P. 1
Kajlan Kandungan Nitrogen Pada Kolom Perairan

Kajlan Kandungan Nitrogen Pada Kolom Perairan

|Views: 610|Likes:

More info:

Published by: Diane George Gerrard on Mar 20, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/11/2013

pdf

text

original

KAJLAN KANDUNGAN NITROGEN PADA KOLOM PERAIRAN DAN SEDIMEN AKIBAT AKTIVITAS KERAMBA JARING APUNG DI WADUK CIRATA

, JAWA BARAT

RAHMATULLAB AL FATIH

PROGRAM STUD1 M A N A m m N SUMBERDAUA PE FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

ABSTRAK
RAHMATULLAH AL FATIH (C24103051). Kajian Kandungan Nitrogen pada Kolom Perairan dan Sedimen Akibat Aktivitas Karamba Jaring Apung di Waduk Cirata, Jawa Barat. Di bawah bimbingan ENAN M. ADIWaAGA dan TRI HERU PRZBADI.

Penelitian bertujuan untuk mengkaji kandungan nitrogen di perairan dan di dasar sedimen, yang diakibatkan oleh aktivitas Karamba Jaring Apung (KJA). Penelitian dilakukan di Waduk Cirata dari bulan Juli sampai September tahun 2006. Terdapat empat stasiun pengamatan yaitu; inlet waduk (stasiun I), daerah KJA sedang (stasiun 2), daerah KJA padat (stasiun 3), clan outlet waduk (stasiun 4). Terdapat dua jenis sampel yang diambil yaitu sampel air dan sampel sedimen. Sampel air diambil secara vertikal di setiap stasiun pada interval 10 meter (0 m, 10 m, 20 m, 30 m) dan kedalaman dekat dasar (interface). Sampel sedimen diambil satu kali pada setiap stasiun. Nitrogen yang diteliti pada penelitian ini nitrit (NO;), nitrat (NOi), nitrogen antara lain; ammonia total (NH3 dan total (untuk nitrogen di perairan), ammonium (NH~'), nitrat (NOi), nitrogen total (untuk nitrogen di sedimen). Analisis statistik untuk nitrogen di perairan menggunakan Rancangan Petak Terbagi (Split Plot Design), untuk nitrogen di sedimen menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK), dan uji lanjut Beda Nyata Terkecil (BNT). Kandungan ammonia total pada perairan mengalami peningkatan pada setiap penambahan kedalaman, Konsentrasi ammonia bebas (NH3) inemiliki kecenderungan mengalami penurunan, sedangkan ammonium ( ~ ~ 4 3 memiliki kecenderungan mengalami peningkatan pada setiap penambahan kedalaman. Kandungan nimt dan nitrat (NO?) pada perairan cenderung mengalami penurunan, kecuali pada stasiun 1 yang cenderung meningkat di setiap kedalamannya. Kandungan ammonium (NH~'), nitrat (NO33 dan nitrogen total pada sedimen cenderung mengalami peningkatan pada stasiun 4 (outlet waduk). Tekstur sedimen banyak ditemukan dalam bentuk liat. Tekstur liat diduga memiliki kemampuan inengikat ammonium lebih baik dibandingkan nitrat. Perairan wad& Cirata berdasarkan kandungan ammonia total menurut kesuburannya digolongkan kedalam perairan Eutrofik.

~a,

KAJIAN KANDUNGAN NITROGEN PADA KOLOM PERAIRAN DAN SEDLNIEN AIUBAT AKTMTAS I<ERAME%A JARING APUNG DI WADUK CIRATA, JAWA BARAT

Oleh : RAHMATULLAH AL. FATIH C24103051

SKRZPSI Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Perikanan Pada Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan

P R O G M STUD1 MANAJERZEN SUMBERDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN IliMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

Januari 2008 .PERNYATAAN MENGENAI SKRZPSI DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan bahwa Skripsi yang berjudul KAJIAN KANDUNGAN NITROGEN PADA KOLOM PERAIRAN DAN SEDLMEN AKIBAT AKTMTAS KERAMBA JARING APUNG DI WADUK CIRATA. adalah benar merupakan hasil karya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Semua sumber data dan informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan &lam Daftar Pustaka di bagian akhir Skripsi ini Bogor. JAWA BARAT.

Adiwilaga NIF'. Enan M. Pembimbing I Pembimbing I1 Dr. 130 892 613 Mengetahui.Judul : Kajian Kandungan Nitrogen pada Kolom Perairan dan Sedimen Akibat Aktivitas Keramba Jaring Apung di Waduk Cirata. Jawa Barat Nama NIM : Rahmatullah A1 Fatih : C24103051 Disetujui. Ir. Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Tanggal Lulus : 17 September 2007 .

4. M. Skripsi ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan dan Ilmu Kelautan. M. Adiwilaga selaku dosen pembunbing I yang telah banyak bersabar meinbimbing penulis. 2.Sc dari pihak Departemen.Sc selaku dosen pembiinbing akademik atas bimbingan yang diberikan kepada penulis baik saran maupun nasehat yang bermanfaat kepada penulis selama mengikuti perkuliahan. Januari 2008 Penulis . Niken T. Mas Iim. Bapak Dr. Mas Ali. Enan M. M. 41.dan teman-teman MSP angkatan 39.KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah meinberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian ini yang berjudul "Kajian Kandungan Nitrogen pada Kolom Perairan dan Sedimen Akibat Aktivitas Keramba Jaring Apung di Waduk Cirata. Bapak Dr. Bogor. dan Ibu Dr. Keluarga tercinta (Bapak. arahan. Semoga penelitian ini dapat bermanfaat dan berguna bagi pembangunan perikanan di Indonesia. dukungan. Ibu. Bapak Ir. 5. Aji) atas doa. Teman-teman MSP angkatan 40 yang telah memberikan semangat dan motivasi. M. Pada kesempatan ini. serta masukan.Si selaku dosen penguji yang telah banyak memberikan masukan untuk kesempumaan skripsi ini. serta b a n t w ~ y a .Sc selaku dosen pembimbing I1 atas kese~npatannya yang diberikan untuk mengikuti penelitian ini. Tri Heru Prihadi. arahan. Pratiwi. Institut Pertanian Bogor. Jawa Barat". memberikan banyak masukan. dan saran berharga kepada penulis.Ir. nasehat.Ir. Zairion. penulis sampaikan ucapan terima kasih kepada : 1. 3. M. 6 . clan saran dalam penulisan skripsi ini. dan kasih sayang yang tak terhingga kepada penulis. M. Ayu. 42 atas dukungannya selama ini. semangat. karena penulis sadar bahwa tulisan ini masih banyak kekurangan dan kesalahan demi kesempumaan dalam melakukan penelitian ini.Ir. Mukhlis Kamal. Bapak Dr.Ir. Penulis mengharapkan kritik serta saran yang membangun bagi kesempumaan tulisan ini.

.............................................................. .. ..... D.........................................DAFTAR IS1 Halaman KATA PENGANTAR DAFTAR IS1 DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN ......... J ............... .............................. 4 ........................................... ............... Analisis Data Kualitas Air .................... ... ... G....... ........................... A................... Waktu clan Lokasi Penelitian .... Penentuan Lokasi Penelitian ............. 3 ......................................... Biochemical Oxygen Demand (BOD) ....... ............................... iv v vii 1 ........................................... ~ m m o n i ~ o t a(NH3dan N + a l & ) ... Nitrogen ....... .......... .. .... .......................................................... a... Pengambilan Sainpel .......................................... ...................................................... A................... Metode Kerja ......................... 2 ............ .......................................................................... ............... .................................................................................................................... E ................. ........................................ pH .......................... ................ TINJAUAN PUSTAKA ................. ................ .................... Total Suspended Solid (TSS) ........................... i ....................... Waduk Cirata .............. ..................... Metode Analisis Kualitas Air dan Sedimen ..... Nltrlt (NOi) 3................................................................................. ........ A... ................................ Sedimen . Alat dan Bahan ........... I1................................................. C............ ................................................................... B............................................................. ............................ Perumusan Masalah ...................... B........ .. Baku Mutu Kualitas Air ...... .. ..... I................ K.............. ...................... ...................................................................... Chemical Oxygen Demand (COD) ............... H.. C.................. Analis~s Data ...................................................................... Latar Belakang ............. Analisis Data Sedimen ............... 1.................................. Kekeruhan ..... Suhu ......................... Tujuan dan Manfaat ................. ...... ................... .......................... 2............................................ Nitrat (NO3) .... ................................... ... Sedimentasi Waduk Cirata.... ....................... 1................................................... L................................................................................ F ..... I PENDAHULUAN B ......................... ....... 11 ........ b..................................................................................... C.... Oksigen Terlarut (Dissolved Oxygen (DO)) ..

...................................... f g... .............................. Nitrat (NOi) ............... Suhu ................... Nitrogen Total .....HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................ B....... 4 3 .... Ammonia total (NH3dan ~ ~.................................. 1... a..... d ................. Nitrat (NO3-) .............. . Nltrlt ( N o d ................ B..... .. . 3................. e........ ........... 2.. ...................................................................................................... c.. ................ 3 ........... Tekstur Sedirnen ........................ Oksigen Terlarut (Dissolved Oxygen (DO)) ........... ....................... 4 ..................................................... DAFTAR PUSTAKA ...................................................... Kondisi Perairan dan Sedimen Waduk Cirata ...............1%'..... 1.................... 43 2.......................... Kekeruhan ........ ................................................ Saran ................................................................... Parameter Fisika Perairan dan Kimia Sedimen ....................................................... ............................ A .......... pH ................ ................................................................ b.................... ................................................................ C..... ............. Total Suspended Solid (TSS) ............................ Parameter Fisika Perairan dan Kimia Perairan ............ Biochemical Oxygen Demand (BOD) .................................. ............... ... 2 ............ A .................................. ................ .. a... ...... Nitrogen Total ................ Kandungan Nitrogen di Sedimen ...... iii ............... ........................ Kandungan Nitrogen di Perairan ... Kesimpulan .... 1................ Ammonium ( ~ ~.... ............................................. Chemical Oxygen Demand (COD)..................... .............. .........................

.................. ............................. 12.............. ...... 13 d m sampel sedimen........ 14...............1) ..... 8......... ....1) .......... Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor kedalaman terhadap kandungan Ammonia Total perairan (a=0................. 3. Parameter..................... 10.................... 11. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor kedalarnan terhadap kandungan Nitrogen Total perairan (a=0.............................................1) ......l) .................... Kesesuaian perairan untuk kepentingan perikanan berdasarkan padatan tersuspensi (TSS) .... Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor kedalaman terhadap kandungan Nitrit perairan (NO<) (a=0..................... ........ Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Ammonia Total perairan (a=0........................................ 16.................. .......................... Tabel Sidik Ragam Rancangan Acak Kelompok..................... 13.. Kriteria Mutu Air menurut Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 ........ 6................. ...............1)... 4................... 17...................................... Tabel Sidik Ragam Rancangan Petak-Terbagi ...................... metode........ Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Nitrogen Total perairan (a=O. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor kedalaman terhadap kandungan Nitrat perairan (NO<) (a=O.........1) ......... Ammonia Total (a=O..... ............................. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Nitrogen Total sedimen (a=0.............. 18............... 15.. ... Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Nitrit perairan (NOi) (a=0..... Kriteria kulitas air berdasarkan nilai BOD .................................................................. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Nitrat sedimen (a=0............. .................. 2......1) ...........l) .......... Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Nitrat perairan ( N o d (a=0.............1)..................... ................................................................ Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Ammonium sedimen (a=0................................... 5..................................... ........................... 9.... .............................................1).............................l).............1) .............DAFTAR TABEL unan 1......... 7.................... Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor waktu terhadap kandungan ....................... dan lokasi analisis sampel kulitas air...................................

............ ........................... Konsentrasi Ammonium sedimen berdasarkan stasiun dan waktu pengamatan... 8..... Konsentrasi Nitrat (NO33sedimen berdasarkan stasiun dan waktu pengamatan .......... Kandungan Total Suspended Solid ( T S S ) perairan pada setiap stasiun... dan waktu pengamatan................... 14.......................................... .. 32 33 34 39 43 ~3 N) ..................... . ............... Kandungan nitrogen total perairan berdasarkan kedalaman pada setiap stasiun dan waktu pengamatan....................... Kandungan oksigen terlarut (DO) perairan pada setiap stasiun.................... ................ 15.. .......................................................... ............ kedalaman......... Kandungan nitrit ( O stasiun dan waktu pengamatan..... kedalaman........ .................................................. Kandungan nitrat (NO........................ Sebaran vertikal ammonia berdasarkan kesuburan perairan............................................ dan waktu pengamatan. 9.. .... Tingkat Kemasaman pH Tanah ..... 19........................ dan waktu pengamatan... ............................... ............................. Skema perurnusan masalah penelitian .... 16............... ............................. kedalaman..................... Kekeruhan perairan pada setiap stasiun............................................................. perairan berdasarkan kedalaman pada setiap 11............... Halaman 3 6 8 11 18 20 2.............. .............. .................... .....DAFTAR GAMBAR Gambar 1..................................... Sebaran secara vertikal nitrogen berdasarkan tingkat kesuburan pera~ran ................... 47 13.......................................... 17.... . .. 3. ....... 5............. ...... ................................ 18.. .............. ) berdasarkan tingkat kesuburan peralran .................... ........................................... 12.... ..... dan waktu pengamatan........ J3 7........ .............. Suhu perairan pada setiap stasiun........... ............ Kandungan ammonia bebas (NH3)berdasarkan kedalainan pada setiap stasiun dan waktu pengamatan.......... 6.......... perairan berdasarkan kedalaman pada setiap 10........ (H3 N4 50 52 54 56 57 58 60 ............. .......) stasiun dan waktu pengamatan........................ ......... Kandungan ammonium perairan berdasarkan kedalaman pada setiap stasiun dan waktu pengamatan... ....... Kandungan atmnonia total (NH3dan N& perairan berdasarkan kedalaman pada setiap stasiun dan waktu pengamatan....... Sebaran vertikal nitrat ( O N............... Peta lokasi penelltian .... kedalaman..... Konsentrasi Nitrogen Total sedimen berdasarkan stasiun dan waktu pengamatan....... 4.. .....................

.............. Kandungan Chemical Oxygen Demand (COD) perairan pada setiap stasiun............. Nilai pH perairan pada setiap stasiun...................... 24......................................................... Nilai pH sedimen berdasarkan stasiun dan waktu pengamatan . dan waktu pengamatan........................................................ Kandungan Biochemical Oxygen Demand (BOD) perairan pada setiap stasiun...... dan Halaman waktu pengamatan.............. 61 21.... 62 64 22....... 65 66 . Tekstur sedimen Waduk Cirata berdasarkan stasiun dan waktu pengamatan ......................Gambar 20 ... kedalaman.... 23.... dan waktu pengamatan .......... kedalaman........ kedalaman.

....... dan kedalaman selama pengamatan ... . dan kedalaman selama pengamatan .... dan kedalaman selama pengamatan ........................ 11 Kandungan Biochemical Oxygen Demand (BOD) perairan berdasarkan lokasi........ dan kedalaman selama pengamatan . .. ................ Gambar lokasi pengamatan (stasiun) selama penelitian .............. 14....... Kekeruhan perairan berdasarkan lokasi... waktu........ dan kedalaman selama pengainatan.......... dan kedalaman selama pengamatan..................... waktu.. waktu........... waktu.............. 15................. dan Nitrat pada sedimen berdasarkan lokasi... Suhu perairan berdasarkan lokasi.. dan kedalaman selama pengamatan .................... ... Kandungan Total Suspended Solid (TSS) perairan berdasarkan lokasi.................... 76 77 78 4.. ... Kandungan dan tebel sidik ragam Nitrogen Total pada perairan berdasarkan lokasi............ . dan kedalaman selama pengamat 12.... .......... Kandungan clan tabel sidik ragam Nitrat (NO<) pada perairan berdasarkan lokasi........... Prosedur pengukuran parameter kualitas air ............................................... ........................... waktu............. waktu............ . waktu. waktu.......... 7........... 15.... waktu... Kandungan oksigen terlarut (DO) perairan berdasarkan lokasi.... 79 80 81 82 83 84 85 86 88 93 96 98 ..... dan kedalaman selama pengamatan ....... ........ dan waktu selama pengamatan .......... Kandungan dan tabel sidik ragam Nitrit (NOi) pada perairan berdasarkan lokasi........ 10.............. 1. Gambar penyusutan air waduk Cirata ........ Kandungan pH perairan berdasarkan lokasi............ 16.......... 3......... waktu.. 6........ dan kedalaman selama pengamatan 13.. Kandungan pH dan persentase kandungan tekstur sedimen berdasarkan lokasi........................ 2........................................ (~~43 74 75 1.... Tabel Sidik Ragam kandungan ammonia total ... dan waktu selama pengamatan...... 8...... waktu. lokasi.. Kandungan dan tabel sidik ragam Nitrogen Total..... vii ... ..... 9.... Ammonia... ......................................................... Prosedur pengukuran parameter Sedimen .............. Kandungan Chelnical Oxygen Demand (COD) perairan berdasarkan ..... .............. 5........ dan kedalaman selama pengamatan ...................... Kandungan Ammonium Bebas (NH3) dan Ammonium pada perairan berdasarkan lokasi............... .... Kandungan Ammonia Total pada perairan berdasarkan lokasi................ dan kedalaman selama pengamatan .................... waktu....Lampiran Halaman 73 1.............

200 Ha. dan daerah wisata. Kegiatan budidaya ikan yang dilakukan di Waduk Cirata merupakan kegiatan yang intensif sehingga inenggunakan pakan tambahan (pelet) (Nastiti et aJ2001). 2005). Waduk tersebut terletak di antara waduk Saguling dan waduk Jatiluhur. Waduk ini dibangun pada tahun 1988. 2005). Perkembangan budidaya KJA yang selnalan meningkat jumlahnya diduga sudah melebihi kapasitas waduk sehingga dapat menurunkan daya dukung waduk.000 KJA. terletak di tiga kabupaten yaitu Cianjur. perhubungan. Propinsi Jawa Barat. Selana beberapa tahun belakangan ini perkembangan Waduk Cirata semakin meningkat khususnya pada sektor perikanan budidaya Karamba Jaring Apung (KJA). dan Purwakarta. Jumlah ideal KJA yang diperbolehkan adalah 12. Selain sisa pakan. Pakan tambahan (pelet) yang diberikan tidak semuanya efektif tennakan oleh ikan. Pakan tambahan biasanya mengandung protein yang tinggi untuk meningkatkan pertumbuhan ikan. Jumlah yang semakin tidak terkendali dari KJA ini menyebabkan beberapa masalah lingkungan yang secara tidak langsung juga akan berpengaruh pada kegiatan KJA.A. dengan luas 6. . namun jumlah yang sesungguhnya terdapat pada waduk tersebut melebihi jumlah ideal yang diperbolehkan.899 orang (Prihadi. Latar Belakang Waduk Cirata merupakan waduk yang berada pada aliran Sungai Citarum. Bandung.286 KJA dengan jumlah peiniliknya sebanyak 3. Sisa pakan yang tidak termakan akan meningkatkan kandungan nitrogen di perairan akibat dekomposisi protein yang terkandung didalam pelet. perikanan. Pakan komersial mengandung lebih dari 20% protein di dalamnya (Prihadi. hasil metabolisme ikan-ikan budidaya berupa feses yang banyak mengandung ammonia ( N H 3 ) akan meningkat jumlahnya. Jumlah KJA yang terhitung sampai tahun 2003 sudah mencapai 38. Pembangunan waduk pada awalnya diperuntukkan bagi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) disamping itu waduk ini juga memiliki potensi sebagai irigasi pertanian. Pada konsentrasi yang berlebihan ammonia akan mematikan bagi ikan dan bagi organisme perairan lainnya.

Pakan tambahan yang digunakan pada budidaya KJA biasanya mengandung protein yang tinggi untuk meningkatkan perturnbuhan ikan. Selain itu keberadaan KJA akan menambah kandungan bahan organik dari sisa-sisa pakan dan feses dari ikan. Nitrogen ini selain dihasilkan oleh sisa pakan juga bisa berasal dari sisa metabolisme urine maupun tinja dari biota akuatik yang berupa ammonia (NH3) (Effendi. B. Protein mengandung 16% nitrogen di dalamnya (Depdikbud. Prihadi (2005) memperlurakan jumlah sisa pakan yang terdapat di dasar waduk telah melebihi 279. . dalam Indriani. 2003). Hal ini berakibat meningkatkan kandungan nitrogen pada sedimen waduk dan juga akan mempengaruhi kandungan nitrogen di perairan. Peningkatan ini tentunya akan berdampak bagi ekosistem perairan dan bagi pertumbuhan organisme perairan didalamnya. Hal ini tentunya dapat m e n d a n produksi perikanan budidaya KJA yang terdapat di waduk Cirata.121 ton dan ketebalannya lebih dari 2 meter. Pralaraan beban limbah bahan limbah organik yang berasal dari kegiatan bumdaya ikan KJA Waduk Cirata sebesar 6.Kegiatan budidaya KJA secara tidak langsung akan meningkatkan konsentrasi nitrogen di perairan. 1991). Hal ini akan berdampak bagi penurunan daya dukung dari waduk. Perurnusan Masalah Meningkatnyajumlah KJA pada waduk Cirata sudah melebihi dari batasan yang diperbolehkan. Skema p e m u s a n masalah penelitian disajikan pada Gambar 1.365 tonltahun (Sukimin. serta akan menurunkan kualitas air yang akhimya menurunkan produktivitas perairan waduk tersebut. Kondisi perairan waduk yang relatif tenang menyebabkan terakumulasinya kandungan nitrogen di perairan dan dapat menyebabkan sedimentasi pada dasar waduk. Ammonia (NH3) dalam jumlah yang berlebihan bersifat toksik pada ikan sehingga keberadaannya di perairan akan menghambat pertumbuhan ikan bahkan bisa menyebabkan kematian pada ikan. 2005). Sisa-sisa pakan yang tidak termakan dan tinja (feses) ikan akan menyebabkan terakumulasinya bahan-bahan organik ini pada perairan dan mengendap di dasar waduk. Limbah yang dibasilkan dari kegiatan KJA sebagian besar mengandung nitrogen.

. Skema perumusan masalah penelitian C.I Kualitas Air . dan diharapkan informasi yang diperoleh dapat dijadikan bahan masukan bagi pengelolaan di Waduk Cirata. \ IKJA ! Bahan Organik l. Tujuan dan Manfaat Penelitian ini bertujuan untuk melihat kandungan nitrogen di perairan dan di dasar sedimen.lengundilp Dekomposisi Petliempsnoriliitieil i I I I I I I I I 1 Dekomposisi Nitrogen Sedimen I 1 Gambar 1. Jawa Barat. yang diakibatkan oleh aktivitas Karamba Jaring Apung (KJA).

Nitrogen Nitrogen yang terdapat di perairan tawar ditemukan dalam berbagai bentuk diantaranya molekul N terlarut.II. tinggi muka air pada bulan Juli sampai dengan September 2006 mengalami penurunan dengan tinggi muka air 214. artinya jika luas permukaan 6. 1983).200 ha sedangkan luas permukaan kegtatan KJA sekitar 158-198 ha. dan liinpasan dari daratan dan air tanah (Wetzel.200 ha. 2005). pemukiman. dan terleak pada ketinggian 223 meter di atas permukaan laut (Feriningtyas. selanjutnya mengalami peningkatan kembali pada bulan Desember (Jubaedah. Nitrogen di perairan dapat berupa nitrogen anorganik dan organik. nitrat (NO3-).286 KJA pada tahun 2003. dari perhitungan ini maka ketinggian limbah pakan sekitar 2 meter (Prihadi. Karamba Jaring Apung (KJA) pertama kali dilakukan di Waduk Cirata yaitu pada tahun 1986. Goldman dan Home (1983) menyatakan bahwa nitrogen dapat berasal dari limbah pertanian. Nitrogen anorganik terdiri atas amonia .121 ton. Menurut Mardiana (2007). 2005). Waduk Cirata Waduk Cirata merupakan suatu bentuk perairan yang dibuat oleh manusia di daerah aliran sungai Citaruni pada tahun 1988.45 meter (September). asam amino. 2 11. TINJAUAN PUSTAKA A.786 KJA. fiksasi nitrogen dari air dan sedimen. 2005).04 meter (Agustus). KJA awalnya digunakan untuk kepentingan penelitian di Waduk Jatiluhur namun sejak dikenalnya teknologi ini di Waduk Cirata budidaya ini berkembang pesat tercatat sejak tahun 1999 terdapat 8. memiliki luas sekitar 6. ammonia ( H 3 2 N 4 nitrit (Nod.Sumber nitrogen alami berasal dari air hujan (presipitasi). Jumlah itu akan menyumbang limbah pakan akibat kegiatan perikanan budidaya sebanyak 279. B.66 meter (Juli). yaitu tinggi pada bulan Januari sampai Mei dan mengalami penurunan sampai dengan bulan November. Elevasi permukaan air di Waduk Cirata pada umumnya memiliki pola perubahan yang relatif sama dari tahun ke tahun. dan limbah industri. clan berkembang pesat menjadi 38. dengan kedalaman 106 meter.dan . dalam Indriani. dan 209.

b. misalnya asam amino dan protein. Proses ini terutama dilakukan oleh bakteri autotrof dan tumbuhan. kegiatan perikanan. Nitrogen organik berupa protein. d. Amonifikasi nitrogen organik untuk menghasilkan amonia selama proses dekomposisi bahan organik. melainkan hams ditransformasikan terlebih dahulu oleh bakteri dan jamur (Goldman dan Home. Nitrifikasi berjalan secara optimum pada pH 8 dan pH < 7 berkurang secara nyata. Fiksasi gas nitrogen menjadi amonia dan nitrogen organik oleh mikroorganisme. Nitrogen ditemukan melimpah dalam bentuk gas di atmosfer. Nitrifikasi. Effendi (2003) menjelaskan Bentuk-bentuk nitrogen tersebut mengalami transfonnasi sebagai bagan dari siklus nitrogen yaitu: a. menyukai suhu 30°C. Asimilasi nitrogen anorganik (ammonia dan nitrat) oleh tumbuhan dan mikroorganisme untuk membentuk nitrogen organik. namun tidak dapat digunakan secara langsung oleh organisme karena memerlukan energ yang besar untuk memecah ikatan rangkap tiga gas nitrogen. Proses ini banyak dilakukan oleh mikroba dan jamur. nitrat @03-). dan limbah domestik (Effendi. karena protein dan polipeptida terdapat pada semua makhluk hidup sedangkan sumber antropogenik (akibat aktivitas manusia) adalah limbah industri dan limpasan dari daerah pertanian. Proses oksidasi ini dilakukan oleh bakteri aerob. dan molekul nitrogen (N2) nitrit (NOT). Di perairan nitrogen ditemukan dalam dua bentuk yaitu. Sumber nitrogen organik di perairan berasal dari proses pembusukan makhluk hidup yang telah mati. c. yaitu oksidasi amonia lnenjadi nitrit dan nitrat. asam amino. Bakteri nitrifikasi bersifat mesofilik. Fiksasi gas nitrogen secara langsung dapat dilakukan oleh beberapa jenis algae Cyanophyta (blue-green algae) dan bakteri. 2003). amonium (~~43.(Mi3). . Autolisis (pecahnya) sel dan ekskresi amonia oleh zooplankton dan ikan juga berperan sebagai pemasok amonia. 1983). nitrogen terlarut (disolved) dan tidak terlarut (particulate) dan keduanya tidak dapat langsung digunakan oleh organisme yang lebih tinggi. dan urea. dalam bentuk gas.

Fiksasi nitrogen berdasarkan kedalaman mirip dengan proses fotosintesis.Proses reduksi nitrat berjalan optimum pada kondisi anoksik (tak ada oksigen). dan pengendapan (sedimentasi). dan No3 baru bisa dimanfaatkan oleh turnbuhan dan hewan. r~ 0 O. dan molekul nitrogen m). Proses ini akan meningkat pada danau yang telah mengalami eutrofikasi (Goldman dan Home. Denitrifikasi. Sumber utama nitrogen antropogenik di perairan berasal dari wilayah pertanian dan perikanan yang menggunakan pupuM pakan buatan secara intensif maupun kegiatan domestik (Effendi. 02 I I Konsentrasi (mgll) Oligotropik Epitimoion (acrob) (Nitrit sengat keeil) Gambar 2. 1983). Transformasi nitrogen yang tidak melibatkan faktor biologi adalah volatilisasi. 1983) Nitrogen hams dirubah terlebih dahulu menjadi NH2. Pada intensistas proses fiksasi akan terhambat pada permukaan. dan cahaya matahari yang t i n g ~ menjadi maksimum pada kedalaman tertentu dan menurun drastis secara . Proses ini juga melibatkan bakteri dan jamur.e. penyerapan. Sebaran secara vertikal nitrogen berdasarkan tingkat kesuburan perairan (Goldrnan clan Home. yaitu reduksi nitrat menjadi nitrit. NI&. 2003). Sebaran vertikal nitrogen berdasarkan tingkat kesuburan perairan menurut Goldman dan Home (1983) disajikan pada Gambar 2. Dinitrogen oksida adalah produk utama dari denitrifikasi pada perairan dengan kadar oksigen sangat rendah. sedangkan molekul nitrogen adalah produk utama dari proses denitrifikai pa& perairan dengan kondisi anaerob. dinitrogen oksida (NzO).OI Konsentrasi (mgn) I .

1983): Ammonia yang tidak terionisasi (NH3) sangat bersifat toksik bagi ikan dibandingkan amonia yang terionisasi (3 - yang relatif non-toksik. dan senyawa lainnya (Effendi. Nitrogen organik mencakup protein. 2003). 1983). menyebabkan kerentanan organisme terhadap daya racun ammonia meningkat (Goldman dan Home. Gas ammonia (NH3) dapat dengan mudah terlarut dalam air dan inembentuk ammonium hydrosida @ELOH). 2003). polipeptida. Fiksasi nitrogen berkorelasi positif dengan konsentrasi bahan organik terlarut yang terdapat pada perairan (Wetzel. 1. 1983). dan akan terpecah menjadi ammonium (NN4') dan ion hidroksida (OH-) seperti persamaan kesetimbangan kimia di bawah ini (Goldman dan Home. Ammonia Total (NH3 dan NI&+) ~~43. biasanya berupa partikdat yang tidak larut dalam air. 1983). asam amino. sedangkan ammonium m+) dapat Ammonia yang terukur di perairan berupa ammonia total (NHj dan teroinisasi (Effendi. NH3-N yang bersifat terlarut dan nitrogen organik yang terlarut maupun berupa partikulat yang tidak larut dalam air (Mackereth. NO*-N. urea. Nitrogen organik adalah bentuk nitrogen yang terikat pada senyawa organik terutama nitrogen bewalensi tiga. 2003). ammonia bebas (NH3) tidak dapat terionisasi. 1983). sedangkan pada keadaan perairan basa (alkaline) jumlahnya akan meningkat (Goldman dan Home. Pada malam hari ketika kandungan oksigen rendah atau ketika kebutuhan oksigen untuk dekomposisi melebihi dari produksi fotosintesis. Effendi (2003) menyatakan pada pH 7 atau kurang sebagian besar ammonia mengalami ionisasi dan p1-I yang lebih besar dari 7 ammonia tidak terionisasi. 1989 dalam Effendi.ekponensial dengan bertambahnya kedalarnan. mengakibatkan kerusakan pada . Nitrogen total adalah penjumlahan dari nitrogen anorganik berupa N03-N. Pada keadaan perairan yang asam persentase dari m 0 H menurun. Proporsi konsentrasi keduanya dipengaruhi oleh pH dan temperatur perairan (Wetzel. Kadar ammonia yang tinggi mengakibatkan peningkatan komsumsi oksigen.

al. Noinor 82. ekskresi dari ikan (tinja). 1983). Sumber lain adalah reduksi gas nitrogen yang berasal dari proses difusi dari atmosfer. Kadar amonia yang baik untuk kehidupan ikan dan organisme akuatik lainnya adalah kurang dari 1 mg/iiter (Pescod. 1983).. 1975). 2001). 1973 dalam Asmawi. sangat tergantung terhadap tingkat kesuburan perairan.5 mgliter (Sylvester. . dan menurunkan kapasitas transport oksigen oleh darah (Boyd.2001). 2003) Distribusi ammonia di perairan tawar sangat bervariasi menwut musim. 1982). dan masukan buangan berupa bahan-bahan organik.02 m g l (Peraturan Pemerintah. 1983).insang. 1983). Gambar 3 adalah sebaran vertikal ammonia bedasarkan tingkat kesuburan perairan (Wetzel. Boyd (1982) menyatakan bahwa ammonia yang terdapat di perairan dapat berasal dari pemupukan. dan doinestik (Effendi. Metabolisme manghasilkan dua produk utama yaitu karbodioksida (COz) dan ammonia (NH& dengan ammonia selatar 10 sampai 30 bagian dari total CO* yang dihasilkan (Wright et. Oligotropik Eutropik Gambar 3. Sebaran vertikal ammonia berdasarkan kesuburan perairan (Wetzel. Melalui proses amonifikasi atau pemecahan nitrogen organik (protein dan urea/ pupuk) dan nitrogen organik yang terdapat di dalam tanah dan air. Ammonia dihasilkan sebagai produk akhir dari dekomposisi bahan-bahan organik oleh bakteri heterotrop (Wetzel. 1973 dalam Wardoyo. dan dari pembusukan mikroorganisme. Pada perairan alami nilai amonia yang dapat ditolerir organisme sebesar 1. yang berasal dari dekomposisi bahan organik (tumbuhan dan biota akuatik yang telah mati ) oleh mikroba dan jamur. limbah industri. Untuk keperluan perikanan dan peternakan batas maksimum ammonia bebas yang dperbolehkan adalah 0.

2003). Bakteri yang melakukan nitrifikasi cendemg menempel pada sedimen dan padatan lain. WHO merekomendasikan kadar nitrit sebaiknya tidak melebihi 1 mg/l (Moore. Nitrifikasi merupakan proses penting dalam siklus nitrogen dan berlangsung dalam keadaan aerob. Di perairan kadar nitrit jarang melebihi 1 mg/l (Sawyer dan McCarty. 2003). 2003). Nitrit (NO. Nomor 82. Untuk keperluan air minum. 1978 dalam Effendi 2003). Senyawa ini dihasilkan dari proses oksidasi sempurna senyawa nitrogen di perairan melalui proses nitrifikasi. c. Boyd (1982) menyatakan ketika nitrit terabsobsi oleh ikan.) Nitrit merupakan bentuk peralihan antara amonia dan nitrat (nitrifikasi). dan Nitrobactel: Keduanya adalah bakteri kemotrofik.2. yaitu hakteri yang dapat mendapatkan energi dari proses kimiawi (Effendi. Ditemukan di perairan dalam jumlah yang sedikit karena bersifat tidak stabil dengan bergantung pada keberadaan oksigen (Effendi. Pada kadar oksigen terlarut < 2 mgll. dan antara nitrat dan gas nitrogen (denitrifikasi). Krenkel dan Novotny (1980) dalam Effendi (2003) menyatakan bahwa proses nitrifikasi sangat dipengaruhi oleh beberapa parameter sebagai berikut : a. Baku mutu untuk kegiatan perikanan batas maksimal nitrit yang diperbolehkan adalah 0. 1983). air bawah tanah. akan di ikat oleh hemoglobin darah sehingga inenggangu penyerapan oksigen oleh hemoglobin. Oksidasi amonia menjadi nitrat dilakukan oleh bakteri Nitrosomonas. b.05 mg/l dapat bersifat toksik bagi organisme perairan yang sangat sensitif. Nitrat nitrogen sangat mudah larut dalam air dan bersifat stabil. 3. 1991 dalam Effenh. Nitrat (NOS) Nitrat adalah bentuk utama dari nitrogen anorganik di perairan yang masuk melalui permukaan daerah aliran sungai. Kadar nitrit yang melebihi dari 0.2001). dan air hujan (presipitasi) (Wetzel. Pada pH < 6 reaksi akan terhenti. Nilai pH yang optimum bagi proses nitrifikasi adalah 8-9.06 mg/l (Peraturan Pemerintah. . reaksi akan bedalan lambat.

e. 1993 dalam Effendi. 1983). terutama untuk bayi berumur kurang dari lima bulan.d. yang selanjutnya menstiinulir pertumbuhan algae dan tumbuhan air secara pesat (blooming).l mg/liter.2001). Kadar nitrat pada perairan alami hampir tidak pernah lebih dari 0.3 ing/l. Gambar 4 adalah sebaran vertikal nitrat berdasarkan tingkat kesuburan perairan (Wetzel.25 "C. 2003). apabila pada perairan banyak terdapat bahan organik maka pertumbuhan bakteri heterotrof akan melebihi pertwnbuhan bakteri nitrifikasi. namun proses ini akan terus berlangsung sampai kandungan okigen terlarut (DO) sekitar 0. Sedangkan untuk keperluan perikanan sebaiknya tidak melebihi 20 mg/l (Peraturan Pemerintah Nomor 82. .2 ing/liter dapat mengakibatkan terjadinya eutrofikasi (pengayaan) perairan. Tetapi konsumsi air yang mengandung kadar nitrat yang tinggi akan menurunkan kapasitas darah dalam mengikat oksigen. Kadar nitrat melebihi 0. kecepatan nitrifikasi berkurang. Suhu optimum proses nitrifikasi adalah 20 "C . 2003). Keadaan ini dikenal sebagai methemoglobonemia atau blue baby disease (Mason. jika kandungan oksigen terlarut berada di bawah kadar tersebut penyerapan (difusi) oksigen tidak dapat dilakukan lagi oleh bakteri (Wetzel. Nitrifikasi dapat berjalan pada keadaan aerobik. 1983). Kadar nitrat lebih dari 5 ingiter menggambarkan terjadinya pencemaran antropogenik yang berasal dari aktivitas manusia dan tinja hewan. Kadar nitrat untuk keperluan air minum sebaiknya tidak melebihi 10 mg/liter (Davis dan Cornwell. Nitrat tidak bersifat toksik terhadap organisme akuatik. Pada kondisi suhu kurang atau lebih dari kisaran suhu tersebut. 1991 dalain Effendi. Kecepatan pertumbuhan bakteri nitrifikasi lebih lambat dari pada bakteri heterotrof. Nitrifikasi dapat terganggu dengan adanya kandungan bahan organik terlarut.

.5. Nilai pH normal suatu perairan danau adalah 6-9 (Goldman dan Home. pH Tebbut (1992) dalam Effendi (2003) mengatakan bahwa pH adalah satuan yang menggambarkan konsentrasi ion hidrogen. 1982).Eutropik Gambar 4.5 . Toksisitas dari senyawa kimia juga dipengaruhi oleh pH. Proses nitrifikasi akan berakhir jika pH bersifat asam. Pada suasana alkalis (pH tinggi) lebih banyak dite~nukanamonia yang tidak terionisasi (unionized) dan bersifat toksik. 1983). 1983). Pada pH 4. 1994 dalam Effendi. 2003). Senyawa amonium yang dapat terionisasi benyak ditemukan pada perairan dengan pH rendah. Amonium bersifat tidak toksik (innocuous). Pengaruh dari pH bagi konsentrasi amonia tidak terionisasi sangat tinggi dibandingkan pengaruh dari suhu (Boyd. Sebaran vertikal nitrat (NO. Oleh karena itu proses dekomposisi bahan organik berlangsung lebih cepat pada kondisi pH netral dan alkalis. C.5 proses nitrifikasi akan terhambat (Novonty dan Olem. Proses biokimiawi perairan seperti nitrifikasi sangat dipengaruhi oleh nilai pH. Dan selanjutnya Effendi (2003) menjelaskan bakteri pada umumnya tumbuh dengan baik pada pH new1 dan alkalis. Amonia lebih mudah terserap kedalam tubuh organisme akuatik dibandingkan amonium. Proporsi dari total amonia nitrogen yang tidak terionisasi (NH3) akan meningkat dengan ineningkatnya suhu dan pH.) berdasarkan tingkat kesuburan perairan (Wetzel.

Tipe ini terjadi pada danaul waduk yang produktif (eutrofik) yang kaya unsur hara dan bahan organik. Dekomposisi bahan organik pada dasarnya terjadi melalui dua tahap. aktivitas fotosintesis. 1982). konsentrasi oksigen semakin menurun dengan bertarnbahnya kedalaman. Ammonia sangat bersifat toksik jika kandungan oksigen terlarut di perairan rendah (Merkens dan Downing. Peningkatan suhu sebesar 1 "C akan meningkatkan konsumsi oksigen sekitar 10% (Brown. Selanjutnya Effendi (2003) menjelaskan penghilangan oksigen pada bagian dasar perairan lebih banyak disebabkan proses dekomposisi bahan organik yang membutuhkan oksigen terlarut.D. E. 2005). Dekomposisi bahan organik dan oksidasi bahan anorganik dapat mengurangi kadar oksigen terlarut hingga mencapai no1 (anaerob). Effendi (2003) menyatakan bahwa kadar oksigen terlarut juga berfluktuasi secara harian (diurnal) dan musiman. tergantung pada pencampuran (mixing). Pada tahap kedua. 1983 dalam Octaviany. serta difusi dari udara (APHA. 1957 dalam Boyd. dan pergerakan (turbulance) massa air. Secara vertikal distribusi oksigen akan menurun di perairan seiring dengan bertambahnya kedalaman. Sebaran vertikal dari oksigen terlarut secara umum berbanding terbalik dengan kandungan C02 di air (Reid. Tahap pertama. bahan organik diuraikan menjadi bahan anorganik. 2003). bahkan telah habis sebelum mencapai dasar (Goldman dan Home. dan limbah (efluent) yang masuk ke badan air. Kelarutan oksigen akan semakin berkurang dengan bertambahnya suhu (Effendi. Oksigen Terlarut (Dissolved Oxygen (DO)) Dissolved oxygen (DO) atau oksigen terlarut dalam perairan merupakan konsentrasi gas oksigen yang terlarut di dalam air yang berasal dari proses fotosintesa oleh fitoplankton atau tumbuhan air lainnya di zone eufotik. respirasi. 1987). 1989). 1989). bahan anorganik yang tidak stabil. 1991) Distribusi vertikal oksigen di Waduk Cirata digolongkan tipe Clinograde. Biochemical Oxygen Demand (BOD) Biochemical Oxygen Demand (BOD) adalah banyaknya oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorganisme dalam proses dekomposisi bahan organik (APHA. misalnya amonia mengalami .

dan sebagainya. 1992 dalam Effendi. glokusa. Perairan yang memiliki nilai COD tinggi tidak diinginkan bagi kepentingan perikanan dan pertanian. sedangkan pada perairan yang tercemar biasanya dapat lebih dari 200 mglliter. 2003). baik yang dapat didegradasi secara biologis (biodegradable) maupun yang sulit didegradasi secara biologis (non-biodegradable) menjadi COz dan Hz0 (APHA. .. Secara tidak langsung. kanji. 2003). BOD mengambarkan kadar bahan organik yang berada di perairan (Effendi.000 mg/liter O]NESCOiWHO/UNEP. 2005) Nilai BOD (mgniter) Kriteria kualitas air perairan. Tabel 1. dan pada limbah industri dapat mencapai 60.oksidasi menjadi nitrit dan nitrat. Nilai BOD yang besar tidak baik bagi kehidupan organisme (Tabel 1). pertanian dan industri. protein.. 1978 dalam Feriningtyas.9 5-15 I Tidak tercemarl tercemar sangat ringan Tercemar ringan Tercemar sedang Tercemar berat - > 15 F. Keberadaan bahan organik yang tinggi dapat berasal dari alam ataupun dari aktivitas rumah tangga. aldehda. 1989). Lee et al. BOD hanya menggambarkan bahan organik yang dapat didekomposisi secara biologis (biodegradable). Bahan organik ini dapat berupa lemak. Cltenrical Oxygen Demand (COD) Chemical Oxygen Demand (COD) menggambarkan jumlah oksigen total yang diperlukan untuk mengoksidasi bahan organik secara kimiawi. Kriteria kulitas air berdasarkan nilai BOD (Lee et al. (1978) dalam Feriningtyas (2005) mengelompokkan tingkat pencemaran bahan organik berdasarkan nilai BOD 13 3 4. ester. Nilai COD pada perarian yang tidak tercemar biasanya kurang dari 20 inglliter.

Suhu Suhu dapat menentukan kandungan oksigen dalam perairan. Effendi (2003) menyatakan. Kekeruhan pada perairan tergenang (danadwaduk) lebih banyak disebabkan oleh bahan tersuspensi yang berupa koloid dan partikel-partikel halus (Effendi. dan metalimnion dengan thermoklin diantara kedua lapisan tersebut (Goldman dan Home. Kecepatan dekomposisi meningkat pada kisaran suhu 5-35 OC. Pada kisaran ini peningkatan 10 "C suhu meningkatkan proses dekomposisi dan konsumsi oksigen dua kali lipat. Suhu dapat inenyebabkan stratifikasi pada danadwaduk. Proses dekomposisi biasanya lebih menyukai suhu yang hangat. dan selanjutnya mengakibatkan peningkatan konsumsi oksigen. Kekeruhan Kekeruhan inenggambarkan sifat optik air yang ditentukan berdasarkan banyaknya cahaya yag diserap dan dipancarkan oleh bahan-bahan yang terdapat d~ dalam air. 2003) H. 2003) . Peningkatan suhu juga menyebabkan terjadinya peningkatan dekomposisi bahan organik oleh mikroba. Effendi (2003) menyatakan bahwa peningkatan suhu menyebabkan peningkatan metabolisme dan respirasi organisme air. epilimnion adalah lapisan bagian atas yang lebih hangat. 1992). 1983).G. 1995). evaporasi. 2001). Peningkatan suhu mengakibatkan peningkatan viskositas. hypolimnion adalah lapisan bagian bawah yang lebih dingin. pada lapisan thermoklin terjadi penurunan suhu secara tajam. Kekeruhan disebabkan oleh adanya bahan organik dan anorganik yang tersuspensi dan terlarut (misalnya lumpur dan pasir halus). maupun bahan anorganik dan organik yang berupa plankton dan mikroorganisme lain (APHA. dan volatilisasi. Peningkatan suhu juga menyebabkan penurunan kelarutan gas dalam air (Haslam. Lapisannya di bedakan antara lain. reaksi kimia. Thermoklin adalah lapisan air yang berada diantara lapisan permukaan yang lebih hangat (epilimnion) dan lapisan dasar yang lebih dingin (hipoli~nnnnion) (Hehanusa dan Haryani. (Effendi. dirnana semakin tinggi suhu maka semakin rendah oksigen yang terlarut (Fardiaz. 1989).

Kelas dua. b.80 81 . pembudidayaan ikan air tawar. petemakan . petemakan. Kesesuaian perairan untuk kepentingan perikanan berdasarkan padatan tersuspensi ditunjukkan dalam Tabel 2 Tabel 2. mutu air dikelompokkan menjadi einpat Masifikasi sebagai berikut : a. Baku Mutu Kualitas Air Peraturan Pemerintah Nomor 82 tahun 2001. Nilai TSS yang tinggi di suatu perairan dapat menurunkan intensitas cahaya matahari sehingga dapat menurunkan aktivitas fotosintesis (Effendi. air untuk imengairi . air yang peruntukannya dapat digunakan untuk prasaranalsarana rekreasi air. yang terutama disebabkan oleh kikisan tanah atau erosi tanah yang terbawa ke badan air. dan atau peruntukkan lain 111utuair yang sama dengan kegunaan tersebut. air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air bakti air minum. 2003). sesuai dengan bunyi dari pasal 8 ayat 1.air untuk mengairi pertanaman. Total Suspended Solid (TSS) Padatan tersuspensi total (Total Suspended Solid atau TSS) adalah bahanbahan tersuspensi (diameter > lpm). Kesesuaian perairan untuk kepentingan perikanan berdasarkan padatan tersuspensi (TSS) (Effendi. TSS terdiri dari lumpur dan pasir serta jasadjasad renik. tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.I. Kelas tiga. Kelas satu. yang berisikan tentang klasifikasi dan kriteria mutu air. air yang peruntukannya dapat digunakan untuk pembudidayaan ikan air tawar. 2003) Pengaruh terhadap kepeutiugan perikanan Nilai TSS (mgiter) < 25 Tidak berpengaruh Sedikit berpengaruh Kurang baik bagi kegiatan perikanan Tidak baik baik bagi kegiatan perikanan 25 .400 > 400 J. yang me~npersyaratkan c. dan atau peruntukan lain yang imempersyaratkan mutu air yang sana dengan kegunaan tersebut.

Kelas empat. dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan air yang sama dengan kegunaan tersebut. Tabel 3. Kriteria Mutu Air menurut Peraturan Peinerintah Nomor 82 Tahun 2001 Kelas I Parameter Satuan n Fisika rn N Keterangan I I bes untuk ikan . air yang peruntukannya dapat digunakan untuk mengairi. d.pertanaman dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.pertanaman. Knteria baku mutu air berdasarkan setiap klasifikasi air ditunjukkan di dalam Tabel 3.

2003). Kf. M$. Bahan bahan organik yang berbentuk partikel suspensi akan mengendap pada dasar sedimen. (dalam suasana aerob). sedangkan anion-anion organik lebih terjerap oleh bidang-bidang patahan permukaan liat. Fe2+(dalam suasana ~ + . Sedimen Sedimen adalah partikel batuan. dimana merupakan sumber nitrogen sedimen (Goldman dan Home. Koloid tanah adalah bagian tanah yang terdiri atas butir-butir yang berukuran sangat halus. Bakteri denitrifikasi ditemukan pada sedimen yang anoksik ketika nitrat terdapat pada sedimen tersebut. atau angin (Hehanusa dan Haryani. Banyak zat terlarut berbentuk ion. atau bahan organik yang hendapkan dari air yang mengalir. anaerob). Sedimen meliputi tanah dan pasir. 1991). Liat dengan perrnukaan dalam (internal) yang luas mampu menjerap air di dalam ruang antar lapisannya.1983). Senyawa organik tidak berrnuatan diketahui belakangan ini dapat dijerap oleh minerat-mineral Iiat. Larutan tanah inengandung berbagai zat terlarut. dan keluar dari sedimen menuju kolom perairan (Goldman dan Home. 1983). bersifat tersuspensi. dari udara. Kation yang m m terdapat dalam u larutan tanah adalah H+. mineral. 1998) i: Penjerapan adalah pelekatan suatu zat padat pada permukaan koloid tanah. Kation organik sebagian besar terjerap pada permukaan negatif liat. baik kation maupun anion. sehingga terbentuk ruang antar lapisan yang mengandung air (Depdikbud. molekul organik dapat . dan jumlah jerapan ini semakin besar jika keasaman tanah meningkat. Pada danau eutropik sering terjadi perpindahan nitrogen dari sedimen yang anoksik melalui gelembung-gelembung methan hasil proses pembusukan. yang masuk ke badan perairan (Effendi.K. Koliod tanah dapat menjerap anion. 2001). 1983). Gas nitrogen bercampur dengan gelembung-gelembung methan. ca2*. maka jumlah jerapan ion akan rendah. Sebaliknya jika keasaman menurun. 1 ~Fe3+. ~ a + . Urea hasil ekskresi akan dikonversi ke bentuk ammonia oleh bakteri-bakteri di dalam tanah (Goldman dan Home. Di dalam penjarapan. Penjerapan air mengakibatkan air tertahan dalam pori-pori tanah pada daya tarik permukaan koloid oleh adanya tekanan permukaan kapiler serta daya tarik menarik ion-ion. (Notohadiprawiro. M? NJ&*.

dan bila keadaan baik akan dioksidasi menjadi nih-it (NOz) dan nitrat (NO3). Sedimentasi Waduk Cirata Waduk Cirata telah mengalami proses sedimentasi yang cukup tinggi. Sebaliknya senyawa organik yang tejerap sering dapat bertukar melalui pencucian dengan air (Depdikbud. Berdasarkan nilai pH. Dekomposisi inerupakan proses biokimia kompleks yang melepaskan C02. 8 B--------+Kisaran pH Kisaran pH tanah daerah tanah daerah bilsah kcring Kisaran ekstrim dari pH kcbanyakan tanah mineral . Ammonium akan bereaksi secara cepat dengan muatan negatif dari liat dan membentuk ikatan yang komplek dengan logam dan senyawa organik (Tan. Sebagian besar nitrogen organik dalam tanah didekomposisi menghasilkan nitrogen anorganik. Sangat ekstrim.000 unit dan setiap harinya meinbuang 1 menampung kelebihan pakan ikan (pelet) sekitar 50 ton ke dasar waduk (Suryadiputra dan Ratnawati. tanah dapat dikelompokkan menjadi beberapa tingkat kemasaman dan kebasaan (Gambar 5). 1991) L.menggantikan air yang terjerap oleh liat. disamping mendapatkan pasokan limbah dari Sungai Citarum clan Waduk Saguling juga karena keberadaan Karamba Jaring Apung (KJA) yang saat ini jumlahnya sekitar 40. Tanah gambut . 2000). Nitrogen organik dibebaskan dalam bentuk ammonium (w'). Sedimen dari sisa pakan maupun kotoran ikan dari hasil . Ammonium pada keadaan anaerob lebih stabil. 1991). 2001).Hanya dijnmpai :pada tanah s alkalin ' Gambar 5. Tingkat Kernasaman pH Tanah (Depdikbud. . sedangkan nitrat lebih stabil pada keadaan aerob. Ion ammonium m) lebih reaktif dibandingkan ion i nitrat (NO3-). .

clan Supriyadi. dan bahan organik yang tidak terkendali. Buangan sisa pakan dan kotoran ikan berlebihan akan berpengaruh negatif terhadap kualitas air diantaranya dapat meningkatkan kandungan amonia. zat asan. oksigen yang rendah. karena dianggap perairan tersebut telah terpolusi (Ferdiaz. flukh~asipH yang sangat lebar. Tanah dan sedimen berperan utama dalam penyerapan (adsorbsi) zat-zat kimia berbentuk ionik. serta bahan organik d m anorganik (Connel dan Miller.budidaya (KJA) Waduk Cirata akhirnya akan menumpuk di dasar perairan dan selanjutnya mengalami dekomposisi atau penguraian. partikel-partikel tanah. Sedimen dengan jurnlah yang tinggi dalam air akan sangat merugikan. 1995). ha1 ini bersifat sangat racun bagi kehidupan biota perairan. . Kartamihardja. zat-zat kimia berbentuk gas. Sedimentasi di perairan waduk yang ada kegiatan budidaya (KJA) bisa 6 sampai 15 kali dibandingkan perairan yang tidak ada kegiatan perikanannya (Umar. 2001) Secara kimia sediinen dapat menyumbang beberapa parameter kimia seperti logam berat. 1992). dan HzS. HzS yang cukup tinggi. amonia.

Pengambilan sampel dilakukan antara bulan Juli sampai bulan September 2006. dan stasiun 4 yang terletak di oulet waduk (Lampiran 16). stasiun 3 terletak di daerah Pasir Pogor dengan junlah KJA padat. karena setiap stasiun memiliki kontur waduk yang berbeda. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini berternpat di Waduk Cirata. Peta lokasi penelitian (sumber : DKP 2007) Stasiun 1 terletak di inlet Sungai Citanun.L . Kedalaman pada setiap stasiun berbeda-beda.METODE PENELITIAN U A. Jawa Barat. Skala 0 2 Ktlomoler Gambar 6. Terdiri dari empat titik sampling (Gambar 6 ) . Kedalaman masing-masing stasiun secara . stasiun 2 terletak & daerah Pluinbon yaitu daerah dengan jumlah KJA sedang.

HzS04 (pekat). 19 meter (stasiun I). 62 meter (stasiun 3). larutan standar Nitrit-N 1. Alat dan Bahan Alat-alat yang digunakan antara lain. pereaksi untuk analisis kandungan Ammonia-Nitrogen (metode Indophenol) antara lainphenate (phenol). pereaksi untuk analisis kandungan Nitrit-Nitrogen (metode Sulfanilamide) antara lain sulfanilamide (diazotizing reagent). Kedalaman rata-ratanya sekitar 34. copper su&t solution. HzS04. Pennukaan air waduk pada saat pengamatan mengalami penyusutan (Lampiran 17). pereaksi untuk analisis oksigen terlarut (metode Winkler) antara lain suljh-mic acid. standart amonium. standart nitrate solution. larutan Potassium dichrornate 0. pHmeter untuk mengukur pH perairan. NED (Coupling reagent). Ekman Grab untuk mengambil sedimen waduk. .00 mgll (5 ppm).025 N. 13 meter (stasiun 2). dan mangan sulfat.9 meter dengan kedalaman maksimum mencapai 106 meter. chlorox (oxidizing solution). pereaksi untuk analisis ammonia antara lain nessler reagent. botol DO gelap untuk analisis BOD (Biochemical Oxygen Demand).berturut-turut antara lain. DO meter. dan indikator Ferroin. Ferrous Ammoniurn Sulfat (FAS). Sedangkan untuk analisis sedimen bahan-bahan (reagen) yang digunakan antara lain. dan botol sampel untuk menyimpan sampel air untuk di analisis di laboratorium. thermometer raksa untuk mengukur suhu perairan. B. ammonium hydroxide. pereaksi untuk analisis nitrat antara lainphenoldisulfonic acid. dan 25 meter (stasiun 4). sodium carbonate. Mn04.00 mgll (1 ppm). magnesium carbonate powder. chloride solution. pereaksi untuk analisis COD antara lain larutan Potassium dichromate 1 N. Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk analisis kualitas air antara lain. calcium hydroxide powder. Van Dorn salnpler untuk pengambilan contoh air. NaOH + KI. dan untuk pereaksi untuk analisis kandnngan Nitrat-Nitrogen (metode Bn~cine) antara lain larutan Brucine. larutan standar Nitrat-N 5. Na-tkiosulfnt. Pada pengamatan bulan Agustus dan September pada inlet waduk di stasiun 1 banyak dijtnnpai tumbuhan Eceng Gondok yang menutupi sebagian besar permukaan inlet waduk.

sodium hydroxide. yaitu : inlet waduk (stasiun I). Sampel diambil satu kali setiap bulan. 3. Pengambilan Sampel Untuk pengambilan sainpel air dilakukan dengan menggunakan Van Dorn sampler pada kolom perairan dengan interval 10 meter secara vertikal sampai dengan kedalaman 30 meter (0 m. ammonia. COD. C. daerah KJA padat yang terletak di daerah Plunzbon (stasiun 3). 2. nitrat. granular pumice. dan pada kedalaman dekat dasar (interfase) yaitu 1 meter di atas dasar waduk. Pengambilan sampel dilakukan pada siang sampai sore hari. Metode Kerja 1. . dan N-total. dan outlet waduk (stasiun 4). Pengambilan sampel ini dimaksudkan untuk melihat sebaran vertikal nitrogen di kolom perairan dari permukaan hingga dasar waduk. Untuk analisa kulitas air secara in situ antara lain: oksigen terlantt (DO). Sedangkan sampel sedimen langsung lmasukkan plastik. Sedangkan analisa kualitas air secara ek situ (di laboratorium) untuk parameter seperti. sodium carbonate. nitrit. kekeruhan. nessler 's reagent. BOD. TSS. antara bulan Juli sampai bulan September 2006. Sedangkan pengambilan sampel sedimen dilakukan dengan lnenggunakan Ekman Grab pada setiap stasiun. Metode Analisis Kualitas Air dan Sedimen Analisis kualitas air llakukan secara in situ (pengukuran langsung) maupun di laboratorium. 20 m. dan suhu. Kedua sampel selanjutnya di analisis di laboratorium. kecerahan. ammonium. Penentuan Lokasi Penelitian Lokasi pengainbilan sampel dilakukan di empat titik (Gambar 6). Penentuan lokasi penelitian didasarkan pada kepadatan sebaran KJA yang terdapat pada waduk Cirata.sedangkan pereaksi untuk analisis nitrogen total antara lain sulfuric acid. pH. daerah KJA sedang yang terletak di daerah Pasir Pogor (stasiun 2). 10 m. Air sampel yang didapat langsung diawetkan dengan pendinginan dan pemberian H2S04. 30 m) disesuaikan dengan kedalaman setiap stasiun.

Tekstur 3-Fraksi dan pH. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. dan lokasi analisis sampel kulitas air (APHA. Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan.Untuk analisis kualitas sedimen dilakukan secara ek situ (di laboratorium). Jenis parameter kualitas air dan sedimen yang dianalisis beserta satuan dan aladmetoda serta lokasi analisisnya dapat dilihat pada Tabel 6.zic acid Kjeldhal pH meter I Laboratorium Laboratorium Laboratorium Laboratorium . 1989). metode. Sedangkan Analisis kualitas sedimen dilakukan di Iaboratorium Tanah.tdophenol laboratorium Spectrofoton~etric/Str[fa~~ilmlide laboratorium &traotomehic/Bnrcine laboratorium laboratorium Kjeldhal pH-meter iii sifu m "C NTU mdl Penykuran Pemuaian Turbidimeter Gravimetrik I in silu in situ laboratorium laboratorium I 1 I mg/l mdl I - Fisika Tekstur 3-Fraksi Kimia Ammonium Nitrat N-Total pH % Pipet Laboratorium / mg/l mgll % / Nessler Phenoldiszc[fo. dan sampel sedimen (Chapman dan Pratt. Institut Pertanian Bogor. Departemen Tanah. Beberapa parameter yang dianalisis diantaranya : kandungan N-total (nitrogen total) pada tanah. Paraineter. kandungan nitrat pada air di sedimen. kandungan ammonia pada air di sedimen. Fakultas Pertanian. Analisis kualitas air dilakukan di laboratorium Produktivitas Lingkungan. 1961). Tabel 4. Parameter / I Satuan / I Metode Keterangan KUALITAS AIR Pisika Kedalaman Suhu Kekemhan TSS Kimia Oksigen terlarut (DO) BOD COD Ammonia Total Nitrit mg/l mg/l mdl mg/l ir~ situ DO meter laboratorium Modifikasi Winkler laboratorium Refluks Terbuka Spectrofotonehic/l.

kedalaman. dan waktu ditentukan jumlah datanya untuk menganalisis ragam menggunakan tabel sidik ragam. Adapun langkah-langkah untuk menentukannya adalah sebagai berikut (Steel dan Torrie. Hal ini dikarenakan setiap stasiun memiliki kedalaman tersebut. Peraturan Pemerintah No. 1993) : 1. Jumlahkan semua data lalu dikuadratkan. pH. COD.4.. Analisis Data Kualitas Air Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis dengan Rancangan PetakTerbagi (Split-Plot Design) untuk melihat pengaruh dari stasiun. dan TSS) serta dengan baku mutu yaitu. dan kedalaman diasumsikan sebagai faktor B. Analisis Data Data yang diperoleh dari hasil pengukuran kualitas air dan sedimen ditampilkan dalam bentuk tabel dan grafik. NOz. Selain analisa secara deskriftif. Ntotal) dibandmgkan dengan parameter pendukung (suhu. Selanjutnya dari setiap stasiun. oksigen terlarut (DO). (Y . 10 m. Selanjutnya dari setiap data dibagi menurut stasiun dan kedalaman. Kedalaman yang digunakan antara lain kedalaman 0 m. dan waktu. 82 Tahun 2001 tentang: Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Penceinaran Lingkungan. dan Rancangan Acak Kelompok (RAK) untuk data sedimen waduk. kedalaman. Sedangkan untuk melihat pengaruh secara temporal dan spasial data akan dianalisis dengan menggunakan Rancangan PetakTerbagi (Split-Plot Design) untuk data kualitas air. Terlebih dahulu data dikelompokkan menurut waktu pengambilan sampel dan waktu diasumsikan sebagai kelompok. suhu. a. N03. kemudian bagi dengan jumlah data untuk inendapatkan Faktor Koreksi (C). Untuk stasiun diasumsikan sebagai faktor A. dan interfase (kedalaman dekat dasar).12 Hitung Faktor koreksi (C) = .. kekeruhan. dan akan disajikan secara deskriptif. BOD. parameter-parameter utama (NH3.

keinudian kurangi dengan faktor koreksi (C) untuk mendapatkan Junlah Kuadrat Total (JKT).. selanjutnya bagi dengan jumlah waktu pengambilan sampel dan kurangi dengan faktor koreksi (C). JK(ga1at (A)) = JK(petak utama) . Menghitung Jumlah Kuadrat (petak utama) dengan menjumlahkan data pada setiap waktu pengambilan sampel lalu kuadratkan. c.1b . Jumlah Kuadrat Total ( K T ) = 3.C ii V b.JK(A) . Menghitung Jumlah Kuadrat (kelompok) dengan menjumlahkan data menurut waktu pengambilan sarnpel yang sama kemudian jumlahkan waktu yang sama pada setiap stasiun lalu dikuadratkan. JK(ke1ompok = waktu) = z y 2 lab -C . Kuadratkan masing-masing data lalu jumlah semua kuadratnya. d.2. Kerjakan analisis petak utama : 2$ . i 1. Menghitung Jurnlah Kuadat (galat(A)) dengan mengurangi JK(petak utama) dengan JK(ke1ompok) dan JK(A).JK(ke1ompk) . setelah itu dijumlahkan kuadratnya.C tjk VP a. setelah itu bagi dengan jumlah data yang ada pada setiap waktu pengamatan yang sama dan kurangi dengan faktor koreksi (C). setelah itu bagi dengan jumlah data yang ada pada satu stasiun dan kurangi dengan faktor koreksi (C). Menghitung Jumlah Kuadrat (stasiun) dengan menjumlahkan data setiap stasiun pengamatan lalu kuadratkan dan jumlahkan kuadratnya. JK(petak utama) = c$.

= Pj = 0) HI: kedalaman memberikan pengaruh nyata (minimal satu stasiun (pj# 0)) 3. JK(B). kemudian kurangi dengan faktor koreksi (C) dan JK(A) serta JK(B).. Adapun hipotesis yang akan diuji adalah sebagai berikut : 1. JK(AB) = cy2. JK(ga1at @)) = JK(tota1) ..JK(petak utama) .JK(B) . lalu bagi dengan jumlah data yang ada disetiap kedalaman setelah itu kurangi dengan faktor koreksi (C).C b. JK(B = kedalaman) = k 2 ykI ra . Menghtung Jumlah Kuadrat (kedalaman) dengan menjumlahkan data setiap kedalaman kemudian kuadratkan hasilnya.....JK(A).=yj = 0) HI: waktu memberikan pengaruh nyata (minimal satu stasiun (y. kerjakan analisis anak-petak : a.=ai = 0) HI: stasiun memberikan pengaruh nyata (minimal satu stasiun.I Jk ~k r- c . dan JK(A).. (a i # 0)) 2.3.JK(B) c.. Pengaruh kedalaman pengambilan sampef terhadap kandungan nitrogen: H.JK(A) Selanjutnya setelah langkah-langkah perhitungan di atas dilakukan masukkan ke dalam tabel sidik ragam untuk mendapatkan nilai F-hitung (Tabel 7). Pengaruh stasiun terhadap kandungan nitrogen Ho: stasiun tidak berpengaruh (al = a 2 = .: kedalaman tidak berpengaruh (PI = P2 = . Menghitung Jumlah Kuadrat (AB) dengan menjumlahkan data setiap kedalarnannya menurut setiapnya masing-masing. Menghitung Jumlah Kuadrat (galat@)) dengan mengurangi JK(tota1) dengan JK(petak utama). # 0)) . Pengaruh waktu pengambilan sampel terhadap kandungan nitrogen: K:waktu tidak berpengaruh (yl = y2 = . setelah itu kuadratkan hasilnya dan dijumlahkan.. lalu bagi dengan jumlah data yang ada di setiap menurut stasiunnya.

Tabel 5. Jika F-hitung nitrogen. Langkah-langkah perhitungan uji BNT adalah sebagai berikut : < F-tabel. : terdapat perbedaan yang nyata antar perlakuan (stasiun dan kedalaman) dengan kandungan nitrogen. untuk mendapatkan bagaimana pengaruh stasiun. Tabel Sidik Ragam Rancangan Petak-Terbagi (Steel dan Tonie. dan waktu pengambilan sampel terhadap kandungan nitrogen perairan berdasarkan kaidah keputusan dibawah ini : Jika F-hitung > F-tabel. maka terima x: terdapat perbedaan yang tidak nyata antar perlakuan (stasiun dan kedalaman) dengan kandungan . kedalaman. Jika hasil sidik ragam menunjukan adanya perbedaan yang nyata akibat perlakuan. pada selang kepercayaan 95 %. maka dilakukan uji lanjutan menggunakan metode uji lanjutan Beda Nyata Terkecil (BNT) untuk mengetahui perlakuan mana yang memberikan pengaruh berbeda nyata terhadap kandungan nitrogen periaran. 1993) Keterangan : a =jumlah stasiun pengambilan sampel b =jumlah kedalaman pengambilan sampel r = jumlah kelompok (waktu pengambilan sampel) Selanjutnya nilai F-hitung dibandingkan dengan F-tabel. maka tolak H.

Analisis Data Sedimen Berbeda dengan analisa kualitas air. Selanjutnya data tersebut dijumlahkan untuk menentukan analisis ragamnya dengan menggunakan tabel sidik ragam (Tabel 8). Langkah-langkah menentukan RAK adalah sebagai berikut (Walpole. Pada baris ditentukan data menurut stasiun. kemudian bagi dengan jumlah data yang ada pada setiap stasiun. Menghitung Jumlah Kuadrat Baris (JKB) dengan menjumlahkan Qta berdasarkan setiap stasiun lalu &kuadratkan. dan pada kolom ditentukan data menurut waktu. . setelah itu kurangi dengan hasil bagi jumlah total data yang dikuadratkan dengan jumlah semua data yang ada. Data yang diperoleh disusun bedasarkan stasiun dan waktu pengambilan sampel. 2. kemudian kurangi dengan hasil b a a jumlah total data yang dikuadratkan dengan jumlah semua data yang ada. maka tolak Ho Jika d < BNTa. d = lyi-yjj b. Menghitung Jumlah Kuadrat Total ( K T ) dengan mengkudratkan masingmasing data kemudian dijumlahkan. 1995): 1. Menentukan perbedaan rata-rata atribut dengan membandingkan ratarata perlakuan dengan masing-masing perlakuan. BNTaEt(a/2.bds) keterangan : t a / 2 n KTS dbs Kaidah keputusan : = Nilai dati tabel t ( a =5 %) = Banyaknya ulangan = Kuadrat = Derajat tengah sisa bebas sisa * Jika d > BNT a . Menentukan nilai uji BNT. maka gaga1 tolak Ho b. data sedimen dianalisis dengan inenggunakan Rancangan Acak Keloinpok (RAK).a.

3. setelah itu kurangi dengan hasil bagi jumlah total data yang dikuadratkan dengan jumlah semua data yang ada. Menghitung Jumlah Kuadrat Galat (KG) dengan mengurangi JKT dengan JKB dan JKK. kemudian bagi dengan jumlah data yang ada pada setiap waktu pengamatan. seperti yang ditunjukkan pada Tabel 8.l)(r . 4.1) I Total rc-1 Keterangan : r = jumlah stasiun pengambilan sampel c = jumlah waktu pengambilan sarnpel . Tabel Sidik Ragam Rancangan Acak Kelompok (Walpole. KG=KT-JKB-JKK Selanjutnya jumlah kuadrat yang telah dihitung disusun kedalam tabel sidik ragam untuk menganalisis ragam.1) KG KT JKG (c . Tabel 6 . Menghitung Jumlah Kuadrat Kolom (JKK) dengan menjumlahkan data setiap berdasarkan waktu lalu dikuadratkan.1) F-hitung (1. 1995) Sumber Keragaman Nilai tengah Stasiun Nilai tengah Waktu Galat I Derajat Jurnlah Kuadrat Bebas (db) (JJQ Kuadrat Teugah WT) JKB KTB = (r .1) (c-1) (r-1-1 I JKB JKK KTB KTG KTK KTG KTK = KTG= I JKK - (C.

Pengaruh stasiun (perlakuan) terhadap kandungan nitrogen : H. maka terima %: tidak terdapat perbedaan yang nyata antar perlakuan (stasiun dan waktu) dengan kandungan nitrogen.: faktor stasiun tidak berpengaruh (al = a2= .=ai = 0) HI: faktor stasiun berpengaruh (minimal satu stasiun (ai # 0)) 2. Menentukan perbedaan rata-rata atribut dengan inembandingkan ratarata perlakuan dengan masing-masing perlakuan. Jika hasil sidik ragam menunjukan adanya perbedaan yang nyata akibat perlakuan. d = lyi-yjl b.: faktor waktu tidak berpengaruh (PI = P 2 = .bds) keterangan : t cu / 2 n KTS dbs JZEG = Nilai dari tabel t ( a = 5 %) = Banyaknya ulangan = Kuadrat tengah sisa = Derajat bebas sisa . BNTa=t(a/2. maka dilakukan uji lanjutan lnenggunakan metode uji lanjutan Beda Nyata Terkecil (BNT) untuk mengetahui perlakuan mana yang memberikan pengaruh berbeda nyata terhadap kandungan nitrogen periaran.. Jika F-hitung 5 F-tabel.= Pj = 0) HI: faktor waktu berpengaruh (minimal satu waktu (Pj# 0)) Selanjutnya nilai F-hitung dibandingkan dengan F-tabel. sehingga dapat ditarik kesimpulan berdasarkan kaidah keputusan dibawah ini : Jika F-hitung > F-tabel.Hipotesis yang akan diuji adalah: 1. : terdapat perbedaan yang nyata antar perlakuan (stasiun dan waktu) dengan kandungan nitrogen.. pada selang kepercayaan 95 %... Menentukan nilai uji BNT.. maka tolak H. Langkah-langkah perhitungan uji BNT adalah sebagai berikut : a.. P e n g a d waktu pengambilan sampel (kelompok) terhadap kandungan nitrogen: H.

maka tolak Ho * Jika d < BNT a . maka gaga1 tolak Ho .Kaidah keputusan : Jika d > BNTa.

07-4. 40 Y stasiun 1 kedalamao maksimum = 19 meter C rn E 40 60 70 stasiun 2 kedalamnn maksimum = 13 meter $5060 70 0 0 10 Y Konsentrasi (mgil) 2 I<onsentrasi (mgg 4 6 0 2 4 6 .20 -. Kandungan ammonia total tertinggi selama penelitian terjadi pada bulan September di stasiun 3 pada kedalaman interface (dekat dasar).86 mg/l (Gambar 7 dan Lampiran 1). Kandungan Nitrogen di Perairan 1. sedangkan kandungan ammonia total terendah terjadi pada bulan Juli di stasiun 1 pada permukaan waduk. Distribusi vertikal ammonia total mengalami penurunan pada setiap kedalanan.40 r 60 70 kedalaman maksimum = 62 meter Gambar 7.I . . sedangkan pada kedalaman interface (dekat dasar) rata-rata kandungannya adalah 1.HASIL DAN PEMBAaASAN v A. Rata-rata kandungan di permukaan waduk adalah 0.85 mgtl. . z E 30 'U 5 50 Y E m . Kandungan ammonia total ( N H 3 dan N 4 perairan berdasarkan H3 kedalaman pada setiap stasiun dan waktu pengamatan. Ammonia total (NH3 dan N&+) Kisaran nilai ammonia total berkisar antara 0.46 mg/l.

.2 0.49 mgll rnenjadi 1. Konsentrasi (mgll) 01 . --rcAgustus - .30 mg/l pada kedalaman interface. 0 0.25 0 0 0.2054 mg/l. stasiun 2 konsentrasi rata-rata di permukaan sebesar 0.3 . Ammonia yang terukur pada perairan berupa ammonia total (NH3 dan NW (Goldman dan Home.5 0.1 Konsentrasi (mgfl) 0. dan stasiun 4 konsentrasi rata-rata pada permukaan 0. konsentrasi rata-rata di permukaan adalah 0. Nilai ammonia bebas (NH3) dan ammonium ( ~ ~ 4 3 dari konversi nilai ammonia total (Lampiran 14). I September I Kandungan ammonia bebas (NH3) berdasarkan kedalaman pada setiap stasiun dan waktu pengamatan. 1983). Ammonia bebas didapat (NH3) yang terukur berkisar antara 0.76 pada kedalaman interface.59 mg/l.Terjad peningkatan konsentrasi ammonia total pada setiap penambahan kedalaman.2 0. . sedangkan konsentrasi terendah terjadi pada bulan Juli di stasiun 1 pada kedalaman 10 meter. dengan konsentrasi tertinggi pada bulan Agustus di stasiun 2 pada permukaan waduk.74 mg/l pada kedalaman interface (dekat dasar).20 g 10 30 stasiun 1 ' e 40 stasiun 2 kedalaman mksimum = 13 meter tconsenlrasi (rngll) 50 60 70 Konsentrasi (mgliJ stasiun 3 stasiun 4 I--c Jull Gambar 8.05 01 .55 mg/l dan meningkat pada kedalaman interface inenjadi 3.0017-0.08 mg/l meningkat menjadi 0. stasiun 3 konsentrasi rata-rata di perrnukaan sebesar 0.72 mg/l menjadi 1. Distribusi vertikal NH3 inenunjukkan penurunan pada setiap penambahan kedalamannya (Gambar 8). Pada stasiun 1.

O 13 mg/l pada permukaan menjadi 0.828 mgh. Stasiun 3.0659-4.080 mg/l dan menurun menjadi 0. interface. didapat kisaran untuk M&+ yaitu sebesar 0.023mgA pada kedalaman interface. dengan konsentrasi terbesar terjadi pada bulan September di stasiun 3 pada kedalarnan interface. rata-rata konsentrasi pada permukaan sebesar 0.Pada Gambar 8 terlihat bahwa pada setiap penambahan kedalaman konsentrasi NH3 rata-rata menurun di setiap stasiun pengamatan.O 15 mg/l pada kedalaman ( ~ ~yang3 4 terukw dapat dilihat pada dan Gambar 9 dan Lampiran 1. Sedangkan pada stasiun 1.028 mg/l pada kedalarnan interface. Pada stasiun 2. kecuali pada stasiun 1. dan konsentrasi terendah tejadi pada bulan September di stasiun 1 pada permukaan waduk. Dari hasil yang diperoleh.064 dan menurun menjad 0. Kandungan ammonium perairan berdasarkan kedalaman pada setiap stasiun dan waktu pengamatan. Stasiun 4. rata-rata konsentrasi pada permukaan adalah 0. (H3 N4 . 0 2 Konsentrasi (m@) 4 6 Konsentrasi (mgll) 0 0 2 4 6 stasiun 1 10 50 2 X I Z 9 6 40 stasiun 2 kedslaman maksimum = 13 meler 50 a 70 Konsentrasi (mgm 0 2 4 0 2 Konsentrasi (mgfl) 4 6 stasiun 4 kednlnmnn maksimum = 25 meter -+-Jult --P-Agustus -a-September Gambar 9. rata-rata konsentrasi pada permukaan sebesar 0. Sedangkan untuk nilai ammonium nilai konsentrasinya mengalami sedikit peningkatan dari 0.031 mg/l dan mengalami penurunan pada kedalaman interface sampai 0.017 mgl.

rata-rata konsentrasi pada permukaan sebesar 0.488 mg/l menjadi 3. Ammonia total tidak terionisasi pada pH lebih besar dari 7 (Goldman dan Home. Dekomposisi bahan organik tersebut lebih banyak menghasilkan ammonia dan proses nitrifikasi yang menghasilkan nitrat akan terhambat. Bahan organik diduga berasal dari kegiatan budidaya KJA yang terdapat pada waduk yaitu bempa sisa pakan dan feses.Pada grafik terlihat terjadi peningkatan konsentrasi NI%+ untuk setiap penambahan kedalaman. Konsentrasi N& merniliki kecenderungan mengalami p e n m a n . 2003). 1983).737 mg/l pada kedalaman interface.269 mg/l pada kedalaman interface. sedangkan N+ memiliki kecenderungan mengalami peningkatan pada setiap penambahan & kedalaman (Gambar 8 dan Gambar 9). Bakteri ini akan tumbuh dengan lebih cepat pada kandungan bahan organik yang tinggi dibandingkan bakteri nitrifikasi (Effendi. Amonifikasi dilakukan oleh bakteri heterotrof (Wetzel. Konsentrasi yang meningkat disetiap kedalamannya diduga terjadi akibat proses dekomposisi bahan organik oleh mikroorganisme. Wetzel (1983). rata-rata konsentrasi pada permukaan sebesar 0. rata-rata konsentrasi pada permukaan 0. Stasiun 2.067 mgA dan meningkat menjadi 0. Hal ini terlihat dari nilai BOD pada setiap penambahan kedalaman yang meningkat (Gambar 21). sehingga konsentrasi dari ammonia bebas (un-ionised ammonia @GI3)) akan meningkat.457 mgll menjadi 1. 1983). Bahan organik didekomposisi menghasilkan ammonia melalui proses ammonifikasi. Dan stasiun 4. Stasiun 3.643 mg/l dan bertambah menjadi 1.725 mg/l pada kedalaman interface. Ammonia total terbag menjadi dua bentuk yaitu ammonia bebas (unionised ammonia (NH3)) dan ammonium (ionised ammonia (~~43). Pada perairan Eutrofik produktivitas dan kandungan bahan organik tinggi. Di stasiun 1.568 mg/l pada kedalaman interface. Dari hasil yang didapat. Konsentrasi N H 3 yang tinggi pada permukaan waduk disebabkan oleh pH yang juga tinggi pada . ammonia total memiliki kecenderungan inengalami peningkatan pada setiap penambahan kedalaman. 1983). Proporsi nilai keduanya dipengaruhi oleh temperatur dan pH perairan (Wetzel. mengklasifikasikan pola sebaran yang demiluan sebagai perairan Eutrofik (Gambar 3). rata-rata konsentrasi pada permukaan 0. Hal ini terlihat pada konsentrasi ammonia total stasiun 2 dan stasiun 3 yang relatif lebih besar dibandingkan stasiun 1 dan stasiun 4 (Lampiran 1).

2001) untuk kepentingan perikanan yang menganjurkan batas maksimat konsentrasi ammonia bebas sebesar 0.1982). Sedangkan ammonium OF4 konsentrasinya semakin meningkat disebabkan \H3 oleh pH perairan yang semakin menurun. Kadar ammonia yang tinggi mengakibatkan pe~ngkatan konsumsi oksigen. Hal ini tentunya sangat merugikan bagi kegiatan budidaya KJA yang berada di Waduk Cirata yang kegiatannya berada pada permukaan waduk. Dan untuk mengetahui stasiun. Hasil . Konsentrasi ini lebih tinggi dari baku mutu (Peraturan Pemerintah Nomor 82. Dari hasil uji lanjutan berdasarkan faktor stasiun (Tabel 7). stasiun (2-3). Hasil analisis data dengan rancangan Petak-Terbagi (Split-Plot) memberikan keputusan tolak H untuk faktor stasiun (lokasi pengambilan . mengakibatkan kerusakan pada insang. sehingga dapat dikatakan bahwa konsentrasi ammonium berkorelasi negatif dengan pH perairan.permukaan waduk dan nilainya semakin menurun setiap penambahan kedalaman.0474 mg/l.02 mglt. menjelaskan ammonia akan terionisasi pada pH < 7. sampel). Kandungan pH yang relatif tinggi pada permukaan waduk dapat menyebabkan sebagian besar ammonia total tidak terionisasi sehingga inenghasilkan ammonia bebas (NH3) yang relatif bersifat toksik dari ammonium (~~43. faktor kedalarnan. didapatkan ada lima pasang stasiun yang berbeda nyata menurut kandungan ammonia total. stasiun (1-2). dan stasiun (1-4). penelitian didapat Dari hasil rata-rata konsentrasi NH3 pada setiap stasiun di permukaan waduk adalah sebesar 0. Dapat dikatakan bahwa NH3 berkorelasi positif dengan kandungan pH perairan. Kandungan ammonia total yang tinggi sangat berpotensi sekali menjadi bahan-bahan toksik. Ammonia bebas @W3) bersifat toksik dibandingkan ammonium (~~43. Karena konsentrasi ammonia total tertinggi rata-rata terdapat pada daerah budidaya KJA (stasiun 2 dan stasiun 3). Goldman dan Home (1983). Hal ini sangat berbahaya b a g kegiatan budidaya KJA di Waduk Cirata. Lima pasang stasiun tersebut adalah stasiun (1-3). kedalaman serta waktu yang memberikan konsentrasi yang berbeda. dan menurunkan kapasitas transport oksigen oleh darah (Boyd. dan waktu pengambilan sainpel (Lampiran 1). Stasiun 3 mengalami perbedaan yang nyata dengan semua . stasiun (3-4). kedalaman dan waktu yang berbeda nyata dilakukan uji lanjutan BNT. keputusan tolak H memberikan garnbaran bahwa pada setiap faktor terdapat perbedaan dua atau lebih stasiun.

Namun penarikan kesimpulan seperti ini tidak bisa dilakukan karena secara statistik masih terdapat interaksi antara faktor stasiun dan kedalaman. Stasiun 1 memiliki perbedaan kandungan terkecil dengan stasiun yang lainnya. dan stasiun 3 memiliki perbedaan kandungan terbesar dengan stasiun yang lainnya. Kedalainan interface berbeda nyata dengan semua kedalaman yang lainnya. Tabel 7. dan 10 meter (Tabel 10).l) Kedalaman 0 meter (0.1).46) 1.44 = berbeda nyata Hasil uji lanjut BNT untuk faktor kedalaman menunjukkan bahwa.85) Rata-rata 10 meter (0. Nilai BNT Keterangan * = 0.46) 10 meter (0. Hal ini menunjukkan adanya kecenderungan nilai kandungan yang tinggi pada kedalaman tersebut dibandingkan kedalaman yang lain. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor kedalaman terhadap kandungan Ammonia Total perairan (a=O. Tabel 8.85) 0 meter (0. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Ammonia Total perairan (a=0. begitu pula dengan stasiun 1.38* 0.85) Interface (1.39 0 0 Nilai BNT Keterangan * .stasiun. kedalaman interface berbeda nyata dengan kedalaman 0 meter.99* = 0.42 = berbeda nyata 0.

0847 . dan pada stasiun 4 berkisar antara 0-0. Nilai uji BNT untuk pengamh faktor waktu terhadap kandungan ammonia total (a=0. stasiun 2 berkisar antara O0. stasiun dengan faktor kedalaman.0015 mg/1 dan meningkat pada kedalaman interface menjadi 0. Ini menunjukkan adanya interaksi antar faktor . Konsentrasi nitrit memiliki pola distribusi vertikal yang berbeda pada setiap stasiun.1) Nilai BNT Keterangan * = 0.0940 mgll.0059 mg/l. Perbedaan yang terjadi inenurut waktu menggambarkan adanya perubahan karakteristik waduk seperti tinggi muka air selama waktu pengamatan. pada stasiun 3 berkisar antara 0-0. dan bulan Juli dengan September (Tabel 11). Dengan rata-rata konsentrasi nitrit pada permukaan sebesar 0. Tabel 9.38 = berbeda nyata Nilai interaksi faktor stasiun dan faktor kedalaman menghasilkan keputusan tolak H (Lampiran 1). Kandungan rata-rata ammonia total tertinggi pada permukaan waduk terjadi di stasiun 2. Nitrit (NO23 Berdasarkan hasil yang diperoleh didapat kisaran konsentrasi nitrit pada stasiun 1 yaitu berkisar antara 0. dan konsentrasi rata-rata ammonia total untuk kedalaman interface terjadi di stasiun 3.0020 mg/l. 2.Hasil uji lanjut BNT untuk faktor waktu menunjukkan adanya dua pasang waktu pengambilan sampel yang menunjukkan perbedaan nyata terhadap kandungan ammonia total. yaitu antara bulan Juli dengan Agustus. Pada stasiun 1 konsentrasinya cenderung meningkat pada setiap penambahan kedalaman.0004-0. sedangkan rata-rata konsentrasi ammonia total tertinggi di kedalaman 10 meter terjadi pada stasiun 2.0014 mg/l (Gambar 10 dan Lampiran 2). dapat dikatakan tidak ada satu stasiun yang memiliki nilai konsentrasi ammonia total tertinggi untuk semua kedalamannya.

004 0.) perairan berdasarkan kedalaman pada setiap stasiun dan waktu pengamatan.008 0 0.001 1 mg/l menjadi 0 mg/l pada kedalaman interface.0010 mgil pada stasiun 3 dan 0. dengan rata-rata di permukaan sebesar 0.05 Nitnt (mgfl) 0.50 S 40 stasiun 4 laman maksimum = 62 meter ke&laman maksimum = 25 meter g 60 70 70 --c Juli ~ A g u s t u s --September 4 Gambar 10. menurun pada kedalaman interface menjadi 0. Diteinukan dalam jumlah yang sedikit di perairan.002 0. Sedangkan pada stasiun 2 konsentrasinya cenderung menurun pada setiap kedalamannya.002 0.mgll.0110 mgll pada stasiun 4.I106 0.j kodalamsn meksimum = 13 meter 0 0 10 0. . Konsentrasinya sangat bergantung pada keberadaan oksigen di perairan. Stasiun 3 dan stasiun 4 konsentrasinya berfluktuasi namun cenderung menurun dengan rata-rata pa& permukaan 0. 2003).0007 mg/l pada stasiun 3 dan 0.OE z 20 a ?%30 E30 C .002 0.00. Nitrit merupakan bentuk peralihan antara ammonia dan nitrat dalam proses nitrifikasi.004 Nitrit (mg/l) 0. dimana nitrit merupakan produk antaranya.0004 mg/l pada stasiun 4. 0 0. karena bersifat kurang stabil dan sangat bergantung pada keberadaan oksigen di perairan (Effendi. Kandungan nitrit (NO.004 Nitril (mg/l) 0.1 Nitrit (mgll) 0 0. Proses nitrifikasi menggunakan oksigen dalam perombakan ammonia menjadi nitrat.

namun menurut Wetzel (1983). Menurut Wetzel (1983). proses ini akan terns berlangsung sainpai kandungan oksigen terlarut (DO) sekitar 0.3 mgll. Boyd (1982). Fluktuasi konsentrasi yang terjadi pada stasiun 3 dan stasiun 4 dikarenakan sifat nitrit yang tidak stabil. nitrifikasi masih dapat berlangsung sampai konsentrasi oksigen terlarut sebesar 0. nitrifikasi berjalan pada keadaan aerobik.75 mg/l. Hal ini diperkirakan proses nitrifikasi masih berlangsung pada stasiun 1. akan diikat oleh hemoglobin darah sehingga menggangu penyerapan oksigen oleh hemoglobin. 2001) untuk kepentingan perikanan konsentrasi tersebut masih pada kisaran baku mutu yang menetapkan batas maksimal sebesar 0. Hal inilah yang menyebabkan meningkatnya kandungan nitrit pada stasiun 1 pada setiap kedalamannya. Konsentrasi oksigen pada stasiun 1 masih memungkinkan terjadinya proses nitrifikasi walaupun akan bejalan secara lambat. Inilah yang menyebabkan konsentrasi nitrit memilila kecenderungan m e n m sampai kedalainan interface.027 mgll. . sehingga nitrit yang merupakan produk antara proses tersebut masih ditemukan.03 mdl. stasiun 4. Kandungan bahan organik dapat menghambat proses nitrifikasi (Wetzel.06 mgil.00112 mg/l. Rata-rata konsentrasi oksigen terlarut mendan pada kedalaman 10 meter konsentrasi rata-rata dari ketiga stasiun tersebut sebesar 0. 1983). Berdasarkan baku mutu (Peraturan Pemerintah Nomor 82. Selain itu penurunan diakibatkan juga kurang tersedianya oksigen terlarut pada setiap stasiun tersebut. Pada daerah permukaan waduk yang merupakan daerah aktivitas budidaya KJA. dengan kisaran konsentrasi antara 0. memiliki konsentrasi nitrit rata-rata sebesar 0. sehingga konsentrasi nitrit yang merupakan produk antara proses ini juga inenurun.Pada stasiun 1 terjadi peningkatan konsentrasi nitrit pada setiap kedalaman. ini juga terlihat dari nilai BOD dan COD yang cenderung tinggi di ketiga stasiun tersebut. dan stasiun 2 diperkirakan karena meningkatnya kandungan bahan organik pada stasiun tersebut akibat aktivitas budidaya KJA.61-10. Walaupun konsentrasi oksigen pada stasiun 1 mengalami penurunan setiap kedalainannya (Gambar lo). menyatakan ketika nitrit terabsobsi oleh ikan. Penurunan konsentrasi yang terjadi pada stasiun 3. Konsentrasi nitrit yang tinggi tentunya sangat membahayakan kegiatan budidaya KJA di Waduk Cirata.

1) Stnsiun Stasiun 2 (0. Keputusan ini menggambarkan bahwa pada setiap faktor terdapat perbedaan dua atau lebih stasiun dan kedalaman yang memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap kandungan nitrit di perairan.0007) 0.0010 0. dan faktor kedalaman (Lampiran 2).0520) Rata-rata Stasiun 4 Stasiun 3 (0.Hasil analisis data memberikan keputusan tolak H untuk faktor stasiun .0007 0 0.0520) 0 = 0. Tabel 10. Hal ini menggambarkan kandungan nitrit di permukaan nilainya cenderung berbeda dengan kedalaman lainnya. stasiun (1-4). ini membuktikan bahwa stasiun 1 memiliki nilai )ha1 yang lebih besar dibandngkan dengan stasiun-stasiun pengamatan yang lainnya.0015) (0.0513* 0. stasiun 3. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Nitrit perairan @JOY) (a=0. .0035 = berbeda I nyata Nilai BNT Keterangan * Hasil uji lanjut BNT berdasarkan faktor kedalaman memperlihatkan perbedaan nyata antara kedalaman 0 meter (permukaan) dengan kedalaman 10 meter dan kedalaman interface (dekat dasar).0004) 0. stasiun (1-2). Hasil uji lanjut BNT berdasarkan faktor stasiun menunjukkan tiga pasang stasiun yang berbeda nyata. Terlihat stasiun 1 berbeda nyata dengan semua stasiun pengamatan. (Tabel 13).0004) a .05 17+ Stasiun 3 (0. Stasiun 1 (0.0003 0 0 Stnsiun 4 (0. Interaksi antara faktor stasiun dan faktor kedalaman juga tidak ditemukan (gaga1 tolak (Lampiran 9). sedangkan pada stasiun 2. dan stasiun (1-3) (Tabel 12).0015) Stasiun 1 (0. Sedangkan kedalaman 10 meter dengan interface menurut hasil uji lanjutan tidak memberikan perbedaan yang nyata.05 16* 0. Pada stasiun 1 nilai kandungannya cenderung lebih kecil. antara lain.0007) Stasiuu 2 (0. dan stasiun 4 nilainya cenderung lebih tinggi dibandingkan kedalaman yang lainnya.

stasiun 3.0169* (0. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor kedalaman terhadap kandungan Nitrit perairan (Nod (a=0.0217) Nilai BNT Keterangan * 0 0.0206* f(lme.0181) 0.0034 mg/l pada stasiun 4.. dan menurun pada kedalaman interface menjadi 0. dengan konsentrasi rata-rata di permukaan sebesar 0. stasiun 3. sedangkan pada stasiun 2. karena keputusan yang diperoleh memberikan keputusan tolak H.2735 mg/l.3735 mg/l.00101 mg/l pada stasiun 2.0038 = berbeda nyata Interaksi faktor stasiun dan kedalaman memberikan keputusan gaga1 tolak I-I. Terlihat bahwa pada stasiun 1 konsentrasi nitrat cenderung mengalami peningkatan. Keputusan ini menggambarkan tidak adanya interaksi antar faktor stasiun dengan faktor kedalanan. = 0.00356 mg/l. stasiun 2 berkisar antara 0. sehingga dapat dikatakan stasiun 1 memiliki kandungan nitrit yang tinggi dibandingkan stasiun lain serta pada setiap kedaiamannya.0217) (0.0001-0. .Tabel 11. 0.0024 mg/l pada staisun 2. 0.0033 mgll pada stasiun 3. 0. Nitrat (NO.0181 (0. Pada stasiun 2. 0.1) Kedalaman 0 meter Interface Rata-rata 10 meter 0 meter (0.0012) Interface (0. dan stasiun 4 konsentrasinya cenderung menurun (Gambar 11 dan Lampiran 3). dan stasiun 4 konsentrasinya cenderung inengalami penurunan pada setiap kedalaman.0097 mgA.0214 mg/l. Pada stasiun 1 terlihat konsentrasi meningkat setiap kedalaman.0036 0 .0012) 0 0.0001 mgfl pada stasiun 3. dengan konsentrasi rata-rata pada permukaan sebesar 0. (Lampiran 2). Pengaruh faktor waktu pengambilan sampel tidak berpengaruh terhadap kandungan nitrit perairan. dan stasiun 4 berkisar antara O0.0220 mg/l dan meningkat pada kedalaman interface menjadi 0. 0. 3. stasiun 3 berkisar antara 0-0.0093 mg/l pada stasiun 4.? Berdasarkan hasil yang diperoleh didapatkan lusaran konsentrasi nitrat pada stasiun 1 sebesar 0-0.

2 0.3 mgll (Wetzel. .75 mgll.02 Nitrat (mg/i) 0. Hal ini terlihat dari kandungan nitrit yang juga mengalami peningkatan setiap kedalamannya di stasiun 1. dengan menggunakan oksigen terlarut yang terkandung dalam perairan.02 0 0 01 m a stasiun 4 kcdalema malisimum = 25 meter m +JUII -5-Agustus -a-.4 0 'z? 0 10 0 01 Nitrat (mgm 0.02 2 23 a? C g30 E . Kandungan nitrat (NO<)perairan berdasarkan kedalaman pada setiap stasiun dm waktu pengamatan.61-10. Diduga proses nitrifikasi inasih berlangsung bahkan sampai kedalaman inteface.. proses nitrifikasi masih dapat berlangsung sampai konsentrasi oksigen terlarut sebesar 0. Dan pada stasiun 1. Nitrat (mg/O 0 0 10 e 0. 1983).3 0. Proses nitrifikasi mengubah ammonia menjadi nitrit dan selanjutnya menghasilkan produk akhir berupa nitrat. konsentrasi oksigen terlarut memiliki kisaran antara 0.September Gambar 11. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya pada pembahasan tentang nihit bahwa.1 0. dan inilah yang menyebabkan konsentrasinya meningkat pada setiap kedalaman di stasiun 1.03 Nitrat (mgfl) 0.Peningkatan nitrat yang terjadi pada stasiun 1 diduga masih berlangsungnya proses nitrifikasi pada stasiun tersebut.- 223 g30 40 Y <a EO 70 0 0 01 kedalaman maksimum = 19 meter n -D Y"M @ kedalamnn maksimum = 13 meter I 70 0.

Dengan konsentrasi rata-rata pada permukaan sebesar 8. dan stasiun 4 terlihat semakin menurun pada setiap kedalaman. & dan faktor kedalaman (Lampiran 3). Stasiun 1 memiliki perbedaan yang nyata dengan stasiun yang lain begitu juga dengan stasiun 3. stasiun (1-2). stasiunstasiun yang berbeda nyata antara lain stasiun (1-3).P e n m a n yang terjadi pada stasiun 2. mernbuat pertumbuhan bakteri-bakteri nitrifikasi menjadi lebih lambat dari bakteri heterotrof. kandungan bahan organik yang tinggi sehingga pertumbuhan bakteri nitrifikasi lebih lambat dibandingkan bakteri heterotrof.3 mg/l.3 mg/l. stasiun 3. Berdasarkan kandungan oksigen terlarut stasiun 2. Hal ini menyebabkan bahan-bahan organik yang terdekomposisi menghasilkan ammonia melalui proses ammonifikasi tidak langsung &dekomposisi lagi oleh bakteri nitrifikasi menghasilkan nitrat. Proses ini dapat terhambat karena kandungan oksigen terlarut di bawah 2 mg/l nagnun proses ini masih berlangsung sampai konsentrasi oksigen terlamt 0.13 mg/l dan menurun sampai pada kedalaman 10 meter rata-ratanya sudah sebesar 0. ha1 inilah yang menyebabkan konsentrasi nitrat cenderung menurun.27 mgll kemudian menurun sampai kedalaman interface dengan rata-rata oksigen terlarut di bawah 0. Ini juga terlihat dari meningkatnya ammonia total pada perairan (Gambar 7). 2003). Pada stasiun 1 diperlarakan karena stasiun ini memiliki nilai yang cenderung lebih tinggi . Hal ini diduga sebagian besar bahan organik belum terdekomposisi sempurna sehingga proses nitrifikasi belum berjalan dengan baik pada kedalainan tersebut. stasiun (4-3). dan stasiun 4. akan tetapi terjadi akumulasi kandungan ammonia pada perairan. pH perairan yang asam dengan pH di bawah 6 (Effendi. Hasil analisis data memberikan keputusan tolak I untuk faktor stasiun. Namun untuk kedalaman antara permukaan sampai kedalaman 10 meter nilainya juga cenderung menurun. Nasil uji lanjutan berdasarkan faktor stasiun diperoleh bahwa. Berdasarkan keputusan tersebut didapatkan bahwa pada setiap faktor terdapat perbedaan dua atau lebih stasiun dan kedalaman yang memberikan konsentrasi yang berbeda terhadap nitrat & periran. Banyaknya bahan organik pada stasiun-stasiun ini yang terlihat dari nilai BOD dan COD yang cenderung tinggi. diperkirakan proses nitrifikasi terhambat pada stasiun tersebut. dan stasiun (2-3) (Tabel 14). Proses nihifikasi pada kedalaman dibawah 10 meter tentunya akan terhambat. stasiun 3. stasiun (1-4).

004) Stasiun 2 (0. sedangkan pada stasiun 2.065* n 0. Tabel 12. Pada stasiun 1 nilainya lebih kecil.142) (U.048* 0 0 (0. Hal ini menunjukkan kedalaman 0 meter (permukaan) memiliki kandungan nitrat yang berbeda dengan kedalaman lainnya.100* 1.060* 0. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor kedalaman terhadap kandungan Nitrat perairan (NO<) (c~=O. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Nitrat perairan (NO<) (a=O.029 = berbeda nyata . stasiun 3.023) I I (0.020) Stasiun 4 1. sedangkan stasiun 3 lebih disebabkan berfluktusinya kandungan nitrat pada stasiun ini (Gambar 11).058) Interface Nilai BNT Keterangan * = 0.034 0 0 (0.012 n 0.023) Stasiun 1 1 Nilai BNT Keterangan * = 0.020) (0. dan stasiun 4 nilainya lebih besar daripada kedalaman dibawahnya.l) Stasiun 1 Rata-rata Stasiun 2 Stasiun 4 Stasiun 3 Stasiun I (0.dibandingkan stasiun yang lain. Kedalaman 10 meter dan interface tidak beam berbeda kandnungan nitratnya.009) 10 meter 0.UU4) (0.058 = berbeda nyata Hasil uji lanjutan berdasarkan faktor kedalaman menunjukkan kedalaman 0 ineter (permukaan) berbeda nyata dengan kedalaman 10 meter dan kedalaman interface (Tabel 15).l) I Kedalaman 0 meter / Rata-rata Interface 10 meter 0 meter / (0. Tabel 13.

1991). Hal ini diperkirakan. kisaran konsentrasi yang tinggi pada stasiun 4 dipengaruhi kegiatan KJA di stasiun 3.2564 mgll (Gambar 12 dan Lampiran 4). sehingga memiliki konsentrasi nitrogen total yang lebih kecil dibandingkan stasiun lainnya. Adanya arus yang mengalir menuju stasiun 4 yang membawa sebagian bebanbeban sisa pakan dan buangan ikan meningkatkan konsentrasi nitrogen total pada stasiun ini. sehingga didapat kisaran nilai yang lebih tinggi dari stasiun 2.5582-5. kandungan bahan-bahan organik (sisa pakan dan hasil metabolisme ikan (feses)) yang tinggi pada stasiun 3 dari kegiatan budidaya KJA meningkatkan konsentrasi nitrogen total. Protein yang terdekomposisi mengandung 16 % nitrogen (Depdikbud. Hal inilah yang menyebabkan tingginya konsentrasi nitrogen total pada stasim 3. 4. stasiun 2 berkisar antara 0. Ini menggambarkan interaksi antar faktor stasiun dengan kedalaman tidak ditemukan. NH3-Nyang bersifat terlarut dan nitrogen organik yang berupa partikulat dan tidak lamt dalam air (Mackereth et al. .. Hal ini dikarenakan. 2003).4598-3. Dapat dilihat pada setiap stasiun pengamatan konsentrasi nitrogen total semakin meningkat setiap kedalaman. Stasiun 3 inemiliki kisaran kandungan nitrogen total tertinggi dibandingkan stasiun yang lain. stasiun 4 merupakan outlet waduk tempat keluarnya air waduk.Interaksi faktor stasiun dan kedalaman memberjkan keputusan gaga1 tolak H.5749 mgll.9846 mg/l. kisaran nilainya lebih kecil dibandingkan stasiun 4. 1989 dalam Effendi. stasiun 3 berkisar antara 0. Sedangkan stasiun 1 konsentrasinya hanya d~pengaruhioleh air masukan yang berasal dari sungai Citarum. dan stasiun 4 berkisar antara 0.0016 mgtl.1356-2. Nitrogen Total Kisaran konsentrasi nitrogen total pada stasiun 1 yaitu antara 0. Sedangkan stasiun 2 dengan jumlah kerapatan KJA sedang. sehingga dapat dikatakan terdapat stasiun yang memiliki kandungan nitrat tertinggi dibandingkan stasiun dan kedalaman yang lain yaitu pada stasiun 1 (Lampiran 3). dan stasiun ini lebih dekat dengan stasiun 3. Pakan ikan yang digunakan adalah pakan buatan yang memiliki kandungan protein yang tinggi. Nitrogen total penjumlahan kandungan nitrogen anorganik berupa NO2-N.25641.

Hasil analisis data memberikan keputusan tolak H untuk faktor lokasi pengambilan sampel (stasiun). stasiun 3. dan stasiun 4 tidak begrtu berbeda nyata.40 . dan faktor kedalaman (Lainpiran 1 I). dan stasiun 3 memiliki kecenderungan nilainya lebih tinggi dibandingkan stasiun yang lain (Lampiran 11). . Sedangkan kandungan nitrogen total pada stasiun 2. Perbedaan tersebut menggambarkan stasiun 1 memiliki rata-rata kandungan nitrogen total yang kecil dari stasiun yang lain.40 60 70 -+-Juli -z+Agustus ---A--- 9% September Gambar 12.Total (rngil) 4 6 0 0 10 2 N-Total (mgll) 4 6 . stasiun 1 yang menunjukkan perbedaan nyata dengan semua stasiun (Tabel 16).0 0 10 0 2 N. Kandungan nitrogen total perairan berdasarkan kedalaman pada setiap stasiun dan waktu pengamatan . Keputusan ini memberikan gambaran bahwa pada setiap faktor terdapat perbedaan dua atau lebih stasiun dan kedalaman yang memberikan konsentrasi yang berbeda. Hasil uji lanjutan berdasarkan faktor stasiun diperoleh bahwa.40 Y stasiun 1 kedalaman maksimum = 19 meter %O m =cU 30 5 .Total (rngll) kedalaman maksimum = 13 meter 50 70 0 E a m = '=m 10 z2a c 30 & . 20 E rn e 20 30 5 .c 2 so g 60 70 N-Total (mgn) N. namun pada stasiun 2.

74 0.74* 0.24) 1.1) Kedalaman 0 meter Interface Rata-rata 10 meter 0 meter (0.77 = berbeda nyata (1. Ini menunjukkan bahwa pada setiap kedalaman terdapat perbedaan konsentrasi.73) Stasiun 4 (2. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor kedalaman terhadap kandungan Nitrogen Total perairan (a=0.44) 0.66 0 = 0. (Lampiran 4).44) Interface Nilai BNT Keterangan * = 0.57) Stasiun 3 (2.77* 0 (0.98* A (1. Tabel 15. Konsentrasi yang terjadi di masingmasing kedalaman mengalami peningkatan di setiap penambahan kedalaman. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Nitrogen Total perairan (a=0.1) 1 Stasiun Stasiun 1 Stasiun 3 1 Rata-rata Stasiun 2 I Stasiun 4 I Stasiun 1 (0. Interaksi yang terjadi menunjukkan terdapat hubungan antar faktor stasiun dengan kedalaman sehingga tidak ada satu stasiun saja yang memiliki nilai .51* 0.41) 1.SO) Stasiun 2 (1.57) 0.73) 0 (1.77* 0 (0. Oleh karena itu perbedaan yang nyata terjadi di masing-masing kedalaman yang diamati.67) 0 (1.85* 0.67) 10 meter (2.SO) 0.07 0 (1.35 = berbeda nyata Interaksi faktor stasiun dan kedalaman memberikan keputusan tolak H.Tabel 14.24) Nilai BNT Keterangan * Hasil uji lanjut BNT berdasarkan faktor kedalaman menunjukkan pada setiap kedalaman berbeda nyata (Tabel 17).

Konsentrasi ammonium pada stasiun 4 lebih tinggi daripada stasiun 3 diduga karena adanya arus pada waduk menyebabkan nitrogen organik yang banyak terdapat di stasiun 3 terbawa arus menuju stasiun 4. dan untuk stasiun 4 berkisar antara 442. 2000).31-223. Ammonium akan bereaksi secara cepat dengan muatan negatif dari liat dan membentuk ikatan yang komplek dengan logam dan senyawa organik (Tan. Konsentrasi ammonium tertinggi terjadi pada stasiun 4 (Gambar 13 dan Lampiran 5). Kebanyakan nitrogen organik bersifat partikulat yang tidak larut dalam air (Effendi.l mg/l. untuk stasiun 2 konsentrasinya berkisar antara 261. Selanjutnya nitrogen organik akan banyak mengendap pada stasiun 4 dan terdekomposisi menghasilkan ammonium. nsunun penjerapan yang terjadi pada stasiun 2 lebih sedikit terjadi. Kandungan Nitrogen di Sedimen 1. unt& stasiun 3 berkisar antara 392. Rata-rata persentase kandungan liat tertinggi terjadi pada stasiun 2 yaitu sebesar 91. dengan rata-rata konsentrasi sebesar 471. pada kedalaman 10 meter konsentrasi tertinggi terjadi pada stasiun 2. Konsentrasi mnonium tertinggi terjadi pada stasiun 4. dm pada kedalaman interface konsentrasi tertinggi terjadi pada stasiun 3. Nilai konsentrasi nitrogen total tertinggi pada kedalaman 0 meter terjadi pada stasiun 2.85-410.35 mg/l. Ammonium yang terdapat di sedimen dapat berasal dari dekomposisi nitrogen organik yang terakumulasi di dasar.69 %. Ammonium (mi) Hasil pengukuran ammonium didapat kisaran konsentrasi untuk stasiun 1 sebesar 196.15 mg/l. Nitrogen organik ini akan mengendap didasar dan terakumulasi pada sedimen. Nitrogen organik banyak berasal dari sisa pakan yang tidak termakan dari kegiatan budidaya KJA yang biasanya mengandung protein yang tinggi.konsentrasi nitrogen total tertinggi pada setiap kedalamannya. Aktivitas ini banyak dilakukan oleh permukaan liat karena memiliki bantuk moleM yang halus. selain itu juga dapat berasal dari penjerapan oleh sedimen. Hal ini dikarenakan kandungan dari ammonium yang terdapat pada perairan relatif sedikit .9280.87 mg/l.62-490.04 mg/l. ammonium juga dihasilkan dari penjerapan alnmonium yang terlarut pada air oleh sedimen. B.7 mg/l. dengan rata-rata konsentrasi sebesar 211. Dan konsentrasi ammonium terendah terjadi pada stasiun 1. 2003). Selain dari dekomposisi.

Terlihat bahwa stasiun 4 memiliki persentase liat lebih besar dari stasiun 3.95 % (stasiun 4). . Sedangkan stasiun 3 dan stasiun 4 memiliki persentase rata-rata liat adalah sebesar 83.98 % (stasiun 3). Sedangkan faktor waktu pengambilan sampel tidak meinberikan perbedaan yang nyata (gaga1 tolak H. Hasil uji lanjut BNT yang diperoleh berdasarkan fdctor stasiun menyatakan bahwa. semua stasiun memberikan pengaruh berbeda nyata terhadap kandungan ammonium pada sedimen (Tabel 18).dari stasiun 3 dan stasiun 4. Lokasi Juli Agustus September Gambar 13. Konsentrasi Ammonium waktu pengamatan. Hal ini memungkinkan terjadinya penjerapan ammonium lebih banyak dari stasiun 3.) sedimen berdasarkan stasiun dan Hasil analisis data menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) menjelaskan sedikitnya ada dua atau lebih stasiun yang memiliki perbedaan yag nyata. Perbedaan pada setiap stasiun menggambarkan pada masing-masing stasiun kandungan ammonium-nya berbeda satu sama lain. karena faktor stasiun memberikan keputusan tolak %. mi. sehingga konsentrasi ammonium yang terkandung pada stasiun 4 lebih banyak dibandingkan stasiun 3. dan 84.) (Lampiran 5).

35-95.87 mgll.64 mg/l (stasiun 3).36 mg/l (stasiun 2). Nitrat yang terdapat pada sedimen dapat berasal dari oksidasi ammonium (&) selain itu dapat juga berasal dari penjerapan anion oleh N+. Hal ini diduga karena proses penjerapan anion-anion nitrat oleh koloid-koloid tanah yang lebih banyak terdapat di stasiun 2.05 mgh (stasiun I).34123. Terlihat pada Gambar 23. Stasiun 4 cenderung memiliki kandungan nitrat yang tinggi dari stasiun yang lain. koloid-koloid tanah.1) Nilai BNT Keterangan * = 19. menjelaskan bakteri nitrifikasi cenderung menempel pada sedimen dan padatan lain. karena pada stasiun 3 kandungan nitrat yang terukur pada kedalaman interface nilainya mendekati no1 sehingga penjerapan nitrat pada stasiun ini lebih sedikit dijumpai.Tabel 16.89 = berbeda nyata 2. 112.85 mgll. bahwa konsentrasi nitrat rata-rata tertinggi terjadi pada stasiun 4 yaitu sebesar 145.18-110. Ketersediaan ammonium yang tinggi pada stasiun 4 memberikan peluang lebih besar untuk diubah menjadi nitrat dibandingkan pada stasiun lain.39-160. Effendi (2003). 75. Penjerapan juga akan semakin ~neningkat jika . Hal ini diduga merupakan hasil dari dekomposisi ammonium oleh baMeri nitrifikasi pada stasiun tersebut. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Ammonium sedimen (a=0. 126.53 mgh (stasiun 4) (Gambar 14 dan Lampiran 5). Stasiun 2 memiliki kandungan nitrat lebih tinggi daripada stasiun 3. sedangkan konsentrasi rata-rata terendah terjadi pada stasiun 1 yaitu sebesar 86. Nitrat ( N o d Berdasarkan data yang didapat kisaran konsentrasi nitrat yang terdapat pada masing-masing sedimen antara lain 75.

dan stasiun (3-2). sehingga kandungannya relatif lebih tinggi dari stasiun 3. Hasil uji lanjutan berdasarkan faktor stasiun diperoleh bahwa. stasiun (3-4).kelnasaman tanah meningkat (Depdikbud. stasiun (1-4). stasiun (2-4). Konsentrasi Nitrat ( N O 9 sedimen berdasarkan stasiun dan waktu pengamatan. Kemasaman sedimen pada stasiun 2 sangat tinggi. pada faktor stasiun (Lampiran 5). Sedangkan antara stasiun (1-3) tidak memberikan perbedaan yang nyata terhadap kandungan nitrat pada sedimen waduk (Tabel 19). antara lain.6. Hal ini meningkatkan proses penjerapan anion-anion nitrat pada stasiun 2. Hasil analisis data memberikan keputusan tolak H. . Lokasi a Juli Agustus B September ! Gambar 14. Sedangkan faktor waktu pengambilan sampel memberikan keputusan gaga1 tolak &. 1991). terdapat lima pasang stasiun yang berbeda nyata terhadap kandungan nitrat. dibandingkan stasiun yang lain dengan pH rata-rata 5. stasiun (1-2).

34 mgd. sehmgga kandungan nitrogen total pada stasiun tersebut relatif lebih tinggi dibandingkan stasiun yang lain.45 (stasiun 2).70* 0 58.99* 56.55* 0 = 25. Nitrogen Total Kandungan nitrogen total pada setiap stasiun pengamatan didapatkan kisaran antara lain 240.62) 2. Terlihat pada Gambar 24.87) (86. dan stasiun 1. Secara umun kandungan nitrogen total tertinggi terjadi pada stasiun 4 dengan rata-rata kandungan nitrogen total sebesar 679.82 mg/l (stasiun 3). Hal ini menyebabkan sisasisa pakan yang banyak inengandung nitrogen banyak terendapkan pada stasiun 4.32) 29. dan 598. Kandungan nitogen total adalah jumlah dari nitrogen organik dan anorganik.32) Stasinn 4 (145.1) Stasiun Stasiun 1 Stasiun 4 Rata-rata Stasiun 3 Stasiun 2 Stasiun 1 (145. 542.262. .25* 29. 351.87) Nilai BNT Keterangan * Terlihat babwa kandungan pada setiap stasiun berbeda.51-398.62) Stasiun 2 (1 16. 3. Ha1 ini juga terlibat dari junlah ammonium dan nitrat yang relatif lebih tinggi pada stasiun ini.34-643.16 .44* 26.74 0 (86. diikuti oleh stasiun 3. Kandungan nitrat stasiun 3 relatif lebih kecil dari stasiun 2 karena diduga proses nitrifikasi dan penjerapan nitrat terhambat sehingga kandungannya lebih kecil dibandingkan stasiun 2 dan relatif lebih sama dengan stasiun 1.87) Stasiun 3 (116. stasiun 4 lnemiliki kandungan nitrogen total tertinggi dibandingkan stasiun yang laimya. stasiun 2.87) 0 - (89.51-785.15 mgll (stasiun 4) (Gambar 15 dan Lampiran 5).24 = berbeda nyata (89. namun untuk stasiun 1 dan stasiun 3 tidak begitu berbeda nyata. Pengarub arus menyebabkan sebagian besar sisa pakan yang sebagian besar berasal dari stasiun 3 terbawa hngga stasiun 4.Tabel 17.02 mg/l (stasiun I). Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Nitrat sedimen (a=0.

Tabel 18. Hasil uji lanjut BNT dapat dilihat pada Tabel 20 dibawah ini.ll) 428. Konsentrasi Nitrogen Total sedimen berdasarkan stasiun dan waktu pengamatan.23* 310. stasiun (Lampiran 5).20* 0 = 94. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Nitrogen Total sedimen (a=0.03* 0 0 Nilai BNT Keterangan * .1) Stasiun Stasiun 1 (251.00* 0 118.34) Stasiun 4 (679.14) (583. Keputusan ini mengainbarkan bahwa kandungan nitrogen total pada setiap stasiun berbeda nyata. Hasil analisis data memberikan keputusan tolak H untuk pengaruh faktor .ll) Stasiun 2 (369./ 1 Juli mi Agustus September Lokasi Gambar 15.14) Stasiun 1 (251.14) Stasiun 3 Stasiun 4 (679.20* 96.03* 214.34) Rata-rata Stasiun 2 Stasiun 3 (369.45 = berbeda nyata 332.

dan tidak ditemukan dua stasiun yang memiliki kandungan nitrogen total yang sama. terdapat perbedaan yang nyata pada semua stasiun terhadap kandungan nitrogen total sedimen. Dan pada stasiun 4 disebabkan adanya arus air keluar waduk. Kisaran nilai yang diperoleh untuk setiap stasiun adalah 3. Dapat dilihat pada Gambar 17 bahwa terjadi peningkatan kekeruhan setiap pertambahan kedalaman. Perbedaan pada masing-masing stasiun menggambarkan kandungan di setiap stasiun berbeda satu sama lainnya.Dari hasil uji lanjut BNT berdasarkan faktor stasiun diperoleh bahwa.52. sedangkan kekeruhan terendah terdapat pada bulan Agustus di stasiun 3 pada permukaan waduk yaitu sebesar 3 NTU. Sedangkan pada stasiun 1 lebih disebabkan oleh masukkan air dari sungai Citannn. karena diketahui bahwa stasiun 4 merupakan daerah aliran keluamya air waduk.O NTU (stasiun 3). Kekeruhan Kekeruhan yang diperoleh berkisar antara 3-56 NTU (Gambar 17 dan Lampiran 6). 3.7. dan 2.O NTU (stasiun 4). Untuk pengaruh waktu pengambilan sampel berdasarkan hasil analisis data tidak memberikan pengaruh berbeda nyata (gaga1 tolak &).O NTU (stasiun 2). 4.13. .40.O NTU (stasiun I). Parameter Fisika dan Kimia Perairan a. Kondisi Perairan dan Sedimen Waduk Cirata 1. Hal ini diduga berasal dari sisa-sisa pakan dan feses ikan dari kegiatan budidaya KJA pada kedua stasiun tersebut. artinya bahwa pengaruh waktu kurang mempengaruhi kandungan nitrogen total pada sedimen waduk. khususnya pada stasiun 2 dan stasiun 3 terjadi peningkatan yang sangat besar.2 .O . C.6 . Nilai kekeruhan tertinggi terdapat pada bulan September di stasiun 2 pada kedalaman interface (dekat dasar) yaitu sebesar 56 NTU.56.

Pada ketiga waktu pengamatan. 2007). Kekeruhan perairan pada setiap stasiun. kedalaman.6 - 56. Nilai ini diduga karena pada bulan September tinggi muka air waduk Inengalami penyusutan dibandingkan bulan-bulan sebelumnya (Mardiana. dan waktu pengamatan. . Penyusutan tinggi muka air inenyebabkan partikel-partikel halus dan tersuspensi menjadi lebih pekat sehingga meningkatkan kekeruhan air waduk. 20 2 E 2 " e C 3s . kekeruhan tertinggi terja& pada bulan September dengan kisaran antara 4.O NTU.- .40 m m 60 70 Kekeruhan (NTU) m n stasiun 2 GO ke&lam~ mnksimum = 13 meter g so ke&lman maksimum = 19 meter 70 Kekewhan (NTU) 0 0 10 t 40 EO 0 0 10 M 40 EO 53 $40 m n g 20 rn stasiun 3 a 0 2 ~ 3 3 m E ' 9% BJ 70 -Juli - $40 m 3s EO kedalaman mksimum = 25 meter 70 -m-Agustus -+-September I I Gambar 16.-.Kekeruhan (NN) Kekeruhan (NTU) 0 0 10 23 40 60 0 20 \_ 40 al A-.

16 .b. Penurunan suhu terjadi setiap stasiun pada permukaan sampai kedalaman dasar waduk. Deviasi suhu berdasarkan waktu maupun kedalaman masih berada di bawah 3 "C (Lampiran 7).17 30. Berdasarkan baku mutu untuk kepentingan perilcanan (Peraturan Pemerintah Nomor 82.40 m rn 5 . kedalaman. dan waktu pengamatan.16 30.27.68 OC. Suhu Suhu perairan pada setiap stasiun dan kedalaman berkisar antara 26.58 O (Gambar 16 dan C Lampiran 7). Dengan suhu tertinggi di daerah permukaan berkisar antara 29. karena perubahan suhu antar lapisan tidak menyebabkan perbedaan suhu yang drastis antara lapisan. - Suhu (Celcius) Suhu (Celcius) 26 0 10 '2 28 30 32 0 10 '2 26 28 30 32 g 20 E m -C 0 3 g . 2001) suhu pada perairan ini masih dalam kisaran baku mutu. Penurunan suhu yang terjadi belun dapat mengambarkan adanya lapisan thermoklin.40 $50 Y kedalarnan mahimum = 19 meter z0 3 a $50 Y 60 70 60 70 kedalamn mahimum = 13 meter 26 28 Suhu (Celcius) 30 32 26 28 Suhu (Celcius) 3l 32 m stasiun 4 60 70 kedalanwn maksimum = 25 meter --cJuli -+-Agustus ---September Gambar 17.68 O C dan pada dasar waduk berkisar antara 26. Suhu perairan pada setiap stasiun. .

Kandungan Total Suspended Solid (TSS) perairan pada setiap stasiun.29 r n g . Terlihat pada Gambar 18 terjadi peningkatan nilai TSS pada setiap penainbahan kedalaman. Kandungan TSS yang tinggi bisa mengakibatkan pengendapan bahan-bahan suspensi dan terakurnulasi pada sedimen sehingga meningkatkan kandungan sedimen perairan waduk.c.Jo . stasiun 2 berkisar antara 6-241 mgll. Kisaran kandungan TSS pada stasiun 1 adalah sebesar 5 -19 mg/l.do n a 2 50 60 70 kedalamon maksiium = 13 meter TSS (mgA) 0 1Gu 0 m T s s (m@) 300 0 E n m 10 k 2 0 Z" a 5 . Hal ini diduga karena adanya partikel-partikel suspensi yang berasal akibat limpasan dari daratan (run o m dan sisa-sisa pakan yang terbuang dari aktivitas KJA ke dalam perairan sehingga meningkatkan partikelpartikel tersuspensi pada perairan tersebut. Ini juga terlihat dari nilai kekeruhan yang semalan meningkat pada setiap kedalamannya. kedalaman. stasiun 3 berkisar antara 3 -180 mg/l. Total Suspended Solid (TSS) TSS yang diperoleh berkisar antara 3-241 mgA (Gambar 18 dan Lampiran 8).40 2 50 60 kedaloman maksimum = 62 meter 70 kednlaman maksimum = 25 meter -+-Jul~ --r-hustus -*Sep~ember Gambar 18. dan waktu pengamatan. E . Dari . dan stasiun 4 berkisar antara 4. TSS (mgll) 0 TSS (mgfl) 0 0 200 300 1133 rn a 0 g E 03 10 20 stasiun 1 .

Sedangkan nilai TSS terkecil tejadi pada stasiun 1.02 mg/l. 1983 dalam Octaniany. Rata-rata konsentrasi DO pada permukaan adalah 8. dan 0.58 mg/l. nilai TSS tertinggi terjadi pada stasiun 2. nilai kekeruhannya juga lebih tinggi dibandingkan stasiun yang lain. sedangkan konsentrasi DO minimum tejadi pada bulan Juli pada stasiun 2 di kedalaman interface (dekat dasar) dengan konsentrasi sebesar O.517 mg/l. Pola tersebut menggambarkan keadaan perairan yang eutrofik dan banyak inengandung unsur hara serta bahan organik di dalamnya (Goldmand dan Home.98 mg/l (Lampiran 11).ll-9. Dan selanjutnya konsentrasi menurun secara perlahan dengan bertambahnya kedalaman. clan rata-rata pada dasar waduk adalah 0. d. 0. dan letak stasiun 2 yang lebih dekat dengan daratan membuat stasiun 2 mendapatkan limpasan dari daratan (run om lebih banyak dibandingkan stasiun yang lain sehingga TSS pada stasiun 2 lebih tinggi dibandingkan stasiun yang lain. 2005).74 mdl. Konsentrasi oksigen yang semakin menurun pada setiap kedalamannya akan menjadikan keadaan anaerob pada perairan. tetapi dangkalnya kedalaman stasiun 2 ini membuat volume air pada stasiun ini lebih kecil dibandingkan stasiun 3. Agustus. Kisaran konsentrasi oksigen terlarut pada bulan Juli. Penurunan teqadi secara drastis dari permukaan waduk sampai kedalaman 5 meter. 0.17-9. walaupun jumlah unit KJA yang terdapat pada stasiun 2 tidak terlalu padat dibandingkan stasiun 3. khususnya pada dasar perairan.18-10. September berturutturut antara lain berkisar antara. Hal ini diduga karena pada stasiun 2 terdapat aktivitas budidaya KJA. Pola yang demikian dapat digolongkan ke dalam pola sebaran Clinograde. Oksigen Terlarut (Dissolved Oxygen (DO)) Konsentrasi DO maksimum terjadi pada bulan September pada stasiun 1 di kedalaman 0 meter (permukaan) yaitu sebesar 10. . Pada setiap stasiun konsentrasi DO mengalami penurunan.75 mg/l. Rata-rata konsentrasi oksigen pada kedalanlan 5 meter adalah 1. Hal ini tentunya akan berdampak b a g proses-proses dekomposisi bahan organik baik pada air maupun pada sedimen waduk.11 mgtl (Gambar 19 dan Lampiran 9).75 mgll.keempat stasiun yang teramati.

67. e.67. kedalaman.67. Dengan nilai pH tertinggi terdapat pada bulan September di stasiun 3 pada permukaan waduk dengan nilai sebesar 8. dan waktu pengamatan. Kandungan oksigen terlarut (DO) perairan pada setiap stasiun.96-8.Oks~gen Terlarut (mgll) Oksigen Terlarut (m@) 0 5 10 0 0 10 5 10 a stasiun 1 70 Oksigen Tellarut (mgil) l.40 a 329 -D 2 ' 50 70 0 kedalamn = 13 meter Okstgen Tetlarut (mgtl) 5 10 E stasiun 4 60 kedalamnn maksimum = 25 meter 70 -e-~uli ~Agustus +September Gainbar 19.96.82-8. didapat kisaran nilai antara 6.97-7. Terlihat bahwa semakin bertanbahnya kedalaman terjadi penurunan pH pada setiap stasiun. Berdasarkan waktu pengamatan selama penelitian. .68. rata-rata pH tertinggi terdapat pada permukaan waduk dengan kisaran nilai antara 7. dan pH terendah terdapat pada dasar waduk dengan kisaran nilai antara 6. pH Berdasarkan hasil pengukuran pH (Gambar 20 dan Lampiran lo). Sedangkan nilai pH terendah terdapat pada bulan Agustus di stasiun 3 pada kedalaman 30 meter dengan nilai sebesar 6.rm a 5 .

36-28. Nilai BOD menunjukkan peningkatan pada setiap penambahan kedalaman.06 mgll. 8. Pada stasiun 3 kisaran nilai BOD antara 1. 2003).65 mgA. f. dengan nilai terbesar terdapat di stasiun 3 (bulan Sepetember) di kedalaman dekat dasar (interface) dengan nilai sebesar 28. dan waktu pengamatan.5 9.36 mgA (Gambar 21 dan Lampiran 11).08-24. dan pada stasiun 2 kisaran nilai BOD antara 3.5 75 .5 6.06 mg/l. Sedangkan stasiun 1 dan stasiun 4 yang tidak dipengaruhi oleh kegiatan .06 mg/l.28.5 pH stasiun 1 nu stasiun 4 1 70 J kedalnman maksimum = 62 meter -+-Juli -r--Aguslus 70 J -t- kedaloman mnksimum = 25 meter I September Gambar 20. dan nilai terkecil terdapat pada stasiun 2 (bulan September) di kedalaman 10 meter dengan nilai sebesar 1. Nilai pH perairan pada setiap stasiun. kedalaman.pH 6. Biocliemical Oxygen Demand @OD) Nilai BOD yang didapat berkisar antara 1. BOD dapat menggambarkan banyaknya kandungan bahan organik di perairan (Effendi. Bahan organik diduga berasal dari kegiatan budidaya KJA yaitu dari sisa pakan dan feses ikan. ha1 ini dibuktikan dengan kisaran BOD yang cenderung tinggi pada stasiun 2 dan stasiun 3.36 .5 75 8.

--cJuli +Agustus -b--. . kedalaman. . sehingga nilai BOD menja& tinggi. Semakin banyak bahan organik yang terkandung pada perairan. Proses dekomposisi ini memerlukan oksigen (02) dan inelibatkan mikroorganisme (bakteri). September Kandungan Biochemical Oxygen Demand (BOD) perairan pada setiap stasiun.. BOD [mgfl) 0 10 20 30 0 10 20 BOD (mu) 30 10 -.. Nilai BOD yang semakin besar pada setiap penambahan kedalaman menggambarkan proses dekomposisi bahan organik yang semakin besar. Ini diduga karena oksigen digunakan untuk proses dekomposisi bahan-bahan organik menjadi bahan-bahan anorganik (Effendi. BOD juga dapat menggambarkan proses dekomposisi secara biologis (biodegradable) (Effendi..78-8.21mg/l clan 2.5618. AO $ m stasiun 1 kcdnlaman mnksimum = 19 meter 3 u 40 stasiun 2 kedGlaman maksimum = 13 meter ? so ' i GO 70 0 10 20 60 70 BOD (mgll) 30 0 10 20 BOD (mil4 30 0 10 10 Y30 5 .budidaya KJA kisaran nilai BOD masing-masing adalah 4. 2003). 2003). semakin tinggi pula konsurnsi oksigen untuk proses dekomposisi. dan waktu pengamatan..12 mgil.40 m D 3 50 GO 70 . stasiun 3 g 30 E 40 3 50 60 70 stasiun 4 kcdalamnn mnksimum = 25 meter Gambar 21. z m 20 e 2 20 a- ' ' 30 . Hal ini juga terlihat dari kandungan oksigen terlarut (DO) yang semakin menurun pada setiap penambahan kedalaman.20 E G - '--.

68 mg/l.83 mg/l (stasiun 2).64 mgll (stasiun I). Berdasarkan baku mutu (Peraturan Pemerintah Nomor 82. nilai tersebut masih dalam kisaran maksimum yang diperbolehkan yaitu sebesar 50 m a .82 mg/l (stasiun 3). Nilai COD semakin bertambah pada setiap penambahan kedalaman. 8.48 mg/l (Gambar 22 dan Lampiran 12). Chentical Oxygen Demand (COD) Nilai COD berkisar antara 4.26-20. Nilainya semakin bertambah pada setiap kedalaman. dan bahanbahan organik ini berasal dari kegiatan KJA yang terjadi pada kedua stasiun tersebut.19-50.46-53.66 mg/l (Lampiran 11). Sedangkan nilai rata-rata BOD pada kedalaman dasar (interface) sangat melebihi dari nilai baku mutu yang diperbolehkan yaitu sebesar 13. COD inenggambarkan dekomposisi bahan organik secara kimia dengan memanfaatkan oksigen (02) dan menghasilkan CO2 dan Hz0 (APHA.41 mgll. 6. 10. Nilai rata-rata COD selama pengamatan adalah 19. 2001) untuk kepentingan perikanan.64 mg/l (stasiun 4). Kisaran nilai COD untuk setiap stasiun antara lain. Nilai rata-rata BOD pada permukaan sampai dengan kedalainan 10 meter masih dalam kisaran baku mutu yaitu sebesar 4. .2001) untuk kepentingan perikanan. dengan rata-rata nilai di permukaan 17.13-53. dan di kedalaman dekat dasar 29.13-39.Berdasarkan baku mutu (Peraturan Pemerintah Noinor 82. nilai BOD yang diperbolehkan adalah sebesar 6 mgll.83 mg/l. Hal ini menggambarkan bahwa kandungan bahan organik yang terdekomposisi secara kimia banyak terdapat pada stasiun tersebut.20 mgll. dan 4. Terlihat bahwa stasiun 2 dan stasiun 3 yang dipengaruhi oleh kegiatan budidaya KJA memiliki rata-rata COD yang tinggi dibandingkan pada stasiun 1 dan stasiun 4. 1989). g.

debu. clan liat.23-95. kedalaman.32-1. debu antara 4. Terlihat bahwa.23%. dan komposisi terendah terjadi pada bulan . Tekstur Sedimen Dari hasil analisis diperoleh tiga macam tekstur yang terdapat pada sedimen waduk selama penelitian.02%. Parameter Fisika dan Kimia Sedimen a. 2. Dengan komposisi tertinggi pada bulan September di stasiun 2 sebesar 95. Dengan kisaran untuk pasir antara 0.COD (mgn) 0 20 40 E n 40 COD (mg!l) 60 -M B z -30 C P 10 - . Kandungan Chemical Oxygen Demand (COD) perairan pada setiap stasiun. dan liat antara 51. yaitu: pasir. komposisi liat pada setiap stasiun sangat mendominasi tekstur yang lain. dan komposisi terendah pada bulan September pa& stasiun 1 sebesar 51.5%. I c .40 3 50 60 70 'e stasiun 1 kedolamn mlitimum = 19 meter rn stasiun 2 kedal-n mksimum = 13 meter coo (msn) 0 c 10 COD (msn) 0 20 40 I 3 5 E 2 20 $ 30 g 40 0 3 50 60 kedalaman maksimum = 25 meter 70 --cJuli .& & - Agustus -+September Gambar 22. dan waktu pengamatan.6 %.02%.l-48. Untuk tekstur debu komposisi tertinggi terjadi pada bulan September di stasiun 1 sebesar 48.5 % (Gambar 23 dan Lampiran 13).

b. '"1 Bulan Juli '20 1 Bulan Agustus opasir mdabu olist B P B S ~ ~dobu Oliat m Bulan September 19 pasir rn dobu o list Gambar 23. Dan untuk tekstur pasir komposisi tertinggi terjadi pada bulan Agustus di stasiun 4 sebesar 1. Tekstur sedimen Waduk Cirata berdasarkan stasiun dan waktu pengamatan.6 (Gambar 24 dan Lampiran 13).32%.2-6. 1991). pH Nilai pH sedimen adalah berkisar antara 5.1%. .6%. Kisaran nilai pH tersebut termasuk dalam kategori sedimen dengan kemasaman yang sedang (Depdikbud. sedangkan pada bulan September terjadi penurunan nilai pH di setiap stasiun pengamatan. dan komposisi terendah pada bulan Juli di stasiun 4 sebesar 0.September di stasiun 2 sebesar 4. Nilai pH bulan Juli dan bulan Agustus relatif sama atau tidak terjadi perbedaan.

Pada kedalaman interface tentunya &an banyak mengandung kanbondioksida. dan ammonia. Tingginya kandungan karbondioksida akan menurunkan pH.I Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3 Stasiun 4 Stasiun a Juli Agustus September 11 Gambar 24. Nilai pH sedlmen berdasarkan stasiun dan waktu pengamatan. sehingga diduga pada sedimen waduk kandungannya juga tinggi. khususnya pada pengamatan bulan September. Penurunan yang tejadi diduga akibat adanya proses dekomposisi bahanbahan organik. ini terlihat dari kandungan BOD maupun COD khususnya pada kedalaman interface (dekat dasar). Bahan organik terdekomposisi akan teroksidasi dengan penambahan oksigen dan pengurangan hidrogen menjadi karbondioksida. . Pada bulan September kandungan bahan organik relatif lebih tinggi dibandingkan bulan-bulan lainnya. Ion EPinilah yang menurunkan pH pada sedimen. air. Asain karbonat akan membentuk kesetiinbangan mambentuk ion EPd m asam bikarbonat (HCOd. karbondioksida &an bereaksi dengan air membentuk asam karbonat (HzC03). Pada sedimen waduk yang basah.

dibandingkan kandungan nitrat. . sedangkan pada daerah KJA sedang. Kandungan ammonium (~~43.(N0i) nitrat dan nitrogen total pada sedimen cenderung mengalami peningkatan pada daerah outlet waduk. Kandungan nitrit (NO<) dan nitrat (NO3-)pada perairan cenderung mengalami penumnan. Konsentrasi ammonia bebas (NH3) pada permukaan perairan sudah melebihi baku mutu (PP No 82 Tahun 2001). Konsentrasi ammonium lebih tinggi pada sedimen. Daerah KJA padat memiliki kandungan nitrogen total yang paling tinggi dibandingkan daerah yang lain. kecuali pada inlet waduk yang cenderung meningkat di setiap kedalamannya. dan outlet waduk proses nitrifikasi terhainbat. daerah KJA padat. Tekstur liat diduga memiliki kemampuan mengikat ammonium lebih baik dibandingkan nitrat. Konsentrasi NH3 memiliki kecenderungan mengalami penurunan. sedangkan NI&+ memiliki kecenderungan mengalami peningkatan pada setiap penambahan kedalaman.A. Perairan waduk Cirata berdasarkan kandungan ammonia total menurut kesuburannya digolongkan kedalam perairan Eutrofik. Berdasarkan statistik diperoleh. Kesimpulan Kandungan ammonia total pada perairan mengalami peningkatan pada setiap penambahan kedalaman. Tekstur sedimen banyak ditemukan dalam bentuk liat. Kandungan nitrogen total pada perairan cenderung mengalami peningkatan pada setiap penambahan kedalaman. Pada koloin perairan kedalaman juga memberikan hasil yang berbeda nyata terhadap kandungan nitrogen di perairan. Proses nitrifikasi inasih berlangsung pada daerah inlet waduk. stasiun pengamatan memberikan perbedaan kandungan nitrogen yang berbeda nyata. sedangkan konsentrasi nitrit (NOz) dan nitrat (NO$ masih dalam kisaran baku mutu perairan. Sedangkan untuk waktu pengainatan hanya mernberikan perbedaan yang nyata pada kandungan ammonia total.

B. untuk dijadikan pupuk. 2. debit. Jlushing rate) untuk melihat pengaruhnya terhadap pola distribusi nitrogen secara spasial. volume air waduk. seperti pemanfaatan sedimen yang sangat banyak mengandung nitrogen. . Saran 1. Perlu dilakukan kajian lanjutan dengan melihat pengaruh pola hidrologi waduk (arus air. Perlu dikaji lebih lanjut tentang pengendalian lingkungan di Waduk Cirata.

Kimia dan Ekotoksikologi Pencemaran. Kimia Tanalz Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan -Kebudayaan. River Pollution and Ecological Perspective. Oxfort. Gamo. Miller. Polusi Air dan Polusi Udara. John Wiley and Sons.id (2005) Goldman. Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi IPB. Penerjemah. 1987. Asmawi. C. dan G. New York.Horne. http:L%/ww. ip/ek.Dinamika dan Status Kualitas Air Waduk Multi Guna Cirata. D. 520 h. APHA. Jurnal Sains dan Teknologi BPPT . 2003. Heinemann Educational Books. WPCF. Jakarta. Feriningtyas. Perubalzan Spasial dan Temporal Kualitas Air Waduk Cirata. and A.W. 3 18p. University of California. Penerbit Kanisius. L. 1961. 1983. 17&ed. Haslam. Chapman.J. 253 p. Ferdiaz.C. Bogor. Penerbit UI-PRESS. Gramedia. Elsevier Scientific Publishing Company. S.AWWA. 163 p. Boyd. 2002. H. 1991.R. 2005.net. Chichester. FPIK-IPB. 1983. 1992. E.M.D dan Pratt. Methods of Analysisfor Soils Plants and Water. California. Effendi.J. H. C. Brown. Jawa Barat Selama Periode 2000-2004. . Pemelilzaraan Ikan dalam Karamba. S. London. Jakarta. Yanti K. Water Quality Managementfor Pond Fish Culture. Jakarta. 1989.. Teluuh Kualitas Air :Bagi Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan Perairan. Amsterdam. Skripsi. S. 1995. Bogor. UK. [Depdikbud] Depatemen Pendidikan dan Kebudayaan. Program Studi MSP. 1995. Connell. Yogyakarta. Limnology.DAFTAR PUSTAKA [APHA] America Public Health Association . Freshwater Ecology. 1982. Mc Graw Hill Book Company. D. A. StandardMethodfor The Examination of Water and Wastewater. Washington D. P F. New York.

Program Studi MSP. 1991. Reid. L. Swyadiputra. Octaviany. Komite Nasional Lahan Basah R. Steel.H. Kartamihardja. Bogor. Bogor. 2000. Bogor. FPIK-IPB. dan Ratnawati. J.Indonesia Programme. dun Jatiluhur. FPIK-IPB. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol. M. Second Edition.Hehanusa P. dan E.I. Prihadi. FPM-IPB.S. Bogor. 190 h.N. 2001. Skripsi. 2001. PT. Prosiding Lokakarya Selamatkan Air Citarum.G. 2001. Torrie. Skripsi. Environmental Soil Science. K. A. Sekolah Pasca Sarjana. Pengelolaan Budidaya Ikan Secara Lestari di Waduk (Studi Kasus di Perairan Waduk Cirata. Tanah dun Lingkungan. Marcel Dekker. K. Dampak Budidaya Ikan Dalam Keramba Jaring Apung Terhadap Peningkatan Unsur Ndan P di Perairan Waduk Saguling. IHPUNESCO. Wuduk Cirata.. 2005. H.D dan J. Jakarta. Puslitbang Perikanan. Sknpsi. Tan. Notohadiprawiro. Bapedal. Kamus Limnologi (Perairan Darat). Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebuyaan. Wetlands International .H. Pertumbuhan Ikan Mas (Cyprinus carpio) pada Budidaya Karamba Jaring Apung diperairan Eutrof. USA. S. 1993.Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dun Pengendalian Pencemaran Air. Jakarta. Revised and Expanded. Krimono. Studi Kandungan Fosfor di Perairan dun Sedimen yang Dipengaruhi Kegiatan Karamba Jaring Apung di Waduk Cirata. Ciputri.2.E dan Haryani G. G. Jawa Barat. Kabupaten Cianjur. 2001. T. Indriani. 2005. New York. Nastiti. No. 1998. 2007. Cirata. Diterjemahkan oleh Bambang Sumantri (IPB). 2005. IPB. Prinsip dun Prosedur Statistika. Sekretaris Negara Republik Indonesia Jakarta. T. I. S. Inc. Reinhold Publishing Corpoartoin. Jawa Barut). Fluktuasi Kandungan Oksigen Terlarut selama 24 Jam pada Lokasi Karamba Jaring Apung. Pemerintah Republik Indonesia. Ecology of Inland Waters and Estuaries. 7. Mardiana. G~amedia Pustaka Utama. Disertasi. S.N. di Waduk Cirata. Program Studi MSP. . Jakarta. R. Program Studi MSP.

Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol. Bambang Sumantri. Kartamihardja. No. Supriyadi. 1995. Puslitbang Perikanan. P. G. Second edition. Pengantar Statistika. R. 41 hal. Nitrogen Excretion.T. Gramedia. Dalam Penguraian Senyawa Belerang dun Analisis Laju Sedimentasi. dan H. 1983. Academic Press.E. Institut Pertanian Bogor. Wright. 1975. Kemampuan Bakteri Desulphovibrio sp.Umar. Edisi ke-3. United States of America. Limnology. dan Anderson P.H. S. E.M.pentejemah : Ir. R. 7. Wetzel. Proyek Peningkatan Mutu Perguruan Tinggi. C. Wardoyo.A.S.. Jakarta. 2001. 3 1-38 Walpole. Jakarta. .2. untuk Perbaikan Kualitas Air pada Budidaya Keramba Jaring Apung. New York. CBS College Publishing.Pengelolaan Kualitas Air. 2001.

.

74+1..55+0.29+3.o~cI) = 0.76 4 . dan kedalaman selama pengamatan Rata-rata kandungan ammonia total pada permukaan: Ammonia total (0.08+0.59+1. waktu..49 = o.72+0.46 4 Rata-rata kandungan ammonia total pada kedalaman dekat dasar (interface): Ammonia total (interface)= 0. Kandungan Ammonia Total pada perairan berdasarkan lokasi.Lampiran 1.

stasiun 3 (62 meter).Lampiran 1 (lanjutan). Keterangan : Kedalaman interface . dan stasiun 4 (25 meter). stasiun 2 (12 meter).stasiun 1 (19 meter). .

.Lampiran 1 (lanjutan).

Lampiran 2. Kandungan dan tabel sidik ragam Nitrit ( O) pada perairan N; berdasarkan lokasi, waktu, dan kedalaman selama pengamatan

1

Stasiun

1

Kedalarnan

Juli

Waktu Agustus

/

September

Rata-rata

4

0 rn 10 rn 20 rn interface

0,0014 0,0000 0,0006 0,0000

0,0004 0,0001 0,0003 0,0001

0,0009 0,0011 0,0010 0,0013

0,0009 0,0004 0,0006 0,0005

Keterangan : Kedalaman interface ;stasiun 1 (19 meter), stasiun 2 (12 meter), stasiun 3 (62 meter), dan stasiun 4 (25 meter).

Lampiran 3.

Kandungan dan tabel sidik ragam Nitrat (NO?) pada perairan berdasarkan lokasi, waktu, dan kedalaman selama pengamatan

Keterangan : Kedalaman interface ;stasiun 1 (19 meter), stasiun 2 (12 meter), stasiun 3 (62 meter), dan stasiun 4 (25 meter).

Lampiran 4. Kandungan dan tebel sidik ragam Nitrogen Total pada perairan berdasarkan lokasi, waktu, dan kedalaman selama pengamatan.

Keterangan : Kedalaman interface ;stasiun 1 (19 meter), stasiun 2 (12 meter), stasiun 3 (62 meter), dan stasiun 4 (25 meter).

dan waktu selama pengarnatan Tabel Sidik Ragam . Ammonia. Kandungan dan tabel sidik ragam Nitrogen Total. danNitrat pada sedimen berdasarkan lokasi.Lampiran 5.

. Kekeruhan perairan berdasarkan lokasi. waktu. stasiun 3 (62 meter).Lampiran 6. stasiun 2 (12 meter). dan kedalaman selama pengamatan Keterangan : Kedalaman interface .stasiun 1 (19 meter). dan stasiun 4 (25 meter).

Lampiran 7. stasiun 3 (62 meter). Suhu perairan berdasarkan lokasi. stasiun 2 (12 meter). waktu. dan stasiun 4 (25 meter). dan kedalaman selama pengamatan Keterangan : Kedalaman interface .stasiun 1 (19 meter). .

stasiun 1 (19 meter). waktu. dan kedalaman selama pengamatan Keterangan : Kedalaman interface .Lampiran 8. clan stasiun 4 (25 meter). stasiun 2 (12 meter). . stasiun 3 (62 meter). Kandungan Total Suspended Solid (TSS) perairan berdasarkan lokasi.

20 0.19 Keterangan : Kedalaman interface .17 0.19 0. stasiun 2 (12 meter).20 0.Lampiran 9.stasiun 1 (19 meter). Kandungan oksigen terlamt (DO) perairan berdasarkan lokasi. Rata-rata kandungann oksigen terlamt pada kedalaman 5 meter : .22 0.21 0.21 0. waktu. dan stasiun 4 (25 meter). stasiun 3 (62 meter). dan kedalaman selama pengamatan 20 rn interfase 1 0.

dan stasiun 4 (25 meter). Kandungan pH perairan berdasarkan lokasi.Lampiran 10. stasiun 2 (12 meter). dan kedalaman selama pengamatan ~edala&m interface .stasiun 1 (19 meter). . stasiun 3 (62 meter). waktu.

dan kedalaman selama pengamatan Keterangan : Kedalaman interface . clan stasiun 4 (25 meter).48+3.60+4. stasiun 3 (62 meter).10meter) = 5. Rata-rata kandungan BOD pada permukaan sampai kedalaman 10 meter : BoD(o. stasiun 2 (12 meter).56+9.23+5. stasiun 1 (19 meter).Lampiran 11.36+3.05+2.24+3. waktu.41~ = 4.68 8 Rata-rata kandungan BOD pada kedalaman dekat dasar (interface): . Kandungan Biochemical Oxygen Demand (BOD) perairan berdasarkan lokasi.

Lampiran 12.53+35.03 =29. waktu. stasiun 3 (62 meter). Kandungan Chemical Oxygen Demand (COD) perairan berdasarkan lokasi. dan kedalaman selama pengamatan Keterangan : Kedalaman interface . Rata-rata kandungan COD pada permukaan: COD(O meter) = 17.stasiun 1 (19 meter).20+15. dan stasiun 4 (25 meter).14 = 17.20+19.26 + 17.46 + 27.48 4 . stasiun 2 (12 meter).93+35.20 4 Rata-rata kandungan COD pada kedalaman dekat dasar (interface): COD (interface) = 19.

Kandungan pH dan persentase kandungan tekstur sedimen berdasarkan lokasi.Lampiran 13. dan waktu selama pengsunatan H sedimen Stasiun Juli Waktu Agustus 1 September / Rata-rata Tekstur sedimen .

Prosedur pengukuran parameter kualitas air (APHA. Saring ke dalam erlenmeyer menggunakan kertas saring Whatman No. aduk 3.2 ml(4 tetes) NED.2 ml(4 tetes) Sulfnnilamide. Ukur dengan Spectrophotometer pa& panjang gelombang ( 640 nm). Pipet 10 ml air sample yang telah disaring.Lampiran 14. 1998) Prosedur pengukuran Ammonia Total 1. Tambahkan 0. Pipet 25 ml sample air yang sudah disaring ke dalan Bleaker glass LOO in1 2. Prosedur pengukuran Ammonia Bebas % ammonia tak-terioisasi (Ammonia bebas) = a 100 1+ antilog(pKa .Nihoposside 4. Tambahkan 1 ml Phenol Solution. Tambahkan 1 ml Sod. aduk rata 5. inasukkan ke dalam gelas piala 3.42 atau yang kertas lain yang setara 2. aduk dan biarkan 2-4 menit (jangan lebih) 4. Ambil aquadest 10 ml masukkan ke &lam gelas piala. lakukan seperti langkah 3-4 6. Sirnpan / biarkan selama 1jam tutup dengan Alumunium Foil 6.5 ml Oxidizing Solution. Ukur dengan Spectrophotoineter dengan panjang gelombang 543 nm . Tambahkan 2.p H ) Keterangan : pKa : konstanta logaritma negatif yang bergantung pada suhu Prosedur pengukuran Nitrit 1. aduk biarkan 10 menit agar terbentuk wama merah muda dengan sempurna 5. Tambhakan 0.

Contoh dikocok masukkan ke alat penyaring.5-200 mg 11. Tambahkan 0. Ambil kertas saring dan simpan di tempat khusus kertas 4. Keringkan dalam pengering pada suhu 103-105 oC selama satu jam 14. Saring ke dalam erlenmeyer dengan menggunakan kertas saring Whatman No. Bilas kertas saring dengan air suling (20 ml) 2. Ulang langkah 4-6 (kehilangan berat < 4%) missal = B milligram 8. aduk 4. Pipet 5 ml air sample yang telah disaring. Simpan kertas saring dalam desikator 9. Tiinbang di neraca analitik 7. * Prosedur pengukuran Nitrit 1. masukkan ke dalam gelas piala 3.Lampiran 14 (lanjutan). aduk dan diamkan hingga dingin 5. Prosedur pengukuran Total Suspended Solid (TSS) 1. Saring contoh lalu residu tersuspensi bilas dengan air suling 10 ml 12. lakukan seperti langkah 3-4 6.5 ml(10 tetes) Brucine. pipet 5 ml aquaest masukkan ke dalam gelas piala. Keringkan kertas dalam oven (T= 103-105 oC) selama 1jam 5. Ulangi pembilasan 3.42 yang kertas lain yang setara 2. Ukur menggunakan Spectrophotometer dengan panjang gelombang 410 nm. Siapkan kertas yang telah diketahui beratnya pada alat penyaring 10. Tambahkan 5 ml Asam Sulfat pekat (gunakan ruang asam). sesuaikan benyaknya sehingga berat residu antara 2. Dinginkan dalam desikator selama 10 menit kemudian timbang. Untuk pengukuran blanko. Ambil kertas saring taruh di tempat khusus 13. Dinginkan dalam desikator 10 menit 6. inisal a miligram .

Masukkan H2S04 (15 ml) 4. 5. Catat ml titran (B ml) 8. Tambahkan 5 ml K2Cr207 0. catat ml titran (A ml) Perhitungan : COD (ing 0211) = /A-B) x 8 x 1000 ml sampel Keterangan : A = ml FAS yang terpakai saat titrasi blanko B = ml FAS yang terpakai saat titrasi sampel M = Molaritas FAS (0. Pipet 10 ml sample masukkan ke dalam erlenmeyer 2. lalu aduk 3.Lampiran 14 (lanjutan) Perhitungan : TSS (mgll) = (A-B) x 1000 I ml contoh Prosedur pengukuran Chemical Oxygen Demand (COD) (metode Refluks terbuka) 0 1. Biarkan selama 30 menit. sebelumnya tambahkan indikator feroin 2-3 tetes sampai terbentuk warna hijau biru dan titik akhir titrasi ditandai dengan perubahan warna menjadi merah bata yang stabil dalam 1 menit. Tutup erlenmeyer dengan cawan petri untuk mencegah masuknya material asing.025 N) 8000 = miliekivalen bobot Oksigen x 1000 mlll . Setelah selesai buka tutupnya lalu dinginkan 6 . Encerkan larutan sampel dengan 7.5 ml aquades 7. Lakukan blanko (10 aquades + prosedur 2-7 di atas).025 N (Ferros Amonium Sulfat).025 N. Titrasi kelebihan K2Cr207 menggunakan FAS 0.

kemudian tutup. Ambil contoh 500 ml (tanpa pengawet) dalam botol plastik 2. Prosedur pengukuran Dissolve Oxygen (DO) I. Tambahkan 1 ml(20 tetes) larutan MnS04 4. Titrasi dengan Na-Thiosulfat sampai benvama kuning muda. Tambahkan 1 ml(20 tetes) larutan NaOH + KI. Setelah inengendap tambahkan 1 ml(20 tetes) H2S04 pekat atau sampai endapan larut 6 . Bila air keruh sekali. Tambahkan sulfamic acid 0.5 ml(10 tetes) ke dalam botol BOD 125 ml 3. Ambil air sainpel ke dalam botol BOD sampai penuh clan tutup. Teruskan sampai tidak bewama. hindari adanya gelembung udara 2. Contoh air diaerasi atau kocok-kocok sampai jenuh 4.Lampiran 14 (lanjutan). aduk (bolak-balik) diamkan sampai inengendap 5. air contoh diencerkan 5-10 kali (dengan aquadest) 3. tambahkan amium 2-3 tetes. Masukkan kedalam botol BOD kecil 125 ml atau 250-300 ml . Catat ml titran yang terpakai Perhitungan : Keterangan : N = Normalitas Tiosulfat Prosedur pengukuran Biochemical Oxygen Demand (BOD) 1. Pipet 50 ml air contoh dari botol BOD ke dalam erlenmeyer 7.

kerjakan atau reaksikan dengan bahan kimia seperti DO winkler (lihat prosedur DO). Caatat ml titran DO 5 10. Ditutup dan bungkus rapat dengan plastik hitam (menghindari cahaya atau fotosintesis) 8. 5. Sisa air contoh dari item 4. catat ml titran sebagai DO 1 6. dimasukkan ke dalam botol BOD bekas pengenceran no-5 7.Lampiran 14 (lanjutan). DO 5 hams h a n g dari DO 1 Perhitungan : . Simpan di es box dengan suhu 200C sebagai DO 5 9. Setelah 5 hari dianalisis seperti DO (seperti item 5).

Catat hasil titrasi HC1 Perhitungan : .Prosedur pengukuran parameter Sedimen (Chapman dan Pratt. Pipet 5 ml sampel 2. Tambahkan indikator 5 tetes 8. Hasil Destilasi dititrasi dengan HCl yang sudah diketahtri normalitasnya 9. Hasil Destilasi dititrasi dengan HC1 yang sudah diketahui normalitasnya 9. Sampel yang telah dicampurkan tersebut di destilasi dan hasil destilasi ditampung dengan Erlenmeyer 250 in1 yang sudah di isi H3B03 1% 7. Tambahkan aquadest 100 ml 5. Lalu tambahkan MgO sebanyak 1 gram 6. Tambahkan 1 ml etanol 4. 1961). Sampel yang telah dicampurkan tersebut di destilasi dan hasil destilasi ditampung dengan Erlenmeyer 250 ml yang sudah di isi H3B03 1% 7. Tambahkan Defordaaloel gram 3.Lampiran 15. Catat hasil titrasi HCl Perhitungan : * Prosedur pengukuran Ammonium 1. Tambahkan Defordaaloel grain 3. Lalu tambahkan NaOH 5% sebanyak 5ml 6. Tambahkan aquadest 100 ml 5. Pipet 5 ml sampel 2. Tambahkan indikator 5 tetes 8. Tambahkan 1 ml etanol 4. Prosedur pengukuran Nitrat 1.

5 gram sampel 2.Lampiran 15. dan digoyang agar tercampur sempuma 4. Destruksi sampel tersebut 5. Ukur dengan pH meter . kocok 2. Pipet 0. diamkan sebentar 4. Catat hasil titrasi HC1 Perhitungan : 100 N-total (96) = ((sampel(m1)) . inasukkan ke dalam botol. Tambahkan NaOH 20% 20 ml 7. Tambahkan H3B03 1% 8. Tambahkan 10 ml aquadest untuk penetapan pH H20 atau tambahkan 10 ml larutan KC1 1 N untuk penetapan pH KC1 3. Tambahkan 50 ml aquadest lalu masukkan ke tabung destilasi dan tambahkan aquadest 100 ml 6 . Tambahkan Selenium Mixer. Ben indikator 0. Tambahkan 5 tetes parapin cair. lalu tambahkan H2S04 sebanyak 5 ml 3. Timbang 10 gram contoh tanah kering udara yang 1010s saringan 2 milimeter.(blanko(ml)))xN(HCl)x14xBKM BKM = Bobot Kering Mutlak Prosedur pengukuran pH 1. Kocok selama 30 menit dengan mesin pengocok. Destilasikan sampel tersebut 10. Prosedur pengukuran Nitrogen Tot& 1.25 ml(5 tetes) 9. (lanjutan). Hasil dari proses destilasi di titrasi dengan HCl yang sudah diketahui normalitasnya 11.

Tambahkan 50 ml H202 30% (untuk menghacurkan bahan organik) simpan di atas bak berisi air kocok lalu tarnbahkan 6 tetes asam asetat 99% biarkan satu malam 3. Lakukan pemipetan dari tabung sedimentasi tersebut menurut waktu kedalaman pipet 10. tambahkan air sampai tanda tera 8. * Prosedur pengukuran tekstur tanah 1. masukkan ke dalam gelas piala satu liter 2. selanjutnya dimasukkan ke dalam tanur pada suhu 105 oC akhimya dimasukkan dalam eksikator lalu ditimbang. Kedalam tabung sedimentasi yang berisi debu dan liat tambahkan 2 ml Nu-pirofosfat (yang sudah diketahui bobotnya) biarkan selama 1 jam. Panaskan di atas penangas air sambil ditambahkan H202 sedikit demi sedikit sambil diaduk-aduk sampai semua bahan organik habis (tidak ada buih lagi) tambahkan 0. (lanjutan). Setiap pemipetan dituangkan kedalam cawan alumunium untuk diuapkan aimya. . Sisakan fraksi pasir dengan menggunakan ayakan 50 p. Tutup gelas dengan karet. Timbang 10 gram tanah kering udara 1010s saringan 2 rmn. clan kocok lalu didirikan dalam bak air kemudian buka sumbatnya catat waktu selesai pengocokan 9.Lampiran 15. Pindahkan fraksi pasir dari ayakan ke dalam cawan alumunium (yang sudah diketahui bobotnya) kemudian keringkan dalam oven pada suhu 105 oC semalam lalu tentukan bobot pasir 7.5 HC16 N untuk tiap 1% CaC03 dan 100 ml HCl 0. Fraksi debu dan liat ditampung dalam tabung sedimentari 1 liter 6. Lakukan pencucian C1 sampai semua C1 hilang (uji dengan perak nitrat tidak tejadi awan putih berarti C1 habis) 5.2 N (untuk melarutkan CaC03) tambahkan air kurang lebih separuh gelas pala kemudian didihkan kira-kira 20 menit 4.

ampiran 16. Gambar lokasi pengamatan (stasiun) selama penelitian Stasiun 1 (inlet waduk) Stasiun 2 (KJA sedang) ..

Lampiran 16. (lanjutan) Stasiun 3 (KJA padat) Stasiun 4 (outlet waduk) .

Lampiran 17. Garnbar penyusutan air waduk Cirata. .

pada tanggal 22 Maret 1985 dari pasangan bapak : Moch. Selama mengikuti perkuliahan. Berperan aktif sebagai Organizing Committee (OC) masa perkenalan FPM mahasiswa baru tahun 2006 dan masa perkenalan Departemen MSP mahasiswa baru tahun 2006 serta sebagai peserta pada beberapa seminar yang diselenggarakan di lingkungan Institut Pertanian Bogor. Ichsan dan ibu : Muti'ah. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. selain itu aktif juga sebagai Pengurus Himpunan Mahasiswa Manajemen Sumberdaya Perairan (HIMASPER) pada bidang Hublukom di tahun yang sama. Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sajana pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Penulis memilih Program Studi Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan Perairan. Penulls merupakan anak ketiga dari lima bersaudara. Penulis juga aktif sebagai asisten mata kuliah Pengantar Matematika pada tahun ajaran 200412005. Jawa Barat". Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan. Tahun 2003 penulis lulus dari SMU Negeri 47 Jakarta. dan pada tahun yang sama lulus seleksi masuk Institut Pertanian Bogor melalui Jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI). dan asisten mata kuliah Ikhtiologi tahun 200512006. penulis menyusun skripsi dengan judul "Kajian Kandungan Nitrogen pada Kolom Perairan dan Sedimen Akibat Aktivitas Keramba Jaring Apung di Waduk Cirata. . IPB. pernah aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa FPM IPB sebagai anggota di bidang Hubungan Luar dan Komunikasi tahun 2004-2005.AYAT HJDUP Penulis dilahirkan di Jakarta.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->