KEKERABATAN BAHASA-BAHASA DI NUSA TENGGARA BARAT: KAJIAN TANAH ASAL PENUTUR-PENUTURNYA* Oleh: Mahsun Universitas Mataram

1. Pendahuluan Nusa Tenggara Barat (NTB) merupakan salah satu propinsi yang terdapat di Kawasan Tenggara Indonesia. Propinsi ini memiliki penduduk 3.368.699 jiwa yang hidup tersebar pada dua buah pulau, yaitu pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. Di Propinsi inilah terdapat garis Brandes yang membagi dua kelompok bahasa Melayu Polinesia, yang disebutnya sebagai Subkelompok Nusantara Barat dan Nusantara Timur, tepatnya di antara daerah pakai bahasa Samawa (Sumbawa) dan bahasa Mbojo (Bima) di pulau Sumbawa (periksa peta 1). Di kedua pulau yang menjadi wilayah administratif propinsi ini hidup berdampingan berbagai macam suku bangsa. Selain tiga suku bangsa mayoritas, dan merupakan penduduk asli, yaitu suku Sasak yang sebagian besar mendiami pulau Lombok; suku Samawa dan Mbojo, yang masing-masing mendiami pulau Sumbawa bagian barat dan timur; juga terdapat suku bangsa lainnya seperti Bali, Jawa, Bugis, Bajo, Banjar, dan Melayu, yang masing-masing ditandai oleh bahasa yang berbeda. Oleh karena itu, propinsi ini merupakan bentuk mininya Indonesia. Sampai saat ini penelitian tentang bahasa dari berbagai suku bangsa yang hidup di wilayah NTB sudah cukup banyak dilakukan, khususnya pada tiga bahasa etnis mayoritas tersebut. Penelitian tentang kekerabatan bahasabahasa di wilayah ini pertama kali dilakukan oleh Herusantoso dkk. (1987), disusul oleh Mbete (1990), dan penelitian variasi bahasa tentang beberapa bahasa di NTB juga pernah dilakukan seperti yang dilakukan oleh Teeuw (1951), dan Mahsun (1994). Penelitian yang dilakukan oleh Herusantoso dkk. tersebut merupakan penelitian yang pertama yang dilakukan dalam rangka pemetaan bahasa-bahasa di NTB, sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Mbete merupakan penelitian yang pertama kali dilakukan dalam kerangka mencoba menelususri bahasa purba yang menurunkan bahasa Bali, Sasak, dan Sumbawa; sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Teeuw juga merupakan penelitian yang pertama terhadap deskripsi perbedaan dialektal yang terdapat dalam bahasa Sasak dan sekaligus merupakan penelitian yang pertama di Indonesia yang mencoba menerapkan
*

Makalah yang disajikan dalam rangka Bulan Apresiasi Budaya IV Nusa Tenggara Barat, di Mataram 2124 Juli 1997.

1

1 Bahasa-Bahasa di Pulau Lombok Pulau yang luasnya 4738. Dari 78 buah peta bahasa yang dihasilkan. Penggunaan bahasa ini menyebar di seluruh pulau Lombok dengan berbagai variannya. yang sampai awal Juli ini baru berhasil dikumpulkan data kebahasaan sebanyak 20 buah daerah 2 . 1987). Dari pengumpulan data yang dilakukan Mahsun (1997) dalam rangka penelitiannya melalui Riset Unggulan Terpadu V.65 km2 ini didiami oleh kurang lebih 2. Meskipun bahasa ini pernah dikaji secara dialektologis (periksa Teeuw. Situasi Kebahasaan di NTB 2. Adapun penelitian yang dilakukan oleh Mahsun lebih banyak berkutat dengan upaya mendeskripsikan variasi dialektal yang terdapat dalam bahasa Samawa (Sumbawa) serta menelusuri (merekonstruksi) bahasa purba yang menurunkan dialek-dialek bahasa tersebut. kecuali bahasa Mbojo. dengan meramu informasi dari keempat penelitian di atas. dua penelitian yang disebut pertama kali di atas pun belum dapat memberikan gambaran yang menyeluruh dan komprehensif tentang kondisi kebahasaan yang ada di NTB.205 jiwa yang berasal dari berbagai latar etnis. Terlepas dari penelitian yang dilakukan Teeuw terhadap bahasa Sasak dan penelitian yang dilakukan oleh Mahsun terhadap bahasa Sumbawa. yang belum dilakukan penelitian dari aspek dialektologis. Penelitian Teeuw yang cukup rinci tentang kondisi bahasa Sasak pun belum dapat memberikan secara jelas tentang dialek-dialek atau subdialeksubdialek yang ada dalam bahasa ini. baik yang menyangkut level perbedaan bahasa maupun perbedaan dialek.403.teori dialek geografis. bahasa Sasak banyak memiliki perbedaan dalam bidang fonologi. serta memadukannya dengan informasi yang diperoleh pada tahap penyediaan data yang dilakukan oleh Mahsun (1997) dalam rangka penelitiannya melalui Proyek Riset Unggulan Terpadu V. Namun. Etnis mayoritas adalah etnis yang menggunakan bahasa Sasak. 1951 dan Herusantoso dkk. Padahal. dalam arti berapa jumlah dialek. selebihnya merupakan peta perbedaan bidang leksikon.. hanya beberapa buah peta saja yang menggambarkan perbedaan bidang fonologi. terhadap bahasa Sasak maka berikut ini akan dicoba berikan gambaran ihwal situasi kebahasaan di NTB serta daerah sebarannya. serta ciri-ciri linguistik yang menandai dialek atau subdialeknya belum terungkap secara jelas. karena lebih bersifat khusus terhadapat satu bahasa tertentu. subdialek. 2. namun gambaran secara jelas tentang varian dialektalnya.

Kuto-Kute. Tanjung dll. dan Ngeto-Ngete (periksa Toir. Pringgasela. karena contoh (datanya) untuk masing-masing kaidah cukup banyak. l ~ r/ V-V (klpuk ~ krpuk „debu‟). p ~ m/-# (tajp ~ tajm „tajam‟). 1985). merupakan desa yang penuturnya menggunakan dialek Meno-mene. Pernah ada upaya pengelompokan bahasa Sasak atas lima dialek. h ~ s /-# (tlih ~ tlis „dingin‟). k ~ g/ V-V (krikiq ~ krigiq „kelingking‟). untuk penelitian dialektogis pada daerah pakai bahasa Sasak. desa-desa yang berada di wilayah Pujut seperti Penujak. bahwa perbedaan tersebut sebagian besar bersifat teratur. a-a ~ a-e ~ e-e (mata ~ mate ~ mete „mata‟). Meno-Mene. seperti desa Pengadang. merupakan desa yang penuturnya mengunakan dialek Mriak-Mriku. hal ini lebih banyak terkait dengan sejarah migrasi lokal penduduk pada masa dulu. q ~ f/ -# ( jaoq ~ jao „jauh‟). Hanya saja. 3 . dan desa-desa yang berada di wilayah Suralaga dan Sembalun merupakan desa-desa yang penuturnya menggunakan dialek Ngeto-Ngete. Desa Lendang Nangka. Pejanggik dll. Selaparang dll. Patut ditambahkan. merupakan desa yang penuturnya menggunakan dialek Kuto-Kute. desa-desa yang berada di wilayah Bayan seperti Bayan. Oleh karena itu. MriakMriku. l ~ n/ -# (tokol ~ tokon „duduk‟). r ~ f/ V-V (daraq ~ daq „darah‟). perbedaan bidang fonologi yang berhasil disingkap antara lain perbedaan: r~h/ -# (tipar ~ tipah „tikar‟). k ~ r/ V-V (okp ~ urp „awan‟). yang ada di wilayah Lombok Timur serta beberapa desa yang berada di wilayah Lombok Barat merupakan desa-desa yang penuturnya menggunakan dialek Ngeno-Ngene. yaitu dialek Ngeno-Ngene.(bai ~ wai „cucu‟). nt ~ t/ V-V (btis ~ bntis „betis‟).(griq ~ triq „jatuh‟).pengamatan dari 90 buah daerah pengamatan yang direncanakan. desa-desa yang berada di wilayah Pejanggik dan sekitarnya. g ~ t/ #.(dat ~ rat „datang‟). d ~ r / V-V (iduk ~ iruk „cium‟). i ~ ic ~iz ~ r/ -# (kupi ~ kupic ~ kupiz ~ kupr „kopi‟) vv ~ v/ K-K (kaoq ~ koq „kerbau‟) dan masih banyak perubahan fonologi lainnya. Bonjeruk dll. yang didasarkan pada bentuk yang digunakan dalam merealisasikan makna „begini‟ dan „begitu‟. gondang. Desa-desa yang penuturnya termasuk penutur masing-masing dialek di atas dapat dikemukakan berikut ini. q ~ l/ -# (tupuq ~ topul „tumpul‟).(limpu ~ impu „paha‟). k ~ / V-V (sakok ~ ñaok „dagu‟). l~f/ #. d ~ r/ #. b~w/ #. yang menarik adalah daerah sebaran geografinya yang hampir tidak bersifat teratur. faktor sejarah perpindahan penduduk yang terkait dengan sejarah desa patut dipertimbangkan dalam pemilihan desa/ dusun tertentu sebagi satuan daerah pengamatannya. i ~ E pada posisi tengah ( tipis ~ tEpEs „tipis‟).

Dalam bahasa Samawa.„cium‟.1 Bahasa-Bahasa di Pulau Sumbawa Di pulau yang luasnya kurang lebih 15. Pulau Meringkiq (Lombok Timur). Dialek Jereweh memiliki daerah 4 . bahasa Sumbawa. 2. Kuang Brora. Dasan Baru. terdapat empat buah dialek. berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Mahsun (1994). Pemenang. yang penuturnya terdapat di Lombok Timur: Rumbuk Siren. dan „duduk‟ dapat menyatukan antara desa Pringgasela (yang dalam kategori di atas disebut sebagai desa penutur dialek Ngeno-Ngene) dengan desa Bayan. Rencong. yang disebut juga dialek Mangka). masing-masing (sekedar contoh) pada bentuk yang merupakan realisasi dari makna „akar‟. Rempung. Selain bahasa Sasak. bahasa Melayu di Ampenan. Pagutan. adalah sudah patutkan perbedaan pada dua makna di atas diangkat sebagai perbedaan yang mewakili perbedaan-perbedaan lainnya. dan di Lombok Barat: Kampung Taliwang (Cakranegara).Pembagian berdasarkan ciri-ciri linguistik yang hanya berdasarkan dua makna seperti di atas belum dapat dikatakan memadai. dialek Taliwang (DT). Persoalan yang patut dilontarkan sehubungan dengan pengkategorian semacam itu. dan Kembang Kerang.414. dan Bahasa Jawa yang digunakan oleh penutur yang tinggal dikampung Jawa (Praya. Tanjung Ringgit. bahasa Bugis di daerah pantai: Gili Air. Beberapa bahasa lain yang dituturkan sebagian kecil penduduknya adalah bahasa Bali. Narmada. dan dialek Sumbawa Besar (DSB. Bahasa Samawa digunakan oleh penutur yang tinggal di bagian barat pulau sumbawa (Kabupaten Sumbawa) sedangkan bahasa Mbojo digunakan oleh penutur yang tinggal di bagian tengah dan timur pulau Sumbawa (Kabupaten Dompu dan Kabupaten Bima). yang penuturnya menyebar di wilayah Lombok Barat: Gerung. untuk beberapa perbedaan fonologi di atas. yaitu dialek Jereweh (DJ). Sebagai contoh. Gondang. misalnya perbedaan antara h ~ r/-# d ~ r/ V-V dan perbedaan l ~ n/ -#. dan Tanjung (yang dikategorikan penutur dialek Kuto-Kute) sebagai penutur dialek yang sama. yaitu penutur bahasa Samawa (Sumbawa) dan bahasa Mbojo. Jantuk. di pulau ini juga tinggal beberapa suku bangsa lainnya yang menggunakan bahasa tersendiri.494 jiwa (BPS. seperti disebutkan di atas.50 Km2 ini dengan penduduknya berjumlah 965. Tanjung Luar. karena masih banyak perbedaan lainnya yang perlu dipertimbangkan. Cakranegara. Tanjung. Lombok Tengah). dan Pagesangan. dialek Tongo (DTn). 1993) terdapat dua bahasa daerah yang penuturnya lebih besar.

Singa (Kecamatan Jereweh). antara tegang dan kendur [ö] untuk dialek Taliwang. tengah. dan Ropang. dialek Taliwang memiliki daerah pakai desa-desa yang menjadi wilayah administratif kecamatan Taliwang dan ditambah desa-desa yang masuk wilayah kecamatan Seteluk: desa Meraran. Setiap dialek masing-masing memiliki subdialeksubdialek. yaitu subdialek Beru (SDB). Desa Goa. yang memiliki daerah pakai Karang Jereweh. dialek [ö]. Untuk jelasnya dapat dilihat pada contoh berikut ini. kecuali desa-desa yang termasuk pada daerah pakai dialek-dialek di atas. [] untuk dialek Tongo. sedangkan dialek Sumbawa Besar memiliki daerah pakai desa-desa yang berada di kecamatan Seteluk. Sumbawa Besar. Ciri-ciri linguistik (kebahasaan) yang terpenting menandai keempat dialek di atas adalah realisasi vokal tinggi. Pelampang. dan satu desa yang secara administratif masuk wilayah kecamatan Taliwang. Moyo Hulu. Sekonkang Bo dan Sekongkang Baq. Oleh karena itu. Airsuning. yaitu desa Lalar. Muyu Hilir. Batu Rotok. kecuali desa-desa yang termasuk daerah pakai dialek-dialek di atas. Goa. Dialek Jereweh memiliki dua subdialek. Uthan. dan [I] untuk dialek Sumbawa Besar.pakai desa-desa yang berada dalam wilayah kecamatan Jereweh: desa Beru. desa-desa di kecamatan Alas. Dialek Jereweh btis tipis alis isit kdit racin Dialek Taliwang btös ripös alös isöt kdöt racön Dialek Tongo bts rips als ist kdt racn Dialek Sumbawa Besar btIs ripIs alIs isIt kdIt racIn Artinya betis ripis halus gigi sej. t. desa-desa di daerah pegunungan kecamatan Ropang: Labangkar. dialek Tongo memiliki daerah pakai: desa-desa yang tersebar di pegunungan bagian Selatan pulau Sumbawa: desa Tatar. 5 . ketiga dialek bahasa Samawa tersebut secara linguistik (kebahasaan) dapat disebut sebagai dialek [i]. dialek [] dan dialek [I]. Empang. dan desa-desa di kecamatan Lunyuk. Desa Belo. Apabila pada dialek Jereweh vokal-vokal tersebut tetap direalisasikan sebagai vokal [i] maka ketiga dialek lainnya masing-masing merealisasikan sebagai vokal tinggi. Burung racun dll. dan n/. depan pada posisi silabe ultima (silabe awal dari belakang) yang berakhir konsonan dorsovelar: /s. Belo. dan Mantar.

Mura.Desa Beru dan subdialek Lalar (SDL) yang memilik daerah pakai Desa Lalar. dan subdialek Labangkar (SDLk) dengan daerah pakai desa Labangkar. Lampok. Singa. Ciri-ciri linguistik yang membedakan keempat subdialek dari dialek ini adalah adanya korespondensi (kesepadanan bunyi) antara SDTr: [e] SDSn: [â] SDE: [E] SDLk: [a] pada posisi apabila vokal-vokal itu terdapat sebelum vokal tinggi. Sapugara. Ciriciri linguistik yang menandai dan membedakan ketiga subdialek tersebut satu sama lain adalah adanya korespondensi antara: SDSt: [ö] SDMr: [i] SDMTr: [u] pada posisi silabe ultima yang berakhir konsonan / s. dan Tongo. dialek Taliwang memiliki tiga subdialek yaitu subdialek Salit (SDSt) yang memiliki daerah pakai desa-desa: Salit. SDTr SDSn SDE SDLk Artinya 6 . Seloto. termasuk juga Dusun Dasan dengan ciri-ciri linguistik yang menandai kedua subdialek ini adalah adanya korespondensi antara SDB: [u] SDL: [i] pada posisi silabe ultima yang berakhir konsonan /s. r. Sampir. dan desa lain yang berada pada wilayah kecamatan Taliwang yang tidak termasuk dalamdaerah pakai subdialek DT lainnya. t. Subdialek Meraran (SDMr) yang memiliki daerah pakai desa Meraran dan Airsuning. Manala. Dalam. Kalimantong. depan. dan r/ seperti pada contoh: SDB bdus takut ñur SDL Artinya bdis kambing takit takut ñir kelapa dll. atau belakang baik dalam silabe yang sama ataupun pada silabe yang berbeda namun berurutan seperti pada contoh berikut ini. Desa Beru. Dialek Tongo (DTn) memiliki empat subdialek yaitu subdialek Tatar (SDTr) dengan daerah pakai Karang Tatar. Selanjutnya. subdialek Emang (SDE) dengan daerah pakai pemukiman Emang. subdialek Singa (SDSn) dengan daerah pakai meliputi Karang Nangkalanung. dan t/ seperti pada contoh: SDSt tikös taköt ñör SDMr tikis takit ñir SDMtr tikus takut ñur Artinya tikus takut kelapa dll. Kuang. dan subdialek Mantar (SDMTr) yang memiliki daerah pakai desa Mantar.

Adapun untuk bahasa Mbojo. SDSn untIr manIs sakIt ñIr bdI takIt SDBTr untir manis sakit ñur bdus takut Artinya bukit manis sakit kelapa kambing takut dll. Pelampang. karena penelitian secara dialektologis 7 . Adapun yang membedakan antara subdialek Seran dengan subdialek Baturotok adalah adanya korespondensi antara subdialek Seran (SDSn): [I] SDBTr: [i] dan [u] pada posisi silabe ultima yang berakhir konsonan /s.lime siweq due tueq limâ siwâq duâ tuâq limE siwEq duE tuEq lima siwaq dua tuaq lima sembilan dua tua dll. Sumbawa Besar. r. Dialek Sumbawa Besar (DSB) memiliki tiga subdialek. Utan. Ropang (kecuali desa-desa yang telah termasuk dalam daerah pakai ketiga dialek yang pertama diuraikan di atas). dan t/ seperti pada contoh berikut ini. yang daerah pakainya mencakup sebagian besar desa-desa yang terdapat di kabupaten Dompu dan Bima belum banyak diperoleh informasi. Moyo Hulu. Moyo Hilir. Ciri khas Subdialek Rhee adalah tidak terdapatnya bunyi konsonan glotal stop (hamzah): [q] pada posisi akhir. Batu Lanteh (kecuali Desa Baturotok) dan Lape. subdialek Seran yang memiliki daerah pakai desa Seran (kecamatan Seteluk) desa-desa lain yang berada di wilayah kecamatan Seteluk Lainnya. Empang. Ciri-ciri linguistik yang membedakan ketiga subdialek ini satu sama lain adalah sebagai berikut. Ciri ini merupakan ciri yang membedakan subdialek tersebut tidak hanya terhadap subdialek dalam dialek yang sama (dialek Sumbawa Besar itu sendiri) tetapi juga dengan subdialek-subdialek dalam dialek bahasa Samawa lainnya. Lunyuk (kecuali Emang). yaitu subdialek Rhee (SDR) yang memiliki daerah pakai Desa Rhee di Kecamatan Utan. desa-desa yang berada di kecamatan Alas. Secara geografis daerah pakai keempat dialek bahasa Samawa tersebut dapat dilihat pada peta berkas isogolos dan peta dialek-dialek bahasa Samawa (lampiran).

Selayar. Adapun penutur bahasa Bali dan Sasak yang terdapat di Pulau Sumbawa merupakan penduduk yang belum lama tinggal di sana. kecuali sebagian kecil (empat dearah pengamatan) penutur bahasa Mbojo di Kecamatan Wawo. Hubungan Antarbahasa di NTB Ada dua penelitian yang menarik untuk dikemukakan hasilnya sehubungan dengan pembahasan dalam seksi ini. karena penelitian secara komprehensif belum banyak dilakukan. yang merupakan warisan dari bahasa purba (PAN). yaitu penelitian yang dilakukan oleh Mbete (1990) dan Syamsuddin (1996). pantai timur Kabupaten Bima). Labuan Sumbawa (Kabupaten Sumbawa). Dari penelitian itu diperoleh gambaran bahwa isolek Mbojo yang digunakan di daerah tersebut merupakan variasi dialektal dari bahasa Mbojo. seperti yang terdapat di Kolo dan Kore. yang dilakukan oleh Haris (1996) untuk skripsi S1 di FKIP Unram. Kebanyakan mereka tinggal di bagian barat pulau Sumbawa (Kecamatan Jereweh. Konsonankonsonan semacam ini tidak terdapat dalam dua bahasa besar (jumlah penuturnya) yang terdapat di wilayah propinsi ini. Namun. juga terdapat Bahasa lain yang penuturnya relatif kecil yaitu bahasa Bajo. Jurumapin. bahasa mbojo juga memiliki varian geografis. dan Kecamatan Lunyuk). manu „ayam‟ dll. dan penduduk di Kepulauan Bajo (Teluk Saleh. Selain varian ini.belum pernah dilakukan. yang oleh Brandes dikelompokkan ke dalam kelompok bahasa Nusantara Timur. dan Sasak. dan memiliki kontras konsonan bilabial implosif bersuara b: bala „siang‟ dengan bilabial bersuara b: bala „bala‟. Jawa. Bahasa Bajo digunakan oleh penutur yang tinggal di daerah pantai seperti desa Labuan Lalar. Belum banyak hal yang dapat diungkapkan tentang ciri-ciri fonologis dialek-dialek dalam bahasa ini. Di daerah pakai isolek ini masih banyak ditemukan bentuk relik. 8 . di Kabupaten Dompu dan Teluk Sape. dan kontras konsonan apikopalatal implosif: d: didi „tekan‟ dengan apikopalatal: didi „pesan‟. Banjar. kecamatan Alas. seperti: kmbo „kerbau‟. Secara rinci hasil kedua penelitian tersebut akan dipaparkan berikut ini secara berturut-turut. Mereka datang ke Pulau Sumbawa dalam rangka program Transmigrasi lokal. Pulau Bungin. dengan ciri-ciri bahasa vokalis. Selain bahasa Samawa dan bahasa Mbojo yang penuturnya cukup besar. 3. Bali. yang patut direnungkan dalam kaitannya dengan ciri pembeda bahasa ini dengan bahasa lain yang terdapat di NTB adalah bahwa bahasa Mbojo merupakan salah satu anggota kelompok bahasa Bima-Sumba.

baik yang berada di sebelah barat maupun timurnya dalam konteks pengelompokan yang berbeda. istilah Dyen). dalam hal ini rumpun bahasa Austronesia. apabila dilihat hubungan antara bahasa Bali. Sasak. Bukti kunatitatif lainnya ditunjukkan pula oleh Syamsuddin dengan melakukan uji ulang atas hipoteisis kekerabatan bahasa-bahasa kelompok Bima-Sumba.64 %. Artinya.Mbete mengambil bahasa pembanding di sebelah timur: bahasa Bima (BBm) dan bahasa Manggarai (BMg). dan Sumbawa dengan bahasa-bahasa pembandingnya. serta di sebelah barat bahasa Jawa (BJw) dam bahasa Madura (BMd). Hal ini menunjukkan bahwa bahasa-bahasa tersebut merupakan anggota rumpun/ turunan (stock) yang sama. Namun. bahasa Bali. khususnya yang berkaitan dengan kekerabatan bahasa Bali. Sasak. Sasak. Dari hasil perhitungan dengan menggunakan metode leksikostatistik diperoleh hasil yang kurang lebih sama. dan Sumbawa. Hal ini menunjukkan pula dapat diterimanya hipotesis Brandes tentang pengelompokan bahasa-bahasa Melayu Polinesia atas subkelompok Nusantara Barat dan Nusantara Timur.Penelitian yang dilakukan oleh Mbete mencoba mengoreksi kembali pengelompokaan bahasa yang dilakukan Dyen. seperti berikut ini. Sumbawa lebih dekat hubungannya dengan bahasa pembanding di sebelah baratnya dibandingkan dengan bahasa pembanding di sebelah timurnya. Sumbawa memiliki tingkat kemiripan yang lebih tinggi denagan bahasa kelompok bahasa pembanding di sebelah baratnya dibandingkan dengan kelompok bahasa pembanding di sebelah timurnya. yaitu masing-masing mencapai 41 % dan 31 %. maka rupanya bahasa Bali. BKm 56 BMg 50 51 9 . Sasak. yang disebutnya sebagai keluarga bahasa Bali (Balic subgroup. Dalam pengujian itu. Dengan menggunakan perhitungan leksikostatistik berdasarkan 200 kosa kata dasar diperoleh hasil sebagai berikut. BSk BSm BJw BMd BBm BMg 51 49 35 41 27 29 BBl 64 33 42 32 37 BSk 32 40 31 30 BSm 42 21 24 18 27 26 BJw BMd BBm Variasi kemiripan/ kekognatan antara bahasa yang diperbandingkan di atas berada pada rentangan prosentase antara 18 .

Sasak. bahasa Sumba (BSB) daripada dengan bahasa Sumbawa. bukti kualitatif yang membedakan kelompok bahasabahasa ini dengan bahasa Bima adalah tidak dijumpainya konsonan bilabial implosif bersuara dan konsonan implosif bersuara dalam ketiga bahasa itu. seperti metatesis bersama pada ketiga bahasa tersebut: BBl BS BSm BNg BLio BSb BSw BSm BRt „bagian sungai yang dalam‟ PAN * ktug gtuk gtuk gtuk „memukul‟ dll.50 45 47 50 45 48 74 51 49 43 43 41 42 38 42 34 38 51 32 25 26 26 28 29 22 34 32 32 28 28 34 26 21 BBm BKm BMg BNg BLio BSb BSw BSm Perhitungan leksikostatistik di atas memperlihatkan bahwa bahasa Bima (BBm) memiliki kedekatan dengan bahasa-bahasa yang berada di sebelah timurnya. dan Sumbawa berupa inovasi bersama yang dialami oleh bahasa-bahasa tersebut setelah pecah dari bahasa purbanya. bahasa Lio. seperti dengan bahasa Komodo (BKm).t)aR *brk „robek‟ *bide *kdek dll. Mbete juga memberikan bukti kaulitatif tentang kesatuasalan bahasa Bali. Dalam pada itu. Manggarai( BMg). seperti: PAN * (t)ubiR tibu tibu tiu BBl PBSS *bakt *ba(s. Selain bukti kuantitiatif. sementara dalam bahasa bima dan bahasa-bahasa lainnya yang sekelompok 10 BS bakat batar bErEk bide kdEk BBm bakat „sawah‟ batar „hama kayu‟ bErEk bide kdEk „anyaman dari bambu atau rotan‟ „bermain-main‟ bakt basah brk bide kdek . bahasa Ngada (BNg). Belum lagi ditambah dengan beberapa kata yang merupakan inovasi leksikal.

dengan bahasa Bima seperti bahasa Komodo. sekali lagi semuanya merupakan anggota dari sebuah rumpun bahasa. Namun. yaitu bahasa Autronesia. untuk empat bahasa di atas dapat ditunjukkan berikut ini. misalnya: PBSS PAN *maty *tau *aty *mata *babuy mate tau ate mata bawi dou ade mada wawi PBS made „mati‟ „orang‟ „hati‟ „mata‟ „babi‟dll. Hasil ini pula memperlihatkan bahwa hipotesis Brandes dapat berterima. PAN NB PBSS PBS NT PSS BJ BBl BS BSm BBm BKm BMg BNg BLio BSb BSw BRt 4. Kesatu-asalan itu dapat dilihat dengan terdapatnya refleks bahasa purba Austronesia yang masih dipelihara oleh keluarga bahasa Bali-Sasak-Sumbawa di satu sisi dengan keluarga bahasa Bima-Sumba pada sisi yang lain. Secara diagramatis kekerabatan bahasa-bahasa di NTB. Bahkan dijumpai pasangan minimal yang membuktikan bahwa bunyi itu adalah sebuah fonem. Bahasa-Bahasa di NTB: Hipotesis Tanah Asal Penuturnya 11 . bandingkan misalnya: bala „siang‟ – bala „bala‟ didi „tekan‟ – didi „pesan‟ dll. Manggarai justeru ditemukan konsonan ini.

Menurutnya. maka dapat ditentukan bahwa arah penyebarannya tentu dari sana ke pulau Lombok dan menyeberang ke pulau Sumbawa bagian barat. karena deskripsi secara dialektologis terhadap dua bahasa anggota keluarga bahasa Bali-Sasak-Sumbawa belum terdiskripsi secara dialektologis. 12 . bahwa tanah asal suatu keluarga bahasa (sekaligus penuturnya) terletak di daerah yang isoleknya paling beranekaragam. Bertitik tolak pada hipotesis itu. menunjukkan bahwa arah penyebaran isolek ini dimulai dari arah barat ke timur. Dengan berangkat pada hipotesis kerja yang kedua (pemeliharaan unsur bahasa purba). Begitu pula dari mana asal penyebaran keluarga bahasa BimaSumba sampai saat ini belum dapat ditentukan. Belum dapat dipastikan di bagian mana pulau Bali dan Lombok tempat awal penyebaran keluarga bahasa ini. Di bagian barat inilah banyak terdapat variasi dialektal dibandingkan dengan bagian timur daerah pakai bahasa tersebut (periksa peta 2). dengan mengambil contoh pada bahasa Sumbawa. sementara dari arah timur berdatangan penutur bahasa Mbojo. Jadi. artinya pulau Bali. Apabila ancar-ancar tanah asalnya berada di bagaian barat. karena alasan yang sama seperti alasan di atas. Kenyataan ini pula diperkuat dengan masih dipeliharanya unsur bahasa puraba (Prototbahasa Austronesia) seperti hadirnya vokal tinggi [i] da [u] pada semua posisi pada penutur bahasa ini di bagian barat tersebut. Untuk itu. kajian secara mendalam dari aspek dialektologis terhadap bahasa-bahasa yang menjadi anggota kedua keluarga bahasa ini (Bali-Sasak-Sumbawa dan Bima-Sumba) perlu dilakukan secara terinci.Nothofer (akan terbit) berdasarkan tingkat kuantitas jumlah variasi yang terdapat pada ragam bahasa Jawa Ngoko dan kromo mengajukan sebuah hipotesis tentang tingkat keragaman isolek dikaitkan dengan asal penyebaran bahasa atau penuturnya. sesungguhnya ada dua hipotesis kerja yang dapat digunakan dalam melacak tanah asal penyebaran bahas. karena kajian secara dialektologis (Diakronis) tentang kedua bahasa itu (Bali dan Sasak) belum dilakukan. yaitu tingkat variasi dialektal dan evidensi pewarisan bahasa purba pada daerah pemukiman pemakaian bahasa tersebut. yang memang sudah dilakukan deskripsi secara dialektologis dengan lebih terperinci. kiranya dapat dikemukakan arah penyebaran keluarga bahasa ini dari barat ke timur.

Haris. 1994. 1985. 1996.1990. Bijdragen tot de Verglijkende Klankleer der Westerse. Skripsi S1 FKIP Universitas Mataram. “Rekonstruksi Protobahasa Bali-SasakSumbawa”. 1951. Mahsun. Teeuw. Toir. Pemetaan Bahasa-Bahasa di Nusa Tenggara Barat. 13 . “Penelitian Dialek Gografis Bahasa Sumbawa”. J. Universitas Indonesia. Bernd (akan terbit).A. Dialect-Atlas van/of Lombok (Indonesia). Aron Meko. “Migrasi Orang Melayu purba”.RUJUKAN PUSTAKA Brandes. Afdeeling van de Meleiche Polynesische Taalfamilie Utrecht. Herusantoso. Syamsuddin A. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Djakarta: Biro Reproduksi Djawatan Topografi. 1996. “Kelompok Bahasa Bima-Sumba: Kajian Linguistik Historis Komparatif”.R. Mbete. 1884. Disertasi Doktor. Disertasi Doktor. 1987.L. Suparman dkk. Disertasi Doktor Universitas Padjadjaran Bandung. Nothofer. Nazir dkk. Abdul. Kamus Sasak-Indonesia. Jakarta. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. A. “Isolek Mbojo di Kecamatan Wawo: Suatu Kajian Dialektologis”. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

14 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful