P. 1
PENILAIAN TINGKAT KESEHATAN BANK

PENILAIAN TINGKAT KESEHATAN BANK

|Views: 4,383|Likes:
Published by jurnalteknis
PENILAIAN TINGKAT KESEHATAN BANK DENGAN MENGGUNAKAN RASIO LIKUIDITAS, RENTABILITAS DAN SOLVABILITAS PADA PT BPR ARTOMORO SEMARANG PERIODE 2008-2010 Aris Sunindyo & Taufig Abdul Qohhar Jurusan Akuntansi Politeknik Negeri Semarang Abstract Title: Bank Rating Using the ratio of liquidity, profitability and solvency in the PT. BPR Arto Moro Semarang Period 2008-2010, aims to determine the health level of PT. BPR Arto Moro Semarang Period 2008-2010. Methods of data collection using two methods, namel
PENILAIAN TINGKAT KESEHATAN BANK DENGAN MENGGUNAKAN RASIO LIKUIDITAS, RENTABILITAS DAN SOLVABILITAS PADA PT BPR ARTOMORO SEMARANG PERIODE 2008-2010 Aris Sunindyo & Taufig Abdul Qohhar Jurusan Akuntansi Politeknik Negeri Semarang Abstract Title: Bank Rating Using the ratio of liquidity, profitability and solvency in the PT. BPR Arto Moro Semarang Period 2008-2010, aims to determine the health level of PT. BPR Arto Moro Semarang Period 2008-2010. Methods of data collection using two methods, namel

More info:

Published by: jurnalteknis on Mar 22, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/16/2014

pdf

text

original

PENILAIAN TINGKAT KESEHATAN BANK DENGAN MENGGUNAKAN RASIO LIKUIDITAS, RENTABILITAS DAN SOLVABILITAS PADA PT BPR ARTOMORO SEMARANG

PERIODE 2008-2010 Aris Sunindyo & Taufig Abdul Qohhar Jurusan Akuntansi Politeknik Negeri Semarang Abstract Title: Bank Rating Using the ratio of liquidity, profitability and solvency in the PT. BPR Arto Moro Semarang Period 2008-2010, aims to determine the health level of PT. BPR Arto Moro Semarang Period 2008-2010. Methods of data collection using two methods, namely, literature and documentation. The data used in the form of quarterly financial reports. Rating on the bank is using the ratio of liquidity, profitability and solvency. Liquidity ratios are calculated for CR and LDR, earnings are calculated and BOPO ROA, and Solvency of CAR is calculated. The final result of the credit value of PT. BPR Arto Moro Hyderabad in September 2008, at 50; December 2008 46.75; Marert 2009 47.95; June 2009 to December 2010 amounted to 50, so it can be concluded that the PT. BPR Arto Moro Semarang Period 2008-2010 have title of "Healthy". However, in June 2008 has the title of "Simply Healthy" because the credit value of 40. Keywords: Health Bank, Liquidity, Profitability, Solvency PENDAHULUAN Menurut Undang-Undang RI No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan, yang dimaksud perbankan adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang bank, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya. Perbankan memiliki peranan yang sangat penting dalam menunjang berjalannya roda perekonomian dan pembangunan nasional, mengingat fungsinya sebagai lembaga intermediasi, penyelenggara transaksi pembayaran, dan lain-lain. Menurut Undang-Undang RI No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan yang dimaksud dengan bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentukbentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Dalam Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan, menurut jenisnya bank terdiri dari Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Bank Perkreditan Rakyat (BPR) adalah bank yang melaksankan kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Keberadaan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) adalah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam bidang keuangan dengan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan. Demi menjaga perkembangan usahanya di dalam persaingan yang semakin ketat serta menanggapi akan kebutuhan masyarakat, maka pihak Bank Perkreditan Rakyat (BPR) berusaha mengelola dana agar beroperasi dengan baik. Perwujudan dari kesungguhan BPR dalam mengelola dana masyarakat adalah dengan menjaga kesehatan kinerjanya, karena kesehatan bank sangat penting bagi suatu lembaga keuangan. Dengan mengetahui tingkat kesehatan, para stakeholders dapat dengan mudah menilai kinerja lembaga tersebut. Apabila bank tersebut tidak dapat menjaga kesehatannya maka akan menyebabkan terjadinya rush (penarikan uang secara besar-besaran). Selain itu akan banyak terjadi kredit macet sehingga nasabah akan mengalami kerugian. Bank-bank besar pun akan terkena dampaknya dan terjadilah ketidak stabilan sistem perbankan. Sehingga masalah kesehatan bank merupakan masalah yang penting bagi perusahaan perbankan, baik itu Bank Umum maupun Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Iklim persaingan yang semakin kompetitif menuntut Bank Umum maupun Bank Perkreditan Rakyat (BPR) untuk semakin meningkatkan kinerjanya. Kesehatan bank adalah kemampuan suatu bank untuk melakukan kegiatan operasional perbankan secara normal dan mampu memenuhi semua kewajibannya dengan baik dengan cara-cara yang

78

sesuai dengan peraturan perbankan yang berlaku (Budi Santoso, 2006: 51). Dengan kata lain bank yang sehat adalah bank yang dapat menjaga dan memelihara kepercayaan masyarakat, menjalankan fungsi intermediasi, dapat membentuk kelancaran lalu lintas pembayaran serta dapat mendukung efektifitas kebijakan moneter. Menyadari arti pentingnya kesehatan suatu bank bagi pembentukan kepercayaan dalam dunia perbankan serta untuk melaksanakan prinsip kehati-hatian dalam dunia perbankan, maka Bank Indonesia selaku Bank Sentral mempunyai peranan yang penting dalam penyehatan perbankan, karena Bank Indonesia bertugas mengatur dan mengawasi jalannya kegiatan operasional bank. Untuk itu Bank Indonesia menetapkan suatu ketentuan yang harus dipenuhi dan dilaksanakan oleh lembaga perbankan. Kegiatan bank yang utama dalam penghimpunan dana yang berasal dari dana pihak ketiga yang sifatnya jangka pendek, sehingga sewaktu-waktu para deposan dapat mengambil dana yang ditanamkan di bank tersebut. Dana yang disediakan bank dalam menghadapi para deposan yang ingin mengambil dananya disebut alat likuid, sedangkan bank dalam menyediakan alat likuid untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya disebut likuiditas.. Dari kredit yang disalurkan oleh bank, akan muncul adanya bunga. Pendapatan bunga atas kredit yang diberikan akan memunculkan keuntungan (profit) bagi bank, semakin besar kredit yang diberikan maka keuntungan yang akan diterima oleh bank akan semakin tinggi, akan tetapi bank tersebut juga harus memperhatikan alat-alat likuid yang dimiliki. Kemampuan bank dalam menghasilkan keuntungan dengan dana yang tersedia inilah yang dinamakan dengan rentabilitas. Dari kegiatan yang dilakukan oleh bank akan muncul adanya hutang jangka pendek dan hutang jangka panjang, oleh karena itu bank tersebut harus dapat memenuhi kewajibannya itu, sedangkan kemampuan bank dalam memenuhi seluruh kewajibankewajibannya (hutang jangka pendek dan hutang jangka panjang) dinamakan solvabilitas. Peranan PT. BPR Artomoro ialah untuk memberikan kontribusi aktif bagi keberhasilan pelaksanaan pembangunan, khususnya dibidang penyediaan modal bagi masyarakat. Salah satu indikator yang digunakan untuk menilai keberhasilan atau kegagalan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dalam mencapai tujuan tersebut adalah laporan kinerja keuangan perusahaan yang telah dicapai. Penilaian atau analisa kinerja keuangan suatu Bank Perkreditan

Rakyat (BPR) sangat penting, begitu juga bagi semua jenis usaha yang bertujuan untuk mencapai laba. Sebagai perusahaan perbankan PT. BPR Artomoro harus memperhatikan masalah kesehatan bank. Sehingga terpelihara kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan dengan baik serta untuk peningkatan dan perkembangan PT. BPR Artomoro untuk masa yang akan datang. Ada beberapa faktor yang dapat menumbuhkan kepercayaan masyarakat pada bank yaitu, pelayanan bank yang baik, kondisi keuangan yang meliputi tingkat likuiditas, rentabilitas dan solvabilitas. METODOLOGI Variabel dan Pengukuran Variabel Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Cash Ratio (CR), Loan to Deposit Ratio (LDR), Return On Assets (ROA), Rasio Biaya Operasional Terhadap Pendapatan Operasional dan Capital Adequacy Ratio (CAR). Cash Ratio (CR) Cash Ratio adalah rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga yang dihimpun bank dan harus segera dibayar (Dendawijaya, 2003: 117). Yang dimaksud dengan alat likuid disini adalah kas, penanaman pada bank lain dalam bentuk giro dan tabungan yang sudah dikurangi dengan tabungan bank lain. Hutang lancar yang dimaksud adalah kewajiban segera yaitu tabungan dan deposito berjangka. Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam membayar kembali simpanan nasabah (deposan) pada saat ditarik dengan menggunakan alat likuid yang dimilikinya. Cash Ratio dapat dirumuskan sebagai berikut: ………………… (.1) Loan to Deposit Ratio (LDR) Loan to Deposit Ratio adalah rasio antara seluruh jumlah kredit yang diberikan bank dengan dana yang diterima oleh bank. Rasio ini menyatakan seberapa jauh kemampuan bank dalam membayar kembali penarikan dana yang dilakukan deposan dengan mengendalikan kredit yang diberikan sebagai sumber likuiditasnya (Dendawijaya, 2003: 118). Loan to Deposit Ratio dapat dirumuskan sebagai berikut: …(.2) Return On Assets (ROA) Return On Assets adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam

PENILAIAN TINGKAT KESEHATAN BANK DENGAN …………….(Aris Sunindyo & Taufiq Abdul Qohhar)

79

memperoleh keuntungan (laba) secara keseluruhan. Semakin besar Return On Assets suatu bank, semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai bank tersebut dan semakin baik pula posisi bank tersebut dari segi penggunaan asset (Dendawijaya, 2003: 120). …………(.3) Rasio Biaya Operasional Terhadap Pendapatan Operasional Rasio Biaya Operasional adalah perbandingan antara biaya operasional dengan pendapatan operasional. Rasio biaya operasional digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi dan kemampuan bank dalam melakukan kegiatan operasinya (Dendawijaya, 2003: 121). Rasio Biaya Operasional Terhadap Pendapatan Operasional dapat dirumuskan sebagai berikut: ……(.4) Capital Adequacy Ratio (CAR) Capital Adequacy Ratio adalah rasio kinerja bank untuk mengukur kecukupan modal yang dimiliki bank untuk menunjang aktiva yang mengandung atau menghasilkan risiko, misalnya kredit yang diberikan (Dendawijaya, 2003: 122). Rasio Capital Adequacy Ratio dapat dirumuskan sebagai berikut: (.5) Metode Analisis Data Data Kuantitatif Data kuantitatif adalah data yang sifatnya hanya menggolongkan saja, termasuk dalam klasifikasi data yang berskala ukur nominal dan ordinal (Endang, 2007: 46). Analisis kuantitatif yaitu suatu cara untuk menghitung yang digambarkan dengan angka dan jumlah tertentu atau dengan perhitungan angka yang diproses (Endang, 2007: 47). Dalam penelitian ini analisis ditekankan pada lima rasio dari tiga komponen, yaitu: a. Likuiditas

……………..….. (.6) Untuk rasio sebesar 0% nilai kredit 0, untuk setiap kenaikan 0,05% nilai kredit ditambah 1 dengan maksimal 100 Bobot untuk penilaian komponen ini adalah 5% dari keseluruhan penilaian faktor CAMEL. 2. Loan to Deposit Ratio (LDR) ….. (.7) Untuk rasio 115 atau lebih nilai kredit 0, untuk setiap penurunan 1% mulai dari 115% nilai kredit ditambah 4 dengan maksimal 100. Bobot untuk penilaian komponen ini adalah 5% dari keseluruhan penilaian faktor CAMEL. b. Rentabilitas

Penilaian terhadap faktor rentabilitas menggunakan dua rasio yang dapat ditampilkan dalam rumus sebagai berikut: 1. Return On Assets (ROA) ………… (.8) Untuk rasio 0% atau negatif nilai kredit 0, untuk setiap kenaikan 0,015% mulai dari 0% nilai kredit ditambah 1 dengan maksimal 100. Bobot untuk penilaian komponen ini adalah 5% dari keseluruhan penilaian faktor CAMEL. 2. Rasio Biaya Operasional Terhadap Pendapatan Operasional ……. (.9) Untuk rasio 100% atau lebih nilai kredit 0, untuk setiap penurunan 0,08% mulai dari 100% nilai kredit ditambah 1 dengan maksimal 100. Bobot untuk penilaian komponen ini adalah 5% dari keseluruhan penilaian faktor CAMEL. c. Solvabilitas

Penilaian terhadap faktor solvabilitas menggunakan satu rasio yang dapat ditampilkan dalam rumus sebagai berikut: 1. Capital Adequacy Ratio (CAR)

Penilaian terhadap faktor likuiditas menggunakan dua rasio yang dapat ditampilkan dalam rumus sebagai berikut: 1. Rasio alat likuid terhadap hutang lancar (Cash Ratio)

……………….. (.10) Untuk rasio 8% nilai kredit 81 dan untuk setiap kenaikan 0,1% mulai dari 8% mendapat tambahan 1 maksimal 100.

80

TEKNIS Vol. 6 No.2 Agustus 2011 : 78 - 84

Rasio < 8% - 7,9% nilai kredit 65 dan untuk setiap penurunan 0,1% mulai dari 7,9% nilai kredit dikurangi 1 minimal 0. Bobot untuk penilaian komponen ini adalah 30% dari keseluruhan penilaian faktor CAMEL. Hasil Penilaian Kuantitatif Tabel 1. Perhitungan Tingkat Kesehatan Bank Pada BPR Arto Moro Semarang Juni 2008
Komponen LIKUIDITAS 1. Cash Ratio 2. LDR RENTABILITAS 1. ROA 2. BOPO SOLVABILITAS 1. CAR Total Nilai Rasio NK NK max Bobot Nilai Akhir Indikator

Tabel 3. Perhitungan Tingkat Kesehatan Bank Pada BPR Arto Moro Semarang Desember 2008
Komponen LIKUIDITAS 1. Cash Ratio 2. LDR RENTABILITAS 1. ROA 2. BOPO SOLVABILITAS 1. CAR Total Nilai Rasio 17.73% 82.68% 0.66% 92.86% 44.30% NK 354.6 129.28 45 90 444 NK max 100 100 100 100 100 Bobot 5% 5% 5% 5% 30% Nilai Akhir 5 5 2.25 4.5 30 46.75 Indikator Sehat Sehat

Sehat Sehat Sehat

Sumber: Data yang diolah. Sehat : 40,5 - 50 Kurang Sehat : 25,5 -< 33, Cukup Sehat 33 - < 40,5 Tidak Sehat 0 - < 25,5 Berdasarkan SK DIR BI No 30/12/KEP/DIR tanggal 30 April 1997. Tentang tatacara Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) maka PT BPR Artomoro Semarang Periode Juni 2008 mempunyai predikat “ sehat”, yaitu sebesar 46,75, karena berada diantara 40.5 - 50 Tabel 4. Perhitungan Tingkat Kesehatan Bank Pada BPR Arto Moro Semarang Maret 2009
Komponen LIKUIDITAS 1. Cash Ratio 2. LDR RENTABILITAS 1. ROA 2. BOPO SOLVABILITAS 1. CAR Total Nilai 0.87% 83.07% 38.69% 58.93 211.63 387.9 100 100 100 5% 5% 30% 2.9465 5 30 47.9465 Rasio 26.90% 77.97% NK 538 148.12 NK max 100 100 Bobot 5% 5% Nilai Akhir 5 5 Indikator Sehat Sehat

91.37% 38.99% -0.35% 114.41% 92.37%

1827 304.04 0 0 924.7

100 100 100 100 100

5% 5% 5% 5% 30%

5 5 0 0 30 40

Sehat Sehat Tidak Sehat Tidak Sehat Sehat Cukup Sehat

Sumber: Data yang diolah. Sehat : 40,5 - 50 Kurang Sehat : 25,5 -< 33, Cukup Sehat 33 - < 40,5 Tidak Sehat 0 - < 25,5 Berdasarkan SK DIR BI No 30/12/KEP/DIR tanggal 30 April 1997. Tentang tatacara Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) maka PT BPR Artomoro Semarang Periode Juni 2008 mempunyai predikat “cukup sehat” karena berada diantara 33 -< 40,5 Tabel 2. Perhitungan Tingkat Kesehatan Bank Pada BPR Arto Moro Semarang September 2008
Komponen LIKUIDITAS 1. Cash Ratio 2. LDR RENTABILITAS 1. ROA 2. BOPO SOLVABILITAS 1. CAR Total Nilai Rasio 16.28% 84.23% 0.30% 94.97% 51.73% NK 325.6 123.08 20.8 63.88 518.3 NK max 100 100 100 100 100 Bobot 5% 5% 5% 5% 30% Nilai Akhir 5 5 5 5 30 50 Indikator Sehat Sehat Sehat Sehat Sehat Sehat

Sehat Sehat Sehat

Sumber: Data yang diolah. Sehat : 40,5 - 50 Kurang Sehat : 25,5 -< 33, Cukup Sehat 33 - < 40,5 Tidak Sehat 0 - < 25,5 Berdasarkan SK DIR BI No 30/12/KEP/DIR tanggal 30 April 1997. Tentang tatacara Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) maka PT BPR Artomoro Semarang Periode Juni 2008 mempunyai predikat “ sehat”,yaitu 47,9465, karena berada diantara 40,5 - 50 Tabel 5. Perhitungan Tingkat Kesehatan Bank Pada BPR Arto Moro Semarang Juni 2009
Komponen LIKUIDITAS 1. Cash Ratio 2. LDR RENTABILITAS 1. ROA 2. BOPO SOLVABILITAS 1. CAR Total Nilai 32.89% 329.9 100 30% 30 50 Sehat Sehat Rasio 19.27% 84.55% 1.83% 81.50% NK 385.4 121.8 122 231.25 NK max 100 100 100 100 Bobot 5% 5% 5% 5% Nilai Akhir 5 5 5 5 Indikator Sehat Sehat Sehat Sehat

Sumber: Data yang diolah. Sehat : 40,5 - 50 Kurang Sehat : 25,5 -< 33, Cukup Sehat 33 - < 40,5 Tidak Sehat 0 - < 25,5 Berdasarkan SK DIR BI No 30/12/KEP/DIR tanggal 30 April 1997. Tentang tatacara Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) maka PT BPR Artomoro Semarang Periode Juni 2008 mempunyai predikat “ sehat” yaitu sebesar 50 karena berada diantara 40,5 -< 50

Sumber: Data yang diolah.
PENILAIAN TINGKAT KESEHATAN BANK DENGAN …………….(Aris Sunindyo & Taufiq Abdul Qohhar)

81

Sehat : 40,5 - 50 Kurang Sehat : 25,5 -< 33, Cukup Sehat 33 - < 40,5 Tidak Sehat 0 - < 25,5 Berdasarkan SK DIR BI No 30/12/KEP/DIR tanggal 30 April 1997. Tentang tatacara Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) maka PT BPR Artomoro Semarang Periode Juni 2008 mempunyai predikat “sehat”,yaitu 50 karena berada diantara 40,5 - 50 Tabel 6. Perhitungan Tingkat Kesehatan Bank Pada BPR Arto Moro Semarang September 2009
Komponen LIKUIDITAS 1. Cash Ratio 2. LDR RENTABILITAS 1. ROA 2. BOPO SOLVABILITAS 1. CAR Total Nilai Rasio 16.75% 84.59% 2.96% 81.01% 32.54% NK 335 121.64 197.33 237.38 326.4 NK max 100 100 100 100 100 Bobot 5% 5% 5% 5% 30% Nilai Akhir 5 5 5 5 30 50 Indikator Sehat Sehat Sehat Sehat Sehat Sehat

Tabel 8. Perhitungan Tingkat Kesehatan Bank Pada BPR Arto Moro Semarang Maret 2010
Komponen LIKUIDITAS 1. Cash Ratio 2. LDR RENTABILITAS 1. ROA 2. BOPO SOLVABILITAS 1. CAR Total Nilai 17.84% 84.18% 1.64% 74.37% 28.78% 356.8 123.28 109.33 320.38 288.8 100 100 100 100 100 5% 5% 5% 5% 30% 5 5 5 5 30 50 Sehat Sehat Sehat Sehat Sehat Sehat Rasio NK NK max Bobot Nilai Akhir Indikator

Sumber: Data yang diolah. Sehat : 40,5 - 50 Kurang Sehat : 25,5 -< 33, Cukup Sehat 33 - < 40,5 Tidak Sehat 0 - < 25,5 Berdasarkan SK DIR BI No 30/12/KEP/DIR tanggal 30 April 1997. Tentang tatacara Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) maka PT BPR Artomoro Semarang Periode Juni 2008 mempunyai predikat “sehat”, yaitu 50 karena berada diantara 40,5 - 50 Tabel 9. Perhitungan Tingkat Kesehatan Bank Pada BPR Arto Moro Semarang Juni 2010
Komponen LIKUIDITAS 1. Cash Ratio 2. LDR RENTABILITAS 1. ROA 2. BOPO SOLVABILITAS Rasio 30.78% 78.76% 3.10% 72.43% NK 615.6 144.96 206.66 344.63 NK max 100 100 100 100 Bobot 5% 5% 5% 5% Nilai Akhir 5 5 5 5 Indikator Sehat Sehat Sehat Sehat

Sumber:

Data yang diolah.

Sehat : 40,5 - 50 Kurang Sehat : 25,5 -< 33, Cukup Sehat 33 - < 40,5 Tidak Sehat 0 - < 25,5 Berdasarkan SK DIR BI No 30/12/KEP/DIR tanggal 30 April 1997. Tentang tatacara Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) maka PT BPR Artomoro Semarang Periode Juni 2008 mempunyai predikat “ sehat” karena berada diantara 40,5 - 50 Tabel 7. Perhitungan Tingkat Kesehatan Bank Pada BPR Arto Moro Semarang Desember 2009
Komponen LIKUIDITAS 1. Cash Ratio 2. LDR RENTABILITAS 1. ROA 2. BOPO SOLVABILITAS 1. CAR Total Nilai Rasio 27.19% 78.11% 3.96% 80.21% 32.29% NK 543.8 147.56 264 247.38 323.9 NK max 100 100 100 100 100 Bobot 5% 5% 5% 5% 30% Nilai Akhir 5 5 5 5 30 50 Indikator Sehat Sehat Sehat Sehat Sehat Sehat

1. CAR Total Nilai

26.94%

270.4

100

30%

30 50

Sehat Sehat

Sumber: Data yang diolah Sehat : 40,5 - 50 Kurang Sehat : 25,5 -< 33, Cukup Sehat 33 - < 40,5 Tidak Sehat 0 - < 25,5 Berdasarkan SK DIR BI No 30/12/KEP/DIR tanggal 30 April 1997. Tentang tatacara Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) maka PT BPR Artomoro Semarang Periode Juni 2008 mempunyai predikat “ sehat” karena berada diantara 40,5 - 50 Tabel 10. Perhitungan Tingkat Kesehatan Bank Pada BPR Arto Moro Semarang September 2010
Komponen LIKUIDITAS 1. Cash Ratio 2. LDR RENTABILITAS 1. ROA 2. BOPO SOLVABILITAS 1. CAR Total Nilai Rasio 23.82% 85.84% 3.16% 80.19% 26.56% NK 476.4 116.64 210.66 247.63 266.6 NK max 100 100 100 100 100 Bobot 5% 5% 5% 5% 30% Nilai Akhir 5 5 5 5 30 50 Indikator Sehat Sehat Sehat Sehat Sehat Sehat

Sumber: Data yang diolah. Sehat : 40,5 - 50 Kurang Sehat : 25,5 -< 33, Cukup Sehat 33 - < 40,5 Tidak Sehat 0 - < 25,5 Berdasarkan SK DIR BI No 30/12/KEP/DIR tanggal 30 April 1997. Tentang tatacara Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) maka PT BPR Artomoro Semarang Periode Juni 2008 mempunyai predikat “ sehat” karena berada diantara 40,5 - 50

Sumber: Data yang diolah.

82

TEKNIS Vol. 6 No.2 Agustus 2011 : 78 - 84

Sehat : 40,5 - 50 Kurang Sehat : 25,5 -< 33, Cukup Sehat 33 - < 40,5 Tidak Sehat 0 - < 25,5 Berdasarkan SK DIR BI No 30/12/KEP/DIR tanggal 30 April 1997. Tentang tatacara Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) maka PT BPR Artomoro Semarang Periode Juni 2008 mempunyai predikat “sehat” karena berada diantara 40,5 - 50 Tabel 11. Perhitungan Tingkat Kesehatan Bank Pada BPR Arto Moro Semarang Desember 2010
Komponen LIKUIDITAS 1. Cash Ratio Rasio 23.85% NK 477 121.36 261.33 263 263.9 NK max 100 100 100 100 100 Bobot 5% 5% 5% 5% 30% Nilai Akhir 5 5 5 5 30 50 Indikator Sehat Sehat Sehat Sehat Sehat Sehat

Periode 2008-2010 sebagai berikut: 1. Likuiditas

dapat

diambil

kesimpulan

2. LDR 84.66% RENTABILITAS 1. ROA 2. BOPO 3.92% 78.96%

SOLVABILITAS 1. CAR 26.29% Total Nilai

Sumber: Data yang diolah. Sehat : 40,5 - 50 Kurang Sehat : 25,5 -< 33, Cukup Sehat 33 - < 40,5 Tidak Sehat 0 - < 25,5 Berdasarkan SK DIR BI No 30/12/KEP/DIR tanggal 30 April 1997. Tentang tatacara Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) maka PT BPR Artomoro Semarang Periode Juni 2008 mempunyai predikat “ sehat” yaitu 50, karena berada diantara 40,5 - 50 Pada hasil penilaiankuantitatif dapat dilihat bahwa penilaian tingkat kesehatan bank pada PT. BPR Arto Moro Semarang pada Juni 2008 memiliki bobot nilai sebesar 40 yang berarti cukup sehat. Hal ini berarti kinerja pada PT. BPR Arto Moro Semarang sudah cukup baik dan kegiatan yang dilakukan telah sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan. Tingkat kesehatan bank pada PT. BPR Arto Moro Semarang periode September 2008-Desember 2010 memiliki bobot diatas 40,5 yaitu 50; 46,75; 47,9465; 50; 50; 50; 50; 50; 50 yang berarti dalambahwa kinerja pada PT. BPR Arto Moro Semarang sehat, hal ini berarti kinerja pada PT. BPR Arto Moro Semarang sudah baik dan kegiatan yang dilakukan telah sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan. KESIMPULAN Berdasarkan hasil pembahasan pada bab sebelumnya tentang Penilaian Tingkat Kesehatan Bank dengan menggunakan rasio likuiditas, rentabilitas dan solvabilitas pada PT. BPR ArtoMoro Semarang

a. Perhitungan rasio CR Pada PT. BPR ArtoMoro Semarang dalam keadaan sehat, walaupun selalu mengalami perubahan , yaitu bulan Juni 2008 sebesar 91,37%; September 2008 sebesar 16,28%; Desember 2008 sebesar 17,73%; Maret 2009 sebesar 26,90%; Juni 2009 sebesar 19,27%; September 2009 sebesar 16,75%; Desember 2009 sebesar 27,19%; Maret 2010 sebesar 17,84%; Juni 2010 sebesar 30,78%; September 2010 sebesar 23,82% dan Desember 2010 sebesar 23,85%. b. Perhitungan rasio LDR Pada PT. BPR ArtoMoro Semarang dalam keadaan sehat, akan tetapi mengalami kenaikan dan penurunan , yaitu bulan Juni 2008 sebesar 38,99%; September 2008 sebesar 84,23%; Desember 2008 sebesar 82,68%; Maret 2009 sebesar 77,97%; Juni 2009 sebesar 84,55%; September 2009 sebesar 84,59%; Desember 2009 sebesar 78,11%; Maret 2010 sebesar 84,18%; Juni 2010 sebesar 78,76%; September 2010 sebesar 85,84% dan Desember 2010 sebesar 84,66%. 2 Rentabilitas a. Perhitungan rasio ROA pada PT. BPR ArtoMoro Semarang untuk bulan Juni 2008, September 2008 dan Desember 2008 mempunyai predikat “Tidak Sehat” karena rasionya sebesar -0,35%; 0,297%; dan 0,66%. Sedangkan pada bulan Maret 2009 mempunyai predikat “Kurang Sehat” karena memiliki rasio sebesar 0,869%. Sedangkan pada periode selanjutnya dalam keadaan “Sehat”, yaitu Bulan Juni 2009 sebesar 1,83%; September 2009 sebesar 2,96%; Desember 2009 sebesar 3,96%; Maret 2010 sebesar 1,64%; Juni 2010 sebesar 3,10%; September 2010 sebesar 3,16% dan Desember 2010 sebesar 3,92%. b. Perhitungan rasio BOPO pada PT. BPR ArtoMoro Semarang untuk bulan Juni 2008 mempunyai predikat “Tidak Sehat”, karena rasionya sebesar 114,41%. Pada bulan September 2008 mempunyai predikat “Kurang Sehat” karena rasionya sebesar 94,97%, sedangkan pada periode berikutnya mempunyai predikat “Sehat” yaitu bulan Desember 2008 sebesar 9,86%; Maret 2009 sebesar 83,07%; Juni 2009 sebesar 81,50%; September 2009 sebesar 81,01%; Desember 2009 sebesar 80,21%;

PENILAIAN TINGKAT KESEHATAN BANK DENGAN …………….(Aris Sunindyo & Taufiq Abdul Qohhar)

83

Maret 2010 sebesar 74,37%; Juni 2010 sebesar 72,43%; September 2010 sebesar 80,19% dan Desember 2010 sebesar 78,96%. 3. Permodalan Permodalan Pada PT. BPR ArtoMoro Semarang mempunyai predikat sehat walaupun mengalami penurunan, yaitu bulan Juni 2008 sebesar 92,37%; September 2008 sebesar 51,73%; Desember 2008 sebesar 44,30%; Maret 2009 sebesar 38,69%; Juni 2009 sebesar 32,89%; September 2009 sebesar 32,54%; Desember 2009 sebesar 32,29%; Maret 2010 sebesar 28,78%; Juni 2010 sebesar 26,94%; September 2010 sebesar 26,56% dan Desember 2010 sebesar 26,29%. 4. Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Secara keseluruhan tingkat kesehatan PT. BPR ArtoMoro Semarang periode 2008-2010 mempunyai predikat “Sehat”, yaitu dengan nilai kredit pada bulan September 2008 sebesar 50; Desember 2008 46,75; Marert 2009 47,95; Juni 2009 sampai Desember 2010 sebesar 50, akan tetapi pada bulan Juni 2008 mempunyai predikat “Cukup Sehat” karena nilai kreditnya sebesar 40.

Saran Berdasarkan hasil pembahasan diatas, maka penulis ingin memberikan saran kepada PT. BPR Artomoro Semarang agar dapat mempertahankan tingkat kesehatannya, karena dengan begitu nasabah dapat percaya untuk menyimpan dananya dan apabila sewaktu-waktu ingin mengambil dananya dapat tersedia. DAFTAR PUSTAKA Bank Indonesia. 1997. SK DIR Bank Indonesia No. 30/12/KEP/DIR. Tata Cara Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Perkreditan Rakyat. Jakarta: Bank Indonesia. 1998. Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 Tentang Perbankan. Jakarta: Bank Indonesia. 2006. Peraturan Bank Indonesia No. 8/18/PBI/2006 Tentang Budisantoso, Totok & Sigit Triandaru. 2006. Bank dan Lembaga Keuangan Lain. Jakarta: Salemba Empat. Dendawijaya, Lukman. 2003. Manajemen Perbankan. Jakarta: Ghalia Indonesia.

84

TEKNIS Vol. 6 No.2 Agustus 2011 : 78 - 84

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->