1. .

PENDAHULUAN Keluarga juga sering merasakan kekhawatiran dan ketidakpastian keadaan klien ditambah dengan kurangnya waktu petugas kesehatan (perawat dan dokter) untuk membicarakan keadaan klien. Terutama pada ruangan gawat darurat, tim kesehatan fokus pada penyelamatan klien dengan segera. Klien dan keluarga sering tidak diajak berkomunikasi, kurang diberi informasi yang dapat mengakibatkan perasaan sedih, ansietas, takut, marah, frustasi, tidak berdaya karena informasi yang tidak jelas, disertai ketidakpastian. Mereka tidak mengetahui proses yang terjadi, sewaktu-waktu mereka dipanggil untuk membeli obat atau alat. Mereka tidak berani bertanya,atau jika bertanya akan mendapatkan jawaban yang tidak memuaskan. Dengan memberikan asuhan keperawatan konsep diri yang diintegrasikan secara komprehensif pada program asuhan klien diharapkan klien dan keluarga sesegera mungkin dapat berperan serta sehingga „self-care‟ dan “family support” dapat terwujud. Keadaan klien dan keluarga ini dapat diatasi dengan cara meningkatkan kualitas asuhan pelayanan keperawatan. Salah satu aspek yang dapat dilakukan adalah asuhan keperawatan psikososial khususnya perawatan konsep diri dengan memberdayakan keluarga dan sistem pendukung klien. Konsep diri sangat erat kaitannya dengan diri individu. Kehidupan yang sehat, baik fisik maupun psikologi salah satunya didukung oleh konsep diri yang baik dan stabil. Konsep diri adalah halhal yang berkaitan dengan ide, pikiran, kepercayaan serta keyakinan yang diketahui dan dipahami oleh individu tentang dirinya. Hal ini akan mempengaruhi kemampuan individu dalam membina hubungan interpersonal. Meski konsep diri tidak langsung ada, begitu individu dilahirkan, tetapi secara bertahap seiring dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan individu, konsep diri akan terbentuk karena pengaruh lingkungannya . Selain itu, konsep diri juga akan dipelajari oleh individu melalui kontak dan pengalaman dengan orang lain termasuk berbagai stressor yang dilalui individu tersebut. Hal ini akan membentuk persepsi individu terhadap dirinya sendiri dan penilaian persepsinya terhadap pengalaman akan situasi tertentu. Gambaran penilaian tentang konsep diri dapat diketahui melalui rentang respon dari adaptif sampai dengan maladaptif. 1. II. KONSEP DIRI 1. Pengertian 1. Konsep diri berasal dari bahasa inggris yaitu self concept; merupakan suatu konsep mengenai diri individu itu sendiri yang meliputi bagaimana seseorang memandang, memikirkan dan menilai dirinya sehingga tindakan-tindakannya sesuai dengan konsep tentang dirinya tersebut. 2. Konsep diri adalah gambaran seseorang tentang diri sendiri, baik yang bersifat fisik, sosial, maupun psikologis yang diperoleh melalui pengalaman individu dalam interaksinya dengan orang lain.

3. Brooks (Rakhmat, 1991) menyatakan bahwa konsep diri adalah suatu pandangan dan perasaan seseorang tentang dirinya serta persepsi tentang dirinya, ini dapat bersifat psikis maupun sosial. 4. Cawangas (Pudjijogyanti, 1988) bahwa konsep diri merupakan seluruh pandangan individu akan dimensi fisiknya, karakteristik kepribadiannya, motivasinya, kelemahannya, kepandaiannya dan kegagalannya. 5. Dimensi Konsep diri memiliki tiga dimensi, yaitu: 1. Pengetahuan Tentang Diri Sendiri Dimensi pertama adalah apa yang kita ketahui tentang diri kita, biasanya hal ini menyangkut halhal yang bersifat dasar, seperti usia, jenis kelamin, kebangsaan, latar belakang etnis, dan profesi. Faktor ini akan menentukan seseorang dalam kelompok sosial. 1. Harapan Terhadap Diri Sendiri Ketika seseorang berfikir tentang siapakan dirinya, pada saat yang sama ia akan berfikir akan menjadi apakah dirinya di masa yang akan datang. Prinsipnya, setiap orang memiliki harapan terhadap dirinya sendiri. Harapan akan diri sendiri ini merupakan ideal diri. Ideal diri berbeda untuk setiap individu. 1. Evaluasi Diri Sendiri Setiap hari, setiap orang berkedudukan sebagai penilai dirinya sendiri. Mengukur apakah dirinya bertentangan dengan pengharapan seseorang terhadap dirinya dan standart seseorang bagi dirinya sendiri. Evaluasi terhadap diri ini disebut dengan self esteem. 1. Perkembangan Konsep diri bukan merupakan faktor yang dibawa sejak lahir, melainkan faktor yang dipelajari dan terbentuk melalui pengalaman individu dalam berhubungan dengan orang lain. Dalam berinteraksi ini, setiap individu akan menerima tanggapan. Tanggapan yang diterima tersebut akan dijadikan cermin bagi individu untuk menilai dan memandang dirinya sendiri. Konsep diri terbentuk karena suatu proses umpan balik dari individu lain. Hurlock (1993), mengatakan bahwa perkembangan konsep diri sifatnya hirarkis, yang paling dasar terbentuk adalah konsep diri primer. Konsep diri primer ini didasarkan pengalaman seseorang di rumah dan dibentuk dari berbagai konsep terpisah, yang masing-masing merupakan hasil dari pengalamannya dengan anggota keluarga yang lain. Sedangkan konsep diri sekunder, diperoleh dari pergaulan di luar rumah. Hal ini berhubungan bagaimana seseorang memandang dirinya melalui kaca mata orang lain.

Seseorang dengan konsep diri positif dapat mengeksplorasikan dunianya secara terbuka dan jujur karena latar belakang penerimaannya sukses, konsep diri yang positif berasal dari pengalaman yang positif yang mengarah pada kemampuan pemahaman. 1. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Rainy (dalam Burn, 1979) menyatakan bahwa konsep diri merupakan individu yang dikenal pada individu tersebut sebagai konfigurasi yang unik. Konsep diri yang dikenal merupakan hal-hal yang dipersepsikan oleh individu tersebut, konsep-konsep dan evaluasi mengenai diri sendiri juga termasuk gambaran-gambaran dari orang lain terhadap dirinya yang dirasakan dan digambarkan sebagai pribadi yang diinginkan, yang dipelihara dari suatu pengalaman lingkungan yang dievaluasinya secara pribadi. Argyle (Handry dan Heyes, 1989) berpendapat bahwa terbentuknya konsep diri dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain : 1. Reaksi dari orang lain. Caranya dengan mengamati pencerminan perilaku seseorang terhadap respon orang lain, dapat dipengaruhi dari diri orang itu sendiri. 2. Perbandingan dengan orang lain. Konsep diri seseorang sangat tergantung pada cara orang tersebut membandingkan dirinya dengan orang lain. 3. Peranan seseorang. Setiap orang pasti memiliki citra dirinya masing-masing, sebab dari situlah orang tersebut memainkan peranannya. 4. Indentifikasi terhadap orang lain. Pada dasarnya seseorang selalu ingin memiliki beberapa sifat dari orang lain yang dikaguminya. Mead (Pudjigjoyanti, 1988), menyebutkan bahwa konsep diri merupakan produk sosial, yang dibentuk melalui proses internalisasi dan organisasi pengalaman-pengalaman psikologis. Pengalaman-pengalaman psikologis ini merupakan hasil eksplorasi individu terhadap lingkungan fisik dan refleksi dari dirinya yang diterima dari orang-orang penting di sekitarnya. Oleh karena itu, banyak faktor yang mempengaruhi konsep diri seseorang. Menurut Stuart dan Sudeen ada beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan konsep diri. Faktor-foktor tersebut terdiri dari: 1. Teori Perkembangan. Konsep diri belum ada waktu lahir, kemudian berkembang secara bertahap sejak lahir seperti mulai mengenal dan membedakan dirinya dan orang lain. Dalam melakukan kegiatannya memiliki batasan diri yang terpisah dari lingkungan dan berkembang melalui kegiatan eksplorasi lingkungan melalui bahasa, pengalaman atau pengenalan tubuh, nama panggilan, pangalaman budaya dan hubungan interpersonal, kemampuan pada area tertentu yang dinilai oleh diri sendiri atau masyarakat serta aktualisasi diri dengan merealisasi potensi yang nyata. 1. Significant Other ( orang yang terpenting atau yang terdekat )

anak sangat dipengaruhi orang yang dekat. apa kekuatan dan kelemahannya atau apa yang dihargai dalam hidupnya. Dari hasil penelitian Dobson dan Shaw (Coulhoun. pandangan seseorang tentang dirinya benar-benar tidak teratur. individu tersebut menciptakan citra diri yang tidak mengizinkan adanya penyimpangan dari aturan-aturan yang menurutnya merupakan cara hidup yang tepat. karena menghadapi informasi tentang dirinya yang tidak dapat diterimanya dengan baik dan mengancam konsep dirinya. belajar diri sendiri melalui cermin orang lain yaitu dengan cara pandangan diri merupakan interprestasi diri pandangan orang lain terhadap diri. dan hal ini terjadi pada masa transisi dari peran anak ke peran orang dewasa. dengan kata lain kaku. Ia benar-benar tidak tahu siapa dirinya. Konsep diri mereka kerap kali tidak teratur untuk sementara waktu. Kenyataan tidak ada individu yang sepenuhnya memiliki konsep diri positif atau negatif. Sedangkan konsep diri yang negatif dapat dilihat dari hubungan individu dan sosial yang terganggu. Tipe kedua dari konsep diri negatif. 1991). pertama. pengaruh orang dekat atau orang penting sepanjang siklus hidup. pada orang dewasa hal ini menunjukkan ketidakmampuan menyesuaikan. maka sedapat mungkin individu bersangkutan harus mempunyai konsep diri yang positif / baik (Rakhmat. . Sehingga konsep merupakan aspek yang kritikal dan dasar dari prilaku individu. Ada dua jenis konsep diri negatif. Kondisi ini umumnya dialami oleh remaja. Tetapi. baik itu konsep diri yang positif maupun yang negatif. Tetapi karena konsep diri memegang peranan penting dalam menentukan dan mengarahkan seluruh perilaku individu. hanya derajat atau kadarnya yang berbeda-beda. Mungkin karena didikan orang tua. Individu dengan konsep diri yang positif dapat berfungsi lebih efektif yang dapat berfungsi lebih efektif yang dapat dilihat dari kemampuan interpersonal. remaja dipengaruhi oleh orang lain yang dekat dengan dirinya. 1. 1. 1.Dimana konsep diri dipelajari melalui kontak dan pengalaman dengan orang lain. Konsep diri dapat dibentuk melalui pandangan diri dan pengalaman yang positif. hampir merupakan kebalikan dari yang pertama. pengaruh budaya dan sosialisasi. Konsep Diri Negatif Orang yang memiliki konsep diri negatif sangat sedikit mengetahui tentang dirinya. Ia tidak memiliki kestabilan dan keutuhan diri. Di sini konsep diri terlalu stabil dan terlalu teratur. serta persepsi individu terhadap pengalamannya akan situasi tertentu. Self Perception ( persepsi diri sendiri ) Yaitu persepsi individu terhadap diri sendiri dan penilaiannya. 1990). kemampuan intelektual dan penguasaan lingkungan. bahwa konsep diri yang negatif sering kali berhubungan dengan depresi klinis atau seseorang akan merasa cemas terus-menerus. Konsep Diri Positif dan Negatif Setiap individu memiliki konsep diri.

Mampu memperbaiki diri. keinginan. Individu dengan konsep diri positif dapat menerima dan memahami kenyataan yang bermacammacam tentang dirinya. meskipun mungkin ia pura-pura menghindarinya. Berlawanan dengan ciri-ciri orang yang memiliki konsep diri negatif. 2. Hal ini disebabkan orang yang memiliki konsep diri positif mengenal dirinya dengan baik. yaitu: 1. dan perilaku yang tidak seluruhnya disetujui oleh masyarakat.Brook dan Emmert (1985). Konsep diri ini meliputi informasi positif maupun negatif tentang dirinya. Peka terhadap kritik. Konsep diri yang positif bersifat stabil dan bervariasi. Menerima pujian dengan tanpa merasa malu. Pesimis terhadap kompetisi. . 4. Merasa tidak disenangi oleh orang lain. sehingga sulit menciptakan kehangatan dan keakraban dengan orang lain. Merasa setara dengan orang lain. Konsep Diri Dalam Perilaku Sebagai inti kepribadian. Apabila timbul perasaan atau persepsi yang tidak seimbang atau saling bertentangan. Menyadari bahwa setiap orang memiliki berbagai perasaan. Hal ini disebabkan karena konsep diri merupakan internal frame of reference. yaitu kerangka acuan bagi tingkah laku individu. konsep diri akan menentukan keberhasilan seseorang dalam menghadapi permasalahan yang timbul dalam kehidupannya. 1. 3. maka ciri-ciri orang dengan konsep diri positif. Yakin akan kemampuannya untuk mengatasi suatu masalah. 5. 4. maka terjadi situasi psikologis yang tidak menyenangkan. 2. antara lain: 1. karena ia sanggup mengungkapkan aspek-aspek kepribadian yang tidak disenanginya dan berusaha untuk mengubahnya. 1. Responsif terhadap pujian. Konsep Diri Positif Dasar dari konsep diri yang positif adalah penerimaan diri. menyebutkan ciri-ciri orang yang memiliki konsep diri negatif. Konsep diri mempunyai peranan penting dalam mempertahankan keselarasan batin (inner consistency) Hal ini disebabkan bahwa pada prinsipnnya setiap individu selalu berusaha mempertahankan keselarasan bathinnya. Ada tiga alasan yang dapat menjelaskan peranan konsep diri dalam menentukan perilaku seseorang. 5. 3. sehingga ia akan mengubah perilakunya. Hiperkritis terhadap orang lain. yaitu: 1.

Seseorang memiliki konsep diri dipengaruhi oleh pengalaman. G.1. dkk. sebaliknya konsep diri juga akan mempengaruhi cara seseorang menggunakan pengalamannya. Orang dengan konsep diri positif. Pengalaman pada masa kanak-kanak memiliki peranan besar dalam menentukan keberhasilan individu tersebut untuk mengaktualisasikan diri. Mereka menganggap dirinya berharga dan cenderung menerima diri sendiri sebagaimana adanya. Rogers (Coulhoun. Johnson dan Medinnus (1974) mengatakan bahwa konsep diri yang positif. mengatakan bahwa konsep diri merupakan seperangkat harapan serta penilaian perilaku yang menunjukkan kepada harapan-harapan tersebut. yang nampak dalam bentuk penghargaan terhadap diri sendiri dan penerimaan diri adalah merupakan dasar perkembangan kepribadian yang sehat. Orang yang memiliki konsep diri positif berarti memiliki penerimaan diri dan harga diri yang positif. Komponen Konsep Diri . Mc. Sedangkan orang-orang yang memiliki konsep diri negatif cenderung mengembangkan gangguan dalam penyesuaian diri. 1979) menunjukkan bahwa ada interaksi antara pengalaman dengan konsep diri. Mereka memiliki perasaan kurang berharga. Konsep Diri Dalam Aktualisasi Diri Rogers (Hall and Lindzzey. yang menyebabkan perasaan benci atau penolakan terhadap diri sendiri. Seluruh sikap dan pandangan individu terhadap dirinya sangat mempengaruhi individu dalam menafsirkan pengalamannya. Selanjutnya dikatakan bahwa seseorang dengan konsep diri positif akan lebih banyak memiliki pengalaman yang menyenangkan daripada mereka yang memiliki konsep diri negatif. 1990) mengatakan bahwa kunci dari aktualisasi diri adalah konsep diri. Hal ini disebabkan adanya ketidakharmonisan (incongruence) antara konsep diri dengan kenyataan yang mengitari mereka atau dengan kata lain mereka tidak dapat mengembangkan kepribadian yang sehat. cenderung memandang pengalaman negatif dapat membantu ke arah perkembangan yang positif. namun sangat mudah dipengaruhi oleh lingkungan. 1. khususnya oleh lingkungan sosial. 1. Sebaliknya. Hasil penelitian Lynch (partosuwidu. menunjukkan penerimaan diri yang negatif pula. maka hanya orang-orang yang memiliki konsep diri positif saja yang akan dapat mengaktualisasikan diri sepenuhnya. Sebuah kejadian dapat ditafsirkan secara berbeda-beda oleh beberapa individu. Konsep diri menentukan pengharapan individu. karena masingmasing mempunyai sikap dan pandangan yang berbeda terhadap diri sendiri. Oleh karena itu sebagaimana telah dikemukakan di atas bahwa kepribadian yang sehat merupakan syarat dalam mencapai aktualisasi diri. 1988). 1993) mengatakan bahwa meskipun diri mempunyai tendensi inheren untuk mengaktualisasikan diri. orang yang memiliki konsep diri negatif. Oleh karena itu mereka tidak dapat mengaktualisasikan semua segi dari dirinya. Candless (Pudjigjogyanti. 1.

buta. 1991). bentuk. Gambaran diri berhubungan dengan kepribadian. Demikian pula tindakan koreksi seperti operasi plastik. Tergantung pada mesin. Sikap ini mencakup persepsi dan perasaan tentang ukuran. yang terdiri dari : 1. kemudian mulai memanipulasi lingkungan dan mulai sadar dirinya terpisah dari lingkungan (Keliat . Seperti : klien intensif care yang memandang imobilisasi sebagai tantangan. Waham yang berkaitan dengan bentuk dan fungsi tubuh Seperti sering terjadi pada klie gangguan jiwa. klien mempersiapkan penampilan dan pergerakan tubuh sangat berbeda dengan kenyataan.1992). fungsi penampilan dan potensi tubuh saat ini dan masa lalu yang secara berkesinambungan dimodifikasi dengan pengalaman baru setiap individu (Stuart and Sundeen . sering berkaitan dengan fungsi saraf. Individu yang stabil. Kegagalan fungsi tubuh Seperti hemiplegi. Pandangan yang realistis terhadap dirinya menerima dan mengukur bagian tubuhnya akan lebih rasa aman. Banyak Faktor dapat yang mempengaruhi gambaran diri seseorang. Pembagian Konsep diri tersebut di kemukakan oleh Stuart and Sundeen ( 1991 ).Konsep diri terbagi menjadi beberapa bagian. tuli dapat mengakibatkan depersonlisasi yaitu tadak mengkui atau asing dengan bagian tubuh. Sejak lahir individu mengeksplorasi bagian tubuhnya. Perubahan Tubuh . 1992). Stresor-stresor tersebut dapat berupa : Operasi Seperti: mastektomi. realistis dan konsisten terhadap gambaran dirinya akan memperlihatkan kemampuan yang mantap terhadap realisasi yang akan memacu sukses dalam kehidupan. menerima stimulus dari orang lain. Gambaran diri ( Body Image ) Gambaran diri adalah sikap seseorang terhadap tubuhnya secara sadar dan tidak sadar. sehingga terhindar dari rasa cemas dan meningkatkan harga diri (Keliat. seperti. akibatnya sukar mendapatkan informasi umpan balik dengan penggunaan lntensif care dipandang sebagai gangguan. amputasi. munculnya Stresor yang dapat mengganggu integrasi gambaran diri. luka operasi yang semuanya mengubah gambaran diri. Cara individu memandang dirinya mempunyai dampak yang penting pada aspek psikologinya. protesa dan lain-lain.

Umpan balik interpersonal yang negatif Umpan balik ini adanya tanggapan yang tidak baik berupa celaan. 2. Tidak dapat menerima perubahan struktur dan fungsi tubuh. 3. Informasi yang terlalu banyak dan kenyataan perubahan tubuh membuat klien menggunakan mekanisme pertahanan diri seperti mengingkari.Hal ini berkaitan dengan tumbuh kembang dimana seseorang akan merasakan perubahan pada dirinya seiring dengan bertambahnya usia. Ketidakpuasan juga dirasakan seseorang jika didapati perubahan tubuh yang tidak ideal. Perasaan atau pandangan negatif terhadap tubuh. tetapi karena tidak mungkin maka klien lari atau menghindar secara emosional. seperti adanya perasaan minder. Tidak jarang seseorang menanggapinya dengan respon negatif dan positif. 5. 1. menolak dan proyeksi untuk mempertahankan keseimbangan diri. . 1. makian sehingga dapat membuat seseorang menarik diri. tidak ada motivasi dan keinginan untuk berperan dalam perawatannya. Syok Psikologis Syok Psikologis merupakan reaksi emosional terhadap dampak perubahan dan dapat terjadi pada saat pertama tindakan. jika tampak gejala dan tanda-tanda berikut secara menetap maka respon klien dianggap mal-adaptif. 4. Standard Sosial Budaya Hal ini berkaitan dengan kultur sosial budaya yang berbeda-setiap pada setiap orang dan keterbatasannya serta keterbelakangan dari budaya tersebut menyebabkan pengaruh pada gambaran diri individu. Klien menjadi pasif. Pre-okupasi dengan bagian tubuh atau fungsi tubuh yang hilang. Menolak untuk melihat dan menyentuh bagian yang berubah. tergantung. Syok psikologis digunakan sebagai reaksi terhadap ansietas. Menarik diri Klien menjadi sadar akan kenyataan. ingin lari dari kenyataan . Penerimaan atau pengakuan secara bertahap Setelah klien sadar akan kenyataan maka respon kehilangan atau berduka muncul. sehingga terjadi gangguan gambaran diri yaitu : 1. Tanda dan gejala dari gangguan gambaran diri di atas adalah proses yang adaptif. Beberapa gangguan pada gambaran diri tersebut dapat menunjukan tanda dan gejala. Setelah fase ini klien mulai melakukan reintegrasi dengan gambaran diri yang baru. seperti : 1. Mengurangi kontak sosial sehingga terjadi menarik diri.

Harga diri tinggi terkait dengam ansietas yang rendah. Standart dapat berhubungan dengan tipe orang yang akan diinginkan atau sejumlah aspirasi. Menolak penjelasan tentang perubahan tubuh. 5. Frekuensi pencapaian tujuan akan menghasilkan harga diri yang rendah atau harga diri yang tinggi. tetapi masih lebih tinggi dari kemampuan agar tetap menjadi pendorong dan masih dapat dicapai (Keliat. 1. 2. keinginan untuk mengklaim diri dari kegagalan. 3. 7. Faktor budaya akan mempengaruhi individu menetapkan ideal diri. kebutuhan yang realistis. Keinginan untuk menghindari kegagalan . guru dan teman. Menurut Ana Keliat (1998). nilai-nilai yang ingin dicapai. Ideal Diri Ideal diri adalah persepsi individu tentang bagaimana ia harus berperilaku berdasarkan standart. Harga diri diperoleh dari diri sendiri dan orang lain. tujuan atau penilaian personal tertentu (Stuart and Sundeen . 1991). Mengungkapkan ketakutan ditolak. Aspek utama adalah di cintai dan menerima penghargaan dari orang lain (Keliat. 1.nilai yang ingin di capai. Ideal diri akan mewujudkan cita-cita dan harapan pribadi berdasarkan norma sosial (keluarga budaya) dan kepada siapa ingin dilakukan. 4. 9. Biasanya harga diri sangat rentan terganggu pada saat remaja dan usia lanjut. nilai. maka cenderung harga diri rendah. Agar individu mampu berfungsi dan mendemonstrasikan kecocokan antara persepsi diri dan ideal diri. Mengungkapkan keputusasaan. citacita. Ambisi dan keinginan untuk melebihi dan berhasil. Ideal diri akan mewujudkan cita-cita. Perasaan cemas dan rendah diri.6. aspirasi. Depersonalisasi. ada beberapa faktor yang mempengaruhi ideal diri yaitu : 1. Harga Diri Harga diri adalah penilaian pribadi terhadap hasil yang dicapai dengan menganalisa seberapa jauh prilaku memenuhi ideal diri (Stuart and Sundeen. Jika individu sering gagal . Dari hasil riset ditemukan bahwa masalah kesehatan fisik mengakibatkan harga diri rendah. efektif dalam kelompok dan diterima oleh orang lain. Kecenderungan individu menetapkan ideal pada batas kemampuannya. perasan cemas dan rendah diri. 6.1991). Ideal diri mulai berkembang pada masa kanak-kanak yang di pengaruhi orang yang penting pada dirinya yang memberikan keuntungan dan harapan pada masa remaja ideal diri akan di bentuk melalui proses identifikasi pada orang tua. Ideal diri ini hendaknya ditetapkan tidak terlalu tinggi. Kebutuhan yang realistis. . 1992). 1992 ). 8.

Individu yang selalu dituntut untuk berhasil akan merasa tidak punya hak untuk gagal dan berbuat kesalahan. Orang tua memberi umpan balik yang negatif dan berulang-ulang akan merusak harga diri anak. Pada saat anak berkembang lebih besar. peperangan. 1. Sikap orang tua yang terlalu mengatur dan mengontrol. seperti penolakan orang tua menyebabkan anak merasa tidak dicintai dan mengkibatkan anak gagal mencintai dirinya dan akan gagal untuk mencintai orang lain. Gangguan Fisik dan Mental Gangguan ini dapat membuat individu dan keluarga merasa rendah diri. emosi.Sedangkan harga diri rendah terkait dengan hubungan interpersonal yang buruk dan resiko terjadi depresi dan skizofrenia. 1. Gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai perasaan negatif terhadap diri sendiri termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri. Harga diri anak akan terganggu jika kemampuan menyelesaikan masalah tidak adekuat. Faktor predisposisi dapat dimulai sejak masih bayi. Dan dapat diekspresikan secara langsung atau tidak langsung (nyata atau tidak nyata). Perkembangan Individu. Yang pada kenyataan tidak dapat dicapai membuat individu menghukum diri sendiri dan akhirnya percaya diri akan hilang. 1. Harga diri rendah dapat terjadi secara situasional (trauma) atau kronis (negatif self evaluasi yang telah berlangsung lama). bencana alam. Orang tua yang mempunyai harga diri yang rendah tidak mampu membangun harga diri anak dengan baik. Individu merasa tidak mampu mengontrol lingkungan. 1. Ideal Diri Tidak Realistis. anak mengalami kurangnya pengakuan dan pujian dari orang tua dan orang yang dekat atau penting baginya. Emosi dan Seksual. Akhirnya anak memandang negatif terhadap pengalaman dan kemampuan di lingkungannya. memutuskan sendiri akan bertanggung jawab terhadap prilakunya. seperti cita –cita yang terlalu tinggi dan tidak realistis. Pengalaman Traumatik yang Berulang. Sistim Keluarga yang Tidak Berfungsi. seperti : 1. membuat anak merasa tidak berguna. Menurut beberapa ahli dikemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi gangguan harga diri. kecelakan atau perampokan. Ia merasa tidak adekuat karena selalu tidak dipercaya untuk mandiri. Penganiayaan yang dialami dapat berupa penganiayaan fisik. Respon atau . misalnya Akibat Aniaya Fisik. Ia membuat standart yang tidak dapatdicapai.

Stress peran terdiri dari konflik peran yang tidak jelas dan peran yang tidak sesuai atau peran yang terlalu banyak. 1998 adalah : 1. Posisi dibutuhkan oleh individu sebagai aktualisasi diri. seperti : 1. 1. 1992 ). sedangkan peran yang diterima adalah peran yang terpilih atau dipilih oleh individu. Akibatnya koping yang biasa berkembang adalah depresi dan denial pada trauma. Peran Peran adalah sikap dan perilaku nilai serta tujuan yang diharapkan dari seseorang berdasarkan posisinya di masyarakat ( Keliat. Peran yang ditetapkan adalah peran dimana seseorang tidak punya pilihan. Hal ini. Harga diri yang tinggi merupakan hasil dari peran yang memenuhi kebutuhan dan cocok dengan ideal diri. Kejelasan budaya dan harapannya terhadap prilaku perannya. biasanya disebut dengan transisi peran. Pemisahan situasi yang akan menciptakan ketidak sesuain perilaku peran. baik yang sifatnya menetap atau sementara yang sifatnya dapat karena situasional. respon yang biasa efektif terganggu. 3. 4. 2.mengubah arti trauma. 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam menyesuaikan diri dengan peran yang harus di lakukan menurut Stuart and Sundeen. Menurut Stuart and Sunden Penyesuaian individu terhadap perannya di pengaruhi oleh beberapa faktor. Transisi Perkembangan . Kejelasan prilaku dengan penghargaan yang sesuai dengan peran. tuntutan serta posisi yang tidak mungkin dilaksanakan ( Keliat. Kejelasan prilaku yang sesuai dengan perannya serta pengetahuan yang spesifik tentang peran yang diharapkan. 3. 4. Transisi peran tersebut dapat di kategorikan menjadi beberapa bagian. Keselarasan budaya dan harapan individu terhadap perilaku peran.strategi untuk menghadapi trauma umumnya mengingkari trauma. 1992 ). Pemisahan situasi yang dapat menciptakan ketidak selarasan Sepanjang kehidupan individu sering menghadapi perubahan-perubahan peran. Kesesuain dan keseimbangan antara peran yang di emban. Konsisten respon orang yang berarti terhadap peran yang dilakukan . 5. Posisi di masyarakat dapat merupakan stresor terhadap peran karena struktur sosial yang menimbulkan kesukaran. yaitu : 1. Konsistensi respon orang yang berarti atau dekat dengan peranannya.

kehilangan hubungan yang penting 1. seperti : 1. 3. Transisi Sehat Sakit Stresor pada tubuh dapat menyebabkan gangguan gambaran diri dan berakibat diri dan berakibat perubahan konsep diri. 1. 2. 8. penyebab atau faktor-faktor ganguan peran tersebut dapat di akibatkan oleh : 1. 9. sosiologi atau fisiologi. bertambah atau berkurang orang yang berarti melalui kelahiran atau kematian. 1. misalnya status sendiri menjadi berdua atau menjadi orang tua. 6. Masalah konsep diri dapat di cetuskan oleh faktor psikologis.Setiap perkembangan dapat menimbulkan ancaman pada identitas. 6. 5. Transisi Situasi Transisi situasi terjadi sepanjang daur kehidupan. 2. 3. 4. Mengungkapkan ketidakpuasan perannya atau kemampuan menampilkan peran Mengingkari atau menghindari peran Kegagalan transisi peran Ketegangan peran Kemunduran pola tanggungjawab yang biasa dalam peran Proses berkabung yang tidak berfungsi . Setiap perkembangan harus dilalui individu dengan menjelaskan tugas perkembangan yang berbeda-beda. namun yang penting adalah persepsi klien terhadap ancaman. 7. Konflik peran interpersonal Individu dan lingkungan tidak mempunyai harapan peran yang selaras. Perubahan status menyebabkan perubahan peran yang dapat menimbulkan ketegangan peran yaitu konflik peran. 5. peran tidak jelas atau peran berlebihan. Perubahan tubuh dapat mempengaruhi semua kompoen konsep diri yaitu gambaran diri. Contoh peran yang tidak adekuat. Keragu-raguan peran Perubahan kemampuan fisik untuk menampilkan peran sehubungan dengan proses menua Kurangnya kejelasan peran atau pengertian tentang peran Ketergantungan obat Kurangnya keterampilan sosial Perbedaan budaya Harga diri rendah Konflik antar peran yang sekaligus diperankan Gangguan-gangguan peran yang terjadi tersebut dapat ditandai dengan tanda dan gejala. Selain itu dapat saja terjadi berbagai gangguan peran. identitas diri peran dan harga diri. Hal ini dapat merupakan stresor bagi konsep diri. Perubahan peran seksual. 4.

individu menghadapi pengalaman yang mengganggu ekuilibirium kognitif dan afektifnya. Individu mengaku dan menghargai diri sendiri sesuai dengan penghargaan lingkungan sosialnya 5. 1991). Individu mempunyai tujuan yang dapat dicapai dan di realisasikan (Meler dikutip Stuart and Sudeen. Mempunyai persepsi tentang gambaran diri. Individu sadar akan hubungan masa lalu. Kejenuhan pekerjaan 1. III. MEKANISME KOPING Dalam kehidupan sehari-hari. Individu dapat mengalami perubahan hubungan dengan orang lain dalam harapannya terhadap diri sendiri cara negatif. Identitas Identitas adalah kesadaran akan diri sendiri yang bersumber dari observasi dan penilaian yang merupakan sintesa dari semua aspek konsep diri sendiri sebagai satu kesatuan yang utuh (Stuart and Sudeen. Seseorang yang mandiri dapat mengatur dan menerima dirinya. Individu mengakui atau menyadari jenis seksualnya 3. Kemandirian timbul dari perasaan berharga (aspek diri sendiri). saat ini dan masa yang akan datang 6. seperti : 1. Munculnya ketegangan dalam kehidupan mengakibatkan perilaku pemecahan masalah (mekanisme koping) yang bertujuan meredakan ketegangan tersebut. Hal yang penting dalam identitas adalah jenis kelamin (Keliat. Identitas jenis kelamin berkembang sejak lahir secara bertahap dimulai dengan konsep laki-laki dan wanita banyak dipengaruhi oleh pandangan dan perlakuan masyarakat terhadap masingmasing jenis kelamin tersebut. kemampuan dan penyesuaian diri. Memandang dirinya secara unik 2. Perasaan dan prilaku yang kuat akan indentitas diri individu dapat ditandai dengan: 1. peran. nilai dan prilaku secara harmonis 4. Merasakan dirinya berbeda dengan orang lain 3. Individu mengakui dan menghargai berbagai aspek tentang dirinya.7. Identitas diri terus berkembang sejak masa kanak-kanak bersamaan dengan perkembangan konsep diri. . 1991) 1. Seseorang yang mempunyai perasaan identitas diri yang kuat akan yang memandang dirinya berbeda dengan orang lain. percaya diri. menerima dirib dan dapat mengontrol diri. peran dan konsep diri Karakteristik identitas diri dapat dimunculkan dari prilaku dan perasaan seseorang.1992). Merasakan otonomi: menghargai diri. mampu diri. 4. Individu mengenal dirinya sebagai makhluk yang terpisah dan berbeda dengan orang lain 2.

atau minimalisasikan suatu situasi atau kejadian yang penuh tekanan. sehingga yang berperan bukan hanya bagaimana lingkungan membentuk stressor tetapi juga kondisi temperamen individu. kognitif. to recover reversibly. 1999). yang dimulai sejak awal timbulnya stressor dan saat mulai disadari dampak stressor tersebut. Coping adalah mekanisme untuk mengatasi perubahan yang dihadapi atau beban yang diterima. Mekanisme coping terbentuk melalui proses belajar dan mengingat. serta respon terhadap situasi yang mengancam (Keliat. memulihkan fungsi yang rusak. Mekanisme koping menunjuk pada baik mental maupun perilaku. Coping strategy merupakan coping yang dilakukan secara sadar dan terarah dalam mengatasi rasa sakit atau menghadapi stressor. Coping style adalah mekanisme adaptasi individu yang meliputi aspek psikologis. stressor tidak lagi menimbulkan tekanan secara psikis. (Secara bebas bisa diterjemahkan: semua aktivitas kognitif dan motorik yang dilakukan oleh seseorang yang sakit untuk mempertahankan integritas tubuh dan psikisnya. Jadi. mengurangi. serta kognisi terhadap stressor tersebut. Mekanisme koping adalah cara yang dilakukan individu dalam menyelesaikan masalah. ketika terdapat stressor yang lebih berat (dan bukan yang biasa diadaptasi). penyakit. mentoleransi. Proses menjaga keseimbangan dalam tubuh manusia terjadi secara dinamis dimana manusia berusaha menghadapi segala tantangan dari luar sehingga keadaan seimbang dapat tercapai. Apabila coping dilakukan secara efektif. melainkan berubah menjadi stimulan yang memacu prestasi serta kondisi fisik dan mental yang baik.Equilibrium merupakan proses keseimbangan yang terjadi akibat adanya proses adaptasi manusia terhadap kondisi yang akan menyebabkan sakit. . untuk menguasai. atau rasa sakit. koping adalah perubahan kognitif dan perilaku secara konstan dalam upaya untuk mengatasi tuntutan internal dan atau eksternal khusus yang melelahkan atau melebihi sumber individu. seseorang akan dapat beradaptasi terhadap perubahan atau beban tersebut. yang sekaligus memicu perubahan neurohormonal. dan membatasi adanya kerusakan yang tidak bisa dipulihkan). Efektivitas coping memiliki kedudukan sangat penting dalam ketahanan tubuh dan daya penolakan tubuh terhadap gangguan maupun serangan penyakit (fisik maupun psikis). Lipowski membagi coping menjadi: coping style dan coping strategy. menyesuaikan diri dengan perubahan. persepsi. dan persepsi. Sedangkan menurut Lazarus (1985). Seorang ahli medis bernama ZJ Lipowski dalam penelitiannya memberikan definisi mekanisme coping: all cognitive and motor activities which a sick person employs to preserve his bodily and psychic integrity. individu secara otomatis melakukan mekanisme coping. Apabila mekanisme coping ini berhasil. Kondisi neurohormonal yang terbentuk akhirnya menyebabkan individu mengembangkan dua hal baru: perubahan perilaku dan perubahan jaringan organ. Kemampuan belajar ini tergantung pada kondisi eksternal dan internal. impaired function and compensate to limit for any irreversible impairment.

Contoh: seseorang cenderung menggunakan problem-solving focused coping dalam menghadapai masalah-masalah yang menurutnya bisa dikontrol seperti masalah yang berhubungan dengan sekolah atau pekerjaan. Faktor yang menentukan strategi mana yang paling banyak atau sering digunakan sangat tergantung pada kepribadian seseorang dan sejauhmana tingkat stres dari suatu kondisi atau masalah yang dialaminya. yaitu active & avoidant coping strategi (Lazarus mengkategorikan menjadi Direct Action & Palliative). dalam literatur tentang coping juga dikenal dua strategi coping.Mekanisme koping merupakan suatu proses di mana individu berusaha untuk menanggani dan menguasai situasi stres yang menekan akibat dari masalah yang sedang dihadapinya dengan cara melakukan perubahan kognitif maupun perilaku guna memperoleh rasa aman dalam dirinya. Hasil penelitian membuktikan bahwa individu menggunakan kedua cara tersebut untuk mengatasi berbagai masalah yang menekan dalam berbagai ruang lingkup kehidupan sehari-hari (Lazarus & Folkman. karena selama dalam usaha mengatasi stres individu dituntut untuk mengerahkan tenaga yang cukup besar 1. Active coping merupakan strategi yang dirancang untuk mengubah cara pandang individu terhadap sumber stres. dimana individu secara aktif mencari penyelesaian dari masalah untuk menghilangkan kondisi atau situasi yang menimbulkan stres. sementara avoidant coping merupakan strategi yang dilakukan individu untuk menjauhkan diri dari sumber stres dengan cara melakukan suatu aktivitas atau menarik diri dari suatu kegiatan atau situasi yang berpotensi menimbulkan stres. Keyakinan atau pandangan positif . 1. dimana individu melibatkan usaha-usaha untuk mengatur emosinya dalam rangka menyesuaikan diri dengan dampak yang akan diitmbulkan oleh suatu kondisi atau situasi yang penuh tekanan. Permasalahan akan semakin menjadi lebih rumit jika mekanisme pertahanan diri tersebut justru menuntut kebutuhan energi dan menambah kepekaan terhadap ancaman. keterampilan sosial dan dukungan sosial dan materi. 1984). Hampir senada dengan penggolongan jenis coping seperti dikemukakan di atas. sebaliknya ia akan cenderung menggunakan strategi emotion-focused coping ketika dihadapkan pada masalahmasalah yang menurutnya sulit dikontrol seperti masalah-masalah yang berhubungan dengan penyakit yang tergolong berat seperti kanker atau Aids. yaitu: problem-solving focused coping. keterampilan memecahkan masalah. dan emotion-focused coping. Apa yang dilakukan individu pada avoidant coping strategi sebenarnya merupakan suatu bentuk mekanisme pertahanan diri yang sebenarnya dapat menimbulkan dampak negatif bagi individu karena cepat atau lambat permasalahan yang ada haruslah diselesaikan oleh yang bersangkutan. Kesehatan Fisik Kesehatan merupakan hal yang penting. Para ahli menggolongkan dua strategi coping yang biasanya digunakan oleh individu. Faktor yang Mempengaruhi Strategi Coping Cara individu menangani situasi yang mengandung tekanan ditentukan oleh sumber daya individu yang meliputi kesehatan fisik/energi.

teman. mengidentifikasi masalah dengan tujuan untuk menghasilkan alternatif tindakan. Mencoba mencari informasi yang lebih banyak tentang masalah yang sedang dihadapi. anggota keluarga lain. dan pada akhirnya melaksanakan rencana dengan melakukan suatu tindakan yang tepat. Melakukan latihan fisik untuk mengurangi ketegangan. 1. seperti keyakinan akan nasib (external locus of control) yang mengerahkan individu pada penilaian ketidakberdayaan (helplessness) yang akan menurunkan kemampuan strategi coping tipe : problem-solving focused coping 1. 2. dan lingkungan masyarakat sekitarnya 1. Metode koping jangka panjang. Keterampilan memecahkan masalah Keterampilan ini meliputi kemampuan untuk mencari informasi. cara ini adalah konstruktif dan merupakan cara yang efektif dan realistis dalam menangani masalah psikologis dalam kurun waktu yang lama. Keterampilan sosial Keterampilan ini meliputi kemampuan untuk berkomunikasi dan bertingkah laku dengan caracara yang sesuai dengan nilai-nilai sosial yang berlaku dimasyarakat. Membuat berbagai alternative tindakan untuk mengurangi situasi. 6. Berbicara dengan orang lain. dua metode tersebut antara lain: 1. contonhya: 1. menganalisa situasi. saudara.Keyakinan menjadi sumber daya psikologis yang sangat penting. Dukungan sosial Dukungan ini meliputi dukungan pemenuhan kebutuhan informasi dan emosional pada diri individu yang diberikan oleh orang tua. Materi Dukungan ini meliputi sumber daya daya berupa uang. kemudian mempertimbangkan alternatif tersebut sehubungan dengan hasil yang ingin dicapai. barang barang atau layanan yang biasanya dapat dibel Metode Koping Ada dua metode koping yang digunakan oleh individu dalam mengatasi masalah psikologis seperti yang dikemukakan oleh Bell (1977). 4. Menghubungkan situasi atau masalah yang sedang dihadapi dengan kekuatan supranatural. . 1. 5. Mengambil pelajaran atau pengalaman masa lalu. 3.

1985. Menangis 8. salah satunya adalah aspek psikososial (Lazarus dan Folkman. 1999) yaitu : 1. dapat berupa konstruktif atau destruktif. Kategorinya adalah makan berlebihan / tidak makan. 1995. menghindar. teknik relaksasi. Townsend. 5. memecahkan masalah secara efektif. Melamun dan fantasi. Mencoba melihat aspek humor dari situasi yang tidak menyenangkan. Keliat. Penggolongan Mekanisme Koping Mekanisme koping berdasarkan penggolongannya dibagi menjadi 2 (dua) (Stuart dan Sundeen. 3. latihan seimbang dan aktivitas konstruktif.7. Menggunakan alkohol atau obat 2. Misal : Perilaku menyerang (agresif) biasanya untuk menghilangkan atau mengatasi rintangan untuk memuaskan kebutuhan. 1. 1999. Reaksi Orientasi Tugas Berorientasi terhadap tindakan untuk memenuhi tuntutan dari situasi stress secara realistis. Stuart dan Sundeen. Mekanisme Koping Maladaptif Mekanisme koping yang menghambat fungsi integrasi. Contohnya: 1. Mekanisme Koping Adaptif Mekanisme koping yang mendukung fungsi integrasi. 1995) yaitu : 1. bekerja berlebihan. Perilaku menarik diri digunakan untuk menghilangkan sumber-sumber ancaman baik secara fisik atau psikologis. Kategorinya adalah berbicara dengan orang lain. Beralih pada aktifitas lain agar dapat melupakan masalah. 1996. 4. 7. Metode koping jangka pendek. . Banyak tidur 6. Tidak ragu dan merasa yakin bahwa semua akan kembali stabil. pertumbuhan. cara ini digunakan untuk mengurangi stress dan cukup efektif untuk waktu sementara. memecah pertumbuhan. Koping dapat dikaji melalui berbagai aspek. Herawati. menurunkan otonomi dan cenderung menguasai lingkungan. tetapi tidak efektf untuk digunakan dalam jangka panjang. Banyak merokok. belajar dan mencapai tujuan.

adalah sebagai berikut: 1. Isolasi: Pemisahan unsure emosional dari suatu pikiran yang mengganggu dapat bersifat sementara atau dalam jangka waktu yang lama. akan memperlakukan orang tersebut dengan kasar. merupakan hati nurani. mencumbunya. perilaku. Dia mulai bermain perang-perangan dengan temann 1. yang sering disebut sebagai mekanisme pertahanan mental. Disosiasi: Pemisahan suatu kelompok proses mental atau perilaku dari kesadaran atau identitasnya. dan selera orang tersebut. merubah tujuan atau memuaskan aspek kebutuhan pribadi seseorang. Introjeksi: Suatu jenis identifikasi yang kuat dimana seseorang mengambil atau melebur nilai-nilai dan kualitas seseorang atau suatu kelompok ke dalam struktur egonya sendiri. Pemindahan (displacement): Pengalihan emosi yang ditujukan pada seorang atau benda lain yang biasanya netral atau lebih sedikit mengancam dirinya. dan motif yang tidak dapat diterima. Penyangkalan (denial) : Menyatakan ketidaksetujuan terhadap realitas dengan mengingkari realitas tersebut. 6. 3.Perilaku kompromi digunakan untuk merubah cara melakukan. Intelektualisasi: Pengguna logika dan alasan berlebihan untuk menghindari pengalaman yang mengganggu perasaannya. . Kompensasi Proses di mana seseorang memperbaiki penurunan citra diri dengan/ secara tegas menonjolkan keistimewaan atau kelebihan yang dimiliki. Misalnya seseorang wanita muda yang menyangkal bahwa ia mempunyai perasaan seksual terhadap rekan sekerjanya. 5. Mekanisme pertahanan ego. Proyeksi: Pengalihan buah pikiran atau impuls pada diri sendiri kepada orang lain terutama keinginan. yang bertentangan dengan yang sebenarnya ia rasakan atau ia ingin lakukan. Misalnya Timmy berusia 4 tahun marah karena ia baru saja mendapat hukuman dari ibunya karena menggambar di dinding kamarnya. Adapun mekanisme pertahanan ego. 2. perasaan. Rasionalisasi: Mengemukakan penjelasan yang tampak logis dan dapat diterima masyarakat untuk membenarkan impuls. Identifikasi: Proses dimana seseorang untuk menjadi seseorang yang ia kagumi berupaya dengan mengambil/menirukan pikiran-pikiran. Misalnya seorang yang tertarik pada teman suaminya. perasaan emosional dan motivasi yang tidak dapat ditoleransi. perilaku. 1. 4. Reaksi Formasi: Pengembangan sikap dan pola perilaku yang ia sadari. berbalik menuduh bahwa temannya tersebut mencoba merayu. Mekanisme pertahanan ini adalahyang paling sederhana dan primitive. 10. 1. 2. 11.

Represi: Pengesampingan secara tidak sadar tentang pikiran. Freud menggunakan istilah mekanisme pertahanan diri (defence mechanism) untuk menunjukkan proses tak sadar yang melindungi si individu dari kecemasan melalui pemutarbalikan kenyataan. Mengenal Mekanisme Pertahanan Diri Sebagian dari cara individu mereduksi perasaan tertekan. 15.12. Pada dasarnya strategi-strategi ini tidak mengubah kondisi objektif bahaya dan hanya mengubah cara individu mempersepsi atau memikirkan masalah itu. Misalnya seseorang anak yang sangat benci pada orang tuanya yang tidak disukainya. Tetapi karena “mekanisme . Istilah tersebut mungkin karena Freud banyak dipengaruhi oleh kecenderungan abad ke-19 yang memandang manusia sebagai mesin yang rumit. Hal ini sesuai dengan pendapat dikemukakan oleh Freud sebagai berikut: Such defense mechanisms are put into operation whenever anxiety signals a danger that the original unacceptable impulses may reemerge (Microsoft Encarta Encyclopedia 2002). tetapi sebetulnya merupakan suatu analog represi yang disadari. Misalnya seseorang yang sedang marah melampiaskan kemarahannya pada obyek lain seperti meremas adonan kue. sehingga perasaan benci itu ditekannya dan akhirnya ia dapat melupakannya. Sublimasi: Penerimaan suatu sasaran pengganti yang mulia artinya dimata masyarakat untuk suatu dorongan yang mengalami halangan dalam penyaluran secara normal. mekanisme pertahanan diri melibatkan unsur penipuan diri. Regresi: Kemunduran akibat stress terhadap perilaku dan merupakan cirri khas dari suatu taraf perkembangan yang lebih dini. 14. impuls atau ingatan yang menyakitkan atau bertentangan dari kesadaran seseorang. meninju tembok dan sebagainya. kita akan membicarakan strategi yang dipelajari individu untuk meminimalkan kecemasan dalam situasi yang tidak dapat mereka tanggulangi secara efektif. Sebenarnya. tujuannya adalah untuk mengurangi ketegangan akibat rasa marah 16. merupakan pertahanan yang primer yang cenderung diperkuat oleh mekanisme lain. stress atau pun konflik adalah dengan melakukan mekanisme pertahanan diri baik yang ia lakukan secara sadar atau pun tidak. Istilah mekanisme bukan merupakan istilah yang paling tepat karena menyangkut semacam peralatan mekanik. kecemasan. Supresi: Suatu proses yang digolongkan sebagai mekanisme pertahanan. kegagalan untuk memadukan nilai-nilai positif dan negatif dalam diri sendiri. Pemisahan (splitting): Sikap mengelompokkan orang atau keadaan hanya sebagai semuanya baik atau semuanya buruk. Akan tetapi menurut ajaran atau didikan yang diterimanya sejak kecil bahwa membenci orang tua merupakan hal yang tidak baik dan dikutuk oleh Tuhan. Jadi. 13.

karena mereka membuat keinginan tidak sadar yang menimbulkan kecemasan dalam dirinya. Beberapa bukti. Kebencian. lebih sering mengkomunikasikan berita baik daripada berita buruk. Dengan cara ini individu tersebut dapat menghindarkan diri dari kecemasan yang disebabkan oleh keharusan untuk menghadapi ciri-ciri pribadi yang tidak menyenangkan. mimpi buruk. Tetapi represi juga dapat terjadi dalam situasi yang tidak terlalu menekan. hal-hal yang mencemaskan itu tidak akan memasuki kesadaran walaupun masih tetap ada pengaruhnya terhadap perilaku. krisis keuangan dan sejenisnya yang menimbulkan kecemasan. lebih sering menekankan pada kejadian yang membahagiakan dan enggan menekankan yang tidak membahagiakan. Bila represi terjadi. diantaranya dikemukakan oleh Freud. dan menampilkan ekspresi wajah yang berlawanan dengan yang sebetulnya. misalnya tak jarang dibuat samar dengan menampilkan sikap dan tindakan yang penuh kasih sayang. Jenis-jenis amnesia tertentu dapat dipandang sebagai bukti akan adanya represi. misalnya: individu cenderung untuk tidak berlama-lama untuk mengenali sesuatu yang tidak menyenangkan.pertahanan diri” masih merupakan istilah terapan yang paling umum maka istilah ini masih akan tetap digunakan. Sudah menjadi umum banyak individu pada dasarnya menekankan aspek positif dari kehidupannya. Dari mekanisme pertahanan diri berikut. terutama para remaja yang sedang mengalami pergulatan yang dasyat dalam perkembangannya ke arah kedewasaan. dibandingkan dengan hal-hal yang menyenangkan. atau dorongan seksual yang besar dibuat samar dengan sikap sok suci. konflik batin. berusaha sedapat mungkin untuk tidak melihat gambar kejadian yang menyesakkan dada. ia sadar akan pikiran-pikiran yang ditindas (supresi) tetapi umumnya tidak menyadari akan dorongan-dorongan atau ingatan yang ditekan (represi) Reaction Formation (Pembentukan Reaksi) Individu dikatakan mengadakan pembentukan reaksi adalah ketika dia berusaha menyembunyikan motif dan perasaan yang sesungguhnya (mungkin dengan cara represi atau supresi). tetapi beberapa yang lain merupakan hasil pengembangan ahli psikoanalisis lainnya. lebih mudah mengingat hal-hal positif daripada yang negatif. Berikut ini beberapa mekanisme pertahanan diri yang biasa terjadi dan dilakukan oleh sebagian besar individu. Bahwa individu merepresikan mimpinya. Supresi Supresi merupakan suatu proses pengendalian diri yang terang-terangan ditujukan menjaga agar impuls-impuls dan dorongan-dorongan yang ada tetap terjaga (mungkin dengan cara menahan perasaan itu secara pribadi tetapi mengingkarinya secara umum). Represi Represi didefinisikan sebagai upaya individu untuk menyingkirkan frustrasi. dan permusuhan ditutupi dengan tindak kebaikan. . Individu sewaktu-waktu mengesampingkan ingatan-ingatan yang menyakitkan agar dapat menitik beratkan kepada tugas.

kuat dan terus menerus. Regresi barangkali terjadi karena kelahiran adiknnya dianggap sebagai sebagai krisis bagi dirinya sendiri. individu cenderung untuk mencoba mengelak. Denial (Menyangkal Kenyataan) Bila individu menyangkal kenyataan. Fantasi . sehingga membuat individu tersebut merasa tidak sanggup lagi untuk menghadapinya dan membuat perkembangan normalnya terhenti untuk sementara atau selamanya. setidaktidaknya pada anak-anak. Ia memberikan respons seperti individu dengan usia yang lebih muda (anak kecil). dia memilih untuk tidak mengambil tindakan apapun. Biasanya respons ini disertai dengan depresi dan sikap apatis. Pada remaja dimana terjadi perubahan yang drastis seringkali dihadapkan untuk melakukan mekanisme ini. akan memperlihatkan respons mengompol atau menghisap jempol tangannya. kecemasan menghalanginya untuk menjadi mandiri. Ini dapat pula terjadi bila individu yang menghadapi tekanan kembali lagi kepada metode perilaku yang khas bagi individu yang berusia lebih muda. Misalnya anak yang baru memperoleh adik. Individu yang sangat tergantung dengan individu lain merupakan salah satu contoh pertahan diri dengan fiksasi. individu menjadi terfiksasi pada satu tahap perkembangan karena tahap berikutnya penuh dengan kecemasan.Fiksasi Dalam menghadapi kehidupannya individu dihadapkan pada suatu situasi menekan yang membuatnya frustrasi dan mengalami kecemasan. Dengan regresi (mundur) ini individu dapat lari dari keadaan yang tidak menyenangkan dan kembali lagi pada keadaan sebelumnya yang dirasakannya penuh dengan kasih sayang dan rasa aman. Dengan kata lain. Mengelak Bila individu merasa diliputi oleh stres yang lama. Regresi Regresi merupakan respon yang umum bagi individu bila berada dalam situasi frustrasi. Penyangkalan kenyataan juga mengandung unsur penipuan diri. maka dia menganggap tidak ada atau menolak adanya pengalaman yang tidak menyenangkan (sebenarnya mereka sadari sepenuhnya) dengan maksud untuk melindungi dirinya sendiri. padahal perilaku demikian sudah lama tidak pernah lagi dilakukannya. atau individu menggunakan strategi regresi karena belum pernah belajar respons-respons yang lebih efektif terhadap problem tersebut atau dia sedang mencoba mencari perhatian Menarik Diri Reaksi ini merupakan respon yang umum dalam mengambil sikap. Bila individu menarik diri. Bisa saja secara fisik mereka mengelak atau mereka akan menggunakan metode yang tidak langsung.

Teknik ini mungkin dapat digunakan untuk mengurangi kecemasan karena dia harus menerima kenyataan akan keburukan dirinya sendiri. biasanya sangat cepat dalam memperlihatkan ciri pribadi individu lain yang tidak dia sukai dan apa yang dia perhatikan itu akan cenderung dibesar-besarkan. intelektual dan sedikit menjauh dari persoalan. dengan begitu dengan berfantasi tampaknya menjadi strategi yang cukup membantu Rasionalisasi Rasionalisasi sering dimaksudkan sebagai usaha individu untuk mencari-cari alasan yang dapat diterima secara sosial untuk membenarkan atau menyembunyikan perilakunya yang buruk. Dengan intelektualisasi. Menurut Rogers seseorang yang mempunyai konsep diri yang positif maka dia akan berfungsi lebih maksimal. IV. maka fantasi terlihat menjadi cara sehat untuk mengatasi stres.Dengan berfantasi pada apa yang mungkin menimpa dirinya. manusia dapat sedikit mengurangi hal-hal yang pengaruhnya tidak menyenangkan bagi dirinya. Intelektualisasi Apabila individu menggunakan teknik intelektualisasi. PROSES KEPERAWATAN Perawat dituntut untuk mempunyai konsep diri yang positif hal ini penting karena dengan konsep diri yang positif maka kinerja akan baik sehingga diharapkan mutu pelayanan keperawatan dapat meningkat. maka situasi itu akan dipelajarinya atau merasa ingin tahu apa tujuan sebenarnya supaya tidak terlalu terlibat dengan persoalan tersebut secara emosional. Dalam hal ini. atau yang baik adalah yang buruk. . represi atau supresi sering kali dipergunakan pula. Tetapi bila fantasi ini dilakukan secara proporsional dan dalam pengendalian kesadaraan yang baik. sehingga dia lebih produktif dan lebih berhasil di dalam menyelesaikan masalah-masalah yang dijumpai. dan memberikan kesempatan pada dirinya untuk meninjau permasalah secara obyektif. Proyeksi Individu yang menggunakan teknik proyeksi ini. bila individu menghadapi situasi yang menjadi masalah. Sebaliknya orang yang mempunyai konsep diri negative penuh dengan perasaan kegagalan. maka dia menghadapi situasi yang seharusnya menimbulkan perasaan yang amat menekan dengan cara analitik. tidak berharga. Dengan konsep diri yang positif maka perawat lebih optimis. Dengan kata lain. 1. Konsep diri perawat dapat didefinisikan secara umum sebagai keyakinan. pandangan atau penilaian perawat terhadap dirinya. yang dapat menimbulkan kecemasan dan yang mengakibatkan frustrasi. peka terhadap kritik sehinggga tidak ada upaya untuk perbaikan diri. individu sering merasa mencapai tujuan dan dapat menghindari dirinya dari peristiwa-peristiwa yang tidak menyenangkan. Individu yang seringkali melamun terlalu banyak kadang-kadang menemukan bahwa kreasi lamunannya itu lebih menarik dari pada kenyataan yang sesungguhnya. Rasionalisasi juga muncul ketika individu menipu dirinya sendiri dengan berpura-pura menganggap yang buruk adalah baik.

selalu bersikap positif. 1. jika wanita atau pria berperan tidak seperti lazimnya. dan orang lain serta memiliki kreatifitas yang tingggi. A. Menurut Carpenito (1996) dikutip oleh Keliat (2006). kurang objektif dan kurang rasional dibandingkan pria. misalnya wanita dianggap kurang mampu. Pria dianggap kurang sensitive. Faktor Predisposisi Faktor yang mempengaruhi harga diri Pengalaman masa kanak-kanak dapat merupakan faktor kontribusi pada gangguan atau masalah konsep diri. membenci dan tidak menerima akan mempunyai keraguan dan ketidakpsatian diri. pengkajian merupakan tahapan awal dan dasar utama dari proses keperawatan. Dengan adanya konsep diri yang positif ini maka perilaku professional sebagai tenaga keperawatan dapat terwujud sehinga perawat mampu memberikan pelayanan yang terbaik kepada pasien sehingga mutu pelayanan kesehatan dapat meningkat. pemberian asuhan keperawatan merupakan proses terapeutik yang melibatkan hubungan kerjasama antara perawat dengan klien. jika ia mulai keluar rumah untuk mulai sekolah atau bekerja akan menimbulkan masalah. keluarga atau masyarakat untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal. Pengkajian Menurut Stuart dan Laraia (2001). . faktor presipitasi. Ia akan tegantung pada lain gagal mengembangkan kemampuan sendiri. Misalnya wanita yang secara tradisional harus tinggal di rumah saja. kurang mandiri . Sesuai dengan standar tersebut. Tahap pengkajian terdiri atas pengumpulan data meliputi data biologis. penilaian terhadap stressor. Individu yang kurang mengerti akan arti dan tujan kehidupan akan gagal menerima tanggungjawab untuk diri sendiri. sosial dan spiritual. Anak sangat peka terhadap perlakuan dan respon orang tua. Orang tua yang kasar. psikologis. kurang ekpresif dibanding wanita. mampu menghargai dirinya.penuh percaya diri. Anak yang tidak menerima kasih saying maka anak tersebut akan gagal mencintai dirinya dan orang lain. implementasi dan evaluasi. Faktor yang mempengaruhi penampilan peran peran yang sesua dengan jenis kelamin sejak dulu sudah diterima oleh masyarakat. Ia mengingkari kebebasan menekspresi sesuatu termasuk kemungkanan berbuat salah dan menjadi kasar dan banyak menuntut diri sendiri. sumber koping dan kemampuan koping yang dimiliki klien. kurang hangat. menyusun rencana tindakan keperawatan. maka akan menimbulkan konflik di dalam diri mapun hubungan social. Asuhan keperawatan juga menggunakan pendekatan proses keperawatan yang terdiri dari pengkajian menentukan masalah atau diagnosa. Data pada pengkajian kesehatan jiwa dapat dikelompokkam menjadi faktor predisposisi. Ideal diri yang di tetapkan tidak dapa dicapai.

jika tidak sesuai dengan keinginan orang tua maka timbul rasa bersalah. Masalah konsep diri dapat dicetuskan oleh faktor psikologis. Anak akan ragu apakah yang dia pilih tepat. Peran yanbg berlebihan muncul pada wanita yang mempunyai sejumlah peran. proses tumbuh kembang. proses patologi penyakit. prosedur tindakan dan pengobatan. hendaknya data-data perilaku yang objektif dapat di amati. namun yang lebih penting adalah persepsi klien terhadap ancaman. 19991) yaitu yang identitas kacau dan depersonalisasi dapat sebagai berikut: 1. Faktor Presipitasi Masalah khusus tentang konsep diri disebabakan oleh setiap situasi yang dihadapi individu dan individu tidak mampu menyesuaikan. pola asuh anak yang tidak tepat. dituruti. dituntut. atau fisiologis. gagal bertanggung jawab terhadap diri sendiri. maka akan menyebabkan kurang percaya diri pada anak. dibutuhkan. tindkan oiperasi. Stressor yang dapat mempengaruhi gambaran diri dan hilangnya bagian badan. kesalahan dan kegagalan terulang. persaingan dengan saudara.Konflik peran dan peran yang tidak sesuai muncul dari faktor biologis dan harapan masyarakat terhadap wanita atau pria. Produktifitas menurun Destruktif pada orang lain Gangguan berhubungan . Perilaku yang berhubungan dengan harga diri yang rendah (Stuart dan Sundeent. Orang tua yang selalu curiga pada anak. sossiologis. Perilaku dengan Harga Diri yang Rendah Kritik diri sendiri atau orang lain. Stressor yang mempengaruhi harga diri dan ideal diri adalah penolakan dan kurang penghargaan diri dari orang tua dan orang yang berat. perubahan struktur dan fungsi tubuh. Situasi atau stresor dapat mempengaruhi konsep diri dan komponennya. misalnya terlalu dilarang. citacita yang tidak dapat dicapai. Remaja ingin diterima. Perilaku Data yang di kumpulkan oleh seorang perawat. Faktor yang mempengaruhi identitas diri. Control orang tua yang tepat pada anak-anak remaja akan menimbulkan perasaan benci anak pada orang tua. diingikan. dan dimilki oleh kelompoknya. Teman sebayanya merupkan faktor lain yang mempengaruhi identitas.

Perilaku dengan Identitas yang kacau - Tidak mengindahkan moral Kontradiksi ciri kepribadian Mengurangi hubungan intrapersonal Perasaan kekosongan Perasaan tentang diri yang berubah-ubah Kekacauan identitas seksual . 1.- Perasaan yang berlebihan tentang pentingnya dirinya Perasaan tidak layak Perasaan bersalah Mudah marah dan tersinggung Rasa negative terhadap diri sendiri Pandangan hiduip yang pesimis Keluhan fisik Pandangan hidup terpolarisasi Menolak kemampuan diri sendiri Mengejek diri sendiri Merusak diri Isolasi sosial Gangguan penggunaan zat Menarik diri dari realitas Khawatir Ketegangan peran.

Pengalaman kehidupan bagaikan mimpi Kacau Disorientasi waktu Penyimpangan pikiran Daya ingat terganggu . takut malu Perasaan tidak realistis Merasa sangat terisolasi Kurang perasaan yang berkesinambungan. Sukar membedakan diri dengan orang lain Gambaran diri terganggu. Tidak mampu mencapai kepuasan atau perasaan tuntas. Perilaku dengan Depersonalisasi - Identitas hilang Asing dengan diri sendiri Perasaan tidak aman. Halusinasi pendengaran dan penglihatan Tidak yakin akan jenis kelaminnya. rendah diri.- Kecemasan yang tinggi Tidak mampu berempati dengan orang lain Kurang keyakinan diri Cinta diri sendiri yang patologi Masalah dalam hubungan intim Kekacauan dan kehilangan identitas sesaat 1.

(kompetensi olahraga. politik ). Identitas negatif Yaitu asumsi yang bertentangan dengan nilai dan harapan masyarakat. pemakaian obat-obatan. yaitu mekanisme koping jangka pendek dan mekanisme jangka panjang. Mekanisme Koping Dapat berguna untuk individu dalam mengahapi persepsi diri yang tidak menyenangkan. keagamaan. tanpa menindahkan hasrat. 3. mengalihkan marah berbalik pada diri sendiri dan pada orang lain. menonton TV terus menerus) 2. apresiasi atau potensi diri sendiri. Uraian mekanisme dapat dilihat sebagai berikut: Jangka pendek 1. Kegiatan yang dilakukan untuk lari sementara dari krisis identitas: (musik keras. kerja keras. Kegiatan yang memberi dukungan semnetara. Pertahanan diri dapat dibagi 2. Mekanisme pertahanan ego yang sering digunakan adalah fantasi. proyeksi. 1. . Kegiatan yang mencoba menghilangkan anti identitas sementara: (penyalahgunaan obatobatan). Jangka panjang 1. isolasi. Kegiatan mengganti aktifitas sementara: (ikut keompok sosial.- Daya nilai terganggu Afek tumpul Pasif dan tidak ada respon emosi Komunikasi tidak selaras Tidak dapat mengontrol implus Tidak ada inisiatif dan tidak mampu mengambil keputusan Menarik diri dari lingkungan Spontanitas dan semangat berkurang 1. disosiasi. Menutupi identitas: Terlalu cepat mengadopsi identitas yang senangi dari seorang yang berarti. kontes popularitas) 4.

2. 1. Setelah mengevaluasi penilaian kognitif dan kesadaran perasaan. Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat 2. komunitas terhadap masalah kesehatan atau proses kehidupan yang aktual maupun potensial (NANDA. keluarga. Gangguan harga diri: harga diri rendah situasional atau kronik Gangguan citra tubuh Ideal diri tidak realitas Gangguan identitas personal Perubahan penampilan peran Ketidakberdayaan Isolasi sosial:menarik diri Resiko perilaku kekerasan Tindakan pada gangguan konsep diri Focus tindakan adalah pada tingkat penilaian kognitif pada kehidupan. klien menyadari masalah dan kemudian merubah prilaku. 1. yang terdiri dari persepsi. 7. Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan adalah penilaian teknik mengenai respon individu. Prinsip asuhan yang diberikan adalah pemecahan masalah yang terlihat dari kemajuan klien meningkat ke tingkat berikutnya 1. C. 2006). 3. Gangguan harga diri. Dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki. Tujuan umum: Klien dapat menunjukkan peran sesuai dengan tanggung jawabnya. 8. Dari pengkajian seluruh komponen konsep diri dapat disimpulkan masalah keperawatan.1. B. keyakinan dan kepribadian. 5. 4. Tujuan khusus: 1. Perencanaan Perencanaan tindakan keperawatan menurut Keliat (2006 ) terdiri dari tiga aspek yaitu tujuan umum. yaitu. harga diri rendah berhubungan dengan gangguan citra tubuh. Kesadaran klien akan emosi dan perasaan nya juga hal yang penting. 6. . Diagnosa Keperawatan: Perubahan penampilan peran berhubungan dengan harga diri rendah. 2001 dikutip oleh Keliat. tujuan khusus dan intervensi keperawatan.

6. Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi klien. Berikan pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien harga diri rendah. 3. Bantu keluarga memberi dukungan selama klien dirawat. 5. waktu) 1. kemampuan lain yang dimilki oleh klien . Misalnya: penampilan klien dalam “self care” latihan dan ambulasi serta aspek asuhan terkait dengan gangguan fisik yang dialami oleh klien. . Beri kesempatan unutk mengungkapkan perasaan (apa yang dilakukan/bicarakan. 14. Sediakan waltu untuk mengungkapakan tentang penyakit yang diderita. Tindakan Keperawatan. Bina hubungan saling percaya. 13. 4. 6. Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimilki pasien. Rencanakan bersama oleh aktifitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan:kegiatan mandiri. Klien dapat menetapkan (merencanakan) kegiatan sesuai yang dimilki Klien melakukan tindakan sesuai dengan kondisi sakit dan kemampuan Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada. kegiatan yang membutuhkan bantuan total 9. 1. waktu) 2. 7. 12. maka oleh perawat memberi “reinforcement” terhadap aspek positif klien 5. Jika klien tidak mampu mengidentifikasi. Dapat di mulai bagian tubuh yang masih berfungsi dengan baik. hibdarkjan memberi penilain negative. Setiap bertemu klien. 8.utamakan memberikan pujian realistis. Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah direncanakan. kegiatan bantuan sebagian. 15. aspek positif (keluarga lingkungan) dimilki klien. 4. Diskusikan pada kemampuan yang dapat dilanjutkan pengguanannya setelah pulang sesuai dengan kondisi pasien. Diskusikan kemampuan klien kemampuan yang masih dapat digunakan selamam sakit. Klien menilai kemampuan yang dapat digunakan. Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah. Beri pujian atas keberhasilan klien.3. Katakan pada klien bertambah satu orang yang berharga dan bertanggung jawab serta mampu menolong dirinya sendiri. Salam terapeutik Perkenalkan diri Jelaskan tujuan interaksi Ciptakan lingkungan yang tenang. Beri kesempatan cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan (sering klien takut melakukannya) 11. Buat kontrak yang jelas (apa yang dilakukan /bicarakan. 10.

Hasil yang diharapkan: 1. Klien dapat menerima realita perubahan struktur. Sediakan waktu untuk mendengarkan klien. . sistem pendukung). Dorong klien untuk merawat diri dan berperan serta dalam asuhan keperawatan secara bertahap. 5. 4. Klien mengidentifikasi perubahan citra tubuh. intelektual. Klien menungkapkan perasaanya terhadap penyakit yang diderita. Beri pujian terhadap aspek yang positif dan kemampuan yang masih dimilki klien. 1. bentuk atau fungsi tubuh. dukungan dan konseling. 2. 4. Lakukan kontrak untuk program arahan keperawatan/ pendapatan kesehatan. Klien dapat menilai kemampuan dan aspek positif yang dimilki. keluarga) oleh klien diluar perubahan yang terjadi. Klien menyebutkan aspek dan kemampuan dirinya (fisik. Klien dapat melakukan tindakan pengembalian integritas tubuh. Diskusikan kemampuan dan aspek positif yamng dimilki (tubuh. Diagnosa Keperawatan Gangguan harga diri rendah berhubungan dengan gangguan citra tubuh Tujuan umum: Klien menunjukkan peningkatan harga diri Tujuan khusus: 1. 6. Percaya diri klien dengan menetapkan keinginan atau tujuan yang realistis. 3. Beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaan klien terhadap perubahan tubuh. jujur dan empati. 5. Libatkan klien dalam kelompok klien dengan masalah gangguan citra tubuh. 1. Klien dapat menyusun cara-cara menyelasaikan masalah yang dihadpi. 6. 2. intelektual. 3. 3. 4. Klien dapat menigkatkan keterbukaan dan hubungan saling percaya. Diskusikan perubahan struktur tubuh dan fungsi tubuh 2. Klien berperan serta dalam perawatan dirinya. Bina hubungan perawat yang terpeutik Salam terapeutik Komunikasi terbuka. Observasi ekspresi klien pada saat berbicara. Tindakan keperawatan 1.

12. Semakin positif konsep diri seseorang. maka akan semakin mudah menangkap dan mempersepsikan setiap pesan yang datang menjadi sebuah pesan yang positif. E. PENUTUP Bahwa salah satu kunci keberhasilan hidup kita adalah bagaimana kita dapat mengembangkan konsep diri positif. Evaluasi Evaluasi menurut Keliat (2006) adalah proses yang berkelanjutan untuk menilai efek dari tindakan keperawatan kepada klien. 10. Misalnya protesa untuk bagian tubuh bertemu tongkat. Dorong klien memilih cara yang sesuai bagi klien. Konsep diri positif ini dapat masuk ke dalam pikiran seseorang dan mempunyai bobot pengaruh yang besar terhadap kemampuan menerima dan mempersepsikan setiap pesan yang datang. bentuk dan fungsi tubuh. 8. yaitu evaluasi proses atau formatif yang dilakukan tiap selesai melakukan tindakan keperawatan dan evaluasi hasil atau sumatif yang dilakukan dengan membandingkan respons klien dengan tujuan yang telah ditentukan. 1. Evaluasi dapat dibagi menjadi dua jenis. Rehabilitas bertahap bagi klien Hasil yang harapkan: 1. Implementasi Menurut Keliat (2006). Bantu klien mengurangi perubahan citra tubuh. V. Konsep diri positif memiliki peranan yang sangat besar dalam menentukan keberhasilan hidup seseorang. 9. Evaluasi dilakukan terus menerus pada respon klien terhadap tindakan keperawatan yang dilaksanakan. Demikian pula sebaliknya. Hubungan saling percaya antara perawat dengan klien merupakan dasar utama dalam pelaksanaan tindakan keperawatan. 1. implementasi keperawatan disesuaikan dengan rencana tindakan keperawatan dengan memperhatikan dan mengutamakan masalah utama yang aktual dan mengancam integritas klien beserta lingkungannya. D. Sebelum melaksanakan tindakan keperawatan yang sudah direncanakan. Karena konsep diri positif dapat mempengaruhi pola pikir dan tindakan seseorang . Klien dapat menerapkan perubahan 2. 3. 1. Konsep diri positif ini seperti sebuah sistem operasi yang mempengaruhi mental dan kemampuan berpikir positif seseorang. Diskusikan cara-cara (booklet.7. Bantu klien melakukan cara yang dipilih 11. Tingkatkan dukungan keluarga terutama pasangan. perawat perlu memvalidasi apakah rencana tindakan keperawatan masih dibutuhkan dan sesuai dengan kondisi klien pada saat ini (here and now). Klien memiliki beberapa cara mengatasi perubahan yang terjadi. leaflet) sebagai sumber informasi yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak perubahan struktur. Klien beradaptasi dengan cara yang dipilh dan digunakan.

Setiap manusia mempunyai suatu pertahanan untuk melindungi harga dirinya. maka hal ini bisa merupakan mekanisme pertahanan ego untuk menutupi kekurangan dirinya. Seorang anak remaja yang tertarik pada teman sekolahnya kadangkadang menunjukkan perilaku membenci atau sombong di hadapan orang yang dia taksir. Dalam hal ini orang yang kurang pandai bisa saja menutupi kekurangannya itu dengan suatu perilaku sombong menyebut diri sebagai keturunan orang hebat di masa lampau. Dalam kaitannya dengan perilaku sombong yang ditunjukkan oleh seseorang. . dalam hal ini perasaan tertarik dia tunjukkan sebagai sikap benci untuk menutupi perasaan canggung (malu). Hasilnya adalah karakter pribadi positif yang menjadi modal bagi kesuksesan hidup. begitu juga orang yang merasa kurang tampan bisa saja menutupi kelemahannya dengan membanggakan kekayaan orangtuanya dan berbagai kebanggaan lainnya. hal inilah yang menyebabkan perilaku yang ditunjukkan oleh seseorang kadangkala jauh berbeda dari keadaan yang ada di dalam dirinya.menjadi positif dalam kehidupannya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful