P. 1
Sistem Pendidikan Islam

Sistem Pendidikan Islam

|Views: 317|Likes:
Published by Entis Soemantri

More info:

Published by: Entis Soemantri on Mar 17, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/01/2014

pdf

text

original

MENGGAGAS KEMBALI KONSEP SISTEM PENDIDIKAN ISLAM

Oleh Muhammad Ismail Yusanto

“Sistem pendidikan nasional di Indonesia masih mewarisi sistem kolonial. Perlu dilakukan perombakan total pada sistem pendidikan nasional agar bisa membentuk watak anak yang mandiri dan kreatif …..” (Ajip Rosidi, Ketua Umum Yayasan Rancage, dalam penutupan Konferensi Internasional Budaya Sunda I, di Bandung, Minggu (26/8/2001))
LATAR BELAKANG Benarkah apa yang dinyatakan oleh Ajip Rosidi di atas? Bila benar, apa sebenarnya yang masih diwarisi oleh sistem pendidikan nasional dari sistem pendidikan kolonial? Apa indikasinya? Dan yang terpenting, apa yang musti dilakukan untuk memperbaiki sistem pendidikan yang carut marut itu? Perombakan total seperti apa, mengikuti saran Ajip, yang harus dilakukan? Salah satu persoalan pelik yang dihadapi oleh masyarakat, selain ekonomi dan politik, adalah persoalan pendidikan. Ketika tawuran antar pelajar marak terjadi di berbagai kota, ditambah dengan sejumlah perilaku mereka yang sudah tergolong kriminal, penyalahgunaan narkoba dan meningkatnya seks bebas di kalangan pelajar, dunia pendidikan kembali dituding sebagai telah gagal membentuk watak mulia pada anak didik. Maka, seperti biasa, segera muncul saran untuk memperbaiki kurikulum atau muatan pada mata ajaran, misalnya seruan untuk kembali diajarkan budipekerti beberapa waktu lalu. Tapi, bila sebelumnya yang dipersoalkan hanya sebatas masalah mata pelajaran atau paling jauh struktur kurikulum, kini Ajip Rosidi dan mungkin banyak dari kalangan pemerhati dan pelaku pendidikan, mempersoalkan hal yang lebih mendasar. Yakni tentang sistem pendidikan nasional yang ditudingnya masih mewarisi sistem pendidikan kolonial. Diakui atau tidak, sistem pendidikan yang berjalan di Indonesia saat ini memang adalah sistem pendidikan yang sekular-materialistik. Bila disebut bahwa sistem pendidikan nasional masih mewarisi sistem pendidikan kolonial, maka watak sekuler-materialistik inilah yang paling utama, yang tampak jelas pada hilangnya nilai-nilai transedental pada semua proses pendidikan, mulai dari peletakan filosofi pendidikan, penyusunan kurikulum dan materi ajar, kualifikasi pengajar, proses belajar mengajar hingga budaya sekolah/kampus sebagai hidden curiculum, yang sebenarnya berperanan sangat penting dalam penanaman nilai-nilai. Sistem pendidikan semacam ini terbukti telah gagal melahirkan manusia shaleh yang sekaligus mampu menjawab tantangan perkembangan melalui penguasaan sains dan teknologi. Secara kelembagaan, sekularisasi pendidikan menghasilkan dikotomi pendidikan yang sudah berjalan puluhan tahun, yakni antara pendidikan “agama” di satu sisi dengan pendidikan umum di sisi lain. Pendidikan agama melalui madrasah, institut agama dan pesantren dikelola oleh Departemen Agama, sementara pendidikan umum melalui sekolah dasar, sekolah menengah dan kejuruan serta perguruan tinggi umum dikelola oleh Departemen Pendidikan Nasional. Terdapat kesan yang sangat kuat bahwa pengembangan ilmu-ilmu kehidupan (iptek) dilakukan oleh Depdiknas dan dipandang sebagai tidak berhubungan dengan agama. Sementara, pembentukan karakter siswa yang merupakan bagian terpenting dari proses pendidikan di sini justru kurang tergarap secara serius. Agama ditempatkan sekadar sebagai salah satu aspek yang

Menggagas Kembali Konsep Sistem Pendidikan Islam perannya sangat minimal, bukan menjadi landasan dari seluruh aspek. Di sisi lain, pengajaran agama dan persoalan keagamaan digarap oleh Depag, seolah pendidikan Islami identik dengan pengajaran agama Islam saja. Adanya pesantren yang dalam banyak aspek acap dipuji sebagai sebuah bentuk pendidikan Islam alternatif, dalam perspektif ini, sesungguhnya makin mengukuhkan dikotomi pendidikan itu. Pendidikan yang sekuler-materialistik ini memang bisa melahirkan orang yang menguasai sainsteknologi melalui “pendidikan umum” yang diikutinya, tapi pendidikan semacam itu terbukti gagal membentuk kepribadian peserta didik dan penguasaan tsaqofah Islam. Berapa banyak lulusan pendidikan umum yang tetap saja “buta agama” dan rapuh kepribadiannya? Sementara mereka yang belajar di lingkungan “pendidikan agama”, memang menguasai tsaqofah Islam dan secara relatif sisi kepribadiannya tergarap baik, tapi di sisi lain, ia buta terhadap perkembangan sains dan teknologi. Akhirnya, sektor-sektor modern (industri manufaktur, perdagangan dan jasa) diisi oleh orang-orang yang relatif awam terhadap agama karena orang-orang yang mengerti agama terkumpul di dunianya sendiri (madrasah, dosen/guru agama, depag), tidak mampu terjun di sektor modern. Pendidikan sekuler-materialistik juga memberikan kepada siswa suatu basis pemikiran yang serba terukur secara material, kekinian dan serba profan serta memungkiri hal-hal yang bersifat transedental dan imanen. Disadari atau tidak, berkembang penilaian bahwa hasil pendidikan haruslah dapat mengembalikan investasi yang telah ditanam. Pengembalian itu dapat berupa gelar kesarjanaan, jabatan, kekayaan atau apapun yang setara dengan nilai materi yang telah dikeluarkan. Agama ditempatkan pada posisi yang sangat individual. Nilai transendental dirasa tidak patut atau tidak perlu dijadikan sebagai standar penilaian sikap dan perbuatan. Tempatnya telah digantikan oleh etik yang pada faktanya bernilai materi juga. PENDIDIKAN SEKULER BAGIAN DARI KEHIDUPAN SEKULER Sistem pendidikan yang material-sekuleristik tersebut sebenarnya hanyalah merupakan bagian belaka dari sistem kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang juga sekuler. Dalam sistem sekuler, aturan-aturan, pandangan dan nilai-nilai Islam memang tidak pernah secara sengaja digunakan untuk menata berbagai bidang, termasuk bidang pendidikan. Agama Islam, sebagaimana agama dalam pengertian Barat, hanya ditempatkan dalam urusan individu dengan tuhannya saja. Maka, di tengahtengah sistem sekuleristik tadi lahirlah berbagai bentuk tatanan yang jauh dari nilai-nilai agama. Yakni tatanan ekonomi yang kapitalistik, perilaku politik yang oportunistik, budaya hedonistik, kehidupan sosial yang egoistik dan individualistik, sikap beragama yang sinkretistik serta paradigma pendidikan yang materialistik. Dalam tatanan ekonomi kapitalistik, kegiatan ekonomi digerakkan sekadar demi meraih perolehan materi tanpa memandang apakah kegiatan itu sesuai dengan aturan Islam atau tidak. Aturan Islam yang sempurna dirasakan justru menghambat. Sementara dalam tatanan politik yang oportunistik, kegiatan politik tidak didedikasikan untuk tegaknya nilai-nilai melainkan sekadar demi jabatan dan kepentingan sempit lainnya. Dalam tatanan budaya yang hedonistik, budaya telah berkembang sebagai bentuk ekspresi pemuas nafsu jasmani. Dalam hal ini, Barat telah menjadi kiblat ke arah mana “kemajuan” budaya harus diraih. Ke sanalah dalam musik, mode, makanan, film bahkan gaya hidup ala Barat, orang mengacu. Buah lainnya dari kehidupan yang materialistik-sekuleristik adalah makin menggejalanya kehidupan sosial yang egoistik dan individualistik. Tatanan bermasyarakat yang ada memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada pemenuhan hak dan kepentingan setiap individu. Kebebasan individu harus ditegakkan karena menurutnya itu adalah hak, tidak peduli kendati itu harus melanggar tuntunan agama. Koreksi sosial hampir-hampir tidak lagi dilihat sebagai tanggung jawab bersama seluruh komponen masyarakat. Sikap beragama sinkretistik intinya adalah menyamadudukan semua agama. Kebenaran agama menjadi sangat relatif. Semua agama seolah menjadi benar. Sikap beragama seperti ini menyebabkan sebagian umat Islam memandang rendah, bahkan tidak suka, menjauhi dan memusuhi aturan agamanya sendiri. Fenomena penolakan terhadap seruan pembelakuan syariat Islam, yang justru juga dilakukan oleh

2

Seluruh gerak laku seorang muslim adalah ibadah. yakni sekadar membentuk manusia-manusia yang berpaham materialistik dan serba individualistik. Dan merupakan tindak kekufuran bagi seorang muslim bila beriman kepada ajaran Islam sebagian dan menolak sebagian yang lain. termasuk di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini disebabkan oleh dua hal. tidak sebagai pendidik yang berfungsi dalam transfer ilmu pengetahuan dan kepribadian (transfer of personality). Kehidupan yang sekularistik nyata-nyata telah menjauhkan manusia dari hakikat visi dan misi penciptaannya. karena Islam adalah sebuah totalitas. benar-benar sangat aneh jika umat Islam ikut-ikutan menjadi sekuler. Sebagian umat telah lupa bahwa seorang Muslim harus meyakini hanya Islam saja yang diridhai Allah SWT. atau membangun struktur kehidupan di atas landasan selain agama (Islam). satu hal yang harus diperhatikan benar adalah bahwa gugatan yang menyangkut eksistensi atau peran agama di tengah masyarakat ini sebenarnya terjadi khas pada agama Kristen saja yang ketika itu memang sudah tidak lagi up to date. menjelaskan sekulerisme sebagai fashlu al-din ani al-hayah atau memisahkan agama (Islam) dari kehidupan. kelemahan fungsional pada tiga unsur pelaksana pendidikan. karena memang kepribadian guru/dosen sendiri banyak tidak lagi pantas diteladani. Tujuan pendidikan yang ditetapkan juga adalah buah dari paham sekuleristik tadi. yakni (1) kelemahan pada lembaga pendidikan formal yang tercermin dari kacaunya kurikulum serta tidak berfungsinya guru dan lingkungan sekolah/kampus sebagai medium pendidikan sebagaimana mestinya. paradigma pendidikan yang keliru dimana dalam sistem kehidupan sekuler. adalah bukti yang sangat nyata. atau membiarkan agama tetap di wilayah ritual peribadatan sementara wilayah duniawi (politik.sebagaimana dapat dicermati pada Bagan Skematis Akar Masalah Pendidikan dan Solusi Paradigmatiknya – adalah buah dari kehidupan sekuleristik yang terbukti telah gagal menghantarkan manusia menjadi sosok pribadi yang utuh. Oleh karena itu. (2) kehidupan keluarga yang tidak mendukung. tata sosial dan lainnya) harus steril dari agama. ekonomi. iptek. Tidak berfungsinya guru/dosen dan rusaknya proses belajar mengajar tampak dari peran guru yang sekadar berfungsi sebagai pengajar dalam proses transfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge). kekuasaan para agamawan (rijaluddin) yang berpusat di gereja demikian mendominasi hampir semua lapangan kehidupan. Sementara.Menggagas Kembali Konsep Sistem Pendidikan Islam sejumlah elit umat. Inilah awal munculnya pemahaman sekulerisme. Sekulerisme oleh Muhammad Qutb (1986) dalam bukunya Ancaman Sekulerisme. akhirnya dihukum. Karenanya. Islam jelas tidak mengenal pemisahan antara urusan ritual dengan urusan duniawi. yakni seorang Abidu al-Shalih yang muslih. Kacaunya kurikulum yang berawal dari asasnya yang sekuler tadi kemudian mempengaruhi penyusunan struktur kurikulum yang tidak memberikan ruang semestinya kepada proses penguasaan tsaqofah Islam dan pembentukan kepribadian Islam. menjadi suatu kejanggalan besar bila gugatan tadi lantas dialamatkan pula pada Islam. Syekh Taqiyyudin An Nabahani (1953) dalam kitabnya Nidzamu al-Islam. Tapi. Kedua. pemerintahan. seperti masjid/mushola) turut 3 . sebab temuan-temuan ilmiah yang rasional sekalipun tidak jarang bertabrakan dengan ajaran gereja yang dogmatis. Shalat adalah ibadah yang merupakan bagian dari syariat dimana seluruh umat Islam harus terikat sebagaimana keterikatan kaum muslimin pada syariat di bidang yang lain. agama yang sempurna lagi paripurna dan diridloi Allah SWT bagi seluruh umat manusia. masyarakat harus meninggalkan agama. Galileo Galilei dan Copernicus yang menolak mengubah pendapatnya bahwa mataharilah yang menjadi sentra perputaran planet-planet (heliosentris) dan bukan bumi (geosentris) sebagaimana yang didoktrinkan gereja selama ini. asas penyelenggaraan pendidikan juga sekuler. Saat itu. SOLUSI FUNDAMENTAL Pendidikan yang materialistik -. Para ilmuwan dan negarawan melihat kondisi ini sebagai suatu hal yang sangat menghambat kemajuan. diartikan sebagai iqomatu al-hayati ‘ala ghayri asasin mina al-dini. seperti ekonomi dan sosial politik. Pemikiran sekulerisme itu sendiri berasal dari sejarah gelap Eropa Barat di abad pertengahan. Pertama. dan (3) keadaan masyarakat yang tidak kondusif . Lingkungan fisik sekolah/kampus yang tidak tertata dan terkondisi secara Islami (ditambah dengan minimnya sarana pendukung. Maka sampailah para ilmuwan dan negarawan itu pada satu kesimpulan bahwa bila ingin maju.

Sekuleristik) ketiga unsur tersebut terpisah satu sama lain dan diposisikan berbeda dimensi (agama – non agama) dengan proporsi sangat tidak seimbang yang menyebabkan kegagalan pembentukan karakter dan kepribadian peserta didik selama ini. masyarakat yang semestinya menjadi media pendidikan yang riil justru berperan sebaliknya akibat dari berkembangnya sistem nilai sekuler yang tampak dari penataan semua aspek kehidupan baik di bidang ekonomi. berita-berita pada media masa yang cenderung mempropagandakan hal-hal negatif seperti pornografi dan kekerasan. Secara paradigmatik. kelemahan ketiga faktor di atas diselesaikan dengan cara memperbaiki strategi fungsionalnya sesuai dengan arahan Islam. Integral). pendidikan harus dikembalikan pada asas aqidah Islam yang bakal menjadi dasar penentuan arah dan tujuan pendidikan. Solusi pada Tataran Strategi Fungsional Pendidikan yang integral harus melibatkan tiga unsur pelaksana: yaitu keluarga. Maka yang terjadi kemudian adalah sinergi pengaruh negatif kepada pribadi anak didik. Optimasi dan Integrasi. Bagan Faktual 3 Unsur Pelaksana Pendidikan. penyediaan sarana dan prasarana juga harus mengacu pada asas di atas. maka dalam pendidikan yang ideal (lihat Bagan Ideal Orientasi Pendidikan. termasuk tata pergaulan sehari-hari yang bebas dan tak acuh pada norma agama. Sinergi Pengaruh Negatif. ketiga unsur tersebut harus merupakan satu kesatuan yang utuh. Akumulasi kelemahan pada unsur sekolah/kampus itu akhirnya menyebabkan tidak optimalnya pencapaian tujuan pendidikan yang dicita-citakan. Sekalipun pengaruhnya tidak sebesar unsur pendidikan yang lain. di samping masing-masing unsur tersebut juga belumlah berfungsi secara benar. Begitu halnya dengan kelemahan pada unsur keluarga yang umumnya tampak dari lalainya para orang tua untuk secara sungguh-sungguh menanamkan dasar-dasar keislaman yang memadai kepada anaknya. di mana ketiga unsur pelaksana tersebut belum berjalan secara sinergis. Paradigma baru pendidikan yang berasas aqidah Islam itu semestinya juga harus berlangsung secara berkesinambungan mulai dari TK hingga Perguruan Tinggi yang pada ujungnya nanti diharapkan mampu menghasilkan keluaran (output) peserta didik yang berkepribadian Islam (syakhshiyyah Islamiyyah). Lemahnya pengawasan terhadap pergaulan anak dan minimnya teladan dari orang tua dalam sikap keseharian terhadap anak-anaknya. Bila dalam orientasi keluaran dari pendidikan sekuleristik (lihat Bagan Faktual Orientasi Pendidikan. Solusi pada Tataran Paradigmatik. penyelesaian problem pendidikan yang mendasar harus dilakukan pula secara fundamental. Kelemahan pada unsur keluarga dan masyarakat ini pada akhirnya lebih banyak menginjeksikan beragam pengaruh negatif pada anak didik. sekaligus mengintegrasikan ketiganya seperti yang tampak pada Bagan Solusi Orientasi Pendidikan. makin memperparah terjadinya disfungsi rumah sebagai salah satu unsur pelaksana pendidikan. Sementara itu. serta langkanya keteladanan pada masyarakat.Menggagas Kembali Konsep Sistem Pendidikan Islam menumbuhkan budaya yang tidak memacu proses pembentukan kepribadian peserta didik. Melihat kondisi obyektif pendidikan saat ini. menggambarkan kondisi faktual obyektif pendidikan saat ini. 1. 4 . penyusunan kurikulum dan standar nilai ilmu pengetahuan serta proses belajar mengajar. dan itu hanya dapat diujudkan dengan melakukan perbaikan secara menyeluruh yang diawali dari perubahan paradigma pendidikan sekuler menjadi paradigma Islam. langkah yang diperlukan adalah optimasi pada proses-proses pembentukan kepribadian Islam (syakhshiyyah Islamiyyah) dan penguasaan tsaqofah Islam serta meningkatkan pengajaran sains-teknologi dan keahlian sebagaimana yang sudah ada dengan menata ontologi. Sementara pada tataran derivatnya. Oleh karena itu. epistemologi dan aksiologi keilmuan yang berlandaskan pada nilai-nilai Islam. sekolah/kampus dan masyarakat. menguasai tsaqofah Islam dan ilmu-ilmu kehidupan (iptek dan keahlian). termasuk penentuan kualifikasi guru/dosen serta budaya sekolah/kampus yang akan dikembangkan. Oleh karena di tengah masyarakat terjadi interaksi antar 2. politik.

maka kenegatifan masing-masing itu juga memberikan pengaruh kepada unsur pelaksana pendidikan yang lain. kedzaliman. maka lengkaplah kehancuran dari tiga pilar pendidikan tersebut. kebodohan. ketidakadilan. dll. kemerosotan moral. Maksudnya.) KRISIS KEHIDUPAN MULTIDIMENSIONAL Masalah Akar SISTEM KEHIDUPAN SEKULERISTIK Ekonomi Kapitalisti k Politik Oportunisti k Solusi Fundamental Pendidikan Materialist ik Tata Sosial Individualis tik Budaya Hedonistik TEGAKNYA SISTEM KEHIDUPAN ISLAM Tatanan berdasarkan syariah Ekono mi Politi k Pendidika n Budaya Tata Sosial masyarakat Sekolah/kampus keluarga 5 .Menggagas Kembali Konsep Sistem Pendidikan Islam ketiganya. Sementara. buruknya pendidikan anak di rumah memberi beban berat kepada sekolah/kampus dan menambah keruwetan persoalan di tengah masyarakat seperti terjadinya tawuran pelajar. situasi masyarakat yang buruk jelas membuat nilai-nilai yang mungkin sudah berhasil ditanamkan di tengah keluarga dan sekolah/kampus menjadi kurang optimum. Apalagi bila pendidikan yang diterima di sekolah juga kurang bagus. narkoba dan sebagainya. seks bebas. Bagan Skematis Akar dan Solusi Problematika Kehidupan Faktual (kemiskinan.

indiividualistik T UAN/ UJ ARAH Solusi AM PENDIDIK ISL AN ASAS • TU U J AN/ARAH SYAK HSHIYYAH SAQOFAH • T IL MU K EHIDUPAN  IPT EK KET ERAMPILAN AQIDAH ISLAMIYAH •  K ONT INYUITAS T .Menggagas Kembali Konsep Sistem Pendidikan Islam Faktual K elemahan Paradigma GAGAL MEMANU IAKAN MANU IA S S Gagal membentuk manusia sesuai dengan visi & misi penciptaannya Akar Masalah K EMAHAN EL ASAS Sekuleristik Manusia materialistik.PT K Sinergi Sekolah/kampus .K eluarga – Masyarakat Bagan Skematis Akar Masalah Pendidikan dan Solusi Fundamentalnya 6 .

Sekuleristik. 7 .Menggagas Kembali Konsep Sistem Pendidikan Islam SYAKHSIYAH ISLAMIYAH TSAQOFAH ISLAM ILMU KEHIDUPAN Bagan Faktual Orientasi Pendidikan. Integral. SYAKHSIYAH ISLAMIYAH TSAQOFAH ISLAM ILMU KEHIDUPAN Bagan Ideal Orientasi Pendidikan.

Kondisi tidak ideal seperti diuraikan di atas harus diatasi. memberikan skema solusi optimal yang berangkat dari kondisi obyektif saat ini. RUMAH (+/-) - MASYARAKAT (+/-) SEKOLAH/KAMPUS (+/-) - - Bagan Faktual 3 Unsur Pelaksana Pendidikan. Alternatif Idealis. Sinergi Pengaruh Positif. Dalam pandangan sistem pendidikan Islam. Sinergi Pengaruh Negatif. 8 . sebagaimana tampak pada Bagan Ideal 3 Unsur Pelaksana Pendidikan. semua unsur pelaksana pendidikan harus memberikan pengaruh positif kepada anak didik sedemikian sehingga arah dan tujuan pendidikan didukung dan dicapai secara bersama-sama.Menggagas Kembali Konsep Sistem Pendidikan Islam SYAKHSIYAH ISLAMIYAH TSAQOFAH ISLAM ILMU KEHIDUPAN Bagan Solusi Orientasi Pendidikan. Optimasi & Integrasi. Bagan Solusi 3 Unsur Pelaksana Pendidikan.

yaitu: (1) kurikulum yang paradigmatik.Menggagas Kembali Konsep Sistem Pendidikan Islam RUMAH (+) + + + MASYARAKAT (+) + SEKOLAH/KAMPUS (+) + + Bagan Ideal 3 Unsur Pelaksana Pendidikan. Berangkat dari paparan di atas. diharapkan pengaruh yang diberikan pada pribadi anak didik adalah positif sejalan dengan arahan Islam. sarana prasarana dan sumberdaya guru/dosen. Dengan melakukan optimasi proses belajar mengajar serta melakukan upaya meminimasi pengaruhpengaruh negatif yang ada. yakni: Pertama. Solusi strategis fungsional sebenarnya sama dengan menggagas suatu sistem pendidikan alternatif yang bersendikan pada dua cara yang lebih bersifat strategis dan fungsional. dan (4) lingkungan dan budaya sekolah/kampus yang kondusif bagi pencapaian tujuan pendidikan secara optimal. Kedua. sistem pengajaran. (2) guru/dosen yang profesional. membuka lebar ruang interaksi dengan keluarga dan masyarakat agar keduanya dapat berperan optimal dalam menunjang proses pendidikan. Sinergi Pengaruh Positif. 9 . RUMAH + + + + MASYARAKAT - + SEKOLAH/KAMPUS (+) + + + - Bagan Solusi 3 Unsur Pelaksana Pendidikan Alternatif Idealis. maka untuk mewujudkan lembaga pendidikan unggulan yang dimaksud setidaknya terdapat empat komponen yang harus dipersiapkan guna menunjang tindak solusif sebagaimana yang digagas – seperti tampak pada Bagan Skematis Fakta dan Solusi Problematika Pendidikan di Sekolah. membangun lembaga pendidikan unggulan dimana semua komponen berbasis paradigma Islam. (3) proses belajar mengajar secara Islami. Sinergi pengaruh positif dari faktor pendidikan sekolah/kampus – keluarga – masyarakat inilah yang akan membuat pribadi anak didik terbentuk secara utuh sesuai dengan kehendak Islam. amanah dan kafa’ah. dan pada saat yang sama meningkatkan pengaruh positif pada anak didik. yakni penyiapan kurikulum paradigmatik.

Berdasarkan pengorganisasian serta struktur dan tempat terjadinya proses tersebut. dan memberikan hasil/keluaran bagi suprasistem tersebut. lingkungan sekolah/kampus– dll.Menggagas Kembali Konsep Sistem Pendidikan Islam Faktual • • • Paradigma Pendidikan yang Salah Kelemahan pada unsur pendidikan : kurikulum– guru – proses belajar mengajar. penelitian dan biaya pendidikan. dan qudwah hasanah Proses belajar mengajar yang Islami Lingkungan (budaya) sekolah /kampusyang Islami Minimisasi p engaruh negatif yang ada pada keluarga dan lingkungan masyarakat  Optimasi Proses Belajar Mengajar  Berlakukan konsep Islamisasi K ampus Preparasi      K URIK ULUM PARADI GMATIK SISTEM PENGAJ ARANISL AMI SARANA PRASARANA MEMADAI GURU /DOSEN PROFESIONAL BUDAYA K AMPUS /SEK OLAH ISLAMI Bagan Skematis Fakta dan Solusi Problematika Pendidikan di Sekolah/Kampus. Proses pendidikan dapat terjadi dimana saja. Pendidikan harus merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sistem hidup Islam. 10 . teknologi. sistem pendidikan memperoleh masukan dari supra sistem. PENDIDIKAN ISLAM Pendidikan dalam pandangan Islam merupakan upaya sadar. struktur dan jadwal waktu. Melalui proses ini diperoleh hasil pendidikan yang mengacu pada tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Interaksi fungsional antar subsistem pendidikan dikenal sebagai proses pendidikan. Beban Kontraproduktif antara Sekolah/kampus dengan K eluarga dan Masyarakat Solusi • • • • • Kurikulum paradigmatik Guru/dosen yang kafa’ah. tenaga pendidik/pengajar dan pelaksana. yakni keluarga dan masyarakat atau lingkungan. fasilitas. Proses pendidikan ini didefinisikan Pannen dan Malati dalam buku Program Applied Approach (1996) sebagai proses transformasi atau perubahan kemampuan potensial individu peserta didik menjadi kemampuan nyata untuk meningkatkan taraf hidupnya lahir dan batin. alat bantu belajar. kendali mutu. terstruktur serta sistematis untuk mensukseskan misi penciptaan manusia sebagai abdullah dan khalifah Allah di muka bumi. Sebagai bagian integral dari sistem kehidupan Islam. manajemen. anak didik (pelajar/mahasiswa). dikenal adanya pendidikan sekolah dan pendidikan luar sekolah. Sementara subsubsistem yang membentuk sistem pendidikan antara lain adalah tujuan pendidikan itu sendiri. materi. amanah.

hasil pendidikan efektivitas dan efisiensi proses pendidikan yang berlangsung dapat dibuktikan. Tampak pada penetapan tujuan/arah pendidikan. melalui berbagai pendekatan. mengajaknya bertekad bulat untuk senantiasa menegakkan bangunan cara berpikir dan perilakunya di atas pondasi ajaran Islam semata. Membentuk Kepribadian Islam ( Syakhshiyyah Islamiyyah ) Tujuan yang pertama ini pada hakikatnya merupakan perwujudan dari konsekuensi seorang muslim. menanamkan aqidah Islam kepada yang bersangkutan dengan metode tepat. yakni ilmu yang wajib dipelajari oleh setiap individu muslim. Dari gambaran di atas diketahui bahwa kesinambungan tujuan pendidikan dalam setiap jenjang pendidikan sekolah (formal) sangatlah penting. Menguasai Tsaqofah Islam Tujuan kedua ini juga merupakan konsekuensi (lanjutan) dari kemusliman seseorang. Semua komponen yang terlibat dalam kegiatan pendidikan (guru/dosen/karyawan. unsur-unsur pelaksana pendidikan serta asas dan struktur kurikulum. yakni bahwa sebagai muslim ia harus memegang erat identitas kemuslimannya dalam seluruh aktivitas hidupnya. mengembangkan kepribadiannya dengan cara membakar semangatnya untuk bersungguhsungguh mengisi pemikirannya dengan tsaqofah Islamiyyah dan mengamalkan dan memperjuangkannya dalam seluruh aspek kehidupannya sebagai ujud ketaatan kepada Allah SWT. Ketiga. ekstra kurikuler maupun interaksi diantara komponen di atas harus diarahkan bagi tercapainya tujuan yang pertama ini.taklifnya (memberi beban hukum) kewajiban menuntut ilmu. Pertama .Menggagas Kembali Konsep Sistem Pendidikan Islam Selanjutnya. penjabaran capaian tujuan pendidikan melalui kurikulum pendidikan. dengan guru/dosen dan budaya pendidikan yang mendukung menjadi suatu kebutuhan yang tidak terelakkan. termasuk semua kegiatan yang dilakukan baik kurikuler. Pertama ilmu yang dikategorikan sebagai fardu a’in. ko-kurikuler. Tujuan Pendidikan Tujuan pendidikan adalah suatu kondisi ideal dari obyek didik yang akan dicapai. ke arah mana seluruh kegiatan dalam sistem pendidikan di arahkan. Untuk menjaga kesinambungan proses pendidikan. Maka. pendidikan Islam yang merupakan upaya sadar yang terstruktur. pemantapan dan pematangan kepribadian anak didik. harus menjadi media untuk memberikan dasar bagi pembentukan. Imam Al Ghazali dalam Ihya Ulumuddin. sebagaimana dicontohnya Rasulullah SAW. terprogram dan sistematis bertujuan untuk membentuk manusia yang (1) berkepribadian Islam. Pendidikan. orangtua. Identitas itu menjadi kepribadian yang tampak pada pola berpikir (aqliyyah) dan bersikapnya (nafsiyyah) yang dilandaskan pada ajaran Islam. a. b. Pada prinsipnya. dan itu akan mempengaruhi kemampuan anak didik dalam menjalani proses pendidikan. sebagaimana pengertiannya. Kedua. Ilmu yang termasuk dalam golongan ini adalah ilmu-ilmu tsaqofah 11 . ada tiga langkah untuk membentuk dan mengembangkan kepribadian Islam pada diri seseorang. masyarakat bahkan sesama peserta didik). (3) menguasai ilmu kehidupan (sainsteknologi dan keahlian) yang memadai. peningkatan. membagi ilmu dalam dua kategori dilihat dari sisi kewajiban menuntutnya. (2) menguasai tsaqofah Islam. Di dalam lingkungan inilah. Islam mendorong setiap muslim untuk menjadi manusia yang berilmu dengan cara men. unique. 1. yakni yang sesuai dengan kategori aqidah Islam sebagai aqidah aqliyyah (aqidah yang keyakinannya dicapai melalui proses berfikir). hasil pendidikan ini dikembalikan kepada supra sistem atau lingkungan. sistem pendidikan memperoleh umpan balik yang dapat digunakan untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu proses pendidikan. Kurikulum pendidikan Islam sendiri sangatlah khas. Dari hasil pendidikan ditambah interaksi dengan lingkungannya.

Hanya dengan itu setiap muslim memiliki pijakan yang sangat kuat untuk maju sesuai dengan arahan Islam. Ilmu yang termasuk dalam golongan ini adalah sains dan teknologi serta berbagai keahlian. termasuk dalam pendidikan. sebab dorongan dan perintah untuk maju ternyata berasal dan sekaligus menjadi buah dari keimanan seorang muslim. Dalam kitab Al Furusiyah (Ibnul Qoyyim). Dari dari itu pula dapat membuahkan tambahan keimanan terhadap Allah SWT. c. Pada hakikatnya ilmu pengetahuan terdiri atas dua hal. kekuasaan-Nya dan keagungan-Nya. akal yang demikian juga akan memacu kehendak untuk menguasai iptek. yang sangat diperlukan bagi kemajuan material masyarakat. Dorongan Islam untuk menguasai Ilmu kehidupan (iptek) juga dapat dimengerti dari pengkajian terhadap hakikat ilmu pengetahuan itu sendiri. Akal menjadi sesuatu yang paling berharga yang dimiliki manusia. sehingga setiap tindakannya diukur dengan standar ajaran Islam. Dalam kitab Al Fathul Kabir. “Dengan ini. misalnya. diriwayatkan bahwa Rasulullah suatu ketika melihat busur-busur panah buatan orang-orang Arab. bahasa Arab. ulumu al-Hadits dan sebagainya. dengan busurbusur. Imam Syafi’i dalam kitab al-Risalah fi ‘Ilmi Ushul menyatakan. Allah SWT mengokohkan kekuasaanmu di dalam negeri dan menolong kalian 12 . sejenis tank yang terdiri atas kayu tebal berlapis kulit dan tersusun dari roda-roda. tombak. Kedua adalah ilmu yang dikategorikan sebagai fardu kifayah. yakni pengetahuan yang dapat mengembangkan akal pikiran manusia – sehingga ia dapat menentukan suatu tindakan (aksi) tertentu – dan pengetahuan mengenai perbuatan itu sendiri. Karenanya setiap muslim. yaitu ilmu yang wajib dipelajari oleh sebagian dari umat Islam. Sementara. terhadap keesaanNya. Rasul memahami betul manfaat senjata ini untuk menerjang benteng lawan. membuktikan bahwa Islam membentengi manusia dengan menjadikan aqidah Islam sebagai satu-satunya asas bagi kehidupan seorang muslim. manusia dilebihkan atas seluruh makhluk ciptaan Allah SWT. Dengan akalnya. Rasulullah SAW telah menjadikan bahasa ini sebagai bahasa umat Islam yang dipakai dalam kehidupan seharihari. “Allah SWT mewajibkan seluruh umat untuk mempelajari lisan Arab dengan tekun dan sungguh-sungguh agar dapat memahami kandungan Al Qur’an dan untuk beribadah. berkehendak. kewajiban untuk menguasai ilmu kehidupan (iptek dan keahlian) diperlukan agar umat Islam dapat meraih kemajuan material sehingga dapat menjalankan fungsinya sebagai khalifah Allah SWT dengan baik di muka bumi ini. Berkaitan dengan bahasa Arab sebagai bagian dari tsaqofah Islam. sirah nabawiyah. Menguasai Ilmu Kehidupan (Iptek dan keahlian) Sementara itu. berkata. termasuk dalam tata cara berpikir. diketahui bahwa Rasul pernah mengutus dua orang shahabatnya ke negeri Yaman guna mempelajari teknik pembuatan senjata yang mutakhir ketika itu yang disebut dabbabah. seperti kedokteran. dimana melalui proses pemikirannya akan mampu menghantarkan manusia pada keimanan. Di sinilah pentingnya peranan akal manusia. ide dan hukum-hukum (fiqh) Islam. teknik dan sebagainya.” Dorongan kuat agar setiap muslim mempelajari tsaqofah Islamiyyah di samping sains dan teknologi.Menggagas Kembali Konsep Sistem Pendidikan Islam Islam. wajib mempelajari bahasa Arab. termasuk yang bukan Arab sekalipun. Pada sisi yang lain. ulumu al-Qur’an. Dalam Al Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang membicarakan tentang fungsi dan pentingnya akal. Berkaitan dengan akal. yakni pemikiran. Allah SWT menurunkan Al Qur’an dan mengutus Rasul-Nya Muhammad SAW dengan membawa risalah Islam untuk menuntun akal manusia dan membimbingnya ke jalan yang benar. Allah SWT telah memuliakan manusia dengan akalnya. pertanian. dalam banyak ayat lainnya Allah SWT juga menyerukan manusia untuk menggunakan akalnya dan memanfaatkannya supaya dapat memikirkan dan merenungkan ciptaan Allah SWT sehingga darinya bisa didapat sains dan aplikasinya berupa teknologi.

Sementara materi tsaqofah Islamiyyah dan pelajaran ilmu-ilmu kehidupan diajarkan secara bertingkat dari mulai tingkat dasar hingga pendidikan tinggi. dan biaya pendidikan guna melancarkan kelangsungan proses pendidikan. Rasul juga menganjurkan kaum muslimah agar mempelajari ilmu tenun. Selain mengacu pada tujuan pendidikan yang diterapkan secara berjenjang.” Pada kali yang lain. manajemen penyelenggaraan sekolah/kampus. • Sejalan dengan tujuan pendidikan. dan metodologi pendidikan disusun berdasarkan pada Aqidah Islam. alat bantu belajar (buku teks. tenaga pendidik/pengajar dan pelaksana yang bertanggung jawab atas terselenggaranya kegiatan pendidikan. • Materi pelajaran yang bermuatan pemikiran. 13 . aqidah ahli kitab dan lainnya. baik negeri maupun swasta. 2. yakni mulai umur tujuh tahun. yakni keluarga dan masyarakat. ide dan hukum yang bertentangan dengan Islam. bukan untuk diyakini dan diamalkan. berlangsungnya proses pendidikan di sekolah/kampus sangat bergantung pada keberadaan subsistem-subsistem lain yang terdiri atas: anak didik (pelajar/mahasiswa). hanya diberikan pada tingkat pendidikan tinggi yang tujuannya hanya untuk pengetahuan. • Pelajaran ilmu-ilmu kehidupan (iptek dan keahlian) dibedakan dari pelajaran guna membentuk syakhsiyyah Islamiyah dan tsaqofah Islamiyyah. Materi guna membentuk syakhsiyyah Islamiyah mulai diberikan di tingkat dasar sebagai materi pengenalan dan kemudian meningkat pada materi pembentukan dan pematangan setelah usia anak didik menginjak baligh (dewasa). berdasar pada hadits. laboratorium. materi bahan pengajaran yang diatur dalam seperangkat sistem yang disebut sebagai kurikulum. Pendidikan di sekolah/kampus Pendidikan di sekolah/kampus pada dasarnya merupakan proses pendidikan yang diorganisasikan secara formal berdasarkan struktur hierarkhis dan kronologis. seperti ideologi sosialis/komunis atau liberal/kapitalis.Menggagas Kembali Konsep Sistem Pendidikan Islam atas lawan-lawanmu. fasilitas atau kampus beserta perlengkapannya. termasuk sejarah asing. mata ajaran. • Tujuan penyelenggaraan pendidikan merupakan penjabaran dari tujuan pendidikan Islam yang disesuaikan dengan jenjang pendidikan. teknologi yang terdiri dari perangkat lunak (strategi dan taktik pengajaran) serta perangkat keras (peralatan pendidikan). yakni secara formal di sekolah/kampus dan secara nonformal di luar kampus-sekolah/lingkungan. Unsur Pelaksana Pendidikan Berdasarkan pengorganisasian. papan tulis. menulis dan merawat orang sakit (pengobatan). proses pendidikan bisa dibagi menjadi dua. waktu belajar untuk ilmu-ilmu Islam (tsaqofah Islamiyyah) diberikan dengan proporsi yang disesuaikan dengan pengajaran ilmu-ilmu kehidupan (iptek dan keahlian). penelitian untuk pengembangan kegiatan pendidikan. Yang ada hanyalah batas usia wajib belajar bagi anak-anak. kendali mutu yang bersumber atas target pencapaian tujuan. • Bahasa Arab menjadi bahasa pengantar di seluruh jenjang pendidikan. a. dan audiovisual). bahasa maupun sastra asing dan lainnya. struktur dan jadwal waktu kegiatan belajar-mengajar. dari jenjang taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Berdasar sirah Rasul dan tarikh Daulah Khilafah pendidikan formal dapat dideskripsikan sebagai berikut: • Kurikulum pendidikan. • Pendidikan di sekolah tidak membatasi usia. Rasulullah SAW memerintahkan Asy-Syifa binti Abdullah agar mengajarkan kepada Hafshah Ummul Mukminin menulis dan teknik pengobatan.

misi dan sistem pendidikan yang dikembangkan tidak keluar dari ajaran Islam. penguasaan dasar-dasar tsaqofah Islam dilakukan melalui pendidikan dan pengamalan hidup sehari-hari dan dipengaruhi oleh sumber belajar yang ada di keluarga. Pendidikan di keluarga Keluarga merupakan tempat pendidikan yang pertama dan utama. bukan sekuler. dan pisahkanlah tempat tidur mereka (pada usia tersebut pula)” (HR. Dalam dakwah pun. karena ia menjadi peletak pondasi kepribadian anak. sebelum kepada masyarakat luas. Swasta bisa menyelenggarakan pendidikan asal visi. Al Hakim dan Abu Dawud dari Abdullah bin Amr bin Ash) • Penyelenggaraan kegiatan olahraga dilangsungkan secara terpisah bagi murid lakilaki dan perempuan. Upaya pendidikan dalam keluarga sebenarnya telah dan harus dimulai sejak usia anak dalam kandungan hingga menginjak usia baligh dan memasuki jenjang pernikahan. mengingat bahan masukannya berasal dari suprasistem yang sekuler. 14 . Proses pendidikan seperti ini dilakukan melalui apa yang disebut small Islamic environment yang interaksi dengan suprasistem masyarakat dan keluarga tergambarkan pada bagan berikut: (+/-) KELUARGA MASYARAKAT (+/-) (+/-) (+) SEKOLAH/KAMPU S (+) Posisi Pendidikan Sekolah/Kampus terhadap Keluarga dan Masyarakat b. Pembinaan kepribadian. Itulah sebabnya. proses pendidikan dalam keluarga disebut sebagai pendidikan yang pertama dan utama. • Pendidikan diselenggarakan oleh negara secara gratis atau murah. utamanya orang tua. dan bahkan akan terus berlangsung hingga usia tua. peran penting sekolah/kampus sangat terasa. Proses pendidikan di sekolah/kampus harus mampu menghasilkan keluaran yang Islami. seorang muslim diperintahkan untuk berdakwah terlebih dulu kepada anggota keluarga dan kerabat dekatnya.Menggagas Kembali Konsep Sistem Pendidikan Islam “ Perintahkanlah anak-anak mengerjakan shalat di kala mereka berusia tujuh tahun dan pukullah mereka apabila meninggalkan shalat pada usia sepuluh tahun. Dalam kehidupan sekuler seperti saat ini. Beban sekolah bertambah berat manakala ia pun harus mampu mensterilkan sekolah dari gempuran pengaruh negatif yang datang dari kedua suprasistem. Keluarga ideal berperan menjadi wadah pertama pembinaan keislaman dan sekaligus membentenginya dari pengaruh-pengaruh negatif yang berasal dari luar.

kemudian ia bereaksi dan berusaha melawan rasa sakit tersebut hingga lenyap. ia akan berusaha melakukan secara sembunyi-sembunyi. Masyarakat Islam terbentuk dari individu-individu yang dipengaruhi oleh perasaan. aqidah Islam difungsikan sebagai kaidah atau tolak ukur pemikiran dan perbuatan. khususnya berkenaan dengan praktek kehidupan sehari-hari yang dipengaruhi oleh sumber belajar yang ada di masyarakat. asal disertai koreksi dengan hujjah yang kuat untuk menumbangkan pendapat yang salah itu. Yang dilarang adalah mengambil pemikiran-pemikiran yang salah itu sebagai pegangan hidup. seseorang yang berbuat maksiyat tidak akan berani melakukannya secara terang-terangan. masyarakat Islam memiliki kepekaan indera bagaikan pekanya anggota tubuh terhadap sentuhan benda asing. menjelaskan kekeliruannya serta memberikan jawaban yang tepat. teman pergaulan. sebagaimana keyakinan aqidah Islam. pendidikan di tengah masyarakat pada hakikatnya juga merupakan proses pendidikan sepanjang hayat. tapi. asas dalam hubungan antar sesama manusia. Dalam aspek sosial. Asas Pendidikan Islam mewajibkan setiap muslim untuk memegang teguh ajaran Islam dan menjadikannya sebagai dasar dalam berfikir dan berbuat. 3. Begitu sadar akan kesalahannya. Dalam masyarakat Islam. karena memang tidak semua ilmu pengetahuan terlahir dari aqidah Islam. Dengan kata lain. merupakan contoh nyata gambaran dari ketinggian ketaqwaan individu dalam masyarakat Islam. ia akan terdorong segera bertobat atas kekhilafannya dan kembali kepada kebenaran. teori Darwin mempengaruhi cara berpikir masyarakat bahwa yang terkuat akan tumbuh dan menang. dan peraturan Islam yang mengikat mereka sehingga menjadi masyarakat yang solid. Dalam sistem Islam. Lebih dari itu. Teori evolusi Darwin misalnya. melainkan semata-mata dipelajari untuk pengetahuan. Islam tidak melarang mempelajari segala macam pemikiran sekalipun bertentangan dengan aqidah Islam. Masyarakat berperan mengawasi anggota masyarakat lain dan penguasa dalam pelaksanaan hukum syariat Islam. masyarakat merupakan salah satu elemen penting penyangga tegaknya sistem selain ketaqwaan individu serta keberadaan negara sebagai pelaksana syariat Islam. lingkungan serta sistem nilai yang berjalan. atau bahkan tidak berani melakukan sama sekali. Al Qur’an sendiri memuat pemikiran dan keyakinan dari berbagai agama dan golongan di masa Nabi SAW. Kisah Ma’iz Al Aslami dan Al Ghomidiyah radliyallahu anhuma yang langsung menghadap Nabi SAW untuk meminta hukuman sesaat setelah berzina. Perkembangan manusia tidak berawal dari hewan primata (kera). Ilmu tentang pendapat-pendapat yang bertentangan dengan Islam tentu bukan sebagai suatu pengetahuan yang utama. Tubuh yang hidup akan turut merasakan sakit saat anggota tubuh lain terluka. asas bagi aturan masyaraka dan asas dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.Menggagas Kembali Konsep Sistem Pendidikan Islam c. Paham ini memberi andil tegaknya ideologi kapitalis/liberal. Dari sinilah amar ma’ruf nahi munkar menjadi bagian yang paling esensial yang sekaligus membedakan masyarakat Islam dengan masyarakat lainnya Ketaqwaan individu anggota masyarakat di samping ditentukan oleh upaya pribadi. Dari sana tercetus gagasan bahwa hanya mereka yang berjuang secara bebas sajalah yang akan mampu mencapai kedudukan 15 . juga sangat dipengaruhi oleh interaksi dengan anggota masyarakat lain dan nilai-nilai yang berkembang di tengah masyarakat. jelas bertentangan dengan aqidah Islam. termasuk dalam menyusun sistem pendidikan. Kalaupun ada yang tergoda untuk berbuat maksiyat. pemikiran. Yang dimaksud dengan menjadikan aqidah Islam sebagai asas atau dasar dari ilmu pengetahuan adalah dengan menjadikan aqidah Islam sebagai standar penilaian. sesuai dengan prinsip seleksi alam (prinsip “survival for the fittest”). Penetapan aqidah Islam sebagai asas pendidikan tidaklah berarti bahwa setiap ilmu pengetahuan harus bersumber pada aqidah Islam. Pendidikan di tengah masyarakat Hampir sama dengan pendidikan di keluarga. diciptakan oleh Allah dari tanah lalu mani. yakni tetangga.

” Khalifah Hisyam bin Abdul Malik mewasiatkan kepada Sulaiman Al Kalby. tidak ada faktor lain yang turut campur mengadakannya ataupun menumbuhkannya.Keterampilan 4 3 2 1 Pada tingkat dasar atau menjelang usia baligh (TK dan SD). tidak boleh diajarkan begitu saja karena akan berpotensi merusak aqidah. Menurut teori ini. ajarkanlah kepada anak-anakmu berenang dan menunggang kuda. Contoh lain yang bertentangan dengan aqidah Islam adalah teori perkembangan (evolusi) materi sebagaimana keyakinan kaum komunis. umum. dikenal dengan istilah generatio spontanea. Tuhan tidak ada. menulis halus. Sebagaimana yang tercermin dalam tabel di bawah ini. seperti contoh-contoh tersebut di atas. Dalam bidang biologi. Yang termasuk dalam materi dasar ini antara lain: pengenalan Al Qur’an dari segi hafalan dan bacaan. “Sesudah itu. sirah Rasul dan Khulafaur Rasyidin serta berlatih berenang dan menunggang kuda (menyetir mobil?). Struktur Kurikulum Kurikulum pendidikan Islam di sekolah/kampus dijabarkan dalam tiga komponen utama. menulis dan menghitung. Pengetahuan mengenai ide-ide yang bertentangan dengan aqidah Islam. prinsip-prinsip bahasa Arab. guru anaknya: “Sesungguhnya anakku ini adalah cahaya 16 . Tabel Struktur dan Performa Komponen Kurikulum JENJANG PENDIDIKAN TK SD SMP SMU KOMPONEN MATERI PT Pembentukan Syakhsiyyah Islamiyyah Dasar-dasar Pembentukan Pematangan 5 4 Tsaqofah Islam 1 3 2 5 Ilmu Kehidupan . muatan tsaqofah Islam dan Ilmu Kehidupan (Iptek dan keahlian) diberikan secara bertingkat sesuai dengan daya serap dan tingkat kemampuan anak didik berdasarkan jenjang pendidikannya masing-masing. membaca. 4. dan ceritakan kepada mereka adab sopan santun dan syair-syair yang baik. (2) Tsaqofah Islam dan (3) Ilmu Kehidupan (Iptek dan keahlian).Menggagas Kembali Konsep Sistem Pendidikan Islam yang baik secara ekonomi dan sosial. penyusunan struktur kurikulum sedapat mungkin bersifat mendasar. selain muatan penunjang proses pembentukan syakhshiyyah Islamiyyah yang secara menerus diberikan pada tingkat TK – SD dan SMP – SMU – PT. yaitu bahwa makhluk hidup (dalam hal ini organisme sel) tercipta dengan sendirinya. manusia yang berprinsip tujuan menghalalkan cara. terpadu dan merata bagi semua anak didik yang mengikutinya. Khalifah Umar bin Khattab dalam wasiat yang dikirimkan kepada gubernur-gubernurnya menulis. materi berkembang dengan sendirinya. yakni: (1) Pembentukan Syakhsiyyah Islamiyyah (Kepribadian Islami). Jadilah ia seorang machiavelis. prinsip-prinsip agama.Iptek /keahlian . Kecuali disertai dengan penjelasan mengenai kesalahannya agar orang tidak meyakininya.

Pengelola pendidikan dan siswa 17 . Peningkatan dan Pematangan). materi yang diberikan bersifat Lanjutan (Pembentukan. Pengelola pendidikan Guru. yang ditunjang dengan proses pembiasaan dalam penerapan aturan beserta sanksinya. baik menyangkut akhlak. kebersihan atau hal lain. sehingga lebih banyak diberikan materi yang bersifat pengenalan guna menumbuhkan keimanan. Hal ini dimaksudkan untuk memelihara dan sekaligus meningkatkan keimanan serta keterikatan dengan syariat Islam. Iptek Guru 3. Seperti tampak pada Tabel Struktur dan Performa Komponen Kurikulum. antara lain saling menyayangi dan menghormati. Hal ini mengingat anak didik berada pada usia menuju baligh. Salah satu diantaranya adalah dengan menyampaikan tsaqofah Islam kepada para siswa/mahasiswa. ibadah. SMU dan PT. saya percayakan padamu mengajarnya.…” a. pada tingkat TK hingga SD materi Syakhsiyyah Islamiyyah yang diberikan adalah Materi Dasar. Diterapkan melalui pengamalan syariat Islam secara nyata. Keteladanan Tsaqofah Islam Tsaqofah Islam dan penerapan Aturan sekolah Tsaqofah Islam dan penerapan aturan Tsaqofah Islam dan penerapan aturan Guru. diantaranya melalui internalisasi nilai tauhid. Penerapan budaya sekolah (school culture) 5. Pembentukan Syakhsiyyah Islamiyyah Pembentukan syakhshiyyah Islamiyyah harus dilakukan pada semua jenjang pendidikan sesuai dengan proporsinya melalui berbagai pendekatan. Diberikan dalam wujud contoh nyata amaliyah harian (akhlak & ibadah) di lingkungan sekolah. pergaulan. Pengelola Pendidikan dan siswa Guru.Menggagas Kembali Konsep Sistem Pendidikan Islam mataku. Setelah mencapai usia baligh. Tabel Pendekatan Terpadu Pembentukan Syakhshiyyah Islamiyyah No JENIS IMPLEMENTASI MATERI PELAKSANA PENDEKATAN INDUK 1. Amaliyah ubudiyah harian Guru. 2. Dan yang pertama-tama saya wasiatkan kepadamu adalah agar engkau mengajarkan kepadanya Al Qur’an. serta saling mengingatkan. Formalnonstruktural Dilakukan melalui proses pencerapan nilai-nilai Islam dalam setiap mata ajaran yang diberikan kepada siswa. Formal Dilakukan melalui kegiatan tatap Tsaqofah Guru struktural muka formal dalam jam belajarIslam mengajar resmi. Dilakukan dengan pembiasaan shalat berjamaah. yakni pada SMP. Indikatornya adalah bahwa anak didik dengan kesadarannya melaksanakan seluruh kewajiban dan mampu menghindari seluruh larangan Allah. Hendaklah engkau bertakwa kepada Allah dan tunaikanlah amanah. Pembinaan pergaulan antar siswa 6. Pengelola Pendidikan 4. Dilakukan dalam suasana ukhuwah Islamiyyah dengan standar kepribadian Islam. kemudian hafalkan kepadanya Al Qur’an.

(pendapat) Ibadah Makanan/ Minuman Pakaian Akhlaq Muamalah Uqubah Ibadah Makanan/ Minuman Pakaian Akhlaq Memahami hukum Islam yang berkaitan dengan ibadah. Sebagai contoh.5 juz.Menggagas Kembali Konsep Sistem Pendidikan Islam Indikator Kematangan Syakhshiyyah Islamiyyah Siswa ASPEK URAIAN INDIKASI Aqidah Memahami dan mengimani seluruh perkara aqidah Islam. giat menuntut ilmu dan memiliki etos berprestasi Selalu bermuamalah secara Islam. Materi ini diberikan di seluruh jenjang pendidikan secara proporsional. muamalah (aspek ekonomi. AHKAM (hukum) NAFSIYAH Menjadikan syariat Islam Sebagai tolok ukur perbuatan Muamalah Dakwah b. Islam & Dakwah Memahami ihwal kewajiban dakwah Dan menjadikanya dan thariqah dakwah Rasul SAW. Bersedia terlibat dalam dakwah bagi tegaknya kembali izzul Islam wa almuslimin. yang sekaligus menjadi sumber peradaban Islam. pemerintahan). SMU sebanyak 2. halal dan haramnya makanan dan minuman. Selalu menutup aurat. makanan. sedang di PT diutamakan menghafal ayat-ayat yang terkait erat dengan bidang ilmu yang ditekuninya. 18 . AQLIYYAH AFKAR Problematika Memahami problematika umat dan (pemikiran) umat ide-ide yang bertentangan dengan Memahami aqidah Islam. sebagai landasan ARA’ Tabel KOMPONEN berpikir. Selalu melaksanakan ibadah dengan khusyu’ sesuai syariat Selalu mengkonsumsi makanan dan minuman yang halal. minuman dan pakaian) Materi tsaqofah Islam sebagaimana digambarkan pada Tabel Struktur dan Performa Komponen Kurikulum. SMP sebanyak 2. sosial. akhlaq. diberikan secara bertingkat sesuai dengan tingkat kemampuan dan daya serap anak didik dari tingkat TK hingga PT. Syariat Memahami pemikiran syariat Islam. Materi yang diberikan adalah: • • • • Aqidah Islamiyyah Bahasa Arab Akhlaq Sirah Nabawiyah Ulumu dan tahfidzu al-Qur’an • • • Pemikiran Islam • Ushul Fiqih • Fiqh muamalah • Dakwah Islamiyyah Ulumu dan tahfidzu al-Hadits • Fiqih Fardiyah (ibadah. Selalu menampakkan akhlakul karimah. pakaian. target materi tahfidzu al-Qur’an untuk tingkat SD adalah misalnya 5 juz. Tsaqofah Islam Tsaqofah Islam adalah ilmu-ilmu yang dikembangkan berdasar aqidah Islam.5 juz. uqubah.

negara memberikan pelayanan pendidikan secara cuma-cuma (bebas biaya) dan kesempatan seluas-luasnya bagi seluruh warga untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi dengan fasilitas (sarana dan prasarana) sebaik mungkin. sekolah tinggi tersebut juga dilengkapi dengan kamar mandi. paling tidak semenjak 4 H telah banyak dibangun sekolah Islam. Contohnya. Sarana dan Prasarana Berdasarkan sirah Nabi SAW dan tarikh Daulah Khilafah – sebagaimana disarikan oleh Al Baghdadi (1996) dalam buku Sistem Pendidikan di Masa Khilafah Islam. Di antara sekolah-sekolah tinggi yang terpenting adalah Madrasah Nizhamiyah dan Madrasah Al Mustanshiriyah di Baghdad. materi ini difokuskan lebih tematik. tempat peristirahatan untuk siswa. perumahan staf pengajar. Kehidupan keseharian mereka dijamin sepenuhnya. Muhammad Athiyah Al Abrasi dalam buku Dasar-dasar Pendidikan Islam. Materi Ushul Fiqh mulai diberikan pada tingkat SMU. perumahan dosen dan ulama. dapur dan ruang makan. c. pengajaran ilmu ini lebih terfokus. Di antara madrasah-madrasah tersebut yang terbaik adalah Madrasah Nizhamiyah. dakwah dan lainnya. Ilmu Kehidupan (Iptek dan Keahlian) Muatan yang ketiga ini diberikan secara bertingkat sesuai dengan perkembangan kemampuan anak. gedung pertemuan). Di sekolah ini setiap siswa menerima beasiswa sebesar satu dinar (4. Selain itu. majelis-majelis taklim dan tempat-tempat pendidikan lainnya. Madrasah Al Nuriyah di Damaskus. setiap khalifah terus membangun sekolah tinggi Islam dan berusaha melengkapinya dengan sarana dan prasarananya. bahkan juga taman rekreasi. Sekolah ini memiliki sebuah auditorium dan perpustakaan yang sangat lengkap. asrama penampungan mahasiswa. Di sekolah ini terdapat fasilitas lain seperti asrama siswa. Khurasan (Iran) dan lainnya. Barulah pada tingkat SMP. 5. Madrasah Al Mustanshiriyah di Baghdad didirikan oleh Khalifah Al Mustanir pada abad ke – 6 Hijriah. Madrasah Al Muntashiriah yang didirikan Khalifah Al Muntashir di kota Baghdad. Dana pendidikan ditanggung negara yang diambil dari kas baitul maal. Dalam perkembangannya. staf pengajar dan para pelayan serta ruang besar untuk ceramah. pendidikan ketika itu dilakukan di dalam masjid. Di jenjang pendidikan tinggi. Madrasah lain yang juga cukup terkenal adalah Madrasah Darul Hikmah di Kairo yang didirikan oleh Khalifah Al Hakim Biamrillah pada tahun 395 H. madrasah ini juga dilengkapi dengan pemandian. Sekolah ini akhirnya menjadi standar bagi daerah lainnya di Irak. memberikan gaji kepada tiga orang guru yang mengajar anak-anak di kota Madinah masing-masing sebesar 15 dinar setiap bulan. Sistem pendidikan bebas biaya dilakukan oleh para shahabat (ijma). bahkan rumah sakit dan pemandian tersedia lengkap di sana. misalnya dengan tema khusus peperangan. Materi Sirah yang diberikan mulai tingkat SD lebih bersifat pengenalan dasar yang dimaksudkan untuk membina dan mencerapkan nilai-nilainya. Madrasah ini adalah institut pendidikan yang dilengkapi dengan perpustakaan dan 19 . rumah sakit yang dokternya siap di tempat. LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM DI MASA LALU Di zaman pemerintahan Islam. termasuk pemberian gaji yang sangat memuaskan kepada para pengajar yang diambil dari baitul maal. Pada setiap sekolah tinggi itu dilengkapi dengan iwan (auditorium. Begitu pula dengan Madrasah An-Nuriah di Damaskus yang didirikan pada abad keenam Hijriah oleh Khalifah Sultan Nuruddin Muhammad Zanky.Menggagas Kembali Konsep Sistem Pendidikan Islam Sedangkan materi Ulumu al-Qur’an semakin mantap diberikan pada tingkat SMP sebagaimana materi Ulumu al-Hadist. Dana.25 gram emas). Selain itu. Tetapi sebelum sekolah semodel itu dikembangkan. memaparkan usaha-usaha para khalifah untuk membangun sekolah-sekolah itu. serta Madrasah An-Nashiriyah di Kairo. Kesejahteraan dan gaji para pendidik sangat diperhatikan. Khalifah Umar Ibnu Khattab jauh sebelum itu. Fasilitas seperti perpustakaan.

prasarana yang memadai dan sumberdaya manusia yang bermutu. termasuk di bidang pendidikan. Dalam membangun model pendidikan sebagaimana yang dikehendaki Islam saat ini tentu saja akan menghadapi kendala utama. simposium. dari mulai asas kurikulumnya hingga operasionalisasi pendidikan keseharian. Tahap pertama perlu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan bermutu bagi anak-anak Islam sekarang ini. dan telaah agama. yang diharapkan bisa pondasi penting bagi pembentukan kepribadian Islam dalam dirinya dalam rangka tumbuhnya tunas-tunas Islam yang amat diperlukan bagi dakwah.Jurubicara HizbutTahrir Indonesia dan Direktur SEM Institute Jakarta 20 . secara simultan bersamaan dengan tahap pertama tadi harus diperjuangkan tegaknya sistem pendidikan Islami oleh negara sebagai bagian dari sistem Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Insya Allah. Tapi kegiatan ini tidak boleh melupakan agenda besarnya. Pada perpustakaan ini. sarana. UPAYA Mengingat kendala di atas. seperti juga pada perpustakaan lainnya. ceramah ilmiah. kerahmatan syariah dapat benar-benar diujudkan. Hanya dengan cara itu saja. maka tahap pertama bisa ditempuh aksi individual atau kelompok yang dibenarkan oleh hukum syara dan memenuhi persyaratan sebagai lembaga pendidikan Islam. Tahap berikutnya. diatur dengan syariah. dilengkapi dengan ruang-ruang studi dan ceramah serta ruang musik untuk refreshing bagi pembaca. termasuk penyediaan dana yang mencukupi. aktifitas kesusastraan. KENDALA Model pendidikan atau sekolah unggulan seperti itu jelas hanya dapat diterapkan oleh negara karena negaralah yang memiliki seluruh otoritas yang diperlukan bagi penyelenggaraan pendidikan yang bermutu. yakni perjuangan penegakan kehidupan Islam yang di dalamnya seluruh aspek kehidupan bermasyarakan dan bernegara. . yakni belum diterapkannya bangunan sistem Islam secara menyeluruh dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Perpustakaannya dibuka untuk umum. Setiap orang boleh mendengarkan kuliah.Menggagas Kembali Konsep Sistem Pendidikan Islam sarana serta prasarana pendidikan lainnya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->