P. 1
Laporan Perekonomian Indonesia Tahun 2001

Laporan Perekonomian Indonesia Tahun 2001

4.5

|Views: 5,325|Likes:
Published by ssn_jkt8857

More info:

Published by: ssn_jkt8857 on Dec 02, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/03/2013

pdf

text

original

L A P O R A N T A H U N A N

2001

Sampul Depan : Gedung Bank Indonesia - Jakarta, Kota Sampul Belakang : Gedung Bank Indonesia - Jakarta, Jl. MH.Thamrin Pembatas Bab : Komplek Perkantoran Bank Indonesia - Jakarta, Kota & Jl. MH. Thamrin Alamat Kantor Pusat : Jl. MH. Thamrin No. 2, Jakarta 10110 - Indonesia http://www.bi.go.id

Laporan ini merupakan penjelasan lengkap dari informasi mengenai “Evaluasi Pelaksanaan Kebijakan Moneter 2001 dan Arah Kebijakan Moneter 2002” yang telah disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat dan masyarakat melalui media massa pada tanggal 15 Januari 2002 sebagai pelaksanaan amanat pasal 58 UU No. 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia

i

L A P O R A N T A H U N A N

2001
BANK INDONESIA

ISSN 0522 - 2575

ii

Visi Bank Indonesia : “Menjadi lembaga Bank Sentral yang dapat dipercaya secara nasional maupun internasional melalui penguatan nilai-nilai yang dimiliki serta pencapaian inflasi yang rendah dan stabil” Misi Bank Indonesia : “Mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah melalui pemeliharaan kestabilan moneter dan pengembangan stabilitas sistem keuangan untuk pembangunan jangka panjang negara Indonesia yang berkesinambungan” Nilai-nilai Strategis Organisasi Bank Indonesia : “Nilai-nilai yang menjadi dasar organisasi, manajemen dan pegawai untuk bertindak atau berperilaku yaitu kompetensi, integritas, transparansi, akuntabilitas dan kebersamaan”

iii

Keterangan Tanda-tanda, Periode Laporan, dan Sumber Data
Angka diperbaiki Angka sementara Angka sangat sementara Angka belum tersedia Angka tidak ada Angka sebelum dan sesudah tanda ini tidak dapat diperbandingkan satu sama lain Nol atau lebih kecil daripada digit terakhir Dolar Amerika Serikat r * ** ... – x –– $ (dolar)

Periode laporan adalah 1 Januari 2001 sampai dengan 31 Desember 2001. Sumber data adalah Bank Indonesia, kecuali jika dinyatakan lain.

iv

DEWAN GUBERNUR BANK INDONESIA
Per Tanggal 31 Desember 2001

Duduk dari kiri ke kanan :

Berdiri dari kiri ke kanan :

Syahril Sabirin
Gubernur

Aulia Pohan
Deputi Gubernur

Miranda S. Goeltom
Deputi Gubernur

Anwar Nasution
Deputi Gubernur Senior

Achjar Iljas
Deputi Gubernur

xix

Kata Pengantar

Dengan mengucapkan Bismillahirrahmaanirrahiim perkenankan saya mengantarkan Laporan Tahunan Bank Indonesia 2001 ke hadapan para pembaca yang terhormat. Laporan ini adalah salah satu wujud akuntabilitas Bank Indonesia sebagaimana diatur di dalam pasal 58 Undang-Undang No. 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia. Laporan ini menyajikan langkah-langkah kebijakan yang telah diambil dan hasil-hasil yang telah dicapai oleh Bank Indonesia di bidang moneter, perbankan, dan sistem pembayaran selama tahun 2001 serta arah kebijakan Bank Indonesia tahun 2002. Laporan ini juga menguraikan perkembangan dan permasalahan yang terjadi pada perekonomian Indonesia dan internasional selama tahun laporan serta prospeknya di tahun 2002. Tahun 2001 masih merupakan tahun yang sulit bagi perekonomian Indonesia. Beberapa variabel ekonomi makro penting yang kami gunakan sebagai asumsi dasar dalam menetapkan sasaran inflasi dan arah kebijakan Bank Indonesia di awal tahun 2001 ternyata berkembang tidak sesuai dengan perkiraan semula. Pertumbuhan ekonomi yang kami perkirakan dapat mencapai 4,5% - 5,5% ternyata hanya mencapai 3,3%. Angka pertumbuhan tersebut memang lebih tinggi daripada yang berhasil dicapai oleh negara-negara tetangga kita tetapi belum cukup untuk menyerap tenaga kerja di dalam negeri yang terus bertambah. Kegiatan investasi dan ekspor yang pada awalnya diharapkan menjadi motor penggerak pemulihan ekonomi justru mencatat pertumbuhan yang jauh lebih rendah daripada tahun 2000. Sementara itu, nilai tukar rupiah mengalami depresiasi yang cukup tajam dan bergerak lebih fluktuatif dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Depresiasi rupiah ini memberikan kontribusi besar terhadap kenaikan tekanan inflasi sehingga laju inflasi IHK mencapai 12,55%, melebihi perkiraan kami semula sebesar 6,0% - 8,5%. Kesulitan yang dialami oleh perekonomian Indonesia dalam tahun 2001 terutama disebabkan oleh belum terpecahkannya berbagai permasalahan mendasar di dalam negeri yang kemudian diperberat oleh dampak melambatnya pertumbuhan ekonomi global terhadap penurunan kinerja ekspor Indonesia. Masalah-masalah internal tersebut antara lain adalah tingkat risiko berusaha yang masih tinggi, fungsi

vi

intermediasi perbankan yang belum berjalan normal, serta kondisi permintaan dan penawaran di pasar valuta asing dalam negeri yang belum stabil dan sangat rentan terhadap perubahan sentimen. Upaya penyelesaian berbagai permasalahan ini sebenarnya telah berlangsung dalam beberapa tahun terakhir tetapi sampai dengan tahun laporan belum dapat diselesaikan secara tuntas. Masalah-masalah ini memang sangat rumit karena mengandung banyak dimensi yang saling terkait. Untuk mengatasinya dibutuhkan keberanian dalam mengambil langkah-langkah terobosan, kesediaan untuk berkorban, dan koordinasi yang erat di antara berbagai komponen bangsa. Namun, itu semua belum sepenuhnya dapat diwujudkan. Kehidupan berdemokrasi yang belum matang dan krisis kepemimpinan di berbagai lapisan masyarakat telah menghambat proses pengambilan dan pelaksanaan keputusan-keputusan penting di berbagai bidang. Sebagai akibatnya, langkah-langkah kebijakan yang sangat diperlukan untuk mengatasi berbagai masalah mendasar di atas, yang sebelumnya telah disepakati bersama untuk dilaksanakan pada tahun laporan —terutama kebijakan yang berkaitan dengan program restrukturisasi perbankan, privatisasi BUMN, masalah hutang, dan perbaikan sistem dan perangkat hukum— dalam perkembangannya ternyata berjalan lambat, bahkan sebagian belum terlaksana sama sekali. Berbagai permasalahan di atas telah mempersempit ruang gerak Bank Indonesia dalam mengendalikan laju inflasi. Fungsi intermediasi perbankan yang belum sepenuhnya pulih telah menghambat proses transmisi moneter sehingga mengurangi efektivitas kebijakan moneter dalam meredam tekanan inflasi dan depresiasi nilai tukar rupiah. Tingkat risiko berusaha yang masih tinggi telah mengurangi minat investasi sehingga penambahan sarana produksi dan distribusi —yang seharusnya dapat membantu meredam tekanan inflasi— menjadi sangat terbatas, serta arus masuk modal asing —yang seharusnya dapat meredam tekanan depresiasi rupiah— menjadi berkurang. Kecilnya arus masuk modal asing dan rendahnya kepercayaan kepada perbankan nasional telah membatasi jumlah penawaran devisa. Sementara itu, besarnya kewajiban pembayaran hutang luar negeri, terutama akibat penyelesaian restrukturisasi hutang sektor swasta yang belum optimal, dan kekhawatiran akan ketidakstabilan ekonomi, sosial, politik, dan keamanan di dalam negeri merupakan faktor-faktor yang membuat permintaan devisa masih tinggi. Di sini terlihat bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran dan permintaan devisa berikut dampaknya terhadap ketidakstabilan nilai tukar rupiah selama tahun 2001 merupakan faktor-faktor yang sebagian besar berada di luar kendali kebijakan moneter. Upaya pengendalian inflasi menjadi semakin sulit karena sumber tekanan inflasi selama tahun laporan lebih banyak berasal dari sisi penawaran dalam bentuk kenaikan biaya produksi (cost-push inflation). Sebagaimana diketahui, kebijakan moneter memiliki keterbatasan dalam mengendalikan tekanan inflasi yang bersumber dari sisi penawaran karena kebijakan moneter hanya dapat mempengaruhi kegiatan ekonomi dari sisi permintaan. Penerapan kebijakan moneter ketat untuk mengendalikan laju inflasi yang bersumber dari sisi

vii

penawaran dapat menimbulkan dampak negatif yang besar kepada kegiatan ekonomi sementara hasilnya belum tentu sesuai dengan harapan karena efektivitas kebijakan moneter selama tahun laporan masih terganggu oleh belum pulihnya fungsi intermediasi perbankan. Dapat dikemukakan bahwa kenaikan biaya produksi yang telah memicu kenaikan laju inflasi selama tahun 2001 terutama bersumber dari dampak depresiasi rupiah terhadap kenaikan harga bahan baku impor dan dampak kebijakan Pemerintah menaikkan bea masuk, harga BBM, tarif listrik, dan upah minimum. Dampak kebijakan Pemerintah tersebut terhadap kenaikan laju inflasi ternyata lebih besar daripada perkiraan kami semula. Tekanan inflasi dari sisi penawaran ini semakin bertambah akibat turunnya produksi bahan makanan. Kendati menghadapi situasi yang sangat sulit, Bank Indonesia tetap berusaha keras menahan kenaikan laju inflasi lebih lanjut melalui penerapan kebijakan moneter yang cenderung ketat. Upaya ini dilakukan atas dasar keyakinan bahwa laju inflasi yang terkendali adalah prasyarat bagi pembangunan ekonomi yang berkesinambungan. Untuk itu, tindakan maksimal yang dapat dan telah kami lakukan adalah berupaya mengurangi kelebihan likuiditas di dalam perekonomian agar tidak menimbulkan tekanan tambahan terhadap nilai tukar dan laju inflasi. Secara operasional, kebijakan ini dilakukan dengan berupaya mengendalikan jumlah uang primer sesuai dengan sasaran yang telah ditetapkan. Dengan mempertimbangkan situasi yang sulit di atas, upaya pengendalian uang primer tersebut kami lakukan dalam batas-batas yang tidak sampai menimbulkan tekanan kenaikan suku bunga yang berlebihan. Di tengah berbagai kesulitan tersebut terdapat beberapa perkembangan positif yang patut dicatat karena dapat menjadi batu pijakan bagi kita untuk melangkah ke arah pemulihan ekonomi yang lebih berkesinambungan di tahun-tahun mendatang. Salah satu perkembangan positif adalah terbentuknya pemerintahan baru melalui proses yang demokratis yang telah memberikan kontribusi terhadap membaiknya kondisi sosial politik akhir-akhir ini. Di sektor perbankan, sekalipun kondisi perbankan secara keseluruhan masih belum sepenuhnya pulih, sebagian besar bank telah berhasil memperbaiki kondisi permodalannya sehingga mencapai Capital Adequacy Ratio (CAR) minimum 8% yang ditetapkan oleh Bank Indonesia dan kualitas aktiva produktif bank-bank tersebut juga menunjukkan perbaikan sebagaimana tercermin pada rasio Non-Performing Loans (NPL) yang menurun. Bank Indonesia juga telah meletakkan dasar-dasar bagi peningkatan ketahanan sistem perbankan melalui pengembangan dan penyempurnaan infrastruktur dan sistem pengawasan bank. Dari sisi eksternal, pemerintahan di negara-negara industri maju secara cepat telah mengeluarkan kebijakan stimulus fiskal dan moneter guna menghindarkan ekonomi mereka dari resesi, suatu langkah yang telah memberikan harapan besar bagi pemulihan kondisi ekonomi global. Perekonomian Indonesia di tahun 2002 diperkirakan masih akan menghadapi tantangan yang cukup berat. Namun, berlandaskan pada beberapa perkembangan positif yang saya sebutkan di atas serta didukung

viii

oleh komitmen Pemerintah untuk melanjutkan langkah-langkah reformasi struktural, Bank Indonesia memperkirakan perekonomian Indonesia tahun 2002 masih mampu tumbuh positif pada kisaran 3,5% - 4,0%. Nilai tukar rupiah memiliki potensi untuk menguat sepanjang Pemerintah konsisten dalam melaksanakan program-programnya. Sementara itu, tekanan inflasi diperkirakan masih akan tinggi sebagai dampak dari rencana Pemerintah menaikkan harga BBM, tarif listrik, dan tarif cukai, serta tingginya ekspektasi inflasi. Bank Indonesia, sesuai dengan tugas dan kewenangan yang dimilikinya, akan membantu menciptakan kondisi yang kondusif bagi pemulihan ekonomi yang berkesinambungan dengan berupaya menjaga kestabilan moneter dan mengendalikan laju inflasi. Untuk itu, berdasarkan gambaran prospek ekonomi dalam negeri dan luar negeri di atas, Bank Indonesia menetapkan sasaran laju inflasi IHK tahun 2002 pada kisaran 9% - 10%. Selanjutnya, dalam lima tahun ke depan Bank Indonesia memiliki komitmen untuk secara bertahap menurunkan laju inflasi menjadi sekitar 6% - 7%. Perlu saya jelaskan bahwa sejak tahun ini Bank Indonesia menggunakan laju inflasi IHK sebagai indikator sasaran inflasi. Sebagaimana diketahui, pada tahun 2000 dan 2001 kami menggunakan angka inflasi IHK di luar dampak kebijakan Pemerintah di bidang harga dan pendapatan sebagai indikator sasaran inflasi. Perubahan ini kami lakukan atas dasar pertimbangan bahwa inflasi IHK lebih dapat diterima dan lebih transparan bagi masyarakat dibandingkan indikator sasaran inflasi yang kami gunakan sebelumnya sehingga dengan demikian diharapkan dapat meningkatkan kemampuan Bank Indonesia dalam mempengaruhi ekspektasi inflasi masyarakat. Untuk mendukung pencapaian sasaran inflasi ini, Bank Indonesia akan berupaya secara konsisten menempuh kebijakan-kebijakan yang diperlukan, baik di bidang moneter, perbankan, maupun sistem pembayaran. Di samping itu, dengan menyadari bahwa masih terdapat beberapa kelemahan internal yang perlu diperbaiki, kami sudah melancarkan suatu program yang kami namakan Program Transformasi Bank Indonesia. Setelah melalui proses persiapan dan perumusan yang matang, sebagian dari program ini diharapkan sudah mulai diterapkan dalam tahun 2002. Kami juga mengharapkan dukungan dari berbagai pihak agar pelaksanaan tugas Bank Indonesia dapat berjalan lebih baik. Untuk ini, berbagai saran dan kritik yang konstruktif akan kami terima dengan senang hati dan dengan ucapan terima kasih. Sebelum mengakhiri kata pengantar ini, saya ingin mengajak para pembaca untuk mengkaji kembali apa yang telah kita alami dan lakukan sejak terjadinya krisis multidimensi di tanah air yang kiranya dapat saya sarikan ke dalam beberapa butir, yaitu: • Krisis ekonomi dan moneter ini pada hakekatnya merupakan krisis kepercayaan, yaitu kepercayaan mengenai masa depan ekonomi Indonesia, kepercayaan mengenai kestabilan nilai tukar, kepercayaan mengenai kepastian hukum, dan lain sebagainya;

ix

• Langkah-langkah yang diambil untuk penanganan krisis ini sudah merupakan langkah yang tepat dan serupa dengan langkah-langkah yang telah diambil oleh negara-negara lain yang telah berhasil keluar dari krisis, seperti Thailand dan Korea; • Pada mulanya terdapat konsensus nasional yang menyepakati langkah-langkah tersebut sehingga langkahlangkah tersebut telah berhasil membawa laju inflasi ke tingkat yang sangat rendah dan nilai tukar rupiah ke tingkat yang wajar. Namun gonjang-ganjing politik serta kebijakan yang tidak jelas arahnya serta sikap saling menyalahkan yang terjadi selama beberapa waktu telah menyebabkan langkah-langkah itu menjadi tersendat. Dalam beberapa hal terdapat keengganan atau ketidakberanian untuk mengambil keputusan-keputusan politik yang sulit, sehingga ibaratnya perekonomian Indonesia diberi obat setengah dosis yang tentu saja tidak dapat menyembuhkan penyakit. • Dengan terbentuknya pemerintahan baru, kembali timbul harapan akan perbaikan dan kelanjutan upaya penanggulangan krisis. Berbagai langkah awal yang diambil oleh Pemerintahan baru telah meningkatkan kepercayaan terhadap masa depan ekonomi Indonesia secara berarti. Namun, masih banyak keputusan politik yang sulit yang harus diambil oleh Pemerintah di minggu-minggu dan bulan-bulan mendatang. Untuk itu diperlukan kesamaan pengertian, kebulatan tekad, dan kesepakatan atau konsensus nasional dalam menghadapi tantangan-tantangan masa depan yang amat berat. Akhir kata, saya atas nama Dewan Gubernur Bank Indonesia mengucapkan terima kasih kepada seluruh Pimpinan dan Karyawan Bank Indonesia yang selama tahun 2001 yang lalu telah bekerja keras secara profesional dalam mengemban amanat Undang-Undang No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia. Ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada berbagai pihak di luar Bank Indonesia yang selama ini telah memberikan bantuan dan kerja sama yang tulus kepada Bank Indonesia. Kepada para pembaca saya mengharapkan kiranya laporan ini dapat menjadi referensi yang berguna. Semoga Tuhan Yang Maha Pemurah selalu melimpahkan ridha-Nya dan memberikan kemudahan kepada kita semua dalam melangkah menuju ke masa depan yang lebih baik.

Jakarta, Februari 2002 BANK INDONESIA GUBERNUR

Syahril Sabirin

x

Tinjauan Umum

bab 1 TINJAUAN UMUM

1

Tinjauan Umum

bab 1

TINJAUAN UMUM

P

ada awal 2001, Bank Indonesia memperkirakan bahwa momentum menguatnya proses pemu-

Dalam perkembangannya, selama tahun 2001 berbagai asumsi dan perkiraan tersebut di atas ternyata tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Berbagai permasalahan mendasar yang dihadapi perekonomian nasional masih terus berlangsung dan beberapa diantaranya menunjukkan kecenderungan yang memburuk (Bagan 1.1). Perekonomian dunia menunjukkan pertumbuhan yang terus melambat dan bahkan telah mengalami resesi sejak akhir triwulan pertama 2001. Sementara di dalam negeri, kondisi sosial, politik, dan keamanan masih belum stabil, yang selama paro pertama 2001 sangat diwarnai oleh tingginya gejolak politik yang berujung pada pergantian pemerintahan di pertengahan 2001. Meskipun terdapat kemajuan, penanganan programprogram restrukturisasi ekonomi masih menghadapi sejumlah kendala sehingga berbagai permasalahan struktural di dalam negeri masih terus berlanjut sementara risiko dan ketidakpastian usaha masih tetap tinggi. Berbagai permasalahan tersebut telah berdampak negatif terhadap perkembangan ekonomi dan moneter selama 2001. Di sektor riil, kegiatan investasi dan produksi menjadi sangat terbatas terutama karena masih tingginya risiko dan ketidakpastian usaha, lambatnya proses restrukturisasi utang perusahaan, serta masih berlangsungnya konsolidasi internal perbankan dan perusahaan. Ekspor juga melambat terutama karena resesi yang terjadi pada perekonomian dunia. Di sektor per-

lihan ekonomi yang terjadi di tahun sebelumnya akan semakin mantap di tahun 2001. Optimisme ini didasarkan pada asumsi bahwa proses restrukturisasi ekonomi di berbagai bidang akan mencapai kemajuan yang berarti, khususnya restrukturisasi utang perusahaan dan semakin pulihnya intermediasi perbankan. Menguatnya proses pemulihan ekonomi ini juga didukung oleh harapan bahwa kondisi sosial, politik, dan keamanan di dalam negeri akan semakin membaik. Selain itu, pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan juga masih tetap tinggi meskipun lebih lambat dari tahun sebelumnya. Dengan nuansa optimisme di awal 2001 tersebut, pada waktu itu Bank Indonesia

memperkirakan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) 2001 akan dapat mencapai 4,5%–5,5%. Selain konsumsi, pertumbuhan ini akan dapat dicapai dengan motor penggerak utama bersumber dari investasi dan ekspor. Selain itu, Bank Indonesia menetapkan sasaran inflasi di luar dampak kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan sebesar 4,0%–6,0%. Sementara itu, tambahan inflasi yang merupakan dampak kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan diperkirakan sekitar 2,0%–2,5% Dengan demikian, inflasi indeks harga konsumen (IHK) diperkirakan akan mencapai sekitar 6,0%–8,5%. Sejalan dengan sasaran inflasi tersebut, sasaran pertumbuhan uang primer untuk akhir 2001 ditetapkan sebesar 11,0%–12,0%.

2

Tinjauan Umum

SEKTOR KEUANGAN Tekanan pada fiskal Suku Bunga SBI naik Efektivitas kebijakan moneter menurun

SEKTOR RIIL

Stimulus moneter menjadi terbatas

Kelebihan likuiditas di sektor perbankan

Intermediasi perbankan yang belum pulih

Investasi dan produksi terbatas

Konsolidasi internal perbankan dan perusahaan Depresiasi dan volatilitas nilai tukar Restrukturisasi kredit dan korporasi lambat Restrukturisasi utang luar negeri lambat Ketidakpastian sosial politik keamanan, ketidakpastian hukum, kurang konsistennya kebijakan Perekonomian dunia melambat

Pertumbuhan ekonomi terganggu

Tekanan inflasi

Kelebihan permintaan valuta asing

Country Risk Arus modal masuk terbatas

Kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan

Ekspor melambat

Bagan 1.1 Permasalahan Ekonomi dan Moneter Pada 2001

bankan, meskipun secara umum kondisi perbankan telah banyak mengalami kemajuan, fungsi intermediasi perbankan belum sepenuhnya pulih. Penyaluran kredit perbankan dan penyerapannya oleh sektor riil belum dapat berlangsung cepat baik karena berbagai permasalahan yang dihadapi di sektor riil maupun karena masih berlangsungnya konsolidasi internal di perbankan. Dengan kondisi di sektor riil

dan perbankan seperti di atas, dana lebih banyak berputar di sektor keuangan dan belum dapat dimanfaatkan secara maksimal sebagai sumber pembiayaan investasi dan produksi untuk mendukung proses pemulihan ekonomi. Selain itu, belum pulihnya fungsi intermediasi perbankan juga menjadi salah satu faktor yang menimbulkan tekanan pada nilai tukar dan inflasi serta mengurangi efektivitas transmisi kebijakan

3

Tinjauan Umum

moneter dalam mempengaruhi inflasi dan kegiatan ekonomi. Dengan sejumlah permasalahan tersebut, selama 2001 kondisi ekonomi dan moneter secara umum menunjukkan kecenderungan yang memburuk. Memburuknya kondisi ekonomi dan moneter antara lain ditunjukkan oleh melambatnya pertumbuhan ekonomi, melemahnya nilai tukar, dan tingginya tekanan inflasi. Selama 2001, ekonomi Indonesia hanya tumbuh sebesar 3,3%, nilai tukar mengalami tekanan depresiasi sebesar 17,7% sehingga mencapai rata-rata Rp10.255 per dolar, dan inflasi IHK mencapai 12,55%. Sementara itu, dampak kebijakan pemerintah terhadap inflasi tercatat sebesar 3,83%, lebih besar dibandingkan dengan yang diperkirakan di awal tahun sebesar 2,0%–2,5%. Berbagai upaya telah dilakukan oleh Bank Indonesia dalam mencapai sasaran-sasaran yang telah ditetapkan, baik dengan menggunakan instrumen-instrumen moneter yang tersedia maupun dengan penyempurnaan peraturan dan ketentuan perbankan. Namun demikian, adanya berbagai permasalahan yang dihadapi di atas menyebabkan upaya pengendalian uang primer dan pencapaian sasaran inflasi oleh Bank Indonesia menjadi lebih sulit dilakukan. Selain karena dampak kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan, tingginya inflasi juga didorong oleh depresiasi nilai tukar rupiah dan meningkatnya ekspektasi inflasi di masyarakat. Sementara itu, tingginya uang primer terutama diakibatkan oleh permintaan uang kartal yang meningkat, baik untuk kebutuhan transaksi maupun untuk motif berjaga-jaga. Dalam kondisi demikian, pengetatan moneter yang berlebihan akan mendorong tingginya kenaikan suku bunga dan dikhawatirkan dapat memperburuk risiko

bagi langkah-langkah restrukturisasi perbankan dan upaya pemulihan ekonomi. Ke depan, apabila dapat dicapai kemajuan dalam penanganan sejumlah permasalahan struktural di dalam negeri serta penurunan risiko dan ketidakpastian usaha, Bank Indonesia memperkirakan bahwa pemulihan ekonomi Indonesia pada 2002 masih dapat dipertahankan. Pertumbuhan ekonomi tahun 2002 diperkirakan dapat mencapai 3,5%–4,0% dengan sumber pertumbuhan yang sangat tergantung dari kinerja perekonomian domestik, khususnya konsumsi masyarakat, sementara investasi dan ekspor diperkirakan akan menunjukkan perkembangan yang membaik terutama apabila skenario pemulihan ekonomi dunia pada paro kedua 2002 dapat menjadi kenyataan. Dengan memperhatikan prospek ekonomi makro dan masih tingginya risiko dan ketidakpastian, tingginya tekanan inflasi yang bersumber dari dampak kebijakan pemerintah di bidang harga serta masih tingginya ekspektasi inflasi, Bank Indonesia menetapkan sasaran inflasi IHK yang dipandang cukup realistis yang sesuai dengan kondisi perekonomian pada 2002 yaitu sebesar 9,0%–10,0%. Namun demikian, dalam jangka waktu 5 tahun ke depan Bank Indonesia memiliki komitmen untuk secara bertahap menurunkan inflasi sehingga dapat mencapai kisaran 6,0%–7,0%. Untuk mencapai sasaran inflasi tersebut, kebijakan moneter Bank Indonesia diarahkan pada upaya pengendalian uang primer dengan fokus pada penyerapan kelebihan likuiditas agar tetap sesuai dengan kebutuhan riil perekonomian. Langkah ini akan dilakukan secara berhati-hati dan terukur agar kestabilan harga tetap dapat terpelihara sehingga mampu

4

Tinjauan Umum

mendukung proses pemulihan ekonomi yang sedang berlangsung, dan berkelanjutan dalam jangka menengah-panjang. Secara operasional,

terbatasnya stimulus fiskal bagi pertumbuhan ekonomi. Perkembangan ini menyebabkan menurunnya kepercayaan dunia usaha untuk melakukan kegiatan produksi dan investasi, yang pada akhirnya menghambat ekspansi ekonomi lebih lanjut. Pada 2001 pertumbuhan PDB mencapai 3,3%, lebih rendah dibandingkan tahun 2000 sebesar 4,9% (Tabel 1.1). Meskipun relatif lebih baik dari negara-negara tetangga, tingkat pertumbuhan tersebut masih belum cukup untuk menyerap tenaga kerja yang ada. Kecenderungan terus bertambahnya jumlah angkatan kerja baru yang pada 2001 diperkirakan meningkat 2,5%,

pengendalian moneter akan dilakukan dengan mengoptimalkan instrumen-instrumen moneter yang tersedia khususnya melalui operasi pasar terbuka dan sterilisasi valuta asing untuk mengurangi tekanan terhadap nilai tukar dan inflasi. Di bidang perbankan, kebijakan Bank Indonesia akan diarahkan pada upaya memperkuat ketahanan sistem perbankan serta langkah mempercepat pemulihan fungsi intermediasi perbankan. Sementara itu, kebijakan di bidang sistem pembayaran akan diarahkan pada pengurangan risiko pembayaran antarbank yang dapat mengganggu kestabilan keuangan, menunjang pelaksanaan kebijakan moneter, peningkatan kualitas dan kapasitas layanan sistem pembayaran, penyempurnaan ketentuan-ketentuan, serta pengaturan terhadap pengawasan sistem pembayaran. Secara terinci evaluasi perekonomian Indonesia 2001 dan prospek serta arah kebijakan Bank Indonesia di tahun 2002 diuraikan sebagai berikut.

Tabel 1.1 Beberapa Indikator Makroekonomi Rincian
Produk Domestik Bruto (a.d. tahun dasar 1993, pertumbuhan %) Menurut Pengeluaran Konsumsi Pembentukan modal tetap domestik bruto Ekspor barang dan jasa Impor barang dan jasa Menurut Lapangan Usaha Pertanian Industri pengolahan Bangunan Perdagangan, hotel, dan restoran Keuangan, persewaan, dan perusahaan jasa Jasa-jasa Moneter (pertumbuhan, %) M2 M1 Uang Kuasi Suku Bunga (%) SBI (1 bulan) PUAB (overnight) Deposito (1 bulan) Kredit modal kerja Kredit investasi Inflasi (%) Neraca Pembayaran Transaksi berjalan/PDB DSR Cadangan devisa setara impor nonmigas dan pembayaran utang luar negeri pemerintah (bulan) Nilai Tukar (Rp/$) rata-rata
Sumber : – Badan Pusat Statistik – Bank Indonesia

1999
0,8

2000
4,9*

2001
3,3**

4,3 –18,2 –31,8 –40,7 2,2 3,9 –1,9 –0,1 –7,2 1,9 11,9 23,2 9,5 12,15 12,1 12,2 20,7 17,8 2,01 4,1 56,8

3,9 21,9 26,5 21,1 1,7 6,1 5,5 5,6 4,3 2,2 15,6 30,1 12,1 14,5 11,4 12,0 17,7 16,9 9,35 5,3 41,1

6,2 4,0 1,9 8,1 0,6 4,3 4,0 5,1 3,0 2,0 13,0 9,6 13,9 17,62 15,7 16,1 19,2 17,9 12,55 3,4* 39,4

EVALUASI PEREKONOMIAN INDONESIA 2001 Kondisi Ekonomi Makro
Secara umum, selama 2001 kinerja perekonomian Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang melambat. Di samping akibat memburuknya perekonomian dunia, melambatnya pertumbuhan tersebut tidak terlepas dari masih tingginya risiko dan ketidakpastian dan berlanjutnya berbagai permasalahan dalam negeri yang terkait dengan restrukturisasi utang dan sektor korporasi, belum selesainya konsolidasi internal perbankan, serta relatif

6,7 7.850

6,0 8.438

6,1 10.255

5

Tinjauan Umum

belum dapat diimbangi sepenuhnya oleh penyediaan lapangan kerja secara memadai. Kondisi ini menyebabkan meningkatnya angka pengangguran 2001 yang diperkirakan mencapai 6,7%–7,0%, lebih tinggi dari tahun sebelumnya sebesar 6,1%. Di sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi lebih banyak didorong oleh konsumsi rumah tangga. Pengeluaran konsumsi dalam tahun 2001 tumbuh sebesar 6,2%, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang tumbuh sebesar 3,9%. Meningkatnya konsumsi terutama didorong oleh meningkatnya kepercayaan konsumen (consumer confidence) yang ditunjang oleh meningkatnya gaji dan pendapatan serta meningkatnya pembiayaan untuk konsumsi, baik yang bersumber dari perbankan maupun dari perusahaan pembiayaan seperti kartu kredit dan pembiayaan konsumen. Sementara itu, investasi1 dan ekspor yang semula diharapkan tetap menjadi motor pertumbuhan pada 2001 mengalami pertumbuhan yang tidak terlalu menggembirakan, yaitu hanya tumbuh masing-masing sebesar 4,0% dan 1,9% atau melambat dibandingkan dengan pertumbuhannya di tahun 2000 yang masingmasing tumbuh sebesar 21,9% dan 26,5%. Melemahnya investasi tercermin dari sangat rendahnya realisasi investasi baru baik yang dilakukan asing (PMA) maupun domestik (PMDN) dan menurunnya impor bahan baku dan barang modal yang masing-masing mengalami penurunan sebesar 8,5% dan 10,2% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Rendahnya investasi ini tidak terlepas dari tingginya risiko investasi akibat masih adanya gangguan keamanan, ketidakpastian penegakan hukum, dan

perselisihan perburuhan. Di samping itu, faktor keterbatasan pembiayaan investasi akibat belum pulihnya fungsi intermediasi perbankan dan adanya peraturanperaturan baru yang terkait dengan penerapan otonomi daerah juga turut membatasi kegiatan investasi. Sementara itu, menurunnya kinerja ekspor disebabkan oleh melemahnya perekonomian dunia dan menurunnya harga beberapa komoditas utama ekspor Indonesia. Selain itu, depresiasi nilai tukar rupiah telah berdampak pada naiknya biaya faktor produksi sehingga mengurangi daya saing produk ekspor Indonesia, yang sebagian besar memiliki kandungan impor yang tinggi. Dengan perkembangan tersebut, sumbangan konsumsi, investasi, dan ekspor terhadap laju pertumbuhan PDB dalam tahun laporan masingmasing mencapai 4,8%, 0,9%, dan 0,6%. Di sisi penawaran, hampir seluruh sektor mencatat pertumbuhan yang positif walaupun dengan laju yang lebih lambat dibandingkan dengan tahun 2000, kecuali sektor pertambangan dan penggalian yang mencatat kontraksi. Beberapa sektor yang mencatat pertumbuhan cukup berarti adalah sektor industri pengolahan, sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor pengangkutan dan komunikasi, dan sektor listrik, air, dan gas. Namun demikian, kontribusi sektor industri pengolahan dan sektor perdagangan yang pada awal tahun diharapkan menjadi motor pertumbuhan ekonomi ternyata tidak mampu mendorong perekonomian untuk tumbuh lebih tinggi. Permasalahan utama yang membatasi pertumbuhan sektor ini adalah terbatasnya pembiayaan kegiatan usaha dan meningkatnya biaya produksi sehubungan dengan berbagai kebijakan pemerintah di bidang harga. Di samping itu, dalam merespon perkemba-

1

Investasi disini adalah pembentukan modal tetap domestik bruto

ngan nilai tukar rupiah yang melemah, produsen tidak

6

Tinjauan Umum

hanya menaikkan harga jual namun juga mengurangi volume produksi sehingga secara keseluruhan menurunkan produksi industri pengolahan. Sementara itu, kapasitas produksi industri juga menunjukkan penurunan akibat terus melemahnya investasi, walaupun kapasitas produksi tersebut secara agregat masih lebih tinggi dibandingkan dengan permintaan agregat. Dari sisi eksternal, kinerja neraca pembayaran pada 2001 diperkirakan masih menunjukkan perkembangan yang kurang menggembirakan. Sejalan dengan melemahnya kinerja ekspor, perkembangan transaksi berjalan sepanjang tahun laporan menunjukkan kinerja yang memburuk, tercermin dari menurunnya surplus dari $8,0 miliar (5,3% dari PDB) pada tahun 2000 menjadi sebesar $5,0 miliar (3,4% dari PDB) pada tahun laporan. Di sisi lalu lintas modal, defisit lalu lintas modal pemerintah dan belum pulihnya arus modal swasta asing menyebabkan defisit neraca modal mengalami peningkatan, yaitu dari defisit sebesar $6,8 miliar pada tahun sebelumnya menjadi sebesar $8,9 miliar yang terdiri dari defisit lalu lintas modal swasta sebesar $8,6 miliar dan defisit lalu lintas modal pemerintah sebesar $0,3 miliar. Dengan perkembangan tersebut di atas, secara keseluruhan neraca pembayaran Indonesia mengalami defisit sebesar $1,4 miliar dan cadangan devisa pada akhir 2001 tercatat sebesar $28,0 miliar, atau setara dengan 6,1 bulan nilai impor dan pembayaran cicilan pinjaman pemerintah. Di sisi fiskal, berbagai kendala yang dihadapi oleh pemerintah menyebabkan peran stimulus fiskal masih tetap terbatas. Realisasi defisit keuangan pemerintah selama 2001 berdasarkan angka Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)

Perubahan 2001 diperkirakan mencapai sekitar 3,7% dari PDB, relatif sama dengan rencana semula. Realisasi penerimaan dan pengeluaran melampaui rencana anggaran dengan pelampauan yang hampir sama yaitu sekitar 4,8% dan 4,2% di atas target anggaran. Dari sisi penerimaan, realisasi penerimaan yang melampaui target adalah penerimaan bukan pajak, terutama penerimaan migas karena faktor melemahnya nilai tukar rupiah dan adanya penerimaan minyak bumi pada 2000 yang baru disetorkan pada 2001. Di samping itu, realisasi penerimaan yang bersumber dari pajak juga telah mencapai target anggaran, sebagai hasil dari beberapa kebijakan intensifikasi dan ekstensifikasi pajak yang dilakukan oleh Pemerintah. Dari sisi pengeluaran, lebih tingginya realisasi pengeluaran dibanding target anggaran diakibatkan oleh lebih tingginya pengeluaran rutin untuk pembayaran subsidi dan beban bunga obligasi rekapitalisasi perbankan dari yang telah dianggarkan. Tingginya alokasi dana untuk pembayaran subsidi ini disebabkan oleh tingginya volume konsumsi bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri dan depresiasi rupiah, di samping adanya koreksi kekurangan pembayaran subsidi tahun 2000 yang mencapai Rp5,6 triliun. Sedangkan meningkatnya beban pembayaran bunga obligasi berkaitan dengan peningkatan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Sementara itu, realisasi pengeluaran pembangunan hanya mencapai 91,4% dari rencana anggaran yang antara lain sebagai dampak dari penundaan beberapa pinjaman program dan sempitnya kurun waktu yang tersedia untuk implementasi proyek pasca dilakukannya revisi APBN. Dalam hal pembiayaan, defisit anggaran tersebut sebagian besar ditutup dari pembiayaan

7

Tinjauan Umum

dalam negeri khususnya penjualan aset di Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), sedangkan sumber pembiayaan lainnya seperti privatisasi dan pembiayaan dari luar negeri relatif terbatas. Dalam kaitannya dengan permintaan agregat, kontribusi sektor pemerintah terhadap permintaan agregat diperkirakan meningkat dibandingkan tahun lalu, yaitu dari 10,8% menjadi 11,9% dari PDB. Faktor utama yang mempengaruhi peningkatan ini adalah karena adanya alokasi untuk dana bagi hasil (DBH) mulai tahun 2001.

Secara keseluruhan nilai tukar rupiah mengalami depresiasi sekitar 17,7% dari tahun 2000, yaitu dari rata-rata Rp8.438 per dolar menjadi Rp10.255 per dolar. Angka ini lebih tinggi dari asumsi yang dipergunakan dalam menetapkan sasaran inflasi yakni sebesar Rp8.000 per dolar, atau terdepresiasi sekitar 22%. Dalam tahun laporan, perkembangan nilai tukar rupiah juga diwarnai dengan volatilitas yang tinggi. Pada awal 2001 sampai dengan April 2001 nilai tukar menunjukkan kecenderungan melemah hingga mencapai nilai terendah Rp12.090. Selanjutnya, nilai tukar bergerak stabil pada kisaran Rp11.200 hingga Juli

Nilai Tukar dan Inflasi
Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, memburuknya kondisi perekonomian Indonesia di tahun 2001 tidak terlepas dari masih terdapatnya berbagai permasalahan struktural dalam perekonomian dan tingginya risiko dan ketidakpastian di dalam negeri. Di sektor riil, kondisi tersebut telah sangat membatasi kegiatan produksi dan investasi. Sementara di sektor keuangan, berbagai permasalahan tersebut telah menyebabkan tidak tersalurkannya likuiditas dalam bentuk penyaluran kredit dalam rangka membiayai kegiatan produktif. Selanjutnya, lemahnya hubungan kedua sektor ini bukan hanya menyebabkan keterbatasan sumber pembiayaan investasi dan produksi yang kemudian menghambat proses pemulihan ekonomi, namun juga telah menyebabkan terjadinya kelebihan likuiditas perbankan yang dapat memberikan tekanan baru terhadap nilai tukar dan inflasi. Perkembangan nilai tukar rupiah selama 2001 masih mengalami tekanan depresiasi yang tinggi disertai dengan volatilitas yang meningkat walaupun sempat menguat pada pertengahan tahun.

2001. Pasca Sidang Istimewa MPR rupiah menguat tajam hingga mencapai level tertinggi Rp8.485 per dolar dan selanjutnya melemah lagi hingga mencapai Rp10.400 per dolar pada akhir 2001. Secara umum melemahnya nilai tukar disebabkan oleh adanya permasalahan yang bersifat makro-fundamental dan mikro-struktural di pasar valuta asing yang bermuara pada ketidakseimbangan pasokan dan permintaan valuta asing. Kesenjangan ini kemudian diperburuk oleh meningkatnya premi risiko yang terkait dengan meningkatnya country risk. Dari aspek makro-fundamental, meningkatnya risiko dan ketidakpastian selama 2001 telah mengurangi kepercayaan investor asing dalam menanamkan dananya di dalam negeri sehingga menghambat arus modal masuk. Di sisi lain, memburuknya kinerja perekonomian dunia secara umum berdampak negatif pada kinerja ekspor Indonesia. Kedua faktor di atas telah menyebabkan terbatasnya pasokan valuta asing di dalam negeri, sementara pada saat yang sama terdapat peningkatan permintaan valuta asing terutama oleh sektor korporasi untuk pembayaran utang luar negeri dan kebutuhan impor.

8

Tinjauan Umum

Dari aspek mikro-struktural, adanya segmentasi di pasar valuta asing dan terbatasnya penempatan valuta asing di dalam negeri dalam bentuk kredit valuta asing maupun pada instrumen pasar uang, menyebabkan kelompok bank yang mempunyai kelebihan likuiditas valuta asing menempatkan dananya di luar negeri. Perkembangan ini selain mengurangi likuiditas valuta asing di pasar uang antarbank (PUAB) valuta asing di dalam negeri juga semakin membatasi ketersediaan pasokan valuta asing. Lemahnya struktur mikro di pasar valuta asing juga terjadi akibat kurang berkembangnya pasar lindung nilai (hedging), khususnya untuk jangka menengah-panjang, sehingga korporasi cenderung untuk memenuhi kebutuhan valuta asing untuk masa depan dengan membeli lebih dini di pasar spot. Kesenjangan antara permintaan dan penawaran valuta asing baik yang bersumber dari faktor makro maupun mikro tersebut telah menyebabkan nilai tukar seringkali bergejolak. Situasi ini diperburuk oleh sentimen negatif para pelaku pasar terhadap ketidakpastian situasi politik menjelang pergantian kepemimpinan nasional dan ketidakjelasan penyelesaian permasalahan-permasalahan struktural seperti restrukturisasi, divestasi, dan privatisasi, serta perkembangan hubungan dengan IMF. Faktor-faktor ini pada gilirannya meningkatkan country risk yang berdampak pada meningkatnya premi risiko dan semakin memperburuk perkembangan nilai tukar rupiah. Melemahnya nilai tukar rupiah tersebut turut memberikan tekanan terhadap tingginya inflasi di tahun 2001. Nilai tukar rupiah yang melemah telah memberikan dampak pass-through pada inflasi baik secara langsung melalui inflasi barang jadi, barang

setengah jadi, dan bahan baku impor, maupun secara tidak langsung melalui perubahan permintaan agregat. Tingginya kandungan impor pada berbagai barang produksi di dalam negeri mengakibatkan tingginya dampak depresiasi terhadap biaya produksi. Kuatnya pengaruh depresiasi nilai tukar rupiah tercermin dari perkembangan inflasi yang bergerak seiring dengan melemahnya nilai tukar. Tingginya tekanan inflasi selama 2001 juga bersumber dari adanya dampak kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan. Berbagai kebijakan pemerintah tersebut seperti kenaikan harga BBM dan tarif angkutan, tarif dasar listrik (TDL), harga jual minimum (HJE) rokok, serta kenaikan upah minimum provinsi (UMP) dan gaji pegawai negeri telah memberikan dampak langsung pada kenaikan IHK sebesar 3,83%. Dampak kebijakan pemerintah ini lebih besar dibandingkan yang diperkirakan di awal tahun sebesar 2,0%–2,5%. Hal ini disebabkan oleh realisasi kenaikan pada beberapa kebijakan lebih besar dari yang diperkirakan awal tahun maupun akibat adanya dampak penundaan dalam penerapan kebijakan. Terlebih lagi, kenaikan harga khususnya BBM dan TDL yang menjadi faktor produksi telah meningkatkan biaya di hampir seluruh sektor produksi berbagai barang sehingga menyebabkan tingginya inflasi akibat meningkatnya biaya produksi (cost-push inflation). Di samping melemahnya nilai tukar dan dampak kebijakan pemerintah tersebut, tingginya inflasi pada tahun laporan juga dipengaruhi oleh tingginya ekspektasi inflasi oleh masyarakat. Ekspektasi inflasi tersebut pada umumnya bersifat adaptif sehingga pembentukan ekspektasi inflasi lebih banyak ditentukan oleh perkembangan inflasi pada

9

Tinjauan Umum

periode sebelumnya. Di samping itu, tingginya ekspektasi inflasi tersebut juga diakselerasi oleh melemahnya nilai tukar dan implementasi kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan. Sementara itu tekanan inflasi karena pengaruh kondisi permintaan masih relatif rendah sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang melambat dan masih relatif berlebihnya kapasitas produksi di sektor industri pengolahan. Meskipun demikian, kondisi permintaan yang masih lemah tersebut kurang diimbangi oleh kapasitas di sektor pertanian karena terjadinya penurunan produksi tanaman bahan makanan. Dengan berbagai perkembangan tersebut di atas, secara keseluruhan dalam tahun laporan inflasi IHK mengalami peningkatan hingga mencapai 12,55%, lebih tinggi dibandingkan inflasi 2000 sebesar 9,35%. Selanjutnya, dengan memperhitungkan realisasi dampak kebijakan pemerintah, inflasi di luar pengaruh kebijakan harga dan pendapatan pada 2001 mencapai 8,72%. Angka inflasi ini lebih tinggi dari sasaran inflasi Bank Indonesia 2001 yang ditetapkan sebesar 4,0%–6,0%. Sebagaimana dikemukakan di atas, tingginya angka laju inflasi ini dipengaruhi oleh melemahnya nilai tukar rupiah serta tingginya ekspektasi inflasi di masyarakat.

dimaksudkan untuk mengurangi kelebihan likuiditas perbankan yang berpotensi mendorong melemahnya nilai tukar dan tekanan inflasi. Dalam rangka mencapai sasaran uang primer secara konsisten, kebijakan pengendalian uang primer tersebut terutama dilakukan melalui Operasi Pasar Terbuka (OPT), khususnya melalui mekanisme lelang SBI baik yang berjangka waktu 1 bulan maupun 3 bulan. Upaya ini juga didukung oleh penyerapan kelebihan likuiditas melalui intervensi rupiah yang dilakukan oleh Bank Indonesia untuk menjaga agar uang primer tetap berada dalam sasaran yang telah ditetapkan dan kestabilan suku bunga pasar uang tetap terpelihara. Dengan relatif besarnya kelebihan likuiditas sejalan dengan belum pulihnya fungsi intermediasi perbankan, upaya pengendalian moneter melalui instrumen moneter ini membawa implikasi pada terjadinya kenaikan suku bunga SBI dan suku bunga perbankan. Oleh sebab itu, untuk menjaga agar penyerapan likuiditas tersebut tidak memberikan dampak pada kenaikan suku bunga yang berlebihan, pengendalian uang primer juga dilengkapi dengan upaya penambahan pasokan valuta asing di pasar melalui kebijakan sterilisasi valuta asing. Hal ini terutama dilakukan untuk menyerap ekspansi uang primer yang berasal dari pengeluaran pemerintah

Kebijakan dan Perkembangan Moneter
Menghadapi tekanan inflasi dan nilai tukar yang dirasakan semakin kuat, Bank Indonesia telah berupaya secara maksimal untuk meredam tekanan inflasi dan nilai tukar dengan menempuh kebijakan di bidang moneter dan nilai tukar. Di bidang moneter, Bank Indonesia menempuh kebijakan moneter yang cenderung ketat dengan mengendalikan uang primer sesuai dengan sasaran yang telah ditetapkan. Hal ini

dalam rupiah yang dibiayai dari penerimaan dalam valuta asing. Penambahan pasokan valuta asing melalui sterilisasi valuta asing, selain digunakan untuk menyerap uang primer, juga dimaksudkan untuk mengurangi tekanan depresiasi dan volatilitas nilai tukar. Namun demikian, dalam pasar valuta asing yang masih diwarnai oleh kesenjangan antara jumlah pasokan dan permintaan valuta asing, upaya penam-

10

Tinjauan Umum

bahan pasokan valuta asing melalui kebijakan sterilisasi ini kurang memadai, jika tidak didukung oleh kebijakan lain yang dapat membatasi kemampuan para pelaku pasar untuk melakukan kegiatan spekulatif. Oleh sebab itu, pada tahun laporan upaya stabilisasi nilai tukar rupiah juga didukung dengan kebijakan pembatasan transaksi rupiah oleh bukan penduduk2 dan pengawasan langsung (on-site supervision) terhadap sejumlah bank yang menguasai pangsa terbesar di pasar valuta asing. Kebijakan pembatasan transaksi rupiah tersebut dilatarbelakangi oleh perilaku bukan penduduk yang cenderung menggunakan rupiah sebagai alat spekulasi sehingga sering menimbulkan gejolak nilai tukar rupiah. Upaya ini telah cukup efektif meredam tekanan depresiasi yang berasal dari aksi spekulatif pelaku pasar valuta asing bukan penduduk yang terlihat dari perkembangan mutasi rekening rupiah bukan penduduk di perbankan dalam negeri (vostro account) yang menurun drastis. Dalam perkembangannya, upaya pengendalian uang primer tersebut tidak dapat dilakukan secara efektif karena adanya berbagai faktor di luar kendali Bank Indonesia, khususnya yang terkait dengan perilaku masyarakat dalam memegang uang kartal dan kurang efektifnya transmisi kebijakan moneter yang terkait dengan kondisi intermediasi perbankan yang belum sepenuhnya pulih. Pertumbuhan uang primer selama 2001 mencapai rata-rata sekitar 18,2% atau 15,4% pada akhir 2001 sehingga lebih tinggi dari sasaran sebesar 11,0%–12,0% yang ditetapkan pada awal tahun. Dilihat dari kompo-

nennya, tingginya kenaikan posisi uang primer tersebut terutama didorong oleh tingginya pertumbuhan permintaan uang kartal di masyarakat yang mencapai rata-rata 20,1% pada 2001. Peningkatan permintaan akan uang kartal di masyarakat tersebut antara lain disebabkan oleh terjadinya pergeseran yang cukup signifikan dari struktur perekonomian Indonesia, seperti tercermin pada meningkatnya peranan usaha kecil menengah (UKM) dan sektor informal dalam perekonomian Indonesia. Hal tersebut karena sektor ini lebih banyak menggunakan pembiayaan sendiri dibandingkan dengan pembiayaan dari sektor perbankan. Di samping itu, masih tingginya ketidakpastian kondisi sosial politik pada 2001 telah mendorong permintaan uang kartal oleh masyarakat untuk berjaga-jaga (precautionary motive). Tingginya permintaan uang kartal ditambah dengan beberapa permasalahan yang masih dihadapi dalam operasional kebijakan moneter, seperti kurang efektifnya transmisi kebijakan moneter akibat masih belum pulihnya intermediasi perbankan, menyebabkan penyerapan uang primer menjadi sulit dilakukan secara optimal. Meskipun berbagai langkah penyerapan likuiditas telah dilakukan, baik melalui OPT, sterilisasi valuta asing, maupun kenaikan suku bunga intervensi rupiah, perkembangan uang primer seringkali berada di luar sasaran yang telah ditetapkan. Dalam kondisi demikian, upaya kenaikan suku bunga SBI untuk menyerap uang primer dinilai tidak terlampau efektif. Menyikapi kondisi yang demikian, dalam perkembangannya terutama sejak akhir triwulan ketiga 2001, Bank Indonesia cenderung berusaha menyerap kelebihan likuiditas perbankan tanpa

2

Peraturan Bank Indonesia No.3/3/2001 tanggal 12 Januari 2001 tentang Pembatasan Transaksi Rupiah dan Pemberian Kredit Valuta Asing oleh Bank.

menimbulkan peningkatan suku bunga yang berlebihan.

11

Tinjauan Umum

Selama 2001, suku bunga SBI tenor 1 bulan meningkat secara bertahap sebesar 309 bp (basis point) menjadi 17,62% dan SBI tenor 3 bulan meningkat 332 bp menjadi 17,63% pada akhir Desember 2001. Peningkatan suku bunga SBI selama 2001 masih belum secara langsung berpengaruh pada peningkatan suku bunga deposito secara signifikan, terutama akibat masih tingginya likuiditas perbankan sebagai akibat masih tingginya ketergantungan perbankan pada SBI sebagai alternatif penempatan utama, dengan memanfaatkan selisih antara suku bunga SBI dan deposito di tengah kondisi fungsi intermediasi perbankan yang belum sepenuhnya pulih. Dalam pada itu, pergerakan suku bunga deposito 1 bulan yang meningkat sebesar 411 bp menjadi 16,07% lebih banyak dipengaruhi oleh perubahan marjin suku bunga maksimum penjaminan yang selama tahun laporan telah diubah selama dua kali. Hal ini terlihat dari arah pergerakan suku bunga deposito sepanjang tahun laporan yang lebih dekat dengan suku bunga penjaminan. Sejalan dengan meningkatnya suku bunga deposito nominal itu, suku bunga riil deposito mengalami peningkatan sebesar 91 bp menjadi sebesar 3,52%. Tingkat suku bunga riil ini masih jauh di bawah tingkatnya pada masa sebelum krisis, terlebih jika mempertimbangkan relatif lebih tingginya premi risiko pada saat ini. Walaupun tingkat suku bunga riil deposito tersebut masih relatif rendah, kenaikan suku bunga riil ini cukup mampu menggeser portofolio dana masyarakat dari aset-aset untuk tujuan bertransaksi (transaction purposes) menjadi aset-aset untuk tujuan menabung (saving purposes). Hal ini tercermin dari peningkatan deposito yang lebih tinggi dari peningkatan aset-aset yang lebih likuid seperti tabu-

ngan dan simpanan giro. Kondisi ini sangat berbeda dengan perkembangannya di tahun 2000, dimana yang terjadi adalah sebaliknya, yakni terjadinya pergeseran ke arah aset-aset yang lebih likuid. Sejalan dengan terjadinya peningkatan deposito tersebut, pada akhir tahun pertumbuhan uang beredar dalam arti luas (M2) mengalami kenaikan sebesar 13,0% (y-o-y) yang melebihi pertumbuhan uang beredar dalam arti sempit (M1) sebesar 9,6% (y-o-y), walaupun secara rata-rata pertumbuhan M2 lebih rendah dari pertumbuhan M1.

Kebijakan dan Perkembangan Perbankan
Sebagai kelanjutan dari kebijakan perbankan yang ditempuh Pemerintah dan Bank Indonesia pada tahun sebelumnya, strategi restrukturisasi perbankan pada 2001 mencakup dua bagian besar yaitu : (i) program penyehatan perbankan yang meliputi penjaminan pemerintah bagi bank umum dan bank perkreditan rakyat (BPR), program rekapitalisasi bank umum, dan restrukturisasi kredit perbankan; (ii) pemantapan ketahanan sistem perbankan yang meliputi pengembangan infrastruktur dan peningkatan good governance, serta penyempurnaan pengaturan dan pemantapan sistem pengawasan bank. Secara khusus, pada 2001 dalam program penyehatan perbankan, Bank Indonesia lebih menitikberatkan pada target pencapaian Capital Adequacy Ratio (CAR) minimum 8% yang harus dipenuhi oleh bank-bank pada akhir 2001 dan target indikatif Non Performing Loans (NPLs) maksimal 5%. Seiring dengan upaya tersebut, Bank Indonesia juga sedang menyempurnakan pola pengawasan bank sebagaimana telah ditetapkan dalam master plan mengenai peningkatan efektivitas pengawasan bank,

12

Tinjauan Umum

diantaranya dengan menerapkan sistem pengawasan bank yang berbasis pada risiko (risk based supervision) dan berorientasi ke depan (forward looking) sebagai penyempurnaan dari sistem pengawasan yang didasarkan atas kepatuhan (compliance audit). Penyempurnaan sistem pengawasan tersebut mengacu pada 25 Basel Core Principles for Effective Banking Supervision, yang telah berlaku secara internasional. Sementara itu, program pemantapan ketahanan sistem perbankan diarahkan untuk membangun sistem perbankan yang tangguh dan tahan terhadap guncangan. Sebagai bagian yang tidak terpisahkan dalam sistem perbankan nasional, dalam tahun 2001 juga dilakukan pengembangan perbankan syariah dan BPR. Dalam rangka mendorong pengembangan usaha kecil dan menengah, Bank Indonesia telah melakukan berbagai upaya untuk pemberdayaan usaha kecil dan menengah melalui bantuan teknis Pengembangan Usaha Kecil dan Mikro (PUKM). Bantuan teknis ini dilaksanakan antara lain melalui: (i) pelatihan kepada kepada BPR dan bank umum dalam pembiayaan usaha kecil dan mikro, (ii) melakukan penelitian mengenai usaha skala mikro yang potensial dibiayai oleh bank, dan (iii) penyediaan informasi terpadu pengembangan usaha kecil yang dapat diakses melalui internet yang antara lain meliputi informasi potensi wilayah, pola pembiayaan, dan industri kecil yang berbasis ekspor. Informasi ini diharapkan dapat dimanfaatkan baik bagi pengusaha kecil maupun oleh perbankan dalam pengembangan usaha kecil dan mikro. Sebagai hasil dari berbagai kebijakan yang ditempuh di atas, kinerja sektor perbankan selama 2001 telah menunjukkan kemajuan. Beberapa

indikator kinerja, khususnya pemenuhan CAR minimum 8% dan NPLs 5% menunjukkan perbaikan. Hal ini sesuai dengan sasaran strategis program restrukturisasi perbankan pada 2001 yang lebih menitikberatkan pada pencapaian persyaratan CAR dan NPLs tersebut. Dalam kaitan ini, secara umum struktur permodalan bank mengalami perbaikan yang tercermin dari meningkatnya jumlah bank yang mencapai pemenuhan CAR 8%. Sampai dengan akhir 20013, sebanyak 138 dari 145 bank telah memenuhi persyaratan CAR minimum 8%. NPLs juga telah mengalami perbaikan yang cukup signifikan mencapai 12,1% membaik dari 18,8% pada 2000 terutama karena adanya penghapusbukuan kredit macet, restrukturisasi dan penyelesaian kredit, pengalihan kredit ke BPPN, serta penyaluran kredit baru. Membaiknya kinerja perbankan juga tercermin dari meningkatnya profitabilitas perbankan. Net Interest Margin (NIM) perbankan meningkat dari rata-rata Rp1,9 triliun pada 2000 menjadi Rp3,2 triliun tahun 2001. Namun demikian peningkatan ini terutama berasal dari spread positif karena naiknya suku bunga SBI dan besarnya penerimaan obligasi pemerintah yang mencapai sekitar 45,3% dari total pendapatan bunga. Sementara itu, pendapatan bunga yang berasal dari kredit perbankan hanya sebesar 32,2%. Masih tingginya ketergantungan perbankan terhadap penerimaan bunga obligasi mengindikasikan proses restrukturisasi perbankan yang telah dilakukan masih belum mampu meningkatkan fungsi intermediasi perbankan secara keseluruhan. Meskipun indikator kinerja perbankan telah menunjukkan kemajuan yang berarti, sektor ini masih

3

Posisi November 2001.

13

Tinjauan Umum

menghadapi tantangan terutama fungsi intermediasi perbankan yang belum sepenuhnya pulih walaupun telah mencapai kemajuan dibanding tahun sebelumnya. Hal ini tercermin dari belum optimalnya penyerapan kredit baru oleh sektor riil yang sampai akhir 2001 baru mencapai Rp56,8 triliun dari komitmen kredit baru yang telah disediakan oleh perbankan sebesar Rp127,3 triliun atau realisasinya hanya sebesar 44,6%. Rendahnya daya serap sektor riil terhadap kredit perbankan sejalan dengan menurunnya kepercayaan dunia usaha (business confidence) untuk melakukan realisasi investasi dan produksi akibat meningkatnya risiko dan ketidakpastian yang terjadi selama tahun laporan. Fungsi intermediasi perbankan yang belum sepenuhnya pulih juga tidak terlepas dari masih berlangsungnya proses konsolidasi internal perbankan dalam memenuhi ketentuan prudensial bank. Sementara itu, perkembangan restrukturisasi kredit dan korporasi yang masih belum memperlihatkan hasil yang menggembirakan juga turut mempengaruhi lambatnya pemulihan intermediasi perbankan. Sampai dengan Desember 2001, kredit yang telah direstrukturisasi (telah dibayar penuh) oleh BPPN baru mencapai Rp11,6 triliun atau 3,7% dari total kredit bermasalah sebesar Rp310,7 triliun, sementara yang masih dalam tahap implementasi proposal restrukturisasi dan penandatangani MoU masing-masing mencapai Rp19,7 triliun dan Rp 60,9 triliun. Restrukturisasi kredit yang difasilitasi oleh Satgas Restrukturisasi Kredit Bank Indonesia secara akumulatif telah mencapai Rp 91,8 triliun. Dalam pada itu, penyelesaian restrukturisasi utang luar negeri swasta yang dilaporkan ke Bank Indonesia baru sebanyak 68 perusahaan dengan total nilai sekitar

$4,1 miliar atau masih 13,7% dari posisi utang luar negeri perusahaan yang bermasalah sekitar $30 miliar. Lambatnya restrukturisasi utang luar negeri swasta ini disebabkan oleh ketidaksesuaian terms and conditions antara debitur dan kreditur, penurunan nilai agunan kredit, meningkatnya country risk yang menyebabkan biaya bunga lebih mahal dan menghambat investor asing untuk mengambil alih utang luar negeri perusahaan, volatilitas nilai tukar, dan adanya ketidakpastian hukum.

Kebijakan dan Perkembangan Sistem Pembayaran
Sepanjang 2001 Bank Indonesia terus melakukan berbagai upaya penyempurnaan untuk menciptakan sistem pembayaran nasional yang efisien, cepat, aman, dan handal guna mendukung efektivitas pelaksanaan kebijakan moneter serta mendorong upaya penciptaan sistem perbankan yang sehat. Secara garis besar, kebijakan sistem pembayaran terdiri dari kebijakan pengedaran uang dan peningkatan pelayanan jasa Bank Indonesia di bidang lalu lintas pembayaran. Di bidang pengedaran uang, dalam lingkup pembayaran tunai Bank Indonesia berusaha mencukupi kebutuhan masyarakat terhadap uang kertas dan uang logam untuk keperluan pembayaran serta menjaga agar uang yang diedarkan berada dalam kondisi layak edar. Pada 2001, Bank Indonesia meningkatkan penyediaan uang untuk memenuhi kenaikan kebutuhan masyarakat akan uang kartal seiring dengan perkembangan berbagai indikator ekonomi nasional maupun dalam rangka menghadapi bulan Ramadhan, Hari Raya Idul Fitri, Hari Natal, dan Tahun Baru 2002 yang waktunya saling berdekatan.

14

Tinjauan Umum

Posisi UYD (Uang kartal Yang Diedarkan) sepanjang 2001 cenderung meningkat. Posisi UYD akhir Desember 2001 mencapai Rp 91,3 triliun atau meningkat 1,8% dibandingkan dengan posisi UYD akhir Desember 2000 yang hanya sebesar Rp 89,7 triliun. Kenaikan UYD terutama disebabkan adanya penarikan yang cukup besar dari masyarakat dalam rangka merayakan hari-hari besar keagamaan dan tahun baru. Dilihat dari jenis uangnya, perbandingan antara uang kertas dan uang logam sepanjang 2001 tidak banyak mengalami perubahan, dengan pangsa masing-masing jenis uang sebesar 98% untuk uang kertas dan 2% untuk uang logam. Sementara itu, bila dilihat dari pecahannya, posisi UYD tersebut didominasi oleh pecahan Rp 100.000 dan Rp 50.000 yang rata-rata pangsanya masing-masing mencapai 41,4% dan 28,9% dari total UYD. Selain menyediakan uang dalam jumlah yang cukup, Bank Indonesia juga senantiasa menjaga agar kualitas uang yang dipegang masyarakat terjaga kualitasnya dengan cara melakukan “clean money policy” yaitu menarik dan memusnahkan uang yang tidak layak edar atau Pemberian Tanda Tidak Berharga (PTTB) serta mengganti uang yang dimusnahkan tersebut. Sementara itu, meskipun jumlah uang palsu yang ditemukan pada 2001 menurun dibandingkan tahun 2000, Bank Indonesia tetap meningkatkan kerjasama dengan instansi terkait dalam upaya memberantas peredaran uang palsu tersebut antara lain dengan Badan Koordinasi Pemberantasan Uang Palsu (Botasupal), mengedarkan poster dan stiker mengenai cara mudah mengenali uang rupiah, mempersiapkan pembuatan iklan layanan masyarakat di media televisi, serta melakukan kegiatan

sosialisasi pengenalan keaslian uang rupiah. Selain upaya yang bersifat preventif tersebut, Bank Indonesia menerapkan upaya represif dengan melakukan koordinasi dan kerjasama dengan instansi terkait dalam melakukan penangkapan dan pemrosesan ke pengadilan terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam pemalsuan uang rupiah. Di bidang lalu lintas pembayaran nontunai, dalam rangka meningkatkan stabilitas sistem keuangan dan memperlancar efektivitas kebijakan moneter, Bank Indonesia telah meningkatkan kinerja lalu lintas pembayaran nontunai melalui penyempurnaan implementasi dan ketentuan-ketentuan di bidang pengawasan sistem pembayaran terutama mengenai keamanan, prosedur dan produknya, yang antara lain meliputi : (i) Pengembangan sistem Real Time Gross Setlement (BI-RTGS) sebagai mekanisme setelmen pembayaran antarbank untuk transaksi nilai besar dan/atau penting (urgent) yang dalam tahun 2001 telah diimplementasikan di 12 Kantor Bank Indonesia (KBI); (ii) Pengembangan Sistem Informasi Kliring Jarak Jauh (SIKJJ) untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan kliring secara elektronik dan otomasi; (iii) Pengaturan kembali hubungan rekening giro antara Bank Indonesia dengan pihak ekstern yang dilakukan untuk memperluas pemanfaatan giro di Bank Indonesia oleh pihak ekstern guna mendukung kelancaran pencapaian tujuan memelihara kestabilan nilai rupiah;4 dan (iv) Pengaturan mengenai penyelenggaraan jasa sistem pembayaran dengan menggunakan alat pembayaran nontunai dan jasa pendukungnya, dengan tujuan untuk mene-

4

Penerbitan PBI No.3/11/PBI/2001 sebagai perubahan atas PBI No.2/ 24/PBI/2000 tentang Hubungan Rekening Giro Antara Bank Indonesia Dengan Pihak Ekstern.

15

Tinjauan Umum

gaskan batas-batas kewenangan antar lembaga dalam pengaturan jasa-jasa sistem pembayaran.

luaran subsidi dan utang pemerintah yang masih besar. Sementara kemajuan dalam asset recovery BPPN maupun privatisasi Badan Usaha

PROSPEK EKONOMI DAN ARAH KEBIJAKAN 2002 Tantangan Ke Depan
Evaluasi kinerja ekonomi 2001 menunjukkan bahwa penanganan terhadap berbagai permasalahan mendasar dan risiko tidak secepat yang diperkirakan dan bahkan dalam beberapa hal cenderung memburuk. Kondisi ini telah menyebabkan proses pemulihan ekonomi Indonesia tidak secepat yang diharapkan dan semakin besarnya tantangan yang dihadapi dalam pengendalian moneter. Upaya mengatasi berbagai risiko dan ketidakpastian tersebut akan menjadi kunci keberhasilan untuk menjamin prospek pemulihan ekonomi yang lebih baik pada tahun-tahun mendatang. Berbagai faktor risiko dan ketidakpastian tersebut mencakup : • Pertama, masih lambannya proses restrukturisasi utang perusahaan. Kondisi ini menyebabkan peningkatan kegiatan ekonomi dan penyaluran kredit perbankan tidak dapat berjalan lebih cepat, karena sebagian besar perusahaan yang masih dalam proses restrukturisasi tersebut merupakan komponen terbesar dari perekonomian nasional. • Kedua, masih belum pulihnya intermediasi perbankan. Kondisi ini menyebabkan terbatasnya pembiayaan kegiatan produksi dan investasi, adanya kelebihan likuiditas di perbankan yang berpotensi memberi tekanan pada nilai tukar rupiah dan inflasi, serta menurunnya efektifitas kebijakan moneter. • Ketiga, masih beratnya beban keuangan pemerintah, terutama akibat masih tingginya penge• • •

Milik Negara (BUMN) diperkirakan belum dapat menutupi beban keuangan pemerintah. Dengan kondisi demikian, stimulus dari sisi fiskal untuk percepatan pemulihan ekonomi menjadi sangat terbatas. Keempat, masih tingginya ketidakpastian hukum dan kendala-kendala dalam pelaksanaan kebijakan di berbagai bidang ekonomi. Kondisi ini dapat membawa dampak yang kurang menguntungkan pada keberhasilan beberapa program restrukturisasi ekonomi sehingga menyulitkan upaya perbaikan country risk Indonesia dan percepatan pemulihan ekonomi nasional. Kelima, munculnya berbagai permasalahan yang terkait dengan pelaksanaan otonomi daerah sehingga menyebabkan kurang kondusifnya iklim investasi di daerah. Di samping itu, pemanfaatan Dana Alokasi Umum (DAU) secara tidak efisien dapat menyebabkan stimulus ekonomi dari sektor pemerintah menjadi semakin terbatas. Keenam, di sisi eksternal, meskipun diperkirakan akan mulai membaik pada semester kedua, secara keseluruhan perekonomian dunia masih akan mengalami resesi pada tahun 2002. Kondisi ini akan sangat berpengaruh terhadap kinerja sektor eksternal ekonomi Indonesia. Di samping itu, pemberlakuan Asean Free Trade Area (AFTA) sejak awal tahun 2002, di satu sisi dapat membuka peluang ekspor, namun disisi lain akan mendorong masuknya pesaing luar negeri yang dapat mengancam kinerja produsen dalam negeri.

16

Tinjauan Umum

Prospek Ekonomi Makro
Prospek ekonomi makro Indonesia di tahun 2002 tidak terlepas dari pengaruh perkembangan ekonomi global yang masih ditandai oleh melemahnya perekonomian di negara-negara industri besar seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Uni Eropa. Meskipun demikian, stimulus kebijakan moneter dan fiskal yang sangat agresif di negara-negara tersebut diprakirakan akan mendorong bangkitnya kembali perekonomian negara-negara itu pada semester kedua 2002. Di tengah-tengah masih lemahnya perekonomian dunia tersebut, prospek ekonomi dan moneter Indonesia pada 2002 akan sangat tergantung pada kuatnya peningkatan kegiatan ekonomi domestik. Apabila kemajuan dalam penanganan sejumlah permasalahan struktural di dalam negeri dan penurunan risiko dan ketidakpastian dapat dicapai, Bank Indonesia memperkirakan bahwa pemulihan ekonomi Indonesia pada 2002 masih dapat dipertahankan. Apabila ekspor dan investasi dapat ditingkatkan serta program restrukturisasi ekonomi dan perbankan berjalan sesuai dengan harapan, Bank Indonesia memprakirakan bahwa pertumbuhan ekonomi 2002 dapat mencapai 3,5%–4,0%. Dari sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi 2002 diprakirakan masih akan berasal dari pertumbuhan konsumsi yang diprakirakan akan didorong oleh meningkatnya gaji dan pendapatan serta meningkatnya pembiayaan untuk konsumsi, baik yang bersumber dari perbankan maupun dari perusahaan pembiayaan seperti kartu kredit dan pembiayaan konsumen. Namun demikian, perlu disadari bahwa pertumbuhan konsumsi diprakirakan akan mengarah kepada perkembangan yang melambat. Sementara itu, investasi dan ekspor diprakirakan akan mengalami pertumbuhan yang lebih tinggi dari tahun

2001. Walaupun demikian, kedua sektor ini belum dapat di harapkan menjadi motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi di tahun 2002. Keterbatasan kinerja investasi sebagai motor penggerak utama tersebut disebabkan oleh masih berlangsungnya berbagai permasalahan mendasar di sektor riil, masih tingginya risiko dan ketidakpastian dalam perekonomian, serta terbatasnya pembiayaan investasi akibat belum pulihnya intermediasi perbankan. Sementara terbatasnya kinerja ekspor terutama disebabkan oleh melemahnya perekonomian dunia. Walaupun kinerja ekspor masih terbatas, pertumbuhan impor diperkirakan masih meningkat sejalan dengan naiknya permintaan konsumsi dan investasi. Dari sisi penawaran, pertumbuhan ekonomi yang moderat di tahun 2002 diprakirakan disumbang oleh hampir seluruh sektor. Sejalan dengan masih dominannya peran konsumsi sebagai mesin utama pertumbuhan, maka sumbangan terbesar diprakirakan akan berasal dari sektor industri pengolahan dan sektor perdagangan. Sektor industri pengolahan yang diprakirakan meningkat tajam adalah industri makanan dan minuman dan kendaraan bermotor, sedangkan industri unggulan ekspor seperti tekstil, persepatuan dan kayu diprakirakan mengalami penurunan. Sementara itu, meningkatnya sektor perdagangan, terutama perdagangan ritel, diperkirakan meningkat cukup tinggi terkait dengan masih tumbuh positifnya permintaan konsumsi masyarakat yang diperkirakan menjadi motor penggerak perekonomian domestik. Sektor pertambangan diperkirakan tumbuh positif namun masih relatif rendah terutama akibat masih tingginya ketidakpastian hukum dan faktor keamanan pada sektor ini selain masih lemahnya

17

Tinjauan Umum

permintaan luar negeri terhadap beberapa komoditas tambang. Sektor lainnya seperti sektor bangunan diperkirakan akan bangkit sejalan dengan akan direalisasikannya beberapa proyek besar seperti Jakarta Outer Ring Road dan mulai maraknya penyediaan perumahan seiring dengan meningkatnya kredit konsumsi untuk perumahan. Satu-satunya sektor yang diperkirakan belum membaik adalah sektor pertanian, sebagai akibat kemungkinan datangnya badai El-Nino serta masih belum tuntasnya permasalahan produksi dan distribusi pupuk. Di samping itu, komoditas perkebunan yang berorientasi ekspor diperkirakan juga menurun seiring dengan menurunnya permintaan dunia. Sementara itu, kinerja neraca pembayaran Indonesia pada 2002 diprakirakan akan relatif membaik dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini antara lain tercermin dari meningkatnya cadangan devisa yang terutama disebabkan oleh membaiknya lalu lintas modal. Sementara itu, transaksi berjalan diprakirakan tetap mencatat surplus walaupun lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2001. Prakiraan menurunnya surplus transaksi berjalan didasarkan pada relatif tingginya impor dibanding ekspor. Transaksi berjalan diperkirakan masih dapat mencatat surplus sebesar $3,1 miliar. Sementara itu, defisit lalu lintas modal secara keseluruhan diprakirakan akan cenderung menurun akibat menurunnya defisit lalu lintas modal swasta dan membaiknya surplus lalu lintas modal pemerintah. Membaiknya lalu lintas modal pemerintah tersebut bersumber dari penarikan pinjaman yang berasal dari negara-negara donor setelah sempat tertunda di tahun 2001 dan penjadwalan kembali utang pokok luar negeri pemerintah terkait dengan Paris Club.

Prospek Nilai Tukar dan Inflasi
Prospek nilai tukar rupiah selama 2002 akan dipengaruhi oleh kondisi fundamental di pasar valuta asing seperti masih terbatasnya pasokan dan tingginya permintaan valuta asing, serta faktor sentimen pasar. Nilai tukar rupiah pada 2002 diprakirakan memiliki potensi untuk menguat dimana tekanan depresiasi rupiah cenderung berkurang dibandingkan dengan tahun lalu mengingat ketidakpastian situasi politik diprakirakan relatif membaik pada 2002. Penguatan nilai rupiah secara signifikan diharapkan terjadi mulai pertengahan tahun sejalan dengan harapan terus membaiknya risiko politik, keuangan, dan ekonomi. Prakiraan ini akan lebih optimis apabila dalam waktu dekat terdapat kemajuan dalam pelaksanaan program-program ekonomi pemerintah sehingga dapat memperbaiki persepsi pelaku pasar, termasuk adanya kemajuan yang signifikan dalam penjualan aset oleh BPPN dan privatisasi BUMN. Namun demikian, apabila berbagai risiko tersebut justru menunjukkan perkembangan yang terus memburuk, maka rupiah diperkirakan sedikit melemah. Berdasarkan pertimbangan tersebut nilai tukar rupiah rata-rata pada 2002 diprakirakan akan mencapai sekitar Rp9.500– Rp10.500 per dolar. Sementara itu, prospek inflasi pada 2002 akan dipengaruhi terutama oleh dampak kebijakan pemerintah di bidang harga serta tingginya ekspektasi inflasi. Seperti tahun-tahun sebelumnya, dampak penerapan kebijakan pemerintah terhadap penambahan inflasi diperkirakan masih cukup tinggi. Rencana pemerintah untuk menaikkan harga BBM, TDL, dan cukai rokok diprakirakan akan tetap memberikan dampak pada inflasi di tahun 2002.

18

Tinjauan Umum

Tingginya ekspektasi inflasi selain dipengaruhi oleh inflasi yang tinggi pada 2001 juga sangat dipengaruhi ekpektasi meningkatnya biaya produksi dan transportasi sebagai akibat dari rencana kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan. Di samping itu, tekanan inflasi dari sisi permintaan dan penawaran diprakirakan dapat meningkat sebagai akibat dari peningkatan konsumsi masyarakat yang kurang diimbangi sisi penawaran. Tekanan inflasi diprakirakan semakin tinggi apabila faktor gangguan pasokan pangan akibat adanya El-Nino yang terjadi pada 2002 mengganggu produksi sektor pertanian.

pendapatan, yang memerlukan pemahaman yang lebih mendalam mengenai metode perhitungannya, dan (iii) dengan menggunakan sasaran inflasi yang lebih akseptabel dan transparan, ekspektasi masyarakat terhadap inflasi akan lebih mudah dipengaruhi oleh sasaran inflasi yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Di samping perubahan jenis inflasi yang digunakan sebagai sasaran, sejak tahun ini Bank Indonesia mengumumkan inflasi jangka menengah. Sasaran inflasi jangka menengah ini diharapkan dapat dipergunakan oleh masyarakat dan pelaku usaha sebagai acuan dalam perencanaan jangka menengah dan panjang. Dengan demikian, ekspektasi inflasi

Sasaran Inflasi Tahun 2002 dan Jangka Menengah
Dengan memperhatikan berbagai perkembangan dan prospek makroekonomi serta mempertimbangkan perkembangan tekanan inflasi ke depan, Bank Indonesia menetapkan sasaran inflasi IHK 2002 pada kisaran 9,0%–10,0%. Namun demikian, dalam lima tahun ke depan Bank Indonesia memiliki komitmen untuk secara bertahap menurunkan inflasi menjadi sekitar 6,0%–7,0%. Dalam hal ini perlu dijelaskan bahwa berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, sejak tahun ini Bank Indonesia mengubah jenis inflasi yang digunakan sebagai sasaran inflasi, yaitu dari inflasi IHK di luar dampak kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan menjadi inflasi IHK. Adapun pertimbangan perubahan jenis sasaran inflasi ini adalah (i) inflasi IHK merupakan perubahan harga yang secara langsung dirasakan oleh masyarakat sehingga penggunaan sasaran inflasi jenis ini lebih dapat diterima oleh masyarakat, (ii) penggunaan inflasi IHK lebih transparan bagi masyarakat dibandingkan inflasi IHK di luar dampak kebijakan pemerintah di bidang harga dan

dalam jangka menengah dapat diarahkan pada tingkat inflasi yang lebih rendah tanpa mengorbankan kelangsungan pemulihan ekonomi (Boks : Penetapan Sasaran Inflasi Bank Indonesia).

Arah Kebijakan
Dengan memperhatikan prospek ekonomi dan sasaran inflasi yang ditetapkan serta berbagai tantangan yang dihadapi di tahun 2002, Bank Indonesia akan berupaya untuk secara konsisten menempuh kebijakan-kebijakan di bidang moneter, perbankan dan sistem pembayaran. Di bidang moneter, dalam rangka mencapai sasaran inflasi yang telah ditetapkan, kebijakan moneter akan diarahkan pada upaya pengendalian uang primer agar tetap sesuai dengan kebutuhan riil perekonomian. Upaya pengendalian moneter tersebut akan dilakukan dengan pertimbangan suku bunga riil yang positif pada kisaran yang memadai sekitar 4,0%5,0%. Secara operasional, pengendalian moneter dilakukan dengan mengoptimalkan instrumeninstrumen moneter terutama melalui operasi pasar

19

Tinjauan Umum

terbuka dengan lelang SBI. Selain itu, upaya tersebut juga akan didukung dengan melakukan sterilisasi valas. Disamping sebagai upaya penyerapan kelebihan likuiditas, sterilisasi valas juga dimaksudkan untuk mengurangi tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Kesemua langkah di bidang moneter tersebut akan dilakukan secara berhati-hati dan terukur agar kestabilan harga tetap terpelihara sehingga mampu mendukung proses pemulihan ekonomi yang sedang berlangsung dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dalam jangka menengah-panjang. Di bidang perbankan, prioritas utama kebijakan diarahkan untuk memperkuat ketahanan sistem perbankan. Untuk mencapai hal tersebut, Bank Indonesia akan terus menerus memaksimalkan upaya penerapan 25 Basel Core Principles for Effective Banking Supervision yang penjabarannya dituangkan dalam Master Plan Peningkatan Efektivitas Pengawasan Bank. Upaya untuk memelihara CAR bankbank yang telah mencapai 8% terus dilakukan khususnya terhadap bank-bank yang struktur permodalannya masih rentan terhadap pengaruh kenaikan suku bunga dan melemahnya nilai tukar serta penurunan kualitas kredit. Bagi bank-bank besar yang memiliki risiko usaha yang cukup tinggi dan beroperasi secara internasional akan didorong untuk meningkatkan rasio kecukupan modalnya di atas 8%. Di samping itu, dalam rangka meningkatkan stabilitas sistem keuangan, pada saat ini Bank Indonesia sedang melakukan pengkajian mengenai landscape perbankan Indonesia yang terintegrasi dengan pengembangan lembaga finansial lainnya. Sementara itu, untuk memulihkan fungsi intermediasi perbankan, Bank Indonesia akan mendorong perbankan untuk lebih banyak lagi menyalurkan

kredit kepada sektor-sektor yang dianggap telah siap dan memiliki risiko yang relatif rendah seperti kredit ekspor dan kredit bagi UKM dengan tetap memperhatikan prinsip-prinsip perkreditan yang sehat. Bank Indonesia juga melakukan penyempurnaan terhadap beberapa ketentuan untuk mempercepat intermediasi perbankan. Selain itu, usaha untuk meningkatkan kesehatan bank juga didukung oleh upaya-upaya yang terus menerus untuk menekan angka NPLs perbankan nasional dengan mewajibkan bank-bank untuk mencapai target NPLs sebesar 5% pada akhir 2002. Sementara itu upaya yang perlu dilakukan untuk memperkuat infrastruktur perbankan nasional dapat dilakukan dengan terus mendorong pengembangan bank syariah dan keberadaan BPR serta bersamasama dengan Pemerintah mempersiapkan pembentukan Lembaga Penjamin Simpanan dan lembaga pengawas jasa keuangan. Untuk mendukung tercapainya kestabilan sistem keuangan dan efektivitas kebijakan moneter, kebijakan di bidang sistem pembayaran akan diarahkan untuk mempercepat pengembangan dan pelaksanaan sistem pembayaran nasional yang efisien, akurat, aman, dan handal melalui peningkatan mutu pelayanan sistem pembayaran. Di bidang pengedaran uang Bank Indonesia akan mengutamakan penggunaan unsur pengaman yang kasat mata dan kasat raba terhadap uang baru yang diterbitkan. Di samping itu, Bank Indonesia akan melakukan penataan kembali jalur distribusi uang dalam rangka lebih menjamin ketersediaan uang di seluruh Kantor Bank Indonesia (KBI) dan peningkatan pelayanan penarikan uang tunai kepada masyarakat. Sementara dari sisi pembayaran nontunai, kebijakan tetap diarahkan pada pengurangan risiko

20

Tinjauan Umum

Tinjauan Umum

pembayaran, peningkatan kualitas dan kapasitas layanan sistem pembayaran serta pengaturan pengawasan sistem pembayaran yang cepat, aman, dan efisien. Selain itu, Bank Indonesia juga terus melakukan upaya pengaturan mengenai penyelenggaraan jasa sistem pembayaran dengan menggunakan alat pembayaran nontunai dan jasa pendukungnya serta melakukan pengaturan yang terkait dengan upaya mengatasi kegagalan peserta kliring dalam penyelesaian kewajiban setelmennya.

ekonomi. Koordinasi kebijakan seperti ini diharapkan dapat menghasilkan paket kebijakan ekonomi yang kredibel sehingga akan menumbuhkan kembali kepercayaan para pelaku ekonomi terhadap proses pemulihan ekonomi. Dari sisi internal, Bank Indonesia telah menempuh berbagai langkah pembenahan manajemen intern melalui Program Transformasi Bank Indonesia. Program yang mulai diterapkan tahun 2002 ini mencakup perubahan secara substansial misi dan visi Bank Indonesia dalam era yang sedang berubah

Penutup
Sebagai penutup, rangkaian kebijakan Bank Indonesia di tahun 2002 yang akan ditempuh Bank Indonesia pada hakikatnya merupakan bagian dari kerangka kebijakan ekonomi makro secara keseluruhan. Dalam konteks ini, kebijakan Bank Indonesia berfungsi untuk menunjang terciptanya iklim yang kondusif bagi upaya pemulihan ekonomi. Di sisi lain, keberhasilan kebijakan yang akan ditempuh Bank Indonesia sangat tergantung pada kebijakan-kebijakan di bidang lain dan perkembangan berbagai faktor risiko dan ketidakpastian. Dengan demikian, koordinasi kebijakan menjadi faktor yang sangat penting dalam menunjang keberhasilan pemulihan

yang menuntut kemampuan Bank Indonesia melakukan antisipasi dan menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi baik dalam skala nasional maupun skala global. Perubahan-perubahan ini mendorong Bank Indonesia untuk lebih secara sistematis dan terpadu melakukan perubahan dalam rangka meningkatkan transparansi, akuntabilitas, integritas, dan kompetensi. Dalam operasionalnya, program transformasi ini akan membawa konsekuensi pada perubahan kerangka kebijakan moneter, perangkat organisasi, manajemen sumberdaya manusia, sistem teknologi informasi serta hubungan dengan stakeholders (Boks : Program Transformasi Bank Indonesia).

21

Tinjauan Umum

boks

Penetapan Sasaran Inflasi Bank Indonesia
Sesuai dengan pasal 7 Undang-Undang No.23/1999 tentang Bank Indonesia disebutkan bahwa tugas pokok Bank Indonesia adalah mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Selanjutnya dalam pasal 10, untuk menjalankan tugas ini Bank Indonesia diwajibkan untuk mengumumkan sasaran inflasi dan sasaran-sasaran moneter untuk mencapai sasaran inflasi tersebut. Salah satu upaya Bank Indonesia dalam rangka menjalankan tugas pokok tersebut adalah menetapkan sasaran inflasi dengan cara yang tepat dengan mempertimbangkan kondisi makroekonomi. Dengan melihat perkembangan kondisi perekonomian saat ini dan tahun-tahun mendatang, penetapan sasaran inflasi saat ini bertujuan untuk mendukung upaya pencapaian sasaran inflasi melalui pembentukan ekspektasi masyarakat dengan penerapan kebijakan moneter yang tetap mendukung proses pemulihan ekonomi. Untuk itu berbagai aspek penting yang perlu dikaji dalam penetapan sasaran inflasi ini adalah: penentuan jenis sasaran inflasi, penentuan jangka waktu pencapaian sasaran inflasi dan level dari sasaran inflasi yang akan dicapai. kenaikan harga terjadi pada seluruh kelompok barang dan jasa (the general price level movement). Sebagai indikator yang mencerminkan perubahan harga-harga, Inflasi berdasarkan Indeks Harga Konsumen (IHK) merupakan indikator inflasi yang paling umum digunakan baik di Indonesia maupun disejumlah negara lainnya. Hal ini berkaitan dengan kontinuitas penyediaan data yang dapat disediakan dengan segera dan perannya yang lebih dapat mencerminkan kenaikan biaya hidup masyarakat (cost of living). Namun demikian, dengan tingginya variabilitas pergerakan harga relatif di antara komponen barang yang tercakup dalam perhitungan IHK (relative price movement) serta tingginya pengaruh nonfundamental seperti pengaruh musiman dan dampak penerapan kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan dalam perkembangan inflasi di Indonesia, seringkali pergerakan inflasi IHK tidak mencerminkan perkembangan laju inflasi seperti yang dimaksudkan dalam definisi inflasi di atas (general movement dan persistent). Hal ini dapat berimplikasi terhadap kekurangtepatan arah kebijakan moneter yang akan ditetapkan oleh Bank Indonesia dalam upaya pengendalian laju inflasi, yang mengacu pada perkembangan harga-harga.

JENIS SASARAN INFLASI
Secara umum inflasi di definisikan sebagai “...a situation in which there is a persistent upward movement in the general price level...”. 1 Dalam pengertian ini terdapat dua hal penting yakni menyangkut definisi kenaikan harga yang terjadi secara terusmenerus (a persistent upward movement) dan

Menghadapi hal ini, Bank Indonesia telah melakukan berbagai penelitian2 dalam rangka menda1 2 A.J. Hagger (1977), Inflation: Theory and Policy, The Macmillan Press Ltd. W. Santoso, R. Anglingkusumo, Underlying Inflation Sebagai Indikator Harga Yang Relevan Dengan Kebijakan Moneter: Sebuah Tinjauan Untuk Indonesia, BEMP No.1 Vol.1, Juli 1998 dan A.R. Hutabarat, F. Majardi, R. Anglingkusumo, E.D.Tjahjono, E. Haryono, B. Pramono, H. Alamsyah, Perhitungan Inflasi Inti di Indonesia, BEMP Vol.2 No.4, Maret 2000.

22

Tinjauan Umum

patkan indikator perubahan harga yang lebih dapat mencerminkan perubahan harga-harga fundamental.3 Indikator tersebut akan digunakan oleh Bank Indonesia sebagai penunjuk arah bagi penetapan kebijakan moneter, dan sekaligus dapat dijadikan alternatif sasaran inflasi yang akan dicapai. Penelitian ini menghasilkan beberapa jenis inflasi inti (core inflation) yang diperoleh dari berbagai metode, dimana masingmasing metode dibedakan oleh cara mengeluarkan gangguan-gangguan (shocks) yang ada dalam inflasi IHK. Metode yang pertama yang digunakan dalam perhitungan inflasi inti adalah dengan pendekatan trimmed mean. Secara statistik, pendekatan ini merupakan perhitungan inflasi inti yang paling baik (robust) karena benar-benar dapat mencerminkan laju perubahan harga yang persisten. Namun, pendekatan ini relatif sulit untuk dipahami oleh masyarakat berkaitan dengan faktor teknis dalam perhitungannya. Kedua, dengan menggunakan metode exclusion, yaitu mengeluarkan beberapa jenis komoditi yang pergerakan harganya sangat fluktuatif (volatile) dan/atau komoditikomoditi yang penetapan harganya diatur oleh pemerintah, dari perhitungan inflasi. Beberapa komoditas tersebut dikeluarkan secara permanen dari keranjang IHK sehingga terbentuk keranjang baru yang berisikan komoditas-komoditas yang lebih dapat mencerminkan perkembangan harga fundamental. Ketiga adalah metode specific adjustment, yaitu dengan menghilangkan pengaruh khusus pada harga agregat melalui penyesuaian pada waktu-waktu tertentu di saat terjadinya gangguan (shocks). Dalam metode specific adjustment ini secara khusus hanya
3 Perubahan harga-harga yang disebabkan oleh kondisi perekonomian secara agregat.

dikeluarkan dampak kebijakan pemerintah yang pada akhirnya dikenal dengan nama inflasi di luar dampak kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan. Jenis inflasi inilah yang dijadikan sasaran inflasi Bank Indonesia dalam 2 tahun terakhir. Dengan adanya berbagai indikator inflasi tersebut maka berbagai kajian secara mendalam terus dilakukan untuk dapat menentukan jenis sasaran inflasi yang lebih tepat. Dari berbagai kriteria yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan jenis sasaran inflasi, yaitu tingkat prediktabilitas, kontrolabilitas, dan akseptabilitas, pada 2002 Bank Indonesia lebih mengutamakan kriteria akseptabilitas dalam arti memilih jenis inflasi yang lebih dapat diterima masyarakat dibandingkan kriteria lainnya. Dengan demikian masyarakat diharapkan menggunakan sasaran inflasi sebagai patokan (anchor) dalam kegiatan ekonomi mereka sehingga ekspektasi masyarakat terhadap inflasi akan lebih mudah dipengaruhi oleh sasaran inflasi yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Jenis inflasi yang paling memenuhi kriteria akseptabilitas tersebut adalah inflasi IHK, karena inflasi ini lebih umum dikenal oleh masyarakat sebagai indikator inflasi di Indonesia. Sementara itu, jenis sasaran inflasi Bank Indonesia di tahun 2000 dan 2001 yaitu inflasi di luar dampak kebijakan pemerintah, menjadi sulit untuk dipertahankan sebagai jenis sasaran inflasi Bank Indonesia karena selain tingkat akseptabilitasnya yang diperkirakan lebih rendah, jenis inflasi ini memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi dalam teknis perhitungannya sehingga sulit untuk diverifikasi. Dengan demikian, jenis inflasi yang dijadikan sasaran inflasi pada 2002 ini adalah inflasi IHK, walaupun Bank Indonesia harus menanggung

23

Tinjauan Umum

konsekuensi rendahnya tingkat prediktabilitas dan kontrolabilitas jenis inflasi ini mengingat banyaknya faktor gangguan (shocks) yang terdapat di dalamnya. Sementara itu, berbagai indikator inflasi inti yang memiliki tingkat prediktabilitas dan kontrolabilitas yang lebih tinggi dapat digunakan sebagai penunjuk arah (guidance) bagi Bank Indonesia dalam perumusan kebijakan moneternya.

Kajian mengenai efektifitas kebijakan moneter dalam mempengaruhi inflasi menunjukkan bahwa kebijakan moneter memiliki efek tunda yang cukup panjang dalam mempengaruhi laju inflasi secara optimal. Kajian ini mempertimbangkan adanya trade off antara inflasi dan pertumbuhan ekonomi dalam upaya pengendalian inflasi.4 Implikasi dari panjangnya efek tunda optimal dari kebijakan moneter ini adalah adanya keterbatasan dalam ruang gerak

Level Sasaran Inflasi dan Jangka Waktu Pencapaiannya
Untuk menentukan level inflasi dan jangka waktu pencapaian yang optimal diperlukan kajian yang komprehensif. Dalam penentuannya perlu dipertimbangkan berbagai hal yang diantaranya adalah masalah karakteristik inflasi, efektifitas dan variabilitas kebijakan moneter, dampaknya terhadap proses pemulihan ekonomi, dan perkiraan mengenai sumbersumber tekanan inflasi yang berada diluar pengaruh kebijakan moneter. Kajian mengenai karakteristik inflasi IHK memperlihatkan bahwa pergerakan inflasi di Indonesia banyak disebabkan oleh gejolak harga beberapa barang tertentu dalam keranjang IHK (relative price changes). Dengan angka rata-rata kurtosis perubahan harga barang-barang dalam keranjang IHK yang sangat tinggi, inflasi yang terjadi tidak mencerminkan perubahan harga barang-barang secara umum. Selain itu, dengan kemencengan distribusi yang sangat condong ke kanan (chronic right skewnes), inflasi yang terjadi memiliki kecenderungan yang tinggi. Hal ini banyak disebabkan oleh masalah distribusi barang dan faktor musiman yang terjadi di Indonesia. Implikasi dari karakteristik ini adalah sulitnya menurunkan tingkat inflasi pada level yang rendah.

kebijakan moneter dalam melakukan proses disinflasi dalam jangka pendek. Dalam periode jangka pendek, proses disinflasi membutuhkan penerapan kebijakan moneter yang ekstra ketat yang akan berakibat buruk pada upaya pemulihan ekonomi. Untuk itu, sasaran inflasi jangka pendek (1 tahun) hanya dapat ditetapkan pada kisaran prakiraan inflasi yang diprakirakan akan terjadi pada periode tersebut. Namun demikian proses disinflasi dapat dilakukan dengan menurunkan inflasi secara bertahap sehingga sasaran inflasi yang cukup rendah bisa ditetapkan dalam jangka menengah, yaitu sekitar 5 tahun. Dengan penetapan sasaran inflasi seperti ini, kebijakan moneter diharapkan mempunyai ruang gerak yang memadai untuk memberikan iklim yang kondusif bagi proses pemulihan ekonomi, namun ekspektasi inflasi masyarakat secara bertahap akan terbentuk sesuai dengan sasaran inflasi jangka menengah. Sementara itu, kajian lainnya yang didasarkan pada berbagai model ekonomi yang dimiliki oleh

4

A.R. Hutabarat, R. Anglingkusumo, F. Majardi, R.E. Wimanda, Penelitian Tentang Optimal Policy Rules Untuk Pengendalian Inflasi Secara Forward Looking, BEMP Vol.2 No.3, Desember 2000 dan R. Anglingkusumo, C. Ligaya, Pengukuran Target Inflasi Dalam Rangka Melaksanakan Kebijakan Moneter Secara Forward Looking, BEMP Vol.2 No.4, Maret 2000.

24

Tinjauan Umum

Bank Indonesia 5 menunjukkan bahwa dengan menerapkan kebijakan moneter yang berhati-hati, proses disinflasi menuju tingkat inflasi yang cukup rendah dapat dilakukan oleh Bank Indonesia dalam jangka menengah tanpa mengakibatkan terhambatnya proses pemulihan ekonomi. Proses disinflasi tersebut dilandasi atas beberapa asumsi utama yang bersifat optimis yaitu: • Kebijakan pemerintah menaikkan harga barang administered telah berkurang dalam jangka menengah, terutama karena telah dihapuskannya subsidi BBM dan berakhirnya kenaikan tarif dasar listrik (TDL) sehingga harga BBM dan TDL sesuai dengan harga dan tarif internasional. • Pergerakan nilai tukar rupiah yang lebih stabil, sejalan dengan berkurangnya tekanan permintaan murni valuta asing, membaiknya struktur pasar keuangan, serta pulihnya kondisi dan fungsi intermediasi perbankan dan berkurangnya risiko dari faktor nonekonomi. Kondisi tersebut diharapkan akan mengurangi efek pass-through nilai tukar ke inflasi.

Fungsi intermediasi perbankan telah kembali normal sehingga transmisi dan efektivitas kebijakan moneter dapat berlangsung baik.

Permasalahan-permasalahan di sektor riil telah dapat diatasi dan realisasi investasi telah membaik sehingga kendala peningkatan penawaran aggregat dalam mengimbangi pertumbuhan permintaan agregat tidak menimbulkan tekanan yang besar terhadap inflasi.

Kredibilitas Bank Indonesia yang telah terbentuk melalui pelaksanaan kebijakan moneter secara konsisten dan penetapan sasaran inflasi yang realistis, sehingga dapat mengarahkan dan membentuk ekspektasi inflasi yang rendah. Berdasarkan pertimbangan- pertimbangan di

atas dan dengan melihat kondisi ekonomi makro dan faktor-faktor yang mempengaruhi laju inflasi, sasaran inflasi IHK yang optimum untuk dicapai dalam jangka pendek (tahun 2002) adalah pada kisaran 9%–10%. Sementara sasaran inflasi IHK jangka menengah yang dapat diupayakan oleh Bank Indonesia tanpa menghambat proses pemulihan ekonomi adalah 6%–7%.

5

Model Bank Indonesia (MODBI), General Equilibrium Model Bank Indonesia (GEMBI), dan Small Scale Macroeconomic Model (SSMM).

25

Tinjauan Umum

boks

Program Transformasi Bank Indonesia
Dengan diberlakukannya Undang-Undang No. 23/1999, Bank Indonesia dituntut melakukan perubahan mendasar sesuai dengan semangat yang terkandung dalam UU tersebut, yaitu independensi, transparansi dan akuntabilitas. Pada saat yang sama, tuntutan perubahan yang terjadi baik dalam skala nasional maupun global juga mengharuskan Bank Indonesia melakukan sejumlah perubahan fundamental. Dalam skala nasional, proses reformasi dalam pelaksanaan kebijakan publik menuntut Bank Indonesia sebagai institusi publik untuk memperbaiki good governance yang berimplikasi pada perlunya peningkatan transparansi dan akuntabilitas dalam proses pengambilan kebijakan. Disamping itu, krisis keuangan dan moneter yang terjadi sejak 1997 mengharuskan Bank Indonesia sebagai bank sentral meningkatkan citra dan membangun kembali kredibilitasnya untuk meraih kepercayaan publik yang sangat diperlukan dalam menjamin efektifitas kebijakan moneter. Dalam skala yang lebih luas, kredibilitas dari bank sentral suatu negara sangat berpengaruh dalam meningkatkan kepercayaan internasional. Pertimbangan-pertimbangan tersebut di atas, telah mendorong Bank Indonesia sejak 2000 melakukan evaluasi menyeluruh terhadap visi dan misi, organisasi, pola kerja, dan pengembangan sumberdaya manusia. Secara formal, sejak Februari 2001 berbagai langkah perubahan yang akan dilakukan oleh Bank Indonesia kemudian secara sistematis, menyeluruh, dan terintegrasi dicanangkan dalam program Transformasi Bank Indonesia. Program perubahan strategis (strategic change) ini dilakukan untuk mempercepat terbentuknya Bank

PERUBAHAN STRATEGIS
1. 2. 3. 4. 5. Sistem Perumusan Kebijakan Moneter Sistem Pelaksanaan Kebijakan Moneter Sistem Pengawasan Bank Sistem Pengedaran Uang Sistem Perencanaan, Anggaran dan Penilaian Kinerja BI 6. Sistem Manajemen Informasi 7. Sistem Teknologi Informasi 8. Sistem Manajemen SDM 9. Sistem Manajemen Logistik 10. Sistem Jaringan Kantor

SASARAN PERUBAHAN

Proses Kerja Baru

Citra Membaik

Kompetensi Kerja Baru

Kinerja Meningkat

Performance-based culture

Kepuasan Kerja Meningkat

Bagan 1. Perubahan Strategis dalam Program Transformasi

26

Tinjauan Umum

Indonesia baru yang lebih mampu mengantisipasi dan menyesuaikan diri dengan perubahan yang ada serta memenuhi harapan para stakeholders. Sasaran ini dicapai melalui perumusan kembali visi dan misi, nilainilai strategis, dan tujuan strategis Bank Indonesia. Secara operasional, terdapat sepuluh perubahan strategis yang meliputi bidang kebijakan moneter, perbankan, sistem pembayaran, dan manajemen internal yang harus dikelola secara terintegrasi untuk mencapai sasaran-sasaran perubahan, yaitu proses kerja baru, kompetensi kerja baru, dan budaya kerja baru yang berbasis kinerja (performance-based culture) sehingga kinerja dan citra Bank Indonesia dapat ditingkatkan (Bagan 1). Di bidang moneter, transformasi ditujukan pada peningkatan kualitas perumusan kebijakan moneter dan riset ekonomi serta kualitas pelaksanaan kebijakan moneter dengan fokus pada pencapaian tujuan kestabilan moneter. Tujuan ini dicapai dengan memperjelas tujuan strategis, memperbaiki proses, dan peningkatan sumberdaya manusia, serta organisasi sektor moneter. Di bidang perbankan, sasaran program transformasi adalah mewujudkan perbankan yang sesuai dengan standar internasional

termasuk semua persiapan yang diperlukan dalam rangka pengalihan fungsi pengawasan bank ke lembaga pengawas jasa keuangan. Secara teknis, hal ini dilakukan melalui perancangan early warning system yang mendukung pelaksanaan risk-based supervision dan pelaksanaan fungsi financial stability. Disamping itu, program transformasi di sektor perbankan juga melakukan perancangan program pelatihan dan program sertifikasi pengawas dan pemeriksa bank dalam rangka pelaksanaan riskbased supervision. Terkait dengan pemisahan fungsi pengawasan bank, program transformasi diarahkan pada perancangan contingency plan pengalihan fungsi pengawasan ke lembaga baru dan perancangan konsep organisasi Bank Indonesia dalam mewujudkan perannya dalam menjaga kestabilan sistem keuangan di Indonesia. Di bidang manajemen internal, program transformasi dilakukan dalam rangka meningkatkan good governance Bank Indonesia melalui pembenahan di bidang perencanaan, anggaran, dan manajemen kinerja, manajemen sumberdaya manusia, manajemen teknologi informasi, manajemen informasi, serta manajemen logistik.

27

Kondisi Ekonomi Makro

bab 2 KONDISI EKONOMI MAKRO

28

Kondisi Ekonomi Makro

bab 2

KONDISI EKONOMI MAKRO

P

ertumbuhan perekonomian Indonesia dalam tahun 2001 mengalami perlambatan meskipun

perbankan, serta beratnya beban keuangan pemerintah. Sementara itu, masih tingginya risiko dan ketidakpastian sehubungan dengan meningkatnya ketegangan sosial dan politik, serta lemahnya penegakan hukum menyebabkan menurunnya kepercayaan dunia usaha untuk melakukan kegiatan produksi dan investasi yang pada akhirnya menghambat ekspansi ekonomi lebih lanjut. Dari luar negeri, perkembangan perekonomian dunia yang cenderung melambat sejak triwulan I-2001 dan kemudian menjadi lebih buruk pasca tragedi World Trade Centre (WTC) pada 11 September 2001 telah menyebabkan perekonomian negara-negara maju terganggu, diantaranya adalah negara-negara yang menjadi investor dan mitra dagang penting bagi Indonesia.

masih relatif lebih baik dari pertumbuhan yang dialami oleh negara-negara di kawasan ASEAN. Produk Domestik Bruto (PDB) 2001 tumbuh sebesar 3,3%, lebih rendah dibandingkan tahun lalu yang mencapai 4,9% (Tabel 2.1). Angka pertumbuhan ini juga di bawah proyeksi awal tahun Bank Indonesia sebesar 4,5%–5,5%. Perlambatan kegiatan perekonomian tersebut tidak terlepas dari perkembangan kondisi di dalam dan luar negeri yang kurang menguntungkan. Dari dalam negeri, perlambatan ini terutama disebabkan oleh lambatnya restrukturisasi utang dan sektor korporasi, masih berlangsungnya konsolidasi internal
Tabel 2.1 Produk Domestik Bruto 1999 Jenis 2 0 0 0* 2 0 0 1**

Hal ini menyebabkan sumber pertumbuhan ekonomi dari sisi permintaan yang semula diharapkan akan berasal dari kegiatan investasi dan ekspor, dalam perkembangannya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Pertumbuhan ekonomi pada tahun

Pertum- Kontri- Pertum- Kontri- Pertum- Kontribuhan busi buhan busi buhan busi 0,8 4,3 4,6 0,7 -18,2 -31,8 -40,7 2,2 -1,6 3,9 8,3 -1,9 -0,1 -0,8 -7,2 1,9 0,8 3,3 3,2 0,1 -4,5 -11,4 -14,3 0,4 -0,2 1,0 0,1 -0,1 0,0 -0,1 -0,5 0,2 4,9 3,9 3,6 6,5 21,9 26,5 21,1 1,7 5,1 6,1 8,8 5,5 5,6 9,4 4,3 2,2 4,9 3,1 2,6 0,5 4,4 6,4 4,4 0,3 0,5 1,6 0,1 0,3 0,9 0,7 0,3 0,2 3,3 6,2 5,9 8,2 4,0 1,9 8,1 0,6 -0,6 4,3 8,4 4,0 5,1 7,5 3,0 2,0 3,3 4,8 4,2 0,6 0,9 0,6 1,9 0,1 -0,1 1,1 0,1 0,2 0,8 0,6 0,2 0,2

Produk Domestik Bruto (riil) Menurut Pengeluaran Konsumsi Konsumsi Rumah Tangga Konsumsi Pemerintah Investasi1) Ekspor Barang dan Jasa Impor Barang dan Jasa Menurut Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan Industri Pengolahan Listik, Gas & Air Bersih Bangunan Perdagangan, Hotel & Restoran Pengangkutan & Telekomunikasi Keuangan, Perusahaan Jasa Jasa-jasa

laporan sangat bertumpu pada pengeluaran konsumsi, baik untuk sektor rumah tangga maupun pemerintah. Sementara itu, dari sisi penawaran, hampir seluruh sektor ekonomi mencatat pertumbuhan yang positif meskipun dengan laju yang melambat, kecuali sektor pertambangan yang mencatat kontraksi. Sektor industri pengolahan dan sektor perdagangan, hotel, dan restoran yang diharapkan menjadi pendorong utama pertumbuhan

1) Investasi disini adalah pembentukan modal tetap domestik bruto Sumber : BPS

29

Kondisi Ekonomi Makro

ekonomi, tidak mampu mendorong perekonomian untuk tumbuh lebih tinggi terutama berkaitan dengan berbagai kendala yang membatasi peningkatan utilisasi di kedua sektor tersebut. Kegiatan ekonomi yang melambat tersebut pada gilirannya memberikan dampak yang kurang menguntungkan bagi kondisi ketenagakerjaan. Pertumbuhan angkatan kerja yang tinggi tidak dapat diimbangi oleh penyediaan lapangan kerja secara memadai. Memburuknya kondisi ketenagakerjaan tersebut antara lain tercermin dari meningkatnya angka pengangguran, maraknya aksi pemogokan dan perselisihan buruh serta pemutusan hubungan kerja (PHK).

perbankan belum menunjukkan kemajuan yang berarti. Kondisi ini diperberat oleh perkembangan perekonomian dunia yang justru mengalami perlambatan terutama sejak akhir triwulan I-2001 dan diperparah oleh tragedi WTC 11 September 2001 yang memberikan dampak kurang menguntungkan bagi perkembangan sektor eksternal perekonomian Indonesia. Sepanjang tahun laporan, pertumbuhan ekonomi terutama bersumber dari kegiatan di dalam negeri (domestic demand) yang dalam hal ini didorong oleh meningkatnya pengeluaran konsumsi yang cukup tinggi sebesar 6,2%, jauh lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya tumbuh sebesar 3,9%. Sementara itu, kinerja investasi dan

PERMINTAAN AGREGAT
Pada awal 2001 perekonomian Indonesia diperkirakan mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi yakni mencapai 4,5%–5,5%. Pertumbuhan yang tinggi tersebut terutama diperkirakan akan didukung oleh membaiknya kinerja ekspor, kegiatan investasi, serta masih kuatnya pengeluaran konsumsi. Perkiraan yang cukup optimis tersebut didasarkan pada harapan bahwa beberapa permasalahan penting di sisi internal, seperti restrukturisasi utang dan perbankan akan mencatat perkembangan yang membaik. Sementara itu, perkembangan di sisi eksternal yang dicerminkan oleh kondisi perekonomian global diperkirakan masih kondusif bagi kegiatan sektor eksternal Indonesia. Dalam perkembangannya, perkiraan yang dilakukan di awal tahun tersebut tidak semuanya sesuai dengan yang terjadi. Sejumlah persoalan penting di dalam negeri seperti restrukturisasi kredit dan sektor korporasi serta fungsi intermediasi

ekspor mencatat perlambatan yakni masing-masing hanya tumbuh sebesar 4,0% dan 1,9%. Adanya peningkatan permintaan terutama untuk pengeluaran konsumsi yang tidak diimbangi oleh penambahan investasi dan produksi secara memadai mengakibatkan memburuknya pembentukan stock perekonomian. Pada 2001 konsumsi memberikan kontribusi terhadap laju pertumbuhan PDB sebesar 4,8% jauh lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 3,1%. Peningkatan kontribusi konsumsi ini berkaitan dengan pertumbuhannya yang sangat tinggi dan masih tingginya porsi konsumsi dalam pembentukan PDB. Berdasarkan komponennya, tingginya pengeluaran konsumsi terjadi baik di sektor rumah tangga maupun sektor pemerintah, masingmasing tumbuh sebesar 5,9% dan 8,2% dengan kontribusi terhadap laju pertumbuhan PDB masingmasing sebesar 4,2% dan 0,6% (Grafik 2.1). Meskipun demikian, pertumbuhan pengeluaran

30

Kondisi Ekonomi Makro

Persen 12 8 4 0

Indeks 200 150 100 50 Bahan konstruksi Kendaraan & suku cadang Indeks Total Makanan dan tembakau Pakaian dan perlengkapannya

-4

0
-8 -12 -16

Konsumsi Total Konsumsi Pemerintah Konsumsi Rumah Tangga 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000* 2001**

-50 -100

Sep. Okt. Nov. Des. Jan. Feb. Mar. Apr. Mei Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov. 2000 2001

Sumber : BPS

Grafik 2.1 Pertumbuhan Konsumsi Tahunan

Grafik 2.2 Survei Penjualan Eceran

konsumsi yang cukup tinggi tersebut masih berada di bawah rata-rata pertumbuhan tahunannya yang pada periode sebelum krisis sempat tumbuh di atas 7%. Peningkatan konsumsi rumah tangga bersumber dari peningkatan pendapatan masyarakat dan peningkatan fasilitas pembiayaan konsumen baik yang bersumber dari perbankan maupun dari lembaga pembiayaan lainnya. Peningkatan pendapatan masyarakat berasal dari kenaikan upah minimum dan pembayaran rapel kenaikan gaji PNS, TNI, dan POLRI. Sementara itu, peningkatan fasilitas pembiayaan konsumen tercermin dari masih tingginya pertumbuhan kredit konsumsi yang disalurkan oleh sektor perbankan dan penggunaan kartu kredit oleh konsumen. Peningkatan pengeluaran konsumsi rumah tangga tercermin dari berbagai indikator dan hasil survei baik yang dilakukan oleh Bank Indonesia maupun lembaga lain. Beberapa hasil survei yang ada antara lain : Survei Penjualan Eceran, Survei Konsumen, dan indikator penjualan kendaraan bermotor. Survei Penjualan Eceran yang dilakukan Bank Indonesia menunjukkan bahwa secara total, penjualan

masih meningkat dibandingkan tahun 2000 dengan pertumbuhan tahunan rata-rata sebesar 25,8% (Grafik 2.2). Berdasarkan survei ini, kenaikan penjualan eceran terjadi di hampir seluruh kelompok barang yang disurvei, kecuali untuk penjualan eceran kelompok bahan bakar yang mencatat penurunan. Peningkatan penjualan terutama disumbang oleh peningkatan penjualan kelompok kerajinan seni dan mainan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau, dan kelompok perlengkapan rumah tangga. Hal ini sesuai dengan kecenderungan pengeluaran konsumsi rumah tangga yang sebagian besar masih disumbang oleh pengeluaran konsumsi bukan makanan. Peningkatan pengeluaran konsumsi bukan makanan ini antara lain digunakan untuk membeli barang tahan lama seperti sepeda motor yang dalam tahun laporan juga menunjukkan penjualan yang searah dengan peningkatan konsumsi tersebut. Dalam periode yang sama, sumbangan pengeluaran konsumsi yang dialokasikan untuk makanan mencatat peningkatan yang cukup tajam dibandingkan tahun lalu, walaupun sumbangannya masih di bawah pengeluaran konsumsi bukan makanan (Grafik 2.3).

31

Kondisi Ekonomi Makro

Persen 8,0 7,0 6,0 5,0 4,0 3,0 2,0 1,0 0,0 I II 2 0 0 0* Sumber : BPS III IV I II III 2 0 0 1** IV
Sumbangan Pertumbuhan Makanan Sumbangan Pertumbuhan Bukan Makanan Pertumbuhan Penjualan Motor (aksis kanan)

Persen 120 100 80 60 40 20 0

Unit 90.000 80.000 70.000 60.000 50.000 40.000 30.000 20.000 10.000 0 I II 2000 Sumber : GAIKINDO III IV I II 2001 III IV Penjualan Sedan & Van

Persen Pertumbuhan Penjualan Sedan & Van (y-o-y) 600 500 400 300 200 100 0 -100

Grafik 2.3 Sumbangan Pengeluaran Konsumsi Menurut Kelompok

Grafik 2.5 Grafik Penjualan Sedan dan Van

Dibandingkan perkembangan penjualan sepeda motor tahun 2000 yang menunjukkan perlambatan yang cukup tajam, penjualan kendaraan bermotor khususnya pada sembilan bulan pertama tahun laporan mulai menunjukkan kecenderungan yang meningkat. Peningkatan penjualan sepeda motor ini didorong oleh masuknya sepeda motor buatan Cina dengan harga yang relatif murah dan disertai oleh kemudahan dari segi fasilitas pembiayaannya (Grafik 2.4). Sementara itu, penjualan sedan

dan van dalam tahun 2001 masih tetap tinggi, meskipun jumlah unit kendaraan yang terjual secara total lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya (Grafik 2.5). Sejumlah hasil survei yang dilakukan oleh lembaga lain berkaitan dengan indikator pengeluaran konsumsi seperti Survei Tendensi Konsumen (STK) yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) dan Survei Consumer Confidence Index (CCI) yang dilakukan oleh Danareksa Research Institute (DRI) juga mengindikasikan adanya peningkatan konsumsi.

Unit 500.000 450.000 400.000 350.000 300.000 250.000 200.000 150.000 100.000 50.000 I II 2000
Sumber : GAIKINDO

Persen 120 Penjualan Sepeda Motor Pertumbuhan Penjualan Sepeda Motor (y-o-y)

Hasil STK mengindikasikan adanya peningkatan optimisme konsumen terhadap kondisi perekonomian

100

yang pada gilirannya memberikan dorongan pada
80

pengeluaran konsumsi masyarakat. Sejalan dengan
60

hal itu, hasil CCI juga mengindikasikan terjadinya
40 20 0

peningkatan kepercayaan konsumen terutama pada paro kedua 2001 yang didorong oleh harapan akan adanya perbaikan kondisi perekonomian pada era pemerintahan yang baru.

III

IV

I

II 2001

III

IV

Grafik 2.4 Penjualan Sepeda Motor

Peningkatan pengeluaran konsumsi rumah tangga juga tercermin dari peningkatan pembiayaan

32

Kondisi Ekonomi Makro

untuk pengeluaran yang bersifat konsumtif, baik yang bersumber dari sektor perbankan seperti penyaluran kredit konsumsi, maupun dari perusahaan pembiayaan seperti kartu kredit dan pembiayaan konsumen. Dalam tahun 2001, pertumbuhan tahunan kredit konsumsi mencapai 45,7% dan menunjukkan kecenderungan yang meningkat terutama pada semester I-2001 (Grafik 2.6). Sementara itu, pemakaian kartu kredit sebagai sarana transaksi oleh masyarakat semakin meluas sebagaimana tercermin dari jumlah pemegang kartu kredit dalam tahun 2001 yang meningkat sebesar 31,8% dan volume transaksi kartu kredit yang tumbuh sebesar 41,4%. Pemakaian kartu debit sebagai sarana transaksi juga menunjukkan kecenderungan yang meningkat meskipun tidak setinggi pertumbuhan penggunaan kartu kredit. Jumlah pemegang kartu debit meningkat sebesar 3,7% dengan volume transaksi yang meningkat sebesar 42,2% (Tabel 2.2). Indikator kegiatan konsumsi lainnya seperti pembiayaan konsumen juga tumbuh sangat tinggi terutama pada awal tahun dan pada November 2001 mencatat pertumbuhan tahunan sebesar 58,0%. Meskipun demikian, sejalan dengan perkembangan suku bunga yang cenderung meningkat, perkembangan pembiayaan untuk kegiatan konsumsi tersebut menunjukkan kecenderungan melambat terutama sejak awal triwulan II–2001 (Grafik 2.7). Sementara itu, indikator konsumsi lainnya seperti hasil Survei Konsumen oleh Bank Indonesia juga menunjukkan adanya indikasi peningkatan pengeluaran konsumsi rumah tangga seiring dengan membaiknya keyakinan konsumen. Hal ini terutama didorong oleh membaiknya ekspektasi konsumen pada saat pergantian kepemimpinan nasional. Selain itu, peningkatan keyakinan konsumen tersebut juga
Jenis 1998 1999 2000 2001 Tabel 2.2 Perkembangan Alat Pembayaran Berbasis Kartu

1. Kartu Kredit Jumlah Pemegang (ribu orang) 2.028,4 Volume Transaksi (triliun Rp) 4,9

2.043,8 10,4

2.622,6 13,6

3.457,2 19,2

2. Kartu Debit Jumlah Pemegang (ribu orang) 5.374,4 12.111,0 Volume Transaksi (triliun Rp) 2,6 3,2

13.103,7 13.587,5 4,7 6,7

Triliun rupiah
Triliun rupiah 70 60 50 40 20 30 20 10 0 Jan. Mar. Mei Jul. 2000 Sep. Nov. Jan. Mar. Mei Jul. 2001 Sep. Nov. 0 -20 -40 Kredit Konsumsi Pertumbuhan Tahunan Persen 80

Persen 120

14 Pembiayaan Konsumen 12 Pertumbuhan Tahunan

100 80 60 40 20 0 -20

60

10
40

8 6 4 2 0

Jan.

Mar. Mei

Jul. 2000

Sep. Nov.

Jan.

Mar. Mei

Jul. 2001

Sep. Nov.

Grafik 2.6 Perkembangan Kredit Konsumsi

Grafik 2.7 Perkembangan Pembiayaan Konsumen

33

Kondisi Ekonomi Makro

didasari oleh membaiknya kondisi keuangan responden saat itu dibandingkan periode sebelumnya. Tingginya konsumsi ini juga dipengaruhi oleh tetap optimisnya para responden Survei Konsumen akan adanya peningkatan penghasilan, baik penghasilannya saat ini maupun untuk 6-12 bulan yang akan datang. Secara keseluruhan, optimisme konsumen tercermin dari perkembangan indeks keyakinan konsumen yang meningkat sejak awal tahun dan mencapai indeks tertinggi pada Agustus sejalan dengan optimisme akan membaiknya kondisi perekonomian pada era pemerintahan yang baru, namun optimisme konsumen tersebut tidak bertahan lama dan terus menurun sampai akhir tahun meski sempat sedikit membaik pada akhir tahun (Grafik 2.8). Selain itu, masih kuatnya kegiatan konsumsi tersebut juga tercermin dari perkembangan uang kartal di masyarakat yang terus mengalami peningkatan. Masih tingginya permintaan uang kartal oleh masyarakat antara lain mengindikasikan masih tingginya kebutuhan uang untuk kegiatan transaksi dimana sebagian diantaranya adalah untuk membiayai pengeluaran konsumsi.
Indeks 140 Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini 120 Indeks Ekspektasi Konsumen Indeks Keyakinan Konsumen

Apabila ditinjau dari asal barangnya, peningkatan konsumsi tersebut tidak saja dipenuhi dari produksi barang di dalam negeri, namun juga dari impor. Hal ini dicerminkan oleh perkembangan impor barang konsumsi dalam tahun laporan yang masih mencatat peningkatan dibandingkan tahun lalu. Impor barang konsumsi mengalami peningkatan yang pesat pada paro pertama 2001 walaupun pada akhir periode laporan cenderung mengalami perlambatan. Peningkatan konsumsi barang impor pada awal tahun ditengarai antara lain oleh motif berjaga-jaga terhadap kemungkinan terus terdepresiasinya nilai rupiah sehubungan dengan meningkatnya ketidakpastian menjelang pergantian kepemimpinan nasional. Jika dilihat dari jenis barang yang diimpor, peningkatan tertinggi terjadi pada jenis barang konsumsi tidak tahan lama yang tumbuh sebesar 21,9%. Sementara itu, impor barang konsumsi bahan makanan dan minuman, dan barang konsumsi makanan, dan minuman (rumah tangga) masing-masing tumbuh sebesar 3,4% dan 0,2% (Grafik 2.9). Perkembangan berbagai indikator pengeluaran konsumsi tersebut di atas mencerminkan bahwa
Juta USD 180 160 140 120
Barang konsumsi Bahan makanan & minuman Makanan & minuman (rumah tangga) Barang konsumsi tidak tahan lama

Juta USD 800 700 600 500 400

100

100
80

80 60 300 200 100 I II III 1999 IV I II III 2000* IV I II III 2001** IV 0

60

40 20

40

Apr.

Mei

Jun.

Jul.

Ags. 2001

Sep.

Okt.

Nov.

Des

0

Grafik 2.8 Survei Konsumen

Grafik 2.9 Perkembangan Impor Barang Konsumsi

34

Kondisi Ekonomi Makro

kegiatan konsumsi yang meningkat cukup tinggi pada tahun laporan terutama terjadi pada periode awal tahun yang kemudian cenderung melambat pada paro kedua 2001. Perkembangan ini dicerminkan oleh pola pertumbuhan tahunan kredit konsumsi dan pembiayaan konsumen yang tinggi pada awal tahun dan kemudian melambat pada akhir tahun. Seperti halnya pengeluaran konsumsi rumah tangga yang meningkat pesat, pengeluaran konsumsi pemerintah dalam PDB pada tahun laporan juga meningkat, yaitu sebesar 8,2% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 6,5%. Peningkatan konsumsi pemerintah ini ditengarai terkait dengan pelaksanaan otonomi daerah dimana sebagian besar pengeluaran pemerintah daerah dialokasikan untuk belanja pegawai dan belanja barang. Peningkatan pengeluaran konsumsi pemerintah daerah lebih besar daripada penurunan konsumsi pemerintah pusat sehingga secara keseluruhan konsumsi pemerintah pada tahun laporan masih mengalami peningkatan. Investasi merupakan penyumbang kedua terhadap pertumbuhan ekonomi 2001.1 Pertumbuhan investasi pada tahun laporan mencapai 4,0% dengan sumbangan terhadap laju pertumbuhan PDB sebesar 0,9%, jauh lebih rendah apabila dibandingkan pertumbuhannya pada tahun lalu yang mencapai 21,9%. Rendahnya kegiatan investasi dalam tahun laporan terutama disebabkan oleh sejumlah faktor seperti meningkatnya faktor ketidakpastian, gangguan keamanan, dan ketidakpastian penegakan hukum. Selain itu, rendahnya kegiatan investasi juga dipengaruhi oleh fungsi intermediasi perbankan yang
1 Investasi disini adalah Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto dalam PDB

belum sepenuhnya pulih, adanya peraturan daerah yang kurang kondusif bagi kegiatan investasi berkaitan dengan pelaksanaan otonomi daerah, sentimen negatif berkaitan dengan sempat tertundanya pencairan pinjaman International Monetary Fund (IMF), relatif tingginya suku bunga di dalam negeri, dan lambatnya restrukturisasi utang luar negeri. Sebagai akibatnya, perusahaan cenderung untuk lebih memfokuskan diri pada pembenahan internal, sehingga realisasi investasi baru maupun perluasan kapasitas produksi pada investasi yang telah ada menjadi sangat rendah. (Boks : Penghitungan Stok Kapital dengan Metode Perpetual Inventory). Secara umum, melambatnya kegiatan investasi ini tercermin dari rendahnya realisasi investasi baru —baik yang dilakukan asing maupun domestik— dan menurunnya impor terutama yang terkait dengan kebutuhan dunia usaha seperti bahan baku dan barang modal. Dalam periode Januari-Oktober 2001, nilai impor bahan baku dan barang modal mengalami penurunan masing-masing sebesar 8,4% dan 10,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, selama tahun laporan, realisasi investasi dalam bentuk Penanaman Modal Asing (PMA) baru mencapai 0,6% dari total nilai persetujuannya. Seperti halnya PMA, realisasi investasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) juga sangat rendah yakni hanya mencapai 0,2% dari total persetujuan investasi (Tabel 2.3) . Apabila dilihat dari persetujuan investasi, nilai investasi pada subsektor industri kimia merupakan yang terbesar baik untuk PMA maupun PMDN. Berdasarkan persetujuan lokasinya, nilai investasi PMA terbesar berlokasi di Jawa Timur dan Riau, sedangkan untuk PMDN berlokasi di Riau dan Sulawesi Selatan.

35

Kondisi Ekonomi Makro

Tabel 2.3 Rasio Realisasi terhadap Persetujuan PMA dan PMDN 1999
Penanaman Modal Dalam Negeri 1. Rencana Investasi yang disetujui – Jumlah Proyek – Nilai (dalam miliar Rupiah) 2. Realisasi Investasi – Jumlah Proyek – Nilai (dalam miliar Rupiah) 3. Rasio Realisasi terhadap Rencana (%) – Jumlah Proyek – Nilai Penanaman Modal Asing 1. Rencana Investasi yang disetujui – Jumlah Proyek – Nilai (dalam miliar Rupiah) 2. Realisasi Investasi – Jumlah Proyek – Nilai (dalam miliar Rupiah) 3. Rasio Realisasi terhadap Rencana (%) – Jumlah Proyek – Nilai

Unit 14000 12000
Penjualan Truk Pertumbuhan Penjualan Truk (y-o-y)

Persen 250 200 150 100

2000

2001

10000 8000 6000

228 53.168 29 1.741 12,7 3,3

355 92.410 22 1.031 6,2 1,1

249 58.673 5 95 2,0 0,2

4000 2000 0 I II 2000
Sumber : GAIKINDO

50 0 -50

III

IV

I

II 2001

III

IV

Grafik 2.11 Penjualan Truk

1.174 10.892 214 1.285 18,2 11,8

1.521 15.420 96 897 6,3 5,8

1,317 9.028

donesia maupun Survei Tendensi Bisnis (STB) yang
15 53 1,1 0,6

dilakukan BPS. Hasil SKDU menunjukkan bahwa jumlah responden yang melakukan investasi cenderung mengalami penurunan walaupun sempat sedikit meningkat pada akhir tahun laporan (Grafik 2.10). Sejalan dengan hasil SKDU, hasil STB menunjukkan bahwa optimisme pengusaha terhadap kondisi

Sumber : BKPM

Indikator kegiatan investasi lainnya juga memberikan indikasi pertumbuhan investasi yang rendah seperti ditunjukkan oleh hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang dilakukan oleh Bank In-

perusahaan dan bisnis semakin menurun. Selain berdasarkan hasil survei, perlambatan kegiatan investasi juga diindikasikan oleh sejumlah indikator dini (prompt indicator) investasi seperti penjualan truk dan produksi semen. Penjualan truk

% Jumlah Responden 35

maupun produksi semen meskipun masih tumbuh positif, tetapi perkembangannya menunjukkan kecen-

30

derungan yang melambat menjelang akhir tahun
25

(Grafik 2.11 dan Grafik 2.12). Pertumbuhan penjualan
20

truk pada dasarnya telah mengalami perlambatan
15

pertumbuhan yang cukup tajam sejak pertengahan
10 I II III IV 1999
1 I 2000

II

III 2000

2000 dan terus berlanjut di tahun laporan sehingga
IV III IV 2001 Perkiraan Investasi 1 Triwulan ke Depan I II

pada akhir Triwulan IV-2001 mencatat penurunan sebesar 8,1%. Sementara itu, pertumbuhan produksi semen mulai melambat sejak triwulan II-2001 dan secara kumulatif pada 11 bulan tumbuh sebesar 12%,

Realisasi Investasi

Grafik 2.10 Investasi dalam Survei Kegiatan Dunia Usaha

36

Kondisi Ekonomi Makro

Ribu ton 3.500 Tingkat Produksi Semen 3.000 2.500 2.000 Pertumbuhan Produksi Semen

Persen 90

Persen 200 150

Persen 40 30 20 10 0 -10 -20 Investasi (aksis kanan) Mesin & Perlengkapan I II III 1999 IV I II III 2000* IV Alat Angkutan -30 Bangunan (aksis kanan) -40 I II III IV 2001**

60

100 50

30 1.500

0 -50

1.000 500 0
1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11

0

-100 -150

-30

-200

1999

2000

2001

Sumber : Asosiasi Semen Indonesia

Sumber : BPS

Grafik 2.12 Perkembangan Produksi Semen

Grafik 2.13 Pertumbuhan Investasi Berdasarkan Jenis

lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada periode yang sama tahun lalu sebesar 17%. Perkembangan produksi semen tersebut sejalan dengan perkembangan investasi bangunan yang dalam tahun laporan mengalami penurunan yang cukup besar dibandingkan tahun sebelumnya (Grafik 2.13). Rendahnya pertumbuhan investasi tersebut antara lain disebabkan oleh fungsi intermediasi perbankan yang belum pulih sepenuhnya sehingga alokasi dana untuk kegiatan investasi terutama yang bersumber dari dalam negeri masih terbatas (Grafik 2.14). Hal ini tercermin dari masih dominannya porto-

Kondisi tersebut di atas menyebabkan potensi sumber pembiayaan dari dalam negeri tidak dapat disalurkan ke dalam bentuk investasi di sektor riil. Hal ini tercermin dari masih besarnya surplus kesenjangan tabungan-investasi walaupun sedikit menurun dibandingkan tahun lalu. Nisbah surplus kesenjangan tabungan-investasi terhadap PDB dalam tahun laporan mencapai 3,4%, lebih rendah dibandingkan tahun lalu yang mencapai 5,2% (Tabel 2.4). Penurunan surplus ini terutama disebabkan

Triliun rupiah

Triliun rupiah 70 60 50 40 30 20 10 Investasi Modal kerja
9 11 1 3 5 7 9

folio surat-surat berharga seperti obligasi dan SBI dalam aset perbankan. Pembiayaan investasi dalam tahun laporan terutama masih bersumber dari dana sendiri yang menunjukkan peningkatan meskipun dalam jumlah yang terbatas. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Bank Indonesia ditengarai terjadi peningkatan penggunaan dana sendiri oleh perusahaan dari sekitar 40% menjadi 60% dari total pembiayaan usahanya.2
2 Penelitian Credit Crunch, Bagian Studi Pengembangan Pasar Keuangan, Bank Indonesia, 2001.

350 300 250 200 150 100 50 Konsumsi (aksis kanan)
11 1 3 5 7 9 11

1

3

5

7

1999

2000

2001

Grafik 2.14 Kredit Perbankan Menurut Penggunaan

37

Kondisi Ekonomi Makro

Tabel 2.4 Kesenjangan Tabungan - Investasi 1998 1999 2000 2001

Persen 40 30 20 10 0

Harga Berlaku Pemerintah Tabungan Investasi Defisit/Surplus Swasta Tabungan Investasi Defisit/Surplus Total Tabungan Investasi Defisit/Surplus 48,0 49,8 –1,8 236,4 193,3 43,1 284,4 243,0 41,4 62,9 74,2 –11,2 222,9 166,1 56,8 285,9 240,3 45,5 36,1 64,4 –28,3 344,9 249,5 95,4 381,0 313,9 67,1 6,6 61,3 –54,7 406,9 300,9 106,0 413,5 362,2 51,3

-10 -20 -30 -40 -50 I II III 1999 IV I II III 2000* IV I II III 2001** IV

Sumber : BPS

Rasio Terhadap PDB Pemerintah Tabungan Investasi Defisit/Surplus Swasta Tabungan Investasi Defisit/Surplus Total Tabungan Investasi Defisit/Surplus 5,0 5,2 –0,2 24,7 20,2 4,5 29,8 25,4 4,3 5,7 6,7 –1,0 20,1 15,0 5,1 25,8 21,7 4,1 1.110,0 5,8 7.850 2,8 5,0 –2,2 26,7 19,3 7,4 29,5 24,3 5,3 0,4 4,2 –3,7 27,6 20,4 7,2 28,0 24,6 3,4

Grafik 2.15 Pertumbuhan Ekspor Barang dan Jasa Dalam PDB

tahun lalu yang mencapai 26,1% (Grafik 2.15). Melambatnya kinerja ekspor disebabkan oleh beberapa faktor baik yang disebabkan oleh hambatan di sisi produksi barang ekspor maupun gangguan permintaan terhadap barang ekspor oleh pihak luar negeri. Dari dalam negeri, melambatnya kegiatan ekspor terutama disebabkan oleh meningkatnya faktor ketidakpastian dan gangguan keamanan yang pada gilirannya mengganggu kegiatan produksi barang ekspor. Hal ini antara lain terjadi pada kasus Exxon

Produk Domestik Bruto (triliun Rp) 955,8 Transaksi Berjalan (miliar $) 4,1 Nilai Tukar (Rp/$) 1.008,8

1.282,0 1.476,21) 8,0 5,0 8.438 10.255

1) PDB harga berlaku menggunakan asumsi yang digunakan dalam APBNP 2001

oleh peningkatan defisit di sektor pemerintah. Defisit di sektor pemerintah tersebut terutama disebabkan oleh menurunnya tabungan pemerintah akibat peningkatan yang tajam pada alokasi pengeluaran rutin khususnya untuk subsidi dan pembayaran bunga. Penyumbang terkecil dalam pembentukan PDB dalam tahun laporan adalah ekspor barang dan jasa yang mencatat pertumbuhan sebesar 1,9%, dengan sumbangan terhadap laju pertumbuhan PDB sebesar 0,6%. Meskipun demikian, angka pertumbuhan ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan

Mobil Oil di Arun dan kasus pertambangan Caltex di Pekanbaru. Meningkatnya ketidakpastian dan gangguan keamanan tersebut antara lain terkait dengan memanasnya kondisi sosial politik terutama menjelang pergantian kepemimpinan nasional, kerusuhan antar etnis dan kerusuhan yang terkait dengan isu pemisahan wilayah. Selain itu, maraknya aksi demonstrasi dan kasus pemogokan buruh yang terjadi pada beberapa industri barang ekspor penting seperti tekstil dan alas kaki ikut memperburuk kinerja ekspor. Dari luar negeri, memburuknya kinerja ekspor terutama dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi dunia

38

Kondisi Ekonomi Makro

yang melambat termasuk di negara-negara yang merupakan mitra dagang utama Indonesia seperti Amerika Serikat dan Jepang. Pada awal 2001, perekonomian Amerika Serikat dan Jepang diperkirakan tumbuh masing-masing sebesar 4,1% dan 2,2%. Dalam perkembangannya, Amerika Serikat justru mengalami pertumbuhan yang melambat bahkan sejak akhir triwulan III-2001 telah memasuki resesi.3 Sementara itu, perekonomian Jepang masih mengalami kontraksi. Perkembangan ekonomi yang memburuk di dua negara tersebut selanjutnya menyebabkan melambatnya perekonomian dunia. Kondisi perekonomian global yang memburuk tersebut diikuti oleh perkembangan harga barang-barang di pasar internasional yang secara umum mengalami penurunan. Kombinasi kedua hal tersebut pada gilirannya telah berdampak kurang menguntungkan bagi pertumbuhan ekspor Indonesia. Sejalan dengan melambatnya kegiatan ekspor, kegiatan impor juga mencatat perlambatan yang cukup tajam, walaupun sempat meningkat pada awal tahun laporan. Impor barang dan jasa mencatat pertumbuhan 8,1%, jauh lebih rendah apabila dibandingkan dengan pertumbuhan tahun lalu sebesar 21,1%. Melambatnya kegiatan impor tersebut ditengarai sejalan dengan melambatnya kegiatan investasi dan terganggunya proses restrukturisasi dan revitalisasi industri di dalam negeri. Impor bahan baku dan barang modal yang umumnya digunakan untuk mendukung kegiatan investasi dan produksi mengalami penurunan yang cukup besar yakni masing-

masing sebesar 8,5%dan 10,2%. Selain itu, lebih rendahnya pertumbuhan impor tersebut antara lain juga dipengaruhi oleh perkembangan nilai tukar rupiah yang terdepresiasi dan berfluktuasi cukup tajam dalam tahun 2001.4 Perkembangan nilai tukar yang demikian menyebabkan harga barang impor menjadi relatif lebih mahal dalam satuan rupiah. Kondisi ini diperberat pula oleh belum normalnya fungsi intermediasi perbankan yang mengakibatkan pembiayaan dunia usaha sangat terbatas termasuk pembiayaan dalam rangka pembelian impor barang yang digunakan dalam kegiatan usaha.

PENAWARAN AGREGAT
Di lihat dari sisi produksi, perekonomian Indonesia memperlihatkan perlambatan pertumbuhan pada hampir seluruh sektor perekonomian, kecuali sektor pertambangan dan penggalian yang mengalami kontraksi (Grafik 2.16). Lambatnya kegiatan di sisi produksi tidak terlepas dari sejumlah permasalahan yang masih membebani perekonomian seperti masih tingginya ketidakpastian di bidang sosial, politik, keamanan, dan hukum; lambatnya

Pertanian Pertambangan Industri Pengolahan Listik, Gas & Air Bersih Bangunan Perdagangan Pengangkutan Bank & Lbg Keuangan Jasa-jasa PDB

2000* 2001** 0,0 0,2 0,4 0,6 0,8 0,10

-2,0

3

4

The National Bureau for Economic Research (NBER) memperkirakan bahwa perekonomian Amerika Serikat telah memasuki masa resesi sejak Maret 2001. Secara keseluruhan depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tahun 2001 mencapai 17,7%.

Sumber : BPS

Grafik 2.16 Pertumbuhan PDB dari Sisi Penawaran

39

Kondisi Ekonomi Makro

Triliun rupiah 200 180 160 140 120 100 80 60 40 20
Jan. Apr. Jul. Okt. Jan. Apr. Jul. Okt. Jan. Apr. Jul. Okt.

Triliun rupiah
45 Perindustrian Perdagangan Jasa-jasa Pertanian (aksis kanan) Pertambangan (aksis kanan) 40

115 110

35 30 25

105 100

20 15 10

95 PDB Aktual 90 PDB Potensial

5 -

85

I

III

I

III

I

III

I

III

I

III

I

III

1999

2000

2001

1996

1997

1998

1999

2000

2001

Grafik 2.17 Kredit Perbankan Menurut Sektor Ekonomi

Grafik 2.18 Kesenjangan Output Agregat

proses restrukturisasi utang luar negeri, kredit, dan perusahaan; kondisi perekonomian dunia yang kurang menguntungkan; serta relatif rendahnya realisasi kredit yang berasal dari sektor perbankan (Grafik 2.17). Meski melambat, hampir seluruh sektor dalam perhitungan PDB memberikan pertumbuhan nilai tambah yang positif. Sektor industri diikuti oleh sektor perdagangan dan sektor pengangkutan masih merupakan sektor yang memberikan sumbangan terbesar. Sementara itu, sektor pertanian mencatat angka pertumbuhan terendah sejak 1998. Perlambatan pertumbuhan ekonomi yang dibarengi oleh rendahnya pertumbuhan investasi baik yang berasal dari investasi baru maupun ekspansi kegiatan usaha yang ada, mengakibatkan peningkatan output potensial perekonomian menjadi terbatas. Sementara itu, perkembangan output aktual yang cenderung lebih pesat pada dua tahun terakhir menyebabkan kesenjangan output (output gap) semakin menyempit (narrowing gap) yang pada gilirannya memberikan tekanan terhadap perkembangan harga-harga (Grafik 2.18).5

Penawaran Jangka Pendek
Dari sisi penawaran, perlambatan pertumbuhan terjadi pada hampir semua sektor ekonomi. Meski melambat, seluruh sektor tersebut masih tetap mencatat pertumbuhan yang positif. Seperti halnya dengan tahun lalu, sektor industri pengolahan, sektor perdagangan, dan sektor pengangkutan yang mempunyai pangsa sekitar 50% dari total PDB masih merupakan penyumbang terbesar pada pertumbuhan PDB. Sementara itu, sektor pertanian dan perkebunan yang mempunyai pangsa terbesar kedua setelah sektor industri pengolahan dan sempat menjadi primadona pada awal krisis hanya mengalami pertumbuhan kurang dari 1%. Pertumbuhan sektor pertanian ini merupakan pertumbuhan terendah yang pernah terjadi sejak periode krisis 1998 yang lalu. Sebagaimana telah diutarakan pada bagian sebelumnya, masih besarnya permasalahan yang dihadapi perekonomian Indonesia menyebabkan upaya untuk meningkatkan kapasitas perkonomian secara keseluruhan menjadi terhambat. Momentum peralihan
5 Kesenjangan output merupakan selisih antara output aktual dan output potensial. Output potensial diukur dengan metode HP filter.

40

Kondisi Ekonomi Makro

kepemimpinan nasional pada semester kedua tahun laporan yang sempat menimbulkan optimisme positif akan membaiknya kondisi perekonomian belum dapat dimanfaatkan dengan baik. Selain itu, pelaksanaan otonomi daerah juga menimbulkan sejumlah permasalahan baru antara lain berupa ekonomi biaya tinggi yang menghambat iklim berusaha. Permasalahan penting lainnya yang terkait dengan otonomi daerah adalah memburuknya koordinasi kebijakan, khususnya yang terkait dengan bidang ekonomi antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah maupun antar pemerintah daerah sendiri. Berbagai permasalahan tersebut pada akhirnya menyebabkan banyak investor menunda realisasi investasinya. Dari sisi eksternal, perkembangan ekonomi di luar negeri juga tidak banyak memberikan sumbangan positif bagi perkembangan kegiatan ekonomi di dalam negeri. Perlambatan perekonomian dunia yang telah terjadi pada awal tahun laporan semakin diperparah oleh tragedi WTC. Selain itu, dampak lanjutan pasca tragedi tersebut menyebabkan menurunnya bisnis sektor pariwisata dunia yang pada gilirannya mempengaruhi kegiatan usaha di sektor perdagangan, hotel dan restoran. Bersamaan dengan itu, perkembangan harga-harga secara umum di pasar dunia yang cenderung menurun —termasuk untuk komoditas pertanian dan pertambangan— memberikan dampak yang kurang menguntungkan bagi perkembangan sektor pertanian dan sektor pertambangan. Berbagai permasalahan tersebut di atas, menyebabkan rendahnya aliran masuk modal asing ke Indonesia, sementara alternatif pembiayaan dari dalam negeri belum dapat diharapkan. Pada gilirannya, kondisi ini menyebabkan ekspansi kapasitas

perekonomian menjadi sangat terbatas, bahkan terdapat indikasi beberapa sektor ekonomi mengalami kemunduran. Dalam tiga tahun terakhir, sektor industri pengolahan selalu menjadi penyumbang terbesar pada pertumbuhan ekonomi. Pada 2001, pertumbuhan nilai tambah sektor ini tercatat sebesar 4,3%, dengan sumbangan terhadap laju pertumbuhan PDB sebesar 1,1%. Pertumbuhan pada sektor industri ini terutama masih didorong oleh peningkatan yang cukup tinggi pada nilai tambah industri nonmigas. Kegiatan yang memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan nilai tambah sektor industri tanpa migas ini adalah subsektor makanan, minuman, dan tembakau, subsektor alat angkutan mesin dan peralatannya, dan subsektor kimia dan barang dari karet. Namun demikian, dalam tahun laporan terdapat sejumlah permasalahan yang menyebabkan lebih rendahnya pertumbuhan kegiatan usaha di sektor ini dibandingkan tahun lalu. Permasalahan utama bagi perkembangan sektor industri pengolahan ini adalah terbatasnya pembiayaan kegiatan usaha. Hal ini antara lain tercermin dari relatif kecilnya peningkatan kredit investasi. Dalam kondisi dimana ketidakpastian iklim usaha masih tinggi, aliran investasi asing masih sulit diharapkan. Kondisi ini diperburuk oleh adanya sejumlah investor yang mengalihkan usahanya ke negara lain yang lebih menjanjikan seperti Cina dan Vietnam. Selain masalah terbatasnya pembiayaan kegiatan usaha, permasalahan di sektor industri diperberat oleh dampak kebijakan pemerintah menyesuaikan harga dan tarif. Kebijakan tersebut menyebabkan biaya produksi menjadi semakin tinggi yang menyulitkan bagi para pengusaha untuk mengem-

41

Kondisi Ekonomi Makro

bangkan usahanya. Dari sisi biaya produksi, kenaikan biaya produksi terutama berasal dari penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) dan tarif dasar listrik (TDL) yang mengharuskan sektor ini melakukan penyesuaian yang cukup besar dengan dijadikannya harga BBM di pasar internasional sebagai dasar penetapan harga BBM industri dalam negeri. Selain itu, kelesuan yang dialami perekonomian dunia sangat memukul sektor industri yang berorientasi ekspor. Masalah peraturan perdagangan juga turut mempersulit ruang gerak bagi produk ekspor Indonesia, terutama penerapan trade barrier, seperti peraturan anti dumping dan masalah hak asasi manusia (HAM) yang diberlakukan oleh negara mitra dagang. Berbagai hal tersebut di atas, pada gilirannya ikut melemahkan daya saing produk ekspor Indonesia sehingga produksi barang yang terjadi pada tahun laporan menjadi lebih difokuskan ke pasar dalam negeri. Hal lain yang turut menghambat perdagangan ekspor Indonesia adalah peraturan pemerintah seperti larangan impor kulit mentah. Di satu sisi, larangan impor kulit ini dimaksudkan untuk mencegah penularan wabah penyakit mulut dan kuku masuk ke Indonesia. Namun di sisi lain, larangan impor ini kurang mendukung kegiatan industri perajin kulit. Guna mengatasi berbagai kendala dan perkembangan yang kurang menguntungkan tersebut di atas, pemerintah melakukan berbagai upaya yang diarahkan untuk memacu pertumbuhan sektor industri pengolahan. Upaya yang telah dilakukan antara lain dengan membebaskan impor alat berat dan komputer bekas untuk memenuhi kebutuhan barang modal yang murah bagi kegiatan industri di dalam negeri. Langkah lain adalah mencabut larangan impor barang cetak dalam huruf/aksara Cina dalam rangka

menarik investor dari Cina Taiwan, Hong Kong dan Singapura. Pemerintah juga menerapkan bea masuk anti dumping (BMAD) terhadap produk terigu impor sebesar 15%-30% untuk menjaga daya saing industri dalam negeri. Selain itu, dalam rangka mendorong pengembangan industri mesin dalam negeri, pemerintah juga memberikan keringanan bea masuk atas impor bahan baku/penolong dan komponen untuk perakitan mesin dan motor berputar. Namun demikian, berbagai upaya tersebut belum berhasil sepenuhnya mengatasi perlambatan pertumbuhan sektor industri pengolahan. Sektor perdagangan, hotel, dan restoran tetap menjadi salah satu ujung tombak pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan sektor ini meningkat cukup signifikan sebesar 5,1% sejalan dengan terus meningkatnya permintaan konsumsi, khususnya untuk bahan makanan dan barang-barang ritel. Relatif tingginya pertumbuhan sektor ini terutama berasal dari perdagangan domestik yang tercermin dari tingginya ekspansi kegiatan perdagangan di sektor ritel dan maraknya pembukaan gerai pusat perdagangan ritel di sejumlah kota besar di Indonesia. Tumbuhnya subsektor perdagangan juga terjadi seiring dengan meningkatnya fasilitas pembiayaan konsumen seperti kredit konsumsi yang dapat dimanfaatkan oleh sektor rumah tangga. Selain itu, meningkatnya subsektor ini juga tercermin dari hasil survei properti yang menunjukkan adanya peningkatan jumlah hunian di pusat perdagangan, khususnya untuk usaha ritel. Sementara itu, perkembangan di subsektor hotel menunjukkan penurunan yang cukup tajam terutama pada pasca tragedi WTC. Hal ini tercermin dari hasil survei properti yang mengindikasikan tajamnya penurunan tingkat hunian hotel (occupancy

42

Kondisi Ekonomi Makro

fungsi intermediasi perbankan yang belum sepenuhPersen 60 Tingkat Hunian Hotel Harga Sewa Hotel 50 450 500

nya pulih. Hal ini tercermin dari jenis portofolio aset perbankan yang masih didominasi oleh SBI dan obligasi. Selain itu, melambatnya pertumbuhan subsektor ini juga tercermin pada posisi kredit

40

400

perbankan yang hanya tumbuh sebesar 11,5%, lebih lambat dibandingkan dengan pertumbuhan tahun sebelumnya sebesar 15,5%.

30

Jan

Mar

Mei

Jul

Sep

Nov

Jan

Mar

Mei

Jul

Sep

Nov

350

2000

2001

Sektor pertanian yang sempat menjadi andalan pada awal krisis, pada 2001 mengalami

Grafik 2.19 Tingkat Hunian Hotel

pertumbuhan yang sangat rendah yaitu hanya sebesar 0,6%. Tingkat pertumbuhan ini merupakan yang terendah yang pernah terjadi setelah 1998.

rate) walaupun pada periode yang sama tarif hotel relatif tidak mengalami peningkatan yang berarti (Grafik 2.19). Sektor pengangkutan dan komunikasi mencatat pertumbuhan yang tinggi yakni mencapai 7,5% dan menjadi penyumbang terbesar ketiga terhadap laju pertumbuhan PDB. Subsektor angkutan jalan raya masih menjadi motor utama bagi pertumbuhan subsektor pengangkutan. Sementara itu, pertumbuhan subsektor komunikasi antara lain masih bersumber dari meningkatnya permintaan sambungan telepon baru serta meningkatnya kegiatan usaha perusahaan penyelenggara telpon selular. Dalam tahun laporan sektor keuangan, persewaan, dan perusahaan jasa mengalami pertumbuhan sebesar 3,0%, lebih rendah dari pertumbuhan yang dicapai tahun lalu sebesar 4,3%. Pertumbuhan sektor ini terutama masih disumbang oleh subsektor Bank. Meskipun dalam kenyataannya sebagian bank telah mulai menyalurkan kredit, subsektor ini tumbuh melambat sehubungan dengan

Sejumlah permasalahan yang menyebabkan rendahnya pertumbuhan sektor ini antara lain mahalnya harga pupuk dan pestisida, rendahnya kualitas bibit/ benih yang digunakan, dan adanya gangguan produksi akibat bencana alam, serangan hama dan organisme pengganggu tanaman. Berbagai permasalahan tersebut menyebabkan produktivitas hasil pertanian menurun. Selain itu, hal lain yang diperkirakan turut menyebabkan rendahnya pertumbuhan nilai tambah sektor ini terkait dengan fluktuasi harga, khususnya harga dasar gabah yang seringkali kurang memberikan insentif bagi petani. Akibat permasalahan tersebut di atas, realisasi produksi sejumlah komoditas pertanian penting seperti padi, jagung, dan kedelai mengalami penurunan.6 Produksi padi hanya mencapai 49,6 juta ton gabah kering giling pada tahun laporan atau menurun 4,5% jika dibandingkan produksi padi tahun lalu. Sementara itu, produksi jagung dan kedelai masing-masing mencapai 9,2 juta ton pipilan kering dan 0,8 juta ton bijih kering atau

6

Angka sementara BPS

43

Kondisi Ekonomi Makro

mengalami penurunan sebesar 5,3% dan 19,7% dibandingkan produksinya tahun lalu.

kapasitas terpakai di sektor industri pengolahan masih rendah, terdapat sejumlah subsektor yang mengalami laju peningkatan utilisasi yang cukup tinggi seperti

Penawaran Jangka Panjang
Berbagai permasalahan yang terjadi di sektor riil sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, menyebabkan upaya meningkatkan kapasitas perekonomian (potential output) menjadi sangat terbatas. Keterbatasan dalam meningkatkan kapasitas perekonomian ini antara lain tercermin dari rendahnya pertumbuhan investasi, baik dalam bentuk investasi baru maupun dalam bentuk ekspansi dari kegiatan usaha yang ada. Sementara itu, keterbatasan dalam meningkatkan kapasitas perekonomian juga dipengaruhi oleh pesatnya pertumbuhan angkatan kerja yang masih didominasi oleh tenaga kerja dengan kualitas yang masih rendah. Rendahnya peningkatan kapasitas perekonomian yang bersumber dari investasi baru ditunjukkan oleh hasil SKDU yang memperlihatkan adanya penurunan realisasi investasi pada triwulan ketiga serta minat investasi pada triwulan terakhir tahun laporan (Grafik 2.10). Selain itu, rendahnya investasi baru juga dapat dilihat dari hampir tidak adanya realisasi investasi baik yang dilakukan oleh asing (PMA) maupun domestik (PMDN), serta rendahnya pertumbuhan realisasi kredit investasi. Sementara itu, rendahnya peningkatan kapasitas perekonomian yang bersumber dari ekspansi kegiatan usaha yang ada tercermin dari masih rendahnya tingkat utilisasi sektor industri seperti yang ditunjukkan oleh hasil survei sektor industri pengolahan yang dilakukan oleh Bank Indonesia. Berdasarkan hasil survei tersebut sampai dengan November 2001, memberikan gambaran meskipun secara total

industri makanan, minuman, dan tembakau, dan industri barang galian bukan logam. Sementara itu, subsektor industri barang galian dan plastik, industri tekstil, pakaian jadi, dan kulit, dan industri kertas, percetakan, dan penerbitan mencatat peningkatan rata-rata sebesar 65% dari kapasitas terpasangnya. Sedangkan untuk industri barang dari logam dan industri logam dasar tingkat utilisasinya mengalami penurunan (Grafik 2.20). Masih relatif rendahnya tingkat utilisasi di sektor industri pengolahan tersebut mengindikasikan bahwa sektor industri masih menghadapi permasalahan internal sehingga membatasi pemanfaatan utilisasi yang tersedia. Selain itu, masih tingginya ketidakpastian dan risiko usaha menyebabkan dunia usaha belum meningkatkan kapasitas terpasangnya. Kondisi tersebut di atas memberikan gambaran bahwa peningkatan potential output pada tahun laporan masih sangat rendah. Sementara itu, perkembangan output aktual sebagaimana dijelaskan di atas
Persen 75 70 65 60 55 50 45 40 35 30 25 20 Jan. Feb. Mar. Apr. Mei Jun. 2001 Jul. Ags. Sep. Okt. Nov.
Makanan, Minuman & Tembakau To t a l Tekstil, Pakaian Jadi & Kulit Kertas, Percetakan & Penerbitan Barang dari logam

Grafik 2.20 Kapasitas Terpakai

44

Kondisi Ekonomi Makro

Persen 80 70 60 50 40 30 20 10 0

uraikan sebelumnya menyebabkan tingkat efisiensi perekonomian belum membaik seperti masa sebelum krisis. Untuk mengukur efisiensi suatu perekonomian dari satu periode ke periode yang lain, pendekatan yang seringkali digunakan adalah Incremental Capital Output Ratio (ICOR).7 Dalam perkembangannya, ICOR pada periode 2000-2001 menunjukkan adanya perbaikan dibanding dengan ICOR pada periode

1990-1991

1992-1993

1994-1995

1996-1997

1998-1999

2000-2001

1998-1999 (Grafik 2.21). Namun demikian, ICOR
Sumber : BPS (diolah)

Grafik 2.21 ICOR

pada periode laporan masih lebih tinggi dibanding dengan ICOR pada masa sebelum krisis. Hal ini menunjukkan bahwa perekonomian pada periode

masih menunjukkan peningkatan yang lebih pesat dibandingkan dengan output potentialnya. Perkembangan ini menyebabkan kesenjangan output (output gap) yang merupakan perbedaan antara output potensial dan output aktual menjadi semakin menyempit (narrowing gap). Kecenderungan semakin menyempitnya kesenjangan output yang terutama disebabkan oleh lebih rendahnya peningkatan output potensial dibandingkan peningkatan output aktual perlu segera diantisipasi. Apabila upaya untuk meningkatkan ouput potensial ini tidak segera dilakukan, maka tekanan terhadap harga akan mulai meningkat. Terlebih lagi bila melihat bahwa peningkatan utilisasi yang pesat terjadi pada kelompok industri yang memproduksi barang-barang yang termasuk dalam keranjang IHK. Apabila berbagai permasalahan yang membatasi investasi baru dan ekspansi usaha yang ada tidak segera diatasi, maka kenaikan ouput aktual akan menjadi ancaman yang serius pada peningkatan inflasi IHK pada periode mendatang. Berbagai permasalahan yang dihadapi perekonomian Indonesia sebagaimana telah di-

laporan masih belum seeffisien dibandingkan dengan masa sebelum krisis.

KETENAGAKERJAAN
Perkembangan perekonomian yang melambat pada tahun laporan sebagaimana telah diuraikan sebelumnya memberikan dampak yang kurang menguntungkan bagi kondisi ketenagakerjaan. Hal ini tercermin dari menurunnya rasio jumlah penduduk yang bekerja di sektor formal terhadap jumlah angkatan kerja akibat meningkatnya jumlah angkatan kerja yang tidak dapat diimbangi oleh penyediaan lapangan kerja secara memadai. Namun demikian, jumlah penganggur dan setengah penganggur tidak mengalami peningkatan yang berarti karena sebagian angkatan kerja yang tidak tertampung di sektor formal dapat menemukan pekerjaan di sektor informal. Sementara itu, kesejahteraan pekerja yang diukur

7

ICOR dihitung dengan rumus :

ICOR t

1–t2

=

Σ tP M T D B t=
1-1

t2-1

t

PDB - PDB t
t2

1

45

Kondisi Ekonomi Makro

dengan upah minimum propinsi (UMP) secara ratarata mengalami peningkatan walaupun masih berada di bawah tingkat kebutuhan hidup minimum (KHM). Kasus perburuhan masih mewarnai tahun laporan yang tercermin dari masih tingginya kasus pemogokan dan pemutusan hubungan kerja (PHK). Jumlah angkatan kerja pada 2001 diperkirakan mencapai 98 juta orang atau mengalami peningkatan hampir 2,5% dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, peningkatan jumlah angkatan kerja tersebut masih belum diikuti oleh peningkatan kualitas yang tercermin dari masih besarnya proporsi angkatan kerja yang berpendidikan Sekolah Dasar yaitu mencapai 63,5% atau sekitar 62 juta orang. Survei dari United Nation Development Program (UNDP) menunjukan bahwa Human Development Index (HDI) Indonesia masih berada pada peringkat 109 dari 147 negara.8 Berdasarkan sensus penduduk 2000, jumlah penduduk yang berusia kerja (15 tahun ke atas) sebanyak 141,2 juta orang dimana 67,8% dari jumlah tersebut atau 95,7 juta orang diklasifikasikan dalam angkatan kerja. Angka tersebut diperkirakan meningkat mencapai 98 juta orang pada 2001. Dari jumlah angkatan kerja tersebut, sekitar 93% diantaranya termasuk bekerja dan 7% termasuk penganggur terbuka. Namun demikian, sekitar 36% atau 35 juta dari penduduk yang bekerja hanya bekerja kurang dari 35 jam seminggu. Berdasarkan lapangan usaha, sebagian besar penduduk yang bekerja tersebut (45,3%) berusaha di sektor pertanian. Meskipun jumlah penduduk yang bekerja mencatat peningkatan, jumlah penduduk yang bekerja dengan status formal mengalami penurunan, sedangkan jumlah penduduk

Rupiah/Hari
10.000 9.000 8.000 7.000 6.000 5.000 4.000 3.000 2.000 1.000 0 1996 1997 1998 1999 2000 2001
3.708 4.101 4.830 5.575 6.962 9.750

Grafik 2.22 Upah Minimum Propinsi (rata-rata) Dalam Rupiah per Hari

yang bekerja dengan status informal mencatat peningkatan. Melambatnya kegiatan ekonomi 2001 sebagai dampak dari rendahnya investasi serta masih rendahnya tingkat pendidikan angkatan kerja mengakibatkan angka pengangguran diperkirakan meningkat dari 6,1% pada 2000 menjadi 6,7%-7,0% pada 2001.9 Berdasarkan daerah, jumlah penganggur di kota lebih besar dibandingkan di desa. Berdasarkan jenis kelamin, proporsi penganggur perempuan lebih banyak dibandingkan penganggur laki-laki. Kondisi ketenagakerjaan yang ditandai oleh masih tingginya jumlah pengangguran terbuka antara lain menyebabkan melemahnya posisi tawar (bargaining power) pekerja dalam negosiasi upah. Hal ini tercermin dari relatif kecilnya kenaikan UMP yang ditetapkan. Pada 2001 UMP secara rata-rata mengalami kenaikan sebesar 33,7% dan mencapai Rp295.981/bulan (Grafik 2.22), sedangkan KHM sebagai dasar perhitungan UMP pada periode yang sama rata-rata meningkat sebesar 21,7% menjadi

8

Suara Pembaharuan tanggal 13 Juli 2001

9

Suara Pembaharuan tanggal 13 Juli 2001

46

Kondisi Ekonomi Makro

Rp323.798/bulan. Dengan demikian, UMP yang ditetapkan pemerintah tersebut baru dapat memenuhi rata-rata 91,4% kebutuhan hidup minimum pekerja. Walaupun UMP tersebut belum memenuhi seluruh KHM pekerja, saat ini ada 10 propinsi yang telah dapat memenuhi KHM-nya, yakni Sumatera Utara, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, dan Nusa Tenggara Timur. Masih banyaknya pengusaha yang belum memenuhi ketentuan UMP dan tuntutan lainnya seperti keikutsertaan dalam Jamsostek dan pemenuhan tunjangan hari raya keagamaan telah memicu terjadinya kasus pemogokan buruh dalam tahun laporan. Sampai dengan September 200110, pemo-

gokan yang terjadi sebanyak 164 kasus dengan melibatkan 107.523 pekerja dan mengakibatkan 1.148.778 jam kerja hilang. Sementara itu, pekerja yang kehilangan pekerjaan akibat PHK pada 2001 sedikit lebih rendah dibandingkan tahun lalu yakni mencapai 58.006 tenaga kerja. Masih tingginya angka PHK tersebut antara lain disebabkan oleh memburuknya situasi dunia usaha terutama yang berorientasi ekspor. Industri tekstil dan produk tekstil yang merupakan industri padat karya merupakan industri yang paling mengalami kerugian mengingat besarnya porsi produknya yang ditujukan untuk ekspor. Industri tekstil dan produk tekstil yang saat ini menyerap sekitar 1,2 juta orang tenaga kerja diperkirakan akan melakukan PHK antara 10%–20% bila kondisi perekonomian tidak membaik.11

10 Sumber Depnakertrans, 2001

11 Data Asosiasi Pertekstilan Indonesia sebagaimana dimuat di Suara Pembaharuan tanggal 23 Oktober 2001

47

Kondisi Ekonomi Makro

boks

Penghitungan Stok Kapital dengan Metode Perpetual Inventory
Dalam text book ekonomi, penawaran agregat menjelaskan hubungan antara tingkat harga dan jumlah barang yang dihasilkan oleh perusahaan dalam suatu perekonomian.1 Analisa ekonomi makro seringkali membedakan antara penawaran jangka pendek (short run aggregate supply) dan penawaran jangka panjang (long run aggregate supply). Dalam jangka pendek, penawaran agregat dapat berubah antara lain apabila terjadi perubahan pada input produksi yang digunakan dengan kapasitas produksi yang tersedia. Dalam jangka panjang, perubahan penawaran agregat —atau sering disebut dengan ouput potensial— hanya dapat terjadi apabila kapasitas perekonomian juga mengalami perubahan. Secara empiris, untuk menghitung penawaran agregat dalam jangka panjang (output potensial) dapat dilakukan dengan beberapa pendekatan mulai dari yang sederhana yakni dengan metode pemulusan (smoothing) data PDB, sampai metode yang lebih rumit yakni dengan menaksir suatu persamaan fungsi produksi perekonomian. Mengingat pentingnya informasi mengenai ouput potensial bagi Bank Indonesia dalam hal melakukan analisa dan penyusunan proyeksi tekanan inflasi, saat ini Bank Indonesia sedang mengembangkan penghitungan output potensial dengan pendekatan fungsi produksi, dimana salah satu variabel utamanya adalah data stok kapital.
1 N.Gregory Mankiw, Macroeconomics, 3rd edition, Worth Publishers, 1997, hal. 503

Secara umum, stok kapital didefinisikan sebagai persediaan berbagai jenis barang modal seperti bangunan, mesin-mesin, alat transportasi, ternak, dan barang modal lainnya2 , yang memberikan kontribusi terhadap kelangsungan suatu proses produksi. Dalam prakteknya, data stok kapital tersebut menggambarkan posisi barang modal yang terbentuk dari suatu proses akumulasi investasi dalam jangka waktu tertentu. Dalam terminologi SNA 1968, investasi tersebut dikenal sebagai Gross Fixed Capital Formation (GFCF) atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB). Sampai saat ini data PMTB telah dihitung dan dipublikasikan secara periodik oleh BPS. Data stok kapital secara umum digunakan untuk : (1) memperoleh gambaran mengenai produk neto (nilai tambah neto) dari hasil suatu proses produksi, yaitu seluruh nilai produksi dikurangi dengan besarnya penyusutan (consumption of fixed capital), (2) menghitung nilai kekayaan (wealth capital stock) yang diperoleh dari hasil pembangunan dalam suatu periode tertentu, dan (3) menghitung produktifitas dan efisiensi suatu perokonomian (economic efficiency dan economic productivity). Pada dasarnya, terdapat dua pendekatan untuk menyusun data stok kapital yaitu metode langsung dan metode tidak langsung. Metode langsung terdiri dari Direct Observation of Capital (DOC), Fixed Asset Accounting Simulation Model (FAASM), dan
2 Sesuai dengan konsep Statistics of National Account (SNA) tahun 1968, barang modal tersebut belum termasuk intangible assets.

48

Kondisi Ekonomi Makro

Anchored FAASM. Penghitungan secara langsung dilakukan dengan cara mengumpulkan data stok kapital secara langsung dari laporan keuangan perusahaan dan administrasi pemerintahan. Metode DOC merupakan metode langsung yang paling sering digunakan karena memiliki tingkat akurasi data investasi dan pengukuran umur aset (asset life) serta usia pakai (discard pattern) yang lebih baik. Namun dalam implementasinya, metode secara langsung memerlukan biaya yang sangat besar dan sumber daya manusia yang memadai, baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Sementara itu, metode penghitungan stok kapital secara tidak langsung lebih memfokuskan pada pemanfaatan data sekunder. Metode tidak langsung yang banyak digunakan adalah Perpetual Inventory Method (PIM), yaitu penghitungan stok kapital yang dilakukan dengan cara memanfaatkan data sekunder yang tersedia, yaitu data PMTB. Dua syarat yang harus dipenuhi agar metode PIM menghasilkan angka yang reliable adalah tersedianya data PMTB yang akurat, rinci dengan cakupan data yang luas, dan asumsi yang digunakan seperti umur aset, pola distribusi, dan metode depresiasinya. Secara garis besar, penghitungan stok kapital dengan metode PIM dilakukan dengan cara mengakumulasikan investasi barang modal (PMTB) dalam periode tertentu dengan mempertimbangkan barang modal yang telah usai pakai (retired) dan yang mengalami penyusutan selama periode tersebut. Beberapa negara seperti Belanda, Inggris, Jerman, Australia, dan Kanada telah memiliki data stok kapital sejak lama, meskipun dengan metode penghitungan yang berbeda-beda. Sementara di Indonesia, ketersediaan informasi mengenai stok

kapital (PMTB) masih terbatas pada pemanfaatannya sebagai proxy variable perkembangan kegiatan investasi. Beberapa penelitian mengenai stok kapital yang pernah dilakukan di Indonesia antara lain oleh Keuning (1988 dan 1991), Badan Pusat Statistik (1995), dan Timmer (1999). Mengingat pentingnya informasi mengenai stok kapital tersebut, pada 2000 Bank Indonesia telah melakukan kajian awal mengenai kemungkinan pengumpulan data stok kapital sektor industri pengolahan. Dari sejumlah alternatif penghitungan stok kapital yang ada, hasil kajian tersebut menyimpulkan bahwa metode PIM merupakan metode yang lebih tepat digunakan untuk menghitung stok kapital di seluruh sektor perekonomian. Hal utama yang mendasari pemilihan metode PIM tersebut antara lain faktor efisiensi biaya dan ketersediaan sumber daya manusia. Sebagai kelanjutan dari penelitian sebelumnya, pada 2001 Bank Indonesia bekerjasama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) melakukan penghitungan stok kapital berdasarkan konsep ‘wealth’ dengan menggunakan metode PIM. Hasil penghitungan stok kapital berdasarkan konsep wealth dengan menggunakan harga konstan 1993 disajikan dalam 2 (dua) konsep, yaitu stok kapital bruto (Gross Capital Stock/GCS) dan stok kapital neto (Net Capital Stock/NCS). Angka GCS diperoleh setelah memperhitungkan sejumlah barang modal yang retired dalam suatu periode namun belum termasuk nilai penyusutannya. Sedangkan angka NCS adalah jumlah barang modal setelah dikurangi penyusutan. Secara matematis, hubungan antara NCS, GCS, dan besarnya GFCF dapat diformulasikan sebagai berikut:

49

Kondisi Ekonomi Makro

NCS i = NCSi −1 + GFCFi − AdjDi GCSi = GFCFi − ret i + GCS i−1

hampir sama antara GCS maupun NCS yakni sebesar 3,4%. Krisis ekonomi yang berkepanjangan sejak pertengahan 1997 tercermin pada turunnya stok kapital, yang ditandai dengan melambatnya pertumbuhan NCS pada 1998 menjadi sebesar 0,8%

Σ i =1 GFCF = GCSn +
n

Σ i =1 ret
n

NCS GFCF AdjD ret i n

= = = = = =

Net Capital Stock Gross Fixed Capital Formation Adjusted Depreciation Retirement periode/tahun ke – i akhir periode stok kapital

dan bahkan sempat mengalami kontraksi pada 1999 sebesar 1,2%. Berdasarkan pangsa dari masing-masing jenis barang modal, stok kapital Indonesia selama kurun waktu 20 tahun terakhir didominasi oleh 3 kelom-

Hasil simulasi penghitungan stok kapital yang telah dilakukan menunjukkan bahwa stok kapital baik GCS maupun NCS senantisa mengalami pertumbuhan positif. Indeks GCS tumbuh dari 103,3 pada 1980 menjadi 201,9 pada 2000 (Grafik 1). Dalam periode yang sama, indeks NCS tumbuh dari 105,1 menjadi 200,5 (Grafik 2). Sementara itu, pertumbuhan rata-rata per tahun (yearly average) stok kapital
Indeks 250

pok besar yaitu kelompok bangunan, kelompok mesin, dan kelompok transportasi. Pangsa kelompok bangunan sebesar 60,0% (1980) dan terus meningkat menjadi 75,7% (2000), sementara pangsa kelompok transportasi mengalami penurunan dari 23,2% (1980) menjadi hanya 4,0% (2000). Di sisi lain, pangsa kelompok mesin relatif tetap yakni rata-rata sebesar 15,9%.
Indeks 250

200

200

150

150

100

100

50

50

0 1980 1982 1984 1986 1988 1990 1992 1994 1996 1998 2000

0 1980 1982 1984 1986 1988 1990 1992 1994 1996 1998 2000

Grafik 1 Perkembangan Indeks GCS Indonesia

Grafik 2 Perkembangan Indeks NCS Indonesia

50

Nilai Tukar

bab 3 NILAI TUKAR

51

Nilai Tukar

bab 3

NILAI TUKAR

D

alam tahun 2001, nilai tukar rupiah mengalami tekanan depresiasi yang sangat besar, mes-

pasar. Kendati demikian, berbagai upaya tersebut perlu dibarengi dengan terciptanya kondisi sosial politik yang kondusif sebagai bagian yang tidak terpisahkan dalam membangun kepercayaan publik terhadap proses pemulihan ekonomi. Berbagai faktor risiko (ketidakpastian) yang semula diperkirakan akan mulai membaik pada pertengahan tahun laporan, dalam kenyataannya justru mengalami perkembangan yang memburuk. Sampai pertengahan 2001, ketidakpastian situasi sosial politik di dalam negeri semakin memburuk, yang ditandai dengan terjadinya gejolak politik, serta beberapa kerusuhan sosial dan ancaman disintegrasi di beberapa daerah. Perkembangan tersebut pada gilirannya mengakibatkan kepercayaan pasar semakin merosot dan secara persisten menimbulkan sentimen negatif terhadap rupiah. Selanjutnya, pasca pengalihan kepemimpinan nasional pada pertengahan tahun, situasi politik di dalam negeri memperlihatkan kecenderungan yang membaik, bahkan menebarkan optimisme yang tinggi bagi berlanjutnya proses pemulihan ekonomi. Hal ini tercermin dari pulihnya kepercayaan pasar yang ditandai dengan apresiasi nilai tukar rupiah yang sangat tajam. Namun, apresiasi nilai tukar rupiah tersebut tidak berlangsung lama karena kepercayaan pasar kembali menurun, terutama dipengaruhi oleh kondisi fundamental ekonomi makro dan mikro yang dalam kenyataanya masih menghadapi sejumlah permasalahan. Dari sisi makro-fundamental, meskipun tercatat adanya beberapa kemajuan, penangangan

kipun sempat terapresiasi tajam pada pertengahan tahun. Secara keseluruhan, nilai tukar rupiah terdepresiasi sekitar 17,7%, yaitu dari rata-rata Rp8.438 dalam tahun 2000 menjadi rata-rata Rp10.255 per dolar dalam tahun 2001. Besarnya tekanan depresiasi tersebut tidak terlepas dari meningkatnya country risk sejalan dengan memburuknya ketidakpastian kondisi sosial politik di dalam negeri yang terjadi dalam tahun laporan. Di pihak lain, meskipun terdapat kemajuan, kondisi fundamental ekonomi makro dan mikro masih menghadapi sejumlah permasalahan (Bagan 3.1). Sebagai akibat dari besarnya tekanan depresiasi tersebut, nilai tukar rupiah secara riil menjadi semakin undervalued dan menimbulkan tekanan yang cukup besar terhadap laju inflasi. Dalam menyikapi perkembangan tersebut, Bank Indonesia telah menempuh berbagai upaya yang diperlukan, yakni dengan mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan yang tersedia. Selain itu, implementasi beberapa program restrukturisasi perekonomian masih terus dilanjutkan meskipun belum sepenuhnya memenuhi harapan semua pihak. Ke depan, berbagai upaya tersebut akan terus dilanjutkan dan lebih dioptimalkan dengan harapan dapat memperbaiki kondisi fundamental ekonomi, yang pada gilirannya dapat mengurangi kesenjangan permintaan dan penawaran valuta asing, sekaligus dapat memperbaiki kepercayaan

52

Nilai Tukar

EKONOMI DUNIA STRUKTURAL DAYA SAING INVESTASI ASING LANGSUNG (FDI) INVESTASI PORTOFOLIO CAD. DEVISA & KONDISI PASAR RISIKO KEUANGAN KESEHATAN BANK RISIKO POLITIK RISIKO EKONOMI RETRUKTURISASI KEPERCAYAAN PUBLIK IMPOR PELUNASAN UTANG LN PENYELAMATAN ASET (FLIGHT TO SAFETY) SEGMENTASI PASAR STERILISASI BANK SENTRAL STRUKTUR MIKRO PASAR EKSPOR

PENAWARAN VALUTA ASING

NILAI TUKAR

PERMINTAAN VALUTA ASING

SPEKULASI INTERMEDIASI PERBANKAN BELUM SEPENUHYA PULIH KELEBIHAN LIKUIDITAS RUPIAH DI SEKTOR KEUANGAN

Bagan 3.1 Permasalahan Nilai Tukar 2001

beberapa program restrukturisasi ekonomi secara umum dinilai pelaku pasar masih berjalan lamban. Hal ini terutama terlihat pada restrukturisasi utang dan korporasi, privatisasi dan divestasi, serta upaya revitalisasi sektor perbankan dan korporasi. Lambannya perbaikan kondisi makro-fundamental tersebut, selain sebagai akibat dari kompleksitas permasalahan ekonomi yang semakin berat, juga karena lemahnya dukungan sistim kelembagaan, jaminan kepastian hukum, dan keamanan berusaha. Di sampingitu, kondisi ekonomi dunia memperlihatkan perkembangan yang

kurang menguntungkan sehingga kurang kondusif bagi kinerja sektor eksternal. Kondisi tersebut di atas mengakibatkan masih tetap terbatasnya aliran devisa masuk ke dalam negeri sehingga di pasar masih terjadi kelangkaan pasokan valuta asing. Di pihak lain, permintaan valuta asing masih tetap tinggi, baik untuk kebutuhan impor maupun pelunasan utang luar negeri swasta. Munculnya permintaan valuta asing semakin dipermudah dalam kondisi di mana terjadi kelebihan likuiditas rupiah di sektor keuangan, terutama sebagai akibat

53

Nilai Tukar

dari proses intermediasi perbankan yang belum sepenuhnya pulih. Dari sisi mikro-fundamental, berbagai kelemahan mendasar yang melekat pada struktur mikro pasar keuangan di dalam negeri masih mewarnai ekonomi Indonesia. Hal ini tercermin dari struktur pasar keuangan yang masih tersegmentasi dan kurang berkembangnya pasar lindung nilai (hedging). Terjadinya segmentasi pasar mengakibatkan mekanisme pembentukan harga menjadi kurang berfungsi secara baik (well-functioning market).1 Dalam kondisi tersebut, harga yang terbentuk di pasar valuta asing tidak mewakili kekuatan pelaku pasar secara keseluruhan, tetapi merupakan cerminan dari kekuatan beberapa pelaku yang menguasai sebagian besar pangsa pasar.

Premi Risiko (bp) 850 800

Kurs Rp/$ 12500 12000

Premi Risiko
750 700 650 600 550 500 450 400 3/1

11500 11000 10500 10000 9500 9000

Nilai Tukar Rupiah

8500 8000 7500 7000

17/4

1/8 2000

15/11

2/2

11/05

24/08 2001

07/12

Grafik 3.1 Arah Perkembangan Nilai Tukar Rupiah dan Premi Risiko

movement) antara premi risiko2 dan nilai tukar rupiah dalam beberapa tahun terakhir (Grafik 3.1). Pengaruh ketidakpastian sosial politik terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah dapat terjadi baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
Perkembangan nilai tukar rupiah sepanjang tahun laporan tidak terlepas dari berbagai ketidakpastian (risiko), baik ketidakpastian di bidang sosial politik, maupun ketidakpastian di bidang ekonomi dan keuangan. Sejak krisis ekonomi berlangsung, fluktuasi nilai tukar rupiah secara persisten telah diwarnai oleh ketidakpastian situasi sosial politik, yang pada gilirannya menjadi sumber utama terjadinya lingkaran permasalahan ekonomi (vicious circle) selama ini. Keterkaitan yang sangat erat antara ketidakpastian situasi sosial politik dan fluktuasi nilai tukar rupiah tersebut tercermin dari pergerakan searah (co1 Mekanisme pembentukan harga pasar yang baik terjadi dalam kondisi di mana harga mencerminkan kekuatan pelaku pasar secara keseluruhan, tidak hanya mewakili beberapa pelaku pasar. Premi risiko di proksi dengan menggunakan perbedaan yield antara Yankee Bond Indonesia dengan Benchmark US Treasury Note yang sama-sama berjangka waktu 10 tahun dan akan jatuh tempo tahun 2006.

langsung, pengaruh tersebut terutama tercermin dari reaksi yang bersifat segera yang diwujudkan dalam bentuk aksi beli (atau jual) valuta asing karena terjadinya perubahan sentimen pelaku pasar sebagai respon terhadap beberapa peristiwa sosial politik. Secara tidak langsung, ketidakpastian sosial politik mempengaruhi fluktuasi nilai tukar melalui perubahan

kepercayaan publik baik domestik maupun internasional yang mempengaruhi arus lalu lintas modal, yang pada gilirannya berdampak terhadap permintaan atau penawaran valuta asing. Sepanjang tahun laporan, sentimen pasar sangat dipengaruhi oleh ketidakpastian situasi sosial politik di dalam negeri yang secara umum menunjukkan peningkatan meskipun cenderung membaik sejak pertengahan tahun laporan (Grafik 3.2). Sepanjang paro pertama 2001, kepercayaan

2

54

Nilai Tukar

Rp/$
12500 12000 11500 11000 10500
10000 Panic buying menjelang Memorandum II DPR kepada Presiden Penundaan pencairan bantuan IMF Koreksi outlook rating oleh Moody's dan S&P Presiden menolak menjawab Memo II Kerusuhan di Sampit dan memburuknya hubungan dengan IMF Situasi aman pasca Memo II dan aksi profit taking pelaku pasar Perbaikan outlook oleh S&P menjadi "stable" Menguatnya sentimen anti-AS disertai ancaman sweeping Tragedi WTC 11 September 2001 Percepatan SI MPR S&P menurunkan credit rating dan outlook Indonesia CGI memberikan komitmen pinjaman untuk tahun 2002 Penjualan aset BPPN kepada investor asing

Desakan percepatan SI MPR

Dekrit Presiden tidak mendapat dukungan luas dan SI MPR berjalan lancar

9500 9000 8500
Pengumuman kabinet baru Debt repayment dan kerusuhan di Aceh Megawati terpilih sebagai Presiden RI Wakil Presiden terpilih

Dukungan internasional kepada Indonesia menguat 26/7 13/8 29/8 14/9 2/10 18/10 5/11 21/11 7/12 25/12

8000
31/12 12/1 24/1 5/2 17/2 6/3 22/3 12/4 1/5 18/5 6/6 22/6 10/7

2000

2001

Grafik 3.2 Perkembangan Nilai Tukar Rupiah dan Faktor Sentimen

pasar terus merosot terutama disebabkan oleh meningkatnya konflik politik, serta beberapa kerusuhan sosial dan ancaman disintegrasi di beberapa daerah. Sejalan dengan perkembangan tersebut nilai tukar rupiah secara persisten

September 2001. Tragedi tersebut telah meningkatkan suhu politik internasional yang pada gilirannya berimbas ke dalam negeri antara lain berupa reaksi-reaksi yang menimbulkan rasa tidak aman bagi investor asing. Selain itu, tragedi tersebut juga membuat kalangan investor internasional menjadi lebih bersikap hati-hati (risk averse) karena meningkatkan risiko global, sehingga turut memberi tekanan terhadap sebagian besar nilai tukar mata uang regional, termasuk rupiah. Selain ketidakpastian situasi sosial politik, fluktuasi nilai tukar rupiah sepanjang tahun laporan dipengaruhi oleh masih rendahnya kepercayaan publik terhadap kondisi fundamental ekonomi baik dalam skala makro maupun mikro. Rendahnya kepercayaan publik tersebut terutama sebagai akibat dari penanganan beberapa program restrukturisasi

mengalami tekanan depresiasi yang sangat besar. Selanjutnya, pasca pengalihan kepemimpinan nasional Juli 2001, kepercayaan pasar cenderung membaik yang dipicu oleh harapan bahwa berakhirnya krisis politik dapat menjadi tumpuan bagi bangkitnya perekonomian Indonesia dari krisis yang berkepanjangan. Membaiknya kepercayaan pasar tersebut ditandai dengan terjadinya apresiasi nilai rupiah yang cukup tajam. Namun menjelang akhir tahun laporan, kepercayaan pasar kembali memburuk dan nilai tukar rupiah turut tertekan menyusul tragedi World Trade Center (WTC) 11

55

Nilai Tukar

ekonomi yang masih menghadapi sejumlah kendala. Hal ini selain karena kompleksitas permasalahan ekonomi yang semakin berat, juga karena lemahnya dukungan sistem kelembagaan, jaminan kepastian hukum, serta keamanan berusaha. Kepercayaan publik sangat dipengaruhi oleh persepsi terhadap beban keuangan pemerintah yang semakin berat, restrukturisasi utang swasta dan korporasi serta proses privatisasi dan divestasi yang dinilai lamban, proses intermediasi perbankan yang belum sepenuhnya berjalan normal, serta pelaksanaan otonomi daerah yang memperlihatkan sejumlah permasalahan. Di pihak lain, tingginya kepekaan beberapa permasalahan ekonomi tersebut terhadap gejolak nilai tukar dan suku bunga mengakibatkan lingkaran permasalahan ekonomi masih terus berlangsung, yang pada gilirannya semakin menurunkan kepercayaan publik. Beban pengeluaran pemerintah terutama pembiayaan subsidi dan bunga obligasi yang sangat besar di dalam negeri dipandang masih sangat berat dan sangat rentan terhadap fluktuasi suku bunga dan nilai tukar. Sementara itu, beban pengeluaran untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah sangat tergantung pada keberhasilan negosiasi dengan lembaga donor. Keberhasilan dalam negosiasi utang luar negeri dengan lembaga donor tersebut sangat berpengaruh besar terhadap ekspektasi pasar dan seringkali digunakan sebagai referensi sejumlah lembaga pemeringkat utang internasional dalam menentukan peringkat utang negara (sovereign credit rating). Menurunnya kepercayaan publik terhadap kesinambungan fiskal juga sangat dipengaruhi oleh lambannya realisasi privatisasi sejumlah badan usaha milik negara (BUMN) dan proses

divestasi aset-aset yang berada di bawah pengelolaan BPPN, yang sedianya diharapkan dapat menjadi salah satu penopang penting bagi penerimaan keuangan pemerintah. Di sampingfaktor-faktor sebagaimana dikemukakan di atas, kondisi fundamental ekonomi yang masih lemah pada dasarnya merupakan faktor utama yang mempengaruhi nilai tukar melalui terjadinya ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran di pasar valuta asing. Permintaan valuta asing sepanjang tahun laporan ditengarai masih tetap tinggi terutama untuk kebutuhan riil (genuine demand) perekonomian seperti pembiayaan impor dan pelunasan utang luar negeri. Selain itu, kegiatan spekulasi dan penyelamatan aset (flight to safety) yang sangat dipengaruhi oleh ketidakpastian sosial politik masih tetap menjadi salah satu sumber permintaan valuta asing di pasar. Di pihak lain, pasokan valuta asing ditengarai masih tetap terbatas sehubungan dengan masih terhambatnya aliran masuk devisa swasta akibat situasi di dalam negeri yang belum kondusif dan kondisi eksternal yang tidak menguntungkan. Dari sisi mikro, menurunnya kepercayaan pasar terhadap rupiah seringkali terefleksikan dalam fluktuasi nilai tukar yang sangat tajam. Hal ini disebabkan oleh kondisi pasar valuta asing di dalam negeri yang tidak likuid dan kurang dalam, terutama sebagai akibat dari berbagai kelemahan mendasar yang melekat pada struktur mikro pasar keuangan di dalam negeri (Boks : Memahami Dinamika Nilai Tukar Melalui Pendekatan Struktur Mikro Pasar). Struktur mikro pasar, baik pasar valuta asing maupun pasar uang di dalam negeri masih ditandai oleh adanya segmentasi yang terjadi akibat adanya perbedaan risiko keuangan.

56

Nilai Tukar

Dalam kondisi pasar yang tersegmentasi, beberapa bank yang menguasai pangsa pasar mengalami kelebihan likuiditas valuta asing karena terbatasnya outlet penanaman di dalam negeri yang dipandang cukup aman, baik dalam bentuk penyaluran kredit ke dunia usaha maupun pada PUAB valuta asing di dalam negeri. Hal ini terutama disebabkan oleh belum membaiknya prospek berusaha di dalam negeri dan terbatasnya credit line yang dimiliki bank-bank lokal. Keterbatasan credit line tersebut disebabkan oleh masih rendahnya kepercayaan terhadap bank-bank lokal yang sebagian besar masih dipandang memiliki struktur neraca yang belum kuat dan sangat rentan terhadap risiko sistemik, meskipun telah didukung oleh program penjaminan pemerintah. Sebagai akibat dari masih tingginya risiko penempatan dana di dalam negeri tersebut, sepanjang tahun laporan terdapat kecenderungan peningkatan penempatan portofolio valuta asing bank di pasar uang luar negeri (offshore money market) dalam bentuk instrumen keuangan jangka pendek, khususnya dilakukan oleh sejumlah bank besar yang memiliki akses ke pasar offshore. Sumber pembiayaan portofolio valuta asing bank-bank tersebut antara lain berasal dari dana rupiah yang dihimpun di dalam negeri, sehingga dapat menimbulkan tekanan terhadap nilai tukar pada saat terjadinya konversi dari rupiah ke valuta asing. Selain itu, konversi dari rupiah ke valuta asing juga terjadi melalui transaksi swap dengan memanfaatkan perbedaan antara tingkat implied swap premium3 dan tingkat suku bunga rupiah.
3 Implied swap premium adalah tingkat premi swap ditambah suku bunga simpanan valuta asing.

Lemahnya struktur mikro pasar valuta asing di dalam negeri juga ditandai dengan kurang berkembangnya pasar lindung nilai sebagai instrumen yang sangat bermanfaat dalam menghindari risiko fluktuasi nilai tukar. Instrumen lindung nilai seperti transaksi swap dan forward hanya tersedia dalam tenor waktu yang relatif sangat pendek. Sementara itu, pasokan fasilitas lindung nilai untuk transaksi dengan tenor jangka menengah-panjang, yang sesungguhnya sangat diperlukan dalam mendukung kepastian transaksi di sektor riil belum tersedia dalam jumlah yang memadai. Sebagai akibatnya, kebutuhan valuta asing di masa depan pada umumnya direalisasikan melalui pembelian lebih dini di pasar spot. Meningkatnya permintaan valuta asing melalui pasar spot semakin menimbulkan tekanan depresiasi yang berlebihan terhadap rupiah, terutama pada saat aksi pembelian valuta asing yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar (big players) sering menimbulkan dampak berantai (bandwagon effect) di pasar. Masuknya perusahaan-perusahaan besar tersebut secara rutin ke pasar sering memicu pembelian valuta asing lebih dini oleh sejumlah bank dan sering diikuti oleh pelaku pasar lainnya (herd behavior) termasuk pelaku pasar yang sesungguhnya membutuhkan valuta asing di masa depan. Tekanan depresiasi semakin mudah timbul terutama dalam kondisi terjadinya kelebihan likuiditas rupiah di pasar keuangan sebagai akibat dari proses intermediasi perbankan yang belum sepenuhnya pulih. Dalam kondisi seperti itu, likuiditas rupiah lebih banyak berputar di sektor keuangan dan ditengarai lebih dioptimalkan hanya untuk meraih keuntungan jangka pendek di pasar valuta asing dan pasar uang daripada disalurkan ke sektor produktif.

57

Nilai Tukar

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR RUPIAH
Rp/$

Sepanjang 2001, nilai tukar rupiah melemah 725 poin atau 7,0% terhadap dolar dari Rp9.675 pada akhir Desember 2000 menjadi Rp10.400 per dolar pada akhir Desember 2001. Tingkat depresiasi rupiah terlihat cukup tajam bila dihitung secara ratarata harian, yaitu melemah sebesar 1.817 poin atau 17,7% dari Rp8.438 dalam tahun 2000 menjadi Rp10.255 per dolar dalam tahun 2001 (Grafik 3.3). Tekanan depresiasi tersebut disertai dengan besarnya fluktuasi nilai tukar rupiah, yang tercermin dari tingginya tingkat volatilitas.4 Secara rata-rata harian,

11.500
11,116

11,285

11,314 10,877 10,560

11.000 10.500 10.000 9.500 9.000 8.500 8.000 7.500 7.000 Des. Jan. Feb. Mar. Apr. 2000
9,449 9,485 9,611 10,213

10,260 10,086

9,304 8,967

Mei Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov. Des. 2001

Grafik 3.3 Rata-Rata Harian Nilai Tukar Rupiah

Persen

tingkat volatilitas nilai tukar rupiah mengalami peningkatan dari 2,2% dalam tahun 2000 menjadi 2,8% dalam tahun 2001, dan sempat mencapai tingkat tertinggi 14,4% pada pertengahan Agustus 2001 (Grafik 3.4). Perkembangan nilai tukar rupiah dapat diamati dalam empat fase. Fase pertama, rupiah menunjukkan kecenderungan melemah dalam empat bulan pertama 2001 hingga mencapai nilai terendah Rp12.090 sebelum akhirnya ditutup pada level Rp11.600 pada akhir April 2001. Selanjutnya, pada fase kedua, nilai tukar rupiah bergerak relatif stabil (sideways) dalam kisaran Rp11.200 hingga menjelang Sidang Istimewa MPR. Sementara itu, pada fase ketiga, sejak digelarnya Sidang Istimewa MPR pada 21 Juli 2001, nilai tukar rupiah menguat tajam hingga mencapai nilai tertinggi Rp8.485 per dolar pada 14 Agustus 2001. Namun, pada fase keempat, nilai tukar rupiah kembali bergerak melemah hingga menembus batas pertahanan psikologis pasar Rp10.000.
4 Deviasi nilai tukar harian dari 22 days moving average (1 bulan kalender).

16,0 14,0 12,0 10,0 8,0 6,0 4,0 2,0 0,0
Des. Jan. Feb. Mar. Apr. Mei Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov. Des.

Volatilitas Nilai Tukar Rp

Rata-rata Volatilitas

2000

2001

Grafik 3.4 Volatilitas Nilai Tukar Rupiah

Pada fase pertama, tekanan depresiasi terhadap nilai tukar rupiah terutama dipengaruhi oleh sentimen pasar, yang dipicu oleh kekhawatiran terhadap ketidakpastian kondisi politik dan keamanan yang mengiringi proses impeachment —melalui memorandum I dan II— terhadap kepemimpinan nasional saat itu. Situasi ketidakpastian tersebut menimbulkan ekspektasi terhadap melemahnya nilai tukar rupiah ke depan yang pada gilirannya mendorong terjadinya aksi beli (panic buying) sehingga rupiah melemah cukup tajam. Menghadapi gejolak nilai tukar rupiah tersebut, Bank Indonesia berupaya

58

Nilai Tukar

melakukan penyerapan kelebihan likuiditas di pasar keuangan melalui Operasi Pasar Terbuka (OPT) yang dibantu melalui langkah strerilisasi di pasar valuta asing. Kebijakan ini terus dilakukan sepanjang tahun laporan secara konsisten dan terukur. Selain itu, pada 12 Januari 2001 Bank Indonesia menerbitkan PBI No. 3/3/2001 yang dimaksudkan untuk membatasi transaksi rupiah oleh bukan penduduk yang berpotensi digunakan untuk berspekulasi (Boks : Pembatasan Terhadap Transaksi Rupiah dan Pemberian Kredit Valuta Asing oleh Bank). Pada fase ke dua, situasi politik di dalam negeri semakin diwarnai oleh merosotnya kepercayaan terhadap kepemimpinan nasional. Hal ini pada gilirannya semakin memperkuat dukungan terhadap perlunya digelar Sidang Istimewa MPR yang diharapkan dapat melahirkan kepemimpinan nasional baru. Menyikapi situasi politik di Indonesia yang semakin rawan, pada 21 Mei 2001 lembaga

mimpinan nasional baru. Kondisi ini diharapkan menjadi landasan baru bagi Indonesia untuk keluar dari krisis ekonomi yang berkepanjangan, sehingga mampu mendorong apresiasi nilai tukar rupiah yang sangat tajam. Dalam kurun waktu tersebut, dukungan dari dalam negeri maupun dari luar negeri terhadap pemerintahan baru terus mengalir sehingga nilai tukar rupiah menguat lebih lanjut mencapai nilai tertinggi Rp8.485 per dolar pada 14 Agustus 2001. Pada fase keempat, rupiah kembali bergerak melemah hingga menembus batas pertahanan psikologis pasar Rp10.000 (clear break) dan berlanjut hingga menjelang akhir 2001. Tekanan depresiasi tersebut terutama diawali oleh meningkatnya kembali aksi beli valuta asing oleh korporasi dengan memanfaatkan level nilai tukar rupiah yang rendah akibat apresiasi yang sangat tajam pasca pengalihan kepemimpinan nasional. Dalam saat yang sama, kepercayaan pasar mulai merosot kembali sebagai akibat meningkatnya ketidakpastian mengenai penanganan beberapa program restrukturisasi ekonomi. Meskipun situasi politik cenderung

pemeringkat internasional, Standard & Poor’s (S&P), menurunkan peringkat utang (sovereign credit rating) Indonesia dari B- menjadi CCC+. Selanjutnya, rapat paripurna DPR pada 30 Mei 2001 akhirnya meminta secara resmi kepada MPR untuk menggelar Sidang Istimewa. Kendati demikian, dengan nilai tukar yang sangat undervalued, dalam situasi seperti ini pelaku pasar tidak banyak mengambil posisi karena bersikap menunggu (wait and see) perkembangan politik menjelang Sidang Istimewa MPR sehingga pergerakan nilai tukar rupiah relatif stabil (sideways) dalam kisaran Rp11.200 hingga menjelang Sidang Istimewa MPR. Pada fase ketiga, optimisme terhadap membaiknya situasi politik meningkat seiring dengan berhasilnya Sidang Istimewa MPR memilih kepe-

membaik, pelaku pasar belum melihat terdapatnya sinyal perbaikan pada sisi fundamental ekonomi. Kepercayaan pasar terutama dipengaruhi oleh persepsi terhadap besarnya utang pemerintah baik utang dalam negeri maupun luar negeri yang dipandang akan menjadi ancaman yang sangat berat dalam memelihara kesinambungan fiskal. Beratnya kondisi keuangan pemerintah tersebut dikonfirmasi oleh S&P pada 2 November 2001 dengan menurunkan kembali peringkat utang Indonesia dari CCC+ menjadi CCC dengan negative outlook, yang berarti bahwa peringkat utang Indone-

59

Nilai Tukar

sia tersebut masih berpeluang untuk diturunkan lagi di masa yang akan datang. Rencana pemerintah yang akan meminta penjadwalan utang luar negeri melalui forum Paris Club III menjadi alasan utama bagi S&P dalam menurunkan peringkat utang Indonesia tersebut. Bahkan S&P mengancam akan kembali menurunkan peringkat utang Indonesia ketingkat terendah, yaitu Selected Default (SD), jika bunga Yankee Bonds Indonesia sampai harus dijadwalkan sebagai konsekuensi atas penerapan azas comparibility of treatment dalam Paris Club. Kepercayaan pasar semakin memburuk karena keterlambatan pencairan pinjaman dari IMF sebesar $400 juta yang baru dicairkan pada Agustus 2001 setelah tertunda sejak Desember 2000. Sementara itu, krisis politik internasional sebagai dampak peristiwa serangan teroris di Amerika Serikat pada 11 September 2001 selanjutnya berimbas ke dalam negeri berupa reaksi keras yang menimbulkan situasi yang tidak aman bagi investor asing di dalam negeri. Berbagai peristiwa tersebut dipandang semakin memperburuk country risk Indo-

nesia sebagaimana dikonfirmasi oleh Political & Economic Risk Consultancy (PERC) yang berbasis di Hong Kong. Berdasarkan hasil kajian PERC, country risk Indonesia meningkat dari 7,3 menjadi 7,6. Namun, menjelang penutupan akhir tahun, nilai tukar rupiah sedikit menguat kembali sehubungan dengan terdapatnya pasokan valuta asing dari BPPN, serta meningkatnya kebutuhan rupiah dalam rangka menghadapi beberapa hari besar yang hampir berlangsung secara bersamaan pada Desember 2001. Meningkatnya country risk Indonesia juga ditandai dengan melonjaknya rata-rata tingkat premi swap untuk semua tenor dan naiknya tingkat premi risiko secara tajam (Grafik 3.5 dan 3.6). Rata-rata tingkat premi swap untuk tenor overnight, 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, dan 12 bulan melonjak masing-masing dari 3,86%, 4,97%, 5,02%, 4,89%, dan 4,95% pada 2000 menjadi 11,98%, 13,88%, 14,36%, 14,20%, dan 13,85% pada 2001. Dalam periode yang sama, ratarata tingkat premi risiko naik dari 603 bp menjadi 712 bp (Grafik 3.1).

Persen 18,0 16,0 14,0 12,0 10,0 8,0 6,0 3 Bulan 4,0 Des. Jan. Feb . Mar. Apr. 2000 Mei Jun. Jul. 2001 Ags. Sep. Okt. Nov. Des. O/N 6 Bulan 1 Bulan 12 Bulan

Persen 18,00 17,00 16,00 15,00 14,00 13,00 12,00 11,00 10,00 9,00 8,00 O/N 1 Bulan 3 Bulan 6 Bulan 12 Bulan Maret Juni September Desember

Grafik 3.5 Perkembangan Premi Swap

Grafik 3.6 Kurva Yield Swap

60

Nilai Tukar

Persen

Indeks 125 IDR 120 115 110 105 100 95 90 85 EUR KRW PHP THB JPY 1 Januari 2001 = 100

1,0 0,5 0,0 -0,5 -1,0 -1,5 -2,0 -2,5 -3,0
Des. Jan. Feb. Mar. Apr. 2000 Mei Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov. Des. 2001

1/1 15/1 29/1 12/2 26/2 12/3 26/3 9/4 23/4 3/5 13/5 23/5 4/6 18/6 2/7 16/7 30/7 13/8 27/8 10/9 24/9 8/10 22/10 5/11 19/11 3/12 17/12 31/12

2001

Grafik 3.7 Covered Interest Rate Parity

Grafik 3.8 Perkembangan Indeks Nilai Tukar Beberapa Mata Uang

Sejalan dengan melonjaknya premi swap, covered interest rate parity5 (berjangka waktu 1 bulan) juga memburuk. Hampir sepanjang periode laporan, covered interest rate parity terus-menerus mencatat angka negatif. Secara point to point, angka covered interest rate parity memburuk dari 0,55% pada akhir 2000 menjadi –0,83% pada akhir 2001 (Grafik 3.7). Walaupun perbedaan suku bunga (interest rate differential) membaik akibat naiknya suku bunga nominal dalam negeri dan turunnya suku bunga luar negeri, namun besarnya peningkatan premi swap telah menyebabkan covered interest rate selalu negatif. Hal ini merefleksikan masih tingginya faktor risiko, yang tidak dapat ditutup oleh perbedaan suku bunga nominal, sehingga menurunkan minat investor untuk memegang aset berdenominasi rupiah. Kecenderungan melemahnya mata uang regional dan mata uang kuat dunia lainnya terhadap dolar sepanjang tahun laporan juga menimbulkan

dampak penularan (contagion effect) sehingga nilai tukar rupiah turut tertekan. Melambatnya kinerja ekonomi Amerika Serikat pada khususnya dan dunia pada umumnya telah memukul kinerja sektor eksternal sejumlah negara Asia karena menurunnya permintaan terhadap produk ekspor, yang pada gilirannya turut memberi tekanan terhadap mata uang domestik di negara-negara tersebut seperti tercermin dari perkembangan indeks nilai tukar nominal beberapa negara Asia (Grafik 3.8).

PENAWARAN DAN PERMINTAAN VALUTA ASING
Berbagai faktor yang mempengaruhi perkembangan nilai tukar rupiah sepanjang 2001 sebagaimana dikemukakan di atas, juga dapat dilihat dari kondisi keseimbangan permintaan dan penawaran di pasar valuta asing. Kecenderungan depresiasi nilai tukar rupiah yang disertai dengan tingkat volatilitas yang tinggi merupakan cermin dari besarnya tingkat permintaan valuta asing yang tidak diimbangi dengan

5

Covered interest rate parity = suku bunga dalam negeri (JIBOR 1 bulan) – suku bunga luar negeri (SIBOR 1 bulan) – premi swap (1 bulan).

pasokan yang memadai di pasar valuta asing. Terjadinya kesenjangan tersebut pada gilirannya

61

Nilai Tukar

menyebabkan nilai tukar rupiah sangat peka terhadap terjadinya perubahan sentimen pasar. Dari sisi penawaran, potensi pasokan di pasar valuta asing dalam negeri dapat bersumber dari devisa hasil ekspor, aliran masuk modal asing baik berupa investasi asing langsung (FDI) maupun investasi portofolio, penarikan pinjaman luar negeri, serta sterilisasi valuta asing oleh bank sentral. Sepanjang 2001, sebagian besar sumber penghasil devisa tersebut masih menunjukkan berbagai keterbatasan dan hambatan dalam peranannya untuk meningkatkan pasokan valuta asing ke pasar. Keterbatasan pasokan tersebut terutama disebabkan oleh belum kondusifnya situasi di dalam negeri, kecenderungan memburuknya kinerja ekonomi dunia, serta beberapa permasalahan struktural yang menghambat aliran masuk devisa ke dalam negeri. Di pihak lain, peranan bank sentral sebagai pemasok valuta asing di pasar sangat tergantung pada kecukupan cadangan devisa. Secara fundamental, tekanan depresiasi terhadap rupiah merupakan refleksi dari memburuknya kinerja sektor eksternal sebagaimana tercermin dari merosotnya surplus transaksi berjalan dan membengkaknya defisit lalu lintas modal (Lihat uraian lebih lengkap dalam Bab 6 Neraca Pembayaran). Surplus transaksi berjalan dalam tahun laporan hanya mencapai $5,0 miliar atau 3,4% dari PDB, jauh di bawah surplus tahun sebelumnya sebesar $8,0 miliar atau 5,3% dari PDB. Merosotnya surplus transaksi berjalan tersebut terutama disebabkan oleh turunnya kinerja ekspor dan masih tingginya defisit neraca jasa. Sepanjang 2001, kinerja ekspor Indonesia menunjukkan kecenderungan yang terus menurun sejalan dengan lesunya kondisi perekonomian dunia yang diperparah oleh tragedi

WTC di Amerika Serikat. Secara keseluruhan, nilai ekspor pada 2001 tercatat sebesar $58,7 miliar, lebih rendah dari nilai ekspor 2000 yang mencapai $65,4 miliar. Sementara itu, defisit neraca jasa didominasi oleh pembayaran bunga utang luar negeri. Surplus transaksi berjalan tersebut secara riil (cash basis) bahkan dapat menjadi lebih kecil apabila ternyata tidak seluruh devisa hasil ekspor (DHE) mengalir masuk ke dalam negeri. Penurunan kinerja ekspor 2001 lebih dipengaruhi oleh lesunya perekonomian dunia, dibandingkan dengan stimulus yang bersumber dari terdepresiasinya nilai tukar rupiah baik secara nominal maupun riil. Kecenderungan terdepresiasinya nilai tukar rupiah secara riil terutama sebagai akibat dari besarnya tingkat depresiasi nominal nilai tukar rupiah yang melebihi pengaruh besarnya kenaikan inflasi di dalam negeri. Depresiasi nilai tukar rupiah secara riil terlihat dari menurunnya rata-rata indeks real effective exchange rate (REER) dari 69,6 dalam tahun 2000 menjadi 67,8 dalam tahun 2001 (Grafik 3.9). Sementara itu, rata-rata indeks bilateral real exchange rate (BRER) juga menunjukkan penurunan dari 54,8 dalam tahun 2000 menjadi 49,3 pada 2001, dan masih jauh di bawah indeks BRER sejumlah negara Asia seperti Cina, Korea Selatan, Singapura, Malaysia, dan Thailand meskipun mata uang negara-negara tersebut secara riil juga mengalami depresiasi sepanjang 2001 (Grafik 3.10). Dalam periode yang sama, defisit lalu lintas modal diperkirakan mencapai $8,9 miliar, meningkat dari $6,8 miliar dalam periode sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh defisit lalu lintas modal pemerintah setelah dalam periode sebelumnya mencatat surplus,
. sementara defisit lalu lintas modal swasta masih

62

Nilai Tukar

Indeks 90 85 80 75

Indeks 95 85 RRC 75 65 Singapura

70

Thailand 55 Korea Selatan Malaysia Indonesia 35
1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1999 2000 2001

65 60 55

45

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 2001 2000

Grafik 3.9 Real Effective Exchange Rate

Grafik 3.10 Bilateral Real Exchange Rate

tinggi. Masih tingginya defisit lalu lintas modal swasta selain disebabkan oleh masih terhambatnya aliran masuk devisa, juga disebabkan oleh masih terus berlangsungnya aliran modal keluar. Terhambatnya aliran masuk devisa baik berupa penanaman modal asing langsung (FDI) maupun surat-surat berharga di pasar uang dan modal (portfolio), terutama karena belum kondusifnya situasi di dalam negeri. Hal ini berkaitan dengan masih lemahnya jaminan keamanan berusaha dan kepastian hukum serta berbagai ketidakpastian situasi sosial politik. Sementara itu, aliran modal keluar terutama berkaitan dengan masih besarnya pembayaran utang luar negeri swasta, serta masih tingginya penempatan portofolio valuta asing di pasar uang offshore. Peningkatan penempatan portofolio valuta asing di pasar uang offshore terutama sebagai akibat dari masih tingginya risiko penempatan valuta asing di dalam negeri, baik dalam bentuk penyaluran kredit valuta asing maupun di PUAB valuta asing di dalam negeri. Selanjutnya, masih tingginya risiko penempatan dana di PUAB valuta asing dalam negeri pada

gilirannya mengakibatkan likuiditas di PUAB valuta asing dalam negeri semakin menurun sehingga turut membatasi ketersediaan likuiditas valuta asing di pasar valuta asing dalam negeri. Secara keseluruhan, neraca pembayaran Indonesia dalam tahun 2001 diperkirakan mengalami defisit $1,4 miliar setelah selama tiga tahun terakhir mencatat surplus. Dari sisi fundamental, gambaran sektor eksternal yang kurang menggembirakan tersebut mencerminkan terbatasnya sumber devisa yang menjadi salah satu penyebab kelangkaan pasokan valuta asing di pasar keuangan dalam negeri. Dari sisi permintaan, situasinya sangat kontras dengan sisi penawaran di pasar valuta asing dalam negeri. Di tengah-tengah kelangkaan pasokan valuta asing di pasar, permintaan valuta asing masih cukup besar dan cenderung meningkat baik yang didasari oleh permintaan murni (genuine demand), maupun motif spekulasi (speculative demand) dan tindakan penyelamatan aset (flight to quality). Hal ini pada umumnya dipicu oleh memburuknya sentimen pasar akibat dari meningkatnya berbagai

63

Nilai Tukar

faktor ketidakpastian dan risiko. Kendati demikian, dalam prakteknya masih sulit untuk membedakan realisasi pembelian valuta asing yang dilatarbelakangi ketiga motif tersebut mengingat seringkali terjadi secara simultan. Namun dari ketiga motif permintaan tersebut, jenis transaksi yang ditengarai paling besar dan relatif terukur menurut penggunaannya adalah permintaan valuta asing untuk pembiayaan impor dan pembayaran cicilan pokok dan bunga utang luar negeri. Permintaan valuta asing untuk kebutuhan impor migas dan nonmigas ditengarai masih tetap tinggi meskipun mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya. Selain untuk membiayai impor, permintaan valuta asing juga ditengarai banyak digunakan dalam rangka pelunasan cicilan pokok dan bunga utang luar negeri khususnya sektor swasta. Pembayaran utang luar negeri tersebut berpotensi menjadi sumber permintaan valuta asing di pasar. Besarnya pembayaran utang luar negeri tersebut juga tercermin dari menurunnya posisi utang luar negeri dalam tahun laporan (lihat uraian di Bab 6 Neraca Pembayaran). Dampak yang ditimbulkan oleh realisasi pembelian valuta asing oleh korporasi baik untuk kebutuhan impor maupun pembayaran cicilan utang luar negeri swasta di tengah-tengah kelangkaan pasokan devisa cenderung menimbulkan tekanan depresiasi terhadap nilai tukar rupiah. Dalam prakteknya, timing dari realisasi pembelian valuta asing oleh korporasi tersebut tidak selalu sejalan dengan jadwal kebutuhan valuta asing untuk kegiatan impor di masa depan atau jadwal pelunasan utang luar negeri, namun pada umumnya lebih didasarkan pada ekspektasi terhadap arah perkembangan nilai

tukar ke depan. Ekspektasi terhadap kemungkinan melemahnya nilai tukar rupiah yang dipicu oleh sentimen negatif sering mendorong sektor korporasi merealisasikan pembelian valuta asing lebih dini di pasar spot, daripada melakukan transaksi lindung nilai sebagai sarana untuk melindungi risiko fluktuasi nilai tukar. Kondisi tersebut disebabkan oleh kurang berkembangnya pasar lindung nilai/ hedging (derivative market) terutama untuk yang berjangka waktu menengah-panjang. Selain itu, realisasi permintaan valuta asing oleh korporasi — terutama yang tergolong besar (big players)— seringkali menjadi pemicu transaksi bagi pelaku pasar lainnya (herd behaviour) terutama yang bermotif spekulasi. Sementara itu, permintaan valuta asing yang murni dilatarbelakangi oleh motif spekulasi masih sulit untuk dapat diukur besarannya. Namun, secara umum permintaan yang bermotif spekulasi ini seringkali muncul bertepatan dengan memburuknya sentimen pasar sebagai reaksi terhadap meningkatnya ketidakpastian yang dipicu baik oleh faktor ekonomi maupun nonekonomi.

TRANSAKSI DEVISA ANTARBANK
Meningkatnya volatilitas nilai tukar rupiah sejalan dengan terjadinya perubahan pola transaksi di pasar valuta asing dalam negeri. Secara kumulatif, transaksi devisa antarbank6 menurun 4,0% dari $298,0 miliar tahun 2000 menjadi $286,1 miliar tahun 2001 (Tabel 3.1). Dari jenis transaksinya, transaksi swap masih mendominasi komposisi transaksi devisa antarbank sepanjang 2001 (Grafik 3.11). Namun, dalam periode

6

Khusus untuk transaksi dolar-rupiah.

64

Nilai Tukar

Tabel 3.1 Transaksi Devisa Antarbank Khusus Dolar-Rupiah 2000 Juta Dolar Spot Forward Swap Total Volume 109.045,6 1.385,9 187.596,8 298.028,3 128.372,6 4.533,0 153.225,1 286.130,7 2001

yang tercermin dari tingginya tingkat premi swap. Kelangkaan instrumen lindung nilai tersebut terutama disebabkan oleh kurang berkembangnya pasar derivatif di pasar keuangan domestik. Dari total volume transaksi devisa antarbank (dolar-rupiah) sebesar $286,1 miliar dalam periode laporan, sebesar $160,3 miliar merupakan pembelian dolar dan sebesar $125,8 miliar merupakan penjualan dolar sehingga secara keseluruhan transaksi devisa

Volume Transaksi

yang sama, transaksi swap menurun 18,3% dari $187,6 miliar menjadi $153,2 miliar sedangkan transaksi spot justru meningkat 17,8% dari $109,0 miliar menjadi $128,4 miliar. Dilihat dari pelaku pasarnya, bank-bank asing masih mendominasi transaksi devisa antarbank dengan volume transaksi yang cukup besar. Pergeseran komposisi transaksi dari pasar swap ke pasar spot menunjukkan perubahan pola perilaku pasar menjadi lebih bersifat spekulatif. Hal ini ditengarai karena semakin langkanya penawaran fasilitas swap khususnya yang berjangka menengahpanjang (3 bulan ke atas). Di pihak lain, ongkos untuk melakukan lindung nilai di pasar swap semakin mahal

antarbank mencatat posisi total net overbought sebesar $34,5 miliar. Dengan kata lain, sepanjang periode laporan perbankan cenderung berada dalam posisi long dollar. Posisi net overbought tersebut terutama bersumber dari transaksi dengan counterpart di luar negeri yang mencatat net overbought, sedangkan transaksi dengan counterpart di dalam negeri justru mencatat net oversold. Dilihat dari jenis transaksinya, posisi net overbought sebagian besar berasal dari transaksi swap. Perkembangan volume transaksi devisa antarbank juga menunjukkan pola yang relatif searah dengan volatilitas nilai tukar rupiah (Grafik 3.12). Volume transaksi terbesar terjadi pada Agustus 2001

Juta dolar 800 Rata-rata Harian Volume Transaksi Spot Dolar-Rupiah 700 600 500 Rata-rata Harian Volatilitas Kurs Rupiah

Persen 10 9 8 7

Swap 53% Forward 2%

Spot 45%

6 5 4 3

400 300 200 100 0 Jan. Feb. Mar. Apr. Mei

2 1 0 Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov. Des. 2001

Grafik 3.11 Komposisi Volume Transaksi Devisa

Grafik 3.12 Volume Transaksi Spot dan Volatilitas Nilai Tukar

65

Nilai Tukar

yang secara rata-rata harian mencapai $668 juta. Besarnya volume transaksi dalam Agustus tersebut diiringi dengan tingginya tingkat volatilitas nilai tukar rupiah yang secara rata-rata harian mencapai 8,0%, tertinggi sepanjang periode laporan.

buruknya sentimen karena gejolak sosial politik—, langkah sterilisasi ini berhasil menahan nilai tukar rupiah agar tidak terdepresiasi lebih tajam lagi. Selanjutnya, kebijakan sterilisasi ini terus dijalankan secara konsisten dan terukur, dalam arti kebijakan tersebut dilakukan sepanjang tahun

KEBIJAKAN
Menyikapi tingginya gejolak nilai tukar rupiah sebagaimana disampaikan sebelumnya, sepanjang tahun laporan Bank Indonesia telah menempuh beberapa langkah yang diperlukan melalui kebijakan moneter dengan mengoptimalkan seluruh instrumen yang tersedia. Upaya tersebut juga diperkuat dengan penyempurnaan beberapa peraturan, pengawasan terhadap sejumlah bank pelaku terbesar di pasar valuta asing, serta monitoring terhadap transaksi devisa. Disadari bahwa, berbagai langkah yang ditempuh Bank Indonesia tersebut belum sepenuhnya memberikan hasil yang optimal karena besarnya pengaruh faktor nonekonomi, serta kompleksitas permasalahan ekonomi makro dan mikro yang mempengaruhi nilai tukar (yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali Bank Indonesia). Dalam rangka penyerapan kelebihan likuiditas rupiah yang berpotensi dapat memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah, sepanjang periode laporan Bank Indonesia melakukan kebijakan moneter melalui Operasi Pasar Terbuka (OPT), yang dibantu dengan sterilisasi valuta asing di pasar. Langkah sterilisasi valuta asing ini juga bertujuan untuk menambah likuiditas valuta asing di pasar dalam negeri yang ditengarai mengalami kelangkaan pasokan. Di tengah-tengah derasnya permintaan

laporan dan pelaksanaannya disesuaikan dengan kondisi pasar dan kecukupan cadangan devisa yang harus dipelihara Bank Indonesia. Konsistensi pelaksanaan kebijakan ini sangat penting dalam upaya memberikan sinyal kepada publik terhadap komitmen Bank Indonesia dalam memelihara kestabilan nilai tukar. Selain itu, Bank Indonesia juga telah menerbitkan PBI No.3/3/2001 yang mengatur ketentuan pembatasan transaksi rupiah oleh bukan penduduk pada 12 Januari 2001.7 Kebijakan ini dilatarbelakangi oleh perilaku bukan penduduk yang cenderung menggunakan rupiah sebagai alat spekulasi sehingga sering menimbulkan gejolak nilai tukar rupiah. Dalam pelaksanaannya, kebijakan ini terbukti mampu membatasi ruang gerak bukan penduduk untuk bertransaksi rupiah yang tidak didasarkan pada kegiatan ekonomi riil. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, Bank Indonesia tetap melakukan pengawasan terhadap bank-bank yang aktif di pasar valuta asing baik secara langsung maupun tidak langsung. Pengawasan secara langsung terhadap bank-bank —sebagai pelaku utama di pasar valuta asing— sangat penting guna memastikan kepatuhan terhadap peraturan kehati-hatian (prudential regulation) termasuk kehatihatian dalam transaksi devisa. Sementara itu,
7 Lihat Boks: Pembatasan Terhadap Transaksi Rupiah dan Pemberian Kredit Valuta Asing oleh Bank.

valuta asing —yang seringkali dipicu oleh mem-

66

Nilai Tukar

pengawasan secara tidak langsung terutama dilakukan dengan melakukan pemantauan terhadap laporan keuangan yang disampaikan secara rutin oleh bank-bank devisa serta pemantauan terhadap transaksi valuta asing melalui data Pusat Informasi Pasar Uang (PIPU). Berbagai langkah kebijakan tersebut akan lebih efektif apabila memperoleh dukungan dari kondisi fundamental ekonomi makro dan kondisi sosial politik yang kondusif. Kondisi fundamental ekonomi dan sosial politik yang kondusif merupakan modal dasar baik dalam membangun kepercayaan pasar maupun sebagai bagian yang sangat penting dalam mengurangi kesenjangan permintaan dan penawaran di pasar valuta asing. Meskipun secara keseluruhan berjalan lamban, tercatat beberapa kemajuan dalam restrukturisasi ekonomi terutama restrukturisasi utang pemerintah dan beberapa program restrukturisasi dalam kerangka kesepakatan dengan IMF. Ke depan, kebijakan moneter akan tetap dilaksanakan secara konsisten, terarah, dan terukur agar kestabilan harga tetap terjaga serta dapat mencegah timbulnya potensi yang dapat memberi tekanan terhadap nilai tukar. Sementara itu, pengawasan terhadap transaksi devisa bank-bank, baik secara langsung maupun tidak langsung akan terus dioptimalkan. Sejalan dengan beberapa langkah yang akan ditempuh guna meyehatkan sektor perbankan, beberapa upaya akan terus ditempuh guna mem-

perbaiki struktur mikro pasar valuta asing termasuk mengurangi segmentasi pasar sehingga dapat tercipta pasar valuta asing yang likuid dan efisien. Dalam hubungan ini, guna melahirkan kebijakan yang kredibel dan realistis, berbagai penelitian dan kajian akan terus ditingkatkan. Upaya tersebut akan ditempuh antara lain melalui koordinasi dengan Pemerintah serta

komunikasi secara rutin dengan bank-bank guna mengetahui kondisi yang sesungguhnya terjadi di pasar valuta asing. Penelitian dan kajian terutama diarahkan guna mengurangi terjadinya kesenjangan permintaan dan penawaran di pasar valuta asing serta menutup beberapa kelemahan mendasar pada struktur mikro perbankan pada umumnya dan pasar valuta asing pada khususnya. Sementara itu, guna mengurangi kesenjangan permintaan dan penawaran valuta asing sekaligus membangun kepercayaan pasar, program restrukturisasi ekonomi seperti restrukturisasi utang dan korporasi, privatisasi dan divestasi, serta revitalisasi sektor dunia usaha dan perbankan, akan terus dilanjutkan. Namun demikian, seluruh upaya tersebut di atas akan lebih efektif apabila memperoleh dukungan kondisi sosial politik yang stabil dan kondusif. Selain itu, upaya-upaya yang dapat meningkatkan kepastian hukum dan keamanan berusaha merupakan bagian terpenting dalam upaya memelihara kestabilan nilai tukar rupiah.

67

Nilai Tukar

boks

Memahami Dinamika Nilai Tukar Rupiah Melalui Pendekatan Model Struktur Mikro Pasar 1
Sejak diberlakukannya sistem nilai tukar mengambang bebas pada pertengahan 1997, nilai tukar rupiah sering mengalami fluktuasi yang sangat besar. Fluktuasi nilai tukar rupiah bahkan jauh lebih besar apabila dibandingkan dengan fluktuasi nilai tukar mata uang negara-negara lain termasuk mata uang utama dunia seperti euro dan yen Jepang yang diperdagangkan secara aktif dan spekulatif dalam skala global. Tidak dapat dipungkiri bahwa sentimen negatif terhadap meningkatnya berbagai ketidakpastian di dalam negeri merupakan pemicu awal terjadinya fluktuasi nilai tukar rupiah. Namun, fluktuasi tersebut ditengarai tidak akan terjadi secara berlebihan apabila rupiah diperdagangkan dalam pasar valuta asing yang likuid dan efisien. Suatu pasar keuangan dapat dikatakan likuid dan efisien apabila setiap saat selalu tersedia harga beli dan harga jual (bid-offer spread) dengan selisih atau spread yang relatif sangat kecil --yang pada dasarnya mencerminkan ongkos bertransaksi yang efisien-- dan volume transaksi yang sangat besar dapat segera dieksekusi dengan dampak minimal terhadap fluktuasi harga. Dalam kondisi pasar yang likuid, sensitivitas nilai tukar terhadap perubahan volume transaksi valuta asing dalam jumlah yang relatif kecil tidak akan menimbulkan
MEMERLUKAN FLUKTUASI KURS YANG BESAR VOLATILITAS MENINGKAT VOLUME PERDAGANGAN (UNEXPECTED) SPREAD KURS (HARGA BELI-JUAL) MENINGKAT ONGKOS TRANSAKSI MENINGKAT KEUNTUNGAN DARI FLUKTUASI KURS > ONGKOS TRANSAKSI

perubahan nilai tukar secara berlebihan (Upper, 2000). Sebagaimana dikemukakan sebelumnya, ongkos transaksi valuta asing secara implisit tercermin dari bid-ask spread. Semakin besar spread tersebut, maka ongkos untuk bertransaksi di pasar akan semakin mahal. Di pihak lain, prinsip bisnis bagi pelaku pasar khususnya spekulator berlaku, bahwa apabila ongkos yang timbul akibat melebarnya spread meningkat, maka pelaku pasar memerlukan terjadinya perubahan nilai tukar yang besar atau terjadinya large swing untuk dapat memperoleh exchange rate gain, sehingga dengan demikian dapat diraih laba (Bagan). Terjadinya large swing nilai tukar akan semakin besar apabila informasi tidak menyebar secara merata di pasar atau terjadi asimetri informasi, yang pada umumnya dipengaruhi oleh struktur mikro pasar. Dengan demikian, terdapat keterkaitan yang

KEUNTUNGAN BERSIH PROFIL RISIKO TRADERS PROFIL RISIKO TRADERS

1

Disarikan dari, ‘Studies on Exchange Rate Dynamic Through Information Asymetric Model and Survey’ (Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter), Jakarta 2001.

Bagan 1 Keterkaitan Antara Likuiditas Pasar, Volume Transaksi, dan Volatilitas

68

Nilai Tukar

erat antara struktur mikro pasar, spread, volume transaksi, fluktuasi atau volatilitas nilai tukar. Beberapa model market microstructure menelaah keterkaitan tersebut, misalnya model “the mixture distribution hypothesis” (Tauchen and Pitt, 1993). Dengan menggunakan model ‘the mixture distribution hypothesis’ (MDH) dan series data Januari 1998 s.d. Mei 2001, diestimasi hubungan volatilitas, volume, dan spread di pasar valuta asing-rupiah Dalam model ini di lakukan dekomposisi antara volume transaksi yang dapat diperkirakan (expected volume) dan volume transaksi yang tidak terduga (unexpected volume), karena keduanya memiliki dampak yang berbeda terhadap spread (Cornell, 1978). Expected volume diestimasi dengan pendekatan ARMA (Auto Regressive Moving Average). Spread diasumsikan menjadi suatu fungsi yang menurun dari volume karena skala ekonomi dari meningkatnya volume akan meningkatkan proses perdagangan yang lebih efisien dan tingkat

1,0%, mengakibatkan volatilitas meningkat 0,3%. Tingginya sensitivitas volatilitas terhadap unexpected volume tersebut menunjukkan bahwa pasar valuta asing di Indonesia sangat dangkal. Tingkat volatilitas secara signifikan juga sangat dipengaruhi oleh spread. Peningkatan spread sebesar 1,0% mengakibatkan volatilitas meningkat 0,2%. Hasil dari estimasi ini membuktikan bahwa semakin lebar spread atau semakin tidak likuid pasar valuta asing, semakin membuat volatilitas nilai tukar semakin tinggi. Dengan semakin melebarnya spread, peserta pasar yang memiliki motif spekulatif membutuhkan perubahan atau fluktuasi nilai tukar –baik naik atau turun— yang cukup besar (large swing). Dengan demikian, dapat diperoleh keuntungan dari flluktuasi nilai tukar yang melebihi ongkos yang timbul dari spread. Perbandingan rasio spread terhadap midpoint kurs beberapa negara Asia sejak Januari 1998 - Mei 2001 memperlihatkan bahwa ongkos bertransaksi dalam perdagangan nilai tukar rupiah jauh sangat tinggi (tidak efisien) dibandingkan beberapa nilai tukar mata uang Asia lainnya seperti bath Thailand dan peso Filipina. Hal ini merupakan gambaran bahwa nilai tukar rupiah diperdagangkan dalam kondisi pasar yang tidak likuid, sehingga mudah berfluktuasi secara tajam. Besarnya spread tersebut terutama dipengaruhi oleh struktur pasar valuta asing yang tidak efisien dan tersegmentasi, serta faktor ketidakpastian yang secara persisten mempengaruhi sentimen pelaku pasar. Ketika pelaku pasar semakin tidak pasti mengenai arah perkembangan kurs, mereka akan cenderung bersikap risk averse sehingga melebarkan spread. Hal ini terlihat dari pengaruh volatilitas yang secara signifikan mempengaruhi spread. Meningkatnya volatilitas sebesar

persaingan diantara traders. Oleh karena itu, expected volume diasumsikan memiliki korelasi negatif dengan spread (Easley O’Hara, 1992). Sebaliknya, unexpected volume atau perubahan volume yang tidak terduga mencerminkan volatilitas yang bersifat contemporaneous melalui model MDH, dengan demikian diasumsikan memiliki hubungan positif dengan spread. Sementara itu, volatilitas diestimasi dengan menggunakan GARCH (General Autoregressive Conditional Heteroscedasticity) untuk mencerminkan volatilitas yang dapat diperkirakan (expected volatility). Di pasar valuta asing rupiah, perubahan unexpected volume berkorelasi positif dengan volatilitas. Peningkatan unexpected volume sebesar

69

Nilai Tukar

1,0% mengakibatkan terjadinya pelebaran spread sebesar 0,06%. Menyikapi kondisi tersebut di atas, diperlukan beberapa langkah struktural guna memperbaiki struktur mikro pasar valuta asing rupiah, sehingga dapat tercipta pasar yang likuid dan efisien. Hal ini antara lain dapat ditempuh dengan mengurangi terjadinya segmentasi pasar (sehingga harga yang terbentuk di pasar dapat mewakili seluruh kekuatan pasar), dan meningkatkan pasokan valuta asing di pasar guna meningkatkan kedalaman pasar

(market deepening). Selain itu, langkah-langkah tersebut perlu didukung dengan terciptanya kondisi yang kondusif di dalam negeri yang dapat mengurangi berbagai ketidakpastian (risiko). Berkurangnya ketidakpastian ditengarai akan turut mempengaruhi mekanisme pembentukan harga di pasar valuta asing, yang dapat tercermin dalam bentuk penyempitan spread. Hal ini pada gilirannya akan turut mendorong terciptanya pasar valuta asing yang efisien sehingga gejolak nilai tukar yang berlebihan dapat dikurangi.

70

Nilai Tukar

boks

Pembatasan Terhadap Transaksi Rupiah dan Pemberian Kredit Valuta Asing oleh Bank
Sebagaimana dimaklumi, sejak triwulan IV1997 nilai tukar rupiah terus mengalami tekanan depresiasi, yang disertai dengan fluktuasi yang tinggi. Dari data yang ada mengindikasikan bahwa tingginya tekanan terhadap nilai tukar rupiah tersebut antara lain karena rupiah banyak digunakan oleh bukan penduduk (nonresiden) di pasar uang luar negeri (offshore market) untuk tujuan spekulasi dengan memanfaatkan fluktuasi nilai tukar rupiah. Hal tersebut tercermin dari terjadinya peningkatan saldo rekening vostro rupiah milik nonresiden di bank-bank domestik sejalan dengan meningkatnya tekanan depresiasi dan tingginya volatilitas nilai tukar rupiah (Grafik 1 dan 2). Faktor lain yang juga menyumbang terhadap volatilitas nilai tukar rupiah adalah perkembangan faktor-faktor nonfundamental ekonomi yang kurang kondusif terhadap kegiatan investasi, sehingga menghambat aliran modal dari luar negeri. Dalam rangka mengurangi tekanan terhadap rupiah tersebut, pada 12 Januari 2001, Bank Indonesia menerbitkan PBI No. 3/3/2001 yang mengatur pembatasan transaksi rupiah dan pemberian kredit valuta asing oleh bank. Pada dasarnya, ketentuan tersebut mengatur transaksi yang dilakukan perbankan di Indonesia dengan mencakup 2 hal, yaitu: 1. Pelarangan transfer rupiah oleh perbankan Indonesia kepada nonresiden, khususnya untuk transfer rupiah tanpa didasari transaksi riil yang mendukung kegiatan ekonomi Indonesia. 2. Pembatasan terhadap transaksi derivatif yang tidak didasari oleh kegiatan ekonomi riil atau non-

Juta Rp 1.500.000 1.000.000

Juta Rp 800.000 700.000 600.000

500.000

500.000 400.000

300.000 200.000 100.000

(500.000)

(1.000.000) Des 2000 Sep 2001

– Des 2000 Sep 2001

Grafik 1 Rata-Rata Harian Mutasi Rekening Vostro

Grafik 2 Perkembangan Saldo Rekening Vostro

71

Nilai Tukar

underlying transaction, yakni dengan menurunkan batas maksimum transaksi derivatif penjualan valuta asing dari bank domestik kepada nonresiden dari $5 juta menjadi $3 juta. Tujuan utama diberlakukannya peraturan tersebut adalah untuk mengurangi internasionalisasi rupiah, dengan membatasi aliran rupiah ke luar negeri. Dengan diterbitkannya ketentuan PBI No. 3/ 3/2001 ini diharapkan pasokan rupiah dari residen kepada nonresiden yang berpotensi digunakan untuk berspekulasi dapat dibatasi, sehingga dapat mengurangi gejolak nilai tukar rupiah yang berlebihan. Implikasi pemberlakuan PBI No. 3/3/2001 terhadap pasar valuta asing-rupiah dan pergerakan nilai tukar rupiah adalah sebagai berikut : 1. Berkurangnya secara drastis aktivitas transaksi peserta pasar luar negeri (nonresiden) yang tidak didasari transaksi riil, sebagaimana tercermin dari penurunan saldo harian rekening vostro dari Rp531,6 miliar sebelum PBI diterbitkan menjadi sekitar Rp88,6 miliar setelah PBI diterbitkan. 2. Beralihnya sebagian besar transaksi yang semula dilakukan di pasar valuta asing-rupiah luar negeri ke pasar dalam negeri, seperti tercermin dari
Juta $ 1.200 1.100 1.000 900 800 700 600 500 400 300 200 Des 2000 Des 2001 swap/forward spot

peningkatan transaksi swap dan forward yang sebagian besar berasal dari bank-bank asing (Grafik 3). Bersamaan dengan itu, transaksi spot yang dilakukan bank pemerintah dan lokal juga mengalami peningkatan. Rata-rata harian transaksi spot meningkat dari $438 juta (sebelum PBI) menjadi $511 juta (sesudah PBI). 3. Beralihnya transaksi valuta asing-rupiah yang semula banyak dilakukan di perbankan luar negeri menjadi di perbankan dalam negeri, sehingga menyebabkan kesempatan untuk melakukan transaksi spekulasi oleh pihak nonresiden dapat diminimalkan. Hal tersebut sejalan dengan peraturan kehati-hatian (prudensial) Bank Indonesia yang harus diterapkan perbankan, seperti ketentuan Posisi Devisa Neto (PDN), monitoring pasar valuta asing-rupiah melalui data Pusat Informasi Pasar Uang (PIPU), serta Lalu Lintas Devisa (LLD), maupun ketentuan lainnya. 4. Rata-rata volatilitas rupiah pasca diberlakukannya PBI tersebut memang masih tinggi, namun tingginya volatilitas tersebut terjadi karena dua peristiwa yang dipicu oleh perubahan situasi politik. Tingginya volatilitas yang pertama terutama
Volatilitas (%) 14 12 10 8 6 4 2 0
1/1 11/1 21/1 31/1 10/2 20/2 7/3 21/3 5/4 19/4 3/5 17/5 31/5 14/6 28/6 13/7 27/7 10/8 24/8 7/9 21/9 5/10 19/10 2/11 16/1130/1110/1220/12 30/12

Rupiah 12.500 12.000 Volatilitas Harian 11.500 11.000 Rata-Rata Volatilitas Bulanan 10.500 10.000 9.500 9.000 8.500 8.000 2001

Rupiah

Grafik 3 Rata-Rata Harian Transaksi Dolar-Rupiah

Grafik 4 Perkembangan Volatilitas Kurs Rp/$

72

Nilai Tukar

terjadi sebagai akibat dari depresiasi nilai tukar rupiah yang tajam ketika suhu politik memanas menjelang pengalihan kepemimpinan nasional. Sementara itu, tingginya volatilitas yang berikutnya terjadi ketika nilai tukar rupiah menguat secara tajam pasca pengalihan kepemimpinan nasional pada pertengahan 2001 (Grafik 4). Dalam kenyataannya, volatilitas nilai tukar rupiah di luar kedua peristiwa tersebut cenderung lebih rendah dibandingkan tahun 2000 (sebelum PBI), dimana sepanjang 2000 nilai tukar rupiah terdepresiasi secara persisten tanpa ada koreksi apresiasi yang signifikan.

Secara keseluruhan, peraturan PBI No. 3/3/ 2001 telah mampu mengurangi transaksi rupiah yang dilakukan oleh pihak nonresiden. Namun, gejolak nilai tukar rupiah yang terjadi dalam tahun 2001 tidak dapat dihindari karena bersamaan dengan tingginya faktor ketidakpastian kondisi sosial, politik, dan keamanan di dalam negeri. Upaya penyempurnaan ketentuan tersebut perlu terus dilakukan. Dengan demikian, sasaran untuk mengurangi potensi sumber spekulasi dari pihak nonresiden dapat dicapai tanpa menghambat aliran dana luar negeri yang mendorong investasi di dalam negeri.

73

Inflasi

bab 4 INFLASI

74

Inflasi

bab 4

INFLASI

P

ada awal 2001, Bank Indonesia memperkirakan kondisi ekonomi dan moneter secara keseluruhan

adanya keterbatasan produksi tanaman bahan makanan. Di sisi lain, kondisi permintaan agregat belum memberikan tekanan inflasi yang berarti. Bank Indonesia telah menempuh berbagai upaya untuk mencapai sasaran inflasi, yakni dengan mengoptimalkan seluruh instrumen moneter yang tersedia dan dengan mengeluarkan instrumen regulasi baru di bidang nilai tukar dan devisa. Untuk meredam pengaruh melemahnya nilai tukar terhadap inflasi serta untuk mencapai sasaran uang primer yang ditetapkan di awal tahun, Bank Indonesia berupaya menyerap kelebihan likuiditas melalui instrumen Operasi Pasar Terbuka. Selain itu, guna membantu penyerapan likuiditas, Bank Indonesia secara intensif melakukan sterilisasi valuta asing. Upaya-upaya tersebut didukung pula oleh kebijakan pembatasan transaksi rupiah oleh bukan penduduk. Sementara itu, guna mengurangi terbentuknya ekspektasi inflasi yang tinggi, Bank Indonesia menetapkan sasaran inflasi yang rendah pada awal tahun. Namun, berbagai upaya tersebut belum dapat secara maksimal mengurangi tekanan depresiasi dan fluktuasi nilai tukar yang terjadi mengingat sumber tekanan tersebut banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan oleh Bank Indonesia. Faktor-faktor tersebut antara lain masih tingginya permintaan valuta asing yang tidak diimbangi dengan ketersediaan pasokan yang memadai di pasar domestik, sentimen negatif pelaku pasar terhadap kelemahan imple-

pada 2001 akan semakin membaik. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan meningkat mencapai 4,5%– 5,5%, sementara nilai tukar rupiah diperkirakan menguat mencapai rata-rata Rp7.750–Rp8.250 per dolar. Berdasarkan asumsi indikator-indikator ekonomi tersebut, Bank Indonesia menetapkan sasaran inflasi indeks harga konsumen (IHK) di luar dampak kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan sebesar 4,0%–6,0%. Sementara itu, dampak kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan diperkirakan dapat menimbulkan tambahan inflasi sebesar 2,0%–2,5% di atas sasaran tersebut. Secara keseluruhan, tekanan inflasi pada 2001 diperkirakan berasal dari dampak kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan, meningkatnya sisi permintaan agregat, dan ekspektasi inflasi masyarakat yang terkait dengan dampak kebijakan pemerintah tersebut. Namun, dalam perkembangannya pertumbuhan ekonomi dan pergerakan nilai tukar pada 2001 tidak sesuai dengan yang diasumsikan semula dan tekanan inflasi lebih besar dari yang diperkirakan di awal tahun. Meningkatnya tekanan inflasi bersumber dari semakin kuatnya pengaruh kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan, melemahnya nilai tukar rupiah, memburuknya ekspektasi inflasi yang terkait dengan melemahnya nilai tukar rupiah dan kebijakan pemerintah tersebut, serta

75

Inflasi

Kapasitas Industri Pengolahan Kapasitas Pertanian Investasi

KEBIJAKAN HARGA DAN PENDAPATAN
cukup/ berlebih melemah sangat melemah Tekanan permintaan dan penawaran sangat melemah Tekanan biaya : dampak langsung dan tidak langsung

PDB Potensial

INFLASI BARANG DAN JASA DOMESTIK

Konsumsi Barang Domestik Ekspor

menguat sangat melemah

PDB
melemah

Tekanan biaya : dampak nilai tukar melalui bahan baku dan barang setengah jadi impor Tekanan biaya : dampak nilai tukar melalui barang jadi impor

INFLASI IHK

Impor Bahan Baku dan Barang Konsumsi
rendah dan deflasi melemah dan fluktuatif

INFLASI BARANG IMPOR

Harga Luar Negeri

Nilai Tukar Rupiah

EKSPEKTASI INFLASI

Dampak inersia inflasi dan ekspektasi kenaikan biaya

Bagan 4.1 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Inflasi 2001

mentasi berbagai program restrukturisasi ekonomi dan berbagai faktor nonekonomi, serta berbagai kelemahan pada struktur mikro di pasar keuangan domestik dan fungsi intermediasi perbankan yang belum sepenuhnya pulih. Hal tersebut menyebabkan likuiditas perekonomian lebih banyak berputar di pasar keuangan sehingga cenderung dimanfaatkan untuk kegiatan spekulasi valuta asing. Kuatnya tekanan inflasi dari sisi biaya dan ekspektasi inflasi serta adanya berbagai permasalahan yang dihadapi Bank Indonesia dalam pengendalian inflasi, menyebabkan tingginya realisasi inflasi IHK pada 2001 yang mencapai 12,55%. Tingginya tekanan inflasi dari sisi biaya tidak terlepas dari kebijakan pemerintah di bidang harga dan

pendapatan yang diperkirakan memberikan tambahan inflasi sebesar 3,83%. Kebijakan pemerintah tersebut meliputi kenaikan beberapa harga barang dan tarif jasa seperti bahan bakar minyak (BBM), angkutan, listrik, air minum dan rokok, serta kenaikan upah minimum tenaga kerja swasta dan gaji pegawai negeri. Dengan mengeluarkan dampak kebijakan pemerintah tersebut, maka inflasi IHK di luar pengaruh kebijakan harga dan pendapatan pada 2001 diperkirakan mencapai 8,72%. Meskipun realisasi inflasi IHK di luar dampak kebijakan pemerintah melebihi sasaran, namun hal itu terutama disebabkan oleh meningkatnya biaya pada tingkat produsen sebagai dampak dari melemahnya nilai tukar rupiah serta memburuknya

76

Inflasi

ekspektasi inflasi yang terkait dengan meningkatnya tekanan biaya.

Tabel 4.2 Sumbangan Inflasi IHK 2001 Berdasarkan Subkelompok Barang Sub Kelompok Barang
Biaya Tempat Tinggal Transportasi Makanan Jadi Rokok, Tembakau, dan Minuman yang beralkohol Padi-padian, Umbi-umbian, dan hasilnya Bahan Bakar, Penerangan, dan Air Biaya Pendidikan Dagang dan hasilnya Buah-buahan Penyelenggaraan Rumah Tangga Sayuran Lemak dan Minyak Barang Pribadi dan Sandang lainnya Ikan Segar Perawatan Jasmani dan Kosmetika Bumbu-bumbuan Telur, Susu dan hasilnya Jasa Kesehatan dan Obat-obatan Sandang Laki-laki Sandang Wanita Rekreasi dan Olahraga Minuman yang tidak beralkohol Perlengkapan Rumah Tangga Sandang Anak-anak Ikan diawetkan Kacang-kacangan Sarana dan Penunjang Transpor Perlengkapan/peralatan Pendidikan Bahan Makanan lainnya Komunikasi dan Pengiriman IHK

PERKEMBANGAN INFLASI IHK
Harga-harga barang dan jasa selama 2001 mengalami tekanan yang lebih berat dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi itu tercermin dari inflasi IHK yang mencapai 12,55%, lebih tinggi dibandingkan inflasi IHK 2000 sebesar 9,35%. Secara bulanan, inflasi IHK terjadi pada 11 bulan kecuali pada Agustus yang mencatat deflasi. Inflasi bulanan tertinggi terjadi pada Juli sebesar 2,12%. Penyumbang terbesar terhadap inflasi IHK adalah kelompok bahan makanan yaitu sebesar 3,17%, disusul kelompok perumahan 3,07% serta kelompok makanan jadi, minuman, dan rokok 2,65%. Sementara itu sumbangan terkecil berasal dari kelompok kesehatan sebesar 0,44% (Tabel 4.1). Berdasarkan subkelompok barang, penyumbang utama inflasi IHK adalah subkelompok biaya tempat tinggal, subkelompok transpor, subkelompok makanan jadi, subkelompok rokok, tembakau dan

Inflasi
11,98 17,24 11,38 32,89 16,89 28,41 17,38 9,87 13,75 10,00 11,38 19,55 12,22 7,42 8,50 10,98 9,64 9,12 7,45 6,46 6,09 4,50 5,14 6,86 9,58 4,86 7,56 5,50 9,49 0,21 12,55

Sumbangan
1,59 1,50 1,27 1,23 1,06 1,04 0,71 0,38 0,32 0,30 0,28 0,27 0,27 0,26 0,24 0,22 0,20 0,20 0,18 0,18 0,18 0,15 0,14 0,11 0,08 0,06 0,06 0,05 0,01 0,00 12,55

Sumber: BPS, diolah

minuman yang beralkohol, subkelompok padi-

Tabel 4.1 Sumbangan Inflasi IHK 2001 Berdasarkan Kelompok Barang Kelompok Barang Bahan Makanan Perumahan Makanan Jadi, Minuman, dan Rokok Transportasi dan Komunikasi Pendidikan, Rekreasi, dan Olahraga Sandang Kesehatan IHK
Sumber : BPS, diolah

Persen

16 14 12

Inflasi 12,03 13,59 14,48 14,16 11,90 8,14 8,92 12,55

Sumbangan 3,17 3,07 2,65 1,56 0,93 0,73 0,44 12,55

10 8 6 4 2 0 Inflasi inti -2
Jan. Feb. Mar. Apr. Mei Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov. Des. Jan Feb. Mar. Apr. Mei Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov. Des. Jan.

Inflasi IHK

2000

2001

Grafik 4.1 Inflasi IHK dan Inflasi Inti (y-o-y)

77

Inflasi

Persen
2,5 2,0 1,5 1,0
0,56 1,32

air minum, dan rokok, serta menaikkan upah miniInflasi IHK Inflasi Inti
1,94 1,67 1,28 1,32 1,16 0,87 0,89 0,64 0,68 0,50 0,51 0,46 0,33 1,71 1,62

mum tenaga kerja swasta dan gaji pegawai negeri,
2,12

diperkirakan memberikan tambahan inflasi IHK sebesar 3,83% secara tahunan (Tabel 4.3). Dampak

1,13

0,84

aktual kebijakan pemerintah tersebut terhadap inflasi IHK lebih besar dari perkiraan semula di awal tahun sebesar 2,0%–2,5%. Perbedaan tersebut antara lain

0,5
0,07

0,0
-0,45

-0,06 -0,21

-0,5

terjadi karena realisasi persentasi kenaikan pada
Sep. Nov.

Jan.

Mar.

Mei

Jul.

Sep.

Nov.

Jan.

Mar.

Mei

Jul.

2000
Sumber: BPS, Bank Indonesia

2001

beberapa kebijakan lebih besar daripada yang diperkirakan semula di awal tahun. Di samping itu, sebagian dari rencana kebijakan pemerintah belum diketahui secara lengkap pada saat penyusunan

Grafik 4.2 Inflasi IHK dan Inflasi Inti (m-t-m)

padian, umbi-umbian dan hasilnya, dan subkelompok bahan bakar, penerangan, dan air. Tekanan yang tinggi terhadap inflasi IHK 2001 tercermin pada perkembangan indikator yang menggambarkan kecenderungan dan persistensi pergerakan inflasi. Salah satu indikator tersebut adalah inflasi inti (core inflation) yang dihitung dengan pendekatan asymmetric trimming.1 Inflasi inti (y-o-y) menunjukkan kecenderungan meningkat dan secara persisten berada di atas inflasi IHK (Grafik 4.1). Demikian pula halnya dengan pergerakan inflasi inti bulanan (m-t-m) yang menunjukkan kecenderungan meningkat sejak 2000 (Grafik 4.2). Hal itu menunjukkan terjadinya peningkatan inflasi selama dua tahun terakhir ini.

perkiraan inflasi di awal tahun. Keterbatasan informasi di awal tahun antara lain terkait dengan besarnya persentasi kenaikan dan tahapan pelaksanaannya. Dari seluruh kebijakan pemerintah tersebut, keputusan pemerintah menaikkan harga BBM untuk transportasi, menaikkan harga BBM untuk industri menjadi 50% dari harga pasar, dan menaikkan tarif angkutan, diperkirakan memberikan tambahan inflasi sebesar 1,78%. Dampaknya pada inflasi terjadi pada Juni dan Juli setelah kenaikan harga BBM diberlaTabel 4.3 Perkiraan Dampak Kebijakan Pemerintah di Bidang Harga dan Pendapatan 2001 Perkiraan Dampak pada Inflasi IHK m-t-m (Persen)
1,78 0,73 0,56 0,05 0,17 0,20 0,01 3,50 3,83

Kenaikan Harga

Bahan Bakar Minyak dan Angkutan

PENGARUH KEBIJAKAN PEMERINTAH DI BIDANG HARGA DAN PENDAPATAN
Kebijakan pemerintah menaikkan harga dan tarif sejumlah barang dan jasa seperti BBM, listrik,
1 Inflasi inti yang dihitung dengan metode assymetric trimming bukan merupakan sasaran inflasi Bank Indonesia. Beberapa metode dalam metode penghitungan inflasi inti diuraikan pada boks Penetapan Sasaran Inflasi Bank Indonesia.

Harga Jual Eceran Minimum Rokok Tarif Dasar Listrik Tarif Air Minum Upah Minimum Provinsi Gaji Pegawai Negeri Pajak Penjualan Barang Mewah Perkiraan dampak kebijakan peme- kumulatif m-t-m rintah terhadap inflasi IHK 2001
Sumber : BPS, diolah

y-o-y

78

Inflasi

kukan pada Juni 2001. Dampak pada Juni terdiri dari dampak langsung pada komoditas bensin, bensin pompa, dan solar dalam keranjang IHK, serta dampak tidak langsung pada biaya operasional kegiatan usaha termasuk ongkos angkutan. Sementara itu,

Persen
2,5 2,0 1,5
1,13 1,08 0,86 0,64 0,46 0,33 0,25 0,25 0,13 0,68 0,58 1,13 1,18

Inflasi IHK di luar dampak kebijakan harga dan pendapatan Inflasi IHK 2,12
1,67 1,71 1,71 1,62

1,0 0,5

0,87

0,77

0,89 0,89

dampak pada Juli merupakan dampak tidak langsung terhadap kenaikan harga barang-barang melalui kenaikan biaya produksi. Selanjutnya, kenaikan tarif listrik pada Juli dan Oktober diperkirakan memberikan tambahan inflasi pada Agustus dan Desember sebesar 0,56%. Kebijakan lain di bidang harga yang besar pengaruhnya terhadap inflasi IHK 2001 adalah kenaikan harga jual eceran (HJE) minimum rokok. Kebijakan yang dimaksudkan untuk meningkatkan penerimaan pemerintah melalui peningkatan cukai rokok yang dihitung atas dasar HJE minimum tersebut, diperkirakan memberikan tambahan inflasi IHK sebesar 0,73%. Selanjutnya, kebijakan pemerintah di bidang pendapatan berupa kenaikan UMP dan gaji pegawai negeri diperkirakan memberikan tambahan kenaikan harga sebesar 0,37%. Kebijakan lain yang berdampak

0,0
-0,21

-0,5 -1,0

-0,42

Jan.

Feb.

Mar.

Apr.

Mei

Jun.

Jul.

Ags. Sep.

Okt.

Nov.

Des.

2001

Grafik 4.3 Perkembangan Inflasi

pada kenaikan harga adalah kenaikan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPn-BM) pada Februari. Namun kebijakan tersebut diperkirakan hanya memberikan tambahan inflasi IHK sebesar 0,01%.

PENGARUH MELEMAHNYA NILAI TUKAR RUPIAH
Nilai tukar rupiah yang semula diperkirakan menguat sepanjang 2001 sehingga secara rata-rata mencapai Rp8.000 per dolar, dalam perkembangannya melemah sehingga mencapai rata-rata

Tabel 4.4 Kebijakan Pemerintah di Bidang Harga dan Pendapatan 2001 Persen Kenaikan Asumsi di awal tahun Realisasi 15% belum diketahui 20% 5% dalam satu tahap 20% belum diketahui belum diketahui 5% dalam satu tahap belum diketahui 30% belum diketahui 5% dalam satu tahap 15% 10% – 15% 18,77% – 42,47% 5% (Tahap I) 30% 28,57% (khusus Jakarta) 36% 6% (Tahap II) 29,2% 11,2% 12,4% 3% (Tahap III)

Bulan Januari Februari Maret April Juni Juli

Keterangan UMP PPn-BM untuk 41 kelompok barang diluar kendaraan bermotor Tarif air minum Cukai/HJE rokok (Tahap I) BBM Tarif angkutan kota Tarif dasar bus ekonomi antarkota antarpropinsi Cukai/HJE rokok (Tahap II) TDL (Tahap I) Gaji PNS TDL (tahap II) Cukai/HJE rokok (Tahap II)

September Oktober Desember

Sumber : Berbagai sumber

79

Inflasi

Rp10.255 per dolar meskipun sempat menguat pada awal paro kedua 2001. Perkembangan tersebut menyebabkan terjadinya kenaikan inflasi IHK yang bersumber dari kenaikan biaya pengadaan bahan baku dan barang setengah jadi impor yang merupakan komponen produksi barang domestik.2 Di samping itu, pengaruh melemahnya nilai tukar rupiah terhadap inflasi IHK juga terjadi melalui kenaikan harga barang konsumsi impor, mengingat keranjang IHK tidak hanya terdiri dari barang-barang produksi domestik tetapi juga mencakup barang-barang konsumsi impor. Kuatnya pengaruh depresiasi nilai tukar rupiah tersebut tercermin pada pergerakan nilai tukar rupiah yang sejalan dengan pergerakan inflasi bulanan IHK. Nilai tukar rupiah yang melemah sejak awal tahun dan berada pada tingkat yang rendah pada April hingga Juni sejalan dengan tingginya inflasi IHK terutama pada Mei hingga Juli (Grafik 4.4). Pergerakan nilai tukar tersebut juga sejalan dengan inflasi Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) dan inflasi IHK kelompok barang-barang yang diperdagangkan secara internasional (traded goods) yang merupakan indikator perkembangan biaya produksi dan harga barang impor. Selanjutnya, melemahnya nilai tukar rupiah juga mendorong terjadinya peningkatan inflasi IHK kelompok barangbarang yang tidak diperdagangkan secara internasional (non-traded goods). Pengaruh kuat depresiasi nilai tukar rupiah ke inflasi sejalan dengan hasil penelitian Bank Indo-

Persen 4 3 2
0,87 0,89 0,46 1,13 1,67 0,64 0,68 2,12 1,71

Rp/$ 12.000 11.000
1,62

1 0

0,33

10.000 9.000

-1 -2 -3 -4 -5 Inflasi IHK Inflasi IHK kelompok non-traded Inflasi IHK kelompok barang traded Inflasi IHPB Nilai tukar rupiah

–0,21

8.000 7.000 6.000

Jan. Feb. Mar. Apr.

Mei

Jun. Jul. 2001

Ags. Sep. Okt. Nov. Des.

Sumber : BPS, Bank Indonesia, Bloomberg

Grafik 4.4 Pergerakan Nilai Tukar Rupiah dan Inflasi (m-t-m)

nesia mengenai transmisi kebijakan moneter melalui jalur nilai tukar rupiah ke inflasi. Penelitian tersebut menunjukkan pengaruh depresiasi nilai tukar ke inflasi sangat kuat terjadi sejak berlakunya sistem nilai tukar mengambang bebas . Sebaliknya, selama periode sebelum krisis, efek pengaruh nilai tukar ke inflasi hampir tidak terjadi karena nilai tukar yang stabil dan mudah diprediksi. Selain dari penelitian tersebut, melalui Survei Mekanisme Pembentukan Harga di Sektor Manufaktur dan Ritel pada 2001 diketahui pula bahwa faktor pendorong utama kenaikan harga adalah depresiasi nilai tukar. Selanjutnya, dari survei tersebut diperoleh indikasi perilaku harga yang cenderung mudah meningkat karena pengaruh melemahnya nilai tukar rupiah. Pengaruh melemahnya nilai tukar terhadap kenaikan harga terjadi dalam waktu kurang dari satu minggu hingga satu bulan. Sementara itu, penguatan nilai tukar rupiah

2

Berdasarkan Survei Mekanisme Pembentukan Harga di Sektor Manufaktur dan Ritel tahun 2001, persentase biaya bahan baku impor terhadap total biaya pengadaan bahan pada industri hilir penghasil barang konsumsi dalam keranjang IHK, berkisar 30%– 40%.

pada Juli dan Agustus juga berdampak pada penurunan harga. Namun demikian, penguatan nilai tukar yang sangat besar pada Juli dan Agustus tidak

80

Inflasi

terlalu besar pengaruhnya terhadap inflasi dibandingkan pengaruh melemahnya nilai tukar rupiah terhadap inflasi. Menguatnya nilai tukar rupiah rupiah sebesar 4,0% bulan Juli dan 21,3% pada Agustus dibandingkan bulan sebelumnya, hanya menyebabkan terjadinya deflasi bulanan sebesar 0,24% pada Agustus. Kondisi itu mengindikasikan adanya perilaku harga yang cenderung sulit untuk turun meskipun terjadi penurunan biaya misalnya karena menguatnya nilai tukar rupiah. Indikasi perilaku perubahan harga secara asimetri tersebut sejalan dengan hasil penelitian mengenai transmisi kebijakan moneter melalui jalur nilai tukar serta Survei Mekanisme Pembentukan Harga di Sektor Manufaktur dan Ritel (Boks : Survei Mekanisme Pembentukan Harga di Sektor Manufaktur dan Ritel). Selanjutnya, dari survei tersebut juga diperoleh informasi bahwa perilaku asimetri perubahan harga tersebut lebih banyak terjadi pada tingkat ritel dibandingkan pada tingkat produsen. Hal itu sejalan dengan perkembangan deflasi pada Agustus dimana deflasi IHK jauh lebih kecil dibandingkan deflasi IHPB.

Di lain pihak, perkembangan harga komoditas internasional yang cenderung turun diperkirakan membawa pengaruh deflasi terhadap harga barang impor. Seperti terlihat pada Grafik 4.5, indeks harga komoditas internasional cenderung menurun untuk komoditas kayu, kapas, wol, karet, pupuk, serta logam dan material. Namun demikian, kuatnya pengaruh depresiasi nilai tukar melebihi pengaruh positif deflasi harga internasional sehingga secara keseluruhan menimbulkan dampak inflasi terhadap barang impor.

PENGARUH EKSPEKTASI INFLASI
Tingginya inflasi IHK tidak terlepas dari pengaruh ekspektasi inflasi produsen dan pedagang, serta konsumen. Di sisi produsen, ekspektasi inflasi cenderung meningkat sepanjang 2001 sebagaimana diketahui dari Survei Kegiatan Dunia Usaha (Grafik 4.6). Ekspektasi inflasi yang tinggi terutama dipengaruhi oleh tingginya inflasi 2000 yang mencapai 9,35%. Berdasarkan Survei Mekanisme Pembentukan Harga di Sektor Manufaktur dan Ritel 2001,

2001 IV
120 110 100 90 80 70 60 III 2000 IV I II 2001 III IV Makanan: Beras & Gandum Bahan Baku: Kayu Bahan Baku: Kapas, Wol, Karet Pupuk Logam & Mineral
11% 15% 14% 18% 20% 28% 32% 36% 10% 8% 5% 6% 4% 5% 7% 8% 10% 6% 9% 54% 50% 47% 7% 10% 7% 10% 8% 11% 7% 5% 6% 40% 28% 24% 20% 21%

III II I 2000 IV III II I 0

16% 17% 17%

5% 5% 6% 6% 5% 7% 7% 10% 7% 7% 21%

18% 16%

6% 6% 5% 5%

10 < 5%

20 5%

30

40 6%

50 Persen 7%

60

70 8%

80 9%

90

100 > 9%

Sumber : Bank Dunia

Grafik 4.5 Perkembangan Indeks Harga Komoditas Internasional

Grafik 4.6 Ekspektasi Inflasi Menurut Produsen

81

Inflasi

Proyeksi inflasi lembaga swasta 14%

Des. Nov. Okt. Sep. Ags. Jul. Jun. Mei
60 65 85

91 90 13 31 34 88 94 88 90 87 81 80 18 20 11 12

9 9

0 1 2 4 6 1 5 0 1 1 0 1 0

Target inflasi Bank Indonesia 31%

Perkembangan Inflasi aktual 55%

Apr. Mar. Feb. Jan. 0 20

10 12

40 Persen

60

80

100

Meningkat

Sama seperti saat ini

Menurun

Grafik 4.7 Acuan dalam Pembentukan Ekspektasi Inflasi Produsen (% Responden)

Grafik 4.9 Ekspektasi Konsumen Terhadap Biaya Transportasi/Komunikasi 6-12 Bulan ke Depan (% Responden)

diketahui bahwa dasar pembentukan ekspektasi inflasi pada produsen dan pedagang ritel lebih banyak bersumber dari perkembangan inflasi aktual dan inflasi tahun sebelumnya (Grafik 4.7). Perilaku pembentukan ekspektasi inflasi secara adaptif tersebut sejalan dengan hasil penelitian Bank Indonesia mengenai transmisi kebijakan moneter melalui jalur ekspektasi inflasi.

Sementara itu, ekspektasi inflasi konsumen juga mengalami peningkatan sebagaimana diketahui dari Survei Konsumen (Grafik 4.8). Ekspektasi konsumen pada umumnya dipengaruhi oleh ekspektasi kenaikan harga barang-barang administered dan ekspektasi depresiasi nilai tukar rupiah. Hal itu terlihat dari pergerakan ekspektasi konsumen terhadap peningkatan harga dalam 6-12 bulan

Des. Nov. Okt. Sep. Ags. Jul. Jun. Mei Apr. Mar. Feb. Jan. 0 20
84 58 64

91 92 88 15 16 96 95 93 95 91 87 11 14 26 20 7

8 5 5

1 2

Des. Nov. Okt. Sep. Ags.
17 15

42 51 41 24 76 45 51 51 60 61 50 47 24

32 26 34 60

26 23

3 4 5 4 9

2 1 2 1 1 2 2

Jul. Jun. Mei Apr. Mar. Feb. Jan. 0 10

27 20 19 20 27 32 32

28 28 30 20 12 18 21

2001

40 Persen

60

80

100

20 Melemah

30

40

50

60

70

80

90

100

Persen
Menurun

Meningkat

Sama seperti saat ini

Sama seperti saat ini

Menguat

Grafik 4.8 Ekspektasi Konsumen Terhadap Perkembangan Harga 6-12 Bulan ke Depan (% Responden)

Grafik 4.10 Ekspektasi Konsumen Terhadap Perkembangan Nilai Tukar Rupiah 6-12 Bulan ke Depan (% Responden)

82

Inflasi

mendatang yang sejalan dengan ekspektasi konsumen terhadap kenaikan biaya transportasi dan komunikasi 6-12 bulan ke depan (Grafik 4.9) dan ekspektasi konsumen terhadap melemahnya nilai tukar rupiah 6-12 bulan ke depan (Grafik 4.10).

makanan. Keterbatasan penawaran bahan makanan yang tidak dapat mengimbangi kondisi permintaan yang sebenarnya masih rendah, berpengaruh terhadap inflasi IHK mengingat bahan makanan memiliki bobot yang besar dalam keranjang IHK. Pertumbuhan permintaan agregat mengalami

PENGARUH KONDISI PERMINTAAN DAN PENAWARAN
Pengaruh kondisi permintaan dan penawaran terhadap inflasi IHK dapat ditinjau dari dua sektor utama penghasil barang konsumsi dalam keranjang IHK, yaitu sektor industri pengolahan dan sektor pertanian. Di sektor industri pengolahan, tekanan inflasi karena pengaruh kondisi permintaan dan penawaran diperkirakan masih rendah. Hal itu sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang melambat dan masih berlebihnya kapasitas produksi di sektor tersebut. Di lain pihak, tekanan inflasi karena pengaruh kondisi permintaan dan penawaran terjadi di sektor Pertanian. Namun, tekanan inflasi tersebut bukan dipicu oleh meningkatnya permintaan melainkan karena menurunnya produksi tanaman bahan

penurunan baik dari sisi permintaan domestik, yang terdiri dari konsumsi dan investasi, maupun permintaan eksternal (Grafik 4.11). Dari sisi penawaran, melemahnya permintaan domestik dan eksternal tersebut sejalan dengan penurunan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) pada sektor Pertanian, sektor Bangunan, dan sektor Industri Pengolahan, serta pertumbuhan indeks produksi industri. Sementara itu penambahan kapasitas perekonomian mengalami perlambatan sebagaimana tercermin dari menurunnya pertumbuhan investasi. Ditinjau dari ketersediaan kapasitas perekonomian, kapasitas di sektor industri pengolahan diperkirakan masih berlebih dibandingkan permintaan terhadap barang-barang yang dihasilkan sektor tersebut. Berdasarkan Survei Sektor Industri Pengolahan, tingkat penggunaan kapasitas industri pengolahan sepanjang 2001 menunjukkan kecen-

Persen (y-o-y) 30 26,5 25 21,9 20 15 10 7,6 5 0 2000 2001 4,9 3,6 1,9 5,6 4,0 3,3 1,0 Permintaan Domestik Permintaan Eksternal Investasi Produk Domestik Bruto Indeks Produksi Industri

derungan yang relatif stabil pada kisaran yang masih rendah yaitu 39%–51%. Tingkat penggunaan kapasitas tersebut jauh lebih rendah dibandingkan tingkat tertinggi yang pernah terjadi pada 2000 yaitu sebesar 68% (Grafik 4.12). Kapasitas terpakai yang masih rendah tersebut didukung oleh hasil Survei Mekanisme Pembentukan Harga di Sektor Manufaktur dan Ritel Agustus 2001, yang menunjukkan kapasitas produksi industri pengolahan yang masih
Grafik 4.11 Pertumbuhan PDB

Sumber : BPS

cukup dan cenderung berlebih dibandingkan permintaan (Grafik 4.13).

83

Inflasi

Persen 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 1 3 5 7 2000 9 11 1 3 5 7 2001 9 11
32,9 49,2 51,7 46,0 54,8 50,7 49,7 51,7 48,3 42,0 45,2 43,1 42,9 41,4 44,5 41,7 40,7 39,4 67,6 64,0 55,6 51,4 48,2

Persen 100 90 80 70 60 50 40
29,6 51,7 52,0 41,5 43,8 45,4 54,8 44,5 75,6 65,9 67,3

41,6

40,9 29,6 24,1 30,4 29,7 32,0

38,5 27,2 23,1 27,1

36,8

30 20 10 0
1 3 5 7 2000 9 11 1

3

5 2001

7

9

11

Grafik 4.12 Tingkat Kapasitas Terpakai Industri Pengolahan

Grafik 4.14 Tingkat Kapasitas Terpakai Industri Makanan, Minuman, dan Tembakau

Secara sektoral, kapasitas terpakai di industri makanan, minuman, dan tembakau, yang produkproduknya merupakan penyumbang terbesar inflasi 2001, cenderung meningkat sepanjang 2001. Namun, kapasitas terpakai di sektor tersebut pada akhir 2001 masih berada di bawah 40%, jauh lebih rendah dibandingkan tingkat tertinggi yang pernah terjadi pada 2000 yaitu sebesar 76% (Grafik 4.14). Hal ini mengindikasikan bahwa pengaruh kondisi permintaan

dan penawaran belum memberikan tekanan yang besar terhadap inflasi pada kelompok makanan jadi, minuman, dan tembakau. Demikian pula halnya dengan kapasitas terpakai industri penghasil barang kelompok sandang yang meskipun cenderung meningkat namun tidak jauh berbeda dibandingkan tahun sebelumnya, yaitu di bawah 75% (Grafik 4.15). Di sisi lain, kapasitas terpakai yang tinggi dan mengalami peningkatan yang besar terjadi pada industri

Persen
Kurang 9% Sangat berlebih 4% Berlebih 14%

100 90 80
70,5 72,7 68,3 59,2 66,7 64,8 61,6 54,2 60,8 56,4 59,9 60,7 71,2 64,4 64,4 71,8

70 60 50
Secara umum berlebih, tetapi pada saat tertentu kurang 18%
43,8

62,7 63,8 57,3

61,3 61,2

40 30 20

Cukup 55%

10 0
1 3 5 2000 7 9 11 1 3 5 2001 7 9 11

Grafik 4.13 Kecukupan Kapasitas Produksi Industri Pengolahan (% Responden)

Grafik 4.15 Tingkat Kapasitas Terpakai Industri Tekstil, Pakaian Jadi, dan Kulit

84

Inflasi

Persen 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0
53,6 47,7 62,7 54,1 47,9 43,6 56,2 50,6 53,1 72,7 71,4 83,0 77,6 68,6 81,9 83,4 96,3 92,1 86,5 79,8 75,5 84,0 81,6

Pembiayaan 33%

Permintaan rendah 51%

1

3

5

7 2000

9

11

1

3

5

7 2001

9

11

Teknis 16%

Grafik 4.16 Tingkat Kapasitas Terpakai Industri Barang Galian Bukan Logam

Grafik 4.17 Kendala Memanfaatkan Kapasitas Menganggur Industri Pengolahan (% Responden)

barang galian bukan logam yang terutama menghasilkan bahan-bahan bangunan yang tergabung dalam subkelompok biaya tempat tinggal pada keranjang IHK (Grafik 4.16). Kondisi ini diperkirakan mempengaruhi kenaikan harga bahan bangunan. Meskipun demikian, tingginya sumbangan inflasi oleh subkelompok biaya tempat tinggal pada umumnya lebih banyak bersumber dari kenaikan sewa dan kontrak rumah serta upah tukang dibandingkan dari kenaikan harga bahan bangunan. Tingkat kapasitas terpakai industri pengolahan yang masih rendah secara total seharusnya tidak menimbulkan tekanan terhadap inflasi IHK. Namun demikian, adanya kendala pembiayaan modal kerja untuk mendayagunakan kapasitas menganggur dapat menjadi penyebab timbulnya tekanan harga. Berdasarkan Survei Mekanisme Pembentukan Harga diketahui bahwa salah satu kendala yang dihadapi perusahaan manufaktur dalam memanfaatkan kapasitas yang menganggur adalah faktor pembiayaan modal kerja (33% dari total responden). Namun, secara keseluruhan masalah utama yang dihadapi

dalam mengaktifkan kapasitas menganggur justru karena permintaan yang masih rendah (51% dari total responden), di samping adanya faktor teknis produksi (Grafik 4.17). Kondisi tersebut menggambarkan bahwa meskipun pemanfaatan kapasitas industri pengolahan menghadapi kendala, hal tersebut belum menimbulkan sumber tekanan inflasi yang berarti mengingat permintaan yang masih lemah selama 2001. Namun demikian, jika kendala pembiayaan produksi industri tersebut tidak teratasi dalam kondisi permintaan yang meningkat, hal tersebut dapat menjadi sumber potensi tekanan inflasi pada periode mendatang. Tekanan harga sebagai akibat ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran diperkirakan terjadi pada sektor produksi bahan makanan. Meskipun pengeluaran konsumsi rumah tangga mengalami peningkatan dari 1,8% pada 2000 menjadi 2,3% pada 2001, namun pengeluaran konsumsi tersebut masih rendah. Sebaliknya, PDB yang dihasilkan subsektor pertanian tanaman bahan makanan mengalami kontraksi sebesar 1,1% pada

85

Inflasi

Persen 14 12 10 8 6 4 2 0 -2 -4
-1,1 1,8 0,9 4,00 2,3

Persen

PDB Sub Sektor Pertanian Tanaman Bahan Makanan Konsumsi Makanan oleh Sektor Rumah Tangga Inflasi IHK Kelompok Bahan Makanan

12,03

Tingginya permintaan

37

Walaupun harga naik produk tetap terjual

27

Pesaing meningkatkan harga

20

Pasokan kurang 0 5 10 15

16

2000
Sumber : BPS

2001

20

25

30

35

40

Grafik 4.18 Permintaan dan Penawaran Barang Kelompok Makanan

Grafik 4.19 Faktor Pendorong Kenaikan Harga menjelang Hari Raya

2001 (Grafik 4.18). Ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran yang lebih disebabkan oleh keterbatasan produksi bahan makanan tersebut, turut menyebabkan tingginya inflasi pada kelompok bahan makanan, khususnya subkelompok padi-padian, umbi-umbian dan hasilnya. Di sisi lain, tekanan permintaan yang bersifat musiman menjelang hari raya Idul Fitri, Natal, dan Tahun Baru berpengaruh besar terhadap tingginya inflasi. Hal tersebut terlihat dari tingginya inflasi IHK (m-t-m) pada November saat nilai tukar rupiah stabil pada level rata-rata Rp10.560 per dolar AS, sementara tidak terjadi kelangkaan pasokan barang selama kurun waktu tersebut. Mengacu pada hasil Survei

Mekanisme Pembentukan Harga di Sektor Manufaktur dan Ritel, inflasi yang tinggi menjelang hari raya Idul Fitri, Natal, dan Tahun Baru lebih dipicu oleh meningkatnya permintaan daripada faktor keterbatasan atau gangguan pasokan barang. Di samping itu, tingginya inflasi pada periode tersebut juga dipengaruhi oleh perilaku konsumsi masyarakat secara umum yang cenderung menjadi kurang sensitif terhadap kenaikan harga (Grafik 4.19). Survei tersebut juga menunjukkan bahwa langkah menaikkan harga dengan memanfaatkan momentum peningkatan permintaan menjelang hari raya keagamaan itu lebih banyak dilakukan oleh pedagang daripada produsen industri pengolahan.

86

Inflasi

boks

Survei Mekanisme Pembentukan Harga Di Sektor Manufaktur dan Ritel
Sebagaimana diamanatkan oleh UU No.23 tahun 1999, tujuan Bank Indonesia adalah mencapai dan mempertahankan kestabilan nilai rupiah. Dalam pelaksanaannya, Bank Indonesia bertanggung jawab mengendalikan inflasi agar berada pada tingkat yang cukup rendah dan stabil. Upaya pengendalian inflasi memerlukan perkiraan inflasi dan perkiraan dampak kebijakan moneter dalam mempengaruhi perubahan harga. Untuk dapat memperkirakan inflasi secara akurat, menetapkan target inflasi yang realistis, dan menentukan respon kebijakan yang tepat, Bank Indonesia perlu mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan harga, serta memperhitungkan kemampuan kebijakan moneter dalam mengendalikan inflasi. Kebijakan penetapan harga yang dilakukan oleh produsen dan pedagang terutama dipengaruhi oleh ekspektasi inflasi, besarnya perubahan biaya, serta besarnya perubahan permintaan dan penawaran. Namun demikian, pembentukan harga dapat terjadi secara asimetris dalam hal terjadi kenaikan atau penurunan biaya dan permintaan. Sementara itu, kemampuan kebijakan moneter dalam mengendalikan inflasi dipengaruhi oleh jalur dan lama transmisi kebijakan moneter ke inflasi serta perilaku pembentukan harga. Dengan latar belakang tersebut, Bank Indonesia perlu memperoleh gambaran mengenai perilaku pembentukan harga barang-barang konsumsi yang
1

survei terhadap produsen barang-barang manufaktur dan pedagang ritel yang berlangsung pada Juli hingga September 2001. Responden survei ditentukan dengan menggunakan metode Purposive Sample,1 yang terdiri atas 200 perusahaan di sektor manufaktur yang memproduksi barang-barang konsumsi yang terdapat pada keranjang IHK dan 220 unit usaha sektor ritel yang merupakan responden Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia. Hasil survei tersebut mengindikasikan bahwa kenaikan IHK pada saat ini lebih banyak bersumber dari tekanan biaya (cost-push inflation) daripada tekanan permintaan (demand-pull inflation). Tekanan dari sisi biaya terutama berasal dari depresiasi nilai tukar rupiah disamping pengaruh kebijakan pemerintah menaikkan bea masuk bahan baku dan peralatan produksi, harga BBM, tarif listrik serta upah minimum buruh. Ditinjau dari pengaruh perubahan biaya, hasil survei mengindikasikan bahwa produsen dan penjual cenderung lebih responsif terhadap tekanan kenaikan biaya daripada penurunan biaya. Perilaku tersebut menyebabkan harga cenderung mudah meningkat jika terjadi kenaikan biaya namun cenderung sulit turun apabila terjadi penurunan biaya. Karakteristik harga tersebut antara lain tercermin dari tingkat harga pada sektor ritel yang rata-rata hanya mampu berPurposive sampling merupakan metode pengambilan sampel dengan memilih responden berdasarkan tujuan tertentu.

terdapat dalam keranjang IHK dengan melakukan

87

Inflasi

tahan selama 2,9 bulan selama kurun waktu satu tahun terakhir sebelum survei berlangsung. Perilaku harga yang cenderung mudah meningkat tersebut lebih terasa pada sektor ritel dibandingkan pada sektor manufaktur. Pada sektor manufaktur, secara rata-rata tingkat harga mampu bertahan selama 4,6 bulan selama kurun waktu yang sama. Periode bertahannya harga tersebut jauh lebih singkat dibandingkan yang terjadi di beberapa negara maju yang berdasarkan survei berkisar 6 hingga 15 bulan. Perilaku harga yang cenderung mudah mengalami peningkatan juga tercermin dari waktu yang cukup singkat antara saat terjadinya perubahan biaya hingga berlakunya perubahan harga, yaitu selama empat minggu pada sektor manufaktur dan kurang dari satu minggu pada sektor ritel. Hal tersebut juga mengindikasikan bahwa pengaruh perubahan nilai tukar ke inflasi melalui harga barang konsumsi impor terjadi dalam waktu kurang dari satu minggu dan dampaknya melalui biaya bahan baku impor berlangsung sekitar lima minggu. Disamping itu, kecepatan merespon perubahan biaya tersebut secara tidak langsung juga mengindikasikan bahwa kenaikan biaya sebagai akibat dari kenaikan harga BBM dan tarif listrik, dapat menimbulkan kenaikan harga-harga barang konsumsi hingga satu bulan sejak kenaikan harga barang administered tersebut. Sementara itu, ditinjau dari pengaruh ekspektasi inflasi, perilaku pembentukan dan perubahan harga pada produsen manufaktur dan pedagang ritel lebih banyak bersumber dari perkembangan inflasi yang telah terjadi (55% responden) daripada berdasarkan target inflasi Bank Indonesia (31% responden) atau proyeksi inflasi yang dikeluarkan oleh

lembaga-lembaga swasta (14% responden). Hasil ini mengindikasikan perilaku ekpektasi inflasi pada produsen dan pedagang yang lebih bersifat adaptif. Di sisi lain, baik produsen manufaktur dan pedagang ritel belum melihat tekanan perubahan permintaan sebagai faktor utama yang mendorong kenaikan atau penurunan harga sepanjang tahun, kecuali pada periode tertentu yaitu menjelang hari raya Idul Fitri, Natal, dan Tahun Baru. Pada umumnya, peningkatan permintaan terhadap produk atau barang dagangan direspon oleh perusahaan manufaktur dan ritel dengan meningkatkan produksi dan persediaan barang dagangan. Hanya sebagian kecil perusahaan yang meresponnya dengan menaikkan harga. Demikian pula sebaliknya, jika terjadi penurunan permintaan, perusahaan cenderung meresponnya dengan menurunkan produksi atau mengurangi pasokan barang dagangan. Hasil survei tersebut menunjukkan bahwa perubahan pemintaan, baik peningkatan maupun penurunan, lebih berpengaruh pada perubahan tingkat produksi daripada terhadap perubahan harga. Dengan kata lain, ditinjau dari pengaruh perubahan permintaan, tingkat harga cenderung tidak mudah turun jika terjadi penurunan permintaan dan juga cenderung tidak mudah naik apabila terjadi kenaikan permintaan. Perilaku perubahan harga dalam merespon perubahan permintaan tersebut mengindikasikan masih cukup tersedianya kapasitas produksi untuk memenuhi peningkatan permintaan di tengah kondisi permintaan yang masih lemah. Sebagian besar responden manufaktur menilai tingkat penggunaan kapasitas produksi berkisar antara 61%-80% dengan rata-rata 65,8%. Tingkat penggunaan kapasitas produksi tersebut dinilai oleh sebagian besar responden

88

Inflasi

(54%) mencukupi untuk memenuhi permintaan. Sementara itu 18% responden menilai kapasitas yang ada secara umum berlebih atau sangat berlebih, dan 19% responden menilai kapasitas secara umum berlebih namun terjadi kekurangan kapasitas pada saat-saat tertentu. Selebihnya, hanya 9% responden menyatakan kekurangan kapasitas. Khusus pada masa-masa menjelang hari raya Idul Fitri, Natal, dan Tahun Baru, perilaku pembentukan harga sangat dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan dan berkurangnya elastisitas harga terhadap permintaan. Kondisi tersebut cenderung dimanfaatkan terutama oleh pedagang untuk menaikkan harga meskipun pada umumnya tidak terjadi kendala pasokan barang. Survei mencatat sebanyak 74% responden pedagang ritel dan 43% responden produsen manufaktur yang memanfaatkan kesempatan tersebut. Karakteristik harga yang lebih banyak dipengaruhi faktor biaya daripada permintaan, bersifat cenderung tidak mudah turun, cenderung mudah naik karena tekanan biaya, namun cenderung tidak mudah naik karena tekanan permintaan, membawa implikasi

tertentu pada kebijakan penetapan sasaran inflasi dan kebijakan moneter Bank Indonesia. Selama nilai tukar rupiah masih menghadapi tekanan dan berbagai kebijakan pemerintah menaikkan harga barang administered masih terus berlangsung, Bank Indonesia tidak dapat menetapkan sasaran inflasi yang terlalu rendah dengan jangka waktu pencapaian yang terlalu singkat. Sebaliknya, Bank Indonesia perlu menetapkan sasaran inflasi yang lebih realistis untuk dicapai sesuai dengan kemampuan kebijakan moneter. Dengan mempertimbangkan perilaku pembentukan harga, kondisi permintaan saat ini yang masih lemah, dan penetapan sasaran inflasi yang realistis, maka kebijakan moneter yang lebih ketat dari kondisi di akhir 2001 diperkirakan belum dapat secara efektif mengurangi tekanan inflasi. Sebaliknya, kebijakan moneter perlu diarahkan kepada upaya memberikan ruang bagi penurunan suku bunga sehingga memberikan sinyal kepada perbankan dan pelaku usaha sektor riil untuk meningkatkan aktivitas perekonomian. Namun demikian, arah kebijakan moneter tersebut harus didukung oleh upaya pemulihan fungsi perbankan sebagai lembaga intermediasi keuangan.

89

Moneter

bab 5 MONETER

90

Moneter

bab 5

MONETER

D

i awal 2001, dalam situasi yang lebih optimis terhadap terus berlanjutnya proses pemulihan

diarahkan untuk menyerap ekspansi uang primer yang berasal dari pengeluaran pemerintah dalam rupiah yang dibiayai dari penerimaan luar negeri. Langkah ini dimaksudkan agar upaya pencapaian sasaran uang primer tersebut tidak menimbulkan dampak kenaikan suku bunga yang berlebihan. Kebijakan sterilisasi valuta asing ini sekaligus ditujukan untuk menambah pasokan valuta asing guna mengurangi tekanan depresiasi dan volatilitas nilai tukar rupiah. Dalam pelaksanaannya, upaya pengendalian moneter tersebut mulai menghadapi beberapa kendala yang mengakibatkan pengendalian uang primer tidak dapat dilaksanakan secara optimal terutama sejak Mei 2001. Hal ini diindikasikan oleh lebih seringnya test date1 uang primer berada di atas sasaran indikatif yang ditetapkan, 2 terutama didorong oleh terus meningkatnya permintaan uang kartal di masyarakat sebagai komponen utama uang primer. Peningkatan uang kartal tersebut terkait dengan meningkatnya secara signifikan peranan sektor usaha kecil dan menengah (UKM) dan sektor informal yang pada umumnya masih banyak menggunakan uang kartal. Di samping itu, memanasnya kondisi sosial dan politik mendorong masyarakat menyimpan uang kartal di atas kebutuhan

ekonomi, Bank Indonesia memandang bahwa inflasi yang relatif tinggi pada tahun sebelumnya perlu diarahkan kepada tingkat yang lebih rendah, sebagai prasyarat bagi upaya untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan dalam jangka panjang. Berkaitan dengan itu, sasaran inflasi di luar dampak kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan ditetapkan sebesar 4,0%–6,0%. Untuk mencapai sasaran inflasi tersebut, dengan asumsi pertumbuhan ekonomi sebesar 4,5%–5,5% dan nilai tukar berkisar antara Rp7.750–Rp8.250 per dolar AS, Bank Indonesia menetapkan sasaran pertumbuhan uang primer sebesar 11,0%–12,0% pada akhir 2001, yang lebih rendah dari pertumbuhan akhir tahun sebelumnya yang mencapai 22,3%. Sasaran kebijakan moneter yang cenderung ketat ini ditempuh dengan tetap berupaya menjaga agar perkembangan uang primer sepanjang tahun 2001 dapat sesuai dengan sasaran yang ditetapkan. Guna mencapai sasaran uang primer tersebut, Bank Indonesia selalu berusaha untuk menyerap kelebihan likuiditas di sektor perbankan yang berpotensi memberikan tekanan terhadap nilai tukar dan inflasi. Kebijakan ini ditempuh terutama melalui Operasi Pasar Terbuka (OPT) dengan instrumen Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan intervensi rupiah. Upaya pengendalian uang primer tersebut juga didukung oleh kebijakan sterilisasi di pasar valuta asing yang

1 2

Test date uang primer dihitung dari rata-rata posisi tanggal 16 bulan tersebut hingga tanggal 15 bulan berikutnya. Sasaran uang primer disusun berdasarkan asumsi inflasi, PDB, suku bunga deposito dan nilai tukar dan ditetapkan dalam Letter of Intent (LoI).

91

Moneter

normalnya untuk tujuan berjaga-jaga hingga pertengahan 2001. Posisi uang kartal tersebut menjadi semakin tinggi seiring dengan naiknya kebutuhan transaksi akibat meningkatnya harga yang dipicu oleh kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan pada Juni 2001. Dalam kondisi yang demikian, permintaan uang primer menjadi kurang responsif terhadap perubahan suku bunga. Hal ini mengakibatkan upaya untuk menyerap uang primer memerlukan peningkatan suku bunga. Upaya pengendalian moneter tersebut semakin dipersulit oleh fungsi intermediasi perbankan yang belum sepenuhnya pulih, sehingga menyebabkan jumlah ekses likuiditas perbankan yang harus diserap oleh Bank Indonesia menjadi semakin besar. Di samping itu, belum pulihnya fungsi intermediasi tersebut juga menyebabkan proses transmisi kebijakan moneter menjadi kurang berjalan dengan baik sebagaimana tercermin dari kurang diresponnya kenaikan suku bunga SBI oleh kenaikan suku bunga deposito. Tingginya permintaan uang kartal dan kurang efektifnya transmisi kebijakan moneter akibat masih belum pulihnya intermediasi perbankan menyebabkan penyerapan uang primer menjadi sulit dilakukan. Meskipun berbagai langkah penyerapan likuiditas telah dilakukan, baik melalui lelang SBI, kenaikan suku bunga intervensi rupiah, maupun sterilisasi valuta asing, perkembangan uang primer lebih banyak berada di luar sasaran yang telah ditetapkan. Dalam kondisi demikian, upaya kenaikan suku bunga SBI untuk menyerap uang primer dinilai tidak terlampau efektif. Menyikapi kondisi tersebut, dalam perkembangannya terutama sejak akhir triwulan ketiga 2001, Bank Indonesia cenderung

berusaha menyerap kelebihan likuiditas di sektor perbankan yang diupayakan tanpa menimbulkan peningkatan suku bunga SBI yang berlebihan. Selanjutnya, kelebihan likuiditas yang tidak berhasil diserap melalui lelang SBI telah diupayakan untuk diserap melalui intervensi rupiah. Pada awal pelaksanaan kebijakan moneter, posisi uang primer yang sempat meningkat tinggi pada akhir 2000 berhasil dikendalikan hingga kembali ke dalam sasaran indikatifnya sampai dengan April 2001. Namun demikian, akibat munculnya berbagai kendala seperti disebutkan di atas, test date uang primer mulai meningkat tinggi dan terus bergerak di atas sasaran indikatifnya sejak Mei 2001. Hingga Desember 2001, uang primer telah mengalami pertumbuhan sebesar 15,4% 3 atau rata-rata telah tumbuh sebesar 18,2% selama 2001. Pertumbuhan uang primer di akhir Desember tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan sasaran yang ditetapkan di awal tahun sebesar 11,0%–12,0%. Upaya pengendalian uang primer yang dilakukan oleh Bank Indonesia tersebut mendorong peningkatan suku bunga SBI. Selama 2001, suku bunga SBI 1 bulan meningkat sebesar 309 basis point (bp) hingga menjadi 17,62% dan SBI 3 bulan meningkat sebesar 332 bp menjadi 17,63%. Sementara itu, guna mendorong agar suku bunga deposito dapat meningkat seiring dengan perkembangan suku bunga SBI, Bank Indonesia meningkatkan marjin suku bunga penjaminan deposito. Peningkatan ini dilakukan 2 kali, yaitu pada Januari dan Agustus 2001 masing-masing sebesar 100 bp hingga mencapai marjin 400 bp di

3

Pertumbuhan dihitung berdasarkan posisi test date uang primer Desember 2000 yang telah dibebaskan dari pengaruh musiman lebaran yang selalu bergeser setiap tahunnya.

92

Moneter

atas suku bunga deposito bank anggota JIBOR.4 Kebijakan ini berhasil mendorong peningkatan ratarata tertimbang suku bunga deposito nominal. Secara riil, suku bunga deposito tersebut juga meningkat, namun masih jauh di bawah tingkatnya pada masa sebelum krisis, apalagi jika dipertimbangkan relatif lebih tingginya premi risiko pada saat ini. Sejalan dengan peningkatan suku bunga deposito, simpanan deposito juga meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Peningkatan jenis simpanan ini ditengarai juga terkait dengan adanya perpindahan dana dari jenis penanaman lain yang lebih bersifat jangka pendek seperti tabungan dan giro. Perkembangan tersebut menyebabkan pertumbuhan uang beredar dalam arti luas (M2) pada akhir tahun lebih besar dibandingkan dengan uang beredar dalam arti sempit (M1).

Rp124,7 triliun pada Desember, atau lebih besar dibandingkan dengan sasaran indikatifnya sebesar Rp122,9 triliun. Secara rata-rata, pertumbuhan tahunan uang primer telah mencapai 18,2% selama 2001, sedikit lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhan tahun sebelumnya sebesar 18,6%. Pada akhir 2001, posisi uang primer telah mencapai Rp127,8 triliun, atau meningkat sebesar Rp2,2 triliun dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar Rp125,6 triliun. Uang primer tersebut sempat mencapai posisi tertinggi sebesar Rp134,1 triliun pada saat menjelang lebaran, namun kemudian turun setelah berakhirnya periode lebaran. Peningkatan ini terutama didorong oleh kenaikan komponen uang kartal yang selama 2001 telah mengalami pertumbuhan rata-rata tahunan sebesar 20,1%, lebih besar dibandingkan rata-rata pertumbuhan uang primer pada periode yang sama (Grafik 5.2). Se-

UANG PRIMER
Secara umum, pengendalian uang primer selama tahun laporan menghadapi berbagai tantangan yang cukup berat sehingga mengakibatkan posisi test date uang primer lebih banyak berada di luar sasaran indikatif yang ditetapkan. Dalam empat bulan pertama tahun laporan, test date uang primer masih berada dalam sasaran indikatifnya bahkan sempat mencapai posisi terendahnya sebesar Rp101,9 triliun pada Februari. Dalam perkembangannya, sejak Mei 2001

mentara itu, faktor lainnya seperti saldo positif bank dan simpanan swasta domestik relatif tidak mengalami perubahan dalam tahun laporan. Relatif stabilnya saldo positif sebagai akibat rendahnya excess reserves perbankan, mengindikasikan bahwa

Triliun Rp 130

120

110

uang primer terus mengalami peningkatan hingga berada di atas sasaran indikatifnya, kecuali pada November (Grafik 5.1). Posisi test date uang primer tersebut mencapai posisi tertingginya sebesar
4 Marjin suku bunga pinjaman dari 200 bp menjadi 300 bp sesuai dengan SE No. 3/1/DPNP tanggal 5 Januari 2001, dan naik dari 300 bp menjadi 400 bp sesuai SE No. 3/19/DPNP tanggal 14 Agustus 2001.
100 Aktual Sasaran indikatif 90

80

Jan.

Mar.

Mei 2000

Jul.

Sep. Nov.

Jan.

Mar.

Mei 2001

Jul.

Sep. Nov.

Grafik 5.1 Uang Primer : Aktual dan Sasaran

93

Moneter

upaya penyerapan likuiditas perbankan telah dilaksanakan secara optimal. Selama 2001, uang kartal meningkat sebesar Rp4,1 triliun hingga mencapai posisi Rp76,5 triliun dari posisi tahun sebelumnya sebesar Rp72,4 triliun (Tabel 5.1). Uang kartal ini, sempat mencapai posisi tertinggi sebesar Rp85,8 triliun pada saat menjelang perayaan hari lebaran. Peningkatan ini lebih bersifat musiman mengingat kebutuhan masyarakat akan uang kartal pada setiap lebaran akan meningkat, meskipun kemudian turun kembali setelah berakhirnya perayaan tersebut. Tingginya peningkatan uang kartal tersebut tidak terlepas dari meningkatnya secara cukup signifikan kegiatan usaha sektor Usaha Kecil dan Menengah (UKM) serta sektor informal yang cenderung menggunakan uang kartal dalam melakukan transaksinya. Peningkatan uang kartal tersebut juga terkait dengan memanasnya kondisi sosial politik di Indonesia hingga pertengahan 2001 yang telah mendorong kebutuhan uang kartal untuk berjagajaga bergerak naik. Permintaan uang kartal tersebut menjadi semakin meningkat, seiring dengan meningRincian

Tabel 5.1 Uang Primer 2001
2001 2000 I II III IV

Triliun Rupiah
Uang Primer Uang Kertas dan Logam Yang Diedarkan – di masyarakat – di perbankan Giro Bank pada Bank Indonesia Giro Sektor Swasta 125,6 103,3 110,6 89,7 72,4 17,3 33,9 2,0 69,9 60,1 9,8 30,9 2,4 76,9 66,2 10,7 30,9 2,9 115,2 80,8 69,0 11,8 31,6 2,8 127,8 91,3 76,5 14,8 34,8 1,7 127,8 128,1 –0,3

Peru– bahan Tahunan
2,2 1,6 4,1 –2,5 0,9 –0,3 2,2 3,6 –1,4

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Uang Primer 125,6 103,3 Cadangan Devisa Bersih (NIR) 124,5 124,3 Aktiva Domestik Bersih (NDA) 1,1 –21,0 – Tagihan Bersih pada Pemerintah 133,7 134,4 – Bantuan Likuiditas 37,3 36,7 – Kredit Likuiditas 15,9 15,6 – Tagihan Lainnya 1,5 1,3 – Operasi pasar uang –78,9 –90,0 – Lainnya Bersih (NOI) –108,4 –119,2

110,6 115,2 128,0 127,8 –17,4 –12,6

125,6 135,5 160,8 27,0 37,1 37,1 37,1 –0,2 15,3 15,2 15,1 –0,8 1,7 1,9 1,9 0,3 –85,6 –86,0 –102,6 –23,7 –111,5 –116,2 –112,4 –4,0

katnya kebutuhan uang untuk transaksi sehubungan dengan meningkatnya harga-harga barang yang dipicu oleh kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan pada akhir Juni 2001. Kondisi ini terlihat dari berubahnya pola perilaku uang kartal yang meningkat lebih tinggi dibandingkan dengan sebelumnya sejak bulan Juli 2001(Grafik 5.3). Kenaikan uang kartal yang disebabkan oleh

Persen 70 Pertumbuhan Uang Primer 60 50 40 30 20 10 0 -10
Des. 1998 Mar. Jun. Sep. Des. Mar. Jun. Sep. Des. Mar. Jun. Sep. Des. 1999 2000 2001

meningkatnya harga dan kebutuhan berjaga-jaga tersebut juga didukung oleh hasil survei “Motif Masyarakat dalam Memegang Uang Kartal” yang dilakukan di 5 kota besar di Indonesia (Grafik 5.4). Berdasarkan hasil survei tersebut diketahui bahwa motif utama yang mendorong masyarakat meningkatkan permintaan terhadap uang kartal adalah akibat meningkatnya kebutuhan transaksi sehubungan dengan naiknya harga-harga barang kebutuhan pokok (21,6%). Adapun motif kedua tertinggi adalah akibat meningkatnya jenis barang dan jasa yang ingin
Pertumbuhan Currency Outside Bank

Grafik 5.2 Pertumbuhan Uang Kartal dan Uang Primer

94

Moneter

Miliar Rp 85.000 80.000 75.000 70.000 65.000 60.000 55.000
Des. Jan. Feb. Mar. Apr. Mei Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov.

Persen
Aktual Pola Perilaku Uang Kartal

Meningkatnya harga-harga barang Meningkatnya jenis barang/ jasa kebutuhan yang dikonsumsi Untuk berjaga-jaga Pecahan uang yang semakin besar Suku bunga simpanan kurang menarik Spekulasi Melemahnya nilai tukar rupiah
Des.

Total Rumah Tangga Perusahaan

0

5

10

15

20

25

30

35

2001

Grafik 5.3 Perilaku Musiman Uang Kartal

Grafik 5.4 Hasil Survei Motif Penyimpanan Uang Kartal

dibeli (20,9%) sebagai cerminan masih meningkatnya pendapatan riil masyarakat, dan motif berjaga-jaga (13,4%) seiring dengan kurang kondusifnya situasi politik dan keamanan di dalam negeri. Sementara faktor lain seperti melemahnya nilai tukar, faktor suku bunga simpanan, meningkatnya denominasi uang kartal, dan tujuan untuk spekulasi masih relatif rendah mempengaruhi masyarakat dalam memegang uang kartal (hanya 12,2%). Berdasarkan faktor yang mempengaruhinya, peningkatan uang primer tersebut terutama

Sebagian ekspansi rekening rupiah tersebut juga dibiayai oleh penerimaan valuta asing pemerintah dan pengambilan simpanan pemerintah di Bank Indonesia. Penerimaan valuta asing pemerintah tersebut terutama bersumber dari penerimaan migas yang mencapai Rp62,4 triliun, lebih besar dibandingkan dengan net pembayaran utang luar negeri pemerintah Rp37,4 triliun. Sementara itu, net kontraksi dari OPT sebesar Rp23,7 triliun selama 2001 terutama berasal dari intervensi rupiah sebesar Rp28,0 triliun khususnya pada Desember, berkaitan dengan meningkatnya sikap berjaga-jaga bank terhadap penarikan dana masyarakat menjelang lebaran dan akhir tahun. Adapun SBI lelang pada periode yang sama justru memberikan pengaruh ekspansi sebesar Rp4,3 triliun. Sejalan dengan perkembangan komponennya yang cenderung ekspansif tersebut, Aktiva Domestik Bersih (Net Domestic Assets/NDA) selama 2001 menunjukkan kecenderungan yang terus meningkat, hingga sempat mencatat nilai positif dan bergerak di atas sasaran indikatifnya selama periode

disebabkan oleh lebih besarnya ekspansi rupiah rekening pemerintah dibandingkan dengan pengaruh kontraksi OPT dan sterilisasi valuta asing. Net ekspansi rupiah rekening pemerintah yang mencapai Rp41,1 triliun terutama ditujukan untuk pembayaran gaji, Dana Alokasi Umum (DAU), dan Dana Bagi Hasil (DBH) sebesar Rp81,3 triliun, kupon obligasi Rp58,2 triliun, subsidi Rp32,6 triliun, dan pembiayaan proyek Rp27,4 triliun. Pengeluaran rupiah pemerintah ini lebih besar dibandingkan dengan penerimaannya yang terutama bersumber dari penerimaan pajak Rp127,5 triliun dan penjualan aset dan privatisasi Rp31,4 triliun.

95

Moneter

Triliun Rp 10 0 Sasaran indikatif -10 -20 -30 -40 Aktual

Miliar $ 19 18 17 16 15 14 13 Sasaran indikatif Aktual

-50 Jan. Mar. Mei 2000 Jul. Sep. Nov. Jan. Mar. Mei 2001 Jul. Sep. Nov.

12

Jan.

Mar.

Mei

Jul. 2000

Sep. Nov.

Jan.

Mar.

Mei

Jul.

Sep. Nov.

2001

Grafik 5.5 Net Domestic Assets

Grafik 5.6 Net International Reserves

lebaran. Setelah berakhirnya periode lebaran, secara perlahan NDA turun hingga mencapai posisi test date negatif Rp2,7 triliun pada akhir tahun, lebih rendah dibandingkan sasaran indikatifnya sebesar Rp5,3 triliun (Grafik 5.5). Sementara itu, posisi Cadangan Devisa Bersih (Net International Reserves /NIR) meningkat sebesar $0,5 miliar hingga mencapai posisi $18,3 miliar atau setara dengan Rp128,1 triliun5 pada akhir 2001. Peningkatan NIR tersebut terutama berasal dari penerimaan migas sebesar $5,3 miliar, serta pinjaman luar negeri dan hasil pengelolaan devisa $4,2 miliar. Penerimaan valuta asing tersebut lebih besar dibandingkan dengan pengeluarannya yang terutama digunakan untuk pembayaran utang luar negeri dan sterilisasi valuta asing sebesar $9,6 miliar. Walaupun telah dilakukan penyesuaian sasaran floor NIR lebih tinggi sebesar $1,9 miliar menjadi $17,6 miliar pada September, posisi NIR selama 2001 masih tetap berada di atas sasaran indikatifnya (Grafik 5.6).

OPERASI PASAR TERBUKA (OPT)
Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, upaya pengendalian uang primer selama 2001 masih bertumpu pada OPT terutama melalui lelang SBI yang dibantu dengan intervensi rupiah. Guna memberikan dukungan yang lebih kuat pada upaya pengendalian uang primer, suku bunga intervensi rupiah dinaikkan sebanyak 8 kali selama 2001 sebesar 425 bp dari 10,8% pada 2000 menjadi 15,13%. Secara keseluruhan, posisi OPT menunjukkan peningkatan, yaitu dari Rp78,9 triliun pada akhir 2000 menjadi Rp102,6 triliun. Peningkatan tersebut terutama disebabkan oleh meningkatnya posisi intervensi rupiah sebesar Rp28,1 triliun menjadi Rp46,9 triliun pada periode yang sama. Sementara itu, posisi SBI justru mengalami penurunan sebesar Rp4,3 triliun menjadi Rp55,7 triliun. Selama tahun laporan, secara umum pelaksanaan OPT telah dapat menyerap kelebihan likuiditas perbankan sebagaimana tercermin pada relatif kecilnya excess reserve perbankan. Upaya

5

Konversi NIR dari dolar ke rupiah di dalam faktor uang primer dihitung dengan nilai tukar yang ditetapkan oleh IMF sebesar Rp7000.

penyerapan excess reserve perbankan tersebut terutama dilakukan melalui lelang SBI, sementara

96

Moneter

Miliar Rp 140.000 SBI Jatuh tempo (aksis kiri) SBI Hasil lelang (aksis kiri) Intervensi Rp (aksis kanan)

Miliar Rp 35.000 30.000 25.000 20.000 15.000 10.000

Keuangan Pusat dan Daerah (PKPD). Sebaliknya, kepemilikan SBI oleh penduduk menunjukkan adanya penurunan dari 33,4% pada 2000 menjadi hanya 7,6% dari total SBI. Hal ini berkaitan dengan relatif menariknya maksimum suku bunga deposito yang ditawarkan perbankan selama 2001 dibandingkan suku bunga SBI yang ditawarkan oleh broker. Sementara itu, posisi Sertifikat Wadiah Bank Indonesia (SWBI) relatif tidak mengalami perubahan yang berarti pada 2001, terlihat dari rendahnya posisi SWBI yang hanya bergerak pada kisaran Rp206 miliar – Rp304 miliar. SWBI yang mulai diterbitkan sejak

120.000

100.000

80.000

5.000 -

60.000

(5.000) (10.000)

40.000

(15.000) Jan. Mar. Mei Jul. 2001 Sep. Nov.

Grafik 5.7 Penyerapan Melalui SBI dan Intervensi Rupiah

intervensi rupiah hanya berfungsi sebagai fine tuning. Namun demikian, seiring dengan upaya Bank Indonesia untuk tidak mendorong terjadinya perubahan suku bunga, sejak September upaya penyerapan uang primer tersebut lebih banyak dilakukan melalui intervensi rupiah. Hal ini tercermin dari lebih rendahnya jumlah SBI yang berhasil diserap

Februari 2000 ini merupakan sertifikat yang diterbitkan Bank Indonesia sebagai bukti penitipan jangka pendek dengan prinsip syariah. Walaupun posisinya relatif stabil, bonus SWBI meningkat dari 8,72% pada akhir 2000 menjadi 12,43% seiring dengan

2000

dibandingkan dengan jumlah yang jatuh tempo dan meningkatnya posisi intervensi rupiah sejak bulan tersebut (Grafik 5.7). Berdasarkan kepemilikannya, pada akhir 2001 kelompok bank swasta nasional masih mendominasi kepemilikan SBI dengan pangsa 44,6%, disusul oleh kelompok bank pemerintah 20,5%, ke2001
Bank Asing dan Campuran 4,4% BPD 3,2% Bank Swasta 56,9% Penduduk 33,4% Asing 0,4% Bank Pemerintah 1,8%

lompok bank asing dan campuran 19,3%, dan Bank Pembangunan Daerah (BPD) 7,6% (Grafik 5.8). Jika dibandingkan dengan komposisi kepemilikan SBI pada akhir 2000, pangsa kepemilikan SBI oleh bank asing dan campuran serta BPD menunjukkan peningkatan selama 2001. Peningkatan kepemilikan SBI oleh BPD tersebut seiring dengan meningkatnya sumber dana BPD yang dimiliki oleh pemerintah daerah terkait dengan pelaksanaan kebijakan Perimbangan
Grafik 5.8 Kepemilikan SBI oleh Kelompok Bank
BPD 7,6% Bank Swasta 44,6% Bank Asing dan Campuran 19,3% Penduduk 7,6% Asing 0,6% Bank Pemerintah 20,5%

97

Moneter

meningkatnya suku bunga instrumen Bank Indonesia lainnya. Bonus SWBI tersebut dihitung berdasarkan indikasi imbalan pasar uang antarbank syariah atau deposito mudharabah satu bulan sebelumnya.

khususnya pada bank-bank asing dan campuran sejak diberlakukannya ketentuan PBI No.3/3/2001 tanggal 12 Januari 2001 tentang Pembatasan Transaksi Rupiah kepada Bukan penduduk dan Pengurangan Batas Maksimum Transaksi Forward. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengelolaan likuiditas

PASAR UANG ANTARBANK
Selama 2001, aktivitas di pasar uang antarbank (PUAB) rupiah menunjukkan kenaikan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Secara keseluruhan, ratarata suku bunga PUAB meningkat 410 bp dari 10,46% menjadi 14,56%, sementara volume transaksi mengalami peningkatan sebesar 39,9% (Tabel 5.2). Peningkatan suku bunga dan volume transaksi tersebut terjadi baik di PUAB pagi maupun PUAB sore. Di PUAB pagi, rata-rata suku bunga meningkat sebesar 425 bp dari 10,67% pada 2000 menjadi 14,92%, sedangkan rata-rata volume transaksi meningkat sebesar 61,0%. Perkembangan yang sama terjadi di PUAB sore dimana rata-rata suku bunga meningkat 424 bp menjadi 18,33%. Peningkatan volume transaksi di PUAB tersebut di atas mengindikasikan tingginya kebutuhan likuiditas jangka pendek perbankan sepanjang 2001,

perbankan semakin mengandalkan penempatan dalam jangka pendek selain penempatan dalam SBI dan obligasi pemerintah. Sementara itu, naiknya tingkat suku bunga PUAB terkait dengan meningkatnya kebutuhan likuiditas jangka pendek perbankan dan upaya Bank Indonesia untuk meredam volatilitas nilai tukar melalui kenaikan suku bunga intervensi rupiah. Sejalan dengan peningkatan aktivitas PUAB rupiah, rata-rata volume PUAB valuta asing dalam tahun 2001 juga mengalami peningkatan sebesar $12,2 juta dibandingkan dengan tahun sebelumnya sehingga menjadi rata-rata $167,4 juta per hari. Walaupun sempat meningkat tinggi pada paro pertama tahun laporan, namun dalam perkembangan berikutnya, rata-rata volume PUAB valuta asing kembali menurun. Hal ini diduga akibat adanya sejumlah bank papan atas yang melakukan penem-

Tabel 5.2 Rata-rata Suku Bunga dan Volume Transaksi Harian PUAB Periode Trw I -2000 Trw II - 2000 Trw III - 2000 Trw IV - 2000 Rata-Rata Tahun 2000 Trw I - 2001 Trw II - 2001 Trw III - 2001 Trw IV - 2001 Rata-Rata Tahun 2001 Suku Bunga (%) Total (PUAB Rp) 9,50 10,03 10,89 11,43 10,46 12,71 14,45 15,15 15,93 14,56 Volume (Miliar Rp) Total (PUAB Rp) 1.712,0 1.906,9 2.485,9 2.810,0 2.288,0 3.130,0 3.104,0 3.070,0 3.167,0 3.118,0

Pagi 9,74 10,19 11,16 11,64 10,67 12,76 14,72 16,14 16,06 14,92

Sore 9,32 9,87 10,62 11,21 10,25 12,64 14,10 15,49 15,75 14,50

PUAB Valas 5,66 6,25 6,44 6,45 6,20 5,49 4,06 3,34 2,17 3,76

Pagi 1.003,4 961,5 1.196,6 1.340,0 1.125,4 1.812,0 1.816,0 1.792,0 1.830,0 1.812,0

Sore 708,2 945,5 1.289,3 1.470,0 1.103,2 1.318,0 1.288,0 1.278,0 1.337,0 1.305,0

PUAB Vls ($ Juta) 135,5 149,0 177,6 158,9 155,3 204,6 200,1 162,8 102,1 167,4

98

Moneter

Miliar Rp 1.500 1.000 500 0 (500) Bank Penerima B. Persero I II 2000 B.Devisa III B. Nondevisa IV I B.Campuran II 2001 III B. Asing IV Bank Pemberi

ini dilakukan dengan meminjam di PUAB yang selanjutnya ditanamkan di SBI maupun transaksi lainnya seperti memenuhi kebutuhan hedging perusahaan-perusahaan multinasional (MNC) terhadap kewajiban rupiahnya.

(1.000) (1.500)

SUKU BUNGA
Sejalan dengan upaya penyerapan likuiditas dalam rangka pencapaian sasaran uang primer, suku bunga SBI meningkat selama 2001. Suku bunga SBI 1 bulan meningkat sebesar 309 bp bila dibandingkan dengan posisi akhir 2000 hingga mencapai 17,62%

Grafik 5.9 Net Pemberi - Peminjam Harian di PUAB

patan dana di luar negeri (Lihat Bab 3 Nilai Tukar). Dominasi volume transaksi di PUAB valuta asing lebih banyak dilakukan oleh bank-bank pemerintah, bank asing, dan bank campuran. Sementara itu, rata-rata suku bunga PUAB valuta asing selama periode laporan mengalami penurunan sebesar 244 bp sehingga menjadi 3,76%. Menurunnya suku bunga PUAB valuta asing terkait dengan kecenderungan menurunnya suku bunga luar negeri terutama Fed fund rate . Selama tahun laporan, kelompok bank yang banyak melakukan penempatan dalam PUAB rupiah adalah kelompok bank devisa, bank persero, dan bank nondevisa (Grafik 5.9). Hal ini menunjukkan semakin likuidnya ketiga kelompok bank tersebut. Sementara itu, kelompok bank asing dan bank campuran lebih banyak melakukan peminjaman baik di PUAB rupiah maupun valuta asing. Aktivitas bank asing dan campuran yang cenderung menjadi net peminjam di PUAB bukan semata-mata dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan likuditas, tetapi juga sebagai upaya untuk mengoptimalkan keuntungan dari adanya perbedaan suku bunga (arbitrase). Hal

pada akhir Desember 2001. Sementara itu, suku bunga SBI 3 bulan meningkat 332 bp hingga mencapai posisi 17,63%. Peningkatan suku bunga SBI tersebut terutama terjadi hingga Agustus 2001. Selanjutnya, sejak September hingga akhir tahun suku bunga SBI 1 bulan dan 3 bulan bergerak stabil pada kisaran 17,58% - 17,63%. Adapun peningkatan suku bunga intervensi rupiah overnight (O/N) seperti telah di jelaskan di subbab Operasi Pasar Terbuka di depan, terutama terjadi pada paro pertama tahun laporan, sementara pada paro kedua suku bunga intervensi rupiah O/N tetap pada posisi 15,13% (Grafik 5.10). Meskipun secara nominal meningkat, suku bunga riil SBI yang terjadi lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Secara riil pada akhir 2001, suku bunga SBI 1 bulan hanya mencapai 5,07% atau menurun 11 bp dibandingkan posisi akhir tahun sebelumnya sebesar 5,18%. Peningkatan suku bunga SBI tersebut tidak secara langsung berpengaruh pada peningkatan suku bunga deposito secara signifikan. Hal ini berkaitan dengan masih tingginya likuiditas perbankan sebagai akibat fungsi intermediasi perbankan yang belum

99

Moneter

Persen 17.5 16.5 15.5 14.5 13.5 12.5 11.5 10.5 Des. 2000 Feb. Apr. Jun. 2001 Ags. Okt. Des.
SBI 3 bulan Intervensi Rupiah SBI 1 bulan

upaya tersebut juga didukung dengan kebijakan perubahan penentuan suku bunga penjaminan yang semula dilakukan seminggu sekali menjadi sebulan sekali. Peningkatan suku bunga maksimum penjaminan tersebut telah mendorong perbankan untuk menaikkan tingkat suku bunga depositonya selama 2001. Dibandingkan dengan posisi akhir 2000, suku bunga nominal dan riil deposito telah meningkat masing-masing sebesar 411 bp dan 91 bp menjadi 16,07% dan 3,52% (Grafik 5.11). Perkembangan ini mengindikasikan bahwa upaya perbaikan struktur

Grafik 5.10 Diskonto Intervensi Rp, SBI 1 dan 3 bulan

sepenuhnya pulih. Belum pulihnya intermediasi ini mendorong perbankan untuk memaksimalkan
Nominal, % Riil, % 5 Deposito nominal 5 4

keuntungannya dengan memanfaatkan selisih antara suku bunga SBI dengan deposito. Dalam rangka mendorong peningkatan suku bunga deposito agar dapat searah dengan perkembangan SBI, maka Bank Indonesia telah menigkatkan margin suku bunga penjaminan sebanyak 2 kali pada Januari dan Agustus 2001 masing-masing sebesar 100 bp diatas suku bunga deposito bank anggota JIBOR. Selain itu,

17 16 15 14 13

4 3 3 2

12 11 Des 2000 Mar Jun

Deposito riil Sep 2001 Des

2 1

Tabel 5.3 Perkembangan Suku Bunga 1) Rincian SBI 1 Bulan PUAB O/N Deposito 1 Bulan 3 Bulan 6 Bulan 12 Bulan 24 Bulan Kredit Modal Kerja Investasi 11,9 112,1 12,2 12,9 14,3 22,4 18,4 20,7 17,9 14,5 11,4 12,0 13,2 13,2 12,2 14,3 17,7 16,9 17,6 15,66 16,07 17,24 16,18 15,48 18,05 19,19 17,90 1999 2000 Persen 2001

Grafik 5.11 Suku Bunga Deposito 1 Bulan
Persen 19 18 SBI 1 bulan 17 16 Penjaminan deposito 1 bulan 15 Deposito 1 bulan 14 13 12 Des. 2000 Mar. Jun. 2001 Sep. Des.

1) Rata-rata tertimbang dalam bulan Desember

Grafik 5.12 Perkembangan Suku Bunga SBI dan Deposito

100

Moneter

Persen 20 19 18 17 Kredit Investasi 16 15 14 13 12 Des. 2000 Mar. Jun. 2001 Sep. Des. Deposito 3 bulan Kredit Modal Kerja

sebagaimana telah dijelaskan di atas, mengalami peningkatan sebesar 5,5%. Dilihat dari kepemilikan, pertumbuhan uang giral terutama terjadi pada simpanan giro milik Pemerintah Daerah sebesar 138,9% (Grafik 5.14), sebagai dampak dari mulai dilaksanakannya kebijakan Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah (PKPD) sejak Januari 2001, dalam bentuk droping Dana Alokasi Umum (DAU) dan bagi hasil Sumber Daya Alam Migas. Pada akhir tahunan simpanan giro pemerintah tersebut mengalami penurunan sehubungan dengan pembayaran proyekproyek yang dilakukan.

Grafik 5.13 Perkembangan Suku Bunga Jangka Panjang

suku bunga melalui peningkatan suku bunga penjaminan cukup efektif dalam menarik suku bunga deposito ke atas (Grafik 5.12). Dalam pada itu, perkembangan suku bunga perbankan lainnya seperti suku bunga deposito 3 bulan, suku bunga kredit modal kerja dan suku bunga kredit investasi juga mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan posisi pada akhir tahun lalu. Sampai dengan akhir 2001, suku bunga deposito 3 bulan meningkat sebesar 400 bp menjadi 17,24%, suku bunga kredit modal kerja naik sebesar 154 bp menjadi 19,19%, sedangkan suku bunga kredit investasi naik 104 bp menjadi 17,90% apabila dibandingkan dengan suku bunga pada akhir Desember 2001 (Grafik 5.13).

Uang kuasi dalam periode yang sama mengalami peningkatan sebesar 13,9% hingga mencapai Rp666,3 triliun. Dilihat dari komponennya, peningkatan uang kuasi tersebut terutama terjadi pada kuasi rupiah dalam bentuk deposito yang meningkat sebesar 16,7% hingga menjadi Rp340,9 triliun dan tabungan sebesar 11,8% hingga mencapai posisi Rp170,6 triliun. Lebih tingginya pertumbuhan deposito dibandingkan dengan pertumbuhan tabungan dan simpanan giro selama periode laporan, mencerminkan terjadinya pergeseran preferensi

Total Giro (Miliar Rp) 110.000 100.000

Giro Pemda (Miliar Rp) 25.000

20.000 90.000

UANG BEREDAR
Pada periode laporan, posisi M1 mengalami peningkatan sebesar 9,6% dibandingkan dengan tahun sebelumnya, sehingga mencapai posisi Rp177,7 triliun pada Desember 2001. Peningkatan tersebut sebagian besar disebabkan oleh peningkatan uang giral sebesar 12,9%, sedangkan uang kartal

80.000 70.000 Total Giro 60.000 50.000 Jan. Mar. Mei 2001 Jul. Sep. Nov. Giro Pemda

15.000

10.000

5.000

Grafik 5.14 Giro Pemerintah Daerah di Bank

101

Moneter

Tabel 5.4 Uang Beredar dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhi 1999 2000 Posisi Triliun Rupiah
M2 M1 – Uang kartal – Uang giral Uang Kuasi – Deposito dan Tabungan dalam Rupiah – Simpanan dalam valuta asing Faktor-faktor Yang Mempengaruhi M2 Aktiva luar negeri (bersih) – Bank Indonesia – Bank-bank umum Tagihan kepada pemerintah (bersih) Tagihan bersih kepada BPPN Tagihan kepada sektor usaha – Kredit dalam rupiah – Kredit dalam valuta asing – Tagihan lainnya Lainnya (bersih) 646,2 124,6 58,4 66,3 521,6 408,6 113,0 747,0 162,2 72,4 89,8 584,8 444,7 140,2 844,1 177,7 76,3 101,4 666,3 511,6 154,8 97,0 15,5 4,0 11,5 81,5 66,9 14,6

nomian ke depan. Perkembangan ini berbeda dengan kondisi pada 2000, dimana deposito hanya mengalami pertumbuhan sebesar 2,1% sedangkan

Rincian

2001 Perubahan 2000-2001

tabungan dan giral masing-masing tumbuh sebesar 24,4% dan 35,5%. Sementara itu, selama 2001 simpanan valuta asing mengalami peningkatan sebesar 10,4% sehingga pada akhir tahun mencapai Rp154,8 triliun. Namun demikian, peningkatan yang tinggi tersebut sebagian besar merupakan dampak dari melemahnya nilai tukar rupiah. Apabila dinilai dalam valuta dolar, simpanan valuta asing tersebut hanya mengalami peningkatan sebesar $270,5 juta atau setara dengan Rp2,6 triliun, sehingga pada akhir tahun mencapai Rp142,8 triliun. Berdasarkan perkembangan M1 dan uang kuasi di atas, uang beredar dalam arti luas (M2) pada Desember 2001 mengalami peningkatan

646,2 129,1 109,3 19,8 397,3 0,0 252,6 140,5 84,6 27,4 -132,7

747,0 210,7 201,2 9,5 520,3 0,0 294,9 152,5 116,5 25,9 -278,9

844,1 234,0 192,6 41,4 529,7 0,0 329,2 202,6 105,0 21,6 -248,8

97,0 23,2 -8,6 31,9 9,4 0,0 34,2 50,1 -11,5 -4,4 30,2

masyarakat dalam menempatkan dananya ke dalam bentuk simpanan yang lebih panjang (Grafik 5.15). Hal ini berkaitan dengan kenaikan suku bunga deposito selama tahun laporan (Grafik 5.16) dan membaiknya ekspektasi terhadap prospek pereko-

sebesar 13,0% dari tahun sebelumnya menjadi Rp844,1 triliun. Secara rata-rata selama 2001, M2 telah tumbuh sebesar 14,7% year on year (y-o-y). Pertumbuhan M2 ini lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhan M1 selama 2001

Persen 120 100 80 60 Giro Deposito Tabungan

Triliun Rp 350 340 330 320 310 Vol. Deposito Rp Suku bunga deposito nominal Suku bunga deposito riil

Persen 17 15 13 11 9 7 5 3 1

40 20 (20) Mar. Jun. Sep. Des. Mar. Jun. 2000 Sep. Des. Mar. Jun. 2001 Sep. Des. 1999

300 290 280 270 Feb. Mei 2000 Ags. Nov. Feb. Mei Ags. Nov. 2001

Grafik 5.15 Pertumbuhan Giro, Tabungan dan Deposito

Grafik 5.16 Suku Bunga Deposito dan Simpanan Deposito

102

Moneter

yang mencapai 19,8% (y-o-y). Hal ini berkaitan dengan tingginya peningkatan uang kartal yang terjadi selama tahun 2001. Tingginya peningkatan uang kartal dibandingkan dengan pertumbuhan M2 tersebut juga tercermin dari meningkatnya rasio C/D selama tahun 2001 (Grafik 5.17). Meningkatnya rasio C/D ini menyebabkan turunnya angka pengganda uang (APU) M2 selama tahun 2001 hingga mencapai rasio 6,7 pada akhir 2001. Rasio ini lebih rendah dibandingkan rata-rata sebelum krisis yang mencapai rasio sebesar 8,0, yang mencerminkan belum pulihnya fungsi intermediasi perbankan. Berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi, ekspansi M2 dalam tahun laporan terutama berasal dari ekspansi NDA sebesar Rp73,8 triliun. Ekspansi NDA tersebut bersumber dari ekspansi tagihan bersih kepada sektor usaha (Claims on Business Sector / CBS) sebesar Rp34,2 triliun dan tagihan bersih kepada pemerintah (Net Claims on Goverment / NCG) sebesar Rp9,4 triliun dibandingkan tahun sebelumnya. Ekspansi CBS terjadi karena peningkatan kredit dalam rupiah sebesar Rp50,1 triliun, sebaliknya

kredit valuta asing dan tagihan lainnya mengalami penurunan masing-masing sebesar Rp11,5 triliun dan Rp4,4 triliun. Peningkatan kredit rupiah tersebut termasuk diantaranya kredit yang dibeli kembali oleh perbankan dari BPPN. Kredit rupiah tersebut sebagian besar ditujukan untuk pembiayaan kredit modal kerja bagi sektor perindustrian dan perdagangan, serta untuk pembiayaan kredit konsumsi. Adapun penurunan kredit valuta asing tersebut terutama disebabkan oleh pengalihan kredit valuta asing kelompok Bank Swasta Nasional kepada BPPN yang ditukar dengan hedge bonds dan penghapusbukuan kredit valuta asing kelompok Bank Persero. Sementara itu, ekspansi NCG bersumber dari ekspansi NCG di Bank Indonesia sebesar Rp27,0 triliun, sedangkan NCG di bank umum mengalami kontraksi sebesar Rp17,7 triliun. Ekspansi NCG di Bank Indonesia yang antara lain ditujukan untuk droping DAU, pembayaran kupon obligasi pemerintah, pembayaran utang luar negeri, pembayaran termin proyek, dan subsidi BBM (lihat sub bab uang primer). Dalam pada itu, kontraksi NCG di bank umum terutama disebabkan oleh menurunnya tagihan perbankan kepada pemerintah dalam bentuk obligasi

APU 2, C/D
9,0

APU 1
2,0

sebesar Rp22,0 triliun, berkaitan dengan kompensasi obligasi pemerintah dengan kewajiban perbankan kepada BPPN dan penurunan nilai pasar obligasi pemerintah. Sementara itu, faktor Aktiva Luar Negeri Bersih (Net Foreign Assets / NFA) mengalami peningkatan sebesar Rp23,2 triliun, terutama berasal dari peningkatan NFA di bank umum sebesar Rp31,9 triliun. Peningkatan NFA di bank umum tersebut sebagian besar berasal dari penurunan kewajiban perbankan kepada bukan penduduk sebesar Rp24,3

8,5 8,0 7,5 7,0 6,5 6,0 APU 1 5,5 5,0
Jan. Mar. Mei Jul. Sep. Nov. Jan. Mar. Mei

C/D 1,9 1,8 APU 2 1,7 1,6 1,5 1,4 1,3
Jul. Sep. Nov.

2000

2001

Grafik 5.17 Angka Pengganda Uang dan Rasio C/D

103

Moneter

triliun, antara lain kewajiban dalam bentuk giro dan call money masing-masing sebesar Rp12,4 triliun dan Rp7,0 triliun.

Sementara faktor nonekonomi yang mempengaruhi melemahnya IHSG terutama bersumber dari meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap stabilitas keamanan dan politik selama 2001. Selain itu. ter-

PASAR MODAL
Kinerja pasar modal di tahun 2001 mengalami perkembangan yang kurang menggembirakan, ditandai oleh pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang berfluktuatif dengan kecenderungan menurun. Pada akhir tahun laporan, IHSG ditutup terkoreksi 24,285 poin atau (5,83%) pada level 392,0 dibandingkan posisi akhir tahun sebelumnya yang berada pada level 416,3 (Grafik 5.18). Penurunan IHSG dipengaruhi baik oleh faktor ekonomi maupun nonekonomi. Faktor ekonomi terutama akibat melemahnya nilai tukar rupiah, naiknya tingkat diskonto SBI hingga level 17%, turunnya peringkat investasi di Indonesia dari “stabil” ke “negatif” menurut lembaga pemeringkat Moody’s di awal Maret 2001, serta melemahnya kinerja bursa regional yang didorong oleh ketidakpastian dari prospek perekonomian Jepang dan Amerika Serikat.

jadinya tragedi WTC 11 September 2001 yang diikuti oleh aksi anti AS di sejumlah kota besar dan penurunan peringkat utang Indonesia oleh S&P dari CCC+ menjadi CCC serta prospek utang dari stabil menjadi negatif pada minggu ke II November 2001 semakin menekan pergerakan indeks. Meskipun demikian, pada Februari dan Agustus 2001 indeks sempat menguat yang dipicu oleh penurunan tingkat suku bunga oleh bank sentral AS, berhasilnya pelaksanaan Sidang Istimewa dan pergantian kepemimpinan nasional yang berlangsung aman.Kondisi ini juga mendorong peningkatan indeks kepercayaan konsumen dari 94,1 menjadi 112,3. Menurunnya IHSG pada 2001 juga tidak terlepas dari berkurangnya kontribusi investor asing di pasar modal Indonesia. Hal tersebut tercermin dari menurunnya posisi nilai transaksi investor asing terhadap total perdagangan dari Rp24,7 triliun (20,1%) pada tahun lalu menjadi Rp14,6 triliun (9,9%) pada 2001. Seiring dengan melemahnya IHSG, nilai

IHSG 480 460 440 420 400 380 360 340 320 300
2-Jan. 13-Feb. 29-Mar. 14-Mei 27-Jun. 8-Ags. 20-Sep. 2-Nov.

Nilai
Nilai IHSG

3500 3300 3100 2900 2700 2500 2300 2100 1900 1700 1500 1300 1100 900 700 500 300 100
19-Des.

kapitalisasi pasar mengalami penurunan sebesar 7,8% dari Rp259,6 triliun pada akhir tahun 2000 menjadi Rp239,3 triliun. Sementara itu, jumlah emiten di bursa saham mengalami peningkatan dari 347 emiten senilai Rp226,1 triliun menjadi 379 emiten senilai Rp231,3 triliun. Guna meningkatkan kinerja pasar modal dalam tahun laporan, pemerintah telah mengeluarkan kebijakan di pasar modal yang terkait dengan perubahan struktur organisasi Bapepam dan pemberian ijin kepemilikan maksimal 99% saham efek

2001

Grafik 5.18 IHSG dan Nilai Perdagangan 2001

104

Moneter

perusahaan patungan sebelum penawaran umum kepada sekuritas asing. Untuk memungkinkan bursa dapat diakses dari jarak jauh (sistem remote trading), pada November 2001 pemerintah membangun sistem perdagangan dengan teknologi canggih. Upaya tersebut juga didukung oleh kebijakan penghapusan “pasar segera” dalam rangka efisiensi melalui penyederhanaan pasar. Namun demikian, pada saat yang sama pemerintah juga mengenakan PPh atas penghasilan dari obligasi yang diperdagangkan di bursa efek sebesar 0,03% dari nilai transaksi. Kebijakan ini berlawanan dengan tujuan untuk mengembangkan pasar modal sebagai salah satu alternatif sumber pembiayaan bagi dunia usaha. Berbeda dengan pergerakan IHSG, perkembangan indeks saham dengan prinsip syariah (Jakarta Islamic Index) mengalami kenaikan dari level 57,9 pada akhir 2000 menjadi 61,4 pada akhir 2001. Indeks tersebut dihitung mengacu pada 30 saham perusahaan yang kegiatannya berdasarkan prinsip syariah Islam. Sementara itu, di pasar obligasi korporasi terjadi peningkatan jumlah emiten dari 91 emiten dengan nilai emisi sebesar Rp28,8 triliun menjadi 94 emiten dengan nilai emisi Rp31,7 triliun. Namun demikian, aktivitas perdagangan obligasi korporasi pada 2001 mengalami penurunan dibandingkan 2000 meskipun indeks perdagangan meningkat sebesar 24,9% dari 433,8 pada tahun lalu menjadi 541,5 pada 2001. Total volume transaksi obligasi korporasi tercatat sebesar Rp1,1 triliun atau mengalami penurunan sebesar 87,3% dibandingkan tahun 2000 yang mencapai Rp8,8 triliun, dengan total frekuensi sebanyak 403 kali menurun dibanding 2.497 kali pada

2000. Penurunan aktivitas perdagangan obligasi disebabkan oleh terjadinya pengalihan portofolio investasi oleh para investor ke bentuk lain sebagai akibat kondisi perekonomian yang belum membaik, pengenaan pajak penghasilan dan pajak transaksi atas penghasilan yang diterima, penurunan nilai rupiah, tingginya tekanan inflasi serta naiknya tingkat diskonto SBI. Di sisi lain, volume perdagangan obligasi pemerintah di pasar sekunder pada 2001 meningkat hingga mencapai Rp66,2 triliun dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanya mencapai Rp27,9 triliun (Tabel 5.5). Hal ini sejalan dengan peningkatan kebutuhan likuiditas beberapa bank pemilik obligasi rekap. Guna lebih mendorong peningkatan transaksi obligasi pemerintah, jumlah maksimum obligasi pemerintah yang dapat masuk

Tabel 5.5 Jumlah Obligasi Pemerintah Yang Diperdagangkan 1) Variable Rate Februari Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember 2000 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember 2001 6.000 61.730 1.587.188 85.740 2.788.381 2.284.318 797.475 5.370.127 3.227.200 16.208.159 4.508.000 3.357.113 1.466.197 7.104.770 1.387.590 2.873.130 2.739.751 1.701.927 1.393.822 565.010 3.551.644 1.779.713 32.428.667 48.636.826
1) Dalam juta rupiah

Fixed Rate 0 25.650 7.000.000 0 1.053.235 418.676 2.278.500 921.600 11.697.661 7.929.500 1.064.500 1.439.654 1.844.500 1.518.186 5.337.291 1.572.920 1.578.000 2.004.409 2.824.720 3.116.753 3.563.011 33.793.444 45.491.105

Total 6.000 87.380 8.587.188 85.740 3.841.616 2.702.994 797.475 7.648.627 4.148.800 27.905.820 12.437.500 4.421.613 2.905.851 8.949.270 2.905.776 8.210.421 4.312.671 3.279.927 3.398.231 3.389.730 6.668.397 5.342.724 66.222.111 94.127.931

105

Moneter

Volume 180 160 140 120 100 80 60 40 20 0 Jan. Feb. Mar. Apr. Mei Jun. Jul. Volume (Rp miliar) Frekuensi

Frekuensi 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Ags. Sep. Okt. Nov. Des. 2001

31 Juli 2001. Dari keseluruhan transaksi obligasi pemerintah tersebut jumlah obligasi fixed rate (FR) mencapai Rp33,8 triliun, lebih besar dibandingkan dengan transaksi variable rate (VR) Rp32,4 triliun. Lebih besarnya transaksi obligasi FR dibandingkan dengan VR lebih berkaitan dengan motif dari investor untuk mencari pandapatan yang lebih tinggi akibat besarnya discount rate yang terbentuk hingga mencapai 35% - 50%. Dengan demikian, sejak Februari 2000, total transaksi perdagangan obligasi pemerintah di pasar sekunder telah mencapai Rp94,1 triliun yang meliputi transaksi obligasi VR

Grafik 5.19 Volume Perdagangan Obligasi

ke dalam portofolio perdagangan ditingkatkan dari 25% pada 8 Desember 2000 menjadi 100% pada

sebesar Rp48,6 triliun dan obligasi FR sebesar Rp45,5 triliun.

106

Neraca Pembayaran

bab 6 NERACA PEMBAYARAN

107

Neraca Pembayaran

bab 6

NERACA PEMBAYARAN

D

alam tahun 2001, kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) menunjukkan perkembangan

cukup tajam. Sementara itu, defisit transaksi jasa-jasa mengalami penurunan yang disebabkan oleh berkurangnya pembayaran bunga utang luar negeri, dan berkurangnya pembayaran jasa-jasa angkutan yang terkait dengan menurunnya kegiatan impor.
Tabel 6.1 Neraca Pembayaran Indonesia Rincian
A. Transaksi Berjalan 1. Barang a. Ekspor f.o.b Nonmigas Migas Minyak LNG LPG b. Impor f.o.b Nonmigas Migas Minyak Gas 2. Jasa a. Nonmigas b. Migas Minyak Gas B. Lalu Lintas Modal 1. Lalu lintas modal pemerintah (bersih) a. Penerimaan pinjaman dan bantuan b. Pelunasan pinjaman 1) 2. Lalu lintas modal swasta (bersih) a. Penanaman modal langsung (bersih) b. Lainnya (bersih) C. Jumlah (A+B) D. Selisih Perhitungan antara C dan E E. Lalu-lintas Moneter2) Catatan: 1. Aktiva Luar Negeri (GFA)3) Setara Impor Nonmigas dan pembayaran utang luar negeri pemerintah (bulan) 2. Transaksi Berjalan/PDB (%)

yang kurang menggembirakan. Hal itu dapat dilihat dari berkurangnya surplus transaksi berjalan terutama sebagai akibat dari menurunnya kinerja ekspor dan meningkatnya defisit pada lalu lintas modal. Menurunnya kinerja ekspor tidak terlepas dari perkembangan kondisi yang terjadi baik di luar maupun di dalam negeri. Di sisi eksternal, melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia terutama di negara-negara tujuan ekspor, yang diperburuk oleh dampak tragedi WTC 11 September 2001, dan turunnya harga-harga komoditas utama mengakibatkan ekspor, khususnya ekspor nonmigas mengalami penurunan yang cukup besar. Penurunan ekspor juga dipengaruhi oleh adanya penetapan syarat-syarat tambahan bagi produk ekspor Indonesia seperti penerapan persyaratan ramah lingkungan dan perlindungan hak konsumen. Di sisi internal, menurunnya ekspor tersebut dipengaruhi oleh terjadinya gangguan produksi dan distribusi yang disebabkan oleh meningkatnya faktor ketidakpastian sehubungan dengan masih maraknya aksi mogok buruh, gangguan keamanan, dan masih belum pulihnya fungsi intermediasi perbankan. Sejalan dengan masih rendahnya kegiatan investasi dan menurunnya ekspor, impor juga mengalami penurunan, terutama impor barang modal dan bahan baku penolong. Penurunan impor ini berkaitan pula dengan perkembangan nilai tukar rupiah yang mengalami depresiasi dan fluktuasi yang

1999

2000 Miliar $

2001*

5,8 20,6 51,2 41,0 10,3 5,7 4,2 0,4 –30,6 –26,6 –4,0 –3,7 –0,3 –14,9 –11,7 –3,2 –1,5 –1,7 -4,6 5,4 7,9 –2,6 –9,9 –2,7 –7,2 1,2 2,1 –3,3

8,0 25,0 65,4 50,3 15,1 8,0 6,8 0,4 –40,4 –34,4 –6,0 –5,8 –0,2 –17,1 –12,5 –4,6 –2,2 –2,4 –6,8 3,2 5,0 –1,8 –10,0 –4,6 –5,4 1,2 3,8 –5,0

5,0 21,6 58,7 45,8 12,9 7,2 5,4 0,4 –37,0 –31,4 –5,6 –5,3 –0,3 –16,7 –12,4 –4,3 –2,2 –2,1 –8,9 –0,3 3,3 –3,6 –8,6 –5,9 –2,7 –3,9 2,6 1,4

27,1 6,7 4,1

29,4 6,0 5,3

28,0 6,1 3,4

1) Setelah diperhitungkan rescheduling dan termasuk pembayaran kepada IMF 2) Minus (–) = Surplus, dan sebaliknya 3) Sejak 2000 menggunakan konsep IRFCL menggantikan konsep cadangan devisa bruto (GFA)

108

Neraca Pembayaran

Sementara itu, peningkatan defisit pada transaksi modal terutama berasal dari defisit lalu lintas modal (LLM) pemerintah setelah dalam beberapa tahun terakhir mencatat surplus. Defisit LLM pemerintah disebabkan oleh penurunan yang tajam pada penarikan utang luar negeri pemerintah sebagai akibat belum dapat dipenuhinya beberapa persyaratan yang ditetapkan oleh pihak kreditur. Dalam pada itu, defisit LLM swasta mengalami penurunan sebagai akibat dari menurunnya pembayaran utang luar negeri swasta. Dengan perkembangan tersebut di atas, NPI secara keseluruhan mengalami defisit sebesar $1,4 miliar sehingga posisi cadangan devisa pada akhir 2001 menurun menjadi $28,0 miliar atau setara

TRANSAKSI BERJALAN
Dalam tahun 2001, transaksi berjalan diperkirakan mencatat surplus sebesar $5,0 miliar atau 3,4% dari PDB, turun dibandingkan dengan surplus tahun sebelumnya yang mencapai $8,0 miliar atau 5,3% dari PDB (Grafik 6.1). Turunnya surplus transaksi berjalan sebagian besar disebabkan oleh menurunnya surplus perdagangan. Penurunan tersebut terjadi pada neraca perdagangan migas dan nonmigas yang masing-masing turun sebesar $1,8

Miliar $ 28
Transaksi Berjalan Neraca Perdagangan Neraca Jasa

16

dengan 6,1 bulan kebutuhan impor dan pembayaran utang luar negeri (Tabel 6.1). Dalam mengatasi berbagai masalah di sektor perdagangan internasional dan lalu lintas modal, pemerintah telah menempuh beberapa langkah kebijakan. Di bidang ekspor, kebijakan yang ditempuh antara lain berupa penurunan tarif pajak ekspor beberapa komoditas tertentu dan penyempurnaan sistem manajemen kuota tekstil. Sejalan dengan kebijakan tersebut, produsen yang berorientasi ekspor yang didukung oleh pemerintah telah melaksanakan beberapa pameran produk ekspor di dalam dan luar negeri. Di bidang impor, pemerintah antara lain telah mempermudah impor barang untuk memperlancar kegiatan produksi. Sementara itu, di bidang LLM, pemerintah mengeluarkan perubahan ketentuan mengenai pemilikan saham oleh investor asing yang memungkinkan pembelian perusahaan domestik tertentu yang belum berproduksi secara komersial.
Grafik 6.2 Nilai Ekspor Bersih Nonmigas dan Migas
Miliar $ 18 16 14 12 10 8 6 4 2 0 1997 1998 1999 2000 2001* Nilai Ekspor Bersih Nonmigas Nilai Ekspor Bersih Migas

4

-8

-20

1997

1998

1999

2000

2001*

Grafik 6.1 Transaksi Berjalan, Neraca Perdagangan, dan Neraca Jasa

109

Neraca Pembayaran

miliar dan $1,6 miliar sehingga menjadi sebesar $7,3 miliar dan $14,4 miliar (Grafik 6.2). Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya neraca jasa masih tetap mengalami defisit. Dalam periode laporan, defisit neraca jasa tercatat sebesar $16,7 miliar, lebih kecil dari tahun sebelumnya yang mencatat defisit sebesar $17,1 miliar. Dalam rangka memperbaiki kinerja ekspor, pemerintah dalam tahun laporan telah mengeluarkan berbagai kebijakan. Sejak tanggal 9 Februari 2001, tarif pajak ekspor kelapa sawit dan Crude Palm Oil (CPO) diturunkan dari 5% menjadi 3%.1 Sementara itu, tarif pajak Crude Olein (CRD Olein), Refined Bleached Deodorized Palm Oil (RBD PO), dan Refined Bleached Deodorized Palm Olein (RBD Olein) juga diturunkan dari sebelumnya 2% menjadi 1%. Selanjutnya, untuk lebih meningkatkan ekspor tekstil dan produk tekstil, khususnya ke negara-negara kuota, pemerintah telah menyempurnakan sistem manajemen kuota menjadi lebih transparan sehingga pemanfaatan kuota lebih optimal dan lebih menjamin kepastian berusaha bagi dunia usaha pertekstilan.2 Selain itu, untuk lebih meningkatkan kegiatan promosi komoditas ekspor Indonesia, anggota misi dagang atau pameran yang mewakili Pemerintah Republik Indonesia dikecualikan dari kewajiban pembayaran pajak penghasilan pada saat bertolak ke luar negeri (fiskal luar negeri).3

Sementara itu, untuk mempermudah pelaksanaan impor barang guna mendukung kelancaran kegiatan produksi dalam negeri, pemerintah memperbolehkan impor mesin dan peralatan mesin bekas. 4 Selanjutnya, dalam rangka mendorong pengembangan industri mesin dalam negeri, impor bahan baku/bahan penolong dan bagian/komponen untuk perakitan mesin dan motor berputar diberikan keringanan bea masuk sehingga tarif bea masuknya menjadi 5%.5

Ekspor
Kondisi eksternal ekonomi global sangat mempengaruhi kinerja ekspor Indonesia. Melambatnya perekonomian dunia serta melemahnya harga-harga komoditas unggulan ekspor baik migas maupun nonmigas di pasar internasional mengakibatkan kinerja ekspor mengalami penurunan. Total ekspor dalam tahun 2001 turun sebesar 10,3% sehingga menjadi $58,7 miliar. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, nilai ekspor nonmigas dalam tahun laporan mengalami penurunan sebesar 9,0% atau menjadi $45,8 miliar, sedangkan nilai ekspor migas turun 14,6% menjadi $12,9 miliar (Grafik 6.3). Walaupun mengalami penurunan, kinerja ekspor Indonesia terutama komoditas industri relatif lebih baik dibandingkan dengan negara Asia lainnya seperti Taiwan, Singapura, Malaysia, dan Korea Selatan. Struktur ekspor nonmigas, sebagaimana

1

2

3

Keputusan Menteri Keuangan Nomor:66/KMK.017/2001 tanggal 9 Februari 2001 tentang Penetapan Besarnya Tarif Pajak Ekspor Kelapa Sawit, CPO, dan Produk Turunannya. Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor:311/ MPP/Kep/10/2001 tanggal 30 Oktober 2001 tentang Ketentuan Kuota Ekspor Tekstil dan Produk Tekstil. Peraturan Pemerintah Nomor: 41 tahun 2001 tanggal 28 Mei 2001 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2000 tentang Pembayaran Pajak Penghasilan Orang Pribadi yang Akan Bertolak ke Luar Negeri.

tahun sebelumnya, masih didominasi oleh sektor
4 Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor: 172/ MPP/Kep/5/2001 tanggal 17 Mei 2001 tentang Impor Mesin dan Peralatan Mesin Bukan Baru. Keputusan Menteri Keuangan Nomor:190/KMK.01 tanggal 16 April 2001 tentang Keringanan Bea Masuk Atas Impor Bahan Baku/ Penolong dan Bagian/Komponen Untuk Perakitan Mesin dan Motor Berputar.

5

110

Neraca Pembayaran

Miliar $

Tabel 6.2 Ekspor Barang Industri
Ekspor Nonmigas Ekspor Migas

60 50 40 30 20 10 0 1997

2 0 0 0 2 0 0 1* Rincian Perubahan (%) 16,3 17,9 -3,6 -0,7 -11,6 16,1 -7,6 31,9 23,1 12,9 89,2 -1,8 15,2 17,5 25,1 6,7 41,4 104,2 9,4 24,3 -3,7 -0,7 6,0 -8,9 -7,1 -3,6 -14,9 -33,8 3,5 -1,7 1,3 25,3 -18,8 -1,7 -14,3 -5,4 -14,1 -23,5 -23,8 -9,7

2 0 0 1* Nilai Pangsa (juta $) (%) 7.047 4.038 581 4.094 1.854 285 1.076 41 2.338 1.197 6.446 176 2.473 432 299 1.533 1.045 2.894 4.731 36.688 15,4 8,8 1,3 8,9 4,0 0,6 2,3 0,1 5,1 2,6 14,1 0,4 5,4 0,9 0,7 3,3 2,3 6,3 10,3 80,1

1998

1999

2000

2001*

Grafik 6.3 Nilai Ekspor Nonmigas dan Migas

industri yang mencapai 80% dari total nilai ekspor nonmigas, kemudian diikuti oleh sektor pertambangan dan sektor pertanian masing-masing sebesar 11% dan 9% (Grafik 6.4). Kontribusi masing-masing sektor ini relatif tidak berubah dibandingkan dengan periode laporan tahun sebelumnya. Dalam tahun 2001, total nilai ekspor barang industri turun sebesar 9,7% dari tahun sebelumnya sehingga mencapai $36,7 miliar (Tabel 6.2). Penurunan tersebut terjadi pada beberapa komoditas

Tekstil & produk tekstil – Pakaian jadi Kerajinan tangan Produk kayu – Kayu lapis Produk rotan Minyak sawit Bungkil kopra Produk kimia Produk logam Barang-barang listrik Semen Kertas Produk karet Gelas dan alat dari gelas Alas kaki Produk plastik Mesin & pesawat mekanik Lainnya Total

utama seperti tekstil dan produk tekstil (-3,7%), produk kayu (-8,9%), minyak sawit (-14,9%), kertas (-18,8%), dan mesin dan pesawat mekanik (-23,5%). Sementara itu, berkaitan dengan meningkatnya permintaan dari negara-negara di kawasan ASEAN, nilai ekspor semen mengalami peningkatan sebesar 25,3%.

Persen

Di sektor pertambangan, nilai ekspor men100 80 60

capai $5,1 miliar atau menurun 8,1% dibanding tahun sebelumnya. Penurunan ekspor terjadi di hampir seluruh komoditas yaitu timah (-5,0%), nikel (-19,0%), dan alumunium (-20,5%). Sebaliknya, nilai ekspor komoditas batubara mengalami peningkatan sebesar 1,6%. Ekspor sektor pertanian dalam tahun laporan

40 20 0 1997 1998 1999 Pertanian 2000 2001* Industri Pertambangan

mengalami penurunan sebesar 3,3% sehingga menjadi $4,0 miliar. Beberapa komoditas utama yang

Grafik 6.4 Pangsa Ekspor Nonmigas

mengalami penurunan antara lain kopi dan lada yang masing-masing turun sebesar 44,6% dan 57,0%.

111

Neraca Pembayaran

Penurunan ekspor komoditas kopi terutama disebabkan kegagalan retensi kopi dunia sehingga mengakibatkan jatuhnya harga jual. Berdasarkan negara tujuan ekspor, pangsa ekspor ke negara-negara di kawasan Amerika mencapai 21%, Asia di luar ASEAN 37%, ASEAN dan Eropa masing-masing 19% serta Afrika dan Australia masing-masing 2% (Grafik 6.5). Pangsa ekspor ke kawasan tersebut sedikit berubah dibandingkan dengan tahun 2000. Secara individual, ekspor Indonesia ke Amerika Serikat sebesar 18%, naik dari tahun sebelumnya. Sedangkan pangsa

ekspor ke negara Jepang sebesar 16%, relatif tidak mengalami perubahan dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, penurunan ekspor migas disebabkan oleh turunnya harga minyak bumi dan gas di pasar internasional. Dalam tahun laporan, harga rata-rata minyak bumi turun cukup tajam sehingga mencapai $24,0 per barel, dibandingkan dengan $28,2 per barel dalam tahun 2000. Penurunan harga tersebut berkaitan dengan masih berlanjutnya dampak kenaikan kuota produksi negara-negara OPEC di akhir 2000. Masuknya Irak ke pasar atas persetujuan PBB dalam rangka oil for food dan meningkatnya produksi minyak negara-negara di luar

Tahun 2000
Asia kecuali ASEAN 38% ASEAN 19%

OPEC turut mempengaruhi melemahnya harga minyak dalam tahun laporan, meskipun negaranegara OPEC sejak permulaan tahun laporan telah menurunkan produksinya. Sementara itu, harga
Eropa 19%

ekspor gas alam cair (LNG) dan ekspor gas minyak cair (LPG) juga menurun masing-masing menjadi sebesar $4,0 per MMBTU dan $282,7 per Mton dari tahun sebelumnya yang sebesar $4,8 per MMBTU

Amerika 20% Australia/Oceania 2% Afrika 2%

dan $291,8 per Mton. Ditinjau dari nilainya, ekspor minyak bumi, LNG dan LPG menurun masing-masing
ASEAN 19%

Tahun 2001
Asia kecuali ASEAN 37%

sebesar 9,9%, 20,7%, dan 1,1%. Sementara itu dari sisi volumenya, ekspor minyak bumi dan LPG meningkat sebesar 3,3% dan 2,9%, sedangkan
Eropa 19%

ekspor LNG menurun sebesar 4,5%.

Amerika 21% Australia/Oceania 2% Afrika 2%

Impor
Sejalan dengan melemahnya kegiatan investasi dalam negeri dan turunnya ekspor dalam tahun laporan, permintaan impor juga mengalami penurunan. Nilai impor total (c&f) turun sebesar 7,8% yang disebabkan oleh menurunnya impor nonmigas

Grafik 6.5 Pangsa Ekspor Nonmigas Menurut Kawasan Negara Tujuan

112

Neraca Pembayaran

Tabel 6.3 Impor Nonmigas Menurut Kelompok Barang Rincian Nilai (Juta $) 2000
Barang konsumsi Bahan baku penolong Barang modal

Tabel 6.5 Impor Barang Modal 2000 2001* 2001* Perubahan Nilai Pangsa (%) (Juta $) (%) 144,1 -95,8 -21,3 23,3 26,8 50,8 30,5 57,0 797,4 33,6 -54,0 27,2 29,4 -1,0 -0,2 -26,6 -1,5 -33,8 -28,8 -10,2 22 0 67 4.253 703 1.325 43 427 96 6.936 0,1 0,0 0,2 12,5 2,1 3,9 0,1 1,3 0,3 20,3

Pertumbuhan (%) 2000
74,2 23,2 33,6

Pangsa (%) 2000
6,8 72,9 20,3

2001*

2001*
3,4 -8,5 -10,2

2001*
7,9 71,7 20,3

Rincian

2.619 2.708 26.741 24.481 7.727 6.936

(c&f) maupun impor migas (c&f) masing-masing sebesar 8,0% dan 6,6%. Berdasarkan kelompok barang, penurunan impor nonmigas terjadi pada barang modal dan bahan baku penolong masing-masing sebesar 10,2% dan 8,5%, sedangkan barang konsumsi mengalami sedikit kenaikan sebesar 3,4% (Tabel 6.3). Meskipun mengalami penurunan nilai yang cukup besar, pangsa bahan baku penolong terhadap total nilai impor nonmigas masih merupakan yang terbesar dibandingkan dua kelompok barang lainnya. Penurunan impor bahan baku penolong dan barang modal berdasarkan jenis komoditasnya dapat dilihat pada Tabel 6.4 dan Tabel 6.5. Sementara itu, penurunan impor barang modal terutama terjadi pada

Traktor & alat pertanian Alat kerajinan / perhiasan Kontainer & kotak penyimpanan Mesin mekanik Generator & alat elektronika Lokomotif, kapal, pesawat Alat pertukangan Alat optik & ukur Mobil penumpang Total

komoditas lokomotif, kapal & pesawat, dan alat optik & ukur masing-masing sebesar 26,6%, dan 33,8%. Ditinjau dari negara asalnya, impor barang nonmigas Indonesia terutama berasal dari negara-

Tahun 2 0 0 0
Amerika 16% ASEAN 14%

Afrika 1% Australia/Oceania 7%

Eropa 19%

Tabel 6.4 Impor Bahan Baku Penolong 2000 2001* 2001* Perubahan Nilai Pangsa (%) (Juta $) (%)
8,9 -8,8 -21,1 34,9 -13,4 53,1 12,3 139,3 23,2 1,2 -2,5 -15,0 -7,4 -10,1 28,8 3,3 -24,2 -8,5 1.242 960 3.004 15.247 15 188 1.931 1.894 24.481 3,6 2,8 8,8 44,7 0,0 0,6 5,7 5,6 71,7

Asia kecuali ASEAN 43%

Tahun 2 0 0 1
Amerika 16% ASEAN 15%

Rincian

Makanan & minuman (industri) Makanan & minuman (industri 1/2 jadi) Bahan baku mentah untuk industri Bahan baku 1/2 jadi untuk industri Bahan bakar & pelumas (mentah) Bahan bakar & pelumas (1/2 jadi) Suku cadang & perlengkapan barang modal Suku cadang & perlengkapan alat angkutan Total

Afrika 2% Australia/Oceania 8%

Eropa 18%

Asia kecuali ASEAN 41%

Grafik 6.6 Pangsa Impor Nonmigas Menurut Kawasan Negara Asal

113

Neraca Pembayaran

negara di kawasan Asia dan Amerika, yang pangsanya sekitar 70% dari total impor nonmigas (Grafik 6.6). Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, pangsa impor dari negara-negara di kawasan tersebut sedikit berubah. Secara individual, impor dari Amerika Serikat dan Singapura dalam tahun 2001 masing-masing sebesar 12% dan 8%, relatif tidak mengalami perubahan dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, pangsa impor yang berasal dari Jepang sebesar 17%, turun dari tahun sebelumnya.

bersih dari sektor pariwisata tercatat sebesar $5,0 miliar, sedikit lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Dalam pada itu, jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia dalam 2001 mencapai 5,0 juta orang. Walaupun jumlah kunjungan wisatawan asing relatif tidak berubah dibandingkan dengan tahun sebelumnya, namun lebih rendah dari target pemerintah yang ditetapkan pada awal 2001 sebesar 5,4 juta orang. Seperti tahun sebelumnya, Denpasar, Medan, Batam, dan Jakarta, masih tetap merupakan pintu masuk utama wisatawan mancanegara.

Jasa-jasa
Dalam tahun laporan, neraca jasa masih mencatat defisit meskipun lebih rendah dari tahun sebelumnya. Besarnya defisit mencapai $16,7 miliar atau menurun $380 juta dari tahun 2000. Menurunnya defisit tersebut berasal dari penurunan defisit jasa migas sebesar $241 juta dan jasa nonmigas sebesar $139 juta. Penurunan defisit jasa di sektor migas terjadi pada jasa freight dan non freight sehingga masing-masing mencapai defisit sebesar $0,5 miliar dan $3,8 miliar. Menurunnya defisit tersebut antara lain terkait dengan penurunan nilai impor migas. Di sektor nonmigas, defisit jasa freight menurun sehingga mencapai defisit $2,7 miliar sebagai akibat menurunnya kegiatan impor nonmigas. Sementara itu, defisit jasa non-freight mencapai $9,7 miliar atau menurun dari $9,8 miliar pada tahun sebelumnya. Hal tersebut terutama berkaitan dengan menurunnya posisi utang luar negeri swasta dan turunnya suku bunga di pasar keuangan internasional. Di sisi penerimaan jasa-jasa nonmigas, sumber penerimaan devisa terbesar masih berasal dari sektor pariwisata, kemudian diikuti oleh transfer pendapatan tenaga kerja Indonesia. Perolehan devisa

LALU LINTAS MODAL (LLM)
Dalam tahun 2001, defisit transaksi LLM secara keseluruhan membesar sebagai akibat defisit LLM pemerintah setelah dalam empat tahun terakhir mencatat surplus, dan belum pulihnya kinerja LLM swasta. Lalu lintas modal pemerintah dalam tahun 2001 mengalami defisit sebesar $0,3 miliar, setelah tahun sebelumnya mengalami surplus sebesar $3,2 miliar. Defisit lalu lintas modal pemerintah timbul akibat rendahnya realisasi penarikan pinjaman dari ADB, IBRD, dan JBIC khususnya pinjaman program maupun proyek. Pinjaman program dalam tahun laporan tercatat sebesar $0,5 miliar atau menurun tajam sebesar $0,9 miliar. Sementara itu, pinjaman proyek diperkirakan sedikit meningkat sehingga menjadi $2,5 miliar yang bersumber dari peningkatan pinjaman non-ODA sebesar $0,2 miliar. Kendala utama dari kecilnya pencairan tersebut adalah belum dapat terpenuhinya beberapa persyaratan yang ditetapkan oleh pihak pemberi utang yang terkait dengan kebijakan dan peraturan pemerintah maupun undang-undang (UU) seperti UU

114

Neraca Pembayaran

Anti Money Laundering, UU Kelistrikan dan peraturan di bidang sumber daya air. Selain rendahnya realisasi penarikan pinjaman luar negeri pemerintah, faktor penyebab defisit adalah adanya pembayaran cicilan pokok pinjaman yang berasal dari IMF. Defisit LLM swasta sebesar $8,6 miliar, lebih rendah $1,4 miliar dari defisit tahun sebelumnya. Turunnya defisit LLM swasta tersebut dipengaruhi oleh menurunnya pembayaran utang luar negeri swasta terutama sektor PMA dari $7,5 miliar pada 2000 menjadi $5,2 miliar pada 2001 serta penurunan net outflow portfolio investment dari $1,9 miliar menjadi $1,4 miliar. Dengan perkembangan ini LLM bersih tercatat mengalami defisit sebesar $8,9 miliar atau meningkat 31,7% dibandingkan defisit pada tahun sebelumnya. Dalam rangka memberikan insentif bagi investor asing, pemerintah mengeluarkan peraturan yang memungkinkan bagi investor asing untuk membeli perusahaan domestik tertentu walaupun belum berproduksi secara komersial.6 Peraturan yang mengubah ketentuan tentang kepemilikan saham pada perusahaan yang didirikan dalam rangka penanaman modal asing tersebut diharapkan dapat lebih menarik minat investor asing. Sementara itu, posisi utang luar negeri Indonesia hingga akhir 2001 turun 7,4% menjadi $131,2 miliar dibandingkan dengan posisi akhir tahun 2000 (Tabel 6.6). Penurunan tersebut disebabkan oleh penurunan pada utang swasta maupun utang pemerintah. Penurunan utang luar negeri swasta terutama disebabkan pembayaran terhadap sebagian
6 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 83 Tahun 2001 tanggal 19 Desember 2001 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1994 tentang Pemilikan Saham dalam Perusahaan yang didirikan dalam Rangka Penanaman Modal Asing.

Tabel 6.6 Posisi Utang Luar Negeri Indonesia 1999 Keterangan 2000 Mar Jun Juta $ Pemerintah Swasta Bank Nonbank - PMA - Non PMA Surat-surat berharga Total 75.862 72.235 10.836 58.243 29.805 28.438 3.156 74.916 66.777 7.718 56.888 30.264 26.624 71.980 66.335 7.848 56.409 29.445 26.964 72.496 66.405 7.684 56.845 28.731 28.114 1.876 75.185 62.594 6.564 54.446 27.888 26.558 1.584 71.403 59.841 6.537 51.666 26.381 25.285 1.638 2001 Sept Des*

2.171 2.078

148.097 141.693 138.316 138.901 137.778 131.244

utang yang telah jatuh tempo. Sementara penurunan utang luar negeri pemerintah selain disebabkan oleh pembayaran utang yang jatuh tempo juga karena terdepresiasinya yen Jepang terhadap dolar Amerika Serikat. Dampak depresiasi yen Jepang terhadap posisi utang luar negeri pemerintah cukup besar mengingat pangsa utang pemerintah dalam mata uang yen Jepang yang mencapai sekitar 33% dari total utang luar negeri pemerintah. Pangsa utang luar negeri pemerintah mencapai 54% dari total utang luar negeri sementara pangsa utang swasta nonbank (termasuk surat-surat berharga) dan swasta bank masing-masing tercatat sebesar 41% dan 5% (Grafik 6.7). Meskipun utang

Swasta Nonbank 41%

Pemerintah 54%

Swasta Bank 5% Grafik 6.7 Pangsa Utang Luar Negeri

115

Neraca Pembayaran

Tabel 6.7 Posisi Utang Luar Negeri Menurut Jangka waktu per Desember 2001*

No

Jangka Waktu

Pemerintah1)

Bank

Swasta Nonbank
PMA LKBB PMDN BUMN Juta $ BUMS4) Total Nonbank 16.338,6 6.559,3 9.779,3 36.965,3 53.303,9

Total Swasta

Jumlah

1

2

Total Jangka Pendek - Original Maturity2) - Remaining Maturity Jangka Menengah dan Panjang3) Total

7.609,6 1.211,3 49,6 84,3 7.560,0 1.127,0 63.793,4 5.325,4 71.403,0 6.536,7

6.955,0 2.098,7 4.856,3 19.426,2 26.381,2

532,0 199,0 333,0 387,2 919,2

4.125,0 1.655,7 2.469,3 9.322,9 13.447,9

828,0 115,3 712,7 3.546,7 4.374,7

3.898,6 2.490,6 1.408,0 4.282,3 8.180,9

17.549,9 6.643,6 10.906,3 42.290,7 59.840,6

25.159,5 6.693,2 18.466,3 106.084,0 131.243,6

1) 2) 3) 4)

Angka setelah Paris Club II & London Club Sampai dengan 1 tahun Lebih dari 1 tahun Termasuk Domestik Sekurities

luar negeri pemerintah lebih besar dari utang luar negeri swasta, satu hal yang meringankan beban pembayaran adalah lebih ringannya persyaratan baik berdasarkan jangka waktu maupun tingkat bunganya. Dibandingkan dengan tahun sebelumya, posisi utang luar negeri pemerintah pada akhir tahun laporan mengalami penurunan sebesar $3,5 miliar. Dari total utang luar negeri pemerintah, sebesar $29,1 miliar merupakan utang multilateral, $22,7 miliar utang bilateral, $14,9 miliar berupa fasilitas kredit ekspor (FKE), $439,2 juta utang leasing, $2,3 miliar utang komersial dan $2,0 miliar dalam bentuk surat-surat berharga yang dimiliki oleh investor asing. Sementara itu, posisi utang luar negeri swasta pada akhir tahun laporan mencapai $59,8 miliar, turun 10,5% dibandingkan posisi tahun sebelumnya. Dari total utang swasta tersebut, sebesar $6,5 miliar merupakan utang swasta bank, $51,7 miliar utang swasta nonbank dan $1,6 miliar dalam bentuk surat-surat berharga yang dimiliki oleh investor asing.

Dilihat dari jangka waktu pembayarannya, utang luar negeri jangka pendek yang akan jatuh waktu sampai dengan Desember 2002 diperkirakan mencapai $25,2 miliar atau 19,2% dari total utang luar negeri Indonesia (Tabel 6.7). Jumlah tersebut terdiri dari utang pemerintah dan swasta termasuk bank masing-masing sebesar $7,6 miliar dan $17,5 miliar, sementara selebihnya, yaitu sebesar $106,1 miliar adalah utang dengan jangka waktu lebih dari satu tahun. Dari total utang jangka pendek swasta sebesar $17,5 miliar, sebesar $1,2 miliar atau 6,9% merupakan utang bank dan $16,3 miliar atau 93,1% adalah utang swasta nonbank. Utang jangka pendek swasta nonbank yang berjangka waktu sampai dengan satu tahun (original maturity) mencapai $6,6 miliar atau 40%, sedangkan sebesar $9,8 miliar atau 60% merupakan utang jangka pendek yang berasal dari utang jangka panjang yang akan jatuh tempo sampai dengan Desember 2002 (remaining maturity). Berdasarkan sektor ekonomi yang dibiayai, sektor industri pengolahan merupakan sektor

116

Neraca Pembayaran

ekonomi terbesar yang dibiayai dengan utang luar negeri, yaitu mencapai $30,8 miliar atau 23,5% dari total utang luar negeri. Sektor kedua terbesar adalah keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, yaitu mencapai $26,5 miliar atau 20,2% dari total utang luar negeri. Berikutnya adalah sektor listrik, gas dan air bersih sebesar $13,5 miliar atau sekitar 10,3% dari total utang luar negeri. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, terdapat pergeseran dari sektor keuangan, persewaan dan jasa keuangan kepada sektor industri sebagai sektor ekonomi terbesar yang dibiayai oleh utang luar negeri. Dilihat dari negara pemberi utang, Jepang merupakan kreditur terbesar dengan jumlah mencapai $41,3 miliar atau 31,5% dari total utang luar negeri. Amerika Serikat di urutan kedua dengan jumlah sebesar $13,3 miliar atau 10,1%, kemudian berturutturut diikuti oleh Jerman, Belanda dan Inggris masingmasing sebesar $7,6 miliar (5,8%), $7,4 miliar (5,6%) dan $4,2 miliar (3,2%). Sementara itu lembaga internasional seperti IBRD, IMF dan ADB merupakan lembaga pemberi pinjaman terbesar masing-masing mencapai $11,5 miliar (8,8%), $9,1 miliar (6,9%) dan $7,3 miliar (5,6%). Dari total utang luar negeri $131,2 miliar, sebesar $85,5 miliar atau 65,2% tercatat dalam mata uang dolar Amerika Serikat, sebesar $26,5 miliar atau 20,2% dalam yen Jepang, $9,3 miliar (7,1%) dalam SDR, $7,1 miliar (5,4%) dalam euro, $1,2 miliar (0,9%) dalam poundsterling dan selebihnya dalam beberapa mata uang lainnya. Dalam hal restrukturisasi utang, periode laporan ini ditandai dengan timbulnya ketidakpastian proses restrukturisasi utang luar negeri pemerintah. Hambatan tersebut terkait dengan lambatnya penye-

lesaian penjadwalan ulang tahap kedua Paris Club II (1 April 2001 s.d 31 Maret 2002) sebesar $2,7 miliar yang disebabkan oleh tertundanya kesepakatan tentang Letter of Intent (LoI) antara IMF dengan Pemerintah RI. Salah satu penyebab tertundanya kesepakatan tersebut adalah masih terdapatnya ketidaksesuaian mengenai masalah pencapaian target privatisasi BUMN, asset recovery oleh BPPN, dan amandemen Undang-Undang Bank Sentral oleh DPR. Di sektor perbankan, dari total utang yang berhasil direstrukturisasi melalui Program Interbank Debt Exchange Offer I dan II (EO I dan EO II) sebesar $6,3 miliar (terdiri dari EO I sebesar $3 miliar dan EO II sebesar $3,3 miliar), sebesar $2,9 miliar telah dilunasi baik melalui pembayaran sesuai jadwal yang telah ditentukan (repayment) maupun melalui prepayment dan pembelian kembali. Sampai dengan tahun 2001, beberapa hal telah dilakukan, yaitu repayment EO I dan II sebesar $2,1 miliar, prepayment sebesar $457,0 juta dan pembelian kembali sebesar $346,2 juta. Posisi pokok pinjaman Exchange Offer I dan II yang masih harus dibayar masing-masing sebesar $284,4 juta dan $3,1 miliar atau total sebesar $3,4 miliar. Sementara proses penyelesaian restrukturisasi utang luar negeri swasta secara umum juga masih berjalan lambat. Sampai dengan akhir tahun laporan, baru sebanyak 68 korporasi yang melaporkan ke Bank Indonesia telah menyelesaikan restrukturisasi utang luar negeri dengan total nilai sekitar $4,1 miliar. Dibandingkan dengan posisi utang luar negeri korporasi yang bermasalah sekitar $30 miliar (estimasi Prakarsa Jakarta/JITF), maka jumlah utang luar negeri yang telah berhasil direkstrukturisasi

117

Neraca Pembayaran

ditetapkan oleh Bank Dunia (Tabel 6.8). Rasio pemTabel 6.8 Indikator Beban Utang
*

bayaran utang terhadap ekspor (DSR) tercatat sebesar 39,4%, rasio total utang terhadap ekspor dan
Kriteria Bank Dunia
20,0 130–220

Indikator

1997

1998

1999

2000

2001

rasio total utang terhadap PDB masing-masing sebesar 194,5% dan 90,3%. Masih tingginya rasio

Persen
DSR 44,5 Rasio Total Utang terhadap Ekspor 207,3 Rasio Total Utang terhadap PDB 57,9 261,8 56,8 252,1 41,1 191,0 39,4 194,5

beban utang tersebut menunjukkan masih beratnya beban utang luar negeri dan masih tingginya tingkat ketergantungan perekonomian Indonesia terhadap sumber dana dari luar negeri.

62,2

146,3

105,0

92,8

90,3

50–80

masih tergolong kecil, yaitu hanya sekitar 13,7%. Lambatnya proses restrukturisasi utang luar negeri sektor swasta secara umum disebabkan oleh faktorfaktor teknis seperti lamanya proses negosiasi mengenai terms and conditions yang disebabkan ketidaksesuaian antara syarat yang ditawarkan kreditur dengan kondisi arus dana perusahaan dan sulitnya mengakomodir berbagai kepentingan dari banyak pihak yang terlibat dalam proses restrukturisasi khususnya untuk pinjaman sindikasi. Lambatnya proses restrukturisasi tersebut juga dipengaruhi oleh fluktuasi nilai tukar yang sukar diprediksi sehingga menyebabkan sulitnya penyusunan proyeksi arus dana bagi perusahaan. Belum terselesaikannya berbagai permasalahan mendasar di sektor eksternal menyebabkan rasio-rasio beban utang selama tahun 2001 relatif masih tinggi dibandingkan dengan kriteria yang

CADANGAN DEVISA
Dengan defisit neraca pembayaran sebesar $1,4 miliar, posisi cadangan devisa pada akhir 2001 mencapai $28,0 miliar atau setara dengan 6,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah (Grafik 6.8).
Miliar $ 30 25 20 15 10 5 0 1997 1998 1999

20001)

2001*

1) Sejak 2000 menggunakan konsep IRFCL, menggantikan konsep cadangan devisa bruto (GFA)

Grafik 6.8 Cadangan Devisa

118

Keuangan Pemerintah

bab 7 KEUANGAN PEMERINTAH

119

Keuangan Pemerintah

bab7

KEUANGAN PEMERINTAH

K

ondisi keuangan pemerintah selama beberapa bulan pertama tahun 2001 mendapat tekanan

di atas, target defisit diupayakan tetap konsisten dengan kebijakan umum jangka menengah dan jangka panjang (Propenas dan GBHN) atau dikendalikan seperti rencana semula yaitu sebesar 3,7% dari PDB. Adapun beberapa action plan penyesuaian di sisi pendapatan negara antara lain adalah (a) peningkatan tarif PPN dari 10 persen menjadi 12,5 persen; (b) program penyisiran (canvassing) wajib pajak PPN yang ditujukan pada pedagang eceran yang mempunyai omzet di atas Rp360 juta per tahun; (c) peningkatan harga jual eceran (HJE) hasil tembakau; (d) pengupayaan pay out ratio dari deviden BUMN tahun buku 2000 agar mencapai angka 50%; dan (e) penyelesaian tunggakan pinjaman Pemerintah Daerah yang mempunyai surplus anggaran dari dana perimbangan. Di sisi belanja negara antara lain adalah (a) penghematan anggaran belanja pegawai dengan

yang cukup berat. Pada dasarnya terdapat 3 (tiga) faktor utama yang menjadi penyebab, yaitu pertama, memburuknya lingkungan makroekonomi, terutama nilai tukar rupiah dan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI); kedua, tidak terlaksananya atau tidak optimalnya beberapa kebijakan fiskal yang direncanakan seperti pengenaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) terhadap beberapa komoditas strategis dan kenaikan harga seluruh produk BBM sebesar rata-rata 20 persen; dan ketiga, adanya pembatalan sebagian rencana pencairan pinjaman program sebagai pendukung pembiayaan pembangunan. Perkembangan berbagai indikator makroekonomi, penundaan, dan pembatalan beberapa kebijakan fiskal tersebut di atas dikhawatirkan akan memberikan dampak negatif terhadap APBN 2001 berupa membengkaknya defisit anggaran. Menghadapi hal tersebut, Pemerintah melakukan beberapa penyesuaian fiskal dengan merevisi APBN pada periode berjalan melalui Paket Kebijakan Penyesuaian APBN 2001. Beberapa asumsi dasar penyusunan APBN 2001 seperti pertumbuhan ekonomi, nilai tukar rupiah, dan suku bunga SBI 3 bulan disesuaikan dengan angkaangka perkiraan yang lebih realistis (Tabel 7.1). Selain itu, pemerintah menyusun ulang berbagai rencana aksi (action plan) penyesuaian fiskal (policy measures) baik di sisi pendapatan dan belanja negara maupun pembiayaan anggaran. Dengan berbagai penyesuaian

Tabel 7.1 Asumsi Pokok APBN 2001 Asumsi
PDB a.d. harga berlaku (triliun rupiah) Pertumbuhan ekonomi (%) Laju inflasi (%) Harga minyak mentah ($ per barel) Produksi minyak mentah (juta barel per hari) Nilai Tukar (Rp/$) Suku bunga SBI 3 bulan rata-rata (%)

2000

2001

APBN1) APBN APBNR) APBNP)
988,3 4,9 8,33 29,2 1,4 8.774 12,70 1.425,0 5,0 7,20 24,0 1,5 7.800 11,50 1.468,1 3,5 9,30 24,0 1,5 9.600 15,00 1.476,2 3,5 11,90 24,6 1,3 10.219 16,40

1) Realisasi sementara (belum diaudit), periode 1 April s.d. 31 Desember 2000 R) APBN penyesuaian (revisi) P) APBN perubahan (perkiraan realisasi) Sumber : Departemen Keuangan

120

Keuangan Pemerintah

mempercepat proses pemindahan pegawai pusat ke daerah; (b) penghematan anggaran subsidi BBM melalui kenaikan harga BBM; (c) pengurangan subsidi listrik melalui kenaikan tarif dasar listrik; (d) rasionalisasi dan lebih memfokuskan alokasi anggaran pengeluaran pembangunan; dan (e) penetapan alokasi dana perimbangan yang berasal dari dana bagi hasil dan dana alokasi umum sesuai rencana semula. Di sisi pembiayaan anggaran, kebijakan penyesuaian yang diambil adalah penerbitan obligasi pemerintah yang diharapkan akan dibeli oleh beberapa pemerintah daerah yang memiliki surplus dana perimbangan dan pengoptimalan penarikan pinjaman program yang telah ada (within the pipe line). Meskipun telah direvisi, pelaksanaan APBN tetap menghadapi tantangan yang tidak mudah, khususnya di sisi pembiayaan anggaran dan belanja negara sebagaimana tercermin dari angka perkiraan realisasi dalam APBN-Perubahan 2001.1) Di sisi pembiayaan anggaran, penarikan utang luar negeri diperkirakan 24,5% di bawah target, sementara di sisi pengeluaran pembayaran subsidi BBM diperkirakan 27% di atas target. Rendahnya penarikan utang luar negeri terutama karena penundaan penyaluran utang oleh donor sehubungan belum terpenuhinya policy matrix sebagai syarat pencairan pinjaman program dan sempitnya kurun waktu yang tersedia untuk implementasi proyek pasca dilakukannya revisi APBN. Sementara itu, pelampauan subsidi BBM –meskipun pemerintah telah menaikkan harga BBM sebesar ratarata 30%– terutama diakibatkan oleh lebih tingginya jumlah konsumsi BBM dari perkiraan semula dan

adanya pembebanan kekurangan pembayaran subsidi tahun 2000 sesuai hasil audit BPKP. Permasalahan pada pembiayaan anggaran dan belanja negara tersebut terlihat sangat mempengaruhi manajemen likuiditas pemerintah selama 2001. Rendahnya tingkat penarikan utang luar negeri berdampak langsung pada rendahnya realisasi pengeluaran pembangunan, sedangkan tingginya pengalokasian dana untuk subsidi BBM secara tidak langsung telah membatasi ruang gerak pemerintah untuk menyediakan dana pendamping rupiah untuk proyek-proyek yang didanai dengan utang luar negeri. Di luar permasalahan tersebut di atas, perlu pula dicatat bahwa pemerintah berhasil merealisasikan beberapa pos penting dalam APBN sesuai dengan masing-masing target anggarannya. Di sisi penerimaan, penerimaan perpajakan berhasil mencapai target dengan tax ratio yang sedikit meningkat dibandingkan tahun lalu 11,7% menjadi 12,5%. Di sisi pembiayaan, penjualan aset program restrukturisasi perbankan bahkan melampaui target, meskipun diwarnai dengan berbagai tantangan dalam implementasinya. Sementara itu, di sisi pengeluaran pemerintah berhasil memenuhi kewajibannya untuk pengeluaran-pengeluaran yang bersifat wajib (non-discretionary) seperti belanja pegawai, bunga utang, subsidi, dan dana perimbangan. Secara keseluruhan, pendapatan dan belanja negara melampaui target dengan angka persentase yang hampir sama yaitu 4,8% dan 4,2% di atas target. Dengan kondisi tersebut, defisit operasi keuangan pemerintah pada 2001 diperkirakan dapat dikendalikan pada angka Rp54,7 triliun atau 3,7% dari PDB,

1

Disahkan dengan UU No. 1 Tahun 2002, tanggal 7 Januari 2002

relatif sama dengan rencana defisit sebesar Rp54,3

121

Keuangan Pemerintah

triliun atau 3,7% dari PDB pada APBN penyesuaian 2001. Dalam kaitannya dengan permintaan agregat, kontribusi sektor pemerintah terhadap permintaan agregat masih meningkat dibandingkan tahun lalu dari 10,8% menjadi 11,9% dari PDB. Peningkatan tersebut terutama disumbang oleh alokasi dana ke pemerintah daerah dalam bentuk dana perimbangan. Sebagian besar (65%) dari pengeluaran pemerintah yang mempengaruhi permintaan agregat tersebut adalah dalam bentuk pengeluaran konsumsi, sisanya dalam bentuk pengeluaran investasi. Sementara itu, alokasi dana untuk pembayaran transfer ke sektor swasta meningkat cukup tajam dari 6,4% menjadi 10,0% dari PDB sehubungan dengan lebih tingginya alokasi dana untuk pembayaran subsidi dan bunga utang dalam negeri. Dalam kaitannya dengan bidang moneter, operasi keuangan pemerintah selama 2001 secara neto mengalami ekspansi terhadap jumlah uang beredar setara 3,8% dari PDB, meningkat dibandingkan tahun lalu yang tercatat 3,3% dari PDB. Di sisi lain, untuk membiayai ekspansi rupiah neto tersebut terjadi aliran devisa masuk bersih setara 3,3% dari PDB, menurun dibandingkan tahun lalu yang tercatat 4,7% dari PDB. Dengan demikian, selama 2001 terjadi Sisa Kurang Pembiayaan Anggaran (SIKPA)2 sebesar Rp7,6 triliun atau setara 0,5% dari PDB.

atas target APBN penyesuaian (Tabel 7.2). Jumlah ini setara dengan 20,3% terhadap PDB atau sedikit lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2000 yang mencapai 20,7%. Sumber pendapatan negara terbesar masih berasal dari kelompok penerimaan perpajakan sebesar Rp184,7 triliun atau 61,6% dari total penerimaan. Dengan pencapaian tersebut, tax ratio mencapai 12,5% dari PDB atau hampir sama dengan target anggaran yang ditetapkan sebesar 12,6% dari PDB. Perolehan penerimaan perpajakan tersebut dimotori oleh penerimaan pajak nonmigas, sedangkan pencapaian pajak migas berada di bawah target karena rendahnya penerimaan migas. Pencapaian penerimaan pajak nonmigas dimotori oleh penerimaan dari pajak penghasilan nonmigas dan pajak pertambahan nilai. Sementara itu, penerimaan yang bersumber dari bukan pajak berhasil menyumbang Rp115,1 triliun atau 14,3% di atas target yang sebagian besar berasal dari penerimaan migas. Secara individual, sumber pendapatan negara terbesar berasal dari pajak penghasilan nonmigas dan pajak pertambahan nilai yang masing-masing menyumbang Rp69,7 triliun (23,2%) dan Rp55,8 triliun (18,6%) dari total pendapatan negara atau setara dengan 4,7% dan 3,8% terhadap PDB. Kontribusi komponen-komponen di atas terhadap total pendapatan negara selama 2001 lebih tinggi dibandingkan dengan 2000 yang masing-masing hanya menyumbang 18,8% dan 17,1% dari total penerimaan atau setara dengan 3,9% dan 3,5% terhadap PDB.

PENDAPATAN NEGARA DAN HIBAH
Realisasi pendapatan negara dan hibah diperkirakan mencapai Rp299,9 triliun atau 4,8% di
2 Selisih kurang antara total penerimaan dan pembiayaan terhadap total pengeluaran

Pencapaian penerimaan di sektor-sektor tersebut antara lain didukung oleh kenaikan tarif pajak penghasilan atas bunga deposito, tabungan, dan diskonto SBI dari 15% menjadi 20%, peningkatan ekstensifikasi PPh dan intensifikasi pemungutannya,

122

Keuangan Pemerintah

Tabel 7.2 Perkiraan Pendapatan Negara dan Hibah Tahun 2001 2 0 0 01) 2001
APBN2) Realisasi3)

Rincian

Triliun Rp % thd PDB Triliun Rp % thd PDB Triliun Rp % thd APBNR % thd PDB
A. Pendapatan Negara dan Hibah I. Penerimaan Dalam Negeri 1. Penerimaan Pajak a. Pajak Dalam Negeri i. Pajak penghasilan 1. Migas 2. Nonmigas ii. Pajak pertambahan nilai iii. Pajak bumi dan bangunan iv. Bea perolehan hak atas tanah dan bangunan v. Cukai vi. Pajak lainnya b. Pajak Perdagangan Internasional i. Bea masuk ii. Pajak/pungutan ekspor 2. Penerimaan Bukan Pajak (SDA Migas) a. Penerimaan SDA i. Minyak Bumi ii. Gas Alam iii. Pertambangan Umum iv. Kehutanan v. Perikanan b. Bagian Laba BUMN c. PNBP Lainnya II. Hibah 204,9 204,9 115,8 108,8 57,1 18,7 38,4 35,0 3,5 0,9 11,3 0,9 7,0 6,7 0,3 89,2 76,0 51,0 15,7 0,6 8,8 0,0 3,9 9,3 20,7 20,7 11,7 11,0 5,8 1,9 3,9 3,5 0,4 0,1 1,1 0,1 0,7 0,7 0,0 9,0 7,7 5,2 1,6 0,1 0,9 0,0 0,4 0,9 286,0 286,0 185,3 174,3 95,0 25,7 69,2 53,5 5,1 1,2 17,6 1,9 11,0 10,4 0,6 100,7 79,4 57,9 17,4 0,9 3,0 0,3 9,0 12,3 19,5 19,5 12,6 11,9 6,5 1,8 4,7 3,6 0,3 0,1 1,2 0,1 0,7 0,7 0,0 6,9 5,4 3,9 1,2 0,1 0,2 0,0 0,6 0,8 299,9 299,8 184,7 174,2 92,8 23,1 69,7 55,8 4,8 1,5 17,6 1,7 10,5 9,8 0,7 115,1 86,7 60,0 21,8 1,6 3,0 0,1 10,4 18,0 0,0 104,8 104,8 99,7 100,0 97,7 89,8 100,6 104,5 94,2 124,6 100,1 86,2 95,8 94,5 118,6 114,3 109,1 103,8 125,8 175,3 100,0 50,0 116,0 146,4 20,3 20,3 12,5 11,8 6,3 1,6 4,7 3,8 0,3 0,1 1,2 0,1 0,7 0,7 0,0 7,8 5,9 4,1 1,5 0,1 0,2 0,0 0,7 1,2 0,0

1) Realisasi sementara (belum diaudit), periode 1 April s.d. 31 Desember 2000 2) APBN penyesuaian (revisi) 3) APBN perubahan Sumber : Departemen Keuangan dan Bank Indonesia (diolah)

pencabutan berbagai fasilitas PPN dab PPnBM yang diberikan kepada pengusaha kena pajak tertentu, dan

optimalisasi program penyisiran (canvassing) wajib pajak terutama kepada pedagang eceran yang memiliki omzet di atas Rp360 juta per tahun. Sementara itu, pada kelompok penerimaan

Pajak Lainnya 6%

Non pajak lainnya 11%

PPh Migas 8%

bukan pajak porsi terbesar masih berasal dari migas
PPh Nonmigas 23%

yang secara total menyumbang Rp81,9 triliun (27,3%) dari total pendapatan negara atau setara

Migas 27% PPN 19%

dengan 5,6% terhadap PDB. Kontribusi migas tersebut lebih rendah dibandingkan tahun 2000 yang
Cukai 6%

masing-masing tercatat 32,5% atau setara dengan 6,8% dari PDB mengingat rata-rata produksi minyak

Grafik 7.1 Komposisi Penerimaan Pemerintah

mentah turun dari 1,5 juta barel menjadi 1,3 juta barel per hari. Meskipun terjadi penurunan produksi, pene-

123

Keuangan Pemerintah

dari PDB. Pengeluaran terbesar pemerintah tersebut
Non pajak lainnya Pajak Lainnya Migas Cukai PPN PPh Nonmigas PPh Migas 0,0 10,0 20,0
89,8% 100,1% 104,5% 100,6% 96,2% 130,2%

Realisasi Budget

didominasi oleh pengeluaran rutin pemerintah pusat yang mencapai Rp232,8 triliun atau 65,7% dari total pengeluaran atau setara dengan 15,8% dari PDB. Sementara itu, realisasi pengeluaran pembangunan mencapai Rp39,4 triliun atau 11,1% dari total pengeluaran atau setara 2,7% dari PDB nominal. Sisanya

108,9%

30,0

40,0

50,0

60,0

70,0

80,0

90,0

sebesar Rp82,4 triliun (23,2%) atau setara dengan 5,6% dari PDB nominal diperuntukkan bagi dana perimbangan. Jika dibandingkan dengan target, realisasi pengeluaran rutin pemerintah pusat dan

Grafik 7.2 Pencapaian Target Penerimaan Pemerintah

rimaan migas pada 2001 dapat melampaui target karena faktor melemahnya nilai tukar rupiah dan adanya penerimaan minyak bumi pada tahun anggaran 2000 yang baru disetorkan pada tahun anggaran 2001. Beberapa pos penerimaan lainnya –yang umumnya pos-pos yang relatif kecil— terlihat jauh di bawah target. Pos-pos tersebut antara lain adalah bea masuk dan pajak lainnya. Rendahnya penerimaan dari bea masuk antara lain disebabkan oleh penurunan tarif bea masuk terutama untuk komoditas yang terkait dengan perjanjian internasional berdasarkan UU No. 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan. Sementara itu, rendahnya penerimaan dari pajak lainnya antara lain disebabkan oleh lebih rendahnya jumlah transaksi yang memerlukan meterai.

dana perimbangan diperkirakan akan melampaui target, yaitu masing-masing 107,9% dan 101,1%.

Lainnya 5% Pembangunan 11%

Belanja Pegawai 11% Subsidi 23%

Dana Perimbangan 23%

Bunga Utang 27%

Grafik 7.3 Komposisi Pengeluaran Pemerintah

Lainnya Pembangunan Dana Perimbangan

74,4% 91,4%

Realisasi Budget

101,1%

BELANJA NEGARA
Realisasi belanja negara yang dicerminkan baik dari belanja pemerintah pusat dan dana perimbangan diperkirakan mencapai Rp354,6 triliun atau 4,2% di atas target (Tabel 7.3). Jumlah ini setara dengan 24,0% dari PDB atau lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2000 yang mencapai 23,3%

Bunga Utang
106,7%

Subsidi Belanja Pegawai 0,0 20,0
103,5%

123,1%

40,0

60,0

80,0

100,0

Grafik 7.4 Pencapaian Target Pengeluaran Pemerintah

124

Keuangan Pemerintah

Tabel 7.3 Tabel 7.4. PerkiraanPerkiraanDana PerimbanganTahun Anggaran 2001 Realisasi Belanja Negara Tahun Anggaran 2001 (triliun Rp)

Rincian

2 0 0 01)

2001
APBN2) APBN3)

Triliun Rp % thd PDB Triliun Rp % thd PDB Triliun Rp % thd APBNR % thd PDB
B. Belanja Negara I. Belanja Pemerintah Pusat 1. Pengeluaran Rutin a. Belanja Pegawai i. Gaji dan Pensiun ii. Tunjangan Beras iii. Uang Makan/Lauk Pauk iv. Lain-lain Belanja Pegawai DN v. Belanja Pegawai LN b. Belanja Barang i. Belanja Barang DN ii. Belanja Barang LN c. Pembayaran Bunga Utang i. Utang Dalam Negeri ii. Utang Luar Negeri d. Subsidi i. Subsidi BBM ii. Subsidi non BBM - Pangan - Listrik - Bunga Kredit Program - Lainnya e. Pengeluaran Rutin Lainnya 2. Pengeluaran Pembangunan a. Pembiayaan pembangunan rupiah b. Pembiayaan proyek II. Anggaran Belanja Untuk Daerah 1. Dana Perimbangan a. Dana Bagi Hasil b. Dana Alokasi Umum c. Dana Alokasi Khusus 2. Dana Otonomi Khusus dan Penyeimbang 219,9 187,1 161,4 29,4 24,3 1,5 1,8 1,5 0,3 8,1 8,0 0,1 50,1 31,2 18,8 62,8 53,6 9,1 2,2 3,9 2,4 0,6 11,0 25,7 9,4 16,3 32,9 32,9 4,3 28,6 22,3 18,9 16,3 3,0 2,5 0,2 0,2 0,1 0,0 0,8 0,8 0,0 5,1 3,2 1,9 6,4 5,4 0,9 0,2 0,4 0,2 0,1 1,1 2,6 0,9 1,7 3,3 3,3 0,4 2,9 340,3 258,8 215,8 38,2 31,9 1,3 2,1 1,4 1,5 9,9 8,7 1,2 89,6 61,2 28,4 66,3 53,8 12,5 2,4 4,7 4,9 0,4 11,8 43,1 20,6 22,5 81,5 81,5 20,3 60,5 0,7 23,2 17,6 14,7 2,6 2,2 0,1 0,1 0,1 0,1 0,7 0,6 0,1 6,1 4,2 1,9 4,5 3,7 0,9 0,2 0,3 0,3 0,0 0,8 2,9 1,4 1,5 5,5 5,5 1,4 4,1 0,0 354,6 272,2 232,8 39,5 33,3 1,3 2,1 1,8 1,1 9,6 8,7 0,9 95,5 66,3 29,3 81,6 68,4 13,2 2,7 4,6 4,9 1,0 6,5 39,4 19,7 19,7 82,4 82,4 21,2 60,5 0,7 104,2 105,1 107,9 103,5 104,3 98,3 100,0 133,5 69,9 96,9 100,0 74,0 106,7 108,3 103,1 123,1 127,2 105,6 110,6 97,7 100,0 237,5 55,5 91,4 95,6 87,5 101,1 101,1 104,6 100,0 100,0 24,0 18,4 15,8 2,7 2,3 0,1 0,1 0,1 0,1 0,7 0,6 0,1 6,5 4,5 2,0 5,5 4,6 0,9 0,2 0,3 0,3 0,1 0,4 2,7 1,3 1,3 5,6 5,6 1,4 4,1 0,0 -

1) Realisasi sementara (belum diaudit), periode 1 April s.d. 31 Desember 2000 2) APBN penyesuaian (revisi) 3) APBN perubahan Sumber : Departemen Keuangan dan Bank Indonesia (diolah)

Sementara itu, realisasi pengeluaran pembangunan diperkirakan hanya mencapai 91,4% dari target. Jika dilihat dari komponennya, sebagian besar atau 84,3% dari pengeluaran pemerintah didominasi oleh belanja wajib pemerintah (non-discretionary items), seperti bunga utang, subsidi dana perimbangan, dan belanja pegawai, pembayaran, dan dengan alokasi dana masing-masing sebesar 26,9%, 23,0%, 23,2%, dan 11,2%, dari total

pengeluaran dan tingkat realisasi masing-masing sebesar 106,7%, 123,1%, 101,1%, dan 103,5%, dari target yang ditetapkan. Tingginya alokasi dana untuk pembayaran bunga utang terkait dengan kenaikan suku bunga SBI dan depresiasi nilai tukar rupiah. Tingginya alokasi dana untuk pengeluaran subsidi disebabkan oleh peningkatan volume konsumsi BBM dalam negeri dari 52,8 juta kiloliter menjadi 56,6 juta kiloliter, lebih besarnya depresiasi nilai tukar terhadap

125

Keuangan Pemerintah

dolar AS dari perkiraan semula, dan adanya koreksi kekurangan pembayaran subsidi tahun 2000 yang mencapai Rp5,6 trilliun sesuai hasil audit BPKP. Rendahnya realisasi pengeluaran pembangunan terkait langsung dengan rendahnya penarikan utang luar negeri pemerintah. Sementara itu, menandai dimulainya desentralisasi keuangan pusat ke daerah (otonomi daerah), pemerintah telah mengalokasikan hampir 23,2% dari total pengeluarannya untuk dana perimbangan. Secara umum, meskipun implementasi otonomi daerah ini diwarnai oleh berbagai tantangan, namun tingkat pencapaiannya sesuai dengan target anggaran. Alokasi terbesar diperuntukkan untuk dana alokasi umum (DAU) dengan porsi sebesar hampir 73,4% dari realisasi dana perimbangan. Di dalam dana alokasi umum tersebut sudah termasuk pembayaran rapel gaji pegawai negeri sipil (PNS) yang pelaksanaannya dimulai sekitar pertengahan 2001.

terdapat SIKPA sebesar Rp7,6 triliun atau 0,5% dari PDB yang akan mengurangi rekening pemerintah bersih di sistem moneter. Dilihat dari pencapaian sasaran, penjualan aset program restrukturisasi perbankan mencapai 114,7%, sedangkan privatisasi dan pembiayaan luar negeri neto masing-masing hanya 76,9% dan 52,9%. Rendahnya hasil privatisasi antara lain disebabkan oleh masih belum kondusifnya pasar modal domestik maupun internasional, perbedaan kepentingan antara pihak yang terlibat dalam proses privatisasi, infrastruktur maupun law enforcement yang masih lemah, dan belum selesainya restrukturisasi perusahaan. Dari sisi eksternal, rendahnya tingkat penarikan utang luar negeri terjadi baik pada jenis pinjaman program maupun pinjaman proyek dengan tingkat pencapaian masing-masing sebesar 65,0% dan 82,8% dari target anggaran. Rendahnya tingkat penarikan pinjaman program terutama disebabkan oleh

DEFISIT DAN PEMBIAYAAN
Dengan pelampauan pendapatan dan belanja negara di atas target masing-masing sebesar angka persentase yang hampir sama, maka defisit operasi keuangan pemerintah pada 2001 diperkirakan dapat dikendalikan pada angka Rp54,7 triliun atau 3,7% dari PDB, relatif sama dengan rencana defisit sebesar Rp54,3 triliun atau 3,7% dari PDB pada APBN penyesuaian 2001 (Tabel 7.4). Sebagian besar defisit tersebut ditutup dengan penjualan aset program restrukturisasi perbankan sebesar Rp31,0 triliun (56,6%), pembiayaan luar negeri neto sebesar Rp10,5 triliun (19,3%), dan privatisasi sebesar Rp5,0 triliun (9,1%). Dengan lebih kecilnya total sumber pembiayaan dibandingkan dengan realisasi defisit, maka

belum dapat dipenuhinya beberapa persyaratan dan jadwal penyelesaian dalam matriks kebijakan (policy matrix) sesuai kesepakatan antara pemerintah dengan negara donor, seperti penyelesaian UndangUndang (UU) tentang money laundering, UU tentang kelistrikan, dan Amandemen UU No.23/1999 tentang Bank Indonesia. Sementara itu, rendahnya tingkat penarikan pinjaman proyek antara lain disebabkan oleh sempitnya kurun waktu yang tersedia untuk implementasi proyek pasca dilakukannya revisi APBN dan terbatasnya dana pendamping rupiah untuk proyek-proyek yang dibiayai dengan pinjaman luar negeri. Adapun komposisi antara pinjaman program dan pinjaman proyek terhadap jumlah penarikan utang luar negeri adalah sebesar 35% dan 65%.

126

Keuangan Pemerintah

Dampak Operasi Keuangan Pemerintah terhadap Permintaan Agregat, Moneter dan Neraca Pembayaran.
Pemerintah diperkirakan telah melakukan pengeluaran sebesar Rp354,6 triliun, dimana 49,5% atau setara dengan Rp175,5 triliun (11,9% dari PDB)

diantaranya mempengaruhi permintaan agregat sebagai belanja konsumsi dan investasi pemerintah (Tabel 7.5). Dari jumlah yang mempengaruhi permintaan agregat tersebut , 65,1% diantaranya dalam bentuk pengeluaran konsumsi dan sisanya

Tabel 7.4 Perkiraan Operasi Keuangan Pemerintah Tahun 2001 2 0 0 01) 2001
APBN2) APBN3)

Rincian

Triliun Rp % thd PDB Triliun Rp % thd PDB Triliun Rp % thd APBNR % thd PDB
A. Pendapatan Negara dan Hibah I. Penerimaan Dalam Negeri 1. Penerimaan Pajak a. Pajak Dalam Negeri b. Pajak Perdagangan Internasional 2. Penerimaan Bukan Pajak (SDA Migas) a. Penerimaan SDA b. Bagian Laba BUMN c. PNBP Lainnya II. Hibah B. Belanja Negara I. Belanja Pemerintah Pusat 1. Pengeluaran Rutin a. Belanja Pegawai b. Belanja Barang c. Pembayaran Bunga Utang d. Subsidi e. Pengeluaran Rutin Lainnya 2. Pengeluaran Pembangunan a. Pembiayaan pembangunan rupiah b. Pembiayaan proyek II. Anggaran Belanja Untuk Daerah 1. Dana Perimbangan 2. Dana Otonomi Khusus dan Penyeimbang C. Perbedaan Statistik D. Keseimbangan Primer E. Surplus/(Defisit) Anggaran F. Pembiayaan I. Pembiayaan Dalam Negeri 1. Perbankan dalam negeri 2. Non-Perbankan dalam negeri a, Privatisasi b, Penjualan aset program restrukturisasi perbankan c, Penjualan Obligasi Pemerintah II. Pembiayaan Luar Negeri (Neto) 1. Penarikan Pinjaman Luar Negeri (Bruto) a. Pinjaman Program b. Pinjaman Proyek 2. Pembayaran Cicilan Pokok Utang LN 204,9 204,9 115,8 108,8 7,0 89,2 76,0 3,9 9,3 219,9 187,1 161,4 29,4 8,1 50,1 62,8 11,0 25,7 9,4 16,3 32,9 32,9 0,0 35,1 (15,0) 15,0 5,4 (13,5) 18,9 0,0 18,9 0,0 9,6 17,2 0,8 16,3 (7,6) 20,7 20,7 11,7 11,0 0,7 9,0 7,7 0,4 0,9 22,3 18,9 16,3 3,0 0,8 5,1 6,4 1,1 2,6 0,9 1,7 3,3 3,3 0,0 3,6 (1,5) 1,5 0,6 (1,4) 1,9 0,0 1,9 0,0 1,0 1,7 0,1 1,7 (0,8) 286,0 286,0 185,3 174,3 11,0 100,7 79,4 9,0 12,3 340,3 258,8 215,8 38,2 9,9 89,6 66,3 11,8 43,1 20,6 22,5 81,5 81,5 0,0 35,2 (54,3) 54,3 34,4 0,0 34,4 6,5 27,0 0,9 19,9 40,1 16,3 23,7 (20,2) 19,5 19,5 12,6 11,9 0,7 6,9 5,4 0,6 0,8 23,2 17,6 14,7 2,6 0,7 6,1 4,5 0,8 2,9 1,4 1,5 5,5 5,5 0,0 2,4 (3,7) 3,7 2,3 0,0 2,3 0,4 1,8 0,1 1,4 2,7 1,1 1,6 (1,4) 299,9 299,8 184,7 174,2 10,5 115,1 86,7 10,4 18,0 0,0 354,6 272,2 232,8 39,5 9,6 95,5 81,6 6,5 39,4 19,7 19,7 82,4 82,4 0,0 40,8 (54,7) 54,7 44,2 7,6 36,6 5,0 31,0 0,7 10,5 30,3 10,6 19,7 (19,7) 104,8 104,8 99,7 100,0 95,8 114,3 109,1 116,0 146,4 104,2 105,1 107,9 103,5 96,9 106,7 123,1 55,5 91,4 95,6 87,5 101,1 101,1 0,0 115,7 100,7 100,7 128,5 106,5 76,9 114,7 74,2 52,9 75,5 65,0 82,8 98,0 20,3 20,3 12,5 11,8 0,7 7,8 5,9 0,7 1,2 0,0 24,0 18,4 15,8 2,7 0,7 6,5 5,5 0,4 2,7 1,3 1,3 5,6 5,6 0,0 2,8 (3,7) 3,7 3,0 0,5 2,5 0,3 2,1 0,0 0,7 2,1 0,7 1,3 (1,3)

1) Realisasi sementara (belum diaudit), periode 1 April s.d. 31 Desember 2000 2) APBN penyesuaian (revisi) 3) APBN perubahan Sumber: Departemen Keuangan dan Bank Indonesia (diolah)

127

Keuangan Pemerintah

Tabel 7.5 Perkiraan Dampak Keuangan Pemerintah Terhadap Sektor Riil 2 0 0 01) 2001
APBN2) Realisasi3)

Rincian

Triliun Rp % thd PDB Triliun Rp % thd PDB Triliun Rp % thd APBNR % thd PDB
I. Konsumsi Pemerintah Belanja Pegawai DN Belanja Barang DN Dana Alokasi Umum Pengeluaran Rutin Lainnya II. Pembentukan Modal Domestik Bruto Pembiayaan Dalam Rupiah Bantuan Proyek Dana Bagi Hasil dan Dana Alokasi Khusus III. Jumlah I + II Memo Items : Pembayaran Transfer a. Bunga Utang Dalam Negeri b. Subsidi 76,7 29,1 8,0 28,6 11,0 29,9 9,4 16,3 4,3 106,6 94,0 31,2 62,8 7,8 2,9 0,8 2,9 1,1 3,0 0,9 1,7 0,4 10,8 6,4 2,1 4,3 117,7 36,7 8,7 60,5 11,8 64,0 20,6 22,5 21,0 181,8 127,4 61,2 66,3 8,0 2,5 0,6 4,1 0,8 4,4 1,4 1,5 1,4 12,4 8,7 4,2 4,5 114,3 38,5 8,7 60,5 6,5 61,3 19,7 19,7 21,9 175,5 147,8 66,3 81,6 97,1 104,9 100,0 100,0 55,5 95,7 95,6 87,5 104,4 96,6 120,6 108,3 12,3 7,7 2,6 0,6 4,1 0,4 4,2 1,3 1,3 1,5 11,9 10,0 4,5 5,5

1) Realisasi sementara (belum diaudit), periode 1 April s.d. 31 Desember 2000 2) APBN penyesuaian (revisi) 3) APBN perubahan Sumber: Departemen Keuangan dan Bank Indonesia (diolah)

sebesar 34,9% dalam bentuk pengeluaran investasi. Sementara itu, 41,7% dari total pengeluaran atau setara dengan Rp147,8 triliun (10,0% dari PDB) digunakan untuk pembayaran transfer ke sektor swasta dalam bentuk pembayaran subsidi dan pembayaran bunga utang dalam negeri. Dibandingkan tahun sebelumnya, pengeluaran konsumsi pemerintah terlihat hampir sama yaitu dari 7,8% menjadi 7,7% dari PDB, sedangkan pengeluaran investasi pemerintah meningkat dari 3,0% menjadi 4,2% terutama karena adanya alokasi dana untuk dana bagi hasil (DBH) mulai 2001. Sementara itu, pembayaran transfer ke sektor swasta dalam bentuk subsidi dan bunga utang dalam negeri meningkat cukup tajam dari 6,4% menjadi 10,0% dari PDB. Secara keseluruhan, kontribusi langsung sektor pemerintah terhadap permintaan agregat meningkat

dibandingkan tahun lalu dari 10,8% menjadi 11,9% dari PDB. Dari sisi moneter, transaksi keuangan pemerintah selama 2001 memberikan ekspansi rupiah neto sebesar Rp56,0 triliun (Tabel 7.6). Ekspansi terbesar adalah anggaran belanja untuk daerah, subsidi, dan bunga utang dalam negeri. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, ekspansi rupiah neto tersebut meningkat dari 3,3% menjadi 3,8% dari PDB. Faktor utama yang mendorong naiknya ekspansi rupiah neto pada periode laporan adalah peningkatan alokasi anggaran belanja untuk daerah dari 3,3% menjadi 5,6% dari PDB dan bunga utang dalam negeri dari 3,2% menjadi 4,5% dari PDB. Dari sisi neraca pembayaran, transaksi keuangan pemerintah diperkirakan memberikan aliran devisa masuk bersih (net capital inflows) setara

128

Keuangan Pemerintah

Tabel 7.6 Perkiraan Dampak Rupiah Keuangan Pemerintah 2 0 0 01) 2001
APBN2) Realisasi3)

Rincian

Triliun Rp % thd PDB Triliun Rp % thd PDB Triliun Rp % thd APBNR % thd PDB
A. Penerimaan rupiah Pajak Migas Nonmigas Bukan Pajak Privatisasi Penjualan Asset Program Restrukturisasi Perbankan Penjualan Obligasi Pemerintah Jumlah Penerimaan B. Pengeluaran rupiah Operasional Belanja Pegawai DN Subsidi Bunga Utang DN Pengeluaran Rutin Lainnya Investasi Anggaran Belanja Untuk Daerah Jumlah Pengeluaran C. Perbedaan Statistik D. Dampak Rupiah

18,7 97,1 22,5 0,0 18,9 0,0 157,2

1,9 9,8 2,3 0,0 1,9 0,0 15,9

25,7 159,5 25,5 6,5 27,0 0,9 245,2

1,8 10,9 1,7 0,4 1,8 0,1 16,7

23,1 161,6 33,2 5,0 31,0 0,7 254,6

1,6 10,9 2,3 0,3 2,1 0,0 17,2

89,8 101,3 130,2 76,9 114,7 74,2 103,8

-142,1 -29,1 -62,8 -31,2 -19,0 -15,1 -32,9 -190,0 0,0 -32,8

-14,4 -2,9 -6,4 -3,2 -1,9 -1,5 -3,3 -19,2 0,0 -3,3

-184,7 -36,7 -66,3 -61,2 -20,5 -28,5 -81,5 -294,6 0,0 -49,5

-12,6 -2,5 -4,5 -4,2 -1,4 -1,9 -5,5 -20,1 0,0 -3,4

-201,6 -38,5 -81,6 -66,3 -15,3 -26,6 -82,4 -310,6 0,0 -56,0

-13,7 -2,6 -5,5 -4,5 -1,0 -1,8 -5,6 -21,0 0,0 -3,8

109,2 104,9 123,1 108,3 74,4 93,4 101,1 105,4 0,0 113,2

1) Realisasi sementara (belum diaudit), periode 1 April s.d. 31 Desember 2000 2) APBN penyesuaian (revisi) 3) APBN perubahan Sumber : Departemen Keuangan dan Bank Indonesia (diolah)

Rp48,4 trilliun, atau lebih rendah sekitar Rp7,6 triliun dari ekspansi rupiah neto tersebut di atas (Tabel 7.7). Dengan demikian, terdapat SIKPA sebesar Rp7,6 triliun yang ditutup dengan penarikan tabungan pemerintah di sistem moneter. Kontributor utama aliran devisa masuk adalah ekspor migas yang mencapai hampir 73% penerimaan valuta asing pemerintah. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, aliran devisa masuk bersih pemerintah menurun dari 4,7% menjadi 3,3% dari PDB. Faktor penting yang menyebabkan turunnya aliran devisa masuk bersih adalah rendahnya tingkat penarikan utang luar negeri yang hanya mencapai sekitar 75% dari rencana.

PROSPEK APBN 2002
Dalam tahun 2002, kebijakan keuangan negara diarahkan pada upaya untuk mewujudkan ketahanan fiskal yang berkelanjutan (fiscal sustainability). Untuk itu, ada dua langkah strategis yang tergambar dalam penyusunan APBN 2002. Pertama, mengupayakan penurunan volume dan rasio defisit anggaran terhadap PDB. Kedua, menurunkan rasio posisi utang pemerintah --baik utang dalam negeri maupun luar negeri-- terhadap PDB. Oleh karena itu, pemerintah mempersiapkan langkah-langkah guna meningkatkan pendapatan negara, mengendalikan belanja negara, dan

129

Keuangan Pemerintah

Tabel 7.7 Perkiraan Dampak Valas Keuangan Pemerintah 2 0 0 01) 2001
APBN2) Realisasi3)

Rincian

Triliun Rp % thd PDB Triliun Rp % thd PDB Triliun Rp % thd APBNR % thd PDB
A. Transaksi Berjalan Neraca Barang Ekspor Migas Impor Bantuan Proyek Belanja Barang LN Neraca Jasa Pembayaran Bunga Utang Luar Negeri Belanja Pegawai LN B. Pemasukan Modal Neto Pemerintah Penarikan Utang LN dan Hibah Pembayaran Cicilan Pokok Utang Luar Negeri Pemerintah C. Dampak Valas (A+B) 36,8 55,9 66,7 -10,6 -0,1 -19,1 -18,8 -0,3 9,6 17,2 -7,6 46,3 3,7 5,7 6,7 -1,1 0,0 -1,9 -1,9 0,0 1,0 1,7 -0,8 4,7 29,5 59,4 75,2 -14,6 -1,2 -29,9 -28,4 -1,5 19,9 40,1 -20,2 49,5 2,0 4,0 5,1 -1,0 -0,1 -2,0 -1,9 -0,1 1,4 2,7 -1,4 3,4 37,9 68,2 81,9 -12,8 -0,9 -30,3 -29,3 -1,1 10,5 30,3 -19,7 48,4 2,6 4,6 5,5 -0,9 -0,1 -2,1 -2,0 -0,1 0,7 2,1 -1,3 3,3 128,3 114,8 108,9 87,5 74,0 101,4 103,1 69,9 52,9 75,6 98,0 97,9

1) Realisasi sementara (belum diaudit), periode 1 April s.d. 31 Desember 2000 2) APBN penyesuaian (revisi) 3) APBN perubahan Sumber: Departemen Keuangan dan Bank Indonesia (diolah)

mengoptimalkan pilihan pembiayaan defisit anggaran negara. Operasi keuangan pemerintah pada 2002 direncanakan akan mengalami defisit sebesar Rp42,1 triliun atau 2,5% dari PDB, menurun dibandingkan rencana defisit pada APBN tahun sebelumnya yang

tercatat sebesar Rp54,3 triliun (3,7% dari PDB). Penurunan defisit tersebut diupayakan dengan meningkatkan penerimaan terutama dengan mengoptimalkan penghimpunan pajak melalui perluasan basis pajak dan lebih mengefisienkan pengeluaran dengan memprioritaskan anggaran. Di sisi pembiayaan, pemerintah berupaya mengoptimalkan hasil

Tabel 7.8 Asumsi APBN 2001 - 2002

penjualan aset program restrukturisasi perbankan dan privatisasi dan menggunakan sebagian hasilnya untuk
2002 APBN
1.685,4 4,0 9,00 22,0 1,3 9.000 14,00

Asumsi
PDB a.d. harga berlaku (triliun rupiah) Pertumbuhan ekonomi (%) Laju inflasi (%) Harga minyak mentah ($ per barel) Produksi minyak mentah (juta barel per hari) Nilai Tukar (Rp/$) Suku bunga SBI 3 bulan rata-rata (%)
Sumber : Departemen Keuangan

2001 APBN
1.468,1 3,5 9,30 24,0 1,5 9.600 15,00

mengurangi posisi utang dalam negeri (asset to bond swap and cash to bond swap). Total penerimaan pemerintah secara nominal diharapkan meningkat dari Rp286 triliun menjadi Rp301,9 triliun. Namun demikian, dalam persentase terhadap PDB menurun dari 19,5% menjadi 17,9%, terutama karena perkiraan turunnya harga minyak mentah Indonesia dari $24 per barel menjadi $22 per

130

Keuangan Pemerintah

Tabel 7.9 Proyeksi Penerimaan Pemerintah Rincian
A. Pendapatan Negara dan Hibah I. Penerimaan Dalam Negeri 1. Penerimaan Pajak a. Pajak Dalam Negeri i. Pajak penghasilan 1. Migas 2. Nonmigas ii. Pajak pertambahan nilai iii. Pajak bumi dan bangunan iv. Bea perolehan hak atas tanah dan bangunan v. Cukai vi. Pajak lainnya b. Pajak Perdagangan Internasional i. Bea masuk ii. Pajak/pungutan ekspor 2. Penerimaan Bukan Pajak (SDA Migas) a. Penerimaan SDA i. Minyak Bumi ii. Gas Alam iii. Pertambangan Umum iv. Kehutanan v. Perikanan b. Bagian Laba BUMN c. PNBP Lainnya II. Hibah
1) APBN yang direvisi pada 15 Juni 2001 2) APBN yang disahkan pada 23 Oktober 2001 Sumber : Departemen Keuangan (diolah)

APBN 20011) Triliun Rp % thd PDB
286,0 286,0 185,3 174,3 95,0 25,7 69,2 53,5 5,1 1,2 17,6 1,9 11,0 10,4 0,6 100,7 79,4 57,9 17,4 0,9 3,0 0,3 9,0 12,3 0,0 19,5 19,5 12,6 11,9 6,5 1,8 4,7 3,6 0,3 0,1 1,2 0,1 0,7 0,7 0,0 6,9 5,4 3,9 1,2 0,1 0,2 0,0 0,6 0,8 0,0

APBN 20022) Triliun Rp % thd PDB
301,9 301,9 219,6 207,0 104,5 15,7 88,8 70,1 5,9 2,2 22,4 1,9 12,6 12,2 0,3 82,2 63,2 44,0 14,5 1,3 3,0 0,3 10,4 8,7 0,0 17,9 17,9 13,0 12,3 6,2 0,9 5,3 4,2 0,4 0,1 1,3 0,1 0,7 0,7 0,0 4,9 3,7 2,6 0,9 0,1 0,2 0,0 0,6 0,5 0,0

Perubahan % thd PDB
-1,6 -1,6 0,4 0,4 -0,3 -0,8 0,6 0,5 0,0 0,0 0,1 0,0 0,0 0,0 0,0 -2,0 -1,7 -1,3 -0,3 0,0 0,0 0,0 0,0 -0,3 0,0

barel. Sumber utama penerimaan diharapkan dari penerimaan perpajakan sebesar Rp219,6 trilliun dengan target tax ratio yang meningkat dibandingkan target APBN sebelumnya yaitu dari 12,6% menjadi 13,0% dari PDB. Untuk mendukung tercapainya sasaran penerimaan perpajakan, pemerintah akan melanjutkan berbagai kebijakan intensifikasi pemungutan pajak dan ekstensifikasi subjek/objek pajak. Kebijakan tersebut diimplementasikan terhadap semua jenis pajak, yang selanjutnya masing-masing akan dijabarkan secara lebih spesifik dalam kebijakan operasionalnya. Selain untuk mengantisipasi turunnya penerimaan migas, peningkatan target pajak secara bertahap sampai ke

titik optimalnya sangat dibutuhkan untuk menjaga kesinambungan fiskal di masa depan. Sebaliknya, sejalan dengan perkiraan penurunan harga minyak, maka penerimaan negara bukan pajak diperkirakan akan menurun dibandingkan tahun lalu dari 6,9% menjadi 4,9% dari PDB. Di sisi pengeluaran, volume anggaran belanja negara direncanakan sebesar Rp344,0 trilliun. Meskipun secara nominal meningkat, namun dalam persentase terhadap PDB menurun dibandingkan tahun lalu dari 23,2% menjadi 20,4%. Penurunan tersebut terutama terjadi pada alokasi pengeluaran rutin untuk pemerintah pusat yaitu dari 14,7% menjadi 11,5% dari PDB.

131

Keuangan Pemerintah

Tabel 7.10 Proyeksi Pengeluaran Pemerintah Rincian
B. Belanja Negara I. Belanja Pemerintah Pusat 1. Pengeluaran Rutin a. Belanja Pegawai i. Gaji dan Pensiun ii. Tunjangan Beras iii. Uang Makan/Lauk Pauk iv. Lain-lain Belanja Pegawai DN v. Belanja Pegawai LN b. Belanja Barang i. Belanja Barang DN ii. Belanja Barang LN c. Pembayaran Bunga Hutang i. Utang Dalam Negeri ii. Utang Luar Negeri d. Subsidi i. Subsidi BBM ii. Subsidi non BBM - Pangan - Listrik - Bunga Kredit Program - Lainnya e. Pengeluaran Rutin Lainnya 2. Pengeluaran Pembangunan a. Pembiayaan pembangunan rupiah b. Pembiayaan proyek II. Anggaran Belanja Untuk Daerah 1. Dana Perimbangan a. Dana Bagi Hasil b. Dana Alokasi Umum c. Dana Alokasi Khusus 2. Dana Otonomi Khusus dan Penyeimbang
1) APBN yang direvisi pada 15 Juni 2001 2) APBN yang disahkan pada 23 Oktober 2001 Sumber : Departemen Keuangan (diolah)

APBN 20011) Triliun Rp % thd PDB
340,3 258,8 215,8 38,2 31,9 1,3 2,1 1,4 1,5 9,9 8,7 1,2 89,6 61,2 28,4 66,3 53,8 12,5 2,4 4,7 4,9 0,4 11,8 43,1 20,6 22,5 81,5 81,5 20,3 60,5 0,7 0,0 23,2 17,6 14,7 2,6 2,2 0,1 0,1 0,1 0,1 0,7 0,6 0,1 6,1 4,2 1,9 4,5 3,7 0,9 0,2 0,3 0,3 0,0 0,8 2,9 1,4 1,5 5,5 5,5 1,4 4,1 0,0 0,0

APBN 20022) Triliun Rp % thd PDB
344,0 246,0 193,7 41,3 34,0 1,4 2,8 1,5 1,5 12,9 11,7 1,2 88,5 59,5 29,0 41,6 30,4 11,2 4,7 4,1 2,2 0,2 9,5 52,3 26,5 25,8 98,0 94,5 24,6 69,1 0,8 3,4 20,4 14,6 11,5 2,5 2,0 0,1 0,2 0,1 0,1 0,8 0,7 0,1 5,3 3,5 1,7 2,5 1,8 0,7 0,3 0,2 0,1 0,0 0,6 3,1 1,6 1,5 5,8 5,6 1,5 4,1 0,0 0,2

Perubahan % thd PDB
-2,8 -3,0 -3,2 -0,2 -0,2 0,0 0,0 0,0 0,0 0,1 0,1 0,0 -0,9 -0,6 -0,2 -2,0 -1,9 -0,2 0,1 -0,1 -0,2 0,0 -0,2 0,2 0,2 0,0 0,3 0,1 0,1 0,0 0,0 0,2

Secara individual, pengeluaran terbesar adalah untuk pembayaran bunga utang yang mencapai Rp88,5 trilliun atau setara dengan 5,3% dari PDB. Meskipun demikian, jumlah tersebut relatif lebih rendah dari tahun 2001 sejalan dengan penggunaan asumsi suku bunga SBI yang lebih rendah, nilai tukar rupiah yang lebih optimis dari tahun lalu serta dampak dari pengurangan obligasi pemerintah dengan cara membeli kembali dan mempertukarkan aset-aset yang telah direstrukturisasi dengan obligasi

yang dimiliki bank-bank (asset to bond swap and cash to bond swap). Tiga kelompok pengeluaran terbesar lainnya adalah (i) subsidi (2,5% dari PDB), (ii) belanja pegawai (2,4%), dan (iii) pengeluaran pembangunan (3,1%). Subsidi jauh menurun dibandingkan tahun 2001, antara lain karena rencana pemerintah untuk menaikkan harga BBM dalam negeri sebesar ratarata 25% mulai Januari 2002 dan tarif dasar listrik (TDL) sebesar 4%–6% setiap triwulan. Belanja

132

Keuangan Pemerintah

Tabel 7.11 Proyeksi Operasi Keuangan Pemerintah Rincian
A. Pendapatan Negara dan Hibah I. Penerimaan Dalam Negeri 1. Penerimaan Pajak a. Pajak Dalam Negeri b. Pajak Perdagangan Internasional 2. Penerimaan Bukan Pajak (SDA Migas) a. Penerimaan SDA b. Bagian Laba BUMN c. PNBP Lainnya II. Hibah B. Belanja Negara I. Belanja Pemerintah Pusat 1. Pengeluaran Rutin a. Belanja Pegawai b. Belanja Barang c. Pembayaran Bunga Utang d. Subsidi e. Pengeluaran Rutin Lainnya 2. Pengeluaran Pembangunan a. Pembiayaan pembangunan rupiah b. Pembiayaan proyek II. Anggaran Belanja Untuk Daerah 1. Dana Perimbangan 2. Dana Otonomi Khusus dan Penyeimbang C. Perbedaan statistik D. Keseimbangan Primer E. Surplus/(Defisit) Anggaran F. Pembiayaan I. Pembiayaan Dalam Negeri 1. Perbankan dalam negeri 2. Non Perbankan dalam negeri a. Privatisasi b. Penjualan aset program restrukturisasi perbankan c. Penjualan Obligasi Pemerintah II. Pembiayaan Luar Negeri (Netto) 1. Penarikan Pinjaman Luar Negeri (bruto) a. Pinjaman Program b. Pinjaman Proyek 2. Pembayaran Cicilan Pokok Utang LN 1) Total Target Privatisasi (Termasuk penarikan obligasi) 2) Total Target Penjualan Aset oleh BPPN (Termasuk penarikan obligasi) 1) APBN yang direvisi pada 15 Juni 2001 2) APBN yang disahkan pada 23 Oktober 2001 Sumber : Departemen Keuangan (diolah)

APBN 20011) Triliun Rp % thd PDB
286,0 286,0 185,3 174,3 11,0 100,7 79,4 9,0 12,3 0,0 340,3 258,8 215,8 38,2 9,9 89,6 66,3 11,8 43,1 20,6 22,5 81,5 81,5 0,0 0,0 35,2 -54,3 54,3 34,4 0,0 34,4 6,5 27,0 0,9 19,9 40,1 16,3 23,7 -20,2 6,5 0,0 37,0 -10,0 19,5 19,5 12,6 11,9 0,7 6,9 5,4 0,6 0,8 0,0 23,2 17,6 14,7 2,6 0,7 6,1 4,5 0,8 2,9 1,4 1,5 5,5 5,5 0,0 0,0 2,4 -3,7 3,7 2,3 0,0 2,3 0,4 1,8 0,1 1,4 2,7 1,1 1,6 -1,4 0,4 0,0 2,5 -0,7

APBN 20022) Triliun Rp % thd PDB
301,9 301,9 219,6 207,0 12,6 82,2 63,2 10,4 8,7 0,0 344,0 246,0 193,7 41,3 12,9 88,5 41,6 9,5 52,3 26,5 25,8 98,0 94,5 3,4 0,0 46,4 -42,1 42,1 23,5 0,0 23,5 4,0 19,5 0,0 18,6 62,6 36,8 25,8 -44,0 6,5 -2,5 42,8 -23,3 17,9 17,9 13,0 12,3 0,7 4,9 3,7 0,6 0,5 0,0 20,4 14,6 11,5 2,5 0,8 5,3 2,5 0,6 3,1 1,6 1,5 5,8 5,6 0,2 0,0 2,8 -2,5 2,5 1,4 0,0 1,4 0,2 1,2 0,0 1,1 3,7 2,2 1,5 -2,6 0,4 -0,2 2,5 -1,4

Perubahan % thd PDB
-1,6 -1,6 0,4 0,4 0,0 -2,0 -1,7 0,0 -0,3 0,0 -2,8 -3,0 -3,2 -0,2 0,1 -0,9 -2,0 -0,2 0,2 0,2 0,0 0,3 0,1 0,2 0,0 0,3 1,2 -1,2 -0,9 0,0 -0,9 -0,2 -0,7 -0,1 -0,3 1,0 1,1 –0,1 -1,2 -0,1 -0,2 0,0 -0,7

pegawai dianggarkan naik secara nominal sebagai upaya pemerintah untuk menaikkan tunjangan beberapa jabatan fungsional tertentu mengingat selama beberapa tahun terakhir tunjangan tersebut

belum pernah mengalami kenaikan. Sementara itu, alokasi dana untuk pengeluaran pembangunan masih tetap rendah dibandingkan pengeluaran rutin.

133

Keuangan Pemerintah

Tabel 7.12 Dampak Rupiah Operasi Keuangan Pemerintah
Rincian
A. Penerimaan rupiah Pajak Migas Nonmigas Bukan Pajak Privatisasi Penjualan Asset Program Restrukturisasi Perbankan Penjualan Obligasi Pemerintah Jumlah Penerimaan B. Pengeluaran rupiah Operasional Belanja Pegawai DN Subsidi Bunga Utang DN Pengeluaran Rutin Lainnya Investasi Anggaran Belanja Untuk Daerah Jumlah Pengeluaran C. Perbedaan Statistik D. Dampak Rupiah
1) APBN yang direvisi pada 15 Juni 2001 2) APBN yang disahkan pada 23 Oktober 2001 Sumber : Departemen Keuangan (diolah)

APBN 20011) Triliun Rp % thd PDB

APBN 20022) Triliun Rp % thd PDB

Perubahan % thd PDB

25,7 159,5 25,5 6,5 27,0 0,9 245,2

1,8 10,9 1,7 0,4 1,8 0,1 16,7

15,7 203,9 23,7 4,0 19,5 0,0 266,8

0,9 12,1 1,4 0,2 1,2 0,0 15,8

-0,8 1,2 -0,3 -0,2 -0,7 -0,1 -0,9

-184,7 -36,7 -66,3 -61,2 -20,5 -28,5 -81,5 -294,6 0,0 -49,5

-12,6 -2,5 -4,5 -4,2 -1,4 -1,9 -5,5 -20,1 0,0 -3,4

-162,1 -39,8 -41,6 -59,5 -21,2 -35,5 -98,0 -295,6 0,0 -28,7

-9,6 -2,4 -2,5 -3,5 -1,3 -2,1 -5,8 -17,5 0,0 -1,7

3,0 0,1 2,0 0,6 0,1 -0,2 -0,3 2,5 0,0 1,7

Dalam pada itu, alokasi anggaran belanja untuk daerah selama 2002 diperkirakan mencapai Rp98,0 trilliun (5,8% dari PDB) sedikit meningkat dibandingkan dengan tahun lalu yang tercatat Rp81,5 trilliun (5,5% dari PDB). Bagian terbesar dari alokasi tersebut adalah untuk Dana Alokasi Umum (Rp69,1 triliun), diikuti oleh Dana Bagi Hasil (Rp24,6 triliun), dan sisanya untuk Dana Alokasi Khusus (DAK). Selain itu, pemerintah mengalokasikan pula dana sebesar Rp3,4 triliun untuk penyelenggaraan otonomi khusus dan sebagai dana penyeimbang. Dengan kondisi di atas, maka keseimbangan primer APBN 2002 diharapkan surplus 2,8% dari PDB atau sedikit lebih baik dibandingkan dengan tahun 2001. Secara keseluruhan, defisit fiskal diperkirakan akan mencapai Rp42,1 triliun atau 2,5% dari PDB.

Sebagian dari defisit tersebut akan dibiayai dengan sumber pembiayaan dalam negeri khususnya dari privatisasi dan penjualan aset program restrukturisasi perbankan, sedangkan sisanya dengan sumber pembiayaan luar negeri. Target privatisasi ditetapkan Rp6,5 triliun dimana Rp2,6 triliun diantaranya digunakan untuk membeli kembali obligasi pemerintah. Dalam pada itu, penjualan aset ditargetkan sebesar Rp42,8 triliun dimana Rp7,5 triliun diantaranya dicapai dalam bentuk asset to bond swap dan Rp15,8 triliun dalam bentuk cash to bond swap. Dengan demikian, total obligasi pemerintah yang diharapkan dapat ditarik kembali selama 2001 adalah sebesar Rp25,8 triliun. Kebijakan membeli kembali obligasi yang telah diterbitkan ini ditujukan untuk mengurangi volume utang dalam

134

Keuangan Pemerintah

Tabel 7.13 Dampak Valas Operasi Keuangan Pemerintah
APBN 20011) Triliun Rp
29,5 59,4 75,2 -14,6 -1,2 -29,9 -28,4 -1,5 19,9 40,1 -20,2 49,5

Rincian
A. Transaksi Berjalan Neraca Barang Ekspor Migas Impor Bantuan Proyek Belanja Barang LN Neraca Jasa Pembayaran Bunga Utang Luar Negeri Belanja Pegawai LN B. Pemasukan Modal Neto Pemerintah Penarikan Utang LN dan Hibah Pembayaran Cicilan Pokok Utang LN Pemerintah C. Dampak Valas (A+B)
1) APBN yang direvisi pada 15 Juni 2001 2) APBN yang disahkan pada 23 Oktober 2001 Sumber : Departemen Keuangan (diolah)

APBN 20022) Triliun Rp
10,1 40,6 58,5 -16,8 -1,2 -30,5 -29,0 -1,5 18,6 62,6 -44,0 28,7

Perubahan % thd PDB
-1,4 -1,6 -1,7 0,0 0,0 0,2 0,2 0,0 -0,3 1,0 -1,2 -1,7

% thd PDB
2,0 4,0 5,1 -1,0 -0,1 -2,0 -1,9 -0,1 1,4 2,7 -1,4 3,4

% thd PDB
0,6 2,4 3,5 -1,0 -0,1 -1,8 -1,7 -0,1 1,1 3,7 -2,6 1,7

negeri pemerintah yang sejauh ini bebannya lebih tinggi dibandingkan utang luar negeri. Sementara itu, pembiayaan luar negeri bersih pada 2002 diperkirakan menurun dibandingkan tahun lalu, yaitu dari Rp19,9 trilliun menjadi Rp18,6 triliun. Jumlah ini lebih kecil dibandingkan dengan total nilai pembelian kembali obligasi pemerintah. Dengan melakukan asset to bond swap, volume utang pemerintah diharapkan menurun. Penurunan posisi utang tersebut diperlukan untuk menjaga kesinambungan fiskal di masa depan.

moneter, neraca pembayaran, dan permintaan agregat 2002. Dari sisi moneter, transaksi keuangan pemerintah pada 2002 diperkirakan akan memberikan ekspansi rupiah neto sebesar Rp28,8 triliun (1,7% dari PDB), jauh lebih rendah dari 2001 yang tercatat Rp49,5 triliun (3,4% dari PDB). Penurunan terbesar berasal dari pengurangan subsidi BBM dan TDL. Penurunan ekspansi rupiah neto tersebut didukung pula oleh optimisme peningkatan tax ratio dari 12,6% menjadi 13,0% pada 2002. Ekspansi rupiah neto pemerintah yang lebih rendah ini diharapkan akan mengurangi beban pengendalian

Dampak Operasi Keuangan Pemerintah terhadap Moneter, Neraca Pembayaran dan Permintaan Agregat.
Berbagai kebijakan operasi keuangan pemerintah yang secara kuantitatif tertuang dalam APBN 2002 tersebut selanjutnya akan mempengaruhi sisi

moneter, sehingga diharapkan suku bunga dapat diarahkan pada level yang lebih rendah sehingga dapat mendorong kegiatan di sektor riil. Kondisi ini pada gilirannya akan memberikan manfaat kepada sektor fiskal itu sendiri terutama untuk mencapai sustainabilitas fiskal.

135

Keuangan Pemerintah

Tabel 7.14 Dampak Operasi Keuangan Pemerintah terhadap sektor Riil
Rincian
I. Konsumsi Pemerintah Belanja Pegawai DN Belanja Barang DN Dana Alokasi Umum Pengeluaran Rutin Lainnya3) II. Pembentukan Modal Domestik Bruto Pembiayaan Dalam Rupiah Bantuan Proyek Dana Bagi Hasil dan Dana Alokasi Khusus III. Jumlah I + II Memo Items : Pembayaran Transfer a. Bunga Utang Dalam Negeri b. Subsidi
1) APBN yang direvisi pada 15 Juni 2001 2) APBN yang disahkan pada 23 Oktober 2001 3) Termasuk dana otonomi khusus dan penyeimbang Sumber : Departemen Keuangan (diolah)

APBN 20011) Triliun Rp
117,7 36,7 8,7 60,5 11,8 64,0 20,6 22,5 21,0 181,8 127,4 61,2 66,3

APBN 20022) Triliun Rp
133,5 39,8 11,7 69,1 12,9 77,7 26,5 25,8 25,4 211,3 101,1 59,5 41,6

Perubahan % thd PDB
-0,1 -0,1 0,1 0,0 0,0 0,2 0,2 0,0 0,1 0,2 -2,7 -0,6 -2,0

% thd PDB
8,0 2,5 0,6 4,1 0,8 4,4 1,4 1,5 1,4 12,4 8,7 4,2 4,5

% thd PDB
7,9 2,4 0,7 4,1 0,8 4,6 1,6 1,5 1,5 12,5 6,0 3,5 2,5

Dari sisi neraca pembayaran, potensi aliran devisa masuk terutama bersumber dari penerimaan migas dan penarikan utang luar negeri masingmasing sebesar Rp58,5 triliun dan Rp62,6 triliun. Sementara itu, aliran devisa keluar terutama digunakan untuk pembayaran bunga dan amortisasi utang luar negeri yang masing-masing sebesar Rp29,0 triliun dan Rp44,0 triliun. Dengan demikian, dampak valuta asing yang terjadi diperkirakan sebesar Rp28,7 triliun. Jumlah tersebut akan digunakan oleh Bank Indonesia untuk mensterilisasi dampak ekspansi neto transaksi rupiah pemerintah.

Dari sisi permintaan agregat, kontribusi sektor pemerintah terhadap permintaan agregat masih tetap terbatas dan hanya sedikit meningkat dibandingkan tahun lalu, yaitu 12,4% menjadi 12,5% dari PDB. Peningkatan tersebut terjadi pada investasi yaitu dari 4,4% menjadi 4,6%, sedangkan konsumsi pemerintah relatif tidak berubah. Sementara itu, jumlah pengeluaran pemerintah dalam bentuk pembayaran transfer ke sektor swasta menurun dari 8,7% menjadi 6,0% dari PDB, hal ini disebabkan karena berkurangnya jumlah subsidi yang harus ditanggung pemerintah.

136

Keuangan Pemerintah

boks

Masalah Utang Indonesia dan Opsi Penanganannya1
Masalah utang Indonesia dewasa ini cukup pelik, berat, dan serius. Pelik dikarenakan masalah utang itu bersumber baik dari utang domestik dan luar negeri yang ditanggung Pemerintah, maupun utang luar negeri yang harus ditanggung oleh sektor swasta nasional. Berat dikarenakan beban utang tersebut telah sedemikian menekan dan bahkan mengancam kinerja neraca transaksi berjalan, neraca pembayaran, dan keuangan pemerintah. Serius dikarenakan hingga saat ini langkah-langkah penanganan utang yang dilakukan dipandang belum mampu banyak meringankan beban utang Indonesia. Permasalahan utang harus membuat kita bangun dan waspada. Utang yang ditanggung Pemerintah dewasa ini hampir sama dengan jumlah PDB, meningkat tajam dari hanya 25% PDB pada 1996. Sementara itu, utang luar negeri pemerintah per Desember 2001 tercatat sebesar $71,4 miliar atau 49,1% dari PDB tahun 2001. Dengan utang luar negeri swasta sebesar $59,8 miliar, utang luar negeri yang ditanggung Indonesia secara keseluruhan telah mencapai $131,2 miliar, atau 90,3% dari PDB tahun 2001. Dengan tingkat utang sedemikian besar, beban pembayaran pokok dan bunga utang (debt service payments) yang ditanggung Pemerintah maupun swasta nasional sebagai konsekuensinya membengkak. Pada 2002 misalnya, Pemerintah harus mencadangkan dana sekitar Rp136,4 triliun untuk membayar cicilan pokok dan bunga pinjaman, di mana sekitar Rp73,0 triliun dialokasikan untuk utang luar negeri dan sekitar Rp63,4 triliun untuk utang dalam negeri. Dibandingkan dengan proyeksi penerimaan pemerintah tahun yang sama, beban kewajiban utang pemerintah mencapai 45,2%. Sementara itu, beban kewajiban utang luar negeri sektor swasta di 2002 diperkirakan mencapai $11,8 miliar. Dengan demikian, debt service payments utang luar negeri pemerintah dan swasta untuk 2002 akan mencapai $24,2 miliar. Debt service ratio (DSR) untuk tahun 2001 dan 2002 masing-masing diperkirakan sekitar 39,4% dan 34,9%, jauh lebih tinggi dari 20% sebagai tingkat DSR yang dianggap aman oleh Bank Dunia. Pengukuran solvabilitas dan sustainabilitas keuangan pemerintah sehubungan dengan beban utang dalam dan luar negeri pemerintah dapat dilakukan atas dasar sebuah pendekatan intertemporal budget constraint yang dikembangkan oleh Dinh (1999).2 Hasil analisis oleh Bank Indonesia dengan menggunakan pendekatan tersebut menunjukkan bahwa keuangan pemerintah untuk periode 20012005 secara umum diperkirakan masih dalam kondisi yang solvabel dan sustainabel.
1 Disarikan dari “Utang Indonesia: Kondisi, Permasalahan dan Opsi Penanganannya”, Paper Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter dan Direktorat Luar Negeri, Bank Indonesia, Desember 2001.

2

Hinh T. Dinh, “Fiscal Solvency and Sustainability in Economic Management”, Macroeconomics In Southern Africa Region, the World Bank, 1999.

137

Keuangan Pemerintah

Meski demikian, terdapat sejumlah faktorfaktor penentu (critical factors) yang akan sangat mempengaruhi tingkat solvabilitas dan sutainabilitas keuangan pemerintah dalam periode tersebut. Faktorfaktor tersebut terkait baik dengan faktor-faktor di bidang fiskal maupun faktor-faktor makroekonomi. Secara khusus, faktor-faktor penentu di bidang fiskal akan sangat menentukan besar kecilnya keseimbangan primer3 dalam keuangan pemerintah, sementara faktor-faktor penentu makroekonomi akan berpengaruh pada tinggi rendahnya indeks (passing grade) solvabilitas dan sustainabilitas fiskal. Lebih penting lagi, selain berpengaruh terhadap besar kecilnya keseimbangan primer, faktor-faktor penentu di bidang fiskal sangat menentukan terjadi tidaknya kesulitan likuiditas jangka pendek (short-term liquidity problems) bagi keuangan pemerintah sehubungan dengan pemenuhan kewajiban beban utang yang sangat besar. Faktor-faktor penentu fiskal dimaksud berturut-turut antara lain adalah keberhasilan privatisasi BUMN dan penjualan aset BPPN, keberhasilan program rekapitalisasi perbankan, pemenuhan target pengurangan subsidi, dan pelaksanaan otonomi daerah. Sementara itu, faktor-faktor penentu makroekonomi mencakup sejumlah perkembangan makro jangka pendek-menengah kedepan adalah sebagai berikut : (i) perekonomian internasional yang belakangan ini juga memiliki faktor ketidakpastian yang tinggi; (ii) kondisi sosial, politik, dan keamanan dalam negeri yang sangat mempengaruhi kepercayaan konsumen (consumer confidence) dan kondusivitas iklim investasi; (iii) pulihnya fungsi intermediasi perbankan.
3 Surplus/defisit keseimbangan primer adalah surplus/defisit operasi keuangan pemerintah diluar beban kewajiban bunga

Hasil analisis solvabilitas terhadap keuangan (non-interest current account) Indonesia mendukung gambaran yang diperoleh sebelumnya dari hasil proyeksi kembali neraca pembayaran pemerintah dan swasta nasional tentang beratnya beban utang yang ditanggung perekonomian Indonesia. Meski keuangan Indonesia sebagai negara secara umum diperkirakan masih dalam kondisi solvabel dalam periode 2000-2004, kondisinya cukup mengkuatirkan. Perkembangannya ke depan juga sangat bergantung pada sejumlah faktor-faktor penentu. Faktor-faktor ini, selain terkait dengan perkembangan variabel-variabel makroekonomi seperti sebelumnya, secara langsung sangat terkait dengan tingkat keberhasilan upaya kita dalam penanganan (restrukturisasi) utang luar negeri pemerintah dan swasta nasional dalam jangka pendek-menengah ke depan. Dari ulasan di atas, jelas terlihat bahwa permasalahan utang yang membelit Indonesia dewasa ini paling tidak memaksa kita untuk merumuskan tiga kelompok penanganan, yakni (i) penanganan yang ditujukan secara langsung pada masalah short-term liquidity problems yang kemungkinan dihadapi pemerintah sebagai akibat tingginya beban utang yang harus ditanggung; (ii) penanganan masalah solvabilitas dan sustainabilitas neraca pembayaran, keuangan pemerintah, dan keuangan Indonesia dalam jangka pendek-menengah; serta (iii) penanganan utang dalam jangka menengah-panjang, yang terutama terkait dengan stance dan arah kebijakan pemerintah dalam menangani utang Indonesia. Pertama, penanganan ancaman short-term liquidity problems menuntut langkah-langkah yang cepat namun sekaligus terencana. Di sisi domestik, pemerintah pertama-tama dituntut mampu menjaga

138

Keuangan Pemerintah

kedisiplinan dalam pemenuhan target penerimaan privatisasi dan penjualan aset BPPN, pengurangan subsidi, dan pelaksanaan otonomi daerah. Selanjutnya, pemerintah secara khusus perlu mempercepat penerbitan T-Bills ataupun surat utang lainnya, seperti Medium Term Notes (MTN) dan Floating Rate Notes (FRN), yang dapat dimanfaatkan untuk membiayai kembali (refinancing) obligasi pemerintah yang mulai jatuh tempo tahun 2002, melakukan roll-over obligasi yang jatuh tempo (terutama yang suku bunga dan persyaratannya ringan), serta menukarkan kredit yang direstrukturisasi BPPN dengan obligasi. Di sisi internasional, upaya rescheduling melalui forum Paris Club menjadi pilihan pertama dan sekaligus paling feasible. Melalui forum Paris Club, Pemerintah telah dua kali berhasil menjadwal ulang utang bilateral sekitar $10,9 miliar. Meskipun penundaan pembayaran pokok utang tersebut berhasil menolong mengatasi kesulitan keuangan jangka pendek, namun terms and conditions yang diperoleh dalam kedua rescheduling Paris Club tersebut masih belum optimal—terutama jika dibandingkan dengan terms and conditions yang diterima oleh Pakistan. Rescheduling Paris Club untuk Pakistan menyetujui exit rescheduling sebesar $12,5 miliar. Skim ini memungkinkan pembayaran pinjaman Official Development Assistance (ODA) dijadwal ulang sampai dengan 38 tahun (termasuk 15 tahun grace period) dan pinjaman non-ODA dijadwal ulang selama 23 tahun (termasuk 8 tahun grace period). Begitu istimewanya perlakuan yang diterima oleh Pakistan, sehingga skim ini diberi julukan sebagai the Islamabad Terms. Membandingkan dengan hasil yang diperoleh Pakistan tersebut, tampaknya masih banyak peluang

yang dapat dimanfaatkan Pemerintah Indonesia dalam negosiasi Paris Club III nanti untuk memperoleh terms and conditions pinjaman yang lebih menguntungkan. Untuk itu diperlukan persiapan yang lebih matang, termasuk penetapan secara eksplisit target terms and conditions yang ingin dicapai Pemerintah, lobby ataupun pendekatan yang lebih intensif ke IMF dan World Bank, serta pendekatan politis ke negara-negara donor yang dominan seperti Amerika Serikat dan Jepang. Bila perlu, pemerintah dapat menjajagi pemakaian tenaga lobbyist dan penasehat hukum berkelas internasional, yang tidak hanya dapat bertindak sebagai penghubung namun juga mampu memperjuangkan kepentingan pemerintah dalam negosiasi rescheduling Paris Club yang akan datang. Kedua, salah satu elemen utama dalam penanganan masalah solvabilitas dan sustainabilitas dalam jangka pendek-menengah adalah pengurangan level utang. Di sisi domestik, sejumlah opsi berikut dapat menjadi pertimbangan: (i) melunasi obligasi dengan memanfaatkan dana hasil privatisasi dan penjualan aset BPPN; (ii) memelihara persentase tertentu dari penerimaan pemerintah guna memberi ruang yang lebih besar bagi pemerintah untuk mengurangi pokok obligasi; (iii) menjadikan obligasi pemerintah sebagai piranti moneter untuk Operasi Pasar Terbuka (OPT), yang diharapkan secara tidak langsung akan meningkatkan kepercayaan publik terhadap obligasi pemerintah; (iv) mempercepat pembentukan lembaga penjamin simpanan, yang bila terwujud akan mengurangi kewajiban kontinjen pemerintah sehubungan dengan Program Penjaminan. Di sisi internasional, di tengah-tengah ketidakpopuleran opsi debt haircut dan debt default di kalangan negara kreditur dan keterbatasan kemam-

139

Keuangan Pemerintah

puan keuangan Pemerintah untuk melakukan debt buyback, opsi yang paling feasible untuk mengurangi pokok utang luar negeri pemerintah—meski dengan magnitude yang masih terbatas—adalah debt for nature swap. Dewasa ini, Pemerintah Amerika Serikat dan Jerman telah menyediakan fasilitas debt for nature swap. Untuk merealisasikan tawaran ini diperlukan fleksibilitas keuangan pemerintah dan koordinasi antar departemen yang terkait untuk menindaklanjuti proyek konservasi alam yang ditawarkan. Fasilitas ini telah dimanfaatkan di sejumlah negara, seperti Bolivia, Polandia ($3,6 miliar), Equador ($10 juta), dan Filipina ($29 juta). Keberhasilan upaya konservasi alam Indonesia, selain bermanfaat bagi bangsa Indonesia sendiri, juga merupakan kampanye positif bagi Indonesia di dunia internasional. Di samping itu, jika program debt for nature swap ini dinilai berhasil oleh negara kreditur, program ini bukan tidak mungkin akan diikuti programprogram serupa di kemudian hari dengan jumlah yang semakin besar. Dengan pertimbangan yang sama, opsi debt for development swap juga perlu dieksplorasi dengan segera guna membantu mengurangi level utang luar negeri pemerintah. Ketiga, penanganan utang Indonesia dalam jangka menengah-panjang terutama terkait dengan kejelasan stance dan arah kebijakan Pemerintah dalam bidang ini. Mengingat masalah utang yang dihadapi Indonesia bersifat pelik dan multi-dimensional, stance dan arah kebijakan Pemerintah ini harus bersifat komprehensif, tidak hanya terkait de-

ngan utang pemerintah, namun juga dengan utang (luar negeri) swasta nasional. Dalam kaitan itu perlu dibentuk suatu lembaga tersendiri untuk menangani utang pemerintah dan atau utang (luar negeri) swasta secara terpadu. Sebagaimana layaknya struktur manajemen utang yang baik, lembaga ini memiliki fungsi front, middle dan back office. Lembaga ini sekaligus berfungsi sebagai inisiator, koordinator, dan pengawas dalam proses restrukturisasi utang. Lembaga ini juga perlu dilengkapi dengan kewenangan menetapkan sanksi termasuk membawa debitur yang tidak kooperatif ke pengadilan. Khusus untuk utang luar negeri swasta, lembaga tersebut juga dapat berfungsi sebagai lembaga hedging. Untuk menunjang stance kebijakan tersebut di atas, khususnya yang terkait dengan utang luar negeri swasta, diperlukan suatu pengaturan untuk menghindari terulang kembali kondisi di mana eksposur sektor swasta terhadap utang luar negeri sangat berlebihan dan tidak terkendali. Peraturan tersebut memuat rambu-rambu tentang ‘prudential borrowing guidance’, baik yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif. Terakhir, di samping berbagai tindakan yang sifatnya kuratif, peran aktif pemerintah juga diperlukan dalam menyiapkan perangkat hukum yang komprehensif dan mengimplementasikannya di lapangan secara kredibel dan sungguh-sungguh dalam rangka turut mencegah berulangnya krisis utang di kemudian hari.

140

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

bab 8 PERBANKAN DAN LEMBAGA KEUANGAN LAIN

141

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

bab 8

PERBANKAN DAN LEMBAGA KEUANGAN LAIN

S

ecara umum kinerja sektor perbankan menunjukkan perbaikan dalam tahun 2001 setelah

pada tahun 2001 yaitu pemenuhan Capital Adequacy Ratio (CAR) minimum 8% dan target indikatif non Performing Loans (NPLs) sebesar 5%. Sementara itu, lambatnya restrukturisasi kredit dan korporasi dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti ketidaksesuaian terms and conditions antara debitur dan kreditur, menurunnya nilai agunan kredit yang dikelola oleh BPPN, meningkatnya country risk yang menyebabkan biaya bunga lebih mahal serta menghambat investor asing untuk mengambil alih utang luar negeri perusahaan, volatilitas nilai tukar, serta ketidakpastian dalam masalah hukum. Menghadapi tantangan-tantangan tersebut di atas, Bank Indonesia selain tetap melanjutkan program restrukturisasi perbankan juga mendorong bank-bank untuk lebih memfokuskan pemberian kredit ke sektor Usaha Kecil dan Menengah (UKM) maupun Proyek Kredit Mikro (PKM) dengan tetap memperhatikan prinsip-prinsip pemberian kredit yang sehat. Kedua sektor ini memiliki peranan yang bersifat

berakhirnya program rekapitalisasi perbankan pada tahun 2000. Hal ini terutama ditunjukkan dengan membaiknya struktur permodalan sektor perbankan, menurunnya Non Performing Loans (NPLs), dan meningkatnya Net Interest Margin (NIM). Sejalan dengan membaiknya kinerja sektor perbankan, kinerja lembaga keuangan lainnya seperti perusahaan pembiayaan dan perum pegadaian juga mengalami perbaikan. Meskipun perbankan mengalami perbaikan kinerja, namun lembaga ini masih menghadapi tantangan berupa fungsi intermediasi yang belum sepenuhnya pulih dalam mendukung proses pemulihan ekonomi. Sementara itu, fungsi intermediasi pembiayaan keuangan di luar sektor perbankan walaupun menunjukkan kenaikan, kontribusinya terhadap perekonomian masih relatif kecil dibandingkan dengan total pembiayaan kredit perbankan. Fungsi intermediasi perbankan yang belum sepenuhnya pulih tercermin dari Loan to Deposit Ratio (LDR) yang dimiliki perbankan nasional yang tidak banyak mengalami perubahan dalam dua tahun terakhir. Beberapa faktor yang mempengaruhi kondisi tersebut antara lain adalah masih berlangsungnya upaya konsolidasi internal perbankan dan lambatnya proses restrukturisasi kredit dan korporasi. Upaya konsolidasi internal terkait dengan pencapaian sasaran strategis program restrukturisasi perbankan

langsung terhadap sektor riil dan masih memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan guna mendorong pemulihan perekonomian.

PERBANKAN
Dalam tahun laporan, kebijakan perbankan nasional masih tetap diarahkan pada restrukturisasi perbankan yang berkesinambungan yang mencakup dua bagian besar, yaitu program penyehatan perbankan, dan pemantapan ketahanan sistem per-

142

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

bankan. Untuk menciptakan perbankan yang sehat dalam menghadapi berbagai eksposur risiko yang semakin kompleks, Bank Indonesia secara khusus lebih menitikberatkan pada upaya pencapaian CAR minimum 8% dan pencapaian target indikatif NPLs 5% pada akhir tahun 2001. Dalam rangka pemenuhan modal minimum, kebijakan yang diambil antara lain meminta bank-bank untuk menambah setoran modal, menggabung bank melalui merger, dan mencari strategic investor baru baik domestik maupun asing. Namun demikian bagi bank-bank yang setelah dilakukan upaya tersebut masih tidak mampu memenuhi ketentuan modal minimum diberikan alternatif terakhir untuk mengikuti exit policy. Sampai dengan akhir tahun 20011 jumlah bank yang telah memenuhi ketentuan CAR minimum 8% berjumlah 138 (95%) dari 145 bank. Dalam hal pemenuhan target indikatif NPLs, perbankan telah melakukan berbagai upaya antara lain melakukan restrukturisasi kredit baik melalui perbankan sendiri maupun melalui fasilitasi Satuan Tugas (Satgas) Kredit Bank Indonesia, melakukan penghapusbukuan (write-off) atas portofolio NPLs, dan meningkatkan penyaluran kredit baru. Sampai akhir periode laporan, meskipun angka NPLs nasional membaik namun posisinya baru mencapai 12,1% dan masih jauh dari harapan yang telah ditargetkan. Seiring dengan upaya tersebut, dalam hal pemantapan ketahanan sistem perbankan, Bank Indonesia juga tetap menyempurnakan pola pengawasan bank yang mengacu pada 25 Basel Core Principles for Effective Banking Supervision, yang telah berlaku secara internasional. Selain itu, Bank

Indonesia tetap konsisten mendorong bank-bank untuk meningkatkan mutu pengelolaan bank (Good Governance) serta memperkuat infrastruktur perbankan dengan mendorong perluasan jaringan bank syariah dan pemberdayaan Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Berbagai kebijakan perbankan yang ditempuh telah memberikan hasil positif pada kinerja perbankan dalam tahun laporan. Hal ini tercermin dari peningkatan total aset, dana pihak ketiga, penyaluran kredit baru, kualitas kredit, permodalan, serta profitabilitas perbankan. Seiring dengan terus berjalannya proses restrukturisasi perbankan dan masih berlakunya program penjaminan pemerintah yang berhasil menjaga kepercayaan masyarakat terhadap perbankan, mobilisasi dana pihak ketiga dari masyarakat oleh perbankan mengalami peningkatan dan pada gilirannya mendorong penyaluran kredit baru perbankan kepada dunia usaha. Perkembangan kinerja perbankan yang membaik tersebut masih belum mampu meningkatkan fungsi intermediasi secara keseluruhan. Hal ini tercermin dari masih tingginya porsi obligasi pemerintah di dalam aset perbankan dan porsi bunga obligasi pemerintah di dalam net interest margin bank. Sementara itu, walaupun ekspansi kredit baru telah menunjukkan peningkatan, namun pemanfaatannya masih relatif rendah dibandingkan dengan komitmen kredit yang telah disediakan oleh perbankan berkaitan dengan masih tingginya faktor risiko yang dihadapi dunia usaha.

Kebijakan Perbankan
Kebijakan perbankan pada tahun laporan secara khusus ditujukan untuk mencapai dua sasaran

1

Data sampai dengan November 2001

143

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

strategis yaitu pencapaian target CAR minimum 8% dan target indikatif NPLs maksimum 5%. Selain itu Bank Indonesia tetap melanjutkan kebijakan perbankan yang telah berjalan yaitu (i) program penyehatan lembaga perbankan melalui program penjaminan pemerintah bagi bank umum dan BPR, pemantauan program rekapitalisasi bank umum, dan melanjutkan restrukturisasi kredit perbankan; serta (ii) upaya lebih meningkatkan ketahanan sistem perbankan, melalui pengembangan infrastuktur perbankan, peningkatan mutu pengelolaan perbankan (good corporate governance), serta penyempurnaan ketentuan perbankan dan pemantapan sistem pengawasan bank yang mengacu pada 25 Basel Core Principles for Effective Banking Supervision. Berdasarkan penilaian (assesment) terakhir yang dilakukan International Monetary Fund (IMF) pada bulan September 2000 dari 25 Core Principles (CP) tersebut, Indonesia sudah mematuhi dan melaksanakan (fully compliant) 2 principles yaitu CP-1 mengenai Preconditions for Effective banking Supervision yang mencakup Objectives, Independence and Resources, Legal Framework, Enforcement Powers, dan Legal Protection; serta CP-2 mengenai Permissible Activities of Banks. Sementara itu juga terdapat 5 CP lainnya yang sudah mencapai Largely Compliant.

secara khusus ditujukan untuk memenuhi kesepakatan LoI dengan IMF, yaitu menitikberatkan pada target pencapaian CAR minimum 8% dan pencapaian target indikatif NPLs 5% yang harus dipenuhi oleh bankbank pada akhir tahun 2001. Hal ini bertujuan untuk memperkuat permodalan bank-bank sehingga mereka mampu menghadapi segala macam eksposur risiko yang akan muncul dikemudian hari sekaligus untuk memenuhi standar yang telah berlaku secara internasional.

Program Penjaminan
Dalam rangka menjaga kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan, pemerintah tetap memberlakukan program penjaminan untuk bank umum dan BPR. Sementara itu, kajian tentang kemungkinan dihapuskannya program blanket guarantee secara bertahap terus dilakukan agar rencana pembentukan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) segera dapat direalisasikan. Dalam pada itu, pelaksanaan program penjaminan terkait dengan interbank debt exchange offer masih dilaksanakan oleh Bank Indonesia. Selama tahun laporan telah dilakukan pembayaran pokok dan bunga atas interbank debt exchange offer sebesar $902,3 juta yang merupakan bagian dari penerbitan obligasi pemerintah dalam rangka program penjaminan sebesar Rp53,8 triliun yang diterbitkan

Program Penyehatan Perbankan
Kebijakan penyehatan perbankan dalam tahun 2001 diarahkan untuk melanjutkan program penjaminan pemerintah dengan tetap melakukan pengkajian pembentukan lembaga penjamin simpanan serta proses restrukturisasi kredit. Pelaksanaan kebijakan program penyehatan perbankan

pada tahun 1999. Selain itu, sebagai kelanjutan pelaksanaan penjaminan BPR, pada tahun laporan telah diselesaikan penyusunan pedoman operasional tata cara pelaksanaan jaminan pemerintah terhadap kewajiban pembayaran BPR dalam bentuk Peraturan Bank Indonesia (PBI) tentang penjaminan dan exit policy

144

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

untuk BPR. Dalam PBI ini antara lain dijelaskan bahwa program penjaminan BPR untuk sementara waktu dilaksanakan oleh Bank Indonesia yang bertindak untuk dan atas nama pemerintah sampai dengan terbentuknya LPS BPR.

portofolio perdagangan dan dalam portofolio yang diagunkan masing-masing sebesar Rp61,2 triliun dan Rp3,5 triliun, sedangkan obligasi dalam portofolio investasi sebesar Rp370,6 triliun. Posisi obligasi pemerintah yang diterbitkan dalam rangka program rekapitalisasi bank-bank umum nasional pada tahun

Program Rekapitalisasi Bank Umum
Dengan selesainya pelaksanaan program rekapitalisasi pada tahun 2000, permodalan bank diharapkan tidak lagi menjadi kendala utama bagi penyehatan perbankan. Obligasi yang dimiliki oleh perbankan dapat menjadi salah satu sumber pendanaan bagi bank rekap baik dengan cara menjual maupun mengagunkannya. Guna mendukung pemulihan fungsi intermediasi perbankan dan pengembangan pasar sekunder obligasi, Pemerintah dan Bank Indonesia telah memperbolehkan seluruh (100%) obligasi rekap yang dimiliki perbankan untuk diperdagangkan (lihat Bab Moneter). Namun sampai akhir periode laporan, jumlah obligasi pemerintah yang diperdagangkan hanya sebesar Rp64,7 triliun (14,9% dari total obligasi rekapitalisasi) yang terdiri dari obligasi dalam
Tabel 8.1 Rincian Posisi Nominal Obligasi Pemerintah Dalam Program Rekapitalisasi (Per 31 Desember 2001) Nominal Obligasi (Triliun Rp) Total Kelompok Bank Jumlah Bank Fixed Rate Variable Rate Hedge Bond (Triliun Rp) Perbankan Bank Persero BTO Bank Rekap BPD Non Rekap Sub-registry Departemen Keuangan TOTAL 4 4 7 12 163,3 123,2 28,9 4,0 0,4 6,7 11,3 0,9 175,5 217,8 112,2 74,3 12,5 0,8 18,0 1,7 219,5 40,4 28,5 11,9 40,4 421,4 263,9 103,1 28,4 1,2 24,8 13,0 0,9 435,3

laporan tercatat sebesar Rp435,3 triliun (Tabel 8.1).

Program Restrukturisasi Kredit
Upaya restrukturisasi kredit bermasalah yang berada dalam portofolio bank tetap dilakukan baik oleh bank sendiri maupun melalui Satuan Tugas Restrukturisasi Kredit (Satgas) di Bank Indonesia. Sementara itu, Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) juga tetap melakukan restrukturisasi atas kredit bermasalah yang dialihkan dari bank-bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan bank-bank peserta program rekapitalisasi. Sementara itu, restrukturisasi terhadap utang luar negeri perusahaan swasta non-bank masih dilakukan melalui Prakarsa Jakarta. Sampai dengan November 2001, kredit bermasalah di luar BPPN yang sudah direstrukturisasi baik oleh bank sendiri maupun yang dilakukan melalui mediasi Satgas yang telah memasuki tahap implementasi tercatat sebesar Rp91,8 triliun dengan jumlah debitur sebanyak 21.824 debitur. Sesuai dengan Keputusan Gubernur Bank Indonesia No.1/15/ KEP.GBI/1999 tanggal 1 September 1999 masa kerja Satgas Restrukturisasi Kredit (SRK) di Bank Indonesia adalah 3 tahun sehingga pada tanggal 31 Desember 2001 masa kerja SRK Bank Indonesia telah berakhir. Sementara itu, posisi kredit yang dialihkan ke BPPN hingga akhir Desember 2001 sebesar Rp 310,7 triliun, dimana Rp19,9 triliun sudah

145

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

memasuki tahap implementasi restrukturisasi dan yang terbayar penuh Rp12,2 triliun. Sedangkan kredit yang telah direstrukturisasi dan terbayar penuh melalui mediasi Prakarsa Jakarta per Desember 2001 adalah sebesar $14,2 miliar.

upaya pengembangan BPR dan bank syariah serta persiapan penggantian program blanket guarantee dengan pembentukan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) guna mendukung infrastruktur sistem perbankan yang mantap dan menjaga kepercayaan masyarakat terhadap perbankan.

Peningkatan Ketahanan Sistem Perbankan
Upaya peningkatan ketahanan sistem perbankan melalui perbaikan infrastruktur, peningkatan Good Corporate Governance dan penyempurnaan peraturan perbankan serta pemantapan sistem pengawasan bank terus dilakukan dan telah menunjukkan beberapa kemajuan. Sebagaimana tahun sebelumnya, beberapa indikasi kemajuan masih ditandai oleh : (i) perbaikan infrastruktur perbankan yang tercermin dari pengembangan BPR dan perbankan syariah, pengkajian pembentukan Lembaga Penjamin Simpanan baik untuk bank umum maupun BPR sebagai pengganti program penjaminan pemerintah; (ii) peningkatan mutu pengelolaan bank (Good Governance) dengan tetap melaksanakan fit and proper test, penetapan proses seleksi yang lebih ketat terhadap calon pengurus baru di bidang perbankan, penunjukan direktur kepatuhan, dan penyerahan kasus hasil investigasi tindak pidana di bidang perbankan kepada lembaga penegak hukum; serta (iii) penyempurnaan berbagai ketentuan dan sistem pengawasan bank yang berbasis risiko (risk based supervison) yang berorientasi ke depan (forward looking) yang mengacu standar Bank for International Settlements (BIS).

Pengembangan BPR
Dalam periode laporan, kerjasama dengan GTZ dalam proyek ProFI (Promotion of Small Financial Institution) serta dengan United States Agencies for International Development (USAID) dan Institut Bankir Indonesia (IBI), dalam bentuk penelitian dan seminar tetap dilakukan untuk lebih memberdayakan serta meningkatkan pengawasan BPR. Hal-hal lain yang dilakukan untuk pengembangan BPR adalah pembuatan program database BPR yang telah melalui suatu pengujian berupa system test oleh Direktorat Teknologi Informasi (DTI) Bank Indonesia dan user acceptance test oleh Tim Pengembangan Database Bank Indonesia. Program ini telah disosialisasikan dan diimplementasikan di lingkungan Kantor Pusat Bank Indonesia. Program database ini memuat mengenai data pokok, tingkat kesehatan, laporan bulanan, dan statistik BPR se Indonesia yang sangat diperlukan dalam fungsi pengawasan BPR. Disamping itu, telah disusun konsep ketentuan penilaian fit and proper khusus untuk pemilik dan pengurus BPR. Ketentuan ini diharapkan dapat memberikan landasan penilaian terhadap orangorang yang mampu dan pantas dalam pengelolaan

Perbaikan Infrastruktur Perbankan
Langkah perbaikan infrastruktur perbankan selama tahun laporan tetap diwujudkan dalam bentuk

BPR. Sebagai kelanjutan dari program restrukturisasi BPR tahun sebelumnya, pada bulan Desember 2001 telah dibekukan 15 BPR.

146

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

Pengembangan Bank Syariah
Dalam rangka pengembangan perbankan syariah yang sebelumnya hanya ditangani dalam suatu Tim Kerja, sejak akhir Mei 2001 Bank Indonesia secara kelembagaan telah membentuk Biro Perbankan Syariah. Peningkatan status tersebut mencerminkan komitmen Bank Indonesia untuk memberikan alternatif bagi masyarakat dalam memilih sistim perbankan yang sesuai, baik dengan sistem konvensional maupun dengan sistem syariah. Kebijakan Bank Indonesia dalam mendorong pengembangan perbankan syariah tetap berlandaskan pada strategi pengembangan jaringan kantor bank syariah, penyempurnaan ketentuan perbankan syariah, sosialisasi dan penelitian, serta pengembangan SDM perbankan syariah. Pengembangan jaringan kantor bank syariah terutama ditujukan untuk meningkatkan pelayanaan jasa perbankan syariah khususnya di wilayah-wilayah potensial dimana belum terdapat kantor bank syariah, sementara berdasarkan penelitian, masyarakat menginginkan kehadiran kantor bank syariah. Penyempurnaan ketentuan perbankan syariah mencakup penyusunan kajian awal cetak biru pengembangan perbankan syariah yang diharapkan akan menjadi acuan dalam program pengembangan perbankan syariah. Penyelesaian Pernyataan Standar Akuntansi Perbankan Syariah (PSAKS) dan pedoman teknis dalam bentuk Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia (PAPSI) telah memasuki tahap finalisasi. Dewan Syariah Nasional telah memberikan persetujuan terhadap draft PSAKS tersebut sehingga tinggal menunggu pengesahan dari Dewan Standar Akuntansi Indonesia. Sementara itu, survei dan simulasi implementasi konsep awal CAR

dan Kualitas Aktiva Produktif (KAP) bagi bank syariah telah selesai dilaksanakan dan masih terus dilakukan penyempurnaan. Program sosialisasi dalam rangka peningkatan pemahaman masyarakat terhadap perbankan syariah terus dilaksanakan secara intensif di berbagai daerah melalui kerjasama dengan Majelis Ulama dan perguruan tinggi setempat. Disamping itu, Bank Indonesia telah melakukan penelitian yang terkait dengan produk, jasa dan pengaturan perbankan syariah dalam bentuk kajian tentang : (i) pengembangan instrumen waqaf tunai; (ii) kinerja BPR syariah di wilayah Jabotabek; (iii) penempatan aktiva produktif bank umum syariah; (iv) reserve requirement bagi bank syariah, dan (v) fasilitas pembiayaan jangka pendek (FPJP) bagi bank umum syariah. Dalam rangka pengembangan SDM, telah dilakukan program seminar dan pelatihan yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan dalam berbagai bidang yang terkait dengan perbankan syariah. Sebagai bentuk bantuan teknis bagi perbankan serta dalam rangka pembinaan dan pengembangan kompetensi dan profesionalisme pengurus BPR syariah, Bank Indonesia pada tahun laporan telah melaksanakan pelatihan Up-Grading bagi direksi dan senior officer BPR syariah seluruh Indonesia.

Lembaga Penjamin Simpanan
Dalam tahun laporan, tim Kerja Persiapan Pendirian LPS telah merampungkan konsep akhir rancangan Keputusan Menteri Keuangan (KMK) yang memuat tahapan pengurangan cakupan penjaminan (phasing-out) dalam Program Penjaminan Pemerintah sebagaimana diatur dalam KMK No. 179/

147

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

KMK.017/2000. Dalam waktu dekat, rancangan KMK tersebut akan disampaikan kepada Tim Pengarah yang selanjutnya akan dipresentasikan kepada Gubernur Bank Indonesia, Menteri Keuangan dan pimpinan instansi terkait lainnya sebelum secara formal ditetapkan berlaku. Bersamaan dengan itu, proses penyusunan RUU LPS juga masih berlangsung intensif dengan beberapa muatan bahasan yang dipandang relatif baru. Muatan bahasan dimaksud diantaranya adalah usulan menghapus terminologi Bank Dalam Penyehatan (BDP) karena pola penyelesaian bank bermasalah (exit policy) yang akan dilakukan akan sama sekali berbeda dengan yang berlaku saat ini. Sementara itu, proses sosialisasi kepada publik perihal rencana pendirian LPS dipandang masih relevan untuk dilanjutkan sebagai upaya mendapatkan masukan yang lebih komprehensif atas rencana pendirian LPS di Indonesia. Kelanjutan sosialisasi LPS ini direncanakan akan berlangsung di kota-kota besar yang dipandang memiliki kegiatan ekonomi yang cukup signifikan. Sementara itu untuk BPR telah disusun konsep pendirian LPS BPR yang selanjutnya akan dilakukan pembahasan dengan tim LPS Departemen Keuangan guna membahas mengenai kemungkinan penggabungan LPS Bank Umum dengan BPR.

telah menyempurnakan beberapa ketentuan perbankan dan lebih memantapkan sistem pengawasan bank. Penyempurnaan ketentuan perbankan antara lain mencakup ketentuan mengenai proyek kredit mikro (PKM), kredit usaha kecil (KUK), pembatasan transaksi rupiah dan pemberian kredit valuta asing oleh bank, peningkatan persentase portofolio obligasi pemerintah yang dapat diperdagangkan oleh bank umum peserta program rekapitalisasi perbankan, penjaminan atas simpanan pihak ketiga dan pasar uang antar bank (PUAB), penerapan prinsip mengenal nasabah (Know Your Customer Principles), persyaratan dan tata cara pelaksanaan jaminan pemerintah terhadap kewajiban pembayaran BPR, penetapan status BPR dalam pengawasan khusus dan pembekuan kegiatan usaha, laporan berkala bank umum, kewajiban penyediaan modal minimum, transparansi kondisi keuangan bank, serta penetapan status bank dan penyerahan bank kepada BPPN (exit policy). Sementara itu, pemantapan sistem pengawasan bank

Tabel 8.2 Hasil Penilaian IMF Terhadap Pemenuhan 25 Basel Core Principles Degree of Compliance (Tingkat Kepatuhan) 1. Compliant (2 CPs) Principles • CP. 1 (1) • CP. 1 (2) • • • • 2. Largely Compliant, and • Efforts to achieve fully compliance underway (2 CPs); • Efforts to achieve fully compliance not underway (4 Cps) CP. 1 (3) CP. 1 (4) CP. 1 (5) CP. 2 Remarks (Penjelasan) Objectives Independence and Resources Legal Framework Enforcement Powers Legal Protection Permissible Activities

Penyempurnaan Ketentuan dan Pemantapan Pengawasan Bank
Dengan semakin berkembangnya produk dan permasalahan perbankan, Bank Indonesia terus melakukan penyempurnaan ketentuan perbankan serta pemantapan fungsi pengawasan bank. Dalam kaitan tersebut, pada tahun laporan Bank Indonesia

• CP. 21 • CP. 22 • CP. 1 (6) • CP. 5 • CP. 24 • CP. 25

Accounting Remedial Measures Information Sharing Investment Criteria Host Country Supervision Supervision of Foreign Establishment

148

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

dilakukan dengan perubahan paradigma pengawasan menjadi berorientasi ke depan (forward looking), dengan berdasarkan pada pengawasan berbasis risiko (risk based supervision). Dalam kaitan tersebut, telah disusun Master Plan Peningkatan Efektivitas Pengawasan Bank yang mengacu pada standar internasional dengan 25 Basel Core Principles for Effective Banking Supervision. Berdasarkan penilaian IMF, Bank Indonesia telah fully compliant (mematuhi dan melaksanakan) 2 principles yaitu CP-1 mengenai Preconditions for Effective banking Supervision yang mencakup Objectives, Independence and Resources, Legal Framework, Enforcement Powers, dan Legal Protection; serta CP-2 mengenai Permissible Activities of Banks. Sementara itu juga terdapat 5 CP lainnya yang sudah mencapai Largely Compliant, sebagaimana Tabel 8.2.

ran berkala bank umum mewajibkan bank umum untuk memberikan informasi yang akurat, tepat waktu dan effisien dalam rangka kebijakan moneter. Hal-hal yang diatur antara lain jenis laporan yang disampaikan; periode dan prosedur untuk penyampaian dan koreksi laporan; serta, sanksi atas pelanggaran ketentuan tersebut. Ketentuan CAR mempersyaratkan bank-bank menyediakan CAR minimum 8% dalam rangka memperkuat struktur permodalan bank sesuai dengan standar internasional sehingga mampu bersaing secara nasional maupun internasional. Ketentuan transparansi kondisi keuangan bank merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan transparansi kondisi keuangan dan kinerja bank dalam rangka menciptakan disiplin pasar (market discipline). Sedangkan ketentuan exit policy merupakan tindak lanjut dari ketentuan CAR minimum 8%

Penyempurnaan Ketentuan Perbankan
Selama tahun laporan Bank Indonesia telah mengeluarkan beberapa ketentuan yang ruang lingkupnya meliputi: (i) sistem pengawasan; (ii) prinsip kehati-hatian (prudential banking); (iii) likuiditas perbankan; serta, (iv) penjaminan pemerintah. (i) Ketentuan yang dikeluarkan dalam lingkup sistem pengawasan mencakup laporan berkala bank umum,2 kewajiban penyediaan modal minimum bank umum (CAR), 3 transparansi kondisi keuangan bank4 dan exit policy.5 Ketentuan lapo2 3 4 5 Peraturan Bank Indonesia No.3/17/PBI/2001 tanggal 4 Oktober 2001 tentang Laporan Berkala Bank Umum. Peraturan Bank Indonesia No.3/21/PBI/2001 tanggal 13 Desember 2001 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum. Peraturan Bank Indonesia No.3/22/PBI/2001 tanggal 13 Desember 2001 tentang Transparansi Kondisi Keuangan Bank. Peraturan Bank Indonesia No.3/25/PBI/2001 tanggal 24 Desember 2001 tentang Penetapan Status Bank dan Penyerahan Bank kepada BPPN. 6

serta untuk meningkatkan fungsi pengawasan bank. (ii) Ketentuan yang dikeluarkan dalam lingkup prinsip kehati-hatian mencakup proyek kredit mikro,6 pemberian kredit usaha kecil, 7 pembatasan transaksi rupiah dan pemberian kredit valuta asing oleh bank, 8 dan penerapan prinsip mengenal nasabah (Know Your Customer Principles) .9 Ketentuan pemberian kredit usaha

7 8

9

Peraturan Bank Indonesia No.3/1/PBI/2001 tanggal 4 Januari 2001 tentang Proyek Kredit Mikro sebagaimana telah diubah dengan PBI No.8/1/2001 tanggal 25 April 2001 dan PBI No.3/16/2001 tanggal 3 Oktober 2001. Peraturan Bank Indonesia No.3/2/PBI/2001 tanggal 4 Januari 2001 tentang Pemberian Kredit Usaha Kecil. Peraturan Bank Indonesia No.3/3/PBI/2001 tanggal 12 Januari 2001 tentang Pembatasan Transaksi Rupiah dan Pemberian Kredit Valuta Asing oleh Bank. Peraturan Bank Indonesia No.3/23/PBI/2001 tanggal 13 Desember 2001 tentang Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah (Know Your Customer Principles).

149

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

kecil pada intinya meningkatkan jumlah plafon kredit keseluruhan maksimum kepada nasabah kecil untuk membiayai usaha yang produktif dari Rp350 juta menjadi Rp500 juta. Ketentuan pembatasan transaksi rupiah dan pemberian kredit valuta asing oleh bank merupakan salah satu cara untuk membatasi aliran dana rupiah ke luar negeri yang dapat digunakan untuk tujuan spekulasi disamping mendorong transaksi antarbank domestik. Sedangkan ketentuan Know Your Customer Principles merupakan salah satu upaya penerapan prinsip kehati-hatian terutama berkaitan dengan manajemen risiko operasional dan reputasional bank serta untuk mencegah industri perbankan digunakan sebagai sarana atau sasaran kejahatan baik yang dilakukan secara langsung maupun tidak langsung oleh pelaku kejahatan. (iii) Ketentuan yang dikeluarkan dalam lingkup likuiditas bank mencakup peningkatan persentase portofolio obligasi pemerintah yang dapat diperdagangkan oleh bank umum peserta program rekapitalisasi perbankan.10 Ketentuan ini merupakan perubahan dari SE No.3/6/DPM dimana persentase perdagangan ditingkatkan dari 35% menjadi 100% yang antara lain bertujuan untuk mengantisipasi penggunaan obligasi pemerintah sebagai agunan dalam transaksi PUAB maupun fasilitas likuiditas intrahari dan meningkatkan fleksibilitas pasar dalam perdagangan obligasi pemerintah di pasar sekunder.

(iv) Dalam kaitan dengan penjaminan pemerintah, ketentuan yang dikeluarkan mencakup jaminan pembiayaan perdagangan internasional, 11 penjaminan atas simpanan pihak ketiga dan PUAB, 12 petunjuk pelaksanaan pemberian jaminan pemerintah terhadap kewajiban pembayaran bank umum,13 persyaratan dan tata cara pelaksanaan jaminan pemerintah terhadap kewajiban BPR,14 dan jaminan pinjaman luar negeri antar bank.15 Ketentuan penjaminan atas simpanan pihak ketiga dan PUAB antara lain menetapkan perubahan periode pengumuman suku bunga maksimum penjaminan yang sebelumnya mingguan menjadi bulanan. Hal ini dilakukan dalam rangka mengurangi pengaruh penetapan maksimum suku bunga yang dijamin pemerintah terhadap kebijakan moneter. Sedangkan ketentuan petunjuk pelaksanaan pemberian jaminan pemerintah terhadap kewajiban pembayaran bank umum diterbitkan dalam rangka pengalihan tugas pelaksanaan program penjaminan pemerintah yang semula pelaksanaannya dibantu oleh Bank Indonesia, saat ini menjadi sepenuhnya dilaksanakan oleh BPPN.

10 Surat Edaran Bank Indonesia No.3/18/DPM tanggal 31 Juli 2001 tentang Peningkatan Prosentase Portofolio Obligasi Pemerintah yang dapat Diperdagangkan oleh Bank Umum Peserta Program Rekapitalisasi Perbankan.

11 Peraturan Bank Indonesia No.3/20/PBI/2001 tanggal 29 November 2001 tentang Jaminan Pembiayaan Perdagangan Internasional. 12 Peraturan Bank Indonesia No.3/5/PBI/2001 tanggal 22 Maret 2001 tentang Penjaminan Atas Simpanan Pihak Ketiga dan Pasar Uang Antar Bank. 13 Peraturan Bank Indonesia No.3/7/PBI/2001 tanggal 2 April 2001 tentang Pencabutan Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor 32/46/KEP/DIR tanggal 14 Mei 1999 sebagaimana tertuang dalam Surat Keputusan Bersama antara Direksi Bank Indonesia dan Ketua BPPN No.32/46/KEP/DIR dan No.181/BPPN/0599 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemberian Jaminan Pemerintah Terhadap Kewajiban Pembayaran Bank Umum. 14 Peraturan Bank Indonesia No.3/12/PBI/2001 tanggal 9 Juli 2001 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pelaksanaan Jaminan Pemerintah Terhadap Kewajiban Pembayaran BPR. 15 Peraturan Bank Indonesia No.3/14/PBI/2001 tanggal 20 September 2001 tentang Jaminan Pinjaman Luar Negeri Antar Bank.

150

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

(v) Dalam hal Pedoman Akuntansi Perbankan, Bank Indonesia telah melakukan penyempurnaan Pedoman Akuntansi Indonesia (PAPI) yang mulai berlaku pada tanggal 13 Desember 2001. PAPI merupakan penjabaran lebih lanjut Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 31 (Revisi 2000) tentang Akuntansi Perbankan dan beberapa standar akuntansi lain yang relevan untuk industri perbankan. PAPI yang disempurnakan memiliki cakupan pengaturan yang lebih komprehensif dalam hal dasar pengaturan, perlakuan akuntansi, ilustrasi jurnal dan pengungkapan yang diwajibkan.

dari ancaman penutupan karena CAR-nya di bawah ketentuan Bank Indonesia. Untuk itu BPPN mengajukan permohonan kepada Bank Indonesia agar memberi status Bank Dalam Penyehatan (BDP) kepada 4 bank BUSN peserta rekap tersebut dan saat ini masih dalam proses. Sedangkan untuk 2 bank BUSN kategori A telah memberikan komitmen untuk menambah modal. Sementara itu rencana pendirian lembaga pengawas jasa keuangan, sebagaimana tertuang dalam UU No.23/1999 tentang Bank Indonesia, hingga periode laporan masih dalam proses perumusan konsep Rancangan Undang-undang lembaga pengawas jasa keuangan (Boks : Lembaga

Pemantapan Sistem Pengawasan Bank
Berdasarkan perkembangan pelaksanaan Master Plan Pengawasan Bank dalam rangka pemenuhan Basel Core Principles dan dalam upaya meningkatkan prinsip kehati-hatian (prudential regulation), pada periode laporan telah diterbitkan tiga ketentuan perbankan, yaitu Peraturan Bank Indonesia tentang Transparansi Kondisi Keuangan Bank, Kewajiban Penyediaan Modal Minimum, dan Penetapan Status Bank dan Penyerahan Bank kepada BPPN. Sesuai ketentuan, bank-bank yang tidak memenuhi CAR 4% dimasukkan dalam pengawasan khusus (special surveillance). Pada periode laporan jumlah bank yang ditempatkan dalam pengawasan khusus sebanyak 6 bank yang terdiri dari 4 Bank Umum Swasta Nasional (BUSN) peserta rekap dan 2 bank BUSN kategori A. BPPN merencanakan akan melakukan merger terhadap 4 bank BUSN peserta rekap dengan salah satu BTO. Merger tersebut dilakukan untuk menyelamatkan bank-bank tersebut

Pengawas Jasa Keuangan).

Peningkatan Mutu Pengelolaan Perbankan (good corporate governance)
Pelaksanaan fit and proper test terhadap pemilik dan pengurus bank, wawancara bagi calon pemilik dan pengurus bank (new entry), penunjukan direktur kepatuhan, dan investigasi tindak pidana di bidang perbankan terus dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan mutu pengelolaan perbankan dalam rangka memantapkan ketahanan sistem perbankan.
Tabel 8.3 Hasil Pelaksanaan Peningkatan Mutu Pengelolaan Perbankan Periode Juli 1999 - Desember 2001 Keterangan Tidak Jumlah Lulus Lulus Masih Lulus/ Dibatalkan Calon Disetujui Bersyarat Dalam Tidak Proses Disetujui 1.149 8 775 248 593 8 690 189 399 7 157 85 34 18

Fit and Proper Test Wawancara - Calon Pemilik - Calon Pengurus Direktur Kepatuhan

151

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

Pelaksanaan Penilaian Fit and Proper
Dalam rangka menegakkan integritas pemilik maupun integritas dan kompetensi Dewan Komisaris, Direksi dan Pejabat Eksekutif Bank yang selama ini telah aktif di bank (existing) dalam pengelolaan kegiatan operasional bank dilakukan penilaian fit and proper secara berkala atau sewaktu-waktu apabila dianggap perlu. Sejak tahun 1999 sampai dengan tahun laporan telah dilakukan penilaian fit and proper terhadap 1.149 orang (pemilik dan pengurus bank).

Republik Indonesia dan Kejaksaan Agung terus melakukan pertemuan dan pembahasan kasus-kasus tindak pidana yang terjadi pada beberapa bank sebagai upaya untuk meningkatkan penanganan tindak pidana yang terjadi di bidang perbankan. Jumlah kasus dugaan tindak pidana di bidang perbankan yang diserahkan kepada penegak hukum oleh UKIP dari Januari sampai dengan akhir tahun laporan sebanyak 5 kasus pada 4 bank. Disamping itu, UKIP telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat dan penegak hukum

Wawancara Terhadap Calon Pemilik dan Pengurus Bank
Agar bank hanya dimiliki oleh orang-orang yang beritikad baik dan bertanggungjawab serta dikelola secara profesional maka dilakukan wawancara terhadap calon pengurus baru (new entry) termasuk pimpinan kantor perwakilan bank dan calon pemilik bank. Jumlah calon pengurus yang diwawancara dalam tahun laporan bertambah sebanyak 40 calon, sehingga sejak Juli 1999 sampai dengan Desember 2001 sebanyak 166 bank telah mengajukan permohonan 783 calon yang terdiri dari 8 calon pemilik dan 775 calon pengurus untuk diwawancara.

mengenai upaya penanganan penyimpangan di bidang perbankan.

Kelembagaan Perkembangan Bank Umum
Hingga akhir tahun laporan, jumlah bank yang masih beroperasi menjadi 145 bank, turun sebanyak 6 bank dari 151 bank pada tahun sebelumnya (Tabel 8.4). Hal ini sejalan dengan upaya penutupan terhadap 1 (satu) bank umum swasta devisa dan 1 (satu) bank campuran serta merger bank-bank campuran. (Tabel 8.5) Walaupun jumlah bank mengalami penurunan, jumlah kantor bank justru menunjukkan pe-

Direktur Kepatuhan (Compliance Director)
Untuk menegakkan pelaksanaan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan bank, sampai dengan akhir tahun laporan sebanyak 162 bank telah mengajukan sebanyak 248 orang calon Direktur Kepatuhan.

ningkatan dari 6.509 kantor menjadi 6.765 kantor. Peningkatan tersebut terjadi pada semua kelompok bank kecuali kelompok bank campuran. Peningkatan tersebut seiring dengan upaya bank untuk meningkatkan pelayanan dan ekspansi usaha. Dari 145 bank yang ada, pemerintah mempunyai kepemilikan terhadap 42 bank (28,9%) yang

Investigasi Tindak Pidana di Bidang Perbankan
Bank Indonesia melalui Unit Khusus Investigasi Perbankan (UKIP) bersama Kepolisian

terdiri dari 5 bank BUMN, 4 Bank Take Over (BTO), 7 BUSN Rekap dan 26 Bank Pembangunan Daerah (BPD)--terdiri dari 12 BPD Rekap dan 14 BPD Non

152

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

Tabel 8.4 Perkembangan Jumlah Bank dan Kantor bank Posisi 1999 I. Bank Umum Jumlah Bank 164 Jumlah Kantor 2) 7.113 Bank Persero Jumlah Bank 5 Jumlah Kantor 1.853 BPD Jumlah Bank 27 Jumlah Kantor 825 BUSN Devisa Jumlah Bank 47 Jumlah Kantor 3.798 BUSN Nondevisa Jumlah Bank 45 Jumlah Kantor 533 Bank Campuran Jumlah Bank 30 Jumlah Kantor 57 Bank Asing Jumlah Bank 10 Jumlah Kantor 47 II.BPR BKD NonBKD 7.772 5.345 2.427 2000 151 6.509 5 1.736 26 826 38 3.302 43 535 29 57 10 53 7.764 5.345 2.419 2001 145 6.765 5 1.807 26 857 38 3.432 42 556 24 53 10 60 7.703 5.345 2.358 Pertumbuhan Pangsa 1) % (%) 2000 2001 -7,9 -8,5 0,0 -6,3 -3,7 0,1 -19,1 -13,1 -4,4 0,4 -3,3 0,0 0,0 12,8 -0,10 0 -0,33 -4,0 3,9 0,0 4,1 0,0 3,8 0,0 3,9 -2,3 3,9 -17,2 -7,0 0,0 13,2 -0,8 0,0 -2,5 100,00 100,00 3,45 26,71 17,93 12,67 26,21 50,73 28,97 8,22 16,55 0,78 6,90 0,89 -

Rekap. Sedangkan sisanya sebanyak 69 bank kategori A (47,6%) dimiliki oleh swasta nasional, 24 bank campuran (16,6%) dimiliki oleh swasta nasional dan asing, dan sebanyak 10 bank asing (6,9%) dimiliki oleh pihak asing.

Kelompok Bank

Perkembangan BPR
Dalam tahun laporan, jumlah BPR yang masih beroperasi berkurang sebanyak 61 BPR karena adanya pencabutan izin usaha BPR pada bulan 2001 sehingga menjadi 7.703 BPR. BPR yang beroperasi dengan prinsip syariah tercatat sejumlah 81 BPR, bertambah 2 dibandingkan posisi tahun sebelumnya. Dari sisi kegiatan usaha, BPR mengalami kemajuan yang signifikan dan tercermin pada peningkatan total aset, penyaluran kredit dan pendanaan (Tabel 8.6). Kondisi ini mendorong peningkatan laba tahun berjalan dari Rp116 miliar pada tahun 2000 menjadi Rp200 miliar pada tahun laporan. Walaupun BPR belum dapat beroperasi seperti halnya bank umum yang melakukan penetrasi pasar pada segmen yang sama, namun perbaikan kinerja BPR menunjukkan tingginya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap BPR dan prospek BPR yang

1) Pangsa terhadap seluruh bank umum 2) Tidak termasuk BRI Unit Desa

Tabel 8.5 Daftar Bank Merger, Bank Beku Kegiatan Usaha Tahun 2001 Bank Merger Bank Beku Kegiatan Usaha

baik di masa datang.
Tgl 27 Maret 2001 menjadi Bank Sumitomo Mitsui Indonesia Tgl 5 Februari 2001 : 1. Bank Sakura Swadarma 1. Bank Paribas - BBD Indonesia 3. Bank Sumitomo Indonesia Tgl 29 Oktober 2001 : Tgl 7 September 2001 menjadi Bank UFJ Indonesia 1. Unibank 1. Sanwa Bank 2. Tokai Lippo Bank Tgl 28 September 2001 menjadi Bank Mizuho Indonesia 1. IBJ Indonesia 2. Daichi Kangyo Bank 3. Fuji Internasional Bank Tabel 8.6 Perkembangan Usaha BPR Uraian 1999 2000 Miliar Rp 4.731 3.082 3.619 705 116 20011)

Volume Usaha Dana Pihak Ketiga Kredit Modal Disetor Laba (Rugi) Tahun Berjalan
1) Data September 2001

3.462 2.038 2.452 587 7

6.020 3.906 4.496 832 200

153

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

Perkembangan Bank Syariah
Jumlah kantor cabang bank umum yang beroperasi dengan prinsip syariah meningkat sebanyak 11 sehingga menjadi 130 kantor bank. Peningkatan tersebut sejalan dengan kebijakan pengembangan bank syariah. Secara rinci, jumlah kantor cabang tersebut terdiri dari 37 kantor cabang Bank Muamalat Indonesia dan Bank Syariah Mandiri, 12 Kantor Cabang Syariah (KCS) dari 3 bank umum konvensional yaitu Bank IFI, Bank BNI dan Bank Jabar, serta 81 BPR syariah. Pada periode laporan, total aset bank syariah mengalami peningkatan dari Rp1,71 triliun (0,17% dari total aset perbankan) menjadi Rp2,6 triliun (0,24% dari total aset perbankan). Peningkatan juga terjadi pada dana yang dihimpun maupun pembiayaan yang disalurkan masing-masing sebesar Rp1,7 triliun dan Rp1,9 triliun. Kondisi ini sejalan dengan peningkatan jumlah kantor bank syariah dan sosialisasi yang dilakukan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap bank syariah.

masih terus berlanjut telah mendorong perbaikan kinerja perbankan. Secara agregat, seluruh indikator kinerja perbankan dalam tahun 2001 menunjukkan perbaikan yang tercermin dari peningkatan total aset, penghimpunan dana, penyaluran kredit, kualitas kredit, permodalan, dan profitabilitas bank (Tabel 8.7). Meskipun kinerja perbankan mengalami perbaikan, fungsi intermediasi perbankan masih belum sepenuhnya pulih sebagaimana yang diharapkan. Dalam penempatan dananya, perbankan masih melihat tingginya risiko dunia usaha dan cenderung untuk memilih alternatif penanaman berjangka waktu pendek dengan risiko rendah seperti SBI dan penempatan antarbank. Selain itu, masih berlangsungnya proses konsolidasi internal perbankan dalam rangka pemenuhan kebutuhan modal minimum pada akhir tahun 2001 dan belum selesainya proses restrukturisasi kredit dan korporasi juga ikut mempengaruhi lambannya keputusan penyaluran kredit. Fungsi intermediasi perbankan yang belum sepenuhnya pulih juga tercermin pada rendahnya realisasi kredit dari komitmen yang telah diberikan

Kegiatan Usaha Bank Umum
Berbagai langkah kebijakan yang telah ditempuh dalam rangka restrukturisasi perbankan yang

dan masih relatif rendahnya Loan to Deposit Ratio (LDR) perbankan nasional.

Total Aset
Tabel 8.7 Indikator Perbankan 1999 2000 Triliun Rp Total Asset Kredit Dana Pihak Ketiga Modal NPL - gross (%) NPL - net (%) Laba (Rugi) Sebelum Pajak Net Interest Margin 1.006,7 277,3 617,6 -41,2 32,8 7,3 -91,7 -38,6 1.030,5 320,4 699,1 52,3r 18,8 5,8 10,5 22,8 1.099,7 358,6 797,4 62,3 12,1 3,6 13,1 37,8 2001

Total aset perbankan secara agregat meningkat 6,7% dibanding tahun 2000 sehingga

Indikator

menjadi Rp1.099,7 triliun. Peningkatan tersebut sebagian besar berasal dari kredit dan surat-surat berharga. Bila dilihat komposisinya, sebesar 38,3% (Rp421,4 triliun) dari aset berupa obligasi pemerintah yang dimiliki oleh bank-bank peserta rekap dan yang telah dibeli bank non rekap. Sementara itu, porsi kredit dan SBI masing-masing sebesar 32,6% dan 6,8%.

154

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

ningkatan kredit juga dilakukan dengan pembelian
Persen 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 1999 2000 2001
33,7 33,1 35,2 8,8 6,1 7,3 34,3 44,4 41,4 19,2 13,4 14,7

kredit yang telah direstrukturisasi BPPN, namun
Penyertaan

upaya tersebut masih belum menunjukkan hasil yang
Antar Bank Aktiva SSB dan tagihan lainnya Obligasi Pemerintah SBI Kredit Yang Diberikan

memuaskan. Bila dilihat komposisi aktiva produktif, obligasi pemerintah juga masih menempati porsi terbesar (41,4%) dari total aktiva produktif sebesar Rp1.018,1 triliun. (Grafik 8.1) Dengan melihat komposisi aktiva produktif perbankan selama 2 (dua) tahun terakhir yang tidak banyak mengalami perubahan dan masih didominasi oleh obligasi pemerintah, maka ketergantungan pendapatan operasional dari pendapatan bunga obligasi masih sangat tinggi. Kondisi ini menunjukkan

Grafik 8.1 Komposisi Aset Perbankan

Masih tingginya porsi obligasi pemerintah ditengarai selain akibat belum likuidnya pasar sekunder obligasi juga karena masih terbatasnya alternatif penempatan dengan risiko rendah sehingga bank-bank masih belum secara optimal menjual obligasinya untuk mendapatkan dana segar. Sementara itu penyaluran kredit juga relatif masih rendah walaupun terjadi peningkatan baik secara nominal maupun pangsa kredit bila dibandingkan tahun 2000. Upaya me-

bahwa restrukturisasi perbankan yang telah dilakukan dalam kenyataannya belum mampu meningkatkan fungsi intermediasi perbankan secara keseluruhan. Sementara itu dilihat dari sisi kepemilikan aset per kelompok bank, bank BUMN memiliki pangsa terbesar dari total aset perbankan yaitu sebesar 48,5% (Rp533,4 triliun) diikuti dengan kelompok bank BTO sebesar 17,3% (Rp190,6 triliun) dan bank kategori A sebesar 10,1% (Rp111,1 triliun)

Penghimpunan Dana
Bank BUMN 48,5% Bank Asing 8,4%

Dana pihak ketiga16 yang berhasil dihimpun oleh perbankan dalam tahun 2001 mengalami peningkatan sebesar 14,1% sehingga menjadi Rp797,4 triliun (Tabel 8.8). Peningkatan tersebut lebih besar

Bank Campuran 3.9% BUSN Rekap 7,5% BTO 17,3

bila dibandingkan dengan peningkatan pada tahun sebelumnya sebesar 13,2%. Peningkatan DPK tersebut meliputi seluruh jenis simpanan baik dalam rupiah maupun valuta asing, dengan peningkatan

BPD 4,3% Bank Kategori A 10,1%

Grafik 8.2 Pangsa Aset per Kelompok Bank

16 Dana pihak ketiga perbankan berbeda dengan konsep yang ada di bab moneter. Dalam konsep perbankan, dana pihak ketiga mencakup pula dana milik bukan penduduk dan pemerintah.

155

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

terbesar terjadi pada komponen deposito khususnya deposito rupiah. Faktor utama penyebab meningkatnya dana pihak ketiga antara lain adalah peningkatan suku bunga yang ditawarkan bank-bank (khususnya suku bunga deposito yang mendekati suku bunga penjaminan), disamping karena masih terjaganya kepercayaan masyarakat seiring dengan dilanjutkannya program penjaminan pemerintah dan proses restrukturisasi perbankan. Dana pihak ketiga dalam rupiah meningkat 15,0% sementara dana pihak ketiga dalam valuta asing meningkat 10,5%, namun apabila pengaruh nilai tukar diabaikan dana pihak ketiga dalam valuta asing tersebut hanya meningkat sebesar 2%, yang masih terkait dengan berfluktuasinya nilai tukar rupiah. Dengan demikian peningkatan DPK secara riil (di luar fluktuasi kurs) sebesar 12,3%. Dilihat dari komposisinya, deposito masih mendominasi dana pihak ketiga dengan pangsa sebesar 55,2%, sementara giro dan tabungan masing-masing memiliki pangsa sebesar 23,3% dan

21,5%. Bila pada tahun 2000 giro dan tabungan mengalami pertumbuhan masing-masing sebesar 44,4% dan 24,4%, maka pada tahun laporan giro dan tabungan hanya meningkat sebesar 15,3% dan 12%. Sedangkan deposito meningkat sebesar 14,4% dan lebih besar dibandingkan tahun lalu yang hanya meningkat sebesar 0,5%. Peningkatan deposito ini sebagian besar berasal dari deposito rupiah (16,2%). Peningkatan deposito menunjukkan perubahan minat masyarakat dari penanaman jangka pendek ke dalam penanaman jangka panjang, berlawanan dengan kondisi pada tahun 2000 dimana masyarakat lebih memilih menanamkan dananya dalam jangka pendek. Tingginya minat masyarakat untuk menanamkan dananya pada deposito dipicu oleh tingginya suku bunga deposito yang ditawarkan oleh beberapa bank (mendekati suku bunga penjaminan).

Kredit Perbankan
Pada akhir tahun 2001, posisi kredit perbankan meningkat sebesar 11,9% sehingga menjadi Rp358,6 triliun (Tabel 8.9). Peningkatan tersebut

Tabel 8.8 Perkembangan Dana Pihak Ketiga Posisi (triliun rupiah) 1999 Giro - Rupiah - Valas Deposito - Rupiah - Valas Tabungan Total - Rupiah - Valas 2000 2001 186,2 120,0 66,2 439,9 344,9 95,1 171,3 797,4 636,2 161,2 111,8 161,5 68,5 103,6 43,4 57,9 382,8 384,7 301,4 296,7 81,4 88,0 123,0 152,9 617,6 699,1 492,9 553,2 124,8 145,9 Pertumbuhan (%) 2000 44,4 51,3 33,4 0,5 -1,6 8,1 24,4 13,2 12,2 16,9 2001 15,3 15,8 14,3 14,4 16,2 8,0 12,0 14,1 15,0 10,5 Pangsa (%) 2000 23,1 64,2 35,8 55,0 77,1 22,9 21,9 100,0 79,1 20,9 2001 23,3 64,5 35,5 55,2 78,4 21,6 21,5 100,0 79,8 20,2

berasal dari kredit rupiah sebesar Rp50,6 triliun (28,4%), sedangkan kredit dalam valuta asing mengalami penurunan sebesar Rp12,3 triliun (8,7%). Apabila pengaruh nilai tukar diabaikan, kredit dalam valuta asing turun sebesar 15,7%, sehingga secara riil (diluar fluktuasi kurs) posisi kredit dalam tahun laporan meningkat sebesar 8,8%. Peningkatan kredit rupiah antara lain disebabkan adanya penyaluran kredit baru dan penjualan kembali kredit yang telah direstrukturisasi oleh BPPN ke sektor perbankan, sedangkan penurunan kredit valuta asing disebabkan karena adanya pelunasan, penghapusbukuan dan penjualan kredit.

156

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

Tabel 8.9 Perkembangan Kredit Perbankan Posisi (Triliun rupiah) 1999 Menurut Sektor Ekonomi 277,3 Pertanian 26,1 Pertambangan 5,4 Perindustrian 97,9 Listrik 20,0 Konstruksi 13,3 Perdagangan 45,2 Pengangkutan 12,4 Jasa Dunia Usaha 26,4 Jasa Sosial 3,3 Lain-lain 27,3 Menurut Kelompok Bank 277,3 Bank BUMN 152,1 BUSN Devisa 56,5 BUSN Non Devisa 5,0 BPD 13,6 Bank Campuran 22,5 Bank Asing 27,6 Menurut Denominasi 277,3 Rupiah 159,1 Valuta asing 118,2 2000 320,4 19,9 5,3 109,7 5,1 7,2 46,0 7,3 26,4 2,9 90,6 2001 Pertumbuhan Pangsa (%) (%) 2000 2001 11,9 7,1 -42,2 8,2 -0,7 14,3 7,2 4,1 5,1 22,6 26,0 2001 100,0 5,9 0,9 33,1 1,4 2,3 13,7 2,1 7,7 1,0 31,8

Sementara itu berdasarkan Laporan Bulanan BPPN bulan Desember 2001, dari Rp310,7 triliun kredit perbankan yang telah dialihkan ke BPPN, tercatat sejumlah Rp58,2 triliun telah memasuki tahap penandatangan Memorandum of Understanding

Jenis Kredit

358,6 15,5 21,3 -23,8 3,1 -1,9 118,7 12,1 5,1 -74,5 8,2 -45,9 49,3 1,8 7,6 -41,1 27,7 3,6 -12,1 114,1 231,9

(MoU), Rp19,9 triliun telah memasuki tahap implementasi restrukturisasi kredit dan Rp12,2 triliun sudah terbayar penuh. Selama tahun 2001 tidak terdapat pengalihan kredit bermasalah ke BPPN. Walaupun kredit meningkat, Loan to Deposit Ratio (LDR) perbankan yang tercatat masih tidak mengalami perubahan yang berarti dibandingkan

320,4 142,8 79,4 10,6 11,5 29,3 46,8 320,4 178,0 142,4

358,6 159,9 97,6 10,3 17,1 29,2 44,7 358,6 228,6 130,1

15,6 -6,1 40,5 112,0 -15,3 30,0 69,6 15,5 11,9 20,5

11,9 11,9 22,9 -2,6 48,3 -0,5 -4,5 11,9 28,4 -8,7

100,0 44,6 27,2 2,9 4,8 8,1 12,5 100,0 63,7 36,3

tahun sebelumnya yaitu sebesar 33%. Hal ini mengindikasikan perbankan belum menjalankan fungsi intermediasinya secara optimal. Secara potensial LDR tersebut sebenarnya masih dapat ditingkatkan apabila komitmen kredit yang telah disediakan perbankan dapat ditarik secara maksimal oleh nasabah. Sampai dengan periode laporan, jumlah kredit yang belum ditarik (undisbursed loan)

Selama tahun laporan, kredit baru yang telah disalurkan oleh perbankan sebesar Rp56,8 triliun17 atau rata-rata Rp4,7 triliun per bulan. Kredit baru yang disalurkan tersebut terutama disalurkan ke sektor perindustrian, perdagangan dan jasa dunia usaha, dan sebagian besar kredit tersebut didistribusikan oleh kelompok bank BUMN, BTO dan bank kategori A. Sementara itu, jumlah kredit yang telah direstrukturisasi, baik oleh bank sendiri maupun melalui fasilitasi Satgas sampai dengan bulan November 2001 tercatat sebesar Rp91,8 triliun meningkat dibanding tahun 2000 yang besarnya Rp59,9 triliun.

mencapai Rp70,5 triliun dari plafon sebesar Rp127,3 triliun. Kondisi ini mencerminkan bahwa perbankan sudah cukup ekspansif dalam penyaluran kredit, namun dari sisi permintaan dalam kenyataannya debitur belum mampu menyerap kredit yang telah disediakan. Hal ini ditengarai akibat masih tingginya risiko dunia usaha sehubungan dengan belum kondusifnya kondisi makro ekonomi seperti belum stabilnya nilai tukar dan masih tingginya suku bunga, serta masih belum stabilnya kondisi politik-sosialkeamanan. Namun demikian, disadari pula bahwa belum optimalnya fungsi perbankan sebagai lembaga intermediasi tersebut juga dipengaruhi oleh faktor internal bank yang masih melakukan konsolidasi serta

17 Berdasarkan data Sistem Informasi Debitur (SID) yang didukung hasil survei terhadap sejumlah bank

berupaya memenuhi ketentuan prudensial per-

157

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

bankan. Sementara itu, penyaluran kredit kepada
Persen

debitur-debitur besar (korporasi) dalam tahun laporan tidak banyak mengalami kemajuan karena sebagian besar debitur tersebut masih dalam proses restrukturisasi di BPPN. Berdasarkan hasil survei dalam paper Credit Crunch18 diperoleh informasi bahwa bank-bank juga masih enggan memberikan kredit ke sektor korporasi mengingat masih adanya trauma dari

35 30 25 20 15 10 5 0

pengalaman masa lalu, sedangkan untuk mencetak debitur-debitur baru yang besar memerlukan waktu yang lama.

Des. 1999

Mar.

Jun. 2000

Sep.

Des.

Mar.

Jun.

Sep. 2001

Des.

Grafik 8.3 Perkembangan NPLs

Kualitas Kredit Perbankan
Dalam periode laporan, kualitas kredit perbankan menunjukkan perbaikan baik secara nominal maupun rasio sejalan dengan kemajuan proses restrukturisasi kredit. Secara nominal Non Performing Loans (NPLs) turun dari Rp60,1 triliun pada Desember 2000 menjadi Rp43,4 triliun pada akhir tahun laporan. Sementara rasio NPLs tanpa memperhitungkan Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP) yang dibentuk (Gross NPLs) turun dari 18,8% pada posisi Desember 2000 menjadi 12,1% pada akhir tahun laporan (Grafik 8.3). Apabila PPAP yang dibentuk diperhitungkan (Net NPLs) maka nilainya menjadi sebesar 3,6% pada akhir tahun laporan. Perbaikan tersebut antara lain dipengaruhi oleh adanya ekspansi kredit baru yang menambah jumlah kredit yang tergolong lancar, perbaikan kualitas kredit yang tergolong kurang lancar, diragukan dan macet, serta penghapusan kredit macet. Walaupun terjadi perbaikan namun rasio gross NPLs tersebut masih di atas target indikatif yang ditetapkan oleh Bank Indonesia sebesar 5%. Masih tingginya rasio NPLs tersebut berkaitan dengan prioritas bank untuk lebih memfokuskan pada pencapaian CAR minimum 8% pada akhir tahun 2001. Walaupun tidak bersifat wajib, pencapaian target rasio NPLs tersebut akan membantu mempercepat proses pemulihan intermediasi bank sehingga langkah-langkah percepatan restrukturisasi kredit, peningkatan pemberian kredit baru dan pengalihan kredit yang telah direstrukturisasi dari BPPN ke perbankan tetap harus dilakukan. Disamping itu Bank Indonesia telah melakukan penyesuaian dalam perlakuan kualitas kredit, Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK) dan PPAP kredit yang direstrukturisasi sebagai upaya untuk mendorong percepatan restrukturisasi kredit.

Pengembangan Usaha Kecil Dan Menengah
Dalam tahun laporan Bank Indonesia tetap memberikan komitmen untuk mendorong pengem-

18 Agung, Kusmiarso, Pramono, Hutapea, Prasmuko, Prastowo (2001). “Credit Crunch in Indonesia in The Aftermath of Crisis : Facts, Causes and Policy Implications”. Bank Indonesia.

bangan usaha kecil dan menengah. Komitmen tersebut diwujudkan dalam bentuk Bantuan Teknis

158

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

Pengembangan Usaha Kecil dan Mikro (PUKM), yang lebih difokuskan pada kegiatan pelatihan, penelitian, dan penyediaan informasi di sektor perbankan. Dalam pelaksanaannya, kegiatan bantuan teknis yang dilaksanakan oleh Bank Indonesia selama tahun laporan, antara lain meliputi : a. Di bidang pelatihan, Bank Indonesia telah melaksanakan kegiatan pelatihan kepada perbankan yang meliputi training of facilitator untuk Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan pelatihan usaha kecil dan mikro untuk bank umum. b. Di bidang penelitian, Bank Indonesia telah melakukan penelitian mengenai komoditas skala kecil yang potensial dibiayai oleh bank yang mencakup 10 komoditas. Kesepuluh pola pembiayaan tersebut melengkapi 45 Model Kelayakan Proyek Kemitraan Terpadu dari berbagai sektor baik pertanian, industri maupun jasa yang telah diteliti dari tahun 1995 sampai dengan 1999. c. Di bidang penyediaan informasi, Bank Indonesia telah memasukkan hasil-hasil penelitian dimaksud ke dalam suatu Sistem Informasi Terpadu Pengembangan Usaha Kecil (SI-PUK) yang dapat diakses melalui internet/website Bank Indonesia. Informasi tersebut terdiri dari Sistem Informasi Baseline Economic Survey (SIB), Sistem Informasi Agroindustri Berorientasi Ekspor (SIABE), Sistem Informasi Pola Pembiayaan/ Lending Model Usaha Kecil (SI-LMUK), Sistem Penunjang Keputusan Untuk Investasi (SPKUI) dan Sistem Informasi Prosedur Memperoleh Kredit (SI-PMK). d. Dalam rangka mendorong perbankan agar meningkatkan pembiayaannya khususnya

kepada usaha kecil dan menengah, Bank Indonesia juga secara terus menerus melakukan sosialisasi dalam bentuk seminar atau lokakarya. Sementara itu, kegiatan bantuan teknis lain yang masih ditangani oleh Bank Indonesia adalah Proyek Kredit Mikro (PKM) yang merupakan proyek kerjasama antara Pemerintah Republik Indonesia dengan Asian Development Bank (ADB). Dengan berlakunya UU No. 23 Tahun 1999, Bank Indonesia seharusnya mengalihkan pengelolaann PKM kepada BUMN yang ditunjuk oleh Pemerintah. Namun, dengan pertimbangan dana pinjaman ADB belum ditarik seluruhnya, serta pelaksanaan PKM cukup berhasil, dan kebutuhan masyarakat atas kredit PKM masih tinggi, maka atas kesepakatan ADB, Pemerintah, dan Bank Indonesia, pelaksanaan PKM tetap dilakukan oleh Bank Indonesia sampai dengan berakhirnya jangka waktu penarikan pinjaman, yaitu 30 Juni 200119 yang kemudian diperpanjang sampai dengan 31 Desember 2001.20 Saat ini PKM telah mencakup 15 Propinsi yang melibatkan 24 Kantor Bank Indonesia (KBI) yang tersebar diberbagai propinsi di Indonesia. Sementara itu, jumlah maksimal kredit yang diberikan kepada nasabah mikro juga telah mengalami beberapa kali perubahan yang disesuaikan dengan kondisi perekonomian nasional. Perubahan yang terakhir menetapkan jumlah kredit PKM yang pertama kali diberikan maksimal sebesar Rp2 juta per nasabah

19 Peraturan Bank Indonesia No. 3/1/PBI/2001 tanggal 4 Januari 2001 tentang Proyek Kredit Mikro 20 Peraturan Bank Indonesia No. 3/16/PBI/2001 tanggal 3 Oktober 2001 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Bank Indonesia No. 3/1/PBI/2001 tanggal 4 Januari 2001 tentang Proyek Kredit Mikro

159

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

dan untuk kredit selanjutnya maksimal Rp5 juta per nasabah.21 Untuk periode laporan, besarnya kredit yang telah disalurkan Bank Indonesia kepada usaha mikro berjumlah Rp137,4 miliar, sehingga jumlah kredit kepada usaha mikro yang telah direalisasikan seluruhnya (sejak tahun 1996 s.d. Desember 2001) berjumlah Rp417,1 miliar kepada 752.492 nasabah mikro dengan melibatkan BPD, BPR, Lembaga Dana dan Kredit Pedesaan (LDKP) dan Lembaga Pengembangan Swadaya Masyarakat (LPSM). Berdasarkan tingkat kolektibilitasnya, PKM dinilai cukup berhasil karena memiliki kredit macet sebesar 1,2%. Sementara itu, dalam hal kebijakan perkreditan, Bank Indonesia telah menyempurnakan ketentuan tentang KUK22 yang pada intinya tidak lagi mewajibkan namun menganjurkan penyaluran KUK dan merubah plafon KUK menjadi Rp500 juta per nasabah. Realisasinya KUK pada tahun laporan posisinya mengalami peningkatan sebesar 14,8% dibandingkan tahun sebelumnya sehingga menjadi Rp65 triliun (Tabel 8.10). Dengan perkembangan tersebut, sampai dengan akhir tahun 2001 rasio penyaluran KUK terhadap total kredit perbankan menjadi 18,5%. Selain melalui kebijakan perkreditan, sebagai upaya penyediaan pembiayaan bagi usaha kecil dan menengah, Bank Indonesia masih tetap menjaga keseimbangan pembiayaan atau pendanaan kredit
21 Peraturan Bank Indonesia No. 3/8/PBI/2001 tanggal 25 April 2001 tentang Perubahan Peraturan Bank Indonesia No. 3/1/PBI/2001 tanggal 4 Januari 2001 tentang Proyek Kredit Mikro 22 Peraturan Bank Indonesia No. 3/2/PBI/2001 tanggal 4 Januari 2001 tentang Pemberian Kredit Usaha Kecil dan Surat Edaran No. 3/9/ BKR tanggal 17 Mei 2001tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemberian Kredit Usaha Kecil

program. Hal ini diwujudkan dalam bentuk pemberian kesempatan kepada BUMN Koordinator untuk menyalurkan kembali angsuran Kredit Likuiditas Bank Indonesia (KLBI) sampai dengan KLBI tersebut jatuh tempo. Jumlah angsuran KLBI yang dikelola oleh BUMN Koordinator sampai dengan akhir tahun laporan sebesar Rp1,45 triliun atau meningkat sekitar 44% dibandingkan posisi 31 Desember 2000 yang hanya Rp1,0 triliun. Dari dana hasil angsuran tersebut, telah disalurkan kembali sebesar Rp1,3 triliun atau meningkat sekitar 186% dibandingkan Rp453,5 miliar pada tahun sebelumnya. Penyaluran dana yang disalurkan kembali tersebut sebagian besar dilakukan oleh PT Permodalan Nasional Madani (PNM) dan Bank Tabungan Negara (BTN). Dengan melihat masih rendahnya penyaluran kembali dana hasil angsuran KLBI oleh BUMN Koordinator khususnya pada tahun 2000, maka pada tahun 2001 Bank Indonesia memandang perlu untuk mengadakan evaluasi terhadap pelaksanaan pengelolaan KLBI oleh BUMN Koordinator. Dari hasil evaluasi tersebut secara umum dapat disimpulkan bahwa pengelolaan KLBI oleh 3 BUMN Koordinator, khususnya dalam hal penyaluran kembali dana hasil angsuran KLBI belum dilaksanakan secara optimal. Hal ini disebabkan oleh berbagai permasalahan dan kendala yang dihadapi oleh masing-masing BUMN Koordinator tersebut, antara lain disebabkan karena angsuran KLBI yang dikelola berjangka waktu lebih pendek dari pada jangka waktu kredit yang akan direlending, sehingga dikhawatirkan terjadi mismatch pendanaan. Disamping itu masih sangat terbatasnya jaringan kantor dan permodalan PNM juga menjadi menjadi kendala rendahnya penyaluran kembali dana hasil angsuran KLBI tersebut.

160

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

Tabel 8.10 Perkembangan Kredit Usaha Kecil Posisi Pertumbuhan Pangsa (Triliun rupiah) (%) (%) 1999 2000r 2001 2000 2001 2001 37,2 15,7 5,4 16,1 37,2 7,7 1,1 8,8 3,4 16,2 37,2 25,4 5,9 1,8 4,1 0,1 56,6 22,0 7,8 26,8 56,6 9,3 1,7 10,3 4,7 30,6 56,6 30,5 12,3 5,1 8,6 0,1 64,9 27,3 9,4 28,3 64,9 11,4 2,6 12,8 5,2 32,9 52,1 40,0 44,0 66,6 52,1 19,8 54,5 17,0 38,7 89,3 14,8 100,0 23,8 42,0 21,3 14,5 5,4 43,5 14,8 100,0 23,3 17,6 51,3 4,0 24,0 11,0 7,6 19,7 8,1 50,6

005)23 secara optimal guna membantu pendanaan kredit program. Sampai dengan posisi akhir tahun, dana SUP No. 005 yang dapat dicairkan adalah sebesar Rp3,1 triliun dan baru dicairkan Pemerintah sebesar Rp850 miliar, sehingga dana yang masih

Penyebaran KUK

Menurut Jenis Penggunaan Modal Kerja Investasi Konsumsi Menurut Sektor Ekonomi Pertanian Perindustrian Perdagangan, Restoran dan Hotel Jasa-jasa Lain-lain Menurut Kelompok Bank Bank Persero BUSN Devisa BUSN Non Devisa BPD Bank Campuran & Asing

dapat dicairkan sebesar Rp2,2 triliun.

Permodalan
Pada tahun laporan, permodalan bank meningkat dari Rp52,3 triliun di akhir tahun 2000 menjadi Rp62,3 triliun atau naik sebesar 19,1%. Peningkatan permodalan tersebut disamping karena perolehan laba tahun berjalan juga adanya tambahan setoran modal oleh beberapa bank dalam kelompok kategori A, BPD dan bank campuran dalam rangka pemenuhan ketentuan CAR minimun 8% pada akhir tahun

64,9 52,1 14,8 100,0 36,9 20,3 21,0 56,8 13,7 108,7 11,5 21,1 2,5 180,4 -51,3 3,8 11,8 111,9 36,9 18,2 0,01 -1,4 -90,3 0,01

Untuk mengatasi permasalah di atas Bank Indonesia telah merekomendasikan kepada Pemerintah untuk lebih memberdayakan BUMN Koordinator agar dapat melaksanakan tugasnya dengan lebih baik. Hal-hal yang direkomendasikan antara lain perlu ditunjuknya satu BUMN Koordinator sebagai pengelola kredit program secara keseluruhan. BUMN Koordinator dimaksud selanjutnya dapat dijadikan cikal bakal bagi terbentuknya suatu bank khusus yang membiayai usaha kecil dan menengah, atau sebagai lembaga sementara yang khusus menangani pembiayaan usaha kecil dan menengah (termasuk kredit program) sampai dengan terbentuknya bank khusus tersebut. Selain itu, dalam rangka pengembangan usaha kecil dan menengah, berbagai masukan telah disampaikan oleh Bank Indonesia kepada Pemerintah antara lain perlunya pemanfaatan dana Surat Utang Pemerintah dalam rangka kredit program (SUP No.

2001. Semua kelompok bank sudah mencatat permodalan yang positif sejak triwulan kedua tahun 2000. Modal terbesar dimiliki oleh kelompok bank BUMN sebesar Rp20,7 triliun, sedangkan modal terkecil dimiliki oleh bank asing yaitu sebesar Rp1,4 triliun. Walaupun telah mencapai permodalan yang positif, namun secara individu masih terdapat bankbank yang mempunyai CAR di bawah 8%, yang terdiri dari bank kelompok A dan BUSN rekap. Upaya peningkatan permodalan bank untuk bank-bank yang mempunyai CAR < 8% terus dilakukan di antaranya dengan meminta para pemilik bank untuk
23 Surat Utang Pemerintah dalam rangka kredit program (SUP No. 005) adalah surat utang yang dikeluarkan oleh Pemerintah untuk pembiayaan kredit program sebagai pengganti dana KLBI karena dengan berlakunya UU No. 23 Tahun 1999, Bank Indonesia tidak dapat lagi memberikan KLBI untuk pembiayaan kredit program. Besarnya SUP No. 005 adalah Rp9,97 triliun, tetapi penarikannya tergantung dari KLBI yang telah diberikan untuk kredit program yang jatuh tempo dan diterima oleh Bank Indonesia dalam tahun 2000 dan 2001.

161

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

Triliun Rp 80,0

Triliun Rp 40 20

40,0

0 -20

0,0

-40 -60 Laba/Rugi Operasional Laba/Rugi non operasional Laba Rugi sebelum pajak -100
Bank Asing Seluruh Bank

-40,0

Bank BUMN Bank Kategori A

BUSN Rekap BPD

BTO Bank Campuran

-80

-80,0 Des. 1999 Mar. Jun. 2000 Sep. Des. Mar. Jun. Nov. 2001 Des.

-120 Des. 1999 Mar. Jun. Sep. 2000 Des. Mar. Jun. 2001 Sep.

Grafik 8.4 Perkembangan Permodalan Bank

Grafik 8.5 Perkembangan Laba/Rugi Perbankan

menambah modal disetor maupun dengan melakukan merger. Sampai dengan akhir tahun 200124 jumlah bank yang telah memenuhi target

dibanding tahun sebelumnya yang hanya Rp11,2 triliun. Peningkatan ini terutama masih berasal dari keuntungan selisih kurs akibat melemahnya nilai tukar dan adanya koreksi PPAP berkaitan dengan pendapatan yang diperoleh dari kredit yang telah dihapusbukukan.

CAR minimum 8% telah mencapai 138 bank (95%) dari 145 bank yang ada.

Profitabilitas
Dalam tahun laporan, kegiatan perbankan terus menunjukkan perbaikan yang tercermin pada peningkatan laba usaha. Perolehan laba sebelum pajak selama tahun 2001 mencapai Rp13,1 triliun, meningkat dibandingkan tahun 2000 sebesar Rp10,5 triliun (Grafik 8.5). Pada tahun 2001 walaupun perbankan masih mengalami kerugian operasional Rp0,2 triliun, namun kerugian tersebut lebih kecil bila dibandingkan dengan kerugian tahun sebelumnya yang besarnya Rp0,7 triliun. Masih meruginya perbankan disebabkan karena masih tingginya beban PPAP dan beban overhead lainnya yang harus ditanggung oleh bank-bank. Di sisi lain, laba non operasional yang diperoleh perbankan sebesar Rp13,3 triliun meningkat

Sementara itu Net Interest Margin (NIM) yang diperoleh perbankan dalam tahun laporan juga meningkat menjadi Rp37,8 triliun atau rata-rata sebesar Rp3,2 triliun per bulan (Grafik 8.6) dibanding tahun sebelumnya yang hanya Rp22,8 triliun atau Rp1,9 triliun per bulan. Meningkatnya perolehan NIM tersebut disebabkan meningkatnya pemberian kredit pada tahun 2001 dibandingkan dengan tahun 2000 dan meningkatnya perolehan pendapatan bunga yang berasal dari bunga SBI dan bunga obligasi pemerintah pada beberapa bank rekap yang memiliki obligasi dengan variable rate. Ditinjau dari prosentasenya, perolehan pendapatan bunga perbankan terbesar berasal dari obligasi pemerintah yaitu sebesar 45,3% terhadap total pendapatan bunga, sementara yang berasal dari kredit dan SBI masing-masing sebesar

24. Data sampai dengan bulan November 2001.

32,2% dan 9,7%. Kondisi ini menunjukan masih

162

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

Triliun Rp 50 40 30 20 10 0 -10 -20 -30 -40 -50 Des. 1999 Mar. Jun. 2000 Sep. Des. Mar. Jun. Sep. 2001 Des.

Perusahaan Pembiayaan
Kinerja perusahaan pembiayaan dalam tahun 2001 masih ditandai dengan perkembangan yang membaik walaupun dengan pertumbuhan yang jauh lebih rendah dibanding dengan periode sebelumnya. Peningkatan kinerja tersebut tercermin dari meningkatnya total nilai kegiatan usaha yang sampai dengan November 2001 naik sebesar 28,9% dibanding tahun sebelumnya. Sepanjang tahun laporan terdapat tiga perusahaan pembiayaan yang baru didirikan (PT. Karya Technik Multifinance, PT Kembang Delapan Delapan

Grafik 8.6 Perkembangan Net Interest Margin

tingginya ketergantungan perbankan dari bunga obligasi pemerintah. Dilihat per kelompok bank, bank BTO adalah kelompok bank yang sangat bergantung pada pendapatan bunga obligasi pemerintah yang terlihat dari cukup tingginya pangsa pendapatan bunga obligasi pemerintah terhadap total pendapatan bunga sebesar 69,1% diikuti dengan kelompok bank BUMN sebesar 56,6% dan BUSN Rekap sebesar 20,4%.

Multifinance, dan PT. Sinar Mitra Sepadan Finance) dan dua perusahaan pembiayaan yang dilikuidasi (PT. Bahan Pembinaan Usaha dan PT Bali Tunas Finance).25 Sehingga sampai dengan November 2001, jumlah perusahaan pembiayaan yang masih menjalankan kegiatan usahanya meningkat menjadi 246 perusahaan dibanding tahun sebelumnya. Dibandingkan dengan akhir tahun sebelumnya, seluruh jenis kegiatan usaha perusahaan pembiayaan mengalami peningkatan kecuali

LEMBAGA KEUANGAN LAINNYA
Seiring dengan membaiknya kinerja perbankan dalam tahun 2001, sumber dana perusahaan pembiayaan yang berasal dari perbankan meningkat sehingga memberikan kemampuan untuk meningkatkan kinerja perusahaan pembiayaan yang tercermin dari kenaikan nilai kegiatan usahanya. Sementara itu, seiring dengan masih adanya keengganan perbankan untuk menyalurkan kredit telah membuka peluang kepada Perusahaan Umum (PERUM) pegadaian untuk meningkatkan penyaluran dananya kepada masyarakat baik untuk konsumsi maupun modal jangka pendek.

pembiayaan anjak piutang yang mengalami penurunan sebesar 47,7%. Peningkatan terbesar terjadi pada pembiayaan kartu kredit dan pembiayaan konsumen yaitu masing-masing naik sebesar 89,2% dan 47,9. Hal ini sejalan dengan perkembangan konsumsi domestik yang mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya yang diduga dibiayai dari perusahaan pembiayaan (Lihat Bab Makro).

25 Dasar keputusan : Keputusan Menteri Keuangan No. 275/KMK.06/ 2001 tanggal 8 Mei 2001, Keputusan Menkeu No. 364/KMK.06/ 2001 tanggal 11 Juni 2001, Keputusan Menteri Keuangan No. 365/ KMK.06/2001 tanggal 11 Juni 2001, Keputusan Menteri Keuangan No. 626/KMK.06/2001 dan Keputusan Menteri Keuangan No. 365/ KMK.06/2001.

163

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

Tabel 8.11 Perkembangan Perusahaan Pembiayaan Keterangan Jumlah Perusahaan 2) Nilai Kegiatan Usaha Sewa guna usaha Pembiayaan anjak piutang Pembiayaan kartu kredit Pembiayaan konsumen Lainnya Pinjaman yang Diterima Dalam negeri - Bank - Bukan bank Luar negeri Obligasi Pinjaman Subordinasi
1) November 2001 2) Satuan

Tabel 8.12 Sumber dan Penggunaan Dana Perusahaan Pembiayaan Keterangan Posisi (Triliun rupiah) 1999 Sumber Dana Pinjaman bank dalam negeri Pinjaman bank luar negeri Pinjaman diterima lainnya d,n, Pinjaman diterima lainnya l,n, Modal 2) Lain-lain Penggunaan Dana Pembiayaan Simpanan pada bank Penyertaan Lain-lain 30,2 10,7 8,6 4,7 11,9 -1,3 -4,3 30,2 22,2 5,1 0,1 2,8 2000r 20011) 35,8 11,3 7,6 7,1 11,8 -2,2 0,1 35,8 29,4 3,7 0,1 2,5 38,2 14,8 7,26 5,0 13,7 -0,3 -2,2 38,2 31,4 3,0 0,1 3,7 Pertumbuhan (%) 2000 2001

Posisi (Triliun rupiah) 1999 2000r 20011) 245 22,2 10,9 6,4 0,3 4,3 0,2 14,4 14,4 10,7 3,7 10,8 0,6 1,4 245

Pertumbuhan (%) 2000 20011) 246 32,4 25,7 2,3 19,9 97,0 -5,7 18,8 18,8 5,6 56,9 15,2 51,9 18,8 7,0 4,8 -47,7 89,2 47,9 44,7 7,9 7,9 30,8 -36,7 -10,3 -1,0 29,0

29,4 31,4 13,7 14,39 6,6 3,4 0,4 0,8 8,5 12,6 0,2 0,3 17,1 17,1 11,3 5,8 12,5 0,8 1,7 18,5 18,5 14,8 3,7 11,2 0,8 2,2

18,3 6,8 5,6 30,8 -11,7 -4,1 52,7 -30,3 -0,4 16,1 -62,6 85,5 97,4 1957,8 18,3 32,5 -26,9 1,6 -10,2 6,8 7,0 -20,7 -21,7 45,9

1) November 2) Modal bersih setelah ditambah/dikurangi laba/rugi th berjalan dan ditambah cadangan

Dilihat dari komposisinya, kegiatan sewa guna usaha masih mendominasi kegiatan usaha perusahaan pembiayaan, yaitu mencapai 45,8 dari total pembiayaan. Komposisi kegiatan usaha lainnya adalah pembiayaan konsumen sebesar 40,0%, pembiayaan anjak piutang sebesar 10,9%, dan kartu kredit 2,4%. Sampai dengan November 2001, sumber dana yang berhasil dihimpun perusahaan pembiayaan meningkat sebesar Rp2,4 triliun atau naik 6,8% dibandingkan posisi akhir Desember 2000 (Tabel 8.12). Sebagaimana tahun sebelumnya, sumber utama pendanaan perusahaan pembiayaan masih berasal dari pinjaman bank dalam negeri. Sejalan dengan membaiknya kinerja perbankan, pinjaman yang diperoleh perusahaan pembiayaan dari bank dalam negeri meningkat sebesar Rp 3,5 triliun sehingga menjadi 14,8 triliun. Dalam tahun laporan, walaupun perusahaan pembiayaan mengalami laba bersih sebesar Rp 396,4 juta, modal yang dimiliki perusahaan pem-

biayaan masih tetap negatif akibat set off terhadap kerugian yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Dalam tahun laporan, penggunaan dana perusahaan pembiayaan sebagian besar disalurkan dalam bentuk pembiayaan, yaitu sebesar Rp 31,4 triliun atau 82,4% dari total dana yang dimiliki. (Tabel 8.12). Seiring dengan melambatnya pertumbuhan perekonomian, aktivitas pembiayaan yang dilakukan perusahaan ini juga mengalami pertumbuhan yang melambat dibanding tahun sebelumnya yaitu dari 32,5% pada tahun 2000 menjadi 7,0% sampai November 2001. Sementara itu, simpanan dana perusahaan pembiayaan pada bank mengalami penurunan sebesar 20,7%. Hal ini mengindikasikan adanya shifiting dana antara simpanan di bank dan pembiayaan yang dapat diartikan lebih menguntungkannya pemberian pembiayaan kepada konsumen dibandingkan dengan penempatan dalam produk-produk perbankan.

164

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

Persen 80

Dilihat dari jenis pembiayaannya, anjak piutang
Lancar Diragukan Macet

memiliki kualitas aktiva yang terburuk yaitu dengan pangsa kategori macet mencapai 66,2%. Sedangkan

60

aktiva produktif yang terbaik dimiliki pembiayaan
40

konsumen dengan porsi kredit macet hanya sebesar 2,1% (Tabel 8.13).

20

0

Pegadaian
1999 2000r 20011)

1) Angka posisi November

Kinerja perusahaan umum pegadaian dalam tahun 2001 menunjukkan perkembangan yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Perkembangan ini merupakan hasil dari peningkatan jangkauan dan

Grafik 8.7 Kualitas Aktiva Produktif Perusahaan Pembiayaan

Dilihat dari kolektibilitasnya, kualitas aktiva produktif perusahaan pembiayaan yang terdiri dari kegiatan pembiayaan (sewa guna usaha, anjak piutang, kartu kredit, dan pembiayaan konsumen), surat berharga, dan penyertaan menunjukkan perkembangan yang membaik dibanding tahun sebelumnya. Kualitas aktiva produktif dalam

kualitas pelayanan melalui pendirian cabang baru, diversifikasi produk dan peningkatan profesionalisme sumber daya manusia yang dimiliki, serta restrukturisasi internal melalui efisiensi terhadap unit-unit kegiatan yang dinilai tidak produktif. Selain itu, masih

kategori lancar meningkat dari 67,8% menjadi 78,2%. Sementara itu, pangsa aktiva produktif yang bermasalah, yaitu kategori diragukan dan macet, menurun dari 3,22% menjadi 21,8% (Grafik 8.7).

Tabel 8.14 Perkembangan Kinerja Pegadaian 19991) 20002) Juta rupiah 20012) 5.970.310 553.487 500.562 27 18 47.033 5.847 551.785 425.240 126.545 635.933 105.000 574.105

Rincian Omzet Pendapatan Usaha : - Sewa Modal - Jasa Taksiran - Jasa Titipan - Pendptn Penyimpanan & Asuransi - Lainnya Posisi Pasiva - Kewajiban Jangka Pendek - Hutang Bank - Lainnya - Hutang Obligasi - Hutang Jangka Panjang - Ekuitas Nilai Barang Lelang Jumlah Nasabah 3)

Tabel 8.13 Perkembangan Kualitas Aktiva Produktif Aktiva Produktif 1999 D M (%) 2000r L D M (%) 20011) D M (%)

3.229.280 4.230.778 449.087 373.233 417.370 341.936 16 16 10 11 25.319 6.372 243.612 120.067 123.545 389.556 100.000 409.553 31.270 3.929 454.176 157.631 296.545 439.486 105.000 415.258

L

L

Pembiayaan : - Sewa Guna Usaha - Anjak Piutang - Kartu Kredit - Pembiayaan Konsumen

70,3 10,3 19,4 69,0 12,4 18,6 77,0 7,4 15,6 36,3 5,2 58,5 42,7 4,2 53,1 27,4 6,5 66,2 31,4 3,8 64,7 66,8 1,5 31,7 75,1 2,1 22,8 90,9 2,4 6,7 94,7 1,6 3,7 96,2 1,6 2,1

Surat Berharga yang dimiliki 88,5 2,4 Penyertaan 97,8 0,0
L = Lancar, D = Diragukan, M = Macet 1) = November

9,0 88,0 0,2 11,7 82,5 6,7 10,8 2,2 97,7 0,0 2,3 92,9 0,2 6,9

91.712 38.946 47.298 12.427.554 12.982.306 15.692.228

1) Data Revisi Sesuai Laporan Tahunan Pegadaian 2000 2) Data Berdasarkan Data Laporan Operasional Desember 2001 3) Orang Sumber: Pegadaian

165

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

adanya keengganan perbankan untuk menyalurkan kredit, memberikan peluang kepada pegadaian untuk membiayai kebutuhan dana masyarakat baik untuk modal jangka pendek maupun keperluan konsumsi dan kebutuhan lainnya, khususnya bagi masyarakat dan pengusaha golongan kecil menengah. Dalam rangka meningkatkan jangkauan pelayanan, perusahaan pegadaian telah menambah jumlah kantor cabangnya dalam tahun 2001 sehingga menjadi 714 cabang.26 Sementara itu, dalam tahun 2001 PERUM pegadaian telah melakukan upaya diversifikasi produk dan jasa antara lain melalui kerjasama dengan Usaha Aneka Tambang sebagai distributor utama produk-produk perhiasan dan menyediakan jasa penilaian batu permata dan berlian. Selain itu pegadaian juga telah menambah jenis barang jaminan berupa gabah dan kendaraan bermotor sebagai upaya pengembangan produk dalam mengakomodir permintaan masyarakat pedesaan. Meningkatnya aktivitas usaha perum pegadaian tercermin dari peningkatan omzet kegiatan usaha (pinjaman yang diberikan), pendapatan usaha dan jumlah masyarakat yang menjadi nasabah. Omzet usaha pegadaian mengalami peningkatan sebesar 41,1% sehingga menjadi Rp 6,0 triliun dibandingkan akhir tahun 2000 (Tabel 8.14). Pertumbuhan ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang sebesar 31,0%, sejalan dengan peningkatan pelayanan yang dilakukan dan semakin besarnya jumlah nasabah yang dilayani. Jumlah masyarakat yang menjadi nasabah pegadaian meningkat

sebesar 20,9% sehingga menjadi 15,7 juta nasabah. Dalam pada itu, pendapatan usaha pegadaian meningkat sebesar Rp180,3 miliar. Seluruh jenis kegiatan usaha perum pegadaian mengalami peningkatan pendapatan dengan kontribusi terbesar diberikan oleh kegiatan utamanya yaitu sewa modal dengan prosentase mencapai 90,4% dari total pendapatan usaha. Dalam melakukan penyaluran kreditnya, pegadaian disamping memberikan modal dana juga memberikan pembinaan manajemen dan pemasaran untuk mengembangkan usaha kepada para debiturnya khususnya kepada pengusaha kecil. Sementara itu, kredit yang tidak dilunasi oleh nasabah pegadaian sebagaimana tercermin dari nilai barang lelang meningkat 21,5% menjadi Rp47,3 miliar pada akhir tahun (Tabel 8.14). Hal ini disebabkan meningkatnya barang jaminan yang tidak ditebus kembali oleh para debitur. Dari sisi sumber dana, sebagian besar berasal dari penerbitan obligasi yaitu sebesar Rp 635,9 miliar atau 34,1% dari seluruh dana. Dalam tahun 2001, pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memberikan peringkat A+ untuk obligasi yang akan diterbitkan Perum Pegadaian. Pemberian peringkat didasarkan pada kinerja Pegadaian selama tahun 200 dan kecilnya jumlah kredit macet yang dimiliki tercermin dari barang jaminan yang dilelangkan. Sumber dana lainnya berasal dari modal sendiri sebesar 30,8%, pinjaman bank 22,8%, hutang jangka pendek lainnya 6,8%, dan pinjaman jangka panjang 5,6%.

26 Laporan data operasional Pegadaian Bulan Desember 2001

166

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

boks

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS)
Sebagai upaya untuk menjaga stabilitas dan ketahanan sistem perbankan nasional, perlu diciptakan suatu mekanisme untuk menjaga tingkat kepercayaan masyarakat terhadap lembaga perbankan. Salah satu instrumen pendukung yang diperlukan adalah adanya jaring pengaman keuangan (financial safety net) yang dapat memberikan keyakinan akan perlindungan dana nasabah dalam hal bank gagal memenuhi kewajibannya. Pengalaman yang mahal akibat hilangnya kepercayaan masyarakat terbukti setelah dilakukannya likuidasi terhadap 16 bank pada November 1997 dimana likuiditas perbankan telah menurun secara drastis sebagai akibat terjadinya bank-runs dalam masyarakat. Tidak adanya kebijakan penjaminan yang eksplisit terhadap dana simpanan nasabah (explicit guarantee) telah menjadi faktor pendorong sikap masyarakat untuk melakukan rush ke bank-bank. Untuk mencegah terjadinya kondisi yang lebih buruk lagi, maka pemerintah menempuh upaya untuk memberikan jaminan penuh (blanket guarantee) guna memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap perbankan. Kebijakan penjaminan pemerintah ini di diatur dalam Keppres No. 26/1998 dan diatur lebih lanjut dalam Keputusan Menteri Keuangan (KMK) No. 197/KMK.017/2000. Kebijakan pemberian blanket guarantee tersebut terbukti efektif dalam mengembalikan kepercayaan masyarakat. Dalam waktu yang relatif singkat dana masyarakat kembali ke sistem perbankan, dan saat ini total simpanan masyarakat saat ini telah mencapai + 70% dari seluruh total aset perbankan nasional. Namun demikian, dibalik keberhasilan dalam meredam merosotnya kepercayaan masyarakat tersebut, terdapat beban besar yang harus ditanggung pemerintah dan potensi munculnya moral hazard pada perbankan di kemudian hari. Agar keadaan ini tidak berlangsung terus menerus, perlu segera dirumuskan suatu pola penjaminan simpanan nasabah yang lebih efektif dan efisien. Konsep penjaminan yang terbatas seperti asuransi deposito (deposit insurance) di beberapa negara dapat dipertimbangkan sebagai suatu alternatif disamping alternatif lain seperti skim dana bersama sebagaimana dimaksud dalam UU No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan. Beranjak dari pemikiran di atas, telah dibentuk Tim Kerja yang anggotanya terdiri dari Bank Indonesia, Departemen Keuangan dan BPPN yang bertugas untuk mempersiapkan pendirian LPS. Fokus kegiatan Tim Kerja ini dibagi menjadi 2 (dua) bagian. Agenda jangka pendek adalah merumuskan pola pengurangan cakupan penjaminan secara bertahap (phasing-out) dari hampir seluruh kewajiban bank menjadi terbatas pada simpanan, inkaso dan transfer masuk/keluar, pinjaman antar bank dan Letter of Credit (L/C). Sementara itu, agenda jangka panjang adalah mempersiapkan pendirian LPS, termasuk pemanfaatan skim asuransi dengan cakupan pen-

167

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

jaminan terbatas sampai dengan jumlah tertentu saja. Selanjutnya, beberapa kriteria spesifik LPS yang perlu juga diatur diantaranya mengenai status kelembagaan, penetapan premi dan sifat keanggotaan. Dalam status kelembagaan diharapkan lembaga ini dapat melaksanakan tugasnya secara optimal. Untuk ini diperlukan adanya jaminan atas independensi lembaga ini dalam melaksanakan tugas dan kewenangannya. Dengan independensi, diharapkan LPS dapat menjadi sebagai suatu lembaga badan hukum sendiri yang berada di luar pemerintah yang jalur akuntabilitasnya sepenuhnya disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat. Dalam penetapan premi penjaminan, untuk sementara waktu akan ditempuh pola yang sama yaitu pengenaan premi secara flat. Direncanakan

pengenaan premi yang risk-adjusted dapat segera dimulai untuk mencerminkan objektivitas risiko masing-masing bank yang berbeda. Selanjutnya sifat keanggotaan LPS akan bersifat wajib (compulsory) bagi semua bank yang beroperasi di Indonesia termasuk bank asing untuk menjamin kesempatan berusaha yang sama. Pendirian LPS tentunya dilakukan dengan memperhatikan beberapa prakondisi, antara lain adanya sistem perbankan yang sehat dan stabil. Sejalan dengan prakondisi tersebut, maka upayaupaya restrukturisasi perbankan perlu terus dilakukan. Diperkirakan jangka waktu 3 tahun sejak 2001 memadai untuk menyiapkan pendirian lembaga ini sehingga pada tahun 2004 dipandang sebagai saat yang tepat untuk memulai penjaminan yang sepenuhnya berformat pada LPS.

168

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

boks

Cetak Biru Pengembangan Perbankan Syariah
UU No. 10 tahun 1998 dan UU No. 23 tahun 1999 telah mengamanatkan sekaligus memberikan landasan hukum bagi Bank Indonesia untuk mengembangkan perbankan syariah di Indonesia. Selain itu, pengembangan perbankan syariah dipandang penting untuk : (i) memenuhi kebutuhan masyarakat yang menghendaki layanan jasa perbankan yang sesuai dengan prinsip syariah; (ii) meningkatkan mobilisasi dana masyarakat yang belum terserap sistem perbankan yang ada; (iii) meningkatkan ketahanan sistem perbankan nasional; dan (iv) menyediakan sarana bagi investor internasional untuk melaksanakan pembiayaan dan transaksi keuangan yang sesuai dengan prinsip syariah. Dalam upaya pengembangan perbankan syariah masih terdapat sejumlah permasalahan yang perlu segera diatasi, baik dalam jangka pendek, menengah, maupun panjang. Belum lengkapnya peraturan dan infrastruktur bagi bank syariah merupakan salah satu permasalahan mendasar yang perlu segera diatasi agar bank syariah dapat beroperasi secara optimal sesuai dengan karakteristiknya. Penyempurnaan pengaturan bagi perbankan syariah menjadi sangat penting, mengingat ketentuan yang ada saat ini belum sepenuhnya dapat mengakomodir kegiatan usaha perbankan syariah. Di sisi lain, relatif rendahnya pemahaman masyarakat terhadap operasional perbankan syariah dan terbatasnya tenaga ahli perbankan syariah merupakan salah satu tantangan dalam pengembangan perbankan syariah. Di samping itu, masih relatif terbatasnya jaringan kantor perbankan syariah menyebabkan belum terlayaninya seluruh masyarakat yang menginginkan pelayanan bank syariah. Keberadaan lembagalembaga pendukung agar perbankan syariah dapat beroperasi secara optimal juga dirasakan belum memadai. Selain itu, sejumlah isu yang berkaitan dengan perkembangan teknologi dan meningkatnya inovasi ragam produk perbankan syariah memerlukan pengaturan yang memadai agar stabilitas sistem perbankan syariah dapat terwujud. Perkembangan perbankan syariah nasional juga dipengaruhi oleh globalisasi jasa keuangan. Sejumlah isu pokok yang terkait dengan perbankan syariah internasional memerlukan perhatian agar perbankan syariah nasional mampu menjadi lembaga keuangan yang dapat diterima secara internasional. Sejumlah isu pokok tersebut antara lain : (i) pembentukan Internasional Islamic Financial Market (IIFM), yang saat ini dalam tahap finalisasi, diharapkan dapat mendukung efisiensi pengelolaan dana secara internasional; (ii) 18 negara anggota IMF saat ini sedang mempersiapkan pembentukan Islamic Financial Services Organization (IFSO), lembaga internasional yang akan mengeluarkan prudential regulation bagi bank syariah. Menyadari demikian kompleksnya upaya pengembangan perbankan syariah maka perlu adanya kejelasan arah kebijakan pengembangan perbankan syariah nasional. Sehubungan dengan hal tersebut,

169

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

perlu disusun Cetak Biru Pengembangan Perbankan Syariah diharapkan akan memberi manfaat antara lain : (i) sebagai pedoman baku bagi internal Bank Indonesia dalam pengembangan perbankan syariah secara bertahap; (ii) sebagai acuan bagi pihak eksternal dalam pengembangan ekonomi dan lembaga keuangan syariah lainnya; (iii) untuk menjamin kesinambungan pelaksanaan tugas pengaturan dan pengawasan bank syariah di masa depan; dan (iv) untuk mewujudkan perbankan syariah yang sehat dan konsisten (istiqamah) terhadap prinsip-prinsip syariah. Misi Bank Indonesia dalam pengembangan perbankan syariah adalah mewujudkan iklim yang kondusif untuk pengembangan perbankan syariah yang sehat dan istiqamah terhadap prinsip-prinsip syariah. Selanjutnya, visi pengembangan perbankan syariah adalah terwujudnya perbankan syariah yang mampu menggerakkan sektor riil melalui kegiatan pembiayaan berbasis ekuitas dalam kerangka tolong menolong (ta’awun) dan menuju kebaikan (fastabiqul khairat) guna mencapai kemashlahatan ummat (rahmatan lil alamin). Untuk mencapai misi dan visi tersebut, kebijakan-kebijakan Bank Indonesia dalam pengembangan perbankan syariah berdasarkan prinsip market driven, fair treatment, gradual and sustainable approach yang secara konsisten sesuai prinsip syariah dan standar internasional. Keberadaan perbankan syariah yang sesuai dengan misi dan visi di atas, juga tidak terlepas dari

nilai-nilai yang menyertainya yaitu nilai dalam perspektif mikro dan perspektif makro. Perspektif mikro berkaitan dengan nilai-nilai dalam pengelolaan bank syariah yaitu nilai Shidiq, Tabligh, Amanah, Fathanah termasuk Ri’ayah (cermat dan santun) dan Mas’uliyah (bertanggung jawab). Sedangkan perspektif makro lebih berkaitan dengan keberadaan perbankan syariah - di dalam format perekonomian makro - yang harus mencerminkan nilai zakat dalam mendorong investasi, menghilangkan ketidakpastian (ghoror) untuk mendorong transparansi, menghilangkan riba untuk menghindari predetermined result & kesiapan menghadapi risiko, serta menghilangkan maisir untuk mendorong linkages ke sektor riil. Sesuai dengan prinsip-prinsip gradual dan berkesinambungan tersebut di atas, pengembangan perbankan syariah memiliki tujuan-tujuan tertentu yang terbagi dalam periode waktu yang berkesinambungan. Dalam jangka pendek (2002-2004), tujuan pengembangan perbankan syariah adalah untuk menempatkan bank syariah sedemikian rupa sebagai alternatif bank disamping bank konvensional. Dalam jangka menengah (2004-2008) tujuan pengembangan adalah agar bank syariah lebih berperan dalam mendorong sektor riil. Sedangkan tujuan pengembangan jangka panjang (2006-2011) adalah menjadikan bank syariah menjadi lebih efisien dan diharapkan dapat menjadi beroperasi secara internasional.

170

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

boks

Lembaga Pengawas Jasa Keuangan (LPJK)
Sesuai dengan amanat pasal 34 UndangUndang No. 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia disebutkan akan adanya suatu lembaga baru yang nantinya akan melakukan fungsi pengawasan bank. Sesuai dengan amanat tersebut, fungsi pengawasan bank akan beralih dari Bank Indonesia ke sebuah lembaga baru yang bersifat independent dan harus sudah berdiri sebelum 31 Desember 2002. Dengan beralihnya fungsi pengawasan tersebut, fungsi Bank Indonesia nantinya hanya sebagai otoritas moneter saja yang tugas utamanya difokuskan pada masalahmasalah moneter dan sistem pembayaran. Ide pemisahan fungsi pengawasan bank dari bank sentral dan diserahkan ke lembaga lain bukan merupakan sesuatu yang baru di dalam praktek pengawasan perbankan di negara-negara lain. Inggris, Jepang, Korea dan Australia adalah beberapa contoh negara-negara yang telah mempraktekkan pemisahan fungsi dan tugas pengawasan dari bank sentral ke lembaga lain. Walaupun secara kelembagaan fungsi pengawasan bank akan diserahkan ke lembaga baru, Bank Indonesia tetap memiliki kewenangan dan tanggung jawab dalam hal pemeliharaan stabilitas system keuangan (financial stability) secara keseluruhan. Fungsi Bank Indonesia dalam memelihara stabilitas sistem keuangan yang berkaitan dengan bank-bank dan lembaga keuangan lainnya nantinya akan menyangkut systemic risk yang dihadapi oleh perbankan maupun industri keuangan secara keseluruhan. Systemic risk menyangkut risiko yang dihadapi oleh beberapa bank secara berantai yang memiliki potensi untuk menyebar (domino effect) ke seluruh industri perbankan dan keuangan, sehingga penanggulannya harus bersifat makro. Sedangkan lembaga pengawas jasa keuangan yang baru tersebut akan lebih banyak menitik beratkan pada aspek-aspek mikro perbankan yaitu prudential regulation dalam arti kepatuhan individu bank-bank maupun lembaga keuangan bukan bank lainnya terhadap segala ketentuan yang berlaku. Dengan pemisahan fungsi pengawasan tersebut, tugas pemeliharaan kestabilan sitem keuangan tetap berada di Bank Indonesia. Lembaga pengawas jasa keuangan yang baru secara struktural direncanakan merupakan lembaga pemerintah di luar kabinet yang bertanggung jawab kepada presiden. Tujuan dibentuknya lembaga tersebut adalah untuk melakukan pengawasan terhadap seluruh lembaga penyedia jasa keuangan dalam rangka menciptakan industri jasa keuangan yang sehat, akuntabel dan kompetitif. Keberadaan lembaga pengawas jasa keuangan yang baru tersebut akan lebih banyak menitik beratkan pada aspek-aspek prudential regulations dalam arti kepatuhan individu bank-bank maupun lembaga keuangan bukan bank lainnya terhadap segala ketentuan yang berlaku. Cakupan tugas dari lembaga baru tersebut nantinya tidak hanya melakukan pengawasan terhadap bank saja tetapi juga melakukan pengawasan terhadap semua lembaga

171

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

keuangan non bank seperti misalnya asuransi, modal ventura, pegadaian, leasing, dana pensiun, perusahaan sekuritas dan perusahaan jasa keuangan lainnya termasuk pengelola dana masyarakat yang bersifat micro financing. Pada saat ini pengawasan terhadap berbagai perusahaan penyedia jasa keuangan ada di berbagai lembaga yang berbeda dan tidak terintegrasi satu dengan yang lainnya, seperti misalnya pengawasan bank-bank berada di Bank Indonesia, pengawasan perusahaan sekuritas ada di Bapepam, dan pengawasan terhadap perusahaan asuransi berada di Departemen Keuangan. Dengan banyaknya lembaga pengawas jasa keuangan yang berbeda dan tidak berhubungan satu sama lain dalam beberapa hal menyebabkan terjadinya tumpang tindih serta inefisiensi mengenai koordinasi dan pembinaan lembaga-lembaga penyedia jasa keuangan tersebut. Disamping itu, keterkaitan antara bank-bank dengan lembaga-lembaga keuangan lain yang bukan bank adalah sangat erat dan memiliki beberapa kesamaan dalam hal operasional usahanya serta risiko yang dihadapi. Dengan berdirinya satu lembaga yang mengawasi seluruh pengelola jasa keuangan diharapkan pengawasan terhadap lembaga-lembaga tersebut akan menjadi lebih efisien serta bersifat consolidated dan terintegrasi yang pada akhirnya akan lebih menguntungkan para stake holders. Secara konsep, lembaga pengawas jasa keuangan yang akan dibentuk tersebut tidak hanya memiliki wewenang untuk melakukan pengawasan saja, melainkan juga diberikan wewenang untuk melakukan fungsi pengaturan termasuk memberikan dan mencabut izin usaha lembaga pengelola jasa

keuangan. Disamping itu, untuk memudahkan penyidikan terhadap praktek-praktek pelanggaran hukum yang terjadi di sektor keuangan, lembaga baru tersebut juga akan diberikan kewenangan untuk melakukan fungsi “penyidikan” seperti halnya yang dimiliki oleh aparat penegak hukum lainnya walaupun sifatnya hanya terbatas dan khusus menyangkut masalah pelanggaran di bidang keuangan saja. Dengan berakhirnya fungsi pembinaan dan pengawasan bank tersebut, maka perlu dilakukan revisi (amandemen) terhadap Undang-undang No.7 tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana diubah dengan Undang-undang No.10 tahun 1998. Sebuah tim yang beranggotakan pejabatpejabat dari Departemen Keuangan, Bank Indonesia, Bapepam, dan Departemen Kehakimandengan bantuan konsultan dari ADB telah bekerja sejak dua tahun yang lalu untuk merumuskan kajian dan konsep otoritas pengawas jasa keuangan yang baru. Sampai saat ini tim tersebut telah berhasil menyusun blue print pembentukan LPJK serta rancangan undang-undang mengenai LPJK. Diharapkan RUU mengenai LPJK tersebut dapat diajukan pada pertengahan tahun 2002 sehingga pada akhir tahun 2002 dapat ditetapkan sebagai undang-undang dan mulai berdirinya lembaga tersebut. Setelah LPJK terbentuk, akan dilakukan proses pemindahan pengawasan dan pengaturan bank dari Bank Indonesia ke lembaga tersebut secara bertahap. Untuk itu perlu dilakukan berbagai persiapan baik di Bank Indonesia maupun lembaga baru tersebut terutama yang menyangkut sistem, data/informasi, dan sumber daya manusia agar proses pengalihan pembinaan dan pengawasan bank yang selama ini telah berjalan tidak mengalami gangguan.

172

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

boks

Sistem Informasi Terpadu Pengembangan Usaha Kecil (SI-PUK)
Sebagai upaya untuk lebih memberikan nilai tambah dan manfaat yang lebih besar terhadap hasilhasil penelitian khususnya yang terkait dengan pengembangan usaha kecil, dipandang perlu lebih menyebarluaskan secara cepat laporan hasil penelitian tersebut kepada masyarakat luas. Sehubungan dengan itu, Bank Indonesia telah memasukkan hasilhasil penelitian dimaksud kedalam suatu Sistem Informasi Terpadu Pengembangan Usaha Kecil atau SI-PUK yang dapat diakses melalui internet/ website Bank Indonesia dalam versi Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris. SI-PUK merupakan kumpulan sistem informasi usaha kecil berbasis internet yang disusun oleh Bank Indonesia secara terpadu/terintergrasi antara satu sistem informasi, dengan sistem informasi lainnya, sehingga dapat menyajikan informasi yang mudah diakses oleh pengguna. Adapun sistem informasi usaha kecil berbasis internet yang terintergrasi dalam SI-PUK meliputi : 1. Sistem Informasi Baseline Economic Survey (SIB) Penelitian Dasar Potensi Ekonomi atau dikenal dengan Baseline Economic Survey (BLS) merupakan penelitian awal/dasar atas penelitian BLS secara cepat, hasil penelitian BLS dimasukkan kedalam suatu sistem informasi yang dikenal dengan Sistem Informasi BLS (SIB). Manfaat dari SIB yaitu : (i) memberikan informasi tentang subsektor ekonomi/komoditas yang potensial untuk dikembangkan; dan (ii) mengidentifikasi kesempatan usaha kecil serta faktor-faktor pendorong maupun penghambat yang mempengaruhinya. Sementara ini informasi dalam SIB meliputi hasil penelitian di 23 Propinsi yaitu Sumut, Riau, Sumbar, Sumsel, Jambi, Bengkulu, Lampung, DKI JAYA, Jabar, Jateng, DIY, Jatim, Kaltim, Kalbar, Kalteng, Kalsel, Sulut, Sulteng, Sultra, Sulsel, Bali, NTB dan NTT. Dalam upaya memperoleh gambaran terkini dilakukan penelitian ulang/up dating setiap 5 (lima) tahun. Hasil akhir penelitian BLS adalah berupa Daftar Skala Prioritas Sub Sektor Ekonomi/ komoditas yang potensial untuk dikembangkan di setiap Dati I, Dati II dan daerah kecamatan yang dikelompokan dalam sub sektor ekonomi/komoditas yang Sangat Potensial (SP), Potensial (P) dan Kurang Potensial (KP). Pengelompokan tersebut di atas ditinjau dari 6 aspek yaitu dari Aspek Pemasaran, Aspek Kewirausahaan, Aspek Teknis Produksi, Aspek Pertumbuhan, Aspek Infrastruktur (Sarana/Prasarana), dan Aspek Kebijakan Pemerintah dalam pengembangan usaha kecil.

keberadaan potensi sub sektor ekonomi/ komoditas disuatu Daerah Tingkat I/Propinsi terutama dalam hubungannya dengan

pengembangan usaha kecil yang dilaksanakan sejak tahun 1979. Untuk menyebarluaskan hasil

173

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

2. Sistem Informasi Agroindustri Berorientasi Ekspor (SIABE) Dalam upaya turut serta mengurangi dampak krisis ekonomi, Bank Indonesia pada tahun 1999 mengembangkan Sistem Informasi Agroindustri Berorientasi Ekspor (SIABE) yang datanya merupakan hasil penelitian terhadap komoditas agroindustri yang berpotensi untuk diekspor. Tujuannya antara lain memberikan informasi kepada masyarakat luas termasuk perbankan dan calon importir dari luar negeri tentang berbagai komoditas agroindustri yang potensial untuk diekspor berikut informasi lainnya. Informasi dimaksud antara lain mengenai : (i) Profil komoditas, teknologi proses, pohon industri, daerah bahan baku, volume ekspor, peraturan tarif ekspor, nilai ekspor, negara tujuan ekspor dan nama eksportir; (ii) Volume dan nilai ekspor per negara tujuan, per Dati I; (iii) Daftar ekspotir meliputi nama, alamat, contact person, telepon/ faksimili eksportir, jenis komoditas, dan Propinsi; (iv) Daerah potensi komoditas tersebut di masingmasing Dati I dan Dati II; (v) Standar mutu, hambatan tarif, dan peraturan ekspor. Dengan informasi tersebut diharapkan akan mempermudah calon importir luar negeri untuk bekerjasama dengan eksportir dalam negeri, yang pada akhirnya dapat meningkatkan ekspor komoditas agroindustri yang sekaligus dapat menambah pemasukan devisa. Sementara ini informasi dalam SIABE mencakup hasil penelitian 15 komoditas yaitu kulit, ubi kayu, kelapa sawit, jambu mete, udang, karet, coklat, kopi, teh, furniture (kayu jati/mahoni), kulit kayu manis, nilam, ikan, lada, tembakau, berikut produk

turunannya sekitar 500 komoditas, yang meliputi 23 Propinsi seperti halnya SIB. 3. Sistem Informasi Pola Pembiayaan/Lending Model Usaha Kecil (SI-LMUK) SI-LMUK merupakan sistem informasi yang menyajikan hasil penelitian Bank Indonesia mengenai pola-pola pembiayaan usaha kecil yang berpotensi untuk dikembangkan. Melalui pola-pola pembiayaan ini diharapkan dapat direplikasikan oleh para pengusaha sebagai informasi awal bagi perbankan dalam pembiayaan suatu komoditas. Cakupan SI-LMUK antara lain meliputi aspek pemasaran, aspek teknis produksi, aspek finansial, aspek dampak ekonomi dan lingkungan. Saat ini pola pembiayaan yang dapat disajikan dalam sistem informasi ini sebanyak 37 pola pembiayaan usaha. 4. Sistem Penunjang Keputusan Untuk Investasi (SPKUI) Sistem ini merupakan pendamping SI-LMUK yang dapat membantu memudahkan pengguna apabila akan melakukan simulasi suatu usaha. Simulasi dilakukan dengan mengganti besarnya data kuantitas/volume dan atau nilai dalam komponen yang tercantum dalam analisa keuangan pada lending model antara lain asumsi yang digunakan, misalnya kebutuhan biaya investasi/pembiayaan, laba-rugi, dan arus kas. Melalui sistem ini pengguna dapat menghitung secara otomatis dan cepat besarnya pembiayaan suatu komoditas dalam lending model. Dengan simulasi perhitungan dimaksud diharapkan pengguna segera memperoleh gambaran kelayakan finansial suatu usaha

174

Perbankan dan Lembaga Keuangan Lain

sesuai dengan kondisi/waktu dan daerah komoditas tersebut. 5. Sistem Informasi Prosedur Memperoleh Kredit (SI-PMK). Merupakan suatu informasi kepada calon nasabah tentang tata cara/prosedur dalam mengajukan permohonan kredit kepada bank. Dengan adanya sistem informasi ini diharapkan dapat membantu pengguna/calon debitur mengetahui prosedur secara umum untuk

permohonan kredit dari bank, meskipun pada dasarnya masing-masing bank mempunyai tatacara sendiri permohonan kredit seperti formulir permohonan dan persyaratan lainnya. Cakupan sistem informasi ini antara lain meliputi informasi mengenai pengertian kredit, fungsi kredit, manfaat kredit, manajemen kredit, jenis kredit prosedur memperoleh kredit, dan analisis kelayakan usaha dengan menggunakan rasiorasio keuangan calon debitur.

175

Sistem Pembayaran Nasional

bab 9 SISTEM PEMBAYARAN NASIONAL

176

Sistem Pembayaran Nasional

bab 9

SISTEM PEMBAYARAN NASIONAL

D

alam rangka untuk memenuhi tujuan Bank Indonesia sebagaimana tertuang dalam

kebutuhan masyarakat akan uang kartal seiring dengan meningkatnya peranan usaha kecil mengah dan sektor informal dalam perekonomian Indonesia yang lebih banuak menggunakan pebiayaan sendiri dibandingkan dengan pembiayaan dari sektor perbankan. Selain itu kenaikan kebutuhan masyarkat juga dalam rangka menghadapi bulan Ramadhan, Hari Raya Idul Fitri, Hari Natal dan tahun baru 2002 yang waktunya saling berdekatan. Di samping itu, dalam rangka standarisasi ukuran uang kertas rupiah dan peningkatan pengamanannya, Bank Indonesia telah menerbitkan uang kertas pecahan Rp5.000 dengan desain baru serta ukuran lebar yang sama dengan uang kertas pecahan Rp1.000 dan uang plastik pecahan Rp100.000. Selanjutnya, dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap uang pecahan kecil (Rp5.000 ke bawah), telah dikembangkan pilot project kerjasama dengan pihak ketiga untuk pendistribusian uang pecahan kecil di Jakarta. Dengan kebijakan ini, masyarakat dapat menukarkan uang pecahan kecil yang dibutuhkan kepada pihak ketiga dimaksud yang beroperasi pada pusat-pusat keramaian, tanpa dipungut biaya. Selain itu, Bank Indonesia juga melakukan kerjasama dengan beberapa perguruan tinggi negeri yaitu Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) dan

Undang-Undang No.23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia yaitu mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah, diperlukan suatu sistem pembayaran nasional yang efisien, cepat, aman dan handal dalam mendukung efektivitas pelaksanaan kebijakan moneter serta mendukung pengembangan sistem perbankan yang sehat. Untuk mewujudkan arah kebijakan tersebut, telah ditempuh berbagai kebijakan dibidang sistem pembayaran baik tunai (kartal) maupun non tunai (giral). Dalam tahun 2001 kebijakan dalam sistem pembayaran tunai mencakup langkah Bank Indonesia untuk meningkatkan pelayanan perkasan kepada perbankan, meningkatkan pendistribusian uang pecahan kecil kepada masyarakat bekerjasama dengan pihak ketiga, serta mengeluarkan uang kertas emisi baru dengan disain dan ukuran yang sesuai dengan standar Bank Indonesia. Sementara dibidang sistem pembayaran non tunai, kebijakan diarahkan pada pengurangan resiko pembayaran antar bank yang dapat mengganggu kestabilan keuangan, menunjang pelaksanaan kebijakan moneter, peningkatan kualitas dan kapasitas layanan sistem pembayaran, penyempurnaan ketentuan-ketentuan, serta pengaturan terhadap pengawasan sistem pembayaran.

KEBIJAKAN SISTEM PEMBAYARAN DALAM TAHUN 2001
Pada tahun 2001, Bank Indonesia meningkatkan penyediaan uang untuk memenuhi kenaikan

Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta untuk melakukan penelitian potensi tanaman Indonesia yang dapat digunakan sebagai alternatif bahan baku

177

Sistem Pembayaran Nasional

pembuatan kertas uang, sehingga diharapkan nantinya dapat mengurangi ketergantungan impor dan meningkatkan efisiensi Bank Indonesia. Selanjutnya dalam rangka meningkatkan pelayanan perkasan kepada masyarakat, Bank Indonesia telah menerapkan Otomasi Administrasi Perkasan dan Sistem Informasi Pengedaran Uang, sehingga kegiatan perkasan di Kantor Pusat dapat dilakukan secara online. Berkenaan dengan pemalsuan uang rupiah, Bank Indonesia telah mengambil langkah preventif maupun represif untuk menanggulanginya. Langkah preventif yang telah dilakukan antara lain adalah menyempurnakan desain uang serta meningkatkan penggunaan unsur-unsur pengaman pada pencetakan uang rupiah yang baru. Selain itu, Bank Indonesia juga menyebarluaskan ciri-ciri keaslian uang rupiah, menyebarluaskan poster dan sticker mengenai cara mudah mengenali uang rupiah, meningkatkan kegiatan penataran serta mempersiapkan penayangan iklan layanan masyarakat di media televisi bekerjasama dengan Kepolisian RI. Upaya lain yang telah dilakukan adalah dengan meningkatkan koordinasi bersama unsur-unsur terkait yang tergabung dalam Badan Kordinasi Pemberantasan Uang Palsu (Botasupal). Sementara itu, upaya represif dilakukan melalui koordinasi dengan instansi terkait dalam melakukan penangkapan dan pemrosesan ke pengadilan terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam pemalsuan uang rupiah. Namun demikian, keberadaan uang palsu tersebut masih tetap ditemukan di tahun 2001, meskipun dengan jumlah yang lebih kecil dibandingkan dengan tahun sebelumnya, tetapi dengan kualitas yang relatif lebih baik seiring dengan

berkembangnya teknologi misalnya komputer dan scanner. Berkenaan dengan sistem pembayaran bukan tunai, sistem Bank Indonesia – Real Time Gross Settlement (BI-RTGS) sebagai suatu mekanisme setelmen pembayaran antar bank untuk transaksi nilai besar (High Value Payment) dan yang bersifat penting (urgent) telah diimplementasikan di 12 Kantor Bank Indonesia (KBI) yaitu Bandung, Surabaya, Denpasar, Samarinda, Balikpapan, Manado, Medan, Padang, Batam, Pekanbaru, Semarang dan Yogyakarta. Implementasi BI-RTGS di wilayah KBI tersebut selain ditujukan untuk memperlancar transfer dan aliran dana, juga ditujukan untuk mendukung terlaksananya program Centralized Settlement Account (CSA). Apabila sistem BI-RTGS telah diimplementasikan di seluruh wilayah KBI, maka setiap bank di Indonesia hanya akan memelihara satu rekening giro di Bank Indonesia. Pada akhir tahun 2001, jumlah rekening tiap bank yang dipelihara di Bank Indonesia telah menurun dari 38 rekening menjadi 26 rekening, yakni 1 rekening yang berada di RTGS Central Computer, yang merupakan gabungan dari rekening giro bank di Kantor Pusat Bank Indonesia dan 12 KBI yang telah mengimplementasikan sistem BI-RTGS, dan 25 rekening giro yang masih berada di sistem akunting di 25 KBI yang belum mengimplementasikan sistem BI-RTGS. Dengan adanya satu rekening giro untuk setiap bank di Bank Indonesia, maka pelaksanaan tugas dalam melakukan pemantauan ketaatan bank dalam memenuhi ketentuan pemenuhan Giro Wajib Minimum (GWM) dan pemantauan likuiditas bank terutama bagi bank-bank yang mengalami kesulitan

178

Sistem Pembayaran Nasional

likuiditas akan sangat terbantu. Dari sisi bank, pengelolaan satu rekening di Bank Indonesia tentu lebih mudah daripada pengelolaan 38 rekening. Sementara itu dalam rangka meningkatkan efisiensi dan efektifitas penyelenggaraan kliring secara elektronik dan otomasi, diperlukan suatu fasilitas yang mampu menyajikan informasi hasil penyelenggaraan kliring lokal secara dini, akurat, lengkap, aman, cepat dan dapat diakses melalui sistem informasi jarak jauh. Untuk mewujudkan hal tersebut, Bank Indonesia telah mengembangkan sarana penyampaian informasi yang dikenal dengan nama Sistem Informasi Kliring Jarak Jauh (SIKJJ). Sistem SIKJJ merupakan tindak lanjut dari kebijakan standardisasi sistem dan kelengkapan pendukung penyelenggaraan kliring yang dilaksanakan Bank Indonesia. Saat ini penyebaran informasi hasil kliring yang tersedia antara lain dilakukan dengan sarana Pusat Informasi Pasar Uang (PIPU) dan Terminal Peserta Kliring (TPK) - Sistem Kliring Elektronik Jakarta (SKEJ) yang dirasakan masih memiliki keterbatasan dalam penyediaan informasi posisi akhir hasil kliring. Pengembangan sistem SIKJJ dapat meningkatkan kualitas dan kapasitas layanan sistem pembayaran dan memenuhi kebutuhan informasi peserta kliring mengenai hasil perhitungan kliring secara lebih cepat, informatif dan tepat waktu. Dengan sistem SIKJJ, bank peserta kliring tidak hanya dapat mengakses data berupa hasil kliring hariannya melalui fasilitas internet, tapi tersedia pula berbagai informasi berkaitan dengan aktivitas penyelenggaraan kliring. Selama tahun 2001, pengembangan sistem SIKJJ telah mengalami tahap uji coba baik secara

internal Bank Indonesia maupun dengan pihak perbankan yang meliputi kegiatan yang bersifat menyeluruh mulai dari pendaftaran sampai dengan pengaksesan informasi. Untuk pertama kalinya, sistem ini diterapkan di KBI Surabaya pada bulan November 2001. Dipilihnya KBI Surabaya sebagai kantor pertama yang menerapkan sistem ini karena memiliki pangsa kliring terbesar setelah Jakarta dan Voice Kit yang dimiliki oleh KBI tersebut kondisinya sudah tidak dapat digunakan. Dalam rangka menciptakan keseragaman dan pengoperasian, pada akhir tahun 2001 telah disusun buku pedoman pengoperasian SIKJJ baik untuk Peserta maupun Penyelenggara yang memuat tata cara penggunaan seluruh fungsi menu. Selanjutnya, salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam proses kliring yaitu faktor keamanan data. Untuk memperpanjang usia penyimpanan data transaksi pada wilayah kliring, telah dilakukan penambahan suatu media simpan berupa CD Burner. Alat ini mampu menyimpan image warkat lebih dari 10 tahun sehingga dengan bertambahnya usia simpan data image akan mendukung pelaksanaan audit (eksternal dan internal) dan investigasi terhadap aktifitas kliring. Aplikasi sistem CD Burner akan dipasang di empat kantor yaitu Kantor Pusat (KP) Jakarta, Surabaya, Medan dan Bandung. Selama tahun 2001, aplikasi ini baru dipasang di KP Jakarta dan KBI Surabaya. Sementara untuk dua KBI lainnya yaitu KBI Medan dan Bandung direncanakan akan diterapkan pada tahun 2002 setelah penyelenggaraan kliring di kedua KBI tersebut dilakukan secara otomasi berbasis image. Selain itu, juga dilakukan penyempurnaan ketentuan serta pengaturan pengawasan sistem pembayaran, yang meliputi hal-hal sebagai berikut:

179

Sistem Pembayaran Nasional

1. Perubahan Peraturan Bank Indonesia (PBI) No.2/24/PBI/2000 tentang Hubungan Rekening Giro Antara Bank Indonesia dengan Pihak Ekstern Berdasarkan PBI No.2/24/PBI/2000 pihak-pihak yang dapat membuka rekening giro di Bank Indonesia hanyalah Bank, Departemen Keuangan yang berkaitan dengan pelaksanaan APBN (budget) dan International Monetary Funds (IMF). Pembatasan pihak-pihak yang dapat membuka rekening giro di Bank Indonesia tersebut berdampak terhadap pelaksanaan tugas Bank Indonesia dalam kebijakan moneter, sistem pembayaran dan penyelesaian dana kredit likuiditas. Guna mengantisipasi timbulnya permasalahan yang dikarenakan adanya pembatasan tersebut diperlukan perluasan pihak ekstern yang dapat membuka rekening giro di Bank Indonesia. Dalam kaitan dengan hal tersebut pada tanggal 20 Juni 2001 dikeluarkan PBI No. 3/11/PBI/2001 yang memungkinkan bank, instansi pemerintah, lembaga keuangan internasional dan lembaga lain untuk membuka rekening giro di Bank Indonesia. 2. Penyusunan PBI tentang Penyelenggaraan Jasa Sistem Pembayaran dengan menggunakan Alat Pembayaran Non Tunai dan Jasa Pendukungnya Pasal 15 UU No.23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia menyatakan bahwa perizinan, pengaturan dan pengawasan jasa sistem pembayaran merupakan kewenangan Bank Indonesia. Pada saat ini terdapat sejumlah kewenangan yang berkaitan dengan jasa sistem pembayaran yang diatur oleh lembaga lain misalnya Departemen Keuangan. Selain itu rencana untuk membentuk

lembaga pengawasan jasa keuangan juga akan menimbulkan konsekuensi kewenangan dalam mengatur jasa-jasa sistem pembayaran. Kondisi seperti ini dikhawatirkan akan menimbulkan dualisme dalam pengaturan dan pengawasan, sehingga perlu diatur lebih tegas batas-batas kewenangan antar lembaga. Untuk mengatasi hal di atas, saat ini tengah disusun konsep PBI tentang Penyelenggaraan Jasa Sistem Pembayaran Dengan Menggunakan Alat Pembayaran Non Tunai dan Jasa Pendukungnya. 3. Pengaturan Pengawasan Sistem Pembayaran Dalam penjelasan umum UU No. 23 tahun 1999 dinyatakan bahwa Bank Indonesia juga diberikan kewenangan dan tanggung jawab untuk melakukan pengawasan jasa sistem pembayaran agar masyarakat luas dapat memperoleh jasa sistem pembayaran yang efisien, cepat, dan aman. Pengawasan sistem pembayaran ditujukan untuk mendorong terwujudnya sistem pembayaran yang aman dan efisien serta melindungi sistem keuangan (financial system) dari kemungkinan terjadinya efek domino yang dapat terjadi apabila peserta sistem pembayaran mengalami risiko kredit atau likuiditas. Untuk meminimalisasi atau mengeliminasi risiko sistemik yang mungkin timbul dari penyelenggaraan sistem pembayaran, tahun ini tengah dikaji dan disusun mekanisme pengawasan sistem pembayaran yang akan dilaksanakan secara menyeluruh yang dituangkan dalam naskah akademis mekanisme pengawasan sistem pembayaran nasional. Dengan adanya mekanisme pengawasan yang komprehensif, pengawasan sistem pembayaran dapat di-

180

Sistem Pembayaran Nasional

laksanakan secara lebih tepat dan terarah. Adapun cakupan bidang sistem pembayaran yang diatur mekanisme pengawasannya tidak hanya kegiatan kliring saja tapi juga jasa sistem pembayaran lainnya yaitu BI-RTGS, sistem pembayaran berbasis kartu (kartu ATM, kartu kredit, kartu debet dan kartu pra-bayar), serta jasa pendukungnya. 4. Penyusunan Pedoman Assesment terhadap Penyelenggaraan Sistem Kliring dan BI-RTGS Guna menjaga stabilitas keuangan, sistem pembayaran yang penting secara sistem (systemically important) perlu diberikan perlindungan terhadap resiko sistemik, karena gangguan terhadap sistem dapat mengganggu sistem keuangan domestik maupun internasional. Berpegang pada Core Principles for Systemically Important Payment Systems, yang dikembangkan oleh Bank for International Settlement , Bank Indonesia melakukan assessment terhadap pemenuhan Core Principles di atas pada sistem pembayaran yang diselenggarakan saat ini. Pada akhir tahun 2001 telah disusun pedoman assessment yang berguna untuk menilai kesesuaian penyelenggaraan sistem pembayaran dengan BIS Core Principles for Systemically Important Payment System. Pada tahap awal assesment ini dilakukan pada sistem kliring dan BI-RTGS. Diharapkan secara bertahap assessment ini juga akan dilakukan terhadap sistem pembayaran yang dilakukan oleh pihak lain di luar Bank Indonesia meskipun sistem tersebut belum memenuhi kategori systemically important. Hal ini ditujukan untuk menunjukan bahwa Bank Indonesia memiliki komitmen untuk

memenuhi prinsip-prinsip BIS Core Principles bagi penyelenggaraan sistem pembayaran di Indonesia.

PERKEMBANGAN ALAT-ALAT PEMBAYARAN
Sejalan dengan meningkatnya kegiatan ekonomi dalam tahun 2001, perkembangan alat-alat pembayaran tunai maupun bukan tunai menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Di samping itu, berdekatannya hari-hari besar keagamaan dan tahun baru menjadi faktor penyebab meningkatnya penggunaan kedua alat pembayaran tersebut di atas.

Alat Pembayaran Tunai
Posisi Uang kartal Yang Diedarkan (UYD) sepanjang tahun 2001 cenderung meningkat. Posisi UYD akhir Desember 2001 mencapai Rp 91,3 triliun atau meningkat 1,76% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang hanya sebesar Rp 89,7 triliun. Sementara itu, rata-rata posisi UYD akhir bulan pada tahun 2001 mencapai Rp 77,0 triliun atau naik 18,48% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 65,0 triliun. Kenaikan UYD ini secara umum dipengaruhi oleh tingginya permintaan masyarakat terhadap uang kartal untuk memenuhi kebutuhan yang terus meningkat seiring dengan perkembangan ekonomi nasional. Ditinjau dari besarnya kenaikan UYD, kenaikan yang cukup besar terjadi pada bulan November dan Desember 2001 berkaitan dengan adanya penarikan yang cukup besar dari masyarakat dalam rangka menghadapi bulan Ramadhan, Hari Raya Idul Fitri, Hari Natal dan tahun baru 2002 yang waktunya saling berdekatan.

181

Sistem Pembayaran Nasional

Dilihat dari jenis uangnya, perbandingan antara uang kertas dan uang logam pada tahun 2001 tidak banyak mengalami perubahan, yaitu sebesar

Tabel 9.2 Perkembangan Jumlah Uang yang Dimusnahkan/PTTB
Jenis Pecahan Periode 100.000 50.000 20.000 10.000 5.000 870 2.199 749 2.247 2.789 7.363 3.615 8.301 2.103 3.506 20.645 12.473 42.940 13.360 15.092 9.637 1.000 500 385 407 474 564 428 362 261 144 100 Jumlah 66 56 50 36 15 6 10 20 13.003 9.889 22.035 24.099 14.187 48.333 66.765 33.362

98% untuk uang kertas dan 2% untuk uang logam. Sementara itu, bila dilihat dari pecahannya, posisi UYD tersebut didominasi oleh pecahan Rp 100.000 dan Rp 50.000 dengan pangsa masing-masing mencapai 41,35% dan 28,90% dari total UYD. Dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap uang kartal, pada tahun 2001 Bank Indonesia melakukan pengadaan uang sebanyak 4,0 milyar bilyet uang kertas senilai Rp48,1 triliun dan 1,7 milyar keping uang logam senilai Rp0,4 triliun. Sebagian besar dari pengadaan uang ini digunakan untuk mengganti uang lusuh yang dimusnahkan yaitu sekitar Rp33,4 triliun, dan sisanya untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan perekonomian serta menambah persediaan uang kartal Bank Indonesia. Hasil cetak yang diterima dari Perum Peruri sampai dengan Desember 2001 adalah senilai Rp41,3 triliun atau 85,15% dari total pengadaan uang. Meskipun jumlah pengadaan uang yang terealisasi sebesar 85,15%, posisi kas Bank Indonesia akhir tahun 2001 masih cukup aman yaitu Rp 34,1 triliun atau mampu memenuhi lebih dari 2 bulan rata-rata permintaan masyarakat.
1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001

0 51 354

Miliar Rp. 6.345 2.214 924 3.920 1.615 894 8.618 1.726 1.016 8.440 1.866 1.277 5.046 2.209 882 10.582 3.461 805 6.872 2.404 867 5.144 2.329 642

Selain menyediakan uang dalam jumlah yang cukup, Bank Indonesia juga senantiasa menjaga agar kualitas uang yang dipegang masyarakat terjaga kualitasnya dengan cara melakukan “clean money policy” yaitu menarik dan memusnahkan uang yang tidak layak edar atau Pemberian Tanda Tidak Berharga (PTTB) serta mengganti uang yang dimusnahkan tersebut. Jumlah PTTB tahun 2001 sebesar Rp 33,4 triliun atau turun 50,00% dengan tahun sebelumnya yang mencapai Rp 66,8 triliun. Penurunan PTTB ini terutama disebabkan adanya penerapan kebijakan mengurangi jumlah (pengetatan) PTTB untuk pecahan Rp 50.000 dan Rp 20.000. Secara nominal, PTTB terbesar adalah untuk pecahan Rp50.000 yaitu sebesar 45,24% dari total PTTB, kemudian diikuti oleh pecahan Rp20.000 sebesar 28,89% dan Rp10.000 sebesar 15,42%. Adapun dilihat dari jumlah lembar (bilyet), PTTB

Tabel 9.1 Perkembangan Posisi Uang Kartal yang Diedarkan (UYD)
Rincian Des 1997 Des 1998 Des 1999 Triliun Rp. Des 2000 Des 2001

terbesar adalah untuk pecahan Rp1.000 sebesar 22,16%, kemudian diikuti oleh pecahan Rp10.000 sebesar 17,75% dan Rp 20.000 sebesar 16,62%.

Uang Yang Diedarkan Uang Kertas Uang Logam

33,6 32,9 0,7

48,5 47,5 1,0

72,6 71,2 1,4

89,7 87,9 1,8

91,3 89,6 1,7

Perkembangan Aliran Uang Masuk/Keluar dan Posisi Kas
Aliran uang masuk (inflow) secara nasional cenderung berfluktuasi. Rata-rata bulanan inflow pada

182

Sistem Pembayaran Nasional

tahun 2001 adalah sebesar Rp15,4 triliun atau naik 24,48% dibandingkan dengan rata-rata bulanan inflow pada tahun 2000 yang tercatat sebesar Rp12,3 triliun. Sementara itu, rata-rata bulanan aliran uang keluar (outflow) pada tahun 2001 mencapai Rp15,6 triliun atau meningkat 13,55% dibandingkan rata-rata bulanan outflow tahun 2000 yang mencapai Rp13,7 triliun. Berdasarkan perkembangan inflow - outflow di atas, secara nasional pada tahun 2001 terjadi net outflow sebesar Rp1,8 triliun atau rata-rata Rp0,15 triliun/bulan. Sementara itu, bila dilihat dari masingmasing Kantor Bank Indonesia (KBI), hampir seluruh KBI di luar Jawa mengalami net outflow, sedangkan KBI di Jawa kecuali Jakarta mengalami net inflow. Hal ini terutama disebabkan aktifitas pengeluaran/ belanja masyarakat sebagian besar mengalir ke Jawa. Posisi kas BI pada akhir tahun 2001 sebesar Rp34,1 triliun atau naik 22,91% dibandingkan dengan posisi kas pada akhir tahun 2000 yang tercatat sebesar Rp27,7 triliun. Peningkatan posisi kas ini disebabkan oleh menurunnya jumlah uang yang dimusnahkan (PTTB) sebagai dampak dari kebijakan mengurangi jumlah (pengetatan) PTTB untuk pecahan Rp50.000 dan Rp20.000.
Grafik 9.2 Perkembangan Posisi Kas
Triliun Rp 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0

2000

1999

2001

Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Ags

Sep

Okt

Nov

Des

Perkembangan Jumlah Temuan Uang Palsu
Penemuan uang palsu yang berasal dari laporan bank-bank, Kepolisian RI dan Bank Indonesia, untuk periode Januari sampai dengan November 2001 sebanyak 97.642 bilyet (senilai Rp3,88 milyar). Dari jumlah tersebut, penemuan terbesar adalah untuk pecahan Rp50.000 yaitu 65.307 bilyet (66,88%), diikuti pecahan Rp20.000,

Triliun Rp

sebanyak 25.305 bilyet (25,92%). Jumlah penemuan
30 25 20 15 10 5 0 Jan. Feb. Mar. Apr. Mei Jun. Jul. 2001 Ags. Sept. Okt. Nov. Des. Aliran Uang Masuk Aliran Uang Keluar

uang palsu tersebut menurun 30,31% dibandingkan dengan jumlah temuan uang palsu pada periode yang sama tahun 2000, yaitu dari 322.108 bilyet menjadi 97.642 bilyet. Sebagian besar uang palsu yang ditemukan adalah uang palsu yang belum sempat beredar di masyarakat, dan merupakan hasil penangkapan oleh Kepolisian RI. Data dari bulan Januari sampai de-

Grafik 9.1 Perkembangan Aliran Uang Masuk/Keluar

ngan November 2001 menunjukkan bahwa 63,42% uang palsu yang ditemukan adalah berasal dari lapo-

183

Sistem Pembayaran Nasional

Tabel 9.3 Perkembangan Penemuan Uang Palsu Per Pecahan Tahun 1994 – 2001
Jenis Pecahan Periode 100.000 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 Jumlah – – – – – – – 425 425 50.000 14 74 128 16.392 107.520 89.137 282.424 65.307 560.996 Bilyet 20.000 2.340 5.349 5.379 139.938 9.758 100.536 24.993 25.305 313.598 10.000 1.925 7.224 9.904 82.274 59.633 26.053 12.836 6.317 206.166 5.000 624 403 2.537 234 754 224 1.855 288 6.919 Jumlah 4.903 13.050 17.948 238.838 177.665 215.950 322.108 97.642 1.088.104

Tabel 9.5 Rasio uang Palsu Terhadap UYD

Jenis Pecahan Periode 100.000 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 50.000 Bilyet 20.000 10.000 5.000

0,0000001 0,0000070 0,0000030 0,0000020 0,0000010 0,0000140 0,0000090 0,0000010 0,0000010 0,0000110 0,0000140 0,0000080 0,0000970 0,0002500 0,0000920 0,0000000 0,0002840 0,0000140 0,0000620 0,0000010

0,0000000 0,0001240 0,0001230 0,0000350 0,0000004 0,0000000 0,0005150 0,0000360 0,0000210 0,0000030 0,0000011 0,0001619 0,0000466 0,0000105 0,0000005

ran Kepolisian RI sedangkan sisanya berasal dari laporan bank-bank. Meskipun jumlah uang palsu yang ditemukan pada tahun 2001 menurun dibandingkan tahun 2000, Bank Indonesia tetap meningkatkan kerjasama dengan instansi terkait dalam upaya memberantas peredaran uang palsu tersebut antara lain dengan Botasupal. Bank Indonesia juga mengedarkan poster dan sticker mengenai cara mudah mengenali uang Rupiah serta mempersiapkan pembuatan iklan layanan masyarakat di media televisi bekerjasama dengan Kepolisian RI.

Selanjutnya, Bank Indonesia juga senantiasa meningkatkan unsur-unsur pengaman (security features) pada setiap uang kertas yang diterbitkan dan meningkatkan kegiatan sosialisasi pengenalan keaslian uang Rupiah kepada masyarakat. Selama tahun 2001 telah dilakukan 47 kali penyuluhan, yang diikuti oleh siswa sekolah, guru-guru, tokoh masyarakat, kasir, karyawan hotel, dan kepolisian. Selain upaya yang bersifat preventif tersebut, Bank Indonesia menerapkan upaya represif dengan melakukan koordinasi dan kerjasama dengan instansi terkait dalam melakukan penangkapan dan pemrosesan ke pengadilan terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam

Tabel 9.4 Pangsa Penemuan Uang Palsu Menurut Sumber Laporan Periode 1997 1998 1999 2000 20011)
1) Data s.d. November 2001

pemalsuan uang rupiah. Namun demikian, keberadaan uang palsu tersebut masih tetap ditemukan di tahun 2001, meskipun dengan jumlah yang lebih kecil dibandingkan dengan tahun sebelumnya tetapi dengan kualitas teknik pemalsuan yang relatif lebih canggih

Kepolisian RI Persen 92,89 84,36 80,39 83,58 70,29

Bank

7,11 15,46 19,61 16,42 29,71

seiring dengan berkembangnya teknologi (misalnya dengan menggunakan komputer dan scanner). Apabila dibandingkan dengan uang kartal yang diedarkan (UYD), ratio uang palsu tahun 2001 rata-

184

Sistem Pembayaran Nasional

rata 36 lembar per satu juta lembar UYD (0,0036%). Adapun perkembangan rasio antara uang palsu dengan UYD adalah sebagaimana pada Tabel 9.5.

rata-rata transaksi per hari sebanyak 3.996 (Grafik 9.4). Peningkatan ini terjadi karena makin luasnya cakupan wilayah implementasi sistem BI-RTGS sehingga semakin besar pula minat pengguna jasa

Alat Pembayaran Bukan Tunai Perkembangan Transaksi RTGS
Pada tahun 2001, jumlah transaksi yang diproses melalui sistem BI-RTGS secara nominal menunjukan perkembangan yang relatif stabil yaitu dengan rata-rata volume transaksi Rp43,4 triliun per hari (Grafik 9.3). Namun bila dilihat dari perkembangan jumlah transaksi yang diproses melalui sistem ini, memperlihatkan adanya peningkatan yaitu dengan
Trilliun Rp.

sistem pembayaran terhadap sistem ini.

Perkembangan Transaksi Kliring
Sampai dengan akhir Desember 2001, nominal kliring penyerahan secara nasional menunjukan penurunan sebesar 72,1 % dibandingkan tahun sebelumnya, dari Rp7.305 triliun menjadi Rp. 2.035 triliun. Penurunan volume transaksi kliring tersebut diikuti pula dengan penurunan jumlah warkat yang diproses
Triliun Rp 8.000 7.000 6.000 5.000 4.000 3.000 2.000 1.000
Nominal

160 140 120 100 80 60 40 20 30 13 27 10 24 10 24 7 21 5 19 2 16 30 14 28 11 25 8 22 6 20 3 17 1 15 29 Des. Jan. Feb. Mar. Apr. Mei Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov. Des.

0 1998 1999 2000 2001

2000

2001

Grafik 9.3 Perkembangan Volume Transaksi BI-RTGS
Transaksi 12.000 10.000 8.000 6.000 4.000

Grafik 9.5 Perputaran Kliring Secara Nasional (Nominal)
Lembar

100.000 90.000 80.000 70.000 60.000 50.000 40.000 30.000 20.000 10.000 0 1998 1999 2000 2001
Lembar

2.000 30/12 2000

28/2

30/4

30/6 2001

30/8

30/10

30/12

Grafik 9.4 Perkembangan Jumlah Transaksi BI-RTGS

Grafik 9.6 Perputaran Kliring Secara Nasional (Lembar)

185

Sistem Pembayaran Nasional

melalui kliring yaitu sebesar 3 % dari 73.704 ribu lembar
Trilin Rp

pada tahun 2000 menjadi 71.616 pada tahun 2001. Turunnya perputaran kliring baik dari sisi nominal

250 Kartu Kredit Kartu Debet ATM

200

maupun jumlah transaksi terjadi karena bergesernya penyelesaian transaksi nominal besar (High Value) yang semula melalui kliring beralih ke sistem BI-RTGS.
150

100

50

Perkembangan Alat Pembayaran Berbasis Kartu
0

Pada tahun 2001, terjadi peningkatan aktivitas pengunaan alat pembayaran berbasis kartu yaitu kartu kredit, kartu debet, dan ATM. Meningkatnya jumlah transaksi penggunaan ketiga jenis kartu tersebut diikuti pula dengan meningkatnya nilai transaksi. Dari ketiga
Unit 10.000

1998

1999

2000

2001

Grafik 9.8 Nilai Transaksi Kartu Kredit/Kartu Debet/ATM

Jumlah Mesin ATM

jenis kartu di atas, penggunaan kartu ATM menunjukan peningkatan terbesar dibanding 2 jenis kartu lainnya dimana nilai transaksi melalui ATM meningkat sebesar 17,4 % (dari Rp. 153,6 Trilyun menjadi Rp. 180,3 Trilyun) sementara nilai transaksi kartu kredit meningkat sebesar 13,9 % (dari Rp13,6 triliun menjadi Rp15,5 triliun) dan kartu debet meningkat sebesar 10,6 % (dari Rp4,7 triliun menjadi Rp5,2 triliun). Meningkatnya jumlah transaksi melalui ATM diantaranya dipicu oleh makin luasnya jaringan ATM di Indonesia yang ditunjukkan dengan meningkatnya jumlah mesin ATM sebesar 16,4% atau sebanyak
Ribuan Transaksi 600.000 500.000 400.000 300.000 200.000 100.000 0 1998 1999 2000 2001
Kartu Kredit Kartu Debet ATM

5.000

0

1998

1999

2000

2001

Grafik 9.9 Jumlah Mesin ATM

6.767 mesin pada tahun 2000 menjadi 7.878 mesin pada tahun 2001.

RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN NASIONAL Sistem Pembayaran Tunai Melakukan penelitian tentang pengecualian terhadap kewajiban penggunaan uang rupiah dalam rangka penyusunan PBI
Sebagaimana amanat Undang-Undang No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia perlu diatur

Grafik 9.7 Jumlah Transaksi Kartu Kredit/Kartu Debet/ATM

186

Sistem Pembayaran Nasional

daerah dan jenis transaksi tertentu yang dapat dikecualikan dari kewajiban penggunaan uang rupiah. Untuk itu, dalam tahun 2002, Bank Indonesia akan melakukan kajian terhadap transaksi-transaksi yang perlu dikecualikan dari kewajiban penggunaan uang rupiah. Arti penting pengaturan pengecualian penggunaan rupiah di wilayah RI adalah guna memberikan kepastian hukum bagi masyarakat.

tersebut juga dilengkapi dengan peralatan untuk menguji keaslian uang yang diterima dari masyarakat dan Peruri, di samping dapat juga digunakan untuk menguji kualitas bahan uang.

Kajian standarisasi uang logam
Dalam rangka mendapatkan bahan logam uang yang secara ekonomis lebih rendah dari nilai nominalnya tetapi memiliki masa edar yang relatif

Menata kembali jalur distribusi uang
Dalam rangka memperlancar serta meningkatkan efisiensi dan efektifitas dalam distribusi uang, maupun untuk lebih menjamin ketersediaan uang di seluruh Kantor Bank Indonesia, pada tahun 2002 Bank Indonesia akan menata kembali jalur distribusi uang antara lain melakukan kajian terhadap posisi depot kas, sarana transportasi dan kapasitas khazanah.

lama, maka pada tahun 2002 akan dilakukan kajian terhadap alternatif komposisi kandungan bahan logam uang rupiah, di samping standarisasi ukuran uang logam dengan antara lain memperhatikan pengaruhnya terhadap sarana telepon umum koin.

Sistem Pembayaran Non Tunai
Untuk mendukung tercapainya kestabilan sistem keuangan dan efektifitas kebijakan moneter,

Menerapkan SIPU di KKBI untuk mendukung distribusi uang
Dalam rangka mendukung kegiatan-kegiatan dibidang pengedaran uang, seperti penyusunan rencana cetak, penyediaan stok uang dan kertas uang, sistim distribusi uang kertas/uang logam dan lain sebagainya, penerapan Sistem Informasi Pengedaran Uang (SIPU) akan dilanjutkan pada Kantor-Kantor Koordinator Bank Indonesia (KKBI), sehingga dapat terintegrasi dengan kantor pusat.

kebijakan sistem pembayaran yang akan dilakukan pada tahun 2002 adalah sebagai berikut.

Pengembangan Delivery Versus Payment (DVP)
Untuk menurunkan risiko setelmen di pasar modal, akan dilakukan pengembangan Delivery Versus Payment tahap pertama. Dengan adanya pengembangan ini akan terbentuk suatu integrasi sistem setelmen antara sisi pembayaran (payment leg) melalui sistem BI-RTGS dengan sisi penyerahan sekuritas (delivery leg) melalui sistem setelmen sekuritas.

Mendirikan laboratorium mini untuk menguji bahan uang
Dalam rangka untuk melihat kesesuaian kualitas uang yang dibeli dengan spesifikasi teknis yang ditetapkan, Bank Indonesia akan mendirikan laboratorium mini untuk menguji uang. Laboratorium

Pengembangan mekanisme pengawasan sistem pembayaran
Ditujukan untuk mendorong terwujudnya sistem pembayaran yang aman dan efisien serta menjaga stabilitas sistem keuangan dari kemungkinan

187

Sistem Pembayaran Nasional

terjadinya efek domino yang dapat terjadi apabila peserta sistem pembayaran mengalami risiko kredit dan risiko likuiditas.

Penyusunan peraturan mengenai penyelenggara jasa sistem pembayaran dengan menggunakan alat pembayaran non tunai dan jasa pendukungnya.
Pada saat ini terdapat sejumlah kewenangan yang berkaitan dengan penyelenggaraan jasa sistem pembayaran yang diatur oleh lembaga lain selain Bank Indonesia. Hal ini dikuatirkan akan menimbulkan dualisme kewenangan pengaturan dan pengawasan terhadap penyelenggara sistem pembayaran.Untuk itu tengah disusun konsep ketentuan yang mengatur koordinasi antar lembaga tersebut.

Penyusunan mekanisme untuk mengatasi kegagalan peserta kliring dalam penyelesaians setelmen (Failure to Settle Scheme).
Bank Indonesia saat ini tengah mempelajari kemungkinan penerapan suatu metode, dimana Bank Indonesia sebagai Bank Sentral tidak harus bertanggung jawab atas kekurangan dana bank untuk setelmen atas hasil kliringnya, namun kelancaran setelmen kliring tetap terjaga.

188

Sistem Pembayaran Nasional

boks

Sistem Bank Indonesia – Real Time Gross Settlement (BI-RTGS)
Kebijakan Bank Indonesia dibidang sistem pembayaran non tunai diarahkan pada pengurangan resiko pembayaran antar bank. Salah satu realisasi dari kebijakan tersebut adalah dikembangkannya suatu sistem setelmen berbasis gross dengan koneksi elektronis on line antara bank-bank dengan Bank Indonesia. Sistem ini dikenal dengan nama sistem Bank Indonesia-Real Time Gross Settlement (BIRTGS). Sistem BI-RTGS adalah proses penyelesaian akhir transaksi (settlement) pembayaran yang dilakukan per transaksi (individually processed/gross settlement) dan bersifat real time (electronically processed), dimana rekening bank peserta dapat didebit/dikredit berkali-kali dalam sehari sesuai dengan perintah pembayaran dan penerimaan pembayaran. Tersedianya sistem BI-RTGS dapat mendorong bank untuk dapat menjalankan manajemen likuiditas secara lebih baik. Dengan demikian penggunaan sistem BI-RTGS dapat menurunkan risiko-risiko sistem pembayaran yaitu risiko kredit (credit risk) dan resiko likuiditas (liquidity risk). Dengan c. sistem setelmen yang didasarkan pada kecukupan saldo rekening bank di Bank Indonesia, risiko kemungkinan kegagalan salah satu bank dalam memenuhi kewajibannya yang jatuh tempo yang dapat menyebabkan bank lain juga mengalami kesulitan likuiditas dapat dieliminir. Penggunaan sistem BI-RTGS dapat mengurangi risiko yang bersifat sistemik (systemic risk) melalui tiga cara yaitu: a. Penurunan secara signifikan intraday interbank exposure dapat mengurangi kemungkinan ketidakmampuan suatu bank dalam menutup kekurangan likuiditas karena bank lain tidak mampu memenuhi kewajibannya. b. Sistem BI-RTGS dapat mencegah terjadinya unwinding payment Waktu setelmen yang dilakukan setiap saat selama window time, memberikan waktu yang cukup bagi bank untuk menyelesaikan kesulitan likuiditasnya dengan cara meminjam dari bank lain atau menunggu incoming transfer dari bank lain.

189

Sistem Pembayaran Nasional

Sistem Pembayaran Nasional

boks

Mekanisme Transfer Dana Melalui BI-RTGS
Secara umum mekanisme transfer dana melalui sistem BI-RTGS dimulai dengan langkahlangkah sebagai berikut : 1. Bank pengirim menginput credit transfer ke dalam terminal RTGS di masing-masing bank untuk selanjutnya ditransmisikan ke RTGS Central Computer (RCC) di Bank Indonesia. 2. Selanjutnya, RCC memproses credit transfer dengan mekanisme sebagai berikut: i. Mengecek kecukupan saldo apakah saldo rekening giro bank pengirim lebih besar dari atau sama dengan nilai nominal credit transfer. ii. Jika saldo rekening giro bank pengirim mencukupi, akan dilakukan posting secara simultan pada rekening giro bank pengirim dan rekening giro penerima. iii. Jika saldo rekening giro bank pengirim tidak mencukupi, credit transfer tersebut akan ditempatkan dalam antrian di mesin RTGS sambil menunggu adanya incoming transfer yang mencukupi. 3. Informasi credit transfer yang telah diselesaikan (settled) akan ditransmisikan secara otomatis oleh RCC ke terminal RTGS bank penerima. Berdasarkan mekanisme tersebut di atas, dapat terjadi bahwa pada suatu waktu tertentu, saldo bank lebih kecil daripada nominal transaksi, maka transaksi yang akan di selesaikan masuk kedalam antrian. Hal ini tidak berarti bahwa bank tersebut mengalami kesulitan likuiditas, karena pada dasarnya bank tersebut berharap akan menerima incoming transfer dari bank lain beberapa saat kemudian. Yang terjadi hanyalah intraday gap antara outgoing transaction dengan incoming transaction pada suatu saat tertentu saja. Untuk mengatasi intraday gap ini diperlukan fasilitas pendukung berupa Fasilitas Likuiditas Intra-hari (FLI) yang berguna untuk memperlancar real time transaction.

190

190

Perekonomian Dunia dan Kerja Sama Internasional

bab 10 PEREKONOMIAN DUNIA DAN KERJA SAMA INTERNASIONAL

191

Perekonomian Dunia dan Kerja Sama Internasional

b a b 10

PEREKONOMIAN DUNIA DAN KERJA SAMA INTERNASIONAL

D

alam tahun laporan, kondisi perekonomian dunia ditandai dengan terjadinya perlambatan

Sejalan dengan melambatnya kegiatan ekonomi di berbagai kawasan, volume perdagangan dunia merosot tajam. Hal ini selanjutnya berakibat kepada turunnya harga berbagai komoditas —terutama komoditas primer seperti minyak mentah— di pasar internasional. Sebagai akibat dari merosotnya volume perdagangan dunia dan harga-harga komoditas tersebut, kinerja sektor eksternal negara-negara berkembang mengalami penurunan yang sangat berarti. Perkembangan ekonomi dunia pada tahun 2001 juga ditandai dengan meningkatnya risiko global

kegiatan ekonomi di berbagai kawasan. Melambatnya kegiatan ekonomi terutama terlihat di beberapa negara industri utama, yang memberikan sumbangan cukup besar terhadap terjadinya penurunan pertumbuhan ekonomi dunia dalam tahun 2001 (Tabel 10.1). Kegiatan ekonomi di negara-negara industri bahkan memperlihatkan kecenderungan yang semakin melambat pasca tragedi WTC 11 September 2001.

Tabel 10.1 Beberapa Indikator Ekonomi Dunia Indikator Pertumbuhan Ekonomi (%) Dunia Negara-negara industri Negara-negara berkembang Laju Inflasi (%) Negara-negara industri Negara-negara berkembang Volume Perdagangan Dunia (% pertumbuhan) Nilai Tukar USD/JPY EUR/USD Harga Perdagangan Dunia (% perubahan) Barang manufaktur Minyak mentah Komoditas primer nonmigas Suku Bunga LIBOR (%) US Dollar Japanese Yen Euro 1999 2000 2001*

(global risk) yang pada gilirannya mempengaruhi lalu lintas modal internasional khususnya ke negaranegara emerging market. Fenomena yang menonjol dari perpindahan dana selama tahun laporan adalah gejala flight to safety. Guna menghindari terjadinya resesi ekonomi yang sangat dalam, baik negara-

3,6 3,3 3,9 1,4 6,8 5,4 102,51 1,01

4,7 3,9 5,8 2,3 5,9 12,4 114,41 0,94

2,4 1,1 4,0 2,3 6,0 1,0 131,66 0,89

negara maju maupun negara-negara berkembang menempuh kebijakan moneter dan fiskal yang ekspansif yang dimungkinkan oleh tekanan inflasi yang relatif terkendali. Dengan berbagai kebijakan ekonomi yang ditempuh, pemulihan ekonomi dunia diperkirakan akan dimulai pada semester II tahun

-1,8 37,5 -7,0 5,5 0,2 3,0

-5,1 56,9 1,8 6,6 0,3 4,6

-1,7 -14,0 -5,5 3,8 0,2 4,1

2002. Berbagai permasalahan yang telah mewarnai perekonomian dunia sebagaimana diuraikan di atas, telah memperoleh perhatian yang sangat besar di berbagai forum kerja sama internasional. Di samping

Sumber : - IMF, World Economic Outlook, Desember 2001 - Bloomberg

untuk mencegah terjadinya resesi ekonomi global, berbagai forum tersebut juga membahas upaya-upaya

192

Perekonomian Dunia dan Kerja Sama Internasional

untuk mengatasi terjadinya krisis keuangan secara cepat dan efektif. Selain itu, pembahasan juga menitikberatkan pada upaya untuk meningkatkan kerja sama dalam memberantas sumber-sumber pembiayaan teroris. Misalnya, dalam pertemuan G-20 dan IMF Committee (IMFC)1 disepakati langkah-langkah yang harus dilakukan negara-negara anggota dalam upaya memberantas sumber pembiayaan teroris. Sementara itu, forum-forum lembaga keuangan internasional lainnya masih terus membahas upayaupaya reformasi sistem keuangan internasional dan mencegah terulangnya krisis keuangan dan sekaligus untuk menemukan cara-cara pemberian bantuan yang dapat mengatasi krisis ekonomi yang telah cukup lama dialami oleh beberapa negara berkembang. Di forum regional Asia, kerjasama untuk mencegah krisis tersebut diwujudkan dalam Asian Surveillance dan Bilateral Swap Arrangement.

AS sebagai lokomotif perekonomian dunia sehingga menurunkan permintaan secara global. Tragedi tersebut juga telah meningkatkan risiko keamanan global yang pada gilirannya menghambat kegiatan investasi. Dengan perkembangan tersebut, secara keseluruhan pertumbuhan ekonomi negara-negara industri diperkirakan hanya mencapai 1,1% dalam tahun laporan (Grafik 10.1). Seiring dengan melambatnya perekonomian negara-negara maju, pertumbuhan volume perdagangan dunia juga mengalami kemerosotan secara tajam dari 12,4% pada tahun 2000 menjadi hanya 1,0% pada tahun laporan. Merosotnya volume perdagangan dunia tersebut mengakibatkan turunnya harga berbagai komoditas, terutama minyak mentah yang mengalami penurunan harga sebesar 14% dalam tahun laporan. Harga minyak mentah dalam tahun laporan rata-rata mencapai $24,0 per barel dan sempat mencapai level terendah sebesar $18,0 per

PEREKONOMIAN DUNIA
Pertumbuhan ekonomi dunia dalam tahun 2001 hanya mencapai 2,4%, turun tajam dibandingkan dengan pertumbuhan tahun 2000 yang mencapai 4,7%. Menurunnya pertumbuhan ekonomi dunia tersebut terutama disebabkan oleh melambatnya pertumbuhan ekonomi di negara-negara industri , yang sudah mulai dirasakan sejak akhir tahun 2000. Harapan akan membaiknya perekonomian negara-negara industri di akhir tahun laporan menjadi sulit terwujud menyusul tragedi WTC 11 September 2001. Serangan teroris

barel pada akhir November tahun 2001. Sementara itu, harga komoditas primer nonmigas dan barang manufaktur mengalami penurunan masing-masing sebesar 5,5% dan 1,7% dalam periode yang sama.
Persen AS United Kingdom Jepang Jerman

8

6 4

2 0

terhadap Gedung WTC di New York, Amerika Serikat (AS) semakin memperlemah urat nadi perekonomian
-2 12 2 4 6 8 10 12 2 4 6 8 10 12 2 4 6 8 10 12 2 4 6 8 1997 1998 1999 2000 2001

1

Pertemuan IMFC dilakukan pada 17 November 2001 untuk menggantikan Sidang Tahunan IMF yang dibatalkan sehubungan tragedi WTC 11 September 2001.

Grafik 10.1 Pertumbuhan Ekonomi Negara-negara Industri Utama

193

Perekonomian Dunia dan Kerja Sama Internasional

Komoditas primer nonmigas yang mengalami penurunan tajam antara lain kopi, kapas, tembaga, aluminium, timah, dan nikel. Sebaliknya, harga emas justru meningkat disebabkan kenaikan permintaan dunia sehubungan dengan meningkatnya alternatif penanaman dana investasi dalam bentuk emas pasca tragedi WTC. Sementara itu, produk manufaktur yang mengalami penurunan harga yang tajam adalah produk semikonduktor sehingga nilai penjualan produk ini dalam tahun laporan hanya mencapai 20% dari nilai yang dicapai dalam tahun 2000. Melemahnya aktivitas perdagangan dunia tersebut menimbulkan tekanan yang cukup berarti terhadap kinerja perekonomian negara-negara berkembang dan industri baru, terutama negaranegara yang mempunyai ketergantungan tinggi terhadap kegiatan ekspor. Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang mencapai 4,0% dalam tahun laporan, turun dibandingkan 5,8% dalam tahun 2000. Menurunnya kegiatan ekspor merupakan faktor penyebab utama melambatnya pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang, bahkan beberapa negara industri baru mengalami kontraksi ekonomi. Hal ini dialami oleh

laju inflasi di negara-negara industri maju relatif stabil dan tidak mengalami perubahan dibandingkan tahun sebelumnya, yaitu sebesar 2,3% (Grafik 10.2). Sementara itu, laju inflasi di negara-negara berkembang mencapai 6,0%, sedikit meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 5,9%. Relatif stabilnya laju inflasi tersebut telah memberikan ruang gerak bagi sejumlah negara maju dan berkembang untuk menempuh kebijakan moneter dan fiskal yang ekspansif guna mencegah terjadinya resesi ekonomi yang sangat dalam. Kebijakan moneter ekspansif yang ditempuh bank sentral di negara-negara maju diharapkan akan menstimulasi kegiatan ekonomi. Di Amerika Serikat, penurunan suku bunga ditujukan untuk menstimulasi konsumsi dan investasi domestik terutama setelah tragedi WTC. Di Jepang, kebijakan suku bunga yang diarahkan mendekati nol persen dimaksudkan untuk mendukung proses pemulihan ekonomi Jepang yang sudah dilanda resesi ekonomi selama lebih dari 10 tahun terakhir. Sementara itu di kawasan Euro, penurunan suku bunga tidak terlalu agresif karena

Persen

Singapura dan Hong Kong yang masing-masing mencatat kontraksi ekonomi sebesar 2,9% dan 0,3% dalam tahun laporan akibat menurunnya ekspor masingmasing sebesar 19,6% dan 10,4% dalam periode yang sama. Masih tingginya pertumbuhan ekonomi negaranegara berkembang tersebut terutama ditopang oleh

5 4 3 2 1 0 -1 AS Jepang U.K Jerman

pertumbuhan ekonomi RRC yang masih tetap tinggi meskipun sedikit menurun. Melambatnya pertumbuhan ekonomi dan perdagangan dunia mengakibatkan berkurangnya tekanan inflasi secara global. Dalam tahun laporan,

-2 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1997 1998 1999 2000 2001

Grafik 10.2 Perkembangan Inflasi Negara-negara Industri Utama

194

Perekonomian Dunia dan Kerja Sama Internasional

laju inflasi di kawasan tersebut masih di atas target Bank Sentral Eropa (ECB). Bagi negara-negara berkembang, kebijakan moneter pada umumnya masih bervariasi bergantung kepada kondisi laju inflasi dan permasalahan domestik yang dihadapi. Kompleksitas permasalahan yang dihadapi oleh negara-negara berkembang seringkali menimbulkan dilema, tidak saja dalam pelaksanaan kebijakan moneter tetapi juga dalam pelaksanaan kebijakan fiskal. Permasalahan keuangan pemerintah telah mendorong beberapa negara mengambil kebijakan ekonomi yang lebih mengutamakan kepentingan negara bersangkutan sebagaimana dilakukan Argentina yang telah terperosok ke dalam krisis ekonomi dan sosial. Eskalasi krisis ekonomi yang dialami Argentina menjelang akhir tahun 2001 terutama dipicu oleh kegagalan pemerintah untuk mengendalikan defisit anggaran dan melakukan pembayaran utang luar negeri yang jatuh tempo sehubungan dengan menurunnya penerimaan pajak dan ekspor Argentina. Kebijakan ekonomi yang ekspansif pada gilirannya juga membawa implikasi terhadap perkembangan pasar keuangan internasional. Kombinasi kebijakan moneter dan fiskal yang ekspansif di beberapa negara telah menimbulkan optimisme terhadap proses pemulihan ekonomi sehingga dapat mencegah perekonomian tidak terperosok ke dalam krisis berkepanjangan. Gelombang penurunan suku bunga benchmark yang dilakukan berbagai otoritas moneter telah mendorong penurunan suku bunga di pasar keuangan internasional sehingga diharapkan dapat menggairahkan kembali kegiatan ekonomi. Namun, langkahlangkah kebijakan tersebut ternyata belum berdampak signifikan terhadap pasar modal sebagaimana tercer-

min dari perkembangan indeks harga saham dunia yang secara umum cenderung menurun dalam periode laporan. Aktivitas perdagangan di bursa saham dunia masih lebih banyak diwarnai oleh kondisi ekonomi dunia yang secara keseluruhan masih lesu dan meningkatnya ketidakpastian yang bersumber dari ketidakjelasan arah dan prospek pemulihan ekonomi global.

Amerika Serikat
Setelah mengalami ekspansi perekonomian yang berkesinambungan dalam sepuluh tahun terakhir, sejak awal tahun 2000 perekonomian Amerika Serikat mulai menunjukkan gejala perlambatan. Pada tahun laporan, perlambatan ekspansi perekonomian Amerika Serikat semakin jelas dan diperkirakan hanya tumbuh 1,0%, jauh lebih rendah dibandingkan pertumbuhan tahun sebelumnya yang mencapai 4,1%. Sejalan dengan melemahnya kegiatan ekonomi, laju inflasi turun dari 3,4% pada tahun 2000 menjadi 2,9% pada tahun 2001. Melambatnya kegiatan ekonomi AS dalam tahun 2001 terutama tercermin dari kemerosotan yang cukup berarti pada sektor konsumsi (tumbuh 3,03%) dan investasi swasta (turun 7,99%), yang selama ini telah menjadi penyumbang terbesar terhadap tingginya

pertumbuhan ekonomi AS dalam kurun waktu yang cukup panjang. Melambatnya ekspansi ekonomi AS juga tercermin dari kinerja beberapa indikator ekonomi penting di sektor riil seperti penjualan eceran dan perumahan yang menunjukkan perlambatan yang cukup berarti sepanjang tahun laporan, sedangkan tingkat pengangguran menunjukkan peningkatan. Menurunnya kegiatan konsumsi dan investasi swasta tersebut dipengaruhi oleh semakin rendahnya tingkat keyakinan konsumen dan dunia

195

Perekonomian Dunia dan Kerja Sama Internasional

Persen 7,5 7,0 6,5 6,0 5,5 5,0 4,5 4,0 3,5 3,0 2,5 2,0 1,5 1,0

Dalam upaya mencegah terjadinya kontraksi ekonomi yang sangat dalam, sepanjang tahun 2001
Fed Fund Rate Efektif

Federal Reserve menempuh kebijakan moneter yang ekspansif dengan melakukan pemangkasan tingkat suku bunga Fed Fund yang ditargetkan sebanyak 11
Fed Fund Rate yang ditargetkan

kali hingga mencapai 1,75% (Grafik 10.3). Selain itu, pemerintah AS menempuh kebijakan fiskal yang ekspansif melalui pemotongan pajak dan pem-

4/30 6/30 8/31 10/29 12/31 2/29 4/28 6/30 8/31 10/31 12/30 2/28 4/30 6/12 8/31 10/31 12/31

1999

2000

2001

bangunan prasarana guna menstimulasi permintaan domestik.

Grafik 10.3 Perkembangan Suku Bunga Fed Fund

Eropa Barat
usaha, yang berakibat pada penundaan dan pengurangan pengeluaran konsumsi dan investasi. Semakin rendahnya tingkat keyakinan konsumen dan dunia usaha tidak terlepas dari memburuknya kinerja pasar modal di AS, terutama pasar saham yang selama ini telah menjadi fondasi yang cukup penting dalam menggerakkan roda perekonomian di berbagai sektor. Sepanjang tahun laporan, kinerja pasar saham di AS mengalami kemerosotan yang tajam sehingga berdampak terhadap menurunnya nilai kekayaan sebagian masyarakat di AS dan pada gilirannya mengurangi minat masyarakat dan dunia usaha untuk melakukan konsumsi dan investasi (negative wealth effect). Merosotnya harga saham tersebut terutama dipicu oleh terjadinya penilaian yang berlebihan (overvaluation) terhadap saham-saham internet (perusahaan dot-com) dan semakin diperburuk menyusul terjadinya tragedi WTC, meskipun menjelang akhir tahun kembali meningkat. Indeks saham Dow Jones (DJIA) sepanjang tahun 2001 merosot 7,10%, sementara indeks saham lainnya seperti NASDAQ, S&P 500 merosot masing-masing sebesar 21,05% dan 13,04 %. Melambatnya perekonomian AS telah berdampak besar terhadap melambatnya kinerja ekonomi negara-negara di kawasan Euro yang sebagian besar merupakan mitra dagang AS. Selama tahun laporan, pertumbuhan ekonomi negara-negara di kawasan Euro diperkirakan mencapai 1,5%, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi yang dicapai pada tahun sebelumnya sebesar 3,4%. Melambatnya ekspansi perekonomian Euro terutama terjadi pada tiga kekuatan ekonomi terbesar yaitu Jerman, Perancis, dan Italia. Pada tahun 2001 perekonomian Jerman diperkirakan hanya tumbuh 0,5% merosot tajam dari pertumbuhan 3,0% yang dicapai pada tahun 2000. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Perancis dan Italia diperkirakan melambat masing-masing menjadi hanya 2,1% dan 1,8% pada tahun 2001 dibandingkan pertumbuhan sebesar 3,5% dan 2,9% pada tahun 2000. Melemahnya kegiatan ekonomi di kawasan Euro terutama disebabkan oleh memburuknya kinerja sektor eksternal dan melemahnya konsumsi dan investasi swasta domestik. Sebagai akibat dari melemahnya kegiatan investasi swasta, gelombang pemutusan hubungan kerja oleh dunia

196

Perekonomian Dunia dan Kerja Sama Internasional

usaha cenderung meningkat, yang berakibat pada terjadinya peningkatan tingkat pengangguran. Sebaliknya, di tengah-tengah terjadinya perlambatan kegiatan ekonomi, laju inflasi di kawasan Euro masih memperlihatkan peningkatan. Dalam tahun laporan, tingkat inflasi mencapai 2,7%, lebih tinggi dibandingkatan laju inflasi tahun sebelumnya yang mencapai 2,4%. Meningkatnya laju inflasi di kawasan Euro terutama disumbang oleh kenaikan harga makanan dan bahan bakar serta efek tunda dari melemahnya mata uang euro sepanjang tahun 2000. Namun demikian, menjelang akhir tahun, tingkat inflasi turun dari 2,1% pada bulan November menjadi 2,0% di bulan Desember, pertama kalinya menyamai ceiling rate yang ditetapkan oleh Bank Sentral Eropa (ECB). Tingkat inflasi yang dicapai pada bulan Desember tersebut merupakan yang terendah dalam 19 bulan terakhir, terutama sebagai akibat dari jatuhnya harga minyak menjelang akhir tahun 2001. Hanya dalam kurun waktu 3 bulan dari September sampai dengan November 2001, harga minyak mentah Brent sebagai benchmark terhadap 2/3 pasokan minyak dunia, mengalami kejatuhan sebesar 35%. Perkembangan di atas memberikan ruang gerak bagi ECB untuk mendorong pemulihan perekonomian dengan memangkas tingkat suku bunga. Selama periode tahun laporan, ECB melakukan pemangkasan suku bunga sebanyak 4 kali atau sebesar 1,5% menjadi 3,5% sampai dengan akhir tahun 2001. Dibandingkan dengan kebijakan yang ditempuh Federal Reserve yang memangkas suku bunga sebanyak 11 kali, langkah pemangkasan suku bunga ECB tersebut tergolong konservatif dengan pertimbangan bahwa laju inflasi di zona Euro masih melampaui ceiling rate yang ditetapkan ECB sebesar

2,0%, bahkan mencapai puncaknya pada bulan Mei 2001 sebesar 3,4%. Selain di negara-negara kawasan Euro, melambatnya kegiatan ekonomi terlihat di Inggris. Pada tahun 2001, perekonomian Inggris tumbuh 2,3%, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan sebesar 2,9% yang dicapai pada tahun 2000. Sementara itu, laju inflasi sedikit meningkat dari 2,1% pada tahun 2000 menjadi 2,3% pada tahun 2001. Meskipun demikian, laju inflasi pada tahun laporan masih lebih rendah dibandingkan target inflasi yang ditetapkan Bank of England (BoE) sebesar 2,5%. Guna memberikan stimulus bagi perekonomian, sepanjang tahun laporan BoE telah menurunkan suku bunga sebanyak 7 kali, sehingga suku bunga benchmark (base rate) mencapai 4%, lebih rendah dibandingkan yang dicapai pada tahun 2000 sebesar 6%.

Jepang
Imbas kemerosotan ekonomi AS juga menimpa Jepang sebagai salah satu mitra dagang utama AS. Pada tahun 2001, perekonomian Jepang mengalami kontraksi sebesar 0,4%, setelah pada tahun 2000 mengalami ekspansi sebesar 2,2%. Memburuknya kinerja ekonomi Jepang tersebut terutama sebagai akibat dari menurunnya kinerja ekspor sehubungan dengan merosotnya permintaan impor dari AS, yang diperkirakan menyumbang 1/3 sumber penerimaan devisa ekspor Jepang ke luar negeri. Ekspor Jepang selama tahun laporan diperkirakan mengalami kontraksi sebesar 6,6%. Guna mengatasi krisis ekonomi yang berkepanjangan, pemerintah Jepang terus menempuh berbagai kebijakan yang sangat ekspansif baik di

197

Perekonomian Dunia dan Kerja Sama Internasional

bidang moneter maupun fiskal. Di bidang moneter, Bank of Japan tetap mempertahankan suku bunga Overnight Call Rate sebesar 0,1%. Di bidang perbankan yang selama ini mengalami permasalahan kredit macet dan turunnya nilai aset bank akibat dari merosotnya harga saham dan properti, pemerintah Jepang telah mengeluarkan dana bantuan sebesar 26 triliun yen untuk program rekapitalisasi bank, pembayaran dana nasabah, dan pemberian pinjaman. Sementara itu, guna menjaga daya saing ekspor di tengah meningkatnya persaingan di pasar internasional, pemerintah Jepang telah membiarkan nilai tukar yen terdepresiasi cukup tajam. Dalam tahun laporan, nilai tukar yen melemah tajam terhadap dolar AS terutama disebabkan oleh meningkatnya aliran portofolio ke luar negeri yang dipicu oleh persepsi terhadap prospek ekonomi yang suram serta lambatnya penanganan terhadap permasalahan struktural di sektor perbankan.

negara tujuan ekspor utama seperti AS. Pada tahun 2001, pertumbuhan ekonomi Korea Selatan diperkirakan hanya tumbuh 2,6% setelah tumbuh cukup tinggi pada tahun 2000 sebesar 8,8%. Sedangkan perekonomian Hong Kong, Taiwan, dan Singapura pada tahun 2001 diperkirakan mengalami kontraksi masing-masing sebesar 0,3%, 2,2% dan 2,9%, setelah mengalami ekspansi pada tahun sebelumnya masing-masing sebesar 10,5%, 6,0%, dan 9,9%. Malaysia dan Thailand yang berpotensi menjadi negara industri baru di Asia pada tahun 2001 masing-masing hanya tumbuh 0,3% dan 1,5%, turun dari 8,3% dan 4,4% yang dicapai pada tahun 2000. Sejalan dengan merosotnya kegiatan ekonomi di negara-negara tersebut, tekanan laju inflasi dapat terkendali pada tingkat yang cukup rendah. Dalam menghadapi ancaman resesi ekonomi global, sejumlah negara industri baru di Asia pada umumnya telah mengantisipasinya dengan menempuh kebijakan ekonomi yang ekspansif baik

Asia non-Jepang
Negara-negara Asia selain Jepang seperti Korea Selatan, Hong Kong, Taiwan, dan Singapura merupakan negara-negara industri baru di Asia yang sangat terpukul dengan melambatnya ekonomi negara-negara industri maju terutama AS. Besarnya sumbangan sektor ekspor dalam struktur perekonomian telah mengakibatkan kinerja ekonomi negara-negara tersebut sangat rentan terhadap fluktuasi volume perdagangan global dan harga komoditas internasional. Selain itu, struktur ekspor dari negara-negara tersebut sebagian besar didominasi oleh komoditas sektor manufakur terutama komponen elektronik, yang pada umumnya sangat elastis terhadap naik turunnya pendapatan di negara-

di bidang moneter maupun fiskal. Kebijakan ekonomi yang ekspansif terutama ditempuh guna meningkatkan konsumsi domestik dan mencegah terjadinya peningkatan tingkat pengangguran sebagai akibat memburuknya kinerja sektor ekspor. Selain itu, negara-negara tersebut menempuh berbagai langkah struktural guna menciptakan efisiensi dan meningkatkan daya saing terutama dalam rangka menghadapi tekanan persaingan global yang semakin meningkat. Sementara itu, dengan merosotnya permintaan impor dari negara-negara industri maju, persaingan antara beberapa negara Asia untuk menembus pasar ekspor semakin meningkat. Selain melalui langkah efisiensi produksi, upaya untuk meningkatkan daya saing produk ekspor ditempuh

198

Perekonomian Dunia dan Kerja Sama Internasional

beberapa negara industri di Asia dengan membiarkan nilai tukar mata uangnya terdepresiasi. Meskipun demikian, tidak seluruh negara Asia menunjukkan kinerja ekonomi yang memburuk. Pada tahun 2001 perekonomian RRC masih memperlihatkan kinerja yang cukup mengesankan dengan mencatat laju pertumbuhan sebesar 7,3% dan inflasi yang tetap terkendali sebesar 1,0%, dibandingkan 0,4% pada tahun 2000. Prestasi kinerja ekonomi RRC tersebut terutama disebabkan oleh dukungan kebijakan fiskal yang ekspansif dan meningkatnya aliran modal asing masuk dalam bentuk investasi langsung (FDI). Meningkatnya aliran investasi asing langsung tersebut pada umumnya bertujuan untuk meningkatkan basis pemasaran di pasar lokal RRC sebagai antisipasi masuknya RRC ke dalam keanggotaan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dalam tahun laporan.

utama AS di benua Amerika diperkirakan akan tumbuh lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 6,9%. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Brasil dan Cile masing-masing hanya mencapai 1,8% dan 3,3%, lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 4,4% dan 5,4%. Di pihak lain, pada tahun laporan, perekonomian Argentina diperkirakan masih mengalami kontraksi sebesar 2,7% menyusul kontraksi yang terjadi pada tahun 1999 dan 2000 masing-masing sebesar 3,4% dan 0,5%. Eskalasi krisis ekonomi yang dialami Argentina memuncak menjelang akhir tahun 2001 terutama dipicu oleh kegagalan pemerintah untuk mengendalikan defisit dan melakukan pembayaran utang luar negeri yang jatuh tempo, yang pada gilirannya mengakibatkan terjadinya krisis politik dan memicu berbagai kerusuhan sosial. Krisis keuangan yang dialami Argentina tersebut terutama disebabkan

Amerika Latin
Sejalan dengan melambatnya kegiatan ekonomi AS, perekonomian negara-negara Amerika Latin selama tahun laporan menunjukkan kecenderungan melambat. Pada tahun laporan, laju pertumbuhan negara-negara Amerika Latin hanya mencapai 1,0%, lebih rendah dibandingkan laju pertumbuhan ekonomi yang dicapai pada tahun sebelumnya yang mencapai 4,1%. Kinerja ekonomi empat kekuatan ekonomi terbesar di kawasan Amerika Latin yaitu Meksiko, Brasil, Cile, dan Argentina memperlihatkan terjadinya perlambatan yang cukup berarti, bahkan perekonomian Argentina diperkirakan mengalami kontraksi yang tajam sebagai akibat krisis ekonomi yang melanda negara tersebut. Pada tahun 2001, kinerja ekonomi Meksiko, sebagai salah satu mitra dagang

oleh ketidakmampuan negara tersebut untuk menghimpun dana domestik yang cukup guna memenuhi besarnya pembayaran kewajiban-kewajiban pemerintah jangka pendek yang jatuh tempo. Penurunan pendapatan dalam negeri selain disebabkan turunnya penerimaan pajak juga dikarenakan merosotnya pendapatan dari ekspor akibat melemahnya permintaan dunia dan kurang kompetitifnya produk ekspor Argentina. Produk Argentina sulit bersaing karena kebijakan peg mata uang peso terhadap dolar AS dengan rasio 1:1 mengakibatkan mata uang peso semakin overvalued.

Pasar Keuangan Internasional
Perkembangan pasar keuangan internasional selama tahun laporan secara umum ditandai dengan menguatnya nilai tukar dolar AS, menurunnya suku

199

Perekonomian Dunia dan Kerja Sama Internasional

bunga pasar uang, serta melemahnya harga saham secara global. Meskipun kinerja ekonomi dan suku

Persen

Desember 2000

Maret 2001 Desember 2001

Juni 2001

bunga di AS memperlihatkan terjadinya penurunan, nilai tukar dolar AS secara keseluruhan menguat terhadap hampir sebagian besar mata uang dunia.

6,00

September 2001

4,50

3,00

Hal ini menunjukkan bahwa mata uang dolar masih menempati posisinya sebagai mata uang teraman di dunia (safe heaven currency) terutama dalam kondisi dimana risiko global semakin meningkat sepanjang tahun laporan. Risiko global bahkan semakin meningkat pasca tragedi WTC yang mendorong investor internasional lebih bersikap hati-hati dan cenderung menghindari risiko (risk averse) dalam melakukan investasi di negara-negara berkembang. Sebagai akibatnya, aliran modal internasional lebih bersifat flight to safety dan banyak tertahan serta mengalir kembali ke pasar keuangan di negara-negara industri maju terutama pasar keuangan AS. Sementara itu, sejalan dengan melonggarnya kebijakan moneter di berbagai negara guna mencegah terjadinya resesi ekonomi, suku bunga di pasar uang internasional (money market) menunjukkan kecenderungan menurun. Suku bunga LIBOR 6 bulan rata-rata untuk dolar AS yang menjadi patokan (benchmark) suku bunga simpanan beberapa mata uang utama mengalami penurunan yang cukup besar dari 6,6% pada akhir tahun 2000 menjadi 3,8% pada akhir tahun laporan (Grafik 10.4). Meskipun demikian, tingkat penurunan suku bunga simpanan beberapa mata uang di pasar uang internasional ini relatif beragam dengan memperhatikan perkembangan tingkat inflasi di masing-masing negara. Sejalan dengan terjadinya perlambatan kegiatan ekonomi di berbagai kawasan, perkembangan harga saham di berbagai bursa saham dunia ditandai dengan terjadinya penurunan indeks yang cukup berarti. Penurunan indeks harga saham terutama terjadi di pasar modal AS, yang pada gilirannya berimbas secara global ke seluruh kawasan termasuk ke negara-negara Asia yang perekonomiannya memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap kinerja ekonomi AS. Penurunan harga saham terutama terjadi pada sektor teknologi informasi dan beberapa industri terkait seperti industri komponen komputer dan elektronik, yang pada dasarnya merupakan basis kekuatan industri di sejumlah negara industri baru di Asia.
1,50

0,00 GBP-LIBOR USD-LIBOR JPY-LIBOR EURO-LIBOR

Grafik 10.4 Perkembangan Suku Bunga LIBOR

KER JA SAMA INTERNASIONAL
Selama tahun laporan, pembahasan pada berbagai forum kerja sama internasional dan regional menitikberatkan pada berbagai upaya untuk mengatasi perlambatan ekonomi melalui kebijakan moneter dan fiskal yang tepat, penguatan sistem keuangan, dan regional surveillance sebagai langkah guna memperkuat pencegahan krisis. Selain itu, berbagai forum juga membahas beberapa upaya pencegahan pembiayaan terorisme internasional sebagai respon terha-

200

Perekonomian Dunia dan Kerja Sama Internasional

dap tragedi WTC. Perkembangan penting yang mewarnai perdagangan dunia adalah bergabungnya RRC dan Taiwan dalam World Trade Organization (WTO).

yang dicapai akan memberikan fleksibilitas dan akuntabilitas yang lebih besar kepada negara-negara tersebut dalam menentukan target-target yang akan dicapai, sehingga ownership terhadap program-

Kerja Sama di Bidang Moneter, Keuangan, dan Perbankan Dana Moneter Internasional (IMF)
Selama tahun laporan, isu-isu yang dibahas oleh IMF meliputi: (i) upaya memperkuat sistem keuangan internasional termasuk peran IMF, (ii) merampingkan conditionality dan memperkuat ownership negara-negara anggota dalam program IMF, (iii) menghapus money laundering dan pembiayaan terorisme, dan (iv) good governance. Dalam rangka memperkuat sistem keuangan negara-negara anggota, IMF berperan untuk mendorong kestabilan makroekonomi dan keuangan sebagai prasyarat untuk pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, mendorong kestabilan dan integritas sistem moneter dan keuangan internasional sebagai public good, serta membantu negara-negara anggota untuk membangun sektor keuangan yang sehat. IMF telah mengambil langkah-langkah untuk merampingkan conditionality atas program kebijakan dari negara anggota sehingga lebih efisien dan efektif. Penerapan conditionality untuk reformasi struktural dapat dilakukan berdasarkan case by case basis dengan menitikberatkan pada bidang-bidang yang sangat menentukan keberhasilan stabilitas ekonomi makro dan pertumbuhan yang berkelanjutan. Dalam rangka meningkatkan ownership program-program reformasi ekonomi oleh negara-negara anggota yang mendapat pinjaman, IMF sedang mempelajari kemungkinan penggunaan result based conditionality. Persyaratan pencairan fasilitas IMF yang berdasarkan hasil-hasil

program yang disepakati dengan IMF akan lebih tinggi. Selanjutnya setelah terjadinya serangan terhadap gedung WTC, isu mengenai combating money laundering and financing of terrorism menjadi perhatian utama dalam sidang-sidang IMF. IMFC mengemukakan perhatian yang serius pada penggunaan sistem keuangan internasional untuk membiayai aksi teroris dan tindakan pencucian terhadap aktivitas yang ilegal. Karenanya, IMF meminta anggotanya untuk meratifikasi dan melaksanakan resolusi PBB khususnya nomor 1.373 serta menyambut baik dan mendukung Special Recommendations FATF mengenai pemberantasan pendanaan bagi teroris. Dalam hal isu pengelolaan usaha yang sehat (good governance), sidang sepakat agar IMF perlu menangani permasalahan ini melalui langkah-langkah khusus untuk mengatasi poor governance dan korupsi.

G-20
Kerjasama internasional dalam rangka G-20 dalam tahun laporan ditekankan kepada upaya-upaya mencegah penggunaan sektor keuangan untuk kegiatan terorisme, di samping membahas kebijakankebijakan yang diperlukan untuk menghadapi kondisi perekonomian dunia dewasa ini serta menghadapi arus globalisasi. Langkah-langkah yang akan diambil disusun dalam suatu Action Plan on Terrorist Financing, yang pokok-pokoknya mencakup : (a) Pembekuan kekayaan (asset) milik terroris. Setiap negara anggota akan menerapkan resolusi-resolusi Dewan Keamanan PBB yang

201

Perekonomian Dunia dan Kerja Sama Internasional

relevan, terutama resolusi nomor 1373, untuk menghentikan sumber keuangan/pembiayaan terorisme. (b) Penerapan standar internasional. Setiap negara anggota akan meratifikasi dan menerapkan the UN Convention for the Suppression of the Financing of Terrorism sesegera mungkin dan meratifikasi the UN Convention against Transactional Organized Crime. (c) Kerjasama internasional melalui pertukaran informasi dan akses antaranggota G-20. Selanjutnya setiap anggota akan membentuk atau mempertahankan Satuan Intelijen Keuangan dan mengambil langkah-langkah untuk saling tukar informasi. (d) Bantuan teknis. Negara-negara anggota, sepanjang memungkinkan, akan menyediakan bantuan teknis untuk mencegah pembiayaan terorisme dan memberantas pencucian uang (money laundering) bagi negara lainnya yang membutuhkan bantuan teknis tersebut. Selain itu, G-20 akan menghimbau lembaga-lembaga internasional dan regional untuk memberikan bantuan teknis tersebut. (e) Kepatuhan dan pelaporan. Dalam hal ini negaranegara anggota akan mengambil langkah-langkah untuk memastikan agar lembaga-lembaga keuangan dan semua warga negaranya mematuhi aturan-aturan untuk memberantas pembiayaan terorisme serta tindak pidana keuangan lainnya.

korporasi; (ii) reformasi sistem keuangan internasional; dan (iii) MFG Financing Arrangement. Selain membahas isu-isu tersebut, MFG membahas pula isu regional surveillance, dan berupaya memperkuat IMF surveillance dengan melibatkan sektor swasta dalam mengatasi krisis.

Kerja Sama Bank Sentral
Dalam periode laporan, kerja sama antarbank sentral berjalan sebagaimana tahun-tahun sebelumnya melalui berbagai forum antara lain Executive Meeting of East Asia Pacific Central Bank (EMEAP) dan South-East Asia Central Bank (SEACEN).

Forum EMEAP
Dalam pembahasan isu ekonomi dan keuangan, forum EMEAP menekankan pengaruh perlambatan ekonomi AS dan global terhadap ekonomi kawasan EMEAP serta potensi kerentanan kawasan dalam menghadapi kemungkinan krisis. Dalam rangka menghadapi perkembangan tersebut, anggota EMEAP berpandangan perlunya menerapkan kebijakan yang tepat untuk mendorong permintaan domestik. Berkaitan dengan dengan upaya mendorong stabilitas keuangan, beberapa negara EMEAP telah menyoroti pendekatan “one-size-fitsall” dalam implementasi standar internasional di tengah perbedaan karakteristik dan kemampuan anggota dalam menerapkan kebijakan tersebut. Dengan memperhatikan respon kebijakan IMF ter-

Manila Framework Group (MFG)
Selama tahun laporan, Manila Framework Group (MFG) menitikberatkan kepada masalahmasalah: (i) restrukturisasi sektor keuangan dan

hadap krisis Asia, EMEAP berpandangan bahwa kebijakan IMF dalam menangani krisis telah menimbulkan kesulitan ekonomi yang semakin dalam. Dalam kaitan ini, IMF perlu mempertimbangkan

202

Perekonomian Dunia dan Kerja Sama Internasional

perbedaan fundamental ekonomi masing-masing negara serta melakukan penyederhanaan conditionality dan meningkatkan ownership negara-negara yang dibantu dalam mendukung keberhasilan program IMF.

pertukaran data dan informasi antaranggota SEG dengan membentuk SEG Database. Dalam periode laporan, Bank of Japan (BOJ) juga telah menawarkan bantuan keuangan senilai JPY 10 juta setiap tahunnya yang digunakan untuk membiayai kegiatan pelatihan tertentu yang

SEACEN
Dalam periode laporan , berbagai topik telah dibahas dalam forum SEACEN. Topik-topik yang dibahas berkaitan dengan: (i) SEACEN Trust Fund (STF), (ii) SEACEN Experts Group (SEG) on Capital Flows, (iii) pembentukan Electronic Data Exchange di SEACEN Centre, dan (iv) pemberian bantuan keuangan oleh Jepang. Dalam kerangka STF, SEACEN mencatat beberapa kemajuan sepanjang tahun laporan, yaitu : (i) diterimanya Bank of Mongolia secara resmi menjadi anggota STF pada tanggal 17 Februari 2000, (ii) dicapainya kesepakatan untuk meningkatkan dana STF, dan (iii) dilakukannya upaya -upaya untuk memperbaiki manajemen STF. Upaya-upaya perbaikan manajemen antara lain dilakukan melalui pemberian keleluasaan kepada Direktur Operasi Investasi dan Pasar Keuangan Bank Negara Malaysia sebagai signatory tambahan, dan mengembalikan prosedur aplikasi bantuan beasiswa ke sistem yang lama yang dipandang lebih efektif. Sementara itu, SEACEN yang merupakan lembaga yang menangani riset dan pelatihan bagi bank sentral di Asia Tenggara telah berupaya mengendalikan potensi risiko yang dapat timbul dari volatilitas arus modal melalui pertemuan SEACEN Expert Group (SEG) on Capital Flows. Dalam kerangka ini pula, SEACEN memperkuat surveillance terhadap arus modal negara-negara anggotanya melalui

diselenggarakan oleh SEACEN tanpa persyaratan apapun kecuali pelatihan tersebut telah diidentifikasi oleh BOJ. Semakin berkembangnya SEACEN Centre telah menarik minat dua otoritas moneter, yaitu Monetary Authority of Brunei dan Reserve Bank of Fiji, untuk bergabung menjadi anggota SEACEN Centre.

Kerja Sama di Bidang Pembangunan Bank Dunia
Dalam tahun laporan, Bank Dunia terus melanjutkan fokus pada isu penanganan kemiskinan dan penguatan pertumbuhan khususnya bagi negaranegara termiskin. Pembahasan dikaitkan dengan empat topik utama, yaitu: (i) tindak lanjut Highly Indebted Poor Countries (HIPC) Initiative dan Debt Sustainability, (ii) penyempurnaan proses Poor Reduction Growth Facility (PRGF) dan Poor Reduction Strategy Paper (PRSP), (iii) perbaikan akses pasar untuk ekspor negara berkembang, serta (iv) bantuan bagi negara-negara yang baru mengalami konflik. Langkah-langkah yang akan dilakukan Bank Dunia menyangkut beberapa hal. Pertama, Bank Dunia akan merekomendasikan strategi pembangunan yang berkelanjutan dan mendorong pemerataan ke negara-negara miskin dengan bantuan dana dan pembukaan akses pasar oleh negaranegara donor. Kedua, Bank Dunia akan merampingkan, memfokuskan, dan memprioritaskan condi-

203

Perekonomian Dunia dan Kerja Sama Internasional

tionality bagi program tersebut dengan berdasarkan kepada strategi yang disusun sendiri oleh negaranegara anggota (penyusunan PRGF dan PRSP) dalam mendorong pertumbuhan dan mengatasi kemiskinan. Ketiga, Bank Dunia bersama dengan IMF akan memberikan bantuan teknis dan bantuan capacity building untuk mempercepat proses pemulihan negara-negara tersebut.

peluncuran putaran baru WTO. APEC menekankan perlunya agenda putaran baru WTO untuk memasukkan liberalisasi sektor pertanian, produk industri dan jasa, memperkuat WTO rules, implementasi isu serta memasukkan kepentingan dan perhatian seluruh anggota khususnya negara berkembang dalam menghadapi tantangan abad 21. Di samping itu, anggota APEC juga menyadari kebutuhan untuk memperkuat pengaturan dan pengawasan perban-

Bank Pembangunan Asia (ADB)
ADB akan terus berpartisipasi dalam program-program pengentasan kemiskinan, pemberdayaan masyarakat, program good governance, serta mendorong strategi pengembangan sektor swasta. Di samping itu ADB juga berperan dalam upaya pencegahan krisis dengan memberikan bantuan kegiatan surveillance dengan bekerjasama dengan Sekretariat ASEAN. Diharapkan di masa yang akan datang inisiatif yang akan dilakukan ADB akan berlanjut kepada upaya standarisasi statistik yang digunakan serta metodologi sistem peringatan dini (early warning system).

kan, good governance, dan financial disclosure, serta memperkuat sistem keuangan domestik guna menjamin konsistensi kebijakan makroekonomi, memperkuat global financial sector surveillance, dan melanjutkan upaya peningkatan efektifitas lembaga keuangan internasional.

Perhimpunan Negara-negara Asia Tenggara (ASEAN)
Dalam tahun laporan, berbagai pertemuan telah diselenggarakan dalam kerangka ASEAN, seperti ASEAN Central Bank Forum, ASEAN Finance Minister and Central Bank Deputies, serta ASEAN Finance Ministers. Perkembangan penting yang dapat

Kerja Sama Regional Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC)
Dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, APEC telah berupaya mengadopsi kebijakan moneter dan fiskal maupun upaya mendorong policy dialogue mengenai ekonomi makro termasuk upaya memperkuat sistem keuangan internasional guna menciptakan landasan ekonomi yang kuat bagi pertumbuhan ekonomi jangka panjang. APEC juga telah menyatakan komitmen untuk melakukan upaya lebih lanjut untuk mendorong liberalisasi perdagangan dan investasi serta mendukung kuat

dicatat adalah kesepakatan mengenai fasilitas Bilateral Swap Arrangement (BSA) yang bertujuan memberikan bantuan keuangan jangka pendek dalam bentuk swap kepada negara yang ikut serta dalam Chiang Mai Initiative. Dalam tahun laporan, negaranegara anggota ASEAN+3 —ASEAN dan ketiga negara mitranya, yaitu Jepang, RRC, dan Korea— telah menandatangani beberapa BSA. BSA tersebut dilakukan antara Jepang dan Korea (sebesar $2 miliar), Jepang dan Thailand (sebesar $3 miliar), Jepang dan Malaysia (sebesar $1 miliar), serta Jepang dan Filipina ($3 miliar). Khusus untuk

204

Perekonomian Dunia dan Kerja Sama Internasional

Indonesia, sampai saat ini BSA belum dapat direalisasikan karena beberapa masalah yang belum disepakati antara Indonesia dengan ketiga negara mitra ASEAN tersebut. Masalah tersebut diantaranya adalah belum jelasnya jumlah maksimum jaminan pemerintah untuk fasilitas BSA yang diberikan. Perkembangan lain adalah kelanjutan dari pembentukan Task Force on ASEAN Currency and

Exchange Rate Regime. Negara-negara ASEAN telah sepakat untuk melaksanakan feasibility study bagi kemungkinan penerapan ASEAN Currency and Exchange Rate Mechanism dengan tujuan: (i) meningkatkan stabilitas finansial terutama pada tingkat regional, (ii) menghindari kemungkinan krisis keuangan di masa mendatang, dan (iii) menggalakkan perdagangan dan investasi melalui penurunan biaya transaksi.

205

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan Tahun 2002

bab 11 PROSPEK EKONOMI DAN ARAH KEBIJAKAN TAHUN 2002

206

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan Tahun 2002

b a b 11

PROSPEK EKONOMI DAN ARAH KEBIJAKAN TAHUN 2002

P

rospek ekonomi tahun 2002 diperkirakan masih menghadapi tantangan yang cukup berat. Adanya

Dari sisi penawaran, hampir seluruh sektor ekonomi diprakirakan akan memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi di tahun 2002. Sejalan dengan masih dominannya peran konsumsi sebagai mesin utama pertumbuhan, maka sumbangan terbesar diperkirakan akan berasal dari sektor industri pengolahan dan sektor perdagangan, khususnya perdagangan ritel. Sementara itu, sektor pertanian diperkirakan belum membaik akibat kemungkinan datangnya badai El Nino. Kondisi ini juga dipengaruhi oeh permasalahan yang ada di sisi produksi dan distribusi pupuk. Komoditas perkebunan yang berorientasi ekspor diperkirakan masih akan mendapat tekanan yang cukup berat seiring dengan kondisi permintaan dunia yang belum pulih. Sektor pertambangan diperkirakan tumbuh positif namun masih relatif rendah terutama akibat masih tingginya gangguan keamanan pada sektor ini serta masih lemahnya permintaan luar negeri terhadap beberapa komoditas tambang. Sektor lainnya seperti bangunan diprakirakan akan bangkit sejalan dengan akan direalisasikannya beberapa proyek besar seperti Jakarta Outer Ring Road (JORR) dan mulai maraknya penyediaan perumahan seiring dengan meningkatnya kredit untuk perumahan. Sementara itu, nilai tukar rupiah diprakirakan dapat kembali menguat meskipun masih terdapat potensi tekanan depresiasi. Di samping faktor struktural ekonomi, perkembangan nilai tukar di tahun

ancaman resesi ekonomi global dan berbagai permasalahan struktural di dalam negeri menyebabkan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi menjadi terbatas. Dengan asumsi kondisi sosial politik semakin membaik, tekanan nilai tukar semakin berkurang dan restrukturisasi ekonomi berjalan lebih baik, pertumbuhan ekonomi tahun 2002 diprakirakan akan mencapai kisaran 3,5%–4,0%. Dari sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi masih akan lebih banyak bertumpu pada pertumbuhan domestik terutama konsumsi swasta. Sementara itu, kegiatan ekspor dan investasi masih belum begitu menggembirakan. Prakiraan ini didasari oleh kondisi ekonomi dunia yang belum akan pulih dalam waktu dekat sehingga masih belum memberikan iklim yang kondusif bagi ekspor serta menjadi salah satu kendala masuknya arus modal luar negeri untuk mendorong investasi swasta. Dari sisi fiskal, pengeluaran pemerintah diprakirakan tumbuh melambat sehingga belum mampu memberikan stimulus terhadap perekonomian secara berarti. Selanjutnya, mengingat permintaan domestik diharapkan dapat menjadi motor pertumbuhan ekonomi, upaya yang lebih serius untuk mempercepat penyelesaian berbagai permasalahan mendasar dan faktor risiko dalam negeri menjadi tantangan yang sangat penting untuk diselesaikan agar momentum pemulihan ekonomi nasional yang berkesinambungan dapat dipertahankan.

207

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan Tahun 2002

2002 akan sangat dipengaruhi oleh sentimen pelaku pasar terhadap beberapa perkembangan ekonomi politik seperti masalah kesinambungan fiskal dan beberapa peristiwa politik menjelang sidang tahunan MPR. Nilai tukar rupiah diprakirakan secara rata-rata akan berada pada kisaran Rp9.500/$–Rp10.500/$. Penguatan nilai rupiah secara signifikan diharapkan dapat terjadi pada pertengahan tahun sejalan dengan terus membaiknya risiko politik, keuangan, dan ekonomi. Prakiraan tersebut juga didukung oleh membaiknya kinerja neraca pembayaran yang terutama disebabkan oleh membaiknya lalu lintas modal. Proyeksi ini akan lebih optimis apabila dalam waktu dekat terdapat kemajuan dalam pelaksanaan program-program ekonomi pemerintah sehingga dapat memperbaiki persepsi pelaku pasar, termasuk adanya kemajuan yang signifikan dalam penjualan aset oleh BPPN dan privatisasi BUMN. Tekanan laju inflasi pada tahun 2002 diprakirakan akan masih tinggi yang bersumber dari tingginya ekspektasi inflasi, meningkatnya permintaan yang kurang diimbangi oleh peningkatan penawaran serta dampak kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan. Intensitas tekanan inflasi diprakirakan akan semakin bertambah apabila pengaruh El Nino mengakibatkan terjadinya gangguan produksi dan distribusi pangan yang sangat signifikan. Memperhatikan berbagai faktor di atas, sasaran inflasi IHK di tahun 2002 ditetapkan pada kisaran 9%–10%. Untuk mencapai sasaran inflasi yang cukup realistis tersebut, kebijakan moneter akan dilakukan secara berhati-hati dan terukur agar kestabilan harga tetap terjaga untuk mendukung proses pemulihan ekonomi yang sedang berjalan, sehingga dalam

jangka panjang dapat dicapai pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan. Secara operasional, Bank Indonesia akan mengoptimalkan instrumen-instrumen moneter terutama melalui operasi pasar terbuka (OPT) dan sterilisasi valas guna mengurangi tekanan terhadap inflasi dan nilai tukar rupiah. Di samping itu, upaya untuk memulihkan fungsi intermediasi perbankan akan terus dilakukan antara lain dengan lebih mendorong perbankan agar menyalurkan kredit ke sektor-sektor ekonomi yang telah siap dan memiliki risiko relatif lebih rendah. Selanjutnya, mengingat konsumsi masih akan merupakan motor utama pertumbuhan ekonomi di tahun mendatang maka diperlukan berbagai kebijakan untuk mengatasi berbagai kendala pembiayaan dan distribusi di sisi penawaran agar kenaikan konsumsi tidak menimbulkan dampak kenaikan harga yang berlebihan. Di samping itu, dengan banyaknya faktor-faktor nonmoneter yang mempengaruhi inflasi, koordinasi dengan berbagai pihak khususnya pemerintah mutlak diperlukan untuk meminimalkan dampak tekanan inflasi yang berasal dari kebijakan pemerintah, penurunan pasokan dan terganggunya distribusi barang dan jasa. Optimisme terhadap beberapa indikator yang dijadikan asumsi dasar dalam menyusun proyeksi di atas masih dihadapkan pada berbagai tantangan dan risiko ketidakpastian. Walaupun faktor tersebut telah diidentifikasi pada tahun sebelumnya, upaya penanganannya masih belum menunjukkan kemajuan yang berarti sehingga dapat meningkatkan ekspektasi negatif masyarakat terhadap proses pemulihan ekonomi. Untuk itu, percepatan penanganan berbagai masalah tersebut harus dilakukan agar dapat mengembalikan kepercayaan masyarakat.

208

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan Tahun 2002

TANTANGAN KE DEPAN
Memperhatikan proses penanganan berbagai permasalahan mendasar dan faktor risiko di tahun 2001 yang tidak secepat dari yang diperkirakan, tantangan yang dihadapi dalam upaya pengendalian moneter di tahun 2002 cenderung akan semakin berat. Upaya mengatasi berbagai faktor risiko dan ketidakpastian tersebut akan menjadi kunci keberhasilan untuk menjamin prospek pemulihan ekonomi yang lebih baik pada tahun-tahun mendatang. Berbagai faktor risiko dan ketidakpastian tersebut mencakup : • Pertama, akselerasi penyelesaian restukturisasi utang perusahaan- baik utang luar negeri maupun utang kepada perbankan dalam negerirelatif berjalan lambat. Kondisi ini telah menyebabkan peningkatan kegiatan ekonomi dan penyaluran kredit perbankan tidak dapat berjalan lebih cepat, karena sebagian besar perusahaan yang masih dalam proses restrukturisasi tersebut merupakan komponen terbesar dari perekonomian nasional. Masih tingginya utang luar negeri yang belum direstrukturisasi juga mencerminkan potensi terjadinya tekanan depresiasi nilai tukar apabila permintaan valuta asing (valas) untuk pembayaran utang luar negeri tidak terpenuhi oleh pasar. • Kedua, proses intermediasi perbankan yang belum sepenuhnya berjalan normal. Ekspansi kredit perbankan masih terbatas sejalan dengan masih tingginya risiko usaha di sektor riil dan masih berlangsungnya konsolidasi internal di sektor perbankan. Kondisi ini sangat membatasi sumber pembiayaan kegiatan ekonomi, sehingga kegiatan ekonomi lebih banyak dibiayai oleh dana • • • •

sendiri (self-financing). Selanjutnya, terbatasnya sumber pembiayaan dari sektor perbankan terkait erat dengan keengganan bank untuk menanamkan kelebihan likuiditasnya ke dalam bentuk kredit. Hal ini dikuatirkan akan menjadi sarana berspekulasi yang pada gilirannya dapat memberi tekanan terhadap nilai tukar dan inflasi. Ketiga, beban keuangan pemerintah yang berat. Beban pembayaran utang pemerintah dan pengeluaran subsidi yang relatif masih tinggi mengakibatkan upaya memberikan stimulus pertumbuhan ekonomi menjadi terbatas. Dengan posisi utang luar negeri yang relatif besar, upaya untuk mengurangi beban anggaran pemerintah akan sangat tergantung pada keberhasilan negosiasi Paris Club III. Keempat, relatif masih tingginya ketidakpastian hukum. Kondisi ini selain memicu timbulnya persepsi negatif investor luar negeri juga mempersulit upaya perbaikan country risk Indonesia sehingga membawa dampak yang kurang menguntungkan bagi upaya restrukturisasi utang luar negeri serta mengurangi minat investor asing untuk melakukan investasi di Indonesia. Kelima, munculnya berbagai peraturan baru yang terkait dengan pelaksanaan otonomi daerah sehingga menyebabkan kurang kondusifnya iklim investasi di daerah. Di samping itu, pemanfaatan Dana Alokasi Umum (DAU) secara tidak efisien menyebabkan stimulus ekonomi dari sektor pemerintah menjadi semakin terbatas. Keenam, di sisi eksternal, meskipun diperkirakan akan mulai membaik pada semester kedua, secara keseluruhan perekonomian dunia masih akan mengalami resesi pada tahun 2002. Kondisi

209

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan Tahun 2002

ini akan sangat berpengaruh terhadap kinerja sektor eksternal ekonomi Indonesia. Di samping itu, pemberlakuan Asean Free Trade Area (AFTA) sejak awal tahun 2002, di satu sisi dapat membuka peluang ekspor, namun di sisi lain akan mendorong masuknya pesaing luar negeri yang dapat mengancam kinerja produsen dalam negeri.

Tabel 11.1 Pertumbuhan Ekonomi Di Berbagai Kawasan Dunia Rincian Pertumbuhan Ekonomi Dunia Negara Industri Amerika Serikat Jepang Uni Eropa Negara Industri Baru Asia Negara Berkembang Afrika Asia China ASEAN - 41) Amerika Latin Negara Transisi 2000* 4,7 3,9 4,1 2,2 3,4 8,2 5,8 2,8 6,8 8,0 5,0 4,1 6,3 2001** 2,4 1,1 1,0 –0,4 1,7 0,4 4,0 3,5 5,6 7,3 2,3 1,0 4,9 20022) 2,4 0,8 0,7 –1,0 1,3 2,0 4,4 3,5 5,6 6,8 2,9 1,7 3,6

PROSPEK EKONOMI GLOBAL Pertumbuhan Ekonomi dan Perdagangan Dunia
Perlambatan ekonomi global yang terjadi di tahun 2001 diprakirakan masih akan berlanjut di tahun 2002. Perlambatan ini tidak terlepas dari kebijakan moneter ketat yang diterapkan oleh mayoritas negara maju dalam dua tahun terakhir untuk meredam tekanan permintaan domestik yang dianggap terlalu tinggi. Namun demikian, kebijakan tersebut ternyata menimbulkan dampak kontraksi yang lebih besar dan lebih cepat dari prakiraan. Sementara itu, tragedi WTC telah menimbulkan kekhawatiran terjadinya kontraksi pertumbuhan ekonomi yang lebih besar sehingga memicu mayoritas negara maju untuk melakukan ekspansi moneter dan fiskal secara lebih agresif untuk kembali mendorong permintaan. Berdasarkan hal tersebut, IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia

Sumber : IMF, World Economic Outlook, Desember 2001 1) Terdiri dari Indonesia, Malaysia, Filipina dan Thailand 2) Angka Proyeksi

Pertumbuhan ekonomi negara-negara maju secara umum diprakirakan masih akan melambat. Perekonomian Amerika Serikat yang menjadi lokomotif ekonomi global akan mengalami perlambatan dan hanya akan tumbuh sebesar 0,7% di tahun 2002. Perekonomian Uni Eropa hanya akan tumbuh sebesar 1,3% di tahun 2002 yang utamanya disebabkan oleh melemahnya permintaan domestik di Jerman. Sementara itu, perekonomian Jepang yang telah mengalami resesi ekonomi lebih dari satu dasawarsa, diprakirakan akan semakin memburuk dengan pertumbuhan sebesar –1,0% di tahun 2002. Sedangkan pertumbuhan ekonomi negara industri baru di Asia seperti Korea Selatan, Singapura, Hong Kong, dan Taiwan diprakirakan akan tumbuh masing-masing sebesar 3,2%, 1,2%, 1,0% dan 0,7%. Meskipun kondisi perekonomian global masih diliputi oleh ketidakpastian dan risiko yang tinggi namun peluang terjadinya proses pemulihan ekonomi

sebesar 2,4% pada tahun 20021 dimana pemulihan kegiatan ekonomi yang signifikan diharapkan akan terjadi pada semester II tahun 2002. Sejalan dengan itu, pertumbuhan volume perdagangan dunia diperkirakan juga akan sedikit meningkat dari 1,3% di tahun 2001 menjadi 2,5% di tahun 2002.

1

IMF, World Economic Outlook, Desember 2001

yang lebih cepat diprakirakan masih terbuka. Selain

210

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan Tahun 2002

didorong oleh adanya dukungan kebijakan moneter dan fiskal yang lebih longgar, proses membaiknya kepercayaan konsumen yang berlangsung lebih cepat diprakirakan akan mampu mempercepat terjadinya pemulihan ekonomi global. Di samping itu, relatif masih rendahnya harga minyak dan membaiknya kondisi pasar teknologi informasi juga akan mampu mendorong produktivitas serta mempercepat pemulihan kapasitas produksi. Prospek ekonomi di negara berkembang, kecuali beberapa negara tertentu seperti Cina dan India, secara umum masih akan cenderung kurang menggembirakan. Pertumbuhan ekonomi di Amerika Latin ditengarai akan mengalami penurunan yang paling buruk yang utamanya dipengaruhi oleh terjadinya krisis keuangan dan kondisi politik yang tidak menentu di Argentina dan krisis energi di Brasil.

Tabel 11.2 Perkembangan Inflasi dan Suku Bunga Internasional Rincian Tingkat Inflasi Negara Industri Negara Berkembang Negara Transisi Suku Bunga Jangka Pendek Amerika Serikat Jepang Uni Eropa 6,6 0,3 4,6 3,8 0,2 4,1 2,8 0,1 2,9 2,3 5,9 20,1 2,3 6,0 16,0 1,3 5,3 11,0 2000 2001 2002

Sumber : IMF, World Economic Outlook, Desember 2001

Sementara itu, suku bunga jangka panjang akan relatif lebih tinggi seiring dengan ekspektasi membaiknya kondisi perekonomian dunia.

Prospek Harga Komoditas Pasar Internasional
Secara umum, harga pasar komoditas internasional di tahun 2002 cenderung masih rendah. Selain disebabkan oleh lemahnya permintaan, sulitnya mendongkrak harga komoditas juga disebabkan oleh tingginya tingkat produksi di tahun sebelumnya sehingga terjadi penumpukan persediaan barang yang cukup besar. Terkait dengan hal tersebut, tingkat harga beberapa komoditas ekspor Indonesia seperti komoditas tambang dan pertanian diprakirakan masih akan menghadapi tekanan yang cukup berat. Di samping itu, kondisi permintaan yang lemah dapat memicu terjadinya persaingan harga yang semakin tajam sehingga merugikan negara eksportir. Dengan demikian, untuk mengurangi pengaruh tekanan harga bagi Indonesia, perluasan dan diversifikasi pasar penting dilakukan meskipun secara teknis ketergantungan terhadap pasar tradisional seperti Amerika Serikat dan

Inflasi dan Sukubunga Internasional
Dengan melemahnya permintaan dunia serta kecenderungan menurunnya harga minyak di pasar internasional, inflasi dunia diprakirakan akan semakin menurun di tahun 2002. Kecenderungan menurunnya inflasi terutama akan dialami oleh mayoritas negara maju. Sementara itu inflasi di negara-negara berkembang akan banyak dipengaruhi oleh perkembangan di sektor eksternalnya. Terkait dengan hal tersebut inflasi di negara maju akan mencapai 1,3%. Sementara itu inflasi di negara-negara berkembang akan mencapai 5,3%. Untuk menangkal berlanjutnya penurunan permintaan agregat, kebijakan moneter di negaranegara maju diprakirakan masih akan cenderung longgar sehingga perkembangan suku bunga pasar jangka pendek akan cenderung masih rendah.

211

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan Tahun 2002

Jepang relatif masih akan sulit diatasi dalam jangka pendek. Relatif lemahnya pertumbuhan ekonomi negara maju juga akan mendorong turunnya harga minyak sehingga cenderung bergerak dalam batas bawah kisaran harga yang disepakati oleh anggota OPEC, yaitu $22/barel. Hal ini antara lain disebabkan oleh kebutuhan musim dingin yang relatif normal serta relatif tingginya persediaan minyak Amerika Serikat akibat adanya kelebihan pasok pasar minyak internasional di tahun 2001. Untuk mendorong stabilitas harga minyak agar kembali pada kisaran harga $22 – $28 per barel, negara anggota OPEC telah sepakat untuk melaku-

kan pengurangan kuota produksi minyak sebesar 1,5 juta barel per hari sejak 1 Januari 2002. Meskipun demikian, agar kebijakan tersebut dapat berjalan efektif, pengurangan jumlah kuota produksi OPEC perlu diimbangi pula dengan kebijakan serupa oleh negara penghasil minyak non OPEC seperti Rusia, Norwegia, Oman dan Mexico. Terkait dengan kebijakan OPEC tersebut, kuota produksi minyak Indonesia diperkirakan akan berkurang sekitar 77 ribu barel per hari.

PROSPEK EKONOMI INDONESIA
Pertumbuhan ekonomi tahun 2002 diprakirakan masih akan relatif lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan tahun sebelumnya. Hal ini

Indeks 400

Harga Internasional Komoditi Pertambangan Nikel (aksis kanan) Timah (aksis kanan) Tembaga Aluminium Timbal

antara lain ditunjukkan oleh pergerakan Leading Indikator Ekonomi (LIE) (Grafik 11.2) yang masih menunjukkan kecenderungan yang meningkat. Tingginya pertumbuhan ekonomi juga didukung oleh hasil survei yang menunjukkan adanya peningkatan tingkat hunian(occupancy rate) kantor. Dari sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi diprakirakan masih akan bersumber dari mening-

350 300 250 200 150 100 50 0

1/5 1/19 2/2 2/16 3/2 3/16 3/30 4/13 4/27 5/11 5/25 6/8 6/22 7/6 7/20 8/3 8/17 8/31 9/14 9/2810/1210/26 11/911/2312/712/21

2001 Harga Internasional Komoditi Perkebunan 6000 5000 4000 3000 2000 1000 0
10/2611/911/2312/712/21 1/5 1/19 2/2 2/16 3/2 3/163/30 4/134/275/11 5/25 6/8 6/22 7/6 7/20 8/3 8/178/319/149/2810/12

Persen

Kokoa Kopi (aksis kanan)

Minyak Sawit Karet (aksis kanan)

Kayu

100 90

15,0 10,0

1,4 1,3 1,3

80 70 60 50 40 30 20 10 0 2001
-15,0 -20,0
9 3 6 9 3 6 9 3 6 9 3 6 9 3 6 9 3

5,0 1,1 0,0 -5,0 -10,0
PDB (Aksis Kiri) Komposit (Aksis Kanan) Trend Komposit (Aksis Kanan)

1,0 0,9 0,8 0,7 0,6 0,5 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2001

Grafik 11.1 Perkembangan Harga Komoditi Ekspor

Grafik 11.2 Leading Indikator Ekonomi

212

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan Tahun 2002

katnya permintaan domestik terutama untuk kegiatan konsumsi, sementara permintaan luar negeri diprakirakan masih rendah akibat lemahnya permintaan dari mayoritas negara yang menjadi pasar tradisional produk ekspor Indonesia. Dari sisi penawaran, tingginya permintaan dalam negeri tersebut diprakirakan akan diimbangi oleh peningkatan kinerja di sektor industri pengolahan, sektor perdagangan, dan sektor transportasi. Secara keseluruhan ekonomi Indonesia tahun 2002 akan tumbuh dalam kisaran 3,5%–4,0%. Di samping berbagai faktor risiko yang berasal dari dalam negeri, proyeksi angka pertumbuhan tersebut pada dasarnya akan sangat tergantung pada kecepatan pemulihan kegiatan perdagangan luar negeri serta perkembangan harga komoditas di pasar internasional. Sebagaimana diungkapkan sebelumnya, perkembangan harga komoditas ekspor utama Indonesia termasuk minyak mentah cenderung masih akan tertekan di pasar internasional. Dapat dikemukakan, adanya penurunan harga minyak sebesar $2/barel secara agregat diprakirakan dapat menyebabkan turunnya pertumbuhan ekonomi kurang lebih sebesar 0,23%.

ekspor relatif lemah, pertumbuhan impor diprakirakan masih akan cukup tinggi yang terutama didorong oleh masih kuatnya permintaan domestik. Relatif tingginya pertumbuhan konsumsi antara lain didukung oleh hasil survei konsumen rumah tangga yang masih menunjukkan kecenderungan yang optimis didorong oleh ekspektasi membaiknya penghasilan dalam periode 6 – 12 bulan mendatang serta ekspektasi membaiknya kondisi makroekonomi (Grafik 11.3). Dari sisi pembiayaan, kecenderungan meningkatnya penyaluran kredit konsumsi juga masih akan berlanjut sehingga pengeluaran konsumsi untuk barang-barang tahan lama juga akan meningkat. Optimisme kenaikan konsumsi masyarakat tercermin pula dari perilaku produsen yang banyak melakukan impor bahan baku dan barang modal - di tengah kondisi ekspor yang menurun - di tiga triwulan pertama tahun 2001. Konsumsi pemerintah masih akan mampu tumbuh meskipun lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya seiring dengan menurunnya

pengeluaran rutin pemerintah. Dilihat dari alokasinya, keterbatasan pemerintah untuk mendorong

Prospek Permintaan
Dari sisi permintaan, kegiatan ekonomi di tahun 2002 masih akan disumbang oleh pertumbuhan permintaan domestik. Konsumsi yang telah mencatat pertumbuhan yang signifikan di tahun 2001 diprakirakan masih akan mampu tumbuh positif di tahun 2002. Pertumbuhan investasi diperkirakan akan meningkat, sedangkan pertumbuhan ekspor diprakirakan masih akan terbatas sejalan dengan masih

Tabel 11.4 Pertumbuhan PDB Menurut Pengeluaran 2001** Persen
Total Konsumsi Konsumsi Swasta Konsumsi Pemerintah Total Investasi Ekspor Barang dan Jasa Impor Barang dan Jasa PDB Riil
1) Angka Proyeksi Bank Indonesia

Jenis

20021)

6,2 5,9 8,2 4,0 1,9 8,1 3,3

4,3 - 4,8 4,3 - 4,8 4,8 - 5,3 6,0 - 6,5 2,3 - 2,8 8,3 - 8,8 3,5 - 4,0

lemahnya permintaan eksternal. Meskipun kegiatan

213

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan Tahun 2002

Persen 180 160 140 120 100 80 60 40 20 0 Apr. Mei Jun. Jul. Ags. 2001 Sep. Okt. Nov. Des. Kondisi Ekonomi Kondisi Keuangan

buhan investasi di tahun mendatang diprakirakan akan lebih banyak dilakukan oleh perusahaan yang telah lama mapan di Indonesia. Sementara dari sisi pembiayaan,

pertumbuhan investasi diharapkan dapat didukung oleh peningkatan kegiatan intermediasi perbankan domestik, di samping pembiayaan dari supplier dan sumber internal perusahaan. Selain itu, dengan adanya kesungguhan pemerintah untuk memacu investasi termasuk diantaranya rencana pendirian lembaga penyedia dana investasi serta rencana peningkatan penyaluran kredit untuk usaha kecil dan

Grafik 11.3 Survei Ekspektasi Konsumen

pertumbuhan konsumsi disebabkan oleh relatif masih tingginya alokasi pengeluaran beban pembayaran bunga utang pemerintah dan subsidi yang dianggarkan dalam APBN 2002. Meskipun demikian, pangsa pengeluaran APBN 2002 untuk Dana Alokasi Umum yang mencapai lebih dari 20% dari total belanja pemerintah diharapkan mampu mendorong konsumsi terutama pada lapisan masyarakat di daerah. Kegiatan investasi diprakirakan masih akan tumbuh positif di tahun mendatang. Di satu sisi, kecenderungan pasar internasional saat ini yang semakin cenderung berhati-hati kemungkinan masih akan berlanjut hingga mempersulit upaya untuk menarik masuk investor luar negeri. Namun dari sisi yang lain, berbagai data mikro masih memperlihatkan adanya minat investasi yang cukup tinggi. Tingginya minat investasi juga didukung oleh hasil survei kegiatan usaha yang masih menunjukkan kecenderungan yang positif. Beberapa perusahaan besar di sektor pertambangan dan industri pengolahan bahkan telah merencanakan ekspansi yang cukup tinggi di tahun 2002. Dengan kecenderungan persetujuan PMA dan PMDN yang menurun, pertum-

menengah (UKM), diharapkan peluang untuk memacu kegiatan investasi swasta akan semakin terbuka. Di samping kondisi fundamental ekonomi yang lebih kondusif, membaiknya kondisi sosial politik diharapkan dapat lebih mendorong optimisme pengusaha untuk tidak lagi menunda realisasi investasinya di Indonesia. Pertumbuhan investasi pemerintah diprakirakan akan masih terbatas bahkan sedikit lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Relatif rendahnya pertumbuhan investasi pemerintah terutama disebabkan oleh terbatasnya sumber pembiayaan pemerintah khususnya pinjaman program dan pinjaman proyek. Dari sisi APBN, keterbatasan mobilisasi pembiayaan tersebut tercermin dari rencana defisit APBN 2002 yang menurun dari 3,7% PDB di tahun 2001 menjadi 2,5% PDB di tahun 2002. Secara nominal, total pengeluaran pemerintah untuk pengeluaran investasi diprakirakan akan mencapai Rp77,7 triliun dimana sebesar 32,6% dari jumlah tersebut dialokasikan kepada pemerintah daerah. Dari sisi eksternal, pertumbuhan ekspor diprakirakan akan meningkat meskipun relatif rendah

214

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan Tahun 2002

akibat kondisi perekonomian dunia yang diprakirakan baru akan pulih pada paro kedua tahun 2002. Pertumbuhan ekspor diprakirakan akan lebih banyak didorong oleh peningkatan ekspor nonmigas meskipun beberapa komoditas diprakirakan masih akan mendapat tekanan yang cukup berat. Sementara itu, ekspor migas diprakirakan akan mengalami pertumbuhan negatif akibat harga minyak yang masih cenderung rendah serta diturunkannya kuota produksi minyak Indonesia. Beberapa komoditas ekspor nonmigas yang diprakirakan akan terkena dampak melemahnya perekonomian negara maju antara lain adalah produk pipa baja (70% pasar ekspor pipa baja ke Amerika Serikat), tekstil (26% pasar tekstil ke Amerika Serikat) serta produk kerajinan dan furniture untuk pasar Eropa (Jerman dan Denmark). Gambaran pertumbuhan ekspor yang relatif kurang menggembirakan tersebut didukung oleh data-data awal dari berbagai asosiasi yang menunjukkan berkurangnya permintaan dari negara-negara yang secara tradisional menjadi tujuan pasar ekspor. Di samping faktor permintaan dunia, rendahnya pertumbuhan ekspor juga dipengaruhi oleh harga komoditas di pasar internasional yang secara umum belum akan mencatat peningkatan berarti. Tingkat harga yang relatif rendah diprakirakan masih akan dialami oleh beberapa komoditas andalan seperti komoditas pertanian dan komoditas tambang termasuk minyak mentah. Faktor lain yang mempengaruhi ekspor adalah tendensi meningkatnya persaingan eksportir di pasar internasional akibat menciutnya permintaan global, sehingga mempengaruhi kemampuan daya saing produk ekspor Indonesia. Selain itu, faktor kekhawatiran pihak luar negeri mengenai kesinambungan pasokan ekspor akibat

persepsi negatif mengenai situasi keamanan di Indonesia diprakirakan juga masih ada. Sementara itu, pertumbuhan impor diprakirakan masih cukup tinggi yang terutama disebabkan oleh masih tingginya konsumsi masyarakat serta sedikit meningkatnya pertumbuhan ekspor. Di samping permintaan domestik yang cukup tinggi, harga komoditas dunia cenderung masih rendah serta nilai tukar yang relatif menguat diprakirakan akan memberikan kontribusi positif bagi pertumbuhan impor. Faktor lain yang mendorong pertumbuhan impor ditengarai oleh terbatasnya kapasitas produksi beberapa komoditas pertanian baik akibat adanya penurunan produktivitas maupun terjadinya gangguan alam. Meskipun demikian, beberapa kebijakan pemerintah yang bertujuan untuk mengurangi tingginya ketergantungan terhadap barang impor baik melalui kebijakan untuk merangsang peningkatan produksi dalam negeri maupun dengan kebijakan proteksi perdagangan akan sedikit banyak meredam serbuan barang impor dalam tahun mendatang.

Prospek Penawaran
Secara sektoral, pertumbuhan ekonomi yang moderat di tahun 2002 akan disumbang oleh hampir seluruh sektor ekonomi dengan sumbangan terbesar masih berasal dari sektor industri pengolahan dan sektor perdagangan. Kinerja sektor pertanian pada tahun 2002 diperkirakan belum membaik, terutama pada tanaman pangan. Hal ini disebabkan oleh adanya kemungkinan datangnya badai El Nino, permasalahan distribusi pupuk ke petani sehubungan dengan dibebaskannya produsen mengekspor pupuk ke luar negeri, dan terbatasnya pembiayaan kepada petani. Pemenuhan

215

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan Tahun 2002

Namun di sisi lain, produksi 4 komoditas
Tabel 11.4 Pertumbuhan PDB Menurut Lapangan Usaha 2001** Persen
Pertanian Pertambangan Industri Pengolahan Listrik Bangunan Perdagangan Angkutan Keuangan Jasa Total
1) Angka Proyeksi Bank Indonesia

holtikultura unggulan, yaitu buah-buahan, sayuran, aneka tanaman, dan tanaman hias, di tahun 2002 diprakirakan meningkat 17%, yakni dari 16,1 juta ton

Sektor

20021)

0,6 -0,6 4,3 8,4 4,0 5,1 7,5 3,0 2,0 3,3

-0,2 – 0,3 0,7 – 1,2 5,0 – 5,5 9,4 – 9,9 3,9 – 4,4 5,3 – 5,8 6,5 – 7,0 3,3 – 3,8 1,5 – 2,0 3,5 – 4,0

menjadi 18,9 juta ton. Selain itu, produksi ternak dan hasil ternak diprakirakan juga meningkat sehingga memberikan sumbangan positif terhadap kinerja sektor pertanian seperti halnya pada tahun 2001. Sektor pertambangan diprakirakan akan tumbuh positif, meskipun masih relatif rendah. Faktor keamanan dan ketidakpastian hukum, terutama pada aktivitas penambangan liar, masih menjadi masalah pada sektor ini. Selain itu, permintaan ekspor barang

kebutuhan pupuk dalam negeri diperkirakan masih kurang mengingat belum optimalnya produksi pupuk di Aceh akibat masih tersendatnya pasokan gas dari Exxon. Produksi tahun 2002 diperkirakan mengalami penurunan sebesar 1,89% akibat turunnya luas panen.2 Sementara itu, sebagai dampak menurunnya permintaan luar negeri, ekspor produk pertanian, seperti kayu, karet, kopi, dan teh, diperkirakan masih melemah. Penurunan produksi yang cukup besar diprakirakan akan dialami komoditas kopi yang menurun sekitar 20%–25%. Penurunan tersebut diperkirakan akibat kurangnya pemeliharaan kebun kopi rakyat -khususnya dalam pemupukan- akibat rendahnya pendapatan petani dari hasil penjualan biji kopi yang harganya turun. Sementara itu, subsektor kehutanan diprakirakan belum menunjukkan kinerjanya yang berarti karena adanya kerusakan hutan yang cukup parah serta maraknya penjarahan, pencurian, dan penyelundupan kayu.

tambang, seperti timah, tembaga, nickel, aluminium, dan batu bara, diperkirakan akan mengalami penurunan. Namun demikian, investasi di bidang pertambangan diantaranya oleh British Petroleum, Exxon Mobil, Unocal, dan Gulf untuk eksplorasi minyak dan gas di wilayah Jawa Tengah dan Papua diperkirakan masih tetap berlangsung. Sektor industri pengolahan diprakirakan masih menjadi motor penggerak ekonomi yang terutama didorong oleh tingginya permintaan domestik. Hal ini dapat dilihat dari prakiraan meningkatnya utilisasi industri. Diantara industri-industri manufaktur yang berencana untuk menambah jumlah produksinya atau meningkatkan tingkat utilisasinya di tahun 2002 adalah industri perakitan sepeda motor, industri elektronika, industri minuman, industri ban, industri semen, industri farmasi, industri pakan ternak, dan industri plastik. Selain itu, beberapa industri bahkan berencana untuk melakukan ekspansi, diantaranya adalah industri lampu, industri percetakan, dan industri kemasan. Sementara itu, sebagai

2

Angka Ramalan I BPS bulan Februari 2002

dampak dari lesunya perekonomian Amerika Serikat

216

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan Tahun 2002

dan Uni Eropa (global recession), beberapa industri unggulan ekspor seperti industri TPT (Tekstil dan Produk Tekstil) dan industri alas kaki diperkirakan mengalami penurunan produksi paling tidak hingga awal semester kedua tahun 2002. Sektor listrik diprakirakan masih akan tumbuh tinggi. Meskipun kapasitas dan produksi listrik oleh PLN di Jawa-Bali tahun 2002 diprakirakan tidak mengalami peningkatan yang berarti, namun kapasitas IPP (Independent Power Producer) mengalami peningkatan. Peningkatan kapasitas tersebut sebagai upaya untuk merespon tingginya permintaan yang tercermin dari meningkatnya trend penjualan listrik. Tingginya rata-rata pertumbuhan penjualan listrik dari tahun 1995 sampai dengan tahun 2000 sebesar 9,3% mengindikasikan kebutuhan akan listrik selalu meningkat dan tinggi. Penjualan tenaga listrik sistem Jawa Bali oleh PLN pada tahun 2002 diperkirakan akan tumbuh 10,2%. Sektor bangunan akan mulai bangkit pada tahun 2002. Beberapa proyek besar seperti penerusan pembuatan Jakarta Outer Ring Route (JORR) akan direalisasikan. Pengembang (developer) perumahan mulai gencar membangun dan memasarkan rumahnya sejalan dengan besarnya permintaan tempat tinggal. Subsektor properti ritel dan rumah tinggal menengah ke bawah diperkirakan tumbuh, sementara properti perkantoran, apartemen, kondominium, dan kawasan industri cenderung stagnan. Penjualan rumah baru pada 2002 mendatang diperkirakan meningkat sebesar 11% dibandingkan tahun lalu sebagai akibat terjadinya ekspansi kredit pemilikan rumah (KPR) perbankan dan mulai pulihnya daya beli masyarakat. Penjualan tersebut akan meningkat meskipun harga jual rumah

naik rata-rata 4,7% hingga 9,4%. Maraknya bisnis properti ini ditunjang oleh trend yang meningkat pada penjualan semen dan prakiraan meningkatnya kredit di sektor properti sebesar 15,6% dibandingkan dengan tahun 2001. Sektor perdagangan diprakirakan akan tumbuh cukup tinggi. Pasar ritel daerah Bogor Tangerang-Bekasi diperkirakan akan mulai bergairah di tahun 2002, sedangkan pasar ritel Jakarta sudah mulai bergerak tahun 2001. Pertumbuhan penjualan ritel untuk tahun 2002 diperkirakan sebesar 15%. Hal ini antara lain didukung oleh adanya rencana penambahan beberapa gerai baru minimarket Indomaret di Surabaya, rencana perluasan Rimo di Balikpapan, Riau, dan Pontianak, serta rencana penambahan beberapa gerai baru Ramayana di daerah tingkat satu dan tingkat dua di luar pulau Jawa. Tingginya penjualan ritel ini menunjukkan bahwa permintaan domestik menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi. Indikator lainnya adalah penjualan sepeda motor yang masih menunjukkan trend yang naik dan diperkirakan terus berlanjut di tahun 2002 mendatang. Sementara itu, trend pertumbuhan kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia di tahun 2002 diprakirakan akan membaik. Hal ini disebabkan meningkatnya wisatawan yang berulang kali mengunjungi Indonesia (repeator tourists) dan adanya tendensi pengalihan kunjungan wisata dari tujuan semula ke Amerika dan Eropa menjadi ke Asia. Kunjungan wisatawan mancanegara tahun 2002 diprakirakan berjumlah 5,3 juta naik dari 5,0 juta di tahun 2001. Sektor angkutan menyumbang pertumbuhan ekonomi terbesar ketiga setelah sektor industri dan sektor perdagangan. Sektor ini diperkirakan akan tumbuh relatif tinggi di tahun 2002. Tragedi WTC tidak

217

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan Tahun 2002

berdampak signifikan terhadap kinerja sektor transportasi, terutama pelayaran dalam negeri. Total volume kargo kapal untuk pelayaran domestik dan internasional diproyeksikan meningkat. Jumlah penumpang kereta api diperkirakan terus mengalami peningkatan. Selain itu, jumlah penumpang angkutan udara domestik pada tahun 2002 diperkirakan naik 9,8% menjadi 8,8 juta orang dibanding tahun 2001. Hal tersebut didorong oleh semakin terjangkaunya tarif penerbangan dalam negeri dan adanya pengalihan pasar ke daerah-daerah potensial sebagai dampak dari otonomi daerah. Subsektor penerbangan diprakirakan masih akan mampu tumbuh karena mempunyai captive market yang besar di pasar domestik terutama angkutan jamaah haji. Di tahun 2002 diprakirakan tidak ada penambahan investasi untuk moda angkutan laut dan udara namun pemanfaatan kapasitas yang ada diprakirakan akan meningkat. Sementara itu, investasi moda angkutan darat khususnya kereta api dan bus diprakirakan masih akan meningkat, termasuk diantaranya rencana pengoperasian KA penumpang cepat jalur Yogyakarta-Solo-Semarang yang sedang dirintis oleh pemerintah daerah Jawa Tengah dan investor lokal. Kinerja sektor keuangan nasional di tahun 2002 diprakirakan akan lebih baik dibandingkan tahun 2001. Di subsektor perbankan, berbagai indikator keuangan diprakirakan akan membaik. Berdasarkan survei perbankan periode triwulan IV2001, permintaan kredit baru diprakirakan akan meningkat sejalan dengan membaiknya prospek usaha nasabah. Sektor jasa diprakirakan masih tumbuh positif. Implementasi otonomi daerah ditengarai akan

memberikan sumbangan positif pada sektor ini terutama pada kegiatan pelayanan kepada publik yang meningkat. Sementara itu, kegiatan hiburan dan rekreasi diperkirakan masih tetap marak. Dalam pada itu, Pemda DKI Jakarta berencana membangun fasilitas pusat wisata belanja dan agribisnis di kawasan Bandara-Sukarno Hatta yang menjual produk ekspor unggulan, termasuk hasil agrobisnis.

PROSPEK NERACA PEMBAYARAN
Kinerja neraca pembayaran Indonesia pada tahun 2002 secara keseluruhan relatif membaik dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini dapat dilihat terutama dari membaiknya lalu lintas modal. Sementara itu, transaksi berjalan tetap mencatat surplus meskipun cenderung menurun bila dibandingkan dengan tahun 2001. Menurunnya surplus transaksi berjalan terutama disebabkan oleh masih rendahnya pertumbuhan ekspor Indonesia sebagai akibat masih lambatnya pertumbuhan ekonomi negara-negara yang menjadi tujuan utama ekspor Indonesia seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Uni Eropa. Di samping faktor permintaan dunia, pertumbuhan ekspor juga dipengaruhi oleh perkembangan harga komoditas nonmigas di pasar internasional yang secara umum relatif masih rendah. Namun demikian, tekanan permintaan dan harga tersebut diprakirakan bersifat jangka pendek dan akan berkurang pada pada paro kedua tahun 2002. Terkait dengan hal itu, ekspor nonmigas diprakirakan masih akan mampu tumbuh di tahun 2002. Sementara itu, dengan tercapainya kesepakatan pembagian jumlah kuota produksi OPEC yang berlaku sejak Januari 2002, perkembangan harga

218

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan Tahun 2002

minyak internasional yang pada beberapa bulan terakhir tahun 2001 berada jauh di bawah kisaran harga OPEC akan sedikit membaik, meskipun kenaikan tersebut tidak akan terlalu signifikan. Dengan perkembangan harga minyak yang masih rendah serta sedikit berkurangnya kuota produksi minyak, pertumbuhan ekspor migas masih akan negatif di tahun 2002. Sementara itu, pertumbuhan impor diprakirakan masih akan cukup tinggi yang antara lain didorong oleh masih kuatnya pertumbuhan konsumsi serta mulai meningkatnya kegiatan investasi dan ekspor pada tahun 2002. Secara lebih rinci, transaksi berjalan tahun 2002 akan mencatat surplus sebesar $3,1 miliar, lebih rendah dari surplus tahun sebelumnya. Transaksi perdagangan mencatat surplus sebesar $20,3 miliar dan transaksi jasa-jasa mencatat defisit sebesar $17,3

miliar. Surplus transaksi perdagangan tersebut terutama disumbang oleh peningkatan ekspor nonmigas sehingga menjadi $48,3 miliar atau meningkat sebesar 5,5% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, nilai ekspor migas diperkirakan sebesar $11,4 miliar atau mengalami penurunan sebesar 11,4% dibandingkan tahun lalu. Secara keseluruhan impor tahun 2002 mencapai $39,4 miliar. Impor nonmigas akan mencapai $34,0 miliar atau meningkat sebesar 8,5% dibandingkan tahun lalu. Sementara itu, defisit transaksi jasa-jasa meningkat sebesar $0,6 miliar menjadi $ 17,3 miliar. Sumber defisit terutama berasal dari meningkatnya defisit jasa-jasa angkutan barang yang terkait dengan meningkatnya kegiatan impor, yakni sebesar $342 juta serta meningkatnya defisit net investment income sebesar $738 juta. Sementara itu, sumber penerimaan jasa-jasa terutama akan berasal dari peningkatan kegiatan pari-

Tabel 11.5 Proyeksi Neraca Pembayaran Indonesia Keterangan 2001* 2002**

wisata sejalan dengan meningkatnya arus turis asing ke Indonesia. Penerimaan devisa dari kegiatan pariwisata akan meningkat sebesar $764 juta. Lalu lintas modal tahun 2002 akan membaik yang antara lain tercermin dari defisit yang lebih rendah dibandingkan tahun lalu. Perkembangan defisit lalu lintas modal turun menjadi $2,8 miliar, yang berasal dari surplus lalu lintas modal pemerintah bersih sebesar $930 juta dan defisit lalu lintas modal swasta bersih sebesar $3,8 miliar. Tertundanya pencairan pinjaman luar negeri pemerintah pada tahun 2001 yang berkaitan dengan belum terpenuhinya policy matrix, diharapkan akan dapat dicairkan dalam tahun 2002. Selain itu, untuk mengurangi beban pembayaran pokok utang luar negeri, pemerintah akan tetap mengajukan rescheduling dalam forum Paris Club III.

Miliar $ A. Transaksi Berjalan 1. Barang a. Ekspor f,o,b, - Nonmigas - Migas b. Impor f,o,b, - Nonmigas - Migas 2. Jasa a. Nonmigas b. Migas B. Lalu Lintas Modal 1. Lalu lintas modal pemerintah (bersih) a. Penerimaan pinjaman b. Pelunasan pinjaman 2. Lalu lintas modal swasta (bersih) a. Penanaman modal langsung (bersih) b. Lainnya (bersih) C. Jumlah (A+B) D. Selisih Perhitungan antara C dan E E. Lalu Lintas Moneter1)
1) Minus (–) = Surplus, dan sebaliknya

5,0 21,6 58,7 45,8 12,9 -37,0 -31,4 -5,6 -16,7 -12,4 -4,3 -8,9 -0,3 3,3 -3,6 -8,6 -5,9 -2,7 -3,9 2,6 1,4

3,1 20,3 59,7 48,3 11,4 -39,4 -34,0 -5,4 -17,3 -14,2 -3,0 -2,8 0,9 5,3 -4,4 -3,8 -5,3 1,6 0,3 0 -0,3

219

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan Tahun 2002

Defisit lalu lintas modal swasta akan turun menjadi $3,8 miliar. Lebih rendahnya prakiraan defisit tersebut terutama disebabkan oleh turunnya prakiraan pembayaran utang luar negeri sektor swasta sejalan dengan semakin rendahnya posisi utang luar negeri swasta dan masih rendahnya pinjaman swasta asing yang masuk. Selain itu, defisit net portfolio investment turun dari $1,4 miliar menjadi $0,2 miliar yang terutama disebabkan oleh prakiraan net debt securities yang mencatat surplus sebesar $162 juta dari defisit $1,2 miliar pada tahun 2001.

rawannya proses transformasi demokrasi di dalam negeri. Dengan harapan membaiknya kondisi sosial politik, maka kondisi sektor riil, perbankan, dan moneter diperkirakan akan lebih kondusif sehingga proses intermediasi perbankan akan berjalan lebih baik. Hal ini dapat mengurangi berlebihnya likuiditas rupiah disektor keuangan yang berpotensi dapat memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Bertepatan dengan membaiknya kondisi di dalam negeri tersebut, kondisi ekonomi dunia diperkirakan akan menunjukkan awal pemulihan sejak perte-

PROSPEK NILAI TUKAR
Pada tahun 2002, nilai tukar rupiah diperkirakan akan mencapai rata-rata antara Rp9.500 – Rp10.500 per dolar3 dengan tingkat volatilitas yang cenderung lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Proyeksi tersebut akan lebih optimis apabila dalam waktu dekat terdapat beberapa langkah konkrit dalam program restrukturisasi ekonomi yang dapat memperbaiki ekspektasi pasar. Kecenderungan penguatan nilai tukar rupiah diperkirakan dapat terjadi sejak pertengahan tahun 2002. Hal ini didasari oleh optimisme bahwa kondisi sosial politik yang menunjukkan kecenderungan membaik sejak pertengahan tahun 2001 dapat membuka jalan sekaligus mempercepat penanganan berbagai program restrukturisasi perekonomian, sehingga dapat tercipta kondisi fundamental ekonomi yang lebih kondusif. Kendati demikian, kewaspadaan masih tetap diperlukan terhadap kemungkinan meningkatnya kembali ketidakpastian kondisi sosial politik tersebut mengingat masih
3 Diestimasi dengan menggunakan pendekatan model Technical Adjusted Behavioral Equilibrium Exchange Rate (BEER)

ngahan tahun 2002. Membaiknya kondisi di dalam dan luar negeri tersebut pada gilirannya akan memperbaiki kesenjangan permintaan dan penawaran valas. Besarnya kebutuhan valas untuk kegiatan impor dan pembayaran utang luar negeri swasta diperkirakan dapat diimbangi dengan mulai pulihnya aliran devisa masuk yang bersumber dari devisa ekspor dan penanaman modal asing baik dalam bentuk FDI maupun portofolio. Selain itu, dengan kecenderungan membaiknya kondisi sosial politik, tekanan permintaan valas yang bersumber dari kegiatan spekulasi dan penyelamatan asset (flight to quality) dapat lebih diminimalisir. Sementara itu, nilai tukar yang lebih stabil akan memberikan harapan bagi terdapatnya kepastian dalam penanganan berbagai permasalahan ekonomi sehingga dapat berjalan lebih efektif daripada tahun sebelumnya. Berbagai program restrukturisasi ekonomi seperti restrukturisasi utang dan korporasi diperkirakan akan berjalan lebih baik sehingga tekanan permintaan valas untuk kebutuhan pembayaran utang luar negeri diperkirakan akan mulai berkurang. Di samping itu, stabilnya nilai tukar rupiah

220

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan Tahun 2002

dapat mengurangi ketidakpastian kondisi fiskal yang pada gilirannya dapat mendorong terciptanya kestabilan ekonomi makro sekaligus memperbaiki kepercayaan publik.

tahun-tahun mendatang. Perkembangan harga komoditas di pasar internasional diprakirakan masih relatif rendah sehingga perkembangan inflasi dunia diprakirakan belum menunjukkan peningkatan yang berarti. Di samping itu, perkembangan nilai tukar

PROSPEK DAN SASARAN INFLASI Prospek Inflasi
Perkembangan inflasi di Indonesia dipengaruhi oleh kondisi makro ekonomi dan gangguan (shocks) yang berasal dari perkembangan di luar kondisi makro ekonomi. Kondisi makroekonomi yang dimaksud terutama adalah perkembangan permintaan dan penawaran agregat, perkembangan faktor eksternal yang memiliki pengaruh langsung terhadap inflasi (efek pass-through) dan ekspektasi inflasi masyarakat. Sementara itu, faktor di luar kondisi makro ekonomi adalah adanya penerapan kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan, faktor alam dan masalah yang terkait dengan produksi dan distribusi. Dalam jangka pendek, tekanan inflasi dari sisi permintaan agregat diperkirakan akan meningkat. Namun demikian, tekanan inflasi tersebut diperkirakan bukan diakibatkan oleh permintaan yang terlalu tinggi (excess demand) melainkan lebih disebabkan oleh pertumbuhan kapasitas produksi yang relatif terbatas. Hal ini antara lain tercermin dari pertumbuhan investasi yang rendah sementara pertumbuhan konsumsi masyarakat meningkat. Menurunnya produktivitas di sektor pertanian diperkirakan juga akan turut menyumbang kenaikan hargaharga bahan makanan karena tidak mampu mengimbangi kenaikan permintaan. Sementara itu, tekanan inflasi dari sisi eksternal diprakirakan tidak terlalu signifikan pada

tahun 2002 diprakirakan akan sedikit menguat mencapai rata-rata antara Rp9.500 – Rp10.500 per dolar terutama berkaitan dengan risiko politik yang memiliki kecenderungan yang membaik. Walaupun demikian, pergerakan nilai tukar masih perlu diwaspadai mengingat efek pass-through nilai tukar yang sangat signifikan terhadap perkembangan laju inflasi. Faktor fundamental lainnya adalah ekspektasi masyarakat terhadap perkembangan inflasi yang merupakan faktor yang paling dominan dalam menentukan laju inflasi. Faktor ekspektasi inflasi ini ditentukan oleh perkembangan inflasi pada periode lalu (ekspektasi adaptif) dan perkembangan kondisi perekonomian terutama variabel-variabel yang memiliki hubungan erat dengan perkembangan inflasi, yaitu perkembangan nilai tukar dan kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan. Untuk tahun 2002 inflasi yang diekspektasikan oleh masyarakat diperkirakan sedikit menurun dibandingkan dengan inflasi tahun 2001. Hal ini didasarkan pada angka rata-rata prakiraan inflasi dari berbagai lembaga penelitian yang sedikit lebih rendah dibandingkan dengan inflasi tahun 2001, yaitu sekitar 10%. Di luar faktor makro ekonomi, faktor gangguan yang diperkirakan akan memberikan tekanan yang cukup tinggi terhadap perkembangan laju inflasi di tahun 2002 adalah adanya penerapan kebijakan pemerintah di bidang harga yang tekanannya muncul

221

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan Tahun 2002

Tabel 11.6 Rencana Kebijakan Pemerintah Di Bidang Harga Tahun 2002 Kenaikan Harga/Tarif (%) 6 6 6 6 22 10 15 30

Persen 1.4 1.3 LII + 8 bln

Kebijakan Pemerintah TDL Tahap I TDL Tahap II TDL Tahap III TDL Tahap IV BBM Cukai (HJE) Rokok Tarif Telepon UMR/UMP

Periode Penerapan trw I trw II trw III trw IV trw I trw I trw I trw I

1.2 1.1 1.0 0.9 0.8 0.7

1

4

7 10

1

4

7

10

1

4

7

10

1

4

7 10

1

4

7

10

1

4

1997

1998

1999

2000

2001

2002

Grafik 11.4 Perkembangan Leading Indikator Inflasi

melalui cost-push inflation. Dampak yang tinggi terhadap inflasi terutama bersumber dari kenaikan harga BBM, kenaikan TDL, kenaikan tarif telepon, prakiraan kenaikan cukai rokok dan rencana kenaikan UMP. Dari berbagai rencana penerapan kebijakan pemerintah di bidang harga yang telah teridentifikasi persentase kenaikannya, dampak inflatoirnya terhadap perkembangan inflasi IHK diperkirakan mencapai sekitar 2,6%. Faktor gangguan lainnya yang memiliki dampak cukup signifikan adalah faktor alam dan masalah distribusi. Gangguan dari faktor alam pada tahun 2002 diperkirakan akan muncul seiring dengan prakiraan adanya El-Nino yang akan mengganggu proses produksi di sektor pertanian. Hal ini akan berdampak pada kenaikan harga-harga kelompok bahan makanan akibat berkurangnya pasokan. Sementara itu, perkembangan Leading Indikator Inflasi (LII) diperkirakan telah menunjukkan puncak siklus (peak) di sekitar bulan Oktober tahun 2001. Dengan prakiraan lead time sekitar 8 bulan terhadap siklus inflasi, siklus inflasi diperkirakan akan mencapai puncaknya di sekitar semester pertama

tahun 2002. Berdasarkan hal ini, perkembangan inflasi (y-o-y) diperkirakan akan mulai menunjukkan penurunan di pertengahan tahun 2002. Dalam jangka menengah, perkembangan inflasi akan lebih banyak didominasi perkembangan inflasi yang diekspektasikan oleh masyarakat. Upaya Bank Indonesia dalam mengendalikan laju inflasi diharapkan akan dapat mengarahkan ekspektasi masyarakat pada perkembangan inflasi yang menurun pada tahun-tahun mendatang. Sementara itu, penerapan kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan masih akan terus berlangsung dalam beberapa tahun mendatang, seiring dengan upaya pemerintah dalam mengurangi defisit anggaran melalui pengurangan subsidi dan peningkatan penerimaan pajak. Namun dampak inflasinya diperkirakan akan semakin menurun terutama berkaitan dengan prakiraan penurunan intensitas dari penerapan kebijakan ini di tahun-tahun mendatang. Sementara itu, stabilnya perkembangan nilai tukar rupiah dalam jangka menengah diperkirakan tidak memberikan dampak inflatoir terhadap perkembangan inflasi dalam jangka menengah.

222

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan Tahun 2002

Sasaran Inflasi
Berdasarkan evaluasi perkembangan pencapaian sasaran inflasi Bank Indonesia dalam dua tahun terakhir, pada tahun 2002 Bank Indonesia melakukan perubahan dalam metode penetapan sasaran inflasi. Dalam perubahan ini ini ditetapkan jenis sasaran inflasi yang lebih dapat diterima oleh masyarakat serta ditetapkan level dan periode pencapaian sasaran inflasi yang optimal (Boks : Penetapan Sasaran Inflasi Bank Indonesia). Untuk itu pada tahun 2002, Bank Indonesia menggunakan inflasi IHK sebagai jenis inflasi yang dijadikan sasaran untuk dicapai. Di samping itu, selain mengumumkan sasaran inflasi jangka pendek yang akan dicapai pada tahun 2002, Bank Indonesia juga menetapkan sasaran inflasi jangka menengah yang akan dicapai dalam 5 tahun. Penggunaan inflasi IHK sebagai jenis inflasi yang dijadikan sasaran Bank Indonesia perlu dilakukan dalam upaya meningkatkan peran Bank Indonesia dalam pembentukan ekspektasi inflasi di masyarakat. Untuk tujuan ini, maka dari berbagai kriteria yang dipertimbangkan dalam pemilihan jenis sasaran inflasi, yaitu akseptabilitas, prediktabilitas, dan kontrolabilitas, Bank Indonesia perlu untuk lebih mengutamakan kriteria akseptabilitas. Inflasi IHK merupakan jenis inflasi yang paling memenuhi kriteria akseptabilitas ini. Karena dari berbagai jenis indikator inflasi yang dapat dijadikan sasaran oleh Bank Indonesia, inflasi IHK merupakan jenis inflasi yang lebih dikenal dan lebih dipahami oleh masyarakat. Dengan memperhatikan prospek makro ekonomi dan sumber-sumber tekanan inflasi serta adanya keterbatasan kebijakan moneter dalam

menghadapi trade off antara laju inflasi dan pertumbuhan ekonomi, proses disinflasi belum dapat dilakukan secara tajam pada 2002. Penetapan sasaran inflasi yang rendah di tahun 2002 akan membutuhkan reaksi kebijakan moneter yang ekstra ketat sehingga dapat menghambat proses pemulihan ekonomi Indonesia. Dengan demikian level sasaran inflasi yang optimal untuk dicapai di akhir tahun 2002 adalah pada level yang relatif masih berada dalam kisaran prakiraan laju inflasi di tahun tersebut, yaitu pada kisaran 9%-10%. Dalam jangka menengah, Bank Indonesia dapat melakukan proses disinflasi dengan penetapan sasaran inflasi yang menurun secara bertahap. Berdasarkan proses simulasi yang didasarkan pada asumsi menurunnya intensitas kebijakan pemerintah di bidang harga dan tidak terjadinya gejolak nilai tukar rupiah, proses disinflasi dapat dilakukan dengan penerapan kebijakan moneter yang berhati-hati. Melalui kebijakan tersebut, dalam 5 tahun ke depan secara bertahap inflasi akan diarahkan pada kisaran 6%–7%. Dengan mengupayakan penurunan inflasi secara bertahap, diharapkan kebijakan moneter yang ekstra ketat dapat dihindarkan sehingga proses pemulihan ekonomi dapat terus berlangsung. Sementara itu, keberhasilan dalam mencapai sasaran inflasi secara bertahap akan meningkatkan kredibilitas Bank Indonesia sehingga proses disinflasi ke tingkat yang rendah dapat dilakukan dengan biaya sosial yang minimal.

ARAH KEBIJAKAN
Dengan memperhatikan prospek ekonomi dan sasaran inflasi yang ditetapkan serta berbagai

223

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan Tahun 2002

tantangan yang dihadapi di tahun 2002, Bank Indonesia akan berupaya untuk menempuh kebijakankebijakan di bidang moneter, perbankan dan sistem pembayaran secara konsisten. Di bidang moneter, kebijakan Bank Indonesia tetap diarahkan untuk mencapai sasaran laju inflasi yang ditetapkan. Upaya tersebut akan difokuskan pada penyerapan ekses likuiditas agar tetap sesuai dengan kebutuhan riil perekonomian. Hal ini dilakukan dengan mempertimbangkan pula suku bunga riil yang positif pada kisaran 4,0%–5,0%. Secara operasional, pengendalian moneter akan dilakukan dengan mengoptimalkan instrumeninstrumen moneter terutama melalui OPT dengan lelang SBI. Upaya tersebut juga didukung dengan melakukan sterilisasi valas. Langkah ini akan dilakukan secara berhati-hati dan terukur agar kestabilan harga tetap terjaga untuk mendukung proses pemulihan ekonomi yang sedang berlangsung, sehingga dalam jangka panjang dapat dicapai pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan. Di samping itu, dalam rangka meredam fluktuasi nilai tukar, pengawasan terhadap transaksi devisa bank-bank, baik secara langsung maupun tidak langsung akan terus dioptimalkan. Berbagai upaya untuk memperbaiki struktur mikro pasar valas termasuk mengurangi segmentasi pasar juga akan terus dilakukan sehingga dapat tercipta pasar valas yang likuid dan efisien. Di sisi lain, dengan banyaknya faktor-faktor nonmoneter yang berpengaruh terhadap inflasi, koordinasi antara Bank Indonesia dengan Pemerintah perlu ditingkatkan untuk mengatasi sumber-sumber inflasi yang berasal dari dampak kebijakan pemerintah serta faktor produksi dan distribusi barang dan jasa.

Di bidang perbankan, prioritas utama kebijakan diarahkan untuk memperkuat ketahanan sistem perbankan. Untuk mencapai hal tersebut, Bank Indonesia akan terus meneruskan memaksimalkan penerapan 25 Basel Core Principles for Effective Banking Supervision yang penjabarannya dituangkan dalam Master Plan Peningkatan Efektivitas Pengawasan Bank. Upaya untuk memelihara CAR bank-bank yang telah mencapai 8% terus dilakukan khususnya terhadap bank-bank yang struktur permodalannya masih rentan terhadap pengaruh kenaikan suku bunga dan melemahnya nilai tukar serta penurunan kualitas kredit. Bagi bank-bank besar yang beroperasi secara internasional akan didorong untuk lebih meningkatkan rasio kecukupan modalnya di atas 8%. Di samping itu, dalam rangka meningkatkan stabilitas sistem keuangan, pada saat ini Bank Indonesia sedang melakukan pengkajian mengenai landscape perbankan Indonesia yang terintegrasi dengan pengembangan lembaga finansial lainnya. Sementara itu, untuk memulihkan fungsi intermediasi perbankan, Bank Indonesia akan mendorong perbankan untuk lebih banyak lagi menyalurkan kredit kepada sektor-sektor yang dianggap telah siap dan memiliki risiko yang relatif rendah seperti kredit ekspor dan kredit bagi usaha kecil dan menengah dengan tetap memperhatikan prinsip perkreditan yang sehat, serta melakukan penyempurnaan terhadap beberapa ketentuan untuk mempercepat intermediasi perbankan. Selain itu, usaha untuk meningkatkan kesehatan bank juga didukung oleh upaya-upaya yang terus menerus untuk menekan angka NPLs perbankan nasional dengan mewajibkan bank-bank untuk mencapai target NPLs sebesar 5% pada akhir

224

Prospek Ekonomi dan Arah Kebijakan Tahun 2002

tahun 2002. Sementara itu, upaya yang perlu dilakukan untuk memperkuat infrastruktur perbankan nasional dapat dilakukan dengan terus mendorong pengembangan bank syariah dan keberadaan BPR serta bersama-sama dengan pemerintah mempersiapkan pembentukan Lembaga Penjamin Simpanan dan lembaga pengawas jasa keuangan. Di bidang sistem pembayaran tunai, kebijakan diarahkan pada penyediaan uang yang layak edar dan mencukupi kebutuhan masyarakat baik dari sisi nominal maupun jenis pecahannya. Kebijakan ini antara lain mencakup penataan kembali jalur distribusi uang serta pendirian laboratorium untuk menguji bahan uang. Di samping itu, Bank Indonesia juga akan melanjutkan penerapan Sistem Informasi Pengedaran Uang pada kantor-kantor koordinator agar dapat terintegrasi dengan kantor pusat. Sementara dari sisi pembayaran nontunai, kebijakan tetap diarahkan pada pengurangan risiko pembayaran, peningkatan kualitas dan kapasitas layanan sistem pembayaran serta pengaturan pengawasan sistem pembayaran guna mendorong terwujudnya sistem pembayaran yang cepat, aman dan efisien. Kebijakan tersebut direalisasikan dengan terus dilanjutkannya implementasi sistem BI-RTGS ke 15 KBI lainnya sehingga apabila seluruh KBI telah menggunakan sistem BI-RTGS, pelaksanaan tugas

Bank Indonesia dalam melakukan pemantauan ketaatan bank dalam memenuhi ketentuan GWM dan pemantauan likuiditas bank akan sangat terbantu. Sementara itu, dalam rangka peningkatan kualitas dan kapasitas layanan sistem pembayaran khususnya yang berkaitan dengan penyelenggaraan kliring, Bank Indonesia telah mengembangkan SIKJJ yang direncanakan akan diimplementasikan di Kantor Pusat Jakarta dan KBI yang telah menggunakan sistem kliring otomasi. Selain itu, Bank Indonesia juga melakukan penyusunan ketentuan mengenai pengawasan penyelenggara sistem pembayaran, menyelenggarakan jasa sistem pembayaran dengan menggunakan alat pembayaran non tunai dan jasa pendukungnya serta melakukan pengaturan yang terkait dengan upaya mengatasi kegagalan peserta kliring dalam penyelesaian kewajiban setelmennya. Untuk menurunkan risiko setelmen di pasar modal, Bank Indonesia akan melakukan pengembangan sistem Delivery Versus Payment (DVP) tahap pertama. Dengan adanya pengembangan ini akan terbentuk suatu integrasi sistem setelmen antara sisi pembayaran (payment leg) melalui sistem BI-RTGS dengan sisi penyerahan sekuritas (delivery leg) melalui setelmen sekuritas.

225

Lampiran

LAMPIRAN

226

Lampiran

Lampiran A

BANK INDONESIA

Kantor Pusat
Jakarta

Kantor Perwakilan
London New York Singapura Tokyo

Kantor-Kantor Bank Indonesia
Ambon, Balikpapan, Banda Aceh, Bandar Lampung, Bandung, Banjarmasin, Batam, Bengkulu, Cirebon Denpasar, Jambi, Jayapura, Jember, Kediri, Kendari, Kupang, Lhokseumawe, Makassar, Malang, Manado, Mataram, Medan, Padang, Palangkaraya, Palembang, Palu,Pekanbaru, Pontianak, Purwokerto, Samarinda, Semarang, Sibolga, Solo, Surabaya, Tasikmalaya, Ternate, Yogyakarta

227

Lampiran

Lampiran B

Dewan Gubernur Bank Indonesia
per tanggal 31 Desember 2001

Gubernur
Syahril Sabirin

Deputi Gubernur Senior
Anwar Nasution

Deputi Gubernur
Miranda S. Goeltom Aulia Pohan Achjar Iljas

228

Lampiran

Lampiran C.1

Organisasi dan Sumber Daya Manusia
Selama tahun laporan, Bank Indonesia telah melakukan beberapa penyempurnaan organisasi dan pengembangan sumber daya manusia (SDM). Penyempurnaan organisasi telah dilakukan untuk mengakomodasikan perubahan-perubahan yang terjadi. Sehubungan dengan pemantauan kegiatan lalu lintas devisa telah dilakukan penyempurnaan organisasi Direktorat Statistik Ekonomi dan Moneter dengan melakukan perubahan pada Struktur Organisasi dan Tugas Pokok Direktorat dimaksud. Dengan semakin meningkatnya volume kegiatan pengaturan, perizinan dan pengawasan Bank Syariah, telah dibentuk sebuah satuan kerja berbentuk Biro yang menangani hal-hal tersebut yaitu Biro Perbankan Syariah. Di samping itu, dalam rangka melaksanakan verifikasi (off-site) atas kelayakan penjaminan Trade Maintenance Facility (TMF) dan Inter Bank Debt/Exchange Offer (IBD/EO) telah dilakukan penyempurnaan organisasi Direktorat Luar Negeri. Verifikasi tersebut semula ditangani oleh satuan kerja di sektor Perbankan. Sehubungan dengan pembentukan beberapa propinsi baru di wilayah Republik Indonesia yaitu Propinsi Banten, Kepulauan Bangka Belitung dan Gorontalo, telah dilakukan pengaturan kembali wilayah kerja Kantor Bank Indonesia di daerah. Hal ini dilakukan untuk memperjelas kewenangan masing-masing Kantor Bank Indonesia yang meliputi wilayah propinsi-propinsi bentukan baru tersebut. Dalam rangka melakukan perubahan secara mendasar dan bersifat menyeluruh, saat ini Bank Indonesia sedang melaksanakan Program Transformasi Bank Indonesia. Program ini dilakukan secara bertahap dan telah memasuki tahap implementasi sejak pertengahan bulan Oktober 2001 dengan pelaksanaan 7 (tujuh) program strategis yaitu Proyek Perencanaan, Anggaran dan Manajemen Kinerja; Proyek Manajemen Sumber Daya Manusia; Proyek Perbankan; Proyek Manajemen Informasi; Proyek Teknologi Informasi; Proyek Moneter; dan Proyek Logistik (Bagan 1). Implementasi masing-masing proyek dimaksud dilaksanakan di bawah organisasi Unit Khusus Program

Penanggung Jawab Program Masing-masing Penanggung Jawab Proyek (anggota Dewan Gubernur) Tim Pengarah Program Direktur Program Tim Pengarah Proyek

1 Sumber Daya Manusia Keterangan :

2
Perencanaan, Anggaran dan Manajemen Kinerja

3 Manajemen Informasi

4 Moneter

5 Perbankan

6 Teknologi Informasi

7 Logistik

8 Pengendalian Program

– Penanggungjawab program dipimpin langsung oleh Gubernur Bank Indonesia dibantu oleh Dewan Gubernur Bank Indonesia – Pemilik Program adalah Deputi Gubernur yang langsung mengelola workstream

Bagan 1 Organisasi Unit Khusus Program Transformasi Bank Indonesia

229

Lampiran

Transformasi (UKPT) sebagai tindak lanjut atas hasil diagnostic

dalam rangka Inter Bank Debt/Exchange Offer (IBD/EO), program penjaminan kewajiban pembayaran Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat. Dalam rangka mewujudkan manajemen sumber daya manusia yang mampu mengembangkan sumber daya manusia yang efektif dan memiliki kompetensi tinggi melalui pelaksanaan fungsi sumber daya manusia yang profesional dengan dukungan sistem sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan organisasi, Bank Indonesia secara terus-menerus melakukan penyempurnaan Sistem Manajemen Sumber Daya Manusia. Pada tahun 2001 telah diimplementasikan ketentuan mengenai Disiplin Pegawai dan pengaturan Penghargaan Masa Pengabdian. Selain itu telah diterbitkan pula ketentuan Manajemen Jalur Karir bagi Kasir dan Satuan Pengamanan. Tujuan ketentuan ini adalah untuk memberikan kejelasan tentang Jalur Karir Kasir dan Satpam di Bank Indonesia dalam rangka meningkatkan kinerja dan kepuasan kerja. Untuk melaksanakan tugas dan wewenang secara bersih dan bebas dari unsur-unsur korupsi, kolusi dan nepotisme, kepada Pimpinan (Anggota Dewan Gubernur) dan Pejabat Bank Indonesia sampai dengan tingkat tertentu diwajibkan melakukan pelaporan harta kekayaannya.

study yang telah dilakukan pada tahap sebelumnya. Tahap
implementasi yang tengah dilakukan saat ini merupakan fase pertama dari tiga fase yang telah dijadwalkan, mengingat cakupan penyempurnaan organisasi yang cukup luas dalam program ini. Sejalan dengan reorganisasi melalui Program Transformasi, penyempurnaan organisasi di bidang lain tetap dilakukan. Penyempurnaan dimaksud adalah penyempurnaan organisasi Direktorat Pengedaran Uang dengan pertimbangan untuk meningkatkan fungsi penelitian dan pengembangan serta pengaturan di bidang Pengedaran Uang. Pertimbanganpertimbangan lain yang mendasari penyempurnaan organisasi tersebut adalah diterapkannya Currency Handling System yang terpadu secara efektif dan efisien, standarisasi untuk mempercepat pelayanan kebutuhan kas bank, serta pemanfaatan perkembangan teknologi sortasi, pemusnahan dan handling material yang berdampak pada prosedur kerja. Disamping itu, telah pula dilakukan penyempurnaan organisasi di Sektor Moneter, untuk mengakomodasikan tugas penatausahaan Surat Utang Pemerintah (SUP). Penggunaan SUP tersebut adalah untuk penyediaan dana penjaminan

Jumlah Pegawai
Akhir No. Tahun Anggaran Kantor Pusat Kantor Bank Indonesia di Daerah 1. 2. 3. 4. 5. 1997/1998 1998/1999 1999/2000 2000/2001 Januari 2002 3.341 3.299 3.068 3.123 3.119 2.882 2.852 2.601 2.615 2.556 671) 21 17 18 18 6.290 6.172 5.686 5.756 5.693 Kantor Perwakilan Jumlah

1) Termasuk petugas belajar jangka panjang.

230

Lampiran

Kantor Pusat
Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Direktorat Statistik Ekonomi dan Moneter Direktorat Pengelolaan Moneter Direktorat Pengelolaan Devisa Direktorat Luar Negeri Biro Kredit Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan Direktorat Perizinan dan Informasi Perbankan Direktorat Pengawasan Bank 1 Direktorat Pemeriksaan Bank 1 Direktorat Pengawasan Bank 2 Direktorat Pemeriksaan Bank 2 Direktorat Pengawasan Bank Perkreditan Rakyat Direktorat Pengedaran Uang Direktorat Akunting dan Sistem Pembayaran Direktorat Logistik dan Pengamanan Direktorat Teknologi Informasi Direktorat Sumber Daya Manusia Direktorat Keuangan Intern Direktorat Hukum Direktorat Pengawasan Intern Biro Gubernur Biro Sekretariat Unit Khusus Investasi Perbankan Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan Biro Perbankan Syariah Unit Khusus Program Transformasi : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : Hartadi A. Sarwono Ratnawati Priyono Aslim Tajuddin Made Sukada Ny. Veronica W.S.P. Nn. Roswita Roza Imam Sukarno Ny. Siti Ch. Fadjriah S. Aris Anwari Octo R. Nasution Abdul Salam Adi Putra Hasan Harmain Salim M. Ashadhi J. L. Mangunsong Baridjussalam Hadi Ny. Kusumaningtuty Bachri Ansjori Halim Alamsyah S. Djatiwaluyo Prihono Bagio Bambang S. Wahyudi Harisman Romeo Rissal

Kantor Perwakilan
Perwakilan Singapura Perwakilan Tokyo Perwakilan London Perwakilan New York : : : : Kemas A. Sjarifuddin Djakaria Rasmo Samiun Maman Hendarman

231

Lampiran

Kantor Bank Indonesia
Kelas I
Kantor Bank Indonesia Bandung Kantor Bank Indonesia Medan Kantor Bank Indonesia Semarang Kantor Bank Indonesia Surabaya : : : : Djoko Sarwono Bambang Setijoprodjo Ardhayadi Sumantri

Kelas II
Kantor Bank Indonesia Bandar Lampung Kantor Bank Indonesia Banjarmasin Kantor Bank Indonesia Denpasar Kantor Bank Indonesia Manado Kantor Bank Indonesia Padang Kantor Bank Indonesia Palembang Kantor Bank Indonesia Makassar Kantor Bank Indonesia Yogyakarta : : : : : : : : Imrandani M. Zaeni Abu Amin Ilham Ikhsan M. Djaelani S. Abdul Azis Irman Djaja Dalimi Djoko Sutrisno Amril Arief

Kelas III
Kantor Bank Indonesia Ambon Kantor Bank Indonesia Banda Aceh Kantor Bank Indonesia Cirebon Kantor Bank Indonesia Jambi Kantor Bank Indonesia Jayapura Kantor Bank Indonesia Malang Kantor Bank Indonesia Mataram Kantor Bank Indonesia Pekanbaru Kantor Bank Indonesia Pontianak Kantor Bank Indonesia Samarinda Kantor Bank Indonesia Solo : : : : : : : : : : : M. Yusuf Oesep W. Yusmanazir Katin Djarot Sumartono Ade N. Rachmana Sahat Tampubolon Sentot Purnomo Satria Mulya C. Y. Boestal Amin Sisworo Sarman Bona Sihotang Adiastopo Joko Purnomo

232

Lampiran

Kelas IV
Kantor Bank Indonesia Balikpapan Kantor Bank Indonesia Kupang Kantor Bank Indonesia Jember Kantor Bank Indonesia Kediri Kantor Bank Indonesia Purwokerto Kantor Bank Indonesia Tasikmalaya Kantor Bank Indonesia Palangkaraya Kantor Bank Indonesia Bengkulu Kantor Bank Indonesia Kendari Kantor Bank Indonesia Palu : : : : : : : : : : Erman Kurnandi Dikan Sutikno Budhi Santoso Sumarno Sunarko Joko Wardoyo Mokhammad Dakhlan Moch. Zaenal Alim

Kelas V
Kantor Bank Indonesia Batam Kantor Bank Indonesia Sibolga Kantor Bank Indonesia Lhokseumawe Kantor Bank Indonesia Ternate : : : : Ali Imron Murim Yasin Effendi Fachrurrazi Muh. Abdul Fadlil

233

234

Lampiran C.2

Lampiran

STRUKTUR ORGANISASI BANK INDONESIA
DEWAN GUBERNUR
Gubernur Deputi Gubernur Senior Deputi-Deputi Gubernur

DKM

DSM

DPM

DPD

DLN

BKr

DPNP

DPIP

DPwB1

DPwB2

DPmB1

DPmB2

DPBPR

UKIP

BPS

DPU

DASP

DLP

DTI

DSDM

DKI

DHK

DPI

PPSK

UKPT

BGub

BSk

APK

SMon

OPU

DR

APLN

PAdk

Tim

Tim

PwB11

PwB21

Tim

Tim

Tim

Tim

Tim

BPUM

PSPN

PrLJ

PPTI

PrOS

PPKI

Tim

Tim

Kel.

Proyek

Tim

Pro

PwB12

PwB22 IDMB1 IDMB2

SPPK

SNP

PP

Tim

PLN

Tim

PNPB

DtB
PwB13 PwB23

P3BPR

IDIP

BPU

AkDv

PGL-I

PmTI

PgKP

LKeu

AdPI

PPr

Tim

Ars

SEM

SRKP

PTPU

PTD

EXIM

IDPn

Prz
PwB14 PwB24

IDBPR

DU

KIJ

PGL-II

PDE

PPbP

PGKI

SSR

PDIE

Admp

AdPS

KEPI

IPSiP

PwB15

PwB25

PPgU

PTR

PgJ

Ang

SEI

Adms

Adml

PwB16

PwB26

Tim

Pam

IDWB1

IDWB2

PRAd

NY

Lnd

Tky

Sn

Mdn Bna Lsm Sbg

Pdg Pbr Jb Bn Btm

Bd Pg Bdl Cn Tsm

Sm Yk Slo Pwt

Sb Dpr Ml Mtr Kpa Kd Jr

Bjm Ptk Bpp Plk Smr

Mks Mo Kdi Ab Jap Pal Tt

Lampiran

Daftar Satuan Kerja di Bank Indonesia
No.
I.

Nama Satuan Kerja
DIREKTORAT RISET EKONOMI DAN KEBIJAKAN MONETER 1. Bagian Analisis dan Perencanaan Kebijakan 2. Bagian Studi Struktur dan Perkembangan Pasar Keuangan 3. Bagian Studi Ekonomi Makro 4. Bagian Studi Sektor Riil 5. Bagian Studi Ekonomi dan Lembaga Internasional 6. Bagian Perpustakaan Riset dan Administrasi DIREKTORAT STATISTIK EKONOMI DAN MONETER 1. Bagian Statistik Moneter 2. Bagian Statistik Neraca Pembayaran 3. Bagian Statistik Sektor Riil dan Keuangan Pemerintah 4. Bagian Pengelolaan Data dan Informasi Ekonomi dan Moneter 5. Bagian Administrasi DIREKTORAT PENGELOLAAN MONETER 1. Bagian Operasi Pasar Uang 2. Bagian Pengembangan Pasar Uang 3. Bagian Penyelesaian Transaksi Pasar Uang 4. Bagian Administrasi DIREKTORAT PENGELOLAAN DEVISA 1. Dealing Room 2. Tim Pengelolaan Risiko 3. Tim Analisis Ekonomi dan Peraturan Devisa 4. Bagian Penyelesaian Transaksi Devisa 5. Bagian Administrasi dan Pemeliharaan Sistem Tresuri DIREKTORAT LUAR NEGERI 1. Bagian Administrasi dan Analisis Pinjaman Luar Negeri 2. Bagian Pinjaman Luar Negeri 3. Bagian Ekspor Impor 4. Bagian Kerjasama Ekonomi dan Perdagangan Internasional 5. Bagian Administrasi BIRO KREDIT 1. Bagian Pengelolaan dan Administrasi Kredit 2. Tim Penelitian dan Pengembangan DIREKTORAT PENELITIAN DAN PENGATURAN PERBANKAN 1. Tim-tim a. Tim Pengaturan Bank b. Tim Pengembangan Pengawasan Bank 2. Biro Penelitian Perbankan 3. Bagian Informasi dan Dokumentasi Penelitian & Pengaturan Perbankan

Singkatan
DKM APK SPPK SEM SSR SEI PRAd DSM SMon SNP SRKP PDIE Adms DPM OPU PPU PTPU Admp DPD DR PTD AdPS DLN APLN PLN EXIM KEPI Adml BKr PAdk DPNP -

II.

III.

IV.

V.

VI.

VII.

PNPB IDPnP

235

Lampiran

No.
VIII.

Nama Satuan Kerja
DIREKTORAT PERIZINAN DAN INFORMASI PERBANKAN 1. Tim Bank Dalam Likuidasi 2. Bagian Data Perbankan 3. Bagian Perizinan 4. Bagian Informasi dan Pengembangan Sistem Informasi Perbankan DIREKTORAT PENGAWASAN BANK 1 1. Bagian Pengawasan Bank 11 2. Bagian Pengawasan Bank 12 3. Bagian Pengawasan Bank 13 4. Bagian Pengawasan Bank 14 5. Bagian Pengawasan Bank 15 6. Bagian Pengawasan Bank 16 7. Bagian Informasi dan Dokumentasi Pengawasan Bank 1 DIREKTORAT PENGAWASAN BANK 2 1. Bagian Pengawasan Bank 21 2. Bagian Pengawasan Bank 22 3. Bagian Pengawasan Bank 23 4. Bagian Pengawasan Bank 24 5. Bagian Pengawasan Bank 25 6. Bagian Pengawasan Bank 26 7. Bagian Informasi dan Dokumentasi Pengawasan Bank 2 DIREKTORAT PEMERIKSAAN BANK 1 1. Tim-tim Pemeriksa 2. Bagian Informasi dan Dokumentasi Pemeriksaan Bank 1 DIREKTORAT PEMERIKSAAN BANK 2 1. Tim-tim Pemeriksa 2. Bagian Informasi dan Dokumentasi Pemeriksaan Bank 2 DIREKTORAT PENGAWASAN BANK PERKREDITAN RAKYAT 1. Tim-tim a. Tim Pengawasan b. Tim Penjaminan & Likuiditas BPR 2. Bagian Perizinan, Penelitian dan Pengaturan BPR 3. Bagian Informasi dan Dokumentasi Pengawasan BPR UNIT KHUSUS INVESTIGASI PERBANKAN 1. Tim-tim Investigasi 2. Bagian Informasi dan Dokumentasi Investigasi Perbankan BIRO PERBANKAN SYARIAH 1. Tim-Tim a. Tim Penelitian dan Pengaturan Perbankan Syariah b. Tim Pengawasan Bank Syariah c. Tim Perizinan dan Administrasi Perbankan Syariah

Singkatan
DPIP – DtB Prz IDSiP DPwB1 PwB11 PwB12 PwB13 PwB14 PwB15 PwB16 IDWB1 DPwB2 PwB21 PwB22 PwB23 PwB24 PwB25 PwB26 IDWB2 DPmB1 IDMB1 DPmB2 IDMB2 DPBPR -

IX.

X.

XI.

XII.

XIII.

P3BPR IDBPR UKIP IDIP BPS –

XIV.

XV.

236

Lampiran

No.
XVI.

Nama Satuan Kerja
DIREKTORAT PENGEDARAN UANG 1. Bagian Pengelolaan Uang Masuk 2. Bagian Pengelolaan Uang Keluar 3. Bagian Distribusi Uang 4. Bagian Pelaksanaan Pengadaan Uang 5. Tim Penelitian, Perencanaan dan Pengaturan Pengedaran Uang DIREKTORAT AKUNTING DAN SISTEM PEMBAYARAN 1. Biro Pengembangan Sistem Pembayaran Nasional 2. Bagian Akunting Devisa 3. Bagian Kliring Jakarta 4. Bagian Penyelesaian Transaksi Rupiah

Singkatan
DPU BPUM BPUK DU PPgu – DASP PSPN AkDv KlJ PTR DLP PrLJ PgL-I PgL-II PgJ Pam DTI PPTI PmTI PDE DSDM PrOS PgKP PPbP DKI PPKI LKeu PGKI Ang DHk –

XVII.

XVIII. DIREKTORAT LOGISTIK DAN PENGAMANAN 1. Bagian Perencanaan Logistik dan Jasa 2. Bagian Pengelolaan Logistik I 3. Bagian Pengelolaan Logistik II 4. Bagian Pengelolaan Jasa 5. Bagian Pengamanan XIX. DIREKTORAT TEKNOLOGI INFORMASI 1. Biro Penelitian dan Pengembangan Teknologi Informasi 2. Bagian Pemeliharaan Teknologi Informasi 3. Bagian Pemrosesan Data Elektronis DIREKTORAT SUMBER DAYA MANUSIA 1. Biro Perencanaan Organisasi dan Sumber Daya Manusia 2. Bagian Pengembangan Karir Pegawai 3. Bagian Penerimaan dan Pembinaan Pegawai DIREKTORAT KEUANGAN INTERN 1. Biro Perencanaan dan Pengendalian Keuangan Intern 2. Bagian Laporan Keuangan 3. Bagian Pelaksanaan Gaji dan Keuangan Intern 4. Bagian Anggaran DIREKTORAT HUKUM 1. Tim-Tim a. Tim Penasehat Hukum b. Tim Dokumentasi dan Informasi Hukum c. Tim Enquiry Point

XX.

XXI.

XXII.

XXIII. DIREKTORAT PENGAWASAN INTERN 1. Tim-Tim a. Tim Pengembangan Pengawasan Intern b. Tim Analisis Ketentuan c. Tim Pengawasan Intern 2. Bagian Administrasi dan Informasi

DPI

AdPI

237

Lampiran

No.
XXIV.

Nama Satuan Kerja
PUSAT PENDIDIKAN DAN STUDI KEBANKSENTRALAN 1. Kelompok Pengembangan dan Monitoring Program 2. Kelompok Peneliti 3. Bagian Pelaksanaan Program UNIT KHUSUS PROGRAM TRANSFORMASI 1. Proyek-proyek 2. Tim Pengendalian Program BIRO GUBERNUR 1. Tim-Tim a. Perencanaan dan Pemantauan b. Tim Hubungan Masyarakat c. Staf Gubernur BIRO SEKRETARIAT 1. Bagian Protokol 2. Bagian Arsip

Singkatan
PPSK PPr UKPT –

XXV.

XXVI.

BGub -

XXVII.

Bsk Pro Ars

238

Lampiran

Nama Satuan Kerja
Kantor Perwakilan Bank Indonesia 1. New York 2. London 3. Tokyo 4. Singapura Kantor Bank Indonesia 1. Ambon 2. Balikpapan 3. Banda Aceh 4. Bandar Lampung 5. Bandung 6. Banjarmasin 7. Batam 8. Bengkulu 9. Cirebon 10. Denpasar 11. Jayapura 12. Jambi 13. Jember 14. Kediri 15. Kendari 16. Kupang 17. Lhokseumawe 18. Makassar 19. Malang 20. Mataram 21. Medan 22. Manado 23. Padang 24. Palangkaraya 25. Palembang 26. Palu 27. Pekanbaru 28. Pontianak 29. Purwokerto 30. Samarinda 31. Semarang 32. Sibolga 33. Solo 34. Surabaya 35. Tasikmalaya 36. Ternate 37. Yogyakarta

Singkatan

NY Lnd Tky Sn

Ab Bpp Bna Bdl Bd Bjm Btm Bn Cn Dpr Jap Jb Jr Kd Kdi Kpa Lsm Mks Ml Mtr Mdn Mo Pdg Plk Pg Pal Pbr Ptk Pwt Smr Sm Sbg Slo Sb Tsm Tt Yk

239

Lampiran

Lampiran D.1
Bank Indonesia Neraca per 31 Desember 2001 dan Desember 20001) (Jutaan Rupiah) Aktiva 31 Des. 2001
Unaudited

31 Des.2000
Audited

Pasiva

31 Des. 2001
Unaudited

31 Des.2000
Audited

1. 2. 3.

Emas Uang asing Hak tarik khusus

8.934.005 453.368 165.030 11.488.488 8.758.350 2.730.138 69.068.707 209.659.339 0 209.659.339

8.170.712 794.307 317.855 5.300.013 2.950.464 2.349.549 61.544.917 218.064.845 0 218.064.845

4. Giro 4.1 Bank Sentral 4.2 Bank Koresponden 5. Deposito pada Bank Koresponden

6. Surat berharga 6.1 Dalam rupiah 6.2 Dalam valuta asing 7. Tagihan 7.1 Kepada pemerintah 7.1.1 Dalam rupiah 7.1.2 Dalam valuta asing 7.2 Kepada bank 7.2.1 Dalam rupiah 7.2.2 Dalam valuta asing 7.3 Kepada lainnya 7.3.1 Dalam rupiah 7.3.2 Dalam valuta asing 8. 9. Penyisihan kerugian aktiva Penyertaan

315.944.501 315.914.159 30.342 19.182.641 17.949.682 1.232.959 7.496.935 7.496.935 0 (49.455.231) 238.974 9.400.041

279.600.597 279.477.036 123.561 20.296.434 18.634.761 1.661.673 7.280.073 7.280.073 0 (27.654.796) 241.955 6.364.478

A. Kewajiban 1. Uang dalam peredaran 2. Giro 2.1 Pemerintah 2.1.1 Dalam rupiah 2.1.2 Dalam valuta asing 2.2 Bank 2.2.1 Dalam rupiah 2.2.2 Dalam valuta asing 2.3 Pihak swasta lainnya 2.3.1 Dalam rupiah 2.3.2 Dalam valuta asing 2.4 Lembaga keuangan internasional 2.4.1 Dalam rupiah 2.4.2 Dalam valuta asing 3. Surat berharga yang diterbitkan 3.1 Dalam rupiah 3.2 Dalam valuta asing 4. Pinjaman dari pemerintah 4.1 Dalam rupiah 4.2 Dalam valuta asing 4.3 Surat Utang Bank Indonesia 5. Pinjaman luar negeri 6. Kewajiban lain-lain Jumlah Kewajiban B. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Ekuitas Modal Cadangan umum Cadangan tujuan Hasil revaluasi aktiva tetap Hasil revaluasi kurs dan SSB Hasil indeksasi SUP Hasil indeksasi SUBI Surplus (defisit) tahun sebelumnya Surplus (defisit) tahun berjalan

91.275.598 84.954.294 47.984.852 36.969.442 41.863.845 34.644.502 7.219.343 1.141.237 1.014.322 126.915 95.791.501 95.791.501 0 102.143.747 102.143.747 0 30.226.201 309.089 2.679.045 27.238.067 19.872.947 1.432.711 468.702.081

89.704.449 96.190.490 66.228.447 29.962 41.105.359 33.677.047 7.428.312 1.933.458 1.731.572 201.886 105.134.986 105.134.986 0 78.672.929 78.672.929 0 28.092.771 340.694 2.721.585 25.030.492 19.142.030 1.143.421 461.119.893

10. Aktiva lain-lain

2.948.029 8.233.006 3.528.431 4.871.249 50.675.217 48.575.749 (2.339.793) 0 17.442.829 133.874.717 602.576.798

2.606.236 6.430.544 2.755.947 4.768.103 79.950.773 18.817.604 (476.122) 1.773.466 2.574.946 119.201.497 580.321.390

Jumlah Ekuitas Jumlah Aktiva 602.576.798 580.321.390 Jumlah Kewajiban dan Ekuitas

1) a. Laporan Keuangan Bank Indonesia tahun 2000 telah diaudit oleh BPK-RI sesuai laporan No.01/01/Auditama II/GA/V/2001 tanggal 8 Mei 2001 dengan dengan pendapat Wajar dengan Pengecualian atas pos tagihan karena adanya pengaruh Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) b. Laporan Keuangan Bank Indonesia tahun 2001(belum di audit) yang lengkap telah disampaikan kepada BPK-RI melalui surat No.4/1/GBI/DKI tanggal 31 Januari 2002 untuk dimulai pemeriksaan. c. Kurs Neraca tanggal 31 Desember 2000: $1 = Rp9.595,00 dan pada tanggal 31 Desember 2001: $1 = Rp10.400,00.

240

Lampiran

Lampiran D.2
Bank Indonesia Laporan Surplus Defisit Periode 1 Januari – 31 Desember 2001 dan 2000 (Jutaan Rupiah) 2001
Unaudited

2000
Audited

PENERIMAAN 1. Pengelolaan Moneter 62.904.839 54.480.178 3.889 8.420.772 42.162 46.811 173.919 173.919 0 63.167.732 46.223.030 35.552.594 51.984 10.618.452 38.703 32.509 3.295.396 570.849 2.724.547 49.589.638 1.1 Pengelolaan Devisa 1.2 Kegiatan Pasar Uang 1.3 Pemberian Kredit dan Pembiayaan 2. 3. 4. Penyelenggaraan Sistem Pembayaran Pengaturan Perbankan Lainnya

4.1 Penerimaan Lainnya 4.2 Pemulihan Penyisihan Aktiva Jumlah Penerimaan PENGELUARAN 1. Beban Pengendalian Moneter Kebijakan Moneter 1.2 Beban Pengelolaan Devisa 2. Beban Sistem Pembayaran

(21.068.778) (15.408.536) (5.660.242) (727.482) (679.295) (48.187) (52.505) (23.876.138) (1.979.252) (127.393) (21.769.493) (45.724.904) 17.442.829 0 17.442.829

(19.929.814) (11.914.197) (8.015.617) (720.873) (695.602) (25.271) (131.855) (1.677.780) (1.539.234) (138.546) 0 (22.460.322) 27.129.316 (24.554.370) 2.574.946

1.1 Beban Perumusan dan Pelaksanaan

2.1 Beban Pengedaran Uang 2.2 Beban Penyelenggaraan Sistem Pembayaran 3. 4. Beban Pengaturan dan Pengawasan Bank Beban Umum, Administrasi, dan Lainnya

4.1 Beban Umum, Administrasi, dan Lainnya 4.2 Beban Penyusutan Aktiva Tetap 4.3 Beban Penambahan Penyisihan Aktiva Jumlah Pengeluaran Surplus Sebelum Pos Luar Biasa Beban karena Pos Luar Biasa SURPLUS

241

Lampiran

Lampiran E.1
No. Urut No. PBI Tanggal Lemb. Negara Keterangan

Daftar Peraturan Bank Indonesia Tahun 2001
No. Urut
1

No. PBI

Tanggal

Lemb. Negara

Keterangan

3/1/PBI/2001 04-01-2001

LN Thn 2001 No.2; TLN No.4071

Untuk memperlancar pengelolaan Proyek Kredit Mikro (PKM) yang tetap mengacu pada UU No.23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia (“UUBI”), Bank Indonesia menyesuaikan ketentuan tentang PKM yang antara lain mengatur (i) sumber dana, yang semula seluruhnya berasal dari Kredit Likuiditas Bank Indonesia, menjadi seluruhnya berasal dari Asian Development Bank dan (ii) perpanjangan pengelolaan Proyek dari Desember 2000 sampai dengan akhir Juni 2001. Dirubah dengan PBI No.3/8/PBI/2001 tgl 25-04-2001

2

3/02/PBI/2001 04-01-2001

LN Thn 2001 No.3; TLN No.4072

Bank Indonesia mengubah ketentuan mengenai Kredit Usaha Kecil. Perubahan mencakup (i) peningkatan dana untuk disalurkan ke KUK (ii) kewajiban bank untuk mencantumkan rencana realisasi KUK dalam Rencana Kerja Anggaran Tahunan (RKAT), (iii) kewajiban bank untuk melaporkan realisasi KUK pada Laporan Bulanan Bank Umum, (iv) kewajiban bank untuk mengumumkan realisasi KUK pada Laporan Keuangan, (v) penyesuaian plafon KUK menjadi Rp500 juta untuk setiap nasabah, (vi) bantuan teknis dari Bank Indonesia bagi bank-bank yang menyalurkan KUK. Sementara itu, sanksi dan insentif juga dikurangi.

3

3/03/PBI/2001 12-01-2001

LN Thn 2001 No.7; TLN No.4074

Bank Indonesia mengeluarkan ketentuan mengenai pembatasan transaksi Rupiah dan pemberian kredit valuta asing oleh bank. Dalam ketentuan tersebut diatur bahwa bank dilarang melakukan transaksi-transaksi tertentu dengan warga negara asing, badan hukum asing atau badang asing lainnya, warga negara Indonesia yang memiliki status penduduk tetap negara lain dan tidak

242

Lampiran

No. Urut

No. PBI

Tanggal

Lemb. Negara

Keterangan
berdomisili di Indonesia, perwakilan negara asing dan lembaga internasional di Indonesia serta kantor Bank/ badan hukum Indonesia di luar negeri.

4

3/04/PBI/2001 12-03-2001

LN Thn 2001 No.7; TLN No.4080

Bank Indonesia mengeluarkan perubahan ketentuan mengenai jaminan pembiayaan perdagangan internasional (trade maintenance facility/TMF) dengan memperpanjang pelaksanaan program tersebut menjadi sampai dengan tanggal 30 Juni 2001. Program tersebut diperpanjang dengan pertimbangan bahwa program TMF masih diperlukan dalam rangka meningkatkan kembali kegiatan ekonomi nasional khususnya kegiatan perdagangan internasional. Dicabut dgn PBI No.3/20/PBI/2001 tgl 29-11-2001

5

3/05/PBI/2001 22-03-2001

LN Thn 2001 No.23; TLN No.4082

Ketentuan mengenai Penjaminan atas Simpanan Pihak Ketiga dan Pasar Uang Antar Bank sebagaimana diatur dalam SK Direksi Bank Indonesia No.31/32/KEP/DIR tanggal 29 Mei 1998 diubah dengan PBI perihal serupa No.3/5/PBI/2001. Dalam PBI ini diatur bahwa dalam rangka Program Penjaminan, Pemerintah tidak menjamin Simpanan Pihak Ketiga yang diterima dengan suku bunga lebih tinggi dari batas maksimum suku bunga yang ditetapkan.

6

3/06/PBI/2001 02-04-2001

LN Thn 2001

Dengan diberlakukannya UUBI, Bank Indonesia tidak diperkenankan untuk menyediakan fasilitas pembiayaan kecuali untuk mengatasi kesulitan jangka pendek perbankan dengan disertai oleh agunan yang berkulitas tinggi dan mudah dicairkan. Mengingat fasilitas penjaminan dan pembiayaan yang disediakan Bank Indonesia selama ini terdapat unsur pemberian kredit maka Bank Indonesia mencabut beberapa ketentuan terkait, yaitu: a. SK Direksi Bank Indonesia No.30/138/KEP/DIR tentang Jual Beli Tagihan atas Dasar Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri kepada Bank Indonesia, b. SK Direksi Bank Indonesia No.30/193/KEP/DIR

243

Lampiran

No. Urut

No. PBI

Tanggal

Lemb. Negara

Keterangan
tentang Jual Beli Devisa Hasil Ekspor untuk Eksportir dan Eksportir Tertentu, c. SK Direksi Bank Indonesia No.30/194/KEP/DIR tentang Jual Beli Devisa Hasil Ekspor yang akan datang untuk Eksportir Tertentu, d. SK Direksi Bank Indonesia No.31/187/KEP/DIR tentang Penjaminan dan atau Pembiayaan Letter of Credit melalui Penempatan Dana Bank Indonesia pada Bank Asing.

7

3/07/PBI/2001 02-04-2001

LN Thn 2001 No.32

Mengingat Bank Indonesia tidak lagi diperbolehkan menyediakan fasilitas pembiayaan dan atau penjaminan, maka ketentuan mengenai petunjuk pelaksanaan pemberian jaminan Pemerintah terhadap kewajiban pembayaran bank umum dicabut.

8

3/08/PBI/2001 25-04-2001

LN Thn 2001 No.39; TLN Bank Indonesia mengeluarkan perubahan ketentuan No.4089 tentang Proyek Kredit Mikro yang isinya antara lain menaikkan jumlah plafon kredit untuk membiayai pengusaha mikro.

9

3/09/PBI/2001 06-06-2001

LN Thn 2001 No.70

Bank Indonesia menerbitkan dan mengeluarkan uang Rupiah khusus untuk memperingati 100 tahun kelahiran Bung Karno Proklamator Republik Indonesia pada tanggal 6 Juni 2001 dalam pecahan 500.000 (lima ratus ribu) dan 25.000 (dua puluh lima ribu) seri “Peringatan 100 Tahun Bung Karno” tanda tahun 2001.

10

3/10/PBI/2001 18-06-2001

LN Thn 2001 No.78 TLN No.4107

Bank Indonesia mengeluarkan ketentuan mengenai penerapan Prinsip Mengenal Nasabah (Know Your Customer ”KYC”), yaitu prinsip yang diterapkan bank umum untuk mengetahui identitas nasabah, memantau kegiatan transaksi nasabah termasuk pelaporan transaksi yang mencurigakan. Dalam ketentuan tersebut ditetapkan bahwa bank wajib menerapkan Prinsip KYC yaitu menetapkan kebijakan penerimaan Nasabah, kebijakan dan prosedur dalam mengidentifikasi Nasabah, kebijakan dan prosedur pemantauan terhadap rekening dan transaksi

244

Lampiran

No. Urut

No. PBI

Tanggal

Lemb. Negara

Keterangan
Nasabah serta kebijakan dan prosedur manajemen risiko yang berkaitan dengan penerapan Prinsip KYC.

11

3/11/PBI/2001 20-06-2001

LN Thn 2001 No.79 TLN No.4108

Dalam rangka mendukung kelancaran pencapaian tujuan Bank Indonesia dalam mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah, maka Bank Indonesia memperluas pihak-pihak ekstern yang dapat membuka Rekening Giro di Bank Indonesia menjadi terdiri dari bank, instansi pemerintah, lembaga keuangan internasional dan lembaga lain yang menurut Bank Indonesia dipandang perlu untuk mempunyai Rekening Giro di Bank Indonesia.

12

3/12/PBI/2001 09-07-2001

LN Thn 2001 No.98 TLN No.4123

Bank Indonesia mengeluarkan ketentuan mengenai persyaratan dan tatacara pelaksanaan jaminan Pemerintah terhadap kewajiban pembayaran BPR. Ketentuan ini merupakan perubahan atas ketentuan yang berlaku sebelumnya yaitu Surat Keputusan Direksi No.31/166/ KEP/DIR dan No.31/167/KEP/DIR tanggal 11 Desember 1998. Dalam ketentuan ini ditetapkan kriteria simpanan pihak ketiga yang dijamin maupun yang tidak dijamin dengan memperhatikan tujuan pengaturan Program Penjaminan Pemerintah itu sendiri yakni perlindungan dana nasabah dan kepentingan publik. Sementara itu, untuk menjadi peserta Program Penjaminan Pemerintah, BPR perlu memenuhi persyaratan yaitu pernyataan keikutsertaan, membayar fee penjaminan dan penyampaian dokumen pendukung administratif.

13

3/13/PBI/2001 03-09-2001

LN Thn 2001 No.115 TLN No.4135

Bank Indonesia mengeluarkan ketentuan mengenai perubahan atas Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia tentang Penerbitan dan Perdagangan Sertifikat Bank Indonesia serta Intervensi Rupiah. Ketentuan ini diubah untuk menyesuaikan dengan jadwal operasional Sistem Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (RTGS).

14

3/14/PBI/2001 20-09-2001

LN Thn 2001 No.121 TLN No.4140

Bank Indonesia mengeluarkan ketentuan mengenai perubahan atas PBI No.2/12/PBI/2000 tentang Jaminan Pinjaman Luar Negeri Antar Bank (Interbank Debt Exchange

245

Lampiran

No. Urut

No. PBI

Tanggal

Lemb. Negara

Keterangan
Offer). Pokok perubahan dalam ketentuan dimaksud adalah mengenai dimungkinkannya sejumlah bank untuk melunasi seluruh atau sebagian pinjaman Interbank Debt Exchange Offer melalui Prepayment dan Buy Back. Penetapan Status Bank Perkreditan Rakyat Dalam Pengawasan Khusus dan Pembekuan Kegiatan Usaha.

15

3/15/PBI/2001 21-09-2001

LN Thn 2001 No.122 TLN No.4141

Bank Indonesia mengeluarkan ketentuan mengenai penetapan status BPR dalam pengawasan khusus dan pembekuan kegiatan usaha untuk melakukan penyehatan industri BPR.

16

3/16/PBI/2001 03-10-2001

LN Thn 2001 No.123 TLN No.4142

Bank Indonesia mengeluarkan perubahan kedua atas PBI No.3/1/PBI/2001 tentang Proyek Kredit Mikro (PKM) yang memperpanjang masa pengelolaan PKM menjadi sampai dengan tanggal 31 Desember 2001 dan dapat ditinjau kembali berdasarkan kesepakatan antara Pemerintah RI dan Asian Development Bank.

17

3/17/PBI/2001 04-10-2001

LN Thn 2001 No.125 TLN No.4143

Bank Indonesia mengeluarkan ketentuan mengenai Laporan Berkala Bank Umum (LBBU). Dalam ketentuan ini diatur bahwa bank umum termasuk kantor cabang bank asing wajib menyusun dan menyampaikan LBBU kepada Bank Indonesia secara akurat, lengkap dan tepat waktu yang dilakukan oleh kantor pusat bank.

18

3/18/PBI/2001 17-10-2001

LN Thn 2001 No.130 TLN No.4147

Bank Indonesia mengeluarkan perubahan ketentuan mengenai persyaratan dan tata cara membawa Uang Rupiah dalam jumlah tertentu keluar atau masuk wilayah Republik Indonesia kecuali dengan persetujuan Bank Indonesia.

19

3/19/PBI/2001 26-10-2001

LN Thn 2001 No.131

Bank Indonesia mengeluarkan dan mengedarkan uang Rupiah pecahan 5.000 (lima ribu) tahun emisi 2001 yang pada bagian muka mencantumkan gambar Pahlawan Nasional Tuanku Imam Bondjol sedangkan bagian belakang mencantumkan gambar Pandai Sikek tenunan dari Sumatera Barat.

246

Lampiran

No. Urut
20

No. PBI

Tanggal

Lemb. Negara
LN Thn 2001 No. 140

Keterangan
Bank Indonesia mengeluarkan ketentuan mengenai pencabutan PBI No.2/13/PBI/2000 tentang Jaminan Pembiayaan Perdagangan Internasional dan perubahannya PBI No.3/4/PBI.2001 sehubungan dengan berakhirnya fasilitas perdagangan internasional pada tanggal 30 Juni 2001.

3/20/PBI/2001 29-11-2001

21

3/21/PBI/2001 13-12-2001

LN Thn 2001 No.149 TLN No.4158

Untuk menyesuaikan struktur permodalan sesuai dengan standar internasional yang berlaku, maka terhitung sejak akhir bulan Desember 2001 bank umum wajib menyediakan modal minimum sebesar 8% dari aktiva tertimbang menurut risiko.

22

3/22/PBI/2001 13-12-2001

LN Thn 2001 No.150 TLN No.4159

Bank Indonesia mengeluarkan ketentuan mengenai transparansi kondisi keuangan bank dalam rangka pencapaian good corporate governance pada perbankan Indonesia. Dengan adanya transparansi, diharapkan dapat lebih meningkatkan kepercayaan publik terhadap lembaga perbankan nasional. Di sisi lain, peningkatan transparansi akan mengurangi kesenjangan informasi sehingga para pelaku pasar dapat memberikan penilaian yang wajar dan dapat mendorong terciptanya disiplin pasar. Dalam ketentuan ini, diatur mengenai Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia serta Hubungan Bank, Akuntan Publik dan Bank Indonesia.

23

3/23/PBI/2001 13-12-2001

LN Thn 2001 No.151 TLN No.4160

Bank Indonesia mengeluarkan perubahan ketentuan mengenai penerapan Prinsip Mengenal Nasabah (Know Your Customer/”KYC”) dalam rangka penerapan peraturan sebelumnya secara lebih efektif. Pada intinya, penerapan Prinsip KYC oleh bank dilakukan antara lain dengan menyusun kebijakan dan prosedur Penerapan Prinsip KYC yang dituangkan dalam Pedoman Pelaksanaan Penerapan Prinsip KYC dengan mengacu pada Pedoman Standar Penerapan KYC yang ditetapkan dalam Surat Edaran Bank Indonesia.

247

Lampiran

No. Urut
24

No. PBI

Tanggal

Lemb. Negara
LN Thn 2001 No.155 TLN No.4163

Keterangan
Bank Indonesia mengeluarkan perubahan ketentuan mengenai penetapan status Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dalam pengawasan khusus dan pembekuan kegiatan usaha dalam rangka mempercepat penyelesaian BPR bermasalah sebagai upaya penyehatan industri BPR.

3/24/PBI/2001 24-12-2001

25

3/25/PBI/2001 26-12-2001

LN Thn 2001 No. 156 TLN No.4164

Bank Indonesia mengeluarkan ketentuan tentang penetapan status bank dan penyerahan bank kepada Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Dengan dikeluarkannya ketentuan ini, maka Peraturan Bank Indonesia (PBI) No.2/11/PBI/2000 perihal sama tersebut di atas dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Dalam ketentuan ini diatur bahwa dalam hal Bank Indonesia menilai kondisi suatu bank memiliki potensi kesulitan yang dapat membahayakan kelangsungan usahanya, maka bank tersebut ditempatkan dalam pengawasan intensif Bank Indonesia.

248

Lampiran

Lampiran E.2
No. Urut No. SE BI Tanggal Perihal Keterangan

Daftar Surat Edaran (Ekstern) Bank Indonesia Tahun 2001
No. Urut
1

No. SE BI

Tanggal

Perihal

Keterangan

3/1/DPNP

05-01-2001

Perubahan atas Marjin Suku Bunga Simpanan Pihak Ketiga yang Dijamin Pemerintah

2

3/2/BKr

11-01-2001

Pemberian Kredit kepada Koperasi Primer untuk Anggotanya (KKPA) Dalam Rangka Penyaluran Kembali Angsuran Kredit Likuiditas BI (KLBI) yang Dikelola oleh PT Permodalan Nasional Madani (Persero)

3 4

3/3/BKr 3/4/DASP

16-01-2001 23-01-2001

Proyek Kredit Mikro Jenis dan Batasan Nominal Warkat Serta Jadwal Penyelenggaraan Kliring Lokal di Jakarta

5

3/5/DPD

31-01-2001

Pembatasan Transaksi Rupiah dan Pemberian Kredit Valuta Asing oleh Bank

6

3/6/DPM

09-02-2001

Penetapan Obligasi Pemerintah Seri VR 003, VR 0004, VR 0007, VR 0009, VR 0011, VR 0013, dan VR 0015 untuk diperdagangkan di Pasar Sekunder serta Peningkatan Prosentase Portofolio Obligasi Pemerintah yang Dapat Diperdagangkan

7

3/7/DLN

09-03-2001

Pencabutan SE No.5/163/ULN tanggal 30 Januari 1973 tentang Lampiran Mutasi Bulanan Rekening-Rekening PMA, Rupiah PMA, dan Disc. Rupiah

8 9 10

3/8/DPNP 3/9/BKr 3/10/DASP

16-03-2001 17-05-2001 28-05-2001

Bank Umum Petunjuk Pelaksanaan Pemberian KUK Jadwal Kliring dan Tanggal Valuta Penyelesaian Akhir Sistem

249

Lampiran

No. Urut

No. SE BI

Tanggal

Perihal
Penyelenggaraan Kliring Lokal serta Jenis dan Batasan Nominal Warkat atau Data Keuangan Elektronik

Keterangan

11

3/11/DLN

07-06-2001

Perubahan Kedua Atas SE BI No.29/10/ULN tanggal 4 Juni 1996 tentang Pelaksanaan Pembayaran Transaksi Impor

12

3/12/DLN

08-06-2001

Perubahan Surat Edaran Bank Indonesia No.2/20/DLN tanggal 9 Oktober 2000 tentang Kewajiban Pelaporan Utang Luar Negeri

13 14

3/13/DSM 3/14/DSM

13-06-2001 13-06-2001

Pelaporan Kegiatan Lalu Lintas Devisa oleh Bank Pelaporan Kegiatan Lalu Lintas Devisa oleh Lembaga Keuangan Non Bank

15

3/15/DPM

05-07-2001

Peningkatan Prosentase Portofolio Obligasi Pemerintah Yang Dapat Diperdagangkan Bagi Bank Umum Peserta Program Rekapitalisasi Perbankan

16

3/16/DPBPR 18-07-2001

Persyaratan dan Tata Cara Pelaksanaan Jaminan Pemerintah Terhadap Kewajiban Pembayaran BPR

17

3/17/DPBPR 18-07-2001

Persyaratan dan Tata Cara Pelaksanaan Jaminan Pemerintah Terhadap Kewajiban Pembayaran BPR

18

3/18/DPM

31-07-2001

Penetapan Obligasi Pemerintah Seri VR0006, VR0008, VR0010, VR0012, VR0014 dan VR0016 untuk Diperdagangkan di Pasar Sekunder serta Peningkatan Prosentase Portofolio Pemerintah yang Dapat Diperdagangkan bagi Bank Umum Peserta Program Rekapitalisasi Perbankan

19 20

3/19/DPNP 14-08-2001 3/20/DASP 31-08-2001

Penetapan Marjin Suku Bunga Simpanan Pihak Ketiga yang Dijamin Pemerintah Perubahan Atas SE BI No.2/24/DASP Tanggal 17 November 2000 Perihal Bank Indonesia Real Time Gross Settlement

21

3/21/DPM

03-09-2001

Perubahan Atas SE BI No.2/27/DPM Tanggal 13 Desember 2000 Perihal Tata Cara Pemberian Fasilitas Likuiditas

250

Lampiran

No. Urut

No. SE BI

Tanggal

Perihal
Intrahari Bagi Bank Umum

Keterangan

22

3/22/BKr

16-10-2001

Perubahan SE No.3/3/BKr tanggal 16 Januari 2001 tentang Proyek Kredit Mikro

23 24 25

3/23/DPNP 30-10-2001 3/24/DPM 3/25/DASP 16-11-2001 28-11-2001

Laporan Berkala Bank Umum Tata Cara Penatausahaan Obligasi Pemerintah Perubahan Atas SE No.1/4/DASP tanggal 29 November 2001 perihal Pemberian Persetujuan Terhadap Pihak Lain Untuk Menyelenggarakan Kliring di Daerah yang Tidak Terdapat Kantor Bank Indonesia

26

3/26/DASP

5-12-2001

Perubahan SE No.3/10/DASP tanggal 28 Mei 2001 perihal Jadwal Kliring dan Tanggal Valuta Penyelesaian Akhir, Sistem Penyelenggaraan Kliring Lokal serta Jenis dan Batasan Nominal Warkat atau Data Keuangan Elektronik

27

3/27/DASP

12-12-2001

Warkat, Dokumen Kliring dan Pencetakannya Pada Perusahaan Percetakan Dokumen Sekuriti

28

3/28/DASP

12-12-2001

Penggunaan Jasa Kurir dan Tanda Pengenal Petugas Kliring (TPPK) Dalam Penyelenggaraan Kliring Yang Menggunakan Sistem Otomasi Elektronik

29 30

3/29/DPNP 13-12-2001 3/30/DPNP 14-12-2001

Pedoman Standar Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan dan Bulanan Bank Umum serta Laporan Tertentu Yang Disampaikan Kepada Bank Indonesia

31

3/31/DPNP 14-12-2001

Laporan Tahunan Bank Umum dan Laporan Tahunan Tertentu Yang Disampaikan Kepada Bank Indonesia

32 33

3/32/DPNP 14-12-2001 3/33/DPNP 14-12-2001

Hubungan Antara Bank, Akuntan Publik dan Bank Indonesia Pelaksanaan Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia

251

Lampiran

Lampiran E.3
Tanggal Ketentuan/Kebijakan Keterangan

Berbagai Ketentuan dan Kebijakan Penting di Bidang Ekonomi dan Keuangan Tahun 2001
Tanggal
2001 Januari 4 Pemerintah mengeluarkan peraturan mengenai ketentuan kuota ekspor tekstil dan produk tekstil. SK Memperindag No.01/MPP/Kep/1/2001

Ketentuan/Kebijakan

Keterangan

18

Dalam upaya mendorong Kerjasama Ekonomi Sub Regional antar daerah-daerah dari negara-negara tetangga, Pemerintah membentuk Tim Koordinasi Kerjasama Ekonomi Sub Regional.

Keppres No.13 Tahun 2001

29

Sehubungan dengan adanya perubahan susunan organisasi dan instansi dalam Kabinet periode tahun 1999-2004, maka Pemerintah melakukan penyesuaian susunan keanggotaan Tim Nasional untuk Perundingan Perdagangan Multilateral dalam kerangka World Trade Organization.

Keppres No.18 Tahun 2001

31

Bapepam mengeluarkan ketentuan mengenai penghentian perdagangan (suspensi) atas efek perusahaan tercatat yang mengalami peristiwa atau kejadian penting yang berdampak material terhadap kelangsungan usahanya dan atau proses pembentukan harga efek yang teratur, wajar dan efisien di bursa. Peristiwa penting tersebut antara lain Laporan Keuangan Tahunan Auditan Perusahaan Tercatat memperoleh opini disclaimer sebanyak 2 kali berturut-turut atau Perusahaan Tercatat dimohonkan pailit oleh krediturnya atau mengajukan permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU).

SE PT Bursa Efek Jakarta No.SE-002/BEJ/012001

252

Lampiran

Tanggal

Ketentuan/Kebijakan

Keterangan

Februari 7 Pemerintah mengeluarkan ketentuan pemotongan pajak penghasilan atas bunga deposito dan tabungan serta diskonto Sertifikat Bank Indonesia. SK Menkeu No.51/ KMK.04/2001

9

Pemerintah mengeluarkan ketentuan mengenai penetapan besarnya tarif pajak ekspor kelapa sawit, CPO dan produk turunannya.

SK Menkeu No.66/ KMK.17/2001

Pemerintah mengeluarkan peraturan mengenai pelaksanaan pembagian hasil penerimaan pajak penghasilan orang pribadi dalam negeri dan pajak penghasilan pasal 21 antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

SK Menkeu No.6/ KMK.04/2001

14

Dalam rangka mendukung program restrukturisasi utang, Pemerintah memandang perlu untuk menetapkan peraturan yang memberi keringanan pajak penghasilan kepada wajib pajak yang melakukan restrukturisasi utang usaha melalui lembaga khusus yang dibentuk pemerintah.

PP No.7 Tahun 2001

Pemerintah mengeluarkan ketentuan mengenai tata cara penghitungan besarnya pemberian imbalan bunga kepada wajib pajak.

SE Dirjen Pajak No.SE-03/PJ.33/2001

Pemerintah mengeluarkan peraturan mengenai penetapan eksportir terdaftar tekstil dan produk tekstil pengusaha kecil dan koperasi (STTPT-PKK) untuk memperoleh kuota pertumbuhan (KPt) tekstil dan produk tekstil tahun 2001.

SK Menperindag No.51/ MPP/Kep/2/2001

19

Pemerintah mengeluarkan peraturan mengenai crash program pengurusan piutang negara perbankan II.

SK Menkeu No.81/ KMK.01/2001

253

Lampiran

Tanggal

Ketentuan/Kebijakan

Keterangan

20

Pemerintah mengeluarkan peraturan pelimpahan wewenang penanganan dan penandatanganan keputusan dan suratsurat yang berhubungan dengan pemberian pelayanan kemudahan ekspor kepada Kepala Badan Informasi dan Tehnologi Keuangan.

SK Menkeu No.88/ KMK.03/2001

Maret 8 Bapepam mengeluarkan ketentuan mengenai pembatasan atas saham yang diterbitkan sebelum penawaran umum untuk dialihkan kepada pihak lain. Kep-06/PM/2001

15

Pemerintah mengeluarkan peraturan mengenai perlakuan perpajakan atas penyediaan makanan dan minuman bagi seluruh pegawai dan penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diberikan dalam bentuk natura dan kenikmatan di daerah tertentu serta yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto pemberi kerja.

SK Dirjen Pajak No. KEP-213/PJ/2001

16

Pemerintah mengeluarkan peraturan mengenai tatacara penerbitan surat keterangan bebas (SKB) pemotongan pajak penghasilan atas bunga deposito dan tabungan serta diskonto sertifikat Bank Indonesia yang diterima atau diperoleh dana pensiun yang pendirinya telah disahkan Menkeu.

SK Dirjen Pajak No. KEP-217/PJ/2001

22

Pemerintah mengeluarkan peraturan mengenai impor dan atau penyerahan barang kena pajak tertentu yang bersifat strategis yang dibebaskan dari pengenaan pajak pertambahan nilai.

PBI No.3/6/PBI/2001

23

Bapepam mengeluarkan ketentuan mengenai hak memesan

Kep-07/PM/2001

254

Lampiran

Tanggal

Ketentuan/Kebijakan

Keterangan

efek terlebih dahulu. Apabila suatu perusahaan yang telah melakukan Penawaran Umum saham atau Perusahaan Publik bermaksud menambah modal sahamnya, termasuk melalui penerbitan waran atau efek konversi, maka setiap pemegang saham harus diberi Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu atas Efek baru dimaksud sebanding dengan persentase pemilikan mereka.

PP No.12 Tahun 2001

27

Pemerintah mengeluarkan peraturan mengenai pemberitahuan berlakunya persetujuan penghindaran pajak berganda (P3B) RI-Venezuela.

SE Dirjen Pajak No.SE02/PJ.10/2001

28

Pemerintah mengeluarkan peraturan mengenai penghapusan piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih.

SK Dirjen Pajak No. KEP-238/PJ/2001

Pemerintah mengeluarkan peraturan mengenai perlakuan perpajakandikawasan pengembangan ekonomi terpadu (Kapet).

SK Dirjen Pajak No. KEP-229/PJ/2001

29

Pemerintah mengeluarkan peraturan mengenai harga jual eceran bahan bakar minyak dalam negeri.

Kep.Presiden No.45 Tahun 2001

April 11 Pemerintah mengeluarkan peraturan mengenai kebijakan penyehatan perbankan dan restrukturisasi utang perusahaan berdasarkan hasil rapat komite kebijakan sektor keuangan tanggal 11 April 2001. Kep.Komite Kebijakan Sektor Keuangan No. Kep-01/K.KKSK/04/2001

16

Pemerintah mengeluarkan peraturan mengenai keringanan bea masuk atas impor bahan baku/penolong dan bagian/ komponen untuk perakitan mesin dan motor berputar.

SK Menkeu No.190/ KMK.01/2001

255

Lampiran

Tanggal

Ketentuan/Kebijakan

Keterangan

30

Pemerintah mengeluarkan peraturan mengenai perlakuan PPn & PPnBM atas impor barang kena pajak yang dibebaskan dari pungutan bea masuk.

SK Menkeu No.231/ KMK.03/2001

Mei 17 Pemerintah mengeluarkan peraturan mengenai impor mesin dan peralatan mesin bukan baru. SK Menperindag No.172/ MPP/Kep/5/2001

18

Pemerintah mengeluarkan perubahan ketiga ketentuan tentang bea masuk, bea masuk tambahan, pajak pertambahan nilai dan pajak penjualan atas barang mewah dan pajak penghasilan dalam rangka pelaksanaan proyek pemerintah yang dibiayai dengan hibah atau dana pinjaman luar negeri dalam rangka mempercepat pemulihan ekonomi.

PP No.25 Tahun 2001

28

Pemerintah mengeluarkan peraturan mengenai perubahan atas peraturan pemerintah nomor 42 tahun 2000 tentang pembayaran pajak penghasilan orang pribadi yang akan bertolak ke luar negeri.

PP No.41 Tahun 2001

Juni 8 Pemerintah mengeluarkan perubahan keempat atas PP No.17 Tahun 1999 tentang BPPN yang menetapkan bahwa sebelum dilakukan penyerahan oleh BPPN kepada Bank Indonesia, Bank Dalam Penyehatan yang telah selesai menjalani program penyehatan terlebih dahulu melalui masa pengamatan di BPPN paling lama 6 bulan terhitung sejak Bank Dalam Penyehatan tersebut memenuhi persyaratan atau kriteria tingkat kesehatan untuk diserahkan kepada Bank Indonesia. PP No.47 Tahun 2001

256

Lampiran

Tanggal

Ketentuan/Kebijakan

Keterangan

15

Pemerintah mengeluarkan peraturan mengenai harga jual eceran bahan bakar minyak dalam negeri.

Kep.Presiden No.73 Tahun 2001

Juli 9 Menteri Keuangan RI mengeluarkan ketentuan mengenai divestasi saham negara dalam rangka penyertaan modal sementara oleh BPPN. Keputusan Menteri Keuangan No. 401/KMK.01/2001

23

Pemerintah mengeluarkan peraturan mengenai penetapan rincian jumlah dana kontingensi untuk bantuan kepada pemerintah daerah yang mengalami surplus marginal setelah pengalihan personil, peralatan, pembiayaan dan dokumen (P3D).

SK Menkeu No.190/ KMK.01/2001

Agustus 1 Sejalan dengan konvensi-konvensi internasional yang telah diratifikasi Indonesia, maka pengaturan mengenai paten dan merek menjadi sangat penting terutama dalam menjaga persaingan usaha yang sehat. Untuk itu, Pemerintah mengeluarkan peraturan mengenai paten dan merek yang masingmasing diatur dalam undang-undang. UU No.14 Tahun 2001

6

Yayasan dapat melakukan kegiatan usaha untuk menunjang pencapaian maksud dan tujuannya di bidang sosial, keagamaan dan kemanusiaan dengan cara mendirikan badan usaha dan atau ikut serta dalam suatu badan usaha. Kekayaan yayasan dilarang dialihkan atau dibagikan secara langsung atau tidak langsung kepada pembina, pengurus, pengawas dan karyawan yayasan atau pihak lain yang mempunyai kepentingan terhadap yayasan.

UU No.16 Tahun 2001

257

Lampiran

Tanggal

Ketentuan/Kebijakan

Keterangan

September 13 Pemerintah mengeluarkan peraturan mengenai pengalihan kedudukan, tugas dan kewenangan menteri keuangan pada badan penyehatan perbankan nasional kepada menteri negara badan usaha milik negara. PP No.63 Tahun 2001

24

Direktorat Jenderal Pajak mengeluarkan ketentuan mengenai tata cara pelaksanaan pemblokiran dan penyitaan harta kekayaan penanggung pajak yang tersimpan pada bank dalam rangka penagihan pajak dengan surat paksa. Dalam melaksanakan penyitaan, terlebih dahulu dilakukan pemblokiran terhadap harta kekayaan dimaksud. Untuk melaksanakan pemblokiran, Kepala Kantor Pelayanan Pajak/ Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan wajib mengajukan permohonan pemblokiran kepada pimpinan bank tempat harta kekayaan penanggung pajak tersimpan disertai dengan salinan Surat Paksa dan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan. Selanjutnya, pimpinan bank wajib memblokir seketika dan membuat Berita Acara.

Keputusan Dirjen Pajak No.KEP-627/PJ/2001

27

Pemerintah mengeluarkan peraturan mengenai penetapan jalur bagi barang ekspor yang mendapat fasilitas pengembalian bea masuk dan atau cukai serta pajak pertambahan nilai dan pajak penjualan atas barang mewah.

SE Dirjen Bea dan Cukai No.SE-31/BC/2001

Oktober 24 Pemerintah mengeluarkan ketentuan mengenai pembentukan tim pemantauan harga dan antisipasi pengadaan dan pendistribusian barang kebutuhan pokok menghadapi hari raya keagamaan nasional tahun 2001/2002. SK Menperindag No.300/ MPP/Kep/10/2001

258

Lampiran

Tanggal

Ketentuan/Kebijakan

Keterangan

30

Pemerintah mengeluarkan ketentuan mengenai ketentuan kuota ekspor tekstil dan produk tekstil.

SK Menperindag No.311/ MPP/Kep/10/2001

31

Gubernur DKI Jakarta menetapkan Upah Minimum Propinsi (UMP) Tahun 2002 di Propinsi DKI Jakarta sebesar Rp591.266,- per bulan.

Keputusan Gubernur DKI Jakarta No.3052 Tahun 2001

November 14 Pemerintah menetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2002 yang diperkirakan akan mengalami defisit dan akan dibiayai dari pembiayaan defisit anggaran yang bersumber dari pembiayaan dalam negeri dan luar negeri. UU No.19 Tahun 2001

23

Pemerintah mengeluarkan ketentuan mengenai minyak dan gas bumi.

PP No.22 Tahun 2001

Desember 7 Negara c.q.Pemerintah menjual saham milik negara RI yang ada pada PT Telekomunikasi Indonesia Tbk, PT Socfin Indonesia dan PT Wisma Nusantara Internasional. PP No.78 Tahun 2001 PP No.79 Tahun 2001 PP No.80 Tahun 2001

11

Pemerintah mengeluarkan peraturan mengenai kebijakan penyehatan perbankan dan restrukturisasi utang perusahaan berdasarkan hasil rapat komite kebijakan sektor keuangan tanggal 11 Desember 2001.

Kep.Komite Kebijakan Sektor Keuangan No.Kep-01/K.KKSK/12/2001

12

Menteri Keuangan mengeluarkan keputusan untuk menunda pelaksanaan PP No.107 Tahun 2000 tentang Pinjaman Daerah, dimana dengan UU tersebut Pemerintah Daerah dapat memanfaatkan pinjaman daerah sebagai salah satu

Keputusan Menteri Keuangan No.625/ KMK.01/2001

259

Lampiran

Tanggal

Ketentuan/Kebijakan

Keterangan

sumber untuk membiayai pelaksanaan pembangunan daerah dengan memperhatikan kemampuan daerah dalam mengelola dan mengembalikan pinjaman tersebut. Dengan keputusan dimaksud, perjanjian baru pinjaman daerah yang bersumber dari dalam negeri dan luar negeri ditunda sampai dengan berakhirnya tahun anggaran 2002.

14

Pemerintah mengeluarkan peraturan mengenai bidang/jenis usaha yang dicadangkan untuk usaha kecil dan bidang/ jenis usaha yang terbuka untuk usaha menengah atau besar dengan syarat kemitraan.

PP No.127 Tahun 2001

19

Pemerintah mengeluarkan peraturan mengenai perubahan atas peraturan pemerintah nomor 20 tahun 1994 tentang pemilikan saham dalam perusahaan yang didirikan dalam rangka penanaman modal asing.

PP No.83 Tahun 2001

260

Lampiran

Tabel 1 Produk Domestik Bruto menurut Jenis Penggunaan (miliar rupiah)

Jenis penggunaan

1997

1998

1999 Harga konstan 1993

2000*

2001**

Pengeluaran konsumsi Rumah tangga Pemerintah Pembentukan modal tetap domestik bruto Perubahan stok Ekspor barang dan jasa dikurangi Impor barang dan jasa Produk Domestik Bruto Pendapatan neto terhadap luar negeri atas faktor produksi Produk Nasional Bruto dikurangi Pajak tidak langsung dikurangi Penyusutan Pendapatan Nasional

308.816,9 277.116,1 31.700,8 139.725,6 3.341,7 121.157,9 139.796,1 433.246,0 -15.462,9 417.783,1 26.100,1 21.662,4 370.020,6

286.850,6 260.022,7 26.827,9 93.604,7 -6.386,9 134.707,2 132.400,7 376.374,7 -27.965,4 348.409,5 1.858,9 18.818,8 327.731,8

299.084,5 272.070,2 27.014,3 76.572,9 -9.622,1 91.863,6 78.546,4 379.352,5 -22.145,1 357.207,4 6.181,9 18.967,6 332.057,9 Harga berlaku

310.725,2 281.957,4 28.767,8 93.360,2 -27.232,6 116.193,6 95.112,1 397.934,3 -25.391,1 372.543,2 -11.687,3 19.896,7 364.333,7

329.841,7 298.703,6 31.138,1 97.057,7 -31.371,6 118.377,0 102.772,7 411.132,1 -17.399,1 393.733,0 8.815,8 20.556,6 364.360,6

Pengeluaran konsumsi Rumah tangga Pemerintah Pembentukan modal tetap domestik bruto Perubahan stok Ekspor barang dan jasa dikurangi Impor barang dan jasa Produk Domestik Bruto Pendapatan neto terhadap luar negeri atas faktor produksi Produk Nasional Bruto dikurangi Pajak tidak langsung dikurangi Penyusutan Pendapatan Nasional Memorandum item: Produk Domestik Bruto per kapita1) dalam ribuan rupiah dalam $ Produk Nasional Bruto per kapita1) dalam ribuan rupiah dalam $ Pendapatan Nasional per kapita1) dalam ribuan rupiah dalam $
1) Berdasarkan harga berlaku Sumber : Badan Pusat Statistik

430.122,7 387.170,7 42.952,0 177.686,1 21.615,1 174.871,3 176.599,8 627.695,4 -18.355,0 609.340,4 37.828,7 31.384,8 540.126,9

702.239,5 647.823,6 54.415,9 243.043,4 -82.716,1 506.244,8 413.058,1 955.753,5 -53.893,7 901.859,8 6.480,5 47.787,7 847.591,6

885.814,6 813.183,3 72.631,3 221.472,3 -96.461,4 390.560,1 301.654,0 1.099.731,6 -83.764,2 1.015.967,4 17.950,1 54.986,6 943.030,7

958.776,8 867.997,1 90.779,7 268.669,4 -81.384,6 542.992,4 407.036,4 1.282.017,6 -92.161,8 1.189.855,8 -37.820,3 64.100,9 1.163.575,2

1.110.103,0 999.266,3 110.836,7 310.908,7 -56.820,0 612.482,2 485.699,7 1.490.974,2 -58.079,0 1.432.895,2 31.425,7 74.548,7 1.326.920,8

3.205,5 1.118,3

4.814,7 491,1

5.489,7 696,5

6.301,2 777,3

3.111,8 1.085,6

4.543,2 463,4

5.071,5 643,5

5.848,2 721,4

2.758,3 962,3

4.269,8 435,5

4.707,5 597,3

5.719,1 705,4

263

Lampiran

Tabel 2 Produk Domestik Bruto menurut Lapangan Usaha (miliar rupiah)

Harga konstan 1993 Lapangan usaha 1997 Pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan Tanaman bahan makanan Tanaman perkebunan Peternakan Kehutanan Perikanan Pertambangan dan penggalian Minyak dan gas bumi Pertambangan tanpa migas Penggalian Industri pengolahan Industri migas Pengilangan minyak bumi Gas alam cair Industri tanpa migas Listrik, gas, dan air bersih Bangunan Perdagangan, hotel, dan restoran Perdagangan besar dan eceran Hotel dan restoran Pengangkutan dan komunikasi Pengangkutan Komunikasi Keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan Bank 1) Sewa bangunan & jasa perusahaan Jasa-jasa Pemerintahan umum Swasta PRODUK DOMESTIK BRUTO Nonmigas Migas 38.543,0 19.956,0 18.587,0 37.934,5 23.616,5 14.318,0 433.245,9 398.675,8 34.570,1 28.278,7 13.173,0 15.105,7 36.475,0 21.887,5 14.587,5 26.244,6 11.861,7 14.382,8 37.184,0 22.250,6 14.933,4 27.382,7 12.429,5 14.953,1 38.001,5 22.555,1 15.446,4 397.934,3 363.676,1 34.258,2 28.201,1 12.899,0 15.302,2 38.749,9 22.795,4 15.954,5 411.132,1 378.153,8 32.978,3 54.360,3 25.205,2 29.155,1 55.962,0 32.127,9 23.834,1 627.695,6 578.037,0 49.658,6 69.891,7 31.710,2 38.181,5 82.102,5 40.641,0 41.445,8 881.555,5 108.056,1 64.468,0 32.688,4 10.496,6 7.483,1 7.189,8 6.610,1 38.538,2 23.919,8 7.645,6 6.972,8 107.629,7 10.650,3 5.925,5 4.724,8 96.979,4 5.479,9 35.346,4 73.523,8 58.842,3 14.681,6 31.782,5 25.609,1 6.173,4 63.609,5 33.350,4 10.501,8 6.439,7 6.580,7 6.736,9 37.474,0 23.340,1 9.678,0 4.455,9 95.320,6 11.042,2 6.310,0 4.732,3 84.278,4 5.646,1 22.465,3 60.130,7 47.845,9 12.284,8 26.975,1 20.503,8 6.471,3 64.985,3 34.012,4 10.702,0 6.836,9 6.288,1 7.145,8 36.865,8 22.136,8 10.357,7 4.371,2 99.058,5 11.797,2 6.606,6 5.190,6 87.261,3 6.112,9 22.035,6 60.093,7 47.574,5 12.519,2 26.772,1 19.737,6 7.034,5 66.088,3 34.312,2 10.870,7 7.051,6 6.364,4 7.489,4 38.730,2 22.658,3 11.459,3 4.612,6 105.102,5 11.599,9 6.843,1 4.756,9 93.502,6 6.649,5 23.246,9 63.448,8 50.284,3 13.164,5 29.284,0 21.430,5 7.853,5 66.503,8 33.932,1 11.096,3 7.322,4 6.431,5 7.721,6 38.483,3 21.706,9 11.966,1 4.810,3 109.641,3 11.271,5 6.964,5 4.307,0 98.369,8 7.210,0 24.168,0 66.691,8 52.859,0 13.832,7 31.483,0 22.746,9 8.736,1 101.009,4 52.189,4 16.447,3 11.688,2 6.806,5 10.878,0 55.561,9 34.036,7 11.192,4 10.332,8 168.178,0 15.621,9 8.116,1 7.505,8 152.556,1 7.832,4 46.678,8 99.581,9 77.543,3 22.038,6 38.530,9 31.497,6 7.033,3 172.827,6 91.346,0 33.289,6 15.743,6 11.700,5 20.747,9 120.328,5 74.883,7 35.459,9 9.984,9 238.897,1 33.172,4 15.092,2 18.080,2 205.724,7 11.283,1 61.761,6 146.740,1 116.688,5 30.051,6 51.937,2 41.837,2 10.100,0 1998 1999 2000* 2001** 1997 1998

Harga berlaku 1999 2000* 2001**

215.686,7 116.222,5 35.966,5 23.761,2 13.803,8 25.932,8 109.925,4 72.424,9 27.696,1 9.804,3 385.873,9 35.127,6 16.320,8 18.806,8 250.746,3 13.429,0 67.616,2 175.835,4 140.588,7 35.246,7 55.189,6 42.735,7 12.453,9 71.220,2 31.088,6 40.131,6 104.955,3 59.745,0 48.210,3

218.301,3 111.886,5 33.993,8 28.087,5 14.861,8 29.471,7 176.639,9 131.079,4 34.031,6 11.528,8 335.339,4 53.167,6 22.500,1 30.667,4 282.171,8 15.072,4 76.090,8 194.910,1 155.184,4 39.725,7 64.550,1 49.336,7 15.213,4 79.476,8 35.404,8 44.072,1 121.636,9 69.460,2 52.176,7

244.381,0 124.287,7 38.434,8 31.575,1 15.406,2 34.677,2 202.680,1 143.063,4 45.558,1 14.058,6 389.320,9 61.878,0 28.604,9 33.273,1 327.443,0 17.285,6 84.045,3 239.959,2 193.692,6 46.266,6 79.824,8 62.274,4 17.550,4 92.459,4 42.234,2 50.225,2 141.017,8 81.850,9 59.166,9

376.374,9 379.352,5 341.992,5 345.418,5 34.382,4 33.934,0

989.611,6 1.099.731,6 1.282.017,6 1.490.974,2 992.179,1 1.097.770,6 1.286.032,8 107.552,5 184.247,0 204.941,4

1) Termasuk lembaga keuangan di luar bank dan jasa penunjang keuangan Sumber : Badan Pusat Statistik

264

Lampiran

Tabel 3 Pengaruh Nilai Tukar Dagang terhadap Produk Domestik Bruto (miliar rupiah)

Rincian

1997

1998

1999

2000*

2001**

1.

Ekspor barang dan jasa atas dasar harga berlaku Ekspor barang dan jasa atas dasar harga konstan Deflator ekspor (1:2) x 100) Impor barang dan jasa atas dasar harga berlaku Impor barang dan jasa atas dasar harga konstan Deflator impor (4:5) x 100) Indeks nilai tukar dagang (3:6) x 100) Perubahan indeks nilai tukar dagang (%) Kapasitas impor riil dari ekspor (1:6) x 100)

174.871,3

506.244,8

390.560,1

542.992,4

612.482,2

2.

121.157,9 144,3

134.707,2 375,8

91.863,6 425,2

116.193,6 467,3

118.377,0 517,4

3. 4.

176.599,8

413.058,1

301.654,0

407.036,4

485.699,7

5.

139.796,1 126,3 114,3

132.400,7 312,0 120,5

78.546,4 384,0 110,7

95.112,1 428,0 109,2

102.772,7 472,6 109,5

6. 7. 8.

7,89

5,43

-8,10

-1,36

0,26

9.

138.427,8 17.269,9 160,33 433.246,0

162.270,6 27.563,4 59,60 376.374,7

101.696,3 9.832,7 -64,33 379.352,5

126.880,9 10.687,3 8,69 397.934,3

129.599,5 11.222,5 5,01 411.132,1

10. Pengaruh nilai tukar dagang (9 - 2) 11. Perubahan nilai tukar dagang (%) 12. PDB atas dasar harga konstan 1993 13. Perubahan PDB atas dasar harga konstan (%) 14. Pendapatan Domestik Bruto (PnDB) (10 - 12) 15. Pertumbuhan PnDB (%)

4,70 -415.976,1

-13,13 -348.811,3

0,79 -369.519,8

4,90 -387.247,0

3,32 -399.909,6

2,16

-16,15

5,94

4,80

3,27

Sumber : Badan Pusat Statistik (diolah)

265

Lampiran

Tabel 4 Hasil Beberapa Jenis Produk Sektor Pertanian (ribu ton)

Rincian Tanaman pangan Padi Jagung Ubi kayu Ubi jalar Kacang tanah Kacang kedelai Kacang hijau Tanaman perkebunan Karet Kering Minyak Sawit Biji Sawit Coklat Kopi Teh Kulit Kina Gula Tebu Tembakau Kehutanan Kayu Bulat 3) Kayu Gergajian 3) Kayu Lapis 3) Peternakan Daging Telur Susu (juta liter) Perikanan Laut Darat
1) Angka Prakiraan Triwulan III-2001 2) Data sampai dengan bulan Juli 2001 3) Tahun fiskal dalam ribu meter kubik 4) Angka sementara Sumber : – Departemen Pertanian – Departemen Kehutanan – Badan Pusat Statistik

1997

1998

1999

2000

2001

49.377,1 8.770,9 15.134,0 1.847,5 688,3 1.356,9 261,7

49.236,7 10.169,4 14.696,2 1.935,0 692,4 1.305,6 306,1

50.866,4 9.204,0 16.458,5 1.665,5 659,6 1.382,8 265,1

51.898,9 9.676,9 16.089,0 1.827,7 736,5 1.017,6 289,9

50.096,5 1) 9.121,4 1) 695,8 1) 862,6 1) 286,5 1)

309,8 2.980,9 708,3 59,7 23,0 99,9 0,1 2.166,7 8,1

330,9 3.855,4 778,3 83,0 24,1 157,2 0,4 2.065,3 17,8

303,7 4.024,8 914,6 59,0 27,3 132,2 0,4 1.907,5 28,1

336,2 4.094,0 930,6 59,7 29,5 127,8 0,6 1.896,3 14,8

138,3 2) 1.466,5 2) 333,3 2) 23,6 2) 2,6 2) 56,2 2) 0,1 2) 224,4 2) 0,3 2)

29.520,3 2.613,5 6.709,8

19.026,9 2.707,2 7.154,7

20,619,9 2,060,2 4,611,9

-

-

1.555,1 768,6 423,7

1.228,5 529,8 375,4

1.193,5 640,4 436,0

1.445,2 783,3 495,7

1.450,7 4) 793,8 4) 505,0 4)

3.613,0 966,5

3.837,0 1.000,0

3.950,0 1.020,0

-

-

266

Lampiran

Tabel 5 Produksi, Luas Panen, dan Produktivitas Tanaman Pangan

Rincian Produksi (ribu ton) Padi Jagung Ubi kayu Ubi jalar Kacang tanah Kacang kedelai Kacang hijau

1997

1998

1999

2000

20011)

49.377,1 8.770,9 15.134,0 1.847,5 688,3 1.356,9 261,7

49.236,7 10.169,4 14.696,2 1.935,0 692,4 1.305,6 306,1

50.866,4 9.204,0 16.458,5 1.665,5 659,6 1.382,8 265,1

51.898,9 9.676,9 16.089,0 1.827,7 736,5 1.017,6 289,9

50.096,5 9.121,4 695,8 862,6 286,5

Luas panen (ribu hektar) Padi Jagung Ubi kayu Ubi jalar Kacang tanah Kacang kedelai Kacang hijau 11.140,6 3.355,2 1.243,4 195,4 628,1 1.119,1 294,2 11.730,3 3.847,8 1.205,4 202,1 651,1 1.095,1 339,2 11.963,2 3.456,4 1.350,0 172,2 625,0 1.151,1 298,1 11.793,5 3.500,3 1.284,0 194,3 683,6 824,5 131,3 11.412,0 3.305,1 1.279,9 167,1 650,7 723,0 319,6

Produktivitas (kuintal/hektar) Padi Jagung Ubi kayu Ubi jalar Kacang tanah Kacang kedelai Kacang hijau 44,3 26,1 121,7 94,5 11,0 12,1 8,9 42,0 26,4 121,9 95,8 10,6 11,9 9,0 42,5 26,6 121,9 96,7 10,6 12,0 8,9 44,0 27,6 125,3 94,1 10,8 12,3 22,1 43,9 27,6 10,7 11,9 9,0

1)

Angka Prakiraan Triwulan III 2001 Sumber : Departemen Pertanian

267

Lampiran

Tabel 6 Hasil Beberapa Jenis Produk Sektor Pertambangan dan Penggalian

Rincian

Satuan

1997

1998

1999

2000

2001

Pertambangan Migas Minyak Mentah 1) LNG LPG Pertambangan Non Migas Batubara Nikel Tembaga 1) Timah Bauksit Pasir Besi Emas Perak

Juta Barel Ribu Metric Ton Ribu Metric Ton

576,4 27.136,7 2.805,1

569,2 27.179,9 2.312,2

545,7 29.812,4 2.249,8

507,3 27.203,0 2.047,3

448,7 10.727,2 892,2

2) 3) 3)

Ribu Metric Ton Ribu Metric Ton Ribu Metric Ton Ribu Metric Ton Ribu Metric Ton Ribu Metric Ton Ribu Kg Ribu Kg

52.074,3 2.829,9 1.840,7 55,2 808,7 487,4 90,0 270,4

60.320,8 2.734,0 2.640,0 54,0 1.055,6 561,0 124,0 350,0

69.357,6 3.245,3 2.645,2 47,8 1.142,5 562,3 129,0 292,3

76.820,2 3.349,3 3.193,5 50,2 1.175,4 538,9 117,6 334,6

52.406,8 2.079,5 2.241,8 48,7 926,8 341,9 99,3 154,6

4) 4) 4) 4) 4) 4) 4) 4)

1) Termasuk Kondensat 2) Data sampai dengan bulan November 2001 3) Data sampai dengan bulan Mei 2001 4) Data sampai dengan bulan September 2001 Sumber : - Departemen Pertambangan dan Energi - Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi - Badan Pusat Statistik

Tabel 7 Penjualan Tenaga Listrik (juta KWJ)1)

Tahun
Total Sosial Rumah Tangga Bisnis Industri Publik Multiguna

1997
64.314,5 1.396,3 22.642,4 8.660,4 29.358,1 2.257,3 -

1998
64.383,3 1.425,8 24.391,0 8.507,5 27.779,1 2.280,0 -

1999
71.337,7 1.488,7 26.859,2 9.332,2 31.338,5 1.341,6 977,3

2000
79.050,3 1.667,1 30.506,0 10.224,4 33.994,4 2.096,7 561,7

20011)
69.964,5 1.508,0 27.381,8 9.002,1 29.876,3 1.990,9 205,4

1) Data sampai dengan bulan Oktober 2001 Sumber : PT. Perusahaan Listrik Negara

268

Lampiran

Tabel 8 Perkembangan Upah Minimum Harian Regional per Propinsi (dalam rupiah)

Rincian

1997

1998

1999

2000

2001

D.I. Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Batam Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah D.I. Yogyakarta Jawa Timur Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Timor Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Sulawesi Sulawesi Sulawesi Maluku Irian Jaya Rata-rata 1) Rata-rata 2) Perubahan (%) 3)

4.270 5.030 3.970 5.050 7.830 3.980 4.250 4.250 4.200 5.750 5.120 3.770 3.550 4.150 4.720 3.600 3.550 4.600 4.220 4.600 4.170 5.100 3.930 3.550 3.750 4.030 4.530 5.670 4.347 4.471 10

4.900 5.800 4.567 5.800 9.000 4.583 5.183 4.883 4.833 6.617 5.892 4.333 4.083 4.767 5.417 4.133 4.083 5.283 4.850 5.283 4.800 5.867 4.517 4.083 4.317 4.633 5.217 6.517 5.009 5.151 15

5.700 7.000 5.333 7.267 9.667 5.000 5.850 5.000 5.333 7.700 6.958 5.100 4.333 5.683 5.883 4.833 4.767 6.100 5.833 6.500 5.533 6.467 5.167 5.000 4.933 5.333 6.000 7.500 5.782 5.921 15

8.833 8.467 6.667 10.000 14.167 5.767 6.533 5.777 6.400 11.475 7.667 6.167 6.483 0 6.343 6.000 6.133 0 7.600 9.500 6.667 7.767 6.200 6.767 6.667 7.000 6.000 10.500 7.053 7.316 22

10.000 11.350 8.333 14.050 17.000 8.167 8.500 8.000 8.000 14.208 8.167 8.167 7.917 8.355 10.325 8.000 9.167 n.a. 10.150 12.067 9.833 10.000 12.400 8.167 10.000 9.167 7.667 13.333 9.750 10.018 38

1) Tidak termasuk Batam 2) Termasuk Batam 3) Perubahan tidak termasuk Batam Sumber : Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (diolah)

269

Lampiran

Tabel 9 Rencana Penanaman Modal Dalam Negeri yang Disetujui Pemerintah menurut Sektor (miliar rupiah)

Jumlah1) Sektor 1997 1998 1999 2000 20012) 1968 s.d. Juli 2000 Nilai a)
Pertanian, kehutanan, dan perikanan Pertanian Kehutanan Perikanan Pertambangan Industri Makanan Tekstil Kayu Kertas Kimia dan farmasi Mineral bukan logam Logam dasar Barang-barang logam Lain-lain Konstruksi Perhotelan Pengangkutan Perumahan dan perkantoran Jasa lainnya Jumlah 14.807,7 13.737,5 165,5 904,7 126,3 79.334,3 13.048,6 6.831,3 762,2 11.841,9 22.497,2 11.638,7 8.021,5 4.683,9 9,0 877,0 2.587,9 4.649,4 4.300,5 13.189,8 119.872,9 5.315,1 4.757,9 542,9 14,3 116,3 44.908,0 6.711,8 1.137,6 1.971,9 12.754,1 15.583,2 3.469,0 1.786,3 960,9 533,2 1.992,0 1.150,4 3.260,5 1.547,5 2.459,5 60.749,3 2.408,3 1.614,8 749,3 44,2 174,0 46.747,5 12.729,9 2.561,5 1.229,0 20.244,1 2.480,9 70,4 6.354,2 1.070,7 6,8 395,1 1.379,9 225,3 995,5 1.226,3 53.551,9 1.578,7 1.408,3 35,0 135,4 36,4 81.976,1 8.547,6 2.386,4 168,8 8.174,2 56.435,9 3.523,0 274,3 2.465,9 0,0 843,6 153,5 1.801,6 292,6 1.611,9 88.294,4 1.331,0 731,0 445,9 154,1 1.198,2 41.609,1 8.957,0 2.217,4 546,5 4.771,0 22.236,2 596,5 287,0 0,0 1.997,5 2.006,8 2.459,0 1.416,4 4.540,9 1.635,1 56.196,5 88.020,7 70.944,4 6.608,7 10.467,6 5.974,4 580.991,0 153.704,9 56.017,6 19.342,0 101.120,1 122.656,5 63.561,2 33.437,8 30.024,3 1.126,6 9.569,2 32.676,8 26.151,8 37.540,0 28.715,4 809.639,3

Proyek b)
1.711 1.094 301 316 172 6.561 990 1.358 816 423 1.350 436 211 873 104 170 717 1.004 369 387 11.091

1) a. Data kumulatif investasi sejak 1968 merupakan penjumlahan dari investasi baru, perluasan, alih status, perubahan, dan penggabungan dikurangi pembatalan b. Data kumulatif proyek sejak 1968 merupakan penjumlahan dari proyek baru, alih-status, dan penggabungan dikurangi pencabutan Data terakhir kumulatif nilai investasi & proyek (PMDN) sejak th. 1968 hanya sampai dengan Juli 2000 2) Data s.d. akhir Desember 2001 Sumber : Badan Koordinasi Penanaman Modal

270

Lampiran

Tabel 10 Penyebaran Rencana Penanaman Modal Dalam Negeri yang Disetujui Pemerintah menurut Dati I (miliar rupiah)

Jumlah1) Daerah Tingkat I 1997 1998 1999 2000 20012) 1968 s.d. Juli 2000 Nilai a)
Jawa dan Madura DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Sumatera DI Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kalimantan Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Nusa Tenggara Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Bali Timor Timur Maluku Irian Jaya Jumlah 63.680,8 8.553,5 37.423,5 5.764,2 235,6 11.704,0 33.561,7 1.114,1 3.395,5 522,6 11.862,4 9.793,5 5.391,4 630,7 851,5 13.935,7 3.825,9 1.688,0 4.300,1 4.121,7 3.849,9 277,8 725,5 1.880,0 966,6 1.222,5 352,5 870,0 850,7 0,0 1.060,0 1.711,6 119.872,9 18.871,5 4.289,7 8.117,1 2.574,9 6,0 3.883,8 10.669,4 1.297,3 1.101,5 336,8 4.925,1 1.429,4 882,7 4,0 692,6 11.966,6 416,9 9.093,4 640,6 1.815,7 13.022,9 1.132,4 630,7 11.168,7 91,1 1.289,0 638,5 650,5 804,6 2.802,6 44,5 1.278,7 60.749,8 22.126,8 1.260,5 18.393,9 849,6 34,6 1.588,2 14.746,3 94,2 1.079,4 597,6 9.091,5 3.001,7 149,3 121,4 611,2 5.359,5 222,6 3.561,4 410,5 1.165,0 1.795,8 51,8 543,9 696,2 503,9 35,2 14,9 20,3 1.002,7 47,8 20,0 8.416,0 53.550,1 17.314,0 3.521,8 9.742,2 1.019,5 119,9 2.910,6 35.584,3 89,6 363,8 575,5 33.285,1 882,2 67,7 22,5 297,9 4.277,7 21,1 331,5 3.064,8 860,3 30.297,3 1.487,5 262,5 28.380,4 166,9 757,0 755,5 1,5 21,6 0,0 0,0 42,5 88.294,4 20.272,4 7.845,4 7.024,7 3) 2.174,3 105,5 3.122,5 8.677,3 64,4 981,6 1,0 5.584,5 771,5 625,6 0,0 648,7 3.776,9 10,1 164,3 188,4 3.414,1 20.191,3 2.241,6 4) 1.067,8 16.581,5 300,4 1,600,6 519,7 1.080,9 540,2 0,0 0,0 1.137,8 56.196,5 401.423,9 71.339,3 221.414,4 36.884,6 2.053,4 69.732,2 239.389,2 9.435,6 15.841,5 90.401,7 61.807,6 28.618,3 19.123,8 3.013,6 11.147,1 77.561,5 20.110,6 20.243,0 12.899,4 24.308,5 39.054,2 6.062,4 6.389,0 22.443,0 4.159,8 5.237,3 2.821,1 2.416,2 10.979,2 3.359,4 7.688,7 24.945,9 809.639,3

Proyek b)
7.419 1.841 3.434 758 127 1.259 1.677 135 356 137 470 90 251 58 180 845 253 145 166 281 475 91 74 268 42 131 78 53 316 8 133 87 11.091

1) a. Data kumulatif investasi sejak 1968 merupakan penjumlahan dari investasi baru, perluasan, alih status, perubahan, dan penggabungan dikurangi pembatalan b. Data kumulatif proyek sejak 1968 merupakan penjumlahan dari proyek baru, alih-status, dan penggabungan dikurangi pencabutan Data terakhir kumulatif nilai investasi & proyek (PMDN) sejak th. 1968 hanya sampai dengan Juli 2000 2) Data s.d. akhir Desember 2001 3) Termasuk Propinsi Banten 4) Termasuk Propinsi Gorontalo Sumber : - Badan Koordinasi Penanaman Modal

271

Lampiran

Tabel 11 Rencana Penanaman Modal Asing yang Disetujui Pemerintah menurut Sektor (juta $)

Jumlah1) Sektor 1997 1998 1999 2000 20012) 1967 s.d. Juli 2000 Nilai a)
Pertanian, kehutanan, dan perikanan Pertanian Kehutanan Perikanan Pertambangan Industri Makanan Tekstil Kayu Kertas Kimia dan farmasi Mineral bukan logam Logam dasar Barang-barang logam Lain-lain Konstruksi Perhotelan Pengangkutan Perumahan dan perkantoran Jasa lainnya Jumlah 463,7 436,6 0,0 27,1 1,6 23.017,3 572,8 372,6 69,7 5.353,3 12.376,4 1.457,3 357,0 2.331,7 126,5 306,8 462,6 5.900,0 1.397,6 2.282,9 33.832,5 998,2 965,2 0,0 33,0 0,3 8.388,2 342,0 216,9 70,8 40,8 6.178,8 237,1 394,4 890,5 16,9 197,8 451,1 79,0 1.270,9 2.177,6 13.563,1 482,4 412,7 0,0 69,7 14,2 6.929,2 680,9 240,2 113,2 1.411,8 3.268,2 110,4 501,3 593,0 10,2 153,4 228,6 102,7 171,1 2.800,2 10.881,8 443,5 388,9 5,0 49,6 1,1 10.633,7 701,3 400,3 157,0 88,0 7.406,4 9,6 830,7 1.005,5 34,9 125,3 257,0 1.217,3 301,5 2.303,4 15.282,8 387,3 281,3 100,5 5,5 112,4 5.097,7 278,8 328,0 19,9 741,2 2.309,7 105,0 651,0 0,0 664,1 47,6 891,6 378,0 177,4 1.887,6 8.979,6 8.063,6 6.686,6 653,1 723,9 9.925,3 146.967,7 7.276,6 7.730,4 2.369,2 24.809,9 68.478,9 7.068,8 9.786,2 18.801,2 646,5 2.049,0 11.327,4 13.529,6 12.697,6 23.922,3 228.482,5

Proyek b)
380 240 28 112 207 4.376 352 800 391 130 928 166 136 1.337 136 376 331 279 221 2.278 8.448

1) a. Data kumulatif investasi sejak 1967 merupakan penjumlahan dari investasi baru, perluasan, alih status, perubahan, dan penggabungan dikurangi pembatalan b. Data kumulatif proyek sejak 1967 merupakan penjumlahan dari proyek baru, alih-status, dan penggabungan dikurangi pencabutan Data terakhir kumulatif nilai investasi & proyek (PMA) sejak th. 1967 hanya sampai dengan Juli 2000 2) Data s.d. akhir Desember 2001 Sumber : - Badan Koordinasi Penanaman Modal

272

Lampiran

Tabel 12 Penyebaran Rencana Penanaman Modal Asing yang Disetujui Pemerintah menurut Dati I (juta $)

Jumlah1) Daerah Tingkat I 1997 1998 1999 2000 20012) 1967 s.d. Juli 2000 Nilai a)
Jawa dan Madura DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Sumatera DI Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kalimantan Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Nusa Tenggara Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Bali Timor Timur Maluku Irian Jaya Jumlah 20.535,0 6.136,1 7.973,3 2.195,7 14,3 4.215,6 11.163,9 771,9 3.514,6 7,1 6.743,0 0,0 73,2 0,0 54,1 1.056,1 28,2 6,0 438,7 583,2 426,1 358,8 5,5 58,3 3,5 14,6 0,6 14,0 114,7 0,0 17,8 504,4 33.832,6 10.840,4 1.700,1 5.504,1 3.066,7 6,0 563,5 1.415,7 6,2 229,6 175,8 537,1 201,9 129,3 37,7 98,1 722,7 251,2 0,4 73,4 397,7 192,7 157,4 6,9 27,8 0,6 57,2 34,6 22,6 308,5 12,4 4,9 8,6 13.563,1 2.635,9 783,8 1.498,2 69,7 10,5 273,7 7.652,6 51,8 102,7 344,9 6.956,9 42,0 39,7 18,4 96,2 226,8 102,0 50,3 30,3 44,2 141,8 24,1 2,7 12,5 102,5 15,0 13,6 1,4 193,8 0,0 1,7 23,2 10.890,8 10.539,9 3.270,5 3.138,0 3.013,8 4,0 1.113,6 2.945,6 1.811,1 193,3 18,5 418,0 252,7 215,5 0,2 36,3 137,0 3,3 74,8 3,1 55,8 68,5 22,2 1,8 36,5 8,0 1.413,5 1.408,5 5,0 125,8 0,0 0,1 52,4 15.282,8 5.718,9 1.145,0 2.771,9 3) 116,0 10,0 1.676,0 2.325,5 6,0 82,3 37,3 2.093,9 5,6 44,6 1,9 53,9 235,0 21,8 11,8 9,7 191,7 70,8 1,1 0,5 68,7 0,5 5,7 5,0 0,7 518,9 0,0 9,3 95,5 8.979,6 144.536,6 34.897,1 64.993,2 13.837,6 309,9 30.498,8 49.753,1 2.549,5 9.978,0 1.036,2 24.801,8 4.407,8 5.147,4 258,1 1.574,3 11.513,7 1.225,6 547,4 3.279,0 6.461,7 8.916,0 1.117,9 172,2 7.373,8 252,1 3.936,8 3,774,3 162,5 3.381,7 45,2 395,5 6.003,9 228.482,5

Proyek b)
6.345 2.754 2.646 267 45 633 1.061 44 203 52 607 19 61 23 52 267 73 55 49 90 170 68 21 60 21 77 59 18 441 2 28 57 8.448

1) a. Data kumulatif investasi sejak 1967 merupakan penjumlahan dari investasi baru, perluasan, alih status, perubahan, dan penggabungan dikurangi pembatalan b. Data kumulatif proyek sejak 1967 merupakan penjumlahan dari proyek baru, alih- status, dan penggabungan dikurangi pencabutan Data terakhir kumulatif nilai investasi & proyek (PMA) sejak th. 1967 hanya sampai dengan Juli 2000 2) Data s.d. akhir Desember 2001 3) Termasuk Propinsi Banten Sumber : - Badan Koordinasi Penanaman Modal

273

Lampiran

Tabel 13 Rencana Penanaman Modal Asing yang Disetujui Pemerintah menurut Negara Asal (juta $) Jumlah 1)

Negara Asal

1997

1998

1999

2000

20012)

1967 s.d. Juli 2000 Nilai a) Proyek b)

Eropa Belanda Belgia Inggris Jerman Perancis Swiss Lainnya Amerika Amerika Serikat Kanada Lainnya Asia Hongkong Jepang Korea Selatan Malaysia Filipina Singapura Taiwan Thailand Lainnya Australia Afrika Gabungan negara

11.740,2 319,5 16,5 5.473,6 4.467,8 456,6 73,5 932,7 1.112,8 1.017,7 6,2 88,9 15.169,6 251,0 5.421,3 1.409,9 2.289,3 0,0 2.298,6 3.419,4 19,1 61,0 187,5 93,5 5.528,9

5.311,0 411,8 11,5 4.745,3 71,0 7,5 35,1 28,8 699,6 568,3 8,1 123,2 4.673,8 549,1 1.330,7 202,4 1.060,2 62,5 1.267,4 165,4 2,8 33,3 85,1 75,2 2.718,4

730,2 48,7 9,8 507,0 87,1 22,7 42,1 12,8 144,2 136,7 3,2 4,3 6.486,1 76,9 644,3 263,0 186,1 4,9 731,1 1.489,3 8,4 3.082,1 2.458,5 65,6 1.006,0

5.864,8 1.159,2 5,7 3.574,0 958,6 64,4 42,2 60,7 254,3 243,1 3,6 7,6 3.824,0 106,2 1.961,1 688,4 167,7 7,4 535,0 131,0 6,8 220,4 58,6 466,5 4.814,6

920,4 88,0 0,2 722,6 42,7 14,4 11,7 40,8 81,3 72,6 8,4 0,3 6.154,0 39,4 759,7 357,2 2.226,3 1,8 1.129,5 72,1 3,0 1.565,0 255,2 560,1 1.008,6

41.250,8 6.228,8 367,3 21.163,5 8.329,1 1.219,8 1.083,1 2.859,2 11.642,4 10.449,2 156,7 1.036,5 110.509,6 14.594,4 36.586,1 9.490,0 7.035,3 165,2 19.190,2 16.100,7 1.781,8 5.565,9 9.501,0 1.440,1 54.138,6

1.254 267 50 390 192 107 74 174 550 397 109 44 5.103 404 1.179 936 366 26 1.094 809 38 251 456 47 1.038

Jumlah

33.832,5

13.563,1

10.890,6

15.282,8

8.979,6

228.482,5

8.448

1) a. Data kumulatif investasi sejak 1967 merupakan penjumlahan dari investasi baru, perluasan, alih status, perubahan, dan penggabungan dikurangi pembatalan b. Data kumulatif proyek sejak 1967 merupakan penjumlahan dari proyek baru, alihstatus, dan penggabungan dikurangi pencabutan Data terakhir kumulatif nilai investasi & proyek (PMA) sejak th. 1967 hanya sampai dengan Juli 2000 2) Data s.d. akhir Desember 2001 Sumber : - Badan Koordinasi Penanaman Modal

274

Lampiran

Tabel 14 Indeks Harga Konsumen Indonesia

Bahan Makanan Akhir periode 1)

Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau 211,58 142,23 167,92 207,21 211,58 213,80 216,87 216,34 215,52 215,20 215,16 214,87 215,33 216,26 216,13 216,51 219,20 220,00 220,17 219,97 225,28 225,07 227,25 229,45 231,43 232,73 237,42 241,62 243,49 245,87 247,59 250,49 252,77 255,28 261,35 266,46 267,54 269,14 270,38 272,38 278,75

Perumahan

Sandang

Kesehatan

Pendidikan, Rekreasi & Olahraga

Transpor dan Komunikasi

Umum

Perubahan Indeks Umum

1994 2) 1995 1996 1997 1998 Januari - Maret April - Juni 3) Juli - September Oktober - Desember 1999 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober 4) November Desember 2000 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember 2001 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember

156,97 179,14 189,99 227,88 263,22 166,71 196,39 261,00 163,22 281,09 287,60 281,65 275,09 271,38 268,25 258,96 248,54 239,06 237,24 240,00 249,54 256,85 256,00 250,16 246,16 246,08 246,47 251,39 246,68 240,76 241,37 246,96 259,53 258,68 263,04 265,51 262,89 266,84 270,43 274,88 268,42 266,45 269,53 282,50 290,74

178,57 188,93 198,00 210,36 159,03 128,61 139,17 155,92 159,03 160,62 162,06 162,92 164,04 164,91 165,34 166,06 165,87 166,12 166,45 165,93 166,77 167,56 168,34 169,05 171,03 174,18 174,87 176,06 176,71 177,93 180,60 182,93 183,61 184,74 185,96 188,19 190,09 191,63 194,72 197,93 199,69 203,04 203,89 206,05 208,57

147,53 157,42 166,76 179,96 219,71 161,39 195,29 225,22 219,71 232,11 234,23 234,71 233,58 231,18 228,32 224,69 226,56 229,63 232,23 228,38 233,21 237,47 239,79 240,09 240,50 242,55 244,54 248,54 247,01 247,12 248,68 249,95 256,98 259,03 258,88 260,70 264,85 270,08 271,94 272,10 264,80 266,57 271,77 274,81 277,90

161,69 173,33 190,72 206,72 212,54 155,88 171,97 204,49 212,54 214,07 214,12 215,80 216,57 217,60 218,22 219,48 220,98 220,00 220,06 219,97 220,37 220,87 221,85 222,43 224,87 225,76 226,50 229,42 230,43 236,19 238,16 240,47 241,46 242,26 244,77 247,97 252,17 254,79 257,03 259,74 260,26 260,62 261,32 262,26 262,99

161,84 134,74 140,84 162,17 161,84 161,40 161,89 162,05 162,04 162,59 163,06 163,87 166,48 169,52 170,17 170,42 170,44 170,43 170,23 171,83 173,50 174,91 175,41 178,51 195,70 198,02 199,24 199,50 200,28 200,61 201,38 202,17 203,41 203,89 204,61 209,40 218,08 222,74 223,38 223,57 224,12

163,70 119,74 150,38 163,18 163,70 164,95 164,29 169,16 169,07 170,06 170,23 169,94 169,68 169,94 171,31 171,56 172,20 173,68 173,45 174,01 176,83 181,19 182,54 183,37 184,69 186,65 191,19 191,78 194,00 193,21 194,29 195,00 196,06 197,42 204,14 218,09 218,12 219,75 219,99 220,14 221,47

163,17 177,83 189,62 211,62 198,64 142,15 163,89 196,23 198,64 204,54 207,12 206,75 205,34 204,76 204,07 201,93 200,05 198,68 198,79 199,00 202,45 205,12 205,27 204,34 205,48 207,21 208,24 210,91 211,99 211,87 214,33 217,15 221,37 222,10 224,04 226,04 227,07 229,63 233,46 238,52 237,92 239,44 241,06 245,18 249,15

9,24 8,64 6,47 11,05 1,23 27,11 15,29 19,73 1,23 2,01 2,97 1,26 -0,18 -0,68 -0,28 -0,34 -1,05 -0,93 -0,68 0,06 0,25 1,73 9,35 1,32 0,07 -0,45 0,56 0,84 0,50 1,28 0,51 -0,06 1,16 1,32 1,94 12,55 0,33 0,87 0,89 0,46 1,13 1,67 2,12 -0,21 0,64 0,68 1,71 1,62

1) Angka tahunan/triwulanan adalah angka akhir periode yang bersangkutan 2) Berdasarkan April 1988 - Maret 1989 = 100 dengan 4 kelompok: kolom (2) adalah kelompok Makanan; kolom (6) adalah kelompok Aneka Barang dan Jasa 3) Berdasarkan Januari 1996 - Desember 1996 = 100, IHK dihitung di 44 kota dan dibagi menjadi 7 kelompok 4) Sejak Oktober 1999, IHK dihitung di 43 kota (minus kota Dili) Sumber : Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi

275

Lampiran

Tabel 15 Indeks Harga Perdagangan Besar Indonesia 1)

Perubahan 2001 Kelompok 1997 1998 1999 2000 2001 terhadap 2000 (%) Pertanian Pertambangan dan penggalian Industri Impor Ekspor Migas Nonmigas Indeks Umum 445 318 275 260 238 204 353 282 750 396 455 598 592 474 994 568 410 214 268 289 366 355 370 314 459 236 278 316 461 393 634 353 567 275 309 356 669 462 521 403 24 17 11 13 45 18 -18 14

1)

Angka tahunan merupakan rata-rata Indeks selama satu tahun yang bersangkutan Tahun 1996 - 1998, perhitungan Indeks Harga Perdagangan Besar menggunakan tahun dasar 1983 (1983=100) Tahun 1999 - 2001, perhitungan Indeks Harga Perdagangan Besar menggunakan tahun dasar 1993 (1993=100) Sumber : Badan Pusat Statistik

276

Lampiran

Tabel 16 Perkembangan Laju Inflasi di 43 Kota (persen)

Kota Lhokseumawe Banda Aceh Padang Sidempuan Sibolga Pematang Siantar Medan Padang Pekanbaru Batam Jambi Palembang Bengkulu Bandar Lampung Jakarta Tasikmalaya Serang/Celegon Bandung Cirebon Purwokerto Surakarta Semarang Tegal Yogyakarta Jember Kediri Malang Surabaya Denpasar Mataram Kupang Pontianak Sampit Palangkaraya Banjarmasin Balikpapan Samarinda Manado Palu Makasar Kendari Ternate Ambon Jayapura Inflasi Nasional

1997 8,44 9,90 16,84 14,60 15,14 13,10 10,72 11,05 17,13 9,89 13,58 9,21 9,70 11,70 10,44 12,45 9,95 10,74 9,38 9,07 10,88 10,44 10,72 9,89 12,75 7,38 9,11 9,75 8,66 7,71 12,29 15,79 13,03 12,98 13,28 10,93 13,66 9,70 8,20 8,42 16,77 7,99 10,35 11,05

1998 1) 79,66 79,01 85,72 85,01 80,23 83,81 87,20 75,86 52,89 72,31 89,18 84,10 85,22 74,42 73,55 65,43 72,59 62,23 80,93 66,38 67,19 67,73 77,46 84,95 77,08 93,16 95,21 75,11 90,50 62,58 78,85 75,94 74,65 74,43 75,10 68,31 74,24 95,18 80,86 97,79 72,98 75,82 61,83 77,63

1999 2) 6,61 5,57 -0,14 1,65 -0,54 1,68 4,23 4,35 -0,28 0,49 -1,01 0,47 3,34 1,77 1,58 -0,04 4,29 4,75 0,99 0,46 1,51 1,11 2,51 3,16 -0,64 1,49 0,24 4,39 0,59 10,65 4,49 -4,98 -0,13 1,47 3,01 3,69 7,41 3,58 1,64 1,29 0,38 8,26 3,49 2,01

2000 8,73 10,57 3,95 6,95 4,67 5,90 10,99 10,34 9,00 8,40 8,49 8,21 10,18 10,29 4,57 7,03 8,52 6,52 10,02 7,89 8,73 7,85 7,32 10,35 7,05 10,62 10,46 9,81 5,19 10,62 8,34 11,87 8,57 7,57 10,67 11,91 11,41 8,41 9,73 11,25 14,51 8,52 10,23 9,35

2001 11,67 16,60 9,84 8,66 13,55 15,50 9,86 14,65 12,64 10,11 15,15 10,58 12,94 11,52 16,71 12,75 11,91 12,93 11,76 15,58 13,98 11,26 12,56 13,92 15,91 12,45 14,13 11,52 14,76 12,34 10,60 14,69 13,35 8,36 10,82 10,21 13,30 18,73 11,77 12,56 13,71 14,12 14,00 12,55

Keterangan 1) Dihitung dengan menggunakan tahun dasar 1996 = 100 di 44 kota dan terbagi menjadi tujuh kelompok 2) Dihitung dengan menggunakan tahun dasar 1996 = 100 di 43 kota (minus kota Dili) dan terbagi menjadi tujuh kelompok Sumber : Badan Pusat Statistik

277

Lampiran

Tabel 17 Neraca Pembayaran Indonesia (juta $)

Rincian

1997

1998

1999

2000

2001 *

A. Transaksi Berjalan 1. Barang a. Ekspor f.o.b - Nonmigas - Migas b. Impor f.o.b - Nonmigas - Migas 2. Jasa-jasa (bersih) - Nonmigas - Migas B. Transaksi Modal 1. Lalu Lintas Modal Pemerintah (bersih) a. Penerimaan - Bantuan program - Bantuan pangan - IGGI/CGI - Diluar IGGI/CGI 1) b. Pelunasan pinjaman2) 2. Lalu Lintas Modal Swasta (bersih) a. Penanaman modal langsung (bersih) b. Lainnya (bersih) C. Jumlah (A+B) D. Selisih Perhitungan (bersih) E. Lalu-lintas Moneter 3)

-5.001 10.074 56.297 44.576 11.721 -46.223 -41.447 -4.776 -15.075 -10.525 -4.550 2.542 2.880 7.594 0 0 4.538 3.056 -4.714 -338 4.677 -5.015 -2.459 -1.651 4.110

4.096 18.428 50.370 42.951 7.419 -31.942 -29.087 -2.855 -14.332 -11.420 -2.911 -3.836 10.009 13.213 1.821 160 2.788 8.444 -3.204 -13.845 -355 -13.491 260 2.084 -2.344

5.783 20.644 51.243 40.988 10.255 -30.599 -26.632 -3.967 -14.861 -11.660 -3.201 -4.571 5.352 7.932 3.870 273 2.408 1.381 -2.581 -9.923 -2.745 -7.178 1.212 2.080 -3.292

7.992 25.042 65.407 50.341 15.066 -40.366 -34.378 -5.988 -17.050 -12.500 -4.550 -6.772 3.217 4.986 1.361 76 2.420 1.130 -1.769 -9.989 -4.550 -5.439 1.220 3.822 -5.042

4.977 21.647 58.689 45.816 12.873 -37.042 -31.448 -5.594 -16.670 -12.361 -4.309 -8.915 -290 3.329 458 0 2.470 401 -3.619 -8.625 -5.912 -2.713 -3.938 2.560 1.378

1) 2) 3)

Termasuk bantuan IMF Setelah diperhitungkan rescheduling dan termasuk pembayaran kepada IMF Minus (-) : Suplus ; Sejak tahun 2000 lalu lintas moneter berdasarkan pada mutasi cadangan devisa atas dasar konsep International Reserve and Foreign Currency Liquidity (IRFCL) menggantikan Gross Foreign Assets (GFA).

278

Lampiran

Tabel 18 Nilai Ekspor Nonmigas menurut Komoditas (juta $)

Rincian

1997

1998

1999

2000

20011)

Total Ekspor Pertanian Kayu Getah karet Kopi Teh Lada Tembakau Tapioka Hewan & hasilnya - Udang Kulit Lainnya Mineral Timah Tembaga Nikel Aluminium Batu bara Lainnya Industri Tekstil & produk tekstil - Pakaian jadi Kerajinan tangan Produk kayu - Kayu lapis Produk rotan Minyak sawit Bungkil kopra Produk kimia Produk logam Barang-barang listrik Semen Kertas Produk karet Gelas dan alat dari gelas Alas kaki Produk plastik Mesin & psw. mekanik Lainnya
1) Angka proyeksi

44.577 5.166 64 1.505 583 152 165 124 23 1.789 1.047 56 706 4.353 277 1.548 233 280 1.638 377 35.057 7.614 4.186 1.031 5.704 3.482 204 1.662 86 1.746 1.140 3.264 37 1.957 406 272 2.219 787 1.415 5.515

42.951 5.091 53 1.006 602 169 195 139 21 1.779 1.041 72 1.056 4.703 260 1.792 165 202 1.669 614 33.157 7.034 3.769 2.089 4.245 2.328 39 888 51 2.098 1.387 2.813 87 2.471 415 269 1.583 935 1.478 5.275

40.987 4.179 86 854 465 102 183 108 23 1.574 886 74 710 4.130 242 1.441 219 138 1.665 425 32.678 6.291 3.450 569 4.526 2.259 255 1.369 47 1.835 1.078 3.365 143 2.645 374 279 1.519 860 1.853 5.670

50.341 4.152 97 883 327 115 227 80 11 1.622 971 94 695 5.566 234 2.272 360 260 1.635 805 40.623 7.317 4.067 548 4.495 1.996 296 1.265 62 2.259 1.217 6.366 141 3.046 440 349 1.620 1.216 3.783 6.205

45.816 4.015 128 980 181 107 98 120 13 1.685 994 101 601 5.113 222 2.265 292 207 1.662 466 36.688 7.047 4.038 581 4.094 1.854 285 1.076 41 2.338 1.197 6.446 176 2.473 432 299 1.533 1.045 2.894 4.731

279

Lampiran

Tabel 19 Volume Ekspor Nonmigas menurut Komoditas (ribu ton)

Rincian

1997 Volume Pangsa (%)

1998

1999

2000

2001 1) Volume Pangsa (%)

Volume Pangsa (%) Volume Pangsa (%) Volume Pangsa (%)

Total Ekspor Pertanian Kayu Getah karet Kopi Teh Lada Tembakau Tapioka Hewan & hasilnya - Udang Kulit Lainnya Mineral Timah Tembaga Nikel Aluminium Batu bara Lainnya Industri Tekstil & produk tekstil - Pakaian jadi Kerajinan tangan Produk kayu - Kayu lapis Produk rotan Minyak sawit Bungkil kopra Produk kimia Produk logam Barang-barang listrik Semen Kertas Produk karet Gelas dan alat dari gelas Alas kaki Produk plastik Mesin & psw, mekanik Lainnya

251.845 4.731 708 1.483 356 96 33 56 244 704 141 1 1.050 217.018 50 1.932 2.224 1.081 45.822 165.909 30.096 1.369 318 183 6.914 5.087 52 3.245 1.090 4.206 1.090 356 794 3.768 167 643 193 720 114 5.192

100,0 1,9 0,3 0,6 0,1 0,0 0,0 0,0 0,1 0,3 0,1 0,0 0,4 86,2 0,0 0,8 0,9 0,4 18,2 65,9 12,0 0,5 0,1 0,1 2,7 2,0 0,0 1,3 0,4 1,7 0,4 0,1 0,3 1,5 0,1 0,3 0,1 0,3 0,0 2,1

199.771 5.936 489 1.584 411 113 45 114 211 949 165 13 2.007 154.226 49 2.946 1.409 1.076 52.411 96.335 39.609 1.635 414 223 7.302 5.157 14 1.700 984 6.883 3.391 381 3.736 5.585 203 957 173 1.244 763 4.435

100,0 3,0 0,2 0,8 0,2 0,1 0,0 0,1 0,1 0,5 0,1 0,0 1,0 77,2 0,0 1,5 0,7 0,5 26,2 48,2 19,8 0,8 0,2 0,1 3,7 2,6 0,0 0,9 0,5 3,4 1,7 0,2 1,9 2,8 0,1 0,5 0,1 0,6 0,4 2,2

175,610 5.395 679 1.544 362 107 35 78 300 819 164 38 1.433 116.809 47 2.261 2.008 1.125 53.899 57.469 49.307 1.525 333 196 6.791 4.302 114 3.600 983 5.378 3.191 437 7.383 9.048 209 1.555 165 1.045 166 7.156

100,0 3,1 0,4 0,9 0,2 0,1 0,0 0,0 0,2 0,5 0,1 0,0 0,8 66,5 0,0 1,3 1,1 0,6 30,7 32,7 28,1 0,9 0,2 0,1 3,9 2,4 0,1 2,0 0,6 3,1 1,8 0,2 4,2 5,2 0,1 0,9 0,1 0,6 0,1 4,1

176,535 4,649 685 1.410 363 109 67 32 161 664 182 11 965 125.015 46 3.144 1.918 1.204 59.742 58.961 46.871 1.677 351 205 6.770 3.970 130 4.521 1.225 5.916 1.515 692 7.292 5.048 279 960 157 1.195 288 4.680

100,0 2,6 0,4 0,8 0,2 0,1 0,0 0,0 0,1 0,4 0,1 0,0 0,5 70,8 0,0 1,8 1,1 0,7 33,8 33,4 26,6 0,9 0,2 0,1 3,8 2,2 0,1 2,6 0,7 3,4 0,9 0,4 4,1 2,9 0,2 0,5 0,1 0,7 0,2 2,7

246.148 5.329 740 1.565 422 114 110 36 166 632 156 12 1.131 179.395 58 2.860 2.138 1.467 58.149 172.651 61.425 1.827 370 202 7.327 4.365 124 6.107 1.927 5.728 1.955 715 9.808 5.314 292 962 170 1.285 377 10.446

100,0 2,2 0,3 0,6 0,2 0,0 0,0 0,0 0,1 0,3 0,1 0,0 0,5 72,9 0,0 1,2 0,9 0,6 23,6 70,1 25,0 0,7 0,2 0,1 3,0 1,8 0,1 2,5 0,8 2,3 0,8 0,3 4,0 2,2 0,1 0,4 0,1 0,5 0,2 4,2

1) Angka proyeksi

280

Lampiran

Tabel 20 Nilai Ekspor Nonmigas menurut Negara Tujuan (juta $)

1997 Benua/negara Nilai 777 8.286 6.701 875 397 314 25.350 7.723 47 1.343 734 4.913 686 2.053 597 19 7.015 1.297 159 170 1.387 627 1.330 2.975 783 9.379 8.408 1.825 804 1.263 636 1.502 527 1.851 120 196 656 44.576 Pangsa (%) 1,7 18,6 15,0 2,0 0,9 0,7 56,9 17,3 0,1 3,0 1,6 11,0 1,5 4,6 1,3 0,0 15,7 2,9 0,4 0,4 3,1 1,4 3,0 6,7 1,8 21,0 18,9 4,1 1,8 2,8 1,4 3,4 1,2 4,2 0,3 0,4 1,5 100,0

1998 Nilai 904 7.815 6.383 459 409 564 24.831 8.723 43 1.358 608 5.798 916 2.037 782 45 5.964 1.166 175 152 1.320 476 1.288 2.702 910 8.491 7.474 1.488 773 1.120 729 1.458 545 1.360 67 310 640 42.951 Pangsa (%) 2,1 18,2 14,9 1,1 1,0 1,3 57,8 20,3 0,1 3,2 1,4 13,5 2,1 4,7 1,8 0,1 13,9 2,7 0,4 0,4 3,1 1,1 3,0 6,3 2,1 19,8 17,4 3,5 1,8 2,6 1,7 3,4 1,3 3,2 0,2 0,7 1,5 100,0 Nilai

1999 Pangsa (%) 2,5 18,7 15,4 1,0 0,8 1,5 57,5 19,5 0,1 3,4 1,6 12,2 2,3 3,4 2,0 0,2 14,1 3,1 0,2 0,4 3,6 1,0 3,0 6,9 2,6 18,7 16,5 3,6 1,7 2,9 1,5 3,0 1,2 2,7 0,1 0,6 1,5 100,0 Nilai

2000 Pangsa (%) 2,3 19,9 16,8 1,2 0,9 0,9 56,8 19,4 0,0 3,7 1,7 12,1 1,8 3,1 2,2 0,2 15,6 3,4 0,1 0,3 3,6 1,1 3,0 4,9 2,1 18,9 17,4 3,8 1,8 3,1 1,4 2,9 1,5 3,1 0,2 0,5 0,9 100,0

2001 1) Nilai Pangsa (%) 1.110 9.505 8.094 576 414 420 25.535 8.622 32 1.710 798 5.130 952 1.288 956 106 7.208 1.564 76 155 1.559 476 1.358 2.166 950 8.716 7.785 1.570 758 1.550 686 1.329 627 1.265 52 251 629 45.816 2,4 20,7 17,7 1,3 0,9 0,9 55,7 18,8 0,1 3,7 1,7 11,2 2,1 2,8 2,1 0,2 15,7 3,4 0,2 0,3 3,4 1,0 3,0 4,7 2,1 19,0 17,0 3,4 1,7 3,4 1,5 2,9 1,4 2,8 0,1 0,5 1,4 100,0

Afrika Amerika Amerika Serikat Amerika Latin Kanada Lain-lain Asia ASEAN Brunei Malaysia Filipina Singapura Thailand Hongkong India Irak Jepang Korea Selatan Myanmar Pakistan RRC Arab Saudi Taiwan Lain-lain Australia/Oceania Eropa MEE Belanda Belgia dan Luxemburg Inggris Italia Jerman Perancis Lainnya Bekas Uni Soviet Eropa Timur Lain-lain Lain-lain TOTAL

1.032 7.679 6.297 429 346 607 23.573 7.982 26 1.388 646 4.998 923 1.400 807 63 5.791 1.287 101 151 1.486 428 1.234 2.846 1.058 7.645 6.744 1.464 687 1.175 605 1.217 506 1.090 49 232 621 40.987

1.157 9.993 8.463 626 446 458 28.579 9.748 24 1.861 861 6.073 928 1.574 1.088 95 7.844 1.710 64 148 1.828 535 1.487 2.458 1.080 9.532 8.774 1.895 892 1.575 708 1.435 730 1.540 81 243 433 50.341

1) Angka proyeksi

281

Lampiran

Tabel 21 Nilai Impor Nonmigas menurut Negara Asal (FOB) (juta $)

1997 Benua/negara Nilai 422 7.374 4.765 733 609 1.267 20.495 3.494 4 619 108 1.788 974 269 630 3 7.517 1.973 19 42 1.167 115 1.360 3.907 2.181 10.974 7.686 474 292 1.082 931 2.410 1.929 570 312 124 2.853 41.447 Pangsa (%) 1,0 17,8 11,5 1,8 1,3 3,1 49,4 8,4 0,0 1,5 0,3 4,3 2,3 0,6 1,5 0,0 18,1 4,8 0,0 0,1 2,8 0,3 3,3 9,4 5,3 26,5 18,5 1,1 0,7 2,6 2,2 5,8 4,7 1,4 0,8 0,3 6,9 100,0 Nilai

1998 Pangsa (%) 1,2 18,2 10,8 1,4 1,5 4,4 49,3 8,2 0,0 1,2 0,2 4,1 2,7 0,8 0,9 0,0 14,4 4,2 0,0 0,4 3,0 0,4 3,0 13,8 5,5 25,7 17,0 1,1 0,8 2,7 1,6 8,2 1,8 0,8 0,5 0,2 8,0 100,0 Nilai

1999 Pangsa (%) 1,7 18,7 9,5 1,9 1,4 5,9 51,9 10,2 0,0 1,6 0,2 5,4 3,1 0,8 0,9 0,0 9,5 4,0 0,1 0,4 3,9 0,5 2,6 19,0 7,6 20,2 11,4 1,2 0,5 1,9 0,9 4,6 1,2 1,0 0,4 0,2 8,3 100,0 Nilai

2000 Pangsa (%) 1,3 16,4 11,8 1,9 2,3 0,4 56,6 13,7 0,0 2,4 0,4 7,0 3,8 1,3 1,7 0,0 19,1 6,7 0,1 0,2 6,5 0,8 4,6 1,9 6,9 18,7 14,2 1,6 1,1 2,5 1,2 4,7 1,7 1,3 0,9 0,2 3,5 100,0

2001 1) Nilai Pangsa (%) 602 4.940 3.917 454 495 73 17.599 4.610 2 883 123 2.359 1.243 324 595 0 5.298 2.374 27 106 2.053 287 1.438 487 2.507 5.800 4.604 433 286 702 541 1.704 511 426 169 65 963 31.448 1,9 15,7 12,5 1,4 1,6 0,2 56,0 14,7 0,0 2,8 0,4 7,5 4,0 1,0 1,9 0,0 16,8 7,5 0,1 0,3 6,5 0,9 4,6 1,5 8,0 18,4 14,6 1,4 0,9 2,2 1,7 5,4 1,6 1,4 0,5 0,2 3,1 100,0

Afrika Amerika Amerika Serikat Amerika Latin Kanada Lain-lain Asia Asean Brunei Malaysia Filipina Singapura Thailand Hongkong India Irak Jepang Korea Selatan Myanmar Pakistan RRC Arab Saudi Taiwan Lain-lain Australia/Oceania Eropa MEE Belanda Belgia dan Luxemburg Inggris Italia Jerman Perancis Lainnya Bekas Uni Soviet Eropa Timur Lain-lain Lain-lain TOTAL

362 5.285 3.150 420 422 1.294 14.354 2.396 2 344 71 1.195 785 236 256 3 4.202 1.228 10 128 887 105 882 4.022 1.614 7.472 4.938 316 232 779 476 2.399 513 224 151 68 2.316 29.087

449 4.973 2.541 507 360 1.566 13.810 2.730 1 424 48 1.433 824 212 231 0,0 2.541 1.064 17 98 1.039 120 695 5.062 2.021 5.378 3.027 314 143 500 232 1.232 328 277 102 44 2.204 26.632

460 5.641 4.044 670 804 124 19.463 4.706 2 840 147 2.422 1.295 452 582 0 6.576 2.293 27 68 2.238 279 1.592 649 2.371 6.443 4.871 566 366 866 421 1.601 600 449 295 60 1.217 34.378

1) Angka proyeksi

282

Lampiran

Tabel 22 Ekspor Migas 1)

Negara

1997

1998

1999

2000

20011)

Nilai Ekspor 2) Minyak Bumi dan hasilnya Gas - LNG - LPG 4.432 518 3.046 233 4.207 369 6.756 356 5.355 352 6.771 4.141 5.680 7.954 7.166

Total

11.721

7.420

10.256

15.066

12.873

Volume Ekspor Minyak Bumi dan hasilnya (juta barrel) Gas - LNG (juta MMBTU) 3) - LPG(ribuan Mton) 1.387 2.233 1.384 1.620 1.511 1.865 1.400 1.215 1.336 1.251 362 340 336 291 300

1) Nilai f.o.b. sistem klasifikasi barang berubah dari sistem CCN ke HS sehingga beberapa barang ekspor mengalami pergesaran dalam pengelompokkannya. 2) Terdiri atas minyak mentah dan hasil-hasil minyak dalam juta $ 3) MMBTU : Million British Thermal Unit

283

Lampiran

Tabel 23 Uang Beredar (miliar rupiah)

M11) Akhir Periode Posisi Pangsa (%) 22,0 21,8 17,5 17,5 19,3 19,0 19,6 19,7 21,7 Posisi

Uang Kuasi2) Pangsa (%) 78,0 78,2 82,5 82,5 80,7 81,0 80,4 80,3 78,3 Posisi

M23) Perubahan (%) Tahunan Triwulanan 23,2 52,7 62,3 34,1 11,9 8,8 11,2 5,2 15,6 8,1 26,5 4,9 4,5 -0,9 1,6 4,2 0,3 8,8

1997 1997/1998 1998 1998/1999 1999 4) 2000 Maret Juni September r Desember r 2001 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember

78.343 98.270 101.197 105.705 124.633 124.663 133.832 135.430 162.186

277.300 351.554 476.184 497.620 521.572 531.788 550.503 551.023 584.842

355.643 449.824 577.381 603.325 646.205 656.451 684.335 686.453 747.028

145.345 149.879 148.375 154.297 155.791 160.142 162.154 166.851 164.237 169.963 171.383 177.731

19,7 19,8 19,3 19,5 19,8 20,1 21,0 21,6 21,0 21,0 20,9 21,1

593.386 606.019 618.437 637.930 632.529 636.298 608.981 607.186 618.867 638.551 650.308 666.323

80,3 80,2 80,7 80,5 80,2 79,9 79,0 78,4 79,0 79,0 79,1 78,9

738.731 755.898 766.812 792.227 788.320 796.440 771.135 774.037 783.104 808.514 821.691 844.054

13,5 15,7 16,8 19,0 15,3 16,4 11,8 12,9 14,1 14,3 14,1 13,0

2,6

3,9

-1,7

7,8

1) Terdiri atas uang kartal dan uang giral 2) Terdiri atas deposito berjangka dan tabungan, dalam rupiah dan valuta asing, serta giro valuta asing milik penduduk 3) Terdiri atas uang beredar dalam arti sempit (M1) dan uang kuasi 4) Data statistik Bank Beku Operasional telah dikeluarkan (7 Bank sejak April 1998, 3 bank sejak Agustus 1998, dan 38 bank sejak Maret 1999)

284

Lampiran

Tabel 24 Perubahan Uang Beredar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya (miliar rupiah)

2001 Rincian 1997r 1998 1999r 2000r 2001 I Uang Beredar : M2 M1 Kartal Giral Kuasi 1) Faktor-faktor yang mempengaruhi : Aktiva luar negeri bersih Tagihan kepada pemerintah bersih Tagihan bersih pada BPPN Tagihan kepada sektor swasta Tagihan kepada lembaga/ perusahaan pemerintah Tagihan kepada perusahaan swasta dan perorangan Aktiva lainnya bersih II III IV

67.011 221.738 14.254 22.854 5.937 12.970 8.317 9.884 52.757 198.884

68.824 23.436 16.959 6.477 45.388

100.823 37.553 14.018 23.535 63.270

97.026 15.545 3.971 11.574 81.481

19.784 -13.811 -12.257 -1.554 33.595

29.629 11.768 6.087 5.681 17.861

-13.337 4.094 2.846 1.248 -17.431

60.950 13.494 7.295 6.199 47.456

17.344 -16.486 137.062 5.031 132.031 -70.909

73.692 -12.581 17.513 425.287 29.693 -29.693 99.421 -299.689 6.389 -8.139

81.637 123.060 42.347 -4.505 46.852 -146.221

23.242 9.389 34.233 3.910 30.323 30.162

37.521 870 14.348 -291 14.639 -32.955

44.969 -18.679 21.338 973 20.365 -17.999

-89.552 963 -2.996 -770 -2.226 78.248

30.304 26.235 1.544 3.998 -2.454 2.867

93.032 -291.550 1.419 -14.500

1) Terdiri atas deposito berjangka dan tabungan dalam rupiah maupun valuta asing serta giro valuta asing milik penduduk

285

Lampiran

Tabel 25 Suku Bunga Deposito dalam Rupiah dan Valuta Asing menurut Kelompok Bank 1) (persen per tahun)

Desember 1997 Jangka Waktu Rupiah Bank Persero 1 Bulan 3 Bulan 6 Bulan 12 Bulan 24 Bulan Bank Swasta Nasional 1 Bulan 3 Bulan 6 Bulan3 12 Bulan 24 Bulan Bank Pemerintah Daerah 1 Bulan 3 Bulan 6 Bulan 12 Bulan 24 Bulan Bank Asing & Campuran 1 Bulan 3 Bulan 6 Bulan 12 Bulan 24 Bulan Bank Umum 1 Bulan 3 Bulan 6 Bulan 12 Bulan 24 Bulan Valas

Desember 1998 Rupiah Valas

Desember 1999 Rupiah Valas

Desember 2000 Rupiah Valas

Desember 2001 Rupiah Valas

`

19,74 19,88 15,66 15,19 15,32

7,31 7,41 7,49 7,81 7,23

41,24 48,69 35,17 28,75 16,01

13,23 13,70 8,14 12,61 14,87

12,52 13,19 14,44 23,14 18,53

5,44 5,45 7,94 8,91 14,87

12,05 13,33 13,42 12,48 14,32

6,37 6,59 6,17 6,24 10,23

16,59 17,47 16,55 15,81 18,06

4,95 5,36 5,67 5,95 6,34

27,68 27,76 19,17 17,43 16,79

8,77 8,40 7,81 7,99 7,76

41,88 50,24 33,34 26,16 22,85

12,72 10,64 10,21 11,49 14,91

12,14 12,66 13,55 17,07 17,59

5,34 5,68 7,98 16,63 8,02

12,05 13,20 13,16 11,50 14,22

6,07 6,43 6,23 11,39 8,14

15,83 16,94 15,58 14,74 17,22

4,05 4,90 5,32 5,70 6,27

21,10 20,62 14,16 16,65 14,58

6,23 6,76 7,15 7,2 -

42,05 45,35 29,46 23,91 14,03

12,99 10,99 10,43 12,94 -

12,20 12,51 13,46 16,17 13,73

5,09 6,19 5,18 5,67 -

11,39 12,92 12,94 11,43 13,44

4,97 4,56 5,13 5,05 -

15,04 15,98 15,61 14,99 17,42

5,05 4,71 5,48 5,37 -

17,70 18,03 13,99 13,64 15,48

5,19 5,99 5,71 5,92 3,57

33,07 40,84 44,42 31,74 15,57

4,71 4,71 5,15 5,17 3,59

9,46 9,24 9,05 13,46 11,67

4,08 4,03 4,31 4,67 4,00

9,73 11,21 8,13 8,51 13,00

4,61 4,81 4,12 5,09 6,05

12,96 12,35 11,63 12,99 8,72

1,92 2,00 2,58 3,40 2,53

25,39 23,92 16,96 15,92 15,46

7,97 7,77 7,53 7,73 6,47

41,42 49,23 36,78 28,29 16,61

12,11 10,73 8,22 11,66 14,71

12,24 12,95 14,25 22,35 18,38

5,15 5,24 7,85 9,11 14,63

11,96 13,24 13,31 12,17 14,32

5,94 6,11 5,72 7,86 9,47

16,07 17,24 16,18 15,48 18,05

4,18 4,35 5,12 5,62 6,32

1) Rata-rata tertimbang pada akhir periode

286

Lampiran

Tabel 26 Pasar Uang Antarbank di Jakarta

Akhir periode

Nilai transaksi (miliar rupiah) 784.368 2.104.924 595.362 8.915 138.121 157.529 210.670 278.048 526.347 500.713 625.331 452.533 173.045 160.470 127.906 133.941 1.712 1.907 2.486 2.810 2.542 3.286 3.562 3.130 3.076 2.912 3.324 3.104 3.240 2.912 3.059 3.070 3.166 3.070 3.266 3.167

Suku bunga rata-rata tertimbang (persen per tahun) 26,98 63,14 23,79 10,46 12,08 13,45 42,70 39,68 57,36 66,38 74,13 54,68 39,57 29,70 13,44 12,43 9,50 10,03 10,89 11,43 11,74 12,65 13,75 12,71 14,32 14,29 14,73 14,45 15,34 14,29 15,82 15,15 15,92 15,78 16,09 15,93

1997 1998 1999 2000 1997

Januari - Desember Januari - Desember r Januari - Desember Januari - Desember Januari - Maret April - Juni Juli - September Oktober - Desember Januari - Maret April - Juni Juli - September Oktober - Desember Januari - Maret April - Juni Juli - September Oktober - Desember Januari - Maret April - Juni Juli - September Oktober - Desember

1998

1999

2000

2001 1) Januari Februari Maret Januari - Maret April Mei Juni April - Juni Juli Agustus September Juli - September Oktober November Desember Oktober - Desember

1)

Angka rata-rata harian

287

Lampiran

Tabel 27 Tingkat Diskonto Sertifikat Deposito Rupiah menurut Kelompok Bank 1) (persen per tahun)

1998 Jangka Waktu Maret Desember

1999 Desember Maret

2000 Juni September Desember Maret Juni

2001 September Desember

Bank Persero 1 Bulan 3 Bulan 6 Bulan 12 Bulan 24 Bulan Bank Swasta Nasional 1 Bulan 3 Bulan 6 Bulan 12 Bulan 24 Bulan Bank Pemerintah Daerah 1 Bulan 3 Bulan 6 Bulan 12 Bulan 24 Bulan Bank Asing & Campuran 1 Bulan 3 Bulan 6 Bulan 12 Bulan 24 Bulan Bank Umum 1 Bulan 3 Bulan 6 Bulan 12 Bulan 24 Bulan
1)

18,05 23,71 23,42 14,21 14,01

43,95 55,30 32,18 23,86 12,90

37,96 36,94 28,13 23,60 14,22

10,59 11,81 11,56 15,36 -

10,23 10,67 11,51 13,93 -

11,48 11,86 11,55 11,68 -

12,04 12,95 11,62 11,66 11,50

13,26 13,05 11,36 12,04 13,70

15,33 14,99 14,84 14,89 16,30

16,22 16,26 15,15 15,88 16,28

16,48 17,51 14,25 16,03 16,28

29,41 30,29 22,11 15,63 17,47

44,26 48,62 38,35 49,89 15,93

38,77 39,53 32,62 52,40 30,00

11,34 11,36 10,28 16,02 -

11,20 11,09 11,74 10,44 -

12,29 11,51 12,13 10,40 -

12,59 11,81 13,24 12,12 -

14,20 12,93 14,16 12,73 -

14,50 14,35 14,81 12,81 -

16,76 15,49 15,34 17,19 -

17,28 16,81 15,77 17,62 -

22,49 20,85 15,71 18,04 13,86

40,49 52,57 22,00 21,20 14,50

31,90 35,48 26,26 25,21 14,50

11,52 12,62 12,00 12,50 -

10,33 12,10 12,00 12,10 -

12,32 13,40 12,00 12,08 -

11,26 13,88 12,00 13,81 -

11,98 15,62 12,00 13,83 -

13,95 15,78 12,49 14,60 -

14,69 17,24 12,50 14,54 -

15,85 18,19 13,00 -

13,02 20,41 19,08 -

58,46 39,91 -

48,41 34,00 35,50 -

9,54 12,00 -

10,25 12,00 -

9,07 9,26 7,98 7,98 -

9,43 9,70 8,28 7,90 -

10,05 10,06 8,64 8,20 -

10,63 11,43 8,70 8,33 -

10,93 12,43 9,00 8,38 -

11,90 13,78 10,24 8,40 -

28,80 27,56 22,40 15,58 16,95

45,94 49,99 35,50 41,51 14,56

39,57 38,68 30,89 28,77 14,53

11,31 11,31 10,87 14,41 -

11,15 11,07 11,68 12,41 -

12,13 11,49 11,91 10,97 -

12,47 11,83 12,00 12,11 11,50

14,09 12,89 12,00 12,65 13,70

14,60 14,40 14,81 13,97 16,30

16,55 15,58 15,18 16,39 16,28

16,81 16,97 14,65 16,50 16,28

Rata-rata tertimbang pada akhir periode

288

Lampiran

Tabel 28 Penerbitan, Pelunasan, dan Posisi Sertifikat Bank Indonesia (SBI) (miliar rupiah)

Akhir Periode

Penerbitan

Pelunasan

Posisi1)

Januari - Desember 1997 Januari - Desember 1998 Januari - Desember 1999 Januari - Desember 2000 2001 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember

176.452 735.844 711.542 928.944

187.969 700.182 691.408 937.212

7.034 42.765 62.899 59.781

83.318 84.500 100.791 65.798 91.906 76.941 77.083 96.017 87.452 68.023 89.172 49.379

55.915 82.504 121.362 62.867 88.874 74.103 77.081 94.933 94.978 65.461 86.925 69.696

87.184 89.180 68.609 71.539 74.570 77.408 77.410 78.494 70.967 73.530 75.777 55.460

Keterangan : Penerbitan SBI dimulai pada bulan Februari 1984, dan sejak Juli 1998 penjualan SBI dilakukan melalui lelang dengan sistem SOR (Stop Out Rate) 1) Angka rata-rata harian

289

Lampiran

Tabel 29 Tingkat Diskonto SBI1) (persen per tahun)

Periode
1997 Maret Juni September Desember 1998 Maret Juni September Desember 1999 Maret Juni September Desember 2000 Maret Juni September Desember 2001 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember

7 hari

14 hari

28 hari

90 hari

180 hari

360 hari

7,61 7,29 18,35 16,00

8,70 8,50 20,06 18,00

11,07 10,50 22,00 20,00

11,88 11,25 -

12,00 -

12,50 -

29,24 -

52,81 -

27,75 58,00 68,76 38,44

39,00

-

-

-

-

37,84 22,05 13,02 12,51

38,00 23,75 13,25 12,75

-

-

-

-

11,03 11,74 13,62 14,53

11,00 11,09 13,32 14,31

-

-

-

-

14,79 14,79 15,16 15,91 16,27 16,52 16,98 17,37 17,65 17,58 17,59 17,62

14,79 14,84 14,94 15,80 15,80 16,28 16,96 17,03 17,56 17,61 17,62 17,63

-

-

1) Rata-rata tertimbang

290

Lampiran

Tabel 30 Transaksi Surat Berharga Pasar Uang (SBPU) antara Bank Indonesia dan Bank-bank (miliar rupiah)

Periode

Pembelian

Pelunasan

Posisi

1997 Januari - Maret April - Juni Juli - September Oktober - Desember 1998 Januari - Maret April - Juni Juli - September Oktober - Desember 1999 Januari - Maret April - Juni Juli - September Oktober - Desember 2000 Januari - Maret April - Juni Juli - September Oktober - Desember

15.954 18.937 50.131 94.934

13.455 19.480 52.237 91.499

2.670 2.126 21 3.455

257.109 42.929 24.136 1.342

256.474 46.873 24.057 550

4.090 146 227 1.018

1.018 0 0 644

1.018 0 0 1.662

1.018 1.018 1.018 0

0 0 0 0

0 0 0 0

0 0 0 0

2001 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember

0 112 0 18 4 0 0 0 0 8 0 0

0 2 110 18 4 0 0 0 0 8 0 0

0 110 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

291

Lampiran

Tabel 31 Pendapatan dan Belanja Negara
(miliar rupiah)

1998/1999p Rincian

1999/2000p

20001) APBN2)

2001 Realisasi3)
299.851 299.842 184.737 174.189 92.767 69.696 23.071 55.841 4.800 1.489 17.622 1.670 10.548 9.828 720 115.105 86.658 60.038 21.647 4.974 1.827 3.001 146 10.440 18.007 10 354.578 272.178 232.796 39.544 33.275 1.259 2.114 1.831 1.066 9.604 8.735 869 95.527 66.251 29.277 81.575 68.381 13.194 6.546 39.382 19.712 19.670 82.400 82.400 21.183 60.517 701 -

2002 APBN4)
301.874 301.874 219.627 207.029 104.497 88.815 15.682 70.100 5.924 2.205 22.353 1.950 12.599 12.249 350 82.247 63.195 44.013 14.524 4.658 1.340 3.026 292 10.351 8.700 344.009 246.040 193.741 41.298 34.003 1.412 2.832 1.550 1.502 12.863 11.707 1.156 88.500 59.525 28.975 41.586 30.377 11.209 9.494 52.299 26.469 25.830 97.969 94.532 24.600 69.114 817 3.437

Pendapatan Negara dan Hibah Penerimaan Dalam Negeri Penerimaan Perpajakan Pajak dalam negeri PPh Nonmigas Migas PPN PBB Bea perolehan hak atas tanah dan bangunan Cukai Pajak lainnya Pajak perdagangan internasional Bea masuk Pajak ekspor Penerimaan Bukan Pajak Penerimaan Sumber Daya Alam Minyak bumi Gas alam SDA lainnya 5) Pertambangan umum Kehutanan Perikanan Bagian laba BUMN PNBP Hibah 6) Belanja Negara Anggaran Belanja Pemerintah Pusat Pengeluaran Rutin Belanja pegawai Gaji dan pensiun Tunjangan beras Uang makan/lauk-pauk Lain-lain belanja pegawai dalam negeri Belanja pegawai luar negeri Belanja barang Belanja barang dalam negeri Belanja barang luar negeri Pembayaran bunga utang Utang dalam negeri Utang luar negeri Subsidi Subsidi BBM Subsidi non BBM Pengeluaran rutin lainnya Pengeluaran Pembangunan Pembiayaan rupiah Bantuan proyek Anggaran Belanja untuk Daerah Dana Perimbangan Dana bagi hasil Dana alokasi umum 7) Dana alokasi khusus Dana Otonomi Khusus dan Penyeimbang

156.470 156.409 102.395 95.459 55.944 55.944 27.803 3.043 523 7.733 413 6.936 2.306 4.630 54.014 41.368 25.957 15.411 3.428 9.217 62 172.669 146.020 103.261 23.216 18.657 1.245 1.547 1.073 695 9.862 8.888 974 32.864 8.385 24.480 34.614 28.607 6.008 2.703 42.759 16.578 26.181 26.650 26.650 3.703 22.947 -

187.819 187.819 125.951 120.915 72.729 59.683 13.046 33.087 3.504 604 10.381 611 5.036 4.177 859 61.868 45.435 5.430 11.002 231.879 201.943 156.756 32.719 27.010 1.822 2.567 1.294 25 10.765 9.784 980 42.910 22.230 20.679 65.916 40.923 24.993 4.446 45.187 20.804 24.383 29.936 29.936 3.993 25.943 -

204.942 204.942 115.788 108.787 57.079 38.427 18.652 35.042 3.545 927 11.302 892 7.002 6.652 349 89.154 76.017 51.003 15.658 9.356 556 8.776 24 3.868 9.269 219.935 187.058 161.369 29.350 24.269 1.524 1.800 1.458 300 8.135 7.985 150 50.086 31.238 18.848 62.758 53.635 9.123 11.039 25.689 9.370 16.319 32.878 32.878 4.251 28.626 -

286.006 286.006 185.260 174.255 94.971 69.246 25.725 53.457 5.094 1.195 17.601 1.938 11.005 10.398 607 100.746 79.446 57.857 17.369 4.220 928 3.001 292 9.000 12.300 340.326 258.849 213.388 38.206 31.915 1.281 2.114 1.371 1.526 9.909 8.735 1.174 89.570 61.174 28.395 66.269 53.774 12.495 9.433 45.461 21.712 23.749 81.477 81.477 20.259 60.517 701 -

p) Perhitungan Anggaran Negara (PAN) 1) Realisasi 1 April 2000 s.d. 31 Desember 2000 2) APBN Penyesuaian (revisi) 3) APBN Perubahan (perkiraan realisasi) 4) APBN yang telah disetujui DPR 5) Berlaku sejak TA. 2000 6) Merupakan hibah dari USAID dan Pemerintah Jepang 7) s.d. TA.2000 terdiri atas Dana Rutin Daerah dan Dana Pembangunan Daerah Sumber: Departemen Keuangan

292

Lampiran

Tabel 32 Tabel 32 Pengeluaran Pemerintah Pembiayaan Defisit Anggaran
(miliar rupiah) (miliar rupiah) 20001) APBN2)

1998/1999p Rincian

1999/2000p

2001 Realisasi3)

2002 APBN4)

I. Pembiayaan Dalam Negeri 1. Perbankan dalam negeri (SILPA/SIKPA) 5) 2. Non perbankan dalam negeri a. Privatisasi b. Penjualan aset program restrukturisasi c. Obligasi negara. neto i. Penerbitan obligasi pemerintah ii. Pembayaran cicilan pokok utang/ obligasi DN II. Pembiayaan Luar Negeri. neto 1. Penarikan pinjaman luar negeri. bruto Pinjaman program Pinjaman proyek 2. Pembayaran cicilan pokok utang luar negeri (amortisasi) Pembiayaan Bersih

-4.799 -6.433 1.634 1.634 20.998 51.045 24.926 26.119 -30.047 16.199

14.672 -1.941 16.613 3.727 12.886 29.388 49.584 25.201 24.383 -20.196 44.060

5.439 -13.461 18.900 18.900 9.554 17.168 849 16.319 -7.613 14.993

34.387 34.387 6.500 27.000 887 887 19.933 40.091 16.341 23.749 -20.158 54.320

44.189 7.551 36.638 5.000 30.980 658 658 10.538 30.284 10.624 19.660 -19.746 54.727

23.501 23.501 3.952 19.549 3.931 -3.931 18.634 62.601 36.771 25.830 -43.967 42.135

p) Perhitungan Anggaran Negara (PAN) 1) Realisasi 1 April 2000 s.d. 31 Desember 2000 2) APBN Penyesuaian (revisi) 3) APBN perubahan (perkiraan realisasi) 4) APBN yang telah disetujui DPR 5) Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA)/Sisa Kurang Pembiayaan Anggaran (SIKPA) Sumber: Departemen Keuangan

293

Lampiran

Tabel 33 Penghimpunan Dana oleh Bank Umum 1)
(miliar rupiah)

Giro Akhir periode Dalam Rupiah 53.103 64.074 58.067 60.002 68.456 75.847 84.262 94.575 104.539 102.404 105.105 102.113 105.534 106.233 107.089 109.209 110.594 109.021 115.711 112.007 120.541 Dalam Valas 30.125 44.629 39.351 47.244 47.110 46.078 49.805 56.820 70.969 59.233 58.972 64.116 72.321 68.997 68.124 57.657 52.642 56.781 62.378 64.003 66.478 Sub Jumlah 83.228 108.703 97.418 107.246 115.566 121.925 134.067 151.395 175.508 161.637 164.077 166.229 177.855 175.230 175.213 166.866 163.236 165.802 178.089 176.011 187.018 Dalam Rupiah2) 125.743 177.954 303.016 303.022 301.431 301.087 289.385 286.844 296.885 306.903 318.203 321.209 314.144 313.774 315.200 311.845 318.146 323.337 334.133 340.066 348.257

Deposito Tabungan Dalam Valas 80.652 94.106 103.782 109.778 85.640 86.670 87.737 83.943 93.658 91.661 93.518 99.132 114.778 109.728 111.615 92.875 85.412 92.226 99.347 98.628 97.940 Sub Jumlah 206.395 272.060 406.798 412.800 387.071 387.757 377.122 370.787 390.543 398.564 411.721 420.341 428.922 423.502 426.815 404.720 403.558 415.563 433.480 438.694 446.196 67.990 72.173 69.308 79.453 122.981 135.801 146.662 148.665 154.328 156.977 155.691 153.383 159.257 160.150 160.825 164.344 167.144 163.278 162.677 166.007 172.613 357.613 452.936 573.524 599.499 625.618 645.483 657.851 670.847 720.379 717.178 731.489 739.953 766.034 758.882 762.854 735.930 733.938 744.643 774.246 780.712 805.827 Jumlah

1997 1997/1998 1998 1998/1999 1999 2000 Maret Juni September r Desember r 2001 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember

1) Termasuk dana milik pemerintah dan bukan penduduk 2) Termasuk sertifikat deposito

294

Lampiran

Tabel 34 Giro dalam Rupiah dan Valuta Asing pada Bank Umum menurut Kelompok Bank
(miliar rupiah)

Bank Persero Akhir periode Dalam Dalam Subrupiah valas jumlah

Bank Swasta Nasional Bank Pemerintah Daerah Bank Asing & Campuran Dalam Dalam Sub- Dalam Dalam Sub- Dalam Dalam Subrupiah valas jumlah rupiah valas jumlah rupiah valas jumlah

Jumlah Dalam Dalam Subrupiah valas jumlah

1997 1997/1998 1998 1998/1999 1999 2000 Maret Juni September r Desember r 2001 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember

17.492 20.595 24.751

7.125 24.617 9.638 30.233 8.476 33.227

24.301 12.693 36.994 28.663 14.812 43.475 23.151 13.447 36.598 21.921 14.255 36.176 26.866 15.792 42.658 32.432 14.695 47.127 33.056 16.768 49.824

4.014 2.738 4.895 4.374 7.055 5.412 8.123

7 12 13 12 15 16 20

4.021 2.750 4.908 4.386 7.070 5.428 8.143

7.296 10.300 12.078 20.167 5.270 17.415 5.436 21.353 9.128 18.820 9.144 18.828 9.225 23.321 10.270 23.946 10.405 27.695 11.294 26.522 9.803 26.083 9.074 30.286 10.066 32.497 9.226 31.637 8.296 30.269 8.851 26.058 8.345 23.708 8.520 25.355 9.421 27.347 9.074 28.728 8.710 27.756

17.596 32.245 22.685 26.789 27.948 27.972 32.546 34.216

53.103 64.074 58.067 60.002 68.456 75.847 84.262 94.575

30.125 39.351

83.228 97.418

44.629 108.703 47.244 107.246 47.110 115.566 46.078 121.925 49.805 134.067 56.820 151.395 70.969 175.508 59.233 161.637 58.972 164.077 64.116 166.229 72.321 177.855 68.997 175.230 68.124 175.213 57.657 166.866 52.642 163.236 56.781 165.802 62.378 178.089 64.003 176.011 66.478 187.018

28.271 11.624 39.895 25.407 12.483 37.890 28.859 12.539 41.398 33.858 9.696 43.554 40.390 14.888 55.278 49.205 24.284 73.489 44.082 14.007 58.089 44.828 14.387 59.214 43.822 12.892 56.714 43.889 15.512 59.401 45.465 12.752 58.217 44.526 12.442 56.968 45.527 10.843 56.370 46.270 9.803 56.073 45.145 10.539 55.684 47.170 12.470 59.639 44.590 11.895 56.486 50.956 14.430 65.386

33.638 17.963 51.601 10.277 34.123 18.973 53.096 10.806 34.653 18.685 53.338 12.375 36.295 18.486 54.781 14.180 34.134 20.915 55.049 15.083 35.748 24.292 60.040 15.832 34.987 24.595 59.582 16.555 34.728 25.398 60.126 19.539 34.645 20.743 55.388 20.186 34.552 19.115 53.667 21.427 34.546 20.872 55.418 20.810 35.952 22.541 58.493 23.167 36.470 23.366 59.835 21.874 38.099 24.270 62.369 22.775

23 10.300 17 10.823 19 12.394 16 14.196 23 15.106 20 15.852 13 16.568 15 19.554 13 20.199 16 21.443 15 20.825 21 23.187 14 21.888 21 22.797

38.100 104.539 37.816 102.404 35.885 105.105 39.360 102.113 42.563 105.534 40.863 106.233 38.565 107.089 34.909 109.209 32.053 110.594 33.875 109.021 36.768 115.711 37.802 112.007 36.466 120.541

295

Lampiran

Tabel 35 Simpanan Berjangka Rupiah dan Valuta Asing pada Bank Umum menurut Jangka Waktu
(miliar rupiah)

Akhir periode

24 bulan

12 bulan

6 bulan

3 bulan

1 bulan1)

Lain-lain

Jumlah

1997 1997/1998 1998 1998/1999 1999 2000 Maret Juni September Desember 2001 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember

359 2.140 610 502 436 628 666 6.836 14.061

25.377 28.937 21.039 15.449 14.742 12.992 9.217 7.719 6.920

28.664 27.841 17.151 19.414 35.244 45.123 42.666 35.941 23.503

34.637 30.101 50.352 24.840 42.125 55.711 52.589 59.614 68.877

88.987 138.596 266.585 307.610 243.645 231.854 230.451 204.986 215.532

28.371 44.445 51.061 44.984 50.879 41.449 41.534 55.689 61.649

206.395 272.060 406.798 412.799 387.071 387.757 377.123 370.785 390.542

14.946 14.388 14.038 14.438 13.651 14.395 12.671 14.483 14.847 17.316 18.031 18.882

7.314 7.698 7.767 7.478 8.218 9.451 9.871 10.489 10.553 12.450 13.297 13.533

23.175 23.864 23.174 26.038 24.358 23.644 21.279 20.054 20.258 20.131 18.624 17.903

74.668 75.966 75.696 71.315 68.114 66.928 67.800 72.109 75.042 75.590 75.589 77.768

221.001 231.107 236.772 242.358 241.134 249.025 232.362 224.257 231.910 239.527 240.270 242.685

57.460 58.698 62.894 67.295 68.028 63.371 60.735 62.165 62.953 68.465 72.883 75.425

398.564 411.721 420.340 428.922 423.502 426.814 404.719 403.557 415.562 433.480 438.695 446.196

1) Termasuk deposito yang sudah jatuh waktu

296

Lampiran

Tabel 36 Simpanan Berjangka Rupiah pada Bank Umum menurut Golongan Pemilik
(miliar rupiah) Bukan Badan/ Perusahaan Perusahaan Perusahaan Yayasan Sub- penduduk Pemerintah lembaga asuransi negara swasta dan badan Koperasi Perorangan Lainnya jumlah pemerintah sosial Penduduk

Akhir periode

Jumlah

1997 1997/1998 1998 1998/1999 1999 r 2000 Maret r Juni r September Desember r 2001 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember

5.363 6.124 8.805 8.150 11.268 12.454 7.595 4.206 4.408 5.042 5.255 6.343 5.858 6.383 6.559 6.577 7.364 7.622 7.481 7.545 7.729

1.786 1.882 3.626 3.320 4.713 3.863 4.023 4.846 5.162 5.018 5.242 5.320 5.068 5.771 6.017 5.971 5.530 5.783 4.989 5.642 8.761

6.323 6.845 8.399 7.963 11.916 10.844 12.011 24.420 24.412 25.729 26.725 26.722 25.712 24.285 25.154 22.520 24.560 23.028 22.679 23.089 23.547

6.540 11.470 18.241 16.755 20.463 22.616 23.603 19.843 18.595 19.858 20.654 21.707 21.008 18.742 16.746 13.942 15.741 14.275 14.039 15.782 13.331

26.512 35.877 46.408 47.583 46.883 48.713 48.049 41.948 39.653 39.550 40.720 40.385 39.251 38.260 40.117 40.487 40.739 39.665 47.284 52.148 50.718

12.784 13.344 20.041 17.970 20.188 22.329 19.435 21.207 22.864 24.433 25.962 26.143 26.974 28.372 30.118 30.823 29.222 28.616 28.083 28.757 28.255

282 420 768 726 953 619 604 1.041 941 1.092 1.722 2.244 2.419 2.484 1.756 1.736 1.429 1.716 1.136 926 893

56.856 94.053 182.561 188.258 173.785 169.245 162.654 162.539 172.917 178.014 185.317 187.611 183.834 184.899 184.916 185.499 189.748 198.439 203.257 201.768 208.994

9.031 125.477 7.500 177.515 13.555 302.404 11.487 302.212

266 439 612 810

125.743 177.954 303.016 303.022 301.431 301.087 289.385 286.843 296.885 306.903 318.203 321.209 314.142 313.774 315.200 311.845 318.146 323.338 334.133 340.066 348.257

10.165 300.334 1.097 9.600 300.283 10.598 288.572 804 813

4.579 284.628 2.215 6.274 295.226 1.659 6.567 305.304 1.599 5.620 317.218 3.758 320.233 985 976

2.704 312.828 1.314 3.378 312.574 1.200 2.574 313.957 1.243 3.145 310.700 1.145 2.563 316.896 1.250 2.769 321.914 1.424 3.209 332.157 1.976 2.866 338.525 1.542 2.586 344.812 3.444

297

Lampiran

Tabel 37 Sertifikat Deposito
(miliar rupiah)

Akhir periode

Bank Persero

Selain Bank Persero

Jumlah

1997 1997/1998 1998 1998/1999 1999 2000 Maret Juni September Desember 2001 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember

777 493 1.792 829 491 279 245 360 410 396 606 441 494 760 1.574 1.404 1.574 1.945 1.969 2.900 2.719

5.894 3.409 5.004 2.825 2.156 2.715 3.017 3.434 3.215 3.708 4.212 3.297 3.580 3.781 4.001 5.681 3.522 3.855 3.753 3.016 2.882

6.671 3.902 6.796 3.654 2.647 2.994 3.262 3.794 3.625 4.104 4.818 3.739 4.073 4.541 5.575 7.085 5.097 5.799 5.722 5.916 5.601

298

Lampiran

Tabel 38 Tabungan menurut Jenis pada Bank Umum

Akhir periode

Tabungan yang penarikannya dapat dilakukan sewaktu-waktu Penabung Posisi (ribu) (miliar Rp)

Tabungan berjangka Penabung Posisi (ribu) (miliar Rp) 274 271 307 222 161 196 191 302 355 347 360 564 715 562 787 788 780 963 846 645 510 173 220 1.908 2.047 855 1.532 1.065 1.290 755 689 719 984 1.325 1.445 1.960 2.145 2.240 1.022 1.094 935 995

Tabungan lainnya Penabung Posisi (ribu) (miliar Rp) 17.295 19.102 18.890 18.549 17.437 17.755 16.825 748 1.298 941 961 626 715 661 650 586 643 752 554 876 823 5.052 5.300 4.894 5.078 6.181 6.448 6.865 1.075 1.185 1.057 1.058 806 839 1.244 1.330 1.324 1.446 933 913 1.045 834

Jumlah Penabung Posisi (ribu) (miliar Rp) 60.441 62.605 65.489 64.213 84.524 65.558 66.458 81.963 66.694 66.748 67.838 87.761 68.163 68.761 68.859 79.443 68.521 68.722 69.396 69.190 69.470 67.990 72.173 69.308 79.453 122.981 135.801 146.662 148.665 154.328 156.977 155.691 153.383 159.257 160.150 160.825 164.344 167.144 163.278 162.676 166.007 172.613

1997 1997/1998 1998 1998/1999 1999 2000 Maret Juni September Desember 2001 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember

42.872 43.232 46.292 45.442 66.926 47.607 49.442 80.913 65.041 65.460 66.518 86.571 66.733 67.538 67.422 78.069 67.098 67.007 67.996 67.669 68.138

62.765 66.653 62.506 72.328 115.945 127.821 138.732 146.300 152.388 155.231 153.914 151.593 157.093 157.461 157.535 160.875 163.458 161.323 160.669 164.027 170.783

299

Lampiran

Tabel 39 Suku Bunga Kredit Rupiah menurut Kelompok Bank 1)
(persen)

Akhir Periode

Bank Pemerintah Modal Investasi Kerja

Bank Pemerintah Daerah Modal Investasi Kerja 23,04 30,20 21,81 15,49 15,83 13,43

Bank Swata Nasional Modal Investasi Kerja 28,22 38,70 19,57 27,31 40,32 20,61

Bank Asing & Campuran Modal Investasi Kerja 26,76 42,89 18,28 25,22 35,53 22,70

Bank Umum Modal Investasi Kerja 25,40 34,75 20,68 18,94 26,23 17,80

1997 1998 1999 2000 Maret Juni September Desember 2001 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember

20,41 29,03 21,61

16,12 22,35 17,48

20,36 18,99 18,62 18,40

16,48 15,79 16,19 16,53

20,23 19,42 21,58 21,11

11,64 18,98 18,00 18,11

17,62 17,65 17,88 17,55

18,28 17,85 18,00 17,59

16,37 15,96 15,32 15,42

16,81 15,20 14,88 15,49

18,93 18,14 17,99 17,65

16,46 16,21 16,62 16,86

18,48 18,44 18,47 18,52 18,62 18,64 18,73 18,82 18,91 19,10 19,15 19,15

16,37 16,43 16,31 16,16 16,21 16,41 16,17 16,26 16,44 16,61 16,83 17,11

20,78 20,81 20,87 20,63 20,82 20,84 20,94 20,93 20,84 20,79 20,74 20,48

18,04 18,00 18,02 18,00 18,05 18,07 18,02 17,97 17,73 17,81 17,77 17,76

17,86 17,77 17,84 17,88 18,13 18,28 18,47 18,83 18,96 19,10 19,15 19,16

17,61 17,77 17,95 18,06 18,08 17,94 17,91 18,16 18,22 18,38 18,89 19,02

15,80 15,89 16,28 17,48 17,11 18,05 18,64 18,80 19,24 19,17 19,28 19,09

15,73 16,07 16,30 16,43 16,73 16,69 17,22 17,86 17,98 17,90 17,98 18,55

17,85 17,80 17,90 18,13 18,21 18,45 18,68 18,89 19,06 19,18 19,23 19,19

16,77 16,88 16,86 16,80 16,85 17,04 16,90 17,08 17,22 17,38 17,64 17,90

1) Rata-rata tertimbang

300

Lampiran

Tabel 40 Kredit Bank Umum dalam Rupiah dan Valuta Asing menurut Sektor Ekonomi 1)
(miliar rupiah)

Rincian

1997

1998

1999

2000 Mar. Jun.
171.984 16.291 2.651 41.752 33.827 26.685 50.778 134.349 6.475 2.232 85.105 12.932 23.828 3.777 306.333 22.766 4.883 126.857 46.759 50.513 54.555

2001 Sep.
187.953 16.004 2.861 47.012 36.374 28.615 57.087 116.467 5.724 1.775 75.532 10.881 20.258 2.297 304.420 21.728 4.636 122.544 47.255 48.873 59.384

Des.
202.618 16.851 3.676 50.434 38.491 30.696 62.470 104.976 4.012 3.764 66.091 9.959 18.365 2.785 307.594 20.863 7.440 116.525 48.450 49.061 65.255

Kredit dalam Rupiah Pertanian Pertambangan Perindustrian Perdagangan Jasa-Jasa Lain-Lain Kredit dalam Valuta Asing Pertanian Pertambangan Perindustrian Perdagangan Jasa-Jasa Lain-Lain Jumlah Pertanian Pertambangan Perindustrian Perdagangan Jasa-Jasa Lain-Lain
1)

261.534 20.340 2.769 56.123 57.471 85.598 39.233 116.600 5.662 2.547 55.556 24.793 27.971 71 378.134 26.002 5.316 111.679 82.264 113.569 39.304

313.118 29.430 2.729 85.594 59.830 101.129 34.406 174.308 9.878 3.180 86.074 36.534 37.995 647 487.426 39.308 5.909 171.668 96.364 139.124 35.053

140.527 21.139 879 35.561 29.687 26.332 26.929 84.606 2.638 2.818 48.698 13.601 16.829 22 225.133 23.777 3.697 84.259 43.288 43.161 26.951

152.482 15.028 2.879 35.697 30.601 23.784 44.493 116.518 4.475 3.801 71.085 13.498 20.532 3.127 269.000 19.503 6.680 106.782 44.099 44.316 47.620

158.023 15.383 3.364 35.802 30.555 25.939 46.980 127.352 5.629 4.323 78.072 14.508 22.313 2.507 285.375 21.012 7.687 113.874 45.063 48.252 49.487

Tidak termasuk pinjaman antarbank. pinjaman kepada pemerintah pusat dan bukan penduduk, serta nilai lawan valuta asing pinjaman investasi dalam rangka bantuan proyek

301

Lampiran

Tabel 41 Kredit Bank Umum dalam Rupiah dan Valuta Asing menurut Jenis Penggunaan dan Sektor Ekonomi 1)
(miliar rupiah)

2001 Rincian 1997 1998 1999 2000 Mar.
213.278 9.065 4.406 85.535 36.751 28.034 49.487 72.097 11.947 3.281 28.339 8.312 20.218 285.375 21.012 7.687 113.874 45.063 48.252 49.487

Jun.
221.410 9.322 1.325 89.877 37.716 28.615 54.555 84.923 13.444 3.558 36.980 9.043 21.898 306.333 22.766 4.883 126.857 46.759 50.513 54.555

Sep.
220.755 8.498 1.202 83.957 38.625 29.089 59.384 83.665 13.230 3.434 38.587 8.630 19.784 304.420 21.728 4.636 122.544 47.255 48.873 59.384

Des.
234.128 8.748 1.197 88.208 40.360 30.359 65.255 73.466 12.115 6.243 28.317 8.090 18.701 307.594 20.863 7.440 116.525 48.450 49.061 65.255

Kredit Modal Kerja Pertanian Pertambangan Perindustrian Perdagangan Jasa-Jasa Lain-Lain Kredit Investasi Pertanian Pertambangan Perindustrian Perdagangan Jasa-Jasa Lain-Lain Jumlah Pertanian Pertambangan Perindustrian Perdagangan Jasa-Jasa Lain-Lain

277.399 11.373 3.995 76.585 64.336 81.806 39.304 100.735 14.629 1.321 35.094 17.928 31.763 378.134 26.002 5.316 111.679 82.264 113.569 39.304

345.962 22.058 3.880 121.867 72.065 91.039 35.053 141.464 17.250 2.029 49.801 24.299 48.085 487.426 39.308 5.909 171.668 96.364 139.124 35.053

167.442 12.162 2.368 61.278 36.181 28.502 26.951 57.691 11.615 1.329 22.981 7.107 14.659 225.133 23.777 3.697 84.259 43.288 43.161 26.951

203.724 8.693 3.796 80.572 36.318 26.725 47.620 65.276 10.810 2.884 26.210 7.781 17.591 269.000 19.503 6.680 106.782 44.099 44.316 47.620

1)

Tidak termasuk pinjaman antarbank, pinjaman kepada pemerintah pusat dan bukan penduduk, serta nilai lawan valuta asing pinjaman investasi dalam rangka bantuan proyek

302

Lampiran

Tabel 42 Kredit Perbankan dalam Rupiah dan Valuta Asing menurut Kelompok Bank dan Sektor Ekonomi 1)
(miliar rupiah)

2001 Rincian 1997 1998 1999 2000 Mar.
106.542 12.082 2.995 36.652 16.597 17.367 20.849 87.869 5.524 808 24.427 22.306 19.274 15.530 11.152 512 71 261 1.329 1.308 7.671 79.812 2.894 3.813 52.534 4.831 10.303 5.437 285.375 21.012 7.687 113.874 45.063 48.252 49.487

Jun.
112.726 12.035 2.936 39.239 17.985 17.249 23.282 98.660 6.865 745 30.876 22.144 21.461 16.569 12.453 498 84 279 1.578 1.262 8.752 82.494 3.368 1.118 56.463 5.052 10.541 5.952 306.333 22.766 4.883 126.857 46.759 50.513 54.555

Sep.
113.577 11.677 2.833 40.949 17.512 15.691 24.915 104.092 6.674 720 33.761 23.453 20.859 18.625 14.674 526 147 284 1.930 1.752 10.035 72.077 2.851 936 47.550 4.360 10.571 5.809 304.420 21.728 4.636 122.544 47.255 48.873 59.384

Des.
117.104 12.034 5.554 40.099 17.973 15.537 25.907 101.871 6.050 838 28.237 23.402 22.160 21.185 15.419 536 188 257 2.108 1.411 10.920 73.199 2.244 860 47.932 4.968 9.952 7.243 307.594 20.863 7.440 116.525 48.450 49.061 65.255

1. Bank Persero Pertanian Pertambangan Perindustrian Perdagangan Jasa-Jasa Lain-Lain 2. Bank Swasta Nasional Pertanian Pertambangan Perindustrian Perdagangan Jasa-Jasa Lain-Lain 3. Bank Pemerintah Daerah Pertanian Pertambangan Perindustrian Perdagangan Jasa-Jasa Lain-Lain 4. Bank Asing & Campuran Pertanian Pertambangan Perindustrian Perdagangan Jasa-Jasa Lain-Lain 5. Jumlah (1 s.d. 4) Pertanian Pertambangan Perindustrian Perdagangan Jasa-Jasa Lain-Lain

153.266 14.279 1.939 46.868 32.970 39.421 17.789 168.723 10.185 2.500 35.592 40.513 63.716 16.217 7.539 267 21 429 1.206 2.386 3.230 48.606 1.271 856 28.790 7.575 8.046 2.068 378.134 26.002 5.316 111.679 82.264 113.569 39.304

220.747 17.012 1.989 84.510 43.601 55.792 17.843 193.361 20.272 2.414 45.416 40.687 72.058 12.514 6.570 354 19 409 1.053 1.820 2.915 66.748 1.670 1.487 41.333 11.023 9.454 1.781 487.426 39.308 5.909 171.668 96.364 139.124 35.053

112.288 15.516 1.360 38.489 21.958 19.945 15.020 56.012 5.740 371 14.421 13.307 15.605 6.568 6.793 853 18 190 816 1.376 3.540 50.040 1.668 1.948 31.159 7.207 6.235 1.823 225.133 23.777 3.697 84.259 43.288 43.161 26.951

102.061 11.209 2.522 34.878 16.431 16.370 20.651 82.425 4.987 863 22.914 21.656 17.500 14.505 10.106 527 65 249 1.182 1.260 6.823 74.408 2.780 3.230 48.741 4.830 9.186 5.641 269.000 19.503 6.680 106.782 44.099 44.316 47.620

1) Tidak termasuk pinjaman antarbank. pinjaman kepada pemerintah pusat dan bukan penduduk, serta nilai lawan valuta asing pinjaman investasi dalam rangka bantuan proyek

303

Lampiran

Tabel 43 Perkembangan Jumlah Aliran Uang Kertas di Jakarta dan KKBI
(triliun rupiah)

Kantor

1997 Masuk Keluar

1998 Masuk Keluar Masuk

1999 Keluar

2000 Masuk Keluar

2001 Masuk Keluar

Jakarta Bandung Semarang Surabaya Medan Padang Makassar Banjarmasin

18.7 14,1 11,8 13,9 6,9 4,2 4,7 3,6

32.2 9,1 6,9 13,3 7,7 5,6 5,4 4,9

24.2 17,9 14,5 18,8 9,4 5,8 7,3 4,8

39,9 14,7 9,3 18,5 10,3 8,7 8,8 7,2

24,4 22,2 17,8 23,4 11,4 6,5 8,7 6,1

47,2 17,1 13,6 23,9 12,8 11,7 10,0 9,0

33,2 28,0 20,2 28,8 11,5 7,8 10,4 7,8

51,4 20,4 15,1 28,6 11,9 13,1 12,4 11,2

34,9 37,6 25,5 37,9 15,1 10,1 13,8 10,1

53,7 23,7 17,4 33,5 15,3 14,9 14,9 13,4

Jumlah

77,9

85,1

102,7

117,4

120,5

145,3

147,7

164,1

185,0

186,8

Tabel 44 Pangsa Aliran Uang Keluar per Jenis Pecahan di Jakarta dan KKBI Tahun 2001
(persen)

Kantor Jakarta Bandung Semarang Surabaya Medan Padang Makassar Banjarmasin

Rp100.000,00 42 51 50 49 47 43 44 47

Rp50.000,00 38 33 33 38 36 34 35 34

Rp20.000,00 12 11 11 7 10 13 14 12

Rp10.000,00 5 3 4 4 4 8 4 5

Rp5.000,00 2 1 1 1 2 2 2 2

<= Rp1.000,00 1 1 0 1 1 1 1 1

Total 100 100 100 100 100 100 100 100

304

Lampiran

Tabel 45 Perkembangan Jumlah Aliran Uang Logam di Jakarta dan KKBI
(miliar rupiah)

Kantor

1997 Masuk 14,4 17,3 23,2 2,9 2,0 0,7 1,0 0,7 Keluar 79,5 8,7 7,4 15,9 7,4 7,3 7,4 6,1

1998 Masuk 4,4 10,8 13,9 1,2 3,3 0,3 0,5 0,7 Keluar 105,5 12,9 8,3 32,8 11,2 14,1 12,6 15,5

1999 Masuk 2,2 11,1 12,2 2,2 1,1 0,3 0,6 0,6 Keluar 117,7 14,8 13,2 29,7 13,1 9,7 11,2 11,4

2000 Masuk 4,1 15,2 14,3 1,8 0,4 0,3 1,1 1,4 Keluar 184,5 21,0 14,4 33,5 14,0 12,3 10,9 11,0 Masuk 0,1 16,5 17,0 4,0 0,7 0,5 0,5 0,8

2001 Keluar 196,9 28,5 15,6 44,2 24,1 21,8 20,8 15,6

Jakarta Bandung Semarang Surabaya Medan Padang Makassar Banjarmasin

Jumlah

62,2

139,7

35,1

212,9

30,3

220,8

38,6

301,6

40,1

367,5

305

Lampiran

Tabel 46 Pertumbuhan Ekonomi Dunia
(persen)

Negara

1997

1998

1999r

2000r

2001*

Dunia Negara Industri/Maju 7 Negara industri utama Amerika Serikat Jepang Jerman Perancis Italia Inggris Kanada Lain-Lain Negara Berkembang Afrika Timur Tengah, Malta, dan Turki Amerika Latin Asia NIEs Asia RRC Indonesia Singapura Malaysia Thailand Filipina Vietnam Negara-Negara Transisi 1) Eropa Tengah dan Timur Rusia Transcaucasus dan Asia Tengah

4,1 3,4 3,2 4,4 1,6 1,4 2,0 1,8 3,5 4,4 4,2 5,7 2,8 5,1 5,4 6,5 5,8 8,8 4,7 9,0 7,7 -1,3 5,2 8,2 1,6 2,1 0,9 2,6

2,6 2,4 2,5 4,4 -2,5 2,1 3,2 1,5 2,6 3,3 2,0 3,5 3,1 4,1 2,2 4,1 -2,3 7,8 -13,2 0,3 -6,7 -9,4 -0,5 3,5 -0,8 2,0 -4,9 2,5

3,6 3,3 3,0 4,1 0,7 1,8 3,0 1,6 2,1 5,1 4,9 3,9 2,5 1,1 0,1 5,9 7,9 7,1 0,8 4,5 6,1 4,3 3,4 4,2 3,6 2,0 5,4 4,6

4,7 3,9 3,5 4,1 2,2 3,0 3,5 2,9 2,9 4,4 5,2 5,8 2,8 5,9 4,1 6,7 8,2 8,0 4,8 9,9 8,3 4,4 4,0 5,5 6,3 3,8 8,3 5,3

2,4 1,1 1,0 1,0 -0,4 0,5 2,1 1,8 2,3 1,4 1,5 4,0 3,5 1,8 1,0 5,6 0,4 7,3 3,2 -2,9 0,3 1,5 2,9 4,7 4,9 3,0 5,8 -

1) Tidak termasuk Belarusia dan Ukraina Sumber: – IMF, World Economic Outlook, December 2001 – Bank Indonesia

306

Lampiran

Tabel 47 Inflasi Dunia
(persen)

Negara
Dunia Negara Industri/Maju 7 Negara industri utama Amerika Serikat Jepang Jerman Perancis Italia Inggris Kanada Lain-Lain Negara Berkembang Afrika Timur Tengah, Malta, dan Turki Amerika Latin Asia NIEs Asia RRC Indonesia Singapura Malaysia Thailand Filipina Vietnam Negara-Negara Transisi 1) Eropa Tengah dan Timur Rusia Transcaucasus dan Asia Tengah

1997
4,2 2,1 2,0 2,3 1,7 1,5 1,3 1,7 2,8 1,4 2,4 9,2 11,1 27,7 13,2 4,8 3,4 2,8 11,1 2,0 2,7 5,6 6,0 3,2 28,2 41,8 14,7 36,5

1998
2,5 1,5 1,3 1,6 0,6 0,6 0,7 1,7 2,7 1,0 2,5 10,3 8,7 27,6 10,6 8,0 4,4 -0,8 77,6 -0,3 5,3 8,1 9,7 7,7 20,9 17,1 27,8 15,3

1999r
3,0 1,4 1,4 2,2 -0,3 0,7 0,6 1,7 2,3 1,7 1,3 6,8 11,8 23,3 9,3 2,4 0,3 -1,5 2,01 0,2 3,0 0,5 8,5 7,6 43,9 10,9 85,7 15,4

2000r
2,3 2,3 3,4 -0,8 2,1 1,8 2,6 2,1 2,7 2,4 5,9 13,5 19,1 8,1 1,9 1,2 0,4 3,8 1,4 1,5 1,5 4,3 -1,7 20,1 12,8 20,8 14,8

2001 *
2,3 2,2 2,9 -0,7 2,4 1,8 2,6 2,3 2,8 2,9 6,0 12,8 19,1 6,3 2,8 2,0 1,0 11,5 1,0 1,5 1,7 6,1 0,8 16,0 9,3 21,5 -

Sumber :

– IMF, World Economic Outlook, December 2001 – Bank Indonesia – BPS

307

Lampiran

Tabel 48 Suku Bunga (%) dan Nilai Tukar

Rincian
Suku Bunga di Negara-negara Industri Jangka Pendek Jangka Panjang LIBOR 6 bulan USD Yen Euro Nilai Tukar Yen/USD DM/USD SD/GBP
Sumber : – IMF, World Economic Outlook , December 2001 – IMF, International Financial Statistics, December 2001

1997

1998

1999r

2000r

2001 *

4,00 5,40 120,99 1,73 1,64

4,00 4,50 130,91 1,76 1,66

3,80 5,30 5,50 0,20 3,00 102,51 1,94 1,62

6,60 0,30 4,60 114,41 2,08 1,49

3,80 0,20 4,10 131,66 2,20 1,45

Tabel 49 Perkembangan Volume Perdagangan Barang dan Harga Dunia
(persen)

Rincian Volume Perdagangan Barang

1997 10,0

1998 4,1

1999r 5,4

2000r 12,4

2001 * 1,0

Harga Barang-barang Industri Komoditas Primer Nonmigas Minyak -7,8 -3,2 -5,4 -1,2 -14,7 -32,1 -1,8 -7,0 37,5 -5,1 1,8 56,9 -1,7 -5,5 -14,0

Sumber : – IMF, World Economic Outlook, December 2001

308

Lampiran

Tabel 50 Transaksi Berjalan di Negara Industri dan Negara Sedang Berkembang
(persen PDB)

Negara 7 Negara industri utama Amerika Serikat Jepang Jerman Perancis Italia Inggris Kanada Negara Berkembang RRC Indonesia Singapura Malaysia Thailand Filipina

1997

1998

1999r

2000r

2001*

-1,7 2,2 -0,1 2,8 2,8 0,8 -1,6

-2,5 3,2 -0,2 2,7 1,7 -1,8

-3,5 2,4 -0,9 2,6 0,5 -1,1 0,2

-4,5 2,5 -1,0 1,8 -0,5 -1,7 2,5

-4,8 2,2 -0,8 2,5 -0,1 -1,7 1,9

3,8 -2,3 15,7 -5,1 -2,0 -5,3

3,4 4,3 20,9 12,9 12,8 2,0

1,6 4,10 21,1 15,9 10,2 10,0

1,9 5,2 21,9 9,4 7,5 12,1

1,0 3,4 7,5 7,5 4,7 4,9

Sumber : – IMF, World Economic Outlook, December 2001

309

Lampiran

Lampiran G

Specimen Pecahan Uang Kartal Yang Diterbitkan Pada Tahun 2001 Pecahan Rp 5000
Gambar utama terasa kasar bila diraba Bayang-bayang logo "BI" ( Latent Image)

Angka Nominal terasa kasar bila diraba

Garuda Pancasila Tanda air Cut Nyak Meutia

Rectoverso Tulisan mikro "BANK INDONESIA 5000” Tulisan Nominal terasa kasar bila diraba

Angka Nominal terasa kasar bila diraba

Tulisan mikro “BANK INDONESIA 5000”

Anti copy dalam bentuk tulisan “RI”

Benang pengaman

Angka “5000” yang terlihat apabila disinar dengan UV

Tulisan mikro "BANK INDONESIA"

Anti copy dalam bentuk tulisan “RI”

Angka Nominal

Nomor Seri

Tanda air Cut Nyak Meutia

Rectoverso

Nomor Seri

Angka Nominal

Benang pengaman

Tulisan mikro "BANK INDONESIA"

Tulisan mikro "BI"

310

Lampiran

Lampiran H

Daftar Singkatan
ad ACBF ADB AFMM AFTA Ags APBN APEC Apr ARMA AS ASA ASEAN ATM BBKU BBM BCSB BDP BEJ BI BI-RTGS BIS BKD BKPM BLS BM BMPK BNI BNM BOE BOP BOTASUPAL bp atas dasar ASEAN Central Bank Forum Asian Development Bank ASEAN Finance Ministers Meeting Asian Free Trade Area Agustus Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Asia-Pacific Economic Cooperation April Auto Regressive Moving Average Amerika Serikat ASEAN Swap Arrangements Association of South-east Asian Nations automated teller machine bank beku kegiatan usaha bahan bakar minyak Basel Committee of Bank Supervisors bank dalam penyehatan Bursa Efek Jakarta Bank Indonesia Bank Indonesia - Real Time Gross Settlement Bank For International Settlement Badan Kredit Desa Badan Koordinasi Penanaman Modal Baseline Economic Survey Base Money batas maksimum pemberian kredit Bank Negara Indonesia Bank Negara Malaysia Bank of England Balance of Payment Badan Koordinasi Pemberantasan Uang Palsu basis point

311

Lampiran

BPD BPEN BPKP BPPN BPR BPS BRER BRI BSA BTN BTO BUMN BUMS BUSN CAR CBS CBS CBU CCI CGI C&F CMI CPO crd CSA D DAK Dati DAU DBH Des DHE Dir DIY DJIA DKI

Bank Pembangunan Daerah Badan Pengembangan Ekspor Nasional Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan Badan Penyehatan Perbankan Nasional Bank Perkreditan Rakyat Badan Pusat Statistik Bilateral Real Exchange Rate Bank Rakyat Indonesia Bilateral Swap Arrangement Bank Tabungan Negara bank take over Badan Usaha Milik Negara Badan Usaha Milik Swasta Bank Umum Swasta Nasional capital adequacy ratio Claims on Busines Sector Currency Board System Completely Built Up Consumer Confidence Index Consultative Group on I–ndonesia Cost and Freight Chiang Mai Initiative crude palm oil crude Centralized Settlement Account diragukan dana alokasi khusus Daerah Tingkat dana alokasi umum dana bagi hasil Desember devisa hasil ekspor Direktur Daerah Istimewa Yogyakarta Dow Jones Industrial Average Daerah Khusus Ibukota

312

Lampiran

DKM-BI DN doc DPK DPM DPNP DPR DRI DSM DTI DSR DVP ECB EFT EFF EMEAP EO EUR FAASM FATF FDI Feb FKE FLI fob FR FSF GARCH GBHN GBI GBP GCS GDP GFA GFCF GTZ

Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter - Bank Indonesia dalam negeri dokumen dana pihak ketiga Direktorat Pengelolaan Moneter Direktorat Penelitian dan Pengembangan Perbankan Dewan Perwakilan Rakyat Danareksa Research Institute Direktorat Statistik Moneter Direktorat Teknologi Informasi debt service ratio Delivery Versus Payment European Central Bank electronic fund transfer Extended Fund Facility Executive Meeting of East Asia and Pacific Central Bankers Exchange Offer Euro Fixed Asset Accounting Simulation Model Financial Action Task Force Foreign Direct Investment Februari Fasilitas Kredit Ekspor Fasilitas Likuiditas Intrahari free on board Fixed Rate Financial Stability Forum General Auto-regresive Conditional Heteroscidasticity Garis-Garis Besar Haluan Negara Gubernur Bank Indonesia Great Britain Poundsterling gross capital stock gross domestic product gross foreign assets gross fixed capital formation Gesselschaft fur Technische Zusammenarbeit GmbH

313

Lampiran

GWM G–20 HAM HDI HIPC HJE IBI IBJ IBRD ICOR IAP IDR IFSO IHK IHPB IHSG IIFM IMF IMFC IPP IRFCL ITS Jan JBIC JIBOR JITF JPY JORR Jul Jun KA KAP KBI KCS Kep KHM

Giro Wajib Minimum Group 20, terdiri atas 20 negara hak asasi manusia Human Development Index Highly Indebted Poor Countries harga jual eceran Institut Bankir Indonesia Industrial Bank of Japan International Bank for Reconstruction and Development Incremental Capital Output Ratio Individual Action Plan Indonesia Rupiah Islamic Financial Services Organization indeks harga konsumen indeks harga perdagangan besar indeks harga saham gabungan Internasional Islamic Financial Market International Monetary Fund International Monetary Financial Committee Independen Power Producer International Reserve and Foreign Currency Liquidity Institut Teknologi Surabaya Januari Japan Bank for International Cooperation Jakarta interbank offered rate Jakarta Initiative Task Force Japan Yen Jakarta Outer Ring Road Juli Juni Kereta Api kualitas aktiva produktif Kantor Bank Indonesia Kantor Cabang Syariah keputusan kebutuhan hidup minimum

314

Lampiran

KLBI KMK KP KP KPMM KPR KRW KUK L L/C LDKP LDR LIE LIBOR LKBB LLD LLM LN LNG LoI LPG LPJK LPSM LPS Mar MDH MFG Migas MMBTU MNC MoU MPP MPR mtm NBER NCG

Kredit Likuiditas Bank Indonesia Keputusan Menteri Keuangan Kurang Potensial Kantor Pusat kewajiban penyediaan modal minimum Kredit Pemilikan Rumah Korean Won Kredit Usaha Kecil lancar Letter of Credit Lembaga Dana dan Kredit Pedesaan laon to deposit ratio Leading Indikator Ekonomi London Interbank Offered Rate lembaga keuangan bukan bank lalu lintas devisa lalu lintas modal luar negeri liquefied natural gas Letter of Intent liquefied petroleum gas Lembaga Pengawas Sektor Jasa Keuangan Lembaga Pengembangan Swadaya Masyarakat Lembaga Penjamin Simpanan Maret the mixture distribution hypothesis Manila Framework Group minyak dan gas mille mille British thermal unit multinational corporation Memorandum of Understanding Menteri Perindustrian dan Perdagangan Majelis Permusyawaratan Rakyat month to month the National Bureu for Economic Research net claims on government

315

Lampiran

NCS NDA NFA NIM NIR NOI Nov NPI NPLs NTB NTT OAA ODA Okt O/N OPEC OPT P PAM PAPSI PBB PBB PBI PDB PDN Pefindo PERC PERUM PHK PHP PIM PIPU PKPD PLN PLN PMA

net capital stock net domestic assets net foreign assets net interest margin net international reserve net other items November Neraca Pembayaran Indonesia non performing loans Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Osaka Action Agenda Official Development Assistance Oktober overnight Organization of Petroleum Exporting Countries operasi pasar terbuka Potensial Perusahaan Air Minum Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia pajak bumi dan bangunan Persatuan Bangsa-Bangsa Peraturan Bank Indonesia produk domestik bruto Posisi Devisa Neto Pemeringkat Efek Indonesia Political Economic Risk Perusahaan Umum pemutusan hubungan kerja Philippines Peso Perpetual Inventory Method Pusat Informasi Pasar Uang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah Perusahaan Listrik Negara Pinjaman Luar Negeri penanaman modal asing

316

Lampiran

PMTDB PMDN PNB PNBP PNM PNS Polri PPAP PPh PPN PPn-BM PrsFI PRGF PRSP PRBC PSAKS PTTB PUAB PUKM RBDPO RCC REER RKAT Rp RRC RTGS RUU SBA SBI SD SDA SDM SDR SE SEACEN SEANZA

Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto penanaman modal dalam negeri Pendapatan Nasional Bruto Penerimaan Negara Bukan Pajak Permodalan Nasional Madani pegawai negeri sipil Polisi Republik Indonesia penyisihan penghapusan aktiva produktif pajak penghasilan pajak pertambahan nilai pajak penjualan barang mewah Promotion of Small Financial Institution Poverty Reduction and Growth Facility Poverty Reduction Strategy Paper Poverty Reduction Support Credit Pernyataan Standar Akuntansi Perbankan Syariah pemberian tanda tidak berharga pasar uang antar bank Pengembangan Usaha Kecil dan Mikro Refired Blenched Deodorized Palm Oil RTGS Central Computer real effective exchange rate Rencana Kerja Anggaran Tahunan Rupiah Republik Rakyat China Real Time Gross Settlement Rancangan Undang-Undang Stand By Arrangement Sertifikat Bank Indonesia selected default sumber daya alam sumber daya manusia Special Drawing Rights Surat Edaran South East Asia Central Bank South East Asia, New Zealand, and Australia Central Bank

317

Lampiran

SEG Sep SIABE SIB SIBOR SID SIKJI SIKPA SI-LMUK SIPMK SIPU SI-PUK SKDU SKEJ SNA SP SPE S&P SPKUI SPPK SRK SSB STB STK SUP SWBI TAMC TDL THB TKI TNI TPK TPT Trw UGM UK

SEACEN Expert Group September Sistem Informasi Agroindustri Berorientasi Ekspor Sistem Informasi Baseline Economic Survey Singapore Interbank Offered Rate Sistem Informasi Debitur Sistem Informasi Kliring Jarak Jauh sisa kurang pembiayaan anggaran Sistem Informasi Pola Pembiayaan/Lending Model Usaha Kecil Sistem Informasi Prosedur Memperoleh Kredit Sistem Informasi Pengedaran Uang Sistem Informasi Terpadu Pengembangan Usaha Kecil Survei Kegiatan Dunia Usaha Sistem Kliring Elektronik Jakarta Standardized National Account sangat potensial survey penjualan eceran Standard and Poor’s Sistem Peninjau Keputusan untuk Investasi Studi Struktur & Perkembangan Pasar Keuangan Satgas Restrukturisasi Kredit Surat-Surat Berharga Survei Tendensi Bisnis Survei Tendensi Konsumen Surat Utang Pemerintah Sertifikat Wadiah bank Indonesia Thai Asset Management Company tarif dasar listrik Thailand Baht Tenaga Kerja Indonesia Tentara Nasional Indonesia Terminal Peserta Kliring Tekstil dan Produk Tekstil triwulan Universitas Gajah Mada United Kingdom

318

Lampiran

UKIP UKM UMP UMR UN UNDP US USAID USD UU UYD Valas VR WEO WTC WTO YoY

Unit Khusus Investigasi Perbankan usaha kecil dan menengah upah minimum propinsi upah minimum regional United Nation United National Development Program United States United States Agencies for International Development United States Dollar Undang-Undang uang yang diedarkan valuta asing variable rate World Economic Outlook World Trade Centre World Trade Organization year on year

319

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->