KAJLAN KANDUNGAN NITROGEN PADA KOLOM PERAIRAN DAN SEDIMEN AKIBAT AKTIVITAS KERAMBA JARING APUNG DI WADUK CIRATA

, JAWA BARAT

RAHMATULLAB AL FATIH

PROGRAM STUD1 M A N A m m N SUMBERDAUA PE FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

ABSTRAK
RAHMATULLAH AL FATIH (C24103051). Kajian Kandungan Nitrogen pada Kolom Perairan dan Sedimen Akibat Aktivitas Karamba Jaring Apung di Waduk Cirata, Jawa Barat. Di bawah bimbingan ENAN M. ADIWaAGA dan TRI HERU PRZBADI.

Penelitian bertujuan untuk mengkaji kandungan nitrogen di perairan dan di dasar sedimen, yang diakibatkan oleh aktivitas Karamba Jaring Apung (KJA). Penelitian dilakukan di Waduk Cirata dari bulan Juli sampai September tahun 2006. Terdapat empat stasiun pengamatan yaitu; inlet waduk (stasiun I), daerah KJA sedang (stasiun 2), daerah KJA padat (stasiun 3), clan outlet waduk (stasiun 4). Terdapat dua jenis sampel yang diambil yaitu sampel air dan sampel sedimen. Sampel air diambil secara vertikal di setiap stasiun pada interval 10 meter (0 m, 10 m, 20 m, 30 m) dan kedalaman dekat dasar (interface). Sampel sedimen diambil satu kali pada setiap stasiun. Nitrogen yang diteliti pada penelitian ini nitrit (NO;), nitrat (NOi), nitrogen antara lain; ammonia total (NH3 dan total (untuk nitrogen di perairan), ammonium (NH~'), nitrat (NOi), nitrogen total (untuk nitrogen di sedimen). Analisis statistik untuk nitrogen di perairan menggunakan Rancangan Petak Terbagi (Split Plot Design), untuk nitrogen di sedimen menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK), dan uji lanjut Beda Nyata Terkecil (BNT). Kandungan ammonia total pada perairan mengalami peningkatan pada setiap penambahan kedalaman, Konsentrasi ammonia bebas (NH3) inemiliki kecenderungan mengalami penurunan, sedangkan ammonium ( ~ ~ 4 3 memiliki kecenderungan mengalami peningkatan pada setiap penambahan kedalaman. Kandungan nimt dan nitrat (NO?) pada perairan cenderung mengalami penurunan, kecuali pada stasiun 1 yang cenderung meningkat di setiap kedalamannya. Kandungan ammonium (NH~'), nitrat (NO33 dan nitrogen total pada sedimen cenderung mengalami peningkatan pada stasiun 4 (outlet waduk). Tekstur sedimen banyak ditemukan dalam bentuk liat. Tekstur liat diduga memiliki kemampuan inengikat ammonium lebih baik dibandingkan nitrat. Perairan wad& Cirata berdasarkan kandungan ammonia total menurut kesuburannya digolongkan kedalam perairan Eutrofik.

~a,

KAJIAN KANDUNGAN NITROGEN PADA KOLOM PERAIRAN DAN SEDLNIEN AIUBAT AKTMTAS I<ERAME%A JARING APUNG DI WADUK CIRATA, JAWA BARAT

Oleh : RAHMATULLAH AL. FATIH C24103051

SKRZPSI Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Perikanan Pada Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan

P R O G M STUD1 MANAJERZEN SUMBERDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN IliMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

Semua sumber data dan informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan &lam Daftar Pustaka di bagian akhir Skripsi ini Bogor.PERNYATAAN MENGENAI SKRZPSI DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan bahwa Skripsi yang berjudul KAJIAN KANDUNGAN NITROGEN PADA KOLOM PERAIRAN DAN SEDLMEN AKIBAT AKTMTAS KERAMBA JARING APUNG DI WADUK CIRATA. adalah benar merupakan hasil karya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. JAWA BARAT. Januari 2008 .

Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Tanggal Lulus : 17 September 2007 . 130 892 613 Mengetahui. Ir. Pembimbing I Pembimbing I1 Dr. Enan M. Jawa Barat Nama NIM : Rahmatullah A1 Fatih : C24103051 Disetujui.Judul : Kajian Kandungan Nitrogen pada Kolom Perairan dan Sedimen Akibat Aktivitas Keramba Jaring Apung di Waduk Cirata. Adiwilaga NIF'.

2. Tri Heru Prihadi. M. dan kasih sayang yang tak terhingga kepada penulis. dan Ibu Dr. karena penulis sadar bahwa tulisan ini masih banyak kekurangan dan kesalahan demi kesempumaan dalam melakukan penelitian ini. 5. 4. M. Mas Ali. Aji) atas doa. semangat. Bogor. Institut Pertanian Bogor. Bapak Dr. nasehat. M. arahan. Ayu.Sc dari pihak Departemen. Bapak Dr. 3. Pada kesempatan ini. 6 . 42 atas dukungannya selama ini. Niken T.Sc selaku dosen pembiinbing akademik atas bimbingan yang diberikan kepada penulis baik saran maupun nasehat yang bermanfaat kepada penulis selama mengikuti perkuliahan.Ir. Jawa Barat". Januari 2008 Penulis . Ibu. clan saran dalam penulisan skripsi ini. serta b a n t w ~ y a .Ir.Si selaku dosen penguji yang telah banyak memberikan masukan untuk kesempumaan skripsi ini. serta masukan. Adiwilaga selaku dosen pembunbing I yang telah banyak bersabar meinbimbing penulis. penulis sampaikan ucapan terima kasih kepada : 1. Skripsi ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan dan Ilmu Kelautan.Sc selaku dosen pembimbing I1 atas kese~npatannya yang diberikan untuk mengikuti penelitian ini. dukungan. Penulis mengharapkan kritik serta saran yang membangun bagi kesempumaan tulisan ini. arahan. memberikan banyak masukan. 41. Teman-teman MSP angkatan 40 yang telah memberikan semangat dan motivasi. Bapak Ir. M. M. Zairion.KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah meinberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian ini yang berjudul "Kajian Kandungan Nitrogen pada Kolom Perairan dan Sedimen Akibat Aktivitas Keramba Jaring Apung di Waduk Cirata.Ir. Keluarga tercinta (Bapak. Enan M. Pratiwi. dan saran berharga kepada penulis. Bapak Dr. Semoga penelitian ini dapat bermanfaat dan berguna bagi pembangunan perikanan di Indonesia.dan teman-teman MSP angkatan 39. M. Mas Iim.Ir. Mukhlis Kamal.

........ Latar Belakang ...................................... ............ Sedimentasi Waduk Cirata...... TINJAUAN PUSTAKA ....... I PENDAHULUAN B . Suhu ................................................ Analis~s Data ................. ............. Nitrat (NO3) .............................................. A.............. ...... b.............. ..................... ................................................................ ................................................ ....... I.......................................................................................... ....... F ............. Biochemical Oxygen Demand (BOD) ...................... ....................................... ............ J ............. Kekeruhan .. Tujuan dan Manfaat ............ Analisis Data Sedimen ...................................................................................................... K.. Penentuan Lokasi Penelitian ............................. .............................................. C... B..................................... ...................................................... .............. 2...................................................................................... Total Suspended Solid (TSS) ... ............................................... Waktu clan Lokasi Penelitian ................................ 3 ................................................................. ~ m m o n i ~ o t a(NH3dan N + a l & ) ............ ...................................... 1..... 11 ............... . I1..................... E ..... C............. ........................... G......................... Oksigen Terlarut (Dissolved Oxygen (DO)) .. L......................................... ..... ....................................................................................DAFTAR IS1 Halaman KATA PENGANTAR DAFTAR IS1 DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN .. D............. ... .. Nltrlt (NOi) 3...... Pengambilan Sainpel ..... ........................ pH ........................................ Nitrogen ................. ............ .................... Perumusan Masalah ....................... i ................................................. H....................... 2 ....... ............................................................................. Sedimen ... ........................................... a................. ....... Chemical Oxygen Demand (COD) . .... .............. B......................... Alat dan Bahan .... 4 ...................................... . ................................... Waduk Cirata ...................... Baku Mutu Kualitas Air ............................................. Metode Kerja ............. .... iv v vii 1 ...................... ...................................... C..................... Metode Analisis Kualitas Air dan Sedimen .............................................. ........... ............................................................... ........................ A............. A........ Analisis Data Kualitas Air ................................ 1............... .....

.............................. Suhu .................. .......................................... Nitrogen Total .. c...................HASIL DAN PEMBAHASAN ...... Parameter Fisika Perairan dan Kimia Sedimen ............ Ammonia total (NH3dan ~ ~................................... Nltrlt ( N o d ....... .... .......... .. .............. C........ 3................... .. Nitrat (NO3-) .............................. Saran .............................. Total Suspended Solid (TSS) ............ iii ... B................................................................................................. d ....... Kandungan Nitrogen di Sedimen ........................ Parameter Fisika Perairan dan Kimia Perairan ..... 4 ........ ............. 1...... Ammonium ( ~ ~.............. ....................................................... Kandungan Nitrogen di Perairan ............ e........................... ..... Nitrat (NOi) ............ ........................................... . ......1%'....... Nitrogen Total ...... Kesimpulan .. ....... ............................................. Tekstur Sedirnen . A ............. ............................................. 1.............................. Oksigen Terlarut (Dissolved Oxygen (DO)) ............... DAFTAR PUSTAKA .................... 43 2................ Biochemical Oxygen Demand (BOD) ....... b...................................... Kekeruhan ... ..................................................... a... ........................... pH . 2 ............. 2. a..................................................................................................... f g.......... 4 3 ...................... B. ................... A ......... Chemical Oxygen Demand (COD). ............ ................................ 1........................ ...................... ........... Kondisi Perairan dan Sedimen Waduk Cirata ........................................... 3 ...........................................................................................................................

.................... 11.. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Nitrit perairan (NOi) (a=0............1) .... 3.. .............. Kesesuaian perairan untuk kepentingan perikanan berdasarkan padatan tersuspensi (TSS) ............................. Kriteria Mutu Air menurut Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 ........ Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Nitrat sedimen (a=0.................................................... 7.............................................. .............. ......................... ...1)... ......l) .......... 18.................................... . 17..................1) ........ Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Nitrogen Total sedimen (a=0.....1) ........................... Tabel Sidik Ragam Rancangan Petak-Terbagi ................... 16...... Kriteria kulitas air berdasarkan nilai BOD ..................... Parameter......................... metode..................................... dan lokasi analisis sampel kulitas air............ Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor waktu terhadap kandungan ...................DAFTAR TABEL unan 1..... 2...... Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Ammonia Total perairan (a=0................................. ... ............ Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Ammonium sedimen (a=0.. 8.............. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor kedalarnan terhadap kandungan Nitrogen Total perairan (a=0.................................................................................................................................................... Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor kedalaman terhadap kandungan Nitrat perairan (NO<) (a=O................................... Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor kedalaman terhadap kandungan Ammonia Total perairan (a=0......... Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor kedalaman terhadap kandungan Nitrit perairan (NO<) (a=0. 4..... Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Nitrat perairan ( N o d (a=0............................ Ammonia Total (a=O.... 6.... 13... 12......................... ...... 9.......l).. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Nitrogen Total perairan (a=O....................1)........... 15...... ..l) ...... 10......................................... Tabel Sidik Ragam Rancangan Acak Kelompok................................................1) ....... ............... 13 d m sampel sedimen....1).................. 14........1) .................... 5.... .............................................................1) ................

......... .................... .................. dan waktu pengamatan...................... 9............... ........... . Kandungan nitrit ( O stasiun dan waktu pengamatan.................................................... Kandungan ammonia bebas (NH3)berdasarkan kedalainan pada setiap stasiun dan waktu pengamatan........ 17.......................... Kandungan nitrat (NO.. ) berdasarkan tingkat kesuburan peralran .. Konsentrasi Nitrogen Total sedimen berdasarkan stasiun dan waktu pengamatan.DAFTAR GAMBAR Gambar 1............................................... kedalaman..... Kandungan nitrogen total perairan berdasarkan kedalaman pada setiap stasiun dan waktu pengamatan. 3........ ........................................................................................... Kandungan oksigen terlarut (DO) perairan pada setiap stasiun...... .... Sebaran vertikal ammonia berdasarkan kesuburan perairan.......................) stasiun dan waktu pengamatan............................................... kedalaman..................................... 4....... ......... 6................................. ........................... ....... dan waktu pengamatan... Sebaran vertikal nitrat ( O N..... Kandungan atmnonia total (NH3dan N& perairan berdasarkan kedalaman pada setiap stasiun dan waktu pengamatan.................... .......................... ..................... J3 7...... 8....................... 16.. ................. perairan berdasarkan kedalaman pada setiap 11.................................................. Konsentrasi Ammonium sedimen berdasarkan stasiun dan waktu pengamatan................................ .... dan waktu pengamatan.... kedalaman............... kedalaman.. 18.................. 32 33 34 39 43 ~3 N) ......... 15...... ............................... Kandungan ammonium perairan berdasarkan kedalaman pada setiap stasiun dan waktu pengamatan............................. .......... .................... 14.. 12.. ...... ......... Tingkat Kemasaman pH Tanah .................... ......... ..... Kandungan Total Suspended Solid ( T S S ) perairan pada setiap stasiun... .. Skema perurnusan masalah penelitian ... 19....... Suhu perairan pada setiap stasiun. Konsentrasi Nitrat (NO33sedimen berdasarkan stasiun dan waktu pengamatan ........ Peta lokasi penelltian .... Sebaran secara vertikal nitrogen berdasarkan tingkat kesuburan pera~ran .................... ........... ........................ ...... Kekeruhan perairan pada setiap stasiun............ perairan berdasarkan kedalaman pada setiap 10................. (H3 N4 50 52 54 56 57 58 60 ....... 5.. dan waktu pengamatan...... 47 13........... ................................................ ... . ...... Halaman 3 6 8 11 18 20 2.......... ............................

...... kedalaman.................... dan waktu pengamatan.............. Kandungan Chemical Oxygen Demand (COD) perairan pada setiap stasiun..... 65 66 ........ Nilai pH perairan pada setiap stasiun. dan Halaman waktu pengamatan................ Kandungan Biochemical Oxygen Demand (BOD) perairan pada setiap stasiun.............................. Nilai pH sedimen berdasarkan stasiun dan waktu pengamatan ....... dan waktu pengamatan ................... kedalaman............. kedalaman....... Tekstur sedimen Waduk Cirata berdasarkan stasiun dan waktu pengamatan ........ 24............................. 61 21..................................................... 23....Gambar 20 .... 62 64 22...

...... Kekeruhan perairan berdasarkan lokasi.. Kandungan Total Suspended Solid (TSS) perairan berdasarkan lokasi... 1..... Kandungan Ammonia Total pada perairan berdasarkan lokasi.............. 5........................................ waktu.............. dan kedalaman selama pengamatan ........ waktu...... 79 80 81 82 83 84 85 86 88 93 96 98 ...... .... Prosedur pengukuran parameter kualitas air . 6......... Kandungan Ammonium Bebas (NH3) dan Ammonium pada perairan berdasarkan lokasi....... dan kedalaman selama pengamatan ...... waktu............. Kandungan pH dan persentase kandungan tekstur sedimen berdasarkan lokasi...... dan kedalaman selama pengamatan .......... Prosedur pengukuran parameter Sedimen .. dan kedalaman selama pengamatan ................................. 16.... Kandungan dan tabel sidik ragam Nitrogen Total.. ................................ . waktu.................................... waktu......... Kandungan pH perairan berdasarkan lokasi.... .................. 3............ dan waktu selama pengamatan......... Gambar lokasi pengamatan (stasiun) selama penelitian ................ . waktu............................... dan kedalaman selama pengainatan............................. Kandungan Chelnical Oxygen Demand (COD) perairan berdasarkan .. dan kedalaman selama pengamatan ..... waktu.................. Kandungan dan tabel sidik ragam Nitrit (NOi) pada perairan berdasarkan lokasi......... .. 7......... ... 15................................. 8.. ....... 2........... ........ dan kedalaman selama pengamat 12..... dan Nitrat pada sedimen berdasarkan lokasi................... 76 77 78 4.............. Ammonia. dan kedalaman selama pengamatan 13. dan kedalaman selama pengamatan. waktu....... 9............. waktu.. waktu......... . 10.. Kandungan clan tabel sidik ragam Nitrat (NO<) pada perairan berdasarkan lokasi....... Kandungan dan tebel sidik ragam Nitrogen Total pada perairan berdasarkan lokasi........... waktu........... dan waktu selama pengamatan .. dan kedalaman selama pengamatan .......... 14....... Gambar penyusutan air waduk Cirata ......... Suhu perairan berdasarkan lokasi.. lokasi............. dan kedalaman selama pengamatan .. ....................... waktu... ............... Tabel Sidik Ragam kandungan ammonia total ............Lampiran Halaman 73 1............ 15........... Kandungan oksigen terlarut (DO) perairan berdasarkan lokasi.. 11 Kandungan Biochemical Oxygen Demand (BOD) perairan berdasarkan lokasi....... (~~43 74 75 1.... vii .......... ......................... ...... dan kedalaman selama pengamatan ............

Jumlah yang semakin tidak terkendali dari KJA ini menyebabkan beberapa masalah lingkungan yang secara tidak langsung juga akan berpengaruh pada kegiatan KJA. Pakan tambahan (pelet) yang diberikan tidak semuanya efektif tennakan oleh ikan. Pada konsentrasi yang berlebihan ammonia akan mematikan bagi ikan dan bagi organisme perairan lainnya. Selain sisa pakan.A. Bandung.899 orang (Prihadi. perikanan. Selana beberapa tahun belakangan ini perkembangan Waduk Cirata semakin meningkat khususnya pada sektor perikanan budidaya Karamba Jaring Apung (KJA).286 KJA dengan jumlah peiniliknya sebanyak 3. Perkembangan budidaya KJA yang selnalan meningkat jumlahnya diduga sudah melebihi kapasitas waduk sehingga dapat menurunkan daya dukung waduk. Kegiatan budidaya ikan yang dilakukan di Waduk Cirata merupakan kegiatan yang intensif sehingga inenggunakan pakan tambahan (pelet) (Nastiti et aJ2001). Pakan komersial mengandung lebih dari 20% protein di dalamnya (Prihadi. Pakan tambahan biasanya mengandung protein yang tinggi untuk meningkatkan pertumbuhan ikan. Latar Belakang Waduk Cirata merupakan waduk yang berada pada aliran Sungai Citarum.000 KJA. Waduk ini dibangun pada tahun 1988. Propinsi Jawa Barat. Pembangunan waduk pada awalnya diperuntukkan bagi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) disamping itu waduk ini juga memiliki potensi sebagai irigasi pertanian. dan Purwakarta. 2005). 2005). hasil metabolisme ikan-ikan budidaya berupa feses yang banyak mengandung ammonia ( N H 3 ) akan meningkat jumlahnya. Jumlah KJA yang terhitung sampai tahun 2003 sudah mencapai 38. perhubungan. . Jumlah ideal KJA yang diperbolehkan adalah 12. dengan luas 6. dan daerah wisata. Waduk tersebut terletak di antara waduk Saguling dan waduk Jatiluhur.200 Ha. Sisa pakan yang tidak termakan akan meningkatkan kandungan nitrogen di perairan akibat dekomposisi protein yang terkandung didalam pelet. namun jumlah yang sesungguhnya terdapat pada waduk tersebut melebihi jumlah ideal yang diperbolehkan. terletak di tiga kabupaten yaitu Cianjur.

Ammonia (NH3) dalam jumlah yang berlebihan bersifat toksik pada ikan sehingga keberadaannya di perairan akan menghambat pertumbuhan ikan bahkan bisa menyebabkan kematian pada ikan. Hal ini tentunya dapat m e n d a n produksi perikanan budidaya KJA yang terdapat di waduk Cirata. Pralaraan beban limbah bahan limbah organik yang berasal dari kegiatan bumdaya ikan KJA Waduk Cirata sebesar 6. 2003). Prihadi (2005) memperlurakan jumlah sisa pakan yang terdapat di dasar waduk telah melebihi 279. Selain itu keberadaan KJA akan menambah kandungan bahan organik dari sisa-sisa pakan dan feses dari ikan. dalam Indriani. Pakan tambahan yang digunakan pada budidaya KJA biasanya mengandung protein yang tinggi untuk meningkatkan perturnbuhan ikan.Kegiatan budidaya KJA secara tidak langsung akan meningkatkan konsentrasi nitrogen di perairan. serta akan menurunkan kualitas air yang akhimya menurunkan produktivitas perairan waduk tersebut. Nitrogen ini selain dihasilkan oleh sisa pakan juga bisa berasal dari sisa metabolisme urine maupun tinja dari biota akuatik yang berupa ammonia (NH3) (Effendi. Peningkatan ini tentunya akan berdampak bagi ekosistem perairan dan bagi pertumbuhan organisme perairan didalamnya. Sisa-sisa pakan yang tidak termakan dan tinja (feses) ikan akan menyebabkan terakumulasinya bahan-bahan organik ini pada perairan dan mengendap di dasar waduk. Kondisi perairan waduk yang relatif tenang menyebabkan terakumulasinya kandungan nitrogen di perairan dan dapat menyebabkan sedimentasi pada dasar waduk. Hal ini berakibat meningkatkan kandungan nitrogen pada sedimen waduk dan juga akan mempengaruhi kandungan nitrogen di perairan. Perurnusan Masalah Meningkatnyajumlah KJA pada waduk Cirata sudah melebihi dari batasan yang diperbolehkan.121 ton dan ketebalannya lebih dari 2 meter. Skema p e m u s a n masalah penelitian disajikan pada Gambar 1. 2005). Protein mengandung 16% nitrogen di dalamnya (Depdikbud. Limbah yang dibasilkan dari kegiatan KJA sebagian besar mengandung nitrogen. 1991). B.365 tonltahun (Sukimin. Hal ini akan berdampak bagi penurunan daya dukung dari waduk. .

lengundilp Dekomposisi Petliempsnoriliitieil i I I I I I I I I 1 Dekomposisi Nitrogen Sedimen I 1 Gambar 1. \ IKJA ! Bahan Organik l. Tujuan dan Manfaat Penelitian ini bertujuan untuk melihat kandungan nitrogen di perairan dan di dasar sedimen. Jawa Barat. dan diharapkan informasi yang diperoleh dapat dijadikan bahan masukan bagi pengelolaan di Waduk Cirata. yang diakibatkan oleh aktivitas Karamba Jaring Apung (KJA). Skema perumusan masalah penelitian C.I Kualitas Air . .

Goldman dan Home (1983) menyatakan bahwa nitrogen dapat berasal dari limbah pertanian. Karamba Jaring Apung (KJA) pertama kali dilakukan di Waduk Cirata yaitu pada tahun 1986. nitrat (NO3-). Nitrogen anorganik terdiri atas amonia . 2005). asam amino. Jumlah itu akan menyumbang limbah pakan akibat kegiatan perikanan budidaya sebanyak 279.Sumber nitrogen alami berasal dari air hujan (presipitasi). yaitu tinggi pada bulan Januari sampai Mei dan mengalami penurunan sampai dengan bulan November. tinggi muka air pada bulan Juli sampai dengan September 2006 mengalami penurunan dengan tinggi muka air 214. 2 11.121 ton. Elevasi permukaan air di Waduk Cirata pada umumnya memiliki pola perubahan yang relatif sama dari tahun ke tahun. dan terleak pada ketinggian 223 meter di atas permukaan laut (Feriningtyas.dan . pemukiman. memiliki luas sekitar 6. selanjutnya mengalami peningkatan kembali pada bulan Desember (Jubaedah. dengan kedalaman 106 meter.200 ha. dan 209. fiksasi nitrogen dari air dan sedimen.286 KJA pada tahun 2003. ammonia ( H 3 2 N 4 nitrit (Nod. KJA awalnya digunakan untuk kepentingan penelitian di Waduk Jatiluhur namun sejak dikenalnya teknologi ini di Waduk Cirata budidaya ini berkembang pesat tercatat sejak tahun 1999 terdapat 8. Menurut Mardiana (2007). 2005). dan limbah industri. Nitrogen di perairan dapat berupa nitrogen anorganik dan organik. 1983). 2005).04 meter (Agustus). dan liinpasan dari daratan dan air tanah (Wetzel. clan berkembang pesat menjadi 38. Waduk Cirata Waduk Cirata merupakan suatu bentuk perairan yang dibuat oleh manusia di daerah aliran sungai Citaruni pada tahun 1988.II. Nitrogen Nitrogen yang terdapat di perairan tawar ditemukan dalam berbagai bentuk diantaranya molekul N terlarut.66 meter (Juli). dari perhitungan ini maka ketinggian limbah pakan sekitar 2 meter (Prihadi.45 meter (September). dalam Indriani. TINJAUAN PUSTAKA A. artinya jika luas permukaan 6.200 ha sedangkan luas permukaan kegtatan KJA sekitar 158-198 ha. B.786 KJA.

Effendi (2003) menjelaskan Bentuk-bentuk nitrogen tersebut mengalami transfonnasi sebagai bagan dari siklus nitrogen yaitu: a. Proses ini banyak dilakukan oleh mikroba dan jamur. Nitrogen ditemukan melimpah dalam bentuk gas di atmosfer. nitrogen terlarut (disolved) dan tidak terlarut (particulate) dan keduanya tidak dapat langsung digunakan oleh organisme yang lebih tinggi. kegiatan perikanan. namun tidak dapat digunakan secara langsung oleh organisme karena memerlukan energ yang besar untuk memecah ikatan rangkap tiga gas nitrogen. melainkan hams ditransformasikan terlebih dahulu oleh bakteri dan jamur (Goldman dan Home. Nitrifikasi. Asimilasi nitrogen anorganik (ammonia dan nitrat) oleh tumbuhan dan mikroorganisme untuk membentuk nitrogen organik. misalnya asam amino dan protein. amonium (~~43.(Mi3). Bakteri nitrifikasi bersifat mesofilik. asam amino. c. Nitrogen organik berupa protein. dalam bentuk gas. yaitu oksidasi amonia lnenjadi nitrit dan nitrat. dan molekul nitrogen (N2) nitrit (NOT). dan limbah domestik (Effendi. Proses oksidasi ini dilakukan oleh bakteri aerob. d. 2003). Amonifikasi nitrogen organik untuk menghasilkan amonia selama proses dekomposisi bahan organik. Proses ini terutama dilakukan oleh bakteri autotrof dan tumbuhan. 1983). menyukai suhu 30°C. Di perairan nitrogen ditemukan dalam dua bentuk yaitu. Sumber nitrogen organik di perairan berasal dari proses pembusukan makhluk hidup yang telah mati. b. nitrat @03-). karena protein dan polipeptida terdapat pada semua makhluk hidup sedangkan sumber antropogenik (akibat aktivitas manusia) adalah limbah industri dan limpasan dari daerah pertanian. dan urea. . Nitrifikasi berjalan secara optimum pada pH 8 dan pH < 7 berkurang secara nyata. Fiksasi gas nitrogen menjadi amonia dan nitrogen organik oleh mikroorganisme. Fiksasi gas nitrogen secara langsung dapat dilakukan oleh beberapa jenis algae Cyanophyta (blue-green algae) dan bakteri. Autolisis (pecahnya) sel dan ekskresi amonia oleh zooplankton dan ikan juga berperan sebagai pemasok amonia.

dan cahaya matahari yang t i n g ~ menjadi maksimum pada kedalaman tertentu dan menurun drastis secara . 02 I I Konsentrasi (mgll) Oligotropik Epitimoion (acrob) (Nitrit sengat keeil) Gambar 2. Sebaran vertikal nitrogen berdasarkan tingkat kesuburan perairan menurut Goldman dan Home (1983) disajikan pada Gambar 2. Proses ini juga melibatkan bakteri dan jamur. NI&. dan molekul nitrogen m). sedangkan molekul nitrogen adalah produk utama dari proses denitrifikai pa& perairan dengan kondisi anaerob. Fiksasi nitrogen berdasarkan kedalaman mirip dengan proses fotosintesis. Sebaran secara vertikal nitrogen berdasarkan tingkat kesuburan perairan (Goldrnan clan Home.OI Konsentrasi (mgn) I . dan pengendapan (sedimentasi). Sumber utama nitrogen antropogenik di perairan berasal dari wilayah pertanian dan perikanan yang menggunakan pupuM pakan buatan secara intensif maupun kegiatan domestik (Effendi. Dinitrogen oksida adalah produk utama dari denitrifikasi pada perairan dengan kadar oksigen sangat rendah. yaitu reduksi nitrat menjadi nitrit.Proses reduksi nitrat berjalan optimum pada kondisi anoksik (tak ada oksigen). Proses ini akan meningkat pada danau yang telah mengalami eutrofikasi (Goldman dan Home. 1983). Pada intensistas proses fiksasi akan terhambat pada permukaan. 2003). dinitrogen oksida (NzO). Transformasi nitrogen yang tidak melibatkan faktor biologi adalah volatilisasi. Denitrifikasi. 1983) Nitrogen hams dirubah terlebih dahulu menjadi NH2. dan No3 baru bisa dimanfaatkan oleh turnbuhan dan hewan.e. penyerapan. r~ 0 O.

1983): Ammonia yang tidak terionisasi (NH3) sangat bersifat toksik bagi ikan dibandingkan amonia yang terionisasi (3 - yang relatif non-toksik. Pada malam hari ketika kandungan oksigen rendah atau ketika kebutuhan oksigen untuk dekomposisi melebihi dari produksi fotosintesis. NO*-N. 1983). menyebabkan kerentanan organisme terhadap daya racun ammonia meningkat (Goldman dan Home. Nitrogen organik adalah bentuk nitrogen yang terikat pada senyawa organik terutama nitrogen bewalensi tiga. sedangkan pada keadaan perairan basa (alkaline) jumlahnya akan meningkat (Goldman dan Home. biasanya berupa partikdat yang tidak larut dalam air. 1983). 2003). 2003). Gas ammonia (NH3) dapat dengan mudah terlarut dalam air dan inembentuk ammonium hydrosida @ELOH). Nitrogen organik mencakup protein. Fiksasi nitrogen berkorelasi positif dengan konsentrasi bahan organik terlarut yang terdapat pada perairan (Wetzel. Ammonia Total (NH3 dan NI&+) ~~43. Effendi (2003) menyatakan pada pH 7 atau kurang sebagian besar ammonia mengalami ionisasi dan p1-I yang lebih besar dari 7 ammonia tidak terionisasi.ekponensial dengan bertambahnya kedalarnan. 1. Kadar ammonia yang tinggi mengakibatkan peningkatan komsumsi oksigen. 2003). NH3-N yang bersifat terlarut dan nitrogen organik yang terlarut maupun berupa partikulat yang tidak larut dalam air (Mackereth. Proporsi konsentrasi keduanya dipengaruhi oleh pH dan temperatur perairan (Wetzel. 1983). Nitrogen total adalah penjumlahan dari nitrogen anorganik berupa N03-N. urea. 1983). dan senyawa lainnya (Effendi. polipeptida. Pada keadaan perairan yang asam persentase dari m 0 H menurun. 1989 dalam Effendi. asam amino. mengakibatkan kerusakan pada . sedangkan ammonium m+) dapat Ammonia yang terukur di perairan berupa ammonia total (NHj dan teroinisasi (Effendi. ammonia bebas (NH3) tidak dapat terionisasi. dan akan terpecah menjadi ammonium (NN4') dan ion hidroksida (OH-) seperti persamaan kesetimbangan kimia di bawah ini (Goldman dan Home.

yang berasal dari dekomposisi bahan organik (tumbuhan dan biota akuatik yang telah mati ) oleh mikroba dan jamur. 2001). ekskresi dari ikan (tinja). 1973 dalam Asmawi. 1983). Melalui proses amonifikasi atau pemecahan nitrogen organik (protein dan urea/ pupuk) dan nitrogen organik yang terdapat di dalam tanah dan air.5 mgliter (Sylvester. 2003) Distribusi ammonia di perairan tawar sangat bervariasi menwut musim. 1983). 1983).02 m g l (Peraturan Pemerintah. dan menurunkan kapasitas transport oksigen oleh darah (Boyd. Metabolisme manghasilkan dua produk utama yaitu karbodioksida (COz) dan ammonia (NH& dengan ammonia selatar 10 sampai 30 bagian dari total CO* yang dihasilkan (Wright et. 1975). Oligotropik Eutropik Gambar 3. dan masukan buangan berupa bahan-bahan organik. . Boyd (1982) menyatakan bahwa ammonia yang terdapat di perairan dapat berasal dari pemupukan. Gambar 3 adalah sebaran vertikal ammonia bedasarkan tingkat kesuburan perairan (Wetzel. dan dari pembusukan mikroorganisme. Ammonia dihasilkan sebagai produk akhir dari dekomposisi bahan-bahan organik oleh bakteri heterotrop (Wetzel. Kadar amonia yang baik untuk kehidupan ikan dan organisme akuatik lainnya adalah kurang dari 1 mg/iiter (Pescod. limbah industri. 1982). dan doinestik (Effendi. Pada perairan alami nilai amonia yang dapat ditolerir organisme sebesar 1.. Untuk keperluan perikanan dan peternakan batas maksimum ammonia bebas yang dperbolehkan adalah 0. Sebaran vertikal ammonia berdasarkan kesuburan perairan (Wetzel.al. Noinor 82. 1983).insang. Sumber lain adalah reduksi gas nitrogen yang berasal dari proses difusi dari atmosfer. sangat tergantung terhadap tingkat kesuburan perairan.2001). 1973 dalam Wardoyo.

air bawah tanah. WHO merekomendasikan kadar nitrit sebaiknya tidak melebihi 1 mg/l (Moore. Senyawa ini dihasilkan dari proses oksidasi sempurna senyawa nitrogen di perairan melalui proses nitrifikasi. Untuk keperluan air minum.2. 3. dan Nitrobactel: Keduanya adalah bakteri kemotrofik. Krenkel dan Novotny (1980) dalam Effendi (2003) menyatakan bahwa proses nitrifikasi sangat dipengaruhi oleh beberapa parameter sebagai berikut : a. 2003). Baku mutu untuk kegiatan perikanan batas maksimal nitrit yang diperbolehkan adalah 0. 1983). reaksi akan bedalan lambat. Nitrifikasi merupakan proses penting dalam siklus nitrogen dan berlangsung dalam keadaan aerob. Kadar nitrit yang melebihi dari 0. b. Boyd (1982) menyatakan ketika nitrit terabsobsi oleh ikan. 1978 dalam Effendi 2003). dan antara nitrat dan gas nitrogen (denitrifikasi). Pada pH < 6 reaksi akan terhenti. Nilai pH yang optimum bagi proses nitrifikasi adalah 8-9. Pada kadar oksigen terlarut < 2 mgll. yaitu hakteri yang dapat mendapatkan energi dari proses kimiawi (Effendi. akan di ikat oleh hemoglobin darah sehingga inenggangu penyerapan oksigen oleh hemoglobin. Nomor 82. dan air hujan (presipitasi) (Wetzel. Nitrit (NO. Oksidasi amonia menjadi nitrat dilakukan oleh bakteri Nitrosomonas.05 mg/l dapat bersifat toksik bagi organisme perairan yang sangat sensitif. 1991 dalam Effenh. 2003).06 mg/l (Peraturan Pemerintah. Nitrat (NOS) Nitrat adalah bentuk utama dari nitrogen anorganik di perairan yang masuk melalui permukaan daerah aliran sungai. Bakteri yang melakukan nitrifikasi cendemg menempel pada sedimen dan padatan lain.2001). Di perairan kadar nitrit jarang melebihi 1 mg/l (Sawyer dan McCarty. Ditemukan di perairan dalam jumlah yang sedikit karena bersifat tidak stabil dengan bergantung pada keberadaan oksigen (Effendi. . c.) Nitrit merupakan bentuk peralihan antara amonia dan nitrat (nitrifikasi). 2003). Nitrat nitrogen sangat mudah larut dalam air dan bersifat stabil.

e. Gambar 4 adalah sebaran vertikal nitrat berdasarkan tingkat kesuburan perairan (Wetzel.2 ing/liter dapat mengakibatkan terjadinya eutrofikasi (pengayaan) perairan. 2003). Kadar nitrat pada perairan alami hampir tidak pernah lebih dari 0. 2003).d. Pada kondisi suhu kurang atau lebih dari kisaran suhu tersebut. . Keadaan ini dikenal sebagai methemoglobonemia atau blue baby disease (Mason. Sedangkan untuk keperluan perikanan sebaiknya tidak melebihi 20 mg/l (Peraturan Pemerintah Nomor 82. Kadar nitrat lebih dari 5 ingiter menggambarkan terjadinya pencemaran antropogenik yang berasal dari aktivitas manusia dan tinja hewan. apabila pada perairan banyak terdapat bahan organik maka pertumbuhan bakteri heterotrof akan melebihi pertwnbuhan bakteri nitrifikasi.25 "C. yang selanjutnya menstiinulir pertumbuhan algae dan tumbuhan air secara pesat (blooming). jika kandungan oksigen terlarut berada di bawah kadar tersebut penyerapan (difusi) oksigen tidak dapat dilakukan lagi oleh bakteri (Wetzel. 1983). Kadar nitrat melebihi 0.2001). Nitrifikasi dapat berjalan pada keadaan aerobik.l mg/liter. 1991 dalain Effendi.3 ing/l. Tetapi konsumsi air yang mengandung kadar nitrat yang tinggi akan menurunkan kapasitas darah dalam mengikat oksigen. Kecepatan pertumbuhan bakteri nitrifikasi lebih lambat dari pada bakteri heterotrof. Suhu optimum proses nitrifikasi adalah 20 "C . terutama untuk bayi berumur kurang dari lima bulan. Nitrat tidak bersifat toksik terhadap organisme akuatik. Kadar nitrat untuk keperluan air minum sebaiknya tidak melebihi 10 mg/liter (Davis dan Cornwell. namun proses ini akan terus berlangsung sampai kandungan okigen terlarut (DO) sekitar 0. 1983). Nitrifikasi dapat terganggu dengan adanya kandungan bahan organik terlarut. kecepatan nitrifikasi berkurang. 1993 dalam Effendi.

Proses biokimiawi perairan seperti nitrifikasi sangat dipengaruhi oleh nilai pH. C. Pada suasana alkalis (pH tinggi) lebih banyak dite~nukanamonia yang tidak terionisasi (unionized) dan bersifat toksik. 1983).5 . pH Tebbut (1992) dalam Effendi (2003) mengatakan bahwa pH adalah satuan yang menggambarkan konsentrasi ion hidrogen. 1982). Pengaruh dari pH bagi konsentrasi amonia tidak terionisasi sangat tinggi dibandingkan pengaruh dari suhu (Boyd. Toksisitas dari senyawa kimia juga dipengaruhi oleh pH.5 proses nitrifikasi akan terhambat (Novonty dan Olem. Proporsi dari total amonia nitrogen yang tidak terionisasi (NH3) akan meningkat dengan ineningkatnya suhu dan pH. 1994 dalam Effendi. Dan selanjutnya Effendi (2003) menjelaskan bakteri pada umumnya tumbuh dengan baik pada pH new1 dan alkalis.Eutropik Gambar 4. 2003). Pada pH 4. Oleh karena itu proses dekomposisi bahan organik berlangsung lebih cepat pada kondisi pH netral dan alkalis. Proses nitrifikasi akan berakhir jika pH bersifat asam. .5. Sebaran vertikal nitrat (NO. 1983). Senyawa amonium yang dapat terionisasi benyak ditemukan pada perairan dengan pH rendah.) berdasarkan tingkat kesuburan perairan (Wetzel. Nilai pH normal suatu perairan danau adalah 6-9 (Goldman dan Home. Amonium bersifat tidak toksik (innocuous). Amonia lebih mudah terserap kedalam tubuh organisme akuatik dibandingkan amonium.

Sebaran vertikal dari oksigen terlarut secara umum berbanding terbalik dengan kandungan C02 di air (Reid. 1983 dalam Octaviany. bahan anorganik yang tidak stabil. misalnya amonia mengalami . 1989). Ammonia sangat bersifat toksik jika kandungan oksigen terlarut di perairan rendah (Merkens dan Downing. 1957 dalam Boyd. Kelarutan oksigen akan semakin berkurang dengan bertambahnya suhu (Effendi. dan limbah (efluent) yang masuk ke badan air. 1989). serta difusi dari udara (APHA. dan pergerakan (turbulance) massa air.D. Biochemical Oxygen Demand (BOD) Biochemical Oxygen Demand (BOD) adalah banyaknya oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorganisme dalam proses dekomposisi bahan organik (APHA. tergantung pada pencampuran (mixing). E. Pada tahap kedua. bahkan telah habis sebelum mencapai dasar (Goldman dan Home. 1982). Effendi (2003) menyatakan bahwa kadar oksigen terlarut juga berfluktuasi secara harian (diurnal) dan musiman. aktivitas fotosintesis. bahan organik diuraikan menjadi bahan anorganik. 2005). Tahap pertama. Dekomposisi bahan organik pada dasarnya terjadi melalui dua tahap. Dekomposisi bahan organik dan oksidasi bahan anorganik dapat mengurangi kadar oksigen terlarut hingga mencapai no1 (anaerob). Selanjutnya Effendi (2003) menjelaskan penghilangan oksigen pada bagian dasar perairan lebih banyak disebabkan proses dekomposisi bahan organik yang membutuhkan oksigen terlarut. Peningkatan suhu sebesar 1 "C akan meningkatkan konsumsi oksigen sekitar 10% (Brown. konsentrasi oksigen semakin menurun dengan bertarnbahnya kedalaman. respirasi. Tipe ini terjadi pada danaul waduk yang produktif (eutrofik) yang kaya unsur hara dan bahan organik. 2003). 1991) Distribusi vertikal oksigen di Waduk Cirata digolongkan tipe Clinograde. Secara vertikal distribusi oksigen akan menurun di perairan seiring dengan bertambahnya kedalaman. Oksigen Terlarut (Dissolved Oxygen (DO)) Dissolved oxygen (DO) atau oksigen terlarut dalam perairan merupakan konsentrasi gas oksigen yang terlarut di dalam air yang berasal dari proses fotosintesa oleh fitoplankton atau tumbuhan air lainnya di zone eufotik. 1987).

BOD hanya menggambarkan bahan organik yang dapat didekomposisi secara biologis (biodegradable). kanji. baik yang dapat didegradasi secara biologis (biodegradable) maupun yang sulit didegradasi secara biologis (non-biodegradable) menjadi COz dan Hz0 (APHA. Cltenrical Oxygen Demand (COD) Chemical Oxygen Demand (COD) menggambarkan jumlah oksigen total yang diperlukan untuk mengoksidasi bahan organik secara kimiawi. Perairan yang memiliki nilai COD tinggi tidak diinginkan bagi kepentingan perikanan dan pertanian. 1978 dalam Feriningtyas. Bahan organik ini dapat berupa lemak.oksidasi menjadi nitrit dan nitrat. ester. dan sebagainya. Tabel 1. protein. (1978) dalam Feriningtyas (2005) mengelompokkan tingkat pencemaran bahan organik berdasarkan nilai BOD 13 3 4. Lee et al. dan pada limbah industri dapat mencapai 60. sedangkan pada perairan yang tercemar biasanya dapat lebih dari 200 mglliter. aldehda. Secara tidak langsung. BOD mengambarkan kadar bahan organik yang berada di perairan (Effendi.. 1989). Kriteria kulitas air berdasarkan nilai BOD (Lee et al..000 mg/liter O]NESCOiWHO/UNEP. glokusa. . 2005) Nilai BOD (mgniter) Kriteria kualitas air perairan. Nilai COD pada perarian yang tidak tercemar biasanya kurang dari 20 inglliter. Keberadaan bahan organik yang tinggi dapat berasal dari alam ataupun dari aktivitas rumah tangga. Nilai BOD yang besar tidak baik bagi kehidupan organisme (Tabel 1). 1992 dalam Effendi.9 5-15 I Tidak tercemarl tercemar sangat ringan Tercemar ringan Tercemar sedang Tercemar berat - > 15 F. 2003). pertanian dan industri. 2003).

1989). dirnana semakin tinggi suhu maka semakin rendah oksigen yang terlarut (Fardiaz. 2003) . Proses dekomposisi biasanya lebih menyukai suhu yang hangat. 2001). Peningkatan suhu juga menyebabkan penurunan kelarutan gas dalam air (Haslam. Effendi (2003) menyatakan. Peningkatan suhu juga menyebabkan terjadinya peningkatan dekomposisi bahan organik oleh mikroba. dan selanjutnya mengakibatkan peningkatan konsumsi oksigen. Effendi (2003) menyatakan bahwa peningkatan suhu menyebabkan peningkatan metabolisme dan respirasi organisme air. dan metalimnion dengan thermoklin diantara kedua lapisan tersebut (Goldman dan Home. Kekeruhan Kekeruhan inenggambarkan sifat optik air yang ditentukan berdasarkan banyaknya cahaya yag diserap dan dipancarkan oleh bahan-bahan yang terdapat d~ dalam air. Peningkatan suhu mengakibatkan peningkatan viskositas. 1992). reaksi kimia. Thermoklin adalah lapisan air yang berada diantara lapisan permukaan yang lebih hangat (epilimnion) dan lapisan dasar yang lebih dingin (hipoli~nnnnion) (Hehanusa dan Haryani. Kekeruhan pada perairan tergenang (danadwaduk) lebih banyak disebabkan oleh bahan tersuspensi yang berupa koloid dan partikel-partikel halus (Effendi. (Effendi. Suhu Suhu dapat menentukan kandungan oksigen dalam perairan. epilimnion adalah lapisan bagian atas yang lebih hangat. Suhu dapat inenyebabkan stratifikasi pada danadwaduk. Pada kisaran ini peningkatan 10 "C suhu meningkatkan proses dekomposisi dan konsumsi oksigen dua kali lipat. Kekeruhan disebabkan oleh adanya bahan organik dan anorganik yang tersuspensi dan terlarut (misalnya lumpur dan pasir halus). maupun bahan anorganik dan organik yang berupa plankton dan mikroorganisme lain (APHA. 1983). 2003) H. pada lapisan thermoklin terjadi penurunan suhu secara tajam. 1995). dan volatilisasi. hypolimnion adalah lapisan bagian bawah yang lebih dingin. Kecepatan dekomposisi meningkat pada kisaran suhu 5-35 OC. Lapisannya di bedakan antara lain.G. evaporasi.

Kelas dua. TSS terdiri dari lumpur dan pasir serta jasadjasad renik. air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air bakti air minum. air yang peruntukannya dapat digunakan untuk pembudidayaan ikan air tawar. yang me~npersyaratkan c. Kelas satu. dan atau peruntukan lain yang imempersyaratkan mutu air yang sana dengan kegunaan tersebut. air untuk imengairi . tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.air untuk mengairi pertanaman. air yang peruntukannya dapat digunakan untuk prasaranalsarana rekreasi air. petemakan.I. Kelas tiga. Kesesuaian perairan untuk kepentingan perikanan berdasarkan padatan tersuspensi ditunjukkan dalam Tabel 2 Tabel 2. Kesesuaian perairan untuk kepentingan perikanan berdasarkan padatan tersuspensi (TSS) (Effendi. Baku Mutu Kualitas Air Peraturan Pemerintah Nomor 82 tahun 2001. yang terutama disebabkan oleh kikisan tanah atau erosi tanah yang terbawa ke badan air. 2003). Total Suspended Solid (TSS) Padatan tersuspensi total (Total Suspended Solid atau TSS) adalah bahanbahan tersuspensi (diameter > lpm).400 > 400 J. sesuai dengan bunyi dari pasal 8 ayat 1. yang berisikan tentang klasifikasi dan kriteria mutu air. pembudidayaan ikan air tawar. b. mutu air dikelompokkan menjadi einpat Masifikasi sebagai berikut : a. 2003) Pengaruh terhadap kepeutiugan perikanan Nilai TSS (mgiter) < 25 Tidak berpengaruh Sedikit berpengaruh Kurang baik bagi kegiatan perikanan Tidak baik baik bagi kegiatan perikanan 25 . dan atau peruntukkan lain 111utuair yang sama dengan kegunaan tersebut. petemakan .80 81 . Nilai TSS yang tinggi di suatu perairan dapat menurunkan intensitas cahaya matahari sehingga dapat menurunkan aktivitas fotosintesis (Effendi.

d. Kelas empat. dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan air yang sama dengan kegunaan tersebut.pertanaman dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.pertanaman. air yang peruntukannya dapat digunakan untuk mengairi. Tabel 3. Knteria baku mutu air berdasarkan setiap klasifikasi air ditunjukkan di dalam Tabel 3. Kriteria Mutu Air menurut Peraturan Peinerintah Nomor 82 Tahun 2001 Kelas I Parameter Satuan n Fisika rn N Keterangan I I bes untuk ikan .

1998) i: Penjerapan adalah pelekatan suatu zat padat pada permukaan koloid tanah. (dalam suasana aerob). sehingga terbentuk ruang antar lapisan yang mengandung air (Depdikbud. Liat dengan perrnukaan dalam (internal) yang luas mampu menjerap air di dalam ruang antar lapisannya. molekul organik dapat . mineral. dimana merupakan sumber nitrogen sedimen (Goldman dan Home. Gas nitrogen bercampur dengan gelembung-gelembung methan. M$. dan jumlah jerapan ini semakin besar jika keasaman tanah meningkat. dan keluar dari sedimen menuju kolom perairan (Goldman dan Home. atau bahan organik yang hendapkan dari air yang mengalir.1983). 1991). Kation organik sebagian besar terjerap pada permukaan negatif liat. ~ a + . Koliod tanah dapat menjerap anion. Sedimen Sedimen adalah partikel batuan. Di dalam penjarapan. M? NJ&*. Koloid tanah adalah bagian tanah yang terdiri atas butir-butir yang berukuran sangat halus. Bakteri denitrifikasi ditemukan pada sedimen yang anoksik ketika nitrat terdapat pada sedimen tersebut. Penjerapan air mengakibatkan air tertahan dalam pori-pori tanah pada daya tarik permukaan koloid oleh adanya tekanan permukaan kapiler serta daya tarik menarik ion-ion. Sebaliknya jika keasaman menurun. baik kation maupun anion.K. maka jumlah jerapan ion akan rendah. Pada danau eutropik sering terjadi perpindahan nitrogen dari sedimen yang anoksik melalui gelembung-gelembung methan hasil proses pembusukan. Larutan tanah inengandung berbagai zat terlarut. dari udara. 1 ~Fe3+. (Notohadiprawiro. Bahan bahan organik yang berbentuk partikel suspensi akan mengendap pada dasar sedimen. Sedimen meliputi tanah dan pasir. Urea hasil ekskresi akan dikonversi ke bentuk ammonia oleh bakteri-bakteri di dalam tanah (Goldman dan Home. yang masuk ke badan perairan (Effendi. bersifat tersuspensi. 1983). Kation yang m m terdapat dalam u larutan tanah adalah H+. ca2*. atau angin (Hehanusa dan Haryani. anaerob). 2003). sedangkan anion-anion organik lebih terjerap oleh bidang-bidang patahan permukaan liat. Kf. Fe2+(dalam suasana ~ + . Banyak zat terlarut berbentuk ion. 1983). 2001). Senyawa organik tidak berrnuatan diketahui belakangan ini dapat dijerap oleh minerat-mineral Iiat.

1991). Ammonium akan bereaksi secara cepat dengan muatan negatif dari liat dan membentuk ikatan yang komplek dengan logam dan senyawa organik (Tan.Hanya dijnmpai :pada tanah s alkalin ' Gambar 5. Sangat ekstrim. 2000). sedangkan nitrat lebih stabil pada keadaan aerob. 2001). 8 B--------+Kisaran pH Kisaran pH tanah daerah tanah daerah bilsah kcring Kisaran ekstrim dari pH kcbanyakan tanah mineral . Tingkat Kernasaman pH Tanah (Depdikbud. Sebagian besar nitrogen organik dalam tanah didekomposisi menghasilkan nitrogen anorganik. Nitrogen organik dibebaskan dalam bentuk ammonium (w'). Sedimen dari sisa pakan maupun kotoran ikan dari hasil . Sebaliknya senyawa organik yang tejerap sering dapat bertukar melalui pencucian dengan air (Depdikbud. Berdasarkan nilai pH. disamping mendapatkan pasokan limbah dari Sungai Citarum clan Waduk Saguling juga karena keberadaan Karamba Jaring Apung (KJA) yang saat ini jumlahnya sekitar 40. Ammonium pada keadaan anaerob lebih stabil. Sedimentasi Waduk Cirata Waduk Cirata telah mengalami proses sedimentasi yang cukup tinggi. Tanah gambut .menggantikan air yang terjerap oleh liat. Ion ammonium m) lebih reaktif dibandingkan ion i nitrat (NO3-). . tanah dapat dikelompokkan menjadi beberapa tingkat kemasaman dan kebasaan (Gambar 5). .000 unit dan setiap harinya meinbuang 1 menampung kelebihan pakan ikan (pelet) sekitar 50 ton ke dasar waduk (Suryadiputra dan Ratnawati. 1991) L. Dekomposisi inerupakan proses biokimia kompleks yang melepaskan C02. dan bila keadaan baik akan dioksidasi menjadi nih-it (NOz) dan nitrat (NO3).

2001) Secara kimia sediinen dapat menyumbang beberapa parameter kimia seperti logam berat. Sedimentasi di perairan waduk yang ada kegiatan budidaya (KJA) bisa 6 sampai 15 kali dibandingkan perairan yang tidak ada kegiatan perikanannya (Umar. karena dianggap perairan tersebut telah terpolusi (Ferdiaz. Sedimen dengan jurnlah yang tinggi dalam air akan sangat merugikan. partikel-partikel tanah. ha1 ini bersifat sangat racun bagi kehidupan biota perairan. HzS yang cukup tinggi. 1992). Tanah dan sedimen berperan utama dalam penyerapan (adsorbsi) zat-zat kimia berbentuk ionik. amonia. flukh~asipH yang sangat lebar. 1995).budidaya (KJA) Waduk Cirata akhirnya akan menumpuk di dasar perairan dan selanjutnya mengalami dekomposisi atau penguraian. dan bahan organik yang tidak terkendali. . oksigen yang rendah. serta bahan organik d m anorganik (Connel dan Miller. Kartamihardja. dan HzS. zat asan. zat-zat kimia berbentuk gas. clan Supriyadi. Buangan sisa pakan dan kotoran ikan berlebihan akan berpengaruh negatif terhadap kualitas air diantaranya dapat meningkatkan kandungan amonia.

karena setiap stasiun memiliki kontur waduk yang berbeda. Skala 0 2 Ktlomoler Gambar 6. Jawa Barat. Kedalaman pada setiap stasiun berbeda-beda. stasiun 3 terletak di daerah Pasir Pogor dengan junlah KJA padat.L . Peta lokasi penelitian (sumber : DKP 2007) Stasiun 1 terletak di inlet Sungai Citanun. dan stasiun 4 yang terletak di oulet waduk (Lampiran 16). Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini berternpat di Waduk Cirata. Kedalaman masing-masing stasiun secara .METODE PENELITIAN U A. stasiun 2 terletak & daerah Pluinbon yaitu daerah dengan jumlah KJA sedang. Pengambilan sampel dilakukan antara bulan Juli sampai bulan September 2006. Terdiri dari empat titik sampling (Gambar 6 ) .

pHmeter untuk mengukur pH perairan. HzS04 (pekat). 62 meter (stasiun 3). pereaksi untuk analisis nitrat antara lainphenoldisulfonic acid. 19 meter (stasiun I).00 mgll (5 ppm). pereaksi untuk analisis COD antara lain larutan Potassium dichromate 1 N. standart amonium. Sedangkan untuk analisis sedimen bahan-bahan (reagen) yang digunakan antara lain. chlorox (oxidizing solution).00 mgll (1 ppm). NED (Coupling reagent). Ekman Grab untuk mengambil sedimen waduk. Pennukaan air waduk pada saat pengamatan mengalami penyusutan (Lampiran 17). chloride solution.berturut-turut antara lain. pereaksi untuk analisis oksigen terlarut (metode Winkler) antara lain suljh-mic acid. NaOH + KI. pereaksi untuk analisis ammonia antara lain nessler reagent. Mn04. larutan Potassium dichrornate 0. ammonium hydroxide. dan botol sampel untuk menyimpan sampel air untuk di analisis di laboratorium. Pada pengamatan bulan Agustus dan September pada inlet waduk di stasiun 1 banyak dijtnnpai tumbuhan Eceng Gondok yang menutupi sebagian besar permukaan inlet waduk. botol DO gelap untuk analisis BOD (Biochemical Oxygen Demand).9 meter dengan kedalaman maksimum mencapai 106 meter. larutan standar Nitrit-N 1. DO meter. magnesium carbonate powder. Na-tkiosulfnt. Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk analisis kualitas air antara lain. sodium carbonate. B. 13 meter (stasiun 2). Ferrous Ammoniurn Sulfat (FAS). Alat dan Bahan Alat-alat yang digunakan antara lain. HzS04. Van Dorn salnpler untuk pengambilan contoh air. pereaksi untuk analisis kandungan Ammonia-Nitrogen (metode Indophenol) antara lainphenate (phenol). dan mangan sulfat. dan 25 meter (stasiun 4). thermometer raksa untuk mengukur suhu perairan.025 N. calcium hydroxide powder. standart nitrate solution. . copper su&t solution. dan untuk pereaksi untuk analisis kandnngan Nitrat-Nitrogen (metode Bn~cine) antara lain larutan Brucine. Kedalaman rata-ratanya sekitar 34. larutan standar Nitrat-N 5. pereaksi untuk analisis kandungan Nitrit-Nitrogen (metode Sulfanilamide) antara lain sulfanilamide (diazotizing reagent). dan indikator Ferroin.

yaitu : inlet waduk (stasiun I). Kedua sampel selanjutnya di analisis di laboratorium. BOD. Penentuan lokasi penelitian didasarkan pada kepadatan sebaran KJA yang terdapat pada waduk Cirata. Sedangkan sampel sedimen langsung lmasukkan plastik. sodium carbonate. Penentuan Lokasi Penelitian Lokasi pengainbilan sampel dilakukan di empat titik (Gambar 6). 10 m. dan outlet waduk (stasiun 4). Pengambilan sampel ini dimaksudkan untuk melihat sebaran vertikal nitrogen di kolom perairan dari permukaan hingga dasar waduk. Metode Analisis Kualitas Air dan Sedimen Analisis kualitas air llakukan secara in situ (pengukuran langsung) maupun di laboratorium. kecerahan. 20 m. daerah KJA sedang yang terletak di daerah Pasir Pogor (stasiun 2). ammonia. sodium hydroxide. daerah KJA padat yang terletak di daerah Plunzbon (stasiun 3). 30 m) disesuaikan dengan kedalaman setiap stasiun. dan suhu. 2. dan N-total. Untuk analisa kulitas air secara in situ antara lain: oksigen terlantt (DO). COD. Pengambilan sampel dilakukan pada siang sampai sore hari. TSS. Metode Kerja 1. . kekeruhan. antara bulan Juli sampai bulan September 2006. nessler 's reagent. 3. dan pada kedalaman dekat dasar (interfase) yaitu 1 meter di atas dasar waduk. Sedangkan pengambilan sampel sedimen dilakukan dengan lnenggunakan Ekman Grab pada setiap stasiun. Sampel diambil satu kali setiap bulan. Pengambilan Sampel Untuk pengambilan sainpel air dilakukan dengan menggunakan Van Dorn sampler pada kolom perairan dengan interval 10 meter secara vertikal sampai dengan kedalaman 30 meter (0 m. Air sampel yang didapat langsung diawetkan dengan pendinginan dan pemberian H2S04. C. nitrat. ammonium. granular pumice. Sedangkan analisa kualitas air secara ek situ (di laboratorium) untuk parameter seperti. pH.sedangkan pereaksi untuk analisis nitrogen total antara lain sulfuric acid. nitrit.

kandungan ammonia pada air di sedimen.Untuk analisis kualitas sedimen dilakukan secara ek situ (di laboratorium). Jenis parameter kualitas air dan sedimen yang dianalisis beserta satuan dan aladmetoda serta lokasi analisisnya dapat dilihat pada Tabel 6. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Sedangkan Analisis kualitas sedimen dilakukan di Iaboratorium Tanah. Parameter / I Satuan / I Metode Keterangan KUALITAS AIR Pisika Kedalaman Suhu Kekemhan TSS Kimia Oksigen terlarut (DO) BOD COD Ammonia Total Nitrit mg/l mg/l mdl mg/l ir~ situ DO meter laboratorium Modifikasi Winkler laboratorium Refluks Terbuka Spectrofotonehic/l.tdophenol laboratorium Spectrofoton~etric/Str[fa~~ilmlide laboratorium &traotomehic/Bnrcine laboratorium laboratorium Kjeldhal pH-meter iii sifu m "C NTU mdl Penykuran Pemuaian Turbidimeter Gravimetrik I in silu in situ laboratorium laboratorium I 1 I mg/l mdl I - Fisika Tekstur 3-Fraksi Kimia Ammonium Nitrat N-Total pH % Pipet Laboratorium / mg/l mgll % / Nessler Phenoldiszc[fo.zic acid Kjeldhal pH meter I Laboratorium Laboratorium Laboratorium Laboratorium . metode. Fakultas Pertanian. dan sampel sedimen (Chapman dan Pratt. Institut Pertanian Bogor. Beberapa parameter yang dianalisis diantaranya : kandungan N-total (nitrogen total) pada tanah. 1989). Departemen Tanah. Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan. 1961). Paraineter. Tekstur 3-Fraksi dan pH. Tabel 4. kandungan nitrat pada air di sedimen. Analisis kualitas air dilakukan di laboratorium Produktivitas Lingkungan. dan lokasi analisis sampel kulitas air (APHA.

Selain analisa secara deskriftif. dan kedalaman diasumsikan sebagai faktor B. suhu. pH. 82 Tahun 2001 tentang: Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Penceinaran Lingkungan. 1993) : 1. (Y . Selanjutnya dari setiap data dibagi menurut stasiun dan kedalaman. Untuk stasiun diasumsikan sebagai faktor A. dan waktu. Peraturan Pemerintah No.4.. parameter-parameter utama (NH3.. dan TSS) serta dengan baku mutu yaitu. oksigen terlarut (DO). Sedangkan untuk melihat pengaruh secara temporal dan spasial data akan dianalisis dengan menggunakan Rancangan PetakTerbagi (Split-Plot Design) untuk data kualitas air. Analisis Data Kualitas Air Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis dengan Rancangan PetakTerbagi (Split-Plot Design) untuk melihat pengaruh dari stasiun. kemudian bagi dengan jumlah data untuk inendapatkan Faktor Koreksi (C). dan waktu ditentukan jumlah datanya untuk menganalisis ragam menggunakan tabel sidik ragam. Terlebih dahulu data dikelompokkan menurut waktu pengambilan sampel dan waktu diasumsikan sebagai kelompok. kedalaman. Kedalaman yang digunakan antara lain kedalaman 0 m.12 Hitung Faktor koreksi (C) = . Jumlahkan semua data lalu dikuadratkan. Adapun langkah-langkah untuk menentukannya adalah sebagai berikut (Steel dan Torrie. a. Analisis Data Data yang diperoleh dari hasil pengukuran kualitas air dan sedimen ditampilkan dalam bentuk tabel dan grafik. COD. NOz. kekeruhan. kedalaman. Selanjutnya dari setiap stasiun. Hal ini dikarenakan setiap stasiun memiliki kedalaman tersebut. dan akan disajikan secara deskriptif. Ntotal) dibandmgkan dengan parameter pendukung (suhu. 10 m. BOD. dan Rancangan Acak Kelompok (RAK) untuk data sedimen waduk. dan interfase (kedalaman dekat dasar). N03.

setelah itu bagi dengan jumlah data yang ada pada setiap waktu pengamatan yang sama dan kurangi dengan faktor koreksi (C). setelah itu bagi dengan jumlah data yang ada pada satu stasiun dan kurangi dengan faktor koreksi (C).1b . c.C tjk VP a. Menghitung Jumlah Kuadrat (stasiun) dengan menjumlahkan data setiap stasiun pengamatan lalu kuadratkan dan jumlahkan kuadratnya. i 1. selanjutnya bagi dengan jumlah waktu pengambilan sampel dan kurangi dengan faktor koreksi (C).JK(ke1ompk) .. Kerjakan analisis petak utama : 2$ . JK(petak utama) = c$. keinudian kurangi dengan faktor koreksi (C) untuk mendapatkan Junlah Kuadrat Total (JKT).JK(A) . Menghitung Jumlah Kuadrat (petak utama) dengan menjumlahkan data pada setiap waktu pengambilan sampel lalu kuadratkan. Menghitung Jurnlah Kuadat (galat(A)) dengan mengurangi JK(petak utama) dengan JK(ke1ompok) dan JK(A). d. Kuadratkan masing-masing data lalu jumlah semua kuadratnya. JK(ga1at (A)) = JK(petak utama) . Menghitung Jumlah Kuadrat (kelompok) dengan menjumlahkan data menurut waktu pengambilan sarnpel yang sama kemudian jumlahkan waktu yang sama pada setiap stasiun lalu dikuadratkan.2. setelah itu dijumlahkan kuadratnya. Jumlah Kuadrat Total ( K T ) = 3.C ii V b. JK(ke1ompok = waktu) = z y 2 lab -C .

lalu bagi dengan jumlah data yang ada disetiap kedalaman setelah itu kurangi dengan faktor koreksi (C). JK(AB) = cy2. JK(B).JK(B) c. Menghitung Jumlah Kuadrat (AB) dengan menjumlahkan data setiap kedalarnannya menurut setiapnya masing-masing. # 0)) .3.=yj = 0) HI: waktu memberikan pengaruh nyata (minimal satu stasiun (y. JK(ga1at @)) = JK(tota1) . kemudian kurangi dengan faktor koreksi (C) dan JK(A) serta JK(B). Adapun hipotesis yang akan diuji adalah sebagai berikut : 1...=ai = 0) HI: stasiun memberikan pengaruh nyata (minimal satu stasiun. Menghtung Jumlah Kuadrat (kedalaman) dengan menjumlahkan data setiap kedalaman kemudian kuadratkan hasilnya.. kerjakan analisis anak-petak : a. dan JK(A).. setelah itu kuadratkan hasilnya dan dijumlahkan. Pengaruh waktu pengambilan sampel terhadap kandungan nitrogen: K:waktu tidak berpengaruh (yl = y2 = .JK(B) .JK(petak utama) .I Jk ~k r- c . (a i # 0)) 2. lalu bagi dengan jumlah data yang ada di setiap menurut stasiunnya. JK(B = kedalaman) = k 2 ykI ra ... Pengaruh kedalaman pengambilan sampef terhadap kandungan nitrogen: H.C b.= Pj = 0) HI: kedalaman memberikan pengaruh nyata (minimal satu stasiun (pj# 0)) 3. Pengaruh stasiun terhadap kandungan nitrogen Ho: stasiun tidak berpengaruh (al = a 2 = .JK(A)..: kedalaman tidak berpengaruh (PI = P2 = ... Menghitung Jumlah Kuadrat (galat@)) dengan mengurangi JK(tota1) dengan JK(petak utama).JK(A) Selanjutnya setelah langkah-langkah perhitungan di atas dilakukan masukkan ke dalam tabel sidik ragam untuk mendapatkan nilai F-hitung (Tabel 7).

Tabel Sidik Ragam Rancangan Petak-Terbagi (Steel dan Tonie. kedalaman. untuk mendapatkan bagaimana pengaruh stasiun. maka dilakukan uji lanjutan menggunakan metode uji lanjutan Beda Nyata Terkecil (BNT) untuk mengetahui perlakuan mana yang memberikan pengaruh berbeda nyata terhadap kandungan nitrogen periaran. Jika hasil sidik ragam menunjukan adanya perbedaan yang nyata akibat perlakuan. maka terima x: terdapat perbedaan yang tidak nyata antar perlakuan (stasiun dan kedalaman) dengan kandungan . pada selang kepercayaan 95 %. 1993) Keterangan : a =jumlah stasiun pengambilan sampel b =jumlah kedalaman pengambilan sampel r = jumlah kelompok (waktu pengambilan sampel) Selanjutnya nilai F-hitung dibandingkan dengan F-tabel.Tabel 5. : terdapat perbedaan yang nyata antar perlakuan (stasiun dan kedalaman) dengan kandungan nitrogen. Langkah-langkah perhitungan uji BNT adalah sebagai berikut : < F-tabel. Jika F-hitung nitrogen. dan waktu pengambilan sampel terhadap kandungan nitrogen perairan berdasarkan kaidah keputusan dibawah ini : Jika F-hitung > F-tabel. maka tolak H.

setelah itu kurangi dengan hasil bagi jumlah total data yang dikuadratkan dengan jumlah semua data yang ada. Menentukan perbedaan rata-rata atribut dengan membandingkan ratarata perlakuan dengan masing-masing perlakuan. kemudian kurangi dengan hasil b a a jumlah total data yang dikuadratkan dengan jumlah semua data yang ada. Selanjutnya data tersebut dijumlahkan untuk menentukan analisis ragamnya dengan menggunakan tabel sidik ragam (Tabel 8). Data yang diperoleh disusun bedasarkan stasiun dan waktu pengambilan sampel. Pada baris ditentukan data menurut stasiun. maka gaga1 tolak Ho b. dan pada kolom ditentukan data menurut waktu. Langkah-langkah menentukan RAK adalah sebagai berikut (Walpole. kemudian bagi dengan jumlah data yang ada pada setiap stasiun. data sedimen dianalisis dengan inenggunakan Rancangan Acak Keloinpok (RAK). d = lyi-yjj b. Analisis Data Sedimen Berbeda dengan analisa kualitas air. maka tolak Ho Jika d < BNTa. 2. Menghitung Jumlah Kuadrat Total ( K T ) dengan mengkudratkan masingmasing data kemudian dijumlahkan. . 1995): 1. Menghitung Jumlah Kuadrat Baris (JKB) dengan menjumlahkan Qta berdasarkan setiap stasiun lalu &kuadratkan. BNTaEt(a/2. Menentukan nilai uji BNT.a.bds) keterangan : t a / 2 n KTS dbs Kaidah keputusan : = Nilai dati tabel t ( a =5 %) = Banyaknya ulangan = Kuadrat = Derajat tengah sisa bebas sisa * Jika d > BNT a .

Tabel Sidik Ragam Rancangan Acak Kelompok (Walpole. Menghitung Jumlah Kuadrat Galat (KG) dengan mengurangi JKT dengan JKB dan JKK. Tabel 6 . Menghitung Jumlah Kuadrat Kolom (JKK) dengan menjumlahkan data setiap berdasarkan waktu lalu dikuadratkan.1) KG KT JKG (c .1) (c-1) (r-1-1 I JKB JKK KTB KTG KTK KTG KTK = KTG= I JKK - (C.3. KG=KT-JKB-JKK Selanjutnya jumlah kuadrat yang telah dihitung disusun kedalam tabel sidik ragam untuk menganalisis ragam. 4.1) I Total rc-1 Keterangan : r = jumlah stasiun pengambilan sampel c = jumlah waktu pengambilan sarnpel .1) F-hitung (1.l)(r . kemudian bagi dengan jumlah data yang ada pada setiap waktu pengamatan. 1995) Sumber Keragaman Nilai tengah Stasiun Nilai tengah Waktu Galat I Derajat Jurnlah Kuadrat Bebas (db) (JJQ Kuadrat Teugah WT) JKB KTB = (r . seperti yang ditunjukkan pada Tabel 8. setelah itu kurangi dengan hasil bagi jumlah total data yang dikuadratkan dengan jumlah semua data yang ada.

. maka terima %: tidak terdapat perbedaan yang nyata antar perlakuan (stasiun dan waktu) dengan kandungan nitrogen. Jika hasil sidik ragam menunjukan adanya perbedaan yang nyata akibat perlakuan..Hipotesis yang akan diuji adalah: 1. maka tolak H. Langkah-langkah perhitungan uji BNT adalah sebagai berikut : a.bds) keterangan : t cu / 2 n KTS dbs JZEG = Nilai dari tabel t ( a = 5 %) = Banyaknya ulangan = Kuadrat tengah sisa = Derajat bebas sisa . pada selang kepercayaan 95 %.= Pj = 0) HI: faktor waktu berpengaruh (minimal satu waktu (Pj# 0)) Selanjutnya nilai F-hitung dibandingkan dengan F-tabel. d = lyi-yjl b.: faktor waktu tidak berpengaruh (PI = P 2 = .=ai = 0) HI: faktor stasiun berpengaruh (minimal satu stasiun (ai # 0)) 2. BNTa=t(a/2. Pengaruh stasiun (perlakuan) terhadap kandungan nitrogen : H. : terdapat perbedaan yang nyata antar perlakuan (stasiun dan waktu) dengan kandungan nitrogen.: faktor stasiun tidak berpengaruh (al = a2= . Menentukan perbedaan rata-rata atribut dengan inembandingkan ratarata perlakuan dengan masing-masing perlakuan. maka dilakukan uji lanjutan lnenggunakan metode uji lanjutan Beda Nyata Terkecil (BNT) untuk mengetahui perlakuan mana yang memberikan pengaruh berbeda nyata terhadap kandungan nitrogen periaran. Jika F-hitung 5 F-tabel... P e n g a d waktu pengambilan sampel (kelompok) terhadap kandungan nitrogen: H. sehingga dapat ditarik kesimpulan berdasarkan kaidah keputusan dibawah ini : Jika F-hitung > F-tabel... Menentukan nilai uji BNT.

Kaidah keputusan : Jika d > BNTa. maka gaga1 tolak Ho . maka tolak Ho * Jika d < BNT a .

86 mg/l (Gambar 7 dan Lampiran 1). Ammonia total (NH3 dan N&+) Kisaran nilai ammonia total berkisar antara 0.07-4. . Kandungan ammonia total tertinggi selama penelitian terjadi pada bulan September di stasiun 3 pada kedalaman interface (dekat dasar). Kandungan ammonia total ( N H 3 dan N 4 perairan berdasarkan H3 kedalaman pada setiap stasiun dan waktu pengamatan.I .20 -. Kandungan Nitrogen di Perairan 1.85 mgtl. sedangkan kandungan ammonia total terendah terjadi pada bulan Juli di stasiun 1 pada permukaan waduk.40 r 60 70 kedalaman maksimum = 62 meter Gambar 7. 40 Y stasiun 1 kedalamao maksimum = 19 meter C rn E 40 60 70 stasiun 2 kedalamnn maksimum = 13 meter $5060 70 0 0 10 Y Konsentrasi (mgil) 2 I<onsentrasi (mgg 4 6 0 2 4 6 . Rata-rata kandungan di permukaan waduk adalah 0.HASIL DAN PEMBAaASAN v A. Distribusi vertikal ammonia total mengalami penurunan pada setiap kedalanan. sedangkan pada kedalaman interface (dekat dasar) rata-rata kandungannya adalah 1. . z E 30 'U 5 50 Y E m .46 mg/l.

sedangkan konsentrasi terendah terjadi pada bulan Juli di stasiun 1 pada kedalaman 10 meter.30 mg/l pada kedalaman interface.2 0.1 Konsentrasi (mgfl) 0. Nilai ammonia bebas (NH3) dan ammonium ( ~ ~ 4 3 dari konversi nilai ammonia total (Lampiran 14).20 g 10 30 stasiun 1 ' e 40 stasiun 2 kedalaman mksimum = 13 meter tconsenlrasi (rngll) 50 60 70 Konsentrasi (mgliJ stasiun 3 stasiun 4 I--c Jull Gambar 8.2054 mg/l.49 mgll rnenjadi 1.08 mg/l meningkat menjadi 0.05 01 .3 .74 mg/l pada kedalaman interface (dekat dasar). dengan konsentrasi tertinggi pada bulan Agustus di stasiun 2 pada permukaan waduk.5 0. Pada stasiun 1. Distribusi vertikal NH3 inenunjukkan penurunan pada setiap penambahan kedalamannya (Gambar 8).. stasiun 2 konsentrasi rata-rata di permukaan sebesar 0. 0 0. Ammonia bebas didapat (NH3) yang terukur berkisar antara 0. stasiun 3 konsentrasi rata-rata di perrnukaan sebesar 0. I September I Kandungan ammonia bebas (NH3) berdasarkan kedalaman pada setiap stasiun dan waktu pengamatan. 1983). --rcAgustus - .76 pada kedalaman interface. Konsentrasi (mgll) 01 .2 0.25 0 0 0. .Terjad peningkatan konsentrasi ammonia total pada setiap penambahan kedalaman.0017-0. dan stasiun 4 konsentrasi rata-rata pada permukaan 0. konsentrasi rata-rata di permukaan adalah 0.72 mg/l menjadi 1. Ammonia yang terukur pada perairan berupa ammonia total (NH3 dan NW (Goldman dan Home.59 mg/l.55 mg/l dan meningkat pada kedalaman interface inenjadi 3.

Dari hasil yang diperoleh. Pada stasiun 2.023mgA pada kedalaman interface.Pada Gambar 8 terlihat bahwa pada setiap penambahan kedalaman konsentrasi NH3 rata-rata menurun di setiap stasiun pengamatan.O 15 mg/l pada kedalaman ( ~ ~yang3 4 terukw dapat dilihat pada dan Gambar 9 dan Lampiran 1.028 mg/l pada kedalarnan interface. kecuali pada stasiun 1. Stasiun 3. Kandungan ammonium perairan berdasarkan kedalaman pada setiap stasiun dan waktu pengamatan.017 mgl. rata-rata konsentrasi pada permukaan sebesar 0. rata-rata konsentrasi pada permukaan sebesar 0. 0 2 Konsentrasi (m@) 4 6 Konsentrasi (mgll) 0 0 2 4 6 stasiun 1 10 50 2 X I Z 9 6 40 stasiun 2 kedslaman maksimum = 13 meler 50 a 70 Konsentrasi (mgm 0 2 4 0 2 Konsentrasi (mgfl) 4 6 stasiun 4 kednlnmnn maksimum = 25 meter -+-Jult --P-Agustus -a-September Gambar 9. Sedangkan untuk nilai ammonium nilai konsentrasinya mengalami sedikit peningkatan dari 0.0659-4. Stasiun 4. didapat kisaran untuk M&+ yaitu sebesar 0. dan konsentrasi terendah tejadi pada bulan September di stasiun 1 pada permukaan waduk.O 13 mg/l pada permukaan menjadi 0. dengan konsentrasi terbesar terjadi pada bulan September di stasiun 3 pada kedalarnan interface.064 dan menurun menjad 0.031 mg/l dan mengalami penurunan pada kedalaman interface sampai 0. Sedangkan pada stasiun 1. (H3 N4 .828 mgh.080 mg/l dan menurun menjadi 0. interface. rata-rata konsentrasi pada permukaan adalah 0.

mengklasifikasikan pola sebaran yang demiluan sebagai perairan Eutrofik (Gambar 3). rata-rata konsentrasi pada permukaan sebesar 0. Stasiun 3. Konsentrasi yang meningkat disetiap kedalamannya diduga terjadi akibat proses dekomposisi bahan organik oleh mikroorganisme. Dan stasiun 4.568 mg/l pada kedalaman interface. Pada perairan Eutrofik produktivitas dan kandungan bahan organik tinggi. sehingga konsentrasi dari ammonia bebas (un-ionised ammonia @GI3)) akan meningkat.488 mg/l menjadi 3.643 mg/l dan bertambah menjadi 1.269 mg/l pada kedalaman interface. Hal ini terlihat pada konsentrasi ammonia total stasiun 2 dan stasiun 3 yang relatif lebih besar dibandingkan stasiun 1 dan stasiun 4 (Lampiran 1). Proporsi nilai keduanya dipengaruhi oleh temperatur dan pH perairan (Wetzel. Stasiun 2. 1983). 2003).Pada grafik terlihat terjadi peningkatan konsentrasi NI%+ untuk setiap penambahan kedalaman. ammonia total memiliki kecenderungan inengalami peningkatan pada setiap penambahan kedalaman. Dari hasil yang didapat. rata-rata konsentrasi pada permukaan 0. 1983). Bakteri ini akan tumbuh dengan lebih cepat pada kandungan bahan organik yang tinggi dibandingkan bakteri nitrifikasi (Effendi. Ammonia total terbag menjadi dua bentuk yaitu ammonia bebas (unionised ammonia (NH3)) dan ammonium (ionised ammonia (~~43). rata-rata konsentrasi pada permukaan 0.737 mg/l pada kedalaman interface. Amonifikasi dilakukan oleh bakteri heterotrof (Wetzel. Wetzel (1983). Konsentrasi N H 3 yang tinggi pada permukaan waduk disebabkan oleh pH yang juga tinggi pada . 1983). Bahan organik diduga berasal dari kegiatan budidaya KJA yang terdapat pada waduk yaitu bempa sisa pakan dan feses. Dekomposisi bahan organik tersebut lebih banyak menghasilkan ammonia dan proses nitrifikasi yang menghasilkan nitrat akan terhambat. Konsentrasi N& merniliki kecenderungan mengalami p e n m a n .725 mg/l pada kedalaman interface.067 mgA dan meningkat menjadi 0. Di stasiun 1.457 mgll menjadi 1. rata-rata konsentrasi pada permukaan sebesar 0. Ammonia total tidak terionisasi pada pH lebih besar dari 7 (Goldman dan Home. Bahan organik didekomposisi menghasilkan ammonia melalui proses ammonifikasi. Hal ini terlihat dari nilai BOD pada setiap penambahan kedalaman yang meningkat (Gambar 21). sedangkan N+ memiliki kecenderungan mengalami peningkatan pada setiap penambahan & kedalaman (Gambar 8 dan Gambar 9).

Hasil analisis data dengan rancangan Petak-Terbagi (Split-Plot) memberikan keputusan tolak H untuk faktor stasiun (lokasi pengambilan . didapatkan ada lima pasang stasiun yang berbeda nyata menurut kandungan ammonia total. Goldman dan Home (1983). Hal ini tentunya sangat merugikan bagi kegiatan budidaya KJA yang berada di Waduk Cirata yang kegiatannya berada pada permukaan waduk. Kandungan pH yang relatif tinggi pada permukaan waduk dapat menyebabkan sebagian besar ammonia total tidak terionisasi sehingga inenghasilkan ammonia bebas (NH3) yang relatif bersifat toksik dari ammonium (~~43. Ammonia bebas @W3) bersifat toksik dibandingkan ammonium (~~43.02 mglt. stasiun (1-2). menjelaskan ammonia akan terionisasi pada pH < 7. keputusan tolak H memberikan garnbaran bahwa pada setiap faktor terdapat perbedaan dua atau lebih stasiun. Dapat dikatakan bahwa NH3 berkorelasi positif dengan kandungan pH perairan. dan waktu pengambilan sainpel (Lampiran 1). sehingga dapat dikatakan bahwa konsentrasi ammonium berkorelasi negatif dengan pH perairan. stasiun (2-3). Dan untuk mengetahui stasiun. Stasiun 3 mengalami perbedaan yang nyata dengan semua . dan menurunkan kapasitas transport oksigen oleh darah (Boyd. Konsentrasi ini lebih tinggi dari baku mutu (Peraturan Pemerintah Nomor 82. Dari hasil uji lanjutan berdasarkan faktor stasiun (Tabel 7). stasiun (3-4). faktor kedalarnan. mengakibatkan kerusakan pada insang. kedalaman dan waktu yang berbeda nyata dilakukan uji lanjutan BNT. Lima pasang stasiun tersebut adalah stasiun (1-3).0474 mg/l. penelitian didapat Dari hasil rata-rata konsentrasi NH3 pada setiap stasiun di permukaan waduk adalah sebesar 0. 2001) untuk kepentingan perikanan yang menganjurkan batas maksimat konsentrasi ammonia bebas sebesar 0. sampel). Hasil . Hal ini sangat berbahaya b a g kegiatan budidaya KJA di Waduk Cirata.permukaan waduk dan nilainya semakin menurun setiap penambahan kedalaman. kedalaman serta waktu yang memberikan konsentrasi yang berbeda. dan stasiun (1-4). Karena konsentrasi ammonia total tertinggi rata-rata terdapat pada daerah budidaya KJA (stasiun 2 dan stasiun 3). Kandungan ammonia total yang tinggi sangat berpotensi sekali menjadi bahan-bahan toksik. Kadar ammonia yang tinggi mengakibatkan pe~ngkatan konsumsi oksigen. Sedangkan ammonium OF4 konsentrasinya semakin meningkat disebabkan \H3 oleh pH perairan yang semakin menurun.1982).

Hal ini menunjukkan adanya kecenderungan nilai kandungan yang tinggi pada kedalaman tersebut dibandingkan kedalaman yang lain. Nilai BNT Keterangan * = 0.99* = 0.46) 1. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor kedalaman terhadap kandungan Ammonia Total perairan (a=O.42 = berbeda nyata 0.1). Namun penarikan kesimpulan seperti ini tidak bisa dilakukan karena secara statistik masih terdapat interaksi antara faktor stasiun dan kedalaman. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Ammonia Total perairan (a=0. Kedalainan interface berbeda nyata dengan semua kedalaman yang lainnya.85) 0 meter (0. dan stasiun 3 memiliki perbedaan kandungan terbesar dengan stasiun yang lainnya.38* 0. dan 10 meter (Tabel 10). Stasiun 1 memiliki perbedaan kandungan terkecil dengan stasiun yang lainnya.46) 10 meter (0.39 0 0 Nilai BNT Keterangan * .stasiun.44 = berbeda nyata Hasil uji lanjut BNT untuk faktor kedalaman menunjukkan bahwa.l) Kedalaman 0 meter (0.85) Rata-rata 10 meter (0. Tabel 8.85) Interface (1. kedalaman interface berbeda nyata dengan kedalaman 0 meter. Tabel 7. begitu pula dengan stasiun 1.

0015 mg/1 dan meningkat pada kedalaman interface menjadi 0. dan bulan Juli dengan September (Tabel 11).0004-0.1) Nilai BNT Keterangan * = 0.0014 mg/l (Gambar 10 dan Lampiran 2). pada stasiun 3 berkisar antara 0-0. sedangkan rata-rata konsentrasi ammonia total tertinggi di kedalaman 10 meter terjadi pada stasiun 2. Ini menunjukkan adanya interaksi antar faktor . Nitrit (NO23 Berdasarkan hasil yang diperoleh didapat kisaran konsentrasi nitrit pada stasiun 1 yaitu berkisar antara 0. Nilai uji BNT untuk pengamh faktor waktu terhadap kandungan ammonia total (a=0. Konsentrasi nitrit memiliki pola distribusi vertikal yang berbeda pada setiap stasiun. Tabel 9. stasiun dengan faktor kedalaman.0059 mg/l.0020 mg/l. stasiun 2 berkisar antara O0. Dengan rata-rata konsentrasi nitrit pada permukaan sebesar 0. 2.0847 . dapat dikatakan tidak ada satu stasiun yang memiliki nilai konsentrasi ammonia total tertinggi untuk semua kedalamannya. dan pada stasiun 4 berkisar antara 0-0. dan konsentrasi rata-rata ammonia total untuk kedalaman interface terjadi di stasiun 3. yaitu antara bulan Juli dengan Agustus. Pada stasiun 1 konsentrasinya cenderung meningkat pada setiap penambahan kedalaman.38 = berbeda nyata Nilai interaksi faktor stasiun dan faktor kedalaman menghasilkan keputusan tolak H (Lampiran 1). Perbedaan yang terjadi inenurut waktu menggambarkan adanya perubahan karakteristik waduk seperti tinggi muka air selama waktu pengamatan. Kandungan rata-rata ammonia total tertinggi pada permukaan waduk terjadi di stasiun 2.Hasil uji lanjut BNT untuk faktor waktu menunjukkan adanya dua pasang waktu pengambilan sampel yang menunjukkan perbedaan nyata terhadap kandungan ammonia total.0940 mgll.

j kodalamsn meksimum = 13 meter 0 0 10 0.OE z 20 a ?%30 E30 C .05 Nitnt (mgfl) 0.001 1 mg/l menjadi 0 mg/l pada kedalaman interface.002 0.004 0.0007 mg/l pada stasiun 3 dan 0. Diteinukan dalam jumlah yang sedikit di perairan. Proses nitrifikasi menggunakan oksigen dalam perombakan ammonia menjadi nitrat.0004 mg/l pada stasiun 4.008 0 0. dengan rata-rata di permukaan sebesar 0.002 0.0010 mgil pada stasiun 3 dan 0.004 Nitrit (mg/l) 0. Sedangkan pada stasiun 2 konsentrasinya cenderung menurun pada setiap kedalamannya. . 0 0. menurun pada kedalaman interface menjadi 0. Kandungan nitrit (NO. dimana nitrit merupakan produk antaranya.mgll.1 Nitrit (mgll) 0 0. karena bersifat kurang stabil dan sangat bergantung pada keberadaan oksigen di perairan (Effendi.0110 mgll pada stasiun 4.00. Konsentrasinya sangat bergantung pada keberadaan oksigen di perairan.004 Nitril (mg/l) 0. 2003). Stasiun 3 dan stasiun 4 konsentrasinya berfluktuasi namun cenderung menurun dengan rata-rata pa& permukaan 0.) perairan berdasarkan kedalaman pada setiap stasiun dan waktu pengamatan.50 S 40 stasiun 4 laman maksimum = 62 meter ke&laman maksimum = 25 meter g 60 70 70 --c Juli ~ A g u s t u s --September 4 Gambar 10.002 0. Nitrit merupakan bentuk peralihan antara ammonia dan nitrat dalam proses nitrifikasi.I106 0.

027 mgll.3 mgll. akan diikat oleh hemoglobin darah sehingga menggangu penyerapan oksigen oleh hemoglobin. dan stasiun 2 diperkirakan karena meningkatnya kandungan bahan organik pada stasiun tersebut akibat aktivitas budidaya KJA. sehingga nitrit yang merupakan produk antara proses tersebut masih ditemukan. Kandungan bahan organik dapat menghambat proses nitrifikasi (Wetzel. namun menurut Wetzel (1983). Rata-rata konsentrasi oksigen terlarut mendan pada kedalaman 10 meter konsentrasi rata-rata dari ketiga stasiun tersebut sebesar 0. Inilah yang menyebabkan konsentrasi nitrit memilila kecenderungan m e n m sampai kedalainan interface.Pada stasiun 1 terjadi peningkatan konsentrasi nitrit pada setiap kedalaman. Boyd (1982).06 mgil. memiliki konsentrasi nitrit rata-rata sebesar 0. 1983). Menurut Wetzel (1983). Penurunan konsentrasi yang terjadi pada stasiun 3. nitrifikasi berjalan pada keadaan aerobik. Konsentrasi oksigen pada stasiun 1 masih memungkinkan terjadinya proses nitrifikasi walaupun akan bejalan secara lambat.00112 mg/l. Hal inilah yang menyebabkan meningkatnya kandungan nitrit pada stasiun 1 pada setiap kedalamannya. Hal ini diperkirakan proses nitrifikasi masih berlangsung pada stasiun 1.03 mdl. stasiun 4. Fluktuasi konsentrasi yang terjadi pada stasiun 3 dan stasiun 4 dikarenakan sifat nitrit yang tidak stabil. Konsentrasi nitrit yang tinggi tentunya sangat membahayakan kegiatan budidaya KJA di Waduk Cirata. dengan kisaran konsentrasi antara 0. . nitrifikasi masih dapat berlangsung sampai konsentrasi oksigen terlarut sebesar 0. Berdasarkan baku mutu (Peraturan Pemerintah Nomor 82. proses ini akan terns berlangsung sainpai kandungan oksigen terlarut (DO) sekitar 0. ini juga terlihat dari nilai BOD dan COD yang cenderung tinggi di ketiga stasiun tersebut. 2001) untuk kepentingan perikanan konsentrasi tersebut masih pada kisaran baku mutu yang menetapkan batas maksimal sebesar 0.75 mg/l. Selain itu penurunan diakibatkan juga kurang tersedianya oksigen terlarut pada setiap stasiun tersebut. menyatakan ketika nitrit terabsobsi oleh ikan. Pada daerah permukaan waduk yang merupakan daerah aktivitas budidaya KJA. Walaupun konsentrasi oksigen pada stasiun 1 mengalami penurunan setiap kedalainannya (Gambar lo). sehingga konsentrasi nitrit yang merupakan produk antara proses ini juga inenurun.61-10.

antara lain. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Nitrit perairan @JOY) (a=0.1) Stnsiun Stasiun 2 (0.0003 0 0 Stnsiun 4 (0.0004) 0. Stasiun 1 (0. dan faktor kedalaman (Lampiran 2). sedangkan pada stasiun 2. Pada stasiun 1 nilai kandungannya cenderung lebih kecil. dan stasiun (1-3) (Tabel 12).05 16* 0. Sedangkan kedalaman 10 meter dengan interface menurut hasil uji lanjutan tidak memberikan perbedaan yang nyata.0007) Stasiuu 2 (0. . (Tabel 13).0004) a .0007 0 0. stasiun 3. Hal ini menggambarkan kandungan nitrit di permukaan nilainya cenderung berbeda dengan kedalaman lainnya.0035 = berbeda I nyata Nilai BNT Keterangan * Hasil uji lanjut BNT berdasarkan faktor kedalaman memperlihatkan perbedaan nyata antara kedalaman 0 meter (permukaan) dengan kedalaman 10 meter dan kedalaman interface (dekat dasar).0015) Stasiun 1 (0.0513* 0. Terlihat stasiun 1 berbeda nyata dengan semua stasiun pengamatan.0007) 0.0520) Rata-rata Stasiun 4 Stasiun 3 (0.05 17+ Stasiun 3 (0. stasiun (1-4).Hasil analisis data memberikan keputusan tolak H untuk faktor stasiun . Interaksi antara faktor stasiun dan faktor kedalaman juga tidak ditemukan (gaga1 tolak (Lampiran 9). Tabel 10.0520) 0 = 0.0010 0. ini membuktikan bahwa stasiun 1 memiliki nilai )ha1 yang lebih besar dibandngkan dengan stasiun-stasiun pengamatan yang lainnya.0015) (0. stasiun (1-2). Hasil uji lanjut BNT berdasarkan faktor stasiun menunjukkan tiga pasang stasiun yang berbeda nyata. dan stasiun 4 nilainya cenderung lebih tinggi dibandingkan kedalaman yang lainnya. Keputusan ini menggambarkan bahwa pada setiap faktor terdapat perbedaan dua atau lebih stasiun dan kedalaman yang memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap kandungan nitrit di perairan.

0001 mgfl pada stasiun 3.2735 mg/l. Pengaruh faktor waktu pengambilan sampel tidak berpengaruh terhadap kandungan nitrit perairan. stasiun 2 berkisar antara 0. stasiun 3.0034 mg/l pada stasiun 4.0033 mgll pada stasiun 3. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor kedalaman terhadap kandungan Nitrit perairan (Nod (a=0.0093 mg/l pada stasiun 4.0181) 0.3735 mg/l. . (Lampiran 2). stasiun 3. 0. dan stasiun 4 berkisar antara O0.0181 (0.0012) Interface (0.0206* f(lme.0214 mg/l.Tabel 11. 0. = 0. sehingga dapat dikatakan stasiun 1 memiliki kandungan nitrit yang tinggi dibandingkan stasiun lain serta pada setiap kedaiamannya.1) Kedalaman 0 meter Interface Rata-rata 10 meter 0 meter (0. dengan konsentrasi rata-rata di permukaan sebesar 0.0024 mg/l pada staisun 2.0220 mg/l dan meningkat pada kedalaman interface menjadi 0. dan stasiun 4 konsentrasinya cenderung inengalami penurunan pada setiap kedalaman. 3.0038 = berbeda nyata Interaksi faktor stasiun dan kedalaman memberikan keputusan gaga1 tolak I-I.? Berdasarkan hasil yang diperoleh didapatkan lusaran konsentrasi nitrat pada stasiun 1 sebesar 0-0. 0. Keputusan ini menggambarkan tidak adanya interaksi antar faktor stasiun dengan faktor kedalanan.0097 mgA..0012) 0 0. Pada stasiun 2.0217) Nilai BNT Keterangan * 0 0. Pada stasiun 1 terlihat konsentrasi meningkat setiap kedalaman. dan stasiun 4 konsentrasinya cenderung menurun (Gambar 11 dan Lampiran 3). dengan konsentrasi rata-rata pada permukaan sebesar 0. Terlihat bahwa pada stasiun 1 konsentrasi nitrat cenderung mengalami peningkatan. dan menurun pada kedalaman interface menjadi 0. 0. stasiun 3 berkisar antara 0-0.0001-0.00101 mg/l pada stasiun 2.0169* (0. Nitrat (NO.00356 mg/l. 0. sedangkan pada stasiun 2.0217) (0. karena keputusan yang diperoleh memberikan keputusan tolak H.0036 0 .

Kandungan nitrat (NO<)perairan berdasarkan kedalaman pada setiap stasiun dm waktu pengamatan.2 0. Nitrat (mg/O 0 0 10 e 0.3 mgll (Wetzel.02 0 0 01 m a stasiun 4 kcdalema malisimum = 25 meter m +JUII -5-Agustus -a-.02 2 23 a? C g30 E . Hal ini terlihat dari kandungan nitrit yang juga mengalami peningkatan setiap kedalamannya di stasiun 1.September Gambar 11.- 223 g30 40 Y <a EO 70 0 0 01 kedalaman maksimum = 19 meter n -D Y"M @ kedalamnn maksimum = 13 meter I 70 0. konsentrasi oksigen terlarut memiliki kisaran antara 0.Peningkatan nitrat yang terjadi pada stasiun 1 diduga masih berlangsungnya proses nitrifikasi pada stasiun tersebut. 1983).1 0. Proses nitrifikasi mengubah ammonia menjadi nitrit dan selanjutnya menghasilkan produk akhir berupa nitrat.4 0 'z? 0 10 0 01 Nitrat (mgm 0. proses nitrifikasi masih dapat berlangsung sampai konsentrasi oksigen terlarut sebesar 0. dengan menggunakan oksigen terlarut yang terkandung dalam perairan.61-10.03 Nitrat (mgfl) 0.02 Nitrat (mg/i) 0. dan inilah yang menyebabkan konsentrasinya meningkat pada setiap kedalaman di stasiun 1.3 0. . Dan pada stasiun 1. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya pada pembahasan tentang nihit bahwa. Diduga proses nitrifikasi inasih berlangsung bahkan sampai kedalaman inteface.75 mgll..

& dan faktor kedalaman (Lampiran 3). dan stasiun 4. Pada stasiun 1 diperlarakan karena stasiun ini memiliki nilai yang cenderung lebih tinggi .P e n m a n yang terjadi pada stasiun 2. akan tetapi terjadi akumulasi kandungan ammonia pada perairan. Ini juga terlihat dari meningkatnya ammonia total pada perairan (Gambar 7). Berdasarkan kandungan oksigen terlarut stasiun 2.13 mg/l dan menurun sampai pada kedalaman 10 meter rata-ratanya sudah sebesar 0. ha1 inilah yang menyebabkan konsentrasi nitrat cenderung menurun. stasiun (1-2). kandungan bahan organik yang tinggi sehingga pertumbuhan bakteri nitrifikasi lebih lambat dibandingkan bakteri heterotrof.3 mg/l. Hal ini diduga sebagian besar bahan organik belum terdekomposisi sempurna sehingga proses nitrifikasi belum berjalan dengan baik pada kedalainan tersebut. Berdasarkan keputusan tersebut didapatkan bahwa pada setiap faktor terdapat perbedaan dua atau lebih stasiun dan kedalaman yang memberikan konsentrasi yang berbeda terhadap nitrat & periran. Hasil analisis data memberikan keputusan tolak I untuk faktor stasiun. stasiunstasiun yang berbeda nyata antara lain stasiun (1-3). Banyaknya bahan organik pada stasiun-stasiun ini yang terlihat dari nilai BOD dan COD yang cenderung tinggi. 2003). pH perairan yang asam dengan pH di bawah 6 (Effendi. Proses nihifikasi pada kedalaman dibawah 10 meter tentunya akan terhambat. Stasiun 1 memiliki perbedaan yang nyata dengan stasiun yang lain begitu juga dengan stasiun 3. diperkirakan proses nitrifikasi terhambat pada stasiun tersebut. Hal ini menyebabkan bahan-bahan organik yang terdekomposisi menghasilkan ammonia melalui proses ammonifikasi tidak langsung &dekomposisi lagi oleh bakteri nitrifikasi menghasilkan nitrat. stasiun (4-3). dan stasiun 4 terlihat semakin menurun pada setiap kedalaman. Proses ini dapat terhambat karena kandungan oksigen terlarut di bawah 2 mg/l nagnun proses ini masih berlangsung sampai konsentrasi oksigen terlamt 0. mernbuat pertumbuhan bakteri-bakteri nitrifikasi menjadi lebih lambat dari bakteri heterotrof. Namun untuk kedalaman antara permukaan sampai kedalaman 10 meter nilainya juga cenderung menurun. stasiun (1-4).27 mgll kemudian menurun sampai kedalaman interface dengan rata-rata oksigen terlarut di bawah 0. stasiun 3. Nasil uji lanjutan berdasarkan faktor stasiun diperoleh bahwa. Dengan konsentrasi rata-rata pada permukaan sebesar 8. dan stasiun (2-3) (Tabel 14).3 mg/l. stasiun 3.

Hal ini menunjukkan kedalaman 0 meter (permukaan) memiliki kandungan nitrat yang berbeda dengan kedalaman lainnya. stasiun 3.058 = berbeda nyata Hasil uji lanjutan berdasarkan faktor kedalaman menunjukkan kedalaman 0 ineter (permukaan) berbeda nyata dengan kedalaman 10 meter dan kedalaman interface (Tabel 15).020) (0.dibandingkan stasiun yang lain.UU4) (0. Pada stasiun 1 nilainya lebih kecil.023) I I (0.023) Stasiun 1 1 Nilai BNT Keterangan * = 0. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Nitrat perairan (NO<) (a=O.012 n 0. sedangkan pada stasiun 2. Tabel 12. sedangkan stasiun 3 lebih disebabkan berfluktusinya kandungan nitrat pada stasiun ini (Gambar 11).l) Stasiun 1 Rata-rata Stasiun 2 Stasiun 4 Stasiun 3 Stasiun I (0.058) Interface Nilai BNT Keterangan * = 0. dan stasiun 4 nilainya lebih besar daripada kedalaman dibawahnya.020) Stasiun 4 1.029 = berbeda nyata .048* 0 0 (0. Tabel 13.100* 1.l) I Kedalaman 0 meter / Rata-rata Interface 10 meter 0 meter / (0.004) Stasiun 2 (0. Kedalaman 10 meter dan interface tidak beam berbeda kandnungan nitratnya.034 0 0 (0.009) 10 meter 0.142) (U.060* 0. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor kedalaman terhadap kandungan Nitrat perairan (NO<) (c~=O.065* n 0.

dan stasiun 4 berkisar antara 0. kandungan bahan-bahan organik (sisa pakan dan hasil metabolisme ikan (feses)) yang tinggi pada stasiun 3 dari kegiatan budidaya KJA meningkatkan konsentrasi nitrogen total. kisaran konsentrasi yang tinggi pada stasiun 4 dipengaruhi kegiatan KJA di stasiun 3. Ini menggambarkan interaksi antar faktor stasiun dengan kedalaman tidak ditemukan. kisaran nilainya lebih kecil dibandingkan stasiun 4.9846 mg/l. 1989 dalam Effendi. stasiun 4 merupakan outlet waduk tempat keluarnya air waduk. sehingga dapat dikatakan terdapat stasiun yang memiliki kandungan nitrat tertinggi dibandingkan stasiun dan kedalaman yang lain yaitu pada stasiun 1 (Lampiran 3). Nitrogen Total Kisaran konsentrasi nitrogen total pada stasiun 1 yaitu antara 0. 4.. Dapat dilihat pada setiap stasiun pengamatan konsentrasi nitrogen total semakin meningkat setiap kedalaman.Interaksi faktor stasiun dan kedalaman memberjkan keputusan gaga1 tolak H. Hal ini diperkirakan. Nitrogen total penjumlahan kandungan nitrogen anorganik berupa NO2-N.1356-2. stasiun 3 berkisar antara 0.5582-5. Sedangkan stasiun 1 konsentrasinya hanya d~pengaruhioleh air masukan yang berasal dari sungai Citarum. NH3-Nyang bersifat terlarut dan nitrogen organik yang berupa partikulat dan tidak lamt dalam air (Mackereth et al. Stasiun 3 inemiliki kisaran kandungan nitrogen total tertinggi dibandingkan stasiun yang lain. Protein yang terdekomposisi mengandung 16 % nitrogen (Depdikbud. stasiun 2 berkisar antara 0. Sedangkan stasiun 2 dengan jumlah kerapatan KJA sedang. Hal ini dikarenakan. 2003).5749 mgll.0016 mgtl.2564 mgll (Gambar 12 dan Lampiran 4). Pakan ikan yang digunakan adalah pakan buatan yang memiliki kandungan protein yang tinggi.25641. sehingga memiliki konsentrasi nitrogen total yang lebih kecil dibandingkan stasiun lainnya. sehingga didapat kisaran nilai yang lebih tinggi dari stasiun 2.4598-3. Hal inilah yang menyebabkan tingginya konsentrasi nitrogen total pada stasim 3. 1991). dan stasiun ini lebih dekat dengan stasiun 3. Adanya arus yang mengalir menuju stasiun 4 yang membawa sebagian bebanbeban sisa pakan dan buangan ikan meningkatkan konsentrasi nitrogen total pada stasiun ini. .

stasiun 3.c 2 so g 60 70 N-Total (mgn) N. Keputusan ini memberikan gambaran bahwa pada setiap faktor terdapat perbedaan dua atau lebih stasiun dan kedalaman yang memberikan konsentrasi yang berbeda. Perbedaan tersebut menggambarkan stasiun 1 memiliki rata-rata kandungan nitrogen total yang kecil dari stasiun yang lain. dan faktor kedalaman (Lainpiran 1 I). Kandungan nitrogen total perairan berdasarkan kedalaman pada setiap stasiun dan waktu pengamatan .0 0 10 0 2 N. dan stasiun 4 tidak begrtu berbeda nyata. stasiun 1 yang menunjukkan perbedaan nyata dengan semua stasiun (Tabel 16).40 60 70 -+-Juli -z+Agustus ---A--- 9% September Gambar 12. namun pada stasiun 2. 20 E rn e 20 30 5 .Total (rngll) kedalaman maksimum = 13 meter 50 70 0 E a m = '=m 10 z2a c 30 & . Sedangkan kandungan nitrogen total pada stasiun 2.40 . Hasil analisis data memberikan keputusan tolak H untuk faktor lokasi pengambilan sampel (stasiun). Hasil uji lanjutan berdasarkan faktor stasiun diperoleh bahwa. . dan stasiun 3 memiliki kecenderungan nilainya lebih tinggi dibandingkan stasiun yang lain (Lampiran 11).Total (rngil) 4 6 0 0 10 2 N-Total (mgll) 4 6 .40 Y stasiun 1 kedalaman maksimum = 19 meter %O m =cU 30 5 .

Tabel 15.85* 0.67) 10 meter (2.67) 0 (1.SO) 0. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Nitrogen Total perairan (a=0.73) 0 (1.44) Interface Nilai BNT Keterangan * = 0.35 = berbeda nyata Interaksi faktor stasiun dan kedalaman memberikan keputusan tolak H.98* A (1.41) 1.Tabel 14. Konsentrasi yang terjadi di masingmasing kedalaman mengalami peningkatan di setiap penambahan kedalaman.73) Stasiun 4 (2.57) 0.24) 1.74* 0. Interaksi yang terjadi menunjukkan terdapat hubungan antar faktor stasiun dengan kedalaman sehingga tidak ada satu stasiun saja yang memiliki nilai .1) 1 Stasiun Stasiun 1 Stasiun 3 1 Rata-rata Stasiun 2 I Stasiun 4 I Stasiun 1 (0.77* 0 (0.SO) Stasiun 2 (1. (Lampiran 4).66 0 = 0. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor kedalaman terhadap kandungan Nitrogen Total perairan (a=0.24) Nilai BNT Keterangan * Hasil uji lanjut BNT berdasarkan faktor kedalaman menunjukkan pada setiap kedalaman berbeda nyata (Tabel 17).51* 0.1) Kedalaman 0 meter Interface Rata-rata 10 meter 0 meter (0.57) Stasiun 3 (2.44) 0.74 0. Oleh karena itu perbedaan yang nyata terjadi di masing-masing kedalaman yang diamati.07 0 (1.77 = berbeda nyata (1. Ini menunjukkan bahwa pada setiap kedalaman terdapat perbedaan konsentrasi.77* 0 (0.

31-223. Ammonium (mi) Hasil pengukuran ammonium didapat kisaran konsentrasi untuk stasiun 1 sebesar 196. dan untuk stasiun 4 berkisar antara 442.15 mg/l. Aktivitas ini banyak dilakukan oleh permukaan liat karena memiliki bantuk moleM yang halus. Konsentrasi ammonium pada stasiun 4 lebih tinggi daripada stasiun 3 diduga karena adanya arus pada waduk menyebabkan nitrogen organik yang banyak terdapat di stasiun 3 terbawa arus menuju stasiun 4. Ammonium akan bereaksi secara cepat dengan muatan negatif dari liat dan membentuk ikatan yang komplek dengan logam dan senyawa organik (Tan. untuk stasiun 2 konsentrasinya berkisar antara 261. dm pada kedalaman interface konsentrasi tertinggi terjadi pada stasiun 3. B.l mg/l. dengan rata-rata konsentrasi sebesar 471. dengan rata-rata konsentrasi sebesar 211. Selain dari dekomposisi. Selanjutnya nitrogen organik akan banyak mengendap pada stasiun 4 dan terdekomposisi menghasilkan ammonium. Dan konsentrasi ammonium terendah terjadi pada stasiun 1.35 mg/l.04 mg/l. nsunun penjerapan yang terjadi pada stasiun 2 lebih sedikit terjadi. Konsentrasi mnonium tertinggi terjadi pada stasiun 4. Hal ini dikarenakan kandungan dari ammonium yang terdapat pada perairan relatif sedikit . Nitrogen organik ini akan mengendap didasar dan terakumulasi pada sedimen.69 %.85-410.9280. Rata-rata persentase kandungan liat tertinggi terjadi pada stasiun 2 yaitu sebesar 91. pada kedalaman 10 meter konsentrasi tertinggi terjadi pada stasiun 2. Nilai konsentrasi nitrogen total tertinggi pada kedalaman 0 meter terjadi pada stasiun 2. Kebanyakan nitrogen organik bersifat partikulat yang tidak larut dalam air (Effendi.87 mg/l. unt& stasiun 3 berkisar antara 392.konsentrasi nitrogen total tertinggi pada setiap kedalamannya.7 mg/l. Nitrogen organik banyak berasal dari sisa pakan yang tidak termakan dari kegiatan budidaya KJA yang biasanya mengandung protein yang tinggi. Kandungan Nitrogen di Sedimen 1. 2003).62-490. ammonium juga dihasilkan dari penjerapan alnmonium yang terlarut pada air oleh sedimen. selain itu juga dapat berasal dari penjerapan oleh sedimen. Konsentrasi ammonium tertinggi terjadi pada stasiun 4 (Gambar 13 dan Lampiran 5). Ammonium yang terdapat di sedimen dapat berasal dari dekomposisi nitrogen organik yang terakumulasi di dasar. 2000).

. dan 84. Terlihat bahwa stasiun 4 memiliki persentase liat lebih besar dari stasiun 3. Lokasi Juli Agustus September Gambar 13.) (Lampiran 5). Sedangkan stasiun 3 dan stasiun 4 memiliki persentase rata-rata liat adalah sebesar 83. semua stasiun memberikan pengaruh berbeda nyata terhadap kandungan ammonium pada sedimen (Tabel 18). sehingga konsentrasi ammonium yang terkandung pada stasiun 4 lebih banyak dibandingkan stasiun 3. Hal ini memungkinkan terjadinya penjerapan ammonium lebih banyak dari stasiun 3. karena faktor stasiun memberikan keputusan tolak %.) sedimen berdasarkan stasiun dan Hasil analisis data menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) menjelaskan sedikitnya ada dua atau lebih stasiun yang memiliki perbedaan yag nyata.dari stasiun 3 dan stasiun 4. mi. Sedangkan faktor waktu pengambilan sampel tidak meinberikan perbedaan yang nyata (gaga1 tolak H. Perbedaan pada setiap stasiun menggambarkan pada masing-masing stasiun kandungan ammonium-nya berbeda satu sama lain. Hasil uji lanjut BNT yang diperoleh berdasarkan fdctor stasiun menyatakan bahwa.95 % (stasiun 4). Konsentrasi Ammonium waktu pengamatan.98 % (stasiun 3).

18-110. Hal ini diduga merupakan hasil dari dekomposisi ammonium oleh baMeri nitrifikasi pada stasiun tersebut. sedangkan konsentrasi rata-rata terendah terjadi pada stasiun 1 yaitu sebesar 86. 112. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Ammonium sedimen (a=0. menjelaskan bakteri nitrifikasi cenderung menempel pada sedimen dan padatan lain. bahwa konsentrasi nitrat rata-rata tertinggi terjadi pada stasiun 4 yaitu sebesar 145. Ketersediaan ammonium yang tinggi pada stasiun 4 memberikan peluang lebih besar untuk diubah menjadi nitrat dibandingkan pada stasiun lain.87 mgll.05 mgh (stasiun I). Stasiun 2 memiliki kandungan nitrat lebih tinggi daripada stasiun 3.36 mg/l (stasiun 2).39-160.1) Nilai BNT Keterangan * = 19. 126.85 mgll.34123. Effendi (2003).89 = berbeda nyata 2.64 mg/l (stasiun 3). karena pada stasiun 3 kandungan nitrat yang terukur pada kedalaman interface nilainya mendekati no1 sehingga penjerapan nitrat pada stasiun ini lebih sedikit dijumpai. 75.Tabel 16.35-95. koloid-koloid tanah. Nitrat yang terdapat pada sedimen dapat berasal dari oksidasi ammonium (&) selain itu dapat juga berasal dari penjerapan anion oleh N+.53 mgh (stasiun 4) (Gambar 14 dan Lampiran 5). Nitrat ( N o d Berdasarkan data yang didapat kisaran konsentrasi nitrat yang terdapat pada masing-masing sedimen antara lain 75. Penjerapan juga akan semakin ~neningkat jika . Hal ini diduga karena proses penjerapan anion-anion nitrat oleh koloid-koloid tanah yang lebih banyak terdapat di stasiun 2. Terlihat pada Gambar 23. Stasiun 4 cenderung memiliki kandungan nitrat yang tinggi dari stasiun yang lain.

antara lain. Hasil analisis data memberikan keputusan tolak H. Hasil uji lanjutan berdasarkan faktor stasiun diperoleh bahwa. Sedangkan faktor waktu pengambilan sampel memberikan keputusan gaga1 tolak &. terdapat lima pasang stasiun yang berbeda nyata terhadap kandungan nitrat. dibandingkan stasiun yang lain dengan pH rata-rata 5. Sedangkan antara stasiun (1-3) tidak memberikan perbedaan yang nyata terhadap kandungan nitrat pada sedimen waduk (Tabel 19). stasiun (2-4). Lokasi a Juli Agustus B September ! Gambar 14. Konsentrasi Nitrat ( N O 9 sedimen berdasarkan stasiun dan waktu pengamatan. Kemasaman sedimen pada stasiun 2 sangat tinggi.kelnasaman tanah meningkat (Depdikbud. Hal ini meningkatkan proses penjerapan anion-anion nitrat pada stasiun 2. 1991).6. . stasiun (1-2). pada faktor stasiun (Lampiran 5). dan stasiun (3-2). sehingga kandungannya relatif lebih tinggi dari stasiun 3. stasiun (3-4). stasiun (1-4).

stasiun 4 lnemiliki kandungan nitrogen total tertinggi dibandingkan stasiun yang laimya.Tabel 17.87) 0 - (89. 542. dan stasiun 1.87) Nilai BNT Keterangan * Terlihat babwa kandungan pada setiap stasiun berbeda.32) Stasinn 4 (145.15 mgll (stasiun 4) (Gambar 15 dan Lampiran 5).262. .25* 29. Pengarub arus menyebabkan sebagian besar sisa pakan yang sebagian besar berasal dari stasiun 3 terbawa hngga stasiun 4. Nitrogen Total Kandungan nitrogen total pada setiap stasiun pengamatan didapatkan kisaran antara lain 240. dan 598. Kandungan nitogen total adalah jumlah dari nitrogen organik dan anorganik. Hal ini menyebabkan sisasisa pakan yang banyak inengandung nitrogen banyak terendapkan pada stasiun 4.62) 2. 3.99* 56.34 mgd.02 mg/l (stasiun I).44* 26.55* 0 = 25. 351. Terlihat pada Gambar 24.70* 0 58. diikuti oleh stasiun 3.51-785.34-643. Secara umun kandungan nitrogen total tertinggi terjadi pada stasiun 4 dengan rata-rata kandungan nitrogen total sebesar 679.87) Stasiun 3 (116.1) Stasiun Stasiun 1 Stasiun 4 Rata-rata Stasiun 3 Stasiun 2 Stasiun 1 (145.51-398.32) 29. stasiun 2.62) Stasiun 2 (1 16.45 (stasiun 2). namun untuk stasiun 1 dan stasiun 3 tidak begitu berbeda nyata. Kandungan nitrat stasiun 3 relatif lebih kecil dari stasiun 2 karena diduga proses nitrifikasi dan penjerapan nitrat terhambat sehingga kandungannya lebih kecil dibandingkan stasiun 2 dan relatif lebih sama dengan stasiun 1.74 0 (86.82 mg/l (stasiun 3).87) (86. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Nitrat sedimen (a=0.16 . sehmgga kandungan nitrogen total pada stasiun tersebut relatif lebih tinggi dibandingkan stasiun yang lain.24 = berbeda nyata (89. Ha1 ini juga terlibat dari junlah ammonium dan nitrat yang relatif lebih tinggi pada stasiun ini.

ll) 428.03* 214.14) Stasiun 3 Stasiun 4 (679.23* 310.34) Rata-rata Stasiun 2 Stasiun 3 (369.ll) Stasiun 2 (369.45 = berbeda nyata 332. Keputusan ini mengainbarkan bahwa kandungan nitrogen total pada setiap stasiun berbeda nyata. Hasil uji lanjut BNT dapat dilihat pada Tabel 20 dibawah ini.34) Stasiun 4 (679. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Nitrogen Total sedimen (a=0.03* 0 0 Nilai BNT Keterangan * .1) Stasiun Stasiun 1 (251. stasiun (Lampiran 5). Konsentrasi Nitrogen Total sedimen berdasarkan stasiun dan waktu pengamatan.20* 96./ 1 Juli mi Agustus September Lokasi Gambar 15.14) Stasiun 1 (251. Tabel 18.20* 0 = 94.14) (583. Hasil analisis data memberikan keputusan tolak H untuk pengaruh faktor .00* 0 118.

Sedangkan pada stasiun 1 lebih disebabkan oleh masukkan air dari sungai Citannn. artinya bahwa pengaruh waktu kurang mempengaruhi kandungan nitrogen total pada sedimen waduk.56. dan tidak ditemukan dua stasiun yang memiliki kandungan nitrogen total yang sama. Perbedaan pada masing-masing stasiun menggambarkan kandungan di setiap stasiun berbeda satu sama lainnya. C. Kondisi Perairan dan Sedimen Waduk Cirata 1. Untuk pengaruh waktu pengambilan sampel berdasarkan hasil analisis data tidak memberikan pengaruh berbeda nyata (gaga1 tolak &). Hal ini diduga berasal dari sisa-sisa pakan dan feses ikan dari kegiatan budidaya KJA pada kedua stasiun tersebut. Dan pada stasiun 4 disebabkan adanya arus air keluar waduk.O NTU (stasiun 4). Parameter Fisika dan Kimia Perairan a. Dapat dilihat pada Gambar 17 bahwa terjadi peningkatan kekeruhan setiap pertambahan kedalaman. karena diketahui bahwa stasiun 4 merupakan daerah aliran keluamya air waduk. Kekeruhan Kekeruhan yang diperoleh berkisar antara 3-56 NTU (Gambar 17 dan Lampiran 6).Dari hasil uji lanjut BNT berdasarkan faktor stasiun diperoleh bahwa.40. dan 2.O NTU (stasiun 3).O NTU (stasiun I). 4. . khususnya pada stasiun 2 dan stasiun 3 terjadi peningkatan yang sangat besar.O .2 .6 .13.O NTU (stasiun 2). Kisaran nilai yang diperoleh untuk setiap stasiun adalah 3. sedangkan kekeruhan terendah terdapat pada bulan Agustus di stasiun 3 pada permukaan waduk yaitu sebesar 3 NTU. terdapat perbedaan yang nyata pada semua stasiun terhadap kandungan nitrogen total sedimen.52.7. Nilai kekeruhan tertinggi terdapat pada bulan September di stasiun 2 pada kedalaman interface (dekat dasar) yaitu sebesar 56 NTU. 3.

.Kekeruhan (NN) Kekeruhan (NTU) 0 0 10 23 40 60 0 20 \_ 40 al A-.6 - 56. Penyusutan tinggi muka air inenyebabkan partikel-partikel halus dan tersuspensi menjadi lebih pekat sehingga meningkatkan kekeruhan air waduk. Pada ketiga waktu pengamatan. 20 2 E 2 " e C 3s .40 m m 60 70 Kekeruhan (NTU) m n stasiun 2 GO ke&lam~ mnksimum = 13 meter g so ke&lman maksimum = 19 meter 70 Kekewhan (NTU) 0 0 10 t 40 EO 0 0 10 M 40 EO 53 $40 m n g 20 rn stasiun 3 a 0 2 ~ 3 3 m E ' 9% BJ 70 -Juli - $40 m 3s EO kedalaman mksimum = 25 meter 70 -m-Agustus -+-September I I Gambar 16. Nilai ini diduga karena pada bulan September tinggi muka air waduk Inengalami penyusutan dibandingkan bulan-bulan sebelumnya (Mardiana.O NTU.- .-. Kekeruhan perairan pada setiap stasiun. dan waktu pengamatan. kedalaman. 2007). kekeruhan tertinggi terja& pada bulan September dengan kisaran antara 4.

Suhu Suhu perairan pada setiap stasiun dan kedalaman berkisar antara 26.58 O (Gambar 16 dan C Lampiran 7). Deviasi suhu berdasarkan waktu maupun kedalaman masih berada di bawah 3 "C (Lampiran 7). dan waktu pengamatan. Berdasarkan baku mutu untuk kepentingan perilcanan (Peraturan Pemerintah Nomor 82.16 .40 $50 Y kedalarnan mahimum = 19 meter z0 3 a $50 Y 60 70 60 70 kedalamn mahimum = 13 meter 26 28 Suhu (Celcius) 30 32 26 28 Suhu (Celcius) 3l 32 m stasiun 4 60 70 kedalanwn maksimum = 25 meter --cJuli -+-Agustus ---September Gambar 17.16 30.68 O C dan pada dasar waduk berkisar antara 26. Suhu perairan pada setiap stasiun. - Suhu (Celcius) Suhu (Celcius) 26 0 10 '2 28 30 32 0 10 '2 26 28 30 32 g 20 E m -C 0 3 g . Dengan suhu tertinggi di daerah permukaan berkisar antara 29. Penurunan suhu terjadi setiap stasiun pada permukaan sampai kedalaman dasar waduk. 2001) suhu pada perairan ini masih dalam kisaran baku mutu.68 OC.27. . kedalaman.b. karena perubahan suhu antar lapisan tidak menyebabkan perbedaan suhu yang drastis antara lapisan. Penurunan suhu yang terjadi belun dapat mengambarkan adanya lapisan thermoklin.40 m rn 5 .17 30.

Jo . dan stasiun 4 berkisar antara 4. Kisaran kandungan TSS pada stasiun 1 adalah sebesar 5 -19 mg/l. Hal ini diduga karena adanya partikel-partikel suspensi yang berasal akibat limpasan dari daratan (run o m dan sisa-sisa pakan yang terbuang dari aktivitas KJA ke dalam perairan sehingga meningkatkan partikelpartikel tersuspensi pada perairan tersebut.40 2 50 60 kedaloman maksimum = 62 meter 70 kednlaman maksimum = 25 meter -+-Jul~ --r-hustus -*Sep~ember Gambar 18. stasiun 2 berkisar antara 6-241 mgll. Ini juga terlihat dari nilai kekeruhan yang semalan meningkat pada setiap kedalamannya. TSS (mgll) 0 TSS (mgfl) 0 0 200 300 1133 rn a 0 g E 03 10 20 stasiun 1 . Kandungan Total Suspended Solid (TSS) perairan pada setiap stasiun. Total Suspended Solid (TSS) TSS yang diperoleh berkisar antara 3-241 mgA (Gambar 18 dan Lampiran 8). dan waktu pengamatan.do n a 2 50 60 70 kedalamon maksiium = 13 meter TSS (mgA) 0 1Gu 0 m T s s (m@) 300 0 E n m 10 k 2 0 Z" a 5 . Dari .c. stasiun 3 berkisar antara 3 -180 mg/l. E .29 r n g . Kandungan TSS yang tinggi bisa mengakibatkan pengendapan bahan-bahan suspensi dan terakurnulasi pada sedimen sehingga meningkatkan kandungan sedimen perairan waduk. kedalaman. Terlihat pada Gambar 18 terjadi peningkatan nilai TSS pada setiap penainbahan kedalaman.

Kisaran konsentrasi oksigen terlarut pada bulan Juli. Pola yang demikian dapat digolongkan ke dalam pola sebaran Clinograde. dan 0. tetapi dangkalnya kedalaman stasiun 2 ini membuat volume air pada stasiun ini lebih kecil dibandingkan stasiun 3. Hal ini diduga karena pada stasiun 2 terdapat aktivitas budidaya KJA.11 mgtl (Gambar 19 dan Lampiran 9).17-9. d. nilai TSS tertinggi terjadi pada stasiun 2. September berturutturut antara lain berkisar antara.keempat stasiun yang teramati. Oksigen Terlarut (Dissolved Oxygen (DO)) Konsentrasi DO maksimum terjadi pada bulan September pada stasiun 1 di kedalaman 0 meter (permukaan) yaitu sebesar 10. nilai kekeruhannya juga lebih tinggi dibandingkan stasiun yang lain. 0. 1983 dalam Octaniany.75 mg/l. clan rata-rata pada dasar waduk adalah 0.98 mg/l (Lampiran 11). Konsentrasi oksigen yang semakin menurun pada setiap kedalamannya akan menjadikan keadaan anaerob pada perairan. dan letak stasiun 2 yang lebih dekat dengan daratan membuat stasiun 2 mendapatkan limpasan dari daratan (run om lebih banyak dibandingkan stasiun yang lain sehingga TSS pada stasiun 2 lebih tinggi dibandingkan stasiun yang lain. Penurunan teqadi secara drastis dari permukaan waduk sampai kedalaman 5 meter. . Hal ini tentunya akan berdampak b a g proses-proses dekomposisi bahan organik baik pada air maupun pada sedimen waduk.ll-9. 2005). khususnya pada dasar perairan.58 mg/l.75 mgll. sedangkan konsentrasi DO minimum tejadi pada bulan Juli pada stasiun 2 di kedalaman interface (dekat dasar) dengan konsentrasi sebesar O. Rata-rata konsentrasi DO pada permukaan adalah 8. Dan selanjutnya konsentrasi menurun secara perlahan dengan bertambahnya kedalaman.517 mg/l. Rata-rata konsentrasi oksigen pada kedalanlan 5 meter adalah 1. Pada setiap stasiun konsentrasi DO mengalami penurunan. walaupun jumlah unit KJA yang terdapat pada stasiun 2 tidak terlalu padat dibandingkan stasiun 3. Agustus. 0.02 mg/l. Sedangkan nilai TSS terkecil tejadi pada stasiun 1. Pola tersebut menggambarkan keadaan perairan yang eutrofik dan banyak inengandung unsur hara serta bahan organik di dalamnya (Goldmand dan Home.74 mdl.18-10.

82-8. .68.67.96-8.Oks~gen Terlarut (mgll) Oksigen Terlarut (m@) 0 5 10 0 0 10 5 10 a stasiun 1 70 Oksigen Tellarut (mgil) l.40 a 329 -D 2 ' 50 70 0 kedalamn = 13 meter Okstgen Tetlarut (mgtl) 5 10 E stasiun 4 60 kedalamnn maksimum = 25 meter 70 -e-~uli ~Agustus +September Gainbar 19.67. e. dan waktu pengamatan. didapat kisaran nilai antara 6. rata-rata pH tertinggi terdapat pada permukaan waduk dengan kisaran nilai antara 7. pH Berdasarkan hasil pengukuran pH (Gambar 20 dan Lampiran lo). Berdasarkan waktu pengamatan selama penelitian.rm a 5 . kedalaman. Kandungan oksigen terlarut (DO) perairan pada setiap stasiun. dan pH terendah terdapat pada dasar waduk dengan kisaran nilai antara 6.67. Dengan nilai pH tertinggi terdapat pada bulan September di stasiun 3 pada permukaan waduk dengan nilai sebesar 8. Terlihat bahwa semakin bertanbahnya kedalaman terjadi penurunan pH pada setiap stasiun.97-7.96. Sedangkan nilai pH terendah terdapat pada bulan Agustus di stasiun 3 pada kedalaman 30 meter dengan nilai sebesar 6.

5 6.5 pH stasiun 1 nu stasiun 4 1 70 J kedalnman maksimum = 62 meter -+-Juli -r--Aguslus 70 J -t- kedaloman mnksimum = 25 meter I September Gambar 20. f.06 mg/l. Bahan organik diduga berasal dari kegiatan budidaya KJA yaitu dari sisa pakan dan feses ikan.08-24. 2003). dan waktu pengamatan.5 75 . 8. dan nilai terkecil terdapat pada stasiun 2 (bulan September) di kedalaman 10 meter dengan nilai sebesar 1.5 9. Nilai BOD menunjukkan peningkatan pada setiap penambahan kedalaman. dengan nilai terbesar terdapat di stasiun 3 (bulan Sepetember) di kedalaman dekat dasar (interface) dengan nilai sebesar 28. Sedangkan stasiun 1 dan stasiun 4 yang tidak dipengaruhi oleh kegiatan . Biocliemical Oxygen Demand @OD) Nilai BOD yang didapat berkisar antara 1. Nilai pH perairan pada setiap stasiun.36 mgA (Gambar 21 dan Lampiran 11). kedalaman.06 mgll.06 mg/l.36 .65 mgA. dan pada stasiun 2 kisaran nilai BOD antara 3.36-28.5 75 8. ha1 ini dibuktikan dengan kisaran BOD yang cenderung tinggi pada stasiun 2 dan stasiun 3.pH 6. BOD dapat menggambarkan banyaknya kandungan bahan organik di perairan (Effendi. Pada stasiun 3 kisaran nilai BOD antara 1.28.

kedalaman.40 m D 3 50 GO 70 . . z m 20 e 2 20 a- ' ' 30 . AO $ m stasiun 1 kcdnlaman mnksimum = 19 meter 3 u 40 stasiun 2 kedGlaman maksimum = 13 meter ? so ' i GO 70 0 10 20 60 70 BOD (mgll) 30 0 10 20 BOD (mil4 30 0 10 10 Y30 5 . Ini diduga karena oksigen digunakan untuk proses dekomposisi bahan-bahan organik menjadi bahan-bahan anorganik (Effendi. --cJuli +Agustus -b--.21mg/l clan 2. dan waktu pengamatan.5618. September Kandungan Biochemical Oxygen Demand (BOD) perairan pada setiap stasiun. .20 E G - '--. Hal ini juga terlihat dari kandungan oksigen terlarut (DO) yang semakin menurun pada setiap penambahan kedalaman. 2003). sehingga nilai BOD menja& tinggi. semakin tinggi pula konsurnsi oksigen untuk proses dekomposisi. BOD [mgfl) 0 10 20 30 0 10 20 BOD (mu) 30 10 -. Proses dekomposisi ini memerlukan oksigen (02) dan inelibatkan mikroorganisme (bakteri). 2003).12 mgil. Semakin banyak bahan organik yang terkandung pada perairan.. stasiun 3 g 30 E 40 3 50 60 70 stasiun 4 kcdalamnn mnksimum = 25 meter Gambar 21.. Nilai BOD yang semakin besar pada setiap penambahan kedalaman menggambarkan proses dekomposisi bahan organik yang semakin besar..budidaya KJA kisaran nilai BOD masing-masing adalah 4.78-8. BOD juga dapat menggambarkan proses dekomposisi secara biologis (biodegradable) (Effendi..

2001) untuk kepentingan perikanan. nilai BOD yang diperbolehkan adalah sebesar 6 mgll. g.26-20.66 mg/l (Lampiran 11). Terlihat bahwa stasiun 2 dan stasiun 3 yang dipengaruhi oleh kegiatan budidaya KJA memiliki rata-rata COD yang tinggi dibandingkan pada stasiun 1 dan stasiun 4. 1989). nilai tersebut masih dalam kisaran maksimum yang diperbolehkan yaitu sebesar 50 m a . COD inenggambarkan dekomposisi bahan organik secara kimia dengan memanfaatkan oksigen (02) dan menghasilkan CO2 dan Hz0 (APHA. 6.13-53.2001) untuk kepentingan perikanan.64 mgll (stasiun I).41 mgll.46-53. dan bahanbahan organik ini berasal dari kegiatan KJA yang terjadi pada kedua stasiun tersebut.64 mg/l (stasiun 4). .48 mg/l (Gambar 22 dan Lampiran 12). Hal ini menggambarkan bahwa kandungan bahan organik yang terdekomposisi secara kimia banyak terdapat pada stasiun tersebut. dan 4. Kisaran nilai COD untuk setiap stasiun antara lain. dengan rata-rata nilai di permukaan 17. Nilai rata-rata BOD pada permukaan sampai dengan kedalainan 10 meter masih dalam kisaran baku mutu yaitu sebesar 4. Chentical Oxygen Demand (COD) Nilai COD berkisar antara 4.20 mgll. Nilai COD semakin bertambah pada setiap penambahan kedalaman. Nilainya semakin bertambah pada setiap kedalaman. dan di kedalaman dekat dasar 29. 10. 8. Nilai rata-rata COD selama pengamatan adalah 19. Berdasarkan baku mutu (Peraturan Pemerintah Nomor 82. Sedangkan nilai rata-rata BOD pada kedalaman dasar (interface) sangat melebihi dari nilai baku mutu yang diperbolehkan yaitu sebesar 13.82 mg/l (stasiun 3).19-50.83 mg/l (stasiun 2).68 mg/l.83 mg/l.13-39.Berdasarkan baku mutu (Peraturan Pemerintah Noinor 82.

5%. Parameter Fisika dan Kimia Sedimen a. dan liat antara 51. debu antara 4.l-48. I c . 2.& & - Agustus -+September Gambar 22. Tekstur Sedimen Dari hasil analisis diperoleh tiga macam tekstur yang terdapat pada sedimen waduk selama penelitian. clan liat.23%. Kandungan Chemical Oxygen Demand (COD) perairan pada setiap stasiun. debu. komposisi liat pada setiap stasiun sangat mendominasi tekstur yang lain.02%. Untuk tekstur debu komposisi tertinggi terjadi pada bulan September di stasiun 1 sebesar 48.23-95. dan komposisi terendah pada bulan September pa& stasiun 1 sebesar 51.COD (mgn) 0 20 40 E n 40 COD (mg!l) 60 -M B z -30 C P 10 - . Dengan komposisi tertinggi pada bulan September di stasiun 2 sebesar 95.6 %.02%. Dengan kisaran untuk pasir antara 0. kedalaman. dan komposisi terendah terjadi pada bulan . yaitu: pasir.40 3 50 60 70 'e stasiun 1 kedolamn mlitimum = 19 meter rn stasiun 2 kedal-n mksimum = 13 meter coo (msn) 0 c 10 COD (msn) 0 20 40 I 3 5 E 2 20 $ 30 g 40 0 3 50 60 kedalaman maksimum = 25 meter 70 --cJuli .32-1. Terlihat bahwa. dan waktu pengamatan.5 % (Gambar 23 dan Lampiran 13).

'"1 Bulan Juli '20 1 Bulan Agustus opasir mdabu olist B P B S ~ ~dobu Oliat m Bulan September 19 pasir rn dobu o list Gambar 23.6%.6 (Gambar 24 dan Lampiran 13). Nilai pH bulan Juli dan bulan Agustus relatif sama atau tidak terjadi perbedaan.1%. b. 1991). sedangkan pada bulan September terjadi penurunan nilai pH di setiap stasiun pengamatan. .September di stasiun 2 sebesar 4. Dan untuk tekstur pasir komposisi tertinggi terjadi pada bulan Agustus di stasiun 4 sebesar 1. Kisaran nilai pH tersebut termasuk dalam kategori sedimen dengan kemasaman yang sedang (Depdikbud. Tekstur sedimen Waduk Cirata berdasarkan stasiun dan waktu pengamatan. pH Nilai pH sedimen adalah berkisar antara 5.2-6. dan komposisi terendah pada bulan Juli di stasiun 4 sebesar 0.32%.

Nilai pH sedlmen berdasarkan stasiun dan waktu pengamatan. Pada bulan September kandungan bahan organik relatif lebih tinggi dibandingkan bulan-bulan lainnya. . sehingga diduga pada sedimen waduk kandungannya juga tinggi. Penurunan yang tejadi diduga akibat adanya proses dekomposisi bahanbahan organik. air. khususnya pada pengamatan bulan September.I Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3 Stasiun 4 Stasiun a Juli Agustus September 11 Gambar 24. Pada sedimen waduk yang basah. Ion EPinilah yang menurunkan pH pada sedimen. karbondioksida &an bereaksi dengan air membentuk asam karbonat (HzC03). dan ammonia. ini terlihat dari kandungan BOD maupun COD khususnya pada kedalaman interface (dekat dasar). Asain karbonat akan membentuk kesetiinbangan mambentuk ion EPd m asam bikarbonat (HCOd. Pada kedalaman interface tentunya &an banyak mengandung kanbondioksida. Bahan organik terdekomposisi akan teroksidasi dengan penambahan oksigen dan pengurangan hidrogen menjadi karbondioksida. Tingginya kandungan karbondioksida akan menurunkan pH.

Kandungan nitrogen total pada perairan cenderung mengalami peningkatan pada setiap penambahan kedalaman. . Konsentrasi ammonia bebas (NH3) pada permukaan perairan sudah melebihi baku mutu (PP No 82 Tahun 2001). dan outlet waduk proses nitrifikasi terhainbat.A. kecuali pada inlet waduk yang cenderung meningkat di setiap kedalamannya. dibandingkan kandungan nitrat. Tekstur liat diduga memiliki kemampuan mengikat ammonium lebih baik dibandingkan nitrat. Perairan waduk Cirata berdasarkan kandungan ammonia total menurut kesuburannya digolongkan kedalam perairan Eutrofik. Kandungan ammonium (~~43. sedangkan pada daerah KJA sedang. Kesimpulan Kandungan ammonia total pada perairan mengalami peningkatan pada setiap penambahan kedalaman. stasiun pengamatan memberikan perbedaan kandungan nitrogen yang berbeda nyata. Sedangkan untuk waktu pengainatan hanya mernberikan perbedaan yang nyata pada kandungan ammonia total. Konsentrasi ammonium lebih tinggi pada sedimen. sedangkan konsentrasi nitrit (NOz) dan nitrat (NO$ masih dalam kisaran baku mutu perairan. Daerah KJA padat memiliki kandungan nitrogen total yang paling tinggi dibandingkan daerah yang lain. Tekstur sedimen banyak ditemukan dalam bentuk liat. Berdasarkan statistik diperoleh. daerah KJA padat. Kandungan nitrit (NO<) dan nitrat (NO3-)pada perairan cenderung mengalami penumnan. Proses nitrifikasi inasih berlangsung pada daerah inlet waduk. Konsentrasi NH3 memiliki kecenderungan mengalami penurunan.(N0i) nitrat dan nitrogen total pada sedimen cenderung mengalami peningkatan pada daerah outlet waduk. Pada koloin perairan kedalaman juga memberikan hasil yang berbeda nyata terhadap kandungan nitrogen di perairan. sedangkan NI&+ memiliki kecenderungan mengalami peningkatan pada setiap penambahan kedalaman.

Jlushing rate) untuk melihat pengaruhnya terhadap pola distribusi nitrogen secara spasial. Saran 1. Perlu dilakukan kajian lanjutan dengan melihat pengaruh pola hidrologi waduk (arus air. seperti pemanfaatan sedimen yang sangat banyak mengandung nitrogen.B. debit. untuk dijadikan pupuk. volume air waduk. Perlu dikaji lebih lanjut tentang pengendalian lingkungan di Waduk Cirata. . 2.

. E. Penerbit UI-PRESS.Horne. 163 p. 17&ed. StandardMethodfor The Examination of Water and Wastewater.R.C. D. Jakarta. UK. 1992. Freshwater Ecology. [Depdikbud] Depatemen Pendidikan dan Kebudayaan. FPIK-IPB. Penerjemah. 1995. Jurnal Sains dan Teknologi BPPT . S. 2005. Teluuh Kualitas Air :Bagi Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan Perairan.DAFTAR PUSTAKA [APHA] America Public Health Association . John Wiley and Sons. Mc Graw Hill Book Company. Pemelilzaraan Ikan dalam Karamba. Yogyakarta. Jakarta. . Chapman.id (2005) Goldman. Haslam. Gramedia. ip/ek. Jawa Barat Selama Periode 2000-2004. 2003. Bogor. Gamo. Limnology. A. and A. 1961. Jakarta.net.W. Washington D.M.AWWA. Perubalzan Spasial dan Temporal Kualitas Air Waduk Cirata. Kimia dan Ekotoksikologi Pencemaran. Asmawi. APHA. Chichester. Yanti K. Penerbit Kanisius. Elsevier Scientific Publishing Company. California. 1995. H. River Pollution and Ecological Perspective. C. University of California. New York. P F. Brown. Skripsi. Boyd. 1983. WPCF. Feriningtyas. H.Dinamika dan Status Kualitas Air Waduk Multi Guna Cirata. London.J. Miller. Kimia Tanalz Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan -Kebudayaan. L. D. 2002. Heinemann Educational Books. Effendi. dan G.J. 1982. Ferdiaz. Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi IPB. C. 520 h. 253 p. Methods of Analysisfor Soils Plants and Water. Polusi Air dan Polusi Udara. 1987. 1983. http:L%/ww. Amsterdam. S. Program Studi MSP. 3 18p. Connell. 1991. Water Quality Managementfor Pond Fish Culture. 1989. Oxfort.D dan Pratt. New York. Bogor. S.

Jawa Barat. 7. L. Prihadi. IHPUNESCO.Hehanusa P. Mardiana. di Waduk Cirata.N. Nastiti. 2005.E dan Haryani G. S.2. Program Studi MSP. S. Bogor. Bogor. Jakarta. Sknpsi. S. Wuduk Cirata. Wetlands International . 2005. Reinhold Publishing Corpoartoin. 1991. Kabupaten Cianjur. Sekolah Pasca Sarjana. Ciputri. Fluktuasi Kandungan Oksigen Terlarut selama 24 Jam pada Lokasi Karamba Jaring Apung. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebuyaan. G. USA. H. Disertasi. Sekretaris Negara Republik Indonesia Jakarta. Cirata. Skripsi. dan Ratnawati. IPB. Pertumbuhan Ikan Mas (Cyprinus carpio) pada Budidaya Karamba Jaring Apung diperairan Eutrof. Kamus Limnologi (Perairan Darat). FPIK-IPB. 1993. FPIK-IPB. Octaviany.H. dan E. G~amedia Pustaka Utama. Reid. 1998. Program Studi MSP.H. Bogor. 190 h. Bogor. Revised and Expanded. PT. 2001. Skripsi. 2001. Pemerintah Republik Indonesia. Kartamihardja. Environmental Soil Science. Notohadiprawiro. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol. Steel. Jawa Barut).Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dun Pengendalian Pencemaran Air.Indonesia Programme. Program Studi MSP. Pengelolaan Budidaya Ikan Secara Lestari di Waduk (Studi Kasus di Perairan Waduk Cirata.G. Puslitbang Perikanan. I. Indriani. 2005. No. Krimono. 2007. 2001. Tan. 2001. 2000. Prinsip dun Prosedur Statistika. Diterjemahkan oleh Bambang Sumantri (IPB). . Marcel Dekker. Swyadiputra.D dan J. A. Prosiding Lokakarya Selamatkan Air Citarum.S. K. Studi Kandungan Fosfor di Perairan dun Sedimen yang Dipengaruhi Kegiatan Karamba Jaring Apung di Waduk Cirata. Inc. Jakarta. K. Komite Nasional Lahan Basah R. Tanah dun Lingkungan. R. dun Jatiluhur. Dampak Budidaya Ikan Dalam Keramba Jaring Apung Terhadap Peningkatan Unsur Ndan P di Perairan Waduk Saguling. J. T. T. M. Jakarta. Bapedal. FPM-IPB.N. New York.. Ecology of Inland Waters and Estuaries.I. Second Edition. Torrie.

. Puslitbang Perikanan. Wright. Kemampuan Bakteri Desulphovibrio sp. 7. 2001. Wetzel. Jakarta. E. dan H. 1995. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol. 1975. untuk Perbaikan Kualitas Air pada Budidaya Keramba Jaring Apung. Academic Press. Wardoyo. Limnology. G.A. R. Supriyadi. 1983. dan Anderson P. C. Jakarta. 3 1-38 Walpole.E. Second edition.2. R. 2001. Pengantar Statistika. Nitrogen Excretion.S. Proyek Peningkatan Mutu Perguruan Tinggi. Kartamihardja. S.H. Institut Pertanian Bogor. United States of America.Pengelolaan Kualitas Air. New York.M.T. No. Edisi ke-3.. 41 hal. P. Gramedia.Umar. Bambang Sumantri. CBS College Publishing.pentejemah : Ir. Dalam Penguraian Senyawa Belerang dun Analisis Laju Sedimentasi.

.

29+3. dan kedalaman selama pengamatan Rata-rata kandungan ammonia total pada permukaan: Ammonia total (0. waktu.76 4 .08+0.72+0.59+1.49 = o.74+1... Kandungan Ammonia Total pada perairan berdasarkan lokasi.55+0.o~cI) = 0.46 4 Rata-rata kandungan ammonia total pada kedalaman dekat dasar (interface): Ammonia total (interface)= 0.Lampiran 1.

stasiun 3 (62 meter).Lampiran 1 (lanjutan). dan stasiun 4 (25 meter). stasiun 2 (12 meter). Keterangan : Kedalaman interface .stasiun 1 (19 meter). .

Lampiran 1 (lanjutan). .

Lampiran 2. Kandungan dan tabel sidik ragam Nitrit ( O) pada perairan N; berdasarkan lokasi, waktu, dan kedalaman selama pengamatan

1

Stasiun

1

Kedalarnan

Juli

Waktu Agustus

/

September

Rata-rata

4

0 rn 10 rn 20 rn interface

0,0014 0,0000 0,0006 0,0000

0,0004 0,0001 0,0003 0,0001

0,0009 0,0011 0,0010 0,0013

0,0009 0,0004 0,0006 0,0005

Keterangan : Kedalaman interface ;stasiun 1 (19 meter), stasiun 2 (12 meter), stasiun 3 (62 meter), dan stasiun 4 (25 meter).

Lampiran 3.

Kandungan dan tabel sidik ragam Nitrat (NO?) pada perairan berdasarkan lokasi, waktu, dan kedalaman selama pengamatan

Keterangan : Kedalaman interface ;stasiun 1 (19 meter), stasiun 2 (12 meter), stasiun 3 (62 meter), dan stasiun 4 (25 meter).

Lampiran 4. Kandungan dan tebel sidik ragam Nitrogen Total pada perairan berdasarkan lokasi, waktu, dan kedalaman selama pengamatan.

Keterangan : Kedalaman interface ;stasiun 1 (19 meter), stasiun 2 (12 meter), stasiun 3 (62 meter), dan stasiun 4 (25 meter).

Kandungan dan tabel sidik ragam Nitrogen Total.Lampiran 5. danNitrat pada sedimen berdasarkan lokasi. dan waktu selama pengarnatan Tabel Sidik Ragam . Ammonia.

stasiun 2 (12 meter).stasiun 1 (19 meter). Kekeruhan perairan berdasarkan lokasi. waktu. dan kedalaman selama pengamatan Keterangan : Kedalaman interface . stasiun 3 (62 meter). .Lampiran 6. dan stasiun 4 (25 meter).

stasiun 1 (19 meter). stasiun 2 (12 meter). . dan stasiun 4 (25 meter). stasiun 3 (62 meter). Suhu perairan berdasarkan lokasi. waktu.Lampiran 7. dan kedalaman selama pengamatan Keterangan : Kedalaman interface .

Lampiran 8. . clan stasiun 4 (25 meter). stasiun 2 (12 meter). waktu.stasiun 1 (19 meter). Kandungan Total Suspended Solid (TSS) perairan berdasarkan lokasi. stasiun 3 (62 meter). dan kedalaman selama pengamatan Keterangan : Kedalaman interface .

dan stasiun 4 (25 meter).20 0.17 0. Kandungan oksigen terlamt (DO) perairan berdasarkan lokasi. waktu.21 0. stasiun 2 (12 meter).Lampiran 9.19 0. dan kedalaman selama pengamatan 20 rn interfase 1 0. stasiun 3 (62 meter).22 0.stasiun 1 (19 meter).21 0.19 Keterangan : Kedalaman interface .20 0. Rata-rata kandungann oksigen terlamt pada kedalaman 5 meter : .

stasiun 3 (62 meter). . stasiun 2 (12 meter). dan kedalaman selama pengamatan ~edala&m interface .stasiun 1 (19 meter). Kandungan pH perairan berdasarkan lokasi.Lampiran 10. dan stasiun 4 (25 meter). waktu.

36+3. clan stasiun 4 (25 meter). waktu.60+4.24+3.Lampiran 11.48+3. stasiun 1 (19 meter).10meter) = 5.23+5. stasiun 3 (62 meter).68 8 Rata-rata kandungan BOD pada kedalaman dekat dasar (interface): . dan kedalaman selama pengamatan Keterangan : Kedalaman interface .56+9.41~ = 4.05+2. stasiun 2 (12 meter). Kandungan Biochemical Oxygen Demand (BOD) perairan berdasarkan lokasi. Rata-rata kandungan BOD pada permukaan sampai kedalaman 10 meter : BoD(o.

stasiun 3 (62 meter).stasiun 1 (19 meter). dan stasiun 4 (25 meter). Kandungan Chemical Oxygen Demand (COD) perairan berdasarkan lokasi. waktu.20+19.Lampiran 12. stasiun 2 (12 meter).53+35.20+15. Rata-rata kandungan COD pada permukaan: COD(O meter) = 17.48 4 .14 = 17.26 + 17. dan kedalaman selama pengamatan Keterangan : Kedalaman interface .03 =29.46 + 27.93+35.20 4 Rata-rata kandungan COD pada kedalaman dekat dasar (interface): COD (interface) = 19.

dan waktu selama pengsunatan H sedimen Stasiun Juli Waktu Agustus 1 September / Rata-rata Tekstur sedimen .Lampiran 13. Kandungan pH dan persentase kandungan tekstur sedimen berdasarkan lokasi.

42 atau yang kertas lain yang setara 2. Tambhakan 0.Lampiran 14. lakukan seperti langkah 3-4 6. Ukur dengan Spectrophotometer pa& panjang gelombang ( 640 nm). Tambahkan 2.Nihoposside 4. Prosedur pengukuran Ammonia Bebas % ammonia tak-terioisasi (Ammonia bebas) = a 100 1+ antilog(pKa . Tambahkan 0. inasukkan ke dalam gelas piala 3.2 ml(4 tetes) Sulfnnilamide.2 ml(4 tetes) NED. Tambahkan 1 ml Phenol Solution. Saring ke dalam erlenmeyer menggunakan kertas saring Whatman No.p H ) Keterangan : pKa : konstanta logaritma negatif yang bergantung pada suhu Prosedur pengukuran Nitrit 1. aduk dan biarkan 2-4 menit (jangan lebih) 4. Prosedur pengukuran parameter kualitas air (APHA. aduk 3. Ambil aquadest 10 ml masukkan ke &lam gelas piala. Pipet 25 ml sample air yang sudah disaring ke dalan Bleaker glass LOO in1 2. aduk rata 5. Ukur dengan Spectrophotoineter dengan panjang gelombang 543 nm . 1998) Prosedur pengukuran Ammonia Total 1. Pipet 10 ml air sample yang telah disaring. aduk biarkan 10 menit agar terbentuk wama merah muda dengan sempurna 5.5 ml Oxidizing Solution. Sirnpan / biarkan selama 1jam tutup dengan Alumunium Foil 6. Tambahkan 1 ml Sod.

pipet 5 ml aquaest masukkan ke dalam gelas piala. Siapkan kertas yang telah diketahui beratnya pada alat penyaring 10. Simpan kertas saring dalam desikator 9. Untuk pengukuran blanko. aduk dan diamkan hingga dingin 5. Dinginkan dalam desikator selama 10 menit kemudian timbang. * Prosedur pengukuran Nitrit 1. Pipet 5 ml air sample yang telah disaring. Bilas kertas saring dengan air suling (20 ml) 2. lakukan seperti langkah 3-4 6. Tambahkan 5 ml Asam Sulfat pekat (gunakan ruang asam).42 yang kertas lain yang setara 2. Ulang langkah 4-6 (kehilangan berat < 4%) missal = B milligram 8. Ukur menggunakan Spectrophotometer dengan panjang gelombang 410 nm. masukkan ke dalam gelas piala 3.Lampiran 14 (lanjutan). Saring contoh lalu residu tersuspensi bilas dengan air suling 10 ml 12. Contoh dikocok masukkan ke alat penyaring. Dinginkan dalam desikator 10 menit 6.5 ml(10 tetes) Brucine. Ambil kertas saring taruh di tempat khusus 13. Saring ke dalam erlenmeyer dengan menggunakan kertas saring Whatman No. Tambahkan 0. Ulangi pembilasan 3. Prosedur pengukuran Total Suspended Solid (TSS) 1. Tiinbang di neraca analitik 7. sesuaikan benyaknya sehingga berat residu antara 2. Keringkan dalam pengering pada suhu 103-105 oC selama satu jam 14. inisal a miligram .5-200 mg 11. Keringkan kertas dalam oven (T= 103-105 oC) selama 1jam 5. Ambil kertas saring dan simpan di tempat khusus kertas 4. aduk 4.

Catat ml titran (B ml) 8. Pipet 10 ml sample masukkan ke dalam erlenmeyer 2. Setelah selesai buka tutupnya lalu dinginkan 6 . Masukkan H2S04 (15 ml) 4.5 ml aquades 7. Titrasi kelebihan K2Cr207 menggunakan FAS 0. Tutup erlenmeyer dengan cawan petri untuk mencegah masuknya material asing. sebelumnya tambahkan indikator feroin 2-3 tetes sampai terbentuk warna hijau biru dan titik akhir titrasi ditandai dengan perubahan warna menjadi merah bata yang stabil dalam 1 menit. catat ml titran (A ml) Perhitungan : COD (ing 0211) = /A-B) x 8 x 1000 ml sampel Keterangan : A = ml FAS yang terpakai saat titrasi blanko B = ml FAS yang terpakai saat titrasi sampel M = Molaritas FAS (0. 5. Biarkan selama 30 menit. Tambahkan 5 ml K2Cr207 0. Encerkan larutan sampel dengan 7.025 N (Ferros Amonium Sulfat).Lampiran 14 (lanjutan) Perhitungan : TSS (mgll) = (A-B) x 1000 I ml contoh Prosedur pengukuran Chemical Oxygen Demand (COD) (metode Refluks terbuka) 0 1. lalu aduk 3.025 N. Lakukan blanko (10 aquades + prosedur 2-7 di atas).025 N) 8000 = miliekivalen bobot Oksigen x 1000 mlll .

air contoh diencerkan 5-10 kali (dengan aquadest) 3. Ambil contoh 500 ml (tanpa pengawet) dalam botol plastik 2.5 ml(10 tetes) ke dalam botol BOD 125 ml 3. Pipet 50 ml air contoh dari botol BOD ke dalam erlenmeyer 7. Prosedur pengukuran Dissolve Oxygen (DO) I. Setelah inengendap tambahkan 1 ml(20 tetes) H2S04 pekat atau sampai endapan larut 6 . aduk (bolak-balik) diamkan sampai inengendap 5. tambahkan amium 2-3 tetes. Catat ml titran yang terpakai Perhitungan : Keterangan : N = Normalitas Tiosulfat Prosedur pengukuran Biochemical Oxygen Demand (BOD) 1. Tambahkan 1 ml(20 tetes) larutan NaOH + KI. hindari adanya gelembung udara 2. Bila air keruh sekali.Lampiran 14 (lanjutan). Tambahkan sulfamic acid 0. Tambahkan 1 ml(20 tetes) larutan MnS04 4. kemudian tutup. Ambil air sainpel ke dalam botol BOD sampai penuh clan tutup. Masukkan kedalam botol BOD kecil 125 ml atau 250-300 ml . Titrasi dengan Na-Thiosulfat sampai benvama kuning muda. Teruskan sampai tidak bewama. Contoh air diaerasi atau kocok-kocok sampai jenuh 4.

catat ml titran sebagai DO 1 6. Ditutup dan bungkus rapat dengan plastik hitam (menghindari cahaya atau fotosintesis) 8. Sisa air contoh dari item 4. kerjakan atau reaksikan dengan bahan kimia seperti DO winkler (lihat prosedur DO). Caatat ml titran DO 5 10.Lampiran 14 (lanjutan). Simpan di es box dengan suhu 200C sebagai DO 5 9. 5. dimasukkan ke dalam botol BOD bekas pengenceran no-5 7. DO 5 hams h a n g dari DO 1 Perhitungan : . Setelah 5 hari dianalisis seperti DO (seperti item 5).

Lalu tambahkan NaOH 5% sebanyak 5ml 6. Hasil Destilasi dititrasi dengan HC1 yang sudah diketahui normalitasnya 9. Tambahkan aquadest 100 ml 5. Lalu tambahkan MgO sebanyak 1 gram 6. Tambahkan Defordaaloel grain 3. Tambahkan 1 ml etanol 4. 1961). Pipet 5 ml sampel 2. Sampel yang telah dicampurkan tersebut di destilasi dan hasil destilasi ditampung dengan Erlenmeyer 250 in1 yang sudah di isi H3B03 1% 7. Prosedur pengukuran Nitrat 1.Prosedur pengukuran parameter Sedimen (Chapman dan Pratt. Tambahkan aquadest 100 ml 5.Lampiran 15. Catat hasil titrasi HCl Perhitungan : * Prosedur pengukuran Ammonium 1. Tambahkan indikator 5 tetes 8. Tambahkan 1 ml etanol 4. Catat hasil titrasi HC1 Perhitungan : . Hasil Destilasi dititrasi dengan HCl yang sudah diketahtri normalitasnya 9. Pipet 5 ml sampel 2. Tambahkan Defordaaloel gram 3. Tambahkan indikator 5 tetes 8. Sampel yang telah dicampurkan tersebut di destilasi dan hasil destilasi ditampung dengan Erlenmeyer 250 ml yang sudah di isi H3B03 1% 7.

Tambahkan Selenium Mixer. Prosedur pengukuran Nitrogen Tot& 1. Tambahkan 10 ml aquadest untuk penetapan pH H20 atau tambahkan 10 ml larutan KC1 1 N untuk penetapan pH KC1 3. Hasil dari proses destilasi di titrasi dengan HCl yang sudah diketahui normalitasnya 11. (lanjutan). Tambahkan 5 tetes parapin cair. Kocok selama 30 menit dengan mesin pengocok.5 gram sampel 2. Timbang 10 gram contoh tanah kering udara yang 1010s saringan 2 milimeter. Tambahkan NaOH 20% 20 ml 7. inasukkan ke dalam botol. Destilasikan sampel tersebut 10.(blanko(ml)))xN(HCl)x14xBKM BKM = Bobot Kering Mutlak Prosedur pengukuran pH 1. kocok 2. Tambahkan H3B03 1% 8.Lampiran 15. diamkan sebentar 4. lalu tambahkan H2S04 sebanyak 5 ml 3. Pipet 0. Catat hasil titrasi HC1 Perhitungan : 100 N-total (96) = ((sampel(m1)) . Tambahkan 50 ml aquadest lalu masukkan ke tabung destilasi dan tambahkan aquadest 100 ml 6 .25 ml(5 tetes) 9. dan digoyang agar tercampur sempuma 4. Ben indikator 0. Destruksi sampel tersebut 5. Ukur dengan pH meter .

Sisakan fraksi pasir dengan menggunakan ayakan 50 p. (lanjutan). Panaskan di atas penangas air sambil ditambahkan H202 sedikit demi sedikit sambil diaduk-aduk sampai semua bahan organik habis (tidak ada buih lagi) tambahkan 0.5 HC16 N untuk tiap 1% CaC03 dan 100 ml HCl 0.Lampiran 15. selanjutnya dimasukkan ke dalam tanur pada suhu 105 oC akhimya dimasukkan dalam eksikator lalu ditimbang. Pindahkan fraksi pasir dari ayakan ke dalam cawan alumunium (yang sudah diketahui bobotnya) kemudian keringkan dalam oven pada suhu 105 oC semalam lalu tentukan bobot pasir 7.2 N (untuk melarutkan CaC03) tambahkan air kurang lebih separuh gelas pala kemudian didihkan kira-kira 20 menit 4. Timbang 10 gram tanah kering udara 1010s saringan 2 rmn. Tutup gelas dengan karet. . * Prosedur pengukuran tekstur tanah 1. Fraksi debu dan liat ditampung dalam tabung sedimentari 1 liter 6. masukkan ke dalam gelas piala satu liter 2. Tambahkan 50 ml H202 30% (untuk menghacurkan bahan organik) simpan di atas bak berisi air kocok lalu tarnbahkan 6 tetes asam asetat 99% biarkan satu malam 3. Setiap pemipetan dituangkan kedalam cawan alumunium untuk diuapkan aimya. Lakukan pencucian C1 sampai semua C1 hilang (uji dengan perak nitrat tidak tejadi awan putih berarti C1 habis) 5. tambahkan air sampai tanda tera 8. clan kocok lalu didirikan dalam bak air kemudian buka sumbatnya catat waktu selesai pengocokan 9. Lakukan pemipetan dari tabung sedimentasi tersebut menurut waktu kedalaman pipet 10. Kedalam tabung sedimentasi yang berisi debu dan liat tambahkan 2 ml Nu-pirofosfat (yang sudah diketahui bobotnya) biarkan selama 1 jam.

Gambar lokasi pengamatan (stasiun) selama penelitian Stasiun 1 (inlet waduk) Stasiun 2 (KJA sedang) ..ampiran 16.

Lampiran 16. (lanjutan) Stasiun 3 (KJA padat) Stasiun 4 (outlet waduk) .

Lampiran 17. . Garnbar penyusutan air waduk Cirata.

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. selain itu aktif juga sebagai Pengurus Himpunan Mahasiswa Manajemen Sumberdaya Perairan (HIMASPER) pada bidang Hublukom di tahun yang sama. IPB. Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan. penulis menyusun skripsi dengan judul "Kajian Kandungan Nitrogen pada Kolom Perairan dan Sedimen Akibat Aktivitas Keramba Jaring Apung di Waduk Cirata. Selama mengikuti perkuliahan. dan asisten mata kuliah Ikhtiologi tahun 200512006. dan pada tahun yang sama lulus seleksi masuk Institut Pertanian Bogor melalui Jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI). pada tanggal 22 Maret 1985 dari pasangan bapak : Moch. Penulis juga aktif sebagai asisten mata kuliah Pengantar Matematika pada tahun ajaran 200412005. Berperan aktif sebagai Organizing Committee (OC) masa perkenalan FPM mahasiswa baru tahun 2006 dan masa perkenalan Departemen MSP mahasiswa baru tahun 2006 serta sebagai peserta pada beberapa seminar yang diselenggarakan di lingkungan Institut Pertanian Bogor. Jawa Barat". Penulls merupakan anak ketiga dari lima bersaudara.AYAT HJDUP Penulis dilahirkan di Jakarta. Tahun 2003 penulis lulus dari SMU Negeri 47 Jakarta. pernah aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa FPM IPB sebagai anggota di bidang Hubungan Luar dan Komunikasi tahun 2004-2005. . Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sajana pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Ichsan dan ibu : Muti'ah. Penulis memilih Program Studi Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan Perairan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful