P. 1
Makalah Fiqih Jinayah (Ta'Zir)

Makalah Fiqih Jinayah (Ta'Zir)

|Views: 3,109|Likes:
Published by Irfan Zidny

More info:

Published by: Irfan Zidny on Mar 21, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/21/2013

pdf

text

original

FIQIH JINAYAH

JARIMAH TA’ZIR
(Pengertian, Ruang Lingkup, Dasar Hukum,
serta Uqubah dan Pelaksanaanya)

Oleh kelompok 8:
Irfan Zidny
Erwin Hikmatiar
Arini Zidna

JURUSAN PERADILAN AGAMA
FAKULTAS SYARI’AH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2011/2012
KATA PENGANTAR

Segala puji hanya milik Allah SWT. Kita memuji-Nya, mohon pertolongan dan
ampunan-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan-kejahatan diri kami dan
keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak
ada seorang pun yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka
tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.
Kami bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah semata, dan tidak ada sekutu bagi-Nya,
Kami bersaksi pula bahwa Nabi Muhammad SAW adalah hamba dan rasulnya.
Alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT, yang telah meridlai kami dalam
menyelesaikan tugas untuk mata pelajaran Fiqh Jinayat, dengan judul Jarimah Ta’zir. Yang
Insya Allah pembahasan dari makalah kami ini, telah dilakukan secara runut dan mudah
dipahami.
Semoga makalah ini dapat membantu semua teman mahasiswa/i dalam mempelajari
dan memahami mata pelajaran Fiqh Jinayat, yang khususnya mengenai pembahasan
tentang Jarimah Ta’zir dengan baik.


Jakarta, 06 November 2011



Pemakalah









PENDAHULUAN

Seperti kita ketahui, pada prinsipnya Al-Qur’an merupakan norma-norma dasar. Oleh
karena itu, dalam menentukan hukuman, Al-Qur’an memberikan pola dasar yang umum.
Pemberian pola yang dasar tersebut memberikan keleluasaan bagi masyarakat untuk
menyesuaikan dengan kondisi masyarakat tersebut.
Namun demikian, syari’at menentukan beberapa jenis perbuatan tertentu yang
dianggap sebagai kejahatan. Jenis kejahatan yang telah ditentukan syari’at dan telah
ditentukan pula hukumannya itu sangat terbatas, yaitu jenis-jenis tindak pidana yang masuk
dalam kelompok hudud dan qishash atau diyat yang jumlahnya tidak lebih dari dua belas
jenis.
Adapun selebihnya, yang merupakan bagian terbesar dari jumlah tindak pidana dan
hukuman, diserahkan kepada Ulul Amri dalam menentukan jenis pelanggaran maupun
hukumannya. Walaupun demikian, syari’at masih menentukan beberapa di antaranya
sebagai suatu kejahatan yang dapat dihukum, tanpa menentukan sanksinya. Jadi, hal ini pun
merupakan pendelegasian wewenang dari pembuat syari’at kepada Ulul Amri dalam
menentukan jenis hukumannya.
Kepercayaan yang diberikan pembuat syari’at dalam menentukan bentuk
pelanggaran dan macam hukuman tersebut ditujukan agar penguasa dapat secara leluasa
mengatur masyarakatnya. Seandainya pembuat syari’at menentukan semua bentuk
pelanggaran dan jenis hukuman secara baku, Ulul Amri mungkin akan mendapatkan
kesulitan dalam mencari kemashlahatan bagi rakyatnya. Hal ini karena, kemashlahatan
berubah sesuai dengan perubahan waktu dan tempat sehingga sangat rentan terhadap
perubahan. Oleh sebab itu, hanya pada hal-hal yang kebal terhadap perubahan sajalah,
syari’at memberikan aturan yang berlaku.
Bagian yang tidak ditentukan jenis pelanggarannya dan juga jenis hukumannya,
dalam fiqh disebut dengan ta’zir. Suatu jenis jarimah dan sanksi hukuman yang menjadi
wewenang Ulul Amri dalam pengaturannya.


A. PENGERTIAN dan RUANG LINGKUP
Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa setiap kejahatan yang ditentukan
sanksinya oleh Al-Qur’an maupun oleh hadits disebut jarimah hudud dan qishash atau diyat.
Adapun tindak pidana yang tidak ditentukan oleh Al-Qur’an maupun hadits disebut sebagai
tindakan pidana ta’zir. Misalnya, tidak melaksanakan amanah, menghasab harta, menghina
orang, menghina agama, dan suap.
1

Bentuk lain dari jarimah ta’zir adalah kejahatan-kejahatan yang bentuknya
ditentukan oleh Ulul Amri yang sesuai dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai, prinsip-
prinsip dan tujuan syari’ah, seperti peraturan lalu lintas, pemeliharaan lingkungan, dan
memberi sanksi kepada aparat pemerintah yang tidak disiplin.
Ta’zir menurut bahasa adalah mashdar (kata dasar) bagi ‘azzara yang berarti
menolak dan mencegah kejahatan, juga berarti menguatkan, memuliakan, dan membantu
2
.
Dalam Al-Qur’an disebutkan :
W-ONLg`u·+-g¢¯ *.) ·g¡).O÷c4O4Ò
+ÞÒ+O@´OE¬¬>4Ò +ÞÒNOg¢~4O¬>4Ò
+ÞO÷·)Ol=O¬4Ò LE4O-:+ EOgÒ¡4Ò
^_÷
“Supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)-
Nya, membesarkan-Nya, dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang”. (QS Al-Fath :
9)
4ׯg~-.- ¬]ON¬)l+4C 4·O÷c·O¯-
O/´¯EL¯- ©_j´-1·- Og~-.-
+O4^Ò÷³´_·© O+-'¯4` ¯ª¬-E³4gN O)×
gO.4O¯O+-¯- ÷O´_±e"-4Ò
ª¬-NON`·4C ´ÒNOu¬E©^¯)
¯ª÷_´Ogu+4C4Ò ^}4N @OE:4÷©^¯-
Og47©4Ò O¦÷_·¯ ge4:j´O-C¯-

1
Prof. Drs. H. Ahmad Djazuli, Fiqh Jianayat (Upaya Menanggulangi Kejahatan Dalan Islam), hal. 163
2
Drs. H. Ahmad Wardi Muslich, Hukum Pidana Islam, hal. 248
N¯@´OO47©4Ò O¦)_^1ÞU4×
E+j·^4:EC^¯- ÷7º_4C4Ò ¯ª÷_uL4N
¯ª¬-4O^·)³ ºÞU^^·-4Ò /´®-¯-
;e4^~E ¯¦)_^1ÞU4× _ ¬-¯g~-.··
W-ONL4`-47 ·gO) +ÞÒ+OEO4N4Ò
+ÞÒNO=4^4Ò W-ON¬4lE>-4Ò 4OOOL¯-
-Og~-.- 4·@O^q¡ ¼+OE¬4` ·
Elj·^·¯Òq¡ Nª¬- ¬]O÷·)U^¼÷©^¯-
^¯)_÷
“(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka
dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka
mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan
menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang
buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada
mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan
mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-
orang yang beruntung”. (QS Al-A’raf : 157)
;³·³·¯4Ò EOE=Ò¡ +.- 4-·1Og` ×_j_4
ºCg74O¯·)³ 4Lu1E¬44Ò O¦÷_u4g`
¯/E_^¦- 4O=¯4N 4lO´³4^ W 4··~4Ò
+.- O)E+)³ ¯ª¬:E¬4` W u×÷'·¯ Nª+;©·~Ò¡
ÞE_OÞUO¯- Nª+uO·>-474Ò
ÞE_Oº±EO¯- ª+-44`-474Ò Oj>÷cNO)
¯ª¬-O÷©¬>¯OEO4N4Ò Nª+-;¯4O^~Ò¡4Ò -.-
¯¯O·~ 4L=OEO Ep4Og]¼º±]· ¯ª7¯44N
¯ª7¯g>4*j´OEc ¯ª¬:ELÞU´=u1_·4Ò
±eE4E_ O@O^_Ò` }g` E_g^4Ò`
NOE_u^·- _ }E©·· 4OE¼º± E³u¬4
¬Cg¯·O ¯ª¬:4g` ;³·³·· E=¯ 47.-4OEc
÷O):OO¯- ^¯g÷
“Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami
angkat diantara mereka 12 orang pemimpin dan Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku
beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta
beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah
pinjaman yang baik

sesungguhnya Aku akan menutupi dosa-dosamu. Dan sesungguhnya
kamu akan Kumasukkan ke dalam surga yang mengalir air didalamnya sungai-sungai. Maka
barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan
yang lurus”. (QS Al-Maidah : 12)
Ta’zir juga berarti hukuman yang berupa memberi pelajaran. Disebut dengan ta’zir
karena hukuman tersebut sebenarnya menghalangi si terhukum untuk tidak kembali kepada
jarimah atau dengan kata lain membuatnya jera.
Para fuqaha mengartikan ta’zir dengan hukuman yang tidak ditentukan oleh Al-
Qur’an dan hadits yang berkaitan dengan kejahatan yang melanggar hak Allah SWT dan hak
hamba yang berfungsi untuk memberi pelajaran kepada si terhukum dan mencegahnya
untuk tidak mengulangi kejahatan serupa
3
.
Ta’zir sering juga disamakan oleh fuqaha dengan hukuman terhadap setiap maksiat
yang tidak diancam dengan hukuman had atau kaffarah.
Hukuman ta’zir sepenuhnya ada ditangan hakim, sebab beliaulah yang memegang
tampuk kekuasaan pemerintahan dan kaum muslimin. Dalam kitab Subulus As-Salam
disebutkan: “Hukuman ta’zir tidak diperkenankan selain dari Imam kecuali dari tiga orang
berikut ini:
a. Ayah, boleh menjatuhkan ta’zir terhadap anaknya yang masih kecil dengan tujuan
edukatif, dan mencegahnya dari akhlak yang buruk.
b. Majikan, diperbolehkan menta’zir hambanya baik yang bersangkutan dengan hak
dirinya atau hak Allah.
c. Suami, diperbolehkan menta’zirkan istrinya dalam masalah nusyuz, sebagaimana
yang telah telah dijelaskan dalam Al-Qur’an.
Para ulama pada umumnya memperbolehkan penggabungan antara had dan ta’zir
selama memungkinkan. Misalnya dalam mazhab Hanafi, pezina yang ghair muhshan dijilid
seratus kali sebagai had lalu dibuang satu tahun sebagai ta’zir. Demikian pula dalam mazhab

3
Prof. Drs. H. Ahmad Djazuli, Fiqh Jianayat (Upaya Menanggulangi Kejahatan Dalan Islam), hal. 165
Maliki dan mazhab Syafi’i penggabungan antara had dan ta’zir itu diperbolehkan, seperti
mengalungkan tangan pencuri setelah dipotong dan menambahkan empat puluh kali jilid
bagi peminum khamar.
Para ulama membagi jarimah ta’zir menjadi dua bagian
4
, yaitu
1. Jarimah yang berkaitan dengan hak Allah SWT
Yang dimaksud dengan kejahatan yang berkaitan dengan hak Allah SWT adalah
segala sesuatu yang berkaitan dengan kemashlahatan umum. Misalnya, membuat
kerusakan di muka bumi, perampokan, pencurian, perzinaan, pemberontakan, dan tidak
taat kepada Ulul Amri.
2. Jarimah yang berkaitan dengan hak perorangan
Yang dimaksud dengan kejahatan yang berkaitan dengan hak hamba adalah segala
sesuatu yang mengancam kemashlahatan bagi seorang manusia, seperti tidak membayar
utang ataupun penghinaan.
B. DASAR HUKUM
Dasar hukum disyariatkannya ta’zir terdapat dalam beberapa hadits Nabi SAW dan
tindakan sahabat. Hadits-hadits tersebut antara lain
5
, sebagai berikut :
1. Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Bahz ibn Hakim
Dari Bahz ibn Hakim dari ayahnya dari kakeknya, bahwa Nabi SAW “menahan
seseorang karena disangka melakukan kejahatan” (Hadits diriwayatkan oleh Abu Daud,
Turmudzi, Nas’ai, dan Baihaqi, serta dishahihkan oleh Hakim)
2. Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Burdah
Dari Abu Burdah Al-Anshari RA, bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda : :
”Tidak boleh dijilid di atas sepuluh cambuk kecuali di dalam hukuman yang telah ditentukan
oleh ALLA SWT”. (Muttafaq ‘alaih)
3. Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Aisyah
Dari Aisyah RA, bahwa Nabi SAW bersabda : “Ringankanlah hukuman bagi orang-
orang yang tidak pernah melakukan kejahatan atas perbuatan mereka, kecuali dalam
jarimah-jarimah hudud”. (Hadits diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud, Nas’ai, dan Baihaqi)
Secara umum ketiga hadits tersebut menjelaskan tentang eksistensi ta’zir dalam
syari’at Islam. Hadits pertama menjelaskan tentang tindakan Nabi yang menahan seseorang

4
Ibid, hal. 166
5
Drs. H. Ahmad Wardi Muslich, Hukum Pidana Islam, hal. 252
yang diduga melakukan tindak pidana dengan tujuan untuk memudahkan penyelidikan.
Hadits kedua menjelaskan tentang batas hukuman ta’zir yang tidak boleh lebih dari sepuluh
kali cambukan, untuk membedakan dengan jarimah hudud. Sedangkan hadits ketiga
mengatur tenyang teknis pelaksanaan hukuman ta’zir yang bisa berbeda antara satu pelaku
dengan pelaku lainnya, tergantung kepada status mereka dan kondisi-kondisi lain yang
menyertainya.
6

Adapun tindakan sahabat yang dapat dijadikan dasar hukum untuk jarimah dan
hukuman ta’zir, antara lain tindakan Sayyidina Umar bin Khattab ketika ia melihat sesorang
yang melentangkan seekor kambing untuk disembelih, kemudian ia mengasah pisaunya.
Khalifah Umar memukul orang tersebut dengan cemati dan berkata : “asah dahulu pisaumu
itu, baru telentangkan kambing tersebut”.


C. UQUBAH dan PELAKSANAANNYA
Hukuman ta’zir ialah hukuman yang dijatuhkan atas jarimah-jarimah yang tidak
dijatuhi hukuman yang telah ditentukan oleh hukum syari’at, yaitu jarimah-jarimah hudud
dan qishash atau diyat. Hukuman-hukuman tersebut banyak jumlahnya, yang dimulai dari
hukuman yang paling ringan sampai hukuman yang terberat. Hakim diberi wewenang untuk
memilih di antara hukuman-hukuman tersebut, yaitu hukuman yang sesuai dengan keadaan
jarimah serta diri pembuatnya
7
.
Macam-macam hukuman jarimah ta’zir :
1. Hukuman Mati
8

Sebagaimana diketahui, ta’zir mengandung arti pendidikan dan pengajaran. Dari
pengertian itu, dapat kita pahami bahwa tujuan ta’zir adalah mengubah si pelaku menjadi
orang yang baik kembali dan tidak melakukan kejahatan yang sama pada waktu yang lain.
Oleh karena itu, dalam hukuman ta’zir tidak boleh ada pemotongan anggota badan
atau penghilangan nyawa. Akan tetapi, kebanyakan fuqaha membuat suatu pengecualian
dari aturan umum tersebut, yaitu kebolehan dijatuhkannya hukuman mati jika kepentingan
umum menghendaki demikian, atau apabila hukuman yang berupa pendidikan dan

6
Ibid, hal. 253
7
Ahmad Hanafi, Asas-Asas Hukum Pidana Islam, hal. 221
8
Drs. H. Rahmat Hakim, Hukum Pidana Islam (Fiqh Jinayat), hal. 156
pengajaran, tidak mampu memberantas kejahatan dan bahkan si pelaku malah berulang kali
melakukan kejahatan yang sama atau mungkin bertambah variatif jenis kejahatannya.
Dalam hal ini satu-satunya cara untuk mencegah kejahatan tersebut adalah dengan
melenyapkan si pelaku agar dampak negatifnya tidak terus bertambah dan mengancam
kemashlahatan yang lebih luas lagi, seperti mata-mata, pembuat fitnah atau penyebar
bid’ah , membocorkan rahasia negara, residivis yang sangat berbahaya, atau mengedarkan
atau menyelundupkan barang-barang berbahaya yang dapat merusak kemashlahatan.
Itulah sebabnya, kebanyakan ulama membolehkan hukuman mati tadi sebagai
pengecualian dari prinsip ta’dib (pendidikan). Oleh karena itu, walaupun si pelaku telah
mati, tujuan pencegahan dan pendidikan masih akan berlaku bagi orang yang tidak berbuat
jarimah. Jadi, hukuman mati tadi menjadi i’tibar bagi yang lainnya.
Hukuman mati sebagai hukuman ta’zir dengan syarat tersebut di atas sudah barang
tentu tidak banyak jumlahnya. Di luar ta’zir, hukuman mati hanya dikenakan terhadap
perbuatan-perbuatan zina, murtad, gangguan keamanan, pemberontakan, dan
pembunuhan dengan sengaja. Dalam jarimah ta’zir, menurut para fuqaha, tidak lebih dari
lima jarimah. Menurut fuqaha-fuqaha lain, dalam jarimah ta’zir tidak ada hukuman mati dan
hal ini berarti bahwa keseluruhan jarimah yang dijadikan hukuman mati hanya lima.
Kalau dibandingkan dengan hukum positif, maka banyak kita dapati jarimah yang
diancam hukuman mati. Hukum pidana Inggris misalnya, menjatuhkan hukuman mati atas
200 macam jarimah, sedang dalam hukum pidan Perancis ada 150 jarimah. di negara-negara
besar hukuman mati dijalankan seperti di Inggris, Perancis, Jerman, ataupun Amerika. Di
antara alasan yang dikemukakan oleh sarjana-sarjana hukum positif ialah bahwa hukuman
mati merupakan cara terbaik untuk memberantas kejahatan dan mengecilkan sama sekali
terhadap pembuat-pembuat yang berbahaya dari lingkungan masyarakat. Alasan tersebut
tidak jauh berbeda dengan alasan uang dikemukakan oleh para fuqaha.
Alat yang digunakan untuk melaksanakan hukuman mati pada sanksi ta’zir
bardasarkan hadits ialah pedang. Pemilihan pedang sebagai alat dalam melaksanakan
hukuman mati, karena pedang itu mudah digunakan dan tidak menganiaya si terhukum,
karena kematian terhukum dengan pedang itu sangat meyakinkan. Akan tetapi, dikalangan
ulama sekarang membolehkan penggunaan selain daripada pedang selama tujuan dan
hikmah penggunaan pedang tercapai dengan alat tersebut.
2. Hukuman Jilid
Hukuman jilid dalam jarimah hudud, baik perzinaan maupun tuduhan zina dan
sebagainya sudah disepakati oleh para ulama. Adapun hukuman jilid dalam pidana ta’zir
juga berdasarkan Al-Qur’an, hadits, dan ijma. Dalam Al-Qur’an misalnya dalam surat An-Nisa
ayat 34 :
N·~E}@´O¯- ¬]ON`·O·~ OÞ>4N
g7.=Og)4¯- E©) º·_·· +.-
¯¦÷_º_u¬4 _OÞ>4N ¯*u¬4 .E©)4Ò
W-O¬³E¼^Ò¡ ;}g` ¯ª)_g¯4O^`Ò¡ _
¬eE·)UO¯·· 7e4-gL·~ ¬e·¬g¼EO
´U^O4¯·Ug¢¯ E©) E^g¼EO +.- _
/´®-¯-4Ò 4pO¬··CÒ` ·;¬-EeO¬=¬e
·;¬-OO¬g¬·· O}¬-ÒNO¬×u--4Ò O)×
;7´_º_E©^¯- O}¬-O+)O;g-4Ò W
up)¯·· ¯ª¬:4Lu¬·CÒ¡ ºE·· W-O7¯¯l·>
O}jg¯OÞU4N EO):Ec ¯ Ep)³ -.- ¬]~E
º1)U4N -LOO):º± ^@j÷
Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah
melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena
mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita
yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh
karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya,
maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah
mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk
menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS. An-Nisa : 34)
Meskipun dalam ayat tersebut ta’zir tidak dijatuhkan oleh Ulul Amri, melainkan oleh
suami. Adapun hadits yang menunjukkan bolehnya ta’zir dengan jilid adalah hadits Abu
Burdah yang mendengar langsung bahwa Nabi SAW, bersabda : “Seseorang tidak boleh
dijilid lebih dari sepuluh kali cambukan kecuali dalam salah satu dari had ALLAH SWT”.
3. Hukuman Penjara
9


9
Drs. H. Ahmad Wardi Muslich, Hukum Pidana Islam, hal. 262
Dalam bahasa Arab ada dua istilah untuk hukuman penjara. Pertama : Al-Habsu dan
yang kedua : As-Sijnu. Pengertian Al-Habsu menurut bahasa adalah mencegah atau
menahan. Kata al-Habsu diartikan juga As-Sijnu. Dengan demikian, kedua kata tersebut
mempunyai arti yang sama.
Menurut Imam Ibn Al-Qayyim Al-Jauziyah, yang dimaksud dengan al-Habsu menurut
syara’ bukanlah menahan pelaku di tempat yang sempit, melainkan menahan seseorang
dan mencegahnya agar ia tidak melakukan perbuatan hukum, baik penahanan tersebut di
dalam rumah, atau masjid, maupun di tempat lainnya. Penahanan model itulah yang
dilaksanakan pada masa Nabi SAW dan Khalifah Abu Bakar. Artinya, pada masa itu tidak
ada tempat yang khusus untuk menahan seorang pelaku. Akan tetapi, setelah umat Islam
bertambah banyak dan wilayah Islam bertambah luas, Khalifah Umar pada masa
pemerintahannya membeli rumah Shafwan Ibn Umayyah dengan harga empat ribu
dirham untuk kemudian dijadikan sebagai penjara.
Atas dasar inilah, para ulama membolehkan kepada Ulul Amri untuk membuat
penjara. Meskipun demikian, para ulama yang lain tetap tidak membolehkan untuk
mengadakan penjara, karena hal itu tidak pernah dilakukan oleh Nabi SAW dan Khalifah
Abu Bakar.
Selain itu, dasar hukum yang membolehkannya hukuman penjara ini adalah Surah
An-Nisaa’ ayat 15 :
/´®-¯-4Ò ¬--g>·4C ·O4=´·E¼^¯-
}g` ¯ª¬:j*.=O)Oe W-Ò÷³)´;=4¯c··
O})_^1ÞU4N LOE¬4¯OÒ¡ ¯ª¬:Lg)` W p)¯··
W-Ò÷³jgE+ ·;¬-O7¯´O^`Ò·· O)×
gªONO+:^¯- _/4®EO O}÷_´-·4O44C
÷ª¯OE©^¯- uÒÒ¡ ºE¬^_·© +.- O}+¤O±
1EO):Ec ^¯)÷
Dan (terhadap) para wanita yang mengerjakan perbuatan keji, hendaklah ada empat
orang saksi diantara kamu (yang menyaksikannya). Kemudian apabila mereka Telah
memberi persaksian, Maka kurunglah mereka (wanita-wanita itu) dalam rumah sampai
mereka menemui ajalnya, atau sampai Allah memberi jalan lain kepadanya. (QS. An-
Nisaa’ : 15)
Hukuman penjara dalam syariat Islam dibagi kepada dua bagian, yaitu :
 Hukuman penjara yang dibatasi waktunya
Hukuman penjara terbatas adalah hukuman penjara yang lama waktunya dibatasi
secara tegas. Hukuman penjara terbatas ini diterapkan untuk jarimah penghinaan,
penjual khamar, pemakan riba, melanggar kehormatan bulan suci Ramadhan, mengairi
ladang dari saluran tetangga tanpa izin, caci maki antara dua orang yang dipenjara dan
saksi palsu.
Adapun lamanya hukuman penjara, tidak ada kesepakatan di kalangan para ulama,
begitupun batas tertinggi dan terendah pada hukuman penjara terbatas ini, tidak ada
kesepakatan juga di kalangan para ulama.
 Hukuman penjara yang tidak dibatasi waktunya
Hukuman penjara tidak terbatas atau tidak dibatasi waktunya, melainkan
berlangsung terus sampai orang yang terhukum itu mati, atau sampai ia bertobat. Dalam
istilah lain bisa disebut hukuman penjara seumur hidup.
Hukuman penjara seumur hidup dikenakan kepada penjahat yang sangat berbahaya,
misalnya seseorang yang menahan orang lain unktuk dibunuh oleh orang ketiga, atau
seperti orang yang mengikat orang lain, kemudian melemparkannya kedepan hewan
buas. Menurut Imam Abu Yusuf, apabila orang itu mati karena hewan buas maka pelaku
dikenakan hukuman penjara seumur hidup.
4. Hukuman pengasingan
10

Diantara hukuman ta’zir dalam syariat Islam ialah pengasingan, hukuman
pengasingan juga termasuk hukuman had yang diterapkan untuk pelaku tindak pidana
perampokan berdasarkan surah Al-Maidah ayat 33 :
E©^^)³ W-744OE_ 4ׯg~-.-
4pO+jOO47© -.- N¡·.O÷c4O4Ò
4p¯OE¬¯O4C4Ò O)× ^·¯O·- -1=O··
pÒ¡ W-EO¬U+-·³NC uÒÒ¡ W-EO+:^U=NC
uÒÒ¡ E7-C·³¬> ¯¦)_Cg³uCÒ¡
ª÷_¬UN_¯OÒ¡4Ò ;}g)` ·-ÞU´= uÒÒ¡
W-¯OE¼4NC ¬;g` ^·¯O·- _ ¬Cg¯·O

10
Ahmad Hanafi, Asas-Asas Hukum Pidana Islam, hal. 230
¯¦÷_·¯ /OuO´= O)× 4Ou^O³¯- W
¯¦÷_·¯4Ò O)× jE4O´=E- R·-EO4N
v¦1g¬4N ^@@÷
Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan rasul-
Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau
dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat
kediamannya). yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di
akhirat mereka beroleh siksaan yang besar. (QS Al-Maidah : 33)
Meskipun hukuman pengasingan itu merupakan hukuman had, namun dalam
praktiknya, hukuman tersebut diterapkan juga sebagai hukuman ta’zir. Dalam sejarah,
Rasullullah SAW pernah menjatuhkan hukuman pengucilan terhadap tiga orang yang tidak
ikut serta dalam perang Tabuk, yaitu Ka’ab bin Malik, Mirarah bin Rubai’ah, dan Hilal bin
Umaiyah. Mereka dikucilkan selama 50 hari tanpa diajak bicara sehingga turunlah firman
Allah SWT :
OÞ>4N4Ò gO·1ÞUE1¯- ¬-¯g~-.-
W-O¬¼ggU7= -/E®EO -·O)³ ;e·~=¯
Nªjg¯OÞU4N O·¯O·- E©) ;e4:NO4O
;e·~=¯4Ò ¯¦)_^1ÞU4× ¯¦÷_OO¬¼^Ò¡
W-EOOL·÷4Ò pÒ¡ ·º ÒE×·U4` =}g` *.- ·º)³
gO^O·¯)³ O¦¬¦ =··> ¯¦)_^1ÞU4×
W-EO+O+4Og¯ _ Ep)³ -.- 4O¬-
C·-·O+-¯- O¦1gO·O¯- ^¯¯g÷
Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga
apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun
telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada
tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima Taubat
mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah yang Maha Penerima
Taubat lagi Maha Penyayang. (QS At-Taubah : 108)
Diantara jarimah ta’zir yang dikenakan hukuman pengucilan adalah orang yang
berperilaku mukhannats (waria) yang pernah dilaksanakan oleh Nabi SAW dengan
mengasingkannya ke luar Madinah, pemalsuan terhadap Al-Qur’an, atau pemalsuan
terhadap Baitul Mal. Adapun tempat dan lamanya pengasingan, tidak ada kesepakatan para
fuqaha.
Pesan yang dapat kita tangkap dalam penjatuhan hukuman pengasingan ini adalah
kekhawatiran para ulama akan tersebarnya pengaruh si pelaku kepada orang lain sehingga
ia harus dibuang ke luar daerah.
5. Hukuman-Hukuman Ta’zir yang Lain
11

 Peringatan keras.
 Hukuman denda.
 Dihadirkan di hadapan sidang.
 Nasihat.
 Celaan.
 Pemecatan dan pengumuman kesalahan secara terbuka.







DAFTAR PUSTAKA
· Ali, Zainuddin. 2007. Hukum Pidana Islam. Jakarta. Jakarta: Sinar Grafika.
· Djazuli, Ahmad. 2000. Fiqh Jinayat (Upaya Menanggulangi Kejahatan Dalam Islam).
Jakarta: RajaGrafindo, cetakan III.
· Hakim, Rahmat. 2000. Hukum Pidana Islam. Bandung: Pustaka Setia, cetakan II.
· Muslich, W.A. 2005. Hukum Pidana Islam. Jakarta: Sinar Grafika, cetakan II.
· Hanafi, Ahmad. Asas-Asas Hukum Pidana Islam.


11
Prof. Drs. H. Ahmad Djazuli, Fiqh Jianayat (Upaya Menanggulangi Kejahatan Dalan Islam), hal. 215

yang telah meridlai kami dalam menyelesaikan tugas untuk mata pelajaran Fiqh Jinayat. yang khususnya mengenai pembahasan tentang Jarimah Ta’zir dengan baik. telah dilakukan secara runut dan mudah dipahami. Semoga makalah ini dapat membantu semua teman mahasiswa/i dalam mempelajari dan memahami mata pelajaran Fiqh Jinayat. Kami bersaksi pula bahwa Nabi Muhammad SAW adalah hamba dan rasulnya. 06 November 2011 Pemakalah . mohon pertolongan dan ampunan-Nya. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah. Jakarta. dengan judul Jarimah Ta’zir. maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Kami bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah semata. dan tidak ada sekutu bagi-Nya.KATA PENGANTAR Segala puji hanya milik Allah SWT. maka tidak ada seorang pun yang dapat menyesatkannya. Alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT. Kita memuji-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan-kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami. dan barangsiapa yang disesatkan-Nya. Yang Insya Allah pembahasan dari makalah kami ini.

Kepercayaan yang diberikan pembuat syari’at dalam menentukan bentuk pelanggaran dan macam hukuman tersebut ditujukan agar penguasa dapat secara leluasa mengatur masyarakatnya. tanpa menentukan sanksinya. hal ini pun merupakan pendelegasian wewenang dari pembuat syari’at kepada Ulul Amri dalam menentukan jenis hukumannya. Suatu jenis jarimah dan sanksi hukuman yang menjadi wewenang Ulul Amri dalam pengaturannya. Adapun selebihnya. pada prinsipnya Al-Qur’an merupakan norma-norma dasar. Al-Qur’an memberikan pola dasar yang umum. dalam fiqh disebut dengan ta’zir. hanya pada hal-hal yang kebal terhadap perubahan sajalah. yaitu jenis-jenis tindak pidana yang masuk dalam kelompok hudud dan qishash atau diyat yang jumlahnya tidak lebih dari dua belas jenis. Namun demikian. Hal ini karena. syari’at masih menentukan beberapa di antaranya sebagai suatu kejahatan yang dapat dihukum. syari’at menentukan beberapa jenis perbuatan tertentu yang dianggap sebagai kejahatan. Ulul Amri mungkin akan mendapatkan kesulitan dalam mencari kemashlahatan bagi rakyatnya. dalam menentukan hukuman. Bagian yang tidak ditentukan jenis pelanggarannya dan juga jenis hukumannya. kemashlahatan berubah sesuai dengan perubahan waktu dan tempat sehingga sangat rentan terhadap perubahan. Seandainya pembuat syari’at menentukan semua bentuk pelanggaran dan jenis hukuman secara baku. syari’at memberikan aturan yang berlaku. Walaupun demikian. Oleh sebab itu. Jenis kejahatan yang telah ditentukan syari’at dan telah ditentukan pula hukumannya itu sangat terbatas. Pemberian pola yang dasar tersebut memberikan keleluasaan bagi masyarakat untuk menyesuaikan dengan kondisi masyarakat tersebut. yang merupakan bagian terbesar dari jumlah tindak pidana dan hukuman. diserahkan kepada Ulul Amri dalam menentukan jenis pelanggaran maupun hukumannya.PENDAHULUAN Seperti kita ketahui. . Oleh karena itu. Jadi.

Ahmad Djazuli. menghina orang. dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang”. Ta’zir menurut bahasa adalah mashdar (kata dasar) bagi ‘azzara yang berarti menolak dan mencegah kejahatan. PENGERTIAN dan RUANG LINGKUP Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa setiap kejahatan yang ditentukan sanksinya oleh Al-Qur’an maupun oleh hadits disebut jarimah hudud dan qishash atau diyat. Dalam Al-Qur’an disebutkan :          “Supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. juga berarti menguatkan. Adapun tindak pidana yang tidak ditentukan oleh Al-Qur’an maupun hadits disebut sebagai tindakan pidana ta’zir. hal. (QS Al-Fath : 9)               1 2       Prof. memuliakan. Hukum Pidana Islam. membesarkan-Nya.A. menghina agama. hal. Misalnya. menguatkan (agama)Nya.1 Bentuk lain dari jarimah ta’zir adalah kejahatan-kejahatan yang bentuknya ditentukan oleh Ulul Amri yang sesuai dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai. seperti peraturan lalu lintas. H. 248 . H. dan membantu 2. dan memberi sanksi kepada aparat pemerintah yang tidak disiplin. prinsipprinsip dan tujuan syari’ah. dan suap. Drs. tidak melaksanakan amanah. Ahmad Wardi Muslich. menghasab harta. Fiqh Jianayat (Upaya Menanggulangi Kejahatan Dalan Islam). pemeliharaan lingkungan. 163 Drs.

dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran). Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka.                          “(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul. (QS Al-A’raf : 157)                                                  . Maka orang-orang yang beriman kepadanya. yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. mereka itulah orangorang yang beruntung”. menolongnya. memuliakannya.

Majikan. Drs. pezina yang ghair muhshan dijilid seratus kali sebagai had lalu dibuang satu tahun sebagai ta’zir. (QS Al-Maidah : 12) Ta’zir juga berarti hukuman yang berupa memberi pelajaran. Dan sesungguhnya kamu akan Kumasukkan ke dalam surga yang mengalir air didalamnya sungai-sungai. c. Hukuman ta’zir sepenuhnya ada ditangan hakim. Ayah. Maka barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah itu. sebagaimana yang telah telah dijelaskan dalam Al-Qur’an. boleh menjatuhkan ta’zir terhadap anaknya yang masih kecil dengan tujuan edukatif. hal. b. sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus”. diperbolehkan menta’zirkan istrinya dalam masalah nusyuz. Demikian pula dalam mazhab 3 Prof. dan mencegahnya dari akhlak yang buruk. Para ulama pada umumnya memperbolehkan penggabungan antara had dan ta’zir selama memungkinkan. Disebut dengan ta’zir karena hukuman tersebut sebenarnya menghalangi si terhukum untuk tidak kembali kepada jarimah atau dengan kata lain membuatnya jera.“Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat diantara mereka 12 orang pemimpin dan Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku beserta kamu. Suami. Dalam kitab Subulus As-Salam disebutkan: “Hukuman ta’zir tidak diperkenankan selain dari Imam kecuali dari tiga orang berikut ini: a. Para fuqaha mengartikan ta’zir dengan hukuman yang tidak ditentukan oleh AlQur’an dan hadits yang berkaitan dengan kejahatan yang melanggar hak Allah SWT dan hak hamba yang berfungsi untuk memberi pelajaran kepada si terhukum dan mencegahnya untuk tidak mengulangi kejahatan serupa3. Fiqh Jianayat (Upaya Menanggulangi Kejahatan Dalan Islam). Ahmad Djazuli. Ta’zir sering juga disamakan oleh fuqaha dengan hukuman terhadap setiap maksiat yang tidak diancam dengan hukuman had atau kaffarah. 165 . sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik sesungguhnya Aku akan menutupi dosa-dosamu. sebab beliaulah yang memegang tampuk kekuasaan pemerintahan dan kaum muslimin. H. diperbolehkan menta’zir hambanya baik yang bersangkutan dengan hak dirinya atau hak Allah. Misalnya dalam mazhab Hanafi.

dan Baihaqi. B. yaitu 1. Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Burdah Dari Abu Burdah Al-Anshari RA. pemberontakan. 252 . perzinaan. perampokan. Misalnya. dan tidak taat kepada Ulul Amri. Abu Daud. Hadits pertama menjelaskan tentang tindakan Nabi yang menahan seseorang 4 5 Ibid. pencurian. bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda : : ”Tidak boleh dijilid di atas sepuluh cambuk kecuali di dalam hukuman yang telah ditentukan oleh ALLA SWT”. H. Jarimah yang berkaitan dengan hak Allah SWT Yang dimaksud dengan kejahatan yang berkaitan dengan hak Allah SWT adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan kemashlahatan umum. Hadits-hadits tersebut antara lain5. Jarimah yang berkaitan dengan hak perorangan Yang dimaksud dengan kejahatan yang berkaitan dengan hak hamba adalah segala sesuatu yang mengancam kemashlahatan bagi seorang manusia. 2. Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Bahz ibn Hakim Dari Bahz ibn Hakim dari ayahnya dari kakeknya. serta dishahihkan oleh Hakim) 2. sebagai berikut : 1. Ahmad Wardi Muslich. Turmudzi. Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Aisyah Dari Aisyah RA. dan Baihaqi) Secara umum ketiga hadits tersebut menjelaskan tentang eksistensi ta’zir dalam syari’at Islam. Nas’ai. (Muttafaq ‘alaih) 3. seperti tidak membayar utang ataupun penghinaan. membuat kerusakan di muka bumi. bahwa Nabi SAW “menahan seseorang karena disangka melakukan kejahatan” (Hadits diriwayatkan oleh Abu Daud. Nas’ai. hal. (Hadits diriwayatkan oleh Ahmad. DASAR HUKUM Dasar hukum disyariatkannya ta’zir terdapat dalam beberapa hadits Nabi SAW dan tindakan sahabat. Para ulama membagi jarimah ta’zir menjadi dua bagian4. kecuali dalam jarimah-jarimah hudud”. bahwa Nabi SAW bersabda : “Ringankanlah hukuman bagi orangorang yang tidak pernah melakukan kejahatan atas perbuatan mereka. Hukum Pidana Islam. hal.Maliki dan mazhab Syafi’i penggabungan antara had dan ta’zir itu diperbolehkan. seperti mengalungkan tangan pencuri setelah dipotong dan menambahkan empat puluh kali jilid bagi peminum khamar. 166 Drs.

yaitu kebolehan dijatuhkannya hukuman mati jika kepentingan umum menghendaki demikian. hal. UQUBAH dan PELAKSANAANNYA Hukuman ta’zir ialah hukuman yang dijatuhkan atas jarimah-jarimah yang tidak dijatuhi hukuman yang telah ditentukan oleh hukum syari’at.yang diduga melakukan tindak pidana dengan tujuan untuk memudahkan penyelidikan. hal. antara lain tindakan Sayyidina Umar bin Khattab ketika ia melihat sesorang yang melentangkan seekor kambing untuk disembelih. tergantung kepada status mereka dan kondisi-kondisi lain yang menyertainya. yaitu hukuman yang sesuai dengan keadaan jarimah serta diri pembuatnya7. kemudian ia mengasah pisaunya. Akan tetapi. baru telentangkan kambing tersebut”. 156 . untuk membedakan dengan jarimah hudud. kebanyakan fuqaha membuat suatu pengecualian dari aturan umum tersebut. Asas-Asas Hukum Pidana Islam. yang dimulai dari hukuman yang paling ringan sampai hukuman yang terberat. Hukum Pidana Islam (Fiqh Jinayat). C.6 Adapun tindakan sahabat yang dapat dijadikan dasar hukum untuk jarimah dan hukuman ta’zir. dapat kita pahami bahwa tujuan ta’zir adalah mengubah si pelaku menjadi orang yang baik kembali dan tidak melakukan kejahatan yang sama pada waktu yang lain. H. hal. Macam-macam hukuman jarimah ta’zir : 1. Rahmat Hakim. Khalifah Umar memukul orang tersebut dengan cemati dan berkata : “asah dahulu pisaumu itu. ta’zir mengandung arti pendidikan dan pengajaran. Hukuman-hukuman tersebut banyak jumlahnya. Hadits kedua menjelaskan tentang batas hukuman ta’zir yang tidak boleh lebih dari sepuluh kali cambukan. yaitu jarimah-jarimah hudud dan qishash atau diyat. 253 Ahmad Hanafi. dalam hukuman ta’zir tidak boleh ada pemotongan anggota badan atau penghilangan nyawa. atau apabila hukuman yang berupa pendidikan dan 6 7 Ibid. Hakim diberi wewenang untuk memilih di antara hukuman-hukuman tersebut. Hukuman Mati8 Sebagaimana diketahui. Sedangkan hadits ketiga mengatur tenyang teknis pelaksanaan hukuman ta’zir yang bisa berbeda antara satu pelaku dengan pelaku lainnya. 221 8 Drs. Oleh karena itu. Dari pengertian itu.

Alat yang digunakan untuk melaksanakan hukuman mati pada sanksi ta’zir bardasarkan hadits ialah pedang. dan pembunuhan dengan sengaja. Di luar ta’zir. kebanyakan ulama membolehkan hukuman mati tadi sebagai pengecualian dari prinsip ta’dib (pendidikan). tujuan pencegahan dan pendidikan masih akan berlaku bagi orang yang tidak berbuat jarimah. tidak mampu memberantas kejahatan dan bahkan si pelaku malah berulang kali melakukan kejahatan yang sama atau mungkin bertambah variatif jenis kejahatannya. di negara-negara besar hukuman mati dijalankan seperti di Inggris. pemberontakan. ataupun Amerika. maka banyak kita dapati jarimah yang diancam hukuman mati. sedang dalam hukum pidan Perancis ada 150 jarimah. Jerman. atau mengedarkan atau menyelundupkan barang-barang berbahaya yang dapat merusak kemashlahatan. pembuat fitnah atau penyebar bid’ah . Dalam jarimah ta’zir. Hukum pidana Inggris misalnya. Akan tetapi. membocorkan rahasia negara. Pemilihan pedang sebagai alat dalam melaksanakan hukuman mati. Itulah sebabnya. Oleh karena itu. Jadi. Hukuman Jilid . karena pedang itu mudah digunakan dan tidak menganiaya si terhukum. Di antara alasan yang dikemukakan oleh sarjana-sarjana hukum positif ialah bahwa hukuman mati merupakan cara terbaik untuk memberantas kejahatan dan mengecilkan sama sekali terhadap pembuat-pembuat yang berbahaya dari lingkungan masyarakat. Perancis. dikalangan ulama sekarang membolehkan penggunaan selain daripada pedang selama tujuan dan hikmah penggunaan pedang tercapai dengan alat tersebut. Menurut fuqaha-fuqaha lain. hukuman mati tadi menjadi i’tibar bagi yang lainnya. hukuman mati hanya dikenakan terhadap perbuatan-perbuatan zina. tidak lebih dari lima jarimah. Kalau dibandingkan dengan hukum positif. residivis yang sangat berbahaya. dalam jarimah ta’zir tidak ada hukuman mati dan hal ini berarti bahwa keseluruhan jarimah yang dijadikan hukuman mati hanya lima. menjatuhkan hukuman mati atas 200 macam jarimah. gangguan keamanan. karena kematian terhukum dengan pedang itu sangat meyakinkan. menurut para fuqaha. seperti mata-mata. walaupun si pelaku telah mati. Dalam hal ini satu-satunya cara untuk mencegah kejahatan tersebut adalah dengan melenyapkan si pelaku agar dampak negatifnya tidak terus bertambah dan mengancam kemashlahatan yang lebih luas lagi.pengajaran. 2. Alasan tersebut tidak jauh berbeda dengan alasan uang dikemukakan oleh para fuqaha. murtad. Hukuman mati sebagai hukuman ta’zir dengan syarat tersebut di atas sudah barang tentu tidak banyak jumlahnya.

baik perzinaan maupun tuduhan zina dan sebagainya sudah disepakati oleh para ulama. Kemudian jika mereka mentaatimu. An-Nisa : 34) Meskipun dalam ayat tersebut ta’zir tidak dijatuhkan oleh Ulul Amri. dan pukullah mereka. (QS.Hukuman jilid dalam jarimah hudud. Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya. Adapun hukuman jilid dalam pidana ta’zir juga berdasarkan Al-Qur’an. ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada. oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Hukuman Penjara9 9 Drs. melainkan oleh suami. dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. bersabda : “Seseorang tidak boleh dijilid lebih dari sepuluh kali cambukan kecuali dalam salah satu dari had ALLAH SWT”. hal. Adapun hadits yang menunjukkan bolehnya ta’zir dengan jilid adalah hadits Abu Burdah yang mendengar langsung bahwa Nabi SAW. Ahmad Wardi Muslich. H. dan ijma. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. hadits. maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh. Dalam Al-Qur’an misalnya dalam surat An-Nisa ayat 34 :                                              Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita. 3. Hukum Pidana Islam. 262 . oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita).

Kata al-Habsu diartikan juga As-Sijnu. dasar hukum yang membolehkannya hukuman penjara ini adalah Surah An-Nisaa’ ayat 15 :                   Dan (terhadap) para wanita yang mengerjakan perbuatan keji. Penahanan model itulah yang dilaksanakan pada masa Nabi SAW dan Khalifah Abu Bakar. Pengertian Al-Habsu menurut bahasa adalah mencegah atau menahan. atau masjid. Pertama : Al-Habsu dan yang kedua : As-Sijnu. melainkan menahan seseorang dan mencegahnya agar ia tidak melakukan perbuatan hukum. pada masa itu tidak ada tempat yang khusus untuk menahan seorang pelaku. para ulama membolehkan kepada Ulul Amri untuk membuat penjara. setelah umat Islam bertambah banyak dan wilayah Islam bertambah luas.Dalam bahasa Arab ada dua istilah untuk hukuman penjara. (QS. yang dimaksud dengan al-Habsu menurut syara’ bukanlah menahan pelaku di tempat yang sempit. Selain itu. Kemudian apabila mereka Telah memberi persaksian. Meskipun demikian. para ulama yang lain tetap tidak membolehkan untuk mengadakan penjara. AnNisaa’ : 15)       . Artinya. hendaklah ada empat orang saksi diantara kamu (yang menyaksikannya). Atas dasar inilah. kedua kata tersebut mempunyai arti yang sama. karena hal itu tidak pernah dilakukan oleh Nabi SAW dan Khalifah Abu Bakar. baik penahanan tersebut di dalam rumah. Khalifah Umar pada masa pemerintahannya membeli rumah Shafwan Ibn Umayyah dengan harga empat ribu dirham untuk kemudian dijadikan sebagai penjara. Menurut Imam Ibn Al-Qayyim Al-Jauziyah. Maka kurunglah mereka (wanita-wanita itu) dalam rumah sampai mereka menemui ajalnya. maupun di tempat lainnya. Dengan demikian. atau sampai Allah memberi jalan lain kepadanya. Akan tetapi.

atau sampai ia bertobat. Hukuman pengasingan10 Diantara hukuman ta’zir dalam syariat Islam ialah pengasingan. atau seperti orang yang mengikat orang lain. Adapun lamanya hukuman penjara. yaitu :  Hukuman penjara yang dibatasi waktunya Hukuman penjara terbatas adalah hukuman penjara yang lama waktunya dibatasi secara tegas. tidak ada kesepakatan juga di kalangan para ulama. melainkan berlangsung terus sampai orang yang terhukum itu mati.  Hukuman penjara yang tidak dibatasi waktunya Hukuman penjara tidak terbatas atau tidak dibatasi waktunya. Hukuman penjara terbatas ini diterapkan untuk jarimah penghinaan. apabila orang itu mati karena hewan buas maka pelaku dikenakan hukuman penjara seumur hidup. Asas-Asas Hukum Pidana Islam. tidak ada kesepakatan di kalangan para ulama. mengairi ladang dari saluran tetangga tanpa izin.Hukuman penjara dalam syariat Islam dibagi kepada dua bagian. hal. penjual khamar. kemudian melemparkannya kedepan hewan buas. Dalam istilah lain bisa disebut hukuman penjara seumur hidup. Menurut Imam Abu Yusuf. misalnya seseorang yang menahan orang lain unktuk dibunuh oleh orang ketiga. Hukuman penjara seumur hidup dikenakan kepada penjahat yang sangat berbahaya. caci maki antara dua orang yang dipenjara dan saksi palsu. pemakan riba. hukuman pengasingan juga termasuk hukuman had yang diterapkan untuk pelaku tindak pidana perampokan berdasarkan surah Al-Maidah ayat 33 :          10                  Ahmad Hanafi. 230 . melanggar kehormatan bulan suci Ramadhan. begitupun batas tertinggi dan terendah pada hukuman penjara terbatas ini. 4.

dan Hilal bin Umaiyah. serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah. atau pemalsuan . (QS Al-Maidah : 33) Meskipun hukuman pengasingan itu merupakan hukuman had. dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar. hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka. pemalsuan terhadap Al-Qur’an. yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia. atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). yaitu Ka’ab bin Malik. hanyalah mereka dibunuh atau disalib. Rasullullah SAW pernah menjatuhkan hukuman pengucilan terhadap tiga orang yang tidak ikut serta dalam perang Tabuk. namun dalam praktiknya. Kemudian Allah menerima Taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka. hukuman tersebut diterapkan juga sebagai hukuman ta’zir. Mereka dikucilkan selama 50 hari tanpa diajak bicara sehingga turunlah firman Allah SWT :                                  Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka. Mirarah bin Rubai’ah. Dalam sejarah. Sesungguhnya Allah-lah yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik. (QS At-Taubah : 108) Diantara jarimah ta’zir yang dikenakan hukuman pengucilan adalah orang yang berperilaku mukhannats (waria) yang pernah dilaksanakan oleh Nabi SAW dengan mengasingkannya ke luar Madinah. melainkan kepada-Nya saja.           Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan rasulNya dan membuat kerusakan di muka bumi.

2000. Fiqh Jianayat (Upaya Menanggulangi Kejahatan Dalan Islam). Hukum Pidana Islam. tidak ada kesepakatan para fuqaha. Pesan yang dapat kita tangkap dalam penjatuhan hukuman pengasingan ini adalah kekhawatiran para ulama akan tersebarnya pengaruh si pelaku kepada orang lain sehingga ia harus dibuang ke luar daerah. Hukuman-Hukuman Ta’zir yang Lain11       Peringatan keras. Muslich. 2000. Hukum Pidana Islam. Bandung: Pustaka Setia.A. Nasihat. W. 2005. Hukuman denda. Adapun tempat dan lamanya pengasingan. Hukum Pidana Islam. Jakarta. Ahmad. Hanafi. cetakan II. Celaan. Djazuli.terhadap Baitul Mal. Fiqh Jinayat (Upaya Menanggulangi Kejahatan Dalam Islam). Asas-Asas Hukum Pidana Islam. DAFTAR PUSTAKA   Ali. Dihadirkan di hadapan sidang. Ahmad Djazuli. 2007. Jakarta: Sinar Grafika. Drs. 11 Prof. Ahmad. Jakarta: RajaGrafindo.    Hakim. 5. Zainuddin. H. hal. cetakan III. Rahmat. Pemecatan dan pengumuman kesalahan secara terbuka. Jakarta: Sinar Grafika. 215 . cetakan II.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->