P. 1
Microsoft Word Diktat Logika Informatika

Microsoft Word Diktat Logika Informatika

|Views: 4,988|Likes:

More info:

Published by: Abu Hanifah Al Fajjri on Mar 21, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/17/2013

pdf

text

original

Sections

  • BAB I PENGANTAR LOGIKA INFORMATIKA
  • Sejarah Logika Informatika
  • Arti Logika Informatika
  • Argumen dan Silogisme
  • Manfaat Logika Informatika
  • Studi kasus: Search Engine Google
  • BAB II ALJABAR PROPOSISI
  • Semesta Pembicaraan
  • Kalimat Deklaratif
  • Validitas Argumen
  • Premis :
  • Semantik-Sintaks :
  • SOUND ARGUMENT
  • UNSOUND ARGUMENT
  • Proposisi Atomik dan Majemuk
  • Kata-kata Penghubung Kalimat
  • SIMBOL ARTI BENTUK
  • Tabel Kebenaran
  • P Q P ΛΛΛΛ Q
  • P Q P => Q
  • P Q P <=> Q
  • Ekuivalen
  • A B A ΛΛΛΛB ~ (A ΛΛΛΛB) ~A ~B ~ A ΛΛΛΛ~B
  • A B A => B ~A ~A V B
  • Hukum-hukum Ekuivalensi Logika :
  • Penyederhanaan
  • Tautologi, Kontradiksi dan Contingent
  • Inferensi Logika
  • Sistem Pembuktian / Penarikan Kesimpulan
  • BAB III KUANTIFIKASI
  • Variabel dan Konstanta
  • Kalimat terbuka
  • Kuantor
  • Ingkaran kalimat
  • BAB IV HIMPUNAN
  • Definisi Himpunan
  • Keanggotaan
  • Contoh 2
  • Contoh 3
  • Cara Penyajian Himpunan
  • 1. Enumerasi
  • Contoh :
  • 3. Notasi Pembentuk Himpunan
  • Contoh 4
  • 4. Diagram Venn
  • Contoh 5
  • Contoh 6
  • Himpunan kosong (null set)
  • Contoh 7
  • Himpunan Bagian (Subset)
  • Definisi Himpunan Bagian
  • Contoh 8
  • Himpunan yang Sama
  • Definisi Himpunan yang Sama
  • Contoh 9
  • Himpunan yang Ekivalen
  • Definisi Himpunan yang Ekivalen
  • Contoh 10
  • Himpunan Saling Lepas
  • Definisi Himpunan Saling Lepas
  • Contoh 11
  • Definisi Himpunan Kuasa
  • Contoh 12
  • Contoh 13
  • Operasi Terhadap Himpunan
  • Contoh 14
  • Contoh 15
  • 3. Komplemen (complement)
  • Contoh 16
  • 4. Selisih (difference)
  • Contoh 18
  • 5. Beda Setangkup (Symmetric Difference)
  • Contoh 19
  • 6. Perkalian Kartesian (cartesian product)
  • Contoh 20
  • Contoh 21. Misalkan
  • Contoh 22
  • Hukum-hukum Himpunan
  • Prinsip Dualitas
  • Prinsip Inklusi-Eksklusi
  • Himpunan Ganda (multiset) Definisi Himpunan Ganda
  • Definisi Multiplisitas
  • Operasi Antara Dua Buah Multiset:
  • 1. Pembuktian dengan menggunakan diagram Venn
  • 2. Pembuktikan dengan menggunakan tabel keanggotaan
  • 3. Pembuktian dengan menggunakan aljabar himpunan
  • 4. Pembuktian dengan menggunakan definisi
  • Representasi Relasi
  • Tabel 1 Tabel 2 Tabel 3
  • Sifat-sifat Relasi Biner
  • Definisi
  • Relasi Inversi Definisi
  • Relasi Kesetaraan Definisi
  • Relasi Pengurutan Parcial Definisi
  • Klosur Refleksif
  • Klosur setangkup
  • Klosur menghantar
  • Mengkombinasikan Relasi
  • Komposisi Relasi
  • Fungsi
  • else
  • Fungsi Surjektif
  • Komposisi dari dua buah fungsi Definisi
  • 2. Fungsi modulo
  • 5. Fungsi Logaritmik
  • Fungsi Rekursif Definisi
  • BAB VI ALJABAR BOOLEAN
  • DASAR OPERASI LOGIKA LOGIKA :
  • Operasi logika NOT ( Invers )
  • Operasi logika AND
  • Operasi logika OR
  • Operasi logika NOR
  • Operasi logika NAND
  • Operasi logika EXOR
  • Operasi logika EXNOR
  • Aljabar Boolean
  • Tupel
  • Contoh
  • Hukum-hukum Aljabar Boolean
  • Fungsi Boolean
  • 1. Penyederhanaan Secara Aljabar
  • Contoh:
  • DAFTAR PUSTAKA

1

BAB I
PENGANTAR LOGIKA INFORMATIKA

Dalam bidang informatika, logika informatika merupakan matakuliah yang wajib
dikuasai sebelum anda mendalami mata kuliah yang lain. Hal itu dikarenakan materi
yang dipelajari dalam logika informatika akan digunakan penerapannya pada mata kuliah
yang lain seperti algoritma pemrograman dan mata kuliah yang lain khususnya
berhubungan dengan pemrograman.

Sejarah Logika Informatika
Logika pertama kali dikemukakan oleh Aristoteles, pada abad 4 SM. Ia
merumuskan logika dengan cara menuliskan argumen/pendapat yang akan bisa
dibuktikan kebenarannya yang disebut dengan silogisme.
Sebuah contoh silogisme (disebut silogisme Barbara):
Premis : Semua A adalah B.
Premis : Semua B adalah C.
Konklusi : Semua A adalah C.
Sejak itu, banyak pemikir yang menemukan konsep-konsep lain tentang logika
tetapi masih berkisar pada pemikiran Aristoteles, sampai pada paruh terakhir abad 19
dengan tokoh-tokoh baru dengan pemikiran-pemikiran baru yaitu:

No. Nama/Tahun Pemikiran
1. Augustus De Morgan(1806-1871) Induksi Matematika, Hukum
Ekuivalensi Logika De Morgan
2. George Boole(1815-1871) Aljabar Boole
3. Giuseppe Peano(1858-1932) Penemu istilah logika matematika dan
teori himpunan
4. Emil L Post(1897-1954) Tabel Kebenaran
5. Ludwig JJ Wittgenstein(1889-
1951)
Tabel Kebenaran
6. John Venn(1834-1923) Diagram Venn
7. Henry M Sheffer(1882-1964) NAND, NOR
Dan masih banyak tokoh-tokoh lain.




2
Arti Logika Informatika
Pada masa Aristoteles, logika merupakan satu bahasan dalam ilmu tertua di dunia,
yaitu Filsafat. Baru pada masa-masa berikutnya logika masuk ke berbagai bidang ilmu-
ilmu yang lebih muda seperti ilmu hitung/matematika, dan kini komputer/informatika.
Dari arti katanya dalam bahasa Yunani, yaitu logike/logos yang berarti ilmu/pikiran,
logika bisa diartikan sebagai perkataan sebagai manifestasi dari pikiran manusia. Atau,
logika adalah ilmu yang mempelajari (jalan) pikiran yang diungkapkan dalam bahasa.
Arti logika menurut bahasan logika modern, terdapat banyak versi. Dua versi dari definisi
logika adalah:
1. Ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan prinsip-prinsip dari penalaran argumen
yang valid.
2. Studi tentang kriteria-kriteria untuk mengevaluasi argumen-argumen dengan
menentukan mana yang valid dan tidak valid, dan membedakan antara argumen
yang baik dan tidak baik.
Sedangkan logika informatika sendiri, dapat diartikan sebagai:
1. Aturan-aturan logika yang menggunakan kaidah-kaidah tertentu dalam informatika
yang dipergunakan untuk membuktikan validitas suatu argumen.
2. Aturan-aturan logika yang menggunakan kaidah-kaidah tertentu dalam matematika
yang dipergunakan untuk membuktikan validitas suatu argumen dalam bidang
informatika.

Argumen dan Silogisme
Argumen
Adalah usaha untuk mencari kebenaran dari suatu pernyataan berupa kesimpulan dengan
berdasarkan pada kebenaran dari satu kumpulan pernyataan yang disebut premis-premis.
Silogisme
Logika berawal dari pertanyaan-pertanyaan yang paling mendasar di kehidupan ini.
Silogisme Aristoteles, menurutnya, adalah suatu argumen yang terbentuk dari
pernyataan-pernyataan dengan salah satu atau keempat bentuk berikut:
1. Semua A adalah B. (universal affirmative)
2. Tidak A adalah B. (universal negative)
3. Beberapa A adalah B. (particular affirmative)
4. Beberapa A adalah tidak B. (particular negative)
3

Huruf A dan B diatas menggantikan suatu kata benda, misalnya ‘manusia’, ‘cuaca’, dan
sebagainya yang disebut terms of syllogism atau pokok dari silogisme.
Suatu silogisme yang berbentuk sempurna (well-formed syllogism) adalah silogisme yang
memiliki dua buah premis dan satu kesimpulan, dimana setiap premis memiliki satu
pokok(term) bersama dengan kesimpulan dan satu lagi pokok bersama dengan premis
lainnya.
Contoh sebuah silogisme sempurna:
Premis : Semua A adalah B.
Premis : Semua B adalah C.
Konklusi : Semua A adalah C.
(Pada premis pertama, A sama dengan A pada kesimpulan, dan ia juga memiliki B yang
sama dengan B pada premis kedua.)

Manfaat Logika Informatika
Logika informatika digunakan dalam semua bidang pada ilmu informatika. Dari
pembuatan konsep, penulisan software hingga cara kerja hardware. Contoh beberapa
manfaat logika informatika:
1. Membuat program.
Contoh, struktur IF-THEN...ELSE dalam bahasa Pascal
IF kondisi THEN
Statemen1
ELSE
Statemen2;
2. Database.
Contoh, mencari daftar mahasiswa Informatika UNSOED angkatan 2008 yang
nilai IPK-nya 4.
3. Cara kerja komputer(mesin).
Level logika pada komputer. Masing-masing level komputer menggunakan level
logika yang berbeda(dari logika elektronik 0 dan 1 hingga logika manusia dalam
bahasa pemrograman tingkat tinggi) tetapi semua bekerja berdasar prinsip-prinsip
logika.
4
Gambaran level logika yang berlaku sesuai dengan bahasa pemrograman yang
digunakan:


Studi kasus: Search Engine Google.
Search engine google menggunakan prinsip logika dalam pencariannya.
Contoh:
1. Menggunakan operator AND. Diwakili dengan tanda + .
Pencarian akan ’teknik+informatika’ di Google akan menghasilkan data yang
terdiri dari teknik dan informatika.





5
2. Menggunakan operator OR Pencarian dengan ketentuan ’teknik OR informatika’.
Hasil pencarian akan menampilkan kata teknik saja atau informatika saja.


3. Menggunakan operator NOT
Pencarian dengan ketentuan teknik NOT informatika, dilambangkan dengan ’teknik –
informatika’ akan menghasilkan pencarian akan kata ’teknik’ saja, yang tidak
mengandung kata ’informatika’.







6
BAB II
ALJABAR PROPOSISI

Kata merupakan rangkaian huruf yang mengandung arti, edangkan kalimat adalah
kumpulan kata yang disusun menurut aturan tata bahasa dan mengandung arti. Di dalam
matematika tidak semua pernyataan yang bernilai benar atau salah saja yang digunakan
dalam penalaran. Pernyataan disebut juga kalimat deklaratif yaitu kalimat yang bersifat
menerangkan dan disebut juga proposisi.

Semesta Pembicaraan
Semesta pembicaraan adalah keseluruhan obyek yang dibicarakan.
Contoh:
• Pada kehidupan sehari-hari
• Pada ilmu hitung
• Pada astronomi
• Pada Informatika
• Dll
Pada himpunan dapat di gambarkan sebagai berikut :


Bahasa adalah rangkaian simbol-simbol yang diucapkan atau ditulis menurut aturan-
aturan tertentu.
Contoh:
• I watch TV till 12 o’clock last night.
• أا
• Geef mij maar nasi goreng met een gebakken ei
Wat sambal en wat kroepoek en een goed glas bier erbij.
• Bonjour! Je m’appelle Hesti.
• Guten tag! Mein Name ist Hesti.
S
7
• Konnichiwa.

Kalimat Deklaratif
Kalimat Deklaratif /Pernyataan/ Proposisi adalah kalimat yang bernilai benar atau
salah tetapi tidak keduanya.
Contoh :
1. Yogyakarta adalah kota pelajar (Benar).
2. 2+2=4 (Benar).
3. Semua manusia adalah fana (Benar).
4. 4 adalah bilangan prima (Salah).
5. 5x12=90 (Salah).
Tidak semua kalimat berupa proposisi
Contoh :
1. Dimanakah letak pulau bali?.
2. Pandaikah dia?.
3. Andi lebih tinggi daripada Tina.
4. 3x-2y=5x+4.
5. x+y=2.

Validitas Argumen
Argumen adalah suatu pernyataan tegas yang diberikan oleh sekumpulan proposisi
P1, P2, .........,Pn yang disebut premis (hipotesa/asumsi) dan menghasilkan proposisi Q
yang lain yang disebut konklusi (kesimpulan). Secara umum di notasikan dengan

Argumen disebut benar apabila telah memenuhi syarat:
1. Konklusi/hasil kesimpulan dari argumen tersebut benar setelah melalui suatu
proses observas/dapat dibuktikan.
2. Langkah-langkah penalaran sesuai dengan hukum-hukum logika.

8
Premis :
• Jika hari ini cerah saya bermain futsal.
• Saya bermain futsal.
Kesimpulan: Hari ini cerah.
Argumen ini kuat karena:
1. Kesimpulan yg diambil benar.
2. Langkah penalaran tepat.

Semantik-Sintaks :
• Jika hari ini cerah saya bermain futsal.
• Saya bermain futsal.
Kesimpulan: Hari ini cerah.
Yang diperhatikan dalam logika hanyalah bentuk kalimat/sintaks-nya saja. Isi/arti
kalimat/semantik bukan merupakan bahasan.

Contoh Semantik-Sintaks
– Dia tidak kaya dan tidak bahagia.
– Menjadi miskin berarti menjadi tak bahagia.
– Seseorang tak pernah bahagia jika dia kaya.
– Dia miskin tetapi bahagia.
– Jika dia tak dapat kaya maka bahagia.
– Jika dia tidak bahagia maka ia miskin.
– Jika dia tak miskin dan tak bahagia maka ia kaya.
– Menjadi kaya berarti sama seperti menjadi bahagia.
– Dia miskin atau jika tidak maka dia kaya dan tak bahagia.
– Jika dia tidak miskin, maka dia bahagia.

SOUND ARGUMENT
POLA:
Semua X adalah Y
Beberapa Y adalah Z
Maka beberapa X adalah Z

9
Contoh Argumen kuat:
• Semua Toyota adalah mobil Jepang.
• Beberapa mobil Jepang dibuat di Indonesia.
• Maka beberapa Toyota dibuat di Indonesia.


UNSOUND ARGUMENT
Pola :
Semua X adalah Y
Beberapa Y adalah Z
Maka beberapa X adalah Z

Contoh 1 :
Semua Toyota adalah mobil.
Beberapa mobil adalah Porche.
Maka beberapa Toyota adalah Porche.

Contoh 2 :
Semua angkatan 2008 mengambil kuliah login.
Beberapa mahasiswa yang mengambil login adalah angkatan 2007.
Maka beberapa mahasiswa angkatan 2008 adalah angkatan 2007.
Dibuat di
Indonesia
S:Mobil Jepang

T
S

Mobil
T
P
10



Proposisi Atomik dan Majemuk
Dilihat dari kompleksitasnya, proposisi terdiri dari proposisi :
1. Proposisi atomik adalah proposisi yang tidak dapat dipecah-pecah menjadi beberapa
proposisi lagi.
2. Proposisi majemuk adalah proposisi yang terdiri dari beberapa proposisi atomik.
Contoh :
• Hari hujan.
• Jika hari hujan maka saya berangkat kuliah.
• Menonton konser Kangen Band.
• Saya tidur atau menonton konser Kangen Band.
• Ada bug.
• Masukannya salah.
• Ada bug dan masukannya salah.
• Setiap orang Indonesia pintar.
• Jack pintar, demikian juga Jen.
• Jack dan Jen sama-sama pintar.
• Mike pintar dan nilai-nilainya bagus.
• Ralph pintar atau rajin.

Kata-kata Penghubung Kalimat
Dalam menggabungkan proposisi atomik menjadi sebuah proposisi majemuk,
diperlukan sebuah kata penghubung/perangkai kalimat.
• DAN
• ATAU
• BUKAN
Mhsw Ambil
Login
2008
2007
11
• JIKA
• JIKA DAN HANYA JIKA

SIMBOL ARTI BENTUK
⌐ atau ‾ Tidak/Bukan/Not/Negasi Tidak...
Λ Dan/And/Konjungsi ...dan...
V Atau/Or/Disjungsi ...atau...
=> Implikasi Jika...maka...

Biimplikasi ...jika dan hanya jika...

Contoh Penggunaan kata penghubung :
Proposisi atomik A: Hari ini hujan.
Dan proposisi atomik B: Hari ini mendung.
N PROPOSISI SMBL
1. Hari ini hujan A
2. Hari ini mendung B
3. Hari ini tidak hujan ⌐A
4. Hari ini tidak mendung ⌐B
5. Hari ini hujan dan mendung A Λ B
6. Hari ini hujan atau mendung A V B
7. Hari ini tidak hujan tetapi mendung ⌐A Λ B
8. Jika hari ini hujan maka akan mendung A=>B
9. Hari ini hujan jika dan hanya jika hari mendung A⌠B


Tabel Kebenaran
Tabel kebenaran adalah tabel nilai yang mendefinisikan nilai kebenaran
keseluruhan kalimat berdasarkan nilai kebenaran masing-masing kalimat penyusunnya.
Negasi :
Negasi suatu pernyataan P adalah pernyataan baru yang bernilai salah jika P benar dan
bernilai benar jika P bernilai salah.
notasi negasi P adalah ∼P
12
P ~P
T F
F T

Misal : P adl “x lebih kecil dari 5” , negasinya adl :
1. Tidak( lah benar ) x lebih kecil dari 5
2. x tidak lebih kecil dari 5
3. x lebih besar atau sama dengan 5

Konjungsi

Konjungsi dari dua pernyataan P dan Q ditulis P∧Q (dibaca P and Q) adalah suatu
pernyataan yang bernilai benar jika kedua komponennya, yaitu p dan q, bernilai benar,
dan akan bernilai salah jika salah satu komponennya bernilai salah.
Tabel kebenarannya adalah :
P Q P Λ ΛΛ Λ Q
T T T
T F F
F T F
F F F

Perhatikan bahwa walaupun menggunakan istilah ”dan”, dua kalimat yang dihubungkan
tidak harus mempunyai hubungan. Misal : “Yogyakarta ibukota propinsi DIY dan 112
habis dibagi 2”, dalam logika di pandang sebagai suatu pernyataan yang sah Selanjutnya
pandang :
1. P : Ali dan Budi duduk dikelas 2
2. Q : Ali dan Budi bersaudara
P merupakan konjungsi sedang Q bukan.

Disjungsi
Disjungsi (inklusif) dari dua pernyataan P atau Q ditulis P∨Q (dibaca P atau Q)
adalah suatu pernyataan yang bernilai benar jika salah satu kom ponennya, yaitu p atau q,
bernilai benar, dan ber nilai salah jika kedua komponennya bernilai salah
Tabel kebenarannya adalah :
P Q P V Q
13
T T T
T F T
F T T
F F F

Implikasi
Implikasi dua pernyataan P dan Q adalah P → Q yang dibaca “ Jika P maka Q ”.
Pernyataan implikasi disebut juga pernyataan bersyarat Suatu implikasi P → Q bernilai
salah jika P benar dan Q salah, dan bernilai benar jika yang lain
Tabel kebenarannya adalah :
P Q P => Q
T T T
T F F
F T T
F F T
Dalam pernyataan P → Q, P disebut anteseden dan Q disebut konsekuen.
Perhatikan kalimat dibawah ini :
Jika Anda mengendarai mobil maka anda harus memakai sabuk pengaman.
Jika Anda masuk kawasan pabrik, maka Anda harus mengenakan tanda pengenal
• Seseorang yang mengendarai mobil dan memakai sabuk pengaman tentunya
tidak menyalahi aturan (benar, sebab P= benar, Q = benar),
• orang yang mengendarai mobil tidak pakai sabuk pengaman jelas menyalahi
aturan (salah ,sebab P = benar, Q = salah);
• Orang yang naik gerobak dan memakai sabuk pengaman tidak menyalahi aturan
(benar, sebab P=salah, Q=betul), dan
• Orang yang naik gerobak tidak memakai sabuk pengaman tak menyalahi aturan
(benar, sebab P=Salah, Q=salah)
Pernyataan lain daripada “ Jika P maka Q “
adalah :
1. Q jika P
2. P hanya jika Q
3. Q merupakan sarat perlu untuk P
4. P merupakan sarat cukup untuk Q
Contoh :
14
1. Tuliskan kalimat dibawah ini dengan simbol logika
a. Saya akan berlibur ke Bali hanya jika saya lulus ujian
b. Sarat perlu agar 273 habis dibagi 3 adalah 273 merupakan bilangan prima
c. Saya akan memberi anda uang apabila saya lulus ujian atau saya mendapat hadiah
TTS
Jawab
a. P = saya berlibur ke Bali, Q = Saya lulus ujian
Kalimatnya menjadi : P Q
b. P = 273 habis dibagi 3, Q = 273 merupakan bilangan prima
Kalimatnya menjadi : P Q
c. P = Saya memberi Anda uang, Q = Saya lulus ujian, dan
R = saya mendapat hadiah TTS
Kalimatnya menjadi : (Q ∨ R) P

2. Tentukan nilai kebenaran pernyataan-pernyataan dibawah ini :
a. Jika Jakarta bukan ibukota RI, maka 9 juga bukan
bilangan prima
b. 2+2 = 2x2 hanya bila 2 =0
c. 2<3 merupakan syarat cukup untuk 2x2 < 3x3
Jawab :
a. Benar, karena anteseden salah (Jakarta bukan ibu
kota RI)
b. Salah, karena anteseden (2+2 = 2x2) benar sedangkn
konsekuennya (2 = 0 ) salah
c. Benar, karena konsekuennya (2x2 ,3x3) benar

Bi-Implikasi
BI-Implikasi dua pernyataan P dan Q adalah P↔Q yang dibaca “ P jika dan hanya
jika Q ” (disingkat P bhb Q) . Pernyataan Bi-implikasi bernilai benar jika P dan Q
keduanya bernilai sama, sedangkan jika nilai nilai P tidak sama dengan nilai Q maka nilai
pernyataan tersebut salah.

Tabel kebenarannya adalah :
15
P Q P <=> Q
T T T
T F F
F T F
F F T

Suatu pernyataan bentuk bi-implikasi dapat disajikan dengan :
1. P merupakan sarat perlu dan cukup untuk Q
2. P ekuivalen dengan Q
Contoh
X merupakan bilangan gasal bhb X habis dibagi 3
Jawab :
Misal P = X merupakan bilangan gasal
Q = X habis dibagi 3
Kalimatnya : P ↔ Q

Ekuivalen
Dua kalimat disebut ekuivalen(secara logika) jika dan hanya jika keduanya mempunyai
nilai kebenaran yang sama untuk semua substitusi nilai kebenaran masing-masing kalimat
penyusunnya.
Jika A dan B adalah kalimat-kalimat yang ekuivalen, maka dituliskan A ≡B (atau AB).
Jika A ≡B maka B ≡A juga.

Contoh 1 :
Tentukan apakah kalimat dibawah ini ekuivalen:
• -(-A) dengan A
• -(A Λ B) dengan -A Λ-B
• A=>B dengan –A V B



Buat tabel kebenaran untuk membuktikannya
A ~A ~(~A)
16
T F T
F T F
Contoh 2 :

Tentukan apakah kalimat dibawah ini ekuivalen:
• -(-A) dengan A, terbukti –(-A) ≡A
• -(A ΛB) dengan -A Λ-B
• A=>B dengan –A V B
Buat tabel kebenaran untuk membuktikannya
A B A Λ ΛΛ ΛB ~ (A Λ ΛΛ ΛB) ~A ~B ~ A Λ ΛΛ Λ~B
T T T F F F F
T F F T F T F
F T F T T F F
F F F T T T T

Contoh 3 :
Tentukan apakah kalimat dibawah ini ekuivalen:
• -(-A) dengan A, terbukti –(-A) ≡A
• -(A ΛB) ≡-A Λ-B, (tidak terbukti)
• A=>B dengan –A V B
Buat tabel kebenaran untuk membuktikannya
A B A => B ~A ~A V B
T T T F T
T F F F F
F T T T T
F F T T T
Terbukti A => B ≡ ~A V B






Hukum-hukum Ekuivalensi Logika :
1. Hukum Komutatif:
17
• p Λq ≡ q Λp,
• P V q ≡ q V p.
2. Hukum Asosiatif:
• (p Λq) Λr ≡ p Λ(q Λr),
• (p V q) V r ≡ p V (q V r)
3. Hukum Distributif:
• p Λ(q V r) ≡ (p Λq) V (p Λr),
• p V (q Λr ) ≡ (p V q) Λ(p V r)
4. Hukum Identitas:
• p ΛT ≡ p,
• p V F ≡p
5. Hukum Ikatan:
• p V T ≡ T,
• p ΛF ≡F
6. Hukum Negasi:
• p v ⌐p ≡T,
• P ^ ⌐p ≡F.
7. Hukum Negasi Ganda:
• ⌐(⌐)p ≡p
8. Hukum Idempoten:
• p^p ≡p,
• pvp ≡p
9. Hukum De Morgan:
• ⌐(p^q) ≡⌐p v ⌐q
• ⌐(pvq) ≡⌐p ^ ⌐q
10. Hukum Absorbsi:
• p v (p^q) ≡ p,
• p ^ (p v q) ≡ p
11. Negasi T dan F:
• ⌐T ≡ F, ⌐F ≡ T
12. Hukum Implikasi:
• p=>q ≡ ⌐p v q

18
13. Hukum Kontraposisi:
• p=>q ≡⌐q => ⌐p,
14. Hukum Biimplikasi:
• ⌐T ≡F,
• p q ≡ (p=>q) ^(q=>p)
15. Negasi Q, Sama Dengan P
• (pΛq) v (p^⌐q) ≡p,
• (pvq) ^ (pv⌐q) ≡p,
16. Negasi P, Sama Dengan Q
• (pΛq)v(⌐p^q) ≡q,
• (pvq) ^ (⌐pvq) ≡q,


Penyederhanaan
Contoh : Sederhanakan bentuk
• ⌐(⌐A ^ B)^(AvB) ≡ (⌐(⌐A)v ⌐B) ^ (AvB)
≡ (Av ⌐B) ^ (AvB)
≡ Av( ⌐B ^B)
≡ AvF
≡ A
• -(Av-B)v(-A^-B) ≡ -A
• -(Av-B)v(-A^-B) ≡ (-A^-(-B))v(-A^-B)
≡ (-A^B)v(-A^-B)
≡ -A^(Bv-B)
≡ -A^T
≡ -A
• (pvF)^(pv-p) ≡ p^(pv-p)
≡ p^T
≡ p
• -p =>-(p=>-q) ≡ --pv-(p=>-q)
≡ --pv-(-pv-q)
≡ --pv(--p^--q)
≡ pv(p^q)≡p

19

Tautologi, Kontradiksi dan Contingent
Tautologi adalah suatu bentuk kalimat yang selalu bernilai benar (True) tidak peduli
bagaimanapun nilai kebenaran masing-masing kalimat penyusunnya, sebaliknya
kontradiksi adalah suatu bentuk kalimat yang selalu bernilai salah (False), tidak peduli
bagaimanapun nilai kebenaran masing-masing kalimat penyusunnya.
Dalam tabel kebenaran, suatu tautologi selalu bernilai True pada semua barisnya
dan kontradiksi selalu bernilai False pada semua baris. Kalau suatu kalimat tautologi
diturunkan lewat hukum-hukum yang ada maka pada akhirnya akan menghasilkan True,
sebaliknya kontradiksi akan selalu bernilai False.
Jika pada semua nilai kebenaran menghasilkan nilai F dan T, maka disebut formula
campuran (contingent).
Contoh :
1. Tunjukkan bahwa pV(¬p) adalah tautologi!
P ¬P P V (¬P)
T T T
T F T
F T T
F F T

2. Tunjukkan bahwa (pVq) V [(¬p) ∧ (¬q)] adalah tautologi!
p
q
¬p
¬q
¬p ∧ ∧∧ ∧ ¬q (pVq) V [(¬p) ∧ ∧∧ ∧ (¬q)]
T T T F F T
T F F T F T
F T T F F T
F F F T T T

3. Tunjukkan bahwa (pVq) ∧ [(¬p) ∧ (¬q)] adalah kontradiksi!
p
q
¬p
¬q
¬p ∧ ∧∧ ∧ ¬q (pVq) ∧ ∧∧ ∧ [(¬p) ∧ ∧∧ ∧ (¬q)]
T T T F F F
T F F T F F
F T T F F F
F F F T T F



20

4. Tunjukkan bahwa [(p ∧ q) => r] => p adalah contingent!
p
q r
p ∧ ∧∧ ∧ q (p ∧ ∧∧ ∧ q) => r [(p ∧ ∧∧ ∧ q) => r] => p
T T T T T T
T T F T T T
T F T F F T
T F F F F T
F T T F T F
F T F F T F
F F T F T F
F F F F T F


KONVERS, INVERS, DAN KONTRAPOSISI
“Jika hari ini mendung maka Rafif membawa payung”
contoh konvers, invers, dan kontraposisi dari implikasi di atas :
Misal p : hari ini mendung
q : Rafif membawa payung
maka kalimatnya menjadi p => q atau jika menggunakan operator dan maka p => q
ekuivalen(sebanding/≈) dengan ¬p v q. Sehingga :
1. Konvers : q => p ≈ ¬q v p
Kalimat :
• Jika Rafif membawa payung maka hari ini mendung (q => p)
• Rafif tidak membawa payung atau hari ini mendung (¬q v p)
2. Invers : ¬p => ¬q ≈ p ∧¬q
Kalimat :
• Jika Rafif tidak membawa payung maka hari ini tidak mendung (¬p => ¬q)
• Rafif membawa payung dan hari ini tidak mendung (p ∧¬q)
4. Kontraposisi : ¬q => ¬p ≈ q v ¬p
Kalimat :
• Jika hari ini tidak mendung maka Rafif tidak membawa payung (¬q =>¬p)
• hari ini mendung atau Rafif tidak membawa payung dan (q ∧ ¬p)


21
Inferensi Logika
Nilai kebenaran suatu argumen ditentukan sebagai berikut :
“ Suatu argumen P1,P2,…………,,Pn _ Q dikatakan benar (valid) jika Q bernilai benar
untuk semua premis yang benar dan argumen dalam keadaan selain itu dikatakan salah
(invalid/fallacy)”.
Dengan kata lain, suatu argumen dikatakan valid apabila untuk sembarang pernyataan
yang disubtitusikan ke dalam premis, jika semua premis benar maka konklusinya juga
benar. Sebaliknya jika semua premis benar tetapi konklusinya ada yang salah maka
argumen tersebut dikatakan invalid (fallacy).
Jadi suatu argumen dikatakan valid jika dan hanya jika proposisi P1∧P2∧........∧Pn) |- Q
adalah sebuah Tautologi.
Contoh :
1. Premis
P1 : Jika Office dan Delphi diperlukan maka semua orang akan belajar computer
P2 : Office dan Delphi diperlukan
Konklusi
Q : Semua orang akan belajar computer
Jika ditulis dalam bentuk notasi logika
Misal p : Office dan Delphi diperlukan
q : Semua orang belajar computer
Maka argumen diatas dapat ditulis :
p => q, p |- q (valid)
2. Misal p : Saya suka kalkulus
q : Saya lulus ujian kalkulus
Maka argumen p _ q, p _ q dapat ditulis
P1 : Jika saya suka kalkulus, maka saya akan lulus ujian kalkulus
P2 : Saya lulus ujian kalkulus
∴ Saya lulus ujian kalkulus (valid)

Untuk mengetahui suatu argumen apakah valid atau tidak maka dapat dilakukan langkah-
langkah sebagai berikut :
1. Tentukan premis dan konklusi argument
2. Buat tabel yang menunjukkan nilai kebenaran untuk semua premis dan konklusi.
3. Carilah baris kritis yatitu baris diman semua premis bernilai benar.
22
4. Dalam baris kritis tersebut, jika nilai kesimpulan semuanya benar maka argumen
tersebut valid. Jika diantara baris kritis tersebut ada baris dengan nilai konklusi
salah maka argumen tersebut tidak valid.


Sistem Pembuktian / Penarikan Kesimpulan
A. MODUS PONEN
Modus ponen atau penalaran langsung adalh salah satu metode inferensi dimana jika
diketahui implikasi ” Bila p maka q ” yang diasumsikan bernilai benar dan
antasenden (p) benar. Supaya implikasi p_q bernilai benar, maka q juga harus bernilai
benar.
Modus Ponen : p => q , p |- q
atau dapat juga ditulis
p => q
p
______
∴ q

Contoh :
Jika digit terakhir suatu bilangan adalah 0, maka bilangan tersebut habis dibagi 10
Digit terakhir suatu bilangan adalah 0
____________________________________
∴ Bilangan tersebut habis dibagi 10

B. MODUS TOLLENS
Bentuk modus tollens mirip dengan modus ponen, hanya saja premis kedua dan
kesimpulan merupakan kontraposisi premis pertama modus ponen. Hal ini
mengingatkan bahwa suatu implikasi selalu ekuivalen dengan kontraposisinya.
Modus Tollens : p => q, ¬q |- ¬p
Atau dapat juga ditulis
p => q
¬q
_______
∴ ¬p
Contoh :
Jika digit terakhir suatu bilangan adalah 0, maka bilangan tersebut habis dibagi 10
Suatu bilangan tidak habis dibagi 10
____________________________________
∴ Digit terakhir bilangan tersebut bukan 0

23
C. PENAMBAHAN DISJUNGTIF (ADDITION)
Inferensi penambahan disjungtif didasarkan atas fakta bahwa suatu kalimat dapat
digeneralisasikan dengan penghubung ”v”. Alasannya adalah karena penghubung ”v”
bernilai benar jika salah satu komponennya bernilai benar. Misalnya saya mengatakan
”Langit berwarna biru” (bernilai benar). Kalimat tersebut tetap akan bernilai benar
jika ditambahkan kalimat lain dengan penghubung ”v”. Misalnya ”Langit berwarna
biru atau
bebek adalah binatang menyusui”. Kalimat tersebut tetap bernilai benar meskipun
kalimat ”Bebek adalah binatang menyusui”, merupakan kalimat yang bernilai salah.
Addition : p _(pÚq) atau q _ (pÚq)
Atau dapat ditulis
p atau q
____ ____
∴ pvq ∴ pv q
Contoh :
Simon adalah siswa SMU
______________________________
∴Simon adalah siswa SMU atau SMP

D. PENYEDERHAAN KONJUNGTIF (SIMPLIFICATION)
Inferensi ini merupakan kebalikan dari inferensi penambahan disjungtif. Jika
beberapa kalimat dihubungkan dengan operator ”∧”, maka kalimat tersebut dapat
diambil salah satunya secara khusus (penyempitan kalimat).
Simplification : (p∧q) |- p atau (p∧q) |- q
Atau dapat ditulis
p∧q atau p∧q
____ ____
∴ p ∴ q
Contoh :
Langit berwarna biru dan bulan berbentuk bulat
__________________________________________________
∴ Langit berwarna biru atau ∴ Bulan berbentuk bulat

E. SILOGISME DISJUNGTIF
Prinsip dasar Silogisme Disjungtif (Disjunctive syllogism) adalah kenyataan bahwa
apabila kita dihadapkan pada satu diantara dua pilihan yang ditawarkan (A atau B).
24
Sedangkan kita tidak memilih/tidak menyukai A, maka satu-satunua pilihan adalah
memilih B. Begitu juga sebaliknya.
Silogisme Disjungtif : pv q, ¬p |- q dan pvq, ¬q |- p
Atau dapat ditulis
p v q atau pvq
¬p ¬q
____ ____
∴ q ∴ p
Contoh :
Saya pergi ke mars atau ke bulan
Saya tidak pergi ke mars
__________________________
∴ Saya pergi ke bulan

F. SILOGISME HIPOTESIS (TRANSITIVITY)
Prinsip silogisme hipotesis adalah sifat transitif pada implikasi. Jika implikasi p=>q
dan q=>r keduanya bernilai benar, maka implikasi p=>r bernilai benar pula.
Transitivity : p=>q , q=>r |- p=>r
Atau dapat ditulis
p=>q
q=>r
_____
∴ p=>r
Contoh :
Jika hari hujan maka tanahnya menjadi berlumpur
Jika tanahnya berlumpur maka sepatu saya akan kotor
____________________________________________
∴ Jika hari hujan maka sepatu saya akan kotor.

G. KONJUNGSI
Jika ada dua kalimat yang masing-masing benar, maka gabungan kedua kalimat
tersebut dengan menggunakan penghubung ”∧” juga bernilai benar.
Konjungsi
p
q
____
∴ p∧q

H. DILEMA
25
Kadang-kadang, dalam kalimat yang dihubungkan dengan penghubung ”v”, masing-
masing kalimat dapat mengimplikasikan sesuatu yang sama. Berdasarkan hal itu
maka suatu kesimpulan dapat diambil.
Dilema :
pvq
p=>r
q=>r
_____
∴r
26
BAB III
KUANTIFIKASI

Dalam Bab ini akan mempelajari konsep dasar konstanta, variabel, kalimat
terbuka, kuantor dan ingkaran kalimat sebagai konsep penalaran dalam logika
informatika.

Variabel dan Konstanta
Variabel adalah simbol yang menunjukan suatu anggota yang belum spesifik dalam
semesta pembicaraan. Sedangkan konstanta adalah simbol yang menunjukan suatu
anggota tertentu (yang sudah spesifik) dalam semesta pembicaraan. Untuk dapat
berbicara tentang anggota tertentu dari semestanya, diperlukan suatu simbol atau tanda
yaitu suatu nama dari anggota tersebut.
Contoh 1 :
Misalnya ada pernyataan “Niken”, “Ais”, “Aji” adalah nama orang, dimana
semestanya adalah himpunan orang-orang. Jika semestanya himpunan bilangan-bilangan,
maka angka 5, angka 211 adalah suatu simbol untuk bilangan-bilangan yang disajikan.
Simbol seperti itu disebut Konstanta. Jadi konstanta adalah suatu simbol atau tanda yang
diucapkan atau ditulis untuk menunjukkan tentang anggota tertentu dari semestanya.
Jika hendak berbicara tentang anggota sembarang dari semestanya, maka
diperlukan suatu tanda-tanda lain dari konstanta. Tanda demikian yang dimaksud adalah
variabel (atau perubah). Jadi variabel adalah suatu simbol atau tanda yang digunakan
untuk menunjuk pada anggota sembarang dari semesta pembicaranya.
Contoh 2 :
Misalnya semesta pembicaranya terdiri atas mereka yang kuliah pada sebuah
universitas (perguruan tinggi) maka kata “mahasiswa” menunjuk pada anggota
sembarang dari semesta pembicaranya.
Contoh 3 :
Pehatikan beberapa pernyataan berikut:
(a). Manusia makan nasi
(b). Manusia memakai sepatu
(c). 4 + x = 7
(d). p < 5
27
Suatu pernyataan mempunyai nilai benar atau salah tergantung pada kesesuaian
kalimat tersebut dengan keadaan sesungguhnya. Bernilai benar jika keadaan
sesungguhnya sesuai dengan realita yang ada, jika sebaliknya bernilai salah. Pernyataan
seperti ini biasanya disebut pernyataan faktual.
Jika pernyataan (a) manusia diganti Tony, maka pernyataannya menjadi “Toni
makan nasi”. Pernyataan ini jelas bernilai benar saja atau salah saja, tergantung
realitasnya. Demikian juga untuk pernyataan (b) akan menjadi pernyataan “Tony
memakai sepatu” pernyataan ini akan menjadi jelas nilainya, yaitu benar atau salah
tergantung realitasnya.
Pada pernyataan (c) jika x diganti 3, akan bernilai benar. tetapi jika x diganti 4 akan
bernilai salah. Demikian juga untuk pernyataan (d) jika p diganti “0 atau 1, atau 2, atau 3,
atau 4” akan bernilai benar untuk semesta pembicaraan himpunan bilangan cacah, tetapi
jika semestanya himpunan bilangan asli, maka pernyataan akan bernilai salah.
Kata-kata “manusia”, “x” , “p” pada pernyataan diatas disebut variabel. Sedangkan
pengganti katanya yaitu “Tony”, “3”, “4”, dan “0,1,2,3,4” disebut konstanta.
Jika semesta pembicaranya bilangan-bilangan maka variabel yang dimaksudkan
adalah variabel numerik. Dalam hal ini, variabel adalah tanda-tanda, yang biasanya
dipilih huruf kecil dari abjad “x”, “y” dan seterusnya.

Kalimat terbuka
Pernyataan-pernyataan dalam contoh 3 di atas disebut kalimat (pernyataan)
terbuka. Jika variabel dalam kalimat terbuka sudah diganti dengan konstanta yang sesuai,
maka pernyataan yang terjadi dikatakan sebagai pernyataan tertutup.
Pernyataan terbuka adalah suatu pernyataan yang memuat variabel, dan jika
variabel tersebut diganti konstanta yang sesuai dengan semestanya maka pernyataanya
akan bernilai benar saja atau salah saja. Jadi pernyataan terbuka merupakan pernyataan
yang belum mempunyai nilai kebenaran, belum bernilai benar atau salah.
Misalkan pernyataan terbuka ini dengan simbol/notasi “p(x)”. Huruf ”p”, “q” ,
....dan seterusnya disini hanyalah sebuah simbol/notasi dalam pengkajian suatu sifat,
hanya untuk mempermudah dalam pembicaraan selanjutnya. Misalnya: “p (x)” ini
merupakan kalimat terbuka, dan diucapkan sebagai “obyek x mempunyai sifat p”.
Variabel yang terdapat dalam rangkaian tanda “p(x)” disebut variabel bebas. Disini
“p(x)” , tidak bernilai benar atau salah. Pernyataan ini disebut pernyataan terbuka.
28
Agar pernyataan terbuka “p(x)” ini mempunyai nilai salah atau benar (yaitu
menjadi pernyataan deklaratif), maka jika perlu semua variabel bebas di dalamnya diganti
dengan suatu konstanta. Ada cara yang lazim digunakan untuk merubah pernyataan
terbuka ini menjadi pernyataan deklaratif, yaitu dengan membubuhkan suatu kuantor.
Yang dimaksud kuantor disini adalah kuantor universal atau kuantor eksistensial di depan
pernyataan “p(x)”.

Kuantor
Cara lain untuk mendapat kalimat deklaratif dari suatu pernyataan adalah dengan
menggunakan kuantor, yaitu menentukan kuantifikasi obyeknya
Ada dua jenis kuantor yaitu :
1. Kuantor universal (∀)
2. Kuantor eksistensial (∃)
Contoh :
• Setiap laki-laki harus wajib militer
• Ada beberapa laki-laki yang tidak wajib militer
Ditulis sebagai berikut :
• Untuk setiap x, jika x laki-laki maka x harus wajib militer
• Terdapat x sehingga x laki-laki dan x tidak wajib militer.
Kuantor pernyataan
Jika p adalah menunjukkan sifat “laki-laki” dan q menunjukkan sifat “wajib militer”,
maka kalimat tersebut dapat ditulis :
1. (∀x)p(x)→q(x)
dan
2. (∃x)p(x) ∧ q(x)
Secara umum :
Kuantor universal selalu diikuti dengan bentuk Implikasi dan Kuantor eksistensial selalu
diikuti dng bentuk konjungsi

Hubungan Kuantor ∀ dan ∃
Pandang contoh sebagai berikut :
Pernyataan p : “Setiap peserta kuliah Logika informatika mendapat nilai A”
Ingkarannya :
29
~p adalah : “Tidak setiap peserta kuliah logika informatika mendapat nilai A”
atau boleh dikatakan : “ Ada peserta kuliah logika informatika mendapat nilai tidak A
(mis B)”
Jika dua pernyataan tersebut ditulis dengan kuantor dan semesta pembicaraannya adalah
semua peserta kuliah logika informatika, maka kalimat pertama :
p : (∀x)A(x)
( A adalah sifat mendapat nilai A)
dan yang kedua (neg) :
~p : (∃x)A(x)

Negasi kuantor
Hubungan antara kuantor universal dengan kuantor eksistensial
E1 : ( ∀ x ) p ( x ) ≡ ( ∃ x ) p ( x )
E2 : ( ∃ x ) p ( x ) ≡ ( ∀ x ) p ( x )
E3 : (∀x)p(x)→q(x) ≡ (∃x)p(x) ∧ q(x)
E4 : (∃x)p(x) ∧ q(x) ≡ (∀x)p(x)→q(x)
Jika suatu predikat menyangkut lebih dari satu obyek, misalnya p(x,y), maka perlu
dibicarakan suatu pernyataan dengan lebih dari satu kuantor. Kombinasi kuantor yang
mungkin untuk predikat p(x,y) adalah :
(∀x)(∀y)p(x,y) ; (∀x)(∃y)p(x,y) ; (∃x)(∀y)p(x,y)
(∃x)(∃y)p(x,y) ; (∀x)(∀y)p(x,y) ; (∃x)(∀y)p(x,y)
(∀x)(∃y)p(x,y) ; (∃x)(∃y)p(x,y)
Didapat rumusan sbb :
1. (∀x) (∀y) p(x,y) ↔ (∀y) (∀x) p(x,y)
2. (∀x) (∀y) p(x,y) → (∃y) (∀x) p(x,y)
3. (∃y) (∀x) p(x,y) → (∀x) (∃y) p(x,y)
4. (∀x) (∃y) p(x,y) → (∃y) (∃x) p(x,y)
5. (∃x) (∃y) p(x,y) ↔ (∃y) (∃x) p(x,y)

Ingkaran kalimat
Negasi dari “Semua manusia tidak kekal” adalah “tidak benar bahwa semua
manusia tidak kekal ” atau “Beberapa manusia tidak kekal”. Jika p(x) adalah manusia
(=x) tidak kekal, maka “Semua manusia adalah tidak kekal” atau ∀x p( x ) bernilai benar
30
dan “beberapa manusia tidak kekal” atau ∃x p( x ) bernilai salah.

Jadi ingkaran dari kuantor universal (∀x) p(x) dinyatakan dengan simbol logika :
[∀x p(x)] ≡ ∃x : p(x) atau (∀x) p(x) ≡ (∀x) p(x) ≡ (∃x) p(x)
Jadi negasi dari suatu pernyataan yang memuat kuantor universal adalah ekivalen
dengan pernyataan yang memuat kuantifikasi eksistensial (fungsi pernyataan yang
dinegasikan) dan sebaliknya.
Ingkaran dari kuantor eksistensial (∃x) p(x) dinyatakan dengan ) ( ) ( x p x ∃ dinyatakan
dengan simbol logika: [∃x p(x)] ≡ ∀x : p(x) atau ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( x p x x p x x p x ∀ = ∃ = ∃
Jadi negasi dari suatu pernyataan yang memuat kuantor eksistensial adalah ekivalen
dengan pernyataan yang memuat kuantifikasi universal (fungsi pernyataan yang
dinegasikan)

Contoh 1 :
H(x) : x hidup
M(x) : x mati
(∀x)(H(x) v M(x)) dibaca “Untuk semua x, x hidup atau x mati”
Akan tetapi jika ditulisnya (∀x)(H(x)) v M(x) maka dibaca “Untuk semua x hidup, atau x
mati”. Pada “x mati”, x tidak terhubing dengan kuantor universal, yang terhubung
hanya”x hidup”. Sekali lagi, perhatikan penulisan serta peletakan tanda kurungnya.
Secara umum, hubungan antara penempatan kuantor ganda adalah sebagai berikut :
(∀x)( ∀y) P(x,y) ≡ (∀y)( ∀x) P(x,y)
(∃x)( ∃y) P(x,y) ≡ (∃y)( ∃x) P(x,y)
(∃x)( ∀y) P(x,y) ≡ (∀y)( ∃x) P(x,y)
Ingkaran kalimat berkuantor ganda dilakukan dengan cara yang sama seperti ingkaran
pada kalimat berkuantor tunggal.
¬[(∃x)( ∀y) P(x,y)] ≡ (∀x)( ∃y) ¬P(x,y)
¬[(∀x)( ∃y) P(x,y)] ≡ (∃x)( ∀y) ¬P(x,y)

Contoh 2 :
Tentukan negasi dari logika predikat berikut ini :
31
1. (∀x)( ∃ y) x=2y dengan domainnya adalah bilangan bulat
(∀x)( ∃y) x=2y dibaca “Untuk semua bilangan bulat x, terdapat
bilangan bulat y yang memenuhi x=2y. Maka negasinya :
¬[(∀x)( ∃y) x=2y] ≡ (∃x)( ∀y) x≠2y
2. Ada toko buah yang menjual segala jenis buah
Dapat ditulis (∃x)( ∀y) x menjual y. Maka negasinya
¬[(∃x)( ∀y) x menjual y] ≡ (∀x)( ∃y) x tidak menjual y
Dibaca “Semua toko buah tidak menjual paling sedikit satu jenis buah”.
Mengubah pernyataan ke dalam logika predikat yang memiliki kuantor ganda
Misal : “Ada seseorang yang mengenal setiap orang”
Langkah-langkahnya :
1. Jadikan potongan pernyataan ”x kenal y”, maka akan menjadi K(x,y).
K(x,y) : x kenal y
2. Jadikan potongan pernyataan ”x kenal semua y”, sehingga menjadi
(∀y) K(x,y)
3. Jadikan pernyataan “ada x, yang x kenal semua y”, sehingga menjadi
(∃x)(∀y) K(x,y)

32
BAB IV
HIMPUNAN


Pada kehidupan sehari-hari seringkali untuk memperrmudah menyelesaikan suatu
masalah kita mengelompokkan suatu objek kedalam kategori-kategori tertentu. Misalnya
kelompok tumbuhan berdaun lebar, kelompok anak kecil., atau Himpunan Mahasiswa
Teknik Informatika (HIMATIF). Kelompok-kelompok tersebut dalam matematika ada
yang disebut himpunan, ada juga yang tidak masuk dalam kategori himpunan.

Definisi himpunan dalam matematika adalah sebagai berikut:
Definisi Himpunan
Himpunan (set) adalah kumpulan objek-objek yang berbeda dan terdefinisi dengan baik.

Himpunan biasanya dilambangkan dengan huruf besar, sedangkan objek di dalam
himpunan disebut yang biasa dissebut elemen, unsur, atau anggota. Dilambangkan
dengan huruf kecil.

Contoh 1:
HIMATIF adalah sebuah himpunan, di dalamnya berisi anggota berupa mahasiswa, dan
tiap mahasiswa berbeda satu sama lain.

Keanggotaan
Suatu objek disebut anggota dalam suatu himpunan apabila memenuhi kriteria dalam
himpunan tersebut, dan dinotasikan sebagai berikut:

x ∈ A : x merupakan anggota himpunan A;
x ∉ A : x bukan merupakan anggota himpunan A.

Contoh 2.
Misalkan: A = {1, 2, 3, 4}, R = { a, b, {a, b, c}, {a, c} } dan K = {{}}
maka
3 ∈ A
33
{a, b, c} ∈ R
c ∉ R
{} ∈ K
{} ∉ R

Contoh 3.
Bila P
1
= {a, b}, P
2
= { {a, b} }, dan P
3
= {{{a, b}}},
maka
a ∈ P
1

a ∉ P
2

P
1
∈ P
2

P
1
∉ P
3

P
2
∈ P
3


Cara Penyajian Himpunan
Cara penyajian himpunan ada beberapa macam yaitu:
1. Enumerasi
Enumerasi mendaftarkan semua anggota himpunan satu persatu.

Contoh :
- Himpunan empat bilangan asli pertama: A = {1, 2, 3, 4}.
- Himpunan lima bilangan genap positif pertama: B = {4, 6, 8, 10}.
- C = {kucing, a, Amir, 10, paku}
- R = { a, b, {a, b, c}, {a, c} }
- C = {a, {a}, {{a}} }
- K = { {} }
- Himpunan 100 buah bilangan asli pertama: {1, 2, ..., 100 }
- Himpunan bilangan bulat ditulis sebagai {…, -2, -1, 0, 1, 2, …}.



2. Simbol-simbol Baku

34
P = himpunan bilangan bulat positif = { 1, 2, 3, ... }
N = himpunan bilangan alami (natural) = { 1, 2, ... }
Z = himpunan bilangan bulat = { ..., -2, -1, 0, 1, 2, ... }
Q = himpunan bilangan rasional
R = himpunan bilangan riil
C = himpunan bilangan kompleks

Himpunan yang universal: semesta, disimbolkan dengan U.
Contoh: Misalkan U = {1, 2, 3, 4, 5} dan A adalah himpunan bagian dari U,
dengan A = {1, 3, 5}.

3. Notasi Pembentuk Himpunan
Notasi: { x ( syarat yang harus dipenuhi oleh x }

Contoh 4.
(i) A adalah himpunan bilangan bulat positif kecil dari 5
A = { x | x bilangan bulat positif lebih kecil dari 5}
atau A = { x | x ∈ P, x < 5 }
yang ekivalen dengan A = {1, 2, 3, 4}

(ii) M = { x | x adalah mahasiswa yang mengambil kuliah IF2151}

4. Diagram Venn

Contoh 5.
Misalkan U = {1, 2, …, 7, 8},
A = {1, 2, 3, 5} dan B = {2, 5, 6, 8}.

Diagram Venn:



U
1
2
5
3 6
8
4
7
A B
35



Kardinalitas
Jumlah elemen di dalam A disebut kardinal dari himpunan A.
Notasi: n(A) atau A
Contoh 6.
(i) B = { x | x merupakan bilangan prima lebih kecil dari 20 },
atau B = {2, 3, 5, 7, 11, 13, 17, 19} maka |B| = 8
(ii) T = {kucing, a, Amir, 10, paku}, maka |T| = 5
(iii) A = {a, {a}, {{a}} }, maka |A| = 3

Himpunan kosong (null set)
Himpunan dengan kardinal = 0 disebut himpunan kosong (null set).
Notasi dari himpunan kosong adalah ∅ atau {}

Contoh 7.
(i) E = { x | x < x }, maka n(E) = 0
(ii) P = { orang Indonesia yang pernah ke bulan }, maka n(P) = 0
(iii) A = {x | x adalah akar persamaan kuadrat x
2
+ 1 = 0 }, n(A) = 0

• himpunan {{ }} dapat juga ditulis sebagai {∅}
• himpunan {{ }, {{ }}} dapat juga ditulis sebagai {∅, {∅}}
• {∅} bukan himpunan kosong karena ia memuat satu elemen yaitu himpunan kosong.

Himpunan Bagian (Subset)
Definisi Himpunan Bagian
Himpunan A dikatakan himpunan bagian dari himpunan B jika dan hanya jika setiap
elemen A merupakan elemen dari B.
• Dalam hal ini, B dikatakan superset dari A.
• Notasi: A ⊆ B
36

Diagram Venn:
U
A
B


Contoh 8.
(i) { 1, 2, 3} ⊆ {1, 2, 3, 4, 5}
(ii) {1, 2, 3} ⊆ {1, 2, 3}
(iii) N ⊆ Z ⊆ R ⊆ C
(iv) Jika A = { (x, y) | x + y < 4, x ≥, y ≥ 0 } dan
B = { (x, y) | 2x + y < 4, x ≥ 0 dan y ≥ 0 }, maka B ⊆ A.

TEOREMA 1. Untuk sembarang himpunan A berlaku hal-hal sebagai berikut:
(a) A adalah himpunan bagian dari A itu sendiri (yaitu, A ⊆ A).
(b) Himpunan kosong merupakan himpunan bagian dari A ( ∅ ⊆ A).
(c) Jika A ⊆ B dan B ⊆ C, maka A ⊆ C

• ∅ ⊆ A dan A ⊆ A, maka ∅ dan A disebut himpunan bagian tak sebenarnya (improper
subset) dari himpunan A.

Contoh: A = {1, 2, 3}, maka {1, 2, 3} dan ∅ adalah improper subset dari A.

• A ⊆ B berbeda dengan A ⊂ B
(i) A ⊂ B : A adalah himpunan bagian dari B tetapi A ≠ B.
A adalah himpunan bagian sebenarnya (proper subset) dari B.
Contoh: {1} dan {2, 3} adalah proper subset dari {1, 2, 3}

37
(ii) A ⊆ B : digunakan untuk menyatakan bahwa A adalah himpunan bagian (subset)
dari B yang memungkinkan A = B.

•Latihan
Misalkan A = {1, 2, 3} dan B = {1, 2, 3, 4, 5}. Tentukan semua kemungkinan
himpunan C sedemikian sehingga A ⊂ C dan C ⊂ B, yaitu A adalah proper subset dari C
dan C adalah proper subset dari B.


Jawaban:
C harus mengandung semua elemen A = {1, 2, 3} dan sekurang-kurangnya satu
elemen dari B.
Dengan demikian, C = {1, 2, 3, 4} atau C = {1, 2, 3, 5}.
C tidak boleh memuat 4 dan 5 sekaligus karena C adalah proper subset dari B.

Himpunan yang Sama
Definisi Himpunan yang Sama
Suatu himpunan A dikatakan sama dengan himpunan B (A = B) jika dan hanya jika setiap
elemen A merupakan elemen B dan sebaliknya setiap elemen B merupakan elemen A.
• A = B jika A adalah himpunan bagian dari B dan B adalah himpunan bagian dari A.
Jika tidak demikian, maka A ≠ B.
Notasi : A = B ↔ A ⊆ B dan B ⊆ A

Contoh 9.
(i) Jika A = { 0, 1 } dan B = { x | x (x – 1) = 0 }, maka A = B
(ii) Jika A = { 3, 5, 8, 5 } dan B = {5, 3, 8 }, maka A = B
(iii) Jika A = { 3, 5, 8, 5 } dan B = {3, 8}, maka A ≠ B
Untuk tiga buah himpunan, A, B, dan C berlaku aksioma berikut:
(a) A = A, B = B, dan C = C
(b) jika A = B, maka B = A
(c) jika A = B dan B = C, maka A = C
38

Himpunan yang Ekivalen

Definisi Himpunan yang Ekivalen
Himpunan A dikatakan ekivalen dengan himpunan B jika dan hanya jika kardinal dari
kedua himpunan tersebut sama.

Notasi : A ~ B ↔ |A| = |B|

Contoh 10.
Misalkan A = { 1, 3, 5, 7 } dan B = { a, b, c, d }, maka
A ~ B sebab |A| = |B| = 4

Himpunan Saling Lepas

Definisi Himpunan Saling Lepas
Dua himpunan A dan B dikatakan saling lepas (disjoint) jika keduanya tidak memiliki
elemen yang sama.

Notasi : A // B

Diagram Venn:
U
A
B


Contoh 11.
Jika A = { x | x ∈ P, x < 8 } dan B = { 10, 20, 30, ... }, maka A // B.

Himpunan Kuasa
39
Definisi Himpunan Kuasa
Himpunan kuasa (power set) dari himpunan A adalah suatu himpunan yang elemennya
merupakan semua himpunan bagian dari A, termasuk himpunan kosong dan himpunan A
sendiri.

Notasi : P(A) atau 2
A


Jika |A| = m, maka |P(A)| = 2
m
.

Contoh 12.
Jika A = { 1, 2 }, maka P(A) = { ∅, { 1 }, { 2 }, { 1, 2 }}

Contoh 13.
Himpunan kuasa dari himpunan kosong adalah P(∅) = {∅}, dan himpunan kuasa dari
himpunan {∅} adalah P({∅}) = {∅, {∅}}.

Operasi Terhadap Himpunan
1. Irisan (intersection)
Notasi : A ∩ B = { x , x ∈ A dan x ∈ B }

Contoh 14.
(i) Jika A = {2, 4, 6, 8, 10} dan B = {4, 10, 14, 18}, maka A ∩ B = {4, 10}
(ii) Jika A = { 3, 5, 9 } dan B = { -2, 6 }, maka A ∩ B = ∅. Artinya: A // B

2. Gabungan (union)
40
Notasi : A ∪ B = { x , x ∈ A atau x ∈ B }

Contoh 15.
(i) Jika A = { 2, 5, 8 } dan B = { 7, 5, 22 }, maka A ∪ B = { 2, 5, 7, 8, 22 }
(ii) A ∪ ∅ = A
3. Komplemen (complement)

Notasi : A = { x , x ∈ U, x ∉ A }



Contoh 16.
Misalkan U = { 1, 2, 3, ..., 9 },
(i) jika A = {1, 3, 7, 9}, maka A = {2, 4, 6, 8}
(ii) jika A = { x | x/2 ∈ P, x < 9 }, maka A= { 1, 3, 5, 7, 9 }

Contoh 17. Misalkan:
A = himpunan semua mobil buatan dalam negeri
B = himpunan semua mobil impor
C = himpunan semua mobil yang dibuat sebelum tahun 1990
41
D = himpunan semua mobil yang nilai jualnya kurang dari Rp 100 juta
E = himpunan semua mobil milik mahasiswa universitas tertentu

(i) “mobil mahasiswa di universitas ini produksi dalam negeri atau diimpor dari luar
negeri” (E ∩ A) ∪ (E ∩ B) atau E ∩ (A ∪ B)
(ii) “semua mobil produksi dalam negeri yang dibuat sebelum tahun 1990 yang nilai
jualnya kurang dari Rp 100 juta” A ∩ C ∩ D
(iii) “semua mobil impor buatan setelah tahun 1990 mempunyai nilai jual lebih dari Rp
100 juta” B D C ∩ ∩

4. Selisih (difference)

Notasi : A – B = { x , x ∈ A dan x ∉ B } = A ∩ B



Contoh 18.
(i) Jika A = { 1, 2, 3, ..., 10 } dan B = { 2, 4, 6, 8, 10 }, maka A – B = { 1, 3, 5, 7, 9 } dan
B – A = ∅
(ii) {1, 3, 5} – {1, 2, 3} = {5}, tetapi {1, 2, 3} – {1, 3, 5} = {2}

5. Beda Setangkup (Symmetric Difference)
Notasi: A ⊕ B = (A ∪ B) – (A ∩ B) = (A – B) ∪ (B – A)



42




Contoh 19.
Jika A = { 2, 4, 6 } dan B = { 2, 3, 5 }, maka A ⊕ B = { 3, 4, 5, 6 }
Contoh 20. Misalkan
U = himpunan mahasiswa
P = himpunan mahasiswa yang nilai ujian UTS di atas 80
Q = himpunan mahasiswa yang nilain ujian UAS di atas 80
Seorang mahasiswa mendapat nilai A jika nilai UTS dan nilai UAS keduanya di atas 80,
mendapat nilai B jika salah satu ujian di atas 80, dan mendapat nilai C jika kedua ujian di
bawah 80.
(i) “Semua mahasiswa yang mendapat nilai A” : P ∩ Q
(ii) “Semua mahasiswa yang mendapat nilai B” : P ⊕ Q
(iii) “Semua mahasiswa yang mendapat nilai C” : U – (P ∪ Q)

TEOREMA 2. Beda setangkup memenuhi sifat-sifat berikut:
(a) A ⊕ B = B ⊕ A (hukum komutatif)
(b) (A ⊕ B ) ⊕ C = A ⊕ (B ⊕ C ) (hukum asosiatif)

6. Perkalian Kartesian (cartesian product)
Notasi: A × B = {(a, b) | a ∈ A dan b ∈ B }

Contoh 20.
(i) Misalkan C = { 1, 2, 3 }, dan D = { a, b }, maka
C × D = { (1, a), (1, b), (2, a), (2, b), (3, a), (3, b) }
(ii) Misalkan A = B = himpunan semua bilangan riil, maka
A × B = himpunan semua titik di bidang datar
Catatan:
1. Jika A dan B merupakan himpunan berhingga, maka:
|A × B| = |A| . |B|.
2. (a, b) ≠ (b, a).
43
3. A × B ≠ B × A dengan syarat A atau B tidak kosong.

Pada Contoh 20(i) di atas, C = { 1, 2, 3 }, dan D = { a, b },
D × C = {(a, 1), (a, 2), (a, 3), (b, 1), (b, 2), (b, 3) }
C × D = { (1, a), (1, b), (2, a), (2, b), (3, a), (3, b) }
D × C ≠ C × D.

4. Jika A = ∅ atau B = ∅, maka A × B = B × A = ∅
Contoh 21. Misalkan
A = himpunan makanan = { s = soto, g = gado-gado, n = nasi goreng, m = mie
rebus }
B = himpunan minuman = { c = coca-cola, t = teh, d = es dawet }
Berapa banyak kombinasi makanan dan minuman yang dapat disusun dari kedua
himpunan di atas?

Jawab:
|A × B| = |A|⋅|B| = 4 ⋅ 3 = 12 kombinasi dan minuman, yaitu {(s, c), (s, t), (s, d), (g,
c), (g, t), (g, d), (n, c), (n, t), (n, d), (m, c), (m, t), (m, d)}.
Contoh 21. Daftarkan semua anggota himpunan berikut:
(a) P(∅) (b) ∅ × P(∅) (c) {∅}× P(∅) (d) P(P({3}))
Penyelesaian:
(a) P(∅) = {∅}
(b) ∅ × P(∅) = ∅ (ket: jika A = ∅ atau B = ∅ maka A × B = ∅)
(c) {∅}× P(∅) = {∅}× {∅} = {(∅,∅))
(d) P(P({3})) = P({ ∅, {3} }) = {∅, {∅}, {{3}}, {∅, {3}} }

Latihan

Misalkan A adalah himpunan. Periksalah apakah setiap pernyataan di bawah ini benar
atau salah dan jika salah, bagaimana seharusnya:
44

(a)
) ( ) ( A P A P A = ∩

(b)
) ( ) ( } { A P A P A = ∪

(c)
A A P A = − ) (

(d)
) ( } { A P A ∈

(e)
) ( A P A ⊆


Jawaban:
(a) salah, seharusnya ∅ = ∩ ) ( A P A
(b) benar
(c) benar
(d) salah, seharusnya ) ( } { A P A ⊆
(e) salah, seharusnya ) ( A P A∈

Perampatan Operasi Himpunan
I
n
i
i n
A A A A
1
2 1
...
=
= ∩ ∩ ∩

U
n
i
i n
A A A A
1
2 1
...
=
= ∪ ∪ ∪

i
n
i
n
A A A A
1
2 1
...
=
× = × × ×

i
n
i
n
A A A A
1
2 1
...
=
⊕ = ⊕ ⊕ ⊕

Contoh 22.

(i) A ∩(B
1
∪B
2
∪ ... ∪B
n
) = (A∩ B
1
) ∪ (A ∩ B
2
) ∪ ... ∪ (A ∩ B
n
)
U U
n
i
i
n
i
i
B A B A
1 1
) ( ) (
= =
∩ = ∩


(ii) Misalkan A = {1, 2}, B = {a, b}, dan C = {α, β}, maka
A × B × C = {(1, a, α), (1, a, β), (1, b, α), (1, b, β), (2, a, α), (2, a, β), (2, b, α), (2,
b, β) }
45

Hukum-hukum Himpunan
Hukum-hukum Himpunan disebut juga sifat-sifat (properties) himpunan atau disebut
juga hukum aljabar himpunan
1. Hukum identitas:
− A ∪ ∅ = A
− A ∩ U = A

2. Hukum null/dominasi:
− A ∩ ∅ = ∅
− A ∪ U = U

3. Hukum komplemen:
− A ∪ A = U
− A ∩ A = ∅
4. Hukum idempoten:
− A ∪ A = A
− A ∩ A = A

5. Hukum involusi:

) (A
= A

6. Hukum penyerapan (absorpsi):
− A ∪ (A ∩ B) = A
− A ∩ (A ∪ B) = A
7. Hukum komutatif:
− A ∪ B = B ∪ A
− A ∩ B = B ∩ A

8. Hukum asosiatif:
− A ∪ (B ∪ C) = (A ∪ B) ∪ C
− A ∩ (B ∩ C) = (A ∩ B) ∩ C

Hukum distributif:
− A ∪ (B ∩ C) = (A ∪ B) ∩ (A ∪ C)
− A ∩ (B ∪ C) = (A ∩ B) ∪ (A ∩ C)

10. Hukum De Morgan:

B A∩
=
B A∪


B A∪
=
B A∩

11. Hukum 0/1


= U

U
= ∅



Prinsip Dualitas
Prinsip dualitas adalah dua konsep yang berbeda dapat saling dipertukarkan namun tetap
memberikan jawaban yang benar.

Contoh: AS kemudi mobil di kiri depan
Inggris (juga Indonesia) kemudi mobil di kanan depan
Peraturan:
(a) di Amerika Serikat,
- mobil harus berjalan di bagian kanan jalan,
- pada jalan yang berlajur banyak, lajur kiri untuk mendahului,
46
- bila lampu merah menyala, mobil belok kanan boleh langsung
(b) di Inggris,
- mobil harus berjalan di bagian kiri jalan,
- pada jalur yang berlajur banyak, lajur kanan untuk mendahului,
- bila lampu merah menyala, mobil belok kiri boleh langsung

Prinsip dualitas:
Konsep kiri dan kanan dapat dipertukarkan pada kedua negara tersebut sehingga
peraturan yang berlaku di Amerika Serikat menjadi berlaku pula di Inggris

(Prinsip Dualitas pada Himpunan). Misalkan S adalah suatu kesamaan (identity) yang
melibatkan himpunan dan operasi-operasi seperti ∪, ∩, dan komplemen. Jika S*
diperoleh dari S dengan mengganti
∪ → ∩,
∩ → ∪,
∅ → U,
U → ∅,

sedangkan komplemen dibiarkan seperti semula, maka kesamaan S* juga benar dan
disebut dual dari kesamaan S.

1. Hukum identitas:
A ∪ ∅ = A

Dualnya:
A ∩ U = A
2. Hukum null/dominasi:
A ∩ ∅ = ∅

Dualnya:
A ∪ U = U

3. Hukum komplemen:
A ∪ A = U

Dualnya:
A ∩ A = ∅

4. Hukum idempoten:
A ∪ A = A

Dualnya:
A ∩ A = A

5. Hukum penyerapan:
A ∪ (A ∩ B) = A

Dualnya:
A ∩ (A ∪ B) = A
47
6. Hukum komutatif:
A ∪ B = B ∪ A

Dualnya:
A ∩ B = B ∩ A
7. Hukum asosiatif:
A ∪ (B ∪ C) = (A ∪ B) ∪ C

Dualnya:
A ∩ (B ∩ C) = (A ∩ B) ∩ C

Hukum distributif:
A ∪ (B ∩ C)=(A ∪ B) ∩ (A ∪ C)

Dualnya:
A ∩ (B ∪ C) = (A ∩ B) ∪ (A ∩ C)
9. Hukum De Morgan:

B A∪
=
A

B


Dualnya:

B A∩
=
A

B

10. Hukum 0/1

= U

Dualnya:

U
= ∅

Contoh 23. Dual dari (A ∩ B) ∪ (A ∩ B) = A adalah
(A ∪ B) ∩ (A ∪ B) = A.

Prinsip Inklusi-Eksklusi
Untuk dua himpunan A dan B:
|A ∪ B| = |A| + |B| – |A ∩ B|
|A ⊕ B| = |A| +|B| – 2|A ∩ B|

Contoh 24. Berapa banyaknya bilangan bulat antara 1 dan 100 yang habis dibagi 3 atau
5?
Penyelesaian:
A = himpunan bilangan bulat yang habis dibagi 3,
B = himpunan bilangan bulat yang habis dibagi 5,
A ∩ B = himpunan bilangan bulat yang habis dibagi 3 dan 5 (yaitu himpunan bilangan
bulat yang habis dibagi oleh KPK – Kelipatan Persekutuan Terkecil – dari 3
dan 5, yaitu 15),

Yang ditanyakan adalah |A ∪ B|.
|A| = ¸100/3¸ = 33,
|B| = ¸100/5¸ = 20,
48
|A ∩ B| = ¸100/15¸ = 6
|A ∪ B| = |A| + |B| – |A ∩ B| = 33 + 20 – 6 = 47

Untuk tiga buah himpunan A, B, dan C, berlaku
|A ∪ B ∪ C| = |A| + |B| + |C| – |A ∩ B| – |A ∩ C| – |B ∩ C| + |A ∩ B ∩ C|

Untuk himpunan A
1
, A
2
, …, A
r
, berlaku:
|A
1
∪ A
2
∪ … ∪ A
r
| =

i
|A
i
| –

≤ ≤ ≤ r j i 1
|A
i
∩ A
j
| +

≤ ≤ ≤ ≤ r k j i 1
|A
i
∩ A
j
∩ A
k
| + …+
(-1)
r-1
|A
1
∩ A
2
∩ … ∩ A
r
|
Latihan:
Di antara bilangan bulat antara 101 – 600 (termasuk 101 dan 600 itu sendiri),
berapa banyak bilangan yang tidak habis dibagi oleh 4 atau 5 namun tidak keduanya?

Penyelesaian:
Diketahui:

( U( = 500
( A( = ¸600/4¸ – ¸100/4¸ = 150 – 25 = 125
( B( = ¸600/5¸ – ¸100/5¸ = 120 – 20 = 100
( A ∩ B ( = ¸600/20¸ – ¸100/20¸ = 30 – 5 = 25
yang ditanyakan ( B A⊕ ( = ?

Hitung terlebih dahulu

( A ⊕ B( = ( A( + ( B( – 2( A ∩ B ( = 125 + 100 – 50 = 175

untuk mendapatkan

( B A⊕ ( = U –( A ⊕ B( = 500 – 175 = 325

Partisi
Definisi Partisi
49
Partisi dari sebuah himpunan A adalah sekumpulan himpunan bagian tidak kosong A
1
, A
2
,
… dari A sedemikian sehingga:
(a) A
1
∪ A
2
∪ … = A, dan
(b) A
i
∩ A
j
= ∅ untuk i ≠ j

Contoh 25. Misalkan A = {1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8}, maka { {1}, {2, 3, 4}, {7, 8}, {5, 6} }
adalah partisi A.

Himpunan Ganda (multiset)
Definisi Himpunan Ganda
Himpunan yang elemennya boleh berulang (tidak harus berbeda) disebut himpunan
ganda (multiset).
Contohnya, {1, 1, 1, 2, 2, 3}, {2, 2, 2}, {2, 3, 4}, {}.
Definisi Multiplisitas
Multiplisitas dari suatu elemen pada himpunan ganda adalah jumlah kemunculan elemen
tersebut pada himpunan ganda. Contoh: M = { 0, 1, 1, 1, 0, 0, 0, 1 }, multiplisitas 0
adalah 4.

Himpunan (set) merupakan contoh khusus dari suatu multiset, yang dalam hal ini
multiplisitas dari setiap elemennya adalah 0 atau 1.

Kardinalitas dari suatu multiset didefinisikan sebagai kardinalitas himpunan padanannya
(ekivalen), dengan mengasumsikan elemen-elemen di dalam multiset semua berbeda.

Operasi Antara Dua Buah Multiset:
Misalkan P dan Q adalah multiset:
1. P ∪ Q adalah suatu multiset yang multiplisitas elemennya sama dengan multiplisitas
maksimum elemen tersebut pada himpunan P dan Q.
Contoh: P = { a, a, a, c, d, d } dan Q ={ a, a, b, c, c },
P ∪ Q = { a, a, a, b, c, c, d, d }
50
2. P ∩ Q adalah suatu multiset yang multiplisitas elemennya sama dengan multiplisitas
minimum elemen tersebut pada himpunan P dan Q.
Contoh: P = { a, a, a, c, d, d } dan Q = { a, a, b, c, c }
P ∩ Q = { a, a, c }
3. P – Q adalah suatu multiset yang multiplisitas elemennya sama dengan:
− multiplisitas elemen tersebut pada P dikurangi multiplisitasnya pada Q, jika
selisihnya positif
− 0, jika selisihnya nol atau negatif.

Contoh: P = { a, a, a, b, b, c, d, d, e } dan Q = { a, a, b, b, b, c,
c, d, d, f } maka P – Q = { a, e }
4. P + Q, yang didefinisikan sebagai jumlah (sum) dua buah himpunan ganda, adalah
suatu multiset yang multiplisitas elemennya sama dengan penjumlahan dari
multiplisitas elemen tersebut pada P dan Q.
Contoh: P = { a, a, b, c, c } dan Q = { a, b, b, d },
P + Q = { a, a, a, b, b, b, c, c, d }

Pembuktian Proposisi Perihal Himpunan
Proposisi himpunan adalah argumen yang menggunakan notasi himpunan.
Proposisi dapat berupa:
1. Kesamaan (identity)
Contoh: Buktikan “A ∩ (B ∪ C) = (A ∩ B) ∪ (A ∩ C)”
2. Implikasi
Contoh: Buktikan bahwa “Jika A ∩ B = ∅ dan A ⊆ (B ∪ C) maka selalu berlaku
bahwa A ⊆ C”.

1. Pembuktian dengan menggunakan diagram Venn
Contoh 26. Misalkan A, B, dan C adalah himpunan. Buktikan bahwa
A ∩ (B ∪ C) = (A ∩ B) ∪ (A ∩ C) dengan diagram Venn.
Bukti:
51
A ∩ (B ∪ C) (A ∩ B) ∪ (A ∩ C)
Kedua digaram Venn memberikan area arsiran yang sama.
Terbukti bahwa A ∩ (B ∪ C) = (A ∩ B) ∪ (A ∩ C).

Ada beberapa catatan untuk pembuktian dengan menggunakan Diagram Venn:
1. Diagram Venn hanya dapat digunakan jika himpunan yang digambarkan tidak
banyak jumlahnya.
2. Metode ini mengilustrasikan ketimbang membuktikan fakta.
3. Diagram Venn tidak dianggap sebagai metode yang valid untuk pembuktian
secara formal.

2. Pembuktikan dengan menggunakan tabel keanggotaan

Contoh 27. Misalkan A, B, dan C adalah himpunan. Buktikan bahwa A ∩ (B ∪ C) = (A ∩
B) ∪ (A ∩ C).

Bukti:

A B C B ∪ C A ∩ (B ∪ C) A ∩ B A ∩ C (A ∩ B) ∪ (A ∩ C)
0 0 0 0 0 0 0 0
0 0 1 1 0 0 0 0
0 1 0 1 0 0 0 0
0 1 1 1 0 0 0 0
1 0 0 0 0 0 0 0
1 0 1 1 1 0 1 1
1 1 0 1 1 1 0 1
52
1 1 1 1 1 1 1 1
Karena kolom A ∩ (B ∪ C) dan kolom (A ∩ B) ∪ (A ∩ C) sama, maka A ∩ (B ∪ C) = (A
∩ B) ∪ (A ∩ C).
3. Pembuktian dengan menggunakan aljabar himpunan.

Contoh 28. Misalkan A dan B himpunan. Buktikan bahwa
(A ∩ B) ∪ (A ∩ B) = A
Bukti:
(A ∩ B) ∪ (A ∩ B) = A ∩ (B ∪ B) (Hukum distributif)
= A ∩ U (Hukum komplemen)
= A (Hukum identitas)


Contoh 29. Misalkan A dan B himpunan. Buktikan bahwa A ∪ (B – A) = A ∪ B
Bukti:
A ∪ (B – A) = A ∪ (B ∩ A) (Definisi operasi selisih)
= (A ∪ B) ∩ (A ∪ A) (Hukum distributif)
= (A ∪ B) ∩ U (Hukum komplemen)
= A ∪ B (Hukum identitas)

Contoh 30. Buktikan bahwa untuk sembarang himpunan A dan B, bahwa
(i) A ∪ ( A ∩ B) = A ∪ B dan
(ii) A ∩ ( A ∪ B) = A ∩ B
Bukti:
(i) A ∪ ( A ∩ B) = ( A ∪ A) ∩ (A ∩ B) (H. distributif)
= U ∩ (A ∩ B) (H. komplemen)
= A ∪ B (H. identitas)

53
(ii) adalah dual dari (i)
A ∩ ( A ∪ B) = (A ∩ A) ∪ (A ∩ B) (H. distributif)
= ∅ ∪ (A ∩ B) (H. komplemen)
= A ∩ B (H. identitas)
4. Pembuktian dengan menggunakan definisi
Metode ini digunakan untuk membuktikan pernyataan himpunan yang tidak
berbentuk kesamaan, tetapi pernyataan yang berbentuk implikasi. Biasanya di dalam
implikasi tersebut terdapat notasi himpunan bagian (⊆ atau ⊂).

Contoh 31. Misalkan A dan B himpunan. Jika A ∩ B = ∅ dan A ⊆ (B ∪ C) maka A ⊆ C.
Buktikan!
Bukti:
(i) Dari definisi himpunan bagian, P ⊆ Q jika dan hanya jika setiap x ∈ P juga ∈ Q.
Misalkan x ∈ A. Karena A ⊆ (B ∪ C), maka dari definisi himpunan bagian, x juga ∈
(B ∪ C).
Dari definisi operasi gabungan (∪), x ∈ (B ∪ C) berarti x ∈ B atau x ∈ C.
(ii) Karena x ∈ A dan A ∩ B = ∅, maka x ∉ B

Dari (i) dan (ii), x ∈ C harus benar. Karena ∀x ∈ A juga berlaku x ∈ C, maka dapat
disimpulkan A ⊆ C .
Misalkan A adalah himpunan bagian dari himpunan semesta (U). Tuliskan hasil dari
operasi beda-setangkup berikut?
(a) A ⊕ U (b) A ⊕ A (c) A ⊕ U

Penyelesaian:
(a) A ⊕ U = (A – U) ∪ (U – A) (Definisi operasi beda setangkup)
= (∅) ∪ (A) (Definisi opearsi selisih)
= A (Hukum Identitas)

(b) A ⊕ A = (A – A) ∪ ( A – A) (Definisi operasi beda setangkup)
54
= (A ∩ A) ∪ ( A ∩ A) (Definisi operasi selisih)
= A ∪ A (Hukum Idempoten)
= U (Hukum Komplemen)

(c) A ⊕ U = ( A ∪ U) – ( A ∩ U) (Definisi operasi beda setangkup)
= U – A (Hukum Null dan Hukum Identitas)
= A (Definisi operasi selisih)


55
BAB V
RELASI

Relasi biner R antara himpunan A dan B adalah himpunan bagian dari A × B.
Notasi: R ⊆ (A × B).
• a R b adalah notasi untuk (a, b) ∈ R, yang artinya a dihubungankan dengan b oleh R
• a R b adalah notasi untuk (a, b) ∉ R, yang artinya a tidak dihubungkan oleh b oleh
relasi R.
• Himpunan A disebut daerah asal (domain) dari R, dan himpunan B disebut daerah
hasil (range) dari R.

Contoh 1. Misalkan
A = {Amir, Budi, Cecep}, B = { IF251, IF342, IF323}
A × B = {(Amir, IF221), (Amir, IF251), (Amir, IF342),
(Amir, IF323), (Budi, IF221), (Budi, IF251),
(Budi, IF342), (Budi, IF323), (Cecep, IF221),
(Cecep, IF251), (Cecep, IF342), (Cecep, IF323) }

Misalkan R adalah relasi yang menyatakan mata kuliah yang diambil oleh mahasiswa
pada Semester Ganjil, yaitu:
R = {(Amir, IF251), (Amir, IF323), (Budi, IF221), (Budi, IF251), (Cecep, IF323)}
- Dapat dilihat bahwa R ⊆ (A × B),
- A adalah daerah asal R, dan B adalah daerah hasil R.
- (Amir, IF251) ∈ R atau Amir R IF251
- (Amir, IF342) ∉ R atau Amir R IF342.

Contoh 2. Misalkan P = {2, 3, 4} dan Q = {2, 4, 8, 9, 15}. Jika kita definisikan relasi R
dari P ke Q dengan (p, q) ∈ R jika p habis membagi q

maka kita peroleh
R = {(2, 2), (2, 4), (4, 4), (2, 8), (4, 8), (3, 9), (3, 15) }
• Relasi pada sebuah himpunan adalah relasi yang khusus
• Relasi pada himpunan A adalah relasi dari A × A.
56
• Relasi pada himpunan A adalah himpunan bagian dari A × A.

Contoh 3. Misalkan R adalah relasi pada A = {2, 3, 4, 8, 9} yang didefinisikan oleh (x, y)
∈ R jika x adalah faktor prima dari y.
Maka
R = {(2, 2), (2, 4), (2, 8), (3, 3), (3, 9)}

Representasi Relasi
1. Representasi Relasi dengan Diagram Panah

Amir
Budi
Cecep
IF221
IF251
IF342
IF323
2
3
4
2
4
8
9
15
2
3
4
8
9
2
3
4
8
9
A
B
P
Q
A A

2.. Representasi Relasi dengan Tabel
• Kolom pertama tabel menyatakan daerah asal, sedangkan kolom kedua
menyatakan daerah hasil.
Tabel 1 Tabel 2 Tabel 3
A B P Q A A
Amir IF251 2 2 2 2
Amir IF323 2 4 2 4
Budi IF221 4 4 2 8
Budi IF251 2 8 3 3
Cecep IF323 4 8 3 3
3 9
3 15

3. Representasi Relasi dengan Matriks
• Misalkan R adalah relasi dari A = {a
1
, a
2
, …, a
m
} dan B = {b
1
, b
2
, …, b
n
}.
• Relasi R dapat disajikan dengan matriks M = [m
ij
],
b
1
b
2
… b
n

57
M =
(
(
(
(
¸
(

¸

mn m m
n
n
m
m m m
m m m
m m m
a
a
a
L
M M M M
L
L
M
2 1
2 22 21
1 12 11
2
1


yang dalam hal ini
¹
´
¦


=
R b a
R b a
m
j i
j i
ij
) , ( , 0
) , ( , 1


Contoh 4. Relasi R pada Contoh 1 dapat dinyatakan dengan matriks
(
(
(
¸
(

¸

1 0 0 0
0 0 1 1
1 0 1 0

dalam hal ini, a
1
= Amir, a
2
= Budi, a
3
= Cecep, dan b
1
= IF221, b
2
= IF251, b
3
= IF342,
dan b
4
= IF323.

Relasi R pada Contoh 2 dapat dinyatakan dengan matriks
(
(
(
¸
(

¸

0 0 1 1 0
1 1 0 0 0
0 0 1 1 1

dalam hal ini, a
1
= 2, a
2
= 3, a
3
= 4, dan b
1
= 2, b
2
= 4, b
3
= 8, b
4
= 9, b
5
= 15.

4. Representasi Relasi dengan Graf Berarah
Relasi pada sebuah himpunan dapat direpresentasikan secara grafis dengan graf
berarah (directed graph atau digraph)
• Graf berarah tidak didefinisikan untuk merepresentasikan relasi dari suatu
himpunan ke himpunan lain.
• Tiap elemen himpunan dinyatakan dengan sebuah titik (disebut juga simpul atau
vertex), dan tiap pasangan terurut dinyatakan dengan busur (arc)
• Jika (a, b) ∈ R, maka sebuah busur dibuat dari simpul a ke simpul b. Simpul a
disebut simpul asal (initial vertex) dan simpul b disebut simpul tujuan (terminal
vertex).
• Pasangan terurut (a, a) dinyatakan dengan busur dari simpul a ke simpul a
sendiri. Busur semacam itu disebut gelang atau kalang (loop).
58

Contoh 5. Misalkan R = {(a, a), (a, b), (b, a), (b, c), (b, d), (c, a), (c, d), (d, b)} adalah
relasi pada himpunan {a, b, c, d}.

R direpresentasikan dengan graf berarah sbb:

Sifat-sifat Relasi Biner
Relasi biner yang didefinisikan pada sebuah himpunan mempunyai beberapa sifat.

1. Refleksif (reflexive)
Definisi
Relasi R pada himpunan A disebut refleksif jika (a, a) ∈ R untuk setiap a ∈ A.

Relasi R pada himpunan A tidak refleksif jika ada a ∈ A sedemikian sehingga (a, a)
∉ R.

Contoh 6. Misalkan A = {1, 2, 3, 4}, dan relasi R di bawah ini didefinisikan pada
himpunan A, maka
(a) Relasi R = {(1, 1), (1, 3), (2, 1), (2, 2), (3, 3), (4, 2), (4, 3), (4, 4)} bersifat
refleksif karena terdapat elemen relasi yang berbentuk (a, a), yaitu (1, 1), (2, 2),
(3, 3), dan (4, 4).
(b) Relasi R = {(1, 1), (2, 2), (2, 3), (4, 2), (4, 3), (4, 4) } tidak bersifat refleksif
karena (3, 3) ∉ R.

Contoh 7. Relasi “habis membagi” pada himpunan bilangan bulat positif bersifat
refleksif karena setiap bilangan bulat positif habis dibagi dengan dirinya
sendiri, sehingga (a, a)∈R untuk setiap a ∈ A.
a
b
c d
59

Contoh 8. Tiga buah relasi di bawah ini menyatakan relasi pada himpunan bilangan bulat
positif N.
R : x lebih besar dari y, S : x + y = 5, T : 3x + y = 10

Tidak satupun dari ketiga relasi di atas yang refleksif karena, misalkan (2, 2) bukan
anggota R, S, maupun T.

Relasi yang bersifat refleksif mempunyai matriks yang elemen diagonal utamanya semua
bernilai 1, atau m
ii
= 1, untuk i = 1, 2, …, n,

(
(
(
(
(
(
¸
(

¸

1
1
1
1
O


Graf berarah dari relasi yang bersifat refleksif dicirikan adanya gelang pada setiap
simpulnya.

2. Menghantar (transitive)
Definisi
Relasi R pada himpunan A disebut menghantar jika (a, b) ∈ R dan (b, c) ∈ R, maka
(a, c) ∈ R, untuk a, b, c ∈ A.
Contoh 9. Misalkan A = {1, 2, 3, 4}, dan relasi R di bawah ini didefinisikan pada
himpunan A, maka
(a) R = {(2, 1), (3, 1), (3, 2), (4, 1), (4, 2), (4, 3) } bersifat menghantar. Lihat tabel
berikut:

Pasangan berbentuk
(a, b) (b, c) (a, c)

(3, 2) (2, 1) (3, 1)
(4, 2) (2, 1) (4, 1)
60
(4, 3) (3, 1) (4, 1)
(4, 3) (3, 2) (4, 2)


(b) R = {(1, 1), (2, 3), (2, 4), (4, 2) } tidak manghantar karena
(2, 4) dan (4, 2) ∈ R, tetapi (2, 2) ∉ R, begitu juga (4, 2) dan (2, 3) ∈ R, tetapi
(4, 3) ∉ R.
(c) Relasi R = {(1, 1), (2, 2), (3, 3), (4, 4) } jelas menghantar
(d) Relasi R = {(1, 2), (3, 4)} menghantar karena tidak ada
(a, b) ∈ R dan (b, c) ∈ R sedemikian sehingga (a, c) ∈ R.
Relasi yang hanya berisi satu elemen seperti R = {(4, 5)} selalu menghantar.

Contoh 10. Relasi “habis membagi” pada himpunan bilangan bulat positif bersifat
menghantar. Misalkan bahwa a habis membagi b dan b habis membagi c.
Maka terdapat bilangan positif m dan n sedemikian sehingga b = ma dan c =
nb. Di sini c = nma, sehingga a habis membagi c. Jadi, relasi “habis
membagi” bersifat menghantar.

Contoh 11. Tiga buah relasi di bawah ini menyatakan relasi pada himpunan bilangan
bulat positif N.
R : x lebih besar dari y, S : x + y = 6, T : 3x + y = 10
- R adalah relasi menghantar karena jika x > y dan y > z maka x > z.
- S tidak menghantar karena, misalkan (4, 2) dan (2, 4) adalah anggota S tetapi (4,
4) ∉ S.
- T = {(1, 7), (2, 4), (3, 1)} menghantar.

Relasi yang bersifat menghantar tidak mempunyai ciri khusus pada matriks
representasinya
Sifat menghantar pada graf berarah ditunjukkan oleh: jika ada busur dari a ke b dan
dari b ke c, maka juga terdapat busur berarah dari a ke c.

3. Setangkup (symmetric) dan tolak-setangkup (antisymmetric)
Definisi
61
Relasi R pada himpunan A disebut setangkup jika (a, b) ∈ R, maka (b, a) ∈ R untuk a,
b ∈ A.

Relasi R pada himpunan A tidak setangkup jika (a, b) ∈ R sedemikian sehingga (b, a)
∉ R.

Definisi
Relasi R pada himpunan A sedemikian sehingga (a, b) ∈ R dan (b, a) ∈ R hanya jika
a = b untuk a, b ∈ A disebut tolak-setangkup.

Relasi R pada himpunan A tidak tolak-setangkup jika ada elemen berbeda a dan b
sedemikian sehingga (a, b) ∈ R dan (b, a) ∈ R.

Contoh 12. Misalkan A = {1, 2, 3, 4}, dan relasi R di bawah ini didefinisikan pada
himpunan A, maka
(a) Relasi R = {(1, 1), (1, 2), (2, 1), (2, 2), (2, 4), (4, 2), (4, 4) } bersifat setangkup
karena jika (a, b) ∈ R maka (b, a) juga ∈ R. Di sini (1, 2) dan (2, 1) ∈ R, begitu
juga (2, 4) dan (4, 2) ∈ R.
(b) Relasi R = {(1, 1), (2, 3), (2, 4), (4, 2) } tidak setangkup karena (2, 3) ∈ R, tetapi
(3, 2) ∉ R.
(c) Relasi R = {(1, 1), (2, 2), (3, 3) } tolak-setangkup karena 1 = 1 dan (1, 1) ∈ R, 2 =
2 dan (2, 2) ∈ R, dan 3 = 3 dan (3, 3) ∈ R. Perhatikan bahwa R juga setangkup.
(d) Relasi R = {(1, 1), (1, 2), (2, 2), (2, 3) } tolak-setangkup karena (1, 1) ∈ R dan 1 =
1 dan, (2, 2) ∈ R dan 2 = 2 dan. Perhatikan bahwa R tidak setangkup.
(e) Relasi R = {(1, 1), (2, 4), (3, 3), (4, 2) } tidak tolak-setangkup karena 2 ≠ 4 tetapi
(2, 4) dan (4, 2) anggota R. Relasi R pada (a) dan (b) di atas juga tidak tolak-
setangkup.
(f) Relasi R = {(1, 2), (2, 3), (1, 3) } tidak setangkup tetapi tolak-setangkup.
Relasi R = {(1, 1), (2, 2), (2, 3), (3, 2), (4, 2), (4, 4)} tidak setangkup dan tidak
tolak-setangkup. R tidak setangkup karena (4, 2) ∈ R tetapi (2, 4) ∉ R. R tidak
tolak-setangkup karena (2, 3) ∈ R dan (3, 2) ∈ R tetap 2 ≠ 3.

62
Contoh 13. Relasi “habis membagi” pada himpunan bilangan bulat positif tidak
setangkup karena jika a habis membagi b, b tidak habis membagi a, kecuali
jika a = b. Sebagai contoh, 2 habis membagi 4, tetapi 4 tidak habis membagi
2. Karena itu, (2, 4) ∈ R tetapi (4, 2) ∉ R. Relasi “habis membagi” tolak-
setangkup karena jika a habis membagi b dan b habis membagi a maka a =
b. Sebagai contoh, 4 habis membagi 4. Karena itu, (4, 4) ∈ R dan 4 = 4.

Contoh 14. Tiga buah relasi di bawah ini menyatakan relasi pada himpunan bilangan
bulat positif N.
R : x lebih besar dari y, S : x + y = 6, T : 3x + y = 10
- R bukan relasi setangkup karena, misalkan 5 lebih besar dari 3 tetapi 3
tidak lebih besar dari 5.
- S relasi setangkup karena (4, 2) dan (2, 4) adalah anggota S.
- T tidak setangkup karena, misalkan (3, 1) adalah anggota T tetapi (1, 3)
bukan anggota T.
- S bukan relasi tolak-setangkup karena, misalkan (4, 2) ∈ S dan (4, 2) ∈ S
tetapi 4 ≠ 2.
- Relasi R dan T keduanya tolak-setangkup (tunjukkan!).
Relasi yang bersifat setangkup mempunyai matriks yang elemen-elemen di bawah
diagonal utama merupakan pencerminan dari elemen-elemen di atas diagonal utama,
atau m
ij
= m
ji
= 1, untuk i = 1, 2, …, n :
(
(
(
(
(
(
¸
(

¸

0
1
0
1

Sedangkan graf berarah dari relasi yang bersifat setangkup dicirikan oleh: jika ada
busur dari a ke b, maka juga ada busur dari b ke a.
• Matriks dari relasi tolak-setangkup mempunyai sifat yaitu jika m
ij
= 1 dengan i ≠
j, maka m
ji
= 0. Dengan kata lain, matriks dari relasi tolak-setangkup adalah jika
salah satu dari m
ij
= 0 atau m
ji
= 0 bila i ≠ j :
63
(
(
(
(
(
(
¸
(

¸

0
1
1 0
0
1

• Sedangkan graf berarah dari relasi yang bersifat tolak-setangkup dicirikan oleh:
jika dan hanya jika tidak pernah ada dua busur dalam arah berlawanan antara dua
simpul berbeda.

Relasi Inversi
Definisi
Misalkan R adalah relasi dari himpunan A ke himpunan B. Invers dari relasi R,
dilambangkan dengan R
–1
, adalah relasi dari B ke A yang didefinisikan oleh

R
–1
= {(b, a) | (a, b) ∈ R }

Contoh 15. Misalkan P = {2, 3, 4} dan Q = {2, 4, 8, 9, 15}. Jika kita definisikan relasi R
dari P ke Q dengan (p, q) ∈ R jika p habis membagi q

maka kita peroleh
R = {(2, 2), (2, 4), (4, 4), (2, 8), (4, 8), (3, 9), (3, 15) }
R
–1
adalah invers dari relasi R, yaitu relasi dari Q ke P dengan (q, p) ∈ R
–1
jika q adalah
kelipatan dari p

maka kita peroleh

Jika M adalah matriks yang merepresentasikan relasi R,
M =
(
(
(
¸
(

¸

0 0 1 1 0
1 1 0 0 0
0 0 1 1 1

maka matriks yang merepresentasikan relasi R
–1
, misalkan N, diperoleh dengan
melakukan transpose terhadap matriks M,
64
N = M
T
=
(
(
(
(
(
(
¸
(

¸

0 1 0
0 1 0
1 0 1
1 0 1
0 0 1


Relasi Kesetaraan
Definisi
Relasi R pada himpunan A disebut relasi kesetaraan (equivalence relation) jika ia
refleksif, setangkup dan menghantar.

Secara intuitif, di dalam relasi kesetaraan, dua benda berhubungan jika keduanya
memiliki beberapa sifat yang sama atau memenuhi beberapa persyaratan yang sama. Dua
elemen yang dihubungkan dengan relasi kesetaraan dinamakan setara (equivalent).
Contoh:
A = himpunan mahasiswa, R relasi pada A:
(a, b) ∈ R jika a satu angkatan dengan b.
R refleksif: setiap mahasiswa seangkatan dengan dirinya sendiri
R setangkup: jika a seangkatan dengan b, maka b pasti seangkatan dengan a.
R menghantar: jika a seangkatan dengan b dan b seangkatan dengan c, maka pastilah a
seangkatan dengan c.
Dengan demikian, R adalah relasi kesetaraan.

Relasi Pengurutan Parcial
Definisi
Relasi R pada himpunan S dikatakan relasi pengurutan parsial (partial ordering relation)
jika ia refleksif, tolak-setangkup, dan menghantar.
Himpunan S bersama-sama dengan relasi R disebut himpunan terurut secara
parsial (partially ordered set, atau poset), dan dilambangkan dengan (S, R).

Contoh 16. Relasi ≥ pada himpunan bilangan bulat adalah relasi pengurutan parsial.
Alasan:
Relasi ≥ refleksif, karena a ≥ a untuk setiap bilangan bulat a;
Relasi ≥ tolak-setangkup, karena jika a ≥ b dan b ≥ a, maka a = b;
65
Relasi ≥ menghantar, karena jika a ≥ b dan b ≥ c maka a ≥ c.
Contoh 17. Relasi “habis membagi” pada himpunan bilangan bulat adalah relasi
pengurutan parsial.
Alasan: relasi “habis membagi” bersifat refleksif, tolak-setangkup, dan
menghantar.

Secara intuitif, di dalam relasi pengurutan parsial, dua buah benda saling berhubungan
jika salah satunya -- lebih kecil (lebih besar) daripada, atau lebih rendah (lebih tinggi)
daripada lainnya menurut sifat atau kriteria tertentu. Istilah pengurutan menyatakan
bahwa benda-benda di dalam himpunan tersebut dirutkan berdasarkan sifat atau kriteria
tersebut. Ada juga kemungkinan dua buah benda di dalam himpunan tidak berhubungan
dalam suatu relasi pengurutan parsial. Dalam hal demikian, kita tidak dapat
membandingkan keduanya sehingga tidak dapat diidentifikasi mana yang lebih besar atau
lebih kecil. Itulah alasan digunakan istilah pengurutan parsial atau pengurutan tak-
lengkap

Klosur Relasi (closure of relation)
Contoh 18. Relasi R = {(1, 1), (1, 3), (2, 3), (3, 2)} pada himpunan A = {1, 2, 3} tidak
refleksif.

Bagaimana membuat relasi refleksif yang sesedikit mungkin dan mengandung R?
• Tambahkan (2, 2) dan (3, 3) ke dalam R (karena dua elemen relasi ini yang belum
terdapat di dalam R)
Relasi baru, S, mengandung R, yaitu S = {(1, 1), (1, 3), (2, 2), (2, 3), (3, 2), (3, 3)}
• Relasi S disebut klosur refleksif (reflexive closure) dari R.
Contoh 19. Relasi R = {(1, 3), (1, 2), (2, 1), (3, 2), (3, 3)} pada himpunan A = {1, 2, 3}
tidak setangkup.
Bagaimana membuat relasi setangkup yang sesedikit mungkin dan mengandung R?
• Tambahkan (3, 1) dan (2, 3) ke dalam R (karena dua elemen relasi ini yang belum
terdapat di dalam S agar S menjadi setangkup).
Relasi baru, S, mengandung R:
S = {(1, 3), (3, 1), (1, 2), (2, 1), (3, 2), (2, 3), (3, 3)}
Relasi S disebut klosur setangkup (symmetric closure) dari R.
66

Definisi Klosur
Misalkan R adalah relasi pada himpunan A. R dapat memiliki atau tidak memiliki sifat P,
seperti refleksif, setangkup, atau menghantar. Jika terdapat relasi S

dengan sifat P yang
mengandung R sedemikian sehingga S adalah himpunan bagian dari setiap relasi dengan
sifat P yang mengandung R, maka S disebut klosur (closure) atau tutupan dari R
[ROS03].

Klosur Refleksif
Misalkan R adalah sebuah relasi pada himpunan A. Klosur refleksif dari R adalah R ∪ ∆,
yang dalam hal ini ∆ = {(a, a) | a ∈ A}.

Contoh 20. R = {(1, 1), (1, 3), (2, 3), (3, 2)} adalah relasi pada A = {1, 2, 3}, maka ∆ =
{(1, 1), (2, 2), (3, 3)}, sehingga klosur refleksif dari R adalah
R ∪ ∆ = {(1, 1), (1, 3), (2, 3), (3, 2)} ∪ {(1, 1), (2, 2), (3, 3)}
= {(1, 1), (1, 3), (2, 2), (2, 3), (3, 2), (3, 3)}
Contoh 21. Misalkan R adalah relasi {(a, b) | a ≠ b} pada himpunan bilangan bulat.
Klosur refleksif dari R adalah
R ∪ ∆ = {(a, b) | a ≠ b} ∪ {(a, a) | a ∈ Z}
= {(a, b) | a, b ∈ Z}

Klosur setangkup
Misalkan R adalah sebuah relasi pada himpunan A. Klosur setangkup dari R adalah R ∪
R
-1
, dengan R
-1
= {(b, a) | (a, b) a ∈ R}.

Contoh 22. R = {(1, 3), (1, 2), (2, 1), (3, 2), (3, 3)} adalah relasi pada A = {1, 2, 3}, maka
R
-1
= {(3, 1), (2, 1), (1, 2), (2, 3), (3, 3)} sehingga klosur setangkup dari R
adalah
R ∪ R
-1
= {(1, 3), (1, 2), (2, 1), (3, 2), (3, 3)} ∪ {(3, 1), (2, 1), (1, 2), (2, 3),
(3, 3)}
= {(1, 3), (3, 1), (1, 2), (2, 1), (3, 2), (2, 3), (3, 3)}

67
Contoh 23. Misalkan R adalah relasi {(a, b) | a habis membagi b}pada himpunan
bilangan bulat. Klosur setangkup dari R adalah
R ∪ R
-1
= {(a, b) | a habis membagi b} ∪ {(b, a) | b habis membagi a}
= {(a, b) | a habis membagi b atau b habis membagi a}

Klosur menghantar
Pembentukan klosur menghantar lebih sulit daripada dua buah klosur sebelumnya.

Contoh 24. R = {(1, 2), (1, 4), (2, 1), (3, 2)} adalah relasi A = {1, 2, 3, 4}.
R tidak transitif karena tidak mengandung semua pasangan (a, c) sedemikian sehingga (a,
b) dan (b, c) di dalam R. Pasangan (a, c) yang tidak terdapat di dalam R adalah (1, 1), (2,
2), (2, 4), dan (3, 1). Penambahan semua pasangan ini ke dalam R sehingga menjadi
S = {(1, 2), (1, 4), (2, 1), (3, 2), (1, 1), (2, 2), (2, 4), (3, 1)}
tidak menghasilkan relasi yang bersifat menghantar karena, misalnya terdapat (3, 1) ∈ S
dan (1, 4) ∈ S, tetapi (3, 4) ∉ S.

Klosur menghantar dari R adalah
R
*
= R
2
∪ R
3
∪ … ∪ R
n

Jika M
R
adalah matriks yang merepresentasikan R pada sebuah himpunan dengan n
elemen, maka matriks klosur menghantar R
*
adalah
=
*
R
M M
R

] 2 [
R
M ∨
] 3 [
R
M ∨ … ∨
] [n
R
M
Misalkan R = {(1, 1), (1, 3), (2, 2), (3, 1), (3, 2)} adalah relasi pada himpunan A = {1, 2,
3}. Tentukan klosur menghantar dari R.

Penyelesaian:
Matriks yang merepresentasikan relasi R adalah
M
R
=
(
(
(
¸
(

¸

0 1 1
0 1 0
1 0 1

Maka, matriks klosur menghantar dari R adalah
= *
R
M M
R

] 2 [
R
M ∨
] 3 [
R
M
Karena
68

(
(
(
¸
(

¸

= ⋅ =
1 1 1
0 1 0
1 1 1
] 2 [
R R R
M M M dan
(
(
(
¸
(

¸

= ⋅ =
1 1 1
0 1 0
1 1 1
] 2 [ ] 3 [
R R R
M M M
maka
= *
R
M
(
(
(
¸
(

¸

1 1 1
0 1 0
1 0 1

(
(
(
¸
(

¸

1 1 1
0 1 0
1 1 1

(
(
(
¸
(

¸

1 1 1
0 1 0
1 1 1
=
(
(
(
¸
(

¸

1 1 1
0 1 0
1 1 1

Dengan demikian, R
*
= {(1, 1), (1, 2), (1, 3), (2, 2), (3, 1), (3, 2), (3, 3) }

Mengkombinasikan Relasi
Karena relasi biner merupakan himpunan pasangan terurut, maka operasi
himpunan seperti irisan, gabungan, selisih, dan beda setangkup antara dua relasi atau
lebih juga berlaku. Jika R
1
dan R
2
masing-masing adalah relasi dari himpuna A ke
himpunan B, maka R
1
∩ R
2
, R
1
∪ R
2
, R
1
– R
2
, dan R
1
⊕ R
2
juga adalah relasi dari A ke B.

Contoh 25. Misalkan A = {a, b, c} dan B = {a, b, c, d}.

Relasi R
1
= {(a, a), (b, b), (c, c)}
Relasi R
2
= {(a, a), (a, b), (a, c), (a, d)}

R
1
∩ R
2
= {(a, a)}
R
1
∪ R
2
= {(a, a), (b, b), (c, c), (a, b), (a, c), (a, d)}
R
1
− R
2
= {(b, b), (c, c)}
R
2
− R
1
= {(a, b), (a, c), (a, d)}
R
1
⊕ R
2
= {(b, b), (c, c), (a, b), (a, c), (a, d)}

Jika relasi R
1
dan R
2
masing-masing dinyatakan dengan matriks M
R1
dan M
R2
, maka
matriks yang menyatakan gabungan dan irisan dari kedua relasi tersebut adalah
M
R1 ∪ R2
= M
R1
∨ M
R2
dan M
R1 ∩ R2
= M
R1
∧ M
R2

Contoh 26. Misalkan bahwa relasi R
1
dan R
2
pada himpunan A dinyatakan oleh matriks
R
1
=
(
(
(
¸
(

¸

0 1 1
1 0 1
0 0 1
dan R
2
=
(
(
(
¸
(

¸

0 0 1
1 1 0
0 1 0

69
maka
M
R1 ∪ R2
= M
R1
∨ M
R2
=
(
(
(
¸
(

¸

0 1 1
1 1 1
0 1 1


M
R1 ∩ R2
= M
R1
∧ M
R2
=
(
(
(
¸
(

¸

0 0 1
1 0 0
0 0 0


Komposisi Relasi

Definisi
Misalkan R adalah relasi dari himpunan A ke himpunan B, dan S adalah relasi dari
himpunan B ke himpunan C. Komposisi R dan S, dinotasikan dengan S ο R, adalah
relasi dari A ke C yang didefinisikan oleh
S ο R = {(a, c) | a ∈ A, c ∈ C, dan untuk beberapa b ∈ B, (a, b) ∈ R dan (b, c) ∈
S }

Contoh 27. Misalkan R = {(1, 2), (1, 6), (2, 4), (3, 4), (3, 6), (3, 8)} adalah relasi dari
himpunan {1, 2, 3} ke himpunan {2, 4, 6, 8} dan S = {(2, u), (4, s), (4, t), (6,
t), (8, u) adalah relasi dari himpunan {2, 4, 6, 8} ke himpunan {s, t, u}. Maka
komposisi relasi R dan S adalah
S ο R = {(1, u), (1, t), (2, s), (2, t), (3, s), (3, t), (3, u) }

Komposisi relasi R dan S lebih jelas jika diperagakan dengan diagram panah:
1
2
3
2
4
6
8
s
t
u


Jika relasi R
1
dan R
2
masing-masing dinyatakan dengan matriks M
R1
dan M
R2
, maka
matriks yang menyatakan komposisi dari kedua relasi tersebut adalah
M
R2 ο R1
= M
R1
⋅ M
R2

70
yang dalam hal ini operator “.” sama seperti pada perkalian matriks biasa, tetapi dengan
mengganti tanda kali dengan “∧” dan tanda tambah dengan “∨”.

Contoh 28. Misalkan bahwa relasi R
1
dan R
2
pada himpunan A dinyatakan oleh matriks
R
1
=
(
(
(
¸
(

¸

0 0 0
0 1 1
1 0 1
dan R
2
=
(
(
(
¸
(

¸

1 0 1
1 0 0
0 1 0

maka matriks yang menyatakan R
2
ο R
1
adalah
M
R2 ο R1
= M
R1
. M
R2


(
(
(
¸
(

¸

∧ ∨ ∧ ∨ ∧ ∧ ∨ ∧ ∨ ∧ ∧ ∨ ∧ ∨ ∧
∧ ∨ ∧ ∨ ∧ ∧ ∨ ∧ ∨ ∧ ∧ ∨ ∧ ∨ ∧
∧ ∨ ∧ ∨ ∧ ∧ ∨ ∧ ∨ ∧ ∧ ∨ ∧ ∨ ∧
) 1 0 ( ) 1 0 ( ) 0 0 ( ) 0 0 ( ) 0 0 ( ) 1 0 ( ) 1 0 ( ) 0 0 ( ) 0 0 (
) 1 0 ( ) 1 1 ( ) 0 1 ( ) 0 0 ( ) 0 1 ( ) 1 1 ( ) 1 0 ( ) 0 1 ( ) 0 1 (
) 1 1 ( ) 1 0 ( ) 0 1 ( ) 0 1 ( ) 0 0 ( ) 1 1 ( ) 1 1 ( ) 0 0 ( ) 0 1 (

=
(
(
(
¸
(

¸

0 0 0
1 1 0
1 1 1

71
Fungsi

Definisi
Misalkan A dan B himpunan. Relasi biner f dari A ke B merupakan suatu fungsi jika
setiap elemen di dalam A dihubungkan dengan tepat satu elemen di dalam B.

Jika f adalah fungsi dari A ke B kita menuliskan
f : A → B
yang artinya f memetakan A ke B.

• A disebut daerah asal (domain) dari f dan B disebut daerah hasil (codomain)
dari f.
• Nama lain untuk fungsi adalah pemetaan atau transformasi.

Kita menuliskan f(a) = b jika elemen a di dalam A dihubungkan dengan elemen b di
dalam B. Jika f(a) = b, maka b dinamakan bayangan (image) dari a dan a dinamakan
pra-bayangan (pre-image) dari b.

Himpunan yang berisi semua nilai pemetaan f disebut jelajah (range) dari f. Perhatikan
bahwa jelajah dari f adalah himpunan bagian (mungkin proper subset) dari B.
Fungsi adalah relasi yang khusus:
1. Tiap elemen di dalam himpunan A harus digunakan oleh prosedur atau kaidah
yang mendefinisikan f.
2. Frasa “dihubungkan dengan tepat satu elemen di dalam B” berarti bahwa jika
(a, b) ∈ f dan (a, c) ∈ f, maka b = c.

Fungsi dapat dispesifikasikan dalam berbagai bentuk, diantaranya:
1. Himpunan pasangan terurut.
Seperti pada relasi.
a
b
A B
f
72
2. Formula pengisian nilai (assignment).
Contoh: f(x) = 2x + 10, f(x) = x
2
, dan f(x) = 1/x.
3. Kata-kata
Contoh: “f adalah fungsi yang memetakan jumlah bit 1 di dalam suatu
string biner”.
4. Kode program (source code)
Contoh: Fungsi menghitung |x|

function abs(x:integer):integer;
begin
if x < 0 then
abs:=-x
else
abs:=x;
end;

Contoh 29. Relasi f = {(1, u), (2, v), (3, w)} dari A = {1, 2, 3} ke B = {u, v, w} adalah
fungsi dari A ke B. Di sini f(1) = u, f(2) = v, dan f(3) = w. Daerah asal dari f
adalah A dan daerah hasil adalah B. Jelajah dari f adalah {u, v, w}, yang
dalam hal ini sama dengan himpunan B.

Contoh 30. Relasi f = {(1, u), (2, u), (3, v)}dari A = {1, 2, 3} ke B = {u, v, w} ada lah
fungsi dari A ke B, meskipun u merupakan bayangan dari dua elemen A.
Daerah asal fungsi adalah A, daerah hasilnya adalah B, dan jelajah fungsi
adalah {u, v}.

Contoh 31. Relasi f = {(1, u), (2, v), (3, w)}dari A = {1, 2, 3, 4} ke B = {u, v, w} bukan
fungsi, karena tidak semua elemen A dipetakan ke B.
Contoh 32. Relasi f = {(1, u), (1, v), (2, v), (3, w)}dari A = {1, 2, 3} ke B = {u, v, w}
bukan fungsi, karena 1 dipetakan ke dua buah elemen B, yaitu u dan v.

73
Contoh 33. Misalkan f : Z → Z didefinisikan oleh f(x) = x
2
. Daerah asal dan daerah hasil
dari f adalah himpunan bilangan bulat, dan jelajah dari f adalah himpunan
bilangan bulat tidak-negatif.

Fungsi Injektif
Definisi
Fungsi f dikatakan fungsi satu-ke-satu (one to one) atau injektif (injective) jika tidak ada
dua elemen himpunan A yang memiliki bayangan sama.


Contoh 34. Relasi f = {(1, w), (2, u), (3, v)} dari A = {1, 2, 3} ke B = {u, v, w, x} adalah
fungsi satu-ke-satu,
tetapi relasi f = {(1, u), (2, u), (3, v)}dari A = {1, 2, 3} ke B = {u, v, w} bukan
fungsi satu-ke-satu, karena f(1) = f(2) = u.

Contoh 35. Misalkan f : Z → Z. Tentukan apakah f(x) = x
2
+ 1 dan f(x) = x – 1
merupakan fungsi satu-ke-satu?
Penyelesaian:
(i) f(x) = x
2
+ 1 bukan fungsi satu-ke-satu, karena untuk dua x yang bernilai mutlak sama
tetapi tandanya berbeda nilai fungsinya sama, misalnya f(2) = f(-2) = 5 padahal –2 ≠
2.
(ii) f(x) = x – 1 adalah fungsi satu-ke-satu karena untuk a ≠ b, a – 1 ≠ b – 1.
Misalnya untuk x = 2, f(2) = 1 dan untuk x = -2, f(-2) = -3.

Fungsi Surjektif
Definisi
a 1
A B
2
3
4
5
b
c
d
74
Fungsi f dikatakan dipetakan pada (onto) atau surjektif (surjective) jika setiap elemen
himpunan B merupakan bayangan dari satu atau lebih elemen himpunan A.

Dengan kata lain seluruh elemen B merupakan jelajah dari f. Fungsi f disebut fungsi pada
himpunan B.



Contoh 36. Relasi f = {(1, u), (2, u), (3, v)}dari A = {1, 2, 3} ke B = {u, v, w} bukan
fungsi pada karena w tidak termasuk jelajah dari f. Relasi f = {(1, w), (2, u),
(3, v)} dari A = {1, 2, 3} ke B = {u, v, w} merupakan fungsi pada karena
semua anggota B merupakan jelajah dari f.

Contoh 37. Misalkan f : Z → Z. Tentukan apakah f(x) = x
2
+ 1 dan f(x) = x – 1
merupakan fungsi pada?
Penyelesaian:
(i) f(x) = x
2
+ 1 bukan fungsi pada, karena tidak semua nilai bilangan bulat merupakan
jelajah dari f.
(ii) f(x) = x – 1 adalah fungsi pada karena untuk setiap bilangan bulat y, selalu ada nilai x
yang memenuhi, yaitu y = x – 1 akan dipenuhi untuk x = y + 1.
Fungís Bijeksi
Definisi
Fungsi f dikatakan berkoresponden satu-ke-satu atau bijeksi (bijection) jika ia fungsi
satu-ke-satu dan juga fungsi pada.

Contoh 38. Relasi f = {(1, u), (2, w), (3, v)} dari A = {1, 2, 3} ke B = {u, v, w} adalah
fungsi yang berkoresponden satu-ke-satu, karena f adalah fungsi satu-ke-satu maupun
fungsi pada.
a 1
A B
2
3
b
c
d
75

Contoh 39. Fungsi f(x) = x – 1 merupakan fungsi yang berkoresponden satu-ke-satu,
karena f adalah fungsi satu-ke-satu maupun fungsi pada.

Fungsi satu-ke-satu, Fungsi pada,
bukan pada bukan satu-ke-satu

Buka fungsi satu-ke-satu Bukan fungsi
maupun pada

Jika f adalah fungsi berkoresponden satu-ke-satu dari A ke B, maka kita dapat
menemukan balikan (invers) dari f. Balikan fungsi dilambangkan dengan f
–1
.
Misalkan a adalah anggota himpunan A dan b adalah anggota himpunan B, maka f
-
1
(b) = a jika f(a) = b.
Fungsi yang berkoresponden satu-ke-satu sering dinamakan juga fungsi yang
invertible (dapat dibalikkan), karena kita dapat mendefinisikan fungsi balikannya.
Sebuah fungsi dikatakan not invertible (tidak dapat dibalikkan) jika ia bukan fungsi
yang berkoresponden satu-ke-satu, karena fungsi balikannya tidak ada.

Contoh 40. Relasi f = {(1, u), (2, w), (3, v)}dari A = {1, 2, 3} ke B = {u, v, w} adalah
fungsi yang berkoresponden satu-ke-satu. Balikan fungsi f hádala f
-1
= {(u,
1), (w, 2), (v, 3)}
Jadi, f adalah fungsi invertible.

Contoh 41. Tentukan balikan fungsi f(x) = x – 1.
a
1
A
B
2
3
b
c
4
a
1
A
B
2
3
b
c
c d
a
1
A B
2
3
b
c
c d
4
a
1
A B
2
3
b
c
c d
4
76

Penyelesaian:
Fungsi f(x) = x – 1 adalah fungsi yang berkoresponden satu-ke-satu, jadi balikan fungsi
tersebut ada.
Misalkan f(x) = y, sehingga y = x – 1, maka x = y + 1. Jadi, balikan fungsi balikannya
adalah f
-1
(y) = y +1.

Contoh 42. Tentukan balikan fungsi f(x) = x
2
+ 1.

Penyelesaian:
Dari Contoh 3.41 dan 3.44 kita sudah menyimpulkan bahwa f(x) = x – 1 bukan fungsi
yang berkoresponden satu-ke-satu, sehingga fungsi balikannya tidak ada. Jadi, f(x) = x
2
+
1 adalah funsgi yang not invertible.

Komposisi dari dua buah fungsi
Definisi
Misalkan g adalah fungsi dari himpunan A ke himpunan B, dan f adalah fungsi dari
himpunan B ke himpunan C. Komposisi f dan g, dinotasikan dengan f ο g, adalah fungsi
dari A ke C yang didefinisikan oleh
(f ο g)(a) = f(g(a))

Contoh 43. Diberikan fungsi g = {(1, u), (2, u), (3, v) yang memetakan A = {1, 2, 3} ke B
= {u, v, w}, dan fungsi f = {(u, y), (v, x), (w, z)} yang memetakan B = {u, v,
w} ke C = {x, y, z}. Fungsi komposisi dari A ke C adalah
f ο g = {(1, y), (2, y), (3, x) }

Contoh 44. Diberikan fungsi f(x) = x–1 dan g(x) = x
2
+1. Tentukan f ο g dan g ο f .
Penyelesaian:
(i) (f ο g)(x) = f(g(x)) = f(x
2
+ 1) = x
2
+ 1 – 1 = x
2
.
(ii) (g ο f)(x) = g(f(x)) = g(x – 1) = (x –1)
2
+ 1 = x
2
- 2x + 2.

Beberapa Fungsi Khusus
1. Fungsi Floor dan Ceiling
77
Misalkan x adalah bilangan riil, berarti x berada di antara dua bilangan bulat.
Fungsi floor dari x:
¸x¸ menyatakan nilai bilangan bulat terbesar yang lebih kecil atau sama dengan x
Fungsi ceiling dari x:
x( menyatakan bilangan bulat terkecil yang lebih besar atau sama dengan x
Dengan kata lain, fungsi floor membulatkan x ke bawah, sedangkan fungsi ceiling
membulatkan x ke atas.

Contoh 45. Beberapa contoh nilai fungsi floor dan ceiling:
¸3.5¸ = 3 3.5( = 4
¸0.5¸ = 0 0.5( = 1
¸4.8¸ = 4 4.8( = 5
¸– 0.5¸ = – 1 ¸– 0.5¸ = 0
¸–3.5¸ = – 4 –3.5( = – 3

Contoh 46. Di dalam komputer, data dikodekan dalam untaian byte, satu byte terdiri atas
8 bit. Jika panjang data 125 bit, maka jumlah byte yang diperlukan untuk
merepresentasikan data adalah 125/8( = 16 byte. Perhatikanlah bahwa 16 ×
8 = 128 bit, sehingga untuk byte yang terakhir perlu ditambahkan 3 bit
ekstra agar satu byte tetap 8 bit (bit ekstra yang ditambahkan untuk
menggenapi 8 bit disebut padding bits).

2. Fungsi modulo
Misalkan a adalah sembarang bilangan bulat dan m adalah bilangan bulat positif. a mod
m memberikan sisa pembagian bilangan bulat bila a dibagi dengan m
a mod m = r sedemikian sehingga a = mq + r, dengan 0 ≤ r < m.

Contoh 47. Beberapa contoh fungsi modulo
25 mod 7 = 4
15 mod 4 = 0
3612 mod 45 = 12
0 mod 5 = 5
–25 mod 7 = 3 (sebab –25 = 7 ⋅ (–4) + 3 )
78
3. Fungsi Faktorial

¹
´
¦
> × − × × ×
=
=
0 , ) 1 ( . 2 1
0 , 1
!
n n n
n
n
L


4. Fungsi Eksponensial
¦
¹
¦
´
¦
> × × ×
=
=
0 ,
0 , 1
n a a a
n
a
n
n
4 43 4 42 1
L


Untuk kasus perpangkatan negatif,

n
n
a
a
1
=



5. Fungsi Logaritmik
Fungsi logaritmik berbentuk
x y
a
log = ↔ x = a
y


Fungsi Rekursif
Definisi
Fungsi f dikatakan fungsi rekursif jika definisi fungsinya mengacu pada dirinya sendiri.

Contoh 47. n! = 1 × 2 × … × (n – 1) × n = (n – 1)! × n.
¹
´
¦
> − ×
=
=
0 , )! 1 (
0 , 1
!
n n n
n
n


Fungsi rekursif disusun oleh dua bagian:
(a) Basis
Bagian yang berisi nilai awal yang tidak mengacu pada dirinya sendiri. Bagian ini
juga sekaligus menghentikan definisi rekursif.
(b) Rekurens
Bagian ini mendefinisikan argumen fungsi dalam terminologi dirinya sendiri. Setiap
kali fungsi mengacu pada dirinya sendiri, argumen dari fungsi harus lebih dekat ke
nilai awal (basis).
79

Contoh definisi rekursif dari faktorial:
(a) basis:
n! = 1 , jika n = 0
(b) rekurens:
n! = n × (n -1)! , jika n > 0
5! dihitung dengan langkah berikut:
(1) 5! = 5 × 4! (rekurens)
(2) 4! = 4 × 3!
(3) 3! = 3 × 2!
(4) 2! = 2 × 1!
(5) 1! = 1 × 0!
(6) 0! = 1
(6’) 0! = 1
(5’) 1! = 1 × 0! = 1 × 1 = 1
(4’) 2! = 2 × 1! = 2 × 1 = 2
(3’) 3! = 3 × 2! = 3 × 2 = 6
(2’) 4! = 4 × 3! = 4 × 6 = 24
(1’) 5! = 5 × 4! = 5 × 24 = 120
Jadi, 5! = 120.
Contoh 48. Di bawah ini adalah contoh-contoh fungsi rekursif lainnya:
1.
¹
´
¦
≠ + −
=
=
0 , ) 1 ( 2
0 , 0
) (
2
x x x F
x
x F

2. Fungsi Chebysev

¦
¹
¦
´
¦
> − − −
=
=
=
1 , ) , 2 ( ) , 1 ( 2
1 ,
0 , 1
) , (
n x n T x n xT
n x
n
x n T

3. Fungsi fibonacci:

¦
¹
¦
´
¦
> − + −
=
=
=
1 , ) 2 ( ) 1 (
1 , 1
0 , 0
) (
n n f n f
n
n
n f


80
BAB VI
ALJABAR BOOLEAN

Aljabar boolean merupakan aljabar yang berhubungan dengan variabel-variabel
biner dan operasi-operasi logik. Variabel-variabel diperlihatkan dengan huruf-huruf
alfabet, dan tiga operasi dasar dengan AND, OR dan NOT (komplemen). Fungsi boolean
terdiri dari variabel-variabel biner yang menunjukkan fungsi, suatu tanda sama dengan,
dan suatu ekspresi aljabar yang dibentuk dengan menggunakan variabel-variabel biner,
konstanta-konstanta 0 dan 1, simbol-simbol operasi logik, dan tanda kurung.
Suatu fungsi boolean bisa dinyatakan dalam tabel kebenaran. Suatu tabel kebenaran
untuk fungsi boolean merupakan daftar semua kombinasi angka-angka biner 0 dan 1 yang
diberikan ke variabel-variabel biner dan daftar yang memperlihatkan nilai fungsi untuk
masing-masing kombinasi biner.
Aljabar boolean mempunyai 2 fungsi berbeda yang saling berhubungan. Dalam arti luas,
aljabar boolean berarti suatu jenis simbol-simbol yang ditemukan oleh George Boole
untuk memanipulasi nilai-nilai kebenaran logika secara aljabar. Dalam hal ini aljabar
boolean cocok untuk diaplikasikan dalam komputer. Disisi lain, aljabar boolean juga
merupakan suatu struktur aljabar yang operasi-operasinya memenuhi aturan tertentu.

DASAR OPERASI LOGIKA
LOGIKA :
Memberikan batasan yang pasti dari suatu keadaan, sehingga suatu keadaan tidak
dapat berada dalam dua ketentuan sekaligus.
Dalam logika dikenal aturan sbb :
♦ Suatu keadaan tidak dapat dalam keduanya benar dan salah sekaligus
♦ Masing-masing adalah benar / salah.
♦ Suatu keadaan disebut benar bila tidak salah.
Dalam ajabar boolean keadaan ini ditunjukkan dengan dua konstanta : LOGIKA ‘1’ dan
‘0’

Operasi-operasi dasar logika dan gerbang logika :
Pengertian GERBANG (GATE) :
81
♦ Rangkaian satu atau lebih sinyal masukan tetapi hanya menghasilkan satu sinyal
keluaran.
♦ Rangkaian digital (dua keadaan), karena sinyal masukan atau keluaran hanya berupa
tegangan tinggi atau low ( 1 atau 0 ).
♦ Setiap keluarannya tergantung sepenuhnya pada sinyal yang diberikan pada masukan-
masukannya.

Operasi logika NOT ( Invers )
Operasi merubah logika 1 ke 0 dan sebaliknya x = x’


Tabel Operasi NOT Simbol
X X’
0 1
1 0

Operasi logika AND
♦ Operasi antara dua variabel (A,B)
♦ Operasi ini akan menghasilkan logika 1, jika kedua variabel tersebut berlogika 1

Simbol

A A . B


B


Operasi logika OR
Operasi antara 2 variabel (A,B)
Operasi ini akan menghasilkan logika 0, jika kedua variabel tersebut berlogika 0.
Simbol

82
A A + B


B


Operasi logika NOR
Operasi ini merupakan operasi OR dan NOT, keluarannya merupakan keluaran operasi
OR yang di inverter.
Simbol

A A + B ( A + B )’


B


Atau

A ( A + B )’


B

Operasi logika NAND
Operasi logika ini merupakan gabungan operasi AND dan NOT, Keluarannya merupakan
keluaran gerbang AND yang di inverter.

Simbol

A A . B ( A . B )’


83
B

Atau

A ( A . B )’


B

Operasi logika EXOR
akan menghasilkan keluaran ‘1’ jika jumlah masukan yang bernilai ‘1’ berjumlah ganjil.

Simbol

A Y


B


Operasi logika EXNOR
Operasi ini akan menghasilkan keluaran ‘1’ jika jumlah masukan yang bernilai ‘1’
berjumlah genap atau tidak ada sama sekali.

Simbol

A Y


B

DALIL BOOLEAN ;
1. X=0 ATAU X=1
84
2. 0 . 0 = 0
3. 1 + 1 = 1
4. 0 + 0 = 0
5. 1 . 1 = 1
6. 1 . 0 = 0 . 1 = 0
7. 1 + 0 = 0 + 1 = 0

TEOREMA BOOLEAN
1. HK. KOMUTATIF
A + B = B + A
A . B = B . A
6. HK. IDENTITAS
A + A = A
A . A = A
2. HK. ASSOSIATIF
(A+B)+C = A+(B+C)
(A.B) . C = A . (B.C)
7.
0 + A = A ----- 1. A = A
1 + A = 1 ----- 0 . A = 0
3. HK. DISTRIBUTIF
A . (B+C) = A.B + A.C
A + (B.C) = (A+B) . (A+C)
8.
A’ + A = 1
A’ . A =0
4. HK. NEGASI
( A’ ) = A’
(A’)’ = A
9.
A + A’ . B = A + B
A . (A + B)= A . B
5. HK. ABRSORPSI
A+ A.B = A
A.(A+B) = A
10. DE MORGAN’S
( A+ B )’ = A’ . B’
( A . B )’ = A’ + B’

CONTOH :
1. A + A . B’ + A’ . B = A . ( 1 + B’ ) + A’ . B
= A . 1 + A’ . B
= A + A’ . B
= A + B




85
2. A
B




X = (A.B)’ . B = (A’ + B’) . B
= ( A.B )’ + B’.B
= ( A.B )’ + 0
= A’.B


A

B




ATAU

A
B










86







Aljabar Boolean

• Misalkan terdapat
- Dua operator biner: + dan ⋅
- Sebuah operator uner: ’.
- B : himpunan yang didefinisikan pada opeartor +, ⋅, dan ’
- 0 dan 1 adalah dua elemen yang berbeda dari B.
Tupel
(B, +, ⋅, ’)
disebut aljabar Boolean jika untuk setiap a, b, c ∈ B berlaku aksioma-aksioma
atau postulat Huntington berikut:

1. Closure: (i) a + b ∈ B
(ii) a ⋅ b ∈ B

2. Identitas: (i) a + 0 = a
(ii) a ⋅ 1 = a

3. Komutatif: (i) a + b = b + a
(ii) a ⋅ b = b . a

4. Distributif: (i) a ⋅ (b + c) = (a ⋅ b) + (a ⋅ c)
(ii) a + (b ⋅ c) = (a + b) ⋅ (a + c)
87

5. Komplemen
1
: (i) a + a’ = 1
(ii) a ⋅ a’ = 0


• Untuk mempunyai sebuah aljabar Boolean, harus diperlihatkan:
1. Elemen-elemen himpunan B,
2. Kaidah operasi untuk operator biner dan operator uner,
3. Memenuhi postulat Huntington.


Aljabar Boolean Dua-Nilai

Aljabar Boolean dua-nilai:
- B = {0, 1}
- operator biner, + dan ⋅
- operator uner, ’
- Kaidah untuk operator biner dan operator uner:

a B a ⋅ b a b a + b a a’
0 0 0 0 0 0 0 1
0 1 0 0 1 1 1 0
1 0 0 1 0 1
1 1 1 1 1 1


Cek apakah memenuhi postulat Huntington:
1. Closure : jelas berlaku
2. Identitas: jelas berlaku karena dari tabel dapat kita lihat bahwa:


88
(i) 0 + 1 = 1 + 0 = 1
(ii) 1 ⋅ 0 = 0 ⋅ 1 = 0
3. Komutatif: jelas berlaku dengan melihat simetri tabel operator biner.
4. Distributif: (i) a ⋅ (b + c) = (a ⋅ b) + (a ⋅ c) dapat ditunjukkan benar dari tabel
operator biner di atas dengan membentuk tabel kebenaran:

a b c b + c a ⋅ (b + c) a ⋅ b a ⋅ c (a ⋅ b) + (a ⋅ c)
0 0 0 0 0 0 0 0
0 0 1 1 0 0 0 0
0 1 0 1 0 0 0 0
0 1 1 1 0 0 0 0
1 0 0 0 0 0 0 0
1 0 1 1 1 0 1 1
1 1 0 1 1 1 0 1
1 1 1 1 1 1 1 1

(ii) Hukum distributif a + (b ⋅ c) = (a + b) ⋅ (a + c) dapat ditunjukkan benar dengan
membuat tabel kebenaran dengan cara yang sama seperti (i).

5. Komplemen: jelas berlaku karena Tabel 7.3 memperlihatkan bahwa:
(i) a + a‘ = 1, karena 0 + 0’= 0 + 1 = 1 dan 1 + 1’= 1 + 0 = 1
(ii) a ⋅ a = 0, karena 0 ⋅ 0’= 0 ⋅ 1 = 0 dan 1 ⋅ 1’ = 1 ⋅ 0 = 0

Karena kelima postulat Huntington dipenuhi, maka terbukti bahwa B = {0, 1} bersama-
sama dengan operator biner + dan ⋅ operator komplemen ‘ merupakan aljabar Boolean.


Ekspresi Boolean
• Misalkan (B, +, ⋅, ’) adalah sebuah aljabar Boolean. Suatu ekspresi Boolean dalam
(B, +, ⋅, ’) adalah:
(i) setiap elemen di dalam B,
89
(ii) setiap peubah,
(iii) jika e
1
dan e
2
adalah ekspresi Boolean, maka e
1
+ e
2
, e
1
⋅ e
2
, e
1
’ adalah
ekspresi Boolean

Contoh:
0
1
a
b
c
a + b
a ⋅ b
a’⋅ (b + c)
a ⋅ b’ + a ⋅ b ⋅ c’ + b’, dan sebagainya
Mengevaluasi Ekspresi Boolean

• Contoh: a’⋅ (b + c)

jika a = 0, b = 1, dan c = 0, maka hasil evaluasi ekspresi:

0’⋅ (1 + 0) = 1 ⋅ 1 = 1

• Dua ekspresi Boolean dikatakan ekivalen (dilambangkan dengan ‘=’) jika
keduanya mempunyai nilai yang sama untuk setiap pemberian nilai-nilai kepada n
peubah.
Contoh:
a ⋅ (b + c) = (a . b) + (a ⋅ c)

Contoh. Perlihatkan bahwa a + a’b = a + b .
Penyelesaian:
90

a b a’ a’b a + a’b a + b
0 0 1 0 0 0
0 1 1 1 1 1
1 0 0 0 1 1
1 1 0 0 1 1

• Perjanjian: tanda titik (⋅) dapat dihilangkan dari penulisan ekspresi Boolean,
kecuali jika ada penekanan:
(i) a(b + c) = ab + ac
(ii) a + bc = (a + b) (a + c)
(iii) a ⋅ 0 , bukan a0

Prinsip Dualitas

• Misalkan S adalah kesamaan (identity) di dalam aljabar Boolean yang melibatkan
operator +, ⋅, dan komplemen, maka jika pernyataan S* diperoleh dengan cara
mengganti
⋅ dengan +
+ dengan ⋅
0 dengan 1
1 dengan 0
dan membiarkan operator komplemen tetap apa adanya, maka kesamaan S* juga
benar. S* disebut sebagai dual dari S.

Contoh.
(i) (a ⋅ 1)(0 + a’) = 0 dualnya (a + 0) + (1 ⋅ a’) = 1
(ii) a(a‘ + b) = ab dualnya a + a‘b = a + b

91
Hukum-hukum Aljabar Boolean
1. Hukum identitas:
(i) a + 0 = a
(ii) a ⋅ 1 = a
2. Hukum idempoten:
(i) a + a = a
(ii) a ⋅ a = a
3. Hukum komplemen:
(i) a + a’ = 1
(ii) aa’ = 0
4. Hukum dominansi:
(i) a ⋅ 0 = 0
(ii) a + 1 = 1
5. Hukum involusi:
(i) (a’)’ = a

6. Hukum penyerapan:
(i) a + ab = a
(ii) a(a + b) = a
7. Hukum komutatif:
(i) a + b = b + a
(ii) ab = ba
8. Hukum asosiatif:
(i) a + (b + c) = (a + b) + c
(ii) a (b c) = (a b) c
9. Hukum distributif:
(i) a + (b c) = (a + b) (a + c)
(ii) a (b + c) = a b + a c
10. Hukum De Morgan:
(i) (a + b)’ = a’b’
(ii) (ab)’ = a’ + b’
12. Hukum 0/1
(i) 0’ = 1
(ii) 1’ = 0


Contoh 7.3. Buktikan (i) a + a’b = a + b dan (ii) a(a’ + b) = ab
Penyelesaian:
(i) a + a’b = (a + ab) + a’b (Penyerapan)
= a + (ab + a’b) (Asosiatif)
= a + (a + a’)b (Distributif)
= a + 1 • b (Komplemen)
= a + b (Identitas)
(ii) adalah dual dari (i)

Fungsi Boolean
• Fungsi Boolean (disebut juga fungsi biner) adalah pemetaan dari B
n
ke B melalui
ekspresi Boolean, kita menuliskannya sebagai
92
f : B
n
→ B
yang dalam hal ini B
n
adalah himpunan yang beranggotakan pasangan terurut
ganda-n (ordered n-tuple) di dalam daerah asal B.
• Setiap ekspresi Boolean tidak lain merupakan fungsi Boolean.
• Misalkan sebuah fungsi Boolean adalah

f(x, y, z) = xyz + x’y + y’z
Fungsi f memetakan nilai-nilai pasangan terurut ganda-3
(x, y, z) ke himpunan {0, 1}.
Contohnya, (1, 0, 1) yang berarti x = 1, y = 0, dan z = 1
sehingga f(1, 0, 1) = 1 ⋅ 0 ⋅ 1 + 1’ ⋅ 0 + 0’⋅ 1 = 0 + 0 + 1 = 1 .

Contoh. Contoh-contoh fungsi Boolean yang lain:
1. f(x) = x
2. f(x, y) = x’y + xy’+ y’
3. f(x, y) = x’ y’
4. f(x, y) = (x + y)’
5. f(x, y, z) = xyz’

• Setiap peubah di dalam fungsi Boolean, termasuk dalam bentuk komplemennya,
disebut literal.

Contoh: Fungsi h(x, y, z) = xyz’ pada contoh di atas terdiri dari 3 buah literal,
yaitu x, y, dan z’.


Contoh. Diketahui fungsi Booelan f(x, y, z) = xy z’, nyatakan h dalam tabel kebenaran.
Penyelesaian:
93

x y z f(x, y, z) = xy z’
0
0
0
0
1
1
1
1
0
0
1
1
0
0
1
1
0
1
0
1
0
1
0
1
0
0
0
0
0
0
1
0

Komplemen Fungsi
1. Cara pertama: menggunakan hukum De Morgan
Hukum De Morgan untuk dua buah peubah, x
1
dan x
2
, adalah

Contoh. Misalkan f(x, y, z) = x(y’z’ + yz), maka
f ’(x, y, z) = (x(y’z’ + yz))’
= x’ + (y’z’ + yz)’
= x’ + (y’z’)’ (yz)’
= x’ + (y + z) (y’ + z’)


Aplikasi Aljabar Boolean


2. Rangkaian Digital Elektronik
94

Gerbang AND Gerbang OR Gerbang NOT (inverter)


Contoh. Nyatakan fungsi f(x, y, z) = xy + x’y ke dalam rangkaian logika.

Jawab: (a) Cara pertama

(b) Cara kedua

y
x
xy
y
x
x+ y x'
x
x'
x
y
xy
x
y
x'y
xy+x'y
x'
xy
x
y
x'y
xy+x'y
95
(b) Cara ketiga

Gerbang turunan

Gerbang NAND Gerbang XOR
Gerbang NOR Gerbang XNOR



x
y
(xy)'
x
y
(x+y)'
x
y
+ x y
x
y
+
(x y)'
x
y
(x+y)'
x
y
(x + y)'
ekivalen dengan
x
y
(x + y)'
x + y
x'
xy
x y
x'y
xy+x'y
96


Penyederhanaan Fungsi Boolean

Contoh. f(x, y) = x’y + xy’ + y’

disederhanakan menjadi

f(x, y) = x’ + y’

Penyederhanaan fungsi Boolean dapat dilakukan dengan 3 cara:
1. Secara aljabar
2. Menggunakan Peta Karnaugh
3. Menggunakan metode Quine Mc Cluskey (metode Tabulasi)

1. Penyederhanaan Secara Aljabar

Contoh:
1. f(x, y) = x + x’y
= (x + x’)(x + y)
= 1 ⋅ (x + y )
= x + y

2. f(x, y, z) = x’y’z + x’yz + xy’
x'
y'
x'y'
ekivalen dengan
x'
y'
x' + y'
ekivalen dengan
x
y
(xy)'
97
= x’z(y’ + y) + xy’
= x’z + xz’

3. f(x, y, z) = xy + x’z + yz = xy + x’z + yz(x + x’)
= xy + x’z + xyz + x’yz
= xy(1 + z) + x’z(1 + y) = xy + x’z

98
DAFTAR PUSTAKA

1. Introduction to Logic, Patrick Suppes, D. Van Nostrand Company, Inc., Canada,
1959.
2. Set Theory and Logic, Robert R. Stoll, Eurasia Publishing House Ltd, New Delhi,
1976.
3. Logika Informatika, Setiadji, Graha Ilmu, Yogyakarta, 2007.
4. Logika Matematika untuk Ilmu Komputer, F.Soesianto dan Djoni Dwijono,
Penerbit Andi, Yogyakarta, 2006.
5. Sumber lain dari internet.






Arti Logika Informatika Pada masa Aristoteles, logika merupakan satu bahasan dalam ilmu tertua di dunia, yaitu Filsafat. Baru pada masa-masa berikutnya logika masuk ke berbagai bidang ilmuilmu yang lebih muda seperti ilmu hitung/matematika, dan kini komputer/informatika. Dari arti katanya dalam bahasa Yunani, yaitu logike/logos yang berarti ilmu/pikiran, logika bisa diartikan sebagai perkataan sebagai manifestasi dari pikiran manusia. Atau, logika adalah ilmu yang mempelajari (jalan) pikiran yang diungkapkan dalam bahasa. Arti logika menurut bahasan logika modern, terdapat banyak versi. Dua versi dari definisi logika adalah: 1. Ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan prinsip-prinsip dari penalaran argumen yang valid. 2. Studi tentang kriteria-kriteria untuk mengevaluasi argumen-argumen dengan menentukan mana yang valid dan tidak valid, dan membedakan antara argumen yang baik dan tidak baik. Sedangkan logika informatika sendiri, dapat diartikan sebagai: 1. Aturan-aturan logika yang menggunakan kaidah-kaidah tertentu dalam informatika yang dipergunakan untuk membuktikan validitas suatu argumen. 2. Aturan-aturan logika yang menggunakan kaidah-kaidah tertentu dalam matematika yang dipergunakan untuk membuktikan validitas suatu argumen dalam bidang informatika. Argumen dan Silogisme Argumen Adalah usaha untuk mencari kebenaran dari suatu pernyataan berupa kesimpulan dengan berdasarkan pada kebenaran dari satu kumpulan pernyataan yang disebut premis-premis. Silogisme Logika berawal dari pertanyaan-pertanyaan yang paling mendasar di kehidupan ini. Silogisme Aristoteles, menurutnya, adalah suatu argumen yang terbentuk dari pernyataan-pernyataan dengan salah satu atau keempat bentuk berikut: 1. Semua A adalah B. (universal affirmative) 2. Tidak A adalah B. (universal negative) 3. Beberapa A adalah B. (particular affirmative) 4. Beberapa A adalah tidak B. (particular negative)

2

Huruf A dan B diatas menggantikan suatu kata benda, misalnya ‘manusia’, ‘cuaca’, dan sebagainya yang disebut terms of syllogism atau pokok dari silogisme. Suatu silogisme yang berbentuk sempurna (well-formed syllogism) adalah silogisme yang memiliki dua buah premis dan satu kesimpulan, dimana setiap premis memiliki satu pokok(term) bersama dengan kesimpulan dan satu lagi pokok bersama dengan premis lainnya. Contoh sebuah silogisme sempurna: Premis Premis Konklusi : Semua A adalah B. : Semua B adalah C. : Semua A adalah C.

(Pada premis pertama, A sama dengan A pada kesimpulan, dan ia juga memiliki B yang sama dengan B pada premis kedua.) Manfaat Logika Informatika Logika informatika digunakan dalam semua bidang pada ilmu informatika. Dari pembuatan konsep, penulisan software hingga cara kerja hardware. Contoh beberapa manfaat logika informatika: 1. Membuat program. Contoh, struktur IF-THEN...ELSE dalam bahasa Pascal IF kondisi THEN Statemen1 ELSE Statemen2; 2. Database. Contoh, mencari daftar mahasiswa Informatika UNSOED angkatan 2008 yang nilai IPK-nya 4. 3. Cara kerja komputer(mesin). Level logika pada komputer. Masing-masing level komputer menggunakan level logika yang berbeda(dari logika elektronik 0 dan 1 hingga logika manusia dalam bahasa pemrograman tingkat tinggi) tetapi semua bekerja berdasar prinsip-prinsip logika.

3

Menggunakan operator AND. 4 . Contoh: 1. Diwakili dengan tanda + . Search engine google menggunakan prinsip logika dalam pencariannya. Pencarian akan ’teknik+informatika’ di Google akan menghasilkan data yang terdiri dari teknik dan informatika.Gambaran level logika yang berlaku sesuai dengan bahasa pemrograman yang digunakan: Studi kasus: Search Engine Google.

Menggunakan operator OR Pencarian dengan ketentuan ’teknik OR informatika’.2. Menggunakan operator NOT Pencarian dengan ketentuan teknik NOT informatika. dilambangkan dengan ’teknik – informatika’ akan menghasilkan pencarian akan kata ’teknik’ saja. 3. yang tidak mengandung kata ’informatika’. Hasil pencarian akan menampilkan kata teknik saja atau informatika saja. 5 .

Semesta Pembicaraan Semesta pembicaraan adalah keseluruhan obyek yang dibicarakan. Pernyataan disebut juga kalimat deklaratif yaitu kalimat yang bersifat menerangkan dan disebut juga proposisi. ‫ا أ‬ Geef mij maar nasi goreng met een gebakken ei Wat sambal en wat kroepoek en een goed glas bier erbij.BAB II ALJABAR PROPOSISI Kata merupakan rangkaian huruf yang mengandung arti. Guten tag! Mein Name ist Hesti. 6 . Di dalam matematika tidak semua pernyataan yang bernilai benar atau salah saja yang digunakan dalam penalaran. Bonjour! Je m’appelle Hesti. Contoh: • • • • • I watch TV till 12 o’clock last night. edangkan kalimat adalah kumpulan kata yang disusun menurut aturan tata bahasa dan mengandung arti. Contoh: • • • • • Pada kehidupan sehari-hari Pada ilmu hitung Pada astronomi Pada Informatika Dll Pada himpunan dapat di gambarkan sebagai berikut : S Bahasa adalah rangkaian simbol-simbol yang diucapkan atau ditulis menurut aturanaturan tertentu.

7 . 2. 4. Andi lebih tinggi daripada Tina. Dimanakah letak pulau bali?.• Konnichiwa. Kalimat Deklaratif Kalimat Deklaratif /Pernyataan/ Proposisi adalah kalimat yang bernilai benar atau salah tetapi tidak keduanya.. P2.. Validitas Argumen Argumen adalah suatu pernyataan tegas yang diberikan oleh sekumpulan proposisi P1. Pandaikah dia?. Contoh : 1.. 4 adalah bilangan prima (Salah). 5.. 3x-2y=5x+4.. . 4.. 3. 2+2=4 (Benar).. Langkah-langkah penalaran sesuai dengan hukum-hukum logika.. 2. Tidak semua kalimat berupa proposisi Contoh : 1. 5. Yogyakarta adalah kota pelajar (Benar)..Pn yang disebut premis (hipotesa/asumsi) dan menghasilkan proposisi Q yang lain yang disebut konklusi (kesimpulan). 3. x+y=2. Konklusi/hasil kesimpulan dari argumen tersebut benar setelah melalui suatu proses observas/dapat dibuktikan. 5x12=90 (Salah). Secara umum di notasikan dengan Argumen disebut benar apabila telah memenuhi syarat: 1. 2. Semua manusia adalah fana (Benar).

Saya bermain futsal. – Jika dia tak dapat kaya maka bahagia. – Dia miskin tetapi bahagia. Saya bermain futsal. – Menjadi kaya berarti sama seperti menjadi bahagia. Kesimpulan yg diambil benar. 2. Contoh Semantik-Sintaks – Dia tidak kaya dan tidak bahagia. – Dia miskin atau jika tidak maka dia kaya dan tak bahagia. Semantik-Sintaks : • • Jika hari ini cerah saya bermain futsal. SOUND ARGUMENT POLA: Semua X adalah Y Beberapa Y adalah Z Maka beberapa X adalah Z 8 . – Jika dia tidak miskin. – Seseorang tak pernah bahagia jika dia kaya. Argumen ini kuat karena: 1. Kesimpulan: Hari ini cerah. – Jika dia tak miskin dan tak bahagia maka ia kaya. Langkah penalaran tepat. Kesimpulan: Hari ini cerah. – Jika dia tidak bahagia maka ia miskin.Premis : • • Jika hari ini cerah saya bermain futsal. – Menjadi miskin berarti menjadi tak bahagia. Isi/arti kalimat/semantik bukan merupakan bahasan. Yang diperhatikan dalam logika hanyalah bentuk kalimat/sintaks-nya saja. maka dia bahagia.

Maka beberapa Toyota adalah Porche. Mobil P T Contoh 2 : Semua angkatan 2008 mengambil kuliah login.Contoh Argumen kuat: • • • Semua Toyota adalah mobil Jepang. Beberapa mobil Jepang dibuat di Indonesia. Maka beberapa Toyota dibuat di Indonesia. Beberapa mobil adalah Porche. S:Mobil Jepang T S Dibuat di Indonesia UNSOUND ARGUMENT Pola : Semua X adalah Y Beberapa Y adalah Z Maka beberapa X adalah Z Contoh 1 : Semua Toyota adalah mobil. 9 . Beberapa mahasiswa yang mengambil login adalah angkatan 2007. Maka beberapa mahasiswa angkatan 2008 adalah angkatan 2007.

Kata-kata Penghubung Kalimat Dalam menggabungkan proposisi atomik menjadi sebuah proposisi majemuk. diperlukan sebuah kata penghubung/perangkai kalimat. proposisi terdiri dari proposisi : 1. Proposisi majemuk adalah proposisi yang terdiri dari beberapa proposisi atomik. 2.Mhsw Ambil Login 2007 2008 Proposisi Atomik dan Majemuk Dilihat dari kompleksitasnya. Jika hari hujan maka saya berangkat kuliah. • • • DAN ATAU BUKAN 10 . Masukannya salah. Mike pintar dan nilai-nilainya bagus. Menonton konser Kangen Band. Jack pintar. Jack dan Jen sama-sama pintar. Setiap orang Indonesia pintar. Contoh : • • • • • • • • • • • • Hari hujan. Ralph pintar atau rajin. Ada bug dan masukannya salah. Proposisi atomik adalah proposisi yang tidak dapat dipecah-pecah menjadi beberapa proposisi lagi. demikian juga Jen. Ada bug. Saya tidur atau menonton konser Kangen Band.

.. .. .... notasi negasi P adalah ∼P 11 ...• • JIKA JIKA DAN HANYA JIKA SIMBOL ⌐ atau ‾ Λ V => ⌠ ARTI Tidak/Bukan/Not/Negasi Dan/And/Konjungsi Atau/Or/Disjungsi Implikasi Biimplikasi BENTUK Tidak..maka. 4. SMBL A B ⌐A ⌐B AΛB AVB ⌐A Λ B A=>B A⌠B Tabel Kebenaran Tabel kebenaran adalah tabel nilai yang mendefinisikan nilai kebenaran keseluruhan kalimat berdasarkan nilai kebenaran masing-masing kalimat penyusunnya....dan. 6. Contoh Penggunaan kata penghubung : Proposisi atomik Dan proposisi atomik N 1.jika dan hanya jika. 8. 9.... PROPOSISI Hari ini hujan Hari ini mendung Hari ini tidak hujan Hari ini tidak mendung Hari ini hujan dan mendung Hari ini hujan atau mendung Hari ini tidak hujan tetapi mendung Jika hari ini hujan maka akan mendung Hari ini hujan jika dan hanya jika hari mendung A: B: Hari ini hujan. 3. ... 7. Hari ini mendung. 2..atau. Negasi : Negasi suatu pernyataan P adalah pernyataan baru yang bernilai salah jika P benar dan bernilai benar jika P bernilai salah. Jika. 5.

Disjungsi Disjungsi (inklusif) dari dua pernyataan P atau Q ditulis P∨Q (dibaca P atau Q) adalah suatu pernyataan yang bernilai benar jika salah satu kom ponennya.P T F F T ~P Misal : P adl “x lebih kecil dari 5” . dalam logika di pandang sebagai suatu pernyataan yang sah Selanjutnya pandang : 1. x tidak lebih kecil dari 5 3. bernilai benar. bernilai benar. Tabel kebenarannya adalah : P T T F F Q T F T F PΛQ T F F F Perhatikan bahwa walaupun menggunakan istilah ”dan”. negasinya adl : 1. yaitu p dan q. Q : Ali dan Budi bersaudara P merupakan konjungsi sedang Q bukan. P : Ali dan Budi duduk dikelas 2 2. Tidak( lah benar ) x lebih kecil dari 5 2. Misal : “Yogyakarta ibukota propinsi DIY dan 112 habis dibagi 2”. dan akan bernilai salah jika salah satu komponennya bernilai salah. dan ber nilai salah jika kedua komponennya bernilai salah Tabel kebenarannya adalah : P Q PVQ 12 . dua kalimat yang dihubungkan tidak harus mempunyai hubungan. yaitu p atau q. x lebih besar atau sama dengan 5 Konjungsi Konjungsi dari dua pernyataan P dan Q ditulis P∧Q (dibaca P and Q) adalah suatu pernyataan yang bernilai benar jika kedua komponennya.

Q = benar). dan bernilai benar jika yang lain Tabel kebenarannya adalah : P T T F F Perhatikan kalimat dibawah ini : Jika Anda mengendarai mobil maka anda harus memakai sabuk pengaman. P merupakan sarat cukup untuk Q Contoh : Q T F T F P => Q T F T T Dalam pernyataan P → Q. 13 . Orang yang naik gerobak dan memakai sabuk pengaman tidak menyalahi aturan (benar.T T F F Implikasi T F T F T T T F Implikasi dua pernyataan P dan Q adalah P → Q yang dibaca “ Jika P maka Q ”. Q=betul). Pernyataan implikasi disebut juga pernyataan bersyarat Suatu implikasi P → Q bernilai salah jika P benar dan Q salah. Q=salah) Pernyataan lain daripada “ Jika P maka Q “ adalah : 1. sebab P=Salah. Q = salah). Jika Anda masuk kawasan pabrik. sebab P=salah. P hanya jika Q 3. P disebut anteseden dan Q disebut konsekuen. dan Orang yang naik gerobak tidak memakai sabuk pengaman tak menyalahi aturan (benar. sebab P= benar. maka Anda harus mengenakan tanda pengenal • • • • Seseorang yang mengendarai mobil dan memakai sabuk pengaman tentunya tidak menyalahi aturan (benar. Q merupakan sarat perlu untuk P 4. orang yang mengendarai mobil tidak pakai sabuk pengaman jelas menyalahi aturan (salah .sebab P = benar. Q jika P 2.

dan R = saya mendapat hadiah TTS Kalimatnya menjadi : (Q ∨ R) P 2. Jika Jakarta bukan ibukota RI. Saya akan memberi anda uang apabila saya lulus ujian atau saya mendapat hadiah TTS Jawab a. P = saya berlibur ke Bali.1.3x3) benar Bi-Implikasi BI-Implikasi dua pernyataan P dan Q adalah P↔Q yang dibaca “ P jika dan hanya jika Q ” (disingkat P bhb Q) . karena anteseden salah (Jakarta bukan ibu kota RI) b. Tentukan nilai kebenaran pernyataan-pernyataan dibawah ini : a. Tabel kebenarannya adalah : 14 . Tuliskan kalimat dibawah ini dengan simbol logika a. sedangkan jika nilai nilai P tidak sama dengan nilai Q maka nilai pernyataan tersebut salah. Q = Saya lulus ujian. Q = 273 merupakan bilangan prima c. Benar. Sarat perlu agar 273 habis dibagi 3 adalah 273 merupakan bilangan prima c. P = 273 habis dibagi 3. 2<3 merupakan syarat cukup untuk 2x2 < 3x3 Jawab : a. maka 9 juga bukan bilangan prima b. karena konsekuennya (2x2 . Benar. P = Saya memberi Anda uang. Q = Saya lulus ujian Kalimatnya menjadi : P Kalimatnya menjadi : P Q Q b. 2+2 = 2x2 hanya bila 2 =0 c. Saya akan berlibur ke Bali hanya jika saya lulus ujian b. Salah. karena anteseden (2+2 = 2x2) benar sedangkn konsekuennya (2 = 0 ) salah c. Pernyataan Bi-implikasi bernilai benar jika P dan Q keduanya bernilai sama.

Contoh 1 : Tentukan apakah kalimat dibawah ini ekuivalen: • • • -(-A) dengan A -(A Λ B) dengan -A Λ-B A=>B dengan –A V B B). P merupakan sarat perlu dan cukup untuk Q 2. maka dituliskan A ≡B (atau A Jika A ≡B maka B ≡A juga. Jika A dan B adalah kalimat-kalimat yang ekuivalen. P ekuivalen dengan Q Contoh X merupakan bilangan gasal bhb X habis dibagi 3 Jawab : Misal P = X merupakan bilangan gasal Q = X habis dibagi 3 Kalimatnya : P ↔ Q Ekuivalen Dua kalimat disebut ekuivalen(secara logika) jika dan hanya jika keduanya mempunyai nilai kebenaran yang sama untuk semua substitusi nilai kebenaran masing-masing kalimat penyusunnya. Buat tabel kebenaran untuk membuktikannya A ~A ~(~A) 15 .P T T F F Q T F T F P <=> Q T F F T Suatu pernyataan bentuk bi-implikasi dapat disajikan dengan : 1.

Hukum Komutatif: 16 .T F Contoh 2 : F T T F Tentukan apakah kalimat dibawah ini ekuivalen: • • • -(-A) dengan A. terbukti –(-A) ≡A -(A ΛB) ≡-A Λ-B. terbukti –(-A) ≡A -(A ΛB) dengan -A Λ-B A=>B dengan –A V B A T T F F B T F T F A ΛB T F F F ~ (A ΛB) F T T T ~A F F T T ~B F T F T ~ A Λ~B F F F T Buat tabel kebenaran untuk membuktikannya Contoh 3 : Tentukan apakah kalimat dibawah ini ekuivalen: • • • -(-A) dengan A. (tidak terbukti) A=>B dengan –A V B A T T F F B T F T F A => B T F T T ~A F F T T ~A V B T F T T Buat tabel kebenaran untuk membuktikannya Terbukti A => B ≡ ~A V B Hukum-hukum Ekuivalensi Logika : 1.

Hukum Idempoten: p^p ≡p. Hukum Identitas: p ΛT ≡ p. Hukum Negasi: p v ⌐p ≡T. p V F ≡p 5. Hukum Distributif: p Λ(q V r) ≡ (p Λq) V (p Λr). Hukum Ikatan: p V T ≡ T. Hukum Negasi Ganda: ⌐(⌐)p ≡p 8. P V q ≡ q V p. Hukum Absorbsi: p v (p^q) ≡ p. p ΛF ≡F 6. Negasi T dan F: ⌐T ≡ F. ⌐F ≡ T 12.• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • p Λq ≡ q Λp. Hukum Implikasi: p=>q ≡ ⌐p v q 17 . p V (q Λr ) ≡ (p V q) Λ(p V r) 4. 2. P ^ ⌐p ≡F. 7. pvp ≡p 9. Hukum De Morgan: ⌐(p^q) ≡⌐p v ⌐q ⌐(pvq) ≡⌐p ^ ⌐q 10. p ^ (p v q) ≡ p 11. (p V q) V r ≡ p V (q V r) 3. Hukum Asosiatif: (p Λq) Λr ≡ p Λ(q Λr).

Sama Dengan Q (pΛq)v(⌐p^q) ≡q. p q ≡ (p=>q) ^(q=>p) 15. 16. (pvq) ^ (pv⌐q) ≡p.13. Hukum Biimplikasi: ⌐T ≡F. Penyederhanaan Contoh : Sederhanakan bentuk • ⌐(⌐A ^ B)^(AvB) ≡ (⌐(⌐A)v ⌐B) ^ (AvB) ≡ (Av ⌐B) ^ (AvB) ≡ Av( ⌐B ^B) ≡ AvF ≡A • • -(Av-B)v(-A^-B) ≡ -A -(Av-B)v(-A^-B) ≡ (-A^-(-B))v(-A^-B) ≡ (-A^B)v(-A^-B) ≡ -A^(Bv-B) ≡ -A^T ≡ -A • (pvF)^(pv-p) ≡ p^(pv-p) ≡ p^T ≡p • -p =>-(p=>-q) ≡ --pv-(p=>-q) ≡ --pv-(-pv-q) ≡ --pv(--p^--q) ≡ pv(p^q)≡p 18 . 14. Hukum Kontraposisi: • • • • • • • p=>q ≡⌐q => ⌐p. Negasi Q. (pvq) ^ (⌐pvq) ≡q. Negasi P. Sama Dengan P (pΛq) v (p^⌐q) ≡p.

Tautologi. Tunjukkan bahwa (pVq) ∧ [(¬p) ∧ (¬q)] adalah kontradiksi! p T T F F q ¬p ¬q ¬p ∧ ¬q T F T F T F T F F T F T F F F T (pVq) ∧ [(¬p) ∧ (¬q)] F F F F 19 . Kalau suatu kalimat tautologi diturunkan lewat hukum-hukum yang ada maka pada akhirnya akan menghasilkan True. Kontradiksi dan Contingent Tautologi adalah suatu bentuk kalimat yang selalu bernilai benar (True) tidak peduli bagaimanapun nilai kebenaran masing-masing kalimat penyusunnya. Dalam tabel kebenaran. Tunjukkan bahwa (pVq) V [(¬p) ∧ (¬q)] adalah tautologi! p T T F F q ¬p ¬q ¬p ∧ ¬q T F T F T F T F F T F T F F F T (pVq) V [(¬p) ∧ (¬q)] T T T T 3. tidak peduli bagaimanapun nilai kebenaran masing-masing kalimat penyusunnya. Jika pada semua nilai kebenaran menghasilkan nilai F dan T. Tunjukkan bahwa pV(¬p) adalah tautologi! P T T F F ¬P P V (¬P) T T T T T F T F 2. suatu tautologi selalu bernilai True pada semua barisnya dan kontradiksi selalu bernilai False pada semua baris. sebaliknya kontradiksi akan selalu bernilai False. sebaliknya kontradiksi adalah suatu bentuk kalimat yang selalu bernilai salah (False). maka disebut formula campuran (contingent). Contoh : 1.

DAN KONTRAPOSISI “Jika hari ini mendung maka Rafif membawa payung” contoh konvers.4. invers. dan kontraposisi dari implikasi di atas : Misal p : hari ini mendung q : Rafif membawa payung maka kalimatnya menjadi p => q atau jika menggunakan operator dan maka p => q ekuivalen(sebanding/≈) dengan ¬p v q. INVERS. Tunjukkan bahwa [(p ∧ q) => r] => p adalah contingent! p T T T T F F F F q r T T F F T T F F T F T F T F T F p∧q T T F F F F F F (p ∧ q) => r T T F F T T T T [(p ∧ q) => r] => p T T T T F F F F KONVERS. Kontraposisi : ¬q => ¬p ≈ q v ¬p Kalimat : • • Jika hari ini tidak mendung maka Rafif tidak membawa payung (¬q =>¬p) hari ini mendung atau Rafif tidak membawa payung dan (q ∧ ¬p) 20 . Konvers : q => p ≈ ¬q v p Kalimat : • • Jika Rafif membawa payung maka hari ini mendung (q => p) Rafif tidak membawa payung atau hari ini mendung (¬q v p) 2. Invers : ¬p => ¬q ≈ p ∧¬q Kalimat : • • Jika Rafif tidak membawa payung maka hari ini tidak mendung (¬p => ¬q) Rafif membawa payung dan hari ini tidak mendung (p ∧¬q) 4. Sehingga : 1.

Tentukan premis dan konklusi argument 2. Dengan kata lain. p |. Buat tabel yang menunjukkan nilai kebenaran untuk semua premis dan konklusi. Misal p : Saya suka kalkulus q : Saya lulus ujian kalkulus Maka argumen p _ q.…………. Carilah baris kritis yatitu baris diman semua premis bernilai benar.. Jadi suatu argumen dikatakan valid jika dan hanya jika proposisi P1∧P2∧.. maka saya akan lulus ujian kalkulus P2 : Saya lulus ujian kalkulus ∴ Saya lulus ujian kalkulus (valid) Untuk mengetahui suatu argumen apakah valid atau tidak maka dapat dilakukan langkahlangkah sebagai berikut : 1. 3..∧Pn) |. Contoh : 1.Inferensi Logika Nilai kebenaran suatu argumen ditentukan sebagai berikut : “ Suatu argumen P1. Premis P1 : Jika Office dan Delphi diperlukan maka semua orang akan belajar computer P2 : Office dan Delphi diperlukan Konklusi Q : Semua orang akan belajar computer Jika ditulis dalam bentuk notasi logika Misal p : Office dan Delphi diperlukan q : Semua orang belajar computer Maka argumen diatas dapat ditulis : p => q... p _ q dapat ditulis P1 : Jika saya suka kalkulus. Sebaliknya jika semua premis benar tetapi konklusinya ada yang salah maka argumen tersebut dikatakan invalid (fallacy).Pn _ Q dikatakan benar (valid) jika Q bernilai benar untuk semua premis yang benar dan argumen dalam keadaan selain itu dikatakan salah (invalid/fallacy)”.P2.Q adalah sebuah Tautologi.. suatu argumen dikatakan valid apabila untuk sembarang pernyataan yang disubtitusikan ke dalam premis.. jika semua premis benar maka konklusinya juga benar.q (valid) 2.. 21 .

jika nilai kesimpulan semuanya benar maka argumen tersebut valid. Modus Tollens : p => q. Sistem Pembuktian / Penarikan Kesimpulan A. Hal ini mengingatkan bahwa suatu implikasi selalu ekuivalen dengan kontraposisinya. maka bilangan tersebut habis dibagi 10 Digit terakhir suatu bilangan adalah 0 ____________________________________ ∴ Bilangan tersebut habis dibagi 10 B. ¬q |. Jika diantara baris kritis tersebut ada baris dengan nilai konklusi salah maka argumen tersebut tidak valid. hanya saja premis kedua dan kesimpulan merupakan kontraposisi premis pertama modus ponen. p |.q atau dapat juga ditulis p => q p ______ ∴q Contoh : Jika digit terakhir suatu bilangan adalah 0. maka bilangan tersebut habis dibagi 10 Suatu bilangan tidak habis dibagi 10 ____________________________________ ∴ Digit terakhir bilangan tersebut bukan 0 22 .¬p Atau dapat juga ditulis p => q ¬q _______ ∴ ¬p Contoh : Jika digit terakhir suatu bilangan adalah 0. MODUS PONEN Modus ponen atau penalaran langsung adalh salah satu metode inferensi dimana jika diketahui implikasi ” Bila p maka q ” yang diasumsikan bernilai benar dan antasenden (p) benar. Modus Ponen : p => q . maka q juga harus bernilai benar.4. Supaya implikasi p_q bernilai benar. MODUS TOLLENS Bentuk modus tollens mirip dengan modus ponen. Dalam baris kritis tersebut.

maka kalimat tersebut dapat diambil salah satunya secara khusus (penyempitan kalimat).q Atau dapat ditulis p∧q ____ ∴p Contoh : atau p∧q ____ ∴q Langit berwarna biru dan bulan berbentuk bulat __________________________________________________ ∴ Langit berwarna biru atau ∴ Bulan berbentuk bulat E. Misalnya ”Langit berwarna biru atau bebek adalah binatang menyusui”. Jika beberapa kalimat dihubungkan dengan operator ”∧”. SILOGISME DISJUNGTIF Prinsip dasar Silogisme Disjungtif (Disjunctive syllogism) adalah kenyataan bahwa apabila kita dihadapkan pada satu diantara dua pilihan yang ditawarkan (A atau B). PENYEDERHAAN KONJUNGTIF (SIMPLIFICATION) Inferensi ini merupakan kebalikan dari inferensi penambahan disjungtif. Kalimat tersebut tetap akan bernilai benar jika ditambahkan kalimat lain dengan penghubung ”v”. 23 . Kalimat tersebut tetap bernilai benar meskipun kalimat ”Bebek adalah binatang menyusui”. Alasannya adalah karena penghubung ”v” bernilai benar jika salah satu komponennya bernilai benar.C. merupakan kalimat yang bernilai salah.p atau (p∧q) |. PENAMBAHAN DISJUNGTIF (ADDITION) Inferensi penambahan disjungtif didasarkan atas fakta bahwa suatu kalimat dapat digeneralisasikan dengan penghubung ”v”. Misalnya saya mengatakan ”Langit berwarna biru” (bernilai benar). Simplification : (p∧q) |. Addition : p _(pÚq) atau q _ (pÚq) Atau dapat ditulis p ____ ∴ pvq Contoh : atau q ____ ∴ pv q Simon adalah siswa SMU ______________________________ ∴Simon adalah siswa SMU atau SMP D.

DILEMA 24 .Sedangkan kita tidak memilih/tidak menyukai A. ¬p |. Begitu juga sebaliknya. Silogisme Disjungtif : pv q. KONJUNGSI Jika ada dua kalimat yang masing-masing benar. q=>r |.q dan pvq. maka implikasi p=>r bernilai benar pula. ¬q |. Konjungsi p q ____ ∴ p∧q H. maka gabungan kedua kalimat tersebut dengan menggunakan penghubung ”∧” juga bernilai benar. Transitivity : p=>q .p Atau dapat ditulis pvq ¬p ____ ∴q Contoh : atau pvq ¬q ____ ∴p Saya pergi ke mars atau ke bulan Saya tidak pergi ke mars __________________________ ∴ Saya pergi ke bulan F. SILOGISME HIPOTESIS (TRANSITIVITY) Prinsip silogisme hipotesis adalah sifat transitif pada implikasi.p=>r Atau dapat ditulis p=>q q=>r _____ ∴ p=>r Contoh : Jika hari hujan maka tanahnya menjadi berlumpur Jika tanahnya berlumpur maka sepatu saya akan kotor ____________________________________________ ∴ Jika hari hujan maka sepatu saya akan kotor. maka satu-satunua pilihan adalah memilih B. G. Jika implikasi p=>q dan q=>r keduanya bernilai benar.

masingmasing kalimat dapat mengimplikasikan sesuatu yang sama. Berdasarkan hal itu maka suatu kesimpulan dapat diambil.Kadang-kadang. Dilema : pvq p=>r q=>r _____ ∴r 25 . dalam kalimat yang dihubungkan dengan penghubung ”v”.

Jadi variabel adalah suatu simbol atau tanda yang digunakan untuk menunjuk pada anggota sembarang dari semesta pembicaranya. kuantor dan ingkaran kalimat sebagai konsep penalaran dalam logika informatika. angka 211 adalah suatu simbol untuk bilangan-bilangan yang disajikan. Simbol seperti itu disebut Konstanta. Jadi konstanta adalah suatu simbol atau tanda yang diucapkan atau ditulis untuk menunjukkan tentang anggota tertentu dari semestanya. diperlukan suatu simbol atau tanda yaitu suatu nama dari anggota tersebut. Contoh 2 : Misalnya semesta pembicaranya terdiri atas mereka yang kuliah pada sebuah universitas (perguruan tinggi) maka kata “mahasiswa” menunjuk pada anggota sembarang dari semesta pembicaranya. “Ais”. kalimat terbuka. Manusia memakai sepatu (c). Variabel dan Konstanta Variabel adalah simbol yang menunjukan suatu anggota yang belum spesifik dalam semesta pembicaraan. maka diperlukan suatu tanda-tanda lain dari konstanta. 4 + x = 7 (d). Contoh 1 : Misalnya ada pernyataan “Niken”. Tanda demikian yang dimaksud adalah variabel (atau perubah). dimana semestanya adalah himpunan orang-orang. maka angka 5.BAB III KUANTIFIKASI Dalam Bab ini akan mempelajari konsep dasar konstanta. variabel. “Aji” adalah nama orang. p < 5 26 . Manusia makan nasi (b). Jika semestanya himpunan bilangan-bilangan. Sedangkan konstanta adalah simbol yang menunjukan suatu anggota tertentu (yang sudah spesifik) dalam semesta pembicaraan. Jika hendak berbicara tentang anggota sembarang dari semestanya. Contoh 3 : Pehatikan beberapa pernyataan berikut: (a). Untuk dapat berbicara tentang anggota tertentu dari semestanya.

Pada pernyataan (c) jika x diganti 3. tidak bernilai benar atau salah. tetapi jika semestanya himpunan bilangan asli.1. maka pernyataannya menjadi “Toni makan nasi”. hanya untuk mempermudah dalam pembicaraan selanjutnya. “x” .Suatu pernyataan mempunyai nilai benar atau salah tergantung pada kesesuaian kalimat tersebut dengan keadaan sesungguhnya.2. atau 2. Pernyataan seperti ini biasanya disebut pernyataan faktual. atau 4” akan bernilai benar untuk semesta pembicaraan himpunan bilangan cacah. dan “0. Jika variabel dalam kalimat terbuka sudah diganti dengan konstanta yang sesuai. Huruf ”p”. 27 . “q” . “p” pada pernyataan diatas disebut variabel. Misalkan pernyataan terbuka ini dengan simbol/notasi “p(x)”. Disini “p(x)” .dan seterusnya disini hanyalah sebuah simbol/notasi dalam pengkajian suatu sifat. Jika pernyataan (a) manusia diganti Tony. Demikian juga untuk pernyataan (b) akan menjadi pernyataan “Tony memakai sepatu” pernyataan ini akan menjadi jelas nilainya. “y” dan seterusnya... akan bernilai benar. Misalnya: “p (x)” ini merupakan kalimat terbuka. Jika semesta pembicaranya bilangan-bilangan maka variabel yang dimaksudkan adalah variabel numerik. Bernilai benar jika keadaan sesungguhnya sesuai dengan realita yang ada. Dalam hal ini. belum bernilai benar atau salah. Jadi pernyataan terbuka merupakan pernyataan yang belum mempunyai nilai kebenaran. Kalimat terbuka Pernyataan-pernyataan dalam contoh 3 di atas disebut kalimat (pernyataan) terbuka. dan jika variabel tersebut diganti konstanta yang sesuai dengan semestanya maka pernyataanya akan bernilai benar saja atau salah saja. atau 3. Sedangkan pengganti katanya yaitu “Tony”.4” disebut konstanta. yang biasanya dipilih huruf kecil dari abjad “x”. maka pernyataan akan bernilai salah. . dan diucapkan sebagai “obyek x mempunyai sifat p”.3. Demikian juga untuk pernyataan (d) jika p diganti “0 atau 1. Pernyataan ini jelas bernilai benar saja atau salah saja. maka pernyataan yang terjadi dikatakan sebagai pernyataan tertutup. variabel adalah tanda-tanda. Variabel yang terdapat dalam rangkaian tanda “p(x)” disebut variabel bebas. yaitu benar atau salah tergantung realitasnya. tetapi jika x diganti 4 akan bernilai salah. Pernyataan ini disebut pernyataan terbuka. tergantung realitasnya. “4”.. Kata-kata “manusia”. “3”. jika sebaliknya bernilai salah. Pernyataan terbuka adalah suatu pernyataan yang memuat variabel.

Yang dimaksud kuantor disini adalah kuantor universal atau kuantor eksistensial di depan pernyataan “p(x)”. Kuantor eksistensial (∃) Contoh : • • • • Setiap laki-laki harus wajib militer Ada beberapa laki-laki yang tidak wajib militer Untuk setiap x. (∀x)p(x)→q(x) dan 2. Kuantor Cara lain untuk mendapat kalimat deklaratif dari suatu pernyataan adalah dengan menggunakan kuantor. Ditulis sebagai berikut : Kuantor pernyataan Jika p adalah menunjukkan sifat “laki-laki” dan q menunjukkan sifat “wajib militer”. Ada cara yang lazim digunakan untuk merubah pernyataan terbuka ini menjadi pernyataan deklaratif.Agar pernyataan terbuka “p(x)” ini mempunyai nilai salah atau benar (yaitu menjadi pernyataan deklaratif). yaitu dengan membubuhkan suatu kuantor. Kuantor universal (∀) 2. (∃x)p(x) ∧ q(x) Secara umum : Kuantor universal selalu diikuti dengan bentuk Implikasi dan Kuantor eksistensial selalu diikuti dng bentuk konjungsi Hubungan Kuantor ∀ dan ∃ Pandang contoh sebagai berikut : Pernyataan p : “Setiap peserta kuliah Logika informatika mendapat nilai A” Ingkarannya : 28 . maka jika perlu semua variabel bebas di dalamnya diganti dengan suatu konstanta. yaitu menentukan kuantifikasi obyeknya Ada dua jenis kuantor yaitu : 1. maka kalimat tersebut dapat ditulis : 1. jika x laki-laki maka x harus wajib militer Terdapat x sehingga x laki-laki dan x tidak wajib militer.

maka perlu dibicarakan suatu pernyataan dengan lebih dari satu kuantor.y) ↔ (∀y) (∀x) p(x. (∃x) (∃y) p(x.y) Didapat rumusan sbb : 1.y) Ingkaran kalimat Negasi dari “Semua manusia tidak kekal” adalah “tidak benar bahwa semua manusia tidak kekal ” atau “Beberapa manusia tidak kekal”.y) → (∀x) (∃y) p(x. (∀x) (∀y) p(x.y) adalah : (∀x)(∀y)p(x.~p adalah : “Tidak setiap peserta kuliah logika informatika mendapat nilai A” atau boleh dikatakan : “ Ada peserta kuliah logika informatika mendapat nilai tidak A (mis B)” Jika dua pernyataan tersebut ditulis dengan kuantor dan semesta pembicaraannya adalah semua peserta kuliah logika informatika. (∀x) (∀y) p(x.y) .y) . (∃x)(∀y)p(x. (∀x) (∃y) p(x. (∃y) (∀x) p(x. . misalnya p(x. maka kalimat pertama : p : (∀x)A(x) ( A adalah sifat mendapat nilai A) dan yang kedua (neg) : ~p : (∃x)A(x) Negasi kuantor Hubungan antara kuantor universal dengan kuantor eksistensial E1 : ( ∀ x ) p ( x ) ≡ ( ∃ x ) p ( x ) E2 : ( ∃ x ) p ( x ) ≡ ( ∀ x ) p ( x ) E3 : (∀x)p(x)→q(x) ≡ (∃x)p(x) ∧ q(x) E4 : (∃x)p(x) ∧ q(x) ≡ (∀x)p(x)→q(x) Jika suatu predikat menyangkut lebih dari satu obyek.y) ↔ (∃y) (∃x) p(x.y) 2.y) (∀x)(∃y)p(x. (∃x)(∃y)p(x. maka “Semua manusia adalah tidak kekal” atau ∀x p( x ) bernilai benar 29 .y) → (∃y) (∀x) p(x.y) (∃x)(∃y)p(x.y) (∀x)(∀y)p(x. (∀x)(∃y)p(x.y) 5.y) (∃x)(∀y)p(x.y) → (∃y) (∃x) p(x. Kombinasi kuantor yang mungkin untuk predikat p(x.y) . .y). Jika p(x) adalah manusia (=x) tidak kekal.y) 4.y) 3.

hubungan antara penempatan kuantor ganda adalah sebagai berikut : (∀x)( ∀y) P(x.y) Contoh 2 : Tentukan negasi dari logika predikat berikut ini : 30 .y) ¬[(∀x)( ∃y) P(x. yang terhubung hanya”x hidup”.y) ≡ (∃y)( ∃x) P(x. ¬[(∃x)( ∀y) P(x. atau x mati”.y) (∃x)( ∃y) P(x. Ingkaran dari kuantor eksistensial (∃x) p(x) dinyatakan dengan (∃x) p ( x) dinyatakan dengan simbol logika: [∃x p(x)] ≡ ∀x : p(x) atau (∃x) p ( x) = (∃x) p ( x) = (∀x) p ( x) Jadi negasi dari suatu pernyataan yang memuat kuantor eksistensial adalah ekivalen dengan pernyataan yang memuat kuantifikasi universal (fungsi pernyataan yang dinegasikan) Contoh 1 : H(x) : x hidup M(x) : x mati (∀x)(H(x) v M(x)) dibaca “Untuk semua x.y) (∃x)( ∀y) P(x.y) ≡ (∀y)( ∃x) P(x.y) Ingkaran kalimat berkuantor ganda dilakukan dengan cara yang sama seperti ingkaran pada kalimat berkuantor tunggal.y) ≡ (∀y)( ∀x) P(x. Jadi ingkaran dari kuantor universal (∀x) p(x) dinyatakan dengan simbol logika : [∀x p(x)] ≡ ∃x : p(x) atau (∀x) p(x) ≡ (∀x) p(x) ≡ (∃x) p(x) Jadi negasi dari suatu pernyataan yang memuat kuantor universal adalah ekivalen dengan pernyataan yang memuat kuantifikasi eksistensial (fungsi pernyataan yang dinegasikan) dan sebaliknya.y)] ≡ (∀x)( ∃y) ¬P(x. x hidup atau x mati” Akan tetapi jika ditulisnya (∀x)(H(x)) v M(x) maka dibaca “Untuk semua x hidup. Secara umum.dan “beberapa manusia tidak kekal” atau ∃x p( x ) bernilai salah. perhatikan penulisan serta peletakan tanda kurungnya. Sekali lagi.y)] ≡ (∃x)( ∀y) ¬P(x. x tidak terhubing dengan kuantor universal. Pada “x mati”.

Jadikan pernyataan “ada x. (∀x)( ∃ y) x=2y dengan domainnya adalah bilangan bulat (∀x)( ∃y) x=2y dibaca “Untuk semua bilangan bulat x. sehingga menjadi (∀y) K(x. yang x kenal semua y”. terdapat bilangan bulat y yang memenuhi x=2y.y) : x kenal y 2. Jadikan potongan pernyataan ”x kenal semua y”. maka akan menjadi K(x.1.y) 3.y) 31 . K(x. Ada toko buah yang menjual segala jenis buah Dapat ditulis (∃x)( ∀y) x menjual y. Maka negasinya ¬[(∃x)( ∀y) x menjual y] ≡ (∀x)( ∃y) x tidak menjual y Dibaca “Semua toko buah tidak menjual paling sedikit satu jenis buah”. Jadikan potongan pernyataan ”x kenal y”. sehingga menjadi (∃x)(∀y) K(x. Maka negasinya : ¬[(∀x)( ∃y) x=2y] ≡ (∃x)( ∀y) x≠2y 2.y). Mengubah pernyataan ke dalam logika predikat yang memiliki kuantor ganda Misal : “Ada seseorang yang mengenal setiap orang” Langkah-langkahnya : 1.

R = { a. {a. 2. dan tiap mahasiswa berbeda satu sama lain. 4}. dan dinotasikan sebagai berikut: x ∈ A : x merupakan anggota himpunan A. atau Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika (HIMATIF). Himpunan biasanya dilambangkan dengan huruf besar. Keanggotaan Suatu objek disebut anggota dalam suatu himpunan apabila memenuhi kriteria dalam himpunan tersebut. c}. kelompok anak kecil. sedangkan objek di dalam himpunan disebut yang biasa dissebut elemen. ada juga yang tidak masuk dalam kategori himpunan. Dilambangkan dengan huruf kecil. Contoh 2. Kelompok-kelompok tersebut dalam matematika ada yang disebut himpunan. Misalkan: maka 3∈A A = {1. unsur. Contoh 1: HIMATIF adalah sebuah himpunan. b.. 3. Definisi himpunan dalam matematika adalah sebagai berikut: Definisi Himpunan Himpunan (set) adalah kumpulan objek-objek yang berbeda dan terdefinisi dengan baik. c} } dan K = {{}} 32 . di dalamnya berisi anggota berupa mahasiswa. b. atau anggota. Misalnya kelompok tumbuhan berdaun lebar. {a. x ∉ A : x bukan merupakan anggota himpunan A.BAB IV HIMPUNAN Pada kehidupan sehari-hari seringkali untuk memperrmudah menyelesaikan suatu masalah kita mengelompokkan suatu objek kedalam kategori-kategori tertentu.

Bila P1 = {a. 0.. b. {a}.C = {kucing. 10}.C = {a. Simbol-simbol Baku 33 . 2. Amir. -2.R = { a.{a..Himpunan bilangan bulat ditulis sebagai {…. . c} } . . a. dan P3 = {{{a.K = { {} } . 100 } .. 2. {{a}} } . b}}}. 2. b. b} }. c}. .Himpunan 100 buah bilangan asli pertama: {1. 4}. …}. 6. 1. Enumerasi Enumerasi mendaftarkan semua anggota himpunan satu persatu.Himpunan lima bilangan genap positif pertama: B = {4. c} ∈ R c∉R {} ∈ K {} ∉ R Contoh 3. -1. {a. P2 = { {a. 8. {a. b. 10. paku} . Contoh : . maka a ∈ P1 a ∉ P2 P1 ∈ P2 P1 ∉ P3 P2 ∈ P3 Cara Penyajian Himpunan Cara penyajian himpunan ada beberapa macam yaitu: 1.Himpunan empat bilangan asli pertama: A = {1. 3. 2. b}.

. 3. . 8}. …... Misalkan U = {1. 3. 3. 4} (ii) M = { x | x adalah mahasiswa yang mengambil kuliah IF2151} 4. 2. 3. } Q = himpunan bilangan rasional R = himpunan bilangan riil C = himpunan bilangan kompleks Himpunan yang universal: semesta. 7.. Contoh: Misalkan U = {1... 8}. A = {1. 6. 2. 5} dan A adalah himpunan bagian dari U. 0. 5. 2. Diagram Venn Contoh 5. 2. x < 5 } yang ekivalen dengan A = {1. 5} dan B = {2.. } N = himpunan bilangan alami (natural) = { 1. Diagram Venn: U 1 3 A 2 5 B 8 6 4 7 34 . 3. 5}. (i) A adalah himpunan bilangan bulat positif kecil dari 5 A = { x | x bilangan bulat positif lebih kecil dari 5} atau A = { x | x ∈ P. 2. 4. Notasi Pembentuk Himpunan Notasi: { x  syarat yang harus dipenuhi oleh x } Contoh 4. -2.P = himpunan bilangan bulat positif = { 1. 3.. 2.. -1.. . disimbolkan dengan U. 2. } Z = himpunan bilangan bulat = { . 1. dengan A = {1.

paku}. B dikatakan superset dari A. atau B = {2. 10. 7. 11. maka n(E) = 0 (ii) P = { orang Indonesia yang pernah ke bulan }. {{a}} }. Notasi: A ⊆ B 35 . {a}. 13. maka T = 5 (iii) A = {a. (i) B = { x | x merupakan bilangan prima lebih kecil dari 20 }. 17. 3. Amir. (i) E = { x | x < x }. n(A) = 0 • • • himpunan {{ }} dapat juga ditulis sebagai {∅} himpunan {{ }. Himpunan Bagian (Subset) Definisi Himpunan Bagian Himpunan A dikatakan himpunan bagian dari himpunan B jika dan hanya jika setiap elemen A merupakan elemen dari B. 19} maka B = 8 (ii) T = {kucing.Kardinalitas Jumlah elemen di dalam A disebut kardinal dari himpunan A. • • Dalam hal ini. {∅}} {∅} bukan himpunan kosong karena ia memuat satu elemen yaitu himpunan kosong. 5. Notasi dari himpunan kosong adalah ∅ atau {} Contoh 7. maka n(P) = 0 (iii) A = {x | x adalah akar persamaan kuadrat x2 + 1 = 0 }. {{ }}} dapat juga ditulis sebagai {∅. Notasi: n(A) atau A  Contoh 6. a. maka A = 3 Himpunan kosong (null set) Himpunan dengan kardinal = 0 disebut himpunan kosong (null set).

Contoh: {1} dan {2. 3} ⊆ {1. (b) Himpunan kosong merupakan himpunan bagian dari A ( ∅ ⊆ A). 3} ⊆ {1. 2. 3} dan ∅ adalah improper subset dari A. maka ∅ dan A disebut himpunan bagian tak sebenarnya (improper subset) dari himpunan A. Untuk sembarang himpunan A berlaku hal-hal sebagai berikut: (a) A adalah himpunan bagian dari A itu sendiri (yaitu. 3} adalah proper subset dari {1. Contoh: A = {1. maka B ⊆ A. 2.Diagram Venn: U B A Contoh 8. (c) Jika A ⊆ B dan B ⊆ C. x ≥. maka {1. TEOREMA 1. y) | x + y < 4. (i) { 1. 2. 2. y ≥ 0 } dan B = { (x. 4. y) | 2x + y < 4. 2. 3}. A adalah himpunan bagian sebenarnya (proper subset) dari B. • A ⊆ B berbeda dengan A ⊂ B (i) A ⊂ B : A adalah himpunan bagian dari B tetapi A ≠ B. 2. 3} 36 . 3. x ≥ 0 dan y ≥ 0 }. A ⊆ A). 5} (ii) {1. 2. maka A ⊆ C • ∅ ⊆ A dan A ⊆ A. 3} (iii) N ⊆ Z ⊆ R ⊆ C (iv) Jika A = { (x.

maka B = A (c) jika A = B dan B = C. 3. 8 }. C tidak boleh memuat 4 dan 5 sekaligus karena C adalah proper subset dari B. Jawaban: C harus mengandung semua elemen A = {1. Dengan demikian. 5 } dan B = {5. maka A = B (iii) Jika A = { 3. A. 3} dan B = {1. 2. yaitu A adalah proper subset dari C dan C adalah proper subset dari B. (i) Jika A = { 0. 3. B. 4. 5}.(ii) A ⊆ B : digunakan untuk menyatakan bahwa A adalah himpunan bagian (subset) dari B yang memungkinkan A = B. 8}. Tentukan semua kemungkinan himpunan C sedemikian sehingga A ⊂ C dan C ⊂ B. B = B. 5}. 3} dan sekurang-kurangnya satu elemen dari B. 2. 3. 3. dan C berlaku aksioma berikut: (a) A = A. maka A ≠ B Untuk tiga buah himpunan. 2. maka A = C 37 . 8. Notasi : A = B ↔ A ⊆ B dan B ⊆ A Contoh 9. Himpunan yang Sama Definisi Himpunan yang Sama Suatu himpunan A dikatakan sama dengan himpunan B (A = B) jika dan hanya jika setiap elemen A merupakan elemen B dan sebaliknya setiap elemen B merupakan elemen A. 4} atau C = {1. 2. 5. dan C = C (b) jika A = B. •Latihan Misalkan A = {1. 5 } dan B = {3. maka A ≠ B. • A = B jika A adalah himpunan bagian dari B dan B adalah himpunan bagian dari A. C = {1. 8. 5. 2. 1 } dan B = { x | x (x – 1) = 0 }. Jika tidak demikian. maka A = B (ii) Jika A = { 3.

Himpunan yang Ekivalen Definisi Himpunan yang Ekivalen Himpunan A dikatakan ekivalen dengan himpunan B jika dan hanya jika kardinal dari kedua himpunan tersebut sama. 30. Jika A = { x | x ∈ P. maka A // B. }. 5. d }. Notasi : A // B Diagram Venn: U A B Contoh 11. Notasi : A ~ B ↔ A = B Contoh 10.. maka A ~ B sebab A = B = 4 Himpunan Saling Lepas Definisi Himpunan Saling Lepas Dua himpunan A dan B dikatakan saling lepas (disjoint) jika keduanya tidak memiliki elemen yang sama. b. . Misalkan A = { 1. 20. x < 8 } dan B = { 10.. Himpunan Kuasa 38 . 7 } dan B = { a. 3. c.

10} dan B = {4. maka P(A) = { ∅. 4. { 1 }. dan himpunan kuasa dari himpunan {∅} adalah P({∅}) = {∅. { 2 }. { 1. Himpunan kuasa dari himpunan kosong adalah P(∅) = {∅}. Notasi : P(A) atau 2A Jika A = m. 5.Definisi Himpunan Kuasa Himpunan kuasa (power set) dari himpunan A adalah suatu himpunan yang elemennya merupakan semua himpunan bagian dari A. (i) Jika A = {2. 6. 6 }. maka A ∩ B = {4. 8. maka A ∩ B = ∅. Contoh 12. 9 } dan B = { -2. Operasi Terhadap Himpunan 1. {∅}}. 2 }} Contoh 13. 10. Artinya: A // B 2. 10} (ii) Jika A = { 3. Gabungan (union) 39 . Irisan (intersection) Notasi : A ∩ B = { x | x ∈ A dan x ∈ B } Contoh 14. Jika A = { 1. 14. termasuk himpunan kosong dan himpunan A sendiri. maka P(A) = 2m. 18}. 2 }.

Misalkan U = { 1.. maka A = {2. 3.. 6. 7. Misalkan: A = himpunan semua mobil buatan dalam negeri B = himpunan semua mobil impor C = himpunan semua mobil yang dibuat sebelum tahun 1990 40 . 4. 9 }. 5. 3. 5. 9}.Notasi : A ∪ B = { x | x ∈ A atau x ∈ B } Contoh 15. 22 } (ii) A ∪ ∅ = A 3. Komplemen (complement) Notasi : A = { x | x ∈ U. 5. 3. 22 }. 9 } (ii) jika A = { x | x/2 ∈ P. (i) Jika A = { 2. 8. 2. x ∉ A } Contoh 16. 5. maka A ∪ B = { 2. . 8 } dan B = { 7. 7. x < 9 }. 7. (i) jika A = {1. 8} A = { 1.. maka Contoh 17.

. 5} – {1. maka A – B = { 1. 3. . 2. 10 }. 10 } dan B = { 2. 5} = {2} 5..D = himpunan semua mobil yang nilai jualnya kurang dari Rp 100 juta E = himpunan semua mobil milik mahasiswa universitas tertentu (i) “mobil mahasiswa di universitas ini produksi dalam negeri atau diimpor dari luar negeri” (E ∩ A) ∪ (E ∩ B) atau E ∩ (A ∪ B) A∩C∩D (ii) “semua mobil produksi dalam negeri yang dibuat sebelum tahun 1990 yang nilai jualnya kurang dari Rp 100 juta” (iii) “semua mobil impor buatan setelah tahun 1990 mempunyai nilai jual lebih dari Rp 100 juta” C∩D∩B 4. 7. 6. 4. 5. 3} = {5}. Selisih (difference) Notasi : A – B = { x | x ∈ A dan x ∉ B } = A ∩ B Contoh 18. 2. (i) Jika A = { 1. 3} – {1. 8. tetapi {1. Beda Setangkup (Symmetric Difference) Notasi: A ⊕ B = (A ∪ B) – (A ∩ B) = (A – B) ∪ (B – A) 41 . 9 } dan B–A=∅ (ii) {1. 2. 3. 3. 3..

6 } dan B = { 2. Perkalian Kartesian (cartesian product) Notasi: A × B = {(a. a). 5. maka A ⊕ B = { 3. b)  a ∈ A dan b ∈ B } Contoh 20. (3. b) } (ii) Misalkan A = B = himpunan semua bilangan riil. a). Jika A = { 2. 6 } Contoh 20.Contoh 19. Beda setangkup memenuhi sifat-sifat berikut: (a) A ⊕ B = B ⊕ A (hukum komutatif) (b) (A ⊕ B ) ⊕ C = A ⊕ (B ⊕ C ) (hukum asosiatif) 6. mendapat nilai B jika salah satu ujian di atas 80. (a. maka C × D = { (1. b) ≠ (b. (1. maka A × B = himpunan semua titik di bidang datar Catatan: 1. a). 3. B. maka: A × B = A . Misalkan U = himpunan mahasiswa P = himpunan mahasiswa yang nilai ujian UTS di atas 80 Q = himpunan mahasiswa yang nilain ujian UAS di atas 80 Seorang mahasiswa mendapat nilai A jika nilai UTS dan nilai UAS keduanya di atas 80. (i) “Semua mahasiswa yang mendapat nilai A” : P ∩ Q (ii) “Semua mahasiswa yang mendapat nilai B” : P ⊕ Q (iii) “Semua mahasiswa yang mendapat nilai C” : U – (P ∪ Q) TEOREMA 2. 5 }. 2. 4. 42 . a). dan mendapat nilai C jika kedua ujian di bawah 80. (2. (3. 3 }. b). (i) Misalkan C = { 1. b }. Jika A dan B merupakan himpunan berhingga. dan D = { a. b). 2. (2. 4.

(b. t). 2. (n. t = teh. (s. (g. c). a). Pada Contoh 20(i) di atas. 2). (g.3. 3) } C × D = { (1. c). (a. (3. A × B ≠ B × A dengan syarat A atau B tidak kosong. n = nasi goreng. {3}} } Latihan Misalkan A adalah himpunan. t). Daftarkan semua anggota himpunan berikut: (a) P(∅) Penyelesaian: (a) P(∅) = {∅} (b) ∅ × P(∅) = ∅ (ket: jika A = ∅ atau B = ∅ maka A × B = ∅) (b) ∅ × P(∅) (c) {∅}× P(∅) (d) P(P({3})) (c) {∅}× P(∅) = {∅}× {∅} = {(∅. dan D = { a. (2. g = gado-gado. 3 }. d)}. C = { 1. {∅}. t). a). {3} }) = {∅. Jika A = ∅ atau B = ∅. d). D × C = {(a. d). (n. a). 2). (b. b) } D × C ≠ C × D. (n. c). b). m = mie rebus } B = himpunan minuman = { c = coca-cola. 1). d = es dawet } Berapa banyak kombinasi makanan dan minuman yang dapat disusun dari kedua himpunan di atas? Jawab: A × B = A⋅B = 4 ⋅ 3 = 12 kombinasi dan minuman. Misalkan A = himpunan makanan = { s = soto. {{3}}. {∅. Contoh 21.∅)) (d) P(P({3})) = P({ ∅. (s. 4. b). 1). Periksalah apakah setiap pernyataan di bawah ini benar atau salah dan jika salah. t). yaitu {(s. c). (m. b }. maka A × B = B × A = ∅ Contoh 21. bagaimana seharusnya: 43 . (g. (3. (m. (1. (a. d). (2. (b. 3). (m.

β). α). (2. β). (i) A ∩(B1∪B2 ∪ . β) } 44 .. (2. ∪Bn) = (A∩ B1) ∪ (A ∩ B2) ∪ ... B = {a.(a) A ∩ P ( A) = P ( A) (b) { A} ∪ P( A) = P ( A) (c) A − P ( A) = A (d) { A } ∈ P ( A ) (e) A ⊆ P ( A ) Jawaban: (a) salah. b}. ⊕ An = ⊕ Ai i =1 Contoh 22. a. (1. ∪ (A ∩ Bn) n n A ∩ (U Bi ) = U ( A ∩ Bi ) i =1 i =1 n n (ii) Misalkan A = {1. × An = i×1 Ai = A1 ⊕ A2 ⊕ . (2.. β). b. b.. a. seharusnya A ∩ P( A) = ∅ P( A) A∈ P( A) Perampatan Operasi Himpunan A1 ∩ A2 ∩ ... seharusnya { A} ⊆ (e) salah. β}. (2. a.. a. maka A × B × C = {(1. α). α). ∪ An = U Ai i =1 i =1 n n A1 × A2 × . α).. dan C = {α.. (1. 2}. (1.. ∩ An = I Ai A1 ∪ A2 ∪ .. seharusnya (b) benar (c) benar (d) salah. b. b.

. Hukum involusi: − 2. Hukum 0/1 8.mobil harus berjalan di bagian kanan jalan. Hukum komplemen: − A∪ A =U − A∩ A =∅ 5. Hukum komutatif: − A∪B=B∪A − A∩B=B∩A Hukum distributif: − A ∪ (B ∩ C) = (A ∪ B) ∩ (A ∪ C) − A ∩ (B ∪ C) = (A ∩ B) ∪ (A ∩ C) 11. 45 . Hukum De Morgan: − − A∩ B A∪ B = = A∪ B A∩ B ∅ =U U =∅ Prinsip Dualitas Prinsip dualitas adalah dua konsep yang berbeda dapat saling dipertukarkan namun tetap memberikan jawaban yang benar. Hukum penyerapan (absorpsi): A ∪ (A ∩ B) = A A ∩ (A ∪ B) = A (A) = A − − 7. Hukum asosiatif: − A ∪ (B ∪ C) = (A ∪ B) ∪ C − A ∩ (B ∩ C) = (A ∩ B) ∩ C 10. Hukum idempoten: − A∪A=A − A∩A=A 6. Hukum identitas: − A∪∅=A − A∩U=A 3. Contoh: AS kemudi mobil di kiri depan kemudi mobil di kanan depan Inggris (juga Indonesia) Peraturan: (a) di Amerika Serikat. pada jalan yang berlajur banyak. Hukum null/dominasi: − A∩∅=∅ − A∪U=U 4.Hukum-hukum Himpunan Hukum-hukum Himpunan disebut juga sifat-sifat (properties) himpunan atau disebut juga hukum aljabar himpunan 1. lajur kiri untuk mendahului.

-

bila lampu merah menyala, mobil belok kanan boleh langsung

(b) di Inggris, Prinsip dualitas: Konsep kiri dan kanan dapat dipertukarkan pada kedua negara tersebut sehingga peraturan yang berlaku di Amerika Serikat menjadi berlaku pula di Inggris (Prinsip Dualitas pada Himpunan). Misalkan S adalah suatu kesamaan (identity) yang melibatkan himpunan dan operasi-operasi seperti ∪, ∩, dan komplemen. Jika S* diperoleh dari S dengan mengganti ∪ → ∩, ∩ → ∪, ∅ → U, U → ∅, mobil harus berjalan di bagian kiri jalan, pada jalur yang berlajur banyak, lajur kanan untuk mendahului, bila lampu merah menyala, mobil belok kiri boleh langsung

sedangkan komplemen dibiarkan seperti semula, maka kesamaan S* juga benar dan disebut dual dari kesamaan S.

1. Hukum identitas: A∪∅=A 2. Hukum null/dominasi: A∩∅=∅ 3. Hukum komplemen: A∪ A =U 4. Hukum idempoten: A∪A=A 5. Hukum penyerapan: A ∪ (A ∩ B) = A

Dualnya: A∩U =A Dualnya: A∪U=U Dualnya: A∩ A=∅ Dualnya: A∩A=A Dualnya: A ∩ (A ∪ B) = A

46

6. Hukum komutatif: A∪B=B∪A 7. Hukum asosiatif: A ∪ (B ∪ C) = (A ∪ B) ∪ C Hukum distributif: A ∪ (B ∩ C)=(A ∪ B) ∩ (A ∪ C) 9. Hukum De Morgan:

Dualnya: A∩B=B∩A Dualnya: A ∩ (B ∩ C) = (A ∩ B) ∩ C Dualnya: A ∩ (B ∪ C) = (A ∩ B) ∪ (A ∩ C) Dualnya:

A∪ B

=

A∩B

A∩ B
Dualnya:

=

A∪B

10. Hukum 0/1

∅= U

U

=∅

Contoh 23. Dual dari (A ∩ B) ∪ (A ∩

B ) = A adalah B ) = A.

(A ∪ B) ∩ (A ∪ Prinsip Inklusi-Eksklusi Untuk dua himpunan A dan B: A ∪ B = A + B – A ∩ B A ⊕ B = A +B – 2A ∩ B

Contoh 24. Berapa banyaknya bilangan bulat antara 1 dan 100 yang habis dibagi 3 atau 5? Penyelesaian: A = himpunan bilangan bulat yang habis dibagi 3, B = himpunan bilangan bulat yang habis dibagi 5, A ∩ B = himpunan bilangan bulat yang habis dibagi 3 dan 5 (yaitu himpunan bilangan bulat yang habis dibagi oleh KPK – Kelipatan Persekutuan Terkecil – dari 3 dan 5, yaitu 15), Yang ditanyakan adalah A ∪ B. A = 100/3 = 33, B = 100/5 = 20,
47

A ∩ B = 100/15 = 6 A ∪ B = A + B – A ∩ B = 33 + 20 – 6 = 47

Untuk tiga buah himpunan A, B, dan C, berlaku A ∪ B ∪ C = A + B + C – A ∩ B – A ∩ C – B ∩ C + A ∩ B ∩ C

Untuk himpunan A1, A2, …, Ar, berlaku: A1 ∪ A2 ∪ … ∪ Ar =


i

Ai –

1≤i ≤ j ≤ r

Ai ∩ Aj +

1≤i ≤ j ≤ k ≤ r

Ai ∩ Aj ∩ Ak + …+

(-1)r-1 A1 ∩ A2 ∩ … ∩ Ar Latihan: Di antara bilangan bulat antara 101 – 600 (termasuk 101 dan 600 itu sendiri), berapa banyak bilangan yang tidak habis dibagi oleh 4 atau 5 namun tidak keduanya? Penyelesaian: Diketahui:  U = 500

 A = 600/4 – 100/4 = 150 – 25 = 125  B = 600/5 – 100/5 = 120 – 20 = 100  A ∩ B  = 600/20 – 100/20 = 30 – 5 = 25 yang ditanyakan  A ⊕ B  = ?

Hitung terlebih dahulu  A ⊕ B =  A +  B – 2 A ∩ B  = 125 + 100 – 50 = 175

untuk mendapatkan  A ⊕ B  = U – A ⊕ B = 500 – 175 = 325 Partisi Definisi Partisi

48

{2. c. c. {1. b. 8}. Himpunan (set) merupakan contoh khusus dari suatu multiset. 6. 4}. {7. 4}. a. c. Kardinalitas dari suatu multiset didefinisikan sebagai kardinalitas himpunan padanannya (ekivalen). 0. yang dalam hal ini multiplisitas dari setiap elemennya adalah 0 atau 1. 0. 3}. 3. P ∪ Q adalah suatu multiset yang multiplisitas elemennya sama dengan multiplisitas maksimum elemen tersebut pada himpunan P dan Q. a.Partisi dari sebuah himpunan A adalah sekumpulan himpunan bagian tidak kosong A1. … dari A sedemikian sehingga: (a) (b) A1 ∪ A2 ∪ … = A. P ∪ Q = { a. 1. a. 5. dan Ai ∩ Aj = ∅ untuk i ≠ j Contoh 25. 2. A2. 8}. 1. a. b. 2. 2}. 1. 3. d } dan Q ={ a. maka { {1}. c }. 2. Himpunan Ganda (multiset) Definisi Himpunan Ganda Himpunan yang elemennya boleh berulang (tidak harus berbeda) disebut himpunan ganda (multiset). a. {5. Contoh: M = { 0. {2. 7. multiplisitas 0 adalah 4. d. 1. {}. c. Contohnya. d. 6} } adalah partisi A. dengan mengasumsikan elemen-elemen di dalam multiset semua berbeda. 2. 3. d } 49 . Contoh: P = { a. 4. Operasi Antara Dua Buah Multiset: Misalkan P dan Q adalah multiset: 1. 1 }. Misalkan A = {1. Definisi Multiplisitas Multiplisitas dari suatu elemen pada himpunan ganda adalah jumlah kemunculan elemen tersebut pada himpunan ganda. 1. {2. 0.

P ∩ Q adalah suatu multiset yang multiplisitas elemennya sama dengan multiplisitas minimum elemen tersebut pada himpunan P dan Q. P – Q adalah suatu multiset yang multiplisitas elemennya sama dengan: − multiplisitas elemen tersebut pada P dikurangi multiplisitasnya pada Q. jika selisihnya nol atau negatif. b. b. jika selisihnya positif 0. d. a. a. c. a. c } dan Q = { a. Contoh: P = { a. a. f } maka P – Q = { a. dan C adalah himpunan. d. b. Contoh: P = { a. d. d. a. c } 3. Pembuktian dengan menggunakan diagram Venn Contoh 26. Kesamaan (identity) Contoh: Buktikan “A ∩ (B ∪ C) = (A ∩ B) ∪ (A ∩ C)” 2. b. P + Q. d } dan Q = { a. Proposisi dapat berupa: 1. d } Pembuktian Proposisi Perihal Himpunan Proposisi himpunan adalah argumen yang menggunakan notasi himpunan. b. Contoh: P = { a.2. d }. a. Bukti: 50 . a. c. d. b. B. b. 1. c. c. a. Misalkan A. e } − 4. adalah suatu multiset yang multiplisitas elemennya sama dengan penjumlahan dari multiplisitas elemen tersebut pada P dan Q. c. b. b. Buktikan bahwa A ∩ (B ∪ C) = (A ∩ B) ∪ (A ∩ C) dengan diagram Venn. Implikasi Contoh: Buktikan bahwa “Jika A ∩ B = ∅ dan A ⊆ (B ∪ C) maka selalu berlaku bahwa A ⊆ C”. yang didefinisikan sebagai jumlah (sum) dua buah himpunan ganda. c. b. b. c } P ∩ Q = { a. c. P + Q = { a. b. a. e } dan Q = { a. a. c.

B. Diagram Venn hanya dapat digunakan jika himpunan yang digambarkan tidak banyak jumlahnya. Bukti: B∪C 0 1 1 1 0 1 1 A ∩ (B ∪ C) 0 0 0 0 0 1 1 A∩B 0 0 0 0 0 0 1 A∩C 0 0 0 0 0 1 0 (A ∩ B) ∪ (A ∩ C) 0 0 0 0 0 1 1 A 0 0 0 0 1 1 1 B 0 0 1 1 0 0 1 C 0 1 0 1 0 1 0 51 . 3. Diagram Venn tidak dianggap sebagai metode yang valid untuk pembuktian secara formal. Terbukti bahwa A ∩ (B ∪ C) = (A ∩ B) ∪ (A ∩ C). Misalkan A. 2. dan C adalah himpunan. Buktikan bahwa A ∩ (B ∪ C) = (A ∩ B) ∪ (A ∩ C). Ada beberapa catatan untuk pembuktian dengan menggunakan Diagram Venn: 1.A ∩ (B ∪ C) (A ∩ B) ∪ (A ∩ C) Kedua digaram Venn memberikan area arsiran yang sama. Metode ini mengilustrasikan ketimbang membuktikan fakta. Pembuktikan dengan menggunakan tabel keanggotaan Contoh 27. 2.

maka A ∩ (B ∪ C) = (A ∩ B) ∪ (A ∩ C). distributif) (H.1 1 1 1 1 1 1 1 Karena kolom A ∩ (B ∪ C) dan kolom (A ∩ B) ∪ (A ∩ C) sama. Buktikan bahwa (A ∩ B) ∪ (A ∩ Bukti: (A ∩ B) ∪ (A ∩ B) = A B) = A ∩ (B ∪ =A∩U =A B) (Hukum distributif) (Hukum komplemen) (Hukum identitas) Contoh 29. identitas) = U ∩ (A ∩ B) = A∪B 52 . bahwa (i) A ∪ ( A ∩ B) = A ∪ B dan (ii) A ∩ ( A ∪ B) = A ∩ B Bukti: (i) A ∪ ( A ∩ B) = ( A ∪ A ) ∩ (A ∩ B) (H. Misalkan A dan B himpunan. Contoh 28. Misalkan A dan B himpunan. 3. Buktikan bahwa untuk sembarang himpunan A dan B. Pembuktian dengan menggunakan aljabar himpunan. komplemen) (H. Buktikan bahwa A ∪ (B – A) = A ∪ B Bukti: A ∪ (B – A) = A ∪ (B ∩ A) A) (Definisi operasi selisih) (Hukum distributif) (Hukum komplemen) (Hukum identitas) = (A ∪ B) ∩ (A ∪ = (A ∪ B) ∩ U =A∪B Contoh 30.

x juga ∈ (B ∪ C). P ⊆ Q jika dan hanya jika setiap x ∈ P juga ∈ Q. x ∈ C harus benar. (ii) Karena x ∈ A dan A ∩ B = ∅. Dari definisi operasi gabungan (∪). komplemen) (H. Pembuktian dengan menggunakan definisi Metode ini digunakan untuk membuktikan pernyataan himpunan yang tidak berbentuk kesamaan. Buktikan! Bukti: (i) Dari definisi himpunan bagian.(ii) adalah dual dari (i) A ∩ ( A ∪ B) = (A ∩ A) ∪ (A ∩ B) (H. Misalkan A dan B himpunan. Jika A ∩ B = ∅ dan A ⊆ (B ∪ C) maka A ⊆ C. identitas) = ∅ ∪ (A ∩ B) = A∩B 4. maka x ∉ B Dari (i) dan (ii). maka dapat disimpulkan A ⊆ C . distributif) (H. Karena A ⊆ (B ∪ C). Tuliskan hasil dari operasi beda-setangkup berikut? (a) A ⊕ U (b) A ⊕ A (c) A⊕U Penyelesaian: (a) A ⊕ U = (A – U) ∪ (U – A) = (∅) ∪ (A) = A (Definisi operasi beda setangkup) (Definisi opearsi selisih) (Hukum Identitas) (b) A ⊕ A = (A – A)∪(A – A) (Definisi operasi beda setangkup) 53 . Misalkan x ∈ A. x ∈ (B ∪ C) berarti x ∈ B atau x ∈ C. Biasanya di dalam implikasi tersebut terdapat notasi himpunan bagian (⊆ atau ⊂). tetapi pernyataan yang berbentuk implikasi. maka dari definisi himpunan bagian. Karena ∀x ∈ A juga berlaku x ∈ C. Misalkan A adalah himpunan bagian dari himpunan semesta (U). Contoh 31.

= (A ∩ A) ∪ ( A ∩ = A∪ = U A) (Definisi operasi selisih) (Hukum Idempoten) (Hukum Komplemen) A (c) A⊕U = ( A ∪ U) – ( A ∩ U) =U– =A (Definisi operasi beda setangkup) (Hukum Null dan Hukum Identitas) (Definisi operasi selisih) A 54 .

Cecep}. IF221). (4. (Budi. q) ∈ R jika p habis membagi q maka kita peroleh R = {(2. IF221). (2. b) ∈ R. b) ∉ R. 4). IF251). IF221). (Amir. (Amir. IF342). IF323) } Misalkan R adalah relasi yang menyatakan mata kuliah yang diambil oleh mahasiswa pada Semester Ganjil. (Cecep. dan B adalah daerah hasil R. IF342). 9. IF251) ∈ R atau Amir R IF251 . IF323). IF221). Himpunan A disebut daerah asal (domain) dari R. . 9). (Amir. (Budi. 8). IF251). (Cecep. yaitu: R = {(Amir. IF251). (4.BAB V RELASI Relasi biner R antara himpunan A dan B adalah himpunan bagian dari A × B. IF323). 4). (Budi. dan himpunan B disebut daerah hasil (range) dari R. 4. B = { IF251. 3. 15) } • • Relasi pada sebuah himpunan adalah relasi yang khusus Relasi pada himpunan A adalah relasi dari A × A. • • • a R b adalah notasi untuk (a. IF323} A × B = {(Amir. 8).Dapat dilihat bahwa R ⊆ (A × B). (Cecep. . Contoh 1. 4} dan Q = {2. 15}. 8. Misalkan A = {Amir.(Amir. Misalkan P = {2. (Cecep. (Budi. IF251). yang artinya a dihubungankan dengan b oleh R a R b adalah notasi untuk (a.A adalah daerah asal R. IF342). 55 . Contoh 2. 2). IF251). IF323). (Cecep. Notasi: R ⊆ (A × B). yang artinya a tidak dihubungkan oleh b oleh relasi R. (Budi. IF342) ∉ R atau Amir R IF342. (3. (2. (3. IF323)} . IF342. Jika kita definisikan relasi R dari P ke Q dengan (p.(Amir. (Budi. Budi. (Amir.

3). Contoh 3. sedangkan kolom kedua menyatakan daerah hasil. Representasi Relasi dengan Diagram Panah A Amir Budi Cecep B P IF221 IF251 3 IF342 IF323 4 2 Q 2 4 8 9 15 2 3 4 8 9 A A 2 3 4 8 9 2. 9} yang didefinisikan oleh (x. Misalkan R adalah relasi pada A = {2. a2. 4). b1 b2 … bn 56 . bn}.. (2. Representasi Relasi dengan Matriks • • Misalkan R adalah relasi dari A = {a1. …. Maka R = {(2. Tabel 1 A Amir Amir Budi Budi Cecep B IF251 IF323 IF221 IF251 IF323 Tabel 2 P 2 2 4 2 4 3 3 Tabel 3 Q 2 4 4 8 8 9 15 A 2 2 2 3 3 A 2 4 8 3 3 3. Relasi R dapat disajikan dengan matriks M = [mij]. (2. (3. am} dan B = {b1. 8). (3. 9)} Representasi Relasi 1. 4. Representasi Relasi dengan Tabel • Kolom pertama tabel menyatakan daerah asal. b2. …. y) ∈ R jika x adalah faktor prima dari y. 2). 8.• Relasi pada himpunan A adalah himpunan bagian dari A × A. 3.

b2 = IF251. Busur semacam itu disebut gelang atau kalang (loop). a3 = Cecep. b5 = 15.a1  m11  M = a2  m21 M  M  am mm1 m12 m22 M mm 2 L m1n  L m2 n   M M   L mmn  1. a1 = Amir. Relasi R pada Contoh 2 dapat dinyatakan dengan matriks 1 0  0  1 0 1 1 0 1 0 1 0 0 1  0  dalam hal ini. bj ) ∉ R yang dalam hal ini Contoh 4. b) ∈ R. b3 = 8. (ai . 4. Relasi R pada Contoh 1 dapat dinyatakan dengan matriks 0 1 0 1  1 1 0 0    0 0 0 1    dalam hal ini. dan b1 = 2. a2 = 3. b3 = IF342. • Pasangan terurut (a. a) dinyatakan dengan busur dari simpul a ke simpul a sendiri. Simpul a disebut simpul asal (initial vertex) dan simpul b disebut simpul tujuan (terminal vertex). a1 = 2. b2 = 4. (ai . b4 = 9. dan tiap pasangan terurut dinyatakan dengan busur (arc) Jika (a. dan b1 = IF221. maka sebuah busur dibuat dari simpul a ke simpul b. a2 = Budi. 57 . bj ) ∈ R mij =  0. Tiap elemen himpunan dinyatakan dengan sebuah titik (disebut juga simpul atau vertex). Representasi Relasi dengan Graf Berarah Relasi pada sebuah himpunan dapat direpresentasikan secara grafis dengan graf berarah (directed graph atau digraph) • • • Graf berarah tidak didefinisikan untuk merepresentasikan relasi dari suatu himpunan ke himpunan lain. dan b4 = IF323. a3 = 4.

Contoh 6. 1). (1. (2. b. (4. R direpresentasikan dengan graf berarah sbb: a b c d Sifat-sifat Relasi Biner Relasi biner yang didefinisikan pada sebuah himpunan mempunyai beberapa sifat. maka (a) Relasi R = {(1. 4}. Refleksif (reflexive) Definisi Relasi R pada himpunan A disebut refleksif jika (a. (4. dan relasi R di bawah ini didefinisikan pada himpunan A. 58 . (2. (4. c). 1). a) ∈ R untuk setiap a ∈ A. (b) Relasi R = {(1. 1). (c. a). a). (4. Contoh 7. (2. Misalkan A = {1. 2). (b. 4). (2. a)∈R untuk setiap a ∈ A. 3). 4) } tidak bersifat refleksif karena (3. d}. 2). 3).Contoh 5. 3). a) ∉ R. 2. dan (4. d). 3). b). yaitu (1. (4. sehingga (a. (3. (a. Relasi “habis membagi” pada himpunan bilangan bulat positif bersifat refleksif karena setiap bilangan bulat positif habis dibagi dengan dirinya sendiri. 1. 3). a). b)} adalah relasi pada himpunan {a. 1). c. (b. Misalkan R = {(a. (2. 2). 3). 4)} bersifat refleksif karena terdapat elemen relasi yang berbentuk (a. (4. 2). d). (d. Relasi R pada himpunan A tidak refleksif jika ada a ∈ A sedemikian sehingga (a. 2). 3. a). (3. 3) ∉ R. (b. (c.

(3. 2. Menghantar (transitive) Definisi Relasi R pada himpunan A disebut menghantar jika (a. maupun T. misalkan (2. 2. Lihat tabel berikut: Pasangan berbentuk (a. Misalkan A = {1. (4. 1). maka (a) R = {(2. 4}. n. c ∈ A. 1        1 O 1       1  Graf berarah dari relasi yang bersifat refleksif dicirikan adanya gelang pada setiap simpulnya. Relasi yang bersifat refleksif mempunyai matriks yang elemen diagonal utamanya semua bernilai 1. untuk i = 1. 2). c) ∈ R. 1) (3. 1) (4. atau mii = 1. 2. c) (2. S : x + y = 5. b) ∈ R dan (b. 1) (2. 1). …. 3. T : 3x + y = 10 Tidak satupun dari ketiga relasi di atas yang refleksif karena. maka (a. 2). (4. 2) (4. (3. b. 3) } bersifat menghantar. 1) 59 . b) (3. untuk a. 2) (b. Contoh 9. S. 1). (4. R : x lebih besar dari y.Contoh 8. c) ∈ R. dan relasi R di bawah ini didefinisikan pada himpunan A. Tiga buah relasi di bawah ini menyatakan relasi pada himpunan bilangan bulat positif N. 2) bukan anggota R. c) (a.

2) (b) R = {(1. 2) ∈ R. Setangkup (symmetric) dan tolak-setangkup (antisymmetric) Definisi 60 . tetapi (4. . 2). (3. 3) ∈ R. 2) dan (2. Jadi.(4. begitu juga (4. b) ∈ R dan (b. Relasi yang bersifat menghantar tidak mempunyai ciri khusus pada matriks representasinya Sifat menghantar pada graf berarah ditunjukkan oleh: jika ada busur dari a ke b dan dari b ke c. 4) } jelas menghantar (d) Relasi R = {(1. 1)} menghantar. (2. R : x lebih besar dari y. (3. Contoh 11. (4. 1) (4. 2) (4. maka juga terdapat busur berarah dari a ke c. 5)} selalu menghantar. Contoh 10. (3. Relasi yang hanya berisi satu elemen seperti R = {(4. relasi “habis membagi” bersifat menghantar. 3) (4. 3) (3. (4. 2) } tidak manghantar karena (2. 3). 7). Di sini c = nma. tetapi (2. (2. 4) ∉ S. Maka terdapat bilangan positif m dan n sedemikian sehingga b = ma dan c = nb. 4) adalah anggota S tetapi (4. . 4). 1).T = {(1. (2.R adalah relasi menghantar karena jika x > y dan y > z maka x > z. 1). 4) dan (4.S tidak menghantar karena. 3. (c) Relasi R = {(1. c) ∈ R sedemikian sehingga (a. c) ∈ R. misalkan (4. S : x + y = 6. Tiga buah relasi di bawah ini menyatakan relasi pada himpunan bilangan bulat positif N. Misalkan bahwa a habis membagi b dan b habis membagi c. 2). 1) (3. sehingga a habis membagi c. 4)} menghantar karena tidak ada (a. 2) dan (2. (2. 2) ∉ R. Relasi “habis membagi” pada himpunan bilangan bulat positif bersifat menghantar. 4). 3) ∉ R. 3). T : 3x + y = 10 .

2) ∈ R tetapi (2. (b) Relasi R = {(1. (2. 2). (4. Definisi Relasi R pada himpunan A sedemikian sehingga (a. 2) ∉ R. 4}. 4) dan (4. maka (b. 2). 3) } tolak-setangkup karena (1. 1). b ∈ A. a) ∈ R untuk a. a) ∈ R. 1). 3) } tolak-setangkup karena 1 = 1 dan (1. 4). a) juga ∈ R. Relasi R = {(1. 1). 2). 3) ∈ R. 61 . R tidak tolak-setangkup karena (2. (1. 2) dan (2. b) ∈ R maka (b. 2). begitu juga (2. 4) } bersifat setangkup karena jika (a. 2. (1. b) ∈ R sedemikian sehingga (b. (4. Perhatikan bahwa R juga setangkup.Relasi R pada himpunan A disebut setangkup jika (a. Relasi R pada himpunan A tidak setangkup jika (a. 4). 4). (c) Relasi R = {(1. 4)} tidak setangkup dan tidak tolak-setangkup. (2. 1) ∈ R. maka (a) Relasi R = {(1. 2). 3). (e) Relasi R = {(1. (2. 3) } tidak setangkup tetapi tolak-setangkup. (4. 1). 2) ∈ R. (1. (2. 2). 2) } tidak tolak-setangkup karena 2 ≠ 4 tetapi (2. 2) ∈ R. 2) } tidak setangkup karena (2. (2. 3). b) ∈ R dan (b. (2. Perhatikan bahwa R tidak setangkup. b) ∈ R. tetapi (3. (f) Relasi R = {(1. Di sini (1. (3. a) ∈ R hanya jika a = b untuk a. 3) ∈ R dan (3. a) ∉ R. b ∈ A disebut tolak-setangkup. (3. 2) anggota R. 3) ∈ R. 1). (2. 1). (4. 1). Misalkan A = {1. dan relasi R di bawah ini didefinisikan pada himpunan A. (2. 2) ∈ R tetap 2 ≠ 3. 3. 3). (4. 2). 4) dan (4. b) ∈ R dan (b. 4) ∉ R. R tidak setangkup karena (4. (3. 2) ∈ R dan 2 = 2 dan. dan 3 = 3 dan (3. 2). 1) ∈ R dan 1 = 1 dan. Relasi R pada himpunan A tidak tolak-setangkup jika ada elemen berbeda a dan b sedemikian sehingga (a. (d) Relasi R = {(1. (4. (2. (2. 2). 1) ∈ R. Contoh 12. Relasi R pada (a) dan (b) di atas juga tidak tolaksetangkup. 2). 2 = 2 dan (2. (2. 3). (2. (2.

tetapi 4 tidak habis membagi 2. Sebagai contoh.S relasi setangkup karena (4. atau mij = mji = 1. Karena itu. misalkan (4. n : 1    1    0    0      Sedangkan graf berarah dari relasi yang bersifat setangkup dicirikan oleh: jika ada busur dari a ke b. kecuali jika a = b. 2) ∈ S tetapi 4 ≠ 2. 1) adalah anggota T tetapi (1. Relasi “habis membagi” tolaksetangkup karena jika a habis membagi b dan b habis membagi a maka a = b. Contoh 14. Tiga buah relasi di bawah ini menyatakan relasi pada himpunan bilangan bulat positif N. Sebagai contoh. b tidak habis membagi a. • Matriks dari relasi tolak-setangkup mempunyai sifat yaitu jika mij = 1 dengan i ≠ j. . S : x + y = 6. . 3) bukan anggota T.T tidak setangkup karena. . 4) ∈ R tetapi (4. (2.Contoh 13. misalkan (3. 2 habis membagi 4. (4. Dengan kata lain. 2) ∉ R. Karena itu. 2. Relasi yang bersifat setangkup mempunyai matriks yang elemen-elemen di bawah diagonal utama merupakan pencerminan dari elemen-elemen di atas diagonal utama.R bukan relasi setangkup karena. 4) ∈ R dan 4 = 4. R : x lebih besar dari y. …. Relasi “habis membagi” pada himpunan bilangan bulat positif tidak setangkup karena jika a habis membagi b. misalkan 5 lebih besar dari 3 tetapi 3 tidak lebih besar dari 5. 4 habis membagi 4. untuk i = 1. 2) ∈ S dan (4. matriks dari relasi tolak-setangkup adalah jika salah satu dari mij = 0 atau mji = 0 bila i ≠ j : 62 . 4) adalah anggota S. maka mji = 0. T : 3x + y = 10 .S bukan relasi tolak-setangkup karena.Relasi R dan T keduanya tolak-setangkup (tunjukkan!). . maka juga ada busur dari b ke a. 2) dan (2.

8). 8). 4). Relasi Inversi Definisi Misalkan R adalah relasi dari himpunan A ke himpunan B. (3. dilambangkan dengan R–1. (3. 63 . 9). adalah relasi dari B ke A yang didefinisikan oleh R–1 = {(b. 15) } R–1 adalah invers dari relasi R. p) ∈ R–1 jika q adalah kelipatan dari p maka kita peroleh Jika M adalah matriks yang merepresentasikan relasi R. Jika kita definisikan relasi R dari P ke Q dengan (p. misalkan N. yaitu relasi dari Q ke P dengan (q. (2. Misalkan P = {2. 2). 4). 8. 4. (4.1     0   0 1    1    0   • Sedangkan graf berarah dari relasi yang bersifat tolak-setangkup dicirikan oleh: jika dan hanya jika tidak pernah ada dua busur dalam arah berlawanan antara dua simpul berbeda. 9. Invers dari relasi R. 1 1 1 0 0  M=  0 0 0 1 1   0 1 1 0 0    maka matriks yang merepresentasikan relasi R–1. 15}. diperoleh dengan melakukan transpose terhadap matriks M. 4} dan Q = {2. (4. a) | (a. (2. q) ∈ R jika p habis membagi q maka kita peroleh R = {(2. 3. b) ∈ R } Contoh 15.

Relasi Pengurutan Parcial Definisi Relasi R pada himpunan S dikatakan relasi pengurutan parsial (partial ordering relation) jika ia refleksif. R menghantar: jika a seangkatan dengan b dan b seangkatan dengan c. maka a = b. 64 . di dalam relasi kesetaraan. R relasi pada A: (a. karena jika a ≥ b dan b ≥ a. Contoh 16. Secara intuitif. tolak-setangkup. maka pastilah a seangkatan dengan c. Contoh: A = himpunan mahasiswa. Relasi ≥ pada himpunan bilangan bulat adalah relasi pengurutan parsial. Relasi ≥ tolak-setangkup. R adalah relasi kesetaraan. b) ∈ R jika a satu angkatan dengan b. karena a ≥ a untuk setiap bilangan bulat a. dua benda berhubungan jika keduanya memiliki beberapa sifat yang sama atau memenuhi beberapa persyaratan yang sama. R).1  N = MT =  1 1  0  0 0 0 0 1 1 0 1  1  0 0  Relasi Kesetaraan Definisi Relasi R pada himpunan A disebut relasi kesetaraan (equivalence relation) jika ia refleksif. dan menghantar. Alasan: Relasi ≥ refleksif. atau poset). Dua elemen yang dihubungkan dengan relasi kesetaraan dinamakan setara (equivalent). R refleksif: setiap mahasiswa seangkatan dengan dirinya sendiri R setangkup: jika a seangkatan dengan b. maka b pasti seangkatan dengan a. Dengan demikian. dan dilambangkan dengan (S. Himpunan S bersama-sama dengan relasi R disebut himpunan terurut secara parsial (partially ordered set. setangkup dan menghantar.

dua buah benda saling berhubungan jika salah satunya -. kita tidak dapat membandingkan keduanya sehingga tidak dapat diidentifikasi mana yang lebih besar atau lebih kecil. (2. (3. Bagaimana membuat relasi refleksif yang sesedikit mungkin dan mengandung R? • Tambahkan (2. 2). Relasi R = {(1. 2). 1) dan (2. (3. (1. 3)} pada himpunan A = {1. yaitu S = {(1. Itulah alasan digunakan istilah pengurutan parsial atau pengurutan taklengkap Klosur Relasi (closure of relation) Contoh 18. 3).Relasi ≥ menghantar. Contoh 19. 2). 3). 3). 1). (1. Dalam hal demikian. 3} 65 . 3). atau lebih rendah (lebih tinggi) daripada lainnya menurut sifat atau kriteria tertentu. Secara intuitif. (2. (3. dan menghantar. Istilah pengurutan menyatakan bahwa benda-benda di dalam himpunan tersebut dirutkan berdasarkan sifat atau kriteria tersebut. 2. Alasan: relasi “habis membagi” bersifat refleksif. 3) ke dalam R (karena dua elemen relasi ini yang belum terdapat di dalam R) Relasi baru. 3). (3. (2. (3. 1). 1). (2. karena jika a ≥ b dan b ≥ c maka a ≥ c. di dalam relasi pengurutan parsial. Relasi baru. 3)} • Relasi S disebut klosur refleksif (reflexive closure) dari R.lebih kecil (lebih besar) daripada. 3)} Relasi S disebut klosur setangkup (symmetric closure) dari R. tolak-setangkup. 2) dan (3. 2. 3). 2)} pada himpunan A = {1. 1). (1. Bagaimana membuat relasi setangkup yang sesedikit mungkin dan mengandung R? • Tambahkan (3. mengandung R. mengandung R: S = {(1. Contoh 17. Relasi “habis membagi” pada himpunan bilangan bulat adalah relasi pengurutan parsial. (2. (3. 1). 3} tidak refleksif. (3. Ada juga kemungkinan dua buah benda di dalam himpunan tidak berhubungan dalam suatu relasi pengurutan parsial. 2). Relasi R = {(1. (1. tidak setangkup. 3). 3) ke dalam R (karena dua elemen relasi ini yang belum terdapat di dalam S agar S menjadi setangkup). 2). (3. S. 2). (2. S.

3). yang dalam hal ini ∆ = {(a. a) | (a. (3. b) a ∈ R}. (3. Klosur refleksif dari R adalah R ∪ ∆. 2). dengan R-1 = {(b. Contoh 20. a) | a ∈ Z} = {(a. (3. (3. 1). R dapat memiliki atau tidak memiliki sifat P. (2. R = {(1. 1). 1). (1. 3). 3)} sehingga klosur setangkup dari R adalah R ∪ R-1 = {(1. 1). (2. (2. (2. 3). (1. 3). b) | a ≠ b} pada himpunan bilangan bulat. 3). 1). (3. (2. b ∈ Z} Klosur setangkup Misalkan R adalah sebuah relasi pada himpunan A. maka ∆ = {(1. maka R-1 = {(3. 3). 1). (3. 2). atau menghantar. 3). sehingga klosur refleksif dari R adalah R ∪ ∆ = {(1. 2). 3)}. (2. 1). 3)} Contoh 21. Klosur Refleksif Misalkan R adalah sebuah relasi pada himpunan A. (3. 2)} adalah relasi pada A = {1. R = {(1. 2)} ∪ {(1. 3). (1. (3. 2. 1). setangkup. 2). 3). b) | a. 3). 3). 1). 3}. (3. (2. (3. 1). (2. 2). 3)} = {(1. (2. Jika terdapat relasi S dengan sifat P yang mengandung R sedemikian sehingga S adalah himpunan bagian dari setiap relasi dengan sifat P yang mengandung R. 2). (3. (1. Misalkan R adalah relasi {(a. (1. (2. 3). 1). 2). 3}. seperti refleksif. (3. 66 . b) | a ≠ b} ∪ {(a. 1). (3. 2). Klosur refleksif dari R adalah R ∪ ∆ = {(a. (2. (1. 2). 3)} (2. (3. (3. 2. 2). a) | a ∈ A}. 2). 3)} adalah relasi pada A = {1. (1. (1. (2. Klosur setangkup dari R adalah R ∪ R-1. (2. maka S disebut klosur (closure) atau tutupan dari R [ROS03]. 3)} ∪ {(3.Definisi Klosur Misalkan R adalah relasi pada himpunan A. 1). 3)} = {(1. Contoh 22. 2).

2)} adalah relasi pada himpunan A = {1. tetapi (3. (2. misalnya terdapat (3. 4}. b) | a habis membagi b} ∪ {(b. 4). 4) ∈ S. (3. (1. (1.Contoh 23. dan (3. b) | a habis membagi b}pada himpunan bilangan bulat. (1. 1) ∈ S dan (1. 4). maka matriks klosur menghantar R* adalah [ [ [n M R* = MR ∨ M R2 ] ∨ M R3] ∨ … ∨ M R ] Misalkan R = {(1. Penambahan semua pasangan ini ke dalam R sehingga menjadi S = {(1. (1. 2)} adalah relasi A = {1. (2. 2). Penyelesaian: Matriks yang merepresentasikan relasi R adalah 1 0 1 MR = 0 1 0   1 1 0   Maka. 3}. 2). 2. b) | a habis membagi b atau b habis membagi a} Klosur menghantar Pembentukan klosur menghantar lebih sulit daripada dua buah klosur sebelumnya. (2. 2. 2). 3. 1). 1). (2. Misalkan R adalah relasi {(a. 2). a) | b habis membagi a} = {(a. 1)} tidak menghasilkan relasi yang bersifat menghantar karena. (2. c) yang tidak terdapat di dalam R adalah (1. (2. 1). 3). 2). Contoh 24. Klosur menghantar dari R adalah R* = R2 ∪ R3 ∪ … ∪ Rn Jika MR adalah matriks yang merepresentasikan R pada sebuah himpunan dengan n elemen. (3. b) dan (b. c) di dalam R. (3. (2. Tentukan klosur menghantar dari R. (3. R tidak transitif karena tidak mengandung semua pasangan (a. Klosur setangkup dari R adalah R ∪ R-1 = {(a. 1). 1). 2). 1). (3. 4). c) sedemikian sehingga (a. 4). Pasangan (a. 4) ∉ S. matriks klosur menghantar dari R adalah [ [ M R* = MR ∨ M R2 ] ∨ M R3] Karena 67 . 1). R = {(1.

Misalkan A = {a. d)} R1 ⊕ R2 = {(b. (a. 2). 3) } Mengkombinasikan Relasi Karena relasi biner merupakan himpunan pasangan terurut. (a. a)} R1 ∪ R2 = {(a. (a. b). c). (1. c)} Relasi R2 = {(a. d)} R1 − R2 = {(b. b. (a. (3. selisih. b). dan beda setangkup antara dua relasi atau lebih juga berlaku. maka R1 ∩ R2. b). c). 1). b). (a. c). R* = {(1. (3. c). (a. 2). (a. a). (c. c). 3). 2). c} dan B = {a. c)} R2 − R1 = {(a. a). b).[ M R2 ] 1 1 1 = M R ⋅ M R = 0 1 0   1 1 1   dan [ M R3] = [ M R2 ] ⋅ M R 1 1 1 = 0 1 0   1 1 1   maka M R* 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 ∨ 0 1 0 ∨ 0 1 0 = 0 1 0 =         1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1         Dengan demikian. (c. a). Misalkan bahwa relasi R1 dan R2 pada himpunan A dinyatakan oleh matriks 1 R1 =  1  1  0 0 1 0 1  0  dan 0 R2 =  0  1  1 1 0 0 1  0  68 . (a. maka matriks yang menyatakan gabungan dan irisan dari kedua relasi tersebut adalah MR1 ∪ R2 = MR1 ∨ MR2 dan MR1 ∩ R2 = MR1 ∧ MR2 Contoh 26. R1 ∪ R2. (a. c. (2. R1 – R2. Jika R1 dan R2 masing-masing adalah relasi dari himpuna A ke himpunan B. b). (c. d)} Jika relasi R1 dan R2 masing-masing dinyatakan dengan matriks MR1 dan MR2. Relasi R1 = {(a. d)} R1 ∩ R2 = {(a. d}. c). (b. (a. (a. (3. gabungan. maka operasi himpunan seperti irisan. b. b). 1). (b. (c. dan R1 ⊕ R2 juga adalah relasi dari A ke B. (1. b). Contoh 25.

2). (8. 8} ke himpunan {s. u}. (2. s). c ∈ C. 6. u). (3. s). 4. (3. Misalkan R = {(1. 6. 4). t). (4. b) ∈ R dan (b. 8} dan S = {(2. u). s). adalah relasi dari A ke C yang didefinisikan oleh S ο R = {(a. 4. u) } Komposisi relasi R dan S lebih jelas jika diperagakan dengan diagram panah: 2 1 4 2 3 6 8 s t u Jika relasi R1 dan R2 masing-masing dinyatakan dengan matriks MR1 dan MR2. maka matriks yang menyatakan komposisi dari kedua relasi tersebut adalah MR2 ο R1 = MR1 ⋅ MR2 69 . Maka komposisi relasi R dan S adalah S ο R = {(1. 6). (3. (1. dan S adalah relasi dari himpunan B ke himpunan C. 6). dinotasikan dengan S ο R. 8)} adalah relasi dari himpunan {1. 3} ke himpunan {2. (a. (2.maka 1 1 MR1 ∪ R2 = MR1 ∨ MR2 =  1 1  1 1  0 MR1 ∩ R2 = MR1 ∧ MR2 =  0   1 0 1  0  0 1  0  0 0 0 Komposisi Relasi Definisi Misalkan R adalah relasi dari himpunan A ke himpunan B. 2. (4. u) adalah relasi dari himpunan {2. 4). (3. t. t). Komposisi R dan S. (2. t). (3. c)  a ∈ A. (1. (3. t). t). c) ∈ S } Contoh 27. (6. dan untuk beberapa b ∈ B.

yang dalam hal ini operator “. tetapi dengan mengganti tanda kali dengan “∧” dan tanda tambah dengan “∨”.” sama seperti pada perkalian matriks biasa. Misalkan bahwa relasi R1 dan R2 pada himpunan A dinyatakan oleh matriks 1 R1 =  1   0 0 1 0 1 0  0  dan 0 R2 =  0   1 1 0 0 0 1  1  maka matriks yang menyatakan R2 ο R1 adalah MR2 ο R1 = MR1 . MR2  (1 ∧ 0) ∨ (0 ∧ 0) ∨ (1 ∧ 1) (1 ∧ 1) ∨ (0 ∧ 0) ∨ (1 ∧ 0) (1 ∧ 0) ∨ (0 ∧ 1) ∨ (1 ∧ 1)   (1 ∧ 0) ∨ (1 ∧ 0) ∨ (0 ∧ 1) (1 ∧ 1) ∨ (1 ∧ 0) ∨ (0 ∧ 0) (1 ∧ 0) ∨ (1 ∧ 1) ∨ (0 ∧ 1)    (0 ∧ 0) ∨ (0 ∧ 0) ∨ (0 ∧ 1) (0 ∧ 1) ∨ (0 ∧ 0) ∨ (0 ∧ 0) (0 ∧ 0) ∨ (0 ∧ 1) ∨ (0 ∧ 1)   1 = 0  0  1 1 0 1 1  0  70 . Contoh 28.

Perhatikan bahwa jelajah dari f adalah himpunan bagian (mungkin proper subset) dari B. Fungsi adalah relasi yang khusus: 1. Jika f adalah fungsi dari A ke B kita menuliskan f:A→B yang artinya f memetakan A ke B. 2. Nama lain untuk fungsi adalah pemetaan atau transformasi. Tiap elemen di dalam himpunan A harus digunakan oleh prosedur atau kaidah yang mendefinisikan f. maka b dinamakan bayangan (image) dari a dan a dinamakan pra-bayangan (pre-image) dari b. diantaranya: 1. Relasi biner f dari A ke B merupakan suatu fungsi jika setiap elemen di dalam A dihubungkan dengan tepat satu elemen di dalam B. Jika f(a) = b. maka b = c. Kita menuliskan f(a) = b jika elemen a di dalam A dihubungkan dengan elemen b di dalam B. b) ∈ f dan (a. A f B a b Himpunan yang berisi semua nilai pemetaan f disebut jelajah (range) dari f. Himpunan pasangan terurut. Fungsi dapat dispesifikasikan dalam berbagai bentuk. Frasa “dihubungkan dengan tepat satu elemen di dalam B” berarti bahwa jika (a. c) ∈ f.Fungsi Definisi Misalkan A dan B himpunan. • • A disebut daerah asal (domain) dari f dan B disebut daerah hasil (codomain) dari f. 71 . Seperti pada relasi.

4. f(x) = x2. Contoh 31. w)}dari A = {1. v). daerah hasilnya adalah B. Formula pengisian nilai (assignment). Contoh 29. v)}dari A = {1. Jelajah dari f adalah {u. meskipun u merupakan bayangan dari dua elemen A. u). 3} ke B = {u. (2. 3} ke B = {u. v}. 72 . 4} ke B = {u. yang dalam hal ini sama dengan himpunan B. 3. Relasi f = {(1.2. v). karena tidak semua elemen A dipetakan ke B. w} bukan fungsi. 2. w} bukan fungsi. Relasi f = {(1. 2. 3. end. (2. Di sini f(1) = u. dan f(x) = 1/x. u). u). v. 3} ke B = {u. begin if x < 0 then abs:=-x else abs:=x. v). w} adalah fungsi dari A ke B. f(2) = v. Daerah asal fungsi adalah A. (3. v). dan jelajah fungsi adalah {u. (3. Daerah asal dari f adalah A dan daerah hasil adalah B. karena 1 dipetakan ke dua buah elemen B. v. Contoh: f(x) = 2x + 10. v. 2. Relasi f = {(1. w)} dari A = {1. v. u). (3. w} ada lah fungsi dari A ke B. Relasi f = {(1. u). w}. Contoh 30. (3. Contoh 32. 2. yaitu u dan v. Kode program (source code) Contoh: Fungsi menghitung |x| function abs(x:integer):integer. w)}dari A = {1. (1. v. Kata-kata Contoh: “f adalah fungsi yang memetakan jumlah bit 1 di dalam suatu string biner”. (2. dan f(3) = w. (2.

f(-2) = -3. v)}dari A = {1. 3} ke B = {u. Contoh 35. Relasi f = {(1. A a b c d B 1 2 3 4 5 Contoh 34. karena untuk dua x yang bernilai mutlak sama tetapi tandanya berbeda nilai fungsinya sama. u). u). misalnya f(2) = f(-2) = 5 padahal –2 ≠ 2. Tentukan apakah f(x) = x2 + 1 dan f(x) = x – 1 merupakan fungsi satu-ke-satu? Penyelesaian: (i) f(x) = x2 + 1 bukan fungsi satu-ke-satu. v. (3. w). Misalkan f : Z → Z didefinisikan oleh f(x) = x2. x} adalah fungsi satu-ke-satu. w. 3} ke B = {u. a – 1 ≠ b – 1. (2. u). 2. 2. tetapi relasi f = {(1. dan jelajah dari f adalah himpunan bilangan bulat tidak-negatif. Fungsi Injektif Definisi Fungsi f dikatakan fungsi satu-ke-satu (one to one) atau injektif (injective) jika tidak ada dua elemen himpunan A yang memiliki bayangan sama. (2. (ii) f(x) = x – 1 adalah fungsi satu-ke-satu karena untuk a ≠ b. v. (3. Misalkan f : Z → Z.Contoh 33. Fungsi Surjektif Definisi 73 . w} bukan fungsi satu-ke-satu. f(2) = 1 dan untuk x = -2. Daerah asal dan daerah hasil dari f adalah himpunan bilangan bulat. v)} dari A = {1. karena f(1) = f(2) = u. Misalnya untuk x = 2.

(3. 74 . v. u). v. u). 2. Fungsi f disebut fungsi pada himpunan B. v)}dari A = {1. 2. (3. (ii) f(x) = x – 1 adalah fungsi pada karena untuk setiap bilangan bulat y. Contoh 37. Relasi f = {(1. Relasi f = {(1. Relasi f = {(1. v)} dari A = {1. 3} ke B = {u.Fungsi f dikatakan dipetakan pada (onto) atau surjektif (surjective) jika setiap elemen himpunan B merupakan bayangan dari satu atau lebih elemen himpunan A. Misalkan f : Z → Z. (3. 3} ke B = {u. (2. (2. (2. 3} ke B = {u. w} merupakan fungsi pada karena semua anggota B merupakan jelajah dari f. Contoh 38. v. u). u). Fungís Bijeksi Definisi Fungsi f dikatakan berkoresponden satu-ke-satu atau bijeksi (bijection) jika ia fungsi satu-ke-satu dan juga fungsi pada. yaitu y = x – 1 akan dipenuhi untuk x = y + 1. Tentukan apakah f(x) = x2 + 1 dan f(x) = x – 1 merupakan fungsi pada? Penyelesaian: (i) f(x) = x2 + 1 bukan fungsi pada. Dengan kata lain seluruh elemen B merupakan jelajah dari f. w} bukan fungsi pada karena w tidak termasuk jelajah dari f. karena f adalah fungsi satu-ke-satu maupun fungsi pada. w). w). 2. v)} dari A = {1. A a b c d B 1 2 3 Contoh 36. karena tidak semua nilai bilangan bulat merupakan jelajah dari f. selalu ada nilai x yang memenuhi. w} adalah fungsi yang berkoresponden satu-ke-satu.

Contoh 40. Contoh 41. karena kita dapat mendefinisikan fungsi balikannya. - Misalkan a adalah anggota himpunan A dan b adalah anggota himpunan B.Contoh 39. (2. maka kita dapat menemukan balikan (invers) dari f. (v. -1 = {(u. Fungsi satu-ke-satu. bukan pada A a b c dc B A Fungsi pada. (w. v. maka f (b) = a jika f(a) = b. bukan satu-ke-satu 1 a B 1 b 2 c 3 d c 2 3 4 Buka fungsi satu-ke-satu maupun pada B A 1 a 2 b 3 c 4 Bukan fungsi A a b c dc B 1 2 3 4 Jika f adalah fungsi berkoresponden satu-ke-satu dari A ke B. 3)} Jadi. (3. 75 . karena fungsi balikannya tidak ada. Fungsi f(x) = x – 1 merupakan fungsi yang berkoresponden satu-ke-satu. 2). 2. Relasi f = {(1. w} adalah fungsi yang berkoresponden satu-ke-satu. Tentukan balikan fungsi f(x) = x – 1. Balikan fungsi f hádala f 1). 3} ke B = {u. f adalah fungsi invertible. u). v)}dari A = {1. Sebuah fungsi dikatakan not invertible (tidak dapat dibalikkan) jika ia bukan fungsi yang berkoresponden satu-ke-satu. karena f adalah fungsi satu-ke-satu maupun fungsi pada. w). Balikan fungsi dilambangkan dengan f 1 –1 . Fungsi yang berkoresponden satu-ke-satu sering dinamakan juga fungsi yang invertible (dapat dibalikkan).

adalah fungsi dari A ke C yang didefinisikan oleh (f ο g)(a) = f(g(a)) Contoh 43. (2.Penyelesaian: Fungsi f(x) = x – 1 adalah fungsi yang berkoresponden satu-ke-satu. Beberapa Fungsi Khusus 1. Jadi. z}. Tentukan f ο g dan g ο f . Fungsi Floor dan Ceiling 76 . dan fungsi f = {(u. dinotasikan dengan f ο g. Diberikan fungsi g = {(1. 2. w} ke C = {x. x) } Contoh 44. sehingga y = x – 1. (3. x). Penyelesaian: Dari Contoh 3. (w.41 dan 3. Tentukan balikan fungsi f(x) = x2 + 1. v. w}. sehingga fungsi balikannya tidak ada.2x + 2. Diberikan fungsi f(x) = x–1 dan g(x) = x2 +1. u). (3. y). (v. u). Komposisi dari dua buah fungsi Definisi Misalkan g adalah fungsi dari himpunan A ke himpunan B. v) yang memetakan A = {1. y). z)} yang memetakan B = {u. y). Komposisi f dan g.44 kita sudah menyimpulkan bahwa f(x) = x – 1 bukan fungsi yang berkoresponden satu-ke-satu. Penyelesaian: (i) (f ο g)(x) = f(g(x)) = f(x2 + 1) = x2 + 1 – 1 = x2. 3} ke B = {u. Fungsi komposisi dari A ke C adalah f ο g = {(1. maka x = y + 1. Misalkan f(x) = y. balikan fungsi balikannya adalah f-1(y) = y +1. jadi balikan fungsi tersebut ada. y. (2. f(x) = x2 + 1 adalah funsgi yang not invertible. dan f adalah fungsi dari himpunan B ke himpunan C. (ii) (g ο f)(x) = g(f(x)) = g(x – 1) = (x –1)2 + 1 = x2 . Jadi. Contoh 42. v.

a mod m memberikan sisa pembagian bilangan bulat bila a dibagi dengan m a mod m = r sedemikian sehingga a = mq + r. Beberapa contoh nilai fungsi floor dan ceiling: 3.5 = 0 4. Beberapa contoh fungsi modulo 25 mod 7 = 4 15 mod 4 = 0 3612 mod 45 = 12 0 mod 5 = 5 –25 mod 7 = 3 (sebab –25 = 7 ⋅ (–4) + 3 ) 77 . Di dalam komputer.5 = 0 –3.5 = 3 0. berarti x berada di antara dua bilangan bulat.5 = 1 4. satu byte terdiri atas 8 bit. data dikodekan dalam untaian byte. Contoh 45. dengan 0 ≤ r < m. 2.5 = 4 0. Jika panjang data 125 bit.8 = 4 – 0.5 = – 3 Contoh 46. fungsi floor membulatkan x ke bawah.8 = 5 – 0.5 = – 1 –3. Fungsi modulo Misalkan a adalah sembarang bilangan bulat dan m adalah bilangan bulat positif. sehingga untuk byte yang terakhir perlu ditambahkan 3 bit ekstra agar satu byte tetap 8 bit (bit ekstra yang ditambahkan untuk menggenapi 8 bit disebut padding bits). Perhatikanlah bahwa 16 × 8 = 128 bit. Contoh 47.5 = – 4 3. sedangkan fungsi ceiling membulatkan x ke atas.Misalkan x adalah bilangan riil. Fungsi floor dari x: x menyatakan nilai bilangan bulat terbesar yang lebih kecil atau sama dengan x Fungsi ceiling dari x: x menyatakan bilangan bulat terkecil yang lebih besar atau sama dengan x Dengan kata lain. maka jumlah byte yang diperlukan untuk merepresentasikan data adalah 125/8 = 16 byte.

Contoh 47. 1 n! =   n × ( n − 1 )! . Fungsi Eksponensial . Fungsi Logaritmik Fungsi logaritmik berbentuk y = a log x Fungsi Rekursif Definisi ↔ x = ay Fungsi f dikatakan fungsi rekursif jika definisi fungsinya mengacu pada dirinya sendiri.n = 0 . × ( n − 1) × n 4. (b) Rekurens Bagian ini mendefinisikan argumen fungsi dalam terminologi dirinya sendiri. argumen dari fungsi harus lebih dekat ke nilai awal (basis). 78 .n > 0 1  a = a × a × L × a 4 3  1 4 2 44  n n .3.n = 0 . n! = 1 × 2 × … × (n – 1) × n = (n – 1)! × n.n > 0 Untuk kasus perpangkatan negatif. Setiap kali fungsi mengacu pada dirinya sendiri. Bagian ini juga sekaligus menghentikan definisi rekursif. a −n = 1 an 5.n = 0 . Fungsi Faktorial 1 n! =  1 × 2 × L .n > 0 Fungsi rekursif disusun oleh dua bagian: (a) Basis Bagian yang berisi nilai awal yang tidak mengacu pada dirinya sendiri.

Contoh definisi rekursif dari faktorial: (a) basis: n! = 1 (b) rekurens: n! = n × (n -1)! (1) 5! = 5 × 4! (2) (3) (4) (5) (6) (6’) (5’) (4’) (3’) (2’) (1’) Jadi.n = 0 . x )  .n > 1 3. n > 1  79 . Di bawah ini adalah contoh-contoh fungsi rekursif lainnya: 1. 5! = 120. jika n > 0 5! dihitung dengan langkah berikut: (rekurens) 3! = 3 × 2! 2! = 2 × 1! 1! = 1 × 0! 0! = 1 0! = 1 1! = 1 × 0! = 1 × 1 = 1 2! = 2 × 1! = 2 × 1 = 2 3! = 3 × 2! = 3 × 2 = 6 4! = 4 × 3! = 4 × 6 = 24 5! = 5 × 4! = 5 × 24 = 120 4! = 4 × 3!  2 F ( x − 1) + x . Fungsi fibonacci: 0 . F ( x ) =  0  . x ) =  x  2 xT ( n − 1.n = 0   f (n) =  1 . Fungsi Chebysev 1   T (n.n = 1 . jika n = 0 . x ) − T ( n − 2 .x ≠ 0 2.x = 0 2 .n = 1  f ( n − 1) + f ( n − 2) . Contoh 48.

DASAR OPERASI LOGIKA LOGIKA : Memberikan batasan yang pasti dari suatu keadaan. aljabar boolean juga merupakan suatu struktur aljabar yang operasi-operasinya memenuhi aturan tertentu. aljabar boolean berarti suatu jenis simbol-simbol yang ditemukan oleh George Boole untuk memanipulasi nilai-nilai kebenaran logika secara aljabar. Suatu fungsi boolean bisa dinyatakan dalam tabel kebenaran. Disisi lain. ♦ Suatu keadaan disebut benar bila tidak salah. dan tiga operasi dasar dengan AND. suatu tanda sama dengan. Dalam arti luas. Variabel-variabel diperlihatkan dengan huruf-huruf alfabet. sehingga suatu keadaan tidak dapat berada dalam dua ketentuan sekaligus. Aljabar boolean mempunyai 2 fungsi berbeda yang saling berhubungan. simbol-simbol operasi logik. Dalam hal ini aljabar boolean cocok untuk diaplikasikan dalam komputer. dan tanda kurung. Fungsi boolean terdiri dari variabel-variabel biner yang menunjukkan fungsi. Suatu tabel kebenaran untuk fungsi boolean merupakan daftar semua kombinasi angka-angka biner 0 dan 1 yang diberikan ke variabel-variabel biner dan daftar yang memperlihatkan nilai fungsi untuk masing-masing kombinasi biner. OR dan NOT (komplemen). Dalam logika dikenal aturan sbb : ♦ Suatu keadaan tidak dapat dalam keduanya benar dan salah sekaligus ♦ Masing-masing adalah benar / salah. konstanta-konstanta 0 dan 1. dan suatu ekspresi aljabar yang dibentuk dengan menggunakan variabel-variabel biner.BAB VI ALJABAR BOOLEAN Aljabar boolean merupakan aljabar yang berhubungan dengan variabel-variabel biner dan operasi-operasi logik. Dalam ajabar boolean keadaan ini ditunjukkan dengan dua konstanta : LOGIKA ‘1’ dan ‘0’ Operasi-operasi dasar logika dan gerbang logika : Pengertian GERBANG (GATE) : 80 .

♦ Rangkaian digital (dua keadaan).B) ♦ Operasi ini akan menghasilkan logika 1.B) Operasi ini akan menghasilkan logika 0.♦ Rangkaian satu atau lebih sinyal masukan tetapi hanya menghasilkan satu sinyal keluaran. ♦ Setiap keluarannya tergantung sepenuhnya pada sinyal yang diberikan pada masukanmasukannya. jika kedua variabel tersebut berlogika 1 Simbol A A. Simbol 81 .B X’ 1 0 Simbol B Operasi logika OR Operasi antara 2 variabel (A. jika kedua variabel tersebut berlogika 0. Operasi logika NOT ( Invers ) Operasi merubah logika 1 ke 0 dan sebaliknya x = x’ Tabel Operasi NOT X 0 1 Operasi logika AND ♦ Operasi antara dua variabel (A. karena sinyal masukan atau keluaran hanya berupa tegangan tinggi atau low ( 1 atau 0 ).

Simbol A A. Simbol A A+B (A B Atau A ( A + B )’ B Operasi logika NAND Operasi logika ini merupakan gabungan operasi AND dan NOT.A A+B B Operasi logika NOR Operasi ini merupakan operasi OR dan NOT. Keluarannya merupakan keluaran gerbang AND yang di inverter.B (A 82 . keluarannya merupakan keluaran operasi OR yang di inverter.

B )’ B Operasi logika EXOR akan menghasilkan keluaran ‘1’ jika jumlah masukan yang bernilai ‘1’ berjumlah ganjil.B Atau A ( A . 1. Simbol A Y B DALIL BOOLEAN . X=0 ATAU X=1 83 . Simbol A Y B Operasi logika EXNOR Operasi ini akan menghasilkan keluaran ‘1’ jika jumlah masukan yang bernilai ‘1’ berjumlah genap atau tidak ada sama sekali.

(A + B)= A . 1 . 0 . B = A + B A .0 . A = 0 6.2. 1 = 0 7. 0 + 0 = 0 5. 1 + 1 = 1 4. DE MORGAN’S ( A+ B )’ = A’ .B = A A. B’ ( A .A 2. HK. C = A . (A+C) 4. HK.C A + (B. A =0 7. B’ + A’ . 1 + A’ . IDENTITAS A+A=A A . (B. B=B . A + A . B 10. 0 + A = A ----.1. A’ + A = 1 A’ . HK. B )’ = A’ + B’ 8. DISTRIBUTIF A .B + A. B = A .C) = (A+B) . ASSOSIATIF (A+B)+C = A+(B+C) (A. 1 .A=A 84 . A + A’ . KOMUTATIF A+B=B+A A. HK.B) .C) 3. B = A+B 9. 1 = 1 6. A = A 1 + A = 1 ----. B = A + A’ . 0 = 0 . B = A . HK. (B+C) = A. 0 = 0 3. HK.(A+B) = A CONTOH : 1. NEGASI ( A’ ) = A’ (A’)’ = A 5. ( 1 + B’ ) + A’ . 1 + 0 = 0 + 1 = 0 TEOREMA BOOLEAN 1. ABRSORPSI A+ A.

B = (A’ + B’) .B)’ . A B X = (A. B =(A =(A =A A B ATAU A B 85 .2.

c ∈ B berlaku aksioma-aksioma atau postulat Huntington berikut: (i) a + b ∈ B (ii) a ⋅ b ∈ B 1. B : himpunan yang didefinisikan pada opeartor +. Closure: 2. +. b. ⋅. Distributif: (i) a ⋅ (b + c) = (a ⋅ b) + (a ⋅ c) (ii) a + (b ⋅ c) = (a + b) ⋅ (a + c) 86 . ’) disebut aljabar Boolean jika untuk setiap a. a 4. Komutatif: (i) a + b = b + a (ii) a ⋅ b = b . Identitas: (i) a + 0 = a (ii) a ⋅ 1 = a 3.Aljabar Boolean • Misalkan terdapat Dua operator biner: + dan ⋅ Sebuah operator uner: ’. dan ’ 0 dan 1 adalah dua elemen yang berbeda dari B. Tupel (B. ⋅.

+ dan ⋅ operator uner. 1} operator biner.5. Kaidah operasi untuk operator biner dan operator uner. Memenuhi postulat Huntington. harus diperlihatkan: 1. Closure : jelas berlaku 2. Identitas: jelas berlaku karena dari tabel dapat kita lihat bahwa: 87 . 2. Elemen-elemen himpunan B. Komplemen1: (i) a + a’ = 1 (ii) a ⋅ a’ = 0 • Untuk mempunyai sebuah aljabar Boolean. 3. Aljabar Boolean Dua-Nilai Aljabar Boolean dua-nilai: B = {0. ’ Kaidah untuk operator biner dan operator uner: a⋅b 0 0 0 1 a 0 0 1 1 B 0 1 0 1 a 0 0 1 1 b 0 1 0 1 a+b 0 1 1 1 a 0 1 a’ 1 0 Cek apakah memenuhi postulat Huntington: 1.

⋅. maka terbukti bahwa B = {0. +.(i) 0 + 1 = 1 + 0 = 1 (ii) 1 ⋅ 0 = 0 ⋅ 1 = 0 3. +. Komutatif: jelas berlaku dengan melihat simetri tabel operator biner. Komplemen: jelas berlaku karena Tabel 7. 88 . 4. ’) adalah: (i) setiap elemen di dalam B. ’) adalah sebuah aljabar Boolean. 5. Suatu ekspresi Boolean dalam (B. ⋅. Distributif: (i) a ⋅ (b + c) = (a ⋅ b) + (a ⋅ c) dapat ditunjukkan benar dari tabel operator biner di atas dengan membentuk tabel kebenaran: a ⋅ (b + c) 0 0 0 0 0 1 1 1 a⋅b 0 0 0 0 0 0 1 1 a⋅c 0 0 0 0 0 1 0 1 (a ⋅ b) + (a ⋅ c) 0 0 0 0 0 1 1 1 a 0 0 0 0 1 1 1 1 b 0 0 1 1 0 0 1 1 c 0 1 0 1 0 1 0 1 b+c 0 1 1 1 0 1 1 1 (ii) Hukum distributif a + (b ⋅ c) = (a + b) ⋅ (a + c) dapat ditunjukkan benar dengan membuat tabel kebenaran dengan cara yang sama seperti (i). karena 0 ⋅ 0’= 0 ⋅ 1 = 0 dan 1 ⋅ 1’ = 1 ⋅ 0 = 0 Karena kelima postulat Huntington dipenuhi. karena 0 + 0’= 0 + 1 = 1 dan 1 + 1’= 1 + 0 = 1 (ii) a ⋅ a = 0.3 memperlihatkan bahwa: (i) a + a‘ = 1. Ekspresi Boolean • Misalkan (B. 1} bersamasama dengan operator biner + dan ⋅ operator komplemen ‘ merupakan aljabar Boolean.

Perlihatkan bahwa a + a’b = a + b . (iii) jika e1 dan e2 adalah ekspresi Boolean. maka hasil evaluasi ekspresi: 0’⋅ (1 + 0) = 1 ⋅ 1 = 1 • Dua ekspresi Boolean dikatakan ekivalen (dilambangkan dengan ‘=’) jika keduanya mempunyai nilai yang sama untuk setiap pemberian nilai-nilai kepada n peubah. b = 1. e1’ adalah ekspresi Boolean Contoh: 0 1 a b c a+b a⋅b a’⋅ (b + c) a ⋅ b’ + a ⋅ b ⋅ c’ + b’. dan c = 0.(ii) setiap peubah. e1 ⋅ e2. b) + (a ⋅ c) Contoh. dan sebagainya Mengevaluasi Ekspresi Boolean • Contoh: a’⋅ (b + c) jika a = 0. Penyelesaian: 89 . maka e1 + e2. Contoh: a ⋅ (b + c) = (a .

(i) (a ⋅ 1)(0 + a’) = 0 dualnya (a + 0) + (1 ⋅ a’) = 1 (ii) a(a‘ + b) = ab dualnya a + a‘b = a + b 90 . maka jika pernyataan S* diperoleh dengan cara mengganti ⋅ dengan + + dengan ⋅ 0 dengan 1 1 dengan 0 dan membiarkan operator komplemen tetap apa adanya. bukan a0 Prinsip Dualitas • Misalkan S adalah kesamaan (identity) di dalam aljabar Boolean yang melibatkan operator +. ⋅. maka kesamaan S* juga benar. S* disebut sebagai dual dari S.a 0 0 1 1 b 0 1 0 1 a’ 1 1 0 0 a’b 0 1 0 0 a + a’b 0 1 1 1 a+b 0 1 1 1 • Perjanjian: tanda titik (⋅) dapat dihilangkan dari penulisan ekspresi Boolean. dan komplemen. Contoh. kecuali jika ada penekanan: (i) (ii) (iii) a(b + c) = ab + ac a + bc = (a + b) (a + c) a ⋅ 0 .

Hukum komutatif: (i) a+b=b+a (ii) ab = ba 9. Hukum De Morgan: (i) (a + b)’ = a’b’ (ii) (ab)’ = a’ + b’ Contoh 7.3. kita menuliskannya sebagai (Distributif) (Komplemen) (Identitas) (Penyerapan) (Asosiatif) 91 . Hukum idempoten: (i) a+a=a (ii) a ⋅ a = a 4. Hukum dominansi: (i) a⋅0 =0 (ii) a + 1 = 1 6. Hukum komplemen: (i) a + a’ = 1 (ii) aa’ = 0 5.Hukum-hukum Aljabar Boolean 1. Hukum asosiatif: (i) a + (b + c) = (a + b) + c (ii) a (b c) = (a b) c 10. Hukum distributif: (i) a + (b c) = (a + b) (a + c) (ii) a (b + c) = a b + a c 12. Hukum penyerapan: (i) a + ab = a (ii) a(a + b) = a 7. Hukum 0/1 (i) 0’ = 1 (ii) 1’ = 0 8. Hukum identitas: (i) a+0=a (ii) a ⋅ 1 = a 3. Buktikan (i) a + a’b = a + b dan (ii) a(a’ + b) = ab Penyelesaian: (i) a + a’b = (a + ab) + a’b = a + (ab + a’b) = a + (a + a’)b =a+1•b =a+b (ii) adalah dual dari (i) Fungsi Boolean • Fungsi Boolean (disebut juga fungsi biner) adalah pemetaan dari Bn ke B melalui ekspresi Boolean. Hukum involusi: (i) (a’)’ = a 2.

Misalkan sebuah fungsi Boolean adalah f(x. y) = x’ y’ 4. disebut literal. Contoh. y) = x’y + xy’+ y’ 3. Contohnya. z) = xy z’. f(x. z) ke himpunan {0. y = 0. 0. dan z = 1 sehingga f(1. Penyelesaian: 92 . Contoh: Fungsi h(x. y. y. Diketahui fungsi Booelan f(x.f : Bn → B yang dalam hal ini Bn adalah himpunan yang beranggotakan pasangan terurut ganda-n (ordered n-tuple) di dalam daerah asal B. f(x. z) = xyz’ • Setiap peubah di dalam fungsi Boolean. 0. f(x. y. Contoh-contoh fungsi Boolean yang lain: 1. z) = xyz + x’y + y’z Fungsi f memetakan nilai-nilai pasangan terurut ganda-3 (x. y. y) = (x + y)’ 5. z) = xyz’ pada contoh di atas terdiri dari 3 buah literal. 1}. • • Setiap ekspresi Boolean tidak lain merupakan fungsi Boolean. f(x. yaitu x. y. y. 1) = 1 ⋅ 0 ⋅ 1 + 1’ ⋅ 0 + 0’⋅ 1 = 0 + 0 + 1 = 1 . dan z’. Contoh. nyatakan h dalam tabel kebenaran. f(x) = x 2. termasuk dalam bentuk komplemennya. 1) yang berarti x = 1. (1.

x1 dan x2. maka f ’(x. z) = x(y’z’ + yz). Cara pertama: menggunakan hukum De Morgan Hukum De Morgan untuk dua buah peubah. y. y.x 0 0 0 0 1 1 1 1 y 0 0 1 1 0 0 1 1 z 0 1 0 1 0 1 0 1 f(x. y. z) = (x(y’z’ + yz))’ = x’ + (y’z’ + yz)’ = x’ + (y’z’)’ (yz)’ = x’ + (y + z) (y’ + z’) Aplikasi Aljabar Boolean 2. Rangkaian Digital Elektronik 93 . z) = xy z’ 0 0 0 0 0 0 1 0 Komplemen Fungsi 1. Misalkan f(x. adalah Contoh.

x y

xy

x y

x+ y

x

x'

Gerbang AND

Gerbang OR

Gerbang NOT (inverter)

Contoh. Nyatakan fungsi f(x, y, z) = xy + x’y ke dalam rangkaian logika. Jawab: (a) Cara pertama
x y

xy

xy+x'y x y x' x'y

x y

xy

xy+x'y x' x'y

(b) Cara kedua

94

x

y xy xy+x'y x' x'y

(b) Cara ketiga

Gerbang turunan

x y

x

(xy)'

x

+y

y

Gerbang NAND

Gerbang XOR

x y
Gerbang NOR

(x+y)'

x y

(x

+

y)'

Gerbang XNOR

x y

(x + y)' ekivalen dengan

x y

x+y

(x + y)'

x y

(x+y)'

95

x' y'

x'y'

ekivalen dengan

Penyederhanaan Fungsi Boolean

Contoh.

f(x, y) = x’y + xy’ + y’

x' y'

x' + y'

ekivalen dengan

x y

(xy)'

disederhanakan menjadi f(x, y) = x’ + y’ Penyederhanaan fungsi Boolean dapat dilakukan dengan 3 cara: 1. Secara aljabar 2. Menggunakan Peta Karnaugh 3. Menggunakan metode Quine Mc Cluskey (metode Tabulasi) 1. Penyederhanaan Secara Aljabar

Contoh: 1. f(x, y) = x + x’y = (x + x’)(x + y) = 1 ⋅ (x + y ) =x+y

2. f(x, y, z) = x’y’z + x’yz + xy’

96

z) = xy + x’z + yz = xy + x’z + yz(x + x’) = xy + x’z + xyz + x’yz = xy(1 + z) + x’z(1 + y) = xy + x’z 97 . y. f(x.= x’z(y’ + y) + xy’ = x’z + xz’ 3.

Patrick Suppes. 2007. Penerbit Andi. 1959. 98 .. Yogyakarta. Logika Matematika untuk Ilmu Komputer. Introduction to Logic. 3. 1976. Van Nostrand Company.Soesianto dan Djoni Dwijono. Stoll. Inc. Logika Informatika. Graha Ilmu. F. 2006. 4. Setiadji. Eurasia Publishing House Ltd. Yogyakarta. Canada. New Delhi. 2.DAFTAR PUSTAKA 1. Robert R. 5. Sumber lain dari internet. Set Theory and Logic. D.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->