P. 1
TEKNIK APLIKASI HERBISIDA

TEKNIK APLIKASI HERBISIDA

|Views: 2,509|Likes:

More info:

Published by: Katakan Lah Sejujurnya on Mar 21, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/21/2013

pdf

text

original

TEKNIK APLIKASI HERBISIDA Junita Sinambela/070301054 Mahasiswi Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara

, Medan.

ABSTRAK Percobaan ini dilakukan di lahan percobaan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan pada ketinggian tempat 25 m dpl. Percobaan ini bertujuan umtuk mengukur aplikasi perlakuan herbisida yang seragam pada suatu areal, sehingga diperoloh hasil pengendalian yang efektif dan efisien. Percobaan ini menggunakan air, dan knapsock. Luas areal yang dikalibrasikan panjangnya16,25 m dan lebar 1,95 m dengan volume awal 10 liter/ha. Dari hasil percobaan diperoleh bahwa air yang digunakan untuk luas areal tersebut 2,5 liter/ha dan volume yang diperlukan sebanyak 788,892 lite/hr, volume semprot untuk dosis herbisida 2 liter/ha sebanyak 788,8983 liter/ha dan untuk volume semprot dengan dosis herbisida 3 liter/ha sebanyak 788,8995 liter/ha. Kata Kunci: kalibrasi, air, volume semprot PENDAHULUAN Pengendalian gulma dewasa ini di Indonesia cukup berkembang disbanding pemanfaatan sumber daya dan eradikasi gulma itu sendiri. Cara pengendalian dapat dilakukan secara fisik (manual, mekanis, pemanfaatan dan kultur teknis), biologi dan kimia (herbisida). Pengendalian gulma dengan menggunakan herbisida sudah banyak diterapkan di lapangan baik pada budidaya komoditas tanaman perkebunandan industri maupun tanaman pangan, hortikultura dan perairan. Hal ini disebabkan oleh kelangkaan tenaga kerja di tingkat usaha tani, serta banyaknya pilihan herbisida yang efektif dan selektif sebagai haerbisida pra tumbuh dan purna tumbuh sesuai dengan komoditas tanaman yang dibudidayakan (Tjitrosemito, 2004). Herbisida adalah suatu bahan kimia (pestisida) yang digunakan untuk membunuh atau mencegah pertumbuhan gulma. Cara yang paling efektif untuk menanggulangi gulma ialah menggunakan herbisida dalam kombinasi dengan cara pengendalian lainnya. Keuntungan penggunaan herbisida yaitu: a) Menggunakan herbisida menghemat tenaga. b) Herbisida dapat dapat digunakan dalam lingkungan apapun. Sedangkan kerugian penggunaan herbisida adalah: menggunakan herbisida yang sama terusmenerus mengakibatkan berkembangnya gulma, khususnya jenis tahunan yang sulit dikendalikan dengan herbisida (Sebayang, 2005). Proses aplikasi herbisida menyangkut berbagai aspek antara lain: 1) Penyediaan larutan yang sesuai. 2) Pembuatan butiran cairan semprot. 3) Gerakan butiran cairan semprot kepada sasaran. 4) Impak butiran pada sasaran (Sukman dan Yakup, 2002). Di dalam melakukan kalibrasi terdapat tiga faktor penting yang menentukan keberhasilan kalibrasi yakni: Ukuran lubang nozel.− Tekanan dalam tangki alat semprot.−

Kecepatan pergerakan (berjalan) aplikator.− (Anderson, 1977). BAHAN DAN METODE Percobaan ini dilakukan di lahan percobaan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan pada tanggal 18 April 2007 dengan ketinggian tempat 25 m dpl. Percobaan ini menggunakan air sebagai pelarut herbisida, gelas ukur untuk mengukur herbisida yang akan digunakan, ember plastik sebagai tempat menaruh air, glifosat sebagai herbisida yang akan diaplikasikan, dan Knapsock Sprayer sebagai alat semprot. Sebelum mengkalibrasikan air pada pelataran parkir, ditentukan terlebih dahulu volume awal dengan rumus: Volume yang diaplikasikan = Volume yang diperlukan Luas areal perlakuan Luas areal yang akan diberi perlakuan Kemudian ditentukan banyaknya volume semprot yang diperlukan untuk dosis herbisida 2 liter/ha dan 3 liter/ha. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Volume larutan yang diketahui (V1) = 10 L Volume larutan yang tertinggal dalam tangki (V3) = 7,5 liter Volume semprot (V2) = V1 – V3 = 2,5 liter Lebar Lahan = 1,95 m Panjang Lahan = 16,25 m Luas Lahan = P x L = 31,69 m2 Volume yang diaplikasikan = Volume yang diperlukan Luas areal perlakuan Luas areal yang akan diberi perlakuan V = 2,5 x 10000 = 788,892 liter 31,69 Dosis Herbisida 2 liter = (2 x 31,69 ) : 10.000 = 0,006 liter Dosis Herbisida 3 liter = (3 x 31,69 ) : 10.000 = 0,0095 liter Volume semprot per Hektar Dosis Herbisida 2 liter = 788,892 + 0,0063 = 788,8983 liter Volume semprot per Hektar Dosis Herbisida 3 liter = 788,892 + 0,0095 = 788,8995 liter Pembahasan Dari hasil percobaan dengan mengkalibrasikan air pada luas lahan 31,69 m2, maka diperoleh volume semprot dengan dosis herbisida 2 liter/ha sebanyak 788,8983 liter/ha. Dan volume semprot dengan dosis herbisida 3 liter/ha sebanyak 788,8995 liter/ha. Sehingga dapat disimpulkan bahwa volume air yang akan digunakan untuk mengaplikasikan herbisida dengan dosis anjuran 2 liter/ha dengan dosis anjuran 3 liter/ha yang diaplikasikan pada luas areal yang sama membutuhkan volume air yang

tidak jauh berbeda tetapi harus tetap diperhatikan kesesuaiannya. Hal ini sesuai dengan literatur dari Sukman dan Yakup (2002) yang menyatakan bahwa penyediaan larutan yang sesuai merupakan salah satu aspek penting dalam proses aplikasi herbisida. Di dalam melakukan kalibrasi ada beberapa faktor yang menentukan keberhasilan kalibrasi yaitu ukuran lubang nozzle, tekanan dalam tangki alat semprot, dan kecepatan berjalan aplikator. Ketiga faktor tersebut harus diatur sedemikian rupa sehingga diperoleh suatu volume larutan herbisida tertentu yang dapat dilepaskan melalui lubang nozzle pada setiap waktu yang dikehendaki. Hal ini sesuai dengan literatur Anderson (1977) bahwa di dalam melakukan kalibrasi terdapat tiga faktor penting yang menentukan keberhasilan kalibrasi yakni ukuran lubang nozel, tekanan dalam tangki alat semprot, dan kecepatan pergerakan (berjalan) aplikator.

KESIMPULAN 1. Pada luas lahan 31,69 m2 dengan volume awal 10 liter dan volume akhir 7,5 liter maka diperoleh volume yang diperlukan sebanyak 2,5 liter. 2. Pada luas lahan 31,69 m2 dengan dosis herbisida 2 liter/ha maka diperoleh volume semprot sebanyak 788,8983 liter/ha. 3. Pada luas lahan 31,69 m2 dengan dosis herbisida 3 liter/ha maka diperoleh volume semprot sebanyak 788,8995 liter/ha. DAFTAR PUSTAKA Anderson, W.P., 1977. Weed Scince. West Publishing, Los Angeles. Sebayang, H. T., 2005. Gulma dan Pengendaliannya Pada Tanaman Padi. Unit Penerbitan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Malang Sukman, Y., dan Yakup, 1995. Gulma dan Teknik Pengendaliannya, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta. Tjitrosemito, S., Sri S.T., dan Imam M., 2004. Prosiding Konferensi Nasional XVI Himpunan Ilmu Gulma Indonesia SEAMEO BIOTROP, Bogor, 15-17 Juli 2003. Bogor-Indonesia.

NUSANTARA II KEBUN SAWIT SEBERANG Waktu : Bulan Juni sampai Juli 2010 Peserta PKL : NICKY ARDIANSYAH L. 070301019 JUNITA SINAMBELA 070301054 Medan. Toga Simanungkalit.R. MS) (P.P. 070301055 ARJUNA A.PRAKTEK KERJA LAPANGAN DI PTP. Sijabat) NIP.P.R./070301055 ARJUNA A. NUSANTARA II KEBUN SAWIT SEBERANG LAPORAN OLEH : NICKY ARDIANSYAH L. 19599072 819870 21 001 Diketahui Oleh: . Juli 2010 Disetujui Oleh: Dosen Pembimbing Lapangan Asisten Pembimbing Lapangan (Ir./070301019 JUNITA SINAMBELA/070301054 DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2010 Judul Kegiatan : PRAKTEK KERJA LAPANGAN (PKL) DI PTP.

Universitas Sumatera Utara. 4. karena atas berkat dan rahmat-Nyalah penulis dapat menyelesaikan laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL) ini dengan baik. Bapak P.D. Medan. Bapak Ir. Juli 2010 Penulis .Sos.) NIP. M. selaku asisten personalia PTPN II Kebun Sawit Seberang. 2. selaku manajer PTPN II Kebun Sawit Seberang. Nusantara II Kebun Sawit Seberang yang telah membantu dalam pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan (PKL). Toga Simanungkalit. Zulkifli Nasution.) (Prof. untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan laporan ini. 7.Sc.. Ph. Edison Purba.Manajer PTPN II Ketua Departemen Kebun Sawit Seberang Budidaya Pertanian FP-USU (Ir. M Triwahyudi selaku asisten kepala Rayon Babalan (BBN) PTPN II Kebun Sawit Seberang 6. Nusantara II Kebun Sawit Seberang. W Sasongko MM. 1959010 519860 11 001 KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. R Malau selaku asisten kepala Rayon Sawit Seberang (SWS) dan . Ir. Ph. Praktek Kerja Lapangan ini dilaksanakan di PTPN II Kebun Sawit Seberang. Bapak Ir. Bapak Ir. SP selaku asisten afdeling IX di PTP. Praktek Kerja Lapangan ini merupakan program yang wajib dilakukan oleh setiap mahasiswa-mahasiswi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Bapak Prof. S. W Sasongko MM. Bapak Ir. Medan. Medan. 8. selaku dekan Fakultas Pertanian. Akhir kata penulis mengucapkan banyak terima kasih. D. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Seluruh karyawan PTP. Bapak Ir. 5. Sijabat.D selaku ketua Departemen Budidaya Pertanian Universitas Sumetra Utara. Penulis menyadari masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam penulisan laporan ini. Edison Purba Ph. Ir. Medan. 3. MS selaku dosen pembimbing Praktek Kerja Lapangan (PKL). Bapak David Ginting.

1 Pembibitan 17 3.2.2 Tujuan Praktek Kerja lapangan 2 II.2.1 Sejarah Kebun 3 2.2 Lingkungan Fisik 3 2.DAFTAR ISI KATA PENGANTAR i DAFTAR ISI ii DAFTAR TABEL iii DAFTAR LAMPIRAN iv DAFTAR GAMBAR v I.1 Sistem Administrasi Kebun 14 III.1.2 Iklim 4 2. PENDAHULUAN 1 1.3 Topografi dan Jenis Tanah 4 2.2.4.1 Latar Belakang 1 1.4 Luas Areal 4 2. KEGIATAN BUDIDAYA KELAPA SAWIT 17 3.3 Struktur Organisasi Kebun 7 2.4 Sistem Administrasi 14 2. GAMBARAN UMUM LOKASI PKL 3 2.2.1 Letak geografis 3 2.1 Pre Nursery (Pembibitan awal) 17 .

1 Pemeliharaan 29 3.2.5.5.4 Penyisipan 26 3.2 Kriteria Matang Panen 38 3.7 Pengendalian Hama dan Penyakit 28 3.3 Pembagian Kapveld Menurut Rotasi Panen 40 3. PROGRAM MAGANG BERSAMA PEJABAT/STAF/KARYAWAN 45 V.3. LAMPIRAN .3.2.3.3.5 Konsolidasi 26 3.4 Pengendalian Hama dan Penyakit 32 3.3.6 Pemeliharaan Piringan Pohon 27 3.2.3.2.2 Main Nursery (Pembibitan Utama) 20 3.3.3.2.3.8 Pelaksanaan Panen 43 IV.1 Kesimpulan 50 6.5 Panen dan Pengumpulan 34 3.5.2 Saran 50 VII.6 Perhitungan Angka Kerapatan Panen (AKP) 41 3.3 Pembuatan Parit Drainase 26 3.5. TOPIK PERMASALAHAN DI LOKASI PKL 49 VI.5.3.2 Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) 24 3.3.1 Pengertian Panen 38 3. DAFTAR PUSTAKA VIII.2 Pemeliharaan Jalan 25 3.3.3 Pemeliharaan Jalan 32 3.1.3.5 Sistem Panen 41 3.1 Pembuatan Pasar Kontrol 25 3.5. KESIMPULAN DAN SARAN 6.5.7 Peralatan Panen 42 3.2 Pemupukan 31 3.5.4 Ancak Panen 40 3.2.3.3 Tanaman Menghasilkan (TM) 29 3.2.

. Foto Peserta PKL……………………………………………………............. Fraksi Matang Panen pada Tanaman Kelapa Sawit........... Lay Out PKS Kebun Sawit Seberang………………………………… 54 4.................. 6 2........ Bagan Struktur Organisasi Kebun Sawit Seberang…………………… 52 2........ 1. URAIAN Hal.......... 7 3................ 56 .....DAFTAR TABEL No.......................... Peta Kebun sawit Seberang…………………………………………… 53 3... Kriteria Matang Panen dan Standard Antar Fraksi...... Jumlah Tegakan atau Populasi Tanaman Berdasarkan Umur............. Luas Areal Kebun Sawit Seberang Per Tahun Tanam dan Luas Seluruhnya ..... 39 DAFTAR LAMPIRAN No....................... 39 4................ URAIAN Hal 1....

. 1....... 34 9. 26 4.. 30 5...... tanggal 14 Februari 1996...... dibentuk berdasarkan PP No................. 7 Tahun 1996.....DAFTAR GAMBAR No. Pasar Mati…………………………………………………………. Perhitungan AKP... disingkat PTPN II.... Kondisi Jalan pada Areal TM ……………………………………… 32 7...... ................... Keadaan Topografi Kebun Sawit Seberang………………………… 5 2. Perusahaan yang berstatus sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini merupakan penggabungan kebun-kebun di Wilayah Sumatera Utara dari eks PTP II dan PTP IX.... Gejala Serangan Oryctes…………………………………………....... Kondisi Jalan pada Areal TBM....... 42 I...... Tempat Pengumpulan Hasil……………………………………….. Uraian Hal......... 25 3........ Selain itu dikembangkan juga tanaman kelapa sawit di wilayah Irian Jaya yaitu di Kabupaten Manokwari dan Jayapura... Pasar Pikul………………………………………………………… 36 11. Tanaman TBM…………………………………………………….... 30 6....... PENDAHULUAN 1.. Gejala Serangan Ganoderma………………………………………. 33 8... Penyiangan Manual………………………………………………. 35 10.........1 Latar Belakang PT Perkebunan Nusantara II (Persero)................

265 ha dan kakao seluas 7.860 hektar. Mahasiswa PKL mampu menganalisa dan memecahkan permasalahan yang timbul pada tempat PKL.443 ha. Mahasiswa peserta PKL dapat melakukan proses belajar bersama dengan peserta. kakao.572 ha. Dari keterangan diatas perguruan tinggi segera mengambil langkah alternatif agar mempersiapkan mahasiswa/i untuk lebih meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam industri kelapa sawit. Perkebunan Nasional. peserta dengan pejabat yang tekait di tempat PKL. Secara khusus mahasiswa peserta PKL dapat mempraktekkan pengalaman atau ketrampilan yang akan diperoleh setelah menjadi sarjana. Untuk itu. karet 11. 4. Secara umum mahasiswa peserta PKL dapat memperoleh pengalaman atau ketrampilan langsung dilapangan sesuai dengan realita yang ada. PKS Sawit Seberang telah mengalami beberapa kali perbaikan dan penambahan kapasitas yakni dari 15 ton TBS .474 ha dan tebu rakyat (TR) 1. Tanaman tebu lahan kering ditanam pada areal seluas 16.370 ha. 1. Dimana jarak dari kota Medan ±78 km. Kemudian sejak berada dibawah pengawasan PT. 2. peserta dengan staf tempat PKL. Disamping itu PTPN II juga mengelola tanaman musiman yaitu tanaman tebu dan tembakau. karena di PTPN II Kebun Sawit Seberang Kabupaten Langkat ada pembibitan. sedangkan tanaman tembakau ditanam pada areal seluas 2.046 ha. Dari kegiatan PKL diharapkan mahasiswa/i dapat menambah pengetahuan dan pengalaman. GAMBARAN UMUM LOKASI PKL 2. Alasan pesrta PKL mengadakan PKL di PTPN II Kebun Sawit Seberang Kabupaten Langkat. Budidaya kelapa sawit diusahakan pada areal seluas 61. ketinggian dari permukaan air laut ±55 m.1 Tujuan 1. PTPN II Kebun Sawit Seberang pada awalnya dari perusahaan eks perkebunan Belanda yang bernaman “Verenigde Deli Mastgchappij” (VDM) yang dibuka dan ditanami kelapa sawit sejak tahun 1923.1 Sejarah Kebun Kebun Sawit Seberang adalah salah satu kebun milik PT Perkebunan II yang berlokasi di Kabupaten Langkat Kecamatan Padang Tualang Propinsi Sumatera Utara. TBM (Tanaman Belum Menghasilkan). PKS (Pabrik Kelapa Sawit). 3.577 ha. Setelah pendirian perkebunan kelapa sawit “Verenigde Deli Mastgchappij” (VDM) membangun Pabrik Pengolahan Kelapa Sawit (PKS) pada tahun 1927. PTPN II dikenal sebagai produsen kelapa sawit yang berkualitas dan memiliki sumber daya manusia yang sangat berkompeten dibidangnya. II.PTPN II mengusahakan komoditi kelapa sawit. gula dan tembakau dengan areal konsesi seluas 103. Salah satu perkebunan yang memiliki peranan yang sangat penting dalam mengembangkan industri kelapa sawit di Indonesia adalah PTPN II. serta memberi gambaran kepada mahasiswa mengenai dunia kerja yang akan dimasukinya setelah lulus sarjana. karet. PTPN II juga mengelola areal plasma milik petani seluas 25. tediri dari tebu sendiri (TS) 14. TM (Tanaman Menghasilkan). Selain penanaman komoditi pada areal sendiri ditambah inti. mahasiswa/i memilih PTPN II Kebun Sawit Seberang Kabupaten Langkat sebagai tempat PKL karena perusahaan tersebut memiliki pengalaman dalam pengembangan industri Kelapa Sawit sehingga diharapkan mahasiswa/i dalam menimba pengalaman dari kegiatan PKL tersebut. Salah satu langkah yang dilakukan adalah dalam bentuk praktek kerja lapangan (PKL).250 ha untuk tanaman kelapa sawit.

Kabupaten Langkat 2.III 2. struktur tanahnya liat sampai liat berpasir yang memiliki kemampuan menyimpan air yang sangat rendah. Tahun 1963 : PPN Antari – II 4.N. data curah dan hari hujan Kebun Sawit Seberang selama tujuh tahun terakhir (tahun 2001-2007) disajikan pada lampiran. V. Kemudian mengingat perkembangan ekonomi dan tingginya biaya produksi karena tidak sesuai dengan kapasitas yang terpasang saat ini.2.1 Letak Geografis PTP. III. . maka pada tahun 2000 pabrik fraksionasi tidak beroperasi lagi.2. Ketinggian Tempat Pada umumnya keadaan areal di lokasi PTPN II Kebun Sawit Seberang rata dan sebagian tempat bergelombang dengan ketinggian tempat 5-20 m dpl pada daerah datar 20 – 50 m dpl pada areal bergelombang. Tahun 1962 : PPN Sumut – II 3. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Sergei 2. pH tanah berkisar 5-7 (netral). Tahun 1927 : ND VDM 2.Nusantara II (Persero) Kebun Sawit Seberang terletak di Kabupaten. Sebelah Timur berbatasan dengan Kebun Sucflndo 4. Tahun 1969 : PNP – II 6.3 Topografi dan Jenis Tanah Keadaaan topografi di Kebun Sawit Seberang ada yang datar dan bergelombang atau curam. Tahun 1996 : PTPN – II (Penggabungan PTP –II dengan PTP – IX. Tahun 1968 : PPN Antari – II / PNP – II (Penggabungan) 5. Batas-batas Kebun Sawit Seberang: 1. b. Kecamatan Padang Tualang Dimana terdiri dari IX Afdeling yaitu afdeling I. Jenis tanah yang terdapat di kebun ini adalah jenis tanah Podsolid. yaitu: 1. Sebelah Utara berbatasan dengan Kebun Gunung Monako PTP. II. 2. VII. VIII.2 Iklim a. VI. Sebelah Barat berbatsan dengan Kabupaten Sergei 3. Kekuningkuningan. 2. Sejak berdirinya perusahaan perkebunan Sawit seberang telah mengalami perubahan nama yaitu: 1. Curah Hujan Berdasarkan data iklim yang tersedia. IX. dan teksturnya liat berpasir.diolah per jam menjadi 30 ton TBS per jam kapasitas terpasang. Perusahaan mendirikan pabrik fraksionasi yang berkapasitas 200 ton per hari yang mengelola crude palm oil (CPO) menjadi RBDPO (Refined Bleached dedorced Palm Oil) 95% dan Fatty Acid 4%. Tahun 1976 : PTP – II 7. 11 Maret 1996). IV.2.2 Lingkungan Fisik 2. Dan untuk menanggulangi kekurangan unsur dapat dilakukan dengan pemupukan yang teratur. PTP Nusantara II Kebun Sawit Seberang menghasilkan CPO dan inti sawit yang diolah di Pabrik Kelapa sawit (PKS) dan untuk peningkatan produksi kelapa sawit pada tahun 1984.

0/71/VIII/2006 tanggal 10 Agustus 2006.98 55.4 Luas Areal Luas areal Kebun Sawit Seberang pada tahun 2009 adalah 14.96 847.11 Ha. bangunan serta termasuk yang dalam perkara hukum : . Keadaan Topografi kebun Sawit Seberang 2.60 1. Tahun Tanam per Hektar Uraian Tahun Tanam Luas (Ha) Jumlah TM Kelapa Sawit 1984 1985 1988 1989 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2003 2005 281.43 627.012.2.896.27 17.106.Gambar 1.23 153.15 478. dimana luas arealnya dapat di jabarkan sebagai berikut: a.Ha Keterangan : Areal/Hutan Okupasi seluas 5.91 1.05 Ha c.31 562.00 .50 389. Luas areal HGU dan HGU yang tidak diperpanjang yang diduduki dan yang digarap masyarakat diatasnya dalam bentuk tanaman.98 Ha b.224.054.94 605.73 200.236. Luas arel HGU yang telah terbit sertifikat : 5.51 396. Luas areal HGU yang masih dalam proses perpanjangan : 3. Luas areal HGU semula : 8.93 Ha d.69 Ha yang tercantum dalam areal statement Kebun Sawit Seberang sampai dengan saat ini tidak diketahui keberadaannya dan telah dibuat surat permohonan petunjuk ke Kantor Direksi mengenai areal tersebut melalui Nomor : II. Luas areal HGU yang tidak diperpanjang : .Ha e.22 690.932.SB/II.

98 Tabel 1.877.98 8.17 TBM – I 2008 66. Luas Areal Kebun Sawit Seberang Per Tahun Tanam dan Luas Seluruhnya Jumlah Tegakan Pohon per Ha No Uraian Jumlah Pokok Pokok (Ha) 1 2 3 4 5 6 7 TMTP (>25 Tahun) TM (25 Tahun) Tua (19-24 Tahun) Dewasa (11-18 Tahun) Remaja (6-10 Tahun) Muda (2.019 33.835 156.236.17 Jumlah Seluruhnya 8.645 9.00 202.039 129 118 123 127 .23 71.338.120 19.5-5 Tahun) TBM 26.25 7.17 91.466 265.59 91.236.00 TBM – IV 2005 91.22 TMTP 1983 202.727 520.

kerangka kegiatankegiatan perusahaan yang menentukan pembagian pekerjaan pada unit-unit organisasi. d.124 128 121 Total 1. Satu orang asisten Personalia Kebun yang bertugas sebagai pemberi data informasi dibidang ketenaga kerjaan. Manager (a) Mempertanggungjawabkan penggunaan dana.581 125 Tabel 2. untuk mencapai ide-ide baru mengenai sistem kerja 2. Satu orang Asisten Tata Usaha yang mengepalai tugas dalam menjalankan operasi administrasi secara umum. Satu orang perwira pengamanan (Papam) yang bertugas mengatur sistem keamanan kebun. Satu orang asisten teknik sipil/traksi dan alat berat yang bertugas dibidang transportasi hasil dan hal-hal yang berhubungan dengan teknik. Struktur organisasi perusahaan yang baik akan memberikan kemudahan bagi Manager dalam pengambilan keputusan dan mempermudah karyawan menjalankan tugas-tugas kepadanya. adanya sistem komunikasi dan akhirnya mencakup sistem koordinasi dalam perusahaan. Bagan organisasi tersebut juga bertujuan untuk mengetahui job/pekerjaan dari tugas masing-masing dan pertanggungawaban. Untuk mengetahui struktur organisasi suatu perusahaan kiranya dapat digambarkan pada suatu bagan dari organisasi tersebut karena dari bagan organisasi tersebut akan kita peroleh gambaran dari aktivitas-aktivitas secara keseluruhan. pembagian wewenang. dan personil secara efektif dan efisien untuk mencapai hasil yang maksimal (b) Bertanggungjawab atas semua harta kekayaan perusahaan di kebun yang dipimpinnya (c) Menjalin kerja sama yang baik dengan instansi lain di sektor kebun (d) Mengatur stabilitas keamanan. bagian tanaman dan teknik. Asisten Kepala (a) Mengusulkan peremajaan tanaman.3 Struktur Organisasi Kebun Struktur organisasi perusahaan adalah suatu kerangka perusahaan. Pada pelaksanaannya sehari-hari Manager dibantu oleh beberapa staf. Struktur atau bagan organisasi PT. Jumlah Tegakan atau Populasi Tanaman Berdasarkan Umur 2. b. Dua orang Asisten Kepala (Asisten Kepala Rayon SWS dan Asisten Kepala Rayon BBN) yang bertugas mengecek dan mengkoordinir pekerjaan Asisten afdeling.030. Sembilan orang asisten yang bertugas mengawasi bagian tanaman disetiap afdeling. politik dan keharmonisan sehingga tercapainya keserasian dalam mencapai tujuan perusahaan (e) Mengadakan rapat kerja dan diskusi mengenai problem-problema yang timbul dalan pengolahan sesuai dengan rencana perusahaan (f) Manager bekerjasama dengan inspektur. material. f. Perkebunan Nusantara II Kebun Sawit Seberang dapat dilihat pada lampiran. Uraian lebih lanjut tentang tugas-tugas dan tanggung jawab dari masing-masing pelaksana Kebun Sawit Seberang dijelaskan sebagai berikut: 1. terdiri dari : a. . c. Dalam menjalankan operasi di kebun ini dipimpin oleh seorang Manager. sosial. e.

tepat frekwensi dan tepat aplikasi/tabur). (s) Melaksanakan pengendalian sistem komputerisasi yang terintegrasi (tanaman ) berbasis data base secara konsisten dan up to date. (g) Melaksanakan pengambilan contoh daun untuk keperluan rekomendasi pemupukan. (t) Melaksanakan penerimaan karyawan pemanen dan penderes. (q) Melaksanakan pembayaran pada pihak ketiga sesuai dengan kewenangannya. (m) Membuat taksasi produksi. (o) Melaksanakan pengadaan kebutuhan barang dan jasa sesuai dengan kewenangannya dan mengajukan pengadaan kebutuhan barang dan jasa diluar kewenangannya. tepat dosis. (e) Mengusulkan persetujuan mutasi TBM menjadi TM. (k) Membangun dan memelihara sarana dan prasarana (infrastruktur). (h) Melaksanakan dan monitoring kegiatan panen. (1) Pemeriksaan mutu alat. (i) Melaksanakan pengendalian mutu produksi. (i) Melaksanakan pengendalian mutu produksi. Asisten Afdeling (a) Mengusulkan peremajaan tanaman. (n) Membuat permintaan dan melaporkan pertanggung jawaban penggunaan uang kerja (DPUK). (n) Membuat permintaan dan melaporkan pertanggung jawaban penggunaan uang kerja (DPUK). (c) Melaksanakan pembangunan dan pemeliharaan pembibitan tanaman. tepat dosis. pupuk dan bahan kimia tanaman. (1) Pemeriksaan mutu alat. 3. mengusulkan Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP)/Rencana Kerja Operasional (RKO) kebun. (r) Membuat laporan kinerja bulanan (LM ke Distrik Manajer. pupuk dan bahan kimia tanaman. angkut dan tap/kap kontrol. (f) Melaksanakan pemupukan dengan prinsip 5T ( tepat waktu. (d) Melaksanakan pembangunan dan pemeiiharaan tanaman. (o) Mengendalikan persediaan barang dan perlengkapan lainnya. diterapkan dan dipelihara di unit usaha. (e) Mengusulkan persetujuan mutasi TBM menjadi TM. mengusulkan Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP)/Rencana Kerja Operasional (RKO) kebun. (b) Mengusulkan pemesanan dan menerima kecambah kelapa sawit dan biji kelapa sawit. (g) Melaksanakan pengambilan contoh daun untuk keperluan rekomendasi pemupukan. (m) Membuat taksasi produksi. (j) Melaksanakan dan monitoring penyerahan/pengiriman produksi tanaman. angkut dan tap/kap kontrol. lingkungan dan SMK-3 dimengerti. (p) Mengendalikan persediaan barang dan perlengkapan lainnya. (q) Membuat laporan kinerja bulanan (LM) ke Manajer. tepat cara. (h) Melaksanakan dan monitoring kegiatan panen. (f) Melaksanakan pemupukan dengan prinsip 5T (tepat waktu. (r) Melaksanakan penerimaan karyawan pemanen dan penderes. (u) Melaksanakan Sistem Penilaian Karya (SPK).(b) Mengusulkan pemesanan dan menerima kecamba kelapa sawit dan biji karet. (j) Melaksanakan dan monitoring penyerahan/pengiriman produksi tanaman. (p) Melaksanakan pembayaran pada pihak ketiga sesuai dengan kewenangannya. tepat cara. . (k) Membangun dan memelihara sarana dan prasarana (infrastruktur). tepat frekwensi dan tepat aplikasi/tabur ). (v) Menjamin bahwa kebijakan mutu. (c) Melaksanakan pembangunan dan pemeiiharaan pembibitan tanaman. (d) Melaksanakan pembangunan dan pemeliharaan tanaman.

(g) Membuat permintaan dan melaporkan pertanggung jawaban penggunaan uang kerja. maka semua pelaksanaan yang telah disebutkan diatas bertanggung jawab sepenuhnya kepada Manager. Asisten Teknik Sipil/Traksi dan Alat Berat (a) Melaksanakan dan monitoring kegiatan panen. mengalokasikan dan menyalurkan dana KBL. (j) Mengusulkan. (t) Menjamin bahwa kebijakan niutu. (b) Membuat permintaan dan melaporkan pertanggung jawaban penggunaan uang kerja (DPUK). lingkungan dan SMK-3 dimengerti.4. diterapkan dan dipelihara di unit usaha. (d) Melaksanakan pembayaran pada pihak ketiga sesuai dengan kewenangannya. (g) Melaksanakan penerimaan karyawan pemanen dan penderes. bazzeting) ke Distrik Manajer (f) Melaksanakan pengendalian sistem komputerisasi yang terintegrasi (personalia ) berbasis data base secara konsisten dan up to date. diterapkan dan dipelihara di unit usaha. (h) Melaksanakan pengadaan kebutuhan barang dan jasa sesuai dengan kewenangannya dan mengajukan pengadaan kebutuhan barang dan jasa diluar kewenangannya. (j) Melaksanakan pembayaran pada pihak ketiga sesuai dengan kewenangannya. (m) Melaksanakan Sistem Penilaian Karya (SPK). 4. diterapkan dan dipelihara di unit usaha. (rn) Melaksanakan pengiriman pasien ke rumah sakit perusahaan.4 Sistem Administrasi Administrasi berfungsi sebagai pencatatan (recording). lingkungan dan SMK-3 dimengerti. (I) Membuat laporan kinerja bulanan (LM. lingkungan dan SMK-3 dimengerti. (e) Membuat laporan kinerja bulanan (LPMU. karena keseluruhan proses manajemen harus didasarkan pada sesuatu yang tertulis. fungsi manajemen tidak dapat bekerja secara maksimal. LTT) ke distrik manajer.(s) Melaksanakan Sistem Penilaian Karya (SPK). (n) Menjamin bahwa kebijakan mutu. (k) Melaksanakan penyerahan barang hasil lelang aktiva non produktif. mengusulkan Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RAKP)/ Rencana Kerja Operasional (RKO) kebun. (n) Mengusulkan bantuan pengamanan external (dari tingkat Kabupaten/ Provinsi).1 Sistem Administrasi Kebun . (c) Membangun dan memelihara sarana dan prasarana (infrastruktur). (d) Membuat program dan melaksanakan pemeliharaan mesin/instalasi dan sipil/traksi. (h) Melaksanakan Sistem Penilaian Karya (SPK). angkut dan tap/kap kontrol. pelaporan (reporting) dan arsip. (k) Mengusulkan pengurusan perpanjangan HGU. 5. (1) Mengusulkan pengurusan penerbitan dan perpanj angan Hak Guna Bangunan (HGB) dan izin pendirian pabrik ( HO ). (b) Melaksanakan dan monitoring penyerahan/pengiriman produksi tanaman. (i) Mengendalikan persediaan barang dan perlengkapan lainnya. 2. Asisten Personalia Kebun (a) Membuat. (i) Menjamin bahwa kebijakan mutu. Tanpa administrasi. (c) Melaksanakan kewajiban pembayaran pajak dan retribusi serta kewajiban lainnya. 2. (f) Membuat Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP)/Rencana Kerja Operasional (RKO) kebun. Kecuali Manajer yang bertanggung jawab terhadap kepada Direksi. (e) Melaksanakan tera ulang timbangan dan monitoring kalibrasi.

jumlah ha/m/kg. c. Di dalam RKAP tersebut tertuang seluruh kegiatan yang akan dilaksanakan selama satu tahun beserta biaya yang diperlukan untuk merealisasikan tujuan yang telah ditentukan oleh perusahaan. yaitu buku untuk tanggal genap dan buku untuk tanggal ganjil. RKAP disusun setengah tahun sebelum tahun tersebut berjalan. kebun karyawan. .LM-76 merupakan statistik produksi kelapa sawit. . b. Premi merupakan upah yang diberikan kepada pemanen berprestasi dan dapat diberikan apabila pada hari tersebut prestasi yang diperoleh pemanen di atas Basis Tugas. dimana RKAP yang paling dasar dari Perusahaan Perkebunan adalah RKAP Afdeling. jika terdapat perbedaan dari jumlah hasil panen maka mandor dan krani transport akan mencari penyebab selisih. Misalnya. dan no. LM (Laporan Manajemen) Laporan menejemen merupakan formulir yang berisikan data-data sebagai berikut: . RKO (Rencana Kerja Operasional) RKO adalah rencana kerja triwulan.Di PTPN II Kebun Sawit Seberang fungsi manajemen difasilitasi oleh suatu sistem administrasi yang diberlakukan untuk seluruh unit-unitnya. . . . Buku mandor terbagi dua.PB-10 merupakan ikhtisar laporan pekerjaan harian yang berisikan jumlah kehadiran. . Basis Tugas adalah batas prestasi minimum (Kg/HK) yang dicapai pemanen.PB-25 merupakan surat pengantar TBS yang diangkut dari TPH ke PKS. perolehan prestasi dan bahan yang digunakan. yang dibuat sesuai dengan RKAP yang telah disusun dengan cara menyusun ulang rencana kerja tersebut per tiga bulan.LM 80 adalah biaya angkutan. . PB (Pengawasan Biaya) PB atau pengawas biaya adalah formulir administrasi yang berisikan data yang paling mendasar.PB-73 yang merupakan buku mandor yang berisikan daftar absensi karyawan.PB-24 merupakan Daftar harian pengumpul tandan. Tujuan dari RKO ini adalah untuk mendekatkan kondisi aktual sumber daya yang dimiliki perusahaan dalam mencapai tujuan.PB-27 merupakan karru produksi/blok/tahun tanam. RKAP untuk tahun 2010 disusun pada bulan juli 2009.PB 24 B merupakan catatan harian hasil panen yang dikerjakan oleh Krani Transport. .LM 78 adalah biaya panen dan pengumpulan. RKAP (Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan) RKAP adalah rencana kerja tahunan. Data yang diperoleh dari PB 24 dituangkan kedalam PB 26 dan diisi oleh krani timbang setelah PB 25 kembali dari PKS. d. RKAP suatu perkebunan merupakan kumpulan dari RKAP tiap unitnya. . Terdapat jenis fasilitas administrasi baku berupa formulir-formulir atau blanko-blanko yaitu : a. PB 24 dibagi dalam dua bagian yaitu: . .PB-11 merupakan daftar premi. jenis pekerjaan. jenis pekerjaan. Pengawas biaya ini terdiri dari: .PB-26 merupakan daftar produksi harian TBS (Kg/hari). Hasil panen yang dicatat oleh mandor (PB 24 A) disesuaikan dengan catatan hasil panen Krani Transport (PB 24 B). serta formulir buku asisten untuk mencatat khusus mengenai presensi dan absensi karyawan sebagai dasar pembuatan Dasar Upah Karyawan.PB 24 A merupakan catatan harian hasil panen yang dikerjakan oleh mandor. Selanjutnya data dari buku PB 73 dipindahkan ke dalam formulir ikhtisar laporan Pekerjaan Harian (PB 10) dan PB 73 juga sebagai dasar untuk untuk mengisi beberapa formulir administrasi bidang panen seperti formulir Daftar Harian pengumpulan TBS (PB 24). hasil pekerjaan.

kasar.26 Ha. 3.20 m yang dapat berisi baby polybag ±4. kecoklatan . Sebagai bahan pelindung digunakan daun kelapa sawit. d. Bibit yang telah berumur ±1.Menanam Kecambah (GS) Menanam kecambah dilakukan dengan tenaga KS wanita yang sudah terampil. Pada umur 2. tinggi 22 cm. dan tebal 0.5 bulan pelindung dikurangi secara bertahap (1x2 minggu). Pemeliharaan . Bahagian dasr dilubangi berkeliling dengan diameter 0. Media Tanah/Pengisian Tanah yang digunakan adalah topsoil (0-10 cm) yang diambil dari areal lain.LM-89 merupakan laporan pemupukan.500 st/bed. Sumber bibit kecambah (GS) dari PPM (Pusat Penelitian Marihat) Pematang Siantar.1. 3.5 cm.5 Ha.. f. Prestasi kerja = 2 HK/Bed. dinding bedengan dibuat dari bambu. Dekat dengan kantor kebun. III. Areal sentrum terhadap afdeling-afdeling yang akan ditanam. Jumlah baby polybag per kg 235 lembar. c. Dimana didalamnya termasuk areal untuk Pre Nursery 0. Naungan Bibit yang masih muda memerlukan naungan yang baik untuk mencegah pembakaran sinar matahari mupun hujan yang terlalu deras. 2.5 bulan – 3 bulan bibit sebaiknya sudah dipindahkan/ditanam ke large polybag yang disebut bibitan Main Nursery.5x0. Sebelum diisi ke dalam kantongan plastic terlebih dahulu diayak dengan kawat ayakan 0. 5. Areal rata. agar bibit mendapat sinar matahari pada pagi hari. Dekat sumber air yaitu sungai Batang Serangan. Prestasi kerja = 700 St/HK. Bedengan Ukuran bedengan panjang 30 m dan lebar 1.5 Ha cukup baik karena antara lain : 1. Dimana radikula (bakal akar) yang ditandai dengan bentuknya yang tumpul.1.30 cm.07 mm.LM-82 merupakan biaya pemeliharaan. Jarak antara bedengan 0. Pembibitan Pembibitan Kelapa Sawit Kebun sawit Seberang mempunyai luas 16. maka areal 0. sampai umur 2 bulan semua pelindung disingkirkan. 4. e. Kantongan Plastik (Baby Polybag) Baby Polybag yang digunakan adalah baby polybag hitam dengan ukuran lebar 15 cm. . b. Sumber tenaga kerja mudah didapat.1 Pre Nursery (Pembibitan Awal) a.60 m. Ditinjau dari segi persyaratanpersyaratan pembibitan. Pelindung disini dibuat dengan cara menutupi seluruh pembibitan (over head shade) kecuali dari arah timur. KEGIATAN BUDIDAYA KELAPA SAWIT 3. dengan draenase baik. Prestasi Kerja = 4 HK/stand.

Setiap 1 m2 tanah top soil dapat diisi large polybag sebanyak ±40 st. dan setiap tanggal penanaman dibuat label. Prestasi Kerja = 20. . . Pada kantong plastik yang kurang tanahnya dilakukan penambahan tanah. Prestasi Kerja = 7. Diangkat dengan memakai kotak-kotak yang telah disiapkan. Lubang dibuat dengan jari sedalam 2-3 cm di tengah kantong plastik dan kemudian ditutup dengan tanah 1-1. dimana bibit telah mempunyai 3-4 helai daun adalah saat yang paling baik untuk dipindahkan ke lapangan (Main Nursery). Setiap bibit membutuhkan 0. penyiramannya harus hati-hati agar kecambah tidak sampai terbongkar dan harus memakai gembor.3 % (3 gram/liter air) dan 0. Bibit yang terkena seleksi bibit ditandai dengan pemberian pancang bamboo yang berukuran panjang 15 cm dengan diameter 0. untuk pemberantasannya denagan Dithane M45 (cons 0.2 Main Nursery (Pembibitan Utama) a.Menyiang dalam Baby Polybag Rumput-rumput yang tumbuh dalam kantong plastik disiang (dicabut) dengan manual dengan rotasi 14 hari.5 cm. Pemberantasan hama dilakukan dengan Matador 25 EC dan untuk penyakit fungi (jamur) dilakukan dengan penyemprotan Dithane M 45 dengan rotasi 14 hari.1-0. Prestasi Kerja = 100.10.000 st . 1.25 liter air setiap penyiraman.harus mengarah ke bawah. sebelum tanah diisikan terlebih dahulu diayak dengan ayakan 1-1 cm. . Bibit yang terseleksi adalah sebagai berikut : • Anak daunnya sempit (Narrow Leaves) • Anak daunnya menggulung (Rolled Leaves) • Permukaan anak daun menguncup (Collante) • Pertumbuhannya memanjang (Erected) • Daunnya kisut (Crinkling) • Bibit yang kerdil (Insufficient Growth) • Bibit yang rusak akibat hama dan penyakit • Bibit yang pertumbuhannya berputar (Twisted) .1.Seleksi Bibit Karena sebab-sebab tertentu seperti genetis.15%). jangkrik. Prestasi Kerja = 1.Pemberantasan Hama dan Penyakit Hama yang sering mengganggu bibit muda adalah semut.000 St/Hk.3 % compound 12:12:17:2 (3 gram/liter air) dengan rotasi 1 minggu • Penyemprotan pertama dilakukan apabila kecambah telah berumur 1 bulan setelah tanam • Prestasi per Hk = 5. tanah tersebut bebas dari batu-batuan.000 st/HK. . gangguan hama dan penyakit dll dilakukan seleksi bibit sesuai dengan : II1/Si/i/1985. belalang dll.000 st/Hk.Penyiraman Dilakukan 2 kali sehari pagi dan sore. Prestasi Kerja = 100. Seleksi bibit dilakukan 2 kali yakni pada umur 2 bulan setelah tanam dan pada saat pemindahan ke Main Nursery.Pemupukan Pelaksanaan pemupukan dilakukan menurut : II1/Si/i/1989 sebagai berikut : • Diselang-seling antara larutan urea 0.Pemindahan Bibit Pada saat bibit berumur 3 bulan. Prestasi Kerja = 1000 st/Hk. akar-akar dan bertekstur baik. kesalahan kultur tehnis.500 St/HK. Sedang penyakitnya adalah Helminthosporium.000 St/HK.25 cm. Media Tamah/Pengisian Tanah yang digunakan untuk pengisian large polybag adalah tanah top soil (10-15 cm) yang diangkat dari areal lain. Prestasi ayak = .

Untuk mendapatkan bibit dengan kualitas pertumbuhan yang baik. Dikerjakan dengan tenaga KS dengan perbandingan 1:2 (1 orang laki-laki dengan 2 orang penyemprot wanita). ukuran tidak standard dan terlalu tipis tidak digunakan. Dan selanjutnya 1 kali sehari tetapi jumlah air per polybag perhari ±2-3 liter/hari. lebar lubang ± 0. .30 cm. Large Polybag (1 kg ±23 lembar) Large polybag yang digunakan berukuran 40x50 cm dengan tebal 0. berarti ± 1. rotasi 21 hari. cangkang dll. Pemancangan Sebelum dimulai menyusun polybag terlebih dahulu dipancang dengan jarak 80x68 cm (segitiga sama sisi). Prestassi Kerja = 10 Hk/Ha.Mulch Setiap bibit kelapa sawit dalam polybag yang telah berumur ±1 bulan setelah tanam diisi 0. untuk menghindari genangan air pada musim hujan maupun genangan pada penyiraman.Penyiraman Penyiraman di Main Nursery merupakan salah satu tindakan tehnis yang pelu mendapat perhatian. .000 st/Hk. Perstasi Kerja = 2 HK/Ha/rotasi. d.Penanaman Sebelum bibit ditanam terlebih dahulu dibuat lubang tanaman pada tanah polybag sedalam ±20-25 cm.500 st/Ha. Takaraan yang digunakan di buat dari bambu. Bagian atas polybag dibiarkan kosong setinggi 2-3 cm untuk yempat meletakkan pupuk.100 st/HK.20 mm pada bagian bawah dan tengah mempunyai lubang dengan jarak 5 cm. Keuntungan yang didapat dengan menggunakan cangkang : • Dapat mengurangi penguapan air • Mencegah terbentuknya lapisan keras dipermukaan tanah • Mencegah semburan keras dari penyiraman dan hujan . Penyusunan polybag disesuaikan dengan jaringan jalan dan jaringan pipa air. rotasi14 hari.000 pk/Hk.000 st/Hk. . c.5 kg dengan prestasi kerja = 1. Apabila curah hujan ≥10 mm maka bibit tidak perlu disiram. Draenase Pembuatan draenase selalu disesuaikan dengan keadaan areal. dan isi tanah = 100 st/HK. Pemeliharaan . Dengan cara ini semua gulma yang tumbuh dipermukaan polybag harus dicabut. • Penyiangan Dalam Polybag Dikerjakan secara manual dengan tenaga BHL wanita. Penyiraman dilaksanakan 2 kali sehari (pagi 3 jam dan sore 3 jam) selama 3 bulan pertama.Pemupukan Pelaksanaan pemupukan dilaksanakan sesuai : II1/Si/1/1989 sebagai berikut : Cara pemupukan tersebut adalah dengan menaburkan pupuk disekitar pokok pada polybag.000 Pk/HK. Prestasi memupuk = 3. . Tempat duduknya polybag selalu diratakan agar letak polybag tegak lurus dan kelihatan rapi. b. Tanah disekelilingnya dipadatkan dengan cara menekan. Kemudian bibit dimasukkan ke dalam lubang tanaman dengan terlebih dahulu membuang plastiknya. sampai batas leher akar.000 pk/Hk.Penyiangan Dibagi dalam 2 bagian yaitu: • Penyiangan Gawangan Dilaksanakan secara khemis dengan menggunakan bahan kimia Paracol dengan dosis 2 liter/Ha. dimana prestasi kerja 3. e. Prestasi menyiram = 4. Apabila ada kerusakan kantong plastik misalnya tidak mempunyai lubang. dimana volumenya telah disesuaikan dengan dosis pada : II1/Si/i/1989. Prestasi Tanam = 2.

Perlakuan 4 tahap yakni pada umur : • 2 (Dua) bulan setelah tanam di Main Nursery • 4 (Empat) bulan setelah tanam di Main Nursery • 7 (Tujuh) bulan setelah tanam di Main Nursery • Saat pemindahan bibit ke lapangan (Displanting) Bentuk bibit abnormal yang harus diseleksi : • Bibit yang tumbuh meninggi dan kaku (erected) dengan sudut pelepah yang kecil (tajuk tegak) • Bibit yang permukaan tajuknya rata (dimana pelepah yang lebih muda lebih pendek) • Bibit yang tumbuh lemah terkulai (merunduk) • Bibit yang anak daunnya tidak membelah • Kerusakan akibat hama dan penyakit • Bibit yang anak daunnya mempunyai sudut yang tajam dan rachis • Bibit yang anak daunnya pendek • Bibit yang jarak antara anak daun panjang dan pendek . . tahap kedua setiap 4 baris tanaman. pemeliharaan piringan pohon. . Lebar pasar kontrol 1 m dibuat sepanjang blok tanaman.5% dengan rotasi 1 x 2 bulan.) disemprot dengan dithane M 45 dengan dosis 330 gram/200 liter air untuk 4. Dibangun secara bertahap yakni setiap 8 baris tanaman dibuat 1 pasar kontrol. dan menjelang panen setiap 2 baris tanaman. Prestasi Kerja = 4.• Dapat mempertahankan kelembaban tanah • Mengurangi pertumbuhan gulma di polybag .6% + 2.Biaya Persiapan Pembibitan (Terampil) • Pre Nursery • Main Nursery 1.2. Apabila dijumpai ada gejala serangan penyakit seperti akibat jamur (Cercospora sp. yaitu penyiangan areal.2 Tanaman Belum Mengahasilkan (TBM) Pemeliharaan pada tanaman ini sangat diperlukan atau harus dilaksanakan untuk menjaga agar pertumbuhan vegetative tetap dalam keadaan baik. pemeliharaan jalan. pembuatan parit drainase. pembuatan pasar kontrol (pasar kontrol). Selama masa TBM diperlukan beberapa jenis pekerjaan yang secara teratur harus dilaksanakan.4 D Amine 0. persiapan sarana panen. Gambar 2. Tanaman TBM 3. pemeliharaan penutup tanah.000 bibit 1x 14 hari. konsolidasi. sehingga diharapkan pada tanaman menghasilkan (TM) berproduksi baik. Pembuatan pasar kontrol pada areal penutup tanah dapat dilaksanakan secara kimia dengan menggunakan glifosat 0.Pembrantasan Hama dan Penyakit Untuk mencegah terjadinya serangan hama pada bibit dilakukan penyemprotan dengan Matador 25 Ec dengan dosis 250 cc/200 liter air untuk 4. tenaga yang digunakan = 4 HK/Ha.1 Pembuatan Pasar kontrol Pasar kontrol dibuat ditengah-tengah gawangan kelapa sawit.000 St/HK.000 bibit rotassi 14 hari. TBM (tanaman belum menghasilkan) adalah tanaman yang dipelihara sejak bulan penanaman pertama sampai dipanen pada umur 30-36 bulan. pemupukan. penyisipan.Seleksi Bibit Seleksi bibit dilakukan bertahap karena kemunculan gejala abnormal sejalan umur bibit. pengendalian hama dan penyakit. kastrasi dan tunas pasir.

2. Cara Manual Terlebih dahulu di ukur garis tengah piringan pohon sesuai dengan ketentuan. Menginventarisasi tanaman yang mati. membabat rumput-rumput di kaki lima jalan dan pengerasan jalan pada lokasi yang perlu dengan standar 10 m/ha/tahun. sehingga tanaman sisipan terhambat pertumbuahannya. Penyisipan dilakukan pada tanaman yang mati atau tidak normal dan dilakukan pada musim hujan. Pemeliharaan jalan dapat dilakukan secara mekanis dengan menggunakan road grader Pemeliharaan dilakukan sekali dalam 3 bulan.5 HK/Ha/rotasi.5 Konsolidasi Konsolidasi pada tanaman kelapa sawit adalah tindakan rehabilitasi terhadap tanaman yang baru ditanam. membuka saluran air dari jalan. Selanjutnya rumput-rumput disingkirkan dari piringan pohon. Walaupun demikian karena penanaman biasanya dilaksanakan pada skala yang luas maka masih selalu terjadi penanaman yang tidak sesuai dengan kultur teknis.2. b.2. 3. a. 12 x setahun .3.2. kemudian di ujung garis tengah piringan pohon tersebut dibuat batas melingkar keliling pohon.0 HK/Ha/rotasi. Setelah terbentuk batas piringan pohon yang dimaksud baru digaruk dari pinggir piringan ke arah dalam. 3.2 Pemeliharaan Jalan Kegiatan pemeliharaan jalan meliputi memadatkan. namun penyisipan individu tidak dilakukan lagi karena tanaman asli sudah cukup tinggi.4 Penyisipan Hasil sensus pohon setiap tahun pada areal TBM dapat menunjukkan jumlah pohon yang akan disisip.2. Gambar 3. tumbang. Oleh karena itu. abnormal. sehingga tanah bersih dari rumput. terkena serangan hama dan penyakit.TBM III = 150 cm Rotasi dan kapasitas pengendalian gulma piringan pohon adalah sebagai berikut: . pada penyisipan TBM 3 penyisipan dilakukan pada areal kosong yang cukup luas atau mengelompok.TBM II = 3.6 Pemeliharaan Piringan Pohon Penyiangan dilakukan dengan menyingkirkan semua jenis tumbuhan dari permukaan tanah selebar piringan pohon yang telah dilakukan.TBM I = 2. Penyiangan dapat dilakukan secara manual (menggaruk) atau cara kimia (penyemprotan). Tanaman yang perlu disisip adalah pada areal TBM 1.TBM II = 125 cm . 8 x setahun . Kondisi Jalan pada Areal TBM 3. Persiapan dan penanaman kelapa sawit di perkebunan pada umumnya dilaksanakan dengan cukup baik.3 Pembuatan Parit Drainase Pemeliharaan parit drainase bertujuan mengangkat atau menggali tanah yang menutupi parit sehingga ukuran tetap seperti semula. Pada areal TBM peliharaan parit dilakukan 1 kali dalam 6 bulan. Jalan produksi dipersiapkan sejak TBM dan pengerasan dilakukan secara bertahap sehingga pada saat TM kondisi jalan tersebut telah sempurna. Kegiatan konsolidasi meliputi : a. 2 dan 3. setelah selesai penanaman kelapa sawit di lapangan masih diperlukan tahap pekerjaan konsolidasi. Menegakkan kembali tanaman yang miring dan tumbang dengan memadatkan tanah di sekeliling tanaman yang masih gembur. 3. Jari-jari piringan pohon disesuaikan dengan umur tanaman kelapa sawit: .TBM I = 100 cm .

Cara pelaksanaannya apabila dijumpai lalang. Jamur ini merupakan penghuni tanah indigenous hutan hujan tropika dan hidup pada berbagai jenis palmae. Pada daerah pengembangan karena kekuranagan tenaga kerja atau upah buruh yang mahal maka pengendallain gulma dengan cara kimia merupakan suatu alternatif yang efisien dan ekonomis. Tenaga yang yangdigunakan 0. sehingga kemungkinan untuk tumbuh kembali tidak ada. Cara Kimia Pemeliharaan piringan pohon secara kimia mulai dapat dilaksanakan pada areal TBM ke-III.6) menggunakan bahan Glyphosate dengan dosis 300 cc/ha/rotasi. Kerusakan daun tanaman yang berlebihan dapat mengganggu pertumbuhan kelapa sawit. Panjang lubang penggerek dapat mencapai 4. selanjutnya daun kelapa sawit muda layu atau mati. Penularan penyakit dari pohon ke pohon melalui pertautan antara akar sehat dengan akar sakit. Penyakit Penyakit yang disebabkan oleh jamur Ganoderma boninense Pat juga sering dijumpai di TBM. Buru Lalang Lalang merupakan gulma/tumbuhan pengganggu yang berbahaya terhadap tanaman perkebunan.1 Pemeliharaan Jenis pemeliharaan yang dilaksanakan untuk menghasilkan antara lain: 1. atau melalui spora yang disebarkan oleh angin. Buru lalang dilakukan dengan teratur blok demi blok dengan rotasi 30 hari. dengan rotasi 6 x setahun (R. 8 x setahun b.3 Tanaman Menghasilkan (TM) 3.2. kemudian baru digarpu dan tidak boleh langsung ke lalang. Gejala awalnya pada daun kelapa sawit mudah (TBM-TM III) mengalami klorosis. b. 3. Pemakaian herbisida pada tanaman muda agar dilakukan dengan ekstra hati-hati sehingga tidak menimbulkan dampak negatif terhadap tanaman kelapa sawit. maka kemungkinan besar akan mengalami masalah penyakit Busuk Pangkal Batang (BPB). 3. kemungkinan tanaman akan amti atau tumbuh tunas baru satu atau lebih. Banyaknya populasi lembu pada Kebun Sawit Seberang menimbulkan banyak masalah terutama serangan pada daun tanaman. Hama dari golongan mamalia adalah lembu (Boss taurus)..3. harus dari luar atau rhizomenya dan batang terambil semua dari dalam tanah dan tidak boleh putus. kemudian menggerek kearah titik tumbuh kelapa sawit. Apabila gerekan sampai ketitik tumbuh. Akar dan batang tersebut dikumpulkan. Gambar 4. Penyiangan Manual . pertama –tama kiri dan kanan lalang dari lalang tersebut kira – kira dibabat kira – kira 0.2 cm/hari. Hama yang juga merusak titik tumbuh tanaman dan memakannya adalah tikus dan apabila serangan dengan intensitas tinggi harus dilakukan penanaman ulang.0 HK/Ha/rotasi. serta terjadi pembusukan pada jaringan pangkal batang dan akhirnya tanaman mati.TBM III = 4. Mengingat hampir semua perkebunan kelapa sawit di Indonesia berada pada areal bekas hutan hujan tropika.7 Pengendalian Hama dan Penyakit a. Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan menggunakan MARFU-P. ditempatkan tidak bersentuhan dengan tanah. Hama Hama lainya adalah kumbang penggerek pucuk kelapa sawit (Oryctes rhinoceros) yang hinggap pada pelepah yang agak mudah.5 m.3 HK/Ha .

keladi dan kerisan. Kondisi Jalan pada Areal TM 3.5 HK. pasar blok dan TPH. untuk menjaga kebersihan kebun tersebut maka sirkuit rotasinya adalah 60 hari dengan kebutuhan tenaga per hektarnya adalah 0. Apabila gerekan sampai ketitik tumbuh. maka pemupukan sangat dibutuhkan. Panjang lubang penggerek dapat mencapai 4. dimana perbangdingan tenaga kerja laki –laki dan perempuan 1: 2. 3. Tenaga kerja yang dibutuhkan 0. buah dll. Pupuk yang digunakan adalah pupuk tunggal yaitu: • Urea (ZA) 2 aplikasi • Rock Phosphate (RP) 1 aplikasi • MOP (abu janjang) 2 aplikasi • Kieserit (dolomit) 2 aplikasi Apabila curah hujan yang tinggi atau musim kering maka pemberian pupuk ditunda atau dihindarkan.3. kemudian menggerek kearah titik tumbuh kelapa sawit. pasar pikul. Bentuk jalan yang dikehendaki adalah: • Berbentuk batok mengkurap dan rata tidak berlobang – lobang • Benteng paret tidak perlu ada • Paret – paret jalan hanya diperlukan sebagai jalan besar (main road) dan transport road. Alat yang digunakan adalah garpu. Hama yang juga merusak titik tumbuh tanaman dan memakannya adalah tikus dan apabila serangan dengan intensitas tinggi harus dilakukan penanaman ulang. pelepah daun yang dipotong dan tercuci oleh air hujan. Pasar Mati 2. Hama Hama lainya adalah kumbang penggerek pucuk kelapa sawit (Oryctes rhinoceros) yang hinggap pada pelepah yang agak mudah.3 L/30 Ltr air dalam 1 Ha. supaya terhindar dari genangan air • Harus mendapat sinar matahari dan selalu kering • Tidak dibenarkan terjadi genangan air di permukaan jalan.2 Pemupukan Untuk menjaga keseimbangan unsure hara dalam tanaman akibat diangkut oleh buah yang dipanen.2 cm/hari. dan dihindarkan adanya gumpalan – gumpalan pupuk sewaktu penaburan.3.3 Pemeliharaan Jalan Sarana jalan yang baik dan cukup sangat diperlukan terutama dalam pengangkutan pupuk. Khusus bagi areal miring penaburan pupuk 3/3 bagian sebelah atas dan 1/3 bagian sebelah bawah. pakis. kemungkinan tanaman akan amti atau tumbuh tunas baru satu atau lebih.5 m. 3. Gambar 6.5 HK/Ha. mimosa.Gambar 5. Herbisida yang digunakan adalah Gramoxone dengan dosis 0. Pemupukan pada tanaman menghasilkan harus melalui rekomendasi pemupukan. Gulma yang dicabut adalah kayu – kayuan. Menyiang Secara Khemis Penyiangan dilakukan pada piringan.5 m – 2. Cara pemberiannya ditabur secara merata di piringan yang sudah bersih dan jarak dari pohon ± 0. Cabutan Penyiangan dengan cara cabutan dilakukan di gawangan tanaman. tenaga yang dibutuhkan 0.4 Pengendalian Hama dan Penyakit a. 3.3.3 HK/Ha dengan rotasi pada semester I : 90 hari dan semester II : 60 hari. Perbandingan tenaga kerja antara pelangsir dengan penyemprot adalah 1: 2. .

• Pelepah yang dianggap tidak berfungsi lagi. maka kemungkinan besar akan mengalami masalah penyakit BPB. atau pelepah yang berada dibawah dua lingkaran tandan.5 Panen dan Pengumpulan Panen pada tanaman kelapa sawit dimulai pada umur 2. dimana dalam 2. Syarat – syarat tunas pasir: • Pelepah yang ditunas adalah pelepah paling bawah dan rapat ke tanah.5 Ha terdapat 1 TPH dengan ukuran 3 x 5 m dan berangsur – angsur diperpanjang sesuai dengan perkembangan produksi di areal tersebut sehingga satu saat maksimal 3 x 9 m. • Matang panen tanaman: telah terdapat 60 % dari tanaman telah matang panen. • Matang panen pohon : paling sedikit dua tandan telah membusuk dan satu tandan matang. Jamur ini merupakan penghuni tanah indigenous hutan hujan tropika dan hidup pada berbagai jenis palmae.Gambar 7. Kerusakan daun tanaman yang berlebihan dapat mengganggu pertumbuhan kelapa sawit. TPH (Tempat Penerimaan Hasil) Tempat penerimaan hasil harus disiapkan sebelum panen dasar dimulai. selanjutnya daun kelapa sawit muda layu atau mati.3. atau melalui spora yang disebarkan oleh angin. Banyaknya populasi lembu pada Kebun Sawit Seberang menimbulkan banyak masalah terutama serangan pada daun tanaman. Gejala Serangan Ganoderma 3. • Pemotongan dilakukan serapat mungkin dengan batang. Gambar 10. Penularan penyakit dari pohon kepohon melalui pertautan antara akar sehat dengan akar sakit. serta terjadi pembusukan pada jaringan pangkal batang dan akhirnya tanaman mati. Prestasi kerja adalah: 100 Pk/Ha 3.5 – 3 tahun yang disebut TM I. Mengingat hampir semua perkebunan kelapa sawit di Indonesia berada pada areal bekas hutan hujan tropika. . Gejala awalnya pada daun kelapa sawit mudah (TBM-TM III) mengalami klorosis. Prestasi kerja 1 HK : 2 buah. Pasar pikul Pasar pikul sudah tersedia sebelum panen dasar dan bertujuan untuk jalan pemanen. Alat yang digunakan adalah arit tunas atau dodos kecil (6 – 8 cm).Gejala Serangan Oryctes Hama dari golongan mamalia adalah lembu (Boss taurus). Pemeriksaan blok – blok yang sudah matang panen terdiri dari: • Matang panen tandan : sebagian buahnya sudah membrondol. Tunas pasir Sebelum panen dilaksanakan. • Disusun di gawangan yang tidak terkena pasar panen. Buang buah pasir atau busuk • Buah pasir yang dibuang adalah buah yang berada di atas pelepah pasir sampai dua lingkaran bunga pertama dengan dodos kecil • Buah pasir yang beratnya > 5 kg dapat dikirim ke pabrik dan < 3 kg dibuang • Tenaga yang dibutuhkan dalam 1 Ha adalah 2 HK. Tempat Pengumpulan Hasil 5. Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan menggunakan MARFU – P. Gambar 9. 4. dimana sebelumnya sudah dilaksanakan persiapan panen sebagai berikut: 1. harus lebih dahulu pelepah – pelepah pasir ditunas ± 3 bulan sebelum panen dasar. 2. b. Penyakit Penyakit yang disebabkan oleh jamur Ganoderma boninense Pat juga sering dijumpai di TBM.

pakisan. pakis . • Tandan yang sudah masak (matang) tidak boleh tinggal dipohon. lalu ditutup dengan bagian pelepah lainnya. Dan pada tanaman yang bmur ≥ 9 tahun. jumlah pelepah yang tinggal minimum 40 pelepah dengan rotasi 1. Faktor – faktor ini akan menunjang keberhasilan dalam panen baik kuantitas maupun kulitas. 3. • Pangkal pelepah yang tinggal dipohon harus tapak kuda terbalik. Teknis Tunasan.50 % brondolan buah luar Mentah 1 12. Fraksi Matang Panen pada Tanaman Kelapa Sawit Kriteria Matang Panen dan Standard Antar Fraksi Berat Tandzan Fraksi Mentah Matang Normal Lewat Matang Buah Brondolan 0 00 I II III IV V ≤5 Kg >5 Kg Tidak membrondol/warna hitam . • Bunga jantan yang sudah kering atau membusuk. Alat panen Panen dasar sampai tanaman berumur ± 3 tahun. • Susunan pelepah digawangan antara pasar pikul dimana dimana pangkal pelepah yang berduri diletakkan tertelungkup sebelah bawah. Hal ini dapa dicirikan oleh adanya buah yang membrondol. • Tunas pemeliharaan.3. disamping faKtor lainnya. dan kelapa sawit yang tumbuh dipokok sepanjang masih dapat dijangkau oleh alat harus dibuang. tidak perlu dilakukan penunasan. cukup dengan pembersihan pohon saja. dilakukan 2x dalam setahun. ada factor lain yang harus diperhatikan. keranjang buah.Sehingga prestasi panen yang diharapkan akan tercapai.1 Pengertian Panen Panen adalah mendatangi pokok ke pokok untuk memotong dan mengambil buah segar menurut criteria matang panen. • Pelepah dipotong serapat mingkin kebatang dengan bentuk tapak kuda keluar dan rencek menjadi 3 bagian. • 6 m/Ha untuk daerah berbukit. kayu-kayuan. Prestasi tunas an nuntuk tanaman yang berumur 3-8 tahun : 100 Pk/Hk dan tanaman yang berumur ≥ 9 tahun : 70 Pk/HK.50 – 25 % brondolan buah luar Kurang matang 2 25 – 50 % brondolan buah luar Matang 3 50 – 75 % brondolan buah luar Matang 4 75 – 100 % brondolan buah luar Lewat matang 5 Bagian dalam ikut membrondol Lewat matang Tabel 3. • Bila kurang dari pelepah. gawangan pasar pikul dan pada ketiak daun dan dimasukkan dalam goni setelah sampah-sampah yang ikut serta dengan brondolan dibuang.3. Disamping persyaratan diatas dalam mencapai keberhasilan panen yang baik. rumput-rumputan.5x dalam setahun. • Brondolan dikutip bersih dari piringan. • Pemeliharaan pasar pikul. 2 pasang dalam setahun dan plengki kecil untuk tempat brondolan. alat yang digunakan adalah dodos. Titi panen Titi panen juga merupakan penunjang yang sama tujuannya dengan pasar pikul dalam mempermudah dan meningkatkan prestasi pemanen.5.2 Kriteria matang panen Kriteria matang panen yang baik adalah pada saat kandungan minyak maksimum dalam daging buah dan kadar ALB serendah mungkin. tandan yang dapat dipanen harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : Fraksi Jumlah Brondolan yang Lepas Kematangan 0 1-12. • Pelepah dipotong 3 dan disusun digawangan. • Ganggang panjang yang dipanen tidak boleh lebih dari 2 cm. Persyaratan Panen • Tandan yang baik dipanen adalah fraksi 2 dan 3. Ini semua dilanjutkan dengan pemeliharaan sebagai contoh: • Pemeliharaan TPH. 7. 8. Pasar Pikul 6. Tunas Pemeliharaan Tunas pemeliharaan pada tanaman yang berumur 3-8 tahun jumlah pelepah minimum yang tinggal 48 pelepah. Titi terbuat dari beton atau batang kelapa yang diatur penempatannya sehingga rata – rata: • 12 m/Ha untuk daerah rendahan. • Pelepah yang tertinggal dipokok setelah ditunas adalah 48 pelepah (6 spiral) dengan songgo 1. Selain kepada tanaman kelapa sawit itu sendiri juga kepada pemanen dan pekerja yang berhubungan dengan panen. Prinsip yang selalu menjadi dasar dalam penentuan system panen adalah bertujuan untuk mencapai rendfemen yang maksimal dan ALB yang rendah.5. 3. Gambar 11. Dalam hal ini perlu diadakan peraturan atau syarat-syarat yang harus dituruti.

5% s/d 24% buah luar membrondol 12.3 Pembagian Kapveld Menurut Rotasi Panen Kapveld atau ancak panen adalah pembagian areal atas ancak panen harian yang disesuaikan dengan rotasi panen. Kriteria Matang Panen dan Standard Antar Fraksi 3.5% buah luar membrondol 10 brondolan s/d 12.5.51% s/d 24% buah luar membrondol 25-49% Buah luar membrondol 25%-49% buah luar membrondol 50%-75% buah Buah luar membrondol 50%-75% buah luar membrondol 76-100% Buah luar membrondol 76%-100% buah luar membrondol Gagang membusuk dan buah luar membrondol gagang membusuk dan buah dalam membrondol Standard 0% 40% 40% 14% 5.3.5% buah luar membrondol 12.5% 0% 4%-8% Tabel 4.5% 0.Tidak membrondol/warna hitam 1-4 Brondolan 1-9 brondolan 5 Brondolan s/d 12. .

Untuk kebun yang tidak mempunyai pabrik (PKS) rencana panen agar disesuaikan dengan rencana olah PKS oleh tempat mengolah. dan seterusnya. Hasilnya lalu dikalikan dengan jumlah rata-rata tandan. Untuk menghindari pengangkutan yang berulang-ulang pada jalan yang sama (hal ini dapat menekan biaya angkutan.5 Sistem Panen Sistem panen dilakukan dengan hanca giring tetap dan hanca giring tidak tetap. lalu seluruh sampel dibagikan dengan jumlah tandan yang telah dihitung. bagi kebun-kebun yang luas TM nya. Satu orang pemanen memanen tiap dua baris (1 gawangan). Sebagai contoh Blok A = 16 Ha. Pada ancak giring pemanen secara bersama-sama memanen 1 blok. • Tetapkan baris sampel dalam setiap blok sampel (bersifat permanen) • Seluruh pohon dalam baris sampel diperiksa dan dihitung jumlah tandan buahnya lalu dicatat. 3. • Dibagi 4 kapveld.5. . • Dibagi 6 kapveld terjadi pada panen puncak (semester II). pemanen dan areal panen adalah tetap. orang II memanen baris 11-20. • Dibenarkan dengan sistem 6/7 yaitu sampai dengan hari minggu dan libur. • Seluruh tandan buah dijumlahkan.3. 3. mencegah kerusakan jalan serta meningkatkan frekuensi angkutan produksi perkendaraan). Tata cara perhitungan AKP : • tetapkan blok sampel untuk setiap kapveld • satu blok sampel untuk setiap tahun tanam dalam satu kapveld maksimum 50 Ha • Pohon yang diamati 3-5 % dari jumlah pohon dalam satu blok sampel. Pada sistem ancak tetap. Untuk kebun yang TM Kelapa Sawitnya relatip kecil.5. Hanca panen ditetapkan berdasarkan kapveld yang sudah dipedomani dan ditetapkan kepada masing-masing mandoran panen dan mandor bertanggung jawab menyelesaikan hanca yang sudah dibagi/ditetapkan. setelah selesai pindah ke blok lainnya. Ancak panen terdiri dari dua yaitu ancak tetap dan giring. hal ini pada panen rendah hingga sedang (semester I dan bulan-bulan tertentu semester II). jumlah hari panen dalasm seminggu dapat diperpendek dari 4 menjadi 4 hari dengan catatan internal antara rotasi harus dipertahankan 7 hari.4 Ancak panen Ancak panen adalah luasan yang menjadi tanggung jawab pemanen. Maka akan diperoleh AKP. Kegunaan angka kerapatan panen adalah : • memperkirakan jumlah tandan matang-panen serta tunasnya • memperkirakan kebutuhan tenaga pemanen • memperhitungkan luas ancak untuk setiap pemanen • memperkirakan kebutuhan kendaraan. • Lalu jumlah seluruh tanaman dibagikan dengan jumlah AKP.3. Areal panen biasanya berbukit sampai berlereng curam atau letaknya terpencil. • Ditetapkan dengan system 5/7 atau jika kerapatan buah 10-12 dengan sistem 8/10. Orang I memanen baris 1 sampai 10.3. 3. maka sebaiknya letak kapveld disusun memanjang sedemikian rupa mengikuti jarak jalan transportasi.5.6 Perhitumgan Angka Kerapatan Panen (AKP) Angka Kerapatan Panen (AKP) adalah suatu satuan yang mengindikasikan rata-rata tandan matang panen/pohon dan penyebaran tandan matang panen.Pembagian kapveld yang umum dipakai pada pembagian areal TM Kelapa Sawit per afdeling sebagai berikut : • Dibagi 5 atau 8 kapveld. kemudian pindah ke baris yang belum dipanen dan seterusnya sampai selesai satu blok dan pindah ke blok lain. Ada 50 baris yang dipanen oleh 5 orang.

Tangkai tandan di potong mepet atau berbentuk huruf V (cengkem/mulut kodok). . paling lambat 12 jam dari saat panen.9-2.Tandan matang dipotong tangkainya. Perhitungan AKP 3.5 Dodos besar (14 cm) >8 >5 >2. . tidak boleh bercampur dengan tandan.3. . setiap pemanen membawa 2 bans tanaman (1 gawangan).8 Pelaksanaan Panen 1) Ancak . 00) tidak dibenarkan diangkat ke truk. Gambar 12. .Berjalan di jalan pikul mencari buah matang sesuai kriteria matang panen. sampah.• Rekapitulasi kemudian dituangkan kedalam formulir rencana panen dan pengangkutan untuk dikirim ke kantor kebun. . .Pemanen diawasi oleh seorang mandor. Tiap mandor panen mengawasi 10-15 orang pemanen. . tangkai tandan dan kotoran lainnya. .5 Egrek Sumber : Instruksi Kerja (IK) PTPN II Tabel 8.Gagang tandan menghadap ke atas.Brondolan dikutip dan dikumpul dengan tandan dibawa ke TPH. . Peralatan Panen Sesuai Umur Tanaman 3.Alat angkut pada umumnya adalah truk. 2) Di TPH .Brondolan ditumpuk di beiakang barisan tandan atau digonikan. . mandor membagi ancak pemanen yang dimulai dari jalan blok. .Pelepah yang menyangga (songgo) buah matang dipotong mepet.Semua brondolan diangkut ke truk. .9 Dodos kecil (8 cm) 5-7 3-5 0.3.Pada pagi hari.Setelah ancak (2 barisan) pertama selesai pindah gawangan di sebelah pemanen ancak terakhir. . .Brondolan yang ada di ketiak pelepah diambil/dikorek.7 Peralatan Panen Alat panen yang digunakan sesuai umur tanaman sebagai berikut: Umur (Th) TM Tinggi Batang (M) Alat Panen 3-4 1-2 <0. .Tandan dan brondolan bebas dari pasir. .Pelepah disusun dan ditumpuk di tengah gawangan mati.Tandan disusun 5 buah per baris di TPH. buah sangat mentah (F. yang nantinya akan membawa buah hingga sampai dipabrik .5.Buah segera diangkut ke PKS.Krani transport menyortir TBS di TPH.Nomor pemanen dan tanggal panen ditulis pada tangkai tandan .5. . 3) Pengangkutan hasil .Buah diangkat ke TPH setelah selesai di potong.Seluruh tandan yang diangkut dicatat jumlah tandannya per pemanen.

30 Juni 2010 Aktivitas PKL dilakukan di kebun afdeling V mempelajari tentang kastrasi pada tanaman belum menghasilkan Aktivitas PKL dilakukan di kebun afdeling IX mempelajari tentang pasar mati. umur panen pada tanaman menghasilkan. 23 Juni 2010 Aktivitas PKL dilakukan di Kantor Pembibitan kebun Sawit Seberang. Di mulai dengan mempelajari tanaman penutup tanah pada tanaman kelapa sawit. Adapun kegiatan-kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut : Hari ke – 1 Senin. 25 Juni 2010 Aktivitas PKL dilakukan di kebun afdeling V mempelajari tentang pembuatan pasar pikul. gawangan. 27Juni 2010 Istirahat. 22 Juni 2010 Aktivitas PKL dilakukan di Kantor Pembibitan kebun Sawit Seberang. Hari Ke-4 Kamis. serta penempatan tempat tinggal (penginapan). Hari ke-9 Selasa. PROGRAM MAGANG BERSAMA PEJABAT / STAF / KARYAWAN Praktek Kerja Lapangan (PKL) dilaksanakan di PTPN II Kebun Sawit Seberang yang berlangsung lebih kurang 30 hari. Hari ke-2 Selasa. Di mulai dengan perkenalan dengan karyawan maupun karyawan pimpinan di kebun tersebut serta pengumpulan informasi tentang profil PTPN II Kebun Sawit Seberang. Hari ke-5 jumat. piringan pada tanaman belum menghasilkan. 28 Juni 2010 Aktivitas PKL dilakukan di kebun afdeling V mempelajari tentang penyiangan secara manual pada tanaman belum menghasilkan. Hari ke-7 Senin. Hari ke-8 Senin. yaitu dari tanggal 21 Juni sampai 21 Juli. Hari ke-12 Jumat. 2 Juli 2010 Aktivitas PKL dilakukan di kebun afdeling IX mempelajari tentang penentuan . 29 Juni 2010 Aktivitas PKL dilakukan di kebun afdeling V mempelajari tentang pemberantasan hama Oryctes sp. 24 Juni 2010 Aktivitas PKL dilakukan di Kantor Pembibitan kebun Sawit Seberang.Hari ke-10 Rabu.IV. 26 Juni 2010 Istirahat. pada tanaman belum menghasilkan. Hari ke-11 Kamis. . Adapun kegiatan-kegiatan yang dilakukan lebih kurang 15 hari. 1 Juli 2010 Aktivitas PKL dilakukan di kebun afdeling IX mempelajari tentang kriteria panen pada tanaman menghasilkan. Hari Ke-3 Rabu. 21 Juni 2010 Registrasi di tempat PKL dan penyampaian program PKL pada karyawan pimpinan di tempat PKL. Di mulai dengan mempelajari pembibitan dimulai dari GS sampai main Nursery di PTPN II Kebun Sawit Seberang. Hari ke-6 Sabtu.

17 Juli 2010 Istirahat. Hari ke – 30 Senin. 12 Juli 2010 Istirahat. 18 Juli 2010 Istirahat. Hari ke-14 Minggu. Hari ke-16 Selasa. 10 Juli 2010 Aktivitas PKL mempelajari sistem administrasi kebun. Hari ke-26 Jumat. Hari ke-13 Sabtu. 8 Juli 2010 Aktivitas PKL dilakukan di kebun afdeling II mempelajari tentang telling pada tanaman menghasilkan. Hari ke-23 Selasa. Hari ke-15 Senin. 19 Juli 2010 Kunjungan. 4 Juli 2010 Istirahat. 21 Juli 2010 . 20 Juli 2010 Hari ke – 31 Selasa. Hari ke-19 Jumat. 3 Juli 2010 Istirahat. 5 Juli 2010 Aktivitas PKL dilakukan di kebun afdeling IX mempelajari tentang penentuan analisa daun pada tanaman menghasilkan. Hari ke . 15 Juli 2010 Membuat laporan PKL. 11 Juli 2010 Aktivitas PKL mempelajari sistem administrasi kebun. 7 Juli 2010 Aktivitas PKL dilakukan di kebun afdeling I mempelajari tentang telling pada tanaman menghasilkan. Hari ke – 28 Minggu. Hari ke-17 Rabu .phylotaksis pada tanaman menghasilkan. 6 Juli 2010 Aktivitas PKL dilakukan di kebun afdeling IX mempelajari tentang alat alat untuk pemanenan seperti dodos dan egrek pada tanaman menghasilkan. Hari ke-22 Senin. 9 Juli 2010 Aktivitas PKL dilakukan di Kantor kebun afdeling III mempelajari tentang telling pada tanaman menghasilkan. Hari ke – 29 Senin. Hari ke-24 Rabu. 13 Juli 2010 Istirahat. Hari ke-21 Minggu. 14 Juli 2010 Aktivitas PKL mempelajari sistem administrasi kebun. 16 Juli 2010 Membuat laporan PKL. Hari ke-20 Sabtut. Hari ke-18 Kamis. Hari ke-25 Kamis.27 Sabtu.

Keterlambatan dalam pengendalian penyakit yang disebabkan oleh jamur Ganoderma boninense Pat. yang dilaksanakan secara manual dan khemis. Keterlambatan dalam pengangkutan dan hasil panen sehingga juga dapat menghambat dalam pengolahan TBS sehingga dapat mengurangi rendemen dan kualitas CPO dari kelapa sawit tersebut juga menurun. para peserta PKL mengamati ada beberapa masalah yang terjadi pada unit Kebun Sawit Seberang.TOPIK PERMASALAHAN DI LOKASI PKL Selama berlangsungnya kegiatan PKL di PT. 5. II dan III pada Kebun Sawit Seberang dikhususkan untuk tanaman kelapa sawit. 3. Kerusakan daun tanaman yang berlebihan dapat mengganggu pertumbuhan kelapa sawit. Hama dari golongan mamalia adalah lembu (Boss taurus). Sistem panen dilakukan dengan meninggalkan minimal dua pelepah daun dibawah dari buah yang hendak dipanen (songgoh dua). Perkebunan Nusantara II Kebun Sawit Seberang. Rotasi panen yang digunakan adalah 5/7 dan 6/7. . KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Matang panen dapat dilihat setelah 2-3 brondol lepas dari tandannya. Saran Diharapkan kepada seluruh karyawan yang bekerja di kebun agar memanen buah yang sesuai dengan kriteria matang panen. Pengendalian gulma dilakukan secara manual. Pemeliharaan pasar pikul dilakukan dengan rotasi sekali dalam 3 bulan. Afdeling I. juga sering dijumpai di TBM sehingga menyerang tanaman yang berada di sekitarnya. yaitu dengan menggunakan bahan aktif Paraquat. 2. 4. sebagian daerah tempat penanaman kelapa sawit adalah berbukit atau bergelombang sehingga sulit dalam hal pemupukan dan pemanenan. yaitu dengan cara dongkel mata merah dan secara khemis. Banyaknya populasi lembu pada Kebun Sawit Seberang menimbulkan banyak masalah terutama serangan pada daun tanaman kelapa sawit khususnya pada tanaman belum menghasilkan.

Widyastuti. S. PTP N IV (Persero) Bah Jambi. R. dengan ketinggian tempat ± 25 m dpl. S. L. T. Prawirosukarto. H. W. PENGARUH KEDALAMAN TANAH TERHADAP PERTUMBUHAN GULMA Junita Sinambela/070301054 Mahasiswi Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.Jakarta. Siahaan. Utomo. A.. ABSTRAK Percobaan ini dilakukan di lahan percobaan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Purba. A.. (3 pages). R. Y. Sugiyono.R. Budiana dan Kusmahadi. K2 1 cm. Sumatera Utara Medan. Winarna dan Y. P. S2 Asystasia intrusa. Medan. Budidaya Kelapa Sawit.. Harahap. Vademecum Kelapa Sawit. Ishak. Medan. Siantar. K1 0 cm. I. 2002. Darmosarkoro.. A. Fadli. E. Teknologi Budidaya dan Pengolahan Kelapa Sawit. Yenni. Purba.. H. K3 5 cm. S.D. Harahap. Lubis. Medan. Dari percobaan diperoleh bahwa gulma yang banyak tumbuh adalah pada kedalaman 15 cm yaitu jenis gulma Amaranthus sp.S. Kelapa Sawit.E. 2004. D. . Purba. J.H.org.Y. pada tanggal 19 November 2009. E. Sutarta. Haryati. PTP N II Kebun Sawit Seberang. A.DAFTAR PUSTAKA Anonim.H. K4 15 cm.Y. Darnoko. C. Sejarah Singkat Kebun Sawit Seberang. Soehardjo. Y. R.D. Purba.. A. http://www. Rahutomo. P. E. 2005.Hartono.wikipedia. FP-USU. Sedangkan faktor kedua adalah K. H. Koedadiri.S. Elisabeth. PPKS. Dja’far. Suprianto. Diakses tanggal 20 Maret 2010. Kelapa Sawit Edisi Revisi. Sutanto. Sawit Seberang. Penebar Swadaya. Purba. 2001.Satyawibawa. Percobaan tersebut menggunakan 2 faktor perlakuan yaitu faktor 1 adalah jenis gulma S1 Amaranthuss sp. Fauzi. Medan. Sianturi. I. Percobaan ini bertujuan untuk mencatat kemampuan sejumlah gulma untuk muncul dari kedalaman yang berbeda-beda.

kedalaman tanah. permukaan epikotil (bagian batang yang terletak di atas kotiledon). unsur-unsur makanan dalam tanah dan lain-lain.. dkk. Kedalaman pembenaman tidak selalu berpengaruh pada lamanya hidup biji. Anoda cristata: 30%. Dalam percobaan ini polibag diisi ¾ topsoil dan benih tersebut diletakkan diatasnya sesuai dengan perlakuan dan diberi label untuk menandai perlakuan serta ulangannya. Sesbania exaltata: 18% dan Ipomea lacunosa: 13% (Moenandir. Hal ini umum dijumpai pada gulma dari golongan teki. 1984). Misalnya pada Convolvulaceae. 1993). Umumnya gulma mempunyai kemampuan bersaing yang cukup baik pada semua mcam tipe tanah. Abutilin theophrasti: 30%. Faktor tanah yang turut menentukan distribusi gulma antara lain : kelembaban tanah. BAHAN DAN METODE Percobaan ini menggunakan polibag sebagai media tanam. tekstur dan pertulangan daun pertama kadang-kadang dapat tidak sama dengan daun pada gulma yang telah dewasa. tanda-tanda karakteristik yang dapat dipakai misalnya: a) ukuran. gulma PENDAHULUAN Biji-biji gulma mengalami dormansi sekunder mampu berkecambah setelah dibawa kepermukaan tanah. pH tanah. Ipomea turbinata: 33%. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil . warna. dkk. d) jumlah. pada leguminosa kotiledon biasanya tebal karena banyak mengandung cadangan makanan. aerasi. ukuran. warna. sebagai objek pengamatan. 1984). Bila dormansi diperpanjang waktunya akan mengalami imbibisi sehingga jaringan embrio menjadi rusak. bij-biji gulma yang masih viabel seperti Sorghum halepense: 48%. Dalam biji terimbibisi ini daya perkecambahan biji masih tetap tinggi (Tjitrosoedirdjo. topsoil sebagai media tanam. 1995).. bentuk. ukuran. f) adanya daun penumpu atau okrea seperti pada gulma dewasa (Tjitrosoedirdjo. b) ukuran. ujung kotiledon selalu terbelah. Bentuk kotiledon ini sangat bervariasi. Diamati gulma apa saja yang tumbuh setiap hari sampai pengamatan terakhir dan dicatat datanya. Untuk mengidentifikasi semai. warna. bentuk. permukaan hipokotil (bagian batang yang terletak di bawah kotiledon). Setelah pembenaman sekitar 5 tahun.Kunci : perkecambahan. label untuk menandai polibag. warna. c) jumlah. tekstur dan pertulangan kotiledon. e) biji yang tetap melekat pada semai. sehingga kadang-kadang disiri sebagai tanda kearah suku. Kondisi cadangan biji juga tergantung pada dormansi dan lama biji tersebut tahan terdapat dalam tanah (Sukman dan Yakup. benih Asystasia intrusa dan Amaranthus sp.

2 . dkk. Hal ini dikarenakan benih Amaranthus sp. 5 8 7 1 2 3 . (1984) yang menyatakan bahwa biji-biji gulma mengalami dormansi sekunder mampu berkecambah setelah dibawa kepermukaan tanah. DAFTAR PUSTAKA Moenandir.1 2 2 1 1 20 6 2 . Ilmu Gulma Dalam sistem Pertanian Dalam Sistem Pertanian. 2. lebih dominan pada setiap kedalaman tanah dari pada Asystasia intrusa. Jakarta. Dan Asystasia intrussa Nama Gulma Perlakuan S1K0 S1K1 S1K2 S1K3 S1K4 123123123123123 Amaranthus sp.. Dari hasil percobaan dapat dilihat pada data bahwa benih Amaranthus sp. memilki ketahanan untuk bertahan hidup pada setiap kedalaman tanah. 10 5 10 6 3 4 .Data Pertumbuhan Kecambah Gulma Amaranthus sp.6 5 5 10 14 16 25 13 3 16 40 Nama Gulma Perlakuan S2K0 S2K1 S2K2 S2K3 S2K4 123123123123123 Asystasia intrussa. atau karena faktor lingkungan. J. Benih gulma Asystasia intrusa paling banyak tumbuh pada kedalaman 0 cm sebesar 20. Hal ini sesuai dengan literatur Sukman dan Yakup (1991) yang menyatakan bahwa kondisi cadangan biji juga tergantung pada dormansi dan lama biji tersebut tahan terdapat dalam tanah. Hal ini sesuai dengan literatur dari Tjitrosoedirjdo. 1993. PT. Benih gulma yang paling banyak tumbuh adalah Amaranthus sp pada kedalaman 15 cm yaitu 40. Hal ini mungkin disebabkan karena beberapa faktor yaitu dari benih tersebut yang sudah ketuaan.4 Pembahasan Dari hasil percobaan dapat dilihat pada data.. . Raja Grafindo Persada. ada gulma yang tidak dapat tumbuh pada suatu kedalaman. Grafik Pertumbuhan Kecambah Gulma Amaranthus sp.3 . Dan Asystasia intrussa KESIMPULAN 1.

Sukman.. Pengelolaan Gulma di Perkebunan.) PAPER OLEH : .. Jakarta. S. dan Yakup. 1995. PT. Raja Grafindo Persada. H. Gramedia. Wiroatmodjo. Gulma dan Teknik Pengendaliannya.) PADA PERTANAMAN PADI (Oryza sativa L. Jakarta. Y. PT. PENGENDALIAN GULMA JAJAGOAN (Echinocholoa crussgalli L.. Tjitrosoedirdjo. I. 1984. Utomo dan J.

JUNITA SINAMBELA 070301054/BDP-AGRONOMI 7 LABORATORIUM ILMU GULMA DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2009 PENGENDALIAN GULMA JAJAGOAN (Echinocholoa crussgalli L.) PADA PERTANAMAN PADI (Oryza sativa L. Medan Diperiksa Oleh: Asisten Korektor .) PAPER OLEH : JUNITA SINAMBELA 070301054/BDP-AGRONOMI 7 Paper Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Mengikuti Praktikal Test di Laboratorium Ilmu Gulma Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.

050301035 LABORATORIUM ILMU GULMA DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2009 KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis sampaikan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Penulis menyadari paper ini banyak kekurangan.(Rotambatua Nababan) NIM. Medan. MP serta para asisten Laboratorium Ilmu Gulma yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan paper ini.Edison Purba. Akhir kata penulis mengucapakan terima kasih dan semoga paper ini bermanfaat bagi kita semua. Prof. karena atas berkat dan rahmatNya sehingga penulis dapat menyelesaikan paper ini tepat pada waktunya. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen mata kuliah Ilmu Gulma yaitu Prof. Oktober 2009 Penulis DAFTAR ISI KATA PENGANTAR i DAFTAR ISI ii PENDAHULUAN Latar Belakang 1 Tujuan Penulisan 3 Kegunaan Penulisan 3 TINJAUAN PUSTAKA Botani Gulma 4 .Dr.)”. Adapun judul dari paper ini adalah “Pengendalian Gulma Jajagoan (Echinochloa crussgalli L. Medan. Ir.Toga Simanungkalit. oleh sebab itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan paper ini.) Pada Pertanaman Padi (Oryza sativa L. Paper ini disusun sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikal test di Laboratorium Ilmu Gulma Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.Damanik.Dr.J.S.

deptan. Gulma pada pertanaman padi umumnya dikendalikan dengan cara mekanis dan kimiawi. dan mengolah tanah dengan alat mekanis bermesin dan nonmesin. Echinochloa crussgalli adalah gulma musim panas tahunan dengan batang tebal yang dapat mencapai 5 kaki tingginya. Gulma dapat dikendalikan melalui berbagai aturan dan karantina. melalui budi daya dengan pergiliran tanaman.) Cara Pengendalian 8 Waktu Pengendalian 10 Jenis . Dengan demikian.Habitat dan Penyebaran 6 PENGENDALIAN GULMA JAJAGOAN (Echinocholoa crussgalli L.4 % (Wudianto. Pengendalian gulma secara kimiawi berpotensi merusak lingkungan sehingga perlu dibatasi melalui pemaduan dengan cara pengendalian lainnya (http://balitsereal.1 %. 2009). Salah satu dari sedikit rumput liar yang tidak memiliki ligula. Persen kehilangan hasil panen akibat gulma di negara bagian Kolumbia (Amerika Serikat) terhadap kacang-kacangan sebesar 51. membabat. Ditemukan di seluruh Amerika Serikat. Kehadiran gulma dalam areal pertanaman sangat tidak dikehendaki karena akan menyaingi tanaman yang ditanam dalam memperoleh unsur hara.litbang. banyak juga tumbuhan diklasifikasikan sebagai gulma dimanapun gulma itu berada karena gulma tersebut umum tumbuh secara teratur pada lahan tanaman budidaya (Sebayang. jagung 45. secara fisik dengan membakar dan menggenangi. menginjak.) PADA PERTANAMAN PADI (Oryza sativa L.id. dan matahari.go. 1999).6 %. secara mekanis dengan mencabut. dan Meksiko sebagai . Namun demikian. Gulma di suatu tempat mungkin berguna sebagai bahan pangan.Jenis Bahan Untuk Pengendalian 12 KESIMPULAN 14 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN PENDAHULUAN Latar Belakang Keberhasilan pengendalian gulma merupakan salah satu faktor penentu tercapainya tingkat hasil padi yang tinggi. makanan ternak atau sebagai bahan obatobatan. Kanada. dan padi 54. secara biologi dengan menggunakan organisme hidup. Gulma ialah tanaman yang tumbuhnya tidak diinginkan. menyiang dengan tangan. kentang 16. secara kimiawi menggunakan herbisida. 2005). peningkatan daya saing dan penggunaan mulsa. air. suatu spesies tumbuhan tidak dapat diklasifikasikan sebagai gulma pada semua kondisi. Akibat dari serangan gulma dapat menurunkan hasil panen yang cukup besar.6 %.

Bunga memiliki seedhead malai terminal berkisar 4-16 inci panjangnya. terdiri dari 5 – 40 cm tandan. anak bulir panjang 2 – 3. lanskap. 2009b). Biji yang tua berwarna kecoklat-coklatan sampai kehitam-hitaman (http://cetlanget. Tujuan Percobaan Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui pengendalian gulma jajagoan (Echinochloa crussgali L. dan mungkin berwarna merah ke merah marun di pangkalan (http://www. berambut.ppws.edu. Siberia Barat. pembibitan. Kepala sarinya mempunyai diameter 0.5 mm. Batang gulma ini biasanya tegak. 2000).wordpress. panjang 2 – 3.edu. yang mula-mula tumbuh tegak kemudian merunduk.vt. dan .5 mm.gulma dari banyak agronomi tanaman.). sering bercabang di bagian bawah node.85 mm. panjang 5 – 21 cm. Bulirnya banyak. 2009c).wordpress. Sebagai bahan informasi bagi pihak-pihak yang membutuhkan. Buah E. Herbisida adalah pestisida yang digunakaan untuk mengendalikan gulma. Kegunaan Percobaan Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikal test di− Laboratorium Agronomi Ilmu Gulma Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara..edu. berbentuk lonjong.com. Siberia Timur di selatan. berkembang dengan baik. 2009a). Medan. 2009a).com. lebar 0.ppws. Bentuk garis meruncing ke arah ujung. menembus ke dalam tanah turun sampai 50 cm (http://www. Daunnya rata/datar dengan panjang 10 – 20 cm. maka herbisida bersifat fitotoksik (Djojosumarto.5 – 1 cm.ppws. Akar adalah seperti mahkota.agroatlas.− TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Berdasarkan Nasution (1986) taksonomi gulma padi-padian adalah sebagai berikut: Kingdom : Plantae Divisio : Spermatophyta Kelas : Angiospermae Ordo : Poales Famili : Poaceae Genus : Echinochloa Spesies : Echinochloa crussgalli L. warna hijau sampai ungu tua (http://cetlanget.vt. Malai mungkin hijau ke warna ungu dan bulir terdiri dari individu yang dapat mengembangkan 2-10 mm terminal lama (http://www.vt. Karena herbisida aktif terhadap tumbuhan. Habitat dan Penyebaran Distribusi tumbuhan ini meliputi Kaukasus. 2009a). crusgalli disebut caryopsis. Biasanya terbentuk piramid sempit.ru. 2009b). tebal. dan rumput (http://www.) pada pertanaman padi (Oryza sativa L. atau tumbuhan penggenggu yang tidak dikehendaki. tebal. tanpa bulu (glabrous).6 – 0.

sering tumbuh di air.9). Asia Tengah. suhu tahunan 5. hygrophilous. padang rumput basah dan basah. Di sawah tumbuh bersama padi. daerah rembesan. dan bidang kosong. baik yang beriklim sedang dan tropis.2 (berarti dari 53 kasus = 6. mekanis. Jepang. kadang-kadang terdapat juga di tempat setengah basah. Ekologinya yaitu thermophil. E. selokan dan dataran banjir. Amerika Selatan. di rawa-rawa. Afrika. Mongolia. Eropa Tengah dan Atlantik. 2009).com. tidak dikompresi. Contoh: padi-tebu- .wordpress. dan pengendalian gulma secara tunggal jarang mencukupi bila menginginkan agar pengendalian gulma tersebut efektif dan ekonomis (Sebayang 2005). dan sering gulma yang umum di sawah. oleh karena menggunakan prinsip-prinsip ekologi yaitu mengelola lingkungan sedemikian rupa sehingga mendukung dan menguntungkan pertanaman tetapi merugikan bagi gulmanya. Disesuaikan dengan hampir semua jenis tempat-tempat yang basah. daerah dibudidayakan. Di wilayah baratdaya AS. Dalam zona taiga kehilangan makna sebagai tanaman gulma eurysynusic. crusgalli terdapat di tempat-tempat basah. Kelimpahan dan terjadinya penurunan dari selatan ke utara. Ini adalah berlebihan dalam zona Chernozem.agroatlas. Di dalam pengendalian gulma dengan sistem budidaya ini terdapat beberapa cara yaitu: a) Pergiliran tanaman bertujuan untuk mengatur dan menekan populasi gulma dalam ambang yang tidak membahayakan.8-8. Pengendalian gulma dengan sistem budidaya disebut juga cara pengendalian secara ekologis. manual. Mencapai perbatasan utara pertanian. sangat lembut tanah aluvial.hort. Tumbuh baik terutama di lembab (irigasi dan banjir) ladang. Mediterania. Daur kelembaban bertahan buruk. pinggir jalan. daerah rendah di croplands subur dan basah limbah.7-27.1-25. Himalaya. 2009b). dan di lumpur dan air danau. Kelompok tanaman bertemu di padang rumput kering dan ruderal daerah. Luas digarap gulma pada tanaman di zona stepa.8 ° C (rata-rata dari 59 kasus = 14. Berhasil di daerah dingin. Masing-masing pengendalian gulma memiliki keunggulan dan kerugian. dan pH 4. Tumbuh di berbagai situs basah seperti selokan. agak kaya. 2009c). (http://www.0 dm (berarti dari 59 kasus = 9. pertemuan jarang. Echinochloa crussgalli dilaporkan mentoleransi presipitasi tahunan 3.ru. sering terganggu tanah liat. Kaukasus dan Timur Jauh. Cina.edu. Tidak dibatasi oleh pH tanah (http://www. Ekologi tumbuhan ini mulai dari boreal lembab atau basah hingga tropis sangat kering atau daerah hutan hujan tropis. sering berumput. lebih suka ringan oleh struktur mekanik.4). tapi lebih baik disesuaikan dengan daerah di mana suhu tahunan rata-rata 14-16 ° C.Timur Jauh. basah.7). akan tetapi umumnya lebih tinggi dan berbunga lebih dulu dari pada padi (http://cetlanget. kimia dan biologi.purdue. Australia. itu terjadi dalam lembab. Amerika Utara.) Cara Pengendalian Metode pengendalian gulma dapat dikelompokkan ke dalam kelompok kultur teknis. Terdistribusi dan tersebar luas di semua wilayah hangat di dunia. Asia Minor. selatan Skandinavia. PENGENDALIAN GULMA JAJAGOAN (Echinochloa crussgali) PADA PERTANAMAN PADI (Oryza sativa L.

Sedangkan jamur atau fungi yang berpotensi dapat mengendalikan gulma secara biologis ialah Uredo eichhorniae untuk eceng gondok. pratumbuh atau pasca tumbuh. Di samping pengendalian biologis yang tidak begitu spesifik terhadap spesies-spesies tertentu seperti penggunaan ternak dalam pengembalaan. ternak. fungi. Sehubungan dengan sifatnya ini maka pengendalian gulma secara kimiawi ini harus merupakan pilihan terakhir apabila caracara pengendalian gulma lainnya tidak berhasil. mempunyai efek residu terhadap alam sekitar dan sebagainya. kondisi mikroklimat akan dapat berubah-ubah. dan Cerospora sp. Myrothesium roridum untuk kiambang . Demikian juga eceng gondok (Eichhornia crassipes) dapat dikendalikan secara biologis dengan kumbang penggerek Neochetina bruchi dan Neochetina eichhorniae. untuk kayu apu. Waktu tanaman lambat. Macam herbisida yang dipilih bisa kontak maupun sistemik. Dengan pergiliran tanaman. sambil membantu pertanaman pokoknya dengan pupuk nitrogen yang kadang-kadang dapat dihasilkan sendiri. baik secara selektif maupun non selektif. Pengendalian gulma secara kimiawi adalah pengendalian gulma dengan menggunakan herbisida. Di Australia dengan menggunakan Cactoblastis cactorum. kalkun pada perkebunan kapas. Pengendalian gulma secara biologis (hayati) ialah pengendalian gulma dengan menggunakan organisme lain. b) Budidaya pertanaman dilakukan dengan penggunaan varietas tanaman yang cocok untuk suatu daerah merupakan tindakan yang sangat membantu mengatasi masalah gulma. Baru kemudian tanaman ditanam pada tanah yang sebagian besar gulmanya telah mati terberantas. ikan dan sebagainya. insekta atau fungi tersebut tidak menyerang tanaman atau tumbuhan lain yang mempunyai arti ekonomis. ikan yang memakan gulma air dan sebagainya. Untuk berhasilnya cara ini memerlukan dasar-dasar pengetahuan yang cukup dan untuk itu akan diuraikan tersendiri lebih lanjut. Pemupukan yang tepat merupakan cara untuk mempercepat pertumbuhan tanaman sehingga mempertinggi daya saing pertanaman terhadap gulma. Keuntungan pengendalian gulma secara kimiawi adalah cepat dan efektif. sehingga gulma hidupnya tidak senyaman sebelumnya. padi-tembakau-padi. Sebagai contoh pengendalian biologis dengan insekta yang berhasil ialah pengendalian kaktus Opuntia spp.kedelai. dengan menggunakan Cyrtobagous singularis. c) Penaungan dengan tumbuhan penutup (cover crops) yang berguna untuk mencegah perkecambahan dan pertumbuhan gulma. dan sebagainya). karena biasanya jenis gulma itu dapat hidup dengan leluasa pada kondisi yang cocok untuk pertumbuhannya. dan pengendalian Salvinia sp. Sebagai contoh gulma teki (Cyperus rotundus) sering berada dengan baik dan mengganggu pertanaman tanah kering yang berumur setahun (misalnya pada tanaman cabe. Pengendalian biologis yang intensif dengan insekta atau fungi biasanya hanya ditujukan terhadap suatu species gulma asing yang telah menyebar secara luas dan ini harus melalui proses penelitian yang lama serta membutuhkan ketelitian. dengan membiarkan gulma tumbuh lebih dulu lalu diberantas dengan pengolahan tanah atau herbisida. Demikian pula dengan wewehan (Monochoria vaginalis) di sawah-sawah. Tanaman tertentu biasanya mempunyai jenis gulma tertentu pula. dan penggunaannya bisa pada saat pratanam. Penanaman rapat agar tajuk tanaman segera menutupi ruang-ruang kosong merupakan cara yang efektif untuk menekan gulma. Juga harus yakin apabila species gulma yang akan dikendalikan itu habis. . seperti insekta. Yang dimaksud dengan herbisida adalah senyawa kimia yang dapat digunakan untuk mematikan atau menekan pertumbuhan gulma. tomat. terutama untuk areal yang luas. Beberapa segi negatifnya ialah bahaya keracunan tanaman.

jarak tanam dengan penyiangan. 2009).4 dimetilamina (2. Pemberantasan gulma pada padi sawah dapat dilakukan secara mekanik dengan penyiangan manual. herbisida diaplikasikan sebelum tanah diolah dan sebelum ada tanaman (paraquat) b) pra tanam.ac. tetapi tidak satupun cara-cara tersebut dapat mengendalikan gulma secara tuntas. herbisida diaplikasikan setelah tanaman tumbuh dan muncul. Klasifikasi berdasarkan waktu aplikasi yaitu: a) pra kultivasi.ac.Yang dimaksud dengan pengendalian gulma secara terpadu yaitu pengendalian gulma dengan menggunakan beberapa cara secara bersamaan dengan tujuan untuk mendapatkan hasil yang sebaik-baiknya. Gulma harus dibuang dari tanaman padi sesegera mungkin. 1990). cuaca. sesudah tanah diolah (triazin. herbisida pra-tanam atau herbisida yang early post emergence harus diaplikasikan pada benih padi yang dipindah-tanamkan.id. fisik. Misalnya. tetapi umumnya diarahkan agar mendapatkan interaksi yang positif. pre emergence (pra tumbuh) dan post emergente (pasca tumbuh) (Sebayang. glyphosat dan dalapon pada karet) (Moenandir. misalnya paduan antara pengolahan tanah dengan pemakaian herbisida. kondisi dan tujuan masing-masing. Pada umumnya herbisida digunakan pada saat pre planting (pra tanam). praktek budidaya. Dalam hal ini pengendalian yang akan dibahas lebih lanjut yaitu pengendalian secara kimiawi/kemis yaitu dengan aplikasi herbisida. Untuk dapat mengendalikan suatu species gulma yang menimbulkan masalah ternyata dibutuhkan lebih dari satu cara pengendalian. Walaupun telah dikenal beberapa cara pengendalian gulma antara lain secara budidaya.uns. herbisida diaplikasikan sebelum tanam. herbisida diaplikasikan sebelum tanaman tumbuh (muncul) (nitralin) d) pasca tumbuh.4 D) merupakan jenis herbisida yang selektif untuk pertanaman padi. pada padi sawah. Herbisida dapat diaplikasikan pada beberapa periode sebelum atau selama periode pertumbuhan tanaman. gulma sasaran. (http://fp. di samping cara-cara pengelolaan pertanaman yang lain. pemupukan dengan herbisida dan sebagainya. bersifat sistemik artinya dapat bergerak dari daun dan bersama proses metabolisme ikut kedalam jaringan tanaman sasaran (http://stppgowa. EPTC) c) pra tumbuh. Tanggap atau respon beberapa jenis gulmaterhadap herbisida amat tergantung pada jenis herbisida yang digunakan itulah yang digolongkan kedalam herbisida selektif atau non selektif.id. tetapi kurang efetif karena memerlukan waktu dan tenaga yang banyak. Dengan demikian herbisida harus diaplikasikan selama fase pertumbuhan awal tanaman. Untuk pengendalian secara kimiawi sebaiknya menggunakan senyawa kimia yang selektif untuk menghambat atau mematikan gulma tetapi tidak mengganggu pertumbuhan tanaman padi. demikian pula gulmanya (MCPA atau propanil pada padi. biologis dan kimiawi serta preventif. Herbisida berbahan aktif 2. Waktu Pengendalian Pada dasarnya pengendalian gulma telah dilakukan sejak pra kultivasi yaitu sebelum tanah diolah dan sebelum ada tanaman hingga pasca tumbuh tanaman (post emergence). 2005). Herbisida pra-tumbuh adakalanya harus diaplikasikan sesudah tanaman pokoknya ditanam. 2009). Untuk . Cara-cara yang dikombinasikan dalam cara pengendalian secara terpadu ini tergantung pada situasi. Waktu aplikasi herbisida bergantung pada struktur herbisida.

piridazin. 3. Gulma dapat menurunkan hasil panen padi yang cukup besar yaitu sekitar 54. 9)Sulfonil urea (bensulfuron). harus digunakan herbisida yang benar-benar selektif untuk padi dan harus dilakuikan secara hati-hati sesuai dengan rekomendasinya. gulma noksius pada tanaman jeruk. 1992). Misalnya Phytophtora palmivora yang digunakan untuk mengendalikan Morrenia odorata. senyawa nitril. difenil eter. 2. pretilaklor dan propanil). 6)Asam fenoksi (2. senyawa alifatik. efektif terhadap gulma. Kesalahan menentukan saat aplikasi dapat mengakibatkan keracunan pada tanaman pokok atau herbisida tidak bekerja efektif. asam fenoksi-alifatik. heterosiklik nitrogen (tanpa kelas). oksifluorfen). kimia. karbamat. Ada pula yang menggunakan mikroherbisida yaitu golongan herbisida yang mengendalikan gulma dengan menggunakan penyakit uang ditimbulkan oleh bakteri. triazin. sineol. dan herbisida lainnya (seperti metil bromida. selektif ke padi. Echinochloa crussgalli merupakan salah satu gulma penting pertanaman padi. 8)Triazin (simetrin. Sedangkan untuk herbisida organik contohnya yaitu: minyak petrol. dan tidak meninggalkan pengaruh yang lama di lingkungan. (2) borat. (3) natrium khlorat (NaClO3). dan herbisida non kelompok lainnya seperti Bentazon. piridin (contohnya parakuat). jamur. dll (Sebayang. Chlomethoxynil. Chinmethylin. 2)Bipiridilium (parakuat). manual. pendimetalin). 7)Tiokarbamat (molonate. Berikut merupakan contoh herbisida anorganik yaitu: (1) amonium sulfamat (NH4SO3NH2). Hebisida yang dianggap ideal jika efek racunnya aman. ada juga Colletotrichum gloeosporioides yang diperdagangkan dengan merek dagang tertentu dan digunakan pada tanaman padi dan kedelai di Amerika (Sastroutomo. mekanis. 10)Asam polisiklik alkanoik (fenoxaprop). arsenik. Jenis . 5)Organofosfat (glifosat). 2000). Berdasarkan kelompok kimianya. fluorodiven. Sebagian besar herbisida adalah senyawa organik. biologi dan pengendalian gulma terpadu yang merupakan gabungan dari beberapa metode tersebut. glifosat. 2005). urasil.4 %. KESIMPULAN 1. 4)Difenil eter (difenox. fenol. (Djojosumarto. . tiokarbamat. 1)Anilid (butaklor. herbisida dapat diklasifikasikan sebagai berikut. urea. efisien dari segi biaya. dimetametrin). nitroanilin.keperluan ini. 3)Dinitro-anilin (butralin.4-D.Jenis Bahan Untuk Pengendalian Senyawa bahan anorganik yang berasal dari garam dan arang merupakan bahan kimia yang pertama kali digunakan untuk mengendalikan gulma. tiobenkarb). MCPA). Selain itu. Metode pengendalian gulma dapat dikelompokkan ke dalam kelompok kultur teknis. dan oksifluorfen). dan virus.

hort. pendimetalin). CV Rajawali Pers. Yogyakarta.agroatlas.pdf. 2009a&b.com/2009/07/12/identifikasi-gulma-gulma-dominan-padapertanaman-padi-sawah-dan-usaha-pengendaliannya-di-kecamatan-samatigakabupaten-aceh-barat/. Jakarta. dll. U. Berdasarkan kelompok kimianya. Chlomethoxynil.edu/newcrop/duke_energy/Echinochloa_crusgalli. 2009a.4-D.vt. http://www. Kanisius. Pada dasarnya pengendalian gulma telah dilakukan sejak pra kultivasi yaitu sebelum tanah diolah dan sebelum ada tanaman hingga pasca tumbuh tanaman (post emergence) dan mencakup aspek kultur teknis yaitu penyiangan tanaman. DAFTAR PUSTAKA Djojosumarto. Diakses pada tanggal 24 Oktober 2009. 2009. . 1990. 5)Organofosfat (glifosat).ru/en/content/weeds/Echinochloa_crusgalli/&ei=WOPiSoTHJcuJ kQXPri6AQ&sa=X&oi=translate&ct=result&resnum=15&ved=0CDcQ7gEwDg&prev =/search%3Fq%3DEchinochloa%2Bcrusgalli%26hl%3Did%26sa%3DG.litbang. 2009. Diakses pada tanggal 24 Oktober 2009.4. Jakarta.uns. Diakses pada tanggal 24 Oktober 2009. 1986. Chinmethylin. 2000.. Diakses pada tanggal 24 Oktober 2009. 2009. oksifluorfen). 7)Tiokarbamat (molonate. Teknik Aplikasi Pestisida Pertanian.b&c. http://www. Moenandir. 3)Dinitro-anilin (butralin.edu/scott/weed_id/echcg.id/~hamasains/dasarperlintan-4.ac.htm&ei=H-biSvzlNczkAXTg4i2AQ&sa=X&oi=translate&ct=result&resnum=5&ved=0CBcQ7gEwBDgK&p rev=/search%3Fq%3DEchinochloa%2Bcrusgalli%26hl%3Did%26sa%3DN%26start %3D10. http://stppgowa. pretilaklor dan propanil).id/download/Vol_3_No_1. J. Nasution. herbisida dapat diklasifikasikan sebagai berikut.deptan.htm.purdue.b&c.ac. 1)Anilid (butaklor. Diakses pada tanggal 24 Oktober 2009. fluorodiven.id/bpadi/satulima. dan herbisida non kelompok lainnya seperti Bentazon.. http://fp. 2009a. 4)Difenil eter (difenox. 2)Bipiridilium (parakuat). Fisiologi Herbisida. P.go.html&ei=W OPiSoTHJcuJkQXPri6AQ&sa=X&oi=translate&ct=result&resnum=11&ved=0CCsQ7 gEwCg&prev=/search%3Fq%3DEchinochloa%2Bcrusgalli%26hl%3Did%26sa%3DG. 6)Asam fenoksi (2. tiobenkarb). dimetametrin). Gulma dan Pengendaliannya di Perkebunan Kaaret Sumatera Utara dan Aceh. http://cetlanget. http://www.wordpress.pdf. 5. 10)Asam polisiklik alkanoik (fenoxaprop). Diakses pada tanggal 24 Oktober 2009. Diakses pada tanggal 24 Oktober 2009. MCPA). PT Gramedia. 9)Sulfonil urea (bensulfuron). 8)Triazin (simetrin./MuhammadKadir.ppws. http://balitsereal.

Petunjuk Penggunaan Pestisida. Pestisida Dasar-Dasar dan Dampak Penggunaannya. 1999.T. H.) D X P DI PRE NURSERY LAPORAN OLEH : JUNITA SINAMBELA 070301054/BDP-AGRONOMI 16 LABORATORIUM AGRONOMI TANAMAN PERKEBUNAN DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2009 PENGARUH MEDIA TANAM DAN KOMPOS AZOLLA (Azolla sp. Jakarta. 07 Oktober 2009 pengaruh media tanam dan kompos azolla (Azolla sp. Sebayang. 2005. Malang.S. pengendalian Reaksi: Rabu. 1992.) terhadap pertumbuhan kecambah kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq. S. Wudianto.) TERHADAP PERTUMBUHAN KECAMBAH KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.Sastroutomo. Gulma dan Pengendaliannya pada Tanaman Padi. Penebar Swadaya. Diposkan oleh junT blogs di 01:10 1 komentar Link ke posting ini Label: gulma. Jakarta. R. PT Gramedia Pustaka Utama.) D X P DI PRE NURSERY LAPORAN OLEH : JUNITA SINAMBELA 070301054/BDP-AGRONOMI 16 .) D X P di pre nursery PENGARUH MEDIA TANAM DAN KOMPOS AZOLLA (Azolla sp. Brawijaya University Press. jajagoan.) TERHADAP PERTUMBUHAN KECAMBAH KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.

Laporan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Mengikuti Praktikal Test di Laboratorium Agronomi Tanaman Perkebunan Fakultas Pertanian Sumatera Utara, Medan Disetujui Oleh Dosen Penanggungjawab

(Ir. Balonggu Siagian, MS) NIP. 130 806 538 Diketahui Oleh: Asisten Koordinator

(Eko Andi Pasaribu) NIM. 040301001 Diperiksa Oleh: Asisten Korektor

(Hayati Silalahi) NIM. 040301037 LABORATORIUM AGRONOMI TANAMAN PERKEBUNAN DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2009 ABSTRACT The objective of this experiment was to know effect of media and azolla dung in growing of palma’s bud. The experiment was conducted in Agronomi Tanaman Perkebunan I Laboratory Land, Agriculture Faculty, North Sumatera University with altitude ± 25 m above sea level, from March to May 2009. The experiment used Randomized Complete Block Design (RAK) with 2 factors and 4 replications. The first factor was media, top soil, sand, sub soil, and fertilizer. The second one was azolla, 7 gr, 14 gr, and 21 gr. The experiment result showed that media gave significant effect of height and leaves of bud. Azolla gave significant effect of height and leaves of bud, and diameter of stem. Interaction between media and azolla gave significant effect of height and leaves of bud. Keywords : media, azolla, bud

ABSTRAK Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh media tanam dan kompos azolla terhadap pertumbuhan kecambah kelapa sawit. Percobaan ini dilaksanakan di lahan percobaan Laboratorium Agronomi Tanaman Perkebunan I Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan, pada ketinggian ± 25 m dpl dari bulan Maret sampai Mei 2009 dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor perlakuan dan empat ulangan. Faktor I adalah media tanam top soil dan pasir, sub soil dan pupuk kandang. Faktor II adalah kompos azolla 7 gr, 14 gr, 21 gr. Hasil percobaan menunjukkan bahwa media berpengaruh nyata terhadap tinggi tunas, jumlahdaun. Azolla berpengaruh nyata terhadap tinggi tunas, jumlah daun, diameter batang. Sedangkan interaksi antara media dan azolla berpengaruh nyata terhadap tinggi tunas, jumlah daun. Kata kunci : media, azolla, kecambah

RIWAYAT HIDUP Junita Sinambela lahir pada tanggal 2 April 1989 di Medan. Anak pertama dari empat bersaudara. Anak dari Bapak P. Sinambela dan Ibu N. Manurung. Adapun pendidikan yang pernah ditempuh penulis adalah sebagai berikut: SD Negeri 050721 di Gohor Lama Tamat tahun 2001 SMP Negeri 1 di Hinai Tamat tahun 2004 SMA Negeri 1 di Stabat Tamat tahun 2007 Penulis terdaftar sebagai mahasiswi di Departemen Budidaya Pertanian Program Studi Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan melalui jalur SPMB

pada pilihan pertama pada tahun 2007 sampai sekarang.

KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Esa karena atas berkat dan rahmatNya penulis dapat menyelesaikan laporan ini tepat pada waktunya. Adapun judul dari laporan ini adalah “Pengaruh Media Tanam dan Kompos Azolla (Azolla sp.) Terhadap Pertumbuhan Kecambah Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.)” yang merupakan salah satu syarat unutk dapat mengikuti praktikal test di Laboratorium Agronomi Tanaman Perkebunan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan. Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Ir. Balonggu Siagian, MS dan Ir. Charloq Nababan, MP selaku dosen mata kuliah Agronomi Tanaman Perkebunan serta kepada abang dan kakak asisten yang telah membantu dalam penyelesaian laporan ini. Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh sebab itu penulis mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan laporan ini. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih, semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Medan, Mei 2009

Penulis DAFTAR ISI ABSTRACT i ABSTRAK ii RIWAYAT HIDUP iii KATA PENGANTAR iv DAFTAR ISI v DAFTAR TABEL vii DAFTAR GAMBAR viii PENDAHULUAN Latar Belakang 1 Tujuan Percobaan 2 Hipotesis Percobaan 2 Kegunaan Percobaan 3 TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman 4 Syarat Tumbuh 5 Iklim 5 Tanah 6 Pembibitan Kelapa Sawit 7 Media Tanam 10 Kompos Azolla 10 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Percobaan 13 Bahan dan Alat 13 Metode Percobaan 13 PELAKSANAAN PERCOBAAN Persiapan Media Tanam 16 Aplikasi Kompos Azolla 16 Penanaman 16 Pemeliharaan Tanaman 16 Penyiraman 16 Penyiangan 17 Pengamatan Parameter 17 Tinggi Tanaman (cm) 17 Jumlah Daun (helai) 17 Diameter Batang (mm) 17 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil 19 Pembahasan 25 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 28 Saran 28 DAFTAR PUSTAKA .

Rataan jumlah daun kelapa sawit 8 MST dari perlakuan media tanam dan kompos azolla 22 3. Rataan tinggi tunas kelapa sawit 8 MST dari perlakuan media tanam dan kompos azolla 20 2.LAMPIRAN DAFTAR TABEL No. Judul Hal 1. Rataan diameter tunas kelapa sawit 8 MST dari perlakuan media tanam dan kompos azolla 24 .

Daftar sidik ragam tinggi tunas kelapa sawit 8 MST 35 17. Daftar sidik ragam tinggi tunas kelapa sawit 3 MST 31 7. Daftar sidik ragam tinggi tunas kelapa sawit 5 MST 33 11. Data tinggi tunas kelapa sawit 4 MST (cm) 32 8. Data tinggi tunas kelapa sawit 5 MST (cm) 32 10. Judul Hal 1. Data jumlah daun kelapa sawit 3 MST (helai) 35 18.DAFTAR GAMBAR No. Histogram diameter tunas kelapa sawit 8 MST dari perlakuan media tanam dan kompos azolla 25 DAFTAR LAMPIRAN No. Daftar sidik ragam tinggi tunas kelapa sawit 4 MST 32 9. Data tinggi tunas kelapa sawit 1 MST (cm) 30 2. Histogram tinggi tunas kelapa sawit 8 MST dari perlakuan media tanam dan kompos azolla 21 2. Data tinggi tunas kelapa sawit 8 MST (cm) 34 16. Data jumlah daun kelapa sawit 4 MST (helai) 36 . Judul Hal 1. Data tinggi tunas kelapa sawit 3 MST (cm) 31 6. Daftar sidik ragam tinggi tunas kelapa sawit 2 MST 31 5. Daftar sidik ragam tinggi tunas kelapa sawit 7 MST 34 15. Data tinggi tunas kelapa sawit 7 MST (cm) 34 14. Daftar sidik ragam tinggi tunas kelapa sawit 6 MST 33 13. Data tinggi tunas kelapa sawit 2 MST (cm) 30 4. Daftar sidik ragam tinggi tunas kelapa sawit 1 MST 30 3. Histogram jumlah daun kelapa sawit 8 MST dari perlakuan media tanam dan kompos azolla 23 3. Daftar sidik ragam jumlah daun kelapa sawit 3 MST 35 19. Data tinggi tunas kelapa sawit 6 MST (cm) 33 12.

20. juga sebagai sumber perolehan devisa negara.. Daftar sidik ragam jumlah daun kelapa sawit 4 MST 36 21. . Untuk lebih jelasnya Negara produsen utama minyak sawit dunia adalah Malaysia. Data diameter batang kelapa sawit 8 MST (mm) 42 38. Indonesia. Daftar sidik ragam jumlah daun kelapa sawit 8 MST 39 29. Data diameter batang kelapa sawit 5 MST (mm) 40 32. Thailand. Pantai Gading. Daftar sidik ragam diameter batang kelapa sawit 8 MST 42 PENDAHULUAN Latar Belakang Kelapa sawit ( Elaeis guineensis ) berasal dari Afrika dan masuk ke Indonesia pada tahun 1848 yang ditanam di Kebun Raya Bogor (Soehardjo. Daftar sidik ragam jumlah daun kelapa sawit 6 MST 37 25. Daftar sidik ragam diameter batang kelapa sawit 5 MST 40 33. Daftar sidik ragam jumlah daun kelapa sawit 7 MST 38 27. Data diameter batang kelapa sawit 4 MST (mm) 39 30. Bagi Indonesia. Data jumlah daun kelapa sawit 8 MST (helai) 38 28. Papua Nugini (Tim Penulis PS. dkk. Data jumlah daun kelapa sawit 7 MST (helai) 38 26.Selain mampu menciptakan kesempatan kerja yang mengarah kepada kesejahteraan masyarakat. Data jumlah daun kelapa sawit 6 MST (helai) 37 24. 1996). Kini. Data diameter batang kelapa sawit 6 MST (mm) 40 34. Nigeria merupakan produsen terbesar minyak sawit dunia. Indonesia merupakan salah satu produsen utama minyak sawit (Fauzi.. Malaysia menduduki rangking pertama sebagai produsen minyak sawit dunia. Daftar sidik ragam jumlah daun kelapa sawit 5 MST 37 23. tanaman memiliki arti penting bagi pembangunan perkebunan nasional. Colombia. Data diameter batang kelapa sawit 7 MST (mm) 41 36. satu tingkat di bawah Nigeria. Daftar sidik ragam diameter batang kelapa sawit 4 MST 39 31. 2007). setingkat di atas Indonesia. Perkebunan kelapa sawit komersial pertama di Indonesia mulai diusahakan pada tahun 1911 di Aceh dan Sumatera Utara oleh Adrien Hallet. Malaysia merebut kedudukan Indonesia tersebut pada tahun 1966. Daftar sidik ragam diameter batang kelapa sawit 6 MST 41 35. dkk. seorang berkebangsaan Belgia. Nigeria. 1997). Dari tahun 1940-an sampai 1970-an. Data jumlah daun kelapa sawit 5 MST (helai) 36 22. Daftar sidik ragam diameter batang kelapa sawit 7 MST 41 37.

CPO atau PKO banyak digunakan sebagai bahan industri pangan (minyak goreng atau margarin). Dalam keadaan dapat dihasilkan 30-45 kg/ha berarti sama dengan 100 kg urea. 2003).org.). Asam humat akan membantu meningkatkan proses pelapukan bahan mineral. industri sabun (bahan penghasil busa). Sebanyak 85 % lebih pasar dunia kelapa sawit dikuasai oleh Indonesia dan Malaysia. pakan ikan. 2006). kompos dapat meningkatkan kapasitas tukar kation. Secara biologi.).272 hektar pada tahun 1916 menjadi 92. Kesemuanya itu bergantung kepada manajemen dan pemimpinnya (Pahan. 2004). industri baja (bahan pelumas). Ditemukan juga bahwa azolla tumbuh kembang lebih baik dari pada musim penghujan dari pada musim kemarau. pada tahun 2008 diperkirakan Indonesia bias menjadi produsen kelapa sawit terbesar di dunia. Perkebunan kelapa sawit pun bias menghadirkan prestasi-prestasi yang membanggakan dan layak untuk ditiru. Ada pengaruh kompos Azolla (Azolla sp.− Ada pengaruh interaksi media tanam dan kompos Azolla (Azolla sp. Indonesia merupakan produsen kelapa sawit terbesar kedua di dunia setelah Malaysia. kompos yang tidak lain adalah bahan organik merupakan sumber bagai mikroorganisme tanah (Simamora dan Salundik. ketersediaan unsur hara dan ketersediaan asam humat.) (D x P) di pre nursery. industri tekstil. Secara kimia. Tanaman hias.) terhadap pertumbuhan kecambah kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq. Tujuan Percobaan Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh media tanam dan kompos Azolla (Azolla sp. 2006).Luas kebun kelapa sawit terus bertambah.)−terhadap pertumbuhan kecambah kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq. Menurut Derom Bangun. ketua GAPKI (Gabungan Perusahaan Kelapa Sawit Indonesia). Minyak nabati yang dihasilkan dari pengolahan buah kelapa sawit berupa minyak sawit mentah ( CPO atau crude palm oil) yang berwarna kuning dan minyak inti sawit (PKO atau palm kernel oil) yang tidak berwarna (jernih). dari 1. Hipotesis Percobaan Ada pengaruh media tanam terhadap pertumbuhan kecambah−kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq. terutama ayam dan itik. Kegunaan Percobaan Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikal test di− Laboratorium .) terhadap pertumbuhan kecambah kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq. pakan ternak/hijauan. 2008). kontrol terhadap perkembangan nyamuk ( http://wikipedia. Kegunaan azolla adalah sumber N dapat mengganti pupuk urea samapai 100 kg. kosmetik.307 hektar pada tahun 1938 (Hadi. dan bahan baker alternatif (minyak diesel) (Sastrosayono.). menekan pertumbuhan gulma.

tertier dan kuartier arah tumbuhnya mendatar dan ke bawah. bahkan ada yang sampai 17 tahun pada tanaman setengah liar (Sianturi. dan kuartier. Jumlah anak daun dalam satu pelepah berkisar antara 120 – 160 pasang (Setyamidjaja. di perkebunan umumnya 45 – 60 cm . endoperm yang padat. . 1994). Biasanya pangkal-pangkal daun melekat beberapa tahun pada batang. mesokarp (yang secara salah kaprah biasanya disebut perikarp) dan endocarp (cangkang) yang membungkus 1. Panjang pelepah daun dapat mencapai 9 m. bahkan pangkal batang bisa lebih besar lagi pada tanaman tua. sedangkan akar sekunder. 2006). (1996) taksonomi tanaman kelapa sawit adalah : Divisi : Tracheopita Subdivisi : Pteropsida Kelas : Angiospermae Subkelas : Monocotyledoneae Ordo : Cocoideae Family : Palmae Genus : Elaeis Spesies : Elaeis guineensiss Jacq. Pada pangkal pelepah daun terdapat duri-duri atau bulu-bulu halus sampai kasar. Medan. tanaman kelapa sawit disebut tanaman berumah satu atau monoceous. Besarnya batang berdiameter 25 – 75 cm. Inti memiliki testa (kulit). terkadang dalam satu tandan terdapat bunga jantan sekaligus bunga betina. 1991). dan sebuah embrio (Pahan. Secara botani buah kelapa sawit digolongkan sebagai buah drupe. Daun kelapa sawit bersirip genapdan bertulang sejajar. Sebagai bahan informasi bagi pihak-pihak yang membutuhkan.Agronomi Tanaman Perkebunan Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. terdiri dari perikarp yang terbungkus oleh eksokarp (kulit). Bunga ini disebut bunga hermaprodit (Hadi.4 inti/kernel (umumnya hanya satu). tergantung pada umur tanaman. Akar-akar kelapa sawit banyak berkembang di lapisan tanah atas sampai kedalaman ± 1 meter dan semakin ke bawah semakin sedikit (Risza. 2006). Pada tanaman kelapa sawit letak bunga jantan dan bunga betina terpisah. masingmasing tersusun pada tandan yang berbeda tetapi masih dalam satu pohon.− TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Menurut Soehardjo dkk. Namun demikian. Helai anak daun yang terletak di tengah pelepah daun adalah yang terpanjang dan panjangnya dapat mencapai 1. Tanaman kelapa sawit berakar serabut yang terdiri atas akar primer. 2004). sekunder. berangsur-angsur lepas pada umur 11 tahun.20 m. Akar kuartier berfungsi menyerap unsur hara dan air dari dalam tanah. Akar-akar primer umumnya tumbuh ke bawah. tertier. Oleh karena itu.

hidromorfik. pertunbuhannya akan terhambat karena hasil asimilasinya kurang (Sastrosayono. Setelah itu. dan angin (Fauzi. Selain sinar matahari dan curah hujan yang cukup. Makin lama penyinaran atau makin rendah suatu tempat. Tanah perkebunan kelapa sawit hendaknya memenuhi kriteria sebagai . suhu. andosol. Pembibitan Kelapa Sawit Benih tanaman kelapa sawit memiliki sawit yang tebal. diperam lagi selama 3 hari ( Fermentasi II ) (Sastrosayono. 1996 ). tandan buah diperam ( Fermentasi I ) selama 3 hari supaya semua buahnya rontok. Karena itu perlu persiapan yang lama untuk mengecambahkannya. 2007). Tanaman yang ternaungi karena jarak tanam yang sempit. maka akan terjadi kenaikan suhu. Beberapa unsur iklim yang penting dan saling mempengaruhi adalah curah hujan. 1991). untuk tumbuh dengan baik tanaman kelapa sawit memerlukan suhu yang optimum. Kelapa sawit dapat tumbuh dengan baik pada daerah tropika basah di sekitar lintang utara – selatan 12 derajat pada ketinggian 0 – 500 m dpl. dkk. 5) Kedalaman air tanah 80 -150 cm dari permukaan . dkk. 2) kemiringan lahan 0 -15 3) Solum 80 cm . Suhu optimum itu C. 6) Drainase baik . . sinar matahari. 1997). Beberapa faktor yang mempengaruhi suhu° – 30°berkisar antara 29 adalah lama penyinaran dan ketinggian tempat. Tanah Kelapa sawit tumbuh pada beberapa jenis tanah seperti podsilik. regosol. 4) ketinggian lahan 0 – 400 m dpl . 7) kesuburan kimiawi cukup (diketahui dari hasil analisa tanah) (Hadi. Tanaman kelapa sawit termasuk tanaman heliofil atau menyukai cahaya matahari. latosol.. Kemarau panjang dapat mengakibatkan pengeringan tanah di daerah perakaran yang relatif dangkal sehingga kelembaban tanah bias berada di bawah titik layu permanen. Inilah yang membuat tanaman sawit tumbuh lambat pada daerah beriklim moonson dan produksinya kecil.Syarat Tumbuh Iklim Faktor iklim sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi tandan kelapa sawit. organosol dan aluviall Soehardjo. kelembapan uadar. Setelah buah masak dipanen. Suhu akan berpengaruh terhadap pembungaan dan kematangan buah (Tim Penulis PS.°berikut : 1) Keasaman tanah (pH) 5.. 2003). Kelembaban relatif paling sedikit 75% (Sianturi. Yang penting untuk pertumbuhan tanaman kelapa sawit adalh distribusi hujan yang merata.5 . 2003). Penyinaran matahari sangat berpengaruh terhadapat perkembangan buah kelapa sawit. 2004). hidromorfik kelabu.0 – 6.

Dekat dengan sumber air . masalah pertama yang dihadapi oleh pengusaha dan petani yang bersangkutan adalah tentang pengadaan bibit. Kualitas bibit sangat menentukan produksi akhir jenis komoditas ini. 3. mutu minyak. Untuk mendapatkan tanaman yang bersifat unggul. pertumbuhan vegetatif dan daya tahan terhadap penyakit tajuk serta ganoderma (Fauzi. dkk. Tahapan bibitan dapat dibagi dua yaitu : prapembibitan (prenursery) dan pembibitan utama (mainnursery) untuk pertumbuhan selanjutnya (Sianturi. Prenursery diawali dengan menanam kecambah kelapa sawit ke dalam tanah pada kantong plastik atau (polybag) kecil hingga berumur tiga bulan. biji yang dipilih sebaiknya berasal dari persilangan varietas unggul. 2007). Mainnursery diawali dengan menanam biji yang sudah berumur tiga bulan (pindahan dari prenursery) kedalam polybag yang lebih besar hingga bibit siap ditanam di areal perkebunan. dan hama lainnya . 2004). Produksi benih D x P adalah mirip dengan produksi jagung hibrida. Relatif dekat dengan media Pananaman . Pemeliharaan dan kondisi bibit dipembibitan sangat menentukan keadaan tanaman dilapangan baik keragaman maupun produktivitasnya. Pembibitan harus sudah dipersiapkan sekitar 1 tahun sebelum penanaman di lapangan. 2006). Pada benih jagung . di Indonesia lebih banyak digunakan bahan tanaman yang berasal dari persilangan Dura dan Pisifera.Pembibitan merupakan kegiatan – kegiatan awal di lapangan yang bertujuan untuk mempersiapakan bibit siap tanam. Seleksi bibit penting dilakukan karena akan menentukan hasil panen dan kualitas kelapa sawit. agar bibit yang ditanam tersebut memenuhi syarat pertama baik umurnya maupun ukurannya (Setyamidjaja. Pada umumnya pengembangbiakan tanaman kelapa sawit dilakikan secara generatif. 2006). Jauh dari sumber hama dan penyakit tanaman (Soehardjo. yaitu didasarkan pada kriteria produksi minyak perhektar. sertaa (3) pembibitan diperlukan untuk memperpendek waktu antara persiapan lapangan dan penanaman pertama sehingga begitu lahan siap tanam bibit sudah siap untuk ditanam (Pahan. Areal harus rata . Untuk memperoleh bibit yang benar. (2) bahan tanaman memerlukan ketegakan habitusnya sehingga tidak miring atau roboh .benar sehat. 2. 1994). Akan tetapi. tikus. 1996). Tidak tergenang air . atau kiar-kira 9 bulan kemudian. antara lain bahan bibit yang diperoleh sangat terbatas dan sangat bervariasi (Tim Penulis PS.. Untuk mendukung pertumbuhan bibit dengan baik. Cara ini memang umum dilakukan dan diangap paling gampang. Sedangkan selebihnya 25 % sengaja dibuang (thinning out). Dalam usaha membudidayakan kelapa sawit. 4. 1991). 1997). perlu diperhatikan syarat penetapan lokasi pembibitan : 1. Seleksi bibit ini sedemikian ketat karena bibitnya standar akan menentukan masa depan hasil panen dan kualitas tanaman (Rizsa. Alasan lain diperlukannya pembibitan yaitu (1) keadaan kecambah kelapa sawit yang mudah diserang insekta. Jadi waktu yang dibutuhkan pada pembibitan mulai penanaman kecambah hingga bibit siap ditanam di areal perkebunan kurang lebih adalah 12 bulan (3 bulan di prenursery dan 9 bulan di main nursery) (Hadi. pengadaan bibit dalam jumlah banyak dengan cara ini mengalami beberapa kendala. 5. Hasil persilangan dianggap sebagai persilangan terbaik secara ekonomis. yaitu dengan bijinya. unggul dan homogen maka bibit hanya dipilih ± 75 % saja.

permeabilitas sedang. 2006). sebagai contoh selfing dan sibbing. 1994). 2007). ) Azolla adalah jenis tumbuhan paku air yang mengapung banyak terdapat diperairan tergenang terutama di sawah. Pada kasus lalu tanah – tanah berpasir biasanya berhubungan dengan kandungan unsur hara yang tinggi (Risza. air akan mudah meresap. yang terdiri dari mineral yang kaya hara esensial. permeabilitas. akar rhizome dan daun terapug. Azolla pinnata merupakan tumbuhan kecil yang mengapung di air. Tanaman yang bertekstur pasir mempunyai luas permukaan atau (spesific surface) yang kecil. Tanaman kelapa sawit tumbuh baik pada daerah gembur. tetua dalam turunan yang telah mengalami jumlah besar generasi yang dimuliakan. kemiringan tanah. dengan cabang. dan liat 20 -50%. panjang 1 – 5 cm dengan membentuk kelompok 3 -6 rambut . dkk. 2006). Kompos Azolla ( Azolla sp. debu 10 – 40%. Oleh sebab itu penanaman jagung varietas hibrida menghasilkan tanaman yang tetap seragam dalam bebagai aspek (Chin. berbulu. maka liat ini akan lebih praktis dibandingkan dengan tanah yang mengandung 100% liat. Jenis media tanam terdiri atas lapisan tanah yang terdiri atas tiga fase bahan – bahan padat. Media Tanam Bila tanah banyak mengadung banyak pasir. berdrainase baik. Bila jumlah pasir tidak terlalu banyak. pengaruhnya terhadap tanah akan baik. Pemuliaan dan seleksi kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq. cair. sehingga sulit menyerap atau menahan air dan unsur hara. terlihat berbentuk segitiga atau segiempat. Azolla berukuran 2 . sehingga pada musim kemarau mudah kekurangan air. Pada pembastaran tumbuhan secara genetik sama tetapi heterozigot. 1991). konsistensi. Tanah yang kurang cocok adalah tanah pantai berpasir dan tanah gambut tebal (Fauzi. dan kedalaman permukaan air tanah. dan jumlahnya cukup dikandung tanah. karena cukup longgar. Beberapa hal yang menentukan sifat fisik tanah adalah tekstur. mengapung di air. struktur.4 cm. udara tanah mudah masuk dan tanah mudah diolah (Hasibuan. Tekstur tanah ringan dengan kandungan pasir 20 – 60%. mempuyai permukaan daun yang lunak mudah berkembang dengan cepat dan hidup bersimbiosis dengan Anabaena azollae yang dapat mengfiksasi nitrogen ( N2 ) dari udara.hibrida.sawah dan di kolam. Fase padat menempati hamper 50% dari volume tanah. dan gas. dan mempunyai solum yang tebal sekitar 80 cm tanpa lapisan padas. Akar solit. tanah ini kurang baik untuk pertumbuhan tanaman.) secara sistematik telah dimulai tahun1920 di Afrika dan Asia (Malaysia dan Sumatera) ketika spesies memulai di eksploitasi untuk minyak nabati sacara komersial (Internasional Confenrence . Tanah dengan 25% liatnya. sebagian bagi adalah bahan organik yang terakhir adalah bagian yang dijumpai paling banyak pada tanah organik (Sianturi. ketebalan lapisan tanah.. subur. Sungguhpun demikian anggota dari setiap turunan secara genetic homozigot dan serupa. 1981).

sub soil.com. membentuk 2 barisan.45 – 1. Fe 0. Kandungan unsur hara dalam azolla yaitu: N 1. terutama ayam dan itik.35 % . Mg 0. jelas Azolla pinnata bereproduksi menggunakan spora (http:// syraru. 2009 a). Manfaat Azolla sebagai pupuk alami penganti urea pelantaran tanaman tersebut mampu mengikat nitrogen dari udara. Sehingga sebagian nitrogen dilepaskan ke lingkungan sekitarnya dan diserap oleh tanaman lain.kr.4 -0.22 – 0.264 ppm . Azolla pinnata hanya tumbuh di daerah tropis.) sebagai objek pengamatan.0. P 0.akar.66 % .73 % . pasir. Azolla pinata tumbuh subur di daerah sawah dan kolam.kehati. yamg berarti paku.59 % . kontrol terhadap perkembangan nyamuk (http://kolamazolla.31 – 5. Universitas Sumatera Utara. tumbuhan paku ini dapat tumbuh subur. pakan ikan.) . menekan pertumbuhan gulma.or. S 0. air untuk penyiraman.59 % . Medan. BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Percobaan ini dilakukan di lahan percobaan Fakultas Pertanian. 2009).16 -1.id 2009).pakuan. salama ada air yang tergenang. Zn 26 – 989 ppm (http://kolamazolla. Kegunaan azolla adalah: sumber N dapat menganti pupuk urea sampai 100 kg. Azolla piñata termasuk dalam divisi Pterydophyta. K 0. Bahan dan Alat Adapun bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah benih kelapa sawit ( Elaeis guineensis Jacq. Co 0.30 % .90 % .blogspot.co.blogspot. Na 0. Daun kecil.id .59 % .62 .4 – 0. tanaman hias. Nitrogen merupakan nutrisi utama bagi tanaman untuk menopang pertumbuhannya. Al 0. Bila sawah atau kolam tersebut kering maka Azolla pinnata akan mati. pakan ternak/hijauan.96–5. serta kompos Azolla (Azolla sp. 2009). Cl 0. cuping dengan cuping dorsal berpegangan di atas permukaan air dan cuping ventral mengapung (http://www. Ca 0. Dengan ketinggian tempat ± 25 m dpl yang dimulai dari bulan Februari 2009 sampai dengan April 2009.944 ppm . tentu bermanfaat pula untuk memperbaiki tekstur tanah yang rusak akibat penggunaan pupuk kimia (http:// www. pupuk kandang ayam ras sebagai media tanam. top soil.16 – 1.com.97 % .31 % .70 % . duduk melekat.16 -3. 2009 b). Selain menghemat pupuk. Mn 66 – 2.com. Jumlah nitrogen yang diikat azolla melebihi kebutuhannya sendiri.22 – 0. Si 0. menyirap bervariasi.

jumlah kompos Azolla ke-j dan pertumbuhan kecambah kelapa sawit ke-k Apabila data percobaan analisis tidak ragam berbeda nyata. jumlah kompos Azolla ke-j. . gembor untuk menyiram tanaman. Metode percobaan Data percobaan dianalisis dengan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dengan dua faktor yaitu: Faktor I : Media Tanam (M) dengan dua taraf yaitu: M1: Top soil + Pasir M2: Sub soil + Pupuk kandang ayam ras Faktor II: Kompos Azolla (Azolla sp.) dengan 3 taraf yaitu: A0: Tanpa kompos Azolla A1: Diberi kompos Azolla 7 gram A2: Diberi kompos Azolla 14 gram Sehingga didapat 6 kombinasi perlakuan yaitu: M1A0 M2A0 M1A1 M2A1 M1A2 M2A2 Jumlah blok : 3 Jumlah plot per blok : 6 Jumlah kecambah per plot : 2 Jumlah kecambah seluruhnya : 36 Dari hasil percobaan dianalisis sidik ragam Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan model linier sebagai berikut: Yijk= µ + βi + αj + βk + (αβ)jk + εijk dimana: Yijk : nilai pengamatan pada media tanam ke-i. polybag sebagai wadah penanaman. meteran untuk mengukur tinggi kecambah.sebagai bahan pengganti sumber N. akan diujikan dengan beda nyata jujur (BNJ) pada x = 5% . Sedangkan alat yang digunakan adalah cangkul untuk mencangkul tanah. dan jangka sorong untuk mengukur diameter batang kecambah. dan pertumbuhan kecambah kelapa sawit ke-k µ : Nilai tengah βi : Efek media tanam ke-i αj : Efek jumlah kompos Azolla ke-j (αβ)jk : Efek interaksi antara media tanam ke-i dan jumlah kompos Azolla ke-j εijk : Efek error yang disebabkan oleh media tanam ke-i.

setelah plot selesai disekeliling bedengan dibuat pagar dan parit sedalam 30 cm. Penyiangan Penyiangan dapat dilakukan dengan menggunakan alat yaitu cangkul atau dengan tangan pada saat gulma mulai tumbuh di media tanam maupun di areal penanaman.PELAKSANAAN PERCOBAAN Persiapan Lahan Lahan percobaan dibersihkan dari gulma dan dibuat plot sebagai tempat peletakan polibag. Kemudian media tanam campuran yakni pupuk kandang dicampur dengan topsoil sesuai dengan perlakuan masing-masing kemudian dimasukkan ke dalam polibag. Pemupukan Pemupukan dilakukan pada tanaman sejak berumur 3 MSPT hingga 6 MSPT dengan menggunakan pupuk Nitroposka. . pasir dibersihkan dari bahan organik. dicampur dengan topsoil sesuai dengan perlakuan masing-masing. Pemeliharaan Tanaman Penyiraman Penyiraman dilakukan setiap sore hari tergantung kepada kondisi kelembaban permukaan media tanam. Penyiraman dilakukan dengan menggunakan gembor. Penyiapan Media Tanam Pasir yang digunakan adalah pasir yang berasal dari laut.

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Dari data pengamatan dan sidik ragam (lampiran 1 – 38) diketahui bahwa perlakuan media tanam berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 2 – 8 MST. Perhitungan jumlah daun dilakukan sejak berumur 3 MSPT hingga tanaman berumur 6 MSPT dengan interval 1 minggu. Diameter Batang (mm) Batang tanaman diukur diameternya pada ketinggian 1 cm diatas permukaan tanah dengan menggunakan jangka sorong. Jumlah Daun (helai) Jumlah daun yang dihitung adalah daun yang telah membuka sempurna. jumlah daun 4 . dihitung mulai dari permukaan tanah sampai bagian tertinggi dari tanaman. Pengukuran diameter batang dilakukan sejak tanaman 3 MSPT hingga tanaman berumur 6 MSPT dengan interval 1 minggu.Pengamatan Parameter Tinggi tanaman Tinggi tanaman yang berkecambah sudah berumur 3 bulan.

diameter batang 4 – 8 MST. dan tidak berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 1 MST. 7. jumlah daun 3 MST. Tinggi Tunas (cm) Dari data pengamatan dan sidik ragam diketahui bahwa perlakuan media tanam berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 2 – 8 MST. Dari data pengamatan dan sidik ragam (lampiran 1 – 38) diketahui bahwa perlakuan kompos azolla berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 2 – 8 MST. Tabel 1. dan tidak berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 1 MST. jumlah daun 4 – 8 MST. jumlah daun 3 MST. Rataan tinggi tunas kelapa sawit 8 MST (cm) dari perlakuan media tanam dan kompos azolla dapat dilihat pada tabel 1. dan tidak berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 1.– 8 MST. dan tidak berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 1. diameter batang 4 – 8 MST. 7. jumlah daun 5 – 8 MST. 6. dan tidak berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 1 MST. Histtogram tunas kelapa sawit 8 MST (cm) dari perlakuan media tanam dan kompos azolla dapat dilihat pada gambar 1. . Interaksi antara media tanam dan kompos azolla berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 2 – 5 MST. Rataan tinggi tunas kelapa sawit 8 MST (cm) dari perlakuan media tanam dan kompos azolla Dari Tabel 1 diketahui bahwa perlakuan media tanam terhadap parameter tinggi tunas 8 MST tertinggi yaitu M1 (13.61) dan terendah A0 (10.66) dan terendah M2A0 (15. 8 MST.79). diameter batang 6 – 8 MST. 6. 8 MST.41) dan terendah M2 (12. Dari data pengamatan dan sidik ragam (lampiran 1 – 38) diketahui bahwa interaksi antara media tanam dan kompos azolla berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 2 – 5 MST. Dari Tabel 1 diketahui bahwa perlakuan kompos azolla terhadap parameter tinggi tunas 8 MST tertinggi yaitu A2 (12. dan tidak berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 1 MST. Kompos azolla berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 2 – 8 MST.59). Dari Tabel 1 diketahui bahwa interaksi media tanam dan kompos azolla terhadap parameter tinggi tunas 8 MST tertinggi yaitu M1A2 (19. diameter batang 4 – 5 MST.67). jumlah daun 4 MST.

00) dan terendah M2A0 dan M2A1 (2. Dari Tabel 2 diketahui bahwa pada interaksi media tanam dan kompos azolla terhadap parameter jumlah daun 8 MST tertinggi yaitu M1A1 dan M1A2 (3.83).Gambar 1. dan tidak berbeda nyata terhadap parameter jumlah daun 3 MST. . Rataan jumlah daun kelapa sawit 8 MST (helai) dari perlakuan media tanam dan kompos azolla dapat dilihat pada tabel 2.89) dan terendah A1 (1.50). Kompos azolla berbeda nyata terhadap parameter jumlah daun 5 – 8 MST. dan tidak berbeda nyata terhadap parameter jumlah daun 4 – 8 MST. Rataan tinggi tunas kelapa sawit 8 MST (cm) dari perlakuan media tanam dan kompos azolla Jumlah Daun (helai) Dari data pengamatan dan sidik ragam diketahui bahwa perlakuan media tanam berbeda nyata terhadap parameter jumlah daun 4 – 8 MST. Tabel 2. Interaksi antara media tanam dan kompos azolla berbeda nyata terhadap parameter. dan tidak berbeda nyata terhadap parameter jumlah daun 3 MST.15) dan terendah M2 (1.92). Rataan jumlah daun kelapa sawit 8 MST (helai) dari perlakuan media tanam dan kompos azolla Dari Tabel 2 diketahui bahwa pada perlakuan media tanam terhadap parameter jumlah daun 8 MST tertinggi yaitu M1 (2. Dari Tabel 2 diketahui bahwa pada perlakuan kompos azolla terhadap parameter jumlah daun 8 MST tertinggi yaitu A2 (1.

Gambar 2. Histogram jumlah daun kelapa sawit 8 MST (helai) dari perlakuan media tanam dan kompos azolla Diameter Tunas (mm) Dari data pengamatan dan sidik ragam diktahui bahwa perlakuan media tanam tidak berbeda nyata terhadap parameter diameter batang 4 – 8 MST. Tabel 3. Rataan diameter tunas kelapa sawit 8 MST (mm) dari perlakuan media tanam dan kompos azolla . Rataan diameter tunas kelapa sawit 8 MST (mm) dari perlakuan media tanam dan kompos azolla dapat dilihat pada tabel 3.Histogram jumlah daun kelapa sawit 8 MST (helai) dari perlakuan media tanam dan kompos azolla dapat dilihat pada gambar 2. Kompos azolla berbeda nyata terhadap parameter diameter batang 6 – 8 MST. dan tidak berbeda nyata terhadap parameter diameter batang 4 – 5 MST. Interaksi antara media tanam dan kompos azolla tidak berbeda nyata terhadap parameter diameter batang 4 – 8 MST.

Hal ini disebabkan karena media tanam yang digunakan adalah pasir dan top soil dengan .92).) D X P di Pre Nursery Dari data diketahui bahwa media tanam berbeda nyata terhadap tinggi tunas dan jumlah daun kelapa sawit. Dari Tabel 3 diketahui bahwa pada perlakuan kompos azolla terhadap parameter diameter tunas 8 MST tertinggi yaitu A1 (0.80) dan terendah M1 (0. Akan tetapi akan berhubungan dengan adanya variasi yang terdapat pada sistem mineralogy reaksi tanah. maka ada ketentuan-ketentuan umum yang berlaku untuk semua jenis tanah Dari hasil percobaan pada perlakuan media tanam terhadap parameter tinggi tunas 8 MST tertinggi yaitu M1 (13.15) dan terendah M2 (1. Gambar 3. Hal ini sesuai dengan literatur Hadi (2004) yang menyatakan bahwa Jenis tanah berhubungan erat dengan plastisitas.41) dan terendah M2 (12. permiabilitas.77) dan terendah A0 (0.79).24) dan terendah M1A0 (0. Akar kelapa sawit dapat menyerap hara dari media tanam dengan baik karena ruang pori tanah yang baik. Hal ini dikarenakan media tanam yang digunakan sangat sesuai dengan kebutuhan kelapa sawit dalam pertumbuhannya. kekerasan.79). Dari Tabel 3 diketahui bahwa pada interaksi antara media tanam dan kompos azolla terhadap parameter diameter tunas 8 MST tertinggi yaitu M2A2 (1. Begitu juga terhadap parameter jumlah daun 8 MST tertinggi yaitu M1 (2.60).87). Histogram diameter tunas kelapa sawit 8 MST (mm) dari perlakuan media tanam dan kompos azolla dapat dilihat pada gambar 3. kesuburan dan produktivitas tanah pada daerah geotropik tertentu. Histogram diameter tunas kelapa sawit 8 MST (mm) dari perlakuan media tanam dan kompos azolla Pembahasan Pengaruh Media Tanam Terhadap Pertumbuhan Kecambah Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.Dari Tabel 3 diketahui bahwa pada perlakuan media tanam terhadap parameter diameter tunas 8 MST tertinggi yaitu M2 (0. kemudian olah tanah.

Kompos azolla berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 2 – 8 MST. kompos azolla juga dengan pasir dan tanah kebun dengan perbandingan 3:1. azolla juga baik untuk media tanam. Pengaruh Kompos Azolla Terhadap Pertumbuhan Kecambah Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq. Dari hasil percobaan diketahui bahwa perlakuan kompos azolla terhadap parameter tinggi tunas 8 MST tertinggi yaitu A2 (12. Selain digunakan secara langsung.59). com/2008-07-1 archieve.html (2008) yang menyatakan bahwa penggunaan sebagai pupuk. Interaksi Antara Media Tanam dan Kompos Azolla Terhadap Pertumbuhan Kecambah Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.blogspot. Kompos Azolla dapat terurai dengan baik pada tanah sehingga tanaman dapat menggunakan hara dengan baik. dan tidak berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 1 MST. Selain digunakan secara langsung.blogspot. Tekstur seperti ini adalah tekstur yang paling cocok untuk pertumbuhan benih. sehingga terjadi gabungan antara tekstur kasar dengan halus oleh top soil. selain dalam bentuk segar bisa juga dalm bentuk kering dan kompos. 2.61) dan terendah A0 (10.) D X P di Pre Nursery Dari data diketahui bahwa kompos Azolla berbeda nyata terhadap tinggi tunas. com/2008/07/manfaat tanaman azolla. jumlah . jumlah daun 3 MST. Dimana tanah mampu menahan air yang cukup. diameter batang 4 – 8 MST. Hal ini terjadi karena pada perlakuan yang diberi kompos azolla pertumbuhan kecambahnya jauh lebih baik dibandingkan dengan yang tidak diberi kompos azolla. Hal ini dikarenakan kompos Azolla sangat baik digunakan selain sebagai media tanam juga sebagai pupuk bagi tanaman karena kompos Azolla memiliki nisbah C/N yang rendah.) D X P di Pre Nursery Dari data diketahui bahwa interaksi antara media tanam dan kompos Azolla berbeda nyata terhadap tinggi tunas dan jumlah daun kelapa sawit.html (2008) yang menyatakan bahwa kegunaan dari kompos azolla adalah sumber N dan dapat menggantikan urea sampai 100 kg serta dapat menekan pertumbuhan gulma. azolla juga baik untuk media tanam. Hal ini sesuai dengan literatur http://kolamazolla. Dalam bentuk kompos ini. Dalam bentuk kompos ini. kompos azolla juga dengan pasir dan tanah kebun dengan perbandingan 3:1.blogspot. Hal ini sesuai dengan literatur http:kolomozolla.html (2008) yang menyatakan bahwa penggunaan sebagai pupuk. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. com/2008/07/manfaat tanaman azolla.perbandingan 2:1. Hal ini sesuai dengan literatur http:kolomozolla. Hal ini dikarenakan media tanam dapat bersatu dengan kompos Azolla dalam penyediaan hara bagi tanaman kelapa sawit. Media tanam berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 2 – 8 MST. Karena kompos azolla memliki N yang tinggi yang bepengaruh bagi pertumbuhan tanaman. Hal ini sesuai dengan literatur Sianturi (1991) tanah juga harus mampu menahan air yang cukup dan hara yang tinggi secara alami maupun hara tambahan. jumlah daun dan diameter batang kelapa sawit. jumlah daun 4 – 8 MST. selain dalam bentuk segar bisa juga dalm bentuk kering dan kompos.

Medan Soehardjo dkk. Adicita Karya Nusa. Kompos Azolla (4 April 2009) http://kolamazolla. Selardi. kompos azolla. Azolla. 2007. The Oil Palm In Agriculture In The Eighties Pahan. Suyatno.co. Kanisius. Malaysia Fauzi. Soh Aik. 8 MST. Jakarta Risza. jumlah daun 5 – 8 MST. Kanisius. Saran Sebaiknya dalam melakukan percobaan ini. Budidaya Kelapa Sawit. Interaksi antara media tanam dan kompos azolla berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 2 – 5 MST. dkk. The Incorporate Society Of Planters. (4 April 2009) http://www. Jakarta Setyamidjaja. 7. Jakarta Hadi. Jakartakelapa sawit.blogspot. Iyung. Penebar Swadaya. Budidaya Kelapa Sawit. 1996. USU Press. DAFTAR PUSTAKA Chin.id. 2006.com a. Pematang Siantar-Sumut Tim Penulis PS. PTP N IV (Persero) Bahjambi.kehati. Azolla. Vademecum Kelapa Sawit. media Reaksi: . M.com b.com.E. Azolla. 1989. Yogyakarta Sastrosayano. Teknik Berkebun Kelapa Sawit. B. 3. 1994. jumlah daun 4 MST.or. diameter batang 6 – 8 MST. 1981. 2006. 1991. Yan. (4 April 2009) http://www. 1997. diameter batang 4 – 8 MST. benih yang digunakan harus bersertifikat dan penyiraman harus dilakukan secara teratur untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Kelapa Sawit. Ilmu Tanah.blogspot. USU Press. Yogyakarta Sianturi. 2003. Kelapa Sawit Usaha Budidaya Pemanfaatan Hasil dan Aspek Pemasaran. Penebar Swadaya. Yogyakarta Hasibuan. Djoehana. dan tidak berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 1. 6. Kelapa Sawit Teknik Budidaya dan Pengolahan. kompos azolla Diposkan oleh junT blogs di 00:58 0 komentar Link ke posting ini Label: kelapa sawit. Penebar Swadaya. Kelapa Sawit Budidaya Pemanfaatan Hasil dan Limbah Analisis Usaha & Pemasaran.M. jumlah daun 3 MST. Agromedia Pustaka. 2006. dan tidak berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 1 MST. (4 April 2009) International Conference. Panduan Lengkap Kelapa Sawit Manajemen Agribisnis dari Hulu Hingga Hilir. Medan http://kolamazolla. Choice Of Planting Material.daun 4 – 8 MST.kr.id. Kompos Azolla (4 April 2009) http://syararu. diameter batang 4 – 5 MST. 2004.

pengaruh penggosokan benih dan media tanam pada perkecambahan benih karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg) LAPORAN OLEH : JUNITA SINAMBELA 070301054/BDP-AGRONOMI 16 Laporan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Mengikuti Praktikal Test di Laboratorium Agronomi Tanaman Perkebunan Fakultas Pertanian Sumatera Utara. Arg) LAPORAN OLEH : JUNITA SINAMBELA 070301054/BDP-AGRONOMI 16 LABORATORIUM AGRONOMI TANAMAN PERKEBUNAN DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2009 PENGARUH PENGGOSOKAN BENIH DAN MEDIA TANAM PADA PERKECAMBAHAN BENIH KARET (Hevea brasiliensis Muell. Arg) PENGARUH PENGGOSOKAN BENIH DAN MEDIA TANAM PADA PERKECAMBAHAN BENIH KARET (Hevea brasiliensis Muell. Medan .

Agriculture Faculty. The experiment was conducted in Agronomi Tanaman Perkebunan I Laboratory Land. Balonggu Siagian. 130 806 538 Diketahui Oleh: Asisten Koordinator (Eko Andi Pasaribu) NIM. The first factor was rubbed. rubbed. 040301037 LABORATORIUM AGRONOMI TANAMAN PERKEBUNAN DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2009 ABSTRACT The objective of this experiment was to know effect of rubbed and media in growing of rubber seed. Key words : media. sand and top soil. The experiment used Randomized Complete Block Design (RAK) with 2 factors and 4 replications. top soil. North Sumatera University with ± 25 m above sea level. MS) NIP. speed of seed growth.Disetujui Oleh Dosen Penanggungjawab (Ir. seed . 040301001 Diperiksa Oleh: Asisten Korektor (Hayati Silalahi) NIM. The experiment result showed that rubbed gave significant effect of presentation of seed. height of plumule. Media gave significant effect of speed of seed growth ang height of plumule. from March to April 2009. Interaction between rubbed ang media did’nt gave effect of all the parameter. The second one was the media that consist of sand. with no rubbed and with rubbed.

Sinambela dan Ibu N. Adapun pendidikan yang pernah ditempuh penulis adalah sebagai berikut: . Anak pertama dari empat bersaudara. tinggi plumula. penggosokan. yaitu benih tanpa digosok. top soil. benih yang digosok. benih RIWAYAT HIDUP Junita Sinambela lahir pada tanggal 2 April 1989 di Medan. tinggi plumula. pasir dan top soil. Sedangkan interaksi antara penggosokan dan media tidak berpengaruh nyata terhadap semua parameter. laju perkecambahan benih. Manurung. Media berpengaruh nyata terhadap laju perkecambahan benih karet. Anak dari Bapak P. Hail percobaan menunjukkan bahwa penggosokan benih berpengaruh nyata terhadap persentase perkecambahan benih. Faktor II adalah faktor media yaitu pasir. Kata kunci : media. Percobaan ini dilaksanakan di lahan percobaan Laboratorium Agronomi Tanaman Perkebunan I Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan pada ketinggian tempat ± 25 m dpl dari bulan Maret sampai April 2009 dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor perlakuan dan empat ulangan.ABSTRAK Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggosokan benih dan media tanam pada perkecambahan benih karet. Faktor I adalah penggosokan.

Medan melalui jalur SPMB pada pilihan pertama pada tahun 2007 sampai sekarang. . MP selaku dosen mata kuliah Agronomi Tanaman Perkebunan serta kepada abang dan kakak asisten yang telah membantu dalam penyelesaian laporan ini.SD Negeri 050721 di Gohor Lama Tamat tahun 2001 SMP Negeri 1 di Hinai Tamat tahun 2004 SMA Negeri 1 di Stabat Tamat tahun 2007 Penulis terdaftar sebagai mahasiswi di Departemen Budidaya Pertanian Program Studi Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. oleh sebab itu penulis mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan laporan ini. Arg)” yang merupakan salah satu syarat unutk dapat mengikuti praktikal test di Laboratorium Agronomi Tanaman Perkebunan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Ir. Adapun judul dari laporan ini adalah “Pengaruh Penggosokan Benih dan Media Tanam pada Perkecambahan Benih Karet (Hevea brasiliensis Muell. KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Esa karena atas berkat dan rahmatNya penulis dapat menyelesaikan laporan ini tepat pada waktunya. Balonggu Siagian. MS dan Ir. Charloq Nababan. Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan. Medan.

Mei 2009 Penulis DAFTAR ISI ABSTRACT i ABSTRAK ii RIWAYAT HIDUP iii KATA PENGANTAR vi DAFTAR ISI v DAFTAR TABEL vii DAFTAR GAMBAR viii DAFTAR LAMPIRAN ix PENDAHULUAN Latar Belakang 1 Tujuan Percobaan 3 Hipotesis Percobaan 3 Kegunaan Percobaan 3 TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman 4 Syarat Tumbuh 5 Iklim 5 Tanah 6 Media Tanam 7 Penggosokan Benih Karet 8 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Percobaan 10 Bahan dan Alat 10 Metode Percobaan 10 PELAKSANAAN PERCOBAAN Persiapan Media Tanam 12 Penggosokan Benih 12 Penanaman Benih 12 Pemeliharaan Tanaman 12 Penyiraman 12 Penyiangan 13 Pengamatan Parameter 13 Persentase Perkecambahan (%) 13 Tinggi Plumula (cm) 13 Laju Perkecambahan (hari) 13 . Medan. semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih.

Rataan tinggi plumula benih karet 8 MST (cm) dari perlakuan penggosokan dan media tanam 19 . Rataan laju perkecambahan benih karet (hari) dari perlakuan penggosokan dan media tanam 17 3.HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil 15 Pembahasan 20 KESIMPULAN Kesimpulan 24 Saran 24 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN DAFTAR TABEL No. Rataan persentase perkecambahan benih karet (%) dari perlakuan penggosokan dan media tanam 16 2. Judul Hal 1.

DAFTAR GAMBAR No. Histogram tinggi plumula benih karet 8 MST (cm) dari perlakuan penggosokan dan media tanam 20 . Histogram persentase perkecambahan benih karet (%) dari perlakuan penggosokan dan media tanam 17 2. Histogram laju perkecambahan benih karet (hari) dari perlakuan penggosokan dan media tanam 18 3. Judul Hal 1.

Sidik ragam persentase perkecambahan benih karet (%) 26 Lampiran 3.DAFTAR LAMPIRAN No. Judul Hal Lampiran 1. Sidik ragam tinggi plumula benih karet 3 MST (cm) 27 Lampiran 7. Data tinggi plumula benih karet 7 MST (cm) 30 Lampiran 14. Data persentase perkecambahan benih karet (%) 26 Lampiran 2. Sidik ragam tinggi plumula benih karet 4 MST (cm) 28 Lampiran 9. Data tinggi plumula benih karet 3 MST (cm) 27 Lampiran 6. Sidik ragam tinggi plumula benih karet 6 MST (cm) 29 Lampiran 13. Sidik ragam tinggi plumula benih karet 5 MST (cm) 29 Lampiran 11. Sidik ragam laju perkecambahan benih karet (hari) 27 Lampiran 5. Sidik ragam tinggi plumula benih karet 8 MST (cm) 31 . Data tinggi plumula benih karet 8 MST (cm) 30 Lampiran 16. Data tinggi plumula benih karet 6 MST (cm) 29 Lampiran 12. Sidik ragam tinggi plumula benih karet 7 MST (cm) 30 Lampiran 15. Data tinggi plumula benih karet 4 MST (cm) 28 Lampiran 8. Data tinggi plumula benih karet 5 MST (cm) 28 Lampiran 10. Data laju perkecambahan benih karet (hari) 26 Lampiran 4.

Indonesia. hasil maksimal didapatkan jika di tanah – tanah subur. Produk karet merupakan komoditi ekspor yang sangat penting karena manfaatnya yaitu dapat diolah menjadi bahan baker dasar bagi kepentingan produksi barang-barang penting di dunia. Komoditas ini sudah dikenal dan dibudidayakan dalam kurun waktu yang lebih lama daripada komoditas perkebunan lainnya. Alexander Parkes juga°120-130 mengembangkan cara vulkanisasi ini. 2006). Dari produksi karet alam 46% digunakan untuk membuat ban dan selebihnya untuk karet busa. dapat melakukan air dan tidak berpadas (kedalaman padas dapat ditolerir adalah 2 – 3 m. Memang untuk mencukupi keperluan bahan karet dunia telah diciptakan karet sintetis.PENDAHULUAN Latar Belakang Ferris pada tahun 1872 mengirimkan 2000 biji dari Brazilia ke Kebun Raya Kew di Inggris. yang sebenarnya masih belum lama dalam hal membudidayakan karet (Siregar. Perlakuan pengasahan kulit biji benih yaitu dengan maksud untuk menipiskan kulit biji agar dapat mempercepat perkecambahan pada bagian spesies yang mempunyai kulit biji yang keras dan yang sangat keras dan ada yang sangat tebal (Sutopo. campuran bahan plastik. Pada sekitar tahun itu pula Charles Goodyear menemukan vulkanisasi karet dengan cara mencampurkannya dengan belerang dan memanaskan pada suhu C.397 biji berkecambah. seperti: ban kendaraan bermotor. 1993). kemudian tahun 1875. 1998). posisi Indonesia yang pada awal pembudidayaan karet merupakan penghasil karet utama di dunia sudah digantikan oleh Malaysia.000 jenis barang. 2001). dan lain sebagainya yang sangat diperlukan beberapa negara. 2005). beberapa biji ke Malaysia dan hanya dua biji ke Kebun Raya Bogor.000 biji karet ke Kew. Sebanyak 2. Penemuan tentang vulkanisasi memberikan inspirasi Dunlop pada tahun 1888 untuk membuat ban mobil yang selanjutnya dikembangkan oleh Goldrich (Setiawan dan Agus. Karet di Indonesia telah 120 tahun dan peringatan satu abad telah diadakan tahun 1976 (Sianturi. sepatu dan beribu-ribu jenis barang lainnya yang juga berbahan dasar karet (Setyamidjaja. Media tanam. campuran benang rayon. . 1995). ebonite. 1988). Sejak tahun 1839 karet menjadi primadona perkebunan di daerah daerah tropis. berpasir. Karet merupakan salah satu komoditas perkebunan di Indonesia. Salah satu pohon karet tersebut tumbang tahun 1962. Dewasa ini karet merupakan bahan baku yang menghasilkan lebih dati 50. akan tetapi nilainya jauh lebih rendah dari bahan karet alam (Kartasapoetra. Selanjutnya Wikham pada tahun 1876 kembali dari Brazilia dan membawa 70. Tanah ulitisol yang kurang sudur banyak ditanami karet dengan pemupukan dan pengolahan yang baik (Setiawan dan Handoko. Sayangnya. kira-kira 1900 biji dikirim ke Srilanka. Kedua kiriman tersebut mengalami kegagalan.

akar tunggangnya dapat menghujam tanah hingga kedalaman 1-2 m.). Tanaman karet merupakan tanaman yang tumbuh tinggi dan berbatang cukup besar.Tujuan Percobaan Adapun tujuan dari cobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggosokan benih dan media tanam pada perkecambahan benih karet ( Hevea brasiliensis Muell Arg. Hipotesis Percobaan Ada pengaruh penggosokan benih terhadap perkecambahan benih−karet ( Hevea brasiliensis Muell Arg. Medan. Ada pengaruh interaksi penggosokan benih dan media tanam terhadap perkecambahan benih karet ( Hevea brasiliensis Muell Arg.). 1996).− TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Menurut Setiawan dan Agus (2005) klasifikasi tanaman karet adalah sebagai berikut. Ada pengaruh media tanam terhadap perkecambahan benih−karet ( Hevea brasiliensis Muell Arg.). Sistem perakarannya padat/kompak. Divisi : Spermatophyta Subdivisi : Angiospermae Kelas : Monocotyledoneae Ordo : Euphorbiales Family : Euphorbiaceae Genus : Hevea Spesies : Hevea brasiliensis Muell Arg. sedangkan akar lateralnya dapat menyebar sejauh 10 m (Syamsulbahri.− Kegunaan Percobaan Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikal test di− Laboratorium Agronomi Tanaman Perkebunan Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Sebagai bahan informasi bagi pihak-pihak yang membutuhkan. .).

secara geografis tersebar diantara 100LU hingga 100LS. Daerah yang sering mengalami hujan pada pagi hari produksinya akan kurang. 1993). Daun karet terdiri dari tangkai utama sepanjang 3-20 cm dan tangkai anak daun sepanjang 3-10 cm dengan kelenjar di ujungnya. 1993). Syarat Tumbuh Iklim Tanaman karet adalah tanaman tropis. sebab iklimnya lebih basah (Setiamidjaja. Dibeberapa kebun karet arah tumbuhnya tanaman agak miring ke arah utara. tertekan pada satu atau dua sisinya. Tanaman karet adalah tanaman berumah satu (monoecus). Jawa dan Kalimantan. 2001). 2001). Di ketinggian tersebut suhu harian 25300C.5-3 cm dan tebal 1. suhu yang lebih dari 300C juga mengakibatkan karet tidak bisa tumbuh dengan baik (Setiawan dan Agus. Pembagian hujan dan waktu jatuhnya hujan rata-rata setahunnya mempengaruhi produksi.5 cm dan lebar 1. Setiap daun karet biasanya terdiri dari 3 anak daun yang berbentuk elips memanjang dengan ujung runcing. Batang tanaman ini mengandung getah yang dikenal dengan nama lateks (Tim Penulis. yang terbagi dalam 100-150 hari hujan. tidak semua propinsi di Indonesia memiliki perkebunan karet (Sianturi. Seperti kebanyakan tanaman tropis. Batang tanaman biasanya tumbuh lurus dan memeiliki percabangan yang tinggi diatas. daun-daun karet akan rontok pada puncak musim kemarau untuk mengurangi penguapan tanaman (Setiawan dan Agus. Penyebaran pertanaman karet sangat dipengaruhi oleh penyebaran hujan dan tinggi tempat dari permukaan laut. Tanah Tanaman karet dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah baik pada tanah-tanah vulkanis . jarang yang beruang empat hingga enam. 1993).5-2.Tinggi pohon dewasa mencapai 15-25 m. berwarna coklat muda dengan noda-noda coklat tua. Jika dalam jangka waktu yang cukup panjang suhu rata-rata kurang dari 200C. Optimal antara 2500-4000 mm per tahun. Pada satu tangkai bunga yang berbentuk bunga majemuk terdapat bunga jantan dan bunga betina. Karet termasuk tanaman daratan rendah. Kelembapan nisbi (RH) yang sesuai untuk tanaman karet adalah rata-rata berkisar antara 75-90 %. Penyerbukannya dapat terjadi dengan penyerbukan sendiri dan penyerbukan silang (Setyamidjaja.4 atau 6 cocci berkatup dua. yaitu Sumatera. berkilat. Kelembapan yang terlalu tinggi tidak baik untuk tanaman karet (Sianturi. endokarp berkayu. Buah beruang tiga. perikarp berbatok. Zona paling cocok dan paling produktif adalah 60LU hingga 60LS. panjang 2-3. Keadaan iklim di Indonesia yang cocok untuk tanaman karet ialah daerahdaerah Indonesia bagian barat. bulat bersegi empat. tempat tersebut tidak cocok untuk budidaya karet. Itulah sebabnya. diameter buah 3-5 cm dan terpisah 3. 2005). 2001). Curah hujan tahunan yang cocok untuk pertumbuhan tanaman karet tidak kurang dari 2000 mm. Biji besar.5 cm (Sianturi. yaitu bias tumbuh baik di dataran dengan ketinggian 0-400 m dari permukaan laut (dpl). Daun karet ini berwarna hijau dan menjadi kuing atau merah menjelang rontok. 2005).

semakin banyak pori-pori di antara partikel tanah dan hal ini dapat memperlancar gerakan udara/air (Hartman. Asalkan tanahnya gembur dan halus. pH 4. aerasi dan drainesenya. Jenis tanah berhubungan sangat erat dengan plastisitas. kekerasan. Bila jumlah pasir tidak terlalu banyak pengaruhnya terhadap tanah akan baik karena cukup longgar. kimia. Oleh karena itu. topsoil. 2001). sehingga sulit menyerap atau menahan air dan unsur hara. permeability. lumut yang telah membusuk. udara. jumlah pasir sama dengan liat. maka belum berlaku untuk semua jenis tanah di permukaan bumi (Buckman dan Brady. Media yang digunakan untuk penyemaian biasa hanya terdiri atas pasir saja tetapi kadang-kadang juga diberi campuran sekam padi. mintakat perakaran. sehingga akar baru yang keluar tidak terhambat pertumbuhannya (Widianto. kedalaman air tanah. tanah ini kurang baik untuk pertunbuhan tananaman.. karena kandungan haranya relatif rendah. tidak banjir dan tidak ada stagnasi air (Sianturi. retensi air >150 cm/m. alluvial dan bahkan tanah gambut. Partikel-partikel pasir yang ukurannya yang jauh lebih besar dan memiliki permukaan yang kecil (dengan berat yang sama) dibandingkan dengan debu dan liat. sehingga pada musim kemarau mudah kekurangan air. tekstur. dan fisiografis yang menjadi factor pembatas kesesuaian tanah untuk tanaman karet.muda ataupaun vulkanis tua. unsur hara. kompos.5. kemiringan tanah 0-8%. 1982). et al. Tanah yang bertekstur pasir mempunyai luas permukaan (specific surface) yang kecil. terutama dari segi struktur. udara tanah mudah masuk dan tanah mudah diolah (Hasibuan. peranannya dalam mengatur sifat-sifat tanah. Media Tanam Bila tanah terlalu banyak mengandung pasir. kemudahan olah. solum. tetapi sifat fisisnya terutama drainase dan aerasinya kurang baik. Sifat umum tanah sangat ditentukan oleh tekstur (Sutanto. yang diinginkan tanaman karet antara lain adalah tanah yang mempunyai lapisan padas lebuh dari 1m. tanah gembur. 2006). permebilitas sedang. 1981). 2000). Akan tetapi sifat-sifat kimianya umumnya sudah kurang baik. dan benih. air akan mudah di serap dan cukup dikandung tanah. kesuburan dan produktivitas tanah pada daerah geografik tertentu akan tetapi berhubungan adanya variasi yang terdapat dalam sistim mineralogi fisik tanah. Pembuatan saluran drainase akan menolong memperbaiki keadaan tanah ini (Setyamidjaja. drainase baik. Tanah-tanah alluvial umumnya cukup subur. Sifat fisis. 1993). semakin tinggi persentase pasir dalam tanah. 2005). Distribusi ukuran partikel dan kelas tekstur mempunyai korelasi dengan air. Untuk mengetahui kemampuan lahan sebaiknya diketahui kesesuaian tanah dan lingkungan yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman karet untuk dapat memperoleh produksi dan keuntungan ekonomis yang optimal. Tanah-tanah vulkanis umumnya memiliki sifat-sifat fisika yang cukup baik. Penggosokan Benih . kemudahan diolah dan yang terpenting adalah masalah kesuburan.

net. Alat yang digunakan adalah cangkul untuk mencampur tanah. kulit biji yang impermiabel terhadap air dan gas sering dijumpai pada benih. pengikiran atau pembakaran. Medan. keadaan fisiologis dari embrio atau kombinasi dari kedua keadaan tersebut. Karena setiap benih ditangani secara manual. Perlakuan mekanis (skarifikasi) pada kulit biji dilakukan dengan cara penusukan.Dormansi pada benih dapat disebabkan oleh keadaan fisik dari kulit biji. jarum. Benih yang mengalami dormansi biasanya disebabkan oleh: a) Rendahnya dan tidak adanya proses imbibisi air yang disebabkan oleh struktur benih (kulit benih) yang keras. Dengan ketinggian tempat ± 25 m dpl yang dimulai dari bulan Februari 2009 sampai dengan April 2009. Metode percobaan . air untuk penyiraman. meteran untuk mengukur tinggi plumula. Skarifikasi mencakup cara – cara seperti mengkikis atau menggoreskan atau menggosok kulit biji yang mengalami sumbat gabus dimana semua permiabel terhadap air atau gas (Lakitan .ac. gembor untuk menyiram tanaman dan polibag sebagai wadah penanaman.id. serta kertas pasir untuk menggosok benih karet. Bahan dan Alat Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah stunp mata tidur karet klon IRM sebagai objek pengamatan.id. pemecahan. Manfaat penggosokan benih adalah untuk memecahkan dormansi pada benih agar benih dapat berkecambah dengan baik karena benih yang memiliki kulit yang jeras harus dilakukan pemecahan dormansi untuk mempercepat proses perkecambahan baik dengan cara mengkikis ataupun mengikir kulit benih (Sadjad.benih dari famili Leguminosae (Sutopo.iptek. 1993).umm. asal daerah radikel tidak rusak (Schmidt.Universitas Sumatera Utara. 2009). sehingga mempersulit keluar masuknya air ke dalam benih (http://digilib. kikir. dengan bantuan pisau. dapat diberikan perlakuan individu sesuai dengan ketebalan biji. BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Percobaan ini dilakukan di lahan percobaan Fakultas Pertanian. 2002) (http://www. pasir dan topsoil sebagai media tanam. 1999). 2003). 2009). Sebagai contoh. penggoresan. Pada hakekatnya semua benih dibuat permeable dengan resiko kerusakan yang kecil. kertas gosok atau lainnya adalah cara efektif untuk mengatasi dormansi fisik.

akan diujikan dengan beda nyata jujur (BNJ) pada x = 5% . pasir + top soil dengan perbandingan 2:1 (M1). media tanam ke-j. PELAKSANAAN PERCOBAAN Persiapan media tanam Disiapkan polibag berukuran 10 kg dan diisi dengan media pasir (M0). dan perkecambahan benih karet ke-k µ : Nilai tengah βi : Efek penggosokan benih ke-i αj : Efek media tanam ke-j (αβ)jk : Efek interaksi antara penggosokan benih ke-i dan media tanam ke-j εijk : Efek error yang disebabkan oleh penggosokan benih ke-i. media tanam ke-j. . dan top soil (M2).Data percobaan dianalisis dengan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dengan dua faktor yaitu: Faktor I : Penggosokan benih (P) dengan dua taraf yaitu: P1 : Benih tanpa digosok P2 : Benih digosok hingga nampak mata embrio Faktor II: Media Tanam (M) dengan 3 taraf yaitu: M0 : Pasir M1 : Pasir + Top soil M2 : Top soil Sehingga didapat 6 kombinasi perlakuan yaitu: P0M0 P1M0 P0M1 P1M1 P0M2 P1M2 Jumlah ulangan : 6 Jumlah petak percobaan : 36 Jumlah benih per petak : 2 Jumlah benih yang dibutuhkan: 64 Dari hasil percobaan dianalisis sidik ragam Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan model linier sebagai berikut: Yijk= µ + βi + αj + βk + (αβ)jk + εijk dimana: Yijk : Nilai pengamatan pada penggosokan benih ke-i. dan perkecambahan benih karet ke-k Apabila data percobaan analisis tidak ragam berbeda nyata.

Penggosokan Benih Proses penggosokan benih dilakukan sebelum dilakukan penanaman. Nilai laju perkecambahan dapat diperoleh dari rumus sebagai berikut : N1T1 + N2T2 + N3T3 + .. Jumlah tanaman yang tumbuh Persentase Perkecambahan = x 100 % Jumlah tanaman seluruhnya Tinggi Plumula (cm) Tinggi plumula dihitung dari plumula yang tumbuh sampai pada titik tumbuh.. Penyiangan Penyiangan dilakukan setiap minggunya dengan cara mencabut gulma yang tumbuh pada polibag.. Laju Perkecambahan (hari) Laju perkecambahan diambil data berupa jumlah karet yang tumbuh. dan dimasukkan ke dalam polibag dan sebaiknya jangan ditanam terlalu dalam. Pengamatan Parameter Persentase perkecambahan (%) Persentase perkecambahan diambil data berupa jumlah tanaman yang tumbuh dan dibagi jumlah seluruhnya dikalikan 100% dan data diambil setiap minggunya. Penanaman Benih Benih karet ditanam di polibag yang diisi tanah sesuai dengan perlakuan.. Pemeliharaan Tanaman Penyiraman Penyiraman dilakukan setiap sore hari tergantung kepada kondisi kelembaban permukaan media tanam... Penyiraman dilakukan dengan menggunakan gembor.. Dimana proses penggosokan bertujuan untuk memecahkan dormansi benih karet akibat kulit benih yang keras dan dilakukan dengan menggunakan kertas pasir sampai terlihat embrio. + NnTn Laju Perkecambahan : T1 + T2 + T3 + . + Tn HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil ....

Dan tidak ada parameter yang tidak berbeda nyata. tinggi plumula benih karet 3-8 MST. Rataan persentase perkecambahan benih karet (%) dari perlakuan penggosokan dan media tanam. Dan tidak berbeda nyata terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet. Dari data pengamatan dan sidik ragam (lampiran 1-16) diketahui bahwa interaksi antara perlakuan penggosokan dan media tanam tidak ada parameter yang berbeda nyata. . laju perkecambahan benih karet. Persentase Perkecambahan (%) Dari data pengamatan dan sidik ragam diketahui bahwa perlakuan media tanam tidak berbeda nyata terhadap parameter tinggi tanaman.78) dan terendah pada M0 (65. dan interaksi antara penggosokan dan media tanam tidak berpengaruh nyata terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet.00%). diketahui bahwa pada perlakuan penggosokan terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet yang tertinggi yaitu pada P1 (74.00).Dari data pengamatan dan sidik ragam (lampiran 1-16) diketahui bahwa perlakuan penggosokan berbeda nyata terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet. Histogram persentase perkecambahan benih karet (%) dari perlakuan penggosokan dan media tanam dapat dilihat pada gambar 1. dan tinggi plumula benih karet 3-8 MST.67) dan terendah pada P0M0 (97. tinggi plumula benih karet 3-8 MST.22). Dari Tabel 1. laju perkecambahan benih karet. Rataan persentase perkecambahan benih karet (%) dari perlakuan penggosokan dan media tanam dapat dilihat pada tabel 1.42%) dan terendah pada P0 (73. Dari data pengamatan dan sidik ragam (lampiran 1-16) diketahui bahwa perlakuan media tanam berbeda nyata terhadap parameter laju perkecambahan benih. Dari Tabel 1. Dari Tabel 1. penggosokan berbeda nyata terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet. Dan tidak berbeda nyata terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet. diketahui bahwa pada perlakuan media tanam terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet yang tertinggi yaitu pada M1 (65. Tabel 1. diketahui bahwa pada interaksi perlakuan penggosokan dan media tanam terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet yang tertinggi yaitu pada P1M1 (99.

Dan interaksi penggosokan dan media tanam tidak berbeda nyata terhadap parameter laju perkecambahan benih karet.26).10). diketahui bahwa pada perlakuan media tanam terhadap parameter laju perkecambahan benih karet yang tertinggi yaitu pada M0 (4. Rataan laju perkecambahan benih karet (hari) dari perlakuan penggosokan dan media tanam Dari Tabel 2. Histogram laju perkecambahan benih karet (hari) dari perlakuan penggosokan dan media tanam dapat dilihat pada gambar 2. diketahui bahwa pada interaksi perlakuan penggosokan dan media tanam terhadap parameter laju perkecambahan benih karet yang tertinggi yaitu pada P0M0 (7. Histogram laju perkecambahan benih karet (hari) dari perlakuan penggosokan dan media tanam Tinggi Plumula (cm) Dari data pengamatan dan sidik ragam diketahui bahwa perlakuan penggosokan dan media tanam berbeda nyata terhadap tinggi plumula benih karet 3-8 MST. Rataan laju perkecambahan benih karet (hari) dari perlakuan penggosokan dan media tanam dapat dilihat pada tabel 2. Tabel 2. dan interaksi .Gambar 1.77) dan terendah pada P1M1 ( 3.29) dan terendah pada M1 (3. Gambar 2. diketahui bahwa pada perlakuan penggosokan terhadap parameter laju perkecambahan benih karet yang tertinggi yaitu pada P0 (5.13). Dari Tabel 2. Dari Tabel 2. Histogram persentase perkecambahan benih karet (%) dari perlakuan penggosokan dan media tanam Laju Perkecambahan Benih (hari) Dari data pengamatan dan sidik ragam diketahui bahwa perlakuan penggosokan dan media tanam berbeda nyata terhadap parameter laju perkecambahan benih karet.19) dan terendah pada P1 (3.

44) dan terendah pada M0 (23. laju perkecambahan benih karet. diketahui bahwa pada interaksi perlakuan penggosokan dan media tanam terhadap parameter tinggi plumula benih karet 8 MST yang tertinggi yaitu pada P1M1 (38. .67) dan terendah pada P0M0 (32.penggosokan dan media tanam tidak berbeda nyata terhadap tinggi plumula benih karet. Dengan adanya proses penggosokan (skarifikasi). 1993). Histogram tinggi plumula benih karet 8 MST (cm) dari perlakuan penggosokkan dan media tanam dapat dilihat pada gambar 3. Hal ini sesuai dengan literatur Sadjad (1993) yang menyatakan bahwa Manfaat penggosokan benih adalah untuk memecahkan dormansi pada benih agar benih berkecambah dengan baik. Dari Tabel 3. maka proses dormansi yang menghambat proses perkecambahan dapat dipecahkan sehingga benih dapat memperoleh air dan udara. Histogram tinggi plumula benih karet 8 MST (cm) dari perlakuan penggosokan dan media tanam Pembahasan Pengaruh Penggosokan Pada Perkecambahan Benih Karet (Hevea brasiliensis Muell.33) dan terendah pada P0 (25.00). Rataan tinggi plumula benih karet 8 MST (cm) dari perlakuan penggosokan dan media tanam Dari Tabel 3. Arg) Dari hasil sidik ragam pada perlakuan penggosokan berbeda nyata terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet. diketahui bahwa pada perlakuan media tanam terhadap parameter tinggi plumula benih karet 8 MST yang tertinggi yaitu pada M1 (24. Rataan tinggi plumula benih karet 8 MST (cm) dari perlakuan penggosokan dan media tanam dapat dilihat pada tabel 3. diketahui bahwa pada perlakuan penggosokan terhadap parameter tinggi plumula benih karet 8 MST yang tertinggi yaitu pada P1 (28.33).25). tinggi plumula benih karet 3-8 MST. Dari Tabel 3. Gambar 3. Tabel 3. Karena benih yang memiliki kulit yang keras harus dilakukan pemecahan dormansi untuk mempercepat proses perkecambahan baik dengan cara mengkikis ataupun mengkir kulit benih (Sadjad.

Tahap pertama suatu perkecambahan benih dimulai dengan proses penyerapan air oleh benih. Hal ini disebabkan karena media tanam yang digunakan adalah pasir dan top soil dengan perbandingan 2:1. kompos. sehingga akar tanaman yang baru keluar tidak terhambat pertumbuhannya. Hal ini sesuai dengan literatur Setiawan dan Andoko (2005) yang menyatakan bahwa tanah untuk media tanah ini harus subur dan harus yang bisa diambil dari tanah pelapukan (top soil) dengan kedalaman maksimum 15 cm. Hal ini sesuai dengan literatur Sutopo (1998). selain itu perkecambahan benih karet juga dipengaruhi oleh faktor keadaan lingkungan. Pengaruh Media Tanam Pada Perkecambahan Benih Karet (Hevea brasiliensis Muell.25 cm). Ini menunjukkan bahwa top soil ditambah pasir mempengaruhi persentase perkecambahan benih karet . Hal ini sesuai dengan literatur Widianto (2000) yang menyatakan bahwa media yang digunakan untuk pengamatan bisa hanya terdiri atas pasir saja tetapi kadang-kadang juga diberikan campuran sekam padi. Arg) Dari hasil percobaan diketahui bahwa pada interaksi perlakuan penggosokan dan media . Dengan tidak adanya proses penggosokan. Perlakuan pengasahan kulit biji yaitu dengan maksud untuk menipiskan kulit biji agar dapat mempercepat perkecambahan pada berbagai spesies yang mempunyai kulit biji yang keras dan yang sangat tebal.Dari hasil percobaan diketahui bahwa pada perlakuan penggosokan terhadap parameter tinggi plumula benih karet 8 MST yang tertinggi yaitu pada P1 (28.33 sm) dan terendah pada P0 (25. Karena. Tekstur seperti ini adalah tekstur yang paling cocok untuk pertumbuhan benih. tanah gembur.00 cm). Hal ini disebabkan karena pada perlakuan P0 ini benih tidak dilakukan proses penggosokan. lumut yang telah membusuk. Arg) Dari hasil percobaan diperoleh bahwa pada perlakuan media tanam terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet yang tertinggi yaitu pada M1 (65. maka proses perkecambahan menjadi terhambat akibat kulit benih yang keras (dormansi) sehingga benih susah memperoleh air dan udara.44 cm) dan terendah pada M0 (23. kesesuaian tanah dan lingkungan yang serasi sangat baik untuk pertumbuhan tanaman karet. top soil dan lainnya. Tanah top soil dapat membantu pertumbuhan perkecambahan benih karet karena tanah top soil merupakan tanah yang subur yang diambil dari tanah pelapukan. sehingga terjadi gabungan antara tekstur kasar dengan halus oleh top soil.22%). melunaknya kulit benih dan hidrasi dari protoplasma. yang menyatakan bahwa proses perkecambahan benih merupakan suatu rangkaian kompleks dari perubahan-perubahan morfologi. Dari hasil percobaan diperoleh bahwa pada perlakuan media tanam terhadap parameter tinggi plumula benih karet 8 MST yang tertinggi yaitu pada M1 (24. Pengaruh Interaksi Antara Penggosokan dan Media Tanam Pada Perkecambahan Benih Karet (Hevea brasiliensis Muell. fisiologi dan biokimia.78%) dan terendah pada M0 (65. Banyak media yang dapat digunakan untuk penanaman benih asalkan tanahnya gembur dan halus.

Saran Sebaiknya dalam melakukan percobaan ini.tanam terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet yang tertinggi yaitu pada P1M1 (99. Bhratara Karya Aksara. 2. Diakses pada tanggal 4 April 2009 . Terjemahan Soegiman. Brady. Prentice Hall Inc.00%). laju perkecambahan benih karet. USU Press. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1.Anton dan Konfafrek. Media tanam berbeda nyata terhadap parameter laju perkecambahan benih. Karena penggosokan pada benih karet bertujuan untuk menipiskan kulit biji agar dapat mempercepat perkecambahan. Klackers. Ilmu Tanah. tinggi plumula benih karet 3-8 MST. H. Ilmu Tanah. laju perkecambahan benih karet. J.id. dan N.William. Plant Science. 3.T. DAFTAR PUSTAKA Buckman.O. Medan http://digilib. New Jersey Hasibuan. M. Interaksi antara penggosokan dan media tanam berbeda tidak nyata terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet.1982.umm. dan tinggi plumula benih karet 3-8 MST. 2006. 1981. Hal ini disebabkan karena adanya penggosokan dan media tanam yang cocok bagi pertumbuhan tanaman karet. H.. benih yang digunakan harus diketahui jenis atau klonnya. Penggosokan berbeda nyata terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet. Hal ini sesuai dengan literatur Sutopo (1998) yang menyatakan bahwa Perlakuan pengasahan kulit biji yaitu dengan maksud untuk menipiskan kulit biji agar dapat mempercepat perkecambahan pada berbagai spesies yang mempunyai kulit biji yang keras dan yang sangat tebal. tinggi plumula benih karet 3-8 MST. B.67%) dan terendah pada P0M0 (97.C.ac. Dan tidak berbeda nyata terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet. Jakarta Hatrmann.E.

1988. Penebar Swadaya. Karet.S. D.H. Jakarta Setyamidjaja. 1993. Petunjuk Lengkap Budidaya Karet. Jakarta . Jakarta Widianto. Teknologi Benih. Bercocok Tanam Tanaman Perkebunan. R. T.http://www. A. 1999. Medan Siregar.D. L. Bina Aksara. Penebar Swadaya. dan Okulasi.id. Karet Strategi Pemasaran Budidaya dan Pengolahan. Yogyakarta Tim Penulis PS. 2005.net.G.S. 2005. Agromedia Pustaka. Teknologi Budidaya Tanaman Pangan di Daerah Tropik. 2000.iptek. 1995. H. 1996. 1999. dan Agus A. 2001. Kanisius. UGM Press. Cangkok. Jakarta Setiawan. Diakses pada tanggal 4 April 2009 Kartasapoetra. D. Yogyakarta Sutanto.H. Kanisius. USU Press. Dasar-Dasar Ilmu Tanah Konsep dan Kenyataan. Kanisius. Yogyakarta Sianturi. L. Budidaya Tanaman Karet. Yogyakarta Sotopo. CV Rajawali. Jakarta Syamsulbahri. Teknik Penyadapan Karet. Membuat Stek.

Pola Pembibitan Sawit PT Bakti Tani Nusantara Written by Administrator on 24 February 2012. 4. 3. 2. 1. Kecepatan pertumbuhan tanaman rata – rata 41 cm/tahun. Panjang pelepah antara 5 – 6 meter. Dapat beradaptasi dengan baik pada lahan yang marginal atau mulai dari lahan kelas S3 – lahan kelas S1. TN1 yang telah bersertifikat tersebut memiliki keunggulan antara lain : 1. 6. 4.5 meter dengan sistem segitiga sama sisi).6 – 42.5 x 8.5 x 8. Umur siap panen lebih genjah : 24 – 28 Bulan 3. materi genetik ini menjadi tetua dari D x P Tani Nusa 1 terbukti memiliki keragaan sangat baik dan diterima luas oleh pekebun. 2. Umur siap tanam ke lapangan : 10 – 12 bulan Umur siap panen : 24 – 28 bulan Kecepatan pertumbuhan tanaman : 35. Dengan pertambahan batang yang lambat maka usia produksi dapat mencapai lebih dari 30 tahun. sehingga populasi per ha lebih banyak 148 152 pohon/ha (dengan jarak tanam 8. Pendahuluan Varietas kelapa sawit D x P Tani Nusa 1 adalah varietas unggul baru yang merupakan kombinasi dari persilangan Dura Deli dari populasi Johor Labis dan Pisifera Avros yang diseleksi dengan metode Modified Recurrent Selection oleh Socfin Malaysia dan PT. Produkstifitas TBS (Tandan Buah Segar) = 35 ton/ha/tahun 5. bahkan mencapai 35 tahun. Persentase kernel 7% – 8% 7. Bakti Tani Nusantara. Deskripsi Kelapa sawit varietas D x P TN1 1.5 cm/thn Produksi TBS TM1 : 4 – 5 ton/ha/thn . Dari pengalaman oleh socfin di Malaysia.

86/Kpts/HK. Membuat naungan di pembibitan agar kecambah terhindar dari sinar matahari langsung. Dirjenbun No. Memeriksa kotak dan dokumen untuk memastikan apakah peti dalam kondisi baik dan isi peti sesuai dengan dokumen pengiriman kecambah. kecambah dikemas di dalam 16 kantong plastik yang masingnya berisi 206 kecambah termasuk refraksi 6 kecambah per kantong. Di dalam peti.5% 10.7 – 7. 648/Kpts/SR. 2. pengawasan dan drainase air berlebih saat penyiraman atau hujan.1 ton/ha/thn 12. Lakukan pekerjaan ini di tempat teduh agar kecambah tidak kena sinar matahari langsung. Potensi Produksi CPO (TM8) : 6. Pembuatan Bedengan dan Naungan di Pembibitan awal (Pre Nursery) • • • Bedengan dibuat pada areal yang telah diratakan dengan lebar 1.2 m dan panjang ± 8 m yang dapat memuat sekitar 1.120/5/2008 SK. Penanganan Kecambah PT. Penanganan Awal 1.296 kecambah. Kerapatan tanaman : 148 -152 phn/ha 13. Usia Produksi : 33 tahun SK Menteri Pertanian No.000 bibit (Gambar 1). Randemen CPO (IER) : 26. Potensi Inti Sawit (TM8) : 1. Produksi TBS TM3 : 17 – 18 ton/ha/thn 6.330/05/2008 2. Produksi TBS TM8 : 32 – 35 ton/ha/thn 8. .3% 11. Bakti Tani Nusantara A. Antar bedengan berjarak 80 cm sebagai jalan pemeliharaan. Randemen CPO (Lab) : 30. Tepi bedengan dibatasi dengan papan (bukan bambu) setinggi 20 cm agar polibeg dapat disusun tegak.5. Dalam penanganan kecambah BTN menyarankan kepada pelanggan untuk memperhatikan hal-hal sebagai berikut : • • • • Menjaga kesehatan kecambah dalam transportasi dengan menghindari kecambah dari suhu terlalu tinggi. Produksi TBS TM5 : 28 ton/ha/thn 7.0 ton/ha/thn 9.Bakti Tani Nusantara mengirim kecambah kelapa sawit (KKS) ke pelanggan menggunakan peti karton berisi 3. Menanam kecambah sesegera mungkin dan bila ditunda agar tidak lebih dari 5 hari dan kecambah harus disimpan didalam ruangan berpendingin dengan suhu 19‐22⁰C.9 – 2. Sistem Pemeliharaan Pembibitan Kecambah varietas TN1 PT. benturan fisik dan tidak terkena sinar matahari langsung.

busuk dan abnormal. patah.5 bulan (Tabel 1). Percikan dengan air menggunakan hand sprayer untuk meningkatkan kelembaban jika kondisi cuaca panas dan kering. Naungan dikurangi secara bertahap dimulai setelah bibit berumur 1. Penanaman Kecambah di Pembibitan Awal (Pre Nursery) • • • • • • • • • • Pastikan tersedia dokumen benih lengkap yaitu Delivery Order (DO). Berita Acara Serah Terima KKS.5 50 > 2.5 100 1. Gambar 2. KKS yang ditanam adalah KKS sehat yang dapat dibedakan antara plumula (bakal daun) dengan radikula (bakal akar) sebagaimana Gambar 3. KKS di tanam tidak lebih dari 5 (lima) hari sejak kecambah diserahkan oleh produsen kecambah. Persentase naungan bibit pre nursey berdasar tahapan umur. sisakan + 2 cm dari bibir polybag. Gambar 3. Penyiraman sebaiknya secara manual. Pengisian tanah kedalam polybag jangan terlalu penuh. Denah bedengan pembibitan awal Naungan dibuat dengan ukuran sesuai dengan kebutuhan areal bibitan (Gambar 2). Kecambah normal siap tanam KKS abnormal. Kantong dibuka perlahan untuk mengeluarkan KKS. Umur (bulan) Naungan (%) 0 – 1. Naungan pada pembibitan awal kelapa sawit Tabel 1. karena lebih merata kesetiap polibag.2 gr/ltr air dan insektisida dosis 2 gr/ltr. Media tanam dibuat berupa campuran tanah dengan pasir berbanding 70% dan 30%. Tanam kecambah dengan radikula (bakal akar) menghadap ke bawah dan plumula (bakal daun) menghadap ke atas. dan Daftar Persilangan yang menyertai KKS. Gambar 1. kemudiaan dicampur dengan pupuk Rock Phospate (RP) dosis 3 gr/polibag. busuk atau berjamur tidak boleh ditanam. Sebelum ditanam. . patah.5 Dihilangkan secara bertahap 3. setelah diisikan kedalam polibeg berukuran 22 x 14 cm dan disiram 2 kali sehari selama 5 hari sebelum tanam.5 – 2. kecambah diseleksi terlebih dahulu dan dicatat jumlahnya berdasar kategori sehat. Bagian dasar bedengan lebih tinggi dari permukaan tanah untuk memperlancar pembuangan air berlebih. Atap dengan daun kelapa atau kelapa sawit berisi 4-5 pelepah per meter persegi naungan. Media tanah top soil diayak dan disterilkan 1 minggu sebelum penanaman KKS dengan fungisida dosis 0.• • • • • Areal pembibitan memiliki saluran pembuangan air (drainase) yang baik.

Cara penanaman kecambah yang benar. kelompok pertumbuhan meninggi. Pasang papan identitas yang berisi tanggal tanam.5 cm di atas KKS (jangan ditekan tanah terlalu kuat). Buat lubang tanam sedalam 3 cm. Lubang tanam ditutup dan diratakan dengan tanah setebal 1 – 1. Lakukan pengelompokan KKS berdasarkan laju pertumbuhan meninggi menurut ciri varietas sejak di pembibitan awal (Gambar 5). buat peta pembibitan Gambar 4. Siram polibeg segera setelah penanaman selesai. disimpan dalam kantong beridentitas dan diletakkan pada ruang bersuhu 20-25oC selama 5-6 hari. lalu masukan kecambang dengan radikula menghadap kebawah (Gambar 4). Pengaturan letak bibit bedasarkan kelompok KKS Gambar 6. .• • • • • • • Kecambah dengan radikula dan plumula yang sukar dibedakan. Setelah penanaman KKS. Gambar 5. dan jumlah KKS (Gambar 6). Papan nama (plank) dan identitas kecambah yang ditanam. disertai tali rapia sebagai pembatas antar-persilangan kecambah. kode varietas. Kecambah yang akan ditanam diletakan didalam mangkok berisi air untuk menjaga kelembaban kecambah dan setiap 15 menit sekali disemprot dengan air.

Begitupula dalam sektor perkebunan kelapa sawit.EM4 Tingkatkan Produksi Sawit 20% Written by Administrator on 24 February 2012. Dengan memakai kompos dari EM4. Sebagai starter mikroorganisme pada proses decomposer Effective Microorganisms 4 (EM4) menjadi penting dalam dunia pertanian organik. produksi tandan buah segar (TBS) berpotensi meningkat sampai 20%. EM4 digunakan untuk pembuatan kompos dari tandan kosong kelapa sawit (TKKS) dan limbah cair kelapa sawit (LCKS). .

Terdiri dari bakteri asam laktat (Lactobacillus Spp) bakteri fotosintetik (Rhodopseudomonas Spp).” ujar Agus. Agoes Wibisana. Penggunaan EM4 tidak sebatas di tanaman pangan saja. pelepah daun terbuka. aplikasi larutan EM4 dilakukan setelah hujan berhenti. Limbah sawit bisa ditambah kotoran ternak.” tambah Agus ketika ditemui di kantornya. Kompos digunakan pada dua aplikasi di lingkaran tanaman dan baris tanaman. menurut Agus. Streptomyces sp dan ragi yang bermanfaat untuk pertanian.” ungkap Agus. Jadi satu liter EM4 bisa untuk membuat kompos sebanyak satu ton. lanjut Agus. Di perkebunan sawit. Manfaat EM4. Tandan kosong dapat diolah menjadi kompos dengan adanya material tambahan selain EM4 yakni molasse dan air. Menurut Agus. Sapta Karya Damai di Sampit akan menggunakan EM4 untuk pengolahan tandan kosong sawit. Sedangkan penghematan penggunaan pupuk kimia mencapai 30%. hanya saja EM4 kurang efektif tanpa bantuan bahan organik karena sebagai media hidup dan makanan mikrorganisme. perkebunan. “Kita aduk dan dicampur lalu dilakukan fermentasi di hamparan tanah yang keras agar larutan EM4 tidak terserap ke tanah. . “Paling penting EM4 tidak boleh tercampur pestisida atau herbisida. warna daun. aman bagi manusia dan makhluk hidup lainnya serta lingkungan. peternakan. Harus terpisah ada tenggat waktu dalam pemberiannya minimal berbeda 1-2 minggu dan baiknya pestisida baru EM4. Branch Manager PT Songgolangit Persada. Ke depan PTPN IV dan PT. Di musim hujan. Ditutup terpal plastik dan tunggu kurang lebih 1 bulan. “Produksi TBS tahun kedua akan meningkat 5%-10%.” kata Agus. Semua lahan cocok untuk pemanfatan limbah sawit dengan EM4. melainkan telah digunakan perkebunan kelapa sawit dan tebu semenjak tahun 2005. bisa terlihat pada umur tanaman memasuki tahun kedua dari segi peningkatan produksi. industri. kesehatan dan lingkungan. Pertanian sayuran sudah banyak yang menggunakan dan tidak hanya satu bahan untuk pembuatan kompos. pembibitan sawit atau tanaman sawit yang sudah dewasa cukup dengan EM4 sebanyak 10 cc dicampur 1 liter air untuk disemprotkan pada batang tanaman atau tanah. perikanan. Selain itu. tahun ketiga menjadi 20-30%. Apliksinya cukup per 3 bulan sekali dengan komposisi 18 liter per tahun dengan 6 liter satu kali aplikasi untuk setiap hektarnya. Ketersediaan limbah di perkebunan sawit cukup melimpah yang berasal dari tandan kosong dan limbah cair.Effective Microorganisms 4 (EM4) merupakan kultur campuran dari mikroorganisme yang menguntungkan berasal dari alam Indonesia. aplikasi kompos EM4 (Bokashi) sebanyak 10 ton per hektare. menceritakan pembuatan kompos TKKS harus dicacah terlebih dahulu lalu disiram larutan EM4. tanah disekitar pohon menjadi gembur. penggunaan EM4 telah diaplikasikan di Medan (Sumatera Utara) yakni PT Asam Jawa untuk pengelolaan limbah tandan kosong dan limbah cair. “Semua limbah dapat dimanfaatkan tidak hanya dri sektor perkebunan. EM4 tidak berbahaya. Actinomycetes.

tikus.000 per liter. dan landak B. Harga variatif Rp 20. beruang. Irian Jaya. penyerapan teknologi EM4 bisa merata dan meluas supaya tidak terkonsentrasi di Jawa dan Sumatera. mudah aplikasi dan aman bagi lingkungan. Harapan Agus.00 wib siang dan sore mulai pukul 16. dapat dilakukan di daerah pedalaman asalkan didukung infrastruktur supaya harganya terjangkau.Keunggulan EM4 adalah sebagai pelopor pertanian organik memberikan harga murah.000-25. Ini juga tergantung pada jauh dekatnya lokasi. Bibit memerlukan banyak .” pungkas Agus. Dekat dengan sumber air dan airnya tersedia sepanjang tahun. babi. (bebe) PEMBIBITAN A. Lokasi Pembibitan • • Tanah/arealnya rata/datar. Sumatera Selatan terutama petani dan perusahaan perkebunan sawit. dipelihara selama 9 – 12 bulan sampai siap untuk dapat ditanam Umur bibit yang dapat ditanam di areal pertanaman : paling muda : 8 bulan ideal : 12 bulan paling tua : 24 bulan.00 wib. Target penjualan 100 ton per bulan tahun ini bisa tercapai dan tahun 2012 diprediksi ada kenaikan 10-20%. “Harga bisa ditekan agar daya beli masyarakat jauh lebih tinggi. Jika areal datar tidak diperoleh dapat juga digunakan areal bergelombang atau berbukit namun perlu dibuat teras-teras yang disesuaikan dengan kemiringannya asal saja jaringan penyiramannya mampu mencapai tempat tertinggi atau terjauh. Pemasaran EM4 diperluas sampai ke Jambi. Bibit perlu disiram 2 kali sehari jika tidak turun hujan yaitu dari pagi sampai pukul 11. Kalimantan. untuk daerah yang rawan hama (gajah. Tahapan Pembibitan • • • o o o Pre Nursery (pembibitan awal) selama 3 bulan pertama dengan polibag kecil Main Nursery (pembibitan utama) bibit dipindahkan ke dalam polibag besar. Tetapi.

25 – 2 liter tergantung dari umur dan kondisi bibit.000 540.850 137.000 Luas Pembibitan awal (ha) 0.40 x jumlah pohon/ha Kerapatan 130 ph/ha (9. pemesanan sebaiknya bertahap sesuai dengan fasilitas dan tenaga yang ada.000 486.5% : 10% : 15% : 5% Kebutuhan kecambah = 100/97. Drainasenya baik/arealnya tidak tergenang Aman dari gangguan hama berupa binatang besar maupun serangga. Perhitungannya adalah : Seleksi kecambah Seleksi di pembibitan awal Seleksi di pembibitan utama Cadangan penyisipan : 2.9 1. Dekat dengan areal yang akan ditanami jika mungkin ditengah lokasi untuk mengurangi biaya angkutan bibit.000 405. Kebutuhan dan Pengadaan Bibit • • o o o o • • Kebutuhan bibit/kecambah sebanyak 140% dari jumlah yang akan ditanam.5 0.000 Luas Pembibitan utama (ha) 6 12 17 23 29 35 Luas areal yang akan Ditanami (ha) 500 1000 1500 2000 2500 3000 Keterangan : Bibit Yang Ak Ditanam ke Lapangan 68.5 x 100/90 x 100/85 x 100/95 = 1.000 243. Bila rencana penanaman dalam jumlah banyak.250 413.100 . dekat dari pengawasan dan mudah dikunjungi Dekat dari sumber tanah untuk pengisi kantong plastik (top soil) karena tiap kantong besar membutuhkan 20-25 kg tanah C.000 180.000 162.000 360.000 324.7 0.4 0. Air harus bersih dan tidak beracun.700 206.400 344.2 0. pengangkutan agar diusahakan dengan cargo (angkutan) udara Benih yang sudah diterima agar ditempatkan di tempat yang teduh kemudian segera ditanam karena paling lama hanya dapat bertahan 3-5 hari dari tempat penghasil benih Kebutuhan benih dan luas pembibitan : Kebutuhan Benih 90.4 m) diperlukan kecambah 180/ha Kerapatan 143 ph/ha (9.650 275.0 Bibit ke Pembibitan utama 81.0 m) diperlukan kecambah 200/ha Sistem tanam segitiga sama sisi • • • • Kecambah dibeli 12 bulan sebelum rencana penanaman.000 450.000 270.• • • • air yaitu 0. Untuk tempat yang agak jauh dari sumber benih.

000 polibag Sumber data : Lembaga Pendidikan Perkebunan : Kelapa sawit (2004) • Standard kebutuhan per ha pembibitan tenaga kerja : 5–6 hk per hari D.12 Sumber data :Pusat Penelitian Perkebunan Marihat – Bandar Kuala (1992) F. Untuk 1 ha dibutuhkan lebih dari 77 m3/hari (bibit saja 2.000 bibit/hk sedangkan secara manual 2.3 liter/hari Pembibitan utama : Kebutuhan Air/pokok/hari ( liter ) 1 (sprinkler 1. Demikian pula dengan luasnya. luas hendaknya sesuai dengan kapasitas pompa yang akan digunakan. Kebutuhan Air Bibit • • Pembibitan awal. Jika cukup dekat penggunaan sprinkler mungkin cukup baik. Penggunaan sprinkler memerlukan tenaga kerja yang lebih sedikit 4. kebutuhan air per pokok : 0. Jika terlalu jauh maka perlu pertimbangan lain apakah pompa yang digunakan mampu. Instalasi penyiraman .5 liter/hari.o o Perhitungan tersebut menggunakan standar seleksi di pembibitan awal 10% dan pembibitan utama 15% Untuk areal seluas 1 ha dapat digunakan untuk pembibitan awal sebanyak 500.1 – 0. bergelombang dengan semi mekanis akan lebih murah dimana dapat memanfaatkan tenaga gravitasi. Jika penggunaannya cukup lama atau akan digunakan lebih dari 5 tahun mungkin pemakaian sprinkler akan lebih menguntungkan karena akan memperkecil biaya penyusutan dari instalasinya.000 polibag dan pembibitan utama ± 14. Rata dengan sprinkler lebih baik.5 jam) 2 (sprinkler 1 jam 45 menit) 3 (sprinkler 2 jam Umur Bibit ( bulan ) 0–3 3–6 6 . Bagaimana dengan keadaan areal pembibitan tersebut apakah rata atau bergelombang. Bagaimana dengan persediaan tenaga yang ada. Cara ini dilakukan dengan membangun bak penampung ditempat yang tertinggi dan baru dialirkan ke tempat yang lebih rendah Berapa jauh sumber air (sungai atau kolam air) dari pembibitan. Penyiraman Bibit Sistem penyiraman yang harus digunakan perlu dipertimbangkan : • • • • • Berapa luas pembibitan yang akan dibangun dan berapa lama atau berapa tahun akan digunakan.500 bibit/hk Berapakah debit air yang ada terutama pada musim kemarau. sisanya untuk peresapan dan pengaliran di permukaan) E.

jarak antar bedengan 0. Pada tiap pipa distribusi terdapat 8 – 10 sprinkler yang berjarak 9 – 18 m 4. Tiap sambungan dilengkapi stand pipes 0. Untuk 8 ha pembibitan diperlukan 30 sprinkler. Pembibitan Awal (Pre Nursery) Persiapan Areal • • • Areal yang sudah di buka (LC) dibersihkan dan diratakan Kebutuhan bahan/tenaga : Manual 20 HK/Ha dan mekanis 6 JKT (Jam Kerja Traktor) per ha Kebutuhan areal 1 m2 untuk 70 bibit pada pembibitan awal Membuat Bedengan • • • • • Ukuran bedengan : lebar bedengan 1.8 m Jumlah bibit dalam satu bedengan : 840 bibit Kebutuhan tenaga untuk membuat bedengan : 1.6 kg/cm2) Kekuatan pompa 18-20 HP untuk 8 ha pembibitan G. Pipa utama 4 inch dilengkapi dengan kran (valve) ke pipa distrubusi 2 inch. Pipa induk 6 inch dari rumah pompa 2.Secara Manual Air dihisap dari sungai dengan menggunakan pompa air dan dialirkan ke areal pembibitan dengan menggunakan pipa dan selang • • • • Pipa primer 6 inch ditempatkan ditengah-tengah lapangan Cabang I dengan pipa 2 inch Cabang II dengan pipa 1 inch yang disambung dengan selang plastik 25 m yang ujungnya diberi gembor Penyiraman dilakukan dengan tenaga manusia Sprinkler • Penggunaan pipa : 1. 2 line pipa distribusi • • • Kebutuhan air ± 75 m3/ha/hari.5 HK/bed Tepi bedengan diberi batas dengan bambu atau papan Jumlah bahan digunakan : 4 bambu @ 6 m dan 5 papan/bed Menabur Pasir .2 m .75 inch yang dipasang berdiri dan ujungnya dilengkapi dengan nozzle yang dapat memancarkan air dan berputar karena aliran air 3. Efisiensi 30-40% Pompa berdaya pancar 45 psi (3.

2 HK/bed Meracun Serangga • • • Dua hari sebelum digunakan bedengan disemprot dengan insektisida. setelah dua daun keluar (1.000 polybag kecil) Jumlah kebutuhan tenaga kerja untuk mengumpulkan tanah secara manual 1.5 m3/HK sedangkan secara mekanis 8 JKT/Ha Jumlah kebutuhan tenaga kerja untuk mengayak 3 m3/HK Ukuran Polybag • • • • Ukuran polybag kecil 0.000 kg tanah) Bila tanah terlalu padat/liat dicampur dengan pasir perbandingan 3:1 Media tanam harus dicampur dengan 50 kg pupuk RP per ± 2 m3 tanah (± 1. Luas naungan minimal sebesar bedengan dengan tinggi ± 2 m Bentuk naungan : tiang dibuat dari bambu atau besi siku setinggi 2 m. kecuali di areal gambut dapat menggunakan tanah gambut Tanah diayak dengan saringan kawat 2 cm agar bersih dari akar.5 cm Lubang polybag berjumlah 12-24 dengan diameter 0. contoh Sevin atau Thiodan Jumlah dan jenis bahan digunakan : Sevin 85 EC dosis : 5 cc/l air/bed Jumlah kebutuhan tenaga kerja : 1 HK/30 bed Naungan • • • • • Pada tahap awal bibit harus diletakkan di bawah naungan.5 cm 1 kg Plb ± 200 lembar polybag kecil Mengisi Polybag . Jumlah bahan yang digunakan : 7 bambu/bed @ 6 m dan 10 pelepah/bed Jumlah kebutuhan tenaga kerja membuat naungan : 1 HK/bed Mengumpulkan Tanah/Media Tanam • • • • • • • Media tanam menggunakan top soil (kedalaman 20-30 cm) tanah mineral dengan tekstur lempung. Atap dari pelepah kelapa sawit atau dari shadownet.5 bulan) naungan harus sudah dihilangkan.075 mm x 15 cm x 23 cm lay flat.• • • Bedengan ditaburi pasir secara merata sampai setebal 2 cm Jumlah kebutuhan pasir : 0. rumputan. warna hitam Setelah diisi berukuran : diameter ± 10 cm dan tinggi ± 17. dan jarak antar tiang 3 m. Hasil pengayakan ± 60% (dari 1m3 diperoleh ± 1.3 m3/bed Jumlah kebutuhan tenaga kerja : 0.5 bulan) naungan dapat dikurangi sebesar 50% dan setelah daun ketiga keluar (2. batuan dan sampah lainnya.

000 kecambah/HK Pada saat diterima peti harus diletakkan di tempat yang terlindung dari sinar matahari Setiap kantong kecambah harus dibiarkan terbuka selama beberapa menit untuk pergantian udara Menanam Kecambah • • • • • • Siram tanah di polybag sampai jenuh sebelum kecambah ditanam Kantong plastik kecambah dibuka dengan hati-hati dan letakkan kecambah di baki yang beralaskan goni basah yang telah direndam dalam larutan fungisida Thiram dengan konsentrasi 0. panjangnya 8-25 mm. iv. Tiap 1 m2 dapat memuat 70 polibag atau 840 polybag/bedengan Diusahakan air tidak akan menggenangi di bedengan dengan mengikis permukaan tanah yang tidak datar Jumlah tenaga kerja untuk menyusun polybag adalah 1. polybag harus sudah diisi tanah dalam jumlah cukup Guncang polybag pada saat pengisian untuk memadatkan tanah dan diisi sampai mencapai ketinggian 1 cm dari bibir polybag Polybag disiram air setiap hari sampai tampak jenuh sebelum dilakukan penanaman dan diisi kembali dengan tanah bila diperlukan Jumlah tanah adalah 1 kg per polybag Jumlah kebutuhan tenaga kerja pengisian polybag 400 unit/HK Menyusun di Bedengan • • • • Polybag harus disusun secara tegak dan rapat di bedengan.000 unit/HK Seleksi Kecambah • • • • Kecambah normal : calon akar (radicula) dan calon batang (plumula) terlihat jelas. v. agak kasar Plumula ujungnya tajam seperti tombak Kriteria kecambah yang abnormal : ® ® ® ® ® ® Calon akar/batang patah Calon akar/batang tidak tumbuh Calon akar/batang membengkok Calon akar/batang tumbuh satu arah Calon akar/batang busuk terserang cendawan Calon akar/batang layu karena terlalu kering i. Radicula berujung tumpul seperti bertudung. vi. iii. ii.2% Kecambah diseleksi dan dihitung (% seleksi) Penanaman kecambah harus memperhatikan posisi radikula yang akan diposisikan arah ke bawah dan plumula yang akan diposisikan ke atas Kecambah ditanam dengan kedalaman sekitar 2-3 cm di bawah permukaan tanah polybag (dilobang dengan ibu jari) Polybag disiram sampai jenuh setelah kecambah ditanam .• • • • • Empat minggu sebelum penanaman kecambah. • • • Jumlah kebutuhan untuk seleksi kecambah 5.

Jumlah tenaga kerja yang diperlukan untuk menanam kecambah 1. 9. 11) dengan urea 0. Kecambah yang memiliki persilangan yang sama ditanam pada bedengan yang sama.00 wib.2% (2gr/l air) Minggu ganjil (minggu ke 5.000 bbt/HK Penyiraman • • • • • Bibit disiram 2 x sehari Jam penyiraman : 07. 10. 7. Bila pagi harinya hujan turun (> 10 mm) maka tidak perlu penyiraman pagi dan sore.00 wib – selesai paling lambat jam 11.15. Jumlah tenaga kerja yang diperlukan 13. sore hari jam 15.00 wib – selesai Bila malam sebelumnya turun hujan (> 8 mm) dan tanah di polybag masih basah maka penyiraman hanya dilakukan sore hari saja.• • • • Diberi naungan sesuai iklim setempat Sebaiknya penanaman dilakukan secara beregu.4 konsentrasi 0. 8.500 bibit/HK atau 16 bed/HK Pemeliharaan Drainase • • • • Mengalirkan air yang tergenang di areal pembibitan Diperiksa agar air jangan tergenang di polybag Jumlah tenaga kerja yang diperlukan 6-8 ha/HK Rotasi yang diperlukan 1 x /minggu Pemupukan • • • • • Minggu genap (minggu ke 4.500 bbt/HK (16 bed/HK) Pengendalian Gulma • • • • • Dilakukan 1 x tiap 2 minggu Cara pelaksanaan adalah manual tidak boleh dengan herbisida Pengendalian dengan mencabut rumput dan gulma lain di dalam polibag dan yang berada di antara polibag Sekaligus melakukan konsolidasi dengan menambah tanah pada polibag apabila kekurangan.2% Cara dilarutkan pupuk dalam gembor : 10 gr Urea atau 10 gr pupuk majemuk dalam 5 liter air untuk 500 bibit Pemupukan dilakukan pagi hari setelah selesai penyiraman pertama/pagi Jumlah kebutuhan tenaga kerja 8.6. Jumlah tenaga kerja yang diperlukan 13. 12) dengan pupuk majemuk (contohnya Rustika) 15. 6.400 bibit/HK atau 10 bed/HK Konsolidasi Bibit  Dilakukan 1 kali/minggu meliputi : .

3 39.0 13.96 + 0.15 5.30 + 0.o o o Menambah tanah yang kurang Menegakkan polibag yang miring Menukar bibit yang mati dengan bibit pada bedengan terakhir yang biasanya tidak penuh Jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan 4.1 15.02 2.000 bibit/HK atau 5 bed/HK • Pengendalian Hama dan penyakit • • • • Pengamatan hama ataupun penyakit dilakukan setiap hari Pengendalian dilakukan dengan cara manual Apabila gangguan hama/penyakit sudah pada tingkat yang lebih berat maka dilakukan dengan penyemprotan insektisida.9 126.6 88.8 + 0.8 + 0.6 + 0.0 + 0.0 + 0.3 + 0.3 11.1 52.14 6.2 + 1.5 6 7 8 9 10 11 12 Tinggi (cm) 26.56 + 0.84 + 0.70 + 0.3 + 2.000 bibit/HK Standar Pertumbuhan Bibit kelapa sawit Umur (bulan) 4.9 + 1.02 + 0.0 + 1.4 64.3 15.5 101.24 Banyak daun 5.0 Diameter (cm) 1.400 bibit/HK atau 10 bed/HK Tata cara seleksi Bibit di pre-nursery • • • • Angkat dan singkirkan semua bibit afkir dari bedengan sebelum dilakukan pemindahan bibit sehat ke polybag besar Musnahkan semua bibit afkir Catat dan laporkan bibit yang diafkir Jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan 5.9 + 5.02 1.3 15.1 114.33 5.8 + 0. fungisida dengan rotasi 1 kali/minggu Jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan 8.12 3.3 + 0.4 Sumber data :Pusat Penelitian Perkebunan Marihat – Bandar Kuala (1992) Beberapa ciri Fisik bibit yang di-afkir .1 + 3.6 + 0.04 4.2 8.9 + 7.50 + 0.2 10.84 + 0.

• • • • • • • •

Pucuk bengkok atau daun berputar : akibat penanaman kecambah yang terbalik atau faktor genetik Daun lalang atau daun sempit (narrow grass leaf) : akibat faktor genetik Daun kerdil dan sempit (stump/little leaf) Daun menyempit dan tegak (acute/erect leaf) Daun yang menggulung (rolled leaf) : akibat factor genetic Daun berkerut/keriput (crinkle leaf) : akibat factor genetic Daun melipat (collante) : akibat kekurangan air Bibit kerdil (stunted) : akibat factor genetic Chimaera : sebagian atau seluruh daun secara seragam berubah pucat atau bergaris kuning terang yang sangat kontras dengan warna hijau gelap dan jaringan yang normal Bibit dengan serangan penyakit berat

H. Pembibitan Utama (Main Nursery)
Persiapan Areal
• • • • •

• • •

Areal Pembibitan dekat dengan sumber air atau sungai Areal datar dengan penggunaan areal 1 ha untuk 14.000 bibit Dibuat parit drainase mengikuti pipa sekunder dari jaringan pipa penyiraman Ukuran parit lebar dasar 30 cm, lebar atas 70 cm, dalam 40 cm Bila penyiraman dengan sprinkler hendaknya dibuat dulu desainnya dan penempatan pipa-pipanya Bila diperlukan buat pagar keliling 150 m dengan kawat. Jarak antara tiang 3 m, tinggi pagar 1,5 m Jumlah tenaga kerja untuk membuat pagar 100 m/HK Transplanting ke main nursery dilakukan pada bibit berumur 3-4 bulan atau memiliki 4-5 helai daun

Memancang
• • •

Umur bibit 8-10 bulan : jarak pancang 70 x 70 x 70 cm (23.000 bibit/ha) Umur bibit ≥ 10 bulan : jarak pancang 90 x 90 x 90 cm (14.000 bibit/ha) Kebutuhan tenaga kerja memancang 1.000 pancang/HK

Mengumpulkan Tanah

Metode sama dengan pembibitan Pre-Nursery

Tanah di polybag besar harus dilubangi dan selanjutnya dimasukkan 100 g pupuk RP ke lubang polybag besar sebelum bibit ditanam

Ukuran Polybag
• • • •

Ukuran polybag besar adalah 0,15 mm x 35 cm x 50 cm lay flat Setelah diisi tanah diameter ± 23 cm dan tinggi ± 39 cm ; warna hitam Lubang empat baris perforasi berjarak 5 cm x 5 cm Tebal polibag harus merata tidak ada tebal tipis

Mengisi Polybag
• • • •

• •

Polybag harus sudah siap diisi tanah minimal 4 minggu sebelum transplanting dari PN untuk mendapatkan tingkat kepadatan tanah yang stabil. Polybag harus dibalik sebelum diisi tanah agar polybag dapat berdiri tegak dan silindris Persiapan media tanam dan isikan ke dalam polybag. Hindarkan pemadatan tanah dalam polybag dengan cara menekan kuat ke arah bawah Guncang polybag pada waktu pengisian untuk memadatkan tanah dan mencegah agar tidak ada bagian yang mengkerut atau terlipat sehingga ketinggian tanah dapat mencapai 2,5 cm dari bibir polybag. Jumlah polybag 1 kg = 18 lembar; 1 plb ± 20 kg Jumlah tenaga kerja yang diperlukan 100 unit/HK

Menyusun Polybag
• • • • •

Polybag disusun di areal bibitan yang sudah dipancang Menyeragamkan cara peletakan (contoh di selatan pancang). Pancang tidak boleh dicabut Setiap 5 baris dikosongkan 1 baris untuk jalan pemeliharaan bibit Kedua tangan pekerja harus berada pada dasar polybag dan tidak dibenarkan 1 tangan menyengkeram bibit polybag bagian atas Jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan adalah 100 – 150 unit/HK

Menanam/Transplanting di Polybag Besar
• • • • •

Tanah di polybag dilubangi sebesar ukuran polybag kecil dengan alat berupa bor tanah atau yang dibuat dari pipa 4 inch Jumlah tenaga kerja untuk melubangi 250 unit/HK Bibit yang telah memenuhi syarat (umur 3 bulan, daun 3-4, bentuk sempurna) diangkut dengan kotak papan, diecer ke tempat polybag Jumlah tenaga kerja untuk mengecer 700 bibit/HK Penanaman dilakukan : bibit di polybag kecil dipegang miring, dasarnya disayat keliling kemudian dilepas. Dimasukkan ke dalam lubang polybag besar. Sambil menahan bibit polybagnya ditarik/dilepas. Tanah diratakan dan dipadatkan Jumlah tenaga kerja untuk menanam 100 bibit/HK

Penyiraman Bibit

• • •

Bibit disiram 2 kali/sehari : pagi; jam 7.00 – selesai selambat lambatnya jam 11.00, sore jam 15.00 – selesai Jumlah tenaga kerja 2.500 bibit/HK Apabila malam sebelumnya turun hujan dan tanah di polibag masih basah maka penyiraman hanya dilaksanakan sore hari. Bila hujan pagi hari cukup lebat (> 10 mm) maka sampai sore bibit tidak perlu disiram. Kebutuhan air bibit : 1-3 bl = 1.0 ltr; 3-6 bl = 1.5 ltr; > 6 bl = 2 ltr

Pengendalian Gulma
• • • • •

Dilakukan 2 minggu sekali Penyiangan dilakukan dalam polibag dan di luar polibag Dalam polibag penyiangan dilakukan secara manual Di antara polibag rumput-rumput disemprot dengan 2 kg karmex + 2,2 ltr gramoxone/450 ltr air/ha bibitan Tenaga kerja diperlukan untuk penyiangan 0,7 ha/HK atau 8.000 bibit/HK

Pemberian Mulsa
• • • • •

Pada daerah yang terlalu kering/panas, bibit dalam polybag harus diberi mulsa Mulsa diberikan secara merata di atas permukaan tanah dalam polybag segera setelah bibit ditanam Mulsa yang dianjurkan adalah cangkang, jerami ataupun lalang kering Jumlah cangkang sawit yang diperlukan 0,5 kg/polibag Jumlah tenaga kerja diperlukan adalah 2.500 bibit/HK

Konsolidasi Bibit
• • • • •

Konsolidasi bibit dilakukan 1x/bulan Menegakkan polibag-polibag yang miring Mengganti/membalut polibag yang pecah Menambah tanah di polybag (hanya sampai umur 6 bulan) Jumlah tenaga kerja diperlukan 2.000 bibit/HK

Pemeliharaan Parit drainase
• • •

Mengalirkan air yang tergenang 1 kali/minggu Mendalamkan parit pada ukuran semula Jumlah tenaga kerja yang diperlukan 6-8 ha/HK

Pemupukan
• • • •

Dimulai pada minggu ke 2 setelah bibit di transplanting Jenis pupuk : pupuk majemuk (contoh Rustika) R 15.15.6.4 dan R 12.12.17.2 serta pupuk Kieserite atau Dolomit Jumlah tenaga kerja yang diperlukan 3.000 bibit/HK atau 5 HK/ha bibit Cara pemupukan : Buat takaran pupuk sesuai dengan dosis

i.

0 15.5 7.0 10.5 5.0 20.0 7.0 20.0 15.0 15.5 7.0 10.0 5. iii.0 10.0 - RI 2.0 20.0 7.5 - .0 10.5 2.5 10.0 15.0 15.0 10.0 10.0 20.ii. iv.5 10. Pupuk ditaburkan merata pada permukaan tanah di polybag melingkar/keliling sejauh 10 cm dari bibit Pupuk tidak boleh menyentuh bibit Pelaksanaan setelah penyiraman pertama Dosis Pemupukan Pembibitan Utama Umur Bibit (Minggu) 2 3 4 5 6 8 10 12 14 16 18 20 22 24 26 28 30 32 34 36 Dosis Pupuk (gram/pohon) R II 10.0 22.5 22.0 - K atau D 10.0 15.0 15.0 15.

Khusus bibit yang terkena penyakit dan mudah menular harus dipisahkan dari bibit sehat Jumlah kebutuhan tenaga kerja 3.15. Semprot (cc/pk) 25 50 100 Tenaga (bibit/HK) 5.0 230 15.2 = Kieserite = Dolomit 25. Penyemprotan dilakukan setelah penyiraman pagi dan ditambahkan dengan perekat.000 1.0 80 22.5 117.5 Keterangan : R I R II K D Sumber data : Lembaga Pendidikan Perkebunan : Kelapa sawit (2004) Pengendalian Hama Penyakit • • • • • • • Pengamatan dilakukan secara rutin 1 x/minggu untuk mengetahui ada tidaknya serangan hama/penyakit Cara pengendalian pada saat serangan awal/ringan secara manual.6. hama dikutip kemudian dimusnahkan Jumlah kebutuhan tenaga kerja 2.4 = Rustika 12.000 bibit/HK Kebutuhan Larutan Semprot Umur (bulan) 4–6 7–9 10 .38 40 Jumlah • • • • 50 = Rustika 15.00 Sumber data : Lembaga Pendidikan Perkebunan : Kelapa sawit (2004) Gejala Serangan hama/penyakit & Pengendalian .000 bibit/HK Bila dari hasil pengamatan menunjukkan adanya peningkatan gejala serangan maka dapat dikendalikan dengan penyemprotan pestisida.12.0 25.000 3.17.12 Vol.

jumlah bibit afkir selama di main nursery antara 10-15 % Jumlah tenaga kerja dibutuhkan 3. 9.Keterangan : T S : Semprot : Tabur : Minggu Mgg Sumber data : Lembaga Pendidikan Perkebunan : Kelapa sawit (2004) Seleksi Bibit • • o o o Seleksi dilaksanakan dengan tahapan umur bibit 6. 12 bulan dan pada persiapan pengiriman bibit ke lapangan Tata cara pelaksanaan seleksi bibit : Berikan tanda dengan cat warna putih di polybag setiap bibit afkir/abnormal Catat dan dibuat berita acara semua bibit afkir Bibit afkir dikeluarkan dari blok bibitan dan dimusnahkan.000 bbt/HK • .

Ciri bibit abnormal di Main Nursery • o Kerdil (runt/stunted) Bibit yang pertumbuhan vegetatifnya jauh lebih kecil dibandingkan dengan bibit sehat seumurnya Bibit erect Faktor genetis. gejala ringan disebabkan karena kekurangan air Chimaera • o • o • o • o • o • o • o • o • . daun tumbuh dengan sudut yang sangat sempit/tajam terhadap sumbu vertikal sehingga seperti tumbuh tegak. Bibit terlihat sangat terbuka dan lebih tinggi dari normal Anak daun yang sempit (narrow leaf) Bentuk helai daun tampak sempit dan tergulung sepanjang alur utamanya (lidi) sehingga bentuknya seperti jarum Anak daun tidak pecah (juvenile) Helai anak daun tetap bersatu seluruhnya atau tidak pecah Daun berkerut (crinkle leaf) Daun terlihat berkerut. Bibit yang layu dan lemah (limp) Penampilan pucat dan pertumbuhan daun muda cenderung lebih pendek dari yang seharusnya Bibit flat top Faktor genetik. Gejala berat akibat factor genetic. daun yang baru tumbuh dengan ukuran yang makin pendek dari daun tua. sehigga tajuk bibit terlihat rata Short internode Jarak antara anak daun pada tulang pelepah (rakhis) terlihat dekat dan bentuk pelepah tampak pendek Wide internode Jarak antara anak daun pada rakhis terlihat sangat lebar.

pelepah bengkok dan mudah patah Blast Bibit berubah secara progresif ke arah coklat dan perlahan dimulai dari daun yang tua bergerak ke daun yang lebih muda Terserang hama dan penyakit Terserang busuk pucuk dan hama/penyakit yang harus dipisahkan • o • o • o Persiapan Pemindahan Bibit ke Lapangan • o Pemutaran bibit (rotating) Bibit diputar pada tempatnya dua minggu sebelum dikirim ke lapangan. setiap kelompok terdiri 100-200 bibit. Bibit disusun satu lapis di atas truk dan disiram sebelum berangkat ke lapangan • o .o Sebagian atau seluruh daun secara seragam berubah menjadi pucat atau bergaris kuning terang yang sangat kontras dengan warna gelap dari jaringan yang normal Crown Diseases Faktor genetik. Setelah bibit diputar harus disiram air dengan cukup setiap hari sampai waktu pengiriman ke lapangan Perlakuan Bibit untuk Persiapan Pengangkutan Menjelang persiapan tanam bibit dikumpulkan rapat.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->