TEKNIK APLIKASI HERBISIDA Junita Sinambela/070301054 Mahasiswi Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara

, Medan.

ABSTRAK Percobaan ini dilakukan di lahan percobaan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan pada ketinggian tempat 25 m dpl. Percobaan ini bertujuan umtuk mengukur aplikasi perlakuan herbisida yang seragam pada suatu areal, sehingga diperoloh hasil pengendalian yang efektif dan efisien. Percobaan ini menggunakan air, dan knapsock. Luas areal yang dikalibrasikan panjangnya16,25 m dan lebar 1,95 m dengan volume awal 10 liter/ha. Dari hasil percobaan diperoleh bahwa air yang digunakan untuk luas areal tersebut 2,5 liter/ha dan volume yang diperlukan sebanyak 788,892 lite/hr, volume semprot untuk dosis herbisida 2 liter/ha sebanyak 788,8983 liter/ha dan untuk volume semprot dengan dosis herbisida 3 liter/ha sebanyak 788,8995 liter/ha. Kata Kunci: kalibrasi, air, volume semprot PENDAHULUAN Pengendalian gulma dewasa ini di Indonesia cukup berkembang disbanding pemanfaatan sumber daya dan eradikasi gulma itu sendiri. Cara pengendalian dapat dilakukan secara fisik (manual, mekanis, pemanfaatan dan kultur teknis), biologi dan kimia (herbisida). Pengendalian gulma dengan menggunakan herbisida sudah banyak diterapkan di lapangan baik pada budidaya komoditas tanaman perkebunandan industri maupun tanaman pangan, hortikultura dan perairan. Hal ini disebabkan oleh kelangkaan tenaga kerja di tingkat usaha tani, serta banyaknya pilihan herbisida yang efektif dan selektif sebagai haerbisida pra tumbuh dan purna tumbuh sesuai dengan komoditas tanaman yang dibudidayakan (Tjitrosemito, 2004). Herbisida adalah suatu bahan kimia (pestisida) yang digunakan untuk membunuh atau mencegah pertumbuhan gulma. Cara yang paling efektif untuk menanggulangi gulma ialah menggunakan herbisida dalam kombinasi dengan cara pengendalian lainnya. Keuntungan penggunaan herbisida yaitu: a) Menggunakan herbisida menghemat tenaga. b) Herbisida dapat dapat digunakan dalam lingkungan apapun. Sedangkan kerugian penggunaan herbisida adalah: menggunakan herbisida yang sama terusmenerus mengakibatkan berkembangnya gulma, khususnya jenis tahunan yang sulit dikendalikan dengan herbisida (Sebayang, 2005). Proses aplikasi herbisida menyangkut berbagai aspek antara lain: 1) Penyediaan larutan yang sesuai. 2) Pembuatan butiran cairan semprot. 3) Gerakan butiran cairan semprot kepada sasaran. 4) Impak butiran pada sasaran (Sukman dan Yakup, 2002). Di dalam melakukan kalibrasi terdapat tiga faktor penting yang menentukan keberhasilan kalibrasi yakni: Ukuran lubang nozel.− Tekanan dalam tangki alat semprot.−

Kecepatan pergerakan (berjalan) aplikator.− (Anderson, 1977). BAHAN DAN METODE Percobaan ini dilakukan di lahan percobaan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan pada tanggal 18 April 2007 dengan ketinggian tempat 25 m dpl. Percobaan ini menggunakan air sebagai pelarut herbisida, gelas ukur untuk mengukur herbisida yang akan digunakan, ember plastik sebagai tempat menaruh air, glifosat sebagai herbisida yang akan diaplikasikan, dan Knapsock Sprayer sebagai alat semprot. Sebelum mengkalibrasikan air pada pelataran parkir, ditentukan terlebih dahulu volume awal dengan rumus: Volume yang diaplikasikan = Volume yang diperlukan Luas areal perlakuan Luas areal yang akan diberi perlakuan Kemudian ditentukan banyaknya volume semprot yang diperlukan untuk dosis herbisida 2 liter/ha dan 3 liter/ha. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Volume larutan yang diketahui (V1) = 10 L Volume larutan yang tertinggal dalam tangki (V3) = 7,5 liter Volume semprot (V2) = V1 – V3 = 2,5 liter Lebar Lahan = 1,95 m Panjang Lahan = 16,25 m Luas Lahan = P x L = 31,69 m2 Volume yang diaplikasikan = Volume yang diperlukan Luas areal perlakuan Luas areal yang akan diberi perlakuan V = 2,5 x 10000 = 788,892 liter 31,69 Dosis Herbisida 2 liter = (2 x 31,69 ) : 10.000 = 0,006 liter Dosis Herbisida 3 liter = (3 x 31,69 ) : 10.000 = 0,0095 liter Volume semprot per Hektar Dosis Herbisida 2 liter = 788,892 + 0,0063 = 788,8983 liter Volume semprot per Hektar Dosis Herbisida 3 liter = 788,892 + 0,0095 = 788,8995 liter Pembahasan Dari hasil percobaan dengan mengkalibrasikan air pada luas lahan 31,69 m2, maka diperoleh volume semprot dengan dosis herbisida 2 liter/ha sebanyak 788,8983 liter/ha. Dan volume semprot dengan dosis herbisida 3 liter/ha sebanyak 788,8995 liter/ha. Sehingga dapat disimpulkan bahwa volume air yang akan digunakan untuk mengaplikasikan herbisida dengan dosis anjuran 2 liter/ha dengan dosis anjuran 3 liter/ha yang diaplikasikan pada luas areal yang sama membutuhkan volume air yang

tidak jauh berbeda tetapi harus tetap diperhatikan kesesuaiannya. Hal ini sesuai dengan literatur dari Sukman dan Yakup (2002) yang menyatakan bahwa penyediaan larutan yang sesuai merupakan salah satu aspek penting dalam proses aplikasi herbisida. Di dalam melakukan kalibrasi ada beberapa faktor yang menentukan keberhasilan kalibrasi yaitu ukuran lubang nozzle, tekanan dalam tangki alat semprot, dan kecepatan berjalan aplikator. Ketiga faktor tersebut harus diatur sedemikian rupa sehingga diperoleh suatu volume larutan herbisida tertentu yang dapat dilepaskan melalui lubang nozzle pada setiap waktu yang dikehendaki. Hal ini sesuai dengan literatur Anderson (1977) bahwa di dalam melakukan kalibrasi terdapat tiga faktor penting yang menentukan keberhasilan kalibrasi yakni ukuran lubang nozel, tekanan dalam tangki alat semprot, dan kecepatan pergerakan (berjalan) aplikator.

KESIMPULAN 1. Pada luas lahan 31,69 m2 dengan volume awal 10 liter dan volume akhir 7,5 liter maka diperoleh volume yang diperlukan sebanyak 2,5 liter. 2. Pada luas lahan 31,69 m2 dengan dosis herbisida 2 liter/ha maka diperoleh volume semprot sebanyak 788,8983 liter/ha. 3. Pada luas lahan 31,69 m2 dengan dosis herbisida 3 liter/ha maka diperoleh volume semprot sebanyak 788,8995 liter/ha. DAFTAR PUSTAKA Anderson, W.P., 1977. Weed Scince. West Publishing, Los Angeles. Sebayang, H. T., 2005. Gulma dan Pengendaliannya Pada Tanaman Padi. Unit Penerbitan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Malang Sukman, Y., dan Yakup, 1995. Gulma dan Teknik Pengendaliannya, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta. Tjitrosemito, S., Sri S.T., dan Imam M., 2004. Prosiding Konferensi Nasional XVI Himpunan Ilmu Gulma Indonesia SEAMEO BIOTROP, Bogor, 15-17 Juli 2003. Bogor-Indonesia.

070301055 ARJUNA A. NUSANTARA II KEBUN SAWIT SEBERANG LAPORAN OLEH : NICKY ARDIANSYAH L./070301055 ARJUNA A. Sijabat) NIP.P.PRAKTEK KERJA LAPANGAN DI PTP.P. MS) (P. 19599072 819870 21 001 Diketahui Oleh: . Juli 2010 Disetujui Oleh: Dosen Pembimbing Lapangan Asisten Pembimbing Lapangan (Ir. Toga Simanungkalit.R.R. 070301019 JUNITA SINAMBELA 070301054 Medan. NUSANTARA II KEBUN SAWIT SEBERANG Waktu : Bulan Juni sampai Juli 2010 Peserta PKL : NICKY ARDIANSYAH L./070301019 JUNITA SINAMBELA/070301054 DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2010 Judul Kegiatan : PRAKTEK KERJA LAPANGAN (PKL) DI PTP.

Juli 2010 Penulis . W Sasongko MM. Ph. selaku asisten personalia PTPN II Kebun Sawit Seberang. Medan. Seluruh karyawan PTP. 3. Bapak Ir. Nusantara II Kebun Sawit Seberang yang telah membantu dalam pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan (PKL). S. MS selaku dosen pembimbing Praktek Kerja Lapangan (PKL). 1959010 519860 11 001 KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Bapak P. SP selaku asisten afdeling IX di PTP. selaku manajer PTPN II Kebun Sawit Seberang. Bapak Ir. R Malau selaku asisten kepala Rayon Sawit Seberang (SWS) dan . Penulis menyadari masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam penulisan laporan ini. W Sasongko MM. Ph. 8. Universitas Sumatera Utara. D. M Triwahyudi selaku asisten kepala Rayon Babalan (BBN) PTPN II Kebun Sawit Seberang 6. Ir. Ir. Toga Simanungkalit.Manajer PTPN II Ketua Departemen Kebun Sawit Seberang Budidaya Pertanian FP-USU (Ir. Bapak Ir. Zulkifli Nasution.D. Edison Purba Ph. Akhir kata penulis mengucapkan banyak terima kasih. Praktek Kerja Lapangan ini merupakan program yang wajib dilakukan oleh setiap mahasiswa-mahasiswi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Praktek Kerja Lapangan ini dilaksanakan di PTPN II Kebun Sawit Seberang. Medan.Sc. untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan laporan ini. Bapak David Ginting.) (Prof.. Nusantara II Kebun Sawit Seberang. Bapak Ir. 7. Medan. Bapak Prof. 4.Sos. selaku dekan Fakultas Pertanian. Bapak Ir.) NIP. 2.D selaku ketua Departemen Budidaya Pertanian Universitas Sumetra Utara. Sijabat. Medan. Edison Purba. karena atas berkat dan rahmat-Nyalah penulis dapat menyelesaikan laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL) ini dengan baik. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. 5. M.

1 Pre Nursery (Pembibitan awal) 17 .1 Pembibitan 17 3.2.2. KEGIATAN BUDIDAYA KELAPA SAWIT 17 3.1 Sejarah Kebun 3 2.2 Lingkungan Fisik 3 2.2.2 Tujuan Praktek Kerja lapangan 2 II. GAMBARAN UMUM LOKASI PKL 3 2.3 Struktur Organisasi Kebun 7 2.3 Topografi dan Jenis Tanah 4 2.2 Iklim 4 2.1.1 Sistem Administrasi Kebun 14 III. PENDAHULUAN 1 1.2.4 Sistem Administrasi 14 2.4 Luas Areal 4 2.4.DAFTAR ISI KATA PENGANTAR i DAFTAR ISI ii DAFTAR TABEL iii DAFTAR LAMPIRAN iv DAFTAR GAMBAR v I.1 Latar Belakang 1 1.1 Letak geografis 3 2.

1.1 Pemeliharaan 29 3.2.1 Kesimpulan 50 6.2 Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) 24 3.3.3.5 Konsolidasi 26 3.3.2.4 Pengendalian Hama dan Penyakit 32 3.3.5 Panen dan Pengumpulan 34 3.4 Penyisipan 26 3.2.5.3.5.8 Pelaksanaan Panen 43 IV.3 Pembagian Kapveld Menurut Rotasi Panen 40 3.3.7 Pengendalian Hama dan Penyakit 28 3.4 Ancak Panen 40 3.2.5.3.3.2 Pemupukan 31 3.5.3.2 Pemeliharaan Jalan 25 3.5. TOPIK PERMASALAHAN DI LOKASI PKL 49 VI.3.5.2.3 Pembuatan Parit Drainase 26 3. LAMPIRAN .2. KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Pembuatan Pasar Kontrol 25 3.3.2 Saran 50 VII.6 Perhitungan Angka Kerapatan Panen (AKP) 41 3. DAFTAR PUSTAKA VIII. PROGRAM MAGANG BERSAMA PEJABAT/STAF/KARYAWAN 45 V.1 Pengertian Panen 38 3.2 Main Nursery (Pembibitan Utama) 20 3.3 Tanaman Menghasilkan (TM) 29 3.5 Sistem Panen 41 3.3.6 Pemeliharaan Piringan Pohon 27 3.7 Peralatan Panen 42 3.5.3.3.2.5.3 Pemeliharaan Jalan 32 3.2 Kriteria Matang Panen 38 3.

Jumlah Tegakan atau Populasi Tanaman Berdasarkan Umur..... Bagan Struktur Organisasi Kebun Sawit Seberang…………………… 52 2.............. 1................... 6 2... 7 3.... Foto Peserta PKL……………………………………………………............... Luas Areal Kebun Sawit Seberang Per Tahun Tanam dan Luas Seluruhnya ................. Peta Kebun sawit Seberang…………………………………………… 53 3...DAFTAR TABEL No................ Kriteria Matang Panen dan Standard Antar Fraksi... 39 4..... URAIAN Hal.............. 39 DAFTAR LAMPIRAN No........................... Fraksi Matang Panen pada Tanaman Kelapa Sawit............. 56 ...................... URAIAN Hal 1..... Lay Out PKS Kebun Sawit Seberang………………………………… 54 4..

.. Uraian Hal.... 30 6.............. Pasar Pikul………………………………………………………… 36 11.... Selain itu dikembangkan juga tanaman kelapa sawit di wilayah Irian Jaya yaitu di Kabupaten Manokwari dan Jayapura. Perhitungan AKP.. Tanaman TBM……………………………………………………..... Kondisi Jalan pada Areal TBM.................. dibentuk berdasarkan PP No.. 26 4... Penyiangan Manual………………………………………………...... 7 Tahun 1996... PENDAHULUAN 1.............................1 Latar Belakang PT Perkebunan Nusantara II (Persero).. Kondisi Jalan pada Areal TM ……………………………………… 32 7....... 1.......... Pasar Mati…………………………………………………………...... 33 8. disingkat PTPN II........ 34 9.. Tempat Pengumpulan Hasil……………………………………….... Keadaan Topografi Kebun Sawit Seberang………………………… 5 2.. . Gejala Serangan Oryctes………………………………………….... 42 I.. 25 3. 30 5......... 35 10.. tanggal 14 Februari 1996...... Perusahaan yang berstatus sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini merupakan penggabungan kebun-kebun di Wilayah Sumatera Utara dari eks PTP II dan PTP IX.DAFTAR GAMBAR No. Gejala Serangan Ganoderma………………………………………........

mahasiswa/i memilih PTPN II Kebun Sawit Seberang Kabupaten Langkat sebagai tempat PKL karena perusahaan tersebut memiliki pengalaman dalam pengembangan industri Kelapa Sawit sehingga diharapkan mahasiswa/i dalam menimba pengalaman dari kegiatan PKL tersebut.370 ha. PTPN II dikenal sebagai produsen kelapa sawit yang berkualitas dan memiliki sumber daya manusia yang sangat berkompeten dibidangnya. sedangkan tanaman tembakau ditanam pada areal seluas 2. Mahasiswa peserta PKL dapat melakukan proses belajar bersama dengan peserta. Selain penanaman komoditi pada areal sendiri ditambah inti. PTPN II Kebun Sawit Seberang pada awalnya dari perusahaan eks perkebunan Belanda yang bernaman “Verenigde Deli Mastgchappij” (VDM) yang dibuka dan ditanami kelapa sawit sejak tahun 1923.1 Sejarah Kebun Kebun Sawit Seberang adalah salah satu kebun milik PT Perkebunan II yang berlokasi di Kabupaten Langkat Kecamatan Padang Tualang Propinsi Sumatera Utara. II. karet.046 ha. kakao. Perkebunan Nasional. gula dan tembakau dengan areal konsesi seluas 103. Untuk itu. peserta dengan pejabat yang tekait di tempat PKL. Disamping itu PTPN II juga mengelola tanaman musiman yaitu tanaman tebu dan tembakau. ketinggian dari permukaan air laut ±55 m. Salah satu perkebunan yang memiliki peranan yang sangat penting dalam mengembangkan industri kelapa sawit di Indonesia adalah PTPN II. Kemudian sejak berada dibawah pengawasan PT. Dimana jarak dari kota Medan ±78 km. 4.860 hektar. Dari kegiatan PKL diharapkan mahasiswa/i dapat menambah pengetahuan dan pengalaman.1 Tujuan 1. PKS (Pabrik Kelapa Sawit). karet 11. PKS Sawit Seberang telah mengalami beberapa kali perbaikan dan penambahan kapasitas yakni dari 15 ton TBS . Setelah pendirian perkebunan kelapa sawit “Verenigde Deli Mastgchappij” (VDM) membangun Pabrik Pengolahan Kelapa Sawit (PKS) pada tahun 1927. Secara khusus mahasiswa peserta PKL dapat mempraktekkan pengalaman atau ketrampilan yang akan diperoleh setelah menjadi sarjana.265 ha dan kakao seluas 7. 1. Budidaya kelapa sawit diusahakan pada areal seluas 61.572 ha. TM (Tanaman Menghasilkan). karena di PTPN II Kebun Sawit Seberang Kabupaten Langkat ada pembibitan.250 ha untuk tanaman kelapa sawit. GAMBARAN UMUM LOKASI PKL 2.PTPN II mengusahakan komoditi kelapa sawit. peserta dengan staf tempat PKL. Mahasiswa PKL mampu menganalisa dan memecahkan permasalahan yang timbul pada tempat PKL. Alasan pesrta PKL mengadakan PKL di PTPN II Kebun Sawit Seberang Kabupaten Langkat.577 ha. serta memberi gambaran kepada mahasiswa mengenai dunia kerja yang akan dimasukinya setelah lulus sarjana. Tanaman tebu lahan kering ditanam pada areal seluas 16. TBM (Tanaman Belum Menghasilkan). Dari keterangan diatas perguruan tinggi segera mengambil langkah alternatif agar mempersiapkan mahasiswa/i untuk lebih meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam industri kelapa sawit. PTPN II juga mengelola areal plasma milik petani seluas 25.443 ha. Salah satu langkah yang dilakukan adalah dalam bentuk praktek kerja lapangan (PKL). 3. Secara umum mahasiswa peserta PKL dapat memperoleh pengalaman atau ketrampilan langsung dilapangan sesuai dengan realita yang ada. 2. tediri dari tebu sendiri (TS) 14.474 ha dan tebu rakyat (TR) 1.

2. III. pH tanah berkisar 5-7 (netral). Kecamatan Padang Tualang Dimana terdiri dari IX Afdeling yaitu afdeling I.1 Letak Geografis PTP.Nusantara II (Persero) Kebun Sawit Seberang terletak di Kabupaten.2. Curah Hujan Berdasarkan data iklim yang tersedia.2 Iklim a. Tahun 1963 : PPN Antari – II 4. IX. yaitu: 1. VII. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Sergei 2. Ketinggian Tempat Pada umumnya keadaan areal di lokasi PTPN II Kebun Sawit Seberang rata dan sebagian tempat bergelombang dengan ketinggian tempat 5-20 m dpl pada daerah datar 20 – 50 m dpl pada areal bergelombang. dan teksturnya liat berpasir. 2. Sebelah Utara berbatasan dengan Kebun Gunung Monako PTP.3 Topografi dan Jenis Tanah Keadaaan topografi di Kebun Sawit Seberang ada yang datar dan bergelombang atau curam. b. IV. VI. Tahun 1976 : PTP – II 7. Sebelah Barat berbatsan dengan Kabupaten Sergei 3. Kekuningkuningan. 2. Kabupaten Langkat 2. Tahun 1969 : PNP – II 6.2 Lingkungan Fisik 2. V. Perusahaan mendirikan pabrik fraksionasi yang berkapasitas 200 ton per hari yang mengelola crude palm oil (CPO) menjadi RBDPO (Refined Bleached dedorced Palm Oil) 95% dan Fatty Acid 4%.2. struktur tanahnya liat sampai liat berpasir yang memiliki kemampuan menyimpan air yang sangat rendah. data curah dan hari hujan Kebun Sawit Seberang selama tujuh tahun terakhir (tahun 2001-2007) disajikan pada lampiran. Kemudian mengingat perkembangan ekonomi dan tingginya biaya produksi karena tidak sesuai dengan kapasitas yang terpasang saat ini. II. . Tahun 1927 : ND VDM 2. VIII.III 2.diolah per jam menjadi 30 ton TBS per jam kapasitas terpasang. PTP Nusantara II Kebun Sawit Seberang menghasilkan CPO dan inti sawit yang diolah di Pabrik Kelapa sawit (PKS) dan untuk peningkatan produksi kelapa sawit pada tahun 1984. Sejak berdirinya perusahaan perkebunan Sawit seberang telah mengalami perubahan nama yaitu: 1. 11 Maret 1996). Batas-batas Kebun Sawit Seberang: 1. Dan untuk menanggulangi kekurangan unsur dapat dilakukan dengan pemupukan yang teratur.N. Tahun 1968 : PPN Antari – II / PNP – II (Penggabungan) 5. Sebelah Timur berbatasan dengan Kebun Sucflndo 4. Jenis tanah yang terdapat di kebun ini adalah jenis tanah Podsolid. Tahun 1962 : PPN Sumut – II 3. maka pada tahun 2000 pabrik fraksionasi tidak beroperasi lagi. Tahun 1996 : PTPN – II (Penggabungan PTP –II dengan PTP – IX.

Luas areal HGU yang masih dalam proses perpanjangan : 3.2.98 55.43 627.93 Ha d. Tahun Tanam per Hektar Uraian Tahun Tanam Luas (Ha) Jumlah TM Kelapa Sawit 1984 1985 1988 1989 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2003 2005 281.054.236.15 478.Ha Keterangan : Areal/Hutan Okupasi seluas 5. Luas arel HGU yang telah terbit sertifikat : 5.94 605.60 1.932.012.22 690. Luas areal HGU semula : 8.91 1.51 396.73 200.896.Gambar 1.224.SB/II.69 Ha yang tercantum dalam areal statement Kebun Sawit Seberang sampai dengan saat ini tidak diketahui keberadaannya dan telah dibuat surat permohonan petunjuk ke Kantor Direksi mengenai areal tersebut melalui Nomor : II. Keadaan Topografi kebun Sawit Seberang 2.Ha e.31 562.96 847.05 Ha c. dimana luas arealnya dapat di jabarkan sebagai berikut: a.23 153.11 Ha.50 389.0/71/VIII/2006 tanggal 10 Agustus 2006. Luas areal HGU dan HGU yang tidak diperpanjang yang diduduki dan yang digarap masyarakat diatasnya dalam bentuk tanaman.106. Luas areal HGU yang tidak diperpanjang : .98 Ha b.00 .27 17. bangunan serta termasuk yang dalam perkara hukum : .4 Luas Areal Luas areal Kebun Sawit Seberang pada tahun 2009 adalah 14.

727 520.120 19.98 Tabel 1.019 33.23 71.98 8.645 9.25 7.039 129 118 123 127 .877.22 TMTP 1983 202.835 156.00 TBM – IV 2005 91.236.17 TBM – I 2008 66. Luas Areal Kebun Sawit Seberang Per Tahun Tanam dan Luas Seluruhnya Jumlah Tegakan Pohon per Ha No Uraian Jumlah Pokok Pokok (Ha) 1 2 3 4 5 6 7 TMTP (>25 Tahun) TM (25 Tahun) Tua (19-24 Tahun) Dewasa (11-18 Tahun) Remaja (6-10 Tahun) Muda (2.338.17 Jumlah Seluruhnya 8.00 202.59 91.5-5 Tahun) TBM 26.236.17 91.466 265.

Dua orang Asisten Kepala (Asisten Kepala Rayon SWS dan Asisten Kepala Rayon BBN) yang bertugas mengecek dan mengkoordinir pekerjaan Asisten afdeling. kerangka kegiatankegiatan perusahaan yang menentukan pembagian pekerjaan pada unit-unit organisasi. Manager (a) Mempertanggungjawabkan penggunaan dana. adanya sistem komunikasi dan akhirnya mencakup sistem koordinasi dalam perusahaan. . Asisten Kepala (a) Mengusulkan peremajaan tanaman. terdiri dari : a.581 125 Tabel 2. untuk mencapai ide-ide baru mengenai sistem kerja 2. Bagan organisasi tersebut juga bertujuan untuk mengetahui job/pekerjaan dari tugas masing-masing dan pertanggungawaban. Pada pelaksanaannya sehari-hari Manager dibantu oleh beberapa staf. bagian tanaman dan teknik. Satu orang perwira pengamanan (Papam) yang bertugas mengatur sistem keamanan kebun. Untuk mengetahui struktur organisasi suatu perusahaan kiranya dapat digambarkan pada suatu bagan dari organisasi tersebut karena dari bagan organisasi tersebut akan kita peroleh gambaran dari aktivitas-aktivitas secara keseluruhan. Struktur organisasi perusahaan yang baik akan memberikan kemudahan bagi Manager dalam pengambilan keputusan dan mempermudah karyawan menjalankan tugas-tugas kepadanya. b. Sembilan orang asisten yang bertugas mengawasi bagian tanaman disetiap afdeling. Satu orang asisten Personalia Kebun yang bertugas sebagai pemberi data informasi dibidang ketenaga kerjaan. c. Uraian lebih lanjut tentang tugas-tugas dan tanggung jawab dari masing-masing pelaksana Kebun Sawit Seberang dijelaskan sebagai berikut: 1. Dalam menjalankan operasi di kebun ini dipimpin oleh seorang Manager. dan personil secara efektif dan efisien untuk mencapai hasil yang maksimal (b) Bertanggungjawab atas semua harta kekayaan perusahaan di kebun yang dipimpinnya (c) Menjalin kerja sama yang baik dengan instansi lain di sektor kebun (d) Mengatur stabilitas keamanan. Satu orang Asisten Tata Usaha yang mengepalai tugas dalam menjalankan operasi administrasi secara umum. Satu orang asisten teknik sipil/traksi dan alat berat yang bertugas dibidang transportasi hasil dan hal-hal yang berhubungan dengan teknik.3 Struktur Organisasi Kebun Struktur organisasi perusahaan adalah suatu kerangka perusahaan. politik dan keharmonisan sehingga tercapainya keserasian dalam mencapai tujuan perusahaan (e) Mengadakan rapat kerja dan diskusi mengenai problem-problema yang timbul dalan pengolahan sesuai dengan rencana perusahaan (f) Manager bekerjasama dengan inspektur. Jumlah Tegakan atau Populasi Tanaman Berdasarkan Umur 2. f. sosial. material.030. pembagian wewenang. d. e. Struktur atau bagan organisasi PT. Perkebunan Nusantara II Kebun Sawit Seberang dapat dilihat pada lampiran.124 128 121 Total 1.

(n) Membuat permintaan dan melaporkan pertanggung jawaban penggunaan uang kerja (DPUK). (e) Mengusulkan persetujuan mutasi TBM menjadi TM. (g) Melaksanakan pengambilan contoh daun untuk keperluan rekomendasi pemupukan. (q) Melaksanakan pembayaran pada pihak ketiga sesuai dengan kewenangannya. 3. (c) Melaksanakan pembangunan dan pemeliharaan pembibitan tanaman. (o) Mengendalikan persediaan barang dan perlengkapan lainnya. (c) Melaksanakan pembangunan dan pemeiiharaan pembibitan tanaman. (p) Mengendalikan persediaan barang dan perlengkapan lainnya. (o) Melaksanakan pengadaan kebutuhan barang dan jasa sesuai dengan kewenangannya dan mengajukan pengadaan kebutuhan barang dan jasa diluar kewenangannya. (h) Melaksanakan dan monitoring kegiatan panen. (r) Membuat laporan kinerja bulanan (LM ke Distrik Manajer. (g) Melaksanakan pengambilan contoh daun untuk keperluan rekomendasi pemupukan. lingkungan dan SMK-3 dimengerti. (k) Membangun dan memelihara sarana dan prasarana (infrastruktur). mengusulkan Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP)/Rencana Kerja Operasional (RKO) kebun. (t) Melaksanakan penerimaan karyawan pemanen dan penderes. (b) Mengusulkan pemesanan dan menerima kecambah kelapa sawit dan biji kelapa sawit. pupuk dan bahan kimia tanaman. (h) Melaksanakan dan monitoring kegiatan panen. Asisten Afdeling (a) Mengusulkan peremajaan tanaman. (q) Membuat laporan kinerja bulanan (LM) ke Manajer. angkut dan tap/kap kontrol. (j) Melaksanakan dan monitoring penyerahan/pengiriman produksi tanaman. tepat dosis. (p) Melaksanakan pembayaran pada pihak ketiga sesuai dengan kewenangannya. tepat cara. (f) Melaksanakan pemupukan dengan prinsip 5T ( tepat waktu. tepat cara. (1) Pemeriksaan mutu alat. (m) Membuat taksasi produksi. (m) Membuat taksasi produksi.(b) Mengusulkan pemesanan dan menerima kecamba kelapa sawit dan biji karet. angkut dan tap/kap kontrol. diterapkan dan dipelihara di unit usaha. (1) Pemeriksaan mutu alat. (i) Melaksanakan pengendalian mutu produksi. (r) Melaksanakan penerimaan karyawan pemanen dan penderes. (e) Mengusulkan persetujuan mutasi TBM menjadi TM. (d) Melaksanakan pembangunan dan pemeliharaan tanaman. tepat frekwensi dan tepat aplikasi/tabur ). (d) Melaksanakan pembangunan dan pemeiiharaan tanaman. tepat dosis. (u) Melaksanakan Sistem Penilaian Karya (SPK). . (i) Melaksanakan pengendalian mutu produksi. (f) Melaksanakan pemupukan dengan prinsip 5T (tepat waktu. (v) Menjamin bahwa kebijakan mutu. pupuk dan bahan kimia tanaman. (n) Membuat permintaan dan melaporkan pertanggung jawaban penggunaan uang kerja (DPUK). mengusulkan Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP)/Rencana Kerja Operasional (RKO) kebun. (j) Melaksanakan dan monitoring penyerahan/pengiriman produksi tanaman. (k) Membangun dan memelihara sarana dan prasarana (infrastruktur). (s) Melaksanakan pengendalian sistem komputerisasi yang terintegrasi (tanaman ) berbasis data base secara konsisten dan up to date. tepat frekwensi dan tepat aplikasi/tabur).

(i) Mengendalikan persediaan barang dan perlengkapan lainnya. (I) Membuat laporan kinerja bulanan (LM. (d) Membuat program dan melaksanakan pemeliharaan mesin/instalasi dan sipil/traksi. (d) Melaksanakan pembayaran pada pihak ketiga sesuai dengan kewenangannya. (n) Menjamin bahwa kebijakan mutu. (c) Membangun dan memelihara sarana dan prasarana (infrastruktur).(s) Melaksanakan Sistem Penilaian Karya (SPK). Kecuali Manajer yang bertanggung jawab terhadap kepada Direksi.4 Sistem Administrasi Administrasi berfungsi sebagai pencatatan (recording). lingkungan dan SMK-3 dimengerti. (g) Membuat permintaan dan melaporkan pertanggung jawaban penggunaan uang kerja. lingkungan dan SMK-3 dimengerti. (e) Melaksanakan tera ulang timbangan dan monitoring kalibrasi.4. (c) Melaksanakan kewajiban pembayaran pajak dan retribusi serta kewajiban lainnya. (h) Melaksanakan pengadaan kebutuhan barang dan jasa sesuai dengan kewenangannya dan mengajukan pengadaan kebutuhan barang dan jasa diluar kewenangannya. (h) Melaksanakan Sistem Penilaian Karya (SPK). mengusulkan Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RAKP)/ Rencana Kerja Operasional (RKO) kebun. maka semua pelaksanaan yang telah disebutkan diatas bertanggung jawab sepenuhnya kepada Manager. (m) Melaksanakan Sistem Penilaian Karya (SPK). (t) Menjamin bahwa kebijakan niutu. angkut dan tap/kap kontrol. karena keseluruhan proses manajemen harus didasarkan pada sesuatu yang tertulis. bazzeting) ke Distrik Manajer (f) Melaksanakan pengendalian sistem komputerisasi yang terintegrasi (personalia ) berbasis data base secara konsisten dan up to date. 5. (g) Melaksanakan penerimaan karyawan pemanen dan penderes. (e) Membuat laporan kinerja bulanan (LPMU.1 Sistem Administrasi Kebun . 4. Asisten Personalia Kebun (a) Membuat. (b) Melaksanakan dan monitoring penyerahan/pengiriman produksi tanaman. Tanpa administrasi. (f) Membuat Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP)/Rencana Kerja Operasional (RKO) kebun. (k) Melaksanakan penyerahan barang hasil lelang aktiva non produktif. diterapkan dan dipelihara di unit usaha. 2. (n) Mengusulkan bantuan pengamanan external (dari tingkat Kabupaten/ Provinsi). (j) Mengusulkan. diterapkan dan dipelihara di unit usaha. (k) Mengusulkan pengurusan perpanjangan HGU. diterapkan dan dipelihara di unit usaha. (1) Mengusulkan pengurusan penerbitan dan perpanj angan Hak Guna Bangunan (HGB) dan izin pendirian pabrik ( HO ). LTT) ke distrik manajer. fungsi manajemen tidak dapat bekerja secara maksimal. (rn) Melaksanakan pengiriman pasien ke rumah sakit perusahaan. Asisten Teknik Sipil/Traksi dan Alat Berat (a) Melaksanakan dan monitoring kegiatan panen. (i) Menjamin bahwa kebijakan mutu. (b) Membuat permintaan dan melaporkan pertanggung jawaban penggunaan uang kerja (DPUK). mengalokasikan dan menyalurkan dana KBL. lingkungan dan SMK-3 dimengerti. pelaporan (reporting) dan arsip. (j) Melaksanakan pembayaran pada pihak ketiga sesuai dengan kewenangannya. 2.

perolehan prestasi dan bahan yang digunakan.PB-27 merupakan karru produksi/blok/tahun tanam.PB-25 merupakan surat pengantar TBS yang diangkut dari TPH ke PKS.PB-24 merupakan Daftar harian pengumpul tandan. . . Basis Tugas adalah batas prestasi minimum (Kg/HK) yang dicapai pemanen. . jumlah ha/m/kg. serta formulir buku asisten untuk mencatat khusus mengenai presensi dan absensi karyawan sebagai dasar pembuatan Dasar Upah Karyawan. . . Terdapat jenis fasilitas administrasi baku berupa formulir-formulir atau blanko-blanko yaitu : a. hasil pekerjaan. dimana RKAP yang paling dasar dari Perusahaan Perkebunan adalah RKAP Afdeling.PB-26 merupakan daftar produksi harian TBS (Kg/hari). PB (Pengawasan Biaya) PB atau pengawas biaya adalah formulir administrasi yang berisikan data yang paling mendasar. RKAP suatu perkebunan merupakan kumpulan dari RKAP tiap unitnya. Selanjutnya data dari buku PB 73 dipindahkan ke dalam formulir ikhtisar laporan Pekerjaan Harian (PB 10) dan PB 73 juga sebagai dasar untuk untuk mengisi beberapa formulir administrasi bidang panen seperti formulir Daftar Harian pengumpulan TBS (PB 24). Misalnya. Tujuan dari RKO ini adalah untuk mendekatkan kondisi aktual sumber daya yang dimiliki perusahaan dalam mencapai tujuan. yaitu buku untuk tanggal genap dan buku untuk tanggal ganjil. Buku mandor terbagi dua. jenis pekerjaan. . RKAP disusun setengah tahun sebelum tahun tersebut berjalan. RKO (Rencana Kerja Operasional) RKO adalah rencana kerja triwulan. Premi merupakan upah yang diberikan kepada pemanen berprestasi dan dapat diberikan apabila pada hari tersebut prestasi yang diperoleh pemanen di atas Basis Tugas. RKAP untuk tahun 2010 disusun pada bulan juli 2009. Di dalam RKAP tersebut tertuang seluruh kegiatan yang akan dilaksanakan selama satu tahun beserta biaya yang diperlukan untuk merealisasikan tujuan yang telah ditentukan oleh perusahaan. dan no. Data yang diperoleh dari PB 24 dituangkan kedalam PB 26 dan diisi oleh krani timbang setelah PB 25 kembali dari PKS. . .LM-76 merupakan statistik produksi kelapa sawit. .PB 24 B merupakan catatan harian hasil panen yang dikerjakan oleh Krani Transport. yang dibuat sesuai dengan RKAP yang telah disusun dengan cara menyusun ulang rencana kerja tersebut per tiga bulan. RKAP (Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan) RKAP adalah rencana kerja tahunan. d. jika terdapat perbedaan dari jumlah hasil panen maka mandor dan krani transport akan mencari penyebab selisih.LM 80 adalah biaya angkutan. c. Hasil panen yang dicatat oleh mandor (PB 24 A) disesuaikan dengan catatan hasil panen Krani Transport (PB 24 B).PB 24 A merupakan catatan harian hasil panen yang dikerjakan oleh mandor.PB-10 merupakan ikhtisar laporan pekerjaan harian yang berisikan jumlah kehadiran. b.LM 78 adalah biaya panen dan pengumpulan. jenis pekerjaan.PB-73 yang merupakan buku mandor yang berisikan daftar absensi karyawan. kebun karyawan. .PB-11 merupakan daftar premi. PB 24 dibagi dalam dua bagian yaitu: . Pengawas biaya ini terdiri dari: . LM (Laporan Manajemen) Laporan menejemen merupakan formulir yang berisikan data-data sebagai berikut: .Di PTPN II Kebun Sawit Seberang fungsi manajemen difasilitasi oleh suatu sistem administrasi yang diberlakukan untuk seluruh unit-unitnya.

Prestasi Kerja = 4 HK/stand. Naungan Bibit yang masih muda memerlukan naungan yang baik untuk mencegah pembakaran sinar matahari mupun hujan yang terlalu deras. .5 cm. kasar.5 bulan – 3 bulan bibit sebaiknya sudah dipindahkan/ditanam ke large polybag yang disebut bibitan Main Nursery. Dekat dengan kantor kebun.07 mm.1.20 m yang dapat berisi baby polybag ±4. Prestasi kerja = 2 HK/Bed. Bahagian dasr dilubangi berkeliling dengan diameter 0. f.LM-89 merupakan laporan pemupukan. b. 4. Prestasi kerja = 700 St/HK. d.5 bulan pelindung dikurangi secara bertahap (1x2 minggu). agar bibit mendapat sinar matahari pada pagi hari. Dimana radikula (bakal akar) yang ditandai dengan bentuknya yang tumpul. Sebagai bahan pelindung digunakan daun kelapa sawit. maka areal 0.Menanam Kecambah (GS) Menanam kecambah dilakukan dengan tenaga KS wanita yang sudah terampil.5 Ha.30 cm. Sumber bibit kecambah (GS) dari PPM (Pusat Penelitian Marihat) Pematang Siantar. Dekat sumber air yaitu sungai Batang Serangan. Bedengan Ukuran bedengan panjang 30 m dan lebar 1. kecoklatan . Ditinjau dari segi persyaratanpersyaratan pembibitan.LM-82 merupakan biaya pemeliharaan. 3. III. Pada umur 2. dinding bedengan dibuat dari bambu.1. Jumlah baby polybag per kg 235 lembar. e. sampai umur 2 bulan semua pelindung disingkirkan.1 Pre Nursery (Pembibitan Awal) a. 2. Dimana didalamnya termasuk areal untuk Pre Nursery 0.. 3. 5. Pemeliharaan . Bibit yang telah berumur ±1. Pelindung disini dibuat dengan cara menutupi seluruh pembibitan (over head shade) kecuali dari arah timur. Sebelum diisi ke dalam kantongan plastic terlebih dahulu diayak dengan kawat ayakan 0. Media Tanah/Pengisian Tanah yang digunakan adalah topsoil (0-10 cm) yang diambil dari areal lain. Sumber tenaga kerja mudah didapat. KEGIATAN BUDIDAYA KELAPA SAWIT 3.5 Ha cukup baik karena antara lain : 1. dan tebal 0. Kantongan Plastik (Baby Polybag) Baby Polybag yang digunakan adalah baby polybag hitam dengan ukuran lebar 15 cm.26 Ha.60 m. Pembibitan Pembibitan Kelapa Sawit Kebun sawit Seberang mempunyai luas 16.500 st/bed. Areal sentrum terhadap afdeling-afdeling yang akan ditanam. c. dengan draenase baik.5x0. Areal rata. tinggi 22 cm. Jarak antara bedengan 0.

akar-akar dan bertekstur baik. 1.10.000 St/HK. Diangkat dengan memakai kotak-kotak yang telah disiapkan. Prestasi Kerja = 1000 st/Hk.3 % (3 gram/liter air) dan 0. dimana bibit telah mempunyai 3-4 helai daun adalah saat yang paling baik untuk dipindahkan ke lapangan (Main Nursery). . Prestasi Kerja = 1. Media Tamah/Pengisian Tanah yang digunakan untuk pengisian large polybag adalah tanah top soil (10-15 cm) yang diangkat dari areal lain.Menyiang dalam Baby Polybag Rumput-rumput yang tumbuh dalam kantong plastik disiang (dicabut) dengan manual dengan rotasi 14 hari.5 cm. Bibit yang terseleksi adalah sebagai berikut : • Anak daunnya sempit (Narrow Leaves) • Anak daunnya menggulung (Rolled Leaves) • Permukaan anak daun menguncup (Collante) • Pertumbuhannya memanjang (Erected) • Daunnya kisut (Crinkling) • Bibit yang kerdil (Insufficient Growth) • Bibit yang rusak akibat hama dan penyakit • Bibit yang pertumbuhannya berputar (Twisted) . sebelum tanah diisikan terlebih dahulu diayak dengan ayakan 1-1 cm.Pemberantasan Hama dan Penyakit Hama yang sering mengganggu bibit muda adalah semut. tanah tersebut bebas dari batu-batuan. .2 Main Nursery (Pembibitan Utama) a.25 cm. Prestasi Kerja = 20. Pemberantasan hama dilakukan dengan Matador 25 EC dan untuk penyakit fungi (jamur) dilakukan dengan penyemprotan Dithane M 45 dengan rotasi 14 hari. kesalahan kultur tehnis. Prestasi Kerja = 100. Setiap bibit membutuhkan 0.000 st/HK. Pada kantong plastik yang kurang tanahnya dilakukan penambahan tanah.Pemindahan Bibit Pada saat bibit berumur 3 bulan. Lubang dibuat dengan jari sedalam 2-3 cm di tengah kantong plastik dan kemudian ditutup dengan tanah 1-1.000 st/Hk. Sedang penyakitnya adalah Helminthosporium. belalang dll.Penyiraman Dilakukan 2 kali sehari pagi dan sore. Setiap 1 m2 tanah top soil dapat diisi large polybag sebanyak ±40 st.3 % compound 12:12:17:2 (3 gram/liter air) dengan rotasi 1 minggu • Penyemprotan pertama dilakukan apabila kecambah telah berumur 1 bulan setelah tanam • Prestasi per Hk = 5.15%). dan setiap tanggal penanaman dibuat label.1-0. untuk pemberantasannya denagan Dithane M45 (cons 0.000 st . . Prestasi Kerja = 7.Seleksi Bibit Karena sebab-sebab tertentu seperti genetis. Seleksi bibit dilakukan 2 kali yakni pada umur 2 bulan setelah tanam dan pada saat pemindahan ke Main Nursery. Bibit yang terkena seleksi bibit ditandai dengan pemberian pancang bamboo yang berukuran panjang 15 cm dengan diameter 0. penyiramannya harus hati-hati agar kecambah tidak sampai terbongkar dan harus memakai gembor.25 liter air setiap penyiraman.harus mengarah ke bawah.000 St/Hk. gangguan hama dan penyakit dll dilakukan seleksi bibit sesuai dengan : II1/Si/i/1985.1. Prestasi Kerja = 100. jangkrik. .500 St/HK.Pemupukan Pelaksanaan pemupukan dilakukan menurut : II1/Si/i/1989 sebagai berikut : • Diselang-seling antara larutan urea 0. Prestasi ayak = .

Penyiraman dilaksanakan 2 kali sehari (pagi 3 jam dan sore 3 jam) selama 3 bulan pertama. Tempat duduknya polybag selalu diratakan agar letak polybag tegak lurus dan kelihatan rapi.30 cm. e. berarti ± 1. . Prestassi Kerja = 10 Hk/Ha.000 Pk/HK. lebar lubang ± 0. Pemancangan Sebelum dimulai menyusun polybag terlebih dahulu dipancang dengan jarak 80x68 cm (segitiga sama sisi). Keuntungan yang didapat dengan menggunakan cangkang : • Dapat mengurangi penguapan air • Mencegah terbentuknya lapisan keras dipermukaan tanah • Mencegah semburan keras dari penyiraman dan hujan . sampai batas leher akar.Pemupukan Pelaksanaan pemupukan dilaksanakan sesuai : II1/Si/1/1989 sebagai berikut : Cara pemupukan tersebut adalah dengan menaburkan pupuk disekitar pokok pada polybag. dimana prestasi kerja 3.5 kg dengan prestasi kerja = 1.000 st/Hk. Draenase Pembuatan draenase selalu disesuaikan dengan keadaan areal.500 st/Ha. Prestasi Tanam = 2. Dan selanjutnya 1 kali sehari tetapi jumlah air per polybag perhari ±2-3 liter/hari. Dengan cara ini semua gulma yang tumbuh dipermukaan polybag harus dicabut. Apabila curah hujan ≥10 mm maka bibit tidak perlu disiram. Penyusunan polybag disesuaikan dengan jaringan jalan dan jaringan pipa air. rotasi14 hari. cangkang dll. ukuran tidak standard dan terlalu tipis tidak digunakan. Untuk mendapatkan bibit dengan kualitas pertumbuhan yang baik. • Penyiangan Dalam Polybag Dikerjakan secara manual dengan tenaga BHL wanita. Pemeliharaan . dimana volumenya telah disesuaikan dengan dosis pada : II1/Si/i/1989. .000 pk/Hk. Bagian atas polybag dibiarkan kosong setinggi 2-3 cm untuk yempat meletakkan pupuk.Mulch Setiap bibit kelapa sawit dalam polybag yang telah berumur ±1 bulan setelah tanam diisi 0. Tanah disekelilingnya dipadatkan dengan cara menekan.000 st/Hk. d. Perstasi Kerja = 2 HK/Ha/rotasi.100 st/HK. c. Prestasi menyiram = 4.Penanaman Sebelum bibit ditanam terlebih dahulu dibuat lubang tanaman pada tanah polybag sedalam ±20-25 cm. dan isi tanah = 100 st/HK. Prestasi memupuk = 3.Penyiangan Dibagi dalam 2 bagian yaitu: • Penyiangan Gawangan Dilaksanakan secara khemis dengan menggunakan bahan kimia Paracol dengan dosis 2 liter/Ha. Large Polybag (1 kg ±23 lembar) Large polybag yang digunakan berukuran 40x50 cm dengan tebal 0.Penyiraman Penyiraman di Main Nursery merupakan salah satu tindakan tehnis yang pelu mendapat perhatian. Kemudian bibit dimasukkan ke dalam lubang tanaman dengan terlebih dahulu membuang plastiknya. b. .20 mm pada bagian bawah dan tengah mempunyai lubang dengan jarak 5 cm. Takaraan yang digunakan di buat dari bambu.000 pk/Hk. untuk menghindari genangan air pada musim hujan maupun genangan pada penyiraman. rotasi 21 hari. . Dikerjakan dengan tenaga KS dengan perbandingan 1:2 (1 orang laki-laki dengan 2 orang penyemprot wanita). Apabila ada kerusakan kantong plastik misalnya tidak mempunyai lubang.

pemeliharaan penutup tanah. tenaga yang digunakan = 4 HK/Ha. Pembuatan pasar kontrol pada areal penutup tanah dapat dilaksanakan secara kimia dengan menggunakan glifosat 0. Perlakuan 4 tahap yakni pada umur : • 2 (Dua) bulan setelah tanam di Main Nursery • 4 (Empat) bulan setelah tanam di Main Nursery • 7 (Tujuh) bulan setelah tanam di Main Nursery • Saat pemindahan bibit ke lapangan (Displanting) Bentuk bibit abnormal yang harus diseleksi : • Bibit yang tumbuh meninggi dan kaku (erected) dengan sudut pelepah yang kecil (tajuk tegak) • Bibit yang permukaan tajuknya rata (dimana pelepah yang lebih muda lebih pendek) • Bibit yang tumbuh lemah terkulai (merunduk) • Bibit yang anak daunnya tidak membelah • Kerusakan akibat hama dan penyakit • Bibit yang anak daunnya mempunyai sudut yang tajam dan rachis • Bibit yang anak daunnya pendek • Bibit yang jarak antara anak daun panjang dan pendek .• Dapat mempertahankan kelembaban tanah • Mengurangi pertumbuhan gulma di polybag . Apabila dijumpai ada gejala serangan penyakit seperti akibat jamur (Cercospora sp. pengendalian hama dan penyakit.Biaya Persiapan Pembibitan (Terampil) • Pre Nursery • Main Nursery 1.000 bibit rotassi 14 hari.) disemprot dengan dithane M 45 dengan dosis 330 gram/200 liter air untuk 4. sehingga diharapkan pada tanaman menghasilkan (TM) berproduksi baik.Seleksi Bibit Seleksi bibit dilakukan bertahap karena kemunculan gejala abnormal sejalan umur bibit.000 bibit 1x 14 hari. Tanaman TBM 3. . Dibangun secara bertahap yakni setiap 8 baris tanaman dibuat 1 pasar kontrol. TBM (tanaman belum menghasilkan) adalah tanaman yang dipelihara sejak bulan penanaman pertama sampai dipanen pada umur 30-36 bulan. Prestasi Kerja = 4. persiapan sarana panen.2. pembuatan parit drainase.6% + 2. penyisipan. pembuatan pasar kontrol (pasar kontrol). Gambar 2.5% dengan rotasi 1 x 2 bulan.1 Pembuatan Pasar kontrol Pasar kontrol dibuat ditengah-tengah gawangan kelapa sawit. pemeliharaan jalan. tahap kedua setiap 4 baris tanaman.Pembrantasan Hama dan Penyakit Untuk mencegah terjadinya serangan hama pada bibit dilakukan penyemprotan dengan Matador 25 Ec dengan dosis 250 cc/200 liter air untuk 4. Lebar pasar kontrol 1 m dibuat sepanjang blok tanaman. konsolidasi.4 D Amine 0.000 St/HK. pemupukan. . Selama masa TBM diperlukan beberapa jenis pekerjaan yang secara teratur harus dilaksanakan. pemeliharaan piringan pohon. kastrasi dan tunas pasir.2 Tanaman Belum Mengahasilkan (TBM) Pemeliharaan pada tanaman ini sangat diperlukan atau harus dilaksanakan untuk menjaga agar pertumbuhan vegetative tetap dalam keadaan baik. yaitu penyiangan areal. dan menjelang panen setiap 2 baris tanaman.

2. Menegakkan kembali tanaman yang miring dan tumbang dengan memadatkan tanah di sekeliling tanaman yang masih gembur.0 HK/Ha/rotasi.TBM I = 2.3.2.2. Pemeliharaan jalan dapat dilakukan secara mekanis dengan menggunakan road grader Pemeliharaan dilakukan sekali dalam 3 bulan. sehingga tanaman sisipan terhambat pertumbuahannya. Setelah terbentuk batas piringan pohon yang dimaksud baru digaruk dari pinggir piringan ke arah dalam.4 Penyisipan Hasil sensus pohon setiap tahun pada areal TBM dapat menunjukkan jumlah pohon yang akan disisip. Jari-jari piringan pohon disesuaikan dengan umur tanaman kelapa sawit: . Penyiangan dapat dilakukan secara manual (menggaruk) atau cara kimia (penyemprotan). 3. Tanaman yang perlu disisip adalah pada areal TBM 1. 3.5 Konsolidasi Konsolidasi pada tanaman kelapa sawit adalah tindakan rehabilitasi terhadap tanaman yang baru ditanam. 3. pada penyisipan TBM 3 penyisipan dilakukan pada areal kosong yang cukup luas atau mengelompok. a. b. Oleh karena itu. 2 dan 3. Kegiatan konsolidasi meliputi : a. Jalan produksi dipersiapkan sejak TBM dan pengerasan dilakukan secara bertahap sehingga pada saat TM kondisi jalan tersebut telah sempurna. setelah selesai penanaman kelapa sawit di lapangan masih diperlukan tahap pekerjaan konsolidasi. 12 x setahun .2 Pemeliharaan Jalan Kegiatan pemeliharaan jalan meliputi memadatkan.2. Walaupun demikian karena penanaman biasanya dilaksanakan pada skala yang luas maka masih selalu terjadi penanaman yang tidak sesuai dengan kultur teknis. Menginventarisasi tanaman yang mati.TBM I = 100 cm . namun penyisipan individu tidak dilakukan lagi karena tanaman asli sudah cukup tinggi. Gambar 3. tumbang. abnormal. membabat rumput-rumput di kaki lima jalan dan pengerasan jalan pada lokasi yang perlu dengan standar 10 m/ha/tahun. Cara Manual Terlebih dahulu di ukur garis tengah piringan pohon sesuai dengan ketentuan. kemudian di ujung garis tengah piringan pohon tersebut dibuat batas melingkar keliling pohon. Pada areal TBM peliharaan parit dilakukan 1 kali dalam 6 bulan.2. terkena serangan hama dan penyakit.TBM II = 125 cm .5 HK/Ha/rotasi.6 Pemeliharaan Piringan Pohon Penyiangan dilakukan dengan menyingkirkan semua jenis tumbuhan dari permukaan tanah selebar piringan pohon yang telah dilakukan. Selanjutnya rumput-rumput disingkirkan dari piringan pohon. Penyisipan dilakukan pada tanaman yang mati atau tidak normal dan dilakukan pada musim hujan.TBM III = 150 cm Rotasi dan kapasitas pengendalian gulma piringan pohon adalah sebagai berikut: . Kondisi Jalan pada Areal TBM 3. membuka saluran air dari jalan. sehingga tanah bersih dari rumput. 8 x setahun . Persiapan dan penanaman kelapa sawit di perkebunan pada umumnya dilaksanakan dengan cukup baik.3 Pembuatan Parit Drainase Pemeliharaan parit drainase bertujuan mengangkat atau menggali tanah yang menutupi parit sehingga ukuran tetap seperti semula.TBM II = 3.

ditempatkan tidak bersentuhan dengan tanah. Kerusakan daun tanaman yang berlebihan dapat mengganggu pertumbuhan kelapa sawit. atau melalui spora yang disebarkan oleh angin. Pada daerah pengembangan karena kekuranagan tenaga kerja atau upah buruh yang mahal maka pengendallain gulma dengan cara kimia merupakan suatu alternatif yang efisien dan ekonomis. Hama dari golongan mamalia adalah lembu (Boss taurus). serta terjadi pembusukan pada jaringan pangkal batang dan akhirnya tanaman mati. dengan rotasi 6 x setahun (R. Buru Lalang Lalang merupakan gulma/tumbuhan pengganggu yang berbahaya terhadap tanaman perkebunan. Penularan penyakit dari pohon ke pohon melalui pertautan antara akar sehat dengan akar sakit. 8 x setahun b.5 m. Penyakit Penyakit yang disebabkan oleh jamur Ganoderma boninense Pat juga sering dijumpai di TBM. Cara Kimia Pemeliharaan piringan pohon secara kimia mulai dapat dilaksanakan pada areal TBM ke-III. kemudian baru digarpu dan tidak boleh langsung ke lalang. maka kemungkinan besar akan mengalami masalah penyakit Busuk Pangkal Batang (BPB). pertama –tama kiri dan kanan lalang dari lalang tersebut kira – kira dibabat kira – kira 0.2 cm/hari. Tenaga yang yangdigunakan 0. Banyaknya populasi lembu pada Kebun Sawit Seberang menimbulkan banyak masalah terutama serangan pada daun tanaman. harus dari luar atau rhizomenya dan batang terambil semua dari dalam tanah dan tidak boleh putus. 3. Penyiangan Manual . Mengingat hampir semua perkebunan kelapa sawit di Indonesia berada pada areal bekas hutan hujan tropika.3 HK/Ha . Pemakaian herbisida pada tanaman muda agar dilakukan dengan ekstra hati-hati sehingga tidak menimbulkan dampak negatif terhadap tanaman kelapa sawit. kemudian menggerek kearah titik tumbuh kelapa sawit.0 HK/Ha/rotasi.. Jamur ini merupakan penghuni tanah indigenous hutan hujan tropika dan hidup pada berbagai jenis palmae.2. sehingga kemungkinan untuk tumbuh kembali tidak ada. Hama Hama lainya adalah kumbang penggerek pucuk kelapa sawit (Oryctes rhinoceros) yang hinggap pada pelepah yang agak mudah. Akar dan batang tersebut dikumpulkan. Hama yang juga merusak titik tumbuh tanaman dan memakannya adalah tikus dan apabila serangan dengan intensitas tinggi harus dilakukan penanaman ulang.1 Pemeliharaan Jenis pemeliharaan yang dilaksanakan untuk menghasilkan antara lain: 1. Cara pelaksanaannya apabila dijumpai lalang. 3. Apabila gerekan sampai ketitik tumbuh.3 Tanaman Menghasilkan (TM) 3. Buru lalang dilakukan dengan teratur blok demi blok dengan rotasi 30 hari. Gambar 4. Gejala awalnya pada daun kelapa sawit mudah (TBM-TM III) mengalami klorosis.3. Panjang lubang penggerek dapat mencapai 4. Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan menggunakan MARFU-P. kemungkinan tanaman akan amti atau tumbuh tunas baru satu atau lebih.7 Pengendalian Hama dan Penyakit a.TBM III = 4. b. selanjutnya daun kelapa sawit muda layu atau mati.6) menggunakan bahan Glyphosate dengan dosis 300 cc/ha/rotasi.

5 m – 2. Apabila gerekan sampai ketitik tumbuh.3 Pemeliharaan Jalan Sarana jalan yang baik dan cukup sangat diperlukan terutama dalam pengangkutan pupuk. mimosa. Pupuk yang digunakan adalah pupuk tunggal yaitu: • Urea (ZA) 2 aplikasi • Rock Phosphate (RP) 1 aplikasi • MOP (abu janjang) 2 aplikasi • Kieserit (dolomit) 2 aplikasi Apabila curah hujan yang tinggi atau musim kering maka pemberian pupuk ditunda atau dihindarkan.3 L/30 Ltr air dalam 1 Ha.3. 3. tenaga yang dibutuhkan 0. pasar pikul.5 HK/Ha. Hama yang juga merusak titik tumbuh tanaman dan memakannya adalah tikus dan apabila serangan dengan intensitas tinggi harus dilakukan penanaman ulang. dimana perbangdingan tenaga kerja laki –laki dan perempuan 1: 2. Pasar Mati 2.2 cm/hari. kemungkinan tanaman akan amti atau tumbuh tunas baru satu atau lebih.Gambar 5. Alat yang digunakan adalah garpu.3 HK/Ha dengan rotasi pada semester I : 90 hari dan semester II : 60 hari. Gambar 6. supaya terhindar dari genangan air • Harus mendapat sinar matahari dan selalu kering • Tidak dibenarkan terjadi genangan air di permukaan jalan. Kondisi Jalan pada Areal TM 3. Herbisida yang digunakan adalah Gramoxone dengan dosis 0. Menyiang Secara Khemis Penyiangan dilakukan pada piringan.5 HK. buah dll. 3. Khusus bagi areal miring penaburan pupuk 3/3 bagian sebelah atas dan 1/3 bagian sebelah bawah. Bentuk jalan yang dikehendaki adalah: • Berbentuk batok mengkurap dan rata tidak berlobang – lobang • Benteng paret tidak perlu ada • Paret – paret jalan hanya diperlukan sebagai jalan besar (main road) dan transport road. Perbandingan tenaga kerja antara pelangsir dengan penyemprot adalah 1: 2. 3. pasar blok dan TPH.2 Pemupukan Untuk menjaga keseimbangan unsure hara dalam tanaman akibat diangkut oleh buah yang dipanen. maka pemupukan sangat dibutuhkan.5 m. untuk menjaga kebersihan kebun tersebut maka sirkuit rotasinya adalah 60 hari dengan kebutuhan tenaga per hektarnya adalah 0.4 Pengendalian Hama dan Penyakit a.3. pakis.3. kemudian menggerek kearah titik tumbuh kelapa sawit. Cara pemberiannya ditabur secara merata di piringan yang sudah bersih dan jarak dari pohon ± 0. . Cabutan Penyiangan dengan cara cabutan dilakukan di gawangan tanaman. pelepah daun yang dipotong dan tercuci oleh air hujan. Pemupukan pada tanaman menghasilkan harus melalui rekomendasi pemupukan. Hama Hama lainya adalah kumbang penggerek pucuk kelapa sawit (Oryctes rhinoceros) yang hinggap pada pelepah yang agak mudah. keladi dan kerisan. Panjang lubang penggerek dapat mencapai 4. Tenaga kerja yang dibutuhkan 0. Gulma yang dicabut adalah kayu – kayuan. dan dihindarkan adanya gumpalan – gumpalan pupuk sewaktu penaburan.

5 Panen dan Pengumpulan Panen pada tanaman kelapa sawit dimulai pada umur 2. dimana sebelumnya sudah dilaksanakan persiapan panen sebagai berikut: 1. Pemeriksaan blok – blok yang sudah matang panen terdiri dari: • Matang panen tandan : sebagian buahnya sudah membrondol. Tempat Pengumpulan Hasil 5. Gejala awalnya pada daun kelapa sawit mudah (TBM-TM III) mengalami klorosis. serta terjadi pembusukan pada jaringan pangkal batang dan akhirnya tanaman mati.5 Ha terdapat 1 TPH dengan ukuran 3 x 5 m dan berangsur – angsur diperpanjang sesuai dengan perkembangan produksi di areal tersebut sehingga satu saat maksimal 3 x 9 m. Prestasi kerja 1 HK : 2 buah. dimana dalam 2. Prestasi kerja adalah: 100 Pk/Ha 3. selanjutnya daun kelapa sawit muda layu atau mati. Jamur ini merupakan penghuni tanah indigenous hutan hujan tropika dan hidup pada berbagai jenis palmae. 2. 4. b. Banyaknya populasi lembu pada Kebun Sawit Seberang menimbulkan banyak masalah terutama serangan pada daun tanaman. TPH (Tempat Penerimaan Hasil) Tempat penerimaan hasil harus disiapkan sebelum panen dasar dimulai. Pasar pikul Pasar pikul sudah tersedia sebelum panen dasar dan bertujuan untuk jalan pemanen. • Pelepah yang dianggap tidak berfungsi lagi. . Gambar 10.Gejala Serangan Oryctes Hama dari golongan mamalia adalah lembu (Boss taurus). Tunas pasir Sebelum panen dilaksanakan. Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan menggunakan MARFU – P. • Disusun di gawangan yang tidak terkena pasar panen. atau melalui spora yang disebarkan oleh angin. Penularan penyakit dari pohon kepohon melalui pertautan antara akar sehat dengan akar sakit. Kerusakan daun tanaman yang berlebihan dapat mengganggu pertumbuhan kelapa sawit. Buang buah pasir atau busuk • Buah pasir yang dibuang adalah buah yang berada di atas pelepah pasir sampai dua lingkaran bunga pertama dengan dodos kecil • Buah pasir yang beratnya > 5 kg dapat dikirim ke pabrik dan < 3 kg dibuang • Tenaga yang dibutuhkan dalam 1 Ha adalah 2 HK.Gambar 7. Alat yang digunakan adalah arit tunas atau dodos kecil (6 – 8 cm). • Matang panen pohon : paling sedikit dua tandan telah membusuk dan satu tandan matang. Gambar 9.5 – 3 tahun yang disebut TM I. • Pemotongan dilakukan serapat mungkin dengan batang. • Matang panen tanaman: telah terdapat 60 % dari tanaman telah matang panen. Penyakit Penyakit yang disebabkan oleh jamur Ganoderma boninense Pat juga sering dijumpai di TBM. maka kemungkinan besar akan mengalami masalah penyakit BPB. harus lebih dahulu pelepah – pelepah pasir ditunas ± 3 bulan sebelum panen dasar. Mengingat hampir semua perkebunan kelapa sawit di Indonesia berada pada areal bekas hutan hujan tropika. Syarat – syarat tunas pasir: • Pelepah yang ditunas adalah pelepah paling bawah dan rapat ke tanah.3. Gejala Serangan Ganoderma 3. atau pelepah yang berada dibawah dua lingkaran tandan.

7.50 – 25 % brondolan buah luar Kurang matang 2 25 – 50 % brondolan buah luar Matang 3 50 – 75 % brondolan buah luar Matang 4 75 – 100 % brondolan buah luar Lewat matang 5 Bagian dalam ikut membrondol Lewat matang Tabel 3. Hal ini dapa dicirikan oleh adanya buah yang membrondol. dilakukan 2x dalam setahun. • Pelepah dipotong serapat mingkin kebatang dengan bentuk tapak kuda keluar dan rencek menjadi 3 bagian. Prestasi tunas an nuntuk tanaman yang berumur 3-8 tahun : 100 Pk/Hk dan tanaman yang berumur ≥ 9 tahun : 70 Pk/HK. tandan yang dapat dipanen harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : Fraksi Jumlah Brondolan yang Lepas Kematangan 0 1-12. ada factor lain yang harus diperhatikan. cukup dengan pembersihan pohon saja. Alat panen Panen dasar sampai tanaman berumur ± 3 tahun. • Brondolan dikutip bersih dari piringan.Sehingga prestasi panen yang diharapkan akan tercapai. 2 pasang dalam setahun dan plengki kecil untuk tempat brondolan. • Pelepah yang tertinggal dipokok setelah ditunas adalah 48 pelepah (6 spiral) dengan songgo 1. • Bunga jantan yang sudah kering atau membusuk. • Susunan pelepah digawangan antara pasar pikul dimana dimana pangkal pelepah yang berduri diletakkan tertelungkup sebelah bawah. Selain kepada tanaman kelapa sawit itu sendiri juga kepada pemanen dan pekerja yang berhubungan dengan panen. Ini semua dilanjutkan dengan pemeliharaan sebagai contoh: • Pemeliharaan TPH. • Pangkal pelepah yang tinggal dipohon harus tapak kuda terbalik. tidak perlu dilakukan penunasan. • Tunas pemeliharaan.pakisan. Titi panen Titi panen juga merupakan penunjang yang sama tujuannya dengan pasar pikul dalam mempermudah dan meningkatkan prestasi pemanen. gawangan pasar pikul dan pada ketiak daun dan dimasukkan dalam goni setelah sampah-sampah yang ikut serta dengan brondolan dibuang. Pasar Pikul 6. keranjang buah. Dan pada tanaman yang bmur ≥ 9 tahun.5.50 % brondolan buah luar Mentah 1 12. alat yang digunakan adalah dodos. Disamping persyaratan diatas dalam mencapai keberhasilan panen yang baik. • Bila kurang dari pelepah. 3.1 Pengertian Panen Panen adalah mendatangi pokok ke pokok untuk memotong dan mengambil buah segar menurut criteria matang panen. • Ganggang panjang yang dipanen tidak boleh lebih dari 2 cm. jumlah pelepah yang tinggal minimum 40 pelepah dengan rotasi 1. kayu-kayuan. disamping faKtor lainnya. pakis . 3. Gambar 11. Faktor – faktor ini akan menunjang keberhasilan dalam panen baik kuantitas maupun kulitas.5x dalam setahun. • 6 m/Ha untuk daerah berbukit. Prinsip yang selalu menjadi dasar dalam penentuan system panen adalah bertujuan untuk mencapai rendfemen yang maksimal dan ALB yang rendah. • Tandan yang sudah masak (matang) tidak boleh tinggal dipohon. 8. lalu ditutup dengan bagian pelepah lainnya.3.2 Kriteria matang panen Kriteria matang panen yang baik adalah pada saat kandungan minyak maksimum dalam daging buah dan kadar ALB serendah mungkin. rumput-rumputan. Teknis Tunasan. dan kelapa sawit yang tumbuh dipokok sepanjang masih dapat dijangkau oleh alat harus dibuang. Dalam hal ini perlu diadakan peraturan atau syarat-syarat yang harus dituruti. • Pelepah dipotong 3 dan disusun digawangan. Persyaratan Panen • Tandan yang baik dipanen adalah fraksi 2 dan 3.3.5. Titi terbuat dari beton atau batang kelapa yang diatur penempatannya sehingga rata – rata: • 12 m/Ha untuk daerah rendahan. Fraksi Matang Panen pada Tanaman Kelapa Sawit Kriteria Matang Panen dan Standard Antar Fraksi Berat Tandzan Fraksi Mentah Matang Normal Lewat Matang Buah Brondolan 0 00 I II III IV V ≤5 Kg >5 Kg Tidak membrondol/warna hitam . • Pemeliharaan pasar pikul. Tunas Pemeliharaan Tunas pemeliharaan pada tanaman yang berumur 3-8 tahun jumlah pelepah minimum yang tinggal 48 pelepah.

5% 0.5% s/d 24% buah luar membrondol 12. Kriteria Matang Panen dan Standard Antar Fraksi 3.5% 0% 4%-8% Tabel 4. .5.3.5% buah luar membrondol 10 brondolan s/d 12.51% s/d 24% buah luar membrondol 25-49% Buah luar membrondol 25%-49% buah luar membrondol 50%-75% buah Buah luar membrondol 50%-75% buah luar membrondol 76-100% Buah luar membrondol 76%-100% buah luar membrondol Gagang membusuk dan buah luar membrondol gagang membusuk dan buah dalam membrondol Standard 0% 40% 40% 14% 5.3 Pembagian Kapveld Menurut Rotasi Panen Kapveld atau ancak panen adalah pembagian areal atas ancak panen harian yang disesuaikan dengan rotasi panen.5% buah luar membrondol 12.Tidak membrondol/warna hitam 1-4 Brondolan 1-9 brondolan 5 Brondolan s/d 12.

Pada ancak giring pemanen secara bersama-sama memanen 1 blok. Hanca panen ditetapkan berdasarkan kapveld yang sudah dipedomani dan ditetapkan kepada masing-masing mandoran panen dan mandor bertanggung jawab menyelesaikan hanca yang sudah dibagi/ditetapkan. 3.5. • Dibenarkan dengan sistem 6/7 yaitu sampai dengan hari minggu dan libur. Ada 50 baris yang dipanen oleh 5 orang. kemudian pindah ke baris yang belum dipanen dan seterusnya sampai selesai satu blok dan pindah ke blok lain. • Tetapkan baris sampel dalam setiap blok sampel (bersifat permanen) • Seluruh pohon dalam baris sampel diperiksa dan dihitung jumlah tandan buahnya lalu dicatat.3.3. Untuk kebun yang TM Kelapa Sawitnya relatip kecil.5. Sebagai contoh Blok A = 16 Ha. setelah selesai pindah ke blok lainnya.4 Ancak panen Ancak panen adalah luasan yang menjadi tanggung jawab pemanen. bagi kebun-kebun yang luas TM nya. 3.5 Sistem Panen Sistem panen dilakukan dengan hanca giring tetap dan hanca giring tidak tetap. 3. lalu seluruh sampel dibagikan dengan jumlah tandan yang telah dihitung. pemanen dan areal panen adalah tetap. Untuk menghindari pengangkutan yang berulang-ulang pada jalan yang sama (hal ini dapat menekan biaya angkutan. Untuk kebun yang tidak mempunyai pabrik (PKS) rencana panen agar disesuaikan dengan rencana olah PKS oleh tempat mengolah.6 Perhitumgan Angka Kerapatan Panen (AKP) Angka Kerapatan Panen (AKP) adalah suatu satuan yang mengindikasikan rata-rata tandan matang panen/pohon dan penyebaran tandan matang panen. Areal panen biasanya berbukit sampai berlereng curam atau letaknya terpencil.3. Maka akan diperoleh AKP. dan seterusnya. mencegah kerusakan jalan serta meningkatkan frekuensi angkutan produksi perkendaraan). jumlah hari panen dalasm seminggu dapat diperpendek dari 4 menjadi 4 hari dengan catatan internal antara rotasi harus dipertahankan 7 hari. Satu orang pemanen memanen tiap dua baris (1 gawangan).5. . Orang I memanen baris 1 sampai 10. • Ditetapkan dengan system 5/7 atau jika kerapatan buah 10-12 dengan sistem 8/10. Ancak panen terdiri dari dua yaitu ancak tetap dan giring. Tata cara perhitungan AKP : • tetapkan blok sampel untuk setiap kapveld • satu blok sampel untuk setiap tahun tanam dalam satu kapveld maksimum 50 Ha • Pohon yang diamati 3-5 % dari jumlah pohon dalam satu blok sampel. hal ini pada panen rendah hingga sedang (semester I dan bulan-bulan tertentu semester II). • Lalu jumlah seluruh tanaman dibagikan dengan jumlah AKP. Pada sistem ancak tetap. Kegunaan angka kerapatan panen adalah : • memperkirakan jumlah tandan matang-panen serta tunasnya • memperkirakan kebutuhan tenaga pemanen • memperhitungkan luas ancak untuk setiap pemanen • memperkirakan kebutuhan kendaraan. orang II memanen baris 11-20. • Dibagi 4 kapveld. maka sebaiknya letak kapveld disusun memanjang sedemikian rupa mengikuti jarak jalan transportasi.Pembagian kapveld yang umum dipakai pada pembagian areal TM Kelapa Sawit per afdeling sebagai berikut : • Dibagi 5 atau 8 kapveld. • Dibagi 6 kapveld terjadi pada panen puncak (semester II). Hasilnya lalu dikalikan dengan jumlah rata-rata tandan. • Seluruh tandan buah dijumlahkan.

.Tandan dan brondolan bebas dari pasir. paling lambat 12 jam dari saat panen.Pada pagi hari. . Gambar 12.Nomor pemanen dan tanggal panen ditulis pada tangkai tandan . . 00) tidak dibenarkan diangkat ke truk.Alat angkut pada umumnya adalah truk.8 Pelaksanaan Panen 1) Ancak .7 Peralatan Panen Alat panen yang digunakan sesuai umur tanaman sebagai berikut: Umur (Th) TM Tinggi Batang (M) Alat Panen 3-4 1-2 <0. Tiap mandor panen mengawasi 10-15 orang pemanen.Tandan disusun 5 buah per baris di TPH. Peralatan Panen Sesuai Umur Tanaman 3. . .• Rekapitulasi kemudian dituangkan kedalam formulir rencana panen dan pengangkutan untuk dikirim ke kantor kebun.Brondolan dikutip dan dikumpul dengan tandan dibawa ke TPH.Pelepah yang menyangga (songgo) buah matang dipotong mepet.5 Dodos besar (14 cm) >8 >5 >2. sampah. . yang nantinya akan membawa buah hingga sampai dipabrik . .Berjalan di jalan pikul mencari buah matang sesuai kriteria matang panen.Pelepah disusun dan ditumpuk di tengah gawangan mati.Buah diangkat ke TPH setelah selesai di potong.9-2.Tangkai tandan di potong mepet atau berbentuk huruf V (cengkem/mulut kodok).Gagang tandan menghadap ke atas. . tangkai tandan dan kotoran lainnya.Tandan matang dipotong tangkainya. . setiap pemanen membawa 2 bans tanaman (1 gawangan). .5.3. mandor membagi ancak pemanen yang dimulai dari jalan blok. 2) Di TPH .Krani transport menyortir TBS di TPH.9 Dodos kecil (8 cm) 5-7 3-5 0. .Brondolan ditumpuk di beiakang barisan tandan atau digonikan. . .Seluruh tandan yang diangkut dicatat jumlah tandannya per pemanen. .Setelah ancak (2 barisan) pertama selesai pindah gawangan di sebelah pemanen ancak terakhir.5. tidak boleh bercampur dengan tandan. buah sangat mentah (F.3.Semua brondolan diangkut ke truk. . .Buah segera diangkut ke PKS.5 Egrek Sumber : Instruksi Kerja (IK) PTPN II Tabel 8.Brondolan yang ada di ketiak pelepah diambil/dikorek. 3) Pengangkutan hasil . .Pemanen diawasi oleh seorang mandor. Perhitungan AKP 3.

Adapun kegiatan-kegiatan yang dilakukan lebih kurang 15 hari. 1 Juli 2010 Aktivitas PKL dilakukan di kebun afdeling IX mempelajari tentang kriteria panen pada tanaman menghasilkan. pada tanaman belum menghasilkan. Hari ke-9 Selasa. Hari ke-2 Selasa. Hari Ke-3 Rabu. Di mulai dengan mempelajari pembibitan dimulai dari GS sampai main Nursery di PTPN II Kebun Sawit Seberang.Hari ke-10 Rabu. 2 Juli 2010 Aktivitas PKL dilakukan di kebun afdeling IX mempelajari tentang penentuan . umur panen pada tanaman menghasilkan. Hari ke-5 jumat. Di mulai dengan mempelajari tanaman penutup tanah pada tanaman kelapa sawit. Hari Ke-4 Kamis. . Adapun kegiatan-kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut : Hari ke – 1 Senin. Hari ke-8 Senin. Hari ke-12 Jumat. PROGRAM MAGANG BERSAMA PEJABAT / STAF / KARYAWAN Praktek Kerja Lapangan (PKL) dilaksanakan di PTPN II Kebun Sawit Seberang yang berlangsung lebih kurang 30 hari. Di mulai dengan perkenalan dengan karyawan maupun karyawan pimpinan di kebun tersebut serta pengumpulan informasi tentang profil PTPN II Kebun Sawit Seberang. serta penempatan tempat tinggal (penginapan).IV. piringan pada tanaman belum menghasilkan. 28 Juni 2010 Aktivitas PKL dilakukan di kebun afdeling V mempelajari tentang penyiangan secara manual pada tanaman belum menghasilkan. 29 Juni 2010 Aktivitas PKL dilakukan di kebun afdeling V mempelajari tentang pemberantasan hama Oryctes sp. yaitu dari tanggal 21 Juni sampai 21 Juli. 21 Juni 2010 Registrasi di tempat PKL dan penyampaian program PKL pada karyawan pimpinan di tempat PKL. 30 Juni 2010 Aktivitas PKL dilakukan di kebun afdeling V mempelajari tentang kastrasi pada tanaman belum menghasilkan Aktivitas PKL dilakukan di kebun afdeling IX mempelajari tentang pasar mati. 26 Juni 2010 Istirahat. 22 Juni 2010 Aktivitas PKL dilakukan di Kantor Pembibitan kebun Sawit Seberang. 24 Juni 2010 Aktivitas PKL dilakukan di Kantor Pembibitan kebun Sawit Seberang. gawangan. Hari ke-7 Senin. 27Juni 2010 Istirahat. Hari ke-6 Sabtu. 25 Juni 2010 Aktivitas PKL dilakukan di kebun afdeling V mempelajari tentang pembuatan pasar pikul. 23 Juni 2010 Aktivitas PKL dilakukan di Kantor Pembibitan kebun Sawit Seberang. Hari ke-11 Kamis.

Hari ke-16 Selasa. Hari ke-25 Kamis. 3 Juli 2010 Istirahat. Hari ke – 30 Senin. Hari ke – 28 Minggu. Hari ke-23 Selasa.phylotaksis pada tanaman menghasilkan. 9 Juli 2010 Aktivitas PKL dilakukan di Kantor kebun afdeling III mempelajari tentang telling pada tanaman menghasilkan. 4 Juli 2010 Istirahat. 12 Juli 2010 Istirahat. Hari ke-18 Kamis. 20 Juli 2010 Hari ke – 31 Selasa. Hari ke-13 Sabtu. 18 Juli 2010 Istirahat. Hari ke-22 Senin. 17 Juli 2010 Istirahat. Hari ke-14 Minggu. Hari ke . Hari ke-15 Senin. 14 Juli 2010 Aktivitas PKL mempelajari sistem administrasi kebun. Hari ke-21 Minggu. 13 Juli 2010 Istirahat. Hari ke-20 Sabtut. Hari ke-19 Jumat. 8 Juli 2010 Aktivitas PKL dilakukan di kebun afdeling II mempelajari tentang telling pada tanaman menghasilkan. Hari ke-26 Jumat. Hari ke-17 Rabu . 19 Juli 2010 Kunjungan. 5 Juli 2010 Aktivitas PKL dilakukan di kebun afdeling IX mempelajari tentang penentuan analisa daun pada tanaman menghasilkan. 16 Juli 2010 Membuat laporan PKL. 6 Juli 2010 Aktivitas PKL dilakukan di kebun afdeling IX mempelajari tentang alat alat untuk pemanenan seperti dodos dan egrek pada tanaman menghasilkan. 15 Juli 2010 Membuat laporan PKL. 21 Juli 2010 . Hari ke-24 Rabu. 7 Juli 2010 Aktivitas PKL dilakukan di kebun afdeling I mempelajari tentang telling pada tanaman menghasilkan. 11 Juli 2010 Aktivitas PKL mempelajari sistem administrasi kebun. 10 Juli 2010 Aktivitas PKL mempelajari sistem administrasi kebun.27 Sabtu. Hari ke – 29 Senin.

Pemeliharaan pasar pikul dilakukan dengan rotasi sekali dalam 3 bulan. Afdeling I. 5. 4. Saran Diharapkan kepada seluruh karyawan yang bekerja di kebun agar memanen buah yang sesuai dengan kriteria matang panen. Matang panen dapat dilihat setelah 2-3 brondol lepas dari tandannya.TOPIK PERMASALAHAN DI LOKASI PKL Selama berlangsungnya kegiatan PKL di PT. II dan III pada Kebun Sawit Seberang dikhususkan untuk tanaman kelapa sawit. Kerusakan daun tanaman yang berlebihan dapat mengganggu pertumbuhan kelapa sawit. Keterlambatan dalam pengangkutan dan hasil panen sehingga juga dapat menghambat dalam pengolahan TBS sehingga dapat mengurangi rendemen dan kualitas CPO dari kelapa sawit tersebut juga menurun. Sistem panen dilakukan dengan meninggalkan minimal dua pelepah daun dibawah dari buah yang hendak dipanen (songgoh dua). yaitu dengan menggunakan bahan aktif Paraquat. 3. para peserta PKL mengamati ada beberapa masalah yang terjadi pada unit Kebun Sawit Seberang. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. juga sering dijumpai di TBM sehingga menyerang tanaman yang berada di sekitarnya. Pengendalian gulma dilakukan secara manual. yang dilaksanakan secara manual dan khemis. Hama dari golongan mamalia adalah lembu (Boss taurus). . yaitu dengan cara dongkel mata merah dan secara khemis. Banyaknya populasi lembu pada Kebun Sawit Seberang menimbulkan banyak masalah terutama serangan pada daun tanaman kelapa sawit khususnya pada tanaman belum menghasilkan. 2. Rotasi panen yang digunakan adalah 5/7 dan 6/7. sebagian daerah tempat penanaman kelapa sawit adalah berbukit atau bergelombang sehingga sulit dalam hal pemupukan dan pemanenan. Perkebunan Nusantara II Kebun Sawit Seberang. Keterlambatan dalam pengendalian penyakit yang disebabkan oleh jamur Ganoderma boninense Pat.

. Kelapa Sawit Edisi Revisi. I. S. Prawirosukarto. Elisabeth. Y. Dari percobaan diperoleh bahwa gulma yang banyak tumbuh adalah pada kedalaman 15 cm yaitu jenis gulma Amaranthus sp. Suprianto. K3 5 cm. P.D. 2001. H. Percobaan tersebut menggunakan 2 faktor perlakuan yaitu faktor 1 adalah jenis gulma S1 Amaranthuss sp. Y. http://www. K2 1 cm. E. pada tanggal 19 November 2009.S.wikipedia. Purba.DAFTAR PUSTAKA Anonim. PPKS.H. Medan. Purba. Fauzi. Purba. Rahutomo. R. Budiana dan Kusmahadi. S.. Harahap. T.. Dja’far.Satyawibawa.Y. Sedangkan faktor kedua adalah K. H. PTP N IV (Persero) Bah Jambi. ABSTRAK Percobaan ini dilakukan di lahan percobaan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Kelapa Sawit. Soehardjo. Koedadiri. A. I. Sawit Seberang. R. Sianturi.org. L. Sumatera Utara Medan.. E. Penebar Swadaya. Teknologi Budidaya dan Pengolahan Kelapa Sawit. 2004.Y. Darmosarkoro. PTP N II Kebun Sawit Seberang. Utomo. Diakses tanggal 20 Maret 2010. Medan. PENGARUH KEDALAMAN TANAH TERHADAP PERTUMBUHAN GULMA Junita Sinambela/070301054 Mahasiswi Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Sutarta. J. Harahap. Medan. Widyastuti. Siantar. 2005. Sejarah Singkat Kebun Sawit Seberang. K4 15 cm. FP-USU. P. Winarna dan Y. Sugiyono. R. E. S2 Asystasia intrusa. Lubis. Siahaan. Yenni. A.. Sutanto.Jakarta. Ishak. (3 pages). dengan ketinggian tempat ± 25 m dpl. 2002. A.D. D.. A. Medan.Hartono. Fadli. Haryati. H.E. C. S.R.S.H. Budidaya Kelapa Sawit. Purba. W. Vademecum Kelapa Sawit. Purba. A.. Darnoko. Percobaan ini bertujuan untuk mencatat kemampuan sejumlah gulma untuk muncul dari kedalaman yang berbeda-beda. K1 0 cm.

permukaan epikotil (bagian batang yang terletak di atas kotiledon). d) jumlah. bentuk. benih Asystasia intrusa dan Amaranthus sp. ukuran. Umumnya gulma mempunyai kemampuan bersaing yang cukup baik pada semua mcam tipe tanah. Kondisi cadangan biji juga tergantung pada dormansi dan lama biji tersebut tahan terdapat dalam tanah (Sukman dan Yakup. Misalnya pada Convolvulaceae. warna. dkk. f) adanya daun penumpu atau okrea seperti pada gulma dewasa (Tjitrosoedirdjo. Ipomea turbinata: 33%. BAHAN DAN METODE Percobaan ini menggunakan polibag sebagai media tanam. pada leguminosa kotiledon biasanya tebal karena banyak mengandung cadangan makanan. Abutilin theophrasti: 30%. Setelah pembenaman sekitar 5 tahun. Kedalaman pembenaman tidak selalu berpengaruh pada lamanya hidup biji. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil . tekstur dan pertulangan kotiledon. ujung kotiledon selalu terbelah. pH tanah. Dalam biji terimbibisi ini daya perkecambahan biji masih tetap tinggi (Tjitrosoedirdjo. topsoil sebagai media tanam. 1984). Hal ini umum dijumpai pada gulma dari golongan teki. Untuk mengidentifikasi semai. kedalaman tanah. b) ukuran. dkk. bij-biji gulma yang masih viabel seperti Sorghum halepense: 48%. Anoda cristata: 30%. Bentuk kotiledon ini sangat bervariasi. warna. warna. unsur-unsur makanan dalam tanah dan lain-lain. sebagai objek pengamatan. tekstur dan pertulangan daun pertama kadang-kadang dapat tidak sama dengan daun pada gulma yang telah dewasa.. Dalam percobaan ini polibag diisi ¾ topsoil dan benih tersebut diletakkan diatasnya sesuai dengan perlakuan dan diberi label untuk menandai perlakuan serta ulangannya. Bila dormansi diperpanjang waktunya akan mengalami imbibisi sehingga jaringan embrio menjadi rusak.. Diamati gulma apa saja yang tumbuh setiap hari sampai pengamatan terakhir dan dicatat datanya. 1995). warna. ukuran. Faktor tanah yang turut menentukan distribusi gulma antara lain : kelembaban tanah. 1993). e) biji yang tetap melekat pada semai. label untuk menandai polibag. tanda-tanda karakteristik yang dapat dipakai misalnya: a) ukuran. c) jumlah. 1984). aerasi.Kunci : perkecambahan. Sesbania exaltata: 18% dan Ipomea lacunosa: 13% (Moenandir. permukaan hipokotil (bagian batang yang terletak di bawah kotiledon). gulma PENDAHULUAN Biji-biji gulma mengalami dormansi sekunder mampu berkecambah setelah dibawa kepermukaan tanah. bentuk. sehingga kadang-kadang disiri sebagai tanda kearah suku.

. 5 8 7 1 2 3 . PT. Dan Asystasia intrussa Nama Gulma Perlakuan S1K0 S1K1 S1K2 S1K3 S1K4 123123123123123 Amaranthus sp.6 5 5 10 14 16 25 13 3 16 40 Nama Gulma Perlakuan S2K0 S2K1 S2K2 S2K3 S2K4 123123123123123 Asystasia intrussa. Raja Grafindo Persada. Grafik Pertumbuhan Kecambah Gulma Amaranthus sp.3 . 10 5 10 6 3 4 . atau karena faktor lingkungan. J. Hal ini sesuai dengan literatur dari Tjitrosoedirjdo. Jakarta. Benih gulma Asystasia intrusa paling banyak tumbuh pada kedalaman 0 cm sebesar 20. DAFTAR PUSTAKA Moenandir. 2. Dan Asystasia intrussa KESIMPULAN 1. 1993. lebih dominan pada setiap kedalaman tanah dari pada Asystasia intrusa. Hal ini mungkin disebabkan karena beberapa faktor yaitu dari benih tersebut yang sudah ketuaan. Hal ini dikarenakan benih Amaranthus sp. . Hal ini sesuai dengan literatur Sukman dan Yakup (1991) yang menyatakan bahwa kondisi cadangan biji juga tergantung pada dormansi dan lama biji tersebut tahan terdapat dalam tanah. ada gulma yang tidak dapat tumbuh pada suatu kedalaman.Data Pertumbuhan Kecambah Gulma Amaranthus sp.. (1984) yang menyatakan bahwa biji-biji gulma mengalami dormansi sekunder mampu berkecambah setelah dibawa kepermukaan tanah. Benih gulma yang paling banyak tumbuh adalah Amaranthus sp pada kedalaman 15 cm yaitu 40. dkk.4 Pembahasan Dari hasil percobaan dapat dilihat pada data. Ilmu Gulma Dalam sistem Pertanian Dalam Sistem Pertanian. memilki ketahanan untuk bertahan hidup pada setiap kedalaman tanah.1 2 2 1 1 20 6 2 .2 . Dari hasil percobaan dapat dilihat pada data bahwa benih Amaranthus sp.

dan Yakup. Y. 1995. Gramedia. PT. Jakarta.. 1984. PENGENDALIAN GULMA JAJAGOAN (Echinocholoa crussgalli L.) PAPER OLEH : .) PADA PERTANAMAN PADI (Oryza sativa L. Pengelolaan Gulma di Perkebunan. Jakarta. Tjitrosoedirdjo. Gulma dan Teknik Pengendaliannya. Utomo dan J. PT. H. S. I..Sukman. Raja Grafindo Persada.. Wiroatmodjo.

) PADA PERTANAMAN PADI (Oryza sativa L. Medan Diperiksa Oleh: Asisten Korektor .JUNITA SINAMBELA 070301054/BDP-AGRONOMI 7 LABORATORIUM ILMU GULMA DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2009 PENGENDALIAN GULMA JAJAGOAN (Echinocholoa crussgalli L.) PAPER OLEH : JUNITA SINAMBELA 070301054/BDP-AGRONOMI 7 Paper Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Mengikuti Praktikal Test di Laboratorium Ilmu Gulma Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen mata kuliah Ilmu Gulma yaitu Prof. 050301035 LABORATORIUM ILMU GULMA DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2009 KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis sampaikan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa.) Pada Pertanaman Padi (Oryza sativa L. MP serta para asisten Laboratorium Ilmu Gulma yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan paper ini. Ir. Adapun judul dari paper ini adalah “Pengendalian Gulma Jajagoan (Echinochloa crussgalli L. oleh sebab itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan paper ini.Toga Simanungkalit.Dr. Prof. Paper ini disusun sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikal test di Laboratorium Ilmu Gulma Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Penulis menyadari paper ini banyak kekurangan. karena atas berkat dan rahmatNya sehingga penulis dapat menyelesaikan paper ini tepat pada waktunya.)”.S. Oktober 2009 Penulis DAFTAR ISI KATA PENGANTAR i DAFTAR ISI ii PENDAHULUAN Latar Belakang 1 Tujuan Penulisan 3 Kegunaan Penulisan 3 TINJAUAN PUSTAKA Botani Gulma 4 . Akhir kata penulis mengucapakan terima kasih dan semoga paper ini bermanfaat bagi kita semua. Medan.J.Dr.(Rotambatua Nababan) NIM.Edison Purba. Medan.Damanik.

2009). makanan ternak atau sebagai bahan obatobatan. Gulma ialah tanaman yang tumbuhnya tidak diinginkan.) Cara Pengendalian 8 Waktu Pengendalian 10 Jenis . Kanada. Ditemukan di seluruh Amerika Serikat. Persen kehilangan hasil panen akibat gulma di negara bagian Kolumbia (Amerika Serikat) terhadap kacang-kacangan sebesar 51. jagung 45.6 %. menginjak. secara mekanis dengan mencabut. Gulma dapat dikendalikan melalui berbagai aturan dan karantina. Kehadiran gulma dalam areal pertanaman sangat tidak dikehendaki karena akan menyaingi tanaman yang ditanam dalam memperoleh unsur hara. Gulma pada pertanaman padi umumnya dikendalikan dengan cara mekanis dan kimiawi. kentang 16.Jenis Bahan Untuk Pengendalian 12 KESIMPULAN 14 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN PENDAHULUAN Latar Belakang Keberhasilan pengendalian gulma merupakan salah satu faktor penentu tercapainya tingkat hasil padi yang tinggi. Dengan demikian. air. Echinochloa crussgalli adalah gulma musim panas tahunan dengan batang tebal yang dapat mencapai 5 kaki tingginya.Habitat dan Penyebaran 6 PENGENDALIAN GULMA JAJAGOAN (Echinocholoa crussgalli L.id. dan matahari. 2005). dan padi 54. Namun demikian. Pengendalian gulma secara kimiawi berpotensi merusak lingkungan sehingga perlu dibatasi melalui pemaduan dengan cara pengendalian lainnya (http://balitsereal.4 % (Wudianto.litbang. Akibat dari serangan gulma dapat menurunkan hasil panen yang cukup besar. Gulma di suatu tempat mungkin berguna sebagai bahan pangan.1 %. secara biologi dengan menggunakan organisme hidup. suatu spesies tumbuhan tidak dapat diklasifikasikan sebagai gulma pada semua kondisi. secara kimiawi menggunakan herbisida. menyiang dengan tangan.6 %.) PADA PERTANAMAN PADI (Oryza sativa L.deptan. secara fisik dengan membakar dan menggenangi. peningkatan daya saing dan penggunaan mulsa. membabat. dan mengolah tanah dengan alat mekanis bermesin dan nonmesin. Salah satu dari sedikit rumput liar yang tidak memiliki ligula.go. melalui budi daya dengan pergiliran tanaman. banyak juga tumbuhan diklasifikasikan sebagai gulma dimanapun gulma itu berada karena gulma tersebut umum tumbuh secara teratur pada lahan tanaman budidaya (Sebayang. 1999). dan Meksiko sebagai .

panjang 2 – 3.5 – 1 cm.vt. dan mungkin berwarna merah ke merah marun di pangkalan (http://www. 2000). anak bulir panjang 2 – 3. pembibitan.vt. Siberia Timur di selatan. 2009b).com.gulma dari banyak agronomi tanaman. berbentuk lonjong. terdiri dari 5 – 40 cm tandan. 2009a).5 mm. warna hijau sampai ungu tua (http://cetlanget. Bunga memiliki seedhead malai terminal berkisar 4-16 inci panjangnya. panjang 5 – 21 cm. menembus ke dalam tanah turun sampai 50 cm (http://www. 2009a). Karena herbisida aktif terhadap tumbuhan. tanpa bulu (glabrous).ppws. Biasanya terbentuk piramid sempit.edu. 2009a).− TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Berdasarkan Nasution (1986) taksonomi gulma padi-padian adalah sebagai berikut: Kingdom : Plantae Divisio : Spermatophyta Kelas : Angiospermae Ordo : Poales Famili : Poaceae Genus : Echinochloa Spesies : Echinochloa crussgalli L. lebar 0. sering bercabang di bagian bawah node.. Batang gulma ini biasanya tegak. Daunnya rata/datar dengan panjang 10 – 20 cm. atau tumbuhan penggenggu yang tidak dikehendaki. crusgalli disebut caryopsis. Siberia Barat.6 – 0.ppws. lanskap.ru. Bentuk garis meruncing ke arah ujung. Bulirnya banyak.) pada pertanaman padi (Oryza sativa L.edu. Habitat dan Penyebaran Distribusi tumbuhan ini meliputi Kaukasus. berkembang dengan baik.). maka herbisida bersifat fitotoksik (Djojosumarto. Tujuan Percobaan Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui pengendalian gulma jajagoan (Echinochloa crussgali L. Buah E. 2009c). dan . Sebagai bahan informasi bagi pihak-pihak yang membutuhkan. dan rumput (http://www.wordpress.vt. Akar adalah seperti mahkota. Malai mungkin hijau ke warna ungu dan bulir terdiri dari individu yang dapat mengembangkan 2-10 mm terminal lama (http://www. tebal.wordpress. Herbisida adalah pestisida yang digunakaan untuk mengendalikan gulma. Medan. Biji yang tua berwarna kecoklat-coklatan sampai kehitam-hitaman (http://cetlanget.agroatlas.5 mm.ppws. Kepala sarinya mempunyai diameter 0. yang mula-mula tumbuh tegak kemudian merunduk.com. tebal. 2009b). berambut.85 mm. Kegunaan Percobaan Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikal test di− Laboratorium Agronomi Ilmu Gulma Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.edu.

Tumbuh baik terutama di lembab (irigasi dan banjir) ladang. Contoh: padi-tebu- . Di dalam pengendalian gulma dengan sistem budidaya ini terdapat beberapa cara yaitu: a) Pergiliran tanaman bertujuan untuk mengatur dan menekan populasi gulma dalam ambang yang tidak membahayakan.7). Kaukasus dan Timur Jauh. basah. sering terganggu tanah liat. PENGENDALIAN GULMA JAJAGOAN (Echinochloa crussgali) PADA PERTANAMAN PADI (Oryza sativa L. Jepang. daerah rendah di croplands subur dan basah limbah. dan pH 4.Timur Jauh. 2009b).2 (berarti dari 53 kasus = 6. crusgalli terdapat di tempat-tempat basah. agak kaya. Dalam zona taiga kehilangan makna sebagai tanaman gulma eurysynusic.com. selatan Skandinavia. daerah rembesan. padang rumput basah dan basah. Asia Tengah.ru. Ekologi tumbuhan ini mulai dari boreal lembab atau basah hingga tropis sangat kering atau daerah hutan hujan tropis.8 ° C (rata-rata dari 59 kasus = 14. Disesuaikan dengan hampir semua jenis tempat-tempat yang basah. akan tetapi umumnya lebih tinggi dan berbunga lebih dulu dari pada padi (http://cetlanget. dan di lumpur dan air danau. Tidak dibatasi oleh pH tanah (http://www. kimia dan biologi. Himalaya. Di sawah tumbuh bersama padi. E.) Cara Pengendalian Metode pengendalian gulma dapat dikelompokkan ke dalam kelompok kultur teknis. Ini adalah berlebihan dalam zona Chernozem.edu. Pengendalian gulma dengan sistem budidaya disebut juga cara pengendalian secara ekologis. sering berumput. Tumbuh di berbagai situs basah seperti selokan. Berhasil di daerah dingin. mekanis. itu terjadi dalam lembab.7-27.0 dm (berarti dari 59 kasus = 9. baik yang beriklim sedang dan tropis. suhu tahunan 5. Asia Minor. daerah dibudidayakan. Kelompok tanaman bertemu di padang rumput kering dan ruderal daerah. 2009c). lebih suka ringan oleh struktur mekanik. Mongolia. Luas digarap gulma pada tanaman di zona stepa. di rawa-rawa. kadang-kadang terdapat juga di tempat setengah basah. Amerika Utara. 2009). Cina. Echinochloa crussgalli dilaporkan mentoleransi presipitasi tahunan 3. pertemuan jarang.wordpress.agroatlas.9). tidak dikompresi. (http://www. Masing-masing pengendalian gulma memiliki keunggulan dan kerugian.1-25. manual. Kelimpahan dan terjadinya penurunan dari selatan ke utara. Mediterania. Amerika Selatan. pinggir jalan.hort. Australia.purdue. Ekologinya yaitu thermophil. dan bidang kosong.8-8. selokan dan dataran banjir. Mencapai perbatasan utara pertanian. dan sering gulma yang umum di sawah. dan pengendalian gulma secara tunggal jarang mencukupi bila menginginkan agar pengendalian gulma tersebut efektif dan ekonomis (Sebayang 2005). tapi lebih baik disesuaikan dengan daerah di mana suhu tahunan rata-rata 14-16 ° C. hygrophilous. sering tumbuh di air.4). Di wilayah baratdaya AS. Daur kelembaban bertahan buruk. Afrika. Eropa Tengah dan Atlantik. oleh karena menggunakan prinsip-prinsip ekologi yaitu mengelola lingkungan sedemikian rupa sehingga mendukung dan menguntungkan pertanaman tetapi merugikan bagi gulmanya. Terdistribusi dan tersebar luas di semua wilayah hangat di dunia. sangat lembut tanah aluvial.

Penanaman rapat agar tajuk tanaman segera menutupi ruang-ruang kosong merupakan cara yang efektif untuk menekan gulma. Demikian juga eceng gondok (Eichhornia crassipes) dapat dikendalikan secara biologis dengan kumbang penggerek Neochetina bruchi dan Neochetina eichhorniae. ternak. dan pengendalian Salvinia sp. insekta atau fungi tersebut tidak menyerang tanaman atau tumbuhan lain yang mempunyai arti ekonomis. Myrothesium roridum untuk kiambang . Macam herbisida yang dipilih bisa kontak maupun sistemik. untuk kayu apu. dengan menggunakan Cyrtobagous singularis. dan penggunaannya bisa pada saat pratanam. ikan yang memakan gulma air dan sebagainya. dan Cerospora sp. padi-tembakau-padi. Keuntungan pengendalian gulma secara kimiawi adalah cepat dan efektif. dengan membiarkan gulma tumbuh lebih dulu lalu diberantas dengan pengolahan tanah atau herbisida. Sebagai contoh gulma teki (Cyperus rotundus) sering berada dengan baik dan mengganggu pertanaman tanah kering yang berumur setahun (misalnya pada tanaman cabe. Di samping pengendalian biologis yang tidak begitu spesifik terhadap spesies-spesies tertentu seperti penggunaan ternak dalam pengembalaan. sambil membantu pertanaman pokoknya dengan pupuk nitrogen yang kadang-kadang dapat dihasilkan sendiri. baik secara selektif maupun non selektif. Sebagai contoh pengendalian biologis dengan insekta yang berhasil ialah pengendalian kaktus Opuntia spp.kedelai. Sedangkan jamur atau fungi yang berpotensi dapat mengendalikan gulma secara biologis ialah Uredo eichhorniae untuk eceng gondok. Pemupukan yang tepat merupakan cara untuk mempercepat pertumbuhan tanaman sehingga mempertinggi daya saing pertanaman terhadap gulma. Demikian pula dengan wewehan (Monochoria vaginalis) di sawah-sawah. karena biasanya jenis gulma itu dapat hidup dengan leluasa pada kondisi yang cocok untuk pertumbuhannya. Sehubungan dengan sifatnya ini maka pengendalian gulma secara kimiawi ini harus merupakan pilihan terakhir apabila caracara pengendalian gulma lainnya tidak berhasil. c) Penaungan dengan tumbuhan penutup (cover crops) yang berguna untuk mencegah perkecambahan dan pertumbuhan gulma. fungi. Pengendalian gulma secara kimiawi adalah pengendalian gulma dengan menggunakan herbisida. Baru kemudian tanaman ditanam pada tanah yang sebagian besar gulmanya telah mati terberantas. seperti insekta. Yang dimaksud dengan herbisida adalah senyawa kimia yang dapat digunakan untuk mematikan atau menekan pertumbuhan gulma. terutama untuk areal yang luas. tomat. Pengendalian biologis yang intensif dengan insekta atau fungi biasanya hanya ditujukan terhadap suatu species gulma asing yang telah menyebar secara luas dan ini harus melalui proses penelitian yang lama serta membutuhkan ketelitian. dan sebagainya). Di Australia dengan menggunakan Cactoblastis cactorum. Juga harus yakin apabila species gulma yang akan dikendalikan itu habis. kondisi mikroklimat akan dapat berubah-ubah. . pratumbuh atau pasca tumbuh. b) Budidaya pertanaman dilakukan dengan penggunaan varietas tanaman yang cocok untuk suatu daerah merupakan tindakan yang sangat membantu mengatasi masalah gulma. mempunyai efek residu terhadap alam sekitar dan sebagainya. Beberapa segi negatifnya ialah bahaya keracunan tanaman. Dengan pergiliran tanaman. Untuk berhasilnya cara ini memerlukan dasar-dasar pengetahuan yang cukup dan untuk itu akan diuraikan tersendiri lebih lanjut. sehingga gulma hidupnya tidak senyaman sebelumnya. Pengendalian gulma secara biologis (hayati) ialah pengendalian gulma dengan menggunakan organisme lain. Tanaman tertentu biasanya mempunyai jenis gulma tertentu pula. Waktu tanaman lambat. ikan dan sebagainya. kalkun pada perkebunan kapas.

Dalam hal ini pengendalian yang akan dibahas lebih lanjut yaitu pengendalian secara kimiawi/kemis yaitu dengan aplikasi herbisida. herbisida pra-tanam atau herbisida yang early post emergence harus diaplikasikan pada benih padi yang dipindah-tanamkan.id.id. 2009). tetapi tidak satupun cara-cara tersebut dapat mengendalikan gulma secara tuntas. Untuk pengendalian secara kimiawi sebaiknya menggunakan senyawa kimia yang selektif untuk menghambat atau mematikan gulma tetapi tidak mengganggu pertumbuhan tanaman padi. Cara-cara yang dikombinasikan dalam cara pengendalian secara terpadu ini tergantung pada situasi. Waktu Pengendalian Pada dasarnya pengendalian gulma telah dilakukan sejak pra kultivasi yaitu sebelum tanah diolah dan sebelum ada tanaman hingga pasca tumbuh tanaman (post emergence). herbisida diaplikasikan setelah tanaman tumbuh dan muncul. jarak tanam dengan penyiangan. tetapi kurang efetif karena memerlukan waktu dan tenaga yang banyak.ac. Untuk . Herbisida pra-tumbuh adakalanya harus diaplikasikan sesudah tanaman pokoknya ditanam. demikian pula gulmanya (MCPA atau propanil pada padi. Waktu aplikasi herbisida bergantung pada struktur herbisida. misalnya paduan antara pengolahan tanah dengan pemakaian herbisida.uns. Pemberantasan gulma pada padi sawah dapat dilakukan secara mekanik dengan penyiangan manual. kondisi dan tujuan masing-masing. Pada umumnya herbisida digunakan pada saat pre planting (pra tanam). 2005).4 dimetilamina (2. herbisida diaplikasikan sebelum tanah diolah dan sebelum ada tanaman (paraquat) b) pra tanam. Klasifikasi berdasarkan waktu aplikasi yaitu: a) pra kultivasi. Untuk dapat mengendalikan suatu species gulma yang menimbulkan masalah ternyata dibutuhkan lebih dari satu cara pengendalian. fisik. cuaca. Misalnya. sesudah tanah diolah (triazin.Yang dimaksud dengan pengendalian gulma secara terpadu yaitu pengendalian gulma dengan menggunakan beberapa cara secara bersamaan dengan tujuan untuk mendapatkan hasil yang sebaik-baiknya. pada padi sawah. glyphosat dan dalapon pada karet) (Moenandir. Walaupun telah dikenal beberapa cara pengendalian gulma antara lain secara budidaya. Gulma harus dibuang dari tanaman padi sesegera mungkin. Herbisida berbahan aktif 2. gulma sasaran. herbisida diaplikasikan sebelum tanam. bersifat sistemik artinya dapat bergerak dari daun dan bersama proses metabolisme ikut kedalam jaringan tanaman sasaran (http://stppgowa. 2009). pemupukan dengan herbisida dan sebagainya. Herbisida dapat diaplikasikan pada beberapa periode sebelum atau selama periode pertumbuhan tanaman. biologis dan kimiawi serta preventif. Dengan demikian herbisida harus diaplikasikan selama fase pertumbuhan awal tanaman. EPTC) c) pra tumbuh. herbisida diaplikasikan sebelum tanaman tumbuh (muncul) (nitralin) d) pasca tumbuh. 1990). Tanggap atau respon beberapa jenis gulmaterhadap herbisida amat tergantung pada jenis herbisida yang digunakan itulah yang digolongkan kedalam herbisida selektif atau non selektif. pre emergence (pra tumbuh) dan post emergente (pasca tumbuh) (Sebayang. praktek budidaya.ac. tetapi umumnya diarahkan agar mendapatkan interaksi yang positif. di samping cara-cara pengelolaan pertanaman yang lain. (http://fp.4 D) merupakan jenis herbisida yang selektif untuk pertanaman padi.

piridin (contohnya parakuat). 1)Anilid (butaklor. manual. KESIMPULAN 1. kimia. 4)Difenil eter (difenox. dan herbisida non kelompok lainnya seperti Bentazon. 9)Sulfonil urea (bensulfuron). 2)Bipiridilium (parakuat). senyawa alifatik. urasil. 3. sineol. nitroanilin. gulma noksius pada tanaman jeruk. . 2000). Metode pengendalian gulma dapat dikelompokkan ke dalam kelompok kultur teknis. 3)Dinitro-anilin (butralin.Jenis Bahan Untuk Pengendalian Senyawa bahan anorganik yang berasal dari garam dan arang merupakan bahan kimia yang pertama kali digunakan untuk mengendalikan gulma. 8)Triazin (simetrin. Sedangkan untuk herbisida organik contohnya yaitu: minyak petrol. 1992). (3) natrium khlorat (NaClO3). pendimetalin). dan tidak meninggalkan pengaruh yang lama di lingkungan. mekanis. asam fenoksi-alifatik. herbisida dapat diklasifikasikan sebagai berikut. dan virus. Berdasarkan kelompok kimianya. Hebisida yang dianggap ideal jika efek racunnya aman. efektif terhadap gulma. Selain itu. 2005).4 %. MCPA). Chlomethoxynil. karbamat. Misalnya Phytophtora palmivora yang digunakan untuk mengendalikan Morrenia odorata. ada juga Colletotrichum gloeosporioides yang diperdagangkan dengan merek dagang tertentu dan digunakan pada tanaman padi dan kedelai di Amerika (Sastroutomo. senyawa nitril. 7)Tiokarbamat (molonate. dan herbisida lainnya (seperti metil bromida. biologi dan pengendalian gulma terpadu yang merupakan gabungan dari beberapa metode tersebut. selektif ke padi. arsenik. difenil eter. 5)Organofosfat (glifosat). dll (Sebayang. (Djojosumarto. oksifluorfen).keperluan ini. tiobenkarb). (2) borat. fluorodiven. piridazin. Chinmethylin. pretilaklor dan propanil). dan oksifluorfen).4-D. Jenis . heterosiklik nitrogen (tanpa kelas). glifosat. 2. Echinochloa crussgalli merupakan salah satu gulma penting pertanaman padi. Kesalahan menentukan saat aplikasi dapat mengakibatkan keracunan pada tanaman pokok atau herbisida tidak bekerja efektif. efisien dari segi biaya. Ada pula yang menggunakan mikroherbisida yaitu golongan herbisida yang mengendalikan gulma dengan menggunakan penyakit uang ditimbulkan oleh bakteri. urea. harus digunakan herbisida yang benar-benar selektif untuk padi dan harus dilakuikan secara hati-hati sesuai dengan rekomendasinya. 10)Asam polisiklik alkanoik (fenoxaprop). Gulma dapat menurunkan hasil panen padi yang cukup besar yaitu sekitar 54. tiokarbamat. triazin. 6)Asam fenoksi (2. dimetametrin). jamur. Berikut merupakan contoh herbisida anorganik yaitu: (1) amonium sulfamat (NH4SO3NH2). Sebagian besar herbisida adalah senyawa organik. fenol.

Jakarta. 2009. Diakses pada tanggal 24 Oktober 2009.edu/scott/weed_id/echcg. 8)Triazin (simetrin. Diakses pada tanggal 24 Oktober 2009. J. Nasution. Diakses pada tanggal 24 Oktober 2009. dimetametrin). U. http://fp. Diakses pada tanggal 24 Oktober 2009. Berdasarkan kelompok kimianya. Teknik Aplikasi Pestisida Pertanian. http://www. 1990.. 5. 2009a. Jakarta. Fisiologi Herbisida. 9)Sulfonil urea (bensulfuron). 3)Dinitro-anilin (butralin. http://www. 2009.ac. pendimetalin).b&c.vt.ac.go. .purdue. DAFTAR PUSTAKA Djojosumarto. 7)Tiokarbamat (molonate.ru/en/content/weeds/Echinochloa_crusgalli/&ei=WOPiSoTHJcuJ kQXPri6AQ&sa=X&oi=translate&ct=result&resnum=15&ved=0CDcQ7gEwDg&prev =/search%3Fq%3DEchinochloa%2Bcrusgalli%26hl%3Did%26sa%3DG. Diakses pada tanggal 24 Oktober 2009. 2009. oksifluorfen). 4)Difenil eter (difenox. dan herbisida non kelompok lainnya seperti Bentazon.. Chinmethylin. 2009a&b. http://stppgowa. 5)Organofosfat (glifosat). fluorodiven. MCPA). herbisida dapat diklasifikasikan sebagai berikut. CV Rajawali Pers. Chlomethoxynil.4. http://www.wordpress. 2)Bipiridilium (parakuat).pdf.com/2009/07/12/identifikasi-gulma-gulma-dominan-padapertanaman-padi-sawah-dan-usaha-pengendaliannya-di-kecamatan-samatigakabupaten-aceh-barat/. 6)Asam fenoksi (2. Kanisius.4-D.deptan. pretilaklor dan propanil).uns.ppws.pdf. Pada dasarnya pengendalian gulma telah dilakukan sejak pra kultivasi yaitu sebelum tanah diolah dan sebelum ada tanaman hingga pasca tumbuh tanaman (post emergence) dan mencakup aspek kultur teknis yaitu penyiangan tanaman. 10)Asam polisiklik alkanoik (fenoxaprop).b&c. 2000. http://balitsereal. tiobenkarb). dll. 2009a. P.htm&ei=H-biSvzlNczkAXTg4i2AQ&sa=X&oi=translate&ct=result&resnum=5&ved=0CBcQ7gEwBDgK&p rev=/search%3Fq%3DEchinochloa%2Bcrusgalli%26hl%3Did%26sa%3DN%26start %3D10.htm.html&ei=W OPiSoTHJcuJkQXPri6AQ&sa=X&oi=translate&ct=result&resnum=11&ved=0CCsQ7 gEwCg&prev=/search%3Fq%3DEchinochloa%2Bcrusgalli%26hl%3Did%26sa%3DG. 1986.hort. Gulma dan Pengendaliannya di Perkebunan Kaaret Sumatera Utara dan Aceh. Moenandir.id/bpadi/satulima.litbang.edu/newcrop/duke_energy/Echinochloa_crusgalli. 1)Anilid (butaklor.agroatlas. PT Gramedia.id/~hamasains/dasarperlintan-4.id/download/Vol_3_No_1. Diakses pada tanggal 24 Oktober 2009. http://cetlanget./MuhammadKadir. Yogyakarta. Diakses pada tanggal 24 Oktober 2009.

S. Brawijaya University Press. pengendalian Reaksi: Rabu.) terhadap pertumbuhan kecambah kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq. R. Wudianto. Jakarta.) TERHADAP PERTUMBUHAN KECAMBAH KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.Sastroutomo. 1999. Pestisida Dasar-Dasar dan Dampak Penggunaannya. 07 Oktober 2009 pengaruh media tanam dan kompos azolla (Azolla sp. Sebayang. Penebar Swadaya. 2005. jajagoan.) D X P DI PRE NURSERY LAPORAN OLEH : JUNITA SINAMBELA 070301054/BDP-AGRONOMI 16 . Jakarta. PT Gramedia Pustaka Utama. 1992. Petunjuk Penggunaan Pestisida.) TERHADAP PERTUMBUHAN KECAMBAH KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq. Diposkan oleh junT blogs di 01:10 1 komentar Link ke posting ini Label: gulma. Gulma dan Pengendaliannya pada Tanaman Padi.T.) D X P DI PRE NURSERY LAPORAN OLEH : JUNITA SINAMBELA 070301054/BDP-AGRONOMI 16 LABORATORIUM AGRONOMI TANAMAN PERKEBUNAN DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2009 PENGARUH MEDIA TANAM DAN KOMPOS AZOLLA (Azolla sp. H. Malang. S.) D X P di pre nursery PENGARUH MEDIA TANAM DAN KOMPOS AZOLLA (Azolla sp.

Laporan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Mengikuti Praktikal Test di Laboratorium Agronomi Tanaman Perkebunan Fakultas Pertanian Sumatera Utara, Medan Disetujui Oleh Dosen Penanggungjawab

(Ir. Balonggu Siagian, MS) NIP. 130 806 538 Diketahui Oleh: Asisten Koordinator

(Eko Andi Pasaribu) NIM. 040301001 Diperiksa Oleh: Asisten Korektor

(Hayati Silalahi) NIM. 040301037 LABORATORIUM AGRONOMI TANAMAN PERKEBUNAN DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2009 ABSTRACT The objective of this experiment was to know effect of media and azolla dung in growing of palma’s bud. The experiment was conducted in Agronomi Tanaman Perkebunan I Laboratory Land, Agriculture Faculty, North Sumatera University with altitude ± 25 m above sea level, from March to May 2009. The experiment used Randomized Complete Block Design (RAK) with 2 factors and 4 replications. The first factor was media, top soil, sand, sub soil, and fertilizer. The second one was azolla, 7 gr, 14 gr, and 21 gr. The experiment result showed that media gave significant effect of height and leaves of bud. Azolla gave significant effect of height and leaves of bud, and diameter of stem. Interaction between media and azolla gave significant effect of height and leaves of bud. Keywords : media, azolla, bud

ABSTRAK Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh media tanam dan kompos azolla terhadap pertumbuhan kecambah kelapa sawit. Percobaan ini dilaksanakan di lahan percobaan Laboratorium Agronomi Tanaman Perkebunan I Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan, pada ketinggian ± 25 m dpl dari bulan Maret sampai Mei 2009 dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor perlakuan dan empat ulangan. Faktor I adalah media tanam top soil dan pasir, sub soil dan pupuk kandang. Faktor II adalah kompos azolla 7 gr, 14 gr, 21 gr. Hasil percobaan menunjukkan bahwa media berpengaruh nyata terhadap tinggi tunas, jumlahdaun. Azolla berpengaruh nyata terhadap tinggi tunas, jumlah daun, diameter batang. Sedangkan interaksi antara media dan azolla berpengaruh nyata terhadap tinggi tunas, jumlah daun. Kata kunci : media, azolla, kecambah

RIWAYAT HIDUP Junita Sinambela lahir pada tanggal 2 April 1989 di Medan. Anak pertama dari empat bersaudara. Anak dari Bapak P. Sinambela dan Ibu N. Manurung. Adapun pendidikan yang pernah ditempuh penulis adalah sebagai berikut: SD Negeri 050721 di Gohor Lama Tamat tahun 2001 SMP Negeri 1 di Hinai Tamat tahun 2004 SMA Negeri 1 di Stabat Tamat tahun 2007 Penulis terdaftar sebagai mahasiswi di Departemen Budidaya Pertanian Program Studi Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan melalui jalur SPMB

pada pilihan pertama pada tahun 2007 sampai sekarang.

KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Esa karena atas berkat dan rahmatNya penulis dapat menyelesaikan laporan ini tepat pada waktunya. Adapun judul dari laporan ini adalah “Pengaruh Media Tanam dan Kompos Azolla (Azolla sp.) Terhadap Pertumbuhan Kecambah Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.)” yang merupakan salah satu syarat unutk dapat mengikuti praktikal test di Laboratorium Agronomi Tanaman Perkebunan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan. Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Ir. Balonggu Siagian, MS dan Ir. Charloq Nababan, MP selaku dosen mata kuliah Agronomi Tanaman Perkebunan serta kepada abang dan kakak asisten yang telah membantu dalam penyelesaian laporan ini. Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh sebab itu penulis mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan laporan ini. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih, semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Medan, Mei 2009

Penulis DAFTAR ISI ABSTRACT i ABSTRAK ii RIWAYAT HIDUP iii KATA PENGANTAR iv DAFTAR ISI v DAFTAR TABEL vii DAFTAR GAMBAR viii PENDAHULUAN Latar Belakang 1 Tujuan Percobaan 2 Hipotesis Percobaan 2 Kegunaan Percobaan 3 TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman 4 Syarat Tumbuh 5 Iklim 5 Tanah 6 Pembibitan Kelapa Sawit 7 Media Tanam 10 Kompos Azolla 10 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Percobaan 13 Bahan dan Alat 13 Metode Percobaan 13 PELAKSANAAN PERCOBAAN Persiapan Media Tanam 16 Aplikasi Kompos Azolla 16 Penanaman 16 Pemeliharaan Tanaman 16 Penyiraman 16 Penyiangan 17 Pengamatan Parameter 17 Tinggi Tanaman (cm) 17 Jumlah Daun (helai) 17 Diameter Batang (mm) 17 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil 19 Pembahasan 25 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 28 Saran 28 DAFTAR PUSTAKA .

Rataan diameter tunas kelapa sawit 8 MST dari perlakuan media tanam dan kompos azolla 24 . Rataan tinggi tunas kelapa sawit 8 MST dari perlakuan media tanam dan kompos azolla 20 2. Rataan jumlah daun kelapa sawit 8 MST dari perlakuan media tanam dan kompos azolla 22 3.LAMPIRAN DAFTAR TABEL No. Judul Hal 1.

Data tinggi tunas kelapa sawit 3 MST (cm) 31 6. Daftar sidik ragam tinggi tunas kelapa sawit 7 MST 34 15. Data tinggi tunas kelapa sawit 8 MST (cm) 34 16. Data tinggi tunas kelapa sawit 7 MST (cm) 34 14. Histogram tinggi tunas kelapa sawit 8 MST dari perlakuan media tanam dan kompos azolla 21 2. Daftar sidik ragam tinggi tunas kelapa sawit 5 MST 33 11. Judul Hal 1. Data tinggi tunas kelapa sawit 4 MST (cm) 32 8. Data tinggi tunas kelapa sawit 5 MST (cm) 32 10. Daftar sidik ragam tinggi tunas kelapa sawit 2 MST 31 5. Data tinggi tunas kelapa sawit 6 MST (cm) 33 12. Histogram diameter tunas kelapa sawit 8 MST dari perlakuan media tanam dan kompos azolla 25 DAFTAR LAMPIRAN No. Data tinggi tunas kelapa sawit 1 MST (cm) 30 2. Daftar sidik ragam tinggi tunas kelapa sawit 3 MST 31 7. Daftar sidik ragam tinggi tunas kelapa sawit 4 MST 32 9. Daftar sidik ragam tinggi tunas kelapa sawit 6 MST 33 13. Judul Hal 1. Daftar sidik ragam tinggi tunas kelapa sawit 8 MST 35 17. Data jumlah daun kelapa sawit 3 MST (helai) 35 18. Daftar sidik ragam tinggi tunas kelapa sawit 1 MST 30 3.DAFTAR GAMBAR No. Data jumlah daun kelapa sawit 4 MST (helai) 36 . Data tinggi tunas kelapa sawit 2 MST (cm) 30 4. Daftar sidik ragam jumlah daun kelapa sawit 3 MST 35 19. Histogram jumlah daun kelapa sawit 8 MST dari perlakuan media tanam dan kompos azolla 23 3.

Data diameter batang kelapa sawit 7 MST (mm) 41 36. Daftar sidik ragam jumlah daun kelapa sawit 8 MST 39 29. Daftar sidik ragam jumlah daun kelapa sawit 4 MST 36 21. Daftar sidik ragam jumlah daun kelapa sawit 7 MST 38 27. Data jumlah daun kelapa sawit 6 MST (helai) 37 24. 1997). Papua Nugini (Tim Penulis PS. Pantai Gading. Data diameter batang kelapa sawit 5 MST (mm) 40 32. setingkat di atas Indonesia. Daftar sidik ragam diameter batang kelapa sawit 8 MST 42 PENDAHULUAN Latar Belakang Kelapa sawit ( Elaeis guineensis ) berasal dari Afrika dan masuk ke Indonesia pada tahun 1848 yang ditanam di Kebun Raya Bogor (Soehardjo. Nigeria. Colombia. Daftar sidik ragam diameter batang kelapa sawit 7 MST 41 37. Indonesia. 2007). Daftar sidik ragam diameter batang kelapa sawit 6 MST 41 35. Data diameter batang kelapa sawit 4 MST (mm) 39 30..20.. Data diameter batang kelapa sawit 8 MST (mm) 42 38. satu tingkat di bawah Nigeria. Dari tahun 1940-an sampai 1970-an. Data jumlah daun kelapa sawit 7 MST (helai) 38 26. 1996). Daftar sidik ragam jumlah daun kelapa sawit 5 MST 37 23. Data jumlah daun kelapa sawit 8 MST (helai) 38 28. . juga sebagai sumber perolehan devisa negara. Malaysia merebut kedudukan Indonesia tersebut pada tahun 1966. seorang berkebangsaan Belgia. dkk. dkk. Untuk lebih jelasnya Negara produsen utama minyak sawit dunia adalah Malaysia. Data jumlah daun kelapa sawit 5 MST (helai) 36 22. Nigeria merupakan produsen terbesar minyak sawit dunia. Thailand. Daftar sidik ragam diameter batang kelapa sawit 5 MST 40 33. Bagi Indonesia. Data diameter batang kelapa sawit 6 MST (mm) 40 34.Selain mampu menciptakan kesempatan kerja yang mengarah kepada kesejahteraan masyarakat. Malaysia menduduki rangking pertama sebagai produsen minyak sawit dunia. Daftar sidik ragam diameter batang kelapa sawit 4 MST 39 31. Indonesia merupakan salah satu produsen utama minyak sawit (Fauzi. Kini. Perkebunan kelapa sawit komersial pertama di Indonesia mulai diusahakan pada tahun 1911 di Aceh dan Sumatera Utara oleh Adrien Hallet. tanaman memiliki arti penting bagi pembangunan perkebunan nasional. Daftar sidik ragam jumlah daun kelapa sawit 6 MST 37 25.

kosmetik. ketersediaan unsur hara dan ketersediaan asam humat. Ditemukan juga bahwa azolla tumbuh kembang lebih baik dari pada musim penghujan dari pada musim kemarau.). kontrol terhadap perkembangan nyamuk ( http://wikipedia. Asam humat akan membantu meningkatkan proses pelapukan bahan mineral. ketua GAPKI (Gabungan Perusahaan Kelapa Sawit Indonesia). industri sabun (bahan penghasil busa).)−terhadap pertumbuhan kecambah kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.). pakan ikan. terutama ayam dan itik.) terhadap pertumbuhan kecambah kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq. Ada pengaruh kompos Azolla (Azolla sp. kompos yang tidak lain adalah bahan organik merupakan sumber bagai mikroorganisme tanah (Simamora dan Salundik. pada tahun 2008 diperkirakan Indonesia bias menjadi produsen kelapa sawit terbesar di dunia. Kegunaan azolla adalah sumber N dapat mengganti pupuk urea samapai 100 kg. Tujuan Percobaan Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh media tanam dan kompos Azolla (Azolla sp. Menurut Derom Bangun. Hipotesis Percobaan Ada pengaruh media tanam terhadap pertumbuhan kecambah−kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq. 2008).) terhadap pertumbuhan kecambah kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq. Kesemuanya itu bergantung kepada manajemen dan pemimpinnya (Pahan.) (D x P) di pre nursery. 2006). industri tekstil. menekan pertumbuhan gulma.307 hektar pada tahun 1938 (Hadi. Sebanyak 85 % lebih pasar dunia kelapa sawit dikuasai oleh Indonesia dan Malaysia. dan bahan baker alternatif (minyak diesel) (Sastrosayono.org.272 hektar pada tahun 1916 menjadi 92. pakan ternak/hijauan. 2006). 2004). CPO atau PKO banyak digunakan sebagai bahan industri pangan (minyak goreng atau margarin). Secara kimia.Luas kebun kelapa sawit terus bertambah. Dalam keadaan dapat dihasilkan 30-45 kg/ha berarti sama dengan 100 kg urea.− Ada pengaruh interaksi media tanam dan kompos Azolla (Azolla sp. dari 1. Indonesia merupakan produsen kelapa sawit terbesar kedua di dunia setelah Malaysia. Minyak nabati yang dihasilkan dari pengolahan buah kelapa sawit berupa minyak sawit mentah ( CPO atau crude palm oil) yang berwarna kuning dan minyak inti sawit (PKO atau palm kernel oil) yang tidak berwarna (jernih). industri baja (bahan pelumas). kompos dapat meningkatkan kapasitas tukar kation. Perkebunan kelapa sawit pun bias menghadirkan prestasi-prestasi yang membanggakan dan layak untuk ditiru. Kegunaan Percobaan Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikal test di− Laboratorium . 2003).). Tanaman hias. Secara biologi.

2004). Panjang pelepah daun dapat mencapai 9 m. terdiri dari perikarp yang terbungkus oleh eksokarp (kulit). Helai anak daun yang terletak di tengah pelepah daun adalah yang terpanjang dan panjangnya dapat mencapai 1. Oleh karena itu. mesokarp (yang secara salah kaprah biasanya disebut perikarp) dan endocarp (cangkang) yang membungkus 1. sedangkan akar sekunder. tertier. 1994). tergantung pada umur tanaman. 2006). terkadang dalam satu tandan terdapat bunga jantan sekaligus bunga betina. Akar-akar primer umumnya tumbuh ke bawah. Namun demikian. Medan. endoperm yang padat. tanaman kelapa sawit disebut tanaman berumah satu atau monoceous. Akar-akar kelapa sawit banyak berkembang di lapisan tanah atas sampai kedalaman ± 1 meter dan semakin ke bawah semakin sedikit (Risza. dan sebuah embrio (Pahan. Bunga ini disebut bunga hermaprodit (Hadi. bahkan ada yang sampai 17 tahun pada tanaman setengah liar (Sianturi. 1991). Secara botani buah kelapa sawit digolongkan sebagai buah drupe.20 m. dan kuartier. Biasanya pangkal-pangkal daun melekat beberapa tahun pada batang. bahkan pangkal batang bisa lebih besar lagi pada tanaman tua. Tanaman kelapa sawit berakar serabut yang terdiri atas akar primer. 2006). masingmasing tersusun pada tandan yang berbeda tetapi masih dalam satu pohon.Agronomi Tanaman Perkebunan Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Akar kuartier berfungsi menyerap unsur hara dan air dari dalam tanah. tertier dan kuartier arah tumbuhnya mendatar dan ke bawah. sekunder.− TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Menurut Soehardjo dkk. Pada tanaman kelapa sawit letak bunga jantan dan bunga betina terpisah. . (1996) taksonomi tanaman kelapa sawit adalah : Divisi : Tracheopita Subdivisi : Pteropsida Kelas : Angiospermae Subkelas : Monocotyledoneae Ordo : Cocoideae Family : Palmae Genus : Elaeis Spesies : Elaeis guineensiss Jacq. Besarnya batang berdiameter 25 – 75 cm. Jumlah anak daun dalam satu pelepah berkisar antara 120 – 160 pasang (Setyamidjaja. Sebagai bahan informasi bagi pihak-pihak yang membutuhkan. Inti memiliki testa (kulit). Pada pangkal pelepah daun terdapat duri-duri atau bulu-bulu halus sampai kasar. Daun kelapa sawit bersirip genapdan bertulang sejajar.4 inti/kernel (umumnya hanya satu). berangsur-angsur lepas pada umur 11 tahun. di perkebunan umumnya 45 – 60 cm .

2004). Tanah perkebunan kelapa sawit hendaknya memenuhi kriteria sebagai . 1996 ). Penyinaran matahari sangat berpengaruh terhadapat perkembangan buah kelapa sawit. organosol dan aluviall Soehardjo. Suhu optimum itu C. 1991). dkk. Setelah itu. kelembapan uadar. regosol. Kemarau panjang dapat mengakibatkan pengeringan tanah di daerah perakaran yang relatif dangkal sehingga kelembaban tanah bias berada di bawah titik layu permanen. Makin lama penyinaran atau makin rendah suatu tempat. dkk. 6) Drainase baik . 2007). tandan buah diperam ( Fermentasi I ) selama 3 hari supaya semua buahnya rontok... 4) ketinggian lahan 0 – 400 m dpl .0 – 6. Karena itu perlu persiapan yang lama untuk mengecambahkannya. . Beberapa unsur iklim yang penting dan saling mempengaruhi adalah curah hujan. latosol. Setelah buah masak dipanen. Tanah Kelapa sawit tumbuh pada beberapa jenis tanah seperti podsilik. Kelembaban relatif paling sedikit 75% (Sianturi. hidromorfik kelabu. 5) Kedalaman air tanah 80 -150 cm dari permukaan . 7) kesuburan kimiawi cukup (diketahui dari hasil analisa tanah) (Hadi. Pembibitan Kelapa Sawit Benih tanaman kelapa sawit memiliki sawit yang tebal.°berikut : 1) Keasaman tanah (pH) 5. Yang penting untuk pertumbuhan tanaman kelapa sawit adalh distribusi hujan yang merata. Selain sinar matahari dan curah hujan yang cukup. Suhu akan berpengaruh terhadap pembungaan dan kematangan buah (Tim Penulis PS. 2) kemiringan lahan 0 -15 3) Solum 80 cm . pertunbuhannya akan terhambat karena hasil asimilasinya kurang (Sastrosayono.Syarat Tumbuh Iklim Faktor iklim sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi tandan kelapa sawit. maka akan terjadi kenaikan suhu. andosol.5 . Inilah yang membuat tanaman sawit tumbuh lambat pada daerah beriklim moonson dan produksinya kecil. Tanaman kelapa sawit termasuk tanaman heliofil atau menyukai cahaya matahari. suhu. Beberapa faktor yang mempengaruhi suhu° – 30°berkisar antara 29 adalah lama penyinaran dan ketinggian tempat. diperam lagi selama 3 hari ( Fermentasi II ) (Sastrosayono. dan angin (Fauzi. hidromorfik. sinar matahari. 1997). untuk tumbuh dengan baik tanaman kelapa sawit memerlukan suhu yang optimum. 2003). Kelapa sawit dapat tumbuh dengan baik pada daerah tropika basah di sekitar lintang utara – selatan 12 derajat pada ketinggian 0 – 500 m dpl. Tanaman yang ternaungi karena jarak tanam yang sempit. 2003).

(2) bahan tanaman memerlukan ketegakan habitusnya sehingga tidak miring atau roboh . atau kiar-kira 9 bulan kemudian. Untuk mendapatkan tanaman yang bersifat unggul. 1997). 2007). 2004). Alasan lain diperlukannya pembibitan yaitu (1) keadaan kecambah kelapa sawit yang mudah diserang insekta. yaitu dengan bijinya. Cara ini memang umum dilakukan dan diangap paling gampang. Untuk mendukung pertumbuhan bibit dengan baik. pengadaan bibit dalam jumlah banyak dengan cara ini mengalami beberapa kendala. Jauh dari sumber hama dan penyakit tanaman (Soehardjo. antara lain bahan bibit yang diperoleh sangat terbatas dan sangat bervariasi (Tim Penulis PS. yaitu didasarkan pada kriteria produksi minyak perhektar. Pembibitan harus sudah dipersiapkan sekitar 1 tahun sebelum penanaman di lapangan. Tidak tergenang air . Seleksi bibit penting dilakukan karena akan menentukan hasil panen dan kualitas kelapa sawit. Sedangkan selebihnya 25 % sengaja dibuang (thinning out). Pada umumnya pengembangbiakan tanaman kelapa sawit dilakikan secara generatif. agar bibit yang ditanam tersebut memenuhi syarat pertama baik umurnya maupun ukurannya (Setyamidjaja. Untuk memperoleh bibit yang benar. Seleksi bibit ini sedemikian ketat karena bibitnya standar akan menentukan masa depan hasil panen dan kualitas tanaman (Rizsa. 3. 2006). 2. Dekat dengan sumber air . Dalam usaha membudidayakan kelapa sawit. 1994). sertaa (3) pembibitan diperlukan untuk memperpendek waktu antara persiapan lapangan dan penanaman pertama sehingga begitu lahan siap tanam bibit sudah siap untuk ditanam (Pahan. Akan tetapi. pertumbuhan vegetatif dan daya tahan terhadap penyakit tajuk serta ganoderma (Fauzi. Hasil persilangan dianggap sebagai persilangan terbaik secara ekonomis. Tahapan bibitan dapat dibagi dua yaitu : prapembibitan (prenursery) dan pembibitan utama (mainnursery) untuk pertumbuhan selanjutnya (Sianturi. 4.. 1996). Relatif dekat dengan media Pananaman . Pemeliharaan dan kondisi bibit dipembibitan sangat menentukan keadaan tanaman dilapangan baik keragaman maupun produktivitasnya. Jadi waktu yang dibutuhkan pada pembibitan mulai penanaman kecambah hingga bibit siap ditanam di areal perkebunan kurang lebih adalah 12 bulan (3 bulan di prenursery dan 9 bulan di main nursery) (Hadi. 1991). biji yang dipilih sebaiknya berasal dari persilangan varietas unggul. Prenursery diawali dengan menanam kecambah kelapa sawit ke dalam tanah pada kantong plastik atau (polybag) kecil hingga berumur tiga bulan. mutu minyak. perlu diperhatikan syarat penetapan lokasi pembibitan : 1. 5. Pada benih jagung . tikus. Kualitas bibit sangat menentukan produksi akhir jenis komoditas ini.Pembibitan merupakan kegiatan – kegiatan awal di lapangan yang bertujuan untuk mempersiapakan bibit siap tanam. di Indonesia lebih banyak digunakan bahan tanaman yang berasal dari persilangan Dura dan Pisifera. masalah pertama yang dihadapi oleh pengusaha dan petani yang bersangkutan adalah tentang pengadaan bibit. Produksi benih D x P adalah mirip dengan produksi jagung hibrida. dkk. dan hama lainnya . Mainnursery diawali dengan menanam biji yang sudah berumur tiga bulan (pindahan dari prenursery) kedalam polybag yang lebih besar hingga bibit siap ditanam di areal perkebunan.benar sehat. 2006). Areal harus rata . unggul dan homogen maka bibit hanya dipilih ± 75 % saja.

dan liat 20 -50%. dan jumlahnya cukup dikandung tanah. struktur. dan kedalaman permukaan air tanah. permeabilitas sedang. Tanaman yang bertekstur pasir mempunyai luas permukaan atau (spesific surface) yang kecil.sawah dan di kolam.4 cm. tetua dalam turunan yang telah mengalami jumlah besar generasi yang dimuliakan. Sungguhpun demikian anggota dari setiap turunan secara genetic homozigot dan serupa. Pada kasus lalu tanah – tanah berpasir biasanya berhubungan dengan kandungan unsur hara yang tinggi (Risza. ketebalan lapisan tanah. udara tanah mudah masuk dan tanah mudah diolah (Hasibuan. debu 10 – 40%. Kompos Azolla ( Azolla sp. 2006). terlihat berbentuk segitiga atau segiempat. subur.) secara sistematik telah dimulai tahun1920 di Afrika dan Asia (Malaysia dan Sumatera) ketika spesies memulai di eksploitasi untuk minyak nabati sacara komersial (Internasional Confenrence . cair. dkk. sehingga pada musim kemarau mudah kekurangan air. sehingga sulit menyerap atau menahan air dan unsur hara. akar rhizome dan daun terapug. Tanaman kelapa sawit tumbuh baik pada daerah gembur. Pemuliaan dan seleksi kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq. dan mempunyai solum yang tebal sekitar 80 cm tanpa lapisan padas. sebagian bagi adalah bahan organik yang terakhir adalah bagian yang dijumpai paling banyak pada tanah organik (Sianturi. dengan cabang. maka liat ini akan lebih praktis dibandingkan dengan tanah yang mengandung 100% liat. Azolla pinnata merupakan tumbuhan kecil yang mengapung di air. kemiringan tanah. Media Tanam Bila tanah banyak mengadung banyak pasir. 1981). yang terdiri dari mineral yang kaya hara esensial. pengaruhnya terhadap tanah akan baik. karena cukup longgar. ) Azolla adalah jenis tumbuhan paku air yang mengapung banyak terdapat diperairan tergenang terutama di sawah.hibrida. Azolla berukuran 2 . 2007). berdrainase baik. dan gas. 2006).. mengapung di air. Beberapa hal yang menentukan sifat fisik tanah adalah tekstur. Tanah dengan 25% liatnya. Akar solit. Fase padat menempati hamper 50% dari volume tanah. 1991). Tekstur tanah ringan dengan kandungan pasir 20 – 60%. tanah ini kurang baik untuk pertumbuhan tanaman. sebagai contoh selfing dan sibbing. konsistensi. Tanah yang kurang cocok adalah tanah pantai berpasir dan tanah gambut tebal (Fauzi. panjang 1 – 5 cm dengan membentuk kelompok 3 -6 rambut . Pada pembastaran tumbuhan secara genetik sama tetapi heterozigot. Jenis media tanam terdiri atas lapisan tanah yang terdiri atas tiga fase bahan – bahan padat. 1994). permeabilitas. Bila jumlah pasir tidak terlalu banyak. berbulu. air akan mudah meresap. mempuyai permukaan daun yang lunak mudah berkembang dengan cepat dan hidup bersimbiosis dengan Anabaena azollae yang dapat mengfiksasi nitrogen ( N2 ) dari udara. Oleh sebab itu penanaman jagung varietas hibrida menghasilkan tanaman yang tetap seragam dalam bebagai aspek (Chin.

P 0.59 % . Daun kecil. Cl 0. Nitrogen merupakan nutrisi utama bagi tanaman untuk menopang pertumbuhannya.944 ppm .66 % .45 – 1.4 -0. pakan ikan. sub soil.30 % .kr. Zn 26 – 989 ppm (http://kolamazolla. Bahan dan Alat Adapun bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah benih kelapa sawit ( Elaeis guineensis Jacq.96–5.id 2009). S 0. tanaman hias. Mn 66 – 2. 2009). Na 0. tumbuhan paku ini dapat tumbuh subur. Al 0. Medan.pakuan.kehati. top soil. BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Percobaan ini dilakukan di lahan percobaan Fakultas Pertanian.59 % .blogspot. Fe 0.264 ppm . cuping dengan cuping dorsal berpegangan di atas permukaan air dan cuping ventral mengapung (http://www.0. Kegunaan azolla adalah: sumber N dapat menganti pupuk urea sampai 100 kg.com. tentu bermanfaat pula untuk memperbaiki tekstur tanah yang rusak akibat penggunaan pupuk kimia (http:// www. jelas Azolla pinnata bereproduksi menggunakan spora (http:// syraru. 2009 b).id . Azolla pinata tumbuh subur di daerah sawah dan kolam. menyirap bervariasi.com. pakan ternak/hijauan.) sebagai objek pengamatan. Ca 0. terutama ayam dan itik.16 – 1. Sehingga sebagian nitrogen dilepaskan ke lingkungan sekitarnya dan diserap oleh tanaman lain.31 % . Universitas Sumatera Utara. yamg berarti paku.16 -1. pasir.4 – 0. Dengan ketinggian tempat ± 25 m dpl yang dimulai dari bulan Februari 2009 sampai dengan April 2009. serta kompos Azolla (Azolla sp.16 -3.akar. pupuk kandang ayam ras sebagai media tanam.31 – 5. Kandungan unsur hara dalam azolla yaitu: N 1. Manfaat Azolla sebagai pupuk alami penganti urea pelantaran tanaman tersebut mampu mengikat nitrogen dari udara. menekan pertumbuhan gulma.blogspot. Azolla piñata termasuk dalam divisi Pterydophyta. Azolla pinnata hanya tumbuh di daerah tropis. kontrol terhadap perkembangan nyamuk (http://kolamazolla.97 % . Selain menghemat pupuk. 2009 a).90 % . membentuk 2 barisan. duduk melekat. Si 0.35 % .22 – 0. Bila sawah atau kolam tersebut kering maka Azolla pinnata akan mati.62 .59 % . air untuk penyiraman.70 % .co. K 0. Co 0. Jumlah nitrogen yang diikat azolla melebihi kebutuhannya sendiri.73 % .com.or.) . salama ada air yang tergenang. 2009). Mg 0.22 – 0.

dan pertumbuhan kecambah kelapa sawit ke-k µ : Nilai tengah βi : Efek media tanam ke-i αj : Efek jumlah kompos Azolla ke-j (αβ)jk : Efek interaksi antara media tanam ke-i dan jumlah kompos Azolla ke-j εijk : Efek error yang disebabkan oleh media tanam ke-i. meteran untuk mengukur tinggi kecambah. jumlah kompos Azolla ke-j. akan diujikan dengan beda nyata jujur (BNJ) pada x = 5% . dan jangka sorong untuk mengukur diameter batang kecambah. . Metode percobaan Data percobaan dianalisis dengan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dengan dua faktor yaitu: Faktor I : Media Tanam (M) dengan dua taraf yaitu: M1: Top soil + Pasir M2: Sub soil + Pupuk kandang ayam ras Faktor II: Kompos Azolla (Azolla sp. polybag sebagai wadah penanaman.) dengan 3 taraf yaitu: A0: Tanpa kompos Azolla A1: Diberi kompos Azolla 7 gram A2: Diberi kompos Azolla 14 gram Sehingga didapat 6 kombinasi perlakuan yaitu: M1A0 M2A0 M1A1 M2A1 M1A2 M2A2 Jumlah blok : 3 Jumlah plot per blok : 6 Jumlah kecambah per plot : 2 Jumlah kecambah seluruhnya : 36 Dari hasil percobaan dianalisis sidik ragam Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan model linier sebagai berikut: Yijk= µ + βi + αj + βk + (αβ)jk + εijk dimana: Yijk : nilai pengamatan pada media tanam ke-i. Sedangkan alat yang digunakan adalah cangkul untuk mencangkul tanah. jumlah kompos Azolla ke-j dan pertumbuhan kecambah kelapa sawit ke-k Apabila data percobaan analisis tidak ragam berbeda nyata.sebagai bahan pengganti sumber N. gembor untuk menyiram tanaman.

pasir dibersihkan dari bahan organik. Penyiraman dilakukan dengan menggunakan gembor. Pemupukan Pemupukan dilakukan pada tanaman sejak berumur 3 MSPT hingga 6 MSPT dengan menggunakan pupuk Nitroposka. .PELAKSANAAN PERCOBAAN Persiapan Lahan Lahan percobaan dibersihkan dari gulma dan dibuat plot sebagai tempat peletakan polibag. setelah plot selesai disekeliling bedengan dibuat pagar dan parit sedalam 30 cm. Penyiangan Penyiangan dapat dilakukan dengan menggunakan alat yaitu cangkul atau dengan tangan pada saat gulma mulai tumbuh di media tanam maupun di areal penanaman. dicampur dengan topsoil sesuai dengan perlakuan masing-masing. Penyiapan Media Tanam Pasir yang digunakan adalah pasir yang berasal dari laut. Kemudian media tanam campuran yakni pupuk kandang dicampur dengan topsoil sesuai dengan perlakuan masing-masing kemudian dimasukkan ke dalam polibag. Pemeliharaan Tanaman Penyiraman Penyiraman dilakukan setiap sore hari tergantung kepada kondisi kelembaban permukaan media tanam.

jumlah daun 4 . Perhitungan jumlah daun dilakukan sejak berumur 3 MSPT hingga tanaman berumur 6 MSPT dengan interval 1 minggu. Pengukuran diameter batang dilakukan sejak tanaman 3 MSPT hingga tanaman berumur 6 MSPT dengan interval 1 minggu. Jumlah Daun (helai) Jumlah daun yang dihitung adalah daun yang telah membuka sempurna.Pengamatan Parameter Tinggi tanaman Tinggi tanaman yang berkecambah sudah berumur 3 bulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Dari data pengamatan dan sidik ragam (lampiran 1 – 38) diketahui bahwa perlakuan media tanam berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 2 – 8 MST. Diameter Batang (mm) Batang tanaman diukur diameternya pada ketinggian 1 cm diatas permukaan tanah dengan menggunakan jangka sorong. dihitung mulai dari permukaan tanah sampai bagian tertinggi dari tanaman.

jumlah daun 4 MST. . jumlah daun 5 – 8 MST. diameter batang 4 – 5 MST. diameter batang 6 – 8 MST. Rataan tinggi tunas kelapa sawit 8 MST (cm) dari perlakuan media tanam dan kompos azolla Dari Tabel 1 diketahui bahwa perlakuan media tanam terhadap parameter tinggi tunas 8 MST tertinggi yaitu M1 (13. Dari Tabel 1 diketahui bahwa perlakuan kompos azolla terhadap parameter tinggi tunas 8 MST tertinggi yaitu A2 (12. 8 MST. Tinggi Tunas (cm) Dari data pengamatan dan sidik ragam diketahui bahwa perlakuan media tanam berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 2 – 8 MST. Histtogram tunas kelapa sawit 8 MST (cm) dari perlakuan media tanam dan kompos azolla dapat dilihat pada gambar 1.79). 6.67). dan tidak berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 1 MST. Kompos azolla berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 2 – 8 MST. 7. dan tidak berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 1 MST.41) dan terendah M2 (12. Dari data pengamatan dan sidik ragam (lampiran 1 – 38) diketahui bahwa interaksi antara media tanam dan kompos azolla berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 2 – 5 MST. jumlah daun 3 MST. diameter batang 4 – 8 MST. dan tidak berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 1 MST. Tabel 1. 6. 8 MST. Dari data pengamatan dan sidik ragam (lampiran 1 – 38) diketahui bahwa perlakuan kompos azolla berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 2 – 8 MST. dan tidak berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 1. Rataan tinggi tunas kelapa sawit 8 MST (cm) dari perlakuan media tanam dan kompos azolla dapat dilihat pada tabel 1.59). Dari Tabel 1 diketahui bahwa interaksi media tanam dan kompos azolla terhadap parameter tinggi tunas 8 MST tertinggi yaitu M1A2 (19. dan tidak berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 1. dan tidak berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 1 MST.61) dan terendah A0 (10.– 8 MST. Interaksi antara media tanam dan kompos azolla berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 2 – 5 MST. 7. diameter batang 4 – 8 MST. jumlah daun 4 – 8 MST.66) dan terendah M2A0 (15. jumlah daun 3 MST.

Dari Tabel 2 diketahui bahwa pada perlakuan kompos azolla terhadap parameter jumlah daun 8 MST tertinggi yaitu A2 (1.83). Rataan jumlah daun kelapa sawit 8 MST (helai) dari perlakuan media tanam dan kompos azolla Dari Tabel 2 diketahui bahwa pada perlakuan media tanam terhadap parameter jumlah daun 8 MST tertinggi yaitu M1 (2. Kompos azolla berbeda nyata terhadap parameter jumlah daun 5 – 8 MST. dan tidak berbeda nyata terhadap parameter jumlah daun 3 MST.00) dan terendah M2A0 dan M2A1 (2.50).15) dan terendah M2 (1.92). dan tidak berbeda nyata terhadap parameter jumlah daun 3 MST. Rataan tinggi tunas kelapa sawit 8 MST (cm) dari perlakuan media tanam dan kompos azolla Jumlah Daun (helai) Dari data pengamatan dan sidik ragam diketahui bahwa perlakuan media tanam berbeda nyata terhadap parameter jumlah daun 4 – 8 MST. Interaksi antara media tanam dan kompos azolla berbeda nyata terhadap parameter.Gambar 1. Tabel 2. Dari Tabel 2 diketahui bahwa pada interaksi media tanam dan kompos azolla terhadap parameter jumlah daun 8 MST tertinggi yaitu M1A1 dan M1A2 (3. Rataan jumlah daun kelapa sawit 8 MST (helai) dari perlakuan media tanam dan kompos azolla dapat dilihat pada tabel 2. . dan tidak berbeda nyata terhadap parameter jumlah daun 4 – 8 MST.89) dan terendah A1 (1.

Interaksi antara media tanam dan kompos azolla tidak berbeda nyata terhadap parameter diameter batang 4 – 8 MST.Histogram jumlah daun kelapa sawit 8 MST (helai) dari perlakuan media tanam dan kompos azolla dapat dilihat pada gambar 2. Kompos azolla berbeda nyata terhadap parameter diameter batang 6 – 8 MST. Gambar 2. Tabel 3. Rataan diameter tunas kelapa sawit 8 MST (mm) dari perlakuan media tanam dan kompos azolla . Histogram jumlah daun kelapa sawit 8 MST (helai) dari perlakuan media tanam dan kompos azolla Diameter Tunas (mm) Dari data pengamatan dan sidik ragam diktahui bahwa perlakuan media tanam tidak berbeda nyata terhadap parameter diameter batang 4 – 8 MST. dan tidak berbeda nyata terhadap parameter diameter batang 4 – 5 MST. Rataan diameter tunas kelapa sawit 8 MST (mm) dari perlakuan media tanam dan kompos azolla dapat dilihat pada tabel 3.

Histogram diameter tunas kelapa sawit 8 MST (mm) dari perlakuan media tanam dan kompos azolla dapat dilihat pada gambar 3. permiabilitas. Hal ini disebabkan karena media tanam yang digunakan adalah pasir dan top soil dengan . Dari Tabel 3 diketahui bahwa pada perlakuan kompos azolla terhadap parameter diameter tunas 8 MST tertinggi yaitu A1 (0.87).41) dan terendah M2 (12. Akan tetapi akan berhubungan dengan adanya variasi yang terdapat pada sistem mineralogy reaksi tanah.24) dan terendah M1A0 (0.15) dan terendah M2 (1.80) dan terendah M1 (0.79). Akar kelapa sawit dapat menyerap hara dari media tanam dengan baik karena ruang pori tanah yang baik.92).Dari Tabel 3 diketahui bahwa pada perlakuan media tanam terhadap parameter diameter tunas 8 MST tertinggi yaitu M2 (0. Gambar 3. kemudian olah tanah. Histogram diameter tunas kelapa sawit 8 MST (mm) dari perlakuan media tanam dan kompos azolla Pembahasan Pengaruh Media Tanam Terhadap Pertumbuhan Kecambah Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq. maka ada ketentuan-ketentuan umum yang berlaku untuk semua jenis tanah Dari hasil percobaan pada perlakuan media tanam terhadap parameter tinggi tunas 8 MST tertinggi yaitu M1 (13. Dari Tabel 3 diketahui bahwa pada interaksi antara media tanam dan kompos azolla terhadap parameter diameter tunas 8 MST tertinggi yaitu M2A2 (1. kekerasan.79). Begitu juga terhadap parameter jumlah daun 8 MST tertinggi yaitu M1 (2. kesuburan dan produktivitas tanah pada daerah geotropik tertentu.) D X P di Pre Nursery Dari data diketahui bahwa media tanam berbeda nyata terhadap tinggi tunas dan jumlah daun kelapa sawit. Hal ini dikarenakan media tanam yang digunakan sangat sesuai dengan kebutuhan kelapa sawit dalam pertumbuhannya.77) dan terendah A0 (0.60). Hal ini sesuai dengan literatur Hadi (2004) yang menyatakan bahwa Jenis tanah berhubungan erat dengan plastisitas.

) D X P di Pre Nursery Dari data diketahui bahwa interaksi antara media tanam dan kompos Azolla berbeda nyata terhadap tinggi tunas dan jumlah daun kelapa sawit. Dari hasil percobaan diketahui bahwa perlakuan kompos azolla terhadap parameter tinggi tunas 8 MST tertinggi yaitu A2 (12. jumlah . Kompos Azolla dapat terurai dengan baik pada tanah sehingga tanaman dapat menggunakan hara dengan baik. Dalam bentuk kompos ini. azolla juga baik untuk media tanam. Interaksi Antara Media Tanam dan Kompos Azolla Terhadap Pertumbuhan Kecambah Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq. Hal ini sesuai dengan literatur Sianturi (1991) tanah juga harus mampu menahan air yang cukup dan hara yang tinggi secara alami maupun hara tambahan. diameter batang 4 – 8 MST. Hal ini dikarenakan kompos Azolla sangat baik digunakan selain sebagai media tanam juga sebagai pupuk bagi tanaman karena kompos Azolla memiliki nisbah C/N yang rendah.perbandingan 2:1. Pengaruh Kompos Azolla Terhadap Pertumbuhan Kecambah Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq. Hal ini terjadi karena pada perlakuan yang diberi kompos azolla pertumbuhan kecambahnya jauh lebih baik dibandingkan dengan yang tidak diberi kompos azolla. dan tidak berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 1 MST. Hal ini sesuai dengan literatur http:kolomozolla. Media tanam berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 2 – 8 MST. Selain digunakan secara langsung. kompos azolla juga dengan pasir dan tanah kebun dengan perbandingan 3:1. selain dalam bentuk segar bisa juga dalm bentuk kering dan kompos.) D X P di Pre Nursery Dari data diketahui bahwa kompos Azolla berbeda nyata terhadap tinggi tunas. Selain digunakan secara langsung.html (2008) yang menyatakan bahwa kegunaan dari kompos azolla adalah sumber N dan dapat menggantikan urea sampai 100 kg serta dapat menekan pertumbuhan gulma. 2. com/2008-07-1 archieve. kompos azolla juga dengan pasir dan tanah kebun dengan perbandingan 3:1. azolla juga baik untuk media tanam. sehingga terjadi gabungan antara tekstur kasar dengan halus oleh top soil. jumlah daun dan diameter batang kelapa sawit. com/2008/07/manfaat tanaman azolla.blogspot.blogspot. Kompos azolla berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 2 – 8 MST. selain dalam bentuk segar bisa juga dalm bentuk kering dan kompos.blogspot. Tekstur seperti ini adalah tekstur yang paling cocok untuk pertumbuhan benih. com/2008/07/manfaat tanaman azolla.html (2008) yang menyatakan bahwa penggunaan sebagai pupuk. Dalam bentuk kompos ini.61) dan terendah A0 (10. Karena kompos azolla memliki N yang tinggi yang bepengaruh bagi pertumbuhan tanaman.html (2008) yang menyatakan bahwa penggunaan sebagai pupuk. jumlah daun 3 MST. Hal ini dikarenakan media tanam dapat bersatu dengan kompos Azolla dalam penyediaan hara bagi tanaman kelapa sawit. Hal ini sesuai dengan literatur http://kolamazolla. jumlah daun 4 – 8 MST. Dimana tanah mampu menahan air yang cukup.59). KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Hal ini sesuai dengan literatur http:kolomozolla.

Jakarta Hadi. Jakartakelapa sawit.com a. 2006. 1991. Kelapa Sawit Teknik Budidaya dan Pengolahan. 6.kehati. Jakarta Setyamidjaja. Teknik Berkebun Kelapa Sawit.M. 1981. Penebar Swadaya. Saran Sebaiknya dalam melakukan percobaan ini. jumlah daun 3 MST. Azolla. kompos azolla.kr. The Oil Palm In Agriculture In The Eighties Pahan. Medan Soehardjo dkk. Pematang Siantar-Sumut Tim Penulis PS. Medan http://kolamazolla. dan tidak berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 1.id. dkk. diameter batang 6 – 8 MST. B. 2003. media Reaksi: .or. Azolla. DAFTAR PUSTAKA Chin. Agromedia Pustaka. jumlah daun 5 – 8 MST. Panduan Lengkap Kelapa Sawit Manajemen Agribisnis dari Hulu Hingga Hilir. Suyatno. Djoehana. 8 MST. Budidaya Kelapa Sawit. diameter batang 4 – 5 MST. Yogyakarta Sianturi. Budidaya Kelapa Sawit.com. Kanisius. M. kompos azolla Diposkan oleh junT blogs di 00:58 0 komentar Link ke posting ini Label: kelapa sawit. benih yang digunakan harus bersertifikat dan penyiraman harus dilakukan secara teratur untuk mendukung pertumbuhan tanaman.com b. Iyung.blogspot. Choice Of Planting Material.id. Azolla. 2006. Kanisius. Jakarta Risza. 2007. 1997. (4 April 2009) http://www. Kelapa Sawit Budidaya Pemanfaatan Hasil dan Limbah Analisis Usaha & Pemasaran.blogspot. 7. Ilmu Tanah. jumlah daun 4 MST. Kelapa Sawit. 1994. Penebar Swadaya. 3. Kompos Azolla (4 April 2009) http://kolamazolla. Soh Aik.E. 1996. 2004.daun 4 – 8 MST. Yogyakarta Hasibuan. (4 April 2009) http://www. 2006. Adicita Karya Nusa. The Incorporate Society Of Planters. Yan. 1989. Kelapa Sawit Usaha Budidaya Pemanfaatan Hasil dan Aspek Pemasaran. Interaksi antara media tanam dan kompos azolla berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 2 – 5 MST. USU Press. Yogyakarta Sastrosayano. (4 April 2009) International Conference. Vademecum Kelapa Sawit. diameter batang 4 – 8 MST.co. dan tidak berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 1 MST. Kompos Azolla (4 April 2009) http://syararu. USU Press. Selardi. PTP N IV (Persero) Bahjambi. Penebar Swadaya. Malaysia Fauzi.

Medan . Arg) LAPORAN OLEH : JUNITA SINAMBELA 070301054/BDP-AGRONOMI 16 Laporan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Mengikuti Praktikal Test di Laboratorium Agronomi Tanaman Perkebunan Fakultas Pertanian Sumatera Utara.pengaruh penggosokan benih dan media tanam pada perkecambahan benih karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg) LAPORAN OLEH : JUNITA SINAMBELA 070301054/BDP-AGRONOMI 16 LABORATORIUM AGRONOMI TANAMAN PERKEBUNAN DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2009 PENGARUH PENGGOSOKAN BENIH DAN MEDIA TANAM PADA PERKECAMBAHAN BENIH KARET (Hevea brasiliensis Muell. Arg) PENGARUH PENGGOSOKAN BENIH DAN MEDIA TANAM PADA PERKECAMBAHAN BENIH KARET (Hevea brasiliensis Muell.

040301037 LABORATORIUM AGRONOMI TANAMAN PERKEBUNAN DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2009 ABSTRACT The objective of this experiment was to know effect of rubbed and media in growing of rubber seed. MS) NIP. with no rubbed and with rubbed.Disetujui Oleh Dosen Penanggungjawab (Ir. rubbed. seed . sand and top soil. The second one was the media that consist of sand. height of plumule. The experiment was conducted in Agronomi Tanaman Perkebunan I Laboratory Land. top soil. 040301001 Diperiksa Oleh: Asisten Korektor (Hayati Silalahi) NIM. Balonggu Siagian. North Sumatera University with ± 25 m above sea level. from March to April 2009. Agriculture Faculty. speed of seed growth. 130 806 538 Diketahui Oleh: Asisten Koordinator (Eko Andi Pasaribu) NIM. Key words : media. Interaction between rubbed ang media did’nt gave effect of all the parameter. The experiment used Randomized Complete Block Design (RAK) with 2 factors and 4 replications. The experiment result showed that rubbed gave significant effect of presentation of seed. Media gave significant effect of speed of seed growth ang height of plumule. The first factor was rubbed.

laju perkecambahan benih. Percobaan ini dilaksanakan di lahan percobaan Laboratorium Agronomi Tanaman Perkebunan I Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan pada ketinggian tempat ± 25 m dpl dari bulan Maret sampai April 2009 dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor perlakuan dan empat ulangan. top soil. benih yang digosok. Sinambela dan Ibu N. Faktor II adalah faktor media yaitu pasir. pasir dan top soil. Media berpengaruh nyata terhadap laju perkecambahan benih karet. tinggi plumula. Kata kunci : media. yaitu benih tanpa digosok. Anak pertama dari empat bersaudara. Hail percobaan menunjukkan bahwa penggosokan benih berpengaruh nyata terhadap persentase perkecambahan benih. Sedangkan interaksi antara penggosokan dan media tidak berpengaruh nyata terhadap semua parameter. tinggi plumula. benih RIWAYAT HIDUP Junita Sinambela lahir pada tanggal 2 April 1989 di Medan. penggosokan.ABSTRAK Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggosokan benih dan media tanam pada perkecambahan benih karet. Faktor I adalah penggosokan. Manurung. Adapun pendidikan yang pernah ditempuh penulis adalah sebagai berikut: . Anak dari Bapak P.

MP selaku dosen mata kuliah Agronomi Tanaman Perkebunan serta kepada abang dan kakak asisten yang telah membantu dalam penyelesaian laporan ini. Arg)” yang merupakan salah satu syarat unutk dapat mengikuti praktikal test di Laboratorium Agronomi Tanaman Perkebunan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. MS dan Ir. Adapun judul dari laporan ini adalah “Pengaruh Penggosokan Benih dan Media Tanam pada Perkecambahan Benih Karet (Hevea brasiliensis Muell. Charloq Nababan. Balonggu Siagian. Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan.SD Negeri 050721 di Gohor Lama Tamat tahun 2001 SMP Negeri 1 di Hinai Tamat tahun 2004 SMA Negeri 1 di Stabat Tamat tahun 2007 Penulis terdaftar sebagai mahasiswi di Departemen Budidaya Pertanian Program Studi Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. . KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Esa karena atas berkat dan rahmatNya penulis dapat menyelesaikan laporan ini tepat pada waktunya. Medan. oleh sebab itu penulis mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan laporan ini. Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Ir. Medan melalui jalur SPMB pada pilihan pertama pada tahun 2007 sampai sekarang.

Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih. Medan. Mei 2009 Penulis DAFTAR ISI ABSTRACT i ABSTRAK ii RIWAYAT HIDUP iii KATA PENGANTAR vi DAFTAR ISI v DAFTAR TABEL vii DAFTAR GAMBAR viii DAFTAR LAMPIRAN ix PENDAHULUAN Latar Belakang 1 Tujuan Percobaan 3 Hipotesis Percobaan 3 Kegunaan Percobaan 3 TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman 4 Syarat Tumbuh 5 Iklim 5 Tanah 6 Media Tanam 7 Penggosokan Benih Karet 8 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Percobaan 10 Bahan dan Alat 10 Metode Percobaan 10 PELAKSANAAN PERCOBAAN Persiapan Media Tanam 12 Penggosokan Benih 12 Penanaman Benih 12 Pemeliharaan Tanaman 12 Penyiraman 12 Penyiangan 13 Pengamatan Parameter 13 Persentase Perkecambahan (%) 13 Tinggi Plumula (cm) 13 Laju Perkecambahan (hari) 13 . semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Judul Hal 1.HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil 15 Pembahasan 20 KESIMPULAN Kesimpulan 24 Saran 24 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN DAFTAR TABEL No. Rataan tinggi plumula benih karet 8 MST (cm) dari perlakuan penggosokan dan media tanam 19 . Rataan laju perkecambahan benih karet (hari) dari perlakuan penggosokan dan media tanam 17 3. Rataan persentase perkecambahan benih karet (%) dari perlakuan penggosokan dan media tanam 16 2.

Histogram persentase perkecambahan benih karet (%) dari perlakuan penggosokan dan media tanam 17 2. Histogram laju perkecambahan benih karet (hari) dari perlakuan penggosokan dan media tanam 18 3. Judul Hal 1.DAFTAR GAMBAR No. Histogram tinggi plumula benih karet 8 MST (cm) dari perlakuan penggosokan dan media tanam 20 .

Data tinggi plumula benih karet 8 MST (cm) 30 Lampiran 16. Data tinggi plumula benih karet 4 MST (cm) 28 Lampiran 8. Sidik ragam tinggi plumula benih karet 7 MST (cm) 30 Lampiran 15. Data tinggi plumula benih karet 3 MST (cm) 27 Lampiran 6. Data laju perkecambahan benih karet (hari) 26 Lampiran 4. Data tinggi plumula benih karet 6 MST (cm) 29 Lampiran 12.DAFTAR LAMPIRAN No. Sidik ragam laju perkecambahan benih karet (hari) 27 Lampiran 5. Data persentase perkecambahan benih karet (%) 26 Lampiran 2. Sidik ragam tinggi plumula benih karet 6 MST (cm) 29 Lampiran 13. Sidik ragam tinggi plumula benih karet 3 MST (cm) 27 Lampiran 7. Data tinggi plumula benih karet 5 MST (cm) 28 Lampiran 10. Data tinggi plumula benih karet 7 MST (cm) 30 Lampiran 14. Judul Hal Lampiran 1. Sidik ragam persentase perkecambahan benih karet (%) 26 Lampiran 3. Sidik ragam tinggi plumula benih karet 4 MST (cm) 28 Lampiran 9. Sidik ragam tinggi plumula benih karet 8 MST (cm) 31 . Sidik ragam tinggi plumula benih karet 5 MST (cm) 29 Lampiran 11.

Tanah ulitisol yang kurang sudur banyak ditanami karet dengan pemupukan dan pengolahan yang baik (Setiawan dan Handoko. Produk karet merupakan komoditi ekspor yang sangat penting karena manfaatnya yaitu dapat diolah menjadi bahan baker dasar bagi kepentingan produksi barang-barang penting di dunia. Selanjutnya Wikham pada tahun 1876 kembali dari Brazilia dan membawa 70. 2001). 1995). Komoditas ini sudah dikenal dan dibudidayakan dalam kurun waktu yang lebih lama daripada komoditas perkebunan lainnya. 2005). seperti: ban kendaraan bermotor.000 jenis barang. Sayangnya. Karet di Indonesia telah 120 tahun dan peringatan satu abad telah diadakan tahun 1976 (Sianturi. . Alexander Parkes juga°120-130 mengembangkan cara vulkanisasi ini. Sejak tahun 1839 karet menjadi primadona perkebunan di daerah daerah tropis. Dewasa ini karet merupakan bahan baku yang menghasilkan lebih dati 50. Salah satu pohon karet tersebut tumbang tahun 1962.PENDAHULUAN Latar Belakang Ferris pada tahun 1872 mengirimkan 2000 biji dari Brazilia ke Kebun Raya Kew di Inggris. beberapa biji ke Malaysia dan hanya dua biji ke Kebun Raya Bogor. akan tetapi nilainya jauh lebih rendah dari bahan karet alam (Kartasapoetra. Karet merupakan salah satu komoditas perkebunan di Indonesia. Indonesia. Sebanyak 2. Perlakuan pengasahan kulit biji benih yaitu dengan maksud untuk menipiskan kulit biji agar dapat mempercepat perkecambahan pada bagian spesies yang mempunyai kulit biji yang keras dan yang sangat keras dan ada yang sangat tebal (Sutopo. Kedua kiriman tersebut mengalami kegagalan. campuran bahan plastik. ebonite. 1998). campuran benang rayon. sepatu dan beribu-ribu jenis barang lainnya yang juga berbahan dasar karet (Setyamidjaja. hasil maksimal didapatkan jika di tanah – tanah subur. Pada sekitar tahun itu pula Charles Goodyear menemukan vulkanisasi karet dengan cara mencampurkannya dengan belerang dan memanaskan pada suhu C. kemudian tahun 1875. posisi Indonesia yang pada awal pembudidayaan karet merupakan penghasil karet utama di dunia sudah digantikan oleh Malaysia. berpasir. Dari produksi karet alam 46% digunakan untuk membuat ban dan selebihnya untuk karet busa. Memang untuk mencukupi keperluan bahan karet dunia telah diciptakan karet sintetis. 2006). yang sebenarnya masih belum lama dalam hal membudidayakan karet (Siregar. 1993). Penemuan tentang vulkanisasi memberikan inspirasi Dunlop pada tahun 1888 untuk membuat ban mobil yang selanjutnya dikembangkan oleh Goldrich (Setiawan dan Agus. dan lain sebagainya yang sangat diperlukan beberapa negara. 1988). kira-kira 1900 biji dikirim ke Srilanka. dapat melakukan air dan tidak berpadas (kedalaman padas dapat ditolerir adalah 2 – 3 m.397 biji berkecambah. Media tanam.000 biji karet ke Kew.

Hipotesis Percobaan Ada pengaruh penggosokan benih terhadap perkecambahan benih−karet ( Hevea brasiliensis Muell Arg. .).− Kegunaan Percobaan Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikal test di− Laboratorium Agronomi Tanaman Perkebunan Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Sebagai bahan informasi bagi pihak-pihak yang membutuhkan.).Tujuan Percobaan Adapun tujuan dari cobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggosokan benih dan media tanam pada perkecambahan benih karet ( Hevea brasiliensis Muell Arg.). Divisi : Spermatophyta Subdivisi : Angiospermae Kelas : Monocotyledoneae Ordo : Euphorbiales Family : Euphorbiaceae Genus : Hevea Spesies : Hevea brasiliensis Muell Arg. Ada pengaruh interaksi penggosokan benih dan media tanam terhadap perkecambahan benih karet ( Hevea brasiliensis Muell Arg. Sistem perakarannya padat/kompak.− TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Menurut Setiawan dan Agus (2005) klasifikasi tanaman karet adalah sebagai berikut. Tanaman karet merupakan tanaman yang tumbuh tinggi dan berbatang cukup besar. Medan. akar tunggangnya dapat menghujam tanah hingga kedalaman 1-2 m.). 1996). sedangkan akar lateralnya dapat menyebar sejauh 10 m (Syamsulbahri. Ada pengaruh media tanam terhadap perkecambahan benih−karet ( Hevea brasiliensis Muell Arg.

Penyerbukannya dapat terjadi dengan penyerbukan sendiri dan penyerbukan silang (Setyamidjaja. endokarp berkayu. Zona paling cocok dan paling produktif adalah 60LU hingga 60LS. Jika dalam jangka waktu yang cukup panjang suhu rata-rata kurang dari 200C. Curah hujan tahunan yang cocok untuk pertumbuhan tanaman karet tidak kurang dari 2000 mm. Daun karet terdiri dari tangkai utama sepanjang 3-20 cm dan tangkai anak daun sepanjang 3-10 cm dengan kelenjar di ujungnya. Kelembapan yang terlalu tinggi tidak baik untuk tanaman karet (Sianturi. bulat bersegi empat. diameter buah 3-5 cm dan terpisah 3. 1993). Setiap daun karet biasanya terdiri dari 3 anak daun yang berbentuk elips memanjang dengan ujung runcing. Itulah sebabnya. berwarna coklat muda dengan noda-noda coklat tua. Seperti kebanyakan tanaman tropis.Tinggi pohon dewasa mencapai 15-25 m. 2001). Dibeberapa kebun karet arah tumbuhnya tanaman agak miring ke arah utara. Optimal antara 2500-4000 mm per tahun. yaitu bias tumbuh baik di dataran dengan ketinggian 0-400 m dari permukaan laut (dpl). Daun karet ini berwarna hijau dan menjadi kuing atau merah menjelang rontok.5-3 cm dan tebal 1. yaitu Sumatera. 2005). Daerah yang sering mengalami hujan pada pagi hari produksinya akan kurang. panjang 2-3. 1993). daun-daun karet akan rontok pada puncak musim kemarau untuk mengurangi penguapan tanaman (Setiawan dan Agus. Penyebaran pertanaman karet sangat dipengaruhi oleh penyebaran hujan dan tinggi tempat dari permukaan laut. 2005). perikarp berbatok. Keadaan iklim di Indonesia yang cocok untuk tanaman karet ialah daerahdaerah Indonesia bagian barat. Karet termasuk tanaman daratan rendah. Biji besar. sebab iklimnya lebih basah (Setiamidjaja. secara geografis tersebar diantara 100LU hingga 100LS. Batang tanaman biasanya tumbuh lurus dan memeiliki percabangan yang tinggi diatas.5 cm (Sianturi. suhu yang lebih dari 300C juga mengakibatkan karet tidak bisa tumbuh dengan baik (Setiawan dan Agus. 2001). berkilat. Pembagian hujan dan waktu jatuhnya hujan rata-rata setahunnya mempengaruhi produksi. jarang yang beruang empat hingga enam. Pada satu tangkai bunga yang berbentuk bunga majemuk terdapat bunga jantan dan bunga betina. Tanah Tanaman karet dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah baik pada tanah-tanah vulkanis . Buah beruang tiga. Syarat Tumbuh Iklim Tanaman karet adalah tanaman tropis. Jawa dan Kalimantan. tertekan pada satu atau dua sisinya.4 atau 6 cocci berkatup dua. Kelembapan nisbi (RH) yang sesuai untuk tanaman karet adalah rata-rata berkisar antara 75-90 %. Di ketinggian tersebut suhu harian 25300C.5 cm dan lebar 1. yang terbagi dalam 100-150 hari hujan. Batang tanaman ini mengandung getah yang dikenal dengan nama lateks (Tim Penulis. Tanaman karet adalah tanaman berumah satu (monoecus). tempat tersebut tidak cocok untuk budidaya karet. 2001).5-2. tidak semua propinsi di Indonesia memiliki perkebunan karet (Sianturi. 1993).

Distribusi ukuran partikel dan kelas tekstur mempunyai korelasi dengan air. retensi air >150 cm/m. tidak banjir dan tidak ada stagnasi air (Sianturi. lumut yang telah membusuk. tetapi sifat fisisnya terutama drainase dan aerasinya kurang baik. 2006). Pembuatan saluran drainase akan menolong memperbaiki keadaan tanah ini (Setyamidjaja. Tanah-tanah vulkanis umumnya memiliki sifat-sifat fisika yang cukup baik. Media yang digunakan untuk penyemaian biasa hanya terdiri atas pasir saja tetapi kadang-kadang juga diberi campuran sekam padi. Akan tetapi sifat-sifat kimianya umumnya sudah kurang baik. aerasi dan drainesenya. Sifat fisis. Media Tanam Bila tanah terlalu banyak mengandung pasir. 1981). air akan mudah di serap dan cukup dikandung tanah. udara. topsoil. Tanah-tanah alluvial umumnya cukup subur. pH 4. Penggosokan Benih . Bila jumlah pasir tidak terlalu banyak pengaruhnya terhadap tanah akan baik karena cukup longgar. 2005). udara tanah mudah masuk dan tanah mudah diolah (Hasibuan. jumlah pasir sama dengan liat. tekstur. sehingga akar baru yang keluar tidak terhambat pertumbuhannya (Widianto. drainase baik. Partikel-partikel pasir yang ukurannya yang jauh lebih besar dan memiliki permukaan yang kecil (dengan berat yang sama) dibandingkan dengan debu dan liat. maka belum berlaku untuk semua jenis tanah di permukaan bumi (Buckman dan Brady. Sifat umum tanah sangat ditentukan oleh tekstur (Sutanto. kimia. kesuburan dan produktivitas tanah pada daerah geografik tertentu akan tetapi berhubungan adanya variasi yang terdapat dalam sistim mineralogi fisik tanah. permeability. 1982). permebilitas sedang. solum.muda ataupaun vulkanis tua. semakin tinggi persentase pasir dalam tanah. peranannya dalam mengatur sifat-sifat tanah. 2000). kompos. mintakat perakaran. kekerasan. kemiringan tanah 0-8%.5. 1993). sehingga pada musim kemarau mudah kekurangan air. tanah ini kurang baik untuk pertunbuhan tananaman. Jenis tanah berhubungan sangat erat dengan plastisitas. tanah gembur. Tanah yang bertekstur pasir mempunyai luas permukaan (specific surface) yang kecil. kedalaman air tanah. Oleh karena itu. unsur hara.. Asalkan tanahnya gembur dan halus. kemudahan diolah dan yang terpenting adalah masalah kesuburan. semakin banyak pori-pori di antara partikel tanah dan hal ini dapat memperlancar gerakan udara/air (Hartman. karena kandungan haranya relatif rendah. et al. 2001). sehingga sulit menyerap atau menahan air dan unsur hara. yang diinginkan tanaman karet antara lain adalah tanah yang mempunyai lapisan padas lebuh dari 1m. dan benih. dan fisiografis yang menjadi factor pembatas kesesuaian tanah untuk tanaman karet. alluvial dan bahkan tanah gambut. Untuk mengetahui kemampuan lahan sebaiknya diketahui kesesuaian tanah dan lingkungan yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman karet untuk dapat memperoleh produksi dan keuntungan ekonomis yang optimal. kemudahan olah. terutama dari segi struktur.

benih dari famili Leguminosae (Sutopo.net. Bahan dan Alat Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah stunp mata tidur karet klon IRM sebagai objek pengamatan. dengan bantuan pisau. kulit biji yang impermiabel terhadap air dan gas sering dijumpai pada benih. Metode percobaan . pasir dan topsoil sebagai media tanam.ac.Dormansi pada benih dapat disebabkan oleh keadaan fisik dari kulit biji. pengikiran atau pembakaran. Dengan ketinggian tempat ± 25 m dpl yang dimulai dari bulan Februari 2009 sampai dengan April 2009. Manfaat penggosokan benih adalah untuk memecahkan dormansi pada benih agar benih dapat berkecambah dengan baik karena benih yang memiliki kulit yang jeras harus dilakukan pemecahan dormansi untuk mempercepat proses perkecambahan baik dengan cara mengkikis ataupun mengikir kulit benih (Sadjad. meteran untuk mengukur tinggi plumula.iptek. serta kertas pasir untuk menggosok benih karet. Alat yang digunakan adalah cangkul untuk mencampur tanah. Skarifikasi mencakup cara – cara seperti mengkikis atau menggoreskan atau menggosok kulit biji yang mengalami sumbat gabus dimana semua permiabel terhadap air atau gas (Lakitan . kertas gosok atau lainnya adalah cara efektif untuk mengatasi dormansi fisik. 1993). dapat diberikan perlakuan individu sesuai dengan ketebalan biji. 2003). air untuk penyiraman. Perlakuan mekanis (skarifikasi) pada kulit biji dilakukan dengan cara penusukan. kikir.Universitas Sumatera Utara. Sebagai contoh. Karena setiap benih ditangani secara manual. 1999). asal daerah radikel tidak rusak (Schmidt. Pada hakekatnya semua benih dibuat permeable dengan resiko kerusakan yang kecil. Medan. keadaan fisiologis dari embrio atau kombinasi dari kedua keadaan tersebut. pemecahan.id. gembor untuk menyiram tanaman dan polibag sebagai wadah penanaman. 2009). penggoresan. BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Percobaan ini dilakukan di lahan percobaan Fakultas Pertanian. jarum.id. Benih yang mengalami dormansi biasanya disebabkan oleh: a) Rendahnya dan tidak adanya proses imbibisi air yang disebabkan oleh struktur benih (kulit benih) yang keras. sehingga mempersulit keluar masuknya air ke dalam benih (http://digilib.umm. 2009). 2002) (http://www.

. PELAKSANAAN PERCOBAAN Persiapan media tanam Disiapkan polibag berukuran 10 kg dan diisi dengan media pasir (M0). media tanam ke-j.Data percobaan dianalisis dengan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dengan dua faktor yaitu: Faktor I : Penggosokan benih (P) dengan dua taraf yaitu: P1 : Benih tanpa digosok P2 : Benih digosok hingga nampak mata embrio Faktor II: Media Tanam (M) dengan 3 taraf yaitu: M0 : Pasir M1 : Pasir + Top soil M2 : Top soil Sehingga didapat 6 kombinasi perlakuan yaitu: P0M0 P1M0 P0M1 P1M1 P0M2 P1M2 Jumlah ulangan : 6 Jumlah petak percobaan : 36 Jumlah benih per petak : 2 Jumlah benih yang dibutuhkan: 64 Dari hasil percobaan dianalisis sidik ragam Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan model linier sebagai berikut: Yijk= µ + βi + αj + βk + (αβ)jk + εijk dimana: Yijk : Nilai pengamatan pada penggosokan benih ke-i. dan perkecambahan benih karet ke-k Apabila data percobaan analisis tidak ragam berbeda nyata. akan diujikan dengan beda nyata jujur (BNJ) pada x = 5% . media tanam ke-j. dan perkecambahan benih karet ke-k µ : Nilai tengah βi : Efek penggosokan benih ke-i αj : Efek media tanam ke-j (αβ)jk : Efek interaksi antara penggosokan benih ke-i dan media tanam ke-j εijk : Efek error yang disebabkan oleh penggosokan benih ke-i. dan top soil (M2). pasir + top soil dengan perbandingan 2:1 (M1).

dan dimasukkan ke dalam polibag dan sebaiknya jangan ditanam terlalu dalam..Penggosokan Benih Proses penggosokan benih dilakukan sebelum dilakukan penanaman. Jumlah tanaman yang tumbuh Persentase Perkecambahan = x 100 % Jumlah tanaman seluruhnya Tinggi Plumula (cm) Tinggi plumula dihitung dari plumula yang tumbuh sampai pada titik tumbuh. Pengamatan Parameter Persentase perkecambahan (%) Persentase perkecambahan diambil data berupa jumlah tanaman yang tumbuh dan dibagi jumlah seluruhnya dikalikan 100% dan data diambil setiap minggunya. Penyiraman dilakukan dengan menggunakan gembor. Nilai laju perkecambahan dapat diperoleh dari rumus sebagai berikut : N1T1 + N2T2 + N3T3 + .. + Tn HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil .. + NnTn Laju Perkecambahan : T1 + T2 + T3 + .. Laju Perkecambahan (hari) Laju perkecambahan diambil data berupa jumlah karet yang tumbuh.. Pemeliharaan Tanaman Penyiraman Penyiraman dilakukan setiap sore hari tergantung kepada kondisi kelembaban permukaan media tanam.. Dimana proses penggosokan bertujuan untuk memecahkan dormansi benih karet akibat kulit benih yang keras dan dilakukan dengan menggunakan kertas pasir sampai terlihat embrio. Penanaman Benih Benih karet ditanam di polibag yang diisi tanah sesuai dengan perlakuan. Penyiangan Penyiangan dilakukan setiap minggunya dengan cara mencabut gulma yang tumbuh pada polibag.....

Dan tidak ada parameter yang tidak berbeda nyata. Dan tidak berbeda nyata terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet. Dari Tabel 1.22).Dari data pengamatan dan sidik ragam (lampiran 1-16) diketahui bahwa perlakuan penggosokan berbeda nyata terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet. tinggi plumula benih karet 3-8 MST. Persentase Perkecambahan (%) Dari data pengamatan dan sidik ragam diketahui bahwa perlakuan media tanam tidak berbeda nyata terhadap parameter tinggi tanaman. Histogram persentase perkecambahan benih karet (%) dari perlakuan penggosokan dan media tanam dapat dilihat pada gambar 1.67) dan terendah pada P0M0 (97. dan tinggi plumula benih karet 3-8 MST. Tabel 1. diketahui bahwa pada perlakuan media tanam terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet yang tertinggi yaitu pada M1 (65. Dan tidak berbeda nyata terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet. tinggi plumula benih karet 3-8 MST.78) dan terendah pada M0 (65. diketahui bahwa pada perlakuan penggosokan terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet yang tertinggi yaitu pada P1 (74. Dari Tabel 1.42%) dan terendah pada P0 (73.00). Dari Tabel 1. . laju perkecambahan benih karet. laju perkecambahan benih karet. Rataan persentase perkecambahan benih karet (%) dari perlakuan penggosokan dan media tanam. diketahui bahwa pada interaksi perlakuan penggosokan dan media tanam terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet yang tertinggi yaitu pada P1M1 (99. penggosokan berbeda nyata terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet.00%). Dari data pengamatan dan sidik ragam (lampiran 1-16) diketahui bahwa interaksi antara perlakuan penggosokan dan media tanam tidak ada parameter yang berbeda nyata. dan interaksi antara penggosokan dan media tanam tidak berpengaruh nyata terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet. Dari data pengamatan dan sidik ragam (lampiran 1-16) diketahui bahwa perlakuan media tanam berbeda nyata terhadap parameter laju perkecambahan benih. Rataan persentase perkecambahan benih karet (%) dari perlakuan penggosokan dan media tanam dapat dilihat pada tabel 1.

Gambar 2. diketahui bahwa pada perlakuan media tanam terhadap parameter laju perkecambahan benih karet yang tertinggi yaitu pada M0 (4. Dan interaksi penggosokan dan media tanam tidak berbeda nyata terhadap parameter laju perkecambahan benih karet.19) dan terendah pada P1 (3.10).77) dan terendah pada P1M1 ( 3. Dari Tabel 2.Gambar 1. Rataan laju perkecambahan benih karet (hari) dari perlakuan penggosokan dan media tanam Dari Tabel 2. diketahui bahwa pada perlakuan penggosokan terhadap parameter laju perkecambahan benih karet yang tertinggi yaitu pada P0 (5. dan interaksi .29) dan terendah pada M1 (3. Histogram laju perkecambahan benih karet (hari) dari perlakuan penggosokan dan media tanam Tinggi Plumula (cm) Dari data pengamatan dan sidik ragam diketahui bahwa perlakuan penggosokan dan media tanam berbeda nyata terhadap tinggi plumula benih karet 3-8 MST. Rataan laju perkecambahan benih karet (hari) dari perlakuan penggosokan dan media tanam dapat dilihat pada tabel 2. Histogram persentase perkecambahan benih karet (%) dari perlakuan penggosokan dan media tanam Laju Perkecambahan Benih (hari) Dari data pengamatan dan sidik ragam diketahui bahwa perlakuan penggosokan dan media tanam berbeda nyata terhadap parameter laju perkecambahan benih karet. diketahui bahwa pada interaksi perlakuan penggosokan dan media tanam terhadap parameter laju perkecambahan benih karet yang tertinggi yaitu pada P0M0 (7. Histogram laju perkecambahan benih karet (hari) dari perlakuan penggosokan dan media tanam dapat dilihat pada gambar 2. Tabel 2.26).13). Dari Tabel 2.

tinggi plumula benih karet 3-8 MST. diketahui bahwa pada perlakuan penggosokan terhadap parameter tinggi plumula benih karet 8 MST yang tertinggi yaitu pada P1 (28. laju perkecambahan benih karet. Gambar 3.00).67) dan terendah pada P0M0 (32. diketahui bahwa pada interaksi perlakuan penggosokan dan media tanam terhadap parameter tinggi plumula benih karet 8 MST yang tertinggi yaitu pada P1M1 (38. Arg) Dari hasil sidik ragam pada perlakuan penggosokan berbeda nyata terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet. Karena benih yang memiliki kulit yang keras harus dilakukan pemecahan dormansi untuk mempercepat proses perkecambahan baik dengan cara mengkikis ataupun mengkir kulit benih (Sadjad. Hal ini sesuai dengan literatur Sadjad (1993) yang menyatakan bahwa Manfaat penggosokan benih adalah untuk memecahkan dormansi pada benih agar benih berkecambah dengan baik. . Dari Tabel 3. Rataan tinggi plumula benih karet 8 MST (cm) dari perlakuan penggosokan dan media tanam Dari Tabel 3. 1993). Tabel 3. Rataan tinggi plumula benih karet 8 MST (cm) dari perlakuan penggosokan dan media tanam dapat dilihat pada tabel 3. Histogram tinggi plumula benih karet 8 MST (cm) dari perlakuan penggosokan dan media tanam Pembahasan Pengaruh Penggosokan Pada Perkecambahan Benih Karet (Hevea brasiliensis Muell. Histogram tinggi plumula benih karet 8 MST (cm) dari perlakuan penggosokkan dan media tanam dapat dilihat pada gambar 3.44) dan terendah pada M0 (23.25).33) dan terendah pada P0 (25. maka proses dormansi yang menghambat proses perkecambahan dapat dipecahkan sehingga benih dapat memperoleh air dan udara. Dengan adanya proses penggosokan (skarifikasi).penggosokan dan media tanam tidak berbeda nyata terhadap tinggi plumula benih karet.33). Dari Tabel 3. diketahui bahwa pada perlakuan media tanam terhadap parameter tinggi plumula benih karet 8 MST yang tertinggi yaitu pada M1 (24.

25 cm). Pengaruh Interaksi Antara Penggosokan dan Media Tanam Pada Perkecambahan Benih Karet (Hevea brasiliensis Muell. Perlakuan pengasahan kulit biji yaitu dengan maksud untuk menipiskan kulit biji agar dapat mempercepat perkecambahan pada berbagai spesies yang mempunyai kulit biji yang keras dan yang sangat tebal. Karena. Dengan tidak adanya proses penggosokan.33 sm) dan terendah pada P0 (25. fisiologi dan biokimia. Tahap pertama suatu perkecambahan benih dimulai dengan proses penyerapan air oleh benih.00 cm). Hal ini sesuai dengan literatur Sutopo (1998). Ini menunjukkan bahwa top soil ditambah pasir mempengaruhi persentase perkecambahan benih karet . Hal ini sesuai dengan literatur Widianto (2000) yang menyatakan bahwa media yang digunakan untuk pengamatan bisa hanya terdiri atas pasir saja tetapi kadang-kadang juga diberikan campuran sekam padi. Pengaruh Media Tanam Pada Perkecambahan Benih Karet (Hevea brasiliensis Muell. tanah gembur. top soil dan lainnya. Banyak media yang dapat digunakan untuk penanaman benih asalkan tanahnya gembur dan halus. Hal ini disebabkan karena media tanam yang digunakan adalah pasir dan top soil dengan perbandingan 2:1.44 cm) dan terendah pada M0 (23. maka proses perkecambahan menjadi terhambat akibat kulit benih yang keras (dormansi) sehingga benih susah memperoleh air dan udara. selain itu perkecambahan benih karet juga dipengaruhi oleh faktor keadaan lingkungan.Dari hasil percobaan diketahui bahwa pada perlakuan penggosokan terhadap parameter tinggi plumula benih karet 8 MST yang tertinggi yaitu pada P1 (28. yang menyatakan bahwa proses perkecambahan benih merupakan suatu rangkaian kompleks dari perubahan-perubahan morfologi. Tekstur seperti ini adalah tekstur yang paling cocok untuk pertumbuhan benih.78%) dan terendah pada M0 (65. melunaknya kulit benih dan hidrasi dari protoplasma. Arg) Dari hasil percobaan diperoleh bahwa pada perlakuan media tanam terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet yang tertinggi yaitu pada M1 (65. kompos. Hal ini sesuai dengan literatur Setiawan dan Andoko (2005) yang menyatakan bahwa tanah untuk media tanah ini harus subur dan harus yang bisa diambil dari tanah pelapukan (top soil) dengan kedalaman maksimum 15 cm. Arg) Dari hasil percobaan diketahui bahwa pada interaksi perlakuan penggosokan dan media . sehingga akar tanaman yang baru keluar tidak terhambat pertumbuhannya. Hal ini disebabkan karena pada perlakuan P0 ini benih tidak dilakukan proses penggosokan.22%). Tanah top soil dapat membantu pertumbuhan perkecambahan benih karet karena tanah top soil merupakan tanah yang subur yang diambil dari tanah pelapukan. Dari hasil percobaan diperoleh bahwa pada perlakuan media tanam terhadap parameter tinggi plumula benih karet 8 MST yang tertinggi yaitu pada M1 (24. lumut yang telah membusuk. sehingga terjadi gabungan antara tekstur kasar dengan halus oleh top soil. kesesuaian tanah dan lingkungan yang serasi sangat baik untuk pertumbuhan tanaman karet.

1982. M. Medan http://digilib. Bhratara Karya Aksara. dan tinggi plumula benih karet 3-8 MST. Saran Sebaiknya dalam melakukan percobaan ini.William. H. Interaksi antara penggosokan dan media tanam berbeda tidak nyata terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet. 1981. 2006.C. Jakarta Hatrmann. Prentice Hall Inc. Penggosokan berbeda nyata terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet. Ilmu Tanah. 3.O.67%) dan terendah pada P0M0 (97. Diakses pada tanggal 4 April 2009 . benih yang digunakan harus diketahui jenis atau klonnya. Hal ini sesuai dengan literatur Sutopo (1998) yang menyatakan bahwa Perlakuan pengasahan kulit biji yaitu dengan maksud untuk menipiskan kulit biji agar dapat mempercepat perkecambahan pada berbagai spesies yang mempunyai kulit biji yang keras dan yang sangat tebal.00%). Karena penggosokan pada benih karet bertujuan untuk menipiskan kulit biji agar dapat mempercepat perkecambahan.T. Hal ini disebabkan karena adanya penggosokan dan media tanam yang cocok bagi pertumbuhan tanaman karet. tinggi plumula benih karet 3-8 MST. DAFTAR PUSTAKA Buckman. H.E..Anton dan Konfafrek. tinggi plumula benih karet 3-8 MST. B. laju perkecambahan benih karet. dan N. laju perkecambahan benih karet. Brady. Klackers. 2. Plant Science.umm. J. Dan tidak berbeda nyata terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet. Ilmu Tanah. Terjemahan Soegiman.ac. Media tanam berbeda nyata terhadap parameter laju perkecambahan benih. USU Press. New Jersey Hasibuan. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1.tanam terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet yang tertinggi yaitu pada P1M1 (99.id.

Kanisius. Jakarta . Cangkok. 2005.iptek. dan Okulasi. Petunjuk Lengkap Budidaya Karet. R. Medan Siregar. L. D. Membuat Stek. Jakarta Widianto. UGM Press. Diakses pada tanggal 4 April 2009 Kartasapoetra. Teknik Penyadapan Karet. Yogyakarta Sotopo. Agromedia Pustaka. Penebar Swadaya. 2000. 1999. Dasar-Dasar Ilmu Tanah Konsep dan Kenyataan. Karet.id. 1993. Jakarta Setiawan. 2005. A. Yogyakarta Tim Penulis PS. CV Rajawali. Kanisius. USU Press.D.H. Kanisius. Jakarta Setyamidjaja.S.http://www. 1999. 2001. Penebar Swadaya. Budidaya Tanaman Karet. dan Agus A. Jakarta Syamsulbahri.H. 1995. L. Yogyakarta Sianturi. Teknologi Benih. Teknologi Budidaya Tanaman Pangan di Daerah Tropik. T. Bercocok Tanam Tanaman Perkebunan. H.net. 1996. Yogyakarta Sutanto. D. Karet Strategi Pemasaran Budidaya dan Pengolahan. Bina Aksara.S.G. 1988.

5 cm/thn Produksi TBS TM1 : 4 – 5 ton/ha/thn .Pola Pembibitan Sawit PT Bakti Tani Nusantara Written by Administrator on 24 February 2012.5 x 8. sehingga populasi per ha lebih banyak 148 152 pohon/ha (dengan jarak tanam 8.5 x 8. 6. 3. materi genetik ini menjadi tetua dari D x P Tani Nusa 1 terbukti memiliki keragaan sangat baik dan diterima luas oleh pekebun. bahkan mencapai 35 tahun. Dengan pertambahan batang yang lambat maka usia produksi dapat mencapai lebih dari 30 tahun. Deskripsi Kelapa sawit varietas D x P TN1 1. Bakti Tani Nusantara. Pendahuluan Varietas kelapa sawit D x P Tani Nusa 1 adalah varietas unggul baru yang merupakan kombinasi dari persilangan Dura Deli dari populasi Johor Labis dan Pisifera Avros yang diseleksi dengan metode Modified Recurrent Selection oleh Socfin Malaysia dan PT. Umur siap panen lebih genjah : 24 – 28 Bulan 3. 2. Kecepatan pertumbuhan tanaman rata – rata 41 cm/tahun. TN1 yang telah bersertifikat tersebut memiliki keunggulan antara lain : 1. Dapat beradaptasi dengan baik pada lahan yang marginal atau mulai dari lahan kelas S3 – lahan kelas S1. 4. Panjang pelepah antara 5 – 6 meter. 2. Persentase kernel 7% – 8% 7.5 meter dengan sistem segitiga sama sisi). Umur siap tanam ke lapangan : 10 – 12 bulan Umur siap panen : 24 – 28 bulan Kecepatan pertumbuhan tanaman : 35.6 – 42. Produkstifitas TBS (Tandan Buah Segar) = 35 ton/ha/tahun 5. 1. Dari pengalaman oleh socfin di Malaysia. 4.

Memeriksa kotak dan dokumen untuk memastikan apakah peti dalam kondisi baik dan isi peti sesuai dengan dokumen pengiriman kecambah. Membuat naungan di pembibitan agar kecambah terhindar dari sinar matahari langsung.3% 11. Randemen CPO (IER) : 26.7 – 7. Sistem Pemeliharaan Pembibitan Kecambah varietas TN1 PT.120/5/2008 SK.9 – 2. 2. Randemen CPO (Lab) : 30. Potensi Inti Sawit (TM8) : 1. Tepi bedengan dibatasi dengan papan (bukan bambu) setinggi 20 cm agar polibeg dapat disusun tegak. . Produksi TBS TM3 : 17 – 18 ton/ha/thn 6. Produksi TBS TM8 : 32 – 35 ton/ha/thn 8. Usia Produksi : 33 tahun SK Menteri Pertanian No.5% 10. Potensi Produksi CPO (TM8) : 6.2 m dan panjang ± 8 m yang dapat memuat sekitar 1. Penanganan Awal 1.000 bibit (Gambar 1). Bakti Tani Nusantara A.330/05/2008 2. Kerapatan tanaman : 148 -152 phn/ha 13.0 ton/ha/thn 9. benturan fisik dan tidak terkena sinar matahari langsung. Penanganan Kecambah PT.5. 648/Kpts/SR. Dalam penanganan kecambah BTN menyarankan kepada pelanggan untuk memperhatikan hal-hal sebagai berikut : • • • • Menjaga kesehatan kecambah dalam transportasi dengan menghindari kecambah dari suhu terlalu tinggi.296 kecambah. 86/Kpts/HK. Antar bedengan berjarak 80 cm sebagai jalan pemeliharaan. Pembuatan Bedengan dan Naungan di Pembibitan awal (Pre Nursery) • • • Bedengan dibuat pada areal yang telah diratakan dengan lebar 1.1 ton/ha/thn 12.Bakti Tani Nusantara mengirim kecambah kelapa sawit (KKS) ke pelanggan menggunakan peti karton berisi 3. Menanam kecambah sesegera mungkin dan bila ditunda agar tidak lebih dari 5 hari dan kecambah harus disimpan didalam ruangan berpendingin dengan suhu 19‐22⁰C. Dirjenbun No. Produksi TBS TM5 : 28 ton/ha/thn 7. pengawasan dan drainase air berlebih saat penyiraman atau hujan. Lakukan pekerjaan ini di tempat teduh agar kecambah tidak kena sinar matahari langsung. kecambah dikemas di dalam 16 kantong plastik yang masingnya berisi 206 kecambah termasuk refraksi 6 kecambah per kantong. Di dalam peti.

kecambah diseleksi terlebih dahulu dan dicatat jumlahnya berdasar kategori sehat. . Penyiraman sebaiknya secara manual. Umur (bulan) Naungan (%) 0 – 1. Penanaman Kecambah di Pembibitan Awal (Pre Nursery) • • • • • • • • • • Pastikan tersedia dokumen benih lengkap yaitu Delivery Order (DO). Kecambah normal siap tanam KKS abnormal. Media tanam dibuat berupa campuran tanah dengan pasir berbanding 70% dan 30%. Bagian dasar bedengan lebih tinggi dari permukaan tanah untuk memperlancar pembuangan air berlebih. Gambar 3. Atap dengan daun kelapa atau kelapa sawit berisi 4-5 pelepah per meter persegi naungan.5 100 1. karena lebih merata kesetiap polibag. Percikan dengan air menggunakan hand sprayer untuk meningkatkan kelembaban jika kondisi cuaca panas dan kering.5 bulan (Tabel 1). Gambar 2. Naungan dikurangi secara bertahap dimulai setelah bibit berumur 1. setelah diisikan kedalam polibeg berukuran 22 x 14 cm dan disiram 2 kali sehari selama 5 hari sebelum tanam. Tanam kecambah dengan radikula (bakal akar) menghadap ke bawah dan plumula (bakal daun) menghadap ke atas. Pengisian tanah kedalam polybag jangan terlalu penuh.• • • • • Areal pembibitan memiliki saluran pembuangan air (drainase) yang baik.5 Dihilangkan secara bertahap 3. KKS yang ditanam adalah KKS sehat yang dapat dibedakan antara plumula (bakal daun) dengan radikula (bakal akar) sebagaimana Gambar 3. patah. busuk dan abnormal. Sebelum ditanam. Berita Acara Serah Terima KKS. patah. Denah bedengan pembibitan awal Naungan dibuat dengan ukuran sesuai dengan kebutuhan areal bibitan (Gambar 2). KKS di tanam tidak lebih dari 5 (lima) hari sejak kecambah diserahkan oleh produsen kecambah. Gambar 1. Media tanah top soil diayak dan disterilkan 1 minggu sebelum penanaman KKS dengan fungisida dosis 0. busuk atau berjamur tidak boleh ditanam.5 – 2. Naungan pada pembibitan awal kelapa sawit Tabel 1. sisakan + 2 cm dari bibir polybag. Persentase naungan bibit pre nursey berdasar tahapan umur.2 gr/ltr air dan insektisida dosis 2 gr/ltr. kemudiaan dicampur dengan pupuk Rock Phospate (RP) dosis 3 gr/polibag. dan Daftar Persilangan yang menyertai KKS.5 50 > 2. Kantong dibuka perlahan untuk mengeluarkan KKS.

Papan nama (plank) dan identitas kecambah yang ditanam. kode varietas. Gambar 5. Kecambah yang akan ditanam diletakan didalam mangkok berisi air untuk menjaga kelembaban kecambah dan setiap 15 menit sekali disemprot dengan air.5 cm di atas KKS (jangan ditekan tanah terlalu kuat). disimpan dalam kantong beridentitas dan diletakkan pada ruang bersuhu 20-25oC selama 5-6 hari. Siram polibeg segera setelah penanaman selesai. Lubang tanam ditutup dan diratakan dengan tanah setebal 1 – 1. Pengaturan letak bibit bedasarkan kelompok KKS Gambar 6. . lalu masukan kecambang dengan radikula menghadap kebawah (Gambar 4). kelompok pertumbuhan meninggi. disertai tali rapia sebagai pembatas antar-persilangan kecambah. Setelah penanaman KKS.• • • • • • • Kecambah dengan radikula dan plumula yang sukar dibedakan. dan jumlah KKS (Gambar 6). Cara penanaman kecambah yang benar. Buat lubang tanam sedalam 3 cm. Lakukan pengelompokan KKS berdasarkan laju pertumbuhan meninggi menurut ciri varietas sejak di pembibitan awal (Gambar 5). Pasang papan identitas yang berisi tanggal tanam. buat peta pembibitan Gambar 4.

EM4 Tingkatkan Produksi Sawit 20% Written by Administrator on 24 February 2012. EM4 digunakan untuk pembuatan kompos dari tandan kosong kelapa sawit (TKKS) dan limbah cair kelapa sawit (LCKS). Sebagai starter mikroorganisme pada proses decomposer Effective Microorganisms 4 (EM4) menjadi penting dalam dunia pertanian organik. Begitupula dalam sektor perkebunan kelapa sawit. Dengan memakai kompos dari EM4. . produksi tandan buah segar (TBS) berpotensi meningkat sampai 20%.

bisa terlihat pada umur tanaman memasuki tahun kedua dari segi peningkatan produksi. kesehatan dan lingkungan. warna daun. lanjut Agus. aman bagi manusia dan makhluk hidup lainnya serta lingkungan. tanah disekitar pohon menjadi gembur.” tambah Agus ketika ditemui di kantornya. Sedangkan penghematan penggunaan pupuk kimia mencapai 30%. Jadi satu liter EM4 bisa untuk membuat kompos sebanyak satu ton.” ujar Agus. Tandan kosong dapat diolah menjadi kompos dengan adanya material tambahan selain EM4 yakni molasse dan air. Semua lahan cocok untuk pemanfatan limbah sawit dengan EM4. Menurut Agus. Ke depan PTPN IV dan PT. “Semua limbah dapat dimanfaatkan tidak hanya dri sektor perkebunan.” ungkap Agus. aplikasi larutan EM4 dilakukan setelah hujan berhenti. Streptomyces sp dan ragi yang bermanfaat untuk pertanian. Di musim hujan. Apliksinya cukup per 3 bulan sekali dengan komposisi 18 liter per tahun dengan 6 liter satu kali aplikasi untuk setiap hektarnya. Branch Manager PT Songgolangit Persada. tahun ketiga menjadi 20-30%. Manfaat EM4.Effective Microorganisms 4 (EM4) merupakan kultur campuran dari mikroorganisme yang menguntungkan berasal dari alam Indonesia. Harus terpisah ada tenggat waktu dalam pemberiannya minimal berbeda 1-2 minggu dan baiknya pestisida baru EM4. “Paling penting EM4 tidak boleh tercampur pestisida atau herbisida. industri. menceritakan pembuatan kompos TKKS harus dicacah terlebih dahulu lalu disiram larutan EM4. Agoes Wibisana. peternakan. Ketersediaan limbah di perkebunan sawit cukup melimpah yang berasal dari tandan kosong dan limbah cair. Selain itu. . EM4 tidak berbahaya. Di perkebunan sawit. Terdiri dari bakteri asam laktat (Lactobacillus Spp) bakteri fotosintetik (Rhodopseudomonas Spp). melainkan telah digunakan perkebunan kelapa sawit dan tebu semenjak tahun 2005. aplikasi kompos EM4 (Bokashi) sebanyak 10 ton per hektare. Penggunaan EM4 tidak sebatas di tanaman pangan saja.” kata Agus. penggunaan EM4 telah diaplikasikan di Medan (Sumatera Utara) yakni PT Asam Jawa untuk pengelolaan limbah tandan kosong dan limbah cair. hanya saja EM4 kurang efektif tanpa bantuan bahan organik karena sebagai media hidup dan makanan mikrorganisme. Sapta Karya Damai di Sampit akan menggunakan EM4 untuk pengolahan tandan kosong sawit. pembibitan sawit atau tanaman sawit yang sudah dewasa cukup dengan EM4 sebanyak 10 cc dicampur 1 liter air untuk disemprotkan pada batang tanaman atau tanah. pelepah daun terbuka. Ditutup terpal plastik dan tunggu kurang lebih 1 bulan. perkebunan. Actinomycetes. Kompos digunakan pada dua aplikasi di lingkaran tanaman dan baris tanaman. Pertanian sayuran sudah banyak yang menggunakan dan tidak hanya satu bahan untuk pembuatan kompos. perikanan. “Kita aduk dan dicampur lalu dilakukan fermentasi di hamparan tanah yang keras agar larutan EM4 tidak terserap ke tanah. menurut Agus. Limbah sawit bisa ditambah kotoran ternak. “Produksi TBS tahun kedua akan meningkat 5%-10%.

Harga variatif Rp 20. (bebe) PEMBIBITAN A. Kalimantan. Tetapi. mudah aplikasi dan aman bagi lingkungan. Sumatera Selatan terutama petani dan perusahaan perkebunan sawit.000-25. babi. Bibit memerlukan banyak . Bibit perlu disiram 2 kali sehari jika tidak turun hujan yaitu dari pagi sampai pukul 11. Lokasi Pembibitan • • Tanah/arealnya rata/datar.” pungkas Agus. dan landak B.00 wib siang dan sore mulai pukul 16. untuk daerah yang rawan hama (gajah.000 per liter. Target penjualan 100 ton per bulan tahun ini bisa tercapai dan tahun 2012 diprediksi ada kenaikan 10-20%. tikus. Irian Jaya. beruang. penyerapan teknologi EM4 bisa merata dan meluas supaya tidak terkonsentrasi di Jawa dan Sumatera. Jika areal datar tidak diperoleh dapat juga digunakan areal bergelombang atau berbukit namun perlu dibuat teras-teras yang disesuaikan dengan kemiringannya asal saja jaringan penyiramannya mampu mencapai tempat tertinggi atau terjauh. dapat dilakukan di daerah pedalaman asalkan didukung infrastruktur supaya harganya terjangkau. Ini juga tergantung pada jauh dekatnya lokasi. Dekat dengan sumber air dan airnya tersedia sepanjang tahun.00 wib.Keunggulan EM4 adalah sebagai pelopor pertanian organik memberikan harga murah. Harapan Agus. Pemasaran EM4 diperluas sampai ke Jambi. dipelihara selama 9 – 12 bulan sampai siap untuk dapat ditanam Umur bibit yang dapat ditanam di areal pertanaman : paling muda : 8 bulan ideal : 12 bulan paling tua : 24 bulan. “Harga bisa ditekan agar daya beli masyarakat jauh lebih tinggi. Tahapan Pembibitan • • • o o o Pre Nursery (pembibitan awal) selama 3 bulan pertama dengan polibag kecil Main Nursery (pembibitan utama) bibit dipindahkan ke dalam polibag besar.

Untuk tempat yang agak jauh dari sumber benih.25 – 2 liter tergantung dari umur dan kondisi bibit. Air harus bersih dan tidak beracun.400 344.000 270.• • • • air yaitu 0. pemesanan sebaiknya bertahap sesuai dengan fasilitas dan tenaga yang ada.250 413.9 1.2 0.5 0.000 180.0 m) diperlukan kecambah 200/ha Sistem tanam segitiga sama sisi • • • • Kecambah dibeli 12 bulan sebelum rencana penanaman.000 540. dekat dari pengawasan dan mudah dikunjungi Dekat dari sumber tanah untuk pengisi kantong plastik (top soil) karena tiap kantong besar membutuhkan 20-25 kg tanah C.700 206.000 486.650 275.000 450. Kebutuhan dan Pengadaan Bibit • • o o o o • • Kebutuhan bibit/kecambah sebanyak 140% dari jumlah yang akan ditanam.100 .7 0.000 Luas Pembibitan utama (ha) 6 12 17 23 29 35 Luas areal yang akan Ditanami (ha) 500 1000 1500 2000 2500 3000 Keterangan : Bibit Yang Ak Ditanam ke Lapangan 68. Drainasenya baik/arealnya tidak tergenang Aman dari gangguan hama berupa binatang besar maupun serangga.850 137.4 m) diperlukan kecambah 180/ha Kerapatan 143 ph/ha (9.000 405. Dekat dengan areal yang akan ditanami jika mungkin ditengah lokasi untuk mengurangi biaya angkutan bibit.4 0.5% : 10% : 15% : 5% Kebutuhan kecambah = 100/97.000 324.5 x 100/90 x 100/85 x 100/95 = 1. pengangkutan agar diusahakan dengan cargo (angkutan) udara Benih yang sudah diterima agar ditempatkan di tempat yang teduh kemudian segera ditanam karena paling lama hanya dapat bertahan 3-5 hari dari tempat penghasil benih Kebutuhan benih dan luas pembibitan : Kebutuhan Benih 90. Perhitungannya adalah : Seleksi kecambah Seleksi di pembibitan awal Seleksi di pembibitan utama Cadangan penyisipan : 2.000 360.0 Bibit ke Pembibitan utama 81.000 243.40 x jumlah pohon/ha Kerapatan 130 ph/ha (9.000 162.000 Luas Pembibitan awal (ha) 0. Bila rencana penanaman dalam jumlah banyak.

Instalasi penyiraman .000 polibag dan pembibitan utama ± 14. Bagaimana dengan keadaan areal pembibitan tersebut apakah rata atau bergelombang. Penggunaan sprinkler memerlukan tenaga kerja yang lebih sedikit 4. Jika penggunaannya cukup lama atau akan digunakan lebih dari 5 tahun mungkin pemakaian sprinkler akan lebih menguntungkan karena akan memperkecil biaya penyusutan dari instalasinya.500 bibit/hk Berapakah debit air yang ada terutama pada musim kemarau.000 polibag Sumber data : Lembaga Pendidikan Perkebunan : Kelapa sawit (2004) • Standard kebutuhan per ha pembibitan tenaga kerja : 5–6 hk per hari D. Rata dengan sprinkler lebih baik. Kebutuhan Air Bibit • • Pembibitan awal.1 – 0.12 Sumber data :Pusat Penelitian Perkebunan Marihat – Bandar Kuala (1992) F.3 liter/hari Pembibitan utama : Kebutuhan Air/pokok/hari ( liter ) 1 (sprinkler 1.5 jam) 2 (sprinkler 1 jam 45 menit) 3 (sprinkler 2 jam Umur Bibit ( bulan ) 0–3 3–6 6 .5 liter/hari. luas hendaknya sesuai dengan kapasitas pompa yang akan digunakan.000 bibit/hk sedangkan secara manual 2. Demikian pula dengan luasnya. Cara ini dilakukan dengan membangun bak penampung ditempat yang tertinggi dan baru dialirkan ke tempat yang lebih rendah Berapa jauh sumber air (sungai atau kolam air) dari pembibitan. kebutuhan air per pokok : 0. Penyiraman Bibit Sistem penyiraman yang harus digunakan perlu dipertimbangkan : • • • • • Berapa luas pembibitan yang akan dibangun dan berapa lama atau berapa tahun akan digunakan. Jika terlalu jauh maka perlu pertimbangan lain apakah pompa yang digunakan mampu. bergelombang dengan semi mekanis akan lebih murah dimana dapat memanfaatkan tenaga gravitasi.o o Perhitungan tersebut menggunakan standar seleksi di pembibitan awal 10% dan pembibitan utama 15% Untuk areal seluas 1 ha dapat digunakan untuk pembibitan awal sebanyak 500. Jika cukup dekat penggunaan sprinkler mungkin cukup baik. Bagaimana dengan persediaan tenaga yang ada. sisanya untuk peresapan dan pengaliran di permukaan) E. Untuk 1 ha dibutuhkan lebih dari 77 m3/hari (bibit saja 2.

Pada tiap pipa distribusi terdapat 8 – 10 sprinkler yang berjarak 9 – 18 m 4. jarak antar bedengan 0.Secara Manual Air dihisap dari sungai dengan menggunakan pompa air dan dialirkan ke areal pembibitan dengan menggunakan pipa dan selang • • • • Pipa primer 6 inch ditempatkan ditengah-tengah lapangan Cabang I dengan pipa 2 inch Cabang II dengan pipa 1 inch yang disambung dengan selang plastik 25 m yang ujungnya diberi gembor Penyiraman dilakukan dengan tenaga manusia Sprinkler • Penggunaan pipa : 1.75 inch yang dipasang berdiri dan ujungnya dilengkapi dengan nozzle yang dapat memancarkan air dan berputar karena aliran air 3. Efisiensi 30-40% Pompa berdaya pancar 45 psi (3. Pipa induk 6 inch dari rumah pompa 2.8 m Jumlah bibit dalam satu bedengan : 840 bibit Kebutuhan tenaga untuk membuat bedengan : 1. Untuk 8 ha pembibitan diperlukan 30 sprinkler. Pipa utama 4 inch dilengkapi dengan kran (valve) ke pipa distrubusi 2 inch. Tiap sambungan dilengkapi stand pipes 0. 2 line pipa distribusi • • • Kebutuhan air ± 75 m3/ha/hari.2 m . Pembibitan Awal (Pre Nursery) Persiapan Areal • • • Areal yang sudah di buka (LC) dibersihkan dan diratakan Kebutuhan bahan/tenaga : Manual 20 HK/Ha dan mekanis 6 JKT (Jam Kerja Traktor) per ha Kebutuhan areal 1 m2 untuk 70 bibit pada pembibitan awal Membuat Bedengan • • • • • Ukuran bedengan : lebar bedengan 1.5 HK/bed Tepi bedengan diberi batas dengan bambu atau papan Jumlah bahan digunakan : 4 bambu @ 6 m dan 5 papan/bed Menabur Pasir .6 kg/cm2) Kekuatan pompa 18-20 HP untuk 8 ha pembibitan G.

• • • Bedengan ditaburi pasir secara merata sampai setebal 2 cm Jumlah kebutuhan pasir : 0.5 cm Lubang polybag berjumlah 12-24 dengan diameter 0.3 m3/bed Jumlah kebutuhan tenaga kerja : 0.000 polybag kecil) Jumlah kebutuhan tenaga kerja untuk mengumpulkan tanah secara manual 1. dan jarak antar tiang 3 m. contoh Sevin atau Thiodan Jumlah dan jenis bahan digunakan : Sevin 85 EC dosis : 5 cc/l air/bed Jumlah kebutuhan tenaga kerja : 1 HK/30 bed Naungan • • • • • Pada tahap awal bibit harus diletakkan di bawah naungan. warna hitam Setelah diisi berukuran : diameter ± 10 cm dan tinggi ± 17.000 kg tanah) Bila tanah terlalu padat/liat dicampur dengan pasir perbandingan 3:1 Media tanam harus dicampur dengan 50 kg pupuk RP per ± 2 m3 tanah (± 1.5 bulan) naungan harus sudah dihilangkan. rumputan. Hasil pengayakan ± 60% (dari 1m3 diperoleh ± 1. Luas naungan minimal sebesar bedengan dengan tinggi ± 2 m Bentuk naungan : tiang dibuat dari bambu atau besi siku setinggi 2 m. setelah dua daun keluar (1.5 m3/HK sedangkan secara mekanis 8 JKT/Ha Jumlah kebutuhan tenaga kerja untuk mengayak 3 m3/HK Ukuran Polybag • • • • Ukuran polybag kecil 0.5 bulan) naungan dapat dikurangi sebesar 50% dan setelah daun ketiga keluar (2.5 cm 1 kg Plb ± 200 lembar polybag kecil Mengisi Polybag . batuan dan sampah lainnya. Jumlah bahan yang digunakan : 7 bambu/bed @ 6 m dan 10 pelepah/bed Jumlah kebutuhan tenaga kerja membuat naungan : 1 HK/bed Mengumpulkan Tanah/Media Tanam • • • • • • • Media tanam menggunakan top soil (kedalaman 20-30 cm) tanah mineral dengan tekstur lempung.2 HK/bed Meracun Serangga • • • Dua hari sebelum digunakan bedengan disemprot dengan insektisida. Atap dari pelepah kelapa sawit atau dari shadownet.075 mm x 15 cm x 23 cm lay flat. kecuali di areal gambut dapat menggunakan tanah gambut Tanah diayak dengan saringan kawat 2 cm agar bersih dari akar.

ii.• • • • • Empat minggu sebelum penanaman kecambah. vi. polybag harus sudah diisi tanah dalam jumlah cukup Guncang polybag pada saat pengisian untuk memadatkan tanah dan diisi sampai mencapai ketinggian 1 cm dari bibir polybag Polybag disiram air setiap hari sampai tampak jenuh sebelum dilakukan penanaman dan diisi kembali dengan tanah bila diperlukan Jumlah tanah adalah 1 kg per polybag Jumlah kebutuhan tenaga kerja pengisian polybag 400 unit/HK Menyusun di Bedengan • • • • Polybag harus disusun secara tegak dan rapat di bedengan.2% Kecambah diseleksi dan dihitung (% seleksi) Penanaman kecambah harus memperhatikan posisi radikula yang akan diposisikan arah ke bawah dan plumula yang akan diposisikan ke atas Kecambah ditanam dengan kedalaman sekitar 2-3 cm di bawah permukaan tanah polybag (dilobang dengan ibu jari) Polybag disiram sampai jenuh setelah kecambah ditanam . agak kasar Plumula ujungnya tajam seperti tombak Kriteria kecambah yang abnormal : ® ® ® ® ® ® Calon akar/batang patah Calon akar/batang tidak tumbuh Calon akar/batang membengkok Calon akar/batang tumbuh satu arah Calon akar/batang busuk terserang cendawan Calon akar/batang layu karena terlalu kering i.000 kecambah/HK Pada saat diterima peti harus diletakkan di tempat yang terlindung dari sinar matahari Setiap kantong kecambah harus dibiarkan terbuka selama beberapa menit untuk pergantian udara Menanam Kecambah • • • • • • Siram tanah di polybag sampai jenuh sebelum kecambah ditanam Kantong plastik kecambah dibuka dengan hati-hati dan letakkan kecambah di baki yang beralaskan goni basah yang telah direndam dalam larutan fungisida Thiram dengan konsentrasi 0. v. iii.000 unit/HK Seleksi Kecambah • • • • Kecambah normal : calon akar (radicula) dan calon batang (plumula) terlihat jelas. • • • Jumlah kebutuhan untuk seleksi kecambah 5. panjangnya 8-25 mm. Radicula berujung tumpul seperti bertudung. Tiap 1 m2 dapat memuat 70 polibag atau 840 polybag/bedengan Diusahakan air tidak akan menggenangi di bedengan dengan mengikis permukaan tanah yang tidak datar Jumlah tenaga kerja untuk menyusun polybag adalah 1. iv.

400 bibit/HK atau 10 bed/HK Konsolidasi Bibit  Dilakukan 1 kali/minggu meliputi : . Bila pagi harinya hujan turun (> 10 mm) maka tidak perlu penyiraman pagi dan sore.00 wib – selesai paling lambat jam 11. 6.500 bbt/HK (16 bed/HK) Pengendalian Gulma • • • • • Dilakukan 1 x tiap 2 minggu Cara pelaksanaan adalah manual tidak boleh dengan herbisida Pengendalian dengan mencabut rumput dan gulma lain di dalam polibag dan yang berada di antara polibag Sekaligus melakukan konsolidasi dengan menambah tanah pada polibag apabila kekurangan. Jumlah tenaga kerja yang diperlukan 13.2% Cara dilarutkan pupuk dalam gembor : 10 gr Urea atau 10 gr pupuk majemuk dalam 5 liter air untuk 500 bibit Pemupukan dilakukan pagi hari setelah selesai penyiraman pertama/pagi Jumlah kebutuhan tenaga kerja 8. 8.00 wib.2% (2gr/l air) Minggu ganjil (minggu ke 5. sore hari jam 15. 7. Jumlah tenaga kerja yang diperlukan untuk menanam kecambah 1. 11) dengan urea 0.4 konsentrasi 0. Jumlah tenaga kerja yang diperlukan 13.• • • • Diberi naungan sesuai iklim setempat Sebaiknya penanaman dilakukan secara beregu.00 wib – selesai Bila malam sebelumnya turun hujan (> 8 mm) dan tanah di polybag masih basah maka penyiraman hanya dilakukan sore hari saja.15. 10. Kecambah yang memiliki persilangan yang sama ditanam pada bedengan yang sama.500 bibit/HK atau 16 bed/HK Pemeliharaan Drainase • • • • Mengalirkan air yang tergenang di areal pembibitan Diperiksa agar air jangan tergenang di polybag Jumlah tenaga kerja yang diperlukan 6-8 ha/HK Rotasi yang diperlukan 1 x /minggu Pemupukan • • • • • Minggu genap (minggu ke 4. 9.000 bbt/HK Penyiraman • • • • • Bibit disiram 2 x sehari Jam penyiraman : 07.6. 12) dengan pupuk majemuk (contohnya Rustika) 15.

24 Banyak daun 5.3 15.0 Diameter (cm) 1.15 5.6 88.3 + 0.8 + 0.0 + 1.84 + 0.2 + 1.96 + 0.04 4.3 11.000 bibit/HK atau 5 bed/HK • Pengendalian Hama dan penyakit • • • • Pengamatan hama ataupun penyakit dilakukan setiap hari Pengendalian dilakukan dengan cara manual Apabila gangguan hama/penyakit sudah pada tingkat yang lebih berat maka dilakukan dengan penyemprotan insektisida.33 5.9 126.3 + 0.0 13.000 bibit/HK Standar Pertumbuhan Bibit kelapa sawit Umur (bulan) 4.6 + 0.9 + 5.1 15.50 + 0.3 15.1 114.400 bibit/HK atau 10 bed/HK Tata cara seleksi Bibit di pre-nursery • • • • Angkat dan singkirkan semua bibit afkir dari bedengan sebelum dilakukan pemindahan bibit sehat ke polybag besar Musnahkan semua bibit afkir Catat dan laporkan bibit yang diafkir Jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan 5. fungisida dengan rotasi 1 kali/minggu Jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan 8.3 39.84 + 0.6 + 0.o o o Menambah tanah yang kurang Menegakkan polibag yang miring Menukar bibit yang mati dengan bibit pada bedengan terakhir yang biasanya tidak penuh Jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan 4.1 + 3.1 52.0 + 0.8 + 0.5 101.30 + 0.4 64.02 + 0.2 10.12 3.3 + 2.02 1.8 + 0.70 + 0.56 + 0.0 + 0.02 2.5 6 7 8 9 10 11 12 Tinggi (cm) 26.2 8.9 + 1.14 6.4 Sumber data :Pusat Penelitian Perkebunan Marihat – Bandar Kuala (1992) Beberapa ciri Fisik bibit yang di-afkir .9 + 7.

• • • • • • • •

Pucuk bengkok atau daun berputar : akibat penanaman kecambah yang terbalik atau faktor genetik Daun lalang atau daun sempit (narrow grass leaf) : akibat faktor genetik Daun kerdil dan sempit (stump/little leaf) Daun menyempit dan tegak (acute/erect leaf) Daun yang menggulung (rolled leaf) : akibat factor genetic Daun berkerut/keriput (crinkle leaf) : akibat factor genetic Daun melipat (collante) : akibat kekurangan air Bibit kerdil (stunted) : akibat factor genetic Chimaera : sebagian atau seluruh daun secara seragam berubah pucat atau bergaris kuning terang yang sangat kontras dengan warna hijau gelap dan jaringan yang normal Bibit dengan serangan penyakit berat

H. Pembibitan Utama (Main Nursery)
Persiapan Areal
• • • • •

• • •

Areal Pembibitan dekat dengan sumber air atau sungai Areal datar dengan penggunaan areal 1 ha untuk 14.000 bibit Dibuat parit drainase mengikuti pipa sekunder dari jaringan pipa penyiraman Ukuran parit lebar dasar 30 cm, lebar atas 70 cm, dalam 40 cm Bila penyiraman dengan sprinkler hendaknya dibuat dulu desainnya dan penempatan pipa-pipanya Bila diperlukan buat pagar keliling 150 m dengan kawat. Jarak antara tiang 3 m, tinggi pagar 1,5 m Jumlah tenaga kerja untuk membuat pagar 100 m/HK Transplanting ke main nursery dilakukan pada bibit berumur 3-4 bulan atau memiliki 4-5 helai daun

Memancang
• • •

Umur bibit 8-10 bulan : jarak pancang 70 x 70 x 70 cm (23.000 bibit/ha) Umur bibit ≥ 10 bulan : jarak pancang 90 x 90 x 90 cm (14.000 bibit/ha) Kebutuhan tenaga kerja memancang 1.000 pancang/HK

Mengumpulkan Tanah

Metode sama dengan pembibitan Pre-Nursery

Tanah di polybag besar harus dilubangi dan selanjutnya dimasukkan 100 g pupuk RP ke lubang polybag besar sebelum bibit ditanam

Ukuran Polybag
• • • •

Ukuran polybag besar adalah 0,15 mm x 35 cm x 50 cm lay flat Setelah diisi tanah diameter ± 23 cm dan tinggi ± 39 cm ; warna hitam Lubang empat baris perforasi berjarak 5 cm x 5 cm Tebal polibag harus merata tidak ada tebal tipis

Mengisi Polybag
• • • •

• •

Polybag harus sudah siap diisi tanah minimal 4 minggu sebelum transplanting dari PN untuk mendapatkan tingkat kepadatan tanah yang stabil. Polybag harus dibalik sebelum diisi tanah agar polybag dapat berdiri tegak dan silindris Persiapan media tanam dan isikan ke dalam polybag. Hindarkan pemadatan tanah dalam polybag dengan cara menekan kuat ke arah bawah Guncang polybag pada waktu pengisian untuk memadatkan tanah dan mencegah agar tidak ada bagian yang mengkerut atau terlipat sehingga ketinggian tanah dapat mencapai 2,5 cm dari bibir polybag. Jumlah polybag 1 kg = 18 lembar; 1 plb ± 20 kg Jumlah tenaga kerja yang diperlukan 100 unit/HK

Menyusun Polybag
• • • • •

Polybag disusun di areal bibitan yang sudah dipancang Menyeragamkan cara peletakan (contoh di selatan pancang). Pancang tidak boleh dicabut Setiap 5 baris dikosongkan 1 baris untuk jalan pemeliharaan bibit Kedua tangan pekerja harus berada pada dasar polybag dan tidak dibenarkan 1 tangan menyengkeram bibit polybag bagian atas Jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan adalah 100 – 150 unit/HK

Menanam/Transplanting di Polybag Besar
• • • • •

Tanah di polybag dilubangi sebesar ukuran polybag kecil dengan alat berupa bor tanah atau yang dibuat dari pipa 4 inch Jumlah tenaga kerja untuk melubangi 250 unit/HK Bibit yang telah memenuhi syarat (umur 3 bulan, daun 3-4, bentuk sempurna) diangkut dengan kotak papan, diecer ke tempat polybag Jumlah tenaga kerja untuk mengecer 700 bibit/HK Penanaman dilakukan : bibit di polybag kecil dipegang miring, dasarnya disayat keliling kemudian dilepas. Dimasukkan ke dalam lubang polybag besar. Sambil menahan bibit polybagnya ditarik/dilepas. Tanah diratakan dan dipadatkan Jumlah tenaga kerja untuk menanam 100 bibit/HK

Penyiraman Bibit

• • •

Bibit disiram 2 kali/sehari : pagi; jam 7.00 – selesai selambat lambatnya jam 11.00, sore jam 15.00 – selesai Jumlah tenaga kerja 2.500 bibit/HK Apabila malam sebelumnya turun hujan dan tanah di polibag masih basah maka penyiraman hanya dilaksanakan sore hari. Bila hujan pagi hari cukup lebat (> 10 mm) maka sampai sore bibit tidak perlu disiram. Kebutuhan air bibit : 1-3 bl = 1.0 ltr; 3-6 bl = 1.5 ltr; > 6 bl = 2 ltr

Pengendalian Gulma
• • • • •

Dilakukan 2 minggu sekali Penyiangan dilakukan dalam polibag dan di luar polibag Dalam polibag penyiangan dilakukan secara manual Di antara polibag rumput-rumput disemprot dengan 2 kg karmex + 2,2 ltr gramoxone/450 ltr air/ha bibitan Tenaga kerja diperlukan untuk penyiangan 0,7 ha/HK atau 8.000 bibit/HK

Pemberian Mulsa
• • • • •

Pada daerah yang terlalu kering/panas, bibit dalam polybag harus diberi mulsa Mulsa diberikan secara merata di atas permukaan tanah dalam polybag segera setelah bibit ditanam Mulsa yang dianjurkan adalah cangkang, jerami ataupun lalang kering Jumlah cangkang sawit yang diperlukan 0,5 kg/polibag Jumlah tenaga kerja diperlukan adalah 2.500 bibit/HK

Konsolidasi Bibit
• • • • •

Konsolidasi bibit dilakukan 1x/bulan Menegakkan polibag-polibag yang miring Mengganti/membalut polibag yang pecah Menambah tanah di polybag (hanya sampai umur 6 bulan) Jumlah tenaga kerja diperlukan 2.000 bibit/HK

Pemeliharaan Parit drainase
• • •

Mengalirkan air yang tergenang 1 kali/minggu Mendalamkan parit pada ukuran semula Jumlah tenaga kerja yang diperlukan 6-8 ha/HK

Pemupukan
• • • •

Dimulai pada minggu ke 2 setelah bibit di transplanting Jenis pupuk : pupuk majemuk (contoh Rustika) R 15.15.6.4 dan R 12.12.17.2 serta pupuk Kieserite atau Dolomit Jumlah tenaga kerja yang diperlukan 3.000 bibit/HK atau 5 HK/ha bibit Cara pemupukan : Buat takaran pupuk sesuai dengan dosis

i.

0 10.0 15. iii.0 15.0 10.0 20.0 15.0 15.0 15.0 15.0 10.0 10.0 7.5 5. Pupuk ditaburkan merata pada permukaan tanah di polybag melingkar/keliling sejauh 10 cm dari bibit Pupuk tidak boleh menyentuh bibit Pelaksanaan setelah penyiraman pertama Dosis Pemupukan Pembibitan Utama Umur Bibit (Minggu) 2 3 4 5 6 8 10 12 14 16 18 20 22 24 26 28 30 32 34 36 Dosis Pupuk (gram/pohon) R II 10.0 7.ii.0 10.5 - .5 7.0 10.0 5.5 7.5 10.5 22.0 20.0 - RI 2.5 2.0 20.0 15. iv.0 15.0 22.5 10.0 20.0 - K atau D 10.

12 Vol.000 bibit/HK Kebutuhan Larutan Semprot Umur (bulan) 4–6 7–9 10 .5 117. Penyemprotan dilakukan setelah penyiraman pagi dan ditambahkan dengan perekat.0 230 15. Khusus bibit yang terkena penyakit dan mudah menular harus dipisahkan dari bibit sehat Jumlah kebutuhan tenaga kerja 3.6.15. Semprot (cc/pk) 25 50 100 Tenaga (bibit/HK) 5.000 3. hama dikutip kemudian dimusnahkan Jumlah kebutuhan tenaga kerja 2.0 25.000 bibit/HK Bila dari hasil pengamatan menunjukkan adanya peningkatan gejala serangan maka dapat dikendalikan dengan penyemprotan pestisida.5 Keterangan : R I R II K D Sumber data : Lembaga Pendidikan Perkebunan : Kelapa sawit (2004) Pengendalian Hama Penyakit • • • • • • • Pengamatan dilakukan secara rutin 1 x/minggu untuk mengetahui ada tidaknya serangan hama/penyakit Cara pengendalian pada saat serangan awal/ringan secara manual.000 1.0 80 22.4 = Rustika 12.38 40 Jumlah • • • • 50 = Rustika 15.2 = Kieserite = Dolomit 25.12.00 Sumber data : Lembaga Pendidikan Perkebunan : Kelapa sawit (2004) Gejala Serangan hama/penyakit & Pengendalian .17.

jumlah bibit afkir selama di main nursery antara 10-15 % Jumlah tenaga kerja dibutuhkan 3.Keterangan : T S : Semprot : Tabur : Minggu Mgg Sumber data : Lembaga Pendidikan Perkebunan : Kelapa sawit (2004) Seleksi Bibit • • o o o Seleksi dilaksanakan dengan tahapan umur bibit 6. 12 bulan dan pada persiapan pengiriman bibit ke lapangan Tata cara pelaksanaan seleksi bibit : Berikan tanda dengan cat warna putih di polybag setiap bibit afkir/abnormal Catat dan dibuat berita acara semua bibit afkir Bibit afkir dikeluarkan dari blok bibitan dan dimusnahkan. 9.000 bbt/HK • .

daun yang baru tumbuh dengan ukuran yang makin pendek dari daun tua. gejala ringan disebabkan karena kekurangan air Chimaera • o • o • o • o • o • o • o • o • . daun tumbuh dengan sudut yang sangat sempit/tajam terhadap sumbu vertikal sehingga seperti tumbuh tegak. Bibit terlihat sangat terbuka dan lebih tinggi dari normal Anak daun yang sempit (narrow leaf) Bentuk helai daun tampak sempit dan tergulung sepanjang alur utamanya (lidi) sehingga bentuknya seperti jarum Anak daun tidak pecah (juvenile) Helai anak daun tetap bersatu seluruhnya atau tidak pecah Daun berkerut (crinkle leaf) Daun terlihat berkerut.Ciri bibit abnormal di Main Nursery • o Kerdil (runt/stunted) Bibit yang pertumbuhan vegetatifnya jauh lebih kecil dibandingkan dengan bibit sehat seumurnya Bibit erect Faktor genetis. Gejala berat akibat factor genetic. Bibit yang layu dan lemah (limp) Penampilan pucat dan pertumbuhan daun muda cenderung lebih pendek dari yang seharusnya Bibit flat top Faktor genetik. sehigga tajuk bibit terlihat rata Short internode Jarak antara anak daun pada tulang pelepah (rakhis) terlihat dekat dan bentuk pelepah tampak pendek Wide internode Jarak antara anak daun pada rakhis terlihat sangat lebar.

pelepah bengkok dan mudah patah Blast Bibit berubah secara progresif ke arah coklat dan perlahan dimulai dari daun yang tua bergerak ke daun yang lebih muda Terserang hama dan penyakit Terserang busuk pucuk dan hama/penyakit yang harus dipisahkan • o • o • o Persiapan Pemindahan Bibit ke Lapangan • o Pemutaran bibit (rotating) Bibit diputar pada tempatnya dua minggu sebelum dikirim ke lapangan.o Sebagian atau seluruh daun secara seragam berubah menjadi pucat atau bergaris kuning terang yang sangat kontras dengan warna gelap dari jaringan yang normal Crown Diseases Faktor genetik. setiap kelompok terdiri 100-200 bibit. Setelah bibit diputar harus disiram air dengan cukup setiap hari sampai waktu pengiriman ke lapangan Perlakuan Bibit untuk Persiapan Pengangkutan Menjelang persiapan tanam bibit dikumpulkan rapat. Bibit disusun satu lapis di atas truk dan disiram sebelum berangkat ke lapangan • o .

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.