KAJLAN KANDUNGAN NITROGEN PADA KOLOM PERAIRAN DAN SEDIMEN AKIBAT AKTIVITAS KERAMBA JARING APUNG DI WADUK CIRATA

, JAWA BARAT

RAHMATULLAB AL FATIH

PROGRAM STUD1 M A N A m m N SUMBERDAUA PE FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

ABSTRAK
RAHMATULLAH AL FATIH (C24103051). Kajian Kandungan Nitrogen pada Kolom Perairan dan Sedimen Akibat Aktivitas Karamba Jaring Apung di Waduk Cirata, Jawa Barat. Di bawah bimbingan ENAN M. ADIWaAGA dan TRI HERU PRZBADI.

Penelitian bertujuan untuk mengkaji kandungan nitrogen di perairan dan di dasar sedimen, yang diakibatkan oleh aktivitas Karamba Jaring Apung (KJA). Penelitian dilakukan di Waduk Cirata dari bulan Juli sampai September tahun 2006. Terdapat empat stasiun pengamatan yaitu; inlet waduk (stasiun I), daerah KJA sedang (stasiun 2), daerah KJA padat (stasiun 3), clan outlet waduk (stasiun 4). Terdapat dua jenis sampel yang diambil yaitu sampel air dan sampel sedimen. Sampel air diambil secara vertikal di setiap stasiun pada interval 10 meter (0 m, 10 m, 20 m, 30 m) dan kedalaman dekat dasar (interface). Sampel sedimen diambil satu kali pada setiap stasiun. Nitrogen yang diteliti pada penelitian ini nitrit (NO;), nitrat (NOi), nitrogen antara lain; ammonia total (NH3 dan total (untuk nitrogen di perairan), ammonium (NH~'), nitrat (NOi), nitrogen total (untuk nitrogen di sedimen). Analisis statistik untuk nitrogen di perairan menggunakan Rancangan Petak Terbagi (Split Plot Design), untuk nitrogen di sedimen menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK), dan uji lanjut Beda Nyata Terkecil (BNT). Kandungan ammonia total pada perairan mengalami peningkatan pada setiap penambahan kedalaman, Konsentrasi ammonia bebas (NH3) inemiliki kecenderungan mengalami penurunan, sedangkan ammonium ( ~ ~ 4 3 memiliki kecenderungan mengalami peningkatan pada setiap penambahan kedalaman. Kandungan nimt dan nitrat (NO?) pada perairan cenderung mengalami penurunan, kecuali pada stasiun 1 yang cenderung meningkat di setiap kedalamannya. Kandungan ammonium (NH~'), nitrat (NO33 dan nitrogen total pada sedimen cenderung mengalami peningkatan pada stasiun 4 (outlet waduk). Tekstur sedimen banyak ditemukan dalam bentuk liat. Tekstur liat diduga memiliki kemampuan inengikat ammonium lebih baik dibandingkan nitrat. Perairan wad& Cirata berdasarkan kandungan ammonia total menurut kesuburannya digolongkan kedalam perairan Eutrofik.

~a,

KAJIAN KANDUNGAN NITROGEN PADA KOLOM PERAIRAN DAN SEDLNIEN AIUBAT AKTMTAS I<ERAME%A JARING APUNG DI WADUK CIRATA, JAWA BARAT

Oleh : RAHMATULLAH AL. FATIH C24103051

SKRZPSI Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Perikanan Pada Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan

P R O G M STUD1 MANAJERZEN SUMBERDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN IliMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

Semua sumber data dan informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan &lam Daftar Pustaka di bagian akhir Skripsi ini Bogor. Januari 2008 .PERNYATAAN MENGENAI SKRZPSI DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan bahwa Skripsi yang berjudul KAJIAN KANDUNGAN NITROGEN PADA KOLOM PERAIRAN DAN SEDLMEN AKIBAT AKTMTAS KERAMBA JARING APUNG DI WADUK CIRATA. adalah benar merupakan hasil karya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. JAWA BARAT.

Enan M. 130 892 613 Mengetahui. Pembimbing I Pembimbing I1 Dr. Ir. Adiwilaga NIF'.Judul : Kajian Kandungan Nitrogen pada Kolom Perairan dan Sedimen Akibat Aktivitas Keramba Jaring Apung di Waduk Cirata. Jawa Barat Nama NIM : Rahmatullah A1 Fatih : C24103051 Disetujui. Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Tanggal Lulus : 17 September 2007 .

Aji) atas doa. Keluarga tercinta (Bapak. Tri Heru Prihadi. Pratiwi. arahan. dan saran berharga kepada penulis. 42 atas dukungannya selama ini. nasehat. 5. M. 3. Ayu. arahan. Mas Ali. penulis sampaikan ucapan terima kasih kepada : 1. Zairion. Ibu. Jawa Barat". dukungan. Bogor. serta b a n t w ~ y a . Mas Iim. M. dan kasih sayang yang tak terhingga kepada penulis. M. Institut Pertanian Bogor. Niken T. Bapak Dr. Adiwilaga selaku dosen pembunbing I yang telah banyak bersabar meinbimbing penulis. M. Skripsi ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan dan Ilmu Kelautan.Sc selaku dosen pembimbing I1 atas kese~npatannya yang diberikan untuk mengikuti penelitian ini. memberikan banyak masukan. Mukhlis Kamal.Ir. 41. Enan M. Pada kesempatan ini. Penulis mengharapkan kritik serta saran yang membangun bagi kesempumaan tulisan ini. 4. semangat.Ir. dan Ibu Dr.Ir. 6 . Bapak Ir. Bapak Dr. M. Teman-teman MSP angkatan 40 yang telah memberikan semangat dan motivasi.KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah meinberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian ini yang berjudul "Kajian Kandungan Nitrogen pada Kolom Perairan dan Sedimen Akibat Aktivitas Keramba Jaring Apung di Waduk Cirata. Januari 2008 Penulis . Semoga penelitian ini dapat bermanfaat dan berguna bagi pembangunan perikanan di Indonesia.Sc selaku dosen pembiinbing akademik atas bimbingan yang diberikan kepada penulis baik saran maupun nasehat yang bermanfaat kepada penulis selama mengikuti perkuliahan.dan teman-teman MSP angkatan 39. karena penulis sadar bahwa tulisan ini masih banyak kekurangan dan kesalahan demi kesempumaan dalam melakukan penelitian ini.Si selaku dosen penguji yang telah banyak memberikan masukan untuk kesempumaan skripsi ini. 2.Ir. clan saran dalam penulisan skripsi ini.Sc dari pihak Departemen. serta masukan. M. Bapak Dr.

................................................... ............ ....... C. ..................... Suhu ........................................ ................................. A....................... Kekeruhan ......... Waktu clan Lokasi Penelitian ... Total Suspended Solid (TSS) ................................. .......... .... .. Waduk Cirata ... iv v vii 1 ................. . Metode Kerja ... ....... ........................................................... Nltrlt (NOi) 3....... a............. ........................................ Baku Mutu Kualitas Air ........................... A. ..................................................................................... ...................................DAFTAR IS1 Halaman KATA PENGANTAR DAFTAR IS1 DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN ............................... Sedimen .... Oksigen Terlarut (Dissolved Oxygen (DO)) ..................................................................................... I...................................................................... G.................. . C........................ ...................... Latar Belakang ........................ 2.. Metode Analisis Kualitas Air dan Sedimen ........ .. pH ................ 1.. 2 .... Biochemical Oxygen Demand (BOD) ................................ .................................................... Analisis Data Kualitas Air ................................................ ............. Tujuan dan Manfaat ............. Alat dan Bahan . L..... 1............................. .................. ............................ Nitrat (NO3) ..................................... . ................................................................. 3 ............. .. C............ Perumusan Masalah .... .. ......................................................................................................... ............................................................................................... B.................................................. ......... ................................................. .......... Nitrogen . ............ E .................................... H... Sedimentasi Waduk Cirata....... ................... Penentuan Lokasi Penelitian ........ Chemical Oxygen Demand (COD) ................................................... A................ B............... J .. TINJAUAN PUSTAKA ........................... D......... b........................ K........................................ 4 ................................................... Pengambilan Sainpel .................................................................................... ................................................................................................................ Analisis Data Sedimen ......................................... I1..... ............................ F .......................... ............ ......... I PENDAHULUAN B ..... .............................. ~ m m o n i ~ o t a(NH3dan N + a l & ) . 11 .................................................... Analis~s Data . .... i .......

.... Nitrogen Total .......... d .................................. ......................................................................... Ammonia total (NH3dan ~ ~. a........................ ......... .... 1.............................. Ammonium ( ~ ~.............. 3 ............ Nitrogen Total ............................... Kesimpulan .................................... ........ 3.......................................... .................................................................. 4 ............ ............. 1. 43 2. 4 3 ................... ..... B....................................................................... Nltrlt ( N o d ...................... .............. A .... C.............. Suhu ...... Parameter Fisika Perairan dan Kimia Perairan .......................... 2 .. ..................... 1.............. Nitrat (NO3-) ..................... .... Nitrat (NOi) .......... pH .. c................ DAFTAR PUSTAKA ............... Kondisi Perairan dan Sedimen Waduk Cirata ..... .............. ... iii .... Saran ......................................................................................... ........ 2................................ ..................................... ... Tekstur Sedirnen .......1%'.. b................ ....... ................... a.... Oksigen Terlarut (Dissolved Oxygen (DO)) .......................... Kandungan Nitrogen di Sedimen ............................................. Biochemical Oxygen Demand (BOD) ........................ Kandungan Nitrogen di Perairan ..............................................HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................................. e............................................... Kekeruhan .. ...... ...... B. Total Suspended Solid (TSS) ...................................... ......................................................... A ................. f g....... Parameter Fisika Perairan dan Kimia Sedimen ... .............................. .. Chemical Oxygen Demand (COD)........................................

........................... Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor kedalaman terhadap kandungan Nitrit perairan (NO<) (a=0........ ...............................1) ......................................................................................... ................................ 2......... 15.............. 13............... metode.....1) ...................................................1) .... Kriteria Mutu Air menurut Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 .......... ......................1)................ 16. dan lokasi analisis sampel kulitas air............l) ................................................. ........................ Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Ammonia Total perairan (a=0......... Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Nitrat perairan ( N o d (a=0......... ..................... Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Nitrogen Total sedimen (a=0.... 6.... .........1). Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor kedalaman terhadap kandungan Ammonia Total perairan (a=0....... Kesesuaian perairan untuk kepentingan perikanan berdasarkan padatan tersuspensi (TSS) .....l)................................. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Nitrat sedimen (a=0. 7.. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor kedalaman terhadap kandungan Nitrat perairan (NO<) (a=O.... Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Ammonium sedimen (a=0.......DAFTAR TABEL unan 1..... 14...... 18....... ......................................................................... .............. 5..................................................1) ..... .... 12...........................1)............................................. Kriteria kulitas air berdasarkan nilai BOD ................. Tabel Sidik Ragam Rancangan Petak-Terbagi .. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Nitrit perairan (NOi) (a=0.................... .... 10.. 17.. 8................... Tabel Sidik Ragam Rancangan Acak Kelompok......... Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor kedalarnan terhadap kandungan Nitrogen Total perairan (a=0............. 9....................................... .................................................................. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Nitrogen Total perairan (a=O. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor waktu terhadap kandungan ........ Ammonia Total (a=O....... .....................1) ........... 3. 11.....1) ......................... Parameter.... 4..................... 13 d m sampel sedimen..................................l) .....................

......................................... 5.. kedalaman............. 9... ...... Kandungan atmnonia total (NH3dan N& perairan berdasarkan kedalaman pada setiap stasiun dan waktu pengamatan.............................................. Halaman 3 6 8 11 18 20 2.......... Kekeruhan perairan pada setiap stasiun... Sebaran vertikal ammonia berdasarkan kesuburan perairan. 16. ........... 4............................... ................... kedalaman............................. Suhu perairan pada setiap stasiun.................... kedalaman......... ..................... 32 33 34 39 43 ~3 N) .................... 6......... .......... ...............................) stasiun dan waktu pengamatan....................................................... Kandungan nitrat (NO....... dan waktu pengamatan...... 18.. .. ) berdasarkan tingkat kesuburan peralran .. (H3 N4 50 52 54 56 57 58 60 . Konsentrasi Ammonium sedimen berdasarkan stasiun dan waktu pengamatan.............. J3 7........................................................... ................ .. 19............. .............. dan waktu pengamatan... 3................. ...... ............................... ........ .... Skema perurnusan masalah penelitian .... perairan berdasarkan kedalaman pada setiap 11........... ............ 8.......... Kandungan Total Suspended Solid ( T S S ) perairan pada setiap stasiun......DAFTAR GAMBAR Gambar 1............ Konsentrasi Nitrat (NO33sedimen berdasarkan stasiun dan waktu pengamatan ....................... Kandungan ammonium perairan berdasarkan kedalaman pada setiap stasiun dan waktu pengamatan........................................................................... ............................ Tingkat Kemasaman pH Tanah ...... ... ....................... 12... Kandungan nitrogen total perairan berdasarkan kedalaman pada setiap stasiun dan waktu pengamatan.................... 14...................................................... ..... kedalaman..... 15............... .... 47 13.............................. dan waktu pengamatan.. Kandungan ammonia bebas (NH3)berdasarkan kedalainan pada setiap stasiun dan waktu pengamatan............................................... Sebaran secara vertikal nitrogen berdasarkan tingkat kesuburan pera~ran ... ..... Kandungan nitrit ( O stasiun dan waktu pengamatan.............. Kandungan oksigen terlarut (DO) perairan pada setiap stasiun... 17.............. .............. . .............. perairan berdasarkan kedalaman pada setiap 10..................................... Peta lokasi penelltian ........... Konsentrasi Nitrogen Total sedimen berdasarkan stasiun dan waktu pengamatan. Sebaran vertikal nitrat ( O N............. .... ........................ dan waktu pengamatan.................... ... ........

....... 65 66 .......... kedalaman................... 24............................................ Kandungan Chemical Oxygen Demand (COD) perairan pada setiap stasiun.. Nilai pH sedimen berdasarkan stasiun dan waktu pengamatan ............... kedalaman....... dan waktu pengamatan.. 61 21................Gambar 20 ........................ Kandungan Biochemical Oxygen Demand (BOD) perairan pada setiap stasiun........... 62 64 22...... Nilai pH perairan pada setiap stasiun........... dan waktu pengamatan ................. Tekstur sedimen Waduk Cirata berdasarkan stasiun dan waktu pengamatan ...................... kedalaman. 23........................ dan Halaman waktu pengamatan.........

..... waktu........... Ammonia.... dan kedalaman selama pengamatan ....... 5.. Tabel Sidik Ragam kandungan ammonia total ... 8.................... Suhu perairan berdasarkan lokasi.......... waktu................ ........................... 14. ............. 76 77 78 4.. dan kedalaman selama pengamatan ....................... waktu..... Kandungan dan tabel sidik ragam Nitrogen Total............... 15..................................... .............. 7. Prosedur pengukuran parameter kualitas air ..................... dan kedalaman selama pengainatan.. vii ....... Kandungan Ammonia Total pada perairan berdasarkan lokasi............... ..... . dan kedalaman selama pengamatan .............. 16... waktu. waktu.... Kandungan pH dan persentase kandungan tekstur sedimen berdasarkan lokasi............... waktu............... dan waktu selama pengamatan... lokasi... dan kedalaman selama pengamat 12....... waktu...... 9....... waktu........ 10. ........... .. dan kedalaman selama pengamatan 13............ waktu. 11 Kandungan Biochemical Oxygen Demand (BOD) perairan berdasarkan lokasi........... dan Nitrat pada sedimen berdasarkan lokasi..................... waktu........ 2........... ....... dan kedalaman selama pengamatan ............. 1........... dan kedalaman selama pengamatan ...... Gambar penyusutan air waduk Cirata .. Kandungan Chelnical Oxygen Demand (COD) perairan berdasarkan ............... Kandungan dan tabel sidik ragam Nitrit (NOi) pada perairan berdasarkan lokasi.................................... ...... 79 80 81 82 83 84 85 86 88 93 96 98 .......... dan kedalaman selama pengamatan ...... 6.. 15.... dan kedalaman selama pengamatan ............ (~~43 74 75 1.. ............Lampiran Halaman 73 1.. dan kedalaman selama pengamatan .................. 3... Kandungan Ammonium Bebas (NH3) dan Ammonium pada perairan berdasarkan lokasi.. Kandungan dan tebel sidik ragam Nitrogen Total pada perairan berdasarkan lokasi................ ............. Kekeruhan perairan berdasarkan lokasi.. waktu...... Kandungan pH perairan berdasarkan lokasi................................. waktu...................................... ........... dan kedalaman selama pengamatan................................ Gambar lokasi pengamatan (stasiun) selama penelitian .. Kandungan clan tabel sidik ragam Nitrat (NO<) pada perairan berdasarkan lokasi. Kandungan oksigen terlarut (DO) perairan berdasarkan lokasi. ..... Prosedur pengukuran parameter Sedimen ..................... Kandungan Total Suspended Solid (TSS) perairan berdasarkan lokasi........... dan waktu selama pengamatan .......

. perikanan. Pembangunan waduk pada awalnya diperuntukkan bagi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) disamping itu waduk ini juga memiliki potensi sebagai irigasi pertanian. dan daerah wisata. Sisa pakan yang tidak termakan akan meningkatkan kandungan nitrogen di perairan akibat dekomposisi protein yang terkandung didalam pelet. Selain sisa pakan. Waduk ini dibangun pada tahun 1988. Pada konsentrasi yang berlebihan ammonia akan mematikan bagi ikan dan bagi organisme perairan lainnya. Propinsi Jawa Barat. Jumlah yang semakin tidak terkendali dari KJA ini menyebabkan beberapa masalah lingkungan yang secara tidak langsung juga akan berpengaruh pada kegiatan KJA. dan Purwakarta. Bandung. Jumlah KJA yang terhitung sampai tahun 2003 sudah mencapai 38. perhubungan. hasil metabolisme ikan-ikan budidaya berupa feses yang banyak mengandung ammonia ( N H 3 ) akan meningkat jumlahnya.200 Ha. Latar Belakang Waduk Cirata merupakan waduk yang berada pada aliran Sungai Citarum. Waduk tersebut terletak di antara waduk Saguling dan waduk Jatiluhur. Pakan komersial mengandung lebih dari 20% protein di dalamnya (Prihadi.899 orang (Prihadi. Pakan tambahan biasanya mengandung protein yang tinggi untuk meningkatkan pertumbuhan ikan. Kegiatan budidaya ikan yang dilakukan di Waduk Cirata merupakan kegiatan yang intensif sehingga inenggunakan pakan tambahan (pelet) (Nastiti et aJ2001). Pakan tambahan (pelet) yang diberikan tidak semuanya efektif tennakan oleh ikan. namun jumlah yang sesungguhnya terdapat pada waduk tersebut melebihi jumlah ideal yang diperbolehkan.000 KJA. dengan luas 6. Selana beberapa tahun belakangan ini perkembangan Waduk Cirata semakin meningkat khususnya pada sektor perikanan budidaya Karamba Jaring Apung (KJA).A. 2005). terletak di tiga kabupaten yaitu Cianjur. Jumlah ideal KJA yang diperbolehkan adalah 12. Perkembangan budidaya KJA yang selnalan meningkat jumlahnya diduga sudah melebihi kapasitas waduk sehingga dapat menurunkan daya dukung waduk. 2005).286 KJA dengan jumlah peiniliknya sebanyak 3.

1991). Nitrogen ini selain dihasilkan oleh sisa pakan juga bisa berasal dari sisa metabolisme urine maupun tinja dari biota akuatik yang berupa ammonia (NH3) (Effendi. Pralaraan beban limbah bahan limbah organik yang berasal dari kegiatan bumdaya ikan KJA Waduk Cirata sebesar 6. Perurnusan Masalah Meningkatnyajumlah KJA pada waduk Cirata sudah melebihi dari batasan yang diperbolehkan. Ammonia (NH3) dalam jumlah yang berlebihan bersifat toksik pada ikan sehingga keberadaannya di perairan akan menghambat pertumbuhan ikan bahkan bisa menyebabkan kematian pada ikan. Skema p e m u s a n masalah penelitian disajikan pada Gambar 1. Protein mengandung 16% nitrogen di dalamnya (Depdikbud. Limbah yang dibasilkan dari kegiatan KJA sebagian besar mengandung nitrogen. Sisa-sisa pakan yang tidak termakan dan tinja (feses) ikan akan menyebabkan terakumulasinya bahan-bahan organik ini pada perairan dan mengendap di dasar waduk. Hal ini tentunya dapat m e n d a n produksi perikanan budidaya KJA yang terdapat di waduk Cirata. 2003). serta akan menurunkan kualitas air yang akhimya menurunkan produktivitas perairan waduk tersebut. Pakan tambahan yang digunakan pada budidaya KJA biasanya mengandung protein yang tinggi untuk meningkatkan perturnbuhan ikan. 2005). .Kegiatan budidaya KJA secara tidak langsung akan meningkatkan konsentrasi nitrogen di perairan. Hal ini akan berdampak bagi penurunan daya dukung dari waduk. Peningkatan ini tentunya akan berdampak bagi ekosistem perairan dan bagi pertumbuhan organisme perairan didalamnya.365 tonltahun (Sukimin. dalam Indriani. B. Selain itu keberadaan KJA akan menambah kandungan bahan organik dari sisa-sisa pakan dan feses dari ikan. Prihadi (2005) memperlurakan jumlah sisa pakan yang terdapat di dasar waduk telah melebihi 279.121 ton dan ketebalannya lebih dari 2 meter. Hal ini berakibat meningkatkan kandungan nitrogen pada sedimen waduk dan juga akan mempengaruhi kandungan nitrogen di perairan. Kondisi perairan waduk yang relatif tenang menyebabkan terakumulasinya kandungan nitrogen di perairan dan dapat menyebabkan sedimentasi pada dasar waduk.

. Tujuan dan Manfaat Penelitian ini bertujuan untuk melihat kandungan nitrogen di perairan dan di dasar sedimen. \ IKJA ! Bahan Organik l. yang diakibatkan oleh aktivitas Karamba Jaring Apung (KJA).lengundilp Dekomposisi Petliempsnoriliitieil i I I I I I I I I 1 Dekomposisi Nitrogen Sedimen I 1 Gambar 1.I Kualitas Air . Skema perumusan masalah penelitian C. dan diharapkan informasi yang diperoleh dapat dijadikan bahan masukan bagi pengelolaan di Waduk Cirata. Jawa Barat.

Menurut Mardiana (2007). dengan kedalaman 106 meter. 1983).45 meter (September). Nitrogen di perairan dapat berupa nitrogen anorganik dan organik. 2005). nitrat (NO3-).II. 2005). Nitrogen Nitrogen yang terdapat di perairan tawar ditemukan dalam berbagai bentuk diantaranya molekul N terlarut. 2005). Jumlah itu akan menyumbang limbah pakan akibat kegiatan perikanan budidaya sebanyak 279.200 ha sedangkan luas permukaan kegtatan KJA sekitar 158-198 ha. Elevasi permukaan air di Waduk Cirata pada umumnya memiliki pola perubahan yang relatif sama dari tahun ke tahun. dari perhitungan ini maka ketinggian limbah pakan sekitar 2 meter (Prihadi.66 meter (Juli). Waduk Cirata Waduk Cirata merupakan suatu bentuk perairan yang dibuat oleh manusia di daerah aliran sungai Citaruni pada tahun 1988. dalam Indriani. selanjutnya mengalami peningkatan kembali pada bulan Desember (Jubaedah. Nitrogen anorganik terdiri atas amonia .286 KJA pada tahun 2003. pemukiman. fiksasi nitrogen dari air dan sedimen.786 KJA. 2 11. Goldman dan Home (1983) menyatakan bahwa nitrogen dapat berasal dari limbah pertanian.Sumber nitrogen alami berasal dari air hujan (presipitasi). tinggi muka air pada bulan Juli sampai dengan September 2006 mengalami penurunan dengan tinggi muka air 214. memiliki luas sekitar 6. dan terleak pada ketinggian 223 meter di atas permukaan laut (Feriningtyas. dan limbah industri. TINJAUAN PUSTAKA A.200 ha. artinya jika luas permukaan 6. asam amino. clan berkembang pesat menjadi 38.dan .121 ton. B. Karamba Jaring Apung (KJA) pertama kali dilakukan di Waduk Cirata yaitu pada tahun 1986. yaitu tinggi pada bulan Januari sampai Mei dan mengalami penurunan sampai dengan bulan November. dan liinpasan dari daratan dan air tanah (Wetzel.04 meter (Agustus). dan 209. ammonia ( H 3 2 N 4 nitrit (Nod. KJA awalnya digunakan untuk kepentingan penelitian di Waduk Jatiluhur namun sejak dikenalnya teknologi ini di Waduk Cirata budidaya ini berkembang pesat tercatat sejak tahun 1999 terdapat 8.

Proses ini banyak dilakukan oleh mikroba dan jamur. dan limbah domestik (Effendi. Fiksasi gas nitrogen secara langsung dapat dilakukan oleh beberapa jenis algae Cyanophyta (blue-green algae) dan bakteri. Nitrogen organik berupa protein. karena protein dan polipeptida terdapat pada semua makhluk hidup sedangkan sumber antropogenik (akibat aktivitas manusia) adalah limbah industri dan limpasan dari daerah pertanian. Autolisis (pecahnya) sel dan ekskresi amonia oleh zooplankton dan ikan juga berperan sebagai pemasok amonia. Proses ini terutama dilakukan oleh bakteri autotrof dan tumbuhan.(Mi3). Effendi (2003) menjelaskan Bentuk-bentuk nitrogen tersebut mengalami transfonnasi sebagai bagan dari siklus nitrogen yaitu: a. Bakteri nitrifikasi bersifat mesofilik. Nitrogen ditemukan melimpah dalam bentuk gas di atmosfer. dalam bentuk gas. nitrogen terlarut (disolved) dan tidak terlarut (particulate) dan keduanya tidak dapat langsung digunakan oleh organisme yang lebih tinggi. dan molekul nitrogen (N2) nitrit (NOT). Nitrifikasi. 2003). menyukai suhu 30°C. kegiatan perikanan. Sumber nitrogen organik di perairan berasal dari proses pembusukan makhluk hidup yang telah mati. misalnya asam amino dan protein. . Di perairan nitrogen ditemukan dalam dua bentuk yaitu. nitrat @03-). yaitu oksidasi amonia lnenjadi nitrit dan nitrat. Proses oksidasi ini dilakukan oleh bakteri aerob. c. d. amonium (~~43. 1983). Asimilasi nitrogen anorganik (ammonia dan nitrat) oleh tumbuhan dan mikroorganisme untuk membentuk nitrogen organik. Amonifikasi nitrogen organik untuk menghasilkan amonia selama proses dekomposisi bahan organik. Nitrifikasi berjalan secara optimum pada pH 8 dan pH < 7 berkurang secara nyata. dan urea. Fiksasi gas nitrogen menjadi amonia dan nitrogen organik oleh mikroorganisme. asam amino. namun tidak dapat digunakan secara langsung oleh organisme karena memerlukan energ yang besar untuk memecah ikatan rangkap tiga gas nitrogen. b. melainkan hams ditransformasikan terlebih dahulu oleh bakteri dan jamur (Goldman dan Home.

Sebaran secara vertikal nitrogen berdasarkan tingkat kesuburan perairan (Goldrnan clan Home. Sumber utama nitrogen antropogenik di perairan berasal dari wilayah pertanian dan perikanan yang menggunakan pupuM pakan buatan secara intensif maupun kegiatan domestik (Effendi. dan pengendapan (sedimentasi). Fiksasi nitrogen berdasarkan kedalaman mirip dengan proses fotosintesis. dan molekul nitrogen m). yaitu reduksi nitrat menjadi nitrit. Denitrifikasi. Transformasi nitrogen yang tidak melibatkan faktor biologi adalah volatilisasi. 02 I I Konsentrasi (mgll) Oligotropik Epitimoion (acrob) (Nitrit sengat keeil) Gambar 2. Sebaran vertikal nitrogen berdasarkan tingkat kesuburan perairan menurut Goldman dan Home (1983) disajikan pada Gambar 2.Proses reduksi nitrat berjalan optimum pada kondisi anoksik (tak ada oksigen). r~ 0 O. Proses ini juga melibatkan bakteri dan jamur. Dinitrogen oksida adalah produk utama dari denitrifikasi pada perairan dengan kadar oksigen sangat rendah. dinitrogen oksida (NzO). 2003). dan cahaya matahari yang t i n g ~ menjadi maksimum pada kedalaman tertentu dan menurun drastis secara . NI&.e. penyerapan. Proses ini akan meningkat pada danau yang telah mengalami eutrofikasi (Goldman dan Home. dan No3 baru bisa dimanfaatkan oleh turnbuhan dan hewan. 1983). 1983) Nitrogen hams dirubah terlebih dahulu menjadi NH2. Pada intensistas proses fiksasi akan terhambat pada permukaan. sedangkan molekul nitrogen adalah produk utama dari proses denitrifikai pa& perairan dengan kondisi anaerob.OI Konsentrasi (mgn) I .

Fiksasi nitrogen berkorelasi positif dengan konsentrasi bahan organik terlarut yang terdapat pada perairan (Wetzel. 1989 dalam Effendi. ammonia bebas (NH3) tidak dapat terionisasi. NH3-N yang bersifat terlarut dan nitrogen organik yang terlarut maupun berupa partikulat yang tidak larut dalam air (Mackereth.ekponensial dengan bertambahnya kedalarnan. sedangkan pada keadaan perairan basa (alkaline) jumlahnya akan meningkat (Goldman dan Home. 1. biasanya berupa partikdat yang tidak larut dalam air. Pada keadaan perairan yang asam persentase dari m 0 H menurun. dan akan terpecah menjadi ammonium (NN4') dan ion hidroksida (OH-) seperti persamaan kesetimbangan kimia di bawah ini (Goldman dan Home. 1983). Ammonia Total (NH3 dan NI&+) ~~43. asam amino. Nitrogen organik adalah bentuk nitrogen yang terikat pada senyawa organik terutama nitrogen bewalensi tiga. Gas ammonia (NH3) dapat dengan mudah terlarut dalam air dan inembentuk ammonium hydrosida @ELOH). Proporsi konsentrasi keduanya dipengaruhi oleh pH dan temperatur perairan (Wetzel. NO*-N. 2003). 2003). 2003). menyebabkan kerentanan organisme terhadap daya racun ammonia meningkat (Goldman dan Home. sedangkan ammonium m+) dapat Ammonia yang terukur di perairan berupa ammonia total (NHj dan teroinisasi (Effendi. 1983). 1983): Ammonia yang tidak terionisasi (NH3) sangat bersifat toksik bagi ikan dibandingkan amonia yang terionisasi (3 - yang relatif non-toksik. dan senyawa lainnya (Effendi. Effendi (2003) menyatakan pada pH 7 atau kurang sebagian besar ammonia mengalami ionisasi dan p1-I yang lebih besar dari 7 ammonia tidak terionisasi. 1983). 1983). Nitrogen organik mencakup protein. Kadar ammonia yang tinggi mengakibatkan peningkatan komsumsi oksigen. polipeptida. Pada malam hari ketika kandungan oksigen rendah atau ketika kebutuhan oksigen untuk dekomposisi melebihi dari produksi fotosintesis. mengakibatkan kerusakan pada . urea. Nitrogen total adalah penjumlahan dari nitrogen anorganik berupa N03-N.

1982). dan doinestik (Effendi.insang. 1983). 2003) Distribusi ammonia di perairan tawar sangat bervariasi menwut musim. Oligotropik Eutropik Gambar 3. Sebaran vertikal ammonia berdasarkan kesuburan perairan (Wetzel. Melalui proses amonifikasi atau pemecahan nitrogen organik (protein dan urea/ pupuk) dan nitrogen organik yang terdapat di dalam tanah dan air. 1975). yang berasal dari dekomposisi bahan organik (tumbuhan dan biota akuatik yang telah mati ) oleh mikroba dan jamur. Metabolisme manghasilkan dua produk utama yaitu karbodioksida (COz) dan ammonia (NH& dengan ammonia selatar 10 sampai 30 bagian dari total CO* yang dihasilkan (Wright et. Boyd (1982) menyatakan bahwa ammonia yang terdapat di perairan dapat berasal dari pemupukan. ekskresi dari ikan (tinja). 2001). dan masukan buangan berupa bahan-bahan organik..5 mgliter (Sylvester.2001). Kadar amonia yang baik untuk kehidupan ikan dan organisme akuatik lainnya adalah kurang dari 1 mg/iiter (Pescod. Ammonia dihasilkan sebagai produk akhir dari dekomposisi bahan-bahan organik oleh bakteri heterotrop (Wetzel.al. Pada perairan alami nilai amonia yang dapat ditolerir organisme sebesar 1. . 1973 dalam Wardoyo. 1983). Gambar 3 adalah sebaran vertikal ammonia bedasarkan tingkat kesuburan perairan (Wetzel.02 m g l (Peraturan Pemerintah. 1983). Noinor 82. 1983). dan dari pembusukan mikroorganisme. Untuk keperluan perikanan dan peternakan batas maksimum ammonia bebas yang dperbolehkan adalah 0. dan menurunkan kapasitas transport oksigen oleh darah (Boyd. sangat tergantung terhadap tingkat kesuburan perairan. 1973 dalam Asmawi. Sumber lain adalah reduksi gas nitrogen yang berasal dari proses difusi dari atmosfer. limbah industri.

Ditemukan di perairan dalam jumlah yang sedikit karena bersifat tidak stabil dengan bergantung pada keberadaan oksigen (Effendi. Nitrat (NOS) Nitrat adalah bentuk utama dari nitrogen anorganik di perairan yang masuk melalui permukaan daerah aliran sungai. 3. 2003). Nomor 82.) Nitrit merupakan bentuk peralihan antara amonia dan nitrat (nitrifikasi). Oksidasi amonia menjadi nitrat dilakukan oleh bakteri Nitrosomonas. b.05 mg/l dapat bersifat toksik bagi organisme perairan yang sangat sensitif. reaksi akan bedalan lambat. 2003). 2003). 1983). Nitrat nitrogen sangat mudah larut dalam air dan bersifat stabil. . Pada kadar oksigen terlarut < 2 mgll. dan Nitrobactel: Keduanya adalah bakteri kemotrofik. Krenkel dan Novotny (1980) dalam Effendi (2003) menyatakan bahwa proses nitrifikasi sangat dipengaruhi oleh beberapa parameter sebagai berikut : a.2. dan antara nitrat dan gas nitrogen (denitrifikasi). Nitrit (NO. Kadar nitrit yang melebihi dari 0. c. yaitu hakteri yang dapat mendapatkan energi dari proses kimiawi (Effendi. Pada pH < 6 reaksi akan terhenti. Di perairan kadar nitrit jarang melebihi 1 mg/l (Sawyer dan McCarty. Senyawa ini dihasilkan dari proses oksidasi sempurna senyawa nitrogen di perairan melalui proses nitrifikasi. dan air hujan (presipitasi) (Wetzel. akan di ikat oleh hemoglobin darah sehingga inenggangu penyerapan oksigen oleh hemoglobin. Nilai pH yang optimum bagi proses nitrifikasi adalah 8-9. Nitrifikasi merupakan proses penting dalam siklus nitrogen dan berlangsung dalam keadaan aerob.06 mg/l (Peraturan Pemerintah. Baku mutu untuk kegiatan perikanan batas maksimal nitrit yang diperbolehkan adalah 0. Untuk keperluan air minum. 1978 dalam Effendi 2003). air bawah tanah. 1991 dalam Effenh. Bakteri yang melakukan nitrifikasi cendemg menempel pada sedimen dan padatan lain. WHO merekomendasikan kadar nitrit sebaiknya tidak melebihi 1 mg/l (Moore.2001). Boyd (1982) menyatakan ketika nitrit terabsobsi oleh ikan.

Kadar nitrat pada perairan alami hampir tidak pernah lebih dari 0. namun proses ini akan terus berlangsung sampai kandungan okigen terlarut (DO) sekitar 0. Kadar nitrat untuk keperluan air minum sebaiknya tidak melebihi 10 mg/liter (Davis dan Cornwell. Nitrifikasi dapat terganggu dengan adanya kandungan bahan organik terlarut. 1983).l mg/liter. Keadaan ini dikenal sebagai methemoglobonemia atau blue baby disease (Mason.25 "C. Kadar nitrat melebihi 0. yang selanjutnya menstiinulir pertumbuhan algae dan tumbuhan air secara pesat (blooming). 1991 dalain Effendi. Sedangkan untuk keperluan perikanan sebaiknya tidak melebihi 20 mg/l (Peraturan Pemerintah Nomor 82. Kadar nitrat lebih dari 5 ingiter menggambarkan terjadinya pencemaran antropogenik yang berasal dari aktivitas manusia dan tinja hewan. 2003). 2003). Tetapi konsumsi air yang mengandung kadar nitrat yang tinggi akan menurunkan kapasitas darah dalam mengikat oksigen. 1983). Nitrat tidak bersifat toksik terhadap organisme akuatik. Gambar 4 adalah sebaran vertikal nitrat berdasarkan tingkat kesuburan perairan (Wetzel. kecepatan nitrifikasi berkurang. jika kandungan oksigen terlarut berada di bawah kadar tersebut penyerapan (difusi) oksigen tidak dapat dilakukan lagi oleh bakteri (Wetzel. 1993 dalam Effendi. terutama untuk bayi berumur kurang dari lima bulan.2 ing/liter dapat mengakibatkan terjadinya eutrofikasi (pengayaan) perairan.3 ing/l. Kecepatan pertumbuhan bakteri nitrifikasi lebih lambat dari pada bakteri heterotrof. .2001). Suhu optimum proses nitrifikasi adalah 20 "C . Pada kondisi suhu kurang atau lebih dari kisaran suhu tersebut. Nitrifikasi dapat berjalan pada keadaan aerobik. apabila pada perairan banyak terdapat bahan organik maka pertumbuhan bakteri heterotrof akan melebihi pertwnbuhan bakteri nitrifikasi.d. e.

Amonium bersifat tidak toksik (innocuous). Proses biokimiawi perairan seperti nitrifikasi sangat dipengaruhi oleh nilai pH. pH Tebbut (1992) dalam Effendi (2003) mengatakan bahwa pH adalah satuan yang menggambarkan konsentrasi ion hidrogen.5 proses nitrifikasi akan terhambat (Novonty dan Olem.) berdasarkan tingkat kesuburan perairan (Wetzel. Nilai pH normal suatu perairan danau adalah 6-9 (Goldman dan Home. Amonia lebih mudah terserap kedalam tubuh organisme akuatik dibandingkan amonium. Oleh karena itu proses dekomposisi bahan organik berlangsung lebih cepat pada kondisi pH netral dan alkalis. Dan selanjutnya Effendi (2003) menjelaskan bakteri pada umumnya tumbuh dengan baik pada pH new1 dan alkalis. 1983). Proses nitrifikasi akan berakhir jika pH bersifat asam. Senyawa amonium yang dapat terionisasi benyak ditemukan pada perairan dengan pH rendah. 1983). Pengaruh dari pH bagi konsentrasi amonia tidak terionisasi sangat tinggi dibandingkan pengaruh dari suhu (Boyd.5 . Toksisitas dari senyawa kimia juga dipengaruhi oleh pH.Eutropik Gambar 4. Pada pH 4. Sebaran vertikal nitrat (NO. C. 2003). Pada suasana alkalis (pH tinggi) lebih banyak dite~nukanamonia yang tidak terionisasi (unionized) dan bersifat toksik. 1994 dalam Effendi. Proporsi dari total amonia nitrogen yang tidak terionisasi (NH3) akan meningkat dengan ineningkatnya suhu dan pH. . 1982).5.

1957 dalam Boyd. bahan anorganik yang tidak stabil. Biochemical Oxygen Demand (BOD) Biochemical Oxygen Demand (BOD) adalah banyaknya oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorganisme dalam proses dekomposisi bahan organik (APHA. Oksigen Terlarut (Dissolved Oxygen (DO)) Dissolved oxygen (DO) atau oksigen terlarut dalam perairan merupakan konsentrasi gas oksigen yang terlarut di dalam air yang berasal dari proses fotosintesa oleh fitoplankton atau tumbuhan air lainnya di zone eufotik. serta difusi dari udara (APHA. Effendi (2003) menyatakan bahwa kadar oksigen terlarut juga berfluktuasi secara harian (diurnal) dan musiman. Peningkatan suhu sebesar 1 "C akan meningkatkan konsumsi oksigen sekitar 10% (Brown. dan pergerakan (turbulance) massa air. 2005). Tipe ini terjadi pada danaul waduk yang produktif (eutrofik) yang kaya unsur hara dan bahan organik. 2003). Sebaran vertikal dari oksigen terlarut secara umum berbanding terbalik dengan kandungan C02 di air (Reid. konsentrasi oksigen semakin menurun dengan bertarnbahnya kedalaman. Tahap pertama. 1987). Kelarutan oksigen akan semakin berkurang dengan bertambahnya suhu (Effendi. Secara vertikal distribusi oksigen akan menurun di perairan seiring dengan bertambahnya kedalaman. 1989). misalnya amonia mengalami . tergantung pada pencampuran (mixing).D. Ammonia sangat bersifat toksik jika kandungan oksigen terlarut di perairan rendah (Merkens dan Downing. Selanjutnya Effendi (2003) menjelaskan penghilangan oksigen pada bagian dasar perairan lebih banyak disebabkan proses dekomposisi bahan organik yang membutuhkan oksigen terlarut. E. aktivitas fotosintesis. Pada tahap kedua. 1989). bahkan telah habis sebelum mencapai dasar (Goldman dan Home. respirasi. dan limbah (efluent) yang masuk ke badan air. 1991) Distribusi vertikal oksigen di Waduk Cirata digolongkan tipe Clinograde. 1983 dalam Octaviany. bahan organik diuraikan menjadi bahan anorganik. Dekomposisi bahan organik pada dasarnya terjadi melalui dua tahap. Dekomposisi bahan organik dan oksidasi bahan anorganik dapat mengurangi kadar oksigen terlarut hingga mencapai no1 (anaerob). 1982).

dan pada limbah industri dapat mencapai 60. Keberadaan bahan organik yang tinggi dapat berasal dari alam ataupun dari aktivitas rumah tangga.9 5-15 I Tidak tercemarl tercemar sangat ringan Tercemar ringan Tercemar sedang Tercemar berat - > 15 F. Cltenrical Oxygen Demand (COD) Chemical Oxygen Demand (COD) menggambarkan jumlah oksigen total yang diperlukan untuk mengoksidasi bahan organik secara kimiawi.. 1992 dalam Effendi. Lee et al. Kriteria kulitas air berdasarkan nilai BOD (Lee et al.. BOD hanya menggambarkan bahan organik yang dapat didekomposisi secara biologis (biodegradable). Tabel 1. 2003). Bahan organik ini dapat berupa lemak. glokusa. dan sebagainya. baik yang dapat didegradasi secara biologis (biodegradable) maupun yang sulit didegradasi secara biologis (non-biodegradable) menjadi COz dan Hz0 (APHA. BOD mengambarkan kadar bahan organik yang berada di perairan (Effendi. kanji. aldehda. sedangkan pada perairan yang tercemar biasanya dapat lebih dari 200 mglliter. 1978 dalam Feriningtyas. 2003). 1989). Nilai BOD yang besar tidak baik bagi kehidupan organisme (Tabel 1).000 mg/liter O]NESCOiWHO/UNEP. protein. Secara tidak langsung. ester. Nilai COD pada perarian yang tidak tercemar biasanya kurang dari 20 inglliter. (1978) dalam Feriningtyas (2005) mengelompokkan tingkat pencemaran bahan organik berdasarkan nilai BOD 13 3 4. Perairan yang memiliki nilai COD tinggi tidak diinginkan bagi kepentingan perikanan dan pertanian. 2005) Nilai BOD (mgniter) Kriteria kualitas air perairan. pertanian dan industri. .oksidasi menjadi nitrit dan nitrat.

Effendi (2003) menyatakan bahwa peningkatan suhu menyebabkan peningkatan metabolisme dan respirasi organisme air. hypolimnion adalah lapisan bagian bawah yang lebih dingin. Peningkatan suhu juga menyebabkan penurunan kelarutan gas dalam air (Haslam. Effendi (2003) menyatakan. Lapisannya di bedakan antara lain. Kekeruhan disebabkan oleh adanya bahan organik dan anorganik yang tersuspensi dan terlarut (misalnya lumpur dan pasir halus). reaksi kimia. evaporasi. Suhu Suhu dapat menentukan kandungan oksigen dalam perairan. epilimnion adalah lapisan bagian atas yang lebih hangat. dirnana semakin tinggi suhu maka semakin rendah oksigen yang terlarut (Fardiaz. Kekeruhan pada perairan tergenang (danadwaduk) lebih banyak disebabkan oleh bahan tersuspensi yang berupa koloid dan partikel-partikel halus (Effendi. 2003) H. Peningkatan suhu mengakibatkan peningkatan viskositas. 1989). Proses dekomposisi biasanya lebih menyukai suhu yang hangat. Kekeruhan Kekeruhan inenggambarkan sifat optik air yang ditentukan berdasarkan banyaknya cahaya yag diserap dan dipancarkan oleh bahan-bahan yang terdapat d~ dalam air. Thermoklin adalah lapisan air yang berada diantara lapisan permukaan yang lebih hangat (epilimnion) dan lapisan dasar yang lebih dingin (hipoli~nnnnion) (Hehanusa dan Haryani. dan selanjutnya mengakibatkan peningkatan konsumsi oksigen. 2001). (Effendi. Peningkatan suhu juga menyebabkan terjadinya peningkatan dekomposisi bahan organik oleh mikroba. dan volatilisasi. 1983). Kecepatan dekomposisi meningkat pada kisaran suhu 5-35 OC. 2003) . Pada kisaran ini peningkatan 10 "C suhu meningkatkan proses dekomposisi dan konsumsi oksigen dua kali lipat. Suhu dapat inenyebabkan stratifikasi pada danadwaduk. 1992). 1995).G. maupun bahan anorganik dan organik yang berupa plankton dan mikroorganisme lain (APHA. dan metalimnion dengan thermoklin diantara kedua lapisan tersebut (Goldman dan Home. pada lapisan thermoklin terjadi penurunan suhu secara tajam.

yang berisikan tentang klasifikasi dan kriteria mutu air. yang terutama disebabkan oleh kikisan tanah atau erosi tanah yang terbawa ke badan air. pembudidayaan ikan air tawar. petemakan . air yang peruntukannya dapat digunakan untuk pembudidayaan ikan air tawar. Kelas tiga. Kelas satu. TSS terdiri dari lumpur dan pasir serta jasadjasad renik.80 81 . Total Suspended Solid (TSS) Padatan tersuspensi total (Total Suspended Solid atau TSS) adalah bahanbahan tersuspensi (diameter > lpm). Baku Mutu Kualitas Air Peraturan Pemerintah Nomor 82 tahun 2001. Kesesuaian perairan untuk kepentingan perikanan berdasarkan padatan tersuspensi (TSS) (Effendi. Kesesuaian perairan untuk kepentingan perikanan berdasarkan padatan tersuspensi ditunjukkan dalam Tabel 2 Tabel 2. yang me~npersyaratkan c. dan atau peruntukan lain yang imempersyaratkan mutu air yang sana dengan kegunaan tersebut. sesuai dengan bunyi dari pasal 8 ayat 1. 2003) Pengaruh terhadap kepeutiugan perikanan Nilai TSS (mgiter) < 25 Tidak berpengaruh Sedikit berpengaruh Kurang baik bagi kegiatan perikanan Tidak baik baik bagi kegiatan perikanan 25 . 2003).I. air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air bakti air minum. tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. b.400 > 400 J. petemakan. mutu air dikelompokkan menjadi einpat Masifikasi sebagai berikut : a. Nilai TSS yang tinggi di suatu perairan dapat menurunkan intensitas cahaya matahari sehingga dapat menurunkan aktivitas fotosintesis (Effendi. air untuk imengairi . Kelas dua. dan atau peruntukkan lain 111utuair yang sama dengan kegunaan tersebut.air untuk mengairi pertanaman. air yang peruntukannya dapat digunakan untuk prasaranalsarana rekreasi air.

Kelas empat.pertanaman. dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan air yang sama dengan kegunaan tersebut. Tabel 3. d. air yang peruntukannya dapat digunakan untuk mengairi. Kriteria Mutu Air menurut Peraturan Peinerintah Nomor 82 Tahun 2001 Kelas I Parameter Satuan n Fisika rn N Keterangan I I bes untuk ikan . Knteria baku mutu air berdasarkan setiap klasifikasi air ditunjukkan di dalam Tabel 3.pertanaman dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.

mineral. bersifat tersuspensi. Sedimen Sedimen adalah partikel batuan.1983). dan keluar dari sedimen menuju kolom perairan (Goldman dan Home. Bakteri denitrifikasi ditemukan pada sedimen yang anoksik ketika nitrat terdapat pada sedimen tersebut. Penjerapan air mengakibatkan air tertahan dalam pori-pori tanah pada daya tarik permukaan koloid oleh adanya tekanan permukaan kapiler serta daya tarik menarik ion-ion. yang masuk ke badan perairan (Effendi. Gas nitrogen bercampur dengan gelembung-gelembung methan. Pada danau eutropik sering terjadi perpindahan nitrogen dari sedimen yang anoksik melalui gelembung-gelembung methan hasil proses pembusukan. Kation yang m m terdapat dalam u larutan tanah adalah H+. baik kation maupun anion. molekul organik dapat . Kation organik sebagian besar terjerap pada permukaan negatif liat. dimana merupakan sumber nitrogen sedimen (Goldman dan Home. 1998) i: Penjerapan adalah pelekatan suatu zat padat pada permukaan koloid tanah. 1991). Koloid tanah adalah bagian tanah yang terdiri atas butir-butir yang berukuran sangat halus. sedangkan anion-anion organik lebih terjerap oleh bidang-bidang patahan permukaan liat. Sebaliknya jika keasaman menurun. Sedimen meliputi tanah dan pasir. Koliod tanah dapat menjerap anion. Larutan tanah inengandung berbagai zat terlarut. 1983). dari udara. Urea hasil ekskresi akan dikonversi ke bentuk ammonia oleh bakteri-bakteri di dalam tanah (Goldman dan Home. atau bahan organik yang hendapkan dari air yang mengalir. 1 ~Fe3+. atau angin (Hehanusa dan Haryani. 2001). sehingga terbentuk ruang antar lapisan yang mengandung air (Depdikbud. ~ a + . Senyawa organik tidak berrnuatan diketahui belakangan ini dapat dijerap oleh minerat-mineral Iiat. ca2*. Banyak zat terlarut berbentuk ion. 1983). (Notohadiprawiro. Kf. Liat dengan perrnukaan dalam (internal) yang luas mampu menjerap air di dalam ruang antar lapisannya. anaerob). Di dalam penjarapan. dan jumlah jerapan ini semakin besar jika keasaman tanah meningkat. M$. maka jumlah jerapan ion akan rendah.K. Fe2+(dalam suasana ~ + . Bahan bahan organik yang berbentuk partikel suspensi akan mengendap pada dasar sedimen. M? NJ&*. 2003). (dalam suasana aerob).

tanah dapat dikelompokkan menjadi beberapa tingkat kemasaman dan kebasaan (Gambar 5). . 8 B--------+Kisaran pH Kisaran pH tanah daerah tanah daerah bilsah kcring Kisaran ekstrim dari pH kcbanyakan tanah mineral . 1991). Berdasarkan nilai pH. Sebaliknya senyawa organik yang tejerap sering dapat bertukar melalui pencucian dengan air (Depdikbud. 2001). Nitrogen organik dibebaskan dalam bentuk ammonium (w'). Tanah gambut . Sedimentasi Waduk Cirata Waduk Cirata telah mengalami proses sedimentasi yang cukup tinggi. . Ion ammonium m) lebih reaktif dibandingkan ion i nitrat (NO3-).000 unit dan setiap harinya meinbuang 1 menampung kelebihan pakan ikan (pelet) sekitar 50 ton ke dasar waduk (Suryadiputra dan Ratnawati.Hanya dijnmpai :pada tanah s alkalin ' Gambar 5. 2000). 1991) L. dan bila keadaan baik akan dioksidasi menjadi nih-it (NOz) dan nitrat (NO3). Tingkat Kernasaman pH Tanah (Depdikbud. Sedimen dari sisa pakan maupun kotoran ikan dari hasil .menggantikan air yang terjerap oleh liat. sedangkan nitrat lebih stabil pada keadaan aerob. Sangat ekstrim. Ammonium akan bereaksi secara cepat dengan muatan negatif dari liat dan membentuk ikatan yang komplek dengan logam dan senyawa organik (Tan. disamping mendapatkan pasokan limbah dari Sungai Citarum clan Waduk Saguling juga karena keberadaan Karamba Jaring Apung (KJA) yang saat ini jumlahnya sekitar 40. Sebagian besar nitrogen organik dalam tanah didekomposisi menghasilkan nitrogen anorganik. Ammonium pada keadaan anaerob lebih stabil. Dekomposisi inerupakan proses biokimia kompleks yang melepaskan C02.

Sedimen dengan jurnlah yang tinggi dalam air akan sangat merugikan. Buangan sisa pakan dan kotoran ikan berlebihan akan berpengaruh negatif terhadap kualitas air diantaranya dapat meningkatkan kandungan amonia. 1992). zat asan. Sedimentasi di perairan waduk yang ada kegiatan budidaya (KJA) bisa 6 sampai 15 kali dibandingkan perairan yang tidak ada kegiatan perikanannya (Umar. 2001) Secara kimia sediinen dapat menyumbang beberapa parameter kimia seperti logam berat. zat-zat kimia berbentuk gas. amonia. dan bahan organik yang tidak terkendali. Kartamihardja. flukh~asipH yang sangat lebar. 1995). ha1 ini bersifat sangat racun bagi kehidupan biota perairan.budidaya (KJA) Waduk Cirata akhirnya akan menumpuk di dasar perairan dan selanjutnya mengalami dekomposisi atau penguraian. oksigen yang rendah. Tanah dan sedimen berperan utama dalam penyerapan (adsorbsi) zat-zat kimia berbentuk ionik. serta bahan organik d m anorganik (Connel dan Miller. karena dianggap perairan tersebut telah terpolusi (Ferdiaz. . HzS yang cukup tinggi. clan Supriyadi. partikel-partikel tanah. dan HzS.

Kedalaman masing-masing stasiun secara . Terdiri dari empat titik sampling (Gambar 6 ) . Jawa Barat. Skala 0 2 Ktlomoler Gambar 6. Peta lokasi penelitian (sumber : DKP 2007) Stasiun 1 terletak di inlet Sungai Citanun. stasiun 3 terletak di daerah Pasir Pogor dengan junlah KJA padat. Pengambilan sampel dilakukan antara bulan Juli sampai bulan September 2006. Kedalaman pada setiap stasiun berbeda-beda.METODE PENELITIAN U A. stasiun 2 terletak & daerah Pluinbon yaitu daerah dengan jumlah KJA sedang.L . dan stasiun 4 yang terletak di oulet waduk (Lampiran 16). Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini berternpat di Waduk Cirata. karena setiap stasiun memiliki kontur waduk yang berbeda.

9 meter dengan kedalaman maksimum mencapai 106 meter. pereaksi untuk analisis nitrat antara lainphenoldisulfonic acid. Van Dorn salnpler untuk pengambilan contoh air.00 mgll (5 ppm). B. . thermometer raksa untuk mengukur suhu perairan. standart nitrate solution.025 N. pereaksi untuk analisis kandungan Ammonia-Nitrogen (metode Indophenol) antara lainphenate (phenol). Ekman Grab untuk mengambil sedimen waduk. 13 meter (stasiun 2). pereaksi untuk analisis COD antara lain larutan Potassium dichromate 1 N. Sedangkan untuk analisis sedimen bahan-bahan (reagen) yang digunakan antara lain. NED (Coupling reagent). calcium hydroxide powder. Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk analisis kualitas air antara lain. larutan standar Nitrit-N 1. pereaksi untuk analisis oksigen terlarut (metode Winkler) antara lain suljh-mic acid. dan mangan sulfat. chloride solution. HzS04 (pekat). Pada pengamatan bulan Agustus dan September pada inlet waduk di stasiun 1 banyak dijtnnpai tumbuhan Eceng Gondok yang menutupi sebagian besar permukaan inlet waduk. 19 meter (stasiun I). pereaksi untuk analisis kandungan Nitrit-Nitrogen (metode Sulfanilamide) antara lain sulfanilamide (diazotizing reagent).berturut-turut antara lain.00 mgll (1 ppm). copper su&t solution. Kedalaman rata-ratanya sekitar 34. chlorox (oxidizing solution). ammonium hydroxide. Pennukaan air waduk pada saat pengamatan mengalami penyusutan (Lampiran 17). larutan standar Nitrat-N 5. Ferrous Ammoniurn Sulfat (FAS). dan untuk pereaksi untuk analisis kandnngan Nitrat-Nitrogen (metode Bn~cine) antara lain larutan Brucine. NaOH + KI. DO meter. Na-tkiosulfnt. sodium carbonate. pHmeter untuk mengukur pH perairan. Mn04. dan botol sampel untuk menyimpan sampel air untuk di analisis di laboratorium. Alat dan Bahan Alat-alat yang digunakan antara lain. dan indikator Ferroin. dan 25 meter (stasiun 4). botol DO gelap untuk analisis BOD (Biochemical Oxygen Demand). larutan Potassium dichrornate 0. magnesium carbonate powder. standart amonium. 62 meter (stasiun 3). pereaksi untuk analisis ammonia antara lain nessler reagent. HzS04.

Penentuan Lokasi Penelitian Lokasi pengainbilan sampel dilakukan di empat titik (Gambar 6). nitrit. Sedangkan sampel sedimen langsung lmasukkan plastik. kecerahan. dan pada kedalaman dekat dasar (interfase) yaitu 1 meter di atas dasar waduk. nitrat. . 3. ammonium. 30 m) disesuaikan dengan kedalaman setiap stasiun. BOD. kekeruhan. Untuk analisa kulitas air secara in situ antara lain: oksigen terlantt (DO). TSS. Sedangkan analisa kualitas air secara ek situ (di laboratorium) untuk parameter seperti. Sampel diambil satu kali setiap bulan. C. Pengambilan sampel dilakukan pada siang sampai sore hari. Kedua sampel selanjutnya di analisis di laboratorium. yaitu : inlet waduk (stasiun I). Pengambilan Sampel Untuk pengambilan sainpel air dilakukan dengan menggunakan Van Dorn sampler pada kolom perairan dengan interval 10 meter secara vertikal sampai dengan kedalaman 30 meter (0 m. Penentuan lokasi penelitian didasarkan pada kepadatan sebaran KJA yang terdapat pada waduk Cirata. 2. Air sampel yang didapat langsung diawetkan dengan pendinginan dan pemberian H2S04. ammonia.sedangkan pereaksi untuk analisis nitrogen total antara lain sulfuric acid. daerah KJA padat yang terletak di daerah Plunzbon (stasiun 3). granular pumice. Metode Analisis Kualitas Air dan Sedimen Analisis kualitas air llakukan secara in situ (pengukuran langsung) maupun di laboratorium. daerah KJA sedang yang terletak di daerah Pasir Pogor (stasiun 2). sodium hydroxide. Metode Kerja 1. pH. sodium carbonate. Pengambilan sampel ini dimaksudkan untuk melihat sebaran vertikal nitrogen di kolom perairan dari permukaan hingga dasar waduk. dan suhu. dan N-total. 10 m. antara bulan Juli sampai bulan September 2006. COD. 20 m. Sedangkan pengambilan sampel sedimen dilakukan dengan lnenggunakan Ekman Grab pada setiap stasiun. dan outlet waduk (stasiun 4). nessler 's reagent.

Tekstur 3-Fraksi dan pH. Departemen Tanah. Parameter / I Satuan / I Metode Keterangan KUALITAS AIR Pisika Kedalaman Suhu Kekemhan TSS Kimia Oksigen terlarut (DO) BOD COD Ammonia Total Nitrit mg/l mg/l mdl mg/l ir~ situ DO meter laboratorium Modifikasi Winkler laboratorium Refluks Terbuka Spectrofotonehic/l.zic acid Kjeldhal pH meter I Laboratorium Laboratorium Laboratorium Laboratorium . kandungan ammonia pada air di sedimen. Institut Pertanian Bogor. 1961). Paraineter. Beberapa parameter yang dianalisis diantaranya : kandungan N-total (nitrogen total) pada tanah. dan lokasi analisis sampel kulitas air (APHA. kandungan nitrat pada air di sedimen. Analisis kualitas air dilakukan di laboratorium Produktivitas Lingkungan. dan sampel sedimen (Chapman dan Pratt. Jenis parameter kualitas air dan sedimen yang dianalisis beserta satuan dan aladmetoda serta lokasi analisisnya dapat dilihat pada Tabel 6. Fakultas Pertanian. Sedangkan Analisis kualitas sedimen dilakukan di Iaboratorium Tanah. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan. 1989).tdophenol laboratorium Spectrofoton~etric/Str[fa~~ilmlide laboratorium &traotomehic/Bnrcine laboratorium laboratorium Kjeldhal pH-meter iii sifu m "C NTU mdl Penykuran Pemuaian Turbidimeter Gravimetrik I in silu in situ laboratorium laboratorium I 1 I mg/l mdl I - Fisika Tekstur 3-Fraksi Kimia Ammonium Nitrat N-Total pH % Pipet Laboratorium / mg/l mgll % / Nessler Phenoldiszc[fo. metode. Tabel 4.Untuk analisis kualitas sedimen dilakukan secara ek situ (di laboratorium).

N03. Selain analisa secara deskriftif. Selanjutnya dari setiap data dibagi menurut stasiun dan kedalaman. a. kedalaman. Analisis Data Kualitas Air Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis dengan Rancangan PetakTerbagi (Split-Plot Design) untuk melihat pengaruh dari stasiun. Peraturan Pemerintah No. dan waktu ditentukan jumlah datanya untuk menganalisis ragam menggunakan tabel sidik ragam. kemudian bagi dengan jumlah data untuk inendapatkan Faktor Koreksi (C).. parameter-parameter utama (NH3. Jumlahkan semua data lalu dikuadratkan. Hal ini dikarenakan setiap stasiun memiliki kedalaman tersebut. 82 Tahun 2001 tentang: Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Penceinaran Lingkungan. suhu. COD. dan Rancangan Acak Kelompok (RAK) untuk data sedimen waduk. pH. Selanjutnya dari setiap stasiun. Terlebih dahulu data dikelompokkan menurut waktu pengambilan sampel dan waktu diasumsikan sebagai kelompok. dan waktu. 10 m. kekeruhan. (Y . 1993) : 1..12 Hitung Faktor koreksi (C) = . Adapun langkah-langkah untuk menentukannya adalah sebagai berikut (Steel dan Torrie. dan TSS) serta dengan baku mutu yaitu. Kedalaman yang digunakan antara lain kedalaman 0 m. Ntotal) dibandmgkan dengan parameter pendukung (suhu. NOz. oksigen terlarut (DO). dan kedalaman diasumsikan sebagai faktor B. dan akan disajikan secara deskriptif. Analisis Data Data yang diperoleh dari hasil pengukuran kualitas air dan sedimen ditampilkan dalam bentuk tabel dan grafik. dan interfase (kedalaman dekat dasar). BOD.4. Sedangkan untuk melihat pengaruh secara temporal dan spasial data akan dianalisis dengan menggunakan Rancangan PetakTerbagi (Split-Plot Design) untuk data kualitas air. kedalaman. Untuk stasiun diasumsikan sebagai faktor A.

d.. keinudian kurangi dengan faktor koreksi (C) untuk mendapatkan Junlah Kuadrat Total (JKT).C tjk VP a. Menghitung Jurnlah Kuadat (galat(A)) dengan mengurangi JK(petak utama) dengan JK(ke1ompok) dan JK(A).JK(A) . Menghitung Jumlah Kuadrat (petak utama) dengan menjumlahkan data pada setiap waktu pengambilan sampel lalu kuadratkan. c. JK(petak utama) = c$. Jumlah Kuadrat Total ( K T ) = 3. selanjutnya bagi dengan jumlah waktu pengambilan sampel dan kurangi dengan faktor koreksi (C). Kerjakan analisis petak utama : 2$ .2.1b . setelah itu bagi dengan jumlah data yang ada pada satu stasiun dan kurangi dengan faktor koreksi (C). JK(ga1at (A)) = JK(petak utama) . Kuadratkan masing-masing data lalu jumlah semua kuadratnya. i 1. JK(ke1ompok = waktu) = z y 2 lab -C . Menghitung Jumlah Kuadrat (kelompok) dengan menjumlahkan data menurut waktu pengambilan sarnpel yang sama kemudian jumlahkan waktu yang sama pada setiap stasiun lalu dikuadratkan.JK(ke1ompk) . setelah itu bagi dengan jumlah data yang ada pada setiap waktu pengamatan yang sama dan kurangi dengan faktor koreksi (C).C ii V b. setelah itu dijumlahkan kuadratnya. Menghitung Jumlah Kuadrat (stasiun) dengan menjumlahkan data setiap stasiun pengamatan lalu kuadratkan dan jumlahkan kuadratnya.

3.: kedalaman tidak berpengaruh (PI = P2 = . kerjakan analisis anak-petak : a. Menghtung Jumlah Kuadrat (kedalaman) dengan menjumlahkan data setiap kedalaman kemudian kuadratkan hasilnya.JK(B) . lalu bagi dengan jumlah data yang ada disetiap kedalaman setelah itu kurangi dengan faktor koreksi (C)...JK(B) c.. Pengaruh kedalaman pengambilan sampef terhadap kandungan nitrogen: H. Adapun hipotesis yang akan diuji adalah sebagai berikut : 1. JK(AB) = cy2. setelah itu kuadratkan hasilnya dan dijumlahkan.JK(petak utama) . Pengaruh waktu pengambilan sampel terhadap kandungan nitrogen: K:waktu tidak berpengaruh (yl = y2 = .=ai = 0) HI: stasiun memberikan pengaruh nyata (minimal satu stasiun. Menghitung Jumlah Kuadrat (AB) dengan menjumlahkan data setiap kedalarnannya menurut setiapnya masing-masing.= Pj = 0) HI: kedalaman memberikan pengaruh nyata (minimal satu stasiun (pj# 0)) 3. JK(B).. JK(B = kedalaman) = k 2 ykI ra .JK(A) Selanjutnya setelah langkah-langkah perhitungan di atas dilakukan masukkan ke dalam tabel sidik ragam untuk mendapatkan nilai F-hitung (Tabel 7). Pengaruh stasiun terhadap kandungan nitrogen Ho: stasiun tidak berpengaruh (al = a 2 = . kemudian kurangi dengan faktor koreksi (C) dan JK(A) serta JK(B).C b.. dan JK(A).I Jk ~k r- c . (a i # 0)) 2. Menghitung Jumlah Kuadrat (galat@)) dengan mengurangi JK(tota1) dengan JK(petak utama)..=yj = 0) HI: waktu memberikan pengaruh nyata (minimal satu stasiun (y. JK(ga1at @)) = JK(tota1) . lalu bagi dengan jumlah data yang ada di setiap menurut stasiunnya.. # 0)) ..JK(A)..

1993) Keterangan : a =jumlah stasiun pengambilan sampel b =jumlah kedalaman pengambilan sampel r = jumlah kelompok (waktu pengambilan sampel) Selanjutnya nilai F-hitung dibandingkan dengan F-tabel. maka terima x: terdapat perbedaan yang tidak nyata antar perlakuan (stasiun dan kedalaman) dengan kandungan . maka tolak H.Tabel 5. Jika hasil sidik ragam menunjukan adanya perbedaan yang nyata akibat perlakuan. kedalaman. Jika F-hitung nitrogen. Tabel Sidik Ragam Rancangan Petak-Terbagi (Steel dan Tonie. dan waktu pengambilan sampel terhadap kandungan nitrogen perairan berdasarkan kaidah keputusan dibawah ini : Jika F-hitung > F-tabel. maka dilakukan uji lanjutan menggunakan metode uji lanjutan Beda Nyata Terkecil (BNT) untuk mengetahui perlakuan mana yang memberikan pengaruh berbeda nyata terhadap kandungan nitrogen periaran. Langkah-langkah perhitungan uji BNT adalah sebagai berikut : < F-tabel. : terdapat perbedaan yang nyata antar perlakuan (stasiun dan kedalaman) dengan kandungan nitrogen. untuk mendapatkan bagaimana pengaruh stasiun. pada selang kepercayaan 95 %.

a. maka tolak Ho Jika d < BNTa. 1995): 1.bds) keterangan : t a / 2 n KTS dbs Kaidah keputusan : = Nilai dati tabel t ( a =5 %) = Banyaknya ulangan = Kuadrat = Derajat tengah sisa bebas sisa * Jika d > BNT a . dan pada kolom ditentukan data menurut waktu. Menentukan nilai uji BNT. Data yang diperoleh disusun bedasarkan stasiun dan waktu pengambilan sampel. Pada baris ditentukan data menurut stasiun. kemudian kurangi dengan hasil b a a jumlah total data yang dikuadratkan dengan jumlah semua data yang ada. Selanjutnya data tersebut dijumlahkan untuk menentukan analisis ragamnya dengan menggunakan tabel sidik ragam (Tabel 8). Menghitung Jumlah Kuadrat Baris (JKB) dengan menjumlahkan Qta berdasarkan setiap stasiun lalu &kuadratkan. 2. BNTaEt(a/2. maka gaga1 tolak Ho b. d = lyi-yjj b. . data sedimen dianalisis dengan inenggunakan Rancangan Acak Keloinpok (RAK). setelah itu kurangi dengan hasil bagi jumlah total data yang dikuadratkan dengan jumlah semua data yang ada. Analisis Data Sedimen Berbeda dengan analisa kualitas air. Langkah-langkah menentukan RAK adalah sebagai berikut (Walpole. Menentukan perbedaan rata-rata atribut dengan membandingkan ratarata perlakuan dengan masing-masing perlakuan. kemudian bagi dengan jumlah data yang ada pada setiap stasiun. Menghitung Jumlah Kuadrat Total ( K T ) dengan mengkudratkan masingmasing data kemudian dijumlahkan.

l)(r . Tabel Sidik Ragam Rancangan Acak Kelompok (Walpole. 1995) Sumber Keragaman Nilai tengah Stasiun Nilai tengah Waktu Galat I Derajat Jurnlah Kuadrat Bebas (db) (JJQ Kuadrat Teugah WT) JKB KTB = (r . 4.1) KG KT JKG (c . Menghitung Jumlah Kuadrat Galat (KG) dengan mengurangi JKT dengan JKB dan JKK. KG=KT-JKB-JKK Selanjutnya jumlah kuadrat yang telah dihitung disusun kedalam tabel sidik ragam untuk menganalisis ragam. Menghitung Jumlah Kuadrat Kolom (JKK) dengan menjumlahkan data setiap berdasarkan waktu lalu dikuadratkan. seperti yang ditunjukkan pada Tabel 8.1) I Total rc-1 Keterangan : r = jumlah stasiun pengambilan sampel c = jumlah waktu pengambilan sarnpel . kemudian bagi dengan jumlah data yang ada pada setiap waktu pengamatan.1) F-hitung (1.1) (c-1) (r-1-1 I JKB JKK KTB KTG KTK KTG KTK = KTG= I JKK - (C. Tabel 6 . setelah itu kurangi dengan hasil bagi jumlah total data yang dikuadratkan dengan jumlah semua data yang ada.3.

Jika F-hitung 5 F-tabel.: faktor stasiun tidak berpengaruh (al = a2= .= Pj = 0) HI: faktor waktu berpengaruh (minimal satu waktu (Pj# 0)) Selanjutnya nilai F-hitung dibandingkan dengan F-tabel. Pengaruh stasiun (perlakuan) terhadap kandungan nitrogen : H.. P e n g a d waktu pengambilan sampel (kelompok) terhadap kandungan nitrogen: H. maka tolak H.: faktor waktu tidak berpengaruh (PI = P 2 = . : terdapat perbedaan yang nyata antar perlakuan (stasiun dan waktu) dengan kandungan nitrogen.=ai = 0) HI: faktor stasiun berpengaruh (minimal satu stasiun (ai # 0)) 2. Jika hasil sidik ragam menunjukan adanya perbedaan yang nyata akibat perlakuan. BNTa=t(a/2. maka terima %: tidak terdapat perbedaan yang nyata antar perlakuan (stasiun dan waktu) dengan kandungan nitrogen. Menentukan nilai uji BNT... d = lyi-yjl b..bds) keterangan : t cu / 2 n KTS dbs JZEG = Nilai dari tabel t ( a = 5 %) = Banyaknya ulangan = Kuadrat tengah sisa = Derajat bebas sisa . Menentukan perbedaan rata-rata atribut dengan inembandingkan ratarata perlakuan dengan masing-masing perlakuan.. maka dilakukan uji lanjutan lnenggunakan metode uji lanjutan Beda Nyata Terkecil (BNT) untuk mengetahui perlakuan mana yang memberikan pengaruh berbeda nyata terhadap kandungan nitrogen periaran.Hipotesis yang akan diuji adalah: 1. pada selang kepercayaan 95 %.. Langkah-langkah perhitungan uji BNT adalah sebagai berikut : a. sehingga dapat ditarik kesimpulan berdasarkan kaidah keputusan dibawah ini : Jika F-hitung > F-tabel.

Kaidah keputusan : Jika d > BNTa. maka gaga1 tolak Ho . maka tolak Ho * Jika d < BNT a .

I . . sedangkan kandungan ammonia total terendah terjadi pada bulan Juli di stasiun 1 pada permukaan waduk.86 mg/l (Gambar 7 dan Lampiran 1).46 mg/l. Kandungan Nitrogen di Perairan 1.07-4. 40 Y stasiun 1 kedalamao maksimum = 19 meter C rn E 40 60 70 stasiun 2 kedalamnn maksimum = 13 meter $5060 70 0 0 10 Y Konsentrasi (mgil) 2 I<onsentrasi (mgg 4 6 0 2 4 6 .85 mgtl. Rata-rata kandungan di permukaan waduk adalah 0.HASIL DAN PEMBAaASAN v A. Distribusi vertikal ammonia total mengalami penurunan pada setiap kedalanan. sedangkan pada kedalaman interface (dekat dasar) rata-rata kandungannya adalah 1. Kandungan ammonia total ( N H 3 dan N 4 perairan berdasarkan H3 kedalaman pada setiap stasiun dan waktu pengamatan. . Kandungan ammonia total tertinggi selama penelitian terjadi pada bulan September di stasiun 3 pada kedalaman interface (dekat dasar).40 r 60 70 kedalaman maksimum = 62 meter Gambar 7.20 -. Ammonia total (NH3 dan N&+) Kisaran nilai ammonia total berkisar antara 0. z E 30 'U 5 50 Y E m .

sedangkan konsentrasi terendah terjadi pada bulan Juli di stasiun 1 pada kedalaman 10 meter. dengan konsentrasi tertinggi pada bulan Agustus di stasiun 2 pada permukaan waduk..55 mg/l dan meningkat pada kedalaman interface inenjadi 3.72 mg/l menjadi 1.2054 mg/l.2 0.05 01 . .25 0 0 0. dan stasiun 4 konsentrasi rata-rata pada permukaan 0.59 mg/l.5 0.49 mgll rnenjadi 1. --rcAgustus - .20 g 10 30 stasiun 1 ' e 40 stasiun 2 kedalaman mksimum = 13 meter tconsenlrasi (rngll) 50 60 70 Konsentrasi (mgliJ stasiun 3 stasiun 4 I--c Jull Gambar 8. stasiun 2 konsentrasi rata-rata di permukaan sebesar 0.0017-0.76 pada kedalaman interface. Konsentrasi (mgll) 01 .Terjad peningkatan konsentrasi ammonia total pada setiap penambahan kedalaman.1 Konsentrasi (mgfl) 0. 1983). Distribusi vertikal NH3 inenunjukkan penurunan pada setiap penambahan kedalamannya (Gambar 8). konsentrasi rata-rata di permukaan adalah 0. Nilai ammonia bebas (NH3) dan ammonium ( ~ ~ 4 3 dari konversi nilai ammonia total (Lampiran 14). Pada stasiun 1.08 mg/l meningkat menjadi 0. 0 0.2 0.74 mg/l pada kedalaman interface (dekat dasar). stasiun 3 konsentrasi rata-rata di perrnukaan sebesar 0.3 . I September I Kandungan ammonia bebas (NH3) berdasarkan kedalaman pada setiap stasiun dan waktu pengamatan. Ammonia bebas didapat (NH3) yang terukur berkisar antara 0. Ammonia yang terukur pada perairan berupa ammonia total (NH3 dan NW (Goldman dan Home.30 mg/l pada kedalaman interface.

023mgA pada kedalaman interface. dan konsentrasi terendah tejadi pada bulan September di stasiun 1 pada permukaan waduk. didapat kisaran untuk M&+ yaitu sebesar 0. Dari hasil yang diperoleh. 0 2 Konsentrasi (m@) 4 6 Konsentrasi (mgll) 0 0 2 4 6 stasiun 1 10 50 2 X I Z 9 6 40 stasiun 2 kedslaman maksimum = 13 meler 50 a 70 Konsentrasi (mgm 0 2 4 0 2 Konsentrasi (mgfl) 4 6 stasiun 4 kednlnmnn maksimum = 25 meter -+-Jult --P-Agustus -a-September Gambar 9. rata-rata konsentrasi pada permukaan sebesar 0. dengan konsentrasi terbesar terjadi pada bulan September di stasiun 3 pada kedalarnan interface. (H3 N4 . rata-rata konsentrasi pada permukaan adalah 0.828 mgh. interface.017 mgl.028 mg/l pada kedalarnan interface.064 dan menurun menjad 0. Kandungan ammonium perairan berdasarkan kedalaman pada setiap stasiun dan waktu pengamatan. Stasiun 4. Pada stasiun 2.Pada Gambar 8 terlihat bahwa pada setiap penambahan kedalaman konsentrasi NH3 rata-rata menurun di setiap stasiun pengamatan. rata-rata konsentrasi pada permukaan sebesar 0.0659-4. kecuali pada stasiun 1. Sedangkan pada stasiun 1. Stasiun 3.080 mg/l dan menurun menjadi 0.O 13 mg/l pada permukaan menjadi 0.O 15 mg/l pada kedalaman ( ~ ~yang3 4 terukw dapat dilihat pada dan Gambar 9 dan Lampiran 1.031 mg/l dan mengalami penurunan pada kedalaman interface sampai 0. Sedangkan untuk nilai ammonium nilai konsentrasinya mengalami sedikit peningkatan dari 0.

rata-rata konsentrasi pada permukaan sebesar 0. Dan stasiun 4. rata-rata konsentrasi pada permukaan 0.488 mg/l menjadi 3. Amonifikasi dilakukan oleh bakteri heterotrof (Wetzel. rata-rata konsentrasi pada permukaan sebesar 0.067 mgA dan meningkat menjadi 0.Pada grafik terlihat terjadi peningkatan konsentrasi NI%+ untuk setiap penambahan kedalaman. 1983). Bakteri ini akan tumbuh dengan lebih cepat pada kandungan bahan organik yang tinggi dibandingkan bakteri nitrifikasi (Effendi. Stasiun 3. mengklasifikasikan pola sebaran yang demiluan sebagai perairan Eutrofik (Gambar 3). rata-rata konsentrasi pada permukaan 0. Stasiun 2. 1983). Proporsi nilai keduanya dipengaruhi oleh temperatur dan pH perairan (Wetzel. Hal ini terlihat pada konsentrasi ammonia total stasiun 2 dan stasiun 3 yang relatif lebih besar dibandingkan stasiun 1 dan stasiun 4 (Lampiran 1). Bahan organik diduga berasal dari kegiatan budidaya KJA yang terdapat pada waduk yaitu bempa sisa pakan dan feses.457 mgll menjadi 1. Konsentrasi N H 3 yang tinggi pada permukaan waduk disebabkan oleh pH yang juga tinggi pada . Konsentrasi yang meningkat disetiap kedalamannya diduga terjadi akibat proses dekomposisi bahan organik oleh mikroorganisme. sehingga konsentrasi dari ammonia bebas (un-ionised ammonia @GI3)) akan meningkat.643 mg/l dan bertambah menjadi 1. Konsentrasi N& merniliki kecenderungan mengalami p e n m a n . Ammonia total terbag menjadi dua bentuk yaitu ammonia bebas (unionised ammonia (NH3)) dan ammonium (ionised ammonia (~~43). Dekomposisi bahan organik tersebut lebih banyak menghasilkan ammonia dan proses nitrifikasi yang menghasilkan nitrat akan terhambat.725 mg/l pada kedalaman interface. Dari hasil yang didapat. ammonia total memiliki kecenderungan inengalami peningkatan pada setiap penambahan kedalaman. 2003). Wetzel (1983). Pada perairan Eutrofik produktivitas dan kandungan bahan organik tinggi.737 mg/l pada kedalaman interface.269 mg/l pada kedalaman interface. Bahan organik didekomposisi menghasilkan ammonia melalui proses ammonifikasi. Ammonia total tidak terionisasi pada pH lebih besar dari 7 (Goldman dan Home. 1983). Di stasiun 1.568 mg/l pada kedalaman interface. Hal ini terlihat dari nilai BOD pada setiap penambahan kedalaman yang meningkat (Gambar 21). sedangkan N+ memiliki kecenderungan mengalami peningkatan pada setiap penambahan & kedalaman (Gambar 8 dan Gambar 9).

stasiun (2-3). Kandungan ammonia total yang tinggi sangat berpotensi sekali menjadi bahan-bahan toksik. Hal ini sangat berbahaya b a g kegiatan budidaya KJA di Waduk Cirata. Lima pasang stasiun tersebut adalah stasiun (1-3). stasiun (1-2). mengakibatkan kerusakan pada insang. Dari hasil uji lanjutan berdasarkan faktor stasiun (Tabel 7). Hal ini tentunya sangat merugikan bagi kegiatan budidaya KJA yang berada di Waduk Cirata yang kegiatannya berada pada permukaan waduk. Hasil analisis data dengan rancangan Petak-Terbagi (Split-Plot) memberikan keputusan tolak H untuk faktor stasiun (lokasi pengambilan .0474 mg/l. menjelaskan ammonia akan terionisasi pada pH < 7. kedalaman serta waktu yang memberikan konsentrasi yang berbeda. sampel).1982). kedalaman dan waktu yang berbeda nyata dilakukan uji lanjutan BNT. 2001) untuk kepentingan perikanan yang menganjurkan batas maksimat konsentrasi ammonia bebas sebesar 0. dan stasiun (1-4). Kadar ammonia yang tinggi mengakibatkan pe~ngkatan konsumsi oksigen. Dapat dikatakan bahwa NH3 berkorelasi positif dengan kandungan pH perairan. stasiun (3-4). Konsentrasi ini lebih tinggi dari baku mutu (Peraturan Pemerintah Nomor 82. dan menurunkan kapasitas transport oksigen oleh darah (Boyd. Hasil . dan waktu pengambilan sainpel (Lampiran 1). Ammonia bebas @W3) bersifat toksik dibandingkan ammonium (~~43.02 mglt. sehingga dapat dikatakan bahwa konsentrasi ammonium berkorelasi negatif dengan pH perairan. faktor kedalarnan. Karena konsentrasi ammonia total tertinggi rata-rata terdapat pada daerah budidaya KJA (stasiun 2 dan stasiun 3). Goldman dan Home (1983). keputusan tolak H memberikan garnbaran bahwa pada setiap faktor terdapat perbedaan dua atau lebih stasiun. Kandungan pH yang relatif tinggi pada permukaan waduk dapat menyebabkan sebagian besar ammonia total tidak terionisasi sehingga inenghasilkan ammonia bebas (NH3) yang relatif bersifat toksik dari ammonium (~~43. didapatkan ada lima pasang stasiun yang berbeda nyata menurut kandungan ammonia total. Stasiun 3 mengalami perbedaan yang nyata dengan semua . penelitian didapat Dari hasil rata-rata konsentrasi NH3 pada setiap stasiun di permukaan waduk adalah sebesar 0.permukaan waduk dan nilainya semakin menurun setiap penambahan kedalaman. Sedangkan ammonium OF4 konsentrasinya semakin meningkat disebabkan \H3 oleh pH perairan yang semakin menurun. Dan untuk mengetahui stasiun.

85) Rata-rata 10 meter (0. Stasiun 1 memiliki perbedaan kandungan terkecil dengan stasiun yang lainnya.39 0 0 Nilai BNT Keterangan * .42 = berbeda nyata 0. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Ammonia Total perairan (a=0. Tabel 8.1).46) 10 meter (0. dan stasiun 3 memiliki perbedaan kandungan terbesar dengan stasiun yang lainnya.l) Kedalaman 0 meter (0.46) 1.85) Interface (1.99* = 0. kedalaman interface berbeda nyata dengan kedalaman 0 meter. Kedalainan interface berbeda nyata dengan semua kedalaman yang lainnya.38* 0. Tabel 7. Namun penarikan kesimpulan seperti ini tidak bisa dilakukan karena secara statistik masih terdapat interaksi antara faktor stasiun dan kedalaman. Nilai BNT Keterangan * = 0. dan 10 meter (Tabel 10).85) 0 meter (0. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor kedalaman terhadap kandungan Ammonia Total perairan (a=O.stasiun. Hal ini menunjukkan adanya kecenderungan nilai kandungan yang tinggi pada kedalaman tersebut dibandingkan kedalaman yang lain. begitu pula dengan stasiun 1.44 = berbeda nyata Hasil uji lanjut BNT untuk faktor kedalaman menunjukkan bahwa.

Ini menunjukkan adanya interaksi antar faktor .0020 mg/l. Konsentrasi nitrit memiliki pola distribusi vertikal yang berbeda pada setiap stasiun. Kandungan rata-rata ammonia total tertinggi pada permukaan waduk terjadi di stasiun 2. 2. dan konsentrasi rata-rata ammonia total untuk kedalaman interface terjadi di stasiun 3. yaitu antara bulan Juli dengan Agustus.0015 mg/1 dan meningkat pada kedalaman interface menjadi 0. Tabel 9. sedangkan rata-rata konsentrasi ammonia total tertinggi di kedalaman 10 meter terjadi pada stasiun 2.0004-0.0014 mg/l (Gambar 10 dan Lampiran 2).0847 .0940 mgll.38 = berbeda nyata Nilai interaksi faktor stasiun dan faktor kedalaman menghasilkan keputusan tolak H (Lampiran 1).Hasil uji lanjut BNT untuk faktor waktu menunjukkan adanya dua pasang waktu pengambilan sampel yang menunjukkan perbedaan nyata terhadap kandungan ammonia total. pada stasiun 3 berkisar antara 0-0. Nilai uji BNT untuk pengamh faktor waktu terhadap kandungan ammonia total (a=0.1) Nilai BNT Keterangan * = 0. dapat dikatakan tidak ada satu stasiun yang memiliki nilai konsentrasi ammonia total tertinggi untuk semua kedalamannya. dan bulan Juli dengan September (Tabel 11). stasiun 2 berkisar antara O0. Dengan rata-rata konsentrasi nitrit pada permukaan sebesar 0. dan pada stasiun 4 berkisar antara 0-0.0059 mg/l. Nitrit (NO23 Berdasarkan hasil yang diperoleh didapat kisaran konsentrasi nitrit pada stasiun 1 yaitu berkisar antara 0. Perbedaan yang terjadi inenurut waktu menggambarkan adanya perubahan karakteristik waduk seperti tinggi muka air selama waktu pengamatan. stasiun dengan faktor kedalaman. Pada stasiun 1 konsentrasinya cenderung meningkat pada setiap penambahan kedalaman.

karena bersifat kurang stabil dan sangat bergantung pada keberadaan oksigen di perairan (Effendi.0007 mg/l pada stasiun 3 dan 0.0110 mgll pada stasiun 4.05 Nitnt (mgfl) 0.002 0.mgll.004 0. Stasiun 3 dan stasiun 4 konsentrasinya berfluktuasi namun cenderung menurun dengan rata-rata pa& permukaan 0. Konsentrasinya sangat bergantung pada keberadaan oksigen di perairan.j kodalamsn meksimum = 13 meter 0 0 10 0.008 0 0. Kandungan nitrit (NO.002 0.002 0.001 1 mg/l menjadi 0 mg/l pada kedalaman interface.1 Nitrit (mgll) 0 0. Sedangkan pada stasiun 2 konsentrasinya cenderung menurun pada setiap kedalamannya.OE z 20 a ?%30 E30 C . menurun pada kedalaman interface menjadi 0. 0 0. Diteinukan dalam jumlah yang sedikit di perairan.0010 mgil pada stasiun 3 dan 0. Nitrit merupakan bentuk peralihan antara ammonia dan nitrat dalam proses nitrifikasi. dimana nitrit merupakan produk antaranya.50 S 40 stasiun 4 laman maksimum = 62 meter ke&laman maksimum = 25 meter g 60 70 70 --c Juli ~ A g u s t u s --September 4 Gambar 10.004 Nitrit (mg/l) 0.004 Nitril (mg/l) 0.I106 0.) perairan berdasarkan kedalaman pada setiap stasiun dan waktu pengamatan. Proses nitrifikasi menggunakan oksigen dalam perombakan ammonia menjadi nitrat.00. dengan rata-rata di permukaan sebesar 0. 2003). .0004 mg/l pada stasiun 4.

Pada stasiun 1 terjadi peningkatan konsentrasi nitrit pada setiap kedalaman.00112 mg/l. Kandungan bahan organik dapat menghambat proses nitrifikasi (Wetzel. akan diikat oleh hemoglobin darah sehingga menggangu penyerapan oksigen oleh hemoglobin. stasiun 4. namun menurut Wetzel (1983). Fluktuasi konsentrasi yang terjadi pada stasiun 3 dan stasiun 4 dikarenakan sifat nitrit yang tidak stabil. proses ini akan terns berlangsung sainpai kandungan oksigen terlarut (DO) sekitar 0.027 mgll. sehingga konsentrasi nitrit yang merupakan produk antara proses ini juga inenurun. Hal inilah yang menyebabkan meningkatnya kandungan nitrit pada stasiun 1 pada setiap kedalamannya. . Selain itu penurunan diakibatkan juga kurang tersedianya oksigen terlarut pada setiap stasiun tersebut. Penurunan konsentrasi yang terjadi pada stasiun 3. nitrifikasi masih dapat berlangsung sampai konsentrasi oksigen terlarut sebesar 0.3 mgll.06 mgil. sehingga nitrit yang merupakan produk antara proses tersebut masih ditemukan.61-10. Boyd (1982).03 mdl. Hal ini diperkirakan proses nitrifikasi masih berlangsung pada stasiun 1. memiliki konsentrasi nitrit rata-rata sebesar 0. menyatakan ketika nitrit terabsobsi oleh ikan. dengan kisaran konsentrasi antara 0. Konsentrasi nitrit yang tinggi tentunya sangat membahayakan kegiatan budidaya KJA di Waduk Cirata. 2001) untuk kepentingan perikanan konsentrasi tersebut masih pada kisaran baku mutu yang menetapkan batas maksimal sebesar 0. Pada daerah permukaan waduk yang merupakan daerah aktivitas budidaya KJA. Konsentrasi oksigen pada stasiun 1 masih memungkinkan terjadinya proses nitrifikasi walaupun akan bejalan secara lambat. ini juga terlihat dari nilai BOD dan COD yang cenderung tinggi di ketiga stasiun tersebut. Inilah yang menyebabkan konsentrasi nitrit memilila kecenderungan m e n m sampai kedalainan interface. 1983).75 mg/l. nitrifikasi berjalan pada keadaan aerobik. Walaupun konsentrasi oksigen pada stasiun 1 mengalami penurunan setiap kedalainannya (Gambar lo). Menurut Wetzel (1983). Rata-rata konsentrasi oksigen terlarut mendan pada kedalaman 10 meter konsentrasi rata-rata dari ketiga stasiun tersebut sebesar 0. dan stasiun 2 diperkirakan karena meningkatnya kandungan bahan organik pada stasiun tersebut akibat aktivitas budidaya KJA. Berdasarkan baku mutu (Peraturan Pemerintah Nomor 82.

0015) (0.0010 0.0003 0 0 Stnsiun 4 (0. . Tabel 10. dan faktor kedalaman (Lampiran 2). Keputusan ini menggambarkan bahwa pada setiap faktor terdapat perbedaan dua atau lebih stasiun dan kedalaman yang memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap kandungan nitrit di perairan.0007) 0.0004) a . Stasiun 1 (0.0513* 0. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Nitrit perairan @JOY) (a=0. dan stasiun (1-3) (Tabel 12).0007 0 0.0004) 0. Sedangkan kedalaman 10 meter dengan interface menurut hasil uji lanjutan tidak memberikan perbedaan yang nyata.0015) Stasiun 1 (0.0520) Rata-rata Stasiun 4 Stasiun 3 (0. Interaksi antara faktor stasiun dan faktor kedalaman juga tidak ditemukan (gaga1 tolak (Lampiran 9). stasiun (1-2). (Tabel 13).0520) 0 = 0. Pada stasiun 1 nilai kandungannya cenderung lebih kecil.05 17+ Stasiun 3 (0.Hasil analisis data memberikan keputusan tolak H untuk faktor stasiun .05 16* 0.0007) Stasiuu 2 (0. antara lain. dan stasiun 4 nilainya cenderung lebih tinggi dibandingkan kedalaman yang lainnya. ini membuktikan bahwa stasiun 1 memiliki nilai )ha1 yang lebih besar dibandngkan dengan stasiun-stasiun pengamatan yang lainnya.0035 = berbeda I nyata Nilai BNT Keterangan * Hasil uji lanjut BNT berdasarkan faktor kedalaman memperlihatkan perbedaan nyata antara kedalaman 0 meter (permukaan) dengan kedalaman 10 meter dan kedalaman interface (dekat dasar). sedangkan pada stasiun 2. Hasil uji lanjut BNT berdasarkan faktor stasiun menunjukkan tiga pasang stasiun yang berbeda nyata. Hal ini menggambarkan kandungan nitrit di permukaan nilainya cenderung berbeda dengan kedalaman lainnya. Terlihat stasiun 1 berbeda nyata dengan semua stasiun pengamatan.1) Stnsiun Stasiun 2 (0. stasiun (1-4). stasiun 3.

0097 mgA.00101 mg/l pada stasiun 2. Pengaruh faktor waktu pengambilan sampel tidak berpengaruh terhadap kandungan nitrit perairan.0093 mg/l pada stasiun 4. 0.0038 = berbeda nyata Interaksi faktor stasiun dan kedalaman memberikan keputusan gaga1 tolak I-I. Keputusan ini menggambarkan tidak adanya interaksi antar faktor stasiun dengan faktor kedalanan. . 3. stasiun 2 berkisar antara 0.0181 (0.0034 mg/l pada stasiun 4.? Berdasarkan hasil yang diperoleh didapatkan lusaran konsentrasi nitrat pada stasiun 1 sebesar 0-0. 0. stasiun 3. = 0. 0.0214 mg/l.0217) Nilai BNT Keterangan * 0 0. sehingga dapat dikatakan stasiun 1 memiliki kandungan nitrit yang tinggi dibandingkan stasiun lain serta pada setiap kedaiamannya. dan stasiun 4 konsentrasinya cenderung menurun (Gambar 11 dan Lampiran 3). 0.Tabel 11.0217) (0.0001-0. stasiun 3.00356 mg/l. Pada stasiun 2.. sedangkan pada stasiun 2. Nitrat (NO.0169* (0. dan menurun pada kedalaman interface menjadi 0. karena keputusan yang diperoleh memberikan keputusan tolak H. stasiun 3 berkisar antara 0-0. Pada stasiun 1 terlihat konsentrasi meningkat setiap kedalaman.0181) 0. 0.0036 0 .0012) Interface (0. dan stasiun 4 konsentrasinya cenderung inengalami penurunan pada setiap kedalaman.1) Kedalaman 0 meter Interface Rata-rata 10 meter 0 meter (0. dengan konsentrasi rata-rata pada permukaan sebesar 0. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor kedalaman terhadap kandungan Nitrit perairan (Nod (a=0.0206* f(lme.0012) 0 0.3735 mg/l. dan stasiun 4 berkisar antara O0.0033 mgll pada stasiun 3. Terlihat bahwa pada stasiun 1 konsentrasi nitrat cenderung mengalami peningkatan. dengan konsentrasi rata-rata di permukaan sebesar 0.2735 mg/l.0024 mg/l pada staisun 2. (Lampiran 2).0220 mg/l dan meningkat pada kedalaman interface menjadi 0.0001 mgfl pada stasiun 3.

dan inilah yang menyebabkan konsentrasinya meningkat pada setiap kedalaman di stasiun 1.- 223 g30 40 Y <a EO 70 0 0 01 kedalaman maksimum = 19 meter n -D Y"M @ kedalamnn maksimum = 13 meter I 70 0. proses nitrifikasi masih dapat berlangsung sampai konsentrasi oksigen terlarut sebesar 0. Diduga proses nitrifikasi inasih berlangsung bahkan sampai kedalaman inteface. Proses nitrifikasi mengubah ammonia menjadi nitrit dan selanjutnya menghasilkan produk akhir berupa nitrat. Hal ini terlihat dari kandungan nitrit yang juga mengalami peningkatan setiap kedalamannya di stasiun 1.02 2 23 a? C g30 E . dengan menggunakan oksigen terlarut yang terkandung dalam perairan.Peningkatan nitrat yang terjadi pada stasiun 1 diduga masih berlangsungnya proses nitrifikasi pada stasiun tersebut.3 mgll (Wetzel. . 1983). Kandungan nitrat (NO<)perairan berdasarkan kedalaman pada setiap stasiun dm waktu pengamatan. konsentrasi oksigen terlarut memiliki kisaran antara 0. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya pada pembahasan tentang nihit bahwa.75 mgll.61-10.2 0..3 0. Nitrat (mg/O 0 0 10 e 0.September Gambar 11.03 Nitrat (mgfl) 0.4 0 'z? 0 10 0 01 Nitrat (mgm 0. Dan pada stasiun 1.02 Nitrat (mg/i) 0.1 0.02 0 0 01 m a stasiun 4 kcdalema malisimum = 25 meter m +JUII -5-Agustus -a-.

Nasil uji lanjutan berdasarkan faktor stasiun diperoleh bahwa.P e n m a n yang terjadi pada stasiun 2. akan tetapi terjadi akumulasi kandungan ammonia pada perairan. stasiunstasiun yang berbeda nyata antara lain stasiun (1-3). stasiun 3. Ini juga terlihat dari meningkatnya ammonia total pada perairan (Gambar 7). & dan faktor kedalaman (Lampiran 3). Berdasarkan kandungan oksigen terlarut stasiun 2. diperkirakan proses nitrifikasi terhambat pada stasiun tersebut. kandungan bahan organik yang tinggi sehingga pertumbuhan bakteri nitrifikasi lebih lambat dibandingkan bakteri heterotrof. pH perairan yang asam dengan pH di bawah 6 (Effendi. Proses ini dapat terhambat karena kandungan oksigen terlarut di bawah 2 mg/l nagnun proses ini masih berlangsung sampai konsentrasi oksigen terlamt 0. 2003). stasiun (4-3). Proses nihifikasi pada kedalaman dibawah 10 meter tentunya akan terhambat. stasiun (1-2). mernbuat pertumbuhan bakteri-bakteri nitrifikasi menjadi lebih lambat dari bakteri heterotrof. Dengan konsentrasi rata-rata pada permukaan sebesar 8. stasiun 3.27 mgll kemudian menurun sampai kedalaman interface dengan rata-rata oksigen terlarut di bawah 0. dan stasiun 4. Pada stasiun 1 diperlarakan karena stasiun ini memiliki nilai yang cenderung lebih tinggi .3 mg/l.13 mg/l dan menurun sampai pada kedalaman 10 meter rata-ratanya sudah sebesar 0. stasiun (1-4). Hal ini diduga sebagian besar bahan organik belum terdekomposisi sempurna sehingga proses nitrifikasi belum berjalan dengan baik pada kedalainan tersebut. Berdasarkan keputusan tersebut didapatkan bahwa pada setiap faktor terdapat perbedaan dua atau lebih stasiun dan kedalaman yang memberikan konsentrasi yang berbeda terhadap nitrat & periran.3 mg/l. ha1 inilah yang menyebabkan konsentrasi nitrat cenderung menurun. Banyaknya bahan organik pada stasiun-stasiun ini yang terlihat dari nilai BOD dan COD yang cenderung tinggi. Namun untuk kedalaman antara permukaan sampai kedalaman 10 meter nilainya juga cenderung menurun. Stasiun 1 memiliki perbedaan yang nyata dengan stasiun yang lain begitu juga dengan stasiun 3. Hal ini menyebabkan bahan-bahan organik yang terdekomposisi menghasilkan ammonia melalui proses ammonifikasi tidak langsung &dekomposisi lagi oleh bakteri nitrifikasi menghasilkan nitrat. dan stasiun (2-3) (Tabel 14). dan stasiun 4 terlihat semakin menurun pada setiap kedalaman. Hasil analisis data memberikan keputusan tolak I untuk faktor stasiun.

dibandingkan stasiun yang lain.023) I I (0. dan stasiun 4 nilainya lebih besar daripada kedalaman dibawahnya.020) Stasiun 4 1. Tabel 13.l) Stasiun 1 Rata-rata Stasiun 2 Stasiun 4 Stasiun 3 Stasiun I (0.034 0 0 (0.004) Stasiun 2 (0.l) I Kedalaman 0 meter / Rata-rata Interface 10 meter 0 meter / (0.048* 0 0 (0.058 = berbeda nyata Hasil uji lanjutan berdasarkan faktor kedalaman menunjukkan kedalaman 0 ineter (permukaan) berbeda nyata dengan kedalaman 10 meter dan kedalaman interface (Tabel 15).058) Interface Nilai BNT Keterangan * = 0.023) Stasiun 1 1 Nilai BNT Keterangan * = 0.020) (0.142) (U. Hal ini menunjukkan kedalaman 0 meter (permukaan) memiliki kandungan nitrat yang berbeda dengan kedalaman lainnya.UU4) (0. Pada stasiun 1 nilainya lebih kecil. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor kedalaman terhadap kandungan Nitrat perairan (NO<) (c~=O. Tabel 12.065* n 0. sedangkan stasiun 3 lebih disebabkan berfluktusinya kandungan nitrat pada stasiun ini (Gambar 11).029 = berbeda nyata . sedangkan pada stasiun 2.060* 0. Kedalaman 10 meter dan interface tidak beam berbeda kandnungan nitratnya. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Nitrat perairan (NO<) (a=O. stasiun 3.012 n 0.009) 10 meter 0.100* 1.

Nitrogen Total Kisaran konsentrasi nitrogen total pada stasiun 1 yaitu antara 0. 2003). Hal ini dikarenakan. sehingga memiliki konsentrasi nitrogen total yang lebih kecil dibandingkan stasiun lainnya. Dapat dilihat pada setiap stasiun pengamatan konsentrasi nitrogen total semakin meningkat setiap kedalaman. sehingga dapat dikatakan terdapat stasiun yang memiliki kandungan nitrat tertinggi dibandingkan stasiun dan kedalaman yang lain yaitu pada stasiun 1 (Lampiran 3). 1989 dalam Effendi. 4. Pakan ikan yang digunakan adalah pakan buatan yang memiliki kandungan protein yang tinggi. stasiun 2 berkisar antara 0.. kisaran konsentrasi yang tinggi pada stasiun 4 dipengaruhi kegiatan KJA di stasiun 3.9846 mg/l. stasiun 4 merupakan outlet waduk tempat keluarnya air waduk. dan stasiun 4 berkisar antara 0. stasiun 3 berkisar antara 0. dan stasiun ini lebih dekat dengan stasiun 3. Stasiun 3 inemiliki kisaran kandungan nitrogen total tertinggi dibandingkan stasiun yang lain. sehingga didapat kisaran nilai yang lebih tinggi dari stasiun 2. kandungan bahan-bahan organik (sisa pakan dan hasil metabolisme ikan (feses)) yang tinggi pada stasiun 3 dari kegiatan budidaya KJA meningkatkan konsentrasi nitrogen total. Ini menggambarkan interaksi antar faktor stasiun dengan kedalaman tidak ditemukan. Protein yang terdekomposisi mengandung 16 % nitrogen (Depdikbud.2564 mgll (Gambar 12 dan Lampiran 4).Interaksi faktor stasiun dan kedalaman memberjkan keputusan gaga1 tolak H.5582-5. Hal ini diperkirakan. Sedangkan stasiun 2 dengan jumlah kerapatan KJA sedang.4598-3. Hal inilah yang menyebabkan tingginya konsentrasi nitrogen total pada stasim 3.5749 mgll. Nitrogen total penjumlahan kandungan nitrogen anorganik berupa NO2-N. Sedangkan stasiun 1 konsentrasinya hanya d~pengaruhioleh air masukan yang berasal dari sungai Citarum.1356-2.25641. kisaran nilainya lebih kecil dibandingkan stasiun 4. 1991).0016 mgtl. Adanya arus yang mengalir menuju stasiun 4 yang membawa sebagian bebanbeban sisa pakan dan buangan ikan meningkatkan konsentrasi nitrogen total pada stasiun ini. NH3-Nyang bersifat terlarut dan nitrogen organik yang berupa partikulat dan tidak lamt dalam air (Mackereth et al. .

dan stasiun 3 memiliki kecenderungan nilainya lebih tinggi dibandingkan stasiun yang lain (Lampiran 11). namun pada stasiun 2. dan faktor kedalaman (Lainpiran 1 I). Keputusan ini memberikan gambaran bahwa pada setiap faktor terdapat perbedaan dua atau lebih stasiun dan kedalaman yang memberikan konsentrasi yang berbeda. Hasil analisis data memberikan keputusan tolak H untuk faktor lokasi pengambilan sampel (stasiun). .40 60 70 -+-Juli -z+Agustus ---A--- 9% September Gambar 12. stasiun 1 yang menunjukkan perbedaan nyata dengan semua stasiun (Tabel 16).Total (rngll) kedalaman maksimum = 13 meter 50 70 0 E a m = '=m 10 z2a c 30 & . stasiun 3. Sedangkan kandungan nitrogen total pada stasiun 2. Kandungan nitrogen total perairan berdasarkan kedalaman pada setiap stasiun dan waktu pengamatan .Total (rngil) 4 6 0 0 10 2 N-Total (mgll) 4 6 .40 Y stasiun 1 kedalaman maksimum = 19 meter %O m =cU 30 5 .0 0 10 0 2 N. dan stasiun 4 tidak begrtu berbeda nyata. Perbedaan tersebut menggambarkan stasiun 1 memiliki rata-rata kandungan nitrogen total yang kecil dari stasiun yang lain.c 2 so g 60 70 N-Total (mgn) N. 20 E rn e 20 30 5 .40 . Hasil uji lanjutan berdasarkan faktor stasiun diperoleh bahwa.

98* A (1.41) 1.67) 0 (1. (Lampiran 4).44) Interface Nilai BNT Keterangan * = 0.SO) Stasiun 2 (1.66 0 = 0.74* 0.77* 0 (0. Ini menunjukkan bahwa pada setiap kedalaman terdapat perbedaan konsentrasi.51* 0.1) Kedalaman 0 meter Interface Rata-rata 10 meter 0 meter (0.57) 0.07 0 (1.57) Stasiun 3 (2. Tabel 15.24) Nilai BNT Keterangan * Hasil uji lanjut BNT berdasarkan faktor kedalaman menunjukkan pada setiap kedalaman berbeda nyata (Tabel 17).Tabel 14.35 = berbeda nyata Interaksi faktor stasiun dan kedalaman memberikan keputusan tolak H.73) 0 (1.77 = berbeda nyata (1.77* 0 (0. Oleh karena itu perbedaan yang nyata terjadi di masing-masing kedalaman yang diamati.1) 1 Stasiun Stasiun 1 Stasiun 3 1 Rata-rata Stasiun 2 I Stasiun 4 I Stasiun 1 (0. Interaksi yang terjadi menunjukkan terdapat hubungan antar faktor stasiun dengan kedalaman sehingga tidak ada satu stasiun saja yang memiliki nilai . Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Nitrogen Total perairan (a=0.SO) 0.67) 10 meter (2.73) Stasiun 4 (2. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor kedalaman terhadap kandungan Nitrogen Total perairan (a=0. Konsentrasi yang terjadi di masingmasing kedalaman mengalami peningkatan di setiap penambahan kedalaman.85* 0.44) 0.24) 1.74 0.

Rata-rata persentase kandungan liat tertinggi terjadi pada stasiun 2 yaitu sebesar 91. Nitrogen organik banyak berasal dari sisa pakan yang tidak termakan dari kegiatan budidaya KJA yang biasanya mengandung protein yang tinggi. 2003). Selain dari dekomposisi.69 %.15 mg/l. selain itu juga dapat berasal dari penjerapan oleh sedimen. Nitrogen organik ini akan mengendap didasar dan terakumulasi pada sedimen. nsunun penjerapan yang terjadi pada stasiun 2 lebih sedikit terjadi.l mg/l. pada kedalaman 10 meter konsentrasi tertinggi terjadi pada stasiun 2. Aktivitas ini banyak dilakukan oleh permukaan liat karena memiliki bantuk moleM yang halus. Konsentrasi ammonium tertinggi terjadi pada stasiun 4 (Gambar 13 dan Lampiran 5). Nilai konsentrasi nitrogen total tertinggi pada kedalaman 0 meter terjadi pada stasiun 2. dengan rata-rata konsentrasi sebesar 471. Hal ini dikarenakan kandungan dari ammonium yang terdapat pada perairan relatif sedikit . dm pada kedalaman interface konsentrasi tertinggi terjadi pada stasiun 3.04 mg/l.konsentrasi nitrogen total tertinggi pada setiap kedalamannya. B. Konsentrasi ammonium pada stasiun 4 lebih tinggi daripada stasiun 3 diduga karena adanya arus pada waduk menyebabkan nitrogen organik yang banyak terdapat di stasiun 3 terbawa arus menuju stasiun 4. Ammonium (mi) Hasil pengukuran ammonium didapat kisaran konsentrasi untuk stasiun 1 sebesar 196. dengan rata-rata konsentrasi sebesar 211.85-410.35 mg/l. Selanjutnya nitrogen organik akan banyak mengendap pada stasiun 4 dan terdekomposisi menghasilkan ammonium.62-490. Dan konsentrasi ammonium terendah terjadi pada stasiun 1. dan untuk stasiun 4 berkisar antara 442. ammonium juga dihasilkan dari penjerapan alnmonium yang terlarut pada air oleh sedimen.7 mg/l. 2000).87 mg/l.31-223. unt& stasiun 3 berkisar antara 392. Kandungan Nitrogen di Sedimen 1. Ammonium akan bereaksi secara cepat dengan muatan negatif dari liat dan membentuk ikatan yang komplek dengan logam dan senyawa organik (Tan. Ammonium yang terdapat di sedimen dapat berasal dari dekomposisi nitrogen organik yang terakumulasi di dasar. Konsentrasi mnonium tertinggi terjadi pada stasiun 4. Kebanyakan nitrogen organik bersifat partikulat yang tidak larut dalam air (Effendi.9280. untuk stasiun 2 konsentrasinya berkisar antara 261.

Perbedaan pada setiap stasiun menggambarkan pada masing-masing stasiun kandungan ammonium-nya berbeda satu sama lain.) (Lampiran 5). . Konsentrasi Ammonium waktu pengamatan. sehingga konsentrasi ammonium yang terkandung pada stasiun 4 lebih banyak dibandingkan stasiun 3. mi.98 % (stasiun 3).95 % (stasiun 4). Sedangkan stasiun 3 dan stasiun 4 memiliki persentase rata-rata liat adalah sebesar 83. karena faktor stasiun memberikan keputusan tolak %. semua stasiun memberikan pengaruh berbeda nyata terhadap kandungan ammonium pada sedimen (Tabel 18). Hal ini memungkinkan terjadinya penjerapan ammonium lebih banyak dari stasiun 3.dari stasiun 3 dan stasiun 4. Lokasi Juli Agustus September Gambar 13. Hasil uji lanjut BNT yang diperoleh berdasarkan fdctor stasiun menyatakan bahwa.) sedimen berdasarkan stasiun dan Hasil analisis data menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) menjelaskan sedikitnya ada dua atau lebih stasiun yang memiliki perbedaan yag nyata. dan 84. Terlihat bahwa stasiun 4 memiliki persentase liat lebih besar dari stasiun 3. Sedangkan faktor waktu pengambilan sampel tidak meinberikan perbedaan yang nyata (gaga1 tolak H.

Ketersediaan ammonium yang tinggi pada stasiun 4 memberikan peluang lebih besar untuk diubah menjadi nitrat dibandingkan pada stasiun lain.53 mgh (stasiun 4) (Gambar 14 dan Lampiran 5).35-95. 112.64 mg/l (stasiun 3). bahwa konsentrasi nitrat rata-rata tertinggi terjadi pada stasiun 4 yaitu sebesar 145.34123.Tabel 16. Effendi (2003).36 mg/l (stasiun 2). 75. menjelaskan bakteri nitrifikasi cenderung menempel pada sedimen dan padatan lain.89 = berbeda nyata 2.05 mgh (stasiun I).87 mgll. Terlihat pada Gambar 23. 126. sedangkan konsentrasi rata-rata terendah terjadi pada stasiun 1 yaitu sebesar 86. Nitrat yang terdapat pada sedimen dapat berasal dari oksidasi ammonium (&) selain itu dapat juga berasal dari penjerapan anion oleh N+. Nitrat ( N o d Berdasarkan data yang didapat kisaran konsentrasi nitrat yang terdapat pada masing-masing sedimen antara lain 75. Hal ini diduga karena proses penjerapan anion-anion nitrat oleh koloid-koloid tanah yang lebih banyak terdapat di stasiun 2. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Ammonium sedimen (a=0.18-110.39-160.1) Nilai BNT Keterangan * = 19. koloid-koloid tanah. Stasiun 4 cenderung memiliki kandungan nitrat yang tinggi dari stasiun yang lain. Penjerapan juga akan semakin ~neningkat jika .85 mgll. Stasiun 2 memiliki kandungan nitrat lebih tinggi daripada stasiun 3. Hal ini diduga merupakan hasil dari dekomposisi ammonium oleh baMeri nitrifikasi pada stasiun tersebut. karena pada stasiun 3 kandungan nitrat yang terukur pada kedalaman interface nilainya mendekati no1 sehingga penjerapan nitrat pada stasiun ini lebih sedikit dijumpai.

Hal ini meningkatkan proses penjerapan anion-anion nitrat pada stasiun 2. Konsentrasi Nitrat ( N O 9 sedimen berdasarkan stasiun dan waktu pengamatan. stasiun (1-2). sehingga kandungannya relatif lebih tinggi dari stasiun 3.6. 1991). . Hasil analisis data memberikan keputusan tolak H. Sedangkan faktor waktu pengambilan sampel memberikan keputusan gaga1 tolak &. Kemasaman sedimen pada stasiun 2 sangat tinggi. terdapat lima pasang stasiun yang berbeda nyata terhadap kandungan nitrat. dibandingkan stasiun yang lain dengan pH rata-rata 5. Hasil uji lanjutan berdasarkan faktor stasiun diperoleh bahwa. stasiun (2-4). Lokasi a Juli Agustus B September ! Gambar 14. dan stasiun (3-2). stasiun (1-4).kelnasaman tanah meningkat (Depdikbud. stasiun (3-4). Sedangkan antara stasiun (1-3) tidak memberikan perbedaan yang nyata terhadap kandungan nitrat pada sedimen waduk (Tabel 19). antara lain. pada faktor stasiun (Lampiran 5).

87) 0 - (89. Terlihat pada Gambar 24.87) Nilai BNT Keterangan * Terlihat babwa kandungan pada setiap stasiun berbeda. Ha1 ini juga terlibat dari junlah ammonium dan nitrat yang relatif lebih tinggi pada stasiun ini.32) Stasinn 4 (145. dan 598.34-643. diikuti oleh stasiun 3.51-398. stasiun 4 lnemiliki kandungan nitrogen total tertinggi dibandingkan stasiun yang laimya.51-785. Kandungan nitrat stasiun 3 relatif lebih kecil dari stasiun 2 karena diduga proses nitrifikasi dan penjerapan nitrat terhambat sehingga kandungannya lebih kecil dibandingkan stasiun 2 dan relatif lebih sama dengan stasiun 1. .87) Stasiun 3 (116.32) 29. 542.Tabel 17.15 mgll (stasiun 4) (Gambar 15 dan Lampiran 5).1) Stasiun Stasiun 1 Stasiun 4 Rata-rata Stasiun 3 Stasiun 2 Stasiun 1 (145.99* 56. Pengarub arus menyebabkan sebagian besar sisa pakan yang sebagian besar berasal dari stasiun 3 terbawa hngga stasiun 4. dan stasiun 1.34 mgd.82 mg/l (stasiun 3).87) (86.70* 0 58.62) Stasiun 2 (1 16. Secara umun kandungan nitrogen total tertinggi terjadi pada stasiun 4 dengan rata-rata kandungan nitrogen total sebesar 679.02 mg/l (stasiun I). sehmgga kandungan nitrogen total pada stasiun tersebut relatif lebih tinggi dibandingkan stasiun yang lain. Nitrogen Total Kandungan nitrogen total pada setiap stasiun pengamatan didapatkan kisaran antara lain 240.262. Kandungan nitogen total adalah jumlah dari nitrogen organik dan anorganik. 351.16 .25* 29.24 = berbeda nyata (89. Hal ini menyebabkan sisasisa pakan yang banyak inengandung nitrogen banyak terendapkan pada stasiun 4.62) 2. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Nitrat sedimen (a=0. 3. stasiun 2.74 0 (86. namun untuk stasiun 1 dan stasiun 3 tidak begitu berbeda nyata.55* 0 = 25.45 (stasiun 2).44* 26.

ll) Stasiun 2 (369. Hasil analisis data memberikan keputusan tolak H untuk pengaruh faktor .14) (583. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Nitrogen Total sedimen (a=0.14) Stasiun 3 Stasiun 4 (679.23* 310.00* 0 118. Hasil uji lanjut BNT dapat dilihat pada Tabel 20 dibawah ini.45 = berbeda nyata 332.03* 0 0 Nilai BNT Keterangan * .ll) 428.1) Stasiun Stasiun 1 (251. stasiun (Lampiran 5).34) Rata-rata Stasiun 2 Stasiun 3 (369. Tabel 18.20* 96.34) Stasiun 4 (679. Konsentrasi Nitrogen Total sedimen berdasarkan stasiun dan waktu pengamatan.14) Stasiun 1 (251./ 1 Juli mi Agustus September Lokasi Gambar 15.20* 0 = 94.03* 214. Keputusan ini mengainbarkan bahwa kandungan nitrogen total pada setiap stasiun berbeda nyata.

O NTU (stasiun I). Kekeruhan Kekeruhan yang diperoleh berkisar antara 3-56 NTU (Gambar 17 dan Lampiran 6).40. artinya bahwa pengaruh waktu kurang mempengaruhi kandungan nitrogen total pada sedimen waduk.6 .13.O . Sedangkan pada stasiun 1 lebih disebabkan oleh masukkan air dari sungai Citannn. Dapat dilihat pada Gambar 17 bahwa terjadi peningkatan kekeruhan setiap pertambahan kedalaman.O NTU (stasiun 3). karena diketahui bahwa stasiun 4 merupakan daerah aliran keluamya air waduk. Perbedaan pada masing-masing stasiun menggambarkan kandungan di setiap stasiun berbeda satu sama lainnya. C.7. . Hal ini diduga berasal dari sisa-sisa pakan dan feses ikan dari kegiatan budidaya KJA pada kedua stasiun tersebut.O NTU (stasiun 4). Kondisi Perairan dan Sedimen Waduk Cirata 1. Dan pada stasiun 4 disebabkan adanya arus air keluar waduk. sedangkan kekeruhan terendah terdapat pada bulan Agustus di stasiun 3 pada permukaan waduk yaitu sebesar 3 NTU. Untuk pengaruh waktu pengambilan sampel berdasarkan hasil analisis data tidak memberikan pengaruh berbeda nyata (gaga1 tolak &). terdapat perbedaan yang nyata pada semua stasiun terhadap kandungan nitrogen total sedimen. 4.2 . dan 2.O NTU (stasiun 2). Nilai kekeruhan tertinggi terdapat pada bulan September di stasiun 2 pada kedalaman interface (dekat dasar) yaitu sebesar 56 NTU. Parameter Fisika dan Kimia Perairan a. Kisaran nilai yang diperoleh untuk setiap stasiun adalah 3. khususnya pada stasiun 2 dan stasiun 3 terjadi peningkatan yang sangat besar. dan tidak ditemukan dua stasiun yang memiliki kandungan nitrogen total yang sama.52.56. 3.Dari hasil uji lanjut BNT berdasarkan faktor stasiun diperoleh bahwa.

40 m m 60 70 Kekeruhan (NTU) m n stasiun 2 GO ke&lam~ mnksimum = 13 meter g so ke&lman maksimum = 19 meter 70 Kekewhan (NTU) 0 0 10 t 40 EO 0 0 10 M 40 EO 53 $40 m n g 20 rn stasiun 3 a 0 2 ~ 3 3 m E ' 9% BJ 70 -Juli - $40 m 3s EO kedalaman mksimum = 25 meter 70 -m-Agustus -+-September I I Gambar 16. kedalaman. . Kekeruhan perairan pada setiap stasiun. dan waktu pengamatan.- . Penyusutan tinggi muka air inenyebabkan partikel-partikel halus dan tersuspensi menjadi lebih pekat sehingga meningkatkan kekeruhan air waduk. Nilai ini diduga karena pada bulan September tinggi muka air waduk Inengalami penyusutan dibandingkan bulan-bulan sebelumnya (Mardiana. 20 2 E 2 " e C 3s .O NTU. Pada ketiga waktu pengamatan. kekeruhan tertinggi terja& pada bulan September dengan kisaran antara 4. 2007).-.6 - 56.Kekeruhan (NN) Kekeruhan (NTU) 0 0 10 23 40 60 0 20 \_ 40 al A-.

.16 .58 O (Gambar 16 dan C Lampiran 7).17 30.16 30. kedalaman.40 m rn 5 . Penurunan suhu terjadi setiap stasiun pada permukaan sampai kedalaman dasar waduk. Berdasarkan baku mutu untuk kepentingan perilcanan (Peraturan Pemerintah Nomor 82.27. 2001) suhu pada perairan ini masih dalam kisaran baku mutu.40 $50 Y kedalarnan mahimum = 19 meter z0 3 a $50 Y 60 70 60 70 kedalamn mahimum = 13 meter 26 28 Suhu (Celcius) 30 32 26 28 Suhu (Celcius) 3l 32 m stasiun 4 60 70 kedalanwn maksimum = 25 meter --cJuli -+-Agustus ---September Gambar 17. Suhu Suhu perairan pada setiap stasiun dan kedalaman berkisar antara 26. karena perubahan suhu antar lapisan tidak menyebabkan perbedaan suhu yang drastis antara lapisan.68 OC. Suhu perairan pada setiap stasiun. Penurunan suhu yang terjadi belun dapat mengambarkan adanya lapisan thermoklin. - Suhu (Celcius) Suhu (Celcius) 26 0 10 '2 28 30 32 0 10 '2 26 28 30 32 g 20 E m -C 0 3 g . Deviasi suhu berdasarkan waktu maupun kedalaman masih berada di bawah 3 "C (Lampiran 7). dan waktu pengamatan.b.68 O C dan pada dasar waduk berkisar antara 26. Dengan suhu tertinggi di daerah permukaan berkisar antara 29.

dan waktu pengamatan. dan stasiun 4 berkisar antara 4. TSS (mgll) 0 TSS (mgfl) 0 0 200 300 1133 rn a 0 g E 03 10 20 stasiun 1 . Terlihat pada Gambar 18 terjadi peningkatan nilai TSS pada setiap penainbahan kedalaman.29 r n g . Ini juga terlihat dari nilai kekeruhan yang semalan meningkat pada setiap kedalamannya.c. Dari . Total Suspended Solid (TSS) TSS yang diperoleh berkisar antara 3-241 mgA (Gambar 18 dan Lampiran 8).Jo .40 2 50 60 kedaloman maksimum = 62 meter 70 kednlaman maksimum = 25 meter -+-Jul~ --r-hustus -*Sep~ember Gambar 18. stasiun 2 berkisar antara 6-241 mgll. Hal ini diduga karena adanya partikel-partikel suspensi yang berasal akibat limpasan dari daratan (run o m dan sisa-sisa pakan yang terbuang dari aktivitas KJA ke dalam perairan sehingga meningkatkan partikelpartikel tersuspensi pada perairan tersebut.do n a 2 50 60 70 kedalamon maksiium = 13 meter TSS (mgA) 0 1Gu 0 m T s s (m@) 300 0 E n m 10 k 2 0 Z" a 5 . Kisaran kandungan TSS pada stasiun 1 adalah sebesar 5 -19 mg/l. E . kedalaman. Kandungan TSS yang tinggi bisa mengakibatkan pengendapan bahan-bahan suspensi dan terakurnulasi pada sedimen sehingga meningkatkan kandungan sedimen perairan waduk. Kandungan Total Suspended Solid (TSS) perairan pada setiap stasiun. stasiun 3 berkisar antara 3 -180 mg/l.

khususnya pada dasar perairan.18-10. walaupun jumlah unit KJA yang terdapat pada stasiun 2 tidak terlalu padat dibandingkan stasiun 3. dan letak stasiun 2 yang lebih dekat dengan daratan membuat stasiun 2 mendapatkan limpasan dari daratan (run om lebih banyak dibandingkan stasiun yang lain sehingga TSS pada stasiun 2 lebih tinggi dibandingkan stasiun yang lain. nilai kekeruhannya juga lebih tinggi dibandingkan stasiun yang lain. dan 0. sedangkan konsentrasi DO minimum tejadi pada bulan Juli pada stasiun 2 di kedalaman interface (dekat dasar) dengan konsentrasi sebesar O.ll-9. Rata-rata konsentrasi DO pada permukaan adalah 8. Oksigen Terlarut (Dissolved Oxygen (DO)) Konsentrasi DO maksimum terjadi pada bulan September pada stasiun 1 di kedalaman 0 meter (permukaan) yaitu sebesar 10.75 mgll. Rata-rata konsentrasi oksigen pada kedalanlan 5 meter adalah 1. Pola yang demikian dapat digolongkan ke dalam pola sebaran Clinograde.58 mg/l. nilai TSS tertinggi terjadi pada stasiun 2. Penurunan teqadi secara drastis dari permukaan waduk sampai kedalaman 5 meter. 2005). Hal ini tentunya akan berdampak b a g proses-proses dekomposisi bahan organik baik pada air maupun pada sedimen waduk.517 mg/l.17-9.75 mg/l. tetapi dangkalnya kedalaman stasiun 2 ini membuat volume air pada stasiun ini lebih kecil dibandingkan stasiun 3. Hal ini diduga karena pada stasiun 2 terdapat aktivitas budidaya KJA.11 mgtl (Gambar 19 dan Lampiran 9). Kisaran konsentrasi oksigen terlarut pada bulan Juli. Konsentrasi oksigen yang semakin menurun pada setiap kedalamannya akan menjadikan keadaan anaerob pada perairan. 1983 dalam Octaniany. 0.98 mg/l (Lampiran 11). d. Pola tersebut menggambarkan keadaan perairan yang eutrofik dan banyak inengandung unsur hara serta bahan organik di dalamnya (Goldmand dan Home.02 mg/l. clan rata-rata pada dasar waduk adalah 0. . 0. Agustus.keempat stasiun yang teramati. September berturutturut antara lain berkisar antara.74 mdl. Dan selanjutnya konsentrasi menurun secara perlahan dengan bertambahnya kedalaman. Sedangkan nilai TSS terkecil tejadi pada stasiun 1. Pada setiap stasiun konsentrasi DO mengalami penurunan.

Dengan nilai pH tertinggi terdapat pada bulan September di stasiun 3 pada permukaan waduk dengan nilai sebesar 8. e. Terlihat bahwa semakin bertanbahnya kedalaman terjadi penurunan pH pada setiap stasiun. dan pH terendah terdapat pada dasar waduk dengan kisaran nilai antara 6. Berdasarkan waktu pengamatan selama penelitian.67. Sedangkan nilai pH terendah terdapat pada bulan Agustus di stasiun 3 pada kedalaman 30 meter dengan nilai sebesar 6.40 a 329 -D 2 ' 50 70 0 kedalamn = 13 meter Okstgen Tetlarut (mgtl) 5 10 E stasiun 4 60 kedalamnn maksimum = 25 meter 70 -e-~uli ~Agustus +September Gainbar 19.97-7.67. kedalaman.67. .rm a 5 . didapat kisaran nilai antara 6. pH Berdasarkan hasil pengukuran pH (Gambar 20 dan Lampiran lo). Kandungan oksigen terlarut (DO) perairan pada setiap stasiun.96.68.82-8.96-8. dan waktu pengamatan.Oks~gen Terlarut (mgll) Oksigen Terlarut (m@) 0 5 10 0 0 10 5 10 a stasiun 1 70 Oksigen Tellarut (mgil) l. rata-rata pH tertinggi terdapat pada permukaan waduk dengan kisaran nilai antara 7.

5 6.36 mgA (Gambar 21 dan Lampiran 11).5 pH stasiun 1 nu stasiun 4 1 70 J kedalnman maksimum = 62 meter -+-Juli -r--Aguslus 70 J -t- kedaloman mnksimum = 25 meter I September Gambar 20.5 75 .pH 6. Nilai pH perairan pada setiap stasiun.06 mg/l. dan nilai terkecil terdapat pada stasiun 2 (bulan September) di kedalaman 10 meter dengan nilai sebesar 1. kedalaman. 8.36-28. dengan nilai terbesar terdapat di stasiun 3 (bulan Sepetember) di kedalaman dekat dasar (interface) dengan nilai sebesar 28. BOD dapat menggambarkan banyaknya kandungan bahan organik di perairan (Effendi. Sedangkan stasiun 1 dan stasiun 4 yang tidak dipengaruhi oleh kegiatan . Pada stasiun 3 kisaran nilai BOD antara 1.65 mgA.5 9.5 75 8. f. Biocliemical Oxygen Demand @OD) Nilai BOD yang didapat berkisar antara 1. dan pada stasiun 2 kisaran nilai BOD antara 3. ha1 ini dibuktikan dengan kisaran BOD yang cenderung tinggi pada stasiun 2 dan stasiun 3.06 mgll. Nilai BOD menunjukkan peningkatan pada setiap penambahan kedalaman. Bahan organik diduga berasal dari kegiatan budidaya KJA yaitu dari sisa pakan dan feses ikan. 2003).06 mg/l.36 .08-24. dan waktu pengamatan.28.

stasiun 3 g 30 E 40 3 50 60 70 stasiun 4 kcdalamnn mnksimum = 25 meter Gambar 21. kedalaman. Semakin banyak bahan organik yang terkandung pada perairan. . BOD [mgfl) 0 10 20 30 0 10 20 BOD (mu) 30 10 -. 2003).12 mgil.5618. Proses dekomposisi ini memerlukan oksigen (02) dan inelibatkan mikroorganisme (bakteri).20 E G - '--. AO $ m stasiun 1 kcdnlaman mnksimum = 19 meter 3 u 40 stasiun 2 kedGlaman maksimum = 13 meter ? so ' i GO 70 0 10 20 60 70 BOD (mgll) 30 0 10 20 BOD (mil4 30 0 10 10 Y30 5 . Ini diduga karena oksigen digunakan untuk proses dekomposisi bahan-bahan organik menjadi bahan-bahan anorganik (Effendi.21mg/l clan 2.. --cJuli +Agustus -b--. September Kandungan Biochemical Oxygen Demand (BOD) perairan pada setiap stasiun.budidaya KJA kisaran nilai BOD masing-masing adalah 4.. z m 20 e 2 20 a- ' ' 30 . Hal ini juga terlihat dari kandungan oksigen terlarut (DO) yang semakin menurun pada setiap penambahan kedalaman.78-8. Nilai BOD yang semakin besar pada setiap penambahan kedalaman menggambarkan proses dekomposisi bahan organik yang semakin besar. 2003). semakin tinggi pula konsurnsi oksigen untuk proses dekomposisi. .. dan waktu pengamatan.. BOD juga dapat menggambarkan proses dekomposisi secara biologis (biodegradable) (Effendi. sehingga nilai BOD menja& tinggi.40 m D 3 50 GO 70 .

Nilai rata-rata BOD pada permukaan sampai dengan kedalainan 10 meter masih dalam kisaran baku mutu yaitu sebesar 4.19-50.68 mg/l.26-20. Berdasarkan baku mutu (Peraturan Pemerintah Nomor 82. nilai tersebut masih dalam kisaran maksimum yang diperbolehkan yaitu sebesar 50 m a . dan 4.82 mg/l (stasiun 3). Kisaran nilai COD untuk setiap stasiun antara lain. 10.41 mgll.46-53.20 mgll. 2001) untuk kepentingan perikanan. Nilai COD semakin bertambah pada setiap penambahan kedalaman. 6.2001) untuk kepentingan perikanan.66 mg/l (Lampiran 11). Hal ini menggambarkan bahwa kandungan bahan organik yang terdekomposisi secara kimia banyak terdapat pada stasiun tersebut.64 mg/l (stasiun 4). Nilai rata-rata COD selama pengamatan adalah 19. dan bahanbahan organik ini berasal dari kegiatan KJA yang terjadi pada kedua stasiun tersebut.48 mg/l (Gambar 22 dan Lampiran 12). dengan rata-rata nilai di permukaan 17. .83 mg/l (stasiun 2). dan di kedalaman dekat dasar 29.64 mgll (stasiun I).13-39. nilai BOD yang diperbolehkan adalah sebesar 6 mgll. Chentical Oxygen Demand (COD) Nilai COD berkisar antara 4. Sedangkan nilai rata-rata BOD pada kedalaman dasar (interface) sangat melebihi dari nilai baku mutu yang diperbolehkan yaitu sebesar 13.83 mg/l. Nilainya semakin bertambah pada setiap kedalaman. g. Terlihat bahwa stasiun 2 dan stasiun 3 yang dipengaruhi oleh kegiatan budidaya KJA memiliki rata-rata COD yang tinggi dibandingkan pada stasiun 1 dan stasiun 4. 8. COD inenggambarkan dekomposisi bahan organik secara kimia dengan memanfaatkan oksigen (02) dan menghasilkan CO2 dan Hz0 (APHA.13-53.Berdasarkan baku mutu (Peraturan Pemerintah Noinor 82. 1989).

dan liat antara 51. I c . dan komposisi terendah pada bulan September pa& stasiun 1 sebesar 51. Tekstur Sedimen Dari hasil analisis diperoleh tiga macam tekstur yang terdapat pada sedimen waduk selama penelitian.32-1. komposisi liat pada setiap stasiun sangat mendominasi tekstur yang lain. Kandungan Chemical Oxygen Demand (COD) perairan pada setiap stasiun. Parameter Fisika dan Kimia Sedimen a.5%. debu antara 4.COD (mgn) 0 20 40 E n 40 COD (mg!l) 60 -M B z -30 C P 10 - . Dengan kisaran untuk pasir antara 0. yaitu: pasir. Terlihat bahwa. clan liat.5 % (Gambar 23 dan Lampiran 13).23-95.& & - Agustus -+September Gambar 22. Dengan komposisi tertinggi pada bulan September di stasiun 2 sebesar 95. dan waktu pengamatan. debu.40 3 50 60 70 'e stasiun 1 kedolamn mlitimum = 19 meter rn stasiun 2 kedal-n mksimum = 13 meter coo (msn) 0 c 10 COD (msn) 0 20 40 I 3 5 E 2 20 $ 30 g 40 0 3 50 60 kedalaman maksimum = 25 meter 70 --cJuli .6 %.l-48. dan komposisi terendah terjadi pada bulan .02%.23%. 2.02%. kedalaman. Untuk tekstur debu komposisi tertinggi terjadi pada bulan September di stasiun 1 sebesar 48.

Kisaran nilai pH tersebut termasuk dalam kategori sedimen dengan kemasaman yang sedang (Depdikbud.6%. dan komposisi terendah pada bulan Juli di stasiun 4 sebesar 0. '"1 Bulan Juli '20 1 Bulan Agustus opasir mdabu olist B P B S ~ ~dobu Oliat m Bulan September 19 pasir rn dobu o list Gambar 23.September di stasiun 2 sebesar 4.6 (Gambar 24 dan Lampiran 13). Nilai pH bulan Juli dan bulan Agustus relatif sama atau tidak terjadi perbedaan. b. 1991). Dan untuk tekstur pasir komposisi tertinggi terjadi pada bulan Agustus di stasiun 4 sebesar 1. pH Nilai pH sedimen adalah berkisar antara 5.32%. Tekstur sedimen Waduk Cirata berdasarkan stasiun dan waktu pengamatan.2-6. .1%. sedangkan pada bulan September terjadi penurunan nilai pH di setiap stasiun pengamatan.

air. Bahan organik terdekomposisi akan teroksidasi dengan penambahan oksigen dan pengurangan hidrogen menjadi karbondioksida. Pada kedalaman interface tentunya &an banyak mengandung kanbondioksida. Tingginya kandungan karbondioksida akan menurunkan pH. Pada bulan September kandungan bahan organik relatif lebih tinggi dibandingkan bulan-bulan lainnya. sehingga diduga pada sedimen waduk kandungannya juga tinggi. Ion EPinilah yang menurunkan pH pada sedimen. ini terlihat dari kandungan BOD maupun COD khususnya pada kedalaman interface (dekat dasar). Nilai pH sedlmen berdasarkan stasiun dan waktu pengamatan. . khususnya pada pengamatan bulan September. karbondioksida &an bereaksi dengan air membentuk asam karbonat (HzC03). Asain karbonat akan membentuk kesetiinbangan mambentuk ion EPd m asam bikarbonat (HCOd. dan ammonia. Penurunan yang tejadi diduga akibat adanya proses dekomposisi bahanbahan organik. Pada sedimen waduk yang basah.I Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3 Stasiun 4 Stasiun a Juli Agustus September 11 Gambar 24.

daerah KJA padat. . Perairan waduk Cirata berdasarkan kandungan ammonia total menurut kesuburannya digolongkan kedalam perairan Eutrofik. Sedangkan untuk waktu pengainatan hanya mernberikan perbedaan yang nyata pada kandungan ammonia total. sedangkan konsentrasi nitrit (NOz) dan nitrat (NO$ masih dalam kisaran baku mutu perairan. stasiun pengamatan memberikan perbedaan kandungan nitrogen yang berbeda nyata. Kandungan ammonium (~~43. Kandungan nitrogen total pada perairan cenderung mengalami peningkatan pada setiap penambahan kedalaman. Konsentrasi ammonia bebas (NH3) pada permukaan perairan sudah melebihi baku mutu (PP No 82 Tahun 2001). Pada koloin perairan kedalaman juga memberikan hasil yang berbeda nyata terhadap kandungan nitrogen di perairan.(N0i) nitrat dan nitrogen total pada sedimen cenderung mengalami peningkatan pada daerah outlet waduk. Kandungan nitrit (NO<) dan nitrat (NO3-)pada perairan cenderung mengalami penumnan. Proses nitrifikasi inasih berlangsung pada daerah inlet waduk. Tekstur liat diduga memiliki kemampuan mengikat ammonium lebih baik dibandingkan nitrat. Konsentrasi NH3 memiliki kecenderungan mengalami penurunan. Konsentrasi ammonium lebih tinggi pada sedimen. Kesimpulan Kandungan ammonia total pada perairan mengalami peningkatan pada setiap penambahan kedalaman. Tekstur sedimen banyak ditemukan dalam bentuk liat.A. kecuali pada inlet waduk yang cenderung meningkat di setiap kedalamannya. sedangkan NI&+ memiliki kecenderungan mengalami peningkatan pada setiap penambahan kedalaman. Berdasarkan statistik diperoleh. dibandingkan kandungan nitrat. sedangkan pada daerah KJA sedang. dan outlet waduk proses nitrifikasi terhainbat. Daerah KJA padat memiliki kandungan nitrogen total yang paling tinggi dibandingkan daerah yang lain.

volume air waduk. Jlushing rate) untuk melihat pengaruhnya terhadap pola distribusi nitrogen secara spasial. Perlu dilakukan kajian lanjutan dengan melihat pengaruh pola hidrologi waduk (arus air. debit. . Saran 1. 2.B. untuk dijadikan pupuk. Perlu dikaji lebih lanjut tentang pengendalian lingkungan di Waduk Cirata. seperti pemanfaatan sedimen yang sangat banyak mengandung nitrogen.

Bogor. Penerbit UI-PRESS. FPIK-IPB.Horne. 1983. 1989. 3 18p. Heinemann Educational Books. 520 h. Gamo. E. Haslam. L. 1982. S.R. 1961. A. D. APHA. Water Quality Managementfor Pond Fish Culture. California. Chichester. Jakarta. C. New York. ip/ek. 17&ed. dan G. UK. 2005. Oxfort. and A. London. New York. S. Pemelilzaraan Ikan dalam Karamba. 1983. Kimia dan Ekotoksikologi Pencemaran. 1992.J. Jawa Barat Selama Periode 2000-2004.net.C. Brown. Bogor.id (2005) Goldman. 2003. Miller. 1987. Methods of Analysisfor Soils Plants and Water. H. WPCF.DAFTAR PUSTAKA [APHA] America Public Health Association . [Depdikbud] Depatemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1995. Boyd. Jakarta. . StandardMethodfor The Examination of Water and Wastewater. C. Effendi. Elsevier Scientific Publishing Company. 163 p. Washington D. 1991. Teluuh Kualitas Air :Bagi Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan Perairan. Limnology.J. Mc Graw Hill Book Company. Feriningtyas. Amsterdam. Skripsi. H.Dinamika dan Status Kualitas Air Waduk Multi Guna Cirata. 1995. Perubalzan Spasial dan Temporal Kualitas Air Waduk Cirata. P F. Program Studi MSP. Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi IPB. Jurnal Sains dan Teknologi BPPT .AWWA. Gramedia.. Ferdiaz. Yanti K. Connell. Jakarta. 253 p. Asmawi.W. Penerbit Kanisius. Freshwater Ecology. S. D. Chapman. Polusi Air dan Polusi Udara. 2002. Penerjemah.D dan Pratt. John Wiley and Sons. http:L%/ww. University of California.M. Yogyakarta. Kimia Tanalz Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan -Kebudayaan. River Pollution and Ecological Perspective.

2000. Second Edition. Bogor. Studi Kandungan Fosfor di Perairan dun Sedimen yang Dipengaruhi Kegiatan Karamba Jaring Apung di Waduk Cirata. Marcel Dekker. Pengelolaan Budidaya Ikan Secara Lestari di Waduk (Studi Kasus di Perairan Waduk Cirata. Jawa Barut).Hehanusa P. Revised and Expanded. Jakarta. Ecology of Inland Waters and Estuaries.Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dun Pengendalian Pencemaran Air.Indonesia Programme. Pemerintah Republik Indonesia. FPM-IPB. 1991. Kartamihardja.S. S. Wetlands International . Notohadiprawiro. dan Ratnawati. Fluktuasi Kandungan Oksigen Terlarut selama 24 Jam pada Lokasi Karamba Jaring Apung. Prinsip dun Prosedur Statistika. K.H. Jawa Barat. Tan. Sekretaris Negara Republik Indonesia Jakarta. Bapedal. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebuyaan. Program Studi MSP. New York. Jakarta. Kamus Limnologi (Perairan Darat).I. Bogor. No. Tanah dun Lingkungan. dan E. G. Indriani. Swyadiputra. J.N. 7. Jakarta. Reinhold Publishing Corpoartoin. USA. Reid. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol. T. Komite Nasional Lahan Basah R. IPB. Steel.. 2005.H. Octaviany. Cirata. FPIK-IPB.N. Diterjemahkan oleh Bambang Sumantri (IPB). Kabupaten Cianjur. 2007. FPIK-IPB. Environmental Soil Science. 1998.E dan Haryani G. Nastiti. A. 2001. M. Sekolah Pasca Sarjana. Prihadi. PT. 2001. Pertumbuhan Ikan Mas (Cyprinus carpio) pada Budidaya Karamba Jaring Apung diperairan Eutrof. di Waduk Cirata.2. H. Prosiding Lokakarya Selamatkan Air Citarum. Skripsi. dun Jatiluhur. G~amedia Pustaka Utama.D dan J. 2001. Bogor. Wuduk Cirata. Dampak Budidaya Ikan Dalam Keramba Jaring Apung Terhadap Peningkatan Unsur Ndan P di Perairan Waduk Saguling. Program Studi MSP. S. 1993. 190 h. I. Skripsi. 2005. Ciputri. Disertasi. Mardiana. Inc. T. R. Puslitbang Perikanan. Sknpsi. S. K. 2001. Torrie. L. Krimono.G. IHPUNESCO. . Program Studi MSP. 2005. Bogor.

C. Wetzel. 1975. Pengantar Statistika.H. 2001. Jakarta. Wright. 1983. 2001.T. 3 1-38 Walpole. United States of America.pentejemah : Ir. . CBS College Publishing. 41 hal.. Bambang Sumantri. Jakarta. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol.A. Proyek Peningkatan Mutu Perguruan Tinggi.M. Second edition. Edisi ke-3. Institut Pertanian Bogor. 7. New York. untuk Perbaikan Kualitas Air pada Budidaya Keramba Jaring Apung. Dalam Penguraian Senyawa Belerang dun Analisis Laju Sedimentasi.Pengelolaan Kualitas Air. R. S. dan H. Limnology. Kemampuan Bakteri Desulphovibrio sp.Umar.2.S. Kartamihardja. P.E. Wardoyo. 1995. R. Academic Press. Nitrogen Excretion. E. dan Anderson P. No. G. Puslitbang Perikanan. Supriyadi. Gramedia.

.

55+0.72+0. dan kedalaman selama pengamatan Rata-rata kandungan ammonia total pada permukaan: Ammonia total (0.Lampiran 1. Kandungan Ammonia Total pada perairan berdasarkan lokasi.74+1.76 4 ..46 4 Rata-rata kandungan ammonia total pada kedalaman dekat dasar (interface): Ammonia total (interface)= 0.49 = o..29+3.08+0.59+1.o~cI) = 0. waktu.

stasiun 3 (62 meter).stasiun 1 (19 meter).Lampiran 1 (lanjutan). stasiun 2 (12 meter). Keterangan : Kedalaman interface . dan stasiun 4 (25 meter). .

Lampiran 1 (lanjutan). .

Lampiran 2. Kandungan dan tabel sidik ragam Nitrit ( O) pada perairan N; berdasarkan lokasi, waktu, dan kedalaman selama pengamatan

1

Stasiun

1

Kedalarnan

Juli

Waktu Agustus

/

September

Rata-rata

4

0 rn 10 rn 20 rn interface

0,0014 0,0000 0,0006 0,0000

0,0004 0,0001 0,0003 0,0001

0,0009 0,0011 0,0010 0,0013

0,0009 0,0004 0,0006 0,0005

Keterangan : Kedalaman interface ;stasiun 1 (19 meter), stasiun 2 (12 meter), stasiun 3 (62 meter), dan stasiun 4 (25 meter).

Lampiran 3.

Kandungan dan tabel sidik ragam Nitrat (NO?) pada perairan berdasarkan lokasi, waktu, dan kedalaman selama pengamatan

Keterangan : Kedalaman interface ;stasiun 1 (19 meter), stasiun 2 (12 meter), stasiun 3 (62 meter), dan stasiun 4 (25 meter).

Lampiran 4. Kandungan dan tebel sidik ragam Nitrogen Total pada perairan berdasarkan lokasi, waktu, dan kedalaman selama pengamatan.

Keterangan : Kedalaman interface ;stasiun 1 (19 meter), stasiun 2 (12 meter), stasiun 3 (62 meter), dan stasiun 4 (25 meter).

Lampiran 5. Kandungan dan tabel sidik ragam Nitrogen Total. Ammonia. danNitrat pada sedimen berdasarkan lokasi. dan waktu selama pengarnatan Tabel Sidik Ragam .

dan kedalaman selama pengamatan Keterangan : Kedalaman interface . dan stasiun 4 (25 meter).stasiun 1 (19 meter). stasiun 2 (12 meter). . Kekeruhan perairan berdasarkan lokasi. waktu.Lampiran 6. stasiun 3 (62 meter).

Lampiran 7. stasiun 3 (62 meter). stasiun 2 (12 meter). Suhu perairan berdasarkan lokasi.stasiun 1 (19 meter). dan stasiun 4 (25 meter). waktu. . dan kedalaman selama pengamatan Keterangan : Kedalaman interface .

clan stasiun 4 (25 meter). dan kedalaman selama pengamatan Keterangan : Kedalaman interface . Kandungan Total Suspended Solid (TSS) perairan berdasarkan lokasi. stasiun 2 (12 meter).stasiun 1 (19 meter).Lampiran 8. stasiun 3 (62 meter). . waktu.

waktu. stasiun 2 (12 meter).19 Keterangan : Kedalaman interface .20 0.19 0.21 0. dan stasiun 4 (25 meter).22 0.17 0.20 0. dan kedalaman selama pengamatan 20 rn interfase 1 0. stasiun 3 (62 meter). Kandungan oksigen terlamt (DO) perairan berdasarkan lokasi.stasiun 1 (19 meter).Lampiran 9.21 0. Rata-rata kandungann oksigen terlamt pada kedalaman 5 meter : .

dan kedalaman selama pengamatan ~edala&m interface .stasiun 1 (19 meter).Lampiran 10. stasiun 3 (62 meter). . stasiun 2 (12 meter). Kandungan pH perairan berdasarkan lokasi. dan stasiun 4 (25 meter). waktu.

Kandungan Biochemical Oxygen Demand (BOD) perairan berdasarkan lokasi.Lampiran 11.05+2.10meter) = 5.56+9. waktu.60+4.36+3. stasiun 2 (12 meter). stasiun 3 (62 meter).68 8 Rata-rata kandungan BOD pada kedalaman dekat dasar (interface): .41~ = 4. clan stasiun 4 (25 meter). dan kedalaman selama pengamatan Keterangan : Kedalaman interface . stasiun 1 (19 meter). Rata-rata kandungan BOD pada permukaan sampai kedalaman 10 meter : BoD(o.48+3.23+5.24+3.

03 =29.Lampiran 12. stasiun 3 (62 meter).20+15. waktu.48 4 .20 4 Rata-rata kandungan COD pada kedalaman dekat dasar (interface): COD (interface) = 19. Rata-rata kandungan COD pada permukaan: COD(O meter) = 17. stasiun 2 (12 meter).46 + 27.14 = 17.26 + 17.20+19.93+35. dan kedalaman selama pengamatan Keterangan : Kedalaman interface . dan stasiun 4 (25 meter). Kandungan Chemical Oxygen Demand (COD) perairan berdasarkan lokasi.stasiun 1 (19 meter).53+35.

dan waktu selama pengsunatan H sedimen Stasiun Juli Waktu Agustus 1 September / Rata-rata Tekstur sedimen .Lampiran 13. Kandungan pH dan persentase kandungan tekstur sedimen berdasarkan lokasi.

Pipet 25 ml sample air yang sudah disaring ke dalan Bleaker glass LOO in1 2. Tambahkan 2. Prosedur pengukuran parameter kualitas air (APHA. Ambil aquadest 10 ml masukkan ke &lam gelas piala.42 atau yang kertas lain yang setara 2. Tambahkan 1 ml Phenol Solution. aduk rata 5. 1998) Prosedur pengukuran Ammonia Total 1. aduk 3.2 ml(4 tetes) NED.Nihoposside 4. Tambahkan 0. Ukur dengan Spectrophotoineter dengan panjang gelombang 543 nm . aduk biarkan 10 menit agar terbentuk wama merah muda dengan sempurna 5. Tambhakan 0. Ukur dengan Spectrophotometer pa& panjang gelombang ( 640 nm). Tambahkan 1 ml Sod. inasukkan ke dalam gelas piala 3. Saring ke dalam erlenmeyer menggunakan kertas saring Whatman No. Sirnpan / biarkan selama 1jam tutup dengan Alumunium Foil 6.p H ) Keterangan : pKa : konstanta logaritma negatif yang bergantung pada suhu Prosedur pengukuran Nitrit 1. lakukan seperti langkah 3-4 6. aduk dan biarkan 2-4 menit (jangan lebih) 4.2 ml(4 tetes) Sulfnnilamide.Lampiran 14.5 ml Oxidizing Solution. Pipet 10 ml air sample yang telah disaring. Prosedur pengukuran Ammonia Bebas % ammonia tak-terioisasi (Ammonia bebas) = a 100 1+ antilog(pKa .

Ambil kertas saring taruh di tempat khusus 13. Simpan kertas saring dalam desikator 9. pipet 5 ml aquaest masukkan ke dalam gelas piala. aduk dan diamkan hingga dingin 5. Bilas kertas saring dengan air suling (20 ml) 2. Siapkan kertas yang telah diketahui beratnya pada alat penyaring 10. Keringkan dalam pengering pada suhu 103-105 oC selama satu jam 14. Dinginkan dalam desikator selama 10 menit kemudian timbang.42 yang kertas lain yang setara 2. Ulang langkah 4-6 (kehilangan berat < 4%) missal = B milligram 8. lakukan seperti langkah 3-4 6. Saring ke dalam erlenmeyer dengan menggunakan kertas saring Whatman No. Contoh dikocok masukkan ke alat penyaring. * Prosedur pengukuran Nitrit 1. Ambil kertas saring dan simpan di tempat khusus kertas 4. Ukur menggunakan Spectrophotometer dengan panjang gelombang 410 nm.Lampiran 14 (lanjutan). aduk 4. Prosedur pengukuran Total Suspended Solid (TSS) 1. Saring contoh lalu residu tersuspensi bilas dengan air suling 10 ml 12. Dinginkan dalam desikator 10 menit 6. Tiinbang di neraca analitik 7. Ulangi pembilasan 3. inisal a miligram . Keringkan kertas dalam oven (T= 103-105 oC) selama 1jam 5.5-200 mg 11. Tambahkan 5 ml Asam Sulfat pekat (gunakan ruang asam). Pipet 5 ml air sample yang telah disaring. Tambahkan 0. Untuk pengukuran blanko. masukkan ke dalam gelas piala 3. sesuaikan benyaknya sehingga berat residu antara 2.5 ml(10 tetes) Brucine.

Lampiran 14 (lanjutan) Perhitungan : TSS (mgll) = (A-B) x 1000 I ml contoh Prosedur pengukuran Chemical Oxygen Demand (COD) (metode Refluks terbuka) 0 1.5 ml aquades 7. catat ml titran (A ml) Perhitungan : COD (ing 0211) = /A-B) x 8 x 1000 ml sampel Keterangan : A = ml FAS yang terpakai saat titrasi blanko B = ml FAS yang terpakai saat titrasi sampel M = Molaritas FAS (0. Tambahkan 5 ml K2Cr207 0. Tutup erlenmeyer dengan cawan petri untuk mencegah masuknya material asing. Titrasi kelebihan K2Cr207 menggunakan FAS 0. 5. Setelah selesai buka tutupnya lalu dinginkan 6 .025 N (Ferros Amonium Sulfat). Masukkan H2S04 (15 ml) 4. sebelumnya tambahkan indikator feroin 2-3 tetes sampai terbentuk warna hijau biru dan titik akhir titrasi ditandai dengan perubahan warna menjadi merah bata yang stabil dalam 1 menit.025 N.025 N) 8000 = miliekivalen bobot Oksigen x 1000 mlll . Biarkan selama 30 menit. lalu aduk 3. Pipet 10 ml sample masukkan ke dalam erlenmeyer 2. Lakukan blanko (10 aquades + prosedur 2-7 di atas). Encerkan larutan sampel dengan 7. Catat ml titran (B ml) 8.

Bila air keruh sekali. Ambil air sainpel ke dalam botol BOD sampai penuh clan tutup. tambahkan amium 2-3 tetes. Tambahkan 1 ml(20 tetes) larutan MnS04 4. Titrasi dengan Na-Thiosulfat sampai benvama kuning muda. air contoh diencerkan 5-10 kali (dengan aquadest) 3.Lampiran 14 (lanjutan). kemudian tutup. aduk (bolak-balik) diamkan sampai inengendap 5. Tambahkan sulfamic acid 0. Masukkan kedalam botol BOD kecil 125 ml atau 250-300 ml . Contoh air diaerasi atau kocok-kocok sampai jenuh 4. Catat ml titran yang terpakai Perhitungan : Keterangan : N = Normalitas Tiosulfat Prosedur pengukuran Biochemical Oxygen Demand (BOD) 1.5 ml(10 tetes) ke dalam botol BOD 125 ml 3. Setelah inengendap tambahkan 1 ml(20 tetes) H2S04 pekat atau sampai endapan larut 6 . Tambahkan 1 ml(20 tetes) larutan NaOH + KI. hindari adanya gelembung udara 2. Pipet 50 ml air contoh dari botol BOD ke dalam erlenmeyer 7. Teruskan sampai tidak bewama. Ambil contoh 500 ml (tanpa pengawet) dalam botol plastik 2. Prosedur pengukuran Dissolve Oxygen (DO) I.

Setelah 5 hari dianalisis seperti DO (seperti item 5). Simpan di es box dengan suhu 200C sebagai DO 5 9.Lampiran 14 (lanjutan). catat ml titran sebagai DO 1 6. 5. Caatat ml titran DO 5 10. DO 5 hams h a n g dari DO 1 Perhitungan : . Sisa air contoh dari item 4. kerjakan atau reaksikan dengan bahan kimia seperti DO winkler (lihat prosedur DO). Ditutup dan bungkus rapat dengan plastik hitam (menghindari cahaya atau fotosintesis) 8. dimasukkan ke dalam botol BOD bekas pengenceran no-5 7.

Tambahkan aquadest 100 ml 5. Tambahkan indikator 5 tetes 8.Prosedur pengukuran parameter Sedimen (Chapman dan Pratt. Catat hasil titrasi HC1 Perhitungan : .Lampiran 15. Pipet 5 ml sampel 2. Tambahkan Defordaaloel grain 3. Tambahkan 1 ml etanol 4. Tambahkan indikator 5 tetes 8. Lalu tambahkan MgO sebanyak 1 gram 6. Catat hasil titrasi HCl Perhitungan : * Prosedur pengukuran Ammonium 1. Pipet 5 ml sampel 2. Lalu tambahkan NaOH 5% sebanyak 5ml 6. Prosedur pengukuran Nitrat 1. Sampel yang telah dicampurkan tersebut di destilasi dan hasil destilasi ditampung dengan Erlenmeyer 250 in1 yang sudah di isi H3B03 1% 7. Sampel yang telah dicampurkan tersebut di destilasi dan hasil destilasi ditampung dengan Erlenmeyer 250 ml yang sudah di isi H3B03 1% 7. Hasil Destilasi dititrasi dengan HCl yang sudah diketahtri normalitasnya 9. 1961). Tambahkan 1 ml etanol 4. Tambahkan Defordaaloel gram 3. Hasil Destilasi dititrasi dengan HC1 yang sudah diketahui normalitasnya 9. Tambahkan aquadest 100 ml 5.

Destruksi sampel tersebut 5. Tambahkan 50 ml aquadest lalu masukkan ke tabung destilasi dan tambahkan aquadest 100 ml 6 . Tambahkan NaOH 20% 20 ml 7. Tambahkan Selenium Mixer. Ben indikator 0. Tambahkan H3B03 1% 8. inasukkan ke dalam botol.5 gram sampel 2. Pipet 0. dan digoyang agar tercampur sempuma 4. Destilasikan sampel tersebut 10. Timbang 10 gram contoh tanah kering udara yang 1010s saringan 2 milimeter. Hasil dari proses destilasi di titrasi dengan HCl yang sudah diketahui normalitasnya 11. Tambahkan 10 ml aquadest untuk penetapan pH H20 atau tambahkan 10 ml larutan KC1 1 N untuk penetapan pH KC1 3. Prosedur pengukuran Nitrogen Tot& 1. kocok 2.(blanko(ml)))xN(HCl)x14xBKM BKM = Bobot Kering Mutlak Prosedur pengukuran pH 1. lalu tambahkan H2S04 sebanyak 5 ml 3. Kocok selama 30 menit dengan mesin pengocok. diamkan sebentar 4. Catat hasil titrasi HC1 Perhitungan : 100 N-total (96) = ((sampel(m1)) . Tambahkan 5 tetes parapin cair. (lanjutan).25 ml(5 tetes) 9. Ukur dengan pH meter .Lampiran 15.

Lakukan pemipetan dari tabung sedimentasi tersebut menurut waktu kedalaman pipet 10. * Prosedur pengukuran tekstur tanah 1. Sisakan fraksi pasir dengan menggunakan ayakan 50 p. Tutup gelas dengan karet. Setiap pemipetan dituangkan kedalam cawan alumunium untuk diuapkan aimya.Lampiran 15. (lanjutan). Lakukan pencucian C1 sampai semua C1 hilang (uji dengan perak nitrat tidak tejadi awan putih berarti C1 habis) 5. Tambahkan 50 ml H202 30% (untuk menghacurkan bahan organik) simpan di atas bak berisi air kocok lalu tarnbahkan 6 tetes asam asetat 99% biarkan satu malam 3. clan kocok lalu didirikan dalam bak air kemudian buka sumbatnya catat waktu selesai pengocokan 9.2 N (untuk melarutkan CaC03) tambahkan air kurang lebih separuh gelas pala kemudian didihkan kira-kira 20 menit 4. Kedalam tabung sedimentasi yang berisi debu dan liat tambahkan 2 ml Nu-pirofosfat (yang sudah diketahui bobotnya) biarkan selama 1 jam. selanjutnya dimasukkan ke dalam tanur pada suhu 105 oC akhimya dimasukkan dalam eksikator lalu ditimbang. Timbang 10 gram tanah kering udara 1010s saringan 2 rmn. Fraksi debu dan liat ditampung dalam tabung sedimentari 1 liter 6.5 HC16 N untuk tiap 1% CaC03 dan 100 ml HCl 0. Pindahkan fraksi pasir dari ayakan ke dalam cawan alumunium (yang sudah diketahui bobotnya) kemudian keringkan dalam oven pada suhu 105 oC semalam lalu tentukan bobot pasir 7. tambahkan air sampai tanda tera 8. Panaskan di atas penangas air sambil ditambahkan H202 sedikit demi sedikit sambil diaduk-aduk sampai semua bahan organik habis (tidak ada buih lagi) tambahkan 0. . masukkan ke dalam gelas piala satu liter 2.

Gambar lokasi pengamatan (stasiun) selama penelitian Stasiun 1 (inlet waduk) Stasiun 2 (KJA sedang) ..ampiran 16.

Lampiran 16. (lanjutan) Stasiun 3 (KJA padat) Stasiun 4 (outlet waduk) .

.Lampiran 17. Garnbar penyusutan air waduk Cirata.

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. pernah aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa FPM IPB sebagai anggota di bidang Hubungan Luar dan Komunikasi tahun 2004-2005. penulis menyusun skripsi dengan judul "Kajian Kandungan Nitrogen pada Kolom Perairan dan Sedimen Akibat Aktivitas Keramba Jaring Apung di Waduk Cirata. Tahun 2003 penulis lulus dari SMU Negeri 47 Jakarta. Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan. Ichsan dan ibu : Muti'ah. dan pada tahun yang sama lulus seleksi masuk Institut Pertanian Bogor melalui Jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI). selain itu aktif juga sebagai Pengurus Himpunan Mahasiswa Manajemen Sumberdaya Perairan (HIMASPER) pada bidang Hublukom di tahun yang sama. dan asisten mata kuliah Ikhtiologi tahun 200512006. pada tanggal 22 Maret 1985 dari pasangan bapak : Moch. . IPB. Selama mengikuti perkuliahan. Penulis memilih Program Studi Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan Perairan. Jawa Barat". Penulls merupakan anak ketiga dari lima bersaudara. Berperan aktif sebagai Organizing Committee (OC) masa perkenalan FPM mahasiswa baru tahun 2006 dan masa perkenalan Departemen MSP mahasiswa baru tahun 2006 serta sebagai peserta pada beberapa seminar yang diselenggarakan di lingkungan Institut Pertanian Bogor.AYAT HJDUP Penulis dilahirkan di Jakarta. Penulis juga aktif sebagai asisten mata kuliah Pengantar Matematika pada tahun ajaran 200412005. Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sajana pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful