P. 1
BIOLISTRIK

BIOLISTRIK

|Views: 446|Likes:
Published by Meta Shofia

More info:

Published by: Meta Shofia on Mar 21, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/07/2012

pdf

text

original

1

BIOLIStrik
bioelektromagnetik/ikun/2004 2
Penemuan biolistrik
 Caldani (1856)
Kelistrikan pada otot katak yang telah mati
 Luigi Galvani
1780 mulai mempelajari kelistrikan pada
tubuh hewan
1786 kedua kaki katak terangkat ketika
diberikan aliran listrik melalui
konduktor
3
Penemuan biolistrik
 Arons (1892)
Merasa ada aliran frekuensi tinggi melalui
tubuhnya sendiri
 Van Seynek (1899)
mengamati terjadinya panas pada jaringan yang
disebabkan aliran frekuensi tinggi
 Schlephake (1982)
Pengobatan dengan menggunakan Short Wave

4
Rumus/ Hukum dalam
Biolistrik
Hukum Ohm
Perbedaan potensial antara ujung konduktor
berbanding langsung dengan arus yang melewati,
berbanding terbalik dengan hambatan dari
konduktor


R = V R = Hambatan (O/ohm)
I V = Tegangan (volt)
I = Arus (ampere)

5
Rumus/ Hukum dalam
Biolistrik
Hukum Joule
Arus listrik yang melewati konduktor dengan
perbedaan tegangan dalam waktu tertentu akan
menimbulkan panas.
V = tegangan (Volt)
H (kalori) = VIT I = arus (Ampere)
J T = Waktu (detik)
J = Joule = 0,239 kal

6
Macam-macam Gel. Arus listrik
Arus bolak balik/ sinusoidal

Arus setengah gelombang
(telah disearahkan)

Arus searah dengan riple/desir

Arus searah murni


Faradik

7
Macam-macam Gel. Arus listrik
Surged faradik/sentakan
faradik

Surged sinusoidal/ sentakan
sinusoidal


Galvanik interuptus


Arus gigi gergaji

8
Kelistrikan & kemagnetan
yang timbul dalam tubuh
1. Sistem saraf & neuron
- SSP
- SSO
- Neuron/ sel saraf
f(x): menerima, interprestasi &
menghantarkan aliran listrik


9
Kelistrikan & kemagnetan
yang timbul dalam tubuh
2. Konsentrasi ion di dalam & luar sel
Pada akson : Konsentrasi ion di dalam sel lebih negatif
daripada di luar sel

10
Kelistrikan & kemagnetan
yang timbul dalam tubuh
3. Kelistrikan saraf
Kecepatan impuls saraf
~ u serat saraf
~ ada/ tidaknya mielin
Mielin = isolator yang baik; kemampuan
mengaliri listrik rendah
Akson tanpa mielin kec = 20-50 m/detik (u = 1 mm)
Akson dengan mielin kec = 100 m/detik (u = 10 µm)

11
Kelistrikan & kemagnetan
yang timbul dalam tubuh
Aktivitas kelistrikan sel
¬ perpindahan ion dari dalam sel ke luar sel, atau
sebaliknya melalui membran sel

Pada keadaan istirahat:
Ion Na
+
luar sel >> ÷ potensial dalam sel > negatif
¬ potensial membran negatif/ istirahat (-90 mVolt) =
polarisasi

Ada rangsangan listrik terhadap membran :
Ion Na
+
masuk ke dalam sel ÷ potensial dalam sel >
positif ¬ potensial membran positif = depolarisasi
12
Fenomena “all or none”
Jika rangsangan kuat ÷ depolarisasi membran mencapai
titik tertentu (nilai ambang)÷ proses depolarisasi
berlanjut & irreversible ÷ ion Na
+
mengalir ke dalam sel
dengan cepat dalam jumlah banyak ÷ potensial membran
naik dengan cepat + 40 mVolt
¹
Potensial aksi
(berlangsung < 1 mdetik)
+
Fenomena “all or none”
Jika nilai ambang tercapai, peningkatan waktu dan amplitudo potensial
aksi akan selalu sama, tidak peduli intensitas dari rangsangan
tersebut.

13
Kelistrikan & kemagnetan
yang timbul dalam tubuh
4.Perambatan potensial aksi
Membran saraf otot mendapat rangsangan mencapai
nilai ambang ÷ timbul potensial aksi
+
merangsang daerah sekitarnya untuk mencapai nilai
ambang
+
perambatan potensial aksi atau gelombang
depolarisasi
+
sel membran mengalami repolarisasi
(tingkat refrakter)
14
Kelistrikan & kemagnetan
yang timbul dalam tubuh
Refrakter Absolut:
tidak ada rangsangan & unsur kekuatan
untuk menghasilkan potensial aksi lain
Refrakter Relatif:
bila ada rangsangan yang kuat akan
menghasilkan potensial aksi baru ÷
setelah sel membran mendekati repolarisasi
seluruhnya
15
Kelistrikan & kemagnetan
yang timbul dalam tubuh
5. Kelistrikan pada sinaps & neuromyial, jungtion
Hubungan antara 2 saraf = sinapsis
Berakhirnya saraf pada otot = neuromyal
junction
Sinaps & neuromyal junction mampu
meneruskan gel. Depdarisasi dengan cara
lompat dari satu sel ke sel berikutnya
depolarisasi ÷ zat kimia pada otot bergetar
menyebabkan kontraksi otot ÷ repolarisasi sel
otot ÷ relaksasi
16
Kelistrikan & kemagnetan
yang timbul dalam tubuh
6. Kelistrikan otot jantung
Pada saraf & otot bergaris:
rangsangan ÷ ion Na
+
masuk ke dalam sel ÷
mencapai nilai ambang ÷ depolarisasi
Pada otot jantung :
rangsangan ÷ ion Na
+
masuk ke dalam sel
(mudah besar) ÷repolarisasi komplit ÷ Na
+

masuk kembali ke dalam sel ÷ depolarisasi
spantan mencapai nilai ambang tanpa perlu
rangsang dari luar (kec. Teratur)
17
Kelistrikan & kemagnetan
yang timbul dalam tubuh
Kec. dasar jantung = waktu antara mulai depolarisasi
spontan sampai
mencapai nilai ambang setelah terjadi repolarisasi
Dipengaruhi oleh perubahan :
1. Potensial membran istirahat
2. Tingkat dari nilai ambang
3. Slap (kelengkangan) dari depolarisasi spontan terhadap
nilai ambang
¬ Mempengaruhi mekanisme kontra fisiologis terhadap
frek. Jantung
Sekumpulan sel utama yang secara spontan menghasilkan
potensial aksi disebut pace maker/ perintis jantung
18
Kelistrikan & kemagnetan
yang timbul dalam tubuh
7. Elektroda
Elektroda : untuk mengukur potensial
aksi; dengan memindahkan transmisi ion
ke penyalur elektron
Elektroda : Perak (Ag) & tembaga (Cu)

19
Kelistrikan & kemagnetan
yang timbul dalam tubuh
8. Isyarat listrik tubuh
Hasil perlakuan kimia dari tipe sel-sel +++ untuk
memperoleh informasi klinik tentang fungsi tubuh
EMG (Elektromiogram)
ENG (Elektroneurogram) ÷ miastenia gravis
ERG (Elektroretinogram) ÷ perubahan pigmen retina
EOG (Elektroakulagram)
EGG (Elektrogastrogram) ÷ gerakan peristaltik
EEG (Elektroensefalogram) ÷ epilepsi
EKG (Elektrokardiogram)
20







Gambar Periode Refrakter







Gambar Depdarisasi spontan miokardium
Kec. dasar jantung = 60
t (dtk)

P
o
t
e
n
s
i
a
l

M
e
n
b
r
a
n

P
o
t
e
n
s
i
a
l

M
e
n
b
r
a
n

21
Penggunaan Listrik & Magnet
pada permukaan Tubuh
Jacques A.D. Arsonval
1890 listrik berfrekuensi rendah ÷ efek pemanasan
1929 listrik frek. 30 MHz ÷ short wave diathermy
1950 gel mikro frek 2450 MHz ÷ diatermi & pemakaian
radar
Arus listrik berdasarkan efek yang ditimbulkan:
1. Listrik berfrekuensi rendah (20 – 500.000 Hz)
÷ merangsang saraf & otot sehingga terjadi kontraksi
otot – stimulator dengan multivibrator -astable
multivibrator
* pengulangan pemakaian dan pemilihan bentuk
gelombang perlu diperhatikan
22
Penggunaan Listrik & Magnet
pada permukaan Tubuh
untuk pemakaian singkat & merangsang saraf otot
÷ arus faradik
untuk pemakaian lama & merangsang otot yang telah
kehilangan persyarafan
÷ arus listrik interuptus atau arus DC yang dimodifikasi

Arus AC dengan frekuensi 50 Hz, mampu :
1. Merangsang saraf sensoris
2. Merangsang saraf motoris
3. Berefek kontraksi otot

Diklinik ÷ Arus DC
23
Penggunaan Listrik & Magnet
pada permukaan Tubuh
2. Listrik berfrekuensi tinggi (> 500.000 Hz)
÷ Belum merangsang saraf motoris & sensoris
÷ Sifat : memanaskan
* Short wave diathermy (diatermi gel. Pendek) untuk
memperoleh gel. Elektromognetis agar masuk ke dalam
tubuh dengan 2 metode: capasitance (kondensor) &
inductance (induksi= kabel)
Metode kondensor
Prinsip : elektroda diletakkan pada masing-masing sisi
yang akan diobati & dipisahkan dari kulit dengan bahan
isolator
Metode isolasi/ kabel
÷ kabel dililitkan pada daerah yang akan diobati
24
Short wave diathermy
Efek diatermi gel. Pendek (Short wave diathermy) :
1. Menghasilkan panas & peningkatan efek fisiologis
* Meningkatkan metobolisme
* Meningkatkan darah
* Menurunkan eksitasi saraf
* Menurunkan relaksasi otto, meningkatkan usaha otot
* Menurunkan tekanan darah karena vasodilatasi
* Meningkatkan aktivitas kel. Keringat
25
Short wave diathermy
2. Mempunyai efek pengobatan
* Terhadap daerah peradangan ÷ oksigenasi
meningkat
* Efek terhadap infeksi bakteri ÷ leukosit & antibodi
meningkat
* Kehilangan nyeri ÷ panas disebabkan saraf sensoris
sedatif
* Terhadap daerah yang patah ÷ meningkatkan
absorpsi & aliran darah
26
Micro wave diathermy
Micro wave diathermy (diatermi gel. Mikro)
¬panjang gelombang (ì )antara inframerah & short wave
Gel. Mikro : 1 cm <ì< 1 m
Efek :
1.Fisiologis
Menimbulkan panas pada jaringan yang banyak
mengandung air; otot > banyak menyerap gel. Mikro
daripada jaringan lemak
2.Pengobatan
Pada penderita yang mengalami ruda paksa (trauma) &
peradangan; nyeri & spasme otot, rematik

27
Micro wave diathermy
Bahaya & kontra indikasi
• Penderita gangguan sirkulasi ÷ meningkat perdarahan,
trombosis & flebitis
• TBC & tumor ganas

Perbedaan micro wave dengan short wave
1. Penetrasi gel. Mikro lebih dalam ; tp tidak dapat melewati
jaringan yang padat seperti yang dapat dilakukan oleh gel.
Pendek.
2. Gel. Mikro kurang berhasil mengobati struktur yang
dalam dibanding dengan diatermi gel. Pendek.
28
Electrocauter & Electrosurgery
 Listrik frek tinggi ÷ mengontrol perdarahan saat
pembedahan
 Electrocauter (Cauterisasi = pembakaran)
suatu pembakaran mengggunakan frek listrik 2 MHz,
tegangan s15 kV
÷ menghentikan perdarahan pd luka menganga
menggunakan gulungan kawat panas pd pemb.darah
tanpa anestesi
 Electrosurgery
÷memotong jaringan; dilakukan dg gerakan cepat 5-10
cm/detik untuk mengurangi destruksi jaringan sekitar
(cth:operasi otak, limpa, vesica felea, prostat, dan serviks)

29
Defibrillator
 SA Node di puncak atrium kanan dekat Vena
cava superior ÷ pace maker÷ scr sinkron
memompa darah ke sirkulasi paru-paru & ke
sirkulasi darah sistemik; kehilangan sinkronisasi
¬ FIBRILASI
 Fibrilasi atrium: f(x) ventrikel normal ÷ ritme
jantung iregular
 Fibrilasi ventrikel: tdk mampu memompa darah;
jika tdk dilakukan koreksi dlm bbrp menit ÷
kematian
30
Defibrillator
 Penanganan fibrilasi:
- massage jantung (metode mekanik)
- syok listrik pd daerah jantung
* countershock ÷ sinkronisasi irama
jantung
* defibrilasi ÷ jika tdk berespons thd
countershock ¬ defibrillator
Syok Listrik
Pembagian syok listrik :
1. Syok dengan tujuan tertentu
Dilakukan atas dasar indikasi medis. Psikiatri  “Electric Syok/Electro
Convultion Therapy
2. Syok tanpa tujuan tertentu
Faktor-faktor yang menyokong :
a) Peralatan :
1) Petunjuk penggunaan alat-alat yang kurang jelas
2) Prosedur testing secara teratur tidak atau kurang dilakukan
3) Peralatan ECG yang lama tanpa menggunakan transformers
b) Perorangan
1) Petugas yang kurang latihan.
2) Kurang pengertian akan kelistrikan maupun bahaya-bahaya yang
ditimbulkan.
3) Kurang pengertian akan cara-cara proteksi bagi petugas sendiri maupun
penderita.

31
Parameter-parameter yang
mempengaruhi syok listrik:
Dari sudut arus
1. Seseorang akan menderita syok lebih serius pada
tegangan 220 Volt dari pada tengangan 80 Volt.
2. Basah tidaknya kulit penderita.
3. Basah tidaknya lantai.

32
Dari sudut parameter lain
1. Jenis kelamin
2. Frekuensi AC
3. Durasi
4. Berat badan
5. Jalan yang ditempuh Arus

Pengobatan terhadap syok listrik
Ringan
1. Penderita diistirahatkan
2. Diberi minum dengan air dingin
Berat
1. Penderita ditelentangkan sedemikian rupa agar mudah
bernafas
2. Pakaian dibuka/dilonggarkan agar mendapatkan udara
yang cukup
3. Apabila kesadaran menurun dan kegagalan pernafasan
dilakukan pernafasan buatan secara mulut ke mulut
4. Apabila terjadi jantung berdenyut lakukan pemijatan
jantung
33

Penemuan biolistrik
 Caldani (1856) Kelistrikan pada otot katak yang telah mati  Luigi Galvani 1780 mulai mempelajari kelistrikan pada tubuh hewan 1786 kedua kaki katak terangkat ketika diberikan aliran listrik melalui konduktor
bioelektromagnetik/ikun/2004 2

Penemuan biolistrik
 Arons (1892) Merasa ada aliran frekuensi tinggi melalui tubuhnya sendiri  Van Seynek (1899) mengamati terjadinya panas pada jaringan yang disebabkan aliran frekuensi tinggi  Schlephake (1982) Pengobatan dengan menggunakan Short Wave
3

berbanding terbalik dengan hambatan dari konduktor R=V I R = Hambatan (/ohm) V = Tegangan (volt) I = Arus (ampere) 4 .Rumus/ Hukum dalam Biolistrik Hukum Ohm Perbedaan potensial antara ujung konduktor berbanding langsung dengan arus yang melewati.

Rumus/ Hukum dalam Biolistrik Hukum Joule Arus listrik yang melewati konduktor dengan perbedaan tegangan dalam waktu tertentu akan menimbulkan panas. H (kalori) = VIT J V = tegangan (Volt) I = arus (Ampere) T = Waktu (detik) J = Joule = 0.239 kal 5 .

Macam-macam Gel. Arus listrik Arus bolak balik/ sinusoidal Arus setengah gelombang (telah disearahkan) Arus searah dengan riple/desir Arus searah murni Faradik 6 .

Macam-macam Gel. Arus listrik Surged faradik/sentakan faradik Surged sinusoidal/ sentakan sinusoidal Galvanik interuptus Arus gigi gergaji 7 .

SSO . interprestasi & menghantarkan aliran listrik 8 .Kelistrikan & kemagnetan yang timbul dalam tubuh 1.SSP . Sistem saraf & neuron .Neuron/ sel saraf f(x): menerima.

Kelistrikan & kemagnetan yang timbul dalam tubuh 2. Konsentrasi ion di dalam & luar sel Pada akson : Konsentrasi ion di dalam sel lebih negatif daripada di luar sel 9 .

kemampuan mengaliri listrik rendah Akson tanpa mielin kec = 20-50 m/detik ( = 1 mm) Akson dengan mielin kec = 100 m/detik ( = 10 µm) 10 . Kelistrikan saraf Kecepatan impuls saraf ~  serat saraf ~ ada/ tidaknya mielin Mielin = isolator yang baik.Kelistrikan & kemagnetan yang timbul dalam tubuh 3.

Kelistrikan & kemagnetan yang timbul dalam tubuh Aktivitas kelistrikan sel  perpindahan ion dari dalam sel ke luar sel. atau sebaliknya melalui membran sel Pada keadaan istirahat: Ion Na+ luar sel >>  potensial dalam sel > negatif  potensial membran negatif/ istirahat (-90 mVolt) = polarisasi Ada rangsangan listrik terhadap membran : Ion Na+ masuk ke dalam sel  potensial dalam sel > positif  potensial membran positif = depolarisasi 11 .

12 . peningkatan waktu dan amplitudo potensial aksi akan selalu sama.Fenomena “all or none” Jika rangsangan kuat  depolarisasi membran mencapai titik tertentu (nilai ambang) proses depolarisasi berlanjut & irreversible  ion Na+mengalir ke dalam sel dengan cepat dalam jumlah banyak  potensial membran naik dengan cepat + 40 mVolt  Potensial aksi (berlangsung < 1 mdetik)  Fenomena “all or none” Jika nilai ambang tercapai. tidak peduli intensitas dari rangsangan tersebut.

Kelistrikan & kemagnetan yang timbul dalam tubuh 4.Perambatan potensial aksi Membran saraf otot mendapat rangsangan mencapai nilai ambang  timbul potensial aksi  merangsang daerah sekitarnya untuk mencapai nilai ambang  perambatan potensial aksi atau gelombang depolarisasi  sel membran mengalami repolarisasi (tingkat refrakter) 13 .

Kelistrikan & kemagnetan yang timbul dalam tubuh Refrakter Absolut: tidak ada rangsangan & unsur kekuatan untuk menghasilkan potensial aksi lain Refrakter Relatif: bila ada rangsangan yang kuat akan menghasilkan potensial aksi baru  setelah sel membran mendekati repolarisasi seluruhnya 14 .

Kelistrikan pada sinaps & neuromyial.Kelistrikan & kemagnetan yang timbul dalam tubuh 5. jungtion Hubungan antara 2 saraf = sinapsis Berakhirnya saraf pada otot = neuromyal junction Sinaps & neuromyal junction mampu meneruskan gel. Depdarisasi dengan cara lompat dari satu sel ke sel berikutnya depolarisasi  zat kimia pada otot bergetar menyebabkan kontraksi otot  repolarisasi sel otot  relaksasi 15 .

Kelistrikan & kemagnetan yang timbul dalam tubuh 6. Kelistrikan otot jantung Pada saraf & otot bergaris: rangsangan  ion Na+ masuk ke dalam sel  mencapai nilai ambang  depolarisasi Pada otot jantung : rangsangan  ion Na+ masuk ke dalam sel (mudah besar) repolarisasi komplit  Na+ masuk kembali ke dalam sel  depolarisasi spantan mencapai nilai ambang tanpa perlu rangsang dari luar (kec. Teratur) 16 .

dasar jantung = waktu antara mulai depolarisasi spontan sampai mencapai nilai ambang setelah terjadi repolarisasi Dipengaruhi oleh perubahan : 1. Slap (kelengkangan) dari depolarisasi spontan terhadap nilai ambang  Mempengaruhi mekanisme kontra fisiologis terhadap frek.Kelistrikan & kemagnetan yang timbul dalam tubuh Kec. Tingkat dari nilai ambang 3. Potensial membran istirahat 2. Jantung Sekumpulan sel utama yang secara spontan menghasilkan potensial aksi disebut pace maker/ perintis jantung 17 .

Kelistrikan & kemagnetan yang timbul dalam tubuh 7. Elektroda Elektroda : untuk mengukur potensial aksi. dengan memindahkan transmisi ion ke penyalur elektron Elektroda : Perak (Ag) & tembaga (Cu) 18 .

Kelistrikan & kemagnetan yang timbul dalam tubuh 8. Isyarat listrik tubuh Hasil perlakuan kimia dari tipe sel-sel +++ untuk memperoleh informasi klinik tentang fungsi tubuh EMG (Elektromiogram) ENG (Elektroneurogram)  miastenia gravis ERG (Elektroretinogram)  perubahan pigmen retina EOG (Elektroakulagram) EGG (Elektrogastrogram)  gerakan peristaltik EEG (Elektroensefalogram)  epilepsi EKG (Elektrokardiogram) 19 .

dasar jantung = 60 t (dtk) 20 .Gambar Periode Refrakter Potensial Menbran Potensial Menbran Gambar Depdarisasi spontan miokardium Kec.

D. 30 MHz short wave diathermy 1950 gel mikro frek 2450 MHz  diatermi & pemakaian radar Arus listrik berdasarkan efek yang ditimbulkan: 1.000 Hz)  merangsang saraf & otot sehingga terjadi kontraksi otot – stimulator dengan multivibrator -astable multivibrator * pengulangan pemakaian dan pemilihan bentuk gelombang perlu diperhatikan 21 .Penggunaan Listrik & Magnet pada permukaan Tubuh Jacques A. Listrik berfrekuensi rendah (20 – 500. Arsonval 1890 listrik berfrekuensi rendah  efek pemanasan 1929 listrik frek.

Penggunaan Listrik & Magnet pada permukaan Tubuh  untuk pemakaian singkat & merangsang saraf otot  arus faradik  untuk pemakaian lama & merangsang otot yang telah kehilangan persyarafan  arus listrik interuptus atau arus DC yang dimodifikasi Arus AC dengan frekuensi 50 Hz. mampu : 1. Berefek kontraksi otot Diklinik  Arus DC 22 . Merangsang saraf sensoris 2. Merangsang saraf motoris 3.

Penggunaan Listrik & Magnet pada permukaan Tubuh 2. Elektromognetis agar masuk ke dalam tubuh dengan 2 metode: capasitance (kondensor) & inductance (induksi= kabel) Metode kondensor Prinsip : elektroda diletakkan pada masing-masing sisi yang akan diobati & dipisahkan dari kulit dengan bahan isolator Metode isolasi/ kabel  kabel dililitkan pada daerah yang akan diobati 23 .000 Hz)  Belum merangsang saraf motoris & sensoris  Sifat : memanaskan * Short wave diathermy (diatermi gel. Pendek) untuk memperoleh gel. Listrik berfrekuensi tinggi (> 500.

Keringat 24 . Pendek (Short wave diathermy) : 1. meningkatkan usaha otot * Menurunkan tekanan darah karena vasodilatasi * Meningkatkan aktivitas kel. Menghasilkan panas & peningkatan efek fisiologis * Meningkatkan metobolisme * Meningkatkan darah * Menurunkan eksitasi saraf * Menurunkan relaksasi otto.Short wave diathermy Efek diatermi gel.

Mempunyai efek pengobatan * Terhadap daerah peradangan  oksigenasi meningkat * Efek terhadap infeksi bakteri  leukosit & antibodi meningkat * Kehilangan nyeri  panas disebabkan saraf sensoris sedatif * Terhadap daerah yang patah  meningkatkan absorpsi & aliran darah 25 .Short wave diathermy 2.

Micro wave diathermy Micro wave diathermy (diatermi gel.Pengobatan Pada penderita yang mengalami ruda paksa (trauma) & peradangan. Mikro) panjang gelombang ( )antara inframerah & short wave Gel. nyeri & spasme otot. otot > banyak menyerap gel.Fisiologis Menimbulkan panas pada jaringan yang banyak mengandung air. rematik 26 . Mikro daripada jaringan lemak 2. Mikro : 1 cm << 1 m Efek : 1.

Mikro lebih dalam . trombosis & flebitis • TBC & tumor ganas Perbedaan micro wave dengan short wave 1. 27 . Pendek. tp tidak dapat melewati jaringan yang padat seperti yang dapat dilakukan oleh gel. Gel.Micro wave diathermy Bahaya & kontra indikasi • Penderita gangguan sirkulasi  meningkat perdarahan. Mikro kurang berhasil mengobati struktur yang dalam dibanding dengan diatermi gel. Pendek. Penetrasi gel. 2.

vesica felea. tegangan 15 kV  menghentikan perdarahan pd luka menganga menggunakan gulungan kawat panas pd pemb. dan serviks) 28 .darah tanpa anestesi  Electrosurgery memotong jaringan.Electrocauter & Electrosurgery  Listrik frek tinggi  mengontrol perdarahan saat pembedahan  Electrocauter (Cauterisasi = pembakaran) suatu pembakaran mengggunakan frek listrik 2 MHz. prostat. dilakukan dg gerakan cepat 5-10 cm/detik untuk mengurangi destruksi jaringan sekitar (cth:operasi otak. limpa.

jika tdk dilakukan koreksi dlm bbrp menit  kematian 29 .Defibrillator  SA Node di puncak atrium kanan dekat Vena cava superior  pace maker scr sinkron memompa darah ke sirkulasi paru-paru & ke sirkulasi darah sistemik. kehilangan sinkronisasi  FIBRILASI  Fibrilasi atrium: f(x) ventrikel normal  ritme jantung iregular  Fibrilasi ventrikel: tdk mampu memompa darah.

Defibrillator  Penanganan fibrilasi: .syok listrik pd daerah jantung * countershock  sinkronisasi irama jantung * defibrilasi  jika tdk berespons thd countershock  defibrillator 30 .massage jantung (metode mekanik) .

Kurang pengertian akan kelistrikan maupun bahaya-bahaya yang ditimbulkan. Syok tanpa tujuan tertentu Faktor-faktor yang menyokong : a) Peralatan : 1) 2) 3) Petunjuk penggunaan alat-alat yang kurang jelas Prosedur testing secara teratur tidak atau kurang dilakukan Peralatan ECG yang lama tanpa menggunakan transformers Petugas yang kurang latihan.Syok Listrik Pembagian syok listrik : 1. Psikiatri  “Electric Syok/Electro Convultion Therapy 2. Syok dengan tujuan tertentu Dilakukan atas dasar indikasi medis. Kurang pengertian akan cara-cara proteksi bagi petugas sendiri maupun penderita. b) Perorangan 1) 2) 3) 31 .

Durasi 4. Berat badan 5. Jenis kelamin 2. Jalan yang ditempuh Arus 32 . Frekuensi AC 3. 2. Dari sudut parameter lain 1. Basah tidaknya lantai.Parameter-parameter yang mempengaruhi syok listrik: Dari sudut arus 1. 3. Seseorang akan menderita syok lebih serius pada tegangan 220 Volt dari pada tengangan 80 Volt. Basah tidaknya kulit penderita.

Apabila terjadi jantung berdenyut lakukan pemijatan jantung 33 . Pakaian dibuka/dilonggarkan agar mendapatkan udara yang cukup 3. Penderita diistirahatkan 2.Pengobatan terhadap syok listrik Ringan 1. Apabila kesadaran menurun dan kegagalan pernafasan dilakukan pernafasan buatan secara mulut ke mulut 4. Diberi minum dengan air dingin Berat 1. Penderita ditelentangkan sedemikian rupa agar mudah bernafas 2.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->