KAJLAN KANDUNGAN NITROGEN PADA KOLOM PERAIRAN DAN SEDIMEN AKIBAT AKTIVITAS KERAMBA JARING APUNG DI WADUK CIRATA

, JAWA BARAT

RAHMATULLAB AL FATIH

PROGRAM STUD1 M A N A m m N SUMBERDAUA PE FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

ABSTRAK
RAHMATULLAH AL FATIH (C24103051). Kajian Kandungan Nitrogen pada Kolom Perairan dan Sedimen Akibat Aktivitas Karamba Jaring Apung di Waduk Cirata, Jawa Barat. Di bawah bimbingan ENAN M. ADIWaAGA dan TRI HERU PRZBADI.

Penelitian bertujuan untuk mengkaji kandungan nitrogen di perairan dan di dasar sedimen, yang diakibatkan oleh aktivitas Karamba Jaring Apung (KJA). Penelitian dilakukan di Waduk Cirata dari bulan Juli sampai September tahun 2006. Terdapat empat stasiun pengamatan yaitu; inlet waduk (stasiun I), daerah KJA sedang (stasiun 2), daerah KJA padat (stasiun 3), clan outlet waduk (stasiun 4). Terdapat dua jenis sampel yang diambil yaitu sampel air dan sampel sedimen. Sampel air diambil secara vertikal di setiap stasiun pada interval 10 meter (0 m, 10 m, 20 m, 30 m) dan kedalaman dekat dasar (interface). Sampel sedimen diambil satu kali pada setiap stasiun. Nitrogen yang diteliti pada penelitian ini nitrit (NO;), nitrat (NOi), nitrogen antara lain; ammonia total (NH3 dan total (untuk nitrogen di perairan), ammonium (NH~'), nitrat (NOi), nitrogen total (untuk nitrogen di sedimen). Analisis statistik untuk nitrogen di perairan menggunakan Rancangan Petak Terbagi (Split Plot Design), untuk nitrogen di sedimen menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK), dan uji lanjut Beda Nyata Terkecil (BNT). Kandungan ammonia total pada perairan mengalami peningkatan pada setiap penambahan kedalaman, Konsentrasi ammonia bebas (NH3) inemiliki kecenderungan mengalami penurunan, sedangkan ammonium ( ~ ~ 4 3 memiliki kecenderungan mengalami peningkatan pada setiap penambahan kedalaman. Kandungan nimt dan nitrat (NO?) pada perairan cenderung mengalami penurunan, kecuali pada stasiun 1 yang cenderung meningkat di setiap kedalamannya. Kandungan ammonium (NH~'), nitrat (NO33 dan nitrogen total pada sedimen cenderung mengalami peningkatan pada stasiun 4 (outlet waduk). Tekstur sedimen banyak ditemukan dalam bentuk liat. Tekstur liat diduga memiliki kemampuan inengikat ammonium lebih baik dibandingkan nitrat. Perairan wad& Cirata berdasarkan kandungan ammonia total menurut kesuburannya digolongkan kedalam perairan Eutrofik.

~a,

KAJIAN KANDUNGAN NITROGEN PADA KOLOM PERAIRAN DAN SEDLNIEN AIUBAT AKTMTAS I<ERAME%A JARING APUNG DI WADUK CIRATA, JAWA BARAT

Oleh : RAHMATULLAH AL. FATIH C24103051

SKRZPSI Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Perikanan Pada Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan

P R O G M STUD1 MANAJERZEN SUMBERDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN IliMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

Januari 2008 .PERNYATAAN MENGENAI SKRZPSI DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan bahwa Skripsi yang berjudul KAJIAN KANDUNGAN NITROGEN PADA KOLOM PERAIRAN DAN SEDLMEN AKIBAT AKTMTAS KERAMBA JARING APUNG DI WADUK CIRATA. adalah benar merupakan hasil karya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. JAWA BARAT. Semua sumber data dan informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan &lam Daftar Pustaka di bagian akhir Skripsi ini Bogor.

Adiwilaga NIF'. 130 892 613 Mengetahui. Enan M.Judul : Kajian Kandungan Nitrogen pada Kolom Perairan dan Sedimen Akibat Aktivitas Keramba Jaring Apung di Waduk Cirata. Pembimbing I Pembimbing I1 Dr. Jawa Barat Nama NIM : Rahmatullah A1 Fatih : C24103051 Disetujui. Ir. Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Tanggal Lulus : 17 September 2007 .

arahan. memberikan banyak masukan. dan Ibu Dr. Bogor. dukungan. Semoga penelitian ini dapat bermanfaat dan berguna bagi pembangunan perikanan di Indonesia. Niken T. Institut Pertanian Bogor. Januari 2008 Penulis . Penulis mengharapkan kritik serta saran yang membangun bagi kesempumaan tulisan ini. 5. M. 2.dan teman-teman MSP angkatan 39. Adiwilaga selaku dosen pembunbing I yang telah banyak bersabar meinbimbing penulis.Ir. dan saran berharga kepada penulis. Enan M. Bapak Dr.Sc dari pihak Departemen. Pratiwi. M. nasehat. Pada kesempatan ini. serta b a n t w ~ y a . Teman-teman MSP angkatan 40 yang telah memberikan semangat dan motivasi. Ayu.Sc selaku dosen pembimbing I1 atas kese~npatannya yang diberikan untuk mengikuti penelitian ini. Mukhlis Kamal.Si selaku dosen penguji yang telah banyak memberikan masukan untuk kesempumaan skripsi ini. Skripsi ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan dan Ilmu Kelautan. 4. 42 atas dukungannya selama ini. 6 .Ir. semangat. Ibu. Jawa Barat". karena penulis sadar bahwa tulisan ini masih banyak kekurangan dan kesalahan demi kesempumaan dalam melakukan penelitian ini.Ir.Ir.KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah meinberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian ini yang berjudul "Kajian Kandungan Nitrogen pada Kolom Perairan dan Sedimen Akibat Aktivitas Keramba Jaring Apung di Waduk Cirata. Keluarga tercinta (Bapak. arahan. M. M. dan kasih sayang yang tak terhingga kepada penulis. penulis sampaikan ucapan terima kasih kepada : 1.Sc selaku dosen pembiinbing akademik atas bimbingan yang diberikan kepada penulis baik saran maupun nasehat yang bermanfaat kepada penulis selama mengikuti perkuliahan. Bapak Ir. serta masukan. M. M. Mas Iim. Bapak Dr. Tri Heru Prihadi. Aji) atas doa. Mas Ali. Bapak Dr. Zairion. 3. 41. clan saran dalam penulisan skripsi ini.

. Perumusan Masalah .... TINJAUAN PUSTAKA .................................................. Analisis Data Sedimen ............................ Metode Analisis Kualitas Air dan Sedimen ..... 1................ .......................................................... ....................................................... Latar Belakang ................ I PENDAHULUAN B ..... ............................................ Sedimentasi Waduk Cirata...........DAFTAR IS1 Halaman KATA PENGANTAR DAFTAR IS1 DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN ........... ...................... ..... i .................................. Analisis Data Kualitas Air .......................................... Kekeruhan .......................................................................... ~ m m o n i ~ o t a(NH3dan N + a l & ) ................................... ... ................................................... I. H..... iv v vii 1 ..................... ......................................... ............ L. Metode Kerja . .................... 2 .... Total Suspended Solid (TSS) .......................................... Analis~s Data ............................. ............... ..................... Oksigen Terlarut (Dissolved Oxygen (DO)) ..... Chemical Oxygen Demand (COD) ......................................... Sedimen ......... K...................... ................................ Pengambilan Sainpel ................... J ........................................................................................ Tujuan dan Manfaat ............................................... Waktu clan Lokasi Penelitian .................................................... F ......... . A.............. Nitrat (NO3) ............................... 2.................... ................. .......................................... ................................................. B.................................................. ................. .................................. .............................................. ............ Nitrogen ........................... ......... 4 ... Penentuan Lokasi Penelitian ..... pH .................... 3 . E ........... C...................................................... A....................... Biochemical Oxygen Demand (BOD) .............................. .......... . I1....... Baku Mutu Kualitas Air .......... Suhu ... .............................. C.................................................. b...... C.................................. 11 ........ ........................ D.......................... a................................ .............. .............................................. .............................................. ............................... Nltrlt (NOi) 3......... B............................... .. ........... Alat dan Bahan ................................. .............. ...................................... A............................................ Waduk Cirata ........ ................................................................... ... .... G.................... 1......

......................... e........ ................................................... 4 3 .......... ....... Chemical Oxygen Demand (COD)....................... 2 ..................................... pH ......... ... ...................................................................... Tekstur Sedirnen .............. Nitrogen Total ....... 1. Ammonium ( ~ ~....................... ...................... ............. c...... ....................... d ............................... ................................................ Total Suspended Solid (TSS) ................... iii ...... a...... b. Biochemical Oxygen Demand (BOD) ...... Nitrogen Total .HASIL DAN PEMBAHASAN ......................... Nltrlt ( N o d ...................................................... Saran ........................ 1............................................................. ........ .............................. 2. Ammonia total (NH3dan ~ ~......... Suhu ..... 4 .......................................1%'............. ................... A ...... B.. DAFTAR PUSTAKA ................ Kekeruhan ..... Nitrat (NO3-) . ........................ Nitrat (NOi) .... B................... f g......................................... ...... .... ................................................. Kandungan Nitrogen di Perairan ........ A .......... Oksigen Terlarut (Dissolved Oxygen (DO)) . a................................. .. .... ...... ..... Parameter Fisika Perairan dan Kimia Sedimen .............................................................................. C............................................................... ..... Kesimpulan ..... ......................... Kondisi Perairan dan Sedimen Waduk Cirata .............................................. 1......... Parameter Fisika Perairan dan Kimia Perairan .................... 3.......................................................... . 43 2........................... 3 ............................ Kandungan Nitrogen di Sedimen ......................................................

.. 4...... ...................... Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Nitrogen Total perairan (a=O......1).. 12...... Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor kedalaman terhadap kandungan Nitrat perairan (NO<) (a=O........... ....... Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor kedalarnan terhadap kandungan Nitrogen Total perairan (a=0....................................................... .............. Kriteria kulitas air berdasarkan nilai BOD ........................ Kriteria Mutu Air menurut Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 ... Parameter....................................................... 5................................... Ammonia Total (a=O... 6............ Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Nitrat sedimen (a=0..................................................................................1)................... ......... Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Nitrat perairan ( N o d (a=0........ Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Ammonium sedimen (a=0........ .................... Tabel Sidik Ragam Rancangan Acak Kelompok..........l) ........ 13 d m sampel sedimen................ 11.......................................................................................l) .............. 8... 15.1) .......... Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor kedalaman terhadap kandungan Ammonia Total perairan (a=0........ ............................ 3......... ..................1) .....DAFTAR TABEL unan 1.......................................................... 17..1) .............l)............................ ......................................... ..................... metode....... 18.... Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Nitrogen Total sedimen (a=0...... ....... Kesesuaian perairan untuk kepentingan perikanan berdasarkan padatan tersuspensi (TSS) ................... ........................1) ............... Tabel Sidik Ragam Rancangan Petak-Terbagi ............ Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor kedalaman terhadap kandungan Nitrit perairan (NO<) (a=0............................................1) .......... 2.................................... Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor waktu terhadap kandungan ..................................... 7........................ dan lokasi analisis sampel kulitas air........... 16.................. .......... Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Nitrit perairan (NOi) (a=0.. 14... Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Ammonia Total perairan (a=0..1) ... 10........... 9....1).. 13.......................

......... ............ ........ kedalaman......... 14............... Konsentrasi Nitrat (NO33sedimen berdasarkan stasiun dan waktu pengamatan ............. kedalaman..... ................ perairan berdasarkan kedalaman pada setiap 10............................. Kandungan nitrogen total perairan berdasarkan kedalaman pada setiap stasiun dan waktu pengamatan... Skema perurnusan masalah penelitian .............. Suhu perairan pada setiap stasiun.............. Kandungan oksigen terlarut (DO) perairan pada setiap stasiun.............................. ..... Kandungan ammonium perairan berdasarkan kedalaman pada setiap stasiun dan waktu pengamatan..... Konsentrasi Ammonium sedimen berdasarkan stasiun dan waktu pengamatan................... ................ Kandungan atmnonia total (NH3dan N& perairan berdasarkan kedalaman pada setiap stasiun dan waktu pengamatan... ......... 3....... (H3 N4 50 52 54 56 57 58 60 ............. J3 7...... ............. Kandungan Total Suspended Solid ( T S S ) perairan pada setiap stasiun..................... dan waktu pengamatan.............. ...... Tingkat Kemasaman pH Tanah ..... ......................... ............... 5......... Kandungan nitrat (NO.................................... ....... 6..................................... ............. ................................................. Kandungan ammonia bebas (NH3)berdasarkan kedalainan pada setiap stasiun dan waktu pengamatan.............. ... 19... 4.. . Halaman 3 6 8 11 18 20 2............................. 17......) stasiun dan waktu pengamatan........................................... 8............... dan waktu pengamatan.................. Sebaran secara vertikal nitrogen berdasarkan tingkat kesuburan pera~ran ............ Sebaran vertikal ammonia berdasarkan kesuburan perairan........................................... 32 33 34 39 43 ~3 N) ................... Kandungan nitrit ( O stasiun dan waktu pengamatan................... ........ ................. ................... 9......... Sebaran vertikal nitrat ( O N............ 47 13........................................................................................ ......... ........ . kedalaman................................ . ... ................... . 15..... 18.... perairan berdasarkan kedalaman pada setiap 11....... ) berdasarkan tingkat kesuburan peralran ................. 12....... dan waktu pengamatan..................... Peta lokasi penelltian ............DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Konsentrasi Nitrogen Total sedimen berdasarkan stasiun dan waktu pengamatan........... kedalaman....... ................ ....................... ............................................ 16............... ... Kekeruhan perairan pada setiap stasiun............... dan waktu pengamatan.............

.............................................. 23.......... Tekstur sedimen Waduk Cirata berdasarkan stasiun dan waktu pengamatan ............ kedalaman.. dan Halaman waktu pengamatan. kedalaman.. Kandungan Biochemical Oxygen Demand (BOD) perairan pada setiap stasiun... 61 21............................................... Nilai pH sedimen berdasarkan stasiun dan waktu pengamatan .................................... 65 66 ....... dan waktu pengamatan.................... Kandungan Chemical Oxygen Demand (COD) perairan pada setiap stasiun........ 24.............. 62 64 22.... dan waktu pengamatan ......... Nilai pH perairan pada setiap stasiun............... kedalaman.......Gambar 20 ....

.................. waktu........ 8.. waktu............. ..... Gambar penyusutan air waduk Cirata .......... ... dan waktu selama pengamatan ........... 15...................................................................... .. dan kedalaman selama pengamat 12............................................ waktu... Kandungan dan tabel sidik ragam Nitrit (NOi) pada perairan berdasarkan lokasi........... ...... Ammonia.... dan kedalaman selama pengainatan............ ..... vii . Prosedur pengukuran parameter Sedimen ......... waktu......... ...... Kekeruhan perairan berdasarkan lokasi..... 9................... Kandungan dan tebel sidik ragam Nitrogen Total pada perairan berdasarkan lokasi............... 5..... lokasi........ dan kedalaman selama pengamatan .. waktu...... 76 77 78 4....... waktu.................. ...... waktu.. 6... waktu....Lampiran Halaman 73 1........... 16............. 3............... waktu... ....... Kandungan oksigen terlarut (DO) perairan berdasarkan lokasi... .. 2............ Kandungan Chelnical Oxygen Demand (COD) perairan berdasarkan ......... ......... (~~43 74 75 1. dan kedalaman selama pengamatan .. dan kedalaman selama pengamatan .... Kandungan Ammonia Total pada perairan berdasarkan lokasi.... Kandungan clan tabel sidik ragam Nitrat (NO<) pada perairan berdasarkan lokasi.............. dan kedalaman selama pengamatan .......... .. waktu. dan kedalaman selama pengamatan ... 15. dan kedalaman selama pengamatan . dan kedalaman selama pengamatan...................................... 10............. .................. 1.. waktu... Suhu perairan berdasarkan lokasi.................................................... dan waktu selama pengamatan... dan kedalaman selama pengamatan .. Gambar lokasi pengamatan (stasiun) selama penelitian ....... Prosedur pengukuran parameter kualitas air ...... dan Nitrat pada sedimen berdasarkan lokasi...... Kandungan Total Suspended Solid (TSS) perairan berdasarkan lokasi........ Kandungan Ammonium Bebas (NH3) dan Ammonium pada perairan berdasarkan lokasi.................... Kandungan dan tabel sidik ragam Nitrogen Total.. waktu..... dan kedalaman selama pengamatan ...... Tabel Sidik Ragam kandungan ammonia total .. Kandungan pH perairan berdasarkan lokasi..................... ..... ........ 79 80 81 82 83 84 85 86 88 93 96 98 ................................ 7............................... 11 Kandungan Biochemical Oxygen Demand (BOD) perairan berdasarkan lokasi.... 14........... dan kedalaman selama pengamatan 13.............. Kandungan pH dan persentase kandungan tekstur sedimen berdasarkan lokasi.

Jumlah yang semakin tidak terkendali dari KJA ini menyebabkan beberapa masalah lingkungan yang secara tidak langsung juga akan berpengaruh pada kegiatan KJA.200 Ha. Jumlah ideal KJA yang diperbolehkan adalah 12. dan Purwakarta. terletak di tiga kabupaten yaitu Cianjur. Propinsi Jawa Barat. Pakan tambahan biasanya mengandung protein yang tinggi untuk meningkatkan pertumbuhan ikan. . Selana beberapa tahun belakangan ini perkembangan Waduk Cirata semakin meningkat khususnya pada sektor perikanan budidaya Karamba Jaring Apung (KJA). Sisa pakan yang tidak termakan akan meningkatkan kandungan nitrogen di perairan akibat dekomposisi protein yang terkandung didalam pelet. Waduk tersebut terletak di antara waduk Saguling dan waduk Jatiluhur. Pakan komersial mengandung lebih dari 20% protein di dalamnya (Prihadi. Selain sisa pakan. Waduk ini dibangun pada tahun 1988. Pakan tambahan (pelet) yang diberikan tidak semuanya efektif tennakan oleh ikan. perhubungan.000 KJA. Pada konsentrasi yang berlebihan ammonia akan mematikan bagi ikan dan bagi organisme perairan lainnya. perikanan. hasil metabolisme ikan-ikan budidaya berupa feses yang banyak mengandung ammonia ( N H 3 ) akan meningkat jumlahnya. Latar Belakang Waduk Cirata merupakan waduk yang berada pada aliran Sungai Citarum. Bandung. 2005).286 KJA dengan jumlah peiniliknya sebanyak 3. namun jumlah yang sesungguhnya terdapat pada waduk tersebut melebihi jumlah ideal yang diperbolehkan. dan daerah wisata.899 orang (Prihadi. Kegiatan budidaya ikan yang dilakukan di Waduk Cirata merupakan kegiatan yang intensif sehingga inenggunakan pakan tambahan (pelet) (Nastiti et aJ2001). Pembangunan waduk pada awalnya diperuntukkan bagi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) disamping itu waduk ini juga memiliki potensi sebagai irigasi pertanian. 2005). Perkembangan budidaya KJA yang selnalan meningkat jumlahnya diduga sudah melebihi kapasitas waduk sehingga dapat menurunkan daya dukung waduk.A. dengan luas 6. Jumlah KJA yang terhitung sampai tahun 2003 sudah mencapai 38.

Peningkatan ini tentunya akan berdampak bagi ekosistem perairan dan bagi pertumbuhan organisme perairan didalamnya. Hal ini berakibat meningkatkan kandungan nitrogen pada sedimen waduk dan juga akan mempengaruhi kandungan nitrogen di perairan. Nitrogen ini selain dihasilkan oleh sisa pakan juga bisa berasal dari sisa metabolisme urine maupun tinja dari biota akuatik yang berupa ammonia (NH3) (Effendi. 1991). Pakan tambahan yang digunakan pada budidaya KJA biasanya mengandung protein yang tinggi untuk meningkatkan perturnbuhan ikan.121 ton dan ketebalannya lebih dari 2 meter. Skema p e m u s a n masalah penelitian disajikan pada Gambar 1. Ammonia (NH3) dalam jumlah yang berlebihan bersifat toksik pada ikan sehingga keberadaannya di perairan akan menghambat pertumbuhan ikan bahkan bisa menyebabkan kematian pada ikan. serta akan menurunkan kualitas air yang akhimya menurunkan produktivitas perairan waduk tersebut. Kondisi perairan waduk yang relatif tenang menyebabkan terakumulasinya kandungan nitrogen di perairan dan dapat menyebabkan sedimentasi pada dasar waduk. Hal ini akan berdampak bagi penurunan daya dukung dari waduk. Pralaraan beban limbah bahan limbah organik yang berasal dari kegiatan bumdaya ikan KJA Waduk Cirata sebesar 6. Prihadi (2005) memperlurakan jumlah sisa pakan yang terdapat di dasar waduk telah melebihi 279.365 tonltahun (Sukimin. Hal ini tentunya dapat m e n d a n produksi perikanan budidaya KJA yang terdapat di waduk Cirata. dalam Indriani. Perurnusan Masalah Meningkatnyajumlah KJA pada waduk Cirata sudah melebihi dari batasan yang diperbolehkan. Protein mengandung 16% nitrogen di dalamnya (Depdikbud. Limbah yang dibasilkan dari kegiatan KJA sebagian besar mengandung nitrogen. 2003). B. Selain itu keberadaan KJA akan menambah kandungan bahan organik dari sisa-sisa pakan dan feses dari ikan. Sisa-sisa pakan yang tidak termakan dan tinja (feses) ikan akan menyebabkan terakumulasinya bahan-bahan organik ini pada perairan dan mengendap di dasar waduk. .Kegiatan budidaya KJA secara tidak langsung akan meningkatkan konsentrasi nitrogen di perairan. 2005).

yang diakibatkan oleh aktivitas Karamba Jaring Apung (KJA). Jawa Barat. Tujuan dan Manfaat Penelitian ini bertujuan untuk melihat kandungan nitrogen di perairan dan di dasar sedimen. Skema perumusan masalah penelitian C. \ IKJA ! Bahan Organik l.lengundilp Dekomposisi Petliempsnoriliitieil i I I I I I I I I 1 Dekomposisi Nitrogen Sedimen I 1 Gambar 1. . dan diharapkan informasi yang diperoleh dapat dijadikan bahan masukan bagi pengelolaan di Waduk Cirata.I Kualitas Air .

dan . Nitrogen di perairan dapat berupa nitrogen anorganik dan organik. fiksasi nitrogen dari air dan sedimen. asam amino. dengan kedalaman 106 meter.II. pemukiman. memiliki luas sekitar 6. B. Elevasi permukaan air di Waduk Cirata pada umumnya memiliki pola perubahan yang relatif sama dari tahun ke tahun.200 ha sedangkan luas permukaan kegtatan KJA sekitar 158-198 ha. Menurut Mardiana (2007). KJA awalnya digunakan untuk kepentingan penelitian di Waduk Jatiluhur namun sejak dikenalnya teknologi ini di Waduk Cirata budidaya ini berkembang pesat tercatat sejak tahun 1999 terdapat 8. artinya jika luas permukaan 6. Nitrogen anorganik terdiri atas amonia . dari perhitungan ini maka ketinggian limbah pakan sekitar 2 meter (Prihadi. 2005). nitrat (NO3-). dan limbah industri. dalam Indriani.45 meter (September).121 ton.Sumber nitrogen alami berasal dari air hujan (presipitasi).286 KJA pada tahun 2003. Karamba Jaring Apung (KJA) pertama kali dilakukan di Waduk Cirata yaitu pada tahun 1986.04 meter (Agustus). dan 209. Nitrogen Nitrogen yang terdapat di perairan tawar ditemukan dalam berbagai bentuk diantaranya molekul N terlarut. selanjutnya mengalami peningkatan kembali pada bulan Desember (Jubaedah. Waduk Cirata Waduk Cirata merupakan suatu bentuk perairan yang dibuat oleh manusia di daerah aliran sungai Citaruni pada tahun 1988. TINJAUAN PUSTAKA A. 2005). clan berkembang pesat menjadi 38. 1983). 2 11. ammonia ( H 3 2 N 4 nitrit (Nod. 2005). yaitu tinggi pada bulan Januari sampai Mei dan mengalami penurunan sampai dengan bulan November. dan terleak pada ketinggian 223 meter di atas permukaan laut (Feriningtyas.200 ha.786 KJA. Jumlah itu akan menyumbang limbah pakan akibat kegiatan perikanan budidaya sebanyak 279. dan liinpasan dari daratan dan air tanah (Wetzel. tinggi muka air pada bulan Juli sampai dengan September 2006 mengalami penurunan dengan tinggi muka air 214.66 meter (Juli). Goldman dan Home (1983) menyatakan bahwa nitrogen dapat berasal dari limbah pertanian.

Proses ini banyak dilakukan oleh mikroba dan jamur. dan limbah domestik (Effendi. Sumber nitrogen organik di perairan berasal dari proses pembusukan makhluk hidup yang telah mati. c. dan urea. 2003). Effendi (2003) menjelaskan Bentuk-bentuk nitrogen tersebut mengalami transfonnasi sebagai bagan dari siklus nitrogen yaitu: a. Fiksasi gas nitrogen secara langsung dapat dilakukan oleh beberapa jenis algae Cyanophyta (blue-green algae) dan bakteri. Proses oksidasi ini dilakukan oleh bakteri aerob. nitrat @03-). Bakteri nitrifikasi bersifat mesofilik. dalam bentuk gas. Nitrogen organik berupa protein. yaitu oksidasi amonia lnenjadi nitrit dan nitrat. nitrogen terlarut (disolved) dan tidak terlarut (particulate) dan keduanya tidak dapat langsung digunakan oleh organisme yang lebih tinggi. d. Nitrogen ditemukan melimpah dalam bentuk gas di atmosfer. Proses ini terutama dilakukan oleh bakteri autotrof dan tumbuhan. 1983). dan molekul nitrogen (N2) nitrit (NOT). melainkan hams ditransformasikan terlebih dahulu oleh bakteri dan jamur (Goldman dan Home. misalnya asam amino dan protein. Fiksasi gas nitrogen menjadi amonia dan nitrogen organik oleh mikroorganisme. Nitrifikasi. kegiatan perikanan. menyukai suhu 30°C. Nitrifikasi berjalan secara optimum pada pH 8 dan pH < 7 berkurang secara nyata. Di perairan nitrogen ditemukan dalam dua bentuk yaitu. karena protein dan polipeptida terdapat pada semua makhluk hidup sedangkan sumber antropogenik (akibat aktivitas manusia) adalah limbah industri dan limpasan dari daerah pertanian. Amonifikasi nitrogen organik untuk menghasilkan amonia selama proses dekomposisi bahan organik. b. namun tidak dapat digunakan secara langsung oleh organisme karena memerlukan energ yang besar untuk memecah ikatan rangkap tiga gas nitrogen. amonium (~~43. . Autolisis (pecahnya) sel dan ekskresi amonia oleh zooplankton dan ikan juga berperan sebagai pemasok amonia. asam amino. Asimilasi nitrogen anorganik (ammonia dan nitrat) oleh tumbuhan dan mikroorganisme untuk membentuk nitrogen organik.(Mi3).

1983). yaitu reduksi nitrat menjadi nitrit. Fiksasi nitrogen berdasarkan kedalaman mirip dengan proses fotosintesis. dan cahaya matahari yang t i n g ~ menjadi maksimum pada kedalaman tertentu dan menurun drastis secara . Proses ini juga melibatkan bakteri dan jamur. Pada intensistas proses fiksasi akan terhambat pada permukaan. Transformasi nitrogen yang tidak melibatkan faktor biologi adalah volatilisasi. penyerapan. Sumber utama nitrogen antropogenik di perairan berasal dari wilayah pertanian dan perikanan yang menggunakan pupuM pakan buatan secara intensif maupun kegiatan domestik (Effendi. Sebaran vertikal nitrogen berdasarkan tingkat kesuburan perairan menurut Goldman dan Home (1983) disajikan pada Gambar 2.OI Konsentrasi (mgn) I . dan No3 baru bisa dimanfaatkan oleh turnbuhan dan hewan. sedangkan molekul nitrogen adalah produk utama dari proses denitrifikai pa& perairan dengan kondisi anaerob.Proses reduksi nitrat berjalan optimum pada kondisi anoksik (tak ada oksigen). dan molekul nitrogen m). Dinitrogen oksida adalah produk utama dari denitrifikasi pada perairan dengan kadar oksigen sangat rendah. Proses ini akan meningkat pada danau yang telah mengalami eutrofikasi (Goldman dan Home. 2003). NI&. r~ 0 O. Sebaran secara vertikal nitrogen berdasarkan tingkat kesuburan perairan (Goldrnan clan Home. 02 I I Konsentrasi (mgll) Oligotropik Epitimoion (acrob) (Nitrit sengat keeil) Gambar 2. Denitrifikasi. dan pengendapan (sedimentasi).e. dinitrogen oksida (NzO). 1983) Nitrogen hams dirubah terlebih dahulu menjadi NH2.

Nitrogen total adalah penjumlahan dari nitrogen anorganik berupa N03-N. sedangkan ammonium m+) dapat Ammonia yang terukur di perairan berupa ammonia total (NHj dan teroinisasi (Effendi. NH3-N yang bersifat terlarut dan nitrogen organik yang terlarut maupun berupa partikulat yang tidak larut dalam air (Mackereth. Proporsi konsentrasi keduanya dipengaruhi oleh pH dan temperatur perairan (Wetzel. Fiksasi nitrogen berkorelasi positif dengan konsentrasi bahan organik terlarut yang terdapat pada perairan (Wetzel. Kadar ammonia yang tinggi mengakibatkan peningkatan komsumsi oksigen. NO*-N. Nitrogen organik mencakup protein. 2003). Gas ammonia (NH3) dapat dengan mudah terlarut dalam air dan inembentuk ammonium hydrosida @ELOH). Ammonia Total (NH3 dan NI&+) ~~43. 2003). Effendi (2003) menyatakan pada pH 7 atau kurang sebagian besar ammonia mengalami ionisasi dan p1-I yang lebih besar dari 7 ammonia tidak terionisasi. dan akan terpecah menjadi ammonium (NN4') dan ion hidroksida (OH-) seperti persamaan kesetimbangan kimia di bawah ini (Goldman dan Home. 1983). 1983). asam amino.ekponensial dengan bertambahnya kedalarnan. 2003). Pada malam hari ketika kandungan oksigen rendah atau ketika kebutuhan oksigen untuk dekomposisi melebihi dari produksi fotosintesis. 1. 1983): Ammonia yang tidak terionisasi (NH3) sangat bersifat toksik bagi ikan dibandingkan amonia yang terionisasi (3 - yang relatif non-toksik. Pada keadaan perairan yang asam persentase dari m 0 H menurun. mengakibatkan kerusakan pada . biasanya berupa partikdat yang tidak larut dalam air. 1983). urea. 1989 dalam Effendi. Nitrogen organik adalah bentuk nitrogen yang terikat pada senyawa organik terutama nitrogen bewalensi tiga. sedangkan pada keadaan perairan basa (alkaline) jumlahnya akan meningkat (Goldman dan Home. dan senyawa lainnya (Effendi. 1983). polipeptida. ammonia bebas (NH3) tidak dapat terionisasi. menyebabkan kerentanan organisme terhadap daya racun ammonia meningkat (Goldman dan Home.

1975). 1973 dalam Asmawi. 1973 dalam Wardoyo.2001). dan doinestik (Effendi.5 mgliter (Sylvester. 1983). limbah industri. sangat tergantung terhadap tingkat kesuburan perairan. Boyd (1982) menyatakan bahwa ammonia yang terdapat di perairan dapat berasal dari pemupukan.insang. 2003) Distribusi ammonia di perairan tawar sangat bervariasi menwut musim. . dan masukan buangan berupa bahan-bahan organik. Gambar 3 adalah sebaran vertikal ammonia bedasarkan tingkat kesuburan perairan (Wetzel. 1983). Kadar amonia yang baik untuk kehidupan ikan dan organisme akuatik lainnya adalah kurang dari 1 mg/iiter (Pescod. Sebaran vertikal ammonia berdasarkan kesuburan perairan (Wetzel. Noinor 82. ekskresi dari ikan (tinja). Metabolisme manghasilkan dua produk utama yaitu karbodioksida (COz) dan ammonia (NH& dengan ammonia selatar 10 sampai 30 bagian dari total CO* yang dihasilkan (Wright et. Oligotropik Eutropik Gambar 3. yang berasal dari dekomposisi bahan organik (tumbuhan dan biota akuatik yang telah mati ) oleh mikroba dan jamur. 1983). dan menurunkan kapasitas transport oksigen oleh darah (Boyd. Melalui proses amonifikasi atau pemecahan nitrogen organik (protein dan urea/ pupuk) dan nitrogen organik yang terdapat di dalam tanah dan air. Sumber lain adalah reduksi gas nitrogen yang berasal dari proses difusi dari atmosfer.al. 2001).02 m g l (Peraturan Pemerintah. Untuk keperluan perikanan dan peternakan batas maksimum ammonia bebas yang dperbolehkan adalah 0. Ammonia dihasilkan sebagai produk akhir dari dekomposisi bahan-bahan organik oleh bakteri heterotrop (Wetzel. Pada perairan alami nilai amonia yang dapat ditolerir organisme sebesar 1. 1982). 1983). dan dari pembusukan mikroorganisme..

Nitrat nitrogen sangat mudah larut dalam air dan bersifat stabil.06 mg/l (Peraturan Pemerintah. Nomor 82. Di perairan kadar nitrit jarang melebihi 1 mg/l (Sawyer dan McCarty. air bawah tanah. Pada pH < 6 reaksi akan terhenti. 2003).2. Nitrifikasi merupakan proses penting dalam siklus nitrogen dan berlangsung dalam keadaan aerob. Pada kadar oksigen terlarut < 2 mgll. akan di ikat oleh hemoglobin darah sehingga inenggangu penyerapan oksigen oleh hemoglobin. 1991 dalam Effenh. Krenkel dan Novotny (1980) dalam Effendi (2003) menyatakan bahwa proses nitrifikasi sangat dipengaruhi oleh beberapa parameter sebagai berikut : a. 1983). 3. Nilai pH yang optimum bagi proses nitrifikasi adalah 8-9. 2003). Nitrat (NOS) Nitrat adalah bentuk utama dari nitrogen anorganik di perairan yang masuk melalui permukaan daerah aliran sungai. dan antara nitrat dan gas nitrogen (denitrifikasi). 1978 dalam Effendi 2003). Oksidasi amonia menjadi nitrat dilakukan oleh bakteri Nitrosomonas. WHO merekomendasikan kadar nitrit sebaiknya tidak melebihi 1 mg/l (Moore. Boyd (1982) menyatakan ketika nitrit terabsobsi oleh ikan. . Untuk keperluan air minum. Nitrit (NO. b. Baku mutu untuk kegiatan perikanan batas maksimal nitrit yang diperbolehkan adalah 0. yaitu hakteri yang dapat mendapatkan energi dari proses kimiawi (Effendi. dan Nitrobactel: Keduanya adalah bakteri kemotrofik. Ditemukan di perairan dalam jumlah yang sedikit karena bersifat tidak stabil dengan bergantung pada keberadaan oksigen (Effendi. Kadar nitrit yang melebihi dari 0.2001). reaksi akan bedalan lambat. Bakteri yang melakukan nitrifikasi cendemg menempel pada sedimen dan padatan lain. Senyawa ini dihasilkan dari proses oksidasi sempurna senyawa nitrogen di perairan melalui proses nitrifikasi. c.05 mg/l dapat bersifat toksik bagi organisme perairan yang sangat sensitif. 2003). dan air hujan (presipitasi) (Wetzel.) Nitrit merupakan bentuk peralihan antara amonia dan nitrat (nitrifikasi).

Kadar nitrat lebih dari 5 ingiter menggambarkan terjadinya pencemaran antropogenik yang berasal dari aktivitas manusia dan tinja hewan. 2003). Kadar nitrat melebihi 0. Kadar nitrat untuk keperluan air minum sebaiknya tidak melebihi 10 mg/liter (Davis dan Cornwell. 2003).d. Sedangkan untuk keperluan perikanan sebaiknya tidak melebihi 20 mg/l (Peraturan Pemerintah Nomor 82. Suhu optimum proses nitrifikasi adalah 20 "C . yang selanjutnya menstiinulir pertumbuhan algae dan tumbuhan air secara pesat (blooming). Keadaan ini dikenal sebagai methemoglobonemia atau blue baby disease (Mason. Nitrat tidak bersifat toksik terhadap organisme akuatik. Kadar nitrat pada perairan alami hampir tidak pernah lebih dari 0. Tetapi konsumsi air yang mengandung kadar nitrat yang tinggi akan menurunkan kapasitas darah dalam mengikat oksigen. jika kandungan oksigen terlarut berada di bawah kadar tersebut penyerapan (difusi) oksigen tidak dapat dilakukan lagi oleh bakteri (Wetzel. 1991 dalain Effendi. namun proses ini akan terus berlangsung sampai kandungan okigen terlarut (DO) sekitar 0.l mg/liter. Kecepatan pertumbuhan bakteri nitrifikasi lebih lambat dari pada bakteri heterotrof. 1993 dalam Effendi. Pada kondisi suhu kurang atau lebih dari kisaran suhu tersebut.2 ing/liter dapat mengakibatkan terjadinya eutrofikasi (pengayaan) perairan. Gambar 4 adalah sebaran vertikal nitrat berdasarkan tingkat kesuburan perairan (Wetzel. Nitrifikasi dapat berjalan pada keadaan aerobik.2001).3 ing/l. Nitrifikasi dapat terganggu dengan adanya kandungan bahan organik terlarut. 1983). . apabila pada perairan banyak terdapat bahan organik maka pertumbuhan bakteri heterotrof akan melebihi pertwnbuhan bakteri nitrifikasi. kecepatan nitrifikasi berkurang.25 "C. terutama untuk bayi berumur kurang dari lima bulan. 1983). e.

1983). Senyawa amonium yang dapat terionisasi benyak ditemukan pada perairan dengan pH rendah. Dan selanjutnya Effendi (2003) menjelaskan bakteri pada umumnya tumbuh dengan baik pada pH new1 dan alkalis. Proporsi dari total amonia nitrogen yang tidak terionisasi (NH3) akan meningkat dengan ineningkatnya suhu dan pH. Proses biokimiawi perairan seperti nitrifikasi sangat dipengaruhi oleh nilai pH. Nilai pH normal suatu perairan danau adalah 6-9 (Goldman dan Home. Amonia lebih mudah terserap kedalam tubuh organisme akuatik dibandingkan amonium.5 proses nitrifikasi akan terhambat (Novonty dan Olem. 1983). Oleh karena itu proses dekomposisi bahan organik berlangsung lebih cepat pada kondisi pH netral dan alkalis. Pada pH 4. 2003).5 . . Pengaruh dari pH bagi konsentrasi amonia tidak terionisasi sangat tinggi dibandingkan pengaruh dari suhu (Boyd. Pada suasana alkalis (pH tinggi) lebih banyak dite~nukanamonia yang tidak terionisasi (unionized) dan bersifat toksik. 1994 dalam Effendi. Sebaran vertikal nitrat (NO. pH Tebbut (1992) dalam Effendi (2003) mengatakan bahwa pH adalah satuan yang menggambarkan konsentrasi ion hidrogen.Eutropik Gambar 4. C. 1982). Toksisitas dari senyawa kimia juga dipengaruhi oleh pH.) berdasarkan tingkat kesuburan perairan (Wetzel.5. Amonium bersifat tidak toksik (innocuous). Proses nitrifikasi akan berakhir jika pH bersifat asam.

misalnya amonia mengalami . 1989). E. dan limbah (efluent) yang masuk ke badan air. Pada tahap kedua. Biochemical Oxygen Demand (BOD) Biochemical Oxygen Demand (BOD) adalah banyaknya oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorganisme dalam proses dekomposisi bahan organik (APHA. konsentrasi oksigen semakin menurun dengan bertarnbahnya kedalaman. tergantung pada pencampuran (mixing). Selanjutnya Effendi (2003) menjelaskan penghilangan oksigen pada bagian dasar perairan lebih banyak disebabkan proses dekomposisi bahan organik yang membutuhkan oksigen terlarut. Effendi (2003) menyatakan bahwa kadar oksigen terlarut juga berfluktuasi secara harian (diurnal) dan musiman. Tipe ini terjadi pada danaul waduk yang produktif (eutrofik) yang kaya unsur hara dan bahan organik.D. Oksigen Terlarut (Dissolved Oxygen (DO)) Dissolved oxygen (DO) atau oksigen terlarut dalam perairan merupakan konsentrasi gas oksigen yang terlarut di dalam air yang berasal dari proses fotosintesa oleh fitoplankton atau tumbuhan air lainnya di zone eufotik. Secara vertikal distribusi oksigen akan menurun di perairan seiring dengan bertambahnya kedalaman. Tahap pertama. aktivitas fotosintesis. bahan anorganik yang tidak stabil. respirasi. 1983 dalam Octaviany. 1957 dalam Boyd. 1987). 2003). Ammonia sangat bersifat toksik jika kandungan oksigen terlarut di perairan rendah (Merkens dan Downing. bahan organik diuraikan menjadi bahan anorganik. bahkan telah habis sebelum mencapai dasar (Goldman dan Home. dan pergerakan (turbulance) massa air. 2005). serta difusi dari udara (APHA. Kelarutan oksigen akan semakin berkurang dengan bertambahnya suhu (Effendi. Dekomposisi bahan organik pada dasarnya terjadi melalui dua tahap. 1989). Sebaran vertikal dari oksigen terlarut secara umum berbanding terbalik dengan kandungan C02 di air (Reid. 1991) Distribusi vertikal oksigen di Waduk Cirata digolongkan tipe Clinograde. Peningkatan suhu sebesar 1 "C akan meningkatkan konsumsi oksigen sekitar 10% (Brown. Dekomposisi bahan organik dan oksidasi bahan anorganik dapat mengurangi kadar oksigen terlarut hingga mencapai no1 (anaerob). 1982).

2003). Secara tidak langsung. Bahan organik ini dapat berupa lemak. 1978 dalam Feriningtyas. baik yang dapat didegradasi secara biologis (biodegradable) maupun yang sulit didegradasi secara biologis (non-biodegradable) menjadi COz dan Hz0 (APHA. Keberadaan bahan organik yang tinggi dapat berasal dari alam ataupun dari aktivitas rumah tangga. Perairan yang memiliki nilai COD tinggi tidak diinginkan bagi kepentingan perikanan dan pertanian. glokusa. BOD hanya menggambarkan bahan organik yang dapat didekomposisi secara biologis (biodegradable). 1992 dalam Effendi. protein. Nilai BOD yang besar tidak baik bagi kehidupan organisme (Tabel 1). dan pada limbah industri dapat mencapai 60. dan sebagainya. . Kriteria kulitas air berdasarkan nilai BOD (Lee et al. sedangkan pada perairan yang tercemar biasanya dapat lebih dari 200 mglliter. ester. BOD mengambarkan kadar bahan organik yang berada di perairan (Effendi..000 mg/liter O]NESCOiWHO/UNEP.9 5-15 I Tidak tercemarl tercemar sangat ringan Tercemar ringan Tercemar sedang Tercemar berat - > 15 F. 2005) Nilai BOD (mgniter) Kriteria kualitas air perairan. 1989). Cltenrical Oxygen Demand (COD) Chemical Oxygen Demand (COD) menggambarkan jumlah oksigen total yang diperlukan untuk mengoksidasi bahan organik secara kimiawi. pertanian dan industri. Tabel 1. aldehda. Nilai COD pada perarian yang tidak tercemar biasanya kurang dari 20 inglliter. Lee et al.. (1978) dalam Feriningtyas (2005) mengelompokkan tingkat pencemaran bahan organik berdasarkan nilai BOD 13 3 4. kanji. 2003).oksidasi menjadi nitrit dan nitrat.

1992). Peningkatan suhu juga menyebabkan penurunan kelarutan gas dalam air (Haslam. Effendi (2003) menyatakan. Kecepatan dekomposisi meningkat pada kisaran suhu 5-35 OC. Proses dekomposisi biasanya lebih menyukai suhu yang hangat. Thermoklin adalah lapisan air yang berada diantara lapisan permukaan yang lebih hangat (epilimnion) dan lapisan dasar yang lebih dingin (hipoli~nnnnion) (Hehanusa dan Haryani. epilimnion adalah lapisan bagian atas yang lebih hangat. Lapisannya di bedakan antara lain. (Effendi. Peningkatan suhu mengakibatkan peningkatan viskositas. 1995). dirnana semakin tinggi suhu maka semakin rendah oksigen yang terlarut (Fardiaz. Kekeruhan pada perairan tergenang (danadwaduk) lebih banyak disebabkan oleh bahan tersuspensi yang berupa koloid dan partikel-partikel halus (Effendi. Suhu dapat inenyebabkan stratifikasi pada danadwaduk. Peningkatan suhu juga menyebabkan terjadinya peningkatan dekomposisi bahan organik oleh mikroba. 2003) . dan volatilisasi. Kekeruhan disebabkan oleh adanya bahan organik dan anorganik yang tersuspensi dan terlarut (misalnya lumpur dan pasir halus). pada lapisan thermoklin terjadi penurunan suhu secara tajam. maupun bahan anorganik dan organik yang berupa plankton dan mikroorganisme lain (APHA. hypolimnion adalah lapisan bagian bawah yang lebih dingin.G. Suhu Suhu dapat menentukan kandungan oksigen dalam perairan. 2003) H. Effendi (2003) menyatakan bahwa peningkatan suhu menyebabkan peningkatan metabolisme dan respirasi organisme air. dan selanjutnya mengakibatkan peningkatan konsumsi oksigen. 1983). Kekeruhan Kekeruhan inenggambarkan sifat optik air yang ditentukan berdasarkan banyaknya cahaya yag diserap dan dipancarkan oleh bahan-bahan yang terdapat d~ dalam air. Pada kisaran ini peningkatan 10 "C suhu meningkatkan proses dekomposisi dan konsumsi oksigen dua kali lipat. evaporasi. dan metalimnion dengan thermoklin diantara kedua lapisan tersebut (Goldman dan Home. reaksi kimia. 1989). 2001).

Kesesuaian perairan untuk kepentingan perikanan berdasarkan padatan tersuspensi ditunjukkan dalam Tabel 2 Tabel 2. Kelas tiga. air untuk imengairi . b. air yang peruntukannya dapat digunakan untuk pembudidayaan ikan air tawar. 2003) Pengaruh terhadap kepeutiugan perikanan Nilai TSS (mgiter) < 25 Tidak berpengaruh Sedikit berpengaruh Kurang baik bagi kegiatan perikanan Tidak baik baik bagi kegiatan perikanan 25 . Kelas dua. Baku Mutu Kualitas Air Peraturan Pemerintah Nomor 82 tahun 2001. petemakan . TSS terdiri dari lumpur dan pasir serta jasadjasad renik. pembudidayaan ikan air tawar. tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Nilai TSS yang tinggi di suatu perairan dapat menurunkan intensitas cahaya matahari sehingga dapat menurunkan aktivitas fotosintesis (Effendi. dan atau peruntukkan lain 111utuair yang sama dengan kegunaan tersebut. yang berisikan tentang klasifikasi dan kriteria mutu air. dan atau peruntukan lain yang imempersyaratkan mutu air yang sana dengan kegunaan tersebut. mutu air dikelompokkan menjadi einpat Masifikasi sebagai berikut : a. 2003). yang terutama disebabkan oleh kikisan tanah atau erosi tanah yang terbawa ke badan air. yang me~npersyaratkan c. sesuai dengan bunyi dari pasal 8 ayat 1. Kelas satu. Total Suspended Solid (TSS) Padatan tersuspensi total (Total Suspended Solid atau TSS) adalah bahanbahan tersuspensi (diameter > lpm).80 81 .air untuk mengairi pertanaman. Kesesuaian perairan untuk kepentingan perikanan berdasarkan padatan tersuspensi (TSS) (Effendi.400 > 400 J. air yang peruntukannya dapat digunakan untuk prasaranalsarana rekreasi air. air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air bakti air minum.I. petemakan.

pertanaman. Knteria baku mutu air berdasarkan setiap klasifikasi air ditunjukkan di dalam Tabel 3. d. air yang peruntukannya dapat digunakan untuk mengairi. Tabel 3. Kelas empat.pertanaman dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut. Kriteria Mutu Air menurut Peraturan Peinerintah Nomor 82 Tahun 2001 Kelas I Parameter Satuan n Fisika rn N Keterangan I I bes untuk ikan . dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan air yang sama dengan kegunaan tersebut.

~ a + . Kf. 1983). Kation yang m m terdapat dalam u larutan tanah adalah H+. baik kation maupun anion. 1998) i: Penjerapan adalah pelekatan suatu zat padat pada permukaan koloid tanah. dimana merupakan sumber nitrogen sedimen (Goldman dan Home. sehingga terbentuk ruang antar lapisan yang mengandung air (Depdikbud. bersifat tersuspensi. M$. Sebaliknya jika keasaman menurun. Senyawa organik tidak berrnuatan diketahui belakangan ini dapat dijerap oleh minerat-mineral Iiat. anaerob). maka jumlah jerapan ion akan rendah. Urea hasil ekskresi akan dikonversi ke bentuk ammonia oleh bakteri-bakteri di dalam tanah (Goldman dan Home. ca2*. Di dalam penjarapan. 2001). molekul organik dapat . Bahan bahan organik yang berbentuk partikel suspensi akan mengendap pada dasar sedimen. Fe2+(dalam suasana ~ + . (Notohadiprawiro. 2003). 1 ~Fe3+. yang masuk ke badan perairan (Effendi. atau bahan organik yang hendapkan dari air yang mengalir. Sedimen Sedimen adalah partikel batuan. dan keluar dari sedimen menuju kolom perairan (Goldman dan Home.1983). atau angin (Hehanusa dan Haryani. Koliod tanah dapat menjerap anion. mineral. dari udara. Larutan tanah inengandung berbagai zat terlarut. Bakteri denitrifikasi ditemukan pada sedimen yang anoksik ketika nitrat terdapat pada sedimen tersebut. sedangkan anion-anion organik lebih terjerap oleh bidang-bidang patahan permukaan liat. 1983). Koloid tanah adalah bagian tanah yang terdiri atas butir-butir yang berukuran sangat halus. Pada danau eutropik sering terjadi perpindahan nitrogen dari sedimen yang anoksik melalui gelembung-gelembung methan hasil proses pembusukan. (dalam suasana aerob).K. Sedimen meliputi tanah dan pasir. Kation organik sebagian besar terjerap pada permukaan negatif liat. M? NJ&*. Liat dengan perrnukaan dalam (internal) yang luas mampu menjerap air di dalam ruang antar lapisannya. Penjerapan air mengakibatkan air tertahan dalam pori-pori tanah pada daya tarik permukaan koloid oleh adanya tekanan permukaan kapiler serta daya tarik menarik ion-ion. 1991). Gas nitrogen bercampur dengan gelembung-gelembung methan. Banyak zat terlarut berbentuk ion. dan jumlah jerapan ini semakin besar jika keasaman tanah meningkat.

Sedimen dari sisa pakan maupun kotoran ikan dari hasil .000 unit dan setiap harinya meinbuang 1 menampung kelebihan pakan ikan (pelet) sekitar 50 ton ke dasar waduk (Suryadiputra dan Ratnawati. tanah dapat dikelompokkan menjadi beberapa tingkat kemasaman dan kebasaan (Gambar 5). Berdasarkan nilai pH. Sedimentasi Waduk Cirata Waduk Cirata telah mengalami proses sedimentasi yang cukup tinggi. sedangkan nitrat lebih stabil pada keadaan aerob. . 8 B--------+Kisaran pH Kisaran pH tanah daerah tanah daerah bilsah kcring Kisaran ekstrim dari pH kcbanyakan tanah mineral . disamping mendapatkan pasokan limbah dari Sungai Citarum clan Waduk Saguling juga karena keberadaan Karamba Jaring Apung (KJA) yang saat ini jumlahnya sekitar 40.Hanya dijnmpai :pada tanah s alkalin ' Gambar 5. Ion ammonium m) lebih reaktif dibandingkan ion i nitrat (NO3-). Tanah gambut . Sebaliknya senyawa organik yang tejerap sering dapat bertukar melalui pencucian dengan air (Depdikbud. . Tingkat Kernasaman pH Tanah (Depdikbud. Nitrogen organik dibebaskan dalam bentuk ammonium (w'). 2000). Sebagian besar nitrogen organik dalam tanah didekomposisi menghasilkan nitrogen anorganik. 1991) L. Dekomposisi inerupakan proses biokimia kompleks yang melepaskan C02. 1991). dan bila keadaan baik akan dioksidasi menjadi nih-it (NOz) dan nitrat (NO3). Sangat ekstrim. 2001). Ammonium pada keadaan anaerob lebih stabil. Ammonium akan bereaksi secara cepat dengan muatan negatif dari liat dan membentuk ikatan yang komplek dengan logam dan senyawa organik (Tan.menggantikan air yang terjerap oleh liat.

2001) Secara kimia sediinen dapat menyumbang beberapa parameter kimia seperti logam berat. amonia. flukh~asipH yang sangat lebar. clan Supriyadi. karena dianggap perairan tersebut telah terpolusi (Ferdiaz. 1992). 1995). dan HzS. serta bahan organik d m anorganik (Connel dan Miller. Sedimentasi di perairan waduk yang ada kegiatan budidaya (KJA) bisa 6 sampai 15 kali dibandingkan perairan yang tidak ada kegiatan perikanannya (Umar. HzS yang cukup tinggi. dan bahan organik yang tidak terkendali.budidaya (KJA) Waduk Cirata akhirnya akan menumpuk di dasar perairan dan selanjutnya mengalami dekomposisi atau penguraian. Buangan sisa pakan dan kotoran ikan berlebihan akan berpengaruh negatif terhadap kualitas air diantaranya dapat meningkatkan kandungan amonia. Sedimen dengan jurnlah yang tinggi dalam air akan sangat merugikan. Tanah dan sedimen berperan utama dalam penyerapan (adsorbsi) zat-zat kimia berbentuk ionik. Kartamihardja. zat-zat kimia berbentuk gas. partikel-partikel tanah. . zat asan. ha1 ini bersifat sangat racun bagi kehidupan biota perairan. oksigen yang rendah.

Peta lokasi penelitian (sumber : DKP 2007) Stasiun 1 terletak di inlet Sungai Citanun. stasiun 2 terletak & daerah Pluinbon yaitu daerah dengan jumlah KJA sedang.METODE PENELITIAN U A. Terdiri dari empat titik sampling (Gambar 6 ) . Kedalaman pada setiap stasiun berbeda-beda. dan stasiun 4 yang terletak di oulet waduk (Lampiran 16). Kedalaman masing-masing stasiun secara . stasiun 3 terletak di daerah Pasir Pogor dengan junlah KJA padat. Jawa Barat. Pengambilan sampel dilakukan antara bulan Juli sampai bulan September 2006. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini berternpat di Waduk Cirata. karena setiap stasiun memiliki kontur waduk yang berbeda. Skala 0 2 Ktlomoler Gambar 6.L .

Ekman Grab untuk mengambil sedimen waduk. sodium carbonate. HzS04 (pekat). larutan Potassium dichrornate 0. 13 meter (stasiun 2). Sedangkan untuk analisis sedimen bahan-bahan (reagen) yang digunakan antara lain. HzS04. larutan standar Nitrit-N 1. chlorox (oxidizing solution). Pada pengamatan bulan Agustus dan September pada inlet waduk di stasiun 1 banyak dijtnnpai tumbuhan Eceng Gondok yang menutupi sebagian besar permukaan inlet waduk. . magnesium carbonate powder. pereaksi untuk analisis kandungan Nitrit-Nitrogen (metode Sulfanilamide) antara lain sulfanilamide (diazotizing reagent). dan untuk pereaksi untuk analisis kandnngan Nitrat-Nitrogen (metode Bn~cine) antara lain larutan Brucine. copper su&t solution. NED (Coupling reagent). dan indikator Ferroin. standart nitrate solution. 62 meter (stasiun 3). larutan standar Nitrat-N 5. dan 25 meter (stasiun 4). dan mangan sulfat.025 N. pereaksi untuk analisis nitrat antara lainphenoldisulfonic acid. DO meter.00 mgll (5 ppm).9 meter dengan kedalaman maksimum mencapai 106 meter. Pennukaan air waduk pada saat pengamatan mengalami penyusutan (Lampiran 17). Mn04.00 mgll (1 ppm). Alat dan Bahan Alat-alat yang digunakan antara lain. Kedalaman rata-ratanya sekitar 34. pHmeter untuk mengukur pH perairan. 19 meter (stasiun I). pereaksi untuk analisis ammonia antara lain nessler reagent. pereaksi untuk analisis oksigen terlarut (metode Winkler) antara lain suljh-mic acid. B. pereaksi untuk analisis COD antara lain larutan Potassium dichromate 1 N. ammonium hydroxide. Van Dorn salnpler untuk pengambilan contoh air. calcium hydroxide powder. Ferrous Ammoniurn Sulfat (FAS). chloride solution. NaOH + KI. thermometer raksa untuk mengukur suhu perairan. pereaksi untuk analisis kandungan Ammonia-Nitrogen (metode Indophenol) antara lainphenate (phenol). botol DO gelap untuk analisis BOD (Biochemical Oxygen Demand). Na-tkiosulfnt. standart amonium.berturut-turut antara lain. Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk analisis kualitas air antara lain. dan botol sampel untuk menyimpan sampel air untuk di analisis di laboratorium.

Kedua sampel selanjutnya di analisis di laboratorium. dan outlet waduk (stasiun 4). Metode Kerja 1. daerah KJA padat yang terletak di daerah Plunzbon (stasiun 3). 30 m) disesuaikan dengan kedalaman setiap stasiun. Untuk analisa kulitas air secara in situ antara lain: oksigen terlantt (DO). sodium carbonate. Pengambilan Sampel Untuk pengambilan sainpel air dilakukan dengan menggunakan Van Dorn sampler pada kolom perairan dengan interval 10 meter secara vertikal sampai dengan kedalaman 30 meter (0 m. Metode Analisis Kualitas Air dan Sedimen Analisis kualitas air llakukan secara in situ (pengukuran langsung) maupun di laboratorium. Pengambilan sampel dilakukan pada siang sampai sore hari. kecerahan. BOD. ammonia. sodium hydroxide. Pengambilan sampel ini dimaksudkan untuk melihat sebaran vertikal nitrogen di kolom perairan dari permukaan hingga dasar waduk. nessler 's reagent. granular pumice. dan N-total. Sedangkan sampel sedimen langsung lmasukkan plastik. dan pada kedalaman dekat dasar (interfase) yaitu 1 meter di atas dasar waduk. 10 m. TSS. Sedangkan analisa kualitas air secara ek situ (di laboratorium) untuk parameter seperti. kekeruhan. Sedangkan pengambilan sampel sedimen dilakukan dengan lnenggunakan Ekman Grab pada setiap stasiun. yaitu : inlet waduk (stasiun I). Penentuan Lokasi Penelitian Lokasi pengainbilan sampel dilakukan di empat titik (Gambar 6). 20 m. antara bulan Juli sampai bulan September 2006. 2. 3. COD. Sampel diambil satu kali setiap bulan. C. pH.sedangkan pereaksi untuk analisis nitrogen total antara lain sulfuric acid. daerah KJA sedang yang terletak di daerah Pasir Pogor (stasiun 2). nitrit. nitrat. dan suhu. Air sampel yang didapat langsung diawetkan dengan pendinginan dan pemberian H2S04. ammonium. Penentuan lokasi penelitian didasarkan pada kepadatan sebaran KJA yang terdapat pada waduk Cirata. .

1961). Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan. Beberapa parameter yang dianalisis diantaranya : kandungan N-total (nitrogen total) pada tanah. dan sampel sedimen (Chapman dan Pratt. Fakultas Pertanian. Sedangkan Analisis kualitas sedimen dilakukan di Iaboratorium Tanah. metode. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. 1989). Departemen Tanah.tdophenol laboratorium Spectrofoton~etric/Str[fa~~ilmlide laboratorium &traotomehic/Bnrcine laboratorium laboratorium Kjeldhal pH-meter iii sifu m "C NTU mdl Penykuran Pemuaian Turbidimeter Gravimetrik I in silu in situ laboratorium laboratorium I 1 I mg/l mdl I - Fisika Tekstur 3-Fraksi Kimia Ammonium Nitrat N-Total pH % Pipet Laboratorium / mg/l mgll % / Nessler Phenoldiszc[fo.zic acid Kjeldhal pH meter I Laboratorium Laboratorium Laboratorium Laboratorium . dan lokasi analisis sampel kulitas air (APHA. Tabel 4. kandungan ammonia pada air di sedimen. Parameter / I Satuan / I Metode Keterangan KUALITAS AIR Pisika Kedalaman Suhu Kekemhan TSS Kimia Oksigen terlarut (DO) BOD COD Ammonia Total Nitrit mg/l mg/l mdl mg/l ir~ situ DO meter laboratorium Modifikasi Winkler laboratorium Refluks Terbuka Spectrofotonehic/l. Tekstur 3-Fraksi dan pH. kandungan nitrat pada air di sedimen. Paraineter.Untuk analisis kualitas sedimen dilakukan secara ek situ (di laboratorium). Analisis kualitas air dilakukan di laboratorium Produktivitas Lingkungan. Institut Pertanian Bogor. Jenis parameter kualitas air dan sedimen yang dianalisis beserta satuan dan aladmetoda serta lokasi analisisnya dapat dilihat pada Tabel 6.

N03. 10 m. dan interfase (kedalaman dekat dasar). kedalaman. BOD. 82 Tahun 2001 tentang: Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Penceinaran Lingkungan. oksigen terlarut (DO). Sedangkan untuk melihat pengaruh secara temporal dan spasial data akan dianalisis dengan menggunakan Rancangan PetakTerbagi (Split-Plot Design) untuk data kualitas air. Kedalaman yang digunakan antara lain kedalaman 0 m. dan waktu. Selanjutnya dari setiap data dibagi menurut stasiun dan kedalaman. dan TSS) serta dengan baku mutu yaitu.4. (Y . pH. dan akan disajikan secara deskriptif.12 Hitung Faktor koreksi (C) = . Analisis Data Kualitas Air Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis dengan Rancangan PetakTerbagi (Split-Plot Design) untuk melihat pengaruh dari stasiun. kedalaman. Jumlahkan semua data lalu dikuadratkan. Adapun langkah-langkah untuk menentukannya adalah sebagai berikut (Steel dan Torrie. kekeruhan. suhu. Hal ini dikarenakan setiap stasiun memiliki kedalaman tersebut. Untuk stasiun diasumsikan sebagai faktor A. Ntotal) dibandmgkan dengan parameter pendukung (suhu. 1993) : 1. Analisis Data Data yang diperoleh dari hasil pengukuran kualitas air dan sedimen ditampilkan dalam bentuk tabel dan grafik. dan kedalaman diasumsikan sebagai faktor B.. dan waktu ditentukan jumlah datanya untuk menganalisis ragam menggunakan tabel sidik ragam. parameter-parameter utama (NH3. kemudian bagi dengan jumlah data untuk inendapatkan Faktor Koreksi (C).. Terlebih dahulu data dikelompokkan menurut waktu pengambilan sampel dan waktu diasumsikan sebagai kelompok. Selain analisa secara deskriftif. Peraturan Pemerintah No. a. dan Rancangan Acak Kelompok (RAK) untuk data sedimen waduk. Selanjutnya dari setiap stasiun. COD. NOz.

JK(ke1ompok = waktu) = z y 2 lab -C . Kuadratkan masing-masing data lalu jumlah semua kuadratnya. d. JK(petak utama) = c$. Menghitung Jumlah Kuadrat (stasiun) dengan menjumlahkan data setiap stasiun pengamatan lalu kuadratkan dan jumlahkan kuadratnya. keinudian kurangi dengan faktor koreksi (C) untuk mendapatkan Junlah Kuadrat Total (JKT). selanjutnya bagi dengan jumlah waktu pengambilan sampel dan kurangi dengan faktor koreksi (C).1b . setelah itu bagi dengan jumlah data yang ada pada setiap waktu pengamatan yang sama dan kurangi dengan faktor koreksi (C)..C tjk VP a. JK(ga1at (A)) = JK(petak utama) . c. Menghitung Jurnlah Kuadat (galat(A)) dengan mengurangi JK(petak utama) dengan JK(ke1ompok) dan JK(A). setelah itu dijumlahkan kuadratnya.2. Kerjakan analisis petak utama : 2$ .JK(ke1ompk) . Jumlah Kuadrat Total ( K T ) = 3. Menghitung Jumlah Kuadrat (petak utama) dengan menjumlahkan data pada setiap waktu pengambilan sampel lalu kuadratkan.JK(A) . Menghitung Jumlah Kuadrat (kelompok) dengan menjumlahkan data menurut waktu pengambilan sarnpel yang sama kemudian jumlahkan waktu yang sama pada setiap stasiun lalu dikuadratkan. i 1.C ii V b. setelah itu bagi dengan jumlah data yang ada pada satu stasiun dan kurangi dengan faktor koreksi (C).

I Jk ~k r- c ..= Pj = 0) HI: kedalaman memberikan pengaruh nyata (minimal satu stasiun (pj# 0)) 3. lalu bagi dengan jumlah data yang ada disetiap kedalaman setelah itu kurangi dengan faktor koreksi (C). Pengaruh kedalaman pengambilan sampef terhadap kandungan nitrogen: H.JK(A) Selanjutnya setelah langkah-langkah perhitungan di atas dilakukan masukkan ke dalam tabel sidik ragam untuk mendapatkan nilai F-hitung (Tabel 7).. JK(AB) = cy2. Pengaruh waktu pengambilan sampel terhadap kandungan nitrogen: K:waktu tidak berpengaruh (yl = y2 = . JK(B). Menghitung Jumlah Kuadrat (AB) dengan menjumlahkan data setiap kedalarnannya menurut setiapnya masing-masing.: kedalaman tidak berpengaruh (PI = P2 = . setelah itu kuadratkan hasilnya dan dijumlahkan. dan JK(A)..3. Menghitung Jumlah Kuadrat (galat@)) dengan mengurangi JK(tota1) dengan JK(petak utama)..JK(B) .=ai = 0) HI: stasiun memberikan pengaruh nyata (minimal satu stasiun. (a i # 0)) 2.. Adapun hipotesis yang akan diuji adalah sebagai berikut : 1.C b.JK(A).JK(petak utama) . Pengaruh stasiun terhadap kandungan nitrogen Ho: stasiun tidak berpengaruh (al = a 2 = ...JK(B) c.=yj = 0) HI: waktu memberikan pengaruh nyata (minimal satu stasiun (y. Menghtung Jumlah Kuadrat (kedalaman) dengan menjumlahkan data setiap kedalaman kemudian kuadratkan hasilnya. JK(ga1at @)) = JK(tota1) .. kemudian kurangi dengan faktor koreksi (C) dan JK(A) serta JK(B).. kerjakan analisis anak-petak : a. lalu bagi dengan jumlah data yang ada di setiap menurut stasiunnya. JK(B = kedalaman) = k 2 ykI ra . # 0)) .

untuk mendapatkan bagaimana pengaruh stasiun. Langkah-langkah perhitungan uji BNT adalah sebagai berikut : < F-tabel. Jika F-hitung nitrogen. 1993) Keterangan : a =jumlah stasiun pengambilan sampel b =jumlah kedalaman pengambilan sampel r = jumlah kelompok (waktu pengambilan sampel) Selanjutnya nilai F-hitung dibandingkan dengan F-tabel. dan waktu pengambilan sampel terhadap kandungan nitrogen perairan berdasarkan kaidah keputusan dibawah ini : Jika F-hitung > F-tabel.Tabel 5. pada selang kepercayaan 95 %. : terdapat perbedaan yang nyata antar perlakuan (stasiun dan kedalaman) dengan kandungan nitrogen. Jika hasil sidik ragam menunjukan adanya perbedaan yang nyata akibat perlakuan. maka dilakukan uji lanjutan menggunakan metode uji lanjutan Beda Nyata Terkecil (BNT) untuk mengetahui perlakuan mana yang memberikan pengaruh berbeda nyata terhadap kandungan nitrogen periaran. kedalaman. maka tolak H. Tabel Sidik Ragam Rancangan Petak-Terbagi (Steel dan Tonie. maka terima x: terdapat perbedaan yang tidak nyata antar perlakuan (stasiun dan kedalaman) dengan kandungan .

Menghitung Jumlah Kuadrat Baris (JKB) dengan menjumlahkan Qta berdasarkan setiap stasiun lalu &kuadratkan. 1995): 1. data sedimen dianalisis dengan inenggunakan Rancangan Acak Keloinpok (RAK). setelah itu kurangi dengan hasil bagi jumlah total data yang dikuadratkan dengan jumlah semua data yang ada. . Menentukan perbedaan rata-rata atribut dengan membandingkan ratarata perlakuan dengan masing-masing perlakuan. kemudian kurangi dengan hasil b a a jumlah total data yang dikuadratkan dengan jumlah semua data yang ada. Menentukan nilai uji BNT. Langkah-langkah menentukan RAK adalah sebagai berikut (Walpole. maka gaga1 tolak Ho b.a. BNTaEt(a/2. Selanjutnya data tersebut dijumlahkan untuk menentukan analisis ragamnya dengan menggunakan tabel sidik ragam (Tabel 8). d = lyi-yjj b. kemudian bagi dengan jumlah data yang ada pada setiap stasiun. Data yang diperoleh disusun bedasarkan stasiun dan waktu pengambilan sampel.bds) keterangan : t a / 2 n KTS dbs Kaidah keputusan : = Nilai dati tabel t ( a =5 %) = Banyaknya ulangan = Kuadrat = Derajat tengah sisa bebas sisa * Jika d > BNT a . Menghitung Jumlah Kuadrat Total ( K T ) dengan mengkudratkan masingmasing data kemudian dijumlahkan. Pada baris ditentukan data menurut stasiun. maka tolak Ho Jika d < BNTa. 2. Analisis Data Sedimen Berbeda dengan analisa kualitas air. dan pada kolom ditentukan data menurut waktu.

setelah itu kurangi dengan hasil bagi jumlah total data yang dikuadratkan dengan jumlah semua data yang ada.1) I Total rc-1 Keterangan : r = jumlah stasiun pengambilan sampel c = jumlah waktu pengambilan sarnpel .1) KG KT JKG (c . Tabel 6 . 1995) Sumber Keragaman Nilai tengah Stasiun Nilai tengah Waktu Galat I Derajat Jurnlah Kuadrat Bebas (db) (JJQ Kuadrat Teugah WT) JKB KTB = (r .3. KG=KT-JKB-JKK Selanjutnya jumlah kuadrat yang telah dihitung disusun kedalam tabel sidik ragam untuk menganalisis ragam. Menghitung Jumlah Kuadrat Kolom (JKK) dengan menjumlahkan data setiap berdasarkan waktu lalu dikuadratkan.1) F-hitung (1. kemudian bagi dengan jumlah data yang ada pada setiap waktu pengamatan. 4.l)(r . Tabel Sidik Ragam Rancangan Acak Kelompok (Walpole. seperti yang ditunjukkan pada Tabel 8. Menghitung Jumlah Kuadrat Galat (KG) dengan mengurangi JKT dengan JKB dan JKK.1) (c-1) (r-1-1 I JKB JKK KTB KTG KTK KTG KTK = KTG= I JKK - (C.

: faktor waktu tidak berpengaruh (PI = P 2 = ..bds) keterangan : t cu / 2 n KTS dbs JZEG = Nilai dari tabel t ( a = 5 %) = Banyaknya ulangan = Kuadrat tengah sisa = Derajat bebas sisa .Hipotesis yang akan diuji adalah: 1. : terdapat perbedaan yang nyata antar perlakuan (stasiun dan waktu) dengan kandungan nitrogen.: faktor stasiun tidak berpengaruh (al = a2= . BNTa=t(a/2. P e n g a d waktu pengambilan sampel (kelompok) terhadap kandungan nitrogen: H.= Pj = 0) HI: faktor waktu berpengaruh (minimal satu waktu (Pj# 0)) Selanjutnya nilai F-hitung dibandingkan dengan F-tabel. d = lyi-yjl b. pada selang kepercayaan 95 %. maka tolak H. Menentukan nilai uji BNT. Pengaruh stasiun (perlakuan) terhadap kandungan nitrogen : H.. Jika hasil sidik ragam menunjukan adanya perbedaan yang nyata akibat perlakuan. maka dilakukan uji lanjutan lnenggunakan metode uji lanjutan Beda Nyata Terkecil (BNT) untuk mengetahui perlakuan mana yang memberikan pengaruh berbeda nyata terhadap kandungan nitrogen periaran. maka terima %: tidak terdapat perbedaan yang nyata antar perlakuan (stasiun dan waktu) dengan kandungan nitrogen. sehingga dapat ditarik kesimpulan berdasarkan kaidah keputusan dibawah ini : Jika F-hitung > F-tabel. Jika F-hitung 5 F-tabel. Langkah-langkah perhitungan uji BNT adalah sebagai berikut : a... Menentukan perbedaan rata-rata atribut dengan inembandingkan ratarata perlakuan dengan masing-masing perlakuan..=ai = 0) HI: faktor stasiun berpengaruh (minimal satu stasiun (ai # 0)) 2..

maka gaga1 tolak Ho .Kaidah keputusan : Jika d > BNTa. maka tolak Ho * Jika d < BNT a .

Rata-rata kandungan di permukaan waduk adalah 0. sedangkan kandungan ammonia total terendah terjadi pada bulan Juli di stasiun 1 pada permukaan waduk. Kandungan ammonia total ( N H 3 dan N 4 perairan berdasarkan H3 kedalaman pada setiap stasiun dan waktu pengamatan. .40 r 60 70 kedalaman maksimum = 62 meter Gambar 7.20 -. Ammonia total (NH3 dan N&+) Kisaran nilai ammonia total berkisar antara 0.85 mgtl. Kandungan Nitrogen di Perairan 1.07-4. z E 30 'U 5 50 Y E m . sedangkan pada kedalaman interface (dekat dasar) rata-rata kandungannya adalah 1. Kandungan ammonia total tertinggi selama penelitian terjadi pada bulan September di stasiun 3 pada kedalaman interface (dekat dasar).HASIL DAN PEMBAaASAN v A. . Distribusi vertikal ammonia total mengalami penurunan pada setiap kedalanan.I . 40 Y stasiun 1 kedalamao maksimum = 19 meter C rn E 40 60 70 stasiun 2 kedalamnn maksimum = 13 meter $5060 70 0 0 10 Y Konsentrasi (mgil) 2 I<onsentrasi (mgg 4 6 0 2 4 6 .46 mg/l.86 mg/l (Gambar 7 dan Lampiran 1).

05 01 . dengan konsentrasi tertinggi pada bulan Agustus di stasiun 2 pada permukaan waduk.76 pada kedalaman interface. Ammonia bebas didapat (NH3) yang terukur berkisar antara 0.20 g 10 30 stasiun 1 ' e 40 stasiun 2 kedalaman mksimum = 13 meter tconsenlrasi (rngll) 50 60 70 Konsentrasi (mgliJ stasiun 3 stasiun 4 I--c Jull Gambar 8.3 .2054 mg/l. sedangkan konsentrasi terendah terjadi pada bulan Juli di stasiun 1 pada kedalaman 10 meter.. Pada stasiun 1. . 1983). Nilai ammonia bebas (NH3) dan ammonium ( ~ ~ 4 3 dari konversi nilai ammonia total (Lampiran 14). konsentrasi rata-rata di permukaan adalah 0. stasiun 3 konsentrasi rata-rata di perrnukaan sebesar 0. dan stasiun 4 konsentrasi rata-rata pada permukaan 0.1 Konsentrasi (mgfl) 0.2 0.08 mg/l meningkat menjadi 0.49 mgll rnenjadi 1.59 mg/l.72 mg/l menjadi 1.Terjad peningkatan konsentrasi ammonia total pada setiap penambahan kedalaman.74 mg/l pada kedalaman interface (dekat dasar).5 0.55 mg/l dan meningkat pada kedalaman interface inenjadi 3. Konsentrasi (mgll) 01 . I September I Kandungan ammonia bebas (NH3) berdasarkan kedalaman pada setiap stasiun dan waktu pengamatan. Ammonia yang terukur pada perairan berupa ammonia total (NH3 dan NW (Goldman dan Home. stasiun 2 konsentrasi rata-rata di permukaan sebesar 0.0017-0. 0 0. Distribusi vertikal NH3 inenunjukkan penurunan pada setiap penambahan kedalamannya (Gambar 8). --rcAgustus - .30 mg/l pada kedalaman interface.25 0 0 0.2 0.

O 13 mg/l pada permukaan menjadi 0. 0 2 Konsentrasi (m@) 4 6 Konsentrasi (mgll) 0 0 2 4 6 stasiun 1 10 50 2 X I Z 9 6 40 stasiun 2 kedslaman maksimum = 13 meler 50 a 70 Konsentrasi (mgm 0 2 4 0 2 Konsentrasi (mgfl) 4 6 stasiun 4 kednlnmnn maksimum = 25 meter -+-Jult --P-Agustus -a-September Gambar 9. Pada stasiun 2.028 mg/l pada kedalarnan interface. Kandungan ammonium perairan berdasarkan kedalaman pada setiap stasiun dan waktu pengamatan. Stasiun 4. rata-rata konsentrasi pada permukaan sebesar 0. Sedangkan pada stasiun 1. didapat kisaran untuk M&+ yaitu sebesar 0. Dari hasil yang diperoleh. Stasiun 3.828 mgh.064 dan menurun menjad 0.0659-4. kecuali pada stasiun 1.080 mg/l dan menurun menjadi 0. (H3 N4 .023mgA pada kedalaman interface.Pada Gambar 8 terlihat bahwa pada setiap penambahan kedalaman konsentrasi NH3 rata-rata menurun di setiap stasiun pengamatan. interface. dengan konsentrasi terbesar terjadi pada bulan September di stasiun 3 pada kedalarnan interface. rata-rata konsentrasi pada permukaan sebesar 0.O 15 mg/l pada kedalaman ( ~ ~yang3 4 terukw dapat dilihat pada dan Gambar 9 dan Lampiran 1. rata-rata konsentrasi pada permukaan adalah 0. dan konsentrasi terendah tejadi pada bulan September di stasiun 1 pada permukaan waduk. Sedangkan untuk nilai ammonium nilai konsentrasinya mengalami sedikit peningkatan dari 0.017 mgl.031 mg/l dan mengalami penurunan pada kedalaman interface sampai 0.

737 mg/l pada kedalaman interface. Di stasiun 1. rata-rata konsentrasi pada permukaan sebesar 0. sedangkan N+ memiliki kecenderungan mengalami peningkatan pada setiap penambahan & kedalaman (Gambar 8 dan Gambar 9). sehingga konsentrasi dari ammonia bebas (un-ionised ammonia @GI3)) akan meningkat. rata-rata konsentrasi pada permukaan sebesar 0. Bahan organik didekomposisi menghasilkan ammonia melalui proses ammonifikasi. 1983).488 mg/l menjadi 3. Hal ini terlihat dari nilai BOD pada setiap penambahan kedalaman yang meningkat (Gambar 21). Dan stasiun 4. Pada perairan Eutrofik produktivitas dan kandungan bahan organik tinggi. Wetzel (1983).725 mg/l pada kedalaman interface. 2003). Bahan organik diduga berasal dari kegiatan budidaya KJA yang terdapat pada waduk yaitu bempa sisa pakan dan feses. Amonifikasi dilakukan oleh bakteri heterotrof (Wetzel. Konsentrasi N& merniliki kecenderungan mengalami p e n m a n .457 mgll menjadi 1.067 mgA dan meningkat menjadi 0. Konsentrasi N H 3 yang tinggi pada permukaan waduk disebabkan oleh pH yang juga tinggi pada . mengklasifikasikan pola sebaran yang demiluan sebagai perairan Eutrofik (Gambar 3). 1983). rata-rata konsentrasi pada permukaan 0. Konsentrasi yang meningkat disetiap kedalamannya diduga terjadi akibat proses dekomposisi bahan organik oleh mikroorganisme. ammonia total memiliki kecenderungan inengalami peningkatan pada setiap penambahan kedalaman. 1983). Ammonia total terbag menjadi dua bentuk yaitu ammonia bebas (unionised ammonia (NH3)) dan ammonium (ionised ammonia (~~43). Dekomposisi bahan organik tersebut lebih banyak menghasilkan ammonia dan proses nitrifikasi yang menghasilkan nitrat akan terhambat. Proporsi nilai keduanya dipengaruhi oleh temperatur dan pH perairan (Wetzel.269 mg/l pada kedalaman interface. Stasiun 3. Ammonia total tidak terionisasi pada pH lebih besar dari 7 (Goldman dan Home. Hal ini terlihat pada konsentrasi ammonia total stasiun 2 dan stasiun 3 yang relatif lebih besar dibandingkan stasiun 1 dan stasiun 4 (Lampiran 1).643 mg/l dan bertambah menjadi 1.Pada grafik terlihat terjadi peningkatan konsentrasi NI%+ untuk setiap penambahan kedalaman. Bakteri ini akan tumbuh dengan lebih cepat pada kandungan bahan organik yang tinggi dibandingkan bakteri nitrifikasi (Effendi. rata-rata konsentrasi pada permukaan 0.568 mg/l pada kedalaman interface. Dari hasil yang didapat. Stasiun 2.

dan waktu pengambilan sainpel (Lampiran 1). Sedangkan ammonium OF4 konsentrasinya semakin meningkat disebabkan \H3 oleh pH perairan yang semakin menurun. Dapat dikatakan bahwa NH3 berkorelasi positif dengan kandungan pH perairan. Kadar ammonia yang tinggi mengakibatkan pe~ngkatan konsumsi oksigen. stasiun (2-3). Lima pasang stasiun tersebut adalah stasiun (1-3). sehingga dapat dikatakan bahwa konsentrasi ammonium berkorelasi negatif dengan pH perairan. Kandungan ammonia total yang tinggi sangat berpotensi sekali menjadi bahan-bahan toksik. Dari hasil uji lanjutan berdasarkan faktor stasiun (Tabel 7). Hal ini sangat berbahaya b a g kegiatan budidaya KJA di Waduk Cirata. dan stasiun (1-4). menjelaskan ammonia akan terionisasi pada pH < 7.02 mglt. Hasil . 2001) untuk kepentingan perikanan yang menganjurkan batas maksimat konsentrasi ammonia bebas sebesar 0. Dan untuk mengetahui stasiun. sampel). Hasil analisis data dengan rancangan Petak-Terbagi (Split-Plot) memberikan keputusan tolak H untuk faktor stasiun (lokasi pengambilan . Hal ini tentunya sangat merugikan bagi kegiatan budidaya KJA yang berada di Waduk Cirata yang kegiatannya berada pada permukaan waduk. Stasiun 3 mengalami perbedaan yang nyata dengan semua . didapatkan ada lima pasang stasiun yang berbeda nyata menurut kandungan ammonia total. faktor kedalarnan. Kandungan pH yang relatif tinggi pada permukaan waduk dapat menyebabkan sebagian besar ammonia total tidak terionisasi sehingga inenghasilkan ammonia bebas (NH3) yang relatif bersifat toksik dari ammonium (~~43. penelitian didapat Dari hasil rata-rata konsentrasi NH3 pada setiap stasiun di permukaan waduk adalah sebesar 0.0474 mg/l.1982). Goldman dan Home (1983). Karena konsentrasi ammonia total tertinggi rata-rata terdapat pada daerah budidaya KJA (stasiun 2 dan stasiun 3). mengakibatkan kerusakan pada insang. stasiun (3-4). Konsentrasi ini lebih tinggi dari baku mutu (Peraturan Pemerintah Nomor 82. kedalaman serta waktu yang memberikan konsentrasi yang berbeda. dan menurunkan kapasitas transport oksigen oleh darah (Boyd. kedalaman dan waktu yang berbeda nyata dilakukan uji lanjutan BNT. keputusan tolak H memberikan garnbaran bahwa pada setiap faktor terdapat perbedaan dua atau lebih stasiun. stasiun (1-2).permukaan waduk dan nilainya semakin menurun setiap penambahan kedalaman. Ammonia bebas @W3) bersifat toksik dibandingkan ammonium (~~43.

Tabel 8.85) Interface (1. kedalaman interface berbeda nyata dengan kedalaman 0 meter. dan 10 meter (Tabel 10).l) Kedalaman 0 meter (0. Hal ini menunjukkan adanya kecenderungan nilai kandungan yang tinggi pada kedalaman tersebut dibandingkan kedalaman yang lain. Stasiun 1 memiliki perbedaan kandungan terkecil dengan stasiun yang lainnya.99* = 0.44 = berbeda nyata Hasil uji lanjut BNT untuk faktor kedalaman menunjukkan bahwa. Kedalainan interface berbeda nyata dengan semua kedalaman yang lainnya.38* 0. Tabel 7. dan stasiun 3 memiliki perbedaan kandungan terbesar dengan stasiun yang lainnya.85) Rata-rata 10 meter (0. Namun penarikan kesimpulan seperti ini tidak bisa dilakukan karena secara statistik masih terdapat interaksi antara faktor stasiun dan kedalaman. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Ammonia Total perairan (a=0.stasiun.85) 0 meter (0. begitu pula dengan stasiun 1.46) 1.46) 10 meter (0.39 0 0 Nilai BNT Keterangan * .42 = berbeda nyata 0. Nilai BNT Keterangan * = 0.1). Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor kedalaman terhadap kandungan Ammonia Total perairan (a=O.

Konsentrasi nitrit memiliki pola distribusi vertikal yang berbeda pada setiap stasiun. Perbedaan yang terjadi inenurut waktu menggambarkan adanya perubahan karakteristik waduk seperti tinggi muka air selama waktu pengamatan. Kandungan rata-rata ammonia total tertinggi pada permukaan waduk terjadi di stasiun 2. Tabel 9. Nitrit (NO23 Berdasarkan hasil yang diperoleh didapat kisaran konsentrasi nitrit pada stasiun 1 yaitu berkisar antara 0.0940 mgll. dan konsentrasi rata-rata ammonia total untuk kedalaman interface terjadi di stasiun 3. yaitu antara bulan Juli dengan Agustus.0015 mg/1 dan meningkat pada kedalaman interface menjadi 0. stasiun dengan faktor kedalaman. dan pada stasiun 4 berkisar antara 0-0.1) Nilai BNT Keterangan * = 0. sedangkan rata-rata konsentrasi ammonia total tertinggi di kedalaman 10 meter terjadi pada stasiun 2. Nilai uji BNT untuk pengamh faktor waktu terhadap kandungan ammonia total (a=0. dan bulan Juli dengan September (Tabel 11). Ini menunjukkan adanya interaksi antar faktor .0059 mg/l. Pada stasiun 1 konsentrasinya cenderung meningkat pada setiap penambahan kedalaman.Hasil uji lanjut BNT untuk faktor waktu menunjukkan adanya dua pasang waktu pengambilan sampel yang menunjukkan perbedaan nyata terhadap kandungan ammonia total. stasiun 2 berkisar antara O0. pada stasiun 3 berkisar antara 0-0. Dengan rata-rata konsentrasi nitrit pada permukaan sebesar 0. dapat dikatakan tidak ada satu stasiun yang memiliki nilai konsentrasi ammonia total tertinggi untuk semua kedalamannya. 2.0847 .0004-0.38 = berbeda nyata Nilai interaksi faktor stasiun dan faktor kedalaman menghasilkan keputusan tolak H (Lampiran 1).0014 mg/l (Gambar 10 dan Lampiran 2).0020 mg/l.

menurun pada kedalaman interface menjadi 0.mgll.00. dimana nitrit merupakan produk antaranya.0007 mg/l pada stasiun 3 dan 0.05 Nitnt (mgfl) 0. 0 0.OE z 20 a ?%30 E30 C .0110 mgll pada stasiun 4.004 0. Stasiun 3 dan stasiun 4 konsentrasinya berfluktuasi namun cenderung menurun dengan rata-rata pa& permukaan 0. 2003). Konsentrasinya sangat bergantung pada keberadaan oksigen di perairan.004 Nitrit (mg/l) 0.0004 mg/l pada stasiun 4. Nitrit merupakan bentuk peralihan antara ammonia dan nitrat dalam proses nitrifikasi.I106 0.1 Nitrit (mgll) 0 0.50 S 40 stasiun 4 laman maksimum = 62 meter ke&laman maksimum = 25 meter g 60 70 70 --c Juli ~ A g u s t u s --September 4 Gambar 10. karena bersifat kurang stabil dan sangat bergantung pada keberadaan oksigen di perairan (Effendi. Sedangkan pada stasiun 2 konsentrasinya cenderung menurun pada setiap kedalamannya.002 0.001 1 mg/l menjadi 0 mg/l pada kedalaman interface. dengan rata-rata di permukaan sebesar 0.002 0. Kandungan nitrit (NO. .008 0 0. Diteinukan dalam jumlah yang sedikit di perairan.) perairan berdasarkan kedalaman pada setiap stasiun dan waktu pengamatan. Proses nitrifikasi menggunakan oksigen dalam perombakan ammonia menjadi nitrat.002 0.0010 mgil pada stasiun 3 dan 0.004 Nitril (mg/l) 0.j kodalamsn meksimum = 13 meter 0 0 10 0.

nitrifikasi masih dapat berlangsung sampai konsentrasi oksigen terlarut sebesar 0.61-10. Penurunan konsentrasi yang terjadi pada stasiun 3. namun menurut Wetzel (1983). Hal inilah yang menyebabkan meningkatnya kandungan nitrit pada stasiun 1 pada setiap kedalamannya. .027 mgll. ini juga terlihat dari nilai BOD dan COD yang cenderung tinggi di ketiga stasiun tersebut. Pada daerah permukaan waduk yang merupakan daerah aktivitas budidaya KJA. nitrifikasi berjalan pada keadaan aerobik.00112 mg/l. menyatakan ketika nitrit terabsobsi oleh ikan. Hal ini diperkirakan proses nitrifikasi masih berlangsung pada stasiun 1. Konsentrasi oksigen pada stasiun 1 masih memungkinkan terjadinya proses nitrifikasi walaupun akan bejalan secara lambat. Rata-rata konsentrasi oksigen terlarut mendan pada kedalaman 10 meter konsentrasi rata-rata dari ketiga stasiun tersebut sebesar 0. 2001) untuk kepentingan perikanan konsentrasi tersebut masih pada kisaran baku mutu yang menetapkan batas maksimal sebesar 0. memiliki konsentrasi nitrit rata-rata sebesar 0.06 mgil. akan diikat oleh hemoglobin darah sehingga menggangu penyerapan oksigen oleh hemoglobin. proses ini akan terns berlangsung sainpai kandungan oksigen terlarut (DO) sekitar 0.75 mg/l. Konsentrasi nitrit yang tinggi tentunya sangat membahayakan kegiatan budidaya KJA di Waduk Cirata.Pada stasiun 1 terjadi peningkatan konsentrasi nitrit pada setiap kedalaman. Menurut Wetzel (1983). sehingga konsentrasi nitrit yang merupakan produk antara proses ini juga inenurun. dan stasiun 2 diperkirakan karena meningkatnya kandungan bahan organik pada stasiun tersebut akibat aktivitas budidaya KJA.3 mgll. 1983). sehingga nitrit yang merupakan produk antara proses tersebut masih ditemukan. stasiun 4. Berdasarkan baku mutu (Peraturan Pemerintah Nomor 82.03 mdl. Fluktuasi konsentrasi yang terjadi pada stasiun 3 dan stasiun 4 dikarenakan sifat nitrit yang tidak stabil. Kandungan bahan organik dapat menghambat proses nitrifikasi (Wetzel. Walaupun konsentrasi oksigen pada stasiun 1 mengalami penurunan setiap kedalainannya (Gambar lo). Inilah yang menyebabkan konsentrasi nitrit memilila kecenderungan m e n m sampai kedalainan interface. dengan kisaran konsentrasi antara 0. Selain itu penurunan diakibatkan juga kurang tersedianya oksigen terlarut pada setiap stasiun tersebut. Boyd (1982).

Hasil analisis data memberikan keputusan tolak H untuk faktor stasiun . sedangkan pada stasiun 2.05 17+ Stasiun 3 (0. stasiun 3. stasiun (1-2).0007 0 0.1) Stnsiun Stasiun 2 (0.0010 0. (Tabel 13). antara lain. Interaksi antara faktor stasiun dan faktor kedalaman juga tidak ditemukan (gaga1 tolak (Lampiran 9). Hasil uji lanjut BNT berdasarkan faktor stasiun menunjukkan tiga pasang stasiun yang berbeda nyata. Hal ini menggambarkan kandungan nitrit di permukaan nilainya cenderung berbeda dengan kedalaman lainnya. Keputusan ini menggambarkan bahwa pada setiap faktor terdapat perbedaan dua atau lebih stasiun dan kedalaman yang memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap kandungan nitrit di perairan.05 16* 0.0004) 0. Sedangkan kedalaman 10 meter dengan interface menurut hasil uji lanjutan tidak memberikan perbedaan yang nyata.0520) Rata-rata Stasiun 4 Stasiun 3 (0.0007) Stasiuu 2 (0. Tabel 10.0007) 0. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Nitrit perairan @JOY) (a=0. dan stasiun (1-3) (Tabel 12).0003 0 0 Stnsiun 4 (0.0035 = berbeda I nyata Nilai BNT Keterangan * Hasil uji lanjut BNT berdasarkan faktor kedalaman memperlihatkan perbedaan nyata antara kedalaman 0 meter (permukaan) dengan kedalaman 10 meter dan kedalaman interface (dekat dasar).0004) a .0520) 0 = 0. dan stasiun 4 nilainya cenderung lebih tinggi dibandingkan kedalaman yang lainnya.0513* 0. Stasiun 1 (0. Pada stasiun 1 nilai kandungannya cenderung lebih kecil.0015) (0. Terlihat stasiun 1 berbeda nyata dengan semua stasiun pengamatan. stasiun (1-4). ini membuktikan bahwa stasiun 1 memiliki nilai )ha1 yang lebih besar dibandngkan dengan stasiun-stasiun pengamatan yang lainnya. .0015) Stasiun 1 (0. dan faktor kedalaman (Lampiran 2).

stasiun 3.. sedangkan pada stasiun 2. dan stasiun 4 berkisar antara O0.3735 mg/l.00101 mg/l pada stasiun 2. 0. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor kedalaman terhadap kandungan Nitrit perairan (Nod (a=0. 0. Nitrat (NO. dengan konsentrasi rata-rata pada permukaan sebesar 0. dan menurun pada kedalaman interface menjadi 0. sehingga dapat dikatakan stasiun 1 memiliki kandungan nitrit yang tinggi dibandingkan stasiun lain serta pada setiap kedaiamannya.0001 mgfl pada stasiun 3. stasiun 3. Terlihat bahwa pada stasiun 1 konsentrasi nitrat cenderung mengalami peningkatan. Keputusan ini menggambarkan tidak adanya interaksi antar faktor stasiun dengan faktor kedalanan. stasiun 2 berkisar antara 0. dan stasiun 4 konsentrasinya cenderung menurun (Gambar 11 dan Lampiran 3).Tabel 11. (Lampiran 2).0181) 0. dengan konsentrasi rata-rata di permukaan sebesar 0.0001-0.0214 mg/l. karena keputusan yang diperoleh memberikan keputusan tolak H. Pada stasiun 2. Pada stasiun 1 terlihat konsentrasi meningkat setiap kedalaman. 0. 0.0034 mg/l pada stasiun 4.0220 mg/l dan meningkat pada kedalaman interface menjadi 0.0033 mgll pada stasiun 3.0012) 0 0. dan stasiun 4 konsentrasinya cenderung inengalami penurunan pada setiap kedalaman. .0012) Interface (0. 3. Pengaruh faktor waktu pengambilan sampel tidak berpengaruh terhadap kandungan nitrit perairan.0036 0 .0093 mg/l pada stasiun 4.1) Kedalaman 0 meter Interface Rata-rata 10 meter 0 meter (0.0217) Nilai BNT Keterangan * 0 0.0206* f(lme.2735 mg/l.0169* (0.0217) (0.0097 mgA. stasiun 3 berkisar antara 0-0. 0.? Berdasarkan hasil yang diperoleh didapatkan lusaran konsentrasi nitrat pada stasiun 1 sebesar 0-0.0181 (0.0038 = berbeda nyata Interaksi faktor stasiun dan kedalaman memberikan keputusan gaga1 tolak I-I. = 0.00356 mg/l.0024 mg/l pada staisun 2.

Proses nitrifikasi mengubah ammonia menjadi nitrit dan selanjutnya menghasilkan produk akhir berupa nitrat. dengan menggunakan oksigen terlarut yang terkandung dalam perairan.. . dan inilah yang menyebabkan konsentrasinya meningkat pada setiap kedalaman di stasiun 1. Hal ini terlihat dari kandungan nitrit yang juga mengalami peningkatan setiap kedalamannya di stasiun 1. 1983).Peningkatan nitrat yang terjadi pada stasiun 1 diduga masih berlangsungnya proses nitrifikasi pada stasiun tersebut.4 0 'z? 0 10 0 01 Nitrat (mgm 0.2 0.61-10.02 0 0 01 m a stasiun 4 kcdalema malisimum = 25 meter m +JUII -5-Agustus -a-.September Gambar 11. Diduga proses nitrifikasi inasih berlangsung bahkan sampai kedalaman inteface. Nitrat (mg/O 0 0 10 e 0.02 Nitrat (mg/i) 0.1 0.- 223 g30 40 Y <a EO 70 0 0 01 kedalaman maksimum = 19 meter n -D Y"M @ kedalamnn maksimum = 13 meter I 70 0. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya pada pembahasan tentang nihit bahwa.75 mgll. Kandungan nitrat (NO<)perairan berdasarkan kedalaman pada setiap stasiun dm waktu pengamatan.3 0.02 2 23 a? C g30 E .3 mgll (Wetzel. Dan pada stasiun 1. konsentrasi oksigen terlarut memiliki kisaran antara 0. proses nitrifikasi masih dapat berlangsung sampai konsentrasi oksigen terlarut sebesar 0.03 Nitrat (mgfl) 0.

dan stasiun 4. Pada stasiun 1 diperlarakan karena stasiun ini memiliki nilai yang cenderung lebih tinggi . stasiun (1-4). mernbuat pertumbuhan bakteri-bakteri nitrifikasi menjadi lebih lambat dari bakteri heterotrof. ha1 inilah yang menyebabkan konsentrasi nitrat cenderung menurun. Nasil uji lanjutan berdasarkan faktor stasiun diperoleh bahwa. pH perairan yang asam dengan pH di bawah 6 (Effendi. Berdasarkan keputusan tersebut didapatkan bahwa pada setiap faktor terdapat perbedaan dua atau lebih stasiun dan kedalaman yang memberikan konsentrasi yang berbeda terhadap nitrat & periran. stasiun (4-3). & dan faktor kedalaman (Lampiran 3).27 mgll kemudian menurun sampai kedalaman interface dengan rata-rata oksigen terlarut di bawah 0. kandungan bahan organik yang tinggi sehingga pertumbuhan bakteri nitrifikasi lebih lambat dibandingkan bakteri heterotrof.P e n m a n yang terjadi pada stasiun 2. Banyaknya bahan organik pada stasiun-stasiun ini yang terlihat dari nilai BOD dan COD yang cenderung tinggi.13 mg/l dan menurun sampai pada kedalaman 10 meter rata-ratanya sudah sebesar 0. Dengan konsentrasi rata-rata pada permukaan sebesar 8. akan tetapi terjadi akumulasi kandungan ammonia pada perairan. Berdasarkan kandungan oksigen terlarut stasiun 2. stasiunstasiun yang berbeda nyata antara lain stasiun (1-3). Namun untuk kedalaman antara permukaan sampai kedalaman 10 meter nilainya juga cenderung menurun. Proses ini dapat terhambat karena kandungan oksigen terlarut di bawah 2 mg/l nagnun proses ini masih berlangsung sampai konsentrasi oksigen terlamt 0. diperkirakan proses nitrifikasi terhambat pada stasiun tersebut. Hal ini diduga sebagian besar bahan organik belum terdekomposisi sempurna sehingga proses nitrifikasi belum berjalan dengan baik pada kedalainan tersebut. Hasil analisis data memberikan keputusan tolak I untuk faktor stasiun. dan stasiun 4 terlihat semakin menurun pada setiap kedalaman.3 mg/l. Hal ini menyebabkan bahan-bahan organik yang terdekomposisi menghasilkan ammonia melalui proses ammonifikasi tidak langsung &dekomposisi lagi oleh bakteri nitrifikasi menghasilkan nitrat. dan stasiun (2-3) (Tabel 14). 2003). Proses nihifikasi pada kedalaman dibawah 10 meter tentunya akan terhambat. Ini juga terlihat dari meningkatnya ammonia total pada perairan (Gambar 7). stasiun 3. stasiun 3. Stasiun 1 memiliki perbedaan yang nyata dengan stasiun yang lain begitu juga dengan stasiun 3.3 mg/l. stasiun (1-2).

058) Interface Nilai BNT Keterangan * = 0.100* 1.058 = berbeda nyata Hasil uji lanjutan berdasarkan faktor kedalaman menunjukkan kedalaman 0 ineter (permukaan) berbeda nyata dengan kedalaman 10 meter dan kedalaman interface (Tabel 15).065* n 0.004) Stasiun 2 (0. Tabel 12. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor kedalaman terhadap kandungan Nitrat perairan (NO<) (c~=O.048* 0 0 (0.020) Stasiun 4 1. Pada stasiun 1 nilainya lebih kecil.l) I Kedalaman 0 meter / Rata-rata Interface 10 meter 0 meter / (0.023) I I (0. Kedalaman 10 meter dan interface tidak beam berbeda kandnungan nitratnya.l) Stasiun 1 Rata-rata Stasiun 2 Stasiun 4 Stasiun 3 Stasiun I (0. dan stasiun 4 nilainya lebih besar daripada kedalaman dibawahnya. Hal ini menunjukkan kedalaman 0 meter (permukaan) memiliki kandungan nitrat yang berbeda dengan kedalaman lainnya.020) (0. sedangkan stasiun 3 lebih disebabkan berfluktusinya kandungan nitrat pada stasiun ini (Gambar 11).012 n 0.142) (U.060* 0.034 0 0 (0. sedangkan pada stasiun 2. Tabel 13. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Nitrat perairan (NO<) (a=O.dibandingkan stasiun yang lain.009) 10 meter 0.023) Stasiun 1 1 Nilai BNT Keterangan * = 0. stasiun 3.UU4) (0.029 = berbeda nyata .

Pakan ikan yang digunakan adalah pakan buatan yang memiliki kandungan protein yang tinggi. 4.5582-5. stasiun 4 merupakan outlet waduk tempat keluarnya air waduk. Nitrogen Total Kisaran konsentrasi nitrogen total pada stasiun 1 yaitu antara 0. dan stasiun ini lebih dekat dengan stasiun 3. .Interaksi faktor stasiun dan kedalaman memberjkan keputusan gaga1 tolak H. Sedangkan stasiun 1 konsentrasinya hanya d~pengaruhioleh air masukan yang berasal dari sungai Citarum. Nitrogen total penjumlahan kandungan nitrogen anorganik berupa NO2-N.5749 mgll. sehingga didapat kisaran nilai yang lebih tinggi dari stasiun 2.1356-2. kisaran nilainya lebih kecil dibandingkan stasiun 4. Hal ini diperkirakan. Stasiun 3 inemiliki kisaran kandungan nitrogen total tertinggi dibandingkan stasiun yang lain. sehingga dapat dikatakan terdapat stasiun yang memiliki kandungan nitrat tertinggi dibandingkan stasiun dan kedalaman yang lain yaitu pada stasiun 1 (Lampiran 3).2564 mgll (Gambar 12 dan Lampiran 4). Hal inilah yang menyebabkan tingginya konsentrasi nitrogen total pada stasim 3. Protein yang terdekomposisi mengandung 16 % nitrogen (Depdikbud.0016 mgtl. dan stasiun 4 berkisar antara 0. stasiun 3 berkisar antara 0. stasiun 2 berkisar antara 0.4598-3. 2003). kisaran konsentrasi yang tinggi pada stasiun 4 dipengaruhi kegiatan KJA di stasiun 3. Dapat dilihat pada setiap stasiun pengamatan konsentrasi nitrogen total semakin meningkat setiap kedalaman. kandungan bahan-bahan organik (sisa pakan dan hasil metabolisme ikan (feses)) yang tinggi pada stasiun 3 dari kegiatan budidaya KJA meningkatkan konsentrasi nitrogen total. 1991). sehingga memiliki konsentrasi nitrogen total yang lebih kecil dibandingkan stasiun lainnya. Sedangkan stasiun 2 dengan jumlah kerapatan KJA sedang. Adanya arus yang mengalir menuju stasiun 4 yang membawa sebagian bebanbeban sisa pakan dan buangan ikan meningkatkan konsentrasi nitrogen total pada stasiun ini. Hal ini dikarenakan.9846 mg/l. 1989 dalam Effendi. Ini menggambarkan interaksi antar faktor stasiun dengan kedalaman tidak ditemukan.25641. NH3-Nyang bersifat terlarut dan nitrogen organik yang berupa partikulat dan tidak lamt dalam air (Mackereth et al..

stasiun 1 yang menunjukkan perbedaan nyata dengan semua stasiun (Tabel 16). dan stasiun 3 memiliki kecenderungan nilainya lebih tinggi dibandingkan stasiun yang lain (Lampiran 11). Hasil analisis data memberikan keputusan tolak H untuk faktor lokasi pengambilan sampel (stasiun). Hasil uji lanjutan berdasarkan faktor stasiun diperoleh bahwa. dan stasiun 4 tidak begrtu berbeda nyata.c 2 so g 60 70 N-Total (mgn) N. stasiun 3. Sedangkan kandungan nitrogen total pada stasiun 2. Kandungan nitrogen total perairan berdasarkan kedalaman pada setiap stasiun dan waktu pengamatan .40 .Total (rngll) kedalaman maksimum = 13 meter 50 70 0 E a m = '=m 10 z2a c 30 & .40 60 70 -+-Juli -z+Agustus ---A--- 9% September Gambar 12.40 Y stasiun 1 kedalaman maksimum = 19 meter %O m =cU 30 5 .Total (rngil) 4 6 0 0 10 2 N-Total (mgll) 4 6 . Perbedaan tersebut menggambarkan stasiun 1 memiliki rata-rata kandungan nitrogen total yang kecil dari stasiun yang lain. 20 E rn e 20 30 5 .0 0 10 0 2 N. . Keputusan ini memberikan gambaran bahwa pada setiap faktor terdapat perbedaan dua atau lebih stasiun dan kedalaman yang memberikan konsentrasi yang berbeda. dan faktor kedalaman (Lainpiran 1 I). namun pada stasiun 2.

Ini menunjukkan bahwa pada setiap kedalaman terdapat perbedaan konsentrasi.77* 0 (0.41) 1.77 = berbeda nyata (1.77* 0 (0. Oleh karena itu perbedaan yang nyata terjadi di masing-masing kedalaman yang diamati.44) Interface Nilai BNT Keterangan * = 0.SO) 0. Konsentrasi yang terjadi di masingmasing kedalaman mengalami peningkatan di setiap penambahan kedalaman.44) 0. Interaksi yang terjadi menunjukkan terdapat hubungan antar faktor stasiun dengan kedalaman sehingga tidak ada satu stasiun saja yang memiliki nilai .73) Stasiun 4 (2.67) 0 (1. (Lampiran 4).SO) Stasiun 2 (1.1) 1 Stasiun Stasiun 1 Stasiun 3 1 Rata-rata Stasiun 2 I Stasiun 4 I Stasiun 1 (0. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor kedalaman terhadap kandungan Nitrogen Total perairan (a=0.73) 0 (1.24) Nilai BNT Keterangan * Hasil uji lanjut BNT berdasarkan faktor kedalaman menunjukkan pada setiap kedalaman berbeda nyata (Tabel 17).85* 0. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Nitrogen Total perairan (a=0.74 0.35 = berbeda nyata Interaksi faktor stasiun dan kedalaman memberikan keputusan tolak H.1) Kedalaman 0 meter Interface Rata-rata 10 meter 0 meter (0.51* 0.74* 0.07 0 (1.67) 10 meter (2.57) Stasiun 3 (2.Tabel 14. Tabel 15.57) 0.24) 1.66 0 = 0.98* A (1.

Hal ini dikarenakan kandungan dari ammonium yang terdapat pada perairan relatif sedikit . 2003). Konsentrasi mnonium tertinggi terjadi pada stasiun 4. Ammonium akan bereaksi secara cepat dengan muatan negatif dari liat dan membentuk ikatan yang komplek dengan logam dan senyawa organik (Tan. Konsentrasi ammonium pada stasiun 4 lebih tinggi daripada stasiun 3 diduga karena adanya arus pada waduk menyebabkan nitrogen organik yang banyak terdapat di stasiun 3 terbawa arus menuju stasiun 4. Selanjutnya nitrogen organik akan banyak mengendap pada stasiun 4 dan terdekomposisi menghasilkan ammonium. selain itu juga dapat berasal dari penjerapan oleh sedimen.85-410. Rata-rata persentase kandungan liat tertinggi terjadi pada stasiun 2 yaitu sebesar 91.69 %. Kandungan Nitrogen di Sedimen 1. Selain dari dekomposisi.35 mg/l. ammonium juga dihasilkan dari penjerapan alnmonium yang terlarut pada air oleh sedimen.konsentrasi nitrogen total tertinggi pada setiap kedalamannya. B. dengan rata-rata konsentrasi sebesar 211. Aktivitas ini banyak dilakukan oleh permukaan liat karena memiliki bantuk moleM yang halus. Ammonium yang terdapat di sedimen dapat berasal dari dekomposisi nitrogen organik yang terakumulasi di dasar. Kebanyakan nitrogen organik bersifat partikulat yang tidak larut dalam air (Effendi. Nitrogen organik banyak berasal dari sisa pakan yang tidak termakan dari kegiatan budidaya KJA yang biasanya mengandung protein yang tinggi.87 mg/l.04 mg/l.31-223. Nilai konsentrasi nitrogen total tertinggi pada kedalaman 0 meter terjadi pada stasiun 2. dm pada kedalaman interface konsentrasi tertinggi terjadi pada stasiun 3.l mg/l. untuk stasiun 2 konsentrasinya berkisar antara 261. Ammonium (mi) Hasil pengukuran ammonium didapat kisaran konsentrasi untuk stasiun 1 sebesar 196.7 mg/l.62-490. unt& stasiun 3 berkisar antara 392.15 mg/l.9280. Konsentrasi ammonium tertinggi terjadi pada stasiun 4 (Gambar 13 dan Lampiran 5). pada kedalaman 10 meter konsentrasi tertinggi terjadi pada stasiun 2. dan untuk stasiun 4 berkisar antara 442. Dan konsentrasi ammonium terendah terjadi pada stasiun 1. nsunun penjerapan yang terjadi pada stasiun 2 lebih sedikit terjadi. dengan rata-rata konsentrasi sebesar 471. Nitrogen organik ini akan mengendap didasar dan terakumulasi pada sedimen. 2000).

95 % (stasiun 4). Sedangkan stasiun 3 dan stasiun 4 memiliki persentase rata-rata liat adalah sebesar 83. sehingga konsentrasi ammonium yang terkandung pada stasiun 4 lebih banyak dibandingkan stasiun 3. semua stasiun memberikan pengaruh berbeda nyata terhadap kandungan ammonium pada sedimen (Tabel 18). Perbedaan pada setiap stasiun menggambarkan pada masing-masing stasiun kandungan ammonium-nya berbeda satu sama lain. Konsentrasi Ammonium waktu pengamatan. karena faktor stasiun memberikan keputusan tolak %.dari stasiun 3 dan stasiun 4. Lokasi Juli Agustus September Gambar 13.) sedimen berdasarkan stasiun dan Hasil analisis data menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) menjelaskan sedikitnya ada dua atau lebih stasiun yang memiliki perbedaan yag nyata. . Hasil uji lanjut BNT yang diperoleh berdasarkan fdctor stasiun menyatakan bahwa.98 % (stasiun 3).) (Lampiran 5). Terlihat bahwa stasiun 4 memiliki persentase liat lebih besar dari stasiun 3. mi. Sedangkan faktor waktu pengambilan sampel tidak meinberikan perbedaan yang nyata (gaga1 tolak H. Hal ini memungkinkan terjadinya penjerapan ammonium lebih banyak dari stasiun 3. dan 84.

koloid-koloid tanah. Nitrat ( N o d Berdasarkan data yang didapat kisaran konsentrasi nitrat yang terdapat pada masing-masing sedimen antara lain 75. 126. Terlihat pada Gambar 23.53 mgh (stasiun 4) (Gambar 14 dan Lampiran 5). Stasiun 2 memiliki kandungan nitrat lebih tinggi daripada stasiun 3. Stasiun 4 cenderung memiliki kandungan nitrat yang tinggi dari stasiun yang lain. Hal ini diduga merupakan hasil dari dekomposisi ammonium oleh baMeri nitrifikasi pada stasiun tersebut. Hal ini diduga karena proses penjerapan anion-anion nitrat oleh koloid-koloid tanah yang lebih banyak terdapat di stasiun 2.64 mg/l (stasiun 3).05 mgh (stasiun I).35-95. bahwa konsentrasi nitrat rata-rata tertinggi terjadi pada stasiun 4 yaitu sebesar 145. sedangkan konsentrasi rata-rata terendah terjadi pada stasiun 1 yaitu sebesar 86.1) Nilai BNT Keterangan * = 19.18-110.36 mg/l (stasiun 2). Ketersediaan ammonium yang tinggi pada stasiun 4 memberikan peluang lebih besar untuk diubah menjadi nitrat dibandingkan pada stasiun lain.Tabel 16.85 mgll. Penjerapan juga akan semakin ~neningkat jika . 112. Nitrat yang terdapat pada sedimen dapat berasal dari oksidasi ammonium (&) selain itu dapat juga berasal dari penjerapan anion oleh N+.39-160. karena pada stasiun 3 kandungan nitrat yang terukur pada kedalaman interface nilainya mendekati no1 sehingga penjerapan nitrat pada stasiun ini lebih sedikit dijumpai. menjelaskan bakteri nitrifikasi cenderung menempel pada sedimen dan padatan lain. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Ammonium sedimen (a=0.89 = berbeda nyata 2.34123.87 mgll. Effendi (2003). 75.

stasiun (2-4). sehingga kandungannya relatif lebih tinggi dari stasiun 3. Sedangkan antara stasiun (1-3) tidak memberikan perbedaan yang nyata terhadap kandungan nitrat pada sedimen waduk (Tabel 19). Kemasaman sedimen pada stasiun 2 sangat tinggi. antara lain. Hasil analisis data memberikan keputusan tolak H. stasiun (1-4). Lokasi a Juli Agustus B September ! Gambar 14. Sedangkan faktor waktu pengambilan sampel memberikan keputusan gaga1 tolak &.kelnasaman tanah meningkat (Depdikbud. pada faktor stasiun (Lampiran 5). Hal ini meningkatkan proses penjerapan anion-anion nitrat pada stasiun 2. 1991). terdapat lima pasang stasiun yang berbeda nyata terhadap kandungan nitrat. stasiun (1-2). Konsentrasi Nitrat ( N O 9 sedimen berdasarkan stasiun dan waktu pengamatan.6. dibandingkan stasiun yang lain dengan pH rata-rata 5. stasiun (3-4). . dan stasiun (3-2). Hasil uji lanjutan berdasarkan faktor stasiun diperoleh bahwa.

Kandungan nitogen total adalah jumlah dari nitrogen organik dan anorganik.15 mgll (stasiun 4) (Gambar 15 dan Lampiran 5).74 0 (86. Ha1 ini juga terlibat dari junlah ammonium dan nitrat yang relatif lebih tinggi pada stasiun ini.87) (86. dan 598.62) 2.32) Stasinn 4 (145.02 mg/l (stasiun I).99* 56. Nitrogen Total Kandungan nitrogen total pada setiap stasiun pengamatan didapatkan kisaran antara lain 240. Hal ini menyebabkan sisasisa pakan yang banyak inengandung nitrogen banyak terendapkan pada stasiun 4.24 = berbeda nyata (89. diikuti oleh stasiun 3.1) Stasiun Stasiun 1 Stasiun 4 Rata-rata Stasiun 3 Stasiun 2 Stasiun 1 (145.82 mg/l (stasiun 3). namun untuk stasiun 1 dan stasiun 3 tidak begitu berbeda nyata. 3. Secara umun kandungan nitrogen total tertinggi terjadi pada stasiun 4 dengan rata-rata kandungan nitrogen total sebesar 679.Tabel 17. . dan stasiun 1. Kandungan nitrat stasiun 3 relatif lebih kecil dari stasiun 2 karena diduga proses nitrifikasi dan penjerapan nitrat terhambat sehingga kandungannya lebih kecil dibandingkan stasiun 2 dan relatif lebih sama dengan stasiun 1.25* 29.87) Stasiun 3 (116.34-643.262. Pengarub arus menyebabkan sebagian besar sisa pakan yang sebagian besar berasal dari stasiun 3 terbawa hngga stasiun 4.87) 0 - (89. sehmgga kandungan nitrogen total pada stasiun tersebut relatif lebih tinggi dibandingkan stasiun yang lain. stasiun 2. 351.44* 26. Terlihat pada Gambar 24.32) 29.55* 0 = 25. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Nitrat sedimen (a=0.51-785. 542.45 (stasiun 2). stasiun 4 lnemiliki kandungan nitrogen total tertinggi dibandingkan stasiun yang laimya.87) Nilai BNT Keterangan * Terlihat babwa kandungan pada setiap stasiun berbeda.51-398.34 mgd.16 .62) Stasiun 2 (1 16.70* 0 58.

14) Stasiun 3 Stasiun 4 (679.00* 0 118. Hasil analisis data memberikan keputusan tolak H untuk pengaruh faktor .45 = berbeda nyata 332. Hasil uji lanjut BNT dapat dilihat pada Tabel 20 dibawah ini.20* 0 = 94.1) Stasiun Stasiun 1 (251.14) Stasiun 1 (251.34) Stasiun 4 (679.20* 96.03* 0 0 Nilai BNT Keterangan * .34) Rata-rata Stasiun 2 Stasiun 3 (369./ 1 Juli mi Agustus September Lokasi Gambar 15. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Nitrogen Total sedimen (a=0. Tabel 18. stasiun (Lampiran 5). Konsentrasi Nitrogen Total sedimen berdasarkan stasiun dan waktu pengamatan.ll) Stasiun 2 (369.03* 214.23* 310.14) (583.ll) 428. Keputusan ini mengainbarkan bahwa kandungan nitrogen total pada setiap stasiun berbeda nyata.

2 . .7. 3.52. Sedangkan pada stasiun 1 lebih disebabkan oleh masukkan air dari sungai Citannn. karena diketahui bahwa stasiun 4 merupakan daerah aliran keluamya air waduk.56. dan 2. Dapat dilihat pada Gambar 17 bahwa terjadi peningkatan kekeruhan setiap pertambahan kedalaman. dan tidak ditemukan dua stasiun yang memiliki kandungan nitrogen total yang sama. Parameter Fisika dan Kimia Perairan a.40.6 .Dari hasil uji lanjut BNT berdasarkan faktor stasiun diperoleh bahwa. Dan pada stasiun 4 disebabkan adanya arus air keluar waduk.O NTU (stasiun 3).O NTU (stasiun I). C. khususnya pada stasiun 2 dan stasiun 3 terjadi peningkatan yang sangat besar.13. Kekeruhan Kekeruhan yang diperoleh berkisar antara 3-56 NTU (Gambar 17 dan Lampiran 6). Untuk pengaruh waktu pengambilan sampel berdasarkan hasil analisis data tidak memberikan pengaruh berbeda nyata (gaga1 tolak &). Nilai kekeruhan tertinggi terdapat pada bulan September di stasiun 2 pada kedalaman interface (dekat dasar) yaitu sebesar 56 NTU.O NTU (stasiun 4). 4. terdapat perbedaan yang nyata pada semua stasiun terhadap kandungan nitrogen total sedimen.O . Hal ini diduga berasal dari sisa-sisa pakan dan feses ikan dari kegiatan budidaya KJA pada kedua stasiun tersebut. artinya bahwa pengaruh waktu kurang mempengaruhi kandungan nitrogen total pada sedimen waduk. Kondisi Perairan dan Sedimen Waduk Cirata 1. Kisaran nilai yang diperoleh untuk setiap stasiun adalah 3.O NTU (stasiun 2). Perbedaan pada masing-masing stasiun menggambarkan kandungan di setiap stasiun berbeda satu sama lainnya. sedangkan kekeruhan terendah terdapat pada bulan Agustus di stasiun 3 pada permukaan waduk yaitu sebesar 3 NTU.

kekeruhan tertinggi terja& pada bulan September dengan kisaran antara 4. . Nilai ini diduga karena pada bulan September tinggi muka air waduk Inengalami penyusutan dibandingkan bulan-bulan sebelumnya (Mardiana.-.- . 20 2 E 2 " e C 3s .40 m m 60 70 Kekeruhan (NTU) m n stasiun 2 GO ke&lam~ mnksimum = 13 meter g so ke&lman maksimum = 19 meter 70 Kekewhan (NTU) 0 0 10 t 40 EO 0 0 10 M 40 EO 53 $40 m n g 20 rn stasiun 3 a 0 2 ~ 3 3 m E ' 9% BJ 70 -Juli - $40 m 3s EO kedalaman mksimum = 25 meter 70 -m-Agustus -+-September I I Gambar 16.6 - 56. Pada ketiga waktu pengamatan. dan waktu pengamatan. Kekeruhan perairan pada setiap stasiun. 2007).O NTU. kedalaman.Kekeruhan (NN) Kekeruhan (NTU) 0 0 10 23 40 60 0 20 \_ 40 al A-. Penyusutan tinggi muka air inenyebabkan partikel-partikel halus dan tersuspensi menjadi lebih pekat sehingga meningkatkan kekeruhan air waduk.

Deviasi suhu berdasarkan waktu maupun kedalaman masih berada di bawah 3 "C (Lampiran 7). Penurunan suhu yang terjadi belun dapat mengambarkan adanya lapisan thermoklin. Suhu Suhu perairan pada setiap stasiun dan kedalaman berkisar antara 26. . dan waktu pengamatan. Berdasarkan baku mutu untuk kepentingan perilcanan (Peraturan Pemerintah Nomor 82.58 O (Gambar 16 dan C Lampiran 7).27. 2001) suhu pada perairan ini masih dalam kisaran baku mutu. Suhu perairan pada setiap stasiun. kedalaman.68 O C dan pada dasar waduk berkisar antara 26. Dengan suhu tertinggi di daerah permukaan berkisar antara 29.40 m rn 5 . Penurunan suhu terjadi setiap stasiun pada permukaan sampai kedalaman dasar waduk.68 OC.40 $50 Y kedalarnan mahimum = 19 meter z0 3 a $50 Y 60 70 60 70 kedalamn mahimum = 13 meter 26 28 Suhu (Celcius) 30 32 26 28 Suhu (Celcius) 3l 32 m stasiun 4 60 70 kedalanwn maksimum = 25 meter --cJuli -+-Agustus ---September Gambar 17. - Suhu (Celcius) Suhu (Celcius) 26 0 10 '2 28 30 32 0 10 '2 26 28 30 32 g 20 E m -C 0 3 g .16 .17 30.b.16 30. karena perubahan suhu antar lapisan tidak menyebabkan perbedaan suhu yang drastis antara lapisan.

Jo . Kandungan Total Suspended Solid (TSS) perairan pada setiap stasiun. Kisaran kandungan TSS pada stasiun 1 adalah sebesar 5 -19 mg/l. E . Kandungan TSS yang tinggi bisa mengakibatkan pengendapan bahan-bahan suspensi dan terakurnulasi pada sedimen sehingga meningkatkan kandungan sedimen perairan waduk.c. kedalaman.29 r n g . Terlihat pada Gambar 18 terjadi peningkatan nilai TSS pada setiap penainbahan kedalaman. stasiun 3 berkisar antara 3 -180 mg/l. TSS (mgll) 0 TSS (mgfl) 0 0 200 300 1133 rn a 0 g E 03 10 20 stasiun 1 . stasiun 2 berkisar antara 6-241 mgll.40 2 50 60 kedaloman maksimum = 62 meter 70 kednlaman maksimum = 25 meter -+-Jul~ --r-hustus -*Sep~ember Gambar 18. Total Suspended Solid (TSS) TSS yang diperoleh berkisar antara 3-241 mgA (Gambar 18 dan Lampiran 8). Ini juga terlihat dari nilai kekeruhan yang semalan meningkat pada setiap kedalamannya. dan stasiun 4 berkisar antara 4. dan waktu pengamatan. Hal ini diduga karena adanya partikel-partikel suspensi yang berasal akibat limpasan dari daratan (run o m dan sisa-sisa pakan yang terbuang dari aktivitas KJA ke dalam perairan sehingga meningkatkan partikelpartikel tersuspensi pada perairan tersebut.do n a 2 50 60 70 kedalamon maksiium = 13 meter TSS (mgA) 0 1Gu 0 m T s s (m@) 300 0 E n m 10 k 2 0 Z" a 5 . Dari .

02 mg/l.17-9. Hal ini diduga karena pada stasiun 2 terdapat aktivitas budidaya KJA. Agustus. Pada setiap stasiun konsentrasi DO mengalami penurunan. Pola tersebut menggambarkan keadaan perairan yang eutrofik dan banyak inengandung unsur hara serta bahan organik di dalamnya (Goldmand dan Home.517 mg/l. nilai kekeruhannya juga lebih tinggi dibandingkan stasiun yang lain. Pola yang demikian dapat digolongkan ke dalam pola sebaran Clinograde. . dan letak stasiun 2 yang lebih dekat dengan daratan membuat stasiun 2 mendapatkan limpasan dari daratan (run om lebih banyak dibandingkan stasiun yang lain sehingga TSS pada stasiun 2 lebih tinggi dibandingkan stasiun yang lain. 0. clan rata-rata pada dasar waduk adalah 0. Rata-rata konsentrasi oksigen pada kedalanlan 5 meter adalah 1.18-10.11 mgtl (Gambar 19 dan Lampiran 9).75 mg/l. Hal ini tentunya akan berdampak b a g proses-proses dekomposisi bahan organik baik pada air maupun pada sedimen waduk. Sedangkan nilai TSS terkecil tejadi pada stasiun 1. walaupun jumlah unit KJA yang terdapat pada stasiun 2 tidak terlalu padat dibandingkan stasiun 3.58 mg/l.ll-9. d. dan 0. September berturutturut antara lain berkisar antara. tetapi dangkalnya kedalaman stasiun 2 ini membuat volume air pada stasiun ini lebih kecil dibandingkan stasiun 3. khususnya pada dasar perairan. Oksigen Terlarut (Dissolved Oxygen (DO)) Konsentrasi DO maksimum terjadi pada bulan September pada stasiun 1 di kedalaman 0 meter (permukaan) yaitu sebesar 10.98 mg/l (Lampiran 11). Konsentrasi oksigen yang semakin menurun pada setiap kedalamannya akan menjadikan keadaan anaerob pada perairan. 0. 1983 dalam Octaniany. 2005).75 mgll.74 mdl. sedangkan konsentrasi DO minimum tejadi pada bulan Juli pada stasiun 2 di kedalaman interface (dekat dasar) dengan konsentrasi sebesar O. nilai TSS tertinggi terjadi pada stasiun 2. Rata-rata konsentrasi DO pada permukaan adalah 8.keempat stasiun yang teramati. Kisaran konsentrasi oksigen terlarut pada bulan Juli. Penurunan teqadi secara drastis dari permukaan waduk sampai kedalaman 5 meter. Dan selanjutnya konsentrasi menurun secara perlahan dengan bertambahnya kedalaman.

82-8. Dengan nilai pH tertinggi terdapat pada bulan September di stasiun 3 pada permukaan waduk dengan nilai sebesar 8.Oks~gen Terlarut (mgll) Oksigen Terlarut (m@) 0 5 10 0 0 10 5 10 a stasiun 1 70 Oksigen Tellarut (mgil) l. dan pH terendah terdapat pada dasar waduk dengan kisaran nilai antara 6.68. Kandungan oksigen terlarut (DO) perairan pada setiap stasiun.rm a 5 . kedalaman. didapat kisaran nilai antara 6.96-8. . pH Berdasarkan hasil pengukuran pH (Gambar 20 dan Lampiran lo). Sedangkan nilai pH terendah terdapat pada bulan Agustus di stasiun 3 pada kedalaman 30 meter dengan nilai sebesar 6. rata-rata pH tertinggi terdapat pada permukaan waduk dengan kisaran nilai antara 7. Terlihat bahwa semakin bertanbahnya kedalaman terjadi penurunan pH pada setiap stasiun.67. dan waktu pengamatan. Berdasarkan waktu pengamatan selama penelitian.67.97-7. e.40 a 329 -D 2 ' 50 70 0 kedalamn = 13 meter Okstgen Tetlarut (mgtl) 5 10 E stasiun 4 60 kedalamnn maksimum = 25 meter 70 -e-~uli ~Agustus +September Gainbar 19.67.96.

36-28. Biocliemical Oxygen Demand @OD) Nilai BOD yang didapat berkisar antara 1.06 mg/l. Sedangkan stasiun 1 dan stasiun 4 yang tidak dipengaruhi oleh kegiatan .08-24. Pada stasiun 3 kisaran nilai BOD antara 1. 2003). Nilai BOD menunjukkan peningkatan pada setiap penambahan kedalaman.5 75 .06 mgll.5 9. Nilai pH perairan pada setiap stasiun. BOD dapat menggambarkan banyaknya kandungan bahan organik di perairan (Effendi. f. ha1 ini dibuktikan dengan kisaran BOD yang cenderung tinggi pada stasiun 2 dan stasiun 3. Bahan organik diduga berasal dari kegiatan budidaya KJA yaitu dari sisa pakan dan feses ikan. dan waktu pengamatan. dan nilai terkecil terdapat pada stasiun 2 (bulan September) di kedalaman 10 meter dengan nilai sebesar 1.65 mgA. kedalaman.36 mgA (Gambar 21 dan Lampiran 11). dan pada stasiun 2 kisaran nilai BOD antara 3.36 .5 75 8.5 6. dengan nilai terbesar terdapat di stasiun 3 (bulan Sepetember) di kedalaman dekat dasar (interface) dengan nilai sebesar 28. 8.28.06 mg/l.5 pH stasiun 1 nu stasiun 4 1 70 J kedalnman maksimum = 62 meter -+-Juli -r--Aguslus 70 J -t- kedaloman mnksimum = 25 meter I September Gambar 20.pH 6.

Ini diduga karena oksigen digunakan untuk proses dekomposisi bahan-bahan organik menjadi bahan-bahan anorganik (Effendi. BOD [mgfl) 0 10 20 30 0 10 20 BOD (mu) 30 10 -.. Proses dekomposisi ini memerlukan oksigen (02) dan inelibatkan mikroorganisme (bakteri). .. dan waktu pengamatan. Nilai BOD yang semakin besar pada setiap penambahan kedalaman menggambarkan proses dekomposisi bahan organik yang semakin besar.21mg/l clan 2.78-8. semakin tinggi pula konsurnsi oksigen untuk proses dekomposisi.40 m D 3 50 GO 70 . 2003). 2003). AO $ m stasiun 1 kcdnlaman mnksimum = 19 meter 3 u 40 stasiun 2 kedGlaman maksimum = 13 meter ? so ' i GO 70 0 10 20 60 70 BOD (mgll) 30 0 10 20 BOD (mil4 30 0 10 10 Y30 5 ..20 E G - '--. BOD juga dapat menggambarkan proses dekomposisi secara biologis (biodegradable) (Effendi. z m 20 e 2 20 a- ' ' 30 .5618. sehingga nilai BOD menja& tinggi. Semakin banyak bahan organik yang terkandung pada perairan..budidaya KJA kisaran nilai BOD masing-masing adalah 4. kedalaman. stasiun 3 g 30 E 40 3 50 60 70 stasiun 4 kcdalamnn mnksimum = 25 meter Gambar 21. --cJuli +Agustus -b--.12 mgil. . September Kandungan Biochemical Oxygen Demand (BOD) perairan pada setiap stasiun. Hal ini juga terlihat dari kandungan oksigen terlarut (DO) yang semakin menurun pada setiap penambahan kedalaman.

Hal ini menggambarkan bahwa kandungan bahan organik yang terdekomposisi secara kimia banyak terdapat pada stasiun tersebut.82 mg/l (stasiun 3). Nilainya semakin bertambah pada setiap kedalaman.83 mg/l. Sedangkan nilai rata-rata BOD pada kedalaman dasar (interface) sangat melebihi dari nilai baku mutu yang diperbolehkan yaitu sebesar 13. Nilai rata-rata BOD pada permukaan sampai dengan kedalainan 10 meter masih dalam kisaran baku mutu yaitu sebesar 4.46-53. dan bahanbahan organik ini berasal dari kegiatan KJA yang terjadi pada kedua stasiun tersebut.2001) untuk kepentingan perikanan. Kisaran nilai COD untuk setiap stasiun antara lain. 1989). Nilai rata-rata COD selama pengamatan adalah 19. dengan rata-rata nilai di permukaan 17.13-39. nilai BOD yang diperbolehkan adalah sebesar 6 mgll.64 mg/l (stasiun 4). Chentical Oxygen Demand (COD) Nilai COD berkisar antara 4.64 mgll (stasiun I). dan di kedalaman dekat dasar 29.26-20. g. 2001) untuk kepentingan perikanan. Nilai COD semakin bertambah pada setiap penambahan kedalaman. COD inenggambarkan dekomposisi bahan organik secara kimia dengan memanfaatkan oksigen (02) dan menghasilkan CO2 dan Hz0 (APHA.66 mg/l (Lampiran 11). .20 mgll. Berdasarkan baku mutu (Peraturan Pemerintah Nomor 82.83 mg/l (stasiun 2). nilai tersebut masih dalam kisaran maksimum yang diperbolehkan yaitu sebesar 50 m a .41 mgll. dan 4.68 mg/l.19-50. 10. 8.48 mg/l (Gambar 22 dan Lampiran 12). 6. Terlihat bahwa stasiun 2 dan stasiun 3 yang dipengaruhi oleh kegiatan budidaya KJA memiliki rata-rata COD yang tinggi dibandingkan pada stasiun 1 dan stasiun 4.13-53.Berdasarkan baku mutu (Peraturan Pemerintah Noinor 82.

debu.02%.& & - Agustus -+September Gambar 22.COD (mgn) 0 20 40 E n 40 COD (mg!l) 60 -M B z -30 C P 10 - . Parameter Fisika dan Kimia Sedimen a. dan komposisi terendah terjadi pada bulan . Dengan komposisi tertinggi pada bulan September di stasiun 2 sebesar 95. 2.5%. Kandungan Chemical Oxygen Demand (COD) perairan pada setiap stasiun.02%.5 % (Gambar 23 dan Lampiran 13). dan liat antara 51. dan waktu pengamatan.23%.32-1.23-95. Dengan kisaran untuk pasir antara 0.40 3 50 60 70 'e stasiun 1 kedolamn mlitimum = 19 meter rn stasiun 2 kedal-n mksimum = 13 meter coo (msn) 0 c 10 COD (msn) 0 20 40 I 3 5 E 2 20 $ 30 g 40 0 3 50 60 kedalaman maksimum = 25 meter 70 --cJuli . clan liat. yaitu: pasir. Terlihat bahwa. I c . Tekstur Sedimen Dari hasil analisis diperoleh tiga macam tekstur yang terdapat pada sedimen waduk selama penelitian. komposisi liat pada setiap stasiun sangat mendominasi tekstur yang lain.l-48.6 %. Untuk tekstur debu komposisi tertinggi terjadi pada bulan September di stasiun 1 sebesar 48. dan komposisi terendah pada bulan September pa& stasiun 1 sebesar 51. kedalaman. debu antara 4.

pH Nilai pH sedimen adalah berkisar antara 5. b.6 (Gambar 24 dan Lampiran 13). 1991).2-6. Kisaran nilai pH tersebut termasuk dalam kategori sedimen dengan kemasaman yang sedang (Depdikbud. dan komposisi terendah pada bulan Juli di stasiun 4 sebesar 0. sedangkan pada bulan September terjadi penurunan nilai pH di setiap stasiun pengamatan. Dan untuk tekstur pasir komposisi tertinggi terjadi pada bulan Agustus di stasiun 4 sebesar 1.September di stasiun 2 sebesar 4.6%. . '"1 Bulan Juli '20 1 Bulan Agustus opasir mdabu olist B P B S ~ ~dobu Oliat m Bulan September 19 pasir rn dobu o list Gambar 23.32%.1%. Nilai pH bulan Juli dan bulan Agustus relatif sama atau tidak terjadi perbedaan. Tekstur sedimen Waduk Cirata berdasarkan stasiun dan waktu pengamatan.

Ion EPinilah yang menurunkan pH pada sedimen. Pada bulan September kandungan bahan organik relatif lebih tinggi dibandingkan bulan-bulan lainnya.I Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3 Stasiun 4 Stasiun a Juli Agustus September 11 Gambar 24. Pada sedimen waduk yang basah. khususnya pada pengamatan bulan September. Nilai pH sedlmen berdasarkan stasiun dan waktu pengamatan. air. karbondioksida &an bereaksi dengan air membentuk asam karbonat (HzC03). ini terlihat dari kandungan BOD maupun COD khususnya pada kedalaman interface (dekat dasar). dan ammonia. Tingginya kandungan karbondioksida akan menurunkan pH. Bahan organik terdekomposisi akan teroksidasi dengan penambahan oksigen dan pengurangan hidrogen menjadi karbondioksida. Penurunan yang tejadi diduga akibat adanya proses dekomposisi bahanbahan organik. Asain karbonat akan membentuk kesetiinbangan mambentuk ion EPd m asam bikarbonat (HCOd. . Pada kedalaman interface tentunya &an banyak mengandung kanbondioksida. sehingga diduga pada sedimen waduk kandungannya juga tinggi.

. Sedangkan untuk waktu pengainatan hanya mernberikan perbedaan yang nyata pada kandungan ammonia total. Tekstur sedimen banyak ditemukan dalam bentuk liat. Berdasarkan statistik diperoleh. Kandungan nitrit (NO<) dan nitrat (NO3-)pada perairan cenderung mengalami penumnan. sedangkan NI&+ memiliki kecenderungan mengalami peningkatan pada setiap penambahan kedalaman.A. sedangkan konsentrasi nitrit (NOz) dan nitrat (NO$ masih dalam kisaran baku mutu perairan. Proses nitrifikasi inasih berlangsung pada daerah inlet waduk.(N0i) nitrat dan nitrogen total pada sedimen cenderung mengalami peningkatan pada daerah outlet waduk. Pada koloin perairan kedalaman juga memberikan hasil yang berbeda nyata terhadap kandungan nitrogen di perairan. stasiun pengamatan memberikan perbedaan kandungan nitrogen yang berbeda nyata. Kandungan nitrogen total pada perairan cenderung mengalami peningkatan pada setiap penambahan kedalaman. Tekstur liat diduga memiliki kemampuan mengikat ammonium lebih baik dibandingkan nitrat. Kandungan ammonium (~~43. kecuali pada inlet waduk yang cenderung meningkat di setiap kedalamannya. Konsentrasi ammonia bebas (NH3) pada permukaan perairan sudah melebihi baku mutu (PP No 82 Tahun 2001). sedangkan pada daerah KJA sedang. dibandingkan kandungan nitrat. Perairan waduk Cirata berdasarkan kandungan ammonia total menurut kesuburannya digolongkan kedalam perairan Eutrofik. daerah KJA padat. dan outlet waduk proses nitrifikasi terhainbat. Daerah KJA padat memiliki kandungan nitrogen total yang paling tinggi dibandingkan daerah yang lain. Kesimpulan Kandungan ammonia total pada perairan mengalami peningkatan pada setiap penambahan kedalaman. Konsentrasi NH3 memiliki kecenderungan mengalami penurunan. Konsentrasi ammonium lebih tinggi pada sedimen.

untuk dijadikan pupuk. Perlu dilakukan kajian lanjutan dengan melihat pengaruh pola hidrologi waduk (arus air. debit. seperti pemanfaatan sedimen yang sangat banyak mengandung nitrogen. . Saran 1. Perlu dikaji lebih lanjut tentang pengendalian lingkungan di Waduk Cirata. volume air waduk. 2.B. Jlushing rate) untuk melihat pengaruhnya terhadap pola distribusi nitrogen secara spasial.

R. Gramedia. 520 h. C.Dinamika dan Status Kualitas Air Waduk Multi Guna Cirata. Jakarta. H.W.C. Jakarta. S. Mc Graw Hill Book Company. S. UK. Ferdiaz. 1991. 2003. Brown. P F.AWWA. Penerbit UI-PRESS. London. http:L%/ww. Feriningtyas. 1987. Bogor. University of California. 2005. Methods of Analysisfor Soils Plants and Water.. Program Studi MSP. Freshwater Ecology. E. A. Water Quality Managementfor Pond Fish Culture. C. Perubalzan Spasial dan Temporal Kualitas Air Waduk Cirata. Pemelilzaraan Ikan dalam Karamba. Skripsi.net. 1982. APHA.M. 17&ed. Boyd. L. Teluuh Kualitas Air :Bagi Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan Perairan. .id (2005) Goldman. Jawa Barat Selama Periode 2000-2004. Amsterdam.Horne. 2002. Miller. Heinemann Educational Books. 253 p. John Wiley and Sons. Jakarta. Elsevier Scientific Publishing Company. H. Jurnal Sains dan Teknologi BPPT . 1995. River Pollution and Ecological Perspective. 163 p. New York. Polusi Air dan Polusi Udara. dan G.D dan Pratt. ip/ek. D. Chapman. FPIK-IPB. 1995. D. S.DAFTAR PUSTAKA [APHA] America Public Health Association . 1961. Oxfort.J. StandardMethodfor The Examination of Water and Wastewater. WPCF. and A. Yanti K. Haslam. Asmawi. Connell. 1983. Washington D. Kimia Tanalz Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan -Kebudayaan. Gamo. Yogyakarta. [Depdikbud] Depatemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kimia dan Ekotoksikologi Pencemaran. New York. 1983. Limnology. Penerbit Kanisius. 1992. Chichester.J. California. 1989. Penerjemah. Bogor. Effendi. Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi IPB. 3 18p.

Puslitbang Perikanan. PT. Program Studi MSP. K. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebuyaan. J. 2005. Prinsip dun Prosedur Statistika. Bogor. Inc. Notohadiprawiro. Komite Nasional Lahan Basah R. Jakarta. 2001. K. Jawa Barut). Reid. Second Edition. Program Studi MSP. USA. Bapedal. FPM-IPB. Bogor.. Bogor. M. Reinhold Publishing Corpoartoin. 2001. Mardiana. FPIK-IPB.Hehanusa P. IPB. S. IHPUNESCO. Environmental Soil Science. Jakarta. Wuduk Cirata. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol. Nastiti. Sekretaris Negara Republik Indonesia Jakarta. Pertumbuhan Ikan Mas (Cyprinus carpio) pada Budidaya Karamba Jaring Apung diperairan Eutrof. Wetlands International . dan Ratnawati.N. Marcel Dekker. 1993. Studi Kandungan Fosfor di Perairan dun Sedimen yang Dipengaruhi Kegiatan Karamba Jaring Apung di Waduk Cirata. Ciputri. 190 h. R. Skripsi. Kabupaten Cianjur. 2000. 2005. Pemerintah Republik Indonesia.Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dun Pengendalian Pencemaran Air.H.I. A. Program Studi MSP. Dampak Budidaya Ikan Dalam Keramba Jaring Apung Terhadap Peningkatan Unsur Ndan P di Perairan Waduk Saguling.D dan J. Revised and Expanded.S. I. 2005. dan E. New York. Pengelolaan Budidaya Ikan Secara Lestari di Waduk (Studi Kasus di Perairan Waduk Cirata. Steel. Prihadi. 2001. Kamus Limnologi (Perairan Darat). Kartamihardja. Disertasi. Diterjemahkan oleh Bambang Sumantri (IPB). . H.H. No. Sekolah Pasca Sarjana. 2001. dun Jatiluhur.E dan Haryani G.N. Cirata. Prosiding Lokakarya Selamatkan Air Citarum. S. Swyadiputra. G. Sknpsi. L. T. Torrie. Jawa Barat. 2007. 7. Indriani. Krimono. T. Bogor. G~amedia Pustaka Utama. Skripsi. Octaviany.Indonesia Programme.2. S. di Waduk Cirata. 1998. Fluktuasi Kandungan Oksigen Terlarut selama 24 Jam pada Lokasi Karamba Jaring Apung. Tanah dun Lingkungan. Ecology of Inland Waters and Estuaries. FPIK-IPB. Jakarta.G. 1991. Tan.

Academic Press.S. Institut Pertanian Bogor. C. S.pentejemah : Ir. United States of America. Puslitbang Perikanan. Nitrogen Excretion.. Jakarta. Jakarta.M. No. Kartamihardja. 7. Wetzel. P. Wright. untuk Perbaikan Kualitas Air pada Budidaya Keramba Jaring Apung. Dalam Penguraian Senyawa Belerang dun Analisis Laju Sedimentasi. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol. 1975. Limnology. Second edition. dan Anderson P. Bambang Sumantri.H. Pengantar Statistika. dan H. R. 2001. 2001. E. 3 1-38 Walpole. Gramedia. 1995. 1983. Edisi ke-3. Wardoyo. Supriyadi. G.E. CBS College Publishing.Umar.A. 41 hal. .T.2. Proyek Peningkatan Mutu Perguruan Tinggi. R.Pengelolaan Kualitas Air. Kemampuan Bakteri Desulphovibrio sp. New York.

.

waktu.46 4 Rata-rata kandungan ammonia total pada kedalaman dekat dasar (interface): Ammonia total (interface)= 0..Lampiran 1.74+1. dan kedalaman selama pengamatan Rata-rata kandungan ammonia total pada permukaan: Ammonia total (0.59+1. Kandungan Ammonia Total pada perairan berdasarkan lokasi.76 4 .29+3..55+0.72+0.08+0.o~cI) = 0.49 = o.

stasiun 2 (12 meter). Keterangan : Kedalaman interface . dan stasiun 4 (25 meter).Lampiran 1 (lanjutan).stasiun 1 (19 meter). . stasiun 3 (62 meter).

Lampiran 1 (lanjutan). .

Lampiran 2. Kandungan dan tabel sidik ragam Nitrit ( O) pada perairan N; berdasarkan lokasi, waktu, dan kedalaman selama pengamatan

1

Stasiun

1

Kedalarnan

Juli

Waktu Agustus

/

September

Rata-rata

4

0 rn 10 rn 20 rn interface

0,0014 0,0000 0,0006 0,0000

0,0004 0,0001 0,0003 0,0001

0,0009 0,0011 0,0010 0,0013

0,0009 0,0004 0,0006 0,0005

Keterangan : Kedalaman interface ;stasiun 1 (19 meter), stasiun 2 (12 meter), stasiun 3 (62 meter), dan stasiun 4 (25 meter).

Lampiran 3.

Kandungan dan tabel sidik ragam Nitrat (NO?) pada perairan berdasarkan lokasi, waktu, dan kedalaman selama pengamatan

Keterangan : Kedalaman interface ;stasiun 1 (19 meter), stasiun 2 (12 meter), stasiun 3 (62 meter), dan stasiun 4 (25 meter).

Lampiran 4. Kandungan dan tebel sidik ragam Nitrogen Total pada perairan berdasarkan lokasi, waktu, dan kedalaman selama pengamatan.

Keterangan : Kedalaman interface ;stasiun 1 (19 meter), stasiun 2 (12 meter), stasiun 3 (62 meter), dan stasiun 4 (25 meter).

Lampiran 5. danNitrat pada sedimen berdasarkan lokasi. dan waktu selama pengarnatan Tabel Sidik Ragam . Kandungan dan tabel sidik ragam Nitrogen Total. Ammonia.

dan kedalaman selama pengamatan Keterangan : Kedalaman interface . stasiun 2 (12 meter). waktu. dan stasiun 4 (25 meter). Kekeruhan perairan berdasarkan lokasi.stasiun 1 (19 meter).Lampiran 6. . stasiun 3 (62 meter).

dan stasiun 4 (25 meter). dan kedalaman selama pengamatan Keterangan : Kedalaman interface . stasiun 2 (12 meter). stasiun 3 (62 meter). Suhu perairan berdasarkan lokasi. waktu.Lampiran 7. .stasiun 1 (19 meter).

. Kandungan Total Suspended Solid (TSS) perairan berdasarkan lokasi.stasiun 1 (19 meter). clan stasiun 4 (25 meter). dan kedalaman selama pengamatan Keterangan : Kedalaman interface . waktu.Lampiran 8. stasiun 3 (62 meter). stasiun 2 (12 meter).

19 0. dan stasiun 4 (25 meter).21 0. Kandungan oksigen terlamt (DO) perairan berdasarkan lokasi.Lampiran 9. Rata-rata kandungann oksigen terlamt pada kedalaman 5 meter : . stasiun 3 (62 meter).22 0.stasiun 1 (19 meter). dan kedalaman selama pengamatan 20 rn interfase 1 0.20 0.21 0.20 0. waktu.19 Keterangan : Kedalaman interface . stasiun 2 (12 meter).17 0.

stasiun 3 (62 meter). dan stasiun 4 (25 meter). dan kedalaman selama pengamatan ~edala&m interface .stasiun 1 (19 meter). stasiun 2 (12 meter). . Kandungan pH perairan berdasarkan lokasi. waktu.Lampiran 10.

stasiun 2 (12 meter).60+4. waktu.Lampiran 11. Rata-rata kandungan BOD pada permukaan sampai kedalaman 10 meter : BoD(o. stasiun 1 (19 meter). stasiun 3 (62 meter).05+2.68 8 Rata-rata kandungan BOD pada kedalaman dekat dasar (interface): . Kandungan Biochemical Oxygen Demand (BOD) perairan berdasarkan lokasi.23+5. dan kedalaman selama pengamatan Keterangan : Kedalaman interface .24+3.41~ = 4.56+9. clan stasiun 4 (25 meter).10meter) = 5.36+3.48+3.

Lampiran 12. stasiun 3 (62 meter).20+15. Rata-rata kandungan COD pada permukaan: COD(O meter) = 17.03 =29.53+35. dan stasiun 4 (25 meter). stasiun 2 (12 meter). dan kedalaman selama pengamatan Keterangan : Kedalaman interface .20 4 Rata-rata kandungan COD pada kedalaman dekat dasar (interface): COD (interface) = 19.26 + 17.93+35.48 4 . Kandungan Chemical Oxygen Demand (COD) perairan berdasarkan lokasi.46 + 27.20+19.stasiun 1 (19 meter).14 = 17. waktu.

Lampiran 13. Kandungan pH dan persentase kandungan tekstur sedimen berdasarkan lokasi. dan waktu selama pengsunatan H sedimen Stasiun Juli Waktu Agustus 1 September / Rata-rata Tekstur sedimen .

Nihoposside 4. Sirnpan / biarkan selama 1jam tutup dengan Alumunium Foil 6. aduk 3. lakukan seperti langkah 3-4 6. Ukur dengan Spectrophotometer pa& panjang gelombang ( 640 nm). Prosedur pengukuran parameter kualitas air (APHA. 1998) Prosedur pengukuran Ammonia Total 1. aduk dan biarkan 2-4 menit (jangan lebih) 4. aduk rata 5. Pipet 25 ml sample air yang sudah disaring ke dalan Bleaker glass LOO in1 2. Ambil aquadest 10 ml masukkan ke &lam gelas piala.5 ml Oxidizing Solution. Saring ke dalam erlenmeyer menggunakan kertas saring Whatman No. Ukur dengan Spectrophotoineter dengan panjang gelombang 543 nm . Tambahkan 0. Tambhakan 0. Tambahkan 2.2 ml(4 tetes) NED. Pipet 10 ml air sample yang telah disaring. aduk biarkan 10 menit agar terbentuk wama merah muda dengan sempurna 5.Lampiran 14. Prosedur pengukuran Ammonia Bebas % ammonia tak-terioisasi (Ammonia bebas) = a 100 1+ antilog(pKa . Tambahkan 1 ml Phenol Solution. Tambahkan 1 ml Sod.p H ) Keterangan : pKa : konstanta logaritma negatif yang bergantung pada suhu Prosedur pengukuran Nitrit 1.2 ml(4 tetes) Sulfnnilamide. inasukkan ke dalam gelas piala 3.42 atau yang kertas lain yang setara 2.

aduk 4. Dinginkan dalam desikator selama 10 menit kemudian timbang. Ulang langkah 4-6 (kehilangan berat < 4%) missal = B milligram 8. aduk dan diamkan hingga dingin 5. pipet 5 ml aquaest masukkan ke dalam gelas piala. Keringkan kertas dalam oven (T= 103-105 oC) selama 1jam 5. Bilas kertas saring dengan air suling (20 ml) 2. Prosedur pengukuran Total Suspended Solid (TSS) 1. Tiinbang di neraca analitik 7. Saring contoh lalu residu tersuspensi bilas dengan air suling 10 ml 12. sesuaikan benyaknya sehingga berat residu antara 2.Lampiran 14 (lanjutan). Tambahkan 0. Siapkan kertas yang telah diketahui beratnya pada alat penyaring 10. Ulangi pembilasan 3. Simpan kertas saring dalam desikator 9. Ambil kertas saring dan simpan di tempat khusus kertas 4. inisal a miligram . Tambahkan 5 ml Asam Sulfat pekat (gunakan ruang asam). Keringkan dalam pengering pada suhu 103-105 oC selama satu jam 14. * Prosedur pengukuran Nitrit 1.42 yang kertas lain yang setara 2. Pipet 5 ml air sample yang telah disaring. masukkan ke dalam gelas piala 3.5 ml(10 tetes) Brucine. Ambil kertas saring taruh di tempat khusus 13.5-200 mg 11. lakukan seperti langkah 3-4 6. Untuk pengukuran blanko. Ukur menggunakan Spectrophotometer dengan panjang gelombang 410 nm. Saring ke dalam erlenmeyer dengan menggunakan kertas saring Whatman No. Dinginkan dalam desikator 10 menit 6. Contoh dikocok masukkan ke alat penyaring.

Setelah selesai buka tutupnya lalu dinginkan 6 .5 ml aquades 7.025 N. Tutup erlenmeyer dengan cawan petri untuk mencegah masuknya material asing. Tambahkan 5 ml K2Cr207 0. Catat ml titran (B ml) 8.Lampiran 14 (lanjutan) Perhitungan : TSS (mgll) = (A-B) x 1000 I ml contoh Prosedur pengukuran Chemical Oxygen Demand (COD) (metode Refluks terbuka) 0 1. Pipet 10 ml sample masukkan ke dalam erlenmeyer 2. Encerkan larutan sampel dengan 7.025 N (Ferros Amonium Sulfat). Biarkan selama 30 menit.025 N) 8000 = miliekivalen bobot Oksigen x 1000 mlll . Titrasi kelebihan K2Cr207 menggunakan FAS 0. sebelumnya tambahkan indikator feroin 2-3 tetes sampai terbentuk warna hijau biru dan titik akhir titrasi ditandai dengan perubahan warna menjadi merah bata yang stabil dalam 1 menit. catat ml titran (A ml) Perhitungan : COD (ing 0211) = /A-B) x 8 x 1000 ml sampel Keterangan : A = ml FAS yang terpakai saat titrasi blanko B = ml FAS yang terpakai saat titrasi sampel M = Molaritas FAS (0. 5. lalu aduk 3. Lakukan blanko (10 aquades + prosedur 2-7 di atas). Masukkan H2S04 (15 ml) 4.

Tambahkan sulfamic acid 0. Tambahkan 1 ml(20 tetes) larutan NaOH + KI. Pipet 50 ml air contoh dari botol BOD ke dalam erlenmeyer 7. hindari adanya gelembung udara 2.Lampiran 14 (lanjutan). Prosedur pengukuran Dissolve Oxygen (DO) I. Titrasi dengan Na-Thiosulfat sampai benvama kuning muda. Bila air keruh sekali. tambahkan amium 2-3 tetes.5 ml(10 tetes) ke dalam botol BOD 125 ml 3. Ambil air sainpel ke dalam botol BOD sampai penuh clan tutup. Contoh air diaerasi atau kocok-kocok sampai jenuh 4. Tambahkan 1 ml(20 tetes) larutan MnS04 4. Catat ml titran yang terpakai Perhitungan : Keterangan : N = Normalitas Tiosulfat Prosedur pengukuran Biochemical Oxygen Demand (BOD) 1. aduk (bolak-balik) diamkan sampai inengendap 5. Setelah inengendap tambahkan 1 ml(20 tetes) H2S04 pekat atau sampai endapan larut 6 . kemudian tutup. Ambil contoh 500 ml (tanpa pengawet) dalam botol plastik 2. air contoh diencerkan 5-10 kali (dengan aquadest) 3. Teruskan sampai tidak bewama. Masukkan kedalam botol BOD kecil 125 ml atau 250-300 ml .

DO 5 hams h a n g dari DO 1 Perhitungan : .Lampiran 14 (lanjutan). catat ml titran sebagai DO 1 6. Simpan di es box dengan suhu 200C sebagai DO 5 9. Ditutup dan bungkus rapat dengan plastik hitam (menghindari cahaya atau fotosintesis) 8. dimasukkan ke dalam botol BOD bekas pengenceran no-5 7. Caatat ml titran DO 5 10. Setelah 5 hari dianalisis seperti DO (seperti item 5). 5. Sisa air contoh dari item 4. kerjakan atau reaksikan dengan bahan kimia seperti DO winkler (lihat prosedur DO).

Tambahkan aquadest 100 ml 5. Tambahkan Defordaaloel grain 3. Sampel yang telah dicampurkan tersebut di destilasi dan hasil destilasi ditampung dengan Erlenmeyer 250 in1 yang sudah di isi H3B03 1% 7. Catat hasil titrasi HCl Perhitungan : * Prosedur pengukuran Ammonium 1.Lampiran 15. Pipet 5 ml sampel 2.Prosedur pengukuran parameter Sedimen (Chapman dan Pratt. Tambahkan Defordaaloel gram 3. Lalu tambahkan MgO sebanyak 1 gram 6. Pipet 5 ml sampel 2. Tambahkan indikator 5 tetes 8. Tambahkan 1 ml etanol 4. 1961). Sampel yang telah dicampurkan tersebut di destilasi dan hasil destilasi ditampung dengan Erlenmeyer 250 ml yang sudah di isi H3B03 1% 7. Tambahkan aquadest 100 ml 5. Hasil Destilasi dititrasi dengan HC1 yang sudah diketahui normalitasnya 9. Lalu tambahkan NaOH 5% sebanyak 5ml 6. Catat hasil titrasi HC1 Perhitungan : . Tambahkan 1 ml etanol 4. Hasil Destilasi dititrasi dengan HCl yang sudah diketahtri normalitasnya 9. Prosedur pengukuran Nitrat 1. Tambahkan indikator 5 tetes 8.

Tambahkan H3B03 1% 8.25 ml(5 tetes) 9. inasukkan ke dalam botol. Hasil dari proses destilasi di titrasi dengan HCl yang sudah diketahui normalitasnya 11. Destruksi sampel tersebut 5. Kocok selama 30 menit dengan mesin pengocok. Tambahkan 50 ml aquadest lalu masukkan ke tabung destilasi dan tambahkan aquadest 100 ml 6 . diamkan sebentar 4. Pipet 0. dan digoyang agar tercampur sempuma 4. (lanjutan). Tambahkan NaOH 20% 20 ml 7.5 gram sampel 2. Tambahkan 5 tetes parapin cair. kocok 2. Timbang 10 gram contoh tanah kering udara yang 1010s saringan 2 milimeter. Prosedur pengukuran Nitrogen Tot& 1.Lampiran 15. Destilasikan sampel tersebut 10. Ukur dengan pH meter . Catat hasil titrasi HC1 Perhitungan : 100 N-total (96) = ((sampel(m1)) . Tambahkan Selenium Mixer. lalu tambahkan H2S04 sebanyak 5 ml 3.(blanko(ml)))xN(HCl)x14xBKM BKM = Bobot Kering Mutlak Prosedur pengukuran pH 1. Tambahkan 10 ml aquadest untuk penetapan pH H20 atau tambahkan 10 ml larutan KC1 1 N untuk penetapan pH KC1 3. Ben indikator 0.

Sisakan fraksi pasir dengan menggunakan ayakan 50 p. Panaskan di atas penangas air sambil ditambahkan H202 sedikit demi sedikit sambil diaduk-aduk sampai semua bahan organik habis (tidak ada buih lagi) tambahkan 0. tambahkan air sampai tanda tera 8. Fraksi debu dan liat ditampung dalam tabung sedimentari 1 liter 6. Tambahkan 50 ml H202 30% (untuk menghacurkan bahan organik) simpan di atas bak berisi air kocok lalu tarnbahkan 6 tetes asam asetat 99% biarkan satu malam 3. . (lanjutan). Timbang 10 gram tanah kering udara 1010s saringan 2 rmn. * Prosedur pengukuran tekstur tanah 1. Lakukan pencucian C1 sampai semua C1 hilang (uji dengan perak nitrat tidak tejadi awan putih berarti C1 habis) 5. Tutup gelas dengan karet. masukkan ke dalam gelas piala satu liter 2.2 N (untuk melarutkan CaC03) tambahkan air kurang lebih separuh gelas pala kemudian didihkan kira-kira 20 menit 4. Pindahkan fraksi pasir dari ayakan ke dalam cawan alumunium (yang sudah diketahui bobotnya) kemudian keringkan dalam oven pada suhu 105 oC semalam lalu tentukan bobot pasir 7.Lampiran 15.5 HC16 N untuk tiap 1% CaC03 dan 100 ml HCl 0. selanjutnya dimasukkan ke dalam tanur pada suhu 105 oC akhimya dimasukkan dalam eksikator lalu ditimbang. Lakukan pemipetan dari tabung sedimentasi tersebut menurut waktu kedalaman pipet 10. clan kocok lalu didirikan dalam bak air kemudian buka sumbatnya catat waktu selesai pengocokan 9. Kedalam tabung sedimentasi yang berisi debu dan liat tambahkan 2 ml Nu-pirofosfat (yang sudah diketahui bobotnya) biarkan selama 1 jam. Setiap pemipetan dituangkan kedalam cawan alumunium untuk diuapkan aimya.

Gambar lokasi pengamatan (stasiun) selama penelitian Stasiun 1 (inlet waduk) Stasiun 2 (KJA sedang) ..ampiran 16.

(lanjutan) Stasiun 3 (KJA padat) Stasiun 4 (outlet waduk) .Lampiran 16.

Lampiran 17. . Garnbar penyusutan air waduk Cirata.

pernah aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa FPM IPB sebagai anggota di bidang Hubungan Luar dan Komunikasi tahun 2004-2005. selain itu aktif juga sebagai Pengurus Himpunan Mahasiswa Manajemen Sumberdaya Perairan (HIMASPER) pada bidang Hublukom di tahun yang sama. dan pada tahun yang sama lulus seleksi masuk Institut Pertanian Bogor melalui Jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI). Jawa Barat". Ichsan dan ibu : Muti'ah. Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan. penulis menyusun skripsi dengan judul "Kajian Kandungan Nitrogen pada Kolom Perairan dan Sedimen Akibat Aktivitas Keramba Jaring Apung di Waduk Cirata. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.AYAT HJDUP Penulis dilahirkan di Jakarta. Selama mengikuti perkuliahan. Berperan aktif sebagai Organizing Committee (OC) masa perkenalan FPM mahasiswa baru tahun 2006 dan masa perkenalan Departemen MSP mahasiswa baru tahun 2006 serta sebagai peserta pada beberapa seminar yang diselenggarakan di lingkungan Institut Pertanian Bogor. . Tahun 2003 penulis lulus dari SMU Negeri 47 Jakarta. Penulis memilih Program Studi Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan Perairan. IPB. Penulls merupakan anak ketiga dari lima bersaudara. pada tanggal 22 Maret 1985 dari pasangan bapak : Moch. dan asisten mata kuliah Ikhtiologi tahun 200512006. Penulis juga aktif sebagai asisten mata kuliah Pengantar Matematika pada tahun ajaran 200412005. Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sajana pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful