P. 1
MAKALAH TENTANG ARBITRASE

MAKALAH TENTANG ARBITRASE

|Views: 651|Likes:

More info:

Published by: Sinung Mufti Hangabei on Mar 21, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/11/2014

pdf

text

original

MAKALAH TENTANG ARBITRASE

05:48 by bayutube86 · 0 comments Makalah ini membahas tentang arbitrase atau SALAH SATU BENTUK PENYELESAIAN SENGKETA DI LUAR PENGADILAN.Terlebih dahulu,akan dibahas tentang definisi arbitrase.

Definisi Arbitrase Kata “arbitrase” berasal dari bahasa asing yaitu “arbitrare”. Arbitrase juga dikenal dengan sebutan atau istilah lain yang mempunyai arti sama, seperti : perwasitan atau arbitrage (Belanda), arbitration (Inggris), arbitrage atau schiedsruch (Jerman), arbitrage (Prancis) yang berarti kekuasaan menyelesaikan sesuatu menurut kebijaksanaan. Arbitrase di Indonesia dikenal dengan “perwasitan” secara lebih jelas dapat dilihat dalam Undang-undang No. 1 Tahun 1950, yang mengaturtentang acara dalam tingkat banding terhadap putusan-putusan wasit, dengan demikian orang yang ditunjuk mengatasi sengketa tersebut adalah wasit atau biasa disebut “arbiter”.

Menurut Pasal 1 angka 1 Undang-undang No.30 Tahun 1999, arbitrase adalah cara penyelesaian suatu sengketa perdata di luar pengadilan umum yang didasarkan pada perjanjian arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa.

Pada dasarnya arbitrase dapat berwujud dalam dua bentuk, yaitu: Factum de compromitendo yaitu klausa arbitrase yang tercantum dalam suatau perjanjian tertulis yang dibuat para pihak sebelum timbul sengketa. Akta Kompromis yaitu suatu perjanjian arbitrase tersendiri yang dibuat para pihak setelah timbul sengketa.

Sebelum UU arbitrase berlaku, ketentuan mengenai arbitrase diatur dalam pasal 615 s/d 651 Reglemen Acara Perdata (Rv). Selain itu, pada penjelasan pasal 3 ayat 1 Undang-undang No.14 Tahun 1970 tentang Pokok-pokok Kekuasaan Kehakiman menyebutkan bahwa penyelesaian perkara di luar pengadilan atas dasar perdamaian atau melalui wasit (arbitrase) tetap diperbolehkan.

JENIS-JENIS ARBITRASE Arbitrase dapat berupa arbitrase sementara (ad-hoc) maupun arbitrase melalui badan permanen (institusi). Sementara itu Pasal 5 (2) UU Arbitrase memberikan perumusan negatif bahwa sengketa-sengketa yang dianggap tidak dapat diselesaikan melalui arbitrase adalah sengketa yang menurut peraturan perundang-undangan tidak dapat diadakan perdamaian sebagaimana diatur dalam KUH Perdata Buku III bab kedelapan belas Pasal 1851 s/d 1854. industri dan hak milik intelektual. Adapun kegiatan dalam bidang perdagangan itu antara lain: perniagaan. penanaman modal. Saat ini dikenal berbagai aturan arbitrase yang dikeluarkan oleh badan-badan arbitrase seperti Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI).30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. The Arbitration Rules dari The International Centre for Settlement of Investment Disputes (ICSID) di Washington. Pada umumnya arbitrase ad-hoc ditentukan berdasarkan perjanjian yang menyebutkan penunjukan majelis arbitrase serta prosedur pelaksanaan yang yang telah disepakati oleh para pihak. PENYELESAIAN SENGKETA MELALUI ARBITRASE . Badan-badan tersebut mempunyai peraturan dan sistem arbitrase sendiri-sendiri. maupun yang internasional seperti The Rules of Arbitration dari International Chamber of Commerce (ICC) di Paris. Arbitrase insitusi adalah suatu lembaga permanen yang dikelola oleh berbagai badan arbitrase berdasarkan aturan-aturan yang mereka tentukan sendiri. misalnya Undang-undang No. LINGKUP ARBITRASE Objek perjanjian arbitrase (sengketa yang akan diselesaikan di luar pengadilan melalui lembaga arbitrase dan atau lembaga alternatif penyelesaian sengketa lainnya) menurut Pasal 5 ayat 1 Undang Undang Nomor 30 tahun 1999 (“UU Arbitrase”) hanyalah sengketa di bidang perdagangan dan mengenai hak yang menurut hukum dan peraturan perundang-undangan dikuasai sepenuhnya oleh pihak yang bersengketa. Arbitrase Ad-hoc dilaksanakan berdasarkan aturan-aturan yang sengaja di bentuk untuk tujuan arbitrase. keuangan. perbankan.

Sifat rahasia pada putusan perwasitan inilah yang dikehendaki oleh para pengusaha. “menguntungkan” dan memberikan rasa “aman” dan keadilan bagi para pihak. . Putusan akan lebih sesuai dengan perasaan keadilan para pihak. meskipun demikian terkadang sengketa tidak dapat dihindari karena adanya kesalahpahaman. atau timbul kepentingan yang berlawanan. karena akan merugikan pihak-pihak yang bersengketa. PERADILAN ARBITRASE Salah satu alternatif yang dapat ditempuh apabila terjadi sengketa adalah dengan menggunakan arbitrase sebagai peradilan swasta. dan pelanggaran oleh salah salah satu pihak. pertentangan maupun sengketa tersebut tidak dapat dibiarkan berlarut-larut dan harus diselesaikan secara memuaskan bagi semua pihak. Oleh sebab itu. Apabila para pihak telah memilih penyelesaian sengketa melalui arbitrase baik secara tertulis dalam kontrak maupun diluar kontrak. arbitrase ini dapat dijadikan solusi terbaik dari perselisihan yang terjadi. diantaranya: Penyelesaian sengketa dapat dilaksanakan dengan cepat. karena penyelesaian sengketa melalui peradilan wasit (arbitrase) memiliki arti penting dibanding dengan pengadilan resmi seperti yang dikemukakan oleh HMN Purwosutjipto.U.H perdata. maka hal ini mengikat mereka sebagai Undang-undang sesuai dengan asas keperdataan yang diatur dalam pasal 133 K. sehingga umum tidak mengetahui tentang kelemahan-kelemahan perusahaan yang bersangkutan. perselisihan pendapat. Meskipun tiap-tiap masyarakat memiliki cara sendiri-sendiri untuk menyelesaikan perselisihan tersebut. Sengketa Dagang Sengketa atau perselisihan dalam kegiatan dagang sebenarnya sesuatu yang tidak diharapkan terjadi. Para wasit terdiri dari orang-orang ahli dalam bidang yang diper-sengketakan. yang dengan tegas memberikan kewenangan kepada arbiter untuk memutus pada tingkat pertama dan terakhir. kemungkinan terjadinya sengketa dagang perlu diminimalisasi atau dihindari. yang diharapkan mampu membuat putusan yang memuaskan para pihak. akan tetapi perkembangan dunia usaha yang berkembang secara universal dan global mulai mengenal bentuk-bentuk penyelesaian sengketa yang homogen. Putusan peradilan wasit dirahasiakan. Perbedaan paham.A.

yang harus dilaksanakan dengan itikad baik sesuai dengan ketentuan pasal K.H perdata. keikutsertaannya disepakati oleh para pihak yang bersengketa. dan tempat dimana putusan diambil. tanggal diambilnya putusan. dan juga disetujui oleh arbiter atau majelis yang memeriksa sengketa yang besangkutan (Pasal 30). Para pihak bebas menetukan acara arbitrase yang akan digunakan selama tidak bertentangan dengan Undang-undang.U. yang bertindak sebagai penengah (arbitrator) dan memiliki kekuasaan untuk memutus (arbitrator power) menurut kebijaksanaanya. PUTUSAN ARBITRASE Dalam menyelesaikan perselisihan dalam prakteknya para arbiter memutuskan sebagai orang-orang baik. yaitu tempat dimana putusan arbitrase telah diambil (pasal 634 ayat (1) Rv). putusan tersebut harus didaftarkan di kantor Panitera Pengadilan Negeri setempat. Dalam hal ini putusan yang diambil harus menyebutkan nama-nama dan tempat tinggal para pihak berikut amar putusan nya.dan dasar pertimbangan yang dipergunakan (para) arbiter dalam mengambil putusan . Putusan arbitrase . Hal ini sesuai dengan prinsip-prinsip umum mengenai kontrak dalam hukum. Para arbiter yang diberikan kekuasaan untuk memberikan keputusan sesuai dengan keadilan maka keputusan harus sesuai dengan peraturan yang berlaku. Putusan arbitrase harus diambil menurut peraturan hukum yang berlaku. hal ini harus dicantumkan dalam putusan tersebut.Dengan demikian pihak-pihak yang berselisih memilih cara penyelesaian sengketa antara mereka dengan mengangkat seorang arbiter atau lebih. Pemeriksaan dalam arbitrase dapat mengikutsertakan pihak ketiga di luar perjanjian dalam proses penyelesaian sengketa dengan syarat terdapat unsur kepentingan yang terkait. agar putusan ini berkekuatan sama dengan putusan yang ditanda tangani oleh semua arbiter. Dalam hal salah seorang arbiter menolak menandatangani putusan. kecuali dalam klausula atau persetujuan arbitrase tersebut telah diberikan kekuasaan kepada (para) arbiter untuk memutus menurut kebijaksanaan (ex aequo et bonu) (pasal 631 Rv). mereka juga terikat memberikan alasan-alasan untuk keputusan mereka dan memperhatikan peraturanperaturan hukum. (pasal 632 jo pasal 633 Rv) Penyebutan tanggal dan tempat putusan diambil merupakan hal yang penting. yang ditnda tangani oleh (para) arbiter. menurut keadaan dan kepatuhan. yang disertai dengan alasan. karena terhitung empat belas hari dari sejak putusan dikeluarkan.

000 rupiah saja yang dapat dimintakan bandingnya kepada Mahkamah Agung. ketentuan pasal 642 Rv. Dapat ditambahkan disini bahwa kemungkinan untuk meminta banding. Selanjutnya dalam pasal 15 Undang-undang Nomor 1/1950 tentang Susunan. yang diputuskan di wilayah Republik Indonesia. Sedangkan. dengan mendaftarkan dan menyerahkan lembar asli atau salinan autentik putusan arbitrase nasional oleh arbiter atau kuasanya ke panitera pengadilan negeri. Putusan arbitrase nasional adalah putusan arbitrase baik ad-hoc maupun institusional. dalam waktu 30 . yang berwujud pencantuman irahirah “DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA” pada bagian atas dari asli putusan arbitrase tersebut . selanjutnya putusan arbitrase yang telah memperoleh irah-irah “DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA” tersebut dapat dilaksanakan menurut tatacara yang biasa berlaku bagi pelaksanaan suatu putusan pengadilan (pasal 639 Rv).30 Tahun 1999. jika telah memperoleh perintah dari Ketua Pengadilan Negeri tempat putusan itu didaftarkan.tersebut hanya dapat dieksekusi . Pada dasarnya para pihak harus melaksanakan putusan secara sukarela. Agar putusan arbitrase dapat dipaksakan pelaksanaanya. putusan arbitrase asing adalah putusan arbitrase yang diputuskan di luar negeri. 1. meskipun para pihak telah memperjanjian yang demikian dalam persetujuan mereka. Kekuasaan. Dengan jelas menyebutkan bahwa tiada kasasi maupun peninjauan kembali dapat diajukan terhadap suatu putusan arbitrase. Menurut ketentuan pasal 641 ayat (1) Rv. dapat dikesampingkan oleh para pihak dengan mencantumkan secara tegas kehendak tersebut dalam klausula atau persetujuan arbitrase yang mereka buat tersebut (Pasal 641 ayat (1) Rv) PELAKSANAAN PUTUSAN ARBITRASE Pelaksanaan putusan arbitrase dibedakan menjadi dua yaitu putusan arbitrase nasional dan putusan arbitrase asing (internasional). putusan arbitrase dapat dimintakan banding. Putusan Arbitrase Nasional Pelaksanaan putusan arbitrase nasional diatur dalam Pasal 59-64 UU No. terhadap putusan arbitrase yang mempunyai nilai perselisihan pokok lebih dari 500 rupiah dimungkinkan untuk banding kepada Mahkamah Agung. Walaupun menurut kedua ketentuan tersebut. putusan tersebut harus diserahkan dan didaftarkan pada kepaniteraan pengadilan negeri. dan Jalan pengadilan Mahkamah Agung Indonesia ditentukan pula bahwa hanya putusan dengan pokok perselisihan yang memiliki nilai lebih dari 25. seperti disebut diatas.

final dan mengikat. Indonesia telah mengaksesi Konvensi New York tersebut dengan Keputusan Presiden Nomor 34 Tahun 1981 pada 5 Agustus 1981 dan didaftar di Sekretaris PBB pada 7 Oktober 1981. Putusan Arbitrase Asing (Internasional) Semula pelaksanaan putusan-putusan arbitrase asing di indonesia didasarkan pada ketentuan Konvensi Jenewa 1927. Dengan adanya Perma tersebut hambatan bagi pelaksanaan putusan arbitrase asing di Indonesia seharusnya bisa diatasi. Putusan Arbitrase nasional bersifat mandiri. Tapi dalam prakteknya kesulitan-kesulitan masih ditemui dalam eksekusi putusan arbitrase asing.30 Tahun 1999 sebelum memberi perintah pelaksanaan . terbatas pada pemeriksaan secara formal terhadap putusan arbitrase nasional yang dijatuhkan oleh arbiter atau majelis arbitrase. final dan mengikat (seperti putusan yang mempunyai kekeuatan hukum tetap) sehingga Ketua Pengadilan Negeri tidak diperkenankan memeriksa alasan atau pertimbangan dari putusan arbitrase nasional tersebut. Bila tidak memenuhi maka. dan pemerintah Belanda yang merupakan negara peserta konvensi tersebut menyatakan bahwa Konvensi berlaku juga di wilayah Indonesia. Kewenangan memeriksa yang dimiliki Ketua Pengadilan Negeri. apabila dalam proses penyelesaian sengketa terjadi peristiwa-peristiwa: Salah satu dari pihak yang bersengketa meninggal dunia. Ketua Pengadilan memeriksa dahulu apakah putusan arbitrase memenuhi Pasal 4 dan pasal 5 (khusus untuk arbitrase internasional). . Berdasar Pasal 62 UU No. HAPUSNYA PERJANJIAN ARBITRASE Perjanjian arbitrase dinyatakan batal. Putusan Arbitrase nasional bersifat mandiri.(tiga puluh) hari setelah putusan arbitase diucapkan. Pada 1 Maret 1990 Mahkamah Agung mengeluarkan Peraturan mahkamah Agung Nomor 1 tahun 1990 tentang Tata Cara Pelaksanaan Putusan arbitrase Asing sehubungan dengan disahkannya Konvensi New York 1958. 2. Ketua Pengadilan Negeri dapat menolak permohonan arbitrase dan terhadap penolakan itu tidak ada upaya hukum apapun. Pada tanggal 10 Juni 1958 di New York ditandatangani UN Convention on the Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Award.

Berakhirnya atau batalnya perjanjian pokok. Pewarisan. . dan insolvensi. novasi (pembaharuan utang). Hapusnya syarat-syarat perikatan pokok. Pelaksanaan perjanjian arbitrase dialihtugaskan pada pihak ketiga dengan persetujuan pihak yang melakukan perjanjian arbitrase tersebut.Salah satu dari pihak yang bersengketa mengalami kebangkrutan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->