P. 1
ANATOMI HIDUNG

ANATOMI HIDUNG

|Views: 2,744|Likes:
Published by Ika RK

More info:

Published by: Ika RK on Mar 20, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/12/2013

pdf

text

original

Sections

  • ANATOMI HIDUNG
  • FISIOLOGI HIDUNG
  • COMMON COLD
  • NASAL ALLERGY ATAU RHINITIS ALLERGICA
  • RHINITIS VASOMATORIKA
  • RHINITIS KRONIKA HYPERTROFIKA
  • POLIP HIDUNG
  • RHINITIS KRONIKA ATROFIKA
  • SINUSITIS
  • SINUSITIS MAXILLARIS AKUTA
  • SINUSITIS FRONTALIS
  • SINUSITIS ETHMOIDALIS
  • SINUSITIS SPHENOIDALIS
  • TRAUMA HIDUNG
  • EPISTAXIS
  • SEPTUM DEVIASI
  • HEMATOMA SEPTI
  • ABSCES SEPTI
  • PERFORATIO SEPTI
  • CORPUS ALLIENUM NASI
  • RHINOLITH (RHINOLITHIASIS)
  • TUMOR GANAS SINUS MAXILLARIS
  • ANGIOFIBROMA NASOPHARYNX
  • TUMOR GANAS NASOPHARYNX

ANATOMI HIDUNG

Hidung dibagi atas: a. Hidung bagian luar b. Hidung bagian dalam c. Sinus paranasalis Hidung bagian luar Bentuk hidung bagian luar menyerupai piramid, puncaknya dikenal sebagai tip atau apex. Dari tip membentang ke atas dan di belakang disebut dorsum nasi, yang kemudian bersatu dengan os frontale membentuk radix nasi. Columella adalah bagian yang turun ke depan bawah tip ke bibir atas. Pada sisi kanan dan kiri, yang dibatasi dari lateral oleh alaenasi, dan dari inferior oleh alaris nasi. Rangka hidung bagian proximal dibentuk oleh rangka tulang, bagian distal oleh rangka tulang rawan, sehingga bagian proximal lebih kokoh dan sukar digerakkan. Kerangka tulang ini merupakan kesatuan dari os nasale dan processus frontalis maxillae. Bagian tulang rawan terdiri dari cartilago septi nasi, yang memegang peranan menentukan tinggi rendahnya hidung seseorang. Sedangkan puncak hidung (tip) dibentuk oleh septalangle dan cartila alaris mayor.

Gambar 1 Kerangka tulang dan tulang rawan ini terikat erat satu sama lain oleh jaringan ikat yang kuat. Otot-otot tipis yang melapisi hidung bagian luar terdiri dari otot-otot dilatator dan otot-otot konstriktor. Kulit yang melapisi hidung bagian proximal lebih tipis dan lebih longgar hubungannya dengan jaringan ikat dan tulang di bawahnya; sedangkan di bagian distal lebih tebal dan lebih erat hubungannya dengan jaringan dan tulang rawan di bawahnya. Bagian distal ini juga banyak mengandung kelenjar-

kelenjar sebaciuus. Vestibulumnasi termasuk hidung bagian luar, karena diisi oleh kulit dan mengandung kelenjar-kelenjar sebacious dan vibrisae. Hidung bagian dalam Terdiri dari cavum nasi yang berbentuk terowongan yang menyerupai piramid, dipisahkan menjadi dua bagian kiri dan kanan oleh septum nasi. Pintu depan dari cavum nasi disebut neres anterior, cavum nasi berhubungan langsung ke belakang dengan nasopharynx melalui choanae atau nares posterior. Cavum nasi itu terdiri dari dinding-dinding lateral, medial, atap dan dasar cavum nasi. a. Dinding lateral. Bagian ini merupakan bagian yang amat penting dan kompleks dari cavum nasi, karena ada hubungan langsung dengan sinus-paranasalis. Pada dinding ini terdapat tiga conchae nasalis, yakni conchae nasalis inferior, conchae nasalis media, dan conchae nasalis superior. Conchae nasalis inferior merupakan tulang yang berdiri sendiri, sedangkan conchae nasalis media dan conchae nasalis superior merupakan bagian dari tulang othmoidalis. Di antara ketiga conchae nasalis ini terbentuk celah-celah yang masing-masing kita kenal sebaai meatus nasi inferior, meatus nasi media yang letaknya antara conchae inferior dan conchae media, dan meatus superior yang letaknya antara conchae media dengan conchae superior.

Gambar 2 Pada meatus inferior terdapat muara dari ductus nasolacrimalis yang menghubungkan saccus lacrimalis dengan cavum nasi. Pada meatus medius dimana terdapat hiatus semilunaris bermuara ketiga ostia dari sinus frontalis, ostium sinus ethmoidalis anterior dan ostium sinus maxillaris. Pada meatus nasi posterior terdapat ostia dari sinus paranasalis kelompok belakang, yakni ostium sinus othmoidalis posterior dan ostium dari sinus

sphenoidalis. Atas dasar hubungan anatomis ini, maka setiap adanya kelainan pada meatus nasi medius, kita harus pikirkan kemungkinan hubungannya dengan kelainan dalam sinus paranasalis kelompok depan sedangkan kelainan pada meatus nasi superior kita harus pikirkan kemungkinan adanya kelainan dalam sinus paranasalis kelompok belakang. b. Dinding medial. Dinding medial cavum nasi adalah septum nasi yang membagi cavum nasi atas dua bagian yang kurang lebih sama besarnya. Septum ini dibentuk oleh lamina perpendicularis ossis ethmoidalis yang merupakan lempeng tulang yang tipis yang menempati bagian belakang atas dari septum nasi; cartilago septi nasi (cartilago quadrilateral) yang terletak di depan, dan vomer yang merupakan tulang yang terletak di belakang bawah dari septum nasi. Kerangka septum ini dilapisi oleh mukosa yang pada umumnya tebalnya tak teratur. Septum nasi pada seorang dewasa jarang yang benar-benar lurus, pada umumnya ada deviasi ringan, yang berupa obstruksi nasi (akan dibicarakan pada bagian patologi).

Gambar 4 c. Atap. Atap cavum nasi merupakan bagian yang tertinggi dan tersempit, dari depan ke belakang terdiri dari os nasale, processus nasalis os frontalis, corpus ethmoidalis, corpus sphenoidalis. Lamina eribrosa dari ethmoid membentuk sebagian besar dari atap cavum nasi, atap dari cavum nasi ini hanya dibatasi oleh tulang yang tipis dengan fossa cranii anterior, sehingga kalau terdapat fraktur pada lamina eribrosa, akan terbuka jalan ke fossa cranii anterior dengan segala akibatnya. d. Dasar cavum nasi. Merupakan atap dari rongga mulut. 2/3 bagian depan dibentuk oleh pars palatina os maxillae, 1/3 belakang oleh pars horizontalis os palatina. Sinus Paranasalis Sinus paranasalis adalah rongga-rongga berisi udara dalam tengkorak, yang dilapisi oleh lanjutan mukosa cavum nasi paranasalis pada kedua sisi kiri dan kanan. Untuk memudahkan pengertian dalam klinik, kita bagi sinus paranasalis dalam dua bagian atau kelompok, yakni kelompok depan dan kelompok belakang. Sinus paranasalis kelompok depan terdiri atas: sinus frontalis, sinus maxillaris dan sinus

n. Dasar sinus maxillaris. Dinding belakang dan bawah bersatu. Di bagian atas tengah dari dinding depan kurang lebih 7 – 8 mm garis infra orbitalis terdapat foramen infra orbitalis dimana berjalan n. Sedangkan pada orang dewasa dasar sinus maxillaris sedikit lebih rendah dari dasar cavum nasi sehingga dasar-dasar dari gigi atas kadang-kadang dapat masuk ke dalam sinus maxillaris. maka sinusitis maxillaris dentogen lebih sering terdapat pada orang dewasa daripada anak-anak. Semua sinus-sinus ini melanjutkan perkembangannya sesudah lahir. Atas dasar hubungan anatomis ini. kelompok belakang terdiri dari sinus ethmoidalis posterior dan sinus sphenoidalis. yakni segment depan bawah setinggi meatus nasi inferior dan segment belakang atas setinggi meatus nasi media. dentalis anterior dan superior. Disebut juga antrum high more merupakan sinus yang terbesar ukurannya. Dinding depan sedikit cekung dan tipis kita kenal sebagai fossa canina. kurang lebih pada umur 6 tahun dimulai dengan extensi langsung dari satu atau lebih sel-sel ethmoidalis anterior.ethmoidalis anterior. pada bulan ke-3 dan ke-4 dari kehidupan fetus. pada orang dewasa kurang lebih berukuran 15 cc dan terletak seluruhnya dalam tulang maxilla. hampir semua sinus paranasalis dimulai sebagai evaginasi (outpocketings) dari selaput lendir meatus nasi. maxillaris berjalan dari atas melalui dinding belakang terus ke bawah ke gigi molar atas. Dari riwayat pembentukannya. Sinus frontalis ini pembentukannya amat terlambat. merupakan permukaan yang lengkung. sedangkan kelompok belakang bermuara pada meatus nasi superior. tetapi sinus ethmoidalis telah mempunyai bentuk yang paling lengkap. Dinding medial atau dinding naso antral dibagi dalam dua segment. dibentuk oleh processus alveolaris dan palatum durum. infra orbitalis yang memberi cabang-cabangnya menjadi n. . dentalis posteriores yang merupakan cabangcabang dari n. Dinding atas atau atap dari sinus maxillaris merupakan dasar dari orbita pada dinding terdapat canalis infra orbitalis. sedangkan sinus sphenoidalis masih amat kecil dan sinus frontalis masih belum terbentuk waktu bayi lahir. Ostia dari sinus paranasalis kelompok depan bermuara pada hiatus semilunaris dalam meatus nasi media. a. diusul oleh sinus maxillaris. Sinus Maxillaris. kecuali sinus sphenoidalis sebagai hasil penguncupan (contriction) dari bagian posterior superior mukosa cavum nasi. dimana bermuara ostium sinus maxillaris. Pada anak-anak dasar sinus maxillaris ini setinggi atau sedikit lebih tinggi dari dasar cavum nasi.

Ostiumnya terletak pada dinding depan atas dari sinus dan bermuara pada meatus nasi superior.b. Dalam perkembangannya sinus frontalis mempunyai berbagai bentuk. misalnya ke tulang frontalis. sedangkan n. Batas atas terdapat fosa cranii anterior. yang bentuknya menyerupai sarang tawon. Kedua sinus ini kiri dan kanan biasanya tak simetris. Terletak di belakang atas cavum nasi di dalam corpus sphenoidalis. Lateral terdapat sinus cavernosus. yang hanya dipisahkan oleh tulang yang tipis dari sel ethmoid. chiasma opticus. opticus bisa amat berdekatan dengan sel-sel sinus othmoidalis posterior. traktus olfaktorius dan lobus frontalis cerebri. Sinus Frontalis. Sinus ethmoidalis ini kita bagi dalam dua kelompok. a. maxillaris. Sinus frontalis ini belum terbentuk waktu anak lahir. yakni sinus ethmoidalis anterior dan posterior. d. . kiri kanan jarang simetris dipisahkan oleh septum yang sangat tupis dan kadangkadang septum tak terbentuk dengan baik. Sinus Sphenoidalis. sedangkan dasarnya dengan orbita. maka sel-sel dari sinus ethmoidalis dapat masuk ke dalam tulang sekitarnya. Cranii terdapat hypophyso. c. Terdiri dari 7 – 15 rongga-rongga yang dibatasi oleh dinding yang sangat tipis. Ukuran rata-rata pada orang dewasa sebesar 7 cc. Anterior inferior berjalan syaraf-syaraf dan pembuluh darah yang keluar dari foramen sphenopalatina waktu menuju ke septum nasi. pembentukannya dimulai pada anak umur 6 tahun. tetapi jumlahnya lebih banyak. dan terletak di dalam massa lateral dari tulang ethmoid. Topografi. sedang sinus ethmoidalis posterior ostiumnya bermuara pada meatus nasi superior. Sinus ethmoidalis anterior bentuk sel-selnya lebih kecil. Kadang-kadang menempati sampai alas sphenoidalis dan processus pterigoideus dari os sphenoidalis. Kalau pneumatisasi luas. Bilateral dipisahkan dengan orbita oleh lamina papiracea yang sangat tipi. Sinus Ethmoidalis. dan sphonoidalis. opticus. sedangkan sinus ethmoidalis posterior sel-selnya lebih besar dan jumlahnya lebih sedikit. yang dianggap sebagai extensi langsung dari satu atau lebih sel-sel othmoidalis anterior ke dalam os frontalis. Dinding belakang dan atap dari sinus frontalis berbatasan dengan fosa oranii anterior. carotis interna dan n. kurang lebih 5% dari orang dewasa yang tak mempunyai sinus frontalis. Sinus ethmoidalis anterior ostiumnya bermuara pada meatus nasi media. Topografi. kadang-kadang yang satu lebih besar dan overlapping ke sisi yang lain.

kecuali dekat pada ostium sinus paranasalis menuju ke ostia masing-masing. Oleh karena itu mudah dipahami bagaimana penyebaran infeksi dari satu daerah ke daerah lain mudah terjadi. dengan melalui ganglion sphenopalatina. Bentuk epithel pada bagian ini adalah “non-cilliated columnar epithelium”. sehingga mudah dicapai dalam pemberian lokal anesthesia. trigemanus yakni n. Pada bagianbagian tertentu dari daerah respiratorius amat tebal. ukurannya lebih tipis dan mengandung lebih sedikit kelenjar-kelenjar. vidianus sebelum sampai pada ganglion sphenopalatina (lihat gambar). yang ditempati oleh conchae superior dan bagian septum yang berhadapan. terutama pada conchae inferior. Daerah respiratorius mengisi seluruh bagian yang terletak di bawah dari daerah olfaktorius. Letak dari ganglion di dalam fossa pterigopalatina berdekatan dengan foramen sphenoplatina. trigeminus. trigeminus yakni n. Daerah olfaktorius terbatas pada bagian atas dari cavum nasi. Cabang pertama dari n. ophthalmicus membawa serabut-serabut afferent ke bagian depan dan bawah cavum nasi. Persyarafan Persyarafan dari cavum nasi berasal dari cabang pertama dan cabang kedua dari n. petrosius superfacialis mayus. Ganglion ini mempunyai arti klinik penting pada cavum nasi. yakni daerah olfaktorius dan daerah respiratorius. dan terdiri dari dua bentuk sel yang utama. maxillaris juga menerima serabut-serabut parasympathis dari n. dan kaya akan pembuluh darah. syaraf-syaraf dan kelenjar-kelenjar. Kedua daerah ini histologis berbatas jelas. Terdapat beberapa kelenjar-kelenjar serous yang dikenal ebagai kelenjar Bowmani yang berbentuk tubuler. dan seravi petrosus ini bersatu membentuk n. Mukosa ini secara langsung berhubungan dengan nasopharynx.Histologi Rongga hidung dilapisi oleh mukosa yang berbentuk “columnar pseudostratified cilliated epithelium”. maxillaris membawa serabut-serabut afferent ke bawah dan belakang dari cavum nasi. walaupun tak teratur. Cabang kedua dari n. saluran limfe. karena . Mukosa sinus paranasalis merupakan lanjutan dari mukosa cavum nasi. sinus paranasalis. yakni sel-sel penyokong dan sel-sel olfaktorius. Serabut-serabut offerent dari n. Mukosa cavum nasi ini dibagi dalam dua daerah. Ia secara tak langsung berhubungan dengan cavum tympani. yang kaya akan pembuluh darah.

maxillaris externa. Cervicalis superior profunda menampung cairan lymfe dari cavum nasi bagian belakang. cabang dari a. maxillaris interna mensuplai darah ke bagian belakang atas cavum nasi. A. opthalnica yang berasal dari a. Submandibularis menampung aliran limfe dari hidung luar dan bagian depan cavum nasi. Aliran Lymfe Gl. carotis internal yang memberi darah pada atap dari cavum nasi. Labialis superior merupakan cabang dari a. Pengertian aliran lymfe ini penting untuk menerangkan pembesaran kelenjar regioner. A. kemudian berjalan ke depan septum nasi dan ke lateral ke conchae nasalis. baik secara langsung atau melalui gl. Cabang pharyngeal dari a. naik dari bibir atas ke bagian depan dari septum nasi dan vestibulum nasi. Sphenopalatina cabang dari a. maxillaris interna memberi darah ke sinus sphenoidalis. Infra orbitalis dan dentalis superior. retropharyngeal. Mukosa sinus paranalis menerima serabut-serabut sensoris melalui ostia sinus paranasalis masing-masing. Vascularisasi A. . Ethmoidalis anterior dan posterior merupakan cabang dari a. hubungannya dengan infeksi pada hidung atau adanya keganasan pada hidung. Sedangkan sinus frontalis dan sinus ethmoidalis diperdarahi oleh a. Gl. Palatina decedens cabang dari a. sphenopalatina. maxillaris interna memberi darah ke sinus maxillaris. maxillaris interna yang melewati canalis incisivus beranastomose dengan a. sinus ethmoidalis dan sinus frontalis. Pembuluh-pembuluh ini beranastomose membentuk plexus Kieselbach yang terletak di anterior inferior septum nasi.foramen sphenopalatina letaknya tepat di belakang atas ujung belakang dari conchae media. A. ethmoidalis anterior dan posterior. FISIOLOGI HIDUNG Boies membagi fungsi hidung dalam fungsi Primer dan fungsi Sekunder. yang juga disebut Little’s area. A.

Air conditioning Rongga hidung dapat dipandang sebagai “air conditioning” dari paru-paru. Tentu saja jumlah udara yang diuapkan berbanding terbalik dengan kelembaban udara di luar. Temperatur pada conchae inferior kurang lebih 320C. 3) Pengaturan temperatur. 1) Aliran udara. Pada umumnya udara yang mengalir itu melalui bidang vertikal dari hidung dan sebagian melalui meatus nasi (lihat gambar). a. Aliran udara ini amat halus dengan putaran dan gesekan yang minimal. kelembaban dan pembersihan udara sebelum masuk ke paru-paru. ini berarti sekitar 1/25 ccc per satu kali respirasi. dimana terjadi penguapan yang lebih besar. dibanding dengan 360 sampai 370C pada nasopharynx. Penguapan ini terjadi pada permukaan musoca blanket yang melapisi seluruh cavum nasi. Sedangkan udara yang diexpirasi. sehingga kelembaban sesuai dengan kebutuhan tubuh. agar pertukaran O2 dan CO2 dapat berlangsung dengan aman di dalam alveoli paru-paru. Misalnya pada waktu musim panas dengan udara yang basah dan lembab.000 cc per 24 jam. maka udara yang menguap dalam cavum nasi relatif kecil. temperatur. bila dibandingkan dengan musim dingin dengan udara yang sangat kering. Perjalanan udara dalam cavum nasi hanya 1 sekond. Udara dalam cavum nasi itu diproses sedemikian rupa. arahnya terbalik dengan aliran udara dan mengalir dalam cavum nasi. Panas yang dibutuhkan bersumber dari penyebaran aliran darah yang cepat dari jaringan sub epithelial pada conchae dan septum nasi. Arah udara yang keluar dan masuk ke dalam sinus paranasalis. pada waktu yang singkat ini kelembaban relatif dari udara setibanya di nasopharynx kurang lebih 75% . sebagian kecil terpecah dalam bentuk putaran. 2) Pengaturan kelembaban. yang mengatur aliran udara. kemudian keluar melalui vestibulum.Fungsi Primer Fungsi primer adalah air conditioning dan penciuman. Aliran udara yang masuk dalam hidung dalam bentuk parabolik yang naik setinggi conchae media kemudian turun ke nasopharynx. . Pengaturan temperatur terjadi bersamaan dengan pengaturan kelembaban.80% dikatakan bahwa jumlah air yang diuapkan dalam cavum nasi kurang lebih 1.

Axon dari “senso colls” dikumpulkan menjadi satu dalam bentuk serat syaraf yang melalui lamina cribrosa ke dalam bulbus olfaktorius. Pada binatang fungsi penciuman ini amat penting. dengan tekanan relatif yang tak lebih dari 5%. Benda-benda asing akan bersentuhan dengan sekret dan melekat pada mucous blanket. maka akan dilemparkan keluar melalui reflex bersin. menyebabkan adsobsi dari kuman-kuman dan benda asing lainnya. 4) Pembersihan udara (lihat fungsi sekunder hidung) Pembersihan udara dalam hidung dilakukan oleh vibrisae mucous blanket cillia dan enzym lyzozym. yang mengatakan bahwa partikel-partikel disebar dengan jalan difusi melalui udara. b. dapat diubah menjadi sama dengan temperatur badan dan pada waktu yang bersamaan tekanan relatif harus kurang lebih 75% atau 80%.000000005 ml udara masih tercium oleh manusia. kemudian hanya dalam ¼ detik dalam cavum nasi. Proses bagaimana sesuatu bau dapat dicium. Axon dari sel-sel ini membentuk traktus olfaktorius yang menuju ke otak. Ada dua teori yang dikemukakan mengenai hal ini: 1) Chemical Theory. Walaupun demikian menurut McKenzie vanili dalam jumlah 0. sampai sekarang belum jelas. yang terdapat di daerah olfaktorius yang terbentang di atas dari conchae media sampai ke atap dan daerah septum yang berhadapan. karena ketajaman penciuman dipakai untuk mempertahankan diri dan untuk mencari makanan. Pavlov mengadakan percobaan pada binatang. Jadi kalau ada gangguan dalam . yang mengatakan bahwa ada satu gelombang energi yang menyerupai cahaya merangsang ujung syaraf olfaktorius.Coba saudara bayangkan sebentar. Bila sesuatu benda terlalu merangsang. Kemungkinan ada suatu potensial elektris pada permukaan dari mukosa hidung. kemudian terjadi reaksi kimia waktu tiba pada permukaan epithel olfaktorius. Pada pokoknya semua benda-benda asing akan diubah dalam mucous blanket. 2) Theory Undulasi. dan terjadi reaksi. dan berkesimpulan bahwa indera penciuman diperlengkapi dengan stimulus untuk reflex sekresi cairan lambung. Indera Penciuman Dalam bidang klinik fungsi ini relatif kurang penting bila dibandingkan dengan fungsi pertama. bila pada musim dingin. dimana udara beberapa derajat di bawah nol dan kering. Sel penciuman adalah sel syaraf bipolar yang termasuk dalam susunan syaraf pusat yang sampai pada permukaan tubuh.

Mucous blanket dalam hidung dan sinus paranasalis didorong ke nasopharynx oleh cilia. virus-virus dan bahan-bahan patologik lainnya. sehingga dapat dikatakan bahagian belakang dari hidung. Hal ini penting. artinya dapat membunuh bakteri dan menghancurkannya. penemu penicillin. Fungsi Sekunder Fungsi ini terutama memberikan perlindungan. Juga dapat disebabkan adanya tumor yang dapat menekan bulbus olfaktorius atau traktus olfaktorius sehingga transmisi ke otak terhalang. Mucous blanket ini terus bergerak didorong oleh cilia dan amat lengket. tuba auditivae. bakteri-bakteri. Aktivitas ini begitu menakjubkan. bahwa acetylcholine mungkin berperanan mengontrol pergerakan cilia. sehingga mekanisme pembersihan diri dari hidung tetap berjalan sempurna. pharynx dan seluruh cabang-cabang bronchus. artinya tak bergantung dari impuls syaraf. atau pada choanae praktis steril. Mucous blanket adalah suatu zat yang terdapat pada permukaan mukosa hidung. Di dalam mucous blanket ini juga terdapat lysozym sejenis enzym yang pertama kali ditemukan oleh Flemming. dan diperbaharui oleh kelenjar-kelenjar sekurang-kurangnya 2 sampai 3 kali setiap jam. sehingga partikel-partikel dengan sentuhan yang ringan saja dapat melekat dengan baik.fungsi penciuman yang disebut hyposmia atau anosmia hal ini dapat disebabkan adanya proses degeneratif pada ujung-ujung syaraf atau karena gangguan transmisi dari partikel-partikel bau-bauan terhalang tak sampai pada area olfaktorius. Yang memegang peranan dalam mekanisme pembersihan ini adalah selimut lendir (mucous blanket). Di atas telah disinggung. bahwa nilai konstant dari pH penting untuk dijaga agar pergerakan cilia terjamin. harus bebas dari segala kotoran yang tertimbun pada permukaan mukosa hidung. pH dari mucous blanket kurang lebih (7) atau netral. yang mempunyai sifat bakterialitis. Beberapa peneliti mengemukakan. Pada pokoknya udara inspirasi harus dipersiapkan dulu secara aman sebelum masuk dalam paru-paru. Pergerakan cilia adalah fungsi primitif. untuk mempersiapkan udara sebelum masuk ke dalam paru-paru. Faktor-faktor yang dapat meruak pergerakan cilia: . karena cilia tak dapat berfungsi baik dalam pH terlalu banyak menyimpang dari 7. yang membentuk satu lapisan yang menyeluruh pada setiap ruangan hidung. pergerakan ini adalah pergerakan otomatis. cilia dan enzym lysozym. dan dijaga selalu konstant. sinus paranasalis.

Air conditioning. ada beberapa teori yang dikemukakan antara lain: a. Cairan hypotonik atau hypertonik. Fungsi Sinus Paranasalis Fungi sinus paranasalis belum jelas. Panas yang berlebihan atau dingin yang berlebihan. Perlangsungannya biasanya cukup singkat dan ringan. d. Gustatorius Fungsi pengecapan juga dipengaruhi oleh hidung. tetapi kalau dipakai lama dapat mengganggu pergerakan cilia. sekarang dianggap peranan ini kurang penting.a. f. Phonasi Fungsi ini penting dalam mengeluarkan suara. e. Obat-obatan. misalnya cocain suatu anasthetikum dan vasokonstriktor yang baik. Misalnya kalau ada penyumbatan hidung dan sinus paranasalis suara akan berubah jadi sengau. c. b. Berperanan untuk mengatur resonansi suara. hal ini kita dapat saksikan bila ada obstruksi nasi. misalnya pada central heating yang berlebihan. Di samping fungsi primer dan sekunder kita kenal juga fungsi lain dari hidung yang mencakup phonasi dan Gustatorius. b. . Exposed terhadap udara yang kering. Adrenalin juga mempunyai efek yang sama. maka aroma dari makanan akan hilang. COMMON COLD Common cold adalah peradangan mendadak dari mukosa cavum nasi yang disebabkan oleh filtrable virus. Seperti kita ketahui intialtones dihasilkan oleh getaran pita suara atau chorda vokalis. walaupun peranannya hanya sedikit bila dibandingkan dengan mukosa cavum nasi. b. sedangkan over tones dihasilkan oleh hidung dan sinus paranasalis. Penyimpangan setempat dari aliran udara. Sinus paranasalis memperluas permukaan untuk fungsi primer dari hidung. a. dapat menyebabkan pengeringan setempat sehingga terjadi stase dari cilia. Keasaman. atau gangguan turbulensi udara setempat dalam hidung.

bukan karena beratnya penyakit atau tingginya angka kematian. . dapat bersifat epidemis. atau alat-alat yang tidak bersih. maka rhino viruslah dianggap sebagai penyebab utama dari common cold. tetapi terutama menyerang pada anak-anak pra sekolah dan pada musim dingin. misalnya kissing. Penyakit ini merupakan penyakit menular yang tersebar luas di seluruh dunia. Sekarang telah diketahui ada lima kelompok virus patogenik sebagai penyebab common cold: a. Andrews dkk pada tahun 1960. batuk. Etiologi Telah diterima secara umum. makanan. Kruse pada tahun 1914 pertama kali menemukan filtrable virus sebagai penyebab common cold. dapat menyebarkan sejumlah besar air-bone partikel. sekarang telah jelas. Picorna viruses 1) 2) 3) 4) Rhino virus Coxsackie virus Reo virus ECHO virus b. diikuti infeksi sekunder oleh bakteri. bahwa common cold disebabkan oleh infeksi filtrable virus. yang kita kenal sebagai self limiting. Para influenzal viruses e.S) Di antara berbagai macam virus ini. menyerang pada setiap umur dan dapat terjadi pada setiap musim. jari tangan. Kontak langsung. telah mengisolir 20 strain virus (mungkin lebih lagi) dari penderita-penderit dengan common cold. dimana penyakit ini dapat menghilangkan daya dan jam kerja yang cukup besar dari sekian banyak tenaga kerja. Respiratory syncytial viruses (R. Cara pemindahan Melalui droplet infection. Penyakit ini dianggap sangat penting. tetapi oleh karena kerugian ditinjau dari sudut ekonomi. Adeno viruses c.dapat sembuh tanpa pengobatan. bahwa penyebabnya bukan hanya satu jenis virus. Influenza viruses d. bersin. tetapi oleh berbagai macam virus. misalnya sedang bercakap-cakap.

Insiden/frekuensi Di Indonesia kita belum mempunyai data-data mengenai insidens dari common cold. bahwa betapa besarnya kerugian akibat dari penyakit ini. Dikatakan bahwa kesegaran jasmani amat penting untuk meninggikan tahanan tubuh. . peranan vitamin D terhadap metabolisme calcium dan permeabilitas kapiler. Pada individu-individu tertentu yang hypersensitif terhadap makanan tertentu. Sedangkan di antara pekerja industri hampir satu juta buruh beristirahat dari pekerjaan dalam setahun di antara 60 juta tenaga kerja. c. Nutrisi. umumnya lebih rentan akan common cold. sehingga lebih rentan terhadap common cold. Di Amerika terutama pada bulan Oktober dan awal bulan Januari. Di Amerika pada musim dingin. Waktu inkubasi Berkisar satu sampai tiga hari Waktu berjangkit Dapat terjadi beberapa jam sebelum timbulnya gejala-gejala. f. Faktor predisposisi Ada beberapa faktor yang mempermudah terjadinya infeksi common cold antara lain: a. Penyakit ini terutama berjangkit pada musim dingin. dapat merendahkan tahanan tubuh. rata-rata 15% penduduk terserang per minggu. Kelelahan atau keletihan.6 hanya terserang common cold empat kali setahun. e. sebagai contoh: terdapat 64% dari mereka yang mempunyai fitness 0. d. Keadaan lingkungan. b. ditinjau dari sudut ekonomi. bahwa insidens tertinggi pada anak-anak dan terendah pada orang tua 55 tahun ke atas. Defisiensi vitamin A dan C dari peranan mereka terhadap proses oxygenerasi jaringan. suhu dan kelembaban. Dari angka-angka ini kita dapat melihat. Mereka yang menderita malnutrisi. Dari statistik di Amerika melaporkan. kemudian turun dengan cepat setelah gejala-gejala menurun. dan terjadi reflex vasokonstruksi dari mukosa hidung. Misalnya keadaan kedinginan akan terjadi penurunan daya tahan tubuh terhadap infeksi. Iklim. Masa berjangkit puncaknya terjadi pada 1 – 3 hari pertama. hal ini semua berperanan terhadap pertahanan lokal dari jaringan terhadap infeksi. Defisiensi Vitamin. Diestetis..

Ia dapat menghambat pertumbuhan virus tetapi tak menghancurkannya. encer. Kemudian diikuti oleh infiltrasi leukosit pada jaringan dengan pembengkakan dan desquamasi dari sel-sel epithel. Rhino virus dapat dihancurkan dengan pH rendah (asam). sehingga mempermudah infeksi common cold. j. Kekebalan Dari laporan beberapa penulis. Lamanya kekebalan setelah infeksi common cold. hepar. bahwa kurang lebih 40 – 70% dari penduduk yang kebal terhadap penyakit ini. D. . setiap penyakit. i. yakni suatu protein dasar yang mempunyai efek antivirus. akibatnya mudah terjadi infeksi. yakni suatu protein dasar yang non spesifik. tetapi kemudian akan berwarna hijau dan bertambah kental dan mengandung banyak bakteri. Ternyata pada orang ini terdapat “specific neutralizing antibodies” dalam darah yang merupakan faktor yang berperanan dalam sistem pertahanan tubuh ini. masih ada beberapa mekanisme pertahanan dalam hidung untuk menolak infeksi tersebut antara lain (lihat fisiologi hidung): Vibrissae pada vestibulum nasi.M. misalnya terjadi obstruksi nasi karena deviasi septi atau sebab lain. ada yang mengatakan sampai beberapa minggu atau bulan. daya tahan dari selsel epithel interferon.g. selimut lendir dengan lisozymnya. Adanya sarang infeksi pada sinus paranasalis.. h. Kelainan anatomis hidung. nasopharynx. menunjukkan kurangnya jumlah bakteri. pH dari sekret hidung kalau ada penyimpangan ke pihak asam. kalau basa berarti banyak kuman dalam sekret hidung. tuberkulosa dapat merendahkan tahanan tubuh. Dapat dikatakan sebagai antibiotika dari virus. Sekret mula-mula jernih. malahan ada yang mengatakan dapat tahan sampai dua tahun. Titer antibodi dapat dipertinggi dengan vaksinasi. atau pharynx. semuanya dapat menghalangi ventilasi dan aliran udara dalam cavum nasi dan juga dapat menghalangi pengaliran sekret dari mucous blanket. tetapi terutama penderita dengan penyakitpenyakit ginjal. dapat menurunkan tahanan jaringan sehingga mudah mendapat infeksi common cold. Patologi Pada awal infeksi terjadi vasokonstruksi yang kemudian diikuti oleh vasodilatasi oedema dan peningkatan aktivitas dari kelenjar-kelenjar seromusin dan sel Goblet. Di samping faktor kekebalan ini. Antibodies ini bersifat spesifik dan tidak ada kekebalan silang dengan jenis lain. masih ada beberapa hari saja. Penyakit umum.

Komplikasi Nasopharynx dan pharyngitis. Penyembuhannya terjadi setelah berlangsung 5 sampai 10 hari. b. proses ini dapat berlangsung beberapa jam sampai beberapa hari. d. Para ahli telah mencoba memberikan immunitas buatan dengan cara pemberian vaksinasi. sinusitis. Stadium prodromal atau stadium ischaemia. merupakan serangan lokal. malaise. warna selaput lendir akan lebih gelap dan keabu-abuan. Stadium ini ditandai dengan perasaan kering pada nasopharynx. pneumonia. tonsilitis. obstruksi nasi lebih menonjol dan gejala toxemia mencapai puncaknya. bersin-bersin. c. Pada prinsipnya menghindari penularan baik secara langsung maupun tak langsung. Diagnosa Banding Influenza. otitis media. pharyngo-tympanic salphingitis. nyeri tekan. terdapat sedikit gangguan umum dan toxemia ringan berupa subfebril. artinya dapat sembuh sendiri dengan tanpa pengobatan. Vaksinasi ini dapat diberikan secara oral atau parentral. pada anak-anak atau bayi dapat menyebabkan gastro-enteritis dengan gejala diarrhoe dan muntah-muntah. laryngotracheitis. tetapi dapat meringankan dan memendekkan perjalanan penyakit dan dapat mencegah terjadinya komplikasi. c. Vaksinasi. Mengurangi atau menghilangkan faktor predisposisi. anorexia dan cephalalgia. sekarang menyebar pada selaput lendir sekitarnya melalui cairan lymfe. Perlangsungannya kita bagi dalam 4 stadia: a.Gambaran Klinik Perjalanan penyakit bersifat selflimiting. Terjadi ischaemia dalam mukosa hidung yang ditandai dengan perasaan panas kering pada hidung dan nasopharynx. bronchitis. rhinitis allergica akuta dan rhinitis exanthematica Pencegahan a. b. Stadium ini berlangsung hanya beberapa jam. Stadium iritasi atau stadium akut. Sampai sekarang hasil dari vaksinasi belum dapat mencegah terjadinya common cold. Setelah hari kedua atau ketiga. sekret berkurang tetapi kental. Infeksi yang pada mulanya lokal. Stadium penyembuhan. Gejala-gejala subyektif dan obyektif mulai berangsurangsur mengurang. Selaput lendir merah dan oedem. Stadium stase vena dan infeksi sekunder. rhinorrhoe encer dan obstruksi nasi. .

Protargoli 1 – 2% (lihat syarat-syarat obat tetes hidung). expectorantia. antihistaminica. tetapi pada seseorang yang allergia akan menyebabkan keluhan-keluhan atau perubahan-perubahan dalam jaringan tubuh. misalnya HCl. Pada seseorang yang normal kontak dengan bahan-bahan tadi tidak menyebabkan/menimbulkan keluhan-keluhan atau kelainan-kelainan.Pengobatan Sampai sekarang belum ada pengobatan spesifik untuk common cold. Antibiotika dapat diberikan sebagai cadangan untuk mencegah komplikasi. Ada yang menganjurkan minum sedikit alkohol. Untuk menghilangkan obstruksi nasi dapat dipakai obat tetes hidung sebagai vasokonstriktor. sedangkan tempat dimana reaksi allergi itu terjadi kita sebut “shock tissues”.C. C. Neozep dan lain-lain. Bahan-bahan tertentu yang menyebabkan keluhan-keluhan atau kelainankelainan tadi kita sebut allergen. sehingga amat berguna untuk melawan vasokonstruksi perifer pada common cold. antara lain yang kita kenal adalah A. mandi dengan air panas atau steam bath. NASAL ALLERGY ATAU RHINITIS ALLERGICA Pendahuluan Allergi adalah suatu keadaan hypersensitif dari seseorang terhadap zat-zat tertentu baik yang berasal dari tubuh maupun yang berasal dari luar. misalnya whisky. analgetica antipyretica. Obat tetes hidung jangan dipakai terlalu lama. Ephedrin 1% dicampur dengan Sol. karena alkohol berkhasiat sebagai sedativa dan dapat menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah. . Stop Cold. tetapi pengobatan baik lokal atau umum yang bersifat symptomatis cukup membantu meringankan dan mencegah komplikasi. Procold. Mengenai makanan sebaiknya makanan lembek dan hangat-hangat kuku. Kombinasi dari obat-obat ini bermacammacam. Obat-obatan symptomatis yang sering dipakai untuk melawan common cold biasanya terdiri dari sedativa. Decolgen. dengan menghirup uap air yang merupakan campuran dari 1 pint (= 0.P. vasokonstriktor dan vit. Pengobatan lokal. Pengobatan umum terutama ditujukan untuk memperoleh keadaan yang terbaik untuk istirahat.568 l) uap air dengan 1 sendok teh tinct benzoicum. tak boleh melampaui dua minggu. uap air ini dihirup melalui hidung.

Endoktrin. Faktor predisposisi 1. misalnya faktor temperatur. Reaksi ini dapat menerangkan proses patologik yang terjadi pada TBC. yang kita akan bicarakan kemudian (Atopic Allergy Disease). pergerakan udara dan keadaan ion udara dapat mempengaruhi berat ringannya suatu reaksi allergi misalnya pada asthma dan nasal allergi. eczema. misalnya sesuatu serangan asthma sering didahului oleh sesuatu infeksi akut. . Pada waktu haid. Trauma. Atopic hypersensitivity. 6. Resistensi phisik dan kimia dari jaringan. Hal ini dapat kita lihat. vitamin C dan D mempertinggi permeabilitas kapiller dan oedems. misalnya pembentukan tuberkel. sebaiknya diingatkan kembali ada tiga jenis utama reaksi hypersensitivitas yang kita kenal sebagai berikut: a. merupakan faktor predisposisi yang penting.Sebelum kita membicarakan nasal allergy. Hal ini amat penting memegang peranan dalam reaksi allergi. bahwa berat ringan reaksi ini pada setiap orang tidak sama. dan dysfungsi ovarium semuanya cenderung mempertinggi reaksi allergi. tekanan barometrik. yang allergic. c. Kekurangan calcium. Delayed hypersensitivity. tetapi kadang-kadang kita jumpai reaksi allergi pada orang post-operatif. 3. Reaksi ini dapat terjadi pada setiap orang sebagai hasil dari satu reaksi antigen antibodi bila antigen (misalnya dari serum kuda) disuntikkan kepada orang yang sebelumnya telah menjadi peka. Reaksi ini timbul pada orang-orang tertentu yang padanya bila exposed terhadap antigen tertentu akan terbentuk “reaginic antibodies”. Jenis hypersensitif inilah yang berhubungan dengan nasal allergy. b. Faktor ini kurang penting. 4. atau produknya dalam sel-sel jaringan. Herediter dan konstitusi. 50% dari penderita-penderita. memberikan riwayat adanya allergi pada keluarga. Anaphylactic hypersensitivity. 5. 2. Berbeda dengan kedua jenis di atas. Aksi langsung dari bakteri dan virus. Infeksi dan intoksikasi. menopause. nasal allergy. Orang-orang yang telah menjadi peka bila exposed lagi terhadap antigen yang sama akan terjadi manifestasi allergi seperti asthma. sinar matahari. Keadaan musim. Berbeda dengan keadaan pertama. reaksi ini merupakan reaksi tubuh yang normal dan dapat terjadi pada setiap orang walaupun diakui. dimana reaksi ini tidak bergantung pada antibodi tetapi pada lymphosit yang telah dibuat peka. kelembaban.

sedangkan pada penderita dengan allergi menunjukkan konsentrasi IgE meninggi (6 kali). kemudian pada tingkat provokasi allergen berkombinasi dengan cell-bound reaginic antibodies akan menghasilkan satu seri reaksi enzym yang melepaskan histamin dan vasoactive aminos misalnya serotonin. yang khas adalah sel-sel eosinophil. kadang-kadang merupakan satu-satunya faktor penyebab. di samping sel-sel plasma dan lymphosit. maka perhatian tertuju pada terbentuknya “reaginic antibodies” yang berhubungan dengan satu jenis immunoglobulin yakni immunoglobulin E (IgE). d. Mekanisme terjadinya allergi Karena atopic hypersensitivity hanya terjadi pada orang-orang tertentu. Infiltrasi sel-sel. akan terjadi perubahan-perubahan berupa penebalan jaringan ikat yang permanen. menghasilkan sekret yang encer dan jernih seperti air. terjadi oedema dan kadang-kadang polip.7. Faktor ini memegang peranan penting dalam kebanyakan dari penderita allergi. Dilatasi pembuluh darah dan meningginya permeabilitas kapiller. Terjadi infeksi sekunder dengan bakteri sehingga sekret berubah menjadi mukopurulent. bahwa proses sensitisasi mencakup kombinasi dari IgE antibodi dengan sel-sel (misalnya sel-sel basophil.E. acethylcholine. Aktivitas dari kelenjar-kelenjar seromucinosa meninggi. Kalau proses ini berlangsung lama dan berulang-ulang. pada penderita-penderita allergi. brandykinin. Derajat oedema ini bergantung pada densitas stroma jaringan-jaringan ikat pada anyaman kapiler di bawah membrana basalis. menghasilkan “cell-boud reaginic antibodies”. mast sel) dalam sistem R. Faktor psychis. dan bersamaan dengan ini terjadi peninggian permeabilitas kapiler dan dilatasi pembuluh darah. Satu hal yang menarik pada orang-orang normal. Perubahan-perubahan patologi apakah yang terjadi akibat suatu allergi dalam hidung? Perubahan-perubahan itu berupa: a. b. Klasifikasi nasal allergi Sampai sekarang kita masih belum sependapat mengenai terminologi yang tepat dari nasal allergi. atau sebaliknya sebagai akibat dari reaksi allergi yang membawa penderitaan yang lama. Mungkin kita terlalu banyak mempergunakan istilah nasal . Stanworth pada tahun 1969 mengemukakan. kadar IgE normal dalam serum rendah.S. sebagai predisposisi. c. dapat menyebabkan gangguan psychis.

conjunctiva dan bronchus. Walaupun kedua keadaan ini secara klinik sukar dibedakan. Allergen-allergen di bawah ini dapat merupakan penyebab dari perenial nasal allergy: 1) Inhalants. obstruksi nasi. Tetapi bagi kita di sini dimana fasilitas laboratorium. pharynx. Iritasi pada mata yang menimbulkan epiphora. Pada orang dewasa biasanya diebabkan oleh inhalants sedang pada anak-anak (early childhood) disebabkan oleh makanan. Di Eropa penyakit ini menyerang pada bulan-bulan Maret. Allergen dapat terdiri hanya dari satu jenis atau multiple. Seasonal allergy. epidermis manusia dan lain-lain. atas dasar pemeriksaan yang teliti. maka kita mencampurbaurkan kedua keadaan ini. 3) Kontaktans. termasuk debu rumah. kapuk. atau bidang allergologi belum ada. 5) Obat-obatan . selimut. terutama pada keadaan rumah yang lembab atau ventilasi yang kurang baik. 2) Ingestan. udang.allergi atau allergic rhinitis terhadap sesuatu keadaan yang kita sebut vasomator rhinitis atau vasomator instability. termasuk susu. kembang-kembang. hanya dipakai benar-benar ada antigen antibodi reaksi. epidermis binatang. b. Pada pemeriksaan terlihat kemerah-merahan pada vestibulum nasi. Di klinik nasal allergi kita bagi dalam dua type yaitu seasonal type dan perenial type. parfum. misalnya kosmetika. a. Maka dianjurkan penggunaan istilah nasal allergy. kacang-kacangan dan lain-lain. biji-bijian yang mengenai selaput lendir hidung. kepiting. tetapi etiologinya sangat berbeda. Gambaran klinik bersifat akut Perasaan gatal pada hidung dan bersin-bersin yang berupa seri yang bersifat paroximal. pneumococ. staphylococ. Perhatian khusus pada debu rumah. mukosa cavum nasi oedema pucat dan basah kadang-kadang hyperaemia. karena di sini dapat mengandung berbagai benda asing seperti jamur-jamur atau mitos (dermatophagoides pteronys sinus). rhinorrhoe encer seperti air. April dan Mei. Adalah nasal allergy yang spesifik terhadap rumput/sari pollen. telur. 4) Bakterial allergen. Bila mukosa disentuh amat sensitif dan terjadi serangan bersin-bersin dan mengeluarkan sekret yang profus. misalnya streptococ. bulu-bulu binatang. Perenial nasal allergy Allergy disebabkan oleh faktor exogen (exogenous allergen).

Pemberian obat-obat antihistaminika. 3) Leukopenik Index.Gambaran Klinik Kurang lebih sama dengan seasonal nasal allergy. kemudian setelah dua minggu kita berikan makanan lain dan seterusnya. hanya di sini pada umumnya tak terlalu akut. tentu saja orang itu kita larang untuk makan makanan tersebut. Diagnosa Diagnosa didasarkan atas: a. 2) Eliminasi dari allergen. Cara intradermal 100 kali lebih sensitif daripada cara-cara penggoresan. Pemeriksaan physis termasuk rhinoskopia anterior. penyuntikan intradermal atau intrakutan.000 per ml setelah allergen menunjukkan adanya hypersensitivitas. tetapi tidak untuk ingestant atau injectant. Index ini dipakai untuk diagnosa allergi terhadap makanan. sebelumnya telah kita singgung bahwa eliminasi mempunyai nilai yang diagnostik. Sebagai contoh bila seseorang telah diketahui allergi terhadap makanan udang atau kepiting. c. pada conjunctiva. dapat dilakukan pada kulit dengan scratch method (menggores) diteteskan pada mukosa hidung. termasuk pemeriksaan Ro dari sinus paranasalis. Pengobatan a. . Dapat juga dilakukan provokasi test makanan tertentu. rhinoskopia posterior dan pemeriksaan THT yang lengkap. Suatu penurunan dari jumlah leukosit lebih dari 2. tetapi diingat. Cara penggoresan sifatnya lebih spesifik dan lebih aman daripada intradermal dan hasilnya dapat dipercaya khusus untuk inhalants. Anamnese yang teliti b. alkohol sebaiknya dihindarkan pada orangorang yang diberi antihistaminika. tetapi dapat menghasilkan false positif yang cukup tinggi dan kadang-kadang memberikan reaksi yang hebat. karena efek sedatif dapat lebih kuat. kita mulai dengan pemberian makanan yang mempunyai kemungkinan paling minimal menimbulkan reaksi allergi. bahwa umumnya anti histaminika mempunyai efek sedative. maka cara pengobatan yang terbaik untuk kasus-kasus allergi adalah menghindarkan diri dari allergen. Dengan sendirinya kalau kita telah mengetahui sesuatu allergen. Dengan cara eliminasi. b. Pemeriksaan dengan test-test khusus: 1) Specific application of the allergen.

yang memberikan reaksi positif pada skin test. f. RHINITIS VASOMATORIKA Synonim: Vasomator Instability atau Vasomator Catarrh.1 dari konsentrasi antigen yang dipakai. Spesifik hiposensitisasi Walaupun cara-cara pengobatan yang telah dibicarakan sebelumnya dapat meringankan gejala-gejala nasalah allergy.1 ml dengan konsentrasi 0. dimulai dengan dosis 0.V. Pada dasarnya bila kita telah mengetahui sesuatu allergen atau sekelompok allergen dengan skin test atau test-test yang lain sebagai penyebab allergi. Pada umumnya konsentrasi maksimal kurang lebih 0. Penyuntikan ini dapat dilakukan berulang-ulang. diberikan sampai beberapa bulan sampai penderita bebas dari gejala-gejala.c. Sebab-musabab dari ketidaksesuaian paham dalam istilah ini. Pendahuluan Istilah vasomator rhinitis dianggap oleh para ahli kurang tepat karena lebih cenderung memberikan pengertian peradangan daripada sesuatu gangguan fungsi. baik dengan bahan kimia atau dengan elektris (caranya akan dijelaskan). d. dosisnya dipertahankan dengan konsentrasi yang sama sampai reaksi hilang. corticosteroids. Pengobatan lokal sebagai tetes hidung. Steroid “depot” therapy. g. mulai dengan dosis yang rendah kemudian dinaikkan perlahan-lahan. karena kekaburan mengenai etiologi dan kegagalan dalam pengobatan penderita-penderita dengan R. antihistamin. sehingga para sarjana lain berpendapat lebih tepat dengan memakai istilah “Vasomator Instability” atau “Vasomator Catarrh”. e. Penyuntikan dengan steroid di bawah mukosa conchae inferior hasilnya cukup baik. maka kita dapat mempergunakan allergen terebut sebagai antigen dan disuntikkan subkutan. yang mengandung vasokonstriktor.01 dari extract. Bila pada penyuntikan timbul reaksi hebat. tetapi tidak dapat menyembuhkan secara radikal seperti apa yang dapat dicapai dengan cara spesifik hiposensitisasi pada beberapa kasus (ingat tidak semua dapat disembuhkan dengan pengobatan ini). Untuk mengurangi oedema atau memperkecil bentuk conchae dapat dilakukan kaustik. .

Ditinjau dari gejala-gejala klinik. bahwa R. misalnya pada masa pubertas terhadap gangguan pada hidung berupa hidung tersumbat. Obatobatan lain yang bekerja sebagai sympathetic blocking agents menyebabkan vasodilatasi perifer.V. Patofisiologi Malconson pada tahun 1959. kehamilan atau waktu sexual excitement. misalnya methyldopa. di samping lebih hypersensitif terhadap berbagai macam stimuli atau rangsangan. Obat-obatan: obat-obatan anti hypertensi. reserpin. hipersekresi dan bersin-berin. Bagaimana pengaturan pengalihan dari sistem autonom ini belum diketahui secara pasti. mereka lebih cenderung menggolongkan semua kasus-kasus demikian pada nasal allergy. anxiety. telah membuktikan. akibat oedema pada conchae. tension. bahwa perangsangan pada syaraf parasimpatis atau penghambatan pada syaraf simpatis yang mempersyarafi mukosa hidung. tetapi mungkin hypothalmus berperanan sebagai pusat integrasi menerima berbagai impuls afferent termasuk stimulus emosi dari pusat-pusat yang lebih tinggi. Pada waktu menstruasi. rauwolfia. Atas dasar ini maka dalam keadaan normal kedua sistem parasimpatis dan simpatis harus dalam keadaan seimbang. 2. misalnya dihyroergotoxin mosylate. Gangguan hormonal. keseimbangan vasomator bisa terganggu secara temporer oleh faktor emosi dan lain-lain tetapi tidak menyebabkan gangguan pada penderita. guanathidin.V dalam banyak hal lebih menyerupai parenial nasal allergy. Psychogenicl stress. sehingga akhir-akhir ini walaupun telah ditekankan oleh banyak ahli. merupakan sesuatu “clinical entity”. atau menghambat perubahan dopamine ke noradrenalin. hostiality atau emosi yang menyenangkan dapat merupakan faktor. biasa dipakai dalam pengobatan penyakit pembuluh darah perifer dan migraine seperti ergot alkaloids. dapat menyebabkan vasodilatasi. preparat yang mengandung obat-obat ini dapat menyebabkan obstruksi nasi. Dalam keadaan normal. 3. mungkin kepada mereka sistem keseimbangan ini terus menerus terganggu (biasanya parasymphatetic over activity). Faktor-faktor yang mengganggu keseimbangan vasomator 1. tetapi toh masih banyak ahli lain yang menolak anggapan di atas. kadang-kadang timbul exacerbasi dari penyakit ini. maka R. yang kemudian hilang sendirinya setelah dewasa. Pada penderita-penderita yang menunjukkan gangguan atau keluhan-keluhan. . dapat menghambat pelepasan dari neradrenalin pada ujung syaraf post ganglionik. anger.

menunjukkan berbagai derajat oedem. infiltrasi sel-sel cosinophyl dan peninggian aktivitas kelenjar-kelenjar seromocous. dapat menimbulkan gangguan keseimbangan vasomator. vidianus di dalam fossa pterigomaxillaris melalui dinding belakang sinus maxillaris. Gambaran Klinik Lihat parenial nasal allergy Diferensial Diagnose Nasal allergy. dilatasi pembuluh darah.4. Faktor physik: unsur-unsur physik tertentu misalnya udara dingin. allergen merupakan faktor yang paling penting. Anjurkan banyak berolahraga. asap rokok. Pengobatan lokal sama dengan nasal allergy Akhir-akhir ini banyak dilakukan pengobatan dengan jalan operasi yang dikenal sebagai Vidian Neurektomi. Pada kasus-kasus yang telah berlangsung menahun. dengan anamnese yang teliti dan sensitivity test.5 mg pada orang dewasa atau phenilpropanolamine sebanyak 25 – 50 mg dikombinasikan dengan antihistamin. terutama berolahraga di alam terbuka. Pada vasomator instability tak ditemukan allergen. Kalau bisa anjurkan untuk merubah kebiasaan atau sikap hidup. dengan jalan memotong/memutuskan n. sedangkan infeksi merupakan faktor sekunder. Patologi Pada pemeriksaan histologis dari mukosa hidung. Pengobatan dapat diberi ephedrin misalnya 3 x 12. perubahan-perubahan temperatur dan kelembaban. RHINITIS KRONIKA HYPERTROFIKA Synonim: Rhinitis kronika hyperplastika atau Polipod chronic rhinitis Etiologi Sebagai penyebab dari rhinitis kronika hypertrofika. jaringan ikat akan bertambah pada submukosa. Tetapi ada yang . Pengobatan Pada prinsipnya memperhatikan dan menghindari atau mengurangi faktorfaktor predisposisi.

Di samping itu dapat juga memberikan keluhan pendengaran berkurang.menganggap. Sekarang telah disepakati. Hyposmia terjadi karena gangguan transmisi dari partikel-partikel bau-bauan untuk sampai ke area olfaktorius. dimana ujung-ujung syaraf olfaktorius berada. karena adanya oklusio tubae. pelebaran pembuluh-pembuluh darah dan pembesaran kelenjarkelenjar. yang kita kenal sebagai “vacum headache”. terlihat peradangan menahun. selalu ditemukan adanya riwayat yang berhubungan dengan allergi pada kebanyakan penderita. akibat dari obstruksi nasi dapat memberikan keluhan-keluhan sekunder. yang tampak berbenjol-benjol “mulberry like appearance”. karena ostium/ostia sinus paranasalis tertutup mengakibatkan tekanan negatif dalam rongga sinus paranasalis. bahwa perubahan hyperplasia pada mukosa terutama disebabkan oleh faktor infeksi bakteri. Pada pemeriksaan rhinoskopi anterior. Mikroskopis. Patologi Terdapat penebalan dari mukosa hidung dan periostium. terlihat hypertrofi mukosa hidung terutama conchae inferior. Dasar septumnasi terlihat juga adanya penebalan. atas dasar kenyataan selalu ditemukannya sel-sel cesinophil dalam sekret hidung dalam kasuskasus rhinitis hypertrofika. dengan sekret yang encer atau kental (mukopurulent). misalnya cephalgia. dapat kita bedakan sebagai berikut: . Gambaran Klinik Obstruksi nasi merupakan keluhan yang paling menonjol. Rhinorrhoe atau post nasal dripping. Pendapat yang mengatakan bahwa allergi sebagai penyebab. penebalan dan bertambahnya jaringan sub mukosa. Di samping itu dalam anamnesa. bahwa baik faktor allergi maupun infeksi kedua-duanya berperanan sebagai penyebab dari rhinitis kronika hypertrofika. permukaannya berbenjol-benjol “mulberry like appearance”. Bagian yang paling jelas mengalami perubahan hypertrofi adalah pada conchae inferior. Pada conchae media sering-sering terlihat juga hypertrofi dan kadangkadang terjadi pembentukan polip. Untuk membedakan apakah mukosa mengalami oedema atau hypertrofi.

bahwa dalam cavum nasi dengan deviatio septi. tetapi sampai sekarang belum ada persesuaian pendapat mengenai etiologi pembentukan polip. kemudian dikemukakan faktor allergi yang memegang peranan dalam pembentukan polip. Pengobatan Pada dasarnya hampir sama dengan nasal allergy. terdapat daerah pengucapan (constriction) pada tempat ini terjadi penurunan tekanan pada jaringan sekitarnya. Conchae media yang terlampau besar dapat dilakukan partial conchotomi sedangkan conchae inferior sebaiknya tidak dilakukan conchotomi. Kalau terdapat mukopus dapat diberikan antibiotika dikombinasikan dengan preparat mukolitik. misalnya Bisolvomycin di samping antihistaminika seperti pada nasal-allergy. malahan sebagai akibat obstruksi mekanis. bahwa pembentukan polip hampir selalu sebagai akibat gangguan vaskuler dari mukosa hidung. mukosa akan mengerut. b. sedangkan pada mukosa yang hypertrofis dengan pemberian vasokonstriktor hampir-hampir tak berkhasiat atau hasilnya amat minimal. Lindsay Gray (1967) dalam thesisnya berkesimpulan. karena conchae inferior mempunyai peranan yang penting dalam mengatur fungsi hidung. Pertama-tama dikemukakan teori infeksi sebagai penyebab pembentukan polip. . Teori lain mengemukakan. Kalau ada pembentukan polip. setelah itu kedua teori di atas dikawinkan kemudian diambil kesimpulan bahwa pembentukan polip sebagai akibat “bacterial allergy”. kita adakan polipektomi. Keadaan ini sering ditemukan. c. POLIP HIDUNG Pendahuluan Polip adalah oedema lokal disertai prolaps dari mukosa hidung atau sinus paranasalis dengan membentuk kantong yang bertangkai. dengan akibat terjadi penurunan tekanan cairan ekstravaskuler dan dengan demikian meninggikan pembentukan cairan jaringan sehingga mempermudah terjadinya polip.Pada mukosa yang oedema. Etiologi Beberapa teori telah dikemukakan tentang pembentukan polip antara lain: a. bila ditetesi dengan vasokonstriktor (misalnya ephedrin HCl 2%).

Rhinorrhoe encer atau mukopurulent. tetapi antral polip yang sering berupa antrochoanal polip lebih sering terdapat pada anak-anak dan orang yang umurnya masih muda. Patologi Makroskopis terdiri dari massa yang halus dan licin dengan warna yang kebanyakan pucat. Mikroskopis. didapat adanya kelainan pada glucose tolerance test. dan epinephrin pada groround substance dari mukosa hidung dan sinus paranasalis. angiofibroma.d. dan pada anamnesa didapat kurang lebih 50% dari mereka. yakni ada gangguan keseimbangan antara glukosa. kekuning-kuningan dan ada kalanya merah muda. mempunyai riwayat diabetes mellitus dalam keluarganya. Antral. Tumor ganas cavum nasi dan sinus paranasalis. Conchae media. terlihat hanya sebagai mukosa oedema dan hypertrofi. c. c. b. stromanya fibriler dengan rongga besar yang diisi dengan cairan intercelluler. insulin. . Deformasi tulang-tulang hidung. Ethmoidal berasal dari sinus Ethmoidalis. Diferensial Diagnose a. foto sinus paranasalis. Insidens menurut umur Polip ethmoidal dapat terjadi pada segala umur. Diagnose Atas dasar anamnese Atas dasar hasil pemeriksaan: Rhinoskopi anterior. Ada yang menghubungkan pembentukan polip dengan kelainan metabolisme karbohydrat. Sumber atau lokasi polip Lokasi polip dapat bersumber pada: a. Hypertrofi atau oedema dari conchae b. haemangioma. diliputi oleh epithel torak bercilia. Hal ini terbukti pada pemeriksaan penderita-penderita dengan polip hidung. Gambaran klinik Obstruksi nasi merupakan gejala utama. putih opaque. misalnya fibroma. rhinoskopi posterior. keluhan-keluhan lain hanya akibat dari obstruksi nasi. berakibat deformasi hidung bagian luar (pada kasus-kasus polip yang besar). Dapat juga terlihat adanya penimbunan sel-sel lymphosit. berasal dari sinus maxillaris. kadang-kadang translusent. atau sedikit padat. transilluminasi. sel-sel plasma dan sel-sel eosinofil. Konsistensi lunak. Tumor jinak dari cavum nasi.

yang berasal dari kata Yunani “Azein” yang berarti “to smell”. Pengobatan yang terbaik dari polip adalah dengan jalan operasi. malahan dalam waktu yang singkat dapat terjadi residif. pada umumnya ditemukan pada orang-orang muda masa pubertas dan lebih sering pada wanita. berupa antihistaminika. perawatan post operasi singkat. Polipektomi radikal (Ethmoidektomi). corticosteroid. kita juga mengangkat polip yang berada dalam sinus paranasalis. istilah Ozaena digunakan untuk penyakit ini. Akan tetapi kerugiannya adalah. artinya di samping mengangkat polip yang berada dalam hidung. tetapi tidak satu teori pun yang dapat diterima secara umum. yakni: a. Keuntungan cara operasi ini adalah kans residif lebih kecil dan kalau memang terjadi. Operasi ini dikenal dengan dua cara. b. Jadi kita berusaha untuk membersihkan sampai ke akar-akarnya (teknik operasi akan dibicarakan dalam kuliah sinus-chronica). Rhinitis kronika atrofika sekundaria. ??? Dari sifat khusus “foeter”. di . dengan sendirinya kans untuk residif besar sekali. artinya hanya mengangkat polip yang terdapat dalam cavum nasi saja. Kerugian operasi ini ialah prosedur operasi lebih sukar dan waktu perawatan lebih panjang serta resiko komplikasi post operasi relatif lebih besar. Rhinitis kronika atrofika primaria. adona (carbazochrome derivat). prosedur operasi ini tak membersihkan polip yang berada dalam sinus. RHINITIS KRONIKA ATROFIKA Ada dua jenis rhinitis atrofika yang kita kenal: a. risiko operasi hampir-hampir tidak ada. Polipektomi simplex. untuk menerangkan semua kasus-kasus ozaena. Dari kasus-kasus ozaena. Etiologi Telah banyak teori dan hipotesa yang dikemukakan untuk menerangkan sebab terjadinya ozaena. bahwa prosedur sederhana. Keuntungan dari cara ini adalah. dengan tidak mengangkat polip itu sampai ke dalam sinus paranasalis.Pengobatan Bila saudara sebagai dokter umum menemukan polip hidung yang masih kecil. b. maka jangka waktunya cukup lama. dapat dicoba dengan pengobatan konservatif.

atas dasar kenyataan bahwa lebih sering terdapat pada wanita yang berumur antara 10 – 20 tahun. 1895). 1899). bahwa infeksi kronik menyebabkan endarteritis. selalu ditemukan dalam sekret hidung. ozaena adalah suatu penyakit kekurangan besi (iron deficiancy disease). perubahan atrofi juga pada struktur tulang dan tidak didahului oleh suatu peradangan kronis atau sinusitis. Selain itu dikemukakan juga teori gangguan keseimbangan hormon. Para penyelidik lain beranggapan. Tailor dan Young pada tahun 1965. sehingga dapat mengurangi suplai darah dan mengakibatkan atrofi pada mukosa hidung. Sel-sel torak bercillia berubah menjadi sel berlapis gepeng.samping itu sering ditemukan pada suatu famili tertentu atau pada ras tertentu sedang pada ras lain tidak ditemukan. dengan perubahan-perubahan atrofi hanya pada mukosa saja. Klebsiella ozaena (Hendrikson dan Gunderson. menurunkan suplai darah. kelenjar-kelenjar mengurang atau menghilang. Tetapi walaupun demikian kuman-kuman ini belum dapat dibuktikan sebagai penyebab utama dari ozaena. Kuman-kuman saprofit antara lain: a. terakhir terjadi atrofi dari kelenjar-kelenjar dan sel-sel syaraf dan tulang. Patologi Pada stadium permulaan terdapat gambaran peradangan kronik. dengan akibat perubahan-perubahan atrofi pada mukosa. pada stadium lanjut terjadi penebalan pembuluh darah dan adanya suatu endarteritis obliterans dari arterio. dapat merangsang baik secara biochemis maupun mekanisme pada sel-sel jaringan yang mengakibatkan proliferasi dan tekanan pada sel-sel jaringan. bahwa proses ini terjadi pada rhinitis atrofika sekundaria. karena sekret dari sinusitis supurativa. Coccobacillus foetidus (Peres. 1894). Grunwald mengemukakan. bahwa mungkin ada faktor endogen yang memegang peranan penting dalam terjadinya ozaena. b. Coccobacillus (Loewenberg. c. sehingga terjadi kontraksi dari sel-sel jaringan. maka kita menduga. Pada akhirnya kita menganggap. mengemukakan. Dari kenyataan ini. Bacillus mucous (Abel. bahwa terjadinya ozaena sebagai akibat dari banyak faktor yang saling tunjang menunjang. bahwa penyakit ini sebagai akibat sinusitis supurativa. d. 1959). Gambaran Klinik . Izernat Bernat (1965) mengemukakan bahwa. Diphteroid bacillus. lain halnya dengan ozaena.

karena adanya atrofi dari conchae nasalis. degenerasi syaraf dan sel. Atrofi mukosa dan tulang RHINITIS ATROFIKA SEKUNDARIA   Anosmia (-) Atrofi hanya pada mukosa. c. akibatnya penderita terisolir dari pergaulan mental depresif. Mukosa tampak kering dan pucat Diagnosa Banding a. d. sel kelenjar. Penimbunan krustae ini terutama di sekitar conchae media atau dapat meluas di seluruh cavum nasi sampai ke belakang. sehingga orang dengan ozaena dijauhi oleh teman-teman. Perasaan kering pada tenggorok atau pharynx. Rhinitis sicca b. disebabkan adanya perubahanperubahan atrofi pada pharynx. karena adanya konstruksi pada ostia sinus paranasalis karena penimbunan sekret. b. krustae ini sukar dilepaskan. Pada pemeriksaan dengan rhinoskopi anterior terlihat cavum nasi lebar. Cephalalgia. Etiologi belum jelas terdiri dari  Etiologi jelas dari sinusitis kronika multi faktor supurativa atau akibat operasi pengangkatan conchae yang berlebihan. Foetor nasi merupakan keluhan utama (pada stadium permulaan).a. keluhan ini akibat adanya perubahan-perubahan degeneratif pada sel-sel syaraf penciuman pada stadium ini. Obstruksi nasi sebagai akibat adanya penimbunan sekret yang kering atau krustae dalam cavum nasi. kalau dilepaskan biasanya sedikit berdarah. . Untuk membedakan ozaena dan rhinitis atrofika sekundaria dapat kita lihat sebagai berikut: OZAENA a. Hyposmia atau anosmia. Anosmia (+) b. f. Terdapat endarteritis. Rhinitis caseosa c. Rhinitis atrofika non foetida atau rhinitis kronika atrofika sekundaria. tulang tak mengalami atrofi Arteri masih sehat Epithel sebagian besar masih baik c. tetapi orang di sekitarnya akan dapat mencium bau busuk. kadang-kadang sampai ke pharynx. d. adanya penimbunan sekret yang kering atau krustae yang berwarna hijau kehitam-hitaman. Keluhan foeter nasi akan hilang. e. metaplasia  epithel. Rhinolith d.

Blok pada ganglion stelata yang berulang-ulang telah dicoba dengan hasil yang cukup baik. pengobatan hanya bersifat simptomatik. Hal ini dapat dianjurkan kepada penderita untuk mencuci hidung dengan larutan campuran dari: R/ Bicarbonas Natricus Chloretum Natricus Chloretum Ammonicus aaa 10 Aqua ad 400 m. pada dasar cavum nasi. Paling penting untuk menjaga kebersihan hidung. a. Penyuntikan dengan acethylcholine di bawah mukosa sebagai vasodilator. b. atau pada septum nasi. dengan hasil yang memuaskan. agar foeter nasi dapat dikurangi atau hilang. atau tulang rawan pada dinding lateral. Setelah krustae dikeluarkan dapat diberikan 25% larutan glukose dalam gliserin yang menghambat proteolytic organisme. orang mencoba mengadakan pengobatan dengan jalan operasi. Pengobatan konservatif. obat cuci hidung 1 sendok larutan + 9 sendok air hangat dipakai dua kali sehari cuci hidung.d. hasilnya kurang memuaskan. Dapat juga dipakai tampon yang dibasahi dengan sol. sehingga Sharma dan Sardana (1966) menganjurkan diadakan cervikal sympathectomi.Pengobatan Sampai sekarang pengobatan kausal belum ada.s. pemberian antibiotika untuk membasmi kuman-kuman memuaskan. Karena pada umumnya pengobatan konservatif belum memuaskan. Wilson pada tahun 1946 telah melaporkan.000 unit per ml. ichthyol 10% dimasukkan dalam hidung ditunggu 20 – 30 menit sampai krustae jadi lembek. dapat hasil yang cukup . karena oestradiol mempunyai khasiat vasodilatator. Pemberian vasodilatantia per oral atau perenteral. kemudian krustae dikeluarkan dengan bantuan forceps. saprofit. atau oestradiol oil 10. Pengobatan ini kita bagi dalam pengobatan konservatif dan operatif. dipakai sebagai nasal spray. Pemberian dengan vitamin A dengan dosis tinggi dicoba untuk memperbaiki epithel. bahwa dengan penyuntikan submukosa suspensi dari teflon powder dalam 50% glycerin pasta. Pengobatan dengan jalan operasi ini pada dasarnya bertujuan untuk memperkecil ruangan cavum nasi dengan jalan menyisipkan teflon strip. polythene. dengan hasil yang minimal.

Menurut perlangsungannya. Sinusitis dapat terjadi hanya terbatas pada satu sinus atau beberapa sinus (multisinusitis) atau pada semua sinus paranasalis baik pada satu sisi maupun kedua sisi (pansinusitis unilateral atau bilateral). bahwa mukosa sinus paranasalis merupakan lanjutan dari mukosa cavum nasi dan bentuk histologi sama. infeksi dapat masuk secara langsung melalui garis fraktur. Barotrauma atau aerosinusitis dapat terjadi selama penerbangan. vasomator instability dan septum deviasi. maka setiap rhinitis mempunyai potensi terjadi sinusitis. Lokal: 1) Obstruksi nasi dari sebab apa saja. dapat pula menyebabkan infeksi ini masuk ke dalam sinus maxillaris (lihat hubungan anatomi sinus maxillaris dan gigi atas). 3) Sebelumnya pernah mendapat sinusitis yang sama. e. rhinitis allergika. maka tidak akan memberikan gejala-gejala klinik sinusitis. adenoiditis. tetapi bila kelancaran drainage dari ostia sinus paranasalis tidak terganggu. Hal ini dapat dimengerti dengan mengingat. b. yakni sinusitis akuta dan sinusitis kronika. terutama pada anak-anak dapat terjadi pada infeksi sekunder ke dalam sinus.SINUSITIS Pendahuluan (Tinjauan Umum) Sinusitis merupakan penyakit yang tak jarang kita temukan di bidang THT. Umum: . f. 2) Infeksi di sekitar hidung. d. Rhinitis ekuta. Berenang dan menyelam dapat juga mempermudah penyebaran langsung melalui ostia ke dalam sinus paranasalis. misalnya polip hidung. atau melalui bekuan darah yang terkumpul dalam sinus. penyebarannya secara langsung melalui sistem limfatik pada sub mukosa. Pencabutan gigi atau infeksi pada gigi. Maxillo-facial trauma. b. karena perubahan tekanan yang tiba-tiba (sama halnya dengan aero-otitis). Penyebaran langsung dapat dipermudah dengan bersin-bersin atau pada waktu membuang ingus dengan menutup kedua hidung. misalnya tonsilitis. c. Faktor predisposisi a. Sinusitis Akuta Etiologi a. Corpus allienum nasi. sinusitis dapat kita bedakan dalam dua macam.

yang mula-mula serous. Hyperaktivitas dari kelenjar-kelenjar e. baik berupa menusuk-nusuk atau dull pain. c. terutama pada anak-anak (gejala ini jarang terlihat). Infiltrasi sel-sel radang d. disebabkan adanya oedema pada mukosa terutama conchae media. N. Gambaran Klinik Bergantung pada intensitas peradangan efisiensi dari drainage ostia sinus paranasalis. Terjadi exudasi. d. a. Bacteriologi Mikro organisme yang paling sering menurut urutan sebagai penyebab dari sinusitis adalah pneumococcus.1) Keadaan allergi 2) Kedinginan 3) Keletihan yang berlebihan 4) Malnutrisi. sebaliknya sebagian proses infeksi berlangsung terus sampai menjadi kronis. Patologi Perubahan-perubahan peradangan pada mukosa hidung pada sinusitis adalah sebagai berikut: a. nausea dan kadang-kadang mental depresi. Oedema dan hyperemia pada dinding depan dari sinus bersangkutan. influenza. Oedema c. e. malaise. Walaupun demikian kadang-kadang terjadi resolusi sebelum terjadi supurasi. Hyperemia b. f. dengan bertambahnya intensitas infeksi sekret menjadi purulent. penyakit-penyakit kronis 5) Keadaan atmosfir yang ekstrim. b. Fridlander’s bacillus. Perasaan nyeri pada sinus yang bersangkutan. Escheria colli dan anaerobic streptococci sebagai penyebab dari sinusitis maxillaris dentogen. Obstruksi nasi. atau karena penimbunan sekret yang kental. Gejala-gejala umum: Subfebril. Rhinorrhoe atau post nasal dripping. sekret ini bersifat kental atau mukopus dan kadang-kadang disertai sedikit darah (blood stained). . staphylococcus. Cephalgia (sifatnya akan diterangkan pada masing-masing sinusitis). terutama bila kepala ditundukkan atau waktu batuk.

Sinusitis Kronika Pendahuluan Hubungan rhinitis allergika dan rhinitis vasomatorika atau vasomator instability dengan sinusitis kronika sedemikian seringnya. Pemberian sedativa. Larutan decongestan. c. sebagai faktor utama. maka ada beberapa tindakan pokok yang diperlukan. Tindakan ini dapat dimulai dengan pemberian: 1. Migraine c. Pemberian analgetika. Menanggulangi infeksi: pemberian antibiotika dengan dosis yang adekuat (kalau bisa setelah dilakukan sensitivity test terhadap kuman penyebab). Memperbaiki drainage: tindakan ini merupakan pengobatan kausal yang amat penting. Perasaan nyeri yang bersumber dari gigi b. atau . Diagnosa Banding a. yang mungkin mencakup 2/3 dari kasus-kasus sinusitis kronika merupakan kronik allergic rhino-sinusitis atau chronic vasomator rhino-sinusitis (Simpson dan Robin). Neoplasma pada sinus paranasalis e.1% HCl. 2. kompres air hangat. agar penderita dapat istirahat dengan baik. Pemanasan lokal. 2. Tregeminal neuralgia d. dapat mempercepat resolusi peradangan. Lakukan infraksi pada conchae media untuk memperlebar meatus nasi media. diathermi dengan sinar gelombang pendek. misalnya ½ . atau ada tidaknya obstruksi pada ostium/ostia sinus paranasalis. d. Penanggulangan terhadap perasaan nyeri: 1.Gejala-gejala obyektif yang terlihat dalam pemeriksaan akan dibicarakan pada pembahasan sinusitis masing-masing. agar dapat dipilih antibiotika yang paling tepat. Erisipelas f. antara lain: a. Gigitan serangga Pengobatan Untuk menanggulangi sinusitis akuta. b. Ephedrin: dipakai sebagai obat tetes atau sebagai spray. karena berat ringannya sinusitis terutama dipengaruhi oleh faktor lancar tidaknya drainage.

Oedema. terutama pada sinusitis maxillaris dentogen. Patologi a. B. pada mukosa yang menebal. Multipel mikro abses. Gambaran klinik a. Ulcerasi dari epithel. mengakibatkan pembentukan jaringan granulasi.malahan sebagai satu-satunya faktor penyebab. streptococci termasuk yang anaerobic. pada stroma submukosa terutama pada bagian yang mengalami peradangan infeksi akut. Infiltrasi sel-sel radang kronik. Penting untuk mengetahui hal ini. Robin Ballantine dan Groves dalam bukunya “A synopsis of Otolaryngology” membagi sinusitis kronika dalam: a. atau adanya exacerbasi akut. Atas dasar ini Simpson. Rhinorrhoe atau post nasal dripping. baik ringan maupun berat. g. Etiologi Setelah satu serangan atau serangan berulang-ulang dari sinusitis akuta. sebagai akibat dari tekanan jaringan. d. proteus. atau perasaan berat pada daerah sinus yang bersangkutan. c. e. Pembentukan kiste. f. kadang-kadang terdapat cacosmia. Esch. Mixed infective and vasomator chronic sinusitis Simple Chronic Infective Sinusitis Pada type ini tidak terdapat allergi atau vasomator instability. pneumococci. berkisar dari sedikit penebalan dari mukosa sinus sampai pembentukan polip. b. Sakit kepala biasanya dinyatakan sebagai perasaan berat pada kepala. karena dalam pengobatannya atau hasil pengobatannya akan lebih berhasil kalau kita selalu ingat faktor tersebut di atas. Simple chronic infective sinusitis b. Sekret bisa berupa purulent atau mukoid. Fibrosis. disebabkan oleh gangguan drainage sekret dari dalam sinus ke cavum nasi. Obstruksi nasi. Sering terjadi metaplasia epithel dan hypertrofi kelenjar-kelenjar. . Bakteriologi Biasanya campuran dari berbagai macam bakteri. Cephalgia. coli. b. d. pyocyanae. Hyposmia atau anosmia temporer. B. c.

yakni mengadakan luksatio pada conchae media untuk memperlebar meatus nasi media. berupa malaise. d. Jumlah sel-sel eosinophil bertambah pada sekret hidung. Sering disertai pembentukan polip c. karena post nasal dripping menyebabkan irritasi yang terus menerus pada pharynx dan larynx. anorexia. Patologi Gambaran patologi merupakan kombinasi dari perubahan-perubahan yang kita lihat pada simple chronic sinusitis dan pada keadaan allergi atau pada keadaan vasomator instability. Prinsip Pengobatan Dasarnya adalah sama dengan pengobatan sinusitis akuta. kemudian infeksi sekunder akibat dari obstruksi kronis pada ostia dan poliposis. disebabkan peninggian permeabilitas kapiler dan terjadi penebalan mukosa. Operasi konservatif untuk memperoleh drainage yang temporer atau permanent. Biasanya berupa multi sinusitis atau bilateral pansinusitis. Oedema pada mukosa. Mixed Infective and Chronic Vasomator Sinusitis/Chronic Allergic Sinusitis Etiologi Faktor allergi atau faktor vasomator instability. kita akan melangkah pada tindakan operatif. Gangguan umum biasanya ringan. batuk-batuk kronik. mungkin merupakan faktor yang paling penting dalam perjalanan penyakit ini. yang amat resistent terhadap pengobatan (bila tidak diingat fokus primer). tetapi kalau tindakan-tindakan konservatif seperti pada sinusitis akuta tidak berhasil. Fungsi sinus dengan troicart. Kadang-kadang terdapat gangguan pendengaran. operasi-operasi radikal (dibicarakan pada pengobatan sinusitis masingmasing). untuk mengadakan pembilasan pada sinus. baik yang amat sederhana maupun yang lebih kompleks atau radikal. bertujuan memperbaiki drainage. Pembentukan kiste palsu (kadang-kadang). karena oklusio tubae.e. mental apathy. bersamaan dengan sel-sel polymorphonuclear karena ada infeksi sekunder. . Misalnya yang paling sederhana kita lakukan. karena distensi dari ruangan intracelluler di dalam submukosa (cyste polypus). Keadaan ini berupa perubahan-perubahan: a. b. Bacteriologinya sama dengan simple chronic sinusitis. infraksi.

yakni: a. Hyposmia atau anosmia. dengan sekret kental atau mukorus. Operasi.Gambaran klinik Biasanya cenderung menghinggapi beberapa sinus atau bilateral pansinusitis. dan hyperemia pada conchae media. karena faktor allergi sukar dihilangkan. Menanggulangi keadaan allergi (lihat nasal allergy) b. c. . SINUSITIS MAXILLARIS AKUTA Sinusitis maxillaris merupakan sinusitis yang paling sering ditemukan di antara sinusitis lainnya. Pada pemeriksaan dengan rhinoskopia anterior akan terlihat sekret pada meatus nasi media. Rhirorrhoe dan post nasal discharge. rhinogen b. gejala ini jarang terlihat. b. simple dan radikal (akan dijelaskan pada pembicaraan sinusitis masing-massing). biasanya perasaan sakit ini diproyeksi ke sinus frontalis. Mengobati infeksi c. post nasal dripping. sinusitis maxillaris dapat kita bagi atas dua jenis. Prinsip pengobatan a. a. dentogen. sekret dapat bersifat encer. ke regio temporalis. Prognosis Pengobatan atau tindakan-tindakan operatif kadang-kadang tidak begitu memuaskan. Rhinorrhoe. Menurut asalnya. mukoid atau mukopurulent. atau ke gigi atas. Oedema pada pipi (fossa canina). Gejala-gejala yang berhubungan dengan allergi (lihat nasal allergi). tetapi biasanya gejala-gejala dari sinusitis maxillaris dan sinusitis ethmoidalis yang menonjol. Gambaran Klinik Perasaan sakit pada pipi (fossa canina).

bile sekret memang berasal dari sinus maxillaris (syarat ostium sinus maxillaris cukup terbuka). kami mendapat kesan. terlihat kekaburan pada sinus yang sakit. Diagnosa banding a. bahwa angka-angka ini lebih tinggi dari pada negara-negara yang .V. U. b. Di Indonesia walaupun belum ada angka-angka yang pasti. kita lakukan “Posture Test”. Tumor rahang atas. dengan demikian terjadi evacuasi dari isi sinus maxillaris dan akan keluar melalui ostium sinus maxillaris yang berada di meatus nasi media. Palpasi. kemudian penderita disuruh membungkukkan badan sambil memiringkan kepala sedemikian rupa sehingga bagian sinus yang sakit berada di atas.K. misalnya aqua penicillin. Gambaran foto Ro. atau tumor sinus maxillaris. atau dapat dibilas dengan larutan antibiotika. Pengobatan lokal Sesuai dengan prinsip penanggulangan sinusitis akuta yang telah dibahas sebelumnya. dan juga dapat memberikan informasi tambahan mengenai keadaan sinus yang lain. lebih dapat dipercaya dari pemeriksaan trans illuminasi. Pembilasan sinus ini dapat dilakukan beberapa kali sampai keadaan sinus menunjukkan perbaikan.G. cabang kedua dari n.Untuk menguatkan apakah sekret itu berasal dari sinus maxillaris. Trigeminal neuralgia. sinar infra merah. Kalau fase akut telah lewat dapat dilakukan pungsi sinus maxillaris dengan troicart. melalui meatus nasi inferior. tetapi menurut pengalaman kami sehari-hari. kadang terlihat fluid level. Sinusitis Maxillaris Akuta Dentogen Di negara-negara yang telah maju jumlah sinusitis maxillaris dentogen kurang lebih mencapai 10% dari semua kasus-kasus sinusitis. sinar solux. Khusus untuk sinusitis maxillaris akuta kita tambahkan pengobatan dengan pemanasan lokal pada sinus maxillaris dengan diathormi gelombang pendek. Pada pemeriksaan ulangan sekret ini akan terlihat lagi di meatus nasi media. fossa canina terasa nyeri pada bagian yang sakit. Absces yang berasal dari gigi atas. Transilluminasi. kemudian dilakukan pembilasan pada sinus dengan larutan garam fisiologi steriel. c. dengan pertama-tama membersihkan sekret yang terdapat di meatus nasi media dengan kapas. terlihat gelap atau kabur pada sinus yang sakit (teknik pemeriksaan akan dijelaskan).

maka kita meningkat pada tindakan intranasal antrostomi. Peri-apical absces dari premoler atau molar atas. Keadaan gigi yang dapat menimbulkan sinusitis maxillaris dentogen adalah sebagai berikut: a. Caries pada tulang atau processus alveolaris dapat menyebabkan hubungan langsung antara absces dengan rongga sinus (lihat gambar).telah maju. Setelah gigi diadakan canering. kita lakukan pungsi sinus. sehingga dalam pencabutan gigi. . Pertama-tama dicoba dengan jalan irigasi atau pembilasan sinus dilakukan beberapa kali. sedangkan pada sinuitis maxillaris kronika cara penanggulangannya biasanya operatif. Periodental absces. merupakan penyebab yang paling sering dari sinusitis maxillaris dentogen. Penanggulangannya berturut-turut sebagai berikut: a. Di samping tindakan ini kita dapat juga tambahkan antibiotika per oral atau parenteral. b. Setelah extraksi gigi premolar atau molar atas. Perbedaan yang jelas di antara sinusitis akuta dan kronika terletak dalam penanggulangannya. yakni pada sinusitis akuta biasanya pengobatannya bersifat konservatif. Sinusitis Maxillaris Kronika Etiologi dan gambaran klinik dari sinusitis maxillaris kronika dan akuta hampir sama. kalau tindakan ini ternyata tidak berhasil. Pengobatan Pertama-tama kita harus berusaha menghilangkan penyebabnya dari gigi yang diduga sebagai sumber dari infeksi. kemudian penderita dikirim ke bagian gigi untuk pencabutan gigi. dimulai dengan periodentitis akuta atau kronik dengan akut exacerbasi. hanya berbeda dalam perlangsungannya yang menahun dan gejala-gejala atau keluhan nyeri amat minimal. ini dapat menyebabkan suatu peradangan pada mukosa dasar sinus maxillaris. untuk pembilasan seperti yang telah dijelaskan pada sinusitis maxillaris rhinogen. bila dibandingkan dengan sinusitis akuta. c. Kadang-kadang tulang di antara socket dan sinus amat tipis. hal ini dapat dimengerti karena penyakit-penyakit gigi di Indonesia angkanya cukup tinggi. akar gigi kadang-kadang dapat terdorong atau tertinggal dalam sinus. Kalau dengan pembilasan kurang berhasil kita lakukan operasi antrostomi dengan sublabial approach (diterangkan pada sinusitis kronika). sehingga terjadi efusi dan supurasi. terjadi oroantral fistula.

kita dapat lakukan dengan cara yang lebih radikal. biasanya cukup berat dan bersifat periodik. Gambaran Klinik Frontal pain (frontal headache). gejala-gejalanya cukup berat dan perlu mendapat perhatian yang saksama. dan telah terjadi perubahan-perubahan patologis pada mukosa maupun pada periostium dari sinus maxillaris. cara ini sebaiknya kita lakukan pada kasus-kasus dimana proses penyakit itu telah berlangsung lama. Tetapi kalau terjadi suatu sinusitis frontalis akuta. atau intra nasal antrostomi. dari jendela ini kita mengadakan kuretage pada sinus atau pembersihan jaringan patologis dari dalam sinus.b. ini disebabkan oleh perkembangan sinus frontalis yang paling terlambat dan bentuk anatomis dimana ostium dari sinus frontalis terletak di dasar dari sinus frontalis. Sublabial antrostomi (Caldwell – Luc Operation). memungkinkan kita untuk dapat membersihkan bagian-bagian mukosa yang telah patologis dengan penglihatan secara langsung ke dalam rongga sinus maxillaris (teknik operasi akan dijelaskan). Dengan cara sublabial approach. c. sehingga setiap ada pembentukan exudat dalam sinus frontalis dengan mudah dapat disalurkan ke luar ke dalam cavum nasi. yakni sublabial antrostomi. SINUSITIS FRONTALIS Sinusitis Frontalis Akuta Sinusitis frontalis merupakan sinusitis yang amat jarang terjadi. dibuat suatu jendela pada dinding naso antral pada meatus nasi inferior. mulai beberapa saat setelah bangun pagi dan berakhir kurang lebih jam 2 atau jam 3 petang. karena kemungkinan komplikasi endokranial lebih mudah dibandingkan dengan sinus-sinus yang lain. Kesukaran pada teknik ini adalah lapangan operasi sempit dan rongga sinus sukar tercapai seluruhnya sehingga kalau tidak berhasil baik dengan cara ini. . tidak akan terjamin keberhasilannya. sehingga dengan cara operasi antrostomi simplex. Intranasal antrostomi. Sinusitis frontalis biasanya bersamaan dengan sinusitis ethmoidalis = homolateral.

adakalanya dengan hanya mengadakan tindakan operatif. supra-orbitalis Pengobatan Bila keadaan amat berat. segera sinus terbuka. rongga sinus akan terlihat jelas. Pada keadaan yang ringan. sinus frontalis dapat dikontrol dengan tanpa mengadakan operasi. Setelah itu dimasukkan plastik tube untuk drainage dan difiksasi pada kulit waktu mengadakan penjahitan. Terlihat adanya sekret pada meatus medius nasi. . biasanya disertai sinusitis maxillaris atau sinusitis ethmoidalis. Setelah diadakan trepanasi dengan burr (bor) atau dengan pahat kecil. Dalam keadaan dimana tindakan tadi tidak berhasil. karena komunikasi antara cavum nasi dan sinus terbuka. Dalam penanggulangan sinusitis frontalis kronika. Transilluminasi: kabur Foto Ro: kabur Diagnosa Banding  Herpezs zoster dari n. dengan jalan mengadakan trepanasi pada dasar dari sinus frontalis yang letaknya pada atap medial dari orbita. dengan cara yang sederhana ini. Operasi menurut King. dimana merupakan dasar dari sinus frontalis dan merupakan dinding tulang yang tipis. Sinusitis Frontalis Kronika Telah disinggung sebelumnya. maka tindakan operasi perlu dipertimbangkan. mukosa yang patologik dan polip dibersihkan. tetapi waspada agar duktus nasofrontalis dipertahankan. maka segera diadakan trepanasi pada atap dari sinus frontalis. sinus ethmoidalis.Perasaan nyeri pada penekanan pada atap dari orbita. pada sinus maxillaris. Oedema pada palpebra superior tidak jarang terlihat. Operasi khusus untuk sinusitis frontalis kronika termasuk: a. pus atau exudat akan segera keluar dan dibersihkan. kemudian diadakan drainage dengan memasang tube (plastic tube) yang difiksasi pada kulit. kita dapat lakukan infraksi conchae media dengan maksud memperlebar meatus nasi media. sampai terlihat duktus nasofrontalis terbuka dengan melihat adanya cairan bilasan masuk ke dalam cavum nasi dan bebas dari pus. bahwa sinusitis frontalis jarang berdiri sendiri. Pada prinsipnya memperbaiki drainage dari sinus frontalis. sering keluhan nyeri spontan akan hilang. kemudian sewaktu-waktu diadakan pembilasan dengan larutan ephedrian 1% dalam gram fisiologis steriel.

SINUSITIS ETHMOIDALIS Sinusitis Ethmoidalis Akuta Ditinjau dari perkembangan sinus ethmoidalis. inilah semua yang menyebabkan batuk-batuk yang tak ada respons terhadap pengobatan biasa. tanpa mengadakan pengobatan khusus pada sinusnya.Perawatan selanjutnya diadakan pembilasan sinus berulang-ulang melalui tube dengan larutan garam fisiologis steriel atau dengan larutan antibiotika. anamnesa terpimpin menunjukkan adanya rhinorrhoe yang kronis atau post nasal dripping (keluhan ini tidak terlihat dan tidak diketahui oleh orang tua si anak). sinus ethmoidalis. yang ditekankan hanya batuk-batuk telah lama dan telah berobat dimana-mana tanpa hasil. . larynx. Operasi menurut Howarth Operasi ini mencakup operasi fronto-ethmoido-sphencidektomi. Sebagai contoh. malahan sampai pada traktus respiratorius bagian bawah. seorang anak dengan batuk-batuk kronis. sampai sekret dari dalam sinus bersih. maka sinusitis ethmoidalis agaknya tak jarang ditemukan pada anak-anak. Gambaran klinik Sebagai tambahan gejala-gejala khusus sinusitis ethmoidalis akuta. adanya cephalgia (ethmoidal pain) yang letaknya di antara kedua mata dan di daerah frontalis penderita. yang terus menerus menyebabkan post nasal dripping. tetapi kurang mendapat perhatian oleh para teman sejawat yang bergerak di bidang disiplin lain. ingatlah kemungkinan sinusitis ethmoidalis atau sinusitis lainnya. b. Kalau kita menemukan kasus demikian. Pada dasarnya selain sinus frontalis. Kembalinya fungsi normal dari duktus nasofrontalis dapat terlihat dengan adanya sekret yang keluar dari hidung. sinus sphenoidalis sekaligus dapat dicapai dengan teknik operasi ini. dimana bentuk dan ukurannya hampir-hampir lengkap waktu anak dilahirkan. bila drainage melalui duktus telah pulih secara normal tube dapat diangkat. iritasi pharynx.

kadang-kadang terlihat oedema pada palpebra superior (D. optikus. maka terjadilah evakuasi exudat dari dalam sinus dan diganti oleh cairan obat masuk ke dalam sinus. sinusitis frontalis akuta). Sinusitis Ethmoidalis Kronika Pengobatan Khusus a.Pada anak-anak yang menderita penyakit ini tampak apatis. External Ethmoidektomi menurut Peterson atau menurut Smith. konsentrasi berpikirnya berkurang. Intranasal-Ethmoidektomi. atau conchotomi partial. . suara sengau. terlihat adanya sekret pada meatus nasi media dan meatus nasi superior. b. sukar kita tegakkan diagnosa sinusitis sphenoidalis. seperti melebarkan meatus nasi media. kemudian melalui bulla ethmoidalis dilakukan exentrasi selsel ethmoidalis. Pengobatan Mula-mula pengobatan bersifat konservatif. rhinorrhoe. maka setiap ada peradangan pada sinus sphenoidalis. ostiumnya bermuara pada meatus nasi superior. Pada pemeriksaan. Operasi ini adalah operasi dari sinus maxillaris dan sinus ethmoidalis (lihat operasi Caldwell-Luc). sedangkan sel-sel ethmoidalis anterior dapat dibersihkan dengan intranasal approach. kemudian menusukkan obat tetes hidung ke dalam sinus. c. sehingga harus hati-hati karena dapat merusak lamina cribrosa dan n. dengan mengadakan luksasi pada conchae nasi media. Operasi menurut Morgan atau transantral ethmoidektomi.D. dengan teknik ini lapangan penglihatan amat sempit. Dengan teknik ini sel-sel sinus ethmoidalis posterior mudah dicapai. obstruksi nasi dan batuk-batuk. ke lateral dapat merusak lamina papiracea masuk ke orbita. kemudian diadakan replacement suction menurut Proetz. Cara ini pada dasarnya mengisap sekret dari dalam sinus ethmoidalis dengan pertolongan aspirator. SINUSITIS SPHENOIDALIS Sinusitis Sphenoidalis Akuta Karena letak sinus sphenoidalis di belakang atas cavum nasi. tanpa bantuan foto Ro.

Pengobatan Dapat dicoba dengan replacement suction menurut Proetz. atau tidak dibuat diagnosa sinusitis sphenoidalis. Cara penyebaran infeksi a. . Operasi menurut Morgan. atau melalui intra septal approach. Gejala-gejala Cephalgia di daerah vertex. occipital atau dapat diproyeksikan ke regio temporalis seperti pada mastoiditis. Teknik operasi ini jarang dilakukan.Mungkin frekuensi sinusitis sphenoidalis lebih sering seperti apa yang kita duga. kecuali post nasal dripping. dari sinus othmoidalis posterior kita teruskan ke dinding dari sinus sphenoidalis. 2) Osteomyelitis. akan terlihat adanya sekret di ujung belakang dari conchae nasi media. Langsung melalui intranasal dengan mengadakan pungsi pada dinding depan sinus sphenoidalis. kalau kurang berhasil dapat dilakukan pungsi dengan jarum khusus pada dinding depan sinus ephnoidalis. Sinusitis Sphenoidalis Kronika Pengobatan khusus a. Melalui external ethmoidektomi menurut Peterson atau menurut Ferris Smith. 3) Osteoporosis. Rhinorrhoe tak jelas. frontal. polip ethmoidal dapat menyebabkan dehiscensi pada lamina papyrecea atau pada dasar dari fossa cranii anterior. c. maka sekarang dapat dikatakan komplikasi sinusitis supurativa amat jarang. sebagai lanjutan dari septum reseksi. Kalau komplikasi ini terjadi. biasanya pada waktu akut exacerbasi dari sinusitis kronika supurativa. kemudian diadakan pembilasan dengan larutan garam fisiologi steriel. Komplikasi Sinusitis Supurativa Dengan kemajuan yang begitu cepat dan pesat dalam bidang antibiotika. karena lapangan operasi terlalu sempit. pada tulang diploic. b. maka sering-sering diabaikan. tetapi karena diagnosa sukar. pada rhinoskopia posterior. Dalam klinik sering kita membuat diagnosa sinusitis sphenoidalis sebagai bagian dari pensinusitis. Penyebaran langsung 1) Dimulai dengan osteitis pada kompakta (caries).

Ditinjau dari sudut anatomi semua sinus paranasalis berbatasan dengan mata. olfaktorius ke rongga subarachnoid. biasanya cukup berhasil. dengan melalui garis fraktur dari suatu sinus yang sebelumnya sudah ada infeksi atau terjadi setelah trauma. Malahan ada hanya dibatasi dengan tulang yang amat tipis seperti lamina papiracea. Penyebaran melalui vena dengan jalan: 1) 2) Septic venous thrombosis. sehingga terjadi meningitis.4) Accidental atau surgical trauma. atau oedema dari conjunctiva sampai menutup kelopak mata. Penyebaran melalui spacia perineural dari n. terutama pada waktu menggerakkan bola mata. untuk membentuk subperiostal absces. Pengobatan Pada orbital cellulitis dengan pemberian antibiotika dosis tinggi. d. Pada fundus kopi terlihat oedema dan dibatasi vena-vena dari retina. dapat terjadi erosi akibat osteitis. Diplopia. Gejala-gejala orbital cellulitis Nyeri pada mata. c. Komplikasi orbital juga jarang. Retrograde thrombosis dari vena-vena kecil dalam mukosa sinus. menyebar ke vena-vena kecil dalam lapisan periostium dari durameter. Komplikasi pada mata. Osteomyelitis. Keadaan ini dahulu sering terjadi akibat sinusitis frontalis. Chemosis. tetapi pada anak-anak yang kita kenal sebagai orbital cellulitis. dan kalau tidak berhasil biasanya telah terjadi subperiostal absces. b. baik secara langsung atau secara retrograde. dengan atau tanpa subperiostal absces. b. thrombosis dari sinus intracranial dan encephalitis. akibat deri pergeseran letak dari bola mata. . Penyebaran melalui aliran lymfe. Diagnose Banding 1) Dacrocystis 2) Thrombosis sinus cavernosus 3) Mucocele 4) Intra orbital kiste 5) Osteoma 6) Tumor-tumor maligna dari mata. Perivaskuler limfatik membawa infeksi melalui foramina vaskuler. Tetapi secara keseluruhan komplikasi ini sangat jarang. Jenis komplikasi yang dapat terjadi berupa: a. jarang akibat dari sinusitis yang lain.

Misalnya sinusitis frontalis. Komplikasi endokranial tidak akan dibicarakan secara mendetail. bahwa komplikasi endokranial. kemudian diadakan drainage. Prognosis Pada umumnya sembuh sempurna. ada kecenderungan memberikan daerah komplikasi khusus pada otak. otitis media. Sinusitis maxillaris jarang menyebabkan komplikasi intracranial. 3) Enchephalitis atau absces cerebri. dengan tak ada gangguan fungsi pada mata. c. Setelah keadaan lebih tenang dengan pemberian antibiotika dosis tinggi. Kalau absces ini berasal dari sinusitis frontalis akuta. 3) Asthma bronchiale.Pada subperiostal absces diperlukan incisi melalui bagian dalam dari palpebra superior. tonsilitis. Efek sekunder dari sinusitis supurativa 1) Pharyngitis. bahwa setiap sinusitis. Komplikasi Endokranial. karena nanti akan dibicarakan di bagian neurologi. juga berhubungan dengan meningitis supurativa difusa. akibat sinusitis dapat berupa: 1) Meningitis. hubungannya dengan chronis infective allergic sinusitis. 2) Thrombosis dari sinus cavernosus atau dari sinus longitudinalis. tetapi dikatakan bahwa mungkin sinusitis kadang-kadang sebagai penyebab. berhubungan dengan absces dari lobus frontalis. dengan melalui perforasi dekat lamina cribrosa. berhubungan dengan meningitis supurativa difusa. thrombosis sinus cavernosus dan thrombosis dari sinus-sinus lain. Sinusitis ethmoidalis. dilakukan radikal operasi pada sinus bersangkutan. hubungan bronchiectasis dan sinusitis belum begitu jelas. d. 2) Bronchiectasis. Perlu dicatat. Dalam garis besar dapat dikatakan. didahului dengan osteitis dari dinding belakang sinus frontalis. Kalau hal ini terjadi dapat melalui vena yang berasal dari plexus pterygoideus. . Sinusitis sphenoidalis. pada keadaan ini suatu operasi radikal dari sinusitis dapat meringankan asthma bronchiale. dengan atau tanpa extradural atau subdural absces. maka baik sinus maupun absces diadakan drainage dengan mengadakan incisi pada daerah supraorbital. laryngotracheitis dan bronchitis terutama pada anak-anak.

Trauma lateral b. ditambah dengan sifat khusus dari hidung yang merupakan bagian tubuh yang paling menonjol serta tak ada bagian tubuh yang lain melindunginya. laserasi. maka dalam setiap kecelakaan lalu lintas dengan trauma capitis. Walaupun akhir-akhir ini hubungan fokus infeksi dengan sinusitis agak diragukan. TRAUMA HIDUNG Dengan meningginya kecelakaan lalu lintas atau traffic accident. Diagnosis Penderita atau pengantar biasanya sudah memberikan penjelasan mengenai apa yang telah terjadi. kerangka tulang dan tulang rawan yang membentuk hidung itu sendiri. Gambaran Klinik Trauma hidung dapat mengenai hidung. vulnus. kemungkinan besar disertai dengan trauma nasi. Trauma kerangka tulang dan tulang rawan dapat dibagi atas: a. sinusitis kronika kadang-kadang berperanan sebagai fokus infeksi dari penyakit-penyakit tertentu. Atau dapat dikatakan trauma nasi sering bersamaan dengan trauma muka (maxillo facial trauma). corpus allienum yang tertinggal di tempat trauma atau hilangnya bagian-bagian hidung tersebut. Pada waktu pemeriksaan penderita dalam keadaan sadar atau setengah sadar atau dalam keadaan tak sadar atau coma (pada contussio cerebri). . tendosynovitis ternyata ada perbaikan dengan menghilangkan sinusitisnya. mukosa yang meliputi cavum nasi. Trauma naso-orbital Sedangkan menurut arah traumanya dapat dibagi pula atas: a. abrasi. Trauma kulit. Trauma frontal Penggolongan ini sangat penting dalam menentukan sikap kita untuk menanggulanginya. dapat berupa contusio jaringan atau tanpa hematoma. jaringan subcutis dan mukosa. tetapi pada beberapa keadaan seperti poly arthtritis. Fraktura os nasalis b. jaringan subcutis.4) Fokus infeksi.

tanpa atau disertai hematoma. fixasi ini akan jadi longgar setelah dua tiga hari karena oedemanya menurun. Waktu penderita tiba di rumah sakit biasanya sudah oedema. sehingga kita dapat membuat diagnosa dengan tepat dan dapat menilai tindakan kita. kalau tak mungkin dapat dilakukan “skin graft”. c. Kosmetik. Kalau terdapat obstruksi larynx dilakukan tracheotomi. Life saving. Kalau perdarahan masih ada. kalau keadaan penderita memungkinkan. Kulit yang hilang dapat dicoba dengan jahitan. Reposisi yang dilakukan setelah dua minggu memberikan hasil yang kurang memuaskan. Demikian juga kalau diadakan fixasi pada hidung yang ada oedema. maka sebaiknya reparasi dilakukan pada hari ke-5 – 7. Epistaxis dihentikan dengan pemasangan tampon. perdarahan (lihat epistaxis).Kadang-kadang masih ditemui darah yang mengalir dari hidung atau adanya bekuan darah dalam cavum nasi. Penanggulangan Dalam menghadapi kasus-kasus trauma nasi tujuan kita adalah untuk: a. Hampir pada setiap trauma nasi terdapat pembengkakan. maka kita segera berusaha mengatasinya.S. hidung dan tenggorok dibebaskan dari bekuan darah atau corpus allienum yang menghalangi jalan pernapasan. kalau terdapat tanda-tanda shock. hebat atau tidaknya oedema itu bergantung pada berat tidaknya trauma. b. Oedema yang terjadi dapat menyukarkan palpasi sehingga sukar menentukan dislokasi dan sukar menilai kedudukan tulang yang telah direposisi. Mengembalikan fungsi normal serta mencegah terjadinya komplikasi. Pertama-tama yang harus diperhatikan ialah jalan pernapasan. Callus yang mengeras tersebut akan menyukarkan kita melakukan reposisi. apakah sudah mencapai sasarannya serta dapat mengadakan fixasi dengan baik. Fraktura Kerangka Tulang Hidung Prinsipnya tindakan reposisi dilakukan secepat mungkin. segeralah mencari sumber perdarahan tersebut dan cobalah mengatasinya. Trauma terbuka kulit dan mukosa Luka dibersihkan dan dilakukan “debridement”. Biasanya oedema tersebut akan hilang pada hari keempat atau hari kelima.T. Callus yang terbentuk pada tempat fraktur makin lama makin mengeras. oedema. Pada luka-luka yang kotor diberi A. Keadaan umum penderita harus diawasi dengan saksama. kecuali dilakukan open reposisi atau pada . Karena itu cukup bijaksana bila kita menunggu sampai oedema hilang.

occipitomental 30 – 60 derajat. d. tetapi lebih mendatar atau cekung. kedudukan tulang. diplopia karena terlepasnya ligament canthus medialis. Pada trauma hebat terjadi “commuted fracture” yang mungkin menyebabkan tersumbatnya duktus lakrimalis. Pada trauma yang hebat bagian-bagian tulang hidung terpisah satu sama lain. Kadang-kadang os nasalis mudah digerakkan dengan adanya krepitasi. Pada trauma lateral tak banyak faedahnya. Terdapat krepitasi. Trauma frontal Gejala-gejalanya adalah: a. e. c.fraktur lama sebaiknya dilakukan medial – lateral osteotomi. tetapi tak dapat menentukan derajat dislokasi. b. Trauma naso orbital Trauma ini mengenai organ-organ intercanthus dengan tulang-tulang ethmoid di bawahnya. menyebabkan pula hilangnya bentuk hidung itu sendiri. Gejala-gejalanya sebagai berikut: a. Terdapat krepitasi serta os nasalis mudah digerakkan. Nyeri waktu palpasi. Terjadi dislokasi ke satu sisi. Pemeriksaan Radiologik Pemeriksaan radiologik dilakukan dalam posisi lateral. Pangkal hidung biasanya masih berada di garis tengah. Trauma lateral Trauma ini memberikan gejala-gejala sebagai berikut: a. Hidung terletak di garis tengah. serta hilangnya kesatuan dengan processus frontalis ossia maxillae. Jarak kedua canthus medialis akan bertambah. sehingga penderita akan mengeluh hyperlakrimasi. sedangkan pada trauma frontal berguna bila terdapat oedema yang hebat. karena kita tak dapat melakukan palpasi dengan baik. c. c. . b. dan sering ditemukan gangguan pergerakan bola mata. Deviasi septi ke satu sisi. b. Setelah itu fragmenfragmen tulang disusun kembali. Dari gambaran radiologik dapat ditentukan fraktur.

Tindakan pada trauma lateral Kedudukan os nasalis yang mengalami dislokasi, dapat kita reposisi dengan respatorius, Whalsam forceps, sedangkan septum yang deviasi dapat diluruskan dengan Ache’s forceps. Tindakan pada trauma frontal Walau tindakan reposisi dilakukan seperti yang telah diterangkan os nasalis akan tetap miring ke satu sisi karena adanya dislokasi septum nasi. Oleh karena itu sub mukosa reseksi harus dilakukan lebih dahulu. Tindakan pada trauma naso-orbital Untuk dapat menyusun lagi tulang-tulang yang membentuk pangkal hidung tersebut dilakukan open reduction, serta dengan fixasi dengan lempeng logam. Fixasi. Untuk mempertahankan posisi bentuk yang telah diperoleh dengan jalan reposisi dan untuk menghindarkan dislokasi kembali karena kedudukannya masih labil, maka diperlukan fixasi. Fixasi ada dua macam yakni: a. Fixasi dalam. Berupa tampon hidung yang dibuat dengan kain kasa yang diberi boor zalf atau kemycetin zalf atau dengan solfratule. Tampon ini dipasang 2 x 24 jam, dan kalau perlu boleh dipasang tampon baru. b. Fixasi luar. Dapat digunakan gips seperti plaster of paris atau metal plate, fixasi ini kita pertahankan selama 10 – 12 hari. Komplikasi Komplikasi yang mungkin terjadi adalah: a. Cerebrospinal rhinorrhoe, akibat adanya fraktur pada dinding posterior sinus frontalis atau pada lamina cribrosa, sehingga ada hubungan langsung dengan dasar dari fossa cranii anterior. b. Meningitis c. Anosmia.

EPISTAXIS
Definisi Epistaxis adalah perdarahan dari cavum nasi, baik yang ke luar dari nares anterior atau nares posterior turun ke farynx dan dikeluarkan melalui mulut. Etiologi Epistaxis dapat ditimbulkan karena sebab-sebab lokal atau umum. a. Sebab lokal: 1) Trauma, epistaxis dapat terjadi setelah suatu trauma ringan, misalnya karena mengorek-ngorek hidung, atau akibat dari trauma berat, misalnya terpukul, trauma kapitis karena sesuatu kecelakaan dan lain-lain. 2) Infeksi, misalnya diphteria hidung, sinusitis akuta, rhinitis atrofika. 3) Corpus allienum, misalnya terdapat lintah dalam cavum nasi. 4) Tumor-tumor, yang terkenal dalam angiofibroma nasopharynx, haemangioma, tumor-tumor ganas baik dari dalam cavum nasi, sinus paranasalis atau dari nasopharynx. 5) Perubahan tekanan yang tiba-tiba, misalnya waktu menyelam. 6) Idiopathic. 7) Septum deviasi. b. Sebab-sebab umum: 1) Peninggian tekanan arteri, misalnya pada hypertensi yang disebabkan oleh berbagai keadaan, seperti arteriosclerosis, nepheritis kronika, kehamilan pada toxieosis gravidarum. 2) Peninggian tekanan vena, seperti pada decompensatio cordia, penyakit paruparu yang kronis dan pertusis. 3) Penyakit-penyakit darah, seperti leukemia, haemophilia, sickless-cells anemia, defisiensi vitamin K dan C, thrombocytopenia purpura. 4) Infeksi akut, misalnya typhoid fever, influenzae dan morbilli. 5) Perubahan tekanan atmosfir yang tiba-tiba. 6) Gangguan hormonal. Lokasi perdarahan/sumber perdarahan Menurut sumber perdarahan epistaxis dibagi dalam anterior bleeding dan posterior bleeding. Anterior bleeding dapat berasal dari Plexus Kiesselbach (Little’s area) dan dari a. Ethmoidalais anterior. Plexus Kiesselbach merupakan sumber perdarahan yang

paling sering, kira-kira 90% dari epistaxis bersumber dari tempat ini, terutama pada anak-anak dan biasanya dapat berhenti spontan (selflimiting) dan mudah diatasi. Posterior bleeding dapat berasal dari a. sphenopalatina dan a. ethmoidalis posterior, biasanya terjadi pada usia lanjut yang disertai dengan hypertensi, arteriosclrerosis atau pada penyakit cardiovaskuler. Posterior bleeding biasanya tidak berhenti spontan, perdarahan dapat hebat dan sumber perdarahan sukar dideteksi secara langsung, sehingga penanggulangannya pun juga lebih sukar. Penanggulangan Prinsip penanggulangan epistaxis adalah pertama-tama menghentikan perdarahan, mencegah komplikasi dan mencegah berulangnya epistaxis. Untuk menghentikan perdarahan, suatu tindakan aktif perlu segera diambil, seperti pemasangan tampon dan kaustik, lebih dapat dipertanggungjawabkan dari pemberian obat-obat haemostatik sambil menunggu epistaxis berhenti. Sebelum kita membahas tindakan penanggulangan epistaxis secara sistematis, sebaiknya diketahui alat-alat apa yang diperlukan untuk menanggulanginya. 1. Lampu kepala 2. Spekulum hidung 3. Bayonet pinset 4. Alat pengisap (aspirator) 5. Penekan lidah 6. Kateter karet 7. Pelilit kapas (cotton applicator) 8. Lampu spiritus 9. Kapas, kain kasa 10. Tampon Bellocq. 11. Boorzalf atau Bipp (Bisthmus iodine parafin paste). 12. Xylocain 2% untuk topical anesthesi atau untuk spray. 13. Sol. Adrenalin 0,001. 14. Sol. Nitras argenti 20 – 30%. Kalau penderita epistaxis datang, maka penderita harus diperiksa dalam keadaan duduk, kecuali penderita sangat lemah atau dalam keadaan shock. Sebelum kita mulai menanggulangi epistaxis sebaiknya si pemeriksa dan si penderita dilindungi dengan pakaian khusus untuk menghindari dari percikan darah. Tindakan pertama adalah membersihkan bekuan darah dari dalam cavum nasi untuk mencari sumber perdarahan, kalau ada aspirator pergunakanlah alat aspirator

maka kita lakukan pemasangan tampon menurut Bellocq (posterior nasal pack). Bila dengan cara ini perdarahan masih terus berlangsung. hal ini disebabkan karena perdarahan biasanya lebih banyak dan sukar terlihat sumber titik perdarahannya. Tampon boorzalf dapat dipertahankan untuk 1 – 2 hari dan Bipp tampon dapat dipertahankan lebih lama bila perlu. atau dengan electrocauter. kita menutup choanae atau nares posterior dengan segumpal kain kasa yang telah dipulas dengan Bipp atau boorzalf. Perdarahan posterior Perdarahan posterior lebih sukar diatasi. perdarahan berhenti spontan. kadang-kadang dengan membersihkan darah. dimasukkan dalam hidung. Kalau tak ada aspirator dapat dipakai kapas yang telah dibasahi dengan xylocain dan adrenalin. Perdarahan anterior Tindakan yang sederhana untuk mengatasi perdarahan dari depan ialah dengan menekan ala nasi ke arah septum selama 5 – 10 menit. maka kita memasang tampon pada kedua hidung dengan teknik yang sama. Kalau dengan tindakan ini belum berhasil menghentikan perdarahan. Bila belum juga berhasil. ditunggu 5 menit kemudian tampon diangkat. maka kita mencoba pemasangan ulangan tampon dengan cara yang lebih baik. yaitu dengan boorzalf tampon atau Bipp tampon yang dimasukkan melalui nares anterior. maka diperlukan pemasangan tampon. Kalau tindakan ini belum berhasil kita masukkan tampon kapas yang sebelumnya telah dibasahi dengan xylocain dan ephedrin atau adrenalin ke dalam hidung. dan kalau ini pun belum berhasil. Dalam praktek kadang-kadang tidak mungkin untuk menentukan titik perdarahan tersebut. tempat asal perdarahan di kaustik dengan sol. tetapi sebelumnya harus diadakan lokal anesthesi dengan xylocain 2%. . nitras argenti 20 – 30% dapat juga dipakai larutan trichlor acetic acid 50%.untuk membersihkan darah. sambil menyuruh penderita bernapas melalui mulut. Dengan cara ini kita dapat menentukan apakah sumber perdarahan berasal dari depan atau dari belakang. Pada prinsipnya pemasangan Bellocq tampon ini. sambil menunggu kurang lebih 5 menit setelah itu tampon dilepaskan dan dicari sumber perdarahan. Tampon yang dipasang ini harus dapat menekan tempat asal perdarahan. Maka pada keadaan ini kita langsung memasang tampon pada cavum nasi yang berdarah. karena terjadi reaksi dan kontraksi dari pembuluh darah.

Di samping pemasangan tampon dengan kain kasa. Kalau dengan tindakan ini masih berdarah. Pada gumpalan kain kasa ini kita ikatkan dua utas tali yang sebaiknya terbuat dari kain. cavum nasi dari belakang sampai ke depan benar-benar padat dengan tampon. setelah itu kita tarik kateter yang keluar dari hidung sambil menuntun gumpalan kain kasa tersebut masuk ke choanae dengan bantuan dorongan dari jari tangan kita sehingga terletak demikian rupa menutup rapat lubang choanae. Ujung kateter yang keluar dari mulut ini kita sambungkan dengan kedua ujung tali yang bebas yang terikat pada gumpalan kain kasa tadi. Setelah pemasangan tampon depan tersusun dengan baik dari belakang hidung sampai ke depan. Kemudian dengan kateter karet kita masukkan pada hidung yang berdarah. arteri maxillaris interna. Beberapa penulis memakai obat-obatan secara lokal/topikal untuk menghentikan perdarahan. dan kedua ujung tali yang bebas yang keluar pada nares anterior diikatkan pada gumpalan kain kasa tersebut (lihat gambar). Dengan teknik pemasangan tampon menurut Bellocq ini. atau arteri othmoidalis anterior. adona AC 17 dapat diberikan sebagai penunjang di samping pengobatan lokal. Obat-obat haemostatik seperti vitamin K. Setelah itu kita lanjutkan dengan pemasangan tampon depan seperti telah dibicarakan sebelumnya. “oxycel”. pada nares anterior kita letakkan lagi segumpal kain kasa kecil. sedemikian rupa sehingga pada permukaan lain dari gumpalan kain kasa tersebut terdapat dua ujung tali yang bebas dan pada sisi lain terdapat satu ujung tali yang bebas pula. sehingga kalau teknik pemasangan yang baik. perdarahan biasanya akan dapat diatasi. ada pula yang memakai “rubber pneumatic pack” untuk menghentikan perdarahan. Darkstein (1971) memakai acidum aminocaproicum secara topikal spray dan zat ini berfungsi menghambat fibrinolysis. maka tindakan akhir adalah pengikatan arteri earotis externa. Dapat juga dipakai zat-zat thrombin. . sehingga ujungnya keluar ke oropharynx dan ditarik keluar melalui mulut.Teknik pemasangan Bellocq Tampon Ambillah segumpal kain kasa yang telah dibalutkan sebesar kurang lebih dengan garis tengah 2 – 2 ½ cm (sebesar lubang choanae). anaroxyl. Ujung tali satu lainnya yang keluar dari mulut difixasi pada sudut pipi.

sehingga tidak memerlukan koreksi. SEPTUM DEVIASI Septum deviasi merupakan salah satu penyebab dari obstruksi nasi. hal ini sering terjadi pada anak-anak akibat terjatuh. insufiensi koroner dan infark myocard. yakni dari krista maxillaris dan dari tulang vomer. yang memerlukan koreksi dengan jalan operasi. bahwa pertumbuhan tulang-tulang septum nasi terlalu cepat bila dibandingkan dengan kerangka tulang yang terletak di sekitar hidung. karena terjadi hypoxia atau tekanan O2 menurun dalam darah dan meningginya tekanan CO2 dalam darah. karena itu setiap pemasangan tampon sebaiknya diberikan antibiotika. yakni pada cartilago septi nasi. Hanya septum deviasi yang berat dengan keluhan obstruksi nasi. Biasanya terdapat sedikit deviasi tetapi tidak memberikan keluhan. sehingga dapat menyebabkan kematian.Komplikasi Komplikasi dapat terjadi sebagai akibat langsung dari epistaxis sendiri. Dalam hal ini pemberian transfusi darah secepacepatnya merupakan tindakan yang paling penting. Etiologi Trauma. Telah dinyatakan sebelumnya dalam pembicaraan anatomi dari septum nasi. Pada keadaan ini septum nasi dapat menonjol ke salah satu sisi. sehingga terjadi ischaemia pada myocard infark. Perlu juga diperhatikan pada pemasangan Bellocq tampon pada orang tua-tua yang mempunyai penyakit cardiopulmonary yang kronis dapat menyebabkan kematian mendadak. bahwa pada seseorang dewasa jarang yang mempunyai septum yang benar-benar lurus. Kelainan ini biasanya menyebabkan efek di bagian belakang dari . Sebagai akibat perdarahan yang hebat dapat terjadi shock dan anemia. Pemasangan tampon yang lama dapat menyebabkan sinusitis. dikatakan. biasanya menyebabkan deviasi di bagian depan dari septum nasi. yang menyebabkan dislokasi dari cartilago septi nasi dari dasarnya. Kesalahan perkembangan. Turunnya tekanan darah mendadak dapat menimbulkan ischaemia cerebri. sehingga cukup dapat memberikan keluhan obstruksi nasi. otitis media dan bahkan septikemia. atau sebagai akibat usaha dalam penanggulangan epistaxis.

kemudian terbentuk callus yang tebalnya tak teratur. Etiologi Hampir selalu disebabkan oleh trauma dan dapat berupa: a. atau koreksi pada septum nasi. Cephalgia atau “Pressure headaches”. Gambaran Klinik Obstruksi nasi merupakan keluhan utama. Pengobatan Pada keadaan yang ringan tidak perlu pengobatan. biasanya sebagai akibat trauma. karena terjadi dislokasi atau fraktur. kita sebut “simple deviasi”.M.R. Trauma langsung pada hidung. Bila deviasi septi dengan keluhan terutama obstruksi nasi.septum nasi. sedangkan bentuk deviasi berganda pada kedua sisi kita sebut “sigmoid” atau bentuk “S”.) HEMATOMA SEPTI Definisi Hematoma septi adalah penggumpalan darah di bawah mukoperichondrium atau mukoperiostium dari septum nasi. Deformasi hidung luar (pada keadaan yang berat). karena kecepatan pertumbuhan antara tulang palatum dan cranium tidak sama. atau letak anak dalam kandungan mempunyai pengaruh sebagai penyebab terjadinya septum deviasi. . Deviasi ini juga dapat dalam bentuk penebalan yang tak teratur. karena jatuh atau pukulan. kadang-kadang terjadi akibat daruptur kapiller pada bagian tulang yang menonjol. Epistaxis. Patologi Deviasi bisa terjadi pada tulang rawan. maka tindakannya adalah dengan jalan operasi yang kita kenal sebagai “submukous resection” (S.M. Ada juga yang mengemukakan. yang mungkin disebabkan adanya sentuhan antara septum (spina septi) dengan bagian dari dinding lateral. tulang biasa atau pada kedua-duanya.R. baik dalam bentuk spina atau krista septi. bahwa kompresi pada hidung waktu anak dilahirkan (termasuk trauma lahir). Bentuk deviasi yang hanya ke satu sisi. b. Suatu akibat operasi pada hidung misalnya operasi S.

Blood dyscrasias (jarang). Pengobatan Aspirasi dengan jarum kadang-kadang cukup. Gambaran Klinik Nyeri pada hidung. Insisi dan drainage dengan drain karet yang diambil dari guntingan sarung tangan karet. sakit kepala. Pada septum terlihat pembengkakan. . akibat nekrosis pada tulang rawan. dalam beberapa hal sebagai komplikasi dari furunkulosis dari vestibulum nasi. Deformasi hidung luar. b. c. dapat mencegah penggumpalan darah kembali. Komplikasi Absces septi dapat mengakibatkan nekrosis pada tulang rawan dari septum nasi. kadang-kadang terjadi setelah serangan morbilli. cara aspirasi ini dapat diulangi.c. Meningitis dan thrombosis sinus cavernosus (jarang). suatu absces biasanya akibat sekunder dari hematoma septi dengan sekunder infeksi. obstruksi nasi. panas. Spontan. Pengobatan Pengobatan harus segera diberikan setelah diagnosa ditegakkan. Pemberian antibiotika untuk mencegah infeksi sekunder. terdapat fluktuasi. atau scarlet fever. berbentuk tube yang kecil. Perforatio septi. Gambaran Klinik Obstruksi nasi biasanya bilateral dan obstruksi total. bila hematomanya kecil. pembengkakan dengan warna kemerah-merahan yang symetris pada septum. pada akhirnya menyebabkan deformasi hidung. palpasi terdapat fluktuasi. ABSCES SEPTI Etiologi Trauma. Tampon hidung. karena infeksi sekunder. dengan warna kemerah-merahan pada kedua sisi. Komplikasi a.

Malignant granuloma dan periarteritis nodosa (Wegeneror granulomatosis). PERFORATIO SEPTI Etiologi Trauma. Lokalisasi perforasi Syphilis terjadi pada bagian tulang dari septum nasi. hal ini dilakukan setelah keadaan peradangan tenang. terjadi perforasi pada bagian tulang dari septum nasi (sekarang jarang). Indiopathic perforasi dapat ditemukan secara kebetulan tanpa adanya riwayat trauma. Pemberian antibiotika dengan dosis tinggi. atau penyakit-penyakit lainnya. rhinitis caseosa.M. Rhinoplasty untuk mengoreksi deformitas. Gambaran Klinik 1. g. 4. Sakit dan foeter. 2. f. sedangkan sebab penyakit lainnya pada bagian tulang rawan dari septum nasi. dapat terjadi kalau terlepas crustae dimana pinggir perforasi ulcus masih aktif. bila kita mengadakan insisi kiri kanan yang penting garis insisi tidak boleh dalam satu bidang horizontal. pada rhinolith atau pada stadium aktif dari gumma. 3. c. biasanya terjadi pada perforasi kecil. Terasa ada iritasi pada hidung Wistling. Penyakit Hanzen. b. karena suatu operasi S. Hematoma atau absces septi dengan nekrose pada tulang rawan. Insisi dan drainage seperti pada hematoma. Rhinolith. Tumor-tumor ganas. 5. b. e. Epistaxis. agar tidak terjadi perforasi. d. terjadi perforasi pada mukoperichondrium pada kedua sisi yang berlawanan. Syphilis. c. Pada perforasi besar terhadap rhinolatia. teknik insisi ini harus diperhatikan.R.a. Keadaan patologik a. .

kacang tanah dan lain-lain. dalam waktu yang tidak lama terjadi reaksi peradangan dan terjadi penyumbatan dan rhinorrhoe. Penutupan perforasi dengan teknik sliding mucoperichondrial flaps dapat dicoba pada perforasi yang tidak terlalu besar. karena si anak memasukkannya dengan tangan kanan. Sebagai contoh di Ujung Pandang ini. tidak terjadi reaksi atau amat lambat reaksi peradangannya. kalau anak itu datang dari desa. misalnya kalau si anak suka mandi di sawah atau kali-kali kecil yang terdapat lintah di dalamnya. Benda-benda inorganik misalnya bahan-bahan metal. Benda asing ini pada umumnya dimasukkan ke dalam hidung dengan sengaja melalui nares anterior dan lebih sering ditemukan dalam hidung kanan. Jenis benda apa yang paling sering ditemukan. untuk mendapatkan pertumbuhan jaringan baru. karet. amat bergantung dari lingkungan si anak itu bermain. secara lokal cavum nasi dibersihkan dengan crustae. Perlu juga dicatat. yang sering kita temukan adalah biji buah asam. Sedangkan anak-anak di kota biasanya kita temukan bahan-bahan plastik. Benda organik seperti kacang tanah dan biji-bijian lainnya. tidak perlu pengobatan. maka kadang-kadang ditemukan lintah sebagai corpus allienum nasi. Pengobatan lainnya bergantung pada kausa. CORPUS ALLIENUM NASI Pendahuluan Benda asing dalam hidung sering ditemukan pada anak-anak di antara umur 3 – 5 tahun. kacang tanah atau daun-daunan. jaringan granulasi dikaustik dengan Nitras argenti.Pengobatan Kalau perforasi kecil dan dalam keadaan tenang. yakni bendabenda organik dan benda-benda in organik. manik-manik. . Sifat benda asing Menurut sifatnya benda asing ini kita bagi dalam dua jenis besar. bahwa kadang-kadang corpus allienum nasi itu terdiri dari benda hidup. tulang atau tulang rawan yang nekrotis diexcisi.

Jalan masuknya corpus allienum nasi a. kita mendengar keluhan yang berupa: footer nasi. . Ingat. corpus allienum biasanya terletak di dasar cavum nasi. Pada kasus kedua. bahwa sejak beberapa hari ini hidung anaknya berbau busuk dan mengeluarkan ingus dari salah satu lobang hidungnya. Kasus II. Seorang ibu atau ayah menceritakan kepada dokter. Diagnosa pasti dan tentu harus diperkuat dengan pemeriksaan rhinoskopi anterior. dan pada waktu tidur tampak napasnya sesak. agar jangan bergerak. Melalui nares posterior. Sekali lagi ditekankan. corpus allienum itu mudah dikeluarkan. b. Melalui nares anterior. rhinorrhoe dan obstruksi nasi unilateral pada seorang anak. dan ini yang paling sering. Gambaran Klinik Kasus I. sisa-sisa makanan dapat masuk ke dalam hidung dan tertinggal di dalamnya. bahwa fiksasi anak penting sekali sebelum kita mencoba mengeluarkan corpus allienum. dan seorang pembantu memegang kepala si anak. bahwa corpus allienum nasi bukan kasus akut. Sudah selayaknya kita sebagai dokter mendengar keluhan demikian. Bila kita menemukan kasus demikian. Setelah itu hidung dibuka dengan spekulum hidung. dan dengan teknik yang tepat (diterangkan dengan demonstrasi). sebab usaha pengaitan pertama dari corpus allienum itu amat menentukan. biasanya orang tua si anak agak gelisah dan segera membawa si anak ke dokter. Jadi harus diusahakan agar pengambilan pertama itu harus berhasil. maka assosiasi pikiran kita pertama-tama kita tujukan ke arah diagnosa corpus allienum nasi. bahwa belum berselang lama anaknya memasukkan sesuatu benda ke dalam hidungnya. Penanggulangan Pada kasus-kasus corpus allienum nasi yang telah diketahui oleh orang tua si anak. dapat terjadi kalau penderita muntah. karena pada waktu itu hidung belum berdarah dan corpus allienum masih terlihat dengan jelas. ketiga gejala ini merupakan gejala yang khusus untuk corpus allienum nasi. tetapi pada anak atau bayi dapat tertinggal dalam hidung sebagai corpus allienum nasi. yang penting kita sebagai dokter tidak perlu terburu-buru. pada orang dewasa biasanya dengan mudah dikeluarkan dengan jalan sisi. dengan menceritakan. Seorang ibu membawa seorang anak umur kurang lebih 3 tahun. Tindakan pertama adalah si anak harus dipegang/dipeluk baik-baik dalam posisi duduk tegak. Pada kasus pertama sudah jelas diagnosa corpus allienum telah ditegakkan oleh si ibu.

kalau rhinolith cukup besar. mukopurulent dan foetor. bersifat mucoid. sehingga menyebabkan perforatio septi atau perforatio dari dasar cavum nasi. 2. bekuan darah. terutama bagi yang belum berpengalaman. Rhinorrhoe unilateral. dapat menekan struktur di sekitarnya. Gambaran Klinik 1. kalau perlu dipecahkan terlebih dahulu dalam keping yang lebih kecil dan kalau jalan ini tidak berhasil dapat dilakukan dengan jalan septum reseksi. Pengobatan Rhinolith harus dikeluarkan melalui nares anterior dengan alat khusus. dan biasanya letaknya di dasar cavum nasi. carbonat.Kalau tindakan pertama tidak berhasil. kadang-kadang sekret bercampur darah. dan corpus allienum tidak terlihat lagi. . coklat atau hitam dan terbuat dari garam-garam yang seperti diuraikan dalam definisi di atas. yang terdiri dari garam-garam phospat. Sifat rhinolith Bersifat rapuh atau keras dan kadang-kadang multiple. 3. RHINOLITH (RHINOLITHIASIS) Definisi Rhinolith adalah suatu pengerasan dalam hidung yang menyerupai batu atau beton yang membungkus suatu corpus allienum (dexogen). atau dengan approach rhinotomi lateral. sehingga lebih sukar mengeluarkannya. Obstruksi nasi. mukus (endogen). warnanya keabu-abuan. biasanya dengan pengaitan tadi hidung sudah berdarah. Bersifat radio opaque. calcium dan magnesium yang biasanya tersusun dalam lapisan.

berarti 70%. papilary Ca. kita sebut sacroma. Tumor ganas sinus maxillaris primer adalah lebih banyak dibandingkan dengan tumor ganas sinus paranasalis lain. yang umumnya bersifat sekunder. atau carcinoma planocellulare. Insidens Tumor ganas sinus maxillaris termasuk relatif jarang. thorium. muko epidermoid carcinoma. penyebab tumor ganas sinus maxillaris belum diketahui secara pasti. Bennet melaporkan dari 60 kasus tumor ganas sinus paranasalis yang diselidikinya dari tahun 1955 s/d 1968 ternyata sinus maxillaris terdiri dari 42 kasus. kurang lebih hanya 3% dari seluruh keganasan pada traktus respiratorius dan traktus gastro intestinalis. cyllindroma. Sex Insidens Laki-laki lebih sering ditemukan daripada wanita. pekerja-pekerja tambang mungkin ada hubungan sebagai faktor carcinogenik. perbandingannya kurang lebih 2 : 1. Dari tumor ganas sinus paranasalis. Histo-Patologi Yang paling sering ditemukan adalah jenis squamous cells Ca. malignant melanoma. maka tumor ganas sinus maxillarislah yang paling sering ditemukan. transitional cells ca. lainnya adalah adeno arcinoma. malignant neuro ephitelioma dan metastase carcinoma. Insidens menurut umur Paling banyak ditemukan pada orang tua antara umur 50 – 59 tahun. Tumor ganas ini dapat berasal dari epithel yang kita kenal sebagai carcinoma dan yang berasal dari jaringan ikat. .TUMOR GANAS SINUS MAXILLARIS Pendahuluan Tumor ganas sinus paranasalis adalah tumor ganas yang tumbuh pada mukosa sinus paranasalis. Etiologi Seperti halnya tumor ganas di bagian lain dari tubuh. Tumor dapat bersifat primer atau sekunder. kecuali jenis sacroma sering ditemukan pada umur lebih muda. timbulnya carcinoma rata-rata 12 – 15 tahun setelah instalasi bahan kontrast tersebut ke dalam sinus. Pekerja-pekerja kayu (wood workers). Beberapa sarjana melaporkan adanya hubungan faktor-faktor carcinogenik seperti: bahan kontrast thoratrast.

diplopia. pterigoideus internus diinfiltrasi oleh tumor. mungkin hanya ditemukan secara kebetulan. perubahan densitas tulang. h. Pemeriksaan Ro Pemeriksaan radiologis penting untuk diagnosa dini. Pada umumnya regional metastase terjadi pada stadium T3 (sistem T. c. baiklah kita susun sebagai berikut: a. dapat melalui hematogen ke paru-paru. foeter nasi. malahan pada seluruh bagian dari kepala terasa sakit. rhinorrhoe dan epistaxis. ophtalmoplegia. bila dibandingkan dengan tumor lain. gigi goyah dan tanggal. Plain foto dari berbagai arah. Gejala-gejala pada mata: epiphora. terakhir trismus. bila m.Sintomatologi Tumor ganas sinus maxillaris pada tingkat permulaan jarang memberikan gejala-gejala. yaitu parasthesia atau anasthesia pada pipi. kadang-kadang ada perforasi pada palatum. proptosis. maka prognosa tidak memuaskan. d. terasa ada benjolan pada palatum. Pemeriksaan Ro yang dianjurkan untuk tumor sinus maxillaris adalah: a. e. Distant metastase jarang terjadi. Gejala dalam hidung. Terlihat pembesaran kelenjar regioner pada regio submandibularis. pada saat ini berarti sudah amat terlambat. Gejala pada telinga: kalau terjadi penyebaran ke nasopharynx. dan cervikal. Gejala dalam rongga mulut. Gejala-gejala neurologis: sakit kepala atau neuralgia pada radio temporalis. f. sehubungan dengan diagnosa dini sukar ditemukan. bila tumor mengenai dinding posterior dan superior dari antrum. frontalis.M. Hal ini terutama disebabkan karena antrum atau rongga sinus tertutup oleh tulang.N. b. tanda-tanda destruksi tulang. ialah obstruksi nasi yang progressif. dan adanya bayangan massa jaringan lunak. Gejala-gejala metastase: tumor ganas maxillaris relatif lambat terjadi metastase. kalau tumor ini keluar dari dalam sinus barulah gejala tampak dari luar.). rasa sakit atau parasthesia pada gigi yang bersifat setempat atau radier. . dapat menyebabkan oklusio tubae dengan segala akibatnya. misalnya tumor tonsil. Untuk mempermudah mengingat gejala-gejala dari tumor ganas sinus maxillaris. Pembengkakan dan rasa sakit yang persistent pada pipi. atau dapat dikatakan gejala-gejalanya tidak jelas. adanya kekaburan dalam sinus. g. Gejala pada muka (fossa canina). tulang dan hepar (amat jarang).

Biopsi harus dilakukan pada setiap bagian tumor yang tampak. tetapi tidak sampai pada lamina cribroformis. tetapi masih dapat digerakkan dari dasar. N1 = Teraba kelenjar leher. fossa pterigomaxillaris. dan kalau perlu diadakan antrostomi untuk mendapatkan jaringan tumor. terutama dalam hubungannya dengan tindakan therapi. agar tidak terdapat perbedaan dalam interpretasi. walaupun kriteria dari Sisson ini masih ada kekurangannya.A. otot bebas. M = metastase T1 = invasi tumor pada dinding anterior maxillae atau invasi pada dinding antero medial dari palatum. adalah vital dalam menentukan diagnosa pada setiap tumor. c. system. Untuk tumor ganas sinus maxillaris. M0 = Tidak ada distant metastase M1 = Terdapat distant metastase dengan menjelaskan dimana terjadinya distant metastase. berusaha menyusun suatu sistem. pterygoideus. dan pada orbita. Di samping itu dapat dilakukan antral washing untuk pemeriksaan papaniculeau. dan ke sinus ethmoidalis posterior. dalam menentukan stadium dari sesuatu tumor ganas. Pemeriksaan P. invasi sampai pada kulit dinding depan. Pemeriksaan P. T2 = invasi tumor pada dinding lateral. para ahli berusaha untuk mendapatkan satu bahasa dalam menentukan staging dari tumor-tumor ganas.C). Diagnosa Diagnosa didasarkan atas: . Untuk ini International Union Against Cancer (I. yang dikenal sebagai T. Dalam membahas kasus-kasus tumor ganas. cellulae othmoidalis anterior. untuk menentukan luas dan lokasi tumor. atau pada dinding superior. N2 = Teraba kelenjar reginer. Tomografi untuk menentukan lokasi lebih tepat. ke kontra lateral dari cavum nasi dan sinus maxillaris.U. T4 = Invasi pada lamina cribroformis. N = nudoli lymphatici. dan evaluasi hasil dari suatu metode pengobatan.b. T = tumor. N3 = Pembesaran kelenjar kontralateral.M. orbita bebas. tetapi faedahnya lebih banyak. N0 = Tak ada pembesaran kelenjar regioner. Kontras foto.N. tetapi tidak dapat digerakkan dari dasarnya.A. T3 = Invasi tumor pada n.A. maka dipakai kriteria dari Sisson (1958).

antral washing. trigeminus neuralgia. Bila tumor “T1 dan T2” masih operabel. maka dilakukan penyinaran dengan Co 60 atau dengan Cis 137 sebanyak 6.000 rad dalam waktu 6 minggu kemudian diikuti evakuasi jaringan tumor dari dalam sinus. dan T4 0%. Pemeriksaan P. biasanya terlambat. Prognosa Bila pengobatan dilakukan secara adekuat. Kombinasi a dan b (irradiasi pre-op. ini berarti tumor sudah berada dalam stadium yang lanjut. Bila telah terdapat metastase pada kelenjar leher. Penyinaran atau radiotherapi Bila keadaan tumor pada stadium “T3” dapat dikatakan inoperabel. atau 6 minggu setelah penyinaran terakhir. Pemeriksaan radiologis. karena gejala tidak khas. Operasi b. di samping maxillektomi radikal. tumor-tumor dari gigi misalnya adamantinoma.A. T3 33%. Menurut para penyelidik. d. dan irradiasi post op. rhinoskopia anterior. dilakukan maxillektomi radikal dengan exenterasi orbita. maka menurut Gallagher dan Boples dari 56 penderita yang mereka obati didapatkan “5 years survival rate” berturut-turut T1 100%.a.000 rad. Pemeriksaan transilluminasi. Pengobatan Pada dasarnya pengobatan terdiri dari: a. Setelah itu diikuti dengan radiotherapi dengan CO 60 atau dengan Cis 137 sebanyak kurang lebih 6. b. Irradiasi c. atau rhinitis chronika. Diagnosa Banding Tumor-tumor jinak dari sinus maxillaris atau dari cavum nasi. . Gambaran klinik. epulis dan aspergillosis dari sinus maxillaris. selama 6 minggu. dilakukan maxillektomi radikal. rata-rata 7 bulan setelah timbulnya gejala-gejala permulaan diagnosa ditegakkan. juga dilakukan unilateral atau bilateral partial/radikal neck dissection.) Operasi Pada prinsipnya tindakan operasi dilaksanakan atas dasar stadium dari tumor. T2 42%. disangka hanya suatu sinusitis. c.

sehingga persediaan darah sebelum operasi harus benar-benar tersedia. misalnya ke rongga hidung dan sinus paranasalis. Sex and Age Insidens Lebih banyak terdapat pada laki-laki pada masa pubertas. ke fossa pteryogoidea. Ditinjau dari sudut pengobatannya. mungkin karena gangguan keseimbangan hormon oestrogen dan androgen. tumbuh dengan dasar yang lebar atau bertangkai dari lapisan fibreus fascia prevetebralis. maupun tidak bertangkai yang mempunyai pangkal yang luas. tumor ini sering melekat pada persambungan tulang. sehingga tampaknya seolah-olah mempunyai asal pertumbuhan yang multiple. hanya terdiri dari lapisan endothel. Pertumbuhan tumor sifatnya ekspansif. bertangkai. antara umur 10 – 25 tahun. dapat masuk ke dalam rongga-rongga di sekitar nasopharynx. akibatnya perdarahan sukar berhenti. amat menarik dan merupakan tantangan bagi para ahli THT. karena pendekatan operasi sukar. sukar terjadi retraksi dan kontraksi. tumor ini ada yang single dan ada yang multiple. Susunan dinding pembuluh darah tidak mempunyai tuniknamuskularis. sehingga kalau terjadi ruptur dari pembuluh darah. Etiologi Belum diketahui secara pasti. Patologi Tumor ini terdiri dari dua komponen. Tumor ini juga tidak mempunyai kapsul yang sejati. sehingga pertumbuhan tumor ini dapat mengakibatkan komplikasi-komplikasi yang berat. lagipula sifat dari tumor yang dapat menimbulkan perdarahan yang amat hebat selama operasi. ke endokranium. Pertumbuhan tumor bersifat ekspansif.ANGIOFIBROMA NASOPHARYNX Synonim: Juvenile Nasopharyngeal Angiofibroma Pendahuluan Angiofibroma nasopharynx merupakan tumor jinak yang jarang ditemukan. tempat asal pertumbuhan tumor tersembunyi dan dikitari oleh struktur-struktur vital. yakni pembuluh darah dan jaringan ikat. Makroskopis. .

menimbulkan gejala-gejala kelumpuhan syaraf sesuai dengan syaraf mana yang terkena. obstruksi nasi dan epistaxis yang berulang-ulang. sehingga ada yang mengusulkan kalau gambaran klinis sudah jelas sebaiknya tidak perlu diadakan biopsi preoperatif. Kadang-kadang juga terjadi ekspansi ke rongga tengkorak. Epistaxis ini dapat berulang-ulang. dalam keadaan dini. sehingga benar-benar membantu dalam persiapan sebelum operasi. terlihat bayangan jaringan lunak yang memenuhi nasopharynx. terlihat massa tumor memenuhi cavum nasi dan nasopharynx yang berwarna keabu-abuan. sehingga terjadi deformasi tulang muka. Biopsi. c. sehingga memberikan gejalagejala sekunder berupa anemia. kalau keadaan yang sudah lanjut disertai dengan deformasi muka. dapat menunjukkan configurasi vaskuler. . cavum nasi dan sinus paranasalis. d.P. dimana tumor belum mencapai ukuran yang besar tidak memberikan keluhan-keluhan.. Angiografy. anosmia. bahwa pengobatan terhadap tumor ini. Diagnosa Diagnosa ditegakkan atas dasar: a. Sebagai keluhan yang pertama-tama dirasakan adalah obstruksi nasi. kemudian epistaxis baik ringan maupun berat. dapat memberikan gangguan menelan dan gangguan pernapasan. Kalau tumor itu tumbuh ke arah kaudal. Radiologis. karena ruptur pembuluh darah dan infeksi sekunder. gambaran radiologis penting untuk menetapkan lokalisasi tumor dan luasnya ekspansi tumor tersebut. sehingga terjadi penekanan pada syaraf-syaraf kranium. pada permukaan ada bagian-bagian yang nekrosis. rhinorrhoe dengan foeter nasi. tampak “frog face”. dalam hal pengikatan cabang arteri dan menentukan approach dari suatu operasi.Gambaran Klinik Bergantung dari besarnya dan lokalisasi tumor. pada foto lateral maupun A. dan dapat menunjukkan ukuran tumor dan luasnya ekspansi tumor. Pengobatan Telah disinggung sebelumnya. b. tindakan ini harus hati-hati. Pemeriksaan phisis. Bila tumor telah mencapai ukuran yang besar dapat mendesak tulang di sekitarnya. khususnya. deformasi hidung. Rhinoskopia. yang kita kenal sebagai “frog face”. misalnya rhinolalia. Gejala klinis. Keluhan berikutnya akibat obstruksi nasi dan infeksi sekunder. karena dapat menimbulkan perdarahan yang hebat. e. menarik perhatian dan merupakan tantangan bagi para ahli THT. tampak anemis.

dapat mengurangi perdarahan selama operasi. dikatakan bahwa dengan pemberian hormon ini tumor menjadi kecil dan vaskularisasi tumor menjadi kurang. bergantung lokalisasi tumor tersebut. atau arteri maxillaris interna. tumor kelenjar limfe dan tumor kulit. Bila operasi dilakukan dengan persiapan baik dan tumor belum mengadakan expansi yang terlalu luas. seperti: penyinaran. cryosurgery. TUMOR GANAS NASOPHARYNX Pendahuluan Tumor ganas nasopharynx merupakan tumor ganas yang paling sering ditemukan di bagian THT di Indonesia. carcinoma portio uteri. Menurut frekuensinya menduduki salah satu dari lima tumor ganas yang paling sering ditemukan di Indonesia di samping tumortumor payudara. elektro coagulasi. dengan persiapanpersiapan preoperatif seperti pemberian hormon oestrogen preoperatif (diethyl stilbestrol) selama 1 – 2 bulan. tumor berubah menjadi lebih fibrotis. bahwa tumor ini dapat terjadi regresi spontan pada orangorang yang berumur di atas 25 tahun. Ada yang mengatakan. Di samping pemberian hormon juga diberikan preparat hemostatik seperti adona A. b. dimana orang-orang ini sebenarnya masih mempunyai vitalitas yang tinggi. sebagai usaha untuk mengurangi perdarahan. Sekarang cara yang dipilih adalah dengan cara operasi. semuanya untuk mengusahakan agar perdarahan selama operasi dapat seminimal mungkin. Tumor ganas nasopharynx menyerang orang-orang yang relatif muda usia. Pada operasi ini juga ada yang mengikat arteri carotis externa. Prognosa Prognosa adalah baik: a. baik untuk .Telah banyak cara-cara yang ditemukan sebelumnya untuk menanggulangi kasus-kasus angiofibroma nasopharynx. pengikatan.C. Operasi ini suatu transpalatinal operasi dapat dikombinasikan dengan lateral rhinostomi dan seterusnya.17 selama beberapa minggu sebelum operasi. sehingga dalam tindakan operasi selanjutnya perdarahan lebih kurang dan tumor lebih mudah dicapai.

. faktor lingkungan dan terakhir ini. agar tindakan yang tepat dapat segera diberikan untuk mempertinggi survival rate. Mengenai age insidens. bahwa tumor ganas nasopharynx paling banyak terdapat pada orang Tionghoa dari propinsi Kanton. misalnya anaplastik carcinoma. Ca nasopharynx grade II. juga terdapat dari kalangan Indonesia asli. Seperti di Hongkong dimana penduduknya kebanyakan berasal dari Kanton. sebaiknya kita pakai klasifikasi menurut system Broder’s sebagai berikut: 1. tumor ganas nasopharynx menduduki tempat nomor 2 setelah tumor ganas cervix uteri. adalah faktor virus (Eustein Barr Virus) mungkin memegang peranan yang penting dalam perkembangan tumor ganas nasopharynx. Etiologi Sampai sekarang belum diketahui secara pasti. Berbagai centra patologi. Lelaki lebih sering dari wanita. Insidens Menurut laporan para peneliti. ialah ca epidermoid yang tidak disertai pertandukan (Broder grade II). Untuk tidak membingungkan. sehingga penting bagi kita untuk mengenal tanda-tanda tumor ganas nasopharynx secepat mungkin. 2. tetapi kami pernah temukan pada umur yang lebih muda. tumor ini selain banyak terdapat dari kalangan orang-orang keturunan Tionghoa. semuanya ini sebenarnya termasuk ca epidemoid dalam berbagai diferensiasi. ialah transitional cells ca dengan diferensiasi yang tidak sempurna (Broder grade III). Etiologi Yang paling sering ditemukan adalah jenis epidermoidea. Ca nasopharynx grade I. mungkin terdiri dari multifaktor. paling banyak di antara umur 30 – 50 tahun. tetapi dapat ditemukan dari perantau-perantau asal Kanton yang tersebar pada berbagai penjuru dunia. Kurang lebih 2 : 1. 3.keluarganya maupun untuk masyarakat luas. undifferentiated ca. ialah ca epidermoid yang disertai dengan pertandukan (Broder grade I). yakni 8 tahun. Ca planocellulare. Di antara teori-teori yang dikemukakan ialah faktor genetik. Di Indonesia dari data-data yang pernah dilaporkan. Ca nasopharync grade III. acap kali memakai terminologi yang berbeda. Hal ini dapat ditemukan bukan hanya di antara Tiongkok sendiri.

tanpa predileksi khusus. Gejala-gejala klinik Pada stadium dini tidak memberikan gejala-gejala yang khas. Bentuk elceratif atau bertukak b. Dioagnosa Sesuai dengan keadaan anatomis nasopharynx. Rossen Muller. Misalnya kalau pertumbuhan tumor dalam bentuk ulceratif. Bila terjadi penyebaran kelenjar-kelenjar lympheriogioner. setinggi angulus mandibularis di bawah belakang sterno-cleido-mastoideus. kita dapat gambaran. Dari uraian di atas. Bentuk infiltratif atau endophytik. Kalau bentuk infiltratif dan terjadi infiltrasi ke endokranium. bahwa gejala-gejala tumor ganas nasopharynx. gejala-gejalanya bergantung pada lokalisasi tumor primer dan bergantung pada sifat pertumbuhannya. dapat hanya terdiri dari satu gejala tunggal saja (tidak khas). atau terdiri dari beberapa gejala sekaligus. gejala pertama mungkin tinnitus aurium dan pendengaran berkurang. Beberapa patokan dapat dipegang sebagai cara untuk mengingatkan kita harus waspada kemungkinan adanya tumor ganas nasopharynx kepada seseorang penderita sebagai berikut: . mungkin gejala pertama adalah sakit kepala atau gejala-gejala kelumpuhan syaraf-syaraf otak. Lokalisasi pertumbuhan Menurut Simos & Ariel tempat predileksi yang terbanyak adalah di fossa Rossen Muller di dinding lateral nasopharynx. merupakan daerah tersembunyi dari luar. Menurut pertumbuhannya tumor ini dibagi dalam tiga bentuk: a. maka gejala yang timbul berupa pembesaran kelenjar servicalis. atau tinnitus aurium dan pendengaran berkurang. misalnya yang paling sering kelumpuhan n. letaknya di sekitar ostium fossa.4. Bentuk proliferatif atau exophytik c. maka gejala pertama yang timbul dapat berupa epistaxis. ialah lymphoepithelioma atau carcinoma anaplastik sesuai dengan klasifikasi (Broder grade IV). yang menyebabkan keluhan diplopia. Tetapi menurut Yeh tumor ini secara primer dapat terjadi dimana saja di Nasopharynx. Kalau bentuk exophytik. Kalau bentuk infiltratif lokalisasinya di sekitar fossa Rossen Muller. dan sesuai dengan sifat pertumbuhan tumor ganas nasopharynx yang sebagian infiltratif atau sub epithelial. Ca nasopharynx grade IV. gejala-gejala yang timbul mungkin obstruksi nasi. maka untuk mengadakan deteksi tumor ganas nasopharynx kadang-kadang tidak begitu mudah. abducent.

maka secara klinik kita dapat mendiagnosa tumor ganas nasopharynx. diplopia dan epistaxis. obstruksi nasi. Seseorang dewasa dengan oklusio tubae. epistaxis. maka masih perlu pemeriksaan sebagai berikut: a. Misalnya: Epistaxis dengan pendengaran berkurang hemolateral. obstruksi nasi dan diplopia atau tumor colli dengan epistaxis homolateral. multiple biopsi pada dinding nasopharynx. kita sudah harus cenderung ke arah diagnosa tumor ganas nasopharynx. Nasopharyngoskopi d. d. e. Kalau dua dari gejala-gejala tunggal di atas tadi ditemukan pada seseorang penderita. f. tumor colli dan hemichephalalgia. Seseorang dewasa setengah umur dengan keluhan epistaxis dan setelah diteliti ternyata suatu posterior nasal bleeding. Sitostatika . e. cervikal syndroma. dan pendengaran berkurang. tanpa ada respons terhadap pengobatan. tumor-tumor otak. Palpasi digital c. yang letaknya setinggi angulus mandibulae. sternocleido-mastoideus. Pengobatan Pengobatan terdiri dari: a. di bawah dan belakang n. Radiography. Seseorang dengan keluhan diplopia. tanpa didahului rhinitis yang tidak sembuh-sembuh dengan pengobatan biasa.a. tumor hidung sinus paranasalis. Untuk melengkapi diagnosa. b. dan seterusnya. walaupun belum diadakan biopsi. tumor colli dengan pendengaran berkurang hemolateral. Foto cranium. Rhinoskopia posterior b. Seseorang dengan cephalalgia (hemicephalalgia) yang persistent. c. Kalau tiga dari gejala-gejala tunggal tadi ditemukan pada seseorang. migraine dan trigenial neuralgia. hemichephalalgia. Differensial diagnose Tuberkulose kelenjar. Seseorang dengan tumor colli. Seseorang dengan obstruksi nasi yang progresif. Nasophangogram dengan mempergunakan kontrast. Biopsi. hemichephalalgia dengan epistaxis. Penyinaran b. Misalnya: tumor colli. untuk melihat destruksi tulang cranium.

Tahap pertama diberikan 4.000 rad. Prognosa Menurut hasil penelitian Shi Mien Tu (1975).000 rad). telah dicoba dengan mitomycin C dari Kyowa. MMC ini diberikan secara intravena sebanyak 2 mg tiap kali sampai dosis total 40 mg. setelah itu radiasi diteruskan pada tahap kedua dengan dosis 2. 5 tahun setinggi 35. survival rate berturut-turut sebagai berikut: a. 10 tahun setinggi 10%. Setelah itu radiasi diteruskan dengan dosis 200 rad. suatu sitostatika yang berasal dari antibiotika yang mengandung komponen-komponen azuridine. .000 rad. 7 tahun setinggi 26. kemudian istirahat selama 3 – 4 minggu.000 rad. Bila dianggap perlu dapat ditambah kurang lebih 1. MMC diberikan setelah penyinaran tahap pertama selesai (4.5% c.7% b.9% d.Penyinaran Penyinaran diberi dalam dua tahap. urethanedan quinone (MMC). 3 tahun setinggi 47. Sitostatika Sitostatika diberikan sebagai tambahan setelah radiasi.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->