HAMA PADI POTENSIAL DAN PENGENDALIANNYA

Arifin Kartohardjono, Denan Kertoseputro dan Tatang Suryana
Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

1. PENDAHULUAN

U

paya meningkatkan produksi padi di Indonesia berhadapan dengan berbagai masalah dan penghambat berupa faktor abiotis dan biotis. Faktor abiotis yang terpenting berupa kemunduran kesuburan lahan, kekeringan dan kondisi yang kurang baik dari faktor iklim dan cuaca. Faktor biotis berupa organisme pengganggu tanaman, yaitu hama, penyakit dan gulma. Organisme pengganggu tanaman berupa insekta hama yang berada di antara populasi tanaman padi sebenarnya merupakan bagian dari komunitas ekosistem pertanian. Ekosistem pertanian semula adalah ekosistem alami yang bersifat keseimbangan, populasi organismenya berada dalam keadaan stabil. Namun ekosistem pertanian modern telah mengalami masukan-masukan berupa: a) pengolahan lahan; b) penggunaan bibit/varietas yang terpilih; c) penggunaan pupuk; d) fasilitas irigasi; e) penggunaan pestisida dan beberapa faktor lainnya. Dengan adanya masukan-masukan tersebut, ekosistem pertanian menjadi tidak seimbang lagi, atau berubah menjadi semi alami (Untung, 1996). Beberapa ciri yang dimiliki ekosistem pertanian antara lain: a) tidak memiliki kontinuitas sehingga keberadaannya sering mengalami perubahan mendadak; b) didominasi oleh jenis tanaman tertentu yang dipilih manusia; c) tidak memiliki diversitas biotik dan genetik yang tinggi; d) umumnya mempunyai bentuk dan umur yang sama sehingga secara fenologis seragam; e) sering terjadi letusan hama, penyakit dan gulma. Kepadatan populasi spesies, termasuk serangga senantiasa mengalami perubahan. Pada saat tertentu kepadatannya rendah dan pada saat lain kepadatannya bertambah, perubahan tersebut terjadi karena ada faktor-faktor pengganggu keseimbangan (Oka, 1995). Faktor yang mengatur kepadatan populasi terdiri dari faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal yaitu: a) faktor biologi, yakni faktor bertaut padat, antara lain, 1) persaingan antara individu, 2) perubahan lingkungan dan makanan, 3) musuh alami, berupa patasitoid/predator/patogen; (b) faktor iklim, terutama komponen cuaca, suhu, kelembaban, dan faktor fisik lainnya yang berperan mengatur kepadatan populasi. Sedangkan faktor internal yaitu : a) perbedaan-perbedaan individual dalam perilaku dan fisiologi, b) perubahan kualitas individu-individunya dan c) terjadinya perubahan genetik individu-individu populasinya.

406

Pada areal pertanaman padi, perubahan lingkungan sering berakibat terjadinya serangan hama. Di daerah Pantai Utara Jawa Barat antara Cirebon dan Karawang pada sawah dataran rendah, dengan varietas yang hampir sama, pernah terjadi serangan ganjur seluas 190.000 ha pada tahun 1975, dan seluas 250.000 ha tahun 1976 (Soenarjo dan Hummelen, 1976). Populasi ulat grayak meningkat jika musim kemarau diselingi hujan; pola iklim yang tidak normal menyebabkan migrasi hama, sehinga menyebabkan eksplosi serangan (Kalshoven, 1981; Matteson, 2000). Luas tanaman padi di Indonesia yang diserang ulat grayak pada tahun 1990 dan 1991 berkisar 20.794–20.945 ha (Ditlin, 2003). Walang sangit merupakan hama kurang penting di Jawa yang sebagian besar sawahnya beririgasi, tetapi menjadi hama yang cukup merugikan di Sumatra, mulai dari Aceh menelusuri pantai barat sampai Lampung, karena tanaman padinya nonirigasi. Serangan hama walang sangit dapat menyebabkan kehilangan hasil sampai 50% (Kalshoven, 1981). Kepinding tanah (Scotinophara) menjadi hama utama tanaman padi di daerah-daerah sawah lebak atau sawah pasang surut yang kondisinya selalu tergenang air, dengan kelembaban tinggi, terlebih pada musim hujan. Pada tahun 1973, Scotinophara bersama dengan Leptocorisa dan Nezara menyerang tanaman padi sawah seluas 222.614 ha (Indarto dan Partoatmojo, 1974). Hama belalang muncul pada awal tahun 1998, waktu tahun sebelumnya (1997) merupakan musim kemarau panjang dan hujan baru mulai tanam sekitar bulan Desember 1997–Januari 1998 (Pramono, 1998). Ledakan populasi belalang terjadi di kawasan Lampung, Sumatra Selatan, Jawa Timur, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara. Demikian pula di Sumba di Nusa Tenggara Timur tercatat jutaan ekor serangga belalang selama delapan tahun 1998–2005, tapi pada tahun 2006 tidak ada belalang yang menyerang. Diduga musim kering panjang selama tiga tahun membuat jutaan belalang tak bisa lagi berkembang biak (Prasetyohadi, 2006). Makalah ini membahas hama padi potensial, yang tidak selalu menyerang setiap musim tanam atau pada setiap lokasi, tetapi apabila terjadi serangan kerugian yang ditimbulkan cukup besar.

2. GANJUR (Orseolia oryzae Wood–Mason)
Hama ganjur semula bukan merupakan hama yang penting tetapi sejak tahun 1960 berubah menjadi hama yang serius (Kalshoven, 1981). Hama ini termasuk famili Cecidomiidae ordo Diptera. Berdasarkan laporan Direktorat Perlindungan, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan sejak tahun 1997 sampai tahun 2006 rerata serangan ganjur di seluruh Indonesia seluas berkisar antara 1.882 ha sampai 15.255 ha dengan rerata 6.230 ha (Ditlin, 2008). Serangga ini menyerang titik tumbuh padi, tunas yang diserang akan terbentuk puru, sehingga di beberapa daerah dikenal dengan nama hama pentil, hama bawang atau hama mendong. Pada serangan berat, tanaman padi yang terserang akan menstimuler pembentukan tunas baru dan tunas yang terserang tidak akan terbentuk malai 407

sehingga dapat menyebabkan puso. Di daerah endemis, padi yang waktu tanamnya lambat akan terserang oleh hama ini. Tanaman yang dipupuk nitrogen dosis tinggi mendapat serangan ganjur lebih berat (Gallagher et al., 2002 )
Tabel 1. Luas serangan ganjur se Indonesia sejak 1997–2006 (Ditlin, 2008)
Tahun 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Rerata Serangan ganjur (ha) 6.120 1.882 5.184 15.255 12.804 1.448 3.204 6.860 2.643 6.896 6.230

Gambar 1. Imago ganjur dan gejala serangan puru pada tunas padi.

2.1 Biologi dan Ekologi
Serangga ini bermetamorphosa sempurna, telur diletakkan pada helaian daun, setelah menetas menjadi larva, menuju titik tumbuh tanaman padi dan mulai menyerang tanaman padi.

408

Stadia telur 3–4 hari.2. 2004.1.1 Telur Telur yang baru diletakkan berwarna bening. instar ketiga 5–6 hari. Pada stadia larva instar lanjut berwarna putih susu dalam satu tunas padi hanya ditemui satu ekor larva instar lanjut atau prapupa (Kartohardjono dan Vreden. Pada musim penghujan puncak populasi ganjur terjadi pada generasi ketiga atau keempat (Hummelen dan Soenarjo. instar kedua 2–3 hari.5 mm. Perbandingan betina:jantan sekitar 3:1 (Kartohardjono dan Vreden.5 mm. 1977).3 Pupa Pupa berwarna kemerahan berukuran panjang 2. Semula berada pada pangkal tanaman. Periode imago hanya 1–2 hari. sehingga seluruh stadia larva berkisar 13–16 hari. semakin lanjut maka tunas akan terbentuk puru dan pupa akan menuju ke ujung puru. Periode stadia pupa 6–7 hari. lebar 0. Imago aktif pada malam hari dan tertarik lampu. 1977). kemudian akan menetas menjadi larva (CAB Internat.00–21.2 Larva Larva berwarna putih. terbanyak terjadi pada pukul 18. 2. Sebagian besar telur menetas pada malam hari. setelah beberapa hari berwarna kekuningan. jika akan menjadi imago pupa akan melubangi puru diujungnya kemudian imago keluar lewat lubang tersebut dan meninggalkan kulit pupa (Kartohardjono dan Vreden.2 mm dan diletakkan pada helaian daun dan pelepah daun. Imago betina yang keluar dari puru langsung berkopulasi lalu meletakkan telur. Pada larva instar awal dalam satu tunas padi dapat dijumpai beberapa ekor larva. Telur berukuran panjang 0.1. oleh adanya kelembaban pada tanaman disekitarnya larva menuju titik tumbuh.00. 409 . Di samping itu serangannya rendah pada tanaman muda tetapi pada tanaman berumur 30 hari setelah tanam serangannya akan meningkat (Hidaka dan Widiarta. 1977). Serangga ini menyukai keadaan lembab sehingga pertanaman padi pada musim penghujan akan mendapat serangan lebih besar dibanding pada musim kemarau (Hidaka dan Widiarta. Stadia larva ada tiga instar. Imago keluar dari puru. Pupa yang akan menjadi imago berwarna kecokelatan. 1977).1. 1986). 1977). Seekor betina dapat meletakkan telur sekitar 206–232 butir. 1986).4 Imago Imago berbentuk nyamuk berwarna merah kecoklatan. Periode instar pertama 67 hari.1. Kartohardjono dan Vreden. 2. 2.

2 Tanaman Inang Selain pada tanaman padi. Di samping itu dua species nabidae. P. 1990).. Soenarjo dan Hummelen. 2. 1981).2–12% (Kobayashi et al. Paspalum. Sedang P. Soenarjo dan Hummelen.24 mm..75–2. di Indonesia.8 mm (Kobayashi et al. 410 . serta berbagai jenis laba-laba dan semut juga memangsanya.5–3. dan Neanastatus cinctiventris. Soenarjo dan Hummelen. Parasitoid yang ditemui pada ganjur telah dilaporkan ada enam jenis dan predator juga enam jenis (CAB Internat. 1976). Di Thailand rumput Leersia hexandra. memarasit larva lanjut dan pupa ganjur dan berukuran panjang betina 2. Predator lain adalah Casnoides interstitalis dan Nabis capsiformis (Hidaka et al. Parasitoid lain yang juga ada di lapangan yaitu Eurytoma sp. di samping juga hidup jenis padi liar Oryza rufipogon ((Hidaka et al. dan panjang pupa 3.1 Parasitoid Parasitoid yang sering ditemui yaitu Platygaster oryzae dan Platygaster foersteri. Tingkat parasitisasinya di Indonesia sekitar 28– 75% dan di Srilanka hanya 8. bersifat sebagai parasitoid gregarius. 1990. 1976). 1988).2 mm.7 mm dengan tingkat parasitisasi sampai 56% dan merupakan parasitoid yang dominan. Nabis capsiformis dan Arbela nitidula. di Srilangka.4 mm dan tingkat parasitisasi sampai 4.2. 2.2 Predator Jenis predator yang memangsa ganjur yaitu kumbang Carabidae. Parasitoid Obtusiclava oryzxae bersifat sebagai parasitoid soliter. Echinochloa colonum. Ischaemum dan Echinocloa (Kalshoven..3% (Kobayashi et al. Predator ini berukuran panjang tubuh 7 mm dan dapat memangsa larva ganjur sekitar 2.. 1983).. bersifat sebagai parasitoid soliter memarasit pupa ganjur dan berukuran 3. rerumputan dari jenis alang-alang. oryzae berukuran 0. dengan panjang pupa 2. foersteri berukuran 1. Panicum. 1976.. Neanastatus oryzae. Ophionea indica Thunberg dan Ophionea ishii. 1990. 2. Paspalum distichum dan Ischaemum aristatum merupakan inang pengganti.5 mm. 1990.7% (Kobayashi et al.3. ganjur dapat hidup pada padi jenis Oryza officinalis dan.3.25 mm. memarasit larva ganjur.3 Musuh Alami Perkembangan ganjur di lapangan dipengaruhi oleh musuh alami berupa parasitoid dan predator. Zizania. panjang jantan 1. 2004) tetapi hanya ada beberapa jenis yang sering dijumpai di Indonesia.

Satu gen Gm6(t) efektif dan resisten terhadap 4 biotipe di Cina. 2005).5 dan 71. Pelita I–1 dan Pelita I–2 serangannya berturut-turut mencapai 76. dari lima belas koloni asal berbagai negara Asia yaitu India. di antaranya penggunaan varietas padi yang berbeda.. Jebarai et al. Srilangka. Ditemukan lima gen merubah ketahanan spesifik biotipe (Rao et al. Gallagher et al. Demikian pula larva instar pertama.. 2004). terdiri dari lima gen dominan dan 1 gen resessif. biologi dan menggunakan pestisida. keberadaan musuh alami dan penggunaan insektisida. RP352-59-14-1-2 dan RPW6-15 tidak dijumpai serangan atau 0% (Vreden dan Arifin. diperoleh 41 galur yang bereaksi sangat tahan sampai agak tahan (Kartohardjono dan Abdullah. (IR8) atau pada varietas tahan. Varietas tahan yang ditanam di daerah endemik akan menurunkan serangan ganjur secara drastis (Rao et al. Rao (1974). 1977). antara lain faktor iklim.4.4 Ketahanan Varietas Padi terhadap Ganjur Serangan ganjur pada tanaman padi akan memberikan reaksi yang berbeda tergantung beberapa faktor. budi daya. 2. RP352-28-1-1-4. 1988. Koloni India termasuk biotipe 2 dan 3 sedang koloni Cina termasuk biotipe 1 dan 4. 1989). sedang 10 donor resisten lainnya tahan terhadap 4 biotipe. dan varietas tahan. (2000) melakukan studi biodiversiti ganjur. Pada varietas padi rentan. Dari pengujian itu hanya satu donor Orumundakan (mutant) yang menunjukkan ketahanan terhadap 5 biotipe.5 Pengendalian Serangan ganjur dipengaruhi oleh berbagai faktor. 2004). 1990 ). (W1263). Sedang pada varietas padi tahan. cara bercocok tanam.6. IR5. Analysis cluster menunjukkan adanya group I mewakili koloni daerah Cina dan group II koloni daerah India. 411 . antibiosis dan tolerans (Smith. Di Bogor pada tahun 2002 dilakukan pengujian di Rumah Kaca terhadap galur-galur padi tipe baru (PTB). yaitu Shakti dan MDU 3 (Chand and Birsa. Di India telah tersedia varietas padi tahan ganjur. 78. varietas. berhasil mencapai titik tumbuh pada varietas rentan. 79. mengemukakan bahwa perkembangan larva terhambat pada varietas tahan sedang pada varietas rentan tetap normal. Fernando (1972) menyatakan bahwa serangga betina ganjur dapat meletakkan telur pada varietas rentan. Cina. (2002) menyarankan cara preventif dengan memanfaatkan musuh alami dan menggunakan terdiri dari pengendalian secara fisik mekanik. Nepal.. Katiyar et al. IR8. Mekanisme ketahanan varietas terhadap serangan hama yaitu preferensi atau antixenosis.2. tetapi tidak efektif terhadap biotipe di India. Studi pewarisan gen ketahanan menunjukkan sifat ketahanan dikendalikan oleh gen major. Laos dengan metode Amplified fragment length polymorphism (AFLP) menunjukkan perbedaan di antara koloni.1%.

Pada pertanaman padi di dataran tinggi di Jawa Barat.2 Pengendalian secara biologi Musuh alami berpotensi mengurangi populasi ganjur. 1986). Di Indonesia tahun 1986 dilepas varietas padi Tajum yang tahan ganjur (Tirtowiryono. 1971). Untuk mengurangi serangan.. Parasitoid P. Karena larva ganjur berada di dalam tunas padi maka penggunaan insektisida sistemik lebih tepat. walaupun padi ditanam terus menerus sepanjang tahun. 1977). 412 . parasitoid P. dengan parasitasi 50% pada tanaman berumur <40 hari setelah tanam (Ditlin. dan di India yaitu Shakti (Hidaka dan Widiarta. oryzae (Hidaka dan Widiarta. Untuk mengurangi pengaruh insektisida terhadap musuh alami. IR8 akan mendapatkan serangan yang besar (Vreden dan Arifin. lahan agar sekali-kali dikeringkan (Rao et. jarak tanam dan pengairan juga berpengaruh terhadap serangan ganjur (Rao et al. Parasitoid P. 1986). 1986). 1990). Pengendalian ganjur menggunakan pestisida dilakukan jika pengendalian lainnya tidak dapat mengurangi serangan. 2006). penggunaan insektisida bentuk butiran dengan ditabur perlu dianjurkan.5. waktu tanam lambat (bulan Januari) padi sering mendapatkan serangan tinggi. 1986). 2... Di P.5. Penyiangan. Insektisida yang dipergunakan harus spesifik terhadap hama sasaran dengan waktu aplikasi dan dosis yang tepat (Untung.2. Cara bercocok tanam. Pelita I/2 dan IR5. 1976). tetapi ketahanan varietas tersebut mudah patah dan tidak tahan lagi.1 Pengendalian secara budi daya Waktu tanam berpengaruh terhadap serangan ganjur. meliputi pemupukan. sehingga dapat menekan perkembangan hama ganjur (Ditlin. oryzae dilaporkan dapat hidup pada ganjur alang-alang . 2.3 Pengendalian secara kimiawi. 2006). al. Penggunaan varietas rentan seperti Pelita I/1. oryzae memarasit ganjur cukup tinggi yaitu 75–95% dan ditemui hampir di semua pertanaman padi yang disurvei (Soenarjo dan Humelen. Jenis insektisida yang dapat digunakan antara lain Furadan 3 G (Hidaka dan Widiarta. tetapi serangan ganjur rendah (5%) karena tingginya tingkat parasitisasi P. Orseoliella sp. Aplikasi insektisida dilakukan jika ditemukan puru >10%.5. oryzae memarasit sampai 46% di Sri Lanka dan ditemui di sebagian besar areal pertanaman padi yang diobservasi (Kobayashi et al. Jawa. 1986). 1996). dan terhindar dari serangan bila tanam bulan Desember (Hidaka dan Widiarta. 1971). Untuk melindungi tanaman dari serangan. membuang inang alternatif. Varietas padi tahan ganjur di Thailand yaitu RD4 dan RD7. aplikasi dilakukan pada umur 10 hari setelah semai.

Eropa. Di Indonesia serangan ulat grayak ditemui hampir disemua propinsi. separata dan M. hanya tinggal tulang daunnya saja. ULAT GRAYAK (Mythimna separata Walker) Ulat grayak merupakan hama padi yang ditemui diberbagai negara di Asia. 1994) Spesies Mythimna (=Pseudaletia) irregularis (Walker) Mythimna (=Pseudaletia) separata (Walker) Mythimna (=Pseudaletia) unipuncta (Haworth) Mythimna (=Pseudaletia) venelba (Moore) Mythimna loreyi (Duponchel)(=Pseudaletia loreyi Duponchel) Mythimna (=Pseudaletia) latifascia (=adultera)(Walker) Mythimna (=Pseudaletia) sequax (Fabricius) Mythimna roseilinea (Walker) Mythimna yu (Guenee) Sebaran Asia Tenggara Africa. Afrika dan Amerika Latin. Ulat grayak yang menyerang pertanaman padi termasuk genus Mythimna famili Noctuidae ordo Lepidoptera (Tabel 2). Hama ini memakan bagian daun padi. Serangan dapat terjadi sejak tanaman padi muda sampai padi akan dipanen. venelba (Kalshoven. Beberapa spesies ulat grayak genus Mythimna dengan sebarannya (Pathak dan Khan. jika serangannya berat. luas padi terserang sejak tahun 1997 sampai tahun 2006 rerata 10. Serangga ini termasuk famili Noctuidae yang aktif pada malam hari. Penurunan hasil panen karena serangan hama ini dapat mencapai 17% (Santiago et al. Australia Asia.927 ha) dan tertinggi tahun 2006 seluas 20.. ulat ini dapat memotong malai. separata. 2002). 2003). Pada stadia tanaman bermalai. 1981). Di Indonesia terdapat 3 jenis Mythimna yaitu M. Amerika Tengah & Selatan Asia Tenggara Asia Selatan & Tenggara. Tabel 2. M. Asia.3. loreyi dan M. 1997).. Afrika Amerika Latin Amerika Latin Asia Amerika Latin 413 . dan yang banyak dijumpai di lapangan yaitu M. pada siang hari larvanya berada pada pangkal tanaman dan pada malam hari makan daun padi.993 ha dengan kisaran serangan terendah tahun 2004 (6. Serangga dewasa pada malam hari tertarik sinar lampu.573 ha (Tabel 3). Hama ini tertarik pada tanaman yang dipupuk nitrogen dosis tinggi (Gallagher et al. loreyi (Kartohardjono.

927 9. 1994.7 mm. pupa.1 Telur Telur diletakkan secara berkelompok pada helaian daun dan pelepah daun ditutupi seperti rambut berwarna terang.036 11. Tahun 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Rerata Serangan ulat grayak (ha) 7.114 7.294 12.416 20.356 6. ngengat ulat grayak dan gejala serangan pada padi 414 . Serangan ulat grayak padi se Indonesia tahun 1997–2006 (Ditlin. Ketika telur baru diletakkan berwarna putih selanjutnya berwarna kekuningan dan jika akan menetas berwarna cokelat gelap. 1994).635 9.1 Biologi dan Ekologi 3.Tabel 3. Larva. Telur yang individual berbentuk bulat spherical berukuran 0.573 10.1. Gambar 2.821 11.794 13.993 3. Pathak dan Khan.6–0. 2008). Periode inkubasi telur 3–7 hari (Catindig dan Barrion.

2 Larva Larva yang baru menetas berwarna putih.8 mm dan lebar 0. M.1. melakukan kawin 1–3 hari setelah muncul. berwarna cokelat keabuan atau hijau. larva muda berwarna hijau terang sampai agak gelap dengan garis lateral yang sempit.2 Tanaman Inang Ulat grayak termasuk serangga polyphagous yang memakan berbagai jenis tanaman. 3. 1994). separata (Pathak dan Khan.4 Ngengat Ngengat berwarna cokelat pucat ditumbuhi bulu-bulu halus. panjang sekitar 2–3 cm dengan rentang sayap 3–5 cm. Larva terdiri dari 5–6 instar. Kartohardjono et al. Periode prepupa dan pupa rerata 10– 11 hari (Catindig dan Barrion. Larva instar akhir berukuran panjang 30–35 mm dan lebar 6–6. 2006. Saat akan menjadi ngengat warnanya menjadi cokelat gelap. loreyi. 1994). berukuran panjang 1.35 mm. panjangnya sampai 4. Larva muda memakan helaian daun padi yang masih muda. Ngengat pada malam hari tertarik lampu. Sedang larva lanjut berwarna kelabu terang sampai gelap dengan garis lateral yang jelas sepanjang tubuhnya. Larva lanjut memakan daun dengan memotong daun padi. Ngengat makan tetesan embun dan makanan manis lain seperti madu. 1994).. (Catindig dan Barrion. loreyi berwarna kecokelatan dan sayapnya bergaris tipis. ukurannya lebih besar. Ada sekitar 26 jenis tanaman yang dilaporkan sebagai inang ulat 415 .. 3. Jika serangan berat maka malai akan dipotongnya (Catindig dan Barrion.5 cm. 1994. Larva M. sehingga menyebabkan daun berlubang. 1994. 2006. Pathak dan Khan. Pathak dan Khan. Pathak dan Khan. 3. 1994). 4. 4. separata berwarna kecokelatan dengan bintik hitam di sayap depannya.5 mm. dan 5 hari. Ngengat jantan umumnya lebih pendek dari ngengat betina. 1994. Larva instar lanjut akan menuju ke pangkal tanaman atau tanah di sekitar tanaman untuk siap menjadi prepupa. hingga daun yang diserang tinggal kerangkanya. periode setiap instar berturut-turut 3. kepala cokelat kehitaman. ukurannya lebih besar dibanding M. separata.1. 1994). Ngengat betina dapat meletakkan telur rerata sampai 220 butir.1. Ciri-ciri ngengat M. berwarna cokelat dan berukuran panjang 15–19 mm dan lebar 5–6 mm.3 Pupa Pupa pada pangkal tanaman atau tanah disekitar tanaman padi. Periode larva sekitar 21–28 hari. dengan garis longitudinal (Pathak dan Khan.3. 1994) 3. Ciri-ciri larva M. Kartohardjono dkk. pada lampu perangkap dapat terkumpul sampai 64 ekor semalam (Catindig dan Barrion.

31 jenis tanaman yang dimakan dan digunakan sebagai inang sampai satu siklus hidupnya. Larva juga diparasit oleh jenis lalat tachinid. 3. 1994). Euplectrus chapadae (Ashmead) dan chalcid. 416 . Sedang laba-laba. melakukan pengamatan terhadap 41 jenis tanaman inang dari famili Poaceae. Pteromalidae dan Tachibidae (Kartohardjono dkk. Echinocloa colona (Catindig dan Barrion 1994). Musuh alami ulat grayak yang telah diketahui ada 46 jenis parasitoid. Palexorista lucagus Walker. yaitu parasitoid. 10 jenis predator dan 6 jenis patogen serangga (CAB Internat. 3.. 2004). Argyrophylax nigrotibialis Baranov dan Zygobothria atropivora (Robineau-Desvoidy) (Pathak dan Khan.3. sedang tanaman lain hanya dipergunakan sebagai tempat bertelur.3 Musuh Alami Populasi ulat grayak dipengaruhi oleh adanya musuh alami. Commelinaceae.grayak (CAB Internat. Jenis tanaman inang yang disukai berturut-turut: padi.. melaporkan tanaman yang juga disukai sebagai inang termasuk sorgum. Telur dan larva ulat grayak diparasit oleh scelionid. Pontederiaceae. Cypereaceae. 2004). Encyrtidae. Telenomus sp. Lycosa dan kumbang Paederus. Cotesia sp. Paradosa pseudoannulata (Boesenberg dan Strand) dan Oxyopes javanus (Thorell) memangsa ngengat (Pathak dan Khan. predator. 1994). jagung. 1994). Leptochloa chinensis.3. eulopid. Paspalum conjugatum. Paspalum paspalodes. Brachymeria lasus (Walker). Pengamatan di rumah kaca terhadap seekor Lycosa dapat memangsa 4 ekor larva instar 1–2 dan 2 ekor instar 3–4.. Tanaman inang yang juga diserang selain padi yaitu gandum.2 Predator Predator ulat grayak yaitu laba-laba. Seekor Paederus dapat memangsa 4 ekor larva instar 1–2 dan 3 ekor larva instar 3–4 (Kartohardjono dkk. 1994).1 Parasitoid Jenis yang ditemui pada ulat grayak yaitu Apanteles Braconidae. Semut Odotoponera transcersa dan Ropalinda fasciata Fabricius dapat memangsa telur dan larva. oat dan barley (Pathak dan Khan. 3. 2006). Amaranthaceae. Trichogrammide. Trichogramma ivelae (Pang dan Cheng) (Pathak dan Khan. Leguminosae. Kalshoven (1981). Larva diparasit oleh braconid. Portulacaceae dan Onagraceae. 2006). dan patogen. Catindig dan Barrion (1994). dan bambu.

3. Tindakan preventif dilaksanakan dengan monitoring dan pelestarian musuh alaminya (Kartohardjono dan Arifin.3. 3. bakteri dan virus. Pada saat pengolahan tanah sebelum tanam. gulma dan jerami agar dibersihkan untuk mencegah tempat migrasi (Pathak dan Khan. 3. Pengujian semi lapang di Indramayu dan Sukabumi parasit dapat menyebabkan mortalitas antara 48% hingga 88% (Trisnaningsih dan Kartohardjono. maka pemilihan tempat pesemaian bibit agar dijauhkan dari area rerumputan atau gulma. Beauveria bassiana.4. (2002) mengemukakan untuk mengatasi serangan hama ini secara efektif dilakukan secara preventif. hasilnya diperoleh duabelas jenis yang efektif dan empat jenis yang agak efektif (Basilio 417 . menggunakan varietas tahan.. Patogen virus. 2007).4. Tindakan kuratif dilakukan dengan beberapa cara pengendalian sebagai berikut. 1981). yang dapat disimpan dalam lemari es selama 3 bulan masih dapat menyebabkan mortalitas 67%.4. yaitu dengan memanfaatkan musuh alami. 1994). Jamur Metarhizium dan Beauveria dapat dibiakkan pada media biak gabah dan dapat menyebabkan mortalitas pada larva ulat grayak masing-masing 66% dan 51% (Kartohardjono dkk.4 Pengendalian Gallagher et al. 1994).2 Pengendalian secara hayati Meningkatkan peran musuh alami yang memarasit telur dan larva serta predator yang memangsa larva dan ngengat ulat grayak dengan menggunakan insektisida yang dianjurkan.1 Pengendalian secara budi daya Ulat grayak memiliki banyak tanaman inang. 2003). MsNPV telah dibuat formulasi biopestisida dari suspensi dengan bahan talk.. Pada tanaman padi yang terserang dilakukan penggenangan untuk memusnahkan larva dan pupa yang bersembunyi pada pangkal tanaman (Kalshoven. 2001). Bakteri menyebabkan mortalitas sampai 90% (Kartohardjono dkk.3 Pengendalian secara kimiawi Pengujian 26 jenis insektisida terhadap M. 3. dan sampling secara periodik. dan larva yang mati terinfeksi warnanya berubah menjadi gelap dan tergantung lunglai pada pucuk tanaman (Pathak dan Khan. 3. 2006).3 Patogen serangga Jenis yang ditemui pada ulat grayak yaitu jamur Metarhizium anisopliae. Virus polyhedrosis menyerang larva. separata di Filipina.

Pada pertanaman padi sawah merupakan hama yang kurang penting namun pada waktu-waktu tertentu dapat merugikan petani. Brunai. 418 . Serangan pada awal berbunga akan menyebabkan bulir padi menjadi hampa sedangkan serangan pada masak susu atau setelahnya mengakibatkan pengisian bulir padi tidak penuh dan terjadinya grain discoloration. Ryukyu. Singapura. Australia. Bhutan. makan dengan cara menusukkan alat mulutnya yang berupa stylet dan kemudian menghisap cairan dari tanaman yang dicucuknya.) Walang sangit adalah golongan serangga yang bertipe mulut pencucuk dan penghisap. sehingga sering menimbulkan salah identifikasi. Perbedaan tampak jelas pada adanya titik berwarna cokelat pada abdomen bagian ventra-lateral. WALANG SANGIT (Leptocorisa spp.0–18. Filipina. 2006). Brunei. Malaysia. Penyemprotan insektisida yang efektif dan diijinkan apabila ditemukan ulat grayak rata-rata >2 ekor/m2 (Ditlin. Thailand. 4. Berbeda dengan wereng coklat yang menghisap cairan batang tanaman padi hama ini menghisap cairan biji padi. Di Indonesia hama walang sangit dijumpai hampir di seluruh wilayah pertanaman padi. Inggris. Panjang badan berkisar antara 18. Filipina. Kerugian hasil yang disebabkan oleh hama ini dapat mencapai 40% (CAB Internat.5 mm. Bhutan. Hama ini tersebar di India. Di Indonesia insektisida fenitrothion efektif terhadap ulat grayak padi (Laba dan Sumpena. varicornis F). Indonesia. Formosa. Formosa. Solomon. Nicobar. Sri Langka. Ukuran badan relatif kecil dibandingkan dengan spesies pertama. acuta dan L. telah mengidentifikasi ada empat belas spesies hama walang sangit di temukan di Indonesia. acuta. Indonesia. Burma. Cina. Singapura. Pakistan.1 Morfologi dan Spesies Hasegawa (1971). Kep. 1986). Spesies ini juga banyak ditemukan dan merupakan hama yang cukup penting di Asia Timur Jauh. Di daerahdaerah tertentu hama ini merupakan hama penting pada padi gogo. Spesies ini banyak diketemukan di Asia Tenggara. 2004). Fiji dan Kep. Ryukyu. Vietnam. 1985). Hongkong. Penyebaran: India. Kep. Serangga ini termasuk famli Coreidae ordo Hemiptera. Hama ini menyerang tanaman padi sejak berbunga sampai stadia masak susu. oratorius dan L.dan Mochida. Stadia yang sangat disukai adalah stadia biji padi masak susu. Panjang badan berkisar antara 15–16 mm. Malaysia. Vietnam. Irlandia. Leptocorisa acuta (Thunberg) = L. 4. China. Australia dan Solomon. Thailand. namun yang dominan adalah L. 1. 2. Samoa. Leptocorisa oratorius (Fabricius). chinensis. sangat mirip dengan L.

dan Brunei.7–15. Leptocorisa pseudolepida Ahmad. Ryukyu. Leptocorisa discoidalis Walker. Singapura. luzonica. Jepang. nitidula Breddin. Halmahera. Penyebaran: Malaysia. Spesies ini kadang kadang ditemukan pada pertanaman padi namun pada umumnya pada tertanaman Isachne globs Thunberg dan rerumputan di Serawak. serta kadang kadang juga ditemukan pada pertanaman jagung dan kedelai. China. Vietnam. Bhurma. 12. Ukuran panjang badan 11. Kep. Penyebaran: Indonesia. Panjang badan 16–17 mm. Leptocorisa tagalica Ahmad = L. Leptocorisa ayamaruensis Doesberg dan Siwi. Dapat dibedakan dengan spesies lain dengan adanya spot hitam kecokelatan pada sisi kepala dan pronotum. 8. Thailand. geniculata China. Palau. bigutata. Spesies ini ditemukan di Irian Jaya. Sri Langka. dan Filipina. Jawa. Nusa Tenggara. 10. Ditemukan di Kalimantan. Hampir mirip dengan L.5 mm Penyebaran: Vietnam. Penyebaran: Malaysia. hanya dapat dibedakan dengan warna ujung antene. 419 . Kep. Leptocorisa luzonica Ahmad. Filipina. Indonesia khususnya Kep. 5. Cina. Panjang badan 11. 7. dan Jepang. dan Maluku. Panjang badan 17– 17. Penyebaran: Malaysia. 4. Indonesia khususnya Sulawesi dan Halmahera. 9. 11.5 mm. Leptocorisa costalis (Herrich-Schaffer). corbeti Cina. Thailand. Bonin. L.0 mm.5–12.2 mm. Brunei. 6. Leptocorisa chinensis (Dallas) = L. Sangat mirip dengan L. di Serawak. Panjang badan berkisar 14. Malaysia. Leptocorisa timorensis Doesberg dan Siwi. ditemukan pada tanaman Panicum sp. dan Filipina. Formosa. Spesies ini telah dilaporkan sebagai hama penting pertanaman padi di Malaysia. Panjang badan berkisar 17. Kep. Korea.3. dan Indonesia.8 mm.3–11. Brunei. Leptocorisa solomonensis Ahmad. Ditemukan di Maluku dan Irian Jaya. Ditemukan di Maluku dan Irian Jaya. India. Spesies ini ditemukan di pertanaman padi dan jagung.3–17. Leptocorisa bigutata Walker. Ditemukan di Timor. Malaysia. Vietnam. Indonesia. 13. Sulawesi. Spesies ini umumnya terdapat di padio gogo di Serawak. Leptocorisa sapdapolahae Ahmad. Sabah. dan Filipina. Penyebaran: Bhutan.

Gambar 3. Lama periode nimfa berkisar 17 hari pada suhu 21o–32oC. daun bendera lebih disukai. Selama periode nimfa terjadi empat kali pergantian kulit sebelum menjadi dewasa. 4. Serangga ini menyerang tanaman padi stadia generatif dan yang paling disukai adalah stadia masak susu. Misalnya di Lembang periode telur dan nimfa masing-masing 13 dan 21 hari. Lama periode bertelur rata-rata 57 hari (6–108 hari) sedangkan lama hidup dewasa berkisar 16–134 hari dengan menghasilkan telur rata-rata 248 butir per induk. Bentuk badan nimfa sama seperti bentuk dewasa. Lama periode pra peneluran berkisar 8 hari. Jika dilapangan tidak ada pertanaman padi walang sangit dewasa akan pindah ke rerumputan dan tanaman perdu di kebun-kebun pada daerah yang terlindung dan bertahan hidup pada tanaman tersebut sampai ada pertanaman padi yang cocok untuk berkembang biak. Pada daerah yang lebih dingin lama periode telur dan nimfa akan lebih panjang. Biasanya walang sangit baik dewasa maupun nimfa aktif mencari makan pada pagi dan sore hari. Lama stadia telur tergantung pada keadaan suhu. jadi lama siklus hidup walang sangit berkisar 30–45 hari. bedanya hanya nimfa berwarna hijau tidak bersayap sedangkan dewasa berwarna coklat dan bersayap. Pada siang hari bersembunyi pada tempat-tempat yang terlindung. 420 . di Pantura lama periode telur berkisar 5–7 hari. diletakkan satu persatu dalam 1–2 baris sebanyak 1–21 butir.2 Biologi dan Ekologi Serangga dewasa walang sangit meletakkan telur pada bagian atas daun tanaman. Telur berbentuk oval dan pipih berwarna coklat kehitaman. Serangga dewasa walang sangit dan gejala serangannya. Nimfa yang baru menetas berwarna hijau dan segera memencar mencari bulir padi sebagai makanannya. Curah hujan yang berselang seling menyebabkan populasi hama ini meningkat.

4. Luas dan intensitas serangan hama walang sangit di Indonesia pada tahun 1997-2006 (Ditlin.588 30.182 29. Beberapa rerumputan yang dapat sebagai tanaman inang adalah: Panicum crusgalli L.000/ha (10 ekor/m2) dapat menurunkan hasil 25%. Luas serangan dan intensitas serangan walang sangit dari tahun ke tahun sejak th 1997 sampai tahun 2006 seperti terlihat dalam Tabel 4. Setaria ilacica. Andopogon sorghum.781 24.325 421 . Paspalum spp. flavidum. Eleusiae coracoma.704 32. Beberapa tanaman lain yang juga dapat sebagai tanaman inang antara lain: Panicum colonum. Dari beberapa literatur telah tercatat serangan berat akibat populasi tinggi walang sangit dapat menurunkan hasil sampai 100%. namun di Sumatera mulai dari Aceh menelusuri pantai barat sampai Lampung hama ini sering menjadi hama yang cukup merugikan dan dapat menyebabkan kehilangan hasil sampai 50% (Kalshoven. Repens.4 Status sebagai Hama Padi Pada umumnya di Indonesia hama walang sangit dianggap hama yang kurang penting.3 Tanaman Inang Tanaman inang utama adalah padi.756 24. Digitaria causanguinaria. colonum preferensinya terhadap padi kurang dibandingkan dengan yang berkembang biak pada E. colonum.535 43.807 26. Pennesitum typhoidium. pada beberapa tanaman rerumputan hama ini dapat berkembang biak walaupun keperidiannya sangat rendah.. 4.800 30.. Scop. tebu dan gandum. Tabel 4.648 25. Tanaman di mana walang sangit berkembang biak ternyata berpengaruh terhadap sifat makan walang sangit. Miliore. Walang sangit yang berkembang biak pada E. P. crusgalli dan pada padi. Cyperus polystachyis. Echinocloa crusgalli dan E. dan Paspalum dilatatum Poir. 2008) Tahun 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Rerata Serangan walang sangit (ha) 23.447 30. Rothschild (1970) menduga populasi 100. P. P. 1981).

Predator utama berupa laba-laba.5 Parasitasi (%) O. bassiana yang dikumpulkan dari lapangan di Vietnam pada tahun 2002–2003 efektif menyebabkan mortalitas pada L. Pentatomidae. Serangan hama walang sangit mengakibatkan menurunkan hasil. Korelasi antara umur masak bulir padi dengan jumlah populasi walang sangit negatif. Coccinellidae.2 2. karena adanya perubahan warna pada gabah sehingga menyebabkan pengapuran pada beras. 2004). Data lain menunjukkan serangan satu ekor walang sangit per malai dalam satu minggu dapat menurunkan hasil 27% (Mahrita dan Hilmi.4 4. Namun parasitasi kedua musuh alami ini di lapangan di bawah 5% (Kalshoven. predator dan patogen. 1992).5 Keterangan Kartosuwondo (1977) Idem Idem Kertoseputro *) Idem Idem Belum dipublikasi Nimfa dan imago walang sangit sering diketemukan terserang oleh jamur Beauveria bassiana.0 0.Populasi walang sangit 5 ekor per 9 rumpun akan menurunkan hasil padi 15% (Suharto dan Damardjati.045 491 691 87 277 G. Dua belas isolate Metarhizium anisopliae dan B. nixoni lebih dominan dibandingkan dengan O. malayensis (Tabel 2). 422 . Secara alami telur walang sangit diserang oleh dua jenis parasitoid yaitu Gryon nixoni dan Oencyrtus malayensisi. 1988). 4.0 6.272 1. (Loc dan Chi. Serangga Reduviidae.32 0. dan berakibat pada penurunan kualitas beras. Pengamatan yang dilakukan pada tahun 1997 dan 2000 pada beberapa daerah di Jawa Barat menunjukkan G. malayensis 9.0 1. 2005).0 0. 2002). 1981). Gryllidae. Asilidae. juga merupakan musuh alami walang sangit. Tettigonidae.5 4. artinya korelasi antara populasi dan kerusakan menunjukkan korelasi yang positif (Kabes. merupakan predator telur (CAB Internat. dan belalang Conocephalus (Xiphidium) sp.5 Musuh Alami Walang sangit memiliki musuh alami berupa parasitoid. Parasitasi telur walang sangit yang dikumpulkan dari beberapa daerah Lokasi Cianjur Sukabumi Karawang Sukamandi Karawang Mayeti *) Jml telur 1.5 0. karena bulir padi menjadi hampa atau pengisiannya tidak penuh. acuta dengan kisaran 58–78% dan 75–87%.76 24. nixoni 24. Tabel 5.

Inokulasi biakan Beauveria terhadap walang sangit pada percobaan rumah kasa menunjukkan parasitasi yang cukup efektif. diidentifikasi menyerang nimfa dan imago walang sangit. Dari perilaku hidup walang sangit diketahui bahwa selama tidak ada tanaman.. Tanam serempak dalam satu hamparan sangat dianjurkan untuk mengendalikan hama walang sangit sehingga populasi imigran dari semak-semak disekitar pertanaman padi tersebar pada satu hamparan luas.6. sehingga dapat mengurangi serangannya. 6. dan 1. Sehubungan dengan itu sanitasi lapangan dengan membersihkan gulma dan pepohonan di sekitar pertanaman padi dapat mencegah perkembangbiakan walang sangit (Jahn et al. (1997) melepaskan 662 parasitoid pada petak sawah seluas 8. walang sangit bertahan hidup di semak-semak atau pohon perdu di sekitar sawah. Pelepasan parasitoid belum terlihat efektivitasnya. 423 . malayensis relatif mudah dibiakkan di laboratorium dengan inang telur Riptortus linearis yang dapat dibiakkan menggunakan kacang panjang muda sebagai makanan.5 bulan. Bau-bauan dari tanaman Ceratophylum dan Lycopodium serta bau bangkai binatang terutama kepiting sangat menarik walang sangit dewasa.1 Pengendalian secara kultur teknis Varietas padi tahan walang sangit tidak tersedia. Jamur Beauveria sp. Jamur ini sangat mudah dibiakkan dilaboratorium dengan media berasjagung. Pada saat tanaman padi berbunga walang sangit pindah ke sawah dan berkembang-biak pada tanaman padi. Kartosuwondo dkk. sanitasi dan kuratif. sehingga pengendalian kultur teknis lebih menekankan aspek preventif. Tanam lebih awal varietas genjah dan tanam serempak dengan perbedaan waktu tanam kurang dari lima belas hari dalam satu hamparan dapat menghindari serangan walang sangit. Pertanaman padi yang mencapai stadia generatif relatif sama pada areal yang luas.2 Pengendalian secara Hayati Parasitoid O. sehingga dapat dikendalikan secara mekanis atau dengan insektisida. dan walang sangit mulai berkembang biak dan terus berkembang biak pada pertanaman padi yang ditanam berikutnya. 2003).000 m2 di Karawang. dan padi yang paling lambat tanam akan mendapat serangan paling berat. Oleh sebab itu padi yang paling awal tanam akan mulai terserang. Perbedaan waktu tanam antar hamparan sebaiknya tidak lebih dari 2.600 ekor per 800 m2 di Sukamandi kurang meningkatkan parasitoid terhadap telur walang sangit. PENGENDALIAN 6. untuk menghindari perkembangan populasi walang sangit yang berkelanjutan. pada umumnya dapat terhindar dari kerusakan oleh serangan walang sangit.

Larva.6. Gambar 4. ordo Lepidoptera. dilakukan serempak dalam satu hamparan. menyebabkan bagian daun yang terserang berwarna putih transparan memanjang sejajar tulang daun karena zat hijau daun dimakan dan hanya disisakan kulit epidermis bagian atas. Hanya stadia larva yang bertindak sebagai hama. Bagian tanaman padi yang diserang adalah daun. Insektisida BPMC dan MIPC cukup efektif untuk mengendalikan walang sangit. 424 . Apabila dari 20 rumpun contoh ditemukan 10 ekor walang sangit atau 6 ekor walang sangit per m2 perlu diaplikasi insektisida. Aplikasi insektisida pada wilayah endemik dan populasi mulai ditanamkan dari saat padi mulai berbunga sampai stadia masak susu. sejak pesemaian sampai panen. Larva Cnaphalocrosis makan dan merusak daun sehingga berpengaruh terhadap fotosintesa pada daun yang tidak diserang. HAMA PUTIH PALSU PELIPAT DAUN (Cnaphalocrosis medinalis Guenee) Hama ini termasuk famili Pyralidae. 5. menyerang pertanaman padi sawah. Di samping itu daun padi digulung ke bagian atas dan tepi daun direkatkan dengan benang-benang yang dihasilkan oleh larva. gogo dan gogorancah. dan gejala serangan Cnaphalocrosis. ngengat. Larva tinggal dalam gulungan daun tersebut dan makan di dalamnya.3 Pengendalian secara Kimiawi Pengendalian secara kimiawi berdasarkan tingkat populasi walang sangit pada pertanaman padi.

Leersia spp. 5. terdiri 10–12 butir per kelompok... Satu ekor ngengat dapat menghasilkan telur sampai 300 butir. Encyrtidae.2 Tanaman Inang Selain tanaman padi hama ini dapat hidup pada tanaman graminae seperti: jagung.3 Musuh Alami Secara alami hama ini mempunyai beberapa musuh alami. dan beberapa gulma dari golongan rumput-rumputan. Panjang rentang sayap 13–15 mm sedangkan panjang badan 10–12 mm. Pupa terdapat didalam gulungan daun padi yang dilipat oleh larva. predator dan patogen. Dermeptera terutama laba-laba sering terlihat memangsa dewasa hama putih palsu. Panjang larva instar ke enam 20–25 mm dengan lebar 1. Imperata spp. Matteson (2000) mengemukakan bahwa sampai lima ekor larva Cnaphalocrosis/rumpun akan merusak daun sekitar 50%. Lama periode telur 4–6 hari.. Eleusine spp. sorgum. tetapi jenis padi Japonica dapat mentoleransi sampai 67% kerusakan daun. 5. Rotboillia spp.4 Pengendalian Serangan Cnaphalocrosis menjadi berarti jika kerusakan daun pada fase anakan maksimum dan fase pematangan mencapai >50%. dan Ichneumidae.5.5–2 mm..3 mm. 5. Beberapa predator hama ini terdiri dari famili Carabidae. 2004). Simulasi dari komputer menunjukkan bahwa kepadatan Cnaphalcrosis sampai 15 ekor per rumpun baru menurunkan hasil. aktif pada malam hari dan tertarik pada sinar lampu. Isocline spp.. berupa parasitoid. Brachimeria spp. adalah parasitoid yang menyerang telur-telur hama putih palsu. Echinocloa colonum.. Panicum spp. 425 . Larva yang baru menetas berwarna putih kehijauan dengan panjang 1. selama stadia larva terjadi lima kali pergantian kulit sebelum menjadi pupa. tebu. Ngengat meletakkan telur secara berkelompok sepanjang tulang daun...1 Biologi dan Ekologi Serangga dewasa (ngengat) berwarna coklat dengan garis hitam pada sayap. dan satu gulma dari golongan berdaun lebar Stylosanthus (Reissig et al.2–0. Elasmidae. Chlacididae.5–2 mm dan lebar 0. Pennisetum spp. Sedang patogen serangga yang dijumpai pada hama ini antara lain Beauveria bassiana (CAB Internat. Coccinellidae. Lama periode larva sekitar 15–16 hari. antara lain: Paspalum spp. Trichogramma spp. Larva dan pupa hama ini diserang oleh bermacam jenis parasitoid di antaranya dari famili-famili: Brachonidae. Lama periode pupa 4–8 hari. 1981)...

Gulungan daun yang berisi larva dapat menempel pada daun padi atau mengapung diatas permukaan air. HAMA PUTIH (Nymphula dipunctalis Guenee) Famili Pyralidae. Pada pertanaman padi di Sidomulyo.5 µg (Anandan dan Regupathy. bagian tanaman yang diserang yaitu daun. c) Pengendalian secara kimiawi. 1987). chlorpyriphos 1. perbedaan waktu tanam tidak lebih dari satu bulan. 2004). Ordo Lepidoptera. Oransbari Kabupaten Manokwari. Pemupukan N yang tinggi meningkatkan serangan hama putih palsu.Pengendalian dapat dilakukan dengan: a) Kultur teknik. Hama putih ditemui di areal berbagai pertanaman padi di Indonesia: Jawa. 426 .50 µg. 2000). Pengendalian dengan pemakaian insektisida kurang dianjurkan kecuali jika serangan hama putih palsu melebihi 14%. quinalphos 0. Pengujian yang telah dilakukan di Tamil Nadu. yaitu tanam serempak. 6. 2007).35 µg. larva Cnahalocrosis menjadi resisten pada LD50 terhadap insektisida monocrotophos 0. satu bulan lebih awal. Nusa Tenggara dan Irian (CAB Internat. Hama putih menyerang tanaman muda dan fase vegetatif. Padi yang lebih dahulu ditanam. Perpindahan larva sangat dibantu adanya genangan air pada petakan sawah. 2002). Larva makan dari dalam gulungan daun setelah gulungan yang berisi larva itu menempel pada daun dan larva mengeluarkan kepala dan thorak untuk makan. Stadia serangga yang merusak yaitu stadia larva. Sulawesi. b) Pengendalian secara hayati memanfaatkan banyaknya musuh alami yang menyerang hama ini dan cukup berhasil menekan populasi hama putih palsu. aplikasi insektisida dilakukan saat tanaman berumur 30–40 hari setelah tanam (Matteson. India. Gejala serangan hampir sama dengan hama putih palsu. Bedanya hama putih akan memotong daun sepanjang 2–4 cm kemudian menggulungnya dan larva sembunyi dalam gulungan tersebut. sering terserang hama putih palsu lebih parah (Suharto dan Noch. Sumatra.0 µg and phosphamidon 5. Penggunaan insektisida secara terus-menerus akan menyebabkan larva Cnaphalocrosis menjadi resisten. yaitu adanya bagian daun yang berwarna putih memanjang sejajar dengan tulang daun. Nympula depuntalis termasuk hama yang populasinya tinggi (Sunilat.

Larva bersifat akuatik dan aktif pada malam hari dimana larva dalam gulungan daun naik ke pertanaman dan makan. Melihat cara hidup larva hama ini di mana 427 . Leersia hexandra dan Ischaemum muticum. Dacnusa sp. sangat jarang ditemukan serangan hama putih pada tanaman yang telah berumur lewat 40 hari.3 Musuh Alami Musuh alami masih sedikit yang diketahui. 1986. 6. golongan familia Graminae: Leptochloa chinensis. 6. Induk betina dapat menghasilkan telur sampai 50 butir. Polytrias amaura. panjang badan 6 mm dan rentang sayap 15 mm. Lama periode telur 2–6 hari. Cynodon dan Cyperus (Chantaraparapha dan Litsinger.Gambar 5. CAB Internat. Chrysopogon aciculatus. 2004). Trichogramma dan Apanteles berperan sebagai parasitoid telur. jarang sekali pada daun yang masih tegak. 6. (Braconidae: Hymenoptera) merupakan parasitoid larva. Ngengat dan gejala serangan hama putih. Satu kelompok telur terdiri 10–12 butir. Lama periode larva 14–20 hari. Stadia pupa sekitar 6–8 hari dan siklus hidupnya 30–5 hari (CAB Internat. Hama ini hanya suka meletakan telur pada daun dari tanaman muda.1 Biologi dan Ekologi Ngengat berwarna putih. Selama periode larva ada lima instar. larva instar kelima mempunyai panjang 14 mm. 2004). Larva yang baru menetas berwarna pucat dan kemudian berwarna hijau pucat.2 Tanaman Inang Tanaman utama yang diserang yaitu padi dan banyak jenis tanaman sebagai inang terutama dari golongan rumput-rumputan. Kelompok telur diletakkan pada bagian bawah daun yang telah mengambang diatas permukaan air.

Pengendalian secara kimiawi menggunakan insektisida karbofuran. Sebaran kepinding tanah pada berbagai pertanaman padi di Indonesia yaitu di Sumatra. b) tanam awal akan terhindar dari periode aktifitas puncak penerbangan ngengat. c) pengeringan lahan 5–7 hari akan membunuh larva Nymphula. Serangga dewasa dapat migrasi ke tempat yang jauh. Kepinding tanah. Serangan kepinding tanah sejak tahun 1997 sampai 2006 berkisar antara 428 . Pengendalian secara budi daya. 2002). pada malam hari tertarik lampu dan mengeluarkan bau tidak sedap jika diganggu (Kalshoven. KEPINDING TANAH (Scotinophara coarctata) Hama kepinding tanah merupakan salah satu hama potensial pada tanaman padi saat ini. Matteson (2000). mengemukakan bahwa pola iklim yang tidak normal menyebabkan terjadinya migrasi hama ini sehingga menyebabkan outbreak. Imago Nymphula tertarik lampu dan pemasangan lampu perangkap dapat digunakan untuk menduga populasi hama ini (Razak et al. Kepinding tanah juga bisa menjadi hama utama tanaman padi di daerah-daerah sawah lebak atau sawah pasang surut yang kondisinya selalu tergenang air. (CAB Internat. MIPC dan BPMC cukup efektif mengendalikan hama ini. 7. dengan pengeringan sawah merupakan satu cara supaya larva tidak dapat pindah dan tidak dapat berkembang.4 Pengendalian Pengendalian dilakukan jika serangan daun rusak mencapai 25% atau sepuluh daun rusak per rumpun.kebanyakan berada di air maka larva predator dari famili Hydrophilidae dan Dytiscidae (Coloeptera) yang juga hidup di air kemungkinan merupakan salah satu predator yang menyerang larva hama putih. Razak et al.. Hama ini menyukai tanaman yang dipupuk nitrogen dosis tinggi (Gallagher et al. CAB Internat. di antaranya jenis Argiope sp. Kalimantan. terlebih pada musim hujan. IRRI (2008) menyarankan cara pengendalian dengan budi daya meliputi: a) jarak tanam jarang (30x20 cm) umumnya kurang mendapat serangan hama ini. (2007) menambahkan bahwa insektisida Quinalphos atau endosulfan efektif terhadap hama ini.. Beberapa laba-laba juga sering terlihat memangsa ngengat hama putih. 2004). e) menggunakan dosis pupuk Nitrogen yang optimal dan pemberian pupuk beberapa kali akan mengurangi perkembangan populasinya. dengan kelembaban tinggi. 2004). 6. dan Jawa. Populasi dan serangannya relatif kecil tetapi selalu ada sepanjang waktu di berbagai daerah di Indonesia. d) menggunakan bibit umur lebih tua mengurangi kerentanan stadia tanaman padi. 2007). 1981. Scotinophara coarctata termasuk famili Pentatomidae ordo Hemiptera.

775 ha.047 ha pada tahun 1998. stadia vegetatif. Kepadatan populasi kepinding tanah sangat berpengaruh terhadap besarnya serangan hama tersebut pada tanaman padi. 429 . akhirnya layu dan mati yang disebut dengan terbakar (bug burn).2.162 ha (Tabel 6). jagung dan tumbuh-tumbuhan golongan rumput-rumputan (graminae).162 Tahun 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Rerata 7.810 3. Pada serangan berat dapat menurunkan hasil 60 sampai 80% (CAB Internat.. rerata luas serangan selama sepuluh tahun yaitu 6.842 2. pada kepadatan 25–75 ekor per rumpun hasilnya akan berkurang antara 37–48%. 2008) Luas serangan kepinding tanah (ha) 4. Sedang jika infetasi pada stadia tanaman generatif. Tabel 6.775 3.1 Biologi dan Ekologi Serangga kepinding tanah termasuk jenis kepik berwarna hitam kusam dengan panjang 7–10 mm dan lebar 4 mm. Luas serangan kepinding tanah pada pertanaman padi se-Indosesia sejak 1997– 2006 (Ditlin. Tanaman inang terdiri dari padi.193 3.316 6. Suharto (1985) menambahkan bahwa penurunan hasil padi pada infestasi stadia anakan (30 hst) pada kepadatan 25–75 ekor per rumpun hasilnya akan berkurang antara 51–71%. berbunga dan bermalai diserangnya.760 3.274 4. Semua stadia tanaman sejak bibit. Infestasi awal kepinding tanah pada tanaman yang lebih muda menimbulkan kerusakan tinggi. Semakin awal infestasi semakin berkurang produksi yang dihasilkan (Saleh dkk.047 10. 1999). sehingga dalam populasi yang tinggi menyebabkan tanaman menjadi kuning atau merah kecoklatan. dan tertinggi seluas 19.225 6. Serangga ini mengisap cairan tanaman pada bagian batang padi. 2004).383 19.

Nimfanya melewati masa 5 instar selama sekitar 6 minggu. Telur menetas setelah umur 7 hari. Betina bertelur pada 12–17 hari setelah kawin. Kepinding tanah mempunyai musuh alami berupa parasitoid. predator dan patogen serangga. Serangga dewasa bisa hidup selama 7 bulan. dengan demikian bisa hidup pada dua musim tanam padi melalui masa istirahat dan bersembunyi pada rerumputan yang kondisinya basah atau lembab. predator yaitu laba-laba (Lycosa pseudoannulata.Gambar 6.. Tetragnatha sp. Populasi tinggi pada musim hujan yang merupakan populasi migrasi yang berasal dari rerumputan atau gulma yang tumbuh di daerah basah atau lembab atau dari tanaman padi yang sudah dipanen apabila pola tanamnya tidak serempak (CAB Internat. jumlah telur yang diletakkan sampai 200 butir.) dan patogen serangga yaitu Beauveria bassiana dan Metarhizium anisopliae (CAB Internat. sehingga puncak populasi kepinding tanah pada tanaman padi akan dicapai pada saat menjelang panen. 2004). Perkembangan populasi kepinding tanah pada tanaman padi sawah diawali dengan munculnya serangga dewasa pada saat tanaman umur 2–3 minggu setelah tanam. dan Oxyopes sp. 430 . 2004). Nimfa berwarna coklat kekuningan dengan bintik hitam dan tinggal pada pangkal tanaman pada siang hari dan makan dengan mengisap tanaman pada malam hari. Telur diletakkan pada batang padi bagian bawah secara berkelompok sebanyak 30 butir per kelompok. Populasi meningkat sejalan dengan perkembangan tanaman padi. Kepinding tanah dan gejala serangan kepinding tanah pada tanaman padi Siklus hidup kepinding tanah berkisar antara 33–41 hari. Jenis musuh alami yang sering dijumpai yaitu parasitoid yaitu Telenomus sp.

sehingga aplikasi insektisida menjadi pilihan karena saat ini merupakan cara yang paling efektif. digunakan untuk menggali tanah. Bagian tanaman yang diserang yaitu benih. merupakan hama yang perlu diwaspadai (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Lampung. yaitu cendawan Beauveria bassiana yang diaplikasikan seperti insektisida kimia. Anjing tanah. Menurut Gallagher et al. anisoplia berasal dari populasi kepinding tanah di lapangan (Rombach 1987).2 Pengendalian Pengendalian hama kepinding tanah pada tanaman padi sawah relatif sulit. cara ini mampu menekan populasi hingga 30%. Cara pengendalian yang dapat dilakukan meliputi: 1) Secara hayati. penyiangan atau pengendalian gulma dan sanitasi lingkungan (gulma dan rerumputan) terutama pada galengan dan tanggul saluran irrigási. (2002) untuk mengatasi serangan hama ini dilakukan tindakan secara preventif dengan memanfaatkan musuh alami. ANJING TANAH (Gryllotalpa hirsuta Burmeister) Anjing tanah atau orong-orong merupakan salah satu hama potensial pada tanaman padi di lahan kering atau sawah pasang surut. Jenis insektisida yang dapat dipergunakan yaitu Fastac 15 EC. Di Lampung pada cabe yang ditanam sebagai tanama sela diantara perkebunan kelapa. Anjing tanah termasuk serangga polyphagous yang memangsa berbagai jenis tanaman terutama jenis serealia. Populasi dan serangannya relatif kecil tetapi seringkali menjadi masalah bagi tanaman padi di lahan yang tidak tergenang seperti lahan kering (padi gogo) atau di lahan sawah pasang surut. atau pinggiran jalan.7. Dengan miko-insektisida. pengaturan pengairan berselang pada tanaman padi (intermitten-irrigation). anjing tanah. 2004). Hama ini merusak semua fase pertumbuhan dengan cara memotong tanaman pada bagian pangkal batang di bawah tanah dan bagian akar muda sehingga menyebabkan batang menjadi putus dan busuk (mati). 431 . Kalimantan dan Jawa. 2) Secara kultur teknis yaitu pengolahan tanah yang baik. 8. 4) Secara kimia dengan insektisida. Secara sepintas gejala serangan seringkali keliru dengan gejala serangan penggerek batang padi. dengan volume larutan 400-500 lt/ha. Jika populasi lebih dari 5 ekor nimfa atau dewasa per rumpun perlu segera dikendalikan (CAB Internat. di Sumatera. Tungkai depan hama ini besar. aplikasi insektisida diarahkan pada pangkal tanaman dan insektisida cair lebih efentif daripada insektisida butiran (granule). menggunakan jamur patogen serangga B. 2004). Matador 25 EC dan Regent 50 SC. Atabron 50 EC. Terowongan anjing tanah tampak seperti bekas galian tanah. 3) Secara fisis dan mekanis seperti lampu perangkap dan pelepasan bebek/itik di sawah. termasuk famili Gryllotalpidae ordo Orthoptera. akar dan batang pada permukaan tanah. sanitasi dan sampling secara periodik. Untuk memantau populasi perlu dilakukan monitoring. bassiana dan M.

Gambar 7. d) pengaturan waktu tanam yaitu menanam pada awal musim hujan. Tempat hidup biasanya di pinggir jalan. predator dan patogen serangga. Makanannya terdiri dari bagian tumbuhan seperti akar dan batang bagian bawah dan hewanhewan yang hidup di dalam tanah. c) penggenangan lahan selama 3–4 hari untuk membunuh telur dan larva yang berada dalam tanah. 8.5 mm diletakkan dalam lubang di bawah tanah. pinggir saluran. 2004). Anjing tanah membuat terowongan panjang di bawah permukaan tanah dan menyukai kondisi tanah yang lembab atau basah. Imago dan gejala serangan anjing tanah. 2) Secara kimiawi dengan menggunakan insektisida yaitu 432 .2 Pengendalian Cara pengendalian yang dapat dilakukan yaitu: 1) Secara bercocok tanam dengan a) pola tanam dengan pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang. b) pengolahan dan perataan tanah untuk membunuh larva dan pupa yang ada di dalam tanah. 2004). bertelur pada 12–17 hari setelah kawin (Kalshoven. Seekor betina dapat meletakkan telur sekitar 36–47 butir (CAB Internat. lahan surjan dan kebun-kebun. Serangga ini mempunyai musuh alami berupa parasitoid.1 Biologi dan Ekologi Serangga anjing tanah hidup di bawah/di dalam tanah berwarna kuning kecoklatan dengan panjang 39–47 mm. 8. Telur berukuran panjang 2. Nimfa muda hidup bersama induk jantan sampai instar-2 dan makan dari humus serta akar tanaman muda. Betina umumnya bersayap pendek dan bersuara keras selama 15–20 menit pada sore dan malam hari. Jenis patogen serangga Beauveria bassiana dapat menginfeksi sekitar 38–66% (CAB Internat. 1981). Namun demikian berdasarkan informasi umum bahwa keuntungan sebagai predator lebih kecil daripada kerugian sebagai hama perusak tanaman.

akibatnya tanaman padi menjadi layu dan dapat rebah serta mati. Larva ini membentuk pupa di dalam tanah akan menjadi dewasa pada musim berikutnya. memberikan insektisida pada tanah sebelum tanah ditanami atau pada saat tanam dengan aplikasi insektisida butiran (granule). Imago kawin pada malam hari. Telur diletakkan satu persatu di dalam tanah.dengan a) seed treatment. Larva dan imago Phyllophaga. sorgum. Larva yang disebut uret atau lundi makan akar tanaman graminae dan jenis tanaman lainnya. 433 . Siklus hidupnya dapat lengkap dalam satu tahun. Lundi dibeberapa tempat disebut juga uret. yang menyebabkan tanah cukup lembab. kacang hijau. 1981). tungkainya kuat dan berambut. 9. Bagian tanaman dibawah tanah yaitu akar tanaman yang diserang. tebu. Stadia yang paling merusak adalah larvanya. Lundi termasuk famili Scarabaeidae ordo Coleoptera. kemudian serangga betina akan ke tanah untuk meletakkan telur. menggunakan insektisida golongan karbofuran dan b) soil treatment. atau perlakuan tanah. kepalanya bertipe hypognathous dan mengeras berwarna kuning kecoklatan. Gambar 8 .1 Biologi dan Ekologi Serangga dewasa atau kumbang. Serangga dewasa makan dedaunan dan serasah dan akan menyebabkan kerugian yang berarti dalam jumlah yang besar. Kumbang muncul atau terbang setelah ada hujan pertama yang cukup lebat. Larva lundi menyerang tanaman palawija lain seperti jagung. misalnya golongan karbofuran. LUNDI (Phyllophaga (=Holotrichia) helleri Brsk) Larva menyerang tanaman padi (gogo) di lahan kering pada bagian perakarannya. kacang tanah. secara umum lundi lebih menyukai padi gogo. kedelai dan ubi kayu (Kalshoven. 9.

Setelah telur menetas larva yang baru menetas berada di dalam tanah dan bersifat phytophagous. 2004. Pengolahan dengan membajak tanah akan membunuh larva. Jenis jamur pathogen serangga. Oecophylla smaragdina dan kumbang Caraidae sering menyerang larva. yaitu jamur Cordyceps yang menginfestasi larva serta bakteri Bacillus popilliae Dutky and B. kumbang ini mempunyai musuh alami berupa parasit. b) soil treatment. Selman. 1981. pupa dan imagonya serta memberi kesempatan pada predator seperti burung untuk memangsa larva yang berada dipermukaan tanah. terdiri dari 3 instar dan instar ketiga yang menyebabkan kerusakan berarti. Karena larvanya makan akar tanaman maka telur diletakkan dekat perakaran tanaman. b) pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang. Di samping itu ada beberapa musuh alami yang dapat digunakan untuk mengendalikan hama ini. dan lalat Pyrgota undata (Diptera: Pyrgotidae). Larva membentuk pupa di dalam tanah. 9. d) pengaturan waktu tanam yaitu menanam pada awal musim hujan. Secara kimiawi dengan menggunakan insektisida. serta Pelecinus polyturator Drury (Hymenoptera: Pelecinidae). stadia pupa kurang lebih 2 bulan. lentimorbus Dutky dapat diaplikasikan dengan menaburkannya pada permukaan tanah (Selman. Stadia larva dan aktif kurang lebih 5. 2007). meliputi tindakan sebagai berikut: Secara bercocok tanam dengan menggunakan: a) pengaturan pola tanam. misalnya golongan karbofuran.Stadia telur berkisar 10–11 hari. antar lain lebah genera Tiphia dan Myzinum (Hymenoptera: Tiphiidae).2 Pengendalian 1) Beberapa cara yang dapat dilakukan. Serangga dewasa akan keluar dari tanah. akan mulai makan akar tanaman. 2007). Pada tanah yang tidak diolah atau sedikit diolah memberi kesempatan uret untuk berkembang biak (Selman. 2007). atau perlakuan tanah yaitu dengan cara memberikan insektisida pada tanah sebelum tanah itu ditanami atau pada saat tanam. Jenis semut. misalnya golongan karbofuran. predator dan patogen serangga.5 bulan. Pada saat pengolahan agar dipilih waktu sebelum uret pindah dan dibajak sampai kedalaman uret tersebut. Secara hayati. Larva yang hendak menjadi pupa membentuk sel dalam tanah dan tidak aktif sekitar 40 hari. 2) 3) 434 . c) dengan aplikasi insektisida butiran (granule). 2004). Jamur Beauveria dan Metarhizium juga menyerang larva (CAB Internat. Agar imago berkurang dalam meletakkan telurnya perlu diupayakan di sekitar tanaman bersih dari gulma dan rerumputan (Kalshoven. c) pengolahan tanah untuk membunuh larva dan pupa yang ada di dalam tanah. jumlah telur yang diletakkan di dalam tanah sekitar 15–20 butir pada kedalam sekitar 1–12 cm. Stadia larva. cara yang dilakukan dengan: a) seed treatment. CAB Internat.

sehingga tidak menimbulkan kerusakan. Permasalahan belalang ini baru muncul awal tahun 1998 dimana tahun sebelumnya (1997) merupakan musim kemarau panjang dan hujan baru mulai sekitar bulan Desember 1997– Januari 1998 (Pramono. tidak ada belalang yang menyerang tanaman. sedangkan dari telur sampai dewasanya mati mencapai 160 hari. abuabu kecoklatan atau hitam dengan orange kuning. 435 . 10.5–6.750 m. predator dan patogen musuh alami ini menyerang stadia telur. Keberadaan belalang biasanya dalam jumlah kecil yang disebut fase solitaria.1 Biologi dan Ekologi Telur diletakkan di dalam lubang dalam tanah dengan kedalaman 6 cm. 2006). dan Sulawesi Utara. Pada fase inilah kerusakan berat pada tanaman pertanian terjadi dan masalah menjadi sangat berbahaya apabila migrasi terjadi ke daerah pertanian tanaman pangan seperti areal padi dan palawija. Lama periode dari telur hinggá telur lagi ádalah 70-110 hari. Penetasan telur terjadi setelah umur 17–22 hari dan berkembang menjadi dewasa dalam waktu 1. Betina matang siap kawin dalam 26 hari dan periode kopulasi 6 hari. sereh dan bambu. pisang. Diduga musim kering panjang selama tiga tahun membuat jutaan belalang tak bisa lagi berkembang biak (Prasetyohadi. Sumatera Selatan. Dalam kondisi tertentu jumlahnya bisa menjadi kelompok lebih banyak dan bermigrasi yang disebut fase transiens. Di antara beberapa musuh alami tersebut jenis cendawan Beauveria bassiana yang banyak ditemui dan dapat digunakan sebagai agen pengendaliannya. Serangga berukuran panjang 4– 7 cm dengan warna yang bervariasi terutama stadia nimfa.0–1. Sulawesi Selatan. BELALANG (Locusta migratoria manilenses Meyen) Belalang biasanya merusak tanaman dari jenis rerumputan (grasses) seperti padi. Belalang. jagung dan kelapa. ada yang hijau. 1998). Betina bertelur selama 6–9 hari dan mampu memproduksi telur sebanyak 200–270 butir bahkan dilaporkan sampai 500 butir telur. Belalang mempunyai musuh alami berupa parasitoid. termasuk famili Acridiidae ordo Orthoptera. Jawa Timur. Panjang telur 5. Tetapi pada tahun 2006 populasi belalang rendah. Hama ini juga menyerang lokasi-lokasi pertananaman padi. tebu. Jenis belalang yang dominan berdaur hidup ±160 hari. Di Sumba di Nusa Tenggara Timur tercatat jutaan ekor serangga belalang selama delapan tahun 1998–2005.0 cm. Lama hidup serangga dewasa baik jantan maupun betina rata-rata 3 bulan. Di Indonesia serangga ini sering ditemukan di berbagai lokasi sampai pada ketinggian 1. Pada periode musim tanam tahun 1997–1998 timbul ledakan populasi hama belalang di kawasan Lampung. jagung. palem. Apabila kelompok-kelompok tersebut bergabung menjadi rombongan besar maka terjadi migrasi besar-besaran dan bergerak sangat jauh disebut fase gregaria.5 bulan.10. Tanaman yang terserang daunnya akan terpotong dan tinggal tulang daunnya. nimfa dan serangga dewasa.

b) curah hujan tinggi dengan rendahnya intensitas cahaya matahari. Sedang faktor ekstrernal meliputi: a) temperatur tinggi dengan kelembaban rendah mempercepat perkembangannya. 10. tetapi masih belum diketahui pengaruhnya terhadap komponen 436 . Imago belalang. Di antara cara yang di lakukan yaitu dengan mengamati pengaruh gelombang ultrasonik terhadap perilaku makan dan gerak telah dicobakan di Kalimantan Barat.Gambar 8 . L. Sumba (Taek. dengan jarak sumber 100 cm dan lama pemaparan 3 jam–4 jam berpengaruh terhadap pola perilaku makan pasif dan gerak pasif belalang kembara. 2004). Cara lain yang diupayakan yaitu menguji zat LocPT3M terhadap belalang di P. merupakan dasar untuk melakukan usaha pengendalian dan penerapannya di lokasi terjadinya serangan hama belalang kembara (Sitompul. Pada frekuensi gelombang ultrasonik 50 kHz. 2005). Berdasarkan nilai LD 50 dalam waktu 16 jam zat tersebut memberikan sifat lethargik atau sangat toksik. c) rendahnya populasi musuh alami seperti nematoda dan mite. d) kemarau panjang yang menyebabkan kurangnya rerumputan sehingga mendorong terjadi migrasi ke daerah lebih lembab.2 Alternatif Pengendalian Upaya pencegahan perkembangan belalang telah dilakukan dengan beberapa cara di berbagai lokasi. Hasil pengamatan di laboratorium ini. Apabila populasi awal tinggi maka terjadi fase gregaria dengan cepat. c) asal induk betina dari fase soliter atau gregarius. Pada saat daerah genangan terjadi maka akan terjadi outbreaks di daerah tersebut. Faktor internal meliputi: a) koefisien perbandingan antara sayap dan femur. b) tanggap terhadap jumlah belalang yang bergerombol dan terisolasi secara berkelanjutan. e) kebakaran hutan atau padang rumput atau alang-alang lebih mendorong perkembangannya. Migratoria Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan belalang yaitu faktor internal dan eksternal.

(http://www. diakses 20 Februari 2007). IRRN. Cnaphalocrocis Medinalis (Guenee) in Tamil Nadu. “Host Range and Biologi of Three Rice Case Worm”. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Lampung. 2007. 10 (5): 23. N. 2003. 2008). Wallingford. Chand. and J. 16(2). “Developmental Biology and Host Plant Range of Rice Ear-cutting Caterpillar Mythimna separata (Walker)”. IRRN. IRRI. G. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan.. NTT yaitu dengan menggunakan ekstrak buah mentah Melia volkensii berhasil mengusir belalang. Manila. Pengendalian menggunakan insektisida hayati telah dicobakan di Kabupaten Kupang. 19(1): 23– 24. 1986.id. Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan. (http://www. Fernando. go. Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan. 3) secara kimiawi dengan insektisida kimia seperti golongan fipronil atau betasiflutrin dan tiodicarb. Direktorat Bina Perlindungan Tanaman Pangan.L. DAFTAR PUSTAKA Anandan. Barrion. IRRN. “Evaluation of 26 Insecticides for Armyworm Mythimna separata (Walker) Control”. “Assessment of Acute Toxicity of Insecticides for Monitoring Insecticide Resistance in Rice Leaffolder. Ditlin 2006. Resistant Pest Management Newsletter. Ditlin. “Evaluasi Kerusakan Tanaman Padi Karena Organisme Pengganggu Tahun 1995–2001”. Ditlin.A. Penggunakan perbandingan 10 liter per hektar hasilnya mampu menghambat dan menghilangkan perkembangan belalang (Plantus. IRRN. 2004. R. P.ditlin.A. 1972. 13 (1): 15–16 . H.biotik lainnya seperti musuh alaminya. 2) secara biologis dengan pengendalian hayati menggunakan cendawan dalam bentuk miko-insektisida seperti cendawan Beauveria bassiana dengan konsentrasi 20 gram (biakan murni) per liter air. “Crop Protection Compendium”.id. Philippines. UK: CAB (Commonwealth Agricultural Bureaux) International. and A.go. and A. Disajikan dalam compact disc. “Optimalisasi Pemanfaatan Lahan di antara Tanaman Kelapa”. diakses 20 Februari 2008). and Birsa. India”.. 25 p. 1994. CAB International. Chantaraparapha. Basilio.000 ppm ekstrak etanol. 437 .ditlin. J. 1988. 11(5): 33–34. Cara pengendalian yang umum dilakukan yaitu: 1) secara mekanis dengan menghindari terbentuknya tempat-tempat basah atau lembab sebagai tempat bekembang biak. Litsinger.T. “Gall Midge Resistance in Traditional Rice Varieties in Bihar”. and O.deptan.P. 2004.deptan. 2008. dengan ultraLow Volume (ULV) pada formulasikan 1.K. “Biology and Laboratory Culture of Rice Gall Midge and Studies on Varietal Resistance’. Catindig. Mochida. 1985.E. Regupathy. In Rice Breeding: p 343–351.

G. Lokakarya NRRP. Agric. Kepinding Tanah dan Kepik Nezara dengan Insektisida (Mimeograph)”. 2006. 2002. T. dan B. Kartohardjono. Jahn. 2002. et al.htm . JARQ. IRRI. Prosiding Simposium Keanekaragaman Hayati Arthropoda pada Sistem Produksi Pertanian.irri. Newsletter. JARQ. Inst. 1990. Hidaka. Contr.J. A. JARQ. Berita Puslitbangtan. A. diakses 8 Mei 2008). Trop.org/DOCREP/005/Y6159T/y6159t02. 1974. (http://www. Soenarjo. “Beberapa Cara Pengendalian Ulat Grayak. K. et al. Centr. (http://www. T. et al. (http://www. “Spesies Ulat Grayak dan Musuh Alaminya pada Kedelai”. Vreden. Res.knowledgebank. Hasegawa. (25): 17 p. 15 (3): 15– 16.knowledgebank. “Integrated Pest Management in Rice”.papuaweb. Inst. “Pemberantasan Walang Sangit. and E. Kartohardjono. A. 438 . “Recent Studies on Natural Enemies of the Rice Gall Midge Orseolia oryzae (Wood–Mason)”. L. 791 p.. Centr. Agric. 22 (3): 175–189. Res. A. “Occurence of the Rice Gall Midge Orseolia oryzae (Wood– Mason. Orseolia oryzae (Wood-Mason)”.diakses 12 Mei 2008). and N. Bogor. Kalshoven. 1977. (32) Juni: 11–12. 1983. IRRN.Y. Resch. N. Kabes. v. Internat. A. Bogor. “Reaksi Galur Padi TipeBaru terhadap Hama Ganjur”. Berita Puslitbangtan. 1988. Jebarai.) in wild rice in Thailand”. IRRI.htm. 2005. Hidaka. Kartohardjono.E. Series. 1977. Rice Com. in Trop. “Konsentrasi dan Media Perbanyakan Jamur Patogen Serangga untuk Mengendalikan Ulat Grayak Padi”. Pests of Crops in Indonesia. of Symp. 5 Oktober 2004: p 585–598. Kartohardjono. dan M. 17 (3 ): 211–214.D. ”Mass rearing of the Rice Gall Midge.txt. 2008. 1981. Cipayung. (32): 15 p. July.fao. vol 51. Proc. S. Jakarta: Ichtiar Baru-van Hoeve. Prosiding Seminar Nasional PEI. and G. dkk. Abdullah. Agric. Indarto. Bogor.org/trop Rice. “Population Studies of the Rice Gall Midge Orseolia oryzae (Wood–Mason.R. 2003. A. “Dinamika Populasi Ulat Grayak pada Padi”. Jurnal Ekologia. 1986. a New Gall Midge Resistant Rice”. H. Res. 2003 “Rice Bug IPM”.”Strategy of Rice Gall Midge Control’. Hummelen. 2003. Mythimna separata pada Tanaman Padi Sawah”. Arifin.org/unipa/ dlib-s123/unipa-abstrak. et al. Kartohardjono. G. Widiarta.Gallagher. dkk. Kartohardjono. 1971. diakses 7 Mei 2008). Hidaka. “Distribution and Taxonomy of Rice Bugs in Southeast Asia”. “Populasi dan Intensitas Serangan Hama Walang Sangit (Leoptocorisa oratorius) pada Areal Padi Ladang di Desa Hingk Kecamatan Warmare Kabupaten Manokwari”. dan S. Abstrak Skripsi Mahasiswa Unipa (http://www. Partoatmodjo. 20 (1): 20–24. Agric. ( 26) : 6–7. 2001. P. T. 16–18 Oktober 2000: p 371–378. “MDU 3.) on Java”. diakses 9 Mei 2008). 3 (2): 41– 46.org/ IPM/cultCtrl/Early_Vegetative_Pests. “Culture Control of Rice Insect Pest”..irri. et al. Contr.

2000.geocities. Pathak. 1992.p. Climate and Crop Management Practices on the Incidence of Rice Pests (Gall Midge)”. Chi.com/2006/07/belalang-dan-keong-mas-di-sumba-timur. 1997. The IRRI-ICIPE. 65–70. 22–24 November 1998.P. D. 2005. I.K. et al. Permasalahan dan Pengendalian” (http://www. Sumpena. “Atasi Hama Belalang Secara Organik”. M. Gajah Mada Univ Press. Rao. Mahrita. “Belalang dan Keong Mas di Sumba Timur”. Genetics and Breeding for Gall Midge Resistance in India. 439 .S. Genome. M. “Belalang Kembara pada Perkebunan Tebu di Indonesia (Biologi. Laba. (http : //anekaplanta .R. I. In J.P. “Insect Pest Management in Tropical Asian Irrigated Rice”. Prasetyohadi. Mimeo Summer Institute on Intensive Rice Production (Diseases and pests of rice and their control). Makalah dibawakan pada Kongres Entomologi IV.): 337–344.T. Matteson. P. 1994. Hilmi. P. Katiyar. 1971.W. Omonrice. Los Banos (Philippines): International Rice Research Institute and Indoan Council of Agricultural Research. Oryza. India. 28–30 Januari 1992.wordpress. 2000. “Natural Enemies of the Rice Gall Midge Orseolia oryzae Wood-Mason Observed in Yala Season in Sri Lanka”. “Pengaruh Jumlah dan Stadia Pertumbuhan Walang Sangit terhadap Hasil Padi IR36”. 16–19 Juni 1997. U.N. Kobayashi. and Z. P.com/p3gi/ belalang. 23 (4):323–328. S.P. Loc. “Mortalitas Berbagai Instar Larva (Mythimna separata Walker) karena Perlakuan Insektisida pada Tanaman Padi”.com/2008/03/02/atasi-hama-belalang-secara-organik/. New approaches to gall midge resistance in rice. 13:69–75.diakses 8 Mei 2008). diakses 8 Mei 2008). TARC Report JARQ.B. Pramono. 1995. dan T. 2004. 17-18 Desember: p 174– 178.html.html. Khan. 43: 322–332. 1986. 1998. “Effect of Season. Hyderabad. Bennett et al (Ed). Proceedings of International Workshop. Balittan Bogor.D. 2006. et al. “Pembiakan Massal dan PelepasanPparasitoid Telur Gryon nixoni dan Oencyrtus malayensis untuk Pengendalian Walang Sangit”. blogspot. “Biodiversity of Asian Rice Gall Midge (Orseolia oryzae Wood Mason) from Five Countries Examined by AFLP Analysis”. 45:549–574.. Plantus. Oka. Insect Pests of Rice. Pengendalian Hama Terpadu dan Implementasinya di Indonesia. Subang. P. Seminar Hasil Penelitian Tanaman Pangan. Rao. Leptocorisa acuta”. et al. Yogyakarta.Kartosuwondo. 195. Los Banos. (http://ecosocrights. 2008. Makalah disampaikan pada Temu Teknologi Hasil Penelitian dan Persiapan Pemasayarakatan PHT. diakses 8 Mei 2008). Rao. N. “Efficacy of Some New Isolates of Metarhizium anisopliae and Beauveria bassiana against Rice Earhead Bug. dan Y. 255 p. Annu Rev Entomol. 1974. dkk. Perilaku. 8 (2) (suppl.T. and V. U. et al.S.C. Philippines. 1990. “Factors Favouring Incidence of Rice Pests and Methods of Forecasting Outbreaks: Gall Midge and Stem Borers”. M.

Sitompul.J. Negeri Malang. Smith. ”Rice Caseworm (Nymphula depunctalis) Causes Severe Damage in Current Season in Many Rice-growing Areas”.”Zat Pengendalian Locusta migratoria. 1986. 12(5): 27. GHL.S. Suharto.indomedia. 2007. dkk. “Kehilangan Hasil Padi oleh Kepinding Tanah (Scotinophara coartata F. “Inventarisasi Jenis-jenis Serangga Hama dan Musuh Alami pada Tanaman Padi di Desa Sidomulya Kecamatan Oransbari Kabupaten Manokwari”. H. Wageningen Dissertation Abstracts: (http://library. Media Penelitian Sukamandi : 15–18. I. Prosiding Seminar Hasil Penelitian BKS–PTN Barat.) (Hemiptera: Alydidae) in Serawak (Malaysian..id/file/ stepanus sahalaunairing-kasan. Univ. Scotinophara spp. Los Banos. “Effect of Rice Armyworm. Rombach. diakses 8 Mei 2008).ifas. (4): 45–56. G. Program Pasca Sarjana Unair. H. Illustrated Guide to Integrated Pest Management in Rice in Tropical Asia. Taek. Santiago.txt. Contr Centr Res Inst Agric Bogor (20) : 11. Pentatomidae) pada Berbagai Umur Tanaman Padi”. John Wiley and Sons.ufl. P. 2004. diakses 8 Mei 2008). “Observation on the Ecology of the Rice Ear Bug (Leptocorisa oratorius L.htm. (http://creatures. University of Nebraska. dan D.pdf.M. Plant Resistance to Insect. C. Damardjati. diakses 8 Des 2007). Reflektor. E. IRRI. manilensis”. Pertanian UNSRI. and I. Rothschild. Publication Number: EENY-45. (http://www.Razak. .nl/wda/ abstracts/ab1158. “Effect of Transplanting Date on Leaffolder (LF) Cnaphalocrosis medinalis and Rice Bug (RB) Leptocorisa oratorius infestation at Kuningan West Java”. Abstrak skripsi ilmiah Universitas Negeri Papua (http://www.htm. 286 p. and P. Tirtowiryono. diakses 12 Mei 2008). L. “Pengaruh Waktu Serangan Walang Sangit terhadap Hasil dan Mutu Hasil IR36”. 1997. IRRN. Hummelen.C. Saleh..S. Selman.html. 2002. R. 2007. diakses 8 Mei 2008). 1970.org/ unipa/dlib-s123/unipa-skripsi. IRRN. Suharto. 1987. Jour App Ecol. diakses 9 Mei 2008). (http://www. Noch. Suharto. 1985. (Hemiptera.P. 1976. 2005. 1(2): 25– 28. Sunilat. S.C. Reissig. 22(2): 43. “Phyllophaga spp”.com/poskup/2004/08/10/edisi10/1008pin1.wur. et al. Scotinophara coarctata”. “Kemampuan Menyerang Kepinding Tanah. Varietas Padi Sawah Tahan Ganjur dan Mutu Beras Baik”. Balitan Sukamandi. 7: 147–167.htm. Bulletin Penelitian BALITTAN Bogor. S. 1985. (http://www..M. 440 . Surabaya. and Malayan Rice Bug. Mythimna separata (Walker) on Grain Yield of Rice”. “Tajum. Palembang: Fak. 411p. H. “Observation on the Occurence of the Rice Gall Midge Orseolia oryzae (Wood-Mason) and its Parasites in Java during Wet Season 1975 and 1976”.edu/field/white_grub. et al. et al. Oktober 1999.damandiri. Borneo)”. 1987. 1988. T.)”.papuaweb.or. M. Soenarjo.com /seta/2007/06/14/stories/ 2007061401111600. H. “Insect Fungi for the Control of Brown Planthopper Nilaparvata lugens.A. 3 p. “Pengendalian Hama Belalang Kembara (Locusta migratoria) dengan Menggunakan Gelombang Ultrasonik di Kalimantan Barat”. 1999. hindu. 1989.

27–30 Jan. “Formulasi NPV (Nuclear polyhedrosis virus) untuk Mengendalikan Ulat Grayak Padi. 2007. 14 p. Mythimna separata”. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu. 1996. Contr Centr Res Inst Agric. Kartohardjono. Untung.V.Trisnaningsih dan A. G. Bogor. Bogor (34): 14. Vreden.”Screening Rice Varieties for Resistance to the rice Gall Midge. Gajah Mada Univ. 1977. K. and Arifin K. Press. Orseolia oryzae (Wood-Mason)”. 273 p. Makalah pada Konferensi Nasional pada Bentang Alam Tropis: Peluang dan Tantangan. 441 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful