1

BAB I
PENGANTAR LOGIKA INFORMATIKA

Dalam bidang informatika, logika informatika merupakan matakuliah yang wajib
dikuasai sebelum anda mendalami mata kuliah yang lain. Hal itu dikarenakan materi
yang dipelajari dalam logika informatika akan digunakan penerapannya pada mata kuliah
yang lain seperti algoritma pemrograman dan mata kuliah yang lain khususnya
berhubungan dengan pemrograman.

Sejarah Logika Informatika
Logika pertama kali dikemukakan oleh Aristoteles, pada abad 4 SM. Ia
merumuskan logika dengan cara menuliskan argumen/pendapat yang akan bisa
dibuktikan kebenarannya yang disebut dengan silogisme.
Sebuah contoh silogisme (disebut silogisme Barbara):
Premis : Semua A adalah B.
Premis : Semua B adalah C.
Konklusi : Semua A adalah C.
Sejak itu, banyak pemikir yang menemukan konsep-konsep lain tentang logika
tetapi masih berkisar pada pemikiran Aristoteles, sampai pada paruh terakhir abad 19
dengan tokoh-tokoh baru dengan pemikiran-pemikiran baru yaitu:

No. Nama/Tahun Pemikiran
1. Augustus De Morgan(1806-1871) Induksi Matematika, Hukum
Ekuivalensi Logika De Morgan
2. George Boole(1815-1871) Aljabar Boole
3. Giuseppe Peano(1858-1932) Penemu istilah logika matematika dan
teori himpunan
4. Emil L Post(1897-1954) Tabel Kebenaran
5. Ludwig JJ Wittgenstein(1889-
1951)
Tabel Kebenaran
6. John Venn(1834-1923) Diagram Venn
7. Henry M Sheffer(1882-1964) NAND, NOR
Dan masih banyak tokoh-tokoh lain.




2
Arti Logika Informatika
Pada masa Aristoteles, logika merupakan satu bahasan dalam ilmu tertua di dunia,
yaitu Filsafat. Baru pada masa-masa berikutnya logika masuk ke berbagai bidang ilmu-
ilmu yang lebih muda seperti ilmu hitung/matematika, dan kini komputer/informatika.
Dari arti katanya dalam bahasa Yunani, yaitu logike/logos yang berarti ilmu/pikiran,
logika bisa diartikan sebagai perkataan sebagai manifestasi dari pikiran manusia. Atau,
logika adalah ilmu yang mempelajari (jalan) pikiran yang diungkapkan dalam bahasa.
Arti logika menurut bahasan logika modern, terdapat banyak versi. Dua versi dari definisi
logika adalah:
1. Ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan prinsip-prinsip dari penalaran argumen
yang valid.
2. Studi tentang kriteria-kriteria untuk mengevaluasi argumen-argumen dengan
menentukan mana yang valid dan tidak valid, dan membedakan antara argumen
yang baik dan tidak baik.
Sedangkan logika informatika sendiri, dapat diartikan sebagai:
1. Aturan-aturan logika yang menggunakan kaidah-kaidah tertentu dalam informatika
yang dipergunakan untuk membuktikan validitas suatu argumen.
2. Aturan-aturan logika yang menggunakan kaidah-kaidah tertentu dalam matematika
yang dipergunakan untuk membuktikan validitas suatu argumen dalam bidang
informatika.

Argumen dan Silogisme
Argumen
Adalah usaha untuk mencari kebenaran dari suatu pernyataan berupa kesimpulan dengan
berdasarkan pada kebenaran dari satu kumpulan pernyataan yang disebut premis-premis.
Silogisme
Logika berawal dari pertanyaan-pertanyaan yang paling mendasar di kehidupan ini.
Silogisme Aristoteles, menurutnya, adalah suatu argumen yang terbentuk dari
pernyataan-pernyataan dengan salah satu atau keempat bentuk berikut:
1. Semua A adalah B. (universal affirmative)
2. Tidak A adalah B. (universal negative)
3. Beberapa A adalah B. (particular affirmative)
4. Beberapa A adalah tidak B. (particular negative)
3

Huruf A dan B diatas menggantikan suatu kata benda, misalnya ‘manusia’, ‘cuaca’, dan
sebagainya yang disebut terms of syllogism atau pokok dari silogisme.
Suatu silogisme yang berbentuk sempurna (well-formed syllogism) adalah silogisme yang
memiliki dua buah premis dan satu kesimpulan, dimana setiap premis memiliki satu
pokok(term) bersama dengan kesimpulan dan satu lagi pokok bersama dengan premis
lainnya.
Contoh sebuah silogisme sempurna:
Premis : Semua A adalah B.
Premis : Semua B adalah C.
Konklusi : Semua A adalah C.
(Pada premis pertama, A sama dengan A pada kesimpulan, dan ia juga memiliki B yang
sama dengan B pada premis kedua.)

Manfaat Logika Informatika
Logika informatika digunakan dalam semua bidang pada ilmu informatika. Dari
pembuatan konsep, penulisan software hingga cara kerja hardware. Contoh beberapa
manfaat logika informatika:
1. Membuat program.
Contoh, struktur IF-THEN...ELSE dalam bahasa Pascal
IF kondisi THEN
Statemen1
ELSE
Statemen2;
2. Database.
Contoh, mencari daftar mahasiswa Informatika UNSOED angkatan 2008 yang
nilai IPK-nya 4.
3. Cara kerja komputer(mesin).
Level logika pada komputer. Masing-masing level komputer menggunakan level
logika yang berbeda(dari logika elektronik 0 dan 1 hingga logika manusia dalam
bahasa pemrograman tingkat tinggi) tetapi semua bekerja berdasar prinsip-prinsip
logika.
4
Gambaran level logika yang berlaku sesuai dengan bahasa pemrograman yang
digunakan:


Studi kasus: Search Engine Google.
Search engine google menggunakan prinsip logika dalam pencariannya.
Contoh:
1. Menggunakan operator AND. Diwakili dengan tanda + .
Pencarian akan ’teknik+informatika’ di Google akan menghasilkan data yang
terdiri dari teknik dan informatika.





5
2. Menggunakan operator OR Pencarian dengan ketentuan ’teknik OR informatika’.
Hasil pencarian akan menampilkan kata teknik saja atau informatika saja.


3. Menggunakan operator NOT
Pencarian dengan ketentuan teknik NOT informatika, dilambangkan dengan ’teknik –
informatika’ akan menghasilkan pencarian akan kata ’teknik’ saja, yang tidak
mengandung kata ’informatika’.







6
BAB II
ALJABAR PROPOSISI

Kata merupakan rangkaian huruf yang mengandung arti, edangkan kalimat adalah
kumpulan kata yang disusun menurut aturan tata bahasa dan mengandung arti. Di dalam
matematika tidak semua pernyataan yang bernilai benar atau salah saja yang digunakan
dalam penalaran. Pernyataan disebut juga kalimat deklaratif yaitu kalimat yang bersifat
menerangkan dan disebut juga proposisi.

Semesta Pembicaraan
Semesta pembicaraan adalah keseluruhan obyek yang dibicarakan.
Contoh:
• Pada kehidupan sehari-hari
• Pada ilmu hitung
• Pada astronomi
• Pada Informatika
• Dll
Pada himpunan dapat di gambarkan sebagai berikut :


Bahasa adalah rangkaian simbol-simbol yang diucapkan atau ditulis menurut aturan-
aturan tertentu.
Contoh:
• I watch TV till 12 o’clock last night.
• أا
• Geef mij maar nasi goreng met een gebakken ei
Wat sambal en wat kroepoek en een goed glas bier erbij.
• Bonjour! Je m’appelle Hesti.
• Guten tag! Mein Name ist Hesti.
S
7
• Konnichiwa.

Kalimat Deklaratif
Kalimat Deklaratif /Pernyataan/ Proposisi adalah kalimat yang bernilai benar atau
salah tetapi tidak keduanya.
Contoh :
1. Yogyakarta adalah kota pelajar (Benar).
2. 2+2=4 (Benar).
3. Semua manusia adalah fana (Benar).
4. 4 adalah bilangan prima (Salah).
5. 5x12=90 (Salah).
Tidak semua kalimat berupa proposisi
Contoh :
1. Dimanakah letak pulau bali?.
2. Pandaikah dia?.
3. Andi lebih tinggi daripada Tina.
4. 3x-2y=5x+4.
5. x+y=2.

Validitas Argumen
Argumen adalah suatu pernyataan tegas yang diberikan oleh sekumpulan proposisi
P1, P2, .........,Pn yang disebut premis (hipotesa/asumsi) dan menghasilkan proposisi Q
yang lain yang disebut konklusi (kesimpulan). Secara umum di notasikan dengan

Argumen disebut benar apabila telah memenuhi syarat:
1. Konklusi/hasil kesimpulan dari argumen tersebut benar setelah melalui suatu
proses observas/dapat dibuktikan.
2. Langkah-langkah penalaran sesuai dengan hukum-hukum logika.

8
Premis :
• Jika hari ini cerah saya bermain futsal.
• Saya bermain futsal.
Kesimpulan: Hari ini cerah.
Argumen ini kuat karena:
1. Kesimpulan yg diambil benar.
2. Langkah penalaran tepat.

Semantik-Sintaks :
• Jika hari ini cerah saya bermain futsal.
• Saya bermain futsal.
Kesimpulan: Hari ini cerah.
Yang diperhatikan dalam logika hanyalah bentuk kalimat/sintaks-nya saja. Isi/arti
kalimat/semantik bukan merupakan bahasan.

Contoh Semantik-Sintaks
– Dia tidak kaya dan tidak bahagia.
– Menjadi miskin berarti menjadi tak bahagia.
– Seseorang tak pernah bahagia jika dia kaya.
– Dia miskin tetapi bahagia.
– Jika dia tak dapat kaya maka bahagia.
– Jika dia tidak bahagia maka ia miskin.
– Jika dia tak miskin dan tak bahagia maka ia kaya.
– Menjadi kaya berarti sama seperti menjadi bahagia.
– Dia miskin atau jika tidak maka dia kaya dan tak bahagia.
– Jika dia tidak miskin, maka dia bahagia.

SOUND ARGUMENT
POLA:
Semua X adalah Y
Beberapa Y adalah Z
Maka beberapa X adalah Z

9
Contoh Argumen kuat:
• Semua Toyota adalah mobil Jepang.
• Beberapa mobil Jepang dibuat di Indonesia.
• Maka beberapa Toyota dibuat di Indonesia.


UNSOUND ARGUMENT
Pola :
Semua X adalah Y
Beberapa Y adalah Z
Maka beberapa X adalah Z

Contoh 1 :
Semua Toyota adalah mobil.
Beberapa mobil adalah Porche.
Maka beberapa Toyota adalah Porche.

Contoh 2 :
Semua angkatan 2008 mengambil kuliah login.
Beberapa mahasiswa yang mengambil login adalah angkatan 2007.
Maka beberapa mahasiswa angkatan 2008 adalah angkatan 2007.
Dibuat di
Indonesia
S:Mobil Jepang

T
S

Mobil
T
P
10



Proposisi Atomik dan Majemuk
Dilihat dari kompleksitasnya, proposisi terdiri dari proposisi :
1. Proposisi atomik adalah proposisi yang tidak dapat dipecah-pecah menjadi beberapa
proposisi lagi.
2. Proposisi majemuk adalah proposisi yang terdiri dari beberapa proposisi atomik.
Contoh :
• Hari hujan.
• Jika hari hujan maka saya berangkat kuliah.
• Menonton konser Kangen Band.
• Saya tidur atau menonton konser Kangen Band.
• Ada bug.
• Masukannya salah.
• Ada bug dan masukannya salah.
• Setiap orang Indonesia pintar.
• Jack pintar, demikian juga Jen.
• Jack dan Jen sama-sama pintar.
• Mike pintar dan nilai-nilainya bagus.
• Ralph pintar atau rajin.

Kata-kata Penghubung Kalimat
Dalam menggabungkan proposisi atomik menjadi sebuah proposisi majemuk,
diperlukan sebuah kata penghubung/perangkai kalimat.
• DAN
• ATAU
• BUKAN
Mhsw Ambil
Login
2008
2007
11
• JIKA
• JIKA DAN HANYA JIKA

SIMBOL ARTI BENTUK
⌐ atau ‾ Tidak/Bukan/Not/Negasi Tidak...
Λ Dan/And/Konjungsi ...dan...
V Atau/Or/Disjungsi ...atau...
=> Implikasi Jika...maka...

Biimplikasi ...jika dan hanya jika...

Contoh Penggunaan kata penghubung :
Proposisi atomik A: Hari ini hujan.
Dan proposisi atomik B: Hari ini mendung.
N PROPOSISI SMBL
1. Hari ini hujan A
2. Hari ini mendung B
3. Hari ini tidak hujan ⌐A
4. Hari ini tidak mendung ⌐B
5. Hari ini hujan dan mendung A Λ B
6. Hari ini hujan atau mendung A V B
7. Hari ini tidak hujan tetapi mendung ⌐A Λ B
8. Jika hari ini hujan maka akan mendung A=>B
9. Hari ini hujan jika dan hanya jika hari mendung A⌠B


Tabel Kebenaran
Tabel kebenaran adalah tabel nilai yang mendefinisikan nilai kebenaran
keseluruhan kalimat berdasarkan nilai kebenaran masing-masing kalimat penyusunnya.
Negasi :
Negasi suatu pernyataan P adalah pernyataan baru yang bernilai salah jika P benar dan
bernilai benar jika P bernilai salah.
notasi negasi P adalah ∼P
12
P ~P
T F
F T

Misal : P adl “x lebih kecil dari 5” , negasinya adl :
1. Tidak( lah benar ) x lebih kecil dari 5
2. x tidak lebih kecil dari 5
3. x lebih besar atau sama dengan 5

Konjungsi

Konjungsi dari dua pernyataan P dan Q ditulis P∧Q (dibaca P and Q) adalah suatu
pernyataan yang bernilai benar jika kedua komponennya, yaitu p dan q, bernilai benar,
dan akan bernilai salah jika salah satu komponennya bernilai salah.
Tabel kebenarannya adalah :
P Q P Λ ΛΛ Λ Q
T T T
T F F
F T F
F F F

Perhatikan bahwa walaupun menggunakan istilah ”dan”, dua kalimat yang dihubungkan
tidak harus mempunyai hubungan. Misal : “Yogyakarta ibukota propinsi DIY dan 112
habis dibagi 2”, dalam logika di pandang sebagai suatu pernyataan yang sah Selanjutnya
pandang :
1. P : Ali dan Budi duduk dikelas 2
2. Q : Ali dan Budi bersaudara
P merupakan konjungsi sedang Q bukan.

Disjungsi
Disjungsi (inklusif) dari dua pernyataan P atau Q ditulis P∨Q (dibaca P atau Q)
adalah suatu pernyataan yang bernilai benar jika salah satu kom ponennya, yaitu p atau q,
bernilai benar, dan ber nilai salah jika kedua komponennya bernilai salah
Tabel kebenarannya adalah :
P Q P V Q
13
T T T
T F T
F T T
F F F

Implikasi
Implikasi dua pernyataan P dan Q adalah P → Q yang dibaca “ Jika P maka Q ”.
Pernyataan implikasi disebut juga pernyataan bersyarat Suatu implikasi P → Q bernilai
salah jika P benar dan Q salah, dan bernilai benar jika yang lain
Tabel kebenarannya adalah :
P Q P => Q
T T T
T F F
F T T
F F T
Dalam pernyataan P → Q, P disebut anteseden dan Q disebut konsekuen.
Perhatikan kalimat dibawah ini :
Jika Anda mengendarai mobil maka anda harus memakai sabuk pengaman.
Jika Anda masuk kawasan pabrik, maka Anda harus mengenakan tanda pengenal
• Seseorang yang mengendarai mobil dan memakai sabuk pengaman tentunya
tidak menyalahi aturan (benar, sebab P= benar, Q = benar),
• orang yang mengendarai mobil tidak pakai sabuk pengaman jelas menyalahi
aturan (salah ,sebab P = benar, Q = salah);
• Orang yang naik gerobak dan memakai sabuk pengaman tidak menyalahi aturan
(benar, sebab P=salah, Q=betul), dan
• Orang yang naik gerobak tidak memakai sabuk pengaman tak menyalahi aturan
(benar, sebab P=Salah, Q=salah)
Pernyataan lain daripada “ Jika P maka Q “
adalah :
1. Q jika P
2. P hanya jika Q
3. Q merupakan sarat perlu untuk P
4. P merupakan sarat cukup untuk Q
Contoh :
14
1. Tuliskan kalimat dibawah ini dengan simbol logika
a. Saya akan berlibur ke Bali hanya jika saya lulus ujian
b. Sarat perlu agar 273 habis dibagi 3 adalah 273 merupakan bilangan prima
c. Saya akan memberi anda uang apabila saya lulus ujian atau saya mendapat hadiah
TTS
Jawab
a. P = saya berlibur ke Bali, Q = Saya lulus ujian
Kalimatnya menjadi : P Q
b. P = 273 habis dibagi 3, Q = 273 merupakan bilangan prima
Kalimatnya menjadi : P Q
c. P = Saya memberi Anda uang, Q = Saya lulus ujian, dan
R = saya mendapat hadiah TTS
Kalimatnya menjadi : (Q ∨ R) P

2. Tentukan nilai kebenaran pernyataan-pernyataan dibawah ini :
a. Jika Jakarta bukan ibukota RI, maka 9 juga bukan
bilangan prima
b. 2+2 = 2x2 hanya bila 2 =0
c. 2<3 merupakan syarat cukup untuk 2x2 < 3x3
Jawab :
a. Benar, karena anteseden salah (Jakarta bukan ibu
kota RI)
b. Salah, karena anteseden (2+2 = 2x2) benar sedangkn
konsekuennya (2 = 0 ) salah
c. Benar, karena konsekuennya (2x2 ,3x3) benar

Bi-Implikasi
BI-Implikasi dua pernyataan P dan Q adalah P↔Q yang dibaca “ P jika dan hanya
jika Q ” (disingkat P bhb Q) . Pernyataan Bi-implikasi bernilai benar jika P dan Q
keduanya bernilai sama, sedangkan jika nilai nilai P tidak sama dengan nilai Q maka nilai
pernyataan tersebut salah.

Tabel kebenarannya adalah :
15
P Q P <=> Q
T T T
T F F
F T F
F F T

Suatu pernyataan bentuk bi-implikasi dapat disajikan dengan :
1. P merupakan sarat perlu dan cukup untuk Q
2. P ekuivalen dengan Q
Contoh
X merupakan bilangan gasal bhb X habis dibagi 3
Jawab :
Misal P = X merupakan bilangan gasal
Q = X habis dibagi 3
Kalimatnya : P ↔ Q

Ekuivalen
Dua kalimat disebut ekuivalen(secara logika) jika dan hanya jika keduanya mempunyai
nilai kebenaran yang sama untuk semua substitusi nilai kebenaran masing-masing kalimat
penyusunnya.
Jika A dan B adalah kalimat-kalimat yang ekuivalen, maka dituliskan A ≡B (atau AB).
Jika A ≡B maka B ≡A juga.

Contoh 1 :
Tentukan apakah kalimat dibawah ini ekuivalen:
• -(-A) dengan A
• -(A Λ B) dengan -A Λ-B
• A=>B dengan –A V B



Buat tabel kebenaran untuk membuktikannya
A ~A ~(~A)
16
T F T
F T F
Contoh 2 :

Tentukan apakah kalimat dibawah ini ekuivalen:
• -(-A) dengan A, terbukti –(-A) ≡A
• -(A ΛB) dengan -A Λ-B
• A=>B dengan –A V B
Buat tabel kebenaran untuk membuktikannya
A B A Λ ΛΛ ΛB ~ (A Λ ΛΛ ΛB) ~A ~B ~ A Λ ΛΛ Λ~B
T T T F F F F
T F F T F T F
F T F T T F F
F F F T T T T

Contoh 3 :
Tentukan apakah kalimat dibawah ini ekuivalen:
• -(-A) dengan A, terbukti –(-A) ≡A
• -(A ΛB) ≡-A Λ-B, (tidak terbukti)
• A=>B dengan –A V B
Buat tabel kebenaran untuk membuktikannya
A B A => B ~A ~A V B
T T T F T
T F F F F
F T T T T
F F T T T
Terbukti A => B ≡ ~A V B






Hukum-hukum Ekuivalensi Logika :
1. Hukum Komutatif:
17
• p Λq ≡ q Λp,
• P V q ≡ q V p.
2. Hukum Asosiatif:
• (p Λq) Λr ≡ p Λ(q Λr),
• (p V q) V r ≡ p V (q V r)
3. Hukum Distributif:
• p Λ(q V r) ≡ (p Λq) V (p Λr),
• p V (q Λr ) ≡ (p V q) Λ(p V r)
4. Hukum Identitas:
• p ΛT ≡ p,
• p V F ≡p
5. Hukum Ikatan:
• p V T ≡ T,
• p ΛF ≡F
6. Hukum Negasi:
• p v ⌐p ≡T,
• P ^ ⌐p ≡F.
7. Hukum Negasi Ganda:
• ⌐(⌐)p ≡p
8. Hukum Idempoten:
• p^p ≡p,
• pvp ≡p
9. Hukum De Morgan:
• ⌐(p^q) ≡⌐p v ⌐q
• ⌐(pvq) ≡⌐p ^ ⌐q
10. Hukum Absorbsi:
• p v (p^q) ≡ p,
• p ^ (p v q) ≡ p
11. Negasi T dan F:
• ⌐T ≡ F, ⌐F ≡ T
12. Hukum Implikasi:
• p=>q ≡ ⌐p v q

18
13. Hukum Kontraposisi:
• p=>q ≡⌐q => ⌐p,
14. Hukum Biimplikasi:
• ⌐T ≡F,
• p q ≡ (p=>q) ^(q=>p)
15. Negasi Q, Sama Dengan P
• (pΛq) v (p^⌐q) ≡p,
• (pvq) ^ (pv⌐q) ≡p,
16. Negasi P, Sama Dengan Q
• (pΛq)v(⌐p^q) ≡q,
• (pvq) ^ (⌐pvq) ≡q,


Penyederhanaan
Contoh : Sederhanakan bentuk
• ⌐(⌐A ^ B)^(AvB) ≡ (⌐(⌐A)v ⌐B) ^ (AvB)
≡ (Av ⌐B) ^ (AvB)
≡ Av( ⌐B ^B)
≡ AvF
≡ A
• -(Av-B)v(-A^-B) ≡ -A
• -(Av-B)v(-A^-B) ≡ (-A^-(-B))v(-A^-B)
≡ (-A^B)v(-A^-B)
≡ -A^(Bv-B)
≡ -A^T
≡ -A
• (pvF)^(pv-p) ≡ p^(pv-p)
≡ p^T
≡ p
• -p =>-(p=>-q) ≡ --pv-(p=>-q)
≡ --pv-(-pv-q)
≡ --pv(--p^--q)
≡ pv(p^q)≡p

19

Tautologi, Kontradiksi dan Contingent
Tautologi adalah suatu bentuk kalimat yang selalu bernilai benar (True) tidak peduli
bagaimanapun nilai kebenaran masing-masing kalimat penyusunnya, sebaliknya
kontradiksi adalah suatu bentuk kalimat yang selalu bernilai salah (False), tidak peduli
bagaimanapun nilai kebenaran masing-masing kalimat penyusunnya.
Dalam tabel kebenaran, suatu tautologi selalu bernilai True pada semua barisnya
dan kontradiksi selalu bernilai False pada semua baris. Kalau suatu kalimat tautologi
diturunkan lewat hukum-hukum yang ada maka pada akhirnya akan menghasilkan True,
sebaliknya kontradiksi akan selalu bernilai False.
Jika pada semua nilai kebenaran menghasilkan nilai F dan T, maka disebut formula
campuran (contingent).
Contoh :
1. Tunjukkan bahwa pV(¬p) adalah tautologi!
P ¬P P V (¬P)
T T T
T F T
F T T
F F T

2. Tunjukkan bahwa (pVq) V [(¬p) ∧ (¬q)] adalah tautologi!
p
q
¬p
¬q
¬p ∧ ∧∧ ∧ ¬q (pVq) V [(¬p) ∧ ∧∧ ∧ (¬q)]
T T T F F T
T F F T F T
F T T F F T
F F F T T T

3. Tunjukkan bahwa (pVq) ∧ [(¬p) ∧ (¬q)] adalah kontradiksi!
p
q
¬p
¬q
¬p ∧ ∧∧ ∧ ¬q (pVq) ∧ ∧∧ ∧ [(¬p) ∧ ∧∧ ∧ (¬q)]
T T T F F F
T F F T F F
F T T F F F
F F F T T F



20

4. Tunjukkan bahwa [(p ∧ q) => r] => p adalah contingent!
p
q r
p ∧ ∧∧ ∧ q (p ∧ ∧∧ ∧ q) => r [(p ∧ ∧∧ ∧ q) => r] => p
T T T T T T
T T F T T T
T F T F F T
T F F F F T
F T T F T F
F T F F T F
F F T F T F
F F F F T F


KONVERS, INVERS, DAN KONTRAPOSISI
“Jika hari ini mendung maka Rafif membawa payung”
contoh konvers, invers, dan kontraposisi dari implikasi di atas :
Misal p : hari ini mendung
q : Rafif membawa payung
maka kalimatnya menjadi p => q atau jika menggunakan operator dan maka p => q
ekuivalen(sebanding/≈) dengan ¬p v q. Sehingga :
1. Konvers : q => p ≈ ¬q v p
Kalimat :
• Jika Rafif membawa payung maka hari ini mendung (q => p)
• Rafif tidak membawa payung atau hari ini mendung (¬q v p)
2. Invers : ¬p => ¬q ≈ p ∧¬q
Kalimat :
• Jika Rafif tidak membawa payung maka hari ini tidak mendung (¬p => ¬q)
• Rafif membawa payung dan hari ini tidak mendung (p ∧¬q)
4. Kontraposisi : ¬q => ¬p ≈ q v ¬p
Kalimat :
• Jika hari ini tidak mendung maka Rafif tidak membawa payung (¬q =>¬p)
• hari ini mendung atau Rafif tidak membawa payung dan (q ∧ ¬p)


21
Inferensi Logika
Nilai kebenaran suatu argumen ditentukan sebagai berikut :
“ Suatu argumen P1,P2,…………,,Pn _ Q dikatakan benar (valid) jika Q bernilai benar
untuk semua premis yang benar dan argumen dalam keadaan selain itu dikatakan salah
(invalid/fallacy)”.
Dengan kata lain, suatu argumen dikatakan valid apabila untuk sembarang pernyataan
yang disubtitusikan ke dalam premis, jika semua premis benar maka konklusinya juga
benar. Sebaliknya jika semua premis benar tetapi konklusinya ada yang salah maka
argumen tersebut dikatakan invalid (fallacy).
Jadi suatu argumen dikatakan valid jika dan hanya jika proposisi P1∧P2∧........∧Pn) |- Q
adalah sebuah Tautologi.
Contoh :
1. Premis
P1 : Jika Office dan Delphi diperlukan maka semua orang akan belajar computer
P2 : Office dan Delphi diperlukan
Konklusi
Q : Semua orang akan belajar computer
Jika ditulis dalam bentuk notasi logika
Misal p : Office dan Delphi diperlukan
q : Semua orang belajar computer
Maka argumen diatas dapat ditulis :
p => q, p |- q (valid)
2. Misal p : Saya suka kalkulus
q : Saya lulus ujian kalkulus
Maka argumen p _ q, p _ q dapat ditulis
P1 : Jika saya suka kalkulus, maka saya akan lulus ujian kalkulus
P2 : Saya lulus ujian kalkulus
∴ Saya lulus ujian kalkulus (valid)

Untuk mengetahui suatu argumen apakah valid atau tidak maka dapat dilakukan langkah-
langkah sebagai berikut :
1. Tentukan premis dan konklusi argument
2. Buat tabel yang menunjukkan nilai kebenaran untuk semua premis dan konklusi.
3. Carilah baris kritis yatitu baris diman semua premis bernilai benar.
22
4. Dalam baris kritis tersebut, jika nilai kesimpulan semuanya benar maka argumen
tersebut valid. Jika diantara baris kritis tersebut ada baris dengan nilai konklusi
salah maka argumen tersebut tidak valid.


Sistem Pembuktian / Penarikan Kesimpulan
A. MODUS PONEN
Modus ponen atau penalaran langsung adalh salah satu metode inferensi dimana jika
diketahui implikasi ” Bila p maka q ” yang diasumsikan bernilai benar dan
antasenden (p) benar. Supaya implikasi p_q bernilai benar, maka q juga harus bernilai
benar.
Modus Ponen : p => q , p |- q
atau dapat juga ditulis
p => q
p
______
∴ q

Contoh :
Jika digit terakhir suatu bilangan adalah 0, maka bilangan tersebut habis dibagi 10
Digit terakhir suatu bilangan adalah 0
____________________________________
∴ Bilangan tersebut habis dibagi 10

B. MODUS TOLLENS
Bentuk modus tollens mirip dengan modus ponen, hanya saja premis kedua dan
kesimpulan merupakan kontraposisi premis pertama modus ponen. Hal ini
mengingatkan bahwa suatu implikasi selalu ekuivalen dengan kontraposisinya.
Modus Tollens : p => q, ¬q |- ¬p
Atau dapat juga ditulis
p => q
¬q
_______
∴ ¬p
Contoh :
Jika digit terakhir suatu bilangan adalah 0, maka bilangan tersebut habis dibagi 10
Suatu bilangan tidak habis dibagi 10
____________________________________
∴ Digit terakhir bilangan tersebut bukan 0

23
C. PENAMBAHAN DISJUNGTIF (ADDITION)
Inferensi penambahan disjungtif didasarkan atas fakta bahwa suatu kalimat dapat
digeneralisasikan dengan penghubung ”v”. Alasannya adalah karena penghubung ”v”
bernilai benar jika salah satu komponennya bernilai benar. Misalnya saya mengatakan
”Langit berwarna biru” (bernilai benar). Kalimat tersebut tetap akan bernilai benar
jika ditambahkan kalimat lain dengan penghubung ”v”. Misalnya ”Langit berwarna
biru atau
bebek adalah binatang menyusui”. Kalimat tersebut tetap bernilai benar meskipun
kalimat ”Bebek adalah binatang menyusui”, merupakan kalimat yang bernilai salah.
Addition : p _(pÚq) atau q _ (pÚq)
Atau dapat ditulis
p atau q
____ ____
∴ pvq ∴ pv q
Contoh :
Simon adalah siswa SMU
______________________________
∴Simon adalah siswa SMU atau SMP

D. PENYEDERHAAN KONJUNGTIF (SIMPLIFICATION)
Inferensi ini merupakan kebalikan dari inferensi penambahan disjungtif. Jika
beberapa kalimat dihubungkan dengan operator ”∧”, maka kalimat tersebut dapat
diambil salah satunya secara khusus (penyempitan kalimat).
Simplification : (p∧q) |- p atau (p∧q) |- q
Atau dapat ditulis
p∧q atau p∧q
____ ____
∴ p ∴ q
Contoh :
Langit berwarna biru dan bulan berbentuk bulat
__________________________________________________
∴ Langit berwarna biru atau ∴ Bulan berbentuk bulat

E. SILOGISME DISJUNGTIF
Prinsip dasar Silogisme Disjungtif (Disjunctive syllogism) adalah kenyataan bahwa
apabila kita dihadapkan pada satu diantara dua pilihan yang ditawarkan (A atau B).
24
Sedangkan kita tidak memilih/tidak menyukai A, maka satu-satunua pilihan adalah
memilih B. Begitu juga sebaliknya.
Silogisme Disjungtif : pv q, ¬p |- q dan pvq, ¬q |- p
Atau dapat ditulis
p v q atau pvq
¬p ¬q
____ ____
∴ q ∴ p
Contoh :
Saya pergi ke mars atau ke bulan
Saya tidak pergi ke mars
__________________________
∴ Saya pergi ke bulan

F. SILOGISME HIPOTESIS (TRANSITIVITY)
Prinsip silogisme hipotesis adalah sifat transitif pada implikasi. Jika implikasi p=>q
dan q=>r keduanya bernilai benar, maka implikasi p=>r bernilai benar pula.
Transitivity : p=>q , q=>r |- p=>r
Atau dapat ditulis
p=>q
q=>r
_____
∴ p=>r
Contoh :
Jika hari hujan maka tanahnya menjadi berlumpur
Jika tanahnya berlumpur maka sepatu saya akan kotor
____________________________________________
∴ Jika hari hujan maka sepatu saya akan kotor.

G. KONJUNGSI
Jika ada dua kalimat yang masing-masing benar, maka gabungan kedua kalimat
tersebut dengan menggunakan penghubung ”∧” juga bernilai benar.
Konjungsi
p
q
____
∴ p∧q

H. DILEMA
25
Kadang-kadang, dalam kalimat yang dihubungkan dengan penghubung ”v”, masing-
masing kalimat dapat mengimplikasikan sesuatu yang sama. Berdasarkan hal itu
maka suatu kesimpulan dapat diambil.
Dilema :
pvq
p=>r
q=>r
_____
∴r
26
BAB III
KUANTIFIKASI

Dalam Bab ini akan mempelajari konsep dasar konstanta, variabel, kalimat
terbuka, kuantor dan ingkaran kalimat sebagai konsep penalaran dalam logika
informatika.

Variabel dan Konstanta
Variabel adalah simbol yang menunjukan suatu anggota yang belum spesifik dalam
semesta pembicaraan. Sedangkan konstanta adalah simbol yang menunjukan suatu
anggota tertentu (yang sudah spesifik) dalam semesta pembicaraan. Untuk dapat
berbicara tentang anggota tertentu dari semestanya, diperlukan suatu simbol atau tanda
yaitu suatu nama dari anggota tersebut.
Contoh 1 :
Misalnya ada pernyataan “Niken”, “Ais”, “Aji” adalah nama orang, dimana
semestanya adalah himpunan orang-orang. Jika semestanya himpunan bilangan-bilangan,
maka angka 5, angka 211 adalah suatu simbol untuk bilangan-bilangan yang disajikan.
Simbol seperti itu disebut Konstanta. Jadi konstanta adalah suatu simbol atau tanda yang
diucapkan atau ditulis untuk menunjukkan tentang anggota tertentu dari semestanya.
Jika hendak berbicara tentang anggota sembarang dari semestanya, maka
diperlukan suatu tanda-tanda lain dari konstanta. Tanda demikian yang dimaksud adalah
variabel (atau perubah). Jadi variabel adalah suatu simbol atau tanda yang digunakan
untuk menunjuk pada anggota sembarang dari semesta pembicaranya.
Contoh 2 :
Misalnya semesta pembicaranya terdiri atas mereka yang kuliah pada sebuah
universitas (perguruan tinggi) maka kata “mahasiswa” menunjuk pada anggota
sembarang dari semesta pembicaranya.
Contoh 3 :
Pehatikan beberapa pernyataan berikut:
(a). Manusia makan nasi
(b). Manusia memakai sepatu
(c). 4 + x = 7
(d). p < 5
27
Suatu pernyataan mempunyai nilai benar atau salah tergantung pada kesesuaian
kalimat tersebut dengan keadaan sesungguhnya. Bernilai benar jika keadaan
sesungguhnya sesuai dengan realita yang ada, jika sebaliknya bernilai salah. Pernyataan
seperti ini biasanya disebut pernyataan faktual.
Jika pernyataan (a) manusia diganti Tony, maka pernyataannya menjadi “Toni
makan nasi”. Pernyataan ini jelas bernilai benar saja atau salah saja, tergantung
realitasnya. Demikian juga untuk pernyataan (b) akan menjadi pernyataan “Tony
memakai sepatu” pernyataan ini akan menjadi jelas nilainya, yaitu benar atau salah
tergantung realitasnya.
Pada pernyataan (c) jika x diganti 3, akan bernilai benar. tetapi jika x diganti 4 akan
bernilai salah. Demikian juga untuk pernyataan (d) jika p diganti “0 atau 1, atau 2, atau 3,
atau 4” akan bernilai benar untuk semesta pembicaraan himpunan bilangan cacah, tetapi
jika semestanya himpunan bilangan asli, maka pernyataan akan bernilai salah.
Kata-kata “manusia”, “x” , “p” pada pernyataan diatas disebut variabel. Sedangkan
pengganti katanya yaitu “Tony”, “3”, “4”, dan “0,1,2,3,4” disebut konstanta.
Jika semesta pembicaranya bilangan-bilangan maka variabel yang dimaksudkan
adalah variabel numerik. Dalam hal ini, variabel adalah tanda-tanda, yang biasanya
dipilih huruf kecil dari abjad “x”, “y” dan seterusnya.

Kalimat terbuka
Pernyataan-pernyataan dalam contoh 3 di atas disebut kalimat (pernyataan)
terbuka. Jika variabel dalam kalimat terbuka sudah diganti dengan konstanta yang sesuai,
maka pernyataan yang terjadi dikatakan sebagai pernyataan tertutup.
Pernyataan terbuka adalah suatu pernyataan yang memuat variabel, dan jika
variabel tersebut diganti konstanta yang sesuai dengan semestanya maka pernyataanya
akan bernilai benar saja atau salah saja. Jadi pernyataan terbuka merupakan pernyataan
yang belum mempunyai nilai kebenaran, belum bernilai benar atau salah.
Misalkan pernyataan terbuka ini dengan simbol/notasi “p(x)”. Huruf ”p”, “q” ,
....dan seterusnya disini hanyalah sebuah simbol/notasi dalam pengkajian suatu sifat,
hanya untuk mempermudah dalam pembicaraan selanjutnya. Misalnya: “p (x)” ini
merupakan kalimat terbuka, dan diucapkan sebagai “obyek x mempunyai sifat p”.
Variabel yang terdapat dalam rangkaian tanda “p(x)” disebut variabel bebas. Disini
“p(x)” , tidak bernilai benar atau salah. Pernyataan ini disebut pernyataan terbuka.
28
Agar pernyataan terbuka “p(x)” ini mempunyai nilai salah atau benar (yaitu
menjadi pernyataan deklaratif), maka jika perlu semua variabel bebas di dalamnya diganti
dengan suatu konstanta. Ada cara yang lazim digunakan untuk merubah pernyataan
terbuka ini menjadi pernyataan deklaratif, yaitu dengan membubuhkan suatu kuantor.
Yang dimaksud kuantor disini adalah kuantor universal atau kuantor eksistensial di depan
pernyataan “p(x)”.

Kuantor
Cara lain untuk mendapat kalimat deklaratif dari suatu pernyataan adalah dengan
menggunakan kuantor, yaitu menentukan kuantifikasi obyeknya
Ada dua jenis kuantor yaitu :
1. Kuantor universal (∀)
2. Kuantor eksistensial (∃)
Contoh :
• Setiap laki-laki harus wajib militer
• Ada beberapa laki-laki yang tidak wajib militer
Ditulis sebagai berikut :
• Untuk setiap x, jika x laki-laki maka x harus wajib militer
• Terdapat x sehingga x laki-laki dan x tidak wajib militer.
Kuantor pernyataan
Jika p adalah menunjukkan sifat “laki-laki” dan q menunjukkan sifat “wajib militer”,
maka kalimat tersebut dapat ditulis :
1. (∀x)p(x)→q(x)
dan
2. (∃x)p(x) ∧ q(x)
Secara umum :
Kuantor universal selalu diikuti dengan bentuk Implikasi dan Kuantor eksistensial selalu
diikuti dng bentuk konjungsi

Hubungan Kuantor ∀ dan ∃
Pandang contoh sebagai berikut :
Pernyataan p : “Setiap peserta kuliah Logika informatika mendapat nilai A”
Ingkarannya :
29
~p adalah : “Tidak setiap peserta kuliah logika informatika mendapat nilai A”
atau boleh dikatakan : “ Ada peserta kuliah logika informatika mendapat nilai tidak A
(mis B)”
Jika dua pernyataan tersebut ditulis dengan kuantor dan semesta pembicaraannya adalah
semua peserta kuliah logika informatika, maka kalimat pertama :
p : (∀x)A(x)
( A adalah sifat mendapat nilai A)
dan yang kedua (neg) :
~p : (∃x)A(x)

Negasi kuantor
Hubungan antara kuantor universal dengan kuantor eksistensial
E1 : ( ∀ x ) p ( x ) ≡ ( ∃ x ) p ( x )
E2 : ( ∃ x ) p ( x ) ≡ ( ∀ x ) p ( x )
E3 : (∀x)p(x)→q(x) ≡ (∃x)p(x) ∧ q(x)
E4 : (∃x)p(x) ∧ q(x) ≡ (∀x)p(x)→q(x)
Jika suatu predikat menyangkut lebih dari satu obyek, misalnya p(x,y), maka perlu
dibicarakan suatu pernyataan dengan lebih dari satu kuantor. Kombinasi kuantor yang
mungkin untuk predikat p(x,y) adalah :
(∀x)(∀y)p(x,y) ; (∀x)(∃y)p(x,y) ; (∃x)(∀y)p(x,y)
(∃x)(∃y)p(x,y) ; (∀x)(∀y)p(x,y) ; (∃x)(∀y)p(x,y)
(∀x)(∃y)p(x,y) ; (∃x)(∃y)p(x,y)
Didapat rumusan sbb :
1. (∀x) (∀y) p(x,y) ↔ (∀y) (∀x) p(x,y)
2. (∀x) (∀y) p(x,y) → (∃y) (∀x) p(x,y)
3. (∃y) (∀x) p(x,y) → (∀x) (∃y) p(x,y)
4. (∀x) (∃y) p(x,y) → (∃y) (∃x) p(x,y)
5. (∃x) (∃y) p(x,y) ↔ (∃y) (∃x) p(x,y)

Ingkaran kalimat
Negasi dari “Semua manusia tidak kekal” adalah “tidak benar bahwa semua
manusia tidak kekal ” atau “Beberapa manusia tidak kekal”. Jika p(x) adalah manusia
(=x) tidak kekal, maka “Semua manusia adalah tidak kekal” atau ∀x p( x ) bernilai benar
30
dan “beberapa manusia tidak kekal” atau ∃x p( x ) bernilai salah.

Jadi ingkaran dari kuantor universal (∀x) p(x) dinyatakan dengan simbol logika :
[∀x p(x)] ≡ ∃x : p(x) atau (∀x) p(x) ≡ (∀x) p(x) ≡ (∃x) p(x)
Jadi negasi dari suatu pernyataan yang memuat kuantor universal adalah ekivalen
dengan pernyataan yang memuat kuantifikasi eksistensial (fungsi pernyataan yang
dinegasikan) dan sebaliknya.
Ingkaran dari kuantor eksistensial (∃x) p(x) dinyatakan dengan ) ( ) ( x p x ∃ dinyatakan
dengan simbol logika: [∃x p(x)] ≡ ∀x : p(x) atau ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( x p x x p x x p x ∀ = ∃ = ∃
Jadi negasi dari suatu pernyataan yang memuat kuantor eksistensial adalah ekivalen
dengan pernyataan yang memuat kuantifikasi universal (fungsi pernyataan yang
dinegasikan)

Contoh 1 :
H(x) : x hidup
M(x) : x mati
(∀x)(H(x) v M(x)) dibaca “Untuk semua x, x hidup atau x mati”
Akan tetapi jika ditulisnya (∀x)(H(x)) v M(x) maka dibaca “Untuk semua x hidup, atau x
mati”. Pada “x mati”, x tidak terhubing dengan kuantor universal, yang terhubung
hanya”x hidup”. Sekali lagi, perhatikan penulisan serta peletakan tanda kurungnya.
Secara umum, hubungan antara penempatan kuantor ganda adalah sebagai berikut :
(∀x)( ∀y) P(x,y) ≡ (∀y)( ∀x) P(x,y)
(∃x)( ∃y) P(x,y) ≡ (∃y)( ∃x) P(x,y)
(∃x)( ∀y) P(x,y) ≡ (∀y)( ∃x) P(x,y)
Ingkaran kalimat berkuantor ganda dilakukan dengan cara yang sama seperti ingkaran
pada kalimat berkuantor tunggal.
¬[(∃x)( ∀y) P(x,y)] ≡ (∀x)( ∃y) ¬P(x,y)
¬[(∀x)( ∃y) P(x,y)] ≡ (∃x)( ∀y) ¬P(x,y)

Contoh 2 :
Tentukan negasi dari logika predikat berikut ini :
31
1. (∀x)( ∃ y) x=2y dengan domainnya adalah bilangan bulat
(∀x)( ∃y) x=2y dibaca “Untuk semua bilangan bulat x, terdapat
bilangan bulat y yang memenuhi x=2y. Maka negasinya :
¬[(∀x)( ∃y) x=2y] ≡ (∃x)( ∀y) x≠2y
2. Ada toko buah yang menjual segala jenis buah
Dapat ditulis (∃x)( ∀y) x menjual y. Maka negasinya
¬[(∃x)( ∀y) x menjual y] ≡ (∀x)( ∃y) x tidak menjual y
Dibaca “Semua toko buah tidak menjual paling sedikit satu jenis buah”.
Mengubah pernyataan ke dalam logika predikat yang memiliki kuantor ganda
Misal : “Ada seseorang yang mengenal setiap orang”
Langkah-langkahnya :
1. Jadikan potongan pernyataan ”x kenal y”, maka akan menjadi K(x,y).
K(x,y) : x kenal y
2. Jadikan potongan pernyataan ”x kenal semua y”, sehingga menjadi
(∀y) K(x,y)
3. Jadikan pernyataan “ada x, yang x kenal semua y”, sehingga menjadi
(∃x)(∀y) K(x,y)

32
BAB IV
HIMPUNAN


Pada kehidupan sehari-hari seringkali untuk memperrmudah menyelesaikan suatu
masalah kita mengelompokkan suatu objek kedalam kategori-kategori tertentu. Misalnya
kelompok tumbuhan berdaun lebar, kelompok anak kecil., atau Himpunan Mahasiswa
Teknik Informatika (HIMATIF). Kelompok-kelompok tersebut dalam matematika ada
yang disebut himpunan, ada juga yang tidak masuk dalam kategori himpunan.

Definisi himpunan dalam matematika adalah sebagai berikut:
Definisi Himpunan
Himpunan (set) adalah kumpulan objek-objek yang berbeda dan terdefinisi dengan baik.

Himpunan biasanya dilambangkan dengan huruf besar, sedangkan objek di dalam
himpunan disebut yang biasa dissebut elemen, unsur, atau anggota. Dilambangkan
dengan huruf kecil.

Contoh 1:
HIMATIF adalah sebuah himpunan, di dalamnya berisi anggota berupa mahasiswa, dan
tiap mahasiswa berbeda satu sama lain.

Keanggotaan
Suatu objek disebut anggota dalam suatu himpunan apabila memenuhi kriteria dalam
himpunan tersebut, dan dinotasikan sebagai berikut:

x ∈ A : x merupakan anggota himpunan A;
x ∉ A : x bukan merupakan anggota himpunan A.

Contoh 2.
Misalkan: A = {1, 2, 3, 4}, R = { a, b, {a, b, c}, {a, c} } dan K = {{}}
maka
3 ∈ A
33
{a, b, c} ∈ R
c ∉ R
{} ∈ K
{} ∉ R

Contoh 3.
Bila P
1
= {a, b}, P
2
= { {a, b} }, dan P
3
= {{{a, b}}},
maka
a ∈ P
1

a ∉ P
2

P
1
∈ P
2

P
1
∉ P
3

P
2
∈ P
3


Cara Penyajian Himpunan
Cara penyajian himpunan ada beberapa macam yaitu:
1. Enumerasi
Enumerasi mendaftarkan semua anggota himpunan satu persatu.

Contoh :
- Himpunan empat bilangan asli pertama: A = {1, 2, 3, 4}.
- Himpunan lima bilangan genap positif pertama: B = {4, 6, 8, 10}.
- C = {kucing, a, Amir, 10, paku}
- R = { a, b, {a, b, c}, {a, c} }
- C = {a, {a}, {{a}} }
- K = { {} }
- Himpunan 100 buah bilangan asli pertama: {1, 2, ..., 100 }
- Himpunan bilangan bulat ditulis sebagai {…, -2, -1, 0, 1, 2, …}.



2. Simbol-simbol Baku

34
P = himpunan bilangan bulat positif = { 1, 2, 3, ... }
N = himpunan bilangan alami (natural) = { 1, 2, ... }
Z = himpunan bilangan bulat = { ..., -2, -1, 0, 1, 2, ... }
Q = himpunan bilangan rasional
R = himpunan bilangan riil
C = himpunan bilangan kompleks

Himpunan yang universal: semesta, disimbolkan dengan U.
Contoh: Misalkan U = {1, 2, 3, 4, 5} dan A adalah himpunan bagian dari U,
dengan A = {1, 3, 5}.

3. Notasi Pembentuk Himpunan
Notasi: { x ( syarat yang harus dipenuhi oleh x }

Contoh 4.
(i) A adalah himpunan bilangan bulat positif kecil dari 5
A = { x | x bilangan bulat positif lebih kecil dari 5}
atau A = { x | x ∈ P, x < 5 }
yang ekivalen dengan A = {1, 2, 3, 4}

(ii) M = { x | x adalah mahasiswa yang mengambil kuliah IF2151}

4. Diagram Venn

Contoh 5.
Misalkan U = {1, 2, …, 7, 8},
A = {1, 2, 3, 5} dan B = {2, 5, 6, 8}.

Diagram Venn:



U
1
2
5
3 6
8
4
7
A B
35



Kardinalitas
Jumlah elemen di dalam A disebut kardinal dari himpunan A.
Notasi: n(A) atau A
Contoh 6.
(i) B = { x | x merupakan bilangan prima lebih kecil dari 20 },
atau B = {2, 3, 5, 7, 11, 13, 17, 19} maka |B| = 8
(ii) T = {kucing, a, Amir, 10, paku}, maka |T| = 5
(iii) A = {a, {a}, {{a}} }, maka |A| = 3

Himpunan kosong (null set)
Himpunan dengan kardinal = 0 disebut himpunan kosong (null set).
Notasi dari himpunan kosong adalah ∅ atau {}

Contoh 7.
(i) E = { x | x < x }, maka n(E) = 0
(ii) P = { orang Indonesia yang pernah ke bulan }, maka n(P) = 0
(iii) A = {x | x adalah akar persamaan kuadrat x
2
+ 1 = 0 }, n(A) = 0

• himpunan {{ }} dapat juga ditulis sebagai {∅}
• himpunan {{ }, {{ }}} dapat juga ditulis sebagai {∅, {∅}}
• {∅} bukan himpunan kosong karena ia memuat satu elemen yaitu himpunan kosong.

Himpunan Bagian (Subset)
Definisi Himpunan Bagian
Himpunan A dikatakan himpunan bagian dari himpunan B jika dan hanya jika setiap
elemen A merupakan elemen dari B.
• Dalam hal ini, B dikatakan superset dari A.
• Notasi: A ⊆ B
36

Diagram Venn:
U
A
B


Contoh 8.
(i) { 1, 2, 3} ⊆ {1, 2, 3, 4, 5}
(ii) {1, 2, 3} ⊆ {1, 2, 3}
(iii) N ⊆ Z ⊆ R ⊆ C
(iv) Jika A = { (x, y) | x + y < 4, x ≥, y ≥ 0 } dan
B = { (x, y) | 2x + y < 4, x ≥ 0 dan y ≥ 0 }, maka B ⊆ A.

TEOREMA 1. Untuk sembarang himpunan A berlaku hal-hal sebagai berikut:
(a) A adalah himpunan bagian dari A itu sendiri (yaitu, A ⊆ A).
(b) Himpunan kosong merupakan himpunan bagian dari A ( ∅ ⊆ A).
(c) Jika A ⊆ B dan B ⊆ C, maka A ⊆ C

• ∅ ⊆ A dan A ⊆ A, maka ∅ dan A disebut himpunan bagian tak sebenarnya (improper
subset) dari himpunan A.

Contoh: A = {1, 2, 3}, maka {1, 2, 3} dan ∅ adalah improper subset dari A.

• A ⊆ B berbeda dengan A ⊂ B
(i) A ⊂ B : A adalah himpunan bagian dari B tetapi A ≠ B.
A adalah himpunan bagian sebenarnya (proper subset) dari B.
Contoh: {1} dan {2, 3} adalah proper subset dari {1, 2, 3}

37
(ii) A ⊆ B : digunakan untuk menyatakan bahwa A adalah himpunan bagian (subset)
dari B yang memungkinkan A = B.

•Latihan
Misalkan A = {1, 2, 3} dan B = {1, 2, 3, 4, 5}. Tentukan semua kemungkinan
himpunan C sedemikian sehingga A ⊂ C dan C ⊂ B, yaitu A adalah proper subset dari C
dan C adalah proper subset dari B.


Jawaban:
C harus mengandung semua elemen A = {1, 2, 3} dan sekurang-kurangnya satu
elemen dari B.
Dengan demikian, C = {1, 2, 3, 4} atau C = {1, 2, 3, 5}.
C tidak boleh memuat 4 dan 5 sekaligus karena C adalah proper subset dari B.

Himpunan yang Sama
Definisi Himpunan yang Sama
Suatu himpunan A dikatakan sama dengan himpunan B (A = B) jika dan hanya jika setiap
elemen A merupakan elemen B dan sebaliknya setiap elemen B merupakan elemen A.
• A = B jika A adalah himpunan bagian dari B dan B adalah himpunan bagian dari A.
Jika tidak demikian, maka A ≠ B.
Notasi : A = B ↔ A ⊆ B dan B ⊆ A

Contoh 9.
(i) Jika A = { 0, 1 } dan B = { x | x (x – 1) = 0 }, maka A = B
(ii) Jika A = { 3, 5, 8, 5 } dan B = {5, 3, 8 }, maka A = B
(iii) Jika A = { 3, 5, 8, 5 } dan B = {3, 8}, maka A ≠ B
Untuk tiga buah himpunan, A, B, dan C berlaku aksioma berikut:
(a) A = A, B = B, dan C = C
(b) jika A = B, maka B = A
(c) jika A = B dan B = C, maka A = C
38

Himpunan yang Ekivalen

Definisi Himpunan yang Ekivalen
Himpunan A dikatakan ekivalen dengan himpunan B jika dan hanya jika kardinal dari
kedua himpunan tersebut sama.

Notasi : A ~ B ↔ |A| = |B|

Contoh 10.
Misalkan A = { 1, 3, 5, 7 } dan B = { a, b, c, d }, maka
A ~ B sebab |A| = |B| = 4

Himpunan Saling Lepas

Definisi Himpunan Saling Lepas
Dua himpunan A dan B dikatakan saling lepas (disjoint) jika keduanya tidak memiliki
elemen yang sama.

Notasi : A // B

Diagram Venn:
U
A
B


Contoh 11.
Jika A = { x | x ∈ P, x < 8 } dan B = { 10, 20, 30, ... }, maka A // B.

Himpunan Kuasa
39
Definisi Himpunan Kuasa
Himpunan kuasa (power set) dari himpunan A adalah suatu himpunan yang elemennya
merupakan semua himpunan bagian dari A, termasuk himpunan kosong dan himpunan A
sendiri.

Notasi : P(A) atau 2
A


Jika |A| = m, maka |P(A)| = 2
m
.

Contoh 12.
Jika A = { 1, 2 }, maka P(A) = { ∅, { 1 }, { 2 }, { 1, 2 }}

Contoh 13.
Himpunan kuasa dari himpunan kosong adalah P(∅) = {∅}, dan himpunan kuasa dari
himpunan {∅} adalah P({∅}) = {∅, {∅}}.

Operasi Terhadap Himpunan
1. Irisan (intersection)
Notasi : A ∩ B = { x , x ∈ A dan x ∈ B }

Contoh 14.
(i) Jika A = {2, 4, 6, 8, 10} dan B = {4, 10, 14, 18}, maka A ∩ B = {4, 10}
(ii) Jika A = { 3, 5, 9 } dan B = { -2, 6 }, maka A ∩ B = ∅. Artinya: A // B

2. Gabungan (union)
40
Notasi : A ∪ B = { x , x ∈ A atau x ∈ B }

Contoh 15.
(i) Jika A = { 2, 5, 8 } dan B = { 7, 5, 22 }, maka A ∪ B = { 2, 5, 7, 8, 22 }
(ii) A ∪ ∅ = A
3. Komplemen (complement)

Notasi : A = { x , x ∈ U, x ∉ A }



Contoh 16.
Misalkan U = { 1, 2, 3, ..., 9 },
(i) jika A = {1, 3, 7, 9}, maka A = {2, 4, 6, 8}
(ii) jika A = { x | x/2 ∈ P, x < 9 }, maka A= { 1, 3, 5, 7, 9 }

Contoh 17. Misalkan:
A = himpunan semua mobil buatan dalam negeri
B = himpunan semua mobil impor
C = himpunan semua mobil yang dibuat sebelum tahun 1990
41
D = himpunan semua mobil yang nilai jualnya kurang dari Rp 100 juta
E = himpunan semua mobil milik mahasiswa universitas tertentu

(i) “mobil mahasiswa di universitas ini produksi dalam negeri atau diimpor dari luar
negeri” (E ∩ A) ∪ (E ∩ B) atau E ∩ (A ∪ B)
(ii) “semua mobil produksi dalam negeri yang dibuat sebelum tahun 1990 yang nilai
jualnya kurang dari Rp 100 juta” A ∩ C ∩ D
(iii) “semua mobil impor buatan setelah tahun 1990 mempunyai nilai jual lebih dari Rp
100 juta” B D C ∩ ∩

4. Selisih (difference)

Notasi : A – B = { x , x ∈ A dan x ∉ B } = A ∩ B



Contoh 18.
(i) Jika A = { 1, 2, 3, ..., 10 } dan B = { 2, 4, 6, 8, 10 }, maka A – B = { 1, 3, 5, 7, 9 } dan
B – A = ∅
(ii) {1, 3, 5} – {1, 2, 3} = {5}, tetapi {1, 2, 3} – {1, 3, 5} = {2}

5. Beda Setangkup (Symmetric Difference)
Notasi: A ⊕ B = (A ∪ B) – (A ∩ B) = (A – B) ∪ (B – A)



42




Contoh 19.
Jika A = { 2, 4, 6 } dan B = { 2, 3, 5 }, maka A ⊕ B = { 3, 4, 5, 6 }
Contoh 20. Misalkan
U = himpunan mahasiswa
P = himpunan mahasiswa yang nilai ujian UTS di atas 80
Q = himpunan mahasiswa yang nilain ujian UAS di atas 80
Seorang mahasiswa mendapat nilai A jika nilai UTS dan nilai UAS keduanya di atas 80,
mendapat nilai B jika salah satu ujian di atas 80, dan mendapat nilai C jika kedua ujian di
bawah 80.
(i) “Semua mahasiswa yang mendapat nilai A” : P ∩ Q
(ii) “Semua mahasiswa yang mendapat nilai B” : P ⊕ Q
(iii) “Semua mahasiswa yang mendapat nilai C” : U – (P ∪ Q)

TEOREMA 2. Beda setangkup memenuhi sifat-sifat berikut:
(a) A ⊕ B = B ⊕ A (hukum komutatif)
(b) (A ⊕ B ) ⊕ C = A ⊕ (B ⊕ C ) (hukum asosiatif)

6. Perkalian Kartesian (cartesian product)
Notasi: A × B = {(a, b) | a ∈ A dan b ∈ B }

Contoh 20.
(i) Misalkan C = { 1, 2, 3 }, dan D = { a, b }, maka
C × D = { (1, a), (1, b), (2, a), (2, b), (3, a), (3, b) }
(ii) Misalkan A = B = himpunan semua bilangan riil, maka
A × B = himpunan semua titik di bidang datar
Catatan:
1. Jika A dan B merupakan himpunan berhingga, maka:
|A × B| = |A| . |B|.
2. (a, b) ≠ (b, a).
43
3. A × B ≠ B × A dengan syarat A atau B tidak kosong.

Pada Contoh 20(i) di atas, C = { 1, 2, 3 }, dan D = { a, b },
D × C = {(a, 1), (a, 2), (a, 3), (b, 1), (b, 2), (b, 3) }
C × D = { (1, a), (1, b), (2, a), (2, b), (3, a), (3, b) }
D × C ≠ C × D.

4. Jika A = ∅ atau B = ∅, maka A × B = B × A = ∅
Contoh 21. Misalkan
A = himpunan makanan = { s = soto, g = gado-gado, n = nasi goreng, m = mie
rebus }
B = himpunan minuman = { c = coca-cola, t = teh, d = es dawet }
Berapa banyak kombinasi makanan dan minuman yang dapat disusun dari kedua
himpunan di atas?

Jawab:
|A × B| = |A|⋅|B| = 4 ⋅ 3 = 12 kombinasi dan minuman, yaitu {(s, c), (s, t), (s, d), (g,
c), (g, t), (g, d), (n, c), (n, t), (n, d), (m, c), (m, t), (m, d)}.
Contoh 21. Daftarkan semua anggota himpunan berikut:
(a) P(∅) (b) ∅ × P(∅) (c) {∅}× P(∅) (d) P(P({3}))
Penyelesaian:
(a) P(∅) = {∅}
(b) ∅ × P(∅) = ∅ (ket: jika A = ∅ atau B = ∅ maka A × B = ∅)
(c) {∅}× P(∅) = {∅}× {∅} = {(∅,∅))
(d) P(P({3})) = P({ ∅, {3} }) = {∅, {∅}, {{3}}, {∅, {3}} }

Latihan

Misalkan A adalah himpunan. Periksalah apakah setiap pernyataan di bawah ini benar
atau salah dan jika salah, bagaimana seharusnya:
44

(a)
) ( ) ( A P A P A = ∩

(b)
) ( ) ( } { A P A P A = ∪

(c)
A A P A = − ) (

(d)
) ( } { A P A ∈

(e)
) ( A P A ⊆


Jawaban:
(a) salah, seharusnya ∅ = ∩ ) ( A P A
(b) benar
(c) benar
(d) salah, seharusnya ) ( } { A P A ⊆
(e) salah, seharusnya ) ( A P A∈

Perampatan Operasi Himpunan
I
n
i
i n
A A A A
1
2 1
...
=
= ∩ ∩ ∩

U
n
i
i n
A A A A
1
2 1
...
=
= ∪ ∪ ∪

i
n
i
n
A A A A
1
2 1
...
=
× = × × ×

i
n
i
n
A A A A
1
2 1
...
=
⊕ = ⊕ ⊕ ⊕

Contoh 22.

(i) A ∩(B
1
∪B
2
∪ ... ∪B
n
) = (A∩ B
1
) ∪ (A ∩ B
2
) ∪ ... ∪ (A ∩ B
n
)
U U
n
i
i
n
i
i
B A B A
1 1
) ( ) (
= =
∩ = ∩


(ii) Misalkan A = {1, 2}, B = {a, b}, dan C = {α, β}, maka
A × B × C = {(1, a, α), (1, a, β), (1, b, α), (1, b, β), (2, a, α), (2, a, β), (2, b, α), (2,
b, β) }
45

Hukum-hukum Himpunan
Hukum-hukum Himpunan disebut juga sifat-sifat (properties) himpunan atau disebut
juga hukum aljabar himpunan
1. Hukum identitas:
− A ∪ ∅ = A
− A ∩ U = A

2. Hukum null/dominasi:
− A ∩ ∅ = ∅
− A ∪ U = U

3. Hukum komplemen:
− A ∪ A = U
− A ∩ A = ∅
4. Hukum idempoten:
− A ∪ A = A
− A ∩ A = A

5. Hukum involusi:

) (A
= A

6. Hukum penyerapan (absorpsi):
− A ∪ (A ∩ B) = A
− A ∩ (A ∪ B) = A
7. Hukum komutatif:
− A ∪ B = B ∪ A
− A ∩ B = B ∩ A

8. Hukum asosiatif:
− A ∪ (B ∪ C) = (A ∪ B) ∪ C
− A ∩ (B ∩ C) = (A ∩ B) ∩ C

Hukum distributif:
− A ∪ (B ∩ C) = (A ∪ B) ∩ (A ∪ C)
− A ∩ (B ∪ C) = (A ∩ B) ∪ (A ∩ C)

10. Hukum De Morgan:

B A∩
=
B A∪


B A∪
=
B A∩

11. Hukum 0/1


= U

U
= ∅



Prinsip Dualitas
Prinsip dualitas adalah dua konsep yang berbeda dapat saling dipertukarkan namun tetap
memberikan jawaban yang benar.

Contoh: AS kemudi mobil di kiri depan
Inggris (juga Indonesia) kemudi mobil di kanan depan
Peraturan:
(a) di Amerika Serikat,
- mobil harus berjalan di bagian kanan jalan,
- pada jalan yang berlajur banyak, lajur kiri untuk mendahului,
46
- bila lampu merah menyala, mobil belok kanan boleh langsung
(b) di Inggris,
- mobil harus berjalan di bagian kiri jalan,
- pada jalur yang berlajur banyak, lajur kanan untuk mendahului,
- bila lampu merah menyala, mobil belok kiri boleh langsung

Prinsip dualitas:
Konsep kiri dan kanan dapat dipertukarkan pada kedua negara tersebut sehingga
peraturan yang berlaku di Amerika Serikat menjadi berlaku pula di Inggris

(Prinsip Dualitas pada Himpunan). Misalkan S adalah suatu kesamaan (identity) yang
melibatkan himpunan dan operasi-operasi seperti ∪, ∩, dan komplemen. Jika S*
diperoleh dari S dengan mengganti
∪ → ∩,
∩ → ∪,
∅ → U,
U → ∅,

sedangkan komplemen dibiarkan seperti semula, maka kesamaan S* juga benar dan
disebut dual dari kesamaan S.

1. Hukum identitas:
A ∪ ∅ = A

Dualnya:
A ∩ U = A
2. Hukum null/dominasi:
A ∩ ∅ = ∅

Dualnya:
A ∪ U = U

3. Hukum komplemen:
A ∪ A = U

Dualnya:
A ∩ A = ∅

4. Hukum idempoten:
A ∪ A = A

Dualnya:
A ∩ A = A

5. Hukum penyerapan:
A ∪ (A ∩ B) = A

Dualnya:
A ∩ (A ∪ B) = A
47
6. Hukum komutatif:
A ∪ B = B ∪ A

Dualnya:
A ∩ B = B ∩ A
7. Hukum asosiatif:
A ∪ (B ∪ C) = (A ∪ B) ∪ C

Dualnya:
A ∩ (B ∩ C) = (A ∩ B) ∩ C

Hukum distributif:
A ∪ (B ∩ C)=(A ∪ B) ∩ (A ∪ C)

Dualnya:
A ∩ (B ∪ C) = (A ∩ B) ∪ (A ∩ C)
9. Hukum De Morgan:

B A∪
=
A

B


Dualnya:

B A∩
=
A

B

10. Hukum 0/1

= U

Dualnya:

U
= ∅

Contoh 23. Dual dari (A ∩ B) ∪ (A ∩ B) = A adalah
(A ∪ B) ∩ (A ∪ B) = A.

Prinsip Inklusi-Eksklusi
Untuk dua himpunan A dan B:
|A ∪ B| = |A| + |B| – |A ∩ B|
|A ⊕ B| = |A| +|B| – 2|A ∩ B|

Contoh 24. Berapa banyaknya bilangan bulat antara 1 dan 100 yang habis dibagi 3 atau
5?
Penyelesaian:
A = himpunan bilangan bulat yang habis dibagi 3,
B = himpunan bilangan bulat yang habis dibagi 5,
A ∩ B = himpunan bilangan bulat yang habis dibagi 3 dan 5 (yaitu himpunan bilangan
bulat yang habis dibagi oleh KPK – Kelipatan Persekutuan Terkecil – dari 3
dan 5, yaitu 15),

Yang ditanyakan adalah |A ∪ B|.
|A| = ¸100/3¸ = 33,
|B| = ¸100/5¸ = 20,
48
|A ∩ B| = ¸100/15¸ = 6
|A ∪ B| = |A| + |B| – |A ∩ B| = 33 + 20 – 6 = 47

Untuk tiga buah himpunan A, B, dan C, berlaku
|A ∪ B ∪ C| = |A| + |B| + |C| – |A ∩ B| – |A ∩ C| – |B ∩ C| + |A ∩ B ∩ C|

Untuk himpunan A
1
, A
2
, …, A
r
, berlaku:
|A
1
∪ A
2
∪ … ∪ A
r
| =

i
|A
i
| –

≤ ≤ ≤ r j i 1
|A
i
∩ A
j
| +

≤ ≤ ≤ ≤ r k j i 1
|A
i
∩ A
j
∩ A
k
| + …+
(-1)
r-1
|A
1
∩ A
2
∩ … ∩ A
r
|
Latihan:
Di antara bilangan bulat antara 101 – 600 (termasuk 101 dan 600 itu sendiri),
berapa banyak bilangan yang tidak habis dibagi oleh 4 atau 5 namun tidak keduanya?

Penyelesaian:
Diketahui:

( U( = 500
( A( = ¸600/4¸ – ¸100/4¸ = 150 – 25 = 125
( B( = ¸600/5¸ – ¸100/5¸ = 120 – 20 = 100
( A ∩ B ( = ¸600/20¸ – ¸100/20¸ = 30 – 5 = 25
yang ditanyakan ( B A⊕ ( = ?

Hitung terlebih dahulu

( A ⊕ B( = ( A( + ( B( – 2( A ∩ B ( = 125 + 100 – 50 = 175

untuk mendapatkan

( B A⊕ ( = U –( A ⊕ B( = 500 – 175 = 325

Partisi
Definisi Partisi
49
Partisi dari sebuah himpunan A adalah sekumpulan himpunan bagian tidak kosong A
1
, A
2
,
… dari A sedemikian sehingga:
(a) A
1
∪ A
2
∪ … = A, dan
(b) A
i
∩ A
j
= ∅ untuk i ≠ j

Contoh 25. Misalkan A = {1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8}, maka { {1}, {2, 3, 4}, {7, 8}, {5, 6} }
adalah partisi A.

Himpunan Ganda (multiset)
Definisi Himpunan Ganda
Himpunan yang elemennya boleh berulang (tidak harus berbeda) disebut himpunan
ganda (multiset).
Contohnya, {1, 1, 1, 2, 2, 3}, {2, 2, 2}, {2, 3, 4}, {}.
Definisi Multiplisitas
Multiplisitas dari suatu elemen pada himpunan ganda adalah jumlah kemunculan elemen
tersebut pada himpunan ganda. Contoh: M = { 0, 1, 1, 1, 0, 0, 0, 1 }, multiplisitas 0
adalah 4.

Himpunan (set) merupakan contoh khusus dari suatu multiset, yang dalam hal ini
multiplisitas dari setiap elemennya adalah 0 atau 1.

Kardinalitas dari suatu multiset didefinisikan sebagai kardinalitas himpunan padanannya
(ekivalen), dengan mengasumsikan elemen-elemen di dalam multiset semua berbeda.

Operasi Antara Dua Buah Multiset:
Misalkan P dan Q adalah multiset:
1. P ∪ Q adalah suatu multiset yang multiplisitas elemennya sama dengan multiplisitas
maksimum elemen tersebut pada himpunan P dan Q.
Contoh: P = { a, a, a, c, d, d } dan Q ={ a, a, b, c, c },
P ∪ Q = { a, a, a, b, c, c, d, d }
50
2. P ∩ Q adalah suatu multiset yang multiplisitas elemennya sama dengan multiplisitas
minimum elemen tersebut pada himpunan P dan Q.
Contoh: P = { a, a, a, c, d, d } dan Q = { a, a, b, c, c }
P ∩ Q = { a, a, c }
3. P – Q adalah suatu multiset yang multiplisitas elemennya sama dengan:
− multiplisitas elemen tersebut pada P dikurangi multiplisitasnya pada Q, jika
selisihnya positif
− 0, jika selisihnya nol atau negatif.

Contoh: P = { a, a, a, b, b, c, d, d, e } dan Q = { a, a, b, b, b, c,
c, d, d, f } maka P – Q = { a, e }
4. P + Q, yang didefinisikan sebagai jumlah (sum) dua buah himpunan ganda, adalah
suatu multiset yang multiplisitas elemennya sama dengan penjumlahan dari
multiplisitas elemen tersebut pada P dan Q.
Contoh: P = { a, a, b, c, c } dan Q = { a, b, b, d },
P + Q = { a, a, a, b, b, b, c, c, d }

Pembuktian Proposisi Perihal Himpunan
Proposisi himpunan adalah argumen yang menggunakan notasi himpunan.
Proposisi dapat berupa:
1. Kesamaan (identity)
Contoh: Buktikan “A ∩ (B ∪ C) = (A ∩ B) ∪ (A ∩ C)”
2. Implikasi
Contoh: Buktikan bahwa “Jika A ∩ B = ∅ dan A ⊆ (B ∪ C) maka selalu berlaku
bahwa A ⊆ C”.

1. Pembuktian dengan menggunakan diagram Venn
Contoh 26. Misalkan A, B, dan C adalah himpunan. Buktikan bahwa
A ∩ (B ∪ C) = (A ∩ B) ∪ (A ∩ C) dengan diagram Venn.
Bukti:
51
A ∩ (B ∪ C) (A ∩ B) ∪ (A ∩ C)
Kedua digaram Venn memberikan area arsiran yang sama.
Terbukti bahwa A ∩ (B ∪ C) = (A ∩ B) ∪ (A ∩ C).

Ada beberapa catatan untuk pembuktian dengan menggunakan Diagram Venn:
1. Diagram Venn hanya dapat digunakan jika himpunan yang digambarkan tidak
banyak jumlahnya.
2. Metode ini mengilustrasikan ketimbang membuktikan fakta.
3. Diagram Venn tidak dianggap sebagai metode yang valid untuk pembuktian
secara formal.

2. Pembuktikan dengan menggunakan tabel keanggotaan

Contoh 27. Misalkan A, B, dan C adalah himpunan. Buktikan bahwa A ∩ (B ∪ C) = (A ∩
B) ∪ (A ∩ C).

Bukti:

A B C B ∪ C A ∩ (B ∪ C) A ∩ B A ∩ C (A ∩ B) ∪ (A ∩ C)
0 0 0 0 0 0 0 0
0 0 1 1 0 0 0 0
0 1 0 1 0 0 0 0
0 1 1 1 0 0 0 0
1 0 0 0 0 0 0 0
1 0 1 1 1 0 1 1
1 1 0 1 1 1 0 1
52
1 1 1 1 1 1 1 1
Karena kolom A ∩ (B ∪ C) dan kolom (A ∩ B) ∪ (A ∩ C) sama, maka A ∩ (B ∪ C) = (A
∩ B) ∪ (A ∩ C).
3. Pembuktian dengan menggunakan aljabar himpunan.

Contoh 28. Misalkan A dan B himpunan. Buktikan bahwa
(A ∩ B) ∪ (A ∩ B) = A
Bukti:
(A ∩ B) ∪ (A ∩ B) = A ∩ (B ∪ B) (Hukum distributif)
= A ∩ U (Hukum komplemen)
= A (Hukum identitas)


Contoh 29. Misalkan A dan B himpunan. Buktikan bahwa A ∪ (B – A) = A ∪ B
Bukti:
A ∪ (B – A) = A ∪ (B ∩ A) (Definisi operasi selisih)
= (A ∪ B) ∩ (A ∪ A) (Hukum distributif)
= (A ∪ B) ∩ U (Hukum komplemen)
= A ∪ B (Hukum identitas)

Contoh 30. Buktikan bahwa untuk sembarang himpunan A dan B, bahwa
(i) A ∪ ( A ∩ B) = A ∪ B dan
(ii) A ∩ ( A ∪ B) = A ∩ B
Bukti:
(i) A ∪ ( A ∩ B) = ( A ∪ A) ∩ (A ∩ B) (H. distributif)
= U ∩ (A ∩ B) (H. komplemen)
= A ∪ B (H. identitas)

53
(ii) adalah dual dari (i)
A ∩ ( A ∪ B) = (A ∩ A) ∪ (A ∩ B) (H. distributif)
= ∅ ∪ (A ∩ B) (H. komplemen)
= A ∩ B (H. identitas)
4. Pembuktian dengan menggunakan definisi
Metode ini digunakan untuk membuktikan pernyataan himpunan yang tidak
berbentuk kesamaan, tetapi pernyataan yang berbentuk implikasi. Biasanya di dalam
implikasi tersebut terdapat notasi himpunan bagian (⊆ atau ⊂).

Contoh 31. Misalkan A dan B himpunan. Jika A ∩ B = ∅ dan A ⊆ (B ∪ C) maka A ⊆ C.
Buktikan!
Bukti:
(i) Dari definisi himpunan bagian, P ⊆ Q jika dan hanya jika setiap x ∈ P juga ∈ Q.
Misalkan x ∈ A. Karena A ⊆ (B ∪ C), maka dari definisi himpunan bagian, x juga ∈
(B ∪ C).
Dari definisi operasi gabungan (∪), x ∈ (B ∪ C) berarti x ∈ B atau x ∈ C.
(ii) Karena x ∈ A dan A ∩ B = ∅, maka x ∉ B

Dari (i) dan (ii), x ∈ C harus benar. Karena ∀x ∈ A juga berlaku x ∈ C, maka dapat
disimpulkan A ⊆ C .
Misalkan A adalah himpunan bagian dari himpunan semesta (U). Tuliskan hasil dari
operasi beda-setangkup berikut?
(a) A ⊕ U (b) A ⊕ A (c) A ⊕ U

Penyelesaian:
(a) A ⊕ U = (A – U) ∪ (U – A) (Definisi operasi beda setangkup)
= (∅) ∪ (A) (Definisi opearsi selisih)
= A (Hukum Identitas)

(b) A ⊕ A = (A – A) ∪ ( A – A) (Definisi operasi beda setangkup)
54
= (A ∩ A) ∪ ( A ∩ A) (Definisi operasi selisih)
= A ∪ A (Hukum Idempoten)
= U (Hukum Komplemen)

(c) A ⊕ U = ( A ∪ U) – ( A ∩ U) (Definisi operasi beda setangkup)
= U – A (Hukum Null dan Hukum Identitas)
= A (Definisi operasi selisih)


55
BAB V
RELASI

Relasi biner R antara himpunan A dan B adalah himpunan bagian dari A × B.
Notasi: R ⊆ (A × B).
• a R b adalah notasi untuk (a, b) ∈ R, yang artinya a dihubungankan dengan b oleh R
• a R b adalah notasi untuk (a, b) ∉ R, yang artinya a tidak dihubungkan oleh b oleh
relasi R.
• Himpunan A disebut daerah asal (domain) dari R, dan himpunan B disebut daerah
hasil (range) dari R.

Contoh 1. Misalkan
A = {Amir, Budi, Cecep}, B = { IF251, IF342, IF323}
A × B = {(Amir, IF221), (Amir, IF251), (Amir, IF342),
(Amir, IF323), (Budi, IF221), (Budi, IF251),
(Budi, IF342), (Budi, IF323), (Cecep, IF221),
(Cecep, IF251), (Cecep, IF342), (Cecep, IF323) }

Misalkan R adalah relasi yang menyatakan mata kuliah yang diambil oleh mahasiswa
pada Semester Ganjil, yaitu:
R = {(Amir, IF251), (Amir, IF323), (Budi, IF221), (Budi, IF251), (Cecep, IF323)}
- Dapat dilihat bahwa R ⊆ (A × B),
- A adalah daerah asal R, dan B adalah daerah hasil R.
- (Amir, IF251) ∈ R atau Amir R IF251
- (Amir, IF342) ∉ R atau Amir R IF342.

Contoh 2. Misalkan P = {2, 3, 4} dan Q = {2, 4, 8, 9, 15}. Jika kita definisikan relasi R
dari P ke Q dengan (p, q) ∈ R jika p habis membagi q

maka kita peroleh
R = {(2, 2), (2, 4), (4, 4), (2, 8), (4, 8), (3, 9), (3, 15) }
• Relasi pada sebuah himpunan adalah relasi yang khusus
• Relasi pada himpunan A adalah relasi dari A × A.
56
• Relasi pada himpunan A adalah himpunan bagian dari A × A.

Contoh 3. Misalkan R adalah relasi pada A = {2, 3, 4, 8, 9} yang didefinisikan oleh (x, y)
∈ R jika x adalah faktor prima dari y.
Maka
R = {(2, 2), (2, 4), (2, 8), (3, 3), (3, 9)}

Representasi Relasi
1. Representasi Relasi dengan Diagram Panah

Amir
Budi
Cecep
IF221
IF251
IF342
IF323
2
3
4
2
4
8
9
15
2
3
4
8
9
2
3
4
8
9
A
B
P
Q
A A

2.. Representasi Relasi dengan Tabel
• Kolom pertama tabel menyatakan daerah asal, sedangkan kolom kedua
menyatakan daerah hasil.
Tabel 1 Tabel 2 Tabel 3
A B P Q A A
Amir IF251 2 2 2 2
Amir IF323 2 4 2 4
Budi IF221 4 4 2 8
Budi IF251 2 8 3 3
Cecep IF323 4 8 3 3
3 9
3 15

3. Representasi Relasi dengan Matriks
• Misalkan R adalah relasi dari A = {a
1
, a
2
, …, a
m
} dan B = {b
1
, b
2
, …, b
n
}.
• Relasi R dapat disajikan dengan matriks M = [m
ij
],
b
1
b
2
… b
n

57
M =
(
(
(
(
¸
(

¸

mn m m
n
n
m
m m m
m m m
m m m
a
a
a
L
M M M M
L
L
M
2 1
2 22 21
1 12 11
2
1


yang dalam hal ini
¹
´
¦


=
R b a
R b a
m
j i
j i
ij
) , ( , 0
) , ( , 1


Contoh 4. Relasi R pada Contoh 1 dapat dinyatakan dengan matriks
(
(
(
¸
(

¸

1 0 0 0
0 0 1 1
1 0 1 0

dalam hal ini, a
1
= Amir, a
2
= Budi, a
3
= Cecep, dan b
1
= IF221, b
2
= IF251, b
3
= IF342,
dan b
4
= IF323.

Relasi R pada Contoh 2 dapat dinyatakan dengan matriks
(
(
(
¸
(

¸

0 0 1 1 0
1 1 0 0 0
0 0 1 1 1

dalam hal ini, a
1
= 2, a
2
= 3, a
3
= 4, dan b
1
= 2, b
2
= 4, b
3
= 8, b
4
= 9, b
5
= 15.

4. Representasi Relasi dengan Graf Berarah
Relasi pada sebuah himpunan dapat direpresentasikan secara grafis dengan graf
berarah (directed graph atau digraph)
• Graf berarah tidak didefinisikan untuk merepresentasikan relasi dari suatu
himpunan ke himpunan lain.
• Tiap elemen himpunan dinyatakan dengan sebuah titik (disebut juga simpul atau
vertex), dan tiap pasangan terurut dinyatakan dengan busur (arc)
• Jika (a, b) ∈ R, maka sebuah busur dibuat dari simpul a ke simpul b. Simpul a
disebut simpul asal (initial vertex) dan simpul b disebut simpul tujuan (terminal
vertex).
• Pasangan terurut (a, a) dinyatakan dengan busur dari simpul a ke simpul a
sendiri. Busur semacam itu disebut gelang atau kalang (loop).
58

Contoh 5. Misalkan R = {(a, a), (a, b), (b, a), (b, c), (b, d), (c, a), (c, d), (d, b)} adalah
relasi pada himpunan {a, b, c, d}.

R direpresentasikan dengan graf berarah sbb:

Sifat-sifat Relasi Biner
Relasi biner yang didefinisikan pada sebuah himpunan mempunyai beberapa sifat.

1. Refleksif (reflexive)
Definisi
Relasi R pada himpunan A disebut refleksif jika (a, a) ∈ R untuk setiap a ∈ A.

Relasi R pada himpunan A tidak refleksif jika ada a ∈ A sedemikian sehingga (a, a)
∉ R.

Contoh 6. Misalkan A = {1, 2, 3, 4}, dan relasi R di bawah ini didefinisikan pada
himpunan A, maka
(a) Relasi R = {(1, 1), (1, 3), (2, 1), (2, 2), (3, 3), (4, 2), (4, 3), (4, 4)} bersifat
refleksif karena terdapat elemen relasi yang berbentuk (a, a), yaitu (1, 1), (2, 2),
(3, 3), dan (4, 4).
(b) Relasi R = {(1, 1), (2, 2), (2, 3), (4, 2), (4, 3), (4, 4) } tidak bersifat refleksif
karena (3, 3) ∉ R.

Contoh 7. Relasi “habis membagi” pada himpunan bilangan bulat positif bersifat
refleksif karena setiap bilangan bulat positif habis dibagi dengan dirinya
sendiri, sehingga (a, a)∈R untuk setiap a ∈ A.
a
b
c d
59

Contoh 8. Tiga buah relasi di bawah ini menyatakan relasi pada himpunan bilangan bulat
positif N.
R : x lebih besar dari y, S : x + y = 5, T : 3x + y = 10

Tidak satupun dari ketiga relasi di atas yang refleksif karena, misalkan (2, 2) bukan
anggota R, S, maupun T.

Relasi yang bersifat refleksif mempunyai matriks yang elemen diagonal utamanya semua
bernilai 1, atau m
ii
= 1, untuk i = 1, 2, …, n,

(
(
(
(
(
(
¸
(

¸

1
1
1
1
O


Graf berarah dari relasi yang bersifat refleksif dicirikan adanya gelang pada setiap
simpulnya.

2. Menghantar (transitive)
Definisi
Relasi R pada himpunan A disebut menghantar jika (a, b) ∈ R dan (b, c) ∈ R, maka
(a, c) ∈ R, untuk a, b, c ∈ A.
Contoh 9. Misalkan A = {1, 2, 3, 4}, dan relasi R di bawah ini didefinisikan pada
himpunan A, maka
(a) R = {(2, 1), (3, 1), (3, 2), (4, 1), (4, 2), (4, 3) } bersifat menghantar. Lihat tabel
berikut:

Pasangan berbentuk
(a, b) (b, c) (a, c)

(3, 2) (2, 1) (3, 1)
(4, 2) (2, 1) (4, 1)
60
(4, 3) (3, 1) (4, 1)
(4, 3) (3, 2) (4, 2)


(b) R = {(1, 1), (2, 3), (2, 4), (4, 2) } tidak manghantar karena
(2, 4) dan (4, 2) ∈ R, tetapi (2, 2) ∉ R, begitu juga (4, 2) dan (2, 3) ∈ R, tetapi
(4, 3) ∉ R.
(c) Relasi R = {(1, 1), (2, 2), (3, 3), (4, 4) } jelas menghantar
(d) Relasi R = {(1, 2), (3, 4)} menghantar karena tidak ada
(a, b) ∈ R dan (b, c) ∈ R sedemikian sehingga (a, c) ∈ R.
Relasi yang hanya berisi satu elemen seperti R = {(4, 5)} selalu menghantar.

Contoh 10. Relasi “habis membagi” pada himpunan bilangan bulat positif bersifat
menghantar. Misalkan bahwa a habis membagi b dan b habis membagi c.
Maka terdapat bilangan positif m dan n sedemikian sehingga b = ma dan c =
nb. Di sini c = nma, sehingga a habis membagi c. Jadi, relasi “habis
membagi” bersifat menghantar.

Contoh 11. Tiga buah relasi di bawah ini menyatakan relasi pada himpunan bilangan
bulat positif N.
R : x lebih besar dari y, S : x + y = 6, T : 3x + y = 10
- R adalah relasi menghantar karena jika x > y dan y > z maka x > z.
- S tidak menghantar karena, misalkan (4, 2) dan (2, 4) adalah anggota S tetapi (4,
4) ∉ S.
- T = {(1, 7), (2, 4), (3, 1)} menghantar.

Relasi yang bersifat menghantar tidak mempunyai ciri khusus pada matriks
representasinya
Sifat menghantar pada graf berarah ditunjukkan oleh: jika ada busur dari a ke b dan
dari b ke c, maka juga terdapat busur berarah dari a ke c.

3. Setangkup (symmetric) dan tolak-setangkup (antisymmetric)
Definisi
61
Relasi R pada himpunan A disebut setangkup jika (a, b) ∈ R, maka (b, a) ∈ R untuk a,
b ∈ A.

Relasi R pada himpunan A tidak setangkup jika (a, b) ∈ R sedemikian sehingga (b, a)
∉ R.

Definisi
Relasi R pada himpunan A sedemikian sehingga (a, b) ∈ R dan (b, a) ∈ R hanya jika
a = b untuk a, b ∈ A disebut tolak-setangkup.

Relasi R pada himpunan A tidak tolak-setangkup jika ada elemen berbeda a dan b
sedemikian sehingga (a, b) ∈ R dan (b, a) ∈ R.

Contoh 12. Misalkan A = {1, 2, 3, 4}, dan relasi R di bawah ini didefinisikan pada
himpunan A, maka
(a) Relasi R = {(1, 1), (1, 2), (2, 1), (2, 2), (2, 4), (4, 2), (4, 4) } bersifat setangkup
karena jika (a, b) ∈ R maka (b, a) juga ∈ R. Di sini (1, 2) dan (2, 1) ∈ R, begitu
juga (2, 4) dan (4, 2) ∈ R.
(b) Relasi R = {(1, 1), (2, 3), (2, 4), (4, 2) } tidak setangkup karena (2, 3) ∈ R, tetapi
(3, 2) ∉ R.
(c) Relasi R = {(1, 1), (2, 2), (3, 3) } tolak-setangkup karena 1 = 1 dan (1, 1) ∈ R, 2 =
2 dan (2, 2) ∈ R, dan 3 = 3 dan (3, 3) ∈ R. Perhatikan bahwa R juga setangkup.
(d) Relasi R = {(1, 1), (1, 2), (2, 2), (2, 3) } tolak-setangkup karena (1, 1) ∈ R dan 1 =
1 dan, (2, 2) ∈ R dan 2 = 2 dan. Perhatikan bahwa R tidak setangkup.
(e) Relasi R = {(1, 1), (2, 4), (3, 3), (4, 2) } tidak tolak-setangkup karena 2 ≠ 4 tetapi
(2, 4) dan (4, 2) anggota R. Relasi R pada (a) dan (b) di atas juga tidak tolak-
setangkup.
(f) Relasi R = {(1, 2), (2, 3), (1, 3) } tidak setangkup tetapi tolak-setangkup.
Relasi R = {(1, 1), (2, 2), (2, 3), (3, 2), (4, 2), (4, 4)} tidak setangkup dan tidak
tolak-setangkup. R tidak setangkup karena (4, 2) ∈ R tetapi (2, 4) ∉ R. R tidak
tolak-setangkup karena (2, 3) ∈ R dan (3, 2) ∈ R tetap 2 ≠ 3.

62
Contoh 13. Relasi “habis membagi” pada himpunan bilangan bulat positif tidak
setangkup karena jika a habis membagi b, b tidak habis membagi a, kecuali
jika a = b. Sebagai contoh, 2 habis membagi 4, tetapi 4 tidak habis membagi
2. Karena itu, (2, 4) ∈ R tetapi (4, 2) ∉ R. Relasi “habis membagi” tolak-
setangkup karena jika a habis membagi b dan b habis membagi a maka a =
b. Sebagai contoh, 4 habis membagi 4. Karena itu, (4, 4) ∈ R dan 4 = 4.

Contoh 14. Tiga buah relasi di bawah ini menyatakan relasi pada himpunan bilangan
bulat positif N.
R : x lebih besar dari y, S : x + y = 6, T : 3x + y = 10
- R bukan relasi setangkup karena, misalkan 5 lebih besar dari 3 tetapi 3
tidak lebih besar dari 5.
- S relasi setangkup karena (4, 2) dan (2, 4) adalah anggota S.
- T tidak setangkup karena, misalkan (3, 1) adalah anggota T tetapi (1, 3)
bukan anggota T.
- S bukan relasi tolak-setangkup karena, misalkan (4, 2) ∈ S dan (4, 2) ∈ S
tetapi 4 ≠ 2.
- Relasi R dan T keduanya tolak-setangkup (tunjukkan!).
Relasi yang bersifat setangkup mempunyai matriks yang elemen-elemen di bawah
diagonal utama merupakan pencerminan dari elemen-elemen di atas diagonal utama,
atau m
ij
= m
ji
= 1, untuk i = 1, 2, …, n :
(
(
(
(
(
(
¸
(

¸

0
1
0
1

Sedangkan graf berarah dari relasi yang bersifat setangkup dicirikan oleh: jika ada
busur dari a ke b, maka juga ada busur dari b ke a.
• Matriks dari relasi tolak-setangkup mempunyai sifat yaitu jika m
ij
= 1 dengan i ≠
j, maka m
ji
= 0. Dengan kata lain, matriks dari relasi tolak-setangkup adalah jika
salah satu dari m
ij
= 0 atau m
ji
= 0 bila i ≠ j :
63
(
(
(
(
(
(
¸
(

¸

0
1
1 0
0
1

• Sedangkan graf berarah dari relasi yang bersifat tolak-setangkup dicirikan oleh:
jika dan hanya jika tidak pernah ada dua busur dalam arah berlawanan antara dua
simpul berbeda.

Relasi Inversi
Definisi
Misalkan R adalah relasi dari himpunan A ke himpunan B. Invers dari relasi R,
dilambangkan dengan R
–1
, adalah relasi dari B ke A yang didefinisikan oleh

R
–1
= {(b, a) | (a, b) ∈ R }

Contoh 15. Misalkan P = {2, 3, 4} dan Q = {2, 4, 8, 9, 15}. Jika kita definisikan relasi R
dari P ke Q dengan (p, q) ∈ R jika p habis membagi q

maka kita peroleh
R = {(2, 2), (2, 4), (4, 4), (2, 8), (4, 8), (3, 9), (3, 15) }
R
–1
adalah invers dari relasi R, yaitu relasi dari Q ke P dengan (q, p) ∈ R
–1
jika q adalah
kelipatan dari p

maka kita peroleh

Jika M adalah matriks yang merepresentasikan relasi R,
M =
(
(
(
¸
(

¸

0 0 1 1 0
1 1 0 0 0
0 0 1 1 1

maka matriks yang merepresentasikan relasi R
–1
, misalkan N, diperoleh dengan
melakukan transpose terhadap matriks M,
64
N = M
T
=
(
(
(
(
(
(
¸
(

¸

0 1 0
0 1 0
1 0 1
1 0 1
0 0 1


Relasi Kesetaraan
Definisi
Relasi R pada himpunan A disebut relasi kesetaraan (equivalence relation) jika ia
refleksif, setangkup dan menghantar.

Secara intuitif, di dalam relasi kesetaraan, dua benda berhubungan jika keduanya
memiliki beberapa sifat yang sama atau memenuhi beberapa persyaratan yang sama. Dua
elemen yang dihubungkan dengan relasi kesetaraan dinamakan setara (equivalent).
Contoh:
A = himpunan mahasiswa, R relasi pada A:
(a, b) ∈ R jika a satu angkatan dengan b.
R refleksif: setiap mahasiswa seangkatan dengan dirinya sendiri
R setangkup: jika a seangkatan dengan b, maka b pasti seangkatan dengan a.
R menghantar: jika a seangkatan dengan b dan b seangkatan dengan c, maka pastilah a
seangkatan dengan c.
Dengan demikian, R adalah relasi kesetaraan.

Relasi Pengurutan Parcial
Definisi
Relasi R pada himpunan S dikatakan relasi pengurutan parsial (partial ordering relation)
jika ia refleksif, tolak-setangkup, dan menghantar.
Himpunan S bersama-sama dengan relasi R disebut himpunan terurut secara
parsial (partially ordered set, atau poset), dan dilambangkan dengan (S, R).

Contoh 16. Relasi ≥ pada himpunan bilangan bulat adalah relasi pengurutan parsial.
Alasan:
Relasi ≥ refleksif, karena a ≥ a untuk setiap bilangan bulat a;
Relasi ≥ tolak-setangkup, karena jika a ≥ b dan b ≥ a, maka a = b;
65
Relasi ≥ menghantar, karena jika a ≥ b dan b ≥ c maka a ≥ c.
Contoh 17. Relasi “habis membagi” pada himpunan bilangan bulat adalah relasi
pengurutan parsial.
Alasan: relasi “habis membagi” bersifat refleksif, tolak-setangkup, dan
menghantar.

Secara intuitif, di dalam relasi pengurutan parsial, dua buah benda saling berhubungan
jika salah satunya -- lebih kecil (lebih besar) daripada, atau lebih rendah (lebih tinggi)
daripada lainnya menurut sifat atau kriteria tertentu. Istilah pengurutan menyatakan
bahwa benda-benda di dalam himpunan tersebut dirutkan berdasarkan sifat atau kriteria
tersebut. Ada juga kemungkinan dua buah benda di dalam himpunan tidak berhubungan
dalam suatu relasi pengurutan parsial. Dalam hal demikian, kita tidak dapat
membandingkan keduanya sehingga tidak dapat diidentifikasi mana yang lebih besar atau
lebih kecil. Itulah alasan digunakan istilah pengurutan parsial atau pengurutan tak-
lengkap

Klosur Relasi (closure of relation)
Contoh 18. Relasi R = {(1, 1), (1, 3), (2, 3), (3, 2)} pada himpunan A = {1, 2, 3} tidak
refleksif.

Bagaimana membuat relasi refleksif yang sesedikit mungkin dan mengandung R?
• Tambahkan (2, 2) dan (3, 3) ke dalam R (karena dua elemen relasi ini yang belum
terdapat di dalam R)
Relasi baru, S, mengandung R, yaitu S = {(1, 1), (1, 3), (2, 2), (2, 3), (3, 2), (3, 3)}
• Relasi S disebut klosur refleksif (reflexive closure) dari R.
Contoh 19. Relasi R = {(1, 3), (1, 2), (2, 1), (3, 2), (3, 3)} pada himpunan A = {1, 2, 3}
tidak setangkup.
Bagaimana membuat relasi setangkup yang sesedikit mungkin dan mengandung R?
• Tambahkan (3, 1) dan (2, 3) ke dalam R (karena dua elemen relasi ini yang belum
terdapat di dalam S agar S menjadi setangkup).
Relasi baru, S, mengandung R:
S = {(1, 3), (3, 1), (1, 2), (2, 1), (3, 2), (2, 3), (3, 3)}
Relasi S disebut klosur setangkup (symmetric closure) dari R.
66

Definisi Klosur
Misalkan R adalah relasi pada himpunan A. R dapat memiliki atau tidak memiliki sifat P,
seperti refleksif, setangkup, atau menghantar. Jika terdapat relasi S

dengan sifat P yang
mengandung R sedemikian sehingga S adalah himpunan bagian dari setiap relasi dengan
sifat P yang mengandung R, maka S disebut klosur (closure) atau tutupan dari R
[ROS03].

Klosur Refleksif
Misalkan R adalah sebuah relasi pada himpunan A. Klosur refleksif dari R adalah R ∪ ∆,
yang dalam hal ini ∆ = {(a, a) | a ∈ A}.

Contoh 20. R = {(1, 1), (1, 3), (2, 3), (3, 2)} adalah relasi pada A = {1, 2, 3}, maka ∆ =
{(1, 1), (2, 2), (3, 3)}, sehingga klosur refleksif dari R adalah
R ∪ ∆ = {(1, 1), (1, 3), (2, 3), (3, 2)} ∪ {(1, 1), (2, 2), (3, 3)}
= {(1, 1), (1, 3), (2, 2), (2, 3), (3, 2), (3, 3)}
Contoh 21. Misalkan R adalah relasi {(a, b) | a ≠ b} pada himpunan bilangan bulat.
Klosur refleksif dari R adalah
R ∪ ∆ = {(a, b) | a ≠ b} ∪ {(a, a) | a ∈ Z}
= {(a, b) | a, b ∈ Z}

Klosur setangkup
Misalkan R adalah sebuah relasi pada himpunan A. Klosur setangkup dari R adalah R ∪
R
-1
, dengan R
-1
= {(b, a) | (a, b) a ∈ R}.

Contoh 22. R = {(1, 3), (1, 2), (2, 1), (3, 2), (3, 3)} adalah relasi pada A = {1, 2, 3}, maka
R
-1
= {(3, 1), (2, 1), (1, 2), (2, 3), (3, 3)} sehingga klosur setangkup dari R
adalah
R ∪ R
-1
= {(1, 3), (1, 2), (2, 1), (3, 2), (3, 3)} ∪ {(3, 1), (2, 1), (1, 2), (2, 3),
(3, 3)}
= {(1, 3), (3, 1), (1, 2), (2, 1), (3, 2), (2, 3), (3, 3)}

67
Contoh 23. Misalkan R adalah relasi {(a, b) | a habis membagi b}pada himpunan
bilangan bulat. Klosur setangkup dari R adalah
R ∪ R
-1
= {(a, b) | a habis membagi b} ∪ {(b, a) | b habis membagi a}
= {(a, b) | a habis membagi b atau b habis membagi a}

Klosur menghantar
Pembentukan klosur menghantar lebih sulit daripada dua buah klosur sebelumnya.

Contoh 24. R = {(1, 2), (1, 4), (2, 1), (3, 2)} adalah relasi A = {1, 2, 3, 4}.
R tidak transitif karena tidak mengandung semua pasangan (a, c) sedemikian sehingga (a,
b) dan (b, c) di dalam R. Pasangan (a, c) yang tidak terdapat di dalam R adalah (1, 1), (2,
2), (2, 4), dan (3, 1). Penambahan semua pasangan ini ke dalam R sehingga menjadi
S = {(1, 2), (1, 4), (2, 1), (3, 2), (1, 1), (2, 2), (2, 4), (3, 1)}
tidak menghasilkan relasi yang bersifat menghantar karena, misalnya terdapat (3, 1) ∈ S
dan (1, 4) ∈ S, tetapi (3, 4) ∉ S.

Klosur menghantar dari R adalah
R
*
= R
2
∪ R
3
∪ … ∪ R
n

Jika M
R
adalah matriks yang merepresentasikan R pada sebuah himpunan dengan n
elemen, maka matriks klosur menghantar R
*
adalah
=
*
R
M M
R

] 2 [
R
M ∨
] 3 [
R
M ∨ … ∨
] [n
R
M
Misalkan R = {(1, 1), (1, 3), (2, 2), (3, 1), (3, 2)} adalah relasi pada himpunan A = {1, 2,
3}. Tentukan klosur menghantar dari R.

Penyelesaian:
Matriks yang merepresentasikan relasi R adalah
M
R
=
(
(
(
¸
(

¸

0 1 1
0 1 0
1 0 1

Maka, matriks klosur menghantar dari R adalah
= *
R
M M
R

] 2 [
R
M ∨
] 3 [
R
M
Karena
68

(
(
(
¸
(

¸

= ⋅ =
1 1 1
0 1 0
1 1 1
] 2 [
R R R
M M M dan
(
(
(
¸
(

¸

= ⋅ =
1 1 1
0 1 0
1 1 1
] 2 [ ] 3 [
R R R
M M M
maka
= *
R
M
(
(
(
¸
(

¸

1 1 1
0 1 0
1 0 1

(
(
(
¸
(

¸

1 1 1
0 1 0
1 1 1

(
(
(
¸
(

¸

1 1 1
0 1 0
1 1 1
=
(
(
(
¸
(

¸

1 1 1
0 1 0
1 1 1

Dengan demikian, R
*
= {(1, 1), (1, 2), (1, 3), (2, 2), (3, 1), (3, 2), (3, 3) }

Mengkombinasikan Relasi
Karena relasi biner merupakan himpunan pasangan terurut, maka operasi
himpunan seperti irisan, gabungan, selisih, dan beda setangkup antara dua relasi atau
lebih juga berlaku. Jika R
1
dan R
2
masing-masing adalah relasi dari himpuna A ke
himpunan B, maka R
1
∩ R
2
, R
1
∪ R
2
, R
1
– R
2
, dan R
1
⊕ R
2
juga adalah relasi dari A ke B.

Contoh 25. Misalkan A = {a, b, c} dan B = {a, b, c, d}.

Relasi R
1
= {(a, a), (b, b), (c, c)}
Relasi R
2
= {(a, a), (a, b), (a, c), (a, d)}

R
1
∩ R
2
= {(a, a)}
R
1
∪ R
2
= {(a, a), (b, b), (c, c), (a, b), (a, c), (a, d)}
R
1
− R
2
= {(b, b), (c, c)}
R
2
− R
1
= {(a, b), (a, c), (a, d)}
R
1
⊕ R
2
= {(b, b), (c, c), (a, b), (a, c), (a, d)}

Jika relasi R
1
dan R
2
masing-masing dinyatakan dengan matriks M
R1
dan M
R2
, maka
matriks yang menyatakan gabungan dan irisan dari kedua relasi tersebut adalah
M
R1 ∪ R2
= M
R1
∨ M
R2
dan M
R1 ∩ R2
= M
R1
∧ M
R2

Contoh 26. Misalkan bahwa relasi R
1
dan R
2
pada himpunan A dinyatakan oleh matriks
R
1
=
(
(
(
¸
(

¸

0 1 1
1 0 1
0 0 1
dan R
2
=
(
(
(
¸
(

¸

0 0 1
1 1 0
0 1 0

69
maka
M
R1 ∪ R2
= M
R1
∨ M
R2
=
(
(
(
¸
(

¸

0 1 1
1 1 1
0 1 1


M
R1 ∩ R2
= M
R1
∧ M
R2
=
(
(
(
¸
(

¸

0 0 1
1 0 0
0 0 0


Komposisi Relasi

Definisi
Misalkan R adalah relasi dari himpunan A ke himpunan B, dan S adalah relasi dari
himpunan B ke himpunan C. Komposisi R dan S, dinotasikan dengan S ο R, adalah
relasi dari A ke C yang didefinisikan oleh
S ο R = {(a, c) | a ∈ A, c ∈ C, dan untuk beberapa b ∈ B, (a, b) ∈ R dan (b, c) ∈
S }

Contoh 27. Misalkan R = {(1, 2), (1, 6), (2, 4), (3, 4), (3, 6), (3, 8)} adalah relasi dari
himpunan {1, 2, 3} ke himpunan {2, 4, 6, 8} dan S = {(2, u), (4, s), (4, t), (6,
t), (8, u) adalah relasi dari himpunan {2, 4, 6, 8} ke himpunan {s, t, u}. Maka
komposisi relasi R dan S adalah
S ο R = {(1, u), (1, t), (2, s), (2, t), (3, s), (3, t), (3, u) }

Komposisi relasi R dan S lebih jelas jika diperagakan dengan diagram panah:
1
2
3
2
4
6
8
s
t
u


Jika relasi R
1
dan R
2
masing-masing dinyatakan dengan matriks M
R1
dan M
R2
, maka
matriks yang menyatakan komposisi dari kedua relasi tersebut adalah
M
R2 ο R1
= M
R1
⋅ M
R2

70
yang dalam hal ini operator “.” sama seperti pada perkalian matriks biasa, tetapi dengan
mengganti tanda kali dengan “∧” dan tanda tambah dengan “∨”.

Contoh 28. Misalkan bahwa relasi R
1
dan R
2
pada himpunan A dinyatakan oleh matriks
R
1
=
(
(
(
¸
(

¸

0 0 0
0 1 1
1 0 1
dan R
2
=
(
(
(
¸
(

¸

1 0 1
1 0 0
0 1 0

maka matriks yang menyatakan R
2
ο R
1
adalah
M
R2 ο R1
= M
R1
. M
R2


(
(
(
¸
(

¸

∧ ∨ ∧ ∨ ∧ ∧ ∨ ∧ ∨ ∧ ∧ ∨ ∧ ∨ ∧
∧ ∨ ∧ ∨ ∧ ∧ ∨ ∧ ∨ ∧ ∧ ∨ ∧ ∨ ∧
∧ ∨ ∧ ∨ ∧ ∧ ∨ ∧ ∨ ∧ ∧ ∨ ∧ ∨ ∧
) 1 0 ( ) 1 0 ( ) 0 0 ( ) 0 0 ( ) 0 0 ( ) 1 0 ( ) 1 0 ( ) 0 0 ( ) 0 0 (
) 1 0 ( ) 1 1 ( ) 0 1 ( ) 0 0 ( ) 0 1 ( ) 1 1 ( ) 1 0 ( ) 0 1 ( ) 0 1 (
) 1 1 ( ) 1 0 ( ) 0 1 ( ) 0 1 ( ) 0 0 ( ) 1 1 ( ) 1 1 ( ) 0 0 ( ) 0 1 (

=
(
(
(
¸
(

¸

0 0 0
1 1 0
1 1 1

71
Fungsi

Definisi
Misalkan A dan B himpunan. Relasi biner f dari A ke B merupakan suatu fungsi jika
setiap elemen di dalam A dihubungkan dengan tepat satu elemen di dalam B.

Jika f adalah fungsi dari A ke B kita menuliskan
f : A → B
yang artinya f memetakan A ke B.

• A disebut daerah asal (domain) dari f dan B disebut daerah hasil (codomain)
dari f.
• Nama lain untuk fungsi adalah pemetaan atau transformasi.

Kita menuliskan f(a) = b jika elemen a di dalam A dihubungkan dengan elemen b di
dalam B. Jika f(a) = b, maka b dinamakan bayangan (image) dari a dan a dinamakan
pra-bayangan (pre-image) dari b.

Himpunan yang berisi semua nilai pemetaan f disebut jelajah (range) dari f. Perhatikan
bahwa jelajah dari f adalah himpunan bagian (mungkin proper subset) dari B.
Fungsi adalah relasi yang khusus:
1. Tiap elemen di dalam himpunan A harus digunakan oleh prosedur atau kaidah
yang mendefinisikan f.
2. Frasa “dihubungkan dengan tepat satu elemen di dalam B” berarti bahwa jika
(a, b) ∈ f dan (a, c) ∈ f, maka b = c.

Fungsi dapat dispesifikasikan dalam berbagai bentuk, diantaranya:
1. Himpunan pasangan terurut.
Seperti pada relasi.
a
b
A B
f
72
2. Formula pengisian nilai (assignment).
Contoh: f(x) = 2x + 10, f(x) = x
2
, dan f(x) = 1/x.
3. Kata-kata
Contoh: “f adalah fungsi yang memetakan jumlah bit 1 di dalam suatu
string biner”.
4. Kode program (source code)
Contoh: Fungsi menghitung |x|

function abs(x:integer):integer;
begin
if x < 0 then
abs:=-x
else
abs:=x;
end;

Contoh 29. Relasi f = {(1, u), (2, v), (3, w)} dari A = {1, 2, 3} ke B = {u, v, w} adalah
fungsi dari A ke B. Di sini f(1) = u, f(2) = v, dan f(3) = w. Daerah asal dari f
adalah A dan daerah hasil adalah B. Jelajah dari f adalah {u, v, w}, yang
dalam hal ini sama dengan himpunan B.

Contoh 30. Relasi f = {(1, u), (2, u), (3, v)}dari A = {1, 2, 3} ke B = {u, v, w} ada lah
fungsi dari A ke B, meskipun u merupakan bayangan dari dua elemen A.
Daerah asal fungsi adalah A, daerah hasilnya adalah B, dan jelajah fungsi
adalah {u, v}.

Contoh 31. Relasi f = {(1, u), (2, v), (3, w)}dari A = {1, 2, 3, 4} ke B = {u, v, w} bukan
fungsi, karena tidak semua elemen A dipetakan ke B.
Contoh 32. Relasi f = {(1, u), (1, v), (2, v), (3, w)}dari A = {1, 2, 3} ke B = {u, v, w}
bukan fungsi, karena 1 dipetakan ke dua buah elemen B, yaitu u dan v.

73
Contoh 33. Misalkan f : Z → Z didefinisikan oleh f(x) = x
2
. Daerah asal dan daerah hasil
dari f adalah himpunan bilangan bulat, dan jelajah dari f adalah himpunan
bilangan bulat tidak-negatif.

Fungsi Injektif
Definisi
Fungsi f dikatakan fungsi satu-ke-satu (one to one) atau injektif (injective) jika tidak ada
dua elemen himpunan A yang memiliki bayangan sama.


Contoh 34. Relasi f = {(1, w), (2, u), (3, v)} dari A = {1, 2, 3} ke B = {u, v, w, x} adalah
fungsi satu-ke-satu,
tetapi relasi f = {(1, u), (2, u), (3, v)}dari A = {1, 2, 3} ke B = {u, v, w} bukan
fungsi satu-ke-satu, karena f(1) = f(2) = u.

Contoh 35. Misalkan f : Z → Z. Tentukan apakah f(x) = x
2
+ 1 dan f(x) = x – 1
merupakan fungsi satu-ke-satu?
Penyelesaian:
(i) f(x) = x
2
+ 1 bukan fungsi satu-ke-satu, karena untuk dua x yang bernilai mutlak sama
tetapi tandanya berbeda nilai fungsinya sama, misalnya f(2) = f(-2) = 5 padahal –2 ≠
2.
(ii) f(x) = x – 1 adalah fungsi satu-ke-satu karena untuk a ≠ b, a – 1 ≠ b – 1.
Misalnya untuk x = 2, f(2) = 1 dan untuk x = -2, f(-2) = -3.

Fungsi Surjektif
Definisi
a 1
A B
2
3
4
5
b
c
d
74
Fungsi f dikatakan dipetakan pada (onto) atau surjektif (surjective) jika setiap elemen
himpunan B merupakan bayangan dari satu atau lebih elemen himpunan A.

Dengan kata lain seluruh elemen B merupakan jelajah dari f. Fungsi f disebut fungsi pada
himpunan B.



Contoh 36. Relasi f = {(1, u), (2, u), (3, v)}dari A = {1, 2, 3} ke B = {u, v, w} bukan
fungsi pada karena w tidak termasuk jelajah dari f. Relasi f = {(1, w), (2, u),
(3, v)} dari A = {1, 2, 3} ke B = {u, v, w} merupakan fungsi pada karena
semua anggota B merupakan jelajah dari f.

Contoh 37. Misalkan f : Z → Z. Tentukan apakah f(x) = x
2
+ 1 dan f(x) = x – 1
merupakan fungsi pada?
Penyelesaian:
(i) f(x) = x
2
+ 1 bukan fungsi pada, karena tidak semua nilai bilangan bulat merupakan
jelajah dari f.
(ii) f(x) = x – 1 adalah fungsi pada karena untuk setiap bilangan bulat y, selalu ada nilai x
yang memenuhi, yaitu y = x – 1 akan dipenuhi untuk x = y + 1.
Fungís Bijeksi
Definisi
Fungsi f dikatakan berkoresponden satu-ke-satu atau bijeksi (bijection) jika ia fungsi
satu-ke-satu dan juga fungsi pada.

Contoh 38. Relasi f = {(1, u), (2, w), (3, v)} dari A = {1, 2, 3} ke B = {u, v, w} adalah
fungsi yang berkoresponden satu-ke-satu, karena f adalah fungsi satu-ke-satu maupun
fungsi pada.
a 1
A B
2
3
b
c
d
75

Contoh 39. Fungsi f(x) = x – 1 merupakan fungsi yang berkoresponden satu-ke-satu,
karena f adalah fungsi satu-ke-satu maupun fungsi pada.

Fungsi satu-ke-satu, Fungsi pada,
bukan pada bukan satu-ke-satu

Buka fungsi satu-ke-satu Bukan fungsi
maupun pada

Jika f adalah fungsi berkoresponden satu-ke-satu dari A ke B, maka kita dapat
menemukan balikan (invers) dari f. Balikan fungsi dilambangkan dengan f
–1
.
Misalkan a adalah anggota himpunan A dan b adalah anggota himpunan B, maka f
-
1
(b) = a jika f(a) = b.
Fungsi yang berkoresponden satu-ke-satu sering dinamakan juga fungsi yang
invertible (dapat dibalikkan), karena kita dapat mendefinisikan fungsi balikannya.
Sebuah fungsi dikatakan not invertible (tidak dapat dibalikkan) jika ia bukan fungsi
yang berkoresponden satu-ke-satu, karena fungsi balikannya tidak ada.

Contoh 40. Relasi f = {(1, u), (2, w), (3, v)}dari A = {1, 2, 3} ke B = {u, v, w} adalah
fungsi yang berkoresponden satu-ke-satu. Balikan fungsi f hádala f
-1
= {(u,
1), (w, 2), (v, 3)}
Jadi, f adalah fungsi invertible.

Contoh 41. Tentukan balikan fungsi f(x) = x – 1.
a
1
A
B
2
3
b
c
4
a
1
A
B
2
3
b
c
c d
a
1
A B
2
3
b
c
c d
4
a
1
A B
2
3
b
c
c d
4
76

Penyelesaian:
Fungsi f(x) = x – 1 adalah fungsi yang berkoresponden satu-ke-satu, jadi balikan fungsi
tersebut ada.
Misalkan f(x) = y, sehingga y = x – 1, maka x = y + 1. Jadi, balikan fungsi balikannya
adalah f
-1
(y) = y +1.

Contoh 42. Tentukan balikan fungsi f(x) = x
2
+ 1.

Penyelesaian:
Dari Contoh 3.41 dan 3.44 kita sudah menyimpulkan bahwa f(x) = x – 1 bukan fungsi
yang berkoresponden satu-ke-satu, sehingga fungsi balikannya tidak ada. Jadi, f(x) = x
2
+
1 adalah funsgi yang not invertible.

Komposisi dari dua buah fungsi
Definisi
Misalkan g adalah fungsi dari himpunan A ke himpunan B, dan f adalah fungsi dari
himpunan B ke himpunan C. Komposisi f dan g, dinotasikan dengan f ο g, adalah fungsi
dari A ke C yang didefinisikan oleh
(f ο g)(a) = f(g(a))

Contoh 43. Diberikan fungsi g = {(1, u), (2, u), (3, v) yang memetakan A = {1, 2, 3} ke B
= {u, v, w}, dan fungsi f = {(u, y), (v, x), (w, z)} yang memetakan B = {u, v,
w} ke C = {x, y, z}. Fungsi komposisi dari A ke C adalah
f ο g = {(1, y), (2, y), (3, x) }

Contoh 44. Diberikan fungsi f(x) = x–1 dan g(x) = x
2
+1. Tentukan f ο g dan g ο f .
Penyelesaian:
(i) (f ο g)(x) = f(g(x)) = f(x
2
+ 1) = x
2
+ 1 – 1 = x
2
.
(ii) (g ο f)(x) = g(f(x)) = g(x – 1) = (x –1)
2
+ 1 = x
2
- 2x + 2.

Beberapa Fungsi Khusus
1. Fungsi Floor dan Ceiling
77
Misalkan x adalah bilangan riil, berarti x berada di antara dua bilangan bulat.
Fungsi floor dari x:
¸x¸ menyatakan nilai bilangan bulat terbesar yang lebih kecil atau sama dengan x
Fungsi ceiling dari x:
x( menyatakan bilangan bulat terkecil yang lebih besar atau sama dengan x
Dengan kata lain, fungsi floor membulatkan x ke bawah, sedangkan fungsi ceiling
membulatkan x ke atas.

Contoh 45. Beberapa contoh nilai fungsi floor dan ceiling:
¸3.5¸ = 3 3.5( = 4
¸0.5¸ = 0 0.5( = 1
¸4.8¸ = 4 4.8( = 5
¸– 0.5¸ = – 1 ¸– 0.5¸ = 0
¸–3.5¸ = – 4 –3.5( = – 3

Contoh 46. Di dalam komputer, data dikodekan dalam untaian byte, satu byte terdiri atas
8 bit. Jika panjang data 125 bit, maka jumlah byte yang diperlukan untuk
merepresentasikan data adalah 125/8( = 16 byte. Perhatikanlah bahwa 16 ×
8 = 128 bit, sehingga untuk byte yang terakhir perlu ditambahkan 3 bit
ekstra agar satu byte tetap 8 bit (bit ekstra yang ditambahkan untuk
menggenapi 8 bit disebut padding bits).

2. Fungsi modulo
Misalkan a adalah sembarang bilangan bulat dan m adalah bilangan bulat positif. a mod
m memberikan sisa pembagian bilangan bulat bila a dibagi dengan m
a mod m = r sedemikian sehingga a = mq + r, dengan 0 ≤ r < m.

Contoh 47. Beberapa contoh fungsi modulo
25 mod 7 = 4
15 mod 4 = 0
3612 mod 45 = 12
0 mod 5 = 5
–25 mod 7 = 3 (sebab –25 = 7 ⋅ (–4) + 3 )
78
3. Fungsi Faktorial

¹
´
¦
> × − × × ×
=
=
0 , ) 1 ( . 2 1
0 , 1
!
n n n
n
n
L


4. Fungsi Eksponensial
¦
¹
¦
´
¦
> × × ×
=
=
0 ,
0 , 1
n a a a
n
a
n
n
4 43 4 42 1
L


Untuk kasus perpangkatan negatif,

n
n
a
a
1
=



5. Fungsi Logaritmik
Fungsi logaritmik berbentuk
x y
a
log = ↔ x = a
y


Fungsi Rekursif
Definisi
Fungsi f dikatakan fungsi rekursif jika definisi fungsinya mengacu pada dirinya sendiri.

Contoh 47. n! = 1 × 2 × … × (n – 1) × n = (n – 1)! × n.
¹
´
¦
> − ×
=
=
0 , )! 1 (
0 , 1
!
n n n
n
n


Fungsi rekursif disusun oleh dua bagian:
(a) Basis
Bagian yang berisi nilai awal yang tidak mengacu pada dirinya sendiri. Bagian ini
juga sekaligus menghentikan definisi rekursif.
(b) Rekurens
Bagian ini mendefinisikan argumen fungsi dalam terminologi dirinya sendiri. Setiap
kali fungsi mengacu pada dirinya sendiri, argumen dari fungsi harus lebih dekat ke
nilai awal (basis).
79

Contoh definisi rekursif dari faktorial:
(a) basis:
n! = 1 , jika n = 0
(b) rekurens:
n! = n × (n -1)! , jika n > 0
5! dihitung dengan langkah berikut:
(1) 5! = 5 × 4! (rekurens)
(2) 4! = 4 × 3!
(3) 3! = 3 × 2!
(4) 2! = 2 × 1!
(5) 1! = 1 × 0!
(6) 0! = 1
(6’) 0! = 1
(5’) 1! = 1 × 0! = 1 × 1 = 1
(4’) 2! = 2 × 1! = 2 × 1 = 2
(3’) 3! = 3 × 2! = 3 × 2 = 6
(2’) 4! = 4 × 3! = 4 × 6 = 24
(1’) 5! = 5 × 4! = 5 × 24 = 120
Jadi, 5! = 120.
Contoh 48. Di bawah ini adalah contoh-contoh fungsi rekursif lainnya:
1.
¹
´
¦
≠ + −
=
=
0 , ) 1 ( 2
0 , 0
) (
2
x x x F
x
x F

2. Fungsi Chebysev

¦
¹
¦
´
¦
> − − −
=
=
=
1 , ) , 2 ( ) , 1 ( 2
1 ,
0 , 1
) , (
n x n T x n xT
n x
n
x n T

3. Fungsi fibonacci:

¦
¹
¦
´
¦
> − + −
=
=
=
1 , ) 2 ( ) 1 (
1 , 1
0 , 0
) (
n n f n f
n
n
n f


80
BAB VI
ALJABAR BOOLEAN

Aljabar boolean merupakan aljabar yang berhubungan dengan variabel-variabel
biner dan operasi-operasi logik. Variabel-variabel diperlihatkan dengan huruf-huruf
alfabet, dan tiga operasi dasar dengan AND, OR dan NOT (komplemen). Fungsi boolean
terdiri dari variabel-variabel biner yang menunjukkan fungsi, suatu tanda sama dengan,
dan suatu ekspresi aljabar yang dibentuk dengan menggunakan variabel-variabel biner,
konstanta-konstanta 0 dan 1, simbol-simbol operasi logik, dan tanda kurung.
Suatu fungsi boolean bisa dinyatakan dalam tabel kebenaran. Suatu tabel kebenaran
untuk fungsi boolean merupakan daftar semua kombinasi angka-angka biner 0 dan 1 yang
diberikan ke variabel-variabel biner dan daftar yang memperlihatkan nilai fungsi untuk
masing-masing kombinasi biner.
Aljabar boolean mempunyai 2 fungsi berbeda yang saling berhubungan. Dalam arti luas,
aljabar boolean berarti suatu jenis simbol-simbol yang ditemukan oleh George Boole
untuk memanipulasi nilai-nilai kebenaran logika secara aljabar. Dalam hal ini aljabar
boolean cocok untuk diaplikasikan dalam komputer. Disisi lain, aljabar boolean juga
merupakan suatu struktur aljabar yang operasi-operasinya memenuhi aturan tertentu.

DASAR OPERASI LOGIKA
LOGIKA :
Memberikan batasan yang pasti dari suatu keadaan, sehingga suatu keadaan tidak
dapat berada dalam dua ketentuan sekaligus.
Dalam logika dikenal aturan sbb :
♦ Suatu keadaan tidak dapat dalam keduanya benar dan salah sekaligus
♦ Masing-masing adalah benar / salah.
♦ Suatu keadaan disebut benar bila tidak salah.
Dalam ajabar boolean keadaan ini ditunjukkan dengan dua konstanta : LOGIKA ‘1’ dan
‘0’

Operasi-operasi dasar logika dan gerbang logika :
Pengertian GERBANG (GATE) :
81
♦ Rangkaian satu atau lebih sinyal masukan tetapi hanya menghasilkan satu sinyal
keluaran.
♦ Rangkaian digital (dua keadaan), karena sinyal masukan atau keluaran hanya berupa
tegangan tinggi atau low ( 1 atau 0 ).
♦ Setiap keluarannya tergantung sepenuhnya pada sinyal yang diberikan pada masukan-
masukannya.

Operasi logika NOT ( Invers )
Operasi merubah logika 1 ke 0 dan sebaliknya x = x’


Tabel Operasi NOT Simbol
X X’
0 1
1 0

Operasi logika AND
♦ Operasi antara dua variabel (A,B)
♦ Operasi ini akan menghasilkan logika 1, jika kedua variabel tersebut berlogika 1

Simbol

A A . B


B


Operasi logika OR
Operasi antara 2 variabel (A,B)
Operasi ini akan menghasilkan logika 0, jika kedua variabel tersebut berlogika 0.
Simbol

82
A A + B


B


Operasi logika NOR
Operasi ini merupakan operasi OR dan NOT, keluarannya merupakan keluaran operasi
OR yang di inverter.
Simbol

A A + B ( A + B )’


B


Atau

A ( A + B )’


B

Operasi logika NAND
Operasi logika ini merupakan gabungan operasi AND dan NOT, Keluarannya merupakan
keluaran gerbang AND yang di inverter.

Simbol

A A . B ( A . B )’


83
B

Atau

A ( A . B )’


B

Operasi logika EXOR
akan menghasilkan keluaran ‘1’ jika jumlah masukan yang bernilai ‘1’ berjumlah ganjil.

Simbol

A Y


B


Operasi logika EXNOR
Operasi ini akan menghasilkan keluaran ‘1’ jika jumlah masukan yang bernilai ‘1’
berjumlah genap atau tidak ada sama sekali.

Simbol

A Y


B

DALIL BOOLEAN ;
1. X=0 ATAU X=1
84
2. 0 . 0 = 0
3. 1 + 1 = 1
4. 0 + 0 = 0
5. 1 . 1 = 1
6. 1 . 0 = 0 . 1 = 0
7. 1 + 0 = 0 + 1 = 0

TEOREMA BOOLEAN
1. HK. KOMUTATIF
A + B = B + A
A . B = B . A
6. HK. IDENTITAS
A + A = A
A . A = A
2. HK. ASSOSIATIF
(A+B)+C = A+(B+C)
(A.B) . C = A . (B.C)
7.
0 + A = A ----- 1. A = A
1 + A = 1 ----- 0 . A = 0
3. HK. DISTRIBUTIF
A . (B+C) = A.B + A.C
A + (B.C) = (A+B) . (A+C)
8.
A’ + A = 1
A’ . A =0
4. HK. NEGASI
( A’ ) = A’
(A’)’ = A
9.
A + A’ . B = A + B
A . (A + B)= A . B
5. HK. ABRSORPSI
A+ A.B = A
A.(A+B) = A
10. DE MORGAN’S
( A+ B )’ = A’ . B’
( A . B )’ = A’ + B’

CONTOH :
1. A + A . B’ + A’ . B = A . ( 1 + B’ ) + A’ . B
= A . 1 + A’ . B
= A + A’ . B
= A + B




85
2. A
B




X = (A.B)’ . B = (A’ + B’) . B
= ( A.B )’ + B’.B
= ( A.B )’ + 0
= A’.B


A

B




ATAU

A
B










86







Aljabar Boolean

• Misalkan terdapat
- Dua operator biner: + dan ⋅
- Sebuah operator uner: ’.
- B : himpunan yang didefinisikan pada opeartor +, ⋅, dan ’
- 0 dan 1 adalah dua elemen yang berbeda dari B.
Tupel
(B, +, ⋅, ’)
disebut aljabar Boolean jika untuk setiap a, b, c ∈ B berlaku aksioma-aksioma
atau postulat Huntington berikut:

1. Closure: (i) a + b ∈ B
(ii) a ⋅ b ∈ B

2. Identitas: (i) a + 0 = a
(ii) a ⋅ 1 = a

3. Komutatif: (i) a + b = b + a
(ii) a ⋅ b = b . a

4. Distributif: (i) a ⋅ (b + c) = (a ⋅ b) + (a ⋅ c)
(ii) a + (b ⋅ c) = (a + b) ⋅ (a + c)
87

5. Komplemen
1
: (i) a + a’ = 1
(ii) a ⋅ a’ = 0


• Untuk mempunyai sebuah aljabar Boolean, harus diperlihatkan:
1. Elemen-elemen himpunan B,
2. Kaidah operasi untuk operator biner dan operator uner,
3. Memenuhi postulat Huntington.


Aljabar Boolean Dua-Nilai

Aljabar Boolean dua-nilai:
- B = {0, 1}
- operator biner, + dan ⋅
- operator uner, ’
- Kaidah untuk operator biner dan operator uner:

a B a ⋅ b a b a + b a a’
0 0 0 0 0 0 0 1
0 1 0 0 1 1 1 0
1 0 0 1 0 1
1 1 1 1 1 1


Cek apakah memenuhi postulat Huntington:
1. Closure : jelas berlaku
2. Identitas: jelas berlaku karena dari tabel dapat kita lihat bahwa:


88
(i) 0 + 1 = 1 + 0 = 1
(ii) 1 ⋅ 0 = 0 ⋅ 1 = 0
3. Komutatif: jelas berlaku dengan melihat simetri tabel operator biner.
4. Distributif: (i) a ⋅ (b + c) = (a ⋅ b) + (a ⋅ c) dapat ditunjukkan benar dari tabel
operator biner di atas dengan membentuk tabel kebenaran:

a b c b + c a ⋅ (b + c) a ⋅ b a ⋅ c (a ⋅ b) + (a ⋅ c)
0 0 0 0 0 0 0 0
0 0 1 1 0 0 0 0
0 1 0 1 0 0 0 0
0 1 1 1 0 0 0 0
1 0 0 0 0 0 0 0
1 0 1 1 1 0 1 1
1 1 0 1 1 1 0 1
1 1 1 1 1 1 1 1

(ii) Hukum distributif a + (b ⋅ c) = (a + b) ⋅ (a + c) dapat ditunjukkan benar dengan
membuat tabel kebenaran dengan cara yang sama seperti (i).

5. Komplemen: jelas berlaku karena Tabel 7.3 memperlihatkan bahwa:
(i) a + a‘ = 1, karena 0 + 0’= 0 + 1 = 1 dan 1 + 1’= 1 + 0 = 1
(ii) a ⋅ a = 0, karena 0 ⋅ 0’= 0 ⋅ 1 = 0 dan 1 ⋅ 1’ = 1 ⋅ 0 = 0

Karena kelima postulat Huntington dipenuhi, maka terbukti bahwa B = {0, 1} bersama-
sama dengan operator biner + dan ⋅ operator komplemen ‘ merupakan aljabar Boolean.


Ekspresi Boolean
• Misalkan (B, +, ⋅, ’) adalah sebuah aljabar Boolean. Suatu ekspresi Boolean dalam
(B, +, ⋅, ’) adalah:
(i) setiap elemen di dalam B,
89
(ii) setiap peubah,
(iii) jika e
1
dan e
2
adalah ekspresi Boolean, maka e
1
+ e
2
, e
1
⋅ e
2
, e
1
’ adalah
ekspresi Boolean

Contoh:
0
1
a
b
c
a + b
a ⋅ b
a’⋅ (b + c)
a ⋅ b’ + a ⋅ b ⋅ c’ + b’, dan sebagainya
Mengevaluasi Ekspresi Boolean

• Contoh: a’⋅ (b + c)

jika a = 0, b = 1, dan c = 0, maka hasil evaluasi ekspresi:

0’⋅ (1 + 0) = 1 ⋅ 1 = 1

• Dua ekspresi Boolean dikatakan ekivalen (dilambangkan dengan ‘=’) jika
keduanya mempunyai nilai yang sama untuk setiap pemberian nilai-nilai kepada n
peubah.
Contoh:
a ⋅ (b + c) = (a . b) + (a ⋅ c)

Contoh. Perlihatkan bahwa a + a’b = a + b .
Penyelesaian:
90

a b a’ a’b a + a’b a + b
0 0 1 0 0 0
0 1 1 1 1 1
1 0 0 0 1 1
1 1 0 0 1 1

• Perjanjian: tanda titik (⋅) dapat dihilangkan dari penulisan ekspresi Boolean,
kecuali jika ada penekanan:
(i) a(b + c) = ab + ac
(ii) a + bc = (a + b) (a + c)
(iii) a ⋅ 0 , bukan a0

Prinsip Dualitas

• Misalkan S adalah kesamaan (identity) di dalam aljabar Boolean yang melibatkan
operator +, ⋅, dan komplemen, maka jika pernyataan S* diperoleh dengan cara
mengganti
⋅ dengan +
+ dengan ⋅
0 dengan 1
1 dengan 0
dan membiarkan operator komplemen tetap apa adanya, maka kesamaan S* juga
benar. S* disebut sebagai dual dari S.

Contoh.
(i) (a ⋅ 1)(0 + a’) = 0 dualnya (a + 0) + (1 ⋅ a’) = 1
(ii) a(a‘ + b) = ab dualnya a + a‘b = a + b

91
Hukum-hukum Aljabar Boolean
1. Hukum identitas:
(i) a + 0 = a
(ii) a ⋅ 1 = a
2. Hukum idempoten:
(i) a + a = a
(ii) a ⋅ a = a
3. Hukum komplemen:
(i) a + a’ = 1
(ii) aa’ = 0
4. Hukum dominansi:
(i) a ⋅ 0 = 0
(ii) a + 1 = 1
5. Hukum involusi:
(i) (a’)’ = a

6. Hukum penyerapan:
(i) a + ab = a
(ii) a(a + b) = a
7. Hukum komutatif:
(i) a + b = b + a
(ii) ab = ba
8. Hukum asosiatif:
(i) a + (b + c) = (a + b) + c
(ii) a (b c) = (a b) c
9. Hukum distributif:
(i) a + (b c) = (a + b) (a + c)
(ii) a (b + c) = a b + a c
10. Hukum De Morgan:
(i) (a + b)’ = a’b’
(ii) (ab)’ = a’ + b’
12. Hukum 0/1
(i) 0’ = 1
(ii) 1’ = 0


Contoh 7.3. Buktikan (i) a + a’b = a + b dan (ii) a(a’ + b) = ab
Penyelesaian:
(i) a + a’b = (a + ab) + a’b (Penyerapan)
= a + (ab + a’b) (Asosiatif)
= a + (a + a’)b (Distributif)
= a + 1 • b (Komplemen)
= a + b (Identitas)
(ii) adalah dual dari (i)

Fungsi Boolean
• Fungsi Boolean (disebut juga fungsi biner) adalah pemetaan dari B
n
ke B melalui
ekspresi Boolean, kita menuliskannya sebagai
92
f : B
n
→ B
yang dalam hal ini B
n
adalah himpunan yang beranggotakan pasangan terurut
ganda-n (ordered n-tuple) di dalam daerah asal B.
• Setiap ekspresi Boolean tidak lain merupakan fungsi Boolean.
• Misalkan sebuah fungsi Boolean adalah

f(x, y, z) = xyz + x’y + y’z
Fungsi f memetakan nilai-nilai pasangan terurut ganda-3
(x, y, z) ke himpunan {0, 1}.
Contohnya, (1, 0, 1) yang berarti x = 1, y = 0, dan z = 1
sehingga f(1, 0, 1) = 1 ⋅ 0 ⋅ 1 + 1’ ⋅ 0 + 0’⋅ 1 = 0 + 0 + 1 = 1 .

Contoh. Contoh-contoh fungsi Boolean yang lain:
1. f(x) = x
2. f(x, y) = x’y + xy’+ y’
3. f(x, y) = x’ y’
4. f(x, y) = (x + y)’
5. f(x, y, z) = xyz’

• Setiap peubah di dalam fungsi Boolean, termasuk dalam bentuk komplemennya,
disebut literal.

Contoh: Fungsi h(x, y, z) = xyz’ pada contoh di atas terdiri dari 3 buah literal,
yaitu x, y, dan z’.


Contoh. Diketahui fungsi Booelan f(x, y, z) = xy z’, nyatakan h dalam tabel kebenaran.
Penyelesaian:
93

x y z f(x, y, z) = xy z’
0
0
0
0
1
1
1
1
0
0
1
1
0
0
1
1
0
1
0
1
0
1
0
1
0
0
0
0
0
0
1
0

Komplemen Fungsi
1. Cara pertama: menggunakan hukum De Morgan
Hukum De Morgan untuk dua buah peubah, x
1
dan x
2
, adalah

Contoh. Misalkan f(x, y, z) = x(y’z’ + yz), maka
f ’(x, y, z) = (x(y’z’ + yz))’
= x’ + (y’z’ + yz)’
= x’ + (y’z’)’ (yz)’
= x’ + (y + z) (y’ + z’)


Aplikasi Aljabar Boolean


2. Rangkaian Digital Elektronik
94

Gerbang AND Gerbang OR Gerbang NOT (inverter)


Contoh. Nyatakan fungsi f(x, y, z) = xy + x’y ke dalam rangkaian logika.

Jawab: (a) Cara pertama

(b) Cara kedua

y
x
xy
y
x
x+ y x'
x
x'
x
y
xy
x
y
x'y
xy+x'y
x'
xy
x
y
x'y
xy+x'y
95
(b) Cara ketiga

Gerbang turunan

Gerbang NAND Gerbang XOR
Gerbang NOR Gerbang XNOR



x
y
(xy)'
x
y
(x+y)'
x
y
+ x y
x
y
+
(x y)'
x
y
(x+y)'
x
y
(x + y)'
ekivalen dengan
x
y
(x + y)'
x + y
x'
xy
x y
x'y
xy+x'y
96


Penyederhanaan Fungsi Boolean

Contoh. f(x, y) = x’y + xy’ + y’

disederhanakan menjadi

f(x, y) = x’ + y’

Penyederhanaan fungsi Boolean dapat dilakukan dengan 3 cara:
1. Secara aljabar
2. Menggunakan Peta Karnaugh
3. Menggunakan metode Quine Mc Cluskey (metode Tabulasi)

1. Penyederhanaan Secara Aljabar

Contoh:
1. f(x, y) = x + x’y
= (x + x’)(x + y)
= 1 ⋅ (x + y )
= x + y

2. f(x, y, z) = x’y’z + x’yz + xy’
x'
y'
x'y'
ekivalen dengan
x'
y'
x' + y'
ekivalen dengan
x
y
(xy)'
97
= x’z(y’ + y) + xy’
= x’z + xz’

3. f(x, y, z) = xy + x’z + yz = xy + x’z + yz(x + x’)
= xy + x’z + xyz + x’yz
= xy(1 + z) + x’z(1 + y) = xy + x’z

98
DAFTAR PUSTAKA

1. Introduction to Logic, Patrick Suppes, D. Van Nostrand Company, Inc., Canada,
1959.
2. Set Theory and Logic, Robert R. Stoll, Eurasia Publishing House Ltd, New Delhi,
1976.
3. Logika Informatika, Setiadji, Graha Ilmu, Yogyakarta, 2007.
4. Logika Matematika untuk Ilmu Komputer, F.Soesianto dan Djoni Dwijono,
Penerbit Andi, Yogyakarta, 2006.
5. Sumber lain dari internet.






Arti Logika Informatika Pada masa Aristoteles, logika merupakan satu bahasan dalam ilmu tertua di dunia, yaitu Filsafat. Baru pada masa-masa berikutnya logika masuk ke berbagai bidang ilmuilmu yang lebih muda seperti ilmu hitung/matematika, dan kini komputer/informatika. Dari arti katanya dalam bahasa Yunani, yaitu logike/logos yang berarti ilmu/pikiran, logika bisa diartikan sebagai perkataan sebagai manifestasi dari pikiran manusia. Atau, logika adalah ilmu yang mempelajari (jalan) pikiran yang diungkapkan dalam bahasa. Arti logika menurut bahasan logika modern, terdapat banyak versi. Dua versi dari definisi logika adalah: 1. Ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan prinsip-prinsip dari penalaran argumen yang valid. 2. Studi tentang kriteria-kriteria untuk mengevaluasi argumen-argumen dengan menentukan mana yang valid dan tidak valid, dan membedakan antara argumen yang baik dan tidak baik. Sedangkan logika informatika sendiri, dapat diartikan sebagai: 1. Aturan-aturan logika yang menggunakan kaidah-kaidah tertentu dalam informatika yang dipergunakan untuk membuktikan validitas suatu argumen. 2. Aturan-aturan logika yang menggunakan kaidah-kaidah tertentu dalam matematika yang dipergunakan untuk membuktikan validitas suatu argumen dalam bidang informatika. Argumen dan Silogisme Argumen Adalah usaha untuk mencari kebenaran dari suatu pernyataan berupa kesimpulan dengan berdasarkan pada kebenaran dari satu kumpulan pernyataan yang disebut premis-premis. Silogisme Logika berawal dari pertanyaan-pertanyaan yang paling mendasar di kehidupan ini. Silogisme Aristoteles, menurutnya, adalah suatu argumen yang terbentuk dari pernyataan-pernyataan dengan salah satu atau keempat bentuk berikut: 1. Semua A adalah B. (universal affirmative) 2. Tidak A adalah B. (universal negative) 3. Beberapa A adalah B. (particular affirmative) 4. Beberapa A adalah tidak B. (particular negative)

2

Huruf A dan B diatas menggantikan suatu kata benda, misalnya ‘manusia’, ‘cuaca’, dan sebagainya yang disebut terms of syllogism atau pokok dari silogisme. Suatu silogisme yang berbentuk sempurna (well-formed syllogism) adalah silogisme yang memiliki dua buah premis dan satu kesimpulan, dimana setiap premis memiliki satu pokok(term) bersama dengan kesimpulan dan satu lagi pokok bersama dengan premis lainnya. Contoh sebuah silogisme sempurna: Premis Premis Konklusi : Semua A adalah B. : Semua B adalah C. : Semua A adalah C.

(Pada premis pertama, A sama dengan A pada kesimpulan, dan ia juga memiliki B yang sama dengan B pada premis kedua.) Manfaat Logika Informatika Logika informatika digunakan dalam semua bidang pada ilmu informatika. Dari pembuatan konsep, penulisan software hingga cara kerja hardware. Contoh beberapa manfaat logika informatika: 1. Membuat program. Contoh, struktur IF-THEN...ELSE dalam bahasa Pascal IF kondisi THEN Statemen1 ELSE Statemen2; 2. Database. Contoh, mencari daftar mahasiswa Informatika UNSOED angkatan 2008 yang nilai IPK-nya 4. 3. Cara kerja komputer(mesin). Level logika pada komputer. Masing-masing level komputer menggunakan level logika yang berbeda(dari logika elektronik 0 dan 1 hingga logika manusia dalam bahasa pemrograman tingkat tinggi) tetapi semua bekerja berdasar prinsip-prinsip logika.

3

Diwakili dengan tanda + . Contoh: 1. 4 . Pencarian akan ’teknik+informatika’ di Google akan menghasilkan data yang terdiri dari teknik dan informatika. Search engine google menggunakan prinsip logika dalam pencariannya. Menggunakan operator AND.Gambaran level logika yang berlaku sesuai dengan bahasa pemrograman yang digunakan: Studi kasus: Search Engine Google.

Hasil pencarian akan menampilkan kata teknik saja atau informatika saja. 3.2. Menggunakan operator OR Pencarian dengan ketentuan ’teknik OR informatika’. yang tidak mengandung kata ’informatika’. 5 . Menggunakan operator NOT Pencarian dengan ketentuan teknik NOT informatika. dilambangkan dengan ’teknik – informatika’ akan menghasilkan pencarian akan kata ’teknik’ saja.

Contoh: • • • • • I watch TV till 12 o’clock last night. Contoh: • • • • • Pada kehidupan sehari-hari Pada ilmu hitung Pada astronomi Pada Informatika Dll Pada himpunan dapat di gambarkan sebagai berikut : S Bahasa adalah rangkaian simbol-simbol yang diucapkan atau ditulis menurut aturanaturan tertentu. Di dalam matematika tidak semua pernyataan yang bernilai benar atau salah saja yang digunakan dalam penalaran. Pernyataan disebut juga kalimat deklaratif yaitu kalimat yang bersifat menerangkan dan disebut juga proposisi. Semesta Pembicaraan Semesta pembicaraan adalah keseluruhan obyek yang dibicarakan. edangkan kalimat adalah kumpulan kata yang disusun menurut aturan tata bahasa dan mengandung arti. Bonjour! Je m’appelle Hesti.BAB II ALJABAR PROPOSISI Kata merupakan rangkaian huruf yang mengandung arti. ‫ا أ‬ Geef mij maar nasi goreng met een gebakken ei Wat sambal en wat kroepoek en een goed glas bier erbij. Guten tag! Mein Name ist Hesti. 6 .

. Validitas Argumen Argumen adalah suatu pernyataan tegas yang diberikan oleh sekumpulan proposisi P1. 7 . 5. Langkah-langkah penalaran sesuai dengan hukum-hukum logika. Semua manusia adalah fana (Benar). 2. 5. Dimanakah letak pulau bali?. P2. 4 adalah bilangan prima (Salah).. 2+2=4 (Benar). Kalimat Deklaratif Kalimat Deklaratif /Pernyataan/ Proposisi adalah kalimat yang bernilai benar atau salah tetapi tidak keduanya. Pandaikah dia?... Tidak semua kalimat berupa proposisi Contoh : 1. 5x12=90 (Salah)... 4. 3x-2y=5x+4. Andi lebih tinggi daripada Tina. 4. Secara umum di notasikan dengan Argumen disebut benar apabila telah memenuhi syarat: 1. 2.. 2.. 3. .• Konnichiwa.Pn yang disebut premis (hipotesa/asumsi) dan menghasilkan proposisi Q yang lain yang disebut konklusi (kesimpulan).. 3. Yogyakarta adalah kota pelajar (Benar). Contoh : 1. x+y=2. Konklusi/hasil kesimpulan dari argumen tersebut benar setelah melalui suatu proses observas/dapat dibuktikan.

– Menjadi miskin berarti menjadi tak bahagia. Kesimpulan yg diambil benar.Premis : • • Jika hari ini cerah saya bermain futsal. 2. – Dia miskin atau jika tidak maka dia kaya dan tak bahagia. – Jika dia tidak bahagia maka ia miskin. Kesimpulan: Hari ini cerah. Saya bermain futsal. – Jika dia tidak miskin. maka dia bahagia. – Jika dia tak dapat kaya maka bahagia. Langkah penalaran tepat. – Dia miskin tetapi bahagia. Yang diperhatikan dalam logika hanyalah bentuk kalimat/sintaks-nya saja. Saya bermain futsal. Argumen ini kuat karena: 1. Contoh Semantik-Sintaks – Dia tidak kaya dan tidak bahagia. – Seseorang tak pernah bahagia jika dia kaya. Isi/arti kalimat/semantik bukan merupakan bahasan. – Menjadi kaya berarti sama seperti menjadi bahagia. – Jika dia tak miskin dan tak bahagia maka ia kaya. Kesimpulan: Hari ini cerah. Semantik-Sintaks : • • Jika hari ini cerah saya bermain futsal. SOUND ARGUMENT POLA: Semua X adalah Y Beberapa Y adalah Z Maka beberapa X adalah Z 8 .

Beberapa mahasiswa yang mengambil login adalah angkatan 2007. Maka beberapa Toyota dibuat di Indonesia. Beberapa mobil Jepang dibuat di Indonesia. 9 . Maka beberapa mahasiswa angkatan 2008 adalah angkatan 2007. S:Mobil Jepang T S Dibuat di Indonesia UNSOUND ARGUMENT Pola : Semua X adalah Y Beberapa Y adalah Z Maka beberapa X adalah Z Contoh 1 : Semua Toyota adalah mobil. Beberapa mobil adalah Porche. Maka beberapa Toyota adalah Porche.Contoh Argumen kuat: • • • Semua Toyota adalah mobil Jepang. Mobil P T Contoh 2 : Semua angkatan 2008 mengambil kuliah login.

Saya tidur atau menonton konser Kangen Band. Jack pintar. Masukannya salah. Proposisi atomik adalah proposisi yang tidak dapat dipecah-pecah menjadi beberapa proposisi lagi. Kata-kata Penghubung Kalimat Dalam menggabungkan proposisi atomik menjadi sebuah proposisi majemuk. proposisi terdiri dari proposisi : 1. • • • DAN ATAU BUKAN 10 . Contoh : • • • • • • • • • • • • Hari hujan. demikian juga Jen. Proposisi majemuk adalah proposisi yang terdiri dari beberapa proposisi atomik. Mike pintar dan nilai-nilainya bagus. diperlukan sebuah kata penghubung/perangkai kalimat. Setiap orang Indonesia pintar. Jika hari hujan maka saya berangkat kuliah. Jack dan Jen sama-sama pintar. 2. Menonton konser Kangen Band. Ada bug. Ada bug dan masukannya salah. Ralph pintar atau rajin.Mhsw Ambil Login 2007 2008 Proposisi Atomik dan Majemuk Dilihat dari kompleksitasnya.

.... Contoh Penggunaan kata penghubung : Proposisi atomik Dan proposisi atomik N 1.. .... Hari ini mendung...jika dan hanya jika. Jika. SMBL A B ⌐A ⌐B AΛB AVB ⌐A Λ B A=>B A⌠B Tabel Kebenaran Tabel kebenaran adalah tabel nilai yang mendefinisikan nilai kebenaran keseluruhan kalimat berdasarkan nilai kebenaran masing-masing kalimat penyusunnya. .maka... Negasi : Negasi suatu pernyataan P adalah pernyataan baru yang bernilai salah jika P benar dan bernilai benar jika P bernilai salah.. 3. PROPOSISI Hari ini hujan Hari ini mendung Hari ini tidak hujan Hari ini tidak mendung Hari ini hujan dan mendung Hari ini hujan atau mendung Hari ini tidak hujan tetapi mendung Jika hari ini hujan maka akan mendung Hari ini hujan jika dan hanya jika hari mendung A: B: Hari ini hujan. 9. 5. 6.. .atau.. 8.dan.. notasi negasi P adalah ∼P 11 .. 2. 4.• • JIKA JIKA DAN HANYA JIKA SIMBOL ⌐ atau ‾ Λ V => ⌠ ARTI Tidak/Bukan/Not/Negasi Dan/And/Konjungsi Atau/Or/Disjungsi Implikasi Biimplikasi BENTUK Tidak. 7..

P T F F T ~P Misal : P adl “x lebih kecil dari 5” . Misal : “Yogyakarta ibukota propinsi DIY dan 112 habis dibagi 2”. yaitu p atau q. x lebih besar atau sama dengan 5 Konjungsi Konjungsi dari dua pernyataan P dan Q ditulis P∧Q (dibaca P and Q) adalah suatu pernyataan yang bernilai benar jika kedua komponennya. dan akan bernilai salah jika salah satu komponennya bernilai salah. bernilai benar. Tidak( lah benar ) x lebih kecil dari 5 2. dan ber nilai salah jika kedua komponennya bernilai salah Tabel kebenarannya adalah : P Q PVQ 12 . Q : Ali dan Budi bersaudara P merupakan konjungsi sedang Q bukan. negasinya adl : 1. P : Ali dan Budi duduk dikelas 2 2. dua kalimat yang dihubungkan tidak harus mempunyai hubungan. Tabel kebenarannya adalah : P T T F F Q T F T F PΛQ T F F F Perhatikan bahwa walaupun menggunakan istilah ”dan”. bernilai benar. x tidak lebih kecil dari 5 3. yaitu p dan q. dalam logika di pandang sebagai suatu pernyataan yang sah Selanjutnya pandang : 1. Disjungsi Disjungsi (inklusif) dari dua pernyataan P atau Q ditulis P∨Q (dibaca P atau Q) adalah suatu pernyataan yang bernilai benar jika salah satu kom ponennya.

Q merupakan sarat perlu untuk P 4. P disebut anteseden dan Q disebut konsekuen. Q=betul). Pernyataan implikasi disebut juga pernyataan bersyarat Suatu implikasi P → Q bernilai salah jika P benar dan Q salah. 13 . orang yang mengendarai mobil tidak pakai sabuk pengaman jelas menyalahi aturan (salah . sebab P=Salah. Orang yang naik gerobak dan memakai sabuk pengaman tidak menyalahi aturan (benar. Q jika P 2.sebab P = benar. P merupakan sarat cukup untuk Q Contoh : Q T F T F P => Q T F T T Dalam pernyataan P → Q. maka Anda harus mengenakan tanda pengenal • • • • Seseorang yang mengendarai mobil dan memakai sabuk pengaman tentunya tidak menyalahi aturan (benar. Q = salah). P hanya jika Q 3. Jika Anda masuk kawasan pabrik. Q = benar). Q=salah) Pernyataan lain daripada “ Jika P maka Q “ adalah : 1. sebab P=salah. dan Orang yang naik gerobak tidak memakai sabuk pengaman tak menyalahi aturan (benar. sebab P= benar.T T F F Implikasi T F T F T T T F Implikasi dua pernyataan P dan Q adalah P → Q yang dibaca “ Jika P maka Q ”. dan bernilai benar jika yang lain Tabel kebenarannya adalah : P T T F F Perhatikan kalimat dibawah ini : Jika Anda mengendarai mobil maka anda harus memakai sabuk pengaman.

dan R = saya mendapat hadiah TTS Kalimatnya menjadi : (Q ∨ R) P 2.1. Jika Jakarta bukan ibukota RI. karena anteseden salah (Jakarta bukan ibu kota RI) b. Pernyataan Bi-implikasi bernilai benar jika P dan Q keduanya bernilai sama.3x3) benar Bi-Implikasi BI-Implikasi dua pernyataan P dan Q adalah P↔Q yang dibaca “ P jika dan hanya jika Q ” (disingkat P bhb Q) . Tentukan nilai kebenaran pernyataan-pernyataan dibawah ini : a. Saya akan memberi anda uang apabila saya lulus ujian atau saya mendapat hadiah TTS Jawab a. P = saya berlibur ke Bali. Salah. karena anteseden (2+2 = 2x2) benar sedangkn konsekuennya (2 = 0 ) salah c. 2<3 merupakan syarat cukup untuk 2x2 < 3x3 Jawab : a. karena konsekuennya (2x2 . Tuliskan kalimat dibawah ini dengan simbol logika a. Benar. sedangkan jika nilai nilai P tidak sama dengan nilai Q maka nilai pernyataan tersebut salah. P = Saya memberi Anda uang. Q = Saya lulus ujian. Q = Saya lulus ujian Kalimatnya menjadi : P Kalimatnya menjadi : P Q Q b. 2+2 = 2x2 hanya bila 2 =0 c. Benar. maka 9 juga bukan bilangan prima b. Sarat perlu agar 273 habis dibagi 3 adalah 273 merupakan bilangan prima c. Tabel kebenarannya adalah : 14 . Q = 273 merupakan bilangan prima c. Saya akan berlibur ke Bali hanya jika saya lulus ujian b. P = 273 habis dibagi 3.

P T T F F Q T F T F P <=> Q T F F T Suatu pernyataan bentuk bi-implikasi dapat disajikan dengan : 1. Jika A dan B adalah kalimat-kalimat yang ekuivalen. P ekuivalen dengan Q Contoh X merupakan bilangan gasal bhb X habis dibagi 3 Jawab : Misal P = X merupakan bilangan gasal Q = X habis dibagi 3 Kalimatnya : P ↔ Q Ekuivalen Dua kalimat disebut ekuivalen(secara logika) jika dan hanya jika keduanya mempunyai nilai kebenaran yang sama untuk semua substitusi nilai kebenaran masing-masing kalimat penyusunnya. Buat tabel kebenaran untuk membuktikannya A ~A ~(~A) 15 . P merupakan sarat perlu dan cukup untuk Q 2. maka dituliskan A ≡B (atau A Jika A ≡B maka B ≡A juga. Contoh 1 : Tentukan apakah kalimat dibawah ini ekuivalen: • • • -(-A) dengan A -(A Λ B) dengan -A Λ-B A=>B dengan –A V B B).

T F Contoh 2 : F T T F Tentukan apakah kalimat dibawah ini ekuivalen: • • • -(-A) dengan A. terbukti –(-A) ≡A -(A ΛB) ≡-A Λ-B. terbukti –(-A) ≡A -(A ΛB) dengan -A Λ-B A=>B dengan –A V B A T T F F B T F T F A ΛB T F F F ~ (A ΛB) F T T T ~A F F T T ~B F T F T ~ A Λ~B F F F T Buat tabel kebenaran untuk membuktikannya Contoh 3 : Tentukan apakah kalimat dibawah ini ekuivalen: • • • -(-A) dengan A. Hukum Komutatif: 16 . (tidak terbukti) A=>B dengan –A V B A T T F F B T F T F A => B T F T T ~A F F T T ~A V B T F T T Buat tabel kebenaran untuk membuktikannya Terbukti A => B ≡ ~A V B Hukum-hukum Ekuivalensi Logika : 1.

Hukum Asosiatif: (p Λq) Λr ≡ p Λ(q Λr). Hukum Identitas: p ΛT ≡ p. pvp ≡p 9. p ΛF ≡F 6. P V q ≡ q V p. Negasi T dan F: ⌐T ≡ F. 7. p ^ (p v q) ≡ p 11. Hukum Distributif: p Λ(q V r) ≡ (p Λq) V (p Λr). p V F ≡p 5. Hukum Implikasi: p=>q ≡ ⌐p v q 17 . (p V q) V r ≡ p V (q V r) 3. p V (q Λr ) ≡ (p V q) Λ(p V r) 4. P ^ ⌐p ≡F. ⌐F ≡ T 12. Hukum Idempoten: p^p ≡p. Hukum Negasi Ganda: ⌐(⌐)p ≡p 8. Hukum De Morgan: ⌐(p^q) ≡⌐p v ⌐q ⌐(pvq) ≡⌐p ^ ⌐q 10. 2.• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • p Λq ≡ q Λp. Hukum Ikatan: p V T ≡ T. Hukum Absorbsi: p v (p^q) ≡ p. Hukum Negasi: p v ⌐p ≡T.

Sama Dengan P (pΛq) v (p^⌐q) ≡p. p q ≡ (p=>q) ^(q=>p) 15. (pvq) ^ (⌐pvq) ≡q. 16. Negasi P. Penyederhanaan Contoh : Sederhanakan bentuk • ⌐(⌐A ^ B)^(AvB) ≡ (⌐(⌐A)v ⌐B) ^ (AvB) ≡ (Av ⌐B) ^ (AvB) ≡ Av( ⌐B ^B) ≡ AvF ≡A • • -(Av-B)v(-A^-B) ≡ -A -(Av-B)v(-A^-B) ≡ (-A^-(-B))v(-A^-B) ≡ (-A^B)v(-A^-B) ≡ -A^(Bv-B) ≡ -A^T ≡ -A • (pvF)^(pv-p) ≡ p^(pv-p) ≡ p^T ≡p • -p =>-(p=>-q) ≡ --pv-(p=>-q) ≡ --pv-(-pv-q) ≡ --pv(--p^--q) ≡ pv(p^q)≡p 18 . Hukum Kontraposisi: • • • • • • • p=>q ≡⌐q => ⌐p. Negasi Q.13. Sama Dengan Q (pΛq)v(⌐p^q) ≡q. Hukum Biimplikasi: ⌐T ≡F. 14. (pvq) ^ (pv⌐q) ≡p.

maka disebut formula campuran (contingent). tidak peduli bagaimanapun nilai kebenaran masing-masing kalimat penyusunnya. sebaliknya kontradiksi akan selalu bernilai False. Tunjukkan bahwa pV(¬p) adalah tautologi! P T T F F ¬P P V (¬P) T T T T T F T F 2. Kalau suatu kalimat tautologi diturunkan lewat hukum-hukum yang ada maka pada akhirnya akan menghasilkan True. Tunjukkan bahwa (pVq) V [(¬p) ∧ (¬q)] adalah tautologi! p T T F F q ¬p ¬q ¬p ∧ ¬q T F T F T F T F F T F T F F F T (pVq) V [(¬p) ∧ (¬q)] T T T T 3.Tautologi. Tunjukkan bahwa (pVq) ∧ [(¬p) ∧ (¬q)] adalah kontradiksi! p T T F F q ¬p ¬q ¬p ∧ ¬q T F T F T F T F F T F T F F F T (pVq) ∧ [(¬p) ∧ (¬q)] F F F F 19 . Contoh : 1. suatu tautologi selalu bernilai True pada semua barisnya dan kontradiksi selalu bernilai False pada semua baris. sebaliknya kontradiksi adalah suatu bentuk kalimat yang selalu bernilai salah (False). Dalam tabel kebenaran. Jika pada semua nilai kebenaran menghasilkan nilai F dan T. Kontradiksi dan Contingent Tautologi adalah suatu bentuk kalimat yang selalu bernilai benar (True) tidak peduli bagaimanapun nilai kebenaran masing-masing kalimat penyusunnya.

4. Konvers : q => p ≈ ¬q v p Kalimat : • • Jika Rafif membawa payung maka hari ini mendung (q => p) Rafif tidak membawa payung atau hari ini mendung (¬q v p) 2. DAN KONTRAPOSISI “Jika hari ini mendung maka Rafif membawa payung” contoh konvers. INVERS. Tunjukkan bahwa [(p ∧ q) => r] => p adalah contingent! p T T T T F F F F q r T T F F T T F F T F T F T F T F p∧q T T F F F F F F (p ∧ q) => r T T F F T T T T [(p ∧ q) => r] => p T T T T F F F F KONVERS. Invers : ¬p => ¬q ≈ p ∧¬q Kalimat : • • Jika Rafif tidak membawa payung maka hari ini tidak mendung (¬p => ¬q) Rafif membawa payung dan hari ini tidak mendung (p ∧¬q) 4. Kontraposisi : ¬q => ¬p ≈ q v ¬p Kalimat : • • Jika hari ini tidak mendung maka Rafif tidak membawa payung (¬q =>¬p) hari ini mendung atau Rafif tidak membawa payung dan (q ∧ ¬p) 20 . dan kontraposisi dari implikasi di atas : Misal p : hari ini mendung q : Rafif membawa payung maka kalimatnya menjadi p => q atau jika menggunakan operator dan maka p => q ekuivalen(sebanding/≈) dengan ¬p v q. Sehingga : 1. invers.

Misal p : Saya suka kalkulus q : Saya lulus ujian kalkulus Maka argumen p _ q. Jadi suatu argumen dikatakan valid jika dan hanya jika proposisi P1∧P2∧.. Tentukan premis dan konklusi argument 2.Inferensi Logika Nilai kebenaran suatu argumen ditentukan sebagai berikut : “ Suatu argumen P1.. p |... Dengan kata lain.∧Pn) |. suatu argumen dikatakan valid apabila untuk sembarang pernyataan yang disubtitusikan ke dalam premis. Carilah baris kritis yatitu baris diman semua premis bernilai benar. Contoh : 1. 21 .P2. jika semua premis benar maka konklusinya juga benar. p _ q dapat ditulis P1 : Jika saya suka kalkulus..q (valid) 2.………….Pn _ Q dikatakan benar (valid) jika Q bernilai benar untuk semua premis yang benar dan argumen dalam keadaan selain itu dikatakan salah (invalid/fallacy)”. Sebaliknya jika semua premis benar tetapi konklusinya ada yang salah maka argumen tersebut dikatakan invalid (fallacy).Q adalah sebuah Tautologi. 3. Buat tabel yang menunjukkan nilai kebenaran untuk semua premis dan konklusi. maka saya akan lulus ujian kalkulus P2 : Saya lulus ujian kalkulus ∴ Saya lulus ujian kalkulus (valid) Untuk mengetahui suatu argumen apakah valid atau tidak maka dapat dilakukan langkahlangkah sebagai berikut : 1.... Premis P1 : Jika Office dan Delphi diperlukan maka semua orang akan belajar computer P2 : Office dan Delphi diperlukan Konklusi Q : Semua orang akan belajar computer Jika ditulis dalam bentuk notasi logika Misal p : Office dan Delphi diperlukan q : Semua orang belajar computer Maka argumen diatas dapat ditulis : p => q.

jika nilai kesimpulan semuanya benar maka argumen tersebut valid. MODUS PONEN Modus ponen atau penalaran langsung adalh salah satu metode inferensi dimana jika diketahui implikasi ” Bila p maka q ” yang diasumsikan bernilai benar dan antasenden (p) benar. Modus Tollens : p => q. Sistem Pembuktian / Penarikan Kesimpulan A. hanya saja premis kedua dan kesimpulan merupakan kontraposisi premis pertama modus ponen. ¬q |. MODUS TOLLENS Bentuk modus tollens mirip dengan modus ponen. maka bilangan tersebut habis dibagi 10 Suatu bilangan tidak habis dibagi 10 ____________________________________ ∴ Digit terakhir bilangan tersebut bukan 0 22 . Hal ini mengingatkan bahwa suatu implikasi selalu ekuivalen dengan kontraposisinya.¬p Atau dapat juga ditulis p => q ¬q _______ ∴ ¬p Contoh : Jika digit terakhir suatu bilangan adalah 0. Modus Ponen : p => q .4. Supaya implikasi p_q bernilai benar. p |. maka bilangan tersebut habis dibagi 10 Digit terakhir suatu bilangan adalah 0 ____________________________________ ∴ Bilangan tersebut habis dibagi 10 B. maka q juga harus bernilai benar. Jika diantara baris kritis tersebut ada baris dengan nilai konklusi salah maka argumen tersebut tidak valid.q atau dapat juga ditulis p => q p ______ ∴q Contoh : Jika digit terakhir suatu bilangan adalah 0. Dalam baris kritis tersebut.

Kalimat tersebut tetap bernilai benar meskipun kalimat ”Bebek adalah binatang menyusui”. SILOGISME DISJUNGTIF Prinsip dasar Silogisme Disjungtif (Disjunctive syllogism) adalah kenyataan bahwa apabila kita dihadapkan pada satu diantara dua pilihan yang ditawarkan (A atau B). Jika beberapa kalimat dihubungkan dengan operator ”∧”. maka kalimat tersebut dapat diambil salah satunya secara khusus (penyempitan kalimat). 23 .q Atau dapat ditulis p∧q ____ ∴p Contoh : atau p∧q ____ ∴q Langit berwarna biru dan bulan berbentuk bulat __________________________________________________ ∴ Langit berwarna biru atau ∴ Bulan berbentuk bulat E. PENAMBAHAN DISJUNGTIF (ADDITION) Inferensi penambahan disjungtif didasarkan atas fakta bahwa suatu kalimat dapat digeneralisasikan dengan penghubung ”v”. Misalnya ”Langit berwarna biru atau bebek adalah binatang menyusui”. Simplification : (p∧q) |. Kalimat tersebut tetap akan bernilai benar jika ditambahkan kalimat lain dengan penghubung ”v”.C. Addition : p _(pÚq) atau q _ (pÚq) Atau dapat ditulis p ____ ∴ pvq Contoh : atau q ____ ∴ pv q Simon adalah siswa SMU ______________________________ ∴Simon adalah siswa SMU atau SMP D. Alasannya adalah karena penghubung ”v” bernilai benar jika salah satu komponennya bernilai benar. PENYEDERHAAN KONJUNGTIF (SIMPLIFICATION) Inferensi ini merupakan kebalikan dari inferensi penambahan disjungtif. Misalnya saya mengatakan ”Langit berwarna biru” (bernilai benar). merupakan kalimat yang bernilai salah.p atau (p∧q) |.

maka satu-satunua pilihan adalah memilih B. Begitu juga sebaliknya.p=>r Atau dapat ditulis p=>q q=>r _____ ∴ p=>r Contoh : Jika hari hujan maka tanahnya menjadi berlumpur Jika tanahnya berlumpur maka sepatu saya akan kotor ____________________________________________ ∴ Jika hari hujan maka sepatu saya akan kotor. ¬q |.Sedangkan kita tidak memilih/tidak menyukai A. G. ¬p |.p Atau dapat ditulis pvq ¬p ____ ∴q Contoh : atau pvq ¬q ____ ∴p Saya pergi ke mars atau ke bulan Saya tidak pergi ke mars __________________________ ∴ Saya pergi ke bulan F. maka implikasi p=>r bernilai benar pula. Silogisme Disjungtif : pv q.q dan pvq. Jika implikasi p=>q dan q=>r keduanya bernilai benar. Transitivity : p=>q . Konjungsi p q ____ ∴ p∧q H. maka gabungan kedua kalimat tersebut dengan menggunakan penghubung ”∧” juga bernilai benar. KONJUNGSI Jika ada dua kalimat yang masing-masing benar. q=>r |. SILOGISME HIPOTESIS (TRANSITIVITY) Prinsip silogisme hipotesis adalah sifat transitif pada implikasi. DILEMA 24 .

Berdasarkan hal itu maka suatu kesimpulan dapat diambil. Dilema : pvq p=>r q=>r _____ ∴r 25 .Kadang-kadang. masingmasing kalimat dapat mengimplikasikan sesuatu yang sama. dalam kalimat yang dihubungkan dengan penghubung ”v”.

maka angka 5. “Aji” adalah nama orang. variabel. Sedangkan konstanta adalah simbol yang menunjukan suatu anggota tertentu (yang sudah spesifik) dalam semesta pembicaraan. Jika hendak berbicara tentang anggota sembarang dari semestanya. “Ais”. 4 + x = 7 (d). Jika semestanya himpunan bilangan-bilangan. kuantor dan ingkaran kalimat sebagai konsep penalaran dalam logika informatika. Simbol seperti itu disebut Konstanta. Contoh 3 : Pehatikan beberapa pernyataan berikut: (a). Jadi variabel adalah suatu simbol atau tanda yang digunakan untuk menunjuk pada anggota sembarang dari semesta pembicaranya. Jadi konstanta adalah suatu simbol atau tanda yang diucapkan atau ditulis untuk menunjukkan tentang anggota tertentu dari semestanya. dimana semestanya adalah himpunan orang-orang. Contoh 2 : Misalnya semesta pembicaranya terdiri atas mereka yang kuliah pada sebuah universitas (perguruan tinggi) maka kata “mahasiswa” menunjuk pada anggota sembarang dari semesta pembicaranya.BAB III KUANTIFIKASI Dalam Bab ini akan mempelajari konsep dasar konstanta. Manusia makan nasi (b). diperlukan suatu simbol atau tanda yaitu suatu nama dari anggota tersebut. p < 5 26 . maka diperlukan suatu tanda-tanda lain dari konstanta. angka 211 adalah suatu simbol untuk bilangan-bilangan yang disajikan. kalimat terbuka. Untuk dapat berbicara tentang anggota tertentu dari semestanya. Tanda demikian yang dimaksud adalah variabel (atau perubah). Variabel dan Konstanta Variabel adalah simbol yang menunjukan suatu anggota yang belum spesifik dalam semesta pembicaraan. Contoh 1 : Misalnya ada pernyataan “Niken”. Manusia memakai sepatu (c).

akan bernilai benar.2. jika sebaliknya bernilai salah. maka pernyataannya menjadi “Toni makan nasi”. Bernilai benar jika keadaan sesungguhnya sesuai dengan realita yang ada. Pernyataan ini disebut pernyataan terbuka. Demikian juga untuk pernyataan (b) akan menjadi pernyataan “Tony memakai sepatu” pernyataan ini akan menjadi jelas nilainya.. “q” .. Demikian juga untuk pernyataan (d) jika p diganti “0 atau 1. tetapi jika semestanya himpunan bilangan asli. variabel adalah tanda-tanda. Huruf ”p”. atau 2. “3”.dan seterusnya disini hanyalah sebuah simbol/notasi dalam pengkajian suatu sifat. Misalnya: “p (x)” ini merupakan kalimat terbuka. “p” pada pernyataan diatas disebut variabel. Sedangkan pengganti katanya yaitu “Tony”. Disini “p(x)” . Kalimat terbuka Pernyataan-pernyataan dalam contoh 3 di atas disebut kalimat (pernyataan) terbuka. Jika semesta pembicaranya bilangan-bilangan maka variabel yang dimaksudkan adalah variabel numerik. 27 . “x” . tidak bernilai benar atau salah. Pada pernyataan (c) jika x diganti 3. Jadi pernyataan terbuka merupakan pernyataan yang belum mempunyai nilai kebenaran. maka pernyataan akan bernilai salah. Pernyataan terbuka adalah suatu pernyataan yang memuat variabel. tetapi jika x diganti 4 akan bernilai salah. maka pernyataan yang terjadi dikatakan sebagai pernyataan tertutup. Pernyataan ini jelas bernilai benar saja atau salah saja. belum bernilai benar atau salah. hanya untuk mempermudah dalam pembicaraan selanjutnya. “4”.1.3. dan “0. yang biasanya dipilih huruf kecil dari abjad “x”. Misalkan pernyataan terbuka ini dengan simbol/notasi “p(x)”. atau 4” akan bernilai benar untuk semesta pembicaraan himpunan bilangan cacah. Jika variabel dalam kalimat terbuka sudah diganti dengan konstanta yang sesuai. atau 3. tergantung realitasnya. Kata-kata “manusia”.. dan jika variabel tersebut diganti konstanta yang sesuai dengan semestanya maka pernyataanya akan bernilai benar saja atau salah saja. Dalam hal ini. yaitu benar atau salah tergantung realitasnya. . Pernyataan seperti ini biasanya disebut pernyataan faktual. Jika pernyataan (a) manusia diganti Tony. Variabel yang terdapat dalam rangkaian tanda “p(x)” disebut variabel bebas.4” disebut konstanta.Suatu pernyataan mempunyai nilai benar atau salah tergantung pada kesesuaian kalimat tersebut dengan keadaan sesungguhnya. “y” dan seterusnya. dan diucapkan sebagai “obyek x mempunyai sifat p”.

Yang dimaksud kuantor disini adalah kuantor universal atau kuantor eksistensial di depan pernyataan “p(x)”. maka jika perlu semua variabel bebas di dalamnya diganti dengan suatu konstanta.Agar pernyataan terbuka “p(x)” ini mempunyai nilai salah atau benar (yaitu menjadi pernyataan deklaratif). jika x laki-laki maka x harus wajib militer Terdapat x sehingga x laki-laki dan x tidak wajib militer. maka kalimat tersebut dapat ditulis : 1. Kuantor universal (∀) 2. Ada cara yang lazim digunakan untuk merubah pernyataan terbuka ini menjadi pernyataan deklaratif. yaitu dengan membubuhkan suatu kuantor. Kuantor Cara lain untuk mendapat kalimat deklaratif dari suatu pernyataan adalah dengan menggunakan kuantor. Ditulis sebagai berikut : Kuantor pernyataan Jika p adalah menunjukkan sifat “laki-laki” dan q menunjukkan sifat “wajib militer”. Kuantor eksistensial (∃) Contoh : • • • • Setiap laki-laki harus wajib militer Ada beberapa laki-laki yang tidak wajib militer Untuk setiap x. (∃x)p(x) ∧ q(x) Secara umum : Kuantor universal selalu diikuti dengan bentuk Implikasi dan Kuantor eksistensial selalu diikuti dng bentuk konjungsi Hubungan Kuantor ∀ dan ∃ Pandang contoh sebagai berikut : Pernyataan p : “Setiap peserta kuliah Logika informatika mendapat nilai A” Ingkarannya : 28 . (∀x)p(x)→q(x) dan 2. yaitu menentukan kuantifikasi obyeknya Ada dua jenis kuantor yaitu : 1.

y) .y) 2.y). (∀x) (∀y) p(x.y) . Kombinasi kuantor yang mungkin untuk predikat p(x.y) (∃x)(∃y)p(x.y) .~p adalah : “Tidak setiap peserta kuliah logika informatika mendapat nilai A” atau boleh dikatakan : “ Ada peserta kuliah logika informatika mendapat nilai tidak A (mis B)” Jika dua pernyataan tersebut ditulis dengan kuantor dan semesta pembicaraannya adalah semua peserta kuliah logika informatika. maka kalimat pertama : p : (∀x)A(x) ( A adalah sifat mendapat nilai A) dan yang kedua (neg) : ~p : (∃x)A(x) Negasi kuantor Hubungan antara kuantor universal dengan kuantor eksistensial E1 : ( ∀ x ) p ( x ) ≡ ( ∃ x ) p ( x ) E2 : ( ∃ x ) p ( x ) ≡ ( ∀ x ) p ( x ) E3 : (∀x)p(x)→q(x) ≡ (∃x)p(x) ∧ q(x) E4 : (∃x)p(x) ∧ q(x) ≡ (∀x)p(x)→q(x) Jika suatu predikat menyangkut lebih dari satu obyek.y) → (∃y) (∀x) p(x. (∃y) (∀x) p(x. (∃x)(∀y)p(x.y) → (∃y) (∃x) p(x.y) (∀x)(∀y)p(x. (∃x)(∃y)p(x. (∃x) (∃y) p(x. Jika p(x) adalah manusia (=x) tidak kekal.y) Ingkaran kalimat Negasi dari “Semua manusia tidak kekal” adalah “tidak benar bahwa semua manusia tidak kekal ” atau “Beberapa manusia tidak kekal”. (∀x)(∃y)p(x.y) ↔ (∃y) (∃x) p(x. (∀x) (∀y) p(x.y) Didapat rumusan sbb : 1.y) ↔ (∀y) (∀x) p(x.y) (∀x)(∃y)p(x.y) 5.y) (∃x)(∀y)p(x. maka “Semua manusia adalah tidak kekal” atau ∀x p( x ) bernilai benar 29 . maka perlu dibicarakan suatu pernyataan dengan lebih dari satu kuantor. misalnya p(x.y) 4.y) 3.y) → (∀x) (∃y) p(x. . .y) adalah : (∀x)(∀y)p(x. (∀x) (∃y) p(x.

Jadi ingkaran dari kuantor universal (∀x) p(x) dinyatakan dengan simbol logika : [∀x p(x)] ≡ ∃x : p(x) atau (∀x) p(x) ≡ (∀x) p(x) ≡ (∃x) p(x) Jadi negasi dari suatu pernyataan yang memuat kuantor universal adalah ekivalen dengan pernyataan yang memuat kuantifikasi eksistensial (fungsi pernyataan yang dinegasikan) dan sebaliknya.y) (∃x)( ∀y) P(x.y) ¬[(∀x)( ∃y) P(x. x tidak terhubing dengan kuantor universal.y) Ingkaran kalimat berkuantor ganda dilakukan dengan cara yang sama seperti ingkaran pada kalimat berkuantor tunggal.y) Contoh 2 : Tentukan negasi dari logika predikat berikut ini : 30 . hubungan antara penempatan kuantor ganda adalah sebagai berikut : (∀x)( ∀y) P(x.y) ≡ (∀y)( ∃x) P(x.dan “beberapa manusia tidak kekal” atau ∃x p( x ) bernilai salah. atau x mati”.y) ≡ (∃y)( ∃x) P(x. x hidup atau x mati” Akan tetapi jika ditulisnya (∀x)(H(x)) v M(x) maka dibaca “Untuk semua x hidup. Ingkaran dari kuantor eksistensial (∃x) p(x) dinyatakan dengan (∃x) p ( x) dinyatakan dengan simbol logika: [∃x p(x)] ≡ ∀x : p(x) atau (∃x) p ( x) = (∃x) p ( x) = (∀x) p ( x) Jadi negasi dari suatu pernyataan yang memuat kuantor eksistensial adalah ekivalen dengan pernyataan yang memuat kuantifikasi universal (fungsi pernyataan yang dinegasikan) Contoh 1 : H(x) : x hidup M(x) : x mati (∀x)(H(x) v M(x)) dibaca “Untuk semua x. perhatikan penulisan serta peletakan tanda kurungnya.y) (∃x)( ∃y) P(x.y) ≡ (∀y)( ∀x) P(x. Pada “x mati”. yang terhubung hanya”x hidup”. Sekali lagi.y)] ≡ (∃x)( ∀y) ¬P(x. Secara umum.y)] ≡ (∀x)( ∃y) ¬P(x. ¬[(∃x)( ∀y) P(x.

Jadikan potongan pernyataan ”x kenal y”.y). Jadikan pernyataan “ada x. K(x. sehingga menjadi (∃x)(∀y) K(x. maka akan menjadi K(x. Maka negasinya : ¬[(∀x)( ∃y) x=2y] ≡ (∃x)( ∀y) x≠2y 2. Mengubah pernyataan ke dalam logika predikat yang memiliki kuantor ganda Misal : “Ada seseorang yang mengenal setiap orang” Langkah-langkahnya : 1. Maka negasinya ¬[(∃x)( ∀y) x menjual y] ≡ (∀x)( ∃y) x tidak menjual y Dibaca “Semua toko buah tidak menjual paling sedikit satu jenis buah”. (∀x)( ∃ y) x=2y dengan domainnya adalah bilangan bulat (∀x)( ∃y) x=2y dibaca “Untuk semua bilangan bulat x. yang x kenal semua y”. terdapat bilangan bulat y yang memenuhi x=2y.y) 3.y) 31 .1.y) : x kenal y 2. Ada toko buah yang menjual segala jenis buah Dapat ditulis (∃x)( ∀y) x menjual y. Jadikan potongan pernyataan ”x kenal semua y”. sehingga menjadi (∀y) K(x.

ada juga yang tidak masuk dalam kategori himpunan. atau Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika (HIMATIF). R = { a. Himpunan biasanya dilambangkan dengan huruf besar.. b. sedangkan objek di dalam himpunan disebut yang biasa dissebut elemen. c}. c} } dan K = {{}} 32 . 4}. Kelompok-kelompok tersebut dalam matematika ada yang disebut himpunan. Misalnya kelompok tumbuhan berdaun lebar. 3. {a. b. Dilambangkan dengan huruf kecil. unsur. 2. dan tiap mahasiswa berbeda satu sama lain. Contoh 1: HIMATIF adalah sebuah himpunan. di dalamnya berisi anggota berupa mahasiswa. Misalkan: maka 3∈A A = {1. Definisi himpunan dalam matematika adalah sebagai berikut: Definisi Himpunan Himpunan (set) adalah kumpulan objek-objek yang berbeda dan terdefinisi dengan baik. kelompok anak kecil. Keanggotaan Suatu objek disebut anggota dalam suatu himpunan apabila memenuhi kriteria dalam himpunan tersebut. dan dinotasikan sebagai berikut: x ∈ A : x merupakan anggota himpunan A. x ∉ A : x bukan merupakan anggota himpunan A. {a. Contoh 2. atau anggota.BAB IV HIMPUNAN Pada kehidupan sehari-hari seringkali untuk memperrmudah menyelesaikan suatu masalah kita mengelompokkan suatu objek kedalam kategori-kategori tertentu.

c} } . c}. Enumerasi Enumerasi mendaftarkan semua anggota himpunan satu persatu. {a.Himpunan lima bilangan genap positif pertama: B = {4.{a. b}.C = {a. 100 } . P2 = { {a. c} ∈ R c∉R {} ∈ K {} ∉ R Contoh 3. 10}. Contoh : .. {a}. 10. Simbol-simbol Baku 33 . 8. 2.Himpunan 100 buah bilangan asli pertama: {1. -1. {a. . a. 1. 6.Himpunan bilangan bulat ditulis sebagai {….K = { {} } . maka a ∈ P1 a ∉ P2 P1 ∈ P2 P1 ∉ P3 P2 ∈ P3 Cara Penyajian Himpunan Cara penyajian himpunan ada beberapa macam yaitu: 1. paku} .C = {kucing. b. b. 4}.Himpunan empat bilangan asli pertama: A = {1. . 2.. 2. 0. …}.R = { a. dan P3 = {{{a. b} }. -2. b. Amir. {{a}} } . b}}}. 2. Bila P1 = {a. 3.. .

Misalkan U = {1. -1. 2. 3. 3. x < 5 } yang ekivalen dengan A = {1. 5} dan A adalah himpunan bagian dari U. 2. 2. 2... 2. } Q = himpunan bilangan rasional R = himpunan bilangan riil C = himpunan bilangan kompleks Himpunan yang universal: semesta. Notasi Pembentuk Himpunan Notasi: { x  syarat yang harus dipenuhi oleh x } Contoh 4.. 4.... 5} dan B = {2. Contoh: Misalkan U = {1. . 8}. dengan A = {1. . 7. 3. 8}. 2. Diagram Venn: U 1 3 A 2 5 B 8 6 4 7 34 . -2. (i) A adalah himpunan bilangan bulat positif kecil dari 5 A = { x | x bilangan bulat positif lebih kecil dari 5} atau A = { x | x ∈ P. 5}. 3. 6. 3. 4} (ii) M = { x | x adalah mahasiswa yang mengambil kuliah IF2151} 4. 2.. 5. 1.. .P = himpunan bilangan bulat positif = { 1. …. } Z = himpunan bilangan bulat = { . disimbolkan dengan U. } N = himpunan bilangan alami (natural) = { 1. 3. 0. Diagram Venn Contoh 5. A = {1..

{{ }}} dapat juga ditulis sebagai {∅. Himpunan Bagian (Subset) Definisi Himpunan Bagian Himpunan A dikatakan himpunan bagian dari himpunan B jika dan hanya jika setiap elemen A merupakan elemen dari B. n(A) = 0 • • • himpunan {{ }} dapat juga ditulis sebagai {∅} himpunan {{ }. 7. maka A = 3 Himpunan kosong (null set) Himpunan dengan kardinal = 0 disebut himpunan kosong (null set). 10. (i) E = { x | x < x }. 5. atau B = {2. {∅}} {∅} bukan himpunan kosong karena ia memuat satu elemen yaitu himpunan kosong. 3. {{a}} }. {a}. B dikatakan superset dari A. 13. a. maka n(P) = 0 (iii) A = {x | x adalah akar persamaan kuadrat x2 + 1 = 0 }. maka T = 5 (iii) A = {a. Notasi: n(A) atau A  Contoh 6. (i) B = { x | x merupakan bilangan prima lebih kecil dari 20 }. Notasi: A ⊆ B 35 . 11. maka n(E) = 0 (ii) P = { orang Indonesia yang pernah ke bulan }. Notasi dari himpunan kosong adalah ∅ atau {} Contoh 7. • • Dalam hal ini. Amir. 17. paku}.Kardinalitas Jumlah elemen di dalam A disebut kardinal dari himpunan A. 19} maka B = 8 (ii) T = {kucing.

2. 3} 36 . A adalah himpunan bagian sebenarnya (proper subset) dari B. 3} adalah proper subset dari {1. Contoh: {1} dan {2. • A ⊆ B berbeda dengan A ⊂ B (i) A ⊂ B : A adalah himpunan bagian dari B tetapi A ≠ B. 3. 2. 3} ⊆ {1. x ≥. 2. 2. y ≥ 0 } dan B = { (x. 3} dan ∅ adalah improper subset dari A. (c) Jika A ⊆ B dan B ⊆ C. (b) Himpunan kosong merupakan himpunan bagian dari A ( ∅ ⊆ A). 4. x ≥ 0 dan y ≥ 0 }. maka A ⊆ C • ∅ ⊆ A dan A ⊆ A. 3} ⊆ {1. y) | x + y < 4. maka ∅ dan A disebut himpunan bagian tak sebenarnya (improper subset) dari himpunan A. 2.Diagram Venn: U B A Contoh 8. 5} (ii) {1. A ⊆ A). maka {1. maka B ⊆ A. 3}. 3} (iii) N ⊆ Z ⊆ R ⊆ C (iv) Jika A = { (x. (i) { 1. 2. TEOREMA 1. Untuk sembarang himpunan A berlaku hal-hal sebagai berikut: (a) A adalah himpunan bagian dari A itu sendiri (yaitu. 2. y) | 2x + y < 4. Contoh: A = {1.

4} atau C = {1. 1 } dan B = { x | x (x – 1) = 0 }. 5}. C = {1. maka A ≠ B Untuk tiga buah himpunan. dan C = C (b) jika A = B. maka B = A (c) jika A = B dan B = C. Jika tidak demikian. B = B. 5.(ii) A ⊆ B : digunakan untuk menyatakan bahwa A adalah himpunan bagian (subset) dari B yang memungkinkan A = B. maka A = B (ii) Jika A = { 3. Notasi : A = B ↔ A ⊆ B dan B ⊆ A Contoh 9. maka A = B (iii) Jika A = { 3. 2. 3. 5. 8. • A = B jika A adalah himpunan bagian dari B dan B adalah himpunan bagian dari A. C tidak boleh memuat 4 dan 5 sekaligus karena C adalah proper subset dari B. Jawaban: C harus mengandung semua elemen A = {1. 2. A. yaitu A adalah proper subset dari C dan C adalah proper subset dari B. Tentukan semua kemungkinan himpunan C sedemikian sehingga A ⊂ C dan C ⊂ B. 8. 8}. 2. maka A = C 37 . 2. dan C berlaku aksioma berikut: (a) A = A. •Latihan Misalkan A = {1. 8 }. Dengan demikian. Himpunan yang Sama Definisi Himpunan yang Sama Suatu himpunan A dikatakan sama dengan himpunan B (A = B) jika dan hanya jika setiap elemen A merupakan elemen B dan sebaliknya setiap elemen B merupakan elemen A. 3. 3} dan sekurang-kurangnya satu elemen dari B. B. 3} dan B = {1. 5 } dan B = {3. 3. 4. 3. 2. maka A ≠ B. 5}. 5 } dan B = {5. (i) Jika A = { 0.

b.. Misalkan A = { 1. }. Himpunan Kuasa 38 .Himpunan yang Ekivalen Definisi Himpunan yang Ekivalen Himpunan A dikatakan ekivalen dengan himpunan B jika dan hanya jika kardinal dari kedua himpunan tersebut sama. 3. d }. x < 8 } dan B = { 10. Notasi : A // B Diagram Venn: U A B Contoh 11. maka A // B. Notasi : A ~ B ↔ A = B Contoh 10.. c. Jika A = { x | x ∈ P. 30. 7 } dan B = { a. . 20. 5. maka A ~ B sebab A = B = 4 Himpunan Saling Lepas Definisi Himpunan Saling Lepas Dua himpunan A dan B dikatakan saling lepas (disjoint) jika keduanya tidak memiliki elemen yang sama.

8. {∅}}. Operasi Terhadap Himpunan 1. Jika A = { 1.Definisi Himpunan Kuasa Himpunan kuasa (power set) dari himpunan A adalah suatu himpunan yang elemennya merupakan semua himpunan bagian dari A. 10} (ii) Jika A = { 3. 18}. (i) Jika A = {2. dan himpunan kuasa dari himpunan {∅} adalah P({∅}) = {∅. Notasi : P(A) atau 2A Jika A = m. Contoh 12. 4. 9 } dan B = { -2. maka P(A) = { ∅. 10} dan B = {4. Gabungan (union) 39 . Himpunan kuasa dari himpunan kosong adalah P(∅) = {∅}. 5. maka A ∩ B = ∅. { 1 }. termasuk himpunan kosong dan himpunan A sendiri. { 1. 6. 10. 6 }. { 2 }. 14. 2 }} Contoh 13. maka P(A) = 2m. 2 }. Artinya: A // B 2. Irisan (intersection) Notasi : A ∩ B = { x | x ∈ A dan x ∈ B } Contoh 14. maka A ∩ B = {4.

9 }. . maka A = {2.. 3. 9 } (ii) jika A = { x | x/2 ∈ P. 7. Misalkan U = { 1. 5. 4. 22 } (ii) A ∪ ∅ = A 3. (i) Jika A = { 2. 3. 8} A = { 1. 5. maka A ∪ B = { 2. (i) jika A = {1. 5..Notasi : A ∪ B = { x | x ∈ A atau x ∈ B } Contoh 15. 8 } dan B = { 7. 6. 22 }. x ∉ A } Contoh 16. Komplemen (complement) Notasi : A = { x | x ∈ U. 7. 9}. 7. maka Contoh 17. 8. 3. 5. 2. x < 9 }. Misalkan: A = himpunan semua mobil buatan dalam negeri B = himpunan semua mobil impor C = himpunan semua mobil yang dibuat sebelum tahun 1990 40 ..

. Beda Setangkup (Symmetric Difference) Notasi: A ⊕ B = (A ∪ B) – (A ∩ B) = (A – B) ∪ (B – A) 41 . 5. 7.D = himpunan semua mobil yang nilai jualnya kurang dari Rp 100 juta E = himpunan semua mobil milik mahasiswa universitas tertentu (i) “mobil mahasiswa di universitas ini produksi dalam negeri atau diimpor dari luar negeri” (E ∩ A) ∪ (E ∩ B) atau E ∩ (A ∪ B) A∩C∩D (ii) “semua mobil produksi dalam negeri yang dibuat sebelum tahun 1990 yang nilai jualnya kurang dari Rp 100 juta” (iii) “semua mobil impor buatan setelah tahun 1990 mempunyai nilai jual lebih dari Rp 100 juta” C∩D∩B 4. 2. Selisih (difference) Notasi : A – B = { x | x ∈ A dan x ∉ B } = A ∩ B Contoh 18. 5} = {2} 5. 3. maka A – B = { 1.. 3} = {5}. 4.. 8. 10 } dan B = { 2. 3.. 10 }. 3. 5} – {1. 2. 3. 9 } dan B–A=∅ (ii) {1. 3} – {1. tetapi {1. 2. (i) Jika A = { 1. 6.

(1. mendapat nilai B jika salah satu ujian di atas 80. Perkalian Kartesian (cartesian product) Notasi: A × B = {(a. Beda setangkup memenuhi sifat-sifat berikut: (a) A ⊕ B = B ⊕ A (hukum komutatif) (b) (A ⊕ B ) ⊕ C = A ⊕ (B ⊕ C ) (hukum asosiatif) 6. 3. 4. Misalkan U = himpunan mahasiswa P = himpunan mahasiswa yang nilai ujian UTS di atas 80 Q = himpunan mahasiswa yang nilain ujian UAS di atas 80 Seorang mahasiswa mendapat nilai A jika nilai UTS dan nilai UAS keduanya di atas 80. dan D = { a. 3 }. 42 . (3. b) ≠ (b. (2. 6 } Contoh 20. 2. b }. maka: A × B = A . b)  a ∈ A dan b ∈ B } Contoh 20. a). Jika A = { 2. b). (a. b) } (ii) Misalkan A = B = himpunan semua bilangan riil. 6 } dan B = { 2. 2. 4. (2.Contoh 19. 5 }. maka C × D = { (1. Jika A dan B merupakan himpunan berhingga. (i) Misalkan C = { 1. (3. maka A ⊕ B = { 3. (i) “Semua mahasiswa yang mendapat nilai A” : P ∩ Q (ii) “Semua mahasiswa yang mendapat nilai B” : P ⊕ Q (iii) “Semua mahasiswa yang mendapat nilai C” : U – (P ∪ Q) TEOREMA 2. 5. a). a). b). B. maka A × B = himpunan semua titik di bidang datar Catatan: 1. a). dan mendapat nilai C jika kedua ujian di bawah 80.

(n. (g. d). (2. {{3}}. dan D = { a. t). (m. (m. (g. {∅. t = teh. c). t). C = { 1. Periksalah apakah setiap pernyataan di bawah ini benar atau salah dan jika salah. a). c). b). A × B ≠ B × A dengan syarat A atau B tidak kosong. c). Contoh 21. a). (a. bagaimana seharusnya: 43 . a). (b. (s. (b. b }. 2).3. Pada Contoh 20(i) di atas. g = gado-gado. 1). 3 }. yaitu {(s. t). 4. {3} }) = {∅. b) } D × C ≠ C × D. n = nasi goreng. (3. maka A × B = B × A = ∅ Contoh 21. 3) } C × D = { (1. c). (n. (n. 1). d). (1. D × C = {(a. d = es dawet } Berapa banyak kombinasi makanan dan minuman yang dapat disusun dari kedua himpunan di atas? Jawab: A × B = A⋅B = 4 ⋅ 3 = 12 kombinasi dan minuman. (b. {3}} } Latihan Misalkan A adalah himpunan. Misalkan A = himpunan makanan = { s = soto. 2. (2. (m. t). d)}. (s. 3). d). b). 2). (g. {∅}. Jika A = ∅ atau B = ∅. Daftarkan semua anggota himpunan berikut: (a) P(∅) Penyelesaian: (a) P(∅) = {∅} (b) ∅ × P(∅) = ∅ (ket: jika A = ∅ atau B = ∅ maka A × B = ∅) (b) ∅ × P(∅) (c) {∅}× P(∅) (d) P(P({3})) (c) {∅}× P(∅) = {∅}× {∅} = {(∅. (a. (3.∅)) (d) P(P({3})) = P({ ∅. m = mie rebus } B = himpunan minuman = { c = coca-cola.

a. ∪ (A ∩ Bn) n n A ∩ (U Bi ) = U ( A ∩ Bi ) i =1 i =1 n n (ii) Misalkan A = {1.... a. (i) A ∩(B1∪B2 ∪ .(a) A ∩ P ( A) = P ( A) (b) { A} ∪ P( A) = P ( A) (c) A − P ( A) = A (d) { A } ∈ P ( A ) (e) A ⊆ P ( A ) Jawaban: (a) salah. × An = i×1 Ai = A1 ⊕ A2 ⊕ . ⊕ An = ⊕ Ai i =1 Contoh 22. maka A × B × C = {(1. ∪ An = U Ai i =1 i =1 n n A1 × A2 × .. β}. α). (2.. (2. b. b.. β). ∩ An = I Ai A1 ∪ A2 ∪ . β).. a. seharusnya (b) benar (c) benar (d) salah. a. seharusnya A ∩ P( A) = ∅ P( A) A∈ P( A) Perampatan Operasi Himpunan A1 ∩ A2 ∩ . (1.. b. (1.. b. β) } 44 . α). 2}. seharusnya { A} ⊆ (e) salah.. (2. ∪Bn) = (A∩ B1) ∪ (A ∩ B2) ∪ . α). dan C = {α. α). B = {a. (1. β). (2... b}.

Hukum komplemen: − A∪ A =U − A∩ A =∅ 5. Hukum identitas: − A∪∅=A − A∩U=A 3. . Hukum null/dominasi: − A∩∅=∅ − A∪U=U 4. 45 . lajur kiri untuk mendahului. Hukum involusi: − 2. Contoh: AS kemudi mobil di kiri depan kemudi mobil di kanan depan Inggris (juga Indonesia) Peraturan: (a) di Amerika Serikat. Hukum komutatif: − A∪B=B∪A − A∩B=B∩A Hukum distributif: − A ∪ (B ∩ C) = (A ∪ B) ∩ (A ∪ C) − A ∩ (B ∪ C) = (A ∩ B) ∪ (A ∩ C) 11. Hukum De Morgan: − − A∩ B A∪ B = = A∪ B A∩ B ∅ =U U =∅ Prinsip Dualitas Prinsip dualitas adalah dua konsep yang berbeda dapat saling dipertukarkan namun tetap memberikan jawaban yang benar.Hukum-hukum Himpunan Hukum-hukum Himpunan disebut juga sifat-sifat (properties) himpunan atau disebut juga hukum aljabar himpunan 1. Hukum idempoten: − A∪A=A − A∩A=A 6. Hukum 0/1 8.mobil harus berjalan di bagian kanan jalan. Hukum asosiatif: − A ∪ (B ∪ C) = (A ∪ B) ∪ C − A ∩ (B ∩ C) = (A ∩ B) ∩ C 10. Hukum penyerapan (absorpsi): A ∪ (A ∩ B) = A A ∩ (A ∪ B) = A (A) = A − − 7. pada jalan yang berlajur banyak.

-

bila lampu merah menyala, mobil belok kanan boleh langsung

(b) di Inggris, Prinsip dualitas: Konsep kiri dan kanan dapat dipertukarkan pada kedua negara tersebut sehingga peraturan yang berlaku di Amerika Serikat menjadi berlaku pula di Inggris (Prinsip Dualitas pada Himpunan). Misalkan S adalah suatu kesamaan (identity) yang melibatkan himpunan dan operasi-operasi seperti ∪, ∩, dan komplemen. Jika S* diperoleh dari S dengan mengganti ∪ → ∩, ∩ → ∪, ∅ → U, U → ∅, mobil harus berjalan di bagian kiri jalan, pada jalur yang berlajur banyak, lajur kanan untuk mendahului, bila lampu merah menyala, mobil belok kiri boleh langsung

sedangkan komplemen dibiarkan seperti semula, maka kesamaan S* juga benar dan disebut dual dari kesamaan S.

1. Hukum identitas: A∪∅=A 2. Hukum null/dominasi: A∩∅=∅ 3. Hukum komplemen: A∪ A =U 4. Hukum idempoten: A∪A=A 5. Hukum penyerapan: A ∪ (A ∩ B) = A

Dualnya: A∩U =A Dualnya: A∪U=U Dualnya: A∩ A=∅ Dualnya: A∩A=A Dualnya: A ∩ (A ∪ B) = A

46

6. Hukum komutatif: A∪B=B∪A 7. Hukum asosiatif: A ∪ (B ∪ C) = (A ∪ B) ∪ C Hukum distributif: A ∪ (B ∩ C)=(A ∪ B) ∩ (A ∪ C) 9. Hukum De Morgan:

Dualnya: A∩B=B∩A Dualnya: A ∩ (B ∩ C) = (A ∩ B) ∩ C Dualnya: A ∩ (B ∪ C) = (A ∩ B) ∪ (A ∩ C) Dualnya:

A∪ B

=

A∩B

A∩ B
Dualnya:

=

A∪B

10. Hukum 0/1

∅= U

U

=∅

Contoh 23. Dual dari (A ∩ B) ∪ (A ∩

B ) = A adalah B ) = A.

(A ∪ B) ∩ (A ∪ Prinsip Inklusi-Eksklusi Untuk dua himpunan A dan B: A ∪ B = A + B – A ∩ B A ⊕ B = A +B – 2A ∩ B

Contoh 24. Berapa banyaknya bilangan bulat antara 1 dan 100 yang habis dibagi 3 atau 5? Penyelesaian: A = himpunan bilangan bulat yang habis dibagi 3, B = himpunan bilangan bulat yang habis dibagi 5, A ∩ B = himpunan bilangan bulat yang habis dibagi 3 dan 5 (yaitu himpunan bilangan bulat yang habis dibagi oleh KPK – Kelipatan Persekutuan Terkecil – dari 3 dan 5, yaitu 15), Yang ditanyakan adalah A ∪ B. A = 100/3 = 33, B = 100/5 = 20,
47

A ∩ B = 100/15 = 6 A ∪ B = A + B – A ∩ B = 33 + 20 – 6 = 47

Untuk tiga buah himpunan A, B, dan C, berlaku A ∪ B ∪ C = A + B + C – A ∩ B – A ∩ C – B ∩ C + A ∩ B ∩ C

Untuk himpunan A1, A2, …, Ar, berlaku: A1 ∪ A2 ∪ … ∪ Ar =


i

Ai –

1≤i ≤ j ≤ r

Ai ∩ Aj +

1≤i ≤ j ≤ k ≤ r

Ai ∩ Aj ∩ Ak + …+

(-1)r-1 A1 ∩ A2 ∩ … ∩ Ar Latihan: Di antara bilangan bulat antara 101 – 600 (termasuk 101 dan 600 itu sendiri), berapa banyak bilangan yang tidak habis dibagi oleh 4 atau 5 namun tidak keduanya? Penyelesaian: Diketahui:  U = 500

 A = 600/4 – 100/4 = 150 – 25 = 125  B = 600/5 – 100/5 = 120 – 20 = 100  A ∩ B  = 600/20 – 100/20 = 30 – 5 = 25 yang ditanyakan  A ⊕ B  = ?

Hitung terlebih dahulu  A ⊕ B =  A +  B – 2 A ∩ B  = 125 + 100 – 50 = 175

untuk mendapatkan  A ⊕ B  = U – A ⊕ B = 500 – 175 = 325 Partisi Definisi Partisi

48

0. 0. 7. a. 0. 2. b. c. {2. maka { {1}. {1. 2. {}. 6} } adalah partisi A. 4}. c. {2. a. 8}. {7. c. d. 2}. 8}. c }. yang dalam hal ini multiplisitas dari setiap elemennya adalah 0 atau 1. 1. a. 3. 2. {5. d } 49 . 6.Partisi dari sebuah himpunan A adalah sekumpulan himpunan bagian tidak kosong A1. 4. {2. a. 1. 5. … dari A sedemikian sehingga: (a) (b) A1 ∪ A2 ∪ … = A. P ∪ Q adalah suatu multiset yang multiplisitas elemennya sama dengan multiplisitas maksimum elemen tersebut pada himpunan P dan Q. Misalkan A = {1. 1. 3. 1. Definisi Multiplisitas Multiplisitas dari suatu elemen pada himpunan ganda adalah jumlah kemunculan elemen tersebut pada himpunan ganda. Contoh: M = { 0. Contohnya. d. Himpunan Ganda (multiset) Definisi Himpunan Ganda Himpunan yang elemennya boleh berulang (tidak harus berbeda) disebut himpunan ganda (multiset). Himpunan (set) merupakan contoh khusus dari suatu multiset. 2. 3. multiplisitas 0 adalah 4. 1. Operasi Antara Dua Buah Multiset: Misalkan P dan Q adalah multiset: 1. P ∪ Q = { a. dan Ai ∩ Aj = ∅ untuk i ≠ j Contoh 25. b. c. dengan mengasumsikan elemen-elemen di dalam multiset semua berbeda. Kardinalitas dari suatu multiset didefinisikan sebagai kardinalitas himpunan padanannya (ekivalen). a. A2. 1 }. d } dan Q ={ a. Contoh: P = { a. 4}. 3}.

b. a. c. jika selisihnya nol atau negatif. b. e } − 4. Buktikan bahwa A ∩ (B ∪ C) = (A ∩ B) ∪ (A ∩ C) dengan diagram Venn. f } maka P – Q = { a. Pembuktian dengan menggunakan diagram Venn Contoh 26. P ∩ Q adalah suatu multiset yang multiplisitas elemennya sama dengan multiplisitas minimum elemen tersebut pada himpunan P dan Q. a. d. b. b.2. b. dan C adalah himpunan. Bukti: 50 . a. c. yang didefinisikan sebagai jumlah (sum) dua buah himpunan ganda. adalah suatu multiset yang multiplisitas elemennya sama dengan penjumlahan dari multiplisitas elemen tersebut pada P dan Q. a. B. b. b. P + Q = { a. Proposisi dapat berupa: 1. Misalkan A. Implikasi Contoh: Buktikan bahwa “Jika A ∩ B = ∅ dan A ⊆ (B ∪ C) maka selalu berlaku bahwa A ⊆ C”. Contoh: P = { a. c. a. b. Contoh: P = { a. b. P – Q adalah suatu multiset yang multiplisitas elemennya sama dengan: − multiplisitas elemen tersebut pada P dikurangi multiplisitasnya pada Q. c. c } P ∩ Q = { a. c } 3. d } dan Q = { a. d. c. jika selisihnya positif 0. Kesamaan (identity) Contoh: Buktikan “A ∩ (B ∪ C) = (A ∩ B) ∪ (A ∩ C)” 2. b. a. P + Q. d. a. c. b. e } dan Q = { a. Contoh: P = { a. 1. a. b. d. a. d }. d. a. d } Pembuktian Proposisi Perihal Himpunan Proposisi himpunan adalah argumen yang menggunakan notasi himpunan. c. c } dan Q = { a. c.

dan C adalah himpunan. Ada beberapa catatan untuk pembuktian dengan menggunakan Diagram Venn: 1. Terbukti bahwa A ∩ (B ∪ C) = (A ∩ B) ∪ (A ∩ C). Diagram Venn hanya dapat digunakan jika himpunan yang digambarkan tidak banyak jumlahnya. Pembuktikan dengan menggunakan tabel keanggotaan Contoh 27. B.A ∩ (B ∪ C) (A ∩ B) ∪ (A ∩ C) Kedua digaram Venn memberikan area arsiran yang sama. Bukti: B∪C 0 1 1 1 0 1 1 A ∩ (B ∪ C) 0 0 0 0 0 1 1 A∩B 0 0 0 0 0 0 1 A∩C 0 0 0 0 0 1 0 (A ∩ B) ∪ (A ∩ C) 0 0 0 0 0 1 1 A 0 0 0 0 1 1 1 B 0 0 1 1 0 0 1 C 0 1 0 1 0 1 0 51 . Diagram Venn tidak dianggap sebagai metode yang valid untuk pembuktian secara formal. Metode ini mengilustrasikan ketimbang membuktikan fakta. 3. Buktikan bahwa A ∩ (B ∪ C) = (A ∩ B) ∪ (A ∩ C). Misalkan A. 2. 2.

Buktikan bahwa A ∪ (B – A) = A ∪ B Bukti: A ∪ (B – A) = A ∪ (B ∩ A) A) (Definisi operasi selisih) (Hukum distributif) (Hukum komplemen) (Hukum identitas) = (A ∪ B) ∩ (A ∪ = (A ∪ B) ∩ U =A∪B Contoh 30. Misalkan A dan B himpunan. maka A ∩ (B ∪ C) = (A ∩ B) ∪ (A ∩ C). Pembuktian dengan menggunakan aljabar himpunan. Misalkan A dan B himpunan. 3. distributif) (H. Contoh 28. bahwa (i) A ∪ ( A ∩ B) = A ∪ B dan (ii) A ∩ ( A ∪ B) = A ∩ B Bukti: (i) A ∪ ( A ∩ B) = ( A ∪ A ) ∩ (A ∩ B) (H. komplemen) (H. Buktikan bahwa (A ∩ B) ∪ (A ∩ Bukti: (A ∩ B) ∪ (A ∩ B) = A B) = A ∩ (B ∪ =A∩U =A B) (Hukum distributif) (Hukum komplemen) (Hukum identitas) Contoh 29. Buktikan bahwa untuk sembarang himpunan A dan B. identitas) = U ∩ (A ∩ B) = A∪B 52 .1 1 1 1 1 1 1 1 Karena kolom A ∩ (B ∪ C) dan kolom (A ∩ B) ∪ (A ∩ C) sama.

maka dari definisi himpunan bagian. x ∈ (B ∪ C) berarti x ∈ B atau x ∈ C. distributif) (H. Karena ∀x ∈ A juga berlaku x ∈ C. tetapi pernyataan yang berbentuk implikasi. Buktikan! Bukti: (i) Dari definisi himpunan bagian. Dari definisi operasi gabungan (∪). (ii) Karena x ∈ A dan A ∩ B = ∅. Pembuktian dengan menggunakan definisi Metode ini digunakan untuk membuktikan pernyataan himpunan yang tidak berbentuk kesamaan. Contoh 31. Biasanya di dalam implikasi tersebut terdapat notasi himpunan bagian (⊆ atau ⊂). Misalkan A dan B himpunan. Misalkan x ∈ A. maka dapat disimpulkan A ⊆ C . identitas) = ∅ ∪ (A ∩ B) = A∩B 4. Tuliskan hasil dari operasi beda-setangkup berikut? (a) A ⊕ U (b) A ⊕ A (c) A⊕U Penyelesaian: (a) A ⊕ U = (A – U) ∪ (U – A) = (∅) ∪ (A) = A (Definisi operasi beda setangkup) (Definisi opearsi selisih) (Hukum Identitas) (b) A ⊕ A = (A – A)∪(A – A) (Definisi operasi beda setangkup) 53 . Misalkan A adalah himpunan bagian dari himpunan semesta (U). P ⊆ Q jika dan hanya jika setiap x ∈ P juga ∈ Q. Jika A ∩ B = ∅ dan A ⊆ (B ∪ C) maka A ⊆ C. maka x ∉ B Dari (i) dan (ii).(ii) adalah dual dari (i) A ∩ ( A ∪ B) = (A ∩ A) ∪ (A ∩ B) (H. x ∈ C harus benar. komplemen) (H. x juga ∈ (B ∪ C). Karena A ⊆ (B ∪ C).

= (A ∩ A) ∪ ( A ∩ = A∪ = U A) (Definisi operasi selisih) (Hukum Idempoten) (Hukum Komplemen) A (c) A⊕U = ( A ∪ U) – ( A ∩ U) =U– =A (Definisi operasi beda setangkup) (Hukum Null dan Hukum Identitas) (Definisi operasi selisih) A 54 .

4. 9. IF323). • • • a R b adalah notasi untuk (a. IF342). (Amir. Notasi: R ⊆ (A × B). Jika kita definisikan relasi R dari P ke Q dengan (p. (4. 8). 9). (Budi. 4} dan Q = {2. Contoh 2. IF251) ∈ R atau Amir R IF251 . Misalkan P = {2. IF323). IF221). (Budi. IF342).BAB V RELASI Relasi biner R antara himpunan A dan B adalah himpunan bagian dari A × B. IF323). IF251). Misalkan A = {Amir. IF251). (2. yaitu: R = {(Amir. IF251). b) ∉ R. (Budi. IF323)} . (Cecep.A adalah daerah asal R. 15}. (Cecep. IF342. (3. (4. (3. IF221). 8. 3.Dapat dilihat bahwa R ⊆ (A × B). (Budi. 2). IF221). 4). 15) } • • Relasi pada sebuah himpunan adalah relasi yang khusus Relasi pada himpunan A adalah relasi dari A × A. yang artinya a dihubungankan dengan b oleh R a R b adalah notasi untuk (a. 8). Contoh 1. Himpunan A disebut daerah asal (domain) dari R. dan B adalah daerah hasil R. (2. . (Amir. (Budi. 4). (Amir. b) ∈ R. yang artinya a tidak dihubungkan oleh b oleh relasi R. dan himpunan B disebut daerah hasil (range) dari R. (Cecep. IF323} A × B = {(Amir. IF342) ∉ R atau Amir R IF342. Budi. (Cecep. . IF323) } Misalkan R adalah relasi yang menyatakan mata kuliah yang diambil oleh mahasiswa pada Semester Ganjil. (Cecep. IF251). B = { IF251. 55 . Cecep}. (Budi. IF221).(Amir. q) ∈ R jika p habis membagi q maka kita peroleh R = {(2.(Amir. IF342). (Amir. IF251).

9)} Representasi Relasi 1. 3. b2. 9} yang didefinisikan oleh (x. Representasi Relasi dengan Diagram Panah A Amir Budi Cecep B P IF221 IF251 3 IF342 IF323 4 2 Q 2 4 8 9 15 2 3 4 8 9 A A 2 3 4 8 9 2. Representasi Relasi dengan Matriks • • Misalkan R adalah relasi dari A = {a1. 2). (3. 8). sedangkan kolom kedua menyatakan daerah hasil. Relasi R dapat disajikan dengan matriks M = [mij].. bn}. Representasi Relasi dengan Tabel • Kolom pertama tabel menyatakan daerah asal. 4). 3). am} dan B = {b1. 8. b1 b2 … bn 56 . Tabel 1 A Amir Amir Budi Budi Cecep B IF251 IF323 IF221 IF251 IF323 Tabel 2 P 2 2 4 2 4 3 3 Tabel 3 Q 2 4 4 8 8 9 15 A 2 2 2 3 3 A 2 4 8 3 3 3. a2. …. Misalkan R adalah relasi pada A = {2. Contoh 3. …. y) ∈ R jika x adalah faktor prima dari y. (2. 4. Maka R = {(2. (2. (3.• Relasi pada himpunan A adalah himpunan bagian dari A × A.

b3 = IF342. Tiap elemen himpunan dinyatakan dengan sebuah titik (disebut juga simpul atau vertex). a1 = 2. 4. b5 = 15. 57 . a2 = Budi. bj ) ∉ R yang dalam hal ini Contoh 4. dan b4 = IF323.a1  m11  M = a2  m21 M  M  am mm1 m12 m22 M mm 2 L m1n  L m2 n   M M   L mmn  1. dan b1 = 2. b2 = IF251. (ai . dan b1 = IF221. a2 = 3. maka sebuah busur dibuat dari simpul a ke simpul b. b2 = 4. (ai . Simpul a disebut simpul asal (initial vertex) dan simpul b disebut simpul tujuan (terminal vertex). b3 = 8. • Pasangan terurut (a. Relasi R pada Contoh 2 dapat dinyatakan dengan matriks 1 0  0  1 0 1 1 0 1 0 1 0 0 1  0  dalam hal ini. Busur semacam itu disebut gelang atau kalang (loop). a) dinyatakan dengan busur dari simpul a ke simpul a sendiri. Representasi Relasi dengan Graf Berarah Relasi pada sebuah himpunan dapat direpresentasikan secara grafis dengan graf berarah (directed graph atau digraph) • • • Graf berarah tidak didefinisikan untuk merepresentasikan relasi dari suatu himpunan ke himpunan lain. dan tiap pasangan terurut dinyatakan dengan busur (arc) Jika (a. b4 = 9. bj ) ∈ R mij =  0. a1 = Amir. Relasi R pada Contoh 1 dapat dinyatakan dengan matriks 0 1 0 1  1 1 0 0    0 0 0 1    dalam hal ini. b) ∈ R. a3 = Cecep. a3 = 4.

3). (2. Relasi R pada himpunan A tidak refleksif jika ada a ∈ A sedemikian sehingga (a. (4. b). 4) } tidak bersifat refleksif karena (3. 1). a) ∈ R untuk setiap a ∈ A. (d. 4). 1). dan (4. d}. Refleksif (reflexive) Definisi Relasi R pada himpunan A disebut refleksif jika (a. 1. d). (2. a). Relasi “habis membagi” pada himpunan bilangan bulat positif bersifat refleksif karena setiap bilangan bulat positif habis dibagi dengan dirinya sendiri. (2. (2. (c. 3). (b. (b. (4. (b. (4. c). (3. sehingga (a. (4.Contoh 5. 3. 2). a) ∉ R. (b) Relasi R = {(1. 3) ∉ R. (3. 2). dan relasi R di bawah ini didefinisikan pada himpunan A. 2. 2). 58 . a)∈R untuk setiap a ∈ A. 4}. 4)} bersifat refleksif karena terdapat elemen relasi yang berbentuk (a. (4. a). maka (a) Relasi R = {(1. 2). 3). a). (2. 1). (c. 2). (a. R direpresentasikan dengan graf berarah sbb: a b c d Sifat-sifat Relasi Biner Relasi biner yang didefinisikan pada sebuah himpunan mempunyai beberapa sifat. Misalkan A = {1. c. a). (1. b)} adalah relasi pada himpunan {a. 3). d). (4. yaitu (1. b. 3). 3). Contoh 6. 1). Contoh 7. Misalkan R = {(a.

c) ∈ R. 2. c ∈ A. 1) (3. 1). R : x lebih besar dari y. Tiga buah relasi di bawah ini menyatakan relasi pada himpunan bilangan bulat positif N. 2. atau mii = 1. n. (4. 2) (4. S : x + y = 5. c) (2. 3) } bersifat menghantar. 2) bukan anggota R. b) (3. untuk i = 1. (4. (3. 4}. Lihat tabel berikut: Pasangan berbentuk (a. 1) 59 . c) ∈ R. Menghantar (transitive) Definisi Relasi R pada himpunan A disebut menghantar jika (a. maka (a. maka (a) R = {(2. Contoh 9. b. 1) (2. b) ∈ R dan (b. dan relasi R di bawah ini didefinisikan pada himpunan A. misalkan (2. 3. 1        1 O 1       1  Graf berarah dari relasi yang bersifat refleksif dicirikan adanya gelang pada setiap simpulnya. 2). S.Contoh 8. 1) (4. 1). 2) (b. untuk a. 2). (3. maupun T. …. (4. Misalkan A = {1. T : 3x + y = 10 Tidak satupun dari ketiga relasi di atas yang refleksif karena. 2. Relasi yang bersifat refleksif mempunyai matriks yang elemen diagonal utamanya semua bernilai 1. 1). c) (a.

misalkan (4. 2) dan (2. Maka terdapat bilangan positif m dan n sedemikian sehingga b = ma dan c = nb. 4) } jelas menghantar (d) Relasi R = {(1. 1) (4. 1). 3). Relasi yang bersifat menghantar tidak mempunyai ciri khusus pada matriks representasinya Sifat menghantar pada graf berarah ditunjukkan oleh: jika ada busur dari a ke b dan dari b ke c. 4). maka juga terdapat busur berarah dari a ke c. Contoh 11.R adalah relasi menghantar karena jika x > y dan y > z maka x > z. 3. 5)} selalu menghantar. 2). Misalkan bahwa a habis membagi b dan b habis membagi c. relasi “habis membagi” bersifat menghantar. (2. Relasi yang hanya berisi satu elemen seperti R = {(4. (3. (3. 3) ∈ R. 3). 4)} menghantar karena tidak ada (a. Relasi “habis membagi” pada himpunan bilangan bulat positif bersifat menghantar. 1) (3. 4) ∉ S.(4. 4) adalah anggota S tetapi (4. (4. 2) dan (2. 1)} menghantar. Jadi. 3) ∉ R. tetapi (2. Setangkup (symmetric) dan tolak-setangkup (antisymmetric) Definisi 60 . . 2) } tidak manghantar karena (2. 3) (4. Di sini c = nma. sehingga a habis membagi c. (3. S : x + y = 6. 3) (3. 2) (4. 7). 2) (b) R = {(1. (2. Contoh 10. tetapi (4.T = {(1. T : 3x + y = 10 . b) ∈ R dan (b. 4) dan (4. c) ∈ R sedemikian sehingga (a. begitu juga (4. . (c) Relasi R = {(1. (2. 4). 2). 2) ∉ R. 1).S tidak menghantar karena. (4. 2) ∈ R. Tiga buah relasi di bawah ini menyatakan relasi pada himpunan bilangan bulat positif N. c) ∈ R. (2. R : x lebih besar dari y.

(2. (2. 4). 3) ∈ R. 4) } bersifat setangkup karena jika (a. 1) ∈ R dan 1 = 1 dan. Definisi Relasi R pada himpunan A sedemikian sehingga (a. b) ∈ R maka (b. (2. (2. (3. 2) ∈ R tetapi (2. 2) ∈ R. 4) ∉ R. (4. (2. 1). 2). 3. (4. (1. Relasi R pada himpunan A tidak setangkup jika (a. 2). 1). Perhatikan bahwa R tidak setangkup. b) ∈ R. 3). Contoh 12. 1) ∈ R. (2. 4)} tidak setangkup dan tidak tolak-setangkup. 3). (2. Di sini (1. 3) ∈ R dan (3. 2 = 2 dan (2. 2) ∈ R tetap 2 ≠ 3. 2) } tidak setangkup karena (2. 4) dan (4. R tidak tolak-setangkup karena (2. 2. (4. 2). a) ∈ R. 3). (3. (2. (4. 2) anggota R. 4) dan (4. b) ∈ R dan (b. 3). R tidak setangkup karena (4. 4}. (2. 2). 2). 1). (e) Relasi R = {(1. (1. 2). Relasi R pada himpunan A tidak tolak-setangkup jika ada elemen berbeda a dan b sedemikian sehingga (a. (2. (4. 1) ∈ R. (f) Relasi R = {(1. dan relasi R di bawah ini didefinisikan pada himpunan A. 2) ∉ R. 4). b) ∈ R dan (b. a) juga ∈ R. (4. 2). (2. a) ∉ R. maka (a) Relasi R = {(1. a) ∈ R hanya jika a = b untuk a. 1). dan 3 = 3 dan (3. 61 . (2. (1. (2. b ∈ A disebut tolak-setangkup. b ∈ A. b) ∈ R sedemikian sehingga (b. tetapi (3. 2). 4). 2) ∈ R dan 2 = 2 dan. maka (b. Perhatikan bahwa R juga setangkup. a) ∈ R untuk a. 2). (b) Relasi R = {(1. Misalkan A = {1. 3) } tolak-setangkup karena 1 = 1 dan (1. 1). 3) } tidak setangkup tetapi tolak-setangkup. 2) } tidak tolak-setangkup karena 2 ≠ 4 tetapi (2. Relasi R pada (a) dan (b) di atas juga tidak tolaksetangkup. begitu juga (2. 3) ∈ R. 1).Relasi R pada himpunan A disebut setangkup jika (a. 2) dan (2. Relasi R = {(1. 2). (d) Relasi R = {(1. 2) ∈ R. (3. (c) Relasi R = {(1. 3) } tolak-setangkup karena (1. 1).

2 habis membagi 4. 4) ∈ R dan 4 = 4. 2) ∈ S dan (4. b tidak habis membagi a. 2. Karena itu.R bukan relasi setangkup karena. n : 1    1    0    0      Sedangkan graf berarah dari relasi yang bersifat setangkup dicirikan oleh: jika ada busur dari a ke b. 4) adalah anggota S. 4 habis membagi 4. misalkan 5 lebih besar dari 3 tetapi 3 tidak lebih besar dari 5. . Relasi “habis membagi” pada himpunan bilangan bulat positif tidak setangkup karena jika a habis membagi b. 3) bukan anggota T. Sebagai contoh. . S : x + y = 6. 2) dan (2. R : x lebih besar dari y. tetapi 4 tidak habis membagi 2. kecuali jika a = b. • Matriks dari relasi tolak-setangkup mempunyai sifat yaitu jika mij = 1 dengan i ≠ j.Contoh 13. Dengan kata lain. atau mij = mji = 1. 4) ∈ R tetapi (4. Contoh 14. Relasi “habis membagi” tolaksetangkup karena jika a habis membagi b dan b habis membagi a maka a = b.T tidak setangkup karena. maka juga ada busur dari b ke a.S relasi setangkup karena (4. Relasi yang bersifat setangkup mempunyai matriks yang elemen-elemen di bawah diagonal utama merupakan pencerminan dari elemen-elemen di atas diagonal utama. matriks dari relasi tolak-setangkup adalah jika salah satu dari mij = 0 atau mji = 0 bila i ≠ j : 62 . 2) ∉ R. . misalkan (4. . Karena itu. (4.Relasi R dan T keduanya tolak-setangkup (tunjukkan!). (2. maka mji = 0. 2) ∈ S tetapi 4 ≠ 2. Tiga buah relasi di bawah ini menyatakan relasi pada himpunan bilangan bulat positif N. untuk i = 1. T : 3x + y = 10 . Sebagai contoh. 1) adalah anggota T tetapi (1. …. misalkan (3.S bukan relasi tolak-setangkup karena.

8). Relasi Inversi Definisi Misalkan R adalah relasi dari himpunan A ke himpunan B. 4).1     0   0 1    1    0   • Sedangkan graf berarah dari relasi yang bersifat tolak-setangkup dicirikan oleh: jika dan hanya jika tidak pernah ada dua busur dalam arah berlawanan antara dua simpul berbeda. p) ∈ R–1 jika q adalah kelipatan dari p maka kita peroleh Jika M adalah matriks yang merepresentasikan relasi R. (3. (3. 9). misalkan N. diperoleh dengan melakukan transpose terhadap matriks M. 4). Invers dari relasi R. 15) } R–1 adalah invers dari relasi R. Jika kita definisikan relasi R dari P ke Q dengan (p. 4} dan Q = {2. 1 1 1 0 0  M=  0 0 0 1 1   0 1 1 0 0    maka matriks yang merepresentasikan relasi R–1. 9. 63 . (4. 2). b) ∈ R } Contoh 15. adalah relasi dari B ke A yang didefinisikan oleh R–1 = {(b. q) ∈ R jika p habis membagi q maka kita peroleh R = {(2. a) | (a. (2. yaitu relasi dari Q ke P dengan (q. dilambangkan dengan R–1. 4. 3. (2. Misalkan P = {2. (4. 8). 15}. 8.

1  N = MT =  1 1  0  0 0 0 0 1 1 0 1  1  0 0  Relasi Kesetaraan Definisi Relasi R pada himpunan A disebut relasi kesetaraan (equivalence relation) jika ia refleksif. Relasi ≥ tolak-setangkup. dan menghantar. Himpunan S bersama-sama dengan relasi R disebut himpunan terurut secara parsial (partially ordered set. Relasi ≥ pada himpunan bilangan bulat adalah relasi pengurutan parsial. maka pastilah a seangkatan dengan c. setangkup dan menghantar. karena jika a ≥ b dan b ≥ a. Dengan demikian. R relasi pada A: (a. Alasan: Relasi ≥ refleksif. Contoh: A = himpunan mahasiswa. Dua elemen yang dihubungkan dengan relasi kesetaraan dinamakan setara (equivalent). R refleksif: setiap mahasiswa seangkatan dengan dirinya sendiri R setangkup: jika a seangkatan dengan b. maka a = b. dua benda berhubungan jika keduanya memiliki beberapa sifat yang sama atau memenuhi beberapa persyaratan yang sama. di dalam relasi kesetaraan. maka b pasti seangkatan dengan a. karena a ≥ a untuk setiap bilangan bulat a. R adalah relasi kesetaraan. Relasi Pengurutan Parcial Definisi Relasi R pada himpunan S dikatakan relasi pengurutan parsial (partial ordering relation) jika ia refleksif. dan dilambangkan dengan (S. R). tolak-setangkup. atau poset). b) ∈ R jika a satu angkatan dengan b. R menghantar: jika a seangkatan dengan b dan b seangkatan dengan c. 64 . Contoh 16. Secara intuitif.

kita tidak dapat membandingkan keduanya sehingga tidak dapat diidentifikasi mana yang lebih besar atau lebih kecil. mengandung R: S = {(1. 1). Relasi R = {(1. Bagaimana membuat relasi refleksif yang sesedikit mungkin dan mengandung R? • Tambahkan (2. Dalam hal demikian. Ada juga kemungkinan dua buah benda di dalam himpunan tidak berhubungan dalam suatu relasi pengurutan parsial. karena jika a ≥ b dan b ≥ c maka a ≥ c. 2) dan (3. 2). 2). tolak-setangkup. 2). atau lebih rendah (lebih tinggi) daripada lainnya menurut sifat atau kriteria tertentu. 1). Relasi “habis membagi” pada himpunan bilangan bulat adalah relasi pengurutan parsial. 1). (2. yaitu S = {(1. Alasan: relasi “habis membagi” bersifat refleksif. 2). (2. Relasi baru. (3. Relasi R = {(1. 3). (2. (3. 3)} • Relasi S disebut klosur refleksif (reflexive closure) dari R. (1. 2). Bagaimana membuat relasi setangkup yang sesedikit mungkin dan mengandung R? • Tambahkan (3. 3) ke dalam R (karena dua elemen relasi ini yang belum terdapat di dalam S agar S menjadi setangkup). mengandung R. (3. 3} tidak refleksif. dua buah benda saling berhubungan jika salah satunya -. 3)} Relasi S disebut klosur setangkup (symmetric closure) dari R.Relasi ≥ menghantar. Contoh 17.lebih kecil (lebih besar) daripada. (3. 2)} pada himpunan A = {1. S. 3). 3). di dalam relasi pengurutan parsial. tidak setangkup. 2. dan menghantar. (3. 3). (3. Istilah pengurutan menyatakan bahwa benda-benda di dalam himpunan tersebut dirutkan berdasarkan sifat atau kriteria tersebut. (3. 3) ke dalam R (karena dua elemen relasi ini yang belum terdapat di dalam R) Relasi baru. 3)} pada himpunan A = {1. 3). (1. Secara intuitif. (2. 2). Contoh 19. 1). 3). 3} 65 . Itulah alasan digunakan istilah pengurutan parsial atau pengurutan taklengkap Klosur Relasi (closure of relation) Contoh 18. (3. 2. (2. (2. S. (1. 1). (1. 1) dan (2. 3).

Misalkan R adalah relasi {(a. (1. (2. b) | a. 1). Jika terdapat relasi S dengan sifat P yang mengandung R sedemikian sehingga S adalah himpunan bagian dari setiap relasi dengan sifat P yang mengandung R. (3. (2. (3. 3). setangkup. 1). 2). b) | a ≠ b} pada himpunan bilangan bulat. 3). 2). 3). (3. (3. a) | a ∈ Z} = {(a. (3. 3}. 3). 1). (1. (2. (3. (2. 2). (2. 3). 1). 1). 2). 2). atau menghantar. 3)}. (1. (3. (3. (3. 2)} ∪ {(1. (3. 1). (3. Klosur refleksif dari R adalah R ∪ ∆. yang dalam hal ini ∆ = {(a. (2. 3). 2). 3). (2. a) | (a. (1. Contoh 22. b) | a ≠ b} ∪ {(a.Definisi Klosur Misalkan R adalah relasi pada himpunan A. 3). seperti refleksif. 2. R = {(1. 3)} sehingga klosur setangkup dari R adalah R ∪ R-1 = {(1. maka R-1 = {(3. (2. b ∈ Z} Klosur setangkup Misalkan R adalah sebuah relasi pada himpunan A. (1. 3). 1). (3. 1). R = {(1. 3)} = {(1. Klosur setangkup dari R adalah R ∪ R-1. sehingga klosur refleksif dari R adalah R ∪ ∆ = {(1. (1. R dapat memiliki atau tidak memiliki sifat P. 3)} ∪ {(3. (2. 1). (1. 1). 2. 2). 66 . 3)} Contoh 21. (2. 3). a) | a ∈ A}. dengan R-1 = {(b. maka S disebut klosur (closure) atau tutupan dari R [ROS03]. 3). 2)} adalah relasi pada A = {1. 1). 3). (2. 2). 1). (3. (1. 1). Klosur refleksif dari R adalah R ∪ ∆ = {(a. 3)} = {(1. maka ∆ = {(1. (2. 3}. 3)} (2. 2). (3. Contoh 20. (3. 3)} adalah relasi pada A = {1. Klosur Refleksif Misalkan R adalah sebuah relasi pada himpunan A. b) a ∈ R}. 2). 2). 2). (2.

dan (3. (1. (2. 4) ∉ S. b) | a habis membagi b}pada himpunan bilangan bulat. 3). (1. b) | a habis membagi b atau b habis membagi a} Klosur menghantar Pembentukan klosur menghantar lebih sulit daripada dua buah klosur sebelumnya.Contoh 23. (3. 2). Misalkan R adalah relasi {(a. Penambahan semua pasangan ini ke dalam R sehingga menjadi S = {(1. 1). 1). 2. 4). (2. Tentukan klosur menghantar dari R. 2). 1) ∈ S dan (1. 2). 4) ∈ S. 2)} adalah relasi A = {1. tetapi (3. misalnya terdapat (3. 2. 1). (3. a) | b habis membagi a} = {(a. 4). 1). 2). 4). 2)} adalah relasi pada himpunan A = {1. 1). (3. (2. 1). matriks klosur menghantar dari R adalah [ [ M R* = MR ∨ M R2 ] ∨ M R3] Karena 67 . b) dan (b. 4}. 1)} tidak menghasilkan relasi yang bersifat menghantar karena. (2. (1. R tidak transitif karena tidak mengandung semua pasangan (a. Penyelesaian: Matriks yang merepresentasikan relasi R adalah 1 0 1 MR = 0 1 0   1 1 0   Maka. (2. (3. 4). 1). (1. (3. (2. c) di dalam R. 2). Pasangan (a. Klosur setangkup dari R adalah R ∪ R-1 = {(a. c) yang tidak terdapat di dalam R adalah (1. b) | a habis membagi b} ∪ {(b. R = {(1. Klosur menghantar dari R adalah R* = R2 ∪ R3 ∪ … ∪ Rn Jika MR adalah matriks yang merepresentasikan R pada sebuah himpunan dengan n elemen. c) sedemikian sehingga (a. 3}. 2). (2. 3. maka matriks klosur menghantar R* adalah [ [ [n M R* = MR ∨ M R2 ] ∨ M R3] ∨ … ∨ M R ] Misalkan R = {(1. Contoh 24.

dan R1 ⊕ R2 juga adalah relasi dari A ke B. maka operasi himpunan seperti irisan. d)} R1 ⊕ R2 = {(b. (3. R1 – R2. a). b. d)} Jika relasi R1 dan R2 masing-masing dinyatakan dengan matriks MR1 dan MR2. a).[ M R2 ] 1 1 1 = M R ⋅ M R = 0 1 0   1 1 1   dan [ M R3] = [ M R2 ] ⋅ M R 1 1 1 = 0 1 0   1 1 1   maka M R* 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 ∨ 0 1 0 ∨ 0 1 0 = 0 1 0 =         1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1         Dengan demikian. (a. b). c)} Relasi R2 = {(a. b). b). maka matriks yang menyatakan gabungan dan irisan dari kedua relasi tersebut adalah MR1 ∪ R2 = MR1 ∨ MR2 dan MR1 ∩ R2 = MR1 ∧ MR2 Contoh 26. R* = {(1. (a. d}. (a. a)} R1 ∪ R2 = {(a. (1. (1. c). (c. (c. c)} R2 − R1 = {(a. 3). (c. Jika R1 dan R2 masing-masing adalah relasi dari himpuna A ke himpunan B. 3) } Mengkombinasikan Relasi Karena relasi biner merupakan himpunan pasangan terurut. 1). (a. b). (a. c. (a. (a. b. c). (3. b). c). (a. c). d)} R1 − R2 = {(b. d)} R1 ∩ R2 = {(a. c). maka R1 ∩ R2. (a. b). Misalkan A = {a. R1 ∪ R2. Misalkan bahwa relasi R1 dan R2 pada himpunan A dinyatakan oleh matriks 1 R1 =  1  1  0 0 1 0 1  0  dan 0 R2 =  0  1  1 1 0 0 1  0  68 . (a. dan beda setangkup antara dua relasi atau lebih juga berlaku. 2). (b. selisih. b). a). 1). (c. (a. gabungan. b). (b. Contoh 25. 2). (3. c} dan B = {a. (2. Relasi R1 = {(a. 2). c).

dan untuk beberapa b ∈ B. (3. (8. 2). (2. t). u). maka matriks yang menyatakan komposisi dari kedua relasi tersebut adalah MR2 ο R1 = MR1 ⋅ MR2 69 . dinotasikan dengan S ο R. Komposisi R dan S. 6). s). (3. t). 4. dan S adalah relasi dari himpunan B ke himpunan C. (4. (3. u). (1. u) adalah relasi dari himpunan {2. 8} dan S = {(2. 4. (6. (3. Maka komposisi relasi R dan S adalah S ο R = {(1. 6. 4). 2. 6). (1. u}. c ∈ C. 3} ke himpunan {2. (a. (4. adalah relasi dari A ke C yang didefinisikan oleh S ο R = {(a. (2. t). s). u) } Komposisi relasi R dan S lebih jelas jika diperagakan dengan diagram panah: 2 1 4 2 3 6 8 s t u Jika relasi R1 dan R2 masing-masing dinyatakan dengan matriks MR1 dan MR2. t). 4). (3. (3. b) ∈ R dan (b. 8} ke himpunan {s. t.maka 1 1 MR1 ∪ R2 = MR1 ∨ MR2 =  1 1  1 1  0 MR1 ∩ R2 = MR1 ∧ MR2 =  0   1 0 1  0  0 1  0  0 0 0 Komposisi Relasi Definisi Misalkan R adalah relasi dari himpunan A ke himpunan B. 6. Misalkan R = {(1. t). c)  a ∈ A. (2. c) ∈ S } Contoh 27. 8)} adalah relasi dari himpunan {1. s).

” sama seperti pada perkalian matriks biasa. Contoh 28. Misalkan bahwa relasi R1 dan R2 pada himpunan A dinyatakan oleh matriks 1 R1 =  1   0 0 1 0 1 0  0  dan 0 R2 =  0   1 1 0 0 0 1  1  maka matriks yang menyatakan R2 ο R1 adalah MR2 ο R1 = MR1 .yang dalam hal ini operator “. MR2  (1 ∧ 0) ∨ (0 ∧ 0) ∨ (1 ∧ 1) (1 ∧ 1) ∨ (0 ∧ 0) ∨ (1 ∧ 0) (1 ∧ 0) ∨ (0 ∧ 1) ∨ (1 ∧ 1)   (1 ∧ 0) ∨ (1 ∧ 0) ∨ (0 ∧ 1) (1 ∧ 1) ∨ (1 ∧ 0) ∨ (0 ∧ 0) (1 ∧ 0) ∨ (1 ∧ 1) ∨ (0 ∧ 1)    (0 ∧ 0) ∨ (0 ∧ 0) ∨ (0 ∧ 1) (0 ∧ 1) ∨ (0 ∧ 0) ∨ (0 ∧ 0) (0 ∧ 0) ∨ (0 ∧ 1) ∨ (0 ∧ 1)   1 = 0  0  1 1 0 1 1  0  70 . tetapi dengan mengganti tanda kali dengan “∧” dan tanda tambah dengan “∨”.

Relasi biner f dari A ke B merupakan suatu fungsi jika setiap elemen di dalam A dihubungkan dengan tepat satu elemen di dalam B. Jika f(a) = b. b) ∈ f dan (a. Kita menuliskan f(a) = b jika elemen a di dalam A dihubungkan dengan elemen b di dalam B. Frasa “dihubungkan dengan tepat satu elemen di dalam B” berarti bahwa jika (a. Fungsi dapat dispesifikasikan dalam berbagai bentuk. diantaranya: 1. Perhatikan bahwa jelajah dari f adalah himpunan bagian (mungkin proper subset) dari B. Fungsi adalah relasi yang khusus: 1. maka b = c. Seperti pada relasi. • • A disebut daerah asal (domain) dari f dan B disebut daerah hasil (codomain) dari f. 2. Nama lain untuk fungsi adalah pemetaan atau transformasi. 71 . Jika f adalah fungsi dari A ke B kita menuliskan f:A→B yang artinya f memetakan A ke B. c) ∈ f. A f B a b Himpunan yang berisi semua nilai pemetaan f disebut jelajah (range) dari f. Tiap elemen di dalam himpunan A harus digunakan oleh prosedur atau kaidah yang mendefinisikan f. Himpunan pasangan terurut. maka b dinamakan bayangan (image) dari a dan a dinamakan pra-bayangan (pre-image) dari b.Fungsi Definisi Misalkan A dan B himpunan.

Di sini f(1) = u. (3. 2. Kata-kata Contoh: “f adalah fungsi yang memetakan jumlah bit 1 di dalam suatu string biner”. u). w}. v). dan jelajah fungsi adalah {u. 3. 2. meskipun u merupakan bayangan dari dua elemen A. 2. u). w)}dari A = {1. Contoh: f(x) = 2x + 10. w)} dari A = {1. v. Formula pengisian nilai (assignment). (2. Daerah asal dari f adalah A dan daerah hasil adalah B. dan f(x) = 1/x. daerah hasilnya adalah B. (3. w} adalah fungsi dari A ke B. (1. v). dan f(3) = w. karena tidak semua elemen A dipetakan ke B. (2. u).2. (2. v. Relasi f = {(1. f(x) = x2. end. 3. (3. u). w)}dari A = {1. Contoh 30. 3} ke B = {u. Contoh 32. v}. v). u). Contoh 31. 72 . 3} ke B = {u. Relasi f = {(1. begin if x < 0 then abs:=-x else abs:=x. 4. w} bukan fungsi. 2. w} ada lah fungsi dari A ke B. 4} ke B = {u. v)}dari A = {1. v). Relasi f = {(1. w} bukan fungsi. v. karena 1 dipetakan ke dua buah elemen B. f(2) = v. yaitu u dan v. yang dalam hal ini sama dengan himpunan B. Jelajah dari f adalah {u. v. (2. 3} ke B = {u. (3. Daerah asal fungsi adalah A. Kode program (source code) Contoh: Fungsi menghitung |x| function abs(x:integer):integer. v. Contoh 29. Relasi f = {(1.

Contoh 35. w). 2. (3. (3. Misalnya untuk x = 2. karena f(1) = f(2) = u. Fungsi Injektif Definisi Fungsi f dikatakan fungsi satu-ke-satu (one to one) atau injektif (injective) jika tidak ada dua elemen himpunan A yang memiliki bayangan sama. w} bukan fungsi satu-ke-satu. (2.Contoh 33. tetapi relasi f = {(1. u). 3} ke B = {u. v)} dari A = {1. f(2) = 1 dan untuk x = -2. Misalkan f : Z → Z didefinisikan oleh f(x) = x2. Relasi f = {(1. Tentukan apakah f(x) = x2 + 1 dan f(x) = x – 1 merupakan fungsi satu-ke-satu? Penyelesaian: (i) f(x) = x2 + 1 bukan fungsi satu-ke-satu. f(-2) = -3. u). dan jelajah dari f adalah himpunan bilangan bulat tidak-negatif. A a b c d B 1 2 3 4 5 Contoh 34. a – 1 ≠ b – 1. Misalkan f : Z → Z. v. x} adalah fungsi satu-ke-satu. w. misalnya f(2) = f(-2) = 5 padahal –2 ≠ 2. Daerah asal dan daerah hasil dari f adalah himpunan bilangan bulat. karena untuk dua x yang bernilai mutlak sama tetapi tandanya berbeda nilai fungsinya sama. Fungsi Surjektif Definisi 73 . (ii) f(x) = x – 1 adalah fungsi satu-ke-satu karena untuk a ≠ b. u). 3} ke B = {u. (2. v)}dari A = {1. 2. v.

74 . Fungís Bijeksi Definisi Fungsi f dikatakan berkoresponden satu-ke-satu atau bijeksi (bijection) jika ia fungsi satu-ke-satu dan juga fungsi pada. Fungsi f disebut fungsi pada himpunan B. Relasi f = {(1. (2. (2. (3. v)}dari A = {1. 2. Contoh 37. w). (3. 2. w} merupakan fungsi pada karena semua anggota B merupakan jelajah dari f. 2. u). v)} dari A = {1. karena f adalah fungsi satu-ke-satu maupun fungsi pada. v. (3. 3} ke B = {u. Contoh 38. u). selalu ada nilai x yang memenuhi. (2. Dengan kata lain seluruh elemen B merupakan jelajah dari f. Relasi f = {(1. A a b c d B 1 2 3 Contoh 36. yaitu y = x – 1 akan dipenuhi untuk x = y + 1. v. 3} ke B = {u.Fungsi f dikatakan dipetakan pada (onto) atau surjektif (surjective) jika setiap elemen himpunan B merupakan bayangan dari satu atau lebih elemen himpunan A. 3} ke B = {u. karena tidak semua nilai bilangan bulat merupakan jelajah dari f. Relasi f = {(1. w} adalah fungsi yang berkoresponden satu-ke-satu. w). u). v)} dari A = {1. v. u). Misalkan f : Z → Z. Tentukan apakah f(x) = x2 + 1 dan f(x) = x – 1 merupakan fungsi pada? Penyelesaian: (i) f(x) = x2 + 1 bukan fungsi pada. (ii) f(x) = x – 1 adalah fungsi pada karena untuk setiap bilangan bulat y. w} bukan fungsi pada karena w tidak termasuk jelajah dari f.

maka kita dapat menemukan balikan (invers) dari f. karena f adalah fungsi satu-ke-satu maupun fungsi pada. karena kita dapat mendefinisikan fungsi balikannya. 75 . (v. f adalah fungsi invertible. (3. v)}dari A = {1. -1 = {(u. 2). - Misalkan a adalah anggota himpunan A dan b adalah anggota himpunan B. Fungsi f(x) = x – 1 merupakan fungsi yang berkoresponden satu-ke-satu. bukan pada A a b c dc B A Fungsi pada. Balikan fungsi f hádala f 1). w} adalah fungsi yang berkoresponden satu-ke-satu. maka f (b) = a jika f(a) = b. bukan satu-ke-satu 1 a B 1 b 2 c 3 d c 2 3 4 Buka fungsi satu-ke-satu maupun pada B A 1 a 2 b 3 c 4 Bukan fungsi A a b c dc B 1 2 3 4 Jika f adalah fungsi berkoresponden satu-ke-satu dari A ke B. 3)} Jadi. 3} ke B = {u. w). Fungsi yang berkoresponden satu-ke-satu sering dinamakan juga fungsi yang invertible (dapat dibalikkan). Tentukan balikan fungsi f(x) = x – 1. u). Sebuah fungsi dikatakan not invertible (tidak dapat dibalikkan) jika ia bukan fungsi yang berkoresponden satu-ke-satu. karena fungsi balikannya tidak ada. Fungsi satu-ke-satu. Relasi f = {(1. (2. (w.Contoh 39. Balikan fungsi dilambangkan dengan f 1 –1 . 2. Contoh 40. v. Contoh 41.

Komposisi dari dua buah fungsi Definisi Misalkan g adalah fungsi dari himpunan A ke himpunan B. y). Penyelesaian: Dari Contoh 3. y. Diberikan fungsi f(x) = x–1 dan g(x) = x2 +1. (3.2x + 2. dinotasikan dengan f ο g. u). Jadi. Fungsi komposisi dari A ke C adalah f ο g = {(1. x). Beberapa Fungsi Khusus 1. Misalkan f(x) = y. v.44 kita sudah menyimpulkan bahwa f(x) = x – 1 bukan fungsi yang berkoresponden satu-ke-satu. adalah fungsi dari A ke C yang didefinisikan oleh (f ο g)(a) = f(g(a)) Contoh 43. w}.41 dan 3. Komposisi f dan g. dan fungsi f = {(u. Tentukan balikan fungsi f(x) = x2 + 1. v) yang memetakan A = {1. (w. u). y). z}. w} ke C = {x. sehingga y = x – 1. (2. (ii) (g ο f)(x) = g(f(x)) = g(x – 1) = (x –1)2 + 1 = x2 . x) } Contoh 44. 2. z)} yang memetakan B = {u. balikan fungsi balikannya adalah f-1(y) = y +1. dan f adalah fungsi dari himpunan B ke himpunan C. (3. Contoh 42. Diberikan fungsi g = {(1. maka x = y + 1. Fungsi Floor dan Ceiling 76 .Penyelesaian: Fungsi f(x) = x – 1 adalah fungsi yang berkoresponden satu-ke-satu. (v. (2. 3} ke B = {u. f(x) = x2 + 1 adalah funsgi yang not invertible. Jadi. sehingga fungsi balikannya tidak ada. Penyelesaian: (i) (f ο g)(x) = f(g(x)) = f(x2 + 1) = x2 + 1 – 1 = x2. v. Tentukan f ο g dan g ο f . y). jadi balikan fungsi tersebut ada.

5 = 1 4. maka jumlah byte yang diperlukan untuk merepresentasikan data adalah 125/8 = 16 byte. Beberapa contoh fungsi modulo 25 mod 7 = 4 15 mod 4 = 0 3612 mod 45 = 12 0 mod 5 = 5 –25 mod 7 = 3 (sebab –25 = 7 ⋅ (–4) + 3 ) 77 .8 = 4 – 0. Contoh 47. Beberapa contoh nilai fungsi floor dan ceiling: 3.5 = 4 0. a mod m memberikan sisa pembagian bilangan bulat bila a dibagi dengan m a mod m = r sedemikian sehingga a = mq + r. 2. satu byte terdiri atas 8 bit.5 = 0 4. Contoh 45. Fungsi modulo Misalkan a adalah sembarang bilangan bulat dan m adalah bilangan bulat positif. dengan 0 ≤ r < m.8 = 5 – 0. Di dalam komputer. sedangkan fungsi ceiling membulatkan x ke atas.5 = – 4 3. data dikodekan dalam untaian byte.5 = – 1 –3. berarti x berada di antara dua bilangan bulat. Fungsi floor dari x: x menyatakan nilai bilangan bulat terbesar yang lebih kecil atau sama dengan x Fungsi ceiling dari x: x menyatakan bilangan bulat terkecil yang lebih besar atau sama dengan x Dengan kata lain.Misalkan x adalah bilangan riil.5 = – 3 Contoh 46.5 = 3 0. sehingga untuk byte yang terakhir perlu ditambahkan 3 bit ekstra agar satu byte tetap 8 bit (bit ekstra yang ditambahkan untuk menggenapi 8 bit disebut padding bits). fungsi floor membulatkan x ke bawah. Jika panjang data 125 bit. Perhatikanlah bahwa 16 × 8 = 128 bit.5 = 0 –3.

Bagian ini juga sekaligus menghentikan definisi rekursif.n = 0 . Fungsi Faktorial 1 n! =  1 × 2 × L . Contoh 47.n > 0 Untuk kasus perpangkatan negatif.n > 0 Fungsi rekursif disusun oleh dua bagian: (a) Basis Bagian yang berisi nilai awal yang tidak mengacu pada dirinya sendiri.n = 0 . argumen dari fungsi harus lebih dekat ke nilai awal (basis). Fungsi Logaritmik Fungsi logaritmik berbentuk y = a log x Fungsi Rekursif Definisi ↔ x = ay Fungsi f dikatakan fungsi rekursif jika definisi fungsinya mengacu pada dirinya sendiri. (b) Rekurens Bagian ini mendefinisikan argumen fungsi dalam terminologi dirinya sendiri.n > 0 1  a = a × a × L × a 4 3  1 4 2 44  n n .n = 0 . a −n = 1 an 5. 1 n! =   n × ( n − 1 )! . 78 . Fungsi Eksponensial . × ( n − 1) × n 4.3. Setiap kali fungsi mengacu pada dirinya sendiri. n! = 1 × 2 × … × (n – 1) × n = (n – 1)! × n.

x )  . jika n = 0 . n > 1  79 .n = 1  f ( n − 1) + f ( n − 2) . x ) =  x  2 xT ( n − 1. 5! = 120.n = 0 . Contoh 48.x ≠ 0 2.n = 1 . x ) − T ( n − 2 .n = 0   f (n) =  1 . Fungsi fibonacci: 0 . F ( x ) =  0  .n > 1 3.Contoh definisi rekursif dari faktorial: (a) basis: n! = 1 (b) rekurens: n! = n × (n -1)! (1) 5! = 5 × 4! (2) (3) (4) (5) (6) (6’) (5’) (4’) (3’) (2’) (1’) Jadi. Di bawah ini adalah contoh-contoh fungsi rekursif lainnya: 1. Fungsi Chebysev 1   T (n. jika n > 0 5! dihitung dengan langkah berikut: (rekurens) 3! = 3 × 2! 2! = 2 × 1! 1! = 1 × 0! 0! = 1 0! = 1 1! = 1 × 0! = 1 × 1 = 1 2! = 2 × 1! = 2 × 1 = 2 3! = 3 × 2! = 3 × 2 = 6 4! = 4 × 3! = 4 × 6 = 24 5! = 5 × 4! = 5 × 24 = 120 4! = 4 × 3!  2 F ( x − 1) + x .x = 0 2 .

aljabar boolean berarti suatu jenis simbol-simbol yang ditemukan oleh George Boole untuk memanipulasi nilai-nilai kebenaran logika secara aljabar. dan suatu ekspresi aljabar yang dibentuk dengan menggunakan variabel-variabel biner. Fungsi boolean terdiri dari variabel-variabel biner yang menunjukkan fungsi. ♦ Suatu keadaan disebut benar bila tidak salah. simbol-simbol operasi logik. Disisi lain. aljabar boolean juga merupakan suatu struktur aljabar yang operasi-operasinya memenuhi aturan tertentu. Dalam hal ini aljabar boolean cocok untuk diaplikasikan dalam komputer. Dalam ajabar boolean keadaan ini ditunjukkan dengan dua konstanta : LOGIKA ‘1’ dan ‘0’ Operasi-operasi dasar logika dan gerbang logika : Pengertian GERBANG (GATE) : 80 . dan tanda kurung. Dalam logika dikenal aturan sbb : ♦ Suatu keadaan tidak dapat dalam keduanya benar dan salah sekaligus ♦ Masing-masing adalah benar / salah. suatu tanda sama dengan. Dalam arti luas. OR dan NOT (komplemen). konstanta-konstanta 0 dan 1. sehingga suatu keadaan tidak dapat berada dalam dua ketentuan sekaligus. Suatu fungsi boolean bisa dinyatakan dalam tabel kebenaran.BAB VI ALJABAR BOOLEAN Aljabar boolean merupakan aljabar yang berhubungan dengan variabel-variabel biner dan operasi-operasi logik. Aljabar boolean mempunyai 2 fungsi berbeda yang saling berhubungan. DASAR OPERASI LOGIKA LOGIKA : Memberikan batasan yang pasti dari suatu keadaan. Variabel-variabel diperlihatkan dengan huruf-huruf alfabet. Suatu tabel kebenaran untuk fungsi boolean merupakan daftar semua kombinasi angka-angka biner 0 dan 1 yang diberikan ke variabel-variabel biner dan daftar yang memperlihatkan nilai fungsi untuk masing-masing kombinasi biner. dan tiga operasi dasar dengan AND.

♦ Rangkaian digital (dua keadaan). jika kedua variabel tersebut berlogika 1 Simbol A A.B X’ 1 0 Simbol B Operasi logika OR Operasi antara 2 variabel (A. Operasi logika NOT ( Invers ) Operasi merubah logika 1 ke 0 dan sebaliknya x = x’ Tabel Operasi NOT X 0 1 Operasi logika AND ♦ Operasi antara dua variabel (A. jika kedua variabel tersebut berlogika 0. ♦ Setiap keluarannya tergantung sepenuhnya pada sinyal yang diberikan pada masukanmasukannya. karena sinyal masukan atau keluaran hanya berupa tegangan tinggi atau low ( 1 atau 0 ).♦ Rangkaian satu atau lebih sinyal masukan tetapi hanya menghasilkan satu sinyal keluaran.B) Operasi ini akan menghasilkan logika 0.B) ♦ Operasi ini akan menghasilkan logika 1. Simbol 81 .

A A+B B Operasi logika NOR Operasi ini merupakan operasi OR dan NOT. Simbol A A+B (A B Atau A ( A + B )’ B Operasi logika NAND Operasi logika ini merupakan gabungan operasi AND dan NOT. keluarannya merupakan keluaran operasi OR yang di inverter. Keluarannya merupakan keluaran gerbang AND yang di inverter.B (A 82 . Simbol A A.

B Atau A ( A . 1. Simbol A Y B DALIL BOOLEAN . Simbol A Y B Operasi logika EXNOR Operasi ini akan menghasilkan keluaran ‘1’ jika jumlah masukan yang bernilai ‘1’ berjumlah genap atau tidak ada sama sekali. B )’ B Operasi logika EXOR akan menghasilkan keluaran ‘1’ jika jumlah masukan yang bernilai ‘1’ berjumlah ganjil. X=0 ATAU X=1 83 .

B )’ = A’ + B’ 8.C) = (A+B) . ( 1 + B’ ) + A’ . B = A . 0 . B = A + A’ .2. 1 + 0 = 0 + 1 = 0 TEOREMA BOOLEAN 1. B’ + A’ . B = A .(A+B) = A CONTOH : 1. (A+C) 4. IDENTITAS A+A=A A .0 . HK.B + A.B = A A.C A + (B. 1 + A’ . DISTRIBUTIF A . 1 = 1 6. B=B . 0 = 0 3. B’ ( A . 1 = 0 7. 0 + 0 = 0 5. NEGASI ( A’ ) = A’ (A’)’ = A 5. HK. A = A 1 + A = 1 ----.1. (B+C) = A. B = A+B 9. A’ + A = 1 A’ . A = 0 6. HK. ASSOSIATIF (A+B)+C = A+(B+C) (A. 1 . 1 + 1 = 1 4. C = A . 0 + A = A ----. HK. B = A + B A . HK. DE MORGAN’S ( A+ B )’ = A’ .B) .A 2.C) 3. 0 = 0 . A + A . ABRSORPSI A+ A. (B. 1 . KOMUTATIF A+B=B+A A. HK.A=A 84 . A =0 7. (A + B)= A . B 10. A + A’ .

A B X = (A. B =(A =(A =A A B ATAU A B 85 .2. B = (A’ + B’) .B)’ .

Distributif: (i) a ⋅ (b + c) = (a ⋅ b) + (a ⋅ c) (ii) a + (b ⋅ c) = (a + b) ⋅ (a + c) 86 . +. dan ’ 0 dan 1 adalah dua elemen yang berbeda dari B. Identitas: (i) a + 0 = a (ii) a ⋅ 1 = a 3. b.Aljabar Boolean • Misalkan terdapat Dua operator biner: + dan ⋅ Sebuah operator uner: ’. ⋅. ’) disebut aljabar Boolean jika untuk setiap a. Closure: 2. B : himpunan yang didefinisikan pada opeartor +. c ∈ B berlaku aksioma-aksioma atau postulat Huntington berikut: (i) a + b ∈ B (ii) a ⋅ b ∈ B 1. Tupel (B. Komutatif: (i) a + b = b + a (ii) a ⋅ b = b . ⋅. a 4.

5. 1} operator biner. harus diperlihatkan: 1. + dan ⋅ operator uner. Memenuhi postulat Huntington. 3. 2. Komplemen1: (i) a + a’ = 1 (ii) a ⋅ a’ = 0 • Untuk mempunyai sebuah aljabar Boolean. Closure : jelas berlaku 2. ’ Kaidah untuk operator biner dan operator uner: a⋅b 0 0 0 1 a 0 0 1 1 B 0 1 0 1 a 0 0 1 1 b 0 1 0 1 a+b 0 1 1 1 a 0 1 a’ 1 0 Cek apakah memenuhi postulat Huntington: 1. Kaidah operasi untuk operator biner dan operator uner. Aljabar Boolean Dua-Nilai Aljabar Boolean dua-nilai: B = {0. Elemen-elemen himpunan B. Identitas: jelas berlaku karena dari tabel dapat kita lihat bahwa: 87 .

⋅. Suatu ekspresi Boolean dalam (B. 5. Distributif: (i) a ⋅ (b + c) = (a ⋅ b) + (a ⋅ c) dapat ditunjukkan benar dari tabel operator biner di atas dengan membentuk tabel kebenaran: a ⋅ (b + c) 0 0 0 0 0 1 1 1 a⋅b 0 0 0 0 0 0 1 1 a⋅c 0 0 0 0 0 1 0 1 (a ⋅ b) + (a ⋅ c) 0 0 0 0 0 1 1 1 a 0 0 0 0 1 1 1 1 b 0 0 1 1 0 0 1 1 c 0 1 0 1 0 1 0 1 b+c 0 1 1 1 0 1 1 1 (ii) Hukum distributif a + (b ⋅ c) = (a + b) ⋅ (a + c) dapat ditunjukkan benar dengan membuat tabel kebenaran dengan cara yang sama seperti (i). ⋅.(i) 0 + 1 = 1 + 0 = 1 (ii) 1 ⋅ 0 = 0 ⋅ 1 = 0 3. karena 0 + 0’= 0 + 1 = 1 dan 1 + 1’= 1 + 0 = 1 (ii) a ⋅ a = 0. Ekspresi Boolean • Misalkan (B. Komutatif: jelas berlaku dengan melihat simetri tabel operator biner. maka terbukti bahwa B = {0. ’) adalah: (i) setiap elemen di dalam B. ’) adalah sebuah aljabar Boolean. +. 4. 88 . 1} bersamasama dengan operator biner + dan ⋅ operator komplemen ‘ merupakan aljabar Boolean.3 memperlihatkan bahwa: (i) a + a‘ = 1. +. karena 0 ⋅ 0’= 0 ⋅ 1 = 0 dan 1 ⋅ 1’ = 1 ⋅ 0 = 0 Karena kelima postulat Huntington dipenuhi. Komplemen: jelas berlaku karena Tabel 7.

(iii) jika e1 dan e2 adalah ekspresi Boolean. Contoh: a ⋅ (b + c) = (a .(ii) setiap peubah. e1’ adalah ekspresi Boolean Contoh: 0 1 a b c a+b a⋅b a’⋅ (b + c) a ⋅ b’ + a ⋅ b ⋅ c’ + b’. e1 ⋅ e2. b = 1. b) + (a ⋅ c) Contoh. Penyelesaian: 89 . dan c = 0. maka e1 + e2. Perlihatkan bahwa a + a’b = a + b . dan sebagainya Mengevaluasi Ekspresi Boolean • Contoh: a’⋅ (b + c) jika a = 0. maka hasil evaluasi ekspresi: 0’⋅ (1 + 0) = 1 ⋅ 1 = 1 • Dua ekspresi Boolean dikatakan ekivalen (dilambangkan dengan ‘=’) jika keduanya mempunyai nilai yang sama untuk setiap pemberian nilai-nilai kepada n peubah.

(i) (a ⋅ 1)(0 + a’) = 0 dualnya (a + 0) + (1 ⋅ a’) = 1 (ii) a(a‘ + b) = ab dualnya a + a‘b = a + b 90 . maka jika pernyataan S* diperoleh dengan cara mengganti ⋅ dengan + + dengan ⋅ 0 dengan 1 1 dengan 0 dan membiarkan operator komplemen tetap apa adanya. maka kesamaan S* juga benar.a 0 0 1 1 b 0 1 0 1 a’ 1 1 0 0 a’b 0 1 0 0 a + a’b 0 1 1 1 a+b 0 1 1 1 • Perjanjian: tanda titik (⋅) dapat dihilangkan dari penulisan ekspresi Boolean. dan komplemen. Contoh. ⋅. kecuali jika ada penekanan: (i) (ii) (iii) a(b + c) = ab + ac a + bc = (a + b) (a + c) a ⋅ 0 . bukan a0 Prinsip Dualitas • Misalkan S adalah kesamaan (identity) di dalam aljabar Boolean yang melibatkan operator +. S* disebut sebagai dual dari S.

Hukum identitas: (i) a+0=a (ii) a ⋅ 1 = a 3.3. Hukum idempoten: (i) a+a=a (ii) a ⋅ a = a 4. Hukum penyerapan: (i) a + ab = a (ii) a(a + b) = a 7. Buktikan (i) a + a’b = a + b dan (ii) a(a’ + b) = ab Penyelesaian: (i) a + a’b = (a + ab) + a’b = a + (ab + a’b) = a + (a + a’)b =a+1•b =a+b (ii) adalah dual dari (i) Fungsi Boolean • Fungsi Boolean (disebut juga fungsi biner) adalah pemetaan dari Bn ke B melalui ekspresi Boolean. kita menuliskannya sebagai (Distributif) (Komplemen) (Identitas) (Penyerapan) (Asosiatif) 91 . Hukum asosiatif: (i) a + (b + c) = (a + b) + c (ii) a (b c) = (a b) c 10. Hukum komplemen: (i) a + a’ = 1 (ii) aa’ = 0 5.Hukum-hukum Aljabar Boolean 1. Hukum distributif: (i) a + (b c) = (a + b) (a + c) (ii) a (b + c) = a b + a c 12. Hukum involusi: (i) (a’)’ = a 2. Hukum komutatif: (i) a+b=b+a (ii) ab = ba 9. Hukum De Morgan: (i) (a + b)’ = a’b’ (ii) (ab)’ = a’ + b’ Contoh 7. Hukum dominansi: (i) a⋅0 =0 (ii) a + 1 = 1 6. Hukum 0/1 (i) 0’ = 1 (ii) 1’ = 0 8.

Contoh-contoh fungsi Boolean yang lain: 1. 0. y) = x’y + xy’+ y’ 3. y) = (x + y)’ 5. disebut literal. Contoh. f(x. 0. (1. 1) yang berarti x = 1. Penyelesaian: 92 . f(x) = x 2. y. y. f(x. z) = xyz + x’y + y’z Fungsi f memetakan nilai-nilai pasangan terurut ganda-3 (x. y. y. Contoh. termasuk dalam bentuk komplemennya. • • Setiap ekspresi Boolean tidak lain merupakan fungsi Boolean. Diketahui fungsi Booelan f(x. y = 0. z) ke himpunan {0. y) = x’ y’ 4. Misalkan sebuah fungsi Boolean adalah f(x.f : Bn → B yang dalam hal ini Bn adalah himpunan yang beranggotakan pasangan terurut ganda-n (ordered n-tuple) di dalam daerah asal B. y. nyatakan h dalam tabel kebenaran. f(x. 1) = 1 ⋅ 0 ⋅ 1 + 1’ ⋅ 0 + 0’⋅ 1 = 0 + 0 + 1 = 1 . 1}. z) = xyz’ pada contoh di atas terdiri dari 3 buah literal. dan z = 1 sehingga f(1. z) = xy z’. f(x. yaitu x. y. z) = xyz’ • Setiap peubah di dalam fungsi Boolean. Contohnya. dan z’. Contoh: Fungsi h(x.

maka f ’(x. z) = x(y’z’ + yz). y. y. Rangkaian Digital Elektronik 93 .x 0 0 0 0 1 1 1 1 y 0 0 1 1 0 0 1 1 z 0 1 0 1 0 1 0 1 f(x. adalah Contoh. y. x1 dan x2. Misalkan f(x. z) = xy z’ 0 0 0 0 0 0 1 0 Komplemen Fungsi 1. Cara pertama: menggunakan hukum De Morgan Hukum De Morgan untuk dua buah peubah. z) = (x(y’z’ + yz))’ = x’ + (y’z’ + yz)’ = x’ + (y’z’)’ (yz)’ = x’ + (y + z) (y’ + z’) Aplikasi Aljabar Boolean 2.

x y

xy

x y

x+ y

x

x'

Gerbang AND

Gerbang OR

Gerbang NOT (inverter)

Contoh. Nyatakan fungsi f(x, y, z) = xy + x’y ke dalam rangkaian logika. Jawab: (a) Cara pertama
x y

xy

xy+x'y x y x' x'y

x y

xy

xy+x'y x' x'y

(b) Cara kedua

94

x

y xy xy+x'y x' x'y

(b) Cara ketiga

Gerbang turunan

x y

x

(xy)'

x

+y

y

Gerbang NAND

Gerbang XOR

x y
Gerbang NOR

(x+y)'

x y

(x

+

y)'

Gerbang XNOR

x y

(x + y)' ekivalen dengan

x y

x+y

(x + y)'

x y

(x+y)'

95

x' y'

x'y'

ekivalen dengan

Penyederhanaan Fungsi Boolean

Contoh.

f(x, y) = x’y + xy’ + y’

x' y'

x' + y'

ekivalen dengan

x y

(xy)'

disederhanakan menjadi f(x, y) = x’ + y’ Penyederhanaan fungsi Boolean dapat dilakukan dengan 3 cara: 1. Secara aljabar 2. Menggunakan Peta Karnaugh 3. Menggunakan metode Quine Mc Cluskey (metode Tabulasi) 1. Penyederhanaan Secara Aljabar

Contoh: 1. f(x, y) = x + x’y = (x + x’)(x + y) = 1 ⋅ (x + y ) =x+y

2. f(x, y, z) = x’y’z + x’yz + xy’

96

f(x.= x’z(y’ + y) + xy’ = x’z + xz’ 3. y. z) = xy + x’z + yz = xy + x’z + yz(x + x’) = xy + x’z + xyz + x’yz = xy(1 + z) + x’z(1 + y) = xy + x’z 97 .

Set Theory and Logic. 2006. D. 5. Introduction to Logic. 3. Stoll. Logika Informatika. 98 . Logika Matematika untuk Ilmu Komputer. Van Nostrand Company. Eurasia Publishing House Ltd. Graha Ilmu. Sumber lain dari internet. 4. Penerbit Andi. Setiadji. 2007. Yogyakarta. 1976. Patrick Suppes. 1959. Inc. Yogyakarta.DAFTAR PUSTAKA 1. 2. F. Canada.. New Delhi. Robert R.Soesianto dan Djoni Dwijono.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful