KEKERABATAN BAHASA-BAHASA DI NUSA TENGGARA BARAT: KAJIAN TANAH ASAL PENUTUR-PENUTURNYA* Oleh: Mahsun Universitas Mataram

1. Pendahuluan Nusa Tenggara Barat (NTB) merupakan salah satu propinsi yang terdapat di Kawasan Tenggara Indonesia. Propinsi ini memiliki penduduk 3.368.699 jiwa yang hidup tersebar pada dua buah pulau, yaitu pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. Di Propinsi inilah terdapat garis Brandes yang membagi dua kelompok bahasa Melayu Polinesia, yang disebutnya sebagai Subkelompok Nusantara Barat dan Nusantara Timur, tepatnya di antara daerah pakai bahasa Samawa (Sumbawa) dan bahasa Mbojo (Bima) di pulau Sumbawa (periksa peta 1). Di kedua pulau yang menjadi wilayah administratif propinsi ini hidup berdampingan berbagai macam suku bangsa. Selain tiga suku bangsa mayoritas, dan merupakan penduduk asli, yaitu suku Sasak yang sebagian besar mendiami pulau Lombok; suku Samawa dan Mbojo, yang masing-masing mendiami pulau Sumbawa bagian barat dan timur; juga terdapat suku bangsa lainnya seperti Bali, Jawa, Bugis, Bajo, Banjar, dan Melayu, yang masing-masing ditandai oleh bahasa yang berbeda. Oleh karena itu, propinsi ini merupakan bentuk mininya Indonesia. Sampai saat ini penelitian tentang bahasa dari berbagai suku bangsa yang hidup di wilayah NTB sudah cukup banyak dilakukan, khususnya pada tiga bahasa etnis mayoritas tersebut. Penelitian tentang kekerabatan bahasabahasa di wilayah ini pertama kali dilakukan oleh Herusantoso dkk. (1987), disusul oleh Mbete (1990), dan penelitian variasi bahasa tentang beberapa bahasa di NTB juga pernah dilakukan seperti yang dilakukan oleh Teeuw (1951), dan Mahsun (1994). Penelitian yang dilakukan oleh Herusantoso dkk. tersebut merupakan penelitian yang pertama yang dilakukan dalam rangka pemetaan bahasa-bahasa di NTB, sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Mbete merupakan penelitian yang pertama kali dilakukan dalam kerangka mencoba menelususri bahasa purba yang menurunkan bahasa Bali, Sasak, dan Sumbawa; sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Teeuw juga merupakan penelitian yang pertama terhadap deskripsi perbedaan dialektal yang terdapat dalam bahasa Sasak dan sekaligus merupakan penelitian yang pertama di Indonesia yang mencoba menerapkan
*

Makalah yang disajikan dalam rangka Bulan Apresiasi Budaya IV Nusa Tenggara Barat, di Mataram 2124 Juli 1997.

1

2. yang sampai awal Juli ini baru berhasil dikumpulkan data kebahasaan sebanyak 20 buah daerah 2 . serta memadukannya dengan informasi yang diperoleh pada tahap penyediaan data yang dilakukan oleh Mahsun (1997) dalam rangka penelitiannya melalui Proyek Riset Unggulan Terpadu V. bahasa Sasak banyak memiliki perbedaan dalam bidang fonologi. Dari pengumpulan data yang dilakukan Mahsun (1997) dalam rangka penelitiannya melalui Riset Unggulan Terpadu V. dua penelitian yang disebut pertama kali di atas pun belum dapat memberikan gambaran yang menyeluruh dan komprehensif tentang kondisi kebahasaan yang ada di NTB. Namun. Penggunaan bahasa ini menyebar di seluruh pulau Lombok dengan berbagai variannya. Padahal. hanya beberapa buah peta saja yang menggambarkan perbedaan bidang fonologi. Meskipun bahasa ini pernah dikaji secara dialektologis (periksa Teeuw.205 jiwa yang berasal dari berbagai latar etnis. serta ciri-ciri linguistik yang menandai dialek atau subdialeknya belum terungkap secara jelas. Dari 78 buah peta bahasa yang dihasilkan. terhadap bahasa Sasak maka berikut ini akan dicoba berikan gambaran ihwal situasi kebahasaan di NTB serta daerah sebarannya. Terlepas dari penelitian yang dilakukan Teeuw terhadap bahasa Sasak dan penelitian yang dilakukan oleh Mahsun terhadap bahasa Sumbawa. selebihnya merupakan peta perbedaan bidang leksikon. subdialek. dengan meramu informasi dari keempat penelitian di atas. Penelitian Teeuw yang cukup rinci tentang kondisi bahasa Sasak pun belum dapat memberikan secara jelas tentang dialek-dialek atau subdialeksubdialek yang ada dalam bahasa ini. Etnis mayoritas adalah etnis yang menggunakan bahasa Sasak. baik yang menyangkut level perbedaan bahasa maupun perbedaan dialek. yang belum dilakukan penelitian dari aspek dialektologis. Situasi Kebahasaan di NTB 2.teori dialek geografis.. karena lebih bersifat khusus terhadapat satu bahasa tertentu. 1951 dan Herusantoso dkk.1 Bahasa-Bahasa di Pulau Lombok Pulau yang luasnya 4738.65 km2 ini didiami oleh kurang lebih 2. Adapun penelitian yang dilakukan oleh Mahsun lebih banyak berkutat dengan upaya mendeskripsikan variasi dialektal yang terdapat dalam bahasa Samawa (Sumbawa) serta menelusuri (merekonstruksi) bahasa purba yang menurunkan dialek-dialek bahasa tersebut.403. kecuali bahasa Mbojo. namun gambaran secara jelas tentang varian dialektalnya. 1987). dalam arti berapa jumlah dialek.

perbedaan bidang fonologi yang berhasil disingkap antara lain perbedaan: r~h/ -# (tipar ~ tipah „tikar‟). yang menarik adalah daerah sebaran geografinya yang hampir tidak bersifat teratur. untuk penelitian dialektogis pada daerah pakai bahasa Sasak. q ~ l/ -# (tupuq ~ topul „tumpul‟). yaitu dialek Ngeno-Ngene. i ~ ic ~iz ~ r/ -# (kupi ~ kupic ~ kupiz ~ kupr „kopi‟) vv ~ v/ K-K (kaoq ~ koq „kerbau‟) dan masih banyak perubahan fonologi lainnya.(griq ~ triq „jatuh‟).(bai ~ wai „cucu‟). merupakan desa yang penuturnya menggunakan dialek Kuto-Kute. Oleh karena itu. hal ini lebih banyak terkait dengan sejarah migrasi lokal penduduk pada masa dulu. i ~ E pada posisi tengah ( tipis ~ tEpEs „tipis‟). Desa-desa yang penuturnya termasuk penutur masing-masing dialek di atas dapat dikemukakan berikut ini. h ~ s /-# (tlih ~ tlis „dingin‟).pengamatan dari 90 buah daerah pengamatan yang direncanakan.(limpu ~ impu „paha‟). yang didasarkan pada bentuk yang digunakan dalam merealisasikan makna „begini‟ dan „begitu‟. d ~ r / V-V (iduk ~ iruk „cium‟). p ~ m/-# (tajp ~ tajm „tajam‟). Kuto-Kute. r ~ f/ V-V (daraq ~ daq „darah‟). dan Ngeto-Ngete (periksa Toir. yang ada di wilayah Lombok Timur serta beberapa desa yang berada di wilayah Lombok Barat merupakan desa-desa yang penuturnya menggunakan dialek Ngeno-Ngene. merupakan desa yang penuturnya mengunakan dialek Mriak-Mriku. b~w/ #. Tanjung dll. l ~ r/ V-V (klpuk ~ krpuk „debu‟). k ~ r/ V-V (okp ~ urp „awan‟). faktor sejarah perpindahan penduduk yang terkait dengan sejarah desa patut dipertimbangkan dalam pemilihan desa/ dusun tertentu sebagi satuan daerah pengamatannya. Pernah ada upaya pengelompokan bahasa Sasak atas lima dialek. 3 . Patut ditambahkan. Hanya saja. Bonjeruk dll. desa-desa yang berada di wilayah Pejanggik dan sekitarnya. nt ~ t/ V-V (btis ~ bntis „betis‟). Pejanggik dll. a-a ~ a-e ~ e-e (mata ~ mate ~ mete „mata‟). Desa Lendang Nangka. q ~ f/ -# ( jaoq ~ jao „jauh‟). k ~ g/ V-V (krikiq ~ krigiq „kelingking‟). gondang. merupakan desa yang penuturnya menggunakan dialek Meno-mene. l ~ n/ -# (tokol ~ tokon „duduk‟). karena contoh (datanya) untuk masing-masing kaidah cukup banyak. 1985).(dat ~ rat „datang‟). k ~ / V-V (sakok ~ ñaok „dagu‟). d ~ r/ #. Meno-Mene. MriakMriku. desa-desa yang berada di wilayah Pujut seperti Penujak. l~f/ #. Pringgasela. seperti desa Pengadang. dan desa-desa yang berada di wilayah Suralaga dan Sembalun merupakan desa-desa yang penuturnya menggunakan dialek Ngeto-Ngete. bahwa perbedaan tersebut sebagian besar bersifat teratur. Selaparang dll. g ~ t/ #. desa-desa yang berada di wilayah Bayan seperti Bayan.

1993) terdapat dua bahasa daerah yang penuturnya lebih besar. Lombok Tengah). Gondang. dan Pagesangan. Beberapa bahasa lain yang dituturkan sebagian kecil penduduknya adalah bahasa Bali.414. Tanjung Ringgit. Sebagai contoh. adalah sudah patutkan perbedaan pada dua makna di atas diangkat sebagai perbedaan yang mewakili perbedaan-perbedaan lainnya. di pulau ini juga tinggal beberapa suku bangsa lainnya yang menggunakan bahasa tersendiri. yang penuturnya menyebar di wilayah Lombok Barat: Gerung. Narmada. dan di Lombok Barat: Kampung Taliwang (Cakranegara). misalnya perbedaan antara h ~ r/-# d ~ r/ V-V dan perbedaan l ~ n/ -#. karena masih banyak perbedaan lainnya yang perlu dipertimbangkan. dan dialek Sumbawa Besar (DSB.„cium‟. Dalam bahasa Samawa. bahasa Sumbawa. bahasa Bugis di daerah pantai: Gili Air. dan „duduk‟ dapat menyatukan antara desa Pringgasela (yang dalam kategori di atas disebut sebagai desa penutur dialek Ngeno-Ngene) dengan desa Bayan. Rempung. yaitu penutur bahasa Samawa (Sumbawa) dan bahasa Mbojo. dialek Taliwang (DT). Rencong. dan Tanjung (yang dikategorikan penutur dialek Kuto-Kute) sebagai penutur dialek yang sama. Tanjung Luar.Pembagian berdasarkan ciri-ciri linguistik yang hanya berdasarkan dua makna seperti di atas belum dapat dikatakan memadai. yang penuturnya terdapat di Lombok Timur: Rumbuk Siren. Dasan Baru. dialek Tongo (DTn). Persoalan yang patut dilontarkan sehubungan dengan pengkategorian semacam itu. Tanjung. Selain bahasa Sasak. Pemenang. masing-masing (sekedar contoh) pada bentuk yang merupakan realisasi dari makna „akar‟. seperti disebutkan di atas. dan Bahasa Jawa yang digunakan oleh penutur yang tinggal dikampung Jawa (Praya. Kuang Brora. terdapat empat buah dialek.1 Bahasa-Bahasa di Pulau Sumbawa Di pulau yang luasnya kurang lebih 15. berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Mahsun (1994).50 Km2 ini dengan penduduknya berjumlah 965. bahasa Melayu di Ampenan. yaitu dialek Jereweh (DJ). Dialek Jereweh memiliki daerah 4 . Pagutan. Cakranegara. Jantuk. yang disebut juga dialek Mangka). Bahasa Samawa digunakan oleh penutur yang tinggal di bagian barat pulau sumbawa (Kabupaten Sumbawa) sedangkan bahasa Mbojo digunakan oleh penutur yang tinggal di bagian tengah dan timur pulau Sumbawa (Kabupaten Dompu dan Kabupaten Bima).494 jiwa (BPS. untuk beberapa perbedaan fonologi di atas. Pulau Meringkiq (Lombok Timur). 2. dan Kembang Kerang.

Singa (Kecamatan Jereweh). Dialek Jereweh btis tipis alis isit kdit racin Dialek Taliwang btös ripös alös isöt kdöt racön Dialek Tongo bts rips als ist kdt racn Dialek Sumbawa Besar btIs ripIs alIs isIt kdIt racIn Artinya betis ripis halus gigi sej. desa-desa di kecamatan Alas. kecuali desa-desa yang termasuk pada daerah pakai dialek-dialek di atas. Sumbawa Besar. Setiap dialek masing-masing memiliki subdialeksubdialek. yaitu subdialek Beru (SDB). yaitu desa Lalar. tengah. kecuali desa-desa yang termasuk daerah pakai dialek-dialek di atas. t. 5 . dan n/. Airsuning. Sekonkang Bo dan Sekongkang Baq. yang memiliki daerah pakai Karang Jereweh. desa-desa di daerah pegunungan kecamatan Ropang: Labangkar. sedangkan dialek Sumbawa Besar memiliki daerah pakai desa-desa yang berada di kecamatan Seteluk. depan pada posisi silabe ultima (silabe awal dari belakang) yang berakhir konsonan dorsovelar: /s. dan Mantar. dan desa-desa di kecamatan Lunyuk. antara tegang dan kendur [ö] untuk dialek Taliwang. Dialek Jereweh memiliki dua subdialek. [] untuk dialek Tongo. Ciri-ciri linguistik (kebahasaan) yang terpenting menandai keempat dialek di atas adalah realisasi vokal tinggi. ketiga dialek bahasa Samawa tersebut secara linguistik (kebahasaan) dapat disebut sebagai dialek [i]. Apabila pada dialek Jereweh vokal-vokal tersebut tetap direalisasikan sebagai vokal [i] maka ketiga dialek lainnya masing-masing merealisasikan sebagai vokal tinggi. dialek [ö]. Uthan. dan Ropang. dan [I] untuk dialek Sumbawa Besar. Belo. Oleh karena itu. Desa Goa. Desa Belo. Burung racun dll. dialek Tongo memiliki daerah pakai: desa-desa yang tersebar di pegunungan bagian Selatan pulau Sumbawa: desa Tatar. dialek [] dan dialek [I]. dan satu desa yang secara administratif masuk wilayah kecamatan Taliwang. Untuk jelasnya dapat dilihat pada contoh berikut ini. dialek Taliwang memiliki daerah pakai desa-desa yang menjadi wilayah administratif kecamatan Taliwang dan ditambah desa-desa yang masuk wilayah kecamatan Seteluk: desa Meraran.pakai desa-desa yang berada dalam wilayah kecamatan Jereweh: desa Beru. Goa. Empang. Pelampang. Batu Rotok. Moyo Hulu. Muyu Hilir.

Lampok. Sapugara. atau belakang baik dalam silabe yang sama ataupun pada silabe yang berbeda namun berurutan seperti pada contoh berikut ini. dan Tongo. dan subdialek Mantar (SDMTr) yang memiliki daerah pakai desa Mantar. dan t/ seperti pada contoh: SDSt tikös taköt ñör SDMr tikis takit ñir SDMtr tikus takut ñur Artinya tikus takut kelapa dll. Mura. Dalam. dialek Taliwang memiliki tiga subdialek yaitu subdialek Salit (SDSt) yang memiliki daerah pakai desa-desa: Salit. dan r/ seperti pada contoh: SDB bdus takut ñur SDL Artinya bdis kambing takit takut ñir kelapa dll. Selanjutnya. dan desa lain yang berada pada wilayah kecamatan Taliwang yang tidak termasuk dalamdaerah pakai subdialek DT lainnya. r. t. depan. subdialek Emang (SDE) dengan daerah pakai pemukiman Emang. Singa. Kalimantong. Sampir. termasuk juga Dusun Dasan dengan ciri-ciri linguistik yang menandai kedua subdialek ini adalah adanya korespondensi antara SDB: [u] SDL: [i] pada posisi silabe ultima yang berakhir konsonan /s. Ciriciri linguistik yang menandai dan membedakan ketiga subdialek tersebut satu sama lain adalah adanya korespondensi antara: SDSt: [ö] SDMr: [i] SDMTr: [u] pada posisi silabe ultima yang berakhir konsonan / s. dan subdialek Labangkar (SDLk) dengan daerah pakai desa Labangkar. Ciri-ciri linguistik yang membedakan keempat subdialek dari dialek ini adalah adanya korespondensi (kesepadanan bunyi) antara SDTr: [e] SDSn: [â] SDE: [E] SDLk: [a] pada posisi apabila vokal-vokal itu terdapat sebelum vokal tinggi. Desa Beru. Seloto. Kuang. Dialek Tongo (DTn) memiliki empat subdialek yaitu subdialek Tatar (SDTr) dengan daerah pakai Karang Tatar.Desa Beru dan subdialek Lalar (SDL) yang memilik daerah pakai Desa Lalar. SDTr SDSn SDE SDLk Artinya 6 . Manala. Subdialek Meraran (SDMr) yang memiliki daerah pakai desa Meraran dan Airsuning. subdialek Singa (SDSn) dengan daerah pakai meliputi Karang Nangkalanung.

SDSn untIr manIs sakIt ñIr bdI takIt SDBTr untir manis sakit ñur bdus takut Artinya bukit manis sakit kelapa kambing takut dll. Adapun yang membedakan antara subdialek Seran dengan subdialek Baturotok adalah adanya korespondensi antara subdialek Seran (SDSn): [I] SDBTr: [i] dan [u] pada posisi silabe ultima yang berakhir konsonan /s. yaitu subdialek Rhee (SDR) yang memiliki daerah pakai Desa Rhee di Kecamatan Utan. Ciri khas Subdialek Rhee adalah tidak terdapatnya bunyi konsonan glotal stop (hamzah): [q] pada posisi akhir. Secara geografis daerah pakai keempat dialek bahasa Samawa tersebut dapat dilihat pada peta berkas isogolos dan peta dialek-dialek bahasa Samawa (lampiran). Ciri ini merupakan ciri yang membedakan subdialek tersebut tidak hanya terhadap subdialek dalam dialek yang sama (dialek Sumbawa Besar itu sendiri) tetapi juga dengan subdialek-subdialek dalam dialek bahasa Samawa lainnya. Lunyuk (kecuali Emang). Ropang (kecuali desa-desa yang telah termasuk dalam daerah pakai ketiga dialek yang pertama diuraikan di atas). Sumbawa Besar. Empang. Moyo Hilir. dan t/ seperti pada contoh berikut ini. subdialek Seran yang memiliki daerah pakai desa Seran (kecamatan Seteluk) desa-desa lain yang berada di wilayah kecamatan Seteluk Lainnya. Dialek Sumbawa Besar (DSB) memiliki tiga subdialek.lime siweq due tueq limâ siwâq duâ tuâq limE siwEq duE tuEq lima siwaq dua tuaq lima sembilan dua tua dll. Moyo Hulu. yang daerah pakainya mencakup sebagian besar desa-desa yang terdapat di kabupaten Dompu dan Bima belum banyak diperoleh informasi. Batu Lanteh (kecuali Desa Baturotok) dan Lape. r. Utan. Ciri-ciri linguistik yang membedakan ketiga subdialek ini satu sama lain adalah sebagai berikut. desa-desa yang berada di kecamatan Alas. karena penelitian secara dialektologis 7 . Pelampang. Adapun untuk bahasa Mbojo.

dan penduduk di Kepulauan Bajo (Teluk Saleh. seperti yang terdapat di Kolo dan Kore. dan kontras konsonan apikopalatal implosif: d: didi „tekan‟ dengan apikopalatal: didi „pesan‟. Selain varian ini. dan Sasak. dan Kecamatan Lunyuk). Adapun penutur bahasa Bali dan Sasak yang terdapat di Pulau Sumbawa merupakan penduduk yang belum lama tinggal di sana. Selayar. kecuali sebagian kecil (empat dearah pengamatan) penutur bahasa Mbojo di Kecamatan Wawo. Konsonankonsonan semacam ini tidak terdapat dalam dua bahasa besar (jumlah penuturnya) yang terdapat di wilayah propinsi ini. yang merupakan warisan dari bahasa purba (PAN). yang patut direnungkan dalam kaitannya dengan ciri pembeda bahasa ini dengan bahasa lain yang terdapat di NTB adalah bahwa bahasa Mbojo merupakan salah satu anggota kelompok bahasa Bima-Sumba. Pulau Bungin. Labuan Sumbawa (Kabupaten Sumbawa). Kebanyakan mereka tinggal di bagian barat pulau Sumbawa (Kecamatan Jereweh. Namun. Hubungan Antarbahasa di NTB Ada dua penelitian yang menarik untuk dikemukakan hasilnya sehubungan dengan pembahasan dalam seksi ini. Secara rinci hasil kedua penelitian tersebut akan dipaparkan berikut ini secara berturut-turut.belum pernah dilakukan. Bahasa Bajo digunakan oleh penutur yang tinggal di daerah pantai seperti desa Labuan Lalar. di Kabupaten Dompu dan Teluk Sape. yang dilakukan oleh Haris (1996) untuk skripsi S1 di FKIP Unram. Dari penelitian itu diperoleh gambaran bahwa isolek Mbojo yang digunakan di daerah tersebut merupakan variasi dialektal dari bahasa Mbojo. Banjar. seperti: kmbo „kerbau‟. Belum banyak hal yang dapat diungkapkan tentang ciri-ciri fonologis dialek-dialek dalam bahasa ini. karena penelitian secara komprehensif belum banyak dilakukan. 3. Jawa. pantai timur Kabupaten Bima). Mereka datang ke Pulau Sumbawa dalam rangka program Transmigrasi lokal. Bali. manu „ayam‟ dll. Selain bahasa Samawa dan bahasa Mbojo yang penuturnya cukup besar. bahasa mbojo juga memiliki varian geografis. dengan ciri-ciri bahasa vokalis. Di daerah pakai isolek ini masih banyak ditemukan bentuk relik. yang oleh Brandes dikelompokkan ke dalam kelompok bahasa Nusantara Timur. dan memiliki kontras konsonan bilabial implosif bersuara b: bala „siang‟ dengan bilabial bersuara b: bala „bala‟. Jurumapin. yaitu penelitian yang dilakukan oleh Mbete (1990) dan Syamsuddin (1996). juga terdapat Bahasa lain yang penuturnya relatif kecil yaitu bahasa Bajo. kecamatan Alas. 8 .

Sumbawa lebih dekat hubungannya dengan bahasa pembanding di sebelah baratnya dibandingkan dengan bahasa pembanding di sebelah timurnya. dalam hal ini rumpun bahasa Austronesia. maka rupanya bahasa Bali. Sasak. istilah Dyen). yaitu masing-masing mencapai 41 % dan 31 %. dan Sumbawa dengan bahasa-bahasa pembandingnya.Penelitian yang dilakukan oleh Mbete mencoba mengoreksi kembali pengelompokaan bahasa yang dilakukan Dyen. BSk BSm BJw BMd BBm BMg 51 49 35 41 27 29 BBl 64 33 42 32 37 BSk 32 40 31 30 BSm 42 21 24 18 27 26 BJw BMd BBm Variasi kemiripan/ kekognatan antara bahasa yang diperbandingkan di atas berada pada rentangan prosentase antara 18 . Hal ini menunjukkan pula dapat diterimanya hipotesis Brandes tentang pengelompokan bahasa-bahasa Melayu Polinesia atas subkelompok Nusantara Barat dan Nusantara Timur. Namun. yang disebutnya sebagai keluarga bahasa Bali (Balic subgroup. khususnya yang berkaitan dengan kekerabatan bahasa Bali. Sasak. Sumbawa memiliki tingkat kemiripan yang lebih tinggi denagan bahasa kelompok bahasa pembanding di sebelah baratnya dibandingkan dengan kelompok bahasa pembanding di sebelah timurnya. Dalam pengujian itu. Dari hasil perhitungan dengan menggunakan metode leksikostatistik diperoleh hasil yang kurang lebih sama. Sasak. apabila dilihat hubungan antara bahasa Bali.Mbete mengambil bahasa pembanding di sebelah timur: bahasa Bima (BBm) dan bahasa Manggarai (BMg). baik yang berada di sebelah barat maupun timurnya dalam konteks pengelompokan yang berbeda. serta di sebelah barat bahasa Jawa (BJw) dam bahasa Madura (BMd). Dengan menggunakan perhitungan leksikostatistik berdasarkan 200 kosa kata dasar diperoleh hasil sebagai berikut. dan Sumbawa. Sasak. Bukti kunatitatif lainnya ditunjukkan pula oleh Syamsuddin dengan melakukan uji ulang atas hipoteisis kekerabatan bahasa-bahasa kelompok Bima-Sumba. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa-bahasa tersebut merupakan anggota rumpun/ turunan (stock) yang sama. BKm 56 BMg 50 51 9 . Artinya. bahasa Bali.64 %. seperti berikut ini.

sementara dalam bahasa bima dan bahasa-bahasa lainnya yang sekelompok 10 BS bakat batar bErEk bide kdEk BBm bakat „sawah‟ batar „hama kayu‟ bErEk bide kdEk „anyaman dari bambu atau rotan‟ „bermain-main‟ bakt basah brk bide kdek . dan Sumbawa berupa inovasi bersama yang dialami oleh bahasa-bahasa tersebut setelah pecah dari bahasa purbanya.t)aR *brk „robek‟ *bide *kdek dll. bukti kualitatif yang membedakan kelompok bahasabahasa ini dengan bahasa Bima adalah tidak dijumpainya konsonan bilabial implosif bersuara dan konsonan implosif bersuara dalam ketiga bahasa itu. Belum lagi ditambah dengan beberapa kata yang merupakan inovasi leksikal. seperti: PAN * (t)ubiR tibu tibu tiu BBl PBSS *bakt *ba(s. Dalam pada itu. Mbete juga memberikan bukti kaulitatif tentang kesatuasalan bahasa Bali. seperti dengan bahasa Komodo (BKm).50 45 47 50 45 48 74 51 49 43 43 41 42 38 42 34 38 51 32 25 26 26 28 29 22 34 32 32 28 28 34 26 21 BBm BKm BMg BNg BLio BSb BSw BSm Perhitungan leksikostatistik di atas memperlihatkan bahwa bahasa Bima (BBm) memiliki kedekatan dengan bahasa-bahasa yang berada di sebelah timurnya. Sasak. seperti metatesis bersama pada ketiga bahasa tersebut: BBl BS BSm BNg BLio BSb BSw BSm BRt „bagian sungai yang dalam‟ PAN * ktug gtuk gtuk gtuk „memukul‟ dll. bahasa Sumba (BSB) daripada dengan bahasa Sumbawa. bahasa Ngada (BNg). Selain bukti kuantitiatif. bahasa Lio. Manggarai( BMg).

dengan bahasa Bima seperti bahasa Komodo. Bahkan dijumpai pasangan minimal yang membuktikan bahwa bunyi itu adalah sebuah fonem. misalnya: PBSS PAN *maty *tau *aty *mata *babuy mate tau ate mata bawi dou ade mada wawi PBS made „mati‟ „orang‟ „hati‟ „mata‟ „babi‟dll. Namun. Secara diagramatis kekerabatan bahasa-bahasa di NTB. PAN NB PBSS PBS NT PSS BJ BBl BS BSm BBm BKm BMg BNg BLio BSb BSw BRt 4. untuk empat bahasa di atas dapat ditunjukkan berikut ini. bandingkan misalnya: bala „siang‟ – bala „bala‟ didi „tekan‟ – didi „pesan‟ dll. Bahasa-Bahasa di NTB: Hipotesis Tanah Asal Penuturnya 11 . Hasil ini pula memperlihatkan bahwa hipotesis Brandes dapat berterima. Manggarai justeru ditemukan konsonan ini. sekali lagi semuanya merupakan anggota dari sebuah rumpun bahasa. Kesatu-asalan itu dapat dilihat dengan terdapatnya refleks bahasa purba Austronesia yang masih dipelihara oleh keluarga bahasa Bali-Sasak-Sumbawa di satu sisi dengan keluarga bahasa Bima-Sumba pada sisi yang lain. yaitu bahasa Autronesia.

Di bagian barat inilah banyak terdapat variasi dialektal dibandingkan dengan bagian timur daerah pakai bahasa tersebut (periksa peta 2). yang memang sudah dilakukan deskripsi secara dialektologis dengan lebih terperinci. Belum dapat dipastikan di bagian mana pulau Bali dan Lombok tempat awal penyebaran keluarga bahasa ini. Untuk itu. Dengan berangkat pada hipotesis kerja yang kedua (pemeliharaan unsur bahasa purba). maka dapat ditentukan bahwa arah penyebarannya tentu dari sana ke pulau Lombok dan menyeberang ke pulau Sumbawa bagian barat. Menurutnya. sementara dari arah timur berdatangan penutur bahasa Mbojo. karena kajian secara dialektologis (Diakronis) tentang kedua bahasa itu (Bali dan Sasak) belum dilakukan. kiranya dapat dikemukakan arah penyebaran keluarga bahasa ini dari barat ke timur. Apabila ancar-ancar tanah asalnya berada di bagaian barat. kajian secara mendalam dari aspek dialektologis terhadap bahasa-bahasa yang menjadi anggota kedua keluarga bahasa ini (Bali-Sasak-Sumbawa dan Bima-Sumba) perlu dilakukan secara terinci. artinya pulau Bali. bahwa tanah asal suatu keluarga bahasa (sekaligus penuturnya) terletak di daerah yang isoleknya paling beranekaragam. Bertitik tolak pada hipotesis itu. karena alasan yang sama seperti alasan di atas.Nothofer (akan terbit) berdasarkan tingkat kuantitas jumlah variasi yang terdapat pada ragam bahasa Jawa Ngoko dan kromo mengajukan sebuah hipotesis tentang tingkat keragaman isolek dikaitkan dengan asal penyebaran bahasa atau penuturnya. Jadi. karena deskripsi secara dialektologis terhadap dua bahasa anggota keluarga bahasa Bali-Sasak-Sumbawa belum terdiskripsi secara dialektologis. yaitu tingkat variasi dialektal dan evidensi pewarisan bahasa purba pada daerah pemukiman pemakaian bahasa tersebut. menunjukkan bahwa arah penyebaran isolek ini dimulai dari arah barat ke timur. dengan mengambil contoh pada bahasa Sumbawa. 12 . Kenyataan ini pula diperkuat dengan masih dipeliharanya unsur bahasa puraba (Prototbahasa Austronesia) seperti hadirnya vokal tinggi [i] da [u] pada semua posisi pada penutur bahasa ini di bagian barat tersebut. sesungguhnya ada dua hipotesis kerja yang dapat digunakan dalam melacak tanah asal penyebaran bahas. Begitu pula dari mana asal penyebaran keluarga bahasa BimaSumba sampai saat ini belum dapat ditentukan.

J. Djakarta: Biro Reproduksi Djawatan Topografi. 13 . Pemetaan Bahasa-Bahasa di Nusa Tenggara Barat. Haris. Disertasi Doktor.RUJUKAN PUSTAKA Brandes. “Kelompok Bahasa Bima-Sumba: Kajian Linguistik Historis Komparatif”. Mbete. 1996. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Suparman dkk.1990. Disertasi Doktor. Bijdragen tot de Verglijkende Klankleer der Westerse. 1996. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Teeuw. Abdul. “Migrasi Orang Melayu purba”. Skripsi S1 FKIP Universitas Mataram. Aron Meko. Nazir dkk. Kamus Sasak-Indonesia. 1994.R. Syamsuddin A. Dialect-Atlas van/of Lombok (Indonesia). Disertasi Doktor Universitas Padjadjaran Bandung. “Penelitian Dialek Gografis Bahasa Sumbawa”. Afdeeling van de Meleiche Polynesische Taalfamilie Utrecht. Nothofer. Toir.L. Universitas Indonesia. Herusantoso.A. Jakarta. “Isolek Mbojo di Kecamatan Wawo: Suatu Kajian Dialektologis”. 1987. A. 1951. 1985. Bernd (akan terbit). 1884. Mahsun. “Rekonstruksi Protobahasa Bali-SasakSumbawa”.

14 .