P. 1
KIF FIKROTUKUM

KIF FIKROTUKUM

|Views: 29|Likes:

More info:

Published by: Kadung Estoh Ka Dikah on Mar 20, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX or read online from Scribd
See more
See less

10/17/2012

KIF FIKROTUKUM..???

[sumber inspirasi “Renungan Kaum Bersarung”] Oleh: Badruz BeTe Maduria, 23/01/2012

Santri sebagai Kaum Berpeci dan Kaum Bersarung, yang Tradisional bin Kolot, yang Jumud bin Kaku (Statis), yang Eksklusif bin Tertutup, dan Non-Adaptif alias Tidak Dinamis. Tidak pantas dan tidak perlu diangkat kepermukaan lautan raut cemarut problematika Bangsa ini. Biarkan terkaram suara lantang mereka. Suara Santri terisolasi, dibungkam saja karena hak mereka di delegasikan kepada para anggota dewan di DPR; yang mulia orang-orang pintar dan berdasi. Apakah Benar Begitu? Masih layakkah para “Engkau Penguasa” yang ngaku-ngaku Modernis, Idealis, Demokratis, dan Dinamis. Tapi begini-begini saja Indonesia kita dari tempo dulu. Antara kaum berdasi dan kaum berpeci adalah antara dua sifat yang dikagumi dan dikabungi, atau malah sebaliknya. Kata Da’i Pilihan Indonesia: “Saatnya Yang Muda Bicara.” Menurut Kalian...???

INI CERITAKU Apa Ceritamu..???

Banyak yang mendambakan menjadi seorang penulis, tentunya penulis handal. Ku dapati motivasi segar ini baru setelah akan menghadapi persiapan penggarapan proposal skripsi di strata 1 yang kebetulan fokus penelitian yang disahkan oleh dosen jurusan ialah bertemakan tentang aktivitas kreativitas menulis santri, yaitu “Tradisi Menulis Kaum Santri Di Pesantren Salaf: Studi Kasus Di Pondok Pesantren Sidogiri (PPS) Kraton Pasuruan Jawa Timur.” Memang tidak cukup bekal saat akan menuju dunia kepenulisan. Aku akui butuh cukup keberanian, keseriusan, dan mengasah otak kembali. Sebetulnya dunia kepenulisan ini telah aku tekuni sejak tahun 2005, pada saat masih berada di penjara suci; PP. Mambaul Ulum Bata-Bata (MUBA) di kawasan Pamekasan Madura Jatim. Aktif saat itu aku menuliskan sebuah ontologi syair dengan debut karya perdanaku yang bersyairkan “Akhir Pengabdianku”. Tanpa aku hiraukan, tanpa aku pertimbangkan salah tidak secara sistematika penulisan bahasa Indonesia yang benar, dari sekian hari terus terbiasa aku mengungkap perasaanku melalui catatan dalam secarik kertas. Tidak berhenti hanya di pondok tercinta. Di tempat tugas pengabdian Pesantren pun yang ditempatkan di desa Baturasang Tambelengan Sampang Madura pada tahun 2007 kemaren, aku masih sering dminta oleh sebagian Asatidz (bentuk jamak Ustadz) untuk mengisi kalimat undangan manten (Walimah Al-„Urs), tidak jarang pula sebagai pembicara suatu forum dengan berbahasa Indonesia yang baik. Maklumlah seperti dalam sepengetahuan kita, dialek Pesantren (di Madura) pada umumnya kurang begitu tepat. Dari pengabdianku sebagai guru bantu Pesantren lalu aku melanjutkan kependidikanku ke jenjang akademisi pada tahun 2008. Dari banyaknya pertimbangan; baik hasil ikhtiarku sendiri dan dari dukungan keluarga, akhirnya aku putuskan untuk memilih “Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Pamekasan” sebagai dunia akademisiku.

SATU PENGALAMAN BERHARGA Kamis, 19/01/2012. Pada 11.00 wib Oleh: Badruz BeTe Maduria Saya hendak berangkat dari kediaman Ach. Qusyairi Ismail1 menuju ruang Perpustakaan Sidogiri.2 Melewati kompleks perkampungan warga sekitar Pesantren, lalu tembus di muka halaman kantor (Idarat Al-Ma‟had); kantor urusan Guru Tugas (GT) dan Da’i, kantor Badan Pers Pesantren (BPP), kantor Bulletin Sidogiri (BS), dan seterusnya. Dari satu bangunan ke bangunan lainnya ialah bangunan besar dan megah. Dijumpai dalam perjalanan saya menuju ruang perpus, lalu lalang para santri yang berselimutkan handuk membawa gayung dengan peralatan lengkapnya masing-masing. Ada yang ke arah kamar mandi dan ada pula yang ke bawah menuju sungai (baca Madura: kamar mandi panjang).3 Sepertinya mereka mempersiapkan diri untuk menunaikan sholat berjemaah. “Jika ingin dikenal, asingkanlah dirimu.” Kalimat ini menjadi kaidah bagi seorang pendatang baru. Orang baru itu dalam satu kumpulan komunitas sangat mudah dikenali sebab memunculkan beberapa indikasinya, yaitu: 1. Dalam lingkungan yang baru, gerak-gerik mudah dibaca. 2. Gaya berpenampilan yang tidak menyamai ala penampilan komunitasnya, hingga menjadi sorotan. 3. Sering bertanya suatu keadaan lokasi hingga memunculkan pertanyaan bagi kalangan komunitasnya. Ketiga indikasi tersebut akan lebih mudah dikenali terutama di Pesantren. Sebut saja Saya, karena memang baru pertama kali menginjakkan kaki mengenal Pondok Pesantren Sidogiri. Saat menuju ruang perpustakaan dan salah masuk ke ruang yang lain jelas membuat para official santri yang bertugas bertanya-tanya. Tujuan saya pada perpustakaan refrensial yang berada di lantai dua (atas), salah masuk ke ruang perpustakaan digital dan melongok ke kanan ke
1

2

3

Rumah beliau berada tepat di sebelah barat kantor BMT-UGT Sidogiri. Beliau berasal dari Karang Penang Sampang Madura dan sekarang bermukim di satu pemukiman Sidogiri Kraton Pasuruan. Selain menjabat sebagai Rois Kulliyatus Syariah, beliau juga menjabat sebagai Penanggung Jawab Perpustakaan Sidogiri pada periode ini. Perpustakaan Sidogiri merupakan perpustakaan terbesar se-jawa timur karena koleksi refrensialnya yang lengkap sekaligus didukung oleh perpustakaan digitalnya. Tidak salah bila perpustakaan tersebut dinominasikan begitu, mengingat anggaran yang dikeluarkan oleh Pesantren bernilai hingga milyaran rupiah dalam pertahunnya guna melengkapi dan memenuhi kebutuhan para santrinya dalam bidang keperpustakaannya. Dan dari pemaparan Ach. Qusyairi Ismail yang bertindak sebagai penanggung jawab pagi tadi di kediamannya mengatakan: “dalam tahun ini rencananya, kembali akan menambah lagi seri buku bacaan dan koleksi kitab-kitab klasiknya yang langsung mendatangkan dari barat. Namun sepertinya perlu adanya pertimbangan berhubung lokasi yang tidak lagi memadai untuk menampung lebih banyak lagi.” Humairi Kwanyar Bangkalan Madura, salah satu alumni santri yang sempat saya korek data setiba saya di Pesantren sidogiri semalam, berkata bahwa bila penyediaan lokal kamar mandi untuk para santri tidak memungkinkan karena lamanya menunggu, maka sebagian santri lebih memilih mandi di sungai sebagai solusi alternatifnya, terutama pada hari jum’at. Jadi, sungai sebagai solusi alternatif uyang tidak mungkin untuk menunggu giliran kamar mandi dengan penyediaan lokalnya yang terbatas, sedang pelaksanaan sholat jum’at akan segera dilaksanakan. Wawancara pada jam 22.00 wib

kiri mencari tangga untuk menuju ke lantai atas. Ketika kebingungan itulah cilangak clinguk sana-sini, salah satu petugas official perpustakaan digital datang menghampiri saya menanyai tentang kepentingan saya, apa yang sedang dicari, dan perihal darimana keberadaan saya. Saya sampaikan maksud dan tujuan dengan menggunakan bahasa sekena saya. petugas memberikan info bahwa yang saya tuju ada di ruang sebelahnya lagi dan kebetulan menjelang pelaksanaan sholat lima waktu semua unit kegiatan Pesantren “Closed” sebagaimana ibu jari petugas menunjuk mengarahkan pada tulisan yang ada di pintu masuk, dan bila berkenan diharap kembali usai setelah pelaksanaan sholat Dluhur.

DUA HAL PENGALAMAN YANG SAYA PEROLEH Apakah Itu?

1. Perpustakaan begitu berharganya bagi suatu lembaga pendidikan, seperti Pesantren. Hal ini dikarenakan, budaya membaca dan menulis dapat terealisasikan bila didukung olehnya. Dan Perpustakaan begitu berharganya bagi suatu lembaga kemasyarakatan, seperti Pesantren. Hal inilah yang membingkai peradaban suatu komunitas lembaga. Para tokoh islam tempo dulu tiada hentinya membaca dan kemudian membukukannya karena dengan begitu, adanya perpustakaan menjadi pengikat ilmu dan sebagai media dakwah dalam menyeberluaskannya, utamanya penyebaran Syariat Islam. 2. Mekah dengan baitullah sebagai pusat kiblat islam sedunia, boleh jadi sebagai inspiratif management di Pondok Pesantren Sidogiri ini. Pasalnya, semua aktivitas duniawi dari keseluruhan kegiatan Pesantren akan dibekukan 30 menit sebelum adzan masjid dikumandangkan. Seperti alasan yang diberikan oleh petugas perpustakaan digital, hal ini dilakukan bukan melihat sisi intimidasi sanksi Pesantren yang akan diberikan, namun dewan pengasuh meminta kesadaran bersama akan pentingnya ukhrawi di atas unsur duniawi. Harus terpatri sebagai penghormatan atas kalimat adzan dan juga bagi jamaah yang akan menunaikan sholatnya. [sumber: BeTe]

MEMBACA DAN MEMBACA Maktabatuna Edisi 01/Thn. I/Muharrom-Shaffar 1429 H. (5-7) Oleh: Esai Mas Dwi Nawawy Sa’doellah

Membaca tiba-tiba menjadi suatu kegilaan. Membaca memiliki keasyikan konsentrasi tersendiri hingga tak ada waktu lagi untuk memperhatikan kanan kiri depan belakang, tak ada waktu lagi bermain-main dengan khayalan semu. Membaca dan konsentrasi memang tidak mudah menyandingkan keduanya. Namun, bila didapat akan melahirkan keasyikan yang memikat bahkan menyihir. Tak ayal jika Nabi Muhammad saat menerima perintah “Iqra’..!!!” dengn tubuh menggigil sambil nafas tersengal. Sedang Jibril terus saja menekan beliau agar konsentrasi terpusatkan. Justru Gua Hira’ yang hening jauh dari hingar binger Syiria, atau hiruk pikuk sahut teriakan di gelanggang pacuan kuda. Membaca tak sekedar membuat orang mengerutkan dahinya, atau menjelajah dunia dari meja kecil dengan lembaran-lembaran lusuh dan buku yang berserakan, atau menambah muatan memory dengan informasi dan teori-teori yang njelimet betul, atau sekedar iseng dengan buku humor dan fiksi yang tak jarang membuat pembacanya bertamasya. Membaca memiliki dunia sendiri yang asri tapi butuh penghayatan yang kadang justru asing. Kita lebih sering sekedar membaca, sekedar meloncat-loncat dan bermain dengan alenia-alenia, padahal butuh ruang untuk bersemayam. Membaca memiliki pengaruh yang dahsyat. Dari sekedar ketertarikan sampai suatu keyakinan. Membaca juga menjadi jembatan transformasi, menjadi lalu lintas budaya pemikiran juga keyakinan. Tentu saja kita tak perlu menghitung, telah berapa juta orang yang berubah pikiran atau bahkan berubah keyakinan setelah membaca? Pengaruh membaca yang khas ini dalam membentuk diri kita. Biarpun begitu, membaca tetaplah membaca. Membaca tetaplah suatu yang mulia dalam bentuk sejatinya. Sebuah perpustakaan menjadi mulia karena buku-bukunya yang lusuh dibaca. Buku adalah jala peradaban. Lika-liku peradaban nyaris selalu disertai dengan lahirnya pabrik kertas dan produksi tinta. Dalam bahasa berperadaban, manusianya semakin pintar membaca, buta huruf terus terkikis, tinggal generasi setengah abad yang dulu tertinggal. Media baca sudah tak karuan banyaknya, dari yang manual sampai yang digital. Semakin hari tulisan semakin dipercaya untuk menggantikan lisan, mata semakin dipercaya untuk menggantikan telinga, buku semakin dipercaya untuk menggantikan khotbah, nota dan dokumen semakin dipercaya untuk menggantikan saksi. Karena itu, lidah sudah semakin sulit dipegang, telinga tak sepeka dulu lagi, dan khotbah sudah kehilangan kharisma. Maka untuk membangun apapun di zaman akhir, rasanya sulit untuk terlepas sama sekali dari buku. Zaman semakin serba kertas. Dan rupanya tidak ada pilihan bagi kita saat ini kecuali membaca dan menulis. Tentu dengan pilihan-pilihan yang jelas dan hati-hati. Sebab di luar sana, mereka mengarahkan senjatanya dengan bungkusan buku-buku atau bacaan-bacaan yang

menghanyutkan pembaca. Membaca harusnya membuat kita menjadi lebih baik, bukan justru sebaliknya. Selamat membaca dan menulis!

KITAB MASYAYIKH Maktabatuna Edisi 01/Thn. I/Muharrom-Shaffar 1429 H. (36-37)

Bagian dokumentasi Pondok Pesantren Sidogiri di perpustakaan mulai ada sejak tahun kedua periode kepengurusan 1427-1428 H. atas gagasan salah seorang pengurus perpustakaan. Pada periode tersebut perpustakaan baru memiliki 12 jenis koleksi yang diperoleh dari semua instansi dan acara-acara yang dihelat di Pondok Pesantren Sidogiri. Kedua belas jenis koleksi itu adalah: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Kitab Masyayikh Kitab dan buku terbitan instansi Pondok Pesantren Sidogiri (PPS) Kitab dan buku kurikulum Madrasah Miftahul Ulum (MMU) Buku memory guru tugas Buku tata kerja Pondok Pesantren Sidogiri dan kepesantrenan Surat-surat Majelis Keluarga Surat pengangkatan dan tata terbit Pondok Pesantren Sidogiri Brosur Makalah

10. Bahan kursus instansi-instansi Pondok Pesantren Sidogiri 11. Paper murid Madrasah Miftahul Ulum Aliyah 12. Album foto Pondok Pesantren Sidogiri Dari ke 12 jenis koleksi yang diprioritaskan penanganannya adalah Kitab Masyayikh; yaitu peninggalan bersejarah (alm.) Hadratus Syekh KH. Cholil Nawawie. Kitab beliau diwaqafkan semenjak wafatnya beliau. Kitab itulah yang kemudian menjadi titik awal perkembangan perpustakaan Sidogiri hingga pesat seperti sekarang. Adapun jumlah kitab Kyai Cholil Nawawie yang ada di perpustakaan adalah sebanyak 249 buah.

REVOLUSI PENA, REVOLUSI WACANA Diterbitkan Oleh: Matabatuna Edisi 01/Muharram 1419 H. Buah Pemikiran: D’ Nawawy Sa’doellah Sidogiri “Para Santri Harus Diberi Peluang Untuk Membuat Revolusinya Sendiri, Sebuah Revolusi Wacana, Revolusi Pemikiran. Lahap Semua Buku, Diskusi Dan Menulislah. Sekali Lagi Buatlah Revolusi. Revolusi Yang Menjadikan Diri Mereka Terbebas Dari Ketakutan Absurd, Dan Ucapkan Selamat Tinggal Pada Keterkungkungan Feodalistik Yang Menjebak.” (D‟ Nawawy Sa‟doellah Sidogiri)

MILIH CALEG APA MILIH PASANGAN HIDUP..???

{Memilih Pasangan Hidup itu tak jauh beda dengan memilih Calon Legislatif (Caleg), President, dll. Persis seperti Pemilu di kombong-kombong pemungutan suara atau TPS itu; 1. Kita lihat-lihat orangnya yang ada di kertas pemilihan itu. Biasanya sich tampil gagah berkharisma, dan meyakinkan. Disitu, kadang banyak yang masuk kriteria kita. Tapi sayangnya, coblos lebih dari satu malah bikin “Gak Sah”  2. Baiknya, sebelum yakin memilih pilihan kita, lebih dekat mengenali kepribadiannya. Tampang di foto, isu sepintas “sekupingan” belum menjamin jati diri orang. Terkadang foto yg tidak meyakinkan itula yang lebih berhati Malaikat. Su’udzon boleh, kan untuk masa depan dalam jangka panjang (madura_red: Bental Pateh). Kenali baik-baik, cari sifat Malaikatismenya, jangan lihat dari jauh. 3. Kalau perlu (buat aset masa depan) tanyakan kepada orang yang akan kita pilih: Kontribusi apa saja yang Kamu akan berikan bila Ku jadi memilihmu? Ku ingin kontribusi jalan yang baik menuju Surga, sanggupkah Kamu? konsekuensinya apa jika tidak tepat janji? (Fuihh, jadi kayak Neng Ana Althofunnisa yg ngajuin syarat saat lamaran Furqon aja :p) So pasti Dia jawab terbaik dari yang terbaik. Tapi jangan mudah percaya begitu saja, untung kita sudah banyak mengenal kepribadian orang tersebut; baik hasil terawangan sendiri, atau dari sekelebat info sekitar. Itulah urgennya Ta’aruf :D 4. Oya, kalo si Caleg atau siapa aja yang coba ngasik duit (moneylove) eitz…salah (moneypolitic atau moneygame) trima aja. Itung2 Cinta butuh pengorbanan kan,,??? Tapi kalo Aku jujur gak suka cwek matre, cari yang Tulus Bin Setia aja. Kalo kita gak salah pilih, yakinlah Indonesia bercinta lebih beradab dan hidup sentosa. Fungsikan Ta’arufnya Al-Hujurat 49:13. Ini jalanku, selanjutnya terserah Anda. Bye…}

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->