Jumat, 11 November 2011

masalah-masalah kesehatan jiwa masyarakat
BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Pada saat ini ada kecenderungan penderita dengan gangguan jiwa jumlahnya mengalami peningkatan. Data hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SK-RT) yang dilakukan Badan Litbang Departemen Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 1995 menunjukkan, diperkirakan terdapat 264 dari 1000 anggota Rumah Tangga menderita gangguan kesehatan jiwa. Dalam kurun waktu enam tahun terakhir ini, data tersebut dapat dipastikan meningkat karena krisis ekonomi dan gejolak-gejolak lainnya diseluruh daerah. Bahkan masalah dunia internasionalpun akan ikut memicu terjadinya peningkatan tersebut. Studi Bank Dunia (World Bank) pada tahun 1995 di beberapa negara menunjukkan bahwa hari-hari produktif yang hilang atau Dissabiliiy Adjusted Life Years (DALY's) sebesar 8,1% dari Global Burden of Disease, disebabkan oleh masalah kesehatan jiwa. Angka ini lebih tinggi dari pada dampak yang disebabkan penyakit Tuberculosis (7,2%), Kanker (5,8%), Penyakit Jantung (4,4%) maupun Malaria (2,6%). Tingginya masalah tersebut menunjukkan bahwa masalah kesehatan jiwa merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang besar dibandingkan dengan masalah kesehatan lainnya yang ada dimasyarakat. Kesehatan Jiwa masyarakat (community mental health) telah menjadi bagian masalah kesehatan masyarakat (public health) yang dihadapi semua negara. Salah satu pemicu terjadinya berbagai masalah dalam kesehatan jiwa adalah dampak modernisasi dimana tidak semua orang siap untuk menghadapi cepatnya perubahan dan kemajuan teknologi baru. Gangguan jiwa tidak menyebabkan kematian secara langsung namun akan menyebabkan penderitanya menjadi tidak produktif dan menimbulkan beban bagi keluarga penderita dan lingkungan masyarakat sekitarnya. Dari data tersebut diatas, kami tertarik untuk membahas masalah kesehatan jiwa masyarakat sebagai judul makalah kami.

4 Sistematika Penulisan Makalah ini terdiri dari tiga bab yang disusun dengan sistematika penulisan sebagai berikut : 1. penulis menggunakan metode deskriptif yaitu dengan penjabaran masalah-masalah yang ada dan menggunakan studi kepustakaan dari literatur yang ada. Mahasiswa mengetahui pengertian gangguan jiwa c. Mahasiswa mengetahui model-model konseptual kesehatan jiwa masyarakat 1. terdiri dari kesimpulan dan saran.2 Tujuan Khusus a. masalah-masalah kesehatan jiwa masyarakat dan konseptual model keperawatan kesehatan jiwa. BAB I : Pendahuluan. .1 Tujuan Umum Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan masalah-masalah kesehatan jiwa masyarakat.2.2. 1.3 Metode penulisan Dalam penulisan makalah ini. Mahasiswa mengetahui pengertian kesehatan jiwa b. BAB III : Penutup. BAB II :Tinjauan teoritis.2 Tujuan Penulisan 1. metode penulisan. tujuan penulisan. terdiri dari latar belakang. 1. dan sistematika penulisan. baik di perpustakaan maupun di internet. pengertian gangguan jiwa. terdiri dari pengertian kesehatan jiwa. 3.1.

d. 1997): a.BAB II TINJAUAN TEORITIS 2. Ia tidak puas dengan status quo dan secara kontinu berusaha tumbuh sebagai individu. . Individu yang otonom dan mandiri dapat bekerja secara interdependen atau kooperatif dengan orang lain tanpa kehilangan otonominya. Otonomi dan kemandirian: Individu dapat melihat ke dalam dirinya untuk menemukan nilai dan tujuan hidup. Karena perilaku seseorang dapat dilihat atau ditafsirkan berbeda oleh orang lain. kompeten. Harga diri: Individu memiliki kesadaran yang realistis akan kemampuan dan keterbatasannya. Tidak ada satupun definisi universal kesehatan jiwa. Kesehatan jiwa adalah suatu kondisi sehat emosional. c. tetapi tidak mengatur keputusan dan perilaku individu tersebut. maka penentuan definisi kesehatan jiwa menjadi sulit. mental. perilaku dan koping yang efektif. b. bukan sekedar keadaan tanpa penyakit. Kesehatan jiwa memiliki banyak komponen dan dipengaruhi oleh berbagai factor (Johnson. dan kestabilan emosional. dan puas dengan hubungan interpersonal dan diri mereka sendiri.´ Definisi ini menekankan kesehatan sebagai suatu keadaan sejahtera yang positif. e. dan sosial yang terlihat dari hubungan interpersonal yang memuaskan. yang bergantung kepada nilai dan keyakinan. Orang yang memiliki kesejahteraan emosional. Menguasai lingkungan: Individu dapat mengahadapi dan mempengaruhi lingkungan dengan cara yang kreatif. Opini dan harapan orang lain dipertimbangkan. Memaksimalkan potensi diri: Individu memiliki orientasi pada pertumbuhan dan aktualisasi diri. dan sesuai kemampuan. bukan semata-mata keadaan tanpa penyakit atau kelemahan. berfungsi dengan efektif dalam kehidupan sehari-hari. konsep diri yang positif. dan sosial dapat memenuhi tanggung jawab kehidupan. dan sosial. Menoleransi ketidakpastian hidup: Individu dapat menghadapi tantangan hidup sehari-hari dengan harapan dan pandangan positif walaupun tidak mengetahui apa yang terjadi di masa depan.1 Kesehatan Jiwa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan kesehatan sebagai ³keadaan sehat fisik. psikologis. tetapi kita dapat menyimpulkan kesehatan jiwa seseorang dari perilakunya. fisik.

Faktor individual meliputi struktur biologis.2 Gangguan Jiwa Di masa lalu gangguan jiwa dipandang sebagai kerasukan setan. dihukum. 2. Faktor sosial budaya meliputi keinginan untuk bermasyarakat. membantu orang lain. 1994). perilaku individu yang tidak diharapkan atau dikenakan sanksi secara budaya bukan perilaku menyimpang yang menjadi indikasi suatu gangguan jiwa (DSM-IV. dijauhi. vitalitas. kegembiraan atau daya tahan emosional. diejek. hukuman karena pelanggaran sosial atau agama. Manajemen stress: Individu dapat menoleransi stress kehidupan. penderita gangguan jiwa dinyatakan tidak dapat disembuhkan dan dibelenggu dalam penjara tanpa diberi makanan. dan dikucilkan dari masyarakat ³normal´. Kriteria umum untuk mendiagnosis gangguan jiwa meliputi ketidakpuasan dengan karakteristik. dan mengalami kegagalan tanpa merasa hancur. Orientasi realitas: Individu dapat membedakan dunia nyata dari dunia impian. dan pelanggaran norma sosial. 1997). American Psychiatric Association (1994) mendefinisikan gangguan jiwa sebagai ³suatu sindrom atau pola psikologis atau perilaku yang penting secara klinis yang terjadi pada seseorang yang dikaitkan dengan adanya distress aatau disabilitas. tempat berteduh. Penderita gangguan jiwa dianiaya. spritualitas. g. atau koping yang tidak efektif terhadap peristiwa kehidupan dan tidak terjadi pertumbuhan personal. Faktor interpersonal meliputi komunikasi yang efektif.f. Sampai abad ke-19. memiliki penghasilan yang cukup. dan prestasi diri. Faktor yang mempengaruhi kesehatan jiwa seseorang dapat dikategorikan sebagai faktor individual. keintiman. merasa cemas atau berduka sesuai keadaan. hubungan yang tidak efektif atau tidak memuaskan. Saat ini gangguan jiwa diidentifikasi dan ditangani sebagai masalah medis. dan mempertahankan keseimbangan antara perbedaan dan kesamaan. memiliki keharmonisan hidup. Ia menggunakan dukungan dari keluarga dan teman untuk mengatasi krisis karena mengetahui bahwa stress tidak akan berlangsung selamanya. tidak menoleransi kekerasan. menemukan arti hidup. dan bertindak secara tepat. . atau pakaian yang cukup. Selain itu. kemampuan. dan memiliki identitas yang positif (Seaward. kurang minat atau semangat. interpersonal. fakta dari khayalan. dan sosial/budaya. tidak puas hidup di dunia. dan mendukung keragaman individu.

3 Masalah Kesehatan Jiwa Masyarakat Berbagai kondisi psikososial yang menjadi indikator taraf kesehatan jiwa masyarakat. kemiskinan. pengasuhan.23 tahun 2004 tentang penghapusan KDRT).Faktor yang menyebabkan gangguan jiwa juga dapat dipandang dalam tiga kategori. 1997). usia dan jenis kelamin. ketergantungan yang berlebihan atau menarik diri dari hubungan. gelandangan psikotik serta kasus bunuh diri. perwalian dengan suami maupun istri yang menetap bersama dalam rumah tangga. kasus penelantaran anak.3. 2. gangguan kesehatan reproduksi (penularan penyakit menular seksual. tidak memiliki tempat tinggal.2 Anak Putus Sekolah . khususnya yang berkaitan dengan karakteristik kehidupan di perkotaan (urban mental health) meliputi: kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). kasus kriminalitas anak remaja serta juga penyalahgunaan Napza. perkawinan. seksual. dan diskriminasi seperti perbedaan ras. Lingkup rumah tangga adalah suami. gangguan kesehatan jiwa (trauma mental). kekhawatiran dan ketakutan. Faktor budaya dan sosial: meliputi tidak ada penghasilan. kasus kriminalitas anak remaja. yaitu : 1.3. pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga (definisi dalam UU No. Faktor interpersonal: meliputi komunikasi yang tidak efektif. Kekerasan rumah tangga juga dapat menjadi salah satu atau kontributor meningkatnya kasus perceraian. istri dan anak. promiskuitas. psikologis dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan. 2. penyalahgunaan Napza dan dampak nya (hepatitis C. golongan. ketidakharmonisan dalam hidup. dan kehilangan arti hidup (Seaward. anak remaja putus sekolah. masalah anak jalanan.1 Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) Kekerasan dalam rumah tangga adalah tiap perbuatan terhadap seseorang yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan fisik.HIV/AIDS dll). kehamilan yang tidak dikehendaki). kasus perceraian. 2. 2. termasuk juga orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga karena hubungan darah. kematian atau bunuh diri. dan kehilangan kontrol emosional 3. kecacatan). Faktor individual: meliputi struktur biologis. Dampak kekerasan dalam rumah tangga meliputi gangguan kesehatan fisik nonreproduksi (luka fisik. ansietas. kekerasan.

72% anak remaja pelaku kekerasan seksual mengaku terinspirasi Tayangan TV.361 siswa/ siswi. 7 diantaranya anak perempuan. dimana 34 diantaranya adalah anak perempuan. Angka partisipasi kasar (APK) program wajib belajar 9 tahun yang dirilis Depdiknas menunjukan baru mencapai 88. 2.3 Masalah Anak Jalanan Masalah anak jalan di Indonesia seperti kekerasan pada anak. penyimpangan perlakuan. setelah membaca media cetak porno dan nonton film porno.3. Kira-kira 20% tindak kekerasan seksual pada tahun 2006 pelakunya adalah anak remaja.Berdasarkan data direktorat pendidikan kesetaraan depdiknas tahun 2005 lalu di Indonesia tercatat jumlah pelajar SLTP yang putus sekolah adalah sebanyak 1.130 tahanan anak serta 1.3. Laporan Komnas PA menyatakan bahwa 50-70% anak terlibat dalam tindak pidana kriminalitas lalu di vonis penjara dan masuk LP Anak justru perilakunya menjadi lebih jelek dan menjadi residivis dikemudian hari. Selain itu baru terdapat 12 daerah di Indonesia yang memiliki perda tentang anak jalanan.000. Tahun 2006 angkanya menjadi 4.4 Kasus Kriminalitas Anak Remaja Data Direktorat Jenderal Kemasyarakatan Dephukham dan komnas pelindungan anak (PA) menujukan bahwa pada tahun 2005 di Indonesia terdapat 2.325 narapidana anak.976. Padahal para anak-anak jalanan tersebut jelas rentan terhadap berbagai tindak kekerasan.18 juta anak usia sekolah di Indonesia tidak bersekolah dan sebagainya menjadi ³pekerja anak´ perwakilan ILO di Indonesia menyatakan bahwa banyaknya anak putus sekolah dan menjadi pekerja anak disebabkan karena biaya pendidikan di Indonesia masih dianggap terlalu mahal dan tak terjangkau oleh sebagian kalangan masyarakat. jumlah lulusan SLTA yang tidak melanjutkan pendidikan keperguruan tinggi pada tahun tersebut tercatat sebanyak 691.179 tahanan anak dan 802 narapidana anak. pelecehan seksual bahkan dilibatkan dalam berbagai tindak kriminal oleh orang dewasa yang menguasainya. sedangkan pelajar SLTA yang putus sekolah adalah sebanyak 151. penelantaran anak dan sebagainya masih cukup tinggi. . 2. masalah anak jalanan.000 anak dan sebagian besarnya berada di jalan-jalan di DKI Jakarta. jumlah anak jalanan di Indonesia adalah sekitar 30. Berdasarkan data dari Departemen Sosial tahun 2005. Menurut survey Komnas PA penyebab anak masuk LP Anak adalah 40% karena terlibat kasus Narkoba (Napza).68% dari target 95% partisipasi anak usia sekolah yang diharapkan.746 siswa/siswi. Laporan Organisai Buruh Internasional (ILO) tahun 2005 menyatakan bahwa sebanyak 4. 20% karena perjudian sedangkan sisanya karena kasus lain-lain.

mencapai 90% dari total penasun dipastikan terinfeksi HIV/AIDS. psikotropika dan zat adiktif lainnya (Napza) tergolong dalam zat psikoaktif yang bekerja mempengaruhi kerja sistem penghantar sinyal saraf (neuro-transmiter) sel-sel susunan saraf pusat (otak) sehingga meyebabkan terganggunya fungsi kognitif (pikiran). baik fisik maupun psikis.000 jiwa. Mengikuti laju perkembangan kasus tersebut dijumpai pula peningkatan epidemi penyakit hati lever hepatitis tipe-c dan kasus HIV (Human Immunodeficiency Virus) AIDS (Acquired Immune-Deficiency Syndrome) yang modus penularan melalui penggunaan jarum yang tidak steril secara bergantian pada ³pengguna Napza suntik (Penasus/injecting drug user/ IDU). pada fase awal penyebarannya melalui kelompok homoseksual. daya nilai (judgment) dan perilaku serta dapat menyebabakan efek ketergantungan.000 penyalahgunaan Napza aktif dan data perkiraan estimasi terakhir menyebutkan bahwa pengguna Napza di Indonesia mencapai 5. Penyalahgunaan Napza di Indonesia sekarang sudah merupakan ancaman yang serius bagi kehidupan bangsa dan negara.365.3. 2. persepsi. HIV/AIDS. Tahun 2005 pabrik extasi terbesar ke 3 di dunia terbongkar di Tangerang. Berbagai sember memperkirakan orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Indonesia telah mencapai kurang lebih 120.000 orang dan sekitar 80% dari jumlah tersebut terinfeksi karena pengunaan jarum yang tidak steril secara bergantian pada para pengguna Napza suntik.90% artinya .6 Gangguan Psikotik Dan Gangguan Jiwa Skizofrenia Ganguan jiwa berat ini merupakan bentuk gangguan dalam fungsi alam pikiran berupa disorganisasi (kekacauan) dalam isi pikiran yang ditandai antara lain oleh gejala gangguan pemahaman (delusi waham) gangguan persepsi berupa halusinasi atau ilusi serta dijumpai daya . alkohol. kemudian tersebar melalui perilaku seksual berisiko tinggi seperti pada pekerja seks komersial. Pola epidemik HIV/AIDS di Indonesia tak jauh berbeda dengan negara-negara lain. Di Indonesia diprediksi terdapat sekitar 1. namun beberapa tahun belakangan ini dijumpai kecenderungan peningkatan secara cepat penyebaran penyakit ini diantara para pengguna Napza suntik. alkohol.2.3. dll) Narkotika. Pengungkapan kasusnya di Indonesia meningkat rata-rata 28.000.9 % per tahun.5 Masalah Narkoba. Data pada akhir tahun 2005 menyatakan bahwa prevalensi penularan HIV AIDS pada ³penasun´ adalah 80. jumlah penderita HIV/AIDS dari tahun 2000 sampai 2005 meningkat dengan cepat menjadi 4 kali lipat atau 40%. Banten. psikotropika dan zat adiktif lainnya (Napza) serta dampaknya (Hepatitis C.

000 orang di seluruh dunia melakukan tindakan bunuh diri setiap tahunnya. Artinya dengan pemberian obat yang tepat dan memadai penderita gangguan jiwa berat cukup berobat jalan.7 Kasus Bunuh Diri Data WHO menunjukkan bahwa rata-rata sekitar 800. Gangguan ini dijumpai rata-rata 1-2% dari jumlah seluruh penduduk di suatu wilayah pada setiap waktu dan terbanyak mulai timbul (onset) nya pada usia 15-35 tahun. penyangkalan. Yang mengkhawatirkan adalah dijumpainya pergeseran usia orang yang melakukan tindak bunuh diri. psikotik dan akibat ketergantungan zat (Napza). Kalau dahulu sangat jarang anak yang usianya kurang dari 12 tahun melakukan tindak bunuh diri. Bila angkanya 1 dari 1. disisihkan. Jadi perlu dilakukan upaya diantaranya porgram intervensi dan terapi yang implentasinya bukan di rumah sakit tetapi dilingkungan masyarakat (community based psyciatric services) penambahan jumlah rumah sakit jwa bukan lagi merupakan prioritas utama karena paradigma saat ini adalah pengembangan program kesehatan jiwa masyarakat (deinstitutionalization).000 orang. Sebenarnya kondisi di banyak negara berkembang termasuk Indonesia lebih menguntungkan dibandingkan negara maju.nilai realitas yan terganggu yang ditunjukan dengan perilaku-perilaku aneh (bizzare). Laporan di India dan Sri Langka menunjukkan angka sebesar 11-37 per 100 ribu orang. 2. Terlebih saat ini telah banyak ditemukan obat-obatan psikofarmaka yang efektif yang mampu mengendalikan gejala ganggun penderitanya. karena dukungan keluarga (primary support groups) yang diperlukan dalam penggobatan gangguan jiwa berat ini lebih baik dibandingkan di negara maju. Penderita gangguan jiwa mempunyai risiko tinggi terhadap pelanggaran hak asasi manusia. meliputi sikap-sikap penolakan.3. tetapi sekarang bunuh diri pada anak usia kurang dari 12 tahun . Benedetto Saraceno dari departemen kesehatan jiwa WHO. lebih dari 90% kasus bunuh diri berhubungan dengan masalah gangguan jiwa seperti depresi. Menurut Dr. di Indonesia bisa mencapai 200-250 ribu orang penderita dari jumlah tersebut bila 10% nya memerlukan rawat inap di rumah sakit jiwa berarti dibutuhkan setidaknya 20-25 ribu tempat tidur (hospital bed) Rumah sakit jiwa yang ada saat ini hanya cukup merawat penderita gangguan jiwa tidak lebih dari 8. Stigma terhadap gangguan jiwa berat ini tidak hanya menimbulkan konsekuensi negatif terhadap penderitanya tetapi bagi juga anggota keluarga.000 penduduk saja yang menderita gangguan tersebut. dan diisolasi. mungkin di Indonesia angkanya tidak jauh dari itu.

sehingga Freud dijuluki sebagai bapak penjelajah dan pembuat peta ketidaksadaran manusia. Hipotesis psikoanalisis menyatakan bahwa tingkah laku manusia sebagian besar ditentukan oleh motif-motif tak sadar. Ini menunjukkan kegagalan orang tua di rumah. Supportive therapy 6. Kasus bunuh diri sudah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius terutama bila dikaitkan dengan dampak kehidupan moderen. Psikoanalisa 2. Sosial 4. Existensial 5. 2. pendekatan agama. . Mengatasi altruistic suicide tidak mudah dan memerlukan pendekatan multi disiplin antara berbagai pihak terkait seperti aspek kesehatan jiwa. Banyak ahli mengaitkan hal tersebut sebagi manifestasi dari akumulasi kekecewaan. penegakan hukum dan sosial. Proses terapi : 1. yaitu: 1. Interpersonal 3. Ericson).1 Model psikoanalisis (Freud.4. Oleh karena itu WHO memandang bunuh diri sebagai peyebab utama kematian dini yang dapat dicegah. guru di sekolah dan tokoh panutan di asyarakat membekali keterampilan hidup (life skill) untuk mengatasi tantangan maupun kesulitan hidupnya. Asosiasi bebas. perlakuan tidak adil atau tersisihkan. Medical 2.4 Konseptual Model Keperawatan Kesehatan Jiwa Ada 6 macam model keperawatan kesehatan jiwa. Psikoanalisa sampai saat ini dianggap sebagai salah satu gerakan revolusioner dibidang psikologi.semakin sering ditemukan. Kondisi lain yang perlu mendapat perhatian adalah altruistic suicide atau bunuh diri karena loyalitas berlebihan yang antara lain bentuk ³bom bunuh diri´.

Szasz). istri cerewet dll). Gangguan jiwa/penyimpangan perilaku karena banyaknya faktor sosial dan faktor lingkungan yang memicu munculnya stress pada seseorang. Ansietas timbul dan dialami seseorang akibat adanya konflik saat berhubungan dengan orang lain (interpersonal). macet. karena mimpi timbul akibat respon/memori bawah sadarnya. Mimpi umumnya timbul akibat permasalahan yang selama ini disimpan dalam alam bawah sadar yang selama ini ditutupi oleh pasien. Ketika penderita dinyatakan sudah berada dalam keadaan relaks maka pasien harus mengungkapkan hal yang dipikirkan pada saat itu secara verbal 2.4. Gangguan jiwa bisa muncul karena adanya ancaman. iklim sangat dingin/panas dll) akan mencetuskan stress pada individu. 2. Proses terapi: . Akumulasi stressor yang ada dilingkungan (bising. penderita didorong untuk membebaskan pikiran dan perasaan dan mengucapkan apa saja yang ada dalam pikirannnya tanpa penyuntingan atau penyensoran (Akinson. 2. Dengan mengkaji mimpi dan alam bawah sadar klien maka konflik dapat ditemukan dan diselesaikan.3 Social Model (Caplan. ancaman menimbulkan kecemasan (anxiety). Peplau).4. Stressor dari lingkungan diperparah oleh stressor dalam hubungan social (misalkan : anak nakal. atasan galak. Berupaya membangun rasa aman bagi klien Trusting relationship and interpersonal satisfaction c. Perasaan takut seseorang didasari adanya ketakutan ditolak atau tidak diterima oleh orang disekitarnya misalnya : unwanted child Proses terapi: Build Feeling Security a. b. 1991). Analisa mimpi Terapi dilakukan dengan mengkaji mimpi-mimpi pasien.Pada teknik terapi ini. Menjalin hubungan saling percaya dan membina kepuasan dalam bergaul dengan orang lain sehingga klien merasa berharga dan dihormati.2 Interpersonal Model (Sullivan. Pada teknik ini penderita disupport untuk bisa berada dalam kondisi relaks baik fisik maupun mental dengan cara tidur di sofa.

Ketidakmampuan beradaptasi dan menerima apapun hasilnya setelah berupaya maksimal. 2. ventilasi cukup. Medical model (Meyer. Kraeplin) . Conducted in group Bergaul dengan kelompok social dan kemanusiaan 4. Encourage to accept self and control behavior Mendorong untuk menerima jati dirinya sendiri dan menerima kritik atau feedback tentang perilakunya dari orang lain 2. menyebabkan individu menjadi stress. teratur. Proses terapi: Menguatkan respon koping adaptif individu diupayakan mengenal terlebih dahulu kekuatan dirinya dan kekuatan mana yang bias dipakai alternative pemecahan masalahnya. Self assessment Memperluas kesadaran diri dengan cara introspeksi 3. Proses terapi: 1.4. Rockland). Manifestasi gangguan jiwa muncul akibat ketidakmampuan dalam beradaptasi pada masalah-masalah yang muncul saat ini dan tidak ada kaitannya dengan masa lalu. sehingga pencarian makna kehidupannya (eksistensinya) menjadi kabur. individu tidak memiliki kebanggaan akan dirinya membenci diri sendiri dan mengalami gangguan dalam body imagenya.Environment manipulation and social support: Modifikasi lingkungan dan adanya dukungan social misal: rumah harus bersih. memahami riwayat hidup orang lain yang dianggap sukses atau dianggap bias menjadi panutan. Seringkali individu merasa asing dan bingung dengan dirinya sendiri. penataan alat dan perabot yang teratur. Gangguan jiwa atau gangguan perilaku terjadi bila individu gagal menemukan jati dirinya dan tujuan hidupnya. tidak bising. Experience in relationship Mengupayakan individu agar berpengalaman bergaul dengan orang lain. Roger). harum. Existensial model (Ellis. Gangguan jiwa disebabkan oleh factor biopsikososial dan respon maladaptive terhadap stressor saat ini.5 Supportive therapy model (Wermon.

usia dan jenis kelamin. Faktor yang menyebabkan gangguan jiwa juga dapat dipandang dalam tiga kategori.Gangguan jiwa muncul akibat multifaktor yang kompleks meliputi: aspek fisik. ketergantungan yang berlebihan atau menarik diri dari hubungan. terapi somatic. . Faktor individual: meliputi struktur biologis. tidak memiliki tempat tinggal. dan kehilangan kontrol emosional. kekhawatiran dan ketakutan. psikologis. Fokus penatalaksanaan harus lengkap meliputi pemeriksaan diagnostik. dan diskriminasi seperti perbedaan ras. kekerasan. dan kestabilan emosional. yaitu : 1. kemiskinan. ketidakharmonisan dalam hidup. dan sosial yang terlihat dari hubungan interpersonal yang memuaskan. ansietas. genetik. farmakologik dan teknik interpersonal. dan kehilangan arti hidup (Seaward. lingkungan dan faktor sosial. 2. golongan. BAB III PENUTUP 3. 1997). konsep diri yang positif. perilaku dan koping yang efektif. Faktor budaya dan sosial: meliputi tidak ada penghasilan.1 Kesimpulan Kesehatan jiwa adalah suatu kondisi sehat emosional. 3. Faktor interpersonal: meliputi komunikasi yang tidak efektif.

. kasus kriminalitas anak remaja. 2. promiskuitas. Sosial 4.HIV/AIDS dll). Existensial 5. Psikoanalisa 2. Medical 3. maka penulis mempunyai beberapa saran yang diharapkan dapat dipertimbangkan dan berguna bagi kita semua. kasus perceraian. gelandangan psikotik serta kasus bunuh diri. yaitu: 1. anak remaja putus sekolah. Diharapkan kesehatan jiwa healthy people 2010 dapat mengurangi masalah-masalah kesehatan jiwa yang dihadapi masyarakat. khususnya yang berkaitan dengan karakteristik kehidupan di perkotaan (urban mental health) meliputi: kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Supportive therapy 6. Interpersonal 3. 3.2 Saran Berdasarkan hasil makalah yang telah diolah. Peran serta masyarakat akan sangat membantu dalam mengatasi masalah-masalah kesehatan jiwa masyarakat. Pengadaan klinik-klinik psikiatrik akan membantu mengatasi banyaknya masalah-masalah kesehatan jiwa masyarakat.Berbagai kondisi psikososial yang menjadi indikator taraf kesehatan jiwa masyarakat. yaitu: 1. masalah anak jalanan. Ada 6 macam model keperawatan kesehatan jiwa. penyalahgunaan Napza dan dampak nya (hepatitis C.

id/articles/kesehatan_jiwa. Sheila.org/post/ppi/ppiindia-Kualitas-Kesehatan-Jiwa-Masyarakat-Kita http://faperta.L. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. 1998.ac.freelists.pdf . EGC Videback. EGC http://www. Gail Wiscarz.ugm. 2008. Buku Saku Keperawatan Jiwa Edisi 3. Jakarta. Jakarta.DAFTAR PUSTAKA Stuart.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful