KAJLAN KANDUNGAN NITROGEN PADA KOLOM PERAIRAN DAN SEDIMEN AKIBAT AKTIVITAS KERAMBA JARING APUNG DI WADUK CIRATA

, JAWA BARAT

RAHMATULLAB AL FATIH

PROGRAM STUD1 M A N A m m N SUMBERDAUA PE FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

ABSTRAK
RAHMATULLAH AL FATIH (C24103051). Kajian Kandungan Nitrogen pada Kolom Perairan dan Sedimen Akibat Aktivitas Karamba Jaring Apung di Waduk Cirata, Jawa Barat. Di bawah bimbingan ENAN M. ADIWaAGA dan TRI HERU PRZBADI.

Penelitian bertujuan untuk mengkaji kandungan nitrogen di perairan dan di dasar sedimen, yang diakibatkan oleh aktivitas Karamba Jaring Apung (KJA). Penelitian dilakukan di Waduk Cirata dari bulan Juli sampai September tahun 2006. Terdapat empat stasiun pengamatan yaitu; inlet waduk (stasiun I), daerah KJA sedang (stasiun 2), daerah KJA padat (stasiun 3), clan outlet waduk (stasiun 4). Terdapat dua jenis sampel yang diambil yaitu sampel air dan sampel sedimen. Sampel air diambil secara vertikal di setiap stasiun pada interval 10 meter (0 m, 10 m, 20 m, 30 m) dan kedalaman dekat dasar (interface). Sampel sedimen diambil satu kali pada setiap stasiun. Nitrogen yang diteliti pada penelitian ini nitrit (NO;), nitrat (NOi), nitrogen antara lain; ammonia total (NH3 dan total (untuk nitrogen di perairan), ammonium (NH~'), nitrat (NOi), nitrogen total (untuk nitrogen di sedimen). Analisis statistik untuk nitrogen di perairan menggunakan Rancangan Petak Terbagi (Split Plot Design), untuk nitrogen di sedimen menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK), dan uji lanjut Beda Nyata Terkecil (BNT). Kandungan ammonia total pada perairan mengalami peningkatan pada setiap penambahan kedalaman, Konsentrasi ammonia bebas (NH3) inemiliki kecenderungan mengalami penurunan, sedangkan ammonium ( ~ ~ 4 3 memiliki kecenderungan mengalami peningkatan pada setiap penambahan kedalaman. Kandungan nimt dan nitrat (NO?) pada perairan cenderung mengalami penurunan, kecuali pada stasiun 1 yang cenderung meningkat di setiap kedalamannya. Kandungan ammonium (NH~'), nitrat (NO33 dan nitrogen total pada sedimen cenderung mengalami peningkatan pada stasiun 4 (outlet waduk). Tekstur sedimen banyak ditemukan dalam bentuk liat. Tekstur liat diduga memiliki kemampuan inengikat ammonium lebih baik dibandingkan nitrat. Perairan wad& Cirata berdasarkan kandungan ammonia total menurut kesuburannya digolongkan kedalam perairan Eutrofik.

~a,

KAJIAN KANDUNGAN NITROGEN PADA KOLOM PERAIRAN DAN SEDLNIEN AIUBAT AKTMTAS I<ERAME%A JARING APUNG DI WADUK CIRATA, JAWA BARAT

Oleh : RAHMATULLAH AL. FATIH C24103051

SKRZPSI Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Perikanan Pada Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan

P R O G M STUD1 MANAJERZEN SUMBERDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN IliMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

Januari 2008 .PERNYATAAN MENGENAI SKRZPSI DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan bahwa Skripsi yang berjudul KAJIAN KANDUNGAN NITROGEN PADA KOLOM PERAIRAN DAN SEDLMEN AKIBAT AKTMTAS KERAMBA JARING APUNG DI WADUK CIRATA. JAWA BARAT. adalah benar merupakan hasil karya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Semua sumber data dan informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan &lam Daftar Pustaka di bagian akhir Skripsi ini Bogor.

Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Tanggal Lulus : 17 September 2007 . Ir. Enan M. 130 892 613 Mengetahui.Judul : Kajian Kandungan Nitrogen pada Kolom Perairan dan Sedimen Akibat Aktivitas Keramba Jaring Apung di Waduk Cirata. Adiwilaga NIF'. Pembimbing I Pembimbing I1 Dr. Jawa Barat Nama NIM : Rahmatullah A1 Fatih : C24103051 Disetujui.

M. Jawa Barat". 3. Penulis mengharapkan kritik serta saran yang membangun bagi kesempumaan tulisan ini.Sc dari pihak Departemen. clan saran dalam penulisan skripsi ini. arahan. 42 atas dukungannya selama ini. Mukhlis Kamal. Mas Iim. Mas Ali. M. Skripsi ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan dan Ilmu Kelautan. serta masukan.Sc selaku dosen pembiinbing akademik atas bimbingan yang diberikan kepada penulis baik saran maupun nasehat yang bermanfaat kepada penulis selama mengikuti perkuliahan. memberikan banyak masukan. serta b a n t w ~ y a . semangat. Januari 2008 Penulis . penulis sampaikan ucapan terima kasih kepada : 1. nasehat. 2. Ayu. M. Tri Heru Prihadi. Pada kesempatan ini. dan saran berharga kepada penulis. Adiwilaga selaku dosen pembunbing I yang telah banyak bersabar meinbimbing penulis. Bogor. Aji) atas doa. Ibu. Institut Pertanian Bogor. Niken T. Bapak Ir. M. 4. 5. karena penulis sadar bahwa tulisan ini masih banyak kekurangan dan kesalahan demi kesempumaan dalam melakukan penelitian ini.Si selaku dosen penguji yang telah banyak memberikan masukan untuk kesempumaan skripsi ini. M. Enan M. Bapak Dr. Bapak Dr. dukungan.Sc selaku dosen pembimbing I1 atas kese~npatannya yang diberikan untuk mengikuti penelitian ini.dan teman-teman MSP angkatan 39. Keluarga tercinta (Bapak.Ir. dan Ibu Dr. Zairion.KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah meinberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian ini yang berjudul "Kajian Kandungan Nitrogen pada Kolom Perairan dan Sedimen Akibat Aktivitas Keramba Jaring Apung di Waduk Cirata. 6 . Teman-teman MSP angkatan 40 yang telah memberikan semangat dan motivasi. arahan. dan kasih sayang yang tak terhingga kepada penulis. Pratiwi.Ir. 41. M. Semoga penelitian ini dapat bermanfaat dan berguna bagi pembangunan perikanan di Indonesia.Ir. Bapak Dr.Ir.

. iv v vii 1 ................................ .......... Perumusan Masalah .............................. 2................. . ................... ............ ... Nltrlt (NOi) 3........... i .................................................... Alat dan Bahan .. Kekeruhan .......................................................................................................... 1.. ...................................................................................................... .................................... .... Tujuan dan Manfaat ................. ..... Sedimentasi Waduk Cirata....................................................................................................... F ..... .... ............................. 3 ......................................... ................................................................... E ........................... ...................................................................................... .......................... Nitrat (NO3) ...................................... pH ... .............................. .... C........ ................... Nitrogen ..... Baku Mutu Kualitas Air .. Waduk Cirata ..................... Penentuan Lokasi Penelitian ............................................................................................ ~ m m o n i ~ o t a(NH3dan N + a l & ) ....................... ........................................... 1.. Suhu ....... ............. I1.............. D............ A. ............................................................ ............... .......................................................... B......................................... Metode Kerja .... H......... TINJAUAN PUSTAKA .......................... Analis~s Data .. C..............DAFTAR IS1 Halaman KATA PENGANTAR DAFTAR IS1 DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN ................. I... G.......... a................................. ..................................................... ........... .............. Sedimen ...................................... Oksigen Terlarut (Dissolved Oxygen (DO)) .............. Analisis Data Sedimen ..................................... .. ....... K..... ........................... I PENDAHULUAN B ........... Metode Analisis Kualitas Air dan Sedimen ...... ............................. B... Pengambilan Sainpel ........................................................ C................................ A......................... ....... J ........................................................ Waktu clan Lokasi Penelitian ......................................... ........... b................................................ ......................... Total Suspended Solid (TSS) ...... 4 ........................ ............ L.......... .. 11 ........................... A.................................. 2 . .... ........................................................ Chemical Oxygen Demand (COD) .................... Latar Belakang .................... ... Biochemical Oxygen Demand (BOD) ................... Analisis Data Kualitas Air ................

............ Nitrat (NO3-) .... c... Nitrogen Total ............ ................. iii ........ .............................................................................. Kondisi Perairan dan Sedimen Waduk Cirata ............................... 2 . Kandungan Nitrogen di Perairan .................. B............ .....HASIL DAN PEMBAHASAN ............. 3 ...... 1... pH ......................................... A .. .. Ammonia total (NH3dan ~ ~......................... Nltrlt ( N o d ............................... .......................... .................................................... Saran ............................................................... DAFTAR PUSTAKA . a.................. 3.......... .............. Ammonium ( ~ ~................................................... ................................. Nitrogen Total ...... 1..................................................1%'................. 2............. Biochemical Oxygen Demand (BOD) ... . 4 3 ............... ..................................... ....................................... Kekeruhan ................. Chemical Oxygen Demand (COD)....... Kesimpulan ......................... Suhu ........................ 4 ........................................................ C......................................................... .................... Parameter Fisika Perairan dan Kimia Sedimen ................... Nitrat (NOi) ....... b................................................. 43 2... B................................. e........................................ f g................................ .................... .... ................ . Parameter Fisika Perairan dan Kimia Perairan .............................................. Total Suspended Solid (TSS) ... Kandungan Nitrogen di Sedimen . ........................... a. 1..... ...... Tekstur Sedirnen .... A ........ ................................................... Oksigen Terlarut (Dissolved Oxygen (DO)) ............................ .. d ......... ..... ........................

.....1)..... Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Nitrit perairan (NOi) (a=0............................................. 6............................1) ........................ ..l) .................... 2................... Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor kedalaman terhadap kandungan Nitrit perairan (NO<) (a=0.......... Kriteria Mutu Air menurut Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 ........................... 11...................... 3...........................................1) ................................................................... 13 d m sampel sedimen....................................... Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Nitrogen Total sedimen (a=0...... Tabel Sidik Ragam Rancangan Petak-Terbagi .......... 9.............. ............................. 13............... ......... .....................1)...................... 15.. ................ Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Ammonium sedimen (a=0....................................... ........ Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Nitrogen Total perairan (a=O...... 7................... Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor waktu terhadap kandungan . 10........ Ammonia Total (a=O.1)........... ......................................................l) .... 17................ Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Nitrat sedimen (a=0........... 8.................................l)........1) .................. ...........1) ........... .... Kriteria kulitas air berdasarkan nilai BOD ............. 5... Parameter............ .......... Kesesuaian perairan untuk kepentingan perikanan berdasarkan padatan tersuspensi (TSS) ........... Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Nitrat perairan ( N o d (a=0....... 14. Tabel Sidik Ragam Rancangan Acak Kelompok........1) ...... Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor kedalaman terhadap kandungan Nitrat perairan (NO<) (a=O.... metode................................1) ................ 12... Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor kedalarnan terhadap kandungan Nitrogen Total perairan (a=0... Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor kedalaman terhadap kandungan Ammonia Total perairan (a=0................................................................................ 18.. dan lokasi analisis sampel kulitas air.................................... .......... ........... 4........................................................ 16...........................DAFTAR TABEL unan 1...... Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Ammonia Total perairan (a=0...

.................................... dan waktu pengamatan... dan waktu pengamatan.... Kandungan nitrogen total perairan berdasarkan kedalaman pada setiap stasiun dan waktu pengamatan.......) stasiun dan waktu pengamatan............ .............. Kandungan ammonia bebas (NH3)berdasarkan kedalainan pada setiap stasiun dan waktu pengamatan...................................... 15. ................. 12. ...... 47 13............. 32 33 34 39 43 ~3 N) ............... .................. Kandungan atmnonia total (NH3dan N& perairan berdasarkan kedalaman pada setiap stasiun dan waktu pengamatan....... Kandungan oksigen terlarut (DO) perairan pada setiap stasiun.... Skema perurnusan masalah penelitian ........ .......... 6.......... Kandungan Total Suspended Solid ( T S S ) perairan pada setiap stasiun......... . kedalaman.................................................................. ......... J3 7................................................................... dan waktu pengamatan.......DAFTAR GAMBAR Gambar 1.. Peta lokasi penelltian .... perairan berdasarkan kedalaman pada setiap 11......................................... Konsentrasi Nitrat (NO33sedimen berdasarkan stasiun dan waktu pengamatan ... ..... ........ .......... ......... Konsentrasi Nitrogen Total sedimen berdasarkan stasiun dan waktu pengamatan............... Halaman 3 6 8 11 18 20 2.......... 9........... Kekeruhan perairan pada setiap stasiun.............................................. Sebaran vertikal ammonia berdasarkan kesuburan perairan................... .......... 3................... ......... ............. ........... Kandungan ammonium perairan berdasarkan kedalaman pada setiap stasiun dan waktu pengamatan... dan waktu pengamatan... ....... ....................................... 18........ . (H3 N4 50 52 54 56 57 58 60 ... ..... .................. . Sebaran vertikal nitrat ( O N.. 8.... ...................................... Kandungan nitrit ( O stasiun dan waktu pengamatan............ 14....... Suhu perairan pada setiap stasiun.. 19........... ) berdasarkan tingkat kesuburan peralran ......... 16... ............................................... 17...................................... ..... Kandungan nitrat (NO........ Sebaran secara vertikal nitrogen berdasarkan tingkat kesuburan pera~ran . 5........... .................................................................. Konsentrasi Ammonium sedimen berdasarkan stasiun dan waktu pengamatan.......................... ....... ......... 4............................. kedalaman.................. perairan berdasarkan kedalaman pada setiap 10.................................... ......... ... Tingkat Kemasaman pH Tanah .......... kedalaman............................. kedalaman.............................

.......................... Tekstur sedimen Waduk Cirata berdasarkan stasiun dan waktu pengamatan ............... kedalaman.......Gambar 20 ................... Nilai pH sedimen berdasarkan stasiun dan waktu pengamatan ........... 62 64 22.......................... Kandungan Biochemical Oxygen Demand (BOD) perairan pada setiap stasiun... Nilai pH perairan pada setiap stasiun............. 24................................ 23...................... dan Halaman waktu pengamatan....... kedalaman......... 65 66 . kedalaman....................... dan waktu pengamatan. dan waktu pengamatan . 61 21................. Kandungan Chemical Oxygen Demand (COD) perairan pada setiap stasiun..............

....... Gambar lokasi pengamatan (stasiun) selama penelitian ................ dan kedalaman selama pengainatan.............. Kandungan pH perairan berdasarkan lokasi........... dan kedalaman selama pengamatan ... Kandungan dan tabel sidik ragam Nitrogen Total....... waktu..... 7............ dan kedalaman selama pengamatan 13..... waktu........... 8.......... dan kedalaman selama pengamatan ... Kandungan pH dan persentase kandungan tekstur sedimen berdasarkan lokasi...... 5. 9.. dan waktu selama pengamatan... waktu....................... waktu...... Kandungan Ammonium Bebas (NH3) dan Ammonium pada perairan berdasarkan lokasi..... 14............... Kandungan clan tabel sidik ragam Nitrat (NO<) pada perairan berdasarkan lokasi.. dan kedalaman selama pengamatan..... 6.................. .. lokasi... . dan kedalaman selama pengamatan .......... Kandungan dan tebel sidik ragam Nitrogen Total pada perairan berdasarkan lokasi................ ....................... ..... ........ Kandungan dan tabel sidik ragam Nitrit (NOi) pada perairan berdasarkan lokasi.............................................. 16................. waktu......... 15................... Kandungan oksigen terlarut (DO) perairan berdasarkan lokasi. dan kedalaman selama pengamatan .. Kekeruhan perairan berdasarkan lokasi....... waktu.......... dan waktu selama pengamatan ............................... dan kedalaman selama pengamatan ......... Tabel Sidik Ragam kandungan ammonia total ................. ..... waktu.. 1.......... .. vii ... dan Nitrat pada sedimen berdasarkan lokasi........................................................................ 10... 79 80 81 82 83 84 85 86 88 93 96 98 ......... ..... dan kedalaman selama pengamatan . .. 3............. waktu....... Kandungan Chelnical Oxygen Demand (COD) perairan berdasarkan ......... .....Lampiran Halaman 73 1........... 76 77 78 4.......... Suhu perairan berdasarkan lokasi...... .... 2... Prosedur pengukuran parameter kualitas air ....... waktu............ Gambar penyusutan air waduk Cirata .. Kandungan Ammonia Total pada perairan berdasarkan lokasi. waktu.... Ammonia. Prosedur pengukuran parameter Sedimen ......... .... ............................................. dan kedalaman selama pengamatan ................ dan kedalaman selama pengamatan ............... ... 15... 11 Kandungan Biochemical Oxygen Demand (BOD) perairan berdasarkan lokasi............................................ waktu... (~~43 74 75 1............ waktu. Kandungan Total Suspended Solid (TSS) perairan berdasarkan lokasi....... dan kedalaman selama pengamat 12..

namun jumlah yang sesungguhnya terdapat pada waduk tersebut melebihi jumlah ideal yang diperbolehkan.286 KJA dengan jumlah peiniliknya sebanyak 3. dan daerah wisata. 2005). Selain sisa pakan. Jumlah KJA yang terhitung sampai tahun 2003 sudah mencapai 38. Kegiatan budidaya ikan yang dilakukan di Waduk Cirata merupakan kegiatan yang intensif sehingga inenggunakan pakan tambahan (pelet) (Nastiti et aJ2001). Propinsi Jawa Barat. terletak di tiga kabupaten yaitu Cianjur. Perkembangan budidaya KJA yang selnalan meningkat jumlahnya diduga sudah melebihi kapasitas waduk sehingga dapat menurunkan daya dukung waduk. Jumlah yang semakin tidak terkendali dari KJA ini menyebabkan beberapa masalah lingkungan yang secara tidak langsung juga akan berpengaruh pada kegiatan KJA. perhubungan. dengan luas 6.A. . 2005).200 Ha.899 orang (Prihadi. Bandung. Latar Belakang Waduk Cirata merupakan waduk yang berada pada aliran Sungai Citarum.000 KJA. Pakan tambahan biasanya mengandung protein yang tinggi untuk meningkatkan pertumbuhan ikan. Selana beberapa tahun belakangan ini perkembangan Waduk Cirata semakin meningkat khususnya pada sektor perikanan budidaya Karamba Jaring Apung (KJA). perikanan. Waduk tersebut terletak di antara waduk Saguling dan waduk Jatiluhur. Waduk ini dibangun pada tahun 1988. Sisa pakan yang tidak termakan akan meningkatkan kandungan nitrogen di perairan akibat dekomposisi protein yang terkandung didalam pelet. Pakan komersial mengandung lebih dari 20% protein di dalamnya (Prihadi. Pada konsentrasi yang berlebihan ammonia akan mematikan bagi ikan dan bagi organisme perairan lainnya. dan Purwakarta. hasil metabolisme ikan-ikan budidaya berupa feses yang banyak mengandung ammonia ( N H 3 ) akan meningkat jumlahnya. Jumlah ideal KJA yang diperbolehkan adalah 12. Pakan tambahan (pelet) yang diberikan tidak semuanya efektif tennakan oleh ikan. Pembangunan waduk pada awalnya diperuntukkan bagi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) disamping itu waduk ini juga memiliki potensi sebagai irigasi pertanian.

serta akan menurunkan kualitas air yang akhimya menurunkan produktivitas perairan waduk tersebut. Perurnusan Masalah Meningkatnyajumlah KJA pada waduk Cirata sudah melebihi dari batasan yang diperbolehkan. Prihadi (2005) memperlurakan jumlah sisa pakan yang terdapat di dasar waduk telah melebihi 279. Selain itu keberadaan KJA akan menambah kandungan bahan organik dari sisa-sisa pakan dan feses dari ikan. 2003). Nitrogen ini selain dihasilkan oleh sisa pakan juga bisa berasal dari sisa metabolisme urine maupun tinja dari biota akuatik yang berupa ammonia (NH3) (Effendi. Peningkatan ini tentunya akan berdampak bagi ekosistem perairan dan bagi pertumbuhan organisme perairan didalamnya. Pralaraan beban limbah bahan limbah organik yang berasal dari kegiatan bumdaya ikan KJA Waduk Cirata sebesar 6. Hal ini akan berdampak bagi penurunan daya dukung dari waduk.121 ton dan ketebalannya lebih dari 2 meter.Kegiatan budidaya KJA secara tidak langsung akan meningkatkan konsentrasi nitrogen di perairan. Protein mengandung 16% nitrogen di dalamnya (Depdikbud. Limbah yang dibasilkan dari kegiatan KJA sebagian besar mengandung nitrogen. . Hal ini tentunya dapat m e n d a n produksi perikanan budidaya KJA yang terdapat di waduk Cirata. Hal ini berakibat meningkatkan kandungan nitrogen pada sedimen waduk dan juga akan mempengaruhi kandungan nitrogen di perairan. 1991). B. Ammonia (NH3) dalam jumlah yang berlebihan bersifat toksik pada ikan sehingga keberadaannya di perairan akan menghambat pertumbuhan ikan bahkan bisa menyebabkan kematian pada ikan. Skema p e m u s a n masalah penelitian disajikan pada Gambar 1. Sisa-sisa pakan yang tidak termakan dan tinja (feses) ikan akan menyebabkan terakumulasinya bahan-bahan organik ini pada perairan dan mengendap di dasar waduk.365 tonltahun (Sukimin. Pakan tambahan yang digunakan pada budidaya KJA biasanya mengandung protein yang tinggi untuk meningkatkan perturnbuhan ikan. Kondisi perairan waduk yang relatif tenang menyebabkan terakumulasinya kandungan nitrogen di perairan dan dapat menyebabkan sedimentasi pada dasar waduk. 2005). dalam Indriani.

Jawa Barat. \ IKJA ! Bahan Organik l. Skema perumusan masalah penelitian C.I Kualitas Air . yang diakibatkan oleh aktivitas Karamba Jaring Apung (KJA). Tujuan dan Manfaat Penelitian ini bertujuan untuk melihat kandungan nitrogen di perairan dan di dasar sedimen. dan diharapkan informasi yang diperoleh dapat dijadikan bahan masukan bagi pengelolaan di Waduk Cirata.lengundilp Dekomposisi Petliempsnoriliitieil i I I I I I I I I 1 Dekomposisi Nitrogen Sedimen I 1 Gambar 1. .

66 meter (Juli). dan limbah industri.786 KJA. Menurut Mardiana (2007). Nitrogen Nitrogen yang terdapat di perairan tawar ditemukan dalam berbagai bentuk diantaranya molekul N terlarut. KJA awalnya digunakan untuk kepentingan penelitian di Waduk Jatiluhur namun sejak dikenalnya teknologi ini di Waduk Cirata budidaya ini berkembang pesat tercatat sejak tahun 1999 terdapat 8. 2005).200 ha sedangkan luas permukaan kegtatan KJA sekitar 158-198 ha. B. asam amino. 2005). dari perhitungan ini maka ketinggian limbah pakan sekitar 2 meter (Prihadi. selanjutnya mengalami peningkatan kembali pada bulan Desember (Jubaedah. tinggi muka air pada bulan Juli sampai dengan September 2006 mengalami penurunan dengan tinggi muka air 214.04 meter (Agustus). dan 209. yaitu tinggi pada bulan Januari sampai Mei dan mengalami penurunan sampai dengan bulan November.dan . Elevasi permukaan air di Waduk Cirata pada umumnya memiliki pola perubahan yang relatif sama dari tahun ke tahun.45 meter (September). dalam Indriani. nitrat (NO3-).200 ha. 1983).286 KJA pada tahun 2003. Jumlah itu akan menyumbang limbah pakan akibat kegiatan perikanan budidaya sebanyak 279.Sumber nitrogen alami berasal dari air hujan (presipitasi). pemukiman. TINJAUAN PUSTAKA A. Nitrogen di perairan dapat berupa nitrogen anorganik dan organik. ammonia ( H 3 2 N 4 nitrit (Nod. Nitrogen anorganik terdiri atas amonia .121 ton. 2005). dan liinpasan dari daratan dan air tanah (Wetzel. artinya jika luas permukaan 6. fiksasi nitrogen dari air dan sedimen. dan terleak pada ketinggian 223 meter di atas permukaan laut (Feriningtyas. Karamba Jaring Apung (KJA) pertama kali dilakukan di Waduk Cirata yaitu pada tahun 1986. dengan kedalaman 106 meter. 2 11.II. Waduk Cirata Waduk Cirata merupakan suatu bentuk perairan yang dibuat oleh manusia di daerah aliran sungai Citaruni pada tahun 1988. Goldman dan Home (1983) menyatakan bahwa nitrogen dapat berasal dari limbah pertanian. memiliki luas sekitar 6. clan berkembang pesat menjadi 38.

Effendi (2003) menjelaskan Bentuk-bentuk nitrogen tersebut mengalami transfonnasi sebagai bagan dari siklus nitrogen yaitu: a. Autolisis (pecahnya) sel dan ekskresi amonia oleh zooplankton dan ikan juga berperan sebagai pemasok amonia. Di perairan nitrogen ditemukan dalam dua bentuk yaitu. kegiatan perikanan. . b. amonium (~~43. melainkan hams ditransformasikan terlebih dahulu oleh bakteri dan jamur (Goldman dan Home. namun tidak dapat digunakan secara langsung oleh organisme karena memerlukan energ yang besar untuk memecah ikatan rangkap tiga gas nitrogen. yaitu oksidasi amonia lnenjadi nitrit dan nitrat.(Mi3). Bakteri nitrifikasi bersifat mesofilik. Sumber nitrogen organik di perairan berasal dari proses pembusukan makhluk hidup yang telah mati. Proses ini terutama dilakukan oleh bakteri autotrof dan tumbuhan. c. misalnya asam amino dan protein. karena protein dan polipeptida terdapat pada semua makhluk hidup sedangkan sumber antropogenik (akibat aktivitas manusia) adalah limbah industri dan limpasan dari daerah pertanian. Fiksasi gas nitrogen secara langsung dapat dilakukan oleh beberapa jenis algae Cyanophyta (blue-green algae) dan bakteri. 2003). Nitrifikasi. dan molekul nitrogen (N2) nitrit (NOT). dan urea. dalam bentuk gas. nitrat @03-). Amonifikasi nitrogen organik untuk menghasilkan amonia selama proses dekomposisi bahan organik. Proses ini banyak dilakukan oleh mikroba dan jamur. d. menyukai suhu 30°C. 1983). Nitrogen ditemukan melimpah dalam bentuk gas di atmosfer. Nitrogen organik berupa protein. asam amino. dan limbah domestik (Effendi. Fiksasi gas nitrogen menjadi amonia dan nitrogen organik oleh mikroorganisme. Nitrifikasi berjalan secara optimum pada pH 8 dan pH < 7 berkurang secara nyata. Proses oksidasi ini dilakukan oleh bakteri aerob. Asimilasi nitrogen anorganik (ammonia dan nitrat) oleh tumbuhan dan mikroorganisme untuk membentuk nitrogen organik. nitrogen terlarut (disolved) dan tidak terlarut (particulate) dan keduanya tidak dapat langsung digunakan oleh organisme yang lebih tinggi.

Sumber utama nitrogen antropogenik di perairan berasal dari wilayah pertanian dan perikanan yang menggunakan pupuM pakan buatan secara intensif maupun kegiatan domestik (Effendi. Pada intensistas proses fiksasi akan terhambat pada permukaan.Proses reduksi nitrat berjalan optimum pada kondisi anoksik (tak ada oksigen). sedangkan molekul nitrogen adalah produk utama dari proses denitrifikai pa& perairan dengan kondisi anaerob. Fiksasi nitrogen berdasarkan kedalaman mirip dengan proses fotosintesis. Sebaran vertikal nitrogen berdasarkan tingkat kesuburan perairan menurut Goldman dan Home (1983) disajikan pada Gambar 2. dan No3 baru bisa dimanfaatkan oleh turnbuhan dan hewan. 2003). 1983) Nitrogen hams dirubah terlebih dahulu menjadi NH2. dan cahaya matahari yang t i n g ~ menjadi maksimum pada kedalaman tertentu dan menurun drastis secara . Denitrifikasi. Sebaran secara vertikal nitrogen berdasarkan tingkat kesuburan perairan (Goldrnan clan Home. NI&. r~ 0 O. Proses ini akan meningkat pada danau yang telah mengalami eutrofikasi (Goldman dan Home. dan pengendapan (sedimentasi). Dinitrogen oksida adalah produk utama dari denitrifikasi pada perairan dengan kadar oksigen sangat rendah. yaitu reduksi nitrat menjadi nitrit. Transformasi nitrogen yang tidak melibatkan faktor biologi adalah volatilisasi. dinitrogen oksida (NzO). penyerapan.OI Konsentrasi (mgn) I . 02 I I Konsentrasi (mgll) Oligotropik Epitimoion (acrob) (Nitrit sengat keeil) Gambar 2. dan molekul nitrogen m). 1983).e. Proses ini juga melibatkan bakteri dan jamur.

polipeptida. biasanya berupa partikdat yang tidak larut dalam air. Pada keadaan perairan yang asam persentase dari m 0 H menurun. Proporsi konsentrasi keduanya dipengaruhi oleh pH dan temperatur perairan (Wetzel. urea. Nitrogen organik adalah bentuk nitrogen yang terikat pada senyawa organik terutama nitrogen bewalensi tiga. 2003). 1983). 2003). dan senyawa lainnya (Effendi. Effendi (2003) menyatakan pada pH 7 atau kurang sebagian besar ammonia mengalami ionisasi dan p1-I yang lebih besar dari 7 ammonia tidak terionisasi. 2003). Gas ammonia (NH3) dapat dengan mudah terlarut dalam air dan inembentuk ammonium hydrosida @ELOH). 1983): Ammonia yang tidak terionisasi (NH3) sangat bersifat toksik bagi ikan dibandingkan amonia yang terionisasi (3 - yang relatif non-toksik. mengakibatkan kerusakan pada . NH3-N yang bersifat terlarut dan nitrogen organik yang terlarut maupun berupa partikulat yang tidak larut dalam air (Mackereth. 1. Ammonia Total (NH3 dan NI&+) ~~43. sedangkan pada keadaan perairan basa (alkaline) jumlahnya akan meningkat (Goldman dan Home. NO*-N. 1989 dalam Effendi. 1983). sedangkan ammonium m+) dapat Ammonia yang terukur di perairan berupa ammonia total (NHj dan teroinisasi (Effendi. 1983). dan akan terpecah menjadi ammonium (NN4') dan ion hidroksida (OH-) seperti persamaan kesetimbangan kimia di bawah ini (Goldman dan Home. Pada malam hari ketika kandungan oksigen rendah atau ketika kebutuhan oksigen untuk dekomposisi melebihi dari produksi fotosintesis. ammonia bebas (NH3) tidak dapat terionisasi. Kadar ammonia yang tinggi mengakibatkan peningkatan komsumsi oksigen. Nitrogen total adalah penjumlahan dari nitrogen anorganik berupa N03-N. 1983). asam amino. menyebabkan kerentanan organisme terhadap daya racun ammonia meningkat (Goldman dan Home.ekponensial dengan bertambahnya kedalarnan. Nitrogen organik mencakup protein. Fiksasi nitrogen berkorelasi positif dengan konsentrasi bahan organik terlarut yang terdapat pada perairan (Wetzel.

1983)..insang. 1983).5 mgliter (Sylvester. Ammonia dihasilkan sebagai produk akhir dari dekomposisi bahan-bahan organik oleh bakteri heterotrop (Wetzel. Kadar amonia yang baik untuk kehidupan ikan dan organisme akuatik lainnya adalah kurang dari 1 mg/iiter (Pescod. Noinor 82. sangat tergantung terhadap tingkat kesuburan perairan. Untuk keperluan perikanan dan peternakan batas maksimum ammonia bebas yang dperbolehkan adalah 0. Oligotropik Eutropik Gambar 3.02 m g l (Peraturan Pemerintah. Sebaran vertikal ammonia berdasarkan kesuburan perairan (Wetzel. yang berasal dari dekomposisi bahan organik (tumbuhan dan biota akuatik yang telah mati ) oleh mikroba dan jamur. Melalui proses amonifikasi atau pemecahan nitrogen organik (protein dan urea/ pupuk) dan nitrogen organik yang terdapat di dalam tanah dan air. Sumber lain adalah reduksi gas nitrogen yang berasal dari proses difusi dari atmosfer. 2001). Pada perairan alami nilai amonia yang dapat ditolerir organisme sebesar 1. dan dari pembusukan mikroorganisme.2001). 1973 dalam Wardoyo. 1975). 1982). ekskresi dari ikan (tinja).al. Boyd (1982) menyatakan bahwa ammonia yang terdapat di perairan dapat berasal dari pemupukan. 2003) Distribusi ammonia di perairan tawar sangat bervariasi menwut musim. 1983). Metabolisme manghasilkan dua produk utama yaitu karbodioksida (COz) dan ammonia (NH& dengan ammonia selatar 10 sampai 30 bagian dari total CO* yang dihasilkan (Wright et. Gambar 3 adalah sebaran vertikal ammonia bedasarkan tingkat kesuburan perairan (Wetzel. 1983). 1973 dalam Asmawi. dan masukan buangan berupa bahan-bahan organik. . dan doinestik (Effendi. limbah industri. dan menurunkan kapasitas transport oksigen oleh darah (Boyd.

Di perairan kadar nitrit jarang melebihi 1 mg/l (Sawyer dan McCarty.) Nitrit merupakan bentuk peralihan antara amonia dan nitrat (nitrifikasi). Nitrifikasi merupakan proses penting dalam siklus nitrogen dan berlangsung dalam keadaan aerob. Krenkel dan Novotny (1980) dalam Effendi (2003) menyatakan bahwa proses nitrifikasi sangat dipengaruhi oleh beberapa parameter sebagai berikut : a. Kadar nitrit yang melebihi dari 0.2. Nitrit (NO. Bakteri yang melakukan nitrifikasi cendemg menempel pada sedimen dan padatan lain. Oksidasi amonia menjadi nitrat dilakukan oleh bakteri Nitrosomonas. Nomor 82. 1991 dalam Effenh. Boyd (1982) menyatakan ketika nitrit terabsobsi oleh ikan. 1983). air bawah tanah. dan antara nitrat dan gas nitrogen (denitrifikasi). reaksi akan bedalan lambat. Pada kadar oksigen terlarut < 2 mgll. Untuk keperluan air minum. . WHO merekomendasikan kadar nitrit sebaiknya tidak melebihi 1 mg/l (Moore. Nitrat (NOS) Nitrat adalah bentuk utama dari nitrogen anorganik di perairan yang masuk melalui permukaan daerah aliran sungai. yaitu hakteri yang dapat mendapatkan energi dari proses kimiawi (Effendi. Nilai pH yang optimum bagi proses nitrifikasi adalah 8-9. Baku mutu untuk kegiatan perikanan batas maksimal nitrit yang diperbolehkan adalah 0. 2003). 2003).05 mg/l dapat bersifat toksik bagi organisme perairan yang sangat sensitif. 1978 dalam Effendi 2003). Pada pH < 6 reaksi akan terhenti. 3. Ditemukan di perairan dalam jumlah yang sedikit karena bersifat tidak stabil dengan bergantung pada keberadaan oksigen (Effendi. Nitrat nitrogen sangat mudah larut dalam air dan bersifat stabil.2001). c.06 mg/l (Peraturan Pemerintah. dan air hujan (presipitasi) (Wetzel. b. dan Nitrobactel: Keduanya adalah bakteri kemotrofik. Senyawa ini dihasilkan dari proses oksidasi sempurna senyawa nitrogen di perairan melalui proses nitrifikasi. 2003). akan di ikat oleh hemoglobin darah sehingga inenggangu penyerapan oksigen oleh hemoglobin.

1983). 1983). . Nitrat tidak bersifat toksik terhadap organisme akuatik. apabila pada perairan banyak terdapat bahan organik maka pertumbuhan bakteri heterotrof akan melebihi pertwnbuhan bakteri nitrifikasi. Kadar nitrat pada perairan alami hampir tidak pernah lebih dari 0.3 ing/l. e. Suhu optimum proses nitrifikasi adalah 20 "C . Keadaan ini dikenal sebagai methemoglobonemia atau blue baby disease (Mason. 1991 dalain Effendi. namun proses ini akan terus berlangsung sampai kandungan okigen terlarut (DO) sekitar 0.d. terutama untuk bayi berumur kurang dari lima bulan.2 ing/liter dapat mengakibatkan terjadinya eutrofikasi (pengayaan) perairan. kecepatan nitrifikasi berkurang. Nitrifikasi dapat terganggu dengan adanya kandungan bahan organik terlarut. yang selanjutnya menstiinulir pertumbuhan algae dan tumbuhan air secara pesat (blooming). Nitrifikasi dapat berjalan pada keadaan aerobik. 1993 dalam Effendi. Kecepatan pertumbuhan bakteri nitrifikasi lebih lambat dari pada bakteri heterotrof.2001). 2003). Kadar nitrat untuk keperluan air minum sebaiknya tidak melebihi 10 mg/liter (Davis dan Cornwell. Kadar nitrat lebih dari 5 ingiter menggambarkan terjadinya pencemaran antropogenik yang berasal dari aktivitas manusia dan tinja hewan.l mg/liter. Tetapi konsumsi air yang mengandung kadar nitrat yang tinggi akan menurunkan kapasitas darah dalam mengikat oksigen. Gambar 4 adalah sebaran vertikal nitrat berdasarkan tingkat kesuburan perairan (Wetzel. Sedangkan untuk keperluan perikanan sebaiknya tidak melebihi 20 mg/l (Peraturan Pemerintah Nomor 82. jika kandungan oksigen terlarut berada di bawah kadar tersebut penyerapan (difusi) oksigen tidak dapat dilakukan lagi oleh bakteri (Wetzel. 2003).25 "C. Pada kondisi suhu kurang atau lebih dari kisaran suhu tersebut. Kadar nitrat melebihi 0.

5. 1994 dalam Effendi. Proses biokimiawi perairan seperti nitrifikasi sangat dipengaruhi oleh nilai pH. . 1983).5 .) berdasarkan tingkat kesuburan perairan (Wetzel. Proporsi dari total amonia nitrogen yang tidak terionisasi (NH3) akan meningkat dengan ineningkatnya suhu dan pH.Eutropik Gambar 4. 1983). Pada suasana alkalis (pH tinggi) lebih banyak dite~nukanamonia yang tidak terionisasi (unionized) dan bersifat toksik. Nilai pH normal suatu perairan danau adalah 6-9 (Goldman dan Home. C. Amonia lebih mudah terserap kedalam tubuh organisme akuatik dibandingkan amonium. Dan selanjutnya Effendi (2003) menjelaskan bakteri pada umumnya tumbuh dengan baik pada pH new1 dan alkalis. pH Tebbut (1992) dalam Effendi (2003) mengatakan bahwa pH adalah satuan yang menggambarkan konsentrasi ion hidrogen. 1982). Oleh karena itu proses dekomposisi bahan organik berlangsung lebih cepat pada kondisi pH netral dan alkalis. Sebaran vertikal nitrat (NO. Senyawa amonium yang dapat terionisasi benyak ditemukan pada perairan dengan pH rendah. 2003). Proses nitrifikasi akan berakhir jika pH bersifat asam. Pada pH 4. Amonium bersifat tidak toksik (innocuous). Pengaruh dari pH bagi konsentrasi amonia tidak terionisasi sangat tinggi dibandingkan pengaruh dari suhu (Boyd. Toksisitas dari senyawa kimia juga dipengaruhi oleh pH.5 proses nitrifikasi akan terhambat (Novonty dan Olem.

bahan organik diuraikan menjadi bahan anorganik. Sebaran vertikal dari oksigen terlarut secara umum berbanding terbalik dengan kandungan C02 di air (Reid. Effendi (2003) menyatakan bahwa kadar oksigen terlarut juga berfluktuasi secara harian (diurnal) dan musiman. dan pergerakan (turbulance) massa air. dan limbah (efluent) yang masuk ke badan air. Biochemical Oxygen Demand (BOD) Biochemical Oxygen Demand (BOD) adalah banyaknya oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorganisme dalam proses dekomposisi bahan organik (APHA. misalnya amonia mengalami . Tahap pertama. 1982). Secara vertikal distribusi oksigen akan menurun di perairan seiring dengan bertambahnya kedalaman. respirasi. 1987). tergantung pada pencampuran (mixing). Peningkatan suhu sebesar 1 "C akan meningkatkan konsumsi oksigen sekitar 10% (Brown. Kelarutan oksigen akan semakin berkurang dengan bertambahnya suhu (Effendi. 2003). E. Tipe ini terjadi pada danaul waduk yang produktif (eutrofik) yang kaya unsur hara dan bahan organik. 1991) Distribusi vertikal oksigen di Waduk Cirata digolongkan tipe Clinograde. 1989). Ammonia sangat bersifat toksik jika kandungan oksigen terlarut di perairan rendah (Merkens dan Downing. Dekomposisi bahan organik dan oksidasi bahan anorganik dapat mengurangi kadar oksigen terlarut hingga mencapai no1 (anaerob). konsentrasi oksigen semakin menurun dengan bertarnbahnya kedalaman. Selanjutnya Effendi (2003) menjelaskan penghilangan oksigen pada bagian dasar perairan lebih banyak disebabkan proses dekomposisi bahan organik yang membutuhkan oksigen terlarut. 2005). 1957 dalam Boyd. bahan anorganik yang tidak stabil. serta difusi dari udara (APHA. 1983 dalam Octaviany.D. Pada tahap kedua. aktivitas fotosintesis. bahkan telah habis sebelum mencapai dasar (Goldman dan Home. 1989). Oksigen Terlarut (Dissolved Oxygen (DO)) Dissolved oxygen (DO) atau oksigen terlarut dalam perairan merupakan konsentrasi gas oksigen yang terlarut di dalam air yang berasal dari proses fotosintesa oleh fitoplankton atau tumbuhan air lainnya di zone eufotik. Dekomposisi bahan organik pada dasarnya terjadi melalui dua tahap.

. 1989). . BOD hanya menggambarkan bahan organik yang dapat didekomposisi secara biologis (biodegradable).. Perairan yang memiliki nilai COD tinggi tidak diinginkan bagi kepentingan perikanan dan pertanian. aldehda. glokusa. dan sebagainya. 1978 dalam Feriningtyas. Bahan organik ini dapat berupa lemak. pertanian dan industri. 2003). sedangkan pada perairan yang tercemar biasanya dapat lebih dari 200 mglliter. Kriteria kulitas air berdasarkan nilai BOD (Lee et al. Tabel 1. ester. 2003). Cltenrical Oxygen Demand (COD) Chemical Oxygen Demand (COD) menggambarkan jumlah oksigen total yang diperlukan untuk mengoksidasi bahan organik secara kimiawi. kanji. Keberadaan bahan organik yang tinggi dapat berasal dari alam ataupun dari aktivitas rumah tangga. baik yang dapat didegradasi secara biologis (biodegradable) maupun yang sulit didegradasi secara biologis (non-biodegradable) menjadi COz dan Hz0 (APHA.9 5-15 I Tidak tercemarl tercemar sangat ringan Tercemar ringan Tercemar sedang Tercemar berat - > 15 F.oksidasi menjadi nitrit dan nitrat. Nilai COD pada perarian yang tidak tercemar biasanya kurang dari 20 inglliter. dan pada limbah industri dapat mencapai 60. Secara tidak langsung. 1992 dalam Effendi. protein. 2005) Nilai BOD (mgniter) Kriteria kualitas air perairan. (1978) dalam Feriningtyas (2005) mengelompokkan tingkat pencemaran bahan organik berdasarkan nilai BOD 13 3 4. BOD mengambarkan kadar bahan organik yang berada di perairan (Effendi.000 mg/liter O]NESCOiWHO/UNEP. Lee et al. Nilai BOD yang besar tidak baik bagi kehidupan organisme (Tabel 1).

Peningkatan suhu mengakibatkan peningkatan viskositas. dirnana semakin tinggi suhu maka semakin rendah oksigen yang terlarut (Fardiaz. dan volatilisasi. hypolimnion adalah lapisan bagian bawah yang lebih dingin. Suhu dapat inenyebabkan stratifikasi pada danadwaduk. Kekeruhan pada perairan tergenang (danadwaduk) lebih banyak disebabkan oleh bahan tersuspensi yang berupa koloid dan partikel-partikel halus (Effendi. 2003) . Thermoklin adalah lapisan air yang berada diantara lapisan permukaan yang lebih hangat (epilimnion) dan lapisan dasar yang lebih dingin (hipoli~nnnnion) (Hehanusa dan Haryani.G. Proses dekomposisi biasanya lebih menyukai suhu yang hangat. dan selanjutnya mengakibatkan peningkatan konsumsi oksigen. Lapisannya di bedakan antara lain. 1995). Suhu Suhu dapat menentukan kandungan oksigen dalam perairan. 1989). epilimnion adalah lapisan bagian atas yang lebih hangat. dan metalimnion dengan thermoklin diantara kedua lapisan tersebut (Goldman dan Home. 2001). (Effendi. evaporasi. Effendi (2003) menyatakan. Peningkatan suhu juga menyebabkan terjadinya peningkatan dekomposisi bahan organik oleh mikroba. 2003) H. reaksi kimia. Kecepatan dekomposisi meningkat pada kisaran suhu 5-35 OC. Peningkatan suhu juga menyebabkan penurunan kelarutan gas dalam air (Haslam. pada lapisan thermoklin terjadi penurunan suhu secara tajam. Kekeruhan disebabkan oleh adanya bahan organik dan anorganik yang tersuspensi dan terlarut (misalnya lumpur dan pasir halus). Kekeruhan Kekeruhan inenggambarkan sifat optik air yang ditentukan berdasarkan banyaknya cahaya yag diserap dan dipancarkan oleh bahan-bahan yang terdapat d~ dalam air. 1992). Pada kisaran ini peningkatan 10 "C suhu meningkatkan proses dekomposisi dan konsumsi oksigen dua kali lipat. maupun bahan anorganik dan organik yang berupa plankton dan mikroorganisme lain (APHA. Effendi (2003) menyatakan bahwa peningkatan suhu menyebabkan peningkatan metabolisme dan respirasi organisme air. 1983).

b.air untuk mengairi pertanaman. Baku Mutu Kualitas Air Peraturan Pemerintah Nomor 82 tahun 2001. Total Suspended Solid (TSS) Padatan tersuspensi total (Total Suspended Solid atau TSS) adalah bahanbahan tersuspensi (diameter > lpm). 2003). yang terutama disebabkan oleh kikisan tanah atau erosi tanah yang terbawa ke badan air. 2003) Pengaruh terhadap kepeutiugan perikanan Nilai TSS (mgiter) < 25 Tidak berpengaruh Sedikit berpengaruh Kurang baik bagi kegiatan perikanan Tidak baik baik bagi kegiatan perikanan 25 . Kesesuaian perairan untuk kepentingan perikanan berdasarkan padatan tersuspensi (TSS) (Effendi.400 > 400 J. petemakan . dan atau peruntukan lain yang imempersyaratkan mutu air yang sana dengan kegunaan tersebut. air yang peruntukannya dapat digunakan untuk prasaranalsarana rekreasi air. TSS terdiri dari lumpur dan pasir serta jasadjasad renik. Kelas tiga. air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air bakti air minum. air yang peruntukannya dapat digunakan untuk pembudidayaan ikan air tawar. Kesesuaian perairan untuk kepentingan perikanan berdasarkan padatan tersuspensi ditunjukkan dalam Tabel 2 Tabel 2. air untuk imengairi . Nilai TSS yang tinggi di suatu perairan dapat menurunkan intensitas cahaya matahari sehingga dapat menurunkan aktivitas fotosintesis (Effendi. dan atau peruntukkan lain 111utuair yang sama dengan kegunaan tersebut. pembudidayaan ikan air tawar. mutu air dikelompokkan menjadi einpat Masifikasi sebagai berikut : a. yang berisikan tentang klasifikasi dan kriteria mutu air. tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Kelas satu. yang me~npersyaratkan c.I. Kelas dua. petemakan. sesuai dengan bunyi dari pasal 8 ayat 1.80 81 .

Tabel 3. Kriteria Mutu Air menurut Peraturan Peinerintah Nomor 82 Tahun 2001 Kelas I Parameter Satuan n Fisika rn N Keterangan I I bes untuk ikan .pertanaman dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut. Knteria baku mutu air berdasarkan setiap klasifikasi air ditunjukkan di dalam Tabel 3. d. air yang peruntukannya dapat digunakan untuk mengairi. dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan air yang sama dengan kegunaan tersebut. Kelas empat.pertanaman.

Penjerapan air mengakibatkan air tertahan dalam pori-pori tanah pada daya tarik permukaan koloid oleh adanya tekanan permukaan kapiler serta daya tarik menarik ion-ion. 1983). Sedimen meliputi tanah dan pasir. atau angin (Hehanusa dan Haryani. 1 ~Fe3+. bersifat tersuspensi. (Notohadiprawiro. Kf. Larutan tanah inengandung berbagai zat terlarut. Liat dengan perrnukaan dalam (internal) yang luas mampu menjerap air di dalam ruang antar lapisannya. dari udara. Kation organik sebagian besar terjerap pada permukaan negatif liat. mineral. ~ a + . Kation yang m m terdapat dalam u larutan tanah adalah H+. Banyak zat terlarut berbentuk ion. 1998) i: Penjerapan adalah pelekatan suatu zat padat pada permukaan koloid tanah. anaerob). 1991). sedangkan anion-anion organik lebih terjerap oleh bidang-bidang patahan permukaan liat. Di dalam penjarapan. Urea hasil ekskresi akan dikonversi ke bentuk ammonia oleh bakteri-bakteri di dalam tanah (Goldman dan Home. atau bahan organik yang hendapkan dari air yang mengalir.1983). 2003). sehingga terbentuk ruang antar lapisan yang mengandung air (Depdikbud. Koliod tanah dapat menjerap anion. 2001). Bakteri denitrifikasi ditemukan pada sedimen yang anoksik ketika nitrat terdapat pada sedimen tersebut. dan keluar dari sedimen menuju kolom perairan (Goldman dan Home. Sedimen Sedimen adalah partikel batuan. Senyawa organik tidak berrnuatan diketahui belakangan ini dapat dijerap oleh minerat-mineral Iiat. Sebaliknya jika keasaman menurun. Pada danau eutropik sering terjadi perpindahan nitrogen dari sedimen yang anoksik melalui gelembung-gelembung methan hasil proses pembusukan. (dalam suasana aerob). 1983). Gas nitrogen bercampur dengan gelembung-gelembung methan.K. maka jumlah jerapan ion akan rendah. ca2*. dimana merupakan sumber nitrogen sedimen (Goldman dan Home. Fe2+(dalam suasana ~ + . M$. dan jumlah jerapan ini semakin besar jika keasaman tanah meningkat. molekul organik dapat . baik kation maupun anion. M? NJ&*. Bahan bahan organik yang berbentuk partikel suspensi akan mengendap pada dasar sedimen. yang masuk ke badan perairan (Effendi. Koloid tanah adalah bagian tanah yang terdiri atas butir-butir yang berukuran sangat halus.

Sedimen dari sisa pakan maupun kotoran ikan dari hasil . 2001). . Sedimentasi Waduk Cirata Waduk Cirata telah mengalami proses sedimentasi yang cukup tinggi. tanah dapat dikelompokkan menjadi beberapa tingkat kemasaman dan kebasaan (Gambar 5). Sebagian besar nitrogen organik dalam tanah didekomposisi menghasilkan nitrogen anorganik. Tanah gambut . Nitrogen organik dibebaskan dalam bentuk ammonium (w'). Tingkat Kernasaman pH Tanah (Depdikbud. Ammonium akan bereaksi secara cepat dengan muatan negatif dari liat dan membentuk ikatan yang komplek dengan logam dan senyawa organik (Tan. 1991). Ion ammonium m) lebih reaktif dibandingkan ion i nitrat (NO3-). sedangkan nitrat lebih stabil pada keadaan aerob. disamping mendapatkan pasokan limbah dari Sungai Citarum clan Waduk Saguling juga karena keberadaan Karamba Jaring Apung (KJA) yang saat ini jumlahnya sekitar 40. 2000). Dekomposisi inerupakan proses biokimia kompleks yang melepaskan C02. 8 B--------+Kisaran pH Kisaran pH tanah daerah tanah daerah bilsah kcring Kisaran ekstrim dari pH kcbanyakan tanah mineral . Sangat ekstrim.Hanya dijnmpai :pada tanah s alkalin ' Gambar 5. 1991) L. Berdasarkan nilai pH. . Sebaliknya senyawa organik yang tejerap sering dapat bertukar melalui pencucian dengan air (Depdikbud. dan bila keadaan baik akan dioksidasi menjadi nih-it (NOz) dan nitrat (NO3).000 unit dan setiap harinya meinbuang 1 menampung kelebihan pakan ikan (pelet) sekitar 50 ton ke dasar waduk (Suryadiputra dan Ratnawati.menggantikan air yang terjerap oleh liat. Ammonium pada keadaan anaerob lebih stabil.

clan Supriyadi. partikel-partikel tanah. flukh~asipH yang sangat lebar. 2001) Secara kimia sediinen dapat menyumbang beberapa parameter kimia seperti logam berat. Sedimen dengan jurnlah yang tinggi dalam air akan sangat merugikan. Buangan sisa pakan dan kotoran ikan berlebihan akan berpengaruh negatif terhadap kualitas air diantaranya dapat meningkatkan kandungan amonia. dan bahan organik yang tidak terkendali. Kartamihardja. karena dianggap perairan tersebut telah terpolusi (Ferdiaz. amonia. oksigen yang rendah. zat-zat kimia berbentuk gas. zat asan. . serta bahan organik d m anorganik (Connel dan Miller. HzS yang cukup tinggi.budidaya (KJA) Waduk Cirata akhirnya akan menumpuk di dasar perairan dan selanjutnya mengalami dekomposisi atau penguraian. 1992). dan HzS. ha1 ini bersifat sangat racun bagi kehidupan biota perairan. Sedimentasi di perairan waduk yang ada kegiatan budidaya (KJA) bisa 6 sampai 15 kali dibandingkan perairan yang tidak ada kegiatan perikanannya (Umar. 1995). Tanah dan sedimen berperan utama dalam penyerapan (adsorbsi) zat-zat kimia berbentuk ionik.

Kedalaman masing-masing stasiun secara . stasiun 3 terletak di daerah Pasir Pogor dengan junlah KJA padat. Skala 0 2 Ktlomoler Gambar 6. stasiun 2 terletak & daerah Pluinbon yaitu daerah dengan jumlah KJA sedang. Pengambilan sampel dilakukan antara bulan Juli sampai bulan September 2006. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini berternpat di Waduk Cirata.L . Jawa Barat. Terdiri dari empat titik sampling (Gambar 6 ) . dan stasiun 4 yang terletak di oulet waduk (Lampiran 16). karena setiap stasiun memiliki kontur waduk yang berbeda. Peta lokasi penelitian (sumber : DKP 2007) Stasiun 1 terletak di inlet Sungai Citanun.METODE PENELITIAN U A. Kedalaman pada setiap stasiun berbeda-beda.

calcium hydroxide powder.00 mgll (1 ppm). copper su&t solution. 19 meter (stasiun I). thermometer raksa untuk mengukur suhu perairan. pereaksi untuk analisis kandungan Ammonia-Nitrogen (metode Indophenol) antara lainphenate (phenol). DO meter. standart nitrate solution. sodium carbonate. Mn04. dan botol sampel untuk menyimpan sampel air untuk di analisis di laboratorium. dan untuk pereaksi untuk analisis kandnngan Nitrat-Nitrogen (metode Bn~cine) antara lain larutan Brucine. Na-tkiosulfnt. dan mangan sulfat. Pada pengamatan bulan Agustus dan September pada inlet waduk di stasiun 1 banyak dijtnnpai tumbuhan Eceng Gondok yang menutupi sebagian besar permukaan inlet waduk. Ferrous Ammoniurn Sulfat (FAS). pereaksi untuk analisis COD antara lain larutan Potassium dichromate 1 N.9 meter dengan kedalaman maksimum mencapai 106 meter. larutan standar Nitrat-N 5. Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk analisis kualitas air antara lain. magnesium carbonate powder. Pennukaan air waduk pada saat pengamatan mengalami penyusutan (Lampiran 17). Sedangkan untuk analisis sedimen bahan-bahan (reagen) yang digunakan antara lain. . pHmeter untuk mengukur pH perairan. Van Dorn salnpler untuk pengambilan contoh air. HzS04. larutan Potassium dichrornate 0. Ekman Grab untuk mengambil sedimen waduk.00 mgll (5 ppm). larutan standar Nitrit-N 1. Alat dan Bahan Alat-alat yang digunakan antara lain. Kedalaman rata-ratanya sekitar 34. pereaksi untuk analisis nitrat antara lainphenoldisulfonic acid. standart amonium. pereaksi untuk analisis ammonia antara lain nessler reagent. chlorox (oxidizing solution). 13 meter (stasiun 2). ammonium hydroxide.025 N. dan indikator Ferroin. HzS04 (pekat). NED (Coupling reagent). pereaksi untuk analisis oksigen terlarut (metode Winkler) antara lain suljh-mic acid. pereaksi untuk analisis kandungan Nitrit-Nitrogen (metode Sulfanilamide) antara lain sulfanilamide (diazotizing reagent). dan 25 meter (stasiun 4). B. NaOH + KI.berturut-turut antara lain. botol DO gelap untuk analisis BOD (Biochemical Oxygen Demand). chloride solution. 62 meter (stasiun 3).

Sedangkan sampel sedimen langsung lmasukkan plastik. kecerahan. COD. Sedangkan pengambilan sampel sedimen dilakukan dengan lnenggunakan Ekman Grab pada setiap stasiun. Sampel diambil satu kali setiap bulan. Pengambilan Sampel Untuk pengambilan sainpel air dilakukan dengan menggunakan Van Dorn sampler pada kolom perairan dengan interval 10 meter secara vertikal sampai dengan kedalaman 30 meter (0 m. Sedangkan analisa kualitas air secara ek situ (di laboratorium) untuk parameter seperti. daerah KJA padat yang terletak di daerah Plunzbon (stasiun 3). ammonium. sodium hydroxide. 30 m) disesuaikan dengan kedalaman setiap stasiun. dan N-total. Metode Kerja 1. nitrit. 20 m. ammonia. 10 m. Pengambilan sampel ini dimaksudkan untuk melihat sebaran vertikal nitrogen di kolom perairan dari permukaan hingga dasar waduk. daerah KJA sedang yang terletak di daerah Pasir Pogor (stasiun 2). BOD. nessler 's reagent. Untuk analisa kulitas air secara in situ antara lain: oksigen terlantt (DO). Metode Analisis Kualitas Air dan Sedimen Analisis kualitas air llakukan secara in situ (pengukuran langsung) maupun di laboratorium. Pengambilan sampel dilakukan pada siang sampai sore hari. granular pumice. dan outlet waduk (stasiun 4). Penentuan Lokasi Penelitian Lokasi pengainbilan sampel dilakukan di empat titik (Gambar 6). nitrat. kekeruhan. dan suhu. sodium carbonate. C. Kedua sampel selanjutnya di analisis di laboratorium.sedangkan pereaksi untuk analisis nitrogen total antara lain sulfuric acid. TSS. 2. 3. Penentuan lokasi penelitian didasarkan pada kepadatan sebaran KJA yang terdapat pada waduk Cirata. dan pada kedalaman dekat dasar (interfase) yaitu 1 meter di atas dasar waduk. antara bulan Juli sampai bulan September 2006. yaitu : inlet waduk (stasiun I). . Air sampel yang didapat langsung diawetkan dengan pendinginan dan pemberian H2S04. pH.

dan lokasi analisis sampel kulitas air (APHA. Beberapa parameter yang dianalisis diantaranya : kandungan N-total (nitrogen total) pada tanah.Untuk analisis kualitas sedimen dilakukan secara ek situ (di laboratorium). Fakultas Pertanian. dan sampel sedimen (Chapman dan Pratt. Analisis kualitas air dilakukan di laboratorium Produktivitas Lingkungan. 1989).tdophenol laboratorium Spectrofoton~etric/Str[fa~~ilmlide laboratorium &traotomehic/Bnrcine laboratorium laboratorium Kjeldhal pH-meter iii sifu m "C NTU mdl Penykuran Pemuaian Turbidimeter Gravimetrik I in silu in situ laboratorium laboratorium I 1 I mg/l mdl I - Fisika Tekstur 3-Fraksi Kimia Ammonium Nitrat N-Total pH % Pipet Laboratorium / mg/l mgll % / Nessler Phenoldiszc[fo. Jenis parameter kualitas air dan sedimen yang dianalisis beserta satuan dan aladmetoda serta lokasi analisisnya dapat dilihat pada Tabel 6. Sedangkan Analisis kualitas sedimen dilakukan di Iaboratorium Tanah. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Parameter / I Satuan / I Metode Keterangan KUALITAS AIR Pisika Kedalaman Suhu Kekemhan TSS Kimia Oksigen terlarut (DO) BOD COD Ammonia Total Nitrit mg/l mg/l mdl mg/l ir~ situ DO meter laboratorium Modifikasi Winkler laboratorium Refluks Terbuka Spectrofotonehic/l. Departemen Tanah. 1961). metode.zic acid Kjeldhal pH meter I Laboratorium Laboratorium Laboratorium Laboratorium . Tabel 4. Tekstur 3-Fraksi dan pH. kandungan ammonia pada air di sedimen. Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan. Paraineter. kandungan nitrat pada air di sedimen. Institut Pertanian Bogor.

Hal ini dikarenakan setiap stasiun memiliki kedalaman tersebut. dan interfase (kedalaman dekat dasar). parameter-parameter utama (NH3. 82 Tahun 2001 tentang: Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Penceinaran Lingkungan. dan akan disajikan secara deskriptif. Kedalaman yang digunakan antara lain kedalaman 0 m. dan waktu. Selanjutnya dari setiap data dibagi menurut stasiun dan kedalaman... Jumlahkan semua data lalu dikuadratkan. dan TSS) serta dengan baku mutu yaitu. Peraturan Pemerintah No. dan waktu ditentukan jumlah datanya untuk menganalisis ragam menggunakan tabel sidik ragam. (Y . kekeruhan. kedalaman. Analisis Data Data yang diperoleh dari hasil pengukuran kualitas air dan sedimen ditampilkan dalam bentuk tabel dan grafik. COD. oksigen terlarut (DO). suhu. dan Rancangan Acak Kelompok (RAK) untuk data sedimen waduk. BOD. Untuk stasiun diasumsikan sebagai faktor A. Sedangkan untuk melihat pengaruh secara temporal dan spasial data akan dianalisis dengan menggunakan Rancangan PetakTerbagi (Split-Plot Design) untuk data kualitas air. N03. dan kedalaman diasumsikan sebagai faktor B. kedalaman. NOz. Terlebih dahulu data dikelompokkan menurut waktu pengambilan sampel dan waktu diasumsikan sebagai kelompok. kemudian bagi dengan jumlah data untuk inendapatkan Faktor Koreksi (C). a. Adapun langkah-langkah untuk menentukannya adalah sebagai berikut (Steel dan Torrie. Analisis Data Kualitas Air Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis dengan Rancangan PetakTerbagi (Split-Plot Design) untuk melihat pengaruh dari stasiun. 10 m.12 Hitung Faktor koreksi (C) = .4. Ntotal) dibandmgkan dengan parameter pendukung (suhu. Selanjutnya dari setiap stasiun. pH. Selain analisa secara deskriftif. 1993) : 1.

selanjutnya bagi dengan jumlah waktu pengambilan sampel dan kurangi dengan faktor koreksi (C).2. setelah itu bagi dengan jumlah data yang ada pada setiap waktu pengamatan yang sama dan kurangi dengan faktor koreksi (C).. Menghitung Jumlah Kuadrat (stasiun) dengan menjumlahkan data setiap stasiun pengamatan lalu kuadratkan dan jumlahkan kuadratnya. keinudian kurangi dengan faktor koreksi (C) untuk mendapatkan Junlah Kuadrat Total (JKT). Menghitung Jumlah Kuadrat (petak utama) dengan menjumlahkan data pada setiap waktu pengambilan sampel lalu kuadratkan.C ii V b. JK(ke1ompok = waktu) = z y 2 lab -C . i 1. setelah itu dijumlahkan kuadratnya.JK(A) . JK(ga1at (A)) = JK(petak utama) . JK(petak utama) = c$. Kuadratkan masing-masing data lalu jumlah semua kuadratnya.C tjk VP a.1b . Menghitung Jumlah Kuadrat (kelompok) dengan menjumlahkan data menurut waktu pengambilan sarnpel yang sama kemudian jumlahkan waktu yang sama pada setiap stasiun lalu dikuadratkan. Jumlah Kuadrat Total ( K T ) = 3. Kerjakan analisis petak utama : 2$ .JK(ke1ompk) . d. Menghitung Jurnlah Kuadat (galat(A)) dengan mengurangi JK(petak utama) dengan JK(ke1ompok) dan JK(A). setelah itu bagi dengan jumlah data yang ada pada satu stasiun dan kurangi dengan faktor koreksi (C). c.

=ai = 0) HI: stasiun memberikan pengaruh nyata (minimal satu stasiun. lalu bagi dengan jumlah data yang ada disetiap kedalaman setelah itu kurangi dengan faktor koreksi (C). JK(ga1at @)) = JK(tota1) .= Pj = 0) HI: kedalaman memberikan pengaruh nyata (minimal satu stasiun (pj# 0)) 3. kemudian kurangi dengan faktor koreksi (C) dan JK(A) serta JK(B). Menghtung Jumlah Kuadrat (kedalaman) dengan menjumlahkan data setiap kedalaman kemudian kuadratkan hasilnya. Pengaruh kedalaman pengambilan sampef terhadap kandungan nitrogen: H. (a i # 0)) 2.=yj = 0) HI: waktu memberikan pengaruh nyata (minimal satu stasiun (y.JK(petak utama) .JK(A).JK(B) . Adapun hipotesis yang akan diuji adalah sebagai berikut : 1. lalu bagi dengan jumlah data yang ada di setiap menurut stasiunnya....: kedalaman tidak berpengaruh (PI = P2 = . dan JK(A). JK(B = kedalaman) = k 2 ykI ra .JK(A) Selanjutnya setelah langkah-langkah perhitungan di atas dilakukan masukkan ke dalam tabel sidik ragam untuk mendapatkan nilai F-hitung (Tabel 7). Pengaruh stasiun terhadap kandungan nitrogen Ho: stasiun tidak berpengaruh (al = a 2 = . Menghitung Jumlah Kuadrat (galat@)) dengan mengurangi JK(tota1) dengan JK(petak utama).JK(B) c. # 0)) .I Jk ~k r- c .. Pengaruh waktu pengambilan sampel terhadap kandungan nitrogen: K:waktu tidak berpengaruh (yl = y2 = .. setelah itu kuadratkan hasilnya dan dijumlahkan..C b. JK(AB) = cy2.. kerjakan analisis anak-petak : a..3. Menghitung Jumlah Kuadrat (AB) dengan menjumlahkan data setiap kedalarnannya menurut setiapnya masing-masing.. JK(B).

Jika hasil sidik ragam menunjukan adanya perbedaan yang nyata akibat perlakuan. : terdapat perbedaan yang nyata antar perlakuan (stasiun dan kedalaman) dengan kandungan nitrogen.Tabel 5. maka dilakukan uji lanjutan menggunakan metode uji lanjutan Beda Nyata Terkecil (BNT) untuk mengetahui perlakuan mana yang memberikan pengaruh berbeda nyata terhadap kandungan nitrogen periaran. maka tolak H. kedalaman. Tabel Sidik Ragam Rancangan Petak-Terbagi (Steel dan Tonie. Langkah-langkah perhitungan uji BNT adalah sebagai berikut : < F-tabel. Jika F-hitung nitrogen. pada selang kepercayaan 95 %. untuk mendapatkan bagaimana pengaruh stasiun. dan waktu pengambilan sampel terhadap kandungan nitrogen perairan berdasarkan kaidah keputusan dibawah ini : Jika F-hitung > F-tabel. 1993) Keterangan : a =jumlah stasiun pengambilan sampel b =jumlah kedalaman pengambilan sampel r = jumlah kelompok (waktu pengambilan sampel) Selanjutnya nilai F-hitung dibandingkan dengan F-tabel. maka terima x: terdapat perbedaan yang tidak nyata antar perlakuan (stasiun dan kedalaman) dengan kandungan .

. dan pada kolom ditentukan data menurut waktu. Pada baris ditentukan data menurut stasiun. maka gaga1 tolak Ho b. setelah itu kurangi dengan hasil bagi jumlah total data yang dikuadratkan dengan jumlah semua data yang ada. Langkah-langkah menentukan RAK adalah sebagai berikut (Walpole.bds) keterangan : t a / 2 n KTS dbs Kaidah keputusan : = Nilai dati tabel t ( a =5 %) = Banyaknya ulangan = Kuadrat = Derajat tengah sisa bebas sisa * Jika d > BNT a . data sedimen dianalisis dengan inenggunakan Rancangan Acak Keloinpok (RAK). Selanjutnya data tersebut dijumlahkan untuk menentukan analisis ragamnya dengan menggunakan tabel sidik ragam (Tabel 8). kemudian kurangi dengan hasil b a a jumlah total data yang dikuadratkan dengan jumlah semua data yang ada. Analisis Data Sedimen Berbeda dengan analisa kualitas air. Menghitung Jumlah Kuadrat Baris (JKB) dengan menjumlahkan Qta berdasarkan setiap stasiun lalu &kuadratkan. 2. maka tolak Ho Jika d < BNTa. 1995): 1. kemudian bagi dengan jumlah data yang ada pada setiap stasiun. BNTaEt(a/2. Data yang diperoleh disusun bedasarkan stasiun dan waktu pengambilan sampel. Menentukan perbedaan rata-rata atribut dengan membandingkan ratarata perlakuan dengan masing-masing perlakuan. Menentukan nilai uji BNT. d = lyi-yjj b. Menghitung Jumlah Kuadrat Total ( K T ) dengan mengkudratkan masingmasing data kemudian dijumlahkan.a.

Menghitung Jumlah Kuadrat Kolom (JKK) dengan menjumlahkan data setiap berdasarkan waktu lalu dikuadratkan. seperti yang ditunjukkan pada Tabel 8. Tabel Sidik Ragam Rancangan Acak Kelompok (Walpole.1) I Total rc-1 Keterangan : r = jumlah stasiun pengambilan sampel c = jumlah waktu pengambilan sarnpel .1) F-hitung (1. 1995) Sumber Keragaman Nilai tengah Stasiun Nilai tengah Waktu Galat I Derajat Jurnlah Kuadrat Bebas (db) (JJQ Kuadrat Teugah WT) JKB KTB = (r .l)(r .3. kemudian bagi dengan jumlah data yang ada pada setiap waktu pengamatan. Tabel 6 .1) KG KT JKG (c .1) (c-1) (r-1-1 I JKB JKK KTB KTG KTK KTG KTK = KTG= I JKK - (C. KG=KT-JKB-JKK Selanjutnya jumlah kuadrat yang telah dihitung disusun kedalam tabel sidik ragam untuk menganalisis ragam. 4. setelah itu kurangi dengan hasil bagi jumlah total data yang dikuadratkan dengan jumlah semua data yang ada. Menghitung Jumlah Kuadrat Galat (KG) dengan mengurangi JKT dengan JKB dan JKK.

: terdapat perbedaan yang nyata antar perlakuan (stasiun dan waktu) dengan kandungan nitrogen. P e n g a d waktu pengambilan sampel (kelompok) terhadap kandungan nitrogen: H..: faktor waktu tidak berpengaruh (PI = P 2 = . Pengaruh stasiun (perlakuan) terhadap kandungan nitrogen : H. Menentukan perbedaan rata-rata atribut dengan inembandingkan ratarata perlakuan dengan masing-masing perlakuan.bds) keterangan : t cu / 2 n KTS dbs JZEG = Nilai dari tabel t ( a = 5 %) = Banyaknya ulangan = Kuadrat tengah sisa = Derajat bebas sisa .. maka dilakukan uji lanjutan lnenggunakan metode uji lanjutan Beda Nyata Terkecil (BNT) untuk mengetahui perlakuan mana yang memberikan pengaruh berbeda nyata terhadap kandungan nitrogen periaran. d = lyi-yjl b... BNTa=t(a/2. Menentukan nilai uji BNT. pada selang kepercayaan 95 %.=ai = 0) HI: faktor stasiun berpengaruh (minimal satu stasiun (ai # 0)) 2. maka tolak H. Langkah-langkah perhitungan uji BNT adalah sebagai berikut : a. Jika hasil sidik ragam menunjukan adanya perbedaan yang nyata akibat perlakuan..= Pj = 0) HI: faktor waktu berpengaruh (minimal satu waktu (Pj# 0)) Selanjutnya nilai F-hitung dibandingkan dengan F-tabel.: faktor stasiun tidak berpengaruh (al = a2= . sehingga dapat ditarik kesimpulan berdasarkan kaidah keputusan dibawah ini : Jika F-hitung > F-tabel. Jika F-hitung 5 F-tabel.. maka terima %: tidak terdapat perbedaan yang nyata antar perlakuan (stasiun dan waktu) dengan kandungan nitrogen.Hipotesis yang akan diuji adalah: 1.

maka tolak Ho * Jika d < BNT a .Kaidah keputusan : Jika d > BNTa. maka gaga1 tolak Ho .

Kandungan Nitrogen di Perairan 1. Kandungan ammonia total tertinggi selama penelitian terjadi pada bulan September di stasiun 3 pada kedalaman interface (dekat dasar).85 mgtl.46 mg/l.86 mg/l (Gambar 7 dan Lampiran 1). Ammonia total (NH3 dan N&+) Kisaran nilai ammonia total berkisar antara 0.I .20 -. . sedangkan kandungan ammonia total terendah terjadi pada bulan Juli di stasiun 1 pada permukaan waduk. Kandungan ammonia total ( N H 3 dan N 4 perairan berdasarkan H3 kedalaman pada setiap stasiun dan waktu pengamatan. . Distribusi vertikal ammonia total mengalami penurunan pada setiap kedalanan. 40 Y stasiun 1 kedalamao maksimum = 19 meter C rn E 40 60 70 stasiun 2 kedalamnn maksimum = 13 meter $5060 70 0 0 10 Y Konsentrasi (mgil) 2 I<onsentrasi (mgg 4 6 0 2 4 6 .07-4.40 r 60 70 kedalaman maksimum = 62 meter Gambar 7. z E 30 'U 5 50 Y E m . sedangkan pada kedalaman interface (dekat dasar) rata-rata kandungannya adalah 1.HASIL DAN PEMBAaASAN v A. Rata-rata kandungan di permukaan waduk adalah 0.

sedangkan konsentrasi terendah terjadi pada bulan Juli di stasiun 1 pada kedalaman 10 meter.1 Konsentrasi (mgfl) 0. konsentrasi rata-rata di permukaan adalah 0.49 mgll rnenjadi 1.20 g 10 30 stasiun 1 ' e 40 stasiun 2 kedalaman mksimum = 13 meter tconsenlrasi (rngll) 50 60 70 Konsentrasi (mgliJ stasiun 3 stasiun 4 I--c Jull Gambar 8.Terjad peningkatan konsentrasi ammonia total pada setiap penambahan kedalaman. Nilai ammonia bebas (NH3) dan ammonium ( ~ ~ 4 3 dari konversi nilai ammonia total (Lampiran 14).08 mg/l meningkat menjadi 0. stasiun 2 konsentrasi rata-rata di permukaan sebesar 0.2 0. dengan konsentrasi tertinggi pada bulan Agustus di stasiun 2 pada permukaan waduk.3 .74 mg/l pada kedalaman interface (dekat dasar). dan stasiun 4 konsentrasi rata-rata pada permukaan 0. Ammonia yang terukur pada perairan berupa ammonia total (NH3 dan NW (Goldman dan Home.5 0. Distribusi vertikal NH3 inenunjukkan penurunan pada setiap penambahan kedalamannya (Gambar 8).59 mg/l. I September I Kandungan ammonia bebas (NH3) berdasarkan kedalaman pada setiap stasiun dan waktu pengamatan.05 01 .72 mg/l menjadi 1. --rcAgustus - .25 0 0 0.55 mg/l dan meningkat pada kedalaman interface inenjadi 3. Konsentrasi (mgll) 01 . 0 0.. Ammonia bebas didapat (NH3) yang terukur berkisar antara 0.30 mg/l pada kedalaman interface.2054 mg/l.76 pada kedalaman interface.2 0. . 1983). Pada stasiun 1.0017-0. stasiun 3 konsentrasi rata-rata di perrnukaan sebesar 0.

828 mgh.080 mg/l dan menurun menjadi 0. rata-rata konsentrasi pada permukaan sebesar 0. interface. (H3 N4 .064 dan menurun menjad 0.O 13 mg/l pada permukaan menjadi 0. Stasiun 3. Kandungan ammonium perairan berdasarkan kedalaman pada setiap stasiun dan waktu pengamatan. rata-rata konsentrasi pada permukaan adalah 0. 0 2 Konsentrasi (m@) 4 6 Konsentrasi (mgll) 0 0 2 4 6 stasiun 1 10 50 2 X I Z 9 6 40 stasiun 2 kedslaman maksimum = 13 meler 50 a 70 Konsentrasi (mgm 0 2 4 0 2 Konsentrasi (mgfl) 4 6 stasiun 4 kednlnmnn maksimum = 25 meter -+-Jult --P-Agustus -a-September Gambar 9. didapat kisaran untuk M&+ yaitu sebesar 0. Pada stasiun 2.0659-4.O 15 mg/l pada kedalaman ( ~ ~yang3 4 terukw dapat dilihat pada dan Gambar 9 dan Lampiran 1. Stasiun 4.028 mg/l pada kedalarnan interface. dan konsentrasi terendah tejadi pada bulan September di stasiun 1 pada permukaan waduk. Sedangkan untuk nilai ammonium nilai konsentrasinya mengalami sedikit peningkatan dari 0.031 mg/l dan mengalami penurunan pada kedalaman interface sampai 0.017 mgl. rata-rata konsentrasi pada permukaan sebesar 0. dengan konsentrasi terbesar terjadi pada bulan September di stasiun 3 pada kedalarnan interface. Dari hasil yang diperoleh. Sedangkan pada stasiun 1.Pada Gambar 8 terlihat bahwa pada setiap penambahan kedalaman konsentrasi NH3 rata-rata menurun di setiap stasiun pengamatan.023mgA pada kedalaman interface. kecuali pada stasiun 1.

Konsentrasi N& merniliki kecenderungan mengalami p e n m a n . Amonifikasi dilakukan oleh bakteri heterotrof (Wetzel. 1983). Dan stasiun 4.725 mg/l pada kedalaman interface. Proporsi nilai keduanya dipengaruhi oleh temperatur dan pH perairan (Wetzel. 2003). Pada perairan Eutrofik produktivitas dan kandungan bahan organik tinggi. rata-rata konsentrasi pada permukaan sebesar 0.Pada grafik terlihat terjadi peningkatan konsentrasi NI%+ untuk setiap penambahan kedalaman.737 mg/l pada kedalaman interface. Dari hasil yang didapat. sedangkan N+ memiliki kecenderungan mengalami peningkatan pada setiap penambahan & kedalaman (Gambar 8 dan Gambar 9). Konsentrasi N H 3 yang tinggi pada permukaan waduk disebabkan oleh pH yang juga tinggi pada .457 mgll menjadi 1.568 mg/l pada kedalaman interface. Wetzel (1983). Ammonia total tidak terionisasi pada pH lebih besar dari 7 (Goldman dan Home. Hal ini terlihat pada konsentrasi ammonia total stasiun 2 dan stasiun 3 yang relatif lebih besar dibandingkan stasiun 1 dan stasiun 4 (Lampiran 1). rata-rata konsentrasi pada permukaan 0. Stasiun 3. 1983). mengklasifikasikan pola sebaran yang demiluan sebagai perairan Eutrofik (Gambar 3). Bahan organik didekomposisi menghasilkan ammonia melalui proses ammonifikasi. Bakteri ini akan tumbuh dengan lebih cepat pada kandungan bahan organik yang tinggi dibandingkan bakteri nitrifikasi (Effendi. Stasiun 2.269 mg/l pada kedalaman interface.067 mgA dan meningkat menjadi 0. sehingga konsentrasi dari ammonia bebas (un-ionised ammonia @GI3)) akan meningkat.488 mg/l menjadi 3. rata-rata konsentrasi pada permukaan 0. Dekomposisi bahan organik tersebut lebih banyak menghasilkan ammonia dan proses nitrifikasi yang menghasilkan nitrat akan terhambat. Konsentrasi yang meningkat disetiap kedalamannya diduga terjadi akibat proses dekomposisi bahan organik oleh mikroorganisme. 1983). ammonia total memiliki kecenderungan inengalami peningkatan pada setiap penambahan kedalaman. Ammonia total terbag menjadi dua bentuk yaitu ammonia bebas (unionised ammonia (NH3)) dan ammonium (ionised ammonia (~~43).643 mg/l dan bertambah menjadi 1. Di stasiun 1. Bahan organik diduga berasal dari kegiatan budidaya KJA yang terdapat pada waduk yaitu bempa sisa pakan dan feses. Hal ini terlihat dari nilai BOD pada setiap penambahan kedalaman yang meningkat (Gambar 21). rata-rata konsentrasi pada permukaan sebesar 0.

Dan untuk mengetahui stasiun. dan stasiun (1-4). Kadar ammonia yang tinggi mengakibatkan pe~ngkatan konsumsi oksigen. Goldman dan Home (1983). Sedangkan ammonium OF4 konsentrasinya semakin meningkat disebabkan \H3 oleh pH perairan yang semakin menurun.permukaan waduk dan nilainya semakin menurun setiap penambahan kedalaman.0474 mg/l. sehingga dapat dikatakan bahwa konsentrasi ammonium berkorelasi negatif dengan pH perairan. Ammonia bebas @W3) bersifat toksik dibandingkan ammonium (~~43.02 mglt. Konsentrasi ini lebih tinggi dari baku mutu (Peraturan Pemerintah Nomor 82. Hasil analisis data dengan rancangan Petak-Terbagi (Split-Plot) memberikan keputusan tolak H untuk faktor stasiun (lokasi pengambilan . Dapat dikatakan bahwa NH3 berkorelasi positif dengan kandungan pH perairan. sampel). Dari hasil uji lanjutan berdasarkan faktor stasiun (Tabel 7). Hal ini sangat berbahaya b a g kegiatan budidaya KJA di Waduk Cirata. Kandungan pH yang relatif tinggi pada permukaan waduk dapat menyebabkan sebagian besar ammonia total tidak terionisasi sehingga inenghasilkan ammonia bebas (NH3) yang relatif bersifat toksik dari ammonium (~~43. menjelaskan ammonia akan terionisasi pada pH < 7. didapatkan ada lima pasang stasiun yang berbeda nyata menurut kandungan ammonia total. Lima pasang stasiun tersebut adalah stasiun (1-3). 2001) untuk kepentingan perikanan yang menganjurkan batas maksimat konsentrasi ammonia bebas sebesar 0. Hal ini tentunya sangat merugikan bagi kegiatan budidaya KJA yang berada di Waduk Cirata yang kegiatannya berada pada permukaan waduk. faktor kedalarnan. kedalaman serta waktu yang memberikan konsentrasi yang berbeda. Stasiun 3 mengalami perbedaan yang nyata dengan semua . keputusan tolak H memberikan garnbaran bahwa pada setiap faktor terdapat perbedaan dua atau lebih stasiun. stasiun (2-3). kedalaman dan waktu yang berbeda nyata dilakukan uji lanjutan BNT. Karena konsentrasi ammonia total tertinggi rata-rata terdapat pada daerah budidaya KJA (stasiun 2 dan stasiun 3). stasiun (3-4). penelitian didapat Dari hasil rata-rata konsentrasi NH3 pada setiap stasiun di permukaan waduk adalah sebesar 0. Hasil . dan menurunkan kapasitas transport oksigen oleh darah (Boyd. Kandungan ammonia total yang tinggi sangat berpotensi sekali menjadi bahan-bahan toksik. dan waktu pengambilan sainpel (Lampiran 1). mengakibatkan kerusakan pada insang.1982). stasiun (1-2).

44 = berbeda nyata Hasil uji lanjut BNT untuk faktor kedalaman menunjukkan bahwa. Stasiun 1 memiliki perbedaan kandungan terkecil dengan stasiun yang lainnya. dan 10 meter (Tabel 10). begitu pula dengan stasiun 1. kedalaman interface berbeda nyata dengan kedalaman 0 meter.85) 0 meter (0. Hal ini menunjukkan adanya kecenderungan nilai kandungan yang tinggi pada kedalaman tersebut dibandingkan kedalaman yang lain.38* 0.99* = 0.46) 10 meter (0.85) Rata-rata 10 meter (0. Tabel 7.l) Kedalaman 0 meter (0.39 0 0 Nilai BNT Keterangan * .42 = berbeda nyata 0.stasiun. Tabel 8. dan stasiun 3 memiliki perbedaan kandungan terbesar dengan stasiun yang lainnya.85) Interface (1. Kedalainan interface berbeda nyata dengan semua kedalaman yang lainnya.1). Nilai BNT Keterangan * = 0. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Ammonia Total perairan (a=0. Namun penarikan kesimpulan seperti ini tidak bisa dilakukan karena secara statistik masih terdapat interaksi antara faktor stasiun dan kedalaman.46) 1. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor kedalaman terhadap kandungan Ammonia Total perairan (a=O.

yaitu antara bulan Juli dengan Agustus. pada stasiun 3 berkisar antara 0-0. Nitrit (NO23 Berdasarkan hasil yang diperoleh didapat kisaran konsentrasi nitrit pada stasiun 1 yaitu berkisar antara 0. Kandungan rata-rata ammonia total tertinggi pada permukaan waduk terjadi di stasiun 2.Hasil uji lanjut BNT untuk faktor waktu menunjukkan adanya dua pasang waktu pengambilan sampel yang menunjukkan perbedaan nyata terhadap kandungan ammonia total. dan konsentrasi rata-rata ammonia total untuk kedalaman interface terjadi di stasiun 3.0015 mg/1 dan meningkat pada kedalaman interface menjadi 0. Perbedaan yang terjadi inenurut waktu menggambarkan adanya perubahan karakteristik waduk seperti tinggi muka air selama waktu pengamatan. dan pada stasiun 4 berkisar antara 0-0.0014 mg/l (Gambar 10 dan Lampiran 2).1) Nilai BNT Keterangan * = 0.38 = berbeda nyata Nilai interaksi faktor stasiun dan faktor kedalaman menghasilkan keputusan tolak H (Lampiran 1).0059 mg/l.0004-0. Ini menunjukkan adanya interaksi antar faktor . stasiun 2 berkisar antara O0.0940 mgll. Nilai uji BNT untuk pengamh faktor waktu terhadap kandungan ammonia total (a=0. Pada stasiun 1 konsentrasinya cenderung meningkat pada setiap penambahan kedalaman. dapat dikatakan tidak ada satu stasiun yang memiliki nilai konsentrasi ammonia total tertinggi untuk semua kedalamannya.0020 mg/l.0847 . Tabel 9. sedangkan rata-rata konsentrasi ammonia total tertinggi di kedalaman 10 meter terjadi pada stasiun 2. dan bulan Juli dengan September (Tabel 11). 2. stasiun dengan faktor kedalaman. Dengan rata-rata konsentrasi nitrit pada permukaan sebesar 0. Konsentrasi nitrit memiliki pola distribusi vertikal yang berbeda pada setiap stasiun.

Sedangkan pada stasiun 2 konsentrasinya cenderung menurun pada setiap kedalamannya. .004 0. 2003).05 Nitnt (mgfl) 0.OE z 20 a ?%30 E30 C . dengan rata-rata di permukaan sebesar 0.I106 0. dimana nitrit merupakan produk antaranya.0007 mg/l pada stasiun 3 dan 0.50 S 40 stasiun 4 laman maksimum = 62 meter ke&laman maksimum = 25 meter g 60 70 70 --c Juli ~ A g u s t u s --September 4 Gambar 10.0004 mg/l pada stasiun 4. menurun pada kedalaman interface menjadi 0.002 0. 0 0.0110 mgll pada stasiun 4.002 0.00.001 1 mg/l menjadi 0 mg/l pada kedalaman interface.j kodalamsn meksimum = 13 meter 0 0 10 0. Diteinukan dalam jumlah yang sedikit di perairan. karena bersifat kurang stabil dan sangat bergantung pada keberadaan oksigen di perairan (Effendi.004 Nitril (mg/l) 0. Stasiun 3 dan stasiun 4 konsentrasinya berfluktuasi namun cenderung menurun dengan rata-rata pa& permukaan 0.) perairan berdasarkan kedalaman pada setiap stasiun dan waktu pengamatan. Proses nitrifikasi menggunakan oksigen dalam perombakan ammonia menjadi nitrat. Kandungan nitrit (NO.1 Nitrit (mgll) 0 0.002 0.008 0 0.0010 mgil pada stasiun 3 dan 0.mgll.004 Nitrit (mg/l) 0. Nitrit merupakan bentuk peralihan antara ammonia dan nitrat dalam proses nitrifikasi. Konsentrasinya sangat bergantung pada keberadaan oksigen di perairan.

nitrifikasi berjalan pada keadaan aerobik. namun menurut Wetzel (1983). sehingga konsentrasi nitrit yang merupakan produk antara proses ini juga inenurun. menyatakan ketika nitrit terabsobsi oleh ikan. nitrifikasi masih dapat berlangsung sampai konsentrasi oksigen terlarut sebesar 0. Berdasarkan baku mutu (Peraturan Pemerintah Nomor 82. Rata-rata konsentrasi oksigen terlarut mendan pada kedalaman 10 meter konsentrasi rata-rata dari ketiga stasiun tersebut sebesar 0. Selain itu penurunan diakibatkan juga kurang tersedianya oksigen terlarut pada setiap stasiun tersebut. akan diikat oleh hemoglobin darah sehingga menggangu penyerapan oksigen oleh hemoglobin. ini juga terlihat dari nilai BOD dan COD yang cenderung tinggi di ketiga stasiun tersebut. 2001) untuk kepentingan perikanan konsentrasi tersebut masih pada kisaran baku mutu yang menetapkan batas maksimal sebesar 0. dan stasiun 2 diperkirakan karena meningkatnya kandungan bahan organik pada stasiun tersebut akibat aktivitas budidaya KJA. . Penurunan konsentrasi yang terjadi pada stasiun 3.06 mgil. stasiun 4. Walaupun konsentrasi oksigen pada stasiun 1 mengalami penurunan setiap kedalainannya (Gambar lo).61-10. proses ini akan terns berlangsung sainpai kandungan oksigen terlarut (DO) sekitar 0. memiliki konsentrasi nitrit rata-rata sebesar 0.Pada stasiun 1 terjadi peningkatan konsentrasi nitrit pada setiap kedalaman. Kandungan bahan organik dapat menghambat proses nitrifikasi (Wetzel. Boyd (1982). Hal inilah yang menyebabkan meningkatnya kandungan nitrit pada stasiun 1 pada setiap kedalamannya.027 mgll. Inilah yang menyebabkan konsentrasi nitrit memilila kecenderungan m e n m sampai kedalainan interface.75 mg/l.03 mdl. Konsentrasi nitrit yang tinggi tentunya sangat membahayakan kegiatan budidaya KJA di Waduk Cirata. sehingga nitrit yang merupakan produk antara proses tersebut masih ditemukan. Pada daerah permukaan waduk yang merupakan daerah aktivitas budidaya KJA.00112 mg/l. dengan kisaran konsentrasi antara 0. 1983). Hal ini diperkirakan proses nitrifikasi masih berlangsung pada stasiun 1.3 mgll. Konsentrasi oksigen pada stasiun 1 masih memungkinkan terjadinya proses nitrifikasi walaupun akan bejalan secara lambat. Fluktuasi konsentrasi yang terjadi pada stasiun 3 dan stasiun 4 dikarenakan sifat nitrit yang tidak stabil. Menurut Wetzel (1983).

ini membuktikan bahwa stasiun 1 memiliki nilai )ha1 yang lebih besar dibandngkan dengan stasiun-stasiun pengamatan yang lainnya. stasiun 3. stasiun (1-2). Stasiun 1 (0. dan faktor kedalaman (Lampiran 2).0004) a . stasiun (1-4).Hasil analisis data memberikan keputusan tolak H untuk faktor stasiun . Interaksi antara faktor stasiun dan faktor kedalaman juga tidak ditemukan (gaga1 tolak (Lampiran 9).0007) Stasiuu 2 (0. Keputusan ini menggambarkan bahwa pada setiap faktor terdapat perbedaan dua atau lebih stasiun dan kedalaman yang memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap kandungan nitrit di perairan. Pada stasiun 1 nilai kandungannya cenderung lebih kecil.0010 0.0004) 0.0513* 0.0015) (0.0035 = berbeda I nyata Nilai BNT Keterangan * Hasil uji lanjut BNT berdasarkan faktor kedalaman memperlihatkan perbedaan nyata antara kedalaman 0 meter (permukaan) dengan kedalaman 10 meter dan kedalaman interface (dekat dasar).0007) 0. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Nitrit perairan @JOY) (a=0. Hal ini menggambarkan kandungan nitrit di permukaan nilainya cenderung berbeda dengan kedalaman lainnya.0520) Rata-rata Stasiun 4 Stasiun 3 (0.05 16* 0. . dan stasiun (1-3) (Tabel 12).0520) 0 = 0. (Tabel 13). sedangkan pada stasiun 2.0007 0 0. Sedangkan kedalaman 10 meter dengan interface menurut hasil uji lanjutan tidak memberikan perbedaan yang nyata. antara lain.1) Stnsiun Stasiun 2 (0.05 17+ Stasiun 3 (0. Tabel 10. Terlihat stasiun 1 berbeda nyata dengan semua stasiun pengamatan.0015) Stasiun 1 (0. dan stasiun 4 nilainya cenderung lebih tinggi dibandingkan kedalaman yang lainnya. Hasil uji lanjut BNT berdasarkan faktor stasiun menunjukkan tiga pasang stasiun yang berbeda nyata.0003 0 0 Stnsiun 4 (0.

0012) Interface (0.? Berdasarkan hasil yang diperoleh didapatkan lusaran konsentrasi nitrat pada stasiun 1 sebesar 0-0. = 0. .0038 = berbeda nyata Interaksi faktor stasiun dan kedalaman memberikan keputusan gaga1 tolak I-I.0001-0.0217) Nilai BNT Keterangan * 0 0.0033 mgll pada stasiun 3. Terlihat bahwa pada stasiun 1 konsentrasi nitrat cenderung mengalami peningkatan.0024 mg/l pada staisun 2. stasiun 2 berkisar antara 0. 3. dan menurun pada kedalaman interface menjadi 0..0036 0 .3735 mg/l.2735 mg/l.0169* (0.0034 mg/l pada stasiun 4. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor kedalaman terhadap kandungan Nitrit perairan (Nod (a=0.0217) (0.00101 mg/l pada stasiun 2. dengan konsentrasi rata-rata pada permukaan sebesar 0.0012) 0 0. 0. 0. 0. 0. dan stasiun 4 konsentrasinya cenderung inengalami penurunan pada setiap kedalaman.0206* f(lme. dan stasiun 4 berkisar antara O0. karena keputusan yang diperoleh memberikan keputusan tolak H. Pengaruh faktor waktu pengambilan sampel tidak berpengaruh terhadap kandungan nitrit perairan. stasiun 3.0093 mg/l pada stasiun 4.0001 mgfl pada stasiun 3. 0. (Lampiran 2). Pada stasiun 2.0220 mg/l dan meningkat pada kedalaman interface menjadi 0. Nitrat (NO.0214 mg/l. sedangkan pada stasiun 2. Pada stasiun 1 terlihat konsentrasi meningkat setiap kedalaman. Keputusan ini menggambarkan tidak adanya interaksi antar faktor stasiun dengan faktor kedalanan. sehingga dapat dikatakan stasiun 1 memiliki kandungan nitrit yang tinggi dibandingkan stasiun lain serta pada setiap kedaiamannya.0097 mgA. stasiun 3 berkisar antara 0-0.0181 (0.0181) 0. dan stasiun 4 konsentrasinya cenderung menurun (Gambar 11 dan Lampiran 3). dengan konsentrasi rata-rata di permukaan sebesar 0.00356 mg/l. stasiun 3.1) Kedalaman 0 meter Interface Rata-rata 10 meter 0 meter (0.Tabel 11.

Kandungan nitrat (NO<)perairan berdasarkan kedalaman pada setiap stasiun dm waktu pengamatan.61-10. ..- 223 g30 40 Y <a EO 70 0 0 01 kedalaman maksimum = 19 meter n -D Y"M @ kedalamnn maksimum = 13 meter I 70 0. konsentrasi oksigen terlarut memiliki kisaran antara 0.02 2 23 a? C g30 E . Nitrat (mg/O 0 0 10 e 0. Hal ini terlihat dari kandungan nitrit yang juga mengalami peningkatan setiap kedalamannya di stasiun 1. Diduga proses nitrifikasi inasih berlangsung bahkan sampai kedalaman inteface.02 0 0 01 m a stasiun 4 kcdalema malisimum = 25 meter m +JUII -5-Agustus -a-.2 0.September Gambar 11. dengan menggunakan oksigen terlarut yang terkandung dalam perairan.4 0 'z? 0 10 0 01 Nitrat (mgm 0.03 Nitrat (mgfl) 0.02 Nitrat (mg/i) 0. 1983).1 0.75 mgll.3 0.Peningkatan nitrat yang terjadi pada stasiun 1 diduga masih berlangsungnya proses nitrifikasi pada stasiun tersebut. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya pada pembahasan tentang nihit bahwa. proses nitrifikasi masih dapat berlangsung sampai konsentrasi oksigen terlarut sebesar 0. dan inilah yang menyebabkan konsentrasinya meningkat pada setiap kedalaman di stasiun 1. Dan pada stasiun 1.3 mgll (Wetzel. Proses nitrifikasi mengubah ammonia menjadi nitrit dan selanjutnya menghasilkan produk akhir berupa nitrat.

stasiun (4-3). Berdasarkan keputusan tersebut didapatkan bahwa pada setiap faktor terdapat perbedaan dua atau lebih stasiun dan kedalaman yang memberikan konsentrasi yang berbeda terhadap nitrat & periran. akan tetapi terjadi akumulasi kandungan ammonia pada perairan. stasiunstasiun yang berbeda nyata antara lain stasiun (1-3). Pada stasiun 1 diperlarakan karena stasiun ini memiliki nilai yang cenderung lebih tinggi . pH perairan yang asam dengan pH di bawah 6 (Effendi. ha1 inilah yang menyebabkan konsentrasi nitrat cenderung menurun.27 mgll kemudian menurun sampai kedalaman interface dengan rata-rata oksigen terlarut di bawah 0. stasiun 3. 2003). stasiun (1-2).P e n m a n yang terjadi pada stasiun 2. mernbuat pertumbuhan bakteri-bakteri nitrifikasi menjadi lebih lambat dari bakteri heterotrof. Hal ini diduga sebagian besar bahan organik belum terdekomposisi sempurna sehingga proses nitrifikasi belum berjalan dengan baik pada kedalainan tersebut. kandungan bahan organik yang tinggi sehingga pertumbuhan bakteri nitrifikasi lebih lambat dibandingkan bakteri heterotrof. Proses ini dapat terhambat karena kandungan oksigen terlarut di bawah 2 mg/l nagnun proses ini masih berlangsung sampai konsentrasi oksigen terlamt 0. Nasil uji lanjutan berdasarkan faktor stasiun diperoleh bahwa. Hasil analisis data memberikan keputusan tolak I untuk faktor stasiun. Proses nihifikasi pada kedalaman dibawah 10 meter tentunya akan terhambat. Stasiun 1 memiliki perbedaan yang nyata dengan stasiun yang lain begitu juga dengan stasiun 3. diperkirakan proses nitrifikasi terhambat pada stasiun tersebut. Dengan konsentrasi rata-rata pada permukaan sebesar 8. dan stasiun (2-3) (Tabel 14). Banyaknya bahan organik pada stasiun-stasiun ini yang terlihat dari nilai BOD dan COD yang cenderung tinggi. Namun untuk kedalaman antara permukaan sampai kedalaman 10 meter nilainya juga cenderung menurun. dan stasiun 4.13 mg/l dan menurun sampai pada kedalaman 10 meter rata-ratanya sudah sebesar 0. Berdasarkan kandungan oksigen terlarut stasiun 2. & dan faktor kedalaman (Lampiran 3). stasiun 3. dan stasiun 4 terlihat semakin menurun pada setiap kedalaman.3 mg/l.3 mg/l. stasiun (1-4). Ini juga terlihat dari meningkatnya ammonia total pada perairan (Gambar 7). Hal ini menyebabkan bahan-bahan organik yang terdekomposisi menghasilkan ammonia melalui proses ammonifikasi tidak langsung &dekomposisi lagi oleh bakteri nitrifikasi menghasilkan nitrat.

058 = berbeda nyata Hasil uji lanjutan berdasarkan faktor kedalaman menunjukkan kedalaman 0 ineter (permukaan) berbeda nyata dengan kedalaman 10 meter dan kedalaman interface (Tabel 15).060* 0. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Nitrat perairan (NO<) (a=O.058) Interface Nilai BNT Keterangan * = 0.034 0 0 (0.012 n 0.023) Stasiun 1 1 Nilai BNT Keterangan * = 0.UU4) (0.100* 1.l) I Kedalaman 0 meter / Rata-rata Interface 10 meter 0 meter / (0. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor kedalaman terhadap kandungan Nitrat perairan (NO<) (c~=O. Tabel 13.020) Stasiun 4 1.029 = berbeda nyata . sedangkan pada stasiun 2.065* n 0.004) Stasiun 2 (0. sedangkan stasiun 3 lebih disebabkan berfluktusinya kandungan nitrat pada stasiun ini (Gambar 11). Pada stasiun 1 nilainya lebih kecil.l) Stasiun 1 Rata-rata Stasiun 2 Stasiun 4 Stasiun 3 Stasiun I (0.142) (U.009) 10 meter 0. Tabel 12. stasiun 3. Kedalaman 10 meter dan interface tidak beam berbeda kandnungan nitratnya. dan stasiun 4 nilainya lebih besar daripada kedalaman dibawahnya.020) (0. Hal ini menunjukkan kedalaman 0 meter (permukaan) memiliki kandungan nitrat yang berbeda dengan kedalaman lainnya.dibandingkan stasiun yang lain.023) I I (0.048* 0 0 (0.

kisaran konsentrasi yang tinggi pada stasiun 4 dipengaruhi kegiatan KJA di stasiun 3. stasiun 3 berkisar antara 0. dan stasiun ini lebih dekat dengan stasiun 3. . kandungan bahan-bahan organik (sisa pakan dan hasil metabolisme ikan (feses)) yang tinggi pada stasiun 3 dari kegiatan budidaya KJA meningkatkan konsentrasi nitrogen total. Hal ini diperkirakan. Hal ini dikarenakan. stasiun 4 merupakan outlet waduk tempat keluarnya air waduk. sehingga dapat dikatakan terdapat stasiun yang memiliki kandungan nitrat tertinggi dibandingkan stasiun dan kedalaman yang lain yaitu pada stasiun 1 (Lampiran 3). Protein yang terdekomposisi mengandung 16 % nitrogen (Depdikbud.25641. Sedangkan stasiun 1 konsentrasinya hanya d~pengaruhioleh air masukan yang berasal dari sungai Citarum.. Stasiun 3 inemiliki kisaran kandungan nitrogen total tertinggi dibandingkan stasiun yang lain. kisaran nilainya lebih kecil dibandingkan stasiun 4. 4. 2003). 1989 dalam Effendi. sehingga didapat kisaran nilai yang lebih tinggi dari stasiun 2.0016 mgtl. Dapat dilihat pada setiap stasiun pengamatan konsentrasi nitrogen total semakin meningkat setiap kedalaman.5582-5. Nitrogen Total Kisaran konsentrasi nitrogen total pada stasiun 1 yaitu antara 0. Ini menggambarkan interaksi antar faktor stasiun dengan kedalaman tidak ditemukan. Hal inilah yang menyebabkan tingginya konsentrasi nitrogen total pada stasim 3. Sedangkan stasiun 2 dengan jumlah kerapatan KJA sedang. sehingga memiliki konsentrasi nitrogen total yang lebih kecil dibandingkan stasiun lainnya. 1991).1356-2. dan stasiun 4 berkisar antara 0. Pakan ikan yang digunakan adalah pakan buatan yang memiliki kandungan protein yang tinggi. Adanya arus yang mengalir menuju stasiun 4 yang membawa sebagian bebanbeban sisa pakan dan buangan ikan meningkatkan konsentrasi nitrogen total pada stasiun ini. stasiun 2 berkisar antara 0.4598-3.2564 mgll (Gambar 12 dan Lampiran 4).5749 mgll.Interaksi faktor stasiun dan kedalaman memberjkan keputusan gaga1 tolak H. Nitrogen total penjumlahan kandungan nitrogen anorganik berupa NO2-N. NH3-Nyang bersifat terlarut dan nitrogen organik yang berupa partikulat dan tidak lamt dalam air (Mackereth et al.9846 mg/l.

40 60 70 -+-Juli -z+Agustus ---A--- 9% September Gambar 12. namun pada stasiun 2. dan faktor kedalaman (Lainpiran 1 I). Hasil uji lanjutan berdasarkan faktor stasiun diperoleh bahwa. Keputusan ini memberikan gambaran bahwa pada setiap faktor terdapat perbedaan dua atau lebih stasiun dan kedalaman yang memberikan konsentrasi yang berbeda.40 . Kandungan nitrogen total perairan berdasarkan kedalaman pada setiap stasiun dan waktu pengamatan .0 0 10 0 2 N. Perbedaan tersebut menggambarkan stasiun 1 memiliki rata-rata kandungan nitrogen total yang kecil dari stasiun yang lain. 20 E rn e 20 30 5 .Total (rngil) 4 6 0 0 10 2 N-Total (mgll) 4 6 . .40 Y stasiun 1 kedalaman maksimum = 19 meter %O m =cU 30 5 . Hasil analisis data memberikan keputusan tolak H untuk faktor lokasi pengambilan sampel (stasiun). Sedangkan kandungan nitrogen total pada stasiun 2.Total (rngll) kedalaman maksimum = 13 meter 50 70 0 E a m = '=m 10 z2a c 30 & . stasiun 3. stasiun 1 yang menunjukkan perbedaan nyata dengan semua stasiun (Tabel 16).c 2 so g 60 70 N-Total (mgn) N. dan stasiun 4 tidak begrtu berbeda nyata. dan stasiun 3 memiliki kecenderungan nilainya lebih tinggi dibandingkan stasiun yang lain (Lampiran 11).

77* 0 (0.85* 0.77 = berbeda nyata (1. Ini menunjukkan bahwa pada setiap kedalaman terdapat perbedaan konsentrasi.57) Stasiun 3 (2. Interaksi yang terjadi menunjukkan terdapat hubungan antar faktor stasiun dengan kedalaman sehingga tidak ada satu stasiun saja yang memiliki nilai .67) 10 meter (2.SO) Stasiun 2 (1.24) 1. Tabel 15. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Nitrogen Total perairan (a=0.07 0 (1.51* 0.98* A (1. (Lampiran 4). Oleh karena itu perbedaan yang nyata terjadi di masing-masing kedalaman yang diamati.41) 1. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor kedalaman terhadap kandungan Nitrogen Total perairan (a=0.73) Stasiun 4 (2.77* 0 (0.44) Interface Nilai BNT Keterangan * = 0.74 0.67) 0 (1.Tabel 14.73) 0 (1.44) 0.1) Kedalaman 0 meter Interface Rata-rata 10 meter 0 meter (0. Konsentrasi yang terjadi di masingmasing kedalaman mengalami peningkatan di setiap penambahan kedalaman.24) Nilai BNT Keterangan * Hasil uji lanjut BNT berdasarkan faktor kedalaman menunjukkan pada setiap kedalaman berbeda nyata (Tabel 17).57) 0.74* 0.66 0 = 0.SO) 0.35 = berbeda nyata Interaksi faktor stasiun dan kedalaman memberikan keputusan tolak H.1) 1 Stasiun Stasiun 1 Stasiun 3 1 Rata-rata Stasiun 2 I Stasiun 4 I Stasiun 1 (0.

Selanjutnya nitrogen organik akan banyak mengendap pada stasiun 4 dan terdekomposisi menghasilkan ammonium. dengan rata-rata konsentrasi sebesar 471.konsentrasi nitrogen total tertinggi pada setiap kedalamannya. nsunun penjerapan yang terjadi pada stasiun 2 lebih sedikit terjadi. 2003). ammonium juga dihasilkan dari penjerapan alnmonium yang terlarut pada air oleh sedimen. untuk stasiun 2 konsentrasinya berkisar antara 261. Ammonium yang terdapat di sedimen dapat berasal dari dekomposisi nitrogen organik yang terakumulasi di dasar. Nitrogen organik ini akan mengendap didasar dan terakumulasi pada sedimen. Hal ini dikarenakan kandungan dari ammonium yang terdapat pada perairan relatif sedikit .62-490.87 mg/l. Konsentrasi mnonium tertinggi terjadi pada stasiun 4. selain itu juga dapat berasal dari penjerapan oleh sedimen. Kebanyakan nitrogen organik bersifat partikulat yang tidak larut dalam air (Effendi. Aktivitas ini banyak dilakukan oleh permukaan liat karena memiliki bantuk moleM yang halus. dan untuk stasiun 4 berkisar antara 442. pada kedalaman 10 meter konsentrasi tertinggi terjadi pada stasiun 2. B. dengan rata-rata konsentrasi sebesar 211. Konsentrasi ammonium pada stasiun 4 lebih tinggi daripada stasiun 3 diduga karena adanya arus pada waduk menyebabkan nitrogen organik yang banyak terdapat di stasiun 3 terbawa arus menuju stasiun 4.9280. 2000).7 mg/l. Selain dari dekomposisi. Nitrogen organik banyak berasal dari sisa pakan yang tidak termakan dari kegiatan budidaya KJA yang biasanya mengandung protein yang tinggi.04 mg/l.31-223. Dan konsentrasi ammonium terendah terjadi pada stasiun 1. Nilai konsentrasi nitrogen total tertinggi pada kedalaman 0 meter terjadi pada stasiun 2. Ammonium akan bereaksi secara cepat dengan muatan negatif dari liat dan membentuk ikatan yang komplek dengan logam dan senyawa organik (Tan. Rata-rata persentase kandungan liat tertinggi terjadi pada stasiun 2 yaitu sebesar 91. unt& stasiun 3 berkisar antara 392. Ammonium (mi) Hasil pengukuran ammonium didapat kisaran konsentrasi untuk stasiun 1 sebesar 196.69 %.l mg/l. Konsentrasi ammonium tertinggi terjadi pada stasiun 4 (Gambar 13 dan Lampiran 5). Kandungan Nitrogen di Sedimen 1.15 mg/l.35 mg/l. dm pada kedalaman interface konsentrasi tertinggi terjadi pada stasiun 3.85-410.

) (Lampiran 5).dari stasiun 3 dan stasiun 4. Terlihat bahwa stasiun 4 memiliki persentase liat lebih besar dari stasiun 3. . Hasil uji lanjut BNT yang diperoleh berdasarkan fdctor stasiun menyatakan bahwa. Lokasi Juli Agustus September Gambar 13. semua stasiun memberikan pengaruh berbeda nyata terhadap kandungan ammonium pada sedimen (Tabel 18). sehingga konsentrasi ammonium yang terkandung pada stasiun 4 lebih banyak dibandingkan stasiun 3. mi.95 % (stasiun 4). Konsentrasi Ammonium waktu pengamatan.) sedimen berdasarkan stasiun dan Hasil analisis data menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) menjelaskan sedikitnya ada dua atau lebih stasiun yang memiliki perbedaan yag nyata.98 % (stasiun 3). Sedangkan stasiun 3 dan stasiun 4 memiliki persentase rata-rata liat adalah sebesar 83. dan 84. Hal ini memungkinkan terjadinya penjerapan ammonium lebih banyak dari stasiun 3. Perbedaan pada setiap stasiun menggambarkan pada masing-masing stasiun kandungan ammonium-nya berbeda satu sama lain. karena faktor stasiun memberikan keputusan tolak %. Sedangkan faktor waktu pengambilan sampel tidak meinberikan perbedaan yang nyata (gaga1 tolak H.

05 mgh (stasiun I).64 mg/l (stasiun 3). bahwa konsentrasi nitrat rata-rata tertinggi terjadi pada stasiun 4 yaitu sebesar 145. Effendi (2003). Terlihat pada Gambar 23. Penjerapan juga akan semakin ~neningkat jika .34123.Tabel 16. Ketersediaan ammonium yang tinggi pada stasiun 4 memberikan peluang lebih besar untuk diubah menjadi nitrat dibandingkan pada stasiun lain. sedangkan konsentrasi rata-rata terendah terjadi pada stasiun 1 yaitu sebesar 86. koloid-koloid tanah.89 = berbeda nyata 2. Nitrat yang terdapat pada sedimen dapat berasal dari oksidasi ammonium (&) selain itu dapat juga berasal dari penjerapan anion oleh N+. Hal ini diduga merupakan hasil dari dekomposisi ammonium oleh baMeri nitrifikasi pada stasiun tersebut. 126.53 mgh (stasiun 4) (Gambar 14 dan Lampiran 5). Stasiun 4 cenderung memiliki kandungan nitrat yang tinggi dari stasiun yang lain.87 mgll.36 mg/l (stasiun 2). Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Ammonium sedimen (a=0. 75. karena pada stasiun 3 kandungan nitrat yang terukur pada kedalaman interface nilainya mendekati no1 sehingga penjerapan nitrat pada stasiun ini lebih sedikit dijumpai.1) Nilai BNT Keterangan * = 19.85 mgll.39-160. Stasiun 2 memiliki kandungan nitrat lebih tinggi daripada stasiun 3. menjelaskan bakteri nitrifikasi cenderung menempel pada sedimen dan padatan lain. 112.35-95.18-110. Nitrat ( N o d Berdasarkan data yang didapat kisaran konsentrasi nitrat yang terdapat pada masing-masing sedimen antara lain 75. Hal ini diduga karena proses penjerapan anion-anion nitrat oleh koloid-koloid tanah yang lebih banyak terdapat di stasiun 2.

Konsentrasi Nitrat ( N O 9 sedimen berdasarkan stasiun dan waktu pengamatan. antara lain. Lokasi a Juli Agustus B September ! Gambar 14.kelnasaman tanah meningkat (Depdikbud. stasiun (1-4). stasiun (1-2). Hasil analisis data memberikan keputusan tolak H. Kemasaman sedimen pada stasiun 2 sangat tinggi. Hal ini meningkatkan proses penjerapan anion-anion nitrat pada stasiun 2. Sedangkan antara stasiun (1-3) tidak memberikan perbedaan yang nyata terhadap kandungan nitrat pada sedimen waduk (Tabel 19). Sedangkan faktor waktu pengambilan sampel memberikan keputusan gaga1 tolak &. stasiun (3-4). stasiun (2-4). dibandingkan stasiun yang lain dengan pH rata-rata 5.6. . 1991). dan stasiun (3-2). pada faktor stasiun (Lampiran 5). sehingga kandungannya relatif lebih tinggi dari stasiun 3. Hasil uji lanjutan berdasarkan faktor stasiun diperoleh bahwa. terdapat lima pasang stasiun yang berbeda nyata terhadap kandungan nitrat.

51-785. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Nitrat sedimen (a=0.99* 56.24 = berbeda nyata (89.45 (stasiun 2). 3.34-643. stasiun 2.70* 0 58. Hal ini menyebabkan sisasisa pakan yang banyak inengandung nitrogen banyak terendapkan pada stasiun 4. dan stasiun 1.34 mgd. Pengarub arus menyebabkan sebagian besar sisa pakan yang sebagian besar berasal dari stasiun 3 terbawa hngga stasiun 4.82 mg/l (stasiun 3).87) 0 - (89.15 mgll (stasiun 4) (Gambar 15 dan Lampiran 5). Kandungan nitrat stasiun 3 relatif lebih kecil dari stasiun 2 karena diduga proses nitrifikasi dan penjerapan nitrat terhambat sehingga kandungannya lebih kecil dibandingkan stasiun 2 dan relatif lebih sama dengan stasiun 1.262. 351. diikuti oleh stasiun 3.32) Stasinn 4 (145. sehmgga kandungan nitrogen total pada stasiun tersebut relatif lebih tinggi dibandingkan stasiun yang lain. Kandungan nitogen total adalah jumlah dari nitrogen organik dan anorganik. Nitrogen Total Kandungan nitrogen total pada setiap stasiun pengamatan didapatkan kisaran antara lain 240.87) Stasiun 3 (116. Ha1 ini juga terlibat dari junlah ammonium dan nitrat yang relatif lebih tinggi pada stasiun ini.25* 29. 542.55* 0 = 25. stasiun 4 lnemiliki kandungan nitrogen total tertinggi dibandingkan stasiun yang laimya.62) 2.74 0 (86. dan 598.32) 29.02 mg/l (stasiun I). namun untuk stasiun 1 dan stasiun 3 tidak begitu berbeda nyata.87) Nilai BNT Keterangan * Terlihat babwa kandungan pada setiap stasiun berbeda. .1) Stasiun Stasiun 1 Stasiun 4 Rata-rata Stasiun 3 Stasiun 2 Stasiun 1 (145. Secara umun kandungan nitrogen total tertinggi terjadi pada stasiun 4 dengan rata-rata kandungan nitrogen total sebesar 679.87) (86.51-398.44* 26.Tabel 17.16 .62) Stasiun 2 (1 16. Terlihat pada Gambar 24.

Tabel 18.14) (583.34) Rata-rata Stasiun 2 Stasiun 3 (369. Hasil uji lanjut BNT dapat dilihat pada Tabel 20 dibawah ini.1) Stasiun Stasiun 1 (251.00* 0 118. Konsentrasi Nitrogen Total sedimen berdasarkan stasiun dan waktu pengamatan.ll) 428./ 1 Juli mi Agustus September Lokasi Gambar 15. Hasil analisis data memberikan keputusan tolak H untuk pengaruh faktor .45 = berbeda nyata 332.14) Stasiun 1 (251. Keputusan ini mengainbarkan bahwa kandungan nitrogen total pada setiap stasiun berbeda nyata.20* 0 = 94. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Nitrogen Total sedimen (a=0.03* 214.20* 96.03* 0 0 Nilai BNT Keterangan * . stasiun (Lampiran 5).ll) Stasiun 2 (369.34) Stasiun 4 (679.14) Stasiun 3 Stasiun 4 (679.23* 310.

C.52. sedangkan kekeruhan terendah terdapat pada bulan Agustus di stasiun 3 pada permukaan waduk yaitu sebesar 3 NTU.2 . Sedangkan pada stasiun 1 lebih disebabkan oleh masukkan air dari sungai Citannn.56. Dapat dilihat pada Gambar 17 bahwa terjadi peningkatan kekeruhan setiap pertambahan kedalaman.6 .O NTU (stasiun 3). terdapat perbedaan yang nyata pada semua stasiun terhadap kandungan nitrogen total sedimen. Nilai kekeruhan tertinggi terdapat pada bulan September di stasiun 2 pada kedalaman interface (dekat dasar) yaitu sebesar 56 NTU.O . karena diketahui bahwa stasiun 4 merupakan daerah aliran keluamya air waduk. Untuk pengaruh waktu pengambilan sampel berdasarkan hasil analisis data tidak memberikan pengaruh berbeda nyata (gaga1 tolak &). artinya bahwa pengaruh waktu kurang mempengaruhi kandungan nitrogen total pada sedimen waduk. dan tidak ditemukan dua stasiun yang memiliki kandungan nitrogen total yang sama.O NTU (stasiun I). Parameter Fisika dan Kimia Perairan a. Dan pada stasiun 4 disebabkan adanya arus air keluar waduk.O NTU (stasiun 2). dan 2.Dari hasil uji lanjut BNT berdasarkan faktor stasiun diperoleh bahwa. 4.7. Perbedaan pada masing-masing stasiun menggambarkan kandungan di setiap stasiun berbeda satu sama lainnya. Hal ini diduga berasal dari sisa-sisa pakan dan feses ikan dari kegiatan budidaya KJA pada kedua stasiun tersebut.O NTU (stasiun 4). Kisaran nilai yang diperoleh untuk setiap stasiun adalah 3. 3. Kekeruhan Kekeruhan yang diperoleh berkisar antara 3-56 NTU (Gambar 17 dan Lampiran 6). .40. khususnya pada stasiun 2 dan stasiun 3 terjadi peningkatan yang sangat besar. Kondisi Perairan dan Sedimen Waduk Cirata 1.13.

Kekeruhan perairan pada setiap stasiun. Nilai ini diduga karena pada bulan September tinggi muka air waduk Inengalami penyusutan dibandingkan bulan-bulan sebelumnya (Mardiana.Kekeruhan (NN) Kekeruhan (NTU) 0 0 10 23 40 60 0 20 \_ 40 al A-. Pada ketiga waktu pengamatan.- . kekeruhan tertinggi terja& pada bulan September dengan kisaran antara 4. dan waktu pengamatan. 20 2 E 2 " e C 3s . Penyusutan tinggi muka air inenyebabkan partikel-partikel halus dan tersuspensi menjadi lebih pekat sehingga meningkatkan kekeruhan air waduk.40 m m 60 70 Kekeruhan (NTU) m n stasiun 2 GO ke&lam~ mnksimum = 13 meter g so ke&lman maksimum = 19 meter 70 Kekewhan (NTU) 0 0 10 t 40 EO 0 0 10 M 40 EO 53 $40 m n g 20 rn stasiun 3 a 0 2 ~ 3 3 m E ' 9% BJ 70 -Juli - $40 m 3s EO kedalaman mksimum = 25 meter 70 -m-Agustus -+-September I I Gambar 16.6 - 56.-. 2007). kedalaman. .O NTU.

27.17 30.68 O C dan pada dasar waduk berkisar antara 26. . Suhu Suhu perairan pada setiap stasiun dan kedalaman berkisar antara 26.40 $50 Y kedalarnan mahimum = 19 meter z0 3 a $50 Y 60 70 60 70 kedalamn mahimum = 13 meter 26 28 Suhu (Celcius) 30 32 26 28 Suhu (Celcius) 3l 32 m stasiun 4 60 70 kedalanwn maksimum = 25 meter --cJuli -+-Agustus ---September Gambar 17.16 30. Dengan suhu tertinggi di daerah permukaan berkisar antara 29. Penurunan suhu terjadi setiap stasiun pada permukaan sampai kedalaman dasar waduk. Deviasi suhu berdasarkan waktu maupun kedalaman masih berada di bawah 3 "C (Lampiran 7). Suhu perairan pada setiap stasiun.40 m rn 5 . Penurunan suhu yang terjadi belun dapat mengambarkan adanya lapisan thermoklin. dan waktu pengamatan.16 .b. karena perubahan suhu antar lapisan tidak menyebabkan perbedaan suhu yang drastis antara lapisan. 2001) suhu pada perairan ini masih dalam kisaran baku mutu. kedalaman. Berdasarkan baku mutu untuk kepentingan perilcanan (Peraturan Pemerintah Nomor 82.58 O (Gambar 16 dan C Lampiran 7). - Suhu (Celcius) Suhu (Celcius) 26 0 10 '2 28 30 32 0 10 '2 26 28 30 32 g 20 E m -C 0 3 g .68 OC.

Ini juga terlihat dari nilai kekeruhan yang semalan meningkat pada setiap kedalamannya.29 r n g . dan stasiun 4 berkisar antara 4. Kisaran kandungan TSS pada stasiun 1 adalah sebesar 5 -19 mg/l. Kandungan TSS yang tinggi bisa mengakibatkan pengendapan bahan-bahan suspensi dan terakurnulasi pada sedimen sehingga meningkatkan kandungan sedimen perairan waduk. Terlihat pada Gambar 18 terjadi peningkatan nilai TSS pada setiap penainbahan kedalaman. stasiun 2 berkisar antara 6-241 mgll.Jo . TSS (mgll) 0 TSS (mgfl) 0 0 200 300 1133 rn a 0 g E 03 10 20 stasiun 1 . kedalaman. Total Suspended Solid (TSS) TSS yang diperoleh berkisar antara 3-241 mgA (Gambar 18 dan Lampiran 8). E .40 2 50 60 kedaloman maksimum = 62 meter 70 kednlaman maksimum = 25 meter -+-Jul~ --r-hustus -*Sep~ember Gambar 18. stasiun 3 berkisar antara 3 -180 mg/l. Hal ini diduga karena adanya partikel-partikel suspensi yang berasal akibat limpasan dari daratan (run o m dan sisa-sisa pakan yang terbuang dari aktivitas KJA ke dalam perairan sehingga meningkatkan partikelpartikel tersuspensi pada perairan tersebut. dan waktu pengamatan. Kandungan Total Suspended Solid (TSS) perairan pada setiap stasiun.c.do n a 2 50 60 70 kedalamon maksiium = 13 meter TSS (mgA) 0 1Gu 0 m T s s (m@) 300 0 E n m 10 k 2 0 Z" a 5 . Dari .

sedangkan konsentrasi DO minimum tejadi pada bulan Juli pada stasiun 2 di kedalaman interface (dekat dasar) dengan konsentrasi sebesar O. Rata-rata konsentrasi oksigen pada kedalanlan 5 meter adalah 1.517 mg/l. clan rata-rata pada dasar waduk adalah 0. 2005). Hal ini diduga karena pada stasiun 2 terdapat aktivitas budidaya KJA. Pada setiap stasiun konsentrasi DO mengalami penurunan.ll-9.75 mg/l. 0.02 mg/l. . walaupun jumlah unit KJA yang terdapat pada stasiun 2 tidak terlalu padat dibandingkan stasiun 3. Rata-rata konsentrasi DO pada permukaan adalah 8.17-9. Kisaran konsentrasi oksigen terlarut pada bulan Juli. d. Konsentrasi oksigen yang semakin menurun pada setiap kedalamannya akan menjadikan keadaan anaerob pada perairan. Dan selanjutnya konsentrasi menurun secara perlahan dengan bertambahnya kedalaman. nilai kekeruhannya juga lebih tinggi dibandingkan stasiun yang lain.58 mg/l. dan letak stasiun 2 yang lebih dekat dengan daratan membuat stasiun 2 mendapatkan limpasan dari daratan (run om lebih banyak dibandingkan stasiun yang lain sehingga TSS pada stasiun 2 lebih tinggi dibandingkan stasiun yang lain. 0. Agustus. tetapi dangkalnya kedalaman stasiun 2 ini membuat volume air pada stasiun ini lebih kecil dibandingkan stasiun 3.75 mgll. September berturutturut antara lain berkisar antara. Oksigen Terlarut (Dissolved Oxygen (DO)) Konsentrasi DO maksimum terjadi pada bulan September pada stasiun 1 di kedalaman 0 meter (permukaan) yaitu sebesar 10.11 mgtl (Gambar 19 dan Lampiran 9).98 mg/l (Lampiran 11). Pola yang demikian dapat digolongkan ke dalam pola sebaran Clinograde.keempat stasiun yang teramati. Hal ini tentunya akan berdampak b a g proses-proses dekomposisi bahan organik baik pada air maupun pada sedimen waduk.74 mdl. Sedangkan nilai TSS terkecil tejadi pada stasiun 1. Pola tersebut menggambarkan keadaan perairan yang eutrofik dan banyak inengandung unsur hara serta bahan organik di dalamnya (Goldmand dan Home. khususnya pada dasar perairan. dan 0. 1983 dalam Octaniany. nilai TSS tertinggi terjadi pada stasiun 2. Penurunan teqadi secara drastis dari permukaan waduk sampai kedalaman 5 meter.18-10.

pH Berdasarkan hasil pengukuran pH (Gambar 20 dan Lampiran lo). Kandungan oksigen terlarut (DO) perairan pada setiap stasiun.96. dan pH terendah terdapat pada dasar waduk dengan kisaran nilai antara 6.97-7. Dengan nilai pH tertinggi terdapat pada bulan September di stasiun 3 pada permukaan waduk dengan nilai sebesar 8.82-8.68. didapat kisaran nilai antara 6. dan waktu pengamatan.67. e.40 a 329 -D 2 ' 50 70 0 kedalamn = 13 meter Okstgen Tetlarut (mgtl) 5 10 E stasiun 4 60 kedalamnn maksimum = 25 meter 70 -e-~uli ~Agustus +September Gainbar 19. Terlihat bahwa semakin bertanbahnya kedalaman terjadi penurunan pH pada setiap stasiun. Berdasarkan waktu pengamatan selama penelitian. .rm a 5 . kedalaman. rata-rata pH tertinggi terdapat pada permukaan waduk dengan kisaran nilai antara 7.67.Oks~gen Terlarut (mgll) Oksigen Terlarut (m@) 0 5 10 0 0 10 5 10 a stasiun 1 70 Oksigen Tellarut (mgil) l.96-8. Sedangkan nilai pH terendah terdapat pada bulan Agustus di stasiun 3 pada kedalaman 30 meter dengan nilai sebesar 6.67.

dan pada stasiun 2 kisaran nilai BOD antara 3. 8. Sedangkan stasiun 1 dan stasiun 4 yang tidak dipengaruhi oleh kegiatan .06 mg/l.5 6. Biocliemical Oxygen Demand @OD) Nilai BOD yang didapat berkisar antara 1. BOD dapat menggambarkan banyaknya kandungan bahan organik di perairan (Effendi.5 75 .06 mg/l. Bahan organik diduga berasal dari kegiatan budidaya KJA yaitu dari sisa pakan dan feses ikan. Nilai BOD menunjukkan peningkatan pada setiap penambahan kedalaman. f.08-24. Nilai pH perairan pada setiap stasiun. 2003).28.36 mgA (Gambar 21 dan Lampiran 11).06 mgll.36 . kedalaman.65 mgA. Pada stasiun 3 kisaran nilai BOD antara 1.36-28.5 9. dan nilai terkecil terdapat pada stasiun 2 (bulan September) di kedalaman 10 meter dengan nilai sebesar 1.5 75 8. dengan nilai terbesar terdapat di stasiun 3 (bulan Sepetember) di kedalaman dekat dasar (interface) dengan nilai sebesar 28. dan waktu pengamatan. ha1 ini dibuktikan dengan kisaran BOD yang cenderung tinggi pada stasiun 2 dan stasiun 3.5 pH stasiun 1 nu stasiun 4 1 70 J kedalnman maksimum = 62 meter -+-Juli -r--Aguslus 70 J -t- kedaloman mnksimum = 25 meter I September Gambar 20.pH 6.

.21mg/l clan 2. Hal ini juga terlihat dari kandungan oksigen terlarut (DO) yang semakin menurun pada setiap penambahan kedalaman.. Nilai BOD yang semakin besar pada setiap penambahan kedalaman menggambarkan proses dekomposisi bahan organik yang semakin besar. semakin tinggi pula konsurnsi oksigen untuk proses dekomposisi.budidaya KJA kisaran nilai BOD masing-masing adalah 4.40 m D 3 50 GO 70 . BOD [mgfl) 0 10 20 30 0 10 20 BOD (mu) 30 10 -. .20 E G - '--..5618. z m 20 e 2 20 a- ' ' 30 . --cJuli +Agustus -b--. sehingga nilai BOD menja& tinggi. Proses dekomposisi ini memerlukan oksigen (02) dan inelibatkan mikroorganisme (bakteri).. AO $ m stasiun 1 kcdnlaman mnksimum = 19 meter 3 u 40 stasiun 2 kedGlaman maksimum = 13 meter ? so ' i GO 70 0 10 20 60 70 BOD (mgll) 30 0 10 20 BOD (mil4 30 0 10 10 Y30 5 . Semakin banyak bahan organik yang terkandung pada perairan. 2003). 2003). dan waktu pengamatan. BOD juga dapat menggambarkan proses dekomposisi secara biologis (biodegradable) (Effendi. stasiun 3 g 30 E 40 3 50 60 70 stasiun 4 kcdalamnn mnksimum = 25 meter Gambar 21. kedalaman.78-8. Ini diduga karena oksigen digunakan untuk proses dekomposisi bahan-bahan organik menjadi bahan-bahan anorganik (Effendi. September Kandungan Biochemical Oxygen Demand (BOD) perairan pada setiap stasiun. .12 mgil.

48 mg/l (Gambar 22 dan Lampiran 12). Nilai rata-rata COD selama pengamatan adalah 19. COD inenggambarkan dekomposisi bahan organik secara kimia dengan memanfaatkan oksigen (02) dan menghasilkan CO2 dan Hz0 (APHA. Nilainya semakin bertambah pada setiap kedalaman. Kisaran nilai COD untuk setiap stasiun antara lain. g.19-50.20 mgll. Berdasarkan baku mutu (Peraturan Pemerintah Nomor 82.83 mg/l.66 mg/l (Lampiran 11). dengan rata-rata nilai di permukaan 17. 6. 1989). Nilai COD semakin bertambah pada setiap penambahan kedalaman.64 mgll (stasiun I).Berdasarkan baku mutu (Peraturan Pemerintah Noinor 82.13-39.83 mg/l (stasiun 2).82 mg/l (stasiun 3).13-53. dan 4. Chentical Oxygen Demand (COD) Nilai COD berkisar antara 4.2001) untuk kepentingan perikanan.68 mg/l.46-53.41 mgll. 2001) untuk kepentingan perikanan.64 mg/l (stasiun 4). 8. 10. dan bahanbahan organik ini berasal dari kegiatan KJA yang terjadi pada kedua stasiun tersebut. dan di kedalaman dekat dasar 29. Nilai rata-rata BOD pada permukaan sampai dengan kedalainan 10 meter masih dalam kisaran baku mutu yaitu sebesar 4. nilai tersebut masih dalam kisaran maksimum yang diperbolehkan yaitu sebesar 50 m a . Sedangkan nilai rata-rata BOD pada kedalaman dasar (interface) sangat melebihi dari nilai baku mutu yang diperbolehkan yaitu sebesar 13. Terlihat bahwa stasiun 2 dan stasiun 3 yang dipengaruhi oleh kegiatan budidaya KJA memiliki rata-rata COD yang tinggi dibandingkan pada stasiun 1 dan stasiun 4. Hal ini menggambarkan bahwa kandungan bahan organik yang terdekomposisi secara kimia banyak terdapat pada stasiun tersebut.26-20. nilai BOD yang diperbolehkan adalah sebesar 6 mgll. .

COD (mgn) 0 20 40 E n 40 COD (mg!l) 60 -M B z -30 C P 10 - . dan waktu pengamatan.5 % (Gambar 23 dan Lampiran 13). I c .l-48.40 3 50 60 70 'e stasiun 1 kedolamn mlitimum = 19 meter rn stasiun 2 kedal-n mksimum = 13 meter coo (msn) 0 c 10 COD (msn) 0 20 40 I 3 5 E 2 20 $ 30 g 40 0 3 50 60 kedalaman maksimum = 25 meter 70 --cJuli .5%. dan liat antara 51.& & - Agustus -+September Gambar 22. 2. Tekstur Sedimen Dari hasil analisis diperoleh tiga macam tekstur yang terdapat pada sedimen waduk selama penelitian. Untuk tekstur debu komposisi tertinggi terjadi pada bulan September di stasiun 1 sebesar 48. Dengan komposisi tertinggi pada bulan September di stasiun 2 sebesar 95.02%. Parameter Fisika dan Kimia Sedimen a. yaitu: pasir. Dengan kisaran untuk pasir antara 0.02%. dan komposisi terendah pada bulan September pa& stasiun 1 sebesar 51. debu. kedalaman. komposisi liat pada setiap stasiun sangat mendominasi tekstur yang lain.6 %. dan komposisi terendah terjadi pada bulan . Kandungan Chemical Oxygen Demand (COD) perairan pada setiap stasiun. clan liat.23-95.23%. debu antara 4. Terlihat bahwa.32-1.

September di stasiun 2 sebesar 4. 1991). sedangkan pada bulan September terjadi penurunan nilai pH di setiap stasiun pengamatan.6 (Gambar 24 dan Lampiran 13).32%. Dan untuk tekstur pasir komposisi tertinggi terjadi pada bulan Agustus di stasiun 4 sebesar 1. Kisaran nilai pH tersebut termasuk dalam kategori sedimen dengan kemasaman yang sedang (Depdikbud. dan komposisi terendah pada bulan Juli di stasiun 4 sebesar 0.6%. b. . '"1 Bulan Juli '20 1 Bulan Agustus opasir mdabu olist B P B S ~ ~dobu Oliat m Bulan September 19 pasir rn dobu o list Gambar 23. Tekstur sedimen Waduk Cirata berdasarkan stasiun dan waktu pengamatan.2-6.1%. Nilai pH bulan Juli dan bulan Agustus relatif sama atau tidak terjadi perbedaan. pH Nilai pH sedimen adalah berkisar antara 5.

Tingginya kandungan karbondioksida akan menurunkan pH. Bahan organik terdekomposisi akan teroksidasi dengan penambahan oksigen dan pengurangan hidrogen menjadi karbondioksida. ini terlihat dari kandungan BOD maupun COD khususnya pada kedalaman interface (dekat dasar). air. Pada kedalaman interface tentunya &an banyak mengandung kanbondioksida. karbondioksida &an bereaksi dengan air membentuk asam karbonat (HzC03). Penurunan yang tejadi diduga akibat adanya proses dekomposisi bahanbahan organik. khususnya pada pengamatan bulan September. Asain karbonat akan membentuk kesetiinbangan mambentuk ion EPd m asam bikarbonat (HCOd. Pada sedimen waduk yang basah. dan ammonia.I Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3 Stasiun 4 Stasiun a Juli Agustus September 11 Gambar 24. Pada bulan September kandungan bahan organik relatif lebih tinggi dibandingkan bulan-bulan lainnya. Ion EPinilah yang menurunkan pH pada sedimen. . Nilai pH sedlmen berdasarkan stasiun dan waktu pengamatan. sehingga diduga pada sedimen waduk kandungannya juga tinggi.

. Kesimpulan Kandungan ammonia total pada perairan mengalami peningkatan pada setiap penambahan kedalaman. Konsentrasi NH3 memiliki kecenderungan mengalami penurunan. Konsentrasi ammonia bebas (NH3) pada permukaan perairan sudah melebihi baku mutu (PP No 82 Tahun 2001). Daerah KJA padat memiliki kandungan nitrogen total yang paling tinggi dibandingkan daerah yang lain. Pada koloin perairan kedalaman juga memberikan hasil yang berbeda nyata terhadap kandungan nitrogen di perairan. Kandungan nitrogen total pada perairan cenderung mengalami peningkatan pada setiap penambahan kedalaman. Kandungan nitrit (NO<) dan nitrat (NO3-)pada perairan cenderung mengalami penumnan.A. Kandungan ammonium (~~43. Berdasarkan statistik diperoleh. Perairan waduk Cirata berdasarkan kandungan ammonia total menurut kesuburannya digolongkan kedalam perairan Eutrofik. kecuali pada inlet waduk yang cenderung meningkat di setiap kedalamannya. sedangkan pada daerah KJA sedang. sedangkan konsentrasi nitrit (NOz) dan nitrat (NO$ masih dalam kisaran baku mutu perairan. Sedangkan untuk waktu pengainatan hanya mernberikan perbedaan yang nyata pada kandungan ammonia total. Konsentrasi ammonium lebih tinggi pada sedimen. Tekstur liat diduga memiliki kemampuan mengikat ammonium lebih baik dibandingkan nitrat.(N0i) nitrat dan nitrogen total pada sedimen cenderung mengalami peningkatan pada daerah outlet waduk. daerah KJA padat. stasiun pengamatan memberikan perbedaan kandungan nitrogen yang berbeda nyata. Tekstur sedimen banyak ditemukan dalam bentuk liat. dibandingkan kandungan nitrat. dan outlet waduk proses nitrifikasi terhainbat. Proses nitrifikasi inasih berlangsung pada daerah inlet waduk. sedangkan NI&+ memiliki kecenderungan mengalami peningkatan pada setiap penambahan kedalaman.

seperti pemanfaatan sedimen yang sangat banyak mengandung nitrogen. Perlu dilakukan kajian lanjutan dengan melihat pengaruh pola hidrologi waduk (arus air. volume air waduk. . debit. Saran 1. 2. Perlu dikaji lebih lanjut tentang pengendalian lingkungan di Waduk Cirata. Jlushing rate) untuk melihat pengaruhnya terhadap pola distribusi nitrogen secara spasial. untuk dijadikan pupuk.B.

Penerbit UI-PRESS. FPIK-IPB. Mc Graw Hill Book Company. C. 1995. California. APHA. dan G. 1983. D. Chapman. Jakarta. Ferdiaz. Pemelilzaraan Ikan dalam Karamba. . Penerbit Kanisius. 1982. Jakarta.J. UK. Jawa Barat Selama Periode 2000-2004. Yanti K. H. Washington D. S. London. New York.AWWA. Miller. Bogor.Dinamika dan Status Kualitas Air Waduk Multi Guna Cirata. Program Studi MSP.. Polusi Air dan Polusi Udara. Effendi. Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi IPB.M. River Pollution and Ecological Perspective. Jakarta. University of California. http:L%/ww. Chichester.net. Water Quality Managementfor Pond Fish Culture. 1983. and A. New York. Freshwater Ecology. Haslam. 2002. John Wiley and Sons. 2003. 1961. Yogyakarta. Perubalzan Spasial dan Temporal Kualitas Air Waduk Cirata. H. D. Heinemann Educational Books.id (2005) Goldman. Gramedia. Oxfort. Limnology. Methods of Analysisfor Soils Plants and Water.Horne.DAFTAR PUSTAKA [APHA] America Public Health Association . S.J.C. Skripsi.W. 3 18p. 1992.D dan Pratt. 17&ed. Feriningtyas. StandardMethodfor The Examination of Water and Wastewater. S. Teluuh Kualitas Air :Bagi Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan Perairan. Jurnal Sains dan Teknologi BPPT . Asmawi. 520 h. 1989. Gamo. Boyd. WPCF.R. Kimia Tanalz Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan -Kebudayaan. 1995. ip/ek. 163 p. E. 253 p. L. Kimia dan Ekotoksikologi Pencemaran. Elsevier Scientific Publishing Company. 1987. Bogor. Penerjemah. 1991. C. P F. Connell. [Depdikbud] Depatemen Pendidikan dan Kebudayaan. A. Amsterdam. 2005. Brown.

L. Fluktuasi Kandungan Oksigen Terlarut selama 24 Jam pada Lokasi Karamba Jaring Apung. Disertasi. Kartamihardja. Reinhold Publishing Corpoartoin. Second Edition. Jakarta.S. Tan. S. Indriani. Pemerintah Republik Indonesia. Jawa Barat. Dampak Budidaya Ikan Dalam Keramba Jaring Apung Terhadap Peningkatan Unsur Ndan P di Perairan Waduk Saguling.Indonesia Programme. 2001. 1993.I. G~amedia Pustaka Utama. Nastiti. 2005. di Waduk Cirata. 7. Pertumbuhan Ikan Mas (Cyprinus carpio) pada Budidaya Karamba Jaring Apung diperairan Eutrof. Wetlands International . Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebuyaan. Bogor.D dan J. Studi Kandungan Fosfor di Perairan dun Sedimen yang Dipengaruhi Kegiatan Karamba Jaring Apung di Waduk Cirata. S.H. Bogor. FPIK-IPB. Sekolah Pasca Sarjana.E dan Haryani G. T. M. dun Jatiluhur.2. dan E. R. IHPUNESCO. Komite Nasional Lahan Basah R. Program Studi MSP. 2001.H. Sknpsi. Cirata. Jakarta. IPB. S.G. Program Studi MSP. T. USA. PT. H. Prosiding Lokakarya Selamatkan Air Citarum. J. Reid. Bogor. 2005. 2000. Steel. 2007. Prihadi. New York. Ciputri. Octaviany. Tanah dun Lingkungan.. Kabupaten Cianjur.Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dun Pengendalian Pencemaran Air. 190 h. Notohadiprawiro. Jawa Barut). Environmental Soil Science. . 1998. Program Studi MSP. Swyadiputra. 2001. Mardiana. Pengelolaan Budidaya Ikan Secara Lestari di Waduk (Studi Kasus di Perairan Waduk Cirata. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol. FPIK-IPB. K. Puslitbang Perikanan. Prinsip dun Prosedur Statistika. I. No. dan Ratnawati. Diterjemahkan oleh Bambang Sumantri (IPB). FPM-IPB. Kamus Limnologi (Perairan Darat). Inc. Bapedal. Ecology of Inland Waters and Estuaries.Hehanusa P. Marcel Dekker. Torrie. Revised and Expanded. 2001.N. Skripsi. A. Bogor. Wuduk Cirata. K. G. 1991. Skripsi.N. 2005. Jakarta. Sekretaris Negara Republik Indonesia Jakarta. Krimono.

1975.S.2.A. CBS College Publishing. Dalam Penguraian Senyawa Belerang dun Analisis Laju Sedimentasi. 7. Institut Pertanian Bogor. Gramedia. 1983.T. Second edition.Umar. Jakarta. Pengantar Statistika. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol.H. R.Pengelolaan Kualitas Air. United States of America. No. Edisi ke-3. Wardoyo. dan H. dan Anderson P. Puslitbang Perikanan. S. P.M. Wright. Jakarta.E. Limnology. 2001. 41 hal..pentejemah : Ir. . Supriyadi. Nitrogen Excretion. Bambang Sumantri. Kemampuan Bakteri Desulphovibrio sp. C. Kartamihardja. Proyek Peningkatan Mutu Perguruan Tinggi. E. untuk Perbaikan Kualitas Air pada Budidaya Keramba Jaring Apung. 1995. Academic Press. New York. 3 1-38 Walpole. 2001. R. G. Wetzel.

.

74+1.55+0. waktu..08+0.49 = o.o~cI) = 0. dan kedalaman selama pengamatan Rata-rata kandungan ammonia total pada permukaan: Ammonia total (0.29+3. Kandungan Ammonia Total pada perairan berdasarkan lokasi..Lampiran 1.76 4 .72+0.59+1.46 4 Rata-rata kandungan ammonia total pada kedalaman dekat dasar (interface): Ammonia total (interface)= 0.

stasiun 1 (19 meter). Keterangan : Kedalaman interface . stasiun 3 (62 meter).Lampiran 1 (lanjutan). dan stasiun 4 (25 meter). stasiun 2 (12 meter). .

Lampiran 1 (lanjutan). .

Lampiran 2. Kandungan dan tabel sidik ragam Nitrit ( O) pada perairan N; berdasarkan lokasi, waktu, dan kedalaman selama pengamatan

1

Stasiun

1

Kedalarnan

Juli

Waktu Agustus

/

September

Rata-rata

4

0 rn 10 rn 20 rn interface

0,0014 0,0000 0,0006 0,0000

0,0004 0,0001 0,0003 0,0001

0,0009 0,0011 0,0010 0,0013

0,0009 0,0004 0,0006 0,0005

Keterangan : Kedalaman interface ;stasiun 1 (19 meter), stasiun 2 (12 meter), stasiun 3 (62 meter), dan stasiun 4 (25 meter).

Lampiran 3.

Kandungan dan tabel sidik ragam Nitrat (NO?) pada perairan berdasarkan lokasi, waktu, dan kedalaman selama pengamatan

Keterangan : Kedalaman interface ;stasiun 1 (19 meter), stasiun 2 (12 meter), stasiun 3 (62 meter), dan stasiun 4 (25 meter).

Lampiran 4. Kandungan dan tebel sidik ragam Nitrogen Total pada perairan berdasarkan lokasi, waktu, dan kedalaman selama pengamatan.

Keterangan : Kedalaman interface ;stasiun 1 (19 meter), stasiun 2 (12 meter), stasiun 3 (62 meter), dan stasiun 4 (25 meter).

danNitrat pada sedimen berdasarkan lokasi. dan waktu selama pengarnatan Tabel Sidik Ragam .Lampiran 5. Ammonia. Kandungan dan tabel sidik ragam Nitrogen Total.

. Kekeruhan perairan berdasarkan lokasi. waktu. stasiun 3 (62 meter). dan stasiun 4 (25 meter). stasiun 2 (12 meter).stasiun 1 (19 meter).Lampiran 6. dan kedalaman selama pengamatan Keterangan : Kedalaman interface .

stasiun 3 (62 meter). Suhu perairan berdasarkan lokasi. waktu. stasiun 2 (12 meter).Lampiran 7. dan stasiun 4 (25 meter).stasiun 1 (19 meter). dan kedalaman selama pengamatan Keterangan : Kedalaman interface . .

dan kedalaman selama pengamatan Keterangan : Kedalaman interface . stasiun 3 (62 meter). waktu.Lampiran 8.stasiun 1 (19 meter). . clan stasiun 4 (25 meter). Kandungan Total Suspended Solid (TSS) perairan berdasarkan lokasi. stasiun 2 (12 meter).

17 0.19 Keterangan : Kedalaman interface . Rata-rata kandungann oksigen terlamt pada kedalaman 5 meter : . dan kedalaman selama pengamatan 20 rn interfase 1 0.Lampiran 9.20 0. dan stasiun 4 (25 meter). stasiun 2 (12 meter). stasiun 3 (62 meter).19 0.21 0.21 0. Kandungan oksigen terlamt (DO) perairan berdasarkan lokasi.stasiun 1 (19 meter). waktu.22 0.20 0.

Lampiran 10. waktu.stasiun 1 (19 meter). dan stasiun 4 (25 meter). stasiun 3 (62 meter). . Kandungan pH perairan berdasarkan lokasi. stasiun 2 (12 meter). dan kedalaman selama pengamatan ~edala&m interface .

41~ = 4. Rata-rata kandungan BOD pada permukaan sampai kedalaman 10 meter : BoD(o. waktu. clan stasiun 4 (25 meter).10meter) = 5. stasiun 2 (12 meter).05+2.60+4.23+5. Kandungan Biochemical Oxygen Demand (BOD) perairan berdasarkan lokasi.68 8 Rata-rata kandungan BOD pada kedalaman dekat dasar (interface): .24+3. stasiun 1 (19 meter).56+9.36+3.Lampiran 11. stasiun 3 (62 meter).48+3. dan kedalaman selama pengamatan Keterangan : Kedalaman interface .

26 + 17.46 + 27.stasiun 1 (19 meter).Lampiran 12. dan stasiun 4 (25 meter). Kandungan Chemical Oxygen Demand (COD) perairan berdasarkan lokasi. waktu. stasiun 2 (12 meter).03 =29.20 4 Rata-rata kandungan COD pada kedalaman dekat dasar (interface): COD (interface) = 19.20+19.20+15.48 4 . Rata-rata kandungan COD pada permukaan: COD(O meter) = 17. dan kedalaman selama pengamatan Keterangan : Kedalaman interface .14 = 17.53+35. stasiun 3 (62 meter).93+35.

Kandungan pH dan persentase kandungan tekstur sedimen berdasarkan lokasi. dan waktu selama pengsunatan H sedimen Stasiun Juli Waktu Agustus 1 September / Rata-rata Tekstur sedimen .Lampiran 13.

inasukkan ke dalam gelas piala 3. aduk rata 5. Saring ke dalam erlenmeyer menggunakan kertas saring Whatman No. Tambahkan 1 ml Phenol Solution. Pipet 10 ml air sample yang telah disaring. lakukan seperti langkah 3-4 6.5 ml Oxidizing Solution. Pipet 25 ml sample air yang sudah disaring ke dalan Bleaker glass LOO in1 2. aduk 3.Nihoposside 4.2 ml(4 tetes) NED. Tambahkan 0. Tambahkan 2. Tambahkan 1 ml Sod.p H ) Keterangan : pKa : konstanta logaritma negatif yang bergantung pada suhu Prosedur pengukuran Nitrit 1. Prosedur pengukuran Ammonia Bebas % ammonia tak-terioisasi (Ammonia bebas) = a 100 1+ antilog(pKa . Tambhakan 0. aduk biarkan 10 menit agar terbentuk wama merah muda dengan sempurna 5. Sirnpan / biarkan selama 1jam tutup dengan Alumunium Foil 6. Ukur dengan Spectrophotometer pa& panjang gelombang ( 640 nm). Ambil aquadest 10 ml masukkan ke &lam gelas piala.42 atau yang kertas lain yang setara 2. 1998) Prosedur pengukuran Ammonia Total 1.Lampiran 14. aduk dan biarkan 2-4 menit (jangan lebih) 4. Prosedur pengukuran parameter kualitas air (APHA. Ukur dengan Spectrophotoineter dengan panjang gelombang 543 nm .2 ml(4 tetes) Sulfnnilamide.

Saring contoh lalu residu tersuspensi bilas dengan air suling 10 ml 12. Untuk pengukuran blanko. Simpan kertas saring dalam desikator 9.Lampiran 14 (lanjutan).42 yang kertas lain yang setara 2. pipet 5 ml aquaest masukkan ke dalam gelas piala. Siapkan kertas yang telah diketahui beratnya pada alat penyaring 10. inisal a miligram . aduk dan diamkan hingga dingin 5. Tiinbang di neraca analitik 7.5 ml(10 tetes) Brucine. Tambahkan 0. Ulangi pembilasan 3. aduk 4. Ambil kertas saring dan simpan di tempat khusus kertas 4. Ambil kertas saring taruh di tempat khusus 13. Pipet 5 ml air sample yang telah disaring. Keringkan dalam pengering pada suhu 103-105 oC selama satu jam 14. Dinginkan dalam desikator 10 menit 6. Contoh dikocok masukkan ke alat penyaring. lakukan seperti langkah 3-4 6. * Prosedur pengukuran Nitrit 1. Bilas kertas saring dengan air suling (20 ml) 2. Saring ke dalam erlenmeyer dengan menggunakan kertas saring Whatman No. Keringkan kertas dalam oven (T= 103-105 oC) selama 1jam 5. Tambahkan 5 ml Asam Sulfat pekat (gunakan ruang asam). Dinginkan dalam desikator selama 10 menit kemudian timbang.5-200 mg 11. sesuaikan benyaknya sehingga berat residu antara 2. masukkan ke dalam gelas piala 3. Prosedur pengukuran Total Suspended Solid (TSS) 1. Ulang langkah 4-6 (kehilangan berat < 4%) missal = B milligram 8. Ukur menggunakan Spectrophotometer dengan panjang gelombang 410 nm.

025 N) 8000 = miliekivalen bobot Oksigen x 1000 mlll . Tutup erlenmeyer dengan cawan petri untuk mencegah masuknya material asing. sebelumnya tambahkan indikator feroin 2-3 tetes sampai terbentuk warna hijau biru dan titik akhir titrasi ditandai dengan perubahan warna menjadi merah bata yang stabil dalam 1 menit. Pipet 10 ml sample masukkan ke dalam erlenmeyer 2. catat ml titran (A ml) Perhitungan : COD (ing 0211) = /A-B) x 8 x 1000 ml sampel Keterangan : A = ml FAS yang terpakai saat titrasi blanko B = ml FAS yang terpakai saat titrasi sampel M = Molaritas FAS (0.025 N. Titrasi kelebihan K2Cr207 menggunakan FAS 0. 5. Setelah selesai buka tutupnya lalu dinginkan 6 . Masukkan H2S04 (15 ml) 4.025 N (Ferros Amonium Sulfat). Encerkan larutan sampel dengan 7.Lampiran 14 (lanjutan) Perhitungan : TSS (mgll) = (A-B) x 1000 I ml contoh Prosedur pengukuran Chemical Oxygen Demand (COD) (metode Refluks terbuka) 0 1. Lakukan blanko (10 aquades + prosedur 2-7 di atas).5 ml aquades 7. Biarkan selama 30 menit. Catat ml titran (B ml) 8. lalu aduk 3. Tambahkan 5 ml K2Cr207 0.

Lampiran 14 (lanjutan).5 ml(10 tetes) ke dalam botol BOD 125 ml 3. Prosedur pengukuran Dissolve Oxygen (DO) I. Setelah inengendap tambahkan 1 ml(20 tetes) H2S04 pekat atau sampai endapan larut 6 . kemudian tutup. Ambil contoh 500 ml (tanpa pengawet) dalam botol plastik 2. Pipet 50 ml air contoh dari botol BOD ke dalam erlenmeyer 7. Tambahkan 1 ml(20 tetes) larutan MnS04 4. Masukkan kedalam botol BOD kecil 125 ml atau 250-300 ml . tambahkan amium 2-3 tetes. Ambil air sainpel ke dalam botol BOD sampai penuh clan tutup. hindari adanya gelembung udara 2. Tambahkan 1 ml(20 tetes) larutan NaOH + KI. Tambahkan sulfamic acid 0. aduk (bolak-balik) diamkan sampai inengendap 5. Titrasi dengan Na-Thiosulfat sampai benvama kuning muda. air contoh diencerkan 5-10 kali (dengan aquadest) 3. Catat ml titran yang terpakai Perhitungan : Keterangan : N = Normalitas Tiosulfat Prosedur pengukuran Biochemical Oxygen Demand (BOD) 1. Teruskan sampai tidak bewama. Bila air keruh sekali. Contoh air diaerasi atau kocok-kocok sampai jenuh 4.

Setelah 5 hari dianalisis seperti DO (seperti item 5). dimasukkan ke dalam botol BOD bekas pengenceran no-5 7. kerjakan atau reaksikan dengan bahan kimia seperti DO winkler (lihat prosedur DO).Lampiran 14 (lanjutan). Sisa air contoh dari item 4. Ditutup dan bungkus rapat dengan plastik hitam (menghindari cahaya atau fotosintesis) 8. Caatat ml titran DO 5 10. Simpan di es box dengan suhu 200C sebagai DO 5 9. DO 5 hams h a n g dari DO 1 Perhitungan : . 5. catat ml titran sebagai DO 1 6.

Tambahkan Defordaaloel grain 3. Pipet 5 ml sampel 2. Tambahkan aquadest 100 ml 5. Tambahkan 1 ml etanol 4.Prosedur pengukuran parameter Sedimen (Chapman dan Pratt. Tambahkan 1 ml etanol 4. Sampel yang telah dicampurkan tersebut di destilasi dan hasil destilasi ditampung dengan Erlenmeyer 250 ml yang sudah di isi H3B03 1% 7. Catat hasil titrasi HC1 Perhitungan : . Hasil Destilasi dititrasi dengan HC1 yang sudah diketahui normalitasnya 9. Sampel yang telah dicampurkan tersebut di destilasi dan hasil destilasi ditampung dengan Erlenmeyer 250 in1 yang sudah di isi H3B03 1% 7. Tambahkan indikator 5 tetes 8. Pipet 5 ml sampel 2. Tambahkan indikator 5 tetes 8. Tambahkan aquadest 100 ml 5. 1961). Tambahkan Defordaaloel gram 3. Catat hasil titrasi HCl Perhitungan : * Prosedur pengukuran Ammonium 1. Lalu tambahkan MgO sebanyak 1 gram 6. Prosedur pengukuran Nitrat 1. Hasil Destilasi dititrasi dengan HCl yang sudah diketahtri normalitasnya 9. Lalu tambahkan NaOH 5% sebanyak 5ml 6.Lampiran 15.

Tambahkan Selenium Mixer. kocok 2. inasukkan ke dalam botol. Tambahkan H3B03 1% 8. Tambahkan 50 ml aquadest lalu masukkan ke tabung destilasi dan tambahkan aquadest 100 ml 6 .5 gram sampel 2. dan digoyang agar tercampur sempuma 4. Tambahkan NaOH 20% 20 ml 7.25 ml(5 tetes) 9. Tambahkan 5 tetes parapin cair. Hasil dari proses destilasi di titrasi dengan HCl yang sudah diketahui normalitasnya 11. Kocok selama 30 menit dengan mesin pengocok. lalu tambahkan H2S04 sebanyak 5 ml 3. Catat hasil titrasi HC1 Perhitungan : 100 N-total (96) = ((sampel(m1)) .(blanko(ml)))xN(HCl)x14xBKM BKM = Bobot Kering Mutlak Prosedur pengukuran pH 1. Timbang 10 gram contoh tanah kering udara yang 1010s saringan 2 milimeter. Prosedur pengukuran Nitrogen Tot& 1. Ukur dengan pH meter . Destruksi sampel tersebut 5.Lampiran 15. diamkan sebentar 4. (lanjutan). Ben indikator 0. Pipet 0. Destilasikan sampel tersebut 10. Tambahkan 10 ml aquadest untuk penetapan pH H20 atau tambahkan 10 ml larutan KC1 1 N untuk penetapan pH KC1 3.

Pindahkan fraksi pasir dari ayakan ke dalam cawan alumunium (yang sudah diketahui bobotnya) kemudian keringkan dalam oven pada suhu 105 oC semalam lalu tentukan bobot pasir 7. selanjutnya dimasukkan ke dalam tanur pada suhu 105 oC akhimya dimasukkan dalam eksikator lalu ditimbang. Lakukan pencucian C1 sampai semua C1 hilang (uji dengan perak nitrat tidak tejadi awan putih berarti C1 habis) 5. * Prosedur pengukuran tekstur tanah 1. Panaskan di atas penangas air sambil ditambahkan H202 sedikit demi sedikit sambil diaduk-aduk sampai semua bahan organik habis (tidak ada buih lagi) tambahkan 0. tambahkan air sampai tanda tera 8. Sisakan fraksi pasir dengan menggunakan ayakan 50 p.Lampiran 15. masukkan ke dalam gelas piala satu liter 2. (lanjutan). . clan kocok lalu didirikan dalam bak air kemudian buka sumbatnya catat waktu selesai pengocokan 9. Kedalam tabung sedimentasi yang berisi debu dan liat tambahkan 2 ml Nu-pirofosfat (yang sudah diketahui bobotnya) biarkan selama 1 jam.5 HC16 N untuk tiap 1% CaC03 dan 100 ml HCl 0. Timbang 10 gram tanah kering udara 1010s saringan 2 rmn. Tambahkan 50 ml H202 30% (untuk menghacurkan bahan organik) simpan di atas bak berisi air kocok lalu tarnbahkan 6 tetes asam asetat 99% biarkan satu malam 3. Fraksi debu dan liat ditampung dalam tabung sedimentari 1 liter 6.2 N (untuk melarutkan CaC03) tambahkan air kurang lebih separuh gelas pala kemudian didihkan kira-kira 20 menit 4. Setiap pemipetan dituangkan kedalam cawan alumunium untuk diuapkan aimya. Lakukan pemipetan dari tabung sedimentasi tersebut menurut waktu kedalaman pipet 10. Tutup gelas dengan karet.

Gambar lokasi pengamatan (stasiun) selama penelitian Stasiun 1 (inlet waduk) Stasiun 2 (KJA sedang) .ampiran 16..

(lanjutan) Stasiun 3 (KJA padat) Stasiun 4 (outlet waduk) .Lampiran 16.

Lampiran 17. . Garnbar penyusutan air waduk Cirata.

dan pada tahun yang sama lulus seleksi masuk Institut Pertanian Bogor melalui Jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI).AYAT HJDUP Penulis dilahirkan di Jakarta. Penulis memilih Program Studi Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan Perairan. Selama mengikuti perkuliahan. Jawa Barat". IPB. Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan. pada tanggal 22 Maret 1985 dari pasangan bapak : Moch. pernah aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa FPM IPB sebagai anggota di bidang Hubungan Luar dan Komunikasi tahun 2004-2005. Penulls merupakan anak ketiga dari lima bersaudara. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. . Penulis juga aktif sebagai asisten mata kuliah Pengantar Matematika pada tahun ajaran 200412005. Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sajana pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. selain itu aktif juga sebagai Pengurus Himpunan Mahasiswa Manajemen Sumberdaya Perairan (HIMASPER) pada bidang Hublukom di tahun yang sama. Berperan aktif sebagai Organizing Committee (OC) masa perkenalan FPM mahasiswa baru tahun 2006 dan masa perkenalan Departemen MSP mahasiswa baru tahun 2006 serta sebagai peserta pada beberapa seminar yang diselenggarakan di lingkungan Institut Pertanian Bogor. penulis menyusun skripsi dengan judul "Kajian Kandungan Nitrogen pada Kolom Perairan dan Sedimen Akibat Aktivitas Keramba Jaring Apung di Waduk Cirata. Ichsan dan ibu : Muti'ah. Tahun 2003 penulis lulus dari SMU Negeri 47 Jakarta. dan asisten mata kuliah Ikhtiologi tahun 200512006.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful