www.ahsanuqoulan.co.

cc
sebaik-baik perkataan adalah kalamullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk nabi muhammad Home Profil Makalah

Software Kisah .

Kesehatan Qoul Salaf Audio Video Tips .

.

sehingga rahmat dzat yang Maha penyayang dan Maha pengasih dapat diraih. anak cucu Adam berkata : wahai rabb bagaimana kami menjenguk engkau sedangkan engkaulah rabb semesta alam? Allah berfirman : tidakkah kamu tahu bahwa hambaku fulan sakit dan kamu tidak menjenguknya? Tidakkah kamu tahu kalau saja kamu mengunjunginya niscaya kamu akan mendapatiku berada di sisinya…. bahkan harus untuk bersegera kepadanya. Mengunjungi Anak Kecil yang Sakit. Keutamaan Menjenguk Orang Sakit. menjawab orang yang bersin.alhadits”[5]. cincin emas. al-qissi dan alistibraq. At Tirmidzi (2809). sebagaimana orang-orang dewasa. “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami dengan tujuh perkara dan melarang kami dari tujuh perkara: Beliau memerintahkan kami agar mengikuti iringan jenazah. mengambil nasehat dari musibah yang menimpanya sebagaimana Ibnul Jauzi katakan[7]. Anak kecil apabila sakit maka mereka juga dikunjungi. Dan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dia berkata : rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda : “sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berfirman di hari kiamat : wahai anak cucu Adam saya sakit dan kalian tidak menjengukku. dan perkara yang ke tujuh yang terlarang adalah : “al-mayaasir (judi)“ Al-Bukhari tidak menyebutkannya di dalam hadits ini namun Muslim yang menyebutkan lafazh tersebut. mengunjungi orang sakit. kain sutra. meringankan sakitnya. menjawab undangan. dan selalu berada di atas amalan tersebut. menjawab salam. dan apabila dia pergi menjenguk di waktu pagi niscaya tujuh puluh malaikat akan mendoakannya sampai dia mendapati sore hari dan apabila di waktu sore tujuh puluh malaikat akan mendoakannya sampai dia mendapati pagi”[6]. Banyak Atsar menyebutkan keutamaannya di sini kami menyebutkan diantaranya : hadits Tsauban radhiaallahu ‘anhu bekas budak rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam riwayatkan yang mana dia berkata : rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda : “barang siapa yang menjenguk orang sakit maka dia senantiasa berada di taman kurma di surga[1] sampai di kembali (ke rumah)”[2]. niscaya dia berjalan di kebun surga sampai dia duduk. dan apabila dia keluar dari orang yang sakit dia teus diliputi rahmat sampai dia kembali ke rumahya”[4]. kain yang bercampur dengan sutra. menolong orang yang dizhalimi. Muslim (2066) dan Ahmad (18034).” HR Al-Bukhari. 2. meruqyahnya dengan ruqyah syar’iyyah. Dan dari Ali radhiallahu ‘anhu dia berkata : saya mendengar rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda : “barang siapa yang mendatangi saudaranya yang muslim dalam rangka menjenguknya. dan akan mendapatkan pahala mengunjungi . Dari Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhu bahwasanya dia bersabda : saya mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda : ” Barang siapa yang mengunjungi orang sakit niscaya dia berada dalam naungan rahmat sampai apabila dia duduk tinggal padanya”[3] dan di dalam lafazh yang lain : ” Barang siapa yang mengunjungi orang sakit niscaya dia mendapatkan rahmat maka apabila dia duduk di sampingnya dia tetap berada di dalam rahmat. Dan setelah menyebutkan hadits-hadtis yang shahih dalam menjelaskan keutamaan mengunjungi orang yang sakit. Yang demikian itu dikarenakan adanya makna yang menyebabkan orang dewasa dikunjungi seperti adanya doa bagi yang sakit. dan di dalam mengunjungi orang sakit ada beberapa manfaat lainnya selain yang disebutkan tadi diantaranya : membersihkan hatinya (orang yang sakit). An-Nasaa’I (1939). dan apabila dia duduk niscaya rahmat Allah akan meliputinya. berbuat baik bagi orang yang bersumpah. dan beliau melarang kami memakai bejana yang terbuat dari perak. (1239). memeriksan kebutuhan-kebutuhannya.Adab Menjenguk Orang Sakit Leave a comment Go to comments Adab Menjenguk Orang Sakit Dari Al-Barra` bin ‘Azib radhiallahu ‘anhu ia berkata. Adab adab Menjenguk Orang Sakit 1. dan pahala bagi orang yang mengunjungi dapatkan dari kunjungainnya. maka tidak sepantasnya meremehkan hal tersebut.

maka nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallambangkit dan kami pun bangkit bersama beliau.[15]. maka Aisyah meminta izin kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamuntuk mengunjungi mereka. Dalam riwayat Ahmad : Urwah berkata : “ Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Al-Madinah para sahabat beliau mengeluh sakit demikian pula Abu Bakar. ini adalah pemahaman yang salah dan argumen yang tidak ada dalilnya. meniupkan bacaan kepadanya ketika memohonkan perlindungan dan yang selainnya[14]. dan masalah ini –menurut saya (penulis) agar wanita itu Mutajallah[11] . maka apabila syarat-syarat ini ada maka mengunjungi laki-laki yang sakit yang bukan mahram boleh bagi wanita dan demikian pula sebaliknya. maka hendaknya kamu mengharap pahala dan bersabar”. dan Allah tidak akan menyayangi dari para hambanya kecuali mereka yang penyayang”[8]. Dari Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhuma dia berkata : ” Sesungguhnya salah seorang anak perempuan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengutus seseorang kepada beliau –dan ketika itu perawi sedang bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . kecuali dia bertanya kepadanya dan tidak melihat kepadanya[12]. Ibnu Hajar berkata : “ Sekedar mengetahui keadaan orang yang sakit dengan menjenguknya tidak menjadikan pensyariatan menjenguknya terhenti.al-hadits”[10] Ibnu Abdil Bar berkata : “ Pada hadits ini menunjukkan pembolehan kunjungan wanita kepada laki-laki walaupun laki-laki tersebut bukan mahramnya.orang sakit bagi orang yang berkunjung. ketika beliau berada di tempat kejadian anak kecil itu diangkat ke pangkuan nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan nafasnya tersengal-senggal. tidak adanya khalwat (berdua-duaan). dan apabila bukan Mutajallah maka tidak boleh. dan mengharapkan berkah doa dari orang yang menjenguknya. dan Nabi mengizinkannya. maka saya berkata : “ Wahai Rasulullah. dari Aisyah radhiallahu ‘anha dari ayahnya. Karena di balik hal itu dapat membalut kekhawatiran keluarganya. adanya sitar (hijab). 3. Dari Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhuma dia berkata : ” Saya pernah sakit maka nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamdan Abu Bakar mendatangiku untuk menjengukku dengan berjalan kaki. Dan dari Ibnu Syihab dari Abu Umamah bin Sahl bin Hanif bahwasanya dia mengabarkan kepadanya : ” Bahwa ada seorang wanita yang miskin sedang sakit maka dia mengabarkan kepada Rasulullan Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang sakitnya wanita tersebut. akan tetapi hal itu disyaratkan apabila aman dari fitnah. maka Sa’ad berkata padanya : apa ini wahai rasulullah? Beliau berkata : ini adalah rahmat yang Allah berikan di hati-hati yang Allah kehendaki dari para hambanya. dengan alasan orang yang sakit ini tidak menyadari keberadaannya dan tidak merasakannya maka kalau begitu tidak perlu untuk menjenguknya. 5. Menjenguk Orang Musyrik Yang Sakit : Sebagian ulama berpendapat makruh menjenguk orang kafir dikarenakan di dalam perkara menjenguk mereka terkandung adanya pemuliaan[16]. maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu` dan memercikkan wudhu’nya kepadaku. dan Aisyah berkata kepada Abu Bakar : bagaimana keadaanmu? …. maka nabi mengutus utusan kepadanya dengan ucapan salam dan berkata : “sesungguhnya milik Allah apa yang dia ambil dan apa yang dia berikan dan setiap sesuatu telah ditetapkan ajalnya di sisiNya. apa yang seharusnya saya perbuat terhadap hartaku. atau mereka yang dalam kehilangan kesadaran dalam jangka waktu lama. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa mengunjungi orangorang miskin dan menanyakan tentang keadaan mereka…. bagaimana saya memutuskan warisan hartaku? Namun beliau tidak menjawabku dengan satu kata pun sampai ayat tentang warisan turun”[13]. dia berkata : ” Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah.. Kunjungan Wanita kepada Laki-laki Yang Sakit : Mengunjungi laki-laki yang sakit boleh bagi wanita walaupun mereka bukan mahram mereka. 4. Aisyah berkata : Maka saya pun masuk kepada mereka berdua dan saya berkata : Wahai ayahku bagaimana keadaanmu? Dan wahai Bilal bagaimana keadaanmu? …. aku pun sadar dan mendapati Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dekatku. Anas . Namun anak perempuan beliau kembali mengutus utusan dengan mengucapkan sumpah atas beliau. Mengunjungi Orang Sakit Yang Sedang Pingsan : Sebagian manusia menjauhkan diri untuk mengunjungi orang sakit yang tidak sadar akan kehadiran orangorang yang ada di sekitarnya. dan pendapat ini lebih sesuai dengan perbuatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sa’ad dan Ubai. Abu Bakar dan Bilal radhiallahu ‘anhuma menderita demam. mengusap badannya. ‘Amir bin Fuhairah maula Abu Bakar dan Bilal mengeluh sakit.yang mana kami mengira bahwa anak perempuan saya akan menjumpai ajalnya maka mari kita menyaksikannya bersama.al-hadits“. seperti orang yang dalam kondisi pingsan yang muncul berulang-ulang. maka mereka mendapatiku dalam keadaan pingsan. Sebagian ulama lainnya membolehkan menjenguk mereka apabila diharapkan masuk islam. kedua mata nabi berlinangkan air mata.al-hadits“[9]. meletakkan tangannya di atas orang yang sakit. dan dalil yang shahih justru menyelisihinya.

mereka mendatanginya bukan pada waktunya dan berlama-lama duduk di sisinya[21]. terkadang berziarah di malam hari merupakan waktu yang dipersilahkan akan tetapi terkadang dimakruhkan di waktu yang lain. Al-Atsram berkata : dikatakan kepada Abu Abdillah : seseorang sedang sakit dan ketika itu matahari sedang naik di waktu musim panas. Maka zaman perlu diperhatikan di dalam menjenguk orang sakit. Dan dari Sa’id bin Al-Musyyib dari ayahnya beliau berkata : ketika kematian menghadiri Abu Thalib Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallammendatanginya dan berkata : “katakanlah laa ilaaha illallaah satu kalimat yang dengannya aku akan membelamu di sisi Allah”[18].bin Malik radhiallahu ‘anhu telah meriwayatkan : ” Bahwa seorang budak milik orang Yahudi yang pernah membantu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatanginya dalam rangka menjenguknya. 8. maka waktu menjenguk yang telah dikenali oleh penduduk negeri ini dan yang telah menjadi kebiasaan mereka untuk menjenguk dan berziarah terkadang bukan waktu yang biasa dilakukan oleh sebagian penduduk negeri lainnya. 6. 6. maka beliau berkata : ini bukan waktu menjenguk[20]. maka selama demikian perkaranya dibolehkan menziarahi orang yang sakit pada waktu apapun di malam atau siang hari selama tidak adanya hal yang memberatkan mereka. Dimanakah Orang Yang Menjenguk Duduk? : Disunnahkan bagi orang yang menjenguk untuk duduk di samping kepala orang yang sakit. dan menyenangkan hatinya sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguk Sa’ad bin Mu’adz ketika terkena musibah di hari peperangan Khandak. Hal ini pernah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan dan orang-orang shalih setelah beliau. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mendirikan kemah bagi Sa’ad di dalam masjid agar dia dapat menjenguknya dari dekat[22]. karena orang yang sakit tersibukkan dengan rasa lapar dan sakitnya. Meringankan Orang Yang Sakit ketika Dikunjungi : Sepatutnya bagi orang yang menjenguk agar jangan berlama-lama duduk dan tinggal di sisi orang yang sakit. Di dalam hadits Anas radhiallahu ‘anhu dia berkata : ” Adalah seorang budak Yahudi yang sering membantu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . maka lebih utama bagi orang yang menjenguk untuk memenuhi keinginan orang yang sakit dikarenakan di dalam amalan tersebut terkandung sesuatu yang dapat memasukkan kebahagiaan bagi orang yang sakit. Dan ketika orang yang menjenguk berdiam lama di sisi orang yang sakit akan memberatkan bagi orang yang sakit bahkan terkadang menambah sakitnya. Beliau duduk di . beliau berkata : Masuklah kamu ke dalam islam. maka orang itu pun masuk islam”[17]. Dari Ibnu Thawus dari ayahnya dia berkata : “ Menjenguk orang sakit yang paling baik adalah yang paling ringan …“ Al-Auza’iy berkata : “ Saya pernah bepergian menuju Bashrah ingin menjumpai Muhammad bin Sirin. namun saya mendapatinya dalam keadaan sakit di perutnya. lantas dia jatuh sakit maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguknya. Waktu Menjenguk Orang Yang Sakit : Tidak didapati adanya nash-nash dari al-ma’shum Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan waktuwaktu tertentu untuk menjenguk orang yang sakit dan menziarahinya. maka kami pun masuk kepadanya untuk menjenguknya dalam keadaan berdiri … Asy-Sya’bi berkata : “ Kunjungan orang-orang desa yang pandir lebih memberatkan bagi orang yang sakit daripada sakit yang dideritanya. Dan demikian pula di waktu zhuhur karena kebiasaan yang berlaku manusia sedang tidur siang dan mereka tinggal untuk beristirahat. Akan tetapi sepatutnya untuk diketahui bahwa apabila orang yang sakit menyukai orang yang menjenguk tinggal lebih lama di sisinya dan terus menerus menziarahinya. kemudian beliau berkata kepada saya : di bulan Ramadhan orang sakit itu di jenguk di malam hari “[19]. oleh karena itu diantara perkara yang baik ketika menjenguk orang sakit adalah dengan meringankannya. Al-Marwadzi berkata : “ Saya bersama Abu Abdullah pernah menjenguk orang sakit di malam hari dan waktu itu di bulan Ramadhan. Maka sahabat mana yang tidak menyenangi keberadaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamdi sisinya dan berulang-ulang menziarahinya. Karena diantara makna yang terkandung dalam menjenguk orang yang sakit adalah untuk meringankan derita orang yang sakit dan untuk menyenangkan hatinya bukan untuk memberatkannya Waktu ziarahi itu bervariasi tergantung perbedaan zaman dan tempat.

mereka menangis.samping kepalanya dan berkata kepadanya : “ Masuklah ke dalam islam…. sementara Abu Bakar dan Bilal dalam keadaan sakit demam. dan dia duduk di sisi kepalanya. kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguknya bersama Abdurrahman bin ‘Auf dan Sa’ad bin Abi Waqqaash dan Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhum maka ketika beliau masuk kepada Sa’ad bin Ubadah beliau mendapatinya berada di dalam kerumunan keluarganya.. Dan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma. dan pengobatan ini sangat manjur dan sudah dikenal dikalangan manusia. Faedah : Keluhan orang yang sakit tidak lepas dari dua keadaan : Pertama : Keluhan tersebut dengan cara menampakkan kecemasan dan keputus asaan. Lalu beliau bertanya kepadanya kemudian mendoakan kesembuhan baginya…[25]. Menangis Ketika Sakit : Yaitu bagaimanakah hukumnya? Apakah hal tersebut disyariatkan ataukah terlarang? Yang nampak bagi kami berdasarkan perbuatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah boleh. lalu saya bertanya : “ Wahai ayahku bagaimana keadaanmu. saya pun menyentuh beliau dengan tangan saya dan berkata : “ Sesungguhnya engkau mengalami demam yang sangat. Nabi bersabda : “ Tidakkah kalian mendengar bahwa Allah tidak mengadzab hanya karena tetesan air mata dan tidak pula dengan kesedihan .” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : “ Bahkan saya yang mengaduhkan sakit kepalaku … al-hadits“[27]. dia berkata : ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Al-Madinah. dan hal ini tidak diragukan tentang bolehnya dan dalil menguatkan akan bolehnya hal tersebut. Dari Al-Qasim bin Muhammad dia berkata : “Aisyah berkata : “ Aduh kepalaku. 9. rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : “ Yang demikian itu kalau saja terjadi dan saya masih hidup niscaya saya akan memohonkan ampunan untukmu dan mendoakan kesembuhan untukmu. Ucapan semacam ini.alhadits[26]. Berkaitan dengan adab duduk orang yang menjenguk di samping kepala orang yang sakit ada beberapa faedah diantaranya : Bahwa pada hadits tersebut adanya anjuran untuk bersikap ramah kepada orang yang sakit. atau sesungguhnya penyakit ini bukan penyakit yang berbahaya niscaya Allah akan memberikan kesehatan kepadamu –insya Allah. Aisyah berkata : “ Demi Allah sungguh saya menyangka engkau menyukai kematianku. Dan yang demikian itu karena menganggap jauh dari ajal orang yang sakit. kamu akan sembuh dengan izin Allah). dan kalaulah hal itu terjadi mungkin engkau akan berada di akhir hari engkau dalam keadaan menjadi pengantin dengan sebagian istri-istri engkau. maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menangis. dan ini tidak diragukan adalah perkara yang makruh karena menunjukkan akan lemahnya iman dan tidak adanya keridhaan terhadap ketetapan Allah dan takdirnya. dia berkata : ” Apabila Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguk orang yang sakit beliau duduk di sisi kepalanya … al-hadits“[24] Dari Ar-Rabi’ bin Abdillah dia berkata : “ Saya pernah pergi bersama Al-Hasan menjumpai Qatadah untuk menziarahinya. Bertanya Orang Yang Sakit tentang keadaannya Dan Memberi semangat bagi orang yang sakit terseut : Termasuk perkara yang baik dalam menjenguk orang sakit adalah bertanya kepada orang yang sakit tentang keadaannya dan apa yang menimpanya sebagaimana yang ada di dalam hadits Aisyah radhiallahu anha. Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu dia berkata : “Ssaya pernah masuk kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau dalam keadaan sakit demam. Diantaranya juga orang yang menjenguk memungkinkan untuk meletakkan tangannya kepada orang yang sakit. dan wahai Bilal bagaimana keadaanmu…. maka Aisyah berkata : “ Maka saya pun masuk untuk melihat keadaan mereka berdua. dan perbuatan yang semisal dengan itu. Kedua : Dengan cara mengabarkan tentang keadaan tanpa adanya niatan untuk memohon kepada para makhluk atau ketergantungan kepada mereka. Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma meriwayatkan dia berkata : ” Sa’ad bin Ubadah menderita suatu penyakit. dan ketika kaum tersebut melihat tangisan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . selama tidak nampak padanya tanda-tanda dekatnya ajal. beliau berkata : “ Benar sebagaimana demamnya dua orang dari kalian”. mendoakan kesembuhan baginya dan meniupkannya kepadanya. beliau berkata : “ Apakah telah wafat?” Mereka berkata : “ Tidak wahai Rasulullah. Dan juga diantara perkara yang baik ketika menjenguk orang sakit adalah menghilangkan kesusahan di karenakan sakit seperti mengucapkan kepadanya : Laa ba’sa alaika satasyfi biidznillah (sakit ini tidaklah mengapa atas mu. banyak membantu cepatnya proses kesembuhan dari penyakit. tidak lah seorang muslim yang tertimpa musibah berupa sakit dan musibah lainnya kecuali Allah akan menggugurkan dosa-dosa kesalahannya sebagaimana pohon menggugurkan daunnya”[28] 10.al-hadits“[23]. Abdullah bin Mas’ud berkata : “Apakah anda akan mendapat dua pahala? “ Beliau berkata : “ Iya.

karena malaikat mengaminkan atas ucapannya itu. dan agar dibersihkan dari dosa-dosa serta keselamatan dan kesehatan. Ucapan beliau : “Mudah-mudahan tidak mengapa ” yaitu bahwa sakit itu dapat menggugurkan dosa kesalahan. disebabkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang ratapan. dan membuatnya diusung kekubur. “Ya Allah Sembuhkanlah …. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : “Alangkah baiknya jikalau begitu”[31]. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma : “bahwasanya nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallammasuk ke rumah salah seorang arab badui dalam rangka menjenguknya. “Mudah-mudahan tidak apa-apa. sebagaimana penjelasan Ibnu Hajar[32]. mudah-mudahan dapat mensucikan dari dosa insya Allah”. Ada beberapa faedah yang terkandung di dalam hadits ini yaitu bahwa seyogyanya bagi orang yang sakit agar menerima doa kebaikan orang lain untuknya. yang tidak berucap dari hawa nafsu hanyalah berupa wahyu yang diwahyukan kepadanya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan beberapa doa. karena doa-doa tersebut bersumber dari al-ma’shum yang telah diberi jawami al-kalim (kalimat yang ringkas lagi penuh hikmah). karena sesungguhnya malaikat mengaminkan atas apa yang kalian ucapkan “. Ibnul Jauzi berkata : “ Pada sabda beliau : “Ya Allah sembuhkanlah Sa’ad” merupakan dalil atas disunnahkannya mendoakan kesehatan/kesembuhan untuk orang yang sakit[34]. dan balaslah aku dari musibahku dengan balasan yang baik “. Hadits ini menunjukkan bolehnya menangis di sisi orang yang sakit. saya berkata : “ Wahai Rasulullah sesungguhnya Abu Salamah telah meninggal ”. Doa Apa Saja Yang Diucapkan Di Sisi Orang Yang Sakit : Sepatutnya bagi orang yang menjenguk orang sakit agar tidak mengucapkan suatu ucapan kecuali yang baik. Dan kalau saja tidak maka dia mendapat pahala pengguguran dosa.hati akan tetapi Allah mengadzab dikarenakan ini beliau mengisyaratkan kepada lisan atau Allah akan mengasihani. dan dalam hadits tersebut : ” Kemudian Nabi meletakkan tangannya di atas kening beliau kemudian mengusap tangannya di atas wajah dan perutku kemudian berkata : “ Ya Allah sembuhkanlah Sa’ad …” Dan dalam riwayat Muslim : ” Ya Allah sembuhkanlah Sa’ad Ya Allah sembuhkanlah Sa’ad sampai tiga kali”[33]. “Saya Memohon Kepada Allah Yang Maha Agung Penguasa Arsy Yang Agung Agar Berkenan Menyembuhkanmu” Sebanyak Tujuh Kali. b.Fulan” Sekali – Atau Tiga Kali. Yaitu sakit yang mensucikan bagimu dari dosa-dosamu yaitu sebagai pensuci. sesungguhnya mayyit diadzab dikarenakan tangisan keluarganya atas kematiannya”[29]. ketika Rasulullah menjenguknya ketika dia dalam keadaan sakit. Ummu Salamah berkata : “ Aku berkata : maka Allah membalasku dengan orang yang lebih baik bagiku daripada Abu Salamah yaitu Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam “[30]. diantara doa-doa beliau : a. mudah-mudahan dapat mensucikan insya Allah”. Nabi bersabda : “ Ucapkanlah : Wahai Allah ampunkanlah bagiku dan baginya. beliau berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ” Apabila kalian menghadiri orang yang sakit atau mayyit maka ucapkanlah ucapan yang baik. mudah-mudahan dapat mensucikan dari dosa insya Allah. sepatutnya bagi orang yang menjenguk untuk berdoa dengan doa tersebut. Hal itu telah dijelaskan di dalam hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha. Arab badui itu berkata : “ Engkau mengatakan dapat mensucikan? Sekali-kali tidak. Ibnu Abbas berkata : “ Apabila beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi rumah orang yang sakit untuk menjenguknya beliau berkata : ” Mudah-mudahan tidak apaapa. 11. Dan perkataan beliau : “Mudah-mudahan dapat mensucikan dosa” kedudukannya sebagai khabar dari mubtada’ mahdzuuf. Doa ini terdapat di dalam hadits Sa’ad bin Abi Waqqash. Disunnahkan bagi orang yang menjenguk agar mendoakan orang yang sakit dengan memohon rahmat dan ampunan. Maka Nabi berkata kepadanya : “ Mudah-mudah tidak apa-apa. Ummu Salamah berkata : “ Ketika Abu Salamah meninggal saya mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. maka apabila mendapat kesehatan maka seseorang telah mendapat dua faedah. c. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda: ” Barang siapa yang menjenguk orang yang sakit yang ajalnya belum hadir dan mengucapkan di sisinya sebanyak tujuh kali : “ . dan terlebih lagi di sisi mayyit akan tetapi tangisan yang tidak ada jeritan histeris. bahkan dia adalah demam yang ditakuti – atau yang bergejolak – atas orang tua renta . dan jangan sampai menggerutu dari doa kebaikan untuk mensucikan dari mereka untuknya dengan doa pensucian dari dosa-dosanya sebagaimana keadaan Arab badui tadi yang ada di dalam hadits.

beliau tersenyum dan berkata : “Bagaimana engkau bisa tahu bahwa surat itu adalah ruqyah?” kemudian beliau berkata : “Ambillah pemberian itu dari mereka. kesembuhan yang tidak menyisakan penyakit” . Niscaya Allah akan memberinya kesembuhan dari penyakit tersebut”[35]. Tentang hal ini ada kisah yang terjadi pada Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu bersama pemimpin satu kaum yang terkena sengatan berbisa.. wahai rabb manusia. sebab keshalehan mereka dan ketakwaannya. Dan penyebutan tentang peletakan tangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia datang di beberapa hadits. Ibnul Baththal berkata : “ Meletakkan tangan di atas tubuh orang yang sakit adanya sikap menghibur baginya dan untuk mengetahui seberapa parah sakitnya agar seseorang mendoakan kesembuhan untuknya sesuai sakitnya yang nampak. beliau berkata : “ Wahai rasulullah. kemudian Abu Sa’id diberi sepotong kambing. Dikarenakan ruqyah orang seperti ini lebih bermanfaat daripada orang yang selainnya. sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melakukannya. kemudian mengusapkan tangannya di atas wajah dan perut saya kemudian mengucapkan : Ya Allah sembuhkanlah Sa’ad…. dan bagikan satu bagian untukku bersama kalian”[42]. Meletakkan Tangan Di Atas Tubuh Orang Yang Sakit : Disunnahkan bagi orang yang menjenguk agar meletakkan di atas jasad orang yang sakit dan mendoakannya. apabila yang menjenguk adalah orang yang shalih “. b. sembuhkanlah engkaulah penyembuh tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dariMu. terlebih lagi apabila orang yang menjenguk termasuk orang yang bertakwa dan shaleh. Meruqyah Orang Yang Sakit : Disunnahkan bagi orang yang menjenguk untuk meruqyah (menjampi) orang yang sakit. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah meruqyah sebagian orang yang sakit dari keluarganya dan dari selain keluarganya. Ruqyah Dengan Al-Mu’awwidzat. beliau meniupkan[39] kepadanya dari al-mu’awwidzat[40]…. Meneladani Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Di dalam hadits Sa’ad bin Abi Waqqash yang telah dikemukakan didepan : ” Kemudian Nabi meletakkan tangannya di atas keningnya. 12. 13. dan terkadang meletakkan tangan ini ada pengaruh di dalam meringankan sakit atau menghilangkannya secara keseluruhan. Meruqyah dengan “hilangkanlah kesusahan. “Ya Allah Sembuhkanlah Hambamu Yang Membunuh Musuh UntukMu Dan Senantiasa Berjalan Menuju Shalat [dalam riwayat yang lain : Berjalan Menuju Jenazah Yang Hendak Dikubur]“ Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma. beliau berkata : ” Apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguk orang yang sakit beliau meletakkan tangannya di atas tempat yang terasa sakit kemudian mengucapkan : Bismillah“[38]. akan tetapi tidak mungkin untuk mengharuskan hal tersebut dikarenakan tidak adanya nash-nash yang khusus didalam masalah tersebut “. kami akan bawakan diantara ruqyah tersebut apa yang dapat kami sebutkan berikut ini. demi Allah tidaklah saya meruqyah kecuali dengan fatihatul kitab. Ruqyah dengan Fatihatul Kitab. dan beliau membolehkan kepada sebagian sahabatnya atas ruqyah mereka.. Saya katakan (Ibnu Hajar): “ Terkadang orang yang menjenguk mengetahui pengobatan dan mengetahui penyakit sehingga dia dapat menerangkannya pengobatan yang sesuai bagi orang yang sakit sesuai dengan penyakitnya itu[37]. dia berkata : ” Apabila salah seorang dari keluarga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit. Lalu Abu Sa’id radhiallahu ‘anhu meruqyahnya dengan fatihatul kitab. Dari Aisyah Ummul Mu’minin radhiallahu anha. d. c. dia berkata : Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ” Apabila seseorang datang menjenguk orang yang sakit hendaknya dia mengucapkan : Ya Allah sembuhkanlah hambamu yang membunuh musuh untukMu dan senantiasa berjalan menuju shalat “ Dalam riwayat Abu Daud : ” atau yang berjalan kepadamu menuju jenazah yang akan dikubur“[36].Saya memohon kepada Allah yang maha agung penguasa Arsy yang agung agar berkenan menyembuhkanmu. maka datanglah dia kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyebutkan hal itu kepada beliau.al-hadits“[41]. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha. namun beliau enggan untuk menerimanya dan berkata : “ Sampai saya sebutkan hal itu kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mungkin saja seseorang merukyahnya dengan tangannya dan mengusap di atas tempat yang sakit dengan rukyah yang dapat memberi manfaat kepada orang yang sakit.al-hadits”. diantaranya adalah : a.

dari kejahatan jiwa atau mata yang hasad.: Seseorang menyangka bahwa Allah akan merahmatinya dan memaafkannya. maka disunnahkan bagi orang yang menjenguknya untuk mengingatkan bagi orang yang sakit akan rahmat Allah luas dan agar jangan dia putus asa dari rahmat tersebut. dengan nama Allah saya meruqyahmu”. Sedangkan sebagian besar diantara kaum manusia mengetahui bahwa taqlid (ikut-ikutan) ini datangnya negeri orang-orang Nashara. An-Nawawi berkata : “ Makna hadits ini: bahwa beliau mengambil dari ludahnya sendiri di atas jari telunjuknya. berdasarkan hadits Jabir radhiallahu ‘anhu dia berkata : “Saya mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiga hari sebelum kematiannya beliau berkata : ” Janganlah salah seorang dari kalian mati kecuali dia berbaik sangka kepada Allah Azza wa Jalla”[47]. engkaulah penyembuh tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan darimu. Ruqyah dengan “dengan nama Allah saya meruqyahmu. Ruqyah dengan bacaan “dengan nama Allah tanah negeri kami dengan ludah sebagian dari kami dapat menyembuhkan penyakit kami dengan izin rabb kami”. ” Apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi orang yang sakit atau didatangkan kepadanya orang yang sakit. d. Para Ulama berpendapat : Makna berbaik sangka kepada Allah -Ta’ala. Amin. dari segala sesuatu yang mengganggumu. Allah yang menyembuhkanmu. Sufyan meletakkan jari telunjuknya di atas tanah kemudian mengangkatnya : ” Dengan nama Allah. dan sebagian lainnya menuliskan padanya ungkapan-ungkapan dan harapan-harapan kesembuhan yang segera dan yang semisal ini. beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkannya dengan jarinya seperti ini. dan bertasyabbuh kepada orang-orang Yahudi dan Nashara merupakan perkara yang diharamkan. Mentalqin (menuntun) Orang Yang Sakit Mengucapkan Syahadat Apabila Ajal Menjemputnya Dan Menutupkan Kedua Matanya Serta Mendoakan Kebaikan baginya Apabila Telah Mati : Ketika ajal orang yang sakit semakin dekat dan tanda-tanda kematian telah nampak atasnya. kemudian meletakkannya di atas tanah dan melekatkan sesuatu dengan jari tersebut dari tanah dan mengusap dengan tanah di atas tempat luka atau penyakit dan mengucapkan doa dalam keadaan mengusap wallahu a’lam [46]. Allah yang menyembuhkanmu. dan hal ini menurut mereka lebih utama apa diberikan kepada orang sakit. ampunan dan kesehatan bagi orang yang sakit dengan ungkapan-ungkapan kosong. An-Nawawi yang mengucapkanya[48]. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu : ” Bahwa Jibril datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata : wahai Muhammad apakah kamu mengeluh sakit? Beliau berkata : “ Iya “. e. kesembuhan yang tidak menyisakan penyakit” adapun pada riwayat dari Muslim : ” Apabila beliau mendapati salah seorang dari kami mengeluh sakit beliau mengusapnya dengan tangan kanannya kemudian mengucapkan : ” Hilangkanlah kesusahan wahai Rabb manusia… al-hadits”[43].Dari Aisyah radhiallahu ‘anha. Catatan penting : sebagian manusia ketika menziarahi orang yang sakit sangat bersemangat untuk menyertakan seikat bunga mawar yang dia berikan kepada orang yang sakit. rahmat. dari kejahatan setiap jiwa atau mata yang hasad. Jibril mengucapkan : “ Dengan nama Allah saya meruqyahmu dari segala sesuatu yang mengganggumu. dan harapan-harapan yang tidak dapat mempercepat dan tidak pula mengakhirkan! Dan menggantikan ruqyah (jampi) yang syar’i dari ayat-ayat AlQur`an dan hadits-hadits Nabi dengan seikat bunga mawar yang mungkin dapat layu sehari atau dua hari setelahnya! Ya Allah tunjukkanlah kami jalanMu yang lurus bukan jalannya orang-orang yang dimurkai dan bukan pula orang-orang yang sesat. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu dia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ” Talqinkanlah (tuntunkanlah) orang yang akan mati diantara kalian kalimat Laa ilaaha illallaah“[49]. dengan nama Allah saya meruqyahmu ” [44]. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha : ” Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengucapkan kepada orang yang sakit : Dengan nama Allah tanah negeri kami dengan ludah sebagian dari kami dapat menyembuhkan penyakit kami dengan izin Rabb kami” Lafazh dari riwayat Muslim : ” Apabila seseorang mengeluh ada sesuatu darinya ataukah ada bisul atau luka. Maka sangat mengherankan keadaan mereka yang menggantikan doa pensucian dosa. tanah negeri kami dengan ludah sebagian dari kami dapat menyembuhkan penyakit kami dengan izin Rabb kami”[45]. dan para ulama telah sepakat akan disyariatkannya talqin ini dan mereka memakruhkan kalau terlalu sering dilakukan kepada orang yang sakit dan terus menerus agar jangan sampai berkeluh kesah dengan keadaannya yang tertekan dan . yang mana kita dilarang bertasyabbuh (menyerupakan diri) dengan mereka. An-Nawawi berkata : “ Perintah mentalqin (menuntun) ini adalah perintah yang bersifat sunnah. beliau mengucapkan : “ Hilangkanlah kesusahan wahai Rabb manusia sembuhkanlah. 14. Dan juga disunnahkan baginya untuk menalqin (menuntun) untuk mengucapkan syahadat dengan lemah lembut.

maka bisa saja pingsannya Jabir bertepatan dengan kehadiran keduanya. dan kata ini adalah bentuk jamak dari mikhraf. [5] HR. maka nabi memisalkan apa yang orang yang mengunjungi orang sakit dapatkan dari pahala dengan apa yang pohon kurma dapatkan dari hasil buahnya. (2/236) dengan perubahan seperlunya. (At-Tamhid 24/273). Muslim (2578). Al-Bukhari (5651). dan Muslim meriwayatkan hadits ini juga (1376) tanpa menyebutkan kunjungan Aisyah radhiallahu anha kepada keduanya (Abu Bakar dan Bilal). no. Muslim (1616). Ibnu Abdil Baar dengan sanadnya yang sampai kepada Jabir bin Abdullah radhiallahu anhuma. Al-Bukhari (5654) dan beliau memberikannya bab : bab kunjungan wanita kepada laki-laki yang sakit. At-Tirmidzi (2098). Muslim (923) Ahmad (21269) An-Nasaa’I (1868) dan Abu Daud (3125). [9] HR. lapangkanlah baginya di dalam kuburnya. Dan Ibnul Munir berkata : di dalam hadits jabir tidak ada keterangan yang sharih (jelas) bahwa keduanya telah mengetahui Jabir pingsan sebelum dijenguk. [11] Di dalam Al-Lisan : …. An-Nasaa’i (138). berikanlah ampunan kepada kami dan kepadanya wahai Rabb semesta alam. Muslim (2569) dan lafazh hadits ini miliknya. [13] HR. dan Al-Albani berkata : “shahih” : (1191). (At-Tamhid 6/254). [10] HR. (AtTamhid 24/263). [3] HR. Sesungguhnya malaikat mengaminkan atas apa yang kalian katakan” Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ” Ya Allah berilah ampunan kepada Abu Salamah. maka beliau memejamkannya. Ahmad (756). Al-Asma'iy berkata : dia adalah kebun kurma. [1] Al-Baghawi berkata tentang penjelasan hadits ini : perkataan Nabi “di dalam khiraaful Jannah dan didiriwayatkan dalam riwayat lainnya (di dalam makhaariful jannah) dan [khurfatul Jannah). Orang-orang dari keluarganya pun histeris.kata tajaalat yaitu Asnat dan kaburat (telah dewasa). dan hadits ini termasuk diantara balaqhaatnya Imam Malik (bab mengunjungi orang sakit dan orang yang terkena musibah) Ibnu Abdil Baar berkata tentang hadits ini : “hadits ini hadits Madani yang shahih”. angkatlah derajatnya bersama orang-orang yang mendapat hidayah. [namun Ibnu Hajar membantah hal tersebut dan mengatakan : ] saya . dan dikatakan : jallat fa hiya Jalilah (wanita itu besar maka dia adalah jalilah) dan tajallat fa hiya mutajallah (wanita itu telah dewasa maka dia adalah mutajallah). maka beliau bersabda : ” Janganlah kalian mendoakan kejelekan atas diri-diri kalian kecuali dengan doa yang baik. dan gantikanlah pada anak keturunannya bersama orang-orang yang masih tersisa. Abu Daud (3098). Ibnu Majah (2728) dan Ad-Darimi (733). Ibnu Majah (1442) dan hadits ini sesuai lafazh darinya. Abu Daud (2886). Para ulama berpendapat : “ Apabila orang yang sakit telah mengucapkannya sekali. dan berikanlah baginya cahaya di dalamnya”[51]. diantara penggunaannya di dalam kalimat yaitu : pohon kurma merontokkan kurma-kurmanya.Ibnu Al-Anbari berkata : yang dimaksudkan yaitu memetik buah-buahan kebun. dan Ummu Ad-Darda’ mengunjungi seorang laki-laki yang sakit dari kalangan sahabat yang tinggal di masjid dari kalangan Al-Anshar. [4] HR. (11/116) dan materi kata tersebut : ‫ج ل ل‬ [12] At-Tamhid (6/255). dinamakan demikian dikarenakan yang demikian itu selama terjadi musim rontok. dan Ahmad (8989). Dan hadits ini Al-Albani menshahihkannya di dalam shahih Al-Adab Al-Mufrad. Malik di dalam Al-Muwaththa’ (531) dan Ibnu Abdil Bar berkata : tidak ada perselisihan atas Malik di dalam kitab Al-Muwaththa’ tentang dimursalkannya hadits ini………dan hadits ini adalah hadits yang musnad yang bersambung dan shahih dari selain hadits Malik. [7] Kasyful Musykil Min Hadits As-Shahihain. berdasarkan hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha dia berkata : “ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk kepada Abu Salamah dan pandangannya telah menatap keatas. yaitu : menutupi…. [8] HR. [2] HR. Ahmad (21868) dan At-Tirmidzi (967). Al-Bukhari di dalam Al-Adab Al-Mufrod (522). dan Malik (1648). jangan dipaksa untuk mengulanginya kecuali kalau dia mengucapkan perkataan yang lain setelahnya maka dia diminta untuk mengulanginya lagi agar syahadat tersebut menjadi akhir dari perkataannya[50]. (Syarhus Sunnah 5/216). dan di dalam hadits Ummu Shabiyyah : kami dahulu di dalam masjid adalah wanita-wanita yang tajaalalna yaitu telah dewasa. Ahmad (13886). Dan Ahmad (23839). Al-Bukhari (5655). [14] Fathul Baari : (10/119). (710). [6]HR. Dan apabila orang yang sakit itu mati maka disunnahkan bagi orang yang menghadiri kematiannya untuk memejamkan kedua matanya dan mendoakan kebaikan untuknya.beratnya penderitaannya sehingga dia membencinya di dalam hati dan mengucapkan ucapan yang tidak layak. kemudian bersabda : ” Sesungguhnya ruh apabila telah digenggam pandangan mata akan mengikutinya”.

Al-Bukhari (5667) dan selainnya. . dan mengangkat derajatnya apabila dia bagian dari ahlu iman dan ahlu ihsan. maka dia pun sembuh dari sakitnya itu –dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu – . Dan tetapnya dia di atas garis kehidupan memungkinkan dia mendapatkan doa yang baik. dan tetapnya dia di atas garis kehidupan merupakan renungan akan kesalahan-kesalahan keluarganya yang menangung kesedihan dan kemalangan. Wallahu a’lam. kesusahan. Maka dikatakan kepada mereka : kalian dengan cara seperti ini dan dengan metode seperti ini tidak meringankannya bahkan kalian menghalanginya dan menghalangi selainnya. Dari Abu Hurairah dari nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallambeliau bersabda : “tidaklah seorang muslim yang tertimpa keletihan. kesedihan. dan mereka berhujjah bahwa orang yang sakit ini menurut undang-undang kedokteran adalah mayat tidak ada kemungkinan untuk hidup. Al-Bukhari (5642) dan selainnya. ataukah dosa-dosanya diampuni berkat doa-doa kaum muslimin kepadanya. gangguan. dan kami memberikan suntikan ini untuk menenangkannya dari sakit yang mungkin dia dapatkan ketika hidupnya. (10/118-119). dan sekedar mengetahui keadaan orang yang sakit dengan menjenguknya………. maka disebabkan adanya maknamakna yang bermanfaat ini yang telah kami sebutkan dan selain dari makna-makna tersebut maka kita mengetahui akan kekejian perkataan orang yang mengatakan : tidak ada faedah mengaharap-harap tetapnya orang yang mati kesadarannya dalam keadaan hidup dan bahwa kematian itu lebih baik untuknya.. Dan tetapnya dia di atas garis kehidupan akan memperbanyak pahala dengan menjenguk orang sakit dan menziarahinya. Dan tetapnya dia di atas garis kehidupan adanya kebaikan yang terus menerus dan tidak akan terputus lebih khusus lagi apabila yang sakit itu adalah seorang ayah atau seorang ibu. tidak pula penyakit. [15] Catatan : Di sebagian negeri arab timbul pemikiran untuk mematikan orang yang sakit yang mati akalnya. dan tidak pula kemurungan sekalipun duri yang menusuknya kecuali Allah akan menggugurkan dengannya dari kesalahan-kesalahannya” HR.katakan : bahkan yang zhahir dari konteks yang ada terjadinya hal tersebut ketika datangnya keduanya dan sebelum masuknya keduanya kepadanya. akan menjadikannya berfikir akan kesalahan-kesalahannya.dst. dan hanya masalah waktu saja. yang demikian itu dengan jalan memberikan suntikan yang mematikannya. karena tetapnya dia di atas garis kehidupan dan dia dalam keadaan seperti itu. dan Allah Azza wa Jalla mengabulkannya. Dalam hadits Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu dia berkata : Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda : “tidaklah ada dari seorang muslim yang menderita sakit maka tidaklah ada dari selain sakit itu kecuali Allah akan menggugurkan kesalahan-kesalahannya sebagaimana pohon menggugurkan daunnya” HR.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful