P. 1
Deddy Kusbianto 2010, Analisis Dan Perancangan Sistem Informasi STMIK Yadika, Bangil

Deddy Kusbianto 2010, Analisis Dan Perancangan Sistem Informasi STMIK Yadika, Bangil

|Views: 4,839|Likes:
Published by princess_wda
Modul Analisis dan Perancangan Sistem By Mr. Deddy Kusbianto
Modul Analisis dan Perancangan Sistem By Mr. Deddy Kusbianto

More info:

Published by: princess_wda on Mar 16, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/24/2015

pdf

text

original

Analisis Dan Perancangan Sistem Informasi

Deddy Kusbianto

Buku ini dirancang dengan format standar sesederhana mungkin agar enak dibaca dan mudah dipahami Dalam buku ini berisi modul-modul yang dapat digunakan sebagai bahan mengajar maupun dipakai sebagai acuan belajar mandiri Materi yang disajikan dalam buku ini adalah : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Pengertian Sistem dan Analis Sistem Analisis Sistem Desain Sistem Secara Umum Pendekatan Perancangan Terstruktur Desain Sistem Terinci – Input Output Desain Proses Desain Basis Data Desain Perangkat – Jaringan dan Pengendalian Perancangan Berorientasi Obyek Unified Modeling Language

Deddy Kusbianto adalah Dosen Pemegang Sertifikat Kompetensi Internasional bidang Training dan Asesmen, serta berpengalaman mengajar sejak tahun 1986

c) 2010 : STMIK Yadika Bangil

Daftar Isi
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Pengertian Sistem dan Analis Sistem Analisis Sistem Desain Sistem Secara Umum Pendekatan Perancangan Terstruktur Desain Sistem Terinci – Input Output Desain Proses Desain Basis Data Desain Perangkat – Jaringan dan Pengendalian Perancangan Berorientasi Obyek 1 17 27 43 57 70 79 92 104 116

10. Unified Modeling Language

Pengantar
Alhamdulillahi Robbil Alamin. Sholawat serta salam kusampaikan pada junjunganku Nabi Besar Baginda Rosululloh Muhammad saw. Semoga buku ini menjadi amal jariyah bagiku dan bagi STMIK Yadika Bangil yang menerbitkannya, serta menjadi ilmu yang bermanfaat bagi yang membacanya, amiin. Terimakasih kupersembahkan bagi istriku tercinta Puji Untariani, serta anakku Aji Okta Silamufar, Fariz Novanjaya Silmaufar, dan Sigit Ahmadi Silmaufar Buku ini kutulis berdasarkan pengalamanku mengajar sejak 1986, serta kusesuaikan dengan kaidah standar internasional bidang pengajaran dan asesmen, sehingga buku ini dibagi-bagi dalam bentuk modul-modul agar sesuai dengan sesi jadwal perkuliahan, diawali dengan capaian pembelajaran untuk memulai dengan kesepakatan pembelajaran di setiap awal sesi perkuliahan, dan ditutup dengan evaluasi untuk mendapatkan umpan balik tingkat keberhasilan pembelajaran di setiap akhir sesi perkuliahan. Buku ini hanyalah merupakan kumpulan modul yang relatif singkat, oleh karena itu di setiap modul selalu dilengkapi dengan daftar pustaka sebagai acuan pelengkap untuk pemahaman yang lebih mendalam. Selamat Belajar. Wassalammu

Deddy Kusbianto

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

MODUL 1 PENGERTIAN SISTEM DAN ANALIS SISTEM
MATERI 1. Definisi Sistem 2. Karakteristik Sistem 3. Klasifikasi Sistem 4. Pengertian Pengembangan Sistem 5. Siklus Hidup Pengembangan Sistem 6. Pendekatan Pengembangan Sistem 7. Metodologi Pengembangan Sistem 8. Alat dan Teknik Pengembangan Sistem 9. Fungsi Analis Sistem STANDAR KOMPETENSI Memahami Konsep Sistem Informasi, dan Konsep Pengembangan Sistem CAPAIAN PEMBELAJARAN 1. Mahasiswa akan memahami konsep sistem dan pengertian pengembangan sistem. 2. Mahasiswa mampu menyebutkan karakteristik sistem. 3. Mahasiswa mampu menyebutkan sistem berdasarkan klasifikasi tertentu. 4. Mahasiswa mengetahui siapa saja yang akan terlibat dalam pengembangan sistem

1. Definisi Sistem
Terdapat dua kelompok pendekatan didalam mendefinisikan sistem, yaitu yang menekankan pada prosedurnya dan yang menekankan pada komponen atau elemennya. Pendekatan sistem yang lebih menekankan pada prosedur mendefinisikan sistem sebagai berikut ini : Suatu sistem adalah suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan atau untuk menyelesaikan suatu sasaran yang tertentu Menurut Jerry Fitzgerald, Ardra F. Fitzgerald dan Warren D. Stallings, Jr., mendefinisikan prosedur sebagai berikut : Suatu prosedur adalah urut-urutan yang tepat dari tahapan-tahapan instruksi yang menerangkan Apa (What) yang harus dikerjakan, Siapa (Who) yang mengerjakannya, Kapan (When) dikerjakan dan Bagaimana (How) mengerjakannya

Modul 1 : Pengertian Sistem dan Analis Sistem, halaman :

1

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

Pendekatan sistem yang lebih menekankan pada elemen atau komponennya mendefiniskan sistem sebagai berikut ini : Sistem adalah kumpulan dari elemen-elemen yang berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan tertentu Kedua kelompok definisi tersebut adalah benar dan tidak bertentangan, yang berbeda adalah cara pendekatannya. Pendekatan sistem yang merupakan kumpulan elemen-elemen atau komponen-komponen atau subsistem-subsistem merupakan definisi yang lebih luas. Definisi ini lebih banyak diterima, karena kenyataannya suatu sistem dapat terdiri dari beberapa subsistem atau sistem bagian. Sebagai misal, sistem akuntansi dapat terdiri dari beberapa subsistemsubsistem, yaitu subsistem akuntansi penjualan, subsistem akuntansi pembelian, subsistem akuntansi penggajian, subsistem akuntansi biaya dan lain sebagainya.

2. Karakteristik Sistem
Karakteristik sistem dapat digambarkan sebagai berikut :

Komponen Sistem (Components) Suatu sistem terdiri dari sejumlah komponen yang saling berinteraksi, yang artinya saling bekerja sama membentuk satu kesatuan. Komponen-komponen sistem atau elemen-elemen sistem dapat berupa suatu subsistem atau bagianbagian dari sistem. Setiap sistem tidak perduli betapapun kecilnya, selalu mengandung komponen-komponen atau subsistem-subsistem. Setiap subsistem mempunyai sifat-sifat dari sistem untuk menjalankan suatu fungsi tertentu dan mempengaruhi proses sistem secara keseluruhan. Jadi, dapat dibayangkan jika dalam suatu sistem ada subsistem yang tidak berjalan/berfungsi sebagaimana mestinya. Tentunya sistem tersebut tidak akan berjalan mulus atau mungkin juga sistem tersebut rusak sehingga dengan sendirinya tujuan sistem tersebut tidak tercapai.

Modul 1 : Pengertian Sistem dan Analis Sistem, halaman :

2

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

Batas Sistem (Boundary) Batas sistem (boundary) merupakan daerah yang membatasi antara suatu sistem dengan sistem yang lainnya atau dengan lingkungan luarnya. Batas sistem ini memungkinkan suatu sistem dipandang sebagai satu kesatuan. Batas suatu sistem menunjukkan ruang lingkup (scope) dari sistem tersebut.  Lingkungan Luar Sistem (Environments) Lingkungan luar dari suatu sistem adalah apapun diluar batas dari sistem yang mempengaruhi operasi sistem. Lingkungan luar sistem dapat bersifat menguntungkan dan dapat juga bersifat merugikan sistem tersebut. Lingkungan luar yang menguntungkan merupakan energi dari sistem dan dengan demikian harus tetap dijaga dan dipelihara. Sedang lingkungan luar yang merugikan harus ditahan dan dikendalikan, kalau tidak maka akan menggangu kelangsungan hidup dari sistem.

Penghubung (Interface) Sistem Penghubung sistem merupakan media penghubung antara satu subsistem dengan subsistem lainnya. Melalui penghubung ini memungkinkan sumbersumber daya mengalir dari satu subsistem ke yang lainnya. Keluaran (output) dari satu subsistem akan menjadi masukan (input) untuk subsistem lainnya dengan melalui penghubung. Dengan penghubung satu subsistem dapat berintegrasi dengan subsistem yang lainnya membentuk satu kesatuan. Masukan (Input) Sistem Masukan sistem adalah energi yang dimasukkan ke dalam sistem. Masukan dapat berupa masukan perawatan (maintenance input) dan masukan sinyal (signal input). masukan perawatan adalah energi yang dimasukkan supaya sistem tersebut dapat beroperasi. masukan sinyal adalah energi yang diproses untuk didapatkan keluaran.  Keluaran (Output) Sistem Keluaran sistem adalah hasil dari energi yang diolah dan diklasifikasikan menjadi keluaran yang berguna dan sisa pembuangan. Keluaran dapat merupakan masukan untuk subsistem yang lain atau kepada supersistem. Pengolah (Process) Sistem Suatu sistem dapat mempunyai suatu bagian pengolah yang akan merubah masukan menjadi keluaran. Sasaran (Objectives) atau Tujuan (Goal) Suatu sistem pasti mempunyai tujuan atau sasaran. Kalau suatu sistem tidak mempnyai sasaran, maka operasi sistem tidak akan ada gunanya. Sasaran dari sistem sangat menentukan sekali masukan yang dibutuhkan sistem dan keluaran yang akan dihasilkan sistem. Suatu sistem dikatakan berhasil bila mampu mencapai sasaran atau tujuannya.
Modul 1 : Pengertian Sistem dan Analis Sistem, halaman :

3

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

Perbedaan suatu sasaran (objectives) dan suatu tujuan (goal) adalah, goal biasanya dihubungkan dengan ruang lingkup yang lebih luas dan sasaran dalam ruang lingkup yang lebih sempit. Bila merupakan suatu sistem utama, seperti misalnya sistem bisnis perusahaan, maka istilah tujuan lebih tepat diterapkan. Untuk sistem akuntansi atau sistem-sistem lainnya yang merupakan bagian atau subsistem dari sistem bisnis, maka istilah sasaran yang lebih tepat. Jadi tergantung dari ruang lingkup mana memandang sistem tersebut.

3. Klasifikasi Sistem
Sistem dapat diklasifikasikan dari beberapa sudut pandang, diantaranya sebagai berikut ini :  Sistem diklasifikasikan sebagai sistem abstrak (abstract system) dan sistem fisik (physical system). Sistem abstrak adalah sistem yang berupa pemikiran atau ide-ide yang tidak tampak secara fisik. Misalnya sistem teologia, Sedangkan sistem fisik merupakan sistem yang ada secara fisik. Misalnya sistem komputer, sistem produksi dan sebagainya.  Sistem diklasifikasikan sebagai sistem alamiah (natural system) dan sistem buatan manusia (human made system) Sistem alamiah adalah sistem yang terjadi melalui proses alam, tidak dibuat manusia. Misalnya sistem perputaran bumi. Sistem buatan manusia adalah sistem yang dirancang oleh manusia. Sistem buatan manusia yang melibatkan interaksi antara manusia dengan mesin disebut dengan human-machine system atau ada yang menyebut dengan man-machine system. Sistem informasi adalah salah satu contoh man-machine system, karena menyangkut penggunaan komputer yang berinteraksi dengan manusia.  Sistem diklasifikasikan sebagai sistem tertentu (deterministic system) dan sistem tak tentu (probabilistic system) Sistem tertentu beroperasi dengan tingkah laku yang sudah dapat diprediksi. Interaksi diantara bagianbagiannya dapat dideteksi dengan pasti, sehingga keluaran dari sistem dapat diramalkan. Sistem komputer adalah contoh dari sistem tertentu yang tingkah lakunya dapat dipastikan berdasarkan programprogram yang dijalankan. Sistem tak tentu adalah sistem yang kondisi masa depannya tidak dapat diprediksi karena mengandung unsur probabilitas.  Sistem diklasifikasikan sebagai sistem tertutup (closed system) dan sistem terbuka (open system) Sistem tertutup merupakan sistem yang tidak berhubungan dan tidak terpengaruh dengan lingkungan luarnya. Sistem ini bekerja secara otomatis tanpa adanya turut campur tangan dari pihak diluarnya. Secara teoritis sistem tertutup ini ada, tetapi kenyataannya hanyalah relatively closed system (secara relatif tertutup). Sistem terbuka adalah sistem yang berhubungan dan terpengaruh dengan lingkungan luarnya. Karena sistem sifatnya terbuka dan terpengaruh oleh lingkungan luarnya, maka suatu sistem terbuka harus mempunyai sistem pengendalian yang baik.

Modul 1 : Pengertian Sistem dan Analis Sistem, halaman :

4

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

4. Pengertian Pengembangan Sistem
Pengembangan sistem (systems development) dapat berarti menyusun suatu sistem yang baru untuk menggantikan sistem yang lama secara keseluruhan atau memperbaiki sistem yang telah ada. Sistem yang lama perlu diperbaiki atau diganti disebabkan karena beberapa hal, yaitu sebagai berikut ini :  Adanya permasalahan-permasalahan (problems) Adanya permasalahan-permasalahan (problems) yang timbul di sistem yang lama yang dapat berupa : o Ketidakberesan Ketidakberesan dalam sistem yang lama menyebabkan sistem yang lama tidak dapat beroperasi sesuai dengan yang diharapkan. Ketidakberesan ini dapat berupa :  kecurangan-kecurangan disengaja yang menyebabkan tidak amannya harta kekayaan perusahaan dan kebenaran dari data menjadi kurang terjamin;  kesalahan-kesalahan yang tidak disengaja yang juga dapat menyebabkan kebenaran dari data kurang terjamin;  tidak efisiennya operasi;  tidak ditaatinya kebijaksanaan manajemen yang telah ditetapkan. o Pertumbuhan organisasi Pertumbuhan organisasi yang menyebabkan harus disusunnya sistem yang baru. Pertumbuhan organisasi diantaranya adalah kebutuhan informasi yang semakin luas, volume pengolahan data semakin meningkat, perubahan prinsip akuntansi yang baru. Karena adanya perubahan ini, maka menyebabkan sistem yang lama tidak efektif lagi, sehingga sistem yang lama sudah tidak dapat memenuhi lagi semua kebutuhan informasi yang dibutuhkan manajemen. Berikut ini dapat digunakan sebagai indikator adanya permasalahanpermasalahan dan kesempatan-kesempatan yang dapat diraih, sehingga menyebabkan sistem yang lama harus diperbaiki, ditingkatkan bahkan diganti keseluruhannya. Indikator-indikator ini diantaranya adalah sebagai berikut :  keluhan dari langganan;  pengiriman barang yang sering tertunda;  pembayaran gaji yang terlambat;  laporan yang tidak tepat waktunya;  isi laporan yang sering salah;  tanggung jawab yang tidak jelas;  waktu kerja yang berlebihan;  ketidakberesan kas;  produktifitas tenaga kerja yang rendah;  banyaknya pekerja yang menganggur;  kegiatan yang tumpang tindih;  tanggapan yang lambat terhadap langganan;
Modul 1 : Pengertian Sistem dan Analis Sistem, halaman :

5

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

            

kehilangan kesempatan kompetisi pasar; kesalahan-kesalahan manual yang tinggi; persediaan barang yang terlalu tinggi; pemesanan kembali barang yang tidak efisien; biaya operasi yang tinggi; file-file yang kurang teratur; keluhan dari supplier karena tertundanya pembayaran; bertumpuknya back-order (tertundanya pengiriman karena kurangnya persediaan barang); investasi yang tidak efisisen; peramalan penjualan dan produksi tidak tepat; kapasitas produksi yang menganggur (idle capasities); pekerjaan manajer yang terlalu teknis; dll

Untuk meraih kesempatan-kesempatan (opportunities) Teknologi informasi telah berkembang dengan cepatnya. Perangkat keras komputer, perangkat lunak dan teknologi komunikasi telah begitu cepat berkembang. Organisasi mulai merasakan bahwa teknologi informasi ini perlu digunakan untuk meningkatkan penyediaan informasi sehingga dapat mendukung dalam proses pengambilan keputusan yang akan dilakukan oleh manajemen. Dalam keadaaan pasar bersaing, kecepatan informasi atau efisiensi waktu sangat menentukan berhasil atau tidaknya strategi dan rencana-rencana yang telah disusun untuk meraih kesempatan-kesempatan yang ada. Bila pesaing dapat memanfaatkan teknologi ini, maka kesempatan-kesempatan akan jatuh ke tangan pesaing. Kesempatan-kesempatan ini dapat berupa peluangpeluang pasar, pelayanan yang meningkat kepada langganan dan lain sebagainya.

Dengan telah dikembangkannya sistem yang baru, maka diharapkan akan terjadi peningkatan-peningkatan di sistem yang baru. Peningkatan-peningkatan ini berhubungan dengan PIECES (merupakan singkatan untuk memudahkan mengingatnya), yaitu sebagai berikut : o Performance (kinerja), peningkatan terhadap kinerja (hasil kerja) sistem yang baru sehingga menjadi lebih efektif. Kinerja dapat diukur dari throughput dan response time. Throughput adalah jumlah dari pekerjaan yang dapat dilakukan suatu saat tertentu. Response time adalah rata-rata waktu yang tertunda diantara dua transaksi atau pekerjaan ditambah dengan waktu response untuk menanggapi pekerjaan tersebut. o Information (informasi), peningkatan terhadap kualitas informasi yang disajikan. o Economy (ekonomis), peningkatan terhadap manfaat-manfaat atau keuntungan-keuntungan atau penurunan-penurunan biaya yang terjadi. o Control (pengendalian), peningkatan terhadap pengendalian untuk mendeteksi dan memperbaiki kesalahan-kesalahan serta kecurangankecurangan yang dan akan terjadi.

Modul 1 : Pengertian Sistem dan Analis Sistem, halaman :

6

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

o Efficiency (efisiensi), peningkatan terhadap efisiensi operasi. Efisiensi dapat diukur dari outputnya dibagi dengan inputnya. o Services (pelayanan), peningkatan terhadap pelayanan yang diberikan oleh sistem.  Adanya instruksi-instruksi (directives) Penyusunan sistem yang baru dapat juga terjadi karena adanya instruksiinstruksi dari pimpinan ataupun dari luar organisasi, seperti misalnya peraturan pemerintah. Baik Pemerintah, organisasi maupun pimpinan akan memberikan instruksiinstruksi berdasarkan prinsip pengembangan sistem sebagai berikut : o Sistem yang dikembangkan adalah untuk manajemen o Sistem yang dikembangkan adalah investasi modal yang besar  Semua alternatif yang ada harus diinvestigasi  Investasi yang terbaik harus bernilai o Sistem yang dikembangkan memerlukan orang yang terdidik o Adanya tahapan kerja dan tugas-tugas yang harus dilakukan dalam proses pengembangan sistem o Proses pengembangan sistem tidak harus urut o Jangan takut membatalkan proyek o Dokumentasi harus ada untuk pedoman dalam pengembangan sistem

5. Siklus Hidup Pengembangan Sistem
Pengembangan sistem informasi yang berbasis komputer dapat merupakan tugas kompleks yang membutuhkan banyak sumber daya dan dapat memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk menyelesaikannya. Proses pengembangan sistem melewati beberapa tahapan dari mulai sistem itu direncanakan sampai dengan sistem tersebut diterapkan, dioperasikan dan dipelihara. Bila operasi sistem yang sudah dikembangkan masih timbul kembali permasalahan-permasalahan yang kritis serta tidak dapat diatasi dalam tahap pemeliharaan sistem, maka perlu dikembangkan kembali suatu sistem untuk mengatasinya dan proses ini kembali ke tahap yang pertama, yaitu tahap perencanaan sistem. Siklus ini disebut dengan siklus hidup suatu sistem (systems life cycle). Salah satu teori siklus pengembangan sistem yang ditulis oleh John Burch, Gary Grudnitski sebagai berikut : Kebijakan dan perencanaan sistem (system policy and planning). Sebelum suatu sistem informasi dikembangkan, umumnya terlebih dahulu dimulai dengan adanya suatu kebijakan dan perencanaan untuk mengembangkan sistem. Tanpa adanya perencanaan sistem yang baik, pengembangan sistem tidak dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. 

Modul 1 : Pengertian Sistem dan Analis Sistem, halaman :

7

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

Tanpa adanya kebijakan pengembangan sistem oleh manajemen puncak (top management), maka pengembangan sistem tidak akan mendapat dukungan dari manajemen puncak ini. Untuk itu manajemen puncak perlu dilengkapi dengan suatu tim penasehat yang disebut dengan komite pengarah (steering commitee) yang umumnya dibentuk dari wakil-wakil pimpinan dari masing-masing departemen pemakai sistem seperti misalnya manajer-manajer departemen atau manajer-manajer divisi. Seringkali komite ini diketuai sendiri oleh direktur utama. Tugas komite ini adalah sebagai berikut : o Mengkaji, menyetujui atau membuat rekomendasi yang berhubungan dengan perencanaan sistem, proyek-proyek sistem serta pengadaan perangkat keras, perangkat lunak dan fasilitas-fasilitas lainnya. o Mengkoordinasi pelaksanaan proyek sistem sesuai dengan rencananya. o Memonitor atau mengawasi kemajuan dari proyek sistem. o Menilai kinerja dari fungsi-fungsi sistem yang telah dikembangkan. o Memberikan saran-saran dan petunjuk-petunjuk terhadap proyek sistem yang sedang dikembangkan, terutama yang berhubungan dengan pencapaian sasaran sistem, sasaran perusahaan dan juga terhadap kendala-kendala yang dihadapi. Setelah manajemen puncak menetapkan kebijakan untuk mengembangkan sistem informasi, sebelum sistem ini sendiri dikembangkan, maka perlu direncanakan terlebih dahulu dengan cermat. Perencanaan sistem (systems planning) ini menyangkut estimasi dari kebutuhan-kebutuhan fisik, tenaga kerja dan dana yang dibutuhkan untuk mendukung pengembangan sistem ini serta untuk mendukung operasinya setelah diterapkan. Perencanaan sistem dapat terdiri dari perencanaan jangka pendek (shortrange) dan perencanaan jangka panjang (long-range). Perencanaan jangka pendek meliputi periode 1 sampai 2 tahun. Perencanaan jangka panjang melingkupi periode sampai dengan 5 tahun. Karena perkembangan teknologi komputer yang sangat cepat, maka perencanaan pengembangan system informasi untuk periode yang lebih dari 5 tahun sudah tidak tepat lagi.  Pengembangan sistem (system development) o Analisis sistem (system analysis) Penelitian atas sistem yang telah ada dengan tujuan untuk merancang system yang baru atau diperbarui o Desain sistem secara umum (general system design) Tujuan dari desain sistem secara umum adalah untuk memberikan gambaran secara umum kepada user tentang sistem yang baru. o Penilaian sistem (system evaluation) Hasil desain sistem secara umum tentunya harus menjadi pertimbangan pihak manajemen apakah melanjutkan pengembangan sistem yang baru berdasarkan gambaran desain sistem secara umum atau menolak rancangan baru tersebut.

Modul 1 : Pengertian Sistem dan Analis Sistem, halaman :

8

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

o Desain sistem terinci (detailed system design) Dengan memahami sistem yang ada dan persyaratan-persyaratan sistem baru, selanjutnya adalah penentuan proses dan data yang diperlukan oleh system baru. Jika sistem itu berbasis komputer, rancangan harus menyertakan spesifikasi jenis peralatan yang akan digunakan. o Implementasi sistem (system implementation) Merupakan kegiatan memperoleh dan mengintegrasikan sumber daya fisik dan konseptual yang menghasilkan suatu sistem yang bekerja.  Manajemen sistem dan operasi (system management and operation) Pemeliharaan sistem (systems maintenance ) dilaksanakan untuk 3 alasan : o Memperbaiki kesalahan Penggunaan sistem mengungkapkan kesalahan (bugs) dalam program atau kelemahan rancangan yang tidak terdeteksi dalam pengujian sistem. Kesalahan-kesalahan ini dapat diperbaiki. o Menjaga kemutakhiran sistem Dengan berlalunya waktu, terjadi perubahan-perubahan dalam lingkungan sistem yang mengharuskan modifikasi dalam rancangan atau perangkat lunak. Contohnya, pemerintah mengubah rumus perhitungan pajak jaminan sosial. o Meningkatkan sistem Saat sistem digunakan, akan ditemukan cara-cara membuat peningkatan sistem. Saran-saran ini diteruskan kepada spesialis informasi yang memodifikasi sistem sesuai saran tersebut. Pada titik tertentu, modifikasi sistem akan menjadi sedemikian rupa, sehingga lebih baik memulai dari awal. Lalu, siklus hidup sistem akan terulang.

6. Pendekatan Pengembangan Sistem
Terdapat beberapa pendekatan untuk mengembangkan sistem, yaitu sebagai berikut ini : Pendekatan klasik lawan pendekatan terstruktur Metodologi pendekatan klasik mengembangkan sistem dengan mengikuti tahapan-tahapan di systems life cycle. Pendekatan ini menekankan bahwa pengembangan sistem akan berhasil bila mengikuti tahapan di systems life cycle. Akan tetapi sayangnya, didalam praktek, hal ini tidaklah cukup, karena pendekatan ini tidak memberikan pedoman lebih lanjut tentang bagaimana melakukan tahapan-tahapan tersebut dengan terinci karena pendekatan ini tidak dibekali dengan alat-alat dan teknik-teknik yang memadai. Sedangkan pendekatan terstruktur yang baru muncul sekitar awal tahun 1970-an pada dasarnya mencoba menyediakan kepada analis sistem tambahan alat-alat dan teknik-teknik untuk mengembangkan sistem disamping tetap mengikuti ide dari systems life cycle. 

Modul 1 : Pengertian Sistem dan Analis Sistem, halaman :

9

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

Pendekatan sepotong lawan pendekatan sistem Pendekatan sepotong (piecemeal approach) merupakan pendekatan pengembangan sistem yang menekankan pada suatu kegiatan atau aplikasi tertentu saja. Pada pendekatan ini, kegiatan atau aplikasi yang dipilih, dikembangkan tanpa memperhatikan posisinya di sistem informasi atau tanpa memperhatikan sasaran keseluruhan dari organisasi. Pendekatan in hanya memperhatikan sasaran dari kegiatan atau aplikasi itu saja. Lain halnya dengan pendekatan sistem (systems approach) yang memperhatikan sistem informasi sebagai satu kesatuan terintegrasi untuk masing-masing kegiatan atau aplikasinya. Pendekatan sistem ini juga menekankan pada pencapaian sasaran keseluruhan dari organisasi, tidak hanya menekankan pada sasaran dari sistem informasi itu saja. Pendekatan bawah-naik lawan pendekatan atas-turun Pendekatan bawah naik (bottom-up approach) dimulai dari level bawah organisasi, yaitu level operasional dimana transaksi dilakukan. Pendekatan ini dimulai dari perumusan kebutuhan-kebutuhan untuk menangani transaksi dan naik ke level atas dengan merumuskan kebutuhan informasi berdasarkan transaksi tersebut. Pendekatan bawah-naik bila digunakan pada tahap analisis sistem disebut juga dengan istilah data analysis, karena yang menjadi tekanan adalah data yang akan diolah terlebih dahulu, informasi yang akan dihasilkan menyusul mengikuti datanya. Pendekatan atas-turun (top-down approach) sebaliknya dimulai dari level atas organisasi, yaitu level perencanaan strategi. Pendekatan ini dimulai dengan mendefinisikan sasaran dan kebijaksanaan organisasi. Langkah selanjutnya dari pendekatan ini adalah dilakukannya analisis kebutuhan informasi. Setelah kebutuhan informasi ditentukan, maka proses turun ke pemrosesan transaksi, yaitu penentuan output, input, basis data, prosedur-prosedur operasi dan kontrol. Pendekatan atas-turun bila digunakan pada tahap analisis sistem disebut juga dengan istilah decision analysis, karena yang menjadi tekanan adalah informasi yang dibutuhkan untuk pengambilan keputusan oleh manajemen terlebih dahulu, kemudian data yang perlu diolah didefinisikan menyusul mengikuti informasi yang dibutuhkan. Pendekatan sistem-menyeluruh lawan pendekatan moduler Pendekatan system menyeluruh (total-system approach) merupakan pendekatan yang mengembangkan sistem serentak secara menyeluruh. Pendekatan ini kurang mengena untuk sistem yang komplek, karena akan menjadi sulit untuk dikembangkan. Pendekatan moduler (modular approach) berusaha memecah sistem yang rumit menjadi beberapa bagian atau modul yang sederhana, sehingga sistem akan lebih mudah dipahami dan dikembangkan. Akibat lebih lanjut adalah sistem akan dapat dikembangkan tepat pada waktu yang telah direncanakan, mudah dipahami oleh pemakai sistem dan mudah untuk dipelihara. Pendekatan ini juga merupakan ciri-ciri dari pendekatan terstruktur.  

Modul 1 : Pengertian Sistem dan Analis Sistem, halaman :

10

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

Pendekatan lompatan-jauh lawan pendekatan berkembang Pendekatan lompatan-jauh (great loop approach) menerapkan perubahan menyeluruh secara serentak menggunakan teknologi canggih. Perubahan ini banyak mengandung resiko, dan juga terlalu mahal, karena memerlukan investasi seketika untuk semua teknologi yang digunakan dan pendekatan ini juga sulit untuk dikembangkan, karena terlalu komplek. Pendekatan berkembang (evolutionary approach) menerapkan teknologi canggih hanya untuk aplikasi-aplikasi yang memerlukan saja pada saat itu dan akan terus dikembangkan untuk periode-periode berikutnya mengikuti kebutuhannya sesuai dengan perkembangan teknologi yang ada. Pendekatan berkembang menyebabkan investasi tidak terlalu mahal dan dapat mengikuti perkembangan teknologi yang cepat, sehingga teknologi yang digunakan tidak cepat menjadi usang.

7. Metodologi Pengembangan Sistem
 Metodologi adalah : Kesatuan metode-metode, prosedur-prosedur, konsep-konsep pekerjaan, aturanaturan dan postulat-postulat yang digunakan oleh suatu ilmu pengetahuan, seni atau disiplin lainnya Metode adalah : Suatu cara/teknik yang sistematik untuk mengerjakan sesuatu. Metodologi pengembangan sistem yang ada biasanya dibuat atau diusulkan oleh : - Penulis buku - Peneliti - Konsultan - Systems house - Pabrik software

Metodologi Pengembangan Sistem diklasifikasikan menjadi 3 golongan o Functional Decomposition Methodologies (Metodologi Pemecahan Fungsional) Metodologi ini menekankan pada pemecahan dari sistem ke dalam subsitem-subsistem yang lebih kecil, sehingga akan lebih mudah untuk dipahami, dirancang dan diterapkan. Yang termasuk dalam kelompok metodologi ini adalah : - HIPO (Hierarchy plus Input-Process-Output) - SR (Stepwise Refinement) atau ISR (Iterative Stepwise Refinement) - Information-Hiding o Data Oriented Methodologies (Metodologi Orientasi Data) Metodologi ini menekankan pada karakteristik dari data yang akan diproses. Metodologi ini dapat dikelompokkan kembali ke dalam dua kelas, yaitu :  Data-flow oriented methodologies Metodologi ini secara umum didasarkan pada pemecahan dari sistem kedalam modulo-modul berdasarkan dari tipe elemen data dan tingkahlaku logika modul tersebut di dalam sistem. Dengan metodologi ini, sistem
Modul 1 : Pengertian Sistem dan Analis Sistem, halaman :

11

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

secara logika dapat digambarkan secara logika dari arus data dan hubungan antar fungsinya di dalam modul-modul disistem. Yang termasuk dalam metodologi ini adalah - SADT (Structured Analisys and Design Techniques) - Composite Design - SSAD (Structured Systems Analysis and Design)  Data structure oriented methodologies Metodologi ini menekankan struktur dari input dan output di sistem. Struktur ini kemudian akan digunakan sebagai dasar struktur dari sistemnya. Hubungan fungsi antar modul atau elemen-elemen sistem kemudian dijelaskan dari struktur sistemnya. Yang termasuk dalam metodologi ini adalah : - JSD (Jackson’s systems development) - W/O (Warnier / Orr) o Prescriptive Methodologies Yang termasuk dalam metodologi ini adalah ISDOS (Information Systems Design and Optimization System), Kegunaannya adalah mengotomatisasi proses pengembangan sistem informasi. ISDOS mempunyai 2 komponen :  PSL Merupakan komponen utama dari ISDOS, yaitu suatu bahasa untuk mencatat kebutuhan pemakai dalam bentuk machine-readable form, sehingga output yang dihasilkannya dapat dianalisis oleh PSA. PSL merupakan bahasa untuk menggambarkan sistemnya dan bukan merupakan bahasa pemrograman prosedural.  PSA Merupakan paket perangkat lunak yang mirip dengan kamus data (data dictionary) dan digunakan untuk mengecek data yang dimasukkan, yang disimpan, yang dianalisis dan yang dihasilkan sebagai output laporan dengan pemanfaatan DBMS dalam penyimpanan datanya.

8. Alat dan Teknik Pengembangan Sistem
Alat Pengembangan Sistem Untuk dapat melakukan langkah-langkah sesuai dengan yang diberikan oleh metodologi pengembangan sistem yang terstruktur, maka dibutuhkan alat dan teknik untuk melaksanakannya. Alat-alat yang digunakan dalam suatu metodologi umumnya berupa suatu gambar atau diagram atau grafik. Selain berbentuk gambar, alat-alat yang digunakan juga ada yang tidak berupa gambar atau grafik (nongraphical tools), seperti misalnya data dictionary, structured english, pseudocode serta formulir-formulir untuk mencatat dan menyajikan data. Alat-alat pengembangan sistem yang berbentuk grafik diantaranya adalah sebagai berikut ini : o HIPO diagram Hierarchy plus Input-Process-Output, HIPO, adalah alat dokumentasi program yang berbasis pada fungsi, yaitu tiap-tiap modul di dalam sistem digambarkan oleh fungsi utamanya.
Modul 1 : Pengertian Sistem dan Analis Sistem, halaman :

12

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

o Data flow diagram Digunakan untuk menggambarkan suatu sistem yang telah ada atau sistem baru yang akan dikembangkan secara logika tanpa mempertimbangkan lingkungan fisik dimana data tersebut mengalir (misalnya lewat telpon, surat dan sebagainya) atau lingkungan fisik dimana data tersebut akan disimpan (misalnya file kartu, microfile, harddisk, tape, diskette dan lain sebagainya). o Structured chart Digunakan untuk mendefinisikan dan mengilustrasikan organisasi dari sistem informasi secara berjenjang dalam bentuk modul dan submodul dengan menunjukkan hubungan elemen data dan elemen kontrolnya, sehingga memberikan penjelasan lengkap dari sistem dipandang dari elemen data, elemen kontrol, modul dan hubungan antar modulnya. o SADT Structured Analysis and Design Technique, SADT, memandang suatu sistem terdiri dari dua hal : benda (obyek, dokumen atau data) dan kejadian (kegiatan yang dilakukan oleh orang, mesin atau perangkat lunak). Menggunakan dua tipe diagram yaitu, diagram kegiatan (activity diagrams, disebut actigrams) dan diagram data (data diagrams, disebut datagrams). o Jackson’s diagram Jackson’s Systems Development, JSD, membangun suatu model dari dunia nyata (real world) yang menyediakan subyek-subyek permasalahan dari sistem.  Teknik Pengembangan Sistem Teknik-teknik dalam pengembangan sistem yang dapat digunakan antara lain sebagai berikut ini : o Teknik manajemen proyek, yaitu CPM (Critical Path Method) dan PERT (Program Evaluation and Review Technique). Teknik ini digunakan untuk penjadwalan waktu pelaksanaan suatu proyek. o Teknik menemukan fakta (fact finding techniques). Yaitu teknik yang dapat digunakan untuk mengumpulkan data dan menemukan fakta-fakta dalam kegiatan mempelajari sistem yang ada. Teknik-teknik ini diantaranya adalah : wawancara (interview), observasi (observation), angket (questionaires), dan pengumpulan sampel (sampling). o Teknik analisis biaya/manfaat (cost-effectiveness analysis atau cost-benefit analysis). Teknik ini menilai dari sisi kelayakan ekonomis suatu pengembangan system informasi. o Teknik untuk menjalankan rapat o Teknik inspeksi/walkthrough Penyebab kegagalan pengembangan sistem :  Kurangnya penyesuaian pengembangan sistem  Kelalaian menetapkan kebutuhan pemakai dan melibatkan pemakai sistem  Kurang sempurnanya evaluasi kualitas analisis biaya  Implementasi yang direncanakan dilaksanakan kurang baik

Modul 1 : Pengertian Sistem dan Analis Sistem, halaman :

13

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

9. Fungsi Analis Sistem
Analis sistem (systems analyst) adalah orang yang menganalisis system (mempelajari masalah-masalah yang timbul dan menentukan kebutuhankebutuhan pemakai sistem) untuk mengidentifikasikan pemecahan yang beralasan. Sebutan lain untuk analis sistem ini adalah analis informasi (information analyst), analis bisnis (business analyst), perancang sistem (systems designer), konsultan sistem (systems consultant) dan ahli teknik sistem (systems engineer). Analis sistem berbeda dengan pemrogram. Tugas dan tanggungjawab analis sistem dan pemrogram adalah berbeda dan dapat dilihat pada tabel berikut : Pemrogram 1. Tanggungjawab pemrogram terbatas pada pembuatan program komputer. 2. Pengetahuan pemrogram cukup terbatas pada teknologi komputer, sistem komputer, utilities dan bahasa-bahasa pemrograman yang diperlukan. 3. Pekerjaan pemrogram sifatnya teknis dan harus tepat dalam pembuatan instruksi-instruksi program. 4. Pekerjaan pemrogram tidak menyangkut hubungan dengan banyak orang, terbatas pada sesama pemrogram dan analis sistem yang mempersiapkan rancang bangun (spesifikasi) programnya.  Analis sistem 1. Tanggungjawab analis sistem tidak hanya pada pembuatan program komputer saja, tetapi pada sistem secara keseluruhan. 2. Pengetahuan analis sistem harus luas, tidak hanya pada teknologi komputer, tetapi juga pada bidang aplikasi yang ditanganinya. 3. Pekerjaaan analis sistem dalam pembuatan program terbatas pada pemecahan masalah secara garis besar. 4. Pekerjaan analis sistem melibatkan hubungan banyak orang, tidak terbatas pada sesama analis sistem, pemrogram, tetapi juga pemakai sistem dan manajer.

Pengetahuan dan Keahlian yang Diperlukan Analis Sistem Analis sistem harus mempunyai pengetahuan yang luas dan keahlian yang khusus. Beberapa analis sistem setuju bahwa pengetahuan-pengetahuan dan keahlian berikut ini sangat diperlukan bagi seorang analis sistem yang baik : o Pengetahuan dan keahlian tentang teknik pengolahan data, teknologi komputer dan pemrograman komputer o Pengetahuan tentang bisnis secara umum o Pengetahuan tentang metode kuantitatif o Keahlian pemecahan masalah o Keahlian komunikasi antar personil o Keahlian membina hubungan antar personil

Modul 1 : Pengertian Sistem dan Analis Sistem, halaman :

14

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

Tim Pengembangan Sistem Dalam proyek pengembangan sistem yang kecil dan sederhana, kemungkinan hanya ada seorang analis sistem yang merangkap sebagai pemrogram (analis/pemrogram) atau seorang pemrogram yang merangkap sebagai analis sistem (pemrogram/analis). Akan tetapi untuk proyek pengembangan sistem yang besar atau komplek, pekerjaan ini biasanya dilakukan oleh sejumlah orang dalam bentuk tim.

Anggota dari tim pengembangan sistem ini tergantung dari besar-kecilnya ruang-lingkup proyek yang kaan ditangani. Tim ini secara umum dapat terdiri dari personil-personil sebagai berikut ini : o Manajer analisis system (manager of systems analysis) disebut juga sebagai koordinator proyek. o Ketua analis system (lead systems analyst) biasanya menjabat sebagai wakil dari manajer analisis sistem. Tugasnya adalah membantu tugas dari manajer analisis sistem dan mewakilinya bila manajer analisis sistem berhalangan. o Analis sistem senior (senior systems analyst) merupakan analis sistem yang sudah berpengalaman. o Analis sistem (systems analyst) merupakan analis sistem yang cukup berpengalaman dan dapat bekerja sendiri tanpa bimbingan dari analis sistem senior. o Analis sistem yunior (junior systems analyst) merupakan analis sistem yang belum berpengalaman dan masih membutuhkan bimbingan-bimbingan dari analis sistem yang lebih senior. Analis sistem yunior ini sering juga disebut dengan analis sistem yang masih dilatih (systems analyst trainee). o Pemrogram aplikasi senior (senior applications programmer) merupakan pemrogram komputer yang sudah berpengalaman dengan tugas merancang spesifikasi dari program aplikasi dan mengkoordinasi kerja dari pemrogram yang lainnya. Pemrogram aplikasi senior ini kadang-kadang juga disebut dengan pemrogram/analis. o Pemrogram aplikasi (applications programmer) merupakan pemrogram komputer yang cukup berpengalaman dan dapat melakukan tugasnya tanpa harus dibimbing secara langsung lagi. o Pemrogram aplikasi yunior (junior applications programmer) merupakan pemrogram komputer yang belum berpengalaman dan masih dibawah bimbingan langsung dari pemrogram yang lebih senior. Pemrogram aplikasi yunior biasanya hanya dilibatkan pada pembuatan modul-modul program yang sederhana, seperti misalnya pembuatan bentuk-bentuk I/O. Pemrogram aplikasi yunior ini sering juga disebut dengan pemrogram aplikasi yang masih dilatih (applications programmer trainee).

Modul 1 : Pengertian Sistem dan Analis Sistem, halaman :

15

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

EVALUASI
1. Jelaskan dan berikan ilustrasi definisi dari sistem, subsistem dan supersistem ! 2. Jelaskan dan berikan ilustrasi perbedaan antara tujuan (goal) dengan sasaran (objectives) 3. Jelaskan hal-hal apa saja yang menyebabkan suatu sistem lama harus diperbaiki atau diganti 4. Sebutkan dan jelaskan beberapa indikator (minimal 5 indikator) bahwa suatu sistem harus segera diperbaiki atau diganti 5. Jelaskan harapan-harapan apa saja setelah suatu sistem baru dikembangkan dalam suatu pengembangan sistem 6. Jelaskan mengenai pentingnya dukungan dari manajemen puncak (top management) dalam suatu pengembangan sistem 7. Sebutkan dan jelaskan alasan suatu pemeliharaan sistem (systems maintenance) harus dilakukan 8. Jelaskan perbedaan utama pendekatan pengembangan sistem klasik dengan pendekatan pengembangan sistem terstruktur 9. Jelaskan apa yang menjadi perbedaan antara seorang analis sistem dengan seorang programmer

DAFTAR PUSTAKA
Burch, J.G., System, 1992, Analysis, Design, and Implementation, Boyd & Fraser Publishing Company. Jogiyanto, 1990, Analisis dan Disain Sistem Informasi, ANDI OFFSET Yogyakarta. John G. Burch, Jr, Felix R. Strater, Gary Grudnistski, 1979, Information Systems : Theory and Practice, Second Edition, John Wiley & Sons Meilir Page-Jones, 1988, The Practical Guide to Structured Systems Design, Second Edition, Yourdon Press, Prentice Hall I.T. Hawryszkiewycz, 1991, Introduction Systems Analysis and Design, Second Edition, Prentice Hall Raymond McLeod, Jr, 1979, Management Information System : A Study of Computer-Based Information Systems, Sixth Edition, Prenctice Hall

Modul 1 : Pengertian Sistem dan Analis Sistem, halaman :

16

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

MODUL 2 ANALISIS SISTEM
MATERI 1. Pendahuluan 2. Mengidentifikasi Masalah 3. Memahami Kerja Sistem 4. Analisis Sistem 5. Membuat Laporan Hasil Analisis Sistem STANDAR KOMPETENSI Memahami Konsep, Langkah-langkah, Cara Identifikasi Masalah, Kerja dari Sistem, Menganalisis Hasil dan Membuat Laporan Hasil Analisis Sistem CAPAIAN PEMBELAJARAN 1. Mahasiswa memahami Konsep Analisis Sistem. 2. Mahasiswa memahami cara mengidentifikasi masalah, memahami kerja dari sistem, menganalisis hasil penelitian dan membuat laporan hasil analisis.

1. Pendahuluan
Analisis sistem (systems analysis) dapat didefinisikan sebagai berikut : Penguraian dari suatu sistem informasi yang utuh ke dalam bagian-bagian komponennya dengan maksud untuk mengidentifikasikan dan mengevaluasi permasalahan-permasalahan, kesempatan-kesempatan, hambatan-hambatan yang terjadi dan kebutuhan-kebutuhan yang diharapkan sehingga dapat diusulkan perbaikan-perbaikannya Atau secara lebih mudahnya, analisis sistem adalah penelitian atas sistem yang telah ada dengan tujuan untuk merancang sistem yang baru atau diperbarui. Tahap analisis sistem ini merupakan tahap yang sangat kritis dan sangat penting, karena kesalahan di dalam tahap ini akan menyebabkan juga kesalahan di tahap selanjutnya. Tugas utama analis sistem dalam tahap ini adalah menemukan kelemahankelemahan dari sistem yang berjalan sehingga dapat diusulkan perbaikannya. Sedangkan langkah-langkah yang harus dilakukan dalam melakukan analisis sistem adalah sebagai berikut :  Identify, yaitu mengidentifikasi masalah  Understand, yaitu memahami kerja dari sistem yang ada  Analyze, yaitu menganalisis sistem  Report, yaitu membuat laporan hasil analisis.

Modul 2 : Analisis Sistem, halaman :

17

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

2. Mengidentifikasi Masalah
Mengidentifikasi (mengenal) masalah merupakan langkah pertama yang dilakukan dalam tahap analisis sistem. Masalah (problem) dapat didefinisikan sebagai suatu pertanyaan yang diinginkan untuk dipecahkan. Masalah inilah yang menyebabkan sasaran dari sistem dapat tercapai atau tidak. Oleh karena itulah pada tahap analisis sistem, langkah pertama yang harus dilakukan oleh seorang analis sistem adalah mengidentifikasi terlebih dahulu masalah-masalah yang terjadi. Tugas-tugas yang harus dilakukannya adalah sebagai berikut ini :  mengidentifikasi penyebab masalah  mengidentifikasi titik keputusan  mengidentifikasi personil-personil kunci  Mengidentifikasi penyebab masalah Untuk mengidentifikasi penyebab masalah Seringkali organisasi menyadari masalah yang tejadi setelah sesuatu berjalan dengan tidak benar. Permasalahan tidak akan muncul dengan sendirinya dan mestinya ada sesuatu penyebab yang menimbulkannya. Sebagai ilustrasi, kita mempunyai sebuah mobil yang jalannya tersendatsendat. Keadaan ini merupakan suatu masalah. Untuk mengatasi masalah ini, maka perlu diidentifikasi terlebih dahulu apa penyebab yang mengakibatkan mobil tersebut jalannya tersendat-sendat. Kalau analis sistem tidak dapat mengidentifikasi penyebab terjadinya masalah, maka proses analisis sistem tidak akan berjalan dengan semestinya. Kalau kita akan berusaha memperbaiki kerusakan mobil tersebut, tetapi tidak dapat mengidentifikasi terlebih dahulu penyebab masalahnya, maka proses perbaikan mobil tersebut tidak akan berjalan dengan efisien dan efektif. Apakah kita akan membongkar mobil tersebut dengan melepas semua komponennya untuk menemukan mengapa mobil tersebut jalannya tersendat-sendat ? tentunya ini merupakan pekerjaan analisis yang tidak benar. Untuk kasus mobil ini, dapat diidentifikasikan bahwa penyebab masalahnya adalah karena proses pembakaran yang tidak sempurna, sehingga mengakibatkan jalannya mobil tersendat-sendat. Dengan dapat mengidentifikasi penyebab masalah ini, maka kita dapat mulai menganalisis dari tempat dilakukannya proses pembakaran ini, tanpa harus membongkar semua komponen mobil yang tidak menyebabkan terjadinya masalah. Tugas mengidentifikasi penyebab masalah dapat dimulai dengan mengkaji ulang terlebih dahulu subyek-subyek permasalahan yang telah diutarakan oleh manajemen atas yang telah ditemukan oleh analis sistem di tahap perencanaan sistem. Sebagai misalnya, masalah yang terjadi adalah “biaya persediaan meningkat dari tahun ke tahun”. Mengapa biaya persediaan meningkat ? adalah analogi dari : mengapa jalannya mobil tersendat-sendat ? jawabannya adalah disebabkan oleh pembakaran yang tidak sempurna, demikian juga harus dicari jawaban mengapa biaya persediaan meningkat.

Modul 2 : Analisis Sistem, halaman :

18

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

Dari subyek masalah ini, maka dapat diidentifikasi penyebab terjadinya masalah biaya persediaan yang meningkat ini adalah karena :  persediaan di gudang telalu banyak (over stock) dan  pembelian barang tidak ekonomis.  Mengidentifikasi titik keputusan Setelah penyebab terjadinya masalah dapat diidentifikasi, selanjutnya juga harus diidentifikasi titik keputusan penyebab masalah tersebut. Pada kasus mobil yang mempunyai masalah jalannya tersendat-sendat dan telah dapat diidentifikasi penyebab terjadinya masalah ini adalah pembakaran yang kurang sempurna, maka selanjutnya perlu diidentifikasi lebih lanjut titik keputusan yang menyebabkan pembakaran menjadi tidak sempurna. Titik keputusan menunjukkan suatu kondisi yang menyebabkan sesuatu terjadi. Ahli mesin mobil yang berpengalaman dapat mengidentifikasikan titik keputusan dari pembakaran yang kurang sempurna adalah terletak di proses pengapian busi, kerja dari platina dan atau injeksi bensin di karburator. Dengan demikian ahli mesin mobil yang berpengalaman tidak akan membongkar semua komponen dari mesin mobil itu, tetapi cukup memeriksa pada titik-titik keputusan saja. Dengan demikian juga dengan analis sistem bila telah dapat mengidentifikasi terlebih dahulu titik-titik keputusan penyebab masalah , maka dapat memulai penelitiannya di titik-titik keputusan tersebut. Contoh bagan alir system informasi Help Desk adalah sebagai berikut :

Modul 2 : Analisis Sistem, halaman :

19

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

Sebagai dasar identifikasi titik-titik keputusan ini, dapat digunakan dokumen sistem bagan alir formulir (paperwork flowchart atau form flowchart) bila dokumentasi ini dimiliki oleh perusahaan. Secara analogi, ahli mesin mobil dapat menggunakan buku manual pedoman mesin mobil bersangkutan untuk mengidentifikasi titik-titik keputusan penyebab masalah pembakaran yang kurang sempurna. Penjelasan dari salah satu titik keputusan dari contoh flowchart di atas antara lain adalah pelayanan yang kurang baik kepada Customer. Titik keputusan yang mengakibatkan terjadinya sebab masalah ini misalnya adalah :  “Pelayanan Costumer” di bagian helpdesk technician. Titik keputusan ini dapat mengakibatkan pelayanan kepada Customer kurang baik bila waktu penanganan terlalu lama. helpdesk technician merupakan proses pertama kali yang bersentuhan langsung dengan Costumer.  “Proses pembuatan tiket” di bagian Automated System. Titik keputusan ini dapat mengakibatkan pelayanan kepada Customer kurang baik bila proses pembuatan Tiket juga lama. Proses pembuatan Tiket adalah proses membuat dokumen tertulis yang akan diterima langsung oleh Customer.  “Proses Analisis” di bagian Technician. Titik keputusan ini dapat mengakibatkan pelayanan kepada Costumer kurang baik bila proses analisis lama dan berbelit-belit.  Mengidentifikasi personil-personil kunci Setelah titik-titik keputusan penyebab masalah dapat diidentifikasi beserta lokasi terjadinya, maka selanjutnya yang perlu diidentifikasi adalah personilpersonil kunci baik yang langsung maupun yang tidak langsung dapat menyebabkan terjadinya masalah tersebut. Identifikasi personil-personil kunci ini dapat dilakukan dengan mengacu pada bagan alir dokumen yang ada di perusahaan serta dokumen deskripsi jabatan (job description)

3. Memahami Kerja Sistem
Langkah kedua dari tahap analisis sistem adalah memahami kerja dari sistem yang ada. Langkah ini dapat dilakukan dengan mempelajari secara terinci bagaimana sistem yang ada beroperasi. Untuk mempelajari operasi dari sistem ini diperlukan data yang dapat diperoleh dengan cara melakukan penelitian. Bila di tahap perencanaan sistem belum pernah dilakukan penelitian untuk memperoleh data, maka penelitian ini sifatnya adalah penelitian pendahuluan (preliminary survey). Sedang pada tahap analisis sistem, penelitian yang dilakukan adalah penelitian terinci (detailed survey). Dalam analisis sistem perlu dipelajari apa dan bagaimana operasi dari sistem yang ada sebelum mencoba untuk menganalisis permasalahan-permasalahan, kelemahan-kelemahan dan kebutuhan-kebutuhan pemakai sistem untuk dapat
Modul 2 : Analisis Sistem, halaman :

20

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

memberikan rekomendasi pemecahannya. Sejumlah data perlu dikumpulkan menggunakan teknik pengumpulan data yang ada, yaitu wawancara, observasi, angket dan pengambilan sampel. Langkah kedua dari tahap analisis sistem dapat terdiri dari beberapa tugas yang perlu dilakukan, yaitu sebagai berikut ini :  Menentukan jenis penelitian  Merencanakan jadwal penelitian  Membuat penugasan penelitian  Membuat agenda wawancara  Mengumpulkan hasil penelitian Menentukan jenis penelitian Sebelum penelitian dilakukan, sebaiknya ditentukan terlebih dahulu jenis dari penelitian untuk masing-masing titik keputusan yang akan diteliti. Jenis penelitian tergantung dari jenis data yang ingin diperoleh. Jenis data yang ingin diperoleh dapat berupa data tentang operasi sistem, data tentang perlengkapan sistem, pengendalian sistem, atau input dan output yang digunakan oleh sistem. Penelitian yang menggunakan teknik wawancara dan observasi tepat digunakan untuk lokasi data yang menyebar dan mahal bila harus dikunjungi satu persatu. Penelitian yang menggunakan teknik pengambilan sample lebih tepat digunakan untuk mengumpulkan input atau output sistem yang mempunyai jumlah banyak.  Merencanakan jadwal penelitian Penelitian akan dilakukan di tiap-tiap lokasi titik keputusan yang akan diteliti. Penelitian juga biasanya akan dilakukan oleh beberapa peneliti dan memakan waktu yang cukup lama (harian, mingguan bahkan bulanan) supaya penelitian dapat dilakukan secara efisien dan efektif, maka jadwal dari penelitian harus direncanakan terlebih dahulu yang meliputi :  Dimana penelitian akan dilakukan;  Apa dan siapa yang akan diteliti;  Siapa yang akan meneliti;  Kapan penelitian dilakukan. Dari jadwal penelitian yang telah dibuat, berikutnya dapat dikelompokkan ke dalam jenis penelitiannya masing-masing. Untuk wawancara, selanjutnya jadwal wawancara dapat diatur yang terdiri dari :  Tanggal wawancara akan dilakukan;  Jam wawancara untuk tiap-tiap harinya;  Yang melakukan wawancara;  Yang diwawancarai;  Lokasi letak wawancara akan dilakukan;  Topik dari wawancara yang akan dilakukan. 

Modul 2 : Analisis Sistem, halaman :

21

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

Sama halnya dengan wawancara yang telah diatur jadwalnya tersendiri, observasi yang akan dilakukan juga sebaiknya dibuatkan jadwal tersendiri. Demikian juga dengan jadwal pengambilan sampel sebaiknya juga diatur tersendiri.  Membuat penugasan penelitian Setelah rencana jadwal penelitian selesai dibuat, maka tugas dari tiap-tiap anggota tim analis sistem untuk melakukan penelitian telah dapat ditentukan. Koordinator analis sistem dapat membuat surat penugasan kepada masingmasing anggota tim analis sistem ini dengan menyertakan lampiran kegiatan penelitaian yang harus dilakukan. Formulir ini biasanya tidak dilampirkan di laporan hasil analisis, karena kurang bermanfaat bagi user atau manajemen. Formulir ini akan diberikan kepada tiap-tiap peneliti yang bersangkutan. Membuat agenda wawancara Sebelum suatu wawancara dilaksanakan, akan lebih bijaksana bila waktu dan materi wawancara ini direncanakan terlebih dahulu. Rencana ini dapat ditulis di agenda wawancara dan dibawa selama wawancara berlangsung. Pewawancara dapat melakukan wawancara dengan dasar agenda wawancara ini. Tujuan utama pembuatan agenda wawancara yang akan digunakan dalam wawancara ini adalah suapaya wawancara dapat diselesaikan tepat pada waktunya dan tidak ada materi yang terlewatkan.

Mengumpulkan hasil penelitian Fakta atau data yang diperoleh dari hasil penelitian harus dikumpulkan sebagai suatu dokumentasi sistem lama. Dokumentasi dari hasil penelitian ini diperlukan untuk beberapa hal, yaitu sebagai berikut ini : o Membantu kelengkapan (aid to completeness) Dengan digunakannya formulir-formulir standar untuk mencatat fakta, maka data yang belum terkumpul akan terlihat. o Membantu analisis (aid to analysis) Data yang dicatat dalam bentuk tabel atau bagan memungkinkan sistem akan lebih mudah dipahami dan dianalisis o Membantu komunikasi (aid to communication) Formulir-formulir standar akan membantu anggota-anggota tim analis untuk berkomunikasai dengan efektif satu dengan yang lainnya. Selain itu juga dapat membantu komunikasi antar analis, pemrogram komputer, operator dan pemakai sistem o Membantu pelatihan (aid to training) Pelatihan akan lebih efektif bila dilampiri dengan bahan-bahan yang diperlukan secara tertulis. o Membantu keamanan (aid to security) Dokumentasi yang berisi dengan fakta terkumpul dapat diibaratkan sebagai bestek rancangan gedung yang telah digambar oleh arsitek dan telah dihitung oleh insinyur teknik sipil. Bila gedung yang akan dibangun tidak sesuai dengan keinginan pemakai, atau ada perubahan-perubahan yang perlu

Modul 2 : Analisis Sistem, halaman :

22

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

dilakukan atau misalnya gedung sudah dibuat mengalami kerusakankerusakan, maka dengan adanya dokumentasi, perbaikan-perbaikan atau modifikasi-modifikasi akan lebih mudah dilakukan. Fakta-fakta yang perlu didokumentasikan dari hasil penelitian sistem lama adalah sebagai berikut ini :  Waktu untuk melakukan suatu kegiatan, data ini dapat diperoleh dari hasil observasi yang dilakukan pada suatu kegiatan.  Kesalahan-kesalahan melakukan kegiatan di sistem lama  Pengambilan sampel (metode dan hasil)  Formulir-formulir dan laporan-laporan yang dihasilkan oleh sistem lama.  Elemen-elemen data (tipe dan ukuran)  Teknologi yang digunakan di sistem lama (hardware dan software)  Kebutuhan-kebutuhan informasi pemakai sistem/manajemen (hasil angket dan wawancara)

4. Analisis Sistem
Langkah ini dilakukan berdasarkan data yang telah diperoleh dari hasil penelitian yang telah dilakukan. Menganalisis hasil penelitian sering sulit dilakukan oleh analis sistem yang masih baru. Pengalaman menunjukkan bahwa banyak analis sistem yang masih baru mencoba untuk memecahkan masalah tanpa menganalisisnya.  Menganalisis Kelemahan Sistem Analis sistem perlu menganalisis masalah yang terjadi untuk dapat menemukan jawaban apa penyebab sebenarnya dari masalah yang timbul tersebut. Penelitian dilakukan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut :  Apa yang dikerjakan ?  Bagaimana mengerjakannya ?  Siapa yang mengerjakannya ?  Dimana dikerjakannya ? Menganalisis kelemahan sistem sebaiknya dilakukan untuk menjawab pertanyaan :  Mengapa dikerjakan ?  Perlukah dikerjakan ?  Apakah telah dikerjakan dengan baik ? Tentu saja pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab dalam langkah menganalisis hasil penelitian ini lebih terinci lagi dibandingkan dengan daftar tersebut di atas. Sebagai tambahan dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, suatu kriteria yang tepat masih diperlukan untuk menilai sistem yang lama.

Modul 2 : Analisis Sistem, halaman :

23

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

Kriteria yang tepat ini dapat diperoleh dari sasaran yang diinginkan oleh sistem yang baru supaya efisien dan efektif. Wilkinson memberikan sasaran yang harus dicapai untuk menentukan criteria penilaian sebagai berikut :  Relevance (sesuai kebutuhan)  Capacity (kapasitas dari sistem)  Efficiency (efisiensi dari sistem)  Timeliness (ketepatan waktu menghasilkan informasi)  Accessibility (kemudahan akses)  Flexibility (keluwesan sistem)  Accuracy (ketepatan nilai dari informasi)  Reliability (keandalan sistem)  Security (keamanan dari sistem)  Economy (nilai ekonomis dari sistem)  Simplicity (kemudahan sistem digunakan) Berdasarkan pertanyaan-pertanyaan dan kriteria-kriteria ini, selanjutnya analis sistem akan dapat melakukan analisis dari hasil penelitian dengan baik untuk menemukan kelemahan-kelemahan dan permasalahan-permasalahan dari sistem yang ada. o Menganalisis Distribusi Pekerjaan Distribusi dari pekerjaan menunjukkan beban dari masing-masing personil atau unit organisasi dalam menangani kegiatan yang sama. Untuk keperluan menganalisis distribusi dari pekerjaan dapat digunakan pertanyaanpertanyaan berikut ini :  Apakah tugas dan tanggungjawab telah didefinisikan dan diterapkan dengan jelas ?  Apakah tugas dan tanggungjhwab telah didistribusikan dengan efektif untuk masing-masing personil dan unit-unit organisasi ? dengan mengetahui beban dari masing-masing personil, maka dapat ditentukan personil mana yang masih dapat diberi tambahan beban dan personil mana yang harus dikurangi bebannya untuk dialihkan ke personil lain yang masih kurang bebannya. o Menganalisis Pengukuran Pekerjaan Untuk menganalisis pengukuran pekerjaan ini dapat dilakukan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini :  Apakah kebijaksanaan dan prosedur telah dipahami dan diikuti ?  Apakah produktifitas karyawan memuaskan ?  Apakah unit-unit organisasi telah bekerja sama dan terkoordinasi dengan baik menjaga arus data dengan lancar ?  Apakah masing-masing kegiatan telah mencapai sasarannya ?  Apakah terjadi operasi-operasi yang tumpang tindih ?  Seberapa perlu hasil dari tiap-tiap operasi ?  Apakah terdapat operasi yang menghambat arus data ?  Apakah volume puncak dari data dapat ditangani dengan baik ?  Apakah terdapat standar kinerja yang baik dan selalu dimutakhirkan ?

Modul 2 : Analisis Sistem, halaman :

24

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

o Menganalisis Keandalan Ketidak andalan menunjukkan banyaknya kesalahan-kesalahan yang dilakukan dalam suatu kegiatan. Semakin andal berarti semakin sedikit kesalahan yang dilakukan. Untuk menganalisis keandalan ini dapat dilakukan dengan menjawab pertanyaanpertanyaan berikut :  Apakah jumlah kesalahan yang terjadi di masing-masing operasi telah diminimumkan ?  Apakah operasi-operasi telah direncanakan dengan baik dan terkendali ? o Menganalisis Dokumen Untuk menganalisis dokumen yang digunakan di sistem lama dapat dilakukan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut :  Seberapa perlu dokumen-dokumen yang ada ?  Apakah masing-masing dokumen telah dirancang untuk penggunaan yang efektif ?  Apakah tembusan-tembusan dari dokumen perlu ? o Menganalisis Laporan Untuk menganalisis laporan yang sudah dihasilkan oleh sistem lama dapat dilakukan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut :  Dapatkah laporan-laporan dipersiapkan dengan mudah dari file dan dokumen-dokumen yang ada ?  Apakah terdapat duplikasi di file, catatan-catatan dan laporan-laporan ? o Menganalisis Teknologi Untuk menganalisis teknologi yang sudah digunakan di sistem lama dapat dilakukan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut :  Apakah fasilitas dari sistem informasi (dalam bentuk personil, peralatan dan fasilitas lainnya) cukup untuk menangani volume rata-rata data tanpa terjadi penundaan yang berarti ?  Menganalisis Kebutuhan Informasi Pemakai/Manajemen Walaupun menganalisis kelemahan-kelemahan dan permasalahanpermasalahan yang terjadi merupakan tugas yang perlu, tetapi tugas ini saja belumlah cukup. Tugas lain dari analis sistem yang masih diperlukan sehubungan dengan sasaran utama sistem informasi, yaitu menyediakan informasi yang dibutuhkan bagi para pemakainya perlu dianalisis.

4. Membuat Laporan Hasil Analisis Sistem
Setelah proses analisis sistem ini selesai dilakukan, tugas berikutnya dari analis sistem dan timnya adalah membuat laporan hasil analisis. Laporan ini diserahkan kepada steering committe (komite/panitia pengarah pengembangan sistem) yang nantinya akan diteruskan ke manajemen. Pihak manajemen bersama-sama dengan panitia pengarah dan pemakai sistem akan mempelajari temuan-temuan dan analisis yang telah dilakukan oleh analis sistem yang disajikan dalam laporan ini. Tujuan utama dari penyerahan laporan ini kepada manajemen adalah :
Modul 2 : Analisis Sistem, halaman :

25

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

  

Pelaporan bahwa analisis telah selesai dilakukan Meluruskan kesalah-pengertian mengenai apa yang telah ditemukan dan dianalisis oleh analis sistem tetapi tidak sesuai menurut manajemen Meminta pendapat-pendapat dan saran-saran dari pihak manajemen Meminta persetujuan kepada pihak manajemen untuk melakukan tindakan selanjutnya (dapat berupa meneruskan ke tahap desain sistem atau menghentikan proyek bila dipandang tidak layak lagi)

EVALUASI
1. Sebutkan dan jelaskan definisi analisis sistem menurut persepsi anda 2. Sebutkan langkah-langkah dasar yang harus dilakukan oleh analis sistem di dalam tahap analisis sistem 3. Jelaskan dengan ilustrasi mengapa identifikasi penyebab masalah merupakan tahap yang paling penting dalam tahap analisis sistem 4. Jelaskan mengapa memahami kerja sistem yang ada/berjalan diperlukan 5. Jelaskan mengapa penelitian harus direncanakan jadwalnya

DAFTAR PUSTAKA
Burch, J.G. , 1992, System, Analysis, Design, and Implementation, Boyd & Fraser Publishing Company. Jogiyanto, 1990, Analisis dan Disain Sistem Informasi, ANDI OFFSET Yogyakarta. John G. Burch, Jr, Felix R. Strater, Gary Grudnistski, 1979, Information Systems : Theory and Practice, Second Edition, John Wiley & Sons Meilir Page-Jones, 1988, The Practical Guide to Structured Systems Design, Second Edition, Yourdon Press, Prentice Hall I.T. Hawryszkiewycz, 1991, Introduction Systems Analysis and Design, Second Edition, Prentice Hall Raymond McLeod, Jr, , 1979 Management Information System : A Study of Computer-Based Information Systems, Sixth Edition, Prenctice Hall

Modul 2 : Analisis Sistem, halaman :

26

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

MODUL 3 DESAIN SISTEM SECARA UMUM
MATERI 1. Pendahuluan 2. Arti Desain Sistem 3. Tujuan Desain Sistem 4. Personil Yang Terlibat 5. Desain Sistem Secara Umum 6. Tekanan-tekanan Desain STANDAR KOMPETENSI Memahami Pengertian, Tujuan dan Tahapan Desain Sistem serta Personil yang terlibat dan Tekanan-tekanan Dalam Desain Sistem CAPAIAN PEMBELAJARAN 1. Mahasiswa memahami konsep desain sistem 2. Mahasiswa mampu untuk memahami tujuan, tahapan desain sistem secara umum mulai dari output, input, proses, database, kontrol sampai arsitektur komputer 3. Mahasiswa memahami tekanan-tekanan dalam desain sistem

1. Pendahuluan
Setelah tahap analisis sistem selesai dilakukan, maka analis sistem telah mendapatkan gambaran dengan jelas apa yang harus dikerjakan. Tiba waktunya sekarang bagi analis sistem untuk memikirkan bagaimana membentuk sistem tersebut. Tahap ini disebut dengan desain sistem (systems design). Desain system dapat dibagi dalam dua bagian, yaitu desain sistem secara umum (general systems design) dan desain sistem terinci (detailed systems design) desain sistem secara umum disebut juga dengan desain secara makro (macro design). Desain sistem terinci disebut juga dengan desain sistem secara phisik (physical system design) atau desain internal (internal design).

2. Arti Desain Sistem
Dari sekian banyak yang memberikan pengertian mengenai desain sistem, sebagian diantaranya menyatakan bahwa desain sistem dapat diartikan sebagai berikut :  Tahap setelah analisis dari siklus pengembangan sistem  Pendefinisian dari kebutuhan-kebutuhan fungsional  Persiapan untuk rancang bangun implentasi  Menggambarkan bagaimana suatu sistem dibentuk

Modul 3 : Desain Sistem Secara Umum, halaman :

27

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

 Sistem dibentuk dapat berupa penggambaran, perencanaan dan pembuatan sketsa atau pengaturan dari beberapa elemen yang terpisah ke dalam satu kesatuan yang utuh dan berfungsi  Termasuk menyangkut mengkonfigurasi dari komponen-komponen perangkat lunak dan perangkat keras dari suatu sistem

3. Tujuan Desain Sistem
Tahap desain sistem mempunyai dua maksud atau tujuan utama, yaitu sebagai berikut :  Untuk memenuhi kebutuhan kepada pemakai sistem  Untuk memberikan gambaran yang jelas dan rancang bangun yang lengkap kepada pemrogram komputer dan ahli-ahli teknik lainnya yang terlibat. Tujuan kedua ini lebih condong pada desain sistem yang terinci, yaitu pembuatan rancang bangun yang jelas dan lengkap untuk nantinya digunakan untuk pembuatan progam komputernya. Untuk mencapai tujuan ini, analis sistem harus dapat mencapai sasaransasaran sebagai berikut :  Desain sistem harus berguna, mudah dipahami dan nantinya mudah digunakan. Ini berarti bahwa data harus mudah ditangkap, metode-metode harus mudah diterapkan dan informasi harus mudah dihasilkan serta mudah dipahami dan digunakan.  Desain sistem harus dapat mendukung tujuan utama perusahaan sesuai dengan yang didefinisikan pada tahap perencanaan sistem yang dilanjutkan pada tahap analisis sistem.  Desain sistem harus efisien dan efektif untuk dapat mendukung pengolahan transaksi, pelaporan manajemen dan mendukung keputusan yang akan dilakukan oleh manajemen, termasuk tugas-tugas lainnya yang tidak dilakukan oleh komputer.  Desain sistem harus dapat mempersiapkan rancang bangun yang terinci untuk masing-masing komponen dari sistem informasi yang meliputi data dan informasi, simpanan data, metode-metode, prosedur-prosedur, orang-orang, perangkat keras, perangkat lunak dan pengendalian intern.

4. Personil Yang Terlibat
Pekerjaan desain sistem dilakukan oleh analis sistem dan personil-personil teknik lainnya, seperti misalnya spesialis pengendalian (controls specialists), personil penjamin kualitas (quality assurance personil), spesialis komunikasi data (data communications specialists) dan lain sebagainya. Banyak orang yang setuju bahwa keterlibatan pemakai sistem sangat penting selama tahap analisis system, sedangka pada tahap desain ini banyak analis

Modul 3 : Desain Sistem Secara Umum, halaman :

28

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

sistem yang mendesain sistem informasi tanpa partisipasi yang berarti dari pemakai sistem. Hasil dari ketidak-terlibatan pemakai sistem ini akan mengakibatkan kurang puasnya pemakai sistem terhadap cara sistem bekerja (bahkan sistem tidak dapat memenuhi kebutuhan pemakai). Oleh karena alasan ini, maka pemakai sistem seharusnya juga terlibat dalam tahap desain sistem. Pemakai sistem paling tidak dapat mengkaji ulang komponen-komponen sistem informasi yang didesain, seperti misalnya :  Pemakai sistem seharusnya mengkaji ulang tata letak (layout) dari semua laporan-laporan dan bentuk-bentuk tampilan di layar terminal.  Pemakai sistem juga seharusnya menilai arus percakapan dari dialog layar terminal.  Pemakai sistem juga seharusnya menilai cara penangkapan data, pengolahan dari data tersebut dan distribusi informasinya.

5. Desain Sistem Secara Umum
Tujuan dari desain sistem secara umum adalah untuk memberikan gambaran secara umum kepada user tentang sistem yang baru. Desain sistem secara umum merupakan persiapan dari desain terinci. Desain secara umum mengidentifikasikan komponen-komponen sistem informasi yang akan didesain secara rinci. Sedang desain terinci ditujukan bagi pemrogram komputer dan ahli teknik lainnya yang akan mengimplementasi sistem. Tahap desain sistem secara umum dilakukan setelah tahap analisis sistem selesai dilakukan dan hasil analisis disetujui oleh manajemen. Seperti halnya arsitek yang akan membangun rumah tempat tinggal, setelah arsitek selesai melakukan analisis, maka arsitek mulai membuat sketsa secara garis besar kepada calon pemakai rumah. Sketsa ini hanya dimaksudkan kepada calon pemakai rumah, bukan kepada ahli teknik dan insinyur-insinyur teknik sipil yang akan membangun rumah ini. Desain terinci yang memuat potongan-potongan gambar dengan ukuranukurannya yang terinci akan dibuat setelah desain secara umum ini disetujui oleh calon pemakai rumah. Arsitek belum akan menggambar detail bangunannya dengan ukurannya terinci sebelum bentuk dan susunan rumah itu sendiri disetujui oleh calon pemakai rumah. Analisis sistem dapat mendesain model dari sistem informasi yang diusulkan dalam bentuk physical systems dan logical model. Bagan alir sistem (systems flowchart) merupakan alat yang tepat digunakan untuk menggambarkan physical systems. Simbol-simbol bagan allir sistem ini menunjukkan secara tepat arti fisiknya, seperti simbol terminal, hard disk, laporan-laporan. Logical model dari sistem informasi lebih menjelaskan kepada user bagaimana nantinya fungsi-fungsi di sistem informasi secara logika akan bekerja. Logical model dapat digambar dengan menggunakan diagram arus data (data flow diagram). Arus dari data di diagram arus data dapat dijelaskan dengan menggunakan kamus data (data dictionary).
Modul 3 : Desain Sistem Secara Umum, halaman :

29

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

Sketsa dari physical systems dapat menunjukkan kepada user bagaimana nantinya sistem secara fisik akan diterapkan. Pengolahan data dari sistem informasi berbasis komputer membutuhkan metode-metode dan prosedurprosedur. Metode-metode dan prosedur-prosedur ini merupakan bagian dari model sistem informasi (model prosedur) yang akan mendefinisikan urut-urutan kegiatan untuk menghasilkan output dari input yang ada. Metode (method) adalah suatu cara untuk melakukan suatu kegiatan. Suatu prosedur merupakan rencana tahap demi tahap untuk menerapkan suatu metode. Bagan alir sistem (systems flowchart) merupakan alat berbentuk grafik yang dapat digunakan untuk menunjukkan urut-urutan kegiatan dari sistem informasi berbasis komputer ini. Seringkali gambar bagan alir sistem untuk sistem informasi juga dapat digabung dengan bagan alir formulir dalam perusahaan untuk menunjukkan hubungan dan prosedur antara sistem informasi dengn sistem-sistem lainnya di perusahaan. Pada tahap desain secara umum, komponen-komponen sistem informasi dirancang dengan tujuan untuk dikomunikasikan kepada user bukan untuk pemrogram. Komponen sistem informasi yang didesain adalah : Desain Output Output (keluaran) adalah produk dari sistem informasi yang dapat dilihat. Istilah output ini kadang-kadang membingungkan, karena output dapat terdiri dari macam-macam jenis. Output dapat berupa hasil di media keras (seperti misalnya kertas, microfilm) atau hasil di media lunak (berupa tampilan di layar video). Disamping itu output dapat berupa hasil dari suatu proses yang akan digunakan oleh proses lain dan tersimpan di suatu media seperti tape, disk atau kartu. Desain Input Bila berpikir tentang input, biasanya juga akan berpikir tentang alat input (input device) yang akan digunakan, semacam keyboard, card reader dan lain sebagainya. Alat input dapat digolongkan ke dalam 2 golongan, yaitu alat input langsung (online input device). Alat input langsung merupakan alat input yang langsung dihubungkan dengan CPU, misalnya adalah keyboard, mouse, touch screen dan lain sebagainya. Alat input tidak langsung adalah alat input yang tidak langsung dihubungkan dengan CPU, misalnya KTC (key-to-card), KTT (key-to-tape) dan KTD (key-to-disk). Desain Database Basis data (database) merupakan kumpulan dari data yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya, tersimpan di simpanan luar komputer dan digunakan perangkat lunak tertentu untuk memanipulasinya. Database merupakan salah satu komponen yang penting di sistem informasi, karena berfungsi sebagai basis penyedia informasi bagi para pemakainya. Penerapan database dalam sistem informasi disebut dengan database system. Sistem basis data (database system) ini adalah suatu sistem informasi yang   

Modul 3 : Desain Sistem Secara Umum, halaman :

30

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

mengintegrasikan kumpulan dari data yang saling berhubungan satu dengan lainnya dan membuatnya tersedia untuk beberapa aplikasi yang bermacammacam di dalam suatu organisasi. Untuk tahap desain database secara umum, yang perlu dilakukan oleh analis adalah mengidentifikasi terlebih dahulu file-file yang diperlukan oleh sistem informasi. File-file database yang dibutuhkan oleh sistem dapat dilihat pada desain model yang digambarkan dalam bentuk Data Flow Diagram. Desain Kontrol Suatu sistem dapat dipandang sebagai subyek dari mismanajemen, kesalahan-kesalahan, kecurangan-kecurangan dan penyelewenganpenyelewengan umum lainnya. Pengendalian yang diterapkan pada sistem informasi sangat berguna untuk tujuan mencegah atau menjaga terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan (kesalahan-kesalahan atau kecurangan-kecurangan). Pengendalian intern juga dapat digunakan untuk melacak kesalahan-kesalahan yang sudah terjadi sehingga dapat dikoreksi. Dalam pengembangan suatu sistem informasi, analis dan perancang sistem harus memikirkan pengendalian yang ada atau yang akan diterapkannya. Sistem informasi sebagai sistem yang terbuka (open system) tidak bisa dijamin sebagai suatu sistem yang bebas dari kesalahan-kesalahan atau kecurangankecurangan. Apabila sistem tersebut dilengkapi dengan suatu pengendalian yang berguna untuk mencegah atau menjaga hal-hal yang negatif tersebut, maka sistem akan dapat terus melangsungkan hidupnya. Suatu sistem harus dapat melindungi dirinya sendiri. Pengendalian yang baik merupakan cara bagi suatu sistem informasi untuk melindungi dirinya dari hal-hal yang merugikan. Pengendalian dalam sistem informasi dapat dikategorikan lebih lanjut ke dalam pengendalian umum (general control) dan pengendalian aplikasi (application control). o PENGENDALIAN SECARA UMUM Pengendalian secara umum merupakan pengendalian diluar aplikasi pengolahan data yang terdiri dari :  Pengendalian organisasi Pengendalian organisasi ini dapat dilakukan dengan cara melakukan pemisahan tugas (segregatian of duties) dan pemisahan tanggungjawab (segregation of responsibilities) yang tegas.  Pengendalian dokumentasi Dokumentasi yang ada diantaranya dapat berupa :  Dokumentasi prosedur Dapat berisi prosedur-prosedur yang harus dilakukan pada suatu keadaan tertentu, seperti misalnya prosedur pengetesan program, prosedur penggunaan file, prosedur pembuatan backup dan restore dan lain sebagainya.  Dokumentasi sistem Menunjukkan bentuk dari sistem pengolahan data yang digambarkan dalam bagan alir sistem (system flowchart) atau diagram arus data. 

Modul 3 : Desain Sistem Secara Umum, halaman :

31

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

 Dokumentasi program Menggambarkan logika dari program dalam bentuk bagan alir program (program flowchart) atau dalam bentuk tabel keputusan (decision table) atau dalam bentuk structured chart serta cetakan program. Dokumentasi program sangat dibutuhkan oleh programmer bila akan memodifikasi atau mengembangkan program.  Dokumentasi operasi Berisi penjelasan-penjelasan cara-cara dan prosedur-prosedur mengoperasikan program. Dokumentasi ini sangat berguna bagi operator.  Dokumentasi data Berisi definisi-definisi dari item-item data di dalam database yang digunakan oleh sistem informasi. Dokumentasi data dapat dalam bentuk kamus data. Dokumentasi data banyak dibutuhkan oleh Database Administrator dan pemeriksa sistem. Dokumentasi ini penting untuk keperluan-keperluan sebagai berikut :  Mempelajari cara mengoperasikan sistem  Sebagai bahan training  Dasar pengembangan sistem lebih lanjut  Dasar bila akan memodifikasi atau memperbaiki sistem di kemudian hari  Materi acuan bagi pemeriksa sistem  Pengendalian perangkat keras Pengendalian perangkat keras (hardware control) merupakan pengendalian yang sudah dipasang di dalam komputer itu (built in) oleh pabrik pembuatnya. Pengendalian ini dimaksudkan untuk mendeteksi kesalahan atau tidak berfungsinya perangkat keras (hardware mulfunction). Pengendalian perangkat keras dapat berupa :  pemeriksaan pariti (parity check),  pemeriksaan gaung (echo check),  pemeriksaan baca setelah rekam (read after write check),  pemeriksaan baca ulang (dual read check),  pemeriksaan validitas (validity check) dan  pemeriksaan kesalahan lain-lain (miscellaneous errors check).  Pengendalian keamanan fisik Pengendalian terhadap keamanan fisik perlu dilakukan untuk menjaga keamanan terhadap perangkat keras, perangkat lunak dan manusia di dalam perusahaan. Bila pengendalian keamanan fisik tidak dilakukan secara mestinya, maka dapat mengakibatkan :  menurunnya operasi kegiatan  membahayakan sistem  hilangnya atau menurunnya pelayanan kepada langganan  hilangnya harta kekayaan milik perusahaan

Modul 3 : Desain Sistem Secara Umum, halaman :

32

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

 Pengendalian keamanan data Menjaga integritas dan keamanan data merupakan pencegahan terhadap data yang tersimpan di simpanan luar supaya tidak hilang, rusak dan tidak diakses oleh orang yang tidak berhak. Beberapa cara pengendalian telah banyak diterapkan untuk maksud ini, diantaranya :  dipergunakan data log  proteksi file  pembatasan pengaksesan (access restriction)  data backup dan  recovery  Pengendalian komunikasi Jika sistem informasi menggunakan suatu network komunikasi untuk mentransmisikan data dari satu tempat ke tempat lain, analis sistem harus memikirkan pengendalian untuk ini. Pengendalian komunikasi dimaksudkan untuk menangani kesalahan selama proses mentransmisikan data dan untuk menjaga keamanan dari data selama pengiriman data tersebut. Pengendalian ini ditujukan untuk menangani kesalahan transmisi dan keamanan data sewaktu transmisi. o PENGENDALIAN APLIKASI Pengendalian aplikasi merupakan pengendalian yang diterapkan selama proses pengolahan data berlangsung. Pengendalian aplikasi (application control) dapat dikategorikan ke dalam :  Pengendalian masukan (input control) Mempunyai tujuan untuk meyakinkan bahwa data transaksi yang valid telah lengkap, terkumpul semuanya serta bebas dari kesalahan sebelum dilakukan proses pengolahannya.  Pengendalian pengolahan (processing control) Tujuan dari pengendalian pengolahan ini adalah untuk mencegah kesalahan-kesalahan yang terjadi selama proses pengolahan data yang dilakukan setelah data dimasukkan ke dalam komputer. Kesalahan pengolahan dapat terjadi karena program aplikasi yang digunakan untuk mengolah data mengandung kesalahan.  Pengendalian keluaran (output control) Keluaran (output) yang merupakan produk dari pengolahan data dapat disajikan dalam dua bentuk utama, yaitu dalam bentuk hard copy dan dalam bentuk soft copy. Dalam bentuk hard copy yang paling banyak dilakukan adalah berbentuk laporan yang dicetak menggunakan alat cetak (printer) dan dalam bentuk soft copy yang paling umum adalah berbentuk tampilan di layar terminal.

 Desain Teknologi
Teknologi digunakan untuk menerima input, menjalankan model, menyimpan dan mengakses data, menghasilkan dan mengirimkan keluaran dan membantu pengendalian dari sistem secara keseluruhan. Teknologi terdiri dari 3 bagian utama, yaitu perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software) dan teknisi (humanware atau brainware).
Modul 3 : Desain Sistem Secara Umum, halaman :

33

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

o TEKNOLOGI PERANGKAT KERAS Teknologi perangkat keras komputer dapat terdiri dari :  Alat masukan Alat masukan (input device/input unit/ input equipment) adalah alat yang digunakan untuk menerima masukan data juga untuk memasukkan program.  Alat pemroses Adalah alat dimana instruksi-instruksi program diproses untuk mengolah data yang dimasukkan lewat alat input yang hasilnya akan ditampilkan di alat output. Alat pemroses terdiri dari central processor unit (CPU) dan main memory.  Alat output Output yang dihasilkan dari pengolahan data dapat digolongkan kedalam :  Tulisan, terdiri dari huruf, kata, angka, karakter khusus dan simbolsimbol lain  Image, di dalam suatu bentuk grafik atau gambar  Suara, dalam bentuk musik atau omongan  Bentuk yang dapat dibaca oleh mesin (machine-readable form), dalam bentuk simbol yang hanya dapat dibaca dan dimengerti komputer.  Simpanan luar. Simpanan luar dapat digolongkan ke dalam direct-access storage device (DSSD) atau alat simpanan pengaksesan langsung dan sequential-access storage device (SASD) atau alat simpanan pengaksesan urut. o TEKNOLOGI PERANGKAT LUNAK Perangkat lunak dapat dikategorikan ke dalam :  Perangkat lunak sistem operasi (operating system) Yaitu program yang ditulis untuk mengendalikan dan mengkoordinasi kegiatan dari sistem komputer  Perangkat lunak bahasa (language sofware) Yaitu program yang digunakan untuk menterjemahkan instruksi-instruksi yang ditulis dalam bahasa pemrograman ke dalam bahasa mesin supaya dapat dimengerti oleh komputer  Perangkat lunak aplikasi (application software) Yaitu program yang ditulis dan diterjemahkan oleh language software untuk menyelesaikan suatu aplikasi tertentu. o TEKNOLOGI KOMUNIKASI DATA Network adalah jaringan dari sistem komunikasi data yang melibatkan sebuah atau lebih sistem komputer yang dihubungkan dengan jalur transmisi dan alat komunikasi membentuk satu sistem. Dengan network, komputer yang satu dapat menggunakan data di komputer yang lain, dapat mencetak laporan di printer komputer yang lain, dapat memberi berita ke komputer yang lain walaupun berlainan area. Dalam tahap desain teknologi secara umum, yang perlu dilakukan oleh analis sistem adalah mengidentifikasi jenis dari teknologi yang dibutuhkan dan jumlahnya yang diperlukan oleh sistem informasi.

Modul 3 : Desain Sistem Secara Umum, halaman :

34

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

 Menentukan jenis teknologi untuk sistem baru Untuk teknologi perangkat keras, analis sitem harus menentukan terlebih dahulu peralatan apa yang akan digunakan di masing-masing proses dalam sistem informasi. Untuk perangkat lunak, analis sistem dapat menentukan terlebih dahulu jenis kebutuhan dari system software dan application software.  Menentukan jumlah dari teknologi Untuk perangkat keras, jumlah dari teknologi dapat ditentukan dari waktu yang tersedia dan waktu standar masing-masing operasi yang akan menggunakan teknologi ini. Untuk perangkat lunak, jumlah dari teknologi ini dapat ditentukan dari jumlah perangkat keras yang dibutuhkan.

6. Tekanan-tekanan Desain
Tekanan-tekanan desain (design forces) adalah tekanan-tekanan (forces) yang harus dipertimbangkan dalam mendesain suatu sistem informasi supaya dapat mengenai sasarannya. Supaya sukses, analis sistem harus mempertimbangkan design forces yang ada dan bagaimana tekanan-tekanan ini mempengaruhi proyek sistem informasi. Ambilah contoh desain suatu mobil sebagai analoginya. Semua mobil terdiri dari blok-blok bangunan yang sama, yaitu sebuah bodi mobil, interiornya, instrumen-instrumennya, kendali kemudi (kemudi, pedal rem, pedal gas dan lain sebagainya), roda-roda, gandar-gandar dan suatu mesin yang terbentuk dari suatu unit tenaga, sumber energi, transmisi-transmisi dan geargear. Akan tetapi karena adanya sejumlah tekanan-tekanan desain, bentuk dan isi dari blok-blok bangunan mobil ini telah berubah dari waktu ke waktu. Sebagai misalnya, pengendalian polusi, keamanan yang ditingkatkan dan pemakaian bahan bakar yang harus lebih hemat memaksa mobil untuk didesain kembali keseluruhannya. Beberapa industri mobil beberapa tahun yang lalu kurang memperhatikan pada pemenuhan selera pasar dan banyak yang merancang mobil yang tidak dapat diterima oleh konsumen. Setelah pabrik-pabrik mobil ini berhenti merancang mobil tersebut dan mulai merancang kembali dengan memperhatikan design forces, mereka mendapatkan kembali jalur pemasarannya. Kesadaran akan design forces dan mengikutinya dengan pasti telah mengembalikan pabrik-pabrik mobil ini kepada operasi yang menguntungkan.  Integrasi (integration) Sistem informasi harus didesain terpadu diantara unit-unit di dalam organisasi. Suatu sistem informasi yang ada di antara unit-unit organisasi atau departemen-departemen harus dapat berhubungan dan berkomunikasi dengan baik. Teknologi komunikasi data dapat diterapkan untuk maksud integrasi ini. Integrasi ini perlu, karena organisasi harus dipandang sebagai satu kesatuan unit sistem. Sasaran dari sistem informasi adalah untuk menyediakan informasi
Modul 3 : Desain Sistem Secara Umum, halaman :

35

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

multilevel, cross-functional, tepat waktu, akurat, relevan kepada semua komponen organisasi. Oleh karena itu, sistem informasi yang terpadu perlu dirancang di dalam organisasi. Database dan teknologi merupakan blok bangunan sistem informasi kunci untuk mencapai integrasi ini. Secara ideal, desain dari database harus menyimpan semua data yang ada dalam suatu simpanan yang tunggal untuk keperluan semua orang atau departemen yang mempunyai hak untuk mengaksesnya. Dengan kemampuan teknologi komunikasi yang sekarang ada, maka jumlah data yang besar yang berasal dari lokasi lokal atau lokasi jarak jauh dapat ditangkap, dimanipulasi dan ditransmisikan dengan cepat. Semua data ini kemudian dapat disimpan di database dalam direct access storage device (misalnya hard disk) yang dapat diakses lewat terminal-terminal baik di lokasi lokal atau lokasi jarak jauh tersebut. Elemen-elemen data ini secara logika telah terintegrasi dalam suatu database yang umum. Jalur pemakai/sistem (user/system interface) Sistem informasi berbasis komputer semakin melibatkan interaksi langsung antara manusia sebagai pemakai sistem dengan mesin. Elemen yang kritis dari desain sistem ini adalah jalur pemakai (user interface). Jalur ini terdiri dari layar terminal, keyboard, alat-alat lainnya, bahasa komputer dan cara-cara lain supaya user dapat bertukar input dan output dengan mesin. Terdapat beberapa pilihan untuk mendesain user interface dan pemilihan ini tergantung pada faktor-faktor semacam pengalaman serta tugas-tugas yang harus dilaksanakan oleh user. Terdapat beberapa pedoman untuk hal ini, yaitu sistem harus fleksibel, konsisten dan harus mudah dikontrol oleh user. Berikut ini merupakan elemen-elemen yang harus dipertimbangkan dalam desain untuk memenuhi user interface : o Query Secara query, pemakai sistem dapat mengakses data yang diperlukan untuk mendapatkan informasi walaupun tidak tersedia program aplikasinya. o Desain Layar Suatu desain layar yang baik harus jelas, tidak melompat-lompat dan tidak berisi dengan informasi yang tidak relevan. o Umpan balik Dalam sistem online, aspek yang penting dalam umpan balik (feed back) adalah waktu respon (response time), yaitu waktu antara saat user memasukkan data dengan respon yang diberikan oleh sistem. Masalah umum yang sering terjadi adalah response time yang lama, sehingga user menjadi jemu dan kehilangan konsentrasinya. Jika waktu respon melebihi 10 detik, suatu berita seharusnya ditampilkan secara periodik yang menunjukkan kepada user bahwa sistem sedang bekerja. Sebagai misalnya suatu sistem sedang melakukan perhitungan yang cukup lama, katakanlah 50 detik, maka sebaiknya ditampilkan berita “Tunggu sebentar, sedang memproses sekitar 50 detik”, sehingga user mengetahui bahwa sistem sedang bekerja dan tidak mengira bahwa sistem macet (hang). 

Modul 3 : Desain Sistem Secara Umum, halaman :

36

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

o Bantuan Pada waktu user sedang mengoperasikan sistem, seringkali mengalami kesulitan atau tidak mengetahui apa yang harus dikerjakan berikutnya. Desain sistem yang baik harus menyediakan cara bagaimana user dapat meminta bantuan kepada sistem untuk menjelaskan apa yang ingin diketahui oleh user. Context sensitive help merupakan bantuan yang sering banyak digunakan sekarang, yaitu sistem akan menampilkan bantuan bila diinginkan oleh user pada posisi-posisi tertentu di layar. o Pengendalian kesalahan Pengendalian kesalahan (error control) juga merupakan aspek yang penting dalam user interface. Desain sistem harus mempertimbangkan pengendalian kesalahan ini yang dapat berupa sebagai berikut :  Pencegahan kesalahan Sedapat mungkin, sistem harus menyediakan instruksi yang jelas kepada user tentang apa yang harus dilakukan sehingga user tidak melakukan kesalahan yang seharusnya tidak perlu terjadi. Misalnya sistem dapat menampilkan instruksi “Nilai yang sah adalah diantara 1-25” pada waktu user memasukkan unit barang yang dijual.  Pendeteksian kesalahan Jika suatu kesalahan terjadi, sistem harus dapat mengidentifikasikan kesalahannya dengan jelas dan dapat menampilkan berita kesalahan ini, seperti misalnya “Fatal error, sistem diberhentikan” atau berita “kode salah!!!”.  Pembetulan kesalahan Jika suatu data yang dimasukkan salah sebelum data ini diolah, maka sistem harus dapat memberi kesempatan kepada user untuk dapat mengkoreksinya. Demikian juga bila data yang salah terlanjur direkamkan ke database, maka sistem juga harus dapat menyediakan cara untuk membetulkannya. o Desain workstation Banyak penelitian ergonomics (ergo = kerja, nomics = studi tentang, ergonomics = studi tentang kerja) yang berhubungan dengan menggunakan sistem komputer yang dihubungkan dengan aspek fisik semacam desain dari mebel, tata letak kantor, suara dan penerangan. Untuk desain workstation, beberapa hal perlu dipertimbangkan, yaitu mengenai ukuran, warna dan posisi tampilan di layar terminal, ukuran-ukuran dari mebel dan tata letak keyboard. Desain workstation ini akan mempengaruhi kenyamanan dan kelelahan dari kerja user.  Tantangan-tantangan persaingan (competitive forces) Sekarang ini organisasi telah masuk kedalam era persaingan yang tajam. Organisasi yang ingin bertahan dan sekaligus berkembang di masa mendatang harus memikirkan persaingan ini. Informasi merupakan salah satu senjata yang dapat membantu organisasi untuk bersaing.

Modul 3 : Desain Sistem Secara Umum, halaman :

37

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

Desain dari sistem informasi harus mempertimbangkan lingkunganlingkungan persaingan (competitive environments) yang ada. Lingkungan-lingkungan persaingan ini dapat berupa manajemen, aneka ragam produk dan jasa, dan produktifitas. Sistem informasi harus dapat menyediakan informasi bagi manajemen untuk melakukan kegiatannnya. Aneka ragam produk dan jasa (product and service differentiation) dapat berupa inovasi baru, harga produk atau jasa, kualitas, garansi purna jual dan jasa-jasa lainnya. Sekarang ini banyak organisasi yang menggunakan sistem informasi untuk dapat menguasai aneka ragam dan jasa yang dibutuhkan oleh pasar. Organisasi yang tidak mengambil bagian dari adaptasi persaingan ini akan tertinggal oleh pesaing-pesaingnya. Sebagai contohnya adalah organisasi bank. Desain sistem informasi untuk organisasi ini harus memikirkan aneka ragam jasa yang dapat diterapkan, misalnya apakah perlu dipergunakan ATM sehingga dapat memberikan pelayanan yang lebih memuaskan kepada para nasabahnya untuk memenangkan persaingan. Sistem informasi juga harus dapat membantu dalam hal produktivitas organisasi baik produktivitas bagi manajemennya dan produktivitas bagi para pekerja lainnya. Dengan sistem informasi, produktivitas manajemen dapat ditingkatkan, misalnya dengan menyediakan cara penjadwalan yang lebih baik, pengurangan kerja-kerja teknis dan ketidak-efisienan lainnya. Produktivitas, bagi personilpersonil akuntansi dapat lebih produktif dengan menggunakan komputer dan lain sebagainya. Kualitas dan kegunaan informasi (information quality and usability) Sistem informasi harus dapat menghasilkan informasi yang berkualitas, yaitu tepat pada waktunya (timely), tepat nilainya (accurate) dan relevan (relevance). Untuk dapat menghasilkan hal ini, maka informasi tersebut haruslah berguna bagi yang akan memakainya. Kebutuhan-kebutuhan sistem (systems requirements) Kebutuhan-kebutuhan sistem (systems requirements) yang harus diperhatikan dalam mendesain sistem informasi adalah : o Keandalan (reliability) Menunjukkan seberapa besar sistem dapat diandalkan untuk melakukan suatu proses yang dapat dipercaya dan dibutuhkan. o Ketersediaan (availability) Berarti bahwa sistem mudah diakses oleh user o Keluwesan (flexibility) Menunjukkan bahwa sistem mudah beradaptasi dengan memuaskan sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan user yang berubah. o Jadwal instalasi (installation schedule) Terdiri dari periode waktu antara saat organisasi sadar untuk membutuhkan dan saat sistem informasi ini diterapkan. Selama waktu ini, analis sistem harus dapat mendesain sistem terbaik dalam batas waktu yang dibutuhkan.  

Modul 3 : Desain Sistem Secara Umum, halaman :

38

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

Umur diharapkan dan potensi pertumbuhan (life expectancy and growth potential) Beberapa sistem tidak mempunyai umur yang diperkirakan, karena pada saat diterapkan sistem ini sudah usang. Seringkali juga sistem telah berhasil di instalasi dan berjalan dengan baik, tetapi karena sistem tidak mempunyai potensi untuk bertumbuh, maka sistem juga akan lekas usang. Sistem harus didesain sesuai dengan yang dikehendaki oleh pemakai sistem, misalnya dikehendaki umur sistem harus paling sedikit 5 tahun dan mampu bertumbuh bila terjadi perubahan-perubahan yang cukup signifikan. o Kemudahan dipelihara (maintainability) Setelah sistem diterapkan, maka sistem harus dipelihara (misalnya hal-hal yang tidak berfungsi harus dikoreksi, permintaan-permintaan khusus harus dipertemukan dan peningkatan-peningkatan sistem secara umum harus dilakukan). Kemudahan sistem untuk dirawat tergantung dari desainnya. Untuk mudah dirawat, desain harus menggunakan nama data dan bahasa pemrograman yang standar, pemrograman terstruktur dan moduler, konfigurasi sistem yang standar dan dokumentasi standar yang lengkap.
o

Kebutuhan-kebutuhan pengolahan data (data processing requirements) Kebutuhan-kebutuhan pengolahan data (data processing requirements) berhubungan dengan pekerjaan sistem secara terinci dan dapat terdiri sebagai berikut ini : o Volume Volume menunjukkan volume data yang terlibat dalam pengolahan data. Volume menunjukkan jumlah dari data yang harus diproses dalam satu periode waktu tertentu. Untuk menghitung jumlah dari volume dapat dilakukan lewat banyaknya transaksi yang terjadi. Pengukuran lain dari volume dapat dilihat dari banyaknya suatu fungsi pengolahan harus dilakukan, misalnya suatu fungsi harus mengupdate 5 file serentak dengan jumlah record-nya sebanyak 100 record. o Hambatan waktu pengolahan Hambatan waktu pengolahan menunjukkan jumlah dari waktu yang diijinkan atau yang dapat diterima saat data siap diproses sampai informasi dihasilkan. o Permintaan perhitungan Permintaan perhitungan merupakan model-model matematik yang harus diterapkan (misalnya pemrograman linier) sehingga informasi dapat dihasilkan sesuai dengan yang diinginkan oleh user.  Faktor-faktor organisasi (organizational factors) Terdapat lima buah faktor organisasi yang harus dipertimbangkan dalam desain sistem, yaitu : o Sifat organisasi Kebutuhan informasi untuk suatu organisasi dengan organisasi yang lainnya berbeda. Misalnya perusahaan real estate, perusahaan asuransi, atau

Modul 3 : Desain Sistem Secara Umum, halaman :

39

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

o

o

o

o

perusahaan tansportasi berbeda dengan perusahaan manufaktur dalam bentuk informasi yang dibutuhkan. Demikian juga dengan perusahaan perdagangan besar dengan perdagangan eceran juga berbeda kebutuhan informasinya. Oleh karena itu, untuk mengidentifikasikan dan memahami kebutuhan informasi bagi suatu organisasi yang tertentu, pertama kali yang perlu dipahami adalah sifat organisasi tersebut. Tipe organisasi Tipe organisasi dapat dikategorikan sebagai berikut ini :  organisasi fungsional, yaitu setiap manajer bertanggungjawab untuk area fungsi tertentu, semacam produksi, pemasaran, personalia atau keuangan.  Organisasi divisional, yaitu tiap-tiap manajer divisi bertanggungjawab terhadap semua fungsi dalam divisinya  Organisasi matrik, yaitu beberapa manajer mempunyai tanggungjawab bersama terhadap suatu fungsi dan suatu proyek atau program kerja Untuk masing-masing tipe organisasi ini, satu dengan yang lainnya kebutuhan informasinya juga berbeda. Ukuran organisasi Ukuran dari organisasi juga merupakan faktor yang mempengaruhi kebutuhan informasi. Semakin besar organisasi, semakin banyak informasi yang dibutuhkan. Struktur organisasi Struktur internal organisasi juga merupakan faktor yang mempengaruhi kebutuhan informasi. Sebagai misalnya, tanggungjawab terhadap manajemen persediaan dapat berada pada tanggungjawab departemen produksi di suatu organisasi atau dapat berada pada tanggungjawab departemen pembelian di organisasi lainnya. Dari struktur organisasinya, maka dapat ditentukan departemen mana yang membutuhkan informasi persediaan ini, apakah departemen produksi atau departemen pembelian. Departemen produksi biasanya lebih membutuhkan informasi mengenai ketersediaan persediaan, perputaran persediaan dan kualitasnya, sedang departemen pembelian lebih membutuhkan informasi mengenai harga persediaan dan informasi tentang pemasok. Pengendalian mutu sebagai contoh yang lainnya untuk suatu organisasi dapat berupa tanggungjawab departemen produksi, tetapi untuk organisasi lainnya dapat berada pada tanggungawab departemen yang terpisah. Gaya manajemen (management style) Gaya manajemen juga mempunyai pengaruh terhadap bentuk dari sistem informasi. Gaya manajemen yang otokratik (autocratic) lebih senang dengan sistem informasi yang terpusat (centralized), sedang gaya manajemen yang demokratik (democratic), lebih senang pada sistem informasi yang tersebar (decentralized).

Modul 3 : Desain Sistem Secara Umum, halaman :

40

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

Kebutuhan biaya-efektivitas (cost-effectiveness requirements) Jika membeli suatu encyclopedias atau misalnya membeli buku, maka yang dibeli tidak hanya sekadar bukunya saja, tetapi adalah informasi yang terkandung di dalamnya. Suatu sistem informasi dikembangkan dengan biaya yang tidak sedikit. Suatu organisasi mengembangkan sistem informasi bukan hanya menginginkan mendapatkan fisik dari sistem informasi itu saja, tetapi lebih dari itu yaitu informasi yang dihasilkan darinya. Dengan demikian desain sistem informasi perlu dipertimbangkan antara biaya untuk memperolehnya dengan manfaat informasi yang dihasilkan.

Faktor-faktor manusia (human factors) Analis sistem harus mencoba untuk dapat mendesain sistem yang dapat diterima oleh semua pemakainya, tidak hanya satu atau dua orang pemakai saja. Untuk maksud ini, sistem informasi harus dapat bersahabat dengan semua pemakainya, tidak sebaliknya menyulitkan pemakai. Perlu diingat bahwa pada awalnya tidak semua manusia dalam organisasi tertarik dan mendukung pengembangan sistem informasi. Sistem informasi yang didesain dengan memperhatikan faktor-faktor manusianya akan didapatkan sistem informasi dengan user interface yang baik dan dapat meningkatkan produktivitas pemakainya. Kebutuhan-kebutuhan kelayakan (feasibility requirements) Lima macam kelayakan harus tetap diperhitungkan dalam desain sistem informasi. Lima macam kelayakan ini adalah :  Kelayakan teknik (technical feasibility),  Kelayakan ekonomi (economic feasibility),  Kelayakan hukum (law feasibility atau legal feasibility),  Kelayakan operasi (operatioanl feasibility), dan  Kelayakan skedul (schedule feasibility). Walaupun kelayakan-kelayakan ini telah dinilai pada tahap perencanaan sistem, tetapi dalam tahap desain sistem juga harus dipertimbangkan kembali, karena kemungkinan apa yang direncanakan di tahap perencanaan sistem mungkin di tahap desain sistem mengalami perubahan-perubahan. 

EVALUASI
1. Jelaskan arti, maksud dan tujuan dari desain sistem 2. Jelaskan langkah-langkah apa saja yang dapat dilakukan pada saat desain output secara umum 3. Sebutkan dan jelaskan tahapan-tahapan proses dari input, serta desain secara umum tentang input, database, dan teknologi 4. Jelaskan secara singkat jenis-jenis pengendalian secara umum 5. Jelaskan secara singkat tekanan-tekanan desain yang mempengaruhi kerja sistem apabila telah selesai

Modul 3 : Desain Sistem Secara Umum, halaman :

41

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

DAFTAR PUSTAKA
Burch, J.G. , 1992, System, Analysis, Design, and Implementation, Boyd & Fraser Publishing Company. Jogiyanto, 1990., Analisis dan Disain Sistem Informasi, ANDI OFFSET Yogyakarta John G. Burch, Jr, Felix R. Strater, Gary Grudnistski, 1979, Information Systems : Theory and Practice, Second Edition, John Wiley & Sons Meilir Page-Jones, 1988, The Practical Guide to Structured Systems Design, Second Edition, Yourdon Press, Prentice Hall I.T. Hawryszkiewycz, 1991, Introduction Systems Analysis and Design, Second Edition, Prentice Hall Raymond McLeod, Jr, 1979, Management Information System : A Study of Computer-Based Information Systems, Sixth Edition, Prenctice Hall

Modul 3 : Desain Sistem Secara Umum, halaman :

42

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

MODUL 4 PENDEKATAN PERANCANGAN TERSTRUKTUR
MATERI 1. Konsep Perancangan Terstruktur 2. Data Flow Diagram (DFD) 3. Kamus Data (KD) STANDAR KOMPETENSI Memahami Konsep Pendekatan Perancangan Terstruktur dengan Alat Bantunya DFD dan KD, serta Dapat Menggunakan DFD dan KD Secara Tepat CAPAIAN PEMBELAJARAN 1. Mahasiswa mengetahui konsep DFD dan KD serta bagaimana cara menggunakannya 2. Mahasiswa dapat menentukan kapan menggunakan secara tepat berdasarkan kelebihan dan kekurangan DFD dan KD 3. Mahasiswa diharapkan dapat membuat model sistem yang akan mereka kembangkan dengan DFD dan KD

1. Konsep Perancangan Terstruktur
Karena banyak terjadi permasalahan-permasalahan di pendekatan klasik, maka kebutuhan akan pendekatan pengembangan sistem yang lebih baik mulai terasa dibutuhkan. Sayangnya sampai sekarang masih banyak orang yang tidak menyadari bahwa hanya dengan mengikuti tahapan di life cycle saja tidak akan membuat pengembangan sistem informasi menjadi berhasil. Oleh karena itu diperlukan suatu pendekatan pengembangan sistem yang baru yang dilengkapi dengan beberapa alat dan teknik supaya membuatnya berhasil. Pendekatan ini yang dimulai dari awal tahun 1970 disebut dengan pendekatan terstruktur (structured approach). Pendekatan terstruktur dilengkapi dengan alat-alat (tools) dan teknik-teknik (techniques) yang dibutuhkan dalam pengembangan sistem, sehingga hasil akhir dari sistem yang dikembangkan akan didapatkan sistem yang strukturnya didefinisikan dengan baik dan jelas. Konsep pengembangan sistem terstruktur bukan merupakan konsep yang baru. Teknik perakitan di pabrik-pabrik dan perancangan sirkuit untuk alat-alat elektronik adalah dua contoh dari konsep ini yang banyak digunakan di industriindustri. Konsep ini memang relatif masih baru digunakan dalam mengembangkan sistem informasi untuk dihasilkan produk sistem yang memuaskan pemakainya. Melalui pendekatan terstruktur, permasalahanpermasalahan yang komplek di organisasi dapat dipecahkan dan hasil dari sistem akan mudah untuk dipelihara, fleksibel, lebih memuaskan pemakainya, mempunyai dokumentasi yang baik, tepat pada waktunya, sesuai dengan anggaran biaya pengembangannya, dapat meningkatkan produktivitas dan kualitasnya akan lebih baik (bebas kesalahan).

Modul 4 : Pendekatan Perancangan Terstruktur, halaman :

43

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

Salah satu tools dan teknik dalam pengembangan sistem terstruktur adalah menggunakan DFD (Data Flow Diagram = Diagram Arus Data, DAD).

2. Data Flow Diagram (DFD)
Ide dari suatu bagan untuk mewakili arus data dalam suatu sistem bukanlah hal yang baru. Pada tahun 1967, Martin dan Estrin memperkenalkan suatu algorima program dengan menggunakan simbol lingkaran dan panah untuk mewakili arus data. E. Yourdan dan L. L. Constantine juga menggunakan notasi simbol ini untuk menggambarkan arus data dalam perancangan program. G.E. Whitehouse tahun 1973 juga menggunakan notasi semacam ini untuk membuat model-model sistem matematika. Penggunaan notasi dalam diagram arus data ini sangat membantu sekali untuk memahami suatu sistem pada semua tingkat kompleksitasnya seperti yang diungkapkan oleh Chris Gane dan Trish Sarson. Pada tahap analisis, penggunaan notasi ini sangat membantu sekali di dalam komunikasi dengan pemakai sistem untuk memahami sistem secara logika. Diagram yang menggunakan notasi-notasi ini untuk menggambarkan arus dari data sistem sekarang dikenal dengan nama diagram arus data (data flow diagram, DFD). DFD sering digunakan untuk menggambarkan suatu sistem yang telah ada atau sistem baru yang akan dikembangkan secara logika tanpa mempertimbangkan lingkungan fisik dimana data tersebut mengalir (misalnya lewat telpon, surat dan sebagainya) atau lingkungan fisik dimana data tersebut akan disimpan (misalnya file kartu, microfile, harddisk, tape, diskette dan lain sebagainya). DFD merupakan alat yang cukup populer sekarang ini, karena dapat menggambarkan arus data di dalam sistem dengan terstruktur dan jelas. Lebih lanjut DFD juga merupakan dokumentasi dari sistem yang baik.  Komponen DFD Data Flow Diagram (atau Diagram Alir Data) mempunyai komponen dasar berupa empat buah symbol sebagai berikut :  Menurut Yourdan dan DeMarco - Kesatuan Luar - Proses : :

- Penyimpan Data : - Arus Data :

Modul 4 : Pendekatan Perancangan Terstruktur, halaman :

44

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

 Menurut Gene dan Serson - Kesatuan Luar :

- Proses

:

- Penyimpan Data : - Arus Data :

Sebaiknya tidak mencampur antara simbol komponen menurut Yourdan dan DeMarco dengan menurut Gene dan Serson, sehingga harus dipilih salah satu saja. Terdapat 2 bentuk DFD, yaitu DFD fisik (Physical Data Flow Diagram) dan DFD logika (Logical Data Flow Diagram). DFD fisik lebih menekankan pada bagaimana proses dari sistem diterapkan sedang DFD logika lebih menekankan proses-proses apa yang terdapat di sistem. o PHYSICAL DATA FLOW DIAGRAM (PDFD) PDFD lebih tepat digunakan untuk menggambarkan sistem yang ada (sistem yang lama). Penekanan dari PDFD adalah bagaimana proses-proses dari sistem diterapkan (dengan cara apa, oleh siapa dan dimana), termasuk proses-proses manual. Dengan menggunakan PDFD, bagaimana proses sistem yang ada akan lebih dapat digambarkan dan dikomunikasikan kepada pemakai sistem, sehingga analis sistem akan dapat memperoleh gambaran yang jelas bagaimana sistem tersebut bekerja. Untuk memperoleh gambaran bagaimana sistem yang ada diterapkan, PDFD harus memuat sebagai berikut :  Proses-proses manual juga digambarkan  Nama dari arus data harus menunjukkan fakta penerapannya semacam nomor formulir dan medianya (misalnya telpon atau surat). Nama arus data mungkin juga menerangkan tentang waktu mengalirnya (misalnya harian atau mingguan). Dengan kata lain, nama dari arus data harus memuat keterangan yang cukup terinci untuk menunjukkan bagaimana pemakai sistem memahami kerja dari sistem.  Simpanan data dapat menunjukkan simpanan non komputer, misalnya kotak in/out yang berfungsi sebagai buffer dari proses serentak yang beroperasi dengan kecepatan berbeda, sehingga ada sebuah data yang harus menunggu di buffer.

Modul 4 : Pendekatan Perancangan Terstruktur, halaman :

45

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

 Nama dari simpanan data harus menunjukkan tipe penerapannya apakah secara manual atau komputerisasi. Secara manual misalnya dapat menunjukkan buku catatan, meja pekerja atau kotak in/out. Sedang secara komputerisasi misalnya menunjukkan file urut, file ISAM, file database dan lain sebagainya.  Proses harus menunjukkan nama dari pemroses (processor), yaitu orang, departemen, sistem komputer atau nama program komputer yang mengeksekusi proses tersebut. o LOGICAL DATA FLOW DIAGRAM (LDFD) LDFD lebih tepat digunakan untuk menggambarkan sistem yang akan diusulkan (sistem yang baru). LDFD tidak menekankan pada bagaimana sistem diterapkan, tetapi penekanannya hanya pada logika dari kebutuhankebutuhan sistem, yaitu proses-proses apa secara logika yang dibutuhkan oleh sistem. Karena sistem yang diusulkan belum tentu diterima oleh pemakai sistem dan biasanya sistem yang diusulkan terdiri dari beberapa alternatif, maka penggambaran sistem secara logika terlebih dahulu tanpa berkepentingan dengan penerapannya secara fisik akan lebih mengena dan menghemat waktu penggambarannya dibandingkan dengan PDFD. Untuk sistem komputerisasi, penggambaran LDFD yang hanya menunjukkan kebutuhan proses dari sistem yang diusulkan secara logika, biasanya prosesproses yang digambarkan hanya merupakan proses-proses yang berlangsung secara komputerisasi saja.  Arus Data Dalam sambungan untuk Arus Data terdapat beberapa larangan yang tidak boleh dilanggar, karena hal tersebut akan menyebabkan kerancuan terhadap fungsi DFD, diantaranya adalah sebagai berikut :
No 1 2 3 4 5 6 7 8 Sambungan Arus Data Tanpa Tujuan Tanpa Asal Antar Proses Proses dengan Kesatuan Luar Proses dengan Penyimpan Data Antar Kesatuan Luar Kesatuan Luar dengan Penyimpan data Antar Penyimpan Data boleh X X X X X X tidak X X

Disamping itu, sebuah arus data harus selalu mempunyai asal, tujuan dan nama yang jelas, singkat, tapi mudah dipahami, karena nama sebuah arus data akan digunakan sebagai acuan untuk menyusun kamus data pasangannya, nama dari arus data dituliskan disamping garis panahnya. Arus data (data flow) di DFD diberi simbol suatu panah. Arus data ini mengalir diantara proses (process), penyimpan data (data store) dan kesatuan luar (external entity). Arus data ini menunjukkan arus dari data yang dapat berupa masukan untuk sistem atau hasil dari proses sistem dan dapat berbentuk sebagai berikut ini :

Modul 4 : Pendekatan Perancangan Terstruktur, halaman :

46

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

        

Formulir atau dokumen yang digunakan di perusahaan Laporan tercetak yang dihasilkan oleh sistem Tampilan atau output di layar komputer yang dihasilkan oleh sistem Masukan untuk komputer Komunikasi ucapan Surat-surat atau memo Data yang dibaca atau direkamkan ke suatu file Suatu isian yang dicatat pada buku agenda Transmisi data dari suatu komputer ke komputer yang lain

Di dalam menggambar arus data di DFD perlu diperhatikan beberapa konsep penggambarannya sebagai berikut : o Konsep paket dari data (packet of data) Bila dua atau lebih data mengalir dari suatu sumber yang sama ke tujuan yang sama, maka harus dianggap sebagai suatu arus data yang tunggal, karena dua atau lebih data tersebut mengalir bersama-sama sebagai suatu paket. Data yang mengalir bersama-sama harus ditunjukkan sebagai satu arus data, walaupun misalnya terdiri dari beberapa dokumen.

o Konsep arus data menyebar (diverging data flow) Arus data yang menyebar menunjukkan sejumlah tembusan dari arus data yang sama dari sumber yang sama ke tujuan yang berbeda.

o Konsep arus data mengumpul (converging data flow) Arus data yang mengumpul menunjukkan beberapa arus data berbeda dari sumber berbeda bergabung bersama-sama menuju ke tujuan yang sama

Modul 4 : Pendekatan Perancangan Terstruktur, halaman :

47

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

o Konsep sumber dan tujuan arus data Semua arus data harus dihasilkan dari suatu proses atau menuju ke suatu proses (dapat salah satu atau kedua-duanya, yaitu berasal dari suatu proses menuju ke bukan suatu proses atau berasal dari bukan suatu proses tetapi menuju ke suatu proses atau berasal dari suatu proses dan menuju ke suatu proses). Konsep ini penting karena arus data adalah salah satu dari hasil suatu proses atau akan digunakan untuk melakukan suatu proses.  Penyimpan Data Penyimpan Data (Data store) dapat berupa sebagai berikut ini :  Suatu file atau database di sistem komputer  Suatu arsip atau catatan manual  Suatu kotak tempat data di meja seseorang  Suatu tabel acuan manual  Suatu agenda atau buku

Nama dari penyimpan data menunjukkan nama dari filenya, misalnya file langganan, file hutang, file arsip faktur dan lain sebagainya. Untuk DFD Fisik, supaya memperjelas penyimpan data ini, penjelasan mengenai media dari penyimpan data perlu dicantumkan seperti misalnya buku atau arsip, atau suatu kotak dan lain sebagainya. Sedang untuk DFD Logika, penjelasan ini dapat digunakan untuk identifikasi dari penyimpan data yang berguna sebagai acuan dalam merancang database. Di dalam penggambaran penyimpan data di DFD perlu diperhatikan beberapa hal, sebagai berikut : o Hanya proses saja yang berhubungan dengan penyimpan data, karena yang menggunakan atau merubah data di penyimpan data adalah suatu proses. o Arus data yang menuju ke penyimpan data dari suatu proses menunjukkan proses update terhadap data yang tersimpan di penyimpan data. Update dapat berupa proses :  menambah atau menyimpankan record baru atau dokumen baru ke dalam penyimpan data  menghapus record atau dokumen dari penyimpan data  merubah nilai data di suatu record atau di suatu dokumen yang ada di penyimpan data o Arus data yang berasal dari penyimpan data ke suatu proses menunjukkan bahwa proses tersebut menggunakan data yang ada di penyimpan data. Untuk media penyimpan data berupa penyimpan luar komputer (disk atau tape) berarti membaca data dari suatu record di file sedang untuk penyimpan data berupa media manual berarti mengambil suatu formulir atau dokumen untuk dilihat isinya dari suatu penyimpan data. o Untuk suatu porses yang melakukan kedua-duanya, yaitu menggunakan dan update penyimpan data dapat dipilih salah satu penggambaran sebagai berikut ini  Menggunakan sebuah garis dengan panah mengarah kedua arah yang berlawanan dari penyimpan data sebagai berikut :
Modul 4 : Pendekatan Perancangan Terstruktur, halaman :

48

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

Menggunakan arus data yang terpisah sebagai berikut :

Supaya gambar dari DFD tidak ruwet karena banyaknya garis arus data yang saling berpotongan, maka kesatuan luar dan simpanan data dapat digambarkan lebih dari sebuah. Duplikasi dari kesatuan luar dapat diidentifikasikan dengan suatu garis miring (/) atau dengan asterik (*). Sedang duplikasi dari simpanan data dapat diidentifikasi dengan garis vertikal (|) atau dengan asterik (*). Dengan menggambarkan ulang kesatuan luar dan simpanan data lebih dari sebuah, maka garis-garis arus data yang berpotongan dapat dihindari. Kesatuan Luar Setiap sistem pasti mempunyai batas sistem (boundary) yang memisahkan suatu sistem dengan lingkungan luarnya. Sistem akan menerima input dan menghasilkan output kepada lingkungan luarnya. Kesatuan luar (external entity) merupakan kesatuan (entity) di lingkungan luar sistem yang dapat berupa orang, organisasi atau sistem lainnya yang berada di lingkungan luarnya yang akan memberikan input atau menerima output dari sistem. Kesatuan luar ini kebanyakan adalah salah satu dari berikut ini :  Suatu kantor, departemen, atau divisi dalam perusahaan tetapi di luar sistem yang sedang dikembangkan  Orang atau sekelompok orang di organisasi tetapi di luar sistem yang sedang dikembangkan  Suatu organisasi atau orang uang berada di luar organisasi seperti misalnya langganan, pemasok  Sistem infromasi yang lain di luar sistem yang sedang dikembangkan  Sumber asli dari suatu transaksi  Penerima akhir dari suatu laporan yang dihasilkan oleh sistem Suatu kesatuan luar dapat disimbolkan dengan suatu notasi kotak atau suatu kotak dengan sisi kiri dan atasnya berbentuk garis tebal. 

Modul 4 : Pendekatan Perancangan Terstruktur, halaman :

49

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

Proses Suatu proses adalah kegiatan atau kerja yang dilakukan oleh orang, mesin atau komputer dari hasil suatu arus data yang masuk ke dalam proses untuk dihasilkan arus data yang akan keluar dari proses. Untuk physical data flow diagram (PDFD), proses yang dapat dilakukan oleh orang, mesin atau komputer, sedang untuk logical data flow diagram (LDFD), suatu proses hanya menunjukkan proses dari komputer. Setiap proses boleh diberi penjelasan yang lengkap meliputi berikut ini :  Identifikasi proses Identifikasi ini umumnya berupa suatu angka yang menunjukkan nomor acuan dari proses dan ditulis pada bagian atas di simbol proses.  Nama proses Nama proses menunjukkan apa yang dikerjakan oleh proses tersebut. Nama dari proses harus jelas dan lengkap menggambarkan kegiatan prosesnya. Nama dari proses biasanya berbentuk suatu kalimat diawali dengan kata kerja (misalnya menghitung, membuat, membandingkan, memferifikasi, mempersiapkan, merekam dan lain sebagainya). Nama dari proses diletakkan di bawah identifikasi proses di simbol proses.  Pemroses Untuk PDFD yang menunjukkan proses tidak hanya proses dari komputer, tetapi juga proses manual, seperti proses yang dilakukan oleh orang, mesin dan lain sebagainya, maka pemroses harus ditunjukkan. Pemroses ini menunjukkan siapa atau dimana suatu proses dilakukan. Untuk LDFD yang prosesnya hanya menunjukkan proses komputer saja, maka pemroses dapat tidak disebutkan. Untuk LDFD bila pemroses akan disebutkan dapat juga untuk menyebutkan nama dari program yang melakukan prosesnya. Keterangan pemroses ini di simbol proses dapat dituliskan dibawah nama proses sebagai berikut :

Umumnya dalam setiap pembuatan DFD sering terjadi beberapa kesalahan sebagai berikut :  Proses mempunyai input tetapi tidak menghasilkan output. Kesalahan ini disebut dengan black hole (lubang hitam), karena data masuk kedalam proses dan lenyap tidak berbekas seperti dimasukkan ke dalam lubang hitam yang dalam sekali.  Proses menghasilkan output tetapi tidak pernah menerima input, kesalahan ini disebut dengan miracle (ajaib), karena secara ajaib dihasilkan output tanpa pernah menerima input.

Modul 4 : Pendekatan Perancangan Terstruktur, halaman :

50

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

Syarat Pembuatan Pedoman bagaimana menggambar DFD baik PDFD ataupun LDFD adalah sebagai berikut ini :

o Identifikasikan terlebih dahulu semua kesatuan luar (external entity) yang terlibat di sistem. Kesatuan luar ini merupakan kesatuan (entity) di luar sistem, karena di luar bagian pengolahan data (sistem informasi). Kesatuan luar ini merupakan sumber arus data ke sistem informasi serta tujuan penerima arus data hasil dari proses sistem informasi, sehingga merupakan kesatuan di luar sistem informasi. o Identifikasikan semua input dan output yang terlibat dengan kesatuan luar. Kesatuan luar Langganan Bagian gudang Bagian pengiriman Manajer kredit Input Order langganan Tembusan jurnal Output Tembusan permintaan persedian Faktur, tembusan kredit dan tembusan jurnal Status piutang

Modul 4 : Pendekatan Perancangan Terstruktur, halaman :

51

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

o Gambarlah terlebih dahulu suatu diagram konteks (context diagram). DFD merupakan alat untuk structured analysis. Pendekatan terstruktur ini mencoba untuk menggambarkan sistem pertama kali secara garis besar (disebut dengan top level) dan memecah-mecahnya menjadi bagian yang lebih terinci (disebut dengan lower level). DFD yang pertama kali digambar adalah level teratas (top level) dan diagram ini disebut context diagram. Dari context diagram ini kemudian akan digambar dengan lebih terinci lagi yang disebut dengan overview diagram (level 0). Tiap-tiap proses di overview diagram akan digambar secara lebih terinci lagi dan disebut dengan level 1. Tiap-tiap proses di level 1 akan digambar kembali dengan lebih terinci lagi dan disebut dengan level 2 dan seterusnya sampai tiap-tiap proses tidak dapat digambar lebih terinci lagi. o PERBEDAAN DFD DENGAN BAGAN ALIR DFD sangat berbeda dengan bagan alir (flow-chart). Perbedaannya adalah sebagai berikut :  Proses di DFD dapat beroperasi secara parallel, sehingga beberapa proses dapat dilakukan serentak. Hal ini merupakan kelebihan DFD dibandingkan dengan bagan alir yang cenderung hanya menunjukkan proses yang urut. Kenyataannya kegiatan-kegiatan proses dapat dilakukan secara tidak urut, yaitu secara parallel atau serentak, sehingga DFD dapat menggambarkan proses semacam ini dengan lebih mengena.  DFD lebih menunjukkan arus data di suatu sistem, sedang bagan alir sistem lebih menunjukkan arus dari prosedur dan bagan alir program lebih menunjukkan arus dari algoritma.  DFD tidak dapat menunjukkan proses perulangan (loop) dan proses keputusan (decision), sedang bagan alir dapat menunjukkannya.

3. Kamus Data
Kamus data (KD) atau data dictionary (DD) atau disebut juga dengan istilah systems data dictionary adalah katalog fakta tentang data dan kebutuhan kebutuhan informasi dari suatu sistem informasi. Dengan menggunakan KD, analis sistem dapat mendefinisikan data yang mengalir di sistem dengan lengkap. KD dibuat pada tahap analisis sistem dan digunakan baik pada tahap analisis maupun pada tahap perancangan sistem. Pada tahap analisis, KD dapat digunakan sebagai alat komunikasi antara analis sistem dengan pemakai sistem tentang data yang mengalir di sistem, yaitu tentang data yang masuk ke sistem dan tentang informasi yang dibutuhkan oleh pemakai sistem. Pada tahap perancangan sistem, KD digunakan untuk merancang input, merancang laporanlaporan dan database. KD dibuat berdasarkan arus data yang ada di DFD. Arus data di DFD sifatnya adalah global, hanya ditunjukkan nama arus datanya saja. Keterangan lebih lanjut tentang struktur dari suatu arus data di DFD secara lebih terinci dapat dilihat di KD. Gambar berikut ini menunjukkan hubungam antara DFD dengan salah satu KD-nya.

Modul 4 : Pendekatan Perancangan Terstruktur, halaman :

52

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

Setiap arus data harus punya pasangan Kamus Data, Kamus Data harus dapat mencerminkan keterangan yang jelas tentang data yang dicatatnya. Untuk maksud keperluan ini, maka KD harus memuat hal-hal berikut ini.  Nama arus data. Karena KD dibuat berdasarkan arus data yang mengalir di DFD, maka nama dari arus data juga harus dicatat di KD, sehingga mereka yang membaca DFD dan memerlukan penjelasan lebih lanjut tentang suatu arus data tertentu di DFD dapat langsung mencarinya dengan mudah di KD. Alias Alias atau nama lain dari data dapat dituliskan bila nama lain ini ada. Alias perlu ditulis karena data yang sama mempunyai nama yang berbeda untuk orang atau departemen satu dengan yang lainnya. Misalnya bagian pembuat faktur dan langganan menyebut bukti penjualan.sebagai faktur, sedang bagian gudang menyebutnya sebagai tembusan permintaan persediaan. Baik faktur dan tembusan permintaan persediaan ini mempunyai struktur data yang sama, tetapi mempunyai struktur yang berbeda.

Modul 4 : Pendekatan Perancangan Terstruktur, halaman :

53

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

Bentuk data. Telah diketahui bahwa arus data dapat mengalir :  Dari kesatuan luar ke suatu proses, data yang mengalir ini biasanya tercatat di suatu dokumen atau formulir;  Hasil dari suatu proses ke kesatuan luar, data yang mengalir ini biasanya terdapat di media laporan atau query tampilan layar atau dokumen hasil cetakan komputer;  Hasil suatu proses ke proses yang lain, data yang mengalir ini biasanya dalam bentuk variabel atau parameter yang dibutuhkan bleb proses penerimanya;  Hasil suatu proses yang direkamkan ke simpanan data, data yang mengalir ini biasanya berbentuk suatu variabel;  Dari simpanan data dibaca oleh suatu proses, data yang mengalir ini biasanya berupa suatu field (item data). Dengan demikian bentuk dari data yang mengalir dapat berupa:  Dokumen dasar atau formulir;  Dokumen hasil cetakan computer  Laporan tercetak atau tampilan di layar monitor;  Variabel;  Field. Bentuk dari data ini perlu dicatat di KD, karena dapat digunakan untuk mengelompokkan KD ke dalam kegunaannya sewaktu perancangan sistem. KD yang mencatat data yang mengalir dalam bentuk dokumen dasar atau formulir akan digunakan untuk merancang bentuk input sistem. KD yang mencatat data yang mengalir dalam bentuk laporan tercetak dan dokumen hasil cetakan komputer akan digunakan untuk merancang output yang akan dihasilkan oleh sistem. KD yang mencatat data yang mengalir dalam bentuk tampilan di layar monitor akan digunakan juga untuk merancang tampilan layar yang akan dihasilkan oleh sistem. KD yang mencatat data yang mengalir dalam bentuk parameter dan variabel akan digunakan untuk merancang proses dari program. KD yang mencatat data yang mengalir dalam bentuk dokumen, formulir, laporan, dokumen cetakan komputer, tampilan di layer monitor, variabel dan field akan digunakan untuk merancang database.  Arus data. Arus data menunjukkan dari mana data mengalir dan ke mana data akan menuju. Keterangan arus data ini perlu dicatat di KD supaya memudahkan mencari arus data ini di DFD. Penjelasan. Untuk lebih memperjelas lagi tentang makna dari arus data yang dicatat di KD, maka bagian penjelasan dapat diisi dengan keterangan-keterangan tentang arus data tersebut. Sebagai misalnya nama dari arus data adalah TEMBUSAN PERMINTAAN PERSEDIAAN, maka dapat lebih dijelaskan sebagai tembusan dari faktur penjualan untuk meminta barang dari gudang.

Modul 4 : Pendekatan Perancangan Terstruktur, halaman :

54

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

Periode. Periode ini menunjukkan kapan terjadinya arus data ini. Periode perlu dicatat di KD karena dapat digunakan untuk mengidentifikasikan kapan input data harus dimasukkan ke sistem, kapan proses dari program harus dilakukan dan kapan laporan-laporan harus dihasilkan. Volume Volume yang perlu dicatat di KD adalah tentang volume rata-rata dan volume puncak dari arus data. Volume rata-rata menunjukkan banyaknya rata-rata arus data yang mengalir dalam satu periode tertentu dan volume puncak menunjukkan volume yang terbanyak. Volume ini digunakan untuk mengidentifikasikan besarnya simpanan luar yang akan digunakan, kapasitas dan jumlah dari alat input, alat pemroses dan alat output.

Struktur data. Struktur data menunjukkan arus data yang dicatat di KD terdiri dari item-item data apa saja. Struktur dari data terdiri dari elemen-elemen data yang disebut dengan item data, sehingga secara prinsip struktur dari data ini dapat digambarkan dengan menyebutkan nama dari item-item datanya. Nama dari item data saja yang dicatat di KD tidaklah cukup, masih diperlukan informasi lainnya dari struktur data tersebut, seperti misalnya informasi tentang apakah item data tersebut pasti ada atau hanya bersifat optional (dapat ada dan dapat tidak ada). Biasanya untuk menunjukkan informasi-informasi tambahan ini di KD dipergunakan notasi-notasi sebagai berikut ini :
= + [ ] atau | n{ }m ( ) * : : : : : : sama dengan, atau terbentuk dari, atau terdiri dari. dan salah satu diantara, atau salah satu dari perulangan sebanyak minimal n kali sampai dengan m kali isi dalam kurung bersifat pilihan, boleh ada boleh tidak apapun yang dibelakangnya adalah komentar atau keterangan

Contoh dari penggunaan notasi ini misalnya adalah arus data LANGGANAN yang mempunyai struktur data yang dapat ditulis sebagai berikut: LANGGANAN terdiri dari: KODE LANGGANAN NAMA LANGGANAN = NAMA KECIL + (NAMA KELUARGA) 1{ ALAMAT = JALAN + KOTA + KODE POS }3 ( TELP ) [ PENGECER | GROSIR ] BATAS KREDIT *jumlah kredit maksimum yang diijinkan JUMLAH PIUTANG

Modul 4 : Pendekatan Perancangan Terstruktur, halaman :

55

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

Dari struktur data ini dapat diartikan bahwa arus data LANGGANAN mempunyai elemen-elemen data KODE LANGGANAN, NAMA LANGGANAN yang terdiri dari NAMA KECIL dan NAMA KELUARGA (optional, dapat ada dan dapat tidak ada), ALAMAT yang terdiri dari JALAN, KOTA dan KODE POS dapat diulang sampai tiga kali, artinya boleh atau disediakan tiga data alamat, TELP (optional), jenis langganan apakah salah satu dari PENGECER atau GROSIR, BATAS KREDIT yang menunjukkan jumlah kredit maksimum yang diijinkan dan JUMLAH PIUTANG.

EVALUASI
1. Jelaskan definisi dari simbol-simbol yang digunakan di DFD disertai dengan notasi-notasi yang mewakilinya 2. Jelaskan perbedaan utama antara DFD fisik dengan DFD Logika 3. Jelaskan hal-hal apa saja yang harus dilakukan ketika menggambar DFD 4. Jelaskan perbedaan antara DFD dengan bagan alir (flow-chart) 5. Jelaskan definisi dan kegunaan dari Kamus Data 6. Jelaskan hal-hal yang harus dimuat dalam Kamus Data 7. Buat contoh DFD lengkap dengan KD untuk menjelaskan arus datanya

DAFTAR PUSTAKA
Burch, J.G. , 1992, System, Analysis, Design, and Implementation, Boyd & Fraser Publishing Company. Jogiyanto, 1990, Analisis dan Disain Sistem Informasi, ANDI OFFSET Yogyakarta. John G. Burch, Jr, Felix R. Strater, Gary Grudnistski, 1979, Information Systems : Theory and Practice, Second Edition, John Wiley & Sons Meilir Page-Jones, 1988, The Practical Guide to Structured Systems Design, Second Edition, Yourdon Press, Prentice Hall I.T. Hawryszkiewycz, 1991, Introduction Systems Analysis and Design, Second Edition, Prentice Hall Raymond McLeod, Jr, 1979, Management Information System : A Study of Computer-Based Information Systems, Sixth Edition, Prenctice Hall A. Ziya Aktas, 1987, Structured Analysis & Design of Information Systems, NJ: Prentice Hall, hal. 65

Modul 4 : Pendekatan Perancangan Terstruktur, halaman :

56

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

MODUL 5 DESAIN SISTEM TERINCI - INPUT OUTPUT
MATERI 1. Desain Sistem Terinci 2. Desain Output 2. Desain Input STANDAR KOMPETENSI Memahami Konsep Desain Output dan Input serta Dapat Melakukan Desain Output, Input dan Validasi Input CAPAIAN PEMBELAJARAN 1. Mahasiswa akan mengetahui konsep desain sistem terinci dan bagaimana melaksanakan desain sistem terinci 2. Mahasiswa akan dapat melakukan desain sistem terinci, mulai dari Desain output, input, Desain dialog terminal sampai desain file 3. Mahasiswa memahami cara untuk melakukan pengendalian input melalui validasi transaksi, cek data dan modifikasi data transaksi

1. Desain Sistem Terinci
Berikut ini adalah diagram desain sistem rinci secara lengkap : Analisis Sistem Desain sistem konseptual

Desain output

Desain Basis Data

Desain input

Desain proses

Desain Jaring an

Desain pengenda -lian

Implementasi dan perubahan Operasi dan pemeliharaan Dalam modul ini hanya akan dibahas dua bagian, yaitu ;  Desain Output terinci  Desain Input terinci

Modul 5 : Desain Sistem Terinci – Input Output, halaman :

57

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

Dengan pengertian bahwa rumusan-rumusan dalam perancangan output dan input dibuat sedemikian rupa agar dalam aplikasinya nanti dapat dengan mudah mengidentifikasi permasalahan-permasalahan yang timbul, mudah digunakan oleh user, mudah dingat, dan agar kode-kode tersebut familiar oleh pengguna.

2. Desain Output
Pada tahap desain output secara umum, desain output ini hanya dimaksudkan untuk menentukan kebutuhan output sistem baru. Desain output terinci yang akan dibahas adalah unutk output berbentuk laporan dimedia kertas.  Bentuk Laporan Bentuk laporan yang dihasilkan oleh sistem informasi yang paling banyak digunakan adalah dalam bentuk tabel dan bebrbentuk grafik atau bagan.

o Laporan berbentuk tabel Berikut ini adalah macam-macam laporan yang berbentuk tabel yang menekankan kualitas isi serta kegunaannya.  NOTICE REPORT Merupakan bentuk laporan yang memerlukan perhatian khusus. Laporan ini harus dibuat sesederhana mungkin, tetapi jelas, karena dimaksudkan agar permasalahan-permasalahan yang terjadi tampak dengan jelas sehingga dapat langsung ditangani. Contoh Notice Report sebagai berikut :
PT. Polinema Micro System LAPORAN PENJUALAN MENURUT JENIS BARANG BULAN DESEMBER 2010

Daerah Penjualan Jakarta Bogor Depok  EQUIPOISED REPORT

% Penurunan 10,00 % 45,00 % 12,50 %

Isi dari equipoised report adalah hal-hal yang bertentangan. Laporan ini biasanya digunakan untuk maksud perencanaan. Dengan disajikannya informasi yang berisi hal-hal betentangan, maka dapat disajikan sebagai dasar didalam pengambilan keputusan.

Modul 5 : Desain Sistem Terinci – Input Output, halaman :

58

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

Contoh dari equipoised report adalah sebagai berikut :
PT. Polinema Micro System LAPORAN PERENCANAAN MEMASUKI PASAR BARU DAERAH KRAMAT JATI UNTUK TAHUN FISKAL 2010

KEADAAN PASAR BURUK BAIK
Penjualan Harga Pokok Penjualan Laba Kotor Biaya Penjualan Biaya Administrasi Laba (Rugi) Rp Rp Rp Rp Rp Rp 1.000.000 600.000 400.000 300.000 325.000 (25.000) _ Rp Rp Rp Rp Rp Rp 1.000.000 600.000 400.000 350.000 150.000 200.000 _

_

_

 COMPARATIVE REPORT Isi laporan ini adalah membandingkan antara satu hal dengan hal yang lainnya. Misalnya pada laporan laba/rugi atau neraca dapat membandingkan antara nilai-nilai elemen tahun berjalan dengan tahuntahun sebelumnya. Contoh dari Comparative Report adalah sebagai berikut :
PT. Polinema Micro System NERACA 31 DESEMBER 2010 (DALAM RIBUAN RUPIAH)

AKTIVA Aktiva Lancar Aktiva Tetap Total Aktiva Passiva Hutang Lancar Hutang jangka Panjang Modal Saham Laba Ditahan Total Pasiva

31-12 2009 45.000 155.000 200.000 10.000 37.500 130.000 22.500 200.000

31-12 2010 75.000 225.000 300.000 15.000 30.000 200.000 55.000 300.000

SELISIH 30.000 70.000 66,67 % 45,16 %

100.000 50,00 % 5.000 (7.500) 70.000 32.500 50,00 % (20,00)% 53,85 % 144,44 %

100.000 50,00 %

Modul 5 : Desain Sistem Terinci – Input Output, halaman :

59

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

 VARIANCE REPORT Macam laporan ini menunjukkan selisih (Variance) antara standar yang sudah ditetapkan dengan hasil kenyataannya atau sesungguhnya. Contoh dari variance report adalah sebagai berikut :
PT. Polinema Micro System LAPORAN KINERJA DEPARTEMEN PEMBELIAN BULAN MARET 2010
UNIT DIBELI HARGA SESUNGGUH NYA HARGA STANDAR SELISIH HARGA TUTAL SELISIH

BARANG DIBELI

IBM PC XT Monitor Colour Hard Disk 512 MB TOTAL

10 8 5

1.200.000 415.000 595.000

1.050.000 365.000 625.000

150.000 50.000 30.000 170.000

1.500.000 400.000 150.000 1.750.000

R R L R

o Laporan Berbentuk Grafik Laporan yang berbentuk grafik atau bagan dapat diklasifikasikan diantaranya sebagai bagian garis (line chart), bagan batang (bar chart) dan bagan pastel (pie chart).  BAGAN BATANG Nilai-nilai dalam bagan batang (bar chart) digambarkan dalam bentuk batang-batang vertical ataupun batang-batang horizontal. Kebaikan dari bagan batang adalah sebagai berikut :  Baik untuk perbandingan  Dapat menunjukkan nilai dengan tepat  Mudah dimengerti Kelemahannya :  Terbatas hanya pada satu titik saja  Spasi dapat menyesatkan
100 80 60 40 20 0 2005 2006 2007 2008 Jakarta Depok Bogor

Bagan Batang

Modul 5 : Desain Sistem Terinci – Input Output, halaman :

60

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

 BAGAN BARIS Pada bagian baris (line chart), variasi dari data ditunjukkan dengan suatu garis atau kurva. Bagian garis mempunyai beberapa kebaikan, yaitu :  Dapat menunjukkan hubungan antara nilai dengan baik  Dapat menunjukkan beberapa titik  Tingkat kecepatannya dapat diatur sesuai dengan skalanya.  Mudah dimengerti Kelemahannya :  Bila terlalu banyak garis atau kurva ( lebih dari 4 buah garis atau kurva), maka akan tampak rumit  Hanya terbatas pada 2 dimensi  Spasi dapat menyesatkan
100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 2005 2006 2007 2008 Jakarta Depok Bogor

Bagan Garis

 BAGAN PASTEL Bagan Pastel (Pie Chart) merupakan bagan yang berbentuk lingkaran menyerupai kue pastel (pie). Tiap-tiap potong dari pie dapat menunjukkan bagian dari data. Kebaikan dari bagan pastel adalah sebagai berikut :  Baik untuk perbandingansebagian dari keseluruhannya  Mudah dimengerti Kelemahannya :  Penggunaannya terbatas  Ketepatannya Kurang  Tidak dapat menunjukkan hubungan beberapa titik  Mudah dimengerti

Modul 5 : Desain Sistem Terinci – Input Output, halaman :

61

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

Jakarta

2005 2006 2007 2008

Bagan Pastel

Alat – alat Desain Output terinci Dua buah alat desain sistem dapat dipergunakan untuk desain output terinci, yaitu sebagai berikut :

o Printer layout form atau printer spacing chart atau printer layout chart merupakan suatu bagan yang dipergunakan untuk menggambarkan sketsa bentuk dari output printer. o Kamus data output yang merupakan pengembangan dari kamus arus data. Kamus data output digunakan untuk menjelaskan secara terinci tentang data yang akan disajikan dilaporan. Mengatur Tata Letak isi output Pengaturan isi dari output akan secara langsung menentukan kemudahan dari output untuk dipahami dan dimengerti. Pengaturan tata letak output merupakan pekerjaan desain yang penting dan sangat diperlukan baik bagi pemakai sistem maupun bagi programmer . Bagi pemakai sistem digunakan untuk menilai isi dan bentuk dari output apakah sudah sesuai dengan yang diinginkan atau belum. Bagi programmer akan digunakan sebagai dasar pembuatan program untuk menghasilkan output yang diinginkan. Programmer membutuhkan desain output ini untuk menentukan posisi kolom, baris dan informasi yang harus disajikan suatu output. Pengaturan tata letak isi output yang akan dicetak diprinter dapat digunakan alat bagan tata letak printer dan kamus data output. Desain output terinci ini selain dimaksudkan untuk user, juga terutama akan digunakan programmer didalam membuat program. Programmer perlu diberi penjelasan yang lebih terinci lagi tentang isi dari output tersebut. Penjelasan data terinci ini dapat diperoleh dikamus data output. Kamus data output dibuat berdasarkan kamus data, arus data dan desain tata letak dibagian tata letak printer. Bila ingin mencetak laporan dengan kombinasi pencetakan satu kolom hanya mencetak beberapa baris, seperti pada contoh berikut ini : 

Modul 5 : Desain Sistem Terinci – Input Output, halaman :

62

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil Tanggal Faktur 01-03-08 Nomor Faktur 3214567

Kode Barang A12345 A2556 B1332 A1235 B1232 B1238 B1500 B1237 C3675

Unit Barang 10 3 4 7 3 1 3 1 5

Nilai Barang 5.000.000 7.500.000 25.000.000 6.000.000 25.000.000 55.000.000 12.500.000 11.000.000 30.000.000

Nilai Total 10.000.000 22.500.000 100.000.000 42.000.000 75.000.000 55.000.000 37.500.000 11.000.000 150.000.000

05-03-08

3214568

05-03-08

3214569

 Pedoman Desain Laporan o Untuk laporan formal, sedapat mungkin dibagi menjadi tiga bagian utama, yaitu :  Judul laporan.  Tubuh laporan.  Catatan kaki laporan yang dapat berisi ringkasan, subtotal atau grandtotal. o Untuk laporan-laporan yang penting, gunakanlah kertas yang berkualitas baik, tidak mudah sobek serta tidak mudah kotor. o Untuk tiap-tiap batas tepi laporan (margin), sebaiknya diberi jarak 2 1/2 cm, sehingga bila pinggir laporan tersobek tidak akan mengenai isi laporannya. o Gunakanlah spasi baris yang cukup, sehingga laporan mudah dibaca. o Untuk hal-hal yang ingin ditonjolkan, dapat ditulis dengan huruf besar, tebal, atau digaris-bawahi. o Gunakanlah bentuk huruf cetak yang jelas dan tidak membingungkan serta hindari pengguanaan font yang sulit untuk dimengerti. o Jika isi laporan menjelaskan suatu daftar urutan, gunakanlah tanda titik "." atau minus "-". Bila urutannya penting dapat dipergunakan tanda 1,2,3 dan seterusnya dan sajikan dalam urutan yang terpenting. o Letakkanlah informasi yang mendetail di lampiran dan gunakanlah penunjuk yang mudah dipahami untuk menjelaskan kepada pemakai laporan Ietak dari informasi detail tersebut. o Usahakan di dalam laporan berisi keterangan-keterangan yang diperlukan yang mungkin akan ditanyakan oleh pemakai laporan bila keteranganketerangan tersebut tidak ada. o Laporan untuk tingkat manajemen yang lebih tinggi, sebaiknya lebih tersaring dan untuk tingkat manajemen yang lebih rendah lebih terinci. o Laporan harus dibuat dan didistribusikan tepat pada waktunya. o Laporan harus sederhana tetapi jelas. o Laporan harus diungkapkan dalam bentuk dan Bahasa yang mudah dimengerti dan dipahami oleh pemakainya. o Isi laporan harus akurat.

Modul 5 : Desain Sistem Terinci – Input Output, halaman :

63

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

o Laporan bilamana mungkin harus distandardisasi. Bentuk-bentuk laporan yang selalu berubah akan menyebabkan kebingungan bagi mereka yang menggunakannya. o Laporan harus berguna o Biaya pembuatan laporan harus dipertimbangkan

3. Desain Input
 Dokumen Dasar Dokumen dasar (source document) merupakan formulir yang digunakan untuk menangkap (capture) data yang terjadi. Data yang sudah dicatat didokumen dasar kemudian dimasukkan sebagai input ke sistem informasi untuk diolah. Dokumen dasar sangat penting didalam arus data di sistem informasi. Dokumen dasar ini dapat membantu didalam penanganan arus data sebagai berikut :  Dapat menunjukkan macam dari data yang harus dikumpulkan dan ditangkap.  Data dapat dicatat dengan jelas, konsisten dan akurat.  Dapat mendorong, lengkapnya data, disebabkan data yang dibutuhkan disebutkan satu persatu didalam dokumen dasarnya.  Bertindak sebagai pendistribusian data, karena sejumlah tembusan dari formulir-formulir tersebut dapat diberikan kepada individu-individu atau departemen-departemen yang membutuhkannya.  Dokumen dasar dapat membantu didalam pembuktian terjadinya suatu transaksi yang sah, sehingga dapat berguna untuk audit trial (pelacakan pemeriksaan).  Dokumen dasar dapat digunakan sebagai cadangan atau pelindung (back up) dari file-file data dikomputer. Untuk mencapai maksud tersebut, dokumen dasar harus dirancang dengan baik, sebagai berikut : o Kertas yang digunakan Beberapa faktor harus dipertimbangkan di dalam pemilihan kertas yang akan digunakan, yaitu sebagai berikut ini.  Lamanya dokumen dasar tersebut akan disimpan.  Penampilan dari dokumen dasar.  Banyaknya dokumen dasar tersebut ditangani.  Bagaimana menanganinya (secara halus, kasar, dilipat atau dibawa-bawa oleh pemakainya).  Lingkungan-lingkungannya (berlemak, kotor, panas, dingin, lembab atau mengandung asam).  Metode pengisian data di dokumen dasar tesebut, ditulis tangan atau dicetak dengan mesin.  Kemananan terhadap pudarnya data yang dicatat di dokumen dasar.

Modul 5 : Desain Sistem Terinci – Input Output, halaman :

64

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

o Ukuran dari dokumen dasar Usahakan ukuran dari dokumen dasar berupa ukuran dari kertas yang standar dan banyak dijual. Ukuran kertas yang umum adalah ukuran A4. Jika dokumen dasar lebih kecil dari ukuran kertas standar, sebaiknya dibuat ukuran yang merupakan kelipatan yang tidak membuang kertas, misalnya ukuran kertas standar dibagi 2, dibagi 3, dibagi 4 dan sebagainya. o Warna yang akan digunakan Penggunaan warna akan membantu di dalam mengidentifikasikan dengan cepat dokumen dasar yang dipergunakan. Warna yang baik adalah warna yang datanya mudah dibaca, terutama bila menggunakan karbon. Warna yang baik ini adalah warna yang cerah. Warna-warna gelap, seperti misalnya biru tua, hijau tua, merah tua, coklat, ungu, hitam dan lain sebagainya sebaiknya dihindari untuk digunakan. o Judul dokumen dasar Dokumen dasar harus diberi judul yang dapat menunjukkan jenis dan kegunaan dari dokumen dasar tersebut. Judul harus sesingkat mungkin tetapi jelas. Bila dokumen dasar akan digunakan oleh pihak-pihak luar perusahaan, selain judul yang ada, maka nama perusahaan sebaiknya juga dicantumkan. o Nomor dokumen dasar Nomor dokumen dasar dapat digunakan untuk menunjukkan keunikannya. Nomor dokumen dasar dapat diletakkan di pojok bawah kiri atau di pojok bawah kanan (jangan di atas kiri, karena tertutup bila distaples dan jangan di atas kanan, karena dapat membingungkan dengan nomor urut dokumen dasar). Nomor dokumen dasar ini dapat juga digunakan untuk menunjukkan sumber dan jenisnya. Misalnya nomor dokumen dasar PJ-FO1 dapat menunjukkan bahwa sumbernya dari departemen penjualan (ditunjukan oleh kode PJ) dan jenisnya adalah faktur penjualan model ke 1 (ditunjukkan oleh kode FOl). o Nomor urut dokumen dasar Disamping nomor dokumen dasar, nomor unit dari masing-masing dokumen dasar biasanya dicantumkan di pojok kanan atas. Nomor urut ini sangat perlu untuk tujuan pengendalian (dapat diketahui bila ada dokumen dasar yang hilang bila nomornya meloncat), untuk pelacakan pemeriksaan dan untuk pengarsipan. o Nomor dari jumlah halaman Bila dokumen dasar terdiri lebih dari satu halaman, maka tiap-tiap halaman harus diberi nomor dan jumlah halamannya, supaya bila ada halaman yang hilang dapat diketahui. Misainya halaman pertama dapat diberi nomor halaman 1-3 (menunjukkan halaman pertama dari sejumlah 3 halaman), halaman ke dua diberi nomor 2-3 dan seterusnya. Nomor dan jumlah halaman ini biasanya diletakkan pada sebelah kanan atas.

Modul 5 : Desain Sistem Terinci – Input Output, halaman :

65

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

o Spasi Spasi antar baris dan spasi antar karakter pada dokumen dasar harus diperhatikan, terutama bila dokumen dasar akan diisi dengan data yang dicetak dengan mesin. Untuk spasi di dokumen dasar harus disesuaikan dengan spasi yang dibuat oleh mesin. o Pembagian area Dokumen dasar harus dibentuk dengan pembagian area sedemikian rupa, sehingga memudahkan untuk mencarinya guna pengisian atau pencarian data. Pembagian area ini meliputi area judul, area halaman, area kontrol, area organisasi, area obyek, area tubuh, area berita, area otorisasi, area jumlah dan area nomer.  Caption Berikut ini adalah macam-macam caption yang dapat dipergunakan, sehingga pengisisan dapat lebih tepat.

o BOX CAPTION Merupakan caption yang dapat dicetak didalam suatu kotak dan data harus diisikan didalam kotak tersebut juga. NAMA TANGGAL MASUK ALAMAT GOLONGAN JENIS KELAMIN STATUS

o YES / NO CHECK OF CAPTION Menunjukkan dimana harus mengisikan ya dan dimana harus mengisikan tidak YA Menikah Umur di atas 17 tahun : : TIDAK

o HORIZONTAL CHECK OF CAPTION Menunjukkan salah satu pilihan yang harus dipilih dengan disajikan secara mendatar.
Modul 5 : Desain Sistem Terinci – Input Output, halaman :

66

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

PENDIDIKAN TERAKHIR SD SMP SMA D3 S1 S2 S3

o CHECK LIST CAPTION Menunjukkan daftar pilihan yang dapat dipilih. PEKERJAAN YANG SUDAH DILAKUKAN Verifikasi data awal Memasukkan data ke komputer Mencetak data yang sudah dimasukkan Verifikasi data yang sudah dimasukkan Memproses data o BLOCKS SPACED CAPTION Menunjukkan kotak-kotak ruang kosong yang harus diisi dengan data. : : : : :

NOMOR FAKTUR :

o SCANNABEL FORM CAPTION Caption yang menunjukkan tetmpat-tempat yang harus diisi pada formulir yang akan dibaca oleh alat scanner, misalnya OMR Reader.  Kode Kode dapat digunakan untuk tujuan mengkalsifikasikan data, memasukkan dat kedalam computer dan unutk mengambil bermacam-macam informasi yang berhubungan dengannya. Kode dapat dibentuk dari kumpulan angka, huruf dan karakter-karakter khusus. Angka Merupakan simbol yang banyak digunakan pada sistem kode. Akan tetapi kode yang berbentuk angka lebih dari 6 digit akan sangat sulit untuk diingat. Kode Numerik (Numeric Code) menggunakan 10 macam kombinasi angka didalam kode. Kode alphabetik (alphabetic code) menggunakan 26
Modul 5 : Desain Sistem Terinci – Input Output, halaman :

67

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

kombinasi huruf untuk kodenya, Kode Alpha numeric (alphanumeric code) merupakan kode yang menggunakan gabungan angka, huruf, dan karakterkarakter khusus. Meskipun kode numerik, alphabetik dan alphanumerik merupakan kode yang paling banyak digunakan didalam sistem informasi, tetapi kode yang lain juga mulai banyak digunakan, seperti misalnya kode batang (bar code). o Petunjuk pembuatan kode Didalam merancang suatu kode harus diperhatikan beberapa hal, yaitu sebagai berikut :  Harus mudah diingat  Harus unik  Harus fleksibel  Harus efisien  Harus konsisten  Harus distandarisasi  Spasi dihindari  Hindari karakter yang mirip  Panjang kode harus sama o Tipe dari kode Ada bebapa macam tipe dari kode yang dapat digunakan didalam sistem informasi, masing-masing tipe dari kode tersebut mempunyai kebaikan dan kelemahannya tersendiri. Dalam praktek tipe-tipe kode yang ada dapat dikombinasikan.  Kode Mnemonik (mnemonik Code) di gunakan untuk tujuan supaya mudah diingat, dibuat dengan dasar singkatan atau mengambil sebagian karakter dari item yang mewakili.  Kode Urut (sequentional code) disebut juga dengan kode seri (serial code) merupakan kode yang nilai urut antara yang satu kode dengan kode berikutnya.  Kode Blok (block code) mengklasifikasikan item kedalam kelompok blok tertentu yang mencerminkan suatu klasifikasi tertent atas dasar pemakaian maksimum yang diharapkan.  Kode Group (group code) merupakan kode yang berdasrkan field-field dan tiap-tiap field kode mempunyai arti.  Kode Desimal (desimal code) mengklasifikasikan kode atas dasar 10 unit angka desimal dimulai dari angka 0 sampai dengan angka 9 atau dari 00 sampai dengan angka 99 tergantung dari banyak kelompok.

Modul 5 : Desain Sistem Terinci – Input Output, halaman :

68

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

EVALUASI
1. Jelaskan apa perbedaan antara perancanagan system secara mumum dengan perancangan sistem secara rinci 2. Sebutkan desain apa saja yang harus dilakukan pada perancangan sistem secara rinci selain desain input dan desain output 3. Sebutkan macam-macam laporan output baik yang berbentuk tabel maupun grafik 4. Jelaskan apa yang disebut dengan caption, dan berikan contoh-contohnya 5. Sebutkan tipe dari kode, dan berikan contoh penggunaan kombinasi beberapa tipe kode

DAFTAR PUSTAKA
Burch, J.G. , 1992, System, Analysis, Design, and Implementation, Boyd & Fraser Publishing Company. John G. Burch, Jr, Felix R. Strater, Gary Grudnistski, 1979, Information Systems : Theory and Practice, Second Edition, John Wiley & Sons Jogiyanto .HM,2002, Analisis dan desain Sistem Informasi :Pendekatan Terstruktur Teori dan Praktek Aplikasi Bisnis, Andi Offset, Yogyakarta. Meilir Page-Jones, 1988, The Practical Guide to Structured Systems Design, Second Edition, Yourdon Press, Prentice Hall I.T. Hawryszkiewycz, 1991, Introduction Systems Analysis and Design, Second Edition, Prentice Hall Raymond McLeod, Jr, 1979, Management Information System : A Study of Computer-Based Information Systems, Sixth Edition, Prenctice Hall

Modul 5 : Desain Sistem Terinci – Input Output, halaman :

69

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

MODUL 6 DESAIN PROSES
MATERI 1. Flowchart sebagai alat desain proses 2. Jenis-jenis Flowchart STANDAR KOMPETENSI Memahami Konsep Flowchart dan Dapat Menggunakan Flowchart Secara Tepat dan Benar CAPAIAN PEMBELAJARAN 1. Mahasiswa mengetahui konsep dasar flowchart dan perbedaan dari tiap jenis flowchart yang ada 2. Mahasiswa diharapkan dapat menggunakan masing-masing flowchart sesuai dengan sistem yang sedang mereka kembangkan

1. Flowchart sebagai alat desain proses
Bagan alir (flowchart) adalah bagan (chart) yang menunjukkan alir (flow) di dalam program atau prosedur sistem secara logika. Bagan alir digunakan terutama untuk alat bantu desain proses. Pada waktu akan menggambar suatu bagan alir, analis sistem atau pemrogam dapat mengikuti pedoman berikut :  Bagan alir sebaiknya digambar dari atas ke bawah dan mulai dari bagian kiri dari suatu halaman.  Kegiatan di dalam bagan alir harus ditunjukkan dengan jelas.  Harus ditunjukkan dari mana kegiatan akan dimulai dan dimana akan berakhirnya.  Masing-masing kegiatan di dalam bagan alir harus di dalam urutan yang semestinya.  Kegiatan yang terpotong dan akan disambung di tempat lain harus ditunjukkan dengan jelas menggunakan simbol penghubung.  Gunakanlah simbol-simbol bagan alir yang standar.

2. Jenis-jenis Flowchart
Ada lima macam bagan alir yang akan dibahas di jenis-jenis flowchart ini, yaitu bagan alir sebagai berikut :  Bagan alir sistem (systems flowchart).  Bagan alir dokumen (document flowchart).  Bagan alir skematik (schematic flowchart).  Bagan alir program (program flowchart).  Bagan alir proses (process flowchart).

Modul 6 : Desain Proses, halaman :

70

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

Systems Flowchart Bagan alir sistem (systems flowchart) merupakan bagan yang menunjukkan arus pekerjaan secara keseluruhan dari sistem. Bagan ini menjelaskan uruturutan dari prosedur-prosedur yang ada di dalam sistem. Bagan alir sistem menunjukkan apa yang dikerjakan di sistem. Bagan alir sistem digambar dengan menggunakan simbol-simbol yang tampak sebagai berikut ini. No 1 Simbol Keterangan Menunjukkan dokumen input dan output baik untuk proses manual, mekanik atau komputer Menunjukkan pekerjaan manual File non komputer yang diarsip urut berdasarkan angka (Numeric) File non komputer yang diarsip urut berdasarkan huruf (Alphabetic) File non komputer yang diarsip urut berdasarkan Tanggal (Currency) Menunjukkan input/output yang menggunakan kartu plong (punched card) Menunjukkan kegiatan proses dari operasi program komputer Menunjukkan penyimpanan yang dilakukan di dalam komputer Menunjukkan proses pengurutan data di luar proses komputer Menunjukkan input/output menggunakan pita magnetik

2

3

4

5

6

7

8

Modul 6 : Desain Proses, halaman :

71

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

9

Menunjukkan input/output menggunakan harddisk

10

Menunjukkan input/output menggunakan diskette Menunjukkan input/output menggunakan drum magnetik Menunjukkan input/output menggunakan pita kertas berlubang Menunjukkan input yang menggunakan on line keyboard Menunjukkan output yang ditampilkan di monitor

11

12

13

14

17

Menunjukkan arus dari proses Menunjukkan penghubung ke halaman yang sama atau halaman lain Menunjukkan proses transmisi data melalui Saluran komunikasi Menunjukkan penjelasan dari suatu proses menunjukkan penggunaan pita kontrol dlm batch control utk pencocokan di roses batch processing

19

20

21

22

Gambar berikut ini menunjukkan contoh bagan alir sistem untuk proses direct processing.

Modul 6 : Desain Proses, halaman :

72

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

atau  Schematic Flowchart Bagan alir skematik (schematic flowchart) merupakan bagan alir yang mirip dengan bagan alir sistem, yaitu untuk menggambarkan prosedur di dalam sistem. Perbedaannya adalah, bagan alir skematik selain menggunakan simbolsimbol bagan alir sistem, juga menggunakan gambar-gambar komputer dan peralatan lainnya yang digunakan.

Modul 6 : Desain Proses, halaman :

73

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

Maksud penggunaan gambar-gambar ini adalah untuk memudahkan komunikasi kepada orang yang kurang paham dengan simbol-simbol bagan alir. Penggunaan gambar-gambar ini memudahkan untuk dipahami, tetapi sulit dan lama menggambarnya. Document Flowchart Bagan alir dokumen (document flowchart) atau disebut juga bagan alir formulir (form flowchart) atau paperwork flowchart merupakan bagan alir yang menunjukkan arus dari laporan dan formulir termasuk tembusan-tembusannya. Bagan alir dokumen ini menggunakan simbol-simbol yang sama dengan yang digunakan di dalam bagan alir sistem. 

Modul 6 : Desain Proses, halaman :

74

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

Program Flowchart Bagan alir program (program flowchart) merupakan bagan yang menjelaskan secara rinci langkah-langkah dari proses program. Bagan alir program dibuat dari derivikasi bagan alir sistem. Bagan alir program dibuat dengan menggunakan simbol-simbol sebagai berikut ini. No 1 Simbol Keterangan digunakan sebagai penunjuk awal (start) dan akhir (stop/end) dari sebuah proses digunakan untuk mewakili aktifitas masukan atau keluaran yang tidak ada persyaratan bentuk komponennya digunakan untuk menggambarkan sebuah aktifitas yang harus dilakukan digunakan untuk menunjukkan arah untuk menunjuk arah tujuan proses berikutnya digunakan untuk menunjukkan sambungan dari bagan alir yang terputus di halaman yang sama atau halaman lain Digunakan untuk suatu penyeleksian kondisi, atau pilihan, atau pengambilan keputusan Digunakan untuk menunjukkan suatu operasi yang rinciannya ditubjukkan di tempat lain, yaitu prosedur atau sub proses Digunakan untuk memberikan nilai awal dari suatu variabek atau besaran

2

3

4

5

6

7

8

Bagan alir program dapat terdiri dari dua macam, yaitu bagan alir logika program (program logic flowchart) dan bagan alir program komputer terinci (detailed computer program flowchart). Bagan alir logika program digunakan untuk menggambarkan tiap-tiap langkah di dalam program komputer secara logika. Bagan alir logika program ini dipersiapkan oleh analis sistem. Gambar ber ikut menunjukkan bagan alir untuk keluar rumah :

Modul 6 : Desain Proses, halaman :

75

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

Bagan alir program komputer terinci (detailed computer program flow-chart) digunakan untuk menggambarkan instruksi-instruksi program komputer secara terinci. Bagan alir ini dipersiapkan oleh pemrogram. Berikut adalah contoh bagan alir program komputer terinci menghitung jumlah dan total bilangan :

Modul 6 : Desain Proses, halaman :

76

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

Process Flowchart Bagan alir proses (process flowchart) merupakan bagan alir yang banyak digunakan di teknik industri. Bagan alir ini juga berguna bagi analis sistem untuk menggambarkan proses dalam suatu prosedur.

Bagan alir proses selain dapat menunjukkan kegiatan dan simpanan yang digunakan dalam suatu prosedur, dapat juga menunjukkan jarak kegiatan yang satu dengan yang lainnya serta waktu yang diperlukan oleh suatu kegiatan.

Modul 6 : Desain Proses, halaman :

77

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

Bagan alir proses menggunakan lima buah simbol tersendiri, sebagai berikut : No 1 2 3 4 5 Simbol Keterangan Operation, Menunjukkan suatu operasi Movement, Menunjukkan suatu pemindahan Storage, Menunjukkan suatu simpanan Inspection, Menunjukkan suatu inspeksi Delay, Menunjukkan seuatu penundaan

EVALUASI
1. 2. 3. 4. Jelaskan definisi dan kegunaan dari flow chart Jelaskan pedoman-pedoman dalam menggambar suatu flow chart Sebutkan dan jelaskan kegunaan macam-macam flow chart Buatkan penggambaran sistem penerimaan siswa baru di unit anda dengan menggunakan 5 macam flow chart tersebut

DAFTAR PUSTAKA
Burch, J.G. , 1992, System, Analysis, Design, and Implementation, Boyd & Fraser Publishing Company. Jogiyanto, 1990, Analisis dan Disain Sistem Informasi, ANDI OFFSET Yogyakarta. John G. Burch, Jr, Felix R. Strater, Gary Grudnistski, 1979, Information Systems : Theory and Practice, Second Edition, John Wiley & Sons Meilir Page-Jones, 1988, The Practical Guide to Structured Systems Design, Second Edition, Yourdon Press, Prentice Hall I.T. Hawryszkiewycz, 1991, Introduction Systems Analysis and Design, Second Edition, Prentice Hall Raymond McLeod, Jr, 1979, Management Information System : A Study of Computer-Based Information Systems, Sixth Edition, Prenctice Hall

Modul 6 : Desain Proses, halaman :

78

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

MODUL 7 DESAIN BASIS DATA
MATERI 1. Komponen dan Pembuatan Basis Data 2. Pemodelan data menggunakan ER Model 3. Normalisasi STANDAR KOMPETENSI Mengerti dan memahami Komponen dan pembuatan Basis Data serta mampu merancang Pemodelan Data Menggunakan ER Model dengan kaidah Normalisasi CAPAIAN PEMBELAJARAN 1. Mahasiswa Mengerti dan memahami Komponen dan pembuatan Basis Data 2. Mahasiswa mampu merancang Pemodelan Data Menggunakan ER Model dengan kaidah Normalisasi

1. Komponen dan Pembuatan Basis Data
Dalam pembuatan basis data, ada beberapa hal yang perlu dierhatikan, diantaranya adalah :  Penentuan model basis data yang digunakan  Perancangan sampai pembuatan basis data di dalam suatu DBMS yang sesuai dengan model basis data yang dipilih Oleh karena itu perlu diketahui tentang model basis data serta langkahlangkah dalam perancangan basis data.  Komponen Basis Data Hirarki basis data :  Entity atau Entitas Entity atau entitas adalah obyek yang informasinya direkam Contoh: mahasiswa, mata kuliah, obat, pegawai dan sebagainya.  Atribut atau Field Atribut adalah keterangan yang dimiliki oleh Entity Contoh: NIM, alamat, kode mata kuliah, kode obat, nomor induk karyawan dan sebagainya  Data Value Data Value adalah isi dari field/atribut Contoh: 19621128198811001, Perumhana Politeknik 15, dan sebagainya  Record atau Tuple Adalah Kumpulan dari data value yang menginformasikan entity secara lengkap
Modul 7 : Desain Basis Data, halaman :

79

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

File Kumpulan dari record-record yang sejenis tetapi berbeda data valuenya.  Database atau Basis data Rangkaian file yang berelasi secara logik dan terintregasi, diorganisasi dan dipelihara sehingga mampu menyajikan informasi yang dibutuhkan.  Database Management Sistem (DBMS) Adalah Basis data bersama program pengelolanya.  Langkah-Langkah dalam Pembuatan Basis Data Ada tiga tahap dalam pembuatan basis data yaitu : Perancangan konseptual, yaitu pembuatan model basis data yang bersifat konseptual berdasarkan ‘kebutuhan sistem’ yang merupakan hasil dari proses “Requirement Collection and Analyst”. Perancangan logis, biasa disebut pemetaan model data. Yaitu pemetaan model konseptual ke model fisik yang disesuaikan dengan spesifikasi DBMS yang akan digunakan. Perancangan fisik, yaitu implementasi basis data yang akan disimpan dalam media penyimpanan. Berikut ini adalah diagram yang menggambarkan urutan perancangan basis data :

Kebutuhan Basis Data

Kebutuhan basis data tersebut, adalah kelompok-kelompok atribut yang terdapat pada semua kamus data hasil perancangan yang sudah dilakukan pada tahap sebelumnya, dengan syarat : atribut-atribut yang berulang atau duplikasi, cukup diwakili oleh salah satu diantaranya. Selanjunya adalah penggambaran masing-masing kelompok atribut tersebut menjadi entitas-entintas yang saling di relasikan satu dengan yang lain, dalam bentuk diagram konseptual, sebagai berikut :

Modul 7 : Desain Basis Data, halaman :

80

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

dari diagram konseptual, selanjutnya dapat diterjemahkan menjadi diagram logis sebagai berikut :
PEMINJAMAN NO_PEMINJAMAN NO_ANGGOTA TGL_PINJAM
NO_ANGGOTA = NO_ANGGOT A

<undefined> text <undefined>

ANGGOTA NO_ANGGOTA NAMA ALAMAT NO_TELP NO_ID text <undefined> <undefined> <undefined> <undefined>
NO_PEMINJAMAN = NO_PEMINJAMAN

KODE_BUKU = KODE_BUKU

DETIL_PEMINJAMAN_DAN_PENGEMBAL KODE_BUKU NO_PEMINJAMAN <undefined> <undefined>

BUKU KODE_BUKU JUDUL PENERBIT <undefined> <undefined> <undefined>

Perancangan logis merupakan kelanjutan dari perancangan konseptual. Pada perancangan logis dilakukan pemetaan model konseptual ke bentuk model logis.

Modul 7 : Desain Basis Data, halaman :

81

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

Langkah-langkah dalam perancangan logis adalah :  Menentukan tipe data beserta ukurannya (disesuaikan dengan tipe data yang ada di dalam DBMS)  Memberikan menentukan foreign key dari tabel yang berelasi beserta sifat dari relasi antar tabel Pada pemodelan logis, model basis data sudah harus disesuaikan dengan spesifikasi DBMS yang nantinya digunakan. Model ini juga yang nantinya akan diimplementasikan di dalam DBMS. dari diagram logis, selanjutnya dapat diterjemahkan menjadi diagram fisik sebagai berikut :

Perancangan fisik merupakan tahapan terakhir dalam pembuatan basis data. Pada tahap ini dilakukan pembuatan komponen-komponen basis data (tabel, atribut, domain, dan relasi) langsung di dalam DBMS. Pembuatan komponen-komponen basis data di dalam DBMS dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu :  Membuat secara langsung menggunakan database manager yang dimiliki oleh setiap DBMS  Membuat komponen-komponen basis data dengan menggunakan perintah SQL Terdapat dua kelompok pendekatan didalam mendefinisikan sistem, yaitu yang menekankan pada prosedurnya dan yang menekankan pada komponen atau elemennya.

Modul 7 : Desain Basis Data, halaman :

82

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

2. Pemodelan Data Dengan Menggunakan ER-Model
ER (Entity-Relationship) Model merupakan model data tingkat tinggi yang populer untuk model data relasional. Model ini dengan sejumlah variasinya sering digunakan dalam desain konseptual dari aplikasi basis data.  Model Data Konseptual Untuk Desain Basis Data Fase-fase dalam desain basis data yang disederhanakan sebagaimana gambar berikut :
Mini-World

tampak

Functional Requirement

REQUIREMENTS COLLECTION AND ANALYSIS Database Requirements CONCEPTUAL DESIGN

FUNCTIONAL ANALYSIS

High-Level Transaction Specification DBMSINDEPENDENT

Conceptual Schema (In HighLevel Data Model)

LOGICAL DESIGN (DATA MODEL MAPPING)

DBMSSPECIFIC APPLICATION PROGRAM DESIGN Logical (Conceptual) Schema (in the data model of) a specific DBMS

TRANSACTION IMPLEMENTATION

PHYSICAL DESIGN

Application Programs

Internal Schema (for the same DBMS)

Dalam ER model , skema konseptual untuk suatu aplikasi basis data ditunjukkan dengan menggunakan notasi-notasi grafis yang disebut “ER Diagram”, sebagai berikut :

Modul 7 : Desain Basis Data, halaman :

83

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

Simbol

Arti Entity Weak Entity Relationship

Identifying Relationship Attribute Key Attribute Multivalued Attribute

….
Composite Attribute Derived Attribute
E1 1

R R R
N

E2

Total Participation of E2 in R Cardinality Ratio 1 : N For E1 : E2 in R Structural Constraint (min,max) On Participation Of E in R

E1

E2

E

(min,max)

(min,max)

E

Untuk keperluan penjelasan konsep dan penggunaan ER model, digunakan satu contoh basis data “COMPANY” yang di dalamnya mencatat :  Data pegawai (Employee)  Data departemen (Department)  Data proyek (Project) Penjelasan dari sebagian data COMPANY yang diperoleh setelah fase “Requirement Collection and Analyst” sebagaimana berikut :  COMPANY terdiri dari sejumlah departments. Setiap department mempunyai satu nama yang unik, nomor yang umik, dan seorang pegawai (Employee) yang bertindak sebagai manager dari department. Tanggal mulai bekerja dari manager juga dicatat dalam basis data ( tanggal pengangkatan sebagai manager ). Satu department dapat tersebar di sejumlah lokasi.
Modul 7 : Desain Basis Data, halaman :

84

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

 Suatu department dapat mengendalikan sejumlah pryek. Setiap proyek mempunyai satu nama yang unik, nomor yang unik, dan satu lokasi tertentu.  Data pegawai yang perlu dicatat berupa : nama, social security number, address, salary, sex, dan birthdate.  Seorang pegawai ditempatkan di satu department, tetapi dapat bekerja di sejumlah project yang tidak harus dikendalikan oleh department dimana pegawai tersebut ditempatkan. Jumlah jam perminggunya dari pegawai yang bekerja pada suatu project perlu dicatat. Juga perlu dicatat supervisor langsung dari setiap pegawai.  Untuk tujuan/keperluan asuransi pegawai, maka perlu dicatat anggota keluarga dari setiap pegawai. Data yang dicatat berupa : nama anggota keluarga, sex birthdate dan hubungan keluarga (relationship). Gambar berikut merupakan skema (ER diagram) dari aplikasi contoh diatas.

Penerapan ER Diagram Dalam Perancangan Konseptual Ada beberapa langkah dalam perancangan konseptual, yaitu : o Menyusun kamus data (data dictionary) o Memilih primary key dari kamus data yang tersusun, dengan syarat unik dan mewakili sebuah entity. o Membentuk tabel-tabel entitas berdasarkan primary key yang terpilih. o Menganalisa relasi yang terjadi antar tabel entitas dan menggambarkannya. Relasi yang terjadi bisa One to One, One to Many atau Many to Many.

Modul 7 : Desain Basis Data, halaman :

85

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

o Menggambarkan hubungan antar entitas berdasarkan analisa relasi yang didapat dan memasang kunci-kunci relasi dengan aturan:  Bila relasi One to One, foreign key ditaruh pada ke-2 tabel atau dijadikan satu.  Bila relasi One to Many, foreign key ditaruh pada tabel yang Many.  Bila relasi Many to Many, maka dibuat tabel konektor yang berisi 2 foreign key dari kedua tabel yang Many. Kemudian kedua foreign key tersebut menjadi primary key pada tabel konektor. o Untuk memahami lebih mendalam tentang perancangan ER diagram, amatilah berkas berikut ini, misalkan kartu peminjaman buku berikut adalah salah satu dari nama sebuah arus data dalam sebuah diagram DFD :
KARTU PEMINJAMAN BUKU NIM : NAMA : Kd_buku

Judul

Pengarang

Tgl_pinjam

Tgl_kembali

Yaitu bahwa hasil “Requirement Collection and Analyst” : “Di perpustakan ini, ada beberapa buku dengan judul dan pengarang yang sama, namun demikian masing-masing buku memiliki kode buku sendirisendiri. Seorang mahasiswa boleh meminjam buku lebih dari satu” Dan misalkan Struktur Kamus Datanya adalah sebagai berikut :
NIM = nomor induk mahasiswa Nama = nama mahasiswa Kd_buku = kode buku Judul = judul buku Pengarang = pengarang buku Tgl_pinjam = tanggal peminjaman Tgl_kembali = tanggal kembali buku yang dipinjam

Kemudian perlu ditentukan primary key : merupakan elemen record yang dipakai untuk menemukan record tersebut pada waktu akses atau bisa digunakan untuk identifikasi tiap record, Jenis-jenis kunci :  Superkey  Candidat key  Primary key  Alternate key  Foreign key  External key

Modul 7 : Desain Basis Data, halaman :

86

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

Superkey : kumpulan atribut dari suatu tabel yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi entity atau record dari tabel tersebut secara unik Candidate key : superkey dengan jumlah atribut minimal. Candidat key ini tidak boleh berisi atribut dari tabel yang lain Candidate Key

ID_Cus 112233 112231 112241

Name Tim Kate Tyson

NoOfPay 890 891 895

Amount 9000 8000 10000

Primary key :Salah satu atrribut dari candidat key dapat dipilih menjadi primary key dengan 3 kriteria sbb :  Key tersebut lebih natural untuk dijadikan acuan  Key tersebut lebih sederhana  Key tersebut cukup unik Alternate key :Setiap atribut dari candidate key yang tidak terpilih sebagai primary key akan dinamakan alternate key. Pada contoh sebelumnya bila untuk primary key dipilih ID_Cus maka alternate key nya adalah No.of Pay Foreign key : merupakan sembarang atribut yang menunjuk kepada primary key pada tabel lain. Akan terjadi pada suatu relasi yang memiliki kardinalitas one to many atau many to many Primary Key Foreign Key

KODE

MK

SKS KD-Dosen D-101 D-109 D-101

TEL 100 Fisika 3 TEL 200 Isyarat 2 TEL 210 T.Kendali 2

Dari kamus data yang terbentuk, dapat ditentukan primary key adalah :  NIM merupakan primary key dari mahasiswa  Kd_buku merupakan primary key dari buku

Modul 7 : Desain Basis Data, halaman :

87

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

o Selanjutnya dapat dibuat tabel entitas beserta atribut dan primary key-nya (field yang belum ada tabel entitasnya sementara diabaikan)
Mahasiswa NIM Nama …. ….. …… Buku Kd_buku Judul Pengarang ….. ……

o

Selanjutnya adalah menganalisa relasi antar tabel entitas Hasil analisa: Seorang mahasiswa bisa meminjam banyak buku dan satu buku dapat dipinjam oleh banyak mahasiswa.
Mahasiswa M pinjam M Buku

o

Dari ER Diagram diatas, dapat digambarkan hubungan antara entitas dan menambahkan field yang mencirikan hubungannya :
Mahasiswa NIM Nama Alamat Tgl_lahir Telepon
yang meminjam

Pinjam NIM Kd_buku Tgl_pinjam Tgl_kembali
yang dipinjam

Buku Kd_buku Judul Pengarang Penerbit Thn_terbit

Mahasiswa

M

pinjam

M

Buku

Keterangan: One to One One to Many Many to Many Dari diagram tersebut, File Pinjam adalah tabel konektor, yang berisi foreign key (NIM dan Kd_buku) serta berisi field-field yang mencirikan tabel tersebut, yaitu Tgl_pinjam dan Tgl_kembali. Perhatikan area yang berada dalam garis putus-putus. Area tersebut menggambarkan relasi yang terjadi antar entitas, yang sebelumnya digambarkan dengan ER diagram.

Modul 7 : Desain Basis Data, halaman :

88

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

3. Normalisasi
Normalisasi merupakan teknik analisis data yang mengorganisasikan atributatribut data dengan cara mengelompokkan sehingga terbentuk entitas yang non-redundant, stabil, dan fleksibel Normalisasi dilakukan sebagai uji coba pada suatu relasi secara berkelanjutan untuk menentukan apakah relasi itu sudah baik, yaitu dapat dilakukan proses insert, update, delete, dan modifikasi pada satu atau beberapa atribut tanpa mempengaruhi integritas data dalam relasi tersebut. Pada proses normalisasi terhadap tabel pada database dapat dilakukan dengan tiga tahap normalisasi antara lain :  Bentuk Normal ke Satu (1NF) Syarat :  Tidak ada set atribut yang berulang atau bernilai ganda.  Telah ditentukannya primary key untuk tabel atau relasi.  Tiap atribut hanya memiliki satu pengertian.  Tiap atribut yang dapat memiiki banyak nilai sebenarnya menggambarkan entitas atau relasi yang terpisah. Bentuk Normal ke Dua (2NF) Syarat :  Bentuk data telah memenuhi kriteria bentuk normal ke satu.  Atribut bukan kunci (non-key attribute) haruslah memiliki ketergantungan fungsional sepenuhnya pada primary key Bentuk Normal ke Tiga (3NF) Syarat :  Bentuk data telah memenuhi kriteria bentuk normal ke dua.  Atribut bukan kunci (non-key attribute) tidak boleh memiliki ketergantungan fungsional terhadap atribut bukan kunci lainnya. Seluruh atribut bukan kunci pada suatu relasi hanya memiliki ketergantungan fungsional terhadap primary key di relasi itu saja.

Contoh Normalisasi pada beberapa tingkatan. Diberikan tabel Mahasiswa di bawah ini, akan dilakukan normalisasi sampai bentuk normal ke tiga

Modul 7 : Desain Basis Data, halaman :

89

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

Perhatikan bahwa tabel di atas sudah dalam bentuk normal ke Satu (1NF). Bentuk Normal 2 ( NF2 )

Belum memenuhi kriteria 3NF, Karena atribut non-key Nilai dan Bobot masih memiliki ketergantungan fungsional.

Bentuk Normal 3 NF3

EVALUASI
1. Sebutkan dan jelaskan semua komponen basis data. 2. Jelaskan keterkaitan diantara ER Diagram dengan basis data 3. Sebutkan Simbol dan fungsi yang digunakan dalam penggambaran ER Diagram 4. Sebutkan apa yang dimaksud dengan Primary Key 5. Jelaskan keterkaitan antara Basis Data dengan Kamus Data 6. Jelaskan apa yang dimaksud dengan Relasi dan berikan contoh-contoh penggunaanya. 7. Buat sebuah contoh kasus normalisasi sampai dengan Normal 3 NF3

Modul 7 : Desain Basis Data, halaman :

90

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

DAFTAR PUSTAKA
Burch, J.G., System, 1992, Analysis, Design, and Implementation, Boyd & Fraser Publishing Company. Jogiyanto, 1990, Analisis dan Disain Sistem Informasi, ANDI OFFSET Yogyakarta. John G. Burch, Jr, Felix R. Strater, Gary Grudnistski, 1979, Information Systems : Theory and Practice, Second Edition, John Wiley & Sons Meilir Page-Jones, 1988, The Practical Guide to Structured Systems Design, Second Edition, Yourdon Press, Prentice Hall I.T. Hawryszkiewycz, 1991, Introduction Systems Analysis and Design, Second Edition, Prentice Hall Raymond McLeod, Jr, 1979, Management Information System : A Study of Computer-Based Information Systems, Sixth Edition, Prenctice Hall

Modul 7 : Desain Basis Data, halaman :

91

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

MODUL 8 DESAIN PERANGKAT JARINGAN DAN PENGENDALIAN
MATERI 1. Perangkat 2. Jaringan 3. Pengendalian STANDAR KOMPETENSI Memahami konsep desain perangkat, jaringan, dan pengendalian serta mampu menggunakannya dalam desain sistem secara rinci CAPAIAN PEMBELAJARAN 1. Mahasiswa memahami desain perangkat, jaringan, dan pengendalian 2. Mahasiswa mampu menerapkan desain perangkat, jaringan, pengendalian dalam desain sistem secara rinci

dan

1. Perangkat
 Desain Perangkat Rancangan perangkat dilakukan untuk mendukung kebutuhan pemakai, ada 2 yaitu : Real Time dan Batch.

o Real Time Merupakan fungsi pengolahan dan waktu, Ada 2 jenis yaitu :  Keras : sistem akan gagal apabila melewati batas contoh : kontrol pesawat terbang  Lunak : kinerja turun apabila melewati batas contoh : pesanan tiket  Karakteristik  Orientasi Proses : kontinue  Ketersediaan file online : ada database online dan fasilitas query  Interval waktu yang sangat pendek  Pembaharuan secara konstan  Organisasi record untuk akses kilat  Model yang digunakan untuk perancangan proses ini adalah  DFD: Sifatnya statis dan digunakan untuk menentukan hasil dari pemrosesan  UML: Sama dengan DFD tetapi untuk yang berorientasi obyek  STD: Sifatnya dinamis dan digunakan untuk menentukan kapan pemrosesan dilakukan  Alat Spesifikasi Proses

Modul 8 : Desain Perangkat Jaringan dan Pengendalian, halaman

: 92

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

o Batch Sifatnya periodik, contohnya pengolahan gaji, model yang digunakan untuk perancangan proses ini adalah :  DFD : Sifatnya statis dan digunakan untuk menentukan hasil dari pemrosesan  UML : Sama dengan DFD tetapi untuk yang berorientasi obyek  Alat Spesifikasi Proses  Arsitektur Komputer Ada bermacam-macam arsitektur komputer, diantaranya adalah :  Mainframe  Minikomputer  Mikrokomputer  Perangkat Jaringan  Perangkat Mobile

Prosesor dapat bekerja berdiri sendiri dalam arsitektur berbasis induk (host). Pada saat ini sebuah backbone jaringan akan mampu menyambungkan beraneka ragam komputer dalam cara yang optimal. Setelah perancang sistem mengembangkan rancangan arsitektur komputer atau alternatif lainnya maka berikutnya disiapkan pengajuan permintaan untuk proposal (request for proposals : RFP) ke sejumlah penjual. Keputusan untuk memilih penjual dilakukan  Tingkat pertama dari evaluasi adalah meninjau proposal, evaluasi personil penjual, mewawancarai pelanggan dari penjual, meninjau dokumentasi penjual, menentukan prosedur pengujian, menaksir kondisi keuangan penjual dan memberi penilaian atas prosedur sah dan bisnis penjual  Tingkat kedua dari evaluasi adalah menaksir arsitektur komputer penjual berdasarkan pada kriteria kinerja umum  Tingkat evaluasi ketiga dan terakhir adalah menguji arsitektur komputer dibawah kondisi mendekati sebenarnya. Uji ini disebut benchmark.

Modul 8 : Desain Perangkat Jaringan dan Pengendalian, halaman

: 93

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

Outsourcing adalah cara lain untuk memperoleh arsitektur komputer dengan mentransfer beberapa atau seluruh sumberdaya komputer dan telekomunikasi, hal tersebut biasanya akan lebih sering dipilih karena ada keuntungan dari sisi penanganan dan pemeliharaan yang tidak harus dilakukan secara Insourcing, karena telah mendapatkan pelayanan sebagai sebuah pembayaran ke bisnis eksternal.

2. JARINGAN
Perancangan jaringan dimulai dengan sebuah model seluas bidang usaha sebagai pola atau petunjuk umum untuk merancang sebuah jaringan bidang usaha. Kemudian bidang usaha tersebut disegmentasi secara logis. Sebuah local area network (LAN) yang tepat dirancang untuk setiap segmen. Apabila model seluas bidang usaha membutuhkan internetworking, LAN untuk tiap segmen harus diinterkoneksi menggunakan bridge atau gateway.  Elemen jaringan Elemen jaringan adalah elemen yang digunakan membangun jaringan, yang diantaranya adalah :  Media transmisi Media transmisi membawa sinyal analog atau digital.  Sinyal transmisi  Mode transmisi Mode transmisi dari sinyal adalah simplex, half-duplex atau full-duplex.  Topologi jaringan Topologi jaringan yang dapat digunakan adalah star, bus atau ring.  Kartu antar muka jaringan (network interface cards : NICs) Kartu antar muka jaringan (NIC) membawa sirkuit-sirkuit elektronik yang menyambungkan sebuah komputer ke sebuah jaringan.  Server jaringan Server jaringan, biasanya server file dan print, mengkoordinasikan dan mengelola akses ke database dan printer.  Modem Modem memungkinkan perangkat digital untuk berkomunikasi dengan perangkat analog dan sebaliknya.  Multiplexer Memungkinkan penggunaan bersama jalur biasa berkecepatan tinggi  Sistem operasi jaringan Perangkat lunak pengelola jaringan dan menyediakan fungsionalitasnya.  Protokol Memungkinkan jaringan dan perangkat yang berlainan saling berkomunikasi  Prosesor front-end (FEP) Mengeluarkan semua tugas-tugas jaringan dari komputer utama sehingga dapat mendukung kekuatan pengolahan untuk aplikasi-aplikasi pemakai.

Modul 8 : Desain Perangkat Jaringan dan Pengendalian, halaman

: 94

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

Tipe Kabel Transmisi Media transmisi kabel membawa sinyal melalui bahan dari logam, kaca atau plastik. Media kabel antara lain :  Kabel twisted-pair Kabel tembaga untuk telepon tradisional. Merupakan media transmisi yang sangat baik dan relatif murah untuk berbagai aplikasi jaringan.  Kabel koaksial Mendukung bandwith yang besar danmemungkinkan tingkat kecepatan data yang tinggi.  Fiber-optik Terbuat dari sebuah inti kaca dengan pakaian kaca atau plastik dibungkus jaket plastik. Mendukung bandwith yang besar dengan kemampuan memancarkan data pada kecepatan yang sangat tinggi. Fiber-optik membawa sinar cahaya sehingga terbebas dari interfensi elektromagnetik. Perancangan LAN LAN atau Jaringan Area Lokal (Local Area Network) berfungsi untuk menginterkoneksikan beraneka-ragam node menggunakan media transmisi umum dalam daerah jangkauan mulai dari dari 5 sampai 10 mil, dan sering kali kurang dari itu. Biasanya LAN melayani sebuah departemen dalam perusahaan. 

Dua LAN komersial yang menonjol adalah token ring dari IBM dan ethernet dari DEC. Token ring menggunakan skema pen-sinyalan data dimana sebuah paket data khusus yang disebut token, dilewatkan dari node satu ke node lainnya sepanjang ring media transmisi.

Modul 8 : Desain Perangkat Jaringan dan Pengendalian, halaman

: 95

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

Pada saat sebuah node ingin mentransmit, ia menguasai token, mentransmit data lalu membebaskan token setelah data mengelilingi ring secara penuh. Sedangkan Ethernet berbasis pada topologi bus. Seluruh node jaringan pada bus "mendengarkan" ke semua transmisi, memilih satu sebagai jawaban atas identifikasi alamat. Standar untuk merancang sebuah backbone media transmisi berbasis gedung adalah premises distribution system, yang dikuasai oleh AT&T. Subsistem perkabelan (wiring) utamanya adalah backbone vertikal, backbone horizontal dan backbone campus. Sedangkan Wireless LAN adalah bentuk khusus dari LAN. LAN menggunakan teknologi tanpa kabel yang dipasang dalam kasus dimana penggunaan kabel akan mengakibatkan persoalan.  Layanan Perancangan WAN (Wide Area Network) o Tiga layanan yang ditawarkan perusahan telpon untuk membangun Wide Area Network adalah :  T-span (T-carries) Adalah time-division-multiplexed digital transmission lines.  X.25 packet-switching Protokol standar untuk packet switch network  Integrated services digital network (ISDN) Layanan yang memungkinkan pemakai mentransmit dan menerima variasi yang luas dari lalu lintas informasi dalam bentuk digital. o Media Transmisi Gelombang Udara untuk Merancang WAN Gelombang mikro dan satelit dapat diterapkan secara khusus untuk merancang WAN.

Radio gelombang mikro membawa sejumlah besar lalu lintas suara dan data, dan dapat diterapkan terutama pada perusahaan yang tidak mempunyai hak-atas-jalan (right-offway) untuk memasang media transmisi terestrial.

Modul 8 : Desain Perangkat Jaringan dan Pengendalian, halaman

: 96

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

Satelit menyediakan perangkat transmisi yang sangat baik untuk menjangkau jarak yang jauh dan meng-interkoneksi LAN dengan WAN. Very small aperture terminal (VSAT) adalah piringan kecil dan portable yang menyediakan akses kepada daerah-daerah jarak jauh yang tidak dilayani telepon. VSAT dapat bertindak sebagai jaringan cadangan atau sebagai sebuah alternatif dari pelayanan transmisi telepon.

Modul 8 : Desain Perangkat Jaringan dan Pengendalian, halaman

: 97

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

3. Pengendalian
Merancang dan memelihara sebuah sistem pengendalian (control) yang akan melindungi sistem informasi dari berbagai ancaman, diantaranya :  Kesalahan manusia akibat perbuatan dan kelalaian serta kurangnya pelatihan  Perangkat lunak yang bersifat merusak dan menipu  Penyadapan dan penghapusan output oleh orang yang tidak berwenang  Perubahan atau kehilangan database  Kegagalan yang disebabkan oleh rancangan lingkungan yang buruk, kebakaran dll.  Pengaksesan yang tidak sah Pengendalian untuk mencegah kerugian yang disebabkan akibat ancaman dikategarikan sebagai berikut :  Pengendalian pencegahan (Preventive Controls) Mencegah terjadinya ancaman  Pengendalian pendeteksian (Detective Controls) Melihat ancaman sehingga mengurangi atau menghilangkan kegiatan yang mengekspos ancaman  Pengendalian pengoreksian (Corrective Controls) Memulihkan sistem dari peristiwa ancaman Pengendalian input Pengendalian Keterpaduan Data Yang Dimasukkan ke Sistem Komponen input betanggung jawab untuk membawa data ke sistem sehingga input harus dikendalikan untuk menjamin keautentikan, keakuratan dan kelengkapan informasi. Pengendalian input terdiri dari : o Pengendalian kode (code controls) Digunakan unutk memeriksa kesalahan kode. Ada beberapa tipe kesalahan kode, yaitu  Penambahan (addition) Karakter ekstra ditambahkan Contoh : 14351 dikode sebagai 143519  Pemotongan (truncation) Sebuah karakter dilupakan Contoh : 14351 dikode sebagai 1435  Penyalinan (transcription) Karakter salah direkam Contoh : 14351 dikode sebagai 64351  Transposisi tunggal (single transposition) Karakter berdampingan ditulis terbalik Contoh : 14351 dikode sebagai 41351  Transposisi ganda (double transposition) Karakter dipisahkan oleh lebih dari 1 karakter ditulis terbalik Contoh : 14351 dikode sebagai 15341 

Modul 8 : Desain Perangkat Jaringan dan Pengendalian, halaman

: 98

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

Sebuah kendali yang digunakan untuk menjaga kesalahan tipe ini adalah cek digit redundansi yang ditambahkan ke sebuah kode sehingga keakuratan dari karakter lain dalam kode tersebut dapat diperiksa. o Pengendalian validasi input (input validation controls) Mengenali kesalahan data sebelum diolah. Pengendalian ini dilakukan pada 3 tingkat, yaitu  Cek field Tiap field diperiksa oleh program untuk menjamin bahwa field tersebut berisi data yang tepat, rancangan cek field antara lain : - Kehilangan data atau kosong - Rentang (interval) - Cek digit - Ukuran  Cek record Rancangan cek record antara lain - Kelayakan - Tanda - Ukuran - Urutan  Cek file - Label eksternal - Label judul internal - Label trailer internal o Pengendalian indentifikasi input (input identification contols) Membuat tabel identifikasi (validasi) dan membandingkan tiap transaksi dengan entri-entri autentik dalam tabel identifikasi. o Pengendalian batch (batch controls) o Pengendalian kesalahan melalui audit trail o Koreksi kesalahan data  Pengendalian Perangkat Lunak Penjagaan Terhadap Perangkat Lunak Yang Tidak Dapat Diandalkan, yang merusak dan menipu (destructive dan fraundulent software) berisi : o Salami Technique Manipulasi program dengan cara pembulatan ke bawah o Trojan Horse Kumpulan program yang kadang-kadang melakukan fungsi-fungsi yang tidak sah o Logic Bomb Melakukan sesuatu yang merusak atau menipu baik sengaja atau tidak o Worm Program yang mereplika dan menyebar tetapi tidak membutuhkan sebuah host atau tidak perlu melekatkan dirinya ke suatu program o Virus Sebuah segmen berkode program yang mereplika

Modul 8 : Desain Perangkat Jaringan dan Pengendalian, halaman

: 99

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

 o

o

o

o o

Pengendalian Output Pengendalian Keutuhan dari Output Sistem Pengendalian output sistem real time untuk melindungi keutuhan data Tujuan pengendalian output sistem real time (real-time system output controls)  Mencegah agar transmisi output dari sistem ke pemakai tidak ditangkap oleh orang yang tidak berwenang  Mencegah output yang ditampilkan di terminal tidak terlihat secara tidak sah  Mencegah pemindahan output dari terminal yang mempunyai perangkat penyimpanan berpindah Pengendalian telekomunikasi Untuk mengurangi kemungkinan penangkapan informasi oleh orang tidak berwenang dapat digunakan teknik encryption (cryptosystems) yaitu teknik pengacakan data, Cryptosystem ada 2 kategori yaitu :  Single-key Data Encrytion Standard (DES) Cryptosystem Kunci rahasia diketahui oleh pengirim dan penerima  B. Double-key Public Key Cryptosystem Menggunakan 2 kunci yang berbeda tetapi berkomplemen secara matematis, satu untuk encryption dan yang lain untuk descryption Pengendalian terminal Informasi yang ditampilkan pada terminal secara tidak sah dapat dikendalikan dengan cara :  Menempatkan tiap terminal atau workstation pada ruangan terpisah dengan pengendalian akases yang ketat  Menggunakan penutup terminal  Menampilkan informasi pada intensitas rendah  Menghitamkan layar secara otomatis setelah beberapa waktu tidak digunakan  Menempatkan terminal sedemikian rupa sehingga pemakai duduk dengan punggung menghadap dinding Pengendalian floppy disk Workstation tanpa disk (diskless workstation) Pengendalian output sistem batch untuk melindungi keutuhan data  Pengendalian dokumen Dilakukan dengan cara pemberian nomor pada setiap dokumen, menggunakan prosedur perwalian ganda atau tanda tangan ganda yang mengharuskan 2 pemakai berwenang secara bersama-sama untuk mengambil dan menandatangani dokumen tersebut  Pengendalian pemuatan File batch disimpan di lokasi yang aman di bawah kendali seorang pustakawan  Pengendalian pengolahan Yang melakukan pengolahan adalah versi program yang benar tanpa campur tangan yang tidak dapat dipertanggung jawabkan.

Modul 8 : Desain Perangkat Jaringan dan Pengendalian, halaman

:100

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

   

  

Akses terhadap fasilitas komputer dibatasi hanya bagi personil yang berwenang saja. Console log harus dalam bentuk cetakan bersambung karena merupakan pertanggung jawaban perjalanan pesan yang dihasilkan komputer dan semua instruksi serta entri yang dibuat oleh operasi komputer pada saat pengolahan tertentu berjalan Pengendalian spooling dan file printer Pengendalian pencetakan output Pengendalian peninjauan Bagian pengendalian melakukan pemeriksaan menyeluruh pada laporan tercetak Pengendalian decollating dan bursting Untuk menghilangkan kesempatan membuat salinan atau menghapus halaman laporan maka semua laporan harus diangkut langsung ke dan dari fasilitas decollating (memisahkan salinan kertas bersambung yang dicetak rangkap) dan bersting (pemutusan kertas bersambung sehingga menjadi lembar tumpukan) Pengendalian distribusi Laporan diantar langsung ke pemakai akhir atau ditempatkan pada loker dan hanya diambil oleh pemakai yang mempunyai loker yang sesuai Pengendalian penyimpanan dan penahan Untuk output tertentu ditetapkan sebuah tanggal penahanan (retention date) yaitu jangka waktu penyimpanan Pengendalian perusakan Laporan yang tidak berguna harus dihancurkan

 Melindungi Database o Model keamanan DB2 Pemberian hak atau wewenang dengan cara implisit (pada saat pembentukan sebuah obyek) ataupun eksplisit (pemberian dan pencabutan hak dengan perintah GRANT & REVOKE) o Pengendalian konkuren (concurrency controls) Untuk mengatasi masalah konkurensi (2 atau lebih pemakai mengakses data yang sama secara bersamaan) pada database relasional yang baik sudah tersedia fasilitas pengunci otomatis, pendeteksi konflik dan keistimewaan resolusi. o Teknik encryption o Perencanaan pencadangan dan pemulihan database Untuk sistem batch digunakan three files buck-up dan recovery plan atau GRANTFATHER - FATHER – SON recovery plan yaitu penggunaan 3 buah file induk yang paling baru (sebagai SON) ditempatkan dalam lokasi, file ke 2 (sebagai FATHER) di ruang penyimpanan dan file ke 3 (sebagai GRANDFATHER) disimpan di tempat aman di luar lokasi. Untuk sistem real time selalu terdapat pertukaran antara frekuensi dumping (mentransfer isi memori ke printer atau berkas penyimpanan, penyalinan) dan logging (mempertanggung jawabkan dan menyalin tiap transaksi yang memperbaharui file)

Modul 8 : Desain Perangkat Jaringan dan Pengendalian, halaman

:101

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

o Pencadangan di luar lokasi Ada 2 metode :  Remote secure storage facility (fasilitas penyimpanan aman jarak jauh) Disediakan lokasi tertentu yang aman sebagai tempat penyimpanan dokumen, database atau program  Televaulting (transmisi data elektronik) lokasi backup Alat angkut data penting ke lokasi backup secara elektronik o Pencadangan di dalam lokasi Disk mirroring menulis data pada 2 server secara terpisah dan simultan  Melindungi Teknologi Perangkat Keras o Pengendalian pusat data mainframe Ada beberapa faktor yang harus diperhatikan untuk membuat pusat data mainframe yang aman yaitu :  Lokasi fisik  Konstruksi  Filtrasi  Pendingin udara  Air pendukung  Perlindungan terhadap pemancaran o Pengendalian Personal Komputer Beberapa pengendalian mainframe dapat diterapkan ke PC dan sebaliknya. Faktor berikut menekankan pengendalian, khususnya yang dapat diterapkan pada PC  Pengendalian Lingkungan  Pengendalian Fisik  Pengendalian Database Pemulihan Membuat sebuah Rencana Pemulihan dari Bencana (Disaster Recovery Planning) Perencanaan pemulihan dari bencana membantu memastikan bahwa keputusan yang tepat telah dibuat dan perushaan dapat bertahan hidup. Komponen : o Rencana Pencegahan (Preventive Plan) Dirancang pada saat sistem dibangun atau pengendalian dipasang pada sebuah sistem lama o Rencana Persaingan (Contention Plan) Dari rencana pencegahan dikembangkan untuk menentukan bagaimana bereaksi dan tetap berjalan pada saat terjadi bencana o Rencana Ketidaktentuan (Contingency Plan) Menggambarkan bagaimana perusahaan akan beroperasi dan mengadakan bisnis pada saat usaha-usaha pemulihan dilakukan. Rencana tersebut berupa prosedur alternatif dan darurat. Langkah-langkah :  Mengenali fungsi-fungsi kritikal  Memilih Option-option kontingensi
Modul 8 : Desain Perangkat Jaringan dan Pengendalian, halaman

:102

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

o Rencana Pemulihan (Recovery Plan) Terdiri dari prosedur untuk memulihkan sistem agar dapat beroperasi penuh  Mengendalikan Akses Data : Berdasarkan pada apa yang diketahui pemakai, apa yang dimiliki pemakai dan siapa pemakainnya.  Memperbolehkan pengaksesan berdasarkan pada apa yang diketahui pemakai : Password  Memperbolehkan pengaksesan berdasarkan pada apa yang dimiliki pemakai : Smart Card  Memperbolehkan akses berdasarkan pada sifat psikologis dan tingkah laku pemakai  Pengendalian biometric, sifat-sifat psikologis : geometris tangan, sidik jari, tanda tangan, retina, berat badan.

EVALUASI
1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan Real Time dan Batch dalam Desain Proses 2. Sebutkan apa saja peran arsitektur komputer dalam mendukung proses 3. Sebutkan tentang tipe kabel tranmisi yang ada, dan jelaskan masing-masing kelebihan dan kekurangannya 4. Apa yang dimaksud dengan WAN, dan apa bedanya dengan LAN 5. Sebutkan macam-macam ancaman terhadap sistem informasi, dan jelaskan bagaimana cara mengendalikannya 6. Jelaskan apa yang dimaksud dengan pengendalian input output 7. Sebutkan apa saja yang dapat dilakukan untuk melindungi database dan perangkat kerasnya, serta pemulihanya bila terjadi bencana

DAFTAR PUSTAKA
Burch, J.G., System, 1992, Analysis, Design, and Implementation, Boyd & Fraser Publishing Company. Jogiyanto, 1990, Analisis dan Disain Sistem Informasi, ANDI OFFSET Yogyakarta. John G. Burch, Jr, Felix R. Strater, Gary Grudnistski, 1979, Information Systems : Theory and Practice, Second Edition, John Wiley & Sons Meilir Page-Jones, 1988, The Practical Guide to Structured Systems Design, Second Edition, Yourdon Press, Prentice Hall I.T. Hawryszkiewycz, 1991, Introduction Systems Analysis and Design, Second Edition, Prentice Hall Raymond McLeod, Jr, 1979, Management Information System : A Study of Computer-Based Information Systems, Sixth Edition, Prenctice Hall

Modul 8 : Desain Perangkat Jaringan dan Pengendalian, halaman

:103

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

MODUL 9 PERANCANGAN BERORIENTASI OBYEK
MATERI 1. Perkembangan metode Object Oriented Analysis and Design (OOAD) 2. Konsep OOAD 3. Object Management Group (OMG) 4. Pengantar Unified Modeling Language (UML) STANDAR KOMPETENASI Mengetahui Perkembangan dan konsep OOAD dan OMG serta mengerti tentang konsep dasar UML CAPAIAN PEMBELAJARAN 1. Mahasiswa mengetahui Perkembangan metode Object Oriented Analysis and Design (OOAD) 2. Mahasiswa mengetahui Konsep OOAD 3. Mahasiswa mengetahui Konsep Object Management Group (OMG) 4. Mahasiswa mengerti Konsep dasar Unified Modeling Language (UML)

1. Perkembangan metode Object Oriented Analysis and Design (OOAD)
PERKEM BANG BAHASA PEM G AN AN RO RAM
Fortran Algol

LISP

1960
PL/ 1

Cobol sim ula Sm alltalk-72 Sm alltalk-74
P ascal

1970
Prolo g

C

Sm alltalk-76

Sm alltalk-78 Sm alltalk-80 Loops

1980
O bjective C Ada O bject Pascal Eiffel C++ CLO S

1990
Ada 9 O bject Cobol Java

Modul 9 : Perancangan Berorientasi Obyek, halaman :

:104

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

Konsep obyek telah dikenal sejak lebih dari tiga puluh tahun yang lalu. Diawali dengan penggunaan pemrograman berorientasi obyek (OOP), lalu berkembang menjadi konsep perancangan berorientasi obyek (OOD) dan selanjutnya metode analisis dan perancangan berorientasi obyek (OOAD) di tahun 1990. Di awal tahun 1990, metode OO yang dikenalkan oleh Grady Booch dan James Rumbaugh menjadi amat populer, Rumbaugh menekankan pengembangan berorientasi obyek berdasarkan pendekatan terstruktur, sementara Booch menerapkan metode obyek pada bidang teknik dan bisnis. Selanjutnya pada tahun 1995 muncul gagasan Booch dan Rumbaugh untuk menggabungkan metode mereka dengan membakukan notasi simbol yang digunakan dalam menggambarkan komponen sebuah aplikasi dan selanjutnya disebut Unified Method (UM). Kemudian Ivar Jacobson bergabung bersama mereka untuk menyempurnakan metode obyek ini, dengan menyusun konsep Use-Case. Munculnya metode yang dibuat oleh Booch, Rumbaugh dan Jacobson (ketiganya sering disebut pendekar metode obyek) selanjutnya lebih dikenal sebagai bahasa Unified Modeling Language (UML ver 0.9). Penggunaan UML semakin populer, dan pada tahun 1997 UML ver 1.0 dibawa ke dalam konferensi organisasi pemakai obyek (Object Management Group – OMG) yang akhirnya menyepakati untuk dijadikan sebagai standar metode pengembangan sistem dengan munculnya UML versi 1.1
PER MB NGA M TO OB CT O TED KE A N E DE JE RIEN
Ada/Booch O SA O
S hlaer-M elor

1990 O SE O
Jacobson

Booch‘91
B ooch

RDD
W rock irfs-B

OT M
Rum h et. al baug

O BA
G ibson/G oldb

OA O
Coad/Y ourdo n

O SE‘94 O 1995 Harel
State charts

Booch‘93 O T‘94 M

FUSIO N
Colem an

OO DA
M artin/O dell

UM0.8

UM 0.9 L
A igos m

SO A M
G Raham

M SES O
H enderson elle -S rs

1997

UM 1.0 L
Am s igo

Team Fusion
Colem et. al an

O PENM/O L M
O pen-G roup

RD
S hlaer-M ellor

UM 1.1 L

UML mendefinisikan notasi-notasi tunggal dan semantiknya bersama-sama di dalam sebuah meta-model, yaitu kumpulan berbagai notasi-simbol UML, yang secara bersama digunakan untuk pengembangan suatu aplikasi yang lengkap. UML adalah bahasa pemodelan yang dapat dikembangkan lebih lanjut ke dalam satu bahasa program dengan menggunakan code-generator, sehingga berpeluang untuk menjadi dasar pengembangan suatu Case tools pengembangan sistem.
Modul 9 : Perancangan Berorientasi Obyek, halaman :

:105

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

Sebagai catatan, sebenarnya di luar bahasa UML yang telah disepakati tersebut, berkembang pula metode lainnya misalnya metode yang dikembangkan oleh Harel (disebut state diagram), selain itu juga metode yang dikembangkan oleh Shlaer&Mellor (OO Analysis/Design) , selain yang dikembangkan oleh Colleman berdasarkan ide-ide Wirfs Brock yaitu Open Modeling Language (OPEN/OML) yang merupakan pesaing OOAD, dengan membuat Konsorsium Open didukung oleh Brian Henderson-Seller, Ian Graham dan Donald Firesmith. Kriteria memilih metode berorientasi obyek adalah :  Pertama, metode tersebut harus cocok untuk requirement aplikasi termasuk didalamnya tahapan dalam life cycle system, dan cocok dengan bahasa pemrograman yang dipakai.  Kedua, pengalaman developer (programmer, desainer system analist) mempengaruhi seberapa bagus mereka menggunakan metode yang dipilih  Ketiga, apakah metode mendukung fitur pengembangan sistem lainnya, misalnya tools untuk membuat model  Keempat, metode harus mudah digunakan dan mudah dimengerti Sebagai ilustrasi, dapat dijelaskan, metode Rumbaugh OMT berdasarkan analisis terstruktur dan pemodelan entity-relationship. Tahapan utama dalam metodologi ini adalah analisis, desain sistem dan desain obyek serta implementasi. Keunggulan metode ini adalah dalam notasi yang mendukung semua konsep OO Selanjutnya metode Shlaer&Mellor (OOA/D) menggunakan teknik pemodelan informasi tradisional untuk menjelaskan entitas dalam sistem, menggunakan state diagram untuk memodelkan keadaan (state) entitas, menggunakan dataflow diagram untuk memodelkan alur data dalam sebuah sistem. Metode ini menghasilkan tiga jenis model, yaitu information model, state model dan proses model. Keunggulan metode ini adalah dalam memandang masalah dari sudut pandang yang berbeda, mudah dikonversi dari model struktural. Sedangkan metode Booch, dikenal sebagai metode desain OO. Metode ini menjadikan proses analisis dan desain ke dalam empat tahapan tahapan iterative (berulang), yaitu identifikasi kelas-kelas dan obyek-obyek, identifikasi semantic dan hubungan obyek dan kelas tersebut, rincian interface dan implementasinya. Metode ini sangat detail dan kaya dengan notasi dan elemen gabungan dari metode lain.. Sejak standarisasi metodologi, OMG telah mengeluarkan Request for Proposal (RFP) pada Juni 1996 untuk mendorong perusahaan-perusahaan sistem informasi, developer software dan para system computer user agar membuat sebuah RFP bersama sebagai respon. Satu perusahaan software, Rational Software telah membentuk konsorsium dengan berbagai organisasi untuk meresmikan pemakaian UML sebagai standar dalam OOAD. Kontribusi untuk UML telah dihasilkan dari perusahaan-perusahaan besar yang mendukungnya, diantaranya : Digital Equipment Corp (DEC), HawletPackard (HP), i-Logic, IntellCorp, IBM, ICON Computing, MCI Systemhouse, Microsoft, Oracle, Rational Software, Texas Instrument (TI), Unysis Paltinum Technology, PTech, Taskon&Reich Technologies, dan Softeam.

Modul 9 : Perancangan Berorientasi Obyek, halaman :

:106

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

2. Konsep OOAD
OOAD mencakup analisis dan desain sebuah sistem dengan pendekatan obyek. Analisis berorientasi obyek (OOA) adalah metode analisis yang memeriksa requirement (syarat/ keperluan yang harus dipenuhi sebuah sistem) dari sudut pandang kelas-kelas dan obyek-obyek yang ditemui dalam ruang lingkup perusahaan. Sedangkan desain berorientasi obyek (OOD) adalah metode untuk mengarahkan arsitektur software yang didasarkan pada manipulasi obyek-obyek sistem atau subsistem Obyek (object) Obyek adalah benda secara fisik dan konseptual yang ada di sekitar kita. Beberapa contoh obyek, misalnya hardware, software, dokumen, manusia, konsep, dan lainnya. Untuk kepentingan pemodelan, misalnya seorang eksekutif akan melihat karyawan, gedung, divisi, dokumen, keuntungan perusahaan sebagai sebuah obyek. Sedangkan seorang teknisi mobil, akan melihat ban, pintu, mesin, kecepatan tertentu dan banyaknya bahan bakar sebagai sebuah obyek. Contoh lainnya adalah seorang software engineer akan memandang tumpukan, antrian instruksi, window, check box sebagai sebuah obyek. Sebuah obyek mempunyai keadaan sesaat yang disebut state.  State dari sebuah obyek adalah kondisi dari obyek itu atau himpunan keadaan yang menggambarkan obyek tersebut. Sebagai contoh, state dari rekening tabungan, dapat memuat saldo yang berjalan, state dari sebuah jam adalah catatan saat itu; sedangkan state dari sebuah bohlam lampu adalah suatu keadaan “nyala” atau “mati”. State dinyatakan dengan nilai dari atribut obyeknya.  Atribut adalah nilai internal suatu obyek yang mencerminkan antara lain karakteristik obyek, kondisi sesaat, koneksi dengan obyek lain dan identitas. Perubahan state dicerminkan oleh perilaku (behaviour) obyek tersebut.  Behaviour atau perilaku sebuah obyek mendefinisikan bagaimana sebuah obyek bertindak(beraksi) dan memberi reaksi. Behaviour ditentukan oleh himpunan semua atau beberapa operasi yang dapat dilakukan oleh obyek itu sendiri. Behaviour dari sebuah obyek dicerminkan oleh interface, service dan method dari obyek tersebut.  Interface adalah pintu untuk mengakses service dari obyek.  Service adalah fungsi yang dapat dikerjakan oleh sebuah obyek.  Method adalah mekanisme internal obyek yang mencerminkan perilaku (behaviour) obyek tersebut. Kelas (Class) Class adalah definisi umum (pola, template, atau cetak biru) dari himpunan obyek yang sejenis. Kelas menetapkan spesifikasi perilaku (behaviour) dan  

Modul 9 : Perancangan Berorientasi Obyek, halaman :

:107

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

atribut-atribut dari obyek tersebut. Class adalah abstraksi dari entitas dalam dunia nyata. Sedangkan obyek adalah contoh (“instances”) dari sebuah kelas. Misalnya, atribut dari kelas binatang adalah berkaki empat dan mempunyai ekor. Perilakunya adalah makan dan tidur. Sedangkan contoh (instance) untuk kelas binatang ini adalah kucing, gajah, dan kuda. Kotak Hitam (Black Boxes) Sebuah obyek adalah kotak hitam (black-boxes). Konsep ini menjadi dasar untuk implementasi obyek. Dalam operasi OO, hanya para developer (programmer, desainer, analist) yang dapat memahami detail dari proses-proses yang ada didalam kotak hitam tersebut, sedangkan para pemakai (user) tidak perlu mengetahui apa yang dilakukan, tetapi yang penting mereka dapat menggunakan obyek untuk memproses kebutuhan mereka. o Encapsulation, proses menyembunyikan detail implementasi sebuah obyek. Satu-satunya jalan untuk mengakses data obyek tersebut adalah melalui interface. Interface melindungi internal state sebuah obyek dari “campur tangan” pihak luar. Oleh karena itu obyek digambarkan sebagai sebuah kotak hitam yang menerima dan mengirim pesan-pesan (messages). Dalam OOP kotak hitam tersebut berisi kode (instruksi yang dipahami komputer) dan data (informasi dimana instruksi tersebut beroperasi dengannya). Dalam OOP kode dan data disatukan dalam sebuah “benda” yang tersembunyi isinya yaitu obyek. Pengguna obyek tidak perlu mengetahui isi dalam kotak tersebut; untuk berkomunikasi dengan obyek, diperlukan pesan (message). o Message adalah permintaan agar obyek menerima (receive) untuk membawa metode yang ditunjukkan oleh perilaku dan mengembalikan result dari aksi tersebut kepada obyek pengirim (sender). Contohnya, satu obyek orang mengirim kepada obyek bola lampu sebuah pesan message untuk menyala melalui saklar. Obyek bola lampu memiliki perilaku yang akan mengubah keadaannya (state) dari padam menjadi menyala. Obyek lampu menyalakan dirinya dan menunjukkan kepada obyek orang tersebut bahwa state barunya adalah menyala.  Asosisasi dan Agregasi o Asosiasi adalah hubungan yang mempunyai makna antara sejumlah obyek. Asosiasi digambarkan dengan sebuah garis penghubung di antara obyeknya. Contoh :  Asosiasi antara obyek mobil dengan seseorang. Mobil dapat dimiliki oleh satu atau beberapa orang, sedangkan seseorang dapat mempunyai nol, satu atau banyak mobil  Asosiasi antara karyawan dengan unit-kerja. Seorang karyawan bekerja di satu unit-kerja. Sedangkan sebuah unit-kerja dapat memiliki beberapa orang karyawan 

Modul 9 : Perancangan Berorientasi Obyek, halaman :

:108

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

o Agregasi adalah bentuk khusus sebuah asosiasi yang menggambarkan seluruh bagian pada satu obyek merupakan bagian dari obyek yang lain (◊). Contoh :  Kopling dan piston adalah bagian dari mesin. Sedangkan mesin, roda, body adalah merupakan bagian dari sebuah mobil.  Tanggal, bulan dan tahun adalah bagian dari tanggal-lahir. Sedangkan tanggal-lahir, nama, alamat, jenis kelamin adalah bagian dari identitas Seseorang.

3. Object Management Group (OMG)
UML adalah bahasa berbasis simbol yang dapat digunakan untuk visualisasi, spesifikasi, membuat dan mendokumentasikan setiap tahap dalam pengembangan sebuah sistem. UML diterima sebagai standar pengembangan software oleh OMG pada Nopember 1997. o Object Management Group, Inc. (OMG) adalah sebuah organisasi internasional yang dibentuk pada tahun 1989, didukung lebih dari 800 anggota, terdiri dari perusahaan sistem informasi, software developer dan para user sistem komputer. OMG mempromosikan teori dan praktek-praktek object oriented technology dalam rekayasa software. o Organisasi ini salah satunya bertugas membuat spesifikasi “manajemen obyek” untuk menetapkan kerangka bersama dalam rekayasa software. Spesifikasi tersebut dibuat dengan tujuan utama untuk menhasilkan reusability, portability dan interoperability software yang berdasarkan OO dalam lingkungan yang heterogen dan dapat dioperasikan dalam semua platform hardware dan sistem operasi o Sasaran OMG adalah membantu mengembangkan teknologi OO dan mengarahkannya dengan mendirikan Object Management Architecture (OMA), yang bertugas menentukan infrastruktur konseptual yang didasarkan pada seluruh spesifikasi yang dikeluarkan oleh OMG. o Selanjutnya OMG mengeluarkan UML dengan maksud dapat mengurangi kekacauan dalam bahasa pemodelan yang saat itu terjadi dalam lingkungan industri. UML diharapkan dapat menjawab masalah penotasian dan mekanisme tukar menukar model yang terjadi.

4. Pengantar Unified Modeling Language (UML)
 UML sebagai sebuah bahasa yang memberikan vocabulary dan tatanan penulisan kata-kata dalam ‘MS Word’ untuk kegunaan komunikasi. Sebuah bahasa model adalah sebuah bahasa yang mempunyai vocabulary dan

Modul 9 : Perancangan Berorientasi Obyek, halaman :

:109

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

   

konsep tatanan / aturan penulisan serta secara fisik mempresentasikan dari sebuah sistem. Seperti halnya UML adalah sebuah bahasa standard untuk pengembangan sebuah software yang dapat menyampaikan bagaimana membuat dan membentuk model-model, tetapi tidak menyampaikan apa dan kapan model yang seharusnya dibuat yang merupakan salah satu proses implementasi pengembangan software. UML tidak hanya merupakan sebuah bahasa pemograman visual saja, namun juga dapat secara langsung dihubungkan ke berbagai bahasa pemograman, seperti JAVA, C++, Visual Basic, atau bahkan dihubungkan secara langsung ke dalam sebuah object-oriented database. Begitu juga mengenai pendokumentasian dapat dilakukan seperti; requirements, arsitektur, design, source code, project plan, tests, dan prototypes. UML merupakan bahasa standar untuk visualisasi, sepisifikasi, konstruksi dan pendokumentasian dari komponen dasar dari sebuah software, dan dapat digunakan untuk semua tahapan dalam proses pengembangan sistem mulai dari analisis, desain, sampai implementasi. UML merupakan penggabungan berbagai konsep terbaik dari pemodelan, yaitu pemodelan data (entity-relationship diagram), pemodelan bisnis (Workflow), pemodelan obyek dan komponennya. UML menyediakan beberapa notasi dan komponen dasar standar yang dapat digunakan sebagai alat komunikasi bagi para pelaku dalam proses analisis dan desain sistem. Komponen dasar dalam UML didefinisikan sebagai informasi dalam berbagai bentuk yang digunakan atau dihasilkan dalam proses pengembangan software. Untuk dapat memahami UML membutuhkan bentuk konsep dari sebuah bahasa model, dan mempelajari 3 (tiga) elemen utama dari UML seperti building block, aturan-aturan yang menyatakan bagaimana building block diletakkan secara bersamaan, dan beberapa mekanisme umum (common).

Building blocks Ada 3 (tiga) macam yang terdapat dalam building block adalah katagori benda/Things, hubungan, dan diagram. Benda/things adalah abstraksi yang pertama dalam sebuah model, hubungan sebagai alat komunikasi dari benda-benda, dan diagram sebagai kumpulan / group dari benda-benda/things. o Benda/Things Adalah hal yang sangat mendasar dalam model UML, juga merupakan bagian paling statik dari sebuah model, serta menjelaskan elemen-elemen lainnya dari sebuah konsep dan atau fisik. Bentuk dari beberapa benda/thing adalah sebagai berikut :  Pertama, adalah sebuah kelas yang diuraikan sebagai sekelompok dari object yang mempunyai atribute, operasi, hubungan yang semantik. Sebuah kelas mengimplementasikan 1 atau lebih interfaces. Sebuah kelas dapat digambarkan sebagai sebuah persegi panjang, yang
Modul 9 : Perancangan Berorientasi Obyek, halaman :

:110

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

mempunyai sebuah nama, atribute, dan metoda pengoperasiannya, seperti terlihat dalam gambar berikut :

 Kedua, yang menggambarkan ‘interface’ merupakan sebuah antar-muka yang menghubungkan dan melayani antar kelas dan atau elemen. ‘Interface’ / antar-muka mendefinisikan sebuah set / kelompok dari spesifikasi pengoperasian, umumnya digambarkan dengan sebuah lingkaran yang disertai dengan namanya. Sebuah antar-muka berdiri sendiri dan umumnya merupakan pelengkap dari kelas atau komponen, seperti dalam gambar berikut :

 Ketiga, adalah collaboration yang didefinisikan dengan interaksi dan sebuah kumpulan / kelompok dari kelas-kelas/elemen-elemen yang bekerja secara bersama-sama. Collaborations mempunyai struktur dan dimensi. Pemberian sebuah kelas memungkinkan berpartisipasi didalam beberapa collaborations dan digambarkan dengan sebuah ‘elips’ dengan garis terpotong-potong.

 Keempat, sebuah ‘use case’ adalah rangkaian/uraian sekelompok yang saling terkait dan membentuk sistem secara teratur yang dilakukan atau diawasi oleh sebuah aktor. ‘use case’ digunakan untuk membentuk tingkah-laku benda/ things dalam sebuah model serta di realisasikan oleh sebuah collaboration. Umumnya ‘use case’ digambarkan dengan sebuah ‘elips’ dengan garis yang solid, biasanya mengandung nama, seperti terlihat dalam gambar berikut :

Modul 9 : Perancangan Berorientasi Obyek, halaman :

:111

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

 Kelima, sebuah node merupakan fisik dari elemen-elemen yang ada pada saat dijalankannya sebuah sistem, contohnya adalah sebuah komputer, umumnya mempunyai sedikitnya memory dan processor. Sekelompok komponen mungkin terletak pada sebuah node dan juga mungkin akan berpindah dari node satu ke node lainnya. Umumnya node ini digambarkan seperti kubus serta hanya mengandung namanya, seperti terlihat dalam gambar berikut :

o Hubungan / Relationship Ada 4 macam hubungan didalam penggunaan UML, yaitu; dependency, association, generalization, dan realization.  Pertama, sebuah dependency adalah hubungan semantik antara dua benda/things yang mana sebuah benda berubah mengakibatkan benda satunya akan berubah pula. Umumnya sebuah dependency digambarkan sebuah panah dengan garis terputus-putus seperti terlihat dalam gambar berikut :

 Kedua, sebuah association adalah hubungan antar benda struktural yang terhubung diantara obyek. Kesatuan obyek yang terhubung merupakan hubungan khusus, yang menggambarkan sebuah hubungan struktural diantara seluruh atau sebagian. Umumnya assosiation digambarkan dengan sebuah garis yang dilengkapi dengan sebuah label, nama, dan status hubungannya seperti terlihat dalam gambar berikut : 0..1 employer employee *

 Ketiga, sebuah generalization adalah menggambarkan hubungan khusus dalam obyek anak/child yang menggantikan obyek parent / induk . Dalam hal ini, obyek anak memberikan pengaruhnya dalam hal struktur dan tingkah lakunya kepada obyek induk. Digambarkan dengan garis panah seperti terlihat dalam gambar berikut :

Modul 9 : Perancangan Berorientasi Obyek, halaman :

:112

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

 Keempat, sebuah realization merupakan hubungan semantik antara pengelompokkan yang menjamin adanya ikatan diantaranya. Hubungan ini dapat diwujudkan diantara interface dan kelas atau elements, serta antara use cases dan collaborations. Model dari sebuah hubungan realization seperti terlihat dalam gambar berikut :

o Diagram UML sendiri terdiri atas pengelompokkan diagram-diagram sistem menurut aspek atau sudut pandang tertentu. Diagram adalah yang menggambarkan permasalahan maupun solusi dari permasalahan suatu model. UML mempunyai 9 diagram, yaitu; use-case, class, object, state, sequence, collaboration, activity, component, dan deployment diagram.

Diagram pertama adalah use case menggambarkan sekelompok use cases dan aktor yang disertai dengan hubungan diantaranya. Diagram use cases ini menjelaskan dan menerangkan kebutuhan / requirement yang diinginkan/ dikehendaki user/pengguna, serta sangat berguna dalam menentukan struktur organisasi dan model dari pada sebuah sistem.

Modul 9 : Perancangan Berorientasi Obyek, halaman :

:113

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

Terdapat beberapa komponen dasar utama dalam UML, yaitu :  Use Case Diagram Diagram yang menggambarkan actor, use case dan relasinya  Class Diagram Diagram untuk menggambarkan kelas dan relasi diantara kelas-kelas tersebut  Behaviour Diagram, yang terdiri dari :  Activity Diagram Menggambarkan aktifitas-aktifitas, obyek, state, transisi state dan event  Collaboration Diagram Menggambarkan obyek dan relasinya, termasuk struktur perubahannya yang disebabkan oleh adanya suatu message  Sequence Diagram Menggambarkan obyek dan relasinya termasuk kronologi (urutan) perubahan secara logis setelah menerima sebuah message  Statechart Diagram Menggambarkan state, transisi state dan event  Implementation Diagram, terdiri dari :  Component Diagram Menggambarkan komponen dan relasi antara komponen tersebut  Deployment DIagram Menggambarkan komponen, titik awal dan relasi antara komponen tersebut Use case diagram merupakan komponen dasar dari proses analisis, sementara sequence diagram dan class diagram merupakan komponen dasar dari proses desain. Yang perlu diperhatikan, untuk menjaga konsistensi antara komponen dasar selama proses analisis dan desain, maka setiap perubahan yang terjadi pada satu komponen dasar harus juga dilakukan pada komponen dasar sebelumnya. Misalnya ditemukan satu cara yang lebih efisien sewaktu membuat sequence diagram, maka perbaikan itu perlu diverifikasikan terhadap use case diagram dan use case spesification yang dibuat sebelumnya. Dibuatnya berbagai jenis diagram tersebut karena :  setiap sistem yang kompleks selalu paling baik jika didekati melalui himpunan berbagai sudut pandang yang kecil, yang satu sama lain hampir saling bebas (independent). Sudut pandang tunggal senantiasa tidak mencukupi untuk melihat sistem yang besar dan kompleks.  Diagram yang berbeda-beda tersebut dapat menyatakan tingkatan yang berbeda dalam proses rekayasa.  Dengan diagram diharapkan dapat membuat model sistem yang semakin mendekati realitas.

Modul 9 : Perancangan Berorientasi Obyek, halaman :

:114

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

 Berbagai diagram di atas ditambah dengan kemampuan dokumentasi merupakan komponen dasar utama UML. OMG telah menetapkan semantik (makna istilah) semua notasi diagram UML dalam model struktural dan model behavioral. Model struktural, disebut juga sebagai model statis, menekankan struktur obyek dalam sebuah sistem, menyangkut kelas-kelas, interface, atribut, dan hubungan antar komponen. Model behavioral, yang juga disebut model dinamis, menekankan perilaku obyek dalam sebuah sistem, termasuk metode, interaksi, kolaborasi dan state history.

EVALUASI
1. 2. 3. 4. 5. 6. Apakah peranan Rational Software dalam perkembangan UML Apakah bedanya obyek dengan kelas, serta Asosiasi dengan agregasi Jelaskan peranan dari Object Management Group (OMG) Apakah yang dimaksud dengan komponen dasar dari UML Sebutkan beberapa notasi dalam UML Jelaskan konsep-konsep tentang : State, Atribut, Behavior, Interface, Service dan Method, serta Black box

Daftar Pustaka
Grady Booch, 1991, Object-Oriented Analysis and Design with Application, Benjamin/Cummings. Grady Booch, James Rumbaugh, and Ivar Jacobson, 1999, The Unified Modeling Language User Guide, Addison-Wesley. Ivar Jacobson, Grady Booch, and James Rumbaugh, 1999, The Unified Software Development Process, Addison-Wesley. James Rumbaugh, Ivar Jacobson, and Grady Booch, 1999, The Unified Modeling Language Reference Manual, Addison-Wesley. Peter Coad and Edward Yourdon, 1991, Object-Oriented Analysis, Yourdon Press. Rebecca Wirfs-Brock, Brian Wilkerson, and Lauren Wiener, 1990, Designing Object-Oriented Software, Prentice Hall. Sally Shlaer and Stephen J. Mellor, 1988, Object-Oriented System Analysis: Modeling the World in Data, Yourdon Press.

Modul 9 : Perancangan Berorientasi Obyek, halaman :

:115

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

MODUL 10 UNIFIED MODELING LANGUAGE
MATERI 1. Use Case Diagram 2. Class Diagram 3. Statechart Diagram 4. Activity Diagram 5. Sequence Diagram 6. Collaboration Diagram 7. Component Diagram 8. Deployment Diagram 9. Langkah-Langkah Penggunaan UML STANDAR KOMPETENSI Mengetahui fungsi diagram-diagram UML dan mampu merancang sistem informasi berorientasi obyek menggunakan UML CAPAIAN PEMBELAJARAN 1. Mahasiswa mengetahui fungsi diagram-diagram UML 2. Mahasiswa mampu merancang sistem informasi menggunakan UML

berorientasi

obyek

Unified Modeling Language (UML) adalah notasi yang lengkap untuk membuat visualisasi model suatu sistem. Sistem berisi informasi dan fungsi, tetapi secara normal digunakan untuk memodelkan sistem komputer. Di dalam pemodelan obyek guna menyajikan sistem yang berorientasi pada obyek pada orang lain, akan sangat sulit dilakukan jika pemodelan tersebut dilakukan dalam bentuk kode bahasa pemrograman. Kesulitan yang muncul adalah timbulnya ketidak jelasan dan salah interpretasi di dalam pembacaan kode pemrograman untuk pemodelan obyek tersebut. Dimulai tahun 1994, Booch, Runbaugh dan Jacobson merupakan tiga tokoh yang metodologinya paling banyak dipakai mempelopori organisasi yang bertujuan menyatukan metodologi-metodologi berorientasi obyek, organisasi tersebut dinamakan OMG (Object Modelling Group). Pada tahun 1995 OMG merealisasi draf pertama dari UML (versi 0.8) dan pada tahun 1997 UML versi 1.1 muncul dan sekarang versi terbaru dari UML adalah versi 2.0. Pada tahun 1997 Booch, Runbaugh dan Jacobson menyusun tiga buku tentang UML. Sejak saat itulah UML telah menjelma menjadi standar bahasa pemodelan untuk aplikasi berorientasi obyek. Dalam suatu proses pengembangan software, analisa dan rancangan telah merupakan terminologi yang sangat tua.

Modul 10 : Unified Modeling Language, halaman :116

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

Pada saat masalah ditelusuri dan spesifikasi dinegosiasikan, dapat dikatakan bahwa kita berada pada tahap rancangan. Merancang adalah menemukan suatu cara untuk menyelesaikan masalah, salah satu tool/model untuk merancang pengembangan software yang berorientasi obyek adalah UML, Alasan mengapa UML digunakan adalah :  Pertama, scalability dimana obyek lebih mudah dipakai untuk menggambarkan sistem yang besar dan komplek.  Kedua, dynamic modeling, dapat dipakai untuk pemodelan sistem dinamis dan real time. Untuk memulai penguasaan terhadap UML, sebenarnya cukup dua hal yang harus diperhatikan:  Menguasai pembuatan diagram UML  Menguasai langkah-langkah dalam analisa dan pengembangan dengan UML

1. Use Case Diagram
Sebuah use case menggambarkan suatu urutan interaksi antara satu atau lebih aktor dan sistem. Dalam fase requirements, model use case mengambarkan sistem sebagai sebuah kotak hitam dan interaksi antara aktor dan sistem dalam suatu bentuk naratif, yang terdiri dari input user dan responrespon sistem. Setiap use case menggambarkan perilaku sejumlah aspek sistem, tanpa mengurangi struktur internalnya. Selama pembuatan model use case secara pararel juga harus ditetapkan obyek-obyek yang terlibat dalam setiap use case. Perhatikan satu contoh sederhana dari proses perbankan, yaitu mesin teller otomatis (Automated Teller Machine-ATM) yang memberikan kemudahan pada customernya untuk mengambil uang dari rekening bank secara langsung. Pada proses ini terdapat satu aktor, yaitu ATM Customer dan satu use case, yaitu Penarikan Dana. Proses ini dapat dilihat pada Gambar berikut :

Use case Penarikan Dana menggambarkan urutan interaksi antara customer dengan sistem, diawali ketika customer memasukan kartu ATM ke dalam mesin pembaca kartu dan akhirnya menerima pengeluaran uang yang dilakukan oleh mesin ATM.

Modul 10 : Unified Modeling Language, halaman :117

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

Aktor Sebuah aktor mencirikan suatu bagian outside user atau susunan yang berkaitan dengan user yang berinteraksi dengan sistem. Dalam model use case, aktor merupakan satu-satunya kesatuan eksternal yang berinteraksi dengan sistem. Terdapat beberapa variasi bagaimana aktor dibentuk. Sebuah aktor sering kali merupakan manusia (human user). Pada sejumlah sistem informasi, manusia adalah satu-satunya aktor. Dan mungkin saja dalam sistem informasi, seorang aktor bisa saja menjadi suatu sistem eksternal. Pada aplikasi real-time dan distribusi, sebuah aktor bisa saja menjadi satu perangkat eksternal I/O atau sebuah alat pengatur waktu. Perangkat eksternal I/O dan pengatur waktu aktor secara khusus lazimnya berada dalam real-time yang tersimpan dalam sistem (real-time embedded systems), sistem berinteraksi dengan lingkungan eksternal melalui sensor dan aktuator. Primary actor (aktor utama) memprakarsai sebuah use case. Jadi, suatu primary aktor memegang peran sebagai proaktif dan yang memulai aksi dalam sistem. Aktor lainnya yang berperan sebagai secondary aktor bisa saja terlibat dalam use case dengan menerima output dan memberikan input. Setidaknya satu aktor harus mendapatkan nilai dari use case. Biasanya adalah primary actor (aktor utama). Bagaimanapun, dalam real-time embedded systems, primary actor dapat berperan sebagai perangkat eksternal I/O atau pengatur waktu, penerima utama dari use case bisa menjadi secondary human actor yang menerima sejumlah informasi dari sistem. Aktor manusia bisa saja menggunakan berbagai perangkat I/O untuk berinteraksi fisik dengan sistem. Aktor manusia dapat berinteraksi dengan sistem melalui perangkat standar I/O, seperti keyboard, display, atau mouse. Aktor manusia bisa juga berinteraksi dengan sistem melalui perangkat non-standard I/O seperti bermacam-macam sensor. Dalam keseluruhan hal tersebut, manusia merupakan aktor dan perangkat I/O adalah bukan aktor. Perhatikan beberapa contoh human actor (aktor manusia). Pada sistem perbankan, satu contoh aktor adalah manusia yang berperan sebagai teller yang berinteraksi dengan sistem melalui perangkat standar I/O, seperti keyboard, display, atau mouse. Contoh lainnya adalah manusia yang berperan sebagai customer yang berinteraksi dengan sistem melalui mesin teller otomatis (ATM). Dalam hal ini, customer berinteraksi dengan sistem dengan menggunakan beberapa perangkat I/O, termasuk perangkat pembaca kartu (card reader), pengeluar uang (cash dispenser), dan pencetak tanda terima (receipt printer), ditambah lagi keyboard dan display. Pada beberapa kasus, bagaimana pun juga sebuah aktor bisa saja berupa perangkat I/O. Hal ini bisa terjadi ketika sebuah use case tidak melibatkan manusia, seperti yang sering terjadi pada aplikasi-aplikasi real-time. Dalam hal

Modul 10 : Unified Modeling Language, halaman :118

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

ini, I/O actor berinteraksi dengan sistem melalui sebuah sensor. Contoh aktor yang merupakan perangkat input adalah Arrival Sensor pada Sistem Kontrol Elevator. Sensor ini mengidentifikasi elevator tersebut pada saat hendak mencapai lantai dan perlu dihentikan. Kemudian sensor tersebut menginisiasikan Stop Elevator at Floor use case. Aktor lain dalam Elevator Control System adalah orang yang berada dalam elevator (human passenger) yang berinteraksi dengan sistem melalui tombol-tombol nomor pada tingkat lantai dan tomboltombol elevator. Input dari aktor secara aktual dideteksi melalui sensor-sensor tombol lantai dan sensor-sensor tombol elevator berturut-turut. Aktor dapat pula menjadi sebuah alat pengukur waktu yang secara periodik mengirimkan pengukuran waktu kejadian (timer events) pada sistem. Use caseuse case secara periodik diperlukan ketika beberapa informasi perlu di-output oleh sistem pada suatu basis reguler. Hal ini sangat penting dalam sistem-sistem real-time, dan juga sangat berguna dalam sistem informasi. Walaupun sejumlah metodologi menganggap pengukur waktu merupakan hal internal bagi sistem, dan akan lebih berguna dalam desain aplikasi real-time untuk memperhatikan pengukur-pengukur waktu sebagai eksternal logis bagi sistem dan menganggapnya sebagai primary actor yang memulai aksi dalam sistem. Contohnya, pada sistem monitoring mobil, beberapa use case di-inisialisasi dengan suatu aktor pengukur waktu. Sebagai contoh dapat dilihat pada Gambar berikut :

Timer actor mengawali Calculate Trip Speed use case, yang secara periodik menghitung rata-rata kecepatan melalui suatu jalan/ jejak dan menampilkan nilai ini ke driver. Dalam hal ini, pengukur waktu merupakan primary actor (aktor utama) dan driver merupakan secondary actor (aktor kedua). Suatu aktor bisa juga menjadi sistem eksternal yang melakukan inisiatif (sebagai primary actor) atau partisipan (sebagai secondary actor) dalam use case. Satu contoh aktor sistem eksternal adalah pabrik robot dalam Automation System. Robot mengawali proses dengan use case Generate Alarm dan Notify, robot menggerakkan alarm conditions yang dikirim ke operator pabrik yang berkepentingan, yang telah terdaftar untuk menerima alarms. Dalam use case ini, robot merupakan primary actor yang mengawali inisiatif use case, dan operator merupakan secondary actor yang menerima alarms. Identifikasi Use Case Sebuah use case dimulai dengan masukan/input dari seorang aktor. Use case merupakan suatu urutan lengkap kejadian-kejadian yang diajukan oleh
Modul 10 : Unified Modeling Language, halaman :119

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

seorang aktor, dan spesifikasi interaksi antara aktor dengan sistem. Use case yang sederhana hanya melibatkan satu interaksi/hubungan dengan sebuah aktor, dan use case yang lebih kompleks melibatkan beberapa interaksi dengan aktor. Untuk menjabarkan use case dalam sistem, sangat baik bila dimulai dengan memperhatikan aktor dan actions/aksi yang mereka lakukan dalam sistem. Setiap use case menggambarkan suatu urutan interaksi antara aktor dengan sistem. Sebuah use case harus memberikan sejumlah nilai pada satu aktor. Kemudian, kebutuhan fungsional sistem dijelaskan dalam use case yang merupakan suatu spesifikasi eksternal dari sebuah sistem. Bagaimanapun juga, ketika membuat use case, sangatlah penting menghindari suatu dekomposisi fungsional yang dalam beberapa use case kecil lebih menjelaskan fungsi-fungsi individual sistem daripada menjelaskan urutan kejadian yang memberikan hasil yang berguna bagi aktor. Perhatikan lagi contoh pada perbankan. Disamping penarikan melalui ATM, ATM Customer, aktor juga bisa menanyakan jumlah rekening atau mentransfer dana antar dua rekening. Karena terdapat fungsi-fungsi yang berbeda yang diajukan oleh customer dengan hasil-hasil guna yang berbeda, fungsi-fungsi pertanyaan dan pentransferan harus dibuat sebagai use case yang terpisah, daripada menjadi bagian dari original use case. Oleh karena itu, customer dapat mengajukan tiga use case seperti yang dapat dilihat di Gambar berikut :

Urutan utama use case menjelaskan urutan interaksi yang paling umum antara aktor dan sistem. Dan mungkin saja terdapat cabang-cabang urutan use case utama, yang mengarah pada berkurangnya frekuensi interaksi antara aktor dengan sistem. Deviasi-deviasi dari urutan utama hanya dilaksanakan pada beberapa situasi, contohnya jika aktor melakukan kesalahan input pada sistem. Ketergantungan pada aplikasi kebutuhan, alternatif ini memecahkan use case dan kadang-kadang bersatu kembali dengan urutan utama. Cabang-cabang alternatif digambarkan juga dalam use case.

Modul 10 : Unified Modeling Language, halaman :120

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

Dalam use case Withdraw Funds, urutan utama adalah urutan tahap-tahap dalam keberhasilan pelaksanaan penarikan (withdrawal). Cabang-cabang alternatif digunakan untuk mengarahkan berbagai error cases, seperti ketika kartu ATM tidak dikenali atau dilaporkan telah hilang dan lain sebagainya.  o o o o Pendokumentasian Model Use Case Use case didokumentasi dalam use case model sebagai berikut: Use Case Name. Setiap use case diberi nama. Summary. Deskripsi singkat use case, biasanya satu atau dua kalimat. Dependency. Bagian ini menggambarkan apakah use case yang satu tergantung pada use case yang lain, dalam arti apakah use case tersebut termasuk pada use case yang lain atau malah memperluas use case lain. Actors. Bagian ini memberikan nama pada actor dalam use case. Selalu terdapat use case utama (primary use case) yang memulai use case. Disamping itu terdapat juga secondary use case yang terlibat dalam use case. Contohnya, dalam use case Withdraw Funds, ATM Customer adalah actor-nya. Preconditions. Satu atau lebih kondisi harus berjalan dengan baik pada permulaan use case; contohnya mesin ATM yang tidak sedang dipakai, menampilkan pesan Selamat Datang. Deskripsi. Bagian terbesar dari use case merupakan deskripsi naratif dari urutan utama use case yang merupakan urutan yang paling umum dari interaksi antara aktor dan sistem. Deskripsi tersebut dalam bentuk input dari aktor, diikuti oleh respon pada sistem. Sistem ditandai dengan sebuah kotak hitam (black box) yang berkaitan dengan apa yang sistem lakukan dalam merespon input aktor, bukan bagaimana internal melakukannya. Alternatif-alternatif. Deskripsi naratif dari alternatif merupakan cabang dari urutan utama. Terdapat beberapa cabang alternatif dari urutan utama. Contohnya, jika rekening customer terdapat dana yang tidak sesuai, akan tampil permohonan maaf dan menolak kartu. Postcondition. Kondisi yang selalu terjadi di akhir use case, jika urutan utama telah dilakukan; contohnya dana customer telah ditarik. Outstanding questions. Pertanyaan-pertanyaan tentang use case didokumentasikan untuk didiskusikan dengan para user.

o o

o

o o

2. Class Diagram
Class adalah sebuah spesifikasi yang jika diinstansiasi akan menghasilkan sebuah obyek dan merupakan inti dari pengembangan dan desain berorientasi obyek. Class menggambarkan keadaan (atribut/property) suatu sistem, sekaligus menawarkan layanan untuk memanipulasi keadaan tersebut (metoda/fungsi). Class diagram menggambarkan struktur dan deskripsi class, package dan obyek beserta hubungan satu sama lain seperti containment, pewarisan, asosiasi, dan lain-lain, Class memiliki tiga area pokok :

Modul 10 : Unified Modeling Language, halaman :121

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

o Nama (dan stereotype) o Atribut o Metoda Sedangkan atribut dan metoda dapat memiliki salah satu sifat berikut :  Private, tidak dapat dipanggil dari luar class yang bersangkutan  Protected, hanya dapat dipanggil oleh class yang bersangkutan dan anak-anak yang mewarisinya  Public, dapat dipanggil oleh siapa saja

Class dapat merupakan implementasi dari sebuah interface, yaitu class abstrak yang hanya memiliki metoda. Interface tidak dapat langsung diinstansiasikan, tetapi harus diimplementasikan dahulu menjadi sebuah class. Dengan demikian interface mendukung resolusi metoda pada saat run-time.

Sesuai dengan perkembangan class model, class dapat dikelompokkan menjadi package. Kita juga dapat membuat diagram yang terdiri atas package.

Modul 10 : Unified Modeling Language, halaman :122

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

Ada beberapa aturan yang dapat dipilih untuk menggambarkan hubungan Antar Class, yaitu :  Asosiasi, yaitu hubungan statis antar class. Umumnya menggambarkan class yang memiliki atribut berupa class lain, atau class yang harus mengetahui eksistensi class lain. Panah navigability menunjukkan arah query antar class.  Agregasi, yaitu hubungan yang menyatakan bagian (“terdiri atas..”).  Pewarisan, yaitu hubungan hirarkis antar class. Class dapat diturunkan dari class lain dan mewarisi semua atribut dan metoda class asalnya dan menambahkan fungsionalitas baru, sehingga ia disebut anak dari class yang diwarisinya. Kebalikan dari pewarisan adalah generalisasi.  Hubungan dinamis, yaitu rangkaian pesan (message) yang di-passing dari satu class kepada class lain. Hubungan dinamis dapat digambarkan dengan menggunakan sequence diagram yang akan dijelaskan kemudian. Berikut ini adalah hubungannya : contoh class diagram dengan beberapa bentuk

3. Statechart Diagram
Statechart diagram menggambarkan transisi dan perubahan keadaan (dari satu state ke state lainnya) suatu obyek pada sistem sebagai akibat dari stimuli yang diterima. Pada umumnya statechart diagram menggambarkan class tertentu (satu class dapat memiliki lebih dari satu statechart diagram). Dalam UML, state digambarkan berbentuk segiempat dengan sudut membulat dan memiliki nama sesuai kondisinya saat itu. Transisi antar state umumnya memiliki kondisi guard yang merupakan syarat terjadinya transisi yang bersangkutan, dituliskan dalam kurung siku. Action yang dilakukan sebagai akibat dari event tertentu dituliskan dengan diawali garis miring.

Modul 10 : Unified Modeling Language, halaman :123

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

Titik awal dan akhir digambarkan berbentuk lingkaran berwarna penuh dan berwarna setengah. Berikut ini adalah contoh dari statechart diagram :

4. Activity Diagram
Activity diagrams menggambarkan berbagai alir aktivitas dalam sistem yang sedang dirancang, bagaimana masing-masing alir berawal, decision yang mungkin terjadi, dan bagaimana mereka berakhir. Activity diagram juga dapat menggambarkan proses paralel yang mungkin terjadi pada beberapa eksekusi. Activity diagram merupakan state diagram khusus, di mana sebagian besar state adalah action dan sebagian besar transisi di-trigger oleh selesainya state sebelumnya (internal processing). Oleh karena itu activity diagram tidak menggambarkan behaviour internal sebuah sistem (dan interaksi antar subsistem) secara eksak, tetapi lebih menggambarkan proses-proses dan jalurjalur aktivitas dari level atas secara umum. Sebuah aktivitas dapat direalisasikan oleh satu use case atau lebih. Aktivitas menggambarkan proses yang berjalan, sementara use case menggambarkan bagaimana aktor menggunakan sistem untuk melakukan aktivitas. Sama seperti state, standar UML menggunakan segiempat dengan sudut membulat untuk menggambarkan aktivitas. Decision digunakan untuk menggambarkan behaviour pada kondisi tertentu. Untuk mengilustrasikan proses-proses paralel (fork dan join) digunakan titik sinkronisasi yang dapat berupa titik, garis horizontal atau vertikal. Activity diagram dapat dibagi menjadi beberapa object swimlane untuk menggambarkan obyek mana yang bertanggung jawab untuk aktivitas tertentu.

Modul 10 : Unified Modeling Language, halaman :124

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

Berikut ini adalah contoh activity diagram :

5. Sequence Diagram
Sequence diagram menggambarkan interaksi antar obyek di dalam dan di sekitar sistem (termasuk pengguna, display, dan sebagainya) berupa message yang digambarkan terhadap waktu. Sequence diagram terdiri atar dimensi vertikal (waktu) dan dimensi horizontal (obyek-obyek yang terkait). Sequence diagram biasa digunakan untuk menggambarkan skenario atau rangkaian langkah-langkah yang dilakukan sebagai respons dari sebuah event untuk menghasilkan output tertentu. Diawali dari apa yang men-trigger aktivitas tersebut, proses dan perubahan apa saja yang terjadi secara internal dan output apa yang dihasilkan. Masing-masing obyek, termasuk aktor, memiliki lifeline vertikal.
Modul 10 : Unified Modeling Language, halaman :125

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

Message digambarkan sebagai garis berpanah dari satu obyek ke obyek lainnya. Pada fase desain berikutnya, message akan dipetakan menjadi operasi/metoda dari class. Activation bar menunjukkan lamanya eksekusi sebuah proses, biasanya diawali dengan diterimanya sebuah message. Untuk obyek-obyek yang memiliki sifat khusus, standar UML mendefinisikan icon khusus untuk obyek boundary, controller dan persistent entity. Berikut ini adalah contoh sequence diagram :

6. Collaboration Diagram
Collaboration diagram juga menggambarkan interaksi antar obyek seperti sequence diagram, tetapi lebih menekankan pada peran masing-masing obyek dan bukan pada waktu penyampaian message. Setiap message memiliki sequence number, di mana message dari level tertinggi memiliki nomor 1. Messages dari level yang sama memiliki prefiks yang sama.

Modul 10 : Unified Modeling Language, halaman :126

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

7. Component Diagram
Component diagram menggambarkan struktur dan hubungan antar komponen piranti lunak, termasuk ketergantungan (dependency) di antaranya. Berikut ini adalah contoh component diagram:

Modul 10 : Unified Modeling Language, halaman :127

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

Komponen piranti lunak adalah modul berisi code, baik berisi source code maupun binary code, baik library maupun executable, baik yang muncul pada compile time, link time, maupun run time. Umumnya komponen terbentuk dari beberapa class dan/atau package, tapi dapat juga dari komponen-komponen yang lebih kecil. Komponen dapat juga berupa interface, yaitu kumpulan layanan yang disediakan sebuah komponen untuk komponen lain.

8. Deployment Diagram
Deployment/physical diagram menggambarkan detail bagaimana komponen di-deploy dalam infrastruktur sistem, di mana komponen akan terletak (pada mesin, server atau piranti keras apa), bagaimana kemampuan jaringan pada lokasi tersebut, spesifikasi server, dan hal-hal lain yang bersifat fisikal Sebuah node adalah server, workstation, atau piranti keras lain yang digunakan untuk men-deploy komponen dalam lingkungan sebenarnya. Hubungan antar node (misalnya TCP/IP) dan requirement dapat juga didefinisikan dalam diagram ini. Berikut ini adalah contoh deployment diagram :

Modul 10 : Unified Modeling Language, halaman :128

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

9. Langkah-Langkah Penggunaan UML
Berikut ini adalah tips pengembangan piranti lunak dengan menggunakan UML: o Buatlah daftar business process dari level tertinggi untuk mendefinisikan aktivitas dan proses yang mungkin muncul. o Petakan use case untuk tiap business process untuk mendefinisikan dengan tepat fungsionalitas yang harus disediakan oleh sistem. Kemudian perhalus use case diagram dan lengkapi dengan requirement, constraints dan catatancatatan lain. o Buatlah deployment diagram secara kasar untuk mendefinisikan arsitektur fisik sistem. o Definisikan requirement lain (non-fungsional, security dan sebagainya) yang juga harus disediakan oleh sistem. o Berdasarkan use case diagram, mulailah membuat activity diagram. o Definisikan obyek-obyek level atas (package atau domain) dan buatlah sequence dan/atau collaboration diagram untuk tiap alir pekerjaan. Jika sebuah use case memiliki kemungkinan alir normal dan error, buatlah satu diagram untuk masing-masing alir. o Buarlah rancangan user interface model yang menyediakan antarmuka bagi pengguna untuk menjalankan skenario use case. o Berdasarkan model-model yang sudah ada, buatlah class diagram. Setiap package atau domain dipecah menjadi hirarki class lengkap dengan atribut dan metodanya. Akan lebih baik jika untuk setiap class dibuat unit test untuk menguji fungsionalitas class dan interaksi dengan class lain. o Setelah class diagram dibuat, kita dapat melihat kemungkinan pengelompokan class menjadi komponen-komponen. Karena itu buatlah component diagram pada tahap ini. Juga, definisikan tes integrasi untuk setiap komponen meyakinkan ia berinteraksi dengan baik. o Perhalus deployment diagram yang sudah dibuat. Detilkan kemampuan dan requirement piranti lunak, sistem operasi, jaringan, dan sebagainya. Petakan komponen ke dalam node. o Mulailah membangun sistem. Ada dua pendekatan yang dapat digunakan :  Pendekatan use case, dengan meng-assign setiap use case kepada tim pengembang tertentu untuk mengembangkan unit code yang lengkap dengan tes.  Pendekatan komponen, yaitu meng-assign setiap komponen kepada tim pengembang tertentu. o Lakukan uji modul dan uji integrasi serta perbaiki model berserta codenya. Model harus selalu sesuai dengan code yang aktual. o Piranti lunak siap dirilis.

Modul 10 : Unified Modeling Language, halaman :129

Deddy Kusbianto, 2010, Analisis dan Perancangan Sistem Informasi, STMIK Yadika Bangil

EVALUASI Buatlah Perancangan berorientasi obyek (menggunakan UML) untuk salah satu sistem informasi berikut : 1. Perguruan Tinggi 2. Rumah Sakit 3. Perhotelan 4. Perbankan

Daftar Pustaka
Ivar Jacobson, Grady Booch, and James Rumbaugh, 1999, The Unified Software Development Process, Addison-Wesley. James Rumbaugh, Ivar Jacobson, and Grady Booch, 1999, The Unified Modeling Language Reference Manual, Addison-Wesley. James Rumbaugh, Michael Blaha, William Premerlani, Frederick Eddy, and William Lorenson, 1991, Object-Oriented Modeling and Design, Prentice Hall. Peter Coad and Edward Yourdon, 1991, Object-Oriented Analysis, Yourdon Press. Rebecca Wirfs-Brock, Brian Wilkerson, and Lauren Wiener, 1990, Designing Object-Oriented Software, Prentice Hall. Sally Shlaer and Stephen J. Mellor, 1988, Object-Oriented System Analysis: Modeling the World in Data, Yourdon Press.

Modul 10 : Unified Modeling Language, halaman :130

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->