1

BAB I
PENGANTAR LOGIKA INFORMATIKA

Dalam bidang informatika, logika informatika merupakan matakuliah yang wajib
dikuasai sebelum anda mendalami mata kuliah yang lain. Hal itu dikarenakan materi
yang dipelajari dalam logika informatika akan digunakan penerapannya pada mata kuliah
yang lain seperti algoritma pemrograman dan mata kuliah yang lain khususnya
berhubungan dengan pemrograman.

Sejarah Logika Informatika
Logika pertama kali dikemukakan oleh Aristoteles, pada abad 4 SM. Ia
merumuskan logika dengan cara menuliskan argumen/pendapat yang akan bisa
dibuktikan kebenarannya yang disebut dengan silogisme.
Sebuah contoh silogisme (disebut silogisme Barbara):
Premis : Semua A adalah B.
Premis : Semua B adalah C.
Konklusi : Semua A adalah C.
Sejak itu, banyak pemikir yang menemukan konsep-konsep lain tentang logika
tetapi masih berkisar pada pemikiran Aristoteles, sampai pada paruh terakhir abad 19
dengan tokoh-tokoh baru dengan pemikiran-pemikiran baru yaitu:

No. Nama/Tahun Pemikiran
1. Augustus De Morgan(1806-1871) Induksi Matematika, Hukum
Ekuivalensi Logika De Morgan
2. George Boole(1815-1871) Aljabar Boole
3. Giuseppe Peano(1858-1932) Penemu istilah logika matematika dan
teori himpunan
4. Emil L Post(1897-1954) Tabel Kebenaran
5. Ludwig JJ Wittgenstein(1889-
1951)
Tabel Kebenaran
6. John Venn(1834-1923) Diagram Venn
7. Henry M Sheffer(1882-1964) NAND, NOR
Dan masih banyak tokoh-tokoh lain.




2
Arti Logika Informatika
Pada masa Aristoteles, logika merupakan satu bahasan dalam ilmu tertua di dunia,
yaitu Filsafat. Baru pada masa-masa berikutnya logika masuk ke berbagai bidang ilmu-
ilmu yang lebih muda seperti ilmu hitung/matematika, dan kini komputer/informatika.
Dari arti katanya dalam bahasa Yunani, yaitu logike/logos yang berarti ilmu/pikiran,
logika bisa diartikan sebagai perkataan sebagai manifestasi dari pikiran manusia. Atau,
logika adalah ilmu yang mempelajari (jalan) pikiran yang diungkapkan dalam bahasa.
Arti logika menurut bahasan logika modern, terdapat banyak versi. Dua versi dari definisi
logika adalah:
1. Ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan prinsip-prinsip dari penalaran argumen
yang valid.
2. Studi tentang kriteria-kriteria untuk mengevaluasi argumen-argumen dengan
menentukan mana yang valid dan tidak valid, dan membedakan antara argumen
yang baik dan tidak baik.
Sedangkan logika informatika sendiri, dapat diartikan sebagai:
1. Aturan-aturan logika yang menggunakan kaidah-kaidah tertentu dalam informatika
yang dipergunakan untuk membuktikan validitas suatu argumen.
2. Aturan-aturan logika yang menggunakan kaidah-kaidah tertentu dalam matematika
yang dipergunakan untuk membuktikan validitas suatu argumen dalam bidang
informatika.

Argumen dan Silogisme
Argumen
Adalah usaha untuk mencari kebenaran dari suatu pernyataan berupa kesimpulan dengan
berdasarkan pada kebenaran dari satu kumpulan pernyataan yang disebut premis-premis.
Silogisme
Logika berawal dari pertanyaan-pertanyaan yang paling mendasar di kehidupan ini.
Silogisme Aristoteles, menurutnya, adalah suatu argumen yang terbentuk dari
pernyataan-pernyataan dengan salah satu atau keempat bentuk berikut:
1. Semua A adalah B. (universal affirmative)
2. Tidak A adalah B. (universal negative)
3. Beberapa A adalah B. (particular affirmative)
4. Beberapa A adalah tidak B. (particular negative)
3

Huruf A dan B diatas menggantikan suatu kata benda, misalnya ‘manusia’, ‘cuaca’, dan
sebagainya yang disebut terms of syllogism atau pokok dari silogisme.
Suatu silogisme yang berbentuk sempurna (well-formed syllogism) adalah silogisme yang
memiliki dua buah premis dan satu kesimpulan, dimana setiap premis memiliki satu
pokok(term) bersama dengan kesimpulan dan satu lagi pokok bersama dengan premis
lainnya.
Contoh sebuah silogisme sempurna:
Premis : Semua A adalah B.
Premis : Semua B adalah C.
Konklusi : Semua A adalah C.
(Pada premis pertama, A sama dengan A pada kesimpulan, dan ia juga memiliki B yang
sama dengan B pada premis kedua.)

Manfaat Logika Informatika
Logika informatika digunakan dalam semua bidang pada ilmu informatika. Dari
pembuatan konsep, penulisan software hingga cara kerja hardware. Contoh beberapa
manfaat logika informatika:
1. Membuat program.
Contoh, struktur IF-THEN...ELSE dalam bahasa Pascal
IF kondisi THEN
Statemen1
ELSE
Statemen2;
2. Database.
Contoh, mencari daftar mahasiswa Informatika UNSOED angkatan 2008 yang
nilai IPK-nya 4.
3. Cara kerja komputer(mesin).
Level logika pada komputer. Masing-masing level komputer menggunakan level
logika yang berbeda(dari logika elektronik 0 dan 1 hingga logika manusia dalam
bahasa pemrograman tingkat tinggi) tetapi semua bekerja berdasar prinsip-prinsip
logika.
4
Gambaran level logika yang berlaku sesuai dengan bahasa pemrograman yang
digunakan:


Studi kasus: Search Engine Google.
Search engine google menggunakan prinsip logika dalam pencariannya.
Contoh:
1. Menggunakan operator AND. Diwakili dengan tanda + .
Pencarian akan ’teknik+informatika’ di Google akan menghasilkan data yang
terdiri dari teknik dan informatika.





5
2. Menggunakan operator OR Pencarian dengan ketentuan ’teknik OR informatika’.
Hasil pencarian akan menampilkan kata teknik saja atau informatika saja.


3. Menggunakan operator NOT
Pencarian dengan ketentuan teknik NOT informatika, dilambangkan dengan ’teknik –
informatika’ akan menghasilkan pencarian akan kata ’teknik’ saja, yang tidak
mengandung kata ’informatika’.







6
BAB II
ALJABAR PROPOSISI

Kata merupakan rangkaian huruf yang mengandung arti, edangkan kalimat adalah
kumpulan kata yang disusun menurut aturan tata bahasa dan mengandung arti. Di dalam
matematika tidak semua pernyataan yang bernilai benar atau salah saja yang digunakan
dalam penalaran. Pernyataan disebut juga kalimat deklaratif yaitu kalimat yang bersifat
menerangkan dan disebut juga proposisi.

Semesta Pembicaraan
Semesta pembicaraan adalah keseluruhan obyek yang dibicarakan.
Contoh:
• Pada kehidupan sehari-hari
• Pada ilmu hitung
• Pada astronomi
• Pada Informatika
• Dll
Pada himpunan dapat di gambarkan sebagai berikut :


Bahasa adalah rangkaian simbol-simbol yang diucapkan atau ditulis menurut aturan-
aturan tertentu.
Contoh:
• I watch TV till 12 o’clock last night.
• أا
• Geef mij maar nasi goreng met een gebakken ei
Wat sambal en wat kroepoek en een goed glas bier erbij.
• Bonjour! Je m’appelle Hesti.
• Guten tag! Mein Name ist Hesti.
S
7
• Konnichiwa.

Kalimat Deklaratif
Kalimat Deklaratif /Pernyataan/ Proposisi adalah kalimat yang bernilai benar atau
salah tetapi tidak keduanya.
Contoh :
1. Yogyakarta adalah kota pelajar (Benar).
2. 2+2=4 (Benar).
3. Semua manusia adalah fana (Benar).
4. 4 adalah bilangan prima (Salah).
5. 5x12=90 (Salah).
Tidak semua kalimat berupa proposisi
Contoh :
1. Dimanakah letak pulau bali?.
2. Pandaikah dia?.
3. Andi lebih tinggi daripada Tina.
4. 3x-2y=5x+4.
5. x+y=2.

Validitas Argumen
Argumen adalah suatu pernyataan tegas yang diberikan oleh sekumpulan proposisi
P1, P2, .........,Pn yang disebut premis (hipotesa/asumsi) dan menghasilkan proposisi Q
yang lain yang disebut konklusi (kesimpulan). Secara umum di notasikan dengan

Argumen disebut benar apabila telah memenuhi syarat:
1. Konklusi/hasil kesimpulan dari argumen tersebut benar setelah melalui suatu
proses observas/dapat dibuktikan.
2. Langkah-langkah penalaran sesuai dengan hukum-hukum logika.

8
Premis :
• Jika hari ini cerah saya bermain futsal.
• Saya bermain futsal.
Kesimpulan: Hari ini cerah.
Argumen ini kuat karena:
1. Kesimpulan yg diambil benar.
2. Langkah penalaran tepat.

Semantik-Sintaks :
• Jika hari ini cerah saya bermain futsal.
• Saya bermain futsal.
Kesimpulan: Hari ini cerah.
Yang diperhatikan dalam logika hanyalah bentuk kalimat/sintaks-nya saja. Isi/arti
kalimat/semantik bukan merupakan bahasan.

Contoh Semantik-Sintaks
– Dia tidak kaya dan tidak bahagia.
– Menjadi miskin berarti menjadi tak bahagia.
– Seseorang tak pernah bahagia jika dia kaya.
– Dia miskin tetapi bahagia.
– Jika dia tak dapat kaya maka bahagia.
– Jika dia tidak bahagia maka ia miskin.
– Jika dia tak miskin dan tak bahagia maka ia kaya.
– Menjadi kaya berarti sama seperti menjadi bahagia.
– Dia miskin atau jika tidak maka dia kaya dan tak bahagia.
– Jika dia tidak miskin, maka dia bahagia.

SOUND ARGUMENT
POLA:
Semua X adalah Y
Beberapa Y adalah Z
Maka beberapa X adalah Z

9
Contoh Argumen kuat:
• Semua Toyota adalah mobil Jepang.
• Beberapa mobil Jepang dibuat di Indonesia.
• Maka beberapa Toyota dibuat di Indonesia.


UNSOUND ARGUMENT
Pola :
Semua X adalah Y
Beberapa Y adalah Z
Maka beberapa X adalah Z

Contoh 1 :
Semua Toyota adalah mobil.
Beberapa mobil adalah Porche.
Maka beberapa Toyota adalah Porche.

Contoh 2 :
Semua angkatan 2008 mengambil kuliah login.
Beberapa mahasiswa yang mengambil login adalah angkatan 2007.
Maka beberapa mahasiswa angkatan 2008 adalah angkatan 2007.
Dibuat di
Indonesia
S:Mobil Jepang

T
S

Mobil
T
P
10



Proposisi Atomik dan Majemuk
Dilihat dari kompleksitasnya, proposisi terdiri dari proposisi :
1. Proposisi atomik adalah proposisi yang tidak dapat dipecah-pecah menjadi beberapa
proposisi lagi.
2. Proposisi majemuk adalah proposisi yang terdiri dari beberapa proposisi atomik.
Contoh :
• Hari hujan.
• Jika hari hujan maka saya berangkat kuliah.
• Menonton konser Kangen Band.
• Saya tidur atau menonton konser Kangen Band.
• Ada bug.
• Masukannya salah.
• Ada bug dan masukannya salah.
• Setiap orang Indonesia pintar.
• Jack pintar, demikian juga Jen.
• Jack dan Jen sama-sama pintar.
• Mike pintar dan nilai-nilainya bagus.
• Ralph pintar atau rajin.

Kata-kata Penghubung Kalimat
Dalam menggabungkan proposisi atomik menjadi sebuah proposisi majemuk,
diperlukan sebuah kata penghubung/perangkai kalimat.
• DAN
• ATAU
• BUKAN
Mhsw Ambil
Login
2008
2007
11
• JIKA
• JIKA DAN HANYA JIKA

SIMBOL ARTI BENTUK
⌐ atau ‾ Tidak/Bukan/Not/Negasi Tidak...
Λ Dan/And/Konjungsi ...dan...
V Atau/Or/Disjungsi ...atau...
=> Implikasi Jika...maka...

Biimplikasi ...jika dan hanya jika...

Contoh Penggunaan kata penghubung :
Proposisi atomik A: Hari ini hujan.
Dan proposisi atomik B: Hari ini mendung.
N PROPOSISI SMBL
1. Hari ini hujan A
2. Hari ini mendung B
3. Hari ini tidak hujan ⌐A
4. Hari ini tidak mendung ⌐B
5. Hari ini hujan dan mendung A Λ B
6. Hari ini hujan atau mendung A V B
7. Hari ini tidak hujan tetapi mendung ⌐A Λ B
8. Jika hari ini hujan maka akan mendung A=>B
9. Hari ini hujan jika dan hanya jika hari mendung A⌠B


Tabel Kebenaran
Tabel kebenaran adalah tabel nilai yang mendefinisikan nilai kebenaran
keseluruhan kalimat berdasarkan nilai kebenaran masing-masing kalimat penyusunnya.
Negasi :
Negasi suatu pernyataan P adalah pernyataan baru yang bernilai salah jika P benar dan
bernilai benar jika P bernilai salah.
notasi negasi P adalah ∼P
12
P ~P
T F
F T

Misal : P adl “x lebih kecil dari 5” , negasinya adl :
1. Tidak( lah benar ) x lebih kecil dari 5
2. x tidak lebih kecil dari 5
3. x lebih besar atau sama dengan 5

Konjungsi

Konjungsi dari dua pernyataan P dan Q ditulis P∧Q (dibaca P and Q) adalah suatu
pernyataan yang bernilai benar jika kedua komponennya, yaitu p dan q, bernilai benar,
dan akan bernilai salah jika salah satu komponennya bernilai salah.
Tabel kebenarannya adalah :
P Q P Λ ΛΛ Λ Q
T T T
T F F
F T F
F F F

Perhatikan bahwa walaupun menggunakan istilah ”dan”, dua kalimat yang dihubungkan
tidak harus mempunyai hubungan. Misal : “Yogyakarta ibukota propinsi DIY dan 112
habis dibagi 2”, dalam logika di pandang sebagai suatu pernyataan yang sah Selanjutnya
pandang :
1. P : Ali dan Budi duduk dikelas 2
2. Q : Ali dan Budi bersaudara
P merupakan konjungsi sedang Q bukan.

Disjungsi
Disjungsi (inklusif) dari dua pernyataan P atau Q ditulis P∨Q (dibaca P atau Q)
adalah suatu pernyataan yang bernilai benar jika salah satu kom ponennya, yaitu p atau q,
bernilai benar, dan ber nilai salah jika kedua komponennya bernilai salah
Tabel kebenarannya adalah :
P Q P V Q
13
T T T
T F T
F T T
F F F

Implikasi
Implikasi dua pernyataan P dan Q adalah P → Q yang dibaca “ Jika P maka Q ”.
Pernyataan implikasi disebut juga pernyataan bersyarat Suatu implikasi P → Q bernilai
salah jika P benar dan Q salah, dan bernilai benar jika yang lain
Tabel kebenarannya adalah :
P Q P => Q
T T T
T F F
F T T
F F T
Dalam pernyataan P → Q, P disebut anteseden dan Q disebut konsekuen.
Perhatikan kalimat dibawah ini :
Jika Anda mengendarai mobil maka anda harus memakai sabuk pengaman.
Jika Anda masuk kawasan pabrik, maka Anda harus mengenakan tanda pengenal
• Seseorang yang mengendarai mobil dan memakai sabuk pengaman tentunya
tidak menyalahi aturan (benar, sebab P= benar, Q = benar),
• orang yang mengendarai mobil tidak pakai sabuk pengaman jelas menyalahi
aturan (salah ,sebab P = benar, Q = salah);
• Orang yang naik gerobak dan memakai sabuk pengaman tidak menyalahi aturan
(benar, sebab P=salah, Q=betul), dan
• Orang yang naik gerobak tidak memakai sabuk pengaman tak menyalahi aturan
(benar, sebab P=Salah, Q=salah)
Pernyataan lain daripada “ Jika P maka Q “
adalah :
1. Q jika P
2. P hanya jika Q
3. Q merupakan sarat perlu untuk P
4. P merupakan sarat cukup untuk Q
Contoh :
14
1. Tuliskan kalimat dibawah ini dengan simbol logika
a. Saya akan berlibur ke Bali hanya jika saya lulus ujian
b. Sarat perlu agar 273 habis dibagi 3 adalah 273 merupakan bilangan prima
c. Saya akan memberi anda uang apabila saya lulus ujian atau saya mendapat hadiah
TTS
Jawab
a. P = saya berlibur ke Bali, Q = Saya lulus ujian
Kalimatnya menjadi : P Q
b. P = 273 habis dibagi 3, Q = 273 merupakan bilangan prima
Kalimatnya menjadi : P Q
c. P = Saya memberi Anda uang, Q = Saya lulus ujian, dan
R = saya mendapat hadiah TTS
Kalimatnya menjadi : (Q ∨ R) P

2. Tentukan nilai kebenaran pernyataan-pernyataan dibawah ini :
a. Jika Jakarta bukan ibukota RI, maka 9 juga bukan
bilangan prima
b. 2+2 = 2x2 hanya bila 2 =0
c. 2<3 merupakan syarat cukup untuk 2x2 < 3x3
Jawab :
a. Benar, karena anteseden salah (Jakarta bukan ibu
kota RI)
b. Salah, karena anteseden (2+2 = 2x2) benar sedangkn
konsekuennya (2 = 0 ) salah
c. Benar, karena konsekuennya (2x2 ,3x3) benar

Bi-Implikasi
BI-Implikasi dua pernyataan P dan Q adalah P↔Q yang dibaca “ P jika dan hanya
jika Q ” (disingkat P bhb Q) . Pernyataan Bi-implikasi bernilai benar jika P dan Q
keduanya bernilai sama, sedangkan jika nilai nilai P tidak sama dengan nilai Q maka nilai
pernyataan tersebut salah.

Tabel kebenarannya adalah :
15
P Q P <=> Q
T T T
T F F
F T F
F F T

Suatu pernyataan bentuk bi-implikasi dapat disajikan dengan :
1. P merupakan sarat perlu dan cukup untuk Q
2. P ekuivalen dengan Q
Contoh
X merupakan bilangan gasal bhb X habis dibagi 3
Jawab :
Misal P = X merupakan bilangan gasal
Q = X habis dibagi 3
Kalimatnya : P ↔ Q

Ekuivalen
Dua kalimat disebut ekuivalen(secara logika) jika dan hanya jika keduanya mempunyai
nilai kebenaran yang sama untuk semua substitusi nilai kebenaran masing-masing kalimat
penyusunnya.
Jika A dan B adalah kalimat-kalimat yang ekuivalen, maka dituliskan A ≡B (atau AB).
Jika A ≡B maka B ≡A juga.

Contoh 1 :
Tentukan apakah kalimat dibawah ini ekuivalen:
• -(-A) dengan A
• -(A Λ B) dengan -A Λ-B
• A=>B dengan –A V B



Buat tabel kebenaran untuk membuktikannya
A ~A ~(~A)
16
T F T
F T F
Contoh 2 :

Tentukan apakah kalimat dibawah ini ekuivalen:
• -(-A) dengan A, terbukti –(-A) ≡A
• -(A ΛB) dengan -A Λ-B
• A=>B dengan –A V B
Buat tabel kebenaran untuk membuktikannya
A B A Λ ΛΛ ΛB ~ (A Λ ΛΛ ΛB) ~A ~B ~ A Λ ΛΛ Λ~B
T T T F F F F
T F F T F T F
F T F T T F F
F F F T T T T

Contoh 3 :
Tentukan apakah kalimat dibawah ini ekuivalen:
• -(-A) dengan A, terbukti –(-A) ≡A
• -(A ΛB) ≡-A Λ-B, (tidak terbukti)
• A=>B dengan –A V B
Buat tabel kebenaran untuk membuktikannya
A B A => B ~A ~A V B
T T T F T
T F F F F
F T T T T
F F T T T
Terbukti A => B ≡ ~A V B






Hukum-hukum Ekuivalensi Logika :
1. Hukum Komutatif:
17
• p Λq ≡ q Λp,
• P V q ≡ q V p.
2. Hukum Asosiatif:
• (p Λq) Λr ≡ p Λ(q Λr),
• (p V q) V r ≡ p V (q V r)
3. Hukum Distributif:
• p Λ(q V r) ≡ (p Λq) V (p Λr),
• p V (q Λr ) ≡ (p V q) Λ(p V r)
4. Hukum Identitas:
• p ΛT ≡ p,
• p V F ≡p
5. Hukum Ikatan:
• p V T ≡ T,
• p ΛF ≡F
6. Hukum Negasi:
• p v ⌐p ≡T,
• P ^ ⌐p ≡F.
7. Hukum Negasi Ganda:
• ⌐(⌐)p ≡p
8. Hukum Idempoten:
• p^p ≡p,
• pvp ≡p
9. Hukum De Morgan:
• ⌐(p^q) ≡⌐p v ⌐q
• ⌐(pvq) ≡⌐p ^ ⌐q
10. Hukum Absorbsi:
• p v (p^q) ≡ p,
• p ^ (p v q) ≡ p
11. Negasi T dan F:
• ⌐T ≡ F, ⌐F ≡ T
12. Hukum Implikasi:
• p=>q ≡ ⌐p v q

18
13. Hukum Kontraposisi:
• p=>q ≡⌐q => ⌐p,
14. Hukum Biimplikasi:
• ⌐T ≡F,
• p q ≡ (p=>q) ^(q=>p)
15. Negasi Q, Sama Dengan P
• (pΛq) v (p^⌐q) ≡p,
• (pvq) ^ (pv⌐q) ≡p,
16. Negasi P, Sama Dengan Q
• (pΛq)v(⌐p^q) ≡q,
• (pvq) ^ (⌐pvq) ≡q,


Penyederhanaan
Contoh : Sederhanakan bentuk
• ⌐(⌐A ^ B)^(AvB) ≡ (⌐(⌐A)v ⌐B) ^ (AvB)
≡ (Av ⌐B) ^ (AvB)
≡ Av( ⌐B ^B)
≡ AvF
≡ A
• -(Av-B)v(-A^-B) ≡ -A
• -(Av-B)v(-A^-B) ≡ (-A^-(-B))v(-A^-B)
≡ (-A^B)v(-A^-B)
≡ -A^(Bv-B)
≡ -A^T
≡ -A
• (pvF)^(pv-p) ≡ p^(pv-p)
≡ p^T
≡ p
• -p =>-(p=>-q) ≡ --pv-(p=>-q)
≡ --pv-(-pv-q)
≡ --pv(--p^--q)
≡ pv(p^q)≡p

19

Tautologi, Kontradiksi dan Contingent
Tautologi adalah suatu bentuk kalimat yang selalu bernilai benar (True) tidak peduli
bagaimanapun nilai kebenaran masing-masing kalimat penyusunnya, sebaliknya
kontradiksi adalah suatu bentuk kalimat yang selalu bernilai salah (False), tidak peduli
bagaimanapun nilai kebenaran masing-masing kalimat penyusunnya.
Dalam tabel kebenaran, suatu tautologi selalu bernilai True pada semua barisnya
dan kontradiksi selalu bernilai False pada semua baris. Kalau suatu kalimat tautologi
diturunkan lewat hukum-hukum yang ada maka pada akhirnya akan menghasilkan True,
sebaliknya kontradiksi akan selalu bernilai False.
Jika pada semua nilai kebenaran menghasilkan nilai F dan T, maka disebut formula
campuran (contingent).
Contoh :
1. Tunjukkan bahwa pV(¬p) adalah tautologi!
P ¬P P V (¬P)
T T T
T F T
F T T
F F T

2. Tunjukkan bahwa (pVq) V [(¬p) ∧ (¬q)] adalah tautologi!
p
q
¬p
¬q
¬p ∧ ∧∧ ∧ ¬q (pVq) V [(¬p) ∧ ∧∧ ∧ (¬q)]
T T T F F T
T F F T F T
F T T F F T
F F F T T T

3. Tunjukkan bahwa (pVq) ∧ [(¬p) ∧ (¬q)] adalah kontradiksi!
p
q
¬p
¬q
¬p ∧ ∧∧ ∧ ¬q (pVq) ∧ ∧∧ ∧ [(¬p) ∧ ∧∧ ∧ (¬q)]
T T T F F F
T F F T F F
F T T F F F
F F F T T F



20

4. Tunjukkan bahwa [(p ∧ q) => r] => p adalah contingent!
p
q r
p ∧ ∧∧ ∧ q (p ∧ ∧∧ ∧ q) => r [(p ∧ ∧∧ ∧ q) => r] => p
T T T T T T
T T F T T T
T F T F F T
T F F F F T
F T T F T F
F T F F T F
F F T F T F
F F F F T F


KONVERS, INVERS, DAN KONTRAPOSISI
“Jika hari ini mendung maka Rafif membawa payung”
contoh konvers, invers, dan kontraposisi dari implikasi di atas :
Misal p : hari ini mendung
q : Rafif membawa payung
maka kalimatnya menjadi p => q atau jika menggunakan operator dan maka p => q
ekuivalen(sebanding/≈) dengan ¬p v q. Sehingga :
1. Konvers : q => p ≈ ¬q v p
Kalimat :
• Jika Rafif membawa payung maka hari ini mendung (q => p)
• Rafif tidak membawa payung atau hari ini mendung (¬q v p)
2. Invers : ¬p => ¬q ≈ p ∧¬q
Kalimat :
• Jika Rafif tidak membawa payung maka hari ini tidak mendung (¬p => ¬q)
• Rafif membawa payung dan hari ini tidak mendung (p ∧¬q)
4. Kontraposisi : ¬q => ¬p ≈ q v ¬p
Kalimat :
• Jika hari ini tidak mendung maka Rafif tidak membawa payung (¬q =>¬p)
• hari ini mendung atau Rafif tidak membawa payung dan (q ∧ ¬p)


21
Inferensi Logika
Nilai kebenaran suatu argumen ditentukan sebagai berikut :
“ Suatu argumen P1,P2,…………,,Pn _ Q dikatakan benar (valid) jika Q bernilai benar
untuk semua premis yang benar dan argumen dalam keadaan selain itu dikatakan salah
(invalid/fallacy)”.
Dengan kata lain, suatu argumen dikatakan valid apabila untuk sembarang pernyataan
yang disubtitusikan ke dalam premis, jika semua premis benar maka konklusinya juga
benar. Sebaliknya jika semua premis benar tetapi konklusinya ada yang salah maka
argumen tersebut dikatakan invalid (fallacy).
Jadi suatu argumen dikatakan valid jika dan hanya jika proposisi P1∧P2∧........∧Pn) |- Q
adalah sebuah Tautologi.
Contoh :
1. Premis
P1 : Jika Office dan Delphi diperlukan maka semua orang akan belajar computer
P2 : Office dan Delphi diperlukan
Konklusi
Q : Semua orang akan belajar computer
Jika ditulis dalam bentuk notasi logika
Misal p : Office dan Delphi diperlukan
q : Semua orang belajar computer
Maka argumen diatas dapat ditulis :
p => q, p |- q (valid)
2. Misal p : Saya suka kalkulus
q : Saya lulus ujian kalkulus
Maka argumen p _ q, p _ q dapat ditulis
P1 : Jika saya suka kalkulus, maka saya akan lulus ujian kalkulus
P2 : Saya lulus ujian kalkulus
∴ Saya lulus ujian kalkulus (valid)

Untuk mengetahui suatu argumen apakah valid atau tidak maka dapat dilakukan langkah-
langkah sebagai berikut :
1. Tentukan premis dan konklusi argument
2. Buat tabel yang menunjukkan nilai kebenaran untuk semua premis dan konklusi.
3. Carilah baris kritis yatitu baris diman semua premis bernilai benar.
22
4. Dalam baris kritis tersebut, jika nilai kesimpulan semuanya benar maka argumen
tersebut valid. Jika diantara baris kritis tersebut ada baris dengan nilai konklusi
salah maka argumen tersebut tidak valid.


Sistem Pembuktian / Penarikan Kesimpulan
A. MODUS PONEN
Modus ponen atau penalaran langsung adalh salah satu metode inferensi dimana jika
diketahui implikasi ” Bila p maka q ” yang diasumsikan bernilai benar dan
antasenden (p) benar. Supaya implikasi p_q bernilai benar, maka q juga harus bernilai
benar.
Modus Ponen : p => q , p |- q
atau dapat juga ditulis
p => q
p
______
∴ q

Contoh :
Jika digit terakhir suatu bilangan adalah 0, maka bilangan tersebut habis dibagi 10
Digit terakhir suatu bilangan adalah 0
____________________________________
∴ Bilangan tersebut habis dibagi 10

B. MODUS TOLLENS
Bentuk modus tollens mirip dengan modus ponen, hanya saja premis kedua dan
kesimpulan merupakan kontraposisi premis pertama modus ponen. Hal ini
mengingatkan bahwa suatu implikasi selalu ekuivalen dengan kontraposisinya.
Modus Tollens : p => q, ¬q |- ¬p
Atau dapat juga ditulis
p => q
¬q
_______
∴ ¬p
Contoh :
Jika digit terakhir suatu bilangan adalah 0, maka bilangan tersebut habis dibagi 10
Suatu bilangan tidak habis dibagi 10
____________________________________
∴ Digit terakhir bilangan tersebut bukan 0

23
C. PENAMBAHAN DISJUNGTIF (ADDITION)
Inferensi penambahan disjungtif didasarkan atas fakta bahwa suatu kalimat dapat
digeneralisasikan dengan penghubung ”v”. Alasannya adalah karena penghubung ”v”
bernilai benar jika salah satu komponennya bernilai benar. Misalnya saya mengatakan
”Langit berwarna biru” (bernilai benar). Kalimat tersebut tetap akan bernilai benar
jika ditambahkan kalimat lain dengan penghubung ”v”. Misalnya ”Langit berwarna
biru atau
bebek adalah binatang menyusui”. Kalimat tersebut tetap bernilai benar meskipun
kalimat ”Bebek adalah binatang menyusui”, merupakan kalimat yang bernilai salah.
Addition : p _(pÚq) atau q _ (pÚq)
Atau dapat ditulis
p atau q
____ ____
∴ pvq ∴ pv q
Contoh :
Simon adalah siswa SMU
______________________________
∴Simon adalah siswa SMU atau SMP

D. PENYEDERHAAN KONJUNGTIF (SIMPLIFICATION)
Inferensi ini merupakan kebalikan dari inferensi penambahan disjungtif. Jika
beberapa kalimat dihubungkan dengan operator ”∧”, maka kalimat tersebut dapat
diambil salah satunya secara khusus (penyempitan kalimat).
Simplification : (p∧q) |- p atau (p∧q) |- q
Atau dapat ditulis
p∧q atau p∧q
____ ____
∴ p ∴ q
Contoh :
Langit berwarna biru dan bulan berbentuk bulat
__________________________________________________
∴ Langit berwarna biru atau ∴ Bulan berbentuk bulat

E. SILOGISME DISJUNGTIF
Prinsip dasar Silogisme Disjungtif (Disjunctive syllogism) adalah kenyataan bahwa
apabila kita dihadapkan pada satu diantara dua pilihan yang ditawarkan (A atau B).
24
Sedangkan kita tidak memilih/tidak menyukai A, maka satu-satunua pilihan adalah
memilih B. Begitu juga sebaliknya.
Silogisme Disjungtif : pv q, ¬p |- q dan pvq, ¬q |- p
Atau dapat ditulis
p v q atau pvq
¬p ¬q
____ ____
∴ q ∴ p
Contoh :
Saya pergi ke mars atau ke bulan
Saya tidak pergi ke mars
__________________________
∴ Saya pergi ke bulan

F. SILOGISME HIPOTESIS (TRANSITIVITY)
Prinsip silogisme hipotesis adalah sifat transitif pada implikasi. Jika implikasi p=>q
dan q=>r keduanya bernilai benar, maka implikasi p=>r bernilai benar pula.
Transitivity : p=>q , q=>r |- p=>r
Atau dapat ditulis
p=>q
q=>r
_____
∴ p=>r
Contoh :
Jika hari hujan maka tanahnya menjadi berlumpur
Jika tanahnya berlumpur maka sepatu saya akan kotor
____________________________________________
∴ Jika hari hujan maka sepatu saya akan kotor.

G. KONJUNGSI
Jika ada dua kalimat yang masing-masing benar, maka gabungan kedua kalimat
tersebut dengan menggunakan penghubung ”∧” juga bernilai benar.
Konjungsi
p
q
____
∴ p∧q

H. DILEMA
25
Kadang-kadang, dalam kalimat yang dihubungkan dengan penghubung ”v”, masing-
masing kalimat dapat mengimplikasikan sesuatu yang sama. Berdasarkan hal itu
maka suatu kesimpulan dapat diambil.
Dilema :
pvq
p=>r
q=>r
_____
∴r
26
BAB III
KUANTIFIKASI

Dalam Bab ini akan mempelajari konsep dasar konstanta, variabel, kalimat
terbuka, kuantor dan ingkaran kalimat sebagai konsep penalaran dalam logika
informatika.

Variabel dan Konstanta
Variabel adalah simbol yang menunjukan suatu anggota yang belum spesifik dalam
semesta pembicaraan. Sedangkan konstanta adalah simbol yang menunjukan suatu
anggota tertentu (yang sudah spesifik) dalam semesta pembicaraan. Untuk dapat
berbicara tentang anggota tertentu dari semestanya, diperlukan suatu simbol atau tanda
yaitu suatu nama dari anggota tersebut.
Contoh 1 :
Misalnya ada pernyataan “Niken”, “Ais”, “Aji” adalah nama orang, dimana
semestanya adalah himpunan orang-orang. Jika semestanya himpunan bilangan-bilangan,
maka angka 5, angka 211 adalah suatu simbol untuk bilangan-bilangan yang disajikan.
Simbol seperti itu disebut Konstanta. Jadi konstanta adalah suatu simbol atau tanda yang
diucapkan atau ditulis untuk menunjukkan tentang anggota tertentu dari semestanya.
Jika hendak berbicara tentang anggota sembarang dari semestanya, maka
diperlukan suatu tanda-tanda lain dari konstanta. Tanda demikian yang dimaksud adalah
variabel (atau perubah). Jadi variabel adalah suatu simbol atau tanda yang digunakan
untuk menunjuk pada anggota sembarang dari semesta pembicaranya.
Contoh 2 :
Misalnya semesta pembicaranya terdiri atas mereka yang kuliah pada sebuah
universitas (perguruan tinggi) maka kata “mahasiswa” menunjuk pada anggota
sembarang dari semesta pembicaranya.
Contoh 3 :
Pehatikan beberapa pernyataan berikut:
(a). Manusia makan nasi
(b). Manusia memakai sepatu
(c). 4 + x = 7
(d). p < 5
27
Suatu pernyataan mempunyai nilai benar atau salah tergantung pada kesesuaian
kalimat tersebut dengan keadaan sesungguhnya. Bernilai benar jika keadaan
sesungguhnya sesuai dengan realita yang ada, jika sebaliknya bernilai salah. Pernyataan
seperti ini biasanya disebut pernyataan faktual.
Jika pernyataan (a) manusia diganti Tony, maka pernyataannya menjadi “Toni
makan nasi”. Pernyataan ini jelas bernilai benar saja atau salah saja, tergantung
realitasnya. Demikian juga untuk pernyataan (b) akan menjadi pernyataan “Tony
memakai sepatu” pernyataan ini akan menjadi jelas nilainya, yaitu benar atau salah
tergantung realitasnya.
Pada pernyataan (c) jika x diganti 3, akan bernilai benar. tetapi jika x diganti 4 akan
bernilai salah. Demikian juga untuk pernyataan (d) jika p diganti “0 atau 1, atau 2, atau 3,
atau 4” akan bernilai benar untuk semesta pembicaraan himpunan bilangan cacah, tetapi
jika semestanya himpunan bilangan asli, maka pernyataan akan bernilai salah.
Kata-kata “manusia”, “x” , “p” pada pernyataan diatas disebut variabel. Sedangkan
pengganti katanya yaitu “Tony”, “3”, “4”, dan “0,1,2,3,4” disebut konstanta.
Jika semesta pembicaranya bilangan-bilangan maka variabel yang dimaksudkan
adalah variabel numerik. Dalam hal ini, variabel adalah tanda-tanda, yang biasanya
dipilih huruf kecil dari abjad “x”, “y” dan seterusnya.

Kalimat terbuka
Pernyataan-pernyataan dalam contoh 3 di atas disebut kalimat (pernyataan)
terbuka. Jika variabel dalam kalimat terbuka sudah diganti dengan konstanta yang sesuai,
maka pernyataan yang terjadi dikatakan sebagai pernyataan tertutup.
Pernyataan terbuka adalah suatu pernyataan yang memuat variabel, dan jika
variabel tersebut diganti konstanta yang sesuai dengan semestanya maka pernyataanya
akan bernilai benar saja atau salah saja. Jadi pernyataan terbuka merupakan pernyataan
yang belum mempunyai nilai kebenaran, belum bernilai benar atau salah.
Misalkan pernyataan terbuka ini dengan simbol/notasi “p(x)”. Huruf ”p”, “q” ,
....dan seterusnya disini hanyalah sebuah simbol/notasi dalam pengkajian suatu sifat,
hanya untuk mempermudah dalam pembicaraan selanjutnya. Misalnya: “p (x)” ini
merupakan kalimat terbuka, dan diucapkan sebagai “obyek x mempunyai sifat p”.
Variabel yang terdapat dalam rangkaian tanda “p(x)” disebut variabel bebas. Disini
“p(x)” , tidak bernilai benar atau salah. Pernyataan ini disebut pernyataan terbuka.
28
Agar pernyataan terbuka “p(x)” ini mempunyai nilai salah atau benar (yaitu
menjadi pernyataan deklaratif), maka jika perlu semua variabel bebas di dalamnya diganti
dengan suatu konstanta. Ada cara yang lazim digunakan untuk merubah pernyataan
terbuka ini menjadi pernyataan deklaratif, yaitu dengan membubuhkan suatu kuantor.
Yang dimaksud kuantor disini adalah kuantor universal atau kuantor eksistensial di depan
pernyataan “p(x)”.

Kuantor
Cara lain untuk mendapat kalimat deklaratif dari suatu pernyataan adalah dengan
menggunakan kuantor, yaitu menentukan kuantifikasi obyeknya
Ada dua jenis kuantor yaitu :
1. Kuantor universal (∀)
2. Kuantor eksistensial (∃)
Contoh :
• Setiap laki-laki harus wajib militer
• Ada beberapa laki-laki yang tidak wajib militer
Ditulis sebagai berikut :
• Untuk setiap x, jika x laki-laki maka x harus wajib militer
• Terdapat x sehingga x laki-laki dan x tidak wajib militer.
Kuantor pernyataan
Jika p adalah menunjukkan sifat “laki-laki” dan q menunjukkan sifat “wajib militer”,
maka kalimat tersebut dapat ditulis :
1. (∀x)p(x)→q(x)
dan
2. (∃x)p(x) ∧ q(x)
Secara umum :
Kuantor universal selalu diikuti dengan bentuk Implikasi dan Kuantor eksistensial selalu
diikuti dng bentuk konjungsi

Hubungan Kuantor ∀ dan ∃
Pandang contoh sebagai berikut :
Pernyataan p : “Setiap peserta kuliah Logika informatika mendapat nilai A”
Ingkarannya :
29
~p adalah : “Tidak setiap peserta kuliah logika informatika mendapat nilai A”
atau boleh dikatakan : “ Ada peserta kuliah logika informatika mendapat nilai tidak A
(mis B)”
Jika dua pernyataan tersebut ditulis dengan kuantor dan semesta pembicaraannya adalah
semua peserta kuliah logika informatika, maka kalimat pertama :
p : (∀x)A(x)
( A adalah sifat mendapat nilai A)
dan yang kedua (neg) :
~p : (∃x)A(x)

Negasi kuantor
Hubungan antara kuantor universal dengan kuantor eksistensial
E1 : ( ∀ x ) p ( x ) ≡ ( ∃ x ) p ( x )
E2 : ( ∃ x ) p ( x ) ≡ ( ∀ x ) p ( x )
E3 : (∀x)p(x)→q(x) ≡ (∃x)p(x) ∧ q(x)
E4 : (∃x)p(x) ∧ q(x) ≡ (∀x)p(x)→q(x)
Jika suatu predikat menyangkut lebih dari satu obyek, misalnya p(x,y), maka perlu
dibicarakan suatu pernyataan dengan lebih dari satu kuantor. Kombinasi kuantor yang
mungkin untuk predikat p(x,y) adalah :
(∀x)(∀y)p(x,y) ; (∀x)(∃y)p(x,y) ; (∃x)(∀y)p(x,y)
(∃x)(∃y)p(x,y) ; (∀x)(∀y)p(x,y) ; (∃x)(∀y)p(x,y)
(∀x)(∃y)p(x,y) ; (∃x)(∃y)p(x,y)
Didapat rumusan sbb :
1. (∀x) (∀y) p(x,y) ↔ (∀y) (∀x) p(x,y)
2. (∀x) (∀y) p(x,y) → (∃y) (∀x) p(x,y)
3. (∃y) (∀x) p(x,y) → (∀x) (∃y) p(x,y)
4. (∀x) (∃y) p(x,y) → (∃y) (∃x) p(x,y)
5. (∃x) (∃y) p(x,y) ↔ (∃y) (∃x) p(x,y)

Ingkaran kalimat
Negasi dari “Semua manusia tidak kekal” adalah “tidak benar bahwa semua
manusia tidak kekal ” atau “Beberapa manusia tidak kekal”. Jika p(x) adalah manusia
(=x) tidak kekal, maka “Semua manusia adalah tidak kekal” atau ∀x p( x ) bernilai benar
30
dan “beberapa manusia tidak kekal” atau ∃x p( x ) bernilai salah.

Jadi ingkaran dari kuantor universal (∀x) p(x) dinyatakan dengan simbol logika :
[∀x p(x)] ≡ ∃x : p(x) atau (∀x) p(x) ≡ (∀x) p(x) ≡ (∃x) p(x)
Jadi negasi dari suatu pernyataan yang memuat kuantor universal adalah ekivalen
dengan pernyataan yang memuat kuantifikasi eksistensial (fungsi pernyataan yang
dinegasikan) dan sebaliknya.
Ingkaran dari kuantor eksistensial (∃x) p(x) dinyatakan dengan ) ( ) ( x p x ∃ dinyatakan
dengan simbol logika: [∃x p(x)] ≡ ∀x : p(x) atau ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( x p x x p x x p x ∀ = ∃ = ∃
Jadi negasi dari suatu pernyataan yang memuat kuantor eksistensial adalah ekivalen
dengan pernyataan yang memuat kuantifikasi universal (fungsi pernyataan yang
dinegasikan)

Contoh 1 :
H(x) : x hidup
M(x) : x mati
(∀x)(H(x) v M(x)) dibaca “Untuk semua x, x hidup atau x mati”
Akan tetapi jika ditulisnya (∀x)(H(x)) v M(x) maka dibaca “Untuk semua x hidup, atau x
mati”. Pada “x mati”, x tidak terhubing dengan kuantor universal, yang terhubung
hanya”x hidup”. Sekali lagi, perhatikan penulisan serta peletakan tanda kurungnya.
Secara umum, hubungan antara penempatan kuantor ganda adalah sebagai berikut :
(∀x)( ∀y) P(x,y) ≡ (∀y)( ∀x) P(x,y)
(∃x)( ∃y) P(x,y) ≡ (∃y)( ∃x) P(x,y)
(∃x)( ∀y) P(x,y) ≡ (∀y)( ∃x) P(x,y)
Ingkaran kalimat berkuantor ganda dilakukan dengan cara yang sama seperti ingkaran
pada kalimat berkuantor tunggal.
¬[(∃x)( ∀y) P(x,y)] ≡ (∀x)( ∃y) ¬P(x,y)
¬[(∀x)( ∃y) P(x,y)] ≡ (∃x)( ∀y) ¬P(x,y)

Contoh 2 :
Tentukan negasi dari logika predikat berikut ini :
31
1. (∀x)( ∃ y) x=2y dengan domainnya adalah bilangan bulat
(∀x)( ∃y) x=2y dibaca “Untuk semua bilangan bulat x, terdapat
bilangan bulat y yang memenuhi x=2y. Maka negasinya :
¬[(∀x)( ∃y) x=2y] ≡ (∃x)( ∀y) x≠2y
2. Ada toko buah yang menjual segala jenis buah
Dapat ditulis (∃x)( ∀y) x menjual y. Maka negasinya
¬[(∃x)( ∀y) x menjual y] ≡ (∀x)( ∃y) x tidak menjual y
Dibaca “Semua toko buah tidak menjual paling sedikit satu jenis buah”.
Mengubah pernyataan ke dalam logika predikat yang memiliki kuantor ganda
Misal : “Ada seseorang yang mengenal setiap orang”
Langkah-langkahnya :
1. Jadikan potongan pernyataan ”x kenal y”, maka akan menjadi K(x,y).
K(x,y) : x kenal y
2. Jadikan potongan pernyataan ”x kenal semua y”, sehingga menjadi
(∀y) K(x,y)
3. Jadikan pernyataan “ada x, yang x kenal semua y”, sehingga menjadi
(∃x)(∀y) K(x,y)

32
BAB IV
HIMPUNAN


Pada kehidupan sehari-hari seringkali untuk memperrmudah menyelesaikan suatu
masalah kita mengelompokkan suatu objek kedalam kategori-kategori tertentu. Misalnya
kelompok tumbuhan berdaun lebar, kelompok anak kecil., atau Himpunan Mahasiswa
Teknik Informatika (HIMATIF). Kelompok-kelompok tersebut dalam matematika ada
yang disebut himpunan, ada juga yang tidak masuk dalam kategori himpunan.

Definisi himpunan dalam matematika adalah sebagai berikut:
Definisi Himpunan
Himpunan (set) adalah kumpulan objek-objek yang berbeda dan terdefinisi dengan baik.

Himpunan biasanya dilambangkan dengan huruf besar, sedangkan objek di dalam
himpunan disebut yang biasa dissebut elemen, unsur, atau anggota. Dilambangkan
dengan huruf kecil.

Contoh 1:
HIMATIF adalah sebuah himpunan, di dalamnya berisi anggota berupa mahasiswa, dan
tiap mahasiswa berbeda satu sama lain.

Keanggotaan
Suatu objek disebut anggota dalam suatu himpunan apabila memenuhi kriteria dalam
himpunan tersebut, dan dinotasikan sebagai berikut:

x ∈ A : x merupakan anggota himpunan A;
x ∉ A : x bukan merupakan anggota himpunan A.

Contoh 2.
Misalkan: A = {1, 2, 3, 4}, R = { a, b, {a, b, c}, {a, c} } dan K = {{}}
maka
3 ∈ A
33
{a, b, c} ∈ R
c ∉ R
{} ∈ K
{} ∉ R

Contoh 3.
Bila P
1
= {a, b}, P
2
= { {a, b} }, dan P
3
= {{{a, b}}},
maka
a ∈ P
1

a ∉ P
2

P
1
∈ P
2

P
1
∉ P
3

P
2
∈ P
3


Cara Penyajian Himpunan
Cara penyajian himpunan ada beberapa macam yaitu:
1. Enumerasi
Enumerasi mendaftarkan semua anggota himpunan satu persatu.

Contoh :
- Himpunan empat bilangan asli pertama: A = {1, 2, 3, 4}.
- Himpunan lima bilangan genap positif pertama: B = {4, 6, 8, 10}.
- C = {kucing, a, Amir, 10, paku}
- R = { a, b, {a, b, c}, {a, c} }
- C = {a, {a}, {{a}} }
- K = { {} }
- Himpunan 100 buah bilangan asli pertama: {1, 2, ..., 100 }
- Himpunan bilangan bulat ditulis sebagai {…, -2, -1, 0, 1, 2, …}.



2. Simbol-simbol Baku

34
P = himpunan bilangan bulat positif = { 1, 2, 3, ... }
N = himpunan bilangan alami (natural) = { 1, 2, ... }
Z = himpunan bilangan bulat = { ..., -2, -1, 0, 1, 2, ... }
Q = himpunan bilangan rasional
R = himpunan bilangan riil
C = himpunan bilangan kompleks

Himpunan yang universal: semesta, disimbolkan dengan U.
Contoh: Misalkan U = {1, 2, 3, 4, 5} dan A adalah himpunan bagian dari U,
dengan A = {1, 3, 5}.

3. Notasi Pembentuk Himpunan
Notasi: { x ( syarat yang harus dipenuhi oleh x }

Contoh 4.
(i) A adalah himpunan bilangan bulat positif kecil dari 5
A = { x | x bilangan bulat positif lebih kecil dari 5}
atau A = { x | x ∈ P, x < 5 }
yang ekivalen dengan A = {1, 2, 3, 4}

(ii) M = { x | x adalah mahasiswa yang mengambil kuliah IF2151}

4. Diagram Venn

Contoh 5.
Misalkan U = {1, 2, …, 7, 8},
A = {1, 2, 3, 5} dan B = {2, 5, 6, 8}.

Diagram Venn:



U
1
2
5
3 6
8
4
7
A B
35



Kardinalitas
Jumlah elemen di dalam A disebut kardinal dari himpunan A.
Notasi: n(A) atau A
Contoh 6.
(i) B = { x | x merupakan bilangan prima lebih kecil dari 20 },
atau B = {2, 3, 5, 7, 11, 13, 17, 19} maka |B| = 8
(ii) T = {kucing, a, Amir, 10, paku}, maka |T| = 5
(iii) A = {a, {a}, {{a}} }, maka |A| = 3

Himpunan kosong (null set)
Himpunan dengan kardinal = 0 disebut himpunan kosong (null set).
Notasi dari himpunan kosong adalah ∅ atau {}

Contoh 7.
(i) E = { x | x < x }, maka n(E) = 0
(ii) P = { orang Indonesia yang pernah ke bulan }, maka n(P) = 0
(iii) A = {x | x adalah akar persamaan kuadrat x
2
+ 1 = 0 }, n(A) = 0

• himpunan {{ }} dapat juga ditulis sebagai {∅}
• himpunan {{ }, {{ }}} dapat juga ditulis sebagai {∅, {∅}}
• {∅} bukan himpunan kosong karena ia memuat satu elemen yaitu himpunan kosong.

Himpunan Bagian (Subset)
Definisi Himpunan Bagian
Himpunan A dikatakan himpunan bagian dari himpunan B jika dan hanya jika setiap
elemen A merupakan elemen dari B.
• Dalam hal ini, B dikatakan superset dari A.
• Notasi: A ⊆ B
36

Diagram Venn:
U
A
B


Contoh 8.
(i) { 1, 2, 3} ⊆ {1, 2, 3, 4, 5}
(ii) {1, 2, 3} ⊆ {1, 2, 3}
(iii) N ⊆ Z ⊆ R ⊆ C
(iv) Jika A = { (x, y) | x + y < 4, x ≥, y ≥ 0 } dan
B = { (x, y) | 2x + y < 4, x ≥ 0 dan y ≥ 0 }, maka B ⊆ A.

TEOREMA 1. Untuk sembarang himpunan A berlaku hal-hal sebagai berikut:
(a) A adalah himpunan bagian dari A itu sendiri (yaitu, A ⊆ A).
(b) Himpunan kosong merupakan himpunan bagian dari A ( ∅ ⊆ A).
(c) Jika A ⊆ B dan B ⊆ C, maka A ⊆ C

• ∅ ⊆ A dan A ⊆ A, maka ∅ dan A disebut himpunan bagian tak sebenarnya (improper
subset) dari himpunan A.

Contoh: A = {1, 2, 3}, maka {1, 2, 3} dan ∅ adalah improper subset dari A.

• A ⊆ B berbeda dengan A ⊂ B
(i) A ⊂ B : A adalah himpunan bagian dari B tetapi A ≠ B.
A adalah himpunan bagian sebenarnya (proper subset) dari B.
Contoh: {1} dan {2, 3} adalah proper subset dari {1, 2, 3}

37
(ii) A ⊆ B : digunakan untuk menyatakan bahwa A adalah himpunan bagian (subset)
dari B yang memungkinkan A = B.

•Latihan
Misalkan A = {1, 2, 3} dan B = {1, 2, 3, 4, 5}. Tentukan semua kemungkinan
himpunan C sedemikian sehingga A ⊂ C dan C ⊂ B, yaitu A adalah proper subset dari C
dan C adalah proper subset dari B.


Jawaban:
C harus mengandung semua elemen A = {1, 2, 3} dan sekurang-kurangnya satu
elemen dari B.
Dengan demikian, C = {1, 2, 3, 4} atau C = {1, 2, 3, 5}.
C tidak boleh memuat 4 dan 5 sekaligus karena C adalah proper subset dari B.

Himpunan yang Sama
Definisi Himpunan yang Sama
Suatu himpunan A dikatakan sama dengan himpunan B (A = B) jika dan hanya jika setiap
elemen A merupakan elemen B dan sebaliknya setiap elemen B merupakan elemen A.
• A = B jika A adalah himpunan bagian dari B dan B adalah himpunan bagian dari A.
Jika tidak demikian, maka A ≠ B.
Notasi : A = B ↔ A ⊆ B dan B ⊆ A

Contoh 9.
(i) Jika A = { 0, 1 } dan B = { x | x (x – 1) = 0 }, maka A = B
(ii) Jika A = { 3, 5, 8, 5 } dan B = {5, 3, 8 }, maka A = B
(iii) Jika A = { 3, 5, 8, 5 } dan B = {3, 8}, maka A ≠ B
Untuk tiga buah himpunan, A, B, dan C berlaku aksioma berikut:
(a) A = A, B = B, dan C = C
(b) jika A = B, maka B = A
(c) jika A = B dan B = C, maka A = C
38

Himpunan yang Ekivalen

Definisi Himpunan yang Ekivalen
Himpunan A dikatakan ekivalen dengan himpunan B jika dan hanya jika kardinal dari
kedua himpunan tersebut sama.

Notasi : A ~ B ↔ |A| = |B|

Contoh 10.
Misalkan A = { 1, 3, 5, 7 } dan B = { a, b, c, d }, maka
A ~ B sebab |A| = |B| = 4

Himpunan Saling Lepas

Definisi Himpunan Saling Lepas
Dua himpunan A dan B dikatakan saling lepas (disjoint) jika keduanya tidak memiliki
elemen yang sama.

Notasi : A // B

Diagram Venn:
U
A
B


Contoh 11.
Jika A = { x | x ∈ P, x < 8 } dan B = { 10, 20, 30, ... }, maka A // B.

Himpunan Kuasa
39
Definisi Himpunan Kuasa
Himpunan kuasa (power set) dari himpunan A adalah suatu himpunan yang elemennya
merupakan semua himpunan bagian dari A, termasuk himpunan kosong dan himpunan A
sendiri.

Notasi : P(A) atau 2
A


Jika |A| = m, maka |P(A)| = 2
m
.

Contoh 12.
Jika A = { 1, 2 }, maka P(A) = { ∅, { 1 }, { 2 }, { 1, 2 }}

Contoh 13.
Himpunan kuasa dari himpunan kosong adalah P(∅) = {∅}, dan himpunan kuasa dari
himpunan {∅} adalah P({∅}) = {∅, {∅}}.

Operasi Terhadap Himpunan
1. Irisan (intersection)
Notasi : A ∩ B = { x , x ∈ A dan x ∈ B }

Contoh 14.
(i) Jika A = {2, 4, 6, 8, 10} dan B = {4, 10, 14, 18}, maka A ∩ B = {4, 10}
(ii) Jika A = { 3, 5, 9 } dan B = { -2, 6 }, maka A ∩ B = ∅. Artinya: A // B

2. Gabungan (union)
40
Notasi : A ∪ B = { x , x ∈ A atau x ∈ B }

Contoh 15.
(i) Jika A = { 2, 5, 8 } dan B = { 7, 5, 22 }, maka A ∪ B = { 2, 5, 7, 8, 22 }
(ii) A ∪ ∅ = A
3. Komplemen (complement)

Notasi : A = { x , x ∈ U, x ∉ A }



Contoh 16.
Misalkan U = { 1, 2, 3, ..., 9 },
(i) jika A = {1, 3, 7, 9}, maka A = {2, 4, 6, 8}
(ii) jika A = { x | x/2 ∈ P, x < 9 }, maka A= { 1, 3, 5, 7, 9 }

Contoh 17. Misalkan:
A = himpunan semua mobil buatan dalam negeri
B = himpunan semua mobil impor
C = himpunan semua mobil yang dibuat sebelum tahun 1990
41
D = himpunan semua mobil yang nilai jualnya kurang dari Rp 100 juta
E = himpunan semua mobil milik mahasiswa universitas tertentu

(i) “mobil mahasiswa di universitas ini produksi dalam negeri atau diimpor dari luar
negeri” (E ∩ A) ∪ (E ∩ B) atau E ∩ (A ∪ B)
(ii) “semua mobil produksi dalam negeri yang dibuat sebelum tahun 1990 yang nilai
jualnya kurang dari Rp 100 juta” A ∩ C ∩ D
(iii) “semua mobil impor buatan setelah tahun 1990 mempunyai nilai jual lebih dari Rp
100 juta” B D C ∩ ∩

4. Selisih (difference)

Notasi : A – B = { x , x ∈ A dan x ∉ B } = A ∩ B



Contoh 18.
(i) Jika A = { 1, 2, 3, ..., 10 } dan B = { 2, 4, 6, 8, 10 }, maka A – B = { 1, 3, 5, 7, 9 } dan
B – A = ∅
(ii) {1, 3, 5} – {1, 2, 3} = {5}, tetapi {1, 2, 3} – {1, 3, 5} = {2}

5. Beda Setangkup (Symmetric Difference)
Notasi: A ⊕ B = (A ∪ B) – (A ∩ B) = (A – B) ∪ (B – A)



42




Contoh 19.
Jika A = { 2, 4, 6 } dan B = { 2, 3, 5 }, maka A ⊕ B = { 3, 4, 5, 6 }
Contoh 20. Misalkan
U = himpunan mahasiswa
P = himpunan mahasiswa yang nilai ujian UTS di atas 80
Q = himpunan mahasiswa yang nilain ujian UAS di atas 80
Seorang mahasiswa mendapat nilai A jika nilai UTS dan nilai UAS keduanya di atas 80,
mendapat nilai B jika salah satu ujian di atas 80, dan mendapat nilai C jika kedua ujian di
bawah 80.
(i) “Semua mahasiswa yang mendapat nilai A” : P ∩ Q
(ii) “Semua mahasiswa yang mendapat nilai B” : P ⊕ Q
(iii) “Semua mahasiswa yang mendapat nilai C” : U – (P ∪ Q)

TEOREMA 2. Beda setangkup memenuhi sifat-sifat berikut:
(a) A ⊕ B = B ⊕ A (hukum komutatif)
(b) (A ⊕ B ) ⊕ C = A ⊕ (B ⊕ C ) (hukum asosiatif)

6. Perkalian Kartesian (cartesian product)
Notasi: A × B = {(a, b) | a ∈ A dan b ∈ B }

Contoh 20.
(i) Misalkan C = { 1, 2, 3 }, dan D = { a, b }, maka
C × D = { (1, a), (1, b), (2, a), (2, b), (3, a), (3, b) }
(ii) Misalkan A = B = himpunan semua bilangan riil, maka
A × B = himpunan semua titik di bidang datar
Catatan:
1. Jika A dan B merupakan himpunan berhingga, maka:
|A × B| = |A| . |B|.
2. (a, b) ≠ (b, a).
43
3. A × B ≠ B × A dengan syarat A atau B tidak kosong.

Pada Contoh 20(i) di atas, C = { 1, 2, 3 }, dan D = { a, b },
D × C = {(a, 1), (a, 2), (a, 3), (b, 1), (b, 2), (b, 3) }
C × D = { (1, a), (1, b), (2, a), (2, b), (3, a), (3, b) }
D × C ≠ C × D.

4. Jika A = ∅ atau B = ∅, maka A × B = B × A = ∅
Contoh 21. Misalkan
A = himpunan makanan = { s = soto, g = gado-gado, n = nasi goreng, m = mie
rebus }
B = himpunan minuman = { c = coca-cola, t = teh, d = es dawet }
Berapa banyak kombinasi makanan dan minuman yang dapat disusun dari kedua
himpunan di atas?

Jawab:
|A × B| = |A|⋅|B| = 4 ⋅ 3 = 12 kombinasi dan minuman, yaitu {(s, c), (s, t), (s, d), (g,
c), (g, t), (g, d), (n, c), (n, t), (n, d), (m, c), (m, t), (m, d)}.
Contoh 21. Daftarkan semua anggota himpunan berikut:
(a) P(∅) (b) ∅ × P(∅) (c) {∅}× P(∅) (d) P(P({3}))
Penyelesaian:
(a) P(∅) = {∅}
(b) ∅ × P(∅) = ∅ (ket: jika A = ∅ atau B = ∅ maka A × B = ∅)
(c) {∅}× P(∅) = {∅}× {∅} = {(∅,∅))
(d) P(P({3})) = P({ ∅, {3} }) = {∅, {∅}, {{3}}, {∅, {3}} }

Latihan

Misalkan A adalah himpunan. Periksalah apakah setiap pernyataan di bawah ini benar
atau salah dan jika salah, bagaimana seharusnya:
44

(a)
) ( ) ( A P A P A = ∩

(b)
) ( ) ( } { A P A P A = ∪

(c)
A A P A = − ) (

(d)
) ( } { A P A ∈

(e)
) ( A P A ⊆


Jawaban:
(a) salah, seharusnya ∅ = ∩ ) ( A P A
(b) benar
(c) benar
(d) salah, seharusnya ) ( } { A P A ⊆
(e) salah, seharusnya ) ( A P A∈

Perampatan Operasi Himpunan
I
n
i
i n
A A A A
1
2 1
...
=
= ∩ ∩ ∩

U
n
i
i n
A A A A
1
2 1
...
=
= ∪ ∪ ∪

i
n
i
n
A A A A
1
2 1
...
=
× = × × ×

i
n
i
n
A A A A
1
2 1
...
=
⊕ = ⊕ ⊕ ⊕

Contoh 22.

(i) A ∩(B
1
∪B
2
∪ ... ∪B
n
) = (A∩ B
1
) ∪ (A ∩ B
2
) ∪ ... ∪ (A ∩ B
n
)
U U
n
i
i
n
i
i
B A B A
1 1
) ( ) (
= =
∩ = ∩


(ii) Misalkan A = {1, 2}, B = {a, b}, dan C = {α, β}, maka
A × B × C = {(1, a, α), (1, a, β), (1, b, α), (1, b, β), (2, a, α), (2, a, β), (2, b, α), (2,
b, β) }
45

Hukum-hukum Himpunan
Hukum-hukum Himpunan disebut juga sifat-sifat (properties) himpunan atau disebut
juga hukum aljabar himpunan
1. Hukum identitas:
− A ∪ ∅ = A
− A ∩ U = A

2. Hukum null/dominasi:
− A ∩ ∅ = ∅
− A ∪ U = U

3. Hukum komplemen:
− A ∪ A = U
− A ∩ A = ∅
4. Hukum idempoten:
− A ∪ A = A
− A ∩ A = A

5. Hukum involusi:

) (A
= A

6. Hukum penyerapan (absorpsi):
− A ∪ (A ∩ B) = A
− A ∩ (A ∪ B) = A
7. Hukum komutatif:
− A ∪ B = B ∪ A
− A ∩ B = B ∩ A

8. Hukum asosiatif:
− A ∪ (B ∪ C) = (A ∪ B) ∪ C
− A ∩ (B ∩ C) = (A ∩ B) ∩ C

Hukum distributif:
− A ∪ (B ∩ C) = (A ∪ B) ∩ (A ∪ C)
− A ∩ (B ∪ C) = (A ∩ B) ∪ (A ∩ C)

10. Hukum De Morgan:

B A∩
=
B A∪


B A∪
=
B A∩

11. Hukum 0/1


= U

U
= ∅



Prinsip Dualitas
Prinsip dualitas adalah dua konsep yang berbeda dapat saling dipertukarkan namun tetap
memberikan jawaban yang benar.

Contoh: AS kemudi mobil di kiri depan
Inggris (juga Indonesia) kemudi mobil di kanan depan
Peraturan:
(a) di Amerika Serikat,
- mobil harus berjalan di bagian kanan jalan,
- pada jalan yang berlajur banyak, lajur kiri untuk mendahului,
46
- bila lampu merah menyala, mobil belok kanan boleh langsung
(b) di Inggris,
- mobil harus berjalan di bagian kiri jalan,
- pada jalur yang berlajur banyak, lajur kanan untuk mendahului,
- bila lampu merah menyala, mobil belok kiri boleh langsung

Prinsip dualitas:
Konsep kiri dan kanan dapat dipertukarkan pada kedua negara tersebut sehingga
peraturan yang berlaku di Amerika Serikat menjadi berlaku pula di Inggris

(Prinsip Dualitas pada Himpunan). Misalkan S adalah suatu kesamaan (identity) yang
melibatkan himpunan dan operasi-operasi seperti ∪, ∩, dan komplemen. Jika S*
diperoleh dari S dengan mengganti
∪ → ∩,
∩ → ∪,
∅ → U,
U → ∅,

sedangkan komplemen dibiarkan seperti semula, maka kesamaan S* juga benar dan
disebut dual dari kesamaan S.

1. Hukum identitas:
A ∪ ∅ = A

Dualnya:
A ∩ U = A
2. Hukum null/dominasi:
A ∩ ∅ = ∅

Dualnya:
A ∪ U = U

3. Hukum komplemen:
A ∪ A = U

Dualnya:
A ∩ A = ∅

4. Hukum idempoten:
A ∪ A = A

Dualnya:
A ∩ A = A

5. Hukum penyerapan:
A ∪ (A ∩ B) = A

Dualnya:
A ∩ (A ∪ B) = A
47
6. Hukum komutatif:
A ∪ B = B ∪ A

Dualnya:
A ∩ B = B ∩ A
7. Hukum asosiatif:
A ∪ (B ∪ C) = (A ∪ B) ∪ C

Dualnya:
A ∩ (B ∩ C) = (A ∩ B) ∩ C

Hukum distributif:
A ∪ (B ∩ C)=(A ∪ B) ∩ (A ∪ C)

Dualnya:
A ∩ (B ∪ C) = (A ∩ B) ∪ (A ∩ C)
9. Hukum De Morgan:

B A∪
=
A

B


Dualnya:

B A∩
=
A

B

10. Hukum 0/1

= U

Dualnya:

U
= ∅

Contoh 23. Dual dari (A ∩ B) ∪ (A ∩ B) = A adalah
(A ∪ B) ∩ (A ∪ B) = A.

Prinsip Inklusi-Eksklusi
Untuk dua himpunan A dan B:
|A ∪ B| = |A| + |B| – |A ∩ B|
|A ⊕ B| = |A| +|B| – 2|A ∩ B|

Contoh 24. Berapa banyaknya bilangan bulat antara 1 dan 100 yang habis dibagi 3 atau
5?
Penyelesaian:
A = himpunan bilangan bulat yang habis dibagi 3,
B = himpunan bilangan bulat yang habis dibagi 5,
A ∩ B = himpunan bilangan bulat yang habis dibagi 3 dan 5 (yaitu himpunan bilangan
bulat yang habis dibagi oleh KPK – Kelipatan Persekutuan Terkecil – dari 3
dan 5, yaitu 15),

Yang ditanyakan adalah |A ∪ B|.
|A| = ¸100/3¸ = 33,
|B| = ¸100/5¸ = 20,
48
|A ∩ B| = ¸100/15¸ = 6
|A ∪ B| = |A| + |B| – |A ∩ B| = 33 + 20 – 6 = 47

Untuk tiga buah himpunan A, B, dan C, berlaku
|A ∪ B ∪ C| = |A| + |B| + |C| – |A ∩ B| – |A ∩ C| – |B ∩ C| + |A ∩ B ∩ C|

Untuk himpunan A
1
, A
2
, …, A
r
, berlaku:
|A
1
∪ A
2
∪ … ∪ A
r
| =

i
|A
i
| –

≤ ≤ ≤ r j i 1
|A
i
∩ A
j
| +

≤ ≤ ≤ ≤ r k j i 1
|A
i
∩ A
j
∩ A
k
| + …+
(-1)
r-1
|A
1
∩ A
2
∩ … ∩ A
r
|
Latihan:
Di antara bilangan bulat antara 101 – 600 (termasuk 101 dan 600 itu sendiri),
berapa banyak bilangan yang tidak habis dibagi oleh 4 atau 5 namun tidak keduanya?

Penyelesaian:
Diketahui:

( U( = 500
( A( = ¸600/4¸ – ¸100/4¸ = 150 – 25 = 125
( B( = ¸600/5¸ – ¸100/5¸ = 120 – 20 = 100
( A ∩ B ( = ¸600/20¸ – ¸100/20¸ = 30 – 5 = 25
yang ditanyakan ( B A⊕ ( = ?

Hitung terlebih dahulu

( A ⊕ B( = ( A( + ( B( – 2( A ∩ B ( = 125 + 100 – 50 = 175

untuk mendapatkan

( B A⊕ ( = U –( A ⊕ B( = 500 – 175 = 325

Partisi
Definisi Partisi
49
Partisi dari sebuah himpunan A adalah sekumpulan himpunan bagian tidak kosong A
1
, A
2
,
… dari A sedemikian sehingga:
(a) A
1
∪ A
2
∪ … = A, dan
(b) A
i
∩ A
j
= ∅ untuk i ≠ j

Contoh 25. Misalkan A = {1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8}, maka { {1}, {2, 3, 4}, {7, 8}, {5, 6} }
adalah partisi A.

Himpunan Ganda (multiset)
Definisi Himpunan Ganda
Himpunan yang elemennya boleh berulang (tidak harus berbeda) disebut himpunan
ganda (multiset).
Contohnya, {1, 1, 1, 2, 2, 3}, {2, 2, 2}, {2, 3, 4}, {}.
Definisi Multiplisitas
Multiplisitas dari suatu elemen pada himpunan ganda adalah jumlah kemunculan elemen
tersebut pada himpunan ganda. Contoh: M = { 0, 1, 1, 1, 0, 0, 0, 1 }, multiplisitas 0
adalah 4.

Himpunan (set) merupakan contoh khusus dari suatu multiset, yang dalam hal ini
multiplisitas dari setiap elemennya adalah 0 atau 1.

Kardinalitas dari suatu multiset didefinisikan sebagai kardinalitas himpunan padanannya
(ekivalen), dengan mengasumsikan elemen-elemen di dalam multiset semua berbeda.

Operasi Antara Dua Buah Multiset:
Misalkan P dan Q adalah multiset:
1. P ∪ Q adalah suatu multiset yang multiplisitas elemennya sama dengan multiplisitas
maksimum elemen tersebut pada himpunan P dan Q.
Contoh: P = { a, a, a, c, d, d } dan Q ={ a, a, b, c, c },
P ∪ Q = { a, a, a, b, c, c, d, d }
50
2. P ∩ Q adalah suatu multiset yang multiplisitas elemennya sama dengan multiplisitas
minimum elemen tersebut pada himpunan P dan Q.
Contoh: P = { a, a, a, c, d, d } dan Q = { a, a, b, c, c }
P ∩ Q = { a, a, c }
3. P – Q adalah suatu multiset yang multiplisitas elemennya sama dengan:
− multiplisitas elemen tersebut pada P dikurangi multiplisitasnya pada Q, jika
selisihnya positif
− 0, jika selisihnya nol atau negatif.

Contoh: P = { a, a, a, b, b, c, d, d, e } dan Q = { a, a, b, b, b, c,
c, d, d, f } maka P – Q = { a, e }
4. P + Q, yang didefinisikan sebagai jumlah (sum) dua buah himpunan ganda, adalah
suatu multiset yang multiplisitas elemennya sama dengan penjumlahan dari
multiplisitas elemen tersebut pada P dan Q.
Contoh: P = { a, a, b, c, c } dan Q = { a, b, b, d },
P + Q = { a, a, a, b, b, b, c, c, d }

Pembuktian Proposisi Perihal Himpunan
Proposisi himpunan adalah argumen yang menggunakan notasi himpunan.
Proposisi dapat berupa:
1. Kesamaan (identity)
Contoh: Buktikan “A ∩ (B ∪ C) = (A ∩ B) ∪ (A ∩ C)”
2. Implikasi
Contoh: Buktikan bahwa “Jika A ∩ B = ∅ dan A ⊆ (B ∪ C) maka selalu berlaku
bahwa A ⊆ C”.

1. Pembuktian dengan menggunakan diagram Venn
Contoh 26. Misalkan A, B, dan C adalah himpunan. Buktikan bahwa
A ∩ (B ∪ C) = (A ∩ B) ∪ (A ∩ C) dengan diagram Venn.
Bukti:
51
A ∩ (B ∪ C) (A ∩ B) ∪ (A ∩ C)
Kedua digaram Venn memberikan area arsiran yang sama.
Terbukti bahwa A ∩ (B ∪ C) = (A ∩ B) ∪ (A ∩ C).

Ada beberapa catatan untuk pembuktian dengan menggunakan Diagram Venn:
1. Diagram Venn hanya dapat digunakan jika himpunan yang digambarkan tidak
banyak jumlahnya.
2. Metode ini mengilustrasikan ketimbang membuktikan fakta.
3. Diagram Venn tidak dianggap sebagai metode yang valid untuk pembuktian
secara formal.

2. Pembuktikan dengan menggunakan tabel keanggotaan

Contoh 27. Misalkan A, B, dan C adalah himpunan. Buktikan bahwa A ∩ (B ∪ C) = (A ∩
B) ∪ (A ∩ C).

Bukti:

A B C B ∪ C A ∩ (B ∪ C) A ∩ B A ∩ C (A ∩ B) ∪ (A ∩ C)
0 0 0 0 0 0 0 0
0 0 1 1 0 0 0 0
0 1 0 1 0 0 0 0
0 1 1 1 0 0 0 0
1 0 0 0 0 0 0 0
1 0 1 1 1 0 1 1
1 1 0 1 1 1 0 1
52
1 1 1 1 1 1 1 1
Karena kolom A ∩ (B ∪ C) dan kolom (A ∩ B) ∪ (A ∩ C) sama, maka A ∩ (B ∪ C) = (A
∩ B) ∪ (A ∩ C).
3. Pembuktian dengan menggunakan aljabar himpunan.

Contoh 28. Misalkan A dan B himpunan. Buktikan bahwa
(A ∩ B) ∪ (A ∩ B) = A
Bukti:
(A ∩ B) ∪ (A ∩ B) = A ∩ (B ∪ B) (Hukum distributif)
= A ∩ U (Hukum komplemen)
= A (Hukum identitas)


Contoh 29. Misalkan A dan B himpunan. Buktikan bahwa A ∪ (B – A) = A ∪ B
Bukti:
A ∪ (B – A) = A ∪ (B ∩ A) (Definisi operasi selisih)
= (A ∪ B) ∩ (A ∪ A) (Hukum distributif)
= (A ∪ B) ∩ U (Hukum komplemen)
= A ∪ B (Hukum identitas)

Contoh 30. Buktikan bahwa untuk sembarang himpunan A dan B, bahwa
(i) A ∪ ( A ∩ B) = A ∪ B dan
(ii) A ∩ ( A ∪ B) = A ∩ B
Bukti:
(i) A ∪ ( A ∩ B) = ( A ∪ A) ∩ (A ∩ B) (H. distributif)
= U ∩ (A ∩ B) (H. komplemen)
= A ∪ B (H. identitas)

53
(ii) adalah dual dari (i)
A ∩ ( A ∪ B) = (A ∩ A) ∪ (A ∩ B) (H. distributif)
= ∅ ∪ (A ∩ B) (H. komplemen)
= A ∩ B (H. identitas)
4. Pembuktian dengan menggunakan definisi
Metode ini digunakan untuk membuktikan pernyataan himpunan yang tidak
berbentuk kesamaan, tetapi pernyataan yang berbentuk implikasi. Biasanya di dalam
implikasi tersebut terdapat notasi himpunan bagian (⊆ atau ⊂).

Contoh 31. Misalkan A dan B himpunan. Jika A ∩ B = ∅ dan A ⊆ (B ∪ C) maka A ⊆ C.
Buktikan!
Bukti:
(i) Dari definisi himpunan bagian, P ⊆ Q jika dan hanya jika setiap x ∈ P juga ∈ Q.
Misalkan x ∈ A. Karena A ⊆ (B ∪ C), maka dari definisi himpunan bagian, x juga ∈
(B ∪ C).
Dari definisi operasi gabungan (∪), x ∈ (B ∪ C) berarti x ∈ B atau x ∈ C.
(ii) Karena x ∈ A dan A ∩ B = ∅, maka x ∉ B

Dari (i) dan (ii), x ∈ C harus benar. Karena ∀x ∈ A juga berlaku x ∈ C, maka dapat
disimpulkan A ⊆ C .
Misalkan A adalah himpunan bagian dari himpunan semesta (U). Tuliskan hasil dari
operasi beda-setangkup berikut?
(a) A ⊕ U (b) A ⊕ A (c) A ⊕ U

Penyelesaian:
(a) A ⊕ U = (A – U) ∪ (U – A) (Definisi operasi beda setangkup)
= (∅) ∪ (A) (Definisi opearsi selisih)
= A (Hukum Identitas)

(b) A ⊕ A = (A – A) ∪ ( A – A) (Definisi operasi beda setangkup)
54
= (A ∩ A) ∪ ( A ∩ A) (Definisi operasi selisih)
= A ∪ A (Hukum Idempoten)
= U (Hukum Komplemen)

(c) A ⊕ U = ( A ∪ U) – ( A ∩ U) (Definisi operasi beda setangkup)
= U – A (Hukum Null dan Hukum Identitas)
= A (Definisi operasi selisih)


55
BAB V
RELASI

Relasi biner R antara himpunan A dan B adalah himpunan bagian dari A × B.
Notasi: R ⊆ (A × B).
• a R b adalah notasi untuk (a, b) ∈ R, yang artinya a dihubungankan dengan b oleh R
• a R b adalah notasi untuk (a, b) ∉ R, yang artinya a tidak dihubungkan oleh b oleh
relasi R.
• Himpunan A disebut daerah asal (domain) dari R, dan himpunan B disebut daerah
hasil (range) dari R.

Contoh 1. Misalkan
A = {Amir, Budi, Cecep}, B = { IF251, IF342, IF323}
A × B = {(Amir, IF221), (Amir, IF251), (Amir, IF342),
(Amir, IF323), (Budi, IF221), (Budi, IF251),
(Budi, IF342), (Budi, IF323), (Cecep, IF221),
(Cecep, IF251), (Cecep, IF342), (Cecep, IF323) }

Misalkan R adalah relasi yang menyatakan mata kuliah yang diambil oleh mahasiswa
pada Semester Ganjil, yaitu:
R = {(Amir, IF251), (Amir, IF323), (Budi, IF221), (Budi, IF251), (Cecep, IF323)}
- Dapat dilihat bahwa R ⊆ (A × B),
- A adalah daerah asal R, dan B adalah daerah hasil R.
- (Amir, IF251) ∈ R atau Amir R IF251
- (Amir, IF342) ∉ R atau Amir R IF342.

Contoh 2. Misalkan P = {2, 3, 4} dan Q = {2, 4, 8, 9, 15}. Jika kita definisikan relasi R
dari P ke Q dengan (p, q) ∈ R jika p habis membagi q

maka kita peroleh
R = {(2, 2), (2, 4), (4, 4), (2, 8), (4, 8), (3, 9), (3, 15) }
• Relasi pada sebuah himpunan adalah relasi yang khusus
• Relasi pada himpunan A adalah relasi dari A × A.
56
• Relasi pada himpunan A adalah himpunan bagian dari A × A.

Contoh 3. Misalkan R adalah relasi pada A = {2, 3, 4, 8, 9} yang didefinisikan oleh (x, y)
∈ R jika x adalah faktor prima dari y.
Maka
R = {(2, 2), (2, 4), (2, 8), (3, 3), (3, 9)}

Representasi Relasi
1. Representasi Relasi dengan Diagram Panah

Amir
Budi
Cecep
IF221
IF251
IF342
IF323
2
3
4
2
4
8
9
15
2
3
4
8
9
2
3
4
8
9
A
B
P
Q
A A

2.. Representasi Relasi dengan Tabel
• Kolom pertama tabel menyatakan daerah asal, sedangkan kolom kedua
menyatakan daerah hasil.
Tabel 1 Tabel 2 Tabel 3
A B P Q A A
Amir IF251 2 2 2 2
Amir IF323 2 4 2 4
Budi IF221 4 4 2 8
Budi IF251 2 8 3 3
Cecep IF323 4 8 3 3
3 9
3 15

3. Representasi Relasi dengan Matriks
• Misalkan R adalah relasi dari A = {a
1
, a
2
, …, a
m
} dan B = {b
1
, b
2
, …, b
n
}.
• Relasi R dapat disajikan dengan matriks M = [m
ij
],
b
1
b
2
… b
n

57
M =
(
(
(
(
¸
(

¸

mn m m
n
n
m
m m m
m m m
m m m
a
a
a
L
M M M M
L
L
M
2 1
2 22 21
1 12 11
2
1


yang dalam hal ini
¹
´
¦


=
R b a
R b a
m
j i
j i
ij
) , ( , 0
) , ( , 1


Contoh 4. Relasi R pada Contoh 1 dapat dinyatakan dengan matriks
(
(
(
¸
(

¸

1 0 0 0
0 0 1 1
1 0 1 0

dalam hal ini, a
1
= Amir, a
2
= Budi, a
3
= Cecep, dan b
1
= IF221, b
2
= IF251, b
3
= IF342,
dan b
4
= IF323.

Relasi R pada Contoh 2 dapat dinyatakan dengan matriks
(
(
(
¸
(

¸

0 0 1 1 0
1 1 0 0 0
0 0 1 1 1

dalam hal ini, a
1
= 2, a
2
= 3, a
3
= 4, dan b
1
= 2, b
2
= 4, b
3
= 8, b
4
= 9, b
5
= 15.

4. Representasi Relasi dengan Graf Berarah
Relasi pada sebuah himpunan dapat direpresentasikan secara grafis dengan graf
berarah (directed graph atau digraph)
• Graf berarah tidak didefinisikan untuk merepresentasikan relasi dari suatu
himpunan ke himpunan lain.
• Tiap elemen himpunan dinyatakan dengan sebuah titik (disebut juga simpul atau
vertex), dan tiap pasangan terurut dinyatakan dengan busur (arc)
• Jika (a, b) ∈ R, maka sebuah busur dibuat dari simpul a ke simpul b. Simpul a
disebut simpul asal (initial vertex) dan simpul b disebut simpul tujuan (terminal
vertex).
• Pasangan terurut (a, a) dinyatakan dengan busur dari simpul a ke simpul a
sendiri. Busur semacam itu disebut gelang atau kalang (loop).
58

Contoh 5. Misalkan R = {(a, a), (a, b), (b, a), (b, c), (b, d), (c, a), (c, d), (d, b)} adalah
relasi pada himpunan {a, b, c, d}.

R direpresentasikan dengan graf berarah sbb:

Sifat-sifat Relasi Biner
Relasi biner yang didefinisikan pada sebuah himpunan mempunyai beberapa sifat.

1. Refleksif (reflexive)
Definisi
Relasi R pada himpunan A disebut refleksif jika (a, a) ∈ R untuk setiap a ∈ A.

Relasi R pada himpunan A tidak refleksif jika ada a ∈ A sedemikian sehingga (a, a)
∉ R.

Contoh 6. Misalkan A = {1, 2, 3, 4}, dan relasi R di bawah ini didefinisikan pada
himpunan A, maka
(a) Relasi R = {(1, 1), (1, 3), (2, 1), (2, 2), (3, 3), (4, 2), (4, 3), (4, 4)} bersifat
refleksif karena terdapat elemen relasi yang berbentuk (a, a), yaitu (1, 1), (2, 2),
(3, 3), dan (4, 4).
(b) Relasi R = {(1, 1), (2, 2), (2, 3), (4, 2), (4, 3), (4, 4) } tidak bersifat refleksif
karena (3, 3) ∉ R.

Contoh 7. Relasi “habis membagi” pada himpunan bilangan bulat positif bersifat
refleksif karena setiap bilangan bulat positif habis dibagi dengan dirinya
sendiri, sehingga (a, a)∈R untuk setiap a ∈ A.
a
b
c d
59

Contoh 8. Tiga buah relasi di bawah ini menyatakan relasi pada himpunan bilangan bulat
positif N.
R : x lebih besar dari y, S : x + y = 5, T : 3x + y = 10

Tidak satupun dari ketiga relasi di atas yang refleksif karena, misalkan (2, 2) bukan
anggota R, S, maupun T.

Relasi yang bersifat refleksif mempunyai matriks yang elemen diagonal utamanya semua
bernilai 1, atau m
ii
= 1, untuk i = 1, 2, …, n,

(
(
(
(
(
(
¸
(

¸

1
1
1
1
O


Graf berarah dari relasi yang bersifat refleksif dicirikan adanya gelang pada setiap
simpulnya.

2. Menghantar (transitive)
Definisi
Relasi R pada himpunan A disebut menghantar jika (a, b) ∈ R dan (b, c) ∈ R, maka
(a, c) ∈ R, untuk a, b, c ∈ A.
Contoh 9. Misalkan A = {1, 2, 3, 4}, dan relasi R di bawah ini didefinisikan pada
himpunan A, maka
(a) R = {(2, 1), (3, 1), (3, 2), (4, 1), (4, 2), (4, 3) } bersifat menghantar. Lihat tabel
berikut:

Pasangan berbentuk
(a, b) (b, c) (a, c)

(3, 2) (2, 1) (3, 1)
(4, 2) (2, 1) (4, 1)
60
(4, 3) (3, 1) (4, 1)
(4, 3) (3, 2) (4, 2)


(b) R = {(1, 1), (2, 3), (2, 4), (4, 2) } tidak manghantar karena
(2, 4) dan (4, 2) ∈ R, tetapi (2, 2) ∉ R, begitu juga (4, 2) dan (2, 3) ∈ R, tetapi
(4, 3) ∉ R.
(c) Relasi R = {(1, 1), (2, 2), (3, 3), (4, 4) } jelas menghantar
(d) Relasi R = {(1, 2), (3, 4)} menghantar karena tidak ada
(a, b) ∈ R dan (b, c) ∈ R sedemikian sehingga (a, c) ∈ R.
Relasi yang hanya berisi satu elemen seperti R = {(4, 5)} selalu menghantar.

Contoh 10. Relasi “habis membagi” pada himpunan bilangan bulat positif bersifat
menghantar. Misalkan bahwa a habis membagi b dan b habis membagi c.
Maka terdapat bilangan positif m dan n sedemikian sehingga b = ma dan c =
nb. Di sini c = nma, sehingga a habis membagi c. Jadi, relasi “habis
membagi” bersifat menghantar.

Contoh 11. Tiga buah relasi di bawah ini menyatakan relasi pada himpunan bilangan
bulat positif N.
R : x lebih besar dari y, S : x + y = 6, T : 3x + y = 10
- R adalah relasi menghantar karena jika x > y dan y > z maka x > z.
- S tidak menghantar karena, misalkan (4, 2) dan (2, 4) adalah anggota S tetapi (4,
4) ∉ S.
- T = {(1, 7), (2, 4), (3, 1)} menghantar.

Relasi yang bersifat menghantar tidak mempunyai ciri khusus pada matriks
representasinya
Sifat menghantar pada graf berarah ditunjukkan oleh: jika ada busur dari a ke b dan
dari b ke c, maka juga terdapat busur berarah dari a ke c.

3. Setangkup (symmetric) dan tolak-setangkup (antisymmetric)
Definisi
61
Relasi R pada himpunan A disebut setangkup jika (a, b) ∈ R, maka (b, a) ∈ R untuk a,
b ∈ A.

Relasi R pada himpunan A tidak setangkup jika (a, b) ∈ R sedemikian sehingga (b, a)
∉ R.

Definisi
Relasi R pada himpunan A sedemikian sehingga (a, b) ∈ R dan (b, a) ∈ R hanya jika
a = b untuk a, b ∈ A disebut tolak-setangkup.

Relasi R pada himpunan A tidak tolak-setangkup jika ada elemen berbeda a dan b
sedemikian sehingga (a, b) ∈ R dan (b, a) ∈ R.

Contoh 12. Misalkan A = {1, 2, 3, 4}, dan relasi R di bawah ini didefinisikan pada
himpunan A, maka
(a) Relasi R = {(1, 1), (1, 2), (2, 1), (2, 2), (2, 4), (4, 2), (4, 4) } bersifat setangkup
karena jika (a, b) ∈ R maka (b, a) juga ∈ R. Di sini (1, 2) dan (2, 1) ∈ R, begitu
juga (2, 4) dan (4, 2) ∈ R.
(b) Relasi R = {(1, 1), (2, 3), (2, 4), (4, 2) } tidak setangkup karena (2, 3) ∈ R, tetapi
(3, 2) ∉ R.
(c) Relasi R = {(1, 1), (2, 2), (3, 3) } tolak-setangkup karena 1 = 1 dan (1, 1) ∈ R, 2 =
2 dan (2, 2) ∈ R, dan 3 = 3 dan (3, 3) ∈ R. Perhatikan bahwa R juga setangkup.
(d) Relasi R = {(1, 1), (1, 2), (2, 2), (2, 3) } tolak-setangkup karena (1, 1) ∈ R dan 1 =
1 dan, (2, 2) ∈ R dan 2 = 2 dan. Perhatikan bahwa R tidak setangkup.
(e) Relasi R = {(1, 1), (2, 4), (3, 3), (4, 2) } tidak tolak-setangkup karena 2 ≠ 4 tetapi
(2, 4) dan (4, 2) anggota R. Relasi R pada (a) dan (b) di atas juga tidak tolak-
setangkup.
(f) Relasi R = {(1, 2), (2, 3), (1, 3) } tidak setangkup tetapi tolak-setangkup.
Relasi R = {(1, 1), (2, 2), (2, 3), (3, 2), (4, 2), (4, 4)} tidak setangkup dan tidak
tolak-setangkup. R tidak setangkup karena (4, 2) ∈ R tetapi (2, 4) ∉ R. R tidak
tolak-setangkup karena (2, 3) ∈ R dan (3, 2) ∈ R tetap 2 ≠ 3.

62
Contoh 13. Relasi “habis membagi” pada himpunan bilangan bulat positif tidak
setangkup karena jika a habis membagi b, b tidak habis membagi a, kecuali
jika a = b. Sebagai contoh, 2 habis membagi 4, tetapi 4 tidak habis membagi
2. Karena itu, (2, 4) ∈ R tetapi (4, 2) ∉ R. Relasi “habis membagi” tolak-
setangkup karena jika a habis membagi b dan b habis membagi a maka a =
b. Sebagai contoh, 4 habis membagi 4. Karena itu, (4, 4) ∈ R dan 4 = 4.

Contoh 14. Tiga buah relasi di bawah ini menyatakan relasi pada himpunan bilangan
bulat positif N.
R : x lebih besar dari y, S : x + y = 6, T : 3x + y = 10
- R bukan relasi setangkup karena, misalkan 5 lebih besar dari 3 tetapi 3
tidak lebih besar dari 5.
- S relasi setangkup karena (4, 2) dan (2, 4) adalah anggota S.
- T tidak setangkup karena, misalkan (3, 1) adalah anggota T tetapi (1, 3)
bukan anggota T.
- S bukan relasi tolak-setangkup karena, misalkan (4, 2) ∈ S dan (4, 2) ∈ S
tetapi 4 ≠ 2.
- Relasi R dan T keduanya tolak-setangkup (tunjukkan!).
Relasi yang bersifat setangkup mempunyai matriks yang elemen-elemen di bawah
diagonal utama merupakan pencerminan dari elemen-elemen di atas diagonal utama,
atau m
ij
= m
ji
= 1, untuk i = 1, 2, …, n :
(
(
(
(
(
(
¸
(

¸

0
1
0
1

Sedangkan graf berarah dari relasi yang bersifat setangkup dicirikan oleh: jika ada
busur dari a ke b, maka juga ada busur dari b ke a.
• Matriks dari relasi tolak-setangkup mempunyai sifat yaitu jika m
ij
= 1 dengan i ≠
j, maka m
ji
= 0. Dengan kata lain, matriks dari relasi tolak-setangkup adalah jika
salah satu dari m
ij
= 0 atau m
ji
= 0 bila i ≠ j :
63
(
(
(
(
(
(
¸
(

¸

0
1
1 0
0
1

• Sedangkan graf berarah dari relasi yang bersifat tolak-setangkup dicirikan oleh:
jika dan hanya jika tidak pernah ada dua busur dalam arah berlawanan antara dua
simpul berbeda.

Relasi Inversi
Definisi
Misalkan R adalah relasi dari himpunan A ke himpunan B. Invers dari relasi R,
dilambangkan dengan R
–1
, adalah relasi dari B ke A yang didefinisikan oleh

R
–1
= {(b, a) | (a, b) ∈ R }

Contoh 15. Misalkan P = {2, 3, 4} dan Q = {2, 4, 8, 9, 15}. Jika kita definisikan relasi R
dari P ke Q dengan (p, q) ∈ R jika p habis membagi q

maka kita peroleh
R = {(2, 2), (2, 4), (4, 4), (2, 8), (4, 8), (3, 9), (3, 15) }
R
–1
adalah invers dari relasi R, yaitu relasi dari Q ke P dengan (q, p) ∈ R
–1
jika q adalah
kelipatan dari p

maka kita peroleh

Jika M adalah matriks yang merepresentasikan relasi R,
M =
(
(
(
¸
(

¸

0 0 1 1 0
1 1 0 0 0
0 0 1 1 1

maka matriks yang merepresentasikan relasi R
–1
, misalkan N, diperoleh dengan
melakukan transpose terhadap matriks M,
64
N = M
T
=
(
(
(
(
(
(
¸
(

¸

0 1 0
0 1 0
1 0 1
1 0 1
0 0 1


Relasi Kesetaraan
Definisi
Relasi R pada himpunan A disebut relasi kesetaraan (equivalence relation) jika ia
refleksif, setangkup dan menghantar.

Secara intuitif, di dalam relasi kesetaraan, dua benda berhubungan jika keduanya
memiliki beberapa sifat yang sama atau memenuhi beberapa persyaratan yang sama. Dua
elemen yang dihubungkan dengan relasi kesetaraan dinamakan setara (equivalent).
Contoh:
A = himpunan mahasiswa, R relasi pada A:
(a, b) ∈ R jika a satu angkatan dengan b.
R refleksif: setiap mahasiswa seangkatan dengan dirinya sendiri
R setangkup: jika a seangkatan dengan b, maka b pasti seangkatan dengan a.
R menghantar: jika a seangkatan dengan b dan b seangkatan dengan c, maka pastilah a
seangkatan dengan c.
Dengan demikian, R adalah relasi kesetaraan.

Relasi Pengurutan Parcial
Definisi
Relasi R pada himpunan S dikatakan relasi pengurutan parsial (partial ordering relation)
jika ia refleksif, tolak-setangkup, dan menghantar.
Himpunan S bersama-sama dengan relasi R disebut himpunan terurut secara
parsial (partially ordered set, atau poset), dan dilambangkan dengan (S, R).

Contoh 16. Relasi ≥ pada himpunan bilangan bulat adalah relasi pengurutan parsial.
Alasan:
Relasi ≥ refleksif, karena a ≥ a untuk setiap bilangan bulat a;
Relasi ≥ tolak-setangkup, karena jika a ≥ b dan b ≥ a, maka a = b;
65
Relasi ≥ menghantar, karena jika a ≥ b dan b ≥ c maka a ≥ c.
Contoh 17. Relasi “habis membagi” pada himpunan bilangan bulat adalah relasi
pengurutan parsial.
Alasan: relasi “habis membagi” bersifat refleksif, tolak-setangkup, dan
menghantar.

Secara intuitif, di dalam relasi pengurutan parsial, dua buah benda saling berhubungan
jika salah satunya -- lebih kecil (lebih besar) daripada, atau lebih rendah (lebih tinggi)
daripada lainnya menurut sifat atau kriteria tertentu. Istilah pengurutan menyatakan
bahwa benda-benda di dalam himpunan tersebut dirutkan berdasarkan sifat atau kriteria
tersebut. Ada juga kemungkinan dua buah benda di dalam himpunan tidak berhubungan
dalam suatu relasi pengurutan parsial. Dalam hal demikian, kita tidak dapat
membandingkan keduanya sehingga tidak dapat diidentifikasi mana yang lebih besar atau
lebih kecil. Itulah alasan digunakan istilah pengurutan parsial atau pengurutan tak-
lengkap

Klosur Relasi (closure of relation)
Contoh 18. Relasi R = {(1, 1), (1, 3), (2, 3), (3, 2)} pada himpunan A = {1, 2, 3} tidak
refleksif.

Bagaimana membuat relasi refleksif yang sesedikit mungkin dan mengandung R?
• Tambahkan (2, 2) dan (3, 3) ke dalam R (karena dua elemen relasi ini yang belum
terdapat di dalam R)
Relasi baru, S, mengandung R, yaitu S = {(1, 1), (1, 3), (2, 2), (2, 3), (3, 2), (3, 3)}
• Relasi S disebut klosur refleksif (reflexive closure) dari R.
Contoh 19. Relasi R = {(1, 3), (1, 2), (2, 1), (3, 2), (3, 3)} pada himpunan A = {1, 2, 3}
tidak setangkup.
Bagaimana membuat relasi setangkup yang sesedikit mungkin dan mengandung R?
• Tambahkan (3, 1) dan (2, 3) ke dalam R (karena dua elemen relasi ini yang belum
terdapat di dalam S agar S menjadi setangkup).
Relasi baru, S, mengandung R:
S = {(1, 3), (3, 1), (1, 2), (2, 1), (3, 2), (2, 3), (3, 3)}
Relasi S disebut klosur setangkup (symmetric closure) dari R.
66

Definisi Klosur
Misalkan R adalah relasi pada himpunan A. R dapat memiliki atau tidak memiliki sifat P,
seperti refleksif, setangkup, atau menghantar. Jika terdapat relasi S

dengan sifat P yang
mengandung R sedemikian sehingga S adalah himpunan bagian dari setiap relasi dengan
sifat P yang mengandung R, maka S disebut klosur (closure) atau tutupan dari R
[ROS03].

Klosur Refleksif
Misalkan R adalah sebuah relasi pada himpunan A. Klosur refleksif dari R adalah R ∪ ∆,
yang dalam hal ini ∆ = {(a, a) | a ∈ A}.

Contoh 20. R = {(1, 1), (1, 3), (2, 3), (3, 2)} adalah relasi pada A = {1, 2, 3}, maka ∆ =
{(1, 1), (2, 2), (3, 3)}, sehingga klosur refleksif dari R adalah
R ∪ ∆ = {(1, 1), (1, 3), (2, 3), (3, 2)} ∪ {(1, 1), (2, 2), (3, 3)}
= {(1, 1), (1, 3), (2, 2), (2, 3), (3, 2), (3, 3)}
Contoh 21. Misalkan R adalah relasi {(a, b) | a ≠ b} pada himpunan bilangan bulat.
Klosur refleksif dari R adalah
R ∪ ∆ = {(a, b) | a ≠ b} ∪ {(a, a) | a ∈ Z}
= {(a, b) | a, b ∈ Z}

Klosur setangkup
Misalkan R adalah sebuah relasi pada himpunan A. Klosur setangkup dari R adalah R ∪
R
-1
, dengan R
-1
= {(b, a) | (a, b) a ∈ R}.

Contoh 22. R = {(1, 3), (1, 2), (2, 1), (3, 2), (3, 3)} adalah relasi pada A = {1, 2, 3}, maka
R
-1
= {(3, 1), (2, 1), (1, 2), (2, 3), (3, 3)} sehingga klosur setangkup dari R
adalah
R ∪ R
-1
= {(1, 3), (1, 2), (2, 1), (3, 2), (3, 3)} ∪ {(3, 1), (2, 1), (1, 2), (2, 3),
(3, 3)}
= {(1, 3), (3, 1), (1, 2), (2, 1), (3, 2), (2, 3), (3, 3)}

67
Contoh 23. Misalkan R adalah relasi {(a, b) | a habis membagi b}pada himpunan
bilangan bulat. Klosur setangkup dari R adalah
R ∪ R
-1
= {(a, b) | a habis membagi b} ∪ {(b, a) | b habis membagi a}
= {(a, b) | a habis membagi b atau b habis membagi a}

Klosur menghantar
Pembentukan klosur menghantar lebih sulit daripada dua buah klosur sebelumnya.

Contoh 24. R = {(1, 2), (1, 4), (2, 1), (3, 2)} adalah relasi A = {1, 2, 3, 4}.
R tidak transitif karena tidak mengandung semua pasangan (a, c) sedemikian sehingga (a,
b) dan (b, c) di dalam R. Pasangan (a, c) yang tidak terdapat di dalam R adalah (1, 1), (2,
2), (2, 4), dan (3, 1). Penambahan semua pasangan ini ke dalam R sehingga menjadi
S = {(1, 2), (1, 4), (2, 1), (3, 2), (1, 1), (2, 2), (2, 4), (3, 1)}
tidak menghasilkan relasi yang bersifat menghantar karena, misalnya terdapat (3, 1) ∈ S
dan (1, 4) ∈ S, tetapi (3, 4) ∉ S.

Klosur menghantar dari R adalah
R
*
= R
2
∪ R
3
∪ … ∪ R
n

Jika M
R
adalah matriks yang merepresentasikan R pada sebuah himpunan dengan n
elemen, maka matriks klosur menghantar R
*
adalah
=
*
R
M M
R

] 2 [
R
M ∨
] 3 [
R
M ∨ … ∨
] [n
R
M
Misalkan R = {(1, 1), (1, 3), (2, 2), (3, 1), (3, 2)} adalah relasi pada himpunan A = {1, 2,
3}. Tentukan klosur menghantar dari R.

Penyelesaian:
Matriks yang merepresentasikan relasi R adalah
M
R
=
(
(
(
¸
(

¸

0 1 1
0 1 0
1 0 1

Maka, matriks klosur menghantar dari R adalah
= *
R
M M
R

] 2 [
R
M ∨
] 3 [
R
M
Karena
68

(
(
(
¸
(

¸

= ⋅ =
1 1 1
0 1 0
1 1 1
] 2 [
R R R
M M M dan
(
(
(
¸
(

¸

= ⋅ =
1 1 1
0 1 0
1 1 1
] 2 [ ] 3 [
R R R
M M M
maka
= *
R
M
(
(
(
¸
(

¸

1 1 1
0 1 0
1 0 1

(
(
(
¸
(

¸

1 1 1
0 1 0
1 1 1

(
(
(
¸
(

¸

1 1 1
0 1 0
1 1 1
=
(
(
(
¸
(

¸

1 1 1
0 1 0
1 1 1

Dengan demikian, R
*
= {(1, 1), (1, 2), (1, 3), (2, 2), (3, 1), (3, 2), (3, 3) }

Mengkombinasikan Relasi
Karena relasi biner merupakan himpunan pasangan terurut, maka operasi
himpunan seperti irisan, gabungan, selisih, dan beda setangkup antara dua relasi atau
lebih juga berlaku. Jika R
1
dan R
2
masing-masing adalah relasi dari himpuna A ke
himpunan B, maka R
1
∩ R
2
, R
1
∪ R
2
, R
1
– R
2
, dan R
1
⊕ R
2
juga adalah relasi dari A ke B.

Contoh 25. Misalkan A = {a, b, c} dan B = {a, b, c, d}.

Relasi R
1
= {(a, a), (b, b), (c, c)}
Relasi R
2
= {(a, a), (a, b), (a, c), (a, d)}

R
1
∩ R
2
= {(a, a)}
R
1
∪ R
2
= {(a, a), (b, b), (c, c), (a, b), (a, c), (a, d)}
R
1
− R
2
= {(b, b), (c, c)}
R
2
− R
1
= {(a, b), (a, c), (a, d)}
R
1
⊕ R
2
= {(b, b), (c, c), (a, b), (a, c), (a, d)}

Jika relasi R
1
dan R
2
masing-masing dinyatakan dengan matriks M
R1
dan M
R2
, maka
matriks yang menyatakan gabungan dan irisan dari kedua relasi tersebut adalah
M
R1 ∪ R2
= M
R1
∨ M
R2
dan M
R1 ∩ R2
= M
R1
∧ M
R2

Contoh 26. Misalkan bahwa relasi R
1
dan R
2
pada himpunan A dinyatakan oleh matriks
R
1
=
(
(
(
¸
(

¸

0 1 1
1 0 1
0 0 1
dan R
2
=
(
(
(
¸
(

¸

0 0 1
1 1 0
0 1 0

69
maka
M
R1 ∪ R2
= M
R1
∨ M
R2
=
(
(
(
¸
(

¸

0 1 1
1 1 1
0 1 1


M
R1 ∩ R2
= M
R1
∧ M
R2
=
(
(
(
¸
(

¸

0 0 1
1 0 0
0 0 0


Komposisi Relasi

Definisi
Misalkan R adalah relasi dari himpunan A ke himpunan B, dan S adalah relasi dari
himpunan B ke himpunan C. Komposisi R dan S, dinotasikan dengan S ο R, adalah
relasi dari A ke C yang didefinisikan oleh
S ο R = {(a, c) | a ∈ A, c ∈ C, dan untuk beberapa b ∈ B, (a, b) ∈ R dan (b, c) ∈
S }

Contoh 27. Misalkan R = {(1, 2), (1, 6), (2, 4), (3, 4), (3, 6), (3, 8)} adalah relasi dari
himpunan {1, 2, 3} ke himpunan {2, 4, 6, 8} dan S = {(2, u), (4, s), (4, t), (6,
t), (8, u) adalah relasi dari himpunan {2, 4, 6, 8} ke himpunan {s, t, u}. Maka
komposisi relasi R dan S adalah
S ο R = {(1, u), (1, t), (2, s), (2, t), (3, s), (3, t), (3, u) }

Komposisi relasi R dan S lebih jelas jika diperagakan dengan diagram panah:
1
2
3
2
4
6
8
s
t
u


Jika relasi R
1
dan R
2
masing-masing dinyatakan dengan matriks M
R1
dan M
R2
, maka
matriks yang menyatakan komposisi dari kedua relasi tersebut adalah
M
R2 ο R1
= M
R1
⋅ M
R2

70
yang dalam hal ini operator “.” sama seperti pada perkalian matriks biasa, tetapi dengan
mengganti tanda kali dengan “∧” dan tanda tambah dengan “∨”.

Contoh 28. Misalkan bahwa relasi R
1
dan R
2
pada himpunan A dinyatakan oleh matriks
R
1
=
(
(
(
¸
(

¸

0 0 0
0 1 1
1 0 1
dan R
2
=
(
(
(
¸
(

¸

1 0 1
1 0 0
0 1 0

maka matriks yang menyatakan R
2
ο R
1
adalah
M
R2 ο R1
= M
R1
. M
R2


(
(
(
¸
(

¸

∧ ∨ ∧ ∨ ∧ ∧ ∨ ∧ ∨ ∧ ∧ ∨ ∧ ∨ ∧
∧ ∨ ∧ ∨ ∧ ∧ ∨ ∧ ∨ ∧ ∧ ∨ ∧ ∨ ∧
∧ ∨ ∧ ∨ ∧ ∧ ∨ ∧ ∨ ∧ ∧ ∨ ∧ ∨ ∧
) 1 0 ( ) 1 0 ( ) 0 0 ( ) 0 0 ( ) 0 0 ( ) 1 0 ( ) 1 0 ( ) 0 0 ( ) 0 0 (
) 1 0 ( ) 1 1 ( ) 0 1 ( ) 0 0 ( ) 0 1 ( ) 1 1 ( ) 1 0 ( ) 0 1 ( ) 0 1 (
) 1 1 ( ) 1 0 ( ) 0 1 ( ) 0 1 ( ) 0 0 ( ) 1 1 ( ) 1 1 ( ) 0 0 ( ) 0 1 (

=
(
(
(
¸
(

¸

0 0 0
1 1 0
1 1 1

71
Fungsi

Definisi
Misalkan A dan B himpunan. Relasi biner f dari A ke B merupakan suatu fungsi jika
setiap elemen di dalam A dihubungkan dengan tepat satu elemen di dalam B.

Jika f adalah fungsi dari A ke B kita menuliskan
f : A → B
yang artinya f memetakan A ke B.

• A disebut daerah asal (domain) dari f dan B disebut daerah hasil (codomain)
dari f.
• Nama lain untuk fungsi adalah pemetaan atau transformasi.

Kita menuliskan f(a) = b jika elemen a di dalam A dihubungkan dengan elemen b di
dalam B. Jika f(a) = b, maka b dinamakan bayangan (image) dari a dan a dinamakan
pra-bayangan (pre-image) dari b.

Himpunan yang berisi semua nilai pemetaan f disebut jelajah (range) dari f. Perhatikan
bahwa jelajah dari f adalah himpunan bagian (mungkin proper subset) dari B.
Fungsi adalah relasi yang khusus:
1. Tiap elemen di dalam himpunan A harus digunakan oleh prosedur atau kaidah
yang mendefinisikan f.
2. Frasa “dihubungkan dengan tepat satu elemen di dalam B” berarti bahwa jika
(a, b) ∈ f dan (a, c) ∈ f, maka b = c.

Fungsi dapat dispesifikasikan dalam berbagai bentuk, diantaranya:
1. Himpunan pasangan terurut.
Seperti pada relasi.
a
b
A B
f
72
2. Formula pengisian nilai (assignment).
Contoh: f(x) = 2x + 10, f(x) = x
2
, dan f(x) = 1/x.
3. Kata-kata
Contoh: “f adalah fungsi yang memetakan jumlah bit 1 di dalam suatu
string biner”.
4. Kode program (source code)
Contoh: Fungsi menghitung |x|

function abs(x:integer):integer;
begin
if x < 0 then
abs:=-x
else
abs:=x;
end;

Contoh 29. Relasi f = {(1, u), (2, v), (3, w)} dari A = {1, 2, 3} ke B = {u, v, w} adalah
fungsi dari A ke B. Di sini f(1) = u, f(2) = v, dan f(3) = w. Daerah asal dari f
adalah A dan daerah hasil adalah B. Jelajah dari f adalah {u, v, w}, yang
dalam hal ini sama dengan himpunan B.

Contoh 30. Relasi f = {(1, u), (2, u), (3, v)}dari A = {1, 2, 3} ke B = {u, v, w} ada lah
fungsi dari A ke B, meskipun u merupakan bayangan dari dua elemen A.
Daerah asal fungsi adalah A, daerah hasilnya adalah B, dan jelajah fungsi
adalah {u, v}.

Contoh 31. Relasi f = {(1, u), (2, v), (3, w)}dari A = {1, 2, 3, 4} ke B = {u, v, w} bukan
fungsi, karena tidak semua elemen A dipetakan ke B.
Contoh 32. Relasi f = {(1, u), (1, v), (2, v), (3, w)}dari A = {1, 2, 3} ke B = {u, v, w}
bukan fungsi, karena 1 dipetakan ke dua buah elemen B, yaitu u dan v.

73
Contoh 33. Misalkan f : Z → Z didefinisikan oleh f(x) = x
2
. Daerah asal dan daerah hasil
dari f adalah himpunan bilangan bulat, dan jelajah dari f adalah himpunan
bilangan bulat tidak-negatif.

Fungsi Injektif
Definisi
Fungsi f dikatakan fungsi satu-ke-satu (one to one) atau injektif (injective) jika tidak ada
dua elemen himpunan A yang memiliki bayangan sama.


Contoh 34. Relasi f = {(1, w), (2, u), (3, v)} dari A = {1, 2, 3} ke B = {u, v, w, x} adalah
fungsi satu-ke-satu,
tetapi relasi f = {(1, u), (2, u), (3, v)}dari A = {1, 2, 3} ke B = {u, v, w} bukan
fungsi satu-ke-satu, karena f(1) = f(2) = u.

Contoh 35. Misalkan f : Z → Z. Tentukan apakah f(x) = x
2
+ 1 dan f(x) = x – 1
merupakan fungsi satu-ke-satu?
Penyelesaian:
(i) f(x) = x
2
+ 1 bukan fungsi satu-ke-satu, karena untuk dua x yang bernilai mutlak sama
tetapi tandanya berbeda nilai fungsinya sama, misalnya f(2) = f(-2) = 5 padahal –2 ≠
2.
(ii) f(x) = x – 1 adalah fungsi satu-ke-satu karena untuk a ≠ b, a – 1 ≠ b – 1.
Misalnya untuk x = 2, f(2) = 1 dan untuk x = -2, f(-2) = -3.

Fungsi Surjektif
Definisi
a 1
A B
2
3
4
5
b
c
d
74
Fungsi f dikatakan dipetakan pada (onto) atau surjektif (surjective) jika setiap elemen
himpunan B merupakan bayangan dari satu atau lebih elemen himpunan A.

Dengan kata lain seluruh elemen B merupakan jelajah dari f. Fungsi f disebut fungsi pada
himpunan B.



Contoh 36. Relasi f = {(1, u), (2, u), (3, v)}dari A = {1, 2, 3} ke B = {u, v, w} bukan
fungsi pada karena w tidak termasuk jelajah dari f. Relasi f = {(1, w), (2, u),
(3, v)} dari A = {1, 2, 3} ke B = {u, v, w} merupakan fungsi pada karena
semua anggota B merupakan jelajah dari f.

Contoh 37. Misalkan f : Z → Z. Tentukan apakah f(x) = x
2
+ 1 dan f(x) = x – 1
merupakan fungsi pada?
Penyelesaian:
(i) f(x) = x
2
+ 1 bukan fungsi pada, karena tidak semua nilai bilangan bulat merupakan
jelajah dari f.
(ii) f(x) = x – 1 adalah fungsi pada karena untuk setiap bilangan bulat y, selalu ada nilai x
yang memenuhi, yaitu y = x – 1 akan dipenuhi untuk x = y + 1.
Fungís Bijeksi
Definisi
Fungsi f dikatakan berkoresponden satu-ke-satu atau bijeksi (bijection) jika ia fungsi
satu-ke-satu dan juga fungsi pada.

Contoh 38. Relasi f = {(1, u), (2, w), (3, v)} dari A = {1, 2, 3} ke B = {u, v, w} adalah
fungsi yang berkoresponden satu-ke-satu, karena f adalah fungsi satu-ke-satu maupun
fungsi pada.
a 1
A B
2
3
b
c
d
75

Contoh 39. Fungsi f(x) = x – 1 merupakan fungsi yang berkoresponden satu-ke-satu,
karena f adalah fungsi satu-ke-satu maupun fungsi pada.

Fungsi satu-ke-satu, Fungsi pada,
bukan pada bukan satu-ke-satu

Buka fungsi satu-ke-satu Bukan fungsi
maupun pada

Jika f adalah fungsi berkoresponden satu-ke-satu dari A ke B, maka kita dapat
menemukan balikan (invers) dari f. Balikan fungsi dilambangkan dengan f
–1
.
Misalkan a adalah anggota himpunan A dan b adalah anggota himpunan B, maka f
-
1
(b) = a jika f(a) = b.
Fungsi yang berkoresponden satu-ke-satu sering dinamakan juga fungsi yang
invertible (dapat dibalikkan), karena kita dapat mendefinisikan fungsi balikannya.
Sebuah fungsi dikatakan not invertible (tidak dapat dibalikkan) jika ia bukan fungsi
yang berkoresponden satu-ke-satu, karena fungsi balikannya tidak ada.

Contoh 40. Relasi f = {(1, u), (2, w), (3, v)}dari A = {1, 2, 3} ke B = {u, v, w} adalah
fungsi yang berkoresponden satu-ke-satu. Balikan fungsi f hádala f
-1
= {(u,
1), (w, 2), (v, 3)}
Jadi, f adalah fungsi invertible.

Contoh 41. Tentukan balikan fungsi f(x) = x – 1.
a
1
A
B
2
3
b
c
4
a
1
A
B
2
3
b
c
c d
a
1
A B
2
3
b
c
c d
4
a
1
A B
2
3
b
c
c d
4
76

Penyelesaian:
Fungsi f(x) = x – 1 adalah fungsi yang berkoresponden satu-ke-satu, jadi balikan fungsi
tersebut ada.
Misalkan f(x) = y, sehingga y = x – 1, maka x = y + 1. Jadi, balikan fungsi balikannya
adalah f
-1
(y) = y +1.

Contoh 42. Tentukan balikan fungsi f(x) = x
2
+ 1.

Penyelesaian:
Dari Contoh 3.41 dan 3.44 kita sudah menyimpulkan bahwa f(x) = x – 1 bukan fungsi
yang berkoresponden satu-ke-satu, sehingga fungsi balikannya tidak ada. Jadi, f(x) = x
2
+
1 adalah funsgi yang not invertible.

Komposisi dari dua buah fungsi
Definisi
Misalkan g adalah fungsi dari himpunan A ke himpunan B, dan f adalah fungsi dari
himpunan B ke himpunan C. Komposisi f dan g, dinotasikan dengan f ο g, adalah fungsi
dari A ke C yang didefinisikan oleh
(f ο g)(a) = f(g(a))

Contoh 43. Diberikan fungsi g = {(1, u), (2, u), (3, v) yang memetakan A = {1, 2, 3} ke B
= {u, v, w}, dan fungsi f = {(u, y), (v, x), (w, z)} yang memetakan B = {u, v,
w} ke C = {x, y, z}. Fungsi komposisi dari A ke C adalah
f ο g = {(1, y), (2, y), (3, x) }

Contoh 44. Diberikan fungsi f(x) = x–1 dan g(x) = x
2
+1. Tentukan f ο g dan g ο f .
Penyelesaian:
(i) (f ο g)(x) = f(g(x)) = f(x
2
+ 1) = x
2
+ 1 – 1 = x
2
.
(ii) (g ο f)(x) = g(f(x)) = g(x – 1) = (x –1)
2
+ 1 = x
2
- 2x + 2.

Beberapa Fungsi Khusus
1. Fungsi Floor dan Ceiling
77
Misalkan x adalah bilangan riil, berarti x berada di antara dua bilangan bulat.
Fungsi floor dari x:
¸x¸ menyatakan nilai bilangan bulat terbesar yang lebih kecil atau sama dengan x
Fungsi ceiling dari x:
x( menyatakan bilangan bulat terkecil yang lebih besar atau sama dengan x
Dengan kata lain, fungsi floor membulatkan x ke bawah, sedangkan fungsi ceiling
membulatkan x ke atas.

Contoh 45. Beberapa contoh nilai fungsi floor dan ceiling:
¸3.5¸ = 3 3.5( = 4
¸0.5¸ = 0 0.5( = 1
¸4.8¸ = 4 4.8( = 5
¸– 0.5¸ = – 1 ¸– 0.5¸ = 0
¸–3.5¸ = – 4 –3.5( = – 3

Contoh 46. Di dalam komputer, data dikodekan dalam untaian byte, satu byte terdiri atas
8 bit. Jika panjang data 125 bit, maka jumlah byte yang diperlukan untuk
merepresentasikan data adalah 125/8( = 16 byte. Perhatikanlah bahwa 16 ×
8 = 128 bit, sehingga untuk byte yang terakhir perlu ditambahkan 3 bit
ekstra agar satu byte tetap 8 bit (bit ekstra yang ditambahkan untuk
menggenapi 8 bit disebut padding bits).

2. Fungsi modulo
Misalkan a adalah sembarang bilangan bulat dan m adalah bilangan bulat positif. a mod
m memberikan sisa pembagian bilangan bulat bila a dibagi dengan m
a mod m = r sedemikian sehingga a = mq + r, dengan 0 ≤ r < m.

Contoh 47. Beberapa contoh fungsi modulo
25 mod 7 = 4
15 mod 4 = 0
3612 mod 45 = 12
0 mod 5 = 5
–25 mod 7 = 3 (sebab –25 = 7 ⋅ (–4) + 3 )
78
3. Fungsi Faktorial

¹
´
¦
> × − × × ×
=
=
0 , ) 1 ( . 2 1
0 , 1
!
n n n
n
n
L


4. Fungsi Eksponensial
¦
¹
¦
´
¦
> × × ×
=
=
0 ,
0 , 1
n a a a
n
a
n
n
4 43 4 42 1
L


Untuk kasus perpangkatan negatif,

n
n
a
a
1
=



5. Fungsi Logaritmik
Fungsi logaritmik berbentuk
x y
a
log = ↔ x = a
y


Fungsi Rekursif
Definisi
Fungsi f dikatakan fungsi rekursif jika definisi fungsinya mengacu pada dirinya sendiri.

Contoh 47. n! = 1 × 2 × … × (n – 1) × n = (n – 1)! × n.
¹
´
¦
> − ×
=
=
0 , )! 1 (
0 , 1
!
n n n
n
n


Fungsi rekursif disusun oleh dua bagian:
(a) Basis
Bagian yang berisi nilai awal yang tidak mengacu pada dirinya sendiri. Bagian ini
juga sekaligus menghentikan definisi rekursif.
(b) Rekurens
Bagian ini mendefinisikan argumen fungsi dalam terminologi dirinya sendiri. Setiap
kali fungsi mengacu pada dirinya sendiri, argumen dari fungsi harus lebih dekat ke
nilai awal (basis).
79

Contoh definisi rekursif dari faktorial:
(a) basis:
n! = 1 , jika n = 0
(b) rekurens:
n! = n × (n -1)! , jika n > 0
5! dihitung dengan langkah berikut:
(1) 5! = 5 × 4! (rekurens)
(2) 4! = 4 × 3!
(3) 3! = 3 × 2!
(4) 2! = 2 × 1!
(5) 1! = 1 × 0!
(6) 0! = 1
(6’) 0! = 1
(5’) 1! = 1 × 0! = 1 × 1 = 1
(4’) 2! = 2 × 1! = 2 × 1 = 2
(3’) 3! = 3 × 2! = 3 × 2 = 6
(2’) 4! = 4 × 3! = 4 × 6 = 24
(1’) 5! = 5 × 4! = 5 × 24 = 120
Jadi, 5! = 120.
Contoh 48. Di bawah ini adalah contoh-contoh fungsi rekursif lainnya:
1.
¹
´
¦
≠ + −
=
=
0 , ) 1 ( 2
0 , 0
) (
2
x x x F
x
x F

2. Fungsi Chebysev

¦
¹
¦
´
¦
> − − −
=
=
=
1 , ) , 2 ( ) , 1 ( 2
1 ,
0 , 1
) , (
n x n T x n xT
n x
n
x n T

3. Fungsi fibonacci:

¦
¹
¦
´
¦
> − + −
=
=
=
1 , ) 2 ( ) 1 (
1 , 1
0 , 0
) (
n n f n f
n
n
n f


80
BAB VI
ALJABAR BOOLEAN

Aljabar boolean merupakan aljabar yang berhubungan dengan variabel-variabel
biner dan operasi-operasi logik. Variabel-variabel diperlihatkan dengan huruf-huruf
alfabet, dan tiga operasi dasar dengan AND, OR dan NOT (komplemen). Fungsi boolean
terdiri dari variabel-variabel biner yang menunjukkan fungsi, suatu tanda sama dengan,
dan suatu ekspresi aljabar yang dibentuk dengan menggunakan variabel-variabel biner,
konstanta-konstanta 0 dan 1, simbol-simbol operasi logik, dan tanda kurung.
Suatu fungsi boolean bisa dinyatakan dalam tabel kebenaran. Suatu tabel kebenaran
untuk fungsi boolean merupakan daftar semua kombinasi angka-angka biner 0 dan 1 yang
diberikan ke variabel-variabel biner dan daftar yang memperlihatkan nilai fungsi untuk
masing-masing kombinasi biner.
Aljabar boolean mempunyai 2 fungsi berbeda yang saling berhubungan. Dalam arti luas,
aljabar boolean berarti suatu jenis simbol-simbol yang ditemukan oleh George Boole
untuk memanipulasi nilai-nilai kebenaran logika secara aljabar. Dalam hal ini aljabar
boolean cocok untuk diaplikasikan dalam komputer. Disisi lain, aljabar boolean juga
merupakan suatu struktur aljabar yang operasi-operasinya memenuhi aturan tertentu.

DASAR OPERASI LOGIKA
LOGIKA :
Memberikan batasan yang pasti dari suatu keadaan, sehingga suatu keadaan tidak
dapat berada dalam dua ketentuan sekaligus.
Dalam logika dikenal aturan sbb :
♦ Suatu keadaan tidak dapat dalam keduanya benar dan salah sekaligus
♦ Masing-masing adalah benar / salah.
♦ Suatu keadaan disebut benar bila tidak salah.
Dalam ajabar boolean keadaan ini ditunjukkan dengan dua konstanta : LOGIKA ‘1’ dan
‘0’

Operasi-operasi dasar logika dan gerbang logika :
Pengertian GERBANG (GATE) :
81
♦ Rangkaian satu atau lebih sinyal masukan tetapi hanya menghasilkan satu sinyal
keluaran.
♦ Rangkaian digital (dua keadaan), karena sinyal masukan atau keluaran hanya berupa
tegangan tinggi atau low ( 1 atau 0 ).
♦ Setiap keluarannya tergantung sepenuhnya pada sinyal yang diberikan pada masukan-
masukannya.

Operasi logika NOT ( Invers )
Operasi merubah logika 1 ke 0 dan sebaliknya x = x’


Tabel Operasi NOT Simbol
X X’
0 1
1 0

Operasi logika AND
♦ Operasi antara dua variabel (A,B)
♦ Operasi ini akan menghasilkan logika 1, jika kedua variabel tersebut berlogika 1

Simbol

A A . B


B


Operasi logika OR
Operasi antara 2 variabel (A,B)
Operasi ini akan menghasilkan logika 0, jika kedua variabel tersebut berlogika 0.
Simbol

82
A A + B


B


Operasi logika NOR
Operasi ini merupakan operasi OR dan NOT, keluarannya merupakan keluaran operasi
OR yang di inverter.
Simbol

A A + B ( A + B )’


B


Atau

A ( A + B )’


B

Operasi logika NAND
Operasi logika ini merupakan gabungan operasi AND dan NOT, Keluarannya merupakan
keluaran gerbang AND yang di inverter.

Simbol

A A . B ( A . B )’


83
B

Atau

A ( A . B )’


B

Operasi logika EXOR
akan menghasilkan keluaran ‘1’ jika jumlah masukan yang bernilai ‘1’ berjumlah ganjil.

Simbol

A Y


B


Operasi logika EXNOR
Operasi ini akan menghasilkan keluaran ‘1’ jika jumlah masukan yang bernilai ‘1’
berjumlah genap atau tidak ada sama sekali.

Simbol

A Y


B

DALIL BOOLEAN ;
1. X=0 ATAU X=1
84
2. 0 . 0 = 0
3. 1 + 1 = 1
4. 0 + 0 = 0
5. 1 . 1 = 1
6. 1 . 0 = 0 . 1 = 0
7. 1 + 0 = 0 + 1 = 0

TEOREMA BOOLEAN
1. HK. KOMUTATIF
A + B = B + A
A . B = B . A
6. HK. IDENTITAS
A + A = A
A . A = A
2. HK. ASSOSIATIF
(A+B)+C = A+(B+C)
(A.B) . C = A . (B.C)
7.
0 + A = A ----- 1. A = A
1 + A = 1 ----- 0 . A = 0
3. HK. DISTRIBUTIF
A . (B+C) = A.B + A.C
A + (B.C) = (A+B) . (A+C)
8.
A’ + A = 1
A’ . A =0
4. HK. NEGASI
( A’ ) = A’
(A’)’ = A
9.
A + A’ . B = A + B
A . (A + B)= A . B
5. HK. ABRSORPSI
A+ A.B = A
A.(A+B) = A
10. DE MORGAN’S
( A+ B )’ = A’ . B’
( A . B )’ = A’ + B’

CONTOH :
1. A + A . B’ + A’ . B = A . ( 1 + B’ ) + A’ . B
= A . 1 + A’ . B
= A + A’ . B
= A + B




85
2. A
B




X = (A.B)’ . B = (A’ + B’) . B
= ( A.B )’ + B’.B
= ( A.B )’ + 0
= A’.B


A

B




ATAU

A
B










86







Aljabar Boolean

• Misalkan terdapat
- Dua operator biner: + dan ⋅
- Sebuah operator uner: ’.
- B : himpunan yang didefinisikan pada opeartor +, ⋅, dan ’
- 0 dan 1 adalah dua elemen yang berbeda dari B.
Tupel
(B, +, ⋅, ’)
disebut aljabar Boolean jika untuk setiap a, b, c ∈ B berlaku aksioma-aksioma
atau postulat Huntington berikut:

1. Closure: (i) a + b ∈ B
(ii) a ⋅ b ∈ B

2. Identitas: (i) a + 0 = a
(ii) a ⋅ 1 = a

3. Komutatif: (i) a + b = b + a
(ii) a ⋅ b = b . a

4. Distributif: (i) a ⋅ (b + c) = (a ⋅ b) + (a ⋅ c)
(ii) a + (b ⋅ c) = (a + b) ⋅ (a + c)
87

5. Komplemen
1
: (i) a + a’ = 1
(ii) a ⋅ a’ = 0


• Untuk mempunyai sebuah aljabar Boolean, harus diperlihatkan:
1. Elemen-elemen himpunan B,
2. Kaidah operasi untuk operator biner dan operator uner,
3. Memenuhi postulat Huntington.


Aljabar Boolean Dua-Nilai

Aljabar Boolean dua-nilai:
- B = {0, 1}
- operator biner, + dan ⋅
- operator uner, ’
- Kaidah untuk operator biner dan operator uner:

a B a ⋅ b a b a + b a a’
0 0 0 0 0 0 0 1
0 1 0 0 1 1 1 0
1 0 0 1 0 1
1 1 1 1 1 1


Cek apakah memenuhi postulat Huntington:
1. Closure : jelas berlaku
2. Identitas: jelas berlaku karena dari tabel dapat kita lihat bahwa:


88
(i) 0 + 1 = 1 + 0 = 1
(ii) 1 ⋅ 0 = 0 ⋅ 1 = 0
3. Komutatif: jelas berlaku dengan melihat simetri tabel operator biner.
4. Distributif: (i) a ⋅ (b + c) = (a ⋅ b) + (a ⋅ c) dapat ditunjukkan benar dari tabel
operator biner di atas dengan membentuk tabel kebenaran:

a b c b + c a ⋅ (b + c) a ⋅ b a ⋅ c (a ⋅ b) + (a ⋅ c)
0 0 0 0 0 0 0 0
0 0 1 1 0 0 0 0
0 1 0 1 0 0 0 0
0 1 1 1 0 0 0 0
1 0 0 0 0 0 0 0
1 0 1 1 1 0 1 1
1 1 0 1 1 1 0 1
1 1 1 1 1 1 1 1

(ii) Hukum distributif a + (b ⋅ c) = (a + b) ⋅ (a + c) dapat ditunjukkan benar dengan
membuat tabel kebenaran dengan cara yang sama seperti (i).

5. Komplemen: jelas berlaku karena Tabel 7.3 memperlihatkan bahwa:
(i) a + a‘ = 1, karena 0 + 0’= 0 + 1 = 1 dan 1 + 1’= 1 + 0 = 1
(ii) a ⋅ a = 0, karena 0 ⋅ 0’= 0 ⋅ 1 = 0 dan 1 ⋅ 1’ = 1 ⋅ 0 = 0

Karena kelima postulat Huntington dipenuhi, maka terbukti bahwa B = {0, 1} bersama-
sama dengan operator biner + dan ⋅ operator komplemen ‘ merupakan aljabar Boolean.


Ekspresi Boolean
• Misalkan (B, +, ⋅, ’) adalah sebuah aljabar Boolean. Suatu ekspresi Boolean dalam
(B, +, ⋅, ’) adalah:
(i) setiap elemen di dalam B,
89
(ii) setiap peubah,
(iii) jika e
1
dan e
2
adalah ekspresi Boolean, maka e
1
+ e
2
, e
1
⋅ e
2
, e
1
’ adalah
ekspresi Boolean

Contoh:
0
1
a
b
c
a + b
a ⋅ b
a’⋅ (b + c)
a ⋅ b’ + a ⋅ b ⋅ c’ + b’, dan sebagainya
Mengevaluasi Ekspresi Boolean

• Contoh: a’⋅ (b + c)

jika a = 0, b = 1, dan c = 0, maka hasil evaluasi ekspresi:

0’⋅ (1 + 0) = 1 ⋅ 1 = 1

• Dua ekspresi Boolean dikatakan ekivalen (dilambangkan dengan ‘=’) jika
keduanya mempunyai nilai yang sama untuk setiap pemberian nilai-nilai kepada n
peubah.
Contoh:
a ⋅ (b + c) = (a . b) + (a ⋅ c)

Contoh. Perlihatkan bahwa a + a’b = a + b .
Penyelesaian:
90

a b a’ a’b a + a’b a + b
0 0 1 0 0 0
0 1 1 1 1 1
1 0 0 0 1 1
1 1 0 0 1 1

• Perjanjian: tanda titik (⋅) dapat dihilangkan dari penulisan ekspresi Boolean,
kecuali jika ada penekanan:
(i) a(b + c) = ab + ac
(ii) a + bc = (a + b) (a + c)
(iii) a ⋅ 0 , bukan a0

Prinsip Dualitas

• Misalkan S adalah kesamaan (identity) di dalam aljabar Boolean yang melibatkan
operator +, ⋅, dan komplemen, maka jika pernyataan S* diperoleh dengan cara
mengganti
⋅ dengan +
+ dengan ⋅
0 dengan 1
1 dengan 0
dan membiarkan operator komplemen tetap apa adanya, maka kesamaan S* juga
benar. S* disebut sebagai dual dari S.

Contoh.
(i) (a ⋅ 1)(0 + a’) = 0 dualnya (a + 0) + (1 ⋅ a’) = 1
(ii) a(a‘ + b) = ab dualnya a + a‘b = a + b

91
Hukum-hukum Aljabar Boolean
1. Hukum identitas:
(i) a + 0 = a
(ii) a ⋅ 1 = a
2. Hukum idempoten:
(i) a + a = a
(ii) a ⋅ a = a
3. Hukum komplemen:
(i) a + a’ = 1
(ii) aa’ = 0
4. Hukum dominansi:
(i) a ⋅ 0 = 0
(ii) a + 1 = 1
5. Hukum involusi:
(i) (a’)’ = a

6. Hukum penyerapan:
(i) a + ab = a
(ii) a(a + b) = a
7. Hukum komutatif:
(i) a + b = b + a
(ii) ab = ba
8. Hukum asosiatif:
(i) a + (b + c) = (a + b) + c
(ii) a (b c) = (a b) c
9. Hukum distributif:
(i) a + (b c) = (a + b) (a + c)
(ii) a (b + c) = a b + a c
10. Hukum De Morgan:
(i) (a + b)’ = a’b’
(ii) (ab)’ = a’ + b’
12. Hukum 0/1
(i) 0’ = 1
(ii) 1’ = 0


Contoh 7.3. Buktikan (i) a + a’b = a + b dan (ii) a(a’ + b) = ab
Penyelesaian:
(i) a + a’b = (a + ab) + a’b (Penyerapan)
= a + (ab + a’b) (Asosiatif)
= a + (a + a’)b (Distributif)
= a + 1 • b (Komplemen)
= a + b (Identitas)
(ii) adalah dual dari (i)

Fungsi Boolean
• Fungsi Boolean (disebut juga fungsi biner) adalah pemetaan dari B
n
ke B melalui
ekspresi Boolean, kita menuliskannya sebagai
92
f : B
n
→ B
yang dalam hal ini B
n
adalah himpunan yang beranggotakan pasangan terurut
ganda-n (ordered n-tuple) di dalam daerah asal B.
• Setiap ekspresi Boolean tidak lain merupakan fungsi Boolean.
• Misalkan sebuah fungsi Boolean adalah

f(x, y, z) = xyz + x’y + y’z
Fungsi f memetakan nilai-nilai pasangan terurut ganda-3
(x, y, z) ke himpunan {0, 1}.
Contohnya, (1, 0, 1) yang berarti x = 1, y = 0, dan z = 1
sehingga f(1, 0, 1) = 1 ⋅ 0 ⋅ 1 + 1’ ⋅ 0 + 0’⋅ 1 = 0 + 0 + 1 = 1 .

Contoh. Contoh-contoh fungsi Boolean yang lain:
1. f(x) = x
2. f(x, y) = x’y + xy’+ y’
3. f(x, y) = x’ y’
4. f(x, y) = (x + y)’
5. f(x, y, z) = xyz’

• Setiap peubah di dalam fungsi Boolean, termasuk dalam bentuk komplemennya,
disebut literal.

Contoh: Fungsi h(x, y, z) = xyz’ pada contoh di atas terdiri dari 3 buah literal,
yaitu x, y, dan z’.


Contoh. Diketahui fungsi Booelan f(x, y, z) = xy z’, nyatakan h dalam tabel kebenaran.
Penyelesaian:
93

x y z f(x, y, z) = xy z’
0
0
0
0
1
1
1
1
0
0
1
1
0
0
1
1
0
1
0
1
0
1
0
1
0
0
0
0
0
0
1
0

Komplemen Fungsi
1. Cara pertama: menggunakan hukum De Morgan
Hukum De Morgan untuk dua buah peubah, x
1
dan x
2
, adalah

Contoh. Misalkan f(x, y, z) = x(y’z’ + yz), maka
f ’(x, y, z) = (x(y’z’ + yz))’
= x’ + (y’z’ + yz)’
= x’ + (y’z’)’ (yz)’
= x’ + (y + z) (y’ + z’)


Aplikasi Aljabar Boolean


2. Rangkaian Digital Elektronik
94

Gerbang AND Gerbang OR Gerbang NOT (inverter)


Contoh. Nyatakan fungsi f(x, y, z) = xy + x’y ke dalam rangkaian logika.

Jawab: (a) Cara pertama

(b) Cara kedua

y
x
xy
y
x
x+ y x'
x
x'
x
y
xy
x
y
x'y
xy+x'y
x'
xy
x
y
x'y
xy+x'y
95
(b) Cara ketiga

Gerbang turunan

Gerbang NAND Gerbang XOR
Gerbang NOR Gerbang XNOR



x
y
(xy)'
x
y
(x+y)'
x
y
+ x y
x
y
+
(x y)'
x
y
(x+y)'
x
y
(x + y)'
ekivalen dengan
x
y
(x + y)'
x + y
x'
xy
x y
x'y
xy+x'y
96


Penyederhanaan Fungsi Boolean

Contoh. f(x, y) = x’y + xy’ + y’

disederhanakan menjadi

f(x, y) = x’ + y’

Penyederhanaan fungsi Boolean dapat dilakukan dengan 3 cara:
1. Secara aljabar
2. Menggunakan Peta Karnaugh
3. Menggunakan metode Quine Mc Cluskey (metode Tabulasi)

1. Penyederhanaan Secara Aljabar

Contoh:
1. f(x, y) = x + x’y
= (x + x’)(x + y)
= 1 ⋅ (x + y )
= x + y

2. f(x, y, z) = x’y’z + x’yz + xy’
x'
y'
x'y'
ekivalen dengan
x'
y'
x' + y'
ekivalen dengan
x
y
(xy)'
97
= x’z(y’ + y) + xy’
= x’z + xz’

3. f(x, y, z) = xy + x’z + yz = xy + x’z + yz(x + x’)
= xy + x’z + xyz + x’yz
= xy(1 + z) + x’z(1 + y) = xy + x’z

98
DAFTAR PUSTAKA

1. Introduction to Logic, Patrick Suppes, D. Van Nostrand Company, Inc., Canada,
1959.
2. Set Theory and Logic, Robert R. Stoll, Eurasia Publishing House Ltd, New Delhi,
1976.
3. Logika Informatika, Setiadji, Graha Ilmu, Yogyakarta, 2007.
4. Logika Matematika untuk Ilmu Komputer, F.Soesianto dan Djoni Dwijono,
Penerbit Andi, Yogyakarta, 2006.
5. Sumber lain dari internet.






Arti Logika Informatika Pada masa Aristoteles, logika merupakan satu bahasan dalam ilmu tertua di dunia, yaitu Filsafat. Baru pada masa-masa berikutnya logika masuk ke berbagai bidang ilmuilmu yang lebih muda seperti ilmu hitung/matematika, dan kini komputer/informatika. Dari arti katanya dalam bahasa Yunani, yaitu logike/logos yang berarti ilmu/pikiran, logika bisa diartikan sebagai perkataan sebagai manifestasi dari pikiran manusia. Atau, logika adalah ilmu yang mempelajari (jalan) pikiran yang diungkapkan dalam bahasa. Arti logika menurut bahasan logika modern, terdapat banyak versi. Dua versi dari definisi logika adalah: 1. Ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan prinsip-prinsip dari penalaran argumen yang valid. 2. Studi tentang kriteria-kriteria untuk mengevaluasi argumen-argumen dengan menentukan mana yang valid dan tidak valid, dan membedakan antara argumen yang baik dan tidak baik. Sedangkan logika informatika sendiri, dapat diartikan sebagai: 1. Aturan-aturan logika yang menggunakan kaidah-kaidah tertentu dalam informatika yang dipergunakan untuk membuktikan validitas suatu argumen. 2. Aturan-aturan logika yang menggunakan kaidah-kaidah tertentu dalam matematika yang dipergunakan untuk membuktikan validitas suatu argumen dalam bidang informatika. Argumen dan Silogisme Argumen Adalah usaha untuk mencari kebenaran dari suatu pernyataan berupa kesimpulan dengan berdasarkan pada kebenaran dari satu kumpulan pernyataan yang disebut premis-premis. Silogisme Logika berawal dari pertanyaan-pertanyaan yang paling mendasar di kehidupan ini. Silogisme Aristoteles, menurutnya, adalah suatu argumen yang terbentuk dari pernyataan-pernyataan dengan salah satu atau keempat bentuk berikut: 1. Semua A adalah B. (universal affirmative) 2. Tidak A adalah B. (universal negative) 3. Beberapa A adalah B. (particular affirmative) 4. Beberapa A adalah tidak B. (particular negative)

2

Huruf A dan B diatas menggantikan suatu kata benda, misalnya ‘manusia’, ‘cuaca’, dan sebagainya yang disebut terms of syllogism atau pokok dari silogisme. Suatu silogisme yang berbentuk sempurna (well-formed syllogism) adalah silogisme yang memiliki dua buah premis dan satu kesimpulan, dimana setiap premis memiliki satu pokok(term) bersama dengan kesimpulan dan satu lagi pokok bersama dengan premis lainnya. Contoh sebuah silogisme sempurna: Premis Premis Konklusi : Semua A adalah B. : Semua B adalah C. : Semua A adalah C.

(Pada premis pertama, A sama dengan A pada kesimpulan, dan ia juga memiliki B yang sama dengan B pada premis kedua.) Manfaat Logika Informatika Logika informatika digunakan dalam semua bidang pada ilmu informatika. Dari pembuatan konsep, penulisan software hingga cara kerja hardware. Contoh beberapa manfaat logika informatika: 1. Membuat program. Contoh, struktur IF-THEN...ELSE dalam bahasa Pascal IF kondisi THEN Statemen1 ELSE Statemen2; 2. Database. Contoh, mencari daftar mahasiswa Informatika UNSOED angkatan 2008 yang nilai IPK-nya 4. 3. Cara kerja komputer(mesin). Level logika pada komputer. Masing-masing level komputer menggunakan level logika yang berbeda(dari logika elektronik 0 dan 1 hingga logika manusia dalam bahasa pemrograman tingkat tinggi) tetapi semua bekerja berdasar prinsip-prinsip logika.

3

Pencarian akan ’teknik+informatika’ di Google akan menghasilkan data yang terdiri dari teknik dan informatika. Menggunakan operator AND. Contoh: 1.Gambaran level logika yang berlaku sesuai dengan bahasa pemrograman yang digunakan: Studi kasus: Search Engine Google. 4 . Search engine google menggunakan prinsip logika dalam pencariannya. Diwakili dengan tanda + .

Menggunakan operator OR Pencarian dengan ketentuan ’teknik OR informatika’. dilambangkan dengan ’teknik – informatika’ akan menghasilkan pencarian akan kata ’teknik’ saja.2. Hasil pencarian akan menampilkan kata teknik saja atau informatika saja. 3. yang tidak mengandung kata ’informatika’. 5 . Menggunakan operator NOT Pencarian dengan ketentuan teknik NOT informatika.

Di dalam matematika tidak semua pernyataan yang bernilai benar atau salah saja yang digunakan dalam penalaran. Contoh: • • • • • I watch TV till 12 o’clock last night. Guten tag! Mein Name ist Hesti. Contoh: • • • • • Pada kehidupan sehari-hari Pada ilmu hitung Pada astronomi Pada Informatika Dll Pada himpunan dapat di gambarkan sebagai berikut : S Bahasa adalah rangkaian simbol-simbol yang diucapkan atau ditulis menurut aturanaturan tertentu.BAB II ALJABAR PROPOSISI Kata merupakan rangkaian huruf yang mengandung arti. 6 . Pernyataan disebut juga kalimat deklaratif yaitu kalimat yang bersifat menerangkan dan disebut juga proposisi. ‫ا أ‬ Geef mij maar nasi goreng met een gebakken ei Wat sambal en wat kroepoek en een goed glas bier erbij. edangkan kalimat adalah kumpulan kata yang disusun menurut aturan tata bahasa dan mengandung arti. Bonjour! Je m’appelle Hesti. Semesta Pembicaraan Semesta pembicaraan adalah keseluruhan obyek yang dibicarakan.

2. 5. 4.. 3. 2. Pandaikah dia?. Yogyakarta adalah kota pelajar (Benar).. Langkah-langkah penalaran sesuai dengan hukum-hukum logika..Pn yang disebut premis (hipotesa/asumsi) dan menghasilkan proposisi Q yang lain yang disebut konklusi (kesimpulan). 5x12=90 (Salah). Validitas Argumen Argumen adalah suatu pernyataan tegas yang diberikan oleh sekumpulan proposisi P1.. Tidak semua kalimat berupa proposisi Contoh : 1. Dimanakah letak pulau bali?. Secara umum di notasikan dengan Argumen disebut benar apabila telah memenuhi syarat: 1.. 4. 3x-2y=5x+4. x+y=2. Konklusi/hasil kesimpulan dari argumen tersebut benar setelah melalui suatu proses observas/dapat dibuktikan. . Contoh : 1.. P2.. 2+2=4 (Benar). Kalimat Deklaratif Kalimat Deklaratif /Pernyataan/ Proposisi adalah kalimat yang bernilai benar atau salah tetapi tidak keduanya. 4 adalah bilangan prima (Salah). 3. 2.. 7 .• Konnichiwa. Andi lebih tinggi daripada Tina. Semua manusia adalah fana (Benar).. 5.

Premis : • • Jika hari ini cerah saya bermain futsal. 2. Semantik-Sintaks : • • Jika hari ini cerah saya bermain futsal. Kesimpulan: Hari ini cerah. – Jika dia tak dapat kaya maka bahagia. – Dia miskin tetapi bahagia. Argumen ini kuat karena: 1. Kesimpulan: Hari ini cerah. – Menjadi miskin berarti menjadi tak bahagia. Langkah penalaran tepat. – Seseorang tak pernah bahagia jika dia kaya. maka dia bahagia. – Jika dia tak miskin dan tak bahagia maka ia kaya. – Menjadi kaya berarti sama seperti menjadi bahagia. Yang diperhatikan dalam logika hanyalah bentuk kalimat/sintaks-nya saja. – Jika dia tidak bahagia maka ia miskin. Isi/arti kalimat/semantik bukan merupakan bahasan. SOUND ARGUMENT POLA: Semua X adalah Y Beberapa Y adalah Z Maka beberapa X adalah Z 8 . Saya bermain futsal. Kesimpulan yg diambil benar. Contoh Semantik-Sintaks – Dia tidak kaya dan tidak bahagia. Saya bermain futsal. – Dia miskin atau jika tidak maka dia kaya dan tak bahagia. – Jika dia tidak miskin.

Mobil P T Contoh 2 : Semua angkatan 2008 mengambil kuliah login. Maka beberapa Toyota dibuat di Indonesia. Beberapa mahasiswa yang mengambil login adalah angkatan 2007. Maka beberapa mahasiswa angkatan 2008 adalah angkatan 2007. Beberapa mobil adalah Porche. Beberapa mobil Jepang dibuat di Indonesia. 9 . S:Mobil Jepang T S Dibuat di Indonesia UNSOUND ARGUMENT Pola : Semua X adalah Y Beberapa Y adalah Z Maka beberapa X adalah Z Contoh 1 : Semua Toyota adalah mobil. Maka beberapa Toyota adalah Porche.Contoh Argumen kuat: • • • Semua Toyota adalah mobil Jepang.

Saya tidur atau menonton konser Kangen Band. Proposisi atomik adalah proposisi yang tidak dapat dipecah-pecah menjadi beberapa proposisi lagi. Jika hari hujan maka saya berangkat kuliah. Proposisi majemuk adalah proposisi yang terdiri dari beberapa proposisi atomik. demikian juga Jen. Setiap orang Indonesia pintar. Masukannya salah. 2. proposisi terdiri dari proposisi : 1. Jack pintar. Ralph pintar atau rajin. Jack dan Jen sama-sama pintar. Mike pintar dan nilai-nilainya bagus.Mhsw Ambil Login 2007 2008 Proposisi Atomik dan Majemuk Dilihat dari kompleksitasnya. Kata-kata Penghubung Kalimat Dalam menggabungkan proposisi atomik menjadi sebuah proposisi majemuk. diperlukan sebuah kata penghubung/perangkai kalimat. Ada bug dan masukannya salah. Ada bug. Contoh : • • • • • • • • • • • • Hari hujan. • • • DAN ATAU BUKAN 10 . Menonton konser Kangen Band.

Negasi : Negasi suatu pernyataan P adalah pernyataan baru yang bernilai salah jika P benar dan bernilai benar jika P bernilai salah.... 7. 6. Jika.... SMBL A B ⌐A ⌐B AΛB AVB ⌐A Λ B A=>B A⌠B Tabel Kebenaran Tabel kebenaran adalah tabel nilai yang mendefinisikan nilai kebenaran keseluruhan kalimat berdasarkan nilai kebenaran masing-masing kalimat penyusunnya. ...atau.. .. 5. PROPOSISI Hari ini hujan Hari ini mendung Hari ini tidak hujan Hari ini tidak mendung Hari ini hujan dan mendung Hari ini hujan atau mendung Hari ini tidak hujan tetapi mendung Jika hari ini hujan maka akan mendung Hari ini hujan jika dan hanya jika hari mendung A: B: Hari ini hujan. 9. ... Contoh Penggunaan kata penghubung : Proposisi atomik Dan proposisi atomik N 1.maka.jika dan hanya jika.. 4.• • JIKA JIKA DAN HANYA JIKA SIMBOL ⌐ atau ‾ Λ V => ⌠ ARTI Tidak/Bukan/Not/Negasi Dan/And/Konjungsi Atau/Or/Disjungsi Implikasi Biimplikasi BENTUK Tidak. 3.dan.. Hari ini mendung. 2. notasi negasi P adalah ∼P 11 .. 8....

x lebih besar atau sama dengan 5 Konjungsi Konjungsi dari dua pernyataan P dan Q ditulis P∧Q (dibaca P and Q) adalah suatu pernyataan yang bernilai benar jika kedua komponennya. Disjungsi Disjungsi (inklusif) dari dua pernyataan P atau Q ditulis P∨Q (dibaca P atau Q) adalah suatu pernyataan yang bernilai benar jika salah satu kom ponennya. yaitu p atau q.P T F F T ~P Misal : P adl “x lebih kecil dari 5” . Tabel kebenarannya adalah : P T T F F Q T F T F PΛQ T F F F Perhatikan bahwa walaupun menggunakan istilah ”dan”. negasinya adl : 1. P : Ali dan Budi duduk dikelas 2 2. bernilai benar. bernilai benar. dalam logika di pandang sebagai suatu pernyataan yang sah Selanjutnya pandang : 1. yaitu p dan q. Tidak( lah benar ) x lebih kecil dari 5 2. Q : Ali dan Budi bersaudara P merupakan konjungsi sedang Q bukan. Misal : “Yogyakarta ibukota propinsi DIY dan 112 habis dibagi 2”. x tidak lebih kecil dari 5 3. dan akan bernilai salah jika salah satu komponennya bernilai salah. dan ber nilai salah jika kedua komponennya bernilai salah Tabel kebenarannya adalah : P Q PVQ 12 . dua kalimat yang dihubungkan tidak harus mempunyai hubungan.

dan Orang yang naik gerobak tidak memakai sabuk pengaman tak menyalahi aturan (benar. 13 . Orang yang naik gerobak dan memakai sabuk pengaman tidak menyalahi aturan (benar. P merupakan sarat cukup untuk Q Contoh : Q T F T F P => Q T F T T Dalam pernyataan P → Q. Q=salah) Pernyataan lain daripada “ Jika P maka Q “ adalah : 1. Jika Anda masuk kawasan pabrik. maka Anda harus mengenakan tanda pengenal • • • • Seseorang yang mengendarai mobil dan memakai sabuk pengaman tentunya tidak menyalahi aturan (benar. orang yang mengendarai mobil tidak pakai sabuk pengaman jelas menyalahi aturan (salah . Q = salah).sebab P = benar. sebab P= benar. sebab P=salah. sebab P=Salah. P disebut anteseden dan Q disebut konsekuen. Q=betul). dan bernilai benar jika yang lain Tabel kebenarannya adalah : P T T F F Perhatikan kalimat dibawah ini : Jika Anda mengendarai mobil maka anda harus memakai sabuk pengaman. Q jika P 2. Pernyataan implikasi disebut juga pernyataan bersyarat Suatu implikasi P → Q bernilai salah jika P benar dan Q salah. Q = benar).T T F F Implikasi T F T F T T T F Implikasi dua pernyataan P dan Q adalah P → Q yang dibaca “ Jika P maka Q ”. Q merupakan sarat perlu untuk P 4. P hanya jika Q 3.

3x3) benar Bi-Implikasi BI-Implikasi dua pernyataan P dan Q adalah P↔Q yang dibaca “ P jika dan hanya jika Q ” (disingkat P bhb Q) . 2<3 merupakan syarat cukup untuk 2x2 < 3x3 Jawab : a. Q = Saya lulus ujian Kalimatnya menjadi : P Kalimatnya menjadi : P Q Q b. dan R = saya mendapat hadiah TTS Kalimatnya menjadi : (Q ∨ R) P 2. karena anteseden (2+2 = 2x2) benar sedangkn konsekuennya (2 = 0 ) salah c. Saya akan memberi anda uang apabila saya lulus ujian atau saya mendapat hadiah TTS Jawab a. Q = Saya lulus ujian. karena konsekuennya (2x2 . P = Saya memberi Anda uang. maka 9 juga bukan bilangan prima b. Jika Jakarta bukan ibukota RI. Salah. P = 273 habis dibagi 3. Q = 273 merupakan bilangan prima c. Sarat perlu agar 273 habis dibagi 3 adalah 273 merupakan bilangan prima c. Tuliskan kalimat dibawah ini dengan simbol logika a. P = saya berlibur ke Bali. Pernyataan Bi-implikasi bernilai benar jika P dan Q keduanya bernilai sama. Benar. sedangkan jika nilai nilai P tidak sama dengan nilai Q maka nilai pernyataan tersebut salah. Tabel kebenarannya adalah : 14 . Benar.1. karena anteseden salah (Jakarta bukan ibu kota RI) b. 2+2 = 2x2 hanya bila 2 =0 c. Tentukan nilai kebenaran pernyataan-pernyataan dibawah ini : a. Saya akan berlibur ke Bali hanya jika saya lulus ujian b.

Contoh 1 : Tentukan apakah kalimat dibawah ini ekuivalen: • • • -(-A) dengan A -(A Λ B) dengan -A Λ-B A=>B dengan –A V B B). P merupakan sarat perlu dan cukup untuk Q 2. P ekuivalen dengan Q Contoh X merupakan bilangan gasal bhb X habis dibagi 3 Jawab : Misal P = X merupakan bilangan gasal Q = X habis dibagi 3 Kalimatnya : P ↔ Q Ekuivalen Dua kalimat disebut ekuivalen(secara logika) jika dan hanya jika keduanya mempunyai nilai kebenaran yang sama untuk semua substitusi nilai kebenaran masing-masing kalimat penyusunnya. Jika A dan B adalah kalimat-kalimat yang ekuivalen. maka dituliskan A ≡B (atau A Jika A ≡B maka B ≡A juga. Buat tabel kebenaran untuk membuktikannya A ~A ~(~A) 15 .P T T F F Q T F T F P <=> Q T F F T Suatu pernyataan bentuk bi-implikasi dapat disajikan dengan : 1.

terbukti –(-A) ≡A -(A ΛB) ≡-A Λ-B. terbukti –(-A) ≡A -(A ΛB) dengan -A Λ-B A=>B dengan –A V B A T T F F B T F T F A ΛB T F F F ~ (A ΛB) F T T T ~A F F T T ~B F T F T ~ A Λ~B F F F T Buat tabel kebenaran untuk membuktikannya Contoh 3 : Tentukan apakah kalimat dibawah ini ekuivalen: • • • -(-A) dengan A. (tidak terbukti) A=>B dengan –A V B A T T F F B T F T F A => B T F T T ~A F F T T ~A V B T F T T Buat tabel kebenaran untuk membuktikannya Terbukti A => B ≡ ~A V B Hukum-hukum Ekuivalensi Logika : 1.T F Contoh 2 : F T T F Tentukan apakah kalimat dibawah ini ekuivalen: • • • -(-A) dengan A. Hukum Komutatif: 16 .

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • p Λq ≡ q Λp. 2. Hukum Negasi: p v ⌐p ≡T. P ^ ⌐p ≡F. 7. p V (q Λr ) ≡ (p V q) Λ(p V r) 4. Hukum Idempoten: p^p ≡p. (p V q) V r ≡ p V (q V r) 3. Negasi T dan F: ⌐T ≡ F. Hukum Identitas: p ΛT ≡ p. p ΛF ≡F 6. pvp ≡p 9. ⌐F ≡ T 12. Hukum Distributif: p Λ(q V r) ≡ (p Λq) V (p Λr). P V q ≡ q V p. Hukum Ikatan: p V T ≡ T. Hukum Absorbsi: p v (p^q) ≡ p. p V F ≡p 5. p ^ (p v q) ≡ p 11. Hukum Negasi Ganda: ⌐(⌐)p ≡p 8. Hukum Asosiatif: (p Λq) Λr ≡ p Λ(q Λr). Hukum De Morgan: ⌐(p^q) ≡⌐p v ⌐q ⌐(pvq) ≡⌐p ^ ⌐q 10. Hukum Implikasi: p=>q ≡ ⌐p v q 17 .

Penyederhanaan Contoh : Sederhanakan bentuk • ⌐(⌐A ^ B)^(AvB) ≡ (⌐(⌐A)v ⌐B) ^ (AvB) ≡ (Av ⌐B) ^ (AvB) ≡ Av( ⌐B ^B) ≡ AvF ≡A • • -(Av-B)v(-A^-B) ≡ -A -(Av-B)v(-A^-B) ≡ (-A^-(-B))v(-A^-B) ≡ (-A^B)v(-A^-B) ≡ -A^(Bv-B) ≡ -A^T ≡ -A • (pvF)^(pv-p) ≡ p^(pv-p) ≡ p^T ≡p • -p =>-(p=>-q) ≡ --pv-(p=>-q) ≡ --pv-(-pv-q) ≡ --pv(--p^--q) ≡ pv(p^q)≡p 18 . Hukum Biimplikasi: ⌐T ≡F.13. (pvq) ^ (pv⌐q) ≡p. Negasi Q. 14. Sama Dengan Q (pΛq)v(⌐p^q) ≡q. Negasi P. 16. Hukum Kontraposisi: • • • • • • • p=>q ≡⌐q => ⌐p. (pvq) ^ (⌐pvq) ≡q. Sama Dengan P (pΛq) v (p^⌐q) ≡p. p q ≡ (p=>q) ^(q=>p) 15.

Tunjukkan bahwa (pVq) V [(¬p) ∧ (¬q)] adalah tautologi! p T T F F q ¬p ¬q ¬p ∧ ¬q T F T F T F T F F T F T F F F T (pVq) V [(¬p) ∧ (¬q)] T T T T 3. Contoh : 1. Kalau suatu kalimat tautologi diturunkan lewat hukum-hukum yang ada maka pada akhirnya akan menghasilkan True. Kontradiksi dan Contingent Tautologi adalah suatu bentuk kalimat yang selalu bernilai benar (True) tidak peduli bagaimanapun nilai kebenaran masing-masing kalimat penyusunnya. tidak peduli bagaimanapun nilai kebenaran masing-masing kalimat penyusunnya. Jika pada semua nilai kebenaran menghasilkan nilai F dan T. maka disebut formula campuran (contingent). sebaliknya kontradiksi adalah suatu bentuk kalimat yang selalu bernilai salah (False). Tunjukkan bahwa (pVq) ∧ [(¬p) ∧ (¬q)] adalah kontradiksi! p T T F F q ¬p ¬q ¬p ∧ ¬q T F T F T F T F F T F T F F F T (pVq) ∧ [(¬p) ∧ (¬q)] F F F F 19 . Tunjukkan bahwa pV(¬p) adalah tautologi! P T T F F ¬P P V (¬P) T T T T T F T F 2. sebaliknya kontradiksi akan selalu bernilai False.Tautologi. suatu tautologi selalu bernilai True pada semua barisnya dan kontradiksi selalu bernilai False pada semua baris. Dalam tabel kebenaran.

Sehingga : 1. dan kontraposisi dari implikasi di atas : Misal p : hari ini mendung q : Rafif membawa payung maka kalimatnya menjadi p => q atau jika menggunakan operator dan maka p => q ekuivalen(sebanding/≈) dengan ¬p v q.4. Invers : ¬p => ¬q ≈ p ∧¬q Kalimat : • • Jika Rafif tidak membawa payung maka hari ini tidak mendung (¬p => ¬q) Rafif membawa payung dan hari ini tidak mendung (p ∧¬q) 4. Konvers : q => p ≈ ¬q v p Kalimat : • • Jika Rafif membawa payung maka hari ini mendung (q => p) Rafif tidak membawa payung atau hari ini mendung (¬q v p) 2. DAN KONTRAPOSISI “Jika hari ini mendung maka Rafif membawa payung” contoh konvers. Tunjukkan bahwa [(p ∧ q) => r] => p adalah contingent! p T T T T F F F F q r T T F F T T F F T F T F T F T F p∧q T T F F F F F F (p ∧ q) => r T T F F T T T T [(p ∧ q) => r] => p T T T T F F F F KONVERS. INVERS. invers. Kontraposisi : ¬q => ¬p ≈ q v ¬p Kalimat : • • Jika hari ini tidak mendung maka Rafif tidak membawa payung (¬q =>¬p) hari ini mendung atau Rafif tidak membawa payung dan (q ∧ ¬p) 20 .

3. Premis P1 : Jika Office dan Delphi diperlukan maka semua orang akan belajar computer P2 : Office dan Delphi diperlukan Konklusi Q : Semua orang akan belajar computer Jika ditulis dalam bentuk notasi logika Misal p : Office dan Delphi diperlukan q : Semua orang belajar computer Maka argumen diatas dapat ditulis : p => q.. Dengan kata lain. Jadi suatu argumen dikatakan valid jika dan hanya jika proposisi P1∧P2∧. jika semua premis benar maka konklusinya juga benar.…………..Inferensi Logika Nilai kebenaran suatu argumen ditentukan sebagai berikut : “ Suatu argumen P1. 21 .. Tentukan premis dan konklusi argument 2. p _ q dapat ditulis P1 : Jika saya suka kalkulus. Contoh : 1.q (valid) 2. Buat tabel yang menunjukkan nilai kebenaran untuk semua premis dan konklusi.Pn _ Q dikatakan benar (valid) jika Q bernilai benar untuk semua premis yang benar dan argumen dalam keadaan selain itu dikatakan salah (invalid/fallacy)”. suatu argumen dikatakan valid apabila untuk sembarang pernyataan yang disubtitusikan ke dalam premis.∧Pn) |. Sebaliknya jika semua premis benar tetapi konklusinya ada yang salah maka argumen tersebut dikatakan invalid (fallacy)... p |. Carilah baris kritis yatitu baris diman semua premis bernilai benar.Q adalah sebuah Tautologi...P2.. maka saya akan lulus ujian kalkulus P2 : Saya lulus ujian kalkulus ∴ Saya lulus ujian kalkulus (valid) Untuk mengetahui suatu argumen apakah valid atau tidak maka dapat dilakukan langkahlangkah sebagai berikut : 1. Misal p : Saya suka kalkulus q : Saya lulus ujian kalkulus Maka argumen p _ q.

maka bilangan tersebut habis dibagi 10 Suatu bilangan tidak habis dibagi 10 ____________________________________ ∴ Digit terakhir bilangan tersebut bukan 0 22 . ¬q |. maka q juga harus bernilai benar. Supaya implikasi p_q bernilai benar.4. Jika diantara baris kritis tersebut ada baris dengan nilai konklusi salah maka argumen tersebut tidak valid. Modus Tollens : p => q. Dalam baris kritis tersebut. Sistem Pembuktian / Penarikan Kesimpulan A. MODUS PONEN Modus ponen atau penalaran langsung adalh salah satu metode inferensi dimana jika diketahui implikasi ” Bila p maka q ” yang diasumsikan bernilai benar dan antasenden (p) benar.q atau dapat juga ditulis p => q p ______ ∴q Contoh : Jika digit terakhir suatu bilangan adalah 0. maka bilangan tersebut habis dibagi 10 Digit terakhir suatu bilangan adalah 0 ____________________________________ ∴ Bilangan tersebut habis dibagi 10 B. Modus Ponen : p => q .¬p Atau dapat juga ditulis p => q ¬q _______ ∴ ¬p Contoh : Jika digit terakhir suatu bilangan adalah 0. jika nilai kesimpulan semuanya benar maka argumen tersebut valid. MODUS TOLLENS Bentuk modus tollens mirip dengan modus ponen. p |. hanya saja premis kedua dan kesimpulan merupakan kontraposisi premis pertama modus ponen. Hal ini mengingatkan bahwa suatu implikasi selalu ekuivalen dengan kontraposisinya.

Alasannya adalah karena penghubung ”v” bernilai benar jika salah satu komponennya bernilai benar.C.p atau (p∧q) |. Jika beberapa kalimat dihubungkan dengan operator ”∧”. SILOGISME DISJUNGTIF Prinsip dasar Silogisme Disjungtif (Disjunctive syllogism) adalah kenyataan bahwa apabila kita dihadapkan pada satu diantara dua pilihan yang ditawarkan (A atau B). Simplification : (p∧q) |. Addition : p _(pÚq) atau q _ (pÚq) Atau dapat ditulis p ____ ∴ pvq Contoh : atau q ____ ∴ pv q Simon adalah siswa SMU ______________________________ ∴Simon adalah siswa SMU atau SMP D. maka kalimat tersebut dapat diambil salah satunya secara khusus (penyempitan kalimat). merupakan kalimat yang bernilai salah. Misalnya ”Langit berwarna biru atau bebek adalah binatang menyusui”. Misalnya saya mengatakan ”Langit berwarna biru” (bernilai benar).q Atau dapat ditulis p∧q ____ ∴p Contoh : atau p∧q ____ ∴q Langit berwarna biru dan bulan berbentuk bulat __________________________________________________ ∴ Langit berwarna biru atau ∴ Bulan berbentuk bulat E. PENYEDERHAAN KONJUNGTIF (SIMPLIFICATION) Inferensi ini merupakan kebalikan dari inferensi penambahan disjungtif. PENAMBAHAN DISJUNGTIF (ADDITION) Inferensi penambahan disjungtif didasarkan atas fakta bahwa suatu kalimat dapat digeneralisasikan dengan penghubung ”v”. 23 . Kalimat tersebut tetap akan bernilai benar jika ditambahkan kalimat lain dengan penghubung ”v”. Kalimat tersebut tetap bernilai benar meskipun kalimat ”Bebek adalah binatang menyusui”.

p=>r Atau dapat ditulis p=>q q=>r _____ ∴ p=>r Contoh : Jika hari hujan maka tanahnya menjadi berlumpur Jika tanahnya berlumpur maka sepatu saya akan kotor ____________________________________________ ∴ Jika hari hujan maka sepatu saya akan kotor. ¬q |.q dan pvq.Sedangkan kita tidak memilih/tidak menyukai A. Jika implikasi p=>q dan q=>r keduanya bernilai benar.p Atau dapat ditulis pvq ¬p ____ ∴q Contoh : atau pvq ¬q ____ ∴p Saya pergi ke mars atau ke bulan Saya tidak pergi ke mars __________________________ ∴ Saya pergi ke bulan F. maka gabungan kedua kalimat tersebut dengan menggunakan penghubung ”∧” juga bernilai benar. q=>r |. ¬p |. Silogisme Disjungtif : pv q. G. Konjungsi p q ____ ∴ p∧q H. DILEMA 24 . SILOGISME HIPOTESIS (TRANSITIVITY) Prinsip silogisme hipotesis adalah sifat transitif pada implikasi. KONJUNGSI Jika ada dua kalimat yang masing-masing benar. Transitivity : p=>q . maka implikasi p=>r bernilai benar pula. maka satu-satunua pilihan adalah memilih B. Begitu juga sebaliknya.

dalam kalimat yang dihubungkan dengan penghubung ”v”.Kadang-kadang. Dilema : pvq p=>r q=>r _____ ∴r 25 . Berdasarkan hal itu maka suatu kesimpulan dapat diambil. masingmasing kalimat dapat mengimplikasikan sesuatu yang sama.

BAB III KUANTIFIKASI Dalam Bab ini akan mempelajari konsep dasar konstanta. Jika hendak berbicara tentang anggota sembarang dari semestanya. Contoh 3 : Pehatikan beberapa pernyataan berikut: (a). variabel. Tanda demikian yang dimaksud adalah variabel (atau perubah). “Ais”. Manusia makan nasi (b). Simbol seperti itu disebut Konstanta. dimana semestanya adalah himpunan orang-orang. kuantor dan ingkaran kalimat sebagai konsep penalaran dalam logika informatika. Jadi variabel adalah suatu simbol atau tanda yang digunakan untuk menunjuk pada anggota sembarang dari semesta pembicaranya. maka angka 5. Contoh 1 : Misalnya ada pernyataan “Niken”. Contoh 2 : Misalnya semesta pembicaranya terdiri atas mereka yang kuliah pada sebuah universitas (perguruan tinggi) maka kata “mahasiswa” menunjuk pada anggota sembarang dari semesta pembicaranya. 4 + x = 7 (d). “Aji” adalah nama orang. Sedangkan konstanta adalah simbol yang menunjukan suatu anggota tertentu (yang sudah spesifik) dalam semesta pembicaraan. Manusia memakai sepatu (c). Untuk dapat berbicara tentang anggota tertentu dari semestanya. maka diperlukan suatu tanda-tanda lain dari konstanta. kalimat terbuka. diperlukan suatu simbol atau tanda yaitu suatu nama dari anggota tersebut. Jika semestanya himpunan bilangan-bilangan. Jadi konstanta adalah suatu simbol atau tanda yang diucapkan atau ditulis untuk menunjukkan tentang anggota tertentu dari semestanya. Variabel dan Konstanta Variabel adalah simbol yang menunjukan suatu anggota yang belum spesifik dalam semesta pembicaraan. p < 5 26 . angka 211 adalah suatu simbol untuk bilangan-bilangan yang disajikan.

“p” pada pernyataan diatas disebut variabel. Demikian juga untuk pernyataan (d) jika p diganti “0 atau 1. Pernyataan terbuka adalah suatu pernyataan yang memuat variabel. maka pernyataannya menjadi “Toni makan nasi”. Jika semesta pembicaranya bilangan-bilangan maka variabel yang dimaksudkan adalah variabel numerik.. atau 3.1. Jika pernyataan (a) manusia diganti Tony. Pernyataan seperti ini biasanya disebut pernyataan faktual. akan bernilai benar. Jadi pernyataan terbuka merupakan pernyataan yang belum mempunyai nilai kebenaran. “4”.3.Suatu pernyataan mempunyai nilai benar atau salah tergantung pada kesesuaian kalimat tersebut dengan keadaan sesungguhnya. . Pernyataan ini disebut pernyataan terbuka. Disini “p(x)” . 27 . tergantung realitasnya. “q” . tetapi jika semestanya himpunan bilangan asli. dan diucapkan sebagai “obyek x mempunyai sifat p”. Pada pernyataan (c) jika x diganti 3. tetapi jika x diganti 4 akan bernilai salah. dan jika variabel tersebut diganti konstanta yang sesuai dengan semestanya maka pernyataanya akan bernilai benar saja atau salah saja. dan “0. maka pernyataan akan bernilai salah. “3”. “x” . Bernilai benar jika keadaan sesungguhnya sesuai dengan realita yang ada.2. tidak bernilai benar atau salah. Jika variabel dalam kalimat terbuka sudah diganti dengan konstanta yang sesuai. Variabel yang terdapat dalam rangkaian tanda “p(x)” disebut variabel bebas. “y” dan seterusnya.4” disebut konstanta. Kata-kata “manusia”. jika sebaliknya bernilai salah. Huruf ”p”. Misalnya: “p (x)” ini merupakan kalimat terbuka. Kalimat terbuka Pernyataan-pernyataan dalam contoh 3 di atas disebut kalimat (pernyataan) terbuka. maka pernyataan yang terjadi dikatakan sebagai pernyataan tertutup. variabel adalah tanda-tanda. Pernyataan ini jelas bernilai benar saja atau salah saja.. Demikian juga untuk pernyataan (b) akan menjadi pernyataan “Tony memakai sepatu” pernyataan ini akan menjadi jelas nilainya. belum bernilai benar atau salah. Misalkan pernyataan terbuka ini dengan simbol/notasi “p(x)”. yaitu benar atau salah tergantung realitasnya.dan seterusnya disini hanyalah sebuah simbol/notasi dalam pengkajian suatu sifat. atau 4” akan bernilai benar untuk semesta pembicaraan himpunan bilangan cacah.. atau 2. yang biasanya dipilih huruf kecil dari abjad “x”. hanya untuk mempermudah dalam pembicaraan selanjutnya. Dalam hal ini. Sedangkan pengganti katanya yaitu “Tony”.

Kuantor eksistensial (∃) Contoh : • • • • Setiap laki-laki harus wajib militer Ada beberapa laki-laki yang tidak wajib militer Untuk setiap x. jika x laki-laki maka x harus wajib militer Terdapat x sehingga x laki-laki dan x tidak wajib militer. (∀x)p(x)→q(x) dan 2. Ada cara yang lazim digunakan untuk merubah pernyataan terbuka ini menjadi pernyataan deklaratif. (∃x)p(x) ∧ q(x) Secara umum : Kuantor universal selalu diikuti dengan bentuk Implikasi dan Kuantor eksistensial selalu diikuti dng bentuk konjungsi Hubungan Kuantor ∀ dan ∃ Pandang contoh sebagai berikut : Pernyataan p : “Setiap peserta kuliah Logika informatika mendapat nilai A” Ingkarannya : 28 . Ditulis sebagai berikut : Kuantor pernyataan Jika p adalah menunjukkan sifat “laki-laki” dan q menunjukkan sifat “wajib militer”. maka kalimat tersebut dapat ditulis : 1. Yang dimaksud kuantor disini adalah kuantor universal atau kuantor eksistensial di depan pernyataan “p(x)”. yaitu menentukan kuantifikasi obyeknya Ada dua jenis kuantor yaitu : 1. Kuantor Cara lain untuk mendapat kalimat deklaratif dari suatu pernyataan adalah dengan menggunakan kuantor. maka jika perlu semua variabel bebas di dalamnya diganti dengan suatu konstanta. Kuantor universal (∀) 2.Agar pernyataan terbuka “p(x)” ini mempunyai nilai salah atau benar (yaitu menjadi pernyataan deklaratif). yaitu dengan membubuhkan suatu kuantor.

y) adalah : (∀x)(∀y)p(x. (∀x) (∀y) p(x. maka perlu dibicarakan suatu pernyataan dengan lebih dari satu kuantor.y) ↔ (∃y) (∃x) p(x.y) → (∃y) (∀x) p(x.y) (∀x)(∃y)p(x. (∃x)(∃y)p(x.y) 4. (∃y) (∀x) p(x.y) → (∃y) (∃x) p(x. .y) (∃x)(∃y)p(x.y) 2.y) (∀x)(∀y)p(x. (∀x) (∃y) p(x. maka kalimat pertama : p : (∀x)A(x) ( A adalah sifat mendapat nilai A) dan yang kedua (neg) : ~p : (∃x)A(x) Negasi kuantor Hubungan antara kuantor universal dengan kuantor eksistensial E1 : ( ∀ x ) p ( x ) ≡ ( ∃ x ) p ( x ) E2 : ( ∃ x ) p ( x ) ≡ ( ∀ x ) p ( x ) E3 : (∀x)p(x)→q(x) ≡ (∃x)p(x) ∧ q(x) E4 : (∃x)p(x) ∧ q(x) ≡ (∀x)p(x)→q(x) Jika suatu predikat menyangkut lebih dari satu obyek. (∃x) (∃y) p(x.y) 5. (∀x) (∀y) p(x.y) .y). misalnya p(x.y) ↔ (∀y) (∀x) p(x. maka “Semua manusia adalah tidak kekal” atau ∀x p( x ) bernilai benar 29 .y) (∃x)(∀y)p(x. (∀x)(∃y)p(x.y) 3.y) . Kombinasi kuantor yang mungkin untuk predikat p(x.~p adalah : “Tidak setiap peserta kuliah logika informatika mendapat nilai A” atau boleh dikatakan : “ Ada peserta kuliah logika informatika mendapat nilai tidak A (mis B)” Jika dua pernyataan tersebut ditulis dengan kuantor dan semesta pembicaraannya adalah semua peserta kuliah logika informatika.y) → (∀x) (∃y) p(x. Jika p(x) adalah manusia (=x) tidak kekal.y) Ingkaran kalimat Negasi dari “Semua manusia tidak kekal” adalah “tidak benar bahwa semua manusia tidak kekal ” atau “Beberapa manusia tidak kekal”. .y) .y) Didapat rumusan sbb : 1. (∃x)(∀y)p(x.

perhatikan penulisan serta peletakan tanda kurungnya.y)] ≡ (∃x)( ∀y) ¬P(x. Jadi ingkaran dari kuantor universal (∀x) p(x) dinyatakan dengan simbol logika : [∀x p(x)] ≡ ∃x : p(x) atau (∀x) p(x) ≡ (∀x) p(x) ≡ (∃x) p(x) Jadi negasi dari suatu pernyataan yang memuat kuantor universal adalah ekivalen dengan pernyataan yang memuat kuantifikasi eksistensial (fungsi pernyataan yang dinegasikan) dan sebaliknya. Sekali lagi.y) ¬[(∀x)( ∃y) P(x.y) ≡ (∀y)( ∀x) P(x. yang terhubung hanya”x hidup”.y) Contoh 2 : Tentukan negasi dari logika predikat berikut ini : 30 .y) Ingkaran kalimat berkuantor ganda dilakukan dengan cara yang sama seperti ingkaran pada kalimat berkuantor tunggal. hubungan antara penempatan kuantor ganda adalah sebagai berikut : (∀x)( ∀y) P(x. atau x mati”.y) ≡ (∃y)( ∃x) P(x. ¬[(∃x)( ∀y) P(x.y)] ≡ (∀x)( ∃y) ¬P(x. x tidak terhubing dengan kuantor universal.y) ≡ (∀y)( ∃x) P(x. Secara umum.dan “beberapa manusia tidak kekal” atau ∃x p( x ) bernilai salah. Pada “x mati”.y) (∃x)( ∃y) P(x. x hidup atau x mati” Akan tetapi jika ditulisnya (∀x)(H(x)) v M(x) maka dibaca “Untuk semua x hidup. Ingkaran dari kuantor eksistensial (∃x) p(x) dinyatakan dengan (∃x) p ( x) dinyatakan dengan simbol logika: [∃x p(x)] ≡ ∀x : p(x) atau (∃x) p ( x) = (∃x) p ( x) = (∀x) p ( x) Jadi negasi dari suatu pernyataan yang memuat kuantor eksistensial adalah ekivalen dengan pernyataan yang memuat kuantifikasi universal (fungsi pernyataan yang dinegasikan) Contoh 1 : H(x) : x hidup M(x) : x mati (∀x)(H(x) v M(x)) dibaca “Untuk semua x.y) (∃x)( ∀y) P(x.

y) : x kenal y 2. Mengubah pernyataan ke dalam logika predikat yang memiliki kuantor ganda Misal : “Ada seseorang yang mengenal setiap orang” Langkah-langkahnya : 1.y) 3. Jadikan pernyataan “ada x. sehingga menjadi (∃x)(∀y) K(x. terdapat bilangan bulat y yang memenuhi x=2y. Ada toko buah yang menjual segala jenis buah Dapat ditulis (∃x)( ∀y) x menjual y.1. Maka negasinya ¬[(∃x)( ∀y) x menjual y] ≡ (∀x)( ∃y) x tidak menjual y Dibaca “Semua toko buah tidak menjual paling sedikit satu jenis buah”.y) 31 . Jadikan potongan pernyataan ”x kenal y”. Maka negasinya : ¬[(∀x)( ∃y) x=2y] ≡ (∃x)( ∀y) x≠2y 2. maka akan menjadi K(x. (∀x)( ∃ y) x=2y dengan domainnya adalah bilangan bulat (∀x)( ∃y) x=2y dibaca “Untuk semua bilangan bulat x. K(x. Jadikan potongan pernyataan ”x kenal semua y”. sehingga menjadi (∀y) K(x.y). yang x kenal semua y”.

c} } dan K = {{}} 32 .BAB IV HIMPUNAN Pada kehidupan sehari-hari seringkali untuk memperrmudah menyelesaikan suatu masalah kita mengelompokkan suatu objek kedalam kategori-kategori tertentu. ada juga yang tidak masuk dalam kategori himpunan. Definisi himpunan dalam matematika adalah sebagai berikut: Definisi Himpunan Himpunan (set) adalah kumpulan objek-objek yang berbeda dan terdefinisi dengan baik. Misalkan: maka 3∈A A = {1. 2. c}. {a. Contoh 1: HIMATIF adalah sebuah himpunan. unsur. Keanggotaan Suatu objek disebut anggota dalam suatu himpunan apabila memenuhi kriteria dalam himpunan tersebut. x ∉ A : x bukan merupakan anggota himpunan A. Misalnya kelompok tumbuhan berdaun lebar. di dalamnya berisi anggota berupa mahasiswa. dan tiap mahasiswa berbeda satu sama lain. {a. Kelompok-kelompok tersebut dalam matematika ada yang disebut himpunan. kelompok anak kecil. b. Dilambangkan dengan huruf kecil. Contoh 2. dan dinotasikan sebagai berikut: x ∈ A : x merupakan anggota himpunan A. atau Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika (HIMATIF). 4}.. b. atau anggota. 3. Himpunan biasanya dilambangkan dengan huruf besar. R = { a. sedangkan objek di dalam himpunan disebut yang biasa dissebut elemen.

maka a ∈ P1 a ∉ P2 P1 ∈ P2 P1 ∉ P3 P2 ∈ P3 Cara Penyajian Himpunan Cara penyajian himpunan ada beberapa macam yaitu: 1. 3.Himpunan bilangan bulat ditulis sebagai {…. paku} . b} }. {a. 1. {{a}} } . a. c} } . 2. -1. 100 } . . . {a. 6.Himpunan empat bilangan asli pertama: A = {1.. Amir. -2. c}. b}. 0. Contoh : . . 10. b. …}.Himpunan 100 buah bilangan asli pertama: {1.. 4}. Simbol-simbol Baku 33 . 2.C = {kucing. 8. b.C = {a. P2 = { {a. dan P3 = {{{a.Himpunan lima bilangan genap positif pertama: B = {4. b.K = { {} } .{a. b}}}.. Bila P1 = {a. {a}. 2. c} ∈ R c∉R {} ∈ K {} ∉ R Contoh 3. Enumerasi Enumerasi mendaftarkan semua anggota himpunan satu persatu. 10}.R = { a. 2.

} Z = himpunan bilangan bulat = { . 4. -2.. . A = {1. 2. 3... 3. 7. dengan A = {1.. 2. 5. 3. 3. } N = himpunan bilangan alami (natural) = { 1. 8}. . x < 5 } yang ekivalen dengan A = {1.. disimbolkan dengan U.. 5} dan B = {2. 5}. (i) A adalah himpunan bilangan bulat positif kecil dari 5 A = { x | x bilangan bulat positif lebih kecil dari 5} atau A = { x | x ∈ P. 2. 2. Diagram Venn: U 1 3 A 2 5 B 8 6 4 7 34 . 3. 5} dan A adalah himpunan bagian dari U.. 1. Misalkan U = {1. 6. Diagram Venn Contoh 5. .. -1. 8}. 2. } Q = himpunan bilangan rasional R = himpunan bilangan riil C = himpunan bilangan kompleks Himpunan yang universal: semesta.. …. 2. 0. Notasi Pembentuk Himpunan Notasi: { x  syarat yang harus dipenuhi oleh x } Contoh 4. 4} (ii) M = { x | x adalah mahasiswa yang mengambil kuliah IF2151} 4. 2.P = himpunan bilangan bulat positif = { 1. 3. Contoh: Misalkan U = {1.

17. 10. paku}.Kardinalitas Jumlah elemen di dalam A disebut kardinal dari himpunan A. 11. {a}. • • Dalam hal ini. B dikatakan superset dari A. maka A = 3 Himpunan kosong (null set) Himpunan dengan kardinal = 0 disebut himpunan kosong (null set). Notasi: n(A) atau A  Contoh 6. Notasi dari himpunan kosong adalah ∅ atau {} Contoh 7. {{ }}} dapat juga ditulis sebagai {∅. maka n(P) = 0 (iii) A = {x | x adalah akar persamaan kuadrat x2 + 1 = 0 }. 5. {∅}} {∅} bukan himpunan kosong karena ia memuat satu elemen yaitu himpunan kosong. a. {{a}} }. atau B = {2. (i) B = { x | x merupakan bilangan prima lebih kecil dari 20 }. 3. 13. n(A) = 0 • • • himpunan {{ }} dapat juga ditulis sebagai {∅} himpunan {{ }. maka T = 5 (iii) A = {a. Notasi: A ⊆ B 35 . 19} maka B = 8 (ii) T = {kucing. Himpunan Bagian (Subset) Definisi Himpunan Bagian Himpunan A dikatakan himpunan bagian dari himpunan B jika dan hanya jika setiap elemen A merupakan elemen dari B. 7. maka n(E) = 0 (ii) P = { orang Indonesia yang pernah ke bulan }. (i) E = { x | x < x }. Amir.

2. Untuk sembarang himpunan A berlaku hal-hal sebagai berikut: (a) A adalah himpunan bagian dari A itu sendiri (yaitu. x ≥. (c) Jika A ⊆ B dan B ⊆ C. 3} (iii) N ⊆ Z ⊆ R ⊆ C (iv) Jika A = { (x.Diagram Venn: U B A Contoh 8. 3} adalah proper subset dari {1. TEOREMA 1. maka A ⊆ C • ∅ ⊆ A dan A ⊆ A. maka ∅ dan A disebut himpunan bagian tak sebenarnya (improper subset) dari himpunan A. 3. Contoh: {1} dan {2. x ≥ 0 dan y ≥ 0 }. maka {1. 2. Contoh: A = {1. 3} 36 . A ⊆ A). y) | x + y < 4. 3} ⊆ {1. 5} (ii) {1. y ≥ 0 } dan B = { (x. maka B ⊆ A. 3}. 2. 2. (i) { 1. • A ⊆ B berbeda dengan A ⊂ B (i) A ⊂ B : A adalah himpunan bagian dari B tetapi A ≠ B. 2. 2. y) | 2x + y < 4. 3} dan ∅ adalah improper subset dari A. 3} ⊆ {1. A adalah himpunan bagian sebenarnya (proper subset) dari B. (b) Himpunan kosong merupakan himpunan bagian dari A ( ∅ ⊆ A). 2. 4.

5 } dan B = {3. 3. 2. 2. 4. Jika tidak demikian. (i) Jika A = { 0. dan C berlaku aksioma berikut: (a) A = A. 2. 5}. Himpunan yang Sama Definisi Himpunan yang Sama Suatu himpunan A dikatakan sama dengan himpunan B (A = B) jika dan hanya jika setiap elemen A merupakan elemen B dan sebaliknya setiap elemen B merupakan elemen A. dan C = C (b) jika A = B. 3. C = {1. 3} dan B = {1. 8. B = B. maka B = A (c) jika A = B dan B = C. 2. •Latihan Misalkan A = {1. 8. maka A ≠ B Untuk tiga buah himpunan. 8}. A. Jawaban: C harus mengandung semua elemen A = {1. maka A = C 37 . maka A = B (iii) Jika A = { 3. Notasi : A = B ↔ A ⊆ B dan B ⊆ A Contoh 9. 3. 5. maka A ≠ B. B. • A = B jika A adalah himpunan bagian dari B dan B adalah himpunan bagian dari A.(ii) A ⊆ B : digunakan untuk menyatakan bahwa A adalah himpunan bagian (subset) dari B yang memungkinkan A = B. 5. 5 } dan B = {5. 2. 3. 4} atau C = {1. 8 }. Tentukan semua kemungkinan himpunan C sedemikian sehingga A ⊂ C dan C ⊂ B. maka A = B (ii) Jika A = { 3. C tidak boleh memuat 4 dan 5 sekaligus karena C adalah proper subset dari B. yaitu A adalah proper subset dari C dan C adalah proper subset dari B. 1 } dan B = { x | x (x – 1) = 0 }. 5}. 3} dan sekurang-kurangnya satu elemen dari B. Dengan demikian.

3. 5. maka A // B. Himpunan Kuasa 38 .. c. Misalkan A = { 1. 7 } dan B = { a. maka A ~ B sebab A = B = 4 Himpunan Saling Lepas Definisi Himpunan Saling Lepas Dua himpunan A dan B dikatakan saling lepas (disjoint) jika keduanya tidak memiliki elemen yang sama. 30. 20. Notasi : A // B Diagram Venn: U A B Contoh 11. }. d }. x < 8 } dan B = { 10.. . Notasi : A ~ B ↔ A = B Contoh 10. Jika A = { x | x ∈ P. b.Himpunan yang Ekivalen Definisi Himpunan yang Ekivalen Himpunan A dikatakan ekivalen dengan himpunan B jika dan hanya jika kardinal dari kedua himpunan tersebut sama.

Himpunan kuasa dari himpunan kosong adalah P(∅) = {∅}. 8.Definisi Himpunan Kuasa Himpunan kuasa (power set) dari himpunan A adalah suatu himpunan yang elemennya merupakan semua himpunan bagian dari A. 2 }. { 1. 9 } dan B = { -2. 5. 6 }. maka P(A) = { ∅. Contoh 12. Artinya: A // B 2. dan himpunan kuasa dari himpunan {∅} adalah P({∅}) = {∅. { 1 }. Operasi Terhadap Himpunan 1. 6. termasuk himpunan kosong dan himpunan A sendiri. 10} (ii) Jika A = { 3. 10. maka A ∩ B = ∅. Jika A = { 1. maka P(A) = 2m. Notasi : P(A) atau 2A Jika A = m. 2 }} Contoh 13. Gabungan (union) 39 . maka A ∩ B = {4. { 2 }. 18}. 10} dan B = {4. {∅}}. (i) Jika A = {2. Irisan (intersection) Notasi : A ∩ B = { x | x ∈ A dan x ∈ B } Contoh 14. 14. 4.

Misalkan: A = himpunan semua mobil buatan dalam negeri B = himpunan semua mobil impor C = himpunan semua mobil yang dibuat sebelum tahun 1990 40 . (i) Jika A = { 2. 8. 7. 7. 22 }. 5. x ∉ A } Contoh 16. (i) jika A = {1. 22 } (ii) A ∪ ∅ = A 3. 3. 3. 3. 7. maka A ∪ B = { 2. 9 } (ii) jika A = { x | x/2 ∈ P. Misalkan U = { 1. maka Contoh 17. 9 }. 2. 8 } dan B = { 7. x < 9 }. . 4.. Komplemen (complement) Notasi : A = { x | x ∈ U.Notasi : A ∪ B = { x | x ∈ A atau x ∈ B } Contoh 15. 5.. 5. 8} A = { 1. 9}. maka A = {2.. 6. 5.

3} = {5}. 8.. 2.D = himpunan semua mobil yang nilai jualnya kurang dari Rp 100 juta E = himpunan semua mobil milik mahasiswa universitas tertentu (i) “mobil mahasiswa di universitas ini produksi dalam negeri atau diimpor dari luar negeri” (E ∩ A) ∪ (E ∩ B) atau E ∩ (A ∪ B) A∩C∩D (ii) “semua mobil produksi dalam negeri yang dibuat sebelum tahun 1990 yang nilai jualnya kurang dari Rp 100 juta” (iii) “semua mobil impor buatan setelah tahun 1990 mempunyai nilai jual lebih dari Rp 100 juta” C∩D∩B 4. 10 }. 2. 6. 3. Selisih (difference) Notasi : A – B = { x | x ∈ A dan x ∉ B } = A ∩ B Contoh 18. 3.. 5} = {2} 5. 3} – {1. 2. 5} – {1. tetapi {1. 9 } dan B–A=∅ (ii) {1. 7. maka A – B = { 1. 3. 5. (i) Jika A = { 1.. 3. . 10 } dan B = { 2. 4. Beda Setangkup (Symmetric Difference) Notasi: A ⊕ B = (A ∪ B) – (A ∩ B) = (A – B) ∪ (B – A) 41 .

3 }. 5 }. (1. b) ≠ (b. a). b). b }. (3. (a. 6 } dan B = { 2. 6 } Contoh 20. Misalkan U = himpunan mahasiswa P = himpunan mahasiswa yang nilai ujian UTS di atas 80 Q = himpunan mahasiswa yang nilain ujian UAS di atas 80 Seorang mahasiswa mendapat nilai A jika nilai UTS dan nilai UAS keduanya di atas 80. Beda setangkup memenuhi sifat-sifat berikut: (a) A ⊕ B = B ⊕ A (hukum komutatif) (b) (A ⊕ B ) ⊕ C = A ⊕ (B ⊕ C ) (hukum asosiatif) 6. b)  a ∈ A dan b ∈ B } Contoh 20. 4. (i) “Semua mahasiswa yang mendapat nilai A” : P ∩ Q (ii) “Semua mahasiswa yang mendapat nilai B” : P ⊕ Q (iii) “Semua mahasiswa yang mendapat nilai C” : U – (P ∪ Q) TEOREMA 2. 2. 4. dan mendapat nilai C jika kedua ujian di bawah 80. 42 . maka C × D = { (1. (i) Misalkan C = { 1. Jika A = { 2. (2. a). Perkalian Kartesian (cartesian product) Notasi: A × B = {(a. a). maka A ⊕ B = { 3. maka A × B = himpunan semua titik di bidang datar Catatan: 1. b) } (ii) Misalkan A = B = himpunan semua bilangan riil. dan D = { a. (3. B.Contoh 19. 2. 5. b). mendapat nilai B jika salah satu ujian di atas 80. Jika A dan B merupakan himpunan berhingga. (2. maka: A × B = A . 3. a).

maka A × B = B × A = ∅ Contoh 21. {3}} } Latihan Misalkan A adalah himpunan. t). t). c). (n. D × C = {(a. (b. d). (3. d = es dawet } Berapa banyak kombinasi makanan dan minuman yang dapat disusun dari kedua himpunan di atas? Jawab: A × B = A⋅B = 4 ⋅ 3 = 12 kombinasi dan minuman. A × B ≠ B × A dengan syarat A atau B tidak kosong. Contoh 21. t). 3). Misalkan A = himpunan makanan = { s = soto.3. d). m = mie rebus } B = himpunan minuman = { c = coca-cola. 3 }. b). 1). a). (a. {{3}}. Daftarkan semua anggota himpunan berikut: (a) P(∅) Penyelesaian: (a) P(∅) = {∅} (b) ∅ × P(∅) = ∅ (ket: jika A = ∅ atau B = ∅ maka A × B = ∅) (b) ∅ × P(∅) (c) {∅}× P(∅) (d) P(P({3})) (c) {∅}× P(∅) = {∅}× {∅} = {(∅. c). (n. Jika A = ∅ atau B = ∅. d). (g. Pada Contoh 20(i) di atas. (s. d)}. 2). n = nasi goreng. (m. a). t = teh. (s. b) } D × C ≠ C × D. (2. Periksalah apakah setiap pernyataan di bawah ini benar atau salah dan jika salah. (m. (n. {∅}. (g. 4. t). g = gado-gado. c). b). c). 2. 3) } C × D = { (1. (g. yaitu {(s. {3} }) = {∅. {∅. (2.∅)) (d) P(P({3})) = P({ ∅. (m. dan D = { a. 1). a). (b. (1. (3. (a. b }. (b. C = { 1. bagaimana seharusnya: 43 . 2).

. (2.. 2}.. (2.. b. a. (i) A ∩(B1∪B2 ∪ . α). β) } 44 .. b. β). seharusnya { A} ⊆ (e) salah. ⊕ An = ⊕ Ai i =1 Contoh 22. ∪ An = U Ai i =1 i =1 n n A1 × A2 × . (1.. seharusnya A ∩ P( A) = ∅ P( A) A∈ P( A) Perampatan Operasi Himpunan A1 ∩ A2 ∩ . α). α). × An = i×1 Ai = A1 ⊕ A2 ⊕ .. β). β}. β). b}.. b. (1. a. a. ∪Bn) = (A∩ B1) ∪ (A ∩ B2) ∪ . ∩ An = I Ai A1 ∪ A2 ∪ . maka A × B × C = {(1. (1.. ∪ (A ∩ Bn) n n A ∩ (U Bi ) = U ( A ∩ Bi ) i =1 i =1 n n (ii) Misalkan A = {1.(a) A ∩ P ( A) = P ( A) (b) { A} ∪ P( A) = P ( A) (c) A − P ( A) = A (d) { A } ∈ P ( A ) (e) A ⊆ P ( A ) Jawaban: (a) salah. b. B = {a. (2. (2. α).. a.. dan C = {α. seharusnya (b) benar (c) benar (d) salah..

Hukum komplemen: − A∪ A =U − A∩ A =∅ 5. Hukum 0/1 8. Hukum null/dominasi: − A∩∅=∅ − A∪U=U 4. Hukum identitas: − A∪∅=A − A∩U=A 3. Hukum penyerapan (absorpsi): A ∪ (A ∩ B) = A A ∩ (A ∪ B) = A (A) = A − − 7. Hukum asosiatif: − A ∪ (B ∪ C) = (A ∪ B) ∪ C − A ∩ (B ∩ C) = (A ∩ B) ∩ C 10. Hukum komutatif: − A∪B=B∪A − A∩B=B∩A Hukum distributif: − A ∪ (B ∩ C) = (A ∪ B) ∩ (A ∪ C) − A ∩ (B ∪ C) = (A ∩ B) ∪ (A ∩ C) 11.mobil harus berjalan di bagian kanan jalan. Hukum idempoten: − A∪A=A − A∩A=A 6. Contoh: AS kemudi mobil di kiri depan kemudi mobil di kanan depan Inggris (juga Indonesia) Peraturan: (a) di Amerika Serikat. Hukum De Morgan: − − A∩ B A∪ B = = A∪ B A∩ B ∅ =U U =∅ Prinsip Dualitas Prinsip dualitas adalah dua konsep yang berbeda dapat saling dipertukarkan namun tetap memberikan jawaban yang benar. pada jalan yang berlajur banyak. . 45 .Hukum-hukum Himpunan Hukum-hukum Himpunan disebut juga sifat-sifat (properties) himpunan atau disebut juga hukum aljabar himpunan 1. lajur kiri untuk mendahului. Hukum involusi: − 2.

-

bila lampu merah menyala, mobil belok kanan boleh langsung

(b) di Inggris, Prinsip dualitas: Konsep kiri dan kanan dapat dipertukarkan pada kedua negara tersebut sehingga peraturan yang berlaku di Amerika Serikat menjadi berlaku pula di Inggris (Prinsip Dualitas pada Himpunan). Misalkan S adalah suatu kesamaan (identity) yang melibatkan himpunan dan operasi-operasi seperti ∪, ∩, dan komplemen. Jika S* diperoleh dari S dengan mengganti ∪ → ∩, ∩ → ∪, ∅ → U, U → ∅, mobil harus berjalan di bagian kiri jalan, pada jalur yang berlajur banyak, lajur kanan untuk mendahului, bila lampu merah menyala, mobil belok kiri boleh langsung

sedangkan komplemen dibiarkan seperti semula, maka kesamaan S* juga benar dan disebut dual dari kesamaan S.

1. Hukum identitas: A∪∅=A 2. Hukum null/dominasi: A∩∅=∅ 3. Hukum komplemen: A∪ A =U 4. Hukum idempoten: A∪A=A 5. Hukum penyerapan: A ∪ (A ∩ B) = A

Dualnya: A∩U =A Dualnya: A∪U=U Dualnya: A∩ A=∅ Dualnya: A∩A=A Dualnya: A ∩ (A ∪ B) = A

46

6. Hukum komutatif: A∪B=B∪A 7. Hukum asosiatif: A ∪ (B ∪ C) = (A ∪ B) ∪ C Hukum distributif: A ∪ (B ∩ C)=(A ∪ B) ∩ (A ∪ C) 9. Hukum De Morgan:

Dualnya: A∩B=B∩A Dualnya: A ∩ (B ∩ C) = (A ∩ B) ∩ C Dualnya: A ∩ (B ∪ C) = (A ∩ B) ∪ (A ∩ C) Dualnya:

A∪ B

=

A∩B

A∩ B
Dualnya:

=

A∪B

10. Hukum 0/1

∅= U

U

=∅

Contoh 23. Dual dari (A ∩ B) ∪ (A ∩

B ) = A adalah B ) = A.

(A ∪ B) ∩ (A ∪ Prinsip Inklusi-Eksklusi Untuk dua himpunan A dan B: A ∪ B = A + B – A ∩ B A ⊕ B = A +B – 2A ∩ B

Contoh 24. Berapa banyaknya bilangan bulat antara 1 dan 100 yang habis dibagi 3 atau 5? Penyelesaian: A = himpunan bilangan bulat yang habis dibagi 3, B = himpunan bilangan bulat yang habis dibagi 5, A ∩ B = himpunan bilangan bulat yang habis dibagi 3 dan 5 (yaitu himpunan bilangan bulat yang habis dibagi oleh KPK – Kelipatan Persekutuan Terkecil – dari 3 dan 5, yaitu 15), Yang ditanyakan adalah A ∪ B. A = 100/3 = 33, B = 100/5 = 20,
47

A ∩ B = 100/15 = 6 A ∪ B = A + B – A ∩ B = 33 + 20 – 6 = 47

Untuk tiga buah himpunan A, B, dan C, berlaku A ∪ B ∪ C = A + B + C – A ∩ B – A ∩ C – B ∩ C + A ∩ B ∩ C

Untuk himpunan A1, A2, …, Ar, berlaku: A1 ∪ A2 ∪ … ∪ Ar =


i

Ai –

1≤i ≤ j ≤ r

Ai ∩ Aj +

1≤i ≤ j ≤ k ≤ r

Ai ∩ Aj ∩ Ak + …+

(-1)r-1 A1 ∩ A2 ∩ … ∩ Ar Latihan: Di antara bilangan bulat antara 101 – 600 (termasuk 101 dan 600 itu sendiri), berapa banyak bilangan yang tidak habis dibagi oleh 4 atau 5 namun tidak keduanya? Penyelesaian: Diketahui:  U = 500

 A = 600/4 – 100/4 = 150 – 25 = 125  B = 600/5 – 100/5 = 120 – 20 = 100  A ∩ B  = 600/20 – 100/20 = 30 – 5 = 25 yang ditanyakan  A ⊕ B  = ?

Hitung terlebih dahulu  A ⊕ B =  A +  B – 2 A ∩ B  = 125 + 100 – 50 = 175

untuk mendapatkan  A ⊕ B  = U – A ⊕ B = 500 – 175 = 325 Partisi Definisi Partisi

48

4}. 2}. c. 3. Definisi Multiplisitas Multiplisitas dari suatu elemen pada himpunan ganda adalah jumlah kemunculan elemen tersebut pada himpunan ganda. {2. d. a. Contoh: M = { 0. 0. P ∪ Q = { a. Himpunan (set) merupakan contoh khusus dari suatu multiset. 2. Operasi Antara Dua Buah Multiset: Misalkan P dan Q adalah multiset: 1. yang dalam hal ini multiplisitas dari setiap elemennya adalah 0 atau 1. 1. 1 }. a. A2. {2. 1. 3. … dari A sedemikian sehingga: (a) (b) A1 ∪ A2 ∪ … = A. 2.Partisi dari sebuah himpunan A adalah sekumpulan himpunan bagian tidak kosong A1. 1. b. c. 8}. Himpunan Ganda (multiset) Definisi Himpunan Ganda Himpunan yang elemennya boleh berulang (tidak harus berbeda) disebut himpunan ganda (multiset). a. multiplisitas 0 adalah 4. d. 4}. Contoh: P = { a. {5. c }. 8}. c. 1. d } 49 . 6} } adalah partisi A. Kardinalitas dari suatu multiset didefinisikan sebagai kardinalitas himpunan padanannya (ekivalen). 4. {7. 2. 2. {}. 0. d } dan Q ={ a. 3. Contohnya. Misalkan A = {1. P ∪ Q adalah suatu multiset yang multiplisitas elemennya sama dengan multiplisitas maksimum elemen tersebut pada himpunan P dan Q. {2. {1. 5. 7. dengan mengasumsikan elemen-elemen di dalam multiset semua berbeda. 6. a. maka { {1}. c. a. dan Ai ∩ Aj = ∅ untuk i ≠ j Contoh 25. 3}. 1. 0. b.

Implikasi Contoh: Buktikan bahwa “Jika A ∩ B = ∅ dan A ⊆ (B ∪ C) maka selalu berlaku bahwa A ⊆ C”. a. Misalkan A. d } Pembuktian Proposisi Perihal Himpunan Proposisi himpunan adalah argumen yang menggunakan notasi himpunan. b. P + Q = { a. 1. b. b. c. c } 3. B. dan C adalah himpunan. d. Proposisi dapat berupa: 1. a. f } maka P – Q = { a. a. Contoh: P = { a. d. b. Buktikan bahwa A ∩ (B ∪ C) = (A ∩ B) ∪ (A ∩ C) dengan diagram Venn. b. Kesamaan (identity) Contoh: Buktikan “A ∩ (B ∪ C) = (A ∩ B) ∪ (A ∩ C)” 2. d }. a. jika selisihnya nol atau negatif. b. e } dan Q = { a. b. P + Q. P – Q adalah suatu multiset yang multiplisitas elemennya sama dengan: − multiplisitas elemen tersebut pada P dikurangi multiplisitasnya pada Q. Contoh: P = { a. c.2. c } P ∩ Q = { a. d } dan Q = { a. a. d. yang didefinisikan sebagai jumlah (sum) dua buah himpunan ganda. d. e } − 4. d. a. c. jika selisihnya positif 0. b. b. b. P ∩ Q adalah suatu multiset yang multiplisitas elemennya sama dengan multiplisitas minimum elemen tersebut pada himpunan P dan Q. c. a. a. c. c. c. adalah suatu multiset yang multiplisitas elemennya sama dengan penjumlahan dari multiplisitas elemen tersebut pada P dan Q. Contoh: P = { a. b. a. c } dan Q = { a. b. a. c. Pembuktian dengan menggunakan diagram Venn Contoh 26. Bukti: 50 .

Diagram Venn hanya dapat digunakan jika himpunan yang digambarkan tidak banyak jumlahnya. Misalkan A. 3. 2. dan C adalah himpunan. B. 2. Ada beberapa catatan untuk pembuktian dengan menggunakan Diagram Venn: 1. Metode ini mengilustrasikan ketimbang membuktikan fakta. Terbukti bahwa A ∩ (B ∪ C) = (A ∩ B) ∪ (A ∩ C). Buktikan bahwa A ∩ (B ∪ C) = (A ∩ B) ∪ (A ∩ C). Diagram Venn tidak dianggap sebagai metode yang valid untuk pembuktian secara formal. Bukti: B∪C 0 1 1 1 0 1 1 A ∩ (B ∪ C) 0 0 0 0 0 1 1 A∩B 0 0 0 0 0 0 1 A∩C 0 0 0 0 0 1 0 (A ∩ B) ∪ (A ∩ C) 0 0 0 0 0 1 1 A 0 0 0 0 1 1 1 B 0 0 1 1 0 0 1 C 0 1 0 1 0 1 0 51 . Pembuktikan dengan menggunakan tabel keanggotaan Contoh 27.A ∩ (B ∪ C) (A ∩ B) ∪ (A ∩ C) Kedua digaram Venn memberikan area arsiran yang sama.

Buktikan bahwa (A ∩ B) ∪ (A ∩ Bukti: (A ∩ B) ∪ (A ∩ B) = A B) = A ∩ (B ∪ =A∩U =A B) (Hukum distributif) (Hukum komplemen) (Hukum identitas) Contoh 29. distributif) (H. Misalkan A dan B himpunan. maka A ∩ (B ∪ C) = (A ∩ B) ∪ (A ∩ C). Pembuktian dengan menggunakan aljabar himpunan. Buktikan bahwa A ∪ (B – A) = A ∪ B Bukti: A ∪ (B – A) = A ∪ (B ∩ A) A) (Definisi operasi selisih) (Hukum distributif) (Hukum komplemen) (Hukum identitas) = (A ∪ B) ∩ (A ∪ = (A ∪ B) ∩ U =A∪B Contoh 30.1 1 1 1 1 1 1 1 Karena kolom A ∩ (B ∪ C) dan kolom (A ∩ B) ∪ (A ∩ C) sama. identitas) = U ∩ (A ∩ B) = A∪B 52 . bahwa (i) A ∪ ( A ∩ B) = A ∪ B dan (ii) A ∩ ( A ∪ B) = A ∩ B Bukti: (i) A ∪ ( A ∩ B) = ( A ∪ A ) ∩ (A ∩ B) (H. Contoh 28. 3. Misalkan A dan B himpunan. Buktikan bahwa untuk sembarang himpunan A dan B. komplemen) (H.

distributif) (H. Misalkan x ∈ A. Tuliskan hasil dari operasi beda-setangkup berikut? (a) A ⊕ U (b) A ⊕ A (c) A⊕U Penyelesaian: (a) A ⊕ U = (A – U) ∪ (U – A) = (∅) ∪ (A) = A (Definisi operasi beda setangkup) (Definisi opearsi selisih) (Hukum Identitas) (b) A ⊕ A = (A – A)∪(A – A) (Definisi operasi beda setangkup) 53 . komplemen) (H. Jika A ∩ B = ∅ dan A ⊆ (B ∪ C) maka A ⊆ C. Contoh 31. x ∈ C harus benar.(ii) adalah dual dari (i) A ∩ ( A ∪ B) = (A ∩ A) ∪ (A ∩ B) (H. tetapi pernyataan yang berbentuk implikasi. Pembuktian dengan menggunakan definisi Metode ini digunakan untuk membuktikan pernyataan himpunan yang tidak berbentuk kesamaan. (ii) Karena x ∈ A dan A ∩ B = ∅. Karena A ⊆ (B ∪ C). Buktikan! Bukti: (i) Dari definisi himpunan bagian. P ⊆ Q jika dan hanya jika setiap x ∈ P juga ∈ Q. Biasanya di dalam implikasi tersebut terdapat notasi himpunan bagian (⊆ atau ⊂). x juga ∈ (B ∪ C). x ∈ (B ∪ C) berarti x ∈ B atau x ∈ C. Misalkan A dan B himpunan. Karena ∀x ∈ A juga berlaku x ∈ C. identitas) = ∅ ∪ (A ∩ B) = A∩B 4. Misalkan A adalah himpunan bagian dari himpunan semesta (U). maka dari definisi himpunan bagian. maka x ∉ B Dari (i) dan (ii). Dari definisi operasi gabungan (∪). maka dapat disimpulkan A ⊆ C .

= (A ∩ A) ∪ ( A ∩ = A∪ = U A) (Definisi operasi selisih) (Hukum Idempoten) (Hukum Komplemen) A (c) A⊕U = ( A ∪ U) – ( A ∩ U) =U– =A (Definisi operasi beda setangkup) (Hukum Null dan Hukum Identitas) (Definisi operasi selisih) A 54 .

8). IF251). Contoh 1. 2). (Cecep. yang artinya a dihubungankan dengan b oleh R a R b adalah notasi untuk (a. (Budi. b) ∈ R. 3. (Amir. IF342). (Budi. IF221). (2. 4} dan Q = {2. (Amir. (3. 15}. Cecep}. IF342) ∉ R atau Amir R IF342. IF323} A × B = {(Amir. 8). • • • a R b adalah notasi untuk (a. IF251). q) ∈ R jika p habis membagi q maka kita peroleh R = {(2. (4. IF323) } Misalkan R adalah relasi yang menyatakan mata kuliah yang diambil oleh mahasiswa pada Semester Ganjil. IF251). dan B adalah daerah hasil R. 15) } • • Relasi pada sebuah himpunan adalah relasi yang khusus Relasi pada himpunan A adalah relasi dari A × A. Misalkan P = {2. Himpunan A disebut daerah asal (domain) dari R. (Amir. yaitu: R = {(Amir. IF323). IF251) ∈ R atau Amir R IF251 .BAB V RELASI Relasi biner R antara himpunan A dan B adalah himpunan bagian dari A × B. (Cecep. (Amir.(Amir. (Budi. (Cecep. 9). 9.A adalah daerah asal R. yang artinya a tidak dihubungkan oleh b oleh relasi R. (Budi. IF323). . b) ∉ R. Budi. 55 . (Budi. 8. Notasi: R ⊆ (A × B). (3. dan himpunan B disebut daerah hasil (range) dari R. IF342). (4. IF221). Contoh 2. (2. (Cecep. IF251). IF221). IF342). (Budi. Jika kita definisikan relasi R dari P ke Q dengan (p. IF323)} . 4).Dapat dilihat bahwa R ⊆ (A × B).(Amir. 4. B = { IF251. IF251). IF342. 4). IF323). IF221). (Cecep. . Misalkan A = {Amir.

2). Representasi Relasi dengan Diagram Panah A Amir Budi Cecep B P IF221 IF251 3 IF342 IF323 4 2 Q 2 4 8 9 15 2 3 4 8 9 A A 2 3 4 8 9 2. Contoh 3. am} dan B = {b1. 4. sedangkan kolom kedua menyatakan daerah hasil. 8). …. …. Misalkan R adalah relasi pada A = {2. Representasi Relasi dengan Matriks • • Misalkan R adalah relasi dari A = {a1. (3. bn}. b1 b2 … bn 56 . Maka R = {(2. 8. (2. Tabel 1 A Amir Amir Budi Budi Cecep B IF251 IF323 IF221 IF251 IF323 Tabel 2 P 2 2 4 2 4 3 3 Tabel 3 Q 2 4 4 8 8 9 15 A 2 2 2 3 3 A 2 4 8 3 3 3.• Relasi pada himpunan A adalah himpunan bagian dari A × A.. b2. 9)} Representasi Relasi 1. 3. Relasi R dapat disajikan dengan matriks M = [mij]. (2. y) ∈ R jika x adalah faktor prima dari y. 3). 9} yang didefinisikan oleh (x. a2. (3. Representasi Relasi dengan Tabel • Kolom pertama tabel menyatakan daerah asal. 4).

Relasi R pada Contoh 1 dapat dinyatakan dengan matriks 0 1 0 1  1 1 0 0    0 0 0 1    dalam hal ini. a) dinyatakan dengan busur dari simpul a ke simpul a sendiri. bj ) ∈ R mij =  0. b3 = IF342. a1 = 2. dan b1 = IF221. b2 = IF251. maka sebuah busur dibuat dari simpul a ke simpul b. (ai . a2 = Budi. b) ∈ R. • Pasangan terurut (a. b5 = 15. 4. Tiap elemen himpunan dinyatakan dengan sebuah titik (disebut juga simpul atau vertex). dan b1 = 2. b3 = 8. Relasi R pada Contoh 2 dapat dinyatakan dengan matriks 1 0  0  1 0 1 1 0 1 0 1 0 0 1  0  dalam hal ini. (ai . a3 = 4. 57 . bj ) ∉ R yang dalam hal ini Contoh 4. Representasi Relasi dengan Graf Berarah Relasi pada sebuah himpunan dapat direpresentasikan secara grafis dengan graf berarah (directed graph atau digraph) • • • Graf berarah tidak didefinisikan untuk merepresentasikan relasi dari suatu himpunan ke himpunan lain. Simpul a disebut simpul asal (initial vertex) dan simpul b disebut simpul tujuan (terminal vertex). dan b4 = IF323. dan tiap pasangan terurut dinyatakan dengan busur (arc) Jika (a. b4 = 9. Busur semacam itu disebut gelang atau kalang (loop). a2 = 3. a3 = Cecep. a1 = Amir. b2 = 4.a1  m11  M = a2  m21 M  M  am mm1 m12 m22 M mm 2 L m1n  L m2 n   M M   L mmn  1.

3). (4. (4. (2. a). 2. 58 . 4). c. (2. Relasi “habis membagi” pada himpunan bilangan bulat positif bersifat refleksif karena setiap bilangan bulat positif habis dibagi dengan dirinya sendiri. 3). a)∈R untuk setiap a ∈ A. sehingga (a. 1). (2. b). a).Contoh 5. 3). 3). a) ∈ R untuk setiap a ∈ A. b. 1. (b. 2). Misalkan A = {1. (4. 2). (c. c). (4. 1). 3) ∉ R. 4) } tidak bersifat refleksif karena (3. (b) Relasi R = {(1. (d. a) ∉ R. d). R direpresentasikan dengan graf berarah sbb: a b c d Sifat-sifat Relasi Biner Relasi biner yang didefinisikan pada sebuah himpunan mempunyai beberapa sifat. dan (4. Refleksif (reflexive) Definisi Relasi R pada himpunan A disebut refleksif jika (a. 3. 3). b)} adalah relasi pada himpunan {a. 2). a). a). Contoh 7. dan relasi R di bawah ini didefinisikan pada himpunan A. Contoh 6. d}. 2). Relasi R pada himpunan A tidak refleksif jika ada a ∈ A sedemikian sehingga (a. (2. 3). (b. (3. yaitu (1. 1). (c. Misalkan R = {(a. 4)} bersifat refleksif karena terdapat elemen relasi yang berbentuk (a. maka (a) Relasi R = {(1. 2). (a. (3. (1. (2. (b. (4. d). 4}. 1). (4.

S : x + y = 5. (3. 2). Lihat tabel berikut: Pasangan berbentuk (a. c) (a. …. 4}. untuk a. untuk i = 1. 1) (2. b) (3. 2). Relasi yang bersifat refleksif mempunyai matriks yang elemen diagonal utamanya semua bernilai 1. atau mii = 1. 2) bukan anggota R. 1). (4. 2. (3. (4. 2) (b. maka (a) R = {(2. c ∈ A. 1        1 O 1       1  Graf berarah dari relasi yang bersifat refleksif dicirikan adanya gelang pada setiap simpulnya. maupun T. 1). c) (2. 3. 2. 2) (4. 1) (4. R : x lebih besar dari y. 1) 59 . Menghantar (transitive) Definisi Relasi R pada himpunan A disebut menghantar jika (a. dan relasi R di bawah ini didefinisikan pada himpunan A. c) ∈ R. b) ∈ R dan (b. (4. misalkan (2. Misalkan A = {1. Contoh 9. 2. n. c) ∈ R. Tiga buah relasi di bawah ini menyatakan relasi pada himpunan bilangan bulat positif N. 3) } bersifat menghantar.Contoh 8. 1) (3. 1). maka (a. S. b. T : 3x + y = 10 Tidak satupun dari ketiga relasi di atas yang refleksif karena.

4) } jelas menghantar (d) Relasi R = {(1. (4. 4). b) ∈ R dan (b. begitu juga (4. c) ∈ R. 2) ∉ R. T : 3x + y = 10 . (4. Relasi yang bersifat menghantar tidak mempunyai ciri khusus pada matriks representasinya Sifat menghantar pada graf berarah ditunjukkan oleh: jika ada busur dari a ke b dan dari b ke c. Contoh 11. 4) dan (4. 2) dan (2. 2) (4. tetapi (4. 1) (4. 3). 3) (3. S : x + y = 6. relasi “habis membagi” bersifat menghantar. (3. 3). (2.(4. (2. 2).S tidak menghantar karena. (2. (3. c) ∈ R sedemikian sehingga (a. Tiga buah relasi di bawah ini menyatakan relasi pada himpunan bilangan bulat positif N. 7). sehingga a habis membagi c. Jadi. 2) (b) R = {(1. 3) ∉ R. 1). (3. Relasi “habis membagi” pada himpunan bilangan bulat positif bersifat menghantar. 4) ∉ S. 3) (4. (c) Relasi R = {(1. 2) } tidak manghantar karena (2. 1)} menghantar. (2. . Relasi yang hanya berisi satu elemen seperti R = {(4. 2) dan (2. 5)} selalu menghantar. 2). 2) ∈ R. 4). Maka terdapat bilangan positif m dan n sedemikian sehingga b = ma dan c = nb. 4)} menghantar karena tidak ada (a. R : x lebih besar dari y. Contoh 10. tetapi (2. Setangkup (symmetric) dan tolak-setangkup (antisymmetric) Definisi 60 . 3. 1) (3. maka juga terdapat busur berarah dari a ke c. Misalkan bahwa a habis membagi b dan b habis membagi c. 1). Di sini c = nma. 4) adalah anggota S tetapi (4. 3) ∈ R. misalkan (4.T = {(1. .R adalah relasi menghantar karena jika x > y dan y > z maka x > z.

4) } bersifat setangkup karena jika (a. 4). (c) Relasi R = {(1. (2. 1). (b) Relasi R = {(1. Definisi Relasi R pada himpunan A sedemikian sehingga (a. 3) } tidak setangkup tetapi tolak-setangkup. Relasi R pada himpunan A tidak tolak-setangkup jika ada elemen berbeda a dan b sedemikian sehingga (a. 3). 2). (3. 1). maka (a) Relasi R = {(1. (3. 4) dan (4. tetapi (3. 2. 2) ∈ R dan 2 = 2 dan. 4}. 4). maka (b. 2) ∉ R. begitu juga (2. 3). 3) } tolak-setangkup karena 1 = 1 dan (1. 3) ∈ R dan (3. (2. 3). a) juga ∈ R. 3) ∈ R. (d) Relasi R = {(1. (2. (2. (4. 2) } tidak setangkup karena (2. 1). 2). b ∈ A disebut tolak-setangkup. (1. Relasi R = {(1. (1. a) ∉ R. 3) } tolak-setangkup karena (1. 2) anggota R. 2) ∈ R. 1) ∈ R. (2. (1. b) ∈ R sedemikian sehingga (b. 3). Contoh 12. 2) ∈ R tetapi (2. (2. a) ∈ R hanya jika a = b untuk a. 2). 2) } tidak tolak-setangkup karena 2 ≠ 4 tetapi (2. (3. (4. b) ∈ R maka (b. 2). 2). (4. Relasi R pada (a) dan (b) di atas juga tidak tolaksetangkup. Perhatikan bahwa R juga setangkup. 2). 2). Relasi R pada himpunan A tidak setangkup jika (a. 1) ∈ R. b ∈ A. Perhatikan bahwa R tidak setangkup. (2. (2. 2) ∈ R. dan relasi R di bawah ini didefinisikan pada himpunan A. a) ∈ R untuk a. 3) ∈ R. 4)} tidak setangkup dan tidak tolak-setangkup. (2. (4. R tidak setangkup karena (4. dan 3 = 3 dan (3. b) ∈ R. 2) dan (2.Relasi R pada himpunan A disebut setangkup jika (a. (f) Relasi R = {(1. (e) Relasi R = {(1. Misalkan A = {1. 1). 61 . 4). a) ∈ R. 1) ∈ R dan 1 = 1 dan. 3. b) ∈ R dan (b. (2. 1). (4. b) ∈ R dan (b. 2). 4) dan (4. (2. 4) ∉ R. R tidak tolak-setangkup karena (2. Di sini (1. 1). (2. 1). 2) ∈ R tetap 2 ≠ 3. (2. 2). 2). (4. 2 = 2 dan (2.

Relasi “habis membagi” pada himpunan bilangan bulat positif tidak setangkup karena jika a habis membagi b. . b tidak habis membagi a. tetapi 4 tidak habis membagi 2.Contoh 13. Relasi “habis membagi” tolaksetangkup karena jika a habis membagi b dan b habis membagi a maka a = b. • Matriks dari relasi tolak-setangkup mempunyai sifat yaitu jika mij = 1 dengan i ≠ j. 4) adalah anggota S. 1) adalah anggota T tetapi (1. misalkan (4. 4 habis membagi 4. kecuali jika a = b. . misalkan 5 lebih besar dari 3 tetapi 3 tidak lebih besar dari 5.T tidak setangkup karena. 3) bukan anggota T. Contoh 14. misalkan (3. (2.S relasi setangkup karena (4. 4) ∈ R tetapi (4. Relasi yang bersifat setangkup mempunyai matriks yang elemen-elemen di bawah diagonal utama merupakan pencerminan dari elemen-elemen di atas diagonal utama. 2) ∉ R. Karena itu. T : 3x + y = 10 . S : x + y = 6. matriks dari relasi tolak-setangkup adalah jika salah satu dari mij = 0 atau mji = 0 bila i ≠ j : 62 . . 2) ∈ S dan (4. n : 1    1    0    0      Sedangkan graf berarah dari relasi yang bersifat setangkup dicirikan oleh: jika ada busur dari a ke b.R bukan relasi setangkup karena. untuk i = 1. maka juga ada busur dari b ke a. 2) dan (2. 2 habis membagi 4. Tiga buah relasi di bawah ini menyatakan relasi pada himpunan bilangan bulat positif N. 2. maka mji = 0. Sebagai contoh. 2) ∈ S tetapi 4 ≠ 2. R : x lebih besar dari y. atau mij = mji = 1. Sebagai contoh. Dengan kata lain. 4) ∈ R dan 4 = 4. (4.S bukan relasi tolak-setangkup karena. Karena itu. …. .Relasi R dan T keduanya tolak-setangkup (tunjukkan!).

misalkan N. (4. (2. 8). 2). 8. b) ∈ R } Contoh 15. Jika kita definisikan relasi R dari P ke Q dengan (p. yaitu relasi dari Q ke P dengan (q. (2. p) ∈ R–1 jika q adalah kelipatan dari p maka kita peroleh Jika M adalah matriks yang merepresentasikan relasi R. 15) } R–1 adalah invers dari relasi R. Misalkan P = {2. 4. a) | (a.1     0   0 1    1    0   • Sedangkan graf berarah dari relasi yang bersifat tolak-setangkup dicirikan oleh: jika dan hanya jika tidak pernah ada dua busur dalam arah berlawanan antara dua simpul berbeda. 1 1 1 0 0  M=  0 0 0 1 1   0 1 1 0 0    maka matriks yang merepresentasikan relasi R–1. Relasi Inversi Definisi Misalkan R adalah relasi dari himpunan A ke himpunan B. adalah relasi dari B ke A yang didefinisikan oleh R–1 = {(b. 4). 9. Invers dari relasi R. 63 . (3. 9). 4). 8). 3. diperoleh dengan melakukan transpose terhadap matriks M. q) ∈ R jika p habis membagi q maka kita peroleh R = {(2. 4} dan Q = {2. (3. (4. dilambangkan dengan R–1. 15}.

tolak-setangkup. Contoh 16. dan menghantar. R menghantar: jika a seangkatan dengan b dan b seangkatan dengan c. dan dilambangkan dengan (S. Dua elemen yang dihubungkan dengan relasi kesetaraan dinamakan setara (equivalent). dua benda berhubungan jika keduanya memiliki beberapa sifat yang sama atau memenuhi beberapa persyaratan yang sama. Contoh: A = himpunan mahasiswa. R refleksif: setiap mahasiswa seangkatan dengan dirinya sendiri R setangkup: jika a seangkatan dengan b. di dalam relasi kesetaraan. Secara intuitif. b) ∈ R jika a satu angkatan dengan b. R relasi pada A: (a. Relasi Pengurutan Parcial Definisi Relasi R pada himpunan S dikatakan relasi pengurutan parsial (partial ordering relation) jika ia refleksif. Himpunan S bersama-sama dengan relasi R disebut himpunan terurut secara parsial (partially ordered set. Alasan: Relasi ≥ refleksif. maka pastilah a seangkatan dengan c. R). karena a ≥ a untuk setiap bilangan bulat a. atau poset). maka b pasti seangkatan dengan a. 64 . setangkup dan menghantar. Relasi ≥ tolak-setangkup. maka a = b. Dengan demikian.1  N = MT =  1 1  0  0 0 0 0 1 1 0 1  1  0 0  Relasi Kesetaraan Definisi Relasi R pada himpunan A disebut relasi kesetaraan (equivalence relation) jika ia refleksif. Relasi ≥ pada himpunan bilangan bulat adalah relasi pengurutan parsial. karena jika a ≥ b dan b ≥ a. R adalah relasi kesetaraan.

1). 2)} pada himpunan A = {1. 1). 2). S. di dalam relasi pengurutan parsial. dan menghantar. 3). 1) dan (2. S. 2). Relasi R = {(1. yaitu S = {(1. Ada juga kemungkinan dua buah benda di dalam himpunan tidak berhubungan dalam suatu relasi pengurutan parsial. 2). 1). Bagaimana membuat relasi refleksif yang sesedikit mungkin dan mengandung R? • Tambahkan (2. 3) ke dalam R (karena dua elemen relasi ini yang belum terdapat di dalam S agar S menjadi setangkup). Bagaimana membuat relasi setangkup yang sesedikit mungkin dan mengandung R? • Tambahkan (3. (3. mengandung R: S = {(1. Istilah pengurutan menyatakan bahwa benda-benda di dalam himpunan tersebut dirutkan berdasarkan sifat atau kriteria tersebut. 3). karena jika a ≥ b dan b ≥ c maka a ≥ c. Relasi “habis membagi” pada himpunan bilangan bulat adalah relasi pengurutan parsial. 3)} Relasi S disebut klosur setangkup (symmetric closure) dari R. (3. Dalam hal demikian. Relasi R = {(1. 3} 65 . (1. 1). 3) ke dalam R (karena dua elemen relasi ini yang belum terdapat di dalam R) Relasi baru.lebih kecil (lebih besar) daripada. 3). 2). (2. 3). Contoh 17. 3). tidak setangkup. 3)} pada himpunan A = {1. (2. 1). 3). Alasan: relasi “habis membagi” bersifat refleksif. (1. (3.Relasi ≥ menghantar. (3. atau lebih rendah (lebih tinggi) daripada lainnya menurut sifat atau kriteria tertentu. 2). (2. (3. 3). kita tidak dapat membandingkan keduanya sehingga tidak dapat diidentifikasi mana yang lebih besar atau lebih kecil. (3. (2. Secara intuitif. Relasi baru. (2. 2) dan (3. tolak-setangkup. 2. (3. (2. 2). 2. (3. (1. 3} tidak refleksif. (1. 3)} • Relasi S disebut klosur refleksif (reflexive closure) dari R. Contoh 19. dua buah benda saling berhubungan jika salah satunya -. mengandung R. Itulah alasan digunakan istilah pengurutan parsial atau pengurutan taklengkap Klosur Relasi (closure of relation) Contoh 18.

b) | a. (2. (2. 3). 1). (3. 3)} Contoh 21. (1. Klosur Refleksif Misalkan R adalah sebuah relasi pada himpunan A. 3). (1. (2.Definisi Klosur Misalkan R adalah relasi pada himpunan A. setangkup. dengan R-1 = {(b. 2. 2). (3. 2)} ∪ {(1. (3. atau menghantar. b) | a ≠ b} ∪ {(a. 1). (1. maka S disebut klosur (closure) atau tutupan dari R [ROS03]. (1. 1). 1). 3)} adalah relasi pada A = {1. 66 . a) | a ∈ A}. 3)} sehingga klosur setangkup dari R adalah R ∪ R-1 = {(1. 2). (1. 3). (2. 2). 2). b) a ∈ R}. 3}. a) | a ∈ Z} = {(a. (3. 1). (1. 2). b) | a ≠ b} pada himpunan bilangan bulat. 2). (3. seperti refleksif. 2). (3. R = {(1. (2. 1). (3. 3). 1). 1). R = {(1. 3)}. 3}. (2. a) | (a. Jika terdapat relasi S dengan sifat P yang mengandung R sedemikian sehingga S adalah himpunan bagian dari setiap relasi dengan sifat P yang mengandung R. 1). (2. (3. (3. 3). (2. 3). Klosur refleksif dari R adalah R ∪ ∆. (3. (1. 2)} adalah relasi pada A = {1. (2. sehingga klosur refleksif dari R adalah R ∪ ∆ = {(1. 2). maka R-1 = {(3. (2. (2. 2. Misalkan R adalah relasi {(a. (3. Contoh 22. 3)} = {(1. 1). (2. yang dalam hal ini ∆ = {(a. b ∈ Z} Klosur setangkup Misalkan R adalah sebuah relasi pada himpunan A. (3. 3). Klosur refleksif dari R adalah R ∪ ∆ = {(a. 3). R dapat memiliki atau tidak memiliki sifat P. 3). (3. 1). (1. 2). maka ∆ = {(1. Klosur setangkup dari R adalah R ∪ R-1. 2). 1). 2). 2). Contoh 20. (3. 3). 1). 3). 3)} = {(1. 3)} (2. (3. 3)} ∪ {(3. 3). (2.

2)} adalah relasi A = {1.Contoh 23. 1). c) sedemikian sehingga (a. 2). Klosur setangkup dari R adalah R ∪ R-1 = {(a. b) | a habis membagi b}pada himpunan bilangan bulat. 2. Pasangan (a. 1). 4). (3. 1). 2). 3. a) | b habis membagi a} = {(a. (3. (3. Penyelesaian: Matriks yang merepresentasikan relasi R adalah 1 0 1 MR = 0 1 0   1 1 0   Maka. Penambahan semua pasangan ini ke dalam R sehingga menjadi S = {(1. b) | a habis membagi b} ∪ {(b. c) yang tidak terdapat di dalam R adalah (1. 2). misalnya terdapat (3. 2). 1). (1. 4). 4) ∉ S. 3}. Contoh 24. Tentukan klosur menghantar dari R. 1). Klosur menghantar dari R adalah R* = R2 ∪ R3 ∪ … ∪ Rn Jika MR adalah matriks yang merepresentasikan R pada sebuah himpunan dengan n elemen. 2)} adalah relasi pada himpunan A = {1. R tidak transitif karena tidak mengandung semua pasangan (a. dan (3. matriks klosur menghantar dari R adalah [ [ M R* = MR ∨ M R2 ] ∨ M R3] Karena 67 . b) | a habis membagi b atau b habis membagi a} Klosur menghantar Pembentukan klosur menghantar lebih sulit daripada dua buah klosur sebelumnya. (2. tetapi (3. (3. (2. c) di dalam R. (2. (3. (1. 2). 1). 4}. 1). R = {(1. 4) ∈ S. (1. Misalkan R adalah relasi {(a. 1) ∈ S dan (1. (1. 2. 4). 3). maka matriks klosur menghantar R* adalah [ [ [n M R* = MR ∨ M R2 ] ∨ M R3] ∨ … ∨ M R ] Misalkan R = {(1. (2. 2). (2. b) dan (b. (2. (2. 4). 1)} tidak menghasilkan relasi yang bersifat menghantar karena.

1). 1). a)} R1 ∪ R2 = {(a. (a. c). c} dan B = {a. b). c. (a. (a. b). d)} R1 ∩ R2 = {(a. c). (b. a). b. d)} R1 ⊕ R2 = {(b. (a. Jika R1 dan R2 masing-masing adalah relasi dari himpuna A ke himpunan B. b). d)} Jika relasi R1 dan R2 masing-masing dinyatakan dengan matriks MR1 dan MR2. b). selisih. maka matriks yang menyatakan gabungan dan irisan dari kedua relasi tersebut adalah MR1 ∪ R2 = MR1 ∨ MR2 dan MR1 ∩ R2 = MR1 ∧ MR2 Contoh 26. (a. Relasi R1 = {(a. (a. (a. (a. a). (3. b). R1 ∪ R2. c). c). (3. (b. 3) } Mengkombinasikan Relasi Karena relasi biner merupakan himpunan pasangan terurut. 3). c). (1. a). R1 – R2. c)} Relasi R2 = {(a. maka operasi himpunan seperti irisan. R* = {(1. (c.[ M R2 ] 1 1 1 = M R ⋅ M R = 0 1 0   1 1 1   dan [ M R3] = [ M R2 ] ⋅ M R 1 1 1 = 0 1 0   1 1 1   maka M R* 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 ∨ 0 1 0 ∨ 0 1 0 = 0 1 0 =         1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1         Dengan demikian. c)} R2 − R1 = {(a. (a. Contoh 25. (c. (3. 2). b). (a. d}. (1. Misalkan A = {a. b. 2). 2). maka R1 ∩ R2. d)} R1 − R2 = {(b. c). (c. (2. b). (c. dan beda setangkup antara dua relasi atau lebih juga berlaku. (a. gabungan. Misalkan bahwa relasi R1 dan R2 pada himpunan A dinyatakan oleh matriks 1 R1 =  1  1  0 0 1 0 1  0  dan 0 R2 =  0  1  1 1 0 0 1  0  68 . dan R1 ⊕ R2 juga adalah relasi dari A ke B. b).

3} ke himpunan {2. Komposisi R dan S. 4. 4. t). 8} dan S = {(2. 6. c)  a ∈ A. (4. t). b) ∈ R dan (b. u). Maka komposisi relasi R dan S adalah S ο R = {(1. (a. s). 2). 8)} adalah relasi dari himpunan {1. 4). (3. (8. dinotasikan dengan S ο R. t. 4). maka matriks yang menyatakan komposisi dari kedua relasi tersebut adalah MR2 ο R1 = MR1 ⋅ MR2 69 . dan S adalah relasi dari himpunan B ke himpunan C. (3. u}. (2.maka 1 1 MR1 ∪ R2 = MR1 ∨ MR2 =  1 1  1 1  0 MR1 ∩ R2 = MR1 ∧ MR2 =  0   1 0 1  0  0 1  0  0 0 0 Komposisi Relasi Definisi Misalkan R adalah relasi dari himpunan A ke himpunan B. Misalkan R = {(1. t). (3. u). (3. (1. 6). (6. (3. (4. (2. s). 2. t). t). 6. 6). u) } Komposisi relasi R dan S lebih jelas jika diperagakan dengan diagram panah: 2 1 4 2 3 6 8 s t u Jika relasi R1 dan R2 masing-masing dinyatakan dengan matriks MR1 dan MR2. dan untuk beberapa b ∈ B. (2. (3. c) ∈ S } Contoh 27. adalah relasi dari A ke C yang didefinisikan oleh S ο R = {(a. u) adalah relasi dari himpunan {2. 8} ke himpunan {s. (1. c ∈ C. s).

yang dalam hal ini operator “.” sama seperti pada perkalian matriks biasa. Contoh 28. Misalkan bahwa relasi R1 dan R2 pada himpunan A dinyatakan oleh matriks 1 R1 =  1   0 0 1 0 1 0  0  dan 0 R2 =  0   1 1 0 0 0 1  1  maka matriks yang menyatakan R2 ο R1 adalah MR2 ο R1 = MR1 . MR2  (1 ∧ 0) ∨ (0 ∧ 0) ∨ (1 ∧ 1) (1 ∧ 1) ∨ (0 ∧ 0) ∨ (1 ∧ 0) (1 ∧ 0) ∨ (0 ∧ 1) ∨ (1 ∧ 1)   (1 ∧ 0) ∨ (1 ∧ 0) ∨ (0 ∧ 1) (1 ∧ 1) ∨ (1 ∧ 0) ∨ (0 ∧ 0) (1 ∧ 0) ∨ (1 ∧ 1) ∨ (0 ∧ 1)    (0 ∧ 0) ∨ (0 ∧ 0) ∨ (0 ∧ 1) (0 ∧ 1) ∨ (0 ∧ 0) ∨ (0 ∧ 0) (0 ∧ 0) ∨ (0 ∧ 1) ∨ (0 ∧ 1)   1 = 0  0  1 1 0 1 1  0  70 . tetapi dengan mengganti tanda kali dengan “∧” dan tanda tambah dengan “∨”.

Frasa “dihubungkan dengan tepat satu elemen di dalam B” berarti bahwa jika (a. maka b dinamakan bayangan (image) dari a dan a dinamakan pra-bayangan (pre-image) dari b. Fungsi adalah relasi yang khusus: 1. 2. b) ∈ f dan (a. Fungsi dapat dispesifikasikan dalam berbagai bentuk. Himpunan pasangan terurut. Perhatikan bahwa jelajah dari f adalah himpunan bagian (mungkin proper subset) dari B. Seperti pada relasi. Relasi biner f dari A ke B merupakan suatu fungsi jika setiap elemen di dalam A dihubungkan dengan tepat satu elemen di dalam B. Nama lain untuk fungsi adalah pemetaan atau transformasi. c) ∈ f. Tiap elemen di dalam himpunan A harus digunakan oleh prosedur atau kaidah yang mendefinisikan f.Fungsi Definisi Misalkan A dan B himpunan. Jika f(a) = b. 71 . maka b = c. Kita menuliskan f(a) = b jika elemen a di dalam A dihubungkan dengan elemen b di dalam B. diantaranya: 1. Jika f adalah fungsi dari A ke B kita menuliskan f:A→B yang artinya f memetakan A ke B. • • A disebut daerah asal (domain) dari f dan B disebut daerah hasil (codomain) dari f. A f B a b Himpunan yang berisi semua nilai pemetaan f disebut jelajah (range) dari f.

(2. v. w} bukan fungsi. 2. f(x) = x2. 4} ke B = {u. w}. Contoh 31. yaitu u dan v. Daerah asal dari f adalah A dan daerah hasil adalah B. Contoh 29. Relasi f = {(1. Contoh 30. (3. yang dalam hal ini sama dengan himpunan B. 72 . 2. u). w} bukan fungsi. dan f(3) = w. 3} ke B = {u. meskipun u merupakan bayangan dari dua elemen A. (2. Jelajah dari f adalah {u. Relasi f = {(1. v}. 3. w)}dari A = {1. v. Kata-kata Contoh: “f adalah fungsi yang memetakan jumlah bit 1 di dalam suatu string biner”. Di sini f(1) = u. (1. Kode program (source code) Contoh: Fungsi menghitung |x| function abs(x:integer):integer. Contoh: f(x) = 2x + 10. u). (3. f(2) = v. Relasi f = {(1. v. u). daerah hasilnya adalah B. w} ada lah fungsi dari A ke B. karena 1 dipetakan ke dua buah elemen B. v). 3. (2. karena tidak semua elemen A dipetakan ke B.2. w} adalah fungsi dari A ke B. 3} ke B = {u. v)}dari A = {1. u). 4. v). w)}dari A = {1. v). begin if x < 0 then abs:=-x else abs:=x. (3. v). end. (3. 2. dan jelajah fungsi adalah {u. 2. Daerah asal fungsi adalah A. 3} ke B = {u. Relasi f = {(1. Formula pengisian nilai (assignment). w)} dari A = {1. Contoh 32. u). dan f(x) = 1/x. v. v. (2.

Tentukan apakah f(x) = x2 + 1 dan f(x) = x – 1 merupakan fungsi satu-ke-satu? Penyelesaian: (i) f(x) = x2 + 1 bukan fungsi satu-ke-satu. v. Misalkan f : Z → Z. Misalkan f : Z → Z didefinisikan oleh f(x) = x2. a – 1 ≠ b – 1. Relasi f = {(1. 3} ke B = {u. 3} ke B = {u. Daerah asal dan daerah hasil dari f adalah himpunan bilangan bulat. Fungsi Injektif Definisi Fungsi f dikatakan fungsi satu-ke-satu (one to one) atau injektif (injective) jika tidak ada dua elemen himpunan A yang memiliki bayangan sama. 2. u). x} adalah fungsi satu-ke-satu. 2. v.Contoh 33. u). (3. w} bukan fungsi satu-ke-satu. w. Misalnya untuk x = 2. u). A a b c d B 1 2 3 4 5 Contoh 34. f(-2) = -3. karena f(1) = f(2) = u. dan jelajah dari f adalah himpunan bilangan bulat tidak-negatif. Contoh 35. karena untuk dua x yang bernilai mutlak sama tetapi tandanya berbeda nilai fungsinya sama. w). misalnya f(2) = f(-2) = 5 padahal –2 ≠ 2. v)} dari A = {1. (2. f(2) = 1 dan untuk x = -2. (ii) f(x) = x – 1 adalah fungsi satu-ke-satu karena untuk a ≠ b. (3. Fungsi Surjektif Definisi 73 . (2. tetapi relasi f = {(1. v)}dari A = {1.

u). v. selalu ada nilai x yang memenuhi. w} adalah fungsi yang berkoresponden satu-ke-satu. u). 2. v)}dari A = {1. karena tidak semua nilai bilangan bulat merupakan jelajah dari f. u). w} bukan fungsi pada karena w tidak termasuk jelajah dari f. A a b c d B 1 2 3 Contoh 36. Dengan kata lain seluruh elemen B merupakan jelajah dari f. Contoh 37. Fungís Bijeksi Definisi Fungsi f dikatakan berkoresponden satu-ke-satu atau bijeksi (bijection) jika ia fungsi satu-ke-satu dan juga fungsi pada. w).Fungsi f dikatakan dipetakan pada (onto) atau surjektif (surjective) jika setiap elemen himpunan B merupakan bayangan dari satu atau lebih elemen himpunan A. v)} dari A = {1. 2. (2. Contoh 38. 74 . 3} ke B = {u. 3} ke B = {u. (3. (ii) f(x) = x – 1 adalah fungsi pada karena untuk setiap bilangan bulat y. (3. (2. Fungsi f disebut fungsi pada himpunan B. Relasi f = {(1. 2. yaitu y = x – 1 akan dipenuhi untuk x = y + 1. (3. v)} dari A = {1. w} merupakan fungsi pada karena semua anggota B merupakan jelajah dari f. u). v. v. Misalkan f : Z → Z. Tentukan apakah f(x) = x2 + 1 dan f(x) = x – 1 merupakan fungsi pada? Penyelesaian: (i) f(x) = x2 + 1 bukan fungsi pada. Relasi f = {(1. 3} ke B = {u. (2. w). karena f adalah fungsi satu-ke-satu maupun fungsi pada. Relasi f = {(1.

Relasi f = {(1. - Misalkan a adalah anggota himpunan A dan b adalah anggota himpunan B.Contoh 39. Sebuah fungsi dikatakan not invertible (tidak dapat dibalikkan) jika ia bukan fungsi yang berkoresponden satu-ke-satu. 2. Fungsi f(x) = x – 1 merupakan fungsi yang berkoresponden satu-ke-satu. v. Balikan fungsi f hádala f 1). (v. bukan satu-ke-satu 1 a B 1 b 2 c 3 d c 2 3 4 Buka fungsi satu-ke-satu maupun pada B A 1 a 2 b 3 c 4 Bukan fungsi A a b c dc B 1 2 3 4 Jika f adalah fungsi berkoresponden satu-ke-satu dari A ke B. w). Balikan fungsi dilambangkan dengan f 1 –1 . Contoh 41. 2). Tentukan balikan fungsi f(x) = x – 1. maka f (b) = a jika f(a) = b. 3} ke B = {u. karena fungsi balikannya tidak ada. karena f adalah fungsi satu-ke-satu maupun fungsi pada. (3. u). Fungsi yang berkoresponden satu-ke-satu sering dinamakan juga fungsi yang invertible (dapat dibalikkan). bukan pada A a b c dc B A Fungsi pada. (2. 3)} Jadi. Fungsi satu-ke-satu. karena kita dapat mendefinisikan fungsi balikannya. v)}dari A = {1. f adalah fungsi invertible. Contoh 40. maka kita dapat menemukan balikan (invers) dari f. w} adalah fungsi yang berkoresponden satu-ke-satu. 75 . (w. -1 = {(u.

y. (v. Komposisi dari dua buah fungsi Definisi Misalkan g adalah fungsi dari himpunan A ke himpunan B. v) yang memetakan A = {1. jadi balikan fungsi tersebut ada. Tentukan balikan fungsi f(x) = x2 + 1. Contoh 42. dan fungsi f = {(u.Penyelesaian: Fungsi f(x) = x – 1 adalah fungsi yang berkoresponden satu-ke-satu. 2. (3. x) } Contoh 44. sehingga y = x – 1.44 kita sudah menyimpulkan bahwa f(x) = x – 1 bukan fungsi yang berkoresponden satu-ke-satu.2x + 2. Penyelesaian: Dari Contoh 3. Komposisi f dan g. v. Jadi. sehingga fungsi balikannya tidak ada. y). Diberikan fungsi f(x) = x–1 dan g(x) = x2 +1. (2. Fungsi komposisi dari A ke C adalah f ο g = {(1. Fungsi Floor dan Ceiling 76 . balikan fungsi balikannya adalah f-1(y) = y +1. Diberikan fungsi g = {(1. Penyelesaian: (i) (f ο g)(x) = f(g(x)) = f(x2 + 1) = x2 + 1 – 1 = x2. y). f(x) = x2 + 1 adalah funsgi yang not invertible. dan f adalah fungsi dari himpunan B ke himpunan C. z)} yang memetakan B = {u. (w. y). dinotasikan dengan f ο g. (2. u). z}. Misalkan f(x) = y. u). 3} ke B = {u. Beberapa Fungsi Khusus 1. Tentukan f ο g dan g ο f . (3. (ii) (g ο f)(x) = g(f(x)) = g(x – 1) = (x –1)2 + 1 = x2 .41 dan 3. w} ke C = {x. adalah fungsi dari A ke C yang didefinisikan oleh (f ο g)(a) = f(g(a)) Contoh 43. w}. v. x). maka x = y + 1. Jadi.

Contoh 45.5 = 3 0. Beberapa contoh fungsi modulo 25 mod 7 = 4 15 mod 4 = 0 3612 mod 45 = 12 0 mod 5 = 5 –25 mod 7 = 3 (sebab –25 = 7 ⋅ (–4) + 3 ) 77 . fungsi floor membulatkan x ke bawah.5 = – 4 3.5 = 0 4.5 = 0 –3.5 = 4 0. a mod m memberikan sisa pembagian bilangan bulat bila a dibagi dengan m a mod m = r sedemikian sehingga a = mq + r. satu byte terdiri atas 8 bit. Di dalam komputer.8 = 4 – 0. Jika panjang data 125 bit. 2. Fungsi modulo Misalkan a adalah sembarang bilangan bulat dan m adalah bilangan bulat positif.5 = – 1 –3.8 = 5 – 0. Fungsi floor dari x: x menyatakan nilai bilangan bulat terbesar yang lebih kecil atau sama dengan x Fungsi ceiling dari x: x menyatakan bilangan bulat terkecil yang lebih besar atau sama dengan x Dengan kata lain.5 = 1 4. sehingga untuk byte yang terakhir perlu ditambahkan 3 bit ekstra agar satu byte tetap 8 bit (bit ekstra yang ditambahkan untuk menggenapi 8 bit disebut padding bits). dengan 0 ≤ r < m. Perhatikanlah bahwa 16 × 8 = 128 bit. berarti x berada di antara dua bilangan bulat.5 = – 3 Contoh 46.Misalkan x adalah bilangan riil. data dikodekan dalam untaian byte. sedangkan fungsi ceiling membulatkan x ke atas. Beberapa contoh nilai fungsi floor dan ceiling: 3. Contoh 47. maka jumlah byte yang diperlukan untuk merepresentasikan data adalah 125/8 = 16 byte.

n = 0 . Setiap kali fungsi mengacu pada dirinya sendiri.n > 0 Untuk kasus perpangkatan negatif.n > 0 1  a = a × a × L × a 4 3  1 4 2 44  n n . Contoh 47. 1 n! =   n × ( n − 1 )! .3. (b) Rekurens Bagian ini mendefinisikan argumen fungsi dalam terminologi dirinya sendiri. n! = 1 × 2 × … × (n – 1) × n = (n – 1)! × n. Fungsi Faktorial 1 n! =  1 × 2 × L .n = 0 . Bagian ini juga sekaligus menghentikan definisi rekursif. argumen dari fungsi harus lebih dekat ke nilai awal (basis).n = 0 . a −n = 1 an 5. Fungsi Logaritmik Fungsi logaritmik berbentuk y = a log x Fungsi Rekursif Definisi ↔ x = ay Fungsi f dikatakan fungsi rekursif jika definisi fungsinya mengacu pada dirinya sendiri. Fungsi Eksponensial . 78 .n > 0 Fungsi rekursif disusun oleh dua bagian: (a) Basis Bagian yang berisi nilai awal yang tidak mengacu pada dirinya sendiri. × ( n − 1) × n 4.

jika n = 0 .n = 1 . Contoh 48. Di bawah ini adalah contoh-contoh fungsi rekursif lainnya: 1. 5! = 120. x ) =  x  2 xT ( n − 1. x ) − T ( n − 2 . n > 1  79 .x ≠ 0 2.n > 1 3.x = 0 2 . jika n > 0 5! dihitung dengan langkah berikut: (rekurens) 3! = 3 × 2! 2! = 2 × 1! 1! = 1 × 0! 0! = 1 0! = 1 1! = 1 × 0! = 1 × 1 = 1 2! = 2 × 1! = 2 × 1 = 2 3! = 3 × 2! = 3 × 2 = 6 4! = 4 × 3! = 4 × 6 = 24 5! = 5 × 4! = 5 × 24 = 120 4! = 4 × 3!  2 F ( x − 1) + x .n = 0   f (n) =  1 . Fungsi Chebysev 1   T (n. Fungsi fibonacci: 0 .n = 0 . F ( x ) =  0  .Contoh definisi rekursif dari faktorial: (a) basis: n! = 1 (b) rekurens: n! = n × (n -1)! (1) 5! = 5 × 4! (2) (3) (4) (5) (6) (6’) (5’) (4’) (3’) (2’) (1’) Jadi.n = 1  f ( n − 1) + f ( n − 2) . x )  .

Variabel-variabel diperlihatkan dengan huruf-huruf alfabet. aljabar boolean berarti suatu jenis simbol-simbol yang ditemukan oleh George Boole untuk memanipulasi nilai-nilai kebenaran logika secara aljabar. aljabar boolean juga merupakan suatu struktur aljabar yang operasi-operasinya memenuhi aturan tertentu. sehingga suatu keadaan tidak dapat berada dalam dua ketentuan sekaligus. Dalam arti luas. Dalam ajabar boolean keadaan ini ditunjukkan dengan dua konstanta : LOGIKA ‘1’ dan ‘0’ Operasi-operasi dasar logika dan gerbang logika : Pengertian GERBANG (GATE) : 80 . Aljabar boolean mempunyai 2 fungsi berbeda yang saling berhubungan. konstanta-konstanta 0 dan 1. dan suatu ekspresi aljabar yang dibentuk dengan menggunakan variabel-variabel biner. dan tiga operasi dasar dengan AND. Fungsi boolean terdiri dari variabel-variabel biner yang menunjukkan fungsi.BAB VI ALJABAR BOOLEAN Aljabar boolean merupakan aljabar yang berhubungan dengan variabel-variabel biner dan operasi-operasi logik. suatu tanda sama dengan. simbol-simbol operasi logik. Dalam logika dikenal aturan sbb : ♦ Suatu keadaan tidak dapat dalam keduanya benar dan salah sekaligus ♦ Masing-masing adalah benar / salah. Dalam hal ini aljabar boolean cocok untuk diaplikasikan dalam komputer. OR dan NOT (komplemen). Suatu fungsi boolean bisa dinyatakan dalam tabel kebenaran. ♦ Suatu keadaan disebut benar bila tidak salah. Disisi lain. DASAR OPERASI LOGIKA LOGIKA : Memberikan batasan yang pasti dari suatu keadaan. Suatu tabel kebenaran untuk fungsi boolean merupakan daftar semua kombinasi angka-angka biner 0 dan 1 yang diberikan ke variabel-variabel biner dan daftar yang memperlihatkan nilai fungsi untuk masing-masing kombinasi biner. dan tanda kurung.

♦ Rangkaian digital (dua keadaan). jika kedua variabel tersebut berlogika 1 Simbol A A. Operasi logika NOT ( Invers ) Operasi merubah logika 1 ke 0 dan sebaliknya x = x’ Tabel Operasi NOT X 0 1 Operasi logika AND ♦ Operasi antara dua variabel (A.B X’ 1 0 Simbol B Operasi logika OR Operasi antara 2 variabel (A. karena sinyal masukan atau keluaran hanya berupa tegangan tinggi atau low ( 1 atau 0 ).♦ Rangkaian satu atau lebih sinyal masukan tetapi hanya menghasilkan satu sinyal keluaran. Simbol 81 .B) ♦ Operasi ini akan menghasilkan logika 1. jika kedua variabel tersebut berlogika 0. ♦ Setiap keluarannya tergantung sepenuhnya pada sinyal yang diberikan pada masukanmasukannya.B) Operasi ini akan menghasilkan logika 0.

Simbol A A.A A+B B Operasi logika NOR Operasi ini merupakan operasi OR dan NOT. Simbol A A+B (A B Atau A ( A + B )’ B Operasi logika NAND Operasi logika ini merupakan gabungan operasi AND dan NOT.B (A 82 . Keluarannya merupakan keluaran gerbang AND yang di inverter. keluarannya merupakan keluaran operasi OR yang di inverter.

Simbol A Y B Operasi logika EXNOR Operasi ini akan menghasilkan keluaran ‘1’ jika jumlah masukan yang bernilai ‘1’ berjumlah genap atau tidak ada sama sekali.B Atau A ( A . X=0 ATAU X=1 83 . B )’ B Operasi logika EXOR akan menghasilkan keluaran ‘1’ jika jumlah masukan yang bernilai ‘1’ berjumlah ganjil. Simbol A Y B DALIL BOOLEAN . 1.

B’ + A’ . 1 . A = A 1 + A = 1 ----.(A+B) = A CONTOH : 1.C) 3. B = A + B A .2.A=A 84 . B = A+B 9. B=B . 0 + 0 = 0 5.C) = (A+B) . A + A’ . ABRSORPSI A+ A. 0 + A = A ----.B) .0 . DE MORGAN’S ( A+ B )’ = A’ . HK. B = A . B = A + A’ . 1 + 0 = 0 + 1 = 0 TEOREMA BOOLEAN 1.A 2. KOMUTATIF A+B=B+A A. DISTRIBUTIF A . (B+C) = A. (A+C) 4. 0 . 0 = 0 . ASSOSIATIF (A+B)+C = A+(B+C) (A. 0 = 0 3. 1 . A = 0 6. IDENTITAS A+A=A A . HK.1. (A + B)= A .B = A A. HK. B = A . A =0 7. C = A . HK. A’ + A = 1 A’ .B + A. 1 + A’ . 1 = 0 7. HK. NEGASI ( A’ ) = A’ (A’)’ = A 5. B )’ = A’ + B’ 8. HK. B’ ( A . 1 = 1 6. A + A . 1 + 1 = 1 4. (B.C A + (B. B 10. ( 1 + B’ ) + A’ .

B = (A’ + B’) .B)’ . B =(A =(A =A A B ATAU A B 85 .2. A B X = (A.

⋅. dan ’ 0 dan 1 adalah dua elemen yang berbeda dari B. ⋅. b. Distributif: (i) a ⋅ (b + c) = (a ⋅ b) + (a ⋅ c) (ii) a + (b ⋅ c) = (a + b) ⋅ (a + c) 86 . Closure: 2. c ∈ B berlaku aksioma-aksioma atau postulat Huntington berikut: (i) a + b ∈ B (ii) a ⋅ b ∈ B 1.Aljabar Boolean • Misalkan terdapat Dua operator biner: + dan ⋅ Sebuah operator uner: ’. ’) disebut aljabar Boolean jika untuk setiap a. Tupel (B. Identitas: (i) a + 0 = a (ii) a ⋅ 1 = a 3. Komutatif: (i) a + b = b + a (ii) a ⋅ b = b . B : himpunan yang didefinisikan pada opeartor +. a 4. +.

Identitas: jelas berlaku karena dari tabel dapat kita lihat bahwa: 87 . Kaidah operasi untuk operator biner dan operator uner. 2. Elemen-elemen himpunan B. Komplemen1: (i) a + a’ = 1 (ii) a ⋅ a’ = 0 • Untuk mempunyai sebuah aljabar Boolean.5. Memenuhi postulat Huntington. harus diperlihatkan: 1. 1} operator biner. ’ Kaidah untuk operator biner dan operator uner: a⋅b 0 0 0 1 a 0 0 1 1 B 0 1 0 1 a 0 0 1 1 b 0 1 0 1 a+b 0 1 1 1 a 0 1 a’ 1 0 Cek apakah memenuhi postulat Huntington: 1. Closure : jelas berlaku 2. 3. Aljabar Boolean Dua-Nilai Aljabar Boolean dua-nilai: B = {0. + dan ⋅ operator uner.

Ekspresi Boolean • Misalkan (B. 88 . ’) adalah sebuah aljabar Boolean. Distributif: (i) a ⋅ (b + c) = (a ⋅ b) + (a ⋅ c) dapat ditunjukkan benar dari tabel operator biner di atas dengan membentuk tabel kebenaran: a ⋅ (b + c) 0 0 0 0 0 1 1 1 a⋅b 0 0 0 0 0 0 1 1 a⋅c 0 0 0 0 0 1 0 1 (a ⋅ b) + (a ⋅ c) 0 0 0 0 0 1 1 1 a 0 0 0 0 1 1 1 1 b 0 0 1 1 0 0 1 1 c 0 1 0 1 0 1 0 1 b+c 0 1 1 1 0 1 1 1 (ii) Hukum distributif a + (b ⋅ c) = (a + b) ⋅ (a + c) dapat ditunjukkan benar dengan membuat tabel kebenaran dengan cara yang sama seperti (i). Suatu ekspresi Boolean dalam (B. +. 1} bersamasama dengan operator biner + dan ⋅ operator komplemen ‘ merupakan aljabar Boolean. Komutatif: jelas berlaku dengan melihat simetri tabel operator biner. 5. karena 0 + 0’= 0 + 1 = 1 dan 1 + 1’= 1 + 0 = 1 (ii) a ⋅ a = 0. ’) adalah: (i) setiap elemen di dalam B. 4. Komplemen: jelas berlaku karena Tabel 7. ⋅.(i) 0 + 1 = 1 + 0 = 1 (ii) 1 ⋅ 0 = 0 ⋅ 1 = 0 3. karena 0 ⋅ 0’= 0 ⋅ 1 = 0 dan 1 ⋅ 1’ = 1 ⋅ 0 = 0 Karena kelima postulat Huntington dipenuhi.3 memperlihatkan bahwa: (i) a + a‘ = 1. +. ⋅. maka terbukti bahwa B = {0.

Penyelesaian: 89 . Contoh: a ⋅ (b + c) = (a . (iii) jika e1 dan e2 adalah ekspresi Boolean. maka hasil evaluasi ekspresi: 0’⋅ (1 + 0) = 1 ⋅ 1 = 1 • Dua ekspresi Boolean dikatakan ekivalen (dilambangkan dengan ‘=’) jika keduanya mempunyai nilai yang sama untuk setiap pemberian nilai-nilai kepada n peubah. maka e1 + e2. e1’ adalah ekspresi Boolean Contoh: 0 1 a b c a+b a⋅b a’⋅ (b + c) a ⋅ b’ + a ⋅ b ⋅ c’ + b’. dan sebagainya Mengevaluasi Ekspresi Boolean • Contoh: a’⋅ (b + c) jika a = 0. e1 ⋅ e2.(ii) setiap peubah. b) + (a ⋅ c) Contoh. dan c = 0. b = 1. Perlihatkan bahwa a + a’b = a + b .

bukan a0 Prinsip Dualitas • Misalkan S adalah kesamaan (identity) di dalam aljabar Boolean yang melibatkan operator +. S* disebut sebagai dual dari S. maka jika pernyataan S* diperoleh dengan cara mengganti ⋅ dengan + + dengan ⋅ 0 dengan 1 1 dengan 0 dan membiarkan operator komplemen tetap apa adanya. maka kesamaan S* juga benar. Contoh. kecuali jika ada penekanan: (i) (ii) (iii) a(b + c) = ab + ac a + bc = (a + b) (a + c) a ⋅ 0 . ⋅. dan komplemen.a 0 0 1 1 b 0 1 0 1 a’ 1 1 0 0 a’b 0 1 0 0 a + a’b 0 1 1 1 a+b 0 1 1 1 • Perjanjian: tanda titik (⋅) dapat dihilangkan dari penulisan ekspresi Boolean. (i) (a ⋅ 1)(0 + a’) = 0 dualnya (a + 0) + (1 ⋅ a’) = 1 (ii) a(a‘ + b) = ab dualnya a + a‘b = a + b 90 .

Buktikan (i) a + a’b = a + b dan (ii) a(a’ + b) = ab Penyelesaian: (i) a + a’b = (a + ab) + a’b = a + (ab + a’b) = a + (a + a’)b =a+1•b =a+b (ii) adalah dual dari (i) Fungsi Boolean • Fungsi Boolean (disebut juga fungsi biner) adalah pemetaan dari Bn ke B melalui ekspresi Boolean. Hukum De Morgan: (i) (a + b)’ = a’b’ (ii) (ab)’ = a’ + b’ Contoh 7. Hukum dominansi: (i) a⋅0 =0 (ii) a + 1 = 1 6. Hukum involusi: (i) (a’)’ = a 2. Hukum identitas: (i) a+0=a (ii) a ⋅ 1 = a 3.Hukum-hukum Aljabar Boolean 1. Hukum distributif: (i) a + (b c) = (a + b) (a + c) (ii) a (b + c) = a b + a c 12. kita menuliskannya sebagai (Distributif) (Komplemen) (Identitas) (Penyerapan) (Asosiatif) 91 . Hukum asosiatif: (i) a + (b + c) = (a + b) + c (ii) a (b c) = (a b) c 10.3. Hukum idempoten: (i) a+a=a (ii) a ⋅ a = a 4. Hukum penyerapan: (i) a + ab = a (ii) a(a + b) = a 7. Hukum komutatif: (i) a+b=b+a (ii) ab = ba 9. Hukum 0/1 (i) 0’ = 1 (ii) 1’ = 0 8. Hukum komplemen: (i) a + a’ = 1 (ii) aa’ = 0 5.

1}. y.f : Bn → B yang dalam hal ini Bn adalah himpunan yang beranggotakan pasangan terurut ganda-n (ordered n-tuple) di dalam daerah asal B. y. f(x. y) = x’ y’ 4. y. z) = xy z’. Contoh-contoh fungsi Boolean yang lain: 1. 0. termasuk dalam bentuk komplemennya. Misalkan sebuah fungsi Boolean adalah f(x. y. z) ke himpunan {0. dan z = 1 sehingga f(1. yaitu x. y) = (x + y)’ 5. Diketahui fungsi Booelan f(x. y = 0. Contoh. • • Setiap ekspresi Boolean tidak lain merupakan fungsi Boolean. disebut literal. f(x) = x 2. y. Contoh: Fungsi h(x. 1) = 1 ⋅ 0 ⋅ 1 + 1’ ⋅ 0 + 0’⋅ 1 = 0 + 0 + 1 = 1 . z) = xyz + x’y + y’z Fungsi f memetakan nilai-nilai pasangan terurut ganda-3 (x. y) = x’y + xy’+ y’ 3. Penyelesaian: 92 . nyatakan h dalam tabel kebenaran. f(x. Contohnya. Contoh. f(x. z) = xyz’ • Setiap peubah di dalam fungsi Boolean. f(x. dan z’. z) = xyz’ pada contoh di atas terdiri dari 3 buah literal. y. 0. 1) yang berarti x = 1. (1.

y.x 0 0 0 0 1 1 1 1 y 0 0 1 1 0 0 1 1 z 0 1 0 1 0 1 0 1 f(x. adalah Contoh. Cara pertama: menggunakan hukum De Morgan Hukum De Morgan untuk dua buah peubah. Rangkaian Digital Elektronik 93 . Misalkan f(x. z) = (x(y’z’ + yz))’ = x’ + (y’z’ + yz)’ = x’ + (y’z’)’ (yz)’ = x’ + (y + z) (y’ + z’) Aplikasi Aljabar Boolean 2. maka f ’(x. y. z) = x(y’z’ + yz). x1 dan x2. y. z) = xy z’ 0 0 0 0 0 0 1 0 Komplemen Fungsi 1.

x y

xy

x y

x+ y

x

x'

Gerbang AND

Gerbang OR

Gerbang NOT (inverter)

Contoh. Nyatakan fungsi f(x, y, z) = xy + x’y ke dalam rangkaian logika. Jawab: (a) Cara pertama
x y

xy

xy+x'y x y x' x'y

x y

xy

xy+x'y x' x'y

(b) Cara kedua

94

x

y xy xy+x'y x' x'y

(b) Cara ketiga

Gerbang turunan

x y

x

(xy)'

x

+y

y

Gerbang NAND

Gerbang XOR

x y
Gerbang NOR

(x+y)'

x y

(x

+

y)'

Gerbang XNOR

x y

(x + y)' ekivalen dengan

x y

x+y

(x + y)'

x y

(x+y)'

95

x' y'

x'y'

ekivalen dengan

Penyederhanaan Fungsi Boolean

Contoh.

f(x, y) = x’y + xy’ + y’

x' y'

x' + y'

ekivalen dengan

x y

(xy)'

disederhanakan menjadi f(x, y) = x’ + y’ Penyederhanaan fungsi Boolean dapat dilakukan dengan 3 cara: 1. Secara aljabar 2. Menggunakan Peta Karnaugh 3. Menggunakan metode Quine Mc Cluskey (metode Tabulasi) 1. Penyederhanaan Secara Aljabar

Contoh: 1. f(x, y) = x + x’y = (x + x’)(x + y) = 1 ⋅ (x + y ) =x+y

2. f(x, y, z) = x’y’z + x’yz + xy’

96

z) = xy + x’z + yz = xy + x’z + yz(x + x’) = xy + x’z + xyz + x’yz = xy(1 + z) + x’z(1 + y) = xy + x’z 97 .= x’z(y’ + y) + xy’ = x’z + xz’ 3. y. f(x.

Eurasia Publishing House Ltd. 1959. Logika Matematika untuk Ilmu Komputer. Penerbit Andi. Patrick Suppes. Stoll. Canada. Van Nostrand Company.. 98 . Set Theory and Logic. Yogyakarta. 3.DAFTAR PUSTAKA 1. Yogyakarta. F. New Delhi. 2. 5. Graha Ilmu. 1976. 4. Introduction to Logic. D. 2006.Soesianto dan Djoni Dwijono. Logika Informatika. Robert R. Sumber lain dari internet. Setiadji. 2007. Inc.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful