KAJLAN KANDUNGAN NITROGEN PADA KOLOM PERAIRAN DAN SEDIMEN AKIBAT AKTIVITAS KERAMBA JARING APUNG DI WADUK CIRATA

, JAWA BARAT

RAHMATULLAB AL FATIH

PROGRAM STUD1 M A N A m m N SUMBERDAUA PE FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

ABSTRAK
RAHMATULLAH AL FATIH (C24103051). Kajian Kandungan Nitrogen pada Kolom Perairan dan Sedimen Akibat Aktivitas Karamba Jaring Apung di Waduk Cirata, Jawa Barat. Di bawah bimbingan ENAN M. ADIWaAGA dan TRI HERU PRZBADI.

Penelitian bertujuan untuk mengkaji kandungan nitrogen di perairan dan di dasar sedimen, yang diakibatkan oleh aktivitas Karamba Jaring Apung (KJA). Penelitian dilakukan di Waduk Cirata dari bulan Juli sampai September tahun 2006. Terdapat empat stasiun pengamatan yaitu; inlet waduk (stasiun I), daerah KJA sedang (stasiun 2), daerah KJA padat (stasiun 3), clan outlet waduk (stasiun 4). Terdapat dua jenis sampel yang diambil yaitu sampel air dan sampel sedimen. Sampel air diambil secara vertikal di setiap stasiun pada interval 10 meter (0 m, 10 m, 20 m, 30 m) dan kedalaman dekat dasar (interface). Sampel sedimen diambil satu kali pada setiap stasiun. Nitrogen yang diteliti pada penelitian ini nitrit (NO;), nitrat (NOi), nitrogen antara lain; ammonia total (NH3 dan total (untuk nitrogen di perairan), ammonium (NH~'), nitrat (NOi), nitrogen total (untuk nitrogen di sedimen). Analisis statistik untuk nitrogen di perairan menggunakan Rancangan Petak Terbagi (Split Plot Design), untuk nitrogen di sedimen menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK), dan uji lanjut Beda Nyata Terkecil (BNT). Kandungan ammonia total pada perairan mengalami peningkatan pada setiap penambahan kedalaman, Konsentrasi ammonia bebas (NH3) inemiliki kecenderungan mengalami penurunan, sedangkan ammonium ( ~ ~ 4 3 memiliki kecenderungan mengalami peningkatan pada setiap penambahan kedalaman. Kandungan nimt dan nitrat (NO?) pada perairan cenderung mengalami penurunan, kecuali pada stasiun 1 yang cenderung meningkat di setiap kedalamannya. Kandungan ammonium (NH~'), nitrat (NO33 dan nitrogen total pada sedimen cenderung mengalami peningkatan pada stasiun 4 (outlet waduk). Tekstur sedimen banyak ditemukan dalam bentuk liat. Tekstur liat diduga memiliki kemampuan inengikat ammonium lebih baik dibandingkan nitrat. Perairan wad& Cirata berdasarkan kandungan ammonia total menurut kesuburannya digolongkan kedalam perairan Eutrofik.

~a,

KAJIAN KANDUNGAN NITROGEN PADA KOLOM PERAIRAN DAN SEDLNIEN AIUBAT AKTMTAS I<ERAME%A JARING APUNG DI WADUK CIRATA, JAWA BARAT

Oleh : RAHMATULLAH AL. FATIH C24103051

SKRZPSI Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Perikanan Pada Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan

P R O G M STUD1 MANAJERZEN SUMBERDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN IliMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

adalah benar merupakan hasil karya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Januari 2008 . JAWA BARAT.PERNYATAAN MENGENAI SKRZPSI DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan bahwa Skripsi yang berjudul KAJIAN KANDUNGAN NITROGEN PADA KOLOM PERAIRAN DAN SEDLMEN AKIBAT AKTMTAS KERAMBA JARING APUNG DI WADUK CIRATA. Semua sumber data dan informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan &lam Daftar Pustaka di bagian akhir Skripsi ini Bogor.

Judul : Kajian Kandungan Nitrogen pada Kolom Perairan dan Sedimen Akibat Aktivitas Keramba Jaring Apung di Waduk Cirata. 130 892 613 Mengetahui. Enan M. Pembimbing I Pembimbing I1 Dr. Ir. Adiwilaga NIF'. Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Tanggal Lulus : 17 September 2007 . Jawa Barat Nama NIM : Rahmatullah A1 Fatih : C24103051 Disetujui.

Ir. Keluarga tercinta (Bapak. Bapak Dr. Mukhlis Kamal. M. Pada kesempatan ini. dan kasih sayang yang tak terhingga kepada penulis. penulis sampaikan ucapan terima kasih kepada : 1. 5.Sc selaku dosen pembimbing I1 atas kese~npatannya yang diberikan untuk mengikuti penelitian ini. Bapak Ir.Ir.KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah meinberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian ini yang berjudul "Kajian Kandungan Nitrogen pada Kolom Perairan dan Sedimen Akibat Aktivitas Keramba Jaring Apung di Waduk Cirata. dan Ibu Dr. Ayu. Adiwilaga selaku dosen pembunbing I yang telah banyak bersabar meinbimbing penulis. Tri Heru Prihadi. Enan M. Bogor. semangat.Si selaku dosen penguji yang telah banyak memberikan masukan untuk kesempumaan skripsi ini. M. serta b a n t w ~ y a . Teman-teman MSP angkatan 40 yang telah memberikan semangat dan motivasi. Januari 2008 Penulis . arahan. M.Ir. 3. Institut Pertanian Bogor. Pratiwi. memberikan banyak masukan. 42 atas dukungannya selama ini. 41. Aji) atas doa. M. Bapak Dr. Jawa Barat". serta masukan. dan saran berharga kepada penulis. Mas Ali.dan teman-teman MSP angkatan 39. 6 .Sc dari pihak Departemen. arahan. Mas Iim. Skripsi ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan dan Ilmu Kelautan. karena penulis sadar bahwa tulisan ini masih banyak kekurangan dan kesalahan demi kesempumaan dalam melakukan penelitian ini. Bapak Dr. dukungan. Penulis mengharapkan kritik serta saran yang membangun bagi kesempumaan tulisan ini. Ibu. 4. M. M.Sc selaku dosen pembiinbing akademik atas bimbingan yang diberikan kepada penulis baik saran maupun nasehat yang bermanfaat kepada penulis selama mengikuti perkuliahan. clan saran dalam penulisan skripsi ini. nasehat. 2. Semoga penelitian ini dapat bermanfaat dan berguna bagi pembangunan perikanan di Indonesia. Zairion. Niken T.Ir.

...... A....................... D.... ........ .. ..... Biochemical Oxygen Demand (BOD) ......... J ......... Analis~s Data ......................................... .............. ................... Waktu clan Lokasi Penelitian ...... Analisis Data Sedimen ....................................................................... ................. E ............... ... Nitrogen ............... ................. C.... I PENDAHULUAN B ... Pengambilan Sainpel ........................... Metode Analisis Kualitas Air dan Sedimen ........ ............................................................................................................ ................ a...................................................... Tujuan dan Manfaat ......................... 1................. Latar Belakang .............................................................. iv v vii 1 .................................... ................................................................ .......................................... Sedimentasi Waduk Cirata.................. Metode Kerja .. Total Suspended Solid (TSS) .......... Alat dan Bahan ... ....................................................................... ...................................................... ..... .............................. pH ....................................................................................................... Analisis Data Kualitas Air .................... ........ B............................ ................ .......... K............................................................................... Oksigen Terlarut (Dissolved Oxygen (DO)) ..... ...... ........................ ........................ ..... .............................................. Suhu ............................... 4 ... ......................................... 1... 11 .. F .......................................................... C... TINJAUAN PUSTAKA ............... Chemical Oxygen Demand (COD) .............. Nitrat (NO3) ........DAFTAR IS1 Halaman KATA PENGANTAR DAFTAR IS1 DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN ......................... Penentuan Lokasi Penelitian ............................................... 2........... ................................................ Perumusan Masalah .......................... ................... L................................................................ .............. ..... Kekeruhan ............. ............. 2 ............... G......................... I............. H.................................... ............. ...................... i ................... B.................................... Baku Mutu Kualitas Air ................................ ~ m m o n i ~ o t a(NH3dan N + a l & ) ....... b....... ....... Waduk Cirata .................. ................................... ................... C............................................ Nltrlt (NOi) 3......... I1...... ...................................... Sedimen .......... A............... A.............. ........................... 3 ............................................

........ Nitrat (NO3-) ............ ... Ammonia total (NH3dan ~ ~..... Kondisi Perairan dan Sedimen Waduk Cirata . ........................... B.................. 3. ....................................... ......... ........... c...... Nitrat (NOi) ........ ......................... A ............. . Suhu ....... 4 ................................ Saran .................... Parameter Fisika Perairan dan Kimia Perairan ............ B.... Nitrogen Total ......................... 1..... 4 3 ............. ....................... pH ...................................... ................ ................ 2........................ e.... f g................................................................ d ............ ...................HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................................................................................................................... iii ...... . 1...... .... ............... Kesimpulan .................... Kandungan Nitrogen di Sedimen ......................................................................... ...... Nltrlt ( N o d .................................................... .. a......................... ....... Total Suspended Solid (TSS) ..... Kandungan Nitrogen di Perairan ....... .................................. Chemical Oxygen Demand (COD)............. b................... 2 ................1%'....................... 1........... A .... ...... Kekeruhan ......... Biochemical Oxygen Demand (BOD) .............. Tekstur Sedirnen ............................... a.................. Oksigen Terlarut (Dissolved Oxygen (DO)) ........ DAFTAR PUSTAKA ............................... ............. Ammonium ( ~ ~............................................................................ C....................................................................... 3 ......................... ...... Parameter Fisika Perairan dan Kimia Sedimen .................. 43 2............... Nitrogen Total .......... .......................................................

......... ............................... 15..l) . Kriteria kulitas air berdasarkan nilai BOD .................. ........... 13...........................l) .... 2................ 8.. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor kedalarnan terhadap kandungan Nitrogen Total perairan (a=0........1) .................... 10. 12.................................... Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Ammonia Total perairan (a=0.............. Tabel Sidik Ragam Rancangan Acak Kelompok.. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Ammonium sedimen (a=0.......................1) .. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Nitrat sedimen (a=0................. metode...l).................................................... 14................DAFTAR TABEL unan 1................ ................... 18.. ................................................ 13 d m sampel sedimen................................ 3....1)........................ Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Nitrogen Total sedimen (a=0............. .......................................... dan lokasi analisis sampel kulitas air.... Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor kedalaman terhadap kandungan Nitrat perairan (NO<) (a=O...... Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor kedalaman terhadap kandungan Ammonia Total perairan (a=0.......................................... Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor waktu terhadap kandungan .............................. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor kedalaman terhadap kandungan Nitrit perairan (NO<) (a=0...... Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Nitrit perairan (NOi) (a=0................................. .......... Tabel Sidik Ragam Rancangan Petak-Terbagi ..........1)..... 5... Kesesuaian perairan untuk kepentingan perikanan berdasarkan padatan tersuspensi (TSS) ......... ............................... ........ 4.............1) ........ 7. .................. ............................................................. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Nitrogen Total perairan (a=O...1)......................... ......1) ............................ 9............. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Nitrat perairan ( N o d (a=0.................... 16..........................................................1) .................................... Ammonia Total (a=O.................. 11............................ 6..................................1) ............ 17...... Parameter....... .... Kriteria Mutu Air menurut Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 ............

. 8...................................... ......................... Konsentrasi Nitrogen Total sedimen berdasarkan stasiun dan waktu pengamatan.......... ................................. Kandungan nitrit ( O stasiun dan waktu pengamatan.......... Sebaran vertikal nitrat ( O N....................................... ... . Suhu perairan pada setiap stasiun.... ......... Kandungan Total Suspended Solid ( T S S ) perairan pada setiap stasiun..... perairan berdasarkan kedalaman pada setiap 10..................... ..... Kandungan nitrat (NO.................. kedalaman............... dan waktu pengamatan............... J3 7.... kedalaman.................... ........ 5...... ......... perairan berdasarkan kedalaman pada setiap 11..... Kandungan nitrogen total perairan berdasarkan kedalaman pada setiap stasiun dan waktu pengamatan................. dan waktu pengamatan...... 18........ 3.. Konsentrasi Ammonium sedimen berdasarkan stasiun dan waktu pengamatan......................................................... ............. ...................... 32 33 34 39 43 ~3 N) .................. 47 13................................... ....... Skema perurnusan masalah penelitian ........................................... Kandungan ammonia bebas (NH3)berdasarkan kedalainan pada setiap stasiun dan waktu pengamatan.......... ............ Konsentrasi Nitrat (NO33sedimen berdasarkan stasiun dan waktu pengamatan .................. ......................... .............. ........................... kedalaman...... .. Sebaran vertikal ammonia berdasarkan kesuburan perairan........ ..................... Kandungan ammonium perairan berdasarkan kedalaman pada setiap stasiun dan waktu pengamatan. 6..................... 19. ....... ...... 14...DAFTAR GAMBAR Gambar 1......................... 4...... ......... Peta lokasi penelltian ...... . .......................................................... 16... ) berdasarkan tingkat kesuburan peralran ... ... dan waktu pengamatan........... .............. dan waktu pengamatan......................... Halaman 3 6 8 11 18 20 2........ Sebaran secara vertikal nitrogen berdasarkan tingkat kesuburan pera~ran .... Tingkat Kemasaman pH Tanah ....... ................. 15. 17............. ...... kedalaman.. .................................................................. Kandungan oksigen terlarut (DO) perairan pada setiap stasiun.............. ...................... Kekeruhan perairan pada setiap stasiun.............) stasiun dan waktu pengamatan.......... (H3 N4 50 52 54 56 57 58 60 .......................... 12........................................ Kandungan atmnonia total (NH3dan N& perairan berdasarkan kedalaman pada setiap stasiun dan waktu pengamatan..................... 9................................ .....

.... 62 64 22........... dan Halaman waktu pengamatan............................ 65 66 .............................................. dan waktu pengamatan .......... Nilai pH perairan pada setiap stasiun... Kandungan Chemical Oxygen Demand (COD) perairan pada setiap stasiun... Kandungan Biochemical Oxygen Demand (BOD) perairan pada setiap stasiun............... Nilai pH sedimen berdasarkan stasiun dan waktu pengamatan ... kedalaman. Tekstur sedimen Waduk Cirata berdasarkan stasiun dan waktu pengamatan ........Gambar 20 .................. dan waktu pengamatan. 24........... 23..................... 61 21.......................................................... kedalaman. kedalaman.....

..................... Kandungan pH dan persentase kandungan tekstur sedimen berdasarkan lokasi.... Kekeruhan perairan berdasarkan lokasi............ waktu....................... 6. . 15... .......... dan waktu selama pengamatan........ Prosedur pengukuran parameter kualitas air ... waktu. waktu.......... dan kedalaman selama pengamatan ........... dan kedalaman selama pengamatan .......... waktu.................................... Kandungan dan tebel sidik ragam Nitrogen Total pada perairan berdasarkan lokasi.. Kandungan Total Suspended Solid (TSS) perairan berdasarkan lokasi.... Suhu perairan berdasarkan lokasi.......................... dan kedalaman selama pengamatan ....... waktu.. waktu...... dan waktu selama pengamatan ......... Kandungan pH perairan berdasarkan lokasi......... .. lokasi...... . 7............ 76 77 78 4.... 11 Kandungan Biochemical Oxygen Demand (BOD) perairan berdasarkan lokasi........... ... ....................... Kandungan Chelnical Oxygen Demand (COD) perairan berdasarkan ................. 15...... ................. 1. dan kedalaman selama pengamat 12. Kandungan Ammonia Total pada perairan berdasarkan lokasi. 8............. Ammonia............. Kandungan oksigen terlarut (DO) perairan berdasarkan lokasi............ .......... dan kedalaman selama pengamatan..... Kandungan dan tabel sidik ragam Nitrogen Total........ .... ............ dan kedalaman selama pengamatan .. 14.. 3... 16..................................Lampiran Halaman 73 1... ...... Gambar penyusutan air waduk Cirata ...... Kandungan clan tabel sidik ragam Nitrat (NO<) pada perairan berdasarkan lokasi............................ waktu......... .............. Kandungan dan tabel sidik ragam Nitrit (NOi) pada perairan berdasarkan lokasi..... waktu.............................. dan kedalaman selama pengainatan.................. waktu............. 10......... dan kedalaman selama pengamatan ........... dan Nitrat pada sedimen berdasarkan lokasi......... Kandungan Ammonium Bebas (NH3) dan Ammonium pada perairan berdasarkan lokasi... 79 80 81 82 83 84 85 86 88 93 96 98 ......................................................................... 9. Tabel Sidik Ragam kandungan ammonia total ............ 5............ Gambar lokasi pengamatan (stasiun) selama penelitian ............. waktu....... Prosedur pengukuran parameter Sedimen .... dan kedalaman selama pengamatan ... vii . waktu. dan kedalaman selama pengamatan . dan kedalaman selama pengamatan ...... 2.. dan kedalaman selama pengamatan 13.... ....... ................ waktu............ (~~43 74 75 1..................

dengan luas 6. Waduk tersebut terletak di antara waduk Saguling dan waduk Jatiluhur. Selain sisa pakan. perikanan. Pembangunan waduk pada awalnya diperuntukkan bagi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) disamping itu waduk ini juga memiliki potensi sebagai irigasi pertanian. Perkembangan budidaya KJA yang selnalan meningkat jumlahnya diduga sudah melebihi kapasitas waduk sehingga dapat menurunkan daya dukung waduk. namun jumlah yang sesungguhnya terdapat pada waduk tersebut melebihi jumlah ideal yang diperbolehkan. dan Purwakarta. perhubungan. Latar Belakang Waduk Cirata merupakan waduk yang berada pada aliran Sungai Citarum. Sisa pakan yang tidak termakan akan meningkatkan kandungan nitrogen di perairan akibat dekomposisi protein yang terkandung didalam pelet. dan daerah wisata.200 Ha. terletak di tiga kabupaten yaitu Cianjur. Jumlah ideal KJA yang diperbolehkan adalah 12. hasil metabolisme ikan-ikan budidaya berupa feses yang banyak mengandung ammonia ( N H 3 ) akan meningkat jumlahnya. Pakan komersial mengandung lebih dari 20% protein di dalamnya (Prihadi. Jumlah KJA yang terhitung sampai tahun 2003 sudah mencapai 38. Jumlah yang semakin tidak terkendali dari KJA ini menyebabkan beberapa masalah lingkungan yang secara tidak langsung juga akan berpengaruh pada kegiatan KJA.A.000 KJA.286 KJA dengan jumlah peiniliknya sebanyak 3. . Bandung. Propinsi Jawa Barat. 2005). Pakan tambahan (pelet) yang diberikan tidak semuanya efektif tennakan oleh ikan. 2005). Selana beberapa tahun belakangan ini perkembangan Waduk Cirata semakin meningkat khususnya pada sektor perikanan budidaya Karamba Jaring Apung (KJA).899 orang (Prihadi. Kegiatan budidaya ikan yang dilakukan di Waduk Cirata merupakan kegiatan yang intensif sehingga inenggunakan pakan tambahan (pelet) (Nastiti et aJ2001). Waduk ini dibangun pada tahun 1988. Pada konsentrasi yang berlebihan ammonia akan mematikan bagi ikan dan bagi organisme perairan lainnya. Pakan tambahan biasanya mengandung protein yang tinggi untuk meningkatkan pertumbuhan ikan.

Kegiatan budidaya KJA secara tidak langsung akan meningkatkan konsentrasi nitrogen di perairan. 2003). Sisa-sisa pakan yang tidak termakan dan tinja (feses) ikan akan menyebabkan terakumulasinya bahan-bahan organik ini pada perairan dan mengendap di dasar waduk. 2005). Protein mengandung 16% nitrogen di dalamnya (Depdikbud. Hal ini tentunya dapat m e n d a n produksi perikanan budidaya KJA yang terdapat di waduk Cirata. Limbah yang dibasilkan dari kegiatan KJA sebagian besar mengandung nitrogen. Selain itu keberadaan KJA akan menambah kandungan bahan organik dari sisa-sisa pakan dan feses dari ikan. Nitrogen ini selain dihasilkan oleh sisa pakan juga bisa berasal dari sisa metabolisme urine maupun tinja dari biota akuatik yang berupa ammonia (NH3) (Effendi. dalam Indriani. B. Peningkatan ini tentunya akan berdampak bagi ekosistem perairan dan bagi pertumbuhan organisme perairan didalamnya. Pralaraan beban limbah bahan limbah organik yang berasal dari kegiatan bumdaya ikan KJA Waduk Cirata sebesar 6. 1991). . Kondisi perairan waduk yang relatif tenang menyebabkan terakumulasinya kandungan nitrogen di perairan dan dapat menyebabkan sedimentasi pada dasar waduk.365 tonltahun (Sukimin. Hal ini akan berdampak bagi penurunan daya dukung dari waduk. Perurnusan Masalah Meningkatnyajumlah KJA pada waduk Cirata sudah melebihi dari batasan yang diperbolehkan. Ammonia (NH3) dalam jumlah yang berlebihan bersifat toksik pada ikan sehingga keberadaannya di perairan akan menghambat pertumbuhan ikan bahkan bisa menyebabkan kematian pada ikan. Pakan tambahan yang digunakan pada budidaya KJA biasanya mengandung protein yang tinggi untuk meningkatkan perturnbuhan ikan. Hal ini berakibat meningkatkan kandungan nitrogen pada sedimen waduk dan juga akan mempengaruhi kandungan nitrogen di perairan. serta akan menurunkan kualitas air yang akhimya menurunkan produktivitas perairan waduk tersebut.121 ton dan ketebalannya lebih dari 2 meter. Prihadi (2005) memperlurakan jumlah sisa pakan yang terdapat di dasar waduk telah melebihi 279. Skema p e m u s a n masalah penelitian disajikan pada Gambar 1.

Tujuan dan Manfaat Penelitian ini bertujuan untuk melihat kandungan nitrogen di perairan dan di dasar sedimen. \ IKJA ! Bahan Organik l. Jawa Barat. Skema perumusan masalah penelitian C. dan diharapkan informasi yang diperoleh dapat dijadikan bahan masukan bagi pengelolaan di Waduk Cirata.I Kualitas Air . . yang diakibatkan oleh aktivitas Karamba Jaring Apung (KJA).lengundilp Dekomposisi Petliempsnoriliitieil i I I I I I I I I 1 Dekomposisi Nitrogen Sedimen I 1 Gambar 1.

dan . KJA awalnya digunakan untuk kepentingan penelitian di Waduk Jatiluhur namun sejak dikenalnya teknologi ini di Waduk Cirata budidaya ini berkembang pesat tercatat sejak tahun 1999 terdapat 8. dan terleak pada ketinggian 223 meter di atas permukaan laut (Feriningtyas. dengan kedalaman 106 meter. selanjutnya mengalami peningkatan kembali pada bulan Desember (Jubaedah.286 KJA pada tahun 2003. yaitu tinggi pada bulan Januari sampai Mei dan mengalami penurunan sampai dengan bulan November. TINJAUAN PUSTAKA A.200 ha. dan liinpasan dari daratan dan air tanah (Wetzel. 2005). memiliki luas sekitar 6. 1983). artinya jika luas permukaan 6. Elevasi permukaan air di Waduk Cirata pada umumnya memiliki pola perubahan yang relatif sama dari tahun ke tahun.786 KJA. Nitrogen Nitrogen yang terdapat di perairan tawar ditemukan dalam berbagai bentuk diantaranya molekul N terlarut. Karamba Jaring Apung (KJA) pertama kali dilakukan di Waduk Cirata yaitu pada tahun 1986. fiksasi nitrogen dari air dan sedimen. Jumlah itu akan menyumbang limbah pakan akibat kegiatan perikanan budidaya sebanyak 279. nitrat (NO3-).45 meter (September). dan limbah industri. 2 11. ammonia ( H 3 2 N 4 nitrit (Nod. tinggi muka air pada bulan Juli sampai dengan September 2006 mengalami penurunan dengan tinggi muka air 214.Sumber nitrogen alami berasal dari air hujan (presipitasi). 2005). Nitrogen di perairan dapat berupa nitrogen anorganik dan organik. Nitrogen anorganik terdiri atas amonia . dari perhitungan ini maka ketinggian limbah pakan sekitar 2 meter (Prihadi. Goldman dan Home (1983) menyatakan bahwa nitrogen dapat berasal dari limbah pertanian. dalam Indriani.66 meter (Juli). Menurut Mardiana (2007). dan 209. 2005). Waduk Cirata Waduk Cirata merupakan suatu bentuk perairan yang dibuat oleh manusia di daerah aliran sungai Citaruni pada tahun 1988.121 ton.04 meter (Agustus).II. asam amino. clan berkembang pesat menjadi 38. B. pemukiman.200 ha sedangkan luas permukaan kegtatan KJA sekitar 158-198 ha.

dan limbah domestik (Effendi. amonium (~~43. b. Nitrogen organik berupa protein. Di perairan nitrogen ditemukan dalam dua bentuk yaitu. nitrat @03-). Sumber nitrogen organik di perairan berasal dari proses pembusukan makhluk hidup yang telah mati. menyukai suhu 30°C. Bakteri nitrifikasi bersifat mesofilik. namun tidak dapat digunakan secara langsung oleh organisme karena memerlukan energ yang besar untuk memecah ikatan rangkap tiga gas nitrogen. asam amino. c. melainkan hams ditransformasikan terlebih dahulu oleh bakteri dan jamur (Goldman dan Home. misalnya asam amino dan protein. Nitrogen ditemukan melimpah dalam bentuk gas di atmosfer. kegiatan perikanan. Nitrifikasi. Fiksasi gas nitrogen menjadi amonia dan nitrogen organik oleh mikroorganisme. Proses ini banyak dilakukan oleh mikroba dan jamur. Amonifikasi nitrogen organik untuk menghasilkan amonia selama proses dekomposisi bahan organik. . d. yaitu oksidasi amonia lnenjadi nitrit dan nitrat.(Mi3). Fiksasi gas nitrogen secara langsung dapat dilakukan oleh beberapa jenis algae Cyanophyta (blue-green algae) dan bakteri. Proses ini terutama dilakukan oleh bakteri autotrof dan tumbuhan. dan molekul nitrogen (N2) nitrit (NOT). Proses oksidasi ini dilakukan oleh bakteri aerob. nitrogen terlarut (disolved) dan tidak terlarut (particulate) dan keduanya tidak dapat langsung digunakan oleh organisme yang lebih tinggi. Nitrifikasi berjalan secara optimum pada pH 8 dan pH < 7 berkurang secara nyata. Asimilasi nitrogen anorganik (ammonia dan nitrat) oleh tumbuhan dan mikroorganisme untuk membentuk nitrogen organik. karena protein dan polipeptida terdapat pada semua makhluk hidup sedangkan sumber antropogenik (akibat aktivitas manusia) adalah limbah industri dan limpasan dari daerah pertanian. Autolisis (pecahnya) sel dan ekskresi amonia oleh zooplankton dan ikan juga berperan sebagai pemasok amonia. dalam bentuk gas. Effendi (2003) menjelaskan Bentuk-bentuk nitrogen tersebut mengalami transfonnasi sebagai bagan dari siklus nitrogen yaitu: a. dan urea. 2003). 1983).

Sebaran vertikal nitrogen berdasarkan tingkat kesuburan perairan menurut Goldman dan Home (1983) disajikan pada Gambar 2. dan pengendapan (sedimentasi).Proses reduksi nitrat berjalan optimum pada kondisi anoksik (tak ada oksigen). 2003). r~ 0 O. Proses ini juga melibatkan bakteri dan jamur.OI Konsentrasi (mgn) I . Proses ini akan meningkat pada danau yang telah mengalami eutrofikasi (Goldman dan Home. Dinitrogen oksida adalah produk utama dari denitrifikasi pada perairan dengan kadar oksigen sangat rendah. penyerapan.e. 1983) Nitrogen hams dirubah terlebih dahulu menjadi NH2. Transformasi nitrogen yang tidak melibatkan faktor biologi adalah volatilisasi. 02 I I Konsentrasi (mgll) Oligotropik Epitimoion (acrob) (Nitrit sengat keeil) Gambar 2. yaitu reduksi nitrat menjadi nitrit. NI&. sedangkan molekul nitrogen adalah produk utama dari proses denitrifikai pa& perairan dengan kondisi anaerob. Sebaran secara vertikal nitrogen berdasarkan tingkat kesuburan perairan (Goldrnan clan Home. Sumber utama nitrogen antropogenik di perairan berasal dari wilayah pertanian dan perikanan yang menggunakan pupuM pakan buatan secara intensif maupun kegiatan domestik (Effendi. 1983). dan No3 baru bisa dimanfaatkan oleh turnbuhan dan hewan. dan molekul nitrogen m). dinitrogen oksida (NzO). Pada intensistas proses fiksasi akan terhambat pada permukaan. dan cahaya matahari yang t i n g ~ menjadi maksimum pada kedalaman tertentu dan menurun drastis secara . Fiksasi nitrogen berdasarkan kedalaman mirip dengan proses fotosintesis. Denitrifikasi.

NO*-N. 1983). urea. Kadar ammonia yang tinggi mengakibatkan peningkatan komsumsi oksigen. NH3-N yang bersifat terlarut dan nitrogen organik yang terlarut maupun berupa partikulat yang tidak larut dalam air (Mackereth. Pada keadaan perairan yang asam persentase dari m 0 H menurun. Fiksasi nitrogen berkorelasi positif dengan konsentrasi bahan organik terlarut yang terdapat pada perairan (Wetzel. dan senyawa lainnya (Effendi. sedangkan pada keadaan perairan basa (alkaline) jumlahnya akan meningkat (Goldman dan Home. 1983): Ammonia yang tidak terionisasi (NH3) sangat bersifat toksik bagi ikan dibandingkan amonia yang terionisasi (3 - yang relatif non-toksik. 1989 dalam Effendi. Gas ammonia (NH3) dapat dengan mudah terlarut dalam air dan inembentuk ammonium hydrosida @ELOH). 2003). Nitrogen organik adalah bentuk nitrogen yang terikat pada senyawa organik terutama nitrogen bewalensi tiga. 1983). sedangkan ammonium m+) dapat Ammonia yang terukur di perairan berupa ammonia total (NHj dan teroinisasi (Effendi. Nitrogen total adalah penjumlahan dari nitrogen anorganik berupa N03-N. Effendi (2003) menyatakan pada pH 7 atau kurang sebagian besar ammonia mengalami ionisasi dan p1-I yang lebih besar dari 7 ammonia tidak terionisasi. ammonia bebas (NH3) tidak dapat terionisasi. 1983).ekponensial dengan bertambahnya kedalarnan. Ammonia Total (NH3 dan NI&+) ~~43. biasanya berupa partikdat yang tidak larut dalam air. Proporsi konsentrasi keduanya dipengaruhi oleh pH dan temperatur perairan (Wetzel. 2003). Pada malam hari ketika kandungan oksigen rendah atau ketika kebutuhan oksigen untuk dekomposisi melebihi dari produksi fotosintesis. asam amino. dan akan terpecah menjadi ammonium (NN4') dan ion hidroksida (OH-) seperti persamaan kesetimbangan kimia di bawah ini (Goldman dan Home. Nitrogen organik mencakup protein. 2003). mengakibatkan kerusakan pada . polipeptida. 1983). 1. menyebabkan kerentanan organisme terhadap daya racun ammonia meningkat (Goldman dan Home.

2001).2001). 1983). 1973 dalam Wardoyo. Kadar amonia yang baik untuk kehidupan ikan dan organisme akuatik lainnya adalah kurang dari 1 mg/iiter (Pescod. dan dari pembusukan mikroorganisme. Untuk keperluan perikanan dan peternakan batas maksimum ammonia bebas yang dperbolehkan adalah 0. Oligotropik Eutropik Gambar 3.insang. Sumber lain adalah reduksi gas nitrogen yang berasal dari proses difusi dari atmosfer. Gambar 3 adalah sebaran vertikal ammonia bedasarkan tingkat kesuburan perairan (Wetzel. 1975). Sebaran vertikal ammonia berdasarkan kesuburan perairan (Wetzel. . dan doinestik (Effendi. 1982).5 mgliter (Sylvester. dan menurunkan kapasitas transport oksigen oleh darah (Boyd. 2003) Distribusi ammonia di perairan tawar sangat bervariasi menwut musim. Pada perairan alami nilai amonia yang dapat ditolerir organisme sebesar 1. 1973 dalam Asmawi. Metabolisme manghasilkan dua produk utama yaitu karbodioksida (COz) dan ammonia (NH& dengan ammonia selatar 10 sampai 30 bagian dari total CO* yang dihasilkan (Wright et. Ammonia dihasilkan sebagai produk akhir dari dekomposisi bahan-bahan organik oleh bakteri heterotrop (Wetzel. Boyd (1982) menyatakan bahwa ammonia yang terdapat di perairan dapat berasal dari pemupukan. Noinor 82. dan masukan buangan berupa bahan-bahan organik. Melalui proses amonifikasi atau pemecahan nitrogen organik (protein dan urea/ pupuk) dan nitrogen organik yang terdapat di dalam tanah dan air. limbah industri. 1983). ekskresi dari ikan (tinja). yang berasal dari dekomposisi bahan organik (tumbuhan dan biota akuatik yang telah mati ) oleh mikroba dan jamur. 1983). 1983).al.02 m g l (Peraturan Pemerintah.. sangat tergantung terhadap tingkat kesuburan perairan.

Nitrat nitrogen sangat mudah larut dalam air dan bersifat stabil. Pada kadar oksigen terlarut < 2 mgll. Bakteri yang melakukan nitrifikasi cendemg menempel pada sedimen dan padatan lain. Untuk keperluan air minum. dan air hujan (presipitasi) (Wetzel. . 2003). Pada pH < 6 reaksi akan terhenti. Nomor 82. yaitu hakteri yang dapat mendapatkan energi dari proses kimiawi (Effendi. 2003). 3. Kadar nitrit yang melebihi dari 0. reaksi akan bedalan lambat. akan di ikat oleh hemoglobin darah sehingga inenggangu penyerapan oksigen oleh hemoglobin. dan antara nitrat dan gas nitrogen (denitrifikasi). Nitrat (NOS) Nitrat adalah bentuk utama dari nitrogen anorganik di perairan yang masuk melalui permukaan daerah aliran sungai.2001). Senyawa ini dihasilkan dari proses oksidasi sempurna senyawa nitrogen di perairan melalui proses nitrifikasi. Krenkel dan Novotny (1980) dalam Effendi (2003) menyatakan bahwa proses nitrifikasi sangat dipengaruhi oleh beberapa parameter sebagai berikut : a. WHO merekomendasikan kadar nitrit sebaiknya tidak melebihi 1 mg/l (Moore. air bawah tanah. dan Nitrobactel: Keduanya adalah bakteri kemotrofik. Oksidasi amonia menjadi nitrat dilakukan oleh bakteri Nitrosomonas. Nilai pH yang optimum bagi proses nitrifikasi adalah 8-9. Di perairan kadar nitrit jarang melebihi 1 mg/l (Sawyer dan McCarty. Boyd (1982) menyatakan ketika nitrit terabsobsi oleh ikan.2. Ditemukan di perairan dalam jumlah yang sedikit karena bersifat tidak stabil dengan bergantung pada keberadaan oksigen (Effendi. Nitrifikasi merupakan proses penting dalam siklus nitrogen dan berlangsung dalam keadaan aerob. 1983). Baku mutu untuk kegiatan perikanan batas maksimal nitrit yang diperbolehkan adalah 0. 2003). 1978 dalam Effendi 2003). Nitrit (NO. c.05 mg/l dapat bersifat toksik bagi organisme perairan yang sangat sensitif. 1991 dalam Effenh. b.06 mg/l (Peraturan Pemerintah.) Nitrit merupakan bentuk peralihan antara amonia dan nitrat (nitrifikasi).

. Keadaan ini dikenal sebagai methemoglobonemia atau blue baby disease (Mason. Nitrifikasi dapat terganggu dengan adanya kandungan bahan organik terlarut. e.3 ing/l. Gambar 4 adalah sebaran vertikal nitrat berdasarkan tingkat kesuburan perairan (Wetzel.l mg/liter. Suhu optimum proses nitrifikasi adalah 20 "C . Nitrifikasi dapat berjalan pada keadaan aerobik. terutama untuk bayi berumur kurang dari lima bulan.2001). yang selanjutnya menstiinulir pertumbuhan algae dan tumbuhan air secara pesat (blooming). apabila pada perairan banyak terdapat bahan organik maka pertumbuhan bakteri heterotrof akan melebihi pertwnbuhan bakteri nitrifikasi. Nitrat tidak bersifat toksik terhadap organisme akuatik. Pada kondisi suhu kurang atau lebih dari kisaran suhu tersebut. jika kandungan oksigen terlarut berada di bawah kadar tersebut penyerapan (difusi) oksigen tidak dapat dilakukan lagi oleh bakteri (Wetzel. Kadar nitrat lebih dari 5 ingiter menggambarkan terjadinya pencemaran antropogenik yang berasal dari aktivitas manusia dan tinja hewan.2 ing/liter dapat mengakibatkan terjadinya eutrofikasi (pengayaan) perairan. 1991 dalain Effendi. namun proses ini akan terus berlangsung sampai kandungan okigen terlarut (DO) sekitar 0. Kadar nitrat pada perairan alami hampir tidak pernah lebih dari 0. 2003). Sedangkan untuk keperluan perikanan sebaiknya tidak melebihi 20 mg/l (Peraturan Pemerintah Nomor 82. Kecepatan pertumbuhan bakteri nitrifikasi lebih lambat dari pada bakteri heterotrof.25 "C. Tetapi konsumsi air yang mengandung kadar nitrat yang tinggi akan menurunkan kapasitas darah dalam mengikat oksigen. 2003). Kadar nitrat melebihi 0. 1983).d. kecepatan nitrifikasi berkurang. 1983). 1993 dalam Effendi. Kadar nitrat untuk keperluan air minum sebaiknya tidak melebihi 10 mg/liter (Davis dan Cornwell.

Nilai pH normal suatu perairan danau adalah 6-9 (Goldman dan Home.5 proses nitrifikasi akan terhambat (Novonty dan Olem. Pada suasana alkalis (pH tinggi) lebih banyak dite~nukanamonia yang tidak terionisasi (unionized) dan bersifat toksik. pH Tebbut (1992) dalam Effendi (2003) mengatakan bahwa pH adalah satuan yang menggambarkan konsentrasi ion hidrogen.) berdasarkan tingkat kesuburan perairan (Wetzel. Sebaran vertikal nitrat (NO. Amonia lebih mudah terserap kedalam tubuh organisme akuatik dibandingkan amonium. 1982). Amonium bersifat tidak toksik (innocuous). 1983).Eutropik Gambar 4. Pada pH 4.5.5 . 1994 dalam Effendi. 1983). Dan selanjutnya Effendi (2003) menjelaskan bakteri pada umumnya tumbuh dengan baik pada pH new1 dan alkalis. . C. Pengaruh dari pH bagi konsentrasi amonia tidak terionisasi sangat tinggi dibandingkan pengaruh dari suhu (Boyd. Senyawa amonium yang dapat terionisasi benyak ditemukan pada perairan dengan pH rendah. Proporsi dari total amonia nitrogen yang tidak terionisasi (NH3) akan meningkat dengan ineningkatnya suhu dan pH. Proses nitrifikasi akan berakhir jika pH bersifat asam. 2003). Oleh karena itu proses dekomposisi bahan organik berlangsung lebih cepat pada kondisi pH netral dan alkalis. Proses biokimiawi perairan seperti nitrifikasi sangat dipengaruhi oleh nilai pH. Toksisitas dari senyawa kimia juga dipengaruhi oleh pH.

Tipe ini terjadi pada danaul waduk yang produktif (eutrofik) yang kaya unsur hara dan bahan organik. Dekomposisi bahan organik pada dasarnya terjadi melalui dua tahap. bahkan telah habis sebelum mencapai dasar (Goldman dan Home. 1987). Oksigen Terlarut (Dissolved Oxygen (DO)) Dissolved oxygen (DO) atau oksigen terlarut dalam perairan merupakan konsentrasi gas oksigen yang terlarut di dalam air yang berasal dari proses fotosintesa oleh fitoplankton atau tumbuhan air lainnya di zone eufotik. Tahap pertama. 2005). dan limbah (efluent) yang masuk ke badan air. 1957 dalam Boyd. Dekomposisi bahan organik dan oksidasi bahan anorganik dapat mengurangi kadar oksigen terlarut hingga mencapai no1 (anaerob).D. Pada tahap kedua. konsentrasi oksigen semakin menurun dengan bertarnbahnya kedalaman. 1989). Biochemical Oxygen Demand (BOD) Biochemical Oxygen Demand (BOD) adalah banyaknya oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorganisme dalam proses dekomposisi bahan organik (APHA. 1991) Distribusi vertikal oksigen di Waduk Cirata digolongkan tipe Clinograde. tergantung pada pencampuran (mixing). Peningkatan suhu sebesar 1 "C akan meningkatkan konsumsi oksigen sekitar 10% (Brown. Secara vertikal distribusi oksigen akan menurun di perairan seiring dengan bertambahnya kedalaman. 1982). 2003). respirasi. bahan anorganik yang tidak stabil. misalnya amonia mengalami . Ammonia sangat bersifat toksik jika kandungan oksigen terlarut di perairan rendah (Merkens dan Downing. dan pergerakan (turbulance) massa air. serta difusi dari udara (APHA. Kelarutan oksigen akan semakin berkurang dengan bertambahnya suhu (Effendi. bahan organik diuraikan menjadi bahan anorganik. 1983 dalam Octaviany. aktivitas fotosintesis. Sebaran vertikal dari oksigen terlarut secara umum berbanding terbalik dengan kandungan C02 di air (Reid. 1989). E. Selanjutnya Effendi (2003) menjelaskan penghilangan oksigen pada bagian dasar perairan lebih banyak disebabkan proses dekomposisi bahan organik yang membutuhkan oksigen terlarut. Effendi (2003) menyatakan bahwa kadar oksigen terlarut juga berfluktuasi secara harian (diurnal) dan musiman.

Lee et al. 2003). Keberadaan bahan organik yang tinggi dapat berasal dari alam ataupun dari aktivitas rumah tangga.. aldehda. Tabel 1. glokusa. BOD mengambarkan kadar bahan organik yang berada di perairan (Effendi. Cltenrical Oxygen Demand (COD) Chemical Oxygen Demand (COD) menggambarkan jumlah oksigen total yang diperlukan untuk mengoksidasi bahan organik secara kimiawi. sedangkan pada perairan yang tercemar biasanya dapat lebih dari 200 mglliter. baik yang dapat didegradasi secara biologis (biodegradable) maupun yang sulit didegradasi secara biologis (non-biodegradable) menjadi COz dan Hz0 (APHA. Bahan organik ini dapat berupa lemak. (1978) dalam Feriningtyas (2005) mengelompokkan tingkat pencemaran bahan organik berdasarkan nilai BOD 13 3 4. 1989). Perairan yang memiliki nilai COD tinggi tidak diinginkan bagi kepentingan perikanan dan pertanian. 2003). Kriteria kulitas air berdasarkan nilai BOD (Lee et al.oksidasi menjadi nitrit dan nitrat. BOD hanya menggambarkan bahan organik yang dapat didekomposisi secara biologis (biodegradable).000 mg/liter O]NESCOiWHO/UNEP. 1978 dalam Feriningtyas. dan pada limbah industri dapat mencapai 60. 2005) Nilai BOD (mgniter) Kriteria kualitas air perairan. . pertanian dan industri. ester. protein. kanji. Secara tidak langsung. 1992 dalam Effendi.. Nilai BOD yang besar tidak baik bagi kehidupan organisme (Tabel 1). dan sebagainya.9 5-15 I Tidak tercemarl tercemar sangat ringan Tercemar ringan Tercemar sedang Tercemar berat - > 15 F. Nilai COD pada perarian yang tidak tercemar biasanya kurang dari 20 inglliter.

dan metalimnion dengan thermoklin diantara kedua lapisan tersebut (Goldman dan Home. Suhu Suhu dapat menentukan kandungan oksigen dalam perairan. Pada kisaran ini peningkatan 10 "C suhu meningkatkan proses dekomposisi dan konsumsi oksigen dua kali lipat. 1989). Kecepatan dekomposisi meningkat pada kisaran suhu 5-35 OC. Peningkatan suhu juga menyebabkan terjadinya peningkatan dekomposisi bahan organik oleh mikroba. dan selanjutnya mengakibatkan peningkatan konsumsi oksigen. 2003) H. pada lapisan thermoklin terjadi penurunan suhu secara tajam. maupun bahan anorganik dan organik yang berupa plankton dan mikroorganisme lain (APHA. Peningkatan suhu mengakibatkan peningkatan viskositas. 1992). 1983). dirnana semakin tinggi suhu maka semakin rendah oksigen yang terlarut (Fardiaz. evaporasi.G. epilimnion adalah lapisan bagian atas yang lebih hangat. Lapisannya di bedakan antara lain. Kekeruhan disebabkan oleh adanya bahan organik dan anorganik yang tersuspensi dan terlarut (misalnya lumpur dan pasir halus). Effendi (2003) menyatakan bahwa peningkatan suhu menyebabkan peningkatan metabolisme dan respirasi organisme air. 2001). 2003) . Thermoklin adalah lapisan air yang berada diantara lapisan permukaan yang lebih hangat (epilimnion) dan lapisan dasar yang lebih dingin (hipoli~nnnnion) (Hehanusa dan Haryani. Kekeruhan pada perairan tergenang (danadwaduk) lebih banyak disebabkan oleh bahan tersuspensi yang berupa koloid dan partikel-partikel halus (Effendi. Kekeruhan Kekeruhan inenggambarkan sifat optik air yang ditentukan berdasarkan banyaknya cahaya yag diserap dan dipancarkan oleh bahan-bahan yang terdapat d~ dalam air. reaksi kimia. dan volatilisasi. Effendi (2003) menyatakan. hypolimnion adalah lapisan bagian bawah yang lebih dingin. 1995). Proses dekomposisi biasanya lebih menyukai suhu yang hangat. Peningkatan suhu juga menyebabkan penurunan kelarutan gas dalam air (Haslam. (Effendi. Suhu dapat inenyebabkan stratifikasi pada danadwaduk.

pembudidayaan ikan air tawar. Kelas dua. sesuai dengan bunyi dari pasal 8 ayat 1. Kesesuaian perairan untuk kepentingan perikanan berdasarkan padatan tersuspensi ditunjukkan dalam Tabel 2 Tabel 2. dan atau peruntukkan lain 111utuair yang sama dengan kegunaan tersebut. 2003). air untuk imengairi . yang terutama disebabkan oleh kikisan tanah atau erosi tanah yang terbawa ke badan air. petemakan . yang berisikan tentang klasifikasi dan kriteria mutu air.I. Nilai TSS yang tinggi di suatu perairan dapat menurunkan intensitas cahaya matahari sehingga dapat menurunkan aktivitas fotosintesis (Effendi. petemakan. dan atau peruntukan lain yang imempersyaratkan mutu air yang sana dengan kegunaan tersebut. Kelas satu. Baku Mutu Kualitas Air Peraturan Pemerintah Nomor 82 tahun 2001. b. Kelas tiga. 2003) Pengaruh terhadap kepeutiugan perikanan Nilai TSS (mgiter) < 25 Tidak berpengaruh Sedikit berpengaruh Kurang baik bagi kegiatan perikanan Tidak baik baik bagi kegiatan perikanan 25 . mutu air dikelompokkan menjadi einpat Masifikasi sebagai berikut : a. Total Suspended Solid (TSS) Padatan tersuspensi total (Total Suspended Solid atau TSS) adalah bahanbahan tersuspensi (diameter > lpm). yang me~npersyaratkan c.400 > 400 J. air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air bakti air minum. Kesesuaian perairan untuk kepentingan perikanan berdasarkan padatan tersuspensi (TSS) (Effendi. air yang peruntukannya dapat digunakan untuk prasaranalsarana rekreasi air.80 81 .air untuk mengairi pertanaman. TSS terdiri dari lumpur dan pasir serta jasadjasad renik. tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. air yang peruntukannya dapat digunakan untuk pembudidayaan ikan air tawar.

Kelas empat.pertanaman dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut. d. air yang peruntukannya dapat digunakan untuk mengairi. Tabel 3. dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan air yang sama dengan kegunaan tersebut. Kriteria Mutu Air menurut Peraturan Peinerintah Nomor 82 Tahun 2001 Kelas I Parameter Satuan n Fisika rn N Keterangan I I bes untuk ikan .pertanaman. Knteria baku mutu air berdasarkan setiap klasifikasi air ditunjukkan di dalam Tabel 3.

K. dari udara. Bahan bahan organik yang berbentuk partikel suspensi akan mengendap pada dasar sedimen. M$. dan keluar dari sedimen menuju kolom perairan (Goldman dan Home. Kation yang m m terdapat dalam u larutan tanah adalah H+. mineral. molekul organik dapat . baik kation maupun anion. Koloid tanah adalah bagian tanah yang terdiri atas butir-butir yang berukuran sangat halus. sedangkan anion-anion organik lebih terjerap oleh bidang-bidang patahan permukaan liat. Bakteri denitrifikasi ditemukan pada sedimen yang anoksik ketika nitrat terdapat pada sedimen tersebut. 1991). Senyawa organik tidak berrnuatan diketahui belakangan ini dapat dijerap oleh minerat-mineral Iiat. dimana merupakan sumber nitrogen sedimen (Goldman dan Home. Liat dengan perrnukaan dalam (internal) yang luas mampu menjerap air di dalam ruang antar lapisannya. atau bahan organik yang hendapkan dari air yang mengalir. (Notohadiprawiro. sehingga terbentuk ruang antar lapisan yang mengandung air (Depdikbud. 1983). Kation organik sebagian besar terjerap pada permukaan negatif liat. Sedimen meliputi tanah dan pasir. maka jumlah jerapan ion akan rendah. Banyak zat terlarut berbentuk ion. 1998) i: Penjerapan adalah pelekatan suatu zat padat pada permukaan koloid tanah. Di dalam penjarapan. ~ a + . anaerob). ca2*. Koliod tanah dapat menjerap anion. M? NJ&*. Urea hasil ekskresi akan dikonversi ke bentuk ammonia oleh bakteri-bakteri di dalam tanah (Goldman dan Home.1983). bersifat tersuspensi. Penjerapan air mengakibatkan air tertahan dalam pori-pori tanah pada daya tarik permukaan koloid oleh adanya tekanan permukaan kapiler serta daya tarik menarik ion-ion. Gas nitrogen bercampur dengan gelembung-gelembung methan. Fe2+(dalam suasana ~ + . 2003). Sebaliknya jika keasaman menurun. (dalam suasana aerob). 1983). 1 ~Fe3+. Larutan tanah inengandung berbagai zat terlarut. dan jumlah jerapan ini semakin besar jika keasaman tanah meningkat. 2001). Pada danau eutropik sering terjadi perpindahan nitrogen dari sedimen yang anoksik melalui gelembung-gelembung methan hasil proses pembusukan. atau angin (Hehanusa dan Haryani. Kf. Sedimen Sedimen adalah partikel batuan. yang masuk ke badan perairan (Effendi.

Sedimentasi Waduk Cirata Waduk Cirata telah mengalami proses sedimentasi yang cukup tinggi. Sangat ekstrim. Sebagian besar nitrogen organik dalam tanah didekomposisi menghasilkan nitrogen anorganik. Tingkat Kernasaman pH Tanah (Depdikbud. Dekomposisi inerupakan proses biokimia kompleks yang melepaskan C02. Tanah gambut .menggantikan air yang terjerap oleh liat. Sebaliknya senyawa organik yang tejerap sering dapat bertukar melalui pencucian dengan air (Depdikbud. 8 B--------+Kisaran pH Kisaran pH tanah daerah tanah daerah bilsah kcring Kisaran ekstrim dari pH kcbanyakan tanah mineral . 2000). 1991) L. . Nitrogen organik dibebaskan dalam bentuk ammonium (w'). dan bila keadaan baik akan dioksidasi menjadi nih-it (NOz) dan nitrat (NO3). 1991). tanah dapat dikelompokkan menjadi beberapa tingkat kemasaman dan kebasaan (Gambar 5). Ammonium pada keadaan anaerob lebih stabil. Berdasarkan nilai pH.000 unit dan setiap harinya meinbuang 1 menampung kelebihan pakan ikan (pelet) sekitar 50 ton ke dasar waduk (Suryadiputra dan Ratnawati. sedangkan nitrat lebih stabil pada keadaan aerob. Ammonium akan bereaksi secara cepat dengan muatan negatif dari liat dan membentuk ikatan yang komplek dengan logam dan senyawa organik (Tan. Sedimen dari sisa pakan maupun kotoran ikan dari hasil . . 2001). Ion ammonium m) lebih reaktif dibandingkan ion i nitrat (NO3-). disamping mendapatkan pasokan limbah dari Sungai Citarum clan Waduk Saguling juga karena keberadaan Karamba Jaring Apung (KJA) yang saat ini jumlahnya sekitar 40.Hanya dijnmpai :pada tanah s alkalin ' Gambar 5.

flukh~asipH yang sangat lebar.budidaya (KJA) Waduk Cirata akhirnya akan menumpuk di dasar perairan dan selanjutnya mengalami dekomposisi atau penguraian. zat asan. zat-zat kimia berbentuk gas. 1995). 2001) Secara kimia sediinen dapat menyumbang beberapa parameter kimia seperti logam berat. Sedimentasi di perairan waduk yang ada kegiatan budidaya (KJA) bisa 6 sampai 15 kali dibandingkan perairan yang tidak ada kegiatan perikanannya (Umar. oksigen yang rendah. Tanah dan sedimen berperan utama dalam penyerapan (adsorbsi) zat-zat kimia berbentuk ionik. clan Supriyadi. Buangan sisa pakan dan kotoran ikan berlebihan akan berpengaruh negatif terhadap kualitas air diantaranya dapat meningkatkan kandungan amonia. 1992). dan bahan organik yang tidak terkendali. HzS yang cukup tinggi. partikel-partikel tanah. amonia. karena dianggap perairan tersebut telah terpolusi (Ferdiaz. dan HzS. Sedimen dengan jurnlah yang tinggi dalam air akan sangat merugikan. ha1 ini bersifat sangat racun bagi kehidupan biota perairan. . Kartamihardja. serta bahan organik d m anorganik (Connel dan Miller.

Pengambilan sampel dilakukan antara bulan Juli sampai bulan September 2006. stasiun 2 terletak & daerah Pluinbon yaitu daerah dengan jumlah KJA sedang. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini berternpat di Waduk Cirata.METODE PENELITIAN U A. Terdiri dari empat titik sampling (Gambar 6 ) . karena setiap stasiun memiliki kontur waduk yang berbeda. stasiun 3 terletak di daerah Pasir Pogor dengan junlah KJA padat. Kedalaman pada setiap stasiun berbeda-beda. Kedalaman masing-masing stasiun secara . dan stasiun 4 yang terletak di oulet waduk (Lampiran 16).L . Jawa Barat. Peta lokasi penelitian (sumber : DKP 2007) Stasiun 1 terletak di inlet Sungai Citanun. Skala 0 2 Ktlomoler Gambar 6.

dan indikator Ferroin. thermometer raksa untuk mengukur suhu perairan. dan 25 meter (stasiun 4). Ekman Grab untuk mengambil sedimen waduk. botol DO gelap untuk analisis BOD (Biochemical Oxygen Demand). HzS04. pereaksi untuk analisis COD antara lain larutan Potassium dichromate 1 N. 62 meter (stasiun 3). dan botol sampel untuk menyimpan sampel air untuk di analisis di laboratorium. NED (Coupling reagent). larutan standar Nitrit-N 1. pHmeter untuk mengukur pH perairan. calcium hydroxide powder. HzS04 (pekat).025 N. pereaksi untuk analisis oksigen terlarut (metode Winkler) antara lain suljh-mic acid. Na-tkiosulfnt.00 mgll (5 ppm). B. pereaksi untuk analisis ammonia antara lain nessler reagent. . chloride solution. pereaksi untuk analisis kandungan Ammonia-Nitrogen (metode Indophenol) antara lainphenate (phenol). Van Dorn salnpler untuk pengambilan contoh air. copper su&t solution. magnesium carbonate powder. Alat dan Bahan Alat-alat yang digunakan antara lain. Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk analisis kualitas air antara lain. dan untuk pereaksi untuk analisis kandnngan Nitrat-Nitrogen (metode Bn~cine) antara lain larutan Brucine. pereaksi untuk analisis kandungan Nitrit-Nitrogen (metode Sulfanilamide) antara lain sulfanilamide (diazotizing reagent).00 mgll (1 ppm). 13 meter (stasiun 2). pereaksi untuk analisis nitrat antara lainphenoldisulfonic acid. ammonium hydroxide.berturut-turut antara lain. Kedalaman rata-ratanya sekitar 34. 19 meter (stasiun I).9 meter dengan kedalaman maksimum mencapai 106 meter. dan mangan sulfat. DO meter. larutan standar Nitrat-N 5. standart nitrate solution. Ferrous Ammoniurn Sulfat (FAS). NaOH + KI. Pada pengamatan bulan Agustus dan September pada inlet waduk di stasiun 1 banyak dijtnnpai tumbuhan Eceng Gondok yang menutupi sebagian besar permukaan inlet waduk. standart amonium. sodium carbonate. Pennukaan air waduk pada saat pengamatan mengalami penyusutan (Lampiran 17). Sedangkan untuk analisis sedimen bahan-bahan (reagen) yang digunakan antara lain. Mn04. larutan Potassium dichrornate 0. chlorox (oxidizing solution).

daerah KJA sedang yang terletak di daerah Pasir Pogor (stasiun 2). Sampel diambil satu kali setiap bulan. pH. Pengambilan sampel dilakukan pada siang sampai sore hari. sodium hydroxide. kecerahan. Kedua sampel selanjutnya di analisis di laboratorium. dan pada kedalaman dekat dasar (interfase) yaitu 1 meter di atas dasar waduk. daerah KJA padat yang terletak di daerah Plunzbon (stasiun 3). TSS. Pengambilan Sampel Untuk pengambilan sainpel air dilakukan dengan menggunakan Van Dorn sampler pada kolom perairan dengan interval 10 meter secara vertikal sampai dengan kedalaman 30 meter (0 m. C.sedangkan pereaksi untuk analisis nitrogen total antara lain sulfuric acid. 3. ammonia. dan suhu. 20 m. nessler 's reagent. dan N-total. nitrat. Penentuan lokasi penelitian didasarkan pada kepadatan sebaran KJA yang terdapat pada waduk Cirata. kekeruhan. 30 m) disesuaikan dengan kedalaman setiap stasiun. Untuk analisa kulitas air secara in situ antara lain: oksigen terlantt (DO). Sedangkan analisa kualitas air secara ek situ (di laboratorium) untuk parameter seperti. sodium carbonate. yaitu : inlet waduk (stasiun I). COD. Metode Analisis Kualitas Air dan Sedimen Analisis kualitas air llakukan secara in situ (pengukuran langsung) maupun di laboratorium. Penentuan Lokasi Penelitian Lokasi pengainbilan sampel dilakukan di empat titik (Gambar 6). . BOD. Metode Kerja 1. 2. ammonium. granular pumice. Sedangkan pengambilan sampel sedimen dilakukan dengan lnenggunakan Ekman Grab pada setiap stasiun. antara bulan Juli sampai bulan September 2006. 10 m. Air sampel yang didapat langsung diawetkan dengan pendinginan dan pemberian H2S04. Pengambilan sampel ini dimaksudkan untuk melihat sebaran vertikal nitrogen di kolom perairan dari permukaan hingga dasar waduk. Sedangkan sampel sedimen langsung lmasukkan plastik. dan outlet waduk (stasiun 4). nitrit.

Beberapa parameter yang dianalisis diantaranya : kandungan N-total (nitrogen total) pada tanah. Tekstur 3-Fraksi dan pH. 1989). dan lokasi analisis sampel kulitas air (APHA. kandungan ammonia pada air di sedimen. Parameter / I Satuan / I Metode Keterangan KUALITAS AIR Pisika Kedalaman Suhu Kekemhan TSS Kimia Oksigen terlarut (DO) BOD COD Ammonia Total Nitrit mg/l mg/l mdl mg/l ir~ situ DO meter laboratorium Modifikasi Winkler laboratorium Refluks Terbuka Spectrofotonehic/l. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.zic acid Kjeldhal pH meter I Laboratorium Laboratorium Laboratorium Laboratorium . Fakultas Pertanian. Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan. Institut Pertanian Bogor. Jenis parameter kualitas air dan sedimen yang dianalisis beserta satuan dan aladmetoda serta lokasi analisisnya dapat dilihat pada Tabel 6.Untuk analisis kualitas sedimen dilakukan secara ek situ (di laboratorium). Paraineter. Departemen Tanah. Sedangkan Analisis kualitas sedimen dilakukan di Iaboratorium Tanah. metode.tdophenol laboratorium Spectrofoton~etric/Str[fa~~ilmlide laboratorium &traotomehic/Bnrcine laboratorium laboratorium Kjeldhal pH-meter iii sifu m "C NTU mdl Penykuran Pemuaian Turbidimeter Gravimetrik I in silu in situ laboratorium laboratorium I 1 I mg/l mdl I - Fisika Tekstur 3-Fraksi Kimia Ammonium Nitrat N-Total pH % Pipet Laboratorium / mg/l mgll % / Nessler Phenoldiszc[fo. 1961). kandungan nitrat pada air di sedimen. dan sampel sedimen (Chapman dan Pratt. Tabel 4. Analisis kualitas air dilakukan di laboratorium Produktivitas Lingkungan.

pH. a.. N03. Terlebih dahulu data dikelompokkan menurut waktu pengambilan sampel dan waktu diasumsikan sebagai kelompok. (Y . oksigen terlarut (DO). dan interfase (kedalaman dekat dasar). parameter-parameter utama (NH3. NOz. Ntotal) dibandmgkan dengan parameter pendukung (suhu. Analisis Data Kualitas Air Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis dengan Rancangan PetakTerbagi (Split-Plot Design) untuk melihat pengaruh dari stasiun. Jumlahkan semua data lalu dikuadratkan. kekeruhan. dan waktu.12 Hitung Faktor koreksi (C) = . Adapun langkah-langkah untuk menentukannya adalah sebagai berikut (Steel dan Torrie.. Selanjutnya dari setiap stasiun. 10 m. Untuk stasiun diasumsikan sebagai faktor A. COD. kedalaman. Peraturan Pemerintah No. dan TSS) serta dengan baku mutu yaitu. Hal ini dikarenakan setiap stasiun memiliki kedalaman tersebut. Analisis Data Data yang diperoleh dari hasil pengukuran kualitas air dan sedimen ditampilkan dalam bentuk tabel dan grafik. 1993) : 1. Selanjutnya dari setiap data dibagi menurut stasiun dan kedalaman. dan akan disajikan secara deskriptif.4. dan Rancangan Acak Kelompok (RAK) untuk data sedimen waduk. kemudian bagi dengan jumlah data untuk inendapatkan Faktor Koreksi (C). Kedalaman yang digunakan antara lain kedalaman 0 m. kedalaman. 82 Tahun 2001 tentang: Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Penceinaran Lingkungan. Sedangkan untuk melihat pengaruh secara temporal dan spasial data akan dianalisis dengan menggunakan Rancangan PetakTerbagi (Split-Plot Design) untuk data kualitas air. suhu. Selain analisa secara deskriftif. BOD. dan waktu ditentukan jumlah datanya untuk menganalisis ragam menggunakan tabel sidik ragam. dan kedalaman diasumsikan sebagai faktor B.

setelah itu bagi dengan jumlah data yang ada pada setiap waktu pengamatan yang sama dan kurangi dengan faktor koreksi (C).. Menghitung Jumlah Kuadrat (kelompok) dengan menjumlahkan data menurut waktu pengambilan sarnpel yang sama kemudian jumlahkan waktu yang sama pada setiap stasiun lalu dikuadratkan.2.C ii V b. Kerjakan analisis petak utama : 2$ . Menghitung Jumlah Kuadrat (petak utama) dengan menjumlahkan data pada setiap waktu pengambilan sampel lalu kuadratkan.1b . c. Menghitung Jumlah Kuadrat (stasiun) dengan menjumlahkan data setiap stasiun pengamatan lalu kuadratkan dan jumlahkan kuadratnya.JK(ke1ompk) . Menghitung Jurnlah Kuadat (galat(A)) dengan mengurangi JK(petak utama) dengan JK(ke1ompok) dan JK(A). keinudian kurangi dengan faktor koreksi (C) untuk mendapatkan Junlah Kuadrat Total (JKT). setelah itu dijumlahkan kuadratnya. selanjutnya bagi dengan jumlah waktu pengambilan sampel dan kurangi dengan faktor koreksi (C). d. JK(petak utama) = c$. JK(ke1ompok = waktu) = z y 2 lab -C . i 1.C tjk VP a. Jumlah Kuadrat Total ( K T ) = 3.JK(A) . Kuadratkan masing-masing data lalu jumlah semua kuadratnya. JK(ga1at (A)) = JK(petak utama) . setelah itu bagi dengan jumlah data yang ada pada satu stasiun dan kurangi dengan faktor koreksi (C).

Pengaruh kedalaman pengambilan sampef terhadap kandungan nitrogen: H.JK(A).. lalu bagi dengan jumlah data yang ada disetiap kedalaman setelah itu kurangi dengan faktor koreksi (C). JK(AB) = cy2.. (a i # 0)) 2. setelah itu kuadratkan hasilnya dan dijumlahkan.. kerjakan analisis anak-petak : a.JK(B) . Menghitung Jumlah Kuadrat (galat@)) dengan mengurangi JK(tota1) dengan JK(petak utama).I Jk ~k r- c .= Pj = 0) HI: kedalaman memberikan pengaruh nyata (minimal satu stasiun (pj# 0)) 3. JK(ga1at @)) = JK(tota1) .C b. Menghitung Jumlah Kuadrat (AB) dengan menjumlahkan data setiap kedalarnannya menurut setiapnya masing-masing.=yj = 0) HI: waktu memberikan pengaruh nyata (minimal satu stasiun (y. # 0)) . Pengaruh waktu pengambilan sampel terhadap kandungan nitrogen: K:waktu tidak berpengaruh (yl = y2 = .. kemudian kurangi dengan faktor koreksi (C) dan JK(A) serta JK(B).JK(B) c.3. Adapun hipotesis yang akan diuji adalah sebagai berikut : 1. lalu bagi dengan jumlah data yang ada di setiap menurut stasiunnya.JK(petak utama) . dan JK(A).. Menghtung Jumlah Kuadrat (kedalaman) dengan menjumlahkan data setiap kedalaman kemudian kuadratkan hasilnya... Pengaruh stasiun terhadap kandungan nitrogen Ho: stasiun tidak berpengaruh (al = a 2 = ..: kedalaman tidak berpengaruh (PI = P2 = . JK(B).JK(A) Selanjutnya setelah langkah-langkah perhitungan di atas dilakukan masukkan ke dalam tabel sidik ragam untuk mendapatkan nilai F-hitung (Tabel 7).=ai = 0) HI: stasiun memberikan pengaruh nyata (minimal satu stasiun. JK(B = kedalaman) = k 2 ykI ra ..

dan waktu pengambilan sampel terhadap kandungan nitrogen perairan berdasarkan kaidah keputusan dibawah ini : Jika F-hitung > F-tabel. maka tolak H. Tabel Sidik Ragam Rancangan Petak-Terbagi (Steel dan Tonie. 1993) Keterangan : a =jumlah stasiun pengambilan sampel b =jumlah kedalaman pengambilan sampel r = jumlah kelompok (waktu pengambilan sampel) Selanjutnya nilai F-hitung dibandingkan dengan F-tabel. untuk mendapatkan bagaimana pengaruh stasiun. maka dilakukan uji lanjutan menggunakan metode uji lanjutan Beda Nyata Terkecil (BNT) untuk mengetahui perlakuan mana yang memberikan pengaruh berbeda nyata terhadap kandungan nitrogen periaran.Tabel 5. : terdapat perbedaan yang nyata antar perlakuan (stasiun dan kedalaman) dengan kandungan nitrogen. Jika hasil sidik ragam menunjukan adanya perbedaan yang nyata akibat perlakuan. maka terima x: terdapat perbedaan yang tidak nyata antar perlakuan (stasiun dan kedalaman) dengan kandungan . Jika F-hitung nitrogen. Langkah-langkah perhitungan uji BNT adalah sebagai berikut : < F-tabel. kedalaman. pada selang kepercayaan 95 %.

bds) keterangan : t a / 2 n KTS dbs Kaidah keputusan : = Nilai dati tabel t ( a =5 %) = Banyaknya ulangan = Kuadrat = Derajat tengah sisa bebas sisa * Jika d > BNT a . Menghitung Jumlah Kuadrat Total ( K T ) dengan mengkudratkan masingmasing data kemudian dijumlahkan. 2. maka tolak Ho Jika d < BNTa. Menentukan nilai uji BNT. Menghitung Jumlah Kuadrat Baris (JKB) dengan menjumlahkan Qta berdasarkan setiap stasiun lalu &kuadratkan. Pada baris ditentukan data menurut stasiun. BNTaEt(a/2. maka gaga1 tolak Ho b. kemudian kurangi dengan hasil b a a jumlah total data yang dikuadratkan dengan jumlah semua data yang ada. data sedimen dianalisis dengan inenggunakan Rancangan Acak Keloinpok (RAK). 1995): 1. Menentukan perbedaan rata-rata atribut dengan membandingkan ratarata perlakuan dengan masing-masing perlakuan. Selanjutnya data tersebut dijumlahkan untuk menentukan analisis ragamnya dengan menggunakan tabel sidik ragam (Tabel 8). Analisis Data Sedimen Berbeda dengan analisa kualitas air. dan pada kolom ditentukan data menurut waktu.a. kemudian bagi dengan jumlah data yang ada pada setiap stasiun. Data yang diperoleh disusun bedasarkan stasiun dan waktu pengambilan sampel. . Langkah-langkah menentukan RAK adalah sebagai berikut (Walpole. setelah itu kurangi dengan hasil bagi jumlah total data yang dikuadratkan dengan jumlah semua data yang ada. d = lyi-yjj b.

kemudian bagi dengan jumlah data yang ada pada setiap waktu pengamatan. 4. KG=KT-JKB-JKK Selanjutnya jumlah kuadrat yang telah dihitung disusun kedalam tabel sidik ragam untuk menganalisis ragam.3.1) I Total rc-1 Keterangan : r = jumlah stasiun pengambilan sampel c = jumlah waktu pengambilan sarnpel .1) F-hitung (1. Menghitung Jumlah Kuadrat Kolom (JKK) dengan menjumlahkan data setiap berdasarkan waktu lalu dikuadratkan.l)(r .1) (c-1) (r-1-1 I JKB JKK KTB KTG KTK KTG KTK = KTG= I JKK - (C. setelah itu kurangi dengan hasil bagi jumlah total data yang dikuadratkan dengan jumlah semua data yang ada.1) KG KT JKG (c . Tabel 6 . Menghitung Jumlah Kuadrat Galat (KG) dengan mengurangi JKT dengan JKB dan JKK. Tabel Sidik Ragam Rancangan Acak Kelompok (Walpole. seperti yang ditunjukkan pada Tabel 8. 1995) Sumber Keragaman Nilai tengah Stasiun Nilai tengah Waktu Galat I Derajat Jurnlah Kuadrat Bebas (db) (JJQ Kuadrat Teugah WT) JKB KTB = (r .

.. maka terima %: tidak terdapat perbedaan yang nyata antar perlakuan (stasiun dan waktu) dengan kandungan nitrogen. d = lyi-yjl b. Pengaruh stasiun (perlakuan) terhadap kandungan nitrogen : H.= Pj = 0) HI: faktor waktu berpengaruh (minimal satu waktu (Pj# 0)) Selanjutnya nilai F-hitung dibandingkan dengan F-tabel. pada selang kepercayaan 95 %.. Langkah-langkah perhitungan uji BNT adalah sebagai berikut : a.Hipotesis yang akan diuji adalah: 1. sehingga dapat ditarik kesimpulan berdasarkan kaidah keputusan dibawah ini : Jika F-hitung > F-tabel.: faktor stasiun tidak berpengaruh (al = a2= .: faktor waktu tidak berpengaruh (PI = P 2 = . Jika hasil sidik ragam menunjukan adanya perbedaan yang nyata akibat perlakuan. P e n g a d waktu pengambilan sampel (kelompok) terhadap kandungan nitrogen: H. BNTa=t(a/2. maka dilakukan uji lanjutan lnenggunakan metode uji lanjutan Beda Nyata Terkecil (BNT) untuk mengetahui perlakuan mana yang memberikan pengaruh berbeda nyata terhadap kandungan nitrogen periaran...bds) keterangan : t cu / 2 n KTS dbs JZEG = Nilai dari tabel t ( a = 5 %) = Banyaknya ulangan = Kuadrat tengah sisa = Derajat bebas sisa . maka tolak H.. Menentukan perbedaan rata-rata atribut dengan inembandingkan ratarata perlakuan dengan masing-masing perlakuan.=ai = 0) HI: faktor stasiun berpengaruh (minimal satu stasiun (ai # 0)) 2. Menentukan nilai uji BNT. Jika F-hitung 5 F-tabel. : terdapat perbedaan yang nyata antar perlakuan (stasiun dan waktu) dengan kandungan nitrogen.

maka gaga1 tolak Ho .Kaidah keputusan : Jika d > BNTa. maka tolak Ho * Jika d < BNT a .

Rata-rata kandungan di permukaan waduk adalah 0. Kandungan ammonia total tertinggi selama penelitian terjadi pada bulan September di stasiun 3 pada kedalaman interface (dekat dasar). sedangkan pada kedalaman interface (dekat dasar) rata-rata kandungannya adalah 1. sedangkan kandungan ammonia total terendah terjadi pada bulan Juli di stasiun 1 pada permukaan waduk.07-4. z E 30 'U 5 50 Y E m . . .40 r 60 70 kedalaman maksimum = 62 meter Gambar 7. Distribusi vertikal ammonia total mengalami penurunan pada setiap kedalanan.86 mg/l (Gambar 7 dan Lampiran 1). Kandungan Nitrogen di Perairan 1.46 mg/l.85 mgtl.HASIL DAN PEMBAaASAN v A. Ammonia total (NH3 dan N&+) Kisaran nilai ammonia total berkisar antara 0.20 -.I . 40 Y stasiun 1 kedalamao maksimum = 19 meter C rn E 40 60 70 stasiun 2 kedalamnn maksimum = 13 meter $5060 70 0 0 10 Y Konsentrasi (mgil) 2 I<onsentrasi (mgg 4 6 0 2 4 6 . Kandungan ammonia total ( N H 3 dan N 4 perairan berdasarkan H3 kedalaman pada setiap stasiun dan waktu pengamatan.

25 0 0 0.30 mg/l pada kedalaman interface.59 mg/l. Konsentrasi (mgll) 01 .5 0.Terjad peningkatan konsentrasi ammonia total pada setiap penambahan kedalaman. . stasiun 3 konsentrasi rata-rata di perrnukaan sebesar 0.2 0.76 pada kedalaman interface.49 mgll rnenjadi 1.72 mg/l menjadi 1.0017-0. 1983). Pada stasiun 1. stasiun 2 konsentrasi rata-rata di permukaan sebesar 0. Nilai ammonia bebas (NH3) dan ammonium ( ~ ~ 4 3 dari konversi nilai ammonia total (Lampiran 14). Ammonia yang terukur pada perairan berupa ammonia total (NH3 dan NW (Goldman dan Home. dan stasiun 4 konsentrasi rata-rata pada permukaan 0..74 mg/l pada kedalaman interface (dekat dasar).08 mg/l meningkat menjadi 0. 0 0.05 01 . --rcAgustus - . dengan konsentrasi tertinggi pada bulan Agustus di stasiun 2 pada permukaan waduk.3 . sedangkan konsentrasi terendah terjadi pada bulan Juli di stasiun 1 pada kedalaman 10 meter. konsentrasi rata-rata di permukaan adalah 0.2 0.1 Konsentrasi (mgfl) 0.20 g 10 30 stasiun 1 ' e 40 stasiun 2 kedalaman mksimum = 13 meter tconsenlrasi (rngll) 50 60 70 Konsentrasi (mgliJ stasiun 3 stasiun 4 I--c Jull Gambar 8. Ammonia bebas didapat (NH3) yang terukur berkisar antara 0. I September I Kandungan ammonia bebas (NH3) berdasarkan kedalaman pada setiap stasiun dan waktu pengamatan.55 mg/l dan meningkat pada kedalaman interface inenjadi 3.2054 mg/l. Distribusi vertikal NH3 inenunjukkan penurunan pada setiap penambahan kedalamannya (Gambar 8).

Pada stasiun 2.064 dan menurun menjad 0.828 mgh. Stasiun 3.0659-4.028 mg/l pada kedalarnan interface. 0 2 Konsentrasi (m@) 4 6 Konsentrasi (mgll) 0 0 2 4 6 stasiun 1 10 50 2 X I Z 9 6 40 stasiun 2 kedslaman maksimum = 13 meler 50 a 70 Konsentrasi (mgm 0 2 4 0 2 Konsentrasi (mgfl) 4 6 stasiun 4 kednlnmnn maksimum = 25 meter -+-Jult --P-Agustus -a-September Gambar 9. interface. rata-rata konsentrasi pada permukaan sebesar 0.023mgA pada kedalaman interface. Kandungan ammonium perairan berdasarkan kedalaman pada setiap stasiun dan waktu pengamatan. dan konsentrasi terendah tejadi pada bulan September di stasiun 1 pada permukaan waduk. rata-rata konsentrasi pada permukaan adalah 0.Pada Gambar 8 terlihat bahwa pada setiap penambahan kedalaman konsentrasi NH3 rata-rata menurun di setiap stasiun pengamatan. dengan konsentrasi terbesar terjadi pada bulan September di stasiun 3 pada kedalarnan interface.O 13 mg/l pada permukaan menjadi 0. rata-rata konsentrasi pada permukaan sebesar 0. Sedangkan untuk nilai ammonium nilai konsentrasinya mengalami sedikit peningkatan dari 0.017 mgl.O 15 mg/l pada kedalaman ( ~ ~yang3 4 terukw dapat dilihat pada dan Gambar 9 dan Lampiran 1. (H3 N4 . didapat kisaran untuk M&+ yaitu sebesar 0. kecuali pada stasiun 1.080 mg/l dan menurun menjadi 0. Sedangkan pada stasiun 1. Stasiun 4.031 mg/l dan mengalami penurunan pada kedalaman interface sampai 0. Dari hasil yang diperoleh.

568 mg/l pada kedalaman interface. Proporsi nilai keduanya dipengaruhi oleh temperatur dan pH perairan (Wetzel. Konsentrasi N H 3 yang tinggi pada permukaan waduk disebabkan oleh pH yang juga tinggi pada . Ammonia total terbag menjadi dua bentuk yaitu ammonia bebas (unionised ammonia (NH3)) dan ammonium (ionised ammonia (~~43). Wetzel (1983). Stasiun 2. Stasiun 3. Konsentrasi N& merniliki kecenderungan mengalami p e n m a n . Hal ini terlihat pada konsentrasi ammonia total stasiun 2 dan stasiun 3 yang relatif lebih besar dibandingkan stasiun 1 dan stasiun 4 (Lampiran 1).269 mg/l pada kedalaman interface.643 mg/l dan bertambah menjadi 1. rata-rata konsentrasi pada permukaan sebesar 0. 1983). Ammonia total tidak terionisasi pada pH lebih besar dari 7 (Goldman dan Home. Bakteri ini akan tumbuh dengan lebih cepat pada kandungan bahan organik yang tinggi dibandingkan bakteri nitrifikasi (Effendi. Dan stasiun 4.457 mgll menjadi 1. Hal ini terlihat dari nilai BOD pada setiap penambahan kedalaman yang meningkat (Gambar 21). ammonia total memiliki kecenderungan inengalami peningkatan pada setiap penambahan kedalaman. rata-rata konsentrasi pada permukaan 0. Konsentrasi yang meningkat disetiap kedalamannya diduga terjadi akibat proses dekomposisi bahan organik oleh mikroorganisme. mengklasifikasikan pola sebaran yang demiluan sebagai perairan Eutrofik (Gambar 3).725 mg/l pada kedalaman interface. rata-rata konsentrasi pada permukaan 0. 1983). Pada perairan Eutrofik produktivitas dan kandungan bahan organik tinggi. sedangkan N+ memiliki kecenderungan mengalami peningkatan pada setiap penambahan & kedalaman (Gambar 8 dan Gambar 9). 1983).737 mg/l pada kedalaman interface. Dekomposisi bahan organik tersebut lebih banyak menghasilkan ammonia dan proses nitrifikasi yang menghasilkan nitrat akan terhambat. Dari hasil yang didapat. sehingga konsentrasi dari ammonia bebas (un-ionised ammonia @GI3)) akan meningkat. rata-rata konsentrasi pada permukaan sebesar 0. Bahan organik diduga berasal dari kegiatan budidaya KJA yang terdapat pada waduk yaitu bempa sisa pakan dan feses.Pada grafik terlihat terjadi peningkatan konsentrasi NI%+ untuk setiap penambahan kedalaman. Bahan organik didekomposisi menghasilkan ammonia melalui proses ammonifikasi. 2003). Di stasiun 1.067 mgA dan meningkat menjadi 0. Amonifikasi dilakukan oleh bakteri heterotrof (Wetzel.488 mg/l menjadi 3.

Dan untuk mengetahui stasiun. Karena konsentrasi ammonia total tertinggi rata-rata terdapat pada daerah budidaya KJA (stasiun 2 dan stasiun 3).1982). mengakibatkan kerusakan pada insang. penelitian didapat Dari hasil rata-rata konsentrasi NH3 pada setiap stasiun di permukaan waduk adalah sebesar 0. Konsentrasi ini lebih tinggi dari baku mutu (Peraturan Pemerintah Nomor 82. Ammonia bebas @W3) bersifat toksik dibandingkan ammonium (~~43. stasiun (1-2). kedalaman dan waktu yang berbeda nyata dilakukan uji lanjutan BNT.02 mglt. Goldman dan Home (1983). sampel). dan menurunkan kapasitas transport oksigen oleh darah (Boyd. Hasil . Kandungan pH yang relatif tinggi pada permukaan waduk dapat menyebabkan sebagian besar ammonia total tidak terionisasi sehingga inenghasilkan ammonia bebas (NH3) yang relatif bersifat toksik dari ammonium (~~43. stasiun (2-3). faktor kedalarnan. Hasil analisis data dengan rancangan Petak-Terbagi (Split-Plot) memberikan keputusan tolak H untuk faktor stasiun (lokasi pengambilan . Lima pasang stasiun tersebut adalah stasiun (1-3). Dari hasil uji lanjutan berdasarkan faktor stasiun (Tabel 7). Hal ini sangat berbahaya b a g kegiatan budidaya KJA di Waduk Cirata. dan stasiun (1-4). kedalaman serta waktu yang memberikan konsentrasi yang berbeda. Hal ini tentunya sangat merugikan bagi kegiatan budidaya KJA yang berada di Waduk Cirata yang kegiatannya berada pada permukaan waduk. sehingga dapat dikatakan bahwa konsentrasi ammonium berkorelasi negatif dengan pH perairan. Kadar ammonia yang tinggi mengakibatkan pe~ngkatan konsumsi oksigen. dan waktu pengambilan sainpel (Lampiran 1). Kandungan ammonia total yang tinggi sangat berpotensi sekali menjadi bahan-bahan toksik. menjelaskan ammonia akan terionisasi pada pH < 7. Sedangkan ammonium OF4 konsentrasinya semakin meningkat disebabkan \H3 oleh pH perairan yang semakin menurun. 2001) untuk kepentingan perikanan yang menganjurkan batas maksimat konsentrasi ammonia bebas sebesar 0.permukaan waduk dan nilainya semakin menurun setiap penambahan kedalaman. stasiun (3-4). didapatkan ada lima pasang stasiun yang berbeda nyata menurut kandungan ammonia total.0474 mg/l. Stasiun 3 mengalami perbedaan yang nyata dengan semua . keputusan tolak H memberikan garnbaran bahwa pada setiap faktor terdapat perbedaan dua atau lebih stasiun. Dapat dikatakan bahwa NH3 berkorelasi positif dengan kandungan pH perairan.

stasiun. dan 10 meter (Tabel 10).l) Kedalaman 0 meter (0. Hal ini menunjukkan adanya kecenderungan nilai kandungan yang tinggi pada kedalaman tersebut dibandingkan kedalaman yang lain.99* = 0.42 = berbeda nyata 0.44 = berbeda nyata Hasil uji lanjut BNT untuk faktor kedalaman menunjukkan bahwa.1). Namun penarikan kesimpulan seperti ini tidak bisa dilakukan karena secara statistik masih terdapat interaksi antara faktor stasiun dan kedalaman. kedalaman interface berbeda nyata dengan kedalaman 0 meter.46) 1.85) Rata-rata 10 meter (0. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor kedalaman terhadap kandungan Ammonia Total perairan (a=O.85) Interface (1. dan stasiun 3 memiliki perbedaan kandungan terbesar dengan stasiun yang lainnya. Tabel 7.39 0 0 Nilai BNT Keterangan * . Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Ammonia Total perairan (a=0.38* 0. begitu pula dengan stasiun 1. Stasiun 1 memiliki perbedaan kandungan terkecil dengan stasiun yang lainnya. Nilai BNT Keterangan * = 0.85) 0 meter (0. Kedalainan interface berbeda nyata dengan semua kedalaman yang lainnya.46) 10 meter (0. Tabel 8.

Kandungan rata-rata ammonia total tertinggi pada permukaan waduk terjadi di stasiun 2. stasiun dengan faktor kedalaman. pada stasiun 3 berkisar antara 0-0.0847 .Hasil uji lanjut BNT untuk faktor waktu menunjukkan adanya dua pasang waktu pengambilan sampel yang menunjukkan perbedaan nyata terhadap kandungan ammonia total. yaitu antara bulan Juli dengan Agustus. Ini menunjukkan adanya interaksi antar faktor . sedangkan rata-rata konsentrasi ammonia total tertinggi di kedalaman 10 meter terjadi pada stasiun 2.0014 mg/l (Gambar 10 dan Lampiran 2). dan konsentrasi rata-rata ammonia total untuk kedalaman interface terjadi di stasiun 3.0940 mgll. Tabel 9. 2. Pada stasiun 1 konsentrasinya cenderung meningkat pada setiap penambahan kedalaman.1) Nilai BNT Keterangan * = 0.0015 mg/1 dan meningkat pada kedalaman interface menjadi 0. Konsentrasi nitrit memiliki pola distribusi vertikal yang berbeda pada setiap stasiun. dan bulan Juli dengan September (Tabel 11).38 = berbeda nyata Nilai interaksi faktor stasiun dan faktor kedalaman menghasilkan keputusan tolak H (Lampiran 1). Nilai uji BNT untuk pengamh faktor waktu terhadap kandungan ammonia total (a=0. Perbedaan yang terjadi inenurut waktu menggambarkan adanya perubahan karakteristik waduk seperti tinggi muka air selama waktu pengamatan.0020 mg/l.0004-0. stasiun 2 berkisar antara O0. dan pada stasiun 4 berkisar antara 0-0. dapat dikatakan tidak ada satu stasiun yang memiliki nilai konsentrasi ammonia total tertinggi untuk semua kedalamannya. Dengan rata-rata konsentrasi nitrit pada permukaan sebesar 0.0059 mg/l. Nitrit (NO23 Berdasarkan hasil yang diperoleh didapat kisaran konsentrasi nitrit pada stasiun 1 yaitu berkisar antara 0.

0010 mgil pada stasiun 3 dan 0.0110 mgll pada stasiun 4.I106 0. Diteinukan dalam jumlah yang sedikit di perairan. dimana nitrit merupakan produk antaranya.004 Nitrit (mg/l) 0.001 1 mg/l menjadi 0 mg/l pada kedalaman interface.) perairan berdasarkan kedalaman pada setiap stasiun dan waktu pengamatan.002 0. dengan rata-rata di permukaan sebesar 0. 2003). Sedangkan pada stasiun 2 konsentrasinya cenderung menurun pada setiap kedalamannya. Kandungan nitrit (NO.002 0.0004 mg/l pada stasiun 4.05 Nitnt (mgfl) 0. karena bersifat kurang stabil dan sangat bergantung pada keberadaan oksigen di perairan (Effendi.50 S 40 stasiun 4 laman maksimum = 62 meter ke&laman maksimum = 25 meter g 60 70 70 --c Juli ~ A g u s t u s --September 4 Gambar 10.00. Stasiun 3 dan stasiun 4 konsentrasinya berfluktuasi namun cenderung menurun dengan rata-rata pa& permukaan 0.002 0. 0 0.004 0.1 Nitrit (mgll) 0 0.0007 mg/l pada stasiun 3 dan 0. Proses nitrifikasi menggunakan oksigen dalam perombakan ammonia menjadi nitrat. Nitrit merupakan bentuk peralihan antara ammonia dan nitrat dalam proses nitrifikasi.j kodalamsn meksimum = 13 meter 0 0 10 0.004 Nitril (mg/l) 0.OE z 20 a ?%30 E30 C .mgll.008 0 0. Konsentrasinya sangat bergantung pada keberadaan oksigen di perairan. . menurun pada kedalaman interface menjadi 0.

Inilah yang menyebabkan konsentrasi nitrit memilila kecenderungan m e n m sampai kedalainan interface.75 mg/l. ini juga terlihat dari nilai BOD dan COD yang cenderung tinggi di ketiga stasiun tersebut.3 mgll. sehingga nitrit yang merupakan produk antara proses tersebut masih ditemukan.61-10. memiliki konsentrasi nitrit rata-rata sebesar 0.03 mdl. Berdasarkan baku mutu (Peraturan Pemerintah Nomor 82. akan diikat oleh hemoglobin darah sehingga menggangu penyerapan oksigen oleh hemoglobin. proses ini akan terns berlangsung sainpai kandungan oksigen terlarut (DO) sekitar 0. namun menurut Wetzel (1983). Kandungan bahan organik dapat menghambat proses nitrifikasi (Wetzel.027 mgll. menyatakan ketika nitrit terabsobsi oleh ikan. Fluktuasi konsentrasi yang terjadi pada stasiun 3 dan stasiun 4 dikarenakan sifat nitrit yang tidak stabil. nitrifikasi masih dapat berlangsung sampai konsentrasi oksigen terlarut sebesar 0. dan stasiun 2 diperkirakan karena meningkatnya kandungan bahan organik pada stasiun tersebut akibat aktivitas budidaya KJA. 2001) untuk kepentingan perikanan konsentrasi tersebut masih pada kisaran baku mutu yang menetapkan batas maksimal sebesar 0. Konsentrasi oksigen pada stasiun 1 masih memungkinkan terjadinya proses nitrifikasi walaupun akan bejalan secara lambat. Walaupun konsentrasi oksigen pada stasiun 1 mengalami penurunan setiap kedalainannya (Gambar lo). Hal inilah yang menyebabkan meningkatnya kandungan nitrit pada stasiun 1 pada setiap kedalamannya. . Menurut Wetzel (1983). Selain itu penurunan diakibatkan juga kurang tersedianya oksigen terlarut pada setiap stasiun tersebut. nitrifikasi berjalan pada keadaan aerobik. 1983).00112 mg/l. sehingga konsentrasi nitrit yang merupakan produk antara proses ini juga inenurun. Rata-rata konsentrasi oksigen terlarut mendan pada kedalaman 10 meter konsentrasi rata-rata dari ketiga stasiun tersebut sebesar 0. Boyd (1982). dengan kisaran konsentrasi antara 0. Penurunan konsentrasi yang terjadi pada stasiun 3. stasiun 4. Pada daerah permukaan waduk yang merupakan daerah aktivitas budidaya KJA. Konsentrasi nitrit yang tinggi tentunya sangat membahayakan kegiatan budidaya KJA di Waduk Cirata.06 mgil. Hal ini diperkirakan proses nitrifikasi masih berlangsung pada stasiun 1.Pada stasiun 1 terjadi peningkatan konsentrasi nitrit pada setiap kedalaman.

05 17+ Stasiun 3 (0.Hasil analisis data memberikan keputusan tolak H untuk faktor stasiun .0003 0 0 Stnsiun 4 (0.1) Stnsiun Stasiun 2 (0.0520) Rata-rata Stasiun 4 Stasiun 3 (0.0035 = berbeda I nyata Nilai BNT Keterangan * Hasil uji lanjut BNT berdasarkan faktor kedalaman memperlihatkan perbedaan nyata antara kedalaman 0 meter (permukaan) dengan kedalaman 10 meter dan kedalaman interface (dekat dasar). Sedangkan kedalaman 10 meter dengan interface menurut hasil uji lanjutan tidak memberikan perbedaan yang nyata.0007) 0. Stasiun 1 (0. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Nitrit perairan @JOY) (a=0. stasiun (1-2).0004) 0.0520) 0 = 0. Tabel 10.0015) Stasiun 1 (0. Hasil uji lanjut BNT berdasarkan faktor stasiun menunjukkan tiga pasang stasiun yang berbeda nyata.05 16* 0. stasiun (1-4). dan faktor kedalaman (Lampiran 2). Keputusan ini menggambarkan bahwa pada setiap faktor terdapat perbedaan dua atau lebih stasiun dan kedalaman yang memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap kandungan nitrit di perairan.0007 0 0. Interaksi antara faktor stasiun dan faktor kedalaman juga tidak ditemukan (gaga1 tolak (Lampiran 9). dan stasiun 4 nilainya cenderung lebih tinggi dibandingkan kedalaman yang lainnya.0010 0. Terlihat stasiun 1 berbeda nyata dengan semua stasiun pengamatan. dan stasiun (1-3) (Tabel 12).0007) Stasiuu 2 (0.0015) (0.0004) a . Hal ini menggambarkan kandungan nitrit di permukaan nilainya cenderung berbeda dengan kedalaman lainnya. Pada stasiun 1 nilai kandungannya cenderung lebih kecil. (Tabel 13). ini membuktikan bahwa stasiun 1 memiliki nilai )ha1 yang lebih besar dibandngkan dengan stasiun-stasiun pengamatan yang lainnya. . antara lain. stasiun 3. sedangkan pada stasiun 2.0513* 0.

0. . Pada stasiun 1 terlihat konsentrasi meningkat setiap kedalaman.0034 mg/l pada stasiun 4. stasiun 2 berkisar antara 0. 3. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor kedalaman terhadap kandungan Nitrit perairan (Nod (a=0.0038 = berbeda nyata Interaksi faktor stasiun dan kedalaman memberikan keputusan gaga1 tolak I-I. Terlihat bahwa pada stasiun 1 konsentrasi nitrat cenderung mengalami peningkatan.Tabel 11.0024 mg/l pada staisun 2.0001-0. Keputusan ini menggambarkan tidak adanya interaksi antar faktor stasiun dengan faktor kedalanan. = 0.0220 mg/l dan meningkat pada kedalaman interface menjadi 0. dengan konsentrasi rata-rata di permukaan sebesar 0.00101 mg/l pada stasiun 2.2735 mg/l.0093 mg/l pada stasiun 4. dan stasiun 4 berkisar antara O0. sehingga dapat dikatakan stasiun 1 memiliki kandungan nitrit yang tinggi dibandingkan stasiun lain serta pada setiap kedaiamannya.0217) Nilai BNT Keterangan * 0 0.0206* f(lme.0001 mgfl pada stasiun 3.0217) (0.0033 mgll pada stasiun 3. karena keputusan yang diperoleh memberikan keputusan tolak H. dan stasiun 4 konsentrasinya cenderung inengalami penurunan pada setiap kedalaman. dan stasiun 4 konsentrasinya cenderung menurun (Gambar 11 dan Lampiran 3). stasiun 3 berkisar antara 0-0. 0. 0.1) Kedalaman 0 meter Interface Rata-rata 10 meter 0 meter (0.0012) 0 0.? Berdasarkan hasil yang diperoleh didapatkan lusaran konsentrasi nitrat pada stasiun 1 sebesar 0-0.0036 0 . 0. (Lampiran 2). dengan konsentrasi rata-rata pada permukaan sebesar 0.3735 mg/l. dan menurun pada kedalaman interface menjadi 0.0181 (0. Nitrat (NO. Pengaruh faktor waktu pengambilan sampel tidak berpengaruh terhadap kandungan nitrit perairan. Pada stasiun 2.0097 mgA. stasiun 3.0169* (0. stasiun 3. sedangkan pada stasiun 2.0181) 0.00356 mg/l. 0.0214 mg/l..0012) Interface (0.

September Gambar 11.03 Nitrat (mgfl) 0.61-10. Dan pada stasiun 1.Peningkatan nitrat yang terjadi pada stasiun 1 diduga masih berlangsungnya proses nitrifikasi pada stasiun tersebut. dan inilah yang menyebabkan konsentrasinya meningkat pada setiap kedalaman di stasiun 1.02 Nitrat (mg/i) 0. Proses nitrifikasi mengubah ammonia menjadi nitrit dan selanjutnya menghasilkan produk akhir berupa nitrat..75 mgll. Diduga proses nitrifikasi inasih berlangsung bahkan sampai kedalaman inteface. 1983).02 0 0 01 m a stasiun 4 kcdalema malisimum = 25 meter m +JUII -5-Agustus -a-.3 mgll (Wetzel. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya pada pembahasan tentang nihit bahwa. proses nitrifikasi masih dapat berlangsung sampai konsentrasi oksigen terlarut sebesar 0.4 0 'z? 0 10 0 01 Nitrat (mgm 0.- 223 g30 40 Y <a EO 70 0 0 01 kedalaman maksimum = 19 meter n -D Y"M @ kedalamnn maksimum = 13 meter I 70 0. Kandungan nitrat (NO<)perairan berdasarkan kedalaman pada setiap stasiun dm waktu pengamatan. Hal ini terlihat dari kandungan nitrit yang juga mengalami peningkatan setiap kedalamannya di stasiun 1.02 2 23 a? C g30 E . konsentrasi oksigen terlarut memiliki kisaran antara 0. dengan menggunakan oksigen terlarut yang terkandung dalam perairan.2 0.1 0. .3 0. Nitrat (mg/O 0 0 10 e 0.

kandungan bahan organik yang tinggi sehingga pertumbuhan bakteri nitrifikasi lebih lambat dibandingkan bakteri heterotrof.P e n m a n yang terjadi pada stasiun 2. Ini juga terlihat dari meningkatnya ammonia total pada perairan (Gambar 7). Hal ini menyebabkan bahan-bahan organik yang terdekomposisi menghasilkan ammonia melalui proses ammonifikasi tidak langsung &dekomposisi lagi oleh bakteri nitrifikasi menghasilkan nitrat.13 mg/l dan menurun sampai pada kedalaman 10 meter rata-ratanya sudah sebesar 0. stasiun (1-2).3 mg/l. Berdasarkan kandungan oksigen terlarut stasiun 2. Namun untuk kedalaman antara permukaan sampai kedalaman 10 meter nilainya juga cenderung menurun. dan stasiun (2-3) (Tabel 14). stasiunstasiun yang berbeda nyata antara lain stasiun (1-3).3 mg/l. Berdasarkan keputusan tersebut didapatkan bahwa pada setiap faktor terdapat perbedaan dua atau lebih stasiun dan kedalaman yang memberikan konsentrasi yang berbeda terhadap nitrat & periran. dan stasiun 4. diperkirakan proses nitrifikasi terhambat pada stasiun tersebut. & dan faktor kedalaman (Lampiran 3). Pada stasiun 1 diperlarakan karena stasiun ini memiliki nilai yang cenderung lebih tinggi . Proses ini dapat terhambat karena kandungan oksigen terlarut di bawah 2 mg/l nagnun proses ini masih berlangsung sampai konsentrasi oksigen terlamt 0. Hasil analisis data memberikan keputusan tolak I untuk faktor stasiun. mernbuat pertumbuhan bakteri-bakteri nitrifikasi menjadi lebih lambat dari bakteri heterotrof. Hal ini diduga sebagian besar bahan organik belum terdekomposisi sempurna sehingga proses nitrifikasi belum berjalan dengan baik pada kedalainan tersebut. stasiun (1-4). Stasiun 1 memiliki perbedaan yang nyata dengan stasiun yang lain begitu juga dengan stasiun 3. stasiun (4-3). Banyaknya bahan organik pada stasiun-stasiun ini yang terlihat dari nilai BOD dan COD yang cenderung tinggi. ha1 inilah yang menyebabkan konsentrasi nitrat cenderung menurun. pH perairan yang asam dengan pH di bawah 6 (Effendi. 2003).27 mgll kemudian menurun sampai kedalaman interface dengan rata-rata oksigen terlarut di bawah 0. Dengan konsentrasi rata-rata pada permukaan sebesar 8. akan tetapi terjadi akumulasi kandungan ammonia pada perairan. Nasil uji lanjutan berdasarkan faktor stasiun diperoleh bahwa. dan stasiun 4 terlihat semakin menurun pada setiap kedalaman. Proses nihifikasi pada kedalaman dibawah 10 meter tentunya akan terhambat. stasiun 3. stasiun 3.

l) I Kedalaman 0 meter / Rata-rata Interface 10 meter 0 meter / (0. sedangkan pada stasiun 2. Tabel 12. Tabel 13.060* 0. dan stasiun 4 nilainya lebih besar daripada kedalaman dibawahnya. Kedalaman 10 meter dan interface tidak beam berbeda kandnungan nitratnya.012 n 0.004) Stasiun 2 (0. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Nitrat perairan (NO<) (a=O.034 0 0 (0.100* 1.048* 0 0 (0. sedangkan stasiun 3 lebih disebabkan berfluktusinya kandungan nitrat pada stasiun ini (Gambar 11).dibandingkan stasiun yang lain.023) I I (0.020) Stasiun 4 1. Pada stasiun 1 nilainya lebih kecil. stasiun 3.058 = berbeda nyata Hasil uji lanjutan berdasarkan faktor kedalaman menunjukkan kedalaman 0 ineter (permukaan) berbeda nyata dengan kedalaman 10 meter dan kedalaman interface (Tabel 15). Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor kedalaman terhadap kandungan Nitrat perairan (NO<) (c~=O.023) Stasiun 1 1 Nilai BNT Keterangan * = 0.058) Interface Nilai BNT Keterangan * = 0.020) (0.142) (U. Hal ini menunjukkan kedalaman 0 meter (permukaan) memiliki kandungan nitrat yang berbeda dengan kedalaman lainnya.029 = berbeda nyata .l) Stasiun 1 Rata-rata Stasiun 2 Stasiun 4 Stasiun 3 Stasiun I (0.065* n 0.009) 10 meter 0.UU4) (0.

Hal ini diperkirakan. Sedangkan stasiun 1 konsentrasinya hanya d~pengaruhioleh air masukan yang berasal dari sungai Citarum.Interaksi faktor stasiun dan kedalaman memberjkan keputusan gaga1 tolak H. sehingga dapat dikatakan terdapat stasiun yang memiliki kandungan nitrat tertinggi dibandingkan stasiun dan kedalaman yang lain yaitu pada stasiun 1 (Lampiran 3). kandungan bahan-bahan organik (sisa pakan dan hasil metabolisme ikan (feses)) yang tinggi pada stasiun 3 dari kegiatan budidaya KJA meningkatkan konsentrasi nitrogen total. dan stasiun ini lebih dekat dengan stasiun 3. 4. stasiun 4 merupakan outlet waduk tempat keluarnya air waduk. 2003). . sehingga didapat kisaran nilai yang lebih tinggi dari stasiun 2. NH3-Nyang bersifat terlarut dan nitrogen organik yang berupa partikulat dan tidak lamt dalam air (Mackereth et al.5749 mgll.4598-3.0016 mgtl.1356-2.2564 mgll (Gambar 12 dan Lampiran 4). Protein yang terdekomposisi mengandung 16 % nitrogen (Depdikbud.5582-5. kisaran nilainya lebih kecil dibandingkan stasiun 4. Hal ini dikarenakan. Pakan ikan yang digunakan adalah pakan buatan yang memiliki kandungan protein yang tinggi. Adanya arus yang mengalir menuju stasiun 4 yang membawa sebagian bebanbeban sisa pakan dan buangan ikan meningkatkan konsentrasi nitrogen total pada stasiun ini. Nitrogen total penjumlahan kandungan nitrogen anorganik berupa NO2-N. 1989 dalam Effendi. stasiun 3 berkisar antara 0. Nitrogen Total Kisaran konsentrasi nitrogen total pada stasiun 1 yaitu antara 0.25641. sehingga memiliki konsentrasi nitrogen total yang lebih kecil dibandingkan stasiun lainnya. Sedangkan stasiun 2 dengan jumlah kerapatan KJA sedang. Stasiun 3 inemiliki kisaran kandungan nitrogen total tertinggi dibandingkan stasiun yang lain..9846 mg/l. Hal inilah yang menyebabkan tingginya konsentrasi nitrogen total pada stasim 3. kisaran konsentrasi yang tinggi pada stasiun 4 dipengaruhi kegiatan KJA di stasiun 3. Dapat dilihat pada setiap stasiun pengamatan konsentrasi nitrogen total semakin meningkat setiap kedalaman. stasiun 2 berkisar antara 0. dan stasiun 4 berkisar antara 0. 1991). Ini menggambarkan interaksi antar faktor stasiun dengan kedalaman tidak ditemukan.

c 2 so g 60 70 N-Total (mgn) N. Keputusan ini memberikan gambaran bahwa pada setiap faktor terdapat perbedaan dua atau lebih stasiun dan kedalaman yang memberikan konsentrasi yang berbeda. dan stasiun 3 memiliki kecenderungan nilainya lebih tinggi dibandingkan stasiun yang lain (Lampiran 11). Kandungan nitrogen total perairan berdasarkan kedalaman pada setiap stasiun dan waktu pengamatan .0 0 10 0 2 N. stasiun 1 yang menunjukkan perbedaan nyata dengan semua stasiun (Tabel 16).40 Y stasiun 1 kedalaman maksimum = 19 meter %O m =cU 30 5 . Sedangkan kandungan nitrogen total pada stasiun 2. . Hasil analisis data memberikan keputusan tolak H untuk faktor lokasi pengambilan sampel (stasiun).40 60 70 -+-Juli -z+Agustus ---A--- 9% September Gambar 12. Perbedaan tersebut menggambarkan stasiun 1 memiliki rata-rata kandungan nitrogen total yang kecil dari stasiun yang lain. dan stasiun 4 tidak begrtu berbeda nyata. stasiun 3. dan faktor kedalaman (Lainpiran 1 I). 20 E rn e 20 30 5 .40 . Hasil uji lanjutan berdasarkan faktor stasiun diperoleh bahwa.Total (rngll) kedalaman maksimum = 13 meter 50 70 0 E a m = '=m 10 z2a c 30 & . namun pada stasiun 2.Total (rngil) 4 6 0 0 10 2 N-Total (mgll) 4 6 .

Interaksi yang terjadi menunjukkan terdapat hubungan antar faktor stasiun dengan kedalaman sehingga tidak ada satu stasiun saja yang memiliki nilai . Tabel 15.44) Interface Nilai BNT Keterangan * = 0.57) Stasiun 3 (2.77* 0 (0.74* 0.67) 0 (1.35 = berbeda nyata Interaksi faktor stasiun dan kedalaman memberikan keputusan tolak H.07 0 (1.85* 0. Oleh karena itu perbedaan yang nyata terjadi di masing-masing kedalaman yang diamati.73) Stasiun 4 (2.51* 0.57) 0. (Lampiran 4).SO) 0.1) Kedalaman 0 meter Interface Rata-rata 10 meter 0 meter (0.41) 1. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Nitrogen Total perairan (a=0. Ini menunjukkan bahwa pada setiap kedalaman terdapat perbedaan konsentrasi.77* 0 (0.77 = berbeda nyata (1.SO) Stasiun 2 (1.44) 0.74 0. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor kedalaman terhadap kandungan Nitrogen Total perairan (a=0.67) 10 meter (2. Konsentrasi yang terjadi di masingmasing kedalaman mengalami peningkatan di setiap penambahan kedalaman.24) Nilai BNT Keterangan * Hasil uji lanjut BNT berdasarkan faktor kedalaman menunjukkan pada setiap kedalaman berbeda nyata (Tabel 17).1) 1 Stasiun Stasiun 1 Stasiun 3 1 Rata-rata Stasiun 2 I Stasiun 4 I Stasiun 1 (0.66 0 = 0.73) 0 (1.Tabel 14.98* A (1.24) 1.

l mg/l. Konsentrasi ammonium tertinggi terjadi pada stasiun 4 (Gambar 13 dan Lampiran 5).04 mg/l. Dan konsentrasi ammonium terendah terjadi pada stasiun 1. untuk stasiun 2 konsentrasinya berkisar antara 261. Hal ini dikarenakan kandungan dari ammonium yang terdapat pada perairan relatif sedikit .konsentrasi nitrogen total tertinggi pada setiap kedalamannya. Ammonium (mi) Hasil pengukuran ammonium didapat kisaran konsentrasi untuk stasiun 1 sebesar 196. 2003).87 mg/l. Aktivitas ini banyak dilakukan oleh permukaan liat karena memiliki bantuk moleM yang halus. Ammonium akan bereaksi secara cepat dengan muatan negatif dari liat dan membentuk ikatan yang komplek dengan logam dan senyawa organik (Tan. Ammonium yang terdapat di sedimen dapat berasal dari dekomposisi nitrogen organik yang terakumulasi di dasar.62-490. Rata-rata persentase kandungan liat tertinggi terjadi pada stasiun 2 yaitu sebesar 91. dengan rata-rata konsentrasi sebesar 471. 2000). dan untuk stasiun 4 berkisar antara 442. ammonium juga dihasilkan dari penjerapan alnmonium yang terlarut pada air oleh sedimen.35 mg/l. Kandungan Nitrogen di Sedimen 1. Selain dari dekomposisi.69 %. Selanjutnya nitrogen organik akan banyak mengendap pada stasiun 4 dan terdekomposisi menghasilkan ammonium.9280. Nitrogen organik banyak berasal dari sisa pakan yang tidak termakan dari kegiatan budidaya KJA yang biasanya mengandung protein yang tinggi. dengan rata-rata konsentrasi sebesar 211. dm pada kedalaman interface konsentrasi tertinggi terjadi pada stasiun 3.31-223. Konsentrasi mnonium tertinggi terjadi pada stasiun 4. Kebanyakan nitrogen organik bersifat partikulat yang tidak larut dalam air (Effendi. unt& stasiun 3 berkisar antara 392.85-410.7 mg/l. B. Konsentrasi ammonium pada stasiun 4 lebih tinggi daripada stasiun 3 diduga karena adanya arus pada waduk menyebabkan nitrogen organik yang banyak terdapat di stasiun 3 terbawa arus menuju stasiun 4. Nitrogen organik ini akan mengendap didasar dan terakumulasi pada sedimen. Nilai konsentrasi nitrogen total tertinggi pada kedalaman 0 meter terjadi pada stasiun 2.15 mg/l. nsunun penjerapan yang terjadi pada stasiun 2 lebih sedikit terjadi. pada kedalaman 10 meter konsentrasi tertinggi terjadi pada stasiun 2. selain itu juga dapat berasal dari penjerapan oleh sedimen.

Perbedaan pada setiap stasiun menggambarkan pada masing-masing stasiun kandungan ammonium-nya berbeda satu sama lain.98 % (stasiun 3).) (Lampiran 5).95 % (stasiun 4). Sedangkan stasiun 3 dan stasiun 4 memiliki persentase rata-rata liat adalah sebesar 83. Konsentrasi Ammonium waktu pengamatan. . Terlihat bahwa stasiun 4 memiliki persentase liat lebih besar dari stasiun 3. Sedangkan faktor waktu pengambilan sampel tidak meinberikan perbedaan yang nyata (gaga1 tolak H. sehingga konsentrasi ammonium yang terkandung pada stasiun 4 lebih banyak dibandingkan stasiun 3. Lokasi Juli Agustus September Gambar 13. mi. semua stasiun memberikan pengaruh berbeda nyata terhadap kandungan ammonium pada sedimen (Tabel 18).dari stasiun 3 dan stasiun 4. dan 84. Hasil uji lanjut BNT yang diperoleh berdasarkan fdctor stasiun menyatakan bahwa. Hal ini memungkinkan terjadinya penjerapan ammonium lebih banyak dari stasiun 3.) sedimen berdasarkan stasiun dan Hasil analisis data menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) menjelaskan sedikitnya ada dua atau lebih stasiun yang memiliki perbedaan yag nyata. karena faktor stasiun memberikan keputusan tolak %.

koloid-koloid tanah.64 mg/l (stasiun 3). Hal ini diduga merupakan hasil dari dekomposisi ammonium oleh baMeri nitrifikasi pada stasiun tersebut. bahwa konsentrasi nitrat rata-rata tertinggi terjadi pada stasiun 4 yaitu sebesar 145. Nitrat ( N o d Berdasarkan data yang didapat kisaran konsentrasi nitrat yang terdapat pada masing-masing sedimen antara lain 75.53 mgh (stasiun 4) (Gambar 14 dan Lampiran 5).05 mgh (stasiun I). Penjerapan juga akan semakin ~neningkat jika .87 mgll. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Ammonium sedimen (a=0. Nitrat yang terdapat pada sedimen dapat berasal dari oksidasi ammonium (&) selain itu dapat juga berasal dari penjerapan anion oleh N+. Ketersediaan ammonium yang tinggi pada stasiun 4 memberikan peluang lebih besar untuk diubah menjadi nitrat dibandingkan pada stasiun lain. Hal ini diduga karena proses penjerapan anion-anion nitrat oleh koloid-koloid tanah yang lebih banyak terdapat di stasiun 2.89 = berbeda nyata 2. Effendi (2003).18-110.36 mg/l (stasiun 2).1) Nilai BNT Keterangan * = 19. 126.85 mgll. menjelaskan bakteri nitrifikasi cenderung menempel pada sedimen dan padatan lain. karena pada stasiun 3 kandungan nitrat yang terukur pada kedalaman interface nilainya mendekati no1 sehingga penjerapan nitrat pada stasiun ini lebih sedikit dijumpai. Stasiun 2 memiliki kandungan nitrat lebih tinggi daripada stasiun 3. sedangkan konsentrasi rata-rata terendah terjadi pada stasiun 1 yaitu sebesar 86.34123.Tabel 16. Stasiun 4 cenderung memiliki kandungan nitrat yang tinggi dari stasiun yang lain. Terlihat pada Gambar 23. 112. 75.35-95.39-160.

Hasil analisis data memberikan keputusan tolak H. stasiun (1-2). terdapat lima pasang stasiun yang berbeda nyata terhadap kandungan nitrat. Lokasi a Juli Agustus B September ! Gambar 14. Konsentrasi Nitrat ( N O 9 sedimen berdasarkan stasiun dan waktu pengamatan. stasiun (2-4). 1991).6. stasiun (1-4). sehingga kandungannya relatif lebih tinggi dari stasiun 3. Sedangkan faktor waktu pengambilan sampel memberikan keputusan gaga1 tolak &. pada faktor stasiun (Lampiran 5). Sedangkan antara stasiun (1-3) tidak memberikan perbedaan yang nyata terhadap kandungan nitrat pada sedimen waduk (Tabel 19). stasiun (3-4). Hasil uji lanjutan berdasarkan faktor stasiun diperoleh bahwa.kelnasaman tanah meningkat (Depdikbud. Kemasaman sedimen pada stasiun 2 sangat tinggi. dibandingkan stasiun yang lain dengan pH rata-rata 5. dan stasiun (3-2). antara lain. Hal ini meningkatkan proses penjerapan anion-anion nitrat pada stasiun 2. .

Tabel 17. dan 598.24 = berbeda nyata (89.25* 29.34-643. Kandungan nitogen total adalah jumlah dari nitrogen organik dan anorganik.45 (stasiun 2). dan stasiun 1.87) Nilai BNT Keterangan * Terlihat babwa kandungan pada setiap stasiun berbeda.32) 29. 3. Ha1 ini juga terlibat dari junlah ammonium dan nitrat yang relatif lebih tinggi pada stasiun ini.87) Stasiun 3 (116. stasiun 4 lnemiliki kandungan nitrogen total tertinggi dibandingkan stasiun yang laimya. Terlihat pada Gambar 24.82 mg/l (stasiun 3).51-785. Nitrogen Total Kandungan nitrogen total pada setiap stasiun pengamatan didapatkan kisaran antara lain 240.02 mg/l (stasiun I). Kandungan nitrat stasiun 3 relatif lebih kecil dari stasiun 2 karena diduga proses nitrifikasi dan penjerapan nitrat terhambat sehingga kandungannya lebih kecil dibandingkan stasiun 2 dan relatif lebih sama dengan stasiun 1. 542.70* 0 58.16 . Pengarub arus menyebabkan sebagian besar sisa pakan yang sebagian besar berasal dari stasiun 3 terbawa hngga stasiun 4.62) 2.99* 56.262.1) Stasiun Stasiun 1 Stasiun 4 Rata-rata Stasiun 3 Stasiun 2 Stasiun 1 (145. sehmgga kandungan nitrogen total pada stasiun tersebut relatif lebih tinggi dibandingkan stasiun yang lain.51-398. Secara umun kandungan nitrogen total tertinggi terjadi pada stasiun 4 dengan rata-rata kandungan nitrogen total sebesar 679. namun untuk stasiun 1 dan stasiun 3 tidak begitu berbeda nyata. stasiun 2.34 mgd. Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Nitrat sedimen (a=0.62) Stasiun 2 (1 16.32) Stasinn 4 (145. .74 0 (86.44* 26.15 mgll (stasiun 4) (Gambar 15 dan Lampiran 5). 351.87) 0 - (89. Hal ini menyebabkan sisasisa pakan yang banyak inengandung nitrogen banyak terendapkan pada stasiun 4.55* 0 = 25.87) (86. diikuti oleh stasiun 3.

Nilai uji BNT untuk pengaruh faktor stasiun terhadap kandungan Nitrogen Total sedimen (a=0.ll) 428.03* 0 0 Nilai BNT Keterangan * .20* 96.14) Stasiun 3 Stasiun 4 (679. Hasil analisis data memberikan keputusan tolak H untuk pengaruh faktor .20* 0 = 94. Keputusan ini mengainbarkan bahwa kandungan nitrogen total pada setiap stasiun berbeda nyata.45 = berbeda nyata 332./ 1 Juli mi Agustus September Lokasi Gambar 15.14) (583.ll) Stasiun 2 (369.1) Stasiun Stasiun 1 (251. Hasil uji lanjut BNT dapat dilihat pada Tabel 20 dibawah ini.23* 310. Tabel 18. Konsentrasi Nitrogen Total sedimen berdasarkan stasiun dan waktu pengamatan. stasiun (Lampiran 5).14) Stasiun 1 (251.03* 214.00* 0 118.34) Stasiun 4 (679.34) Rata-rata Stasiun 2 Stasiun 3 (369.

Dapat dilihat pada Gambar 17 bahwa terjadi peningkatan kekeruhan setiap pertambahan kedalaman. .2 .56. Hal ini diduga berasal dari sisa-sisa pakan dan feses ikan dari kegiatan budidaya KJA pada kedua stasiun tersebut.Dari hasil uji lanjut BNT berdasarkan faktor stasiun diperoleh bahwa. sedangkan kekeruhan terendah terdapat pada bulan Agustus di stasiun 3 pada permukaan waduk yaitu sebesar 3 NTU. terdapat perbedaan yang nyata pada semua stasiun terhadap kandungan nitrogen total sedimen. 3. Parameter Fisika dan Kimia Perairan a. dan tidak ditemukan dua stasiun yang memiliki kandungan nitrogen total yang sama. Sedangkan pada stasiun 1 lebih disebabkan oleh masukkan air dari sungai Citannn. Kondisi Perairan dan Sedimen Waduk Cirata 1.40. Nilai kekeruhan tertinggi terdapat pada bulan September di stasiun 2 pada kedalaman interface (dekat dasar) yaitu sebesar 56 NTU. C. artinya bahwa pengaruh waktu kurang mempengaruhi kandungan nitrogen total pada sedimen waduk.O NTU (stasiun 2). Kisaran nilai yang diperoleh untuk setiap stasiun adalah 3.13. dan 2.O .7. Perbedaan pada masing-masing stasiun menggambarkan kandungan di setiap stasiun berbeda satu sama lainnya. Dan pada stasiun 4 disebabkan adanya arus air keluar waduk.6 . Kekeruhan Kekeruhan yang diperoleh berkisar antara 3-56 NTU (Gambar 17 dan Lampiran 6). 4.O NTU (stasiun 3). Untuk pengaruh waktu pengambilan sampel berdasarkan hasil analisis data tidak memberikan pengaruh berbeda nyata (gaga1 tolak &).52.O NTU (stasiun 4). karena diketahui bahwa stasiun 4 merupakan daerah aliran keluamya air waduk.O NTU (stasiun I). khususnya pada stasiun 2 dan stasiun 3 terjadi peningkatan yang sangat besar.

Nilai ini diduga karena pada bulan September tinggi muka air waduk Inengalami penyusutan dibandingkan bulan-bulan sebelumnya (Mardiana.- .-. . kedalaman.6 - 56.Kekeruhan (NN) Kekeruhan (NTU) 0 0 10 23 40 60 0 20 \_ 40 al A-.40 m m 60 70 Kekeruhan (NTU) m n stasiun 2 GO ke&lam~ mnksimum = 13 meter g so ke&lman maksimum = 19 meter 70 Kekewhan (NTU) 0 0 10 t 40 EO 0 0 10 M 40 EO 53 $40 m n g 20 rn stasiun 3 a 0 2 ~ 3 3 m E ' 9% BJ 70 -Juli - $40 m 3s EO kedalaman mksimum = 25 meter 70 -m-Agustus -+-September I I Gambar 16. 20 2 E 2 " e C 3s . 2007).O NTU. dan waktu pengamatan. Kekeruhan perairan pada setiap stasiun. Pada ketiga waktu pengamatan. Penyusutan tinggi muka air inenyebabkan partikel-partikel halus dan tersuspensi menjadi lebih pekat sehingga meningkatkan kekeruhan air waduk. kekeruhan tertinggi terja& pada bulan September dengan kisaran antara 4.

Suhu perairan pada setiap stasiun.68 O C dan pada dasar waduk berkisar antara 26. . 2001) suhu pada perairan ini masih dalam kisaran baku mutu.16 .27. Berdasarkan baku mutu untuk kepentingan perilcanan (Peraturan Pemerintah Nomor 82.b. Dengan suhu tertinggi di daerah permukaan berkisar antara 29. kedalaman. Deviasi suhu berdasarkan waktu maupun kedalaman masih berada di bawah 3 "C (Lampiran 7).58 O (Gambar 16 dan C Lampiran 7). Suhu Suhu perairan pada setiap stasiun dan kedalaman berkisar antara 26.40 $50 Y kedalarnan mahimum = 19 meter z0 3 a $50 Y 60 70 60 70 kedalamn mahimum = 13 meter 26 28 Suhu (Celcius) 30 32 26 28 Suhu (Celcius) 3l 32 m stasiun 4 60 70 kedalanwn maksimum = 25 meter --cJuli -+-Agustus ---September Gambar 17.17 30.68 OC. Penurunan suhu yang terjadi belun dapat mengambarkan adanya lapisan thermoklin. karena perubahan suhu antar lapisan tidak menyebabkan perbedaan suhu yang drastis antara lapisan.40 m rn 5 . dan waktu pengamatan.16 30. Penurunan suhu terjadi setiap stasiun pada permukaan sampai kedalaman dasar waduk. - Suhu (Celcius) Suhu (Celcius) 26 0 10 '2 28 30 32 0 10 '2 26 28 30 32 g 20 E m -C 0 3 g .

do n a 2 50 60 70 kedalamon maksiium = 13 meter TSS (mgA) 0 1Gu 0 m T s s (m@) 300 0 E n m 10 k 2 0 Z" a 5 . dan waktu pengamatan.c. kedalaman. Dari .40 2 50 60 kedaloman maksimum = 62 meter 70 kednlaman maksimum = 25 meter -+-Jul~ --r-hustus -*Sep~ember Gambar 18.29 r n g . stasiun 2 berkisar antara 6-241 mgll. Terlihat pada Gambar 18 terjadi peningkatan nilai TSS pada setiap penainbahan kedalaman. Kandungan Total Suspended Solid (TSS) perairan pada setiap stasiun.Jo . E . Kandungan TSS yang tinggi bisa mengakibatkan pengendapan bahan-bahan suspensi dan terakurnulasi pada sedimen sehingga meningkatkan kandungan sedimen perairan waduk. Ini juga terlihat dari nilai kekeruhan yang semalan meningkat pada setiap kedalamannya. TSS (mgll) 0 TSS (mgfl) 0 0 200 300 1133 rn a 0 g E 03 10 20 stasiun 1 . Kisaran kandungan TSS pada stasiun 1 adalah sebesar 5 -19 mg/l. Total Suspended Solid (TSS) TSS yang diperoleh berkisar antara 3-241 mgA (Gambar 18 dan Lampiran 8). dan stasiun 4 berkisar antara 4. Hal ini diduga karena adanya partikel-partikel suspensi yang berasal akibat limpasan dari daratan (run o m dan sisa-sisa pakan yang terbuang dari aktivitas KJA ke dalam perairan sehingga meningkatkan partikelpartikel tersuspensi pada perairan tersebut. stasiun 3 berkisar antara 3 -180 mg/l.

18-10. 2005). Agustus. khususnya pada dasar perairan. Pola yang demikian dapat digolongkan ke dalam pola sebaran Clinograde. Hal ini diduga karena pada stasiun 2 terdapat aktivitas budidaya KJA.98 mg/l (Lampiran 11). dan letak stasiun 2 yang lebih dekat dengan daratan membuat stasiun 2 mendapatkan limpasan dari daratan (run om lebih banyak dibandingkan stasiun yang lain sehingga TSS pada stasiun 2 lebih tinggi dibandingkan stasiun yang lain.75 mgll. Rata-rata konsentrasi oksigen pada kedalanlan 5 meter adalah 1.517 mg/l. Konsentrasi oksigen yang semakin menurun pada setiap kedalamannya akan menjadikan keadaan anaerob pada perairan.keempat stasiun yang teramati. 1983 dalam Octaniany.74 mdl.02 mg/l. sedangkan konsentrasi DO minimum tejadi pada bulan Juli pada stasiun 2 di kedalaman interface (dekat dasar) dengan konsentrasi sebesar O. Penurunan teqadi secara drastis dari permukaan waduk sampai kedalaman 5 meter. 0. tetapi dangkalnya kedalaman stasiun 2 ini membuat volume air pada stasiun ini lebih kecil dibandingkan stasiun 3.11 mgtl (Gambar 19 dan Lampiran 9). Rata-rata konsentrasi DO pada permukaan adalah 8. Hal ini tentunya akan berdampak b a g proses-proses dekomposisi bahan organik baik pada air maupun pada sedimen waduk.58 mg/l. d.ll-9. nilai kekeruhannya juga lebih tinggi dibandingkan stasiun yang lain. Sedangkan nilai TSS terkecil tejadi pada stasiun 1. Dan selanjutnya konsentrasi menurun secara perlahan dengan bertambahnya kedalaman. Pola tersebut menggambarkan keadaan perairan yang eutrofik dan banyak inengandung unsur hara serta bahan organik di dalamnya (Goldmand dan Home. walaupun jumlah unit KJA yang terdapat pada stasiun 2 tidak terlalu padat dibandingkan stasiun 3. Oksigen Terlarut (Dissolved Oxygen (DO)) Konsentrasi DO maksimum terjadi pada bulan September pada stasiun 1 di kedalaman 0 meter (permukaan) yaitu sebesar 10.17-9. . 0. dan 0.75 mg/l. September berturutturut antara lain berkisar antara. Pada setiap stasiun konsentrasi DO mengalami penurunan. nilai TSS tertinggi terjadi pada stasiun 2. clan rata-rata pada dasar waduk adalah 0. Kisaran konsentrasi oksigen terlarut pada bulan Juli.

97-7. dan waktu pengamatan. Dengan nilai pH tertinggi terdapat pada bulan September di stasiun 3 pada permukaan waduk dengan nilai sebesar 8.Oks~gen Terlarut (mgll) Oksigen Terlarut (m@) 0 5 10 0 0 10 5 10 a stasiun 1 70 Oksigen Tellarut (mgil) l. . kedalaman. rata-rata pH tertinggi terdapat pada permukaan waduk dengan kisaran nilai antara 7. Berdasarkan waktu pengamatan selama penelitian.68. Sedangkan nilai pH terendah terdapat pada bulan Agustus di stasiun 3 pada kedalaman 30 meter dengan nilai sebesar 6. Terlihat bahwa semakin bertanbahnya kedalaman terjadi penurunan pH pada setiap stasiun. pH Berdasarkan hasil pengukuran pH (Gambar 20 dan Lampiran lo).40 a 329 -D 2 ' 50 70 0 kedalamn = 13 meter Okstgen Tetlarut (mgtl) 5 10 E stasiun 4 60 kedalamnn maksimum = 25 meter 70 -e-~uli ~Agustus +September Gainbar 19.67.67. e.67.rm a 5 .96. didapat kisaran nilai antara 6.82-8. dan pH terendah terdapat pada dasar waduk dengan kisaran nilai antara 6. Kandungan oksigen terlarut (DO) perairan pada setiap stasiun.96-8.

Pada stasiun 3 kisaran nilai BOD antara 1. ha1 ini dibuktikan dengan kisaran BOD yang cenderung tinggi pada stasiun 2 dan stasiun 3.06 mgll.08-24.5 6. Bahan organik diduga berasal dari kegiatan budidaya KJA yaitu dari sisa pakan dan feses ikan.5 75 8. f. dan pada stasiun 2 kisaran nilai BOD antara 3. Nilai BOD menunjukkan peningkatan pada setiap penambahan kedalaman.28. dan nilai terkecil terdapat pada stasiun 2 (bulan September) di kedalaman 10 meter dengan nilai sebesar 1. 2003). kedalaman. dan waktu pengamatan. dengan nilai terbesar terdapat di stasiun 3 (bulan Sepetember) di kedalaman dekat dasar (interface) dengan nilai sebesar 28.06 mg/l.pH 6.36-28. Sedangkan stasiun 1 dan stasiun 4 yang tidak dipengaruhi oleh kegiatan .5 75 .36 mgA (Gambar 21 dan Lampiran 11). Biocliemical Oxygen Demand @OD) Nilai BOD yang didapat berkisar antara 1.65 mgA.5 pH stasiun 1 nu stasiun 4 1 70 J kedalnman maksimum = 62 meter -+-Juli -r--Aguslus 70 J -t- kedaloman mnksimum = 25 meter I September Gambar 20. BOD dapat menggambarkan banyaknya kandungan bahan organik di perairan (Effendi.06 mg/l. Nilai pH perairan pada setiap stasiun. 8.5 9.36 .

. September Kandungan Biochemical Oxygen Demand (BOD) perairan pada setiap stasiun.21mg/l clan 2. Hal ini juga terlihat dari kandungan oksigen terlarut (DO) yang semakin menurun pada setiap penambahan kedalaman. .5618.budidaya KJA kisaran nilai BOD masing-masing adalah 4.78-8. semakin tinggi pula konsurnsi oksigen untuk proses dekomposisi. stasiun 3 g 30 E 40 3 50 60 70 stasiun 4 kcdalamnn mnksimum = 25 meter Gambar 21. Nilai BOD yang semakin besar pada setiap penambahan kedalaman menggambarkan proses dekomposisi bahan organik yang semakin besar. dan waktu pengamatan. kedalaman. AO $ m stasiun 1 kcdnlaman mnksimum = 19 meter 3 u 40 stasiun 2 kedGlaman maksimum = 13 meter ? so ' i GO 70 0 10 20 60 70 BOD (mgll) 30 0 10 20 BOD (mil4 30 0 10 10 Y30 5 . sehingga nilai BOD menja& tinggi. Ini diduga karena oksigen digunakan untuk proses dekomposisi bahan-bahan organik menjadi bahan-bahan anorganik (Effendi. . 2003).40 m D 3 50 GO 70 . 2003).. Proses dekomposisi ini memerlukan oksigen (02) dan inelibatkan mikroorganisme (bakteri). BOD juga dapat menggambarkan proses dekomposisi secara biologis (biodegradable) (Effendi.. Semakin banyak bahan organik yang terkandung pada perairan..12 mgil. z m 20 e 2 20 a- ' ' 30 .20 E G - '--. BOD [mgfl) 0 10 20 30 0 10 20 BOD (mu) 30 10 -. --cJuli +Agustus -b--.

68 mg/l.13-53. Nilai COD semakin bertambah pada setiap penambahan kedalaman. nilai BOD yang diperbolehkan adalah sebesar 6 mgll. dan 4.48 mg/l (Gambar 22 dan Lampiran 12). Sedangkan nilai rata-rata BOD pada kedalaman dasar (interface) sangat melebihi dari nilai baku mutu yang diperbolehkan yaitu sebesar 13.41 mgll. 2001) untuk kepentingan perikanan. Nilai rata-rata BOD pada permukaan sampai dengan kedalainan 10 meter masih dalam kisaran baku mutu yaitu sebesar 4. nilai tersebut masih dalam kisaran maksimum yang diperbolehkan yaitu sebesar 50 m a .83 mg/l (stasiun 2). Nilai rata-rata COD selama pengamatan adalah 19.20 mgll. 6. COD inenggambarkan dekomposisi bahan organik secara kimia dengan memanfaatkan oksigen (02) dan menghasilkan CO2 dan Hz0 (APHA. 8.64 mgll (stasiun I). g. Terlihat bahwa stasiun 2 dan stasiun 3 yang dipengaruhi oleh kegiatan budidaya KJA memiliki rata-rata COD yang tinggi dibandingkan pada stasiun 1 dan stasiun 4. dan di kedalaman dekat dasar 29. . Berdasarkan baku mutu (Peraturan Pemerintah Nomor 82.26-20. 10.83 mg/l. Hal ini menggambarkan bahwa kandungan bahan organik yang terdekomposisi secara kimia banyak terdapat pada stasiun tersebut. dan bahanbahan organik ini berasal dari kegiatan KJA yang terjadi pada kedua stasiun tersebut.66 mg/l (Lampiran 11). 1989). dengan rata-rata nilai di permukaan 17. Kisaran nilai COD untuk setiap stasiun antara lain.64 mg/l (stasiun 4).19-50. Nilainya semakin bertambah pada setiap kedalaman.2001) untuk kepentingan perikanan.13-39.46-53.Berdasarkan baku mutu (Peraturan Pemerintah Noinor 82.82 mg/l (stasiun 3). Chentical Oxygen Demand (COD) Nilai COD berkisar antara 4.

6 %.40 3 50 60 70 'e stasiun 1 kedolamn mlitimum = 19 meter rn stasiun 2 kedal-n mksimum = 13 meter coo (msn) 0 c 10 COD (msn) 0 20 40 I 3 5 E 2 20 $ 30 g 40 0 3 50 60 kedalaman maksimum = 25 meter 70 --cJuli . dan komposisi terendah pada bulan September pa& stasiun 1 sebesar 51. Terlihat bahwa. dan liat antara 51. kedalaman. komposisi liat pada setiap stasiun sangat mendominasi tekstur yang lain.02%.5%. dan komposisi terendah terjadi pada bulan .& & - Agustus -+September Gambar 22.23%.32-1. Kandungan Chemical Oxygen Demand (COD) perairan pada setiap stasiun. yaitu: pasir.23-95.COD (mgn) 0 20 40 E n 40 COD (mg!l) 60 -M B z -30 C P 10 - . debu antara 4.l-48. I c . Dengan kisaran untuk pasir antara 0.5 % (Gambar 23 dan Lampiran 13). dan waktu pengamatan. Tekstur Sedimen Dari hasil analisis diperoleh tiga macam tekstur yang terdapat pada sedimen waduk selama penelitian. Parameter Fisika dan Kimia Sedimen a.02%. debu. clan liat. 2. Untuk tekstur debu komposisi tertinggi terjadi pada bulan September di stasiun 1 sebesar 48. Dengan komposisi tertinggi pada bulan September di stasiun 2 sebesar 95.

Kisaran nilai pH tersebut termasuk dalam kategori sedimen dengan kemasaman yang sedang (Depdikbud.September di stasiun 2 sebesar 4. .6%. Dan untuk tekstur pasir komposisi tertinggi terjadi pada bulan Agustus di stasiun 4 sebesar 1.1%. Nilai pH bulan Juli dan bulan Agustus relatif sama atau tidak terjadi perbedaan. b.6 (Gambar 24 dan Lampiran 13). sedangkan pada bulan September terjadi penurunan nilai pH di setiap stasiun pengamatan. Tekstur sedimen Waduk Cirata berdasarkan stasiun dan waktu pengamatan. dan komposisi terendah pada bulan Juli di stasiun 4 sebesar 0.32%. pH Nilai pH sedimen adalah berkisar antara 5. '"1 Bulan Juli '20 1 Bulan Agustus opasir mdabu olist B P B S ~ ~dobu Oliat m Bulan September 19 pasir rn dobu o list Gambar 23. 1991).2-6.

air. sehingga diduga pada sedimen waduk kandungannya juga tinggi. Pada kedalaman interface tentunya &an banyak mengandung kanbondioksida. Asain karbonat akan membentuk kesetiinbangan mambentuk ion EPd m asam bikarbonat (HCOd. Ion EPinilah yang menurunkan pH pada sedimen. Pada bulan September kandungan bahan organik relatif lebih tinggi dibandingkan bulan-bulan lainnya. Tingginya kandungan karbondioksida akan menurunkan pH. Penurunan yang tejadi diduga akibat adanya proses dekomposisi bahanbahan organik. ini terlihat dari kandungan BOD maupun COD khususnya pada kedalaman interface (dekat dasar). dan ammonia. karbondioksida &an bereaksi dengan air membentuk asam karbonat (HzC03). Nilai pH sedlmen berdasarkan stasiun dan waktu pengamatan.I Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3 Stasiun 4 Stasiun a Juli Agustus September 11 Gambar 24. . Bahan organik terdekomposisi akan teroksidasi dengan penambahan oksigen dan pengurangan hidrogen menjadi karbondioksida. khususnya pada pengamatan bulan September. Pada sedimen waduk yang basah.

Kandungan ammonium (~~43. Daerah KJA padat memiliki kandungan nitrogen total yang paling tinggi dibandingkan daerah yang lain.(N0i) nitrat dan nitrogen total pada sedimen cenderung mengalami peningkatan pada daerah outlet waduk. sedangkan NI&+ memiliki kecenderungan mengalami peningkatan pada setiap penambahan kedalaman. kecuali pada inlet waduk yang cenderung meningkat di setiap kedalamannya. Konsentrasi ammonia bebas (NH3) pada permukaan perairan sudah melebihi baku mutu (PP No 82 Tahun 2001). Tekstur sedimen banyak ditemukan dalam bentuk liat. Proses nitrifikasi inasih berlangsung pada daerah inlet waduk. Perairan waduk Cirata berdasarkan kandungan ammonia total menurut kesuburannya digolongkan kedalam perairan Eutrofik. Tekstur liat diduga memiliki kemampuan mengikat ammonium lebih baik dibandingkan nitrat. Kandungan nitrogen total pada perairan cenderung mengalami peningkatan pada setiap penambahan kedalaman. stasiun pengamatan memberikan perbedaan kandungan nitrogen yang berbeda nyata. sedangkan konsentrasi nitrit (NOz) dan nitrat (NO$ masih dalam kisaran baku mutu perairan. sedangkan pada daerah KJA sedang. Kandungan nitrit (NO<) dan nitrat (NO3-)pada perairan cenderung mengalami penumnan.A. daerah KJA padat. dibandingkan kandungan nitrat. . Sedangkan untuk waktu pengainatan hanya mernberikan perbedaan yang nyata pada kandungan ammonia total. Konsentrasi NH3 memiliki kecenderungan mengalami penurunan. Berdasarkan statistik diperoleh. Konsentrasi ammonium lebih tinggi pada sedimen. dan outlet waduk proses nitrifikasi terhainbat. Kesimpulan Kandungan ammonia total pada perairan mengalami peningkatan pada setiap penambahan kedalaman. Pada koloin perairan kedalaman juga memberikan hasil yang berbeda nyata terhadap kandungan nitrogen di perairan.

Saran 1. seperti pemanfaatan sedimen yang sangat banyak mengandung nitrogen. debit. 2. Jlushing rate) untuk melihat pengaruhnya terhadap pola distribusi nitrogen secara spasial. Perlu dilakukan kajian lanjutan dengan melihat pengaruh pola hidrologi waduk (arus air.B. untuk dijadikan pupuk. Perlu dikaji lebih lanjut tentang pengendalian lingkungan di Waduk Cirata. . volume air waduk.

Polusi Air dan Polusi Udara. H. A. 1982. Boyd. Haslam. S. New York. UK. C. H. Kimia dan Ekotoksikologi Pencemaran. 1995. Gamo. 253 p.id (2005) Goldman. Connell. 1983. Penerbit UI-PRESS. Effendi. FPIK-IPB. Jakarta. Heinemann Educational Books. 163 p. Kimia Tanalz Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan -Kebudayaan. Skripsi.D dan Pratt. C. D. Penerbit Kanisius. Elsevier Scientific Publishing Company. Jakarta. P F. Jakarta.AWWA. Methods of Analysisfor Soils Plants and Water. Feriningtyas. Pemelilzaraan Ikan dalam Karamba.J. London. 520 h. Washington D. John Wiley and Sons. Water Quality Managementfor Pond Fish Culture. S. Program Studi MSP. Gramedia. 1961. ip/ek. [Depdikbud] Depatemen Pendidikan dan Kebudayaan.W. S. WPCF. Freshwater Ecology. Penerjemah. 2002. 17&ed. 1991. University of California. APHA. Jawa Barat Selama Periode 2000-2004. Yogyakarta. Bogor. Amsterdam. E. Brown.. 2003.C. Perubalzan Spasial dan Temporal Kualitas Air Waduk Cirata. 3 18p. Chichester. and A. River Pollution and Ecological Perspective.J. Yanti K. Oxfort. Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi IPB. Asmawi. L.M. Mc Graw Hill Book Company. Ferdiaz. 1992. Teluuh Kualitas Air :Bagi Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan Perairan. 1989. Limnology. Jurnal Sains dan Teknologi BPPT . http:L%/ww.Dinamika dan Status Kualitas Air Waduk Multi Guna Cirata.net. 2005. California. New York. Bogor. dan G. 1987. Miller. 1995. Chapman. StandardMethodfor The Examination of Water and Wastewater. D.Horne. .R.DAFTAR PUSTAKA [APHA] America Public Health Association . 1983.

Kartamihardja.G.N. Bogor. IHPUNESCO. J. 1993. Indriani. PT. di Waduk Cirata.. FPM-IPB. .E dan Haryani G. dan E. S. Bogor. G~amedia Pustaka Utama. G. I. 2005.H. Puslitbang Perikanan. 2005. Sekretaris Negara Republik Indonesia Jakarta.Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dun Pengendalian Pencemaran Air. Mardiana. Bogor. Prihadi.Hehanusa P. Fluktuasi Kandungan Oksigen Terlarut selama 24 Jam pada Lokasi Karamba Jaring Apung.S. A. Pengelolaan Budidaya Ikan Secara Lestari di Waduk (Studi Kasus di Perairan Waduk Cirata.N. New York. Disertasi. 1991. Tan. 2007. USA. Notohadiprawiro. Wuduk Cirata. H. 2005. M.Indonesia Programme. Octaviany. Jakarta. Program Studi MSP. Jawa Barat. Steel. Jakarta. 7. Cirata. S. Dampak Budidaya Ikan Dalam Keramba Jaring Apung Terhadap Peningkatan Unsur Ndan P di Perairan Waduk Saguling. Kamus Limnologi (Perairan Darat). dan Ratnawati. Prosiding Lokakarya Selamatkan Air Citarum. Tanah dun Lingkungan. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol. Second Edition. K. Pemerintah Republik Indonesia. FPIK-IPB. Studi Kandungan Fosfor di Perairan dun Sedimen yang Dipengaruhi Kegiatan Karamba Jaring Apung di Waduk Cirata. K. IPB. Skripsi.2. Reinhold Publishing Corpoartoin. Wetlands International . Inc. Kabupaten Cianjur. Program Studi MSP. Swyadiputra. Reid. 2001. 190 h. Pertumbuhan Ikan Mas (Cyprinus carpio) pada Budidaya Karamba Jaring Apung diperairan Eutrof. FPIK-IPB. Marcel Dekker. 2001. Program Studi MSP. L. Bogor. Jawa Barut).H. 2001. Prinsip dun Prosedur Statistika. 2000.I. T. Sekolah Pasca Sarjana. No. Ecology of Inland Waters and Estuaries. Ciputri. Bapedal. Sknpsi. 2001. 1998. Krimono. R. Revised and Expanded. Nastiti. T.D dan J. S. Skripsi. dun Jatiluhur. Environmental Soil Science. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebuyaan. Diterjemahkan oleh Bambang Sumantri (IPB). Komite Nasional Lahan Basah R. Torrie. Jakarta.

pentejemah : Ir. Nitrogen Excretion. G. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol. Jakarta. 3 1-38 Walpole. 2001. No. Kemampuan Bakteri Desulphovibrio sp. 7.Umar. 41 hal. Puslitbang Perikanan. 1995. 1983. 2001. C. R. Gramedia. Academic Press.. Supriyadi. Jakarta.A. Edisi ke-3. E. 1975. Wright. Pengantar Statistika.Pengelolaan Kualitas Air. Dalam Penguraian Senyawa Belerang dun Analisis Laju Sedimentasi. S.H. dan H. Institut Pertanian Bogor. P.E.2.T. United States of America.M. Proyek Peningkatan Mutu Perguruan Tinggi. Second edition. Wetzel. CBS College Publishing. Wardoyo. . R.S. Bambang Sumantri. untuk Perbaikan Kualitas Air pada Budidaya Keramba Jaring Apung. New York. Limnology. dan Anderson P. Kartamihardja.

.

waktu.29+3..76 4 .74+1.Lampiran 1.o~cI) = 0.46 4 Rata-rata kandungan ammonia total pada kedalaman dekat dasar (interface): Ammonia total (interface)= 0. dan kedalaman selama pengamatan Rata-rata kandungan ammonia total pada permukaan: Ammonia total (0.49 = o.08+0.72+0..55+0. Kandungan Ammonia Total pada perairan berdasarkan lokasi.59+1.

stasiun 2 (12 meter). stasiun 3 (62 meter). dan stasiun 4 (25 meter). .Lampiran 1 (lanjutan). Keterangan : Kedalaman interface .stasiun 1 (19 meter).

Lampiran 1 (lanjutan). .

Lampiran 2. Kandungan dan tabel sidik ragam Nitrit ( O) pada perairan N; berdasarkan lokasi, waktu, dan kedalaman selama pengamatan

1

Stasiun

1

Kedalarnan

Juli

Waktu Agustus

/

September

Rata-rata

4

0 rn 10 rn 20 rn interface

0,0014 0,0000 0,0006 0,0000

0,0004 0,0001 0,0003 0,0001

0,0009 0,0011 0,0010 0,0013

0,0009 0,0004 0,0006 0,0005

Keterangan : Kedalaman interface ;stasiun 1 (19 meter), stasiun 2 (12 meter), stasiun 3 (62 meter), dan stasiun 4 (25 meter).

Lampiran 3.

Kandungan dan tabel sidik ragam Nitrat (NO?) pada perairan berdasarkan lokasi, waktu, dan kedalaman selama pengamatan

Keterangan : Kedalaman interface ;stasiun 1 (19 meter), stasiun 2 (12 meter), stasiun 3 (62 meter), dan stasiun 4 (25 meter).

Lampiran 4. Kandungan dan tebel sidik ragam Nitrogen Total pada perairan berdasarkan lokasi, waktu, dan kedalaman selama pengamatan.

Keterangan : Kedalaman interface ;stasiun 1 (19 meter), stasiun 2 (12 meter), stasiun 3 (62 meter), dan stasiun 4 (25 meter).

danNitrat pada sedimen berdasarkan lokasi.Lampiran 5. Ammonia. dan waktu selama pengarnatan Tabel Sidik Ragam . Kandungan dan tabel sidik ragam Nitrogen Total.

Kekeruhan perairan berdasarkan lokasi. dan kedalaman selama pengamatan Keterangan : Kedalaman interface . waktu.stasiun 1 (19 meter). dan stasiun 4 (25 meter). . stasiun 3 (62 meter).Lampiran 6. stasiun 2 (12 meter).

waktu.Lampiran 7. Suhu perairan berdasarkan lokasi. . dan stasiun 4 (25 meter). stasiun 2 (12 meter). dan kedalaman selama pengamatan Keterangan : Kedalaman interface .stasiun 1 (19 meter). stasiun 3 (62 meter).

clan stasiun 4 (25 meter). stasiun 2 (12 meter). stasiun 3 (62 meter). Kandungan Total Suspended Solid (TSS) perairan berdasarkan lokasi. dan kedalaman selama pengamatan Keterangan : Kedalaman interface . . waktu.stasiun 1 (19 meter).Lampiran 8.

dan kedalaman selama pengamatan 20 rn interfase 1 0.19 Keterangan : Kedalaman interface . Kandungan oksigen terlamt (DO) perairan berdasarkan lokasi. waktu.21 0.21 0. stasiun 2 (12 meter).stasiun 1 (19 meter). Rata-rata kandungann oksigen terlamt pada kedalaman 5 meter : .20 0.22 0.19 0.17 0.20 0.Lampiran 9. stasiun 3 (62 meter). dan stasiun 4 (25 meter).

stasiun 1 (19 meter). Kandungan pH perairan berdasarkan lokasi.Lampiran 10. dan kedalaman selama pengamatan ~edala&m interface . dan stasiun 4 (25 meter). . waktu. stasiun 2 (12 meter). stasiun 3 (62 meter).

48+3.23+5. Rata-rata kandungan BOD pada permukaan sampai kedalaman 10 meter : BoD(o.68 8 Rata-rata kandungan BOD pada kedalaman dekat dasar (interface): .Lampiran 11.24+3.10meter) = 5. stasiun 1 (19 meter). dan kedalaman selama pengamatan Keterangan : Kedalaman interface .36+3. Kandungan Biochemical Oxygen Demand (BOD) perairan berdasarkan lokasi. clan stasiun 4 (25 meter). stasiun 3 (62 meter).41~ = 4.56+9. waktu.05+2.60+4. stasiun 2 (12 meter).

53+35. waktu.20 4 Rata-rata kandungan COD pada kedalaman dekat dasar (interface): COD (interface) = 19.93+35.20+15. Kandungan Chemical Oxygen Demand (COD) perairan berdasarkan lokasi.stasiun 1 (19 meter). Rata-rata kandungan COD pada permukaan: COD(O meter) = 17. dan stasiun 4 (25 meter).14 = 17.Lampiran 12. dan kedalaman selama pengamatan Keterangan : Kedalaman interface . stasiun 3 (62 meter).46 + 27.20+19.48 4 .03 =29. stasiun 2 (12 meter).26 + 17.

Kandungan pH dan persentase kandungan tekstur sedimen berdasarkan lokasi. dan waktu selama pengsunatan H sedimen Stasiun Juli Waktu Agustus 1 September / Rata-rata Tekstur sedimen .Lampiran 13.

Pipet 10 ml air sample yang telah disaring. Tambahkan 0. aduk rata 5.Lampiran 14. Tambahkan 1 ml Sod. Ukur dengan Spectrophotometer pa& panjang gelombang ( 640 nm). aduk biarkan 10 menit agar terbentuk wama merah muda dengan sempurna 5.42 atau yang kertas lain yang setara 2. aduk dan biarkan 2-4 menit (jangan lebih) 4.2 ml(4 tetes) NED. Tambahkan 2. Tambhakan 0. inasukkan ke dalam gelas piala 3. Prosedur pengukuran parameter kualitas air (APHA.2 ml(4 tetes) Sulfnnilamide. Tambahkan 1 ml Phenol Solution. aduk 3. 1998) Prosedur pengukuran Ammonia Total 1. Ambil aquadest 10 ml masukkan ke &lam gelas piala. Sirnpan / biarkan selama 1jam tutup dengan Alumunium Foil 6.5 ml Oxidizing Solution. Prosedur pengukuran Ammonia Bebas % ammonia tak-terioisasi (Ammonia bebas) = a 100 1+ antilog(pKa . lakukan seperti langkah 3-4 6.Nihoposside 4. Ukur dengan Spectrophotoineter dengan panjang gelombang 543 nm .p H ) Keterangan : pKa : konstanta logaritma negatif yang bergantung pada suhu Prosedur pengukuran Nitrit 1. Pipet 25 ml sample air yang sudah disaring ke dalan Bleaker glass LOO in1 2. Saring ke dalam erlenmeyer menggunakan kertas saring Whatman No.

Tiinbang di neraca analitik 7. Keringkan kertas dalam oven (T= 103-105 oC) selama 1jam 5. Ambil kertas saring taruh di tempat khusus 13.Lampiran 14 (lanjutan). Contoh dikocok masukkan ke alat penyaring. Bilas kertas saring dengan air suling (20 ml) 2. Ambil kertas saring dan simpan di tempat khusus kertas 4. Tambahkan 5 ml Asam Sulfat pekat (gunakan ruang asam). lakukan seperti langkah 3-4 6. pipet 5 ml aquaest masukkan ke dalam gelas piala. Tambahkan 0. Dinginkan dalam desikator 10 menit 6. Keringkan dalam pengering pada suhu 103-105 oC selama satu jam 14.42 yang kertas lain yang setara 2. * Prosedur pengukuran Nitrit 1.5-200 mg 11. Siapkan kertas yang telah diketahui beratnya pada alat penyaring 10. Saring contoh lalu residu tersuspensi bilas dengan air suling 10 ml 12. Untuk pengukuran blanko. Dinginkan dalam desikator selama 10 menit kemudian timbang. Simpan kertas saring dalam desikator 9. aduk 4. inisal a miligram . sesuaikan benyaknya sehingga berat residu antara 2.5 ml(10 tetes) Brucine. Pipet 5 ml air sample yang telah disaring. Saring ke dalam erlenmeyer dengan menggunakan kertas saring Whatman No. aduk dan diamkan hingga dingin 5. Ukur menggunakan Spectrophotometer dengan panjang gelombang 410 nm. Ulang langkah 4-6 (kehilangan berat < 4%) missal = B milligram 8. Ulangi pembilasan 3. Prosedur pengukuran Total Suspended Solid (TSS) 1. masukkan ke dalam gelas piala 3.

Pipet 10 ml sample masukkan ke dalam erlenmeyer 2.025 N. Lakukan blanko (10 aquades + prosedur 2-7 di atas). Catat ml titran (B ml) 8.025 N (Ferros Amonium Sulfat). Biarkan selama 30 menit. sebelumnya tambahkan indikator feroin 2-3 tetes sampai terbentuk warna hijau biru dan titik akhir titrasi ditandai dengan perubahan warna menjadi merah bata yang stabil dalam 1 menit. Tambahkan 5 ml K2Cr207 0. catat ml titran (A ml) Perhitungan : COD (ing 0211) = /A-B) x 8 x 1000 ml sampel Keterangan : A = ml FAS yang terpakai saat titrasi blanko B = ml FAS yang terpakai saat titrasi sampel M = Molaritas FAS (0. Setelah selesai buka tutupnya lalu dinginkan 6 . 5. Titrasi kelebihan K2Cr207 menggunakan FAS 0. Tutup erlenmeyer dengan cawan petri untuk mencegah masuknya material asing.025 N) 8000 = miliekivalen bobot Oksigen x 1000 mlll . lalu aduk 3.Lampiran 14 (lanjutan) Perhitungan : TSS (mgll) = (A-B) x 1000 I ml contoh Prosedur pengukuran Chemical Oxygen Demand (COD) (metode Refluks terbuka) 0 1. Masukkan H2S04 (15 ml) 4. Encerkan larutan sampel dengan 7.5 ml aquades 7.

Tambahkan 1 ml(20 tetes) larutan MnS04 4.Lampiran 14 (lanjutan). Tambahkan 1 ml(20 tetes) larutan NaOH + KI. air contoh diencerkan 5-10 kali (dengan aquadest) 3. Contoh air diaerasi atau kocok-kocok sampai jenuh 4. Titrasi dengan Na-Thiosulfat sampai benvama kuning muda. Tambahkan sulfamic acid 0. Pipet 50 ml air contoh dari botol BOD ke dalam erlenmeyer 7.5 ml(10 tetes) ke dalam botol BOD 125 ml 3. Ambil air sainpel ke dalam botol BOD sampai penuh clan tutup. Masukkan kedalam botol BOD kecil 125 ml atau 250-300 ml . hindari adanya gelembung udara 2. Teruskan sampai tidak bewama. Ambil contoh 500 ml (tanpa pengawet) dalam botol plastik 2. Catat ml titran yang terpakai Perhitungan : Keterangan : N = Normalitas Tiosulfat Prosedur pengukuran Biochemical Oxygen Demand (BOD) 1. Bila air keruh sekali. Setelah inengendap tambahkan 1 ml(20 tetes) H2S04 pekat atau sampai endapan larut 6 . aduk (bolak-balik) diamkan sampai inengendap 5. kemudian tutup. Prosedur pengukuran Dissolve Oxygen (DO) I. tambahkan amium 2-3 tetes.

5. catat ml titran sebagai DO 1 6.Lampiran 14 (lanjutan). Caatat ml titran DO 5 10. Sisa air contoh dari item 4. dimasukkan ke dalam botol BOD bekas pengenceran no-5 7. Setelah 5 hari dianalisis seperti DO (seperti item 5). Simpan di es box dengan suhu 200C sebagai DO 5 9. DO 5 hams h a n g dari DO 1 Perhitungan : . Ditutup dan bungkus rapat dengan plastik hitam (menghindari cahaya atau fotosintesis) 8. kerjakan atau reaksikan dengan bahan kimia seperti DO winkler (lihat prosedur DO).

1961). Hasil Destilasi dititrasi dengan HCl yang sudah diketahtri normalitasnya 9. Tambahkan indikator 5 tetes 8. Catat hasil titrasi HC1 Perhitungan : . Tambahkan 1 ml etanol 4. Tambahkan 1 ml etanol 4. Hasil Destilasi dititrasi dengan HC1 yang sudah diketahui normalitasnya 9. Catat hasil titrasi HCl Perhitungan : * Prosedur pengukuran Ammonium 1.Lampiran 15. Tambahkan aquadest 100 ml 5. Lalu tambahkan NaOH 5% sebanyak 5ml 6. Sampel yang telah dicampurkan tersebut di destilasi dan hasil destilasi ditampung dengan Erlenmeyer 250 in1 yang sudah di isi H3B03 1% 7. Pipet 5 ml sampel 2. Pipet 5 ml sampel 2. Sampel yang telah dicampurkan tersebut di destilasi dan hasil destilasi ditampung dengan Erlenmeyer 250 ml yang sudah di isi H3B03 1% 7.Prosedur pengukuran parameter Sedimen (Chapman dan Pratt. Tambahkan Defordaaloel gram 3. Lalu tambahkan MgO sebanyak 1 gram 6. Tambahkan indikator 5 tetes 8. Tambahkan aquadest 100 ml 5. Tambahkan Defordaaloel grain 3. Prosedur pengukuran Nitrat 1.

Lampiran 15. inasukkan ke dalam botol. Tambahkan 5 tetes parapin cair. Timbang 10 gram contoh tanah kering udara yang 1010s saringan 2 milimeter. Tambahkan H3B03 1% 8. Tambahkan NaOH 20% 20 ml 7. Pipet 0. Hasil dari proses destilasi di titrasi dengan HCl yang sudah diketahui normalitasnya 11. Tambahkan Selenium Mixer. Catat hasil titrasi HC1 Perhitungan : 100 N-total (96) = ((sampel(m1)) .5 gram sampel 2. Destruksi sampel tersebut 5. Tambahkan 50 ml aquadest lalu masukkan ke tabung destilasi dan tambahkan aquadest 100 ml 6 . (lanjutan). Kocok selama 30 menit dengan mesin pengocok.(blanko(ml)))xN(HCl)x14xBKM BKM = Bobot Kering Mutlak Prosedur pengukuran pH 1. kocok 2. Ben indikator 0. Tambahkan 10 ml aquadest untuk penetapan pH H20 atau tambahkan 10 ml larutan KC1 1 N untuk penetapan pH KC1 3. Destilasikan sampel tersebut 10.25 ml(5 tetes) 9. lalu tambahkan H2S04 sebanyak 5 ml 3. Ukur dengan pH meter . diamkan sebentar 4. Prosedur pengukuran Nitrogen Tot& 1. dan digoyang agar tercampur sempuma 4.

(lanjutan). Lakukan pencucian C1 sampai semua C1 hilang (uji dengan perak nitrat tidak tejadi awan putih berarti C1 habis) 5. tambahkan air sampai tanda tera 8. Tutup gelas dengan karet. Fraksi debu dan liat ditampung dalam tabung sedimentari 1 liter 6. . * Prosedur pengukuran tekstur tanah 1. Kedalam tabung sedimentasi yang berisi debu dan liat tambahkan 2 ml Nu-pirofosfat (yang sudah diketahui bobotnya) biarkan selama 1 jam.Lampiran 15. Lakukan pemipetan dari tabung sedimentasi tersebut menurut waktu kedalaman pipet 10. clan kocok lalu didirikan dalam bak air kemudian buka sumbatnya catat waktu selesai pengocokan 9. Tambahkan 50 ml H202 30% (untuk menghacurkan bahan organik) simpan di atas bak berisi air kocok lalu tarnbahkan 6 tetes asam asetat 99% biarkan satu malam 3.2 N (untuk melarutkan CaC03) tambahkan air kurang lebih separuh gelas pala kemudian didihkan kira-kira 20 menit 4. Pindahkan fraksi pasir dari ayakan ke dalam cawan alumunium (yang sudah diketahui bobotnya) kemudian keringkan dalam oven pada suhu 105 oC semalam lalu tentukan bobot pasir 7.5 HC16 N untuk tiap 1% CaC03 dan 100 ml HCl 0. Setiap pemipetan dituangkan kedalam cawan alumunium untuk diuapkan aimya. Sisakan fraksi pasir dengan menggunakan ayakan 50 p. selanjutnya dimasukkan ke dalam tanur pada suhu 105 oC akhimya dimasukkan dalam eksikator lalu ditimbang. masukkan ke dalam gelas piala satu liter 2. Panaskan di atas penangas air sambil ditambahkan H202 sedikit demi sedikit sambil diaduk-aduk sampai semua bahan organik habis (tidak ada buih lagi) tambahkan 0. Timbang 10 gram tanah kering udara 1010s saringan 2 rmn.

ampiran 16.. Gambar lokasi pengamatan (stasiun) selama penelitian Stasiun 1 (inlet waduk) Stasiun 2 (KJA sedang) .

Lampiran 16. (lanjutan) Stasiun 3 (KJA padat) Stasiun 4 (outlet waduk) .

Garnbar penyusutan air waduk Cirata.Lampiran 17. .

Penulis memilih Program Studi Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan Perairan. Selama mengikuti perkuliahan. Berperan aktif sebagai Organizing Committee (OC) masa perkenalan FPM mahasiswa baru tahun 2006 dan masa perkenalan Departemen MSP mahasiswa baru tahun 2006 serta sebagai peserta pada beberapa seminar yang diselenggarakan di lingkungan Institut Pertanian Bogor. Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sajana pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Tahun 2003 penulis lulus dari SMU Negeri 47 Jakarta. . Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. selain itu aktif juga sebagai Pengurus Himpunan Mahasiswa Manajemen Sumberdaya Perairan (HIMASPER) pada bidang Hublukom di tahun yang sama. Ichsan dan ibu : Muti'ah. IPB. Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan. penulis menyusun skripsi dengan judul "Kajian Kandungan Nitrogen pada Kolom Perairan dan Sedimen Akibat Aktivitas Keramba Jaring Apung di Waduk Cirata. Penulls merupakan anak ketiga dari lima bersaudara. dan asisten mata kuliah Ikhtiologi tahun 200512006. dan pada tahun yang sama lulus seleksi masuk Institut Pertanian Bogor melalui Jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI). Penulis juga aktif sebagai asisten mata kuliah Pengantar Matematika pada tahun ajaran 200412005. Jawa Barat".AYAT HJDUP Penulis dilahirkan di Jakarta. pada tanggal 22 Maret 1985 dari pasangan bapak : Moch. pernah aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa FPM IPB sebagai anggota di bidang Hubungan Luar dan Komunikasi tahun 2004-2005.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.