www.ahsanuqoulan.co.

cc
sebaik-baik perkataan adalah kalamullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk nabi muhammad Home Profil Makalah

Software Kisah .

Kesehatan Qoul Salaf Audio Video Tips .

.

kain yang bercampur dengan sutra. An-Nasaa’I (1939). menjawab undangan. mengunjungi orang sakit. mengambil nasehat dari musibah yang menimpanya sebagaimana Ibnul Jauzi katakan[7]. dan pahala bagi orang yang mengunjungi dapatkan dari kunjungainnya. 2. menolong orang yang dizhalimi. dan beliau melarang kami memakai bejana yang terbuat dari perak. menjawab orang yang bersin. Yang demikian itu dikarenakan adanya makna yang menyebabkan orang dewasa dikunjungi seperti adanya doa bagi yang sakit.” HR Al-Bukhari. Muslim (2066) dan Ahmad (18034). Dari Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhu bahwasanya dia bersabda : saya mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda : ” Barang siapa yang mengunjungi orang sakit niscaya dia berada dalam naungan rahmat sampai apabila dia duduk tinggal padanya”[3] dan di dalam lafazh yang lain : ” Barang siapa yang mengunjungi orang sakit niscaya dia mendapatkan rahmat maka apabila dia duduk di sampingnya dia tetap berada di dalam rahmat. sebagaimana orang-orang dewasa. Dan dari Ali radhiallahu ‘anhu dia berkata : saya mendengar rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda : “barang siapa yang mendatangi saudaranya yang muslim dalam rangka menjenguknya. menjawab salam. dan selalu berada di atas amalan tersebut. dan di dalam mengunjungi orang sakit ada beberapa manfaat lainnya selain yang disebutkan tadi diantaranya : membersihkan hatinya (orang yang sakit). niscaya dia berjalan di kebun surga sampai dia duduk. meruqyahnya dengan ruqyah syar’iyyah. cincin emas. Keutamaan Menjenguk Orang Sakit.Adab Menjenguk Orang Sakit Leave a comment Go to comments Adab Menjenguk Orang Sakit Dari Al-Barra` bin ‘Azib radhiallahu ‘anhu ia berkata. dan perkara yang ke tujuh yang terlarang adalah : “al-mayaasir (judi)“ Al-Bukhari tidak menyebutkannya di dalam hadits ini namun Muslim yang menyebutkan lafazh tersebut. maka tidak sepantasnya meremehkan hal tersebut. Banyak Atsar menyebutkan keutamaannya di sini kami menyebutkan diantaranya : hadits Tsauban radhiaallahu ‘anhu bekas budak rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam riwayatkan yang mana dia berkata : rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda : “barang siapa yang menjenguk orang sakit maka dia senantiasa berada di taman kurma di surga[1] sampai di kembali (ke rumah)”[2]. anak cucu Adam berkata : wahai rabb bagaimana kami menjenguk engkau sedangkan engkaulah rabb semesta alam? Allah berfirman : tidakkah kamu tahu bahwa hambaku fulan sakit dan kamu tidak menjenguknya? Tidakkah kamu tahu kalau saja kamu mengunjunginya niscaya kamu akan mendapatiku berada di sisinya…. Adab adab Menjenguk Orang Sakit 1. Dan setelah menyebutkan hadits-hadtis yang shahih dalam menjelaskan keutamaan mengunjungi orang yang sakit. berbuat baik bagi orang yang bersumpah. At Tirmidzi (2809). memeriksan kebutuhan-kebutuhannya. meringankan sakitnya. dan apabila dia pergi menjenguk di waktu pagi niscaya tujuh puluh malaikat akan mendoakannya sampai dia mendapati sore hari dan apabila di waktu sore tujuh puluh malaikat akan mendoakannya sampai dia mendapati pagi”[6]. “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami dengan tujuh perkara dan melarang kami dari tujuh perkara: Beliau memerintahkan kami agar mengikuti iringan jenazah. dan apabila dia keluar dari orang yang sakit dia teus diliputi rahmat sampai dia kembali ke rumahya”[4]. Anak kecil apabila sakit maka mereka juga dikunjungi. sehingga rahmat dzat yang Maha penyayang dan Maha pengasih dapat diraih.alhadits”[5]. Dan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dia berkata : rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda : “sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berfirman di hari kiamat : wahai anak cucu Adam saya sakit dan kalian tidak menjengukku. bahkan harus untuk bersegera kepadanya. kain sutra. (1239). dan apabila dia duduk niscaya rahmat Allah akan meliputinya. dan akan mendapatkan pahala mengunjungi . al-qissi dan alistibraq. Mengunjungi Anak Kecil yang Sakit.

maka saya berkata : “ Wahai Rasulullah. Dari Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhuma dia berkata : ” Sesungguhnya salah seorang anak perempuan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengutus seseorang kepada beliau –dan ketika itu perawi sedang bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . 4. seperti orang yang dalam kondisi pingsan yang muncul berulang-ulang.orang sakit bagi orang yang berkunjung.al-hadits“[9]. akan tetapi hal itu disyaratkan apabila aman dari fitnah.al-hadits“.. Dari Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhuma dia berkata : ” Saya pernah sakit maka nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamdan Abu Bakar mendatangiku untuk menjengukku dengan berjalan kaki. meniupkan bacaan kepadanya ketika memohonkan perlindungan dan yang selainnya[14]. ketika beliau berada di tempat kejadian anak kecil itu diangkat ke pangkuan nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan nafasnya tersengal-senggal. dari Aisyah radhiallahu ‘anha dari ayahnya. dan apabila bukan Mutajallah maka tidak boleh. maka hendaknya kamu mengharap pahala dan bersabar”. Mengunjungi Orang Sakit Yang Sedang Pingsan : Sebagian manusia menjauhkan diri untuk mengunjungi orang sakit yang tidak sadar akan kehadiran orangorang yang ada di sekitarnya. maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu` dan memercikkan wudhu’nya kepadaku. maka apabila syarat-syarat ini ada maka mengunjungi laki-laki yang sakit yang bukan mahram boleh bagi wanita dan demikian pula sebaliknya.yang mana kami mengira bahwa anak perempuan saya akan menjumpai ajalnya maka mari kita menyaksikannya bersama. aku pun sadar dan mendapati Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dekatku. meletakkan tangannya di atas orang yang sakit. Dan dari Ibnu Syihab dari Abu Umamah bin Sahl bin Hanif bahwasanya dia mengabarkan kepadanya : ” Bahwa ada seorang wanita yang miskin sedang sakit maka dia mengabarkan kepada Rasulullan Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang sakitnya wanita tersebut. maka nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallambangkit dan kami pun bangkit bersama beliau. Sebagian ulama lainnya membolehkan menjenguk mereka apabila diharapkan masuk islam. Karena di balik hal itu dapat membalut kekhawatiran keluarganya.[15]. Namun anak perempuan beliau kembali mengutus utusan dengan mengucapkan sumpah atas beliau. adanya sitar (hijab). ini adalah pemahaman yang salah dan argumen yang tidak ada dalilnya. mengusap badannya. maka Aisyah meminta izin kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamuntuk mengunjungi mereka. tidak adanya khalwat (berdua-duaan).al-hadits”[10] Ibnu Abdil Bar berkata : “ Pada hadits ini menunjukkan pembolehan kunjungan wanita kepada laki-laki walaupun laki-laki tersebut bukan mahramnya. maka mereka mendapatiku dalam keadaan pingsan. dan dalil yang shahih justru menyelisihinya. 5. Kunjungan Wanita kepada Laki-laki Yang Sakit : Mengunjungi laki-laki yang sakit boleh bagi wanita walaupun mereka bukan mahram mereka. maka nabi mengutus utusan kepadanya dengan ucapan salam dan berkata : “sesungguhnya milik Allah apa yang dia ambil dan apa yang dia berikan dan setiap sesuatu telah ditetapkan ajalnya di sisiNya. dan Allah tidak akan menyayangi dari para hambanya kecuali mereka yang penyayang”[8]. Aisyah berkata : Maka saya pun masuk kepada mereka berdua dan saya berkata : Wahai ayahku bagaimana keadaanmu? Dan wahai Bilal bagaimana keadaanmu? …. dan Nabi mengizinkannya. dia berkata : ” Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah. Dalam riwayat Ahmad : Urwah berkata : “ Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Al-Madinah para sahabat beliau mengeluh sakit demikian pula Abu Bakar. dan Aisyah berkata kepada Abu Bakar : bagaimana keadaanmu? …. kecuali dia bertanya kepadanya dan tidak melihat kepadanya[12]. Abu Bakar dan Bilal radhiallahu ‘anhuma menderita demam. Anas . ‘Amir bin Fuhairah maula Abu Bakar dan Bilal mengeluh sakit. maka Sa’ad berkata padanya : apa ini wahai rasulullah? Beliau berkata : ini adalah rahmat yang Allah berikan di hati-hati yang Allah kehendaki dari para hambanya. dan masalah ini –menurut saya (penulis) agar wanita itu Mutajallah[11] . kedua mata nabi berlinangkan air mata. bagaimana saya memutuskan warisan hartaku? Namun beliau tidak menjawabku dengan satu kata pun sampai ayat tentang warisan turun”[13]. dan pendapat ini lebih sesuai dengan perbuatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu Hajar berkata : “ Sekedar mengetahui keadaan orang yang sakit dengan menjenguknya tidak menjadikan pensyariatan menjenguknya terhenti. Menjenguk Orang Musyrik Yang Sakit : Sebagian ulama berpendapat makruh menjenguk orang kafir dikarenakan di dalam perkara menjenguk mereka terkandung adanya pemuliaan[16]. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa mengunjungi orangorang miskin dan menanyakan tentang keadaan mereka…. dan mengharapkan berkah doa dari orang yang menjenguknya. dengan alasan orang yang sakit ini tidak menyadari keberadaannya dan tidak merasakannya maka kalau begitu tidak perlu untuk menjenguknya. apa yang seharusnya saya perbuat terhadap hartaku. 3. Sa’ad dan Ubai. atau mereka yang dalam kehilangan kesadaran dalam jangka waktu lama.

maka orang itu pun masuk islam”[17]. maka selama demikian perkaranya dibolehkan menziarahi orang yang sakit pada waktu apapun di malam atau siang hari selama tidak adanya hal yang memberatkan mereka. Akan tetapi sepatutnya untuk diketahui bahwa apabila orang yang sakit menyukai orang yang menjenguk tinggal lebih lama di sisinya dan terus menerus menziarahinya. Dan demikian pula di waktu zhuhur karena kebiasaan yang berlaku manusia sedang tidur siang dan mereka tinggal untuk beristirahat. mereka mendatanginya bukan pada waktunya dan berlama-lama duduk di sisinya[21]. Dan ketika orang yang menjenguk berdiam lama di sisi orang yang sakit akan memberatkan bagi orang yang sakit bahkan terkadang menambah sakitnya. beliau berkata : Masuklah kamu ke dalam islam. namun saya mendapatinya dalam keadaan sakit di perutnya. maka kami pun masuk kepadanya untuk menjenguknya dalam keadaan berdiri … Asy-Sya’bi berkata : “ Kunjungan orang-orang desa yang pandir lebih memberatkan bagi orang yang sakit daripada sakit yang dideritanya. Maka sahabat mana yang tidak menyenangi keberadaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamdi sisinya dan berulang-ulang menziarahinya. oleh karena itu diantara perkara yang baik ketika menjenguk orang sakit adalah dengan meringankannya. 8. dan menyenangkan hatinya sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguk Sa’ad bin Mu’adz ketika terkena musibah di hari peperangan Khandak. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mendirikan kemah bagi Sa’ad di dalam masjid agar dia dapat menjenguknya dari dekat[22]. maka waktu menjenguk yang telah dikenali oleh penduduk negeri ini dan yang telah menjadi kebiasaan mereka untuk menjenguk dan berziarah terkadang bukan waktu yang biasa dilakukan oleh sebagian penduduk negeri lainnya. maka lebih utama bagi orang yang menjenguk untuk memenuhi keinginan orang yang sakit dikarenakan di dalam amalan tersebut terkandung sesuatu yang dapat memasukkan kebahagiaan bagi orang yang sakit. Dimanakah Orang Yang Menjenguk Duduk? : Disunnahkan bagi orang yang menjenguk untuk duduk di samping kepala orang yang sakit. Maka zaman perlu diperhatikan di dalam menjenguk orang sakit. Al-Atsram berkata : dikatakan kepada Abu Abdillah : seseorang sedang sakit dan ketika itu matahari sedang naik di waktu musim panas. lantas dia jatuh sakit maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguknya. 6. Beliau duduk di . Meringankan Orang Yang Sakit ketika Dikunjungi : Sepatutnya bagi orang yang menjenguk agar jangan berlama-lama duduk dan tinggal di sisi orang yang sakit. Di dalam hadits Anas radhiallahu ‘anhu dia berkata : ” Adalah seorang budak Yahudi yang sering membantu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Hal ini pernah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan dan orang-orang shalih setelah beliau. Waktu Menjenguk Orang Yang Sakit : Tidak didapati adanya nash-nash dari al-ma’shum Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan waktuwaktu tertentu untuk menjenguk orang yang sakit dan menziarahinya. maka beliau berkata : ini bukan waktu menjenguk[20]. Dan dari Sa’id bin Al-Musyyib dari ayahnya beliau berkata : ketika kematian menghadiri Abu Thalib Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallammendatanginya dan berkata : “katakanlah laa ilaaha illallaah satu kalimat yang dengannya aku akan membelamu di sisi Allah”[18]. kemudian beliau berkata kepada saya : di bulan Ramadhan orang sakit itu di jenguk di malam hari “[19]. karena orang yang sakit tersibukkan dengan rasa lapar dan sakitnya.bin Malik radhiallahu ‘anhu telah meriwayatkan : ” Bahwa seorang budak milik orang Yahudi yang pernah membantu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatanginya dalam rangka menjenguknya. terkadang berziarah di malam hari merupakan waktu yang dipersilahkan akan tetapi terkadang dimakruhkan di waktu yang lain. Karena diantara makna yang terkandung dalam menjenguk orang yang sakit adalah untuk meringankan derita orang yang sakit dan untuk menyenangkan hatinya bukan untuk memberatkannya Waktu ziarahi itu bervariasi tergantung perbedaan zaman dan tempat. 6. Dari Ibnu Thawus dari ayahnya dia berkata : “ Menjenguk orang sakit yang paling baik adalah yang paling ringan …“ Al-Auza’iy berkata : “ Saya pernah bepergian menuju Bashrah ingin menjumpai Muhammad bin Sirin. Al-Marwadzi berkata : “ Saya bersama Abu Abdullah pernah menjenguk orang sakit di malam hari dan waktu itu di bulan Ramadhan.

Lalu beliau bertanya kepadanya kemudian mendoakan kesembuhan baginya…[25]. Dari Al-Qasim bin Muhammad dia berkata : “Aisyah berkata : “ Aduh kepalaku.. dan ketika kaum tersebut melihat tangisan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : “ Bahkan saya yang mengaduhkan sakit kepalaku … al-hadits“[27]. dan wahai Bilal bagaimana keadaanmu…. Aisyah berkata : “ Demi Allah sungguh saya menyangka engkau menyukai kematianku. Ucapan semacam ini. mendoakan kesembuhan baginya dan meniupkannya kepadanya. Menangis Ketika Sakit : Yaitu bagaimanakah hukumnya? Apakah hal tersebut disyariatkan ataukah terlarang? Yang nampak bagi kami berdasarkan perbuatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah boleh.alhadits[26]. dan perbuatan yang semisal dengan itu. Faedah : Keluhan orang yang sakit tidak lepas dari dua keadaan : Pertama : Keluhan tersebut dengan cara menampakkan kecemasan dan keputus asaan. maka Aisyah berkata : “ Maka saya pun masuk untuk melihat keadaan mereka berdua. selama tidak nampak padanya tanda-tanda dekatnya ajal. dia berkata : ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Al-Madinah. banyak membantu cepatnya proses kesembuhan dari penyakit.al-hadits“[23]. sementara Abu Bakar dan Bilal dalam keadaan sakit demam. dia berkata : ” Apabila Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguk orang yang sakit beliau duduk di sisi kepalanya … al-hadits“[24] Dari Ar-Rabi’ bin Abdillah dia berkata : “ Saya pernah pergi bersama Al-Hasan menjumpai Qatadah untuk menziarahinya.samping kepalanya dan berkata kepadanya : “ Masuklah ke dalam islam…. dan ini tidak diragukan adalah perkara yang makruh karena menunjukkan akan lemahnya iman dan tidak adanya keridhaan terhadap ketetapan Allah dan takdirnya. Abdullah bin Mas’ud berkata : “Apakah anda akan mendapat dua pahala? “ Beliau berkata : “ Iya. kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguknya bersama Abdurrahman bin ‘Auf dan Sa’ad bin Abi Waqqaash dan Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhum maka ketika beliau masuk kepada Sa’ad bin Ubadah beliau mendapatinya berada di dalam kerumunan keluarganya. atau sesungguhnya penyakit ini bukan penyakit yang berbahaya niscaya Allah akan memberikan kesehatan kepadamu –insya Allah. lalu saya bertanya : “ Wahai ayahku bagaimana keadaanmu. beliau berkata : “ Apakah telah wafat?” Mereka berkata : “ Tidak wahai Rasulullah. kamu akan sembuh dengan izin Allah). saya pun menyentuh beliau dengan tangan saya dan berkata : “ Sesungguhnya engkau mengalami demam yang sangat. Berkaitan dengan adab duduk orang yang menjenguk di samping kepala orang yang sakit ada beberapa faedah diantaranya : Bahwa pada hadits tersebut adanya anjuran untuk bersikap ramah kepada orang yang sakit. Dan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma. beliau berkata : “ Benar sebagaimana demamnya dua orang dari kalian”. Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu dia berkata : “Ssaya pernah masuk kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau dalam keadaan sakit demam. maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menangis. dan pengobatan ini sangat manjur dan sudah dikenal dikalangan manusia. tidak lah seorang muslim yang tertimpa musibah berupa sakit dan musibah lainnya kecuali Allah akan menggugurkan dosa-dosa kesalahannya sebagaimana pohon menggugurkan daunnya”[28] 10. dan dia duduk di sisi kepalanya. dan hal ini tidak diragukan tentang bolehnya dan dalil menguatkan akan bolehnya hal tersebut. Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma meriwayatkan dia berkata : ” Sa’ad bin Ubadah menderita suatu penyakit. dan kalaulah hal itu terjadi mungkin engkau akan berada di akhir hari engkau dalam keadaan menjadi pengantin dengan sebagian istri-istri engkau. Dan yang demikian itu karena menganggap jauh dari ajal orang yang sakit. Diantaranya juga orang yang menjenguk memungkinkan untuk meletakkan tangannya kepada orang yang sakit. Nabi bersabda : “ Tidakkah kalian mendengar bahwa Allah tidak mengadzab hanya karena tetesan air mata dan tidak pula dengan kesedihan . mereka menangis. rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : “ Yang demikian itu kalau saja terjadi dan saya masih hidup niscaya saya akan memohonkan ampunan untukmu dan mendoakan kesembuhan untukmu. Kedua : Dengan cara mengabarkan tentang keadaan tanpa adanya niatan untuk memohon kepada para makhluk atau ketergantungan kepada mereka. 9. Bertanya Orang Yang Sakit tentang keadaannya Dan Memberi semangat bagi orang yang sakit terseut : Termasuk perkara yang baik dalam menjenguk orang sakit adalah bertanya kepada orang yang sakit tentang keadaannya dan apa yang menimpanya sebagaimana yang ada di dalam hadits Aisyah radhiallahu anha. Dan juga diantara perkara yang baik ketika menjenguk orang sakit adalah menghilangkan kesusahan di karenakan sakit seperti mengucapkan kepadanya : Laa ba’sa alaika satasyfi biidznillah (sakit ini tidaklah mengapa atas mu.

Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda: ” Barang siapa yang menjenguk orang yang sakit yang ajalnya belum hadir dan mengucapkan di sisinya sebanyak tujuh kali : “ . “Ya Allah Sembuhkanlah …. Doa Apa Saja Yang Diucapkan Di Sisi Orang Yang Sakit : Sepatutnya bagi orang yang menjenguk orang sakit agar tidak mengucapkan suatu ucapan kecuali yang baik. c. sesungguhnya mayyit diadzab dikarenakan tangisan keluarganya atas kematiannya”[29]. diantara doa-doa beliau : a. Ummu Salamah berkata : “ Ketika Abu Salamah meninggal saya mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. sepatutnya bagi orang yang menjenguk untuk berdoa dengan doa tersebut. dan balaslah aku dari musibahku dengan balasan yang baik “. beliau berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ” Apabila kalian menghadiri orang yang sakit atau mayyit maka ucapkanlah ucapan yang baik.hati akan tetapi Allah mengadzab dikarenakan ini beliau mengisyaratkan kepada lisan atau Allah akan mengasihani. Doa ini terdapat di dalam hadits Sa’ad bin Abi Waqqash. dan membuatnya diusung kekubur. dan jangan sampai menggerutu dari doa kebaikan untuk mensucikan dari mereka untuknya dengan doa pensucian dari dosa-dosanya sebagaimana keadaan Arab badui tadi yang ada di dalam hadits. Dan perkataan beliau : “Mudah-mudahan dapat mensucikan dosa” kedudukannya sebagai khabar dari mubtada’ mahdzuuf. Disunnahkan bagi orang yang menjenguk agar mendoakan orang yang sakit dengan memohon rahmat dan ampunan. Ibnu Abbas berkata : “ Apabila beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi rumah orang yang sakit untuk menjenguknya beliau berkata : ” Mudah-mudahan tidak apaapa. Arab badui itu berkata : “ Engkau mengatakan dapat mensucikan? Sekali-kali tidak. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan beberapa doa. Hadits ini menunjukkan bolehnya menangis di sisi orang yang sakit. saya berkata : “ Wahai Rasulullah sesungguhnya Abu Salamah telah meninggal ”. dan agar dibersihkan dari dosa-dosa serta keselamatan dan kesehatan. b. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma : “bahwasanya nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallammasuk ke rumah salah seorang arab badui dalam rangka menjenguknya. Maka Nabi berkata kepadanya : “ Mudah-mudah tidak apa-apa. Ada beberapa faedah yang terkandung di dalam hadits ini yaitu bahwa seyogyanya bagi orang yang sakit agar menerima doa kebaikan orang lain untuknya. “Mudah-mudahan tidak apa-apa. bahkan dia adalah demam yang ditakuti – atau yang bergejolak – atas orang tua renta . 11.Fulan” Sekali – Atau Tiga Kali. Ibnul Jauzi berkata : “ Pada sabda beliau : “Ya Allah sembuhkanlah Sa’ad” merupakan dalil atas disunnahkannya mendoakan kesehatan/kesembuhan untuk orang yang sakit[34]. mudah-mudahan dapat mensucikan dari dosa insya Allah. mudah-mudahan dapat mensucikan dari dosa insya Allah”. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : “Alangkah baiknya jikalau begitu”[31]. sebagaimana penjelasan Ibnu Hajar[32]. Yaitu sakit yang mensucikan bagimu dari dosa-dosamu yaitu sebagai pensuci. Dan kalau saja tidak maka dia mendapat pahala pengguguran dosa. yang tidak berucap dari hawa nafsu hanyalah berupa wahyu yang diwahyukan kepadanya. ketika Rasulullah menjenguknya ketika dia dalam keadaan sakit. dan terlebih lagi di sisi mayyit akan tetapi tangisan yang tidak ada jeritan histeris. maka apabila mendapat kesehatan maka seseorang telah mendapat dua faedah. Ummu Salamah berkata : “ Aku berkata : maka Allah membalasku dengan orang yang lebih baik bagiku daripada Abu Salamah yaitu Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam “[30]. karena sesungguhnya malaikat mengaminkan atas apa yang kalian ucapkan “. karena doa-doa tersebut bersumber dari al-ma’shum yang telah diberi jawami al-kalim (kalimat yang ringkas lagi penuh hikmah). mudah-mudahan dapat mensucikan insya Allah”. Ucapan beliau : “Mudah-mudahan tidak mengapa ” yaitu bahwa sakit itu dapat menggugurkan dosa kesalahan. Hal itu telah dijelaskan di dalam hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha. “Saya Memohon Kepada Allah Yang Maha Agung Penguasa Arsy Yang Agung Agar Berkenan Menyembuhkanmu” Sebanyak Tujuh Kali. disebabkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang ratapan. karena malaikat mengaminkan atas ucapannya itu. Nabi bersabda : “ Ucapkanlah : Wahai Allah ampunkanlah bagiku dan baginya. dan dalam hadits tersebut : ” Kemudian Nabi meletakkan tangannya di atas kening beliau kemudian mengusap tangannya di atas wajah dan perutku kemudian berkata : “ Ya Allah sembuhkanlah Sa’ad …” Dan dalam riwayat Muslim : ” Ya Allah sembuhkanlah Sa’ad Ya Allah sembuhkanlah Sa’ad sampai tiga kali”[33].

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah meruqyah sebagian orang yang sakit dari keluarganya dan dari selain keluarganya. Dan penyebutan tentang peletakan tangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia datang di beberapa hadits. Meruqyah dengan “hilangkanlah kesusahan. dan beliau membolehkan kepada sebagian sahabatnya atas ruqyah mereka. Mungkin saja seseorang merukyahnya dengan tangannya dan mengusap di atas tempat yang sakit dengan rukyah yang dapat memberi manfaat kepada orang yang sakit. sebab keshalehan mereka dan ketakwaannya. Lalu Abu Sa’id radhiallahu ‘anhu meruqyahnya dengan fatihatul kitab. beliau berkata : ” Apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguk orang yang sakit beliau meletakkan tangannya di atas tempat yang terasa sakit kemudian mengucapkan : Bismillah“[38].. Meletakkan Tangan Di Atas Tubuh Orang Yang Sakit : Disunnahkan bagi orang yang menjenguk agar meletakkan di atas jasad orang yang sakit dan mendoakannya. kami akan bawakan diantara ruqyah tersebut apa yang dapat kami sebutkan berikut ini. Meneladani Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Dari Aisyah Ummul Mu’minin radhiallahu anha. Di dalam hadits Sa’ad bin Abi Waqqash yang telah dikemukakan didepan : ” Kemudian Nabi meletakkan tangannya di atas keningnya. beliau berkata : “ Wahai rasulullah. maka datanglah dia kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyebutkan hal itu kepada beliau. beliau tersenyum dan berkata : “Bagaimana engkau bisa tahu bahwa surat itu adalah ruqyah?” kemudian beliau berkata : “Ambillah pemberian itu dari mereka. beliau meniupkan[39] kepadanya dari al-mu’awwidzat[40]…. Dikarenakan ruqyah orang seperti ini lebih bermanfaat daripada orang yang selainnya.al-hadits“[41]. akan tetapi tidak mungkin untuk mengharuskan hal tersebut dikarenakan tidak adanya nash-nash yang khusus didalam masalah tersebut “. Saya katakan (Ibnu Hajar): “ Terkadang orang yang menjenguk mengetahui pengobatan dan mengetahui penyakit sehingga dia dapat menerangkannya pengobatan yang sesuai bagi orang yang sakit sesuai dengan penyakitnya itu[37]. diantaranya adalah : a. apabila yang menjenguk adalah orang yang shalih “. “Ya Allah Sembuhkanlah Hambamu Yang Membunuh Musuh UntukMu Dan Senantiasa Berjalan Menuju Shalat [dalam riwayat yang lain : Berjalan Menuju Jenazah Yang Hendak Dikubur]“ Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma. 13. Tentang hal ini ada kisah yang terjadi pada Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu bersama pemimpin satu kaum yang terkena sengatan berbisa. dan terkadang meletakkan tangan ini ada pengaruh di dalam meringankan sakit atau menghilangkannya secara keseluruhan. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha. wahai rabb manusia. terlebih lagi apabila orang yang menjenguk termasuk orang yang bertakwa dan shaleh.Saya memohon kepada Allah yang maha agung penguasa Arsy yang agung agar berkenan menyembuhkanmu. Niscaya Allah akan memberinya kesembuhan dari penyakit tersebut”[35]. Ruqyah Dengan Al-Mu’awwidzat. sembuhkanlah engkaulah penyembuh tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dariMu. demi Allah tidaklah saya meruqyah kecuali dengan fatihatul kitab. Meruqyah Orang Yang Sakit : Disunnahkan bagi orang yang menjenguk untuk meruqyah (menjampi) orang yang sakit. dia berkata : Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ” Apabila seseorang datang menjenguk orang yang sakit hendaknya dia mengucapkan : Ya Allah sembuhkanlah hambamu yang membunuh musuh untukMu dan senantiasa berjalan menuju shalat “ Dalam riwayat Abu Daud : ” atau yang berjalan kepadamu menuju jenazah yang akan dikubur“[36]. 12.al-hadits”. sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melakukannya. kesembuhan yang tidak menyisakan penyakit” . namun beliau enggan untuk menerimanya dan berkata : “ Sampai saya sebutkan hal itu kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. c. dia berkata : ” Apabila salah seorang dari keluarga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit. kemudian Abu Sa’id diberi sepotong kambing. kemudian mengusapkan tangannya di atas wajah dan perut saya kemudian mengucapkan : Ya Allah sembuhkanlah Sa’ad…. dan bagikan satu bagian untukku bersama kalian”[42].. b. Ibnul Baththal berkata : “ Meletakkan tangan di atas tubuh orang yang sakit adanya sikap menghibur baginya dan untuk mengetahui seberapa parah sakitnya agar seseorang mendoakan kesembuhan untuknya sesuai sakitnya yang nampak. d. Ruqyah dengan Fatihatul Kitab.

berdasarkan hadits Jabir radhiallahu ‘anhu dia berkata : “Saya mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiga hari sebelum kematiannya beliau berkata : ” Janganlah salah seorang dari kalian mati kecuali dia berbaik sangka kepada Allah Azza wa Jalla”[47]. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu dia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ” Talqinkanlah (tuntunkanlah) orang yang akan mati diantara kalian kalimat Laa ilaaha illallaah“[49]. dan harapan-harapan yang tidak dapat mempercepat dan tidak pula mengakhirkan! Dan menggantikan ruqyah (jampi) yang syar’i dari ayat-ayat AlQur`an dan hadits-hadits Nabi dengan seikat bunga mawar yang mungkin dapat layu sehari atau dua hari setelahnya! Ya Allah tunjukkanlah kami jalanMu yang lurus bukan jalannya orang-orang yang dimurkai dan bukan pula orang-orang yang sesat. dengan nama Allah saya meruqyahmu ” [44]. yang mana kita dilarang bertasyabbuh (menyerupakan diri) dengan mereka. ” Apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi orang yang sakit atau didatangkan kepadanya orang yang sakit. Sufyan meletakkan jari telunjuknya di atas tanah kemudian mengangkatnya : ” Dengan nama Allah. Mentalqin (menuntun) Orang Yang Sakit Mengucapkan Syahadat Apabila Ajal Menjemputnya Dan Menutupkan Kedua Matanya Serta Mendoakan Kebaikan baginya Apabila Telah Mati : Ketika ajal orang yang sakit semakin dekat dan tanda-tanda kematian telah nampak atasnya. dari segala sesuatu yang mengganggumu. An-Nawawi berkata : “ Makna hadits ini: bahwa beliau mengambil dari ludahnya sendiri di atas jari telunjuknya. maka disunnahkan bagi orang yang menjenguknya untuk mengingatkan bagi orang yang sakit akan rahmat Allah luas dan agar jangan dia putus asa dari rahmat tersebut. tanah negeri kami dengan ludah sebagian dari kami dapat menyembuhkan penyakit kami dengan izin Rabb kami”[45]. e. Catatan penting : sebagian manusia ketika menziarahi orang yang sakit sangat bersemangat untuk menyertakan seikat bunga mawar yang dia berikan kepada orang yang sakit. Allah yang menyembuhkanmu. beliau mengucapkan : “ Hilangkanlah kesusahan wahai Rabb manusia sembuhkanlah. Sedangkan sebagian besar diantara kaum manusia mengetahui bahwa taqlid (ikut-ikutan) ini datangnya negeri orang-orang Nashara. dari kejahatan setiap jiwa atau mata yang hasad.: Seseorang menyangka bahwa Allah akan merahmatinya dan memaafkannya. Jibril mengucapkan : “ Dengan nama Allah saya meruqyahmu dari segala sesuatu yang mengganggumu. Para Ulama berpendapat : Makna berbaik sangka kepada Allah -Ta’ala. An-Nawawi berkata : “ Perintah mentalqin (menuntun) ini adalah perintah yang bersifat sunnah. dan para ulama telah sepakat akan disyariatkannya talqin ini dan mereka memakruhkan kalau terlalu sering dilakukan kepada orang yang sakit dan terus menerus agar jangan sampai berkeluh kesah dengan keadaannya yang tertekan dan . rahmat. Ruqyah dengan bacaan “dengan nama Allah tanah negeri kami dengan ludah sebagian dari kami dapat menyembuhkan penyakit kami dengan izin rabb kami”. dengan nama Allah saya meruqyahmu”. engkaulah penyembuh tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan darimu. dan bertasyabbuh kepada orang-orang Yahudi dan Nashara merupakan perkara yang diharamkan. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha : ” Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengucapkan kepada orang yang sakit : Dengan nama Allah tanah negeri kami dengan ludah sebagian dari kami dapat menyembuhkan penyakit kami dengan izin Rabb kami” Lafazh dari riwayat Muslim : ” Apabila seseorang mengeluh ada sesuatu darinya ataukah ada bisul atau luka. Maka sangat mengherankan keadaan mereka yang menggantikan doa pensucian dosa. dan hal ini menurut mereka lebih utama apa diberikan kepada orang sakit. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu : ” Bahwa Jibril datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata : wahai Muhammad apakah kamu mengeluh sakit? Beliau berkata : “ Iya “. dan sebagian lainnya menuliskan padanya ungkapan-ungkapan dan harapan-harapan kesembuhan yang segera dan yang semisal ini. 14. Ruqyah dengan “dengan nama Allah saya meruqyahmu. beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkannya dengan jarinya seperti ini.Dari Aisyah radhiallahu ‘anha. Amin. d. kemudian meletakkannya di atas tanah dan melekatkan sesuatu dengan jari tersebut dari tanah dan mengusap dengan tanah di atas tempat luka atau penyakit dan mengucapkan doa dalam keadaan mengusap wallahu a’lam [46]. Allah yang menyembuhkanmu. Dan juga disunnahkan baginya untuk menalqin (menuntun) untuk mengucapkan syahadat dengan lemah lembut. kesembuhan yang tidak menyisakan penyakit” adapun pada riwayat dari Muslim : ” Apabila beliau mendapati salah seorang dari kami mengeluh sakit beliau mengusapnya dengan tangan kanannya kemudian mengucapkan : ” Hilangkanlah kesusahan wahai Rabb manusia… al-hadits”[43]. dari kejahatan jiwa atau mata yang hasad. An-Nawawi yang mengucapkanya[48]. ampunan dan kesehatan bagi orang yang sakit dengan ungkapan-ungkapan kosong.

[5] HR. dan hadits ini termasuk diantara balaqhaatnya Imam Malik (bab mengunjungi orang sakit dan orang yang terkena musibah) Ibnu Abdil Baar berkata tentang hadits ini : “hadits ini hadits Madani yang shahih”. [11] Di dalam Al-Lisan : …. Ahmad (21868) dan At-Tirmidzi (967). [1] Al-Baghawi berkata tentang penjelasan hadits ini : perkataan Nabi “di dalam khiraaful Jannah dan didiriwayatkan dalam riwayat lainnya (di dalam makhaariful jannah) dan [khurfatul Jannah). Dan apabila orang yang sakit itu mati maka disunnahkan bagi orang yang menghadiri kematiannya untuk memejamkan kedua matanya dan mendoakan kebaikan untuknya. yaitu : menutupi…. Muslim (1616). dan Al-Albani berkata : “shahih” : (1191).Ibnu Al-Anbari berkata : yang dimaksudkan yaitu memetik buah-buahan kebun. Muslim (2569) dan lafazh hadits ini miliknya. (AtTamhid 24/263). (2/236) dengan perubahan seperlunya. Ibnu Abdil Baar dengan sanadnya yang sampai kepada Jabir bin Abdullah radhiallahu anhuma. [9] HR. Ahmad (13886). [namun Ibnu Hajar membantah hal tersebut dan mengatakan : ] saya . dan Ummu Ad-Darda’ mengunjungi seorang laki-laki yang sakit dari kalangan sahabat yang tinggal di masjid dari kalangan Al-Anshar. Abu Daud (3098). Dan hadits ini Al-Albani menshahihkannya di dalam shahih Al-Adab Al-Mufrad. berdasarkan hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha dia berkata : “ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk kepada Abu Salamah dan pandangannya telah menatap keatas. (Syarhus Sunnah 5/216). dan dikatakan : jallat fa hiya Jalilah (wanita itu besar maka dia adalah jalilah) dan tajallat fa hiya mutajallah (wanita itu telah dewasa maka dia adalah mutajallah).beratnya penderitaannya sehingga dia membencinya di dalam hati dan mengucapkan ucapan yang tidak layak. dan gantikanlah pada anak keturunannya bersama orang-orang yang masih tersisa. Muslim (923) Ahmad (21269) An-Nasaa’I (1868) dan Abu Daud (3125). (At-Tamhid 6/254). maka nabi memisalkan apa yang orang yang mengunjungi orang sakit dapatkan dari pahala dengan apa yang pohon kurma dapatkan dari hasil buahnya. At-Tirmidzi (2098). dinamakan demikian dikarenakan yang demikian itu selama terjadi musim rontok. angkatlah derajatnya bersama orang-orang yang mendapat hidayah. dan Malik (1648). berikanlah ampunan kepada kami dan kepadanya wahai Rabb semesta alam. [2] HR. maka beliau memejamkannya. Dan Ibnul Munir berkata : di dalam hadits jabir tidak ada keterangan yang sharih (jelas) bahwa keduanya telah mengetahui Jabir pingsan sebelum dijenguk. An-Nasaa’i (138). Sesungguhnya malaikat mengaminkan atas apa yang kalian katakan” Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ” Ya Allah berilah ampunan kepada Abu Salamah. [13] HR. Muslim (2578). [10] HR. [6]HR. Ahmad (756). Al-Bukhari (5655). Al-Bukhari di dalam Al-Adab Al-Mufrod (522). Ibnu Majah (2728) dan Ad-Darimi (733). dan berikanlah baginya cahaya di dalamnya”[51]. [3] HR. (11/116) dan materi kata tersebut : ‫ج ل ل‬ [12] At-Tamhid (6/255). (At-Tamhid 24/273). dan Muslim meriwayatkan hadits ini juga (1376) tanpa menyebutkan kunjungan Aisyah radhiallahu anha kepada keduanya (Abu Bakar dan Bilal). dan Ahmad (8989). [7] Kasyful Musykil Min Hadits As-Shahihain. Abu Daud (2886). Dan Ahmad (23839). Orang-orang dari keluarganya pun histeris. [8] HR.kata tajaalat yaitu Asnat dan kaburat (telah dewasa). [4] HR. Al-Asma'iy berkata : dia adalah kebun kurma. Para ulama berpendapat : “ Apabila orang yang sakit telah mengucapkannya sekali. kemudian bersabda : ” Sesungguhnya ruh apabila telah digenggam pandangan mata akan mengikutinya”. (710). dan kata ini adalah bentuk jamak dari mikhraf. jangan dipaksa untuk mengulanginya kecuali kalau dia mengucapkan perkataan yang lain setelahnya maka dia diminta untuk mengulanginya lagi agar syahadat tersebut menjadi akhir dari perkataannya[50]. [14] Fathul Baari : (10/119). dan di dalam hadits Ummu Shabiyyah : kami dahulu di dalam masjid adalah wanita-wanita yang tajaalalna yaitu telah dewasa. lapangkanlah baginya di dalam kuburnya. no. Al-Bukhari (5654) dan beliau memberikannya bab : bab kunjungan wanita kepada laki-laki yang sakit. Malik di dalam Al-Muwaththa’ (531) dan Ibnu Abdil Bar berkata : tidak ada perselisihan atas Malik di dalam kitab Al-Muwaththa’ tentang dimursalkannya hadits ini………dan hadits ini adalah hadits yang musnad yang bersambung dan shahih dari selain hadits Malik. Ibnu Majah (1442) dan hadits ini sesuai lafazh darinya. Al-Bukhari (5651). maka bisa saja pingsannya Jabir bertepatan dengan kehadiran keduanya. maka beliau bersabda : ” Janganlah kalian mendoakan kejelekan atas diri-diri kalian kecuali dengan doa yang baik. diantara penggunaannya di dalam kalimat yaitu : pohon kurma merontokkan kurma-kurmanya.

gangguan. maka disebabkan adanya maknamakna yang bermanfaat ini yang telah kami sebutkan dan selain dari makna-makna tersebut maka kita mengetahui akan kekejian perkataan orang yang mengatakan : tidak ada faedah mengaharap-harap tetapnya orang yang mati kesadarannya dalam keadaan hidup dan bahwa kematian itu lebih baik untuknya. akan menjadikannya berfikir akan kesalahan-kesalahannya. dan kami memberikan suntikan ini untuk menenangkannya dari sakit yang mungkin dia dapatkan ketika hidupnya. dan mengangkat derajatnya apabila dia bagian dari ahlu iman dan ahlu ihsan.katakan : bahkan yang zhahir dari konteks yang ada terjadinya hal tersebut ketika datangnya keduanya dan sebelum masuknya keduanya kepadanya. karena tetapnya dia di atas garis kehidupan dan dia dalam keadaan seperti itu. Al-Bukhari (5667) dan selainnya. ataukah dosa-dosanya diampuni berkat doa-doa kaum muslimin kepadanya. Wallahu a’lam. kesedihan. dan mereka berhujjah bahwa orang yang sakit ini menurut undang-undang kedokteran adalah mayat tidak ada kemungkinan untuk hidup. dan tidak pula kemurungan sekalipun duri yang menusuknya kecuali Allah akan menggugurkan dengannya dari kesalahan-kesalahannya” HR. Dari Abu Hurairah dari nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallambeliau bersabda : “tidaklah seorang muslim yang tertimpa keletihan. Al-Bukhari (5642) dan selainnya. dan hanya masalah waktu saja. [15] Catatan : Di sebagian negeri arab timbul pemikiran untuk mematikan orang yang sakit yang mati akalnya. Dalam hadits Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu dia berkata : Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda : “tidaklah ada dari seorang muslim yang menderita sakit maka tidaklah ada dari selain sakit itu kecuali Allah akan menggugurkan kesalahan-kesalahannya sebagaimana pohon menggugurkan daunnya” HR. Dan tetapnya dia di atas garis kehidupan memungkinkan dia mendapatkan doa yang baik. Dan tetapnya dia di atas garis kehidupan adanya kebaikan yang terus menerus dan tidak akan terputus lebih khusus lagi apabila yang sakit itu adalah seorang ayah atau seorang ibu. dan sekedar mengetahui keadaan orang yang sakit dengan menjenguknya……….dst. dan Allah Azza wa Jalla mengabulkannya. Maka dikatakan kepada mereka : kalian dengan cara seperti ini dan dengan metode seperti ini tidak meringankannya bahkan kalian menghalanginya dan menghalangi selainnya. kesusahan. (10/118-119). tidak pula penyakit. maka dia pun sembuh dari sakitnya itu –dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu – . yang demikian itu dengan jalan memberikan suntikan yang mematikannya. dan tetapnya dia di atas garis kehidupan merupakan renungan akan kesalahan-kesalahan keluarganya yang menangung kesedihan dan kemalangan. Dan tetapnya dia di atas garis kehidupan akan memperbanyak pahala dengan menjenguk orang sakit dan menziarahinya. ..

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.