi dalam hati karena enzim-enzim yang bekerja sebagai katalis terutama terdapat pada mitokondria dalam sel hati. Dalam reaksi ini arginin diuraikan menjadi urea dan ornitin. Adapun urea yang terbentuk dikeluarkan deri tubuh melalui urine. Reaksi pada penguraian arginin Reaksi terakhir ini melengkapi tahap reaksi pada siklus urea.

siklus urea mempergunakan dan mengeluarkan dua hasil buangan.NH C HN NH2 NH2 NH2 + H2O O C urea NH2 + CH2 CH2 CH2 HCNH2 COOH CH2 CH2 CH2 HCNH2 COOH L-ornitin L-arginin Pada reaksi terakhir dari siklus urea. Arginin + H2O → ornitin + urea Oleh karena itu. yang berdifusi dari sel hati menuju ke aliran darah.+ 3ATP4. yang bergantung kepada nisbah CO2 terlarut terhadap HCO3. kenyataan ini menyatakan bahwa siklus urea berpartisipasi dalam pengaturan pH darah.+ AMP.untuk membentuk dua molekul urea. untuk menghasilkan urea dan ornitin.+ PPi3.+ H2O → urea + 2ADP3. - E. harus dikonsumsi satu molekul HCO3 . enzim arginase hati menguraikan arginin. Persamaan keseluruhan siklus urea adalah: 2NH4+ + HCO3. Oleh karena itu. kemudian dikeluarkan ke dalam urine oleh ginjal..+ H+ Siklus urea menggabungkan dua gugus amino dan HCO3. yaitu ammonia dan bikarbonat. ammonia yang beracun diubah menjadi urea yang tidak berbahaya pada hewa ureotelik.+ 2Pi. Jadi. Setiap molekul urea yang dibentuk. ornitin diregenerasi dan dapat masuk ke mitokondria kembali. Selanjutnya. Hasil Energi Sintesis Urea 14 . untuk memulai putaran selanjutnya dari siklus urea.

1. Proses yang terjadi di dalam siklus urea digambarkan terdiri atas beberapa tahap yaitu sebagai berikut. Reaksi ini membutuhkan energi dari ATP 4. L-argininosuksinat dipecah menjadi fumarat dan L-arginin. karbamoil fosfat bereaksi dengan L-ornitin menghasilkan L-sitrulin dan gugus fosfat dilepaskan 3. Dalam raksi ini diperlukan energi dari ATP. ion amonium bereaksi dengan CO2 menghasilkan karbamoil fosfat. 2. Gambar. Dengan peran enzim arginase.Dalam siklus ini dihasilkan urea yang selanjutnya dibuang melalui ginjal berupa urin. …………………. Dengan peran enzim karbamoil fosfat sintase I. Dengan peran enzim argininosuksinat sintase. Dengan peran enzim argininosuksinat liase. 5. Dengan peran enzim ornitin transkarbamoilase. L-sitrulin bereaksi dengan L-aspartat menghasilkan L-argininosuksinat. penambahan H2O terhadap L-arginin akan menghasilkan L-ornitin dan urea. 15 .

yang mengandung sampai empat per lima adalah molekul nitrogen (N2). Dua ATP diperlukan untuk membuat karbamoil fosfat. Tetapi. seperti nitrit. jadi proses keselurahan dipandang terdiri dari reduksi nitrogen (N2) molekulor menjadi dua molekul ammonia. hanya beberapa spesies saja yang dapat mengubah nitrogen atmosfer menjadi bentuk nitrogen yang bermanfaat bagi organisme hidup. nitrat. Tahap I (Fiksasi) Tahap pertama di dalam siklus nitrogen adalah fiksasi nitrogen di atmosfer oleh organisme pengikat nitrogen. yang dapat terhidrolisis untuk menghasilkan dua ortofosfat. enzim ini sulit untuk diisolasi dalam bentuk aktif dan dimurnikan.Jika diperhatikan pada diagram dia. Reaksinya sebagai berikut: N2 + 3H2  2NH3 Amonia yang dihasilkan dalam fiksasi nitrogen dapat digunakan oleh bentuk kehidupan lain. atau asam amino. 16 . atau setelah pengubahannya menjadi senyawa terlarut lainnya. Produk fiksasi nitrogen stabil yang pertama dikenali adalah ammonia (NH3). pada reaksi yang terakhir ini. dan satu lagi diperlukan untuk membentuk argininosuksinat. harga energy yang harus dibayar untuk membuat satu molekul urea. tetapi senyawa nitrogen yang dapat larut yang bermanfaat bagi aktivitas biologik biasanya jarang terdapat dilingkungan alamiah. baik secara langsung. Fiksasi nitrogen dikatalis oleh suatu kompleks enzim. pada akhirnya adalah 4 ATP. Jadi. ATP mengalami penguraian pirofosfat menjadi AMP dan pirofosfat. sintesis satu molekul urea memerlukan 4 gugus fosfat berenergi tinggi. yaitu sistem nitrogenase. Tahap-tahap dalam siklus nitrogen adalah sebagai berikut: 1. Karena sistem nitrogenase bersifat tidak stabil dan segera mengalami inaktivasi oleh oksigen atmosfer. Bentuk nitrogen yang paling banyak dijumpai terdapat diudara. Siklus Nitrogen Lintas biosintetik menuju asam amino dan nukleotida sama-sama memerlukan nitrogen. yang menghasilkan ammonia (NH3). yang aktivitasnya masih belum dipahami sepenuhnya. Akan tetapi. F.

Selain leguminosa. Bintil pengikat nitrogen pada akar tanaman leguminosa. di dalam suatu proses yang memerlukan kerja sama tanaman inang dan bakteri simbiotik yang hidup pada bintil akarnya. tetapi sebagian besar tanaman nonleguminosa. seperti sianobakteri atau ganggang hijau biru. Gambar 1. 17 . Jenis fiksasi nitrogen lainnya terjadi pada tanaman leguminosa. tetapi tanaman menyediakan komponen essensial yang tidak ada dibakteri.Mikroorganisme yang memfiksasi nitrogen disebut diazotrof. yang mencakup kacang-kacangan. seperti Azotobacter. cengkeh. Bakteri simbiotik pengikat nitrogen tumbuh mengelompok pada sel akar. beberapa tanaman lain dapat melakukan fiksasi nitrogen. Enzim yang mengkatalisis fiksasi nitrogen sebenarnya terletak pada bakteri yang hidup dibintil akar. Tipe fiksasi nitrogen ini dinamakan fiksasi nitrogen simbiotik. tetapi juga pada tanah dan jenis-jenis bakteri tanah lainnya. Rhizobia mampu melakukan fiksasi nitrogen atmosfer. dan semua spesies hewan tidak dapat mempergunakan nitrogen atmosfer. Hanya beberapa spesies mikroorganisme dan tanaman yang dapat melakukan fiksasi nitrogen atmosfer. yang terdapat tidak hanya di dalam air tawar dan air asin. Beberapa bakteri yang hidup bebas.

bertanggung jawab untuk oksidasi nitrit menjadi dari nitrat (NO3-). Proses konversi nitrit menjadi nitrat sangat penting karena nitrit merupakan racun bagi kehidupan tanaman. Amonia yang terbentuk dapat dibangun menjadi asam amino oleh tanaman. Tahap III (Denitrifikasi) 18 . 2.Tanaman dan banyak bakteri dapat segera mereduksi nitrat kembali menjadi ammonia melalui aktivitas nitrat reduktase. Tahap utama nitrifikasi. NO2. Konversi amonium menjadi nitrat dilakukan terutama oleh bakteri yang hidup di dalam tanah dan bakteri nitrifikasi lainnya. Tahap II (Nitrifikasi) Tahap kedua dari siklus nitrogen adalah proses nitrifikasi. seperti Nitrobacter. NH3 + CO2 + 1. NO2− + H2O → NO3− + 2H+ + 2e 3. Selanjutnya bakteri nitrifikasi mengubahnya menjadi nitrit (NO2) dan nitrat (NO3) kembali. NH3 + O2 → NO2− + 3H+ + 2e− d.5 O2 + Nitrosomonas → NO2. Proses nitrifikasi dapat ditulis dengan reaksi berikut ini: a. Pada hewan yang telah mati.+ H2O + H+ b.5 O2 + Nitrobacter → NO3c. Spesies bakteri lain. degradasi protein microbial mengembalikan ammonia ke tanah. Karena organisme ini amat banyak dan aktif. hampir semua ammonia yang mencapai tanah. akhirnya teroksidasi menjadi nitrat.+ CO2 + 0. Terdapat beberapa bakteri tanah penting yang memperoleh energinya dengan mengoksidasi ammonia untuk membentuk nitrit dan akhirnya nitrat. yang kemudian dipergunakan oleh hewan sebagai sumber asam amino esensial dan nonesensial untuk membangun protein hewan. proses ini dikenal sebagai nitrifikasi. proses ini dikenal sebagai denitrifikasi. bakteri nitrifikasi seperti spesies Nitrosomonas mengoksidasi amonium (NH4+) dan mengubah amonia menjadi nitrit (NO2-).

Jumlah total nitrogen yang diikat di dalam biosfer per tahun melebihi 1011 kg 19 . Proses ini dilakukan oleh spesies bakteri seperti Pseudomonas dan Clostridium dalam kondisi anaerobik. Mereka menggunakan nitrat sebagai akseptor elektron di tempat oksigen selama respirasi. Denitrifikasi adalah proses reduksi nitrat untuk kembali menjadi gas nitrogen (N2).  Denitrifikasi umumnya berlangsung melalui beberapa kombinasi dari bentuk peralihan sebagai berikut: NO3− → NO2− → NO + N2O → N2 (g)  Proses denitrifikasi lengkap dapat dinyatakan sebagai reaksi redoks berikut ini : 2 NO3− + 10 e− + 12 H+ → N2 + 6 H2O Secara garis besar siklus nitrogen dapat digambarkan di bawah ini: Gambar.Tahap ketiga dari siklus nitrogen adalah proses denitrifikasi.2 Siklus Nitrogen. untuk menyelesaikan siklus nitrogen.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful