TUGAS MAKALAH SOSIOLOGI PERTANIAN

“SISTEM DAN STRUKTUR SOSIAL”

Disusun oleh :

Ardy Yusuf Wibawa (240110090010) Muhammad Rizal S (240110090060) Agustinus Bremoro (240110090062) Galuh Kurnia (240110090074) Dadan Jaya Nugraha (240110060007)

JURUSAN TEKNIK & MENEJEMEN INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN UNIVERSITAS PADJADJARAN 2010

Penyusun menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih banyak kekurangannya.KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Illahi Rabbi karena atas segala karunia dan hidayahNya penyusun telah mampu menyelesaikan Tugas Makalah sosologi pertanian mengenai “sistem dan struktur sosial”. Jatinangor. Oktober 2010 Penyusun . Bersama ini penulis ingin mengucapkan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada dosen pengajar yang telah banyak menyumbangkan tenaga maupun gagasan. segala kritik dan saran sangat diharapkan agar pada penyusunan berikutnya dapat lebih baik. Oleh karena itu.

Status merupakan suatu kumpulan hak dan kewajiban. Merton memperkenalkan konsep perangkat peran (role set).BAB I PENDAHULUAN Menurut Douglas (1973). Tipologi lain yang dikenalkan oleh Linton adalah pembagian status menjadi status yang diperoleh (ascribed status) dan status yang diraih (achieved status). status dan kekuasaan. Merton (1964) mempunyai pandangan yang berbeda dengan Linton. Social inequality merupakan konsep dasar yang menyusun pembagian suatu struktur sosial menjadi beberapa bagian atau lapisan yang saling berkait. Sedangkan status yang diraih didefinisikan sebagai status yang memerlukan kualitas tertentu. Menurut Linton (1967). Konsep ini memberikan gambaran bahwa dalam suatu struktur sosial ada ketidaksamaan posisi sosial antar individu di dalamnya. Pembahasan mengenai struktur sosial oleh Ralph Linton dikenal adanya dua konsep yaitu status dan peran. status dan kekuasaan merupakan pandangan yang disampaikan oleh Max Weber (Beteille. Terdapat tiga dimensi dimana suatu masyarakat terbagi dalam suatu susunan atau stratifikasi. Homans yang mempelajari mikrososiologi mengaitkan struktur dengan perilaku sosial elementer dalam hubungan sosial sehari-hari. Mengacu pada pengertian struktur sosial menurut Kornblum yang menekankan pada pola perilaku yang berulang. sedangkan peran adalah aspek dinamis dari sebuah status. Menurut Merton ciri dasar dari suatu struktur sosial adalah status yang tidak hanya melibatkan satu peran. 1970). melainkan sejumlah peran yang saling terkait. Keduanya menyatakan kelas sebagai kedudukan seseorang dalam hierarkhi ekonomi. maka konsep dasar dalam pembahasan struktur adalah adanya perilaku individu atau kelompok. Status yang diperoleh adalah status yang diberikan kepada individu tanpa memandang kemampuan atau perbedaan antar individu yang dibawa sejak lahir. Status seperti ini tidak diberikan pada individu sejak ia lahir. yaitu kelas. Kelas dalam pandangan Weber merupakan sekelompok orang yang menempati kedudukan yang sama dalam proses produksi. George C. Perilaku sendiri merupakan hasil interaksi individu dengan lingkungannya yang didalamnya terdapat proses komunikasi ide dan negosiasi. melainkan harus diraih melalui persaingan atau usaha pribadi. Pandangan Weber melengkapi pandangan Marx yang menyatakan kelas hanya didasarkan pada penguasaan modal. Coleman melihat struktur sebagai pola hubungan antar manusia dan antar kelompok manusia atau masyarakat. . namun juga meliputi kesempatan dalam meraih keuntungan dalam pasar komoditas dan tenaga kerja. Konsep kelas. seseorang menjalankan peran ketika ia menjalankan hak dan kewajiban yang merupakan statusnya. sedangkan Gerhard Lenski lebih menekankan pada struktur masyarakat yang diarahkan oleh kecenderungan jangka panjang yang menandai sejarah. Talcott Parsons yang bekerja pada ranah makrososiologi menilai struktur sebagai kesalingterkaitan antar manusia dalam suatu sistem sosial. mikrososiologi mempelajari situasi sedangkan makrososiologi mempelajari struktur. distribusi maupun perdagangan.

5) Status Sosial dan Peran Sosial yang dimiliki oleh masyarakat. a) Ascribed Status Status yang diperoleh secara otomatis atau dengan sendirinya. Status sosial terbagi menjadi tiga yaitu sebagai berikut.BAB II ISI 1) Hakikat Struktur Sosial Suatu sistem sosial tidak hanya berupa kumpulan individu tetapi juga berupa hubunganhubungan sosial dan sosialisasi yang membentuk nilai-nilai dan adat istiadat sehingga terjalin kesatuan hidup bersama yang teratur dan berkesinambungan. b) Achieved Status Status yang diperoleh dengan usahanya sendiri. Contoh : gelar kebangsawanan. karena kelahiran atau keturunan. lembagalembaga sosial dan lapisan-lapisan sosial. 2) Pokok-Pokok dari Struktur Sosial. 3) Lembaga-Lembaga Sosial yang ada di dalam suatu masyarakat. Status sosial Status sosial merupakan kedudukan atas posisi sosial seseorang dalam kelompok masyarakat. Contoh : gelar kependidikan. . 4) Kaidah-Kaidah / Norma-Norma Sosial yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari. 1) Struktur sosial: pola perilaku dari setiap individu masyarakat yang tersusun sebagai suatu sistem 2) Masyarakat merupakan suatu sistem sosial budaya terdiri dari sejumlah orang yang berhubungan secara timbal balik melalui budaya tertentu. Struktur sosial dapat diartikan sebagai jalinan antara struktur-struktur sosial yang pokok yaitu kaidah-kaidah / norma-norma sosial. 3) Elemen Dasar Struktur Sosial a. Struktur sosial adalah cara bagaimana suatu masyarakat terorganisasi dalam hubunganhubungan yang dapat diprediksikan melalui pola perilaku berulang antar individu dan antar kelompok dalam masyarakat tersebut.

Prinsip tersebut adalah salah satu kelompok memiliki peran sebagai “pengabdi” sedangkan kelompok lainnya sebagai “penguasa”. Perbedaan tersebut terdapat pada akses terhadap faktor produksi utama dalam pertanian. Buruh Tani Penelitian ini mencoba untuk mengidentifikasi jumlah buruh tani yang ada di Desa Cibodas. d) Symbol Status Status yang diperoleh karena adanya ciri-ciri / tanda-tanda tertentu. terletak kurang lebih 20 kilometer sebelah utara Kota Bandung. Keberadaan buruh tani dapat diidentifikasi dari jumlah penduduk yang tidak memiliki tanah pertanian. .000 jiwa. Kedua kelompok sosial yang hidup bersama dalam satu tatanan masyarakat saling berinteraksi satu sama lain. Jumlah penduduk Desa Cibodas sekitar 5. Selain akses terhadap tanah terdapat pula prinsip peran yang membagi masyarakat Desa Cibodas menjadi dua kelompok sosial tersebut. STRUKTUR MASYARAKAT DESA CIBODAS PADA TAHUN 1950-AN Tulisan ini merupakan analisis dari hasil penelitian H ten Dam pada tahun 1950 hingga 1954. Dalam struktur masyarakat Desa Cibodas terdapat dua kelompok sosial yang memiliki perbedaan mendasar.c) Assigned Status Status yang didapatkan karena jasa-jasanya yang tertentu. Desa Cibodas termasuk dalam wilayah administratif Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung. Keterbatasan informasi menyebabkan kepemilikan tanah dijadikan sebagai dasar penentuan status sebagai buruh tani.200 meter diatas permukaan laut. Namun perlu ditekankan bahwa ciri terpenting dari buruh tani bukan pada kepemilikan tanah tetapi pada sikapnya yang menyerahkan diri kepada orang lain. Sebanyak 43% keluarga yang ada di Desa Cibodas tidak memiliki tanah. Kompensasi yang diberikan bagi buruh tani yang tinggal diatas tanah milik orang lain bukan berupa uang. Perbedaan satus sosial antara dua kelompok sosial tersebut membawa dampak pada peran masing-masing kelompok dalam kehidupan sosial dan ekonomi. piagam penghargaan. Komoditas pertanian yang paling menonjol diusahakan adalah kentang serta sayur mayur. baik tanah milik kerabat atau orang lain. dalam hal ini pemilik tanah. yaitu tanah. Kelompok sosial yang terbentuk di Desa Cibodas adalah kelompok buruh tani dan kelompok petani bebas. Desa Cibodas berada pada ketinggian 1. Contoh : pemberian gelar kepahlawanan. namun berupa peran dirinya sebagai “abdi”. Perbedaan akses serta prinsip peran kelompok sosial yang ada di Desa Cibodas membawa berbagai implikasi dalam kehidupan sosial. Tempat kediaman buruh tani yang tidak memiliki tanah terletak pada tanah orang lain.

Untuk mengkaji struktur sosial Desa Cibodas dipandang perlu untuk membagi kelompok buruh tani ini menjadi dua subkelompok. untuk selanjutnya disebut buruh tani.5 acre. karena suatu yang mustahil mereka akan jatuh dari kedudukan sosialnya. Perasaan ini memunculkan nilai “nrimo ing pandum” sehingga rasa berserah diri kepada nasib sangatlah besar pada diri buruh tani.Dua puluh lima persen keluarga di Desa Cibodas hanya memiliki tanah pekarangan di sekitar tempat tinggal mereka. hanya sebagian kecil yang bekerja untuk jangka satu tahun atau lebih. Secara kasar terdapat 90% dari keluarga yang ada di Desa Cibodas merupakan buruh tani. Subkelompok pertama adalah mereka yang sama sekali tidak memiliki tanah pertanian atau hanya memiliki tanah pekarangan saja. Keadaan ini menyebabkan timbulnya ketegangan sosial apabila terdapat tindakan-tindakan yang berasal dari luar untuk merubah nasib mereka. buruh tani juga melakukan kegiatan dagang kecil-kecilan. buruh tani dibebaskan untuk menanami tanah pertanian tersebut dengan sistem bagi hasil (maro). Ada juga diantaranya yang menanami lahan hutan dengan perjanjian tertentu. Selepas masa panen. Tujuan utama mereka dalam bermigrasi adalah mencari upah paling baik. Subkelompok ini disebut dengan petani tidak tetap (part time farmers). Sebagian besar berupa tanah tegalan dengan produktivitas yang rendah. Letak tanah berada di lereng perbukitan atau di bagian desa yang jauh terpencil. Sebagian besar buruh tani bekerja lepas dengan upah harian. Mereka merasa tidak perlu berupaya mempertahankan kedudukannya tersebut. mereka melakukan usaha perdagangan kecil-kecilan dengan keuntungan yang kecil. Sedangkan 23% keluarga lainnya mempunyai tanah garapan dengan luas kurang dari 2. Buruh tani yang menempati tingkatan paling rendah dalam lapisan masyarakat membawa konsekuensi bahwa kedudukan mereka tidak akan hilang. Kebijakan land reform tanah bekas perkebunan kepada para penduduk yang tidak memiliki tanah tidak membawa dampak terhadap peningkatan kesejahteraan mereka. Tanah pertanian tersebut tidak mencukupi untuk menghidupi para pemiliknya.5 acre. Sewaktu senggang ketika mereka tidak dipekerjakan sebagai buruh. Kebiasaan migrasi ini ditengarai merupakan bagian dari sisa-sisa perpindahan penduduk Priangan apa abad 18-19. Dalam . Buruh Tani dalam Arti Sebenarnya Buruh tani memperoleh penghasilan dari upah bekerja pada tanah pertanian milik orang lain atau petani penyewa tanah. rasa ketenteraman yang mereka alami sangat berbeda dengan perasaan kaum pemilik tanah. Sedangkan subkelompok kedua adalah mereka yang memiliki tanah pertanian dengan luasan yang sempit yakni kurang dari 2. Akibat dari kedudukan sosial yang mereka miliki. Kemampuan buruh tani yang hanya sebatas pada pengerahan tenaga tanpa dibarengi dengan kemampuan manajerial menyebabkan ketidaksiapan mereka dalam mengelola tanah pertanian. Secara ekonomi mereka sangat terbatas sehingga buruh tani sering malkukan kegiatan migrasi dari desa ke desa lain. Selain dari upah sebagai pekerja. Kebijakan pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan buruh tani melaui pemberantasan buta huruf sama sekali tidak mempengaruhi para buruh tani. Kegiatan ekonomi buruh tani berkisar pada pekerjaan pertanian yang mereka lakukan untuk tuan tanah besar dengan upah harian. Secara stratifikasi sosial buruh tani menempati posisi paling bawah pada lapisan masyarakat Desa Cibodas.

Petani jenis ini tidak memiliki akses terhadap modal sehingga mereka tidak dapat mengusahakan tanaman yang memerlukan modal besar seperti kentang dan kubis. Untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Pengembalian kredit adalah persoalan nanti yang akan dipikirkan atau bahkan mungkin tidak terpikirkan sama sekali. Sebagai gantinya. Pembagian ruang menjadi beberapa bagian menurut fungsi sudah dilakukan. Akses orang diluar Desa Cibodas untuk mendapatkan tanah pertanian di Desa Cibodas hampir tidak ada.25 acre. Kebiasaan melakukan migrasi menyebabkan buruh tani tidak merasa “memiliki” desa dimana mereka tinggal. namun kebanyakan sikap mental dan kecerdasannya serupa dengan buruh tani. Petani Tidak Tetap Bagian dari kelompok buruh tani adalah petani tidak tetap. mereka bekerja sebagai buruh tani dan perdagangan kecil-kecilan. petani tidak tetap mengusahakan komoditas padi ladang. sebagai kaum “abdi”. Hubungan kekeluargaan pada petani tidak tetap sebagaimana buruh tani. ketela rambat. Partisipasi mereka dalam kegiatan sosial kemasyarakatan di tingkat desa sangat rendah. Petani tidak tetap semakin termarginalkan seiring perkembangan jaman. Adanya sumber pendapatan lain diluar upah sebagai pekerja membuat petani tidak tetap sedikit terpengaruh dengan perubahan musim dan pasar tenaga kerja dibandingkan dengan buruh tani. Kondisi rumah tinggal sedikit lebih kokoh dibandingkan buruh tani. Peran petani tidak tetap dalam masyarakat Desa Cibodas adalah sebagai pekerja yang diupah secara harian oleh tuan tanah besar. walaupun pendapatan yang diperoleh sangat terbatas. Suatu luasan yang terbatas sehingga pendapatan yang mereka peroleh dari usahatani tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Usaha perdagangan yang dijalankan lebih luas dan teratur dibandingkan dengan buruh tani. bawang atau tembakau. Tanah pertanian tersebut pada akhirnya tetap terkumpul pada sebagian kecil masyarakat Desa Cibodas. Mereka merasa tidak berkepentingan dengan desa. . Terkadang mereka menjual hasil pertanian hingga ke Bandung dengan menggunakan angkutan umum. Kebutuhan untuk berhutang di musim paceklik membuat mereka menggadaikan atau menjual tanah mereka. Koperasi hanya dipandang sebagai sarana yang dapat memenuhi kebutuhan ekonomi mereka melalui kredit. tidak mampu menolong mereka memperkuat kedudukan sosial dan ekonomi. petani tidak tetap sering menanam tanaman sampingan dengan cara bagi hasil setelah panen kentang dan kubis. namun lebih sering dibawa sendiri dengan dipikul. Petani tidak tetap sebagaimana buruh tani juga tidak tersentuh oleh pemerintahan desa.5 acre namun demikian sebagian besar kurang dari 1. Seperti juga dengan subkelompok buruh tani. Walaupun beberapa petani tidak tetap mempunyai harga diri yang lebih tinggi dibandingkan dengan buruh tani. Pola bagi hasil juga sering dilakukan dengan tuan tanah besar.waktu yang singkat tanah-tanah tersebut kembali dikuasai oleh sejumlah kecil orang sehingga buruh tani kembali pada posisi semula. kecuali ketika mereka melanggar hukum. Luas tanah pertanian yang mereka kuasai berkisar 1-2. Pola pikir buruh tani hanya sebatas pada “besok mau makan apa?”. Modal untuk melakukan usahatani mereka peroleh dari teman sedesa yang senasib dengannya. Gagasan untuk mengajak mereka dalam koperasi akan sebatas pada sejauhmana koperasi dapat memenuhi kebutuhannya. Pengusahaan komoditas juga terbatas pada komoditas yang tidak membutuhkan modal besar. jagung.

Kedudukan sosial antara tuan tanah besar dan petani bebas kecil hanya terdapat sedikit perbedaan. Tuan tanah besar sendiri mendapatkan sarana produksi dari agen yang berada di Lembang atau Bandung. Mereka yang memiliki tanah antara 2. Dalam organisasi kepemudaan. Terdapat pula beberapa orang yang berhasil meraih kekuasaan ekonomi tersebut melalui cara “menjajah” sesamanya. . mereka mendapatkan bibit dari hasil panen kentang tuan tanah besar. mereka menjual sendiri hasil panen. beberapa diantaranya memiliki pembantu-pembantu untuk menolong tugas rumah tangga tersebut. Suatu hal yang berbeda dengan kegiatan perdagangan buruh tani yang menjual untuk memperoleh komisi atau pembayaran setelah barang yang mereka jual laku. Biasanya petani bebas kecil juga turut bekerja bersama-sama dengan buruh tani sekaligus mengawasi pekerjaan mereka. Petani Bebas Kecil Secara kasar jumlah keluarga yang termasuk dalam subkelompok petani bebas kecil mencapai 6-8% dari keluarga yang ada di Desa Cibodas. Perdagangan yang mereka lakukan selalu berbasis pada komoditas pertanian. Ide penyatuan ini telah dilakukan dalam bentuk koperasi di Desa Cibodas. Sebagaimana dengan kelompok buruh tani. Akses petani bebas kecil terhadap sarana produksi sangat terbatas. Anak-anak petani bebeas kecil mendapatkan peran sebagai “penerima pengabdian”. Mereka membeli dengan harga tinggi dari tuan tanah besar. petani bebas dibedakan menjadi sua subkelompok yaitu petani bebas kecil dan tuan tanah besar. Usaha mempersatukan kelompokburuh tani dan kelompok petani bebas dalam suatu kerangka organisasi bersama menimbulkan adanya ketegangan sosial. Sedangkan mereka yang memiliki tanah lebih dari 12 acre termasuk dalam tuan tanah besar. Hubungan keluarga antara petani bebas kecil dan tuan tanah besar sedikit membantu dalam akses terhadap sarana produksi. yang tentunya sesuai dengan batas kemampuan keuangan mereka. Kepedulian petani bebas kecil terhadap pendidikan anak-anak lebih besar dibandingkan dengan buruh tani. Selain mengerjakan tanah pertanian miliki mereka sendiri. suatu hal yang berbeda dengan anak-anak buruh tani yang harus merawat diri mereka sendiri. terkadang mereka juga mengerjakan tanah pertanian milik tuan tanah besar dengan cara bagi hasil. sebaliknya mereka mempekerjakan buruh tani. Kedua kelompok memiliki ketidaksetaraan dalam intelektualitas dan kebudayaan. Dasar pembagian kelompok petani bebas ini adalah luas kepemilikan tanah. Jenis tanah yang mereka kerjakan adalah tanah sawah. Pengetahuan mereka berkembang dan cenderung berusaha meniru praktik pertanian yang diterapkan oleh tuan tanah besar.Petani Bebas Petani bebas merupakan sebagian kecil masyarakat Desa Cibodas. Secara ekonomi kelompok ini tidak melakukan pekerjaan untuk mencari upah. Kondisi rumah tinggal mereka lebih tertutup rapat dan lebih besar ukurannya. Ibu biasanya tinggal di rumah untuk mengurus dapur dan anak-anak. Petani tidak bebas jarang atau bahkan tidak pernah menggunakan bibit kentang impor. Petani bebas kecil merupakan cerminan sejumlah kecil masyarakat Desa Cibodas yang berhasil membebaskan diri dan meraih kekuasaan ekonomi yang lebih besar. berbeda dengan buruh tani yang mengerjakan tanah tegalan.5 hingga 12 acre digolongkan dalam petani bebas kecil.

Aspek Status Buruh Tani Petani Bebas dan Peran Buruh Tani Petani Tidak Petani Bebas Tuan Tanah Besar Sebenarnya Tetap Kecil Kegiatan Dipekerjakan oleh Bertanam di Mengerjakan Menjalankan fungsi . Bandung atau bahkan Jakarta. Beberapa tuan tanah besar berhasil merubah tegalan menjadi kebun buahbuahan yang terawat dengan baik. Petani bebas sedikit banyak telah menggunakan teknik-teknik pertanian modern. sedangkan pemuda dari kelompok buruh tani sebatas pada anggota yang pasif saja. Hasil sewa tersebut mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhan makan sedangkan keuntungan dari usahatani kentang dan kubis mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhan kemewahan. Berbagai informasi tentang desa sedikit banyak terhimpun dari kalangan tuan tanah besar. Mereka juga menanamkan modal pada usaha dagang dan pengangkutan. Komoditas yang diusahakan adalah komoditas yang menjanjikan keuntungan besar walupun dengan modal yang besar. Kelompok ini terdiri dari sejumlah kecil keluarga yang terikat dengan perkawinan. Mereka menempati posisi yang baik untuk mendapatkan pengakuan dan rasa hormat dari penduduk lain.pemuda dari kelompok petani bebas yang lebih berperan dalam kepemimpinan. Secara ekonomi. Bantuan modal untuk usahatani dapat dengan mudah diakses dari keluarga. Tuan tanah besar memiliki hubungan pribadi dengan pemerintah. Tuan Tanah Besar Secara kasar subkelompok tuan tanah besar hanya 1. Lima keluarga tuan tanah besar lainnya adalah bangsawan. Ikatan keluarga memiliki peranan yang penting dalam kegiatan dan kesempatan ekonomi. Pandangan mereka telah terbentang luas melewati batas desa. Pemimpin desa biasanya dari kelompok petani bebas ini demikian pula orang-orang yang bekerja keras untuk gerakan koperasi desa. Informasi yang terkadang sangat jauh dari kenyataan yang sebenarnya. Tanah sawah yang mereka miliki disewakan atas dasar bagi hasil. Beberapa tuan tanah besar memiliki tanah pertanian di luar desa. Beberapa diantaranya memiliki hubungan dengan orang-orang penting di pemerintahan atau swasta yang berada di Lembang. tuan tanah besar menjalankan fungsi sebagai pengelola. dalam menjalankan usaha pertanian. tuan tanah besar menyerahkan pengelolaan tanah pertaniannya kepada buruh tani dengan cara maro. Mereka jarang sekali mengerjakan pekerjaan kasar sendiri. Posisi yang strategis tersebut merupakan wujud perjuangan mereka dalam mempertahankan status sosial sehingga tidak turun ke lapisan buruh tani. Anggota kelompok petani bebas kecil yang terkadang memiliki hubungan saudara jauh dengan tuan tanah besar mampu memainkan peranan yang penting dalam kehidupan masyarakat. Setelah panen.5% dari keluarga di Desa Cibodas. Penguasaan modal yang besar serta hubungan yang harmonis dengan tengkulak menyebabkan posisi secara ekonomi tuan tanah besar sangat baik. Kehidupan kota besar seperti Bandung merupakan suatu yang biasa bagi mereka. seperti membangun rumah atau membiayai kuliah anak-anak mereka di Bandung. Tanah biasanya dipindahtangankan kepada anak-anak sewaktu orang tua masih hidup. Tanah pertanian yang mereka kuasai sebagian besar adalah tanah subur yang produktif.

Ikatan keluarga antar tuan tanah besar di Desa Cibodas demikian kuatnya. mereka telah menetapkan harga jual yang lebih tinggi daripada harga pasaran. namun kita tidak dapat menyimpulkan bahwa syarat tersebut merugikan tuan tanah besar. Tidak merasa “memiliki” desa Desa adalah sarana untuk mengamankan sehingga partisipasi pada kedudukannya pembangunan kurang Kebutuhan akan pinjaman bagi tuan tanah besar diperoleh dari pedagang di Lembang atau Bandung yang menyediakan pupuk dan obat-obatan pertanian. Kekuatan ekonomi dan sosial yang mereka miliki terletak pada kenyataan bahwa secara bersama-sama . Para pedagang tidak membebankan bunga atas pinjaman yang dilakukan. Proses “pewarisan sedikit sekali memberikan kebudayaan” di dalam rumah berjalan “warisan kebudayaan” kepada dengan baik anak-anak mereka. Sekilas kita akan menganggap bahwa syarat pinjaman tersebut tidak ideal. Selain itu. Dipekerjakan Mempekerjakan Mempekerjakan buruh buruh tani oleh petani buruh tani tani dengan cara diupah diperbolehkan bebas dengan dengan cara menanami lahan gaji harian diupah pertanian selama enam bulan Melakukan Mengerjakan Menyewakan Menyewakan tanah perdagangan lahan milik tanah kepada kepada petani tidak kecil-kecilan pada petani bebas petani tidak tetap dengan sistem bagi saat menganggur dengan sistem tetap dengan hasil bagi hasil sistem bagi hasil Melakukan Melakukan Usaha dagang hasil perdagangan usaha pertanian dan saprotan yang lebih luas perdagangan dibandingkan hasil pertanian buruh tani sebenarnya Menempati posisi paling bawah Menempati posisi atas sehingga timbul sehingga merasa “aman” karena konsekuensi untuk menjaga keududukan tidak ada kekhawatiran jatuh dari tersebut atau bahkan meraih kedudukan posisinya yang lebih tinggi Orang tua lebih banyak bekerja Ibu biasanya tinggal di rumah untuk dalam ranah produktif sehingga mengasuh anak-anak. status tuan tanah besar tidak tampak pada posisi yang dirugikan. Kompensasi yang terjadi adalah harga beli hasil panen tersebut dengan harga yang lebih murah.Ekonomi Kedudukan Sosial petani bebas lahan yang tanah sendiri “manajer” pada tanah dengan gaji harian dimilikinya dan terkadang yang mereka miliki. Secara ekonomi dan sosial. Selalu terdapat perdamaian dan keserasian antara anggota berbagai keluarga tuan tanah besar. dengan hasil mengerjakan tuan tanah besar tidak yang sangat sawah tuan anah melakukan pekerjaan kurang besar dengan kasar sistem bagi hasil Setelah panen. ketika panen sudah menjadi “kewajiban moral” bagi tuan tanah besar untuk menjual hasil panen kepada pedagang tersebut.

bahkan sering disebut sebagai kampusnya para petani. gobo (semacam gingseng). dan berbagai jenis tomat. dan kentang. jagung. syungiku (kenikir). Semakin terbukanya akses baik berupa transportasi dan komunikasi mau tidak mau akan membawa berbagai dampak bagi kehidupan sosial pedesaan. uang. piman (paprika jepang yang berbentuk lonjong). tahun 1886 ini akan maju seperti sekarang. pengusaha dan LSM yang bergerak di bidang pengembangan masyarakat pedesaan manjadikan program ini dapat berkembang dengan pesat dan merubah Desa Cibodas. sironegi (bawang daun). Sisanya untuk pasar-pasar induk di Jawa Barat dan Jakarta. Desa Cibodas saat ini telah menjadi desa percontohan. Sebagian besar petani telah mampu mengembangkan pertanian dengan pola modern mengikuti tuntutan teknologi budidaya pertanian. suatu yang tidak ditemukan ketika H ten Dam berkunjung di desa ini kurang lebih 50 tahun lalu. Perubahan fisik yang terjadi di Desa Cibodas adalah suatu hal yang wajar sebagaimana yang terjadi di desa-desa lainnya terutama di Jawa. asparagus jepang. cisito (cabai). cabai. Sejak masa penjajahan. Ada juga paprika belanda yang gemuk dan besar seperti apel. ketika H ten Dam melakukan penelitain di desa ini. daun bawang. Desa Cibodas kini dapat dengan mudah dicapai karena kini jalan desa telah diaspal. seledri. ada petani yang menjualnya ke supermarket di Jakarta. Hasil produksi sayur di desa ini dipasarkan ke Singapura. dan dalam waktu dekat akan diekspor ke Korea Selatan. Desa ini memproduksi kentang. Dengan keberhasilan ini. kyuri (mentimun). Hanya saja. kol. ingen (buncis). Selain itu. Dukungan dari berbagai pemerintah. setelah ia mendapat kesempatan magang mempelajari pertanian di Jepang. Kemajuan Desa Cibodas sangat pesat. Selain itu. sayur yang ditanam waktu itu sebatas ubi jalar. nasubi (terung). Kota Bandung. Tanaman yang diusahakan masih berkisar pada tanaman hortikultura terutama sayur mayur. satsumaimo (ubi jalar). namun sistem pertanian saat ini telah bersifat komersial atau dengan kata lain telah menerapkan prinsip agribisnis. terutama sektor pertaniannya. dan horenso (bayam). cabai merah. pasar komoditas pertanian di desa ini pun cukup berkembang. Kini Desa Cibodas tidak lagi sebagai desa dengan sistem pertanian tradisional yang semi subsisten. Program ini didirikan dan dikelola Ishak. kecerdasan.mereka merupakan gabungan perusahaan besar yang mencakup tanah. dan Bandung. seorang petani sayur di Desa Cibodas yang berusia 40 tahun. masyarakat di desa ini hidup dari pertanian sayur. Rumah penduduk kini semua telah berdinding tembok dengan lantai keramik. kubis. rasanya sulit membayangkan bahwa desa yang dibuka oleh keluarga Eyang Sarja dan Pawira dari Cibeunying. . Kemajuan ini tidak dapat lepas program Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) yang ada sejak tahun 1990-an. Tumbuh juga berbagai sayuran yang bibitnya dari Jepang seperti mizuna (daun lobak). Taiwan. kaboca (labu). DESA CIBODAS SAAT INI Perubahan sangat pesat telah dialami oleh Desa Cibodas seiring dengan semakin pesatnya pembangunan dan introduksi berbagai teknologi serta informasi. Surabaya. brokoli. namun dengan jenis tanaman yang lebih bervariasi dan teknologi budidaya yang jauh berbeda dari tahun 1950-an. damame (kedelai). Denpasar. pengalaman dan hubungan.

Tentu semuanya melalui proses atau masa transisi. desa ini menjadi langganan praktik lapangan dan tempat penelitian bagi orang. Kondisi ini menyebabkan adanya fenomena urbanisasi besar-besaran. Para petani di desa ini bukan petani biasa. Para tamu biasanya menginap sampai tiga hari. Penyakit menular menjangkiti penduduk karena lingkungan yang tidak sehat. tentang kondisi Desa Cibodas pada tahun 1950-an hingga 1990-an dengan segala keterbatasannya. Rata-rata petani di desa ini berpenghasilan dua juta rupiah per bulan. dengan letak geografis yang dekat dengan Bandung dan Jakarta membuat laju urbanisasi sedemikian besarnya. Seiring dengan perkembangan pertanian Desa Cibodas yang telah berubah menjadi “industri pertanian”. yaitu sulitnya mencari buruh tani untuk bekerja di lahan. Untuk penginapan dan makan. penduduk terisolasi karena listrik belum masuk. Setidaknya. Mereka lebih sering merugi karena mendapatkan harga sayur yang jatuh di musim panen. Oleh karena itu. Para petani hanya tahu menanam. mahasiswa. Istilah yang paling tepat untuk menyebut kelompok ini adalah “pegawai atau karyawan perkebunan”. Kesejahteraan buruh tani semakin meningkat. Desa Cibodas ibarat kampus bagi para petani. Struktur Sosial Masyarakat Perubahan struktur sosial masyarakat Desa Cibodas tidak berlangsung secara serta merta. serta petani dari luar negeri. Biayanya hanya berkisar Rp. rumah-rumah sudah memiliki jamban sendiri. bahkan istilah buruh tani menjadi suatu yang dipaksakan apabila ingin diterapkan di Desa Cibodas saat ini. Sebab. 90. bahkan ada yang tinggal menetap sampai enam bulan. Fenomena ini terus berlanjut hingga pada awal 1980-an terjadi fenomena yang cukup menarik. sebagian penduduk kampung tidak bisa hidup sejahtera. Listrik baru masuk ke desa itu tahun 1985. terlebih dengan semakin terdesaknya kaum buruh tani di pedesaan Jawa. Listrik dan air bisa dipakai dengan gratis. Rumah mereka yang berdinding anyaman bambu tampak kumuh dan reot. Kini jalan sudah beraspal. Jika turun hujan.000. sebagian besar petani menjual produksinya ke pasar-pasar tradisional. . disesuaikan dengan kemampuan mereka yang ingin belajar. mereka cukup percaya diri untuk saling tukar ilmu dengan para pejabat dari berbagai dinas pertanian di Indonesia. para tamu tak perlu pusing. Semakin pesatnya perkembangan pembangunan industri di perkotaan pada era orde baru yang memicu adanya disparitas desa-kota. Fenomena buruh tani dan petani bebas pada tahun 1950-an seperti yang diulas oleh H ten Dam seakan-akan melompat menuju “kenaikan derajat” pada saat ini. Sayur yang akan dijual dimasukkan begitu saja ke dalam karung. Belajar bertani di desa ini bisa juga gratis. Sejumlah warga bersedia memberikan tumpangan untuk menetap dengan tempat tidur dan jadwal makan teratur. Sebagian besar buruh tani yang ada di tahun-tahun itu adalah mereka yang telah berusia lanjut.orang yang terjun di bidang pertanian hortikultura. Meski sebagian besar hanya tamat sekolah dasar. Keadaan yang sama juga terjadi di Desa Cibodas. Kandang ternak menempel langsung pada rumah-rumah penduduk. jalan tanah yang menurun dan menanjak menjadi licin hingga sulit dilalui kendaraan.Pada masa kemerdekaan hingga 1980-an. Setiap tahun sekitar 200 tamu datang ke desa ini. seperti Nigeria dan negaranegara lainnya di Asia.00 per orang. untuk perorangan ada beberapa petani yang siap menampung dan memberi latihan dengan cara magang di kebunnya. Seperti yang telah disampaikan di depan. Jika malam tiba. status buruh tani tidaklah seperti yang digambarkan oleh H ten Dam pada tahun 1950-an.

Para petani pun sudah mampu membuat . para petani berhasil memikat generasi muda untuk bekerja di bidang pertanian. mereka juga bisa membangun rumah untuk kepentingan tamu. terutama pada kesejahteraan. Banyak petani yang kini bernasib naas. Mereka sering pergi ke berbagai desa lain di Jawa Barat maupun di provinsi-provinsi lain untuk melatih petani. Selain rumah untuk kepentingan keluarga. Para petani juga selalu menyisihkan sedikit lahan di kebun untuk percobaan dengan memberi perlakuan khusus pada tanaman agar mampu mencapai produktivitas dan kualitas terbaik bagi hasil pertaniannya. Selain itu. namun demikian struktur sosial yang terbentuk ternyata mempunyai perbedaan. Semua dimensi ini tampak menjadi keseharian para petani di Desa Cibodas.000. kehidupan mereka tidak hanya berkutat di kebun. Mekar Tani Jaya I mengurus pupuk organik. dan Yans Fruit and Vagatables merupakan pencari pasar produk pertanian. sebelum menanam suatu jenis tanaman. mereka dipersilakan keluar dan membentuk kelompok sendiri untuk melatih petani lain yang belum bergabung. Rumah-rumah mereka umumnya bersih dan besar. Dengan analisis usaha yang baik. Namun.507 orang dari jumlah penduduk yang telah bekerja adalah petani.Berdasarkan data tahun 2004. mereka melakukan analisis usaha. Melalui kelompok-kelompok pula. para petani ini berkomitmen untuk berkonsentrasi membangun kemitraan dan melakukan pelatihan kepada para petani. PD Grace membidangi sayur mayur eksklusif untuk supermarket dengan bibit impor berikut teknologinya. terdiri dari 746 petani pemilik lahan dan 761 buruh tani. di Desa Cibodas yang ada adalah petani-petani yang telah berhasil memperlihatkan diri sebagai petani modern yang sukses. Kelompok Tani Wangi Harum membidangi bunga potong. para buruh tani dipersilakan meluangkan waktu untuk menggarap tanaman yang mereka kelola di halaman atau di lahan yang mereka sewa. hanya menjadi tukang tanam. Cirinya. Kondisi ini hampir serupa dengan kadaan di tahun 1950-an. Hingga kini. Ada juga Kelompok Tani Budi Rahayu yang ahli di bidang pertanian buncis. Pemuda pencandu narkoba dan penderita gangguan jiwa pun dilibatkannya. mereka bisa melibatkan investor untuk bermain di dalam usaha pertanian mereka. Biasanya jika ada anggota kelompok yang sudah mampu mandiri. Kesinambungan usaha yang dibangun atas dasar kerja sama ini mengakibatkan mereka bisa mendapatkan penghasilan Rp. Petani di Desa Cibodas tidak menghabiskan waktu mereka di kebun untuk bekerja. dari 8.904 penduduknya terdapat 2. 2. Jumlah pegawainya mencapai 4 hingga 50 orang. kegiatan ekonomi dan status sosial masing-masing kelompok sosial yang ada. Hampir seluruh petani di desanya memiliki pegawai di kebun. Para petani di kelompok-kelompok tani bergabung dalam Paguyuban Pandu Tani. Saat ini di Desa Cibodas terdapat 16 kelompok tani. gudang pengepakan. juga menyekolahkan anak hingga ke perguruan tinggi. Sejak awal. Kelompok Tani memberi peluang sangat besar bagi pemuda di desanya untuk bekerja di lahan pertanian.000. setiap tahun sekitar 30 remaja berhasil dididik sebagai petani. Para petani juga bisa menabung untuk membangun rumah. Kelompok Gapura Tani merupakan pengada bibit pertanian. Setiap kelompok memiliki fokus usaha dan pelatihan sendiri. Hampir di seluruh perkebunan milik petani. Mereka bekerja secara berkelompok untuk memenuhi permintaan pasar secara berkesinambungan. Sebanyak 1. Mereka memiliki banyak waktu untuk membagi ilmu kepada masyarakat petani lain agar bisa menjadi lebih maju. atau kantor administrasi pemasaran dalam agribisnisnya.00 per bulan.464 yang telah memiliki mata pencarian.

BAB III PENUTUP . komoditas unggulan. Bahkan. bank bersedia memberi pinjaman lagi dengan jumlah yang lebih besar untuk digunakan sebagai modal usaha. karena lancar dalam pembayaran. perubahan cuaca. Salah satu hasilnya.proposal. Tak hanya itu. para pensiunan dari sebuah perusahaan telekomunikasi besar di Indonesia siap berinvestasi. dengan analisis usaha. Namun demikian antusiasme penduduk dari berbagai kota besar untuk berinvestasi di Desa Cibodas demikian besarnya. Sebagian besar lahan masih dimiliki oleh penduduk Desa Cibodas. kepemilikan oleh penduduk luar desa sangat kecil. teknik dan pola bertani yang baru. mereka juga bisa dengan mudah mendapat pinjaman dari bank. Dalam analisis usahatani beberapa petani sudah memanfaatkan jaringan internet untuk mengetahui perubahan harga.

petani bebas kecil dan tuan tanah besar. Jumlah tuan tanah besar hanya sebagian kecil dari keluarga yang tinggal di Desa Cibodas. petani tidak tetap. California. Social Inequality. sedangkan tuan tanah besar menempati posisi tertinggi dalam piramida pelapisan sosial tersebut. gerak sosial jarang dijumpai pada masyarakat Desa Cibodas. yaitu kaum buruh tani dan petani bebas. Pengelompokan tersebut didasarkan pada penguasaan mereka terhadap faktor produksi tanah pertanian. sehingga petani Indonesia akan semakin berdaya bukannya semakin tertindas oleh globalisasi dan kapitalisme. Walaupun sistem stratifikasi pada masyarakat Desa Cibodas merupakan sistem stratifikasi terbuka. Pola relasi yang saling menguntungkan melalui model kelembagaan petani membawa dampak pada semakin sejahteranya buruh tani di Desa Cibodas. Buruh tani. tetapi pola relasi antara dua kelompok sosial ini mengalami banyak kemajuan. Kelompok petani bebas berusaha untuk selalu mempertahankan kedudukan mereka. 1970. Penguin Education. Konsep buruh tani manjadi suatu yang dipaksakan. DAFTAR PUSTAKA Beteille. Sesuatu yang telah menimpa saudara-saudara mereka yang berada di sektor industri perkotaan atau perkebunan besar. Andre. Kedua kelompok besar ini dapat dibagi lagi dalam empat kelompok kecil yaitu buruh tani dalam artian sebenarnya. suatu istilah yang tepat adalah “pekerja atau karyawan perkebunan”.Struktur sosial masyarakat Desa Cibodas terbagi dalam dua kelompok besar. Walaupun struktur sosial yang ada masih tampak adanya stratifikasi antara buruh tani dan tuan tanah. yang merupakan mayoritas keluarga di Desa Cibodas menempati posisi yang paling bawah dalam pelapisan sosial. Semoga pola kemitraan akan dapat memperkokoh struktur sosial masyarakat Desa Cibodas dan juga dapat ditiru oleh petanipetani lainnya. Sikap “nrimo” menjadi kendala untuk melakukan upaya memperbaiki kesejahteraan mereka. . Gejala tersebut kini mengalami perubahan. seiring semakin pesatnya perkembangan Desa Cibodas oleh “industrialisasi pertanian”. sedangkan kaum buruh tani cenderung untuk bertahan dengan keterbatasan yang ada. Namun demikian seiring masuknya investasi berupa modal dan teknologi di Desa Cibodas membawa kekhawatiran ketika suatu saat pola kemitraan yang ada akan berubah menjadi kapitalisme.

Introduction to Sociology . Social Theory and Social Structure. Ralph. The Free Press. . Linton. 1981. “Status and Role” dalam Lewis A. Situations and Structures. New York. New York. New York. Kornblum. Sociological Theory . Sociology in Changing World. 1964. Holt. Robert K. William.Douglas. Coser dan Bernard Rosenberg. A Book of Reading. The Free Press. Jack D. Merton. 1988. Rinchart and Winston. The Macmillan. 1967. New York.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.