Askep Efusi Pleura

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN EFUSI PLEURA 1. A. Definisi Efusi pleural adalah penumpukan cairan di dalam ruang pleural, proses penyakit primer jarang terjadi namun biasanya terjadi sekunder akibat penyakit lain. Efusi dapat berupa cairan jernih, yang mungkin merupakan transudat, eksudat, atau dapat berupa darah atau pus (Baughman C Diane, 2000) Efusi pleural adalah pengumpulan cairan dalam ruang pleura yang terletak diantara permukaan visceral dan parietal, proses penyakit primer jarang terjadi tetapi biasanya merupakan penyakit sekunder terhadap penyakit lain. Secara normal, ruang pleural mengandung sejumlah kecil cairan (5 sampai 15ml) berfungsi sebagai pelumas yang memungkinkan permukaan pleural bergerak tanpa adanya friksi (Smeltzer C Suzanne, 2002). Efusi pleura adalah istilah yang digunakan bagi penimbunan cairan dalam rongga pleura. (Price C Sylvia, 1995) B. Etiologi Hambatan resorbsi cairan dari rongga pleura, karena adanya bendungan seperti pada dekompensasi kordis, penyakit ginjal, tumor mediatinum, sindroma meig (tumor ovarium) dan sindroma vena kava superior. 2. Pembentukan cairan yang berlebihan, karena radang (tuberculosis, pneumonia, virus), bronkiektasis, abses amuba subfrenik yang menembus ke rongga pleura, karena tumor dimana masuk cairan berdarah dan karena trauma. Di Indonesia 80% karena tuberculosis. Kelebihan cairan rongga pleura dapat terkumpul pada proses penyakit neoplastik, tromboembolik, kardiovaskuler, dan infeksi. Ini disebabkan oleh sedikitnya satu dari empat mekanisme dasar : * * * * Peningkatan tekanan kapiler subpleural atau limfatik Penurunan tekanan osmotic koloid darah Peningkatan tekanan negative intrapleural Adanya inflamasi atau neoplastik pleura 1. 1.

1. C. Tanda dan Gejala * Adanya timbunan cairan mengakibatkan perasaan sakit karena pergesekan, setelah cairan cukup banyak rasa sakit hilang. Bila cairan banyak, penderita akan sesak napas. * Adanya gejala-gejala penyakit penyebab seperti demam, menggigil, dan nyeri dada pleuritis (pneumonia), panas tinggi (kokus), subfebril (tuberkulosisi), banyak keringat, batuk, banyak riak.

* Deviasi trachea menjauhi tempat yang sakit dapat terjadi jika terjadi penumpukan cairan pleural yang signifikan. * Pemeriksaan fisik dalam keadaan berbaring dan duduk akan berlainan, karena cairan akan berpindah tempat. Bagian yang sakit akan kurang bergerak dalam pernapasan, fremitus melemah (raba dan vocal), pada perkusi didapati daerah pekak, dalam keadaan duduk permukaan cairan membentuk garis melengkung (garis Ellis Damoiseu). * Didapati segitiga Garland, yaitu daerah yang pada perkusi redup timpani dibagian atas garis Ellis Domiseu. Segitiga Grocco-Rochfusz, yaitu daerah pekak karena cairan mendorong mediastinum kesisi lain, pada auskultasi daerah ini didapati vesikuler melemah dengan ronki. * Pada permulaan dan akhir penyakit terdengar krepitasi pleura.

1. D. Patofisiologi Didalam rongga pleura terdapat + 5ml cairan yang cukup untuk membasahi seluruh permukaan pleura parietalis dan pleura viseralis. Cairan ini dihasilkan oleh kapiler pleura parietalis karena adanya tekanan hodrostatik, tekanan koloid dan daya tarik elastis. Sebagian cairan ini diserap kembali oleh kapiler paru dan pleura viseralis, sebagian kecil lainnya (10-20%) mengalir kedalam pembuluh limfe sehingga pasase cairan disini mencapai 1 liter seharinya. Terkumpulnya cairan di rongga pleura disebut efusi pleura, ini terjadi bila keseimbangan antara produksi dan absorbsi terganggu misalnya pada hyperemia akibat inflamasi, perubahan tekanan osmotic (hipoalbuminemia), peningkatan tekanan vena (gagal jantung). Atas dasar kejadiannya efusi dapat dibedakan atas transudat dan eksudat pleura. Transudat misalnya terjadi pada gagal jantung karena bendungan vena disertai peningkatan tekanan hidrostatik, dan sirosis hepatic karena tekanan osmotic koloid yang menurun. Eksudat dapat disebabkan antara lain oleh keganasan dan infeksi. Cairan keluar langsung dari kapiler sehingga kaya akan protein dan berat jenisnya tinggi. Cairan ini juga mengandung banyak sel darah putih. Sebaliknya transudat kadar proteinnya rendah sekali atau nihil sehingga berat jenisnya rendah. 1. E. Pemeriksaan Diagnostik * Pemeriksaan radiologik (Rontgen dada), pada permulaan didapati menghilangnya sudut kostofrenik. Bila cairan lebih 300ml, akan tampak cairan dengan permukaan melengkung. Mungkin terdapat pergeseran di mediatinum. * Ultrasonografi

* Torakosentesis / pungsi pleura untuk mengetahui kejernihan, warna, biakan tampilan, sitologi, berat jenis. Pungsi pleura diantara linea aksilaris anterior dan posterior, pada sela iga ke-8. Didapati cairan yang mungkin serosa (serotorak), berdarah (hemotoraks), pus (piotoraks) atau kilus (kilotoraks). Bila cairan serosa mungkin berupa transudat (hasil bendungan) atau eksudat (hasil radang).

q Torasentesis dilakukan untuk membuang cairan. pewarnaan gram. q Agen yang secara kimiawi mengiritasi. pneumonia. protein). efusi dapat terjadi kembali dalam beberapa hari tatau minggu. dan terapi diuretic. pemeriksaan kimiawi (glukosa. amylase. laktat dehidrogenase (LDH). Indikasi A. Penatalaksanaan medis q Tujuan pengobatan adalah untuk menemukan penyebab dasar. seperti tetrasiklin dimasukkan kedalam ruang pleura untuk mengobliterasi ruang pleural dan mencegah akumulasi cairan lebih lanjut. analisis sitologi untuk sel-sel malignan. dan untuk menghilangkan ketidaknyamanan serta dispneu. G. dan kadang pneumothoraks. Empiema karena penyakit paru serius dan kondisi inflamasi 1. Tujuan Pemasangan Untuk mengeluarkan udara. pasca bedah toraks 1. cairan atau darah dari rongga pleura Untuk mengembalikan tekanan negative pada rongga pleura Untuk mengembangkan kembali paru yang kolap dan kolap sebagian * * * . dan pH. Efusi pleura 3. 1. luka tusuk tembus B. kelebihan anti koagulan. penipisan protein dan elektrolit. gagal jantung kongestif. bedah plerektomi. torasentesis berulang mengakibatkan nyeri. untuk mencegah penumpukan kembali cairan. Pengertian WSD adalah suatu unit yang bekerja sebagai drain untuk mengeluarkan udara dan cairan melalui selang dada. untuk mendapatkan specimen guna keperluan analisis dan untuk menghilangkan disneu. Water Seal Drainase (WSD) 2. Torakotomi 2. Dalam keadaan ini kadang diatasi dengan pemasangan selang dada dengan drainase yang dihubungkan ke system drainase waterseal atau pengisapan untuk mengevaluasiruang pleura dan pengembangan paru. * Biopsi pleura mungkin juga dilakukan 1. sirosis). q Pengobatan lainnya untuk efusi pleura malignan termasuk radiasi dinding dada. q Bila penyebab dasar malignansi.* Cairan pleural dianalisis dengan kultur bakteri. hitung sel darah merah dan putih. basil tahan asam (untuk TBC). Pengobatan spesifik ditujukan pada penyebab dasar (co. Hemothoraks karena robekan pleura. Pneumothoraks karena rupture bleb. 1.

Apikal Letak selang pada interkosta III mid klavikula Dimasukkan secara antero lateral Fungsi untuk mengeluarkan udara dari rongga pleura 1. botol penghisap control ditambahkan ke system dua botol.  System tiga botol Sistem tiga botol. System tiga botol ini paling aman untuk mengatur jumlah penghisapan. botol pertama mengumpulkan cairan/drainase dan botol kedua adalah botol water seal. Basal Letak selang pada interkostal V-VI atau interkostal VIII-IX mid aksiller Fungsi : untuk mengeluarkan cairan dari rongga pleura ü ü ü ü ü 1. DVJ 1. Makanan / cairan Adanya pemasangan IV vena sentral/ infus 1. 1. . Aktifitas/istirahat Gejala : dispneu dengan aktifitas ataupun istirahat 1.* Untuk mencegah reflux drainase kembali ke dalam rongga dada. disritmia. Pengkajian A. Jenis WSD  Sistem satu botol Sistem drainase ini paling sederhana dan sering digunakan pada pasien dengan simple pneumotoraks  Sistem dua botol Pada system ini. hipertensi/hipotensi. Tempat pemasangan A. Sirkulasi Tanda : Takikardi. irama jantung gallop. gelisah 1. H. nyeri/kenyamanan 1. Integritas ego Tanda : ketakutan.

bahu. Bunyi napas menurun dan fremitus menurun (pada sisi terlibat). nyeri/ansietas. Diagnosa Keperawatan Pola napas tidak efektif b. kemungkinan menyebar ke leher. gangguan pengembangan dada. gangguan musculoskeletal. Pernapasan Gejala : Kesulitan bernapas. sianosis. perubahan tanda vital) Auskultasi bunyi napas Catat pengembangan dada dan posisi trakea. kaji fremitus. sianosis. Batuk. perilaku distraksi 1. sianosis. Tujuan : pola nafas efektif Kriteria hasil : Menunjukkan pola napas normal/efektif dng GDA normal Bebas sianosis dan tanda gejala hipoksia 1.berkeringat. penggunaan otot aksesori pernapasan pada dada. Intervensi : * * * * * Identifikasi etiologi atau factor pencetus Evaluasi fungsi pernapasan (napas cepat. krepitasi subkutan I. Pertahankan posisi nyaman biasanya peninggian kepala tempat tidur . perubahan kedalaman pernapasan. Tanda : Takipnea. proses inflamasi. takipneu. penurunan pengembangan (area sakit).d penurunan ekspansi paru (akumulasi udara/cairan). penggunaan otot aksesori. Perkusi dada : hiperresonan diarea terisi udara dan bunyi pekak diarea terisi cairan Observasi dan palpasi dada : gerakan dada tidak sama (paradoksik) bila trauma atau kemps. GDA taknormal. riwayat bedah dada/trauma. abdomen Tanda : Berhati-hati pada area yang sakit. Kulit : pucat. Kemungkinan dibuktikan oleh : dispneu. retraksi interkostal.Gejala tergantung ukuran/area terlibat : Nyeri yang diperberat oleh napas dalam. 2.

batas cairan 2.* Bila selang dada dipasang : 1. Observasi gelembung udara botol penampung 3.d proses cidera. Awasi pasang surutnya air penampung 5. Nyeri dada b. Catat karakter/jumlah drainase selang dada. Berikan oksigen melalui kanul/masker * 1. periksa pengontrol penghisap. Resiko tinggi trauma/henti napas b.d factor-faktor biologis (trauma jaringan) dan factor-faktor fisik (pemasangan selang dada) Tujuan : Nyeri hilang atau berkurang Kriteria hasil : Pasien mengatakan nyeri berkurang atau dapat dikontrol Pasien tampak tenang Intervensi : * * * * * Kaji terhadap adanya nyeri. kurang pendidikan keamanan/pencegahan Tujuan : tidak terjadi trauma atau henti napas Kriteria hasil : Mengenal kebutuhan/mencari bantuan untuk mencegah komplikasi Memperbaiki/menghindari lingkungan dan bahaya fisik . Klem selang pada bagian bawah unit drainase bila terjadi kebocoran 4. system drainase dada. skala dan intensitas nyeri Ajarkan pada klien tentang manajemen nyeri dengan distraksi dan relaksasi Amankan selang dada untuk membatasi gerakan dan menghindari iritasi Kaji keefektifan tindakan penurunan rasa nyeri Berikan analgetik sesuai indikasi 1.

FKUI. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan aturan pengobatan Tujuan : Mengetahui tentang kondisinya dan aturan pengobatan Kriteria hasil : Menyatakan pemahaman tentang masalahnya Mengikuti program pengobatan dan menunjukkan perubahan pola hidup untuk mencegah terulangnya masalah Intervensi : * * * * * Kaji pemahaman klien tentang masalahnya Identifikasi kemungkinan kambuh/komplikasi jangka panjang Kaji ulang praktik kesehatan yang baik. Hudak. Baughman C Diane. nutrisi. 1.Carolyn M. Doenges E Mailyn. Ed3. 2. EGC. Kapita Selekta Kedokteran. Purnawan J. DAFTAR PUSTAKA 1. latihan Berikan informasi tentang apa yang ditanyakan klien Berikan reinforcement atas usaha yang telah dilakukan klien . Jakrta. catat kondisi kulit. 2000. catat gambaran keamanan Amankan unit drainase pada tempat tidur dengan area lalu lintas rendah Awasi sisi lubang pemasangan selang. Jakarta. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Jakarta.EGC.1982. Media Aesculapius. . EGC. 1999 3. Keperawatan medical bedah. istirahat. Vol.Intervensi : * * * * * Kaji dengan pasien tujuan/fungsi unit drainase. Keperawatan kritis : pendekatan holistic. dkk. Ed2. ganti ulang kasa penutup steril sesuai kebutuhan Anjurkan pasien menghindari berbaring/menarik selang Observasi tanda distress pernapasan bila kateter torak lepas/tercabut.1. 1997 4.

Kedua lapisan pleura ini bersatu pada hillus paru. Jakarta. EGC. berisikan lapisan cairan yang sangat tipis. 1998. Jakarta. Standar perawatan Pasien: proses keperawatan. 2002. Rongga pleura terletak antara paru dan dinding thoraks. Ed4. Price. EGC. Smeltzer c Suzanne. Wim de Jong. Vol. Rongga pleura dengan lapisan cairan yang tipis ini berfungsi sebagai pelumas antara kedua pleura. jumlah cairan dalam rongga pleura sekitar 10-200 ml. 1997. yaitu: tuberkulosis paru (merupakan penyebab yang palng sering di Indonesia). Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta. Efusi Pleura Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terdapatnya cairan pleura dalam jumlah yang berlebihan di dalam rongga pleura. diagnosis. Syamsuhidayat. Patofisiologi : Konsep klinis proses-pross penyakit. Buku Ajar Keperawatan medical Bedah. Cairan pleura komposisinya sama dengan cairan plasma. diafragma. Ed8. dan dalam keadaan normal. Ed5. Secara histologis kedua lapisan ini terdiri dari sel mesothelial. Brunner and Suddarth’s. ANATOMI PLEURA Pleura adalah membra tipis terdiri dari 2 lapisan yaitu pleura visceralis dan parietalis. diantaranya : . dan evaluasi.1. 1995. Membran serosa yang membungkus parekim paru disebut pleura viseralis. jaringaan ikat.5. penyakit penyakit sistemik dan keganasan baik pada pleura maupun diluar pleura. sedangkan membran serosa yang melapisi dinding thorak. terdapat perbedaan antara pleura viseralis dan parietalis. 7. kecuali pada cairan pleura mempunyai kadar protein lebih rendah yaitu < 1. Etiologi terjadinya efusi pleura bermacam-macam. Jakarta EGC. penyakit primer pada pleura. Dalam keadaan normal. Edisi Revisi. Dalam hal ini. 6. Susan Martin Tucker. dan mediastinum disebut pleura parietalis. 8. Sylvia A.5 gr/dl. yang disebabkan oleh ketidakseimbangan antara pembentukan dan pengeluaran cairan pleura. EGC.

Intercostalis dinding dada dan alirannya sesuai dengan dermatom dada Mudah menempel dan lepas dari dinding dada di atasnya Fungsinya untuk memproduksi cairan pleura PATOFISIOLOGI Dalam keadaan normal. selalu terjadi filtrasi cairan ke dalam rongga pleura melalui kapiler pada pleura parietalis tetapi cairan ini segera direabsorpsi oleh saluran limfe. Kemampuan untuk reabsorpsinya dapat meningkat sampai 20 kali.· Pleura visceralis : Permukaan luarnya terdiri dari selapis sel mesothelial yang tipis < 30mm. Diketahui bahwa cairan masuk kedalam rongga melalui pleura parietal dan selanjutnya keluar lagi dalam jumlah yang sama melalui membran pleura parietal melalui sistem limfatik dan vaskular. Akumulasi cairan pleura dapat terjadi bila: . pleura Jaringan lebih tebal terdiri dari sel-sel mesothelial dan jaringan ikat (kolagen dan elastis) Dalam jaringan ikat tersebut banyak mengandung kapiler dari a. Cairan kebanyakan diabsorpsi oleh sistem limfatik dan hanya sebagian kecil yang diabsorpsi oleh sistem kapiler pulmonal. Diantara celah-celah sel ini terdapat sel limfosit Di bawah sel-sel mesothelial ini terdapat endopleura yang berisi fibrosit dan histiosit Di bawahnya terdapat lapisan tengah berupa jaringan kolagen dan serat-serat elastik Lapisan terbawah terdapat jaringan interstitial subpleura yang banyak mengandung Menempel kuat pada jaringan paru Fungsinya. Intercostalis dan a. Apabila antara produk dan reabsorpsinya tidak seimbang (produksinya meningkat atau reabsorpsinya menurun) maka akan timbul efusi pleura. Pergerakan cairan dari pleura parietalis ke pleura visceralis dapat terjadi karena adanya perbedaan tekanan hidrostatik dan tekanan koloid osmotik. Mamaria pembuluh darah kapiler dari a. sehingga terjadi keseimbangan antara produksi dan reabsorpsi. Brakhialis serta pembuluh limfe · Pleura parietalis interna. tiap harinya diproduksi cairan kira-kira 16. Hal yang memudahkan penyerapan cairan pada pleura visceralis adalah terdapatnya banyak mikrovili di sekitar sel-sel mesothelial. pembuluh limfe.8 ml (pada orang dengan berat badan 70 kg). Keseluruhan berasal n. untuk mengabsorbsi cairan. Pulmonalis dan a. dan banyak reseptor saraf sensoris yang peka terhadap rasa sakit dan perbedaan temperatur.

Tekanan intra pleura yang sangat rendah seperti terdapat pada atelektasis. ETIOLOGI A. Protein cairan pleura / protein serum > 0. 2.016 Banyak (> 500 sel/mm2) PMN < 50% Negatif 60 mg/dl . Peningkatan dari tekanan vena sistemik akan menghambat pengosongan cairan limfe. Meningkatnya kadar protein dalam cairan pleura dapat menarik lebih banyak cairan masuk ke dalam rongga pleura 4. kita harus berupaya untuk menemukan penyebabnya. Efusi pleura eksudatif memenuhi paling tidak salah satu dari tiga kriteria berikut ini.1.5 g/dl EKSUDAT Jernih. keruh. gagal jantung kiri dan sindroma vena kava superior. pleura. Meningkatnya tekanan intravaskuler dari pleura meningkatkan pembentukan cairan pleura melalui pengaruh terhadap hukum Starling. Efusi pleura eksudatif terjadi jika faktor lokal yang mempengaruhi pembentukan dan penyerapan cairan pleura mengalami perubahan. baik karena obstruksi bronkus atau penebalan pleura visceralis 3. Tahap yang pertama adalah menentukan apakah pasien menderita efusi pleura jenis transudat atau eksudat. LDH cairan pleura / cairan serum > 0.Keadaan ni dapat terjadi pada gagal jantung kanan. Berdasarkan Jenis Cairan Kalau seorang pasien ditemukan menderita efusi pleura.6 3. Hipoproteinemia seperti pada penyakit hati dan ginjal bisa menyebabkan transudasi cairan dari kapiler pleura ke arah rongga pleura 5. PARAMETER Warna BJ Jumlah set Jenis set Rivalta Glukosa Protein Rasio protein TTRANSUDAT Jernih < 1. Efusi pleura tipe transudatif dibedakan dengan eksudatif melalui pengukuran kadar Laktat Dehidrogenase (LDH) dan protein di dalam cairan. Efusi pleura transudatif terjadi kalau faktor sistemik yang mempengaruhi pembentukan dan penyerapan cairan pleura mengalami perubahan.5 2. berdarah < 1. Ada banyak macam penyebab terjadinya pengumpulan cairan pleura. Obstruksi dari saluran limfe pada pleum parietalis. Saluran limfe bermuara pada vena untuk sistemik.016 Sedikit PMN < 50% Negatif 60 mg/dl (= GD plasma) < 2. sementara efusi pleura transudatif tidak memenuhi satu pun dari tiga kriteria ini : 1. LDH cairan pleura melebihi dua per tiga dari batas atas nilai LDH yang normal di dalam serum.

gaster. sakit perut. Kriptococcus. Bakteriodes. Staphylococcus aureus. dan nyeri dada pleuritik. Timbulnya cairan efusi disebabkan oleh rupturnya focus subpleural dari jaringan nekrosis perkijuan. 4. penurunan berat badan. Diagnosa dapat dilakukan dengan cara mendeteksi antibodi terhadap virus dalam cairan efusi.5 < 200 IU/dl < 0.5 < 200 IU/dl < 0. Pleuritis karena bakteri piogenik: permukaan pleura dapat ditempeli oleh bakteri yang berasal dari jaringan parenkim paru dan menjalar secara hematogen. demam. disebabkan oleh : 1. Pseudomonas. Patofisiologi terjadinya efusi ini diduga karena : Ø Infasi tumor ke pleura. sehingga tuberkuloprotein yang ada didalamnya masuk ke rongga pleura.6 (bervariasi) < 2. Aspergillus. Gejala penyakit dapat dengan keluhan sakit kepala. malaise. E. Ø Invasi tumor ke kelenjar limfe paru-paru dan jaringan limfe pleura. Pleuritis karena fungi penyebabnya: Aktinomikosis. Coli. ovarium. mammae. Pseudomonas. Efusi yang disebabkan oleh TBC biasanya unilateral pada hemithoraks kiri dan jarang yang masif. Penatalaksanaan dilakukan dengan pemberian antibotika ampicillin dan metronidazol serta mengalirkan cairan infus yang terinfeksi keluar dari rongga pleura. mialgia. gejala perikarditis. dapat juga secara hemaogen dan menimbulkan efusi pleura bilateral. dll.6 Efusi pleura berupa: a.5 g/dl < 0. 3. menyebabkan gangguan aliran balik sirkulasi. yang merangsang reaksi inflamasi dan terjadi kebocoran kapiler. menimbukan reaksi hipersensitivitas tipe lambat. Pleuritis karena virus dan mikoplasma : virus coxsackie. Chlamydia. Eksudat. dyspneu. Cairan pleura yang ditemukan berupa eksudat dan kadar glukosa dalam . Ø Obstruksi bronkus. kelenjar linife. Efusi pleura karena neoplasma misalnya pada tumor primer pada paru-paru. 2. Efusi pleura terjadi bilateral dengan ukuran jantung yang tidak membesar. Rickettsia. Efusi timbul karena reaksi hipersensitivitas lambat terhadap organisme fungi. Pada pasien pleuritis tuberculosis ditemukan gejala febris. Hemophillus. Cairan efusi biasanya eksudat dan berisi leukosit antara 100-6000/cc. menyebabkan peningkatan tekanan-tekanan negatif intra pleural. Pleuritis tuberkulosa merupakan komplikasi yang paling banyak terjadi melalui focus subpleural yang robek atau melalui aliran getah bening. dan lain-lain). Bakteri penyebab dapat merupakan bakteri aerob maupun anaerob (Streptococcus paeumonie.E/plasma LDH Rasio LDH TE/plasma < 0. sakit dada. sehingga menyebabkan transudasi. bronkhopulmonary. hillus atau mediastinum. 5. Fusobakterium.

Kadang-kadang torakosentesis diperlukan juga bila penderita amat sesak. Bila kelainan jantungnya teratasi dengan istirahat. Gangguan kardiovaskular Penyebab terbanyak adalah decompensatio cordis. efusi pleura juga segera menghilang. Meskipun pada beberapa kasus efusi parapneumonik ini dapat diresorpsis oleh antibiotik. Patogenesisnya adalah akibat terjadinya peningkatan tekanan vena sistemik dan tekanan kapiler dinding dada sehingga terjadi peningkatan filtrasi pada pleura parietalis. dan sindroma vena kava superior. Efusi parapneumoni adalah efusi pleura yang menyertai pneumonia bakteri.15 unit lebih rendah daripada nilai pH bakteri Penanganan keadaan ini tidak boleh terlambat karena efusi parapneumonik yang mengalir bebas dapat berkumpul hanya dalam waktu beberapa jam saja.00 dan 0. Sedangkan penyebab lainnya adalah perikarditis konstriktiva. Pleuritis Rheumatoid. 6. terdapat 4 indikasi untuk dilakukannya tube thoracostomy pada pasien dengan efusi parapneumonik: Ø Adanya pus yang terlihat secara makroskopik di dalam kavum pleura Ø Mikroorganisme terlihat dengan pewarnaan gram pada cairan pleura Ø Kadar glukosa cairan pleura kurang dari 50 mg/dl Ø Nilai pH cairan pleura dibawah 7. diuretik dll. digitalis. Di samping itu peningkatan tekanan kapiler pulmonal akan menurunkan kapasitas reabsorpsi pembuluh darah subpleura dan aliran getah bening juga akan menurun (terhalang) sehingga filtrasi cairan ke rongg pleura dan paru-paru meningkat. Terapi ditujukan pada payah jantungnya. Khas dari penyakit ini adalah dijumpai predominan sel-sel PMN dan pada beberapa penderita cairannya berwarna purulen (empiema). Penyakit AIDS.cairan pleura tersebut mungkin menurun jika beban tumor dalam cairan pleura cukup tinggi. pada sarkoma kapoksi yang diikuti oleh efusi parapneumonik. Tekanan hidrostatik yang meningkat pada seluruh rongga dada dapat juga menyebabkan efusi pleura yang bilateral. . namun drainage kadang diperlukan pada empiema dan efusi pleura yang terlokalisir. abses paru atau bronkiektasis. Menurut Light. Skleroderma 8. Transudat. Diagnosis dibuat melalui pemeriksaan sitologik cairan pleura dan tindakan blopsi pleura yang menggunakan jarum (needle biopsy). Tapi yang agak sulit menerangkan adalah kenapa efusi pleuranya lebih sering terjadi pada sisi kanan. 7. b. Efusi pleura karena penyakit kolagen: SLE. disebabkan oleh : 1.

atau torakotomi pipa dengan suntikan agen yang menyebakan skelorasis. Darah hemothorak yang baru diaspirasi tidak membeku beberapa menit. Berdasarkan Kuman Penyebab 1. Pertimbangan tindakan yang dapat dilakukan adalah pemasangan pintas peritoneum-venosa (peritoneal venous shunt. Pengobatan adalah dengan memberikan diuretik dan restriksi pemberian garam. Kadar Hb pada hemothoraks selalu lebih besar 25% kadar Hb dalam darah. Klinisnya merupakan penyakit kronis. Hal ini mungkin karena faktor koagulasi sudah terpakai sedangkan fibrinnya diambil oleh permukaan pleura. 5. Bila darah aspirasi segera membeku. tumor ovarium ganas yang berderajat rendah tanpa adanya metastasis. Efusi biasanya di sisi kanan dan biasanya cukup besar untuk menimbulkan dyspneu berat. tidak ada alternatif yang baik. B. Meig’s Syndrom Sindrom ini ditandai oleh ascites dan efusi pleura pada penderita-penderita dengan tumor ovarium jinak dan solid. Darah Adanya darah dalam cairan rongga pleura disebut hemothoraks. Efusi terjadi unilateral ataupun bilateral. Tumor lain yang dapat menimbulkan sindrom serupa : tumor ovarium kistik. c. Perpindahan cairan dialisat dari rongga peritoneal ke rongga pleura terjadi melalui celah diafragma. Dialisis Peritoneal Efusi dapat terjadi selama dan sesudah dialisis peritoneal. Hipoalbuminemia Efusi terjadi karena rendahnya tekanan osmotik protein cairan pleura dibandingkan dengan tekanan osmotik darah. 4.2. fibromyomatoma dari uterus. Apabila penatalaksanaan medis tidak dapat mengontrol asites dan efusi. torakotomi) dengan perbaikan terhadap kebocoran melalui bedah. Hal ini terbukti dengan samanya komposisi antara cairan pleura dengan cairan dialisat. Asites timbul karena sekresi cairan yang banyak oleh tumornya dimana efusi pleuranya terjadi karena cairan asites yang masuk ke pleura melalui porus di diafragma. Efusi yang terjadi kebanyakan bilateral dan cairan bersifat transudat. Tapi pengobatan yang terbaik adalah dengan memberikan infus albumin. maka biasanya darah tersebut berasal dari trauma dinding dada. Mycobacterium Tuberculosis . 3. Hidrothoraks hepatik Mekanisme yang utama adalah gerakan langsung cairan pleura melalui lubang kecil yang ada pada diafragma ke dalam rongga pleura.

berupa garis-garis fibrotik. b. Bila partikel infeksi terhisap oleh oang sehat. Kuman ini tahan terhadap asam dikarenakan kandungan asam lemak (lipid) di dindingnya. Kuman dapat masuk lewat luka pada kulit atau mukosa tapi hal ini sangat jarang terjadi. Patogenesis · Tuberkulosis Primer Penularan terjadi karena kuman dibatukkan atau dibersihkan keluar menjadi droplet nudei dalam udara bebas selama 1-2 jam. Kompleks primer ini selanjutnya dapat menjadi : 1) Sembuh sama sekali tanpa meninggalkan cacat 2) Sembuh dengan meninggalkan sedikit bekas. tergantung dari ada tidaknya sinar ultraviolet. Dari sarang primer akan timbul peradangan saluran getah bening menuju illus (limfangitis lokal). Dapat juga kuman tertelan bersama tertelan besama sputum dan ludah sehingga menyebar ke usus . ia tumbuh dan berkembang biak dalam sitoplasma makrofag. dan juga diikuti pembesaran kelenjar getah bening hillus (limfadenitis regional). Kuman ini dapat hidup pada udara kering maupun dingin. yakni menyebar ke sekitarnya Secara bronkogen pada paru ysng bersangkutan maupun paru yang di sebelahnya. Bakteri ini adalah sejenis kuman berbentuk batang dengan ukuran panjang 1-4 mm dan tebal 03-0.a. Sarang primer + limfangitis lokal + limfadenitis regional = kompleks primer. Sifat lain kuman ini adalah aerob. kalsifikasi di hillus atau kompleks (sarang) Ghon 3) Berkomplikasi dan menyebar secara: Per kontinuitatum. Kuman yang bersarang tadi akan membentuk sarang tuberkulosis pneumonia kecil dan disebut sarang primer atau afek primer. ia akan menempel pada jalan napas atau paru-paru. Makrofag yang semula memfagositasi malah kemudian disenanginya karena banyak mengandung lipid. Dalam hal ini tekanan oksigen pada bagian apikal paru-paru lebih tinggi daripada bagian lain. Dalam suasana lembab dan gelap. Bakteriologi Penyebabnya adalah Mycobacterium tuberculosis. Kuman yang menetap di jaringan paru.6 mm. Kuman ini hidup sebagai parasit intraseluter didalam sitoplasma makrofag. Di sini ia dapat terbawa ke organ tubuh lain. kuman dapat tahan berhari-hari sampai berbulan-bulan. Sifat ini menunjukan bahwa kuman lebih menyenangi jaringan yang tinggi kandungan oksigennya. sehingga bagian apikal ini merupakan predileksi penyakit tuberkulosis. Hal ini karena kuman berada dalam sifat dormant yang suatu saat kuman dapat bangkit kembali dan aktif kembali. ventilasi yang baik dan kelembaban.

Dalam 3-10 minggu sarang ini menjadi tuberkel yakni suatu granuloma yang terdiri dari sel-sel histiosit dan sel DatiaLanghans (sel besar dengan banyak inti) yang dikelilingi oleh sel-sel limfosit dan bermacammacam jaringan ikat.- Secara limfogen. menimbulkan perkapuran dan akan sembuh delam bentuk perkapuran. Kadang-kadang berakhir sebagai kavitas yang terbungkus. disebut open heated cavity. tapi segera menyembuh dan menimbulkan jaringan fibrosis. Bergantung dari imunitas penderita. 3) Sarang dini yang meluas dimana granuloma berkembang menghancurkan jaringan sekitarnya dan bagian tengahnya mengalami nekrosis. Dapat juga menyembuh dengan perjalanan seperti yang disebutkan terdahulu. ke organ tubuh lainnya Semua kejadian diatas tergolong ke dalam perjalanan tuberklosis primer. Invasinya adalah ke daerah parenkim paru-paru dan tidak ke nodus hiller paru. Tuberkuloma ini dapat Bersih dan menyembuh. Sarang ini selanjutnya mengikuti Memadat dan membungkus diri sehingga menjadi tuberkuloma. virulensi. sarang dapat menjadi : 1) Diresorpsi kembali dan sembuh tanpa meninggalkan jaringan parut 2) Sarang yang mula-mula meluas. efusi pleura diduga disebabkan oleh rupturnya fokus subpleural dari jarngan nerotik perkijuan sehingga tuberkuloprotein yang ada didalamnya masuk ke rongga . menciut dan berbentuk seperti bintang disebut stellate shaped. Pada penvakit TBC paru. Kavitas ini mula-mula berdinding tipis. sehingga menjadi kavitas sklerotik. ke organ tubuh lainnya Secara hematogen. dan menjadi lembek membentuk jaringan keju. Bila jaringan keju dibatukkan keluar akan terjadilah kavitas. jumlah kuman. lama-lama dindingnya menebal karena infiltrasi jaringan fibroblas dalam jumlah besar. Tuberkulosis Post-Primer ini dimulai dengan sarang dini yang berlokasi di regio atas paru-paru (bagian apikal posterior lobus superior atau inferior). Ada yang membungkus diri menjadi lebih keras. · Tuberkulosis Post-Primer Kuman yang dormant pada tuberkulosis primer akan muncul bertahun-tahun kemudian sebagai infeksi endogen menjadi tuberkulosis dewasa (Post-Primer). Kavitas dapat : Melus kembali dan menimbulkan sarang pneumonia baru. Sarang dini ini mula-mula juga berbentuk sarang pneumonia kecil. membungkus diri dan menjadi kecil. mengapur dan menyembuh atau dapat aktif kembali menjadi cair dan jadi kavitas lagi.

Interleukin-2 dan Interleukin reseptor pada cairan pleura. rnediastinal. Cara penyebaran lainnya diduga secara hematogen dan secara perkontinuitatum dari kelenjarkelenjar getah bening servikal. d. Bila tidak ada perubahan. berat badan turun. Efusi pleura yang disebabkan oleh TBC dapat juga berupa empyema. lakukan pemeriksaan foto rontgen dada. mengandung > 3 gr protein/ 100 ml. osteomielitis. bila cairan berupa darah. dan dari abses di vertebrae.pleura. diagnosis TBC. maka penderita didiagnosa sebagai penderita TBC Kalau hasil rontgen tidak mendukung TBC. Gejala-gejala Tuberculosis · Batuk berdahak 3 minggu atau lebih · Sering disertai darah. jarang yang masif. · Gejala umum: badan lemah. menimbulkan reaksi hipersensitif tipe lambat. berkeringat malam. Bila ketiga spesimen dahak hasilnya negatif. · Bisa muncul gejala TBC ekstra paru: pembesaran kelenjar. nyeri dada. maka pemeriksaan dahak SPS diulangi. didiagnosis sebagai penderita TBC BTA positif. meningitis. atau berupa chylothoraxs yaitu bila terdapat penekanan kelenjar atau tarikan fibrin pada duktus thoracicus. c. Bila hanya 1 spesimen yang positif perlu diadakan pemeriksaan lebih lanjut yaitu foto rontgen dada atau pemeriksaan dahak SPS diulang. Pada thoraxosentesis ditemukan cairan berwarna kuning jernih. Rontgen positif. Hal ini didukung dengan ditemukannya limfossit T. serosanguineous atau merah muda diagnosis TBC harus diragukan. untuk mendukung Bila hasil rontgen mendukung TBC. ulangi pemeriksaan dahak SPS. · · Kalau hasil rontgen mendukung TBC. didiagnosis sebagai penderita TBC BTA negatif. Efusi yang disebabkan oleh TBC biasanya unilateral pada hemithoraxs kiri. malaise. Diagnosis Tuberculosis pada orang dewasa Dapat ditegakkan dengan ditemukannya BTA pada pemeriksaan dahak secara mikroskopis. · · · Kalau hasil SPS positif. BTA positif. . yaitu buila terjadi infeksi sekunder karena adanya fitula bronchopulmonal. namun gejala klinis tetap mencurigakan TBC. Hasil pemeriksaan dinyatakan positif apabila sedikitnya dua dari tiga spesimen SPS BTA hasilnya positif. demam hilang timbul tidak terlalu tinggi. sesak nafas. nafsu makan turun. gibus. diberikan antibiotik spektrum luas (misalnya Kontrimoksazol atau Amoksisillin) selama 1-2 minggu. Kalau hasil SPS tetap negatif.

atelektase · Efusi. kuman akan berkembang menjadi resisten. sebaiknya pada saat perut kosong. Efusi pleura Tujuan Pengobatan kematian karena syok hipovolemik atau tersumbatnya jalan nafas. · Menyembuhkan penderita · Mencegah kematian · Mencegah kekambuhan · Menurunkan tingkat penularan h. kaviitas. · Dosis tahap intensif dan tahap lanjutan ditelan sebagau dosis tunggal. . Prinsip Pengobatan · Kombinasi beberapa jenis dalam jumlah cukup dan dosis tepat selama 6-8 bulan. pendorongan. dan ginjal. proses pemulihan atau reahtif) pada paru. f.· e. ronki kering · Penyempitan : wheezing. gibus. · · · · · · · g. bronkial · Dahak di saluran napas : ronki basah. meningitis dan lain-lain. Bila hasil rontgen tidak mendukung TBC. Insufislensi Kardiopulmoner (Cardiopulmonary Insuficiency). penarikan. supaya semua kuman dapat dibunuh. penderita tersebut bukan TBC. Komplikasi TBC Hemoptisis berat (perdarahan dari saluran nafas bawah) yang dapat menglakibatkan Kolaps dini lobus akibat retraksi broakial Bronkiektasis (pelebaran bronkus setempat) dan fibrosis (pembentukan jaringan ikat pada Pneumothorax (adanya udara didalam ronaga pleura) spontan kolaps spontan karena Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak. Apablia panduan obat ayang digunakan tidak adekuat (jenis. tulang. Pemeriksaan Fisik · Tanda-tanda infiltrat : redup. kerusakan jaringan paru. dosis dan jangka waktu pengobatan). osteomiditis. persendian. pnemotoraks dan schwarte · Tanda-tanda kelainan ekstra paru seperti scrofuloderma.

· Pengobatan dilakukan dengan pengawasan langsung untuk menjamin kepatuhan penderita menelan obat. yaitu : Obat yang diberikan setiap hari. Sebagian penderita dengan BTA (+) menjadi (-) pada akhir pengobatan tahap intensif · Lanjutan Jenis obat lebih sedikit namun dalam jangka waktu lebih lama. i. Dosis harian yang dianjurkan 25 mg/kgBB Dosis intermiten 3 kali seminggu = 30 mg/kgBB . Bila diberikan secara tepat biasanya penderita yang menular menjadi tidak menular dalam jangka waktu 2 minggu. Dosis harian maupun dosis intermitten 3 kali seminggu = 10 mg/kgBB · Pirazinamid (Z) Bakterisida. Dosis harian = 25 mg/kgBB. dosis intermitten 3 kali seminngu 35 mg/kgBB · Etambutol (E) Bakteriostatik. membunuh kuman semi dormant yang tidak dapat dibunuh oleh Isoniazid. · Jenis dan Dosis OAT Isoniazid/INH (H) Bakterisid. Efektif terhadap kuman dalam keadaan metabolik aktif. · Cara Pengobatan TBC Intensif Pengobatan diberikai dalam 2 tahap. j. Dosis harian = 5 mg/kgBB Dosis intermitten 3 kali seminggu 10 mg/kgBB · Rimfampisin (R) Bakterisida. membunuh kuman di dalam sel dengan suasana asam. (DOTS = Directly Observed Treatment Short Course) oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO).

· Streptomisin (S) Bakterisida. 1 bulan Isonlazid Rifampisin 1 x 450 mg setiap hari 3 x 500 mg setiap hari 3 x 250 mg setiap hari 0.5 mg/kgBB. k. dosisnya 0.75 gr setiap hari 1 x 300 mg setiap hari 1 x 450 mg setiap hari Pirazinamid Ethambutol Tahap lanjutan: 5 bulan: Isoniazid Rifampisin Ethambutol Diberikan untuk : · · Penderita kambuh Penderita gagal 3 x 250 mg 3 x seminggu 3 x 500 mg setiap hari 3 x 250 mg setiap hari 2 x 300 mg 3 x seminggu 1 x 300 mg setiap hari 1 x 450 mg 3 x seminggu . Panduan OAT di Indonesia Kategori I : 2R7H7E7Z7/4H3R3 Tahap Intensif : 2 bulan: Isomazid Rifampsin Pirazinamid Ethambutol Tahap lanjutan : 4 bulan: Isoniazid Rifampisin Diberikan untuk : · · · Penderita baru TBC paru BTA (+) Penderita TBC paru BTA (-) Rontgen (+) yang sakit berat Penderita TBC ekstra paru berat 1 x 450 mg. Penderita berumur > 60 tahun dosisnya 0. Penderita berumur sampai 60 tahun. Dosis harian ataupun dosis intermitten 3 kali seminggu = 15 mg/kgBB.3 x seminggu 1 x 300 mg setiap hari 1 x 450 mg setiap hari 3 x 500 mg setiap hari 3 x 250 mg setiap hari 2 x 300 mg 3 x seminggu Kategori II : 2R7117E7Z7S7/IR7H7E7Z7/5R3H3E3 Tahap intensif : 2 bulan: Isoniazid Rifampisin Pirazinamid Ethambutol Streptomisin Inj.75 mg/kgBB.

j. nitrofuratoin Dekompensasi jantung b. TBC tulang (kecuali tulang belakang). i. Amoeba Hydatul disease SLE Asbestosis Obat-obatan: Bromocriptine. Virus dan Mycoplasma pneumoni h. Non Myobacterium Tubercualaosis Bisa dikarenakan : a. berikan obat sisipan (RHEX) setiap hari selama 1 bulan. l. Idiopatik . 2. Bacteroides fragilis d. methysergide. sendi dan kelenjar adrenal. c. Neoplasma m. TBC 3 x 500 mg setiap hari 2 x 300 mg 3 x seminggu 1 x 450 mg 3 x seminggu 1 x 300 mg setiap hari 1 x 450 mg setiap hari Tahap lanjutan: 4 bulan: Isoniazid kulit. Clostridium perringens. Obat Sisipan (HRZE) Bila pada akhirnya tahap intensif pengobatan penderita baru BTA dengan kategori I atau BTA pengobatan ulang dengan kategori II. pleuritis exudativa unilateral. dan trolene sodium. f.· Penderita dengan pengobatan setelah lalai Kategori III: 2R7H7Z7/4R3H3 Tahap intensif: 2 bulan: Isoniazid Rifampisin Pirazinamid Rifampisin Diberikan untuk : · · BTA (-) dan Rontgen (+) sakit ringan Penderita TBC ekstra ringan. Aspergillus Parasit. yaitu TBC kelenjar limfe. Staphylococcus aureus. Haemophilus influenza Jamur : Histoplasma siscovidiodomycosis. e. Trauma n. g. Penyakit rheumatoid k. hasil dahak masih BTA (+).

Dinding dada lebih cembung dan gerakan tertinggal 2. Cairan pleuranya kebanyakan bersifat eksudatif dan berisi beberapa jenis sel. analisis cairan. Rasa berat pada dada 3. Keadaan ini dapat digolongkan dalam efusi pleura idiopatik. Batuk berdarah pada karsinoma bronchus atau metastasis 5. tapi diperkirakan karena adanya infeksi. Berat badan menurun pada neoplasma 4.Pada beberapa efusi pleura. dll). kontaminasi dengan asbestos. kadang-kadang masih belum bisa didapatkan diagnosis yang pasti. Hasil pemeriksaan dengan operasi pun kadang-kadang hanya menunjukkan pleura yang menebal karena pleuritis yang non spesifik. Penyebab efusi pleura ini banyak yang beluam jelas. Vokal fremitus menurun 3. Ascites pada sirosis hepatis Dari pemeriksaan fisik didapatkan (pada sisi yang sakit) 1. dernarn menggigil pada empilema 6. Pleura visceralis tidak sensitif. tapi bisa menjalar ke daerah lain : . biopsi pleura. Pada daerah-daerah dengan prevalensi tuberkulosis yang tinggi (negara-negara yang sedang barkembang). Sesak nafas 2. dll. walaupun telah dilakukan prosedur diagnostik secara berulang-ulang (pemeriksaan radiologis. Demam subfebris pada TBC. Nyeri biasanya dirasakan pada tempat-tempat terjadinya pleuritis. efusi pleura idiopatik ini kebanyakan dianggap sebagai pleuritis tuberkulosa. sedangkan pada negara-negara yang maju sering dianggap sebagai pleuritis karena penyakit kolagen atau neoplasma. Pendorongan mediastinum ke sisi yang sehat dapat dilihat atau diraba pada treakhea Nyeri dada pada pleuritis : Simptom yang dominan adalah sakit yang tiba-tiba seperti ditikam dan diperberat oleh bernafas dalam atau batuk. nyeri dihasilkan dari pleura parietalis yang inflamasi dan mendapat persarafan dari nervus intercostal. GEJALA EFUSI PLEURA Dan anamnesa didapatkan : 1. Perkusi dull sampal flat 4. Bunyi pernafasan menruun sampai menghilang 5. reaksi hipersensitivitas.

bleomisin. PENGOBATAN EFUSI PLEURA 1. infeksi. thiotepa. Pengobatan Kausal · Pleuritis TB diberi pengobatan anti TB. Tindakan dilakukan bila cairan amat banyak dan selalu terakumulasi kembali. 2. 3. Pleurodesis Tindakan melengketkan pleura visceralis dengan pleura parietalis dengan menggunakan zat kimia (tetrasiklin. talk) atau tindakan pembedahan. Indikasi WSD pada empyema : · Nanah sangat kental dan sukar diaspirasi · Nanah terus terbentuk setelah 2 minggu · Terjadinva piopneumothoraxs 4. parfum. Terapi lain yang lebih penting adalah mengeluarkan cairan efusi yang terinfeksi keluar dari rongga pleura dengan efektif. Water Sealed Drainage Penatalaksanaan dengan menggunakan WSD sering pada empyema dan efusi maligna. indikasinya : · Menghilangkan sesak yang ditimbulkan cairan · Bila terapi spesifik pada penyakit primer tidak efektif atau gagal · Bila terjadi reakumulasi cairan · Kerugiannya: hilangnya protein.1. ampisilin 4 x 1 gram dan metronidazol 3 x 500 mg. Iritasi dari diafragma pleura posterior dan perifer yang dipersarafi oleh G. · Pleuritis karena bakteri piogenik diberi kemoterapi sebelum kultur dan sensitivitas bakteri didapat. 2. Iritasi bagian central diafragma pleura yang dipersarafi nervus phrenicus menyebabkan nyeri menjalar ke daerah leher dan bahu. Nervuis intercostal terbawah bisa menyebabkan nyeri pada dada dan abdomen. . pneumothoraxs. PENCEGAHAN Lakukan pengobatan yang adekuat pada penyakit-penyakit dasarnya yang dapat menimbulkan efusi pleura. Thoraxosentesis. Merujuk penderita ke rumah sakit yang lebih lengkap bila diagnosa kausal belum dapat ditegakkan. Dengan pengobatan ini cairan efusi dapat diserap kembali untuk menghilangkan dengan cepat dilakukan thoraxosentesis. corynebacterium.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful