P. 1
Pendekatan Struktural NEW

Pendekatan Struktural NEW

|Views: 955|Likes:

More info:

Published by: Nancy Megawati Simanjuntak on Mar 20, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/21/2013

pdf

text

original

2

pengarang, dan menentang teori-teori yang menganggap sastra sebagai media komunikasi antara pengarang dan pembacanya. Teori strukturalisme memiliki latar belakang sejarah evolusi yang cukup panjang dan berkembang secara dinamis. Dalam perkembangan itu terdapat banyak konsep dan istilah yang berbeda-beda, bahkan saling bertentangan. Misalnya, strukturalisme di Perancis tidak memiliki kaftan erat dengan strukturalisme ajaran Boas, Sapir, dan Whorf di Amerika. Akan tetapi semua pemikiran strukturalisme dapat dipersatukan dengan adanya pembaharuan dalam ilmu bahasa yang dirintis oleh Ferdinand de Saussure. Jadi walaupun terdapat banyak perbedaan antara pemikir-pemikir strukturalis, namun titik persamaannya adalah bahwa mereka semua memiliki kaitan tertentu dengan prinsip-prinsip dasar linguistik Saussure (Bertens, 1985: 379-381). Ferdinand de Saussure meletakkan dasar bagi linguistik modem melalui mazhab yang didirikannya, yaitu mazhab Jenewa. Menurut Saussure prinsip dasar linguistik adalah adanya perbedaan yang jelas antara signifiant (bentuk, tanda, lambang) dan signifie (yang ditandakan), antara parole (tuturan) dan langue (bahasa), dan antara sinkronis dan diakronis. Dengan klasifikasi yang tegas dan jelas ini ilmu bahasa dimungkinkan berkembang menjadi ilmu yang otonom, di mana fenomena bahasa dapat dijelaskan dan dianalisis tanpa mendasarkan dirt atas apa pun yang letaknya di luar bahasa. Saussure membawa perputaran perspektif yang radikal dari pendekatan diakronik ke pendekatan sinkronik. Sistem dan metode linguistik mulai berkembang secara ilmiah dan menghasilkan teori-teori yang segera dapat diterima secara luas.

3

Keberhasilan studi linguistik kemudian diikuti oleh berbagai cabang ilmu lain seperti antropologi, filsafat, psikoanalisis, puisi, dan analisis cerita. Jan Mukarovsky memperkenalkan konsep kembar artefakta-objek-estetik. Sastra dianggap sebagai sebuah fakta semiotik yang tetap. Teks-teks sastra dianggap sebagai suatu tanda majemuk dalam konteks luas yang meliputi sistemsistem sastra dan sosial. Sklovsky mengembangkan konsep otomatisasi dan deotomatisasi, yang serupa dengan konsep Roman Jakobson tentang familiarisasi dan defamiliarisasi. Dasar anggapan mereka adalah bahwa bahasa sastra sering kali memunculkan gaya yang berbeda dari gaya bahasa sehari-hari maupun gaya bahasa ilmiah. Struktur bahasa ini pun sering kali menghadirkan berbagai pola yang menyimpang dan tidak biasa. Roland Barthes danJulia Kristeva (Strukturalisme Perancis)

mengambangkan seni penafsiran struktural berdasarkan kode-kode bahasa teks sastra. Melalui kode bahasa itu, diungkapkan kode-kode retorika, psikoanalitis, sosiokultural. Mereka menekankan bahwa sebuah karya sastra haruslah dipandang secara otonom. Puisi khususnya dan sastra umumnya harus diteliti secara objektif (yakni aspek intrinsiknya). Keindahan sastra terletak pada penggunaan bahasanya yang khas yang mengandung efek-efek estetik. Aspek-aspek ekstrinsik seperti ideologi, moral, sosiokultural, psikologi, dan agama tidaklah indah pada dirinya sendiri melainkan karena dituangkan dalam cara tertentu melalui sarana bahasa puitik. Teori strukturalisme sastra, sesuai dengan penjelasan di atas, dapat dipandang sebagai teori yang ilmiah mengingat terpenuhinya tiga ciri ilmiah.

4

Ciri ilimah tersebut adalah: 1. Sebagai aktivitas yang bersifat intelektual, teori strukturalisme sastra mengarah pada tujuan yang jelas yakni eksplikasi tekstual, 2. Sebagai metode ilmiah, teori ini memiliki cara kerja teknis dan rangkaian langkah-langkah yang tertib untuk mencapai simpulan yang valid, yakni melalui pengkajian ergosentrik, 3. Sebagai pengetahuan, teori strukturalisme sastra dapat dipelajari dan dipahami secara umum dan luas serta dapat dibuktikan kebenaran cara kerjanya secara cermat. Pada kesempatan kali ini, penulis akan mengkaji cerpen “Sih” dalam surat kabar Jawa Pos, Minggu 8 Januari 2012 dengan menggunakan teori struktural. Dimana kajian yang akan saya bahas dalam cerpen Sih adalah tema cerpen, sudut pandang cerpen, plot cerpen, setting cerpen, tokoh dalam cerpen, dan konflik yang terjadi di dalam cerpen. 1 .2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : Bagaimanakah struktur cerpen “Sih” karya Ajib Purnawan dalam surat kabar Jawa Pos, Minggu 8 Januari 2012 ? 1 .3 Tujuan Penelitian B e r d a s a r k a n r u m u s a n m a s a l a h , t u j u a n u m u m d a r i p en e l i t i a n i n i y a k n i untuk mendeskripsikan struktur cerpen “Sih” karya Ajib Purnawan dalam surat kabar Jawa Pos, Minggu 8 Januari 2011.

5

1.4 Manfaat Penelitian Adapun manfaat dari penelitian ini dibagi menjadi 2 yaitu manfaat teoritis dan praktis. 1.Secara Teoritis a. Diharapkan hasil penelitian ini bisa memberi konstribusi pada perkembangan karya sastra, khususnya pengetahuan menganalisa cerpen. b. Diharapkan hasil penelitian ini bisa menjadi acuan bagi peneliti berikutnya yang tertarik dengan masalah ini. 2. Secara Praktisa
a. Hasil penelitian ini bisa digunakan oleh pembaca sebgai sarana pendidikan

menjadi sebuah model untuk belajar menganalisa karya sastra.
b. Hasil penelitian ini bisa ,enumbuhkan kritik moral antara pembacadalam

pengamatan dan mengerti budaya serta nilai kehidupan manusia dalam karya sastra

6

BAB II KAJIAN TEORI

2 .1 Pendekatan Struktural Strukturalisme adalah cara berpikir tentang dunia yang menekankan pada persepsi struktur dan deskripsi struktur (Hawkes, 1978:17). Pandangan ini

mengemukakan bahwa dunia pada hakikatnya merupakan keseluruhan, dijalin dan hubungan benda-benda, fakta-fakta. Sebuah kesatuan itu tidak memiliki makna sendiri-sendiri. Makna itu timbul dan hubungan antar unsur yang terlibat dalam situasi tersebut. Dengan demikian, makna penuh sebuah kesatuan atau pengalaman hanya dapat dipahami sepenuhnya apabila seluruh unsur pembentuknya terintegrasi ke dalam sebuah struktur. Sebuah struktur, menurut Jean Peaget, dibangun atas dasar tiga gagasan utama, yaitu: gagasan kemenyeluruhan, gagasan transformasi, dan gagasan kaidah mandiri (Hawkes,1978:16). Karya sastra sebagai sistem model sekunder pada dasarnya adalah sebuah struktur yang tidak sekadar kumpulan sarana, melainkan merupakan keseluruhan yang rapi dan terjalin dan faktor-faktor kepentingan yang beraneka ragam (Fokkema,1997:20). Keanekaragaman karya sastra itu terbina atas berbagai strata norma yang saling membawahi antara yang satu dengan yang lain sehingga membentuk suatu organisme (Wellek dan Warren, 1989). Dengan demikian, sebuah prosa fiksi bukanlah sekedar objek yang simpel, melainkan

7

sebuah organisasi yang sangat kompleks yang terbina dan berbagai lapisan dengan aneka makna yang saling berhubungan. Berdasar atas konsepsi tersebut dapat dikatakan bahwa setiap elemen dalam suatu situasi tertentu tidak memiliki signifikasi dalam dirinya sendiri, tetapi ditentukan oleh hubungannya dengan semua elemen lainnya yang terlibat dalam situasi tertentu. Dengan kata lain, signifikasi lengkap dan setiap keseluruhan atau pengalaman tidak dapat dipahami kecuali hal tersebut terintegrasi ke dalam struktur. Sebagai sebuah metode, strukturalisme berakar pada strukturalisme dalam kajian bahasa yang dikembangkan oleh Saussure dan kajian antropologi yang dikembangkan oleh Levi Strauss (Fokkema,1997). Konsep yang paling berpengaruh adalah konsep tanda serta konsep sinkronik dan diakronik. Scholes (1974) menambahkan bahwa konsep tanda berkait erat dengan struktur bahasa, sedangkan konsep sinkronik dan diakronik berkait dengan pendekatan dalam kajian bahasa. Pendekatan sinkronik ialah pendekatan terhadap keseluruhan bentuk bahasa pada suatu masa tertentu. Pendekatan dikaronik ialah pendekatan terhadap sejarah perkembangan bentuk-bentuk bahasa baik pada masa lampau, masa kini, maupun masa yang akan datang. Sebagai sebuah metode, strukturalisme memiliki beberapa ciri. Ciri utama strukturalisme ialah perhatiannya terhadap keutuhan, terhadap totalitas. Berbeda dengan metode Ganzheit yang mendasarkan diri pada psikologi gestalt yang hanya mengakui keunggulan keseluruhan di atas bagian-bagiannya, strukturalisme memandang kesleuruhan dan bagian-bagainnya tidak dapat dipisahkan, tanpa

8

menganggu totalitas makna. Jadi, yang menjadi dasar analisis strukturalisme bukanlah bagian totalitas tersebut, melainkan jaringan hubungan yang ada di antara bagian-bagian tersebut. Kaitan bagian yang menyatu menjadi sebuah totalitas sangat dipentingkan. Ciri kedua, strukturalisme tidak menelaah struktur permukaan prosa fiksi, tetapi struktur yang ada di bawah atau dibalik kenyataan empirik. Kaum strukturalis berpandangan bahwa kata-kata tertentu dalam prosa fiksi bukanlah struktur yang sebenarnya, melainkan hanya merupakan hasil atau bukti empirik adanya struktur. Ciri ketiga, analisis prosa fiksi yang dilakukan kaum strukturalis menyangkut struktur sinkronik dan bukan struktur diakronik. Perhatian mereka terpusat pada hubungan-hubungan yang ada pada suasana waktu, dan bukan dalam perjalanan waktu. Struktur sinkronik tidak dibentuk atau ditentukan oleh proses historis, tetapi ditentukan oleh jaringan hubungan struktural yang ada. Ciri keempat, strukturalisme adalah metode pendekatan anti kusal. Dalam analisis kaum strukturalis murni, pengertian sebab akibat sama sekali tidak dipergunakan. Mereka tidak percaya adanya hukum sebab akibat, mereka hanya meyakini hukum perubahan bentuk. Sebenarnya, keempat ciri tersebut bukanlah hal baru dalam metode-metode sebelumnya, namun biasanya metode-metode tersebut diterapkan secara terpisahpisah. Keistimewaan strukturalisme terletak pada penggabungan keempat-empatnya dalam satu metode. Teeuw (1984:135) mengemukakan bahwa prinsip analisis struktural ialah membongkar dan memaparkan secermat, seteliti, serinci, dan

9

semendalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua anasir dan aspek prosa fiksi dan drama yang secara bersama-sama menghasilkan makna keseluruhan. Dengan demikian analisis struktural bukanlah penjumlahan berbagai aspek dalam prosa fiksi, bukanlah sekedar mengindentifikasi berbagai unsur prosa fiksi, dan tidak cukup hanya dengan memadai aspek ruang, aspek waktu, perwatakan, sudut pandang, atau menguraikan sekuen-sekuen cerita untuk mengetahui hubungan sintagmatik dan paradigmatik. Demikian juga dengan analisis yang hanya membedakan atau memisahkan antara bentuk dan isi prosa fiksi. Analisis seperti ini dalam pandangan strukturalis tidaklah relevan. Dalam visi strukturalis, membedakan bentuk dan isi sudah tidak mungkin lagi, sebab pemaknaan bentuk tidak dapat dilepaskan dengan isi, sebaliknya pemahaman isi baru benar-benar jelas apabila keduanya berpadu dalam suatu organisme. Beberapa hal di atas menunjukkan berbagai keunggulan strukturalisme. Teeuw (1983:61) bahkan menyebutkan bahwa usaha mengupas karya sastra atas dasar strukturnya dapat memaksa peneliti sastra untuk membebaskan diri dan berbagai konsep, metode, dan teknik yang sebenarnya berada di luar jangkauan peneliti tersebut. Meskipun strukturalisme memiliki keunggulan dan sukar

dihindari oleh peneliti satra, sebaiknya analsiis ini hanya dilakukan sebagai pekerjaan pendahuluan saja. Hal tersebut disebabkan oleh hakikat karya sastra yang dan sisi lain juga dapat disikapi sebagai tanda.

10

Sebagai sebuah tanda, Suradi dalam Suminto (2000:6) mengemukakan bahwa karya satra memiliki dua ciri, yaitu otonom dan komunikatif. Dalam ciri otonomnya karya sastra terikat pada kode sastra. Ia tidak menunjuk pada apa yang ada pada luar dirinya. Dlam ciri komunikatifnya, karya sastra sangat terikat oleh kode bahasa dan kode budaya. Pandangan ini menguatkan bahwa karya sastra tidak dapat dilepaskan dari masyarakat dan zamannya. Oleh karena itu, tidak semua prinsip atau konsep strukturalis dapat diterima. Di samping hal-hal yang dikemukan di atas, dilihat dari sisi konsep, metode, dan tekniknya, pendekatan struktural juga memiliki beberapa kelemahan, yaitu :
1. Analisis struktur karya sastra tidak mendasarkan diri pada teori sastra yang

tepat dan lengkap
2. Dengan analisis struktural karya sastra menjadi terasing, tidak dapat

dipahami dalam kerangka sistem dan latar sejarahnya 3. Adanya struktur yang objektif dalam karya sastra justru semakin menyangsingkan keberadaannya
4. Dan analisis menekankan otonomi karya sastra juga menghilangkan konteks

dna fungsinya. Karya sastra menjadi asing di tengah-tengah masyarakat dan zamannya (Teeuw,1984:139-140).

2 .2 Perkembangan Teori-teori Srukturalisme

11

Strukturalisme muncul dalam dunia akademis pada paruh kedua abad ke-20, dan tumbuh menjadi salah satu pendekatan yang paling populer di bidang akademis berkaitan dengan analisis bahasa, budaya, dan masyarakat. Karya Ferdinand de Saussure tentang linguistik umumnya dianggap sebagai titik awal dari strukturalisme. Istilah "strukturalisme" itu sendiri muncul dalam karya-karya Perancis antropolog Claude Lévi-Strauss, dan memperkenalkannya di Perancis dengan "gerakan strukturalis". Menurut Lash sebagai pangkal tolak kemunculan strukturalisme, post strukturalisme dan post modernisme adalah meluas melalui pemikiran Prancis pada tahun 1960-an. Strukturalisme itu sendiri adalah sebuah reaksi terhadap humanisme Prancis, terutama terhadap eksistensialisme Jean-Paul Sartre. Strukturalisme dari Strauss kemudian mempengaruhi tokoh pemikir lainnya seperti Louis Althusser, psikoanalis Jacques Lacan, serta Marxisme struktural dari Nicos Poulantzas. Sebagian besar anggota gerakan ini tidak menggambarkan diri sebagai bagian dari gerakan tersebut. Strukturalisme terkait erat dengan semiotika. Dalam perkembangan berikutnya, post-strukturalisme berusaha untuk membedakan diri dari penggunaan sederhana metode struktural. Dekonstruksi adalah sebuah upaya untuk memutuskan hubungan dengan cara berpikir strukturalistik. Beberapa intelektual seperti Julia Kristeva, misalnya, mengambil strukturalisme (dan formalisme Rusia) untuk titik awal kemudian menjadi menonjol pasca-strukturalis. Strukturalisme bahkan telah memiliki pengaruh di berbagai tingkatan dalam ilmuilmu sosial termasuk pengaruh besar terhadap di bidang sosiologi.

12

Strukturalisme adalah sebuah pendekatan terhadap ilmu-ilmu manusia yang berupaya untuk menganalisis bidang tertentu (misalnya, mitologi) sebagai sistem yang kompleks dari bagian-bagian yang saling terkait. Itu dimulai dalam linguistik dengan karya Ferdinand de Saussure (1857-1913), tetapi banyak cendekiawan Prancis dianggap memiliki aplikasi yang lebih luas, dan model segera diubah dan diterapkan pada bidang-bidang lain, seperti antropologi, psikologi, psikoanalisis, sastra teori dan arsitektur. Hal ini mengantarkan strukturalisme tidak hanya metode, tetapi juga sebuah gerakan intelektual yang selama ini menjadikan eksistensialisme sebagai tumpuan di tahun 1960-an Perancis. Menurut Alison Assiter, terdapat empat ide umum mengenai strukturalisme yang membentuk 'kecenderungan intelektual'. Pertama, struktur apa yang menentukan posisi setiap unsur dari keseluruhan. Kedua, strukturalis percaya bahwa setiap sistem memiliki struktur. Ketiga, strukturalis tertarik dalam 'struktural' hukum yang berhubungan dengan hidup berdampingan daripada perubahan. Dan akhirnya struktur adalah 'hal-hal nyata' yang terletak di bawah permukaan atau penampilan makna. Untuk selanjutnya, teori strukturalisme dengan segala dinamika dan perdebatan yang menyertainya, terus mengalami perkembangan. Jhon Lechte dalam 50 filsuf kontemporer bahkan mengelompokan periodesasi perkembangan teori strukturalisme menjadi, strukturalisme awal, strukturalisme dan post-strukturalisme. Masing-masing tahap perkembangan diwakili oleh tokoh teoritisi seperti pada era strukturalisme awal; Bachelard, Bakhtin, Canguilhem, Cavailles, Freud, Mauss dan Merleau-Ponty. Era strukturalisme di antaranya adalah Althusser, Benveniste,

13

Bourdieu, Chomsky, Dumezil, Genette, Jakobson, Lacan, Levi-Strauss, Metz dan Serres. Sedangkan era pemikiran post-strukturalisme, dimunculkan tokohnya masing-masing Bataille, Deleuze, Deridda, Foucault dan Levinas. Di antara teoritisi strukturalisme tersebut, Levi-Strauss lebih dikenal dalam karya-karyanya sebagai tokoh aliran strukturalisme. Meskipun harus tetap diakui bahwa dalam perkembangannya, setiap karya Levi-Strauss tidak dapat sepenuhnya membebaskan diri dari pengaruh pemikiran tokoh strukturalis lainnya. Meski terinspirasi kajian strukturalisme dan linguistik dari Saussure tetapi Levi-Strauss memperluas wilayah kajian ke bidang-bidang lain, termasuk di antaranya di bidang antropologi. Di Prancis, strukturalisme semula berkembang agak tersendat. Namun berkat perjuangan kaum strukturalis dalam menentang gagasan kaum faktualitas yang diwariskan kaum positivisme dan individualitas yang ditekankan

eksistensialisme, ternyata strukturalisme mendapatkan tempat dan momentum yang tepat. Bahkan, strukturalisme linguistik pasca-Saussure dan strukturalisme antropologi lambat-laun makin semarak. Belakangan muncul pula Raymond picard sebagai wakil kritik lama dan Roland Barthes sebagai wakil kritik baru.

Ada tiga kecenderungan perkembangan strukturalisme di Prancis; Pertama, kritik strukturalisme dengan tokoh sentral, antara lain, Merleau-Ponty dan Barthes. Kedua, naratologi strukturalis yang bersandar pada gagasan Vladimir Propp dan versus Greimas. Ketiga, deskripsi teks strukturalis-linguistik khasnya lewat gagasan Claude Levis-Strauss dan Michael Riffaterre.

14

Setelah kemunculannya, teori strukturalisme juga banyak memperoleh kritik dan terjebak dalam ruang perdebatan yang berkepanjangan dari berbagai aspek dan pendekatan. Reaksi terhadap strukturalisme semakin terasa sejak munculnya gagasan post-strukturalis yang diperkenalkan Deridda. Meski di Amerika Deridda dikenal sebagai tokoh post-strukturalis tetapi di Prancis tetap saja ia diposisikan sebagai strukturalis. Kenyataan bahwa tidak ada teori sosial yang bertahan secara kaku dalam merespon perubahan-perubahan yang terjadi baik di tingkat politik, sosial maupun intelektual. Strukturalisme seiring dengan kemunculan pemikirpemikir baru yang menjadikannya sebagai wilayah dan basis kajian tidak dapat bebas dari seleksi alami perdebatan teoritik dan metodologi sebagaimana teori sosial lainnya. Strukturalisme mulai kurang populer dari post-strukturalis dan dekonstruksi terutama karena strukturalis dipandang ahistoris dan terlalu deterministik terhadap kekuatan struktural kemampuan individu untuk bertindak. Saat pergolakan politik tahun 1960-an dan 1970-an (dan khususnya pemberontakan mahasiswa Mei 1968) mulai mempengaruhi akademisi, isu-isu kekuasaan dan perjuangan politik mengalihkan pusat perhatian orang. Tahun 1980-an, dekonstruksi dan

penekanannya pada ambiguitas fundamental bahasa - lebih daripada kristalin struktur logis menjadi lebih populer. Kritik terhadap teori strukturasi yang berkembang sekaligus menunjukkan bahwa alur perjalanan kemajuan teori-teori sosial justru muncul dari gagasan dan pemikiran teoritik sebelumnya. Gidden misalnya, mengatakan dalam kritiknya terhadap strukturalisme bahwa, bahasa sebagai sistem tanda yang bersifat arbitrase

15

ketika diterapkan ke dalam ilmu-ilmu sosial, juga jika hanya secara analogis, implikasinya cukup jauh. Apa yang utama dalam analisis sosial adalah menemukan “kode tersembunyi” yang ada dibalik gejala kasat mata, sebagaimana bahasa menjadi kunci otonom di balik parole. “Kode tersembunyi” itulah struktur. Tindakan individual dalam ruang dan waktu tertentu hanyalah suatu kebetulan. Kalau mau mengerti masyarakat kapitalis, misalnya, bidiklah logika-internal kinerja ‘modal’. Ada paralel antara perspektif strukturalis dan fungsionalis, yaitu pengebawahan pelaku dan tindakan pelaku, waktu, ruang, dan proses adalah soal kebetulan. Dalam kritik Giddens, perspektif ini merupakan “penolakan yang penuh skandal terhadap subjek”.

2 .3 Unsur-unsur Intrinsik Karya Sastra

2. 3. 1 Tema Tema merupakan ide cerita, Kenney (1996:99) berpendapat bahwa tema adalah perwujudan dari pikiran manusia, dan ini merupakan bagian penting dalam dasar pembuatan fiksi.Dengan kata lain tema adalah inti c e r i t a . Tema merupakan gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra dan yang terkandung di dalam teks sebagai stuktur semantis dan yang menyangkut persamaan-persamaan atau perbedaan-perbedaan. Tema disaring dari motif- motif yang terdapat dalam karya yang bersangkutan yang menentukan hadirnya peristiwa-peristiwa, konflik, dan situasi tertentu. Tema dalam banyak hal bersifat ”mengikat” kehadiran atau ketidakhadiran

16

peristiwa, konflik serta situasi tertentu termasuk berbagai unsur intrinsik yang lain. Tema menjadi dasar pengembangan seluruh cerita, maka tema pun bersifat menjiwai seluruh bagian cerita itu. Tema mempunyai generalisasi yang umum, lebih luas dan abstrak. S u m a r d j o d a n S a i n i ( 1 9 8 6 : 2 0) b e r p e n d a p a t b a h w a t e m a a d a l a h perubahan dasar dari karya sastra, melalui tema maksudnya penerapan cerita tidak bisa dipisahkan dari bagian cerita.

T e m a m e n u r u t S c a n t o n ( 1 9 6 5 : 2 0) d a n K e n n y ( 1 9 6 6 : 8 8 ) , a d a l a h m akna yang dikandung oleh sebuah cerita, namun ada banyak makna yang dikandung oleh sebuah cerita (roman) itu, maka masalahnya adalah : makna k h u s u s yang mana yang dapat dinyatakan sebagai tema itu atau j i k a berbagai makna itu dianggap sebagai bagian-bagian tema maka ia pun bersifat menjiwai seluruh bagian cerita itu. Tema mempunyai generalisasi yang umum, lebih luas, dan abstrak. Tema dapat digolongkan kedalam beberapa kategori yang berbeda, tergantung dari segi mana penggolongan itu dilakukan . pengkategorian tema yang akan dikemukakan berikut dilakukan berdasarkan tiga

sudut pandang, yaitu penggolongan dikhotomie yang bersifat tradisional atau nontradisional. Penggolongan dilihat dari tingkat pengalaman jiwa menurut Shipley, dan penggolongan dari tingkat keutamaannya, antara lain: a. Tema Tradisional dan Nontradisional

17

Tema tradisional dimaksudkan sebagai tema yang menunjuk pada tema yang hanya “itu-itu “ saja, dalam arti ia telah lama dipergunakan dan dapat ditemukan dalam berbagai cerita, termasuk cerita lama. dipandang berbunyi: Pernyataan-pernyataan sebagai (1) bersifat tema yang itu dapat

tradisional dan keadilan

misalnya,

kebenaran

mengalahkan

kejahatan, (2) tindak kejahatan walau ditutup-tutupi akan terbongkar akan juga, (3) tindak (4) kejahatan masing-masing menurut

memetik

hasilnya,

cinta yang sejati

p e n g o r b a n a n , ( 5 ) kawan s e j a t i a d a l a h k a w a n d i m a s a d u k a , ( 6 ) s e t e l a h m en d e r i t a , o r a n g b a r u teringat Tuhan, (7) atau (seperti pepatah-pantun) sebagainya. berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian, atau

Tema-tema tradisional, walau banyak variasinya,

boleh dikatan selalu ada kaitanya dengan masalah kebenaran dan kejahatan (Meredithdan Fitzgerald, 1972:66). Tingkatan Tema menurut Shipley Shipley Dictionary of World Literature (1962: 4-17) mengartikan tema sebagai subjek wacana, topik umum, atau masalah utama yang dituangkan ke dalam cerita. Shipley membedakan tema-tema karya sastra ke dalam tingkatan-tingkatan berdasarkan

tingkatan pengalaman jiwa, yang disususn dari tingkatan yang paling sederhana tingkat tumbuhan dan makhluk

hidup ke tingkat yang paling tinggi yang hanya dapat dicapai oleh manusia.

18

b.Tema Utama dan Tema Tambahan Tema, seperti dikemukakan sebelumnya pada h a k e k a t n y a merupakan makna yang dikandung cerita, atau secara singkat makna cerita. Makna cerita dalam sebuah karya fiksi roman, mungkin saja lebih dari satu atau lebih tepatnya: lebih dari satu interpretasi. Hal inilah yang menyebabkan tidak mudahnya kita masuk menentukan tema pokok cerita, atau tema mayor (artinya : makna pokok cerita yang m en j a d i dasar gagasan dasar umum karya itu).

M a k n a p o k o k c e r i t a t e r s i r a t d a l a m s e b a g i a n b e s a r , u n t u k t i d a k di katakan dalam keseluruhan cerita, bukan makna yang hanya terdapat pada bagian-bagian tertentu cerita saja. Makna yang hanya terdapat pada bagian-bagian tertentu cerita dapat diidentifikasi sebagai makna bagian,makna sebagai

tambahan. Makna-makna tambahan inilah tema-tema tambahan, atau tema minor.

yang dapat

disebut

D e n g a n d e m i k i a n , banyak

sedikitnya tema minor tergantung pada banyak sedikitnya makna tambahan yang dapat ditafsirkan dari sebuah cerita roman. 2. 3. 2 Alur atau Plot Alur atau plot adalah bagian dari kejadian yang menjadi bagian hasil dari k e j a d i a n y a n g b e r l a n j u t . K e d n n e y ( 1 9 9 6 : 1 6 ) m en y a t a k a n b a h w a p l o t membuat kita sadar dari kejadian sebagai unsur yang temporal tapi juga sebagai sususnan kejadian sebab akibat.

S e b u a h k a r y a f i k s i m en u r u t F o r s t e r ( 1 9 7 0 : 9 - 4 5 ) , m e m i l i k i s i f a t

19

misterius dan intelektual. Plot menampilkan kejadian-kejadian yang mengandung p em b a c a . konflik Hal yang itu mampu menarik p em b a c a bahkan untuk

mencekam

m en d o r o n g

mengetahui kejadian-kejadian berikutnya. Namun, tentu daja hal itu tak akan dikemukakan begitu saja secara sekaligus dan cepat o l e h p en g a r a n g , m e l a i n k a n m u n g k i n s a j a d i s i a s a t i dengan adanya hanya dituturkan sedikit, sengaja “memisahkan” peristiwa-peristiwa yang sebenarnya berhubungan logis langsung, atau m en u n d a ( b a c a baca menyembunyikan) pembeberan sesuatu yang menjadi kunci

permasalahan. Dengan cara yang demikian biasanya, hal itu justru akan lebih mendorong pembaca untuk mengetahui kelanjutan kejadian yang diharapkan. keadaan yang demkian inilah yang oleh Forster disebut sebagai sifat misteriusnya plot. Sebuah cerpen menyajikan sebuah cerita kepada pembacanya. Alur cerita ialah peristiwa yang jalin-menjalin berdasar atas urutan atau hubungan tertentu. Sebuah rangkaian peristiwa dapat terjalin berdasar atas urutan waktu, urutan kejadian, atau hubungan sebab-akibat. Jalin-menjalinnya berbagai peristiwa, baik secara linear atau lurus maupun secara kausalitas, sehingga membentuk satu kesatuan yang utuh, padu, dan bulat dalam suatu prosa fiksi.

Lebih lanjut Stanton mengemukakan bahwa plot ialah cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab-akibat, peristiwa yang disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain.Plot ialah peristiwa-peristiwa yang ditampilkan dalam cerita yang tidak bersifat sederhana,

20

karena pengarang menyusun peristiwa-peristiwa itu berdasarkan kaitan sebabakibat. Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa alur cerita ialah jalinan peristiwa yang melatari sebuah prosa fiksi yang dihubungkan secara sebab-akibat. 2.3.3 Setting atau Latar Setting atau latar adalah tempat di mana cerita itu terjadi. Pengertian dasarnya adalah waktu dan tempat, meskipun membutuhkan beberapa

perkembangan. Tylor (1981: 69) berpendapat bahwa setting adalah sebuah susunan dasar dari masalah dan langsung berdampak pada penetapan ekspresi dan tema. Sumardjo dan Saini (1986: 75) berpendapat bahwa setting adalah tempat dan waktu cerita itu terjadi. Setting atau latar yang disebut juga sebagai landas tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan

lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan (Abrams,198:75). Stanton(1965) mengelompokkan latar bersama dengan tokoh dan plot, ke dalam fakta cerita, sebab ketiga hal inilah yang akan dihadapi dan d a p a t d i i m a j i n a s i o l e h p e m b a c a s e c a r a f a k t u a l j i k a membaca cerita secara konkrit dan langsung membentuk c e r i t a : tokoh cerita adalah pelaku dan penderita kejadian-kejadian yang bersebab akibat, dan itu perlu pijakan,dimana dan kapan. Membaca sebuah roman kita akan bertemu dengan lokasi tertentu seperti nama kota, desa, jalan, hotel, penginapan, kamar, dan lain-lain tempat terjadinya peristiwa. Disamping itu, kita juga akan berurusan

21

dengan hubungan waktu, seperti tahun, tanggal, pagi, siang, malam, saat hujan gerimis, dan awal bulan atau kejadian yang menyaran pada waktu tipikal tertentu, dan sebagainya.

L a t a r t e m p a t , b e r h u b u n g s e c a r a j e l a s . menyaran pada lokasi tertentu, dapat disebut sebagai latar fisik (physicalsetting). L a t a r d a l a m k a r y a f i k s i t i d a k t e r b a t a s p a d a p en e m p a t a n lokasi-lokasi tertentu, atau sesuatu yang bersifat fisik saja,

melainkan juga yang berwujud tata cara, adat istiadat, kepercayaan, dan nilainilai yang berlaku ditempat yang bersangkutan. Hal-hal yang disebut terakhir inilah yang disebut sebagai latar spiritual (spiritual setting). Jadi, latar spiritual adalah nilai yang melengkapi dan dimiliki oleh latar fisik (Kenny, 1996:39). Latar spiritual dalam fiksi, khususnya karya-karya fiksi

Indonesia yang ditulis belakangan, pada umumnya hadir dan dihadirkan bersama latar fisik. Hal ini akan memperkuat kehadiran, kejelasan, dan

kekhususan latar fisik yang bersangkutan. Unsur latar dapat dibedakan ke dalam tiga unsur pokok yaitu: tempat, waktu, dan sosial. Ketiga unsur itu walau masingmasing menawarkan permasalahan yang berbeda dan dapat dibicarakan sendiri, pada kenyataannya saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya. a. Latar Tempat Latar tempat menyaran pada lokasi terjadinya peristiwa y a n g diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Unsur tempat yang dipergunakan

22

mungkin berupa tempat-tempat dengan nama tertentu, inisial tertentu, mungkin lokasi tertentu tanpa nama jelas. Tempat –tempat yang bernama adalah tempat yang dijumpai dalam dunia nyata. Perlu dikemukakan bahwa latar tempat dalam sebuah cerpen atau novel biasanya meliputi berbagai lokasi, latar akan berpindahpindah dari satu tempat ke tempat lain sejalan dengan perkembangan plot dan tokoh. b. Latar waktu Latar waktu berhubungan dengan masalah “kapan” terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Masalah “kapan” tersebut biasanya dihubungkan dengan waktu faktual, waktu

yang ada kaitannya atau dapat dikaitkan dengan peristiwa sejarah. Latar waktu dalam fiksi dapat menjadi dominan dan fungsional jika digarap secara teliti, terutama jika dihubungkan dengan waktu sejarah. Namun hal itu membawa juga sebuah konsekuensi: sesuatu yang diceritakan harus sesuai dengan perkembangan sejarah. Segala sesuatu yang menyangkut hubungan waktu langsung atau tidak langsung, harus berkesesuaian dengan sejarah yang menjadi acuanya. Jika terjadi ketidaksesuaian waktu peristiwa antara yang terjadi di dunia nyata dengan yang terjadi dalam karya fiksi, hal itu menyebabkan cerita tidak wajar, bahkan mungkin sekali tidak masuk akal, pembaca merasa dibohongi. Hal inilah yang dalam dunia fiksi

23

dikenal dengan sebutan anakronisme, tak cocok dengan urutan (perkembangan) waktu(sejarah). c. Latar Sosial Latar sosial menyaran pada hal-hal yang berhubungan

dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Tata cara kehidupan sosial masyarakat

mencakup berbagai maslah dalam lingkup yang cukup kompleks.Latar sosiald a p a t b e r u p a k e b i a s a a n h i d u p , a d a t i s t i a d a t , t r a d i s i , k e y a k i n a n , pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap dan yang lainlain yang tergolong latar spiritual seperti dikemukakan sebelumnya.

L a t a r s o s i a l j u g a b e r h u b u n g a n d e n g a n s t a t u s s o s i a l t o k o h y a n g be rsangkutan, minsalnya rendah, menengah atau atas. Jadi,

Latar sosial merupakan bagian latar secara keseluruhan.

latar sosial berada pada unsur kepadanannya dengan unsur yang lain,y a i t u u n s u r t e m p a t d a n w a k t u . K e t i g a u n s u r t e r s e b u t d alam satu kepaduan jelas akan menyaran pada makan yang lebih khas dan meyakinkan daripada sendiri-

s e n d i r i . Ketepatan latar sebagai salah satu unsur fiksi pun tak dilihat secara terpisah dan koherensinya dengan keseluruhannya. 2. 3. 4 Sudut Pandang Menurut Tylor (1981: 72) sudut pandang adalah cara penulis memeperlihatkan waktu ceritanya. Sumardjo dan Saini

24

( 1 9 8 6 : 8 3 ) m e r u p a k a n p en d a p a t p e n u l i s u n t u k m e m e p e r l i h a t k a n c e r i t a a t a u j a l a n p e n u l i s m en d s k r i p s i k a n c e r i t a n y a . Sudut pandang mempunyai empat jenis (1) sudut pandang omnisien; (2) sudut pandang objektif; (3)sudut pandang orang pertama; (4)

sudut p a n d a n g o r a n g k e t i g a . Sumardjo dan Saini (1986:83) membagi sudut pandang m e n j a d i d u a t i n g k a t a n : ( 1) s t r u k t u r d a m p a k l a n g s u n g d a r i p e r i s t i w a d a n t i n g k a t a n p e n g e t a h u a n d a r i p e n g e r t i a n y a n g d i b e r i k a n ke pada pembaca dan (2) konsep dari teori tidak langsung . Sudut pandang (point of view) merupakan strategi, teknik, siasat, yang secara sengaja dipilih pengarang untuk mengemukakan gagasan dan ceritanya. Segala sesuatu yang dikemukakan dalam karya fiksi memang milik pengarang, pandangan hidup, dan tafsirannya terhadap kehidupan. Namun kesemuanya itu dalam karya fiksi disalurkan lewat sudut pandang tokoh, lewat kacamata tokoh cerita. Sudut pandang adalah cara memandang tokoh-tokoh cerita dengan menempatkan dirinya pada posisi tertentu. Ada beberapa pertanyaan yang dapat digunakan untuk membedakan sudut pandang. Pertanyaan tersebut antara lain sebagai berikut. 1. Siapa yang berbicara kepada pembaca (pengarang dalam persona ketiga atau pertama, salah satu pelaku dengan ”aku”, atau seperti tak seorang pun) ? 2. Dari posisi mana cerita itu dikisahkan (atas, tepi, pusat, depan atau berganti-ganti)?

25

3. Saluran informasi apa yang dipergunakan narator untuk menyampaikan ceritanya kepada pembaca (kata-kata, pikirn, atau persepsi pengarang; kata-kata, tindakan, pikiran, perasaan, atau persepsi tokoh) ? 4. Sejauh mana narator menempatkan pembaca dari ceritanya (dekat, jauh, atau berganti-ganti)? Selain itu pembedaan sudut pandang juga dilihat dari bagaimana kehadiran cerita itu kepada pembaca: lebih bersifat penceritaan, telling, atau penunjukan, showing, naratif atau dramatik. Pembedaan sudut pandang yang akan dikemukakan berikut berdasarkan pembedaan yang telah umum dilakukan orang yaitu bentuk persona tokoh cerita: persona ketiga dan persona pertama.

a. Sudut pandang persona ketiga atau ”Dia” Pengisahan cerita yang menpergunakan sudut pandang persona ketiga gaya ”Dia”, narator adalah seorang yang berada di luar cerita yang menampilkan tokohtokoh cerita dengan menyebut nama, atau kata gantinya: ia, dia, mereka. Namanama tokoh cerita, khususnya yang utama, kerap atau terus menerus disebut, dan sebagai variasi dipergunakan kata ganti. Hal ini akan mempermudah pembaca untuk mengenali siapa tokoh yang diceritakan atau siapa yang bertindak.

Sudut pandang ”dia”dapat dibedakan ke dalam dua golongan berdasarkan tingkat kebebasan dan keterikatan pengarang terhadap bahan ceritanya. Di satu pihak, pengarang, narator dapat bebas menceritakan segala sesuatu yang berhubungan dengan tokoh ”dia”, jadi bersifat mahatahu, di lain pihak ia terikat, mempunyai

26

keterbatasan ”pengertian” terhadap tokoh ”dia” yang diceritakan itu, jadi bersifat terbatas, hanya selaku pengamat saja. 1 “Dia” mahatahu Dalam sudut pandang ini, cerita dikisahkan dari sudut ”dia”, namun pengarang, narator dapat menceritakan apa saja hal-hal yang menyangkut tokoh ”dia” tersebut. Narator mengetahui segalanya, ia bersifat mahatahu (omniscient). Ia mengetahui berbagai hal tentang tokoh, peristiwa, dan tindakan, termasuk motivasi yang melatarbelakanginya. Ia bebas bergerak dan menceritakan apa saja dalam lingkup waktu dan tempat cerita, berpindah-pindah dari tokoh ”dia”yang satu ke ”dia” yang lain, menceritakan atau sebaliknya ”menyembunyikan” ucapan dan tindakan tokoh, bahkan juga yang hanya berupa pikiran, perasaan, pandangan, dan motivasi tokoh secara jelas, seperti halnya ucapan dan tindakan nyata. 2. ”Dia” terbatas, ”Dia” sebagai pengamat dalam sudut pandang “dia” terbatas. Seperti halnya dalam”dia”mahatahu, pengarang melukiskan apa yang dilihat, didengar, dialami, dipikir, dan dirasakan oleh tokoh cerita, namun terbatas hanya pada seorang tokoh saja atau terbatas dalam jumlah yang sangat terbatas. Tokoh cerita mungkin saja cukup banyak, yang juga berupa tokoh ”dia”, namun mereka tidak diberi kesempatan untuk menunjukkan sosok dirinya seperti halnya tokoh pertama. b. Sudut Pandang Persona Pertama atau ”Aku” Dalam pengisahan cerita yang mempergunakan sudut pandang persona pertama (first person point of view), ”aku”. Jadi: gaya ”aku”, narator adalah

27

seseorang yang ikut terlibat dalam cerita. Ia adalah si ”aku” tokoh yang berkisah, mengisahkan kesadaran dirinya sendiri, mengisahkan peristiwa atau tindakan, yang diketahui,dilihat, didengar,dialami dan dirasakan, serta sikapnya terhadap orang (tokoh) lain kepada pembaca. Jadi, pembaca hanya dapat melihat dan merasakan secara terbatas seperti yang dilihat dan dirasakan tokoh si ”aku” tersebut. 1.”Aku” Tokoh Utama Dalam sudut pandang teknik ini, si ”aku” mengisahkan berbagai peristiwa dan tingkah laku yang dialaminya, baik yang bersifat batiniah, dalam diri sendiri, maupun fisik, hubungannya dengan sesuatu yang di luar dirinya. Si ”aku”menjadi fokus pusat kesadaran, pusat cerita. Segala sesuatu yang di luar diri si ”aku”, peristiwa, tindakan, dan orang, diceritakan hanya jika berhubungan dengan dirinya, di samping memiliki kebebasan untuk memilih masalah-masalah yang akan diceritakan. Dalam cerita yang demikian,si ”aku” menjadi tokoh utama (first person central). 2.”Aku” Tokoh Tambahan Dalam sudut pandang ini, tokoh ”aku” muncul bukan sebagai tokoh utama, melainkan sebagai tokoh tambahan (first pesonal peripheral). Tokoh ”aku” hadir untuk membawakan cerita kepada pembaca, sedangkan tokoh cerita yang dikisahkan itu kemudian ”dibiarkan” untuk mengisahkan sendiri berbagai pengalamannya. Tokoh cerita yang dibiarkan berkisah sendiri itulah yang kemudian menjadi tokoh utama, sebab dialah yang lebih banyak tampil, membawakan berbagai peristiwa, tindakan, dan berhubungan dengan tokoh-tokoh lain. Setelah

28

cerita tokoh utama habis, si ”aku”tambahan tampil kembali, dan dialah kini yang berkisah. Dengan demikian si ”aku” hanya tampil sebagai saksi saja. Saksi terhadap berlangsungnya cerita yang ditokohi oleh orang lain. Si ”aku” pada umumnya tampil sebagai pengantar dan penutup cerita. Disamping itu Sudut pandang adalah posisi pengarang atau narator dalam membawakan cerita. Posisi pengarang dalam menyampaikan 1) Narator Serba Tahu Dalam posisi ini, narator bertindak sebagai pencipta segalanya yang serba tahu. Ia tahu segalanya. Ia dapat menciptakan segala hal yang diinginkannya. Ia dapat mengeluarkan dan memasukkan para tokoh. Ia dapat mengemukakan perasaan, kesadaran, ataupun jalan pikiran para tokoh. Pengarang dapat mengomentari kelakuan para tokohnya, bahkan dapat pula berbicara langsung dengan pembacanya. 2) Narator Objektif Dalam teknik ini, pengarang tak memberi komentar apa pun. Pembaca hanya disuguhi "hasil pandangan mata". Pengarangnya menceritakan apa yang terjadi seperti penonton melihat pementasan drama. Pengarang sama sekali tak mau masuk ke dalam pikiran para pelaku. Dalam kenyataan-kenyataannya, orang memang hanya dapat melihat apa yang diperbuat orang lain. Dengan melihat perbuatan orang lain tersebut, kita dapat menilai kehidupan kejiwaannya, cerita ada beberapa macam:

kepribadiannya, jalan pikirannya, dan perasaannya. Motif tindakan pelakunya

29

hanya bisa kita nilai dari perbuatan mereka. Dalam hal ini, jelasnya bahwa pembaca sangat diharapkan partisipasinya. Pembaca bebas menafsirkan apa yang diceritakan pengarang. 3) Narator Aktif Narator juga aktor yang terlibat dalam cerita. Kadang-kadang fungsinya sebagai tokoh sentral. Cara ini tampak dalam penggunaan kata ganti orang pertama (aku, kami). Dengan kedudukan demikian, narator hanya dapat melihat dan mendengar apa yang orang biasa lihat atau dengar. Narator kemudian mencatat tentang apa yang dikatakan atau dilakukan tokoh lain dalam suatu jarak penglihatan dan pendengaran. Narator tidak dapat membaca pikiran tokoh lain kecuali hanya menafsirkan dari tingkah laku fisiknya. Narator juga tidak dapat melompati jarak yang besar, Hal-hal yang bersifat psikologis dapat dikisahkan jika menyangkut dirinya sendiri. 4) Narator Sebagai Peninjau Dalam teknik ini, pengarang memilih salah satu tokohnya untuk bercerita. Seluruh kejadian cerita kiat ikuti bersama tokoh ini. Tokoh ini bisa bercerita tentang pendapatnya atau perasaannya sendiri. Sementara itu, terhadap tokoh-tokoh lain, ia hanya bisa memberitahukan kita semua apa yang dia lihat saja. Jadi teknik ini berupa penuturan pengalaman seseorang. Dalam beberapa hal, teknik ini sebenarnya hampir sama dengan teknik orang pertama, tetapi teknik ini lebih bebas dan fleksibel dalam bercerita. 2. 3. 5 Tokoh atau Karakter

30

Dalam menganalisis unsur dari karakter pada cerita sangat penting u n t u k m en g e t a h u i t o k o h d a r i c e r i t a , k e b e r a d a a n t o k o h t e r k a i t d e n g a n tingkah laku, pengalaman dan kesiapan dalam mempersiapkan masalah. Tylor (1981:62) mengatakan bahwa karakter bisa memberikan p e n g a r u h y a n g b e s a r b a g i s e b u a h i d e a t a u p en g a l a m a n d a n s a n g a t e r a t hubungannya dengan unsur-unsur yang lain. Sumardjo dan Saini(1 9 8 6 : 9 6 ) m e n y a t - a k a n b a h w a b e r d a s a r k a n a t u r a n k a r a k t e r b i s a diklasifikasikan yaitu (1) karakter utama (mayor karakter, protagonis); karakter); karakter p e l e n g k a p . T o k o h u t a m a s e l a l u m e n j a d i y a n g n o m o r s a t u d a r i s e b u a h cerita, karakter pendukung adalah tokoh yang mendampingi tokoh utama. Minor karakter adalah tokoh yang penting dalam sebuah cerita. Sedangkan karakter pelengkap adalah tokoh yang tidak terlalu penting dalam sebuah cerita. Tokoh (pelaku) cerita dalam cerpen terbatas. Berbeda dengan novel yang digambarkan secara mendetail, tokoh dalam cerpen perlu lebih dicitrakan lebih jauh oleh si pembaca. Dengan demikian, cerpen yang baik hendaklah mampu membangitkan imajinasi pembaca lebih jauh. Tokoh-tokoh cerita novel biasanya ditampilkan secara lebih lengkap, misalnya yang berhubungan dengan ciri-ciri fisik, keadaan sosial, tingkah laku, sifat dan kebiasaan, termasuk bagaimana hubungan antartokoh itu, baik hal itu dilukiskan secara langsung maupun tidak langsung. Kesemuanya itu, tentu saja, akan dapat memberikan gambaran yang lebih jelas dan (2) karakter pendukung (antagonis); (3) piguran (minor (4)

31

konkret tentang keadaan para tokoh cerita tersebut. Dalam cerpen, pembaca mengira-ngira gambaran tentang jatidiri tokoh sesuai dengan imajinasi pembaca sendiri. Mutu sebuah cerpen banyak ditentukan oleh kepandaian penulis menghidupkan watak tokoh-tokohnya. Kehadiran tokoh semestinya mempunyai kepribadian sendiri. Hal ini bergantung masa lalunya, pendidikannya, asal daerahnya, maupun pengalaman hidupnya. Cerpen yang baik hendaklah mampu menampilkan jatidiri tokoh walaupun tidak harus digambarkan secara implisit (langsung). Cara tokoh dalam menghadapi masalah maupun kejadian tentulah berbedabeda. Hal ini disebabkan latar belakang (pengalaman hidup) mereka. Dengan menggam-barkan secara khusus bagaimana sang tokoh sedih, kita lebih banyak diberi tahu latar belakang kepribadiannya. Penulis yang berhasil menghidupkan watak tokoh-tokoh ceritanya, berhasil pula dalammenghdiupkan tokoh. Kita pun bisa belajar banyak melalui cara merasa dan berpikir tokoh-tokoh yang hadir dalam cepen. Hal ini berhubungan dengan manifestasi sastra untuk kemanusiaan. Adapun penggambaran tokoh dapat ditempuh dengan beberapa jalan yang muncul dalam diri tokoh, yaitu sebagai berikut. a.Apa Yang Diperbuat Oleh Para tokoh Tindakan-tindakan para tokoh, terutama sekali bagaimana ia bersikap dalam situasi kritis. Watak seseorang memang kerap kali tercermin dengan jelas pada sikapnya dalam situasi gawat (penting), karena ia tak bisa berpura-pura, ia akan

32

bertindak secara spontan menurut karakternya: Situasi kritis di sini tak perlu mengandung bahaya, tapi situasi yang mengharuskan dia mengambil keputusan dengan segera. b.Melalui Ucapan-Ucapan Tokoh Berdasarkan dari apa yang diucapkan oleh seorang tokoh cerita, kita dapat mengenali apakah ia orang tua, orang dengan pendidikan rendah atau tinggi, sukunya, wanita atau pria, orang berbudi halus atau kasar, dan sebagainya. c.Melalui Penggambaran Fisisk Tokoh Penulis sering membuat deskripsi mengenai bentuk tubuh dan wajah tokohtokohnya. Yaitu tentang cara berpakaian, bentuk tubuhnya, dan sebagainya. Tapi dalam cerpen modern cara ini sudah jarang dipakai. Dalam fiksi lama penggambaran fisik kerap kali dipakai untuk memperkuat watak.

d.Melalui Pikiran-Pikirannya Melukiskan apa yang dipikirkan oleh seorang tokoh adalah salah satu cara penting untuk membentangkan perwatakannya. Dengan cara ini pembaca dapat mengetahui alasan-alasan tindakannya. e.Melalui Penerangan Langsung

33

Dalam hal ini, penulis mernbentangkan panjang lebar watak tokoh secara langsung. Hal ini berbeda sekali dengan cara tidak langsung, yang pengungkapan watak lewat perbuatannya, apa yang diucapkannya, menurut jalan pikirannya, dan sebagainya. 2. 3. 6 Konflik Adapun kahadiran konlik harus ada sebabnya. Secara sederhana, konflik lahir dari mulai pengenalan hingga penyelesaian konflik. Untuk lebih jelasnya, tingkatan konflik adalah sebagai berikut. Pengenalan konflik > Timbul permasalahan (konflik) > Permasalahan memuncak > Permasalahan mereda > Penyelesaian masalah a.Pengenalan Konflik Dalam bagian ini, pembaca dibawa untuk mengetahui bagaimana benihbenih konflik bisa muncul. Dalam hal ini, masih ada taraf pengenalan bagaimana hadirnya tiap tokoh (terutama tokoh utama). b.Konflik Muncul Munculnya konflik ini disebabkan hadirnya pertentangan, baik paham, pandangan, maupun emosi, yang membuat hubungan antartokoh menegang. Bisa juga adanya pertentangan batin dalam diri sang tokoh. Munculnya benih konflik ini, biasanya akan dibedakan hadirnya tokoh yang baik dan jahat. Konflik yang muncul menimbulkan gesekan sehingga jalan cerita akan dibawa semakin memuncak.

34

Timbulnya konflik yaitu terbentuknya plot yang juga berhubungan erat dengan unsur watak, tema, bahkan juga setting. c.Konflik Memuncak Konflik yang memuncak disebut juga klimaks. Dalam hal ini, pertentangan antartokoh akan membuat masalah berada dalam titik kulminasi (puncak). Konflik yang memuncak ini semakin membedakan bagaimana tiap tokoh bertindak, baik dengan cara maupun pikirannya masing-masing. Dalam cerpen, konflik digambarkan sebagai pertarungan antara tokoh protagonis dan antagonis. Protagonis adalah pelaku utama cerita, adapun antagonis adalah faktor pelawannya. Antagonis tak perlu berupa manusia atau makhluk hidup lain, tetapi bisa situasi tertentu (alam, Tuhan, kaidah moral, aturan sosial, dirinya sendiri dan sebagainya). Dengan demikian, kunci utama untuk mencari plot suatu cerita adalah menanyakan apa konfliknya. Dan konflik ini baru bisa ditemukan setelah pembaca mengikuti jalan ceritanya. d.Konflik Mereda Konflik mereda muncul setelah tegangan tokoh dalam cerita menemukan jalannya masing-masing. Konflik yang mereda hadir karena posisi masing-masing tokoh sudah ada jawabannya masing-masing. e.Penyelesaian

35

Penyelesaian muncul sebagai titik akhir dari permasalahan yang telah memuncak. Dalam tahap ini, para tokoh telah menemukan nasibnya masingmasing. Dalam pembacaan cerita, penyelesaian ini akan membawa pembaca pada kesimpulannya masing-masing, yaitu menyangkut watak tokoh bahkan

pembelajaran apa yang bisa diambil. Hal ini disebabkan konflik adalah inti cerita yang muncul dan biasa ditunggu dan dinikmati pembaca.

Adapun urutan peristiwa dalam cerpen dapat dimulai dari mana saja. Sebagai contoh, sebuah cerpen dapat dimulai dari masalah yang memuncak. Dengan demikian, tidak harus bermula dari tahap perkenalan tokoh ataupun latar. Hal ini menyangkut kepiawaian pengarang dalam mengolah jalan cerita. Dengan begitu, jalan cerita tidak bersifat konvensional. Berhubung berplot tunggal, konflik yang dibangun dan klimaks yang akan diperoleh pun, biasanya, bersifat tunggal pula.

2.4 Pengertian Cerpen dan Unsur-unsurnya Cerpen adalah singkatan dari cerita pendek, disebut demikian karena jumlah halamannya yang sedikit, situasi dan tokoh ceritanya juga digambarkan secara terbatas (Rani, 1996:276). Mengutip Edgar Allan Poe, Jassin (1961:72) mengemukakan cerpen adalah sebuah cerita yang selesai dibaca dalam sekali

36

duduk, kira-kira berkisar antara setengah sampai dua jam (dalam Nurgiyantoro, 2000:72). Dalam bukunya berjudul Anatomi Sastra (1993:34), Semi mengemukakan: cerpen ialah karya sastra yang memuat penceritaan secara memusat kepada suatu peristiwa pokok saja. Semua peristiwa lain yang diceritakan dalam sebuah cerpen, tanpa kecuali ditujukan untuk mendukung peristiwa pokok. Masih menurut Semi, dalam kesingkatannya itu cerpen akan dapat menampakan pertumbuhan psikologis para tokoh ceritanya, hal ini berkat perkembangan alur ceritanya sendiri. Ini berarti, cerpen merupakan bentuk ekspresi yang dipilih dengan sadar oleh para sastrawan penulisnya. Cerita pendek atau sering disingkat sebagai cerpen adalah suatu bentuk prosa naratif fiktif. Cerita pendek cenderung padat dan langsung pada tujuannya dibandingkan karya-karya fiksi yang lebih panjang,

seperti novella (dalam pengertian modern) dan novel. Karena singkatnya, ceritacerita pendek yang sukses mengandalkan teknik-teknik sastra

seperti tokoh, plot, tema, bahasa dan insight secara lebih luas dibandingkan dengan fiksi yang lebih panjang. Ceritanya bisa dalam berbagai jenis. Cerita pendek berasal dari anekdot, sebuah situasi yang digambarkan singkat yang dengan cepat tiba pada tujuannya, dengan paralel pada tradisi

penceritaan lisan. Dengan munculnya novel yang realistis, cerita pendek berkembang sebagai sebuah miniatur, dengan contoh-contoh dalam cerita-cerita karya E.T.A. Hoffmann dan Anton Chekhov.

37

a.Sejarah atau Asal-Usul Cerita Pendek Cerita pendek bermula pada tradisi penceritaan lisan yang menghasilkan kisahkisah terkenal seperti Iliad dan Odyssey karya Homer. Kisah-kisah tersebut

disampaikan dalam bentuk puisi yang berirama, dengan irama yang berfungsi sebagai alat untuk menolong orang untuk mengingat ceritanya. Bagian-bagian singkat dari kisah-kisah ini dipusatkan pada naratif-naratif individu yang dapat disampaikan pada satu kesempatan pendek. Keseluruhan kisahnya baru terlihat apabila keseluruhan bagian cerita tersebut telah disampaikan. Fabel, yang umumnya berupa cerita rakyat dengan pesan-pesan moral di dalamnya, konon dianggap oleh sejarahwan Yunani Herodotus sebagai hasil temuan seorang budak Yunani yang bernama Aesop pada abad ke-6 SM (meskipun ada kisah-kisah lain yang berasal dari bangsa-bangsa lain yang dianggap berasal dari Aesop). Fabel-fabel kuno ini kini dikenal sebagai Fabel Aesop. Akan tetapi ada pula yang memberikan definisi lain terkait istilah Fabel. Fabel, dalam khazanah Sastra Indonesia seringkali, diartikan sebagai cerita tentang binatang sebagai pemeran(tokoh) utama. Cerita fabel yang populer misalnya Kisah Si Kancil, dan sebagainya. Selanjutnya, jenis cerita berkembang meliputi sage, mite, dan legenda. Sage merupakan cerita kepahlawanan. Misalnya Joko Dolog. Mite atau mitos lebih mengarah pada cerita yang terkait dengan kepercayaan masyarakat setempat tentang sesuatu. Contohnya Nyi Roro Kidul. Sedangkan legenda mengandung pengertian sebagai sebuah cerita mengenai asal usul terjadinya suatu tempat. Contoh Banyuwangi.

38

Bentuk kuno lainnya dari cerita pendek, yakni anekdot, populer pada masa Kekaisaran Romawi. Anekdot berfungsi seperti perumpamaan, sebuah cerita realistis yang singkat, yang mencakup satu pesan atau tujuan. Banyak dari anekdot Romawi yang bertahan belakangan dikumpulkan dalam Gesta

Romanorum pada abad ke-13 atau 14. Anekdot tetap populer di Eropa hingga abad ke-18, ketika surat-surat anekdot berisi fiksi karya Sir Roger de Coverley diterbitkan. Di Eropa, tradisi bercerita lisan mulai berkembang menjadi cerita-cerita tertulis pada awal abad ke-14, terutama sekali dengan terbitnya karya Geoffrey Chaucer Canterbury Tales dan karya Giovanni Boccaccio Decameron. Kedua buku ini disusun dari cerita-cerita pendek yang terpisah (yang merentang dari anekdot lucu ke fiksi sastra yang dikarang dengan baik), yang ditempatkan di dalam cerita naratif yang lebih besar (sebuah cerita kerangka), meskipun perangkat cerita kerangka tidak diadopsi oleh semua penulis. Pada akhir abad ke-16, sebagian dari cerita-cerita pendek yang paling populer di Eropa adalah "novella" kelam yang tragis karya Matteo Bandello (khususnya dalam terjemahan Perancisnya). Pada masa Renaisan, istilah novella digunakan untuk merujuk pada cerita-cerita pendek. Pada pertengahan abad ke-17 di Perancis terjadi perkembangan novel pendek yang diperhalus, "nouvelle", oleh pengarang-pengarang seperti Madame de Lafayette. Pada 1690-an, dongeng-dongengtradisional mulai diterbitkan (salah satu dari kumpulan yang paling terkenal adalah karya Charles Perrault). Munculnya terjemahan modern pertama Seribu Satu Malam karya Antoine Galland (dari 1704; terjemahan lainnya muncul pada 1710–12) menimbulkan pengaruh yang hebat

39

terhadap cerita-cerita pendek Eropa karya Voltaire, Diderot dan lain-lainnya pada abad ke-18. b.Jenis-jenis Cerita Pendek Berdasarkan jumlah katanya, cerpen dipatok sebagai karya sastra berbentuk prosa fiksi dengan jumlah kata berkisar antara 750-10.000 kata. Berdasarkan jumlah katanya, cerpen dapat dibedakan menjadi 3 tipe, yakni.

1. Cerpen mini (flash), cerpen dengan jumlah kata antara 750-1.000 buah. 2. Cerpen yang ideal, cerpen dengan jumlah kata antara 3.000-4000 buah. 3. Cerpen panjang, cerpen yang jumlah katanya mencapai angka 10.000 buah. Cerpen jenis ini banyak ditulis oleh cerpenis Amerika Serikat, Amerika Latin, dan Eropa pada kurun waktu 1940-1960 (Pranoto, 2007:13-14).

Berdasarkan teknik cerpenis dalam mengolah unsur-unsur intrinsiknya cerpen dapat dibedakan menjadi dua tipe, yakni : 1. Cerpen sempurna (well made short-story), cerpen yang terfokus pada satu tema dengan plot yang sangat jelas, dan ending yang mudah dipahami. Cerpen jenis ini pada umumnya bersifat konvensional dan berdasar pada realitas (fakta). Cerpen jenis ini biasanya enak dibaca dan mudah dipahami isinya. Pembaca awam bisa membacanya dalam tempu kurang dari satu jam. 2. Cerpen tak utuh (slice of life short-story), cerpen yang tidak terfokus pada satu tema (temanya terpencar-pencar), plot (alurnya) tidak terstruktur, dan kadangkadang dibuat mengambang oleh cerpenisnya. Cerpen jenis ini pada umumnya bersifat kontemporer, dan ditulis berdasarkan ide-ide atau gagasan-gagasan yang

40

orisinal, sehingga lajim disebut sebagai cerpen ide (cerpen gagasan). Cerpen jenis ini sulit sekali dipahami oleh para pembaca awam sastra, kali baru dapat dipahami sebagaimana mestinya. Para pembaca awam sastra menyebutnya cerpen kental atau cerpen berat. c.Cerita-cerita Pendek Modern Cerita-cerita pendek modern muncul sebagai genrenya sendiri pada awal abad ke-19. Contoh-contoh awal dari kumpulan cerita pendek termasuk Dongengdongeng Grimm Bersaudara (1824–1826),Evenings karya Nikolai karya Edgar Gogol, Tales of on the a Farm Grotesque Near and

Dikanka (1831-1832) Arabesque (1836),

Allan

Poe dan Twice

Told

Tales (1842)

karya Nathaniel Hawthorne. Pada akhir abad ke-19, pertumbuhan majalah dan jurnal melahirkan permintaan pasar yang kuat akan fiksi pendek antara 3.000 hingga 15.000 kata panjangnya. Di antara cerita-cerita pendek terkenal yang muncul pada periode ini adalah "Kamar No. 6" karya Anton Chekhov. Pada paruhan pertama abad ke-20, sejumlah majalah terkemuka, seperti The Atlantic Monthly, Scribner's, dan The Saturday Evening Post, semuanya menerbitkan cerita pendek dalam setiap terbitannya. Permintaan akan cerita-cerita pendek yang bermutu begitu besar, dan bayaran untuk cerita-cerita itu begitu tinggi, sehingga F. Scott Fitzgerald berulang-ulang menulis cerita pendek untuk melunasi berbagai utangnya. Permintaan akan cerita-cerita pendek oleh majalah mencapai puncaknya pada pertengahan abad ke-20, ketika pada 1952 majalah Life menerbitkan long cerita

41

pendek Ernest Hemingway yang panjang (atau novella) Lelaki Tua dan Laut. Terbitan yang memuat cerita ini laku 5.300.000 eksemplar hanya dalam dua hari. Sejak itu, jumlah majalah komersial yang menerbitkan cerita-cerita pendek telah berkurang, meskipun beberapa majalah terkenal seperti The New Yorker terus memuatnya. Majalah sastra juga memberikan tempat kepada cerita-cerita pendek. Selain itu, cerita-cerita pendek belakangan ini telah menemukan napas baru lewat penerbitan online. Cerita pendek dapat ditemukan dalam majalah online, dalam kumpulan-kumpulan yang diorganisir menurut pengarangnya ataupun temanya, dan dalam blog. d.Unsur dan Ciri Khas Cerita Pendek Cerita pendek cenderung kurang kompleks dibandingkan dengan novel. Cerita pendek biasanya memusatkan perhatian pada satu kejadian, mempunyai satu plot, setting yang tunggal, jumlah tokoh yang terbatas, mencakup jangka waktu yang singkat. Dalam bentuk-bentuk fiksi yang lebih panjang, ceritanya cenderung memuat unsur-unsur inti tertentu dari struktur dramatis: eksposisi (pengantar setting, situasi dan tokoh utamanya); komplikasi (peristiwa di dalam cerita yang memperkenalkan konflik); aksi yang meningkat, krisis (saat yang menentukan bagi si tokoh utama dan komitmen mereka terhadap suatu langkah); klimaks (titik minat tertinggi dalam pengertian konflik dan titik cerita yang mengandung aksi terbanyak atau terpenting); penyelesaian (bagian cerita di mana konflik dipecahkan); dan moralnya.

42

Karena pendek, cerita-cerita pendek dapat memuat pola ini atau mungkin pula tidak. Sebagai contoh, cerita-cerita pendek modern hanya sesekali mengandung eksposisi. Yang lebih umum adalah awal yang mendadak, dengan cerita yang dimulai di tengah aksi. Seperti dalam cerita-cerita yang lebih panjang, plot dari cerita pendek juga mengandung klimaks, atau titik balik. Namun demikian, akhir dari banyak cerita pendek biasanya mendadak dan terbuka dan dapat mengandung (atau dapat pula tidak) pesan moral atau pelajaran praktis. Seperti banyak bentuk seni manapun, ciri khas dari sebuah cerita pendek berbeda-beda menurut pengarangnya. Cerpen mempunyai 2 unsur yaitu: 1.Unsur Intrinsik Unsur intrinsik adalah unsur yang membangun karya itu sendiri. Unsur–unsur intrinsik cerpen mencakup:  Tema adalah ide pokok sebuah cerita, yang diyakini dan dijadikan sumber cerita.
 Latar(setting) adalah tempat, waktu , suasana yang terdapat dalam cerita.

Sebuah cerita harus jelas dimana berlangsungnya, kapan terjadi dan suasana serta keadaan ketika cerita berlangsung.
 Alur (plot) adalah susunan peristiwa atau kejadian yang membentuk

sebuah cerita.  Sudut Pandang  Konflik  Tokoh atau Karakter

43

Alur dibagi menjadi 3 yaitu: 1. Alur maju adalah rangkaian peristiwa yang urutannya sesuai dengan

urutan waktu kejadian atau cerita yang bergerak ke depan terus.
2.

Alur mundur adalah rangkaian peristiwa yang susunannya tidak

sesuai dengan urutan waktu kejadian atau cerita yang bergerak mundur (flashback). 3.  Alur campuran adalah campuran antara alur maju dan alur mundur.

Alur meliputi beberapa tahap: 1. Pengantar: bagian cerita berupa lukisan , waktu, tempat atau

kejadian yang merupakan awal cerita. 2. Penampilan masalah: bagian yang menceritakan maslah yang

dihadapi pelaku cerita. 3. Puncak ketegangan / klimaks : masalah dalam cerita sudah sangat

gawat, konflik telah memuncak. 4. Ketegangan menurun / antiklimaks : masalah telah berangsur–

angsur dapat diatasi dan kekhawatiran mulai hilang. 5. Penyelesaian / resolusi : masalah telah dapat diatasi atau

diselesaikan. Perwatakan menggambarkan watak atau karakter seseorang tokoh yang dapat dilihat dari tiga segi yaitu melalui: 1. Dialog tokoh

44

2. 3.

Penjelasan tokoh Penggambaran fisik tokoh

Nilai (amanat) adalah pesan atau nasihat yang ingin disampaikan pengarang melalui cerita.

2.Unsur Ekstrinsik Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau sistem organisme karya sastra. Unsur ekstrinsik meliputi: Nilai-nilai dalam cerita (agama, budaya, politik, ekonomi) Latar belakang kehidupan pengarang Situasi sosial ketika cerita itu diciptakan

  

e.Ukuran Cerita Pendek Menetapkan apa yang memisahkan cerita pendek dari format fiksi lainnya yang lebih panjang adalah sesuatu yang problematik. Sebuah definisi klasik dari cerita pendek ialah bahwa ia harus dapat dibaca dalam waktu sekali duduk (hal ini terutama sekali diajukan dalam esai Edgar Allan Poe "The Philosophy of Composition" pada 1846). Definisi-definisi lainnya menyebutkan batas panjang fiksi dari jumlah kata-katanya, yaitu 7.500 kata. Dalam penggunaan kontemporer, istilah cerita pendek umumnya merujuk kepada karya fiksi yang panjangnya tidak lebih dari 20.000 kata dan tidak kurang dari 1.000 kata.

45

Cerita yang pendeknya kurang dari 1.000 kata tergolong pada genre fiksi kilat (flash fiction). Fiksi yang melampuai batas maksimum parameter cerita pendek digolongkan ke dalam novelette, novella, atau novel. f. Genre Cerita Pendek Cerita pendek pada umumnya adalah suatu bentuk karangan fiksi, dan yang paling banyak diterbitkan adalah fiksi seperti fiksi ilmiah, fiksi horor, fiksi detektif, dan lain-lain. Cerita pendek kini juga mencakup bentuk nonfiksi seperti catatan perjalanan, prosa lirik dan varian-varian pasca modern serta non-fiksi seperti fiktokritis atau jurnalisme baru. g. Cerita pendek Terkenal "An Occurrence at Owl Creek Bridge" oleh Ambrose Bierce (teks online) "Yours Truly, Jack the Ripper" oleh Robert Bloch "A Sound of Thunder" oleh Ray Bradbury "Cathedral" oleh Raymond Carver "The Most Dangerous Game" oleh Richard Connell "The Story of an Hour" oleh Kate Chopin (teks online) "A Rose for Emily" oleh William Faulkner (teks online) "The Overcoat" oleh Nikolai Gogol (teks online-terjemahan dari bahasa Rusia) "Young Goodman Brown" oleh Nathaniel Hawthorne (teks online) "The Snows of Kilimanjaro" oleh Ernest Hemingway (teks online)

       

 

46

    

"The Gift of the Magi" oleh O. Henry (teks online) "The Lottery" oleh Shirley Jackson (teks online) "The Monkey's Paw" oleh W.W. Jacobs "The Dead" oleh James Joyce (teks online "In der Strafkolonie" oleh Franz Kafka (teks online terj. Inggris dari bahasa Jerman) "The Call of Cthulhu" oleh H.P. Lovecraft "Bartleby, the Scrivener" oleh Herman Melville (teks online) "A Good Man Is Hard to Find" oleh Flannery O'Connor (teks online) "The Tell-Tale Heart" oleh Edgar Allan Poe (teks online) "Brokeback Mountain" oleh Annie Proulx "The Red Room" oleh H.G. Wells "The Last Question" oleh Isaac Asimov BAB III PEMBAHASAN

      

3.1 Konsep Dasar Teori struktural merupakan teori yang secara teoritis m e n d u k u n g s e b u a h p en e l i t i a n . Dengan adanya teori struktural maka penulis akan dengan mudah melakukan proses identifikasi dan mengkaji teori yang

47

diangkat oleh penulis. Analisis struktural karya sastra, yang dalam hal ini fiksi, dapat dilakukan dengan mengidentifikasi, mengkaji, dan mendeskripsikan fungsi dan hubungan antar unsur intrinsik fiksi yang bersangkutan. Mula-mula diidentifikasi dan dideskripsikan, misalnya bagaimana tema dalam cerita, plot, sudut pandang, setting atau latar, tokoh, dan konflik. S e t e l a h coba dijelaskan bagaimana fungsi dan masing-masing bagaimana unsur hubungan totalitas itu dalam menunjang unsur itu yang makna sehingga padu.

keseluruhannya,

antar

secara bersamaan membentuk

kemaknaaan

Misalnya bagaimana hubungan antara peristiwa yang satu dengan yang lain, kaitannya dengan pembelotan yang tak selalu kronologis, kaitanya

dengan tokoh dan penokohan, dengan latar dan sebagainya. Dalam cerpen “Sih” karya Ajib Purnawan yang diterbitkan oleh surat kabar Jawa Pos, Minggu 8 Januari 2012, kita dapat mengaji berbagai struktur. Struktur yang akan kita kaji adalah mengenai tema, sudut pandang, tokoh, plot, setting atau alur, dan konflik. Berdasarkan rumusan masalah di atas yakni Bagaimanakah struktur cerpen “Sih” karya Ajib Purnawan dalam surat kabar Jawa Pos, Minggu 8 Januari 2012 ? struktur yang dimaksud dalam cerpen “Sih” adalah tema, alur, setting, sudut pandang, tokoh, dan konflik. Kali ini penulis akan mengupas bagianbagian tersebut dengan rinci.

3.2 Tema Menurut penulis, tema utama cerpen “Sih” adalah kemiskinan. Hal ini dapat dilihat dari peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam cerpen “Sih”. Tokoh utama

48

dalam cerpen “Sih” adalah seorang wanita paruh baya dengan segala keluguannya. Wanita tersebut bernama Sih, ia seorang wanita desa yang telah berkeluarga dan memiliki dua orang anak laki-laki. Sih adalah wanita pada umumnya, berusaha menjalani kerasnya roda kehidupan dengan berbagai upaya, termasuk mengorbankan dirinya menjadi pelampiasan nafsu para lelaki di desanya. rela Ia

melakukan itu hanya demi satu kuintal padi, meskipun ia sendiri tidak tahu-menahu bagaimana ukuran satu kuintal itu. Yang ada dalam benaknya satu kuintal padi pasti banyak sekali. Bahkan sih juga tidak tahu bahwa apa yang dilakukannya itu adalah salah atau dosa. Sejak kecil Sih tidak diajarkan oleh kedua orang tuanya apa itu dosa, ia tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Ia hanya dididik untuk bekerja dan bekerja. Disamping tema utama, ada juga tema tambahan pada cerpen “Sih” antara lain: 1.Keluguan atau Kepolosan Dimana cerpen tersebut juga menceritakan mengenai keluguan atau kepolosan seorang wanita yang tidak tahu-menahu tentang dosa, tentang norma agama, norma masyarakat. Yang ia tahu hanyalah satu kuintal untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari 2.Kemanusiaan Disamping keluguan atau kepolosan, terdapat juga tema minor dalam cerpen”Sih” yaitu kemanusiaan. Banyak sekali pihak yang menyalahgunakan keluguan atau kepolosan Sih dengan mengajaknya berhubungan intim dengan janji akan memberikan upah satu kuintal. Padahal mereka tahu apa yang mereka lakukan itu salah, mereka tidak memandang nilai kemausiaan yang mampu menjatuhkan

49

harkat dan martabat Sih sebagai seorang wanita. Seharusnya mereka saling tolongmenolong, mengarahkan Sih ke arah yang lebih baik, membantu ia mengajarkan nilai-nilai keagamaan. Tak hanya itu saja mereka juga berbohong kepada Sih bahwa upah yang mereka janjikan yakni satu kuintal tidak diberikan satu kuintal utuh kepada Sih, mereka hanya memberikan 60 kg saja. Mereka tahu bahwa Sih adalah wanita yang tak pernah makan bangku sekolahan, jadi tidak tahu takaran yang sebenranya, oleh sebab itu mereka membodohinya. Melalui peristiwa tersebut jelaslah bahwa kemanusiaan para lelaki itu perlu dipertanyakan, mereka hanya mengembangkan hawa nafsu mereka tanpa memikirkan orang lain. 3.Tanggung Jawab Selain tema minor keluguan atau kepolosan dan tema minor kemanusiaan, terdapat juga tema minor lainya yaitu tanggung jawab. Seorang lelaki harusnya berani berbuat berani bertanggungjawab. Namun dalam cerpen “Sih” hal itu

tidaklah berlaku. Ada tiga orang laki-laki yang telah menikmati tubuh Sih tapi tidak mau bertanggungjawab ketika mereka mengetahui bahwa dalam rahim Sih telah terkandung janin mereka. Janin para lelaki yang tidak bertanggungjawab dan tidak mau mengakui perbuatannya. Tema dalam cerpen “Sih” tergolong tema tradisonal sesuai dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalamnya, dimana bercerita mengenai sebuah kejahatan yang pada akhirnya terbongkar juga.

3 . 3 Alur atau Plot

50

Adapun alur dalam cerpen tersebut, penulis membaginya menjadi tiga segmen, yakni: a.Segmen Pertama Dimulai dari aktivitas Sih di pagi hari, ia berangkat sebelum subuh ke hutan jati guna mengumpulkan ranting-ranting pohon jati sisa pencuri dan mnegumpulkan kayu bakar untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Suaminya pergi entah kemana dan dua oramng anak laki-lakinya sibuk mencari penghasilan sendiri, jadi tinggallah ia sendiri di dalam rumah gubuknya. b.Segmen Kedua Hadirnya konflik dalam cerita, dimana Sih didatangai oleh seorang pria lalu menjadikan tempat pelampiasan nafsunya dengan menjanjikan upah satu kuintal padi kepada Sih. Aktivitas seperti itu tidak hanya dilakukan oleh seorang pria saja, namun juga dilakukan oleh pria lain. Jadi ada tiga pria yang mendatangi Sih sehabis mereka dari sawah. c.Segmen Ketiga Terbukanya sebuah tabir kebenaran yang muncul dari pengakuan Sih. Ia menceritakan apa yang telah terjadi padanya kepada kepala desa dan juga penduduk desa. Hingga akhirnya pemuda-pemuda desa menyeret tiga pelaku yang telah melakukan perbuatan tidak senonoh dan Kamituwa selaku kepala desa menyuruh mereka menepati janji untuk meberikan Sih satu kuintal padi dan menyuruh mereka bertanggungjawab, tapi tak satupun yang mau. Akhirnya kamituwa sendiri menyatakan bahwa ia yang akan membesarkan bayi di rahim Sih.

51

3. 4 Setting atau Latar Menurut Sumardjo dan Saini (1986: 75) berpendapat bahwa setting adalah tempat dan waktu cerita itu terjadi. Setting terbagi menjadi tiga bagian yaitu: 1.Latar Tempat Cerpen “Sih” berlatarkan tempat di sebuah desa, dimana desa tersebut ada ladang bertani dan juga hutan sebagai ladang mencari kayu bakar dan ranting pohon jati. 2.Latar Waktu Waktu dalam cerpen “Sih” terbagi menjadi tiga yaitu pagi hari, siang hari, dan malam hari. Latar waktu pagi hari diperoleh melalui prolog cerpen yang menceritakan aktivitas Sih “berangkat sebelum subuh ke hutan jati” pada paragraf kedua baris ke-3. Latar waktu siang hari diperoleh dari aktivitas pendududk desa yang juga bertani dan dibuktikkan melalui kalimat “Siang tadi, pria itu tersenyum, lalu mengedipkan mata kiri saat Sih sedang menjemur kayu bakar di bawah pohon pisang” dalam cerpen pada paragraf 13 baris ke-3. Latar malam hari diperoleh dari kalimat pertama pada paragraf 13 “ Ia masih ingat siapa pria di depannya meski hari mulai petang dan lampu bohlam lima watt tak begitu menyala terang”, pada paragraf 34 baris pertama juga menerangkan latar tempat malam hari “Musyawarah pada malam hari ini akan diawali dengan pengakuan dari Sih”. 3.Latar Sosial Latar sosial dapat berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisis, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap, dan yang lain-

52

lain.

Disamping

itu, latar sosial

juga

berhubungan

dengan

s t a t u s s o s i a l t o k o h y a n g bersangkutan, misalnya rendah, menengah atau atas. Cerpen “Sih” mengangkat latar sosial pedesaan dimana memiliki kebiasaan hidup bertani dan mengambil hasil ranting pohon jati. Masyarakat pedesaan yang memiliki tradisi berhutang pada musim tanam dan akan membayar semua utangnya pada musim panen. Kebanyakan dari para orang tua yang memiliki anak bersekolah akan membayar uang sekolah anaknya pada waktu musim panen. Masyarakat pedesaan tersebut juga memiliki pandangan hidup bahwa apa yang telah dilakukan oleh 3 orang laki-laki kepada Sih merupakan tindakan yang salah dan harus dipertanggungjawabkan, terbukti dari tindakan pemuda-pemuda desa yang geram dan menyeret 3 laki-laki itu secara terpaksa ke hadapan penduduk dan kepala desanya. Tak hanya itu saja status sosial masyarakat dimana sih bertempat tinggal masih tergolong rendah, hal itu dibuktikan dari tingkat pendidikan dan mata pencaharian penduduknya.

3.5. Sudut Pandang Pengisahan cerita pendek “Sih” mempergunakan sudut pandang orang ketiga, narator adalah seorang yang berada di luar cerita yang menampilkan tokoh-tokoh cerita dengan menyebut nama, atau kata gantinya: ia, dia, mereka. Nama-nama tokoh cerita, khususnya yang utama, kerap atau terus menerus disebut, dan sebagai variasi dipergunakan kata ganti. Hal ini akan mempermudah pembaca untuk mengenali siapa tokoh yang diceritakan atau siapa yang bertindak. Sudut pandang ”dia” dapat dibedakan ke dalam dua golongan berdasarkan tingkat kebebasan dan

53

keterikatan pengarang terhadap bahan ceritanya. Di satu pihak, pengarang, narator dapat bebas menceritakan segala sesuatu yang berhubungan dengan tokoh ”dia”, jadi bersifat mahatahu, di lain pihak ia terikat, mempunyai keterbatasan ”pengertian” terhadap tokoh ”dia” yang diceritakan itu, jadi bersifat terbatas, hanya selaku pengamat saja. Dalam sudut pandang ini, cerita dikisahkan dari sudut ”dia”, namun pengarang, narator dapat menceritakan apa saja hal-hal yang menyangkut tokoh ”dia” tersebut. Narator mengetahui segalanya, ia bersifat mahatahu (omniscient). Ia mengetahui berbagai hal tentang tokoh, peristiwa, dan tindakan, termasuk motivasi yang melatarbelakanginya. Ia bebas bergerak dan menceritakan apa saja dalam lingkup waktu dan tempat cerita, berpindah-pindah dari tokoh ”dia”yang satu ke ”dia” yang lain, menceritakan atau sebaliknya ”menyembunyikan” ucapan dan tindakan tokoh, bahkan juga yang hanya berupa pikiran, perasaan, pandangan, dan motivasi tokoh secara jelas, seperti halnya ucapan dan tindakan nyata.

3.6 Tokoh atau Karakter

Adapun tokoh-tokoh yang terdapat dalam cerpen “Sih” :
1. Sih

: Tokoh Utama, seorang wanita desa yang memiliki peringai lugu

atau polos, sabar, tidak menuntut, lemah (karena tidak tahu aman yang salah dan amna yang tidak, mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan). Disamping tokoh utama, ada tokoh lain yng berperan sebagai tokoh pembantu atau pendamping dalam cerpen “Sih”, yakni:

54

2. Suami Sih : Orang yang kurang bertanggungjawab, pecundang. 3. 2 Orang Anak Laki-laki Sih : kurang peduli atau cuek, pekerja keras.
4. To : Laki-laki pertama yang mengajak

Sih melakukan perbuatan tidak

senonoh, dimana memiliki karakter yang kurang baik, berbohong, emosional (tidak bisa mengekang hawa nafsu), tidak bertanggungjawab. 5. Istri To : cerewet, suka menyalahkan orang lain 6. Basu : Laki-laki kedua yang mengajak Sih melakukan perbuatan tidak senonoh, dimana memiliki karakter yang kurang baik, berbohong, emosional (tidak bisa mengekang hawa nafsu), tidak mau mengakui kesalahannya atau pecundang, tidak bertanggungjawab.
7. Man : Laki-laki ketiga yang mengajak Sih melakukan perbuatan

tidak

senonoh, dimana memiliki karakter yang kurang baik, berbohong, emosional (tidak bisa mengekang hawa nafsu), tidak mau mengakui kesalahannya atau pecundang, mudah menangis, tidak bertanggungjawab. 8. Kamituwa : arif, bijakasnaa, baik hati, suka menolong. 9. Pemuda-pemuda Desa : baik hati, suka menolong, melindungi, tidak sabaran
10. Penduduk Desa : suka menolong, tidak sabaran

3.7 Konflik Adapun bagian di dalam konflik dibagai menjadi 4 bagian, yakni: 1. Pengenalan Konflik

55

Dalam cerpen “Sih”, pengenalam konflik dimulai ketika seorang pria desa bernama To mengunjungi rumah Sih dan merayu Sih untuk melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukan dengan memberi Sih imbalan satu kuintal padi. 2. Konflik Muncul Konflik muncul ketika ada pria lain lagi, yakni Basu dan Man yang datang kerumah Sih dan merayu untuk melakukan hal yang sama yang pernah ia lakukan dengan To, dan imbalan yang mereka tawarkanpun sama yakni satu kuintal padi. Hingga akhirnya Sih merasa ada sebuah perubahan yang terjadi pada tubuhnya dan ia menyadari bahwa ia telah mengandung benih hasil perbuatannya dengan ketiga lelaki di desanya. 3. Konflik Memuncak Konflik memuncak ketika rahasia yang ditutupi oleh Sih terkuak di hadapan kepala desa dan penduduk desanya. Ia menceritakan apa yang telah terjadi pada dirinya. Seketika itu juga para pemuda desa geram dengan tiga orang pria yang berasal dari desa seberang, pria yang telah menghamili Sih. Pemuda-pemuda tersebut menjemput tiga orang pria itu (To, Basu, dan Man) dengan paksa untuk menghadiri rapat desa mereka. Dan diantara ketiga pria itu, tak ada satupun yang mau bertanggungjawab. Penduduk desapun geram dan marah pada ketiga lelaki tersebut. 4. Konflik Mereda Kamituwa selaku kepala desa dimana Sih bertempat tinggal, meminta To, Basu, dan Man membiayai persalinan Sih. Amarah penduduk desa mulai mereda ketika mendengar keputusan bijaksana kepala desanya. 5. Penyelesaian

56

Setelah konflik mereda, kamituwa selaku kepala desa dengan ketulusan hatinya, ia mengatakan di depan penduduk desa bahwa ialah yang akan membesarkan bayi di rahim Sih, kelak ketika bayi itu lahir.

BAB IV KESIMPULAN

Teori struktural merupakan teori yang secara teoritis m e n d u k u n g s e b u a h p en e l i t i a n . Dengan adanya teori struktural maka penulis akan dengan mudah melakukan proses identifikasi dan mengkaji teori yang diangkat oleh penulis. Analisis struktural karya sastra, yang dalam hal ini fiksi, dapat dilakukan dengan mengidentifikasi, mengkaji, dan mendeskripsikan fungsi dan hubungan antar unsur intrinsik fiksi yang bersangkutan. Mula-mula diidentifikasi dan dideskripsikan, misalnya bagaimana tema dalam cerita, plot,

57

sudut pandang, setting atau latar, tokoh, dan konflik. S e t e l a h coba dijelaskan bagaimana fungsi dan masing-masing bagaimana unsur hubungan totalitas itu dalam menunjang unsur itu yang makna sehingga padu.

keseluruhannya,

antar

secara bersamaan membentuk

kemaknaaan

Misalnya bagaimana hubungan antara peristiwa yang satu dengan yang lain, kaitannya dengan pembelotan yang tak selalu kronologis, kaitanya

dengan tokoh dan penokohan, dengan latar dan sebagainya. Struktural yang terdapat pada cerpen “Sih” antara lain : (1) Tema Utama dari cerpen “Sih” adalah kemiskinana, dimana alur yang dipakai adalah alur maju, peristiwa-peristiwa dalam cerpen “Sih” melaju terus tanpa ada unsur bolak balik. Setting dalam cerpen “Sih” dibagi menjadi setting tempat yakni pedesaan, setting waktu yakni pagi hari, siang hari, dan malam hari, kemudian setting sosialnya adalah penduduk desa yang masih lugu atau polos, bermatapencaharian sebagai petani dan pencari kayu bakar, serta ranting pohon jati. Sudut pandang yang digunakan pengarang cerpen “Sih” adalah sudut pandang orang ketiga, dimana pengarang menggunakan nama orang lain, tanpa melibatkan dirinya sebgai pengarang dalam cerita tersebut. Tokoh utama dalam cerpen “Sih” adalah Sih sendiri, seorang wanita desa lugu yang tidak tahu akan apa yang telah diperbuatnya. Buta secara nilai moral dan keagamaan, ia tidak tahu mana yang baik dan amna yang buruk. Hal itu dikarenakan orang tuanya tidak pernah mengajarkan tentang nilai-nilai agama, bahkan iapun tidak pernah mengenyam bangku sekolah. Ia hanya ddiidk untuk bekerja dan bekerja. Hingga suatu hari, ia dipermainkan oleh tiga orang pria di desanya, ia bersetubuh dengan ketiga pria tersebut atas dasar imbalan

58

satu kuintal padi. Ia tak pernah memikirkan apa akibat dari tindakannya, yang ia tahu ia akan mendapat satu kuintal padi untuk kebutuhan kehidupannya. Suatu hari kemudian, Sih sadar bahwa ia sedang mengandung benih dari ketiga pria yang telah menyetubuhinya. Ketiga pria tersebut tidak mau bertanggungjawab, dan seorang pria yang arif, bijaksana, dan baik hati, yang tak lain adalah kepala desanya yakni kamituwa menyatakan bahwa ia bersedia memebesarkan anak tersebut dan ia memutuskan biaya persalianan akan ditanggung oleh ketiga lelaki yang tidak bertanggungjawab itu.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->