P. 1
Isi Kandungan Al Hujurat 10-13

Isi Kandungan Al Hujurat 10-13

|Views: 30,963|Likes:
Published by Zul Hermi

More info:

Published by: Zul Hermi on Mar 21, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/17/2014

pdf

text

original

MEMPEROLOK-OLOKAN

Hai orang-orang yang beriman,

janganlah suatu kaum mengolok-olokkan

kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang
mengolok-olokkan) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan) dan

Janganlah kamu mencela diri sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah
(panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (QS. 49:11)

jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka
Hai orang-orang yang beriman, tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. 49:12)

Sebagaimana telah kita ketahui bersama dari pembahasan yang lalu, bahwa sunnah memiliki makna luas, tidak hanya sempit pada pengertian fiqih saja, namun merupakan ajaran dan keteladanan (uswah) yang dituangkan ke dalam segenap perilaku kehidupan nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam. Dengan demi-kian sunnah merupakan agama itu sendiri yang Allah Ta‟ala jadikan sebagai penerjemah dalam menafsirkan segenap ayat-ayat-Nya. Saudaraku -barakallahu fiikum-, mem-perolok-olokan sesuatu yang berasal dari agama adalah merupakan kekufuran yang dapat mengeluarkan pelakunya dari agama menurut kesepakatan para ulama‟. sebagai yang dinukilkan oleh Ibnul Arabiy dalam tafsirnya (2/976) dan Syaikh Sulaiman bin Abdullah Alu Syaikh di dalam Taisir Al Aziizil Hamiid. Maka memperolok-olok dari sunnah-sunnah nabi shalallahu 'alaihi wa sallam tidak berbeda apakah yang melakukannya dengan sungguh-sungguh, bermain-main atau senda gurau. (Malzamah Syarh Nawaqidul Islam, Abi Ubaidah Az Zawi). Jenis-jenis Istihza’ Namun manakala kita membicarakan permasalahan ini maka kita tidak akan ter-lepas dari beberapa permasalahan yang terkait dengannya. Permasalahan yang berkenaan dengan memperolok-olok agama atau yang kita kenal dengan istilah istihzaa, di antaranya ialah kita dapati pada kenyataannya dalam memper-olok-olokkan agama terbagi menjadi dua macam; 1. Istihzaa’ sharih, yaitu memperolok-olok agama dengan ucapan secara jelas dan te-rangterangan. Sebagai contoh ucapan mereka para munafiqin kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam di suatu majlis pada perang tabuk „Tidak-lah kami melihat orang yang lebih memen-tingkan perutnya, lebih berdusta ucapan-nya, dan lebih penakut ketika berjumpa dengan musuh daripada mereka para pemba-ca-pembaca Qur‟an (yakni Rasulullah shalallahu

'alaihi wa sallam dan para shahabatnya)‟. atau seperti ucapan mereka lainnya yang menyatakan: „agama tidaklah diukur dengan jenggot kita‟, yakni karena permasalahan cukur jenggot, dan masih banyak lagi yang semisal dengan itu. 2. Istihzaa’ ghairu sharih yaitu memperolok-olok agama dengan perbuatan yang menunjukkan isyarat maupun sindiran (tidak jelas atau tidak terang-terangan), seperti dengan memicingkan mata, menjulurkan lidah dan membentangkan bibir dan lain-lainnya yang bertujuan untuk merendahkan sesuatu dari agama. (lihat Kitabut Tauhid DR. Shalih Fauzan hal 43, dan Malzamah Syarh Nawaqidul Islam, Abi Ubaidah). Dalil kafirnya memperolok-olok sunnah Saudaraku kaum muslimin -barakallahu fiikum-, dalil-dalil tentang kafirnya mem-perolokolok sunnah banyak sekali. Namun semua berporos pada satu ayat yang me-nerangkan bagaimana hukum tersebut dapat menimpa seseorang dan apa penyebabnya. Allah Ta‟ala berfirman:

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab: “Sesung-guhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: ‟Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?‟. Tidak usah kamu meminta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.” (At Taubah:65-66). Ayat ini menunjukkan bahwa mem-perolok-olok Allah adalah kekufuran, mem-perolok-olok rasul adalah kekufuran, dan memperolok ayat-ayat-Nya adalah keku-furan, demikian pula memperolok-olok sun-nah adalah kekufuran. Maka barangsiapa yang memperolok-olok salah satu dari per-kara-perkara tersebut berarti dia telah mem-perolok-olok keselu-ruhannya. Memperolok-olok Allah dan Rasul-Nya dianggap kekufuran yang mengeluarkan pela-kunya dari agama karena pokok agama dibangun di atas pengagungan terhadap Allah dan pengagungan terhadap Rasul-Nya, sedangkan memperolok-olok sesuatu darinya dapat menghilangkan pokok tersebut dan meruntuhkannya dengan dahsyat. (Taisir Karimir Rahman, Abdurrahman As Sa‟diy, hal. 342-343). Larangan untuk bermajlis dengan orang yang memperolok-olok agama Saudaraku rahimakumullah terkadang kita sadar maupun tidak telah terpedaya oleh berbagai makar dan perangkap syaithan yang selalu berupaya menjerumuskan kita ke dalam kesesatan, na‟udzubilah. Dimana kita dijadikannya seperti sebuah patung yang bisu atau manusia yang terlelap pulas dalam tidurnya. Bagaimana tidak, terkadang - kalau tidak mau dinilai keumumannya – kita meng-anggap suatu hal yang wajar atau lumrah di saat kita menyaksikan atau mendengar atau paling tidak mengetahui ada orang yang memperolok-olok agama dengan gurauannya atau candanya atau bahkan menebarkannya bagaikan menebarkan benih di sawah lantas kita terdiam melihatnya, terkesima bahkan ikut tertawa mengaminkan pelecehan agama tersebut. Karenanya Allah di dalam ayat tadi atau ayat-ayat lainnya menegur dan mengan-cam dengan ancaman yang keras. Allah Ta‟ala berfirman: Tidak usah kamu cari alasan karena kamu kafir sesudah beriman (At Taubah: 66)

Dan apabila mereka melihat kamu (Muham-mad), mereka hanyalah menjadikan kamu sebagai ejekan (dengan mengatakan): ”Ini-kah orang yang diutus Allah sebagai Rasul? Sesungguhnya hampirlah ia menyesatkan kita dari sesembahan kita, seandainya kita tidak sabar (menyembah)nya‟. Dan mereka kelak akan mengetahui di saat mereka meli-hat adzab, siapa yang paling sesat jalannya. (Al Furqan:41-42). Maka menjadi jelaslah dengan ini, bahwa orang yang memperolok-olok rasul dengan menyatakannya sebagai orang yang sesat adalah lebih berhak dan lebih pantas untuk disifati dengan sifat ini dan bahwa binatang ternak lebih baik dari orang ter-sebut. (Tafsir As Sa‟diy hal.584). Oleh karena itu Allah Ta‟ala melarang mukminin untuk berkumpul, bermajlis bersama orangrang yang memperolok-olok agama ini termasuk di dalamnya mem-perolok-olok rasul dan sunnah rasul.

Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Qur‟an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan, maka ja-nganlah kamu duduk beserta mereka. Kare-na sesungguhnya (kalau kamu berbuat demi-kian), tentulah kamu serupa dengan mereka. (An Nisa‟:140) Berkata Syaikh Abdurrahman As Sa‟diy di dalam tafsirnya (hal 210): “Dan demikian pula halnya para ahlul bid‟ah dengan keane-karagaman mereka, maka hujjah-hujjah mereka yang mendukung kebatilan mereka mengandung penghinaan terhadap ayat-ayat Allah. Karena ayat-ayat Allah tidaklah menunjukkan kecuali kebenaran, dan tidaklah mengakibatkan kecuali kebenaran, bahkan termasuk juga di dalamnya menghadiri majlis-majlis kemaksiatan dan kefasikan, yang akan menghinakan di dalamnya perin-tah-perintah dan larangan-larangan Allah, dan akan menenggelamkan hukum-hukum-Nya yang telah Allah tetapkan bagi para hamba-Nya dan penghujung dari larangan ini ialah larangan untuk duduk bersama mereka.” Disegerakannya balasan bagi yang mem-perolok-olok sunnah Sebagai penutup dari pembahasan kita kali ini tidak lupa kita utarakan juga di sini bagaimana Allah menyegerakan balasan bagi mereka-mereka yang memperolok-olok sunnah atau yang melecehkannya yang telah teriwayatkan kepada kita; Dari Salamah bin Al Akwa‟ “Bahwa seseorang makan di samping Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam dengan tangan kirinya, maka beliau pun menegur: “Makanlah dengan tangan kanan-mu‟, orang itu menjawab,‟aku tidak bisa‟. Beliau bersabda : „Engkau benarbenar tidak akan bisa‟. Padahal tidak ada yang mengha-langinya (makan dengan tangan kanan) kecuali kesombongannya. Salamah menga-takan: Maka ia pun tidak bisa (lumpuh) mengangkat tangan (kanan)nya ke mulutnya. (Dikeluarkan Muslim no. 2021). Dari Abu Hurairah dari Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: Manakala seseorang berjalan dengan som-bongnya di pagi dan petang maka Allah tenggelamkan orang tersebut ke dalam bu-mi, dan ia akan terbolak-balik di dalamnya sampai hari kiamat”. Maka seorang pemuda bertanya kepada Abu Hurairah –yang telah disebutkan namanya– dalam keadaan bercanda: ‟Apakah seperti ini jalannya orang yang ditenggelamkan ke bu-

mi?‟ Lalu Abu Hurairah pun memukul dengan tangannya dan orang itupun merasakan sakit yang hampir mematahkan tulangnya. Kemu-dian Abu Hurairah berkata dengan membawakan ayat: Sungguh Kami akan balas untuk (mem-bela)mu (wahai nabi) dari orang yang mem-perolokolok. (Sunan Ad Darimi no.437) Dari Abdurrahman bin Harmalah, dia berkata: “Datang seseorang kepada Said Ibnul Musayyab untuk pamit menunaikan haji dan umrah. Maka beliaupun berkata kepada orang tersebut: “Janganlah engkau pergi hingga engkau shalat terlebih dahulu, karena sesungguhnya Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda: Tidaklah keluar dari masjid setelah diku-mandangkan adzan kecuali munafik, kecuali seseorang yang dipaksa keluar oleh kebutu-hannya dan dia berkeinginan kembali ke masjid. Maka orang itu pun berkata: “Sesungguhnya teman-temanku berada di al-Hurrah”. Maka orang itu pun keluar. Dan belum selesai Said menyayangkan kepergiannya dengan menyebut-nyebut tentangnya, tiba-tiba dikabarkan bahwa orang tersebut terjatuh dari kendaraannya, hingga patah pahanya. (Sunan Ad-Darimi, no. 447). Dari Abi Yahya as-Saaji berkata: “Kami berjalan di lorong-lorong kota Bashrah menuju rumah salah seorang ahlul hadits. Maka aku percepat jalanku dan (ketika itu) ada di antara kami yang jelek agamanya, kemudian berkata: “Angkatlah kaki-kaki kalian dari sayap-sayap para malaikat, janganlah kalian mematahkannya (seperti orang yang istihza‟). Maka orang itu pun tidak dapat beranjak dari tempatnya hingga kering kedua kakinya dan kemudian terjatuh”. (Bustanul Arifin, Imam Nawawi, hal. 92.) (Semua kisah di atas dinukil dari kitab Ta‟zhimus Sunnah, Abdul Qayyum as-Suhaibani, hal. 30-32) Wallahu a’lam. Muhammad Sholehuddin Maraji’: 1. Ta‟dhimus Sunnah, Abdul Qayyum bin Mu-hammad bin Nashir. 2. Kitabut Tauhid, DR. Shalih Fauzan. 3. Malzamah Syarh Nawaqidul Islam, Abi Ubaidah az-Zawi. 4.Taisir Karimir Rahman, Abdurrahma as-Sa‟diy.

Janganlah salah seorang diantara kamu berkata :" Khabusat nafsi (diriku buruk), tetapi katakanlah Laqisat nafsi (diriku kurang)." (HR. Muslim)

MENCELA DIRI SENDIRI
GUNJING

Ghibah Bismillahirrohmaanirrohiim. Assalamu‟alaikum warohmatullohi wabarokatuh Alhamdulillahirobbil alamin. Allohumma sholli ala Muhammad, wa‟alaa alihi washhbihi ajma‟iin. Amiin.

Marilah kita sama-sama luruskan niat kita terlebih dahulu, bahwa kita berkumpul di majelis ini semata-mata dalam rangka mengharapkan ridho-Nya. Baiklah, disini saya ingin berbagi pengalaman seputar masalah Ghibah (mengumpat/ngrasani/backbiting). Terkadang kitaberpikira bahwa kita sudah berusaha membebaskan diri dari makanan haram, seperti daging babi, alcohol dll. Tapi sungguh kadang dengan “ringan”nya kita seolah sedang memakan daging bangkai saudara kita sendiri!!!! berapa daging bangkai?, 2 atau 1kah 3 dalam sehari????? Astaghfirullohaladziem. Kenapa? Marilah kita simak firman Alloh dalam QS Al Hujurot ayat 12, yang artinya sebagai berikut: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka , karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang . (QS Al-Hujurat:12)

Demikianlah …….Alloh mengumpamakan antara menggunjing (ghibah) dengan orang yang memakan daging bangkai saudaranya sendiri.

Lalu Apakah ghibah itu ?

Sesuai apa yang diterangkan Nabi SAW: pada Hadits Riwayat Muslim, Abu Daud : Nabi SAW bersabda : "Tahukah kamu apa ghibah itu ? Jawab sahabat : Allahu warasuluhu a'lam (Allah dan Rasulullah yang lebih tahu).

Kemudian Nabi SAW bersabda: Menceritakan hal saudaramu yang ia tidak suka diceritakan pada orang lain. Lalu Sahabat bertanya: Bagaimana jika memang benar sedemikian keadaan saudaraku itu ?

Jawab Nabi SAW : "Jika benar yang kau ceritakan itu, maka itulah ghibah, tetapi jika tidak benar ceritamu itu, maka itu disebut buhtan (tuduhan palsu, fitnah) dan itu lebih besar dosanya".

Dalam kitab al adzkar , Imam AnNawawy memberikan definisi : 'Ghibah, adalah menyebutkan hal-hal yang tidak disukai orang lain, baik berkaitan kondisi badan, agama, dunia, jiwa, perawakan, akhlak, harta, istri, pembantu, gaya ekspresi rasa senang, rasa duka dan sebainya, baik dengan kata-kata yang gamblang, isyarat maupun kode. Di era sekarang ini, meng-ghibah (bukan hibah loh…) dapat dilakukan dengan tulisan, sms, email, bahkan lewat bahasa tubuh-pun bisa. Adapun kalau sekedar membathin, belum bisa disebut ghibah, meskipun hal ini juga termasuk prasangka. Dalam QS Al Hujurat ayat 12 tadi disebutkan bahwa ber-prasangka pun kita sebaiknya berhati-hati, karena sebagian dari prasangka adalah dosa. Dalam hal ini adalah prasangka yang buruk (su‟u dzon). Sebaliknya kita dianjurkan untuk selalu berkhusnudzon atau prasangka yang baik. Ghibah dikatakan mempunyai dosa ganda. Karena selain kita harus memohon ampun kepada Alloh, dan alloh maha pengampun atas dosa-dosa kita. Namun, kita juga harus meminta maaf kepada orang kita gunjing tersebut, ini yang terkadang menjadi sulit bagi diri kita. Apalagi jika yang kita gunjing jumlahnya banyak sekali, naudzubillahi min dzaalik.

Dalam Sebuah hadit dari abu hurairoh, nabi Muhammad SAW bersabda : Whoever has wronged his brother with regard to wealth or honor, should ask for his pardon (before his death), before he pays for it (in the Hereafter) when he will have neither a Dinar nor a Dirham. (He should secure pardon in this life) before some of his good deeds are taken and paid to this (his brother), or (if he has no good deeds) some of the bad deeds of this (his brother) are taken to be loaded on him.” (Reported by Al-Bukhari and Muslim) Maaf ya textnya masih asli dalam bahasa inggris…tapi kurang lebihnya maksudnya begini: barangsiapa bersalah kepada saudaranya maka kita harus minta maaf kepada dia sebelum meninggal, karena jika tidak, maka amal kita akan dilimpahkan kepadanya, atau jika kita tak memiliki amal, maka amal buruk dia akan dilimpahkan kepada kita, Na‟udzubillahimindzaalik.

Lalu, Apakah ghibah haram 100 persen? Untuk beberapa kondisi, kita diperbolehkan untuk ber-ghibah, yaitu: 1. Orang yang mazhlum (teraniaya) boleh menceritakan dan mengadukan kezaliman orang yang menzhaliminya kepada seorang penguasa atau hakim atau kepada orang yang berwenang memutuskan suatu perkara dalam rangka menuntut haknya.

2. Meminta bantuan untuk menyingkirkan kemungkaran dan agar orang yang berbuat maksiat kembali ke jalan yang benar. Pembolehan ini dalam rangka isti'anah (minta tolong) untuk mencegah kemungkaran dan mengembalikan orang yang bermaksiat ke jalan yang hak. Selain itu ini juga merupakan kewajiban manusia untuk ber-amar ma'ruf nahi munkar. Setiap muslim harus saling bantu membantu menegakkan kebenaran dan meluruskan jalan orangorang yang menyimpang dari hukum-hukum Allah, hingga nyata garis perbedaan antara yang haq dan yang bathil.

3. Istifta' (meminta fatwa) akan sesuatu hal. Walaupun kita diperbolehkan menceritakan keburukan seseorang untuk meminta fatwa, untuk lebih berhati-hati, ada baiknya kita hanya menyebutkan keburukan orang lain sesuai yang ingin kita adukan, tidak lebih. 4. Memperingatkan kaum muslimin dari beberapa kejahatan contohnya: Apabila kita melihat seorang penuntut ilmu agama belajar kepada seseorang yang fasik atau ahli bid'ah dan kita khawatir terhadap bahaya yang akan menimpanya. Maka kita wajib menasehati dengan cara menjelaskan sifat dan keadaan guru tersebut dengan tujuan untuk kebaikan semata. 5. Menceritakan kepada khalayak tentang seseorang yang berbuat fasik atau bid'ah seperti, minum-minuman keras, menyita harta orang secara paksa, memungut pajak liar atau perkaraperkara bathil lainnya. Ketika menceritakan keburukan itu kita tidak boleh menambahnambahinya dan sepanjang niat kita dalam melakukan hal itu hanya untuk kebaikan

6. Bila seseorang telah dikenal dengan julukan si pincang, si pendek, si bisu, si buta, atau sebagainya, maka kita boleh memanggilnya dengan julukan di atas agar orang lain langsung mengerti. Tetapi jika tujuannya untuk menghina, maka haram hukumnya. Jika ia mempunyai

nama lain yang lebih baik, maka lebih baik memanggilnya dengan nama lain tersebut. Mungkin itu aja dulu ya. Marilah kita berdo‟a dan berusaha agar lebih dapat menjaga lidah dan hati kita, amiiin.
SUMBER LAIN

Ghibah
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Belum Diperiksa Langsung ke: navigasi, cari

Ghibah adalah menyebutkan sesuatu yang terdapat pada diri seorang muslim, sedang ia tidak suka (jika hal itu disebutkan). Baik dalam keadaan soal jasmaninya, agamanya, kekayaannya, hatinya, ahlaknya, bentuk lahiriyahnya dan sebagainya. Caranya-pun bermacam-macam. Di antaranya dengan membeberkan aib, menirukan tingkah laku atau gerak tertentu dari orang yang dipergunjingkan dengan maksud mengolok-ngolok.

[sunting] Ghibah Keji Dan Kotor
Secara bahasa, ghibah berarti menggunjing. Banyak orang meremehkan masalah ghibah, padahal dalam pandangan Allah ia adalah sesuatu yang keji dan kotor. Hal itu dijelaskan dalam sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. "Artinya : Riba itu ada tujuh puluh dua pintu, yang paling ringan daripadanya sama dengan seorang laki-laki yang menyetubuhi ibunya (sendiri), dan riba yang paling berat adalah pergunjingan seorang laki-laki atas kehormatan saudaranya". (As-Silsilah As-Shahihah,)

[sunting] Keutamaan Mencegah Gibah
Wajib bagi orang yang hadir dalam majlis yang sedang menggunjing orang lain, untuk mencegah kemungkaran dan membela saudaranya yang dipergunjingkan. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam amat menganjurkan hal demikian, sebagaimana dalam sabdanya. "Artinya : Barangsiapa menolak (ghibah atas) kehormatan saudaranya, niscaya pada hari kiamat Allah akan menolak menghindarkan api Neraka dari wajahnya". (HR Ahmad) "Wahyu Pamungkas"-Dibawah Naungan Al-Quran

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->