TEKNIK APLIKASI HERBISIDA

TEKNIK APLIKASI HERBISIDA Junita Sinambela/070301054 Mahasiswi Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara

, Medan.

ABSTRAK Percobaan ini dilakukan di lahan percobaan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan pada ketinggian tempat 25 m dpl. Percobaan ini bertujuan umtuk mengukur aplikasi perlakuan herbisida yang seragam pada suatu areal, sehingga diperoloh hasil pengendalian yang efektif dan efisien. Percobaan ini menggunakan air, dan knapsock. Luas areal yang dikalibrasikan panjangnya16,25 m dan lebar 1,95 m dengan volume awal 10 liter/ha. Dari hasil percobaan diperoleh bahwa air yang digunakan untuk luas areal tersebut 2,5 liter/ha dan volume yang diperlukan sebanyak 788,892 lite/hr, volume semprot untuk dosis herbisida 2 liter/ha sebanyak 788,8983 liter/ha dan untuk volume semprot dengan dosis herbisida 3 liter/ha sebanyak 788,8995 liter/ha. Kata Kunci: kalibrasi, air, volume semprot PENDAHULUAN Pengendalian gulma dewasa ini di Indonesia cukup berkembang disbanding pemanfaatan sumber daya dan eradikasi gulma itu sendiri. Cara pengendalian dapat dilakukan secara fisik (manual, mekanis, pemanfaatan dan kultur teknis), biologi dan kimia (herbisida). Pengendalian gulma dengan menggunakan herbisida sudah banyak diterapkan di lapangan baik pada budidaya komoditas tanaman perkebunandan industri maupun tanaman pangan, hortikultura dan perairan. Hal ini disebabkan oleh kelangkaan tenaga kerja di tingkat usaha tani, serta banyaknya pilihan herbisida yang efektif dan selektif sebagai haerbisida pra tumbuh dan purna tumbuh sesuai dengan komoditas tanaman yang dibudidayakan (Tjitrosemito, 2004). Herbisida adalah suatu bahan kimia (pestisida) yang digunakan untuk membunuh atau mencegah pertumbuhan gulma. Cara yang paling efektif untuk menanggulangi gulma ialah menggunakan herbisida dalam kombinasi dengan cara pengendalian lainnya. Keuntungan penggunaan herbisida yaitu: a) Menggunakan herbisida menghemat tenaga. b) Herbisida dapat dapat digunakan dalam lingkungan apapun. Sedangkan kerugian penggunaan herbisida adalah: menggunakan herbisida yang sama terusmenerus mengakibatkan berkembangnya gulma, khususnya jenis tahunan yang sulit dikendalikan dengan herbisida (Sebayang, 2005). Proses aplikasi herbisida menyangkut berbagai aspek antara lain: 1) Penyediaan larutan yang sesuai. 2) Pembuatan butiran cairan semprot. 3) Gerakan butiran cairan semprot kepada sasaran. 4) Impak butiran pada sasaran (Sukman dan Yakup, 2002). Di dalam melakukan kalibrasi terdapat tiga faktor penting yang menentukan keberhasilan kalibrasi yakni: Ukuran lubang nozel.− Tekanan dalam tangki alat semprot.−

Kecepatan pergerakan (berjalan) aplikator.− (Anderson, 1977). BAHAN DAN METODE Percobaan ini dilakukan di lahan percobaan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan pada tanggal 18 April 2007 dengan ketinggian tempat 25 m dpl. Percobaan ini menggunakan air sebagai pelarut herbisida, gelas ukur untuk mengukur herbisida yang akan digunakan, ember plastik sebagai tempat menaruh air, glifosat sebagai herbisida yang akan diaplikasikan, dan Knapsock Sprayer sebagai alat semprot. Sebelum mengkalibrasikan air pada pelataran parkir, ditentukan terlebih dahulu volume awal dengan rumus: Volume yang diaplikasikan = Volume yang diperlukan Luas areal perlakuan Luas areal yang akan diberi perlakuan Kemudian ditentukan banyaknya volume semprot yang diperlukan untuk dosis herbisida 2 liter/ha dan 3 liter/ha. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Volume larutan yang diketahui (V1) = 10 L Volume larutan yang tertinggal dalam tangki (V3) = 7,5 liter Volume semprot (V2) = V1 – V3 = 2,5 liter Lebar Lahan = 1,95 m Panjang Lahan = 16,25 m Luas Lahan = P x L = 31,69 m2 Volume yang diaplikasikan = Volume yang diperlukan Luas areal perlakuan Luas areal yang akan diberi perlakuan V = 2,5 x 10000 = 788,892 liter 31,69 Dosis Herbisida 2 liter = (2 x 31,69 ) : 10.000 = 0,006 liter Dosis Herbisida 3 liter = (3 x 31,69 ) : 10.000 = 0,0095 liter Volume semprot per Hektar Dosis Herbisida 2 liter = 788,892 + 0,0063 = 788,8983 liter Volume semprot per Hektar Dosis Herbisida 3 liter = 788,892 + 0,0095 = 788,8995 liter Pembahasan Dari hasil percobaan dengan mengkalibrasikan air pada luas lahan 31,69 m2, maka diperoleh volume semprot dengan dosis herbisida 2 liter/ha sebanyak 788,8983 liter/ha. Dan volume semprot dengan dosis herbisida 3 liter/ha sebanyak 788,8995 liter/ha. Sehingga dapat disimpulkan bahwa volume air yang akan digunakan untuk mengaplikasikan herbisida dengan dosis anjuran 2 liter/ha dengan dosis anjuran 3 liter/ha yang diaplikasikan pada luas areal yang sama membutuhkan volume air yang

tidak jauh berbeda tetapi harus tetap diperhatikan kesesuaiannya. Hal ini sesuai dengan literatur dari Sukman dan Yakup (2002) yang menyatakan bahwa penyediaan larutan yang sesuai merupakan salah satu aspek penting dalam proses aplikasi herbisida. Di dalam melakukan kalibrasi ada beberapa faktor yang menentukan keberhasilan kalibrasi yaitu ukuran lubang nozzle, tekanan dalam tangki alat semprot, dan kecepatan berjalan aplikator. Ketiga faktor tersebut harus diatur sedemikian rupa sehingga diperoleh suatu volume larutan herbisida tertentu yang dapat dilepaskan melalui lubang nozzle pada setiap waktu yang dikehendaki. Hal ini sesuai dengan literatur Anderson (1977) bahwa di dalam melakukan kalibrasi terdapat tiga faktor penting yang menentukan keberhasilan kalibrasi yakni ukuran lubang nozel, tekanan dalam tangki alat semprot, dan kecepatan pergerakan (berjalan) aplikator.

KESIMPULAN 1. Pada luas lahan 31,69 m2 dengan volume awal 10 liter dan volume akhir 7,5 liter maka diperoleh volume yang diperlukan sebanyak 2,5 liter. 2. Pada luas lahan 31,69 m2 dengan dosis herbisida 2 liter/ha maka diperoleh volume semprot sebanyak 788,8983 liter/ha. 3. Pada luas lahan 31,69 m2 dengan dosis herbisida 3 liter/ha maka diperoleh volume semprot sebanyak 788,8995 liter/ha. DAFTAR PUSTAKA Anderson, W.P., 1977. Weed Scince. West Publishing, Los Angeles. Sebayang, H. T., 2005. Gulma dan Pengendaliannya Pada Tanaman Padi. Unit Penerbitan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Malang Sukman, Y., dan Yakup, 1995. Gulma dan Teknik Pengendaliannya, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta. Tjitrosemito, S., Sri S.T., dan Imam M., 2004. Prosiding Konferensi Nasional XVI Himpunan Ilmu Gulma Indonesia SEAMEO BIOTROP, Bogor, 15-17 Juli 2003. Bogor-Indonesia.

Toga Simanungkalit.R. Juli 2010 Disetujui Oleh: Dosen Pembimbing Lapangan Asisten Pembimbing Lapangan (Ir.R. NUSANTARA II KEBUN SAWIT SEBERANG LAPORAN OLEH : NICKY ARDIANSYAH L. NUSANTARA II KEBUN SAWIT SEBERANG Waktu : Bulan Juni sampai Juli 2010 Peserta PKL : NICKY ARDIANSYAH L. Sijabat) NIP./070301055 ARJUNA A. 19599072 819870 21 001 Diketahui Oleh: .P. 070301019 JUNITA SINAMBELA 070301054 Medan. 070301055 ARJUNA A./070301019 JUNITA SINAMBELA/070301054 DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2010 Judul Kegiatan : PRAKTEK KERJA LAPANGAN (PKL) DI PTP.P. MS) (P.PRAKTEK KERJA LAPANGAN DI PTP.

Penulis menyadari masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam penulisan laporan ini. Praktek Kerja Lapangan ini dilaksanakan di PTPN II Kebun Sawit Seberang. Ir. M. selaku manajer PTPN II Kebun Sawit Seberang. 5.Sos.D selaku ketua Departemen Budidaya Pertanian Universitas Sumetra Utara. Bapak Prof. W Sasongko MM. Nusantara II Kebun Sawit Seberang yang telah membantu dalam pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan (PKL). selaku dekan Fakultas Pertanian. Ir. Medan. Bapak Ir. karena atas berkat dan rahmat-Nyalah penulis dapat menyelesaikan laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL) ini dengan baik. Akhir kata penulis mengucapkan banyak terima kasih. Zulkifli Nasution. D. Medan. 7. Seluruh karyawan PTP. Toga Simanungkalit. Juli 2010 Penulis . Medan. Medan. Bapak David Ginting. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. R Malau selaku asisten kepala Rayon Sawit Seberang (SWS) dan . untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan laporan ini. selaku asisten personalia PTPN II Kebun Sawit Seberang. Praktek Kerja Lapangan ini merupakan program yang wajib dilakukan oleh setiap mahasiswa-mahasiswi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Bapak Ir. Sijabat. W Sasongko MM. 2. 1959010 519860 11 001 KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Bapak Ir. Bapak P. Universitas Sumatera Utara. Bapak Ir..D. S. MS selaku dosen pembimbing Praktek Kerja Lapangan (PKL). 8. Ph. 4. 3. Nusantara II Kebun Sawit Seberang. Edison Purba Ph. SP selaku asisten afdeling IX di PTP.Sc.Manajer PTPN II Ketua Departemen Kebun Sawit Seberang Budidaya Pertanian FP-USU (Ir. Ph. Edison Purba.) (Prof.) NIP. Bapak Ir. M Triwahyudi selaku asisten kepala Rayon Babalan (BBN) PTPN II Kebun Sawit Seberang 6.

2.2.2 Iklim 4 2.3 Topografi dan Jenis Tanah 4 2.1 Sejarah Kebun 3 2.1 Pembibitan 17 3.1 Sistem Administrasi Kebun 14 III.2 Tujuan Praktek Kerja lapangan 2 II. GAMBARAN UMUM LOKASI PKL 3 2.4. KEGIATAN BUDIDAYA KELAPA SAWIT 17 3.2 Lingkungan Fisik 3 2.2.4 Luas Areal 4 2.4 Sistem Administrasi 14 2.1.1 Pre Nursery (Pembibitan awal) 17 .2.1 Latar Belakang 1 1.3 Struktur Organisasi Kebun 7 2. PENDAHULUAN 1 1.1 Letak geografis 3 2.DAFTAR ISI KATA PENGANTAR i DAFTAR ISI ii DAFTAR TABEL iii DAFTAR LAMPIRAN iv DAFTAR GAMBAR v I.

1 Pengertian Panen 38 3.3.3 Pembagian Kapveld Menurut Rotasi Panen 40 3.5.3 Pemeliharaan Jalan 32 3.1 Kesimpulan 50 6. LAMPIRAN .3.3.2.7 Peralatan Panen 42 3.8 Pelaksanaan Panen 43 IV.7 Pengendalian Hama dan Penyakit 28 3.3.3.2 Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) 24 3.3.2.2.3.4 Penyisipan 26 3.3.5. DAFTAR PUSTAKA VIII.5.5 Sistem Panen 41 3.2.2. TOPIK PERMASALAHAN DI LOKASI PKL 49 VI. PROGRAM MAGANG BERSAMA PEJABAT/STAF/KARYAWAN 45 V.5.3.3.2 Pemeliharaan Jalan 25 3.5.2 Saran 50 VII.5 Panen dan Pengumpulan 34 3.6 Pemeliharaan Piringan Pohon 27 3. KESIMPULAN DAN SARAN 6.6 Perhitungan Angka Kerapatan Panen (AKP) 41 3.5.1 Pemeliharaan 29 3.2 Pemupukan 31 3.5.2 Kriteria Matang Panen 38 3.5.3.1.3.3 Pembuatan Parit Drainase 26 3.2.3.4 Pengendalian Hama dan Penyakit 32 3.2 Main Nursery (Pembibitan Utama) 20 3.3.1 Pembuatan Pasar Kontrol 25 3.4 Ancak Panen 40 3.3 Tanaman Menghasilkan (TM) 29 3.2.5 Konsolidasi 26 3.

39 4. 39 DAFTAR LAMPIRAN No................... Jumlah Tegakan atau Populasi Tanaman Berdasarkan Umur...................... URAIAN Hal. Peta Kebun sawit Seberang…………………………………………… 53 3... Foto Peserta PKL……………………………………………………................ Lay Out PKS Kebun Sawit Seberang………………………………… 54 4..... Fraksi Matang Panen pada Tanaman Kelapa Sawit...........DAFTAR TABEL No................................. 6 2. Kriteria Matang Panen dan Standard Antar Fraksi.... Luas Areal Kebun Sawit Seberang Per Tahun Tanam dan Luas Seluruhnya .......................... 56 ..... Bagan Struktur Organisasi Kebun Sawit Seberang…………………… 52 2.......... 7 3...................... 1..... URAIAN Hal 1...

.... 33 8.. Pasar Mati………………………………………………………….. 1. 35 10.... 42 I.... tanggal 14 Februari 1996.. ..... Kondisi Jalan pada Areal TBM....... Selain itu dikembangkan juga tanaman kelapa sawit di wilayah Irian Jaya yaitu di Kabupaten Manokwari dan Jayapura..DAFTAR GAMBAR No.. Penyiangan Manual………………………………………………. 26 4.... Kondisi Jalan pada Areal TM ……………………………………… 32 7......... Pasar Pikul………………………………………………………… 36 11..... Perusahaan yang berstatus sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini merupakan penggabungan kebun-kebun di Wilayah Sumatera Utara dari eks PTP II dan PTP IX....... dibentuk berdasarkan PP No. 30 6................................ 34 9.. Gejala Serangan Ganoderma………………………………………..... Uraian Hal... 25 3....... 7 Tahun 1996............. Perhitungan AKP. Gejala Serangan Oryctes…………………………………………..1 Latar Belakang PT Perkebunan Nusantara II (Persero). Tempat Pengumpulan Hasil………………………………………. disingkat PTPN II... 30 5... PENDAHULUAN 1... Tanaman TBM……………………………………………………............................. Keadaan Topografi Kebun Sawit Seberang………………………… 5 2...

Untuk itu. Secara khusus mahasiswa peserta PKL dapat mempraktekkan pengalaman atau ketrampilan yang akan diperoleh setelah menjadi sarjana. serta memberi gambaran kepada mahasiswa mengenai dunia kerja yang akan dimasukinya setelah lulus sarjana. 2. PKS Sawit Seberang telah mengalami beberapa kali perbaikan dan penambahan kapasitas yakni dari 15 ton TBS . 4.572 ha. 1. tediri dari tebu sendiri (TS) 14. Selain penanaman komoditi pada areal sendiri ditambah inti. Kemudian sejak berada dibawah pengawasan PT.PTPN II mengusahakan komoditi kelapa sawit.370 ha. karet 11. TM (Tanaman Menghasilkan). Mahasiswa peserta PKL dapat melakukan proses belajar bersama dengan peserta.443 ha. gula dan tembakau dengan areal konsesi seluas 103.860 hektar. Budidaya kelapa sawit diusahakan pada areal seluas 61. mahasiswa/i memilih PTPN II Kebun Sawit Seberang Kabupaten Langkat sebagai tempat PKL karena perusahaan tersebut memiliki pengalaman dalam pengembangan industri Kelapa Sawit sehingga diharapkan mahasiswa/i dalam menimba pengalaman dari kegiatan PKL tersebut. Disamping itu PTPN II juga mengelola tanaman musiman yaitu tanaman tebu dan tembakau.577 ha.1 Tujuan 1. karena di PTPN II Kebun Sawit Seberang Kabupaten Langkat ada pembibitan. Setelah pendirian perkebunan kelapa sawit “Verenigde Deli Mastgchappij” (VDM) membangun Pabrik Pengolahan Kelapa Sawit (PKS) pada tahun 1927. Alasan pesrta PKL mengadakan PKL di PTPN II Kebun Sawit Seberang Kabupaten Langkat. Secara umum mahasiswa peserta PKL dapat memperoleh pengalaman atau ketrampilan langsung dilapangan sesuai dengan realita yang ada. sedangkan tanaman tembakau ditanam pada areal seluas 2. PKS (Pabrik Kelapa Sawit).265 ha dan kakao seluas 7. Perkebunan Nasional. TBM (Tanaman Belum Menghasilkan). karet.046 ha. Salah satu perkebunan yang memiliki peranan yang sangat penting dalam mengembangkan industri kelapa sawit di Indonesia adalah PTPN II. Tanaman tebu lahan kering ditanam pada areal seluas 16. peserta dengan staf tempat PKL.1 Sejarah Kebun Kebun Sawit Seberang adalah salah satu kebun milik PT Perkebunan II yang berlokasi di Kabupaten Langkat Kecamatan Padang Tualang Propinsi Sumatera Utara. ketinggian dari permukaan air laut ±55 m. Dimana jarak dari kota Medan ±78 km. Dari keterangan diatas perguruan tinggi segera mengambil langkah alternatif agar mempersiapkan mahasiswa/i untuk lebih meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam industri kelapa sawit. PTPN II juga mengelola areal plasma milik petani seluas 25. Salah satu langkah yang dilakukan adalah dalam bentuk praktek kerja lapangan (PKL). II. kakao. Dari kegiatan PKL diharapkan mahasiswa/i dapat menambah pengetahuan dan pengalaman. PTPN II dikenal sebagai produsen kelapa sawit yang berkualitas dan memiliki sumber daya manusia yang sangat berkompeten dibidangnya. 3.474 ha dan tebu rakyat (TR) 1. peserta dengan pejabat yang tekait di tempat PKL. PTPN II Kebun Sawit Seberang pada awalnya dari perusahaan eks perkebunan Belanda yang bernaman “Verenigde Deli Mastgchappij” (VDM) yang dibuka dan ditanami kelapa sawit sejak tahun 1923. GAMBARAN UMUM LOKASI PKL 2. Mahasiswa PKL mampu menganalisa dan memecahkan permasalahan yang timbul pada tempat PKL.250 ha untuk tanaman kelapa sawit.

Dan untuk menanggulangi kekurangan unsur dapat dilakukan dengan pemupukan yang teratur.diolah per jam menjadi 30 ton TBS per jam kapasitas terpasang. II. b.III 2. V. Ketinggian Tempat Pada umumnya keadaan areal di lokasi PTPN II Kebun Sawit Seberang rata dan sebagian tempat bergelombang dengan ketinggian tempat 5-20 m dpl pada daerah datar 20 – 50 m dpl pada areal bergelombang. Batas-batas Kebun Sawit Seberang: 1. Kecamatan Padang Tualang Dimana terdiri dari IX Afdeling yaitu afdeling I. Sebelah Timur berbatasan dengan Kebun Sucflndo 4. Sebelah Utara berbatasan dengan Kebun Gunung Monako PTP.3 Topografi dan Jenis Tanah Keadaaan topografi di Kebun Sawit Seberang ada yang datar dan bergelombang atau curam. Tahun 1996 : PTPN – II (Penggabungan PTP –II dengan PTP – IX.2. Jenis tanah yang terdapat di kebun ini adalah jenis tanah Podsolid. Tahun 1962 : PPN Sumut – II 3. Curah Hujan Berdasarkan data iklim yang tersedia. Kekuningkuningan. yaitu: 1. IV. III. VIII. dan teksturnya liat berpasir.N. Tahun 1968 : PPN Antari – II / PNP – II (Penggabungan) 5.2. Kemudian mengingat perkembangan ekonomi dan tingginya biaya produksi karena tidak sesuai dengan kapasitas yang terpasang saat ini.2 Iklim a. Kabupaten Langkat 2. Tahun 1927 : ND VDM 2. Tahun 1963 : PPN Antari – II 4. pH tanah berkisar 5-7 (netral).1 Letak Geografis PTP. VI. data curah dan hari hujan Kebun Sawit Seberang selama tujuh tahun terakhir (tahun 2001-2007) disajikan pada lampiran.2. 11 Maret 1996). Tahun 1976 : PTP – II 7. Sebelah Barat berbatsan dengan Kabupaten Sergei 3. Perusahaan mendirikan pabrik fraksionasi yang berkapasitas 200 ton per hari yang mengelola crude palm oil (CPO) menjadi RBDPO (Refined Bleached dedorced Palm Oil) 95% dan Fatty Acid 4%. maka pada tahun 2000 pabrik fraksionasi tidak beroperasi lagi. 2. IX. 2. struktur tanahnya liat sampai liat berpasir yang memiliki kemampuan menyimpan air yang sangat rendah. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Sergei 2. Tahun 1969 : PNP – II 6. VII.Nusantara II (Persero) Kebun Sawit Seberang terletak di Kabupaten. . Sejak berdirinya perusahaan perkebunan Sawit seberang telah mengalami perubahan nama yaitu: 1.2 Lingkungan Fisik 2. PTP Nusantara II Kebun Sawit Seberang menghasilkan CPO dan inti sawit yang diolah di Pabrik Kelapa sawit (PKS) dan untuk peningkatan produksi kelapa sawit pada tahun 1984.

896. Keadaan Topografi kebun Sawit Seberang 2.0/71/VIII/2006 tanggal 10 Agustus 2006.Gambar 1.31 562.236.60 1. Tahun Tanam per Hektar Uraian Tahun Tanam Luas (Ha) Jumlah TM Kelapa Sawit 1984 1985 1988 1989 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2003 2005 281.27 17. Luas arel HGU yang telah terbit sertifikat : 5.224. dimana luas arealnya dapat di jabarkan sebagai berikut: a. Luas areal HGU yang tidak diperpanjang : .98 Ha b.43 627. bangunan serta termasuk yang dalam perkara hukum : .4 Luas Areal Luas areal Kebun Sawit Seberang pada tahun 2009 adalah 14. Luas areal HGU yang masih dalam proses perpanjangan : 3.50 389.05 Ha c.106.054.96 847.93 Ha d. Luas areal HGU semula : 8.932.012.SB/II.15 478.98 55.91 1.23 153.94 605.22 690.Ha Keterangan : Areal/Hutan Okupasi seluas 5.Ha e.69 Ha yang tercantum dalam areal statement Kebun Sawit Seberang sampai dengan saat ini tidak diketahui keberadaannya dan telah dibuat surat permohonan petunjuk ke Kantor Direksi mengenai areal tersebut melalui Nomor : II. Luas areal HGU dan HGU yang tidak diperpanjang yang diduduki dan yang digarap masyarakat diatasnya dalam bentuk tanaman.73 200.00 .51 396.11 Ha.2.

039 129 118 123 127 .727 520.25 7.17 TBM – I 2008 66.00 202. Luas Areal Kebun Sawit Seberang Per Tahun Tanam dan Luas Seluruhnya Jumlah Tegakan Pohon per Ha No Uraian Jumlah Pokok Pokok (Ha) 1 2 3 4 5 6 7 TMTP (>25 Tahun) TM (25 Tahun) Tua (19-24 Tahun) Dewasa (11-18 Tahun) Remaja (6-10 Tahun) Muda (2.120 19.59 91.236.466 265.338.645 9.23 71.236.00 TBM – IV 2005 91.019 33.835 156.5-5 Tahun) TBM 26.17 Jumlah Seluruhnya 8.22 TMTP 1983 202.98 8.17 91.877.98 Tabel 1.

Manager (a) Mempertanggungjawabkan penggunaan dana. Satu orang Asisten Tata Usaha yang mengepalai tugas dalam menjalankan operasi administrasi secara umum. politik dan keharmonisan sehingga tercapainya keserasian dalam mencapai tujuan perusahaan (e) Mengadakan rapat kerja dan diskusi mengenai problem-problema yang timbul dalan pengolahan sesuai dengan rencana perusahaan (f) Manager bekerjasama dengan inspektur. Struktur organisasi perusahaan yang baik akan memberikan kemudahan bagi Manager dalam pengambilan keputusan dan mempermudah karyawan menjalankan tugas-tugas kepadanya. Satu orang asisten teknik sipil/traksi dan alat berat yang bertugas dibidang transportasi hasil dan hal-hal yang berhubungan dengan teknik.124 128 121 Total 1. f. .581 125 Tabel 2. adanya sistem komunikasi dan akhirnya mencakup sistem koordinasi dalam perusahaan. sosial.3 Struktur Organisasi Kebun Struktur organisasi perusahaan adalah suatu kerangka perusahaan. Bagan organisasi tersebut juga bertujuan untuk mengetahui job/pekerjaan dari tugas masing-masing dan pertanggungawaban. Uraian lebih lanjut tentang tugas-tugas dan tanggung jawab dari masing-masing pelaksana Kebun Sawit Seberang dijelaskan sebagai berikut: 1. Dua orang Asisten Kepala (Asisten Kepala Rayon SWS dan Asisten Kepala Rayon BBN) yang bertugas mengecek dan mengkoordinir pekerjaan Asisten afdeling. Perkebunan Nusantara II Kebun Sawit Seberang dapat dilihat pada lampiran. c. terdiri dari : a. bagian tanaman dan teknik. b. Satu orang asisten Personalia Kebun yang bertugas sebagai pemberi data informasi dibidang ketenaga kerjaan. Sembilan orang asisten yang bertugas mengawasi bagian tanaman disetiap afdeling. e. Untuk mengetahui struktur organisasi suatu perusahaan kiranya dapat digambarkan pada suatu bagan dari organisasi tersebut karena dari bagan organisasi tersebut akan kita peroleh gambaran dari aktivitas-aktivitas secara keseluruhan. Asisten Kepala (a) Mengusulkan peremajaan tanaman. Pada pelaksanaannya sehari-hari Manager dibantu oleh beberapa staf. Satu orang perwira pengamanan (Papam) yang bertugas mengatur sistem keamanan kebun. pembagian wewenang. Jumlah Tegakan atau Populasi Tanaman Berdasarkan Umur 2. untuk mencapai ide-ide baru mengenai sistem kerja 2.030. Dalam menjalankan operasi di kebun ini dipimpin oleh seorang Manager. dan personil secara efektif dan efisien untuk mencapai hasil yang maksimal (b) Bertanggungjawab atas semua harta kekayaan perusahaan di kebun yang dipimpinnya (c) Menjalin kerja sama yang baik dengan instansi lain di sektor kebun (d) Mengatur stabilitas keamanan. d. material. kerangka kegiatankegiatan perusahaan yang menentukan pembagian pekerjaan pada unit-unit organisasi. Struktur atau bagan organisasi PT.

tepat cara. tepat frekwensi dan tepat aplikasi/tabur ). Asisten Afdeling (a) Mengusulkan peremajaan tanaman. tepat cara. (s) Melaksanakan pengendalian sistem komputerisasi yang terintegrasi (tanaman ) berbasis data base secara konsisten dan up to date. lingkungan dan SMK-3 dimengerti. (j) Melaksanakan dan monitoring penyerahan/pengiriman produksi tanaman. (q) Melaksanakan pembayaran pada pihak ketiga sesuai dengan kewenangannya. tepat dosis. (u) Melaksanakan Sistem Penilaian Karya (SPK). (p) Melaksanakan pembayaran pada pihak ketiga sesuai dengan kewenangannya. (h) Melaksanakan dan monitoring kegiatan panen. (r) Melaksanakan penerimaan karyawan pemanen dan penderes. (1) Pemeriksaan mutu alat. (o) Melaksanakan pengadaan kebutuhan barang dan jasa sesuai dengan kewenangannya dan mengajukan pengadaan kebutuhan barang dan jasa diluar kewenangannya. tepat frekwensi dan tepat aplikasi/tabur). (q) Membuat laporan kinerja bulanan (LM) ke Manajer. (h) Melaksanakan dan monitoring kegiatan panen. (n) Membuat permintaan dan melaporkan pertanggung jawaban penggunaan uang kerja (DPUK). tepat dosis. (c) Melaksanakan pembangunan dan pemeiiharaan pembibitan tanaman. (r) Membuat laporan kinerja bulanan (LM ke Distrik Manajer. (b) Mengusulkan pemesanan dan menerima kecambah kelapa sawit dan biji kelapa sawit. (n) Membuat permintaan dan melaporkan pertanggung jawaban penggunaan uang kerja (DPUK). (k) Membangun dan memelihara sarana dan prasarana (infrastruktur).(b) Mengusulkan pemesanan dan menerima kecamba kelapa sawit dan biji karet. (f) Melaksanakan pemupukan dengan prinsip 5T (tepat waktu. (i) Melaksanakan pengendalian mutu produksi. (f) Melaksanakan pemupukan dengan prinsip 5T ( tepat waktu. (m) Membuat taksasi produksi. (e) Mengusulkan persetujuan mutasi TBM menjadi TM. (p) Mengendalikan persediaan barang dan perlengkapan lainnya. (g) Melaksanakan pengambilan contoh daun untuk keperluan rekomendasi pemupukan. diterapkan dan dipelihara di unit usaha. (t) Melaksanakan penerimaan karyawan pemanen dan penderes. (m) Membuat taksasi produksi. (c) Melaksanakan pembangunan dan pemeliharaan pembibitan tanaman. mengusulkan Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP)/Rencana Kerja Operasional (RKO) kebun. (e) Mengusulkan persetujuan mutasi TBM menjadi TM. (o) Mengendalikan persediaan barang dan perlengkapan lainnya. . (d) Melaksanakan pembangunan dan pemeiiharaan tanaman. (j) Melaksanakan dan monitoring penyerahan/pengiriman produksi tanaman. mengusulkan Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP)/Rencana Kerja Operasional (RKO) kebun. (v) Menjamin bahwa kebijakan mutu. (d) Melaksanakan pembangunan dan pemeliharaan tanaman. (k) Membangun dan memelihara sarana dan prasarana (infrastruktur). (1) Pemeriksaan mutu alat. angkut dan tap/kap kontrol. (g) Melaksanakan pengambilan contoh daun untuk keperluan rekomendasi pemupukan. 3. (i) Melaksanakan pengendalian mutu produksi. pupuk dan bahan kimia tanaman. angkut dan tap/kap kontrol. pupuk dan bahan kimia tanaman.

(h) Melaksanakan Sistem Penilaian Karya (SPK). (h) Melaksanakan pengadaan kebutuhan barang dan jasa sesuai dengan kewenangannya dan mengajukan pengadaan kebutuhan barang dan jasa diluar kewenangannya. (n) Menjamin bahwa kebijakan mutu. fungsi manajemen tidak dapat bekerja secara maksimal. (b) Melaksanakan dan monitoring penyerahan/pengiriman produksi tanaman. (i) Menjamin bahwa kebijakan mutu. lingkungan dan SMK-3 dimengerti. pelaporan (reporting) dan arsip. 4. (rn) Melaksanakan pengiriman pasien ke rumah sakit perusahaan.1 Sistem Administrasi Kebun . LTT) ke distrik manajer. (c) Membangun dan memelihara sarana dan prasarana (infrastruktur). (g) Membuat permintaan dan melaporkan pertanggung jawaban penggunaan uang kerja. (j) Melaksanakan pembayaran pada pihak ketiga sesuai dengan kewenangannya. (I) Membuat laporan kinerja bulanan (LM. Asisten Teknik Sipil/Traksi dan Alat Berat (a) Melaksanakan dan monitoring kegiatan panen. (g) Melaksanakan penerimaan karyawan pemanen dan penderes. diterapkan dan dipelihara di unit usaha. (f) Membuat Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP)/Rencana Kerja Operasional (RKO) kebun. diterapkan dan dipelihara di unit usaha. (e) Melaksanakan tera ulang timbangan dan monitoring kalibrasi. angkut dan tap/kap kontrol. diterapkan dan dipelihara di unit usaha. (e) Membuat laporan kinerja bulanan (LPMU. bazzeting) ke Distrik Manajer (f) Melaksanakan pengendalian sistem komputerisasi yang terintegrasi (personalia ) berbasis data base secara konsisten dan up to date. 2. (j) Mengusulkan. (d) Membuat program dan melaksanakan pemeliharaan mesin/instalasi dan sipil/traksi. (k) Mengusulkan pengurusan perpanjangan HGU.4. lingkungan dan SMK-3 dimengerti. Kecuali Manajer yang bertanggung jawab terhadap kepada Direksi. (m) Melaksanakan Sistem Penilaian Karya (SPK). maka semua pelaksanaan yang telah disebutkan diatas bertanggung jawab sepenuhnya kepada Manager. (i) Mengendalikan persediaan barang dan perlengkapan lainnya. (t) Menjamin bahwa kebijakan niutu. 5. (n) Mengusulkan bantuan pengamanan external (dari tingkat Kabupaten/ Provinsi). (b) Membuat permintaan dan melaporkan pertanggung jawaban penggunaan uang kerja (DPUK). Tanpa administrasi. (k) Melaksanakan penyerahan barang hasil lelang aktiva non produktif. mengusulkan Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RAKP)/ Rencana Kerja Operasional (RKO) kebun.(s) Melaksanakan Sistem Penilaian Karya (SPK). (c) Melaksanakan kewajiban pembayaran pajak dan retribusi serta kewajiban lainnya. 2. (1) Mengusulkan pengurusan penerbitan dan perpanj angan Hak Guna Bangunan (HGB) dan izin pendirian pabrik ( HO ). karena keseluruhan proses manajemen harus didasarkan pada sesuatu yang tertulis. mengalokasikan dan menyalurkan dana KBL. lingkungan dan SMK-3 dimengerti.4 Sistem Administrasi Administrasi berfungsi sebagai pencatatan (recording). (d) Melaksanakan pembayaran pada pihak ketiga sesuai dengan kewenangannya. Asisten Personalia Kebun (a) Membuat.

PB 24 B merupakan catatan harian hasil panen yang dikerjakan oleh Krani Transport. . yaitu buku untuk tanggal genap dan buku untuk tanggal ganjil. jumlah ha/m/kg.PB-73 yang merupakan buku mandor yang berisikan daftar absensi karyawan.PB-25 merupakan surat pengantar TBS yang diangkut dari TPH ke PKS. Hasil panen yang dicatat oleh mandor (PB 24 A) disesuaikan dengan catatan hasil panen Krani Transport (PB 24 B). PB (Pengawasan Biaya) PB atau pengawas biaya adalah formulir administrasi yang berisikan data yang paling mendasar. jenis pekerjaan. Terdapat jenis fasilitas administrasi baku berupa formulir-formulir atau blanko-blanko yaitu : a. jika terdapat perbedaan dari jumlah hasil panen maka mandor dan krani transport akan mencari penyebab selisih. RKAP disusun setengah tahun sebelum tahun tersebut berjalan. . jenis pekerjaan. Pengawas biaya ini terdiri dari: . RKAP suatu perkebunan merupakan kumpulan dari RKAP tiap unitnya. perolehan prestasi dan bahan yang digunakan. Buku mandor terbagi dua.LM 78 adalah biaya panen dan pengumpulan.PB-24 merupakan Daftar harian pengumpul tandan. . . . RKO (Rencana Kerja Operasional) RKO adalah rencana kerja triwulan.LM-76 merupakan statistik produksi kelapa sawit. d.PB-27 merupakan karru produksi/blok/tahun tanam. kebun karyawan. RKAP untuk tahun 2010 disusun pada bulan juli 2009. .LM 80 adalah biaya angkutan.PB-11 merupakan daftar premi. . dan no. Premi merupakan upah yang diberikan kepada pemanen berprestasi dan dapat diberikan apabila pada hari tersebut prestasi yang diperoleh pemanen di atas Basis Tugas. Di dalam RKAP tersebut tertuang seluruh kegiatan yang akan dilaksanakan selama satu tahun beserta biaya yang diperlukan untuk merealisasikan tujuan yang telah ditentukan oleh perusahaan. .PB-26 merupakan daftar produksi harian TBS (Kg/hari). PB 24 dibagi dalam dua bagian yaitu: . RKAP (Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan) RKAP adalah rencana kerja tahunan. Basis Tugas adalah batas prestasi minimum (Kg/HK) yang dicapai pemanen. LM (Laporan Manajemen) Laporan menejemen merupakan formulir yang berisikan data-data sebagai berikut: . Tujuan dari RKO ini adalah untuk mendekatkan kondisi aktual sumber daya yang dimiliki perusahaan dalam mencapai tujuan. b. dimana RKAP yang paling dasar dari Perusahaan Perkebunan adalah RKAP Afdeling. hasil pekerjaan. c. Misalnya. Selanjutnya data dari buku PB 73 dipindahkan ke dalam formulir ikhtisar laporan Pekerjaan Harian (PB 10) dan PB 73 juga sebagai dasar untuk untuk mengisi beberapa formulir administrasi bidang panen seperti formulir Daftar Harian pengumpulan TBS (PB 24).PB-10 merupakan ikhtisar laporan pekerjaan harian yang berisikan jumlah kehadiran. .PB 24 A merupakan catatan harian hasil panen yang dikerjakan oleh mandor. Data yang diperoleh dari PB 24 dituangkan kedalam PB 26 dan diisi oleh krani timbang setelah PB 25 kembali dari PKS. . yang dibuat sesuai dengan RKAP yang telah disusun dengan cara menyusun ulang rencana kerja tersebut per tiga bulan.Di PTPN II Kebun Sawit Seberang fungsi manajemen difasilitasi oleh suatu sistem administrasi yang diberlakukan untuk seluruh unit-unitnya. serta formulir buku asisten untuk mencatat khusus mengenai presensi dan absensi karyawan sebagai dasar pembuatan Dasar Upah Karyawan.

f. dinding bedengan dibuat dari bambu. Jumlah baby polybag per kg 235 lembar. tinggi 22 cm. Pembibitan Pembibitan Kelapa Sawit Kebun sawit Seberang mempunyai luas 16. Sebagai bahan pelindung digunakan daun kelapa sawit. 3.60 m. .500 st/bed. agar bibit mendapat sinar matahari pada pagi hari.5 bulan – 3 bulan bibit sebaiknya sudah dipindahkan/ditanam ke large polybag yang disebut bibitan Main Nursery. Bedengan Ukuran bedengan panjang 30 m dan lebar 1.5 Ha. Dekat sumber air yaitu sungai Batang Serangan. Prestasi kerja = 2 HK/Bed.5x0. Pada umur 2.20 m yang dapat berisi baby polybag ±4. b. Ditinjau dari segi persyaratanpersyaratan pembibitan. Dimana didalamnya termasuk areal untuk Pre Nursery 0. Pemeliharaan . Areal sentrum terhadap afdeling-afdeling yang akan ditanam. d. KEGIATAN BUDIDAYA KELAPA SAWIT 3.Menanam Kecambah (GS) Menanam kecambah dilakukan dengan tenaga KS wanita yang sudah terampil. sampai umur 2 bulan semua pelindung disingkirkan.1. dan tebal 0. maka areal 0. dengan draenase baik.LM-82 merupakan biaya pemeliharaan. Sumber tenaga kerja mudah didapat.5 Ha cukup baik karena antara lain : 1. kasar. III.. 2.5 bulan pelindung dikurangi secara bertahap (1x2 minggu). c. Kantongan Plastik (Baby Polybag) Baby Polybag yang digunakan adalah baby polybag hitam dengan ukuran lebar 15 cm.LM-89 merupakan laporan pemupukan. Prestasi kerja = 700 St/HK. Sumber bibit kecambah (GS) dari PPM (Pusat Penelitian Marihat) Pematang Siantar. Sebelum diisi ke dalam kantongan plastic terlebih dahulu diayak dengan kawat ayakan 0. kecoklatan . Naungan Bibit yang masih muda memerlukan naungan yang baik untuk mencegah pembakaran sinar matahari mupun hujan yang terlalu deras. Areal rata. Pelindung disini dibuat dengan cara menutupi seluruh pembibitan (over head shade) kecuali dari arah timur. 3. Bahagian dasr dilubangi berkeliling dengan diameter 0. Bibit yang telah berumur ±1. 5.5 cm. 4.1 Pre Nursery (Pembibitan Awal) a.26 Ha. Prestasi Kerja = 4 HK/stand.30 cm. e. Dekat dengan kantor kebun. Media Tanah/Pengisian Tanah yang digunakan adalah topsoil (0-10 cm) yang diambil dari areal lain. Jarak antara bedengan 0. Dimana radikula (bakal akar) yang ditandai dengan bentuknya yang tumpul.1.07 mm.

10. Bibit yang terkena seleksi bibit ditandai dengan pemberian pancang bamboo yang berukuran panjang 15 cm dengan diameter 0.000 st . Prestasi Kerja = 1000 st/Hk. Prestasi Kerja = 7.000 st/Hk. 1. Sedang penyakitnya adalah Helminthosporium. . Bibit yang terseleksi adalah sebagai berikut : • Anak daunnya sempit (Narrow Leaves) • Anak daunnya menggulung (Rolled Leaves) • Permukaan anak daun menguncup (Collante) • Pertumbuhannya memanjang (Erected) • Daunnya kisut (Crinkling) • Bibit yang kerdil (Insufficient Growth) • Bibit yang rusak akibat hama dan penyakit • Bibit yang pertumbuhannya berputar (Twisted) .harus mengarah ke bawah. Prestasi Kerja = 1. gangguan hama dan penyakit dll dilakukan seleksi bibit sesuai dengan : II1/Si/i/1985.25 cm.000 St/Hk. .Pemberantasan Hama dan Penyakit Hama yang sering mengganggu bibit muda adalah semut.3 % (3 gram/liter air) dan 0. Seleksi bibit dilakukan 2 kali yakni pada umur 2 bulan setelah tanam dan pada saat pemindahan ke Main Nursery. tanah tersebut bebas dari batu-batuan. Pada kantong plastik yang kurang tanahnya dilakukan penambahan tanah.Pemindahan Bibit Pada saat bibit berumur 3 bulan.2 Main Nursery (Pembibitan Utama) a. Diangkat dengan memakai kotak-kotak yang telah disiapkan.15%). dan setiap tanggal penanaman dibuat label.Menyiang dalam Baby Polybag Rumput-rumput yang tumbuh dalam kantong plastik disiang (dicabut) dengan manual dengan rotasi 14 hari. . penyiramannya harus hati-hati agar kecambah tidak sampai terbongkar dan harus memakai gembor.25 liter air setiap penyiraman. Prestasi ayak = .500 St/HK. Pemberantasan hama dilakukan dengan Matador 25 EC dan untuk penyakit fungi (jamur) dilakukan dengan penyemprotan Dithane M 45 dengan rotasi 14 hari. Setiap 1 m2 tanah top soil dapat diisi large polybag sebanyak ±40 st. jangkrik.000 st/HK. kesalahan kultur tehnis. Prestasi Kerja = 100.Pemupukan Pelaksanaan pemupukan dilakukan menurut : II1/Si/i/1989 sebagai berikut : • Diselang-seling antara larutan urea 0. Prestasi Kerja = 20. akar-akar dan bertekstur baik.Seleksi Bibit Karena sebab-sebab tertentu seperti genetis.5 cm. untuk pemberantasannya denagan Dithane M45 (cons 0.000 St/HK. dimana bibit telah mempunyai 3-4 helai daun adalah saat yang paling baik untuk dipindahkan ke lapangan (Main Nursery).Penyiraman Dilakukan 2 kali sehari pagi dan sore. Lubang dibuat dengan jari sedalam 2-3 cm di tengah kantong plastik dan kemudian ditutup dengan tanah 1-1. Media Tamah/Pengisian Tanah yang digunakan untuk pengisian large polybag adalah tanah top soil (10-15 cm) yang diangkat dari areal lain. Prestasi Kerja = 100. Setiap bibit membutuhkan 0.1-0. sebelum tanah diisikan terlebih dahulu diayak dengan ayakan 1-1 cm. .3 % compound 12:12:17:2 (3 gram/liter air) dengan rotasi 1 minggu • Penyemprotan pertama dilakukan apabila kecambah telah berumur 1 bulan setelah tanam • Prestasi per Hk = 5. belalang dll.1.

Large Polybag (1 kg ±23 lembar) Large polybag yang digunakan berukuran 40x50 cm dengan tebal 0. ukuran tidak standard dan terlalu tipis tidak digunakan. Draenase Pembuatan draenase selalu disesuaikan dengan keadaan areal. d. Pemancangan Sebelum dimulai menyusun polybag terlebih dahulu dipancang dengan jarak 80x68 cm (segitiga sama sisi). dimana volumenya telah disesuaikan dengan dosis pada : II1/Si/i/1989.000 st/Hk. c. . rotasi 21 hari. Dan selanjutnya 1 kali sehari tetapi jumlah air per polybag perhari ±2-3 liter/hari. dan isi tanah = 100 st/HK. Perstasi Kerja = 2 HK/Ha/rotasi. Dengan cara ini semua gulma yang tumbuh dipermukaan polybag harus dicabut. berarti ± 1.000 st/Hk. rotasi14 hari.Penyiraman Penyiraman di Main Nursery merupakan salah satu tindakan tehnis yang pelu mendapat perhatian. Tempat duduknya polybag selalu diratakan agar letak polybag tegak lurus dan kelihatan rapi.100 st/HK.30 cm.5 kg dengan prestasi kerja = 1. cangkang dll. Dikerjakan dengan tenaga KS dengan perbandingan 1:2 (1 orang laki-laki dengan 2 orang penyemprot wanita).000 pk/Hk. Keuntungan yang didapat dengan menggunakan cangkang : • Dapat mengurangi penguapan air • Mencegah terbentuknya lapisan keras dipermukaan tanah • Mencegah semburan keras dari penyiraman dan hujan . . Tanah disekelilingnya dipadatkan dengan cara menekan. untuk menghindari genangan air pada musim hujan maupun genangan pada penyiraman. Penyusunan polybag disesuaikan dengan jaringan jalan dan jaringan pipa air. Prestasi menyiram = 4. Takaraan yang digunakan di buat dari bambu.Penanaman Sebelum bibit ditanam terlebih dahulu dibuat lubang tanaman pada tanah polybag sedalam ±20-25 cm. Penyiraman dilaksanakan 2 kali sehari (pagi 3 jam dan sore 3 jam) selama 3 bulan pertama.Penyiangan Dibagi dalam 2 bagian yaitu: • Penyiangan Gawangan Dilaksanakan secara khemis dengan menggunakan bahan kimia Paracol dengan dosis 2 liter/Ha. . sampai batas leher akar. lebar lubang ± 0.000 pk/Hk.000 Pk/HK. Prestasi memupuk = 3. Untuk mendapatkan bibit dengan kualitas pertumbuhan yang baik. Kemudian bibit dimasukkan ke dalam lubang tanaman dengan terlebih dahulu membuang plastiknya. Prestassi Kerja = 10 Hk/Ha. Apabila curah hujan ≥10 mm maka bibit tidak perlu disiram. . Prestasi Tanam = 2. dimana prestasi kerja 3. e. Apabila ada kerusakan kantong plastik misalnya tidak mempunyai lubang. Bagian atas polybag dibiarkan kosong setinggi 2-3 cm untuk yempat meletakkan pupuk. Pemeliharaan .20 mm pada bagian bawah dan tengah mempunyai lubang dengan jarak 5 cm. • Penyiangan Dalam Polybag Dikerjakan secara manual dengan tenaga BHL wanita.500 st/Ha.Mulch Setiap bibit kelapa sawit dalam polybag yang telah berumur ±1 bulan setelah tanam diisi 0. b.Pemupukan Pelaksanaan pemupukan dilaksanakan sesuai : II1/Si/1/1989 sebagai berikut : Cara pemupukan tersebut adalah dengan menaburkan pupuk disekitar pokok pada polybag.

yaitu penyiangan areal. Dibangun secara bertahap yakni setiap 8 baris tanaman dibuat 1 pasar kontrol. persiapan sarana panen.000 St/HK. pemeliharaan jalan. sehingga diharapkan pada tanaman menghasilkan (TM) berproduksi baik.000 bibit rotassi 14 hari.Biaya Persiapan Pembibitan (Terampil) • Pre Nursery • Main Nursery 1.4 D Amine 0. pemeliharaan piringan pohon.2. Prestasi Kerja = 4. penyisipan.6% + 2. TBM (tanaman belum menghasilkan) adalah tanaman yang dipelihara sejak bulan penanaman pertama sampai dipanen pada umur 30-36 bulan. .Pembrantasan Hama dan Penyakit Untuk mencegah terjadinya serangan hama pada bibit dilakukan penyemprotan dengan Matador 25 Ec dengan dosis 250 cc/200 liter air untuk 4.2 Tanaman Belum Mengahasilkan (TBM) Pemeliharaan pada tanaman ini sangat diperlukan atau harus dilaksanakan untuk menjaga agar pertumbuhan vegetative tetap dalam keadaan baik. Apabila dijumpai ada gejala serangan penyakit seperti akibat jamur (Cercospora sp. pemupukan. Selama masa TBM diperlukan beberapa jenis pekerjaan yang secara teratur harus dilaksanakan. pembuatan pasar kontrol (pasar kontrol). tahap kedua setiap 4 baris tanaman. . pembuatan parit drainase. tenaga yang digunakan = 4 HK/Ha.000 bibit 1x 14 hari. Tanaman TBM 3.Seleksi Bibit Seleksi bibit dilakukan bertahap karena kemunculan gejala abnormal sejalan umur bibit. kastrasi dan tunas pasir. Pembuatan pasar kontrol pada areal penutup tanah dapat dilaksanakan secara kimia dengan menggunakan glifosat 0. Perlakuan 4 tahap yakni pada umur : • 2 (Dua) bulan setelah tanam di Main Nursery • 4 (Empat) bulan setelah tanam di Main Nursery • 7 (Tujuh) bulan setelah tanam di Main Nursery • Saat pemindahan bibit ke lapangan (Displanting) Bentuk bibit abnormal yang harus diseleksi : • Bibit yang tumbuh meninggi dan kaku (erected) dengan sudut pelepah yang kecil (tajuk tegak) • Bibit yang permukaan tajuknya rata (dimana pelepah yang lebih muda lebih pendek) • Bibit yang tumbuh lemah terkulai (merunduk) • Bibit yang anak daunnya tidak membelah • Kerusakan akibat hama dan penyakit • Bibit yang anak daunnya mempunyai sudut yang tajam dan rachis • Bibit yang anak daunnya pendek • Bibit yang jarak antara anak daun panjang dan pendek . Lebar pasar kontrol 1 m dibuat sepanjang blok tanaman.• Dapat mempertahankan kelembaban tanah • Mengurangi pertumbuhan gulma di polybag . konsolidasi.) disemprot dengan dithane M 45 dengan dosis 330 gram/200 liter air untuk 4. pemeliharaan penutup tanah. Gambar 2. dan menjelang panen setiap 2 baris tanaman.5% dengan rotasi 1 x 2 bulan.1 Pembuatan Pasar kontrol Pasar kontrol dibuat ditengah-tengah gawangan kelapa sawit. pengendalian hama dan penyakit.

5 HK/Ha/rotasi. tumbang. Walaupun demikian karena penanaman biasanya dilaksanakan pada skala yang luas maka masih selalu terjadi penanaman yang tidak sesuai dengan kultur teknis. b.2 Pemeliharaan Jalan Kegiatan pemeliharaan jalan meliputi memadatkan.2. Kegiatan konsolidasi meliputi : a.TBM III = 150 cm Rotasi dan kapasitas pengendalian gulma piringan pohon adalah sebagai berikut: .2. membabat rumput-rumput di kaki lima jalan dan pengerasan jalan pada lokasi yang perlu dengan standar 10 m/ha/tahun. Pada areal TBM peliharaan parit dilakukan 1 kali dalam 6 bulan. Selanjutnya rumput-rumput disingkirkan dari piringan pohon.4 Penyisipan Hasil sensus pohon setiap tahun pada areal TBM dapat menunjukkan jumlah pohon yang akan disisip. Menegakkan kembali tanaman yang miring dan tumbang dengan memadatkan tanah di sekeliling tanaman yang masih gembur.TBM I = 2.TBM II = 3. kemudian di ujung garis tengah piringan pohon tersebut dibuat batas melingkar keliling pohon. pada penyisipan TBM 3 penyisipan dilakukan pada areal kosong yang cukup luas atau mengelompok. terkena serangan hama dan penyakit.2.3 Pembuatan Parit Drainase Pemeliharaan parit drainase bertujuan mengangkat atau menggali tanah yang menutupi parit sehingga ukuran tetap seperti semula. Jari-jari piringan pohon disesuaikan dengan umur tanaman kelapa sawit: . membuka saluran air dari jalan. 2 dan 3.TBM II = 125 cm . abnormal. Pemeliharaan jalan dapat dilakukan secara mekanis dengan menggunakan road grader Pemeliharaan dilakukan sekali dalam 3 bulan.0 HK/Ha/rotasi.3. a. Penyiangan dapat dilakukan secara manual (menggaruk) atau cara kimia (penyemprotan). namun penyisipan individu tidak dilakukan lagi karena tanaman asli sudah cukup tinggi. Penyisipan dilakukan pada tanaman yang mati atau tidak normal dan dilakukan pada musim hujan.2. Cara Manual Terlebih dahulu di ukur garis tengah piringan pohon sesuai dengan ketentuan. Setelah terbentuk batas piringan pohon yang dimaksud baru digaruk dari pinggir piringan ke arah dalam. Menginventarisasi tanaman yang mati. setelah selesai penanaman kelapa sawit di lapangan masih diperlukan tahap pekerjaan konsolidasi. 8 x setahun . 12 x setahun . Tanaman yang perlu disisip adalah pada areal TBM 1.TBM I = 100 cm .2.6 Pemeliharaan Piringan Pohon Penyiangan dilakukan dengan menyingkirkan semua jenis tumbuhan dari permukaan tanah selebar piringan pohon yang telah dilakukan. sehingga tanah bersih dari rumput. 3. Kondisi Jalan pada Areal TBM 3. Gambar 3. 3. Persiapan dan penanaman kelapa sawit di perkebunan pada umumnya dilaksanakan dengan cukup baik. Oleh karena itu. Jalan produksi dipersiapkan sejak TBM dan pengerasan dilakukan secara bertahap sehingga pada saat TM kondisi jalan tersebut telah sempurna. 3. sehingga tanaman sisipan terhambat pertumbuahannya.5 Konsolidasi Konsolidasi pada tanaman kelapa sawit adalah tindakan rehabilitasi terhadap tanaman yang baru ditanam.

Jamur ini merupakan penghuni tanah indigenous hutan hujan tropika dan hidup pada berbagai jenis palmae. kemudian baru digarpu dan tidak boleh langsung ke lalang. Mengingat hampir semua perkebunan kelapa sawit di Indonesia berada pada areal bekas hutan hujan tropika. Cara pelaksanaannya apabila dijumpai lalang.. sehingga kemungkinan untuk tumbuh kembali tidak ada.2 cm/hari. 3.7 Pengendalian Hama dan Penyakit a. Pada daerah pengembangan karena kekuranagan tenaga kerja atau upah buruh yang mahal maka pengendallain gulma dengan cara kimia merupakan suatu alternatif yang efisien dan ekonomis. ditempatkan tidak bersentuhan dengan tanah. atau melalui spora yang disebarkan oleh angin. 8 x setahun b. maka kemungkinan besar akan mengalami masalah penyakit Busuk Pangkal Batang (BPB). Hama dari golongan mamalia adalah lembu (Boss taurus). b. serta terjadi pembusukan pada jaringan pangkal batang dan akhirnya tanaman mati. 3. kemudian menggerek kearah titik tumbuh kelapa sawit. Panjang lubang penggerek dapat mencapai 4. Buru Lalang Lalang merupakan gulma/tumbuhan pengganggu yang berbahaya terhadap tanaman perkebunan. Penyakit Penyakit yang disebabkan oleh jamur Ganoderma boninense Pat juga sering dijumpai di TBM.5 m. Gambar 4.0 HK/Ha/rotasi.3 HK/Ha .1 Pemeliharaan Jenis pemeliharaan yang dilaksanakan untuk menghasilkan antara lain: 1.3 Tanaman Menghasilkan (TM) 3. dengan rotasi 6 x setahun (R. Hama Hama lainya adalah kumbang penggerek pucuk kelapa sawit (Oryctes rhinoceros) yang hinggap pada pelepah yang agak mudah. Gejala awalnya pada daun kelapa sawit mudah (TBM-TM III) mengalami klorosis. Cara Kimia Pemeliharaan piringan pohon secara kimia mulai dapat dilaksanakan pada areal TBM ke-III. Penularan penyakit dari pohon ke pohon melalui pertautan antara akar sehat dengan akar sakit. Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan menggunakan MARFU-P. Akar dan batang tersebut dikumpulkan. Banyaknya populasi lembu pada Kebun Sawit Seberang menimbulkan banyak masalah terutama serangan pada daun tanaman. Buru lalang dilakukan dengan teratur blok demi blok dengan rotasi 30 hari. Apabila gerekan sampai ketitik tumbuh.2.TBM III = 4. Pemakaian herbisida pada tanaman muda agar dilakukan dengan ekstra hati-hati sehingga tidak menimbulkan dampak negatif terhadap tanaman kelapa sawit.3. Tenaga yang yangdigunakan 0.6) menggunakan bahan Glyphosate dengan dosis 300 cc/ha/rotasi. Penyiangan Manual . Hama yang juga merusak titik tumbuh tanaman dan memakannya adalah tikus dan apabila serangan dengan intensitas tinggi harus dilakukan penanaman ulang. Kerusakan daun tanaman yang berlebihan dapat mengganggu pertumbuhan kelapa sawit. harus dari luar atau rhizomenya dan batang terambil semua dari dalam tanah dan tidak boleh putus. kemungkinan tanaman akan amti atau tumbuh tunas baru satu atau lebih. selanjutnya daun kelapa sawit muda layu atau mati. pertama –tama kiri dan kanan lalang dari lalang tersebut kira – kira dibabat kira – kira 0.

3. keladi dan kerisan. Tenaga kerja yang dibutuhkan 0.5 m.3. Hama yang juga merusak titik tumbuh tanaman dan memakannya adalah tikus dan apabila serangan dengan intensitas tinggi harus dilakukan penanaman ulang. Gambar 6. Cara pemberiannya ditabur secara merata di piringan yang sudah bersih dan jarak dari pohon ± 0.3. kemudian menggerek kearah titik tumbuh kelapa sawit. buah dll. maka pemupukan sangat dibutuhkan.4 Pengendalian Hama dan Penyakit a.2 cm/hari. pelepah daun yang dipotong dan tercuci oleh air hujan. Perbandingan tenaga kerja antara pelangsir dengan penyemprot adalah 1: 2.3 L/30 Ltr air dalam 1 Ha.3. Pasar Mati 2. . Herbisida yang digunakan adalah Gramoxone dengan dosis 0. untuk menjaga kebersihan kebun tersebut maka sirkuit rotasinya adalah 60 hari dengan kebutuhan tenaga per hektarnya adalah 0. dan dihindarkan adanya gumpalan – gumpalan pupuk sewaktu penaburan. supaya terhindar dari genangan air • Harus mendapat sinar matahari dan selalu kering • Tidak dibenarkan terjadi genangan air di permukaan jalan.5 HK. Khusus bagi areal miring penaburan pupuk 3/3 bagian sebelah atas dan 1/3 bagian sebelah bawah. 3. Panjang lubang penggerek dapat mencapai 4. Hama Hama lainya adalah kumbang penggerek pucuk kelapa sawit (Oryctes rhinoceros) yang hinggap pada pelepah yang agak mudah. dimana perbangdingan tenaga kerja laki –laki dan perempuan 1: 2. tenaga yang dibutuhkan 0. mimosa.2 Pemupukan Untuk menjaga keseimbangan unsure hara dalam tanaman akibat diangkut oleh buah yang dipanen. Kondisi Jalan pada Areal TM 3. Apabila gerekan sampai ketitik tumbuh. Cabutan Penyiangan dengan cara cabutan dilakukan di gawangan tanaman. Pemupukan pada tanaman menghasilkan harus melalui rekomendasi pemupukan.5 m – 2. Alat yang digunakan adalah garpu. Bentuk jalan yang dikehendaki adalah: • Berbentuk batok mengkurap dan rata tidak berlobang – lobang • Benteng paret tidak perlu ada • Paret – paret jalan hanya diperlukan sebagai jalan besar (main road) dan transport road. Menyiang Secara Khemis Penyiangan dilakukan pada piringan. 3. Pupuk yang digunakan adalah pupuk tunggal yaitu: • Urea (ZA) 2 aplikasi • Rock Phosphate (RP) 1 aplikasi • MOP (abu janjang) 2 aplikasi • Kieserit (dolomit) 2 aplikasi Apabila curah hujan yang tinggi atau musim kering maka pemberian pupuk ditunda atau dihindarkan.3 Pemeliharaan Jalan Sarana jalan yang baik dan cukup sangat diperlukan terutama dalam pengangkutan pupuk. pakis.5 HK/Ha. pasar blok dan TPH. pasar pikul.3 HK/Ha dengan rotasi pada semester I : 90 hari dan semester II : 60 hari. Gulma yang dicabut adalah kayu – kayuan. kemungkinan tanaman akan amti atau tumbuh tunas baru satu atau lebih.Gambar 5.

dimana sebelumnya sudah dilaksanakan persiapan panen sebagai berikut: 1. Penyakit Penyakit yang disebabkan oleh jamur Ganoderma boninense Pat juga sering dijumpai di TBM. Prestasi kerja adalah: 100 Pk/Ha 3. Banyaknya populasi lembu pada Kebun Sawit Seberang menimbulkan banyak masalah terutama serangan pada daun tanaman. TPH (Tempat Penerimaan Hasil) Tempat penerimaan hasil harus disiapkan sebelum panen dasar dimulai. Tunas pasir Sebelum panen dilaksanakan. Tempat Pengumpulan Hasil 5.5 Panen dan Pengumpulan Panen pada tanaman kelapa sawit dimulai pada umur 2.Gejala Serangan Oryctes Hama dari golongan mamalia adalah lembu (Boss taurus). Jamur ini merupakan penghuni tanah indigenous hutan hujan tropika dan hidup pada berbagai jenis palmae. Kerusakan daun tanaman yang berlebihan dapat mengganggu pertumbuhan kelapa sawit.Gambar 7.5 Ha terdapat 1 TPH dengan ukuran 3 x 5 m dan berangsur – angsur diperpanjang sesuai dengan perkembangan produksi di areal tersebut sehingga satu saat maksimal 3 x 9 m. Prestasi kerja 1 HK : 2 buah. Alat yang digunakan adalah arit tunas atau dodos kecil (6 – 8 cm). Gambar 9. atau melalui spora yang disebarkan oleh angin. • Matang panen tanaman: telah terdapat 60 % dari tanaman telah matang panen. 4. serta terjadi pembusukan pada jaringan pangkal batang dan akhirnya tanaman mati. Gejala awalnya pada daun kelapa sawit mudah (TBM-TM III) mengalami klorosis. dimana dalam 2. • Disusun di gawangan yang tidak terkena pasar panen. Buang buah pasir atau busuk • Buah pasir yang dibuang adalah buah yang berada di atas pelepah pasir sampai dua lingkaran bunga pertama dengan dodos kecil • Buah pasir yang beratnya > 5 kg dapat dikirim ke pabrik dan < 3 kg dibuang • Tenaga yang dibutuhkan dalam 1 Ha adalah 2 HK. Gambar 10.3.5 – 3 tahun yang disebut TM I. Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan menggunakan MARFU – P. b. • Pelepah yang dianggap tidak berfungsi lagi. • Matang panen pohon : paling sedikit dua tandan telah membusuk dan satu tandan matang. Pemeriksaan blok – blok yang sudah matang panen terdiri dari: • Matang panen tandan : sebagian buahnya sudah membrondol. maka kemungkinan besar akan mengalami masalah penyakit BPB. harus lebih dahulu pelepah – pelepah pasir ditunas ± 3 bulan sebelum panen dasar. 2. . Mengingat hampir semua perkebunan kelapa sawit di Indonesia berada pada areal bekas hutan hujan tropika. atau pelepah yang berada dibawah dua lingkaran tandan. selanjutnya daun kelapa sawit muda layu atau mati. Gejala Serangan Ganoderma 3. Pasar pikul Pasar pikul sudah tersedia sebelum panen dasar dan bertujuan untuk jalan pemanen. Syarat – syarat tunas pasir: • Pelepah yang ditunas adalah pelepah paling bawah dan rapat ke tanah. • Pemotongan dilakukan serapat mungkin dengan batang. Penularan penyakit dari pohon kepohon melalui pertautan antara akar sehat dengan akar sakit.

alat yang digunakan adalah dodos. gawangan pasar pikul dan pada ketiak daun dan dimasukkan dalam goni setelah sampah-sampah yang ikut serta dengan brondolan dibuang.50 – 25 % brondolan buah luar Kurang matang 2 25 – 50 % brondolan buah luar Matang 3 50 – 75 % brondolan buah luar Matang 4 75 – 100 % brondolan buah luar Lewat matang 5 Bagian dalam ikut membrondol Lewat matang Tabel 3. 7. Prinsip yang selalu menjadi dasar dalam penentuan system panen adalah bertujuan untuk mencapai rendfemen yang maksimal dan ALB yang rendah.5x dalam setahun. • Pangkal pelepah yang tinggal dipohon harus tapak kuda terbalik. kayu-kayuan. Titi terbuat dari beton atau batang kelapa yang diatur penempatannya sehingga rata – rata: • 12 m/Ha untuk daerah rendahan. Teknis Tunasan.1 Pengertian Panen Panen adalah mendatangi pokok ke pokok untuk memotong dan mengambil buah segar menurut criteria matang panen.3. tidak perlu dilakukan penunasan. Titi panen Titi panen juga merupakan penunjang yang sama tujuannya dengan pasar pikul dalam mempermudah dan meningkatkan prestasi pemanen. Prestasi tunas an nuntuk tanaman yang berumur 3-8 tahun : 100 Pk/Hk dan tanaman yang berumur ≥ 9 tahun : 70 Pk/HK. • Bila kurang dari pelepah. Pasar Pikul 6. Selain kepada tanaman kelapa sawit itu sendiri juga kepada pemanen dan pekerja yang berhubungan dengan panen. ada factor lain yang harus diperhatikan. Hal ini dapa dicirikan oleh adanya buah yang membrondol. Dalam hal ini perlu diadakan peraturan atau syarat-syarat yang harus dituruti. 3. Faktor – faktor ini akan menunjang keberhasilan dalam panen baik kuantitas maupun kulitas.5. 2 pasang dalam setahun dan plengki kecil untuk tempat brondolan. • Tandan yang sudah masak (matang) tidak boleh tinggal dipohon. • 6 m/Ha untuk daerah berbukit. 3. disamping faKtor lainnya.5. jumlah pelepah yang tinggal minimum 40 pelepah dengan rotasi 1.2 Kriteria matang panen Kriteria matang panen yang baik adalah pada saat kandungan minyak maksimum dalam daging buah dan kadar ALB serendah mungkin. Disamping persyaratan diatas dalam mencapai keberhasilan panen yang baik. Gambar 11. tandan yang dapat dipanen harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : Fraksi Jumlah Brondolan yang Lepas Kematangan 0 1-12. dan kelapa sawit yang tumbuh dipokok sepanjang masih dapat dijangkau oleh alat harus dibuang. • Pelepah dipotong 3 dan disusun digawangan. Persyaratan Panen • Tandan yang baik dipanen adalah fraksi 2 dan 3. • Susunan pelepah digawangan antara pasar pikul dimana dimana pangkal pelepah yang berduri diletakkan tertelungkup sebelah bawah. dilakukan 2x dalam setahun. • Bunga jantan yang sudah kering atau membusuk. Ini semua dilanjutkan dengan pemeliharaan sebagai contoh: • Pemeliharaan TPH.50 % brondolan buah luar Mentah 1 12. Dan pada tanaman yang bmur ≥ 9 tahun. Tunas Pemeliharaan Tunas pemeliharaan pada tanaman yang berumur 3-8 tahun jumlah pelepah minimum yang tinggal 48 pelepah.Sehingga prestasi panen yang diharapkan akan tercapai. Fraksi Matang Panen pada Tanaman Kelapa Sawit Kriteria Matang Panen dan Standard Antar Fraksi Berat Tandzan Fraksi Mentah Matang Normal Lewat Matang Buah Brondolan 0 00 I II III IV V ≤5 Kg >5 Kg Tidak membrondol/warna hitam . pakis . • Pelepah dipotong serapat mingkin kebatang dengan bentuk tapak kuda keluar dan rencek menjadi 3 bagian. • Brondolan dikutip bersih dari piringan. rumput-rumputan.3. • Ganggang panjang yang dipanen tidak boleh lebih dari 2 cm. • Pelepah yang tertinggal dipokok setelah ditunas adalah 48 pelepah (6 spiral) dengan songgo 1. Alat panen Panen dasar sampai tanaman berumur ± 3 tahun. lalu ditutup dengan bagian pelepah lainnya. • Tunas pemeliharaan. cukup dengan pembersihan pohon saja. • Pemeliharaan pasar pikul. 8.pakisan. keranjang buah.

5% s/d 24% buah luar membrondol 12. .51% s/d 24% buah luar membrondol 25-49% Buah luar membrondol 25%-49% buah luar membrondol 50%-75% buah Buah luar membrondol 50%-75% buah luar membrondol 76-100% Buah luar membrondol 76%-100% buah luar membrondol Gagang membusuk dan buah luar membrondol gagang membusuk dan buah dalam membrondol Standard 0% 40% 40% 14% 5.3 Pembagian Kapveld Menurut Rotasi Panen Kapveld atau ancak panen adalah pembagian areal atas ancak panen harian yang disesuaikan dengan rotasi panen.Tidak membrondol/warna hitam 1-4 Brondolan 1-9 brondolan 5 Brondolan s/d 12.5.5% 0.5% buah luar membrondol 12.5% buah luar membrondol 10 brondolan s/d 12.5% 0% 4%-8% Tabel 4. Kriteria Matang Panen dan Standard Antar Fraksi 3.3.

Untuk kebun yang TM Kelapa Sawitnya relatip kecil. Satu orang pemanen memanen tiap dua baris (1 gawangan). Ancak panen terdiri dari dua yaitu ancak tetap dan giring. Tata cara perhitungan AKP : • tetapkan blok sampel untuk setiap kapveld • satu blok sampel untuk setiap tahun tanam dalam satu kapveld maksimum 50 Ha • Pohon yang diamati 3-5 % dari jumlah pohon dalam satu blok sampel. setelah selesai pindah ke blok lainnya.5. Maka akan diperoleh AKP.5. • Dibenarkan dengan sistem 6/7 yaitu sampai dengan hari minggu dan libur. kemudian pindah ke baris yang belum dipanen dan seterusnya sampai selesai satu blok dan pindah ke blok lain. Untuk kebun yang tidak mempunyai pabrik (PKS) rencana panen agar disesuaikan dengan rencana olah PKS oleh tempat mengolah. maka sebaiknya letak kapveld disusun memanjang sedemikian rupa mengikuti jarak jalan transportasi. mencegah kerusakan jalan serta meningkatkan frekuensi angkutan produksi perkendaraan).5. jumlah hari panen dalasm seminggu dapat diperpendek dari 4 menjadi 4 hari dengan catatan internal antara rotasi harus dipertahankan 7 hari. 3. Sebagai contoh Blok A = 16 Ha. Areal panen biasanya berbukit sampai berlereng curam atau letaknya terpencil. dan seterusnya.3.3. pemanen dan areal panen adalah tetap. Orang I memanen baris 1 sampai 10. Untuk menghindari pengangkutan yang berulang-ulang pada jalan yang sama (hal ini dapat menekan biaya angkutan. Hasilnya lalu dikalikan dengan jumlah rata-rata tandan. • Tetapkan baris sampel dalam setiap blok sampel (bersifat permanen) • Seluruh pohon dalam baris sampel diperiksa dan dihitung jumlah tandan buahnya lalu dicatat. • Seluruh tandan buah dijumlahkan. • Dibagi 6 kapveld terjadi pada panen puncak (semester II). • Lalu jumlah seluruh tanaman dibagikan dengan jumlah AKP.Pembagian kapveld yang umum dipakai pada pembagian areal TM Kelapa Sawit per afdeling sebagai berikut : • Dibagi 5 atau 8 kapveld. 3.5 Sistem Panen Sistem panen dilakukan dengan hanca giring tetap dan hanca giring tidak tetap. Ada 50 baris yang dipanen oleh 5 orang. hal ini pada panen rendah hingga sedang (semester I dan bulan-bulan tertentu semester II).4 Ancak panen Ancak panen adalah luasan yang menjadi tanggung jawab pemanen.6 Perhitumgan Angka Kerapatan Panen (AKP) Angka Kerapatan Panen (AKP) adalah suatu satuan yang mengindikasikan rata-rata tandan matang panen/pohon dan penyebaran tandan matang panen. lalu seluruh sampel dibagikan dengan jumlah tandan yang telah dihitung. orang II memanen baris 11-20.3. . Hanca panen ditetapkan berdasarkan kapveld yang sudah dipedomani dan ditetapkan kepada masing-masing mandoran panen dan mandor bertanggung jawab menyelesaikan hanca yang sudah dibagi/ditetapkan. Pada ancak giring pemanen secara bersama-sama memanen 1 blok. bagi kebun-kebun yang luas TM nya. Pada sistem ancak tetap. 3. • Ditetapkan dengan system 5/7 atau jika kerapatan buah 10-12 dengan sistem 8/10. Kegunaan angka kerapatan panen adalah : • memperkirakan jumlah tandan matang-panen serta tunasnya • memperkirakan kebutuhan tenaga pemanen • memperhitungkan luas ancak untuk setiap pemanen • memperkirakan kebutuhan kendaraan. • Dibagi 4 kapveld.

3. .Tandan disusun 5 buah per baris di TPH. Peralatan Panen Sesuai Umur Tanaman 3. . . sampah. tidak boleh bercampur dengan tandan.Setelah ancak (2 barisan) pertama selesai pindah gawangan di sebelah pemanen ancak terakhir.Semua brondolan diangkut ke truk.5.Tandan dan brondolan bebas dari pasir.Brondolan yang ada di ketiak pelepah diambil/dikorek. 00) tidak dibenarkan diangkat ke truk. Gambar 12.Krani transport menyortir TBS di TPH. .9 Dodos kecil (8 cm) 5-7 3-5 0. .7 Peralatan Panen Alat panen yang digunakan sesuai umur tanaman sebagai berikut: Umur (Th) TM Tinggi Batang (M) Alat Panen 3-4 1-2 <0.Berjalan di jalan pikul mencari buah matang sesuai kriteria matang panen. paling lambat 12 jam dari saat panen.5 Dodos besar (14 cm) >8 >5 >2. . 3) Pengangkutan hasil .Tandan matang dipotong tangkainya. .8 Pelaksanaan Panen 1) Ancak . yang nantinya akan membawa buah hingga sampai dipabrik .5. 2) Di TPH .Buah segera diangkut ke PKS.Nomor pemanen dan tanggal panen ditulis pada tangkai tandan . . buah sangat mentah (F. .Seluruh tandan yang diangkut dicatat jumlah tandannya per pemanen.Buah diangkat ke TPH setelah selesai di potong.Pemanen diawasi oleh seorang mandor.• Rekapitulasi kemudian dituangkan kedalam formulir rencana panen dan pengangkutan untuk dikirim ke kantor kebun. Perhitungan AKP 3.Tangkai tandan di potong mepet atau berbentuk huruf V (cengkem/mulut kodok).9-2. setiap pemanen membawa 2 bans tanaman (1 gawangan). mandor membagi ancak pemanen yang dimulai dari jalan blok.5 Egrek Sumber : Instruksi Kerja (IK) PTPN II Tabel 8. .Pelepah yang menyangga (songgo) buah matang dipotong mepet.Gagang tandan menghadap ke atas. . .Pada pagi hari.Pelepah disusun dan ditumpuk di tengah gawangan mati. . .3.Alat angkut pada umumnya adalah truk. tangkai tandan dan kotoran lainnya.Brondolan ditumpuk di beiakang barisan tandan atau digonikan.Brondolan dikutip dan dikumpul dengan tandan dibawa ke TPH. Tiap mandor panen mengawasi 10-15 orang pemanen. . . .

2 Juli 2010 Aktivitas PKL dilakukan di kebun afdeling IX mempelajari tentang penentuan . 22 Juni 2010 Aktivitas PKL dilakukan di Kantor Pembibitan kebun Sawit Seberang. 1 Juli 2010 Aktivitas PKL dilakukan di kebun afdeling IX mempelajari tentang kriteria panen pada tanaman menghasilkan. 21 Juni 2010 Registrasi di tempat PKL dan penyampaian program PKL pada karyawan pimpinan di tempat PKL. Hari ke-2 Selasa. Hari ke-11 Kamis. yaitu dari tanggal 21 Juni sampai 21 Juli. 25 Juni 2010 Aktivitas PKL dilakukan di kebun afdeling V mempelajari tentang pembuatan pasar pikul.Hari ke-10 Rabu. 28 Juni 2010 Aktivitas PKL dilakukan di kebun afdeling V mempelajari tentang penyiangan secara manual pada tanaman belum menghasilkan. PROGRAM MAGANG BERSAMA PEJABAT / STAF / KARYAWAN Praktek Kerja Lapangan (PKL) dilaksanakan di PTPN II Kebun Sawit Seberang yang berlangsung lebih kurang 30 hari. Hari Ke-3 Rabu. piringan pada tanaman belum menghasilkan. Hari ke-12 Jumat. gawangan. Di mulai dengan mempelajari pembibitan dimulai dari GS sampai main Nursery di PTPN II Kebun Sawit Seberang. serta penempatan tempat tinggal (penginapan). Di mulai dengan mempelajari tanaman penutup tanah pada tanaman kelapa sawit. Di mulai dengan perkenalan dengan karyawan maupun karyawan pimpinan di kebun tersebut serta pengumpulan informasi tentang profil PTPN II Kebun Sawit Seberang. 27Juni 2010 Istirahat. 24 Juni 2010 Aktivitas PKL dilakukan di Kantor Pembibitan kebun Sawit Seberang. 30 Juni 2010 Aktivitas PKL dilakukan di kebun afdeling V mempelajari tentang kastrasi pada tanaman belum menghasilkan Aktivitas PKL dilakukan di kebun afdeling IX mempelajari tentang pasar mati. Hari ke-6 Sabtu.IV. Hari ke-5 jumat. pada tanaman belum menghasilkan. 26 Juni 2010 Istirahat. Hari Ke-4 Kamis. Hari ke-8 Senin. 23 Juni 2010 Aktivitas PKL dilakukan di Kantor Pembibitan kebun Sawit Seberang. umur panen pada tanaman menghasilkan. Adapun kegiatan-kegiatan yang dilakukan lebih kurang 15 hari. . Hari ke-7 Senin. Adapun kegiatan-kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut : Hari ke – 1 Senin. 29 Juni 2010 Aktivitas PKL dilakukan di kebun afdeling V mempelajari tentang pemberantasan hama Oryctes sp. Hari ke-9 Selasa.

12 Juli 2010 Istirahat. 17 Juli 2010 Istirahat. 16 Juli 2010 Membuat laporan PKL. 15 Juli 2010 Membuat laporan PKL. 19 Juli 2010 Kunjungan.phylotaksis pada tanaman menghasilkan. 14 Juli 2010 Aktivitas PKL mempelajari sistem administrasi kebun. Hari ke . 18 Juli 2010 Istirahat. 3 Juli 2010 Istirahat. Hari ke-18 Kamis. 21 Juli 2010 . 11 Juli 2010 Aktivitas PKL mempelajari sistem administrasi kebun. Hari ke – 30 Senin. 10 Juli 2010 Aktivitas PKL mempelajari sistem administrasi kebun. Hari ke-20 Sabtut. Hari ke-14 Minggu. 6 Juli 2010 Aktivitas PKL dilakukan di kebun afdeling IX mempelajari tentang alat alat untuk pemanenan seperti dodos dan egrek pada tanaman menghasilkan. 4 Juli 2010 Istirahat. 5 Juli 2010 Aktivitas PKL dilakukan di kebun afdeling IX mempelajari tentang penentuan analisa daun pada tanaman menghasilkan. Hari ke-15 Senin. Hari ke-16 Selasa. Hari ke-23 Selasa. 7 Juli 2010 Aktivitas PKL dilakukan di kebun afdeling I mempelajari tentang telling pada tanaman menghasilkan. Hari ke-24 Rabu. Hari ke-22 Senin. Hari ke-26 Jumat. 9 Juli 2010 Aktivitas PKL dilakukan di Kantor kebun afdeling III mempelajari tentang telling pada tanaman menghasilkan. Hari ke-21 Minggu.27 Sabtu. Hari ke – 28 Minggu. 13 Juli 2010 Istirahat. Hari ke-13 Sabtu. Hari ke-25 Kamis. Hari ke-17 Rabu . 8 Juli 2010 Aktivitas PKL dilakukan di kebun afdeling II mempelajari tentang telling pada tanaman menghasilkan. Hari ke – 29 Senin. 20 Juli 2010 Hari ke – 31 Selasa. Hari ke-19 Jumat.

TOPIK PERMASALAHAN DI LOKASI PKL Selama berlangsungnya kegiatan PKL di PT. juga sering dijumpai di TBM sehingga menyerang tanaman yang berada di sekitarnya. Banyaknya populasi lembu pada Kebun Sawit Seberang menimbulkan banyak masalah terutama serangan pada daun tanaman kelapa sawit khususnya pada tanaman belum menghasilkan. Pengendalian gulma dilakukan secara manual. Hama dari golongan mamalia adalah lembu (Boss taurus). yaitu dengan cara dongkel mata merah dan secara khemis. Keterlambatan dalam pengangkutan dan hasil panen sehingga juga dapat menghambat dalam pengolahan TBS sehingga dapat mengurangi rendemen dan kualitas CPO dari kelapa sawit tersebut juga menurun. para peserta PKL mengamati ada beberapa masalah yang terjadi pada unit Kebun Sawit Seberang. Afdeling I. 5. 3. Sistem panen dilakukan dengan meninggalkan minimal dua pelepah daun dibawah dari buah yang hendak dipanen (songgoh dua). yang dilaksanakan secara manual dan khemis. Perkebunan Nusantara II Kebun Sawit Seberang. Keterlambatan dalam pengendalian penyakit yang disebabkan oleh jamur Ganoderma boninense Pat. Pemeliharaan pasar pikul dilakukan dengan rotasi sekali dalam 3 bulan. Kerusakan daun tanaman yang berlebihan dapat mengganggu pertumbuhan kelapa sawit. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. . Rotasi panen yang digunakan adalah 5/7 dan 6/7. yaitu dengan menggunakan bahan aktif Paraquat. Saran Diharapkan kepada seluruh karyawan yang bekerja di kebun agar memanen buah yang sesuai dengan kriteria matang panen. II dan III pada Kebun Sawit Seberang dikhususkan untuk tanaman kelapa sawit. 2. 4. sebagian daerah tempat penanaman kelapa sawit adalah berbukit atau bergelombang sehingga sulit dalam hal pemupukan dan pemanenan. Matang panen dapat dilihat setelah 2-3 brondol lepas dari tandannya.

R. (3 pages). Medan. Elisabeth. S.DAFTAR PUSTAKA Anonim. Kelapa Sawit.Hartono. A. J.Y. W. Vademecum Kelapa Sawit. Koedadiri. Sumatera Utara Medan. Sutarta. Medan. Sugiyono. Yenni. K4 15 cm. R. Dja’far. A. Purba. Purba. A. pada tanggal 19 November 2009. Winarna dan Y. Diakses tanggal 20 Maret 2010. PENGARUH KEDALAMAN TANAH TERHADAP PERTUMBUHAN GULMA Junita Sinambela/070301054 Mahasiswi Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Purba.. Sejarah Singkat Kebun Sawit Seberang. . 2002. Siahaan.H. C. Sawit Seberang. Penebar Swadaya. H. Rahutomo. K1 0 cm. FP-USU. Ishak.. Percobaan ini bertujuan untuk mencatat kemampuan sejumlah gulma untuk muncul dari kedalaman yang berbeda-beda. Kelapa Sawit Edisi Revisi. E. R. Utomo. D. Percobaan tersebut menggunakan 2 faktor perlakuan yaitu faktor 1 adalah jenis gulma S1 Amaranthuss sp. Sedangkan faktor kedua adalah K. I. T. A. S2 Asystasia intrusa. I.wikipedia. S.H. A. Sutanto. Haryati. PTP N IV (Persero) Bah Jambi. Lubis. Y.D. ABSTRAK Percobaan ini dilakukan di lahan percobaan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Harahap. H. 2001. Widyastuti. Sianturi. dengan ketinggian tempat ± 25 m dpl. http://www. K3 5 cm. Dari percobaan diperoleh bahwa gulma yang banyak tumbuh adalah pada kedalaman 15 cm yaitu jenis gulma Amaranthus sp. Darmosarkoro.E.R. PPKS. Fauzi. E.Jakarta. 2005. Prawirosukarto. Purba. Harahap.. K2 1 cm.org. PTP N II Kebun Sawit Seberang.Satyawibawa. Medan. Soehardjo. Fadli. Y. Budidaya Kelapa Sawit. L. Medan... Teknologi Budidaya dan Pengolahan Kelapa Sawit. H. S..Y. Suprianto. Darnoko.S. P. Siantar. Purba.D. E. P. 2004. Budiana dan Kusmahadi.S.

warna. Bentuk kotiledon ini sangat bervariasi. permukaan epikotil (bagian batang yang terletak di atas kotiledon). Sesbania exaltata: 18% dan Ipomea lacunosa: 13% (Moenandir. 1995). Bila dormansi diperpanjang waktunya akan mengalami imbibisi sehingga jaringan embrio menjadi rusak. 1984). f) adanya daun penumpu atau okrea seperti pada gulma dewasa (Tjitrosoedirdjo. 1993). Kondisi cadangan biji juga tergantung pada dormansi dan lama biji tersebut tahan terdapat dalam tanah (Sukman dan Yakup. Anoda cristata: 30%. Abutilin theophrasti: 30%. topsoil sebagai media tanam. tekstur dan pertulangan kotiledon. permukaan hipokotil (bagian batang yang terletak di bawah kotiledon). label untuk menandai polibag. Diamati gulma apa saja yang tumbuh setiap hari sampai pengamatan terakhir dan dicatat datanya.. Dalam biji terimbibisi ini daya perkecambahan biji masih tetap tinggi (Tjitrosoedirdjo. warna. bentuk. aerasi. Hal ini umum dijumpai pada gulma dari golongan teki. pH tanah. pada leguminosa kotiledon biasanya tebal karena banyak mengandung cadangan makanan.. kedalaman tanah. Setelah pembenaman sekitar 5 tahun. tanda-tanda karakteristik yang dapat dipakai misalnya: a) ukuran. bentuk. sebagai objek pengamatan. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil . BAHAN DAN METODE Percobaan ini menggunakan polibag sebagai media tanam. c) jumlah. ukuran. 1984). gulma PENDAHULUAN Biji-biji gulma mengalami dormansi sekunder mampu berkecambah setelah dibawa kepermukaan tanah. Faktor tanah yang turut menentukan distribusi gulma antara lain : kelembaban tanah. Untuk mengidentifikasi semai. dkk. unsur-unsur makanan dalam tanah dan lain-lain. bij-biji gulma yang masih viabel seperti Sorghum halepense: 48%. Misalnya pada Convolvulaceae. Ipomea turbinata: 33%. b) ukuran. warna. benih Asystasia intrusa dan Amaranthus sp. ujung kotiledon selalu terbelah. Umumnya gulma mempunyai kemampuan bersaing yang cukup baik pada semua mcam tipe tanah. d) jumlah. Dalam percobaan ini polibag diisi ¾ topsoil dan benih tersebut diletakkan diatasnya sesuai dengan perlakuan dan diberi label untuk menandai perlakuan serta ulangannya. e) biji yang tetap melekat pada semai. tekstur dan pertulangan daun pertama kadang-kadang dapat tidak sama dengan daun pada gulma yang telah dewasa. ukuran.Kunci : perkecambahan. sehingga kadang-kadang disiri sebagai tanda kearah suku. warna. dkk. Kedalaman pembenaman tidak selalu berpengaruh pada lamanya hidup biji.

Hal ini sesuai dengan literatur Sukman dan Yakup (1991) yang menyatakan bahwa kondisi cadangan biji juga tergantung pada dormansi dan lama biji tersebut tahan terdapat dalam tanah. Raja Grafindo Persada. (1984) yang menyatakan bahwa biji-biji gulma mengalami dormansi sekunder mampu berkecambah setelah dibawa kepermukaan tanah. atau karena faktor lingkungan. 2.3 .2 . Hal ini dikarenakan benih Amaranthus sp.. memilki ketahanan untuk bertahan hidup pada setiap kedalaman tanah.Data Pertumbuhan Kecambah Gulma Amaranthus sp. Dan Asystasia intrussa KESIMPULAN 1. DAFTAR PUSTAKA Moenandir. .6 5 5 10 14 16 25 13 3 16 40 Nama Gulma Perlakuan S2K0 S2K1 S2K2 S2K3 S2K4 123123123123123 Asystasia intrussa. Benih gulma Asystasia intrusa paling banyak tumbuh pada kedalaman 0 cm sebesar 20. Hal ini sesuai dengan literatur dari Tjitrosoedirjdo. 10 5 10 6 3 4 . 1993. Ilmu Gulma Dalam sistem Pertanian Dalam Sistem Pertanian.1 2 2 1 1 20 6 2 . Benih gulma yang paling banyak tumbuh adalah Amaranthus sp pada kedalaman 15 cm yaitu 40. Dan Asystasia intrussa Nama Gulma Perlakuan S1K0 S1K1 S1K2 S1K3 S1K4 123123123123123 Amaranthus sp.. Hal ini mungkin disebabkan karena beberapa faktor yaitu dari benih tersebut yang sudah ketuaan. lebih dominan pada setiap kedalaman tanah dari pada Asystasia intrusa. PT. ada gulma yang tidak dapat tumbuh pada suatu kedalaman. Grafik Pertumbuhan Kecambah Gulma Amaranthus sp. dkk.4 Pembahasan Dari hasil percobaan dapat dilihat pada data. J. 5 8 7 1 2 3 . Dari hasil percobaan dapat dilihat pada data bahwa benih Amaranthus sp. Jakarta.

1984. PT. Wiroatmodjo. S. Tjitrosoedirdjo. Utomo dan J. Jakarta..) PAPER OLEH : . Raja Grafindo Persada. Jakarta.. PENGENDALIAN GULMA JAJAGOAN (Echinocholoa crussgalli L. Gulma dan Teknik Pengendaliannya. Y. Gramedia.) PADA PERTANAMAN PADI (Oryza sativa L.. 1995. Pengelolaan Gulma di Perkebunan. PT. H. dan Yakup. I.Sukman.

Medan Diperiksa Oleh: Asisten Korektor .) PAPER OLEH : JUNITA SINAMBELA 070301054/BDP-AGRONOMI 7 Paper Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Mengikuti Praktikal Test di Laboratorium Ilmu Gulma Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.) PADA PERTANAMAN PADI (Oryza sativa L.JUNITA SINAMBELA 070301054/BDP-AGRONOMI 7 LABORATORIUM ILMU GULMA DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2009 PENGENDALIAN GULMA JAJAGOAN (Echinocholoa crussgalli L.

karena atas berkat dan rahmatNya sehingga penulis dapat menyelesaikan paper ini tepat pada waktunya.J.S. Oktober 2009 Penulis DAFTAR ISI KATA PENGANTAR i DAFTAR ISI ii PENDAHULUAN Latar Belakang 1 Tujuan Penulisan 3 Kegunaan Penulisan 3 TINJAUAN PUSTAKA Botani Gulma 4 . Medan.Dr.)”. Adapun judul dari paper ini adalah “Pengendalian Gulma Jajagoan (Echinochloa crussgalli L. 050301035 LABORATORIUM ILMU GULMA DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2009 KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis sampaikan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Akhir kata penulis mengucapakan terima kasih dan semoga paper ini bermanfaat bagi kita semua.Toga Simanungkalit. oleh sebab itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan paper ini. Medan.(Rotambatua Nababan) NIM. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen mata kuliah Ilmu Gulma yaitu Prof.) Pada Pertanaman Padi (Oryza sativa L.Dr. Ir. MP serta para asisten Laboratorium Ilmu Gulma yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan paper ini. Penulis menyadari paper ini banyak kekurangan. Prof.Damanik.Edison Purba. Paper ini disusun sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikal test di Laboratorium Ilmu Gulma Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.

Dengan demikian. dan padi 54. menyiang dengan tangan. Gulma dapat dikendalikan melalui berbagai aturan dan karantina. dan matahari. melalui budi daya dengan pergiliran tanaman. Gulma pada pertanaman padi umumnya dikendalikan dengan cara mekanis dan kimiawi. Ditemukan di seluruh Amerika Serikat. Echinochloa crussgalli adalah gulma musim panas tahunan dengan batang tebal yang dapat mencapai 5 kaki tingginya. dan Meksiko sebagai . kentang 16.6 %. secara fisik dengan membakar dan menggenangi.id. Kanada. makanan ternak atau sebagai bahan obatobatan. suatu spesies tumbuhan tidak dapat diklasifikasikan sebagai gulma pada semua kondisi. menginjak. Akibat dari serangan gulma dapat menurunkan hasil panen yang cukup besar.litbang.Habitat dan Penyebaran 6 PENGENDALIAN GULMA JAJAGOAN (Echinocholoa crussgalli L. secara mekanis dengan mencabut.6 %. jagung 45. banyak juga tumbuhan diklasifikasikan sebagai gulma dimanapun gulma itu berada karena gulma tersebut umum tumbuh secara teratur pada lahan tanaman budidaya (Sebayang. Salah satu dari sedikit rumput liar yang tidak memiliki ligula. 2009).deptan. secara biologi dengan menggunakan organisme hidup. Pengendalian gulma secara kimiawi berpotensi merusak lingkungan sehingga perlu dibatasi melalui pemaduan dengan cara pengendalian lainnya (http://balitsereal. Kehadiran gulma dalam areal pertanaman sangat tidak dikehendaki karena akan menyaingi tanaman yang ditanam dalam memperoleh unsur hara. Persen kehilangan hasil panen akibat gulma di negara bagian Kolumbia (Amerika Serikat) terhadap kacang-kacangan sebesar 51.) PADA PERTANAMAN PADI (Oryza sativa L. 2005). Gulma ialah tanaman yang tumbuhnya tidak diinginkan. air. Gulma di suatu tempat mungkin berguna sebagai bahan pangan. membabat. secara kimiawi menggunakan herbisida.go. dan mengolah tanah dengan alat mekanis bermesin dan nonmesin.1 %.4 % (Wudianto. peningkatan daya saing dan penggunaan mulsa.) Cara Pengendalian 8 Waktu Pengendalian 10 Jenis .Jenis Bahan Untuk Pengendalian 12 KESIMPULAN 14 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN PENDAHULUAN Latar Belakang Keberhasilan pengendalian gulma merupakan salah satu faktor penentu tercapainya tingkat hasil padi yang tinggi. Namun demikian. 1999).

berkembang dengan baik.gulma dari banyak agronomi tanaman. tanpa bulu (glabrous).agroatlas. Kepala sarinya mempunyai diameter 0. sering bercabang di bagian bawah node. atau tumbuhan penggenggu yang tidak dikehendaki. Malai mungkin hijau ke warna ungu dan bulir terdiri dari individu yang dapat mengembangkan 2-10 mm terminal lama (http://www. 2000). Akar adalah seperti mahkota. pembibitan. dan . 2009a). warna hijau sampai ungu tua (http://cetlanget. Batang gulma ini biasanya tegak. 2009b). maka herbisida bersifat fitotoksik (Djojosumarto.wordpress.6 – 0. lebar 0.5 mm.com.vt. 2009a). Karena herbisida aktif terhadap tumbuhan. lanskap.− TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Berdasarkan Nasution (1986) taksonomi gulma padi-padian adalah sebagai berikut: Kingdom : Plantae Divisio : Spermatophyta Kelas : Angiospermae Ordo : Poales Famili : Poaceae Genus : Echinochloa Spesies : Echinochloa crussgalli L. panjang 2 – 3.vt.ppws. menembus ke dalam tanah turun sampai 50 cm (http://www. Tujuan Percobaan Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui pengendalian gulma jajagoan (Echinochloa crussgali L. berambut.) pada pertanaman padi (Oryza sativa L. 2009a). Kegunaan Percobaan Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikal test di− Laboratorium Agronomi Ilmu Gulma Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.edu. Biji yang tua berwarna kecoklat-coklatan sampai kehitam-hitaman (http://cetlanget.).vt. dan rumput (http://www. tebal. Buah E. tebal. dan mungkin berwarna merah ke merah marun di pangkalan (http://www. Medan.com. yang mula-mula tumbuh tegak kemudian merunduk.5 mm.edu.ru.ppws. anak bulir panjang 2 – 3. terdiri dari 5 – 40 cm tandan. Bulirnya banyak. 2009c). panjang 5 – 21 cm. Bentuk garis meruncing ke arah ujung.5 – 1 cm. crusgalli disebut caryopsis. berbentuk lonjong. Siberia Timur di selatan. Herbisida adalah pestisida yang digunakaan untuk mengendalikan gulma.wordpress. Biasanya terbentuk piramid sempit.85 mm. Siberia Barat.. Sebagai bahan informasi bagi pihak-pihak yang membutuhkan. Habitat dan Penyebaran Distribusi tumbuhan ini meliputi Kaukasus. Bunga memiliki seedhead malai terminal berkisar 4-16 inci panjangnya.ppws.edu. Daunnya rata/datar dengan panjang 10 – 20 cm. 2009b).

Dalam zona taiga kehilangan makna sebagai tanaman gulma eurysynusic.com. pinggir jalan. oleh karena menggunakan prinsip-prinsip ekologi yaitu mengelola lingkungan sedemikian rupa sehingga mendukung dan menguntungkan pertanaman tetapi merugikan bagi gulmanya. dan di lumpur dan air danau. Di wilayah baratdaya AS. Tumbuh baik terutama di lembab (irigasi dan banjir) ladang. Mencapai perbatasan utara pertanian. Mongolia. Di sawah tumbuh bersama padi. daerah rendah di croplands subur dan basah limbah. (http://www. di rawa-rawa. tapi lebih baik disesuaikan dengan daerah di mana suhu tahunan rata-rata 14-16 ° C. daerah rembesan. daerah dibudidayakan.wordpress. Ekologinya yaitu thermophil. Himalaya. dan bidang kosong. dan sering gulma yang umum di sawah.agroatlas. Echinochloa crussgalli dilaporkan mentoleransi presipitasi tahunan 3. 2009b). Tidak dibatasi oleh pH tanah (http://www. crusgalli terdapat di tempat-tempat basah. mekanis. pertemuan jarang. Kelimpahan dan terjadinya penurunan dari selatan ke utara. Kelompok tanaman bertemu di padang rumput kering dan ruderal daerah. Cina. tidak dikompresi. baik yang beriklim sedang dan tropis. Afrika. Mediterania. dan pengendalian gulma secara tunggal jarang mencukupi bila menginginkan agar pengendalian gulma tersebut efektif dan ekonomis (Sebayang 2005).8 ° C (rata-rata dari 59 kasus = 14. Asia Tengah. Ekologi tumbuhan ini mulai dari boreal lembab atau basah hingga tropis sangat kering atau daerah hutan hujan tropis. Contoh: padi-tebu- . Terdistribusi dan tersebar luas di semua wilayah hangat di dunia.1-25. suhu tahunan 5. PENGENDALIAN GULMA JAJAGOAN (Echinochloa crussgali) PADA PERTANAMAN PADI (Oryza sativa L.7). Amerika Selatan. sering berumput. sering tumbuh di air. Pengendalian gulma dengan sistem budidaya disebut juga cara pengendalian secara ekologis. E.Timur Jauh.7-27. lebih suka ringan oleh struktur mekanik. Luas digarap gulma pada tanaman di zona stepa. Disesuaikan dengan hampir semua jenis tempat-tempat yang basah. Masing-masing pengendalian gulma memiliki keunggulan dan kerugian.8-8. Jepang. Tumbuh di berbagai situs basah seperti selokan. 2009). Asia Minor. 2009c). akan tetapi umumnya lebih tinggi dan berbunga lebih dulu dari pada padi (http://cetlanget. sangat lembut tanah aluvial.9). sering terganggu tanah liat. Berhasil di daerah dingin. selokan dan dataran banjir. Daur kelembaban bertahan buruk. padang rumput basah dan basah.ru.purdue. Amerika Utara.) Cara Pengendalian Metode pengendalian gulma dapat dikelompokkan ke dalam kelompok kultur teknis.hort. dan pH 4.4). selatan Skandinavia. Di dalam pengendalian gulma dengan sistem budidaya ini terdapat beberapa cara yaitu: a) Pergiliran tanaman bertujuan untuk mengatur dan menekan populasi gulma dalam ambang yang tidak membahayakan. basah. kadang-kadang terdapat juga di tempat setengah basah. itu terjadi dalam lembab.2 (berarti dari 53 kasus = 6. Australia.edu. hygrophilous. Eropa Tengah dan Atlantik. agak kaya. manual. Ini adalah berlebihan dalam zona Chernozem. kimia dan biologi. Kaukasus dan Timur Jauh.0 dm (berarti dari 59 kasus = 9.

karena biasanya jenis gulma itu dapat hidup dengan leluasa pada kondisi yang cocok untuk pertumbuhannya. Tanaman tertentu biasanya mempunyai jenis gulma tertentu pula. Yang dimaksud dengan herbisida adalah senyawa kimia yang dapat digunakan untuk mematikan atau menekan pertumbuhan gulma. Untuk berhasilnya cara ini memerlukan dasar-dasar pengetahuan yang cukup dan untuk itu akan diuraikan tersendiri lebih lanjut. tomat. mempunyai efek residu terhadap alam sekitar dan sebagainya. Myrothesium roridum untuk kiambang . kalkun pada perkebunan kapas. Sebagai contoh gulma teki (Cyperus rotundus) sering berada dengan baik dan mengganggu pertanaman tanah kering yang berumur setahun (misalnya pada tanaman cabe. c) Penaungan dengan tumbuhan penutup (cover crops) yang berguna untuk mencegah perkecambahan dan pertumbuhan gulma. Baru kemudian tanaman ditanam pada tanah yang sebagian besar gulmanya telah mati terberantas. Beberapa segi negatifnya ialah bahaya keracunan tanaman. Sebagai contoh pengendalian biologis dengan insekta yang berhasil ialah pengendalian kaktus Opuntia spp. dengan membiarkan gulma tumbuh lebih dulu lalu diberantas dengan pengolahan tanah atau herbisida. dan penggunaannya bisa pada saat pratanam. Penanaman rapat agar tajuk tanaman segera menutupi ruang-ruang kosong merupakan cara yang efektif untuk menekan gulma. fungi. ikan dan sebagainya. ikan yang memakan gulma air dan sebagainya. Di Australia dengan menggunakan Cactoblastis cactorum. dan Cerospora sp. Keuntungan pengendalian gulma secara kimiawi adalah cepat dan efektif. ternak. sehingga gulma hidupnya tidak senyaman sebelumnya. Pengendalian gulma secara biologis (hayati) ialah pengendalian gulma dengan menggunakan organisme lain. seperti insekta. Sedangkan jamur atau fungi yang berpotensi dapat mengendalikan gulma secara biologis ialah Uredo eichhorniae untuk eceng gondok. baik secara selektif maupun non selektif. Di samping pengendalian biologis yang tidak begitu spesifik terhadap spesies-spesies tertentu seperti penggunaan ternak dalam pengembalaan. dan sebagainya). Sehubungan dengan sifatnya ini maka pengendalian gulma secara kimiawi ini harus merupakan pilihan terakhir apabila caracara pengendalian gulma lainnya tidak berhasil. Dengan pergiliran tanaman. dan pengendalian Salvinia sp. b) Budidaya pertanaman dilakukan dengan penggunaan varietas tanaman yang cocok untuk suatu daerah merupakan tindakan yang sangat membantu mengatasi masalah gulma. kondisi mikroklimat akan dapat berubah-ubah. untuk kayu apu. Pengendalian biologis yang intensif dengan insekta atau fungi biasanya hanya ditujukan terhadap suatu species gulma asing yang telah menyebar secara luas dan ini harus melalui proses penelitian yang lama serta membutuhkan ketelitian.kedelai. Demikian juga eceng gondok (Eichhornia crassipes) dapat dikendalikan secara biologis dengan kumbang penggerek Neochetina bruchi dan Neochetina eichhorniae. . Macam herbisida yang dipilih bisa kontak maupun sistemik. Waktu tanaman lambat. sambil membantu pertanaman pokoknya dengan pupuk nitrogen yang kadang-kadang dapat dihasilkan sendiri. insekta atau fungi tersebut tidak menyerang tanaman atau tumbuhan lain yang mempunyai arti ekonomis. Pemupukan yang tepat merupakan cara untuk mempercepat pertumbuhan tanaman sehingga mempertinggi daya saing pertanaman terhadap gulma. padi-tembakau-padi. Pengendalian gulma secara kimiawi adalah pengendalian gulma dengan menggunakan herbisida. Juga harus yakin apabila species gulma yang akan dikendalikan itu habis. dengan menggunakan Cyrtobagous singularis. Demikian pula dengan wewehan (Monochoria vaginalis) di sawah-sawah. terutama untuk areal yang luas. pratumbuh atau pasca tumbuh.

Untuk dapat mengendalikan suatu species gulma yang menimbulkan masalah ternyata dibutuhkan lebih dari satu cara pengendalian. Cara-cara yang dikombinasikan dalam cara pengendalian secara terpadu ini tergantung pada situasi. Pemberantasan gulma pada padi sawah dapat dilakukan secara mekanik dengan penyiangan manual.Yang dimaksud dengan pengendalian gulma secara terpadu yaitu pengendalian gulma dengan menggunakan beberapa cara secara bersamaan dengan tujuan untuk mendapatkan hasil yang sebaik-baiknya. Tanggap atau respon beberapa jenis gulmaterhadap herbisida amat tergantung pada jenis herbisida yang digunakan itulah yang digolongkan kedalam herbisida selektif atau non selektif. glyphosat dan dalapon pada karet) (Moenandir. herbisida diaplikasikan sebelum tanam. kondisi dan tujuan masing-masing. Herbisida berbahan aktif 2. 2009).ac. herbisida diaplikasikan sebelum tanaman tumbuh (muncul) (nitralin) d) pasca tumbuh. praktek budidaya.4 D) merupakan jenis herbisida yang selektif untuk pertanaman padi. bersifat sistemik artinya dapat bergerak dari daun dan bersama proses metabolisme ikut kedalam jaringan tanaman sasaran (http://stppgowa. 2009). Untuk . demikian pula gulmanya (MCPA atau propanil pada padi. Herbisida dapat diaplikasikan pada beberapa periode sebelum atau selama periode pertumbuhan tanaman. cuaca. herbisida diaplikasikan sebelum tanah diolah dan sebelum ada tanaman (paraquat) b) pra tanam. Klasifikasi berdasarkan waktu aplikasi yaitu: a) pra kultivasi.ac. Untuk pengendalian secara kimiawi sebaiknya menggunakan senyawa kimia yang selektif untuk menghambat atau mematikan gulma tetapi tidak mengganggu pertumbuhan tanaman padi. Walaupun telah dikenal beberapa cara pengendalian gulma antara lain secara budidaya. pada padi sawah. jarak tanam dengan penyiangan. Pada umumnya herbisida digunakan pada saat pre planting (pra tanam).uns. pemupukan dengan herbisida dan sebagainya.id. (http://fp. herbisida pra-tanam atau herbisida yang early post emergence harus diaplikasikan pada benih padi yang dipindah-tanamkan. EPTC) c) pra tumbuh. Dalam hal ini pengendalian yang akan dibahas lebih lanjut yaitu pengendalian secara kimiawi/kemis yaitu dengan aplikasi herbisida.id. Gulma harus dibuang dari tanaman padi sesegera mungkin. 1990). Misalnya. Waktu Pengendalian Pada dasarnya pengendalian gulma telah dilakukan sejak pra kultivasi yaitu sebelum tanah diolah dan sebelum ada tanaman hingga pasca tumbuh tanaman (post emergence). pre emergence (pra tumbuh) dan post emergente (pasca tumbuh) (Sebayang. 2005). fisik. biologis dan kimiawi serta preventif. Herbisida pra-tumbuh adakalanya harus diaplikasikan sesudah tanaman pokoknya ditanam. tetapi tidak satupun cara-cara tersebut dapat mengendalikan gulma secara tuntas. Waktu aplikasi herbisida bergantung pada struktur herbisida. herbisida diaplikasikan setelah tanaman tumbuh dan muncul. gulma sasaran. tetapi kurang efetif karena memerlukan waktu dan tenaga yang banyak. Dengan demikian herbisida harus diaplikasikan selama fase pertumbuhan awal tanaman. tetapi umumnya diarahkan agar mendapatkan interaksi yang positif. sesudah tanah diolah (triazin.4 dimetilamina (2. misalnya paduan antara pengolahan tanah dengan pemakaian herbisida. di samping cara-cara pengelolaan pertanaman yang lain.

oksifluorfen). KESIMPULAN 1. Sedangkan untuk herbisida organik contohnya yaitu: minyak petrol. selektif ke padi. 1)Anilid (butaklor.Jenis Bahan Untuk Pengendalian Senyawa bahan anorganik yang berasal dari garam dan arang merupakan bahan kimia yang pertama kali digunakan untuk mengendalikan gulma. Sebagian besar herbisida adalah senyawa organik. Ada pula yang menggunakan mikroherbisida yaitu golongan herbisida yang mengendalikan gulma dengan menggunakan penyakit uang ditimbulkan oleh bakteri. dan oksifluorfen). Kesalahan menentukan saat aplikasi dapat mengakibatkan keracunan pada tanaman pokok atau herbisida tidak bekerja efektif. Jenis . harus digunakan herbisida yang benar-benar selektif untuk padi dan harus dilakuikan secara hati-hati sesuai dengan rekomendasinya. Chinmethylin. 3. Echinochloa crussgalli merupakan salah satu gulma penting pertanaman padi. 2. heterosiklik nitrogen (tanpa kelas).4-D. senyawa nitril. dan herbisida lainnya (seperti metil bromida. 10)Asam polisiklik alkanoik (fenoxaprop). Metode pengendalian gulma dapat dikelompokkan ke dalam kelompok kultur teknis. Berdasarkan kelompok kimianya. karbamat. 8)Triazin (simetrin. 5)Organofosfat (glifosat). 9)Sulfonil urea (bensulfuron). ada juga Colletotrichum gloeosporioides yang diperdagangkan dengan merek dagang tertentu dan digunakan pada tanaman padi dan kedelai di Amerika (Sastroutomo.keperluan ini. 2005). (2) borat. urasil. tiobenkarb). fluorodiven. 3)Dinitro-anilin (butralin. dimetametrin). manual. piridin (contohnya parakuat). Misalnya Phytophtora palmivora yang digunakan untuk mengendalikan Morrenia odorata. Selain itu. herbisida dapat diklasifikasikan sebagai berikut. 6)Asam fenoksi (2. mekanis. pretilaklor dan propanil). sineol. (3) natrium khlorat (NaClO3). dan virus. Berikut merupakan contoh herbisida anorganik yaitu: (1) amonium sulfamat (NH4SO3NH2). dll (Sebayang.4 %. Hebisida yang dianggap ideal jika efek racunnya aman. triazin. dan tidak meninggalkan pengaruh yang lama di lingkungan. MCPA). efisien dari segi biaya. 2000). glifosat. piridazin. kimia. tiokarbamat. 7)Tiokarbamat (molonate. dan herbisida non kelompok lainnya seperti Bentazon. pendimetalin). asam fenoksi-alifatik. difenil eter. 4)Difenil eter (difenox. fenol. . 1992). efektif terhadap gulma. arsenik. senyawa alifatik. biologi dan pengendalian gulma terpadu yang merupakan gabungan dari beberapa metode tersebut. (Djojosumarto. Chlomethoxynil. gulma noksius pada tanaman jeruk. urea. Gulma dapat menurunkan hasil panen padi yang cukup besar yaitu sekitar 54. jamur. 2)Bipiridilium (parakuat). nitroanilin.

wordpress. 2009. dimetametrin). U.ac. Pada dasarnya pengendalian gulma telah dilakukan sejak pra kultivasi yaitu sebelum tanah diolah dan sebelum ada tanaman hingga pasca tumbuh tanaman (post emergence) dan mencakup aspek kultur teknis yaitu penyiangan tanaman. 3)Dinitro-anilin (butralin. Jakarta. http://cetlanget.htm&ei=H-biSvzlNczkAXTg4i2AQ&sa=X&oi=translate&ct=result&resnum=5&ved=0CBcQ7gEwBDgK&p rev=/search%3Fq%3DEchinochloa%2Bcrusgalli%26hl%3Did%26sa%3DN%26start %3D10. http://www.. Yogyakarta. 4)Difenil eter (difenox.b&c. Diakses pada tanggal 24 Oktober 2009.vt. 9)Sulfonil urea (bensulfuron). . 7)Tiokarbamat (molonate. Diakses pada tanggal 24 Oktober 2009.id/~hamasains/dasarperlintan-4. http://fp. 2009a. DAFTAR PUSTAKA Djojosumarto. Moenandir. 1986. 8)Triazin (simetrin.ppws.id/bpadi/satulima. CV Rajawali Pers.id/download/Vol_3_No_1. http://balitsereal. pendimetalin).b&c.litbang.hort. 5. pretilaklor dan propanil).agroatlas. Chinmethylin. MCPA). Fisiologi Herbisida. dan herbisida non kelompok lainnya seperti Bentazon.pdf.edu/scott/weed_id/echcg. http://stppgowa.html&ei=W OPiSoTHJcuJkQXPri6AQ&sa=X&oi=translate&ct=result&resnum=11&ved=0CCsQ7 gEwCg&prev=/search%3Fq%3DEchinochloa%2Bcrusgalli%26hl%3Did%26sa%3DG. 2009a. herbisida dapat diklasifikasikan sebagai berikut. Berdasarkan kelompok kimianya./MuhammadKadir.edu/newcrop/duke_energy/Echinochloa_crusgalli. 2009. Diakses pada tanggal 24 Oktober 2009.go. Kanisius. Diakses pada tanggal 24 Oktober 2009. 2)Bipiridilium (parakuat). 2009a&b.uns. tiobenkarb). http://www. P. PT Gramedia. 1990. Diakses pada tanggal 24 Oktober 2009. Gulma dan Pengendaliannya di Perkebunan Kaaret Sumatera Utara dan Aceh. Jakarta.. 2009. 6)Asam fenoksi (2. fluorodiven. 2000. J. Teknik Aplikasi Pestisida Pertanian. 5)Organofosfat (glifosat). 1)Anilid (butaklor.deptan.ac.com/2009/07/12/identifikasi-gulma-gulma-dominan-padapertanaman-padi-sawah-dan-usaha-pengendaliannya-di-kecamatan-samatigakabupaten-aceh-barat/.purdue.ru/en/content/weeds/Echinochloa_crusgalli/&ei=WOPiSoTHJcuJ kQXPri6AQ&sa=X&oi=translate&ct=result&resnum=15&ved=0CDcQ7gEwDg&prev =/search%3Fq%3DEchinochloa%2Bcrusgalli%26hl%3Did%26sa%3DG. http://www. 10)Asam polisiklik alkanoik (fenoxaprop). Nasution.4-D.htm.4. Chlomethoxynil. Diakses pada tanggal 24 Oktober 2009. Diakses pada tanggal 24 Oktober 2009. oksifluorfen). dll.pdf.

pengendalian Reaksi: Rabu.Sastroutomo.) terhadap pertumbuhan kecambah kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq. H.) D X P DI PRE NURSERY LAPORAN OLEH : JUNITA SINAMBELA 070301054/BDP-AGRONOMI 16 LABORATORIUM AGRONOMI TANAMAN PERKEBUNAN DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2009 PENGARUH MEDIA TANAM DAN KOMPOS AZOLLA (Azolla sp. Wudianto.) D X P di pre nursery PENGARUH MEDIA TANAM DAN KOMPOS AZOLLA (Azolla sp. R. 1992. 1999. jajagoan. Penebar Swadaya. 07 Oktober 2009 pengaruh media tanam dan kompos azolla (Azolla sp. 2005. Diposkan oleh junT blogs di 01:10 1 komentar Link ke posting ini Label: gulma. Brawijaya University Press. Pestisida Dasar-Dasar dan Dampak Penggunaannya. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. S. Petunjuk Penggunaan Pestisida. Sebayang. Jakarta.S.) TERHADAP PERTUMBUHAN KECAMBAH KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) D X P DI PRE NURSERY LAPORAN OLEH : JUNITA SINAMBELA 070301054/BDP-AGRONOMI 16 .T.) TERHADAP PERTUMBUHAN KECAMBAH KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq. Gulma dan Pengendaliannya pada Tanaman Padi. Malang.

Laporan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Mengikuti Praktikal Test di Laboratorium Agronomi Tanaman Perkebunan Fakultas Pertanian Sumatera Utara, Medan Disetujui Oleh Dosen Penanggungjawab

(Ir. Balonggu Siagian, MS) NIP. 130 806 538 Diketahui Oleh: Asisten Koordinator

(Eko Andi Pasaribu) NIM. 040301001 Diperiksa Oleh: Asisten Korektor

(Hayati Silalahi) NIM. 040301037 LABORATORIUM AGRONOMI TANAMAN PERKEBUNAN DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2009 ABSTRACT The objective of this experiment was to know effect of media and azolla dung in growing of palma’s bud. The experiment was conducted in Agronomi Tanaman Perkebunan I Laboratory Land, Agriculture Faculty, North Sumatera University with altitude ± 25 m above sea level, from March to May 2009. The experiment used Randomized Complete Block Design (RAK) with 2 factors and 4 replications. The first factor was media, top soil, sand, sub soil, and fertilizer. The second one was azolla, 7 gr, 14 gr, and 21 gr. The experiment result showed that media gave significant effect of height and leaves of bud. Azolla gave significant effect of height and leaves of bud, and diameter of stem. Interaction between media and azolla gave significant effect of height and leaves of bud. Keywords : media, azolla, bud

ABSTRAK Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh media tanam dan kompos azolla terhadap pertumbuhan kecambah kelapa sawit. Percobaan ini dilaksanakan di lahan percobaan Laboratorium Agronomi Tanaman Perkebunan I Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan, pada ketinggian ± 25 m dpl dari bulan Maret sampai Mei 2009 dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor perlakuan dan empat ulangan. Faktor I adalah media tanam top soil dan pasir, sub soil dan pupuk kandang. Faktor II adalah kompos azolla 7 gr, 14 gr, 21 gr. Hasil percobaan menunjukkan bahwa media berpengaruh nyata terhadap tinggi tunas, jumlahdaun. Azolla berpengaruh nyata terhadap tinggi tunas, jumlah daun, diameter batang. Sedangkan interaksi antara media dan azolla berpengaruh nyata terhadap tinggi tunas, jumlah daun. Kata kunci : media, azolla, kecambah

RIWAYAT HIDUP Junita Sinambela lahir pada tanggal 2 April 1989 di Medan. Anak pertama dari empat bersaudara. Anak dari Bapak P. Sinambela dan Ibu N. Manurung. Adapun pendidikan yang pernah ditempuh penulis adalah sebagai berikut: SD Negeri 050721 di Gohor Lama Tamat tahun 2001 SMP Negeri 1 di Hinai Tamat tahun 2004 SMA Negeri 1 di Stabat Tamat tahun 2007 Penulis terdaftar sebagai mahasiswi di Departemen Budidaya Pertanian Program Studi Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan melalui jalur SPMB

pada pilihan pertama pada tahun 2007 sampai sekarang.

KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Esa karena atas berkat dan rahmatNya penulis dapat menyelesaikan laporan ini tepat pada waktunya. Adapun judul dari laporan ini adalah “Pengaruh Media Tanam dan Kompos Azolla (Azolla sp.) Terhadap Pertumbuhan Kecambah Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.)” yang merupakan salah satu syarat unutk dapat mengikuti praktikal test di Laboratorium Agronomi Tanaman Perkebunan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan. Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Ir. Balonggu Siagian, MS dan Ir. Charloq Nababan, MP selaku dosen mata kuliah Agronomi Tanaman Perkebunan serta kepada abang dan kakak asisten yang telah membantu dalam penyelesaian laporan ini. Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh sebab itu penulis mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan laporan ini. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih, semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Medan, Mei 2009

Penulis DAFTAR ISI ABSTRACT i ABSTRAK ii RIWAYAT HIDUP iii KATA PENGANTAR iv DAFTAR ISI v DAFTAR TABEL vii DAFTAR GAMBAR viii PENDAHULUAN Latar Belakang 1 Tujuan Percobaan 2 Hipotesis Percobaan 2 Kegunaan Percobaan 3 TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman 4 Syarat Tumbuh 5 Iklim 5 Tanah 6 Pembibitan Kelapa Sawit 7 Media Tanam 10 Kompos Azolla 10 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Percobaan 13 Bahan dan Alat 13 Metode Percobaan 13 PELAKSANAAN PERCOBAAN Persiapan Media Tanam 16 Aplikasi Kompos Azolla 16 Penanaman 16 Pemeliharaan Tanaman 16 Penyiraman 16 Penyiangan 17 Pengamatan Parameter 17 Tinggi Tanaman (cm) 17 Jumlah Daun (helai) 17 Diameter Batang (mm) 17 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil 19 Pembahasan 25 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 28 Saran 28 DAFTAR PUSTAKA .

Judul Hal 1.LAMPIRAN DAFTAR TABEL No. Rataan tinggi tunas kelapa sawit 8 MST dari perlakuan media tanam dan kompos azolla 20 2. Rataan jumlah daun kelapa sawit 8 MST dari perlakuan media tanam dan kompos azolla 22 3. Rataan diameter tunas kelapa sawit 8 MST dari perlakuan media tanam dan kompos azolla 24 .

Daftar sidik ragam tinggi tunas kelapa sawit 4 MST 32 9. Data tinggi tunas kelapa sawit 1 MST (cm) 30 2. Histogram jumlah daun kelapa sawit 8 MST dari perlakuan media tanam dan kompos azolla 23 3. Data tinggi tunas kelapa sawit 4 MST (cm) 32 8. Data tinggi tunas kelapa sawit 6 MST (cm) 33 12. Data tinggi tunas kelapa sawit 3 MST (cm) 31 6. Judul Hal 1. Daftar sidik ragam jumlah daun kelapa sawit 3 MST 35 19. Data tinggi tunas kelapa sawit 7 MST (cm) 34 14. Daftar sidik ragam tinggi tunas kelapa sawit 2 MST 31 5. Data jumlah daun kelapa sawit 3 MST (helai) 35 18. Data tinggi tunas kelapa sawit 8 MST (cm) 34 16. Data jumlah daun kelapa sawit 4 MST (helai) 36 . Judul Hal 1. Data tinggi tunas kelapa sawit 2 MST (cm) 30 4. Daftar sidik ragam tinggi tunas kelapa sawit 5 MST 33 11. Daftar sidik ragam tinggi tunas kelapa sawit 1 MST 30 3. Histogram tinggi tunas kelapa sawit 8 MST dari perlakuan media tanam dan kompos azolla 21 2.DAFTAR GAMBAR No. Daftar sidik ragam tinggi tunas kelapa sawit 6 MST 33 13. Daftar sidik ragam tinggi tunas kelapa sawit 8 MST 35 17. Histogram diameter tunas kelapa sawit 8 MST dari perlakuan media tanam dan kompos azolla 25 DAFTAR LAMPIRAN No. Data tinggi tunas kelapa sawit 5 MST (cm) 32 10. Daftar sidik ragam tinggi tunas kelapa sawit 7 MST 34 15. Daftar sidik ragam tinggi tunas kelapa sawit 3 MST 31 7.

Bagi Indonesia. Nigeria merupakan produsen terbesar minyak sawit dunia. Data jumlah daun kelapa sawit 5 MST (helai) 36 22.Selain mampu menciptakan kesempatan kerja yang mengarah kepada kesejahteraan masyarakat. juga sebagai sumber perolehan devisa negara. . Daftar sidik ragam jumlah daun kelapa sawit 8 MST 39 29. Papua Nugini (Tim Penulis PS. Data diameter batang kelapa sawit 8 MST (mm) 42 38. Perkebunan kelapa sawit komersial pertama di Indonesia mulai diusahakan pada tahun 1911 di Aceh dan Sumatera Utara oleh Adrien Hallet. Data jumlah daun kelapa sawit 6 MST (helai) 37 24. 2007). Daftar sidik ragam jumlah daun kelapa sawit 7 MST 38 27. 1996). Data diameter batang kelapa sawit 4 MST (mm) 39 30. Data jumlah daun kelapa sawit 8 MST (helai) 38 28. Data jumlah daun kelapa sawit 7 MST (helai) 38 26.. Daftar sidik ragam diameter batang kelapa sawit 8 MST 42 PENDAHULUAN Latar Belakang Kelapa sawit ( Elaeis guineensis ) berasal dari Afrika dan masuk ke Indonesia pada tahun 1848 yang ditanam di Kebun Raya Bogor (Soehardjo. Malaysia merebut kedudukan Indonesia tersebut pada tahun 1966. Indonesia. satu tingkat di bawah Nigeria. Daftar sidik ragam diameter batang kelapa sawit 4 MST 39 31. Nigeria. Dari tahun 1940-an sampai 1970-an. Thailand. dkk.. Data diameter batang kelapa sawit 5 MST (mm) 40 32. 1997). Data diameter batang kelapa sawit 6 MST (mm) 40 34. tanaman memiliki arti penting bagi pembangunan perkebunan nasional. dkk. Data diameter batang kelapa sawit 7 MST (mm) 41 36. Daftar sidik ragam jumlah daun kelapa sawit 4 MST 36 21. Daftar sidik ragam jumlah daun kelapa sawit 6 MST 37 25. seorang berkebangsaan Belgia.20. Daftar sidik ragam diameter batang kelapa sawit 6 MST 41 35. Daftar sidik ragam diameter batang kelapa sawit 7 MST 41 37. Untuk lebih jelasnya Negara produsen utama minyak sawit dunia adalah Malaysia. setingkat di atas Indonesia. Daftar sidik ragam diameter batang kelapa sawit 5 MST 40 33. Indonesia merupakan salah satu produsen utama minyak sawit (Fauzi. Colombia. Pantai Gading. Malaysia menduduki rangking pertama sebagai produsen minyak sawit dunia. Daftar sidik ragam jumlah daun kelapa sawit 5 MST 37 23. Kini.

Secara biologi. kompos dapat meningkatkan kapasitas tukar kation. pakan ikan.org. 2006).) terhadap pertumbuhan kecambah kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq. Dalam keadaan dapat dihasilkan 30-45 kg/ha berarti sama dengan 100 kg urea.). menekan pertumbuhan gulma.− Ada pengaruh interaksi media tanam dan kompos Azolla (Azolla sp. industri sabun (bahan penghasil busa).). Sebanyak 85 % lebih pasar dunia kelapa sawit dikuasai oleh Indonesia dan Malaysia. Perkebunan kelapa sawit pun bias menghadirkan prestasi-prestasi yang membanggakan dan layak untuk ditiru. terutama ayam dan itik. 2008). ketua GAPKI (Gabungan Perusahaan Kelapa Sawit Indonesia).) terhadap pertumbuhan kecambah kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq. Kegunaan azolla adalah sumber N dapat mengganti pupuk urea samapai 100 kg.)−terhadap pertumbuhan kecambah kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq. kontrol terhadap perkembangan nyamuk ( http://wikipedia. Ada pengaruh kompos Azolla (Azolla sp. ketersediaan unsur hara dan ketersediaan asam humat. Menurut Derom Bangun. Tanaman hias. pada tahun 2008 diperkirakan Indonesia bias menjadi produsen kelapa sawit terbesar di dunia.) (D x P) di pre nursery. 2003). Tujuan Percobaan Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh media tanam dan kompos Azolla (Azolla sp. dari 1. Indonesia merupakan produsen kelapa sawit terbesar kedua di dunia setelah Malaysia.307 hektar pada tahun 1938 (Hadi. CPO atau PKO banyak digunakan sebagai bahan industri pangan (minyak goreng atau margarin).Luas kebun kelapa sawit terus bertambah. dan bahan baker alternatif (minyak diesel) (Sastrosayono.). kosmetik. 2006). 2004). kompos yang tidak lain adalah bahan organik merupakan sumber bagai mikroorganisme tanah (Simamora dan Salundik. Kegunaan Percobaan Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikal test di− Laboratorium . Asam humat akan membantu meningkatkan proses pelapukan bahan mineral. Kesemuanya itu bergantung kepada manajemen dan pemimpinnya (Pahan. industri tekstil.272 hektar pada tahun 1916 menjadi 92. Ditemukan juga bahwa azolla tumbuh kembang lebih baik dari pada musim penghujan dari pada musim kemarau. Secara kimia. pakan ternak/hijauan. Minyak nabati yang dihasilkan dari pengolahan buah kelapa sawit berupa minyak sawit mentah ( CPO atau crude palm oil) yang berwarna kuning dan minyak inti sawit (PKO atau palm kernel oil) yang tidak berwarna (jernih). industri baja (bahan pelumas). Hipotesis Percobaan Ada pengaruh media tanam terhadap pertumbuhan kecambah−kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.

1994). di perkebunan umumnya 45 – 60 cm . Pada tanaman kelapa sawit letak bunga jantan dan bunga betina terpisah. Namun demikian. Akar kuartier berfungsi menyerap unsur hara dan air dari dalam tanah. sedangkan akar sekunder. Besarnya batang berdiameter 25 – 75 cm. sekunder. Helai anak daun yang terletak di tengah pelepah daun adalah yang terpanjang dan panjangnya dapat mencapai 1. Biasanya pangkal-pangkal daun melekat beberapa tahun pada batang. Medan. . masingmasing tersusun pada tandan yang berbeda tetapi masih dalam satu pohon.4 inti/kernel (umumnya hanya satu). dan sebuah embrio (Pahan. mesokarp (yang secara salah kaprah biasanya disebut perikarp) dan endocarp (cangkang) yang membungkus 1. tanaman kelapa sawit disebut tanaman berumah satu atau monoceous. bahkan ada yang sampai 17 tahun pada tanaman setengah liar (Sianturi. Inti memiliki testa (kulit). bahkan pangkal batang bisa lebih besar lagi pada tanaman tua. Jumlah anak daun dalam satu pelepah berkisar antara 120 – 160 pasang (Setyamidjaja. tergantung pada umur tanaman. 2006). Akar-akar primer umumnya tumbuh ke bawah. 2006). dan kuartier. 2004). 1991). berangsur-angsur lepas pada umur 11 tahun.20 m. tertier. Panjang pelepah daun dapat mencapai 9 m. Akar-akar kelapa sawit banyak berkembang di lapisan tanah atas sampai kedalaman ± 1 meter dan semakin ke bawah semakin sedikit (Risza. (1996) taksonomi tanaman kelapa sawit adalah : Divisi : Tracheopita Subdivisi : Pteropsida Kelas : Angiospermae Subkelas : Monocotyledoneae Ordo : Cocoideae Family : Palmae Genus : Elaeis Spesies : Elaeis guineensiss Jacq.Agronomi Tanaman Perkebunan Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Oleh karena itu. terdiri dari perikarp yang terbungkus oleh eksokarp (kulit). Pada pangkal pelepah daun terdapat duri-duri atau bulu-bulu halus sampai kasar. Secara botani buah kelapa sawit digolongkan sebagai buah drupe. endoperm yang padat. tertier dan kuartier arah tumbuhnya mendatar dan ke bawah. Tanaman kelapa sawit berakar serabut yang terdiri atas akar primer. Daun kelapa sawit bersirip genapdan bertulang sejajar. terkadang dalam satu tandan terdapat bunga jantan sekaligus bunga betina. Bunga ini disebut bunga hermaprodit (Hadi. Sebagai bahan informasi bagi pihak-pihak yang membutuhkan.− TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Menurut Soehardjo dkk.

Setelah itu.5 . Tanah perkebunan kelapa sawit hendaknya memenuhi kriteria sebagai . 1996 ). Karena itu perlu persiapan yang lama untuk mengecambahkannya. untuk tumbuh dengan baik tanaman kelapa sawit memerlukan suhu yang optimum. diperam lagi selama 3 hari ( Fermentasi II ) (Sastrosayono. 2007).. kelembapan uadar. dan angin (Fauzi. Setelah buah masak dipanen. 2003). 2) kemiringan lahan 0 -15 3) Solum 80 cm . hidromorfik kelabu. Beberapa faktor yang mempengaruhi suhu° – 30°berkisar antara 29 adalah lama penyinaran dan ketinggian tempat. Kelapa sawit dapat tumbuh dengan baik pada daerah tropika basah di sekitar lintang utara – selatan 12 derajat pada ketinggian 0 – 500 m dpl. . organosol dan aluviall Soehardjo. Inilah yang membuat tanaman sawit tumbuh lambat pada daerah beriklim moonson dan produksinya kecil. dkk. Tanaman yang ternaungi karena jarak tanam yang sempit. latosol. 2003). 1997).. hidromorfik. Tanaman kelapa sawit termasuk tanaman heliofil atau menyukai cahaya matahari. 5) Kedalaman air tanah 80 -150 cm dari permukaan . Yang penting untuk pertumbuhan tanaman kelapa sawit adalh distribusi hujan yang merata.0 – 6. pertunbuhannya akan terhambat karena hasil asimilasinya kurang (Sastrosayono. 1991). Tanah Kelapa sawit tumbuh pada beberapa jenis tanah seperti podsilik. Beberapa unsur iklim yang penting dan saling mempengaruhi adalah curah hujan. 6) Drainase baik . regosol. 4) ketinggian lahan 0 – 400 m dpl . tandan buah diperam ( Fermentasi I ) selama 3 hari supaya semua buahnya rontok. Kelembaban relatif paling sedikit 75% (Sianturi. maka akan terjadi kenaikan suhu. 7) kesuburan kimiawi cukup (diketahui dari hasil analisa tanah) (Hadi. Pembibitan Kelapa Sawit Benih tanaman kelapa sawit memiliki sawit yang tebal. 2004). sinar matahari.°berikut : 1) Keasaman tanah (pH) 5. andosol. Suhu optimum itu C. Penyinaran matahari sangat berpengaruh terhadapat perkembangan buah kelapa sawit. Makin lama penyinaran atau makin rendah suatu tempat. Selain sinar matahari dan curah hujan yang cukup. suhu. Suhu akan berpengaruh terhadap pembungaan dan kematangan buah (Tim Penulis PS. Kemarau panjang dapat mengakibatkan pengeringan tanah di daerah perakaran yang relatif dangkal sehingga kelembaban tanah bias berada di bawah titik layu permanen.Syarat Tumbuh Iklim Faktor iklim sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi tandan kelapa sawit. dkk.

Areal harus rata . Untuk memperoleh bibit yang benar. 2006). unggul dan homogen maka bibit hanya dipilih ± 75 % saja.. Dekat dengan sumber air . Hasil persilangan dianggap sebagai persilangan terbaik secara ekonomis. Untuk mendukung pertumbuhan bibit dengan baik. dan hama lainnya . Tidak tergenang air . 5. antara lain bahan bibit yang diperoleh sangat terbatas dan sangat bervariasi (Tim Penulis PS. mutu minyak. 3. 4. Dalam usaha membudidayakan kelapa sawit. pengadaan bibit dalam jumlah banyak dengan cara ini mengalami beberapa kendala. tikus. 2004). Prenursery diawali dengan menanam kecambah kelapa sawit ke dalam tanah pada kantong plastik atau (polybag) kecil hingga berumur tiga bulan. Seleksi bibit ini sedemikian ketat karena bibitnya standar akan menentukan masa depan hasil panen dan kualitas tanaman (Rizsa. Produksi benih D x P adalah mirip dengan produksi jagung hibrida. di Indonesia lebih banyak digunakan bahan tanaman yang berasal dari persilangan Dura dan Pisifera.Pembibitan merupakan kegiatan – kegiatan awal di lapangan yang bertujuan untuk mempersiapakan bibit siap tanam. agar bibit yang ditanam tersebut memenuhi syarat pertama baik umurnya maupun ukurannya (Setyamidjaja. Untuk mendapatkan tanaman yang bersifat unggul. perlu diperhatikan syarat penetapan lokasi pembibitan : 1. Pada benih jagung . 1996). yaitu didasarkan pada kriteria produksi minyak perhektar. Tahapan bibitan dapat dibagi dua yaitu : prapembibitan (prenursery) dan pembibitan utama (mainnursery) untuk pertumbuhan selanjutnya (Sianturi. pertumbuhan vegetatif dan daya tahan terhadap penyakit tajuk serta ganoderma (Fauzi. 1991). 2006). biji yang dipilih sebaiknya berasal dari persilangan varietas unggul.benar sehat. (2) bahan tanaman memerlukan ketegakan habitusnya sehingga tidak miring atau roboh . atau kiar-kira 9 bulan kemudian. 1997). Sedangkan selebihnya 25 % sengaja dibuang (thinning out). 2. Akan tetapi. Jadi waktu yang dibutuhkan pada pembibitan mulai penanaman kecambah hingga bibit siap ditanam di areal perkebunan kurang lebih adalah 12 bulan (3 bulan di prenursery dan 9 bulan di main nursery) (Hadi. masalah pertama yang dihadapi oleh pengusaha dan petani yang bersangkutan adalah tentang pengadaan bibit. Mainnursery diawali dengan menanam biji yang sudah berumur tiga bulan (pindahan dari prenursery) kedalam polybag yang lebih besar hingga bibit siap ditanam di areal perkebunan. Cara ini memang umum dilakukan dan diangap paling gampang. yaitu dengan bijinya. Pemeliharaan dan kondisi bibit dipembibitan sangat menentukan keadaan tanaman dilapangan baik keragaman maupun produktivitasnya. Relatif dekat dengan media Pananaman . Jauh dari sumber hama dan penyakit tanaman (Soehardjo. sertaa (3) pembibitan diperlukan untuk memperpendek waktu antara persiapan lapangan dan penanaman pertama sehingga begitu lahan siap tanam bibit sudah siap untuk ditanam (Pahan. Pembibitan harus sudah dipersiapkan sekitar 1 tahun sebelum penanaman di lapangan. Seleksi bibit penting dilakukan karena akan menentukan hasil panen dan kualitas kelapa sawit. 1994). Alasan lain diperlukannya pembibitan yaitu (1) keadaan kecambah kelapa sawit yang mudah diserang insekta. Kualitas bibit sangat menentukan produksi akhir jenis komoditas ini. dkk. 2007). Pada umumnya pengembangbiakan tanaman kelapa sawit dilakikan secara generatif.

1994). Akar solit. maka liat ini akan lebih praktis dibandingkan dengan tanah yang mengandung 100% liat. Pada kasus lalu tanah – tanah berpasir biasanya berhubungan dengan kandungan unsur hara yang tinggi (Risza. 2006). Tanah yang kurang cocok adalah tanah pantai berpasir dan tanah gambut tebal (Fauzi. struktur. ) Azolla adalah jenis tumbuhan paku air yang mengapung banyak terdapat diperairan tergenang terutama di sawah. subur. permeabilitas. Oleh sebab itu penanaman jagung varietas hibrida menghasilkan tanaman yang tetap seragam dalam bebagai aspek (Chin. dan gas. Azolla pinnata merupakan tumbuhan kecil yang mengapung di air. sehingga sulit menyerap atau menahan air dan unsur hara. air akan mudah meresap. Jenis media tanam terdiri atas lapisan tanah yang terdiri atas tiga fase bahan – bahan padat.hibrida. kemiringan tanah. Tekstur tanah ringan dengan kandungan pasir 20 – 60%. Pada pembastaran tumbuhan secara genetik sama tetapi heterozigot. Tanaman yang bertekstur pasir mempunyai luas permukaan atau (spesific surface) yang kecil. dengan cabang..sawah dan di kolam. Tanaman kelapa sawit tumbuh baik pada daerah gembur. panjang 1 – 5 cm dengan membentuk kelompok 3 -6 rambut . udara tanah mudah masuk dan tanah mudah diolah (Hasibuan. dan kedalaman permukaan air tanah. sebagai contoh selfing dan sibbing. permeabilitas sedang. sebagian bagi adalah bahan organik yang terakhir adalah bagian yang dijumpai paling banyak pada tanah organik (Sianturi. konsistensi. Beberapa hal yang menentukan sifat fisik tanah adalah tekstur. 2007). dan liat 20 -50%. karena cukup longgar.) secara sistematik telah dimulai tahun1920 di Afrika dan Asia (Malaysia dan Sumatera) ketika spesies memulai di eksploitasi untuk minyak nabati sacara komersial (Internasional Confenrence . terlihat berbentuk segitiga atau segiempat. Media Tanam Bila tanah banyak mengadung banyak pasir. Bila jumlah pasir tidak terlalu banyak. Azolla berukuran 2 . pengaruhnya terhadap tanah akan baik. Fase padat menempati hamper 50% dari volume tanah. tanah ini kurang baik untuk pertumbuhan tanaman. Pemuliaan dan seleksi kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq. yang terdiri dari mineral yang kaya hara esensial. 1991). mengapung di air. sehingga pada musim kemarau mudah kekurangan air. berbulu. berdrainase baik.4 cm. dan mempunyai solum yang tebal sekitar 80 cm tanpa lapisan padas. dkk. ketebalan lapisan tanah. Kompos Azolla ( Azolla sp. akar rhizome dan daun terapug. Sungguhpun demikian anggota dari setiap turunan secara genetic homozigot dan serupa. debu 10 – 40%. 2006). cair. 1981). tetua dalam turunan yang telah mengalami jumlah besar generasi yang dimuliakan. mempuyai permukaan daun yang lunak mudah berkembang dengan cepat dan hidup bersimbiosis dengan Anabaena azollae yang dapat mengfiksasi nitrogen ( N2 ) dari udara. Tanah dengan 25% liatnya. dan jumlahnya cukup dikandung tanah.

tentu bermanfaat pula untuk memperbaiki tekstur tanah yang rusak akibat penggunaan pupuk kimia (http:// www. Azolla pinnata hanya tumbuh di daerah tropis. Zn 26 – 989 ppm (http://kolamazolla. 2009). pasir.kehati.70 % .16 – 1. air untuk penyiraman. salama ada air yang tergenang. membentuk 2 barisan. Jumlah nitrogen yang diikat azolla melebihi kebutuhannya sendiri. tanaman hias. Al 0. Manfaat Azolla sebagai pupuk alami penganti urea pelantaran tanaman tersebut mampu mengikat nitrogen dari udara. cuping dengan cuping dorsal berpegangan di atas permukaan air dan cuping ventral mengapung (http://www.) . sub soil.22 – 0. Sehingga sebagian nitrogen dilepaskan ke lingkungan sekitarnya dan diserap oleh tanaman lain. Bahan dan Alat Adapun bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah benih kelapa sawit ( Elaeis guineensis Jacq. Bila sawah atau kolam tersebut kering maka Azolla pinnata akan mati.0. Na 0. yamg berarti paku.73 % . pakan ternak/hijauan. Cl 0.or.4 – 0.co. jelas Azolla pinnata bereproduksi menggunakan spora (http:// syraru.com. top soil.35 % .62 . Daun kecil.4 -0.45 – 1. Mg 0.31 – 5.) sebagai objek pengamatan.blogspot. Mn 66 – 2. duduk melekat. K 0.66 % .59 % . 2009).264 ppm .com. pupuk kandang ayam ras sebagai media tanam. tumbuhan paku ini dapat tumbuh subur. Azolla pinata tumbuh subur di daerah sawah dan kolam. Kegunaan azolla adalah: sumber N dapat menganti pupuk urea sampai 100 kg.90 % . Dengan ketinggian tempat ± 25 m dpl yang dimulai dari bulan Februari 2009 sampai dengan April 2009. Fe 0.id 2009). Azolla piñata termasuk dalam divisi Pterydophyta.blogspot.59 % .pakuan. kontrol terhadap perkembangan nyamuk (http://kolamazolla. Selain menghemat pupuk.16 -1. Kandungan unsur hara dalam azolla yaitu: N 1.944 ppm . Universitas Sumatera Utara. terutama ayam dan itik.30 % . 2009 a). Ca 0.akar. Co 0.kr. 2009 b).59 % . BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Percobaan ini dilakukan di lahan percobaan Fakultas Pertanian.31 % . Medan.16 -3. P 0.com. menyirap bervariasi.96–5. menekan pertumbuhan gulma.22 – 0. pakan ikan. serta kompos Azolla (Azolla sp. Si 0. S 0.id . Nitrogen merupakan nutrisi utama bagi tanaman untuk menopang pertumbuhannya.97 % .

dan jangka sorong untuk mengukur diameter batang kecambah. polybag sebagai wadah penanaman. dan pertumbuhan kecambah kelapa sawit ke-k µ : Nilai tengah βi : Efek media tanam ke-i αj : Efek jumlah kompos Azolla ke-j (αβ)jk : Efek interaksi antara media tanam ke-i dan jumlah kompos Azolla ke-j εijk : Efek error yang disebabkan oleh media tanam ke-i.) dengan 3 taraf yaitu: A0: Tanpa kompos Azolla A1: Diberi kompos Azolla 7 gram A2: Diberi kompos Azolla 14 gram Sehingga didapat 6 kombinasi perlakuan yaitu: M1A0 M2A0 M1A1 M2A1 M1A2 M2A2 Jumlah blok : 3 Jumlah plot per blok : 6 Jumlah kecambah per plot : 2 Jumlah kecambah seluruhnya : 36 Dari hasil percobaan dianalisis sidik ragam Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan model linier sebagai berikut: Yijk= µ + βi + αj + βk + (αβ)jk + εijk dimana: Yijk : nilai pengamatan pada media tanam ke-i. gembor untuk menyiram tanaman. jumlah kompos Azolla ke-j. Sedangkan alat yang digunakan adalah cangkul untuk mencangkul tanah. Metode percobaan Data percobaan dianalisis dengan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dengan dua faktor yaitu: Faktor I : Media Tanam (M) dengan dua taraf yaitu: M1: Top soil + Pasir M2: Sub soil + Pupuk kandang ayam ras Faktor II: Kompos Azolla (Azolla sp. meteran untuk mengukur tinggi kecambah. jumlah kompos Azolla ke-j dan pertumbuhan kecambah kelapa sawit ke-k Apabila data percobaan analisis tidak ragam berbeda nyata. akan diujikan dengan beda nyata jujur (BNJ) pada x = 5% . .sebagai bahan pengganti sumber N.

.PELAKSANAAN PERCOBAAN Persiapan Lahan Lahan percobaan dibersihkan dari gulma dan dibuat plot sebagai tempat peletakan polibag. Penyiangan Penyiangan dapat dilakukan dengan menggunakan alat yaitu cangkul atau dengan tangan pada saat gulma mulai tumbuh di media tanam maupun di areal penanaman. Penyiapan Media Tanam Pasir yang digunakan adalah pasir yang berasal dari laut. Penyiraman dilakukan dengan menggunakan gembor. pasir dibersihkan dari bahan organik. Pemupukan Pemupukan dilakukan pada tanaman sejak berumur 3 MSPT hingga 6 MSPT dengan menggunakan pupuk Nitroposka. Pemeliharaan Tanaman Penyiraman Penyiraman dilakukan setiap sore hari tergantung kepada kondisi kelembaban permukaan media tanam. Kemudian media tanam campuran yakni pupuk kandang dicampur dengan topsoil sesuai dengan perlakuan masing-masing kemudian dimasukkan ke dalam polibag. dicampur dengan topsoil sesuai dengan perlakuan masing-masing. setelah plot selesai disekeliling bedengan dibuat pagar dan parit sedalam 30 cm.

dihitung mulai dari permukaan tanah sampai bagian tertinggi dari tanaman.Pengamatan Parameter Tinggi tanaman Tinggi tanaman yang berkecambah sudah berumur 3 bulan. Diameter Batang (mm) Batang tanaman diukur diameternya pada ketinggian 1 cm diatas permukaan tanah dengan menggunakan jangka sorong. jumlah daun 4 . HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Dari data pengamatan dan sidik ragam (lampiran 1 – 38) diketahui bahwa perlakuan media tanam berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 2 – 8 MST. Jumlah Daun (helai) Jumlah daun yang dihitung adalah daun yang telah membuka sempurna. Pengukuran diameter batang dilakukan sejak tanaman 3 MSPT hingga tanaman berumur 6 MSPT dengan interval 1 minggu. Perhitungan jumlah daun dilakukan sejak berumur 3 MSPT hingga tanaman berumur 6 MSPT dengan interval 1 minggu.

. dan tidak berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 1.67). 6. jumlah daun 3 MST. jumlah daun 4 – 8 MST. diameter batang 4 – 8 MST. 7. diameter batang 4 – 5 MST. diameter batang 4 – 8 MST. 7.79). dan tidak berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 1 MST. Dari Tabel 1 diketahui bahwa interaksi media tanam dan kompos azolla terhadap parameter tinggi tunas 8 MST tertinggi yaitu M1A2 (19. dan tidak berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 1 MST. dan tidak berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 1 MST.66) dan terendah M2A0 (15. 8 MST. Tabel 1. jumlah daun 4 MST.41) dan terendah M2 (12. 8 MST. diameter batang 6 – 8 MST. Rataan tinggi tunas kelapa sawit 8 MST (cm) dari perlakuan media tanam dan kompos azolla Dari Tabel 1 diketahui bahwa perlakuan media tanam terhadap parameter tinggi tunas 8 MST tertinggi yaitu M1 (13. dan tidak berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 1 MST. Dari data pengamatan dan sidik ragam (lampiran 1 – 38) diketahui bahwa interaksi antara media tanam dan kompos azolla berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 2 – 5 MST. Rataan tinggi tunas kelapa sawit 8 MST (cm) dari perlakuan media tanam dan kompos azolla dapat dilihat pada tabel 1. Interaksi antara media tanam dan kompos azolla berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 2 – 5 MST. dan tidak berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 1.59). Kompos azolla berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 2 – 8 MST. jumlah daun 3 MST.61) dan terendah A0 (10. Dari Tabel 1 diketahui bahwa perlakuan kompos azolla terhadap parameter tinggi tunas 8 MST tertinggi yaitu A2 (12. Tinggi Tunas (cm) Dari data pengamatan dan sidik ragam diketahui bahwa perlakuan media tanam berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 2 – 8 MST. Histtogram tunas kelapa sawit 8 MST (cm) dari perlakuan media tanam dan kompos azolla dapat dilihat pada gambar 1. Dari data pengamatan dan sidik ragam (lampiran 1 – 38) diketahui bahwa perlakuan kompos azolla berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 2 – 8 MST.– 8 MST. 6. jumlah daun 5 – 8 MST.

.89) dan terendah A1 (1. Kompos azolla berbeda nyata terhadap parameter jumlah daun 5 – 8 MST. dan tidak berbeda nyata terhadap parameter jumlah daun 3 MST. Rataan jumlah daun kelapa sawit 8 MST (helai) dari perlakuan media tanam dan kompos azolla dapat dilihat pada tabel 2. Dari Tabel 2 diketahui bahwa pada interaksi media tanam dan kompos azolla terhadap parameter jumlah daun 8 MST tertinggi yaitu M1A1 dan M1A2 (3. Dari Tabel 2 diketahui bahwa pada perlakuan kompos azolla terhadap parameter jumlah daun 8 MST tertinggi yaitu A2 (1. Tabel 2. Interaksi antara media tanam dan kompos azolla berbeda nyata terhadap parameter.15) dan terendah M2 (1.Gambar 1.00) dan terendah M2A0 dan M2A1 (2. Rataan tinggi tunas kelapa sawit 8 MST (cm) dari perlakuan media tanam dan kompos azolla Jumlah Daun (helai) Dari data pengamatan dan sidik ragam diketahui bahwa perlakuan media tanam berbeda nyata terhadap parameter jumlah daun 4 – 8 MST. dan tidak berbeda nyata terhadap parameter jumlah daun 3 MST. Rataan jumlah daun kelapa sawit 8 MST (helai) dari perlakuan media tanam dan kompos azolla Dari Tabel 2 diketahui bahwa pada perlakuan media tanam terhadap parameter jumlah daun 8 MST tertinggi yaitu M1 (2.83). dan tidak berbeda nyata terhadap parameter jumlah daun 4 – 8 MST.92).50).

Tabel 3. Kompos azolla berbeda nyata terhadap parameter diameter batang 6 – 8 MST. Interaksi antara media tanam dan kompos azolla tidak berbeda nyata terhadap parameter diameter batang 4 – 8 MST. Histogram jumlah daun kelapa sawit 8 MST (helai) dari perlakuan media tanam dan kompos azolla Diameter Tunas (mm) Dari data pengamatan dan sidik ragam diktahui bahwa perlakuan media tanam tidak berbeda nyata terhadap parameter diameter batang 4 – 8 MST. Gambar 2.Histogram jumlah daun kelapa sawit 8 MST (helai) dari perlakuan media tanam dan kompos azolla dapat dilihat pada gambar 2. Rataan diameter tunas kelapa sawit 8 MST (mm) dari perlakuan media tanam dan kompos azolla dapat dilihat pada tabel 3. Rataan diameter tunas kelapa sawit 8 MST (mm) dari perlakuan media tanam dan kompos azolla . dan tidak berbeda nyata terhadap parameter diameter batang 4 – 5 MST.

Hal ini disebabkan karena media tanam yang digunakan adalah pasir dan top soil dengan . Hal ini sesuai dengan literatur Hadi (2004) yang menyatakan bahwa Jenis tanah berhubungan erat dengan plastisitas. kesuburan dan produktivitas tanah pada daerah geotropik tertentu. maka ada ketentuan-ketentuan umum yang berlaku untuk semua jenis tanah Dari hasil percobaan pada perlakuan media tanam terhadap parameter tinggi tunas 8 MST tertinggi yaitu M1 (13.79). Gambar 3. Akar kelapa sawit dapat menyerap hara dari media tanam dengan baik karena ruang pori tanah yang baik.77) dan terendah A0 (0.79). Akan tetapi akan berhubungan dengan adanya variasi yang terdapat pada sistem mineralogy reaksi tanah.41) dan terendah M2 (12.) D X P di Pre Nursery Dari data diketahui bahwa media tanam berbeda nyata terhadap tinggi tunas dan jumlah daun kelapa sawit. kemudian olah tanah. Dari Tabel 3 diketahui bahwa pada perlakuan kompos azolla terhadap parameter diameter tunas 8 MST tertinggi yaitu A1 (0. Hal ini dikarenakan media tanam yang digunakan sangat sesuai dengan kebutuhan kelapa sawit dalam pertumbuhannya.80) dan terendah M1 (0. Begitu juga terhadap parameter jumlah daun 8 MST tertinggi yaitu M1 (2.60). Histogram diameter tunas kelapa sawit 8 MST (mm) dari perlakuan media tanam dan kompos azolla dapat dilihat pada gambar 3.15) dan terendah M2 (1. Dari Tabel 3 diketahui bahwa pada interaksi antara media tanam dan kompos azolla terhadap parameter diameter tunas 8 MST tertinggi yaitu M2A2 (1.87).Dari Tabel 3 diketahui bahwa pada perlakuan media tanam terhadap parameter diameter tunas 8 MST tertinggi yaitu M2 (0.92). permiabilitas.24) dan terendah M1A0 (0. kekerasan. Histogram diameter tunas kelapa sawit 8 MST (mm) dari perlakuan media tanam dan kompos azolla Pembahasan Pengaruh Media Tanam Terhadap Pertumbuhan Kecambah Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.

Hal ini sesuai dengan literatur Sianturi (1991) tanah juga harus mampu menahan air yang cukup dan hara yang tinggi secara alami maupun hara tambahan. jumlah daun 3 MST. com/2008-07-1 archieve. com/2008/07/manfaat tanaman azolla. Kompos azolla berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 2 – 8 MST. azolla juga baik untuk media tanam. Dari hasil percobaan diketahui bahwa perlakuan kompos azolla terhadap parameter tinggi tunas 8 MST tertinggi yaitu A2 (12. kompos azolla juga dengan pasir dan tanah kebun dengan perbandingan 3:1. Karena kompos azolla memliki N yang tinggi yang bepengaruh bagi pertumbuhan tanaman. Tekstur seperti ini adalah tekstur yang paling cocok untuk pertumbuhan benih. Hal ini terjadi karena pada perlakuan yang diberi kompos azolla pertumbuhan kecambahnya jauh lebih baik dibandingkan dengan yang tidak diberi kompos azolla. com/2008/07/manfaat tanaman azolla. Hal ini sesuai dengan literatur http:kolomozolla. Dalam bentuk kompos ini. Dimana tanah mampu menahan air yang cukup.perbandingan 2:1.blogspot. Kompos Azolla dapat terurai dengan baik pada tanah sehingga tanaman dapat menggunakan hara dengan baik. selain dalam bentuk segar bisa juga dalm bentuk kering dan kompos. 2. diameter batang 4 – 8 MST.html (2008) yang menyatakan bahwa kegunaan dari kompos azolla adalah sumber N dan dapat menggantikan urea sampai 100 kg serta dapat menekan pertumbuhan gulma. Hal ini dikarenakan kompos Azolla sangat baik digunakan selain sebagai media tanam juga sebagai pupuk bagi tanaman karena kompos Azolla memiliki nisbah C/N yang rendah.) D X P di Pre Nursery Dari data diketahui bahwa kompos Azolla berbeda nyata terhadap tinggi tunas. sehingga terjadi gabungan antara tekstur kasar dengan halus oleh top soil. Selain digunakan secara langsung.) D X P di Pre Nursery Dari data diketahui bahwa interaksi antara media tanam dan kompos Azolla berbeda nyata terhadap tinggi tunas dan jumlah daun kelapa sawit. Selain digunakan secara langsung. Media tanam berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 2 – 8 MST. Hal ini dikarenakan media tanam dapat bersatu dengan kompos Azolla dalam penyediaan hara bagi tanaman kelapa sawit.html (2008) yang menyatakan bahwa penggunaan sebagai pupuk. selain dalam bentuk segar bisa juga dalm bentuk kering dan kompos. azolla juga baik untuk media tanam.html (2008) yang menyatakan bahwa penggunaan sebagai pupuk. Hal ini sesuai dengan literatur http://kolamazolla.61) dan terendah A0 (10. jumlah daun dan diameter batang kelapa sawit. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. dan tidak berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 1 MST. Dalam bentuk kompos ini.blogspot.59). Hal ini sesuai dengan literatur http:kolomozolla. Pengaruh Kompos Azolla Terhadap Pertumbuhan Kecambah Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq. Interaksi Antara Media Tanam dan Kompos Azolla Terhadap Pertumbuhan Kecambah Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq. jumlah daun 4 – 8 MST.blogspot. kompos azolla juga dengan pasir dan tanah kebun dengan perbandingan 3:1. jumlah .

blogspot. 1994. DAFTAR PUSTAKA Chin. dkk.co. Agromedia Pustaka. Penebar Swadaya. Kompos Azolla (4 April 2009) http://kolamazolla.com. Vademecum Kelapa Sawit. Iyung.kr. 1996. Ilmu Tanah. Azolla. Malaysia Fauzi. Yogyakarta Sianturi. Soh Aik. (4 April 2009) International Conference. The Oil Palm In Agriculture In The Eighties Pahan.com a. Saran Sebaiknya dalam melakukan percobaan ini. USU Press. The Incorporate Society Of Planters.M.blogspot. USU Press. (4 April 2009) http://www.id. 2007. Kelapa Sawit Teknik Budidaya dan Pengolahan. Yan. media Reaksi: . Suyatno. Kanisius. diameter batang 4 – 5 MST. Adicita Karya Nusa. PTP N IV (Persero) Bahjambi. Medan Soehardjo dkk. Medan http://kolamazolla. Choice Of Planting Material. 6.id.E. 1981. Budidaya Kelapa Sawit. Jakarta Risza. Kelapa Sawit Budidaya Pemanfaatan Hasil dan Limbah Analisis Usaha & Pemasaran. B. Kompos Azolla (4 April 2009) http://syararu. jumlah daun 5 – 8 MST. Yogyakarta Sastrosayano. kompos azolla Diposkan oleh junT blogs di 00:58 0 komentar Link ke posting ini Label: kelapa sawit. Budidaya Kelapa Sawit. 2006. dan tidak berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 1. Teknik Berkebun Kelapa Sawit. Interaksi antara media tanam dan kompos azolla berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 2 – 5 MST. benih yang digunakan harus bersertifikat dan penyiraman harus dilakukan secara teratur untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Penebar Swadaya. Azolla. Kelapa Sawit. Jakarta Hadi. 7.or. Yogyakarta Hasibuan. jumlah daun 3 MST.daun 4 – 8 MST. 2006. 1997. Selardi. Pematang Siantar-Sumut Tim Penulis PS. diameter batang 4 – 8 MST. Kelapa Sawit Usaha Budidaya Pemanfaatan Hasil dan Aspek Pemasaran. kompos azolla. diameter batang 6 – 8 MST. jumlah daun 4 MST. (4 April 2009) http://www. 8 MST. Jakarta Setyamidjaja. 1989. Azolla. dan tidak berbeda nyata terhadap parameter tinggi tunas 1 MST. Penebar Swadaya. 1991.com b.kehati. Jakartakelapa sawit. 3. Kanisius. M. 2004. 2003. Djoehana. Panduan Lengkap Kelapa Sawit Manajemen Agribisnis dari Hulu Hingga Hilir. 2006.

Arg) LAPORAN OLEH : JUNITA SINAMBELA 070301054/BDP-AGRONOMI 16 LABORATORIUM AGRONOMI TANAMAN PERKEBUNAN DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2009 PENGARUH PENGGOSOKAN BENIH DAN MEDIA TANAM PADA PERKECAMBAHAN BENIH KARET (Hevea brasiliensis Muell.pengaruh penggosokan benih dan media tanam pada perkecambahan benih karet (Hevea brasiliensis Muell. Medan . Arg) PENGARUH PENGGOSOKAN BENIH DAN MEDIA TANAM PADA PERKECAMBAHAN BENIH KARET (Hevea brasiliensis Muell. Arg) LAPORAN OLEH : JUNITA SINAMBELA 070301054/BDP-AGRONOMI 16 Laporan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Mengikuti Praktikal Test di Laboratorium Agronomi Tanaman Perkebunan Fakultas Pertanian Sumatera Utara.

130 806 538 Diketahui Oleh: Asisten Koordinator (Eko Andi Pasaribu) NIM. Media gave significant effect of speed of seed growth ang height of plumule.Disetujui Oleh Dosen Penanggungjawab (Ir. The experiment result showed that rubbed gave significant effect of presentation of seed. speed of seed growth. The first factor was rubbed. top soil. seed . The experiment was conducted in Agronomi Tanaman Perkebunan I Laboratory Land. North Sumatera University with ± 25 m above sea level. rubbed. 040301001 Diperiksa Oleh: Asisten Korektor (Hayati Silalahi) NIM. 040301037 LABORATORIUM AGRONOMI TANAMAN PERKEBUNAN DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2009 ABSTRACT The objective of this experiment was to know effect of rubbed and media in growing of rubber seed. sand and top soil. Balonggu Siagian. The experiment used Randomized Complete Block Design (RAK) with 2 factors and 4 replications. Agriculture Faculty. height of plumule. Key words : media. The second one was the media that consist of sand. Interaction between rubbed ang media did’nt gave effect of all the parameter. MS) NIP. with no rubbed and with rubbed. from March to April 2009.

Faktor II adalah faktor media yaitu pasir. benih yang digosok. Sedangkan interaksi antara penggosokan dan media tidak berpengaruh nyata terhadap semua parameter. Anak dari Bapak P. top soil. Adapun pendidikan yang pernah ditempuh penulis adalah sebagai berikut: . Media berpengaruh nyata terhadap laju perkecambahan benih karet. penggosokan.ABSTRAK Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggosokan benih dan media tanam pada perkecambahan benih karet. tinggi plumula. pasir dan top soil. Hail percobaan menunjukkan bahwa penggosokan benih berpengaruh nyata terhadap persentase perkecambahan benih. Anak pertama dari empat bersaudara. tinggi plumula. benih RIWAYAT HIDUP Junita Sinambela lahir pada tanggal 2 April 1989 di Medan. laju perkecambahan benih. Manurung. Kata kunci : media. Percobaan ini dilaksanakan di lahan percobaan Laboratorium Agronomi Tanaman Perkebunan I Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan pada ketinggian tempat ± 25 m dpl dari bulan Maret sampai April 2009 dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor perlakuan dan empat ulangan. yaitu benih tanpa digosok. Sinambela dan Ibu N. Faktor I adalah penggosokan.

Adapun judul dari laporan ini adalah “Pengaruh Penggosokan Benih dan Media Tanam pada Perkecambahan Benih Karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg)” yang merupakan salah satu syarat unutk dapat mengikuti praktikal test di Laboratorium Agronomi Tanaman Perkebunan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Balonggu Siagian. MP selaku dosen mata kuliah Agronomi Tanaman Perkebunan serta kepada abang dan kakak asisten yang telah membantu dalam penyelesaian laporan ini. Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Ir. . oleh sebab itu penulis mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan laporan ini. MS dan Ir. Medan. Charloq Nababan.SD Negeri 050721 di Gohor Lama Tamat tahun 2001 SMP Negeri 1 di Hinai Tamat tahun 2004 SMA Negeri 1 di Stabat Tamat tahun 2007 Penulis terdaftar sebagai mahasiswi di Departemen Budidaya Pertanian Program Studi Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan. Medan melalui jalur SPMB pada pilihan pertama pada tahun 2007 sampai sekarang. KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Esa karena atas berkat dan rahmatNya penulis dapat menyelesaikan laporan ini tepat pada waktunya.

semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih. Mei 2009 Penulis DAFTAR ISI ABSTRACT i ABSTRAK ii RIWAYAT HIDUP iii KATA PENGANTAR vi DAFTAR ISI v DAFTAR TABEL vii DAFTAR GAMBAR viii DAFTAR LAMPIRAN ix PENDAHULUAN Latar Belakang 1 Tujuan Percobaan 3 Hipotesis Percobaan 3 Kegunaan Percobaan 3 TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman 4 Syarat Tumbuh 5 Iklim 5 Tanah 6 Media Tanam 7 Penggosokan Benih Karet 8 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Percobaan 10 Bahan dan Alat 10 Metode Percobaan 10 PELAKSANAAN PERCOBAAN Persiapan Media Tanam 12 Penggosokan Benih 12 Penanaman Benih 12 Pemeliharaan Tanaman 12 Penyiraman 12 Penyiangan 13 Pengamatan Parameter 13 Persentase Perkecambahan (%) 13 Tinggi Plumula (cm) 13 Laju Perkecambahan (hari) 13 . Medan.

Rataan tinggi plumula benih karet 8 MST (cm) dari perlakuan penggosokan dan media tanam 19 . Rataan laju perkecambahan benih karet (hari) dari perlakuan penggosokan dan media tanam 17 3. Judul Hal 1. Rataan persentase perkecambahan benih karet (%) dari perlakuan penggosokan dan media tanam 16 2.HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil 15 Pembahasan 20 KESIMPULAN Kesimpulan 24 Saran 24 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN DAFTAR TABEL No.

Judul Hal 1.DAFTAR GAMBAR No. Histogram persentase perkecambahan benih karet (%) dari perlakuan penggosokan dan media tanam 17 2. Histogram laju perkecambahan benih karet (hari) dari perlakuan penggosokan dan media tanam 18 3. Histogram tinggi plumula benih karet 8 MST (cm) dari perlakuan penggosokan dan media tanam 20 .

Sidik ragam laju perkecambahan benih karet (hari) 27 Lampiran 5. Data tinggi plumula benih karet 6 MST (cm) 29 Lampiran 12. Sidik ragam tinggi plumula benih karet 7 MST (cm) 30 Lampiran 15. Data tinggi plumula benih karet 4 MST (cm) 28 Lampiran 8. Sidik ragam tinggi plumula benih karet 5 MST (cm) 29 Lampiran 11. Data tinggi plumula benih karet 7 MST (cm) 30 Lampiran 14. Sidik ragam persentase perkecambahan benih karet (%) 26 Lampiran 3. Data tinggi plumula benih karet 8 MST (cm) 30 Lampiran 16. Sidik ragam tinggi plumula benih karet 4 MST (cm) 28 Lampiran 9.DAFTAR LAMPIRAN No. Sidik ragam tinggi plumula benih karet 3 MST (cm) 27 Lampiran 7. Data tinggi plumula benih karet 5 MST (cm) 28 Lampiran 10. Data tinggi plumula benih karet 3 MST (cm) 27 Lampiran 6. Data persentase perkecambahan benih karet (%) 26 Lampiran 2. Sidik ragam tinggi plumula benih karet 8 MST (cm) 31 . Data laju perkecambahan benih karet (hari) 26 Lampiran 4. Judul Hal Lampiran 1. Sidik ragam tinggi plumula benih karet 6 MST (cm) 29 Lampiran 13.

Karet merupakan salah satu komoditas perkebunan di Indonesia.PENDAHULUAN Latar Belakang Ferris pada tahun 1872 mengirimkan 2000 biji dari Brazilia ke Kebun Raya Kew di Inggris. dan lain sebagainya yang sangat diperlukan beberapa negara. 1988). Produk karet merupakan komoditi ekspor yang sangat penting karena manfaatnya yaitu dapat diolah menjadi bahan baker dasar bagi kepentingan produksi barang-barang penting di dunia. 1993). . dapat melakukan air dan tidak berpadas (kedalaman padas dapat ditolerir adalah 2 – 3 m.000 biji karet ke Kew. Perlakuan pengasahan kulit biji benih yaitu dengan maksud untuk menipiskan kulit biji agar dapat mempercepat perkecambahan pada bagian spesies yang mempunyai kulit biji yang keras dan yang sangat keras dan ada yang sangat tebal (Sutopo. Komoditas ini sudah dikenal dan dibudidayakan dalam kurun waktu yang lebih lama daripada komoditas perkebunan lainnya. Sejak tahun 1839 karet menjadi primadona perkebunan di daerah daerah tropis. 1995). Sayangnya. beberapa biji ke Malaysia dan hanya dua biji ke Kebun Raya Bogor. ebonite. 1998). Media tanam. akan tetapi nilainya jauh lebih rendah dari bahan karet alam (Kartasapoetra. Dewasa ini karet merupakan bahan baku yang menghasilkan lebih dati 50. Indonesia. Kedua kiriman tersebut mengalami kegagalan. seperti: ban kendaraan bermotor. Alexander Parkes juga°120-130 mengembangkan cara vulkanisasi ini. sepatu dan beribu-ribu jenis barang lainnya yang juga berbahan dasar karet (Setyamidjaja. berpasir. yang sebenarnya masih belum lama dalam hal membudidayakan karet (Siregar. campuran bahan plastik. Pada sekitar tahun itu pula Charles Goodyear menemukan vulkanisasi karet dengan cara mencampurkannya dengan belerang dan memanaskan pada suhu C. kemudian tahun 1875. kira-kira 1900 biji dikirim ke Srilanka. Sebanyak 2. Selanjutnya Wikham pada tahun 1876 kembali dari Brazilia dan membawa 70. Tanah ulitisol yang kurang sudur banyak ditanami karet dengan pemupukan dan pengolahan yang baik (Setiawan dan Handoko. Memang untuk mencukupi keperluan bahan karet dunia telah diciptakan karet sintetis. hasil maksimal didapatkan jika di tanah – tanah subur.397 biji berkecambah. Dari produksi karet alam 46% digunakan untuk membuat ban dan selebihnya untuk karet busa. 2001). campuran benang rayon. posisi Indonesia yang pada awal pembudidayaan karet merupakan penghasil karet utama di dunia sudah digantikan oleh Malaysia. 2006). Karet di Indonesia telah 120 tahun dan peringatan satu abad telah diadakan tahun 1976 (Sianturi. 2005). Salah satu pohon karet tersebut tumbang tahun 1962.000 jenis barang. Penemuan tentang vulkanisasi memberikan inspirasi Dunlop pada tahun 1888 untuk membuat ban mobil yang selanjutnya dikembangkan oleh Goldrich (Setiawan dan Agus.

− Kegunaan Percobaan Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikal test di− Laboratorium Agronomi Tanaman Perkebunan Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Tanaman karet merupakan tanaman yang tumbuh tinggi dan berbatang cukup besar. 1996). sedangkan akar lateralnya dapat menyebar sejauh 10 m (Syamsulbahri. Ada pengaruh media tanam terhadap perkecambahan benih−karet ( Hevea brasiliensis Muell Arg.). Hipotesis Percobaan Ada pengaruh penggosokan benih terhadap perkecambahan benih−karet ( Hevea brasiliensis Muell Arg. Sebagai bahan informasi bagi pihak-pihak yang membutuhkan. Medan. Sistem perakarannya padat/kompak.Tujuan Percobaan Adapun tujuan dari cobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggosokan benih dan media tanam pada perkecambahan benih karet ( Hevea brasiliensis Muell Arg. .). Divisi : Spermatophyta Subdivisi : Angiospermae Kelas : Monocotyledoneae Ordo : Euphorbiales Family : Euphorbiaceae Genus : Hevea Spesies : Hevea brasiliensis Muell Arg. Ada pengaruh interaksi penggosokan benih dan media tanam terhadap perkecambahan benih karet ( Hevea brasiliensis Muell Arg.− TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Menurut Setiawan dan Agus (2005) klasifikasi tanaman karet adalah sebagai berikut. akar tunggangnya dapat menghujam tanah hingga kedalaman 1-2 m.).).

jarang yang beruang empat hingga enam. Tanaman karet adalah tanaman berumah satu (monoecus). Seperti kebanyakan tanaman tropis.Tinggi pohon dewasa mencapai 15-25 m.5-3 cm dan tebal 1. Tanah Tanaman karet dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah baik pada tanah-tanah vulkanis . sebab iklimnya lebih basah (Setiamidjaja. yang terbagi dalam 100-150 hari hujan. Pada satu tangkai bunga yang berbentuk bunga majemuk terdapat bunga jantan dan bunga betina. Dibeberapa kebun karet arah tumbuhnya tanaman agak miring ke arah utara. Biji besar. Curah hujan tahunan yang cocok untuk pertumbuhan tanaman karet tidak kurang dari 2000 mm.5 cm (Sianturi. Karet termasuk tanaman daratan rendah. Keadaan iklim di Indonesia yang cocok untuk tanaman karet ialah daerahdaerah Indonesia bagian barat. Di ketinggian tersebut suhu harian 25300C. Kelembapan yang terlalu tinggi tidak baik untuk tanaman karet (Sianturi. berwarna coklat muda dengan noda-noda coklat tua. 1993).5-2. suhu yang lebih dari 300C juga mengakibatkan karet tidak bisa tumbuh dengan baik (Setiawan dan Agus. 1993). Batang tanaman ini mengandung getah yang dikenal dengan nama lateks (Tim Penulis. 2001). daun-daun karet akan rontok pada puncak musim kemarau untuk mengurangi penguapan tanaman (Setiawan dan Agus. diameter buah 3-5 cm dan terpisah 3. tertekan pada satu atau dua sisinya. Daun karet ini berwarna hijau dan menjadi kuing atau merah menjelang rontok. 2001).4 atau 6 cocci berkatup dua. Daerah yang sering mengalami hujan pada pagi hari produksinya akan kurang. Daun karet terdiri dari tangkai utama sepanjang 3-20 cm dan tangkai anak daun sepanjang 3-10 cm dengan kelenjar di ujungnya. Buah beruang tiga. Pembagian hujan dan waktu jatuhnya hujan rata-rata setahunnya mempengaruhi produksi.5 cm dan lebar 1. bulat bersegi empat. yaitu bias tumbuh baik di dataran dengan ketinggian 0-400 m dari permukaan laut (dpl). Optimal antara 2500-4000 mm per tahun. Zona paling cocok dan paling produktif adalah 60LU hingga 60LS. Penyebaran pertanaman karet sangat dipengaruhi oleh penyebaran hujan dan tinggi tempat dari permukaan laut. yaitu Sumatera. 2005). tempat tersebut tidak cocok untuk budidaya karet. tidak semua propinsi di Indonesia memiliki perkebunan karet (Sianturi. Jawa dan Kalimantan. Jika dalam jangka waktu yang cukup panjang suhu rata-rata kurang dari 200C. Penyerbukannya dapat terjadi dengan penyerbukan sendiri dan penyerbukan silang (Setyamidjaja. secara geografis tersebar diantara 100LU hingga 100LS. endokarp berkayu. Setiap daun karet biasanya terdiri dari 3 anak daun yang berbentuk elips memanjang dengan ujung runcing. 2005). Syarat Tumbuh Iklim Tanaman karet adalah tanaman tropis. berkilat. panjang 2-3. Itulah sebabnya. perikarp berbatok. 1993). Kelembapan nisbi (RH) yang sesuai untuk tanaman karet adalah rata-rata berkisar antara 75-90 %. 2001). Batang tanaman biasanya tumbuh lurus dan memeiliki percabangan yang tinggi diatas.

maka belum berlaku untuk semua jenis tanah di permukaan bumi (Buckman dan Brady. Oleh karena itu. sehingga akar baru yang keluar tidak terhambat pertumbuhannya (Widianto. peranannya dalam mengatur sifat-sifat tanah. Pembuatan saluran drainase akan menolong memperbaiki keadaan tanah ini (Setyamidjaja. aerasi dan drainesenya. Untuk mengetahui kemampuan lahan sebaiknya diketahui kesesuaian tanah dan lingkungan yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman karet untuk dapat memperoleh produksi dan keuntungan ekonomis yang optimal. 1993). mintakat perakaran. 2001). Tanah-tanah alluvial umumnya cukup subur. semakin tinggi persentase pasir dalam tanah. 2000). Distribusi ukuran partikel dan kelas tekstur mempunyai korelasi dengan air. retensi air >150 cm/m. udara. Sifat fisis. sehingga sulit menyerap atau menahan air dan unsur hara. semakin banyak pori-pori di antara partikel tanah dan hal ini dapat memperlancar gerakan udara/air (Hartman. Tanah yang bertekstur pasir mempunyai luas permukaan (specific surface) yang kecil. sehingga pada musim kemarau mudah kekurangan air. kekerasan. kemudahan diolah dan yang terpenting adalah masalah kesuburan. drainase baik. Partikel-partikel pasir yang ukurannya yang jauh lebih besar dan memiliki permukaan yang kecil (dengan berat yang sama) dibandingkan dengan debu dan liat. kemiringan tanah 0-8%. air akan mudah di serap dan cukup dikandung tanah. tidak banjir dan tidak ada stagnasi air (Sianturi. kimia. Media yang digunakan untuk penyemaian biasa hanya terdiri atas pasir saja tetapi kadang-kadang juga diberi campuran sekam padi. tekstur. solum. kemudahan olah. pH 4. udara tanah mudah masuk dan tanah mudah diolah (Hasibuan. alluvial dan bahkan tanah gambut. Asalkan tanahnya gembur dan halus. dan fisiografis yang menjadi factor pembatas kesesuaian tanah untuk tanaman karet. Bila jumlah pasir tidak terlalu banyak pengaruhnya terhadap tanah akan baik karena cukup longgar.muda ataupaun vulkanis tua. 1981). kedalaman air tanah. unsur hara. tanah ini kurang baik untuk pertunbuhan tananaman. Penggosokan Benih . Jenis tanah berhubungan sangat erat dengan plastisitas. tanah gembur. Akan tetapi sifat-sifat kimianya umumnya sudah kurang baik.. kompos. permebilitas sedang. yang diinginkan tanaman karet antara lain adalah tanah yang mempunyai lapisan padas lebuh dari 1m. 2005). 1982). kesuburan dan produktivitas tanah pada daerah geografik tertentu akan tetapi berhubungan adanya variasi yang terdapat dalam sistim mineralogi fisik tanah. jumlah pasir sama dengan liat.5. terutama dari segi struktur. Sifat umum tanah sangat ditentukan oleh tekstur (Sutanto. topsoil. tetapi sifat fisisnya terutama drainase dan aerasinya kurang baik. dan benih. et al. permeability. 2006). Media Tanam Bila tanah terlalu banyak mengandung pasir. karena kandungan haranya relatif rendah. lumut yang telah membusuk. Tanah-tanah vulkanis umumnya memiliki sifat-sifat fisika yang cukup baik.

Universitas Sumatera Utara. Dengan ketinggian tempat ± 25 m dpl yang dimulai dari bulan Februari 2009 sampai dengan April 2009. serta kertas pasir untuk menggosok benih karet. Sebagai contoh. 2009). Alat yang digunakan adalah cangkul untuk mencampur tanah.net. kulit biji yang impermiabel terhadap air dan gas sering dijumpai pada benih. dengan bantuan pisau. gembor untuk menyiram tanaman dan polibag sebagai wadah penanaman. kikir. asal daerah radikel tidak rusak (Schmidt. keadaan fisiologis dari embrio atau kombinasi dari kedua keadaan tersebut. BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Percobaan ini dilakukan di lahan percobaan Fakultas Pertanian. Pada hakekatnya semua benih dibuat permeable dengan resiko kerusakan yang kecil. 2002) (http://www. Skarifikasi mencakup cara – cara seperti mengkikis atau menggoreskan atau menggosok kulit biji yang mengalami sumbat gabus dimana semua permiabel terhadap air atau gas (Lakitan . 2009).id. pasir dan topsoil sebagai media tanam. Manfaat penggosokan benih adalah untuk memecahkan dormansi pada benih agar benih dapat berkecambah dengan baik karena benih yang memiliki kulit yang jeras harus dilakukan pemecahan dormansi untuk mempercepat proses perkecambahan baik dengan cara mengkikis ataupun mengikir kulit benih (Sadjad. sehingga mempersulit keluar masuknya air ke dalam benih (http://digilib. pemecahan. air untuk penyiraman. Benih yang mengalami dormansi biasanya disebabkan oleh: a) Rendahnya dan tidak adanya proses imbibisi air yang disebabkan oleh struktur benih (kulit benih) yang keras.id. meteran untuk mengukur tinggi plumula. dapat diberikan perlakuan individu sesuai dengan ketebalan biji. 1999). Karena setiap benih ditangani secara manual. 2003). pengikiran atau pembakaran. Perlakuan mekanis (skarifikasi) pada kulit biji dilakukan dengan cara penusukan. jarum. penggoresan.umm. kertas gosok atau lainnya adalah cara efektif untuk mengatasi dormansi fisik.ac. 1993). Medan. Metode percobaan .benih dari famili Leguminosae (Sutopo. Bahan dan Alat Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah stunp mata tidur karet klon IRM sebagai objek pengamatan.iptek.Dormansi pada benih dapat disebabkan oleh keadaan fisik dari kulit biji.

. media tanam ke-j. akan diujikan dengan beda nyata jujur (BNJ) pada x = 5% .Data percobaan dianalisis dengan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dengan dua faktor yaitu: Faktor I : Penggosokan benih (P) dengan dua taraf yaitu: P1 : Benih tanpa digosok P2 : Benih digosok hingga nampak mata embrio Faktor II: Media Tanam (M) dengan 3 taraf yaitu: M0 : Pasir M1 : Pasir + Top soil M2 : Top soil Sehingga didapat 6 kombinasi perlakuan yaitu: P0M0 P1M0 P0M1 P1M1 P0M2 P1M2 Jumlah ulangan : 6 Jumlah petak percobaan : 36 Jumlah benih per petak : 2 Jumlah benih yang dibutuhkan: 64 Dari hasil percobaan dianalisis sidik ragam Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan model linier sebagai berikut: Yijk= µ + βi + αj + βk + (αβ)jk + εijk dimana: Yijk : Nilai pengamatan pada penggosokan benih ke-i. dan perkecambahan benih karet ke-k µ : Nilai tengah βi : Efek penggosokan benih ke-i αj : Efek media tanam ke-j (αβ)jk : Efek interaksi antara penggosokan benih ke-i dan media tanam ke-j εijk : Efek error yang disebabkan oleh penggosokan benih ke-i. dan perkecambahan benih karet ke-k Apabila data percobaan analisis tidak ragam berbeda nyata. dan top soil (M2). media tanam ke-j. PELAKSANAAN PERCOBAAN Persiapan media tanam Disiapkan polibag berukuran 10 kg dan diisi dengan media pasir (M0). pasir + top soil dengan perbandingan 2:1 (M1).

..... Jumlah tanaman yang tumbuh Persentase Perkecambahan = x 100 % Jumlah tanaman seluruhnya Tinggi Plumula (cm) Tinggi plumula dihitung dari plumula yang tumbuh sampai pada titik tumbuh. Penyiangan Penyiangan dilakukan setiap minggunya dengan cara mencabut gulma yang tumbuh pada polibag. Penyiraman dilakukan dengan menggunakan gembor. Laju Perkecambahan (hari) Laju perkecambahan diambil data berupa jumlah karet yang tumbuh.. Penanaman Benih Benih karet ditanam di polibag yang diisi tanah sesuai dengan perlakuan. dan dimasukkan ke dalam polibag dan sebaiknya jangan ditanam terlalu dalam. + Tn HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil . Pemeliharaan Tanaman Penyiraman Penyiraman dilakukan setiap sore hari tergantung kepada kondisi kelembaban permukaan media tanam. Dimana proses penggosokan bertujuan untuk memecahkan dormansi benih karet akibat kulit benih yang keras dan dilakukan dengan menggunakan kertas pasir sampai terlihat embrio.. Pengamatan Parameter Persentase perkecambahan (%) Persentase perkecambahan diambil data berupa jumlah tanaman yang tumbuh dan dibagi jumlah seluruhnya dikalikan 100% dan data diambil setiap minggunya...Penggosokan Benih Proses penggosokan benih dilakukan sebelum dilakukan penanaman. Nilai laju perkecambahan dapat diperoleh dari rumus sebagai berikut : N1T1 + N2T2 + N3T3 + . + NnTn Laju Perkecambahan : T1 + T2 + T3 + ..

Dari Tabel 1. Dari Tabel 1.Dari data pengamatan dan sidik ragam (lampiran 1-16) diketahui bahwa perlakuan penggosokan berbeda nyata terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet. laju perkecambahan benih karet. dan tinggi plumula benih karet 3-8 MST.67) dan terendah pada P0M0 (97. Rataan persentase perkecambahan benih karet (%) dari perlakuan penggosokan dan media tanam dapat dilihat pada tabel 1.00). penggosokan berbeda nyata terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet. Dari Tabel 1. Tabel 1. diketahui bahwa pada interaksi perlakuan penggosokan dan media tanam terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet yang tertinggi yaitu pada P1M1 (99. dan interaksi antara penggosokan dan media tanam tidak berpengaruh nyata terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet. Dan tidak berbeda nyata terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet. Dan tidak berbeda nyata terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet. Persentase Perkecambahan (%) Dari data pengamatan dan sidik ragam diketahui bahwa perlakuan media tanam tidak berbeda nyata terhadap parameter tinggi tanaman. laju perkecambahan benih karet. Dan tidak ada parameter yang tidak berbeda nyata. Dari data pengamatan dan sidik ragam (lampiran 1-16) diketahui bahwa interaksi antara perlakuan penggosokan dan media tanam tidak ada parameter yang berbeda nyata. . Rataan persentase perkecambahan benih karet (%) dari perlakuan penggosokan dan media tanam. Dari data pengamatan dan sidik ragam (lampiran 1-16) diketahui bahwa perlakuan media tanam berbeda nyata terhadap parameter laju perkecambahan benih. tinggi plumula benih karet 3-8 MST.22). tinggi plumula benih karet 3-8 MST. diketahui bahwa pada perlakuan penggosokan terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet yang tertinggi yaitu pada P1 (74.42%) dan terendah pada P0 (73. Histogram persentase perkecambahan benih karet (%) dari perlakuan penggosokan dan media tanam dapat dilihat pada gambar 1.00%). diketahui bahwa pada perlakuan media tanam terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet yang tertinggi yaitu pada M1 (65.78) dan terendah pada M0 (65.

Histogram persentase perkecambahan benih karet (%) dari perlakuan penggosokan dan media tanam Laju Perkecambahan Benih (hari) Dari data pengamatan dan sidik ragam diketahui bahwa perlakuan penggosokan dan media tanam berbeda nyata terhadap parameter laju perkecambahan benih karet. Tabel 2. diketahui bahwa pada perlakuan media tanam terhadap parameter laju perkecambahan benih karet yang tertinggi yaitu pada M0 (4. dan interaksi . Rataan laju perkecambahan benih karet (hari) dari perlakuan penggosokan dan media tanam dapat dilihat pada tabel 2.Gambar 1. Dan interaksi penggosokan dan media tanam tidak berbeda nyata terhadap parameter laju perkecambahan benih karet. Dari Tabel 2.13). Histogram laju perkecambahan benih karet (hari) dari perlakuan penggosokan dan media tanam Tinggi Plumula (cm) Dari data pengamatan dan sidik ragam diketahui bahwa perlakuan penggosokan dan media tanam berbeda nyata terhadap tinggi plumula benih karet 3-8 MST. diketahui bahwa pada perlakuan penggosokan terhadap parameter laju perkecambahan benih karet yang tertinggi yaitu pada P0 (5. diketahui bahwa pada interaksi perlakuan penggosokan dan media tanam terhadap parameter laju perkecambahan benih karet yang tertinggi yaitu pada P0M0 (7. Histogram laju perkecambahan benih karet (hari) dari perlakuan penggosokan dan media tanam dapat dilihat pada gambar 2.26).10). Rataan laju perkecambahan benih karet (hari) dari perlakuan penggosokan dan media tanam Dari Tabel 2. Dari Tabel 2.29) dan terendah pada M1 (3.19) dan terendah pada P1 (3.77) dan terendah pada P1M1 ( 3. Gambar 2.

44) dan terendah pada M0 (23. maka proses dormansi yang menghambat proses perkecambahan dapat dipecahkan sehingga benih dapat memperoleh air dan udara.00).33). Histogram tinggi plumula benih karet 8 MST (cm) dari perlakuan penggosokkan dan media tanam dapat dilihat pada gambar 3. 1993).67) dan terendah pada P0M0 (32. Hal ini sesuai dengan literatur Sadjad (1993) yang menyatakan bahwa Manfaat penggosokan benih adalah untuk memecahkan dormansi pada benih agar benih berkecambah dengan baik. diketahui bahwa pada perlakuan media tanam terhadap parameter tinggi plumula benih karet 8 MST yang tertinggi yaitu pada M1 (24. Karena benih yang memiliki kulit yang keras harus dilakukan pemecahan dormansi untuk mempercepat proses perkecambahan baik dengan cara mengkikis ataupun mengkir kulit benih (Sadjad. diketahui bahwa pada perlakuan penggosokan terhadap parameter tinggi plumula benih karet 8 MST yang tertinggi yaitu pada P1 (28. Gambar 3. Dari Tabel 3. Tabel 3. diketahui bahwa pada interaksi perlakuan penggosokan dan media tanam terhadap parameter tinggi plumula benih karet 8 MST yang tertinggi yaitu pada P1M1 (38. Rataan tinggi plumula benih karet 8 MST (cm) dari perlakuan penggosokan dan media tanam dapat dilihat pada tabel 3. tinggi plumula benih karet 3-8 MST. Arg) Dari hasil sidik ragam pada perlakuan penggosokan berbeda nyata terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet. laju perkecambahan benih karet. Dari Tabel 3. . Rataan tinggi plumula benih karet 8 MST (cm) dari perlakuan penggosokan dan media tanam Dari Tabel 3. Dengan adanya proses penggosokan (skarifikasi).penggosokan dan media tanam tidak berbeda nyata terhadap tinggi plumula benih karet.25). Histogram tinggi plumula benih karet 8 MST (cm) dari perlakuan penggosokan dan media tanam Pembahasan Pengaruh Penggosokan Pada Perkecambahan Benih Karet (Hevea brasiliensis Muell.33) dan terendah pada P0 (25.

Dari hasil percobaan diketahui bahwa pada perlakuan penggosokan terhadap parameter tinggi plumula benih karet 8 MST yang tertinggi yaitu pada P1 (28.25 cm). Pengaruh Media Tanam Pada Perkecambahan Benih Karet (Hevea brasiliensis Muell. Hal ini disebabkan karena media tanam yang digunakan adalah pasir dan top soil dengan perbandingan 2:1. fisiologi dan biokimia. Hal ini sesuai dengan literatur Sutopo (1998). Tahap pertama suatu perkecambahan benih dimulai dengan proses penyerapan air oleh benih.44 cm) dan terendah pada M0 (23. tanah gembur. sehingga terjadi gabungan antara tekstur kasar dengan halus oleh top soil. Tanah top soil dapat membantu pertumbuhan perkecambahan benih karet karena tanah top soil merupakan tanah yang subur yang diambil dari tanah pelapukan. Hal ini disebabkan karena pada perlakuan P0 ini benih tidak dilakukan proses penggosokan. Pengaruh Interaksi Antara Penggosokan dan Media Tanam Pada Perkecambahan Benih Karet (Hevea brasiliensis Muell. yang menyatakan bahwa proses perkecambahan benih merupakan suatu rangkaian kompleks dari perubahan-perubahan morfologi. Dari hasil percobaan diperoleh bahwa pada perlakuan media tanam terhadap parameter tinggi plumula benih karet 8 MST yang tertinggi yaitu pada M1 (24. Tekstur seperti ini adalah tekstur yang paling cocok untuk pertumbuhan benih. Arg) Dari hasil percobaan diperoleh bahwa pada perlakuan media tanam terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet yang tertinggi yaitu pada M1 (65.22%). Hal ini sesuai dengan literatur Setiawan dan Andoko (2005) yang menyatakan bahwa tanah untuk media tanah ini harus subur dan harus yang bisa diambil dari tanah pelapukan (top soil) dengan kedalaman maksimum 15 cm. selain itu perkecambahan benih karet juga dipengaruhi oleh faktor keadaan lingkungan. melunaknya kulit benih dan hidrasi dari protoplasma. Banyak media yang dapat digunakan untuk penanaman benih asalkan tanahnya gembur dan halus. kesesuaian tanah dan lingkungan yang serasi sangat baik untuk pertumbuhan tanaman karet. Perlakuan pengasahan kulit biji yaitu dengan maksud untuk menipiskan kulit biji agar dapat mempercepat perkecambahan pada berbagai spesies yang mempunyai kulit biji yang keras dan yang sangat tebal. maka proses perkecambahan menjadi terhambat akibat kulit benih yang keras (dormansi) sehingga benih susah memperoleh air dan udara. Karena. kompos.78%) dan terendah pada M0 (65. Dengan tidak adanya proses penggosokan.00 cm). top soil dan lainnya. lumut yang telah membusuk. sehingga akar tanaman yang baru keluar tidak terhambat pertumbuhannya. Hal ini sesuai dengan literatur Widianto (2000) yang menyatakan bahwa media yang digunakan untuk pengamatan bisa hanya terdiri atas pasir saja tetapi kadang-kadang juga diberikan campuran sekam padi. Arg) Dari hasil percobaan diketahui bahwa pada interaksi perlakuan penggosokan dan media . Ini menunjukkan bahwa top soil ditambah pasir mempengaruhi persentase perkecambahan benih karet .33 sm) dan terendah pada P0 (25.

Media tanam berbeda nyata terhadap parameter laju perkecambahan benih.tanam terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet yang tertinggi yaitu pada P1M1 (99. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1.Anton dan Konfafrek. DAFTAR PUSTAKA Buckman.00%). 3. Brady. H. Penggosokan berbeda nyata terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet. Diakses pada tanggal 4 April 2009 . Prentice Hall Inc. 1981. dan N. J. Klackers.C. B. Interaksi antara penggosokan dan media tanam berbeda tidak nyata terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet. dan tinggi plumula benih karet 3-8 MST.O. Hal ini disebabkan karena adanya penggosokan dan media tanam yang cocok bagi pertumbuhan tanaman karet.67%) dan terendah pada P0M0 (97.umm. Dan tidak berbeda nyata terhadap parameter persentase perkecambahan benih karet. Bhratara Karya Aksara. Saran Sebaiknya dalam melakukan percobaan ini. Terjemahan Soegiman. 2.id. laju perkecambahan benih karet.William. Hal ini sesuai dengan literatur Sutopo (1998) yang menyatakan bahwa Perlakuan pengasahan kulit biji yaitu dengan maksud untuk menipiskan kulit biji agar dapat mempercepat perkecambahan pada berbagai spesies yang mempunyai kulit biji yang keras dan yang sangat tebal. Medan http://digilib. M.ac. H. New Jersey Hasibuan..E. Ilmu Tanah. tinggi plumula benih karet 3-8 MST. Ilmu Tanah. Karena penggosokan pada benih karet bertujuan untuk menipiskan kulit biji agar dapat mempercepat perkecambahan.1982. laju perkecambahan benih karet. tinggi plumula benih karet 3-8 MST. USU Press.T. Jakarta Hatrmann. Plant Science. 2006. benih yang digunakan harus diketahui jenis atau klonnya.

Kanisius. Budidaya Tanaman Karet. L.D. Bina Aksara.H. Membuat Stek. 2005. 1993. dan Okulasi. dan Agus A. H. Jakarta .S. Diakses pada tanggal 4 April 2009 Kartasapoetra. D. 1999. Karet. Dasar-Dasar Ilmu Tanah Konsep dan Kenyataan. Jakarta Setiawan. Teknologi Budidaya Tanaman Pangan di Daerah Tropik. Kanisius. Teknologi Benih. USU Press. T. Penebar Swadaya. Yogyakarta Sianturi. D.S.http://www. Jakarta Syamsulbahri. UGM Press. CV Rajawali. R. Medan Siregar. Yogyakarta Tim Penulis PS. 1999. Penebar Swadaya. Teknik Penyadapan Karet. Jakarta Setyamidjaja. Jakarta Widianto. Karet Strategi Pemasaran Budidaya dan Pengolahan. 2001. 1995. Cangkok. Yogyakarta Sutanto.iptek. 1996. 2000.H.net.id. Kanisius. Agromedia Pustaka. Yogyakarta Sotopo. A. 1988. 2005. Petunjuk Lengkap Budidaya Karet. Bercocok Tanam Tanaman Perkebunan.G. L.

Umur siap tanam ke lapangan : 10 – 12 bulan Umur siap panen : 24 – 28 bulan Kecepatan pertumbuhan tanaman : 35. Bakti Tani Nusantara.6 – 42. Produkstifitas TBS (Tandan Buah Segar) = 35 ton/ha/tahun 5. 2. Dapat beradaptasi dengan baik pada lahan yang marginal atau mulai dari lahan kelas S3 – lahan kelas S1. Deskripsi Kelapa sawit varietas D x P TN1 1. bahkan mencapai 35 tahun.5 meter dengan sistem segitiga sama sisi). materi genetik ini menjadi tetua dari D x P Tani Nusa 1 terbukti memiliki keragaan sangat baik dan diterima luas oleh pekebun.Pola Pembibitan Sawit PT Bakti Tani Nusantara Written by Administrator on 24 February 2012. Dengan pertambahan batang yang lambat maka usia produksi dapat mencapai lebih dari 30 tahun. Pendahuluan Varietas kelapa sawit D x P Tani Nusa 1 adalah varietas unggul baru yang merupakan kombinasi dari persilangan Dura Deli dari populasi Johor Labis dan Pisifera Avros yang diseleksi dengan metode Modified Recurrent Selection oleh Socfin Malaysia dan PT. 1. 4. TN1 yang telah bersertifikat tersebut memiliki keunggulan antara lain : 1. Umur siap panen lebih genjah : 24 – 28 Bulan 3.5 x 8.5 x 8. Dari pengalaman oleh socfin di Malaysia. 2.5 cm/thn Produksi TBS TM1 : 4 – 5 ton/ha/thn . sehingga populasi per ha lebih banyak 148 152 pohon/ha (dengan jarak tanam 8. 4. 6. Panjang pelepah antara 5 – 6 meter. Kecepatan pertumbuhan tanaman rata – rata 41 cm/tahun. Persentase kernel 7% – 8% 7. 3.

86/Kpts/HK. Produksi TBS TM3 : 17 – 18 ton/ha/thn 6. kecambah dikemas di dalam 16 kantong plastik yang masingnya berisi 206 kecambah termasuk refraksi 6 kecambah per kantong.9 – 2. Bakti Tani Nusantara A.1 ton/ha/thn 12.3% 11. Kerapatan tanaman : 148 -152 phn/ha 13. pengawasan dan drainase air berlebih saat penyiraman atau hujan. 2.330/05/2008 2.Bakti Tani Nusantara mengirim kecambah kelapa sawit (KKS) ke pelanggan menggunakan peti karton berisi 3. Dirjenbun No.120/5/2008 SK. Dalam penanganan kecambah BTN menyarankan kepada pelanggan untuk memperhatikan hal-hal sebagai berikut : • • • • Menjaga kesehatan kecambah dalam transportasi dengan menghindari kecambah dari suhu terlalu tinggi.296 kecambah. Potensi Produksi CPO (TM8) : 6.2 m dan panjang ± 8 m yang dapat memuat sekitar 1. Membuat naungan di pembibitan agar kecambah terhindar dari sinar matahari langsung.5. Pembuatan Bedengan dan Naungan di Pembibitan awal (Pre Nursery) • • • Bedengan dibuat pada areal yang telah diratakan dengan lebar 1. Produksi TBS TM5 : 28 ton/ha/thn 7. Antar bedengan berjarak 80 cm sebagai jalan pemeliharaan. Penanganan Awal 1. Randemen CPO (IER) : 26. Tepi bedengan dibatasi dengan papan (bukan bambu) setinggi 20 cm agar polibeg dapat disusun tegak. Usia Produksi : 33 tahun SK Menteri Pertanian No.7 – 7.5% 10. Memeriksa kotak dan dokumen untuk memastikan apakah peti dalam kondisi baik dan isi peti sesuai dengan dokumen pengiriman kecambah. 648/Kpts/SR. Lakukan pekerjaan ini di tempat teduh agar kecambah tidak kena sinar matahari langsung. Produksi TBS TM8 : 32 – 35 ton/ha/thn 8. benturan fisik dan tidak terkena sinar matahari langsung. Penanganan Kecambah PT. Di dalam peti. Randemen CPO (Lab) : 30. .0 ton/ha/thn 9. Menanam kecambah sesegera mungkin dan bila ditunda agar tidak lebih dari 5 hari dan kecambah harus disimpan didalam ruangan berpendingin dengan suhu 19‐22⁰C. Potensi Inti Sawit (TM8) : 1. Sistem Pemeliharaan Pembibitan Kecambah varietas TN1 PT.000 bibit (Gambar 1).

kecambah diseleksi terlebih dahulu dan dicatat jumlahnya berdasar kategori sehat. Pengisian tanah kedalam polybag jangan terlalu penuh. Penyiraman sebaiknya secara manual. patah. Naungan pada pembibitan awal kelapa sawit Tabel 1. KKS di tanam tidak lebih dari 5 (lima) hari sejak kecambah diserahkan oleh produsen kecambah. setelah diisikan kedalam polibeg berukuran 22 x 14 cm dan disiram 2 kali sehari selama 5 hari sebelum tanam.5 100 1.5 bulan (Tabel 1). Percikan dengan air menggunakan hand sprayer untuk meningkatkan kelembaban jika kondisi cuaca panas dan kering. Denah bedengan pembibitan awal Naungan dibuat dengan ukuran sesuai dengan kebutuhan areal bibitan (Gambar 2). Gambar 3. kemudiaan dicampur dengan pupuk Rock Phospate (RP) dosis 3 gr/polibag. Berita Acara Serah Terima KKS. Umur (bulan) Naungan (%) 0 – 1. Penanaman Kecambah di Pembibitan Awal (Pre Nursery) • • • • • • • • • • Pastikan tersedia dokumen benih lengkap yaitu Delivery Order (DO). Tanam kecambah dengan radikula (bakal akar) menghadap ke bawah dan plumula (bakal daun) menghadap ke atas. Media tanah top soil diayak dan disterilkan 1 minggu sebelum penanaman KKS dengan fungisida dosis 0. patah.5 Dihilangkan secara bertahap 3. KKS yang ditanam adalah KKS sehat yang dapat dibedakan antara plumula (bakal daun) dengan radikula (bakal akar) sebagaimana Gambar 3. busuk atau berjamur tidak boleh ditanam. Kecambah normal siap tanam KKS abnormal. Atap dengan daun kelapa atau kelapa sawit berisi 4-5 pelepah per meter persegi naungan. Persentase naungan bibit pre nursey berdasar tahapan umur. Naungan dikurangi secara bertahap dimulai setelah bibit berumur 1. Media tanam dibuat berupa campuran tanah dengan pasir berbanding 70% dan 30%. .5 50 > 2. Kantong dibuka perlahan untuk mengeluarkan KKS.• • • • • Areal pembibitan memiliki saluran pembuangan air (drainase) yang baik. Bagian dasar bedengan lebih tinggi dari permukaan tanah untuk memperlancar pembuangan air berlebih. Gambar 1. sisakan + 2 cm dari bibir polybag. Gambar 2.5 – 2. Sebelum ditanam. dan Daftar Persilangan yang menyertai KKS. karena lebih merata kesetiap polibag. busuk dan abnormal.2 gr/ltr air dan insektisida dosis 2 gr/ltr.

Setelah penanaman KKS. Kecambah yang akan ditanam diletakan didalam mangkok berisi air untuk menjaga kelembaban kecambah dan setiap 15 menit sekali disemprot dengan air. Pasang papan identitas yang berisi tanggal tanam. Buat lubang tanam sedalam 3 cm. disertai tali rapia sebagai pembatas antar-persilangan kecambah. . kelompok pertumbuhan meninggi. kode varietas. Papan nama (plank) dan identitas kecambah yang ditanam. Gambar 5.5 cm di atas KKS (jangan ditekan tanah terlalu kuat). Siram polibeg segera setelah penanaman selesai. Lubang tanam ditutup dan diratakan dengan tanah setebal 1 – 1. disimpan dalam kantong beridentitas dan diletakkan pada ruang bersuhu 20-25oC selama 5-6 hari. lalu masukan kecambang dengan radikula menghadap kebawah (Gambar 4). Pengaturan letak bibit bedasarkan kelompok KKS Gambar 6.• • • • • • • Kecambah dengan radikula dan plumula yang sukar dibedakan. Lakukan pengelompokan KKS berdasarkan laju pertumbuhan meninggi menurut ciri varietas sejak di pembibitan awal (Gambar 5). Cara penanaman kecambah yang benar. dan jumlah KKS (Gambar 6). buat peta pembibitan Gambar 4.

produksi tandan buah segar (TBS) berpotensi meningkat sampai 20%. . EM4 digunakan untuk pembuatan kompos dari tandan kosong kelapa sawit (TKKS) dan limbah cair kelapa sawit (LCKS). Sebagai starter mikroorganisme pada proses decomposer Effective Microorganisms 4 (EM4) menjadi penting dalam dunia pertanian organik. Dengan memakai kompos dari EM4.EM4 Tingkatkan Produksi Sawit 20% Written by Administrator on 24 February 2012. Begitupula dalam sektor perkebunan kelapa sawit.

kesehatan dan lingkungan. Manfaat EM4.” ujar Agus. pelepah daun terbuka. Selain itu. Menurut Agus. menurut Agus. Jadi satu liter EM4 bisa untuk membuat kompos sebanyak satu ton. warna daun. Ketersediaan limbah di perkebunan sawit cukup melimpah yang berasal dari tandan kosong dan limbah cair. Ditutup terpal plastik dan tunggu kurang lebih 1 bulan. lanjut Agus. “Kita aduk dan dicampur lalu dilakukan fermentasi di hamparan tanah yang keras agar larutan EM4 tidak terserap ke tanah. Actinomycetes. perikanan. Tandan kosong dapat diolah menjadi kompos dengan adanya material tambahan selain EM4 yakni molasse dan air.Effective Microorganisms 4 (EM4) merupakan kultur campuran dari mikroorganisme yang menguntungkan berasal dari alam Indonesia. peternakan. aman bagi manusia dan makhluk hidup lainnya serta lingkungan. Branch Manager PT Songgolangit Persada. Penggunaan EM4 tidak sebatas di tanaman pangan saja.” kata Agus.” tambah Agus ketika ditemui di kantornya. Apliksinya cukup per 3 bulan sekali dengan komposisi 18 liter per tahun dengan 6 liter satu kali aplikasi untuk setiap hektarnya. . industri. “Semua limbah dapat dimanfaatkan tidak hanya dri sektor perkebunan. Di perkebunan sawit. Agoes Wibisana. Kompos digunakan pada dua aplikasi di lingkaran tanaman dan baris tanaman. Sapta Karya Damai di Sampit akan menggunakan EM4 untuk pengolahan tandan kosong sawit. penggunaan EM4 telah diaplikasikan di Medan (Sumatera Utara) yakni PT Asam Jawa untuk pengelolaan limbah tandan kosong dan limbah cair. “Produksi TBS tahun kedua akan meningkat 5%-10%. pembibitan sawit atau tanaman sawit yang sudah dewasa cukup dengan EM4 sebanyak 10 cc dicampur 1 liter air untuk disemprotkan pada batang tanaman atau tanah. perkebunan. tanah disekitar pohon menjadi gembur. Di musim hujan. Harus terpisah ada tenggat waktu dalam pemberiannya minimal berbeda 1-2 minggu dan baiknya pestisida baru EM4. menceritakan pembuatan kompos TKKS harus dicacah terlebih dahulu lalu disiram larutan EM4. EM4 tidak berbahaya. Semua lahan cocok untuk pemanfatan limbah sawit dengan EM4. Sedangkan penghematan penggunaan pupuk kimia mencapai 30%. aplikasi larutan EM4 dilakukan setelah hujan berhenti. bisa terlihat pada umur tanaman memasuki tahun kedua dari segi peningkatan produksi. melainkan telah digunakan perkebunan kelapa sawit dan tebu semenjak tahun 2005. aplikasi kompos EM4 (Bokashi) sebanyak 10 ton per hektare. Limbah sawit bisa ditambah kotoran ternak. “Paling penting EM4 tidak boleh tercampur pestisida atau herbisida. Streptomyces sp dan ragi yang bermanfaat untuk pertanian. tahun ketiga menjadi 20-30%. Terdiri dari bakteri asam laktat (Lactobacillus Spp) bakteri fotosintetik (Rhodopseudomonas Spp).” ungkap Agus. Ke depan PTPN IV dan PT. hanya saja EM4 kurang efektif tanpa bantuan bahan organik karena sebagai media hidup dan makanan mikrorganisme. Pertanian sayuran sudah banyak yang menggunakan dan tidak hanya satu bahan untuk pembuatan kompos.

Tahapan Pembibitan • • • o o o Pre Nursery (pembibitan awal) selama 3 bulan pertama dengan polibag kecil Main Nursery (pembibitan utama) bibit dipindahkan ke dalam polibag besar.000 per liter. dapat dilakukan di daerah pedalaman asalkan didukung infrastruktur supaya harganya terjangkau. Dekat dengan sumber air dan airnya tersedia sepanjang tahun. “Harga bisa ditekan agar daya beli masyarakat jauh lebih tinggi. Bibit perlu disiram 2 kali sehari jika tidak turun hujan yaitu dari pagi sampai pukul 11.Keunggulan EM4 adalah sebagai pelopor pertanian organik memberikan harga murah. penyerapan teknologi EM4 bisa merata dan meluas supaya tidak terkonsentrasi di Jawa dan Sumatera. Target penjualan 100 ton per bulan tahun ini bisa tercapai dan tahun 2012 diprediksi ada kenaikan 10-20%. (bebe) PEMBIBITAN A. Bibit memerlukan banyak . beruang. untuk daerah yang rawan hama (gajah. Sumatera Selatan terutama petani dan perusahaan perkebunan sawit. babi. Ini juga tergantung pada jauh dekatnya lokasi.00 wib siang dan sore mulai pukul 16. Kalimantan.00 wib. Harapan Agus.” pungkas Agus. dipelihara selama 9 – 12 bulan sampai siap untuk dapat ditanam Umur bibit yang dapat ditanam di areal pertanaman : paling muda : 8 bulan ideal : 12 bulan paling tua : 24 bulan. Jika areal datar tidak diperoleh dapat juga digunakan areal bergelombang atau berbukit namun perlu dibuat teras-teras yang disesuaikan dengan kemiringannya asal saja jaringan penyiramannya mampu mencapai tempat tertinggi atau terjauh. dan landak B. Irian Jaya.000-25. Lokasi Pembibitan • • Tanah/arealnya rata/datar. Pemasaran EM4 diperluas sampai ke Jambi. tikus. Harga variatif Rp 20. Tetapi. mudah aplikasi dan aman bagi lingkungan.

000 540.000 162.000 270.7 0. Kebutuhan dan Pengadaan Bibit • • o o o o • • Kebutuhan bibit/kecambah sebanyak 140% dari jumlah yang akan ditanam.9 1.25 – 2 liter tergantung dari umur dan kondisi bibit. pemesanan sebaiknya bertahap sesuai dengan fasilitas dan tenaga yang ada.100 .2 0.400 344. Bila rencana penanaman dalam jumlah banyak.40 x jumlah pohon/ha Kerapatan 130 ph/ha (9.000 180.000 405.• • • • air yaitu 0.000 Luas Pembibitan utama (ha) 6 12 17 23 29 35 Luas areal yang akan Ditanami (ha) 500 1000 1500 2000 2500 3000 Keterangan : Bibit Yang Ak Ditanam ke Lapangan 68.4 m) diperlukan kecambah 180/ha Kerapatan 143 ph/ha (9. Untuk tempat yang agak jauh dari sumber benih.000 450.000 360. Perhitungannya adalah : Seleksi kecambah Seleksi di pembibitan awal Seleksi di pembibitan utama Cadangan penyisipan : 2.4 0. Air harus bersih dan tidak beracun.700 206.650 275.250 413.5% : 10% : 15% : 5% Kebutuhan kecambah = 100/97.000 486.0 m) diperlukan kecambah 200/ha Sistem tanam segitiga sama sisi • • • • Kecambah dibeli 12 bulan sebelum rencana penanaman.000 324.850 137.000 243.5 0. Drainasenya baik/arealnya tidak tergenang Aman dari gangguan hama berupa binatang besar maupun serangga.5 x 100/90 x 100/85 x 100/95 = 1.0 Bibit ke Pembibitan utama 81.000 Luas Pembibitan awal (ha) 0. Dekat dengan areal yang akan ditanami jika mungkin ditengah lokasi untuk mengurangi biaya angkutan bibit. dekat dari pengawasan dan mudah dikunjungi Dekat dari sumber tanah untuk pengisi kantong plastik (top soil) karena tiap kantong besar membutuhkan 20-25 kg tanah C. pengangkutan agar diusahakan dengan cargo (angkutan) udara Benih yang sudah diterima agar ditempatkan di tempat yang teduh kemudian segera ditanam karena paling lama hanya dapat bertahan 3-5 hari dari tempat penghasil benih Kebutuhan benih dan luas pembibitan : Kebutuhan Benih 90.

Demikian pula dengan luasnya.3 liter/hari Pembibitan utama : Kebutuhan Air/pokok/hari ( liter ) 1 (sprinkler 1. Bagaimana dengan keadaan areal pembibitan tersebut apakah rata atau bergelombang. Cara ini dilakukan dengan membangun bak penampung ditempat yang tertinggi dan baru dialirkan ke tempat yang lebih rendah Berapa jauh sumber air (sungai atau kolam air) dari pembibitan. Penyiraman Bibit Sistem penyiraman yang harus digunakan perlu dipertimbangkan : • • • • • Berapa luas pembibitan yang akan dibangun dan berapa lama atau berapa tahun akan digunakan. Jika terlalu jauh maka perlu pertimbangan lain apakah pompa yang digunakan mampu. Jika cukup dekat penggunaan sprinkler mungkin cukup baik. sisanya untuk peresapan dan pengaliran di permukaan) E.500 bibit/hk Berapakah debit air yang ada terutama pada musim kemarau. Penggunaan sprinkler memerlukan tenaga kerja yang lebih sedikit 4. Kebutuhan Air Bibit • • Pembibitan awal.000 polibag dan pembibitan utama ± 14.o o Perhitungan tersebut menggunakan standar seleksi di pembibitan awal 10% dan pembibitan utama 15% Untuk areal seluas 1 ha dapat digunakan untuk pembibitan awal sebanyak 500.000 polibag Sumber data : Lembaga Pendidikan Perkebunan : Kelapa sawit (2004) • Standard kebutuhan per ha pembibitan tenaga kerja : 5–6 hk per hari D.5 liter/hari. kebutuhan air per pokok : 0. Rata dengan sprinkler lebih baik. luas hendaknya sesuai dengan kapasitas pompa yang akan digunakan. Bagaimana dengan persediaan tenaga yang ada.12 Sumber data :Pusat Penelitian Perkebunan Marihat – Bandar Kuala (1992) F.000 bibit/hk sedangkan secara manual 2.1 – 0. Untuk 1 ha dibutuhkan lebih dari 77 m3/hari (bibit saja 2. Instalasi penyiraman .5 jam) 2 (sprinkler 1 jam 45 menit) 3 (sprinkler 2 jam Umur Bibit ( bulan ) 0–3 3–6 6 . bergelombang dengan semi mekanis akan lebih murah dimana dapat memanfaatkan tenaga gravitasi. Jika penggunaannya cukup lama atau akan digunakan lebih dari 5 tahun mungkin pemakaian sprinkler akan lebih menguntungkan karena akan memperkecil biaya penyusutan dari instalasinya.

Untuk 8 ha pembibitan diperlukan 30 sprinkler. Pipa utama 4 inch dilengkapi dengan kran (valve) ke pipa distrubusi 2 inch.2 m .75 inch yang dipasang berdiri dan ujungnya dilengkapi dengan nozzle yang dapat memancarkan air dan berputar karena aliran air 3.Secara Manual Air dihisap dari sungai dengan menggunakan pompa air dan dialirkan ke areal pembibitan dengan menggunakan pipa dan selang • • • • Pipa primer 6 inch ditempatkan ditengah-tengah lapangan Cabang I dengan pipa 2 inch Cabang II dengan pipa 1 inch yang disambung dengan selang plastik 25 m yang ujungnya diberi gembor Penyiraman dilakukan dengan tenaga manusia Sprinkler • Penggunaan pipa : 1.6 kg/cm2) Kekuatan pompa 18-20 HP untuk 8 ha pembibitan G. Pada tiap pipa distribusi terdapat 8 – 10 sprinkler yang berjarak 9 – 18 m 4. Pembibitan Awal (Pre Nursery) Persiapan Areal • • • Areal yang sudah di buka (LC) dibersihkan dan diratakan Kebutuhan bahan/tenaga : Manual 20 HK/Ha dan mekanis 6 JKT (Jam Kerja Traktor) per ha Kebutuhan areal 1 m2 untuk 70 bibit pada pembibitan awal Membuat Bedengan • • • • • Ukuran bedengan : lebar bedengan 1.5 HK/bed Tepi bedengan diberi batas dengan bambu atau papan Jumlah bahan digunakan : 4 bambu @ 6 m dan 5 papan/bed Menabur Pasir . Pipa induk 6 inch dari rumah pompa 2. 2 line pipa distribusi • • • Kebutuhan air ± 75 m3/ha/hari.8 m Jumlah bibit dalam satu bedengan : 840 bibit Kebutuhan tenaga untuk membuat bedengan : 1. Efisiensi 30-40% Pompa berdaya pancar 45 psi (3. jarak antar bedengan 0. Tiap sambungan dilengkapi stand pipes 0.

075 mm x 15 cm x 23 cm lay flat. Jumlah bahan yang digunakan : 7 bambu/bed @ 6 m dan 10 pelepah/bed Jumlah kebutuhan tenaga kerja membuat naungan : 1 HK/bed Mengumpulkan Tanah/Media Tanam • • • • • • • Media tanam menggunakan top soil (kedalaman 20-30 cm) tanah mineral dengan tekstur lempung.• • • Bedengan ditaburi pasir secara merata sampai setebal 2 cm Jumlah kebutuhan pasir : 0. Luas naungan minimal sebesar bedengan dengan tinggi ± 2 m Bentuk naungan : tiang dibuat dari bambu atau besi siku setinggi 2 m. kecuali di areal gambut dapat menggunakan tanah gambut Tanah diayak dengan saringan kawat 2 cm agar bersih dari akar.5 cm 1 kg Plb ± 200 lembar polybag kecil Mengisi Polybag . batuan dan sampah lainnya.5 bulan) naungan dapat dikurangi sebesar 50% dan setelah daun ketiga keluar (2. contoh Sevin atau Thiodan Jumlah dan jenis bahan digunakan : Sevin 85 EC dosis : 5 cc/l air/bed Jumlah kebutuhan tenaga kerja : 1 HK/30 bed Naungan • • • • • Pada tahap awal bibit harus diletakkan di bawah naungan.5 m3/HK sedangkan secara mekanis 8 JKT/Ha Jumlah kebutuhan tenaga kerja untuk mengayak 3 m3/HK Ukuran Polybag • • • • Ukuran polybag kecil 0.5 cm Lubang polybag berjumlah 12-24 dengan diameter 0.2 HK/bed Meracun Serangga • • • Dua hari sebelum digunakan bedengan disemprot dengan insektisida.000 kg tanah) Bila tanah terlalu padat/liat dicampur dengan pasir perbandingan 3:1 Media tanam harus dicampur dengan 50 kg pupuk RP per ± 2 m3 tanah (± 1. setelah dua daun keluar (1.5 bulan) naungan harus sudah dihilangkan.3 m3/bed Jumlah kebutuhan tenaga kerja : 0. Hasil pengayakan ± 60% (dari 1m3 diperoleh ± 1. Atap dari pelepah kelapa sawit atau dari shadownet. warna hitam Setelah diisi berukuran : diameter ± 10 cm dan tinggi ± 17. dan jarak antar tiang 3 m.000 polybag kecil) Jumlah kebutuhan tenaga kerja untuk mengumpulkan tanah secara manual 1. rumputan.

ii. Tiap 1 m2 dapat memuat 70 polibag atau 840 polybag/bedengan Diusahakan air tidak akan menggenangi di bedengan dengan mengikis permukaan tanah yang tidak datar Jumlah tenaga kerja untuk menyusun polybag adalah 1.• • • • • Empat minggu sebelum penanaman kecambah. iv. • • • Jumlah kebutuhan untuk seleksi kecambah 5.2% Kecambah diseleksi dan dihitung (% seleksi) Penanaman kecambah harus memperhatikan posisi radikula yang akan diposisikan arah ke bawah dan plumula yang akan diposisikan ke atas Kecambah ditanam dengan kedalaman sekitar 2-3 cm di bawah permukaan tanah polybag (dilobang dengan ibu jari) Polybag disiram sampai jenuh setelah kecambah ditanam . v. agak kasar Plumula ujungnya tajam seperti tombak Kriteria kecambah yang abnormal : ® ® ® ® ® ® Calon akar/batang patah Calon akar/batang tidak tumbuh Calon akar/batang membengkok Calon akar/batang tumbuh satu arah Calon akar/batang busuk terserang cendawan Calon akar/batang layu karena terlalu kering i. Radicula berujung tumpul seperti bertudung. polybag harus sudah diisi tanah dalam jumlah cukup Guncang polybag pada saat pengisian untuk memadatkan tanah dan diisi sampai mencapai ketinggian 1 cm dari bibir polybag Polybag disiram air setiap hari sampai tampak jenuh sebelum dilakukan penanaman dan diisi kembali dengan tanah bila diperlukan Jumlah tanah adalah 1 kg per polybag Jumlah kebutuhan tenaga kerja pengisian polybag 400 unit/HK Menyusun di Bedengan • • • • Polybag harus disusun secara tegak dan rapat di bedengan. vi. iii. panjangnya 8-25 mm.000 kecambah/HK Pada saat diterima peti harus diletakkan di tempat yang terlindung dari sinar matahari Setiap kantong kecambah harus dibiarkan terbuka selama beberapa menit untuk pergantian udara Menanam Kecambah • • • • • • Siram tanah di polybag sampai jenuh sebelum kecambah ditanam Kantong plastik kecambah dibuka dengan hati-hati dan letakkan kecambah di baki yang beralaskan goni basah yang telah direndam dalam larutan fungisida Thiram dengan konsentrasi 0.000 unit/HK Seleksi Kecambah • • • • Kecambah normal : calon akar (radicula) dan calon batang (plumula) terlihat jelas.

00 wib – selesai Bila malam sebelumnya turun hujan (> 8 mm) dan tanah di polybag masih basah maka penyiraman hanya dilakukan sore hari saja.400 bibit/HK atau 10 bed/HK Konsolidasi Bibit  Dilakukan 1 kali/minggu meliputi : . 6. Bila pagi harinya hujan turun (> 10 mm) maka tidak perlu penyiraman pagi dan sore. 11) dengan urea 0. 12) dengan pupuk majemuk (contohnya Rustika) 15.2% Cara dilarutkan pupuk dalam gembor : 10 gr Urea atau 10 gr pupuk majemuk dalam 5 liter air untuk 500 bibit Pemupukan dilakukan pagi hari setelah selesai penyiraman pertama/pagi Jumlah kebutuhan tenaga kerja 8.00 wib. 9. Jumlah tenaga kerja yang diperlukan 13. sore hari jam 15. 10.00 wib – selesai paling lambat jam 11.4 konsentrasi 0.000 bbt/HK Penyiraman • • • • • Bibit disiram 2 x sehari Jam penyiraman : 07. 8.15. 7.• • • • Diberi naungan sesuai iklim setempat Sebaiknya penanaman dilakukan secara beregu. Kecambah yang memiliki persilangan yang sama ditanam pada bedengan yang sama. Jumlah tenaga kerja yang diperlukan 13. Jumlah tenaga kerja yang diperlukan untuk menanam kecambah 1.500 bbt/HK (16 bed/HK) Pengendalian Gulma • • • • • Dilakukan 1 x tiap 2 minggu Cara pelaksanaan adalah manual tidak boleh dengan herbisida Pengendalian dengan mencabut rumput dan gulma lain di dalam polibag dan yang berada di antara polibag Sekaligus melakukan konsolidasi dengan menambah tanah pada polibag apabila kekurangan.6.2% (2gr/l air) Minggu ganjil (minggu ke 5.500 bibit/HK atau 16 bed/HK Pemeliharaan Drainase • • • • Mengalirkan air yang tergenang di areal pembibitan Diperiksa agar air jangan tergenang di polybag Jumlah tenaga kerja yang diperlukan 6-8 ha/HK Rotasi yang diperlukan 1 x /minggu Pemupukan • • • • • Minggu genap (minggu ke 4.

24 Banyak daun 5.0 + 0.9 126.0 Diameter (cm) 1.4 64.3 39.02 1.0 + 0.9 + 7.70 + 0.0 + 1.5 101.o o o Menambah tanah yang kurang Menegakkan polibag yang miring Menukar bibit yang mati dengan bibit pada bedengan terakhir yang biasanya tidak penuh Jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan 4.30 + 0.9 + 1.3 + 0.33 5.2 10.2 8.000 bibit/HK Standar Pertumbuhan Bibit kelapa sawit Umur (bulan) 4.9 + 5.56 + 0.50 + 0.3 + 2.3 15.6 88.400 bibit/HK atau 10 bed/HK Tata cara seleksi Bibit di pre-nursery • • • • Angkat dan singkirkan semua bibit afkir dari bedengan sebelum dilakukan pemindahan bibit sehat ke polybag besar Musnahkan semua bibit afkir Catat dan laporkan bibit yang diafkir Jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan 5.2 + 1.04 4.8 + 0.6 + 0.5 6 7 8 9 10 11 12 Tinggi (cm) 26.12 3.1 52.4 Sumber data :Pusat Penelitian Perkebunan Marihat – Bandar Kuala (1992) Beberapa ciri Fisik bibit yang di-afkir .8 + 0.84 + 0.3 11.3 15.02 2.02 + 0.0 13.3 + 0.8 + 0.15 5.000 bibit/HK atau 5 bed/HK • Pengendalian Hama dan penyakit • • • • Pengamatan hama ataupun penyakit dilakukan setiap hari Pengendalian dilakukan dengan cara manual Apabila gangguan hama/penyakit sudah pada tingkat yang lebih berat maka dilakukan dengan penyemprotan insektisida.1 114. fungisida dengan rotasi 1 kali/minggu Jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan 8.14 6.1 15.84 + 0.1 + 3.6 + 0.96 + 0.

• • • • • • • •

Pucuk bengkok atau daun berputar : akibat penanaman kecambah yang terbalik atau faktor genetik Daun lalang atau daun sempit (narrow grass leaf) : akibat faktor genetik Daun kerdil dan sempit (stump/little leaf) Daun menyempit dan tegak (acute/erect leaf) Daun yang menggulung (rolled leaf) : akibat factor genetic Daun berkerut/keriput (crinkle leaf) : akibat factor genetic Daun melipat (collante) : akibat kekurangan air Bibit kerdil (stunted) : akibat factor genetic Chimaera : sebagian atau seluruh daun secara seragam berubah pucat atau bergaris kuning terang yang sangat kontras dengan warna hijau gelap dan jaringan yang normal Bibit dengan serangan penyakit berat

H. Pembibitan Utama (Main Nursery)
Persiapan Areal
• • • • •

• • •

Areal Pembibitan dekat dengan sumber air atau sungai Areal datar dengan penggunaan areal 1 ha untuk 14.000 bibit Dibuat parit drainase mengikuti pipa sekunder dari jaringan pipa penyiraman Ukuran parit lebar dasar 30 cm, lebar atas 70 cm, dalam 40 cm Bila penyiraman dengan sprinkler hendaknya dibuat dulu desainnya dan penempatan pipa-pipanya Bila diperlukan buat pagar keliling 150 m dengan kawat. Jarak antara tiang 3 m, tinggi pagar 1,5 m Jumlah tenaga kerja untuk membuat pagar 100 m/HK Transplanting ke main nursery dilakukan pada bibit berumur 3-4 bulan atau memiliki 4-5 helai daun

Memancang
• • •

Umur bibit 8-10 bulan : jarak pancang 70 x 70 x 70 cm (23.000 bibit/ha) Umur bibit ≥ 10 bulan : jarak pancang 90 x 90 x 90 cm (14.000 bibit/ha) Kebutuhan tenaga kerja memancang 1.000 pancang/HK

Mengumpulkan Tanah

Metode sama dengan pembibitan Pre-Nursery

Tanah di polybag besar harus dilubangi dan selanjutnya dimasukkan 100 g pupuk RP ke lubang polybag besar sebelum bibit ditanam

Ukuran Polybag
• • • •

Ukuran polybag besar adalah 0,15 mm x 35 cm x 50 cm lay flat Setelah diisi tanah diameter ± 23 cm dan tinggi ± 39 cm ; warna hitam Lubang empat baris perforasi berjarak 5 cm x 5 cm Tebal polibag harus merata tidak ada tebal tipis

Mengisi Polybag
• • • •

• •

Polybag harus sudah siap diisi tanah minimal 4 minggu sebelum transplanting dari PN untuk mendapatkan tingkat kepadatan tanah yang stabil. Polybag harus dibalik sebelum diisi tanah agar polybag dapat berdiri tegak dan silindris Persiapan media tanam dan isikan ke dalam polybag. Hindarkan pemadatan tanah dalam polybag dengan cara menekan kuat ke arah bawah Guncang polybag pada waktu pengisian untuk memadatkan tanah dan mencegah agar tidak ada bagian yang mengkerut atau terlipat sehingga ketinggian tanah dapat mencapai 2,5 cm dari bibir polybag. Jumlah polybag 1 kg = 18 lembar; 1 plb ± 20 kg Jumlah tenaga kerja yang diperlukan 100 unit/HK

Menyusun Polybag
• • • • •

Polybag disusun di areal bibitan yang sudah dipancang Menyeragamkan cara peletakan (contoh di selatan pancang). Pancang tidak boleh dicabut Setiap 5 baris dikosongkan 1 baris untuk jalan pemeliharaan bibit Kedua tangan pekerja harus berada pada dasar polybag dan tidak dibenarkan 1 tangan menyengkeram bibit polybag bagian atas Jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan adalah 100 – 150 unit/HK

Menanam/Transplanting di Polybag Besar
• • • • •

Tanah di polybag dilubangi sebesar ukuran polybag kecil dengan alat berupa bor tanah atau yang dibuat dari pipa 4 inch Jumlah tenaga kerja untuk melubangi 250 unit/HK Bibit yang telah memenuhi syarat (umur 3 bulan, daun 3-4, bentuk sempurna) diangkut dengan kotak papan, diecer ke tempat polybag Jumlah tenaga kerja untuk mengecer 700 bibit/HK Penanaman dilakukan : bibit di polybag kecil dipegang miring, dasarnya disayat keliling kemudian dilepas. Dimasukkan ke dalam lubang polybag besar. Sambil menahan bibit polybagnya ditarik/dilepas. Tanah diratakan dan dipadatkan Jumlah tenaga kerja untuk menanam 100 bibit/HK

Penyiraman Bibit

• • •

Bibit disiram 2 kali/sehari : pagi; jam 7.00 – selesai selambat lambatnya jam 11.00, sore jam 15.00 – selesai Jumlah tenaga kerja 2.500 bibit/HK Apabila malam sebelumnya turun hujan dan tanah di polibag masih basah maka penyiraman hanya dilaksanakan sore hari. Bila hujan pagi hari cukup lebat (> 10 mm) maka sampai sore bibit tidak perlu disiram. Kebutuhan air bibit : 1-3 bl = 1.0 ltr; 3-6 bl = 1.5 ltr; > 6 bl = 2 ltr

Pengendalian Gulma
• • • • •

Dilakukan 2 minggu sekali Penyiangan dilakukan dalam polibag dan di luar polibag Dalam polibag penyiangan dilakukan secara manual Di antara polibag rumput-rumput disemprot dengan 2 kg karmex + 2,2 ltr gramoxone/450 ltr air/ha bibitan Tenaga kerja diperlukan untuk penyiangan 0,7 ha/HK atau 8.000 bibit/HK

Pemberian Mulsa
• • • • •

Pada daerah yang terlalu kering/panas, bibit dalam polybag harus diberi mulsa Mulsa diberikan secara merata di atas permukaan tanah dalam polybag segera setelah bibit ditanam Mulsa yang dianjurkan adalah cangkang, jerami ataupun lalang kering Jumlah cangkang sawit yang diperlukan 0,5 kg/polibag Jumlah tenaga kerja diperlukan adalah 2.500 bibit/HK

Konsolidasi Bibit
• • • • •

Konsolidasi bibit dilakukan 1x/bulan Menegakkan polibag-polibag yang miring Mengganti/membalut polibag yang pecah Menambah tanah di polybag (hanya sampai umur 6 bulan) Jumlah tenaga kerja diperlukan 2.000 bibit/HK

Pemeliharaan Parit drainase
• • •

Mengalirkan air yang tergenang 1 kali/minggu Mendalamkan parit pada ukuran semula Jumlah tenaga kerja yang diperlukan 6-8 ha/HK

Pemupukan
• • • •

Dimulai pada minggu ke 2 setelah bibit di transplanting Jenis pupuk : pupuk majemuk (contoh Rustika) R 15.15.6.4 dan R 12.12.17.2 serta pupuk Kieserite atau Dolomit Jumlah tenaga kerja yang diperlukan 3.000 bibit/HK atau 5 HK/ha bibit Cara pemupukan : Buat takaran pupuk sesuai dengan dosis

i.

0 10.0 15.0 15.0 15.0 10.5 5.5 - .0 - K atau D 10.0 10.0 20.5 22.0 10. iii. Pupuk ditaburkan merata pada permukaan tanah di polybag melingkar/keliling sejauh 10 cm dari bibit Pupuk tidak boleh menyentuh bibit Pelaksanaan setelah penyiraman pertama Dosis Pemupukan Pembibitan Utama Umur Bibit (Minggu) 2 3 4 5 6 8 10 12 14 16 18 20 22 24 26 28 30 32 34 36 Dosis Pupuk (gram/pohon) R II 10.ii.0 10.5 10.5 2.0 15.5 7.0 20.0 10.0 - RI 2.0 15.5 10. iv.0 5.5 7.0 7.0 7.0 22.0 15.0 20.0 20.0 15.0 15.

000 1.5 Keterangan : R I R II K D Sumber data : Lembaga Pendidikan Perkebunan : Kelapa sawit (2004) Pengendalian Hama Penyakit • • • • • • • Pengamatan dilakukan secara rutin 1 x/minggu untuk mengetahui ada tidaknya serangan hama/penyakit Cara pengendalian pada saat serangan awal/ringan secara manual.0 25.6. hama dikutip kemudian dimusnahkan Jumlah kebutuhan tenaga kerja 2.12.15.0 230 15. Khusus bibit yang terkena penyakit dan mudah menular harus dipisahkan dari bibit sehat Jumlah kebutuhan tenaga kerja 3.00 Sumber data : Lembaga Pendidikan Perkebunan : Kelapa sawit (2004) Gejala Serangan hama/penyakit & Pengendalian .000 bibit/HK Kebutuhan Larutan Semprot Umur (bulan) 4–6 7–9 10 . Semprot (cc/pk) 25 50 100 Tenaga (bibit/HK) 5.5 117.0 80 22.000 bibit/HK Bila dari hasil pengamatan menunjukkan adanya peningkatan gejala serangan maka dapat dikendalikan dengan penyemprotan pestisida.000 3.38 40 Jumlah • • • • 50 = Rustika 15. Penyemprotan dilakukan setelah penyiraman pagi dan ditambahkan dengan perekat.12 Vol.2 = Kieserite = Dolomit 25.17.4 = Rustika 12.

9. 12 bulan dan pada persiapan pengiriman bibit ke lapangan Tata cara pelaksanaan seleksi bibit : Berikan tanda dengan cat warna putih di polybag setiap bibit afkir/abnormal Catat dan dibuat berita acara semua bibit afkir Bibit afkir dikeluarkan dari blok bibitan dan dimusnahkan.Keterangan : T S : Semprot : Tabur : Minggu Mgg Sumber data : Lembaga Pendidikan Perkebunan : Kelapa sawit (2004) Seleksi Bibit • • o o o Seleksi dilaksanakan dengan tahapan umur bibit 6.000 bbt/HK • . jumlah bibit afkir selama di main nursery antara 10-15 % Jumlah tenaga kerja dibutuhkan 3.

Bibit yang layu dan lemah (limp) Penampilan pucat dan pertumbuhan daun muda cenderung lebih pendek dari yang seharusnya Bibit flat top Faktor genetik. daun yang baru tumbuh dengan ukuran yang makin pendek dari daun tua.Ciri bibit abnormal di Main Nursery • o Kerdil (runt/stunted) Bibit yang pertumbuhan vegetatifnya jauh lebih kecil dibandingkan dengan bibit sehat seumurnya Bibit erect Faktor genetis. Bibit terlihat sangat terbuka dan lebih tinggi dari normal Anak daun yang sempit (narrow leaf) Bentuk helai daun tampak sempit dan tergulung sepanjang alur utamanya (lidi) sehingga bentuknya seperti jarum Anak daun tidak pecah (juvenile) Helai anak daun tetap bersatu seluruhnya atau tidak pecah Daun berkerut (crinkle leaf) Daun terlihat berkerut. Gejala berat akibat factor genetic. sehigga tajuk bibit terlihat rata Short internode Jarak antara anak daun pada tulang pelepah (rakhis) terlihat dekat dan bentuk pelepah tampak pendek Wide internode Jarak antara anak daun pada rakhis terlihat sangat lebar. gejala ringan disebabkan karena kekurangan air Chimaera • o • o • o • o • o • o • o • o • . daun tumbuh dengan sudut yang sangat sempit/tajam terhadap sumbu vertikal sehingga seperti tumbuh tegak.

Bibit disusun satu lapis di atas truk dan disiram sebelum berangkat ke lapangan • o . pelepah bengkok dan mudah patah Blast Bibit berubah secara progresif ke arah coklat dan perlahan dimulai dari daun yang tua bergerak ke daun yang lebih muda Terserang hama dan penyakit Terserang busuk pucuk dan hama/penyakit yang harus dipisahkan • o • o • o Persiapan Pemindahan Bibit ke Lapangan • o Pemutaran bibit (rotating) Bibit diputar pada tempatnya dua minggu sebelum dikirim ke lapangan.o Sebagian atau seluruh daun secara seragam berubah menjadi pucat atau bergaris kuning terang yang sangat kontras dengan warna gelap dari jaringan yang normal Crown Diseases Faktor genetik. Setelah bibit diputar harus disiram air dengan cukup setiap hari sampai waktu pengiriman ke lapangan Perlakuan Bibit untuk Persiapan Pengangkutan Menjelang persiapan tanam bibit dikumpulkan rapat. setiap kelompok terdiri 100-200 bibit.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful