www.ahsanuqoulan.co.

cc
sebaik-baik perkataan adalah kalamullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk nabi muhammad Home Profil Makalah

Software Kisah .

Kesehatan Qoul Salaf Audio Video Tips .

.

dan pahala bagi orang yang mengunjungi dapatkan dari kunjungainnya. bahkan harus untuk bersegera kepadanya. At Tirmidzi (2809). dan perkara yang ke tujuh yang terlarang adalah : “al-mayaasir (judi)“ Al-Bukhari tidak menyebutkannya di dalam hadits ini namun Muslim yang menyebutkan lafazh tersebut. dan beliau melarang kami memakai bejana yang terbuat dari perak. mengambil nasehat dari musibah yang menimpanya sebagaimana Ibnul Jauzi katakan[7]. Dan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dia berkata : rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda : “sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berfirman di hari kiamat : wahai anak cucu Adam saya sakit dan kalian tidak menjengukku. dan selalu berada di atas amalan tersebut. Dari Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhu bahwasanya dia bersabda : saya mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda : ” Barang siapa yang mengunjungi orang sakit niscaya dia berada dalam naungan rahmat sampai apabila dia duduk tinggal padanya”[3] dan di dalam lafazh yang lain : ” Barang siapa yang mengunjungi orang sakit niscaya dia mendapatkan rahmat maka apabila dia duduk di sampingnya dia tetap berada di dalam rahmat. Adab adab Menjenguk Orang Sakit 1. Yang demikian itu dikarenakan adanya makna yang menyebabkan orang dewasa dikunjungi seperti adanya doa bagi yang sakit. Dan dari Ali radhiallahu ‘anhu dia berkata : saya mendengar rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda : “barang siapa yang mendatangi saudaranya yang muslim dalam rangka menjenguknya.alhadits”[5]. Muslim (2066) dan Ahmad (18034). dan akan mendapatkan pahala mengunjungi . dan apabila dia duduk niscaya rahmat Allah akan meliputinya. cincin emas. sebagaimana orang-orang dewasa. “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami dengan tujuh perkara dan melarang kami dari tujuh perkara: Beliau memerintahkan kami agar mengikuti iringan jenazah. maka tidak sepantasnya meremehkan hal tersebut. Mengunjungi Anak Kecil yang Sakit. Dan setelah menyebutkan hadits-hadtis yang shahih dalam menjelaskan keutamaan mengunjungi orang yang sakit. anak cucu Adam berkata : wahai rabb bagaimana kami menjenguk engkau sedangkan engkaulah rabb semesta alam? Allah berfirman : tidakkah kamu tahu bahwa hambaku fulan sakit dan kamu tidak menjenguknya? Tidakkah kamu tahu kalau saja kamu mengunjunginya niscaya kamu akan mendapatiku berada di sisinya…. al-qissi dan alistibraq. Keutamaan Menjenguk Orang Sakit. menjawab undangan. kain yang bercampur dengan sutra. mengunjungi orang sakit. dan apabila dia pergi menjenguk di waktu pagi niscaya tujuh puluh malaikat akan mendoakannya sampai dia mendapati sore hari dan apabila di waktu sore tujuh puluh malaikat akan mendoakannya sampai dia mendapati pagi”[6]. berbuat baik bagi orang yang bersumpah. (1239). memeriksan kebutuhan-kebutuhannya.” HR Al-Bukhari. sehingga rahmat dzat yang Maha penyayang dan Maha pengasih dapat diraih. kain sutra. niscaya dia berjalan di kebun surga sampai dia duduk. meringankan sakitnya. dan di dalam mengunjungi orang sakit ada beberapa manfaat lainnya selain yang disebutkan tadi diantaranya : membersihkan hatinya (orang yang sakit).Adab Menjenguk Orang Sakit Leave a comment Go to comments Adab Menjenguk Orang Sakit Dari Al-Barra` bin ‘Azib radhiallahu ‘anhu ia berkata. menjawab salam. meruqyahnya dengan ruqyah syar’iyyah. menjawab orang yang bersin. 2. Anak kecil apabila sakit maka mereka juga dikunjungi. menolong orang yang dizhalimi. dan apabila dia keluar dari orang yang sakit dia teus diliputi rahmat sampai dia kembali ke rumahya”[4]. An-Nasaa’I (1939). Banyak Atsar menyebutkan keutamaannya di sini kami menyebutkan diantaranya : hadits Tsauban radhiaallahu ‘anhu bekas budak rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam riwayatkan yang mana dia berkata : rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda : “barang siapa yang menjenguk orang sakit maka dia senantiasa berada di taman kurma di surga[1] sampai di kembali (ke rumah)”[2].

dan dalil yang shahih justru menyelisihinya. ketika beliau berada di tempat kejadian anak kecil itu diangkat ke pangkuan nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan nafasnya tersengal-senggal.al-hadits”[10] Ibnu Abdil Bar berkata : “ Pada hadits ini menunjukkan pembolehan kunjungan wanita kepada laki-laki walaupun laki-laki tersebut bukan mahramnya. 4. Mengunjungi Orang Sakit Yang Sedang Pingsan : Sebagian manusia menjauhkan diri untuk mengunjungi orang sakit yang tidak sadar akan kehadiran orangorang yang ada di sekitarnya. kecuali dia bertanya kepadanya dan tidak melihat kepadanya[12].al-hadits“. Karena di balik hal itu dapat membalut kekhawatiran keluarganya. maka Sa’ad berkata padanya : apa ini wahai rasulullah? Beliau berkata : ini adalah rahmat yang Allah berikan di hati-hati yang Allah kehendaki dari para hambanya. seperti orang yang dalam kondisi pingsan yang muncul berulang-ulang. 3. ini adalah pemahaman yang salah dan argumen yang tidak ada dalilnya. dari Aisyah radhiallahu ‘anha dari ayahnya. dengan alasan orang yang sakit ini tidak menyadari keberadaannya dan tidak merasakannya maka kalau begitu tidak perlu untuk menjenguknya. maka mereka mendapatiku dalam keadaan pingsan. apa yang seharusnya saya perbuat terhadap hartaku. Dan dari Ibnu Syihab dari Abu Umamah bin Sahl bin Hanif bahwasanya dia mengabarkan kepadanya : ” Bahwa ada seorang wanita yang miskin sedang sakit maka dia mengabarkan kepada Rasulullan Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang sakitnya wanita tersebut. adanya sitar (hijab). Dari Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhuma dia berkata : ” Saya pernah sakit maka nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamdan Abu Bakar mendatangiku untuk menjengukku dengan berjalan kaki. Abu Bakar dan Bilal radhiallahu ‘anhuma menderita demam. dan mengharapkan berkah doa dari orang yang menjenguknya. dan pendapat ini lebih sesuai dengan perbuatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. 5. atau mereka yang dalam kehilangan kesadaran dalam jangka waktu lama. bagaimana saya memutuskan warisan hartaku? Namun beliau tidak menjawabku dengan satu kata pun sampai ayat tentang warisan turun”[13]. dan Nabi mengizinkannya. Kunjungan Wanita kepada Laki-laki Yang Sakit : Mengunjungi laki-laki yang sakit boleh bagi wanita walaupun mereka bukan mahram mereka. Aisyah berkata : Maka saya pun masuk kepada mereka berdua dan saya berkata : Wahai ayahku bagaimana keadaanmu? Dan wahai Bilal bagaimana keadaanmu? ….al-hadits“[9]. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa mengunjungi orangorang miskin dan menanyakan tentang keadaan mereka…. maka apabila syarat-syarat ini ada maka mengunjungi laki-laki yang sakit yang bukan mahram boleh bagi wanita dan demikian pula sebaliknya. dia berkata : ” Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah. Ibnu Hajar berkata : “ Sekedar mengetahui keadaan orang yang sakit dengan menjenguknya tidak menjadikan pensyariatan menjenguknya terhenti. maka Aisyah meminta izin kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamuntuk mengunjungi mereka. dan Allah tidak akan menyayangi dari para hambanya kecuali mereka yang penyayang”[8]. dan Aisyah berkata kepada Abu Bakar : bagaimana keadaanmu? ….. dan masalah ini –menurut saya (penulis) agar wanita itu Mutajallah[11] . Sebagian ulama lainnya membolehkan menjenguk mereka apabila diharapkan masuk islam. maka saya berkata : “ Wahai Rasulullah. Namun anak perempuan beliau kembali mengutus utusan dengan mengucapkan sumpah atas beliau.[15]. Menjenguk Orang Musyrik Yang Sakit : Sebagian ulama berpendapat makruh menjenguk orang kafir dikarenakan di dalam perkara menjenguk mereka terkandung adanya pemuliaan[16]. meniupkan bacaan kepadanya ketika memohonkan perlindungan dan yang selainnya[14]. maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu` dan memercikkan wudhu’nya kepadaku. maka hendaknya kamu mengharap pahala dan bersabar”.yang mana kami mengira bahwa anak perempuan saya akan menjumpai ajalnya maka mari kita menyaksikannya bersama. tidak adanya khalwat (berdua-duaan). aku pun sadar dan mendapati Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dekatku. ‘Amir bin Fuhairah maula Abu Bakar dan Bilal mengeluh sakit. maka nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallambangkit dan kami pun bangkit bersama beliau. dan apabila bukan Mutajallah maka tidak boleh. maka nabi mengutus utusan kepadanya dengan ucapan salam dan berkata : “sesungguhnya milik Allah apa yang dia ambil dan apa yang dia berikan dan setiap sesuatu telah ditetapkan ajalnya di sisiNya. Sa’ad dan Ubai. mengusap badannya. Dari Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhuma dia berkata : ” Sesungguhnya salah seorang anak perempuan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengutus seseorang kepada beliau –dan ketika itu perawi sedang bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .orang sakit bagi orang yang berkunjung. kedua mata nabi berlinangkan air mata. meletakkan tangannya di atas orang yang sakit. Dalam riwayat Ahmad : Urwah berkata : “ Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Al-Madinah para sahabat beliau mengeluh sakit demikian pula Abu Bakar. Anas . akan tetapi hal itu disyaratkan apabila aman dari fitnah.

maka beliau berkata : ini bukan waktu menjenguk[20]. lantas dia jatuh sakit maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguknya. namun saya mendapatinya dalam keadaan sakit di perutnya. Dan ketika orang yang menjenguk berdiam lama di sisi orang yang sakit akan memberatkan bagi orang yang sakit bahkan terkadang menambah sakitnya. Waktu Menjenguk Orang Yang Sakit : Tidak didapati adanya nash-nash dari al-ma’shum Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan waktuwaktu tertentu untuk menjenguk orang yang sakit dan menziarahinya.bin Malik radhiallahu ‘anhu telah meriwayatkan : ” Bahwa seorang budak milik orang Yahudi yang pernah membantu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatanginya dalam rangka menjenguknya. maka orang itu pun masuk islam”[17]. Karena diantara makna yang terkandung dalam menjenguk orang yang sakit adalah untuk meringankan derita orang yang sakit dan untuk menyenangkan hatinya bukan untuk memberatkannya Waktu ziarahi itu bervariasi tergantung perbedaan zaman dan tempat. beliau berkata : Masuklah kamu ke dalam islam. oleh karena itu diantara perkara yang baik ketika menjenguk orang sakit adalah dengan meringankannya. Akan tetapi sepatutnya untuk diketahui bahwa apabila orang yang sakit menyukai orang yang menjenguk tinggal lebih lama di sisinya dan terus menerus menziarahinya. karena orang yang sakit tersibukkan dengan rasa lapar dan sakitnya. maka selama demikian perkaranya dibolehkan menziarahi orang yang sakit pada waktu apapun di malam atau siang hari selama tidak adanya hal yang memberatkan mereka. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mendirikan kemah bagi Sa’ad di dalam masjid agar dia dapat menjenguknya dari dekat[22]. terkadang berziarah di malam hari merupakan waktu yang dipersilahkan akan tetapi terkadang dimakruhkan di waktu yang lain. Hal ini pernah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan dan orang-orang shalih setelah beliau. 6. maka waktu menjenguk yang telah dikenali oleh penduduk negeri ini dan yang telah menjadi kebiasaan mereka untuk menjenguk dan berziarah terkadang bukan waktu yang biasa dilakukan oleh sebagian penduduk negeri lainnya. Al-Atsram berkata : dikatakan kepada Abu Abdillah : seseorang sedang sakit dan ketika itu matahari sedang naik di waktu musim panas. mereka mendatanginya bukan pada waktunya dan berlama-lama duduk di sisinya[21]. kemudian beliau berkata kepada saya : di bulan Ramadhan orang sakit itu di jenguk di malam hari “[19]. Meringankan Orang Yang Sakit ketika Dikunjungi : Sepatutnya bagi orang yang menjenguk agar jangan berlama-lama duduk dan tinggal di sisi orang yang sakit. Dan dari Sa’id bin Al-Musyyib dari ayahnya beliau berkata : ketika kematian menghadiri Abu Thalib Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallammendatanginya dan berkata : “katakanlah laa ilaaha illallaah satu kalimat yang dengannya aku akan membelamu di sisi Allah”[18]. 8. Dari Ibnu Thawus dari ayahnya dia berkata : “ Menjenguk orang sakit yang paling baik adalah yang paling ringan …“ Al-Auza’iy berkata : “ Saya pernah bepergian menuju Bashrah ingin menjumpai Muhammad bin Sirin. maka kami pun masuk kepadanya untuk menjenguknya dalam keadaan berdiri … Asy-Sya’bi berkata : “ Kunjungan orang-orang desa yang pandir lebih memberatkan bagi orang yang sakit daripada sakit yang dideritanya. 6. Al-Marwadzi berkata : “ Saya bersama Abu Abdullah pernah menjenguk orang sakit di malam hari dan waktu itu di bulan Ramadhan. Maka sahabat mana yang tidak menyenangi keberadaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamdi sisinya dan berulang-ulang menziarahinya. Beliau duduk di . Di dalam hadits Anas radhiallahu ‘anhu dia berkata : ” Adalah seorang budak Yahudi yang sering membantu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Maka zaman perlu diperhatikan di dalam menjenguk orang sakit. Dimanakah Orang Yang Menjenguk Duduk? : Disunnahkan bagi orang yang menjenguk untuk duduk di samping kepala orang yang sakit. maka lebih utama bagi orang yang menjenguk untuk memenuhi keinginan orang yang sakit dikarenakan di dalam amalan tersebut terkandung sesuatu yang dapat memasukkan kebahagiaan bagi orang yang sakit. dan menyenangkan hatinya sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguk Sa’ad bin Mu’adz ketika terkena musibah di hari peperangan Khandak. Dan demikian pula di waktu zhuhur karena kebiasaan yang berlaku manusia sedang tidur siang dan mereka tinggal untuk beristirahat.

sementara Abu Bakar dan Bilal dalam keadaan sakit demam. Kedua : Dengan cara mengabarkan tentang keadaan tanpa adanya niatan untuk memohon kepada para makhluk atau ketergantungan kepada mereka. 9. saya pun menyentuh beliau dengan tangan saya dan berkata : “ Sesungguhnya engkau mengalami demam yang sangat. Aisyah berkata : “ Demi Allah sungguh saya menyangka engkau menyukai kematianku. dan pengobatan ini sangat manjur dan sudah dikenal dikalangan manusia. Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma meriwayatkan dia berkata : ” Sa’ad bin Ubadah menderita suatu penyakit. maka Aisyah berkata : “ Maka saya pun masuk untuk melihat keadaan mereka berdua. Nabi bersabda : “ Tidakkah kalian mendengar bahwa Allah tidak mengadzab hanya karena tetesan air mata dan tidak pula dengan kesedihan . atau sesungguhnya penyakit ini bukan penyakit yang berbahaya niscaya Allah akan memberikan kesehatan kepadamu –insya Allah. beliau berkata : “ Benar sebagaimana demamnya dua orang dari kalian”. Dan juga diantara perkara yang baik ketika menjenguk orang sakit adalah menghilangkan kesusahan di karenakan sakit seperti mengucapkan kepadanya : Laa ba’sa alaika satasyfi biidznillah (sakit ini tidaklah mengapa atas mu. mendoakan kesembuhan baginya dan meniupkannya kepadanya. Diantaranya juga orang yang menjenguk memungkinkan untuk meletakkan tangannya kepada orang yang sakit. lalu saya bertanya : “ Wahai ayahku bagaimana keadaanmu.. Dan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma. dia berkata : ” Apabila Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguk orang yang sakit beliau duduk di sisi kepalanya … al-hadits“[24] Dari Ar-Rabi’ bin Abdillah dia berkata : “ Saya pernah pergi bersama Al-Hasan menjumpai Qatadah untuk menziarahinya. Bertanya Orang Yang Sakit tentang keadaannya Dan Memberi semangat bagi orang yang sakit terseut : Termasuk perkara yang baik dalam menjenguk orang sakit adalah bertanya kepada orang yang sakit tentang keadaannya dan apa yang menimpanya sebagaimana yang ada di dalam hadits Aisyah radhiallahu anha. Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu dia berkata : “Ssaya pernah masuk kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau dalam keadaan sakit demam. maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menangis. Faedah : Keluhan orang yang sakit tidak lepas dari dua keadaan : Pertama : Keluhan tersebut dengan cara menampakkan kecemasan dan keputus asaan.samping kepalanya dan berkata kepadanya : “ Masuklah ke dalam islam…. mereka menangis. dan perbuatan yang semisal dengan itu. Ucapan semacam ini. Dari Al-Qasim bin Muhammad dia berkata : “Aisyah berkata : “ Aduh kepalaku. dan ketika kaum tersebut melihat tangisan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . tidak lah seorang muslim yang tertimpa musibah berupa sakit dan musibah lainnya kecuali Allah akan menggugurkan dosa-dosa kesalahannya sebagaimana pohon menggugurkan daunnya”[28] 10.alhadits[26]. dia berkata : ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Al-Madinah.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : “ Bahkan saya yang mengaduhkan sakit kepalaku … al-hadits“[27]. Abdullah bin Mas’ud berkata : “Apakah anda akan mendapat dua pahala? “ Beliau berkata : “ Iya. Dan yang demikian itu karena menganggap jauh dari ajal orang yang sakit. kamu akan sembuh dengan izin Allah). beliau berkata : “ Apakah telah wafat?” Mereka berkata : “ Tidak wahai Rasulullah. dan wahai Bilal bagaimana keadaanmu…. Lalu beliau bertanya kepadanya kemudian mendoakan kesembuhan baginya…[25]. banyak membantu cepatnya proses kesembuhan dari penyakit. rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : “ Yang demikian itu kalau saja terjadi dan saya masih hidup niscaya saya akan memohonkan ampunan untukmu dan mendoakan kesembuhan untukmu. dan dia duduk di sisi kepalanya. dan hal ini tidak diragukan tentang bolehnya dan dalil menguatkan akan bolehnya hal tersebut. selama tidak nampak padanya tanda-tanda dekatnya ajal. dan ini tidak diragukan adalah perkara yang makruh karena menunjukkan akan lemahnya iman dan tidak adanya keridhaan terhadap ketetapan Allah dan takdirnya. Berkaitan dengan adab duduk orang yang menjenguk di samping kepala orang yang sakit ada beberapa faedah diantaranya : Bahwa pada hadits tersebut adanya anjuran untuk bersikap ramah kepada orang yang sakit. dan kalaulah hal itu terjadi mungkin engkau akan berada di akhir hari engkau dalam keadaan menjadi pengantin dengan sebagian istri-istri engkau.al-hadits“[23]. Menangis Ketika Sakit : Yaitu bagaimanakah hukumnya? Apakah hal tersebut disyariatkan ataukah terlarang? Yang nampak bagi kami berdasarkan perbuatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah boleh. kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguknya bersama Abdurrahman bin ‘Auf dan Sa’ad bin Abi Waqqaash dan Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhum maka ketika beliau masuk kepada Sa’ad bin Ubadah beliau mendapatinya berada di dalam kerumunan keluarganya.

dan dalam hadits tersebut : ” Kemudian Nabi meletakkan tangannya di atas kening beliau kemudian mengusap tangannya di atas wajah dan perutku kemudian berkata : “ Ya Allah sembuhkanlah Sa’ad …” Dan dalam riwayat Muslim : ” Ya Allah sembuhkanlah Sa’ad Ya Allah sembuhkanlah Sa’ad sampai tiga kali”[33]. Dan perkataan beliau : “Mudah-mudahan dapat mensucikan dosa” kedudukannya sebagai khabar dari mubtada’ mahdzuuf. Ada beberapa faedah yang terkandung di dalam hadits ini yaitu bahwa seyogyanya bagi orang yang sakit agar menerima doa kebaikan orang lain untuknya. karena sesungguhnya malaikat mengaminkan atas apa yang kalian ucapkan “. mudah-mudahan dapat mensucikan dari dosa insya Allah. dan jangan sampai menggerutu dari doa kebaikan untuk mensucikan dari mereka untuknya dengan doa pensucian dari dosa-dosanya sebagaimana keadaan Arab badui tadi yang ada di dalam hadits. Hal itu telah dijelaskan di dalam hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha. Ucapan beliau : “Mudah-mudahan tidak mengapa ” yaitu bahwa sakit itu dapat menggugurkan dosa kesalahan. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma : “bahwasanya nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallammasuk ke rumah salah seorang arab badui dalam rangka menjenguknya. saya berkata : “ Wahai Rasulullah sesungguhnya Abu Salamah telah meninggal ”. sesungguhnya mayyit diadzab dikarenakan tangisan keluarganya atas kematiannya”[29]. sebagaimana penjelasan Ibnu Hajar[32]. maka apabila mendapat kesehatan maka seseorang telah mendapat dua faedah. Arab badui itu berkata : “ Engkau mengatakan dapat mensucikan? Sekali-kali tidak. beliau berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ” Apabila kalian menghadiri orang yang sakit atau mayyit maka ucapkanlah ucapan yang baik. dan agar dibersihkan dari dosa-dosa serta keselamatan dan kesehatan. 11.hati akan tetapi Allah mengadzab dikarenakan ini beliau mengisyaratkan kepada lisan atau Allah akan mengasihani. ketika Rasulullah menjenguknya ketika dia dalam keadaan sakit. b. diantara doa-doa beliau : a. dan terlebih lagi di sisi mayyit akan tetapi tangisan yang tidak ada jeritan histeris. Ummu Salamah berkata : “ Ketika Abu Salamah meninggal saya mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnul Jauzi berkata : “ Pada sabda beliau : “Ya Allah sembuhkanlah Sa’ad” merupakan dalil atas disunnahkannya mendoakan kesehatan/kesembuhan untuk orang yang sakit[34]. bahkan dia adalah demam yang ditakuti – atau yang bergejolak – atas orang tua renta . “Mudah-mudahan tidak apa-apa. dan membuatnya diusung kekubur. c. Hadits ini menunjukkan bolehnya menangis di sisi orang yang sakit. Ummu Salamah berkata : “ Aku berkata : maka Allah membalasku dengan orang yang lebih baik bagiku daripada Abu Salamah yaitu Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam “[30]. Yaitu sakit yang mensucikan bagimu dari dosa-dosamu yaitu sebagai pensuci. yang tidak berucap dari hawa nafsu hanyalah berupa wahyu yang diwahyukan kepadanya. Ibnu Abbas berkata : “ Apabila beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi rumah orang yang sakit untuk menjenguknya beliau berkata : ” Mudah-mudahan tidak apaapa. Dan kalau saja tidak maka dia mendapat pahala pengguguran dosa. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan beberapa doa. karena malaikat mengaminkan atas ucapannya itu. dan balaslah aku dari musibahku dengan balasan yang baik “.Fulan” Sekali – Atau Tiga Kali. disebabkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang ratapan. Disunnahkan bagi orang yang menjenguk agar mendoakan orang yang sakit dengan memohon rahmat dan ampunan. sepatutnya bagi orang yang menjenguk untuk berdoa dengan doa tersebut. Doa ini terdapat di dalam hadits Sa’ad bin Abi Waqqash. “Saya Memohon Kepada Allah Yang Maha Agung Penguasa Arsy Yang Agung Agar Berkenan Menyembuhkanmu” Sebanyak Tujuh Kali. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : “Alangkah baiknya jikalau begitu”[31]. karena doa-doa tersebut bersumber dari al-ma’shum yang telah diberi jawami al-kalim (kalimat yang ringkas lagi penuh hikmah). “Ya Allah Sembuhkanlah …. Doa Apa Saja Yang Diucapkan Di Sisi Orang Yang Sakit : Sepatutnya bagi orang yang menjenguk orang sakit agar tidak mengucapkan suatu ucapan kecuali yang baik. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda: ” Barang siapa yang menjenguk orang yang sakit yang ajalnya belum hadir dan mengucapkan di sisinya sebanyak tujuh kali : “ . Nabi bersabda : “ Ucapkanlah : Wahai Allah ampunkanlah bagiku dan baginya. Maka Nabi berkata kepadanya : “ Mudah-mudah tidak apa-apa. mudah-mudahan dapat mensucikan insya Allah”. mudah-mudahan dapat mensucikan dari dosa insya Allah”.

apabila yang menjenguk adalah orang yang shalih “. Ruqyah Dengan Al-Mu’awwidzat. demi Allah tidaklah saya meruqyah kecuali dengan fatihatul kitab. sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melakukannya. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha. beliau berkata : ” Apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguk orang yang sakit beliau meletakkan tangannya di atas tempat yang terasa sakit kemudian mengucapkan : Bismillah“[38]. 12. Tentang hal ini ada kisah yang terjadi pada Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu bersama pemimpin satu kaum yang terkena sengatan berbisa. terlebih lagi apabila orang yang menjenguk termasuk orang yang bertakwa dan shaleh. Lalu Abu Sa’id radhiallahu ‘anhu meruqyahnya dengan fatihatul kitab. kemudian mengusapkan tangannya di atas wajah dan perut saya kemudian mengucapkan : Ya Allah sembuhkanlah Sa’ad…. kami akan bawakan diantara ruqyah tersebut apa yang dapat kami sebutkan berikut ini. Meletakkan Tangan Di Atas Tubuh Orang Yang Sakit : Disunnahkan bagi orang yang menjenguk agar meletakkan di atas jasad orang yang sakit dan mendoakannya. Di dalam hadits Sa’ad bin Abi Waqqash yang telah dikemukakan didepan : ” Kemudian Nabi meletakkan tangannya di atas keningnya. Dari Aisyah Ummul Mu’minin radhiallahu anha. Meruqyah Orang Yang Sakit : Disunnahkan bagi orang yang menjenguk untuk meruqyah (menjampi) orang yang sakit. sembuhkanlah engkaulah penyembuh tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dariMu.Saya memohon kepada Allah yang maha agung penguasa Arsy yang agung agar berkenan menyembuhkanmu. Ruqyah dengan Fatihatul Kitab. Dikarenakan ruqyah orang seperti ini lebih bermanfaat daripada orang yang selainnya. kesembuhan yang tidak menyisakan penyakit” . dan bagikan satu bagian untukku bersama kalian”[42]. namun beliau enggan untuk menerimanya dan berkata : “ Sampai saya sebutkan hal itu kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. diantaranya adalah : a. Mungkin saja seseorang merukyahnya dengan tangannya dan mengusap di atas tempat yang sakit dengan rukyah yang dapat memberi manfaat kepada orang yang sakit. dia berkata : ” Apabila salah seorang dari keluarga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit. Dan penyebutan tentang peletakan tangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia datang di beberapa hadits.. beliau berkata : “ Wahai rasulullah. dan terkadang meletakkan tangan ini ada pengaruh di dalam meringankan sakit atau menghilangkannya secara keseluruhan. beliau tersenyum dan berkata : “Bagaimana engkau bisa tahu bahwa surat itu adalah ruqyah?” kemudian beliau berkata : “Ambillah pemberian itu dari mereka.. Meruqyah dengan “hilangkanlah kesusahan. dan beliau membolehkan kepada sebagian sahabatnya atas ruqyah mereka.al-hadits”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah meruqyah sebagian orang yang sakit dari keluarganya dan dari selain keluarganya. beliau meniupkan[39] kepadanya dari al-mu’awwidzat[40]…. akan tetapi tidak mungkin untuk mengharuskan hal tersebut dikarenakan tidak adanya nash-nash yang khusus didalam masalah tersebut “. 13. Ibnul Baththal berkata : “ Meletakkan tangan di atas tubuh orang yang sakit adanya sikap menghibur baginya dan untuk mengetahui seberapa parah sakitnya agar seseorang mendoakan kesembuhan untuknya sesuai sakitnya yang nampak. kemudian Abu Sa’id diberi sepotong kambing. maka datanglah dia kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyebutkan hal itu kepada beliau. Saya katakan (Ibnu Hajar): “ Terkadang orang yang menjenguk mengetahui pengobatan dan mengetahui penyakit sehingga dia dapat menerangkannya pengobatan yang sesuai bagi orang yang sakit sesuai dengan penyakitnya itu[37]. Meneladani Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam .al-hadits“[41]. d. Niscaya Allah akan memberinya kesembuhan dari penyakit tersebut”[35]. c. sebab keshalehan mereka dan ketakwaannya. dia berkata : Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ” Apabila seseorang datang menjenguk orang yang sakit hendaknya dia mengucapkan : Ya Allah sembuhkanlah hambamu yang membunuh musuh untukMu dan senantiasa berjalan menuju shalat “ Dalam riwayat Abu Daud : ” atau yang berjalan kepadamu menuju jenazah yang akan dikubur“[36]. wahai rabb manusia. “Ya Allah Sembuhkanlah Hambamu Yang Membunuh Musuh UntukMu Dan Senantiasa Berjalan Menuju Shalat [dalam riwayat yang lain : Berjalan Menuju Jenazah Yang Hendak Dikubur]“ Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma. b.

ampunan dan kesehatan bagi orang yang sakit dengan ungkapan-ungkapan kosong. maka disunnahkan bagi orang yang menjenguknya untuk mengingatkan bagi orang yang sakit akan rahmat Allah luas dan agar jangan dia putus asa dari rahmat tersebut. engkaulah penyembuh tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan darimu. dari kejahatan jiwa atau mata yang hasad. dengan nama Allah saya meruqyahmu ” [44]. Para Ulama berpendapat : Makna berbaik sangka kepada Allah -Ta’ala. beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkannya dengan jarinya seperti ini. kemudian meletakkannya di atas tanah dan melekatkan sesuatu dengan jari tersebut dari tanah dan mengusap dengan tanah di atas tempat luka atau penyakit dan mengucapkan doa dalam keadaan mengusap wallahu a’lam [46]. rahmat. Ruqyah dengan bacaan “dengan nama Allah tanah negeri kami dengan ludah sebagian dari kami dapat menyembuhkan penyakit kami dengan izin rabb kami”. Amin. tanah negeri kami dengan ludah sebagian dari kami dapat menyembuhkan penyakit kami dengan izin Rabb kami”[45]. berdasarkan hadits Jabir radhiallahu ‘anhu dia berkata : “Saya mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiga hari sebelum kematiannya beliau berkata : ” Janganlah salah seorang dari kalian mati kecuali dia berbaik sangka kepada Allah Azza wa Jalla”[47]. Maka sangat mengherankan keadaan mereka yang menggantikan doa pensucian dosa. Dan juga disunnahkan baginya untuk menalqin (menuntun) untuk mengucapkan syahadat dengan lemah lembut. An-Nawawi berkata : “ Makna hadits ini: bahwa beliau mengambil dari ludahnya sendiri di atas jari telunjuknya. dan harapan-harapan yang tidak dapat mempercepat dan tidak pula mengakhirkan! Dan menggantikan ruqyah (jampi) yang syar’i dari ayat-ayat AlQur`an dan hadits-hadits Nabi dengan seikat bunga mawar yang mungkin dapat layu sehari atau dua hari setelahnya! Ya Allah tunjukkanlah kami jalanMu yang lurus bukan jalannya orang-orang yang dimurkai dan bukan pula orang-orang yang sesat. dan hal ini menurut mereka lebih utama apa diberikan kepada orang sakit.: Seseorang menyangka bahwa Allah akan merahmatinya dan memaafkannya. kesembuhan yang tidak menyisakan penyakit” adapun pada riwayat dari Muslim : ” Apabila beliau mendapati salah seorang dari kami mengeluh sakit beliau mengusapnya dengan tangan kanannya kemudian mengucapkan : ” Hilangkanlah kesusahan wahai Rabb manusia… al-hadits”[43]. e. dan para ulama telah sepakat akan disyariatkannya talqin ini dan mereka memakruhkan kalau terlalu sering dilakukan kepada orang yang sakit dan terus menerus agar jangan sampai berkeluh kesah dengan keadaannya yang tertekan dan . Sedangkan sebagian besar diantara kaum manusia mengetahui bahwa taqlid (ikut-ikutan) ini datangnya negeri orang-orang Nashara. Mentalqin (menuntun) Orang Yang Sakit Mengucapkan Syahadat Apabila Ajal Menjemputnya Dan Menutupkan Kedua Matanya Serta Mendoakan Kebaikan baginya Apabila Telah Mati : Ketika ajal orang yang sakit semakin dekat dan tanda-tanda kematian telah nampak atasnya. Sufyan meletakkan jari telunjuknya di atas tanah kemudian mengangkatnya : ” Dengan nama Allah. An-Nawawi yang mengucapkanya[48]. Jibril mengucapkan : “ Dengan nama Allah saya meruqyahmu dari segala sesuatu yang mengganggumu. 14. d. Allah yang menyembuhkanmu. dengan nama Allah saya meruqyahmu”. yang mana kita dilarang bertasyabbuh (menyerupakan diri) dengan mereka. dan bertasyabbuh kepada orang-orang Yahudi dan Nashara merupakan perkara yang diharamkan. beliau mengucapkan : “ Hilangkanlah kesusahan wahai Rabb manusia sembuhkanlah. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu dia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ” Talqinkanlah (tuntunkanlah) orang yang akan mati diantara kalian kalimat Laa ilaaha illallaah“[49]. ” Apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi orang yang sakit atau didatangkan kepadanya orang yang sakit. dari segala sesuatu yang mengganggumu. dari kejahatan setiap jiwa atau mata yang hasad. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha : ” Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengucapkan kepada orang yang sakit : Dengan nama Allah tanah negeri kami dengan ludah sebagian dari kami dapat menyembuhkan penyakit kami dengan izin Rabb kami” Lafazh dari riwayat Muslim : ” Apabila seseorang mengeluh ada sesuatu darinya ataukah ada bisul atau luka. An-Nawawi berkata : “ Perintah mentalqin (menuntun) ini adalah perintah yang bersifat sunnah. Allah yang menyembuhkanmu. Ruqyah dengan “dengan nama Allah saya meruqyahmu. Catatan penting : sebagian manusia ketika menziarahi orang yang sakit sangat bersemangat untuk menyertakan seikat bunga mawar yang dia berikan kepada orang yang sakit. dan sebagian lainnya menuliskan padanya ungkapan-ungkapan dan harapan-harapan kesembuhan yang segera dan yang semisal ini. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu : ” Bahwa Jibril datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata : wahai Muhammad apakah kamu mengeluh sakit? Beliau berkata : “ Iya “.Dari Aisyah radhiallahu ‘anha.

Al-Bukhari (5651). dan berikanlah baginya cahaya di dalamnya”[51]. Dan Ahmad (23839). dan gantikanlah pada anak keturunannya bersama orang-orang yang masih tersisa. Abu Daud (3098). berdasarkan hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha dia berkata : “ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk kepada Abu Salamah dan pandangannya telah menatap keatas. (Syarhus Sunnah 5/216). Ibnu Abdil Baar dengan sanadnya yang sampai kepada Jabir bin Abdullah radhiallahu anhuma. dan hadits ini termasuk diantara balaqhaatnya Imam Malik (bab mengunjungi orang sakit dan orang yang terkena musibah) Ibnu Abdil Baar berkata tentang hadits ini : “hadits ini hadits Madani yang shahih”. dan dikatakan : jallat fa hiya Jalilah (wanita itu besar maka dia adalah jalilah) dan tajallat fa hiya mutajallah (wanita itu telah dewasa maka dia adalah mutajallah). kemudian bersabda : ” Sesungguhnya ruh apabila telah digenggam pandangan mata akan mengikutinya”. [7] Kasyful Musykil Min Hadits As-Shahihain. no. Ahmad (21868) dan At-Tirmidzi (967). Ahmad (756). maka beliau memejamkannya. maka nabi memisalkan apa yang orang yang mengunjungi orang sakit dapatkan dari pahala dengan apa yang pohon kurma dapatkan dari hasil buahnya. [4] HR. Muslim (1616).beratnya penderitaannya sehingga dia membencinya di dalam hati dan mengucapkan ucapan yang tidak layak. dan Muslim meriwayatkan hadits ini juga (1376) tanpa menyebutkan kunjungan Aisyah radhiallahu anha kepada keduanya (Abu Bakar dan Bilal). dan kata ini adalah bentuk jamak dari mikhraf. dan di dalam hadits Ummu Shabiyyah : kami dahulu di dalam masjid adalah wanita-wanita yang tajaalalna yaitu telah dewasa. [8] HR. (At-Tamhid 6/254).kata tajaalat yaitu Asnat dan kaburat (telah dewasa). Muslim (2569) dan lafazh hadits ini miliknya. Al-Bukhari (5654) dan beliau memberikannya bab : bab kunjungan wanita kepada laki-laki yang sakit. Ibnu Majah (1442) dan hadits ini sesuai lafazh darinya. Ibnu Majah (2728) dan Ad-Darimi (733). maka bisa saja pingsannya Jabir bertepatan dengan kehadiran keduanya. [3] HR. Ahmad (13886). Dan Ibnul Munir berkata : di dalam hadits jabir tidak ada keterangan yang sharih (jelas) bahwa keduanya telah mengetahui Jabir pingsan sebelum dijenguk. Al-Asma'iy berkata : dia adalah kebun kurma. Malik di dalam Al-Muwaththa’ (531) dan Ibnu Abdil Bar berkata : tidak ada perselisihan atas Malik di dalam kitab Al-Muwaththa’ tentang dimursalkannya hadits ini………dan hadits ini adalah hadits yang musnad yang bersambung dan shahih dari selain hadits Malik. [10] HR. dinamakan demikian dikarenakan yang demikian itu selama terjadi musim rontok. dan Al-Albani berkata : “shahih” : (1191). An-Nasaa’i (138). Al-Bukhari di dalam Al-Adab Al-Mufrod (522). [13] HR. angkatlah derajatnya bersama orang-orang yang mendapat hidayah. [5] HR. Muslim (923) Ahmad (21269) An-Nasaa’I (1868) dan Abu Daud (3125). [namun Ibnu Hajar membantah hal tersebut dan mengatakan : ] saya . dan Malik (1648). Sesungguhnya malaikat mengaminkan atas apa yang kalian katakan” Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ” Ya Allah berilah ampunan kepada Abu Salamah. At-Tirmidzi (2098). yaitu : menutupi….Ibnu Al-Anbari berkata : yang dimaksudkan yaitu memetik buah-buahan kebun. Muslim (2578). jangan dipaksa untuk mengulanginya kecuali kalau dia mengucapkan perkataan yang lain setelahnya maka dia diminta untuk mengulanginya lagi agar syahadat tersebut menjadi akhir dari perkataannya[50]. [14] Fathul Baari : (10/119). diantara penggunaannya di dalam kalimat yaitu : pohon kurma merontokkan kurma-kurmanya. (AtTamhid 24/263). Dan hadits ini Al-Albani menshahihkannya di dalam shahih Al-Adab Al-Mufrad. (2/236) dengan perubahan seperlunya. (11/116) dan materi kata tersebut : ‫ج ل ل‬ [12] At-Tamhid (6/255). Abu Daud (2886). dan Ummu Ad-Darda’ mengunjungi seorang laki-laki yang sakit dari kalangan sahabat yang tinggal di masjid dari kalangan Al-Anshar. maka beliau bersabda : ” Janganlah kalian mendoakan kejelekan atas diri-diri kalian kecuali dengan doa yang baik. lapangkanlah baginya di dalam kuburnya. [9] HR. berikanlah ampunan kepada kami dan kepadanya wahai Rabb semesta alam. dan Ahmad (8989). Para ulama berpendapat : “ Apabila orang yang sakit telah mengucapkannya sekali. (710). [6]HR. Orang-orang dari keluarganya pun histeris. Al-Bukhari (5655). [1] Al-Baghawi berkata tentang penjelasan hadits ini : perkataan Nabi “di dalam khiraaful Jannah dan didiriwayatkan dalam riwayat lainnya (di dalam makhaariful jannah) dan [khurfatul Jannah). (At-Tamhid 24/273). [2] HR. Dan apabila orang yang sakit itu mati maka disunnahkan bagi orang yang menghadiri kematiannya untuk memejamkan kedua matanya dan mendoakan kebaikan untuknya. [11] Di dalam Al-Lisan : ….

dan sekedar mengetahui keadaan orang yang sakit dengan menjenguknya………. maka disebabkan adanya maknamakna yang bermanfaat ini yang telah kami sebutkan dan selain dari makna-makna tersebut maka kita mengetahui akan kekejian perkataan orang yang mengatakan : tidak ada faedah mengaharap-harap tetapnya orang yang mati kesadarannya dalam keadaan hidup dan bahwa kematian itu lebih baik untuknya. [15] Catatan : Di sebagian negeri arab timbul pemikiran untuk mematikan orang yang sakit yang mati akalnya. yang demikian itu dengan jalan memberikan suntikan yang mematikannya. Al-Bukhari (5667) dan selainnya. karena tetapnya dia di atas garis kehidupan dan dia dalam keadaan seperti itu. dan mereka berhujjah bahwa orang yang sakit ini menurut undang-undang kedokteran adalah mayat tidak ada kemungkinan untuk hidup. kesusahan. dan hanya masalah waktu saja. Wallahu a’lam. dan tidak pula kemurungan sekalipun duri yang menusuknya kecuali Allah akan menggugurkan dengannya dari kesalahan-kesalahannya” HR. gangguan. (10/118-119). dan tetapnya dia di atas garis kehidupan merupakan renungan akan kesalahan-kesalahan keluarganya yang menangung kesedihan dan kemalangan. kesedihan. Al-Bukhari (5642) dan selainnya. dan kami memberikan suntikan ini untuk menenangkannya dari sakit yang mungkin dia dapatkan ketika hidupnya. Dari Abu Hurairah dari nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallambeliau bersabda : “tidaklah seorang muslim yang tertimpa keletihan. Dalam hadits Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu dia berkata : Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda : “tidaklah ada dari seorang muslim yang menderita sakit maka tidaklah ada dari selain sakit itu kecuali Allah akan menggugurkan kesalahan-kesalahannya sebagaimana pohon menggugurkan daunnya” HR. Dan tetapnya dia di atas garis kehidupan memungkinkan dia mendapatkan doa yang baik.katakan : bahkan yang zhahir dari konteks yang ada terjadinya hal tersebut ketika datangnya keduanya dan sebelum masuknya keduanya kepadanya. ataukah dosa-dosanya diampuni berkat doa-doa kaum muslimin kepadanya.. dan Allah Azza wa Jalla mengabulkannya. tidak pula penyakit. Dan tetapnya dia di atas garis kehidupan akan memperbanyak pahala dengan menjenguk orang sakit dan menziarahinya.dst. maka dia pun sembuh dari sakitnya itu –dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu – . Dan tetapnya dia di atas garis kehidupan adanya kebaikan yang terus menerus dan tidak akan terputus lebih khusus lagi apabila yang sakit itu adalah seorang ayah atau seorang ibu. akan menjadikannya berfikir akan kesalahan-kesalahannya. dan mengangkat derajatnya apabila dia bagian dari ahlu iman dan ahlu ihsan. Maka dikatakan kepada mereka : kalian dengan cara seperti ini dan dengan metode seperti ini tidak meringankannya bahkan kalian menghalanginya dan menghalangi selainnya. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful