ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. S DENGAN DIAGNOSA MEDIS GAGAL GINJAL KRONIK DAN HEPATITIS B BANGSAL HEMODIALISA RSUP Dr.

SARDJITO Disusun untuk Memenuhi Tugas Praktik Klinik Keperawatan Medikal Bedah II

Disusun oleh Alfian Kurnia Soemasdiar

: NIM P07120110003

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN YOGYAKARTA JURUSAN KEPERAWATAN 2011

LEMBAR PENGESAHAN

Laporan dengan judul “ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. S DENGAN DIAGNOSA MEDIS GAGAL GINJAL KRONIK DAN HEPATITIS B BANGSAL HEMODIALISA RSUP Dr. SARDJITO” berikut ini disahkan pada : Hari/tanggal Waktu Tempat : : : Bangsal Hemodialisa RSUP Dr Sardjito Mengetahui,

Pembimbing Lapangan

Mahasiswa Praktikan

Tatik Dwi Wahyuni, S.Kep, Ns.

Alfian Kurnia Sumasdiar

Pembimbing Akademik

Ns. Harmilah, M.kep, Sp. KMB.

BAB I TINJAUAN PUSTAKA A. Gagal ginjal kronik 1. Pengertian

Gagal ginjal kronik (GGK) biasanya akibat akhir dari kehilangan fungsi ginjal lanjut secara bertahap (Doenges, 1999; 626). Gagal ginjal kronis atau penyakit renal tahap akhir (ESRD) merupakan gangguan fungsi renal yang progresif dan irreversible dimana kemampuan tubuh gagal cairan untuk dan

mempertahankan

metabolisme

dan

keseimbangan

elektrolit,menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah). (Brunner & Suddarth, 2001; 1448) Gagal ginjal kronik merupakan perkembangan gagal ginjal yang progresif dan lambat,biasanya berlangsung beberapa tahun. (Price, 1992; 812)

Sesuai dengan topik yang saya tulis didepan cronic kidney disease ( CKD ),pada dasarnya pengelolaan tidak jauh beda dengan cronoic renal failure ( CRF ), namun pada terminologi akhir CKD lebih baik dalam rangka untuk membatasi kelainan klien pada kasus secara dini, kerena dengan CKD dibagi 5 grade, dengan harapan klien datang/merasa masih dalam stage – stage awal yaitu 1 dan 2. secara konsep CKD, untuk menentukan derajat ( stage ) menggunakan terminology CCT ( clearance creatinin test ) dengan rumus stage 1 sampai stage 5. sedangkan CRF ( cronic renal failure ) hanya 3 stage. Secara umum ditentukan klien datang dengan derajat 2 dan 3 atau datang dengan terminal stage bila menggunakan istilah CRF.

2. Etiologi 1. Infeksi misalnya pielonefritis kronik, glomerulonefritis. 2. Penyakit vaskuler hipertensif misalnya nefrosklerosis benigna, nefrosklerosis maligna, stenosis arteria renali.

1996. 2001 : 1448). Nefropati obstruktif misalnya saluran kemih bagian atas: kalkuli neoplasma.hiperparatiroidisme.gout. Gangguan kongenital dan herediter misalnya penyakit ginjal polikistik. Gangguan jaringan penyambung misalnya lupus eritematosus sistemik. (Brunner & Suddarth. Terjadi uremia dan mempengaruhi setiap sistem tubuh. Pada tingkat ini fungsi renal yang demikian nilai kreatinin clearance turun sampai 15 ml/menit atau lebih rendah itu. produk akhir metabolisme protein (yang normalnya diekskresikan ke dalam urin) tertimbun dalam darah. Selanjutnya karena jumlah nefron yang rusak bertambah banyak oliguri timbul disertai retensi produk sisa.asidosis tubulus ginjal 5. fibrosis netroperitoneal. Batu saluran kencing yang menyebabkan hidrolityasis 3. Metode adaptif ini memungkinkan ginjal untuk berfungsi sampai ¾ dari nefron–nefron rusak. anomali kongenital pada leher kandung kemih dan uretra. Penyakit metabolik misalnya DM.nefropati timbal 7. . Titik dimana timbulnya gejala-gejala pada pasien menjadi lebih jelas dan muncul gejalagejala khas kegagalan ginjal bila kira-kira fungsi ginjal telah hilang 80% . 8.90%.amiloidosis 6. poliarteritis nodosa.sklerosis sistemik progresi.3. Nefropati toksik misalnya penyalahgunaan analgesik. Banyak gejala uremia membaik setelah dialisis. 368) Fungsi renal menurun. Semakin banyak timbunan produk sampah maka gejala akan semakin berat. Beban bahan yang harus dilarut menjadi lebih besar daripada yang bisa direabsorpsi berakibat diuresis osmotik disertai poliuri dan haus. Nefronnefron yang utuh hipertrofi dan memproduksi volume filtrasi yang meningkat disertai reabsorpsi walaupun dalam keadaan penurunan GFR / daya saring. Saluran kemih bagian bawah: hipertropi prostat. (Long. striktur uretra. Patofisiologi Pada waktu terjadi kegagalan ginjal sebagian nefron (termasuk glomerulus dan tubulus) diduga utuh sedangkan yang lain rusak (hipotesa nefron utuh). 4.

1999). Stadium5 : kelainan ginjal dengan LFG < 15mL/menit/1.73m2 4.73m2 atau gagal ginjal terminal. Hepatitis virus merupakan infeksi sistemik oleh virus disertai nekrosis dan klinis. Stadium 3 : kelainan ginjal dengan LFG antara 30-59 mL/menit/1.73 m2 3. Hepatitis 1. Stadium 3 : gagal ginjal stadium akhir atau uremia. Stadium 2 : Kelainan ginjal dengan albuminaria persisten dan LFG antara 60-89 mL/menit/1. Stadium 1 : kelainan ginjal yang ditandai dengan albuminaria persisten dan LFG yang masih normal ( > 90 ml / menit / 1. Stadium 4 : kelainan ginjal dengan LFG antara 15-29mL/menit/1.73m2 5. Untuk menilai GFR ( Glomelular Filtration Rate ) / CCT ( Clearance Creatinin Test ) dapat digunakan dengan rumus : Clearance creatinin ( ml/ menit ) ( kg ) 72 x creatini serum Pada wanita hasil tersebut dikalikan dengan 0. dan kreatinin serum meningkat. 3. K/DOQI merekomendasikan pembagian CKD berdasarkan stadium dari tingkat penurunan LFG : 1.85 = ( 140-umur ) x berat badan B. pada stadium kadar kreatinin serum normal dan penderita asimptomatik. biokimia serta seluler yang khas (Smeltzer.73 m2 2. dimana lebihb dari 75 % jaringan telah rusak. 2001) . Blood Urea Nitrogen ( BUN ) meningkat. 2. Stadium 1 : penurunan cadangan ginjal. Pengertian Hepatitis adalah suatu proses peradangan difus pada jaringan yang dapat disebabkan oleh infeksi virus dan oleh reaksi toksik terhadap obat-obatan serta bahan-bahan kimia. Stadium 2 : insufisiensi ginjal.Klasifikasi Gagal ginjal kronik dibagi 3 stadium : 1. (Hadi.

saliva.2. Obat-obatan Menyebabkan toksik untuk hati. feces. semen. Virus Type A Metode transmisi Fekal-oral melalui orang lain Type B Parenteral seksual. orang ke orang. Sering dengan berkembangnya inflamasi pada hepar. Setelah lewat masanya. perinatal Type C Parenteral jarang seksual. sehingga sering disebut hepatitis toksik dan hepatitis akut. Etiologi b. Patofisiologi Inflamasi yang menyebar pada hepar (hepatitis) dapat disebabkan oleh infeksi virus dan oleh reaksi toksik terhadap obat-obatan dan bahan-bahan kimia. sel- . 4. pola normal pada hepar terganggu. Alkohol Menyebabkan alkohol hepatitis dan selanjutnya menjadi alkohol sirosis. dapat berkem-bang sampai kronis Terutama melalui darah Type D Parenteral perinatal. feces. d. memerlukan koinfeksi dengan type B Type E Fekaloral Keparahan Tak ikterik dan asimtomatik Darah. perinatal Menyebar luas. Unit fungsional dasar dari hepar disebut lobul dan unit ini unik karena memiliki suplai darah sendiri. saliva c. sekresi vagina Melalui darah Darah. Gangguan terhadap suplai darah normal pada sel-sel hepar ini menyebabkan nekrosis dan kerusakan sel-sel hepar. saliva Parah Peningkatan insiden kronis dan gagal hepar akut Sama dengan D Sumber virus Darah.

empedu belum mengalami konjugasi (bilirubin indirek). mudah tersinggung. depresi . Manifestasi klinik antara lain (Long. kelelahan fisik dan mental. Karena bilirubin konjugasi larut dalam air. Hal ini dimanifestasikan dengan adanya rasa mual dan nyeri di ulu hati. maka terjadi kesukaran pengangkutan billirubin tersebut didalam hati. sebagian besar klien yang mengalami hepatitis sembuh dengan fungsi hepar normal. Akibatnya billirubin tidak sempurna dikeluarkan melalui duktus hepatikus. 5. Peningkatan kadar bilirubin terkonjugasi dapat disertai peningkatan garam-garam empedu dalam darah yang akan menimbulkan gatal-gatal pada ikterus. maupun bilirubin yang sudah mengalami konjugasi (bilirubin direk). Manifestasi klinis 1. Walaupun jumlah billirubin yang belum mengalami konjugasi masuk ke dalam hati tetap normal. sakit kepala. Timbulnya ikterus karena kerusakan sel parenkim hati. Selain itu juga terjadi kesulitan dalam hal konjugasi. konjugasi dan eksresi bilirubin. 1996 : 369): a. Tinja mengandung sedikit sterkobilin oleh karena itu tinja tampak pucat (abolis). karena terjadi retensi (akibat kerusakan sel ekskresi) dan regurgitasi pada duktuli. Oleh karenanya. Inflamasi pada hepar karena invasi virus akan menyebabkan peningkatan suhu badan dan peregangan kapsula hati yang memicu timbulnya perasaan tidak nyaman pada perut kuadran kanan atas. sehingga menimbulkan bilirubin urine dan kemih berwarna gelap. tetapi karena adanya kerusakan sel hati dan duktuli empedu intrahepatik. maka bilirubin dapat dieksresi ke dalam kemih. berat badan berkurang. Gejala dini : lethargi.sel hepar yang menjadi rusak dibuang dari tubuh oleh respon sistem imun dan digantikan oleh sel-sel hepar baru yang sehat. Jadi ikterus yang timbul disini terutama disebabkan karena kesukaran dalam pengangkutan.

terutama ditelapak kaki ). nafas bau ammonia. muntah. (akibat retensi cairan dan natrium dari aktivitas sisyem renin . nafas dangkal atau sesak nafas baik waktui ada kegiatan atau tidak. 2001 : 1449) antara lain : hipertensi. perubahan tingkat kesadaran. mual disertai muntah. pruritis mungkin tidak ada tapi mungkin juga sangat parah. gagal jantung kongestif dan udem pulmoner (akibat cairan berlebihan) dan perikarditis (akibat iriotasi pada lapisan perikardial oleh toksik. udem yang disertai lekukan. Manifestasi klinik menurut Suyono (2001) adalah sebagai berikut: a. Manifestasi klinik menurut (Smeltzer. burning feet syndrom ( rasa kesemutan dan terbakar. mual. anoreksia. 2. Gangguan gastrointestinal Anoreksia. kejang. kedutan otot. effusi perikardiak dan gagal jantung akibat penimbunan cairan. tidak mampu berkonsentrasi). d. Gangguan muskuloskeletal Resiles leg sindrom ( pegal pada kakinya sehingga selalu digerakan ). perdarahan pada saluran gastrointestinal. Gangguan kardiovaskuler Hipertensi. tremor. b. nausea. Gejala yang lebih lanjut : anoreksia. dan cegukan. ulserasi dan perdarahan mulut. pruritis. c. Gangguan Pulmoner Nafas dangkal. kussmaul. gangguan irama jantung dan edema. .b.angiotensin – aldosteron). dan sesak nafas akibat perikarditis. 3. miopati ( kelemahan dan hipertropi otot – otot ekstremitas. dan fomitus yang berhubungan dengan metabolisme protein dalam usus. suara krekels. nyeri dada. batuk dengan sputum kental dan riak.

gatal – gatal akibat toksik. gangguan metabolic lemak dan vitamin D. hiperkalemia. f. Konservatif a.e. System hematologi anemia yang disebabkan karena berkurangnya produksi eritopoetin. g. asidosis. Penatalaksanaan Medis Penatalaksanaan medis pada pasien dengan CKD dibagi tiga yaitu: a. Gangguan Integumen Kulit berwarna pucat akibat anemia dan kekuning – kuningan akibat penimbunan urokrom. kuku tipis dan rapuh. Observasi balance cairan c. dapat juga terjadi gangguan fungsi trombosis dan trombositopeni. Dialysis a. Gangguan cairan elektrolit dan keseimbangan asam dan basa biasanya retensi garam dan air tetapi dapat juga terjadi kehilangan natrium dan dehidrasi. sehingga rangsangan eritopoesis pada sum – sum tulang berkurang. hemolisis akibat berkurangnya masa hidup eritrosit dalam suasana uremia toksik. hipomagnesemia. Gangguan metabolic glukosa. Gangguan endokrin Gangguan seksual : libido fertilitas dan ereksi menurun. Observasi adanya odema d. gangguan menstruasi dan aminore. Dilakukan pemeriksaan lab. hipokalsemia. Sedangkan dialysis yang bisa dilakukan dimana saja yang tidak bersifat akut adalah CAPD ( Continues Ambulatori Peritonial Dialysis ) . Batasi cairan yang masuk b.darah dan urin b. peritoneal dialysis biasanya dilakukan pada kasus – kasus emergency. h. 6.

Dengan urin analisa juga dapat menunjukkan kadar protein. Pemeriksaan Laboratorium Penilaian CRF dengan ganguan yang serius dapat dilakukan dengan pemerikasaan laboratorium. pH. analisa urine dapat menunjang dan sebagai indikator untuk melihat kelainan fungsi ginjal. kadar urea nitrogen dalam darah (BUN). seperti : Kadar serum sodium/natrium dan potassium/kalium. Urea nitrogen adalah produk akhir dari metabolisme . kadar serum phospor. kadar Hb. Pada gagal ginjal yang progresif dapat terjadi output urin yang kurang dan frekuensi urin menurun.b. serum dan konsentrasi kreatinin urin. Pengambilan batu 2. dan WBCs/leukosit serta penurunan osmolaritas urin. hematokrit. Pada awalnya hemodiliasis dilakukan melalui daerah femoralis namun untuk mempermudah maka dilakukan : 1) AV fistule : menggabungkan vena dan arteri 2) Double lumen : langsung pada daerah jantung (vaskularisasi ke jantung) c. Operasi 1. Pada stadium yang cepat pada insufisiesi ginjal. glukosa. RBCs/eritrosit. Hemodialisis Yaitu dialisis yang dilakukan melalui tindakan infasif di vena dengan menggunakan mesin. PEMERIKSAAN PENUNJANG Didalam memberikan pelayanan keperawatan terutama intervensi maka perlu pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan baik secara medis ataupun kolaborasi antara lain : a. urinalisis. Transplantasi ginjal 7. Monitor kadar BUN dan kadar creatinin sangat penting bagi pasien dengan gagal ginjal. Analisa urine rutin dapat dilakukan pada stadium gagal ginjal yang mana dijumpai produksi urin yang tidak normal. Batas kreatinin urin rata-rata dari urine tampung selama 24 jam.

c. abses / batu ginjal. serta beberapa gangguan bentuk vaskuler. Computer Tomograohy (CT) Scan yang digunakan untuk melihat secara jelas sturktur anatomi ginjal yang penggunaanya dengan memakai kontras atau tanpa kontras. Biopsi Ginjal Untuk mengdiagnosa kelainann ginjal dengan mengambil jaringan ginjal lalu dianalisa. anomali kongental. Pemeriksaan Radiologi Berberapa pemeriksaan radiologi yang biasa digunanakan utntuk mengetahui gangguan fungsi ginjal antara lain: a.protein serta urea yang harus dikeluarkan oleh ginjal. uereter dan vesika urinaria untuk mengidentifikasi bentuk. Flat-Plat radiografy/Radiographic keadaan ginjal. d. dan kepiler pada ginjal dengan menggunakan kontras . vena. Bila ada peningkatan BUN selalu diindikasikan adanya dehidrasi dan kelebihan intake protein. ARF. b. kelainan prostat. Pemeriksaan ini biasanya dilakukan pada kasus renal arteri stenosis. proses infeksi pada ginjal serta post transplantasi ginjal. posisi. Biasanya biopsi dilakukan pada kasus . 2. Aortorenal Angiography digunakan untum mengetahui sistem aretri. calculi ginjal. Normal kadar BUN dan kreatinin sekitar 20 : 1. ukuran. e. Magnetic Resonance Imaging (MRI) digunakan untuk mengevaluasi kasus yang disebabkan oleh obstruksi uropathi. 1. pembedahan. arterovenous fistula. IVP biasa digunakan pada kasus gangguan ginjal yang disebabkan oleh trauma. Intervenous Pyelography (IVP) digunakan untuk mengevaluasi keadaan fungsi ginjal dengan memakai kontras. dan kalsifikasi dari ginjal. aneurisma ginjal. Pada gambaran ini akan terlihat bahwa ginjal mengecil yang mungkin disebabkan karena adanya proses infeksi. serta obstruksi saluran kencing.

Pemeriksaan protein protein totel serum albumin serum globulin serum HbsAG c. dan perencanaan transplantasi ginjal.respon waktu protombin terhadap vitamin K d. atau rose bengal yang berlabel radioaktif kolestogram dan kalangiogram arteriografi pembuluh darah seliaka Pemeriksaan tambahan laparoskopi . - Laboratorium a. neprotik sindom. Pemeriksaan serum transferase dan transaminase 2. ARF. 1. AST atau SGOT ALT atau SGPT LDH Amonia serum Radiologi foto rontgen abdomen pemindahan hati denagn preparat technetium. penyakit ginjal bawaan. 3. Waktu protombin . Pemeriksaan pigmen urobilirubin direk bilirubun serum total bilirubin urine urobilinogen urine urobilinogen feses b.golomerulonepritis. emas.

pemeriksaan fisik pada sasaran yang dituju. Asites. Mialgia. dan evaluasi. Tahap tahap melakukan asuhan keperawatan antara lain pengkajian. medical record. Keamanan . Selain itu pengumpulan data dapat diperoleh dari klien. Kelelahan. Mual dan muntah. Neurosensori Peka terhadap rangsang. Sirkulasi Bradikardi ( hiperbilirubin berat ). Hal-hal yang dikaji pada klien antara lain : Adapun pengkajian pada pasien gagal ginjal kronis dan hepatitis antara lain : 1. Urin bercampur darah 4. Berat badan menurun. implementasi. Gatal ( pruritus ). perencanaan. observasi.. catatan medis. Aktivitas Kelemahan. Eliminasi Urine gelap. Asteriksis 5. tenaga kesehatan. Mual. Anoreksia. Nyeri / Kenyamanan Kram abdomen. Peningkatan oedema. Malaise 2. diagnosa keperawatan. Atralgia.biopsi hati 8. Pada tahap ini dilakukan pengumpulan data melalui wawancara. Muntah 6. membran mukosa. Makanan dan Cairan. keluarga. dan literatur. Cenderung tidur. Pengkajian Keperawatan Asuhan keperawatan adalah suatu metode yang sistematik dan terorganisir yang difokuskan pada reaksi atau respon manusia yang unik pada suatu kelompok atau perorangan terhadap gangguan kesehatan yang dialami baik aktual maupun potesial. Ikterik pada sklera kulit. Nyeri tekan pada kuadran kanan. Letargi. Hipertensi 3. Sakit kepala. Diare feses warna tanah liat.

dan infus. Ketidaknyamanan waktu tidur sehubungan dengan distensi perut pruritus dan nyeri muskuloskeletal/bedrest. 5. Pembesaran nodus servikal posterior 7.Demam. Lesi makulopopuler. Seksualitas Pola hidup / perilaku meningkat resiko terpajan 9. ketegangan perut karena adanya distensi perut/asites/mual. Urtikaria. Doenges terdapat 9 diagnosa keperawatan pada pasien gagal ginjal kronik dan 6 diagnosa keperawatan pada pasien hepatitis antara lain : 1. Gangguan nutrisi sehubungan dengan intake yang dibatasi. dan kalium. prosedur perawatan. 2. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit sehubungan dengan retensi cairan. luka insisi. Aktual/potensial gangguan integritas kulit sehubungan dengan bedrest. Gangguan rasa nyaman sehubungan dengan insisi pada pemasangan peritoneal dialisis. Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan adalah menguraikan kombinasi dari tanda dan gejala yang memperlihatkan masalah kesehatan actual maupun potensial dan perawat berdasarkan pendisikan dan pengalamannya mampu diakui. Beberapa masalah keperawatan yang mungkin muncul pada penderita hepatitis : . natrium. 3. 4. Kurangnya pengetahuan sehubungan dengan kekurangan informasi tentang penyakitnya. diizinkan dan bertanggung gugat untuk mengatasinya. Kurang mampu merawat diri sehubungan dengan menurunnya kesadaran (uremia). Splenomegali. elektrolit tubuh (penurunan kesadaran). Ketidakmampuan aktifitas sehubungan dengan kelemahan dan penurunan kesadaran. 8. Potensial terjadinya kecelakaan sehubungan dengan kegagalan homeptasis cairan. 6. Menurut Marilyn E. pruritus. Eritema. 9. 7.

Latihan nafas dalam 5. Menjelaskan tentang pembatasan makan yang diberikan Dengan tujuan dari rencana tindakan tersebut adalah sebagai berikut : . Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan. Bantu kebutuhan kebersihan perawatan diri sampai mampu mandiri. kegagalan masukan untuk memenuhi kebutuhan metabolik karena anoreksia. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit dan jaringan berhubungan dengan pruritus sekunder terhadap akumulasi pigmen bilirubin dalam garam empedu 6. infus. 9. kateterisasi secara steril. gangguan absorbsi dan metabolisme pencernaan makanan. perasaan tidak nyaman di kuadran kanan atas. Beri informasi yang sesuai tentang prosedur perawatan dari tindakan yang diberikan selama dan sesudah sembuh. 2. garam. 3. Risiko tinggi terhadap transmisi infeksi berhubungan dengan sifat menular dari agent virus 10. mual dan muntah. 7. Atur posisi yang nyaman bagi pasien. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan pembengkakan hepar yang mengalami inflamasi hati dan bendungan vena porta. Jauhkan dari alat-alat yang membahayakan/bedrest.1. Perencanaan Keperawatan Adapun perencanaan tindakan yang dibuat pada klien dengan gagal ginjal kronik dan hepatitis b adalah sebagai berikut : 1. 6. 8. Rawat kebersihan kulit dan lakukan prosedur perawatan luka. Keletihan berhubungan dengan proses inflamasi kronis sekunder terhadap hepatitis 5. 3. Hypertermi berhubungan dengan invasi agent dalam sirkulasi darah sekunder terhadap inflamasi hepar 4. berikan bedak. Latihan ROM setiap hari 4. Batasi pemberian cairan. kalium peroral (makan dan minum) 2.

8. 2. defendent. Tidur cukup 4. Sedangkan interdependent adalah tindkan keperawatan yang dilakukan dengan kolaborasi dengan tim kesehatanyang terlibat dalam perawatan klien seperti konsultasi tentang kesehatan klien dengan dependent lain seperti penyakit dalam. Pelaksanaan keperawatan Implementasi adalah tindakan keperwatan yang dilakukan sesuai dengan rencana yang telah dibuat. Meningkatnya pengetahuan pasien/keluarga tentang pencegahan dan perawatan selama dan setelah sakit. Dependent adalah tindkan keperawatan yang dilakukan dengan kolaborasi dengan tim kesehatan lainnya seperti dokter. Kebutuhan keseimbangan cairan dan elektrolit terpenuhi.1. Aktifitas tidak terganggu 5. bedah. sejauh mana tujuan tercapai. planning. mengkaji pola makan. Dan kesimpulan dari evalusai menentukan apakah intervensi keperawatan dihentikan atau dimodifikasi. 7. Independent adalah tindakan keperawatan yang dilakukan sendiri tanpa ada ketergantungan dengan tim kesehatan lain seperti mengukur tanda tanda vital. analisa. Rasa nyaman terpenuhi 3. analis. dan dokter gigi. 11. . obyektif. Mampu merawat diri 6. Jemis tindakan keperawatan tersebut antara lain independent. Tidak terjadi bahaya/kecelakaan. yaitu subbyektif. Evaluasi menggunakan format SOAP. Evaluasi Keperawatan Pada tahap akhir yang dilakukan dalam proses keperawatan yaitu evaluasi. dan interdependent. dll. Tidak terjadi infeksi/gangguan integritas kulit. dilakukan dengan mengidentifikasi. 12.

.

RM : Ny S : 48 tahun : Perempuan : Kawin : Klagen. 2 Januari 2012 : 11. Sendangsari. Pasien Nama Umur Jenis kelamin Status Alamat Suku / bangsa Diagnosa medis No. Pengkajian Hari/tanggal Pukul Tempat Metode Sumber Oleh : Senin. Identitas a.BAB II TINJAUAN KASUS A. Kulon Progo : Jawa / Indonesia : CKD stage V dan Hepatitis B : 01-47-65-40 : 2 Januari 2012 : Rawat jalan Tanggal masuk rumah sakit Tujuan datang ke Rumah Sakit .dan pemeriksaan fisik. Panjatan.00 WIB : Bangsal Hemodialisa RSUP Dr Sardjito : Wawancara. status klien : Alfian Kurnia Sumasdiar 1. observasi. studi dokument : Klien.

Riwayat Penyakit Sekarang Pasien masuk ke rumah sakit pada tanggal 2 januari 2012.b. dengan keluhan menjalani hemodialisa rutin satiap seminggu 2 kali. tapi jarang sampai muntah. Keluhan Utama Pasien menyatakan alasan datang kerumah sakit untuk melakukan hemodialisa. namun setiap dilakukan hemodialisa pasien sering merasa pusing yang berujung dengan mual.cm Post-HD TD N BB : 150/100 mmHg : 92 kali/menit : turun menjadi 41 kg Lingkar perut : 124 cm B. 2.45 – 12.5 liter Lingkar perut : . setiap hari senin dan kamis.45 wib : 3. Status Pengkajian HD HD ke Tanggal Waktu Ditarik Pre-HD TD N BB : 170/100 mmHg : 100 kali/menit : naik 3 kg dari 40 menjadi 43 kg : 164 : 2 Januari 2012 : 8. . dan pasien sering merasa sesak nafas rasanya lemes kalau ingin jalan itu rasanya seperti mau jatuh. sekarang klien merasa pusing dan merasa sedikit mual. Riwayat kesehatan a) Kesehatan Pasien 1.

b) Kesehatan Keluarga a) Genogram Keterangan : = Laki-laki = Perempuan = Klien . 4.3. Upaya Pengobatan Klien setiap seminggu dua kali rutin melakukan hemodialisa di RSUP Dr sardjito setiap hari senin dan kamis. Riwayat Kesehatan Lalu Klien mempunyai riwayat hepatitis B sudah sejak 1 tahun yang lalu. dan klien sudah menjalani hemodialisa ini sudah setengah tahun yang lalu. karena dilakukan tranfusi yang didalam terdapat virus hepatitis.

Pola kebiasan klien 1. daging ayam . pokoknya yang banyak airnya. jeruk. dan mengenai hepatitis didapatkan bukan dari keturunan melainkan karena tranfusi yang mengndung virus hepatitis B setahun yang lalu. Aspek fisik biologis a) Pola nutrisi 1) Sebelum sakit Klien makan 3-4 kali perhari menggunakan nasi lauk ikan laut. telur. semenjak hemodialisa juga klien tidak makan makanan sembarangan hanya tertentu dan yang diperbolehkan saja seperti pisang. D. Pasien . 2) Selama sakit Sejak gagal ginjal kronik dan hepatitis klien makan nasi dengan lauk seadanya apa saja mau. melon semangka. rambutan. dan sayur.= Garis perkawinan = Garis keturunan = tinggal serumah b) Riwayat Kesehatan Keluarga Klien mengatakan dalam keluarganya tidak ada yang mengalami hal serupa. Dan minum kurang lebih 1000 cc dengan air putih dan teh. asal bukan pantangan.

istirahat dan tidur 1) Sebelum sakit a. 2) Selama sakit Klien menyatakan BAB tidak tentu kadang 2 hari sekali dengan BAB konsistensinya lunak bau khas feces. c) Pola aktifitas. Kebutuhan aktifitas sehari-hari . 2) Selama sakit a. Dan klien minum kadang 2 gelas 200 cc sehari. Kebutuhan aktifitas sehari-hari Klien mampu melakukan aktifitas sendiri.5 gelas aqua.juga menyatakan sudah tidak makan melon dan pisang karena banyak kaliumnya. klien adalah seorang buruh tani. dan tidak suka air putih paling suka teh manis anget. Kebutuhan tidur Kebutuhan tidur klien terpenuhi 6-8 jam/hari dan klien tidak mengkonsumsi obat tidur serta tidak merasa terganggu tidurnya dengan adanya penyakitnya. tanpa menggunakan alat bantu. b. sebagian banyak waktunya digunakan di rumah dan bertani. b) Pola eliminasi 1) Sebelum sakit Klien BAB lancar 1 hari sekali dengan konsistensi lunak berbentuk bau khas feces tidak ada gangguan dan buang air kecil normal tidak ada gangguan. dan sehari hari pasien BAK sebanyak 1. Untuk BAK pasien kadang 2 kali sehari.

2) Rambut : hitam ubanan. Tabel activity daily living Kemampuan perawatan diri Makan/minum Mandi Toileting Berpakaian Mobilitas di tempat tidur Berpindah Ambulasi/ROM V V V V 0 V V V 1 2 3 4 0:mandiri. Kebutuhan tidur Kebutuhan tidur klien tetap terpenuhi 6-8 jam/hari dan klien tidak mengkonsumsi obat tidur serta tidak merasa terganggu tidurya dengan adanya penyakitnya dan klien menyatakan bahwa dirinya hanya bisa tiduran saja. 3:dibantu orang lain dan alat. tidak ada kelainan. b. tampak gigi depan ada yang tanggal. klien mencuci rambut 2 hari sekali. 3) Telinga 4) Mata 5) Hidung 6) Mulut : tidak ada sekret. 2:dibantu orang lain. tidak berketombe. : terpasang nasal kanule : mulut bersih. 1:alat bantu. dan dalam hal makan dan minum klien tidak menggunakan alat bantu. 4:tergantung total d) Pola kebersihan diri 1) Kebersihan kulit : kulit sawo matang.Klien merasa lemah dan untuk berjalan saja kadang merasa ingin jatuh. . rambut sedikit berantakan. klien juga dalam pemenuhan kebutuhan personal hygiene dibantu oleh keluarga. ada jaringan parut di tangan kanan bekas operasi. tampak kerutan di wajah. : sklera mata tampak kuning.

saudara. bagaimana dietnya. Hubungan interpersonal Hubungan klien dengan keluarganya baik. b. 2. c. e. klien mengganggap semua itu adalah cobaan dari Tuhan YME.sosial. tetangga. : tangan kiri terpasang AV Shunt. Intelektual Klien mengetahui tentang penyakitnya. tangan kanan terdapat jaringan parut. lalu untuk proses seksualitasnya klien menyatakan sudah jarang melakukan hubungan seksualitas. kedua anaknya yang sangat mendukung proses pengobatan ini. dan masalahmasalah yang akan timbul jika tidak mematuhi anjuran petugas kesehatan.7) Kuku 8) ekstremitas : bersih.spiritual a. f. karena adanya pembengkakakan di bagian perutnya (ascites) dan juga faktor usia. Klien juga orang yang ramah dam kooperatif saat diajak kerkomunikasi. g. e) Pola reproduksi/seksual Mengalami problema. bahkan ketika dirumah sering . Aspek sosial Hubungan klien dengan tetangga baik. d. Mekanisme koping Klien menerima penyakit yang dideritanya dengan iklas. Konsep diri Klien mengatakan sudah pasrah dengan sakitnya klien mmerasa sakitnya sudah sulit disembuhkan namun tetap berharap bisa sembuh. Support system Klien mengatakan keluarga. Aspek mental. pendek. klien rawat jalan di RS ditemani oleh keluarga terutama anaknya. Aspek mental/emosional Klien bukan orang yang gampang emosional.intelektual.

cm Post-HD TD N BB : 150/100 mmHg : 92 kali/menit : turun menjadi 41 kg Lingkar perut : 124 cm .dijemguk oleh tetangganya. Aspek spiritual Klien mengatakan selama ini beribadah hanya ketika kuat saja. Keadaan umum a) Kesadaran : compos metis b) Status gizi : kurang TB : 156 cm BB : 41 kg Lingkar perut : 124 cm IMT : 16. Pemeriksaan fisik 1. E. h.87gr/m2 c) Tanda vital Pre-HD TD N BB : 170/100 mmHg : 100 kali/menit : naik 3 kg dari 40 menjadi 43 kg Lingkar perut : . kalau kuat ya sholat secara tertib tapi selama lemes dan tidak berdaya jarang sholat.

Tak tampak adanya tumor ataupun obstruksi. nafas bau. pendek. 4) Hidung Lubang hidung klien terlihat bersih dan tidak terdapat lendir pada hidungnya. hitam beruban. b) Wajah Wajah tampak pucat . beberapa gigi sudah ada yang tanggal. Pemeriksaan secara sistematik (cepalo-kaudal) a) Kepala 1) Kepala Rambut klien terlihat lepek. terdapat lingkar hitam sekitar iris mata.2. klien mampu manangkap apa yang ditanyakan praktikan dengan tepat. Ekspresi wajah terlihat menyeringai dan mengernyitkan dahi. kepala tidak berketombe. Fungsi penglihatan klien sedikit berkurang (blabur). 5) Mulut Terlihat bersih dan tidak pucat. Fungsi pendengaran baik. Bentuk kepala mesochepal. tidak ada luka. sklera kuning. 2) Mata Bola mata simetris tidak ada lesi dan konjungtiva pucat. Mukosa mulut lembab tidak ada sariawan. jejas. Dan terpasang nasal kanule. c) Leher . 3) Telinga Terlihat bersih dan tidak ada pembengkakan ataupun serumen.

Dan merasa nyeri jika di pukul di : tidak ada nyeri tekan : redup di area jantung dan resonan di area paru : suara nafas vesikuler. . turgor kulit klien baik. Tidak ada otot tambahan pernafasan. d) Dada Inspeksi : dada terlihat simetris tidak ada massa. f) Perut Inspeksi Auskultasi Perkusi : warna sawo matang . murmur bagian pasterior abdomen. warna kulit sawo matang. Palpasi g) Punggung Tidak ada kelainan bentuk tulang . tidak ada lebam atau jejas. tampak ascites.Tidak terdapat pembesaran kelenjar getah bening di leher. Palpasi Perkusi Auskultasi e) Kulit Warna kulit sawo matang. Ada peningkatan JVP 5+3 cm H2O. i) Extrimitas 1) Atas : ada nyeri tekan pada bagian ulu hati. h) Genetalia Tidak Terpasang kateter tidak ada kelainan. tidak ada nyeri tekan. : terdengar bunyi peristaltik usus dengan frekuensi 12x/menit : terdapat suara timpani.

F. Data obyektif Terpasang AV Shunt Perut tampak ascites Mata tampak berwarna kuning Terpasang O2 3 liter permenit Nadi 80 x permenit Tekanan darah 170 / 100 mmHg . tangan kanan terdapat luka parut bekas operasi. jari lengkap. ekstremitas tidak ada kelainan. Data Fokus i. Terapi Medis  Diet rendah kalium  Dier rendah garam  Diet tinggi protein  Furosamid 2 x 1 mg  Captopril tab 25 mg 3 x1 tablet  injeksi ondansetron 1 x 1 ampul  O2 3 liter per menit  Hemodialisa tiap hari senin dan kamis G. jari lengkap. tangan kiri terpasang AV Shunt.Tangan lengkap. Data subyekif           Klien menyatakan sesak Klien menyatakan nyeri Klien menyatakan pusing Klien menyatakan mual ii. 2) Bawah kaki lengkap.

5 C Respirasi rate 19 x permenit Berat badan pre hemodialisa 41 kg Berat badan post hemodialisa 41 kg Lingkar perut 124 cm Wajah tampak anemis .      Suhu 37.

ANALISA DATA NO 1 DS : Klien menyatakan sesak DO :   Perut tampak ascites Terpasang O2 3 liter permenit   Nadi 80 x permenit Tekanan darah 170 / 100 mmHg     Suhu 37.5 C Respirasi rate 19 x permenit Lingkar perut 124 cm Wajah tampak anemis DATA MASALAH Resiko terhadap pola nafas tidak efektif PENYEBAB penurunan intra abdominal (asites) .

fisik dan psikologis .5 C Respirasi rate 19 x permenit Nyeri akut Agen injuri biologis.2 DS : Klien menyatakan nyeri di bagian perut DO :    Terpasang AV Shunt Perut tampak ascites Terpasang O2 3 liter permenit   Nadi 80 x permenit Tekanan darah 170 / 100 mmHg   Suhu 37.

cm  Post-HD TD : 150/100 mmHg N : 92 kali/menit Kelebihan cairan volume Kegagalan mekanisme pengaturan renal (renal failure kronik) BB : turun menjadi 41 kg Lingkar perut : 124 cm .3 DS :  Klien menyatakan pusing dan mual DO:     Terpasang AV Shunt Perut tampak ascites Ada peningkatan JVP 5+3 cm H2O Pre-HD TD : 170/100 mmHg N : 100 kali/menit BB : naik 3 kg dari 40 menjadi 43 kg Lingkar perut : .

Terpasang O2 3 liter permenit.cm  Post-HD TD : 150/100 mmHg N : 92 kali/menit BB : turun menjadi 41 kg Lingkar perut : 124 cm 2. Suhu 37. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan kegagalan mekanisme pengaturan renal (renal failure kronik) ditandai dengan : DS : Klien menyatakan pusing dan mual DO: Terpasang AV Shunt. Perut tampak ascites. Tekanan darah 170 / 100 mmHg.5 C. Lingkar perut 124 cm.DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Nadi 80 x permenit. Resiko terhadap pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan intra abdominal (asites) yang ditandai dengan DS : Klien menyatakan sesak DO : Perut tampak ascites. Respirasi rate 19 x permenit. Wajah tampak anemis . Ada peningkatan JVP 5+3 cm H2O  Pre-HD TD : 170/100 mmHg N : 100 kali/menit BB : naik 3 kg dari 40 menjadi 43 kg Lingkar perut : .

fisik dan psikologis yang ditandai dengan : DS : Klien menyatakan nyeri di bagian perut DO : Terpasang AV Shunt.5 C. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri biologis. Tekanan darah 170 / 100 mmHg. Terpasang O2 3 liter permenit. Perut tampak ascites.3. Respirasi rate 19 x permenit . Suhu 37. Nadi 80 x permenit.

tumor. c. penyempitan/striktur) . Faktor pencetus seseorang bisa terkena gagal ginjal kronik adalah :    Penyakit tekanan darah tinggi (Hypertension) Penyakit Diabetes Mellitus (Diabetes Mellitus) Adanya sumbatan pada saluran kemih (batu.BAB III PENUTUP A. Resiko terhadap pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan intra abdominal (asites). fisik dan psikologis. Faktor penecetus kenapa seseorang bisa terkena heptitis B adalah :    Tranfusi darah Penggunaan barang secara bersama sama Hubungan seksual 4. Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa diagnose yang kami ambil adalah : a. b. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri biologis. Faktor yang mempengaruhi kegaggalan dan keberhasilan dari tindakan keperawtan Faktor pendukung :    Klien kooperatif Fasilitas HD mendukung Faktor Penghambat : Keterbatasan waktu praktikan dalam praktik di ruang HD sehingga praktikan tidak bisa memantau secara langsung perkembangan pasien 3. Kesimpulan 1. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan 2.

dimana terjadi perkembangan banyak kista pada organ ginjal itu sendiri (polycystic kidney disease)  Rusaknya sel penyaring pada ginjal baik akibat peradangan oleh infeksi atau dampak dari penyakit darah tinggi. misalnya lupus eritematosus sistemik Menderita penyakit kanker (cancer) Kelainan ginjal. .   Kelainan autoimun. Istilah kedokterannya disebut sebagai glomerulonephritis.

M. 2001. New Jersey.. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.E. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses : Penyakit.. M. EGC. http://ipasmp2bbs.C.DAFTAR PUSTAKA Doengoes.G. Rencana Asuhan Keperawatan.. J.. Nursing Diagnosis Handbook with NIC Intervention and NOC Outcomes. Smeltzer. EGC. Jakarta. Jakarta : EGC.wordpress. 2000. Bare B.blogspot. 2005.com . Jakarta. Wilkinson.com http://nersc08. Pearson Prentice Hall.files. (1995). Price & Wilson. S.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful