BAB I PENDAHULUAN

Angka kematian ibu dan angka kematian bayi menjadi indicator tingkat kesejahteraan suatu Negara. Angka kematian ibu yang cukup tinggi di negara-negara berkembang menjadi salah satu masalah kesehatan penting yang menjadi perhatian dunia. Di Indonesia AKI mencapai 228

per 100.000 kelahiran hidup. Angka kematian ibu juga merupakan salah satu target yang telah ditentukan dalam tujuan pembangunan millenium yaitu tujuan ke 5 yaitu meningkatkan kesehatan ibu dimana target yang akan dicapai sampai tahun 2015 adalah mengurangi sampai ¾ resiko jumlah kematian ibu atau sekitar menjadi 102/100.000 kelahiran hidup pada tahun 2015. AKB di Indonesia sebesar 34/1000 kelahiran hidup. Tiga faktor utama penyebab kematian ibu melahirkan yakni , pendarahan, hipertensi saat hamil atau pre eklamasi dan infeksi. Salah satunya adalah plasenta previa yang dapat menyebabkan pendarahan saat kehamilan pada trimester akhir/perdarahan intranatal dan mempersulit proses persalinan. Plasenta memiliki peranan berupa transport zat dari ibu ke janin, penghasil hormon yang berguna selama kehamilan, serta sebagai barier. Melihat pentingnya peranan dari plasenta maka bila terjadi kelainan pada plasenta akan menyebabkan kelainan pada janin ataupun mengganggu proses persalinan. Dengan penanggulangan yang baik seharusnya kematian ibu dan janin karena plasenta previa rendah sekali,atau tidak sama sekali. Sejak diperkenalkannya penanganan pasif pada tahun 1945,kematian perinatal berangsur-angsur dapat diperbaiki. Walaupun demikian,hingga kini kematian perinatal yang disebabkan prematuritas tetap memegang peranan utama. Penanganan pasif maupun aktif memerlukan fasilitas tertentu,yang dicukupi pada banyak tempat. Tindakan-tindakan ini sekurang-kurangnya masih dianggap penting untuk menghentikan perdarahan dimana fasilitas SC belum ada. Dengan demikian tindakantindakan itu lebih banyak ditujukan demi keselamatan ibu dari pada janinnya.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Anatomi Plasenta
Plasenta berbentuk bundar atau hampir bundar dengan diameter 15-20 cm dan tebal lebih kurang 2,5 cm. Beratnya rata-rata 500 gram. Umumnya plasenta terbentuk lengkap pada kehamilan 16 minggu dengan ruang amnion membesar sehingga amnion tertekan kearah korion. Letak plasenta biasanya umumnya di depan atau di belakang dinding uterus, agak ke atas ke arah fundus uteri. Hal ini adalah fisiologis karena permukaan bagian atas korpus uteri lebih luas, sehingga lebih banyak tempat untuk berimplantasi. Di tempattempat tertentu pada implantasi plasenta terdapat vena-vena yang lebar (sinus) untuk menampung darah kembali. Pada pinggir plasenta di beberapa tempat terdapat suatu ruang vena yang luas untuk menampung darah yang berasal dari ruang interviller di atas. Darah ibu yang mengalir di seluruh plasenta diperkirakan naik dari 300 ml tiap menit pada kehamilan 20 minggu sampai 600 ml tiap menit pada kehamilan 40 minggu. Perubahan-perubahan terjadi pula pada jonjot-jonjot selama kehamilan berlangsung. Pada kehamilan 24 minggu lapisan sinsitium dari vili tidak berubah akan tetapi dari lapisan sitotropoblast sel-sel berkurang dan hanya ditemukan sebagai kelompokkelompok sel-sel; stroma jonjot menjadi lebih padat, mengandung fagosit-fagosit, dan pembuluh-pembuluh darahnya lebih besar dan lebih mendekati lapisan tropoblast.

B. Plasenta Normal
Setelah terjadinya fertilisasi ovum oleh sperma maka sel yang dihasilkan disebut sebagai zygote. Kemudian terjadi pembelahan pada zygote sehingga menghasilkan apa yang disebut sebagai blastomers, kemudian morula dan blastokist. Pada tahap-tahap perkembangan ini, zona pellucida masih mengelilingi. Sebelum terjadinya implantasi, zona pellucida menghilang sehingga blastosit menempel pada permukaan endometrium. Dengan menempelnya blastokist pada permukaan endometrium maka blastosit menyatu dengan epitel endometrium. Setelah terjadi erosi pada sel epitel endometrium, trophoblast masuk lebih dalam ke dalam endometrium dan segera blastokist terkurung

Plasenta previa marginalis: dimana bagian tepi dari plasenta berada di pinggir dari ostium uteri internum. Angka kejadian plasenta previa adala 0. Desidua basalis: desidua yang terletak antara blastokist dan miometrium 2. Setelah terjadi implantasi desidua akan dibedakan menjadi : 1. Keadaan ini dibagi menjadi empat bagian yaitu: 1. tetapi tepi dari plasenta tidak mencapai ostium uteri internum. Plasenta previa parsialis: dimana ostium uteri internum sebagian ditutupi oleh plasenta. Plasenta letak rendah: dimana plasenta berimplantasi pada segmen bawah rahim. Desidua vera: desidua sisa yang tidak mengandung blastokist Bersamaan dengan hal ini pada daerah desidua basalis terjadi suatu degenerasi fibrinoid. Plasenta Previa Plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi atau tertanam pada segmen bawah rahim dan menutupi sebagian atau seluruh ostium utri internum. 3. 2. saat terjadi persalinan. Implantasi ini terjadi pada daerah endometrium atas terutama pada dinding posterior dari uterus Endometrium sendiri sebelum terjadinya proses di atas terjadi perubahan untuk menyiapkan diri sebagai tempat implantasi dan memberi makan kepada blastokist yang disebut sebagai desidua. Desidua kapsularis: desidua yang terletak antara blastokist dan kavum uteri 3. 4. yang terletak diantara desidua dan trofoblast untuk menghalangi serbuan trofoblast lebih dalam lagi. Lapisan dengan degenerasi fibrinoid ini disebut sebagai lapisan Nitabuch Pada perkembangan selanjutnya.4 -0. C. Plasenta previa totalis: dimana ostium uteri internum tertutup seluruhnya oleh plasenta.6 % dari keseluruhan persalinan. .di dalam endometrium. plasenta akan terlepas dari endometrium pada lapisan Nitabuch tersebut. namun berada didekatnya.

Taylor DJ . Pembagian plasenta previa Grade I Deskripsi Plasenta berada pada segmen bawah rahim tetapi tepi terbawah tidak mencapai ostium uteri internum II Tepi terbawah dari plasenta letak rendah mencapai ostium uteri internum tetapi tidak menutupinya III Plasenta menutupi ostium uteri internum tetapi asimteris IV Plasenta menutupi ostium uteri internum secara simetris Dikutip dari Konje JC. namun pada dasarnya pembagian tersebut tidaklah berbeda jauh.Plasenta normal plasenta previa Klasifikasi plasenta previa Ada juga literatur yang membagi plasenta previa dengan menggunakan pembagian grade I sampai grade IV. Tabel 1.

f. Chorion leave persisten. Konsepsi dan nidasi terlambat. dll) d. atau perubahan atrofi pada desidua akibat persalinan yang lampau dapat  Karsinoma serviks  DIC . dimana endometrium belum siap menerimahasil konsepsi. Hal ini dapat menyebabkan ruptur pembuluh darah yang mengancam janin. Bila sudah terjadi perdarahan maka akan diikuti dengan denyut jantung janin yang tidak beraturan. Defek vaskularisasi desidua yang kemungkinan terjadi akibat perubahanatrofik dan inflamatorotik. e. g. c. deselerasi atau bradikardi.Vasa previa merupakan keadaan dimana pembuluh darah umbilikalis janin berinsersi dengan vilamentosa yakni pada selaput ketuban. khususnya bila perdahan terjadi ketika atau beberapa saat setelah selaput ketuban pecah.Factor predisposisi Beberapa faktor predisposisi terjadinya plasenta previa adalah sebagai berikut: a. Korpus luteum bereaksi lambat. Cacat atau jaringan parut pada endometrium oleh bekas pembedahan (SC. Bahwasanya vaskularisasi yang berkurang. Pemeriksaan juga dapat dilakukan dengan inspekulo atau amnioskopi. Factor resiko    Riwayat plasenta previa sebelumnya Riwayat SC Riwayat aborsi    Kehamilan ganda Umur ibu yang telah lanjut Multiparitas Diagnosa Banding  Solutio palcenta  Vasa previa  Laserasi vagina/serviks Perdarahan karena laserasi serviks atau vagina dapat dilihat dengan inspekulo. Multiparitas dan umur lanjut (≥ 35 tahun). Plasenta besar pada hamil ganda dan eritoblastosis atau hidrops fetalis. Pada pemeriksaan dalam vagina diraba pembuluh darah pada selaput ketuban. Etiologi Plasenta Previa Penyebab pasti plasenta previa belum diketahui. b.Kuret.

menyebabkan plasenta previa tidaklah selalu benar. His biasanya tidak ada 8. abortus. Presentasi mungkin abnormal  Perdarahan masif Anemia Perdarahan pasca persalinan Komplikasi tindakan SC Prolaps tali pusat Prolaps placenta Placenta acreta Robekan jalan lahir Pembukaan segmen rahim terjadi secara ritmik maka pelepasan plasenta berulang dan semakin banyak perdarahan pendarahan tidak dapat dicegah sehingga terjadi anemia. karena tidak nyata dengan jelas bahwa plasenta previa didapati untuk sebagian besar pada penderita dengan paritas yang tinggi atau sering melahirkan. Warna perdarahan merah segar 4. Teraba jaringan plasenta pada periksa dalam vagina 10. Perdarahan tanpa nyeri 2. dan mungkin merokok. Kondisi yang multifaktorial telah dipostulatkan berhubungan dengan multipara.  Serviks dan segmen bawah rahim rapuh dan kaya pembuluh darah mempunyai potensial untuk robek jadi harus berhati-hati pada tindakan manual di daerah ini.  Segmen bawah rahim tipis maka jaringan trofoblas mudah menerobos myometrium sehingga terjadi plasenta akreta atau inkreta sehingga terjadi retensio plasenta dan pada bahagian plasenta yang terlepas akan menimbulkan pendarahan kala III. umur kehamilan dini. Perdarahan berulang 3. bahkan shock. Adanya anemia dan renjatan yang sesuai dengan keluarnya darah 5. Waktu terjadinya saat hamil Komplikasi pada ibu dan janin Komplikasi pada janin BBLR KJDR Malformasi Partus prematurus Pertumbuhan janin terhambat Anemia fetus Komplikasi pada ibu 7. Ciri-ciri plasenta previa : 1. kelahiran dengan sesarea sebelumnya.Bila terjadi pendarahan yang tidak terkendali dengan cara sederhana maka . Timbulnya perlahan-lahan 6. Penurunan kepala tidak masuk pintu atas panggul 11. gestasi berkali-kali. Rasa tidak tegang (biasa) saat palpasi 9.

seksio sesarea. Dapat menimbulkan kelainan letak janin :  Letak sungsang  Letak lintang  Kepala miring . resiko tinggi untuk placental abruption. Kelahiran prematur dan gawat janin sering tidak dapat di hindarkan. kematian maternal akibat perdarahanan disseminated intravscular coagulation. Morbiditas dari semua tindakan ini merupakan komplikasi tidak langsung dari plasenta previa. shingga sering diambil tindakan operasi.    Kelainan letak anak pada plasenta previa lebih sering terjadi. perdarahan pasca persalinan. Masa rawat yang lebih lama.  Kejadian infeksi akibat daripada pendarahan yang banyak MANIFESTASI KLINIK Pendarahan   Terjadi akibat dari segmen bawah rahim yang bergesel dan lepasnya plasenta dari implantasi Pendarahannya biasanya berulang tergantung luas plasenta yang lepas dan melingkar lumen ostium uteri    Pendarahan yang tidak sakit Pendarahan akibat plasenta totalis Pendarahan biasanya terjadi pada trimester kedua dan ke atas Tertutupnya segmen bawah rahim oleh plasenta   Tertutpnya bahagian bawah uterus oleh plasenta sehingga menghalangi masuknya bahagian terendah janin sehingga janin berkembang di atas panggul.dilakukan histerektomi total.

PATOFISIOLOGI PLASENTA PREVIA FaktorPendukung Multiparitas. cacat) Riwayat kehamilan (Caesar) Merokok Implantasi abnormal Implantasi embrio (embryonic plate) pada bagian bawah (kauda) uterus Isthmus uteri tertarik (melebar)menjadi dinding cavum uteri (SBR/ Segmen Bawah Rahim ) Servik membuka dan mendatar Desidua lepas dari plasenta Laserasi Dinding rahim tipis Hipovolemia Mudah diinvasi oleh pertumbuhan trofoblas Perubahan perfusi jaringan Plasenta akan melekat lebih kuat Plasenta berkembang menutupi ostium interna Perdarahan Cemas anemia Kekurangan volume cairan hipoksia Resiko cedera Lahir tidak dapat normal (lahir sesar) Bayi lahir dengan BB rendah/ kematian (gawat janin) . gemeli Usia ibu saat kehamilan Kelainan pada rahim (atrofi.

pagi hari tanpa disadari tempat tidur sudah penuh darah. biasanya kepala masih goyang atau terapung (floating) atau mengolak di atas pintu atas panggul Bila cukup pengalaman. jadi fundus uteri masih rendah Sering dijumpai kesalahan letak janin Bagian terbawah janin belum turun . apabila letak kepala. Kadang-kadang perdarahan terjadi sewaktu bangun tidur . Perdarahan cenderung berulang dengan volume yang lebih banyak sebelumnya.karsinoma porsinis uteri. dapat dirasakan suatu bantalan pada segmen bawah rahim terutama pada ibu yang kurus. 2. Perdarahan timbul sekonyong-konyong tanpa sebab apapun. Anamnesis Gejala pertama ialah perdarahan pada kehamilan setelah 28 minggu atau pada kehamilan lanjut (trimester III). Sifat perdarahannya tanpa sebab (causeless). dan berulang (recurrent). Pemeriksaan dalam sangat berbahaya sehingga kontraindikasi untuk dilakukan kecuali fasilitas operasi segera tersedia.  Pemeriksaan dengan Alat: Pemeriksaan inspekulo Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui apakah perdarahan berasal dari OUE atau dari kelainan serviks dan vagina.seperti erosion porsionis uteri. darah beku dan sebagainya Kalau telah bwrdarah banyak maka ibu kelihatan anemis (pucat) Palpasi Janin sering belum cukup bulan. Pemeriksaan fisik  Pemeriksaan luar: Inspeksi (penglihatan) Dapat dilihat perdarahan yang keluar pervaginam: banyak atau sedikit.polipus serviks uteri.varieces vulva dan . tanpa nyeri (painless).Diagnosis Plasenta Previa Diagnosis plasenta previa ditegakkan dengan adanya gejala-gejala klinis dan beberapa pemeriksaan: 1.

MRI dapat digunakan untuk membantu identifikasi plasenta akreta.adanya plasenta previa harus dicurigai.trauma. Sikap ekspektatif tentu hanya dapat dibenarkan kalau keadaan ibu baik dan perdarahan sudah berhenti atau sedikit sekali. Perbaiki kekurangan cairan atau darah dengan infuse NaCl 0. Transvaginal Ultrasonografi dengan keakuratan dapat mencapai 100 % identifikasi plasenta previa b. Apabila perdarahan berasal dari OUE. dan plasenta perkreta. Transabdominal ultrasonografi dengan keakuratan berkisar 95 % c.9% atau RL 2. D. radiosotopi dan ultrasonografi. Pemeriksaan USG a. Perabaan fornices Pemeriksaan ini hanya bermakna apabila janin dalam presentasi kepala. Dulu anggapan kita ialah bahwa kehamilan dengan placenta previa harus segera diakhiri . Penatalaksanaan Placenta Praevia 1. inkreta. Pemeriksaan melalui kanalis sevikalis Apabila kanalis servikalis telah terbuka. Penentuan letak plasenta tidak langsung Penentuan letak plasenta secara tidak langsung dapat dilakukan dengan radiografi. Lakukan penilaian jumlah darah   Jika perdarahan banyak dan berlangsung terus.perlahan-lahan jari telunjuk dimasukkan ke dalam kanalis servikalis dengan tujuan kalau meraba kotiledon.persiapkan SC tanpa memperhitungkan usia kehamilan Jika perdarahan sedikit atau sedikit dan fetus hidup tetapi prematur pertimbangkan terapi ekspetatif sampai persalinan atau terjadi perdarahan banyak  Terapi Ekspektatif Terapi ini dilakukan kalau janin masih kecil hingga kemungkinan hidup di dunia luar baginya kecil sekali.

Perdarahan pertama pada placenta previa jarang fatal 2. Tingkat placenta praevia Paritas .untuk menghindarkan perdarahan yang fatal.keadan umum ibu cukup baik (Hb dalam batas normal) Janin masih hidup Rawat inap. Perlu dikemukakan cara manapun yang diikuti. Pada perdarahan yang sedikit dan anak yang masih kecil dipertimbangkan terapi ekspektatif. pembukaan yang sudah besar. multiparitas dan tingkat placenta praevia yang ringan dan anak yang mati mengarahkan pada usaha pemecahan ketuban. Tapi sekarang terapi dapat dilakukan dengan alasan : 1. pembukaan kecil nullipara dan tingkat placenta praevia yang berat mendorong kita melakukan SC. sebaliknya perdarahan yang sedang. persediaan darah yang cukup sangat menentukan. Untuk menurunkan kematian bayi karena prematuritas Syarat : Kehamilam preterm dengan perdarahan sedikit yang kemudian berhenti Belum ada tanda inpartu.tirah baring dan berikan AB Profilaksis Pemeriksaan USG Perbaiki anemia dengan Sulfat Ferosus atau Ferosus Fumarat per oral 60 mg selama 1 bulan Jika perdarahan berhenti dan waktu untuk mencapai 37 minggu masih lama pasien dapat rawat jalan dengan pengawasan Jika perdarahan berulang pertimbangkan manfaat dan resiko ibu dan janin untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut dibandingkan dengan terminasi kehamilan Tindakan yang kita pilih untuk pengobatan placenta previa dan kapan melaksanakannya tergantung pada factor-faktor tersebut di bawah ini : Perdarahan banyak atau sedikt Keadaan Ibu dan anak Besarnya pembukaan Perdarahan yang banyak.

Cara-cara vaginal terdiri dari : Pemecahan ketuban Versi Braxton Hicks Cunam Willet Pemecahan Ketuban Pemecahan ketuban dapat dilakukan pada placenta letak rendah. Rencanakan terminasi kehamilan jika: Janin matur Janin mati/menderita anomaly atau keadaan yang mengurangi kelangsungan hidupnya 2. Jika persalinan dengan SC dan trjadi perdarahan dari tempat plasenta: Jahit tempat perdarahan dengan benang Pasang infuse oksitosin 10 unit NaCl atau RL dengan kecepatan 60 tetes sangat 4. Versi Braxton Hicks . karena kepala tertahan promontorium yang dalam hal ini dilapisi lagi oleh jaringan placenta. Jika terdapat plasenta letak rendah dan perdarahan yang terjadi sedikit.segera lakuakn penanganan yang sesuai (ligasi arteri atau histerektomi) 1.persalinan pervaginam masih mungkin. Kalau pada placenta praevia lateralis. Terapi aktif 1. Jika perdarahan terjadi pasca persalinan.jika tidak dilakukan SC 3. placenta terdapat di sebelah belakang maka lebih baik dilakukan SC karena dengan pemecahan ketuban kepala kurang menekan pada placenta. placenta praevia marginalis dan placenta praevia lateralis yang menutup ostium kurang dari setengah bagian. Pemecahan ketuban dapat menghentikan perdarahan karena : Setelah pemecahan ketuban uterus mengadakan retraksi hingga kepala anak menekan pada placenta Placenta tidak tertahan lagi oleh ketuban dan dapat mengikuti gerakan dinding rahim hingga tidak terjadi pergeseran antara placenta dan dinding rahim.

Traksi dengan Cunam Willet Kulit kepala janin dijepit dengan Cunam Willet. Mengingat bahayanya. anak ini pasti akan lahir mati. karena cervix dan segmen bawah rahim pada placenta praevia banyak mengandung pembuluh-pembuluh darah. Tindakan ini biasanya dikerjakan pada janin yang telah meninggal dan perdarahan yang tidak aktif. Robekan mudah terjadi.Maksud dari perasat Braxton Hicks ialah temponnade placenta dengan bokong. yaitu robekan pada cervix dan pada segmen bawah rahim. 2. SC dilakukan pada placenta praevia totalis dan pada placenta praevia lainnya jika terjadi perdarahan hebat. karena kalau dilakukan pada anak yang masih hidup. kemudian diberi beban secukupnya sampai perdarahan berhenti. Sectio Caesarea Maksud Sectio Caesarea adalah : Mempersingkat lamanya perdarahan Mencegah terjadinya robekan cervix dan segmen bawah rahim. Tindakan ini kurang efektif untuk menekan placentadan seringkali menyebabkan perdarahan pada kulit kepala. . Versi Braxton hicks biasanya dilakukan pada anak yang sudah mati.

.

CM MRS : Indonesia :Sudah menikah : Tn. Dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit kronis seperti jantung. Riwayat menstruasi Menarche Siklus/lama : 12 tahun : 28 hari/7 hari Jumlah/warna : Hari 1 warna coklat. A : 26 tahun        Bangsa Status perkawinan Nama suami Pekerjaan No. Riwayat penyakit ibu Ibu tidak pernah menderita penyakit menular seperti TBC. ganti pembalut 2x/hari Hari 2-3 warna merah. Ibu tidak pernah menderita penyakit menurun seperti asma.BAB III TINJAUAN KASUS I. DM dan hipertensi. TBC. Ibu tidak pernah menderita penyakit kronis seperti jantung. Riwayat penyakit keluarga Dalam keluarga ibu ada yang menderita penyakit menular yaitu hepatitis.hipertensi. B :pedagang : 17132 : 15 Maret 2012 Jenis Kelamin : Perempuan Agama Pekerjaan Alamat Ciputat : Islam :Ibu Rumah Tangga : Jl Juanda No 12. Tanggal Pemeriksaan : 15 Maret 2012 II. c. Anamnesis Keluhan Utama : Ibu mengatakan keluar darah merah segar dari kemaluannya tidak disertai nyeri perut Riwayat Kesehatan a. Pengkajian Identitas pasien       Nama Umur : Ny. Hepatitis maupun HIV/AIDS. Dalam keluarga ibu ada yang menderita penyakit menurun yaitu DM. b. dan DM. ganti pembalut 3x/hari Dysminorhoe : jarang . dan TBC.

Flour albus HPHT HPL : 2 hari setelah menstruasi : 20 Juni 2011 : 27 Maret 1012 d. suami dan keluarga sangat mengharapkan kehamilan ini. Riwayat perkawinan Status kawin : 1 kali Lama : 3 tahun : Keluar darah merah segar Usia saat kawin: 22 tahun f. Riwayat sosial spiritual Ibu. Pengambil keputusan dalam keluarga adalah suami. Riwayat KB Jenis Lama Keluhan : pil : 1 tahun : - g. Ibu merasa senang dengan kehamilannya dan merencanakan melahirkan di rumah sakit. . Riwayat kehamilan sekarang GIP0A1 Usia kehamilan ANC : Minggu : Tempat : BPS Keberapa kali : jarang Imunisasi TT : 1x Keluhan hamil muda : Mual dan lemas Keluhan hamil tua e.

b. Selama hamil : BAK lebih sering 5-6xsehari. Pemeriksaan Fisik Keadaan umum : Sedang Kesadaran Tekanan Darah Nadi : Compos Mentis. : 90/70 mmHg : 115 x/menit Respirasi Suhu tubuh Tinggi badan : 28x/menit : 36.Pola aktivitas sehari-hari a. ganti pakaian. celana dalam. pauk dan nasi. BAB 1xsehari. Nutrisi Sebelum hamil : Ibu makan 3x sehari.4 °C : 155 cm : Tidak ada keluhan Berat badan: sebelum hamil 48 kg . Selama hamil : Ibu melakukan aktivitas sebagai ibu rumah tangga.tidak ada keluhan. Personal hiegiene Sebelum hamil : Ibu mandi 2x sehari. Minum air putih + 6-7 gelas perhari. Minum air putih +7-8 gelas/hari. lauk-pauk dan nasi. ganti celana dalam setiap kali mandi atau jika merasa lembab d. Selama hamil : Ibu makan 4x sehari. porsi cukup. sayur-sayuran. Selama hamil : Ibu mandi 2x sehari. ganti pakaian. porsi sedikit-sedikit. tidak ada keluhan. Aktivitas Sebelum hamil : Ibu melakukan pekerjaan sebagai ibu rumah tangga. gosok gigi 3x sehari. setiap kali mandi dan gosok gigi 3x sehari. Hubungan seksual Sebelum hamil : Tidak ada keluhan Selama hamil III. Eliminasi Sebelum hamil : BAK 4-5x. c.BAB 1xsehari. lauk e. sayursayuran.

: Simetris. : Bibir tidak stomatitis. : Tidak ada benjolan yang abnormal.penyebaran rambut merata : pucat. gusi epulis. terdapat linea nigra. Pemeriksaan khusus  Inspeksi Kepala Muka Mata Hidung Telinga Mulut : Bersih. serta tidak ada bendungan vena jugularis. : Simetris. tidak ada serumen. tidak ada polip. Abdoment : Tidak ada luka bekas operasi. papilla menonjol. tidak ada oedema. Genetalia : Tampak perdarahan pervaginam tidak Ekstremitas : Atas : Simetris. : Simetris. bersih.Selama hamil 56 kg LILA : 27 cm IV. tidak ada oedema. conjunctiva Anemis. terdapat striae albicans dan striae lividae.  Palpasi Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar limphe dan kelenjar tiroid. Axila Mammae Abdomen : Tidak ada pembesaran kelenjar limphe. tidak varices. Bawah : Simetris. tidak oedema.hyperpigmentasi pada areola dan papilla. tidak pucat. tidak pucat. bersih tidak da sekret. bersih. Mammae : Simetris. gigi tidak caries. tidak ada benjolan abnormal. sklera tidak kuning. ASI sedikit : Leopold I : TFU 3 jari bawah Px .

jantung. ANALISIS DATA DO DS Klien mengatakan:   keluar darah merah segar dari       Tekanan Darah Nadi Respirasi Suhu tubuh Hb : : 90/70 mmH : 115x/menit : 28x/menit : 36.2 g/dl : 32. Data penunjang : USG  Tampak janin presentasi kepala tunggal hidup.4 °C kemaluannya tidak disertai nyeri perut tidak pernah menderita penyakit seperti TBC.Leopold II Leopold III Leopold IV   Auscultasi Perkusi : DJJ 136x/ menit : Teraba punggung kiri (PUKI) : Teraba kepala belum masuk PAP U : - : Reflek patella kanan/kiri +/+ V.000 GDS: 94 mg/dl Gol Darah : O/ Rhesus + VI. terdapat striae albicans dan  striae lividae.  TBJ : 2400 gr  Tampak plasenta plasenta letak rendah dengan tepi plasenta terletak pada bagian pinggir ostium internum. TBC.  kolostrum (+)  Tidak ada luka bekas operasi. Laboratorium Hb Ht Leukosit : 10. gerakan janin aktif.   DJJ 136x/ menit . DM dan hipertensi urin sedikit pusing kulit kering dan bersisik ASI sedikit tangan dan kaki dingin  Tidak ada pembesaran kelenjar limphe Tidak ada benjolan yang abnormal. Hepatitis maupun HIV/AIDS.800 ul Trombosit : 286. terdapat  linea nigra.4 % : 11. asma.

4 % Leukosit : 11. Masalah Keperawatan Problem Kekurangan cairan Etiologi volume kehilangan berlebihan Symptom vaskuler DO : Hipotensi Peningkatan nadi 115x/menit Penurunan volume urin Membran mukosa kering CRF > 3 detik Klien terlihat pucat.800 ul Trombosit : 286. konjungtiva anemis DS : Ibu mengatakan urin sedikit Ibu mengatakan pusing Ibu mengatakan kulit kering dan bersisik Perubahan perfusi hipovolemia DO : Ekstremitas dingin Perubahan tanda-tanda vital     Tekanan Darah: 90/70 mmH Nadi : 115x/menit Respirasi : 28x/menit Suhu tubuh : 36.4 °C jaringan utero plasenta - Penurunan produksi ASI CRF > 3 detik .000 GDS : 94 mg/dl Gol Darah : O/ Rhesus + CRF > 3 detik Ekstremitas dingin   VII.  Tampak perdarahan pervaginam Lab Hb : 7 g/dl Ht : 32.

kerusakan sistem imun. 2. janin Klien tampak tegang Klien menolak untuk makan Klien tampak pucat & berkeringat DS : Klien mengatakan jantung berdebar kencang Klien mengatakan ingin pingsan dan pusing Klien mengatakan takut Klien tercekik Resiko tinggi cedera Hipoksia (ibu) organ. Kekurangan volume cairan b/d kehilangan vaskuler berlebihan. Ansietas b/d Ancaman kematian pada diri sendiri. Resiko tinggi cedera (ibu) b/d Hipoksia jaringan / organ. janin. 3. sistem imun. jaringan profil / DO : mengatakan terasa darah kerusakan Diagnosa keperawatan Prioritas 1. .DS : Ibu mengatakan ASI sedikit Ibu mengatakan tangan dan kaki dingin Ansietas Ancaman kematian pada DO : diri sendiri. profil darah abnormal. Perubahan perfusi jaringan utero plasenta b/d Hipovolemia. abnormal. 4.

. Lakukan perhitungan pembalut Timbang pembalut pengalas. laporkan. Peningkatan tekanan abdomen atau orgasme ( yang meningkatkan aktivitas uterus) dapat meransang perdarahan Menjamin keadekuatan darah yang tersedia untuk otak. Posisikan klien dengan tepat. peninggian panggul menghindari kompresi vena kava.Intervensi keperawatan No. Diagnosa 1. dan catat jumlah serta jumlah kehilangan darah. Lakukan tirah baring. Posisi semi. telentang dengan panggul ditinggikan atau posisi semi – fowler. Setiap gram peningkatan berat pembalut sama dengan kehilangan kira-kira 1 ml darah. sensorium tepat dan haluaran serta berat jenis urin adekuat secara individual. Kekurangan volume cairan b/d kehilangan vaskuler berlebihan Tujuan & KH Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 masalah dapat teratasi KH : Mendemostrasikan kestabilan / perbaikan keseimbangan cairan yang dibuktikan oleh tanda-tanda vital stabil. pengisian kapiler cepat. rasional Perkiraan kehilangan darah membantu membedakan diagnosa. Perdarahan dapat berhenti dengan reduksi aktivitas. Intervensi Evaluasi. Hindari posisi trendelenburg.fowler memungkinkan janin bertindak sebagai tanpon. Instuksikan klien untuk menghindari Valsalva manuver dan koitus.

Meningkatkan volume darah sirkulasi dan mengatasi gejalagejala syok. janin berespon pada penurunan kadar oksigen dengan takikardia dan peningkatan gerakan . Mengkaji berlanjutnya hipoksia janin . Pada awalnya . Catat perubahan pada aktivitas janin (hipoaktivitas atau hiperaktivitas) . sesuai indikasi Siapkan untuk kelahiran sesaria. Bila tetap defisit. meskipun sianosis dan perubahan pada tekanan darah. warna menbran mukosa/ kulit dan suhu. nadi adalah tanda-tanda lanjut dari kehilangan sirkulasi atau terjadinya syok Hindari pemeriksaan rectal atau vagina Dapat meningkatkan hemoragi. Auskultasi dan laporkan DJJ . ekspander plasma.Catat tanda – tanda vital Penisian kapiler pada dasar kuku. kemungkinan menyebabkan hipovolemia atau hipoksia uteroplasenta. Perubahan perfusi jaringan utero plasenta b/d Hipovolemia Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam masalah teratasi KH : Mendemonstrasika n perfusi adekuat. dan volume darah. Perhatikan status fisiologis ibu. darah lengkap. khususnya bila plasenta previa marginal atau total terjadi. status sirkulasi. bila ada Membantu menentukan beratnya kehilangan darah. Hemoragi berhenti bila plasenta diangkat dan sinus-sinus vena tertutup. Berikan larutan intravena. dibuktikan oleh DJJ dan aktivitas DBN serta tes nonstres reaktif (NST). catat bradikardia atau takikardia. Ukur tekanan vena sentral. 2. bradikardia dan penurunan aktivitas terjadi. atau sel-sel kemasan. Kejadian perdarahan potensial merusak hasil kehamilan .

Siapkan klien untuk intervensi bedah dengan tepat. Diskusikan situasi dan pemahaman tentang situasi dengan klien dan pasangan. atau bila perdarahan berlebihan . janin Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam masalah dapat berkurang KH : -Mendiskusikan ketakutan mengenai diri. Menandakan tingkat rasa takut yang sedang dialami klien/pasangan. 3. . Ganti kehilangan darah/cairan ibu.Anjurkan tirah baring pada posisi miring kiri. Pantau respon verbal dan nonverbal klien/pasangan. terjadi penyimpangan oksigen janin. dan kelahiran vagina tidak mungkin. Ansietas b/d Ancaman kematian pada diri sendiri. Menghilangkan tekanan pada vena kava inferior dan meningkatkan sirkulasi plasenta/janin dan pertukaran oksigen. Mempertahankan volume sirkulasi yang adekuat untuk transport oksigen. Berikan suplemen oksigen pada klien Meningkatkan ketersediaan oksigen untuk ambilan janin. Pembedahan perlu bila terjadi pelepasan plasenta yang berat. Memberikan informasi tentang reaksi individu terhadap apa yang terjadi.

Pengetahuan akan membantu klien mengatasi apa yang sedang terjadi dengan lebih efektif. gagal ginjal. atau nekrosis hipofisis yang disebabkan oleh hipoksia jaringan dan malnutrisi. Resiko tinggi cedera (ibu) b/d Hipoksia jaringan / organ. hitung SDP. kerusakan sistem imun Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam masalah teratasi KH : Menunjukkan profil darah dengan hitung SDP. Catat suhu. Melaporakan/menu njukkan berkurangnya ketakutan dan/atau perilaku yang menunjukkan ketakutan. Meningkatkan rasa control terhadap situasi dan memberikan kesempatan pada klien untuk mengembangkan solusi sendiri. Jelaskan prosedur dan arti gejala-gejala. Kaji jumlah darah yang hilang. Hb. Pantau tanda/gejala syok Pengetahuan dapat membantu menurunkan rasa takut dan meningkatkan rasa control terhadap situasi. profil darah abnormal. . Dengarkan masalah klien dan dengarkan secara aktif Berikan informasi dalam bentuk verbal dan tertulis dan beri kesempatan klien untuk mengajukan pertanyaan. mengenai ketakutan yang sehat dan tidak sehat. 4. dapatkan kultur bila dibutuhkan Kehilangan darah berlebihan dengan penurunan Hb meningkatkan risiko klien untuk terkena infeksi. dan bau serta warna rabas vagina.janin.Jawab pertanyaan dengan jujur. dan masa depan kehamilan. -Mengungkapkan pengetahuan situasi yang akurat. dan pemeriksaan koagulasi DBN normal. KID. anemia pascapartum. Hemoragi berlebihan dan menetap dapat mengancam hidup klien atau mengakibatkan infeksi pascapartum.

bila diindikasikan Penurunan perfusi ginjal mengakibatkan penurunan haluaran urin Heparin dapat digunakan pada KID di kasus kematian janin. atau kematian satu janin pada kehamilan multiple.Catat masukan/haluaran urin. Berikan heparin. Berikan antibiotic secara parenteral. Catat berat jenis urin. atau untukmemblok siklus pembekuan dengan melindungi factor-faktor pembekuan dan menurunkan hemoragi sampai terjadi perbaikan pembedahan. . Mungkin diindikasikan untuk mencegah atau meminimalkan infeksi.

Jakarta: EGC www. Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta: EGC Sastrawinata.menegpp.DAFTAR PUSTAKA Leveno..00 . Sulaiman.com/2012/03/08/angka-kematian-ibu-di-indonesia-tertinggi-seasean Diunduh pada tanggal 19 Maret 2012 pukul 21..id/aplikasidata/index.go.tribunnews. Jakarta: EGC Manuaba.php?option=com. Kenneth J at al . 2009. Obstetric Patologi Ilmu Kesehatan Reproduksi Ed 2. Ida Bagus Gde. 2004. Diunduh pada tanggal 19 Maret 2012 pukul 21.00 http://www. Obstetri Williams panduan ringkas Ed 21. 2007.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful