CARA MENYUSUN KONTRAK KONTRUKSI I.

PENDAHULUAN Elemen yang paling penting dalam suatu proses kerjasama antara berbagai pihak untuk mewujudkan suatu tujuan tertentu yang telah disepakati bersama adalah kontrak. Dalam proyek konstruksi, kontrak merupakan dokumen yang harus dipatuhi dan dilaksanakan bersama antara pihak yang telah sepakat untuk saling terikat. Tahap awal yang harus dipahami lebih dahulu adalah dasar-dasar pengertian kontrak serta konsep kontrak kostruksi. Dengan adanya peraturan perundang-undangan yang mengatur pelaksanaan industri jasa konstruksi ( UU No. 18/1999, PP No. 28/2000, PP No. 29/2000, dan PP No. 30/2000 ) maka mulai saat berlakunya peraturan perundang-undangan tersebut, penyusunan kontrak konstruksi kita harus menggunakannya sebagai acuan/rujukan yang baku. II. PENGERTIAN/BATASAN 1. Kontrak Konstruksi adalah perjanjian tertulis antara pengguna jasa dan penyedia jasa mengenai pelaksanaan suatu pekerjaan konstruksi. 2. Dokumen kontrak adalah kumpulan dokumen yang berkaitan dengn pelaksanaan kontrak sekurang-kurangnya berisi ketentuan tercantum dalam PP No. 29/2000 Pasal 22, yaitu: 1. Surat Perjanjian, yang ditanda tangani oleh pengguna jasa dan penyedia jasa. 2. Dokumen Lelang, yaitu dokumen yang disusun oleh pengguna jasa pengguna jasa yang merupakan dasar bagi penyedia jasa untuk menyusun usulan atau penawaran untuk pelaksanaan tugas yang berisi lingkup tugas dan persyaratannya ( umum dan khusus, teknis dan administratif, kondisi kontrak ). 3. Penawaran atau usulan, yaitu dokumen yang disusun oleh penyedia jasa berdasarkan dokumen lelang yang berisi metode, harga penawaran, jadwal waktu, dan sumber daya. 4. Berita acara, berisi kesepakatan yang terjadi antara pengguna jasa dan penyedia jasa selama proses evaluasi usulan atau penawaran oleh pengguna jasa antara lain klarifikasi atas hal-hal yang menimbulkan keagu-raguan. 5. Surat pernyataan pengguna jasa, menyatakan menerima atau menyetujui usulan atau penawaran dari penyedia jasa. 6. Surat pernyataan penyedia jasa, menyatakan kesanggupan untuk melaksanakan pekerjaan. 7. Yang dimaksud dengan cara menyusun kontrak disini adalah cara menyusun Perjanjian/Kontrak yang dilengkapi dengan cara menyusun syarat-syarat kontrak. Pola yang diambil dapat mengacu kepada FIDIC dengan tetap berpegang pada ketentuan yang tercantum dalam UU No. 18/1999 dan PP No. 29/2000. 8. Yang dimaksud dengan isi kontrak sebagaimana tercantum dalam PP No. 29/2000 Pasal 23 adalah uraian-uraian yang sekurang-kurangnya harus termuat dalam suatu kontrak konstruksi. Sedangkan kontrak konstruksi minimal meliputi hal-hal seperti yang disebutkan dalam PP No. 29/2000 Pasal 22. Jadi yang dimaksud dengan isi kontrak bukanlah uraian yang harus terdapat dalam perjanjian/kontrak tetapi yang harus terdapat dalam dokumen kontrak.

18/1999 Pasal 44 ayat 1 dan Pasal 45 dan PP No.9. 18/1999 dan atau PP No. Spesifikasi Teknis 5. Syarat-syarat ( Umum ) 3. 29 Pasal 63 yang berbunyi sebagai berikut: UU No. 3. dinyatakan tidak berlaku”. 18/1999 Pasal 45: “Pada saat berlakunya undang-undang ini. 29/2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi. Syarat-syarat ( Khusus ) 4. 18/1999 Pasal 44 ayat 1: “Ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur kegiatan jasa konstruksi yang telah ada sepanjang tidak bertentangan dengan undang-undang ini. Lampiran-lampiran 6. Perjanjian/Kontrak 2. dinyatakan tetap berlaku sampai diadakan peraturan pelaksanaan yang baru berdasarkan undang-undang”. 1. III. antara lain: 1. 29 Pasal 63: “Dengan berlakunya Peraturan Pemerintah ini. CARA MENYUSUN KONTRAK KONSTRUKSI 1. Acuan/Landasan Hukum 1. . Hal ini mengingat ketentuan sebagaimana disebut dalam UU No. 2. Syarat-syarat Umum dan peraturan lain sejauh tidak bertentangan dengan UU No. Sebagai acuan baku dalam menyusun kontrak adalah UU No. Dengan demikian akan terdapat beberapa dokumen yang akan disusun/disiapkan. maka ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur hal yang sama dan bertentangan dengan ketentuan undang-undang ini. 18/1999 tentang Jasa Konstruksi dan PP No. 29/2000. Gambar-gambar ( Kontrak ). 2. peraturan perundang-undangan mengenai penyelenggaraan jasa konstruksi yang masih ada sepanjang tidak bertentangan ataupun belum diganti dengan yang baru berdasarkan Peraturan Pemerintah ini dinyatakan tetap berlaku”. 4. Ketentuan yang termuat dalam KUHP Per Pasal 1320 yang berbunyi: Untuk sahnya suatu perjanjian diperlukan 4 syarat: 1. PP No. Sepakat mereka yang megikatkan dirinya Kecakapan untuk membuat suatu perikatan Suatu hal tertentu Suatu sebab yang halal. UU No.

elektrikal. Bagi kontrak konstruksi yang menyebutkan bahwa hukum yang berlaku dalam kontrak tersebut adalah hukum Republik Indonesia. Sebab apabila pasal ini tidak dikesampingkan. 29/2000 Pasal 22 ayat a maka perjanjian yang ditandatangani Pengguna Jasa dan Penyedia Jasa harus memuat antara lain: Uraian Para Pihak Harus dijelaskan nama dan alamat perusahaan yang merupakan para pihak dalam perjanjian. Siapa yang diberi kuasa untuk bertindak untuk dan atas nama perusahaan tersebut. maka dalam hal salah satu pihak ingin memutuskan/membatalkan perjanjian/kontrak maka hal tersebut harus melalui suatu putusan pengadilan. Dalam kontrak konstruksi yang dimaksudkan adalah lingkup pekerjaan.Yang dimaksud dengan syarat 1: adalah para pihak yang mengikatkan diri dalam suatu perjanjian ( dalam hal ini kontrak konstruksi ) adalah kesepakatan mereka tanpa ada tekanan atau ancaman dari pihak lain. ada obyek tertentu yang akan diperjanjikan. Biasanya pertimbangan ini lebih dari satu dan semuanya harus ditulis. membangun sebuah hotel mulai dari seluruh struktur fondasi sampai seluruh superstruktur disertai pekerjaan mekanikal. maka dalam salah satu pasal kontrak/syarat-syarat kontrak harus dinyatakan bahwa pasal 1266 Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHP Per) tidak diberlakukan ( dikesampingkan ). Misalnya. Yang dimaksudkan dengan syarat 4 : suatu sebab yang halal adalah halal menurut hukum. kontrak konstruksi untuk membangun pabrik narkoba adalah tidak halal. Konsiderasi Yang dimaksud disini adalah pertimbangan-pertimbangan yang mendasari pembuatan perjanjian ini. Lingkup pekerjaan secara rinci akan dijelaskan dalam dokumen kontrak lain seperti spesifikasi teknis dan gambar-gambar kontrak. . Yang dimaksud dengan syarat 3 : tentang suatu hal tertentu. Misalnya. Yang dimaksud dengan syarat 2 : para pihak adalah orang-orang yang sudah dewasa ( bukan anakanak ) dan sehat akal pikirannya/waras ( bukan orang gila ). Lingkup Pekerjaan Yang dimaksud disini adalah lingkup pekerjaan secara garis besar ( global ). Isi Perjanjian/Kontrak Sesuai ketentuan tersebut dalam PP No. Sebutkan akta pendirian perusahaan dan tunjukkan orang yang bertindak untuk dan atas nama perusahaan tersebut memang berhak sesuai akta pendirian perusahaan. lingkungan serta pekerjaan penyelesaian hingga siap beroperasi.

Isi Syarat-syarat Umum Kontrak Dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah ( PP ) No. Syarat-syarat Khusus Kontrak. Pengawas dan sebagainya yang akan disebut/dipakai selanjutnya dalam Syarat-syarat Kontrak atau Dokumen Kontrak lainnya diberikan defenisinya secara jelas. Misalnya siapa yang dimaksud dengan: Pengguna Jasa atau Penyedia Jasa. penyerahan lahan. Dapat saja nilai kontrak dalam 2 ( dua ) atau lebih mata uang. Bentuk Kontrak yang Dipakai Dijelaskan apakah Fixed Lump Sum atau Unit Price sekalian diberikan arti/batasannya untuk menghindarkan sengketa dikemudian hari. dan seterusnya.Nilai Kontak Dicantumkan besarnya nilai kontrak dalam angka dan huruf dan dalam mata uang tertentu ( Rp/US$ ). Pengertia-pengertian seperti Pekerjaan. Jangka Waktu Pelaksanaan Sebutkan dalam angka dan huruf dan arti hari ( hari kerja atau hari kalender ) dan sebutkan waktu tersebut sejak kejadian apa ( penerbitan Surat Perintah Kerja/penandatnganan Kontrak. Pemasok. Definisi dan Interpretasi Pasal ini memuat defenisi/penafsiran dari kata-kata/istilah yang dipakai dalam Syarat-syarat Kontrak khususnya dan Dokumen Kontrak umumnya. Jelaskan pula nilai kontrak tersebut apa sudah termasuk Jasa Kontraktor dan atau pajak-pajak dan ditetapkan nilai tukar mata uang asing terhadap rupiah. Lapangan. Gambar-gambar. Para Pihak . dan sebagainya ). Bill of Quantity. Untuk memudahkan pencarian. Perkataan “hari” apa berarti hari kerja atau hari takwim/kalender. Prioritas Dokumen Sebutkan dengan jelas urutan prioritas keberlakuan dokumen kontrak. penyampaian Jaminan Pelaksana. arti kata-kata/istilah tersebut dapat disusun menurut abjad. misalnya: mulai dari yang paling tinggi prioritasnya Perjanjian/Kontrak. Syarat-syarat Kontrak. Proyek. Syarat-syarat Umum Kontrak. Surat Penawaran. 29/2000 Pasal 23 Syarat-syarat kontrak sekurang-kurangnya harus memuat uraian berikut karena merupakan salah satu dokumen kontrak yang terpenting. ditulis tebal. Spesifikasi Teknis. dan diberi tanda kutip untuk membedakannya dengan arti yang dikenal sehari-hari.

dan sebagainya ). Dijelaskan pula apa saja yang sudah termasuk dalam besaran tersebut ( keuntungan Pengguna Jasa. dan sebagainya. Jaminan Masa Perawatan atau Cacat. Jangka Waktu Pelaksanaan dan Perpanjangannya Disebut dalam “hari” ( angka dan huruf ). dan ASTEK Kegagalan Bangunan. Kemungkinan nilai pekerjaan ditetapkan dalam lebih dari satu mata uang misalnya Rupiah dan US Dollar/Japanese Yen. Jaminan Yang dimaksud disini diantaranya adalah Jaminan Pelaksanaan. Volume atau besaran pekerjaan tercantum dalam Rencana Anggaran (Bill of Quantity) yang merupakan bagian penawaran. . Pajak-pajak. dan sebagainya ). Yang penting disebut disini terhitung sejak kapan ( penandatanganan kontrak. ASKES. tanggal penyerahan lahan. Tenaga Ahli Disebutkan persyaratan kualifikasi. Syarat-syarat yang harus dipenuhi harus jelas. Jaminan Pembayaran. Jaminan Uang Muka. Nilai Pekerjaan/Harga Borongan Ditulis dalam angka dan huruf dan sebaiknya ditebalkan. dan jumlahnya. Pertanggungan ( Asuransi ) Yang dimaksud disini adalah jenis-jenis asuransi seperti Contractor’s All Risk ( CAR ). Nama Wakil/Kuasa badan usaha sesuai akta atau sertifikat keahlian kerja dan sertifikat keterampilan kerja bagi usaha perseorangan harus dicantumkan. Sebutkan pula sekiranya ada akibat fluktuasi harga ( akibat tindakan moneter Pemerintah ).Disini harus disebutkan akta pendirian badan usaha/uasaha perseorangan beserta tempat kedudukannya. prosedur penerimaan/pemberhentian. Masing-masing pihak dapat disebut Pihak Kesatu dan Pihak Kedua atau Pengguna Jasa dan Penyedia Jasa atau nama perusahaan masing-masing pihak. Apabila ada perpanjangan waktu pelaksanaan. Third Party Liability ( TPL ). tanggal Surat Perintah Kerja. Siapa yang membayar premi dan ketentuan-ketentuan lain. penyerahan jaminan. Harus dijelaskan siapa penerima manfaat ( Beneficiary ). Rumusan Pekerjaan Yang dimaksud disini adalah lingkup pekerjaan pokok yang diperjanjikan.

Usahakan agar terdapat keadilan dan kesetaraan sebagaimana diuraikan dalam UU No. Dalam pasal ini diuraikan lamanya ( rentang waktu ) masa tersebut. Bila ternyata sudah mencapai tingkat “penyelesaian praktis” ( practical completion ) maka Pengguna Jasa harus menerbitkan Berita Acara Serah Terima Pertama Pekerjaan ( Certificate of Practical Completion ) disertai satu Daftar Pekerjaan Cacat ( Punch List ) yang harus disempurnakan selama Masa Perawatan atas Cacat. berakhirnya masa Jaminan atas Cacat cukup manjadi bukti bahwa Penyedia Jasa telah melaksanakan seluruh kewajibannya sesuai kontrak.Hak dan Kewajiban Para Pihak Disini diuraikan hak dan kewajiban Penyedia Jasa serta hak dan kewajiban Pengguna Jasa. Ganti Rugi Keterlibatan ( Liqidated Damages ) Pasal ini menguraikan tentang kewajiban Penyedia Jasa membayar ganti rugi kepada Pengguna Jasa akibat keterlambatan penyelesaian pekerjaan yang menyebabkan kerugian pada Pengguna Jasa. Ditetapkan pula periode/masa untuk membayar ( period of bonouring the payment certificate ). pekerjaan yang harus dilakukan selama masa tersebut beserta sanksi apabila pekerjaan tersebut lalai dilaksanakan ( Pekerjaan diserahkan ke pihak ketiga atas tanggungan Penyedia Jasa ). Dijelaskan pula bila ada ganti rugi atas keterlambatan ( Liquidated Damages ). sedangkan yang sesungguhnya dimaksudkan disini adalah kewajiban Penyedia Jasa untuk menjamin pekerjaan-pekerjaan yang cacat atau kurang sempurna dalam kurun waktu tertentu. Penyerahan Pekerjaan/Serah Terima Pekerjaan Diatur tata cara/prosedur pengajuan permohonan penyerahan pekerjaan yang dilanjutkan dengan pemeriksaan hasil pekerjaan. Juga dapat disebutkan seandainya Pengguna Jasa lalai menerbitkan Berita Acara Serah terima Terakhir Pekerjaan. Juga diuraikan langkah-langkah selanjutnya setelah masa ini berakhir. Cara Pembayaran Dijelaskan prosedur permintaan pembayaran. Masa Pertanggungan atas Cacar ( Defect Liability Period ) Istilah ini dipakai sebagai pengganti Masa Pemeliharaan ( Maintenance Period ) yang dinilai kurang tepat karena proses pemeliharaan akan berjalan terus sepanjang fasilitas yang dibangun masih ada. dipakai istilah yang lebih tepat: Masa Jaminan/Tanggung Jawab atas Cacat. Oleh karena itu. evaluasi/pemeriksaan hasil pekerjaa. 18/1999 Pasal 2 dan Pasal 3. . yaitu menerbitkan Berita Acara Penyerahan Terakhir Pekerjaan. penerbitan sertifikat pembayaran.

Setelah itu. 18/1999 maupun PP No. menunda pelaksanaan. Pekerjaan Tambah/Kurang ( Perubahan Pekerjaan ) Pertama-tama harus dijelaskan dulu apa arti Pekerjaan Tambah dan Pekerjaan Kurang. tidak melaksanakan Industri Pemberi tugas. 29/2000 tidak mengatur secara rinci mengenai Pekerjaan Tambah/Kurang ini.Kontrak-kontrak terdahulu menggunakan istilah denda. padahal sebagaimana diketahui di dalam suatu kegiatan usaha jasa konstruksi kedua hal ini hampir selalu terjadi dan hampir tidak mungkin dihindari. Perbedaannya adalah kalau denda. Ditetapkan hal-hal kondisi dimana Penyedia Jasa dapat dikategorikan telah melakukan tindakan cedera janji seperti: tidak menyelesaikan tugas. menunda pelaksanaan. . Disebutkan pula kompensasi yang akan diperoleh pihak yang dirugikan akibat terjadi cedera janji. 18 Pasal 15 ). tetap saja dikenakan. Menarik untuk diperhatikan bahwa peraturan perundang-undangan mengenai Industri Jasa konstruksi baik UU No. tidak menyerahkan hasil pekerjaan. Diatur pula tata cara pembayaran Pekerjaan Tambah atau pengurangan pembayaran atas Pekerjaan Kurang. misalnya pekerjaan tambah untuk beton dimana Concrete Batching Plant beserta Tower Crane sudah dibongkar sehingga harus dilakukan remobilisasi alat-alat tersebut atau menggunakan metode lain ( Ready Mix concrete ) yang mungkin harganya tidak sesuai lagi dengan harga yang terdapat dalam kontrak. kuantitas. Cedera Janji Ditetapkan hal-hal kondisi dimana Penyedia Jasa dapat dikategorikan telah melakukan tindakan cedera janji seperti: tidak menyelesaikan tugas. 29/2000 Pasal 29 ayat 3. Selain itu diatur pula ketentuan mengenai suatu Pekerjaan Tambah yang jenisnya sama dengan yang tercantum dalam kontrak namun tidak dapat dilaksanakan dengan cara dan kondisi yang sama. tidak memenuhi mutu. Pengguna Jasa juga dapat dikategorikan telah melakukan tindakan cedera janji bila tidak membayar tepat waktu dan tepat jumlah sebagaimana diamanatkan PP No. Disebutkan pula bahwa Pekerjaan Tambah memberi hak kepada Penyedia Jasa untuk mendapatkan tambahan waktu pelaksanaan apabila memenuhi persyaratan. misalnya setelah ada perintah tertulis/pengesahan tertulis setelah ada perintah bisa dalam waktu tertentu. tetapkan tata cara pelaksanaannya. Dalam pasal ini disebutkan besarnya ganti rugi per hari dalam persentase dan nilai maksimum. tidak melaksanakan instruksi Pemberi Tugas. kuantitas. Tentu saja pengenaan ganti rugi ini ada syarat-syaratnya termasuk tata cara pemotongan dari pembayaran. tidak menyerahkan hasil pekerjaan. tidak memenuhi mutu. tidak membayar karena tidak ada dana ( UU No. tidak peduli apakah keterlambatan tersebut mengakibatkan kerugian atau tidak. tidak menyerahkan lahan sesuai ketentuan kontrak.

Pelimpahan Pekerjaan Yang dimaksudkan disini adalah pelimpahan pekerjaan dari Penyedia Jasa yang telah mendapatkan pekerjaan/memenangkan tender kepada Pihak Ketiga. tidak menyerahkan lahan sesuai ketentuan kontrak. Arti Pengawas sudah didefenisikan dan penunjukan itu diberitahukan tertulis kepada Penyedia Jasa menempatkan seorang Pelaksana yang berkuasa penuh untuk menerima instruksi pengawas disertai kualifikasi dan Hak Pengguna Jasa untuk mengganti Pelaksana bila terbukti tidak cakap. Bengkel . Pengawas. 18 Pasal 15 ). Disyaratkan pula bahwa Penyedia Jasa lain tersebut tidak boleh sampai mengganggu kelancaran pekerjaan Penyedia Jasa. Penyerahan sebagian boleh dilakukan dengan izin tertulis dari Pengguna Jasa. Disini yang perlu diatur adalah kesediaan Penyedia Jasa untuk bekerja sama. Hal yang perlu juga disebut disini adalah bahwa pelimpahan bagian pekerjaan yang diserahkan kepada pihak ketiga tidak membebaskan Penyedia Jasa dari tanggung jawab terhadap pekerjaan yang dilimpahkan tersebut. tidak membayar karena tidak ada dana ( UU No. Bahkan biasanya Penyedia Jasalah yang diminta Pengguna Jasa menjadi Koordinator. Tempat Penyimpanan. Biasanya Pengguna Jasa berkeberatan apabila keseluruhan pekerjaan diserahkan kepada pihak ketiga. Jadi dalam pasal ini disebut bahwa pekerjaan tidak boleh diserahkan secara keseluruhan kepada pihak ketiga. Disebutkan pula kompensasi yang akan diperoleh pihak yang dirugikan akibat terjadi cedera janji ini. Kemudahan Memasuki Lapangan. Penyedia Jasa Lain Yang dimaksudkn disini adalah Penyedia Jasa lain yang dipekerjakan Pengguna Jasa untuk suatu pekerjaan lain tetapi lokasinya sama atau berdekatan dengan lokasi pekerjaan yang kita bicarakan. Pelaksana Pekerjaan Dalam pasal ini diatur pula penunjukan “pengawas” sebagai kuasa dari Pengguna Jasa. Biaya gambar ditanggung Penyedia Jasa.Pengguna Jasa juga dapat dikategorikan telah melakukan tindakan cedera janji bila tidak membayar tepat waktu dan tepat jumlah sebagaimana diamanatkan PP No. Gambar Kerja Dijelaskan bahwa Gambar-gambar kerja harus dibuat Penyedia Jasa berdasarkan gambar kontrak dan harus disetujui lebih dahulu oleh Pengguna Jasa sebelum dilaksanakan. kecuali hanya sebagian saja dan tertulis. 29/2000 Pasal 29 ayat 3.

Perlindungan Kerja Ditetapkan persyaratan-persyaratan untuk melindungi pekerja beserta jaminan sosial dan kesejahteraannya sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kegagalan Bangunan Ditetapkan jangka waktu tanggung jawab atas Kegagalan Bnagunan sesuai UU No. Laporan/Dokumentasi Ditetapkan kewajiban kepada Penyedia Jasa untuk membuat laporan berkala mengenai kemajuan pekerjaan. Peralatan dan Tenaga Kerja Diuraikan kewajiban Penyedia Jasa untuk menyediakan bahan. bahan persediaan. Apa yang menjadi hak para pihak apabila hal ini terjadi. 18 Pasal 25 dan PP No. 29/2000 Pasal 34 s/d 39 termasuk bentuk tanggung jawab puhak yang menyebabkan Kegagalan Bangunan tersebut. Harus diingat bahwa hal ini sama sekali bukan berarti pemutusan kontrak walaupun akibatnya sama. tempat penyimpanan bahan untuk Penyedia Jasa dan para Sub Penyedia Jasa. Penghentian sementara Pekerjaan Disini diatur ketentuan mengenai penundaan/penghentian sementara pekerjaan baik yang dilakukan oleh Pengguna Jasa maupun Penyedia Jasa. yaitu kegiatan proyek terhenti. dan jumlah tenaga kerja.Penyedia Jasa harus menjamin kemudahan Pengguna Jasa untuk setiap saat memasuki lapangan pekerjaan. Kemajuan pekerjaan direkam melalui foto dokumentasi. peralatan alat bantu dan tenaga kerja yang diperlukan untuk proyek ini. Pemutusan perjanjian/Pembatalan Kontrak . Pemeriksaan dan Pengujian Diatur tata cara pemeriksaan dan pengujian hasil pekerjaan beserta konsekuensi yang timbul serta penetapan biayanya. bengkel ( workshop ). peralatan. Bahan. Bagaimana tata cara pemberitahuan serta konsekuensi terhadap kelangsungan pekerjaan. Keadaan Memaksa ( Force Majeur ) Dalam pasal ini ditetapkan apa saja yang dapat disebut/digolongkan force majeur dan risiko lain yang dapat disamakan dengan force majeur.

3. Jika tidak. Hukum yang Berlaku Hukum yang berlaku di Indonesia adalah hukum yang berlaku di wilayah RI sesuai ketentuan tercantum dalam PP No. jenis. Insentif Diatur ketentuan dan persyaratan mengenai pemberian insentif dan benuk insentif Sub Penyedia Jasa/Pemasok Diatur tata cara pengajuan Sub Penyedia Jasa dan Pemasok beserta peranannya.Pertama-tama harus dikemsampingkan dulu berlakunya Pasal 1266 KUHPPer. Juga diatur tanggung jawab Penyedia Jasa sehubungan penggunaan Sub Penyedia Jasa/Pemasok dan hak intervensi Pengguna Jasa dalam hal pembayaran dan penampilan mutu pekerjaan/bahan. IV. Kemudian diatur hak Pengguna Jasa atau Penyedia Jasa untuk memutuskan kontrak secara sepihak berdasarkan hal-hal yang ditetapkan beserta akibat dari pemutusan kontrak ini. . Hak Atas Kekayaan Intelektual Diatur mengenai kepemilikan hasil perencanaan berdasarkan kesepakatan dan pencantuman kewajiban terhadap hak cipta yang telah memiliki hak paten sesuai undang-undang hak cipta dan hak paten. Hal ini sering dilupakan. 29 ayat 5 walaupun kemungkinan kontrak menggunakan 2. tingkat teknologi tertentu yang biasa disebut sebagai Spesial Conditions of Contract atau Conditions of Contract ( Particulars ). pembatalan kontrak hanya dapat dilakukan melalui keputusan pengadilan. BEBERAPA PETUNJUK MENYUSUN KONTRAK 1. Syarat-syarat Khusus Kontrak Disini diatur Syarat-syarat yang khusus hanya berlaku untuk pekerjaan tertentu berdasarkan sifat. Bahasa Kontrak Ditetapkan hanya satu bahasa yang berlaku sesuai ketentuan tercantum dalam PP No. Gunakan kalimat-kalimat pendek yang pengertiannya jelas dan tegas dan tidak dapat diartikan lain. Secara umum kontrak konstruksi harus mengacu kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku. istilah-istilah yang dipakai dalam kontrak kecuali artinya memang sudah jelas. 29 ayat 6. harus diberi defenisi agar artinya tidak rancu. antara lain: 2.

ringkas/singkat. dan mengecewakan yang apabila dianalogikan bagaikan menyeberangi rawa. perusahaan. Gilbreath dalam bukunya “Managing Construction Contracts” mengenai “Language Consideration” pada halaman 80-82 yang telah diterjemahkan sebagai berikut : V. Pilihan mengenai penyelesaian sengketa harus tegas dicantumkan dalam kontrak sesuai ketentuan UU No. Hindari penyusunan kata-kata muluk seperti “pihak dari bagian pertama. Sebut sekali. sebutkan hal tersebut dimana harus disebut. satu dan hanya satu istilah yang harus dipakai. tersebut ( seperti dalam pihak tersebut harus … ). pembenli. 2. Di samping hal-hal tersebut. berikut ini disampaikan beberapa petunjuk yang ditulis oleh Robert D. Dalam seluruh dokumen. “beberapa” harus dihindari. 29/2000 Pasal 49. Sama halnya dengan istilah-istilah Gambargambar Rencana. dan wakil perusahaan. 3. Hindari “keabsahan” kecuali bila mutlak diperlukan untuk kejernihan arti. Dimulai dengan perjanjian. 3. . Penggunaan kata-kata seperti “dan lain-lain”. pada waktu mana dan atas pemberitahuan tersebut. – Menunjuk suatu Pasal atau ayat lain dalam kontrak juga harus tertib. sesuai Peraturan Pemerintah No. PERTIMBANGAN-PERTIMBANGAN BAHASA Bahasa kontrak sangat membingungkan. 50. Jika permintaan yang sama dinyatakan di beberapa tempat di antara . Urut-urutan kedudukan dokumen kontrak harus jelas agar tidak muncul kerancuan. Bahasa kontrak dan hukum yang berlaku harus secara tegas disebut dalam kontrak. 1. Gambar-gambar kerja dan seterusnya. 18/1999 Pasal 36 dan 37 dan Peraturan Pemerintah No. tersebut di muka dan dengan ini. Gambar-gambar kontraktor. dan harus digunakan sebagaimana mestinya. tidak harus dipakai untuk maksud yang sama. 29 Pasal 23 ayat 5 dan ayat 6. penjual dan leveransir untuk digunakan sebagai pengganti masing-masing wakil Pengguna Jasa dan Penyedia Jasa. karena tidak memberi arti yang pasti. Setiap istilah mempunyai defenisi. 2. arti kontraktual. Pedoman-pedoman berikut diberikan sebagai pengganti risalah rinci pada penulisan kontrak: 1. pemasok. mengenai hak-hak kewajiban dan tanggung jawab dari seseorang ditugaskan usaha tersebut”. kemudian Pasalnya dan baru ayat dan sub ayat ( bila ada ). Hindari keinginan untuk mengulangi permintaan.Apabila menyebut salah satu ayat dalam pasal yang sama sebaiknya disebut : Sesuai ketentuan ayat … Pasal ini ( tidak perlu menyebut “Perjanjian” ). 1. dan langsung. 51.Kata-kata/ungkapan yang didefenisikan sebaiknya dicetak tebal dan diberi tanda kutip. “dan sebagainya”. Walaupun seseorang sering memandang pemilik. membosankan. atau kontraktor. Kontrak-kontrak konstruksi dan dokumen penawaran dimaksudkan untuk meneruskan informasi yang tepat kepada orang yang harus bertindak dan tindakan itu mengakibatkan hasil yang nyata yang sangat sukar untuk diubah. Pertukaran judul-judul atau istilah-istilah harus dihindari. hal ini harus dihindari. Bahasa kontrak dan bahasa spesifikasi harus jelas. 2. buang huruf seperti selanjutnya. 4. ketidakjelasan atau pertentangan antara sesama dokumen kontrak.

Antisipasi permasalahan-permasalahan. Gunakan setiap dokumen untuk tujuan yang dimaksud. Hal ini membantu menjelaskan lingkup pekerjaan dan tanggung jawab yang ditugaskan. Jangan menempatkan ketentuanketentuan teknis dalam Syarat-syarat Umum atau istilah-istilah dagang dalam Spesifikasi Teknis atau dalam Gambar-gambar. dokumen-dokumen.4. 6. Gunakan kata “will” bila menerangkan kegiatan Pengguna Jasa atau pihak lain. penafsiran hukum. 7. praktek industri dan pilihan organisasi. Tinjau dan perbarui standar dan atau pasal-pasal rujukan dan dokumen-dokumen secara berkala untuk mencerminkan kebutuhan perubahan. salah pengertian-pengertian. di samping mengganggu pembaca. Pertimbangkan penggunaan kata “shall” untuk menyatakan tindakan yang diminta atau dihasilkan Penyedia Jasa. memastikan anda menemukan rujukannya dan masing-masing mengundang resiko dan usaha yang tidak perlu. 8. keperluan pemerintah. . Jangan gunakan dokumen yang telah berumur 20 tahun walaupun “kelihatannya berjalan baik waktu yang lalu”. 5. Jika anda ingin sesuatu nyatakanlah dalam Dokumen Penawaran dan dokumen kontrak. Masukkan ke dalam kontrak! Para Penyedia Jasa tidak dapat diharapkan untuk membaca pikiran atau mengantisipasi dan menyediakan permintaan khusus Pengguna Jasa. dan perubahan lingkup pekerjaan dan lengkapi hal-hal ini dalam dokumen kontrak. mengganti permintaan tersebut.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful