P. 1
Adab Menjenguk Orang Sakit

Adab Menjenguk Orang Sakit

|Views: 25|Likes:
Published by Diana Shalihah

More info:

Published by: Diana Shalihah on Mar 22, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/22/2012

pdf

text

original

www.ahsanuqoulan.co.

cc
sebaik-baik perkataan adalah kalamullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk nabi muhammad Home Profil Makalah

Software Kisah .

Kesehatan Qoul Salaf Audio Video Tips .

.

niscaya dia berjalan di kebun surga sampai dia duduk. menjawab salam. Dari Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhu bahwasanya dia bersabda : saya mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda : ” Barang siapa yang mengunjungi orang sakit niscaya dia berada dalam naungan rahmat sampai apabila dia duduk tinggal padanya”[3] dan di dalam lafazh yang lain : ” Barang siapa yang mengunjungi orang sakit niscaya dia mendapatkan rahmat maka apabila dia duduk di sampingnya dia tetap berada di dalam rahmat. bahkan harus untuk bersegera kepadanya.Adab Menjenguk Orang Sakit Leave a comment Go to comments Adab Menjenguk Orang Sakit Dari Al-Barra` bin ‘Azib radhiallahu ‘anhu ia berkata. Keutamaan Menjenguk Orang Sakit. “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami dengan tujuh perkara dan melarang kami dari tujuh perkara: Beliau memerintahkan kami agar mengikuti iringan jenazah. dan apabila dia duduk niscaya rahmat Allah akan meliputinya. kain yang bercampur dengan sutra. meruqyahnya dengan ruqyah syar’iyyah.alhadits”[5]. menolong orang yang dizhalimi. 2.” HR Al-Bukhari. dan perkara yang ke tujuh yang terlarang adalah : “al-mayaasir (judi)“ Al-Bukhari tidak menyebutkannya di dalam hadits ini namun Muslim yang menyebutkan lafazh tersebut. meringankan sakitnya. menjawab undangan. Adab adab Menjenguk Orang Sakit 1. cincin emas. mengunjungi orang sakit. At Tirmidzi (2809). dan selalu berada di atas amalan tersebut. memeriksan kebutuhan-kebutuhannya. kain sutra. Dan dari Ali radhiallahu ‘anhu dia berkata : saya mendengar rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda : “barang siapa yang mendatangi saudaranya yang muslim dalam rangka menjenguknya. dan apabila dia pergi menjenguk di waktu pagi niscaya tujuh puluh malaikat akan mendoakannya sampai dia mendapati sore hari dan apabila di waktu sore tujuh puluh malaikat akan mendoakannya sampai dia mendapati pagi”[6]. sebagaimana orang-orang dewasa. Anak kecil apabila sakit maka mereka juga dikunjungi. mengambil nasehat dari musibah yang menimpanya sebagaimana Ibnul Jauzi katakan[7]. maka tidak sepantasnya meremehkan hal tersebut. (1239). Banyak Atsar menyebutkan keutamaannya di sini kami menyebutkan diantaranya : hadits Tsauban radhiaallahu ‘anhu bekas budak rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam riwayatkan yang mana dia berkata : rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda : “barang siapa yang menjenguk orang sakit maka dia senantiasa berada di taman kurma di surga[1] sampai di kembali (ke rumah)”[2]. Dan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dia berkata : rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda : “sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berfirman di hari kiamat : wahai anak cucu Adam saya sakit dan kalian tidak menjengukku. Mengunjungi Anak Kecil yang Sakit. menjawab orang yang bersin. dan di dalam mengunjungi orang sakit ada beberapa manfaat lainnya selain yang disebutkan tadi diantaranya : membersihkan hatinya (orang yang sakit). sehingga rahmat dzat yang Maha penyayang dan Maha pengasih dapat diraih. anak cucu Adam berkata : wahai rabb bagaimana kami menjenguk engkau sedangkan engkaulah rabb semesta alam? Allah berfirman : tidakkah kamu tahu bahwa hambaku fulan sakit dan kamu tidak menjenguknya? Tidakkah kamu tahu kalau saja kamu mengunjunginya niscaya kamu akan mendapatiku berada di sisinya…. Dan setelah menyebutkan hadits-hadtis yang shahih dalam menjelaskan keutamaan mengunjungi orang yang sakit. Muslim (2066) dan Ahmad (18034). dan pahala bagi orang yang mengunjungi dapatkan dari kunjungainnya. An-Nasaa’I (1939). al-qissi dan alistibraq. berbuat baik bagi orang yang bersumpah. dan beliau melarang kami memakai bejana yang terbuat dari perak. dan akan mendapatkan pahala mengunjungi . Yang demikian itu dikarenakan adanya makna yang menyebabkan orang dewasa dikunjungi seperti adanya doa bagi yang sakit. dan apabila dia keluar dari orang yang sakit dia teus diliputi rahmat sampai dia kembali ke rumahya”[4].

Dan dari Ibnu Syihab dari Abu Umamah bin Sahl bin Hanif bahwasanya dia mengabarkan kepadanya : ” Bahwa ada seorang wanita yang miskin sedang sakit maka dia mengabarkan kepada Rasulullan Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang sakitnya wanita tersebut. Aisyah berkata : Maka saya pun masuk kepada mereka berdua dan saya berkata : Wahai ayahku bagaimana keadaanmu? Dan wahai Bilal bagaimana keadaanmu? …. mengusap badannya. dia berkata : ” Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah. Mengunjungi Orang Sakit Yang Sedang Pingsan : Sebagian manusia menjauhkan diri untuk mengunjungi orang sakit yang tidak sadar akan kehadiran orangorang yang ada di sekitarnya. Kunjungan Wanita kepada Laki-laki Yang Sakit : Mengunjungi laki-laki yang sakit boleh bagi wanita walaupun mereka bukan mahram mereka. apa yang seharusnya saya perbuat terhadap hartaku. maka nabi mengutus utusan kepadanya dengan ucapan salam dan berkata : “sesungguhnya milik Allah apa yang dia ambil dan apa yang dia berikan dan setiap sesuatu telah ditetapkan ajalnya di sisiNya. Abu Bakar dan Bilal radhiallahu ‘anhuma menderita demam. Dari Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhuma dia berkata : ” Sesungguhnya salah seorang anak perempuan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengutus seseorang kepada beliau –dan ketika itu perawi sedang bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Karena di balik hal itu dapat membalut kekhawatiran keluarganya. maka hendaknya kamu mengharap pahala dan bersabar”. akan tetapi hal itu disyaratkan apabila aman dari fitnah. Sebagian ulama lainnya membolehkan menjenguk mereka apabila diharapkan masuk islam.[15]. dan dalil yang shahih justru menyelisihinya. tidak adanya khalwat (berdua-duaan). 3. ‘Amir bin Fuhairah maula Abu Bakar dan Bilal mengeluh sakit. dan pendapat ini lebih sesuai dengan perbuatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu` dan memercikkan wudhu’nya kepadaku. atau mereka yang dalam kehilangan kesadaran dalam jangka waktu lama. maka Aisyah meminta izin kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamuntuk mengunjungi mereka. meletakkan tangannya di atas orang yang sakit. kecuali dia bertanya kepadanya dan tidak melihat kepadanya[12]. adanya sitar (hijab). dan Allah tidak akan menyayangi dari para hambanya kecuali mereka yang penyayang”[8]. bagaimana saya memutuskan warisan hartaku? Namun beliau tidak menjawabku dengan satu kata pun sampai ayat tentang warisan turun”[13]. kedua mata nabi berlinangkan air mata.orang sakit bagi orang yang berkunjung. maka nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallambangkit dan kami pun bangkit bersama beliau. aku pun sadar dan mendapati Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dekatku. dan mengharapkan berkah doa dari orang yang menjenguknya. ketika beliau berada di tempat kejadian anak kecil itu diangkat ke pangkuan nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan nafasnya tersengal-senggal. Namun anak perempuan beliau kembali mengutus utusan dengan mengucapkan sumpah atas beliau. meniupkan bacaan kepadanya ketika memohonkan perlindungan dan yang selainnya[14]. dan masalah ini –menurut saya (penulis) agar wanita itu Mutajallah[11] .al-hadits“[9].. ini adalah pemahaman yang salah dan argumen yang tidak ada dalilnya. Sa’ad dan Ubai.al-hadits”[10] Ibnu Abdil Bar berkata : “ Pada hadits ini menunjukkan pembolehan kunjungan wanita kepada laki-laki walaupun laki-laki tersebut bukan mahramnya. dari Aisyah radhiallahu ‘anha dari ayahnya. maka mereka mendapatiku dalam keadaan pingsan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa mengunjungi orangorang miskin dan menanyakan tentang keadaan mereka….al-hadits“. dengan alasan orang yang sakit ini tidak menyadari keberadaannya dan tidak merasakannya maka kalau begitu tidak perlu untuk menjenguknya. 5. maka apabila syarat-syarat ini ada maka mengunjungi laki-laki yang sakit yang bukan mahram boleh bagi wanita dan demikian pula sebaliknya. 4.yang mana kami mengira bahwa anak perempuan saya akan menjumpai ajalnya maka mari kita menyaksikannya bersama. Ibnu Hajar berkata : “ Sekedar mengetahui keadaan orang yang sakit dengan menjenguknya tidak menjadikan pensyariatan menjenguknya terhenti. seperti orang yang dalam kondisi pingsan yang muncul berulang-ulang. maka Sa’ad berkata padanya : apa ini wahai rasulullah? Beliau berkata : ini adalah rahmat yang Allah berikan di hati-hati yang Allah kehendaki dari para hambanya. dan Aisyah berkata kepada Abu Bakar : bagaimana keadaanmu? …. Dalam riwayat Ahmad : Urwah berkata : “ Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Al-Madinah para sahabat beliau mengeluh sakit demikian pula Abu Bakar. dan apabila bukan Mutajallah maka tidak boleh. Dari Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhuma dia berkata : ” Saya pernah sakit maka nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamdan Abu Bakar mendatangiku untuk menjengukku dengan berjalan kaki. Anas . maka saya berkata : “ Wahai Rasulullah. dan Nabi mengizinkannya. Menjenguk Orang Musyrik Yang Sakit : Sebagian ulama berpendapat makruh menjenguk orang kafir dikarenakan di dalam perkara menjenguk mereka terkandung adanya pemuliaan[16].

lantas dia jatuh sakit maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguknya. Dari Ibnu Thawus dari ayahnya dia berkata : “ Menjenguk orang sakit yang paling baik adalah yang paling ringan …“ Al-Auza’iy berkata : “ Saya pernah bepergian menuju Bashrah ingin menjumpai Muhammad bin Sirin. 8. Hal ini pernah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan dan orang-orang shalih setelah beliau.bin Malik radhiallahu ‘anhu telah meriwayatkan : ” Bahwa seorang budak milik orang Yahudi yang pernah membantu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatanginya dalam rangka menjenguknya. oleh karena itu diantara perkara yang baik ketika menjenguk orang sakit adalah dengan meringankannya. Di dalam hadits Anas radhiallahu ‘anhu dia berkata : ” Adalah seorang budak Yahudi yang sering membantu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Akan tetapi sepatutnya untuk diketahui bahwa apabila orang yang sakit menyukai orang yang menjenguk tinggal lebih lama di sisinya dan terus menerus menziarahinya. maka beliau berkata : ini bukan waktu menjenguk[20]. Dan ketika orang yang menjenguk berdiam lama di sisi orang yang sakit akan memberatkan bagi orang yang sakit bahkan terkadang menambah sakitnya. namun saya mendapatinya dalam keadaan sakit di perutnya. maka waktu menjenguk yang telah dikenali oleh penduduk negeri ini dan yang telah menjadi kebiasaan mereka untuk menjenguk dan berziarah terkadang bukan waktu yang biasa dilakukan oleh sebagian penduduk negeri lainnya. 6. terkadang berziarah di malam hari merupakan waktu yang dipersilahkan akan tetapi terkadang dimakruhkan di waktu yang lain. mereka mendatanginya bukan pada waktunya dan berlama-lama duduk di sisinya[21]. kemudian beliau berkata kepada saya : di bulan Ramadhan orang sakit itu di jenguk di malam hari “[19]. Beliau duduk di . Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mendirikan kemah bagi Sa’ad di dalam masjid agar dia dapat menjenguknya dari dekat[22]. Maka zaman perlu diperhatikan di dalam menjenguk orang sakit. 6. Waktu Menjenguk Orang Yang Sakit : Tidak didapati adanya nash-nash dari al-ma’shum Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan waktuwaktu tertentu untuk menjenguk orang yang sakit dan menziarahinya. Meringankan Orang Yang Sakit ketika Dikunjungi : Sepatutnya bagi orang yang menjenguk agar jangan berlama-lama duduk dan tinggal di sisi orang yang sakit. Al-Atsram berkata : dikatakan kepada Abu Abdillah : seseorang sedang sakit dan ketika itu matahari sedang naik di waktu musim panas. maka kami pun masuk kepadanya untuk menjenguknya dalam keadaan berdiri … Asy-Sya’bi berkata : “ Kunjungan orang-orang desa yang pandir lebih memberatkan bagi orang yang sakit daripada sakit yang dideritanya. maka selama demikian perkaranya dibolehkan menziarahi orang yang sakit pada waktu apapun di malam atau siang hari selama tidak adanya hal yang memberatkan mereka. beliau berkata : Masuklah kamu ke dalam islam. Dimanakah Orang Yang Menjenguk Duduk? : Disunnahkan bagi orang yang menjenguk untuk duduk di samping kepala orang yang sakit. karena orang yang sakit tersibukkan dengan rasa lapar dan sakitnya. dan menyenangkan hatinya sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguk Sa’ad bin Mu’adz ketika terkena musibah di hari peperangan Khandak. Al-Marwadzi berkata : “ Saya bersama Abu Abdullah pernah menjenguk orang sakit di malam hari dan waktu itu di bulan Ramadhan. Dan demikian pula di waktu zhuhur karena kebiasaan yang berlaku manusia sedang tidur siang dan mereka tinggal untuk beristirahat. Dan dari Sa’id bin Al-Musyyib dari ayahnya beliau berkata : ketika kematian menghadiri Abu Thalib Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallammendatanginya dan berkata : “katakanlah laa ilaaha illallaah satu kalimat yang dengannya aku akan membelamu di sisi Allah”[18]. Karena diantara makna yang terkandung dalam menjenguk orang yang sakit adalah untuk meringankan derita orang yang sakit dan untuk menyenangkan hatinya bukan untuk memberatkannya Waktu ziarahi itu bervariasi tergantung perbedaan zaman dan tempat. Maka sahabat mana yang tidak menyenangi keberadaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamdi sisinya dan berulang-ulang menziarahinya. maka orang itu pun masuk islam”[17]. maka lebih utama bagi orang yang menjenguk untuk memenuhi keinginan orang yang sakit dikarenakan di dalam amalan tersebut terkandung sesuatu yang dapat memasukkan kebahagiaan bagi orang yang sakit.

mendoakan kesembuhan baginya dan meniupkannya kepadanya. Nabi bersabda : “ Tidakkah kalian mendengar bahwa Allah tidak mengadzab hanya karena tetesan air mata dan tidak pula dengan kesedihan . Abdullah bin Mas’ud berkata : “Apakah anda akan mendapat dua pahala? “ Beliau berkata : “ Iya. Dan juga diantara perkara yang baik ketika menjenguk orang sakit adalah menghilangkan kesusahan di karenakan sakit seperti mengucapkan kepadanya : Laa ba’sa alaika satasyfi biidznillah (sakit ini tidaklah mengapa atas mu. Berkaitan dengan adab duduk orang yang menjenguk di samping kepala orang yang sakit ada beberapa faedah diantaranya : Bahwa pada hadits tersebut adanya anjuran untuk bersikap ramah kepada orang yang sakit. Dan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma. tidak lah seorang muslim yang tertimpa musibah berupa sakit dan musibah lainnya kecuali Allah akan menggugurkan dosa-dosa kesalahannya sebagaimana pohon menggugurkan daunnya”[28] 10. dan ini tidak diragukan adalah perkara yang makruh karena menunjukkan akan lemahnya iman dan tidak adanya keridhaan terhadap ketetapan Allah dan takdirnya. Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu dia berkata : “Ssaya pernah masuk kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau dalam keadaan sakit demam. kamu akan sembuh dengan izin Allah). Dan yang demikian itu karena menganggap jauh dari ajal orang yang sakit. dan dia duduk di sisi kepalanya. rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : “ Yang demikian itu kalau saja terjadi dan saya masih hidup niscaya saya akan memohonkan ampunan untukmu dan mendoakan kesembuhan untukmu. dan perbuatan yang semisal dengan itu. Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma meriwayatkan dia berkata : ” Sa’ad bin Ubadah menderita suatu penyakit.. dia berkata : ” Apabila Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguk orang yang sakit beliau duduk di sisi kepalanya … al-hadits“[24] Dari Ar-Rabi’ bin Abdillah dia berkata : “ Saya pernah pergi bersama Al-Hasan menjumpai Qatadah untuk menziarahinya. Diantaranya juga orang yang menjenguk memungkinkan untuk meletakkan tangannya kepada orang yang sakit. atau sesungguhnya penyakit ini bukan penyakit yang berbahaya niscaya Allah akan memberikan kesehatan kepadamu –insya Allah. beliau berkata : “ Benar sebagaimana demamnya dua orang dari kalian”. maka Aisyah berkata : “ Maka saya pun masuk untuk melihat keadaan mereka berdua. Bertanya Orang Yang Sakit tentang keadaannya Dan Memberi semangat bagi orang yang sakit terseut : Termasuk perkara yang baik dalam menjenguk orang sakit adalah bertanya kepada orang yang sakit tentang keadaannya dan apa yang menimpanya sebagaimana yang ada di dalam hadits Aisyah radhiallahu anha. Dari Al-Qasim bin Muhammad dia berkata : “Aisyah berkata : “ Aduh kepalaku. saya pun menyentuh beliau dengan tangan saya dan berkata : “ Sesungguhnya engkau mengalami demam yang sangat. beliau berkata : “ Apakah telah wafat?” Mereka berkata : “ Tidak wahai Rasulullah. Lalu beliau bertanya kepadanya kemudian mendoakan kesembuhan baginya…[25].alhadits[26]. dan kalaulah hal itu terjadi mungkin engkau akan berada di akhir hari engkau dalam keadaan menjadi pengantin dengan sebagian istri-istri engkau. dia berkata : ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Al-Madinah. Menangis Ketika Sakit : Yaitu bagaimanakah hukumnya? Apakah hal tersebut disyariatkan ataukah terlarang? Yang nampak bagi kami berdasarkan perbuatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah boleh. 9. maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menangis. Ucapan semacam ini. Faedah : Keluhan orang yang sakit tidak lepas dari dua keadaan : Pertama : Keluhan tersebut dengan cara menampakkan kecemasan dan keputus asaan. kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguknya bersama Abdurrahman bin ‘Auf dan Sa’ad bin Abi Waqqaash dan Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhum maka ketika beliau masuk kepada Sa’ad bin Ubadah beliau mendapatinya berada di dalam kerumunan keluarganya. selama tidak nampak padanya tanda-tanda dekatnya ajal. sementara Abu Bakar dan Bilal dalam keadaan sakit demam. lalu saya bertanya : “ Wahai ayahku bagaimana keadaanmu. dan hal ini tidak diragukan tentang bolehnya dan dalil menguatkan akan bolehnya hal tersebut. Kedua : Dengan cara mengabarkan tentang keadaan tanpa adanya niatan untuk memohon kepada para makhluk atau ketergantungan kepada mereka. dan pengobatan ini sangat manjur dan sudah dikenal dikalangan manusia.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : “ Bahkan saya yang mengaduhkan sakit kepalaku … al-hadits“[27].samping kepalanya dan berkata kepadanya : “ Masuklah ke dalam islam…. banyak membantu cepatnya proses kesembuhan dari penyakit. dan ketika kaum tersebut melihat tangisan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .al-hadits“[23]. mereka menangis. dan wahai Bilal bagaimana keadaanmu…. Aisyah berkata : “ Demi Allah sungguh saya menyangka engkau menyukai kematianku.

hati akan tetapi Allah mengadzab dikarenakan ini beliau mengisyaratkan kepada lisan atau Allah akan mengasihani. Hal itu telah dijelaskan di dalam hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha. sesungguhnya mayyit diadzab dikarenakan tangisan keluarganya atas kematiannya”[29]. karena malaikat mengaminkan atas ucapannya itu. Ibnul Jauzi berkata : “ Pada sabda beliau : “Ya Allah sembuhkanlah Sa’ad” merupakan dalil atas disunnahkannya mendoakan kesehatan/kesembuhan untuk orang yang sakit[34]. Disunnahkan bagi orang yang menjenguk agar mendoakan orang yang sakit dengan memohon rahmat dan ampunan. dan jangan sampai menggerutu dari doa kebaikan untuk mensucikan dari mereka untuknya dengan doa pensucian dari dosa-dosanya sebagaimana keadaan Arab badui tadi yang ada di dalam hadits. dan agar dibersihkan dari dosa-dosa serta keselamatan dan kesehatan. karena doa-doa tersebut bersumber dari al-ma’shum yang telah diberi jawami al-kalim (kalimat yang ringkas lagi penuh hikmah).Fulan” Sekali – Atau Tiga Kali. Doa Apa Saja Yang Diucapkan Di Sisi Orang Yang Sakit : Sepatutnya bagi orang yang menjenguk orang sakit agar tidak mengucapkan suatu ucapan kecuali yang baik. Ucapan beliau : “Mudah-mudahan tidak mengapa ” yaitu bahwa sakit itu dapat menggugurkan dosa kesalahan. Yaitu sakit yang mensucikan bagimu dari dosa-dosamu yaitu sebagai pensuci. yang tidak berucap dari hawa nafsu hanyalah berupa wahyu yang diwahyukan kepadanya. mudah-mudahan dapat mensucikan dari dosa insya Allah. beliau berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ” Apabila kalian menghadiri orang yang sakit atau mayyit maka ucapkanlah ucapan yang baik. Dan kalau saja tidak maka dia mendapat pahala pengguguran dosa. Ibnu Abbas berkata : “ Apabila beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi rumah orang yang sakit untuk menjenguknya beliau berkata : ” Mudah-mudahan tidak apaapa. Ummu Salamah berkata : “ Ketika Abu Salamah meninggal saya mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. bahkan dia adalah demam yang ditakuti – atau yang bergejolak – atas orang tua renta . Ada beberapa faedah yang terkandung di dalam hadits ini yaitu bahwa seyogyanya bagi orang yang sakit agar menerima doa kebaikan orang lain untuknya. maka apabila mendapat kesehatan maka seseorang telah mendapat dua faedah. mudah-mudahan dapat mensucikan dari dosa insya Allah”. Maka Nabi berkata kepadanya : “ Mudah-mudah tidak apa-apa. dan membuatnya diusung kekubur. dan balaslah aku dari musibahku dengan balasan yang baik “. saya berkata : “ Wahai Rasulullah sesungguhnya Abu Salamah telah meninggal ”. mudah-mudahan dapat mensucikan insya Allah”. dan dalam hadits tersebut : ” Kemudian Nabi meletakkan tangannya di atas kening beliau kemudian mengusap tangannya di atas wajah dan perutku kemudian berkata : “ Ya Allah sembuhkanlah Sa’ad …” Dan dalam riwayat Muslim : ” Ya Allah sembuhkanlah Sa’ad Ya Allah sembuhkanlah Sa’ad sampai tiga kali”[33]. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan beberapa doa. karena sesungguhnya malaikat mengaminkan atas apa yang kalian ucapkan “. b. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda: ” Barang siapa yang menjenguk orang yang sakit yang ajalnya belum hadir dan mengucapkan di sisinya sebanyak tujuh kali : “ . Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma : “bahwasanya nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallammasuk ke rumah salah seorang arab badui dalam rangka menjenguknya. sepatutnya bagi orang yang menjenguk untuk berdoa dengan doa tersebut. diantara doa-doa beliau : a. Dan perkataan beliau : “Mudah-mudahan dapat mensucikan dosa” kedudukannya sebagai khabar dari mubtada’ mahdzuuf. Arab badui itu berkata : “ Engkau mengatakan dapat mensucikan? Sekali-kali tidak. “Ya Allah Sembuhkanlah …. Hadits ini menunjukkan bolehnya menangis di sisi orang yang sakit. Nabi bersabda : “ Ucapkanlah : Wahai Allah ampunkanlah bagiku dan baginya. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : “Alangkah baiknya jikalau begitu”[31]. Ummu Salamah berkata : “ Aku berkata : maka Allah membalasku dengan orang yang lebih baik bagiku daripada Abu Salamah yaitu Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam “[30]. “Mudah-mudahan tidak apa-apa. Doa ini terdapat di dalam hadits Sa’ad bin Abi Waqqash. disebabkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang ratapan. 11. c. dan terlebih lagi di sisi mayyit akan tetapi tangisan yang tidak ada jeritan histeris. “Saya Memohon Kepada Allah Yang Maha Agung Penguasa Arsy Yang Agung Agar Berkenan Menyembuhkanmu” Sebanyak Tujuh Kali. ketika Rasulullah menjenguknya ketika dia dalam keadaan sakit. sebagaimana penjelasan Ibnu Hajar[32].

Mungkin saja seseorang merukyahnya dengan tangannya dan mengusap di atas tempat yang sakit dengan rukyah yang dapat memberi manfaat kepada orang yang sakit. wahai rabb manusia. dan beliau membolehkan kepada sebagian sahabatnya atas ruqyah mereka. Ruqyah dengan Fatihatul Kitab.. Dan penyebutan tentang peletakan tangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia datang di beberapa hadits. demi Allah tidaklah saya meruqyah kecuali dengan fatihatul kitab. dia berkata : ” Apabila salah seorang dari keluarga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit. kami akan bawakan diantara ruqyah tersebut apa yang dapat kami sebutkan berikut ini. sembuhkanlah engkaulah penyembuh tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dariMu. 13. dia berkata : Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ” Apabila seseorang datang menjenguk orang yang sakit hendaknya dia mengucapkan : Ya Allah sembuhkanlah hambamu yang membunuh musuh untukMu dan senantiasa berjalan menuju shalat “ Dalam riwayat Abu Daud : ” atau yang berjalan kepadamu menuju jenazah yang akan dikubur“[36].. c. Ibnul Baththal berkata : “ Meletakkan tangan di atas tubuh orang yang sakit adanya sikap menghibur baginya dan untuk mengetahui seberapa parah sakitnya agar seseorang mendoakan kesembuhan untuknya sesuai sakitnya yang nampak. kesembuhan yang tidak menyisakan penyakit” . sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melakukannya. sebab keshalehan mereka dan ketakwaannya. dan bagikan satu bagian untukku bersama kalian”[42]. Di dalam hadits Sa’ad bin Abi Waqqash yang telah dikemukakan didepan : ” Kemudian Nabi meletakkan tangannya di atas keningnya. beliau meniupkan[39] kepadanya dari al-mu’awwidzat[40]….Saya memohon kepada Allah yang maha agung penguasa Arsy yang agung agar berkenan menyembuhkanmu. kemudian Abu Sa’id diberi sepotong kambing. Lalu Abu Sa’id radhiallahu ‘anhu meruqyahnya dengan fatihatul kitab. Dari Aisyah Ummul Mu’minin radhiallahu anha. akan tetapi tidak mungkin untuk mengharuskan hal tersebut dikarenakan tidak adanya nash-nash yang khusus didalam masalah tersebut “. Meruqyah dengan “hilangkanlah kesusahan. beliau tersenyum dan berkata : “Bagaimana engkau bisa tahu bahwa surat itu adalah ruqyah?” kemudian beliau berkata : “Ambillah pemberian itu dari mereka. Meneladani Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Meletakkan Tangan Di Atas Tubuh Orang Yang Sakit : Disunnahkan bagi orang yang menjenguk agar meletakkan di atas jasad orang yang sakit dan mendoakannya.al-hadits”. maka datanglah dia kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyebutkan hal itu kepada beliau. Meruqyah Orang Yang Sakit : Disunnahkan bagi orang yang menjenguk untuk meruqyah (menjampi) orang yang sakit. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah meruqyah sebagian orang yang sakit dari keluarganya dan dari selain keluarganya. apabila yang menjenguk adalah orang yang shalih “. dan terkadang meletakkan tangan ini ada pengaruh di dalam meringankan sakit atau menghilangkannya secara keseluruhan. beliau berkata : “ Wahai rasulullah. namun beliau enggan untuk menerimanya dan berkata : “ Sampai saya sebutkan hal itu kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. terlebih lagi apabila orang yang menjenguk termasuk orang yang bertakwa dan shaleh. 12. beliau berkata : ” Apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguk orang yang sakit beliau meletakkan tangannya di atas tempat yang terasa sakit kemudian mengucapkan : Bismillah“[38]. kemudian mengusapkan tangannya di atas wajah dan perut saya kemudian mengucapkan : Ya Allah sembuhkanlah Sa’ad…. Dikarenakan ruqyah orang seperti ini lebih bermanfaat daripada orang yang selainnya. “Ya Allah Sembuhkanlah Hambamu Yang Membunuh Musuh UntukMu Dan Senantiasa Berjalan Menuju Shalat [dalam riwayat yang lain : Berjalan Menuju Jenazah Yang Hendak Dikubur]“ Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha. Ruqyah Dengan Al-Mu’awwidzat. Niscaya Allah akan memberinya kesembuhan dari penyakit tersebut”[35]. b. diantaranya adalah : a. d. Tentang hal ini ada kisah yang terjadi pada Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu bersama pemimpin satu kaum yang terkena sengatan berbisa. Saya katakan (Ibnu Hajar): “ Terkadang orang yang menjenguk mengetahui pengobatan dan mengetahui penyakit sehingga dia dapat menerangkannya pengobatan yang sesuai bagi orang yang sakit sesuai dengan penyakitnya itu[37].al-hadits“[41].

Para Ulama berpendapat : Makna berbaik sangka kepada Allah -Ta’ala.Dari Aisyah radhiallahu ‘anha. maka disunnahkan bagi orang yang menjenguknya untuk mengingatkan bagi orang yang sakit akan rahmat Allah luas dan agar jangan dia putus asa dari rahmat tersebut. Allah yang menyembuhkanmu. Dan juga disunnahkan baginya untuk menalqin (menuntun) untuk mengucapkan syahadat dengan lemah lembut. Sufyan meletakkan jari telunjuknya di atas tanah kemudian mengangkatnya : ” Dengan nama Allah. Amin. dan para ulama telah sepakat akan disyariatkannya talqin ini dan mereka memakruhkan kalau terlalu sering dilakukan kepada orang yang sakit dan terus menerus agar jangan sampai berkeluh kesah dengan keadaannya yang tertekan dan . beliau mengucapkan : “ Hilangkanlah kesusahan wahai Rabb manusia sembuhkanlah. An-Nawawi berkata : “ Makna hadits ini: bahwa beliau mengambil dari ludahnya sendiri di atas jari telunjuknya. Catatan penting : sebagian manusia ketika menziarahi orang yang sakit sangat bersemangat untuk menyertakan seikat bunga mawar yang dia berikan kepada orang yang sakit. Maka sangat mengherankan keadaan mereka yang menggantikan doa pensucian dosa. rahmat. e. Sedangkan sebagian besar diantara kaum manusia mengetahui bahwa taqlid (ikut-ikutan) ini datangnya negeri orang-orang Nashara. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha : ” Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengucapkan kepada orang yang sakit : Dengan nama Allah tanah negeri kami dengan ludah sebagian dari kami dapat menyembuhkan penyakit kami dengan izin Rabb kami” Lafazh dari riwayat Muslim : ” Apabila seseorang mengeluh ada sesuatu darinya ataukah ada bisul atau luka. An-Nawawi yang mengucapkanya[48]. dan sebagian lainnya menuliskan padanya ungkapan-ungkapan dan harapan-harapan kesembuhan yang segera dan yang semisal ini. Allah yang menyembuhkanmu. d. dan bertasyabbuh kepada orang-orang Yahudi dan Nashara merupakan perkara yang diharamkan. Jibril mengucapkan : “ Dengan nama Allah saya meruqyahmu dari segala sesuatu yang mengganggumu. dan hal ini menurut mereka lebih utama apa diberikan kepada orang sakit. kesembuhan yang tidak menyisakan penyakit” adapun pada riwayat dari Muslim : ” Apabila beliau mendapati salah seorang dari kami mengeluh sakit beliau mengusapnya dengan tangan kanannya kemudian mengucapkan : ” Hilangkanlah kesusahan wahai Rabb manusia… al-hadits”[43]. engkaulah penyembuh tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan darimu.: Seseorang menyangka bahwa Allah akan merahmatinya dan memaafkannya. berdasarkan hadits Jabir radhiallahu ‘anhu dia berkata : “Saya mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiga hari sebelum kematiannya beliau berkata : ” Janganlah salah seorang dari kalian mati kecuali dia berbaik sangka kepada Allah Azza wa Jalla”[47]. ampunan dan kesehatan bagi orang yang sakit dengan ungkapan-ungkapan kosong. dari kejahatan setiap jiwa atau mata yang hasad. dan harapan-harapan yang tidak dapat mempercepat dan tidak pula mengakhirkan! Dan menggantikan ruqyah (jampi) yang syar’i dari ayat-ayat AlQur`an dan hadits-hadits Nabi dengan seikat bunga mawar yang mungkin dapat layu sehari atau dua hari setelahnya! Ya Allah tunjukkanlah kami jalanMu yang lurus bukan jalannya orang-orang yang dimurkai dan bukan pula orang-orang yang sesat. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu dia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ” Talqinkanlah (tuntunkanlah) orang yang akan mati diantara kalian kalimat Laa ilaaha illallaah“[49]. kemudian meletakkannya di atas tanah dan melekatkan sesuatu dengan jari tersebut dari tanah dan mengusap dengan tanah di atas tempat luka atau penyakit dan mengucapkan doa dalam keadaan mengusap wallahu a’lam [46]. Ruqyah dengan bacaan “dengan nama Allah tanah negeri kami dengan ludah sebagian dari kami dapat menyembuhkan penyakit kami dengan izin rabb kami”. Mentalqin (menuntun) Orang Yang Sakit Mengucapkan Syahadat Apabila Ajal Menjemputnya Dan Menutupkan Kedua Matanya Serta Mendoakan Kebaikan baginya Apabila Telah Mati : Ketika ajal orang yang sakit semakin dekat dan tanda-tanda kematian telah nampak atasnya. yang mana kita dilarang bertasyabbuh (menyerupakan diri) dengan mereka. dari segala sesuatu yang mengganggumu. 14. An-Nawawi berkata : “ Perintah mentalqin (menuntun) ini adalah perintah yang bersifat sunnah. ” Apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi orang yang sakit atau didatangkan kepadanya orang yang sakit. tanah negeri kami dengan ludah sebagian dari kami dapat menyembuhkan penyakit kami dengan izin Rabb kami”[45]. dengan nama Allah saya meruqyahmu”. dengan nama Allah saya meruqyahmu ” [44]. Ruqyah dengan “dengan nama Allah saya meruqyahmu. beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkannya dengan jarinya seperti ini. dari kejahatan jiwa atau mata yang hasad. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu : ” Bahwa Jibril datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata : wahai Muhammad apakah kamu mengeluh sakit? Beliau berkata : “ Iya “.

Dan Ibnul Munir berkata : di dalam hadits jabir tidak ada keterangan yang sharih (jelas) bahwa keduanya telah mengetahui Jabir pingsan sebelum dijenguk. Dan Ahmad (23839). kemudian bersabda : ” Sesungguhnya ruh apabila telah digenggam pandangan mata akan mengikutinya”. (2/236) dengan perubahan seperlunya. [10] HR. Para ulama berpendapat : “ Apabila orang yang sakit telah mengucapkannya sekali. dan Al-Albani berkata : “shahih” : (1191). [1] Al-Baghawi berkata tentang penjelasan hadits ini : perkataan Nabi “di dalam khiraaful Jannah dan didiriwayatkan dalam riwayat lainnya (di dalam makhaariful jannah) dan [khurfatul Jannah).Ibnu Al-Anbari berkata : yang dimaksudkan yaitu memetik buah-buahan kebun. yaitu : menutupi…. (At-Tamhid 24/273). [namun Ibnu Hajar membantah hal tersebut dan mengatakan : ] saya . [7] Kasyful Musykil Min Hadits As-Shahihain. [4] HR. lapangkanlah baginya di dalam kuburnya. [11] Di dalam Al-Lisan : …. dan kata ini adalah bentuk jamak dari mikhraf. dan Malik (1648). [8] HR. Muslim (923) Ahmad (21269) An-Nasaa’I (1868) dan Abu Daud (3125). [9] HR. Ahmad (756). [3] HR. Muslim (1616). dinamakan demikian dikarenakan yang demikian itu selama terjadi musim rontok. [5] HR. angkatlah derajatnya bersama orang-orang yang mendapat hidayah. Al-Bukhari (5651). At-Tirmidzi (2098). jangan dipaksa untuk mengulanginya kecuali kalau dia mengucapkan perkataan yang lain setelahnya maka dia diminta untuk mengulanginya lagi agar syahadat tersebut menjadi akhir dari perkataannya[50]. [6]HR. Ahmad (21868) dan At-Tirmidzi (967). Al-Bukhari (5654) dan beliau memberikannya bab : bab kunjungan wanita kepada laki-laki yang sakit. berikanlah ampunan kepada kami dan kepadanya wahai Rabb semesta alam. Abu Daud (2886). Ibnu Abdil Baar dengan sanadnya yang sampai kepada Jabir bin Abdullah radhiallahu anhuma. dan Muslim meriwayatkan hadits ini juga (1376) tanpa menyebutkan kunjungan Aisyah radhiallahu anha kepada keduanya (Abu Bakar dan Bilal). maka bisa saja pingsannya Jabir bertepatan dengan kehadiran keduanya. (710).kata tajaalat yaitu Asnat dan kaburat (telah dewasa). Muslim (2569) dan lafazh hadits ini miliknya. dan berikanlah baginya cahaya di dalamnya”[51]. (11/116) dan materi kata tersebut : ‫ج ل ل‬ [12] At-Tamhid (6/255). (Syarhus Sunnah 5/216). maka beliau memejamkannya. maka beliau bersabda : ” Janganlah kalian mendoakan kejelekan atas diri-diri kalian kecuali dengan doa yang baik. Al-Bukhari (5655). [2] HR. Ibnu Majah (1442) dan hadits ini sesuai lafazh darinya. Malik di dalam Al-Muwaththa’ (531) dan Ibnu Abdil Bar berkata : tidak ada perselisihan atas Malik di dalam kitab Al-Muwaththa’ tentang dimursalkannya hadits ini………dan hadits ini adalah hadits yang musnad yang bersambung dan shahih dari selain hadits Malik. no. Ibnu Majah (2728) dan Ad-Darimi (733). dan di dalam hadits Ummu Shabiyyah : kami dahulu di dalam masjid adalah wanita-wanita yang tajaalalna yaitu telah dewasa. dan Ummu Ad-Darda’ mengunjungi seorang laki-laki yang sakit dari kalangan sahabat yang tinggal di masjid dari kalangan Al-Anshar. diantara penggunaannya di dalam kalimat yaitu : pohon kurma merontokkan kurma-kurmanya.beratnya penderitaannya sehingga dia membencinya di dalam hati dan mengucapkan ucapan yang tidak layak. dan dikatakan : jallat fa hiya Jalilah (wanita itu besar maka dia adalah jalilah) dan tajallat fa hiya mutajallah (wanita itu telah dewasa maka dia adalah mutajallah). dan hadits ini termasuk diantara balaqhaatnya Imam Malik (bab mengunjungi orang sakit dan orang yang terkena musibah) Ibnu Abdil Baar berkata tentang hadits ini : “hadits ini hadits Madani yang shahih”. (AtTamhid 24/263). An-Nasaa’i (138). dan gantikanlah pada anak keturunannya bersama orang-orang yang masih tersisa. Al-Asma'iy berkata : dia adalah kebun kurma. Ahmad (13886). maka nabi memisalkan apa yang orang yang mengunjungi orang sakit dapatkan dari pahala dengan apa yang pohon kurma dapatkan dari hasil buahnya. Dan hadits ini Al-Albani menshahihkannya di dalam shahih Al-Adab Al-Mufrad. Dan apabila orang yang sakit itu mati maka disunnahkan bagi orang yang menghadiri kematiannya untuk memejamkan kedua matanya dan mendoakan kebaikan untuknya. berdasarkan hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha dia berkata : “ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk kepada Abu Salamah dan pandangannya telah menatap keatas. (At-Tamhid 6/254). [14] Fathul Baari : (10/119). Abu Daud (3098). Sesungguhnya malaikat mengaminkan atas apa yang kalian katakan” Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ” Ya Allah berilah ampunan kepada Abu Salamah. Orang-orang dari keluarganya pun histeris. dan Ahmad (8989). Al-Bukhari di dalam Al-Adab Al-Mufrod (522). Muslim (2578). [13] HR.

dan tetapnya dia di atas garis kehidupan merupakan renungan akan kesalahan-kesalahan keluarganya yang menangung kesedihan dan kemalangan. Dari Abu Hurairah dari nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallambeliau bersabda : “tidaklah seorang muslim yang tertimpa keletihan. dan mereka berhujjah bahwa orang yang sakit ini menurut undang-undang kedokteran adalah mayat tidak ada kemungkinan untuk hidup. Al-Bukhari (5667) dan selainnya. dan sekedar mengetahui keadaan orang yang sakit dengan menjenguknya………. dan hanya masalah waktu saja. dan tidak pula kemurungan sekalipun duri yang menusuknya kecuali Allah akan menggugurkan dengannya dari kesalahan-kesalahannya” HR. maka disebabkan adanya maknamakna yang bermanfaat ini yang telah kami sebutkan dan selain dari makna-makna tersebut maka kita mengetahui akan kekejian perkataan orang yang mengatakan : tidak ada faedah mengaharap-harap tetapnya orang yang mati kesadarannya dalam keadaan hidup dan bahwa kematian itu lebih baik untuknya.katakan : bahkan yang zhahir dari konteks yang ada terjadinya hal tersebut ketika datangnya keduanya dan sebelum masuknya keduanya kepadanya. tidak pula penyakit.dst. (10/118-119). kesusahan. Dan tetapnya dia di atas garis kehidupan akan memperbanyak pahala dengan menjenguk orang sakit dan menziarahinya. gangguan. yang demikian itu dengan jalan memberikan suntikan yang mematikannya. dan Allah Azza wa Jalla mengabulkannya. Dan tetapnya dia di atas garis kehidupan adanya kebaikan yang terus menerus dan tidak akan terputus lebih khusus lagi apabila yang sakit itu adalah seorang ayah atau seorang ibu. dan mengangkat derajatnya apabila dia bagian dari ahlu iman dan ahlu ihsan. Dalam hadits Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu dia berkata : Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda : “tidaklah ada dari seorang muslim yang menderita sakit maka tidaklah ada dari selain sakit itu kecuali Allah akan menggugurkan kesalahan-kesalahannya sebagaimana pohon menggugurkan daunnya” HR. Al-Bukhari (5642) dan selainnya.. Dan tetapnya dia di atas garis kehidupan memungkinkan dia mendapatkan doa yang baik. Maka dikatakan kepada mereka : kalian dengan cara seperti ini dan dengan metode seperti ini tidak meringankannya bahkan kalian menghalanginya dan menghalangi selainnya. akan menjadikannya berfikir akan kesalahan-kesalahannya. . maka dia pun sembuh dari sakitnya itu –dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu – . dan kami memberikan suntikan ini untuk menenangkannya dari sakit yang mungkin dia dapatkan ketika hidupnya. [15] Catatan : Di sebagian negeri arab timbul pemikiran untuk mematikan orang yang sakit yang mati akalnya. ataukah dosa-dosanya diampuni berkat doa-doa kaum muslimin kepadanya. karena tetapnya dia di atas garis kehidupan dan dia dalam keadaan seperti itu. Wallahu a’lam. kesedihan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->