MAKALAH “SEJARAH KEPERAWATAN NASIONAL DAN INTERNASIONAL” Ditujukan untuk memenuhi tugas Ilmu Keperawatan Dasar Dosen Pengampu

: Puji Purwaningsih,S.Kep.,Ns

Disusun Oleh : 1. Lalu Suhaeri W 2. Risti Nurhidayati 3. Rizal Marzuki 4. Rizki Yulaeni 5. Saiman Jayadi 6. Sri Wahyuningsih (010111a066) (010111a098) (010111a099) (010111a100) (010111a101) (010111a109)

7. Wahyu Rindiantika (010111a123)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN NGUDI WALUYO UNGARAN 2011

i

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ....................................................................................... i DAFTAR ISI ................................................................................................... ii BAB I PENDAHULUAN .......................................................................... 1 A. Latar Belakang .......................................................................... 1 B. Tujuan Penulisan ...................................................................... 1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................. 2 A. Sejarah Keperawatan di luar Indonesia .................................... 2 B. Sejarah Keperawatan di Indonesia ........................................... 7 BAB III PENUTUP ...................................................................................... 12 A. Kesimpulan ............................................................................... 12 B. Saran .......................................................................................... 12 DAFTAR PUSTAKA

ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Keperawatan merupakan suatu bentuk layanan kesehatan professional yang merupakan bagian integral dari layanan kesehatan yang berdasarkan pada ilmu dan etika keperawatan.Keperawatan sebagai bagian integral dari pelayanan kesehatan,ikut menentukan mutu dari pelayanan kesehatan.Tenaga keperawatan secara keseluruhan jumlahnya mendominasi tenaga kesehatan yang ada,dimana keperawatan memberikan kontribusi yang unik terhadap bentuk pelayanan kesehatan sebagai satu kesatuan yang relative,berkelanjutan,koordinatif dan advokatif.Keperawatan sebagai suatu profesi menekankan kepada bentuk pelayanan professional yang sesuai dengan standar dengan memperhatikan kaidah etik dan moral sehingga pelayanan yang diberikan dapat diterima oleh masyarakat dengan baik dan berkelanjutan.

B. Tujuan Penulisan 1. Tujuan Umum Tujuan pembuatan makalah ini diharapkan mahasiswa dapat mengetahui bagaimana ilmu keperawatan dapat berkembang dengan peralatan yang sangat terbatas pada zaman dahulu hingga dengan peralatan yang sangat lengkap pada zaman sekarang. 2. Tujuan Khusus a. Mahasiswa mengetahui, memahami, dan menjelaskan tentang sejarah keperawatan nasional dan internasional. b. Mahasiswa mampu menjabarkan perkembangan ilmu keperawatan, mulai dari zaman dahulu hingga zaman sekarang.

1

Pemimpin agama dijunjung tinggi sebagai tabib. Kepercayaan ini biasa disebut animisme.BAB II TINJAUAN PUSTAKA SEJARAH KEPERAWATAN NASIONAL DAN INTERNASIONAL Keperawatan sebagai suatu profesi yang sudah ada sejak manusia ada di bumi ini. gunung tinggi. memberi semangat dari ketakutan atau membuka otak untuk menghilangkan jiwa yang jahat (Dolan. Sejarah Keperawatan di Luar Indonesia 1. Zaman Purba Pada zaman ini orang percaya bahwa sesuatu yang ada di bumi mempunyai suatu kekuatan mistik yang dapat memengaruhi kehidupan manusia. tabib adalah medicineman yang mengobati penyakit dengan jalan melantunkan nyanyian. 2. pohon besar. Lilis & Lemone.berikut adalah perkembangan keperawatan di dunia. Mereka meyakini bahwa sakitnya seseorang disebabkan oleh kekuatan alam atau pengaruh kekuatan gaib seperti batu besar. taylor. 1983). Fitzpatrick & Herman. Perawat biasanya berperan sebagai ibu yang merawat familinya sewaktu sakit dengan memberikan perawatan fisik dan memberikan obat dari tumbuh-tumbuhan. sungai besar.1997). perawat dianggap sebagai budak dan mendapat penghargaan yang rendah karena pekerjaannya didasarkan perintah dari pempimpin agama yang berperan sebagai tabib. Peran ini diteruskan sampai saat ini. jika yang jahat membawa kesakitan dan kematian (Calor. kuil menjadi pusat perawatan medis sebab orang percaya bahwa penyakit disebabkan oleh dosa dan kutukan Tuhan.Keperawatan terus berkembang sesuai dengan kemajuan peradaban teknologi dan kebudayaan. Jiwa yang baik membawa kesehatan.Konsep keperawatan dari abad keabad terus berkembang. Zaman Keagamaan Pada zaman ini. 2 . A. Peran tabib dan perawat jelas berbeda.

Tokoh keperawatan yang terkenal di dunia Arab pada masa ini adalah Rafidah. 4. Pada waktu itu. yaitu perang. Pada perang salib perawat laki-laki dan perempuan bertugas merawat orang-orang yang luka dalam peperangan tersebut. Akibatnya banyak gereja dan tempat ibadah ditutup. agama Kristen mulai berkembang. perawat menerima gaji yang rendah dengan jam kerja lama pada kondisi yang buruk (Taylor C.dkk. Kemajuan profesi keperawatan pada masa ini juga terlihat jelas dengan berdirinya rumah sakit terkenal di Roma yang bernama Monastik hospital. Permulaan Abad XVI Struktur dan orientasi masyarakat berubah dari orientasi keagamaan menjadi orientasi pada kekuasaan. Permulaan Masehi Pada permulaan masehi. 1989) 5. wanita yang pernah melakukan kejahatan dan telah berobat dapat diterima bekerja sebagai perawat. serta perkembangan pengetahuan. Masa Sebelum Perang Dunia II Florence Nightingale (1820-1910) merupakan tokoh pembaharu perawatan pada saat itu dan bahkan sering disebut Ibu Perawatan. Rumah sakit ini dilengkapi dengan fasilitas bangsal-bangsal perawatan untuk merawat orang sakit serta bangsal-bangsal lain sebagai tempat merawat orang cacat.. Organisasi wanita pertama yang dibentuk pada saat itu dinamakan Deaconesses. miskin dan yatim piatu. Pada masa ini keperawatan mengalami kemajuan yang berarti seiring dengan kepesatan perkembangan agama Kristen. padahal tempat ini digunakan oleh ordoordo keagamaan untuk merawat orang sakit. mengunjungi orang-orang sakit dan anggota keagamaan laki-laki memberikan perawatan serta mengubur orang mati.3. Untuk memenuhi kebutuhan perawat. Tepatnya di timur tengah seiring dengan perkembangan agama Islam. Akibat reputasi yang jelek ini. Kondisi ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan keperawatan. pada pertengahan abad VI masehi keperawatan juga berkembang di benua Asia. Seperti halnya di Eropa. eksplorasi kekayaan alam. Florence Nightingale sudah menyadari pentingnya suatu 3 .

Florence Nightingale telah berpendapat bahwa. Perlu diperhatikan peningkatan pendapatan perawat setiap 6 bulan. Penerapan teknologi modern dalam bidang pelayanan orang sakit telah mulai diperkenalkan waktu itu sebagai jawaban atas kebutuhan pelayanan kesehatan akibat penderitaan sakit selama perang. Mendirikan sekolah perawat b. berpengetahuan luas dan terampil dalam melaksanakan perawatan. c. b. menyebabkan dibutuhkannya peningkatan pengetahuan dan keterampilan tenaga medis maupun perawat. 4 . keterampilan dan pembinaan mental sehingga dihasilkan tenaga perawatan yang berbudi luhur. a. Kemampuan satu bidang profesi tertentu tidak dapat memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan waktu itu. Namun. Perlu diperhatikan bahwa harus ada perubahan tentang jam kerja perawat yang waktu itu berlangsung 12 jam/hari dan 7 hari/minggu. Masa Selama Perang Dunia II Selama perang. Tekanan perang ini mendorong manusia mengadakan perubahan-perubahan. Perlu persiapan pendidikan yang berlainan bagi perawat pelaksana dan perawat administrator atau supervisor. banyak kejadian yang merupakan “tekanan” bagi setiap bangsa di dunia. Timbulnya penyakit akibat perang. Menentukan tujuan pendidikan perawat c. 6. Oleh Karena itu. Kemajuan teknologi dimaksudkan untuk berlomba menaklukan dunia.sekolah untuk mendidik para calon perawat. Beliau menetapkan struktur dasar sebagai prasyarat dalam pendidikan perawat : a. Menetapkan pengetahuan yang harus dimiliki para calon sebagai dasar perawatan Di samping itu. agar dapat diberikan pengetahuan. mengingat beban dan tanggung jawab mereka. secara menyeluruh perkembangan perawat dari zaman Florence Nightingale sampai pecah perang dunia II dinilai sangat kecil atau hampir tidak ada perubahan. masa ini sering disebut sebagai masa pemeliharaan.

perlu pengembangan pendidikan keperawatan. 7. Lucille Brown (1948) menulis sebuah laporan tentang pengakuan perawat sebagai profesi merupakan titik tolak yang besar untuk kehidupan perawat dan profesi perawat. Untuk itu disadari perlunya suatu pengelolaan pelayanan keperwatan yang baik untuk menjamin mutu dan sekaligus tersedia alat evaluasi keperawatan tersebut. 8. Oleh karena itu terjadi perubahan dari perawat bekerja sendiri menjadi bekerja team. Pada tahun 1977 telah terdapat 3830 orang lulusan master di bidang keperawatan dan pada tahun 1972 terdapat 9 institusi yang melaksanakan program Doktor di bidang keperawatan. Pendidikan perawat pada tingkat “Bachelor” dimulai tahun 1919. 5 . Dalam dekade ini telah dilancarkan perjuangan untuk pengakuan keperawatan sebagai profesi. “the nurse must give total patient care” dalam arti sempit telah berkembang. Masa Pasca Perang Dunia II Akibat Perang dunia II yang mengakibatkan banyaknya penderitaan bagi penduduk dunia telah menggugah semua pihak untuk memperbaiki keadaan dunia. Sebenarnya pendidikan keperawatan di tingkat universitas sudah ada sejak tahun 1909 di Universitas Minesota Amerika. Di Thailand pendidikan keperawatan pada tingkat “Bachelor” dimulai tahun 1966. pengakuan perawat sebagai profesi. dan pada tingkat “Master” dimulai tahun 1986. Ia memperhatikan penghargaan pada perawat dalam kaitannya dengan tanggung jawab sebagai penyelenggara pelayanan perawatan yang bermutu.Inipun merupakan tantangan baru bagi perawat dalam memberikan pelayanan kesehatan bersama dengan profesi lain. inipun baru pengakuan saja. baru terjadi tahun 1950. dalam arti luas perawat lebih menyadari atas makna totality of the individual client dari sebelumnya. Sejak Tahun 1950 Dalam mengacu proses profesionalisme. Dasar pemikiran semula. Namun. belum memnuhi karakteristik profesi.

Pada saat itu proses keperawatan belum dipahami dan juga belum bisa diterima. Untuk memperoleh pengakuan sebagai suatu profesi. Kode etik e. Pengertian keperawatan menurut International Council of Nurses (ICN) pada tahun 1973 adalah. Berorientasi pada pelayanan yang kuat c. Baru pada tahun 1955 Lydia Hall memberikan presentasinya tentang “Perawatan adalah suatu proses”. (1997) keperawatan harus memiliki: a. Pengembangan diri secara terus menerus g. berkemampuan atau sadar dan melakukannya sedemikian rupa sehingga si pasien dalam waktu singkat dapat mandiri”. ”Fungsi yang unik dari perawat adalah menolong sesorang yang sakit atau sehat dalam usaha-usaha menjaga kesehatan atau penyembuhan atau untuk menghadapi sakaratul maut dengan tenang. perencanaan. tetapi sudah dilakukan sehari-hari. Pengakuan keahlian oleh sebuah kelompok profesional d. Organisasi profesi yang menetapkan standar f. Perumusan body of knowledge yang baik b. Nursing to the patient c. Nursing with the patient Fase dalam proses keperawatn diidentifikasi oleh para dosen keperawatan Universitas Katolik Amerika pada tahun 1967 meliputi : pengkajian. Nursing for the patient d. menurut Taylor C. Otonomi 6 . yaitu usaha yang dapat dilakukan oleh pasien sendiri apabila dia cukup kuat.Proses keperawatan yang dimulai tahun 1950 dianggap sebagai stadium embrio. et al. Nursing at the patient b. dan evaluasi. implementasi. Pada hakikatnya keperawatan menyangkut empat hal pokok yaitu : a.

maka tidak diikuti perkembangan memperhatikan kesehatan rakyat. Gubernur Jenderal Inggris. salah satu diantaranya adalah Rumah Sakit Stadverband berlokasi di Glodok Salemba yang sekarang bernama Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). perawat berasal dari penduduk pribumi yang disebut Verpleger dengan dibantu Zieken Oppaser sebagai penjaga orang sakit. RS PGI Cikini tahun 1906 menyelenggarakan pendidikan juru rawat. didirikan sekolah perawat. Masa Sebelum Kemerdekaan Pada masa pemerintahan kolonial Belanda.B. Setelah pemerintah kolonial kembali ke tangan Belanda. Boromeus Bandung dan Rumah Sakit Elisabeth Semarang. ia melakukan berbagai upaya untuk memperbaiki derajat kesehatan penduduk pribumi antara lain mengadakan pencacaran umum. Itulah sekolah perawat pertama yang berdiri di Indonesia meskipun baru pendidikan okupasional. Semboyannya adalah kesehatan adalah milik manusia. Karena tujuannya hanya untuk kepentingan keperawatan. Usaha pemerintah Belanda pada masa itu antara lain membentuk Dinas Kesehatan Tentara dan Dinas Kesehatan Rakyat. Sebaliknya. RSCM tahun 1912 ikut menyelenggarakan pendidikan juru rawat. Pada tahun 1819 di Jakarta didirikan beberapa rumah sakit. Pada kurun waktu 1816-1942 berdiri bebrapa rumah sakit swasta milik Misionaris Katolik dan Zending Protestan antara lain Rumah sakit PGI Cikini. Mereka bekerja pada rumah sakit Binnen Hospital di Jakarta yang didirikan pada tahun 1799 untuk memelihara kesehatan staf dan tentara Belanda. Carolus Salemba. Rumah Sakit St. Raffless. sangat tentara belanda. usahausaha peningkatan kesehatan penduduk mengalami kemajuan. Sejarah Keperawatan di Indonesia 1. Pendirian rumah sakit ini termasuk usaha Deandels mendirikan rumah sakit di Semarang dan Surabaya. membenahi cara perawatan pasien gangguan jiwa serta memperhatikan kesehatan dan perawatan para tahanan. 7 . Bersamaan dengan berdirinya rumah sakit diatas. Rumah Sakit St. Saat ini RSCM menjadi rumah sakit pusat rujukan nasional dan pendidikan nasional.

Ada juga pendidikan perawat dengan dasar sekolah rakyat +4 tahun pendidikan yang lulusannya disebut mantri juru rawat. Namun. Masa Setelah Kemerdekaan a. 2. Pendidikan keperawatan dari awal kemerdekaan sampai tahun 1953 masih berpola pada pendidikan yang dilaksanakan oleh pemerintah Hindia Belanda. di Bandung dan di Surabaya). Tahun 1955 di buka Sekolah Djuru Kesehatan (SDK) dengan pendidikan dasar umum sekolah rakyat ditambah pendidikan satu tahun dan Sekolah Pengamat Kesehatan yaitu sebagai pengembangan 8 . sampai dengan tahun 1950 pendidikan tenaga keperawatan yang ada adalah pendidikan tenaga keperawatan dengan dasar pendidikan umum Mulo +3 tahun untuk mendapatkan ijazah A (perawat umum) dan ijazah B untuk perawat jiwa. pendidikan dasar umum tetap SMP yang setara dengan Mulo dengan lama pendidikan tiga tahun. Baru pada tahun 1953 dibuka sekolah pengatur rawat dengan tujuan untuk menghasilkan tenaga keperawatan yang lebih berkualitas. Pendidikan ini dibuka di tiga tempat (yaitu di Jakarta. keduanya berada dalam institusi rumah sakit.Kekalahan tentara sekutu dan kedatangan tentara Jepang tahun 1942-1945 menyebabkan perkembangan keperawatan mengalami kemunduran karena pekerja perawat pada masa Belanda dan Inggris sudah dikerjakan oleh perawat yang telah dididik. Demikian pula tenaga perawat yang digunakan diunitunit pelayanan keperawatan adalah tenaga yang ada. kecuali pendidikan perawat di Bandung. maka pada masa Jepang tugas perawat dilakukan oleh mereka yang tidak dididik untuk menjadi perawat. Sebagai contoh. pendidikan tenaga keperawatan masih meneruskan sistem pendidikan yang telah ada (lulusan pendidikan “Perawat” Pemerintah Belanda). Periode tahun 1945-1962 Tahun 1945-1950 merupakan periode awal kemerdekaan dan merupakan masa transisi Pemerintah Republik Indonesia sehingga dapat dimaklumi jika masa ini boleh dikatakan tidak ada perkembangan.

sekalipun sudah banyak perubahan dalam pelayanan.SDK ditambah pendidikan sampai satu dengan tahun. Hal ini dapat ditinjau dari kelembagaannya yang berada dalam organisasi rumah sakit. khususnya rumah sakit besar. dan pendidikannya berada pada pendidikan tinggi. Periode tahun 1983-sekarang Sejak adanya kesepakatan pada lokakarya nasional (Januari 1983) tentang pengakuan dan diterimanya keperawatan sebagai suatu profesi. Periode tahun 1963-1982 Pada masa tahun 1963 hingga 1982 tidak terlalu banyak perkembangan di bidang keperawatan. b. Sekalipun sudah ada keinginan bahwa pendidikan tenaga perawat berada pada pendidikan tinggi. c. Demikian juga penerapan kurikulumnya yang masih berorientasi pada keterampilan tindakan dan belum dikenalkannya konsep-konsep keperawatan. 17 Jakarta Pusat. di RSUP Cipto Mangunkusumo yang sekarang kita kenal sebagai Poltekkes Jurusan Keperawatan Jakarta yang berada di Jalan Kimia No. kegiatan institusi yang belum mencerminkan konsep pendidikan tinggi yaitu kemandirian dan pelaksanaan fungsi perguruan tinggi yang disebut Tri Dharma Perguruan Tinggi. Pendidikan keperawatan bukan lagi menekankan pada 9 . tempat tenaga lulusan Akademi Keperawatan banyak diminati oleh rumah sakit-rumah sakit. namun konsep-konsep pendidikan tinggi belum tampak. Tahun 1962 dibuka Akademi Perawatan. baik tatanan pendidikannya maupun pola ketenagaan yang diharapkan. tahun Ditinjau 1955 dari ini aspek tampak pengembangannya pengembangan keperawatan tidak berpola. terjadi perubahan mendasar dalam pandangan tentang pendidikan keperawatan. berada dalam struktur organisasi institusi pelayanan kesehatan yaitu rumah sakit. yaitu pendidikan tenaga keperawatan dengan dasar pendidikan umum SMA di Jakarta. di samping itu Akademi Keperawatan tidak berada dalam sistem pendidikan tinggi nasional namun.

pembinaan sikap dan keterampilan profesional keperawatan. karena keperawatan di Indonesia sudah diakui sebagai suatu profesi maka pelayanan atau asuhan keperawatan yang diberikan harus didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan. tetapi lebih pada penumbuhan. Tahun 1992 merupakan tahun penting bagi profesi keperawatan karena pada tahun ini secara hukum keberadaan tenaga keperawatan sebagai profesi diakui dalam undang-undang yaitu yang dikenal dengan Undang-Undang No.penguasaan keterampilan. Tahun 1985 dibuka Program Studi Ilmu Keperawatan di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan kurikulum pendidikan tenaga keperawatan jenjang S1 juga disahkan. Ayat 4: Pelaksanaan pengobatan dan atau perawatan berdasarkan ilmu kedokteran atau ilmu keperawatan hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu. Tahun 1995 dibuka lagi Program Studi Keperawatan di Indonesia. sebagai perwujudan lokakarya tersebut di atas pada tahun 1984 diberlakukan kurikulum nasional untuk Diploma III Keperawatan. disertai dengan landasan ilmu pengetahuan khususnya ilmu keperawatan. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan dan Peraturan Pemerintah No. terutama pada pasal 32 yang berbunyi : Ayat 3: Pengobatan dan atau perawatan dapat dilakukan berdasarkan ilmu kedokteran atau ilmu keperawatan atau cara lain yang dapat dipertanggungjawabkan. Tahun 1983 merupakan tahun kebangkitan profesi keperawatan di Indonesia. yang sampai saat ini masih perlu perjuangan. 32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan sebagai penjabarannya. yaitu di Universitas Padjajaran Bandung dan Fakultas 10 . Dari sinilah awal pengembangan profesi keperawatan Indonesia. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. Hal ini sejalan dengan tuntutan UU No.

dan dengan SK Mendikbud No.Kedokteran Keperawatan. 647 tentang Registrasi dan Praktik Perawat sebagai regulasi praktik keperawatan sekaligus kekuatan hukum bagi tenaga perawat dalam menjalankan praktik keperawatan secara professional. Pada tahun ini juga (1999) kurikulum DIII Keperwatan selesai diperbaharui dan mulai didesiminasikan serta diberlakukan secara nasional. PSIK di Universitas Diponegoro Jawa Tengah. PSIK di Universitas Hasanuddin Ujung Pandang. Tahun 2000 diterbitkan SK Menkes No. Universitas Indonesia berubah menjadi Fakultas Tahun 1998 dibuka kembali program Keperawatan yang ketiga yaitu Program Studi Ilmu Keperawatan di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Tahun 1999 Program S1 kembali dibuka. PSIK di Universitas Sumatera Utara. PSIK di Universitas Andalas. yaitu Program Studi Ilmu Keperawatan (PSIK) di Universitas Airlangga Surabaya. Carolus Jakarta. PSIK di Universitas Brawijaya Malang. Kurikulum Ners disahkan. 129/D/0/1999 dibuka juga Sekolah Tinggi Ilmu Keperawatan (STIK) di St. 11 . digunakannya kurikulum ini merupakan hasil pembaharuan kurikulum S1 Keperawatan tahun 1985.

Maraknya ide desentralisasi/otonomi daerah juga telah memengaruhi bagaimana pengelolaan pendidikan keperawatan dan penempatan kerja lulusan harus diselenggarakan. Akademi atau Pendidikan Ahli Madya Keperawatan/Politeknik Kesehatan dengan tiga tahun program diploma keperawatan. terampil.600 orang dan 98 persen di antaranya adalah lulusan Program Pendidikan Bidan. disiplin. mandiri. tangguh. kini telah ditingkatkan pada jenjang pendidikan tinggi. maupun para pejabat. Jumlah bidan adalah sekitar 70. kreatif.65 persen lulusan Sekolah Perawat Kesehatan (SPK). Jumlah perawat di Indonesia menurut data dari Depkes RI (Republika. 2001). 2004) adalah sekitar 180 ribu orang dengan latar belakang pendidikan: 76. dan 2. serta berorientasi ke masa depan sesuai dengan asas profesionalismenya masing-masing (Pusdiknakes.35 persen lulusan S-1. yang memiliki cirri-ciri berbudi luhur. inovatif.PENDIDIKAN KEPERAWATAN Selaras dengan perkembangan ilmu dan teknologi. perawat. bekerja keras. Dari kaca mata nasional. namun kita perlu mencatat bahwa sebagian besar perawat berlatar belakang pendidikan menengah. produktif. Perkembangan pendidikan keperawatan pada saat ini dipengaruhi berbagai faktor nasional maupun internasional. 22 persen perawat lulusan D3 Keperawatan. serdas. dan Program strata satu keperawatan dan program S2 yang terkait dengan keperawatan. Jenjang utama pendidikan keperawatan di Indonesia saat ini adalah Sekolah Perawat Kesehatan. Pendidikan keperawatan yang dahulu hanya merupakan pendidikan dasar atau menengah. Sementara tantangan dari 12 . memiliki rasa kesetiakawanan. Pendidikan tenaga keperawatan di Indonesia secara umum bertujuan untuk menyediakan tenaga kesehatan dalam jumlah dan jenis yang sesuai. pendidikan keperawatan tahap demi tahap mengalami peningkatan baik jenjang maupun mutu pendidikan. Variasi jenjang pendidikan keperawatan yang ada saat ini seringkali membingungkan masyarakat. situasi politik di tanah air dan kesadaran masyarakat terhadap hak-haknya telah memicu reformasi di berbagai bidang termasuk pendidikan. Walaupun jumlah perawat dari pendidikan tinggi telah meningkat.

lulusan SPK rata-rata tidak mengalami kesulitan untuk mendapat pekerjaan. Pada masa tersebut pendirian SPK merupakan jawaban tepat bagi pemerintah untuk mencukupi kebutuhan jumlah tenaga keperawatan. 1. Lama pendidikan dirancang tiga tahun. yaitu akademi perawatan yang saat ini menawarkan program diploma tiga keperawatan. Kemudian pada tahun 1960 mulai dikembangkan Sekolah Perawat Kesehatan (SPR) dengan latar belakang pendidikan SMP yang sekarang ini bernama SPK (Jahmono. 13 .Sarjana Keperawatan. 1993). Bagian berikut akan membahas jenis pendidikan keperawatan yang ada di Indonesia. Karena kebutuhan tenaga keperawatan masih sangat dibutuhkan. Untuk ini undangundang harus disesuaikan di antaranya undang-undang tentang registrasi dan praktik keperawatan dan penyesuaian pendidikan sesuai dengan sistem pendidikan nasional yang baru (Undang-Undang RI Nomor 20 tahun 2003). Pendidikan Ahli Madya Keperawatan (Politeknik Kesehatan). yaitu: Sekolah Perawat Kesehatan. dan Pasca. Dasar pendidikan keperawatan pada awal kemerdekaan adalah sekolah dasar ditambah keperawatan yang lamanya bervariasi.kaca mat internasional telah mendorong kesadaran kita dalam upaya menyiapkan tenaga keperawatan yang handal dengan kompetisi global. Hal ini yang menyebabkan salah satu animo untuk mendaftarkan diri ke SPK cukup besar pada masa itu. Sekolah Perawat Kesehatan Dari beberapa jenis jenjang pendidikan keperawatan. Tujuan pendidikan SPK adalah meluluskan perawat kesehatan yng mampu sebagai pelaksana maupun pengelola keperawatan. Pada tahun yang sama juga mulai didirikan pendidikan dengan jenjang lebih tinggi. Ini karena mayoritas pendidikan keperawatan di Indonesia pada saat didirikan adalah SPK. SPK sebelumnya bernama SPR (Sekolah Pengatur Rawat) yang mulai dirintis pada tahun 1960. Program Sarjana. Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) merupakan institusi yang telah menyumbang tenaga keperawatan dalam jumlah paling besar.

Program Diploma Tiga Keperawatan Penyelenggaraan program diploma tiga keperawatan merupakan salah satu upaya antisipasi terhadap perkembangan pelayanan kesehatan. Namun.Permasalahan kesehatan lain kemudian muncul. seperti diakui oleh beberapa pengelola dari Pusdiknakes bahwa daya serap upaya ini masih mengalami kendala. Tahun demi tahun pendirian Akper semakin 14 . Dalam Sistem Pendidikan Nasional (Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003) dijelaskan apa yang dimaksud dengan pendidikan akademik. Penyelenggaraan ini diharapkan dapat menghasilkan tenaga bidan untuk ditempatkan di desadesa (bidan desa). 1992) dan dengan memberi kesempatan kepada perawat lulusan SPK untuk melanjutkan pendidikannya tanpa harus meninggalkan pekerjaannya. Persyaratan peserta adalah lulusan SMU atau lulusan SPR/SPK yang sudah bekerja. Bila dilihat dari pernyataan dalam Sistem Pendidikan Nasional. Sistem Kesehatan Nasional (2004) menyatakan bahwa penyelenggaraan pendidikan vokasi. dan profesi tingkat pertama adalah institusi pendidikan tenaga kesehatan yang telah diakreditasi oleh asosiasi institusi pendidikan kesehatan yang bersangkutan. tetapi juga penyediaan tenaga bidan. Adanya tuntutan bahwa perawat harus dipersiapkan melalui pendidikan tinggi seperti tercantum dalam SKN yang lama dan yang baru (diatas) telah lama ditanggapi antara lain dengan mengonversikan SPK menjadi jenjang pendidikan diploma tiga dan menunjuk AKPER yang melaksanakan program ini (Nugroho Imam Santosa. Penyelenggaraan pendidikan profesi tingkat lanjutan adalah institusi pendidikan (university based) dan institusi pelayanan kesehatan (hospital based) yang diakreditasi oleh kolegium profesi yang bersangkutan. Program ini pertama-tama diselenggarakan pada tahun 1960-an. dapat disimpulkan bahwa penyelenggaraan SPK sudah tidak sesuai lagi. yaitu dengan berdirinya Akper Bandung. profesi dan vokasi yang semuanya diselenggarakan melalui pendidikan tinggi. Untuk mencukupi tenaga bidan. tidak saja upaya untuk memenuhi tenaga keperawatan. 2. pemerintah menyelenggarakan program pendidikan bidan satu tahun yang pesertanya diambil dari lulusan SPK. sarjana.

Seperti halnya SPK. Untuk meningkatkan karier. Hasil dari pendataan ini dijadikan landasan untuk mengembangkan sistem pengelolaan akademi-akademi kesehatan menjadi politeknik kesehatan. pendidik. Dalam keputusan Menkes Dan Kesejahteraan Sosial RI di atas dijelaskan bahwa pelaksanaan teknis institusi pendidikan ini tetap di bawah Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial dan pimpinan institusi adalah direktur yang secara administratif bertanggung jawab kepada Kepala Pusat Pendidikan 15 . dan partisipasi aktif dalam penelitian ilmiah.berkembang dan untuk saat ini institusi pendidikan ini dapat ditemukan di setiap provinsi. 2004). Peserta yang mengikuti program diploma terdiri dari peserta umum (lulusan SMU) dan peserta lulusan SPK. Tujuan dari program diploma tiga keperawatan adalah menghasilkan tenaga perawat professional pemula yang mendapat sebutan ahli madya keperawatan yang merupakan manajer menengah dalam keperawatan yang diharapkan mampu sebagai pelaksana. Departemen Kesehatan mulai mengembangkan system Multystream academy dengan berbagai institusi pendidikan dalam dalam lingkungan atau lokasi yang sama dipadukan menjadi “pendidikan satu atap. pengelola.” Untuk mengadakan pengkajian/pendataan secara lebih mendalam. secara administrative program diploma tiga dibawah koordinasi Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan. Pembentukan politeknik kesehatan dikukuhkan dengan diterbitkannya Keputusan dari Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial RI Nomor 298/Menkes-Kesos/SK/IV/2001 (Pusdiknakes. kurikulum program diploma tiga adalah kurikulum inti yang disusun oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Departemen Kesehatan bekerja sama dengan P4D Departemen Pendidikan Nasional pada tahun 1999-2000. Pada beberapa tahun lalu. kurikulum yang disusun telah dikembangkan dengan Community Oriented Nursing Education atau pendidikan keperawatan yang berorientasi kepada masyarakat. Adanya berbagai pendidikan kesehatan yang menawarkan berbagai program di lingkungan Depkes telah dinilai tidak efisien sehingga pada pertengahan tahun 1990-an. para lulusan diploma setelah memenuhi persyaratan tertentu dapat melanjutkan ke program sarjana keperawatan. Departemen Kesehatan.

Pada jenjang pendidikan ini. II. menghasilkan perawat generalis. yaitu tahap program akademik yang pada akhir pendidikan mendapat gelar akademik Sarjana Keperawatan (S. 3. Penyelenggaraan program sarjana keperawatan pada awalnya merupakan perwujudan dari Peraturan Pemerintah No. Program Strata 1 atau Sarjana Keperawatan mulai diselenggarakan pada tahun 1985 oleh Program Studi Ilmu Keperawatan di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.) dan tahap program keprofesian yang pada akhir pendidikan mendapat sebutan profesi “Ners” (Ns). III dan IV. Salah satu kelebihan dari PSIK UGM adalah digunakannya Problem Based Learning sebagai metode pembelajaran. yang menyatakan tentang Pendidikan Tinggi. Karena kebutuhan tenaga keperawatan dari lulusan pendidikan tinggi yang mendesak.Tenaga Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial. sehingga tenaga keperawatan harus disiapkan melalui pendidikan tinggi. Penyelenggaraan ini juga sesuai dengan hasil salah satu lokakarya nasional. misalnya Universitas Gadjah Mada pada tahun 1998 mendirikan Program Studi Ilmu keperawatan. Program S1 dan Pendidikan Keperawatan Lebih Tinggi Pendidikan pada tahap ini bersifat pendidikan akademik profesional (pendidikan keprofesian). yaitu di bulan Januari 1983 yang menghasilkan consensus nasional tentang perawat sebagai profesi. Tidak lama kemudian diselenggarakan program serupa di Universitas Airlangga yang pendiriannya berdasarkan SK Dirjen Dikti No. terdapat dua tahap program. 2005). kemudian program S1 Keperawatan juga diselenggarakan oleh berbagai universitas yang lain.Kp. menekankan pada penguasaan landasan keilmuan. SK Mendikbud No. yaitu ilmu keperawatan dan ilmu-ilmu penunjang. penumbuhan serta pembinaan sikap dan keterampilan profesional dalam keperawatan. 0332/0/1995 (FIKUI. Program yang dapat diselenggarakan adalah program diploma I. 16 . 0211/V/1982 dan 0212/U/1982 serta Direktorat Pendidikan Tinggi No. yang sejak tahun 1995 menjadi Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK UI) berdasarkan SK Mendikbud RI No. 27/1991. 048/DJ/Kep/1982. 122/Dikti/Kep/1999 tanggal 7 April 1999.

dan bertolak pada pandangan bahwa setiap saat dan tahap pengembangan perlu diupayakan untuk meningkatkan relevasi dan mutu asuhan keperawatan kepada masyarakat. Pendidikan Spesialis Bidang Keperawatan Dalam memenuhi atau menjawab tuntutan kebutuhan masyarakat dan pembangunan kesehatan di masa depan. Penetapan jenis 17 . namun tidak dapat dipisahkan sepenuhnya dengan perkembangan kelompok-kelompok ilmu dasar dan penunjang.Untuk saat ini beberapa universitas dan juga Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan telah menawarkan program S1 Keperawatan. maka dikembangkan pendidikan keperawatan pada jenjang spesialis. dan perkembangan ilmu keperawatan. 4. khususnya keperawatan klinis. Di masa mendatang kita berharap bahwa universitas di tanah air juga mampu menyelenggarakan program S2 keperawatan ini dengan berbagai peminatan termasuk peminatan klinis guna menyiapkan perawat dengan kompetensi klinis tingkat tinggi (advanced nursing practice) dan perawat peneliti melalui program S3 keperawatan. termasuk ilmu dasar keperawatan. Jenis pendidikan pada jenjang pendidikan ini didasarkan pada tuntutan kebutuhan pelayanan keperawatan. Beberapa hal yang penting untuk kita perhatikan dari penyelenggaraan pendidikan tingkat sarjana keperawatan adalah bagaimana kita secara tepat mampu mengelola sumber daya tenaga tingkat sarjana ini setelah mereka menyelesaikan pendidikannya dan hal yang lain adalah bagaimana kita meningkatkan dan mempertahankan mutu pendidikan dan penelitian. Universitas Indonesia melalui Program Studi Magister Ilmu keperawatan juga telah menawarkan Program S2 dengan kekhususan kepemimpinan dan manajemen keperawatan.. Untuk mencetak perawat dengan kemampuan kepemimpinan. Lama program ini adalah dua tahun (empat semester). Pendidikan jenjang ini lebih merupakan pendidikan yang memperdalam pengetahuan dan keterampilan keprofesian. manajerial dan penelitian yang andal. Dalam pengembangan jenjang pendidikan ini dicegah terjadinya fragmentasi yang berlebihan yang dapat merugikan masyarakat dan perkembangan profesi keperawatan. walaupun lebih mengutamakan ilmu keperawatan klinik. Sifat memperdalam ilmu pengetahuan keperawatan.

Untuk itu. Dalam SK Menkes No. menyesuaikan dengan perubahan peran dan fungsi sesuai dengan kewenangan keperawatan. 674/Menkes/SK/IV/2000 tanggal 14 April 2000 tentang registrasi dan praktik keperawatan. Tidak berlebihan bila untuk sekedar gambaran. Pendidikan Keperawatan Berkelanjutan Perawat diwajibkan mempertahankan kemampuannya dalam menjalankan asuhan keperawatan yang bermutu tinggi sesuai dengan perkembangan ilmu dan pengetahuan terbaru. pelayanan keperawatan dan kesehatan. dinyatakan dengan jelas bahwa setiap perawat diwajibkan selalu meningkatkan kemampuan keilmuwan dan/keterampilan bidang keperawatan melalui pendidikan dan/atau pelatihan. 5. Pendidikan keperawatan berkelanjutan pada prinsipnya tidak selalu harus ditempuh dengan pendidikan formal. mendapatkan pengetahuan dan keterampilan baru dan memodifikasi perilaku dan pemahaman profesionalismenya. serta organisasi profesi keperawatan. tetapi dapat pula ditempuh dengan mengikuti kursus jangka pendek atau pelatihan yang diselenggarakan oleh institusi pendidikan tinggi atau belajar mandiri/informal dengan mengikuti berbagai kesempatan yang diberikan oleh organisasi profesi atau badan lain yang berwenang. Di masa mendatang kita berharap bahwa pendidikan keperawatan berkelanjutan/pelatihan bagi perawat akan dapat ditata secara lebih terkendali dan terencana dan tidak dijalankan hanya secara sporadik dan secara kebetulan. Program Pendidikan Spesialis bidang keperawatan yang ada saat ini adalah program pendidikan spesialis maternitas dan kedepan akan dikembangkan program spesialis lain sesuai dengan kebutuhan.spesialisasi seyogyanya dilakukan secara bersama-sama oleh pihak yang bertanggung jawab terhadap pengembangan pendidikan tinggi keperawatan. baik diselenggarakan oleh pemerintah maupun organisai profesi. setiap perawat yang masih aktif menjalankan tugasnya harus senantiasa mempertahankan dan meningkatkan kemampuannya antara lain dengan mengikuti pendidikan keperawatan berkelanjutan. penatalaksanaan pendidikan keperawatan berkelanjutan di Inggris sudah banyak ditawarkan 18 .

sehingga perawat kita dapat meningkatkan ilmunya sementara mereka masih tetap dapat bekerja. Walaupun sudah ada sistem akreditasi bagi institusi pendidikan kesehatan. sepertinya ada beberapa hal umum yang dihadapi oleh semua pendidikan keperawatan baik menengah atau tinggi. Mereka tidak dapat menghindar dari kegiatan ini. Banyak perawat yang mengambil modul ini dalam rangka untuk mendapatkan ijazah S1-nya melalui degree pathways tetapi banyak juga yang hanya mengambil modul tanpa ingin memperoleh ijazah S1. Arah dan kurikulum pendidikan keperawatan.sebagian besar oleh universitas/college bagi yang ingin mengikuti jalur formal baik berupa study days ataupun mengikuti modul-modul tertentu. Hal ini antara lain disebabkan oleh berbagai perubahan sosial dan politik yang sama di tanah air kita. Dalam 15 tahun terakhir. b. Barangkali gagasan seperti ini dapat kita terapkan di Indonesia. arah pendidikan sering kali menjadi kabur dan muatan kurikulum menjadi tidak jelas. perawat tidak dapat memperpanjang surat izin praktiknya bila tidak ada bukti bahwa mereka telah cukup mengikuti pendidikan keperawatan berkelanjutan. Upaya dalam mempertahankan mutu pendidikan keperawatan. Kurikulum seharusnya disusun 19 . Terlepas dari jenjang pendidikan yang ditawarkan. Namun dampaknya. Berbagai persoalan yang kiranya dapat kita pakai sebagai bahan kajian kita bersama adalah: a. karena seperti yang dipersyaratkan oleh NMC (the Nursing and Midwifery Council). Tentu saja hal-hal seperti ini membutuhkan kebijakan dan perangkat yang memadai. Dalam situasi global saat ini. kita berharap dapat mencetak tenaga keperawatan yang berkompetensi tinggi. jumlah institusi pendidikan keperawatan di Indonesia meningkat dengan cepat dan sering kali hal ini menyulitkan kita untuk mengendalikan dan mempertahankan mutu pendidikan. namun upaya ini dirasa masih jauh dari yang kita harapkan. Perawat juga dapat mengikuti pendidikan berkelanjutan dengan cara belajar mandiri dari paketpaket yang terakreditasi yang ditawarkan oleh RCN (The Royal College of Nurses). sehingga institusi pelayanan tidak dirugikan dan kesejahteraan keluarga bagi perawat juga dapat dipertahankan karena mereka tidak perlu meninggalkan keluarga mereka.

Perubahan sosial dan kedewasaan mahasiswa.dengan mendasarkan isi program pendidikan secara seimbang untuk memenuhi nternasional. membuat aturan/kebijakan dan evaluasi program. penyediaan jumlah tenaga pengajar dengan kualifikasi master (S2) dan sarjana keperawatan belum memadai. nasional dan 20 . Siswa/mahasiswa keperawatan semakin dilibatkan dalam pengembangan kurikulum. Upaya ini walau nampaknya berjalan lambat tetapi tetap mendapat perhatian.. jurnal-jurnal keperawatan). Selain keterbatasan tenaga pengajar. Keterbatasan tenaga pengajar dan fasilitas klinik. namun tidak semua perawat dapat mengakses kesempatan ini karena berbagai faktor antara lain persyaratan administratif. cara pengusulan. dengan tuntutan mereka untuk mempunyai bagian dalam program pendidikan menyebabkan beberapa mahasiswa ikut aktif dalam pengendalian pengajaran maupun administratif. Jumlah doktor dan master keperawatan masih sangat terbatas untuk kebutuhan pengajaran program sarjana keperawatan. Kesempatan untuk mengikuti pelatihan/pendidikan semakin meningkat secara umum. batasan usia dan pembatasan jumlah peserta yang dapat diterima serta keterbatasan dana dan komitmen dengan keluarga. dan buku-buku keperawatan dan akses mahasiswa dalam menggunakan sarana elektronik (mis. peralatan laboratorium. e. kebutuhan setempat (provinsi/daerah). Hal ini juga terjadi di jenjang pendidikan SPK. Di pengajaran jenjang diploma. sumber fasilitas pendidikan belum juga memadai seperti lahan praktik. d. c.

PERKEMBANGAN TEORI KEPERAWATAN
Perkembangan sistematik dari keperawatan menuju kepada keperawatan sebagai profesi, bermula dari pandangan dan pernyataan dari Florence Nightingale yang mempunyai visi yang sangat maju tentang keperawatan. Dalam perkembangan teori keperawatan selanjutnya, muncul nama-nama besar ilmuwan keperawatan yang memberikan sumbangan yang sangat bermakna dalam perkembangan keperawatan. 1. Hildegard E. Peplau (1952) Teori yang dikembangkannya, yaitu keperawatan psikodinamik

(psychodynamic nursing), sangat dipengaruhi oleh model hubungan interpersonal, khususnya model psikoanalitik. Ia melihat bahwa keperawatan adalah suatu proses interpersonal yang bersifat terapeutik (significant therapeutic interpersonal process). Menurut Peplau, keperawatan adalah therapeutic yang mempunyai seni penyembuhan dalam membantu orang yang sakit atau orang yang membutuhkan perawatan kesehatan. Keperawatan dapat dianggap sebagai proses interpersonal sebab melibatkan interaksi antara 2 atau lebih individu dengan tujuan tertentu. Peplau mengenali 4 fase dalam hubungan interpersonal perawat-klien yang meliputi : a. Fase orientasi Fokusnya adalah fase menentukan atau menemukan masalah. Pertama kali perawat dan pasien bertemu masih sebagai orang yang asing satu sama lain, pasien dan keluarganya memiliki perasaan butuh bantuan profesional walaupun kebutuhan ini kadang-kadang tidak dapat dikenali atau dimengerti oleh mereka. Pada fase ini paling penting adalah perawat bekerja sama secara kolaborasi dengan pasien dan keluarganya dalam menganalisis situasi yang kemudian bersama-sama mengenali,

memperjelas dan menentukan masalah yang ada. Setelah masalahnya diketahui, diambil keputusan bersama untuk menentukan tipe/jenis

21

bantuan apa yang diperlukan. Perawat sebagai fasilitator dapat merujuk klien ke ahli lain sesuai dengan kebutuhan. b. Fase identifikasi Fase ini fokusnya memilih bantuan profesional yang sesuai. Pada fase ini pasien merespon secara selektif ke orang-orang yang dapat memenuhi kebutuhannya, setiap pasien mempunyai respons berbeda-beda pada fase ini. Respons pasien terhadap keperawatan adalah : 1) Berpartisipasi dan interdependen dengan perawat, 2) Otonomi dan independen dari perawat, 3) Pasif dan dependen pada perawat. c. Fase ekploitasi Fase ini fokusnya adalah menggunakan bantuan profesional untuk alternatif pemecahan masalah. Pelayanan yang diberikan berdasarkan minat dan kebutuhan dari pasien, pasien mulai merasa sebagai bagian integral dari lingkungan pelayanan. Pada fase ini pasien mulai menerima informasi-informasi yang diberikan padanya tentang penyembuhannya, mungkin berdiskusi atau mengajukan pertanyaan-pertanyaan pada perawat, mendengarkan penjelasan-penjelasan dari perawat,

mendengarkan penjelasan-penjelasan dari perawat dan sebagainya. d. Fase resolusi Fokusnya adalah mengakhiri hubungan profesional. Pasien dan perawat dalam fase ini perlu untuk mengakhiri hubungan therapeutik mereka. 2. Florence Nightingale (1959) Nightingale sebagai pioner era modern dalam pengembangan keperawatan, mengembangkan teori keperawatan yang sangat dipengaruhi oleh pandangan filosofinya tentang interaksi manusia/klien dengan lingkungannya. Ia melihat penyakit sebagai proses pergantian atau perbaikan (reparative process). Upaya membantu proses perbaikan atau pergantian tersebut dapat dilakukan dengan mengadakan manipulasi lingkungan eksternal. Manusia mempunyai

kemampuan alamiah terhadap proses penyembuhan. 3. Faye G. Abdellah (1960)

22

Abdella mendefinisikan keperawatan (nursing) sebagai pelayanan kepada individu dan keluarga serta masyarakat yang didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan yang membentuk/menciptakan sikap dan kemampuan intelektual serta keterampilan teknik dari individu sehingga mempunyai keinginan yang dalam dan kemampuan untuk menolong manusia, baik sakit maupun sehat agar mampu menangani kebutuhan kesehatan.

4. Ida Jean Orlando (1961) Ia menggunakan hubungan interpersonal sebagai landasan teorinya. Perhatian utamanya adalah sifat unik dari setiap individu/klien, yaitu ekpresi klien, baik verbal maupun nonverbal, menunjukkan/mengisyaratkan kebutuhan. Kegiatan atau tindakan keperawatan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan klien. Teori keperawatan dari Orlando yang dikenal sebagai “disciplined professional respons theory”, menekankan pada hubungan timbal balik (reciprocal relationship) antara perawat dan pasien. 5. Ernestine Wiedenbach (1964) Perhatian utamanya adalah aspek kiat atau aspek praktik dari keperawatan. Menurut Wiedenbach keperawatan klinik (clinical nursing) mempunyai empat komponen, yaitu filsafat (philosophy), kemanfaatan/kegunaan (purpose), praktik, dan kiat (art). Pandangan ini yang melandasi pendapatnya bahwa pada praktik keperawatan terdapat tiga komponen, yaitu: a. Mengidentifikasi kebutuhan klien/pasien; b. Melaksnakan bantuan yang diperlukan; dan c. Mengevaluasi dan menyatakan (mensahkan) bahwa bantuan yang diberikan memang bermanfaat. Teori keperawatan dari Wiedenbach ini kemudian dikenal sebagai “the helping art of clinical nursing”. 6. Virginia Henderson (1966) Teori Henderson berfokus pada individu yang berdasarkan pandangannya, yaitu bahwa jasmani (body) dan rohani (mind) tidak dapat dipisahkan. Menurut pendapat Henderson, manusia adalah unik dan tidak ada dua manusia

23

dan lain sebagainya. Bergerak dan menjaga sikap/memelihara postur tubuh yang menyenangkan (berjalan. kecemasan. Mira Estrin Levine (1967) Levine melihat individu sebagai makhluk utuh (holistic beings) yang memiliki kemampuan merespons secara organismik sebagai upaya mengadaptasi diri terhadap lingkungan. Memilih pakaian yang sesuai. Kebutuhan dasar individu tercermin dalam 14 komponen dari asuhan keperawatan dasar (basic nursing care). Menjaga tubuh bersih. berpakaian dan tidak berpakaian g. duduk. atau membuat kondisi sehingga memungkinkan ia melakukan hal-hal berikut ini : a. Minum dan makan secukupnya/adekuat c. perawat membantunya dengan fungsi-fungsi ini. Mengerjakan sesuatu yang memberikan perasaan menyelesaikan sesuatu (sense of accopmlishment) l. intervensi keperawatan adalah 24 . Virginia Henderson (1966) mengidentifikasi 14 komponen dalam asuhan keperawatan dasar (basic nursing care) pada tingkat asuhan individual. Berkomunikasi dengan orang lain dalam mengekspresikan emosi. berbaring. Bernafas normal b. Belajar menemukan atau memenuhi rasa ingin tahu yang menuju kepada pertumbuhan normal dan sehat.yang sama. kebutuhan. Menghindari bahaya di lingkungan dan menghindari membahayakan orang lain j. 7. k. dan melindungi kulit i. Menurut pandangannya. Bermain atau berpartisipasi dalam berbagai bentuk rekreasi n. Melakukan ibadah sesuai dengan keyakinannya m. Eliminasi melalui berbagai cara eliminasi d. mengacu kepada aktivitas dalam kehidupan sehari-hari dari seseorang. dan bertukar dari suatu posisi ke posisi lain) e. Tidur dan istirahat f. Mempertahankan suhu tubuh dalam batas normal melalui penyesuaian pakaian dan memodifikasi lingkungan h. terawat baik.

d. merupakan teori umum (general theory). Roger (1970) Dasar teori Roger adalah ilmu tentang asal usul manusia dan alam semesta seperti antropologi. Ia menyatakan bahwa teorinya. Manusia adalah kesatuan yang utuh. Conservation of personal integrity. 25 . ia berpendapat bahwa kegiatan atau tindakan keperawatan ditujukan kepada upaya memacu kemampuan mengasuh diri sendiri. 9. c. Manusia selalu berinteraksi dengan lingkungan. masing-masing mempunyai sifat dan karakter yang berbeda serta mempunyai proses hidup yang dinamis. dan d. Conservation of social integrity. Manusia diciptakan dengan karakteristik dan keunikan tersendiri. Lima asumsi yang mendasari teori Roger. dengan derajat kemampuan mengasuh diri sendiri (self care ability) yang berbeda-beda. Dorothea E. Teori Roger berfokus pada proses kehidupan manusia secara utuh. adalah sebagai berikut : a. Conservation of structural integrity. alam dan perkembangan manusia secara langsung. Proses kehidupan manusia berjalan lambat. yaitu: a. agama. b. 8. perkembangan sejarah dan mitologi. e. Martha E. jalan hidup tiap individu berbeda. sosiologi. ia akan memengaruhi dan dipengaruhi lingkungan sekitarnya. Orem (1971) Orem melihat individu suatu kesatuan utuh yang terdiri atas suatu yang bersifat fisik. Identitas individu merupakan gambaran dari seluruh proses kehidupannya sehingga perkembangan manusia dapat dilihat dari tingkah lakunya. mempercepat proses adaptasi yang turut berperan dalam proses penyembuhan dan pemulihan kesehatan. Berdasarkan pandangan ini.bantuan terhadap klien secara holistik dan merupakan pusat kegiatan keperawatan. psikologik dan sosial. yaitu “self-care deficit theory of nursing”. Pada tahun 1973 ia mengemukakan 4 prinsip konservasi (conservation principles). Ilmu keperawatan adalah ilmu yang mempelajari manusia. Conservation of energy. tidak dapat diubah dan tidak terarah. b. c. manusia adalah sistem terbuka. filosofi.

Keperawatan dilihat sebagai aksi. Lima metode bantuan menurut Orem : a. makhluk yang berorientasi pada waktu (timeoriented beings). Kemampuan sebanding dengan kebutuhan. Imogene F. Menciptakan lingkungan yang dapat meningkatkan perkembangan personal dalam memenuhi kebutuhan saat ini dan yang akan datang e. menetapkan tujuan. tetapi diprediksi untuk masa yang akan datang kemungkinan terjadi penurunan kemampuan dan peningkatan kebutuhan. memilih. Betty Newman (1972) Newman mengemukakan model sistem (system model) dalam pendidikan dan praktik keperawatan. Bertindak untuk orang lain b. Teori King dikenal sebagai “theory of goal attainment”. dan makhluk sosial (social beings) yang mempunyai kemampuan untuk mempersepsikan berpikir. Newman menggunakan pendekatan manusia utuh (total 26 . keperawatan diberikan jika : a. Kemampuan kurang dibandingkan dengan kebutuhan. Membimbing c. interaksi dan transaksi dari proses interpersonal. ia menggambarkan kapan keperawatan diperlukan. serta menyepakati sumber-sumber yang digunakan dalam mencapai tujuan. sebagai makhluk yang mempunyai daya bereaksi (reacting beings). reaksi. King (1971) King memandang bahwa klien/pasien sebagai sistem perorangan (personal system) di dalam lingkungan. dan memiliki kegiatan untuk mencapai tujuan. Mengajarkan 10. serta membuat keputusan. Memberikan dukungan fisik maupun psikis d.Pada teori. mengeksplorasi sumber yang diperlukan untuk mencapai tujuan. b. King mendefinisikan keperawatan sebagai proses interaksi manusia (process of human interactions) antara perawat dan klien yang berkomunikasi untuk menentukan tujuan. 11. mengeksplorasi sumber yang diperlukan untuk mencapai tujuan.

Lingkungan. Keperawatan. Sister Callista Roy (1976) 27 . Model ini menganalisis interaksi empat variabel penunjang komunitas yang meliputi fisik. Kesehatan. 13. Kesehatan adalah keadaan yang adekuat dalam suatu sistem stabilitas yang merupakan keadaan yang baik.person approach). dan spiritual. sosial kultural dan spiritual. Empat konsep mayor dari teori newman : a. psikologi. keluarga dan kelompok dalam mempertahankan tingkat yang maksimal dari sehat dengan intervensi untuk menghilangkan stres dan menciptakan kondisi yang optimal bagi pasien intervensi keperawatan bertujuan untuk menurunkan stresor melalui pencegahan primer. b. sekunder. pendekatan sistem terbuka (open system). 12. Model keperawatannya berdasarkan metode pemecahan masalah. Adapun tujuan keperawatan adalah stabilitas klien dan keluarga dalam lingkungan yang dinamis. Manusia. dan tersier. Faye G. dan konsep “stressor”. Secara umum. Manusia merupakan suatu sistem terbuka yang selalu mencari keseimbangan yang harmoni dan merupakan satu kesatuan dari variablevariabel fisiologis. c. Lingkungan adalah semua kekuatan. sosiokultural. Abdellah (1973) Kontribusi Abdellah dalam teori keperawatan adalah pemanfaatan secara sistematik dari data riset dalam merumuskan dan memfasilitasi 21 masalah keperawatan. Sehat adalah kondisi terbebasnya dari gangguan pemenuhan kebutuhan dan sehat merupakan keseimbangan yang dinamis sebagai dampak dari keberhasilan menghindari atau mengatasi stresor. perkembangan. dengan memasukkan konsep holistik. Newman mendefinisikan parameter dari keperawatan adalah individu. mencakup tentang respons manusia terhadap stresor yang merupakan konsep yang utama untuk mencapai stabilitas pasien. d. psikologis. keperawatan merupakan profesi yang unik. baik internal dan eksternal yang dapat memengaruhi hidup dan perkembangan klien atau sistem klien.

dan beradaptasi dengan lingkungan. Dari uraian sepintas di atas digambarkan teori dalam keperawatan yang terjadi dengan pesat. bahkan mungkin dalam kecepatan yang lebih tinggi. berespons terhadap lingkungan. Teorinya tentang keperawatan berdasarkan antropologi. nilai dan keyakinan individual dan kelompok berdasarkan kebutuhan kulturalnya harus diperhatikan. adalah teori keperawatan lintasbudaya (Transcultural care theory) yang menekankan bahwa perilaku. Model keperawatan yang dikembangkannya selanjutnya dikenal sebagai “adaptation model”. Madeleine Leiniger (1981) Leiniger menekankan bahwa mengasuh (caring) adalah tema sentral dari asuhan keperawatan. 14. Keperawatan dilihat sebagai kegiatan atau tindakan yang ditujukan pada upaya menghilangkan stimuli dan memacu kemampuan adaptasi dari individu. 28 . agar asuhan keperawatan yang diberikan kepadanya efektif dan memuaskan. Dan hal ini akan terus berlangsung. serta pengetahuan dan praktik keperawatan.Roy memandang individu sebagai makhluk bio-psiko-sosial yang harus dilihat sebagai suatu kesatuan utuh yang secara terus menerus berinteraksi dengan lingkungan. mengingat bahwa perkembangan ilmu-ilmu yang menopang ilmu keperawatan juga berkembang dengan pesat.

Tujuan Praktik Keperawatan Mandiri Tujuan praktik keperawatan sesuai yang dicanangkan WHO (1985) haru diupayakan pada pencegahan primer. keterampilan kesehatan dan penggunaan semua sumber yang dipertimbangkan sebagai perawatan yang di berikan oleh perawat. termasuk praktik keperawatan individu dan berkelompok. Peningkatan kesehatan (Health Promotion) Peningkatan Kesehatan adalah kerangka aktivitas keperawatan. 1999). Praktik Keperawatan Mandiri Menurut konsorsium ilmu-ilmu kesehatan (1992) praktek keperawatan adalah tindakan mandiri perawat profesional atau ners melalui kerjasama yang bersifat kolaboratif baik dengan klien maupun tenaga kesehatan lain dalam upaya memberikan asuhan keperawatan yang holistic sesuai dengan wewenang dan tanggung jawabnya pada berbagai tatanan. yaitu : a. dan peningkatan kepercayaan diri. 2. Peningkatan kesehatan membantu masyarakat dalam mengembangkan sumber untuk memelihara atau meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan mereka.PERAWAT KE ARAH INDIVIDU 1. Sementara pengetahuan teoritik yang mantap dan tindakan mandiri perawat profesional dengan menggunakan pengetahuan teoritik yang mantap dan kokoh mencakup ilmu dasar dan ilmu keperawatan sebagai landasan dan menggunakan proses keperawatan sebagai pendekatan dalam melakukan asuhan keperawatan (pojok keperawatan CHS. peningkatan kesehatan pasien. kesadaran kesehatan. 29 . 2002). Praktik keperawatan meliputi lima area yang terkait dengan kesehatan (kozier & Erb. Tujuan kesehatan yang ingin diwujudkan adalah mencapai derajat kesehatan yang optimal. Kesadaran diri klien. keluarga dan masyarakat. Fokus peningkatan kesehatan diarahkan untuk memelihara atau meningkatkan kesehatan umum individu keluarga dan komunitas. perawatan diri.

Pemulihan kesehatan (Health Restoration) Pemulihan kesehatan berarti perawat membantu pasien meningkatkan kesehatan setelah pasien memiliki masalah kesehatan atau penyakit. Perawatan pasien menjelang ajal Area praktik keperawatan ini mencakup perawat memberikan rasa nyaman dan merawat orang dalam keadaan menjelang ajal. d. 3. dan melakukan semua ini dalam hubungan yang suportif dan carring. memilih dan memonitor interprensi tarapeutik yang cocok. Perawat melakukan aktivitas untuk membantu masyarakat mempertahankan status kesehatannya. Pencegahan penyakit Aktivitas pencegahan penyakit secara objektif untuk mengurangi risiko penyakit. Perawatan mengkaji kesehatan klien. dan fasilitas kesehatan lainnya. Kegiatan dapat dilakukan di rumah sakit. rumah.b. keluarga maupun masyarakat.Unsur Praktik Keperawatan Mandiri Walaupun praktik keperawatan itu kompleks. Pemeliharaan kesehatan (Health Maintenance) Kegiatan keperawatan dalam pemeliharaan kesehatan adalah kegiatan yang membantu klien memelihara status kesehatan mereka. ia juga dinamis. e. koordinasi dan mengelola status kesehatan setiap saat bekerjasama dengan individu. Unsur . melakukan penelitian dan menginterpretasikannya. c. Perawat harus bisa 30 . kegiatannya meliputi pengkajian. dan terhadap kebutuhankebutuhan perubahan sistem pelayanan kesehatan. unsur-unsur inti keperawatan tergambarkan dalam kegiatan-kegiatan berikut : 1. monitoring. selalu merespon terhadap perubahan kebutuhan kesehatan. Menurut WHO (1996). Mengelola kesehatan fisik dan mental serta kesakitan. untuk meningkatkan kebiasaan kesehatan yang baik dan untuk mempertahankan fungsi individu secara optimal. mendeteksi penyakit yang akut atau kronis.

2. 5. memonitor efek-efek intervensi medis. dan sekolah. baik tingkat local. Tanggung jawab terhadap kegiatan-kegiatan praktik professional. Penyuluhan-penyuluhan kepada individu. 3. Mengorganisir dan mengola sistem pelayanan kesehatan. membangun dan memelihara tim terapeutik. mengumpulkan. 4. puskesmas.memutuskan kapan klien dikelola sendiri dan kapan harus dirujuk ke profesi lain. menghadapi birokrasi. keluarga maupun masyarakat mengenai masalah-masalah kesehatan adalah fungsi penting dalam keperawatan. mensupervisi pekerjaan-pekerjaan personil yang kurang terampil dan berkonsultasi dengan orang yang tepat. Karena ruang lingkup dan kompleksitas praktik keperawatan maka diperlukan keterampilan-keterampilan dan pemecahan masalah. gejala-gejalanya. regional maupun internasional. dan mendapatkan asuhan spesialis untuk pasien. dan efek samping pengobatan. Peran membantu seharusnya menjamin partisipasi penuh dari klien dalam perencanaan asuhan. pengalokasian dana. Memberikan bantuan dan caring. Bantuan termasuk menciptakan suasana penyembuhan. mengatasi kekurangan staf. Perawat bekerja intersektoral dengan rumah sakit. Memonitor dan menjamin kualitas praktik pelayanan kesehatan. memberikan kenyamanan membangun hubungan dengan klien melalui asuhan keperawatan. berfikir kritis serta bertinfak etis dan legal terhadap kualitas pelayanan yang diberikan dan tidak diskriminatif. ini termasuk menjamin kebutuhan klien terpenuhi. dan treatmen dan asuhan yang diberikan. Perawat berpartisipasi dalam membentuk dan mengola sistem pelayanan kesehatan. pencegahan. 31 . Perawat memberikan informasi penting mengenai proses penyakit. menganalisis dan memberikan informasi kepada semua level. Profesi keperawatan harus mempengaruhi strategi kebijaksanaan kesehatan. seperti memonitor kemampuan sendiri. Caring adalah bagian yang terpenting dalam praktik keperawatan. aktif terlibat dalam program perencanaan. institusi pelayanan kesehatan lain.

disediakan oleh pemberi pelayanan yang diorganisir untuk memberi pelayanan di rumah melalui staf atau pengaturan berdasarkan kerja (kotrak). akan menentukan masalahnya. maka di lakukan pengkajian oleh koordinator kasus yang merupakan staf dari pengelola atau agensi perawatan kesehatan dirumah. 2. direncanakan. home care adalah pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan pasien individu dan keluarga. Praktik Keperawatan di Rumah (Home Versing Practice / Home Care) Di beberapa negara maju. bukan merupakan konsep yang baru tapi telah dikembangkan oleh William Rathbon sejak tahun 1859 yang dia namakan perawatan di rumah dalam bentuk kunjungan tenaga keperawatan ke rumah untuk mengobati klien yang sakit dan tidak bersedia dirawat di rumah sakit. Dari beberapa literatur pengertian “home care” adalah perawatan di rumah merupakan lanjutan asuhan keperawatan di rumah sakit yang sakit termasuk dalam rencana pemulangan (discharge planning) dan dapat dilaksanakan oleh perawat dari rumah sakit semula. oleh perawat komunitas dimana pasien berada. Pasien atau klien pasca rawat inap atau rawat jalan harus diperiksa terlebih dahulu oleh dokter untuk menentukan apakah secara medis layak untuk di rawat di rumah atau tidak. Mekanisme Perawatan Kesehatan Di Rumah Pasien atau klien yang memperoleh pelayanan keperawatan di rumah dapat merupakan rujukan dari klinik rawat jalan. maupun puskesmas. Menurut Warola. atau tim keperawatan khusus yang menangani perawatan di rumah. dikoordinasikan. Namun pasien atau klien dapat langsung menghubungi agensi pelayanan keperawatan di rumah atau praktik keperawatan perorangan untuk memperoleh pelayanan. “home care” (perawatan di rumah). kemudia bersama-sama klien dan keluarga. Mekanisme yang harus dilakukan adalah sebagai berikut : 1. unit rawat inap rumah sakit. 32 .4. Selanjutnya apabila dokter telah menetapkan bahwa klien layak dirawat di rumah. 1980 dalam pengembangan Model Praktik Mandiri Keperawatan di rumah yang disusun oleh PPNI dan Depkes.

3. Bersedia menandatangai persetujuan setelah diberikan informasi (Informed Consent). Lingkup Praktik Keperawatan Di Rumah. 5. serta jangka waktu pelayanan. Secara periodik koordinator kasus akan melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelayanan yang diberikan apakah sudah sesuai dengan kesepakatan. Pelayanan dikoordinir dan dikendalikan oleh koordinator kasus. Lingkup praktik keperawatan mendiri meliputi asuhan keperawatan perinatal. kesepakatan juga mencakup jenis pelayanan. dan haknya dalam menerima pelayanan. asuhan keperawatan dewasa. Mempunyai keluarga atau pihak lain yang bertanggung jawab atau menjadi pendamping bagi klien dalam berinteraksi dengan pengelola. 4.dan membuat perencanaan. 3. dan jenis sistem pembayaran. 2. asuhan keperawatan anak. Bersedia melakukan perjanjian kerja dengan pengelola perawatan kesehatan dirumah untuk memenuhi kewajiban. jenis peralatan. Keperawatan yang dapat dilakukan dengan : 33 . asuhan keperawatan jiwa dilaksanakan sesuai dengan lingkup wewenang dan tanggung jawabnya. membuat keputusan. Persayaratan pasien atau klien yang menerima pelayanan perawatan dirumah : 1. Selanjutnya klien akan menerima pelayanan dari pelaksanaan keperawatan dirumah baik dari pelaksana pelayanan yang dikontrak atau pelaksana yang direkrut oleh pengelola perawatan di rumah. membuat kesepakatan mengenai pelayanan apa yang akan diterima oleh klien. setiap kegiatan yang dilaksanakan oleh tenaga pelaksana pelayanan harus diketahui oleh koordinator kasus. tanggung jawab. dan asuhan keperawatan maternitas. asuhan keperawatan neonantal.

melakukan observasi. baik tindakan-tindakan keperawatan atau tindakan-tindakan pelimpahan wewenang (terapi medis). dan wawancara langsung. 34 . 5. Menentukan frekwensi dan lamanya keperawatan kesehatan di rumah dilakukan. Melakukan keperawatan langsung (direct care) yang meliputi pengkajian bio-psiko-sosio-spiritual dengan pemeriksaan fisik secara langsung. Mendokumentasikan setiap tindakan pelayanan yang di berikan kepada klien. membuat perencanaan. Sebagai pembela atau pendukung (advokat) klien dalam memenuhi kebutuhan asuhan keperawatan klien di rumah dan bila diperlukan untuk tindak lanjut kerumah sakit dan memastikan terapi yang klien dapatkan sesuai dengan standart dan pembiayaan terhadap klien sesuai dengan pelayanan atau asuhan yang diterima oleh klien.1. Melakukan koordinasi dengan tim yang lain kalau praktik dilakukan secara berkelompok. 3. menentukan masalah keperawatan. dan melaksanakan tindakan keperawatan yang memerlukan ketrampilan tertentu untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia yang menyimpang. memberikan penyuluhan dan konseling kesehatan dan melakukan evaluasi. dokumentasi ini diperlukan sebagai pertanggungjawaban dan tanggung gugat untuk perkara hukum dan sebagai bukti untuk jasa pelayanan keperawatan yang diberikan. 2. mencakup berapa sering dan berapa lama kunjungan harus di lakukan. 4.

dan masyarakat baik sakit maupun sehat yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia. Keseluruhan ini berhubungan dengan kepercayaan terhadap pelayanan dalam kaitannya dengan waktu. Ketanggapan (responsiveness) Yaitu keinginan para pegawai atau karyawan membantu konsumen dan memberikan pelayanan itu dengan tanggap terhadap kebutuhan konsumen. tepat waktu. maka dari itu sering disebut sebagai pelayanan kesehatan yang berkualitas. di tujukan kepada individu. Pelayanan keperawatan yang di berikan berupa bantuan karena adaya kelemahan fisik dan mental. b. memberi pelayanan yang sesuai dengan standar profesi kesehatan dan dapat diterima oleh pasiennya. cepat memperhatikan dan mengatasi kebutuhan-kebutuhan.SEGI PELAYANAN Pelayanan keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan. berbentuk pelayanan bio-psiko-soiso-spiritual yang komprehensif. akurat dan memuaskan. 1997) aspek-aspek mutu atau kualitas pelayanan adalah : a. aman. 35 . keluarga. jujur. 1. Kualitas Pelayanan Keperawatan Kualitas pelayanan kesehatan yang diselenggarakan oleh banyak institusi kesehatan hampir selalu dapat memuaskan pasien. keterbatasan pengetahuan dan kurangnya kemauan menuju kepada kemampuan melaksanakan kegiatan hidup sehari-hari secara mandiri. ketersediaan. Aspek-aspek kualitas pelayanan keperawatan Menurut Parasuraman (dalam Tjiptono. Keandalan (reliability) Yaitu kemampuan memberikan pelayanan yang dijanjikan dengan segera. Salah satu definisi menyatakan bahwa kualitas pelayanan kesehatan biasanya mengacu pada kemampuan rumah sakit.

c. e. resiko. berpakaian rapi dan harmonis. berkomunikasi yang baik dan benar serta bersikap dengan penuh simpati. memahami aspirasi konsumen. keraguraguan. ruangan baik teratur rapi. Selanjutnya masing-masing aspek dijelaskan sebagai berikut: a. selalu tersenyum. Aspek penerimaan Aspek ini meliputi sikap perawat yang selalu ramah. Aspek dasar tersebut meliputi aspek penerimaan. Empati atau kepedulian (emphaty) Meliputi kemudahan dalam melakukan hubungan komunikasi yang baik dan memahami kebutuhan konsumen yang terwujud dalam penuh perhatian terhadap setiap konsumen. d. menerima pasien tanpa membedakan golongan. pengetahuan. b. menyapa semua pasien. tanggung jawab. kebersihan (kesehatan). memiliki kompetensi. peralatan pegawai. Agar dapat melakukan pelayanan sesuai aspek penerimaan perawat harus memiliki minat terhadap orang lain dan memiliki wawasan luas. Aspek perhatian 36 . pangkat. Bukti langsung atau berujud (tangibles) Meliputi fasilitas fisik. Perawat perlu memiliki minat terhadap orang lain. penampilan karyawan atau peralatannya dan alat komunikasi. kesopanan dan sifat dapat dipercaya yang dimiliki pada karyawan. 1985) telah menetapkan bahwa pelayanan perawatan dikatakan berkualitas baik apabila perawat dalam memberikan pelayanan kepada pasien sesuai dengan aspek-aspek dasar perawatan. latar belakang sosial ekonomi dan budaya. komuniksi dan kerjasama. percaya diri dan menimbulkan keyakinan kebenaran (obyektif). periang. bebas dari bahaya. sehingga pribadi utuh. Sedangkan menurut Depkes RI (dalam Onny. Jaminan (assurance) Mencangkup kemampuan. melayani konsumen dengan ramah dan menarik. perhatian.

Cepat tanggap. b. murah hati dalam arti bersedia memberikan bantuan dan pertolongan kepada pasien dengan sukarela tanpa mengharapkan imbalan. mau mengerti terhadap kecemasan dan ketakutan pasien. c. e. e. konsisten serta tepat dalam bertindak. Kepedulian. Aspek komunikasi Aspek ini meliputi sikap perawat yang harus bisa melakukan komunikasi yang baik dengan pasien. Aspek tanggung jawab Aspek ini meliputi sikap perawat yang jujur. Aspek kerjasama Aspek ini meliputi sikap perawat yang harus mampu melakukan kerjasama yang baik dengan pasien dan keluarga pasien. d. ketika mereka menggunakan produk. d. seberapa jauh perusahaan memperhatikan emosi atau perasaan konsumen. seberapa besar perhatian perusahaan untuk menyajikan informasi siap saji. mampu mencurahkan waktu dan perhatian. aspek ini menunjukkan tingkat kebersihan dari lingkungan yang akan dinikmati konsumen. memiliki sensitivitas dan peka terhadap setiap perubahan pasien. seberapa mudah konsumen melakukan transaksi dengan pemberi servis. aspek yang menunjukkan kecepatan perusahaan dalam menanggapi kebutuhan konsumen. 37 . Lingkungan fisik. Adanya komunikasi yang saling berinteraksi antara pasien dengan perawat. dan adanya hubungan yang baik dengan keluarga pasien. dan keluarga pasien.Aspek ini meliputi sikap perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan perlu bersikap sabar. Joewono (2003) menyebutkan adanya delapan aspek yang perlu diperhatikan dalam pelayanan yaitu: a. tekun dalam tugas. Kemudahan memperoleh informasi. sportif dalam tugas. c. Kemudahan bertransaksi.

h. g. Pasien yang membutuhkan kenyaman baik dari ruang rawat inap maupun situasi dan kondisi yang nyaman sehingga pasien akan merasakan kenyamanan dalam proses penyembuhannya. menyapa semua pasien. Nyaman. Ramah tamah. aspek yang menentukan nilai pengalaman servis yang dirasakan oleh konsumen saat berinteraksi dengan perusahaan. seberapa baik prosedur yang harus dijalankan oleh konsumen saat berurusan dengan perusahaan. bahkan pada saat pelanggan menyampaikan keluhan. Perawat selalu ramah dalam menerima keluhan tanpa emosi yang tinggi sehingga pasien akan merasa senang dan menyukai pelayanan dari perawat. Bagaimana perawat dalam memberikan pelayanan kepada pasien yaitu tepat memberikan bantuan dengan keluhan-keluhan dari pasien. d. Aman. Sedangkan Soegiarto (1999) menyebutkan lima aspek yang harus dimiliki Industri jasa pelayanan. rasa aman meliputi aman secara fisik dan psikis selama pengkonsumsian suatu poduk atau. Dalam memberikan pelayanan jasa yaitu memperhatikan keamanan pasien dan memberikan keyakinan dan kepercayaan kepada pasien sehingga memberikan rasa aman kepada pasien. Tepat. menghargai dan menghormati konsumen. e.f. selalu tersenyum. Penerimaan meliputi sikap perawat yang selalu ramah. rasa nyaman timbul jika seseorang merasa diterima apa adanya. periang. c. Perawat perlu memiliki minat terhadap 38 . Harga. Cepat. waktu yang digunakan dalam melayani tamu minimal sama dengan batas waktu standar. Merupakan batas waktu kunjung dirumah sakit yang sudah ditentukan waktunya. kecepatan tanpa ketepatan dalam bekerja tidak menjamin kepuasan konsumen. yaitu : a. Kemudahan mengakses. b. Prosedur. Berdasarkan pandangan beberapa ahli diatas dapat disimpulkan bahwa aspekaspek kualitas pelayanan keperawatan adalah sebagai berikut : a. seberapa mudah konsumen dapat mengakses penyedia servis pada saat konsumen memerlukannya.

Komunikasi. Kerjasama. murah hati dalam arti bersedia memberikan bantuan dan pertolongan kepada pasien dengan sukarela tanpa mengharapkan imbalan. menerima pasien tanpa membedakan golongan. pangkat. Pelayanannya mencakup mempersiapkan seorang ibu bagaimana bayinya setelah melahirkan. Tanggung jawab. meliputi sikap perawat yang jujur. Adanya komunikasi yang saling berinteraksi antara pasien dengan perawat. pemeriksaan berkala tumbuh kembang anak. latar belakang sosial ekonomi dan budaya. 2.orang lain. mampu mencurahkan waktu dan perhatian. mengajarkan lansia beradaptasi terhadap proses menua. dan keluarga pasien. meliputi sikap perawat yang harus bisa melakukan komunikasi yang baik dengan pasien. memiliki sensitivitas dan peka terhadap setiap perubahan pasien. e. sportif dalam tugas. serta tentang diit mereka. Individu yang sakit memerlukan asuhan keperawatan untuk meningkatkan kesehatan dan mencegah tingkat keparahan sehingga tidak perlu dirawat di rumah sakit. d. b. meliputi sikap perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan perlu bersikap sabar. c. konsisten serta tepat dalam bertindak. Perhatian. Jenis Pelayanan Keperawatan Di Rumah Jenis pelayanan keperawatan di rumah di bagi tiga kategori yaitu : a. mau mengerti terhadap kecemasan dan ketakutan pasien. b. tekun dalam tugas. dan adanya hubungan yang baik dengan keluarga pasien. sehingga pribadi utuh. Pelayanan atau asuhan kesehatan masyarakat yang fokusnya pada pomosi dan prevensi. meliputi sikap perawat yang harus mampu melakukan kerjasama yang baik dengan pasien dan keluarga pasien. Agar dapat melakukan pelayanan sesuai aspek penerimaan perawat harus memiliki minat terhadap orang lain dan memiliki wawasan luas. Keperawatan klien yang sakit di rumah merupakan jenis yang paling banyak di laksanakan pada pelayanan keperawatan di rumah sesuai dengan alasan kenapa perlu di rawat di rumah. 39 .

stroke. penyakit-penyakit kronis seperti diabet.c. hipertensi. 40 . masalah-masalah kejiwaan. Pelayanan atau asuhan spesialistik yang mencakup pelayanan pada penyakit-penyakit terminal misalnya kanker. dan asuhan pada anak.

diperlukan adanya standarisasi kebijakan tentang pendidikan keperawatan yang minimal berbasis S1 Keperawatan. Jika dilihat dari hal ini. ternyata keprofesionalismean keperawatan sulit tercapai bila pendidikan vocational lebih banyak dari pada pendidikan yang bersifat profesionalisme. dan bisa langsung melanjutkan ke pendidikan strata dua (S2) dan juga. Padahal beberapa tahun lalu telah ada beberapa Program Studi Ilmu Keperawatan di negeri ini seperti PSIK Univesitas Sumatera Utara dan PSIK Universitas Diponegoro yang telah membubarkan dan menutup pendidikan DIV Keperawatan keperawatan. Terkait hal tersebut.PERJALANAN KEPERAWATAN Dalam perjalanan keprofesionalismeannya. SK ini didasarkan karena keperawatan yang memiliki “body of knowladge” yang jelas. tentang landasan dibentuknya pendidikan keperawatan di Indonesia berbasis S1 Keperawatan. dalam hal ini pendidikan tinggi keperawatan. di mana pendirian Poltekes yang langsung berada dalam karena sangat jelas menghambat perkembangan profesi 41 . Direktorat Pendidikan Tinggi mengeluarkan SK No 427/ dikti/ kep/ 1999. maka dapat disimpulkan adanya kolaborasi yang baik antara Depkes dan PPNI dalam rangka memajukan dunia keperawatan di Indonesia. yang disetarakan dengan S1 Keperawatan. penerbitan SK itu sendiri tentu ada pihak-pihak yang terkait yang merekomendasikannya. 20 tahun 2003 tentang Pendidikan Kedinasan. Namun dalam kenyataannya tidaklah demikian. Oleh karena itu. jika ditelaah lagi. yakni Undang-undang No. Banyak sekali kebijakankebijakan yang dikeluarkan oleh Depkes yang sangat merugikan dunia keperawatan. dapat dikembangkan setinggitingginya karena memilki dasar pendidikan yang kuat. termasuk kebijakan mengenai dibentuknya pendidikan keperawatan DIV di Politeknik-politeknik kesehatan (Poltekes). dalam hal ini yakni Departemen Kesehatan ( DepKes) dan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). Selain itu masih beraktivitasnya poltekes-poltekes yang ada di Indonesia sekarang ini yang sebetulnya melanggar hukum Sistem Pendidikan Nasional yang ada tentang pendirian Poltekes. Selain itu.

Sedangkan saat ini. Selain itu akhir-akhir ini Depkes telah membuat kebijakan yang mengghentikan utilisasi S1 Keperawatan. sehingga setelah lulus. Hal ini bertujuan untuk ”menggoalkan” DIV Keperawatan. tambang-tambang. poliklinik. Oleh karena itu seharusnya Poltekes-poltekes yang sekarang ada ini tidak dapat lagi melakukan aktivitasnya memberikan pendidikan keperawatan.cobalah anda Check sendiri fakta ini di rumah-rumah sakit.wewenang Depkes bertujuan dalam rangka mendidik pegawai negeri atau calon pegawai negeri di bidang kesehatan.13 tahun 2003 dan KepMenakerTrans No. amanat UU No. mereka dijadikan perawat-perawat S1 yang siap dikirim ke luar negeri. lulusan-lulusan Poltekes tersebut akan langsung diangkat menjadi pegawai negeri. puskesmas dan sarana-sarana Agency penyedia jasa tenaga kerja ( outsourching ) yang nota bene penyalur perawat di berbagai kota besar di Indonesia. dan walaupun masih ada. kini puncak akumulasi permasalahan telah tiba mari kita rubah.masih saja menjalani praktek – praktek tak senonoh berbentuk perbudakan moden ( modern slavery ) ini jelas melanggar konstitusi kita.100 tahun 2004 melarang untuk melakukan tindakan kontrak/honor atau 42 . Profesi kita sedang diuji dari zaman kezaman terus saja menimpa profesi kita. pengeboran minyak. Poltekes bukan lagi merupakan Lembaga Pendidikan Kedinasan. Profesi Keperawatan secara sedikit demi sedikit melalui cara-cara yang sistematis dibawa pada jurang kehancuran. Tentunya kita sebagai calon-calon perawat profesional di masa depan tidak akan membiarkan profesi kita tidak dihargai di masa depan dan pelayanan kesehatan yang diterapkan sangat jauh dari pelayanan kesehatan standar yang seharusnya didapat oleh bangsa ini. Kini bangsa Indonesia diantara derasnya Reformasi. sehingga para lulusannya tidak lagi mendapat ikatan dinas menjadi pegawai negeri. tengoklah beberapa fakta yang terjadi dulu hingga kini : Pertama. Perawat masih dijadikan warga kelas dua dinegeri sendiri dengan bukti masih banyaknya tenaga perawat yang menjalani tenaga Honorer atau tenaga kontrak (PKWT). profesi perawat masih harus segera membeli seperangkat “alat material” untuk membenahi tatanan kehidupan baru dengan suara yang satu semangat solidaritas.

Praktek-praktek ini masih banyak menimpa para perawat Indonesia karena lemahnya posisi tawar (bargaining position ) perlu diketahui bahwa perawat haram hukumnya untuk dikontrak terlebih menggunakan pihak ketiga. perawat bekerja secara terus-menerus 24 Jam dengan 2-3 Shift dengan segala resiko yang mengancam. (AD/ART PPNI/INNA Munas VII manado) ia adalah tenaga professional dibidang perawatan kesehatan.bahkan PHL ( Pekerja Harian Lepas ). ia berperan dalam pemeliharaan pasien gawat darurat yang mengancam nyawa. atau produk tambahan yang masih dalam percobaan atau penjajakan itu pun hanya berlaku 2 tahun plus satu tahun sedangkan tenaga harian lepas untuk pekerjaan tertentu yang berubah-ubah dalam waktu dan volume pekerjaan serta upah didasarkan pada kehadiran. Ini artinya professi perawat Indonesia lagi-lagi termarginalkan. antara resiko dan pendapatan tidak berimbang.perawat adalah seorang yang telah menempuh serta lulus pendidikan formal dalam bidang keperawatan yang program pendidikannya telah disyahkan oleh pemerintah. Kedua. kegiatan baru. penghasilan/financial perawat dari dahulu hingga kini tak banyak mengalami suatu perubahan yang signifikan. Tenaga kontrak sesungguhnya hanya diperuntukkan bagi buruh yang melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan produk baru. perawat secara tupoksi mengerjakan pekerjaan tetap dengan frekwensi terus-menerus dan bukan mengerjakan barang yang sedang diuji cobakan. Ini adalah bentuk bantuan karena adanya kelemahan fisik dan atau mental dan bantuan atas ketidakmampuan melakukan kegiatan sehari-hari. perlindungan dan pemulihan. Jika kita ingat kembali memori lama kita tentang peristiwa bencana alam / korban masal yang silih berganti menimpa 43 . Harga diri perawat kian hari kian diinjak-injak tanpa pengakuan sama sekali. norma-norma kesehatan dan keselamatan kerja ( UU 13/2003 pasal 85/86 ) tidak dijalankan oleh pemerintah melalui instansiinstansi yang mempekerjakan perawat hal ini diperparah lagi dengan sistem jaminan sosial yang tidak pernah merata. ia bertanggung jawab atas perawatan. dan ia terlibat dalam riset medis dan perawatan sementara keperawatan adalah bentuk pelayanan professional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan.

10 juta s/d 14 juta perbulan. tahun 2005 PER-17/MEN/VIII/2005.bangsa kita justru tenaga Perawatlah yang dijadikan ujung tombak dalam garda medis bencana alam. komponen KHL hampir tidak pernah diterapkan di keperawatan.sekarang marilah kita tengok perbandingan gaji DPR disenayan. Melalui Peraturan Menteri Nomor 17.000 s/d 1. RS Mata.5 jt perbulan ( data ketua PPNI yang bekerja dikuwait ). UU Ketenangakerjaan nomor 13 tahun 2003 telah mengamanatkan bahwa upah minimum harus didasarkan pada Kebutuhan Hidup Layak (KHL). berapa juta kasus yang sudah perawat tangani hinggi kini tak pernah dilihat oleh pemerintah namun mereka rasakan. Justru pemerintah telah melanggar ketentuan ini. kalau mereka bisa kenapa perawat tidak? ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut harus ada upaya kuat dan sama-sama kita perjuangkan dengan beberapa cara diantaranya dengan menggulirkan Upah Minimum sector Provinsi ( UMSP ) dibidang keperawatan. kejadian ini akan terus berlanjut sampai kapanpun sebelum nasib perawat dan keluarganya diperhatikan dan dibuatkan suatu aturan secara definitive untuk kesejahteraan para perawat.bahkan masih banyak perawat dengan gaji dibawah rata-rata UMP/R/S Akhirnya Kepmen 17/2005 menjadikan UPAH LAYAK bagi perawat. di Jakarta sudah terjadi Di RSU UKI. hanyalah omong kosong belaka. AGD 118. RS DUREN SAWIT dan masih banyak lagi ibarat fenomena gunung es. mereka merasakan ketika keluarga mereka sedang dirawat. selayaknya sesama tenaga kesehatan dengan standart pendidikan yang setara harus bersanding berdiri sejajar dengan profesi lain. Berapa banyak pula kasus-kasus yang diangkat dipermukaan menyangkut kesejahteraan perawat di Rumah-rumah sakit. mereka sudah seringkali meneriakkan persetaraan gaji / study dengan DPR di jepang dan korea padahal gaji mereka sudah melebihi dari kebutuhan hidup. mengapa kita para perawat Indonesia tidak meneriakkan hal yang serupa?? Mungkin ini salah satu penyebab mengapa profesi lain memandang sebelah mata profesi perawat.800.suatu perbandingan perawat Indonesia dengan perawat Kuwait yang mendapat gaji berkisar antara Rp. yang menyoalkan masalah kesejahteraan. RS HAJI. sedangkan rekan sejawat yang bekerja di Indonesia maksimum hanya Rp. Perawat Indonesia harus mendapatkan 44 . mereka rasakan ketika suatu beban pekerjaan mereka dapat terselesaikan oleh perawat sehingga tak jarang karir dan jabatan mereka meroket karena jasa perawat.

namun rasanya UU dan keputusan menteri kesehatan tersebut belum lah cukup menjawab semua tantangan global yang saat ini mengancam sendi kehidupan segenap anak bangsa.selain dari pada itu standart kompetensi melalui pengesahan UU praktik keperawatan. UU No. Lemahnya perlindungan Hukum dan persamaan pengakuan profesi dimata Publik. perawat memberikan kontribusi yang begitu besar terhadap bangsa ini. Lemahnya perlindungan Hukum terhadap perawat Indonesia sangat jelas terlihat ketika para tenaga peawat yang sedang mengalami gugatan Hukum tak terbela. dengan eksodus maka profesi perawat akan dipandang unggul dan dibutuhkan Negara . Pengabdian perawat sama dengan mereka bahkan lebih berat dari mereka. pengacara. profesi lainya berbondong-bondong kuliah keperawatan karena profesi ini pandang unggul dan terhormat (data PPNI) maka dari itu ayo bangkit dan lawan ketidak adilan ini. Upah Layak perawat selain memenuhi kebutuhan sandang dan pangan. Kemudian segera bentuk unitunit organisasi yang efektif untuk melakukan perlawanan yang serius. Hal ini seyogyanya menjadi acuan dalam penguatan Legal aspek profesi perawat dimata publik. TNI dan Polri. 45 . arsitek.kesejahteraan yang sama Seperti halnya upah PNS. Upah Layak ini berlaku secara nasional.23 Tahun 1992 tentang kesehatan menegaskan bahwa ada pengakuan profesi keperawatan. itu adalah contoh kecil yang terjadi dan barangkali masih banyak kasus baik di dalam maupun diluar negri yang tak terungkap akibat sikap kelalaian pemerintah.tokoh keperawatan Dunia Florence nightingle dan Siti Rufaidah telah merubah dunia dengan konsep kasih sayangnya secara holistic ditengah-tengah kecamuk perang dunia ke II waktu itu. ada suatu perbedaan kewenangan profesi antara dokter dan perawat. Apakah tuntutan ini berlebihan? TIDAK!!. sebagaimana yang telah terjadi di Philipine dimana seorang dokter spesialis. Ketiga.kemudian dibuka pintu eksodus selebar-lebarnya keluar negeri bagi perawat. misalnya perawat AGD Dinkes DKI Jakarta yang sedang menjalankan tugas kemanusiaan dini hari ( 1-6-08 ) di tabrak oleh oknum artis ibukota dan hingga kini kasusnya gantung di Pengadilan tinggi negeri jaksel tanpa ada advokasi dari pemerintah.

tetapi juga di dunia pendidikan keperawatan.Karenanya.BAB III PENUTUP A.Sejarah perkembangan keperawatan di Indonesia tidak hanya berlangsung di tatanan praktik.dalam hal ini layanan keperawatan. B.sehingga kita tidak mengalami ketertinggalan dari keperawatan internasional.salah satunya melalui pendidikan keperawatan yang berkelanjutan.Keperawatan ternyata sudah ada sejak manusia ada dan hingga saat ini profesi keperawatan berkembang dengan pesat.perawat harus terus meningkatkan kompetensi dirinya. Saran Dari kesimpulan yang ada maka kita sebagai calon perawat atau perawat harus terus meningkatkan kompetensi dirinya.Salah satunya melalui pendidikan keperawatan yang berkelanjutan. 46 .Tidak asing lagi pendidikan keperawatan memberi pengaruh yang besar terhadap kualitas layanan keperawatan. Kesimpulan Keperawatan merupakan sebuah ilmu dan profesi yang memberikan pelayanan kesehatan guna meningkatkan kesehatan masyarakat.

Robert.php?uid=52607945966&topic=12634 47 .wordpress.S. Konsep dan Perspektif Praktik Keperawatan Profesional.Pengantar Profesi dan Praktik Keperawatan Profesional.DAFTAR PUSTAKA Kusnanto.facebook.com/2009/09/02/praktik-mandiri-perawat/ http://te-in. M.Kes.com/2007/12/28/kualitas-pelayanan-keperawatan/ http://oknurse.wordpress. 2003. Jakarta : EGC http://klinis.com/topic.Kp. 2008. Jakarta : EGC Priharjo.

48 .

49 .

50 .

51 .

52 .

53 .

54 .

55 .

56 .

57 .

58 .

59 .

60 .

61 .

62 .

63 .

64 .

65 .

66 .

67 .

68 .

69 .

70 .

BAB III PENUTUP 71 .

Sejarah perkembangan keperawatan di Indonesia tidak hanya berlangsung di tatanan praktik.Keperawatan ternyata sudah ada sejak manusia ada dan hingga saat ini profesi keperawatan berkembang dengan pesat.salah satunya melalui pendidikan keperawatan yang berkelanjutan.Tidak asing lagi pendidikan keperawatan memberi pengaruh yang besar terhadap kualitas layanan keperawatan.Salah satunya melalui pendidikan keperawatan yang berkelanjutan.C. Kesimpulan Keperawatan merupakan sebuah ilmu dan profesi yang memberikan pelayanan kesehatan guna meningkatkan kesehatan masyarakat.dalam hal ini layanan keperawatan.tetapi juga di dunia pendidikan keperawatan.sehingga kita tidak mengalami ketertinggalan dari keperawatan internasional.Karenanya.perawat harus terus meningkatkan kompetensi dirinya. DAFTAR PUSTAKA 72 . D. Saran Dari kesimpulan yang ada maka kita sebagai calon perawat atau perawat harus terus meningkatkan kompetensi dirinya.

com/topic. 2008.com/2007/12/28/kualitas-pelayanan-keperawatan/ http://oknurse. Robert.Kes.wordpress. Jakarta : EGC http://klinis.Pengantar Profesi dan Praktik Keperawatan Profesional. M.wordpress.Kp.com/2009/09/02/praktik-mandiri-perawat/ http://te-in.facebook. Jakarta : EGC Priharjo.Kusnanto.S. 2003. Konsep dan Perspektif Praktik Keperawatan Profesional.php?uid=52607945966&topic=12634 73 .

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.