P. 1
Materi Matematika Kelas Xii

Materi Matematika Kelas Xii

5.0

|Views: 5,381|Likes:
Published by jokomath
MATERI MATEMATIKA KELAS XII IPA
MATERI MATEMATIKA KELAS XII IPA

More info:

Published by: jokomath on Mar 17, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/10/2013

pdf

text

original

1

MATERI PEMBELAJARAN KELAS XII IPA
Semester 1
BAB I
INTEGRAL

Integral adalah lawan (invers) dari diferensial (turunan).

RUMUS – RUMUS INTEGRAL:

{ }
{ }
{ }
}
}
}
}
}
}
+ ÷ =
+ =
+ = =
+ =
= +
+
=
= + =
+
c x xdx
c x xdx
c x g f
x g
x g x g f
dx x g x g f
c x dx
x
n c x
n
dx x
ta kons c c ax adx
n n
cos sin
sin cos . 5
) (
) ( '
) ( ' . ) (
) ( ' . ) ( . 4
ln
1
. 3
1 ,
1
1
. 2
) tan ( , . 1
'
1


INTEGRAL TERTENTU
Jika
}
= ) ( ) ( x g dx x f , maka
) ( ) ( ) ( ) ( a g b g x g dx x f
b
a
b
a
÷ = =
}


SIFAT-SIFAT:

{ }
}
}
} } }
} }
} } }
} }
+ + = +
+ + ÷ = +
± = ±
=
s s + =
÷ =
c b ax
a
dx b ax
c b ax
a
dx b ax
dx x g dx x f dx x g x f
dx x f c dx x cf
c b a dx x f dx x f dx x f
dx x f dx x f
b
a
c
b
c
a
a
b
b
a
) sin(
1
) cos( . 6
) cos(
1
) sin( . 5
) ( ) ( ) ( ) ( . 4
) ( ) ( . 3
, ) ( ) ( ) ( . 2
) ( ) ( . 1


CARA PENGINTEGRALAN
1. Substitusi
2
I =
}
dx x f ) (
substitusi : x = Q(u) ; dx = Q`(u) du
I =
}
f(Q(u)) Q`(u) du
jika ruas kanan telah diintegralkan, subtitusi kembali dengan fungsi invers dari x = Q(u)
(ket : Prinsipnya adalah merubah variabel sehingga rumus dapat digunakan).
2. Substitusi Trigonometri
a. Bentuk
2 2
x a ÷
c x a x
a
x
a dx x a + + + = ÷
}
2 2 2 2 2
2
1
arcsin
2
1

b. Bentuk
}
+
2 2 2
x b a
Gunakan substitusi : x = a/b tgu
dx = a/b sec
2
u du
c. Bentuk
}
÷
2 2 2
a x b
Gunakan substitusi : x = a/b secu
dx = a/b tgu sec
2
u
3. Parsial
Yaitu mengenai integral dari suatu bentuk yang merupakan hasil perkalian antara suatu
fungsi x dengan turunan dari suatu fungsi x yang lain.

I = } f(x) g(x) dx
Misalkan : u = f(x) ; dv = g(x) dx
du = ..... dx ; v = } g(x) dx = ..... maka :
} u du = u v - } v du

Pemisalan dibuat sedemikian sehingga bentuk } v du jadi lebih mudah
Untuk hal-hal khusus dapat digunakan cara TABULASI.

Contoh Soal:
1. c x dx x + =
}
3
2
3
4
4
2. c x x + + ÷ = +
}
) 7 2 cos(
2
1
) 7 2 sin(
3.
} } }
÷ = ÷
3
1
2
3
1
4
3
1
2 4
) 3 ( ) 5 ( ) 3 5 ( dx x dx x dx x x
= 216 ) 1 3 ( ) 1 3 (
3 3 3 5
3
1
3
3
1
5
= ÷ ÷ ÷ = ÷ x x

3



Penggunaan Integral
1. Untuk menghitung luas daerah.

a. Luas daerah yang dibatasi oleh Kurve F(x) , sumbu x dari x = a s.d x = b adalah:
Luas (L) =
}
=
=
b x
a x
dx x F ) (

b. Luas daerah yang dibatasi oleh dua kurva F(x) dan G(x) dari x = a s.d x= b
adalah :
Luas (L) =
}
=
=
÷
b x
a x
dx x G x F ) ( ) (



2. Untuk menghitung volume benda putar
a. Volume benda putar jika daerah yang dibatasi krva F(x), sumbu x dari x = a s.d
x= b adalah :
Volume (V) =
}
=
=
b x
a x
dx x F ) (
2
t


b. Volume benda putar jika daerah yang dibatasi krva F(x), dan G(x) dari x = a s.d
x= b adalah :
Volume (V) =
}
=
=
÷
b x
a x
dx x G x F ) ( ) (
2 2
t

c. Volume benda putar jika daerah yang dibatasi krva F(y), sumbu y dari y = a s.d
y= b adalah :
Volume (V) =
}
=
=
b y
a y
dx y F ) (
2
t

d. Volume benda putar jika daerah yang dibatasi krva F(y), dan G(y dari y = a s.d
y= b adalah :
Volume (V) =
}
=
=
÷
b x
a x
dx x G x F ) ( ) (
2 2
t



LATIHAN SOAL.
Selesaikan soal-soal berikut ini.
1. ... cos
2 /
0
=
}
t
xdx .
2.
}
= + ... 2 . ) 3 (
5 2
xdx x .
3.
}
= + ... ) cos (sin
2
dx x x .
4. Jika F

(x) = 8x-2, dan F(5) = 36, maka F(x) = ....
4
5. Hasil dari
}
3x cos 2x dx = ....


6. Hitung luas daerah yang dibatasi oleh kurva 3 2 ÷ ÷ = x x y dan sumbu x pada interval
4 1 s s x
7.Hitung volume benda putar apabila daerah yang dibatasi kurva 2
2
+ = x y dan sumbu x
pada interval 2 1 s s x jika diputar 360
0
mengelilingi sumbu x.






























5




BAB II
PROGRAM LINEAR
1. Pengertian Program Linear
Program Linear adalah suatu cara untuk penyelesaian masalah dengan menggunakan
persamaan atau pertidaksamaan linear yang mempunyai banyak penyelesaian, dengan
memperhatikan syarat-syarat agar diperoleh hasil yang maksimum/minimum
(penyelesaian optimum).

Contoh :
Diketahui pertidaksamaan linear sebagai berikut :
3 s + y x
10 5 2 ÷ s ÷ y x
0 > x
0 > y
Tentukan : a. Grafik dari sistem pertidaksamaan tersebut.
b. Nilai maksimumnya jika Z= 3x + 2y











a. Grafik dari pertidaksamaan linear berbentuk suatu daerah yaitu daerah
yang diarsir.
b. Nilai maksimum dari pertidaksamaan linear dapat diperoleh dari
mensubstitusi koordinat-koordinat titik A , B dan C ke persamaan :
Z = 3x + 2y sebagai berikut
A(0,2) maka Z = 3(0) + 2(2) = 4
C(3,0) maka Z = 3(3) + 2(0) = 9
Untuk koordinat B(x,y) dapat dicari dengan mengeliminasi persamaan
linear :
x + y = 3 | x5 | 5x + 5y = 15
2x – 5y = – 10 | x1 | 2x – 5y = – 10
3
B
A
2
C
3 0 -5
6
+
7x = 5
x =
7
5

x + y = 3 ¬
7
5
+ y = 3 ¬ y = 3 –
7
5
=
7
16
sehingga B(
7
5
,
7
16
)
Z = 3(
7
5
) + 2(
7
16
) =
7
15
+
7
32
=
7
47
=
7
6
6
Dari substitusi A, B , dan C tersebut disimpulkan bahwa nilai
maksimumnya adalah 9 yang diperoleh untuk x = 3 dan y = 0 ( atau pada
titik B)

2. Model Matematika
Model matematika adalah sistem persamaan atau pertidaksamaan yang
mengungkapkan semua syarat yang harus dipenuhi oleh x dan y.
Model matematika ini merupakan cara sederhana untuk memandang suatu masalah
dengan menggunakan persamaan atau pertidaksamaan matematika.

Contoh 1 :
Jika harga tiga buku dan lima pensil Rp. 30.000,00 sedangkan harga dua buku dan
satu pensil Rp. 13.000,00. Buatlah model matematikanya.

Penyelesaian:
Misalkan satu buku = x
Satu pensil = y
Maka model matematikanya 3x + 5y = 30.000
2x + y = 13.000


Contoh 2 :
Seorang pedagang akan membuat 2 jenis roti dengan menggunakan bahan tepung
200 gram dan mentega 25 gram untuk jenis A. Sedangkan untuk jenis B digunakan
bahan 100 gram tepung dan 50 gram mentega. Jika bahan yang tersedia 3 kg
tepung dan 1,1 kg mentega, tentukan :
a. Model matematikanya
b. Sketsa grafiknya
c. Fungsi tujuan untuk keuntungan maksimum jika roti A seharga Rp. 3.600,00
dan roti B Rp. 2.400,00.

7
Penyelesaian:
Misal roti A = x dan roti B = y

Jenis roti Tepung Mentega Harga
A
B
Persediaan
200 gr
100 gr
3 kg = 3000 gr
25 gr
50 gr
1,1 kg = 1100 gr
3600
2400

a. Model matematika:
Roti A ¬ 3000 100 200 s + y x ¬ 30 2 s + y x
Roti B ¬ 1100 50 25 s + y x ¬ 44 2 s + y x
Banyaknya roti A adalah 0 > x
Banyaknya roti B adalah 0 > y
b. Sketsa grafik
3000 100 200 s + y x ¬ 30 2 s + y x
1100 50 25 s + y x ¬ 44 2 s + y x
0 > x
0 > y















Daerah penyelesaiannya adalah daerah yang diarsir.
c. Fungsi tujuan Z yang berupa keuntungan maksimum berdasarkan banyaknya
roti yang dibuat yaitu :
Z = 3600 x + 2400 y

3. Nilai Optimum
Nilai optimum diperoleh berdasarkan nilai fungsi tujuan yang dikehendaki, yaitu
berupa nilai maksimum atau nilai minimum. Cara mencarinya bias dengan :
30
0 44 15
22
8
a. Mensubstitusi koordinat titik-titik sudut dalam daerah penyelesaian
terhadap fungsi tujuan.
b. Menggunakan garis selidik.
a.d:
a. Mensubstitusi koordinat titik-titik sudut dalam daerah penyelesaian terhadap
fungsi tujuan.
Contoh :
Model matematikanya
12 2 s + y x
12 2 s + y x
0 > x
0 > y
Fungsi tujuan yang maksimum/minimum , Z = 5 x + y














Periksa koordinat titik O, A, B dan C sebagai titik-titik sudut dalam daerah
penyelesaian
(x,y) ¬ Z = 5 x + y
O(0,0) ¬ Z = 5(0) + 0 = 0 (minimum)
A(0,6) ¬ Z = 5(0) + 6 = 6
B(4,4) ¬ Z = 5(4)+4 = 24
C(6,0) ¬ Z = 5(6)+0 = 30 (maksimum)
Jadi nilai maksimum sebesar 30 dicapai pada x = 6 dan y = 0, sedangkan nilai
minimum sebesar 0 dicapai pada x = 0 dan y = 0

b. Menggunakan garis selidik
Garis selidik adalah garis yang diperkirakan berpotongan dengan garis lain yang
mendekati nilai optimum.
Bentuk umum garis selidik : ax + by = k ; k e R
ax + by diperoleh dari bentuk fungsi tujuan garis selidik ini semakin jauh dari 0
harganya makin besar (maksimum).
Contoh :
Model matematikanya
12 2 s + y x

12 2 s + y x

B(4,4)
A
C
O
6
6
12
12
9
12 2 s + y x
12 2 s + y x
0 > x , 0 > y

Fungsi tujuan yang maksimum/minimum , Z = 5 x + y
Maka garis selidik ;
k = 5 x + y , dengan k e R















Tampak bahwa garis selidik terjauh dari titik O(0,0) adalah garis yang melalui titik
C(6,0) yaitu Z = 5(6)+0=30.

LATIHAN SOAL.
Kerjakan soal-soal berikut:
1. Tentukan persamaan dari gambar berikut :


2. Gambarlah daerah HP dari 3X + 2 Y < 12
5X + 6Y < 30
X > 0
Y > 0

3. Gambarlah grafik 2X + Y = 12
12 2 s + y x

12 2 s + y x

B(4,4)
A
C
O
6
6
12
12
k y x = + 5
10
4X + 3Y = 12


4. Tentukan pertidaksamaan-pertidaksamaan dari gambar berikut


5. Tempat parkir seluas 360
2
m dapat menampung tidak lebih dari 30 kendaraan.
Untuk parkir sebuah sedan diperlukan rata-rata 6
2
m dan sebuah bus 24
2
m . Jika
banyak sedan dinyatakan dengan x dan banyak bus dinyatakan dengan y , maka
tentukanlah model matematika dari persoalan tersebut.





















11



BAB III
MATRIKS

A. PENGERTIAN MATRIKS
1. Pengertian
Matriks adalah susunan bilangan yang diatur dalam baris dan kolom berbentuk
persegi panjang. Susunan itu diletakkan dalam suatu kurung biasa atau kurung siku.

Contoh : 1).
|
|
.
|

\
|
y
x
2). (4 – 2 5) 3).
|
|
.
|

\
|
5 4 3
10 8 6


2. Notasi Matriks
Suatu matriks dilambangkan dengan huruf besar.

Contoh :

1). A=
|
|
.
|

\
|
y
x
2). B = (4 – 2 5) 3).C =
|
|
.
|

\
|
5 4 3
10 8 6

Setiap kolom dalam suatu susunan disebut elemen (unsur), yang ditunjukkan
pertama menyebutkan nomor barisnya dan kemudian nomor kolomnya.

A =
|
|
|
.
|

\
|
÷
6 4 3 1
0 3 2 1
2 5 4 3


– 1 adalah elemen baris kedua kolom pertama
6 adalah elemen baris ke tiga kolom ke empat.




3. Ordo Suatu Matriks
Ordo suatu matriks diberikan dengan menyertakan banyaknya baris kemudian
kolom.
Contoh :

A =
|
|
.
|

\
|
5 2 3
4 0 1

Banyaknya baris matriks A adalah 2
Banyaknya kolom matriks A adalah 3.
Ordo matriks A adalah 2 x 3 ditulis
3 2×
A
Baris 1
Baris 2
Baris 3
Kolom 1
Kolom 3
Kolom 2
Kolom 4
12
Secara umum :
Jika banyaknya baris matriks A adalah m dan banyaknya kolom n maka ordo
matriks A ialah m x n ditulis
n m
A
×
.

4. Macam – Macam Matriks

a. Matriks Baris
Bila suatu matriks hanya mempunyai satu baris disebut matriks baris.

Contoh : A = ( 2 4 – 7 )

b. Matriks Kolom
Bila suatu matriks hanya mempunyai satu kolom disebut matriks kolom.

Contoh : B =
|
|
|
|
|
.
|

\
|
÷
5
4
1
5


c. Matriks Bujur Sangkar
Bila suatu matriks banyaknya baris dan banyaknya kolom sama, maka disebut
matriks bujur sangkar.
Contoh : A =
|
|
.
|

\
|
8 6
1 3
÷ matriks bujursangkar berordo 2

B =
|
|
|
.
|

\
| ÷
1 1 6
0 2 5
1 3 2
÷ matriks bujursangkar berordo 3


d. Matriks Identitas (Matriks Satuan).
Bila suatu matriks bujur sangkar yang semua elemen pada diagonal utama
adalah 1 dan elemen-elemen yang lain 0 , maka disebut matriks identitas.
Contoh : I =
|
|
.
|

\
|
1 0
0 1


5. Kesamaan Matriks
Dua matriks A dan B disebut sama jika :
a. Kedua matriks mempunyai ordo yang sama
b. Unsur (elemen) yang bersesuaian sama.
Contoh :
A =
|
|
.
|

\
|
8 6
1 3
B =
|
|
.
|

\
|
+
2
16
2
6
1 5
1

13
Matriks A = B, sebab ordonya sama dan
3 =
2
6
1 = 1
6 = 5 + 1 8 =
2
16



6. Transpose Matriks dan Notasinya
Dari matriks A yang diketahui dibentuk matriks baru dengan ketentuan :
a. Baris pertama matriks A menjadi kolom pertama matriks baru.
b. Baris kedua matriks A menjadi kolom ke dua matriks baru dan seterusnya.

Matriks baru yang terbentuk itu disebut transpose matriks A dan ditulis A’ atau
T
A (dibaca tranpos A ).

Contoh :
A =
|
|
.
|

\
|
0 9 4
1 7 2
÷
|
|
|
.
|

\
|
=
0 1
9 7
4 2
T
A



LATIHAN SOAL.
1. Sebutkan banyaknya baris dan kolom dari matriks-matriks berikut :
a.
|
|
|
.
|

\
|
=
9 0
7 5
3 1
A c. P =
|
|
|
.
|

\
|
z
y
x

b.
|
|
.
|

\
|
÷
÷ ÷
=
9 1 0 5
4 3 2 1
B d. R = ( 3 5 1 6)
2. Tentukan ordo dari matriks-matriks berikut.
a. A = ( 8 2 0 3 5) c. M =
|
|
|
|
|
.
|

\
|
÷
÷
5
3
0
1

b.
|
|
.
|

\

=
8 7 2 0
5 0 1 4
B d. N =
|
|
|
.
|

\
|
5 0 6
1 0 2
4 5 0


3. Tentukan x dan y dari
a. ( 5x – 2y) = ( 10 4 )
b.
|
|
.
|

\
|
÷
=
|
|
.
|

\
|
+ ÷
+
1
8
2
2
y x
y x

c.
|
|
|
.
|

\

=
|
|
.
|

\
|
+ ÷
÷
2
1
4
1
2 3
4
y x
y x


4. Tentukan transpose dari masing-masing matriks di bawah ini.
14

a. A =
|
|
.
|

\
| ÷
0 2 1
1 4 2
c. C =
|
|
|
|
|
.
|

\
|
÷
÷
8 2
1 0
6 4
3 5

b. B =
|
|
|
|
|
.
|

\
|
÷
0
1
2
1
d. D = ( 4 2 5 9 0)
5. Diketahui P =
|
|
.
|

\
|
÷ y
x
3
9
dan Q =
|
|
.
|

\
|
÷
÷
4 9
3 5

Jika
T
P = Q,tentukan nilai x dan y.


B. PENJUMLAHAN MATRIKS
1. Penjumlahan Matriks
Dua matriks A dan B dapat dijumlahkan,jika ordo matriks A sama dengan ordo
matriks B. Menjumlahkan matriks A dengan matriks B dilakukan dengan cara
menjumlahkan elemen matriks A dengan elemen matriks B yang bersesuaian
letaknya(seletak).

Misal :

A =
|
|
.
|

\
|
d c
b a
dan B =
|
|
.
|

\
|
h g
f e

Maka A + B =
|
|
.
|

\
|
d c
b a
+
|
|
.
|

\
|
h g
f e
=
|
|
.
|

\
|
+ +
+ +
h d g c
f b e a


Contoh :
1. Jika P =
|
|
|
.
|

\
|
3
2
3
dan Q =
|
|
|
.
|

\
|
÷
4
2
0
maka P + Q =
|
|
|
.
|

\
|
3
2
3
+
|
|
|
.
|

\
|
÷
4
2
0
=
|
|
|
.
|

\
|
7
0
3

Q + P =
|
|
|
.
|

\
|
÷
4
2
0
+
|
|
|
.
|

\
|
3
2
3
=
|
|
|
.
|

\
|
7
0
3
karena P + Q = Q + P, maka penjumlahan matriks
bersifat komutatif.
2. Jika A =
|
|
.
|

\
|
2 4
1 2
B =
|
|
.
|

\
|
3 2
1 0
dan C =
|
|
.
|

\
|
9 8
7 3

maka a). ( A + B ) + C =
|
|
.
|

\
|
+
(
¸
(

¸

|
|
.
|

\
|
+
|
|
.
|

\
|
9 8
7 3
3 2
1 0
2 4
1 2

=
|
|
.
|

\
|
5 6
2 2
+
|
|
.
|

\
|
9 8
7 3
=
|
|
.
|

\
|
14 14
9 5


b). A + (B + C) =
|
|
.
|

\
|
2 4
1 2
+
(
¸
(

¸

|
|
.
|

\
|
+
|
|
.
|

\
|
9 8
7 3
3 2
1 0

15
=
|
|
.
|

\
|
2 4
1 2
+
|
|
.
|

\
|
12 10
8 3
=
|
|
.
|

\
|
14 14
9 5

Dari contoh 2 a) dan 2b) , maka berlaku hukum asosiatif penjumlahan matriks.


2. Pengurangan Matriks
Jika A dan B dua matriks yang ordonya sama maka matriks hasil pengurangan A
dan B sama artinya dengan menjumlahkan matriks A dengan matriks lawan B.
Jadi A – B = A + (– B).
Contoh :
Jika P =
|
|
.
|

\
|
2 3
7 4
dan Q =
|
|
.
|

\
|
÷ 2 3
1 2
maka
a). P – Q =
|
|
.
|

\
|
2 3
7 4

|
|
.
|

\
|
÷ 2 3
1 2

=
|
|
.
|

\
|
2 3
7 4
+
|
|
.
|

\
|
÷
÷ ÷
2 3
1 2
=
|
|
.
|

\
|
4 0
6 2

b).Q – P =
|
|
.
|

\
|
÷ 2 3
1 2

|
|
.
|

\
|
2 3
7 4

=
|
|
.
|

\
|
÷ 2 3
1 2
+
|
|
.
|

\
|
÷ ÷
÷ ÷
2 3
7 4
=
|
|
.
|

\
|
÷
÷ ÷
4 0
6 2

Karena P – Q tidak sama dengan Q – P, maka pada pengurangan matriks tidak
berlaku hukum komutatif.

LATIHAN SOAL :
Sederhanakan :
1.
|
|
.
|

\
|
÷
÷
+
|
|
.
|

\
|
÷ ÷
÷
8 4 3 5
6 6 6 7
6 3 2 4
2 4 7 6

2.
|
|
.
|

\

+
|
|
.
|

\
|
y
x
y
x
3
6
4
2

3. Manakah matriks-matriks berikut yang dapat dijumlahkan.
a.
|
|
.
|

\
|
+
|
|
.
|

\
|
0
4
2
3
e.
|
|
.
|

\
|
d c
b a
4 3
3 2
+
|
|
.
|

\

d c
b a
3 7
6 4


b.
|
|
|
.
|

\
|
+
|
|
.
|

\
|
÷ ÷
2
4
3
4 2 4
3 2 4
f. ( 4 7 ) + ( 3 0)

c. (3) +
|
|
.
|

\
|
0
4
g. ( 7 ) + ( 0 )

16
d. ( 4 6 ) +
|
|
.
|

\
|
3
6
h. ( 4 - 2 3 ) +
|
|
|
.
|

\
|
7
4
1

4. Jika M =
|
|
.
|

\
|
÷ 3 4 2
0 3 6
dan N =
|
|
.
|

\
|
÷ 4 6 3
2 0 1
. Carilah M + N dan N + M.
Hukum apakah dalam penjumlahan matriks yang dapat dilihat dari hasil
tersebut ?
5. Selesaikan masing-masing persamaan di bawah ini, jika X matriks 2 x 2

a.
|
|
.
|

\
| ÷
= +
|
|
.
|

\
|
÷
÷
2 0
3 2
6 3
2 4
X
b.
|
|
.
|

\
|
÷
=
|
|
.
|

\
|
÷
÷
3 7
1 2
3 5
2 3
X

c.
|
|
.
|

\
| ÷
= ÷
|
|
.
|

\
|
12 10
16 12
10 12
6 15
X


C. PERKALIAN MATRIKS
1. Perkalian Skalar .
Perkalian skalar ialah perkalian suatu matriks dengan bilangan (skalar).
Hasil kali matriks A dengan bilangan p ditulis p.A, ialah matriks yang
ordonya sama dengan matriks A, dan elemen-elemennya didapat dari
perkalian setiap unsur A dengan p.

Misal :
A =
|
|
.
|

\
|
d c
b a
maka p.A = p.
|
|
.
|

\
|
d c
b a
=
|
|
.
|

\
|
pd pc
pb pa


Contoh :
Jika
|
|
.
|

\
|
÷ ÷
÷
=
2 5 1
3 2 4
A maka
|
|
.
|

\
|
÷ ÷
÷
=
2 5 1
3 2 4
. 4 . 4 A
=
|
|
.
|

\
|
÷ ÷
÷
8 20 4
12 8 16



2. Perkalian Matriks Dengan Matriks
Dua matriks dapat dikalikan, apabila banyaknya kolom matriks pertama
sama dengan banyaknya baris matriks ke dua .

|
|
|
.
|

\
|
+
+
+
=
|
|
.
|

\
|
·
|
|
|
.
|

\
|
f y ex
dy cx
by ax
y
x
f e
d c
b a

Contoh 1 :
17
Jika
|
|
.
|

\
|
=
2 4 3
0 1 2
P dan
|
|
|
.
|

\
|
=
3 7
2 6
1 5
Q
Maka
|
|
.
|

\
|
= ×
2 4 3
0 1 2
Q P
|
|
|
.
|

\
|
×
3 7
2 6
1 5

=
|
|
.
|

\
|
+ + + +
+ + + +
3 . 2 2 . 4 1 . 3 7 . 2 6 . 4 5 . 3
3 . 0 2 . 1 1 . 2 7 . 0 6 . 1 5 . 2

=
|
|
.
|

\
|
+ + + +
+ + + +
6 8 3 14 24 15
0 2 2 0 6 10
=
|
|
.
|

\
|
17 53
4 16



Matriks Identitas (Matriks Satuan.)
Sifat-sifatnya menyerupai sifat-sifat satuan dalam sistem bilangan real.
Jika A adalah matriks bujur sangkar, maka I . A = A . I = A
Misal :
A =
|
|
.
|

\
|
4 2
5 3
, I =
|
|
.
|

\
|
1 0
0 1
maka
I . A =
|
|
.
|

\
|
1 0
0 1
|
|
.
|

\
|
4 2
5 3
=
|
|
.
|

\
|
+ +
+ +
4 0 2 0
0 5 0 3
=
|
|
.
|

\
|
4 2
5 3


A . I =
|
|
.
|

\
|
4 2
5 3
|
|
.
|

\
|
1 0
0 1
=
|
|
.
|

\
|
+ +
+ +
4 0 0 2
5 0 0 3
=
|
|
.
|

\
|
4 2
5 3

Ternyata I . A = A . I = A


Pemangkatan Matriks Bujur Sangkar
Pemangkatan matriks bujur sangkar adalah perkalian antara matriks itu sendiri.

Contoh :
Jika
|
|
.
|

\

=
5 3
4 2
A maka tentukan
2
A
Jawab :

2
A =
|
|
.
|

\

5 3
4 2
|
|
.
|

\

5 3
4 2
=
|
|
.
|

\
|
=
|
|
.
|

\
|
+ + ÷
+ ÷ +
37 9
12 16
25 12 15 6
20 8 12 4


Sifat-sifat perkalian matriks
Jika antara matriks-matriks A , B dan C dapat saling dikalikan.
1. (A.B).C = A. (B.C) Asosiatif
2. I . A = A . I = A I matriks identitas
3. A . A
1 ÷
= A
1 ÷
.A = I A
1 ÷
matriks kebalikan.
4. A . (B + C) = A.B + A. C Distributif
5. p . (A.B) = (p.A).B = A.(p.B) p (skalar)
18



LATIHAN SOAL.
1. Diketahui p = 3 , A =
|
|
.
|

\
|
4 3
1 2
, B =
|
|
.
|

\
|
6 5
4 7

Tentukan :
a. p. (A.B)
b. (p.A).B
c. (p.B).A
2. Jika A =
|
|
.
|

\
|
4
3
, B = (3 1 3) , C =
|
|
|
.
|

\
|
1 4 5
2 1 0
3 7 4

Tentukan : A . (B.C) dan (A.B).C

3. Jika A =
|
|
.
|

\
|
9 8
6 7
, I =
|
|
.
|

\
|
1 0
0 1
Tentukan A.I dan I . A
4. Jika A =
|
|
.
|

\
|
3 4
2 3
; A
1 ÷
=
|
|
.
|

\
|
÷
÷
3 4
2 3
. Tentukan A . A
1 ÷
dan
A
1 ÷
. A
5. Jika A =
|
|
.
|

\
|
6 5 2
3 2 1
, B =
|
|
|
.
|

\
|
4 6
8 7
3 1
, C =
|
|
|
.
|

\
|
0 1
2 3
4 7

Tentukan:
a. B+C
b. (B+A).A
c. C . A
d. B.A + C.A

D. INVERS MATRIKS
Pengertian Invers matriks / Kebalikan Matriks
Jika A dan B adalah matriks bujur sangkar yang ordonya sama sehingga
A.B = B.A = I , maka B adalah invers A dan A adalah invers B.
Dalam hal ini akan dibahas untuk matriks berordo 2 x 2
Contoh :

Jika A =
|
|
.
|

\
|
÷
÷
1 3
2 5
dan B =
|
|
.
|

\
|
÷
÷
5 3
2 1
, tunjukkanlah matriks A dan B adalah
saling invers.

Jawab :
A . B =
|
|
.
|

\
|
÷
÷
1 3
2 5
.
|
|
.
|

\
|
÷
÷
5 3
2 1
=
|
|
.
|

\
|
=
|
|
.
|

\
|
÷ + ÷
÷ + ÷
1 0
0 1
5 6 3 3
10 10 6 5


19
B . A =
|
|
.
|

\
|
÷
÷
5 3
2 1
.
|
|
.
|

\
|
÷
÷
1 3
2 5
=
|
|
.
|

\
|
=
|
|
.
|

\
|
÷ + ÷
÷ + ÷
1 0
0 1
5 6 15 15
2 2 6 5

Karena A.B = B.A = I, maka A adalah invers B dan sebaliknya.


Rumus Umum :
Jika A =
|
|
.
|

\
|
d c
b a
maka inversnya adalah,

|
|
.
|

\
|
÷
÷
÷
=
÷
a c
b d
bc d a
A
.
1
1
, dengan 0 = ÷bc ad
bc ad ÷ dinamakan determinan matriks A dan ditulis
det A = bc ad
d c
b a
÷ = atau biasa ditulis bc ad D ÷ =
Jika 0 = ÷ = bc ad D , matriks A tersebut tidak mempunyai invers, dalam hal ini
matriks A disebut matriks singular.
Contoh :
Diketahui matriks A =
|
|
.
|

\
|
3 4
1 2
tentukan determinan dan inversnya.
Jawab :
2 4 6 ) 1 )( 4 ( ) 3 )( 2 ( = ÷ = ÷ = ÷ = bc ad D
|
|
.
|

\
|
÷
÷
÷
=
÷
a c
b d
bc d a
A
.
1
1

=
|
|
.
|

\
|
÷
÷
=
|
|
.
|

\
|
÷
÷
1 2 2 4
1 3
2
1
2
1
2
3


Pemakaian matriks untuk menyelesaikan sistem persamaan linear.
Contoh :
Tentukan harga X dan Y dari sistem persamaan dengan matriks.
¹
´
¦
= ÷
= +
3 5 4
5 2
y x
y x


Jawab :
|
|
.
|

\
|
=
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
÷ 3
5
5 4
1 2
y
x

Misal : A =
|
|
.
|

\
|
÷5 4
1 2

|
|
.
|

\
|
÷
=
|
|
.
|

\
|
÷
÷ ÷
÷ ÷
=
÷
14
2
14
4
14
1
14
5
1
2 4
1 5
4 10
1
A
|
|
.
|

\
|
=
|
|
.
|

\
|
÷ ÷
3
5
. . .
1 1
A
y
x
A A
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
÷
=
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
÷
|
|
.
|

\
|
÷ 3
5
5 4
1 2
14
2
14
4
14
1
14
5
14
2
14
4
14
1
14
5
y
x

20
|
|
.
|

\
|
=
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
1
2
1 0
0 1
y
x

Jadi x = 2 dan y = 1

LATIHAN SOAL.
1. Tentukan invers tiap-tiap matriks berikut ini.
a.
|
|
.
|

\
|
÷
=
1 2
5 3
A
b.
|
|
.
|

\
| ÷
=
0 1
2 3
B
c.
|
|
.
|

\
|
=
2 4
1 2
P

2. Jika
|
|
.
|

\
|
=
1 0
3 2
A dan
|
|
.
|

\
|
=
3 1
4 2
B
Tentukan :
a. A . B
b. (A.B)
1 ÷

c.
1 ÷
A
d.
1 ÷
B
e.
1 ÷
A .
1 ÷
B
f.
1 ÷
B .
1 ÷
A

3. Tentukan himpunan penyelesaian sistem persamaan berikut dengan metode
matriks.
a.
¹
´
¦
÷ = +
= +
1 3 2
5 2
y x
y x
b.
¹
´
¦
= + +
= + +
0 9 10 5
0 3 5 10
y x
y x


















21




BAB IV
VEKTOR

1. Vektor adalah ruas garis yang mempunyai besar (panjang) dan arah tertentu.

2. Vektor posisi adalah vektor yang titik pangkalnya pada titik pusat koordinat.
3. Vektor satuan adalah vektor yang panjangnya satu satuan.
4. Dua buah vektor adalah sama, jika dan hanya jika arah dan panjangnya sama.
5. Vektor satuan pada sumbu x disebut i.
Vektor satuan pada sumbu y disebut j.
Vektor satuan pada sumbu z disebut k.


6. Jika titik A mempunyai koordinat A (a
1
, a
2,
a
3
), maka vektor posisi titik A adalah
a = a
1
i + a
2
j + a
3
k atau a = (a
1
, a
2,
a
3
).
7. Jika A (a
1
, a
2,
a
3
) dan B (b
1
, b
2,
b
3
), maka vektor
AB = b - a =( ) ( ) ( )k a b j a b i a b
3 3 2 2 1 1
÷ + ÷ + ÷
BA =a - b =( ) ( ) ( )k b a j b a i b a
3 3 2 2 1 1
÷ + ÷ + ÷
8. Panjang/besar vektor a = a
1
i + a
2
j + a
3
k adalah
2
3
2
2
2
1
a a a a + + = .
9. Jika a + b = c , maka o cos . 2
2 2 2
b a a b c + + =
Jika a - b = c , maka o cos . 2
2 2 2
b a a b c ÷ + =
o = sudut antara vektor a dan vektor b .

z
t
i
x
j
y
a
A
AB
B
22







10. Perkalian vektor.
a. Perkalian vektor dengan bilangan/konstanta
Jika a = a
1
i + a
2
j + a
3
k, maka a = a
1
i + a
2
j + a
3
k.
b. Perkalian skalar antara dua vektor ÷ hasilnya skalar/bilangan.
Jika a = a
1
i + a
2
j + a
3
k dan b = b
1
i + b
2
j + b
3
k , maka
a . b = a . b cos o = a
1
b
1
+ a
2
b
2
+ a
3
b
3.
c. Perkalian antara dua vektor ÷ hasilnya berupa vektor.
Jika a x b = c , maka c = a x b sino .
Jika a = a
1
i + a
2
j + a
3
k, dan b = b
1
i + b
2
j + b
3
k , maka
c = a x b = ( ) ( ) ( )k b a b a j b a b a i b a b a
3 2 2 1 1 3 3 1 2 3 3 2
÷ + ÷ ÷ ÷ .
11. Sudut antara dua vektor.



Jika a = a
1
i + a
2
j + a
3
k
b = b
1
i + b
2
j + b
3
k, maka
a . b = a . b cos o , sehingga
Cos o =
b a
b a
.
.
=
b a
b a b a b a
.
3 3 2 2 1 1
+ +
.
12. Proyeksi vektor dan vektor proyeksi.
Catatan : Proyeksi vektor ÷ panjang proyeksinya.
Vektor proyeksi ÷ vektornya.




Jika vektor a diproyeksikan ke vektor b , menjadi vektor c , maka proyeksi vektornya
yaitu panjang c adalah :
a
b
b a +
o
b
b ÷
b a ÷
o
a
a
b
u
a
b
u
c
23
c =
b
b a.

Sedangkan vektor proyeksinya, yaitu c adalah
c = b
b
b a
2
.



13. Perbandingan vektor
Jika A (a
1
, a
2,
a
3
) dan B (b
1
, b
2,
b
3
), sedangkan P (p
1
, p
2,
p
3
) terletak pada AB, sehingga
AP : PB = m : n, maka :
P
1
=
n m
mb na
+
+
1 1

P
2
=
n m
mb na
+
+
2 2

P
3
=
n m
mb na
+
+
3 3


Contoh Soal:
1. Panjang vektor k j i a 12 9 8 + + = adalah
17 289 144 81 64 12 9 8
2 2 2
= = + + = + + = a
2. Jika k j i a 4 2 3 + ÷ = dan k j i b 7 6 5 ÷ + = , maka
a x b = ((-2).(-7) – 4.6)i – (3.(-7) – 4.5)j + (3.6-(-2).(-7))k
= (14-24)i – (-21-20)j + (18-14)k
= -10i + 41j +4k.
3. Besar sudut antara vektor k j i a 3 2 + + = dan k j i b + ÷ = 2 3 adalah ....
Jawab:

0
60
2
1
14
3 2 6
14 . 14
1 . 3 ) 2 .( 1 3 . 2
.
.
cos
14 1 4 9
14 9 1 4
=
=
+ ÷
=
+ ÷ +
= =
= + + =
= + + =
u
u
b a
b a
b
a


LATIHAN SOAL.
Selesaikan soal-soal berikut ini dengan tepat.
1. Jika besar sudut antara vektor p dan vektor q adalah 60
0
, panjang p dan q masing-
masing 10 dan 6, maka panjang vektor ( p - q ) adalah ....
A (a
1
, a
2,
a
3
)
B (b
1
, b
2,
b
3
),
P
m
n
24
2. Diketahui titik P (-3, -1, -5 ), Q (-1, 2, 0 ), dan R (1, 2, -2). Jika a PQ= dan
b PR QR = + , maka a . b = ....
3. Diketahui titik-titik P ( 2, -3, 0 ), Q ( 3, -1, 2 ), dan R ( 4, -2, -1 ). Panjang proyeksi
vektor PQ pada vektor PR adalah ....
4. Vektor yang merupakan proyeksi vektor ( 3, 1, -1 ) pada vektor ( 2, 5, 1 ) adalah ....
5. Diketahui vektor OA = ( 1, 2 ) dan vektor OB = ( 2, 1 ). Jika titik P terletak pada AB
sehingga AP : PB = 2 : 1, maka panjang vektor OP sama dengan ....




























25


BAB V
TRANSFORMASI
Transformasi adalah suatu perpindaban/perubaban.
1. TRANSLASI (Pergeseran sejajar)
Matriks Perubahan Perubahan
a (
¸ b ¸
(x,y) ÷ (x+a, y+b) F(x,y) = 0 ÷ (x-a, y-b) = 0
Ket :
x' = x + a ÷ x = x' - a
y' = y + b ÷ y = y' -b
Sifat:
o Dua buah translasi berturut-turut a ( diteruskan dengan
¸ b ¸
dapat digantikan dengan c ( translasi tunggal a + c (
¸ d ¸ ¸ b + d ¸
o Pada suatu translasi setiap bangunnya tidak berubah.

2. REFLEKSI (Pencerminan terhadap garis)
Pencerminan
terhadap
Matriks Perubahan Titik Perubahan fungsi
sumbu-x
1 -0 (
¸ 0 -1 ¸
(x,y) ÷ (x,-y)
F(x,y) = 0 ÷ F(x,-
y) = 0
sumbu -y
-1 0 (
¸ -0 1 ¸
(x,y) ÷ (-x,y)
F(x,y) = 0 ÷ F(-x,y)
= 0
garis y = x
0 1 (
¸ 1 0 ¸
(x,y) ÷ (y,x)
F(x,y) = 0 ÷ F(y,x)
= 0
garis y = -x
-0 -1 (
¸ ÷1 -0 ¸
(x,y) ÷ (-y,-x)
F(x,y) = 0 ÷ F(-y,-
x)= 0

Ket. : Ciri khas suatu matriks Refleksi adalah determinannya = -1

SIFAT-SIFAT
a. Dua refleksi berturut-turut terhadap sebuah garis merupakan suatu identitas,
artinya yang direfleksikan tidak berpindah.
b. Pengerjaan dua refleksi terhadap dua sumbu yang sejajar, menghasilkan
translasi (pergeseran) dengan sifat:
26
 Jarak bangun asli dengan bangun hasil sama dengan dua kali jarak
kedua sumbu pencerminan.
 Arah translasi tegak lurus pada kedua sumbu sejajar, dari sumbu
pertama ke sumbu kedua. Refleksi terhadap dua sumbu sejajar
bersifat tidak komutatif.
c. Pengerjaaan dua refleksi terhadap dua sumbu yang saling tegak lurus,
menghasilkaan rotasi (pemutaran) setengah lingkaran terhadap titik potong
dari kedua sumbu pencerminan. Refleksi terhadap dua sumbu yang saling
tegak lurus bersifat komutatif.
d. Pengerjaan dua refleksi berurutan terhadap dua sumbu yang berpotongan
akan menghasilkan rotasi (perputaran) yang bersifat:
 Titik potong kedua sumbu pencerminan merupakan pusat
perputaran.
 Besar sudut perputaran sama dengan dua kali sudut antara
kedua sumbu pencerminan.
 Arah perputaran sama dengan arah dari sumbu pertama ke sumbu
kedua.
3. ROTASI (Perputaran dengan pusat 0)
Rotasi Matriks Perubahan Titik Perubahan Fungsi
½ t
0 -1(
¸1 -0 ¸
(x,y) ÷ (-y,x) F(x,y) = 0 ÷ F(y,-x) = 0
t
-1 0(
¸1 -1 ¸
(x,y) ÷ (-x,-y) F(x,y) = 0 ÷ F(-x,-y) = 0
3/2 t
0 -1(
¸-1 0 ¸
(x,y) ÷ (y,-x) F(x,y) = 0 ÷ F(-y,x) = 0
u
cosu -sinu (
¸sinu cosu ¸
(x,y) ÷ (x cos u - y sin u, x sin u + y cos u)
F(x,y) = 0 ÷ F(x cos u + y sin u, -x sin u + y cos
u) = 0
Ket.: Ciri khas suatu matriks Rotasi adalah determinannya = 1

SIFAT-SIFAT
a. Dua rotasi berturut-turut merupakan rotasi lagi dengan sudut putar dsama dengan
jumlah kedua sudut putar semula.
b. Pada suatu rotasi, setiap bangun tidak berubah bentuknya.
Catatan:
Pada transformasi pergeseran (translasi), pencerminan (refleksi) dan perputaran
27
(rotasi), tampak bahwa bentuk bayangan sama dan sebangun (kongruen) dengan
bentuk aslinya. Transformasi jenis ini disebut transformasi isometri.
4. DILATASI (Perbesaran terhadap pusat 0)
Dilatasi Matriks Perubahan titik Perubahan fungsi
(0,k)
k 0(
¸0 k¸
(x,y)÷(kx,ky) F(x,y)=0÷F(x/k,y/k)
Ket:
(0, k) merupakan perbesaran atau pengecilan dengan tergantung dari nilai k.
Jika A' adalah peta dari A, maka untuk:
a. k > 1 ÷A' terletak pada perpanjangan OA
b. 0 < k < 1 ÷ A' terletak di antara O dan A
c. k > 0 ÷ A' terletak pada perpanjangan AO

























28



Semester 2
BAB I
BARISAN DAN DERET

A. BARISAN DAN DERET ARITMETIKA
1. Barisan Aritmetika (Barisan Hitung)
U
1
, U
2
, U
3
, .......U
n-1
, U
n
disebut barisan aritmetika, jika
U
2
- U
1
= U
3
- U
2
= .... = U
n
- U
n-1
= konstanta
Selisih ini disebut juga beda (b) = b =U
n
- U
n-1

Suku ke-n barisan aritmetika a, a+b, a+2b, ......... , a+(n-1)b
U
1
, U
2
, U
3
............., U
n

Rumus Suku ke-n :
U
n
= a + (n-1)b = bn + (a-b) ÷ Fungsi linier dalam n
2. Deret Aritmetika (Deret Hitung)
a + (a+b) + (a+2b) + . . . . . . + (a + (n-1) b) disebut deret aritmetika.
Dimana:
a = suku awal
b = beda
n = banyak suku
U
n
= a + (n - 1) b adalah suku ke-n
Jumlah n suku
Sn = 1/2 n(a+U
n
)
= 1/2 n[2a+(n-1)b]
= 1/2bn² + (a - 1/2b)n ÷ Fungsi kuadrat (dalam n)
Keterangan:
a. Beda antara dua suku yang berurutan adalah tetap (b = S
n
")
b. Barisan aritmetika akan naik jika b > 0
Barisan aritmetika akan turun jika b < 0
c. Berlaku hubungan U
n
= S
n
- S
n-1
atau Un = S
n'
- 1/2 S
n
"
d. Jika banyaknya suku ganjil, maka suku tengah
U
t
= 1/2 (U
1
+ U
n
) = 1/2 (U
2
+ U
n-1
) dst.
e. S
n
= 1/2 n(a+ U
n
) = nU
t
÷ U
t
= Sn / n
f. Jika tiga bilangan membentuk suatu barisan aritmetika, maka untuk
memudahkan perhitungan misalkan bilangan-bilangan itu adalah a -
b , a , a + b
29



B. BARISAN DAN DERET GEOMETRI
1. Barisan Geometri (Barisan Ukur)
U
1
, U
2
, U
3
, ......., U
n-1
, U
n
disebut barisan geometri, jika
U
1
/U
2
= U
3
/U
2
= .... = U
n
/ U
n-1
= konstanta
Konstanta ini disebut pembanding / rasio (r)
Rasio r = U
n
/ U
n-1

Suku ke-n barisan geometri
a, ar, ar² , .......ar
n-1

U
1
, U
2
, U
3
,......,U
n

Suku ke n U
n
= ar
n-1
÷ fungsi eksponen (dalam n)
2. Deret Geometri (Deret Ukur)
a + ar² + ....... + ar
n-1
disebut deret geometri
a = suku awal
r = rasio
n = banyak suku
Jumlah n suku
Sn = a(r
n
-1)/r-1 , jika r>1
= a(1-r
n
)/1-r , jika r<1 ÷ Fungsi eksponen (dalam n)
Keterangan:
a. Rasio antara dua suku yang berurutan adalah tetap
b. Barisan geometri akan naik, jika untuk setiap n berlaku
U
n
> U
n-1

c. Barisan geometri akan turun, jika untuk setiap n berlaku
U
n
< U
n-1

Bergantian naik turun, jika r < 0
d. Berlaku hubungan U
n
= S
n
- S
n-1

e. Jika banyaknya suku ganjil, maka suku tengah

1 2 1 ÷
= =
n n t
xU U xU U U , dst
f. Jika tiga bilangan membentuk suatu barisan geometri, maka untuk
memudahkan perhitungan, misalkan bilangan-bilangan itu adalah
a/r, a, ar.
3. Deret Geometri Tak Berhingga
Deret Geometri tak berhingga adalah penjumlahan dari
U
1
+ U
2
+ U
3
+ ..............................
30
¿
·
=1 n
Un = a + ar + ar² + .........................
dimana n÷∞ dan -1 < r < 1 sehingga r
n
÷ 0
Dengan menggunakan rumus jumlah deret geometri didapat :
Jumlah tak berhingga S

= a/(1-r)
Deret geometri tak berhingga akan konvergen (mempunyai jumlah) untuk
-1 < r < 1
Catatan:
a + ar + ar
2
+ ar
3
+ ar
4
+ .................
Jumlah suku-suku pada kedudukan ganjil
a+ar
2
+ar
4
+ ....... S
ganjil
= a / (1-r²)
Jumlah suku-suku pada kedudukan genap
a + ar
3
+ ar
5
+ ...... S
genap
= ar / 1 -r²
Didapat hubungan : S
genap
/ S
ganjil
= r

LATIHAN SOAL
Selesaikan soal-soal berikut ini.
1. Diketahui suatu deret 1 , 3 , 5 , 7 , …………
Jumlah n suku yang pertama adalah 225, maka suku ke-n adalah ….
2. Jumlah n suku pertama suatu deret aritmetika adalah S
n
= n
2
+ 4n. Persamaan kuadrat
yang akar-akarnya suku ke-5 dan beda deret tersebut adalah ....
3. Jika t
n
adalah suku ke-n dari suatu deret geometri, dan p>3, maka t
p-3
. t
3p+5
sama
dengan ....
4. Jumlah deret tak hingga
... cos . sin cos . sin sin
4 2
+ + + x x x x x , untuk
6
t
= x adalah ....
5. Jumlah deret tak hingga
... 16 log . ) 5 (log 16 log . ) 5 (log 16 log . 5 log 16 log
3 2
+ + + + adalah....










31




BAB II
EKSPONEN DAN LOGARITMA

A. EKSPONEN
Eksponen artinya perpangkatan, meliputi :
- pangkat pecahan
- pangkat nol
- pangkat negatif
a. Rumus-Rumus Eksponen
1. a
n
= a.a.a.a ............. (sebanyak n faktor)
2. a
m
. a
n
= a
m+n

3. a
m
: a
n
= a
m-n

4. (a
m
)
n
= a
m.n

5. a
-n
=
n
a
1

6. a
0
= 1 , a = 0
7. a
m/n
=
n m
a
b. Persamaan Eksponen
Adalah persamaan yang didalamnya terdapat pangkat yang berbentuk fungsi dalam
x (x sebagai peubah).
[Ket. : Usahakan setiap bilangan pokok ditulis sebagai bilangan berpangkat dengan
bilangan dasar 2, 3, 5, 7, dst].
BENTUK-BENTUK
1). a
f(x)
= a
g(x)
÷ f(x) = g(x)
÷ Samakan bilangan pokoknya sehingga pangkatnya dapat disamakan.
contoh :
2 SUKU ÷1 SUKU DI RUAS KANAN, 1 SUKU DI RUAS KIRI
1.
3 2
8
÷ x
8
2x-3)
= (32
x+1
)
1/4

(2
3
)
(2x-3)1/2
= (2
5
)
(x+1)1/4

2
(6x-9)/2
= 2
(5x-5)/4

(6x-9)/2 = (5x-5)/4
24x-36 = 10x+10
32
14x = 46
x = 46/14 = 23/7
2. 3
x²-3x+2
+ 3
x²-3x
= 10
3².3
x²-3x
+3
x²-3x
= 10
9.
3x²-3x
+ 3
x²-3x
= 10
10. 3
x²-3x
= 10
3
x² - 3x
= 3
0

x² - 3x = 0
x(x-3) = 0
x1 = 0 ; x2 = 3
3 SUKU ÷ GUNAKAN PEMISALAN
1. 2
2x + 2
- 2
x+2
+ 1 = 0
2
2
.2
2x
- 2
2
.2
x
+ 1 = 0
Misalkan : 2
x
= p
2
2x
= (2x)² = p²
4p² -4p + 1 = 0
(2p-1)² = 0
2p - 1 = 0
p =1/2
2
x
= 2
-1

x = -1
2. 3
x
+ 3
3-x
- 28 = 10
3x + 3
3
/3
x
- 28 = 10
misal : 3
x
= p
p + 27/p - 28 = 0
p² - 28p + 27 = 0
(p-1)(p-27) = 0
p1 = 1 ÷ 3
x
= 3
0

x1 = 0
p2 = 27 ÷ 3
x
= 3
3

x2 = 3
2). a
f(x)
= b
f(x)
÷ f(x) = 0
Bilangan pokok berbeda, pangkat sama. Pangkatnya = 0.
Contoh:
3
x²-x-2
= 7
x²-x-2

x² - x -2 = 0
(x-2)(x+1) = 0
x1 = 2 ; x2 = -1
33
3). a
f(x)
= b
f(x)
÷ f(x) log a = g(x) log b
Bilangan pokok berbeda, pangkat berbeda. Diselesaikan dengan menggunakan logaritma.
Contoh:
4
x-1
= 3
x+1

(x-1)log4 = (x+1)log3
xlog4 - log4 = x log 3 + log 3
x log 4 - x log 3 = log 3 + log 4
x (log4 - log3) = log 12
x log 4/3 = log 12
x log 4/3 = log 12
x = log 12/ log 4/3 =
4/3
log 12
4). f(x)
g(x)
= f(x)
h(x)

÷ Bilangan pokok (dalam fungsi) sama, pangkat berbeda. Tinjau beberapa
kemungkinan.
1. Pangkat sama g(x) = h(x)
2. Bilangan pokok f(x) = 1 ket: 1
g(x)
= 1
h(x)
= 1
3. Bilangan pokok f(x) = -1
Dengan syarat, setelah nilai x didapat dari f(x)=-1 , maka nilai
pangkatnya yaitu g(x) dan h(x) kedua-duanya harus genap atau kedua-duanya
harus ganjil.
ket :
g(x) dan h(x) Genap : (-1)
g(x)
= (-1)
h(x)
= 1
g(x) dan h(x) Ganjil : (-1)
g(x)
= (-1)
h(x)
= -1
4. Bilangan pokok f(x) = 0
Dengan syarat, setelah nilai x didapat dari f(x) = 0, maka nilai pangkatnya yaitu
g(x) dan h(x) kedua-duanya harus positif.
ket : g(x) dan h(x) positif ÷ 0
g(x)
= 0
h(x)
= 0
Contoh:
(x² + 5x + 5)
3x-2
= (x² + 5x + 5)
2x+3

1. Pangkat sama
3x - 2 = 2x + 3 ÷ x1 = 5
2. Bilangan pokok = 1
x² + 5x + 5 = 1
x² + 5x + 4 = 0 ÷ (x-1)(x-4) = 0 ÷ x2 = 1 ; x3 = 4
3. Bilangan pokok = -1
x² - 5x + 5 = -1
x² - 5x + 6 = 0 ÷ (x-2)(x-3) = 0 ÷ x = 1 ; x = 4
34
g(2) = 4 ; h(2) = 7 ; x=2 tak memenuhi karena (-1)4 = (-1)7
g(3) = 7 ; h(3) = 9 ; x4 = 3 memenuhi karena (-1)7 = (-1)9 = -1
4. Bilangan pokok = 0
x² - 5x + 5 = 0 ÷ x
5,6
= (5 ± 5 )/2
kedua-duanya memenuhi syarat, karena :
g(2 1/2 ± 1/2 5 ) > 0 , h(2 1/2 ± 1/2 5 ) > 0

Harga x yang memenuhi persamaan diatas adalah :
HP : { x | x = 5,1,4,3,2 1/2 ± 1/2 5 }
c. Pertidaksamaan Eksponen
Bilangan Pokok a > 0 = 1
Tanda Pertidaksamaan tetap/berubah tergantung nilai bilangan pokoknya
a > 1 0 < a < 1
a
f(x)
> a
g(x)
÷ f(x) > g(x)
a
f(x)
< a
g(x)
÷ f(x) < g(x)
(tanda tetap)
a
f(x)
> a
g(x)
÷ f(x) < g(x)
a
f(x)
< a
g(x)
÷ f(x) > g(x)
(tanda berubah)
Catatan: Untuk memudahkan mengingat, bilangan pokok 0 < a < 1 diubah saja
menjadi a = 1.
Misal : 1/8 = (1/2)
3
= 2
-3

Contoh:
1. (1/2)
2x-5
< (1/4)
(1/2x+1)

(1/2)
2x-5
< (1/2)
2(1/2x+1)

Tanda berubah (0 < a < 1)
2x - 5 > x +2
x > 7
2. 3
2x
- 4.3
x+1
+ 27 > 0
(3
x
)² - 4.3
1
.3
x
+ 27 > 0
misal : 3
x
= p
p² -12p + 27 > 0
(p - 9)(p - 3) > 0

p < 3 atau p > 9
3
x
< 3 atau 3
x
> 3²
x < 1 atau x > 2


B. LOGARITMA
35
Definisi : n b
a
= log , artinya a
n
= b
Syarat :
0
1
>
=
>
b
a
o a



a. Rumus-Rumus Logaritma
d d c b
a
b
b
a n a
b a
b
a
b a b a
b a
a c b a
m
m
a
n
b
a
log log . log . log . 6
log
log
log . 5
log . log . 4
log log ) log( . 3
log log ) . log( . 2
. 1
log
=
=
=
÷ =
+ =
=

b. Persamaan Logaritma
Adalah persamaan yang didalamnya terdapat logaritma dimana numerus ataupun bilangan
pokoknya berbentuk suatu fungsi dalam x.
Rumus-rumus:
a
log f(x) =
a
log g(x) ÷ f(x) = g(x)
a
log f(x) = b ÷ f(x) =ab
f(x)
log a = b ÷ (f(x))
b
= a
Dengan syarat x yang didapat dari persamaan tersebut harus terdefinisi.
(Bilangan pokok > 0 dan bilangan pokok = 1, dan numerus > 0 )
Contoh:
Tentukan nilai x yang memenuhi persamaan berikut !
1.
x
log 1/100 = -1/8


x
-1/8
=

10
-2
(x
-1/8
)
-8
=

(10
-2
)
-8

x

= 10
16

2.
x
log 81 -

2
x
log 27 +
x
log 9 +

1/2
x
log 729 = 6

x
log 3
4
- 2
x
log3
3
+
x
log3² + 1/2
x
log 3
6
= 6


4
x
log3

- 6
x
log3 + 2
x
log3

+ 3
x
log 3 = 6


3
x
log 3 = 6

x
log 3 = 2


x
²
= 3

÷

x =

3 (x>0)
3.
x
log (x+12) - 3
x
log4 + 1 = 0

x
log(x+12) -
x
log 4
³
= -1

x
log ((x+12)/4
³
) = -1

36

(x+12)/4
³
= 1/x


x
²
+ 12x - 64 = 0


(x + 16)(x - 4) = 0


x = -16 (TM) ; x = 4


c. Pertidaksamaan Logaritma
Bilangan pokok a > 0 dan = 1
Tanda pertidaksamaan tetap/berubah tergantung nilai bilangan pokoknya
a > 1 0 < a < 1
a
log f(x) > b ÷ f(x) > a
b

a
log f(x) < b ÷ f(x) < a
b

(tanda tetap)
a
log f(x) > b÷f(x) < a
b

a
log f(x) < b ÷ f(x) > a
b

(tanda berubah)
syarat f(x) > 0

Contoh:
Tentukan batas-batas nilai x yang memenuhi persamaan
1. ²log(x² - 2x) < 3
a = 2 (a>1) ÷ Hilangkan log ÷ Tanda tetap
a. x² - 2x < 2³
x² - 2x -8 < 0
(x-4)(x+2) < 0
-2 < x < 4
b. syarat : x² - 2x > 0
x(x-2) > 0
x < 0 atau x > 2
HP : {x - 2 < x < 0 atau 2 < x < 4}
2.
1/2
log (x² - 3) < 0
a = 1/2 (0 < a < 1) ÷ Hilangkan log ÷ Tanda berubah
a. (x² - 3) > (1/2)
0

x² - 4 > 0
(x -2)(x + 2) < 0
x < -2 atau x > 2
b. syarat : x² - 3 > 0
(x - 3 )(x + 3 ) > 0
x < 3 atau x > 3
37
HP : {x x < - 2 atau x > 2}



LATIHAN SOAL
1. Jika 9
3x+2
=
5 2
81
1
÷ x
, maka x = ....
2. Jumlah akar-akar persamaan {2(4
x
)}-5.2
x
+ 2 = 0 adalah ....
3. Jika
3
log 2 = x, hitung
1/4
log 27.
4. Himpunan penyelesaian persamaan 9
) 1 2 log(
3
÷ x
= 25 adalah ....
5. Nilai-nilai x yang memenuhi (2x)
x 2 log 1
2
+
> 64x
3
adalah ....


 Selamat Belajar 

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->