Horison, Januari 2000

Mimpi
Oleh: Abdel Salam Al-Ujaili

1
Dalam mimpinya Mohamed Wesaja ini perkara biasa, karena dalam keadaan sadar pun ia senantiasa mengerjakan shalat serta tak pernah meninggalkan ibadah wajib ini. Dalam mimpinya tersebut, kala sujud pertama, ia membaca dengan suara keras surat al-Nasr. Ketika sujudnya hampir selesai, ia terjaga dari tidurnya dan merasakan takut yang luar biasa. "Firman Tuhan adalah suatu kebenaran!," katanya sambil duduk di kamar serta menggosok-gosok matanya.Mohamed Weess tidak ingat mengapa mimpi tersebut begitu lekat dalam pikirannya. Maka, begitu pagi menjelang, segera ia temui Sheikh Mohamed Sa'id, seorang tua di kampungnya. Baru sekitar tengah harian, ia dapat bertemu dengan orang tua itu. Segera ia kisahkan mimpinya. Sheikh berdiam diri agak lama sambil menundukkan kepalanya dengan kening berkerut-kerut, sebelum akhirnya bertanya: "Kau yakin bahwa surah yang kaubaca itu surah al-Nasr?" "Saya yakin," jawab Mohamed Weess. "Saya membacanya sampai selesai. Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Jika telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau lihat manusia masuk agama Allah beramai-ramai. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, dan mohon ampunlah kepada-Nya. Sesungguhnya Dia maha Penerima Taubat." "Firman Tuhan adalah kebenaran!" kata Sheikh Mohamed Sa'id. "Wahai Mohamed Weess, segala puji bagi-Nya. Mintalah ampunan daripadaNya. Sesungguhnya Dia maha mengasihi." "Wahai Sheikh Mohamed Sa'id, saya percaya ini adalah pertanda buruk bagi saya. Apakah tafsiran tuan tentang mimpi saya tersebut?" Sheikh Mohamed Sa'id memegang dan mengusap-usap janggutnya yang panjang dan tebal itu. Dia kelihatan agak keberatan untuk menerangkan pengetahuannya yang mendalam mengenai ilmu menafsirkan mimpi. Akhirnya ia bersuara juga. "Mohamed Weess, mohonlah ampunan daripada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengasih. Mimpi membaca surah ini menandakan bahwa orang itu sudah hampir tiba saat ajalnya." Mohamed Weess tergetar. Ia merasa tiba-tiba seluruh badannya menggigil.

"Apakah yang tuan Sheikh katakan?" "Amat berat bagiku untuk menyatakan ini kepadamu," jawab Sheikh. "Bagaimanapun, untuk menenangkan perasaanmu, kau akan beroleh rahmat Tuhan. Dan kematian pasti datang menjemput kita semua. Mohamed Weess, tak ada orang yang mimpi seperti ini dapat hidup lebih dari empat puluh hari." Setelah memberitahu hal tersebut, Sheikh itu pun terus pergi untuk menunaikan shalat Dzuhur, meninggalkan Mohamed Weess yang terpuruk di tanah sambil kebingungan. Kakinya seperti tak mampu lagi menampung berat badannya. "Empat puluh hari," suaranya bagai keluar tanpa melalui kerongkongannya. "Ya Tuhan, berilah hamba kekuatan." Desa di mana Mohamed Weess dan Sheikh Mohamed Sa'id tinggal hanyalah sebuah desa kecil, maka menjelang senja setiap penghuninya sudah tahu tentang mimpi Mohamed Weess dan tafsiran yang dibuat oleh Sheikh Mohamed Sa'id. Penduduk desa itu percaya pada tafsir mimpi. Itulah sebabnya pada petang berikutnya semua orang sudah begitu yakin bahwa Mohamed Weess akan mati dalam tempo empat puluh hari. Kaum lelaki berdatangan menziarahi Mohamed Weess, mula-mula seorang demi seorang, namun kemudian secara berombongan, hingga ia terpaksa berada di rumahnya menerima tetamu yang datang dan bertanya mengenai kesehatannya serta mengungkapkan rasa dukacita atas kematiannya yang bakal segera tiba itu. Kaum perempuan yang datang ke rumah Mohamed Weess datang untuk mendapatkan berita, sambil melihat-lihat keadaannya. Mereka mendapati Mohamed Weess masih segar bugar, tetapi tampak bingung. Sambil meratap mereka mohon agar Tuhan campur tangan dalam urusan Malakul Maut yang akan mencabut nyawa Mohamed Weess ketika dia masih sehat. Walaupun Mohamed Weess tidak sakit dan tidak pula uzur, segala langkah berjaga-jaga yang diambil untuknya serta segala pertanyaan lembut mengenai dirinya telah membuat dia mulai merasa sakit. Dia tabah menghadapi keadaan tersebut selama sepuluh hari, dan terus pulang-pergi antara pasar ternak dengan rumahnya. Bagaimanapun, tak butuh waktu lama dia tidak lagi tahan menanggung semua tekanan itu. Dia mulai merasa letih, dan orang ramai mulai menziarahinya pada waktu siang hati. Padahal sebelumnya mereka hanya datang pada malam hari. Dua puluh hari sejak saat ia bermimpi, keluarga Mohamed Weess merasa tidak perlulah lagi membereskan ranjangnya setiap hari karena kini Mohamed Weess senantiasa berbaring di situ siang dan malam. Setelah tiga puluh hari berlalu, pelbagai hidangan masakan kegemarannya yang disediakan khusus untuknya oleh keluarganya ternyata terkumpul di tepi ranjangnya tanpa dijamah. Dengan berpakaian serba putih dan membiarkan janggutnya tumbuh, Mohamed Weess menghabiskan waktunya hanya untuk bershalat. Dia terisak-isak bukan karena takut pada kematian atau kecewa karena hidup, melainkan karena takut akan hukuman yang bakal diterima di alam kubur dan rasa khawatir bahwa Tuhan tidak akan mengampuni kesalahannya karena kerap bersumpah dengan nama Tuhan sewaktu di pasar ternak, atau karena menipu para petani dari desa yang berdekatan. Waktu terus berlalu. Mendekati masa empat puluh hari, badan Mohamed Weess makin kurus karena kurang makan dan karena rasa penyesalan yang dalam terhadap dosa-dosanya yang telah lalu. Orang ramai -baik dari desanya ataupun desa yang berdekatan-ramai mempercakapkan cahaya keimanan yang terpancar pada wajahnya serta ayat-ayat mistik dan misteri yang diucapkannya tatkala ia sujud dan mengerjakan shalat. Tiga puluh sembilan hari sudah berlalu, dan pada waktu malam hari itulah aku memunculkan diriku. Anda mungkin bertanya, siapakah diriku?

2

Aku bertugas sebagai guru sekolah di desa tempat tinggal Mohamed Weess di mana ia bekerja sebagai pedagang berpengaruh di pasar ternak, dan di mana Sheikh Mohamed Sa'id dianggap sebagai wali. Aku sering menghabiskan cuti musim panas di Damaskus, dan kepulanganku ke desa itu jatuh pada hari ketigapuluh sembilan dari tempo yang dinyatakan oleh Sheikh Mohamed Sa'id kepada Mohamed Weess. Aku mengenali Mohamed Weess sebagaimana aku mengenali orang lain di desa itu. Ketika Mohamed Atallah yang bertugas sebagai porter di sekolah memberitahuku tentangnya, aku kebingungan: apakah harus tertawa atau bersimpati kepadanya. Bersama Mohamed Atallah aku segera pergi menjumpai Mohamed Weess untuk menenangkan fikirannya atau setidaknya untuk mengungkapkan rasa dukacitaku. Halaman rumahnya yang biasanya dipenuhi hewan ternak yang dibeli Mohamed Weess dari pasar, kini agak sesak dengan orang ramai yang datang untuk menyaksikan saat kematiannya. Sebuah sisi untuk lelaki dan sisi lain untuk perempuan. Di sisi ketiga terlihat beberapa ekor biri-biri dan kambing yang dibawa oleh kawan-kawan Mohamed Weess untuk dikorbankan pada esok harinya setelah rohnya berpisah dari jasadnya. Ketika aku masuk ke kamar Mohamed Weess tempat ia menunggu kedatangan Malakul Maut --dan akulah yang datang, bukannya malakul Maut-Mohammad Weess sedang duduk sambil berdoa, sementara Sheikh Mohamed Sa'id duduk di sudut lain melagukan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Aku sangat terperanjat melihat perubahan pada wajah Mohamed Weess. Wajahnya yang bulat dan pipinya yang berisi, kini sudah cekung dan pucat. Ini ditambah pula dengan janggutnya yang panjang. Kepucatannya kelihatan lebih jelas lagi dengan pakaiannya yang serba putih dan longgar itu. Sambil bershalat, dia memanjangkan sujudnya seolah-olah ia berharap agar kematian segera datang padanya. Tidak ada persamaan antara wali Tuhan ini yang keseluruhan wajahnya bermandikan cahaya iman, dengan Mohamed Weess yang asli, yang setiap pagi dari jendela sekolah bersumpahsumpah dengan nama Tuhan bahwa jika dia tidak rugi sebanyak tiga lira dari biri-biri yang baru dibelinya itu, dia akan menceraikan istrinya. Aku telah menziarahi Mohamed Weess dengan perasaan ragu-ragu dan serba ingin tahu. Namun, perubahan sedemikian rupa yang terjadi pada dirinya itu telah menyadarkan aku bahwa dia memang akan mati pada keesokan harinya seperti yang ditetapkan. Aku geram mendengar suara kuat Sheikh Mohamed Sa'id membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an sambil melirik ke arahku. Antara diriku dengan sheikh yang sifatnya merupakan gabungan sifat sederhana, bodoh, dan licik ini, aku merasakan adanya suatu rasa permusuhan yang sudah lama tumbuh. Aku sebenarnya benci kepada orang yang berlagak pandai dan suka menipu, hingga berhasil menguasai perasaan para penduduk desa yang tidak tahu apa-apa. Sementara itu, dia selalu menghasut penduduk desa supaya membenci dan menentangku dengan menuduh aku mengajar ajaran yang menghina Tuhan dan Rasul-Nya. Sesungguhnya usahanya itu tak pernah berkurang walaupun ia mulai mengetahui dari orang ramai bahwa asal-usul keluargaku adalah dari Zain al-Abidin, cucu dan mantu lelaki Nabi Muhammad. Sebaliknya, dia menjadikan ini sebagai alasan untuk terus bermusuhan denganku dan berkata: "Lihatlah lelaki itu, keturunan Zain al-Abdidin yang menyatakan dunia ini berputar dengan sendirinya, tetapi saya serahkan kepada kalian semua, pernahkan salah seorang dari kalian melihat pintu rumahnya yang menghadap ke timur itu tiba-tiba berputar jadi menghadap ke barat! " Sebagaimana yang aku katakan, aku merasa sangat marah begitu melihat kehadiran Sheikh Mohamed Sa'id. Aku hampir meraung dan meneriakkan bahwa dia sebenarnya seorang pembunuh, bahwa dialah yang membunuh Mohamed Weess dengan racunnya, yakni dengan menanamkan ke dalam fikiran Mohamed Weess bahwa ia akan mati dalam

3

waktu empat puluh hari. Bagaimanapun, sepanjang ingatanku, aku tidak pernah berhasil mengalahkan Sheikh Mohamed Sa'id dengan menyatakan perasaan benci dan marahku, karena ia senantiasa berhasil memenangkan hati penduduk desa dengan argumenargumennya yang lapuk. Yakni dengan menunjukkan bahwa bumi ini tidak berputar dan menanyakan apakah pernah terjadi seorang penduduk desa melihat pintu rumahnya yang menghadap ke timur tiba-tiba berputar ke barat? Dengan demikian, jelaslah bahwa bumi tidak berputar. Tuhan mengampuninya karena mendendamku dan Tuhan juga mengampuni Mohamed Weess meski dia akan terus berada di bawah pengaruh gila Sheikh Mohamed Sa'id hingga keesokan harinya. Dengan perasaan yang berat campur kecewa dan marah, aku langsung ke luar dari ruangan sekolahku. Mohamed Atallah, porter sekolah itu, telah mengejutkan aku pada waktu subuh. Aku telah menyimpan tiga butir buah pear yang aku bawa dari Damsyik itu di bawah jerigen air. Aku mengambilnya sebuah, kemudian segera menuju ke rumah Mohamed Weess. Halaman rumahnya kelihatan lengang, kecuali beberapa ekor kambing dan biri-biri yang seolah menanti saat kematian tuannya, dan selepas itu kematian mereka pula. Sisi bagian orang perempuan sedikit lebih terang dan dibauri dengan tangis perlahan. Pintu kamar Mohamed Weess tertutup, jadi aku mengintainya melalui pintu yang tertutup itu dan mendapati Mohamed Weess sedang tidur. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa dia keletihan setelah sepanjang malam beribadat sebagai persediaan menghadapi saat kematiannya. Aku mengetuk pintu beberapa kali, kemudian mendorong, dan membukanya sambil menyapa keras: "Segala Puji bagi Allah, Mohamed Weess" Dia terbangun dari tidurnya dengan masih terkantuk-kantuk. "Apa dia?" jeritnya. "Saya Naji, guru sekolah. Jangan takut Mohamed Weess. Dengar ucapan saya. Aku melihat air matanya menetes hingga ke pipi ketika ia duduk dengan lidahnya kelu dalam ketakutan. Karena kuatir dia akan langsung mati akibat sangat ketakutan sebelum sempat mendengar apa yang akan kukatakan, aku segera bersuara: "Saya datang bertemu anda, karena saya baru saja disadarkan oleh moyang saya, Zain al-Abidin. Semoga Allah memberkatinya, dan dia berkata kepada saya, 'Pergilah temui Mohamed Weess dan beritahu dia bahwa Allah telah mengujinya dan mendapati bahwa dia adalah hambanya yang sudah insaf akan semua dosanya. Berilah kepadanya buah ini, salah satu daripada buah-buah yang ada di surga. Suruhlah dia shalat bersama kamu dua rakaat sebelum naik matahari. Pada rakaat pertama, dia mesti membaca Surah al-Nasr dan Allah akan memanjangkan usianya sehingga dia dapat hidup dan melihat anak-cucunya." Mohamed Weess menelan air liurnya. Tampak bagiku bahwa ia seperti tidak percaya semua yang aku katakan. Matanya tertegun merenungi buah pear di tanganku (aku yakin tak ada seorang pun di desa ini yang pernah melihat buah pear ini sebelumnya). Aku mengupasnya dan menyuapkan ke dalam mulut Mohamed Weess, lalu menyuruh dia menelan semuanya, sekalian dengan bijinya. Kemudian aku menariknya ke sudut kamar. "Mohamed Weess , bersiaplah untuk sembahyang sebelum hari siang." "Tapi saya belum lagi bersuci, Tuan Naji."

4

guru sekolah keturunan Zain al-Abidin! Tetapi apakah ini sungguh suatu kemenangan? Sebenarnya aku sendiri tidak pasti. Berkali-kali ia pernah menduduki jabatan sebagai menteri. Dalam rakaat pertama. Mereka yang semalam memenuhi halaman rumah Mohamed Weess. 5 . Untuk mengekalkan kehormatan keturunanku. Sebaliknya. masing-masing sibuk untuk mengetahui bagaimana moyangku Zain alAbidin datang kepadaku membawa keampunan Allah untuk Mohamed Weess. kini berhimpun di halaman sekolah. Sebagai seorang Doktor ia menerjunkan diri di bidang politik. Naji. bilangan jemaahnya telah bertambah satu lagi. Kami bersembahyang dua rakaat. termasuk sebagai Menteri Kebudayaan. aku mendapati diriku terpaksa berjemaah di belakang Mohamed Weess pada setiap kali sembahyang dengan bersuci sepenuhnya. seluruh desa telah mendengar cerita baru tentang Mohamed Weess. Tetapi. dia membaca kesemua surah al-Nasr. ini dibenarkan dalam Qur'an. Diterjemahkan oleh Nikmah Sarjono. Pada ketika itulah aku merasakan bahwa akhirnya aku berhasil mencapai kemenangan mutlak atas Sheikh Mohamed Sa'id." Aku bersembahyang berdiri di belakang Mohamed Weess. Syria pada tahun 1918. Tekankan kedua telapak tanganmu ke tanah. bertambah oleh kenyataan bahwa aku gagal mengurangi meski seorang saja jumlah jemaah yang mengambil bagian bersembahyang bersama-sama di belakang Sheikh Mohamed Sa'id. Dalam tempo sejam. yaitu sebagaimana dengan mimpi yang aku reka itu. karena kuatir kesan yang diharapkan itu akan hilang.Aku lantas teringat bahwa aku juga belum bersuci. Selepas itu aku terus pulang ke sekolah menunggu hari siang. Mohamed Weess. yaitu aku sendiri. Keraguanku akan nilai kemenangan ini. Malah hewan ternak tersebut diserahkan kepadaku sebagai hadiah dari teman-teman Mohamed Weess kepada wali Allah. aku lantas berkata: "Buatlah tayamum. dan bukan dengan tayamum! *** Salam al-Ujaili dilahirkan di Rakka. Ini karena Mohamed Weess tidak mati dan kambing serta biri-biri di halaman rumahnya juga tidak jadi disembelih.

Dokter segera memeriksa. bak mawar putih berlepotan debu jalanan. pengobatan penyakit ibu akan sia-sia. "Tolong. Rupanya keraguan dokter terbukti. Tak terkecuali mereka yang sudah berkeluarga. Bu! Ibu mengidap penyakit berbahaya. Nafsu benar-benar membutakan kaum lelaki. agar kesedihan ini tak menambah kesedihan lain. Dia harus menjaga ibu dari risiko pergaulan bebasnya. Tenang sedikit tersenyum. Saya ingin tanya. Perempuan itu tersentak seketika. Dokter mencermati apa yang diceritakan dengan kondisi sebenarnya. Keduanya duduk berhadapan. Tanpa menunggu kedatangan suaminya dari kantor. Tapi tak tahu bagaimana hal itu bisa terjadi. Dengan malu dan hati-hati perempuan itu menceritakan penyakit kronisnya. Kendalikan emosi. Parasnya cantik. Kalau tidak. Teriakan parau muntah dari bibir perempuan itu. ''Ya. Derita yang dialaminya berubah menjadi ketakutan baru. Pak Dokter!" teriaknya segera.Komplikasi Oleh: Naguib Mahfouz 6 Pagi itu. apakah ibu sudah bersuami?" Perempuan itu menganggukkan kepala. . Dokter terperanjat mendengar ceritanya. Bagaimanapun juga ibu harus memberitahukan keadaan sebenarnya pada suami. Bu. Bu?" tanya dokter. "Gawat. Tapi terselip guratan penderitaan yang mendalam di wajahnya. "Ada apa. dokter telah selesai memeriksa pasien kelima. Matanya berkaca-kaca. Yang saya katakan benar. Tenangkan diri. "Oh…. Dokter menghampiri. "Penyakit kelamin… ?" katanya seolah tak percaya. Penyakit kelamin!" gusar dokter." lanjut dokter. Kalau perlu dibawa serta ke mari. Takut dan gelisah. Ibu harus mengingatkan perbuatan terlarang itu. seorang ibu bertubuh semampai dan bercadar. Kemudian masuk pasien keenam.

Bahwa ia dalam bahaya besar." "Meski sudah terlambat?" "Yah …saya tak punya pilihan lain. Dok?" tanyanya. kecemasan. Ah. "Mengapa aku mencampuri urusan dan penderitaan orang lain? Aku hanya seorang dokter." "Kalau begitu sementara ini saya tidak akan melakukan hubungan seksual. "Butuh berapa lama untuk menyembuhkan penyakit ini." saran dokter. jangan.. Lakukan saja tugasmu.. Sulit rasanya meyakinkan dia supaya menerima kenyataan pahit ini. Sudahlah. Mudah-mudahan Tuhan memberi jalan keluar pada keluarga kami. ditatapnya dokter itu. Tak pantas melampaui batas kewenanganku. Keresahan mencengkeram jiwa dokter. "Kurang lebih dua mingguan. "Sebaiknya Ibu memberitahukan pada suami Ibu." "Suasana hening mencekam. Sudahlah! Semuanya kuserahkan pada Tuhan. Dengan memelas. Aku harus mengobati perempuan lemah ini." Dokter gelisah menatap wajah kusut perempuan itu. Mati aku!!" "Tentunya suami ibu juga terjangkit. Tentu masalah ini akan selesai. 7 ." "Oh…. Sepandai-pandainya Ibu memendam rahasia ini. toh akhirnya akan ketahuan juga. rasa bersalah bersemayam dalam dirinya." "Demi Tuhan. Tiba-tiba perempuan itu teringat sesuatu. Dok. Kepedihan. Barangkali Dia akan melindungi suami saya. Kami akan menghindarinya sampai saya benar-benar sembuh. Dok! Suami saya tak boleh tahu masalah ini. Tekad itu menjadikan jiwa dokter sedikit tenang. "Tapi…. Mendadak pikirannya menerawang pada nasib keluarga perempuan itu."Tidak…! Tidak…! Tidak mungkin…! Cepat obati saya. Suami saya orang baik-baik. itu harus intens. Akhirnya ia mengambil jalan tengah. semua ini terserah Tuhan. Bola mata perempuan itu bergerak-gerak bagai air raksa. Dadanya sesak. Dokter! Jangan libatkan suami saya!" rengek perempuan itu. Jiwanya seakan lebih menderita dibanding rasa sakit di tubuhnya. "Bisakah Dokter menjaga rahasia ini?" tanyanya." batin dokter. Dokter langsung bekerja.

Menampakkan keceriaan di balik kegelisahan yang menyelimuti dirinya. saya hanya seorang dokter. Pekerjaan dokter telah menghentikan langkahnya. Ini hanya formalitas belaka. "Untuk apa?" tanyanya." Lalu perempuan itu menghela nafas. 8 *** Esoknya. Tentu. Lelaki itu tertawa. dokter "Siapa nama Ibu?" tanya dokter." "Oh…kasihan sekali. "Selamat sore. "Saya mengidap penyakit. Ketika perempuan itu beranjak keluar. "Sore." jawabnya sembari menarik nafas."Tentu. "Penyakit apa?" "Penyakit yang banyak dikeluhkan orang. tak perlu sedih. Saya usahakan tiap hari datang ke sini. "Tak perlu takut. Selain Jumat. perempuan itu datang. selesai. Menjelang petang. Raut mukanya tampak cerdas dan berani. Wajah perempuan itu tampak ketakutan." "Menyesal?" ." hibur dokter. "Ibu Muhammad Abbas Efendi. Badannya tinggi tegap. Dok." katanya. Coba Ibu lihat daftar ini! Bukankah penuh dengan nama dan alamat pasien? Jangan takut." ucapnya dengan hati yang terluka. pegawai DPU." sambut dokter. Dok. Ia katakan bahwa kondisi suaminya sehat-sehat saja." jawab lelaki itu. "Saya rasa cukup sampai di sini dulu. Dok." "Saya benar-benar menyesal. Akan kuusahakan semampu saya. datang pasien berumur 30 tahunan. Tenang saja! Kujamin rahasia ini tak kan terbongkar selamanya.

Mendadak jiwanya bergejolak. Dokter menyembunyikan wajahnya. saya khawatir penyakit ini akan berakibat buruk. Akan kuyakinkan padanya bahwa perempuan itu adalah korbannya. Dok?" tanya Abbas berulang-ulang. Giginya geregetan. Abbas merengek. Saya benar-benar terjepit. Dok. Sekarang dokter tahu bahwa bukan hanya bujangan yang bisa terperosok dalam dosa. Tolong sebutkan nama Saudara!" "Muhammad Abbas. begitu tahu bahwa dialah orang yang terancam bahaya besar itu. Dokter segera melihat dengan seksama daftar nama-nama. Saya sangat sedih begitu tahu istri tercinta saya juga mengalami hal yang sama. Apa Dokter merasa rugi bila ada orang insaf datang padamu? Apa pasienmu akan berkurang?" "Kukira Saudara datang ke sini bukan untuk berfilsafat. Kemudian Abbas melangkahkan kakinya. "Tahukan Saudara? Istri Saudara juga terancam!" "Ya. Usahakan ajak istri Saudara ke sini. Saudara akan dapat menyelesaikannya dengan baik. Mereka menyesali diri."Menyesal." jawabnya lemah. Jangan sampai dia curiga. Abbas tak tahu bahwa perempuan itu lebih menderita dibanding dirinya. Akan kuterangkan ihwal penyakit yang diderita istrinya. Lantas bertanya." kata dokter dalam hati. Sepasang suami-istri itu ternyata pendosa. Dengan demikian lelaki itu mau kembali pada istrinya dengan penuh penyesalan. Dokter hampir saja terlena oleh pikirannya. "Dok. "Mudah-mudahan Tuhan memberi jalan kebaikan bagi istrinya. *** 9 . Pergi. "Tenang saja. Apa yang harus saya perbuat. hingga persoalan ini selesai." Abbas bingung. Semoga Abbas berhasil membawa istrinya ke mari." Dokter menerawang. "Saya harus bagaimana. "Memangnya kenapa?" "Saya sudah berkeluarga. "Saya usahakan. kalau tak mendengar pertanyaan Abbas. Kepalanya tertunduk hampir menyentuh lembaran daftar nama yang ada di depannya. Lantas keduanya akan kuobati sampai sembuh. Tatkala dokter hendak melangkah menuju kamar praktek. Dok?" Kini rahasia itu telah terbongkar. Silahkan ke kamar itu! Tunggu sebentar. mulut dokter hampir mengeluarkan kata 'Hah'. dokter." jelas Abbas.

Lalu dengan hatihati. Dokter mengira sore ini. Abbas menggelangkan kepalanya. Dada saya sesak. Wajahnya pucat. Ya…." Dokter membungkukkan bahunya. Saya mengira dia gelisah karena kegelisahan saya. Dok?" "Emm…sebenarnya persoalan Saudara sudah beres." tutur Abbas. Tapi saya bingung. Saya bingung. Istri saya menjawab: 'Alhamdulillah. Perlu Dokter ketahui. "Menurut Dokter apa?" baliknya. Aku ragu dan bosan mendengar nasihat mereka. "Semakin banyak saya menuntut. Bagaimana kalau kita periksakan ke dokter?' Istri saya justru marah dan menolak keras: 'Tidak! Kau mengkhayal. saya berniat mengajak istri saya kemari untuk menemui dokter agar saya bisa tenang. Tapi yang datang ternyata hanya Abbas. Sinar matanya menyimpan banyak pertanyaan. 10 . "Entahlah. "Oh…hidup di dunia memang susah. tidak'.beginilah jadinya!" Abbas diam sejenak. Parahnya. Ia mesti memeras otak untuk mencari jawabannya. Terpaksa sayalah yang memulai bertanya: 'Apa kau tak punya keluhan? Barangkali sakit?' Saya pura-pura tenang. bagaimana saya harus meyakinkannya. Abbas dirundung ketakutan. Dok.bagaimana lagi.Perempuan itu tak datang pada hari yang telah dijanjikan. Sekarang saya telah bercerai dengan istri saya. saya harus menjalani masa sulit ini. Aku benci dokter. mereka justru melalaikan dan membebankan pada dunia!" kata dokter." Hati Abbas penuh teka-teki. Kebingungan mendekap. "Singkatnya begini. Saya juga tak tahu bagaimana harus memulainya. Saya mengharap dialah yang memulai bertanya. kini telah hilang. semakin keras istri saya menolak. Sedih. Mana?" "Yah…. Tiba-tiba istri saya gelisah. istri saya malah melawan dan bersikeras pada pendiriannya. "Saya sudah sering kali mendengar keluhan-keluhan seperti itu. Impian untuk menimang anak. kudekati istri saya. "Kukira Saudara mengajak istri Saudara. Saya coba memohon dengan baik-baik. Lalu dengan ragu-ragu. Saya berbohong: 'Kulihat akhir-akhir ini. Kemarin malam. Tapi sayang. Tatapan matanya layu. Usaha saya sia-sia. Pokoknya tidak. wajahmu pucat dan sedikit berubah. Rasanya sakit dan ingin marah. Saudara tidak bisa meyakinkannya. ia akan datang bersama Abbas. Kemudian berbicara dengan terbata-bata karena putus asa. Saya terus mendesaknya. Entah sampai kapan. bagaimana harus menjelaskan padanya. Tak bisa menguraikan apa yang terjadi di balik peristiwa itu. Saya yakin menusianyalah yang menyebabkannya. "Ada apa?" tanya dokter terperangah. Hati saya dongkol. belakangan ini saya mengalami banyak peristiwa menyedihkan. Tapi ia tak melakukannya. Seolah tampak lebih tua dari biasanya.

Aku telah berbuat dosa! Pasti kau sudah tahu semuanya. "Oh…saya telah berbuat dosa dan pantas mendapat hukuman. Ceraikan saja aku!' Tiba-tiba istri saya tersungkur di kaki saya kemudian pingsan. Dok?" "Runtuh sudah bangunan rumah tangga saya. Otak saya tak kuasa lagi berpikir dengan jernih: 'Ayo ikut aku ke dokter! Aku prihatin dan ingin tahu apa sebenarnya penyakit yang kau derita. Tubuhnya mengejang. Tolong! Jangan sentuh aku. Saya bertanya dalam hati: 'Ada apa. Tuhan. Dok?" "Dosa telah memperdaya dan menjerat saya." lanjut Abbas.*** Naguib Mahfouz lahir tahun 1911. Pengakuan dosa. Membuang semua kemarahan yang ada dalam diri saya. Raut mukanya berubah aneh. Saya ingin lepas dari belenggu perkawinan ini.' Belum selesai saya bicara. Istriku? Kenapa kau tak mau ke dokter?' Istri saya justru berteriak lebih keras: 'Tidak…! Tidak…!' Saya bertambah marah. permintaan ampun dan pingsannya itu yang jelas hanya karena satu hal. dari Judul asli alMaradl al-Mutaba'adil oleh Ahmad Sya'roni dan Herri Munhanif. Istri saya menjerit: 'Ampun. "Apa maksud semua ini. 11 ." tambah Abbas. Istriku?' Saya coba mengulang pertanyaan dengan lembut. Dok? Saya hanya menduga. Dok. Cerpen ini diterjemahkan dari antologi cerita pendek Hams al-Junu'un. saya melangkah ke arahnya. Matanya melotot. Tubuhnya menggigil. tak mampu kuasai diri. Kepala saya panas. dan pada 1998 mendapat Hadiah Nobel.Rambut saya berdiri mengeras seperti landak. Tak ada kata 'tidak' dalam diri saya. Musnah sudah bayangan hidup bersama buah hati saya. Otak saya ragu. bimbinglah jalan hidupku. Saya telah ingkar. Kini saya ingin pikiran saya terbuka. Dengan murka. Bagaimana saya bisa melepaskan selimut tebal dosa ini? Bisakah saya tabah menghadapi cobaan ini? Bisakah saya kembali bersih dan sehat seperti dulu lagi. Tapi ia yakin bahwa dirinya tak melampui batas kewenangan. tapi istri saya memotong dengan gerakan aneh. saya menjadi korban yang sia-sia! Adakah lelaki yang bernasib seperti saya. Saya semakin bingung dan bertanyatanya: 'Apa yang membuatmu takut. Perasaan tentram. Karenanya.Karena saking suntuknya. saya berteriak keras. istri saya bicara menantang bagai ular yang siap mematuk mangsanya. Saya bingung dibuatnya. Saya terjerumus dalam jurang yang curam. Bengis. Aku telah bersumpah pada Tuhan. Padahal merekalah cahaya hidup saya yang senantiasa bersinar. Perempuan itu sungguh membuat repot suaminya. Abbas! Ampun…! Rahasiaku telah terbongkar.

macan. binatangbinatang itu juga sudah terlalu hafal dengan kami. sesekali meleleh oleh arus gelombang. Setiap bulan hampir seratus anak kami lahir. Sebagian lagi menyempatkan diri membersihkan wajah terlebih dahulu. Setiap dari kami dibesarkan dalam belukar. serigala dan segala macamnya. Apalah arti kami bila tak lagi hidup sebagai pemburu. Inilah perjalanan terjauh dan terlelah kami. Maklumlah. bukan sebagai cara kami bertahan menghadapi hidup. Telah kami jelajahi seluruh hutan. Telah kami sibak semua palung lautan. Membuat kami cemas. Kami memandanginya dengan gamang. Meletakkan semua senjata yang selama ini kami jinjing dan gendong. nenek moyang dan anak cucu kami. Sebagian dari kami langsung merebahkan tubuh atau bersandaran pada batang pohon dan gundukan batu. jumlah kami memang makin membesar. sebelum sampai ke telaga ini. melulurkan kesejukan pada lengan dan kaki yang bengkak. ular. Angin bergegas pergi oleh kedatangan kami. Siapakah yang tak tahu akan hal itu? Kami tak pernah gagal memburu sesuatu. Lagu-lagu kami adalah lagu-lagu perburuan. Seperti juga semua makhluk yang ketakutan mendengar gemuruh kaki kami. Seakan sia-sia kebesaran kami sebagai pemburu yang telah berabad-abad mengabdikan hidup dan peradaban kami hanya untuk berburu. telah lenyap kami tangkap. Kami adalah bangsa pemburu yang besar. ditangkup sunyi daun-daun yang mandi cahaya. Kami sudah tahu bagaimana menyembelih wildebeest. tetapi lebih untuk kebanggaan dan kehormatan. untuk memburu binatang-binatang. betapa binatang-binatang di dunia ini perlahanlahan telah habis kami buru. mengantar tidur anak-anak kami. Kami beristirahat di pinggir telaga itu. Tak ada yang lebih terhormat bagi kami. Inilah pertama kali kami merasa begitu lelah. selain menjadi seorang pemburu besar yang sanggup merobohkan gajah dengan satu gerakan. Kami seperti mengejar kilat.Para Pemburu Oleh: Agus Noor 12 Purnama mengapung di telaga. melihat kehormatan kami akan goyah suatu ketika. rusa. Hingga kami merasa benar-benar sendiri. tupai dan tikus. Telah kami bongkar tiap lekuk pegunungan. Maka mereka buru-buru menjauh pergi. badak. Kami tak pernah tergoda menjadi petani atau pedagang. Menjadi hutan lebat yang tumbuh dalam kepala mereka. dari tahun-ketahun. hanyut oleh pikiran kami. Nenek moyang kami telah membentuk kami sebagai pemburu paling ulung. Kami mengembara dari satu benua ke benua lainnya. buruan kami tetap saja melenggang bebas. Legenda kami adalah penaklukan puluhan binatang buruan. Barangkali. sementara . sejak kami masih dalam kandungan. Cerita-cerita penaklukan. begitu tercium bau kami. Gajah. Sampai kemudian kami menyadari. Tetapi mungkin juga memang binatang-binatang itu sudah habis kami bunuhi. Membuat kami begitu merasa terhina. Seluruh kekuatan dan pengalaman kami sebagai pemburu telah kami keluarkan sampai tandas. tetapi kali ini. setelah bertahun-tahun memburu buruan kami yang bergerak begitu cepat. Sampai kelinci.

Selamat jalan. “Perburuan tak mungkin berhenti!” “Kita akan cepat renta bila sehari tak memburu apa pun!” “Takdir tak bisa dihentikan. Tetapi kami tak bisa menolak. Mula-mula. kebiasaan baru tumbuh dalam kehidupan kami. Meskipun kalian juga tak luput dari kematian. selain melakukan perburuan semacam ini? Mereka kami beri kehidupan sekaligus batas kematian.” Dan para pesakitan itu pun kami lepas dengan upacara kehormatan. lari. orang-orang 13 . kalian masih punya kesempatan untuk memperpanjang kehidupan. Tapi sudah lama kami kesulitan menegakkan kehormatan macam itu. sasaran perburuan yang menggairahkan. Memburu budak-budak itu lebih mengasyikkan dari pada memburu binatang. Tapi itu lebih baik bagi kalian. Menjadi tradisi. Kepada mereka kami tawarkan kebebasan. Selamatkan kehidupanmu. dengan cara melarikan diri.” “Lantas bagaimana?” “Apa pun yang terjadi kita mesti memburu sesuatu!” “Memburu apa?” Itu membuat kami terdiam. Anak-anak kami pun nampaknya lebih suka dengan perburuan macam itu. “Masuklah dalam hutan. Bahkan membuat kami lebih merasa sempurna sebagai pemburu. Para penjahat itu. seperti kami katakan tadi. Mereka sudah renta.. Mereka lebih menantang untuk kami taklukkan. yang membuat kalian akan merasa memiliki harga sebagai seorang pesakitan. banyak di antara kami yang menolak. dari pada mati di tiang gantungan: tak lagi punya pilihan. Kami iringi dengan lengkingan terompet dan juga dentuman meriam. Maka kami pun membeli ratusan budak. meski kami akan memburu kalian. Liat dan sigap. Adakah yang lebih menyenangkan. Ketika kisah-kisah kami menjalar ke banyak negara. membiarkan mereka lari dan menghilang. tak hanya kami yang suka dengan permainan semacam itu. semua binatang telah habis kami buru. Lantas. Dan itulah kehormatan. banyak orang di luar suku kami.. Mereka kami beri kesempatan untuk bebas. karena hal itu dianggap akan mengotori kemurnian darah pemburu kami. Itu menjadikan kami begitu bahagia. Karena. Semoga nasib baik bersama kalian. tapi tak gampang mati. perlahan-lahan. untuk menggantikan binatang yang kini telah musnah. sungguh. memang makhluk yang tak gampang menyerah. Mereka kami lepas ke tengah hutan. kami bunuh. Sampai kemudian ide brilian terlontar.orang-orang tua kami bagai tak bisa mati. Rupanya. Dan itu. Kami akan memburu manusia. tapi manusia. baru kemudian kami memburu mereka. Banyak juga di antara kami yang mati dalam perkelahian. untuk ikut menikmati perburuan itu. ketika dari banyak yang datang ke pada kami itu adalah para jendral. mendatangi kami. Anggap semua ini hanya permainan. Mati dalam perburuan ini lebih terhormat bagi kalian. tetapi masih sanggup berlari mengejar entelope. Banyak di antara kami yang sudah berusia 7890 tahun. Jangan cemas. kemudian menghantam kepala binatang itu dengan kepalan tangan. Kami membeli juga para penjahat yang telah divonis mati. hingga pecah berantakan. Kami tak lagi memburu binatang. Inilah hidup yang sesungguhnya. Setiap detik adalah pertarungan.

Hingga kami tak lagi kekurangan buruan. “Ini darah seorang penyair untukmu. Ah. tetapi kami bebas memilih siapa pun yang paling menyenangkan kami buru. Di antara kemeriahan pesta. menggulung apa pun yang kami sukai. Kami bangun juga istana-istana. Kami menjadi kaum pemburu yang kian kokoh dan terhormat. ketika kami menembaki anak-anak Palestina. menjadi tak tertandingi. ketika kami memburu ribuan orang Yahudi untuk kami kirim ke kamp konsentrasi. Kami perlahan-lahan meninggalkan cara hidup kami di hutan. dengan dukungan dana yang melimpah. begitu melimpah buruan kami.. dan kami tertawa bahagia. para demonstran untuk kami habisi. tetapi penaklukan yang membosankan. yang sudah berumur 100 juta tahun lebih. ketika kami memburu dan membantai orang-orang muslim di Bosnia. hingga pertarungan menjadi tak sepandan. Bahkan mereka menjanjikan kami lahan-lahan perburuan yang lebih luas. ketika kami mengirim pasukan pemburu ke banyak negara untuk meluluhlantakkan apa saja. Tak ada lagi yang berani menggertak kami. puluhan kepala negara. sehingga permainan menjadi tak lagi begitu punya arti. Malah sering para raja dan kepala negara memberi kemudahan kami dengan memberi lisensi untuk menghabisi para tokoh oposisi yang tak mereka sukai. kami terus menuliskan sejarah kami yang agung. Para bangsawan. menumpuk tengkorak kepala korban kami hingga menggunung sampai menyentuh awan. Hidup pemburu agung! Kami pun menjadi kelompok pemburu yang besar. seakan maut sudah menyentuh bibir orang tua itu. keisengan. Kami berdiri di puncak menara peradaban. yang telah menjadi sekelompok pemburu yang paling kuat. mengijinkan tempat-tempat itu untuk kami kelola dan kembangkan sebagai ladang perburuan yang lebih menantang dan menyenangkan. Juga kaum intelektual yang selama ini mereka benci. Perburuan bukan lagi perkara kebesaran dan kehormatan. Para pengusaha mensubsidi kami modal bermilyar-milyar. para raja. tak ada lagi kegairahan karena kemenangan. yang melintas bagai badai dan gelombang. menyarankan kami agar mengumpulkan para kiai. Ketika kami menjarah perempuan dan membunuhi anak-anak.. Para raja dan kepala negara mempersilahkan kami untuk memilih rakyat mereka sebagai binatang buruan.” Lalu seseorang yang paling tua di antara kami. dengan setiap malam tidur di ranjang yang bersih dan nyaman. Para jendral menyediakan kami senjata-senjata paling mutakhir.besar di negara mereka.” Gelas kami beradu. Kami terus memburu. Kami seperti kehilangan buruan yang mengasyikkan. Itu sering membuat kami terusik sunyi. tetapi kami selalu dirundung sunyi. tetapi juga denting gelas dalam kehangatan pesta. kami terus bergerak dari benua ke benua dari zaman ke zaman. Apalah arti semua itu bagi jiwa pemburu kami? Semua itu bukan lagi gairah petualangan dan tantangan. Begitulah memang mestinya nasib penyair yang tak menulis syair pujapuji bagi keagungan kami. pasokan senjata yang bagai anggur mengalir dalam gelas-gelas kami. Jangan biarkan anak-anak kita menjadi pucat dan pasi. Kami. para bangsawan dan pengusaha besar. terkadang. tetapi juga. tempat kami berpesta setelah seharian berburu. Jangan biarkan mereka menjadi lembek karena rasa sunyi ini. jangan sedih. Kami tak hanya punya kesempatan memburu para penjahat yang telah divonis mati. melintasi gelombang waktu. Kami tak lagi hanya terbiasa dengan bunyi pedang. sendiri. Apakah arti kekuatan bila tak ada tantangan yang sepandan? Tak ada lagi yang sanggup melawan kami. Karena kami sudah terlalu kuat. 14 . Suaranya sudah gemetar. “Kita harus melakukan sesuatu. yang memang memiliki kebiasaan berburu seperti kami dan memiliki lahan-lahan perburuan yang luas.

Bagaimana tempat sekecil itu menampung jutaan kiai yang kami himpun dari seluruh penjuru ini. Apakah kalian akan sholat sepanjang hari? Apakah kalian akan berdoa dan mengaji? Apakah kalian akan menangkar atau menjebak Jibril dengan sebuah perangkap? Kami tak mau tahu dengan itu semua. Ya. bersulang. Gairah menjalar. kapan kalian bisa menyediakan Jibril bagi kami?” Kami tatap wajah para kiai itu. “Baiklah.. “kalian kami beri waktu satu bulan. Bila selama ini kalian tak bisa mendatangkan Jibril bagi kami. mencari kepastian dalam mata mereka.. Dan tentu. dan meminta kami untuk membawa mereka ke sebuah kaki bukit di mana ada sebuah masjid kecil di pinggir hutan. malaikat. Mereka kami datangkan dari semua penjuru. dari seluruh dunia. Pintu itu terbuka untuk menerima siapa pun masuk ke dalamnya.” tegas kami. Sekarang. kami akan membikin perhitungan sendiri.” Lantas kami membiarkan satu persatu para kiai itu masuk masjid kecil itu. Suruh mereka menyediakan malaikat untuk kita buru!” Kami terpukau oleh gagasan itu. Kami segera mengeluarkan seluruh senjata kami. meski sesungguhnya heran. Seluruh bangunan itu terbuat dari pelapah kayu. membuat kami begitu ternganga. telah lapuk.. tetapi masjid itu tak juga penuh.” “Baiklah. Benar-benar masjid kecil yang tak terawat. “Kalian jangan bercanda!” teriak kami. sebelum maut menjemputku.” “Apa hubungannya dengan para kiai itu?” “Kumpulkan mereka.“Untuk apa mengumpulkan para kiai itu?” “Aku sudah mencium ajalku. berkelok-kelok mengikuti 15 . Apalagi ketika kami melihat sendiri masjid itu. dengan meminta kami mendatangkan Jibril. Panji perburuan berkibar. Dan aku ingin. bagaimana cara kalian mendatangkan Jibril bagi kami. “Kami tak mau tahu. Membuat darah kami menggelembungkan jiwa pemburu kami. “Kami ingin Jibril. ketika hampir separo dari jutaan kiai itu sudah masuk ke dalam masjid. Luasnya tak lebih dari lima kali lima tombak. anggur segera kami tuang dalam gelas. kami segera mengumpulkan para kiai. Kami turut kemauan mereka. aku ingin menikmati perburuan yang paling menggairahkan. kenapa kami tak memburu malaikat? “Jibril! bagaimana kalau kita minta Jibril!” “Kami bersorai..” Mereka. “Kalianlah yang bercanda. kami giring ke sebuah istana kami yang paling megah. Tetapi mereka menolak. Barisan kiai masih antri di depan masjid itu. Kami segera menghimpun topan. membangkitkan imajinasi kami.” kata kami kepada mereka. para kiai itu. kalau perlu dengan paksa dan kekerasan. menyambut hari depan kami yang gilang gemilang. katakan kepada kami.

sekaligus marah. hingga kayu-kayu bergemeretakan. tetapi tak kunjung keluar jua. itulah yang kami saksikan. Lantas kami tak bisa lagi sabar. tetapi. Tiba-tiba tubuh mereka hilang tak berbekas. ya Allah. Membuat kami cemas. raib begitu saja. tak pernah muncul kembali. Kami kirim utusan kembali. utusan kami ini pun tak muncul lagi meski kami sudah menanti lebih lima hari. Kami terus berjaga. dan api melahap cepat. Membuat kami tambah cemas menunggu. Pada saat itulah. seperti barisan semut yang begitu tertib menuju lubang sarang mereka . di sana. membuat kami tengadah ke puncak api. di pucuk api berkobar. dengan sayap terentang sampai ujung paling jauh dari semesta. Sampai kemudian semua kiai telah masuk dalam masjid itu. Kami tak mau kecolongan. jangan-jangan semua itu sihir belaka. Apakah ini keajaiban yang dikirim bagi kami? “Buru!” Teriakan itu. Dan. itu pun pasti sudah berhimpitan. bagai masuk ke tabir ruang dan waktu pada dimensi lain. bukan? Jangan salahkan kami. anak 16 . di puncak kobaran api. menyentuh langit. bersama angin dan embun. Jibril. kami melihat selesat biru cahaya menatap kami. Kemarahan kami menyalakan api di tangan. yang hanyut dibuai dzikir para kiai. seseorang di antara kami berteriak. ketika para kiai itu tak juga muncul dari dalam masjid. Namun orang itu tak kembali. Kami bakar masjid itu. kenapa kami malah bengong begitu? Maka. kemudian kembali mengirim utusan untuk menemui para kiai di dalam masjid itu. dengan sigap kami segera meraih senjata-senjata kami. Seperti batang-batang pohon yang bergoyang itu. Begitulah berkali-kali. mendadak menyadarkan kami. melihat impian kami sudah di depan mata. Kami panggil namanya. Kami memagarbetis masjid itu. Jutaan kiai masuk ke dalam masjid yang bagi kami hanya cukup untuk tidur dua puluh orang. membuat udara bergetar dan perasaan kami gemetar. sepanjang hari sepanjang malam. takut mereka akan keluar dan meloloskan diri ketika kami tertidur. Kami panik. Tombak. Sementara suara dzikir itu terus saja bergema. Kami sudah cukup punya pengertian. Tapi seperti yang pertama dan kedua. Tetapi seperti yang pertama. gembira dan tak percaya. Dan kami segera menyerbu. semua dari kami yang masuk ke dalam masjid itu. Kami berteriak menyuruh para kiai itu keluar. Kami tak mau di tipu para kiai itu. betapa memang inilah yang selama ini kami tunggu-tunggu. “Jibril!!” “Jibril!!” Seketika kami berteriak.gigir bukit. Satu bulan lewat. seperti daun yang melayang-layang itu. Kadang kami merasa ada yang menggemericik dalam hati kami karena gema itu. tertelan dan lenyap. tetapi hanya gema dzikir membalas suara kami. kini telah muncul di hadapan kami. Namun dzikir itu masih kami dengar. luar biasa. orang kedua kami pun tak kembali. setiap orang yang kami kirim untuk menjumpai para kiai. Segera kami kirim seseorang untuk menemui mereka. mengalun menidurkan rerumputan. berkobar dan segera kami lempar pada mesjid itu. bagaimana mungkin? Tapi. menguap begitu cepat. membumbung. lenyap seketika. masuk dalam masjid itu. tak membiarkan seekor tikus lolos dari amatan kami. memperingatkan para kiai bahwa waktu sudah habis buat mereka. Dan kami mendengar gema dzikir dari dalam sana. antara takjub dan panik. Gema itu melambung.

dan langsung melesat. kami memburunya. membiarkan rambut dan jenggot kami memanjang tak terawat. Dan memang. Di seberang telaga sana. Banyak dari kami yang mati dalam perburuan ini. hingga telah lama anak-anak kami tak lahir. agar kami mampu meringkus Jibril. kami lihat jejak cahaya. “Kejar!” Kami pun melesat. yang menyimpan bayangan bulan. Ketika kami baru saja rebahan dan membasuh kelelahan kami di telaga itu pun. Kemanapun Jibril melesat. mengharap kesegaran akan membuat tenaga kami kembali muda. Sampai kami tiba di pinggir telaga ini. Membiarkan kaki kami koyak oleh duri. mengejar Jibril.*** 17 Yogyakarta. Inilah buruan kami yang abadi. Bertahun-tahun kami memburu. dengan cepat berlesatan ke arah selesat cahaya biru itu yang dengan cepat bergerak dengan sayap mengepak. Karena kami harus terus mengejar Jibril. Jiwa pemburu kami bergelora oleh gairah perburuan kali ini. Maka kami pun kembali bangkit. inilah sesungguh-sesungguhnya perburuan yang sejati. jaring-jaring baja telah kami rentangkan. Kami begitu sibuk memburu Jibril. kami sudah harus kembali pergi ketika pada bayangan bulan. kami melihat buruan abadi kami. Sebagian besar dari kami kini benar-benar renta. Kami tak punya waktu untuk memikirkan itu semua. roket dan basoka. “Kesana!” seseorang dari kami berteriak. mengepakkan sayap-sayap cahaya-Nya. setelah bermacam pengalaman perburuan membuat kami jadi pemburu sejati. perangkap telah kami pasang. Segera menghambur. melanjutkan pemburuan abadi kami. Setelah berabad-abad kami hidup sebagai pemburu. meraih peralatan berburu kami. desing senapan mesin. Kami tak sempat istirahat. Tombak terus beterbangan. ranjauranjau telah kami tanam.panah. dan kami pun tak sempat menguburkannya. roket terus berlesatan. Kami tak mau kehilangan jejak. Inilah perburuan paling menakjubkan bagi kami. kami benar-benar tak pernah punya waktu istirahat. Kami tak pernah tidur di satu tempat. 1995-1998 (Dongeng Buat Mas Danarto) .

Pernikahan Angin
Oleh: Dianing Widya Yudhistira

18

Aku di sini. Berada di ketinggian menara. Menikmati senja. Senja kali ini berwajah pucat. Langit diam. Sepi. Melintas di depanku burung gagak bergaun hitam. Menari di depanku. Tarian yang sebelumnya belum pernah aku saksikan. Seperti mengabarkan sesuatu yang ganjil. Angin masih terlalu cinta dengan kehadiranku. Ia sapa aku lembut. Perlahanlahan aku sapu anak rambut yang tergerai di wajahku. Tulus. Gagak itu masih menarikan tarian yang terluka. Entah tentang apa. Ketika senja berangkat ke malam, perlahan-lahan burung Gagak menghentikan tariannya. Menatap padaku. Tatapan matanya yang tajam, seolah-olah menelanjangi batinku. Aku belum tahu apa yang sesungguhnya Gagak sampaikan padaku. Yang aku tahu, malam ini seperti tak punya nafas. Tak ada angin yang meliukkan tubuhnya. Pohon-pohon diam. Tak kudengar desah dedauan. Gunung-gunung membisu. Demikian juga dengan hamparan laut di depanku. Diam. Malam begitu terbungkus kesunyian. Sehelai daun akasia yang menua, melayang di udara. Jatuh. Terkulai di tanah basah. Kesunyian kian lengkap. Aku masih di sini. Di ketinggian menara. Aku terpaku di ujung lengan cakrawala. Perlahan-lahan aku hela nafasku. Menghembuskannya dengan bebatuan. Tak ada yang menemaniku, malam ini. Tak ada yang mengajakku bicara malam ini. Hanya burung Hantu yang mau menampakkan diri. Seperti biasa. Ia adalah kekasihku. Yang selalu bercerita tentang bulan dan bintang. Yang memberi aku kedamaian. Ya. Seekor burung hantu. Menghampiriku. Hanya saja matanya tak bersinar seperti hari-hari kemarin. Mata itu redup. Burung hantu menatapku. Kosong. Sebaid lirik kehilangan aku temukan di sana. “Selamat malam, Dianing.” “Kabut apa yang menodai matamu, hingga ke pendam rasa ngeri.” “Engkau sesungguhnya, Dianing.” Dibentangkannya tanda tanya di hadapanku.

“Di mana Lismatano sekarang Dianing.” Aku tercenung. Ia menyebut nama laki-lakiku. “Pergilah ke hutan Para, Dianing.” Aku menautkan kening. “Kau akan tahu.” Tiba-tiba angin meliukkan tubuhnya dengan gerakan yang dahsyat. Ia memintalku dengan kekuatannya. Dengan cinta ia terbangkan aku ke hutan Para. Sekelilingku gulita. Tak ada cahaya. Tapi, cahaya bulan bugil membantu penglihatanku. Banyak pohon di kanan kiriku. Depan dan belakangku. Masyarakat pohon. Membisu dan gelisah. “Inikah hutan.” “Ya. Hutan Para.” Suara burung hantu. “Apa yang aku tahu.” “Ikuti aku.” Seperti perintahnya, aku ikuti langkah burung hantu. Semakin aku mengikutinya, jalan yang menanjak kian gelap. Gelap dan sangat gulita. Hanya deru nafas yang dahsyat terdengar di telingaku. Deru nafas yang memburu dan aku akrab dengannya. Terpadu dengan deru nafas yang lain. Entah nafas siapa. Aku langkahkan kakiku selangkah. Tiba-tiba di depanku terang benderang. Astaga!! Lismatano, laki-lakiku bergumul dengan tubuh perempuan lain. Gila!!! Seketika itu angin kembali meliukkan tubuhnya dengan dahsyat. Memintaku kembali. Entah dalam waktu seberapa detik menerbangkan aku. Yang jelas kurang dari satu detik aku kembali berada di ketinggian menara. Aku lunglai. Bayangan Lismatano dan perempuan itu terekam jelas di layar komputerku yang paling pertama. Malamku lunglai. Aku tahu burung hantu masih di sampingku. “Untuk apa kau bawa aku.” “Untuk menjelaskan padamu siapa sosok Lismatano.” Aku hanya bisa menelan pil pahit. Menikmati segala luka hati dengan tulus. Lismatano. Laki-laki yang sepenuhnya aku kagumi. Ternyata mampu menikam darahku.

19

“Apakah aku terlambat, Dianing.” “Sama sekali tidak.” “Mengapa batinmu begitu luruh.” “Aku tengah belajar untuk bahagia dan damai dalam sendiri.” Burung hantu tersenyum. Mengepakkan sayapnya di ketinggian menara ini. Selalu ia yang melindungiku. Telah aku putuskan untuk tak merajuk atau menerima Lismatano. Tak kan lagi aku melakukan kesalahan yang sama. Malam telah melengkapkan usianya. Aku pandang wajah bulan. Lewat cahayanya ia mengucapkan salam. Aku dengar bisikan angin. “Selamat malam.” Aku membalasnya dengan menguap. “Selamat malam, Dianing.” Aku tatap burung hantu. Ia membimbingku ke kamar. Menyelimuti aku. “Tidurlah dengan damai.” Aku mengangguk. Aku tahu ia akan menjagaku sepanjang malam. Di ketinggian menara ini. Perlahan-lahan aku terlena. Hembusan semilir angin menerpaku. Sejuk. Perlahan-lahan aku terbawa ke dunia lain. Dunia yang selalu aku impikan. Hamparan luas rumput hijau. Berbagai macam buah lezat dan makanan tersedia di sana. Di hamparan rumput itu mengalir parit. Yang airnya susu dan madu. Di hamparan luas rumput hijau itu, para bidadari tersenyum ramah. “Oh kehidupan yang menyenangkan.” Sejenak kutinggalkan dunia. Aku benar-benar menikmati dunia lain ini. Dalam tidurku, aku kembali terlempar ke dunia. Tapi, seperti ada yang menghalangi nafasku. Aku terengah-engah. Entah siapa. Wajahnya bersih. Ia bersayap dengan baju serba putih. “Aku akan menjemputmu, Dianing.” “Menjemputku!?” “Ya. Ke alam baru. Kehidupan yang sesungguhnya.” Aku tak mengerti.

20

Burung hantu menyentuh bahu kananku. Seolah mencegahku. “Kau tak bisa menghalangiku. Ini perintah Tuhanku. Tuhanmu jua.” “Ia masih terlalu muda.” “Kehendak Tuhan.” Aku lihat mereka berdebat. Mereka asyik dengan argumen-argumen mereka. Sementara aku hanya bisa menikmati perdebatan mereka. Karenanya, burung hantu terkapar. Sayapnya patah. Sosok bersayap itu kembali padaku. Tangannya yang dingin menyentuh kulitku. Entah apa yang ia lakukan. Yang aku tahu, sungguh tubuhku merasakan sakit yang dahsyat. Setiap kali tarikan hebat itu lepas kembali ketika menyentuh di leher. Aku mengerjang, merintih, terpuruk, lelah. Aku lihat burung hantu kembali bangkit. Kali ini tak ia pedulikan sayapnya yang terluka. Ia berusaha mencegah keluarnya rohku dari jazadku. Jadilah jazadku ajang perebutan roh. Sosok bersayap itu menghendaki rohku. Burung hantu ingin rohku tetap menyatu dengan jazad. Mereka tak tahu bagaimana aku menahan sakit. Cukup lama mereka bertarung. Entah berapa waktu. Karena sakit, aku merasakan sangat lama. Kekuasaan Tuhan tak ada yang mampu membendung. Hingga aku benarbenar terlempar ke dunia lain. Roh yang bertahun-tahun menghuni jasadku, kini telah diinginkan pemiliknya. Aku terbang tinggi tanpa tahu di mana akan berhenti. Aku saksikan jasadku dimandikan bunda dan saudara-saudaraku. Beberapa orang yang menyayangiku hadir di kematianku. Mereka mengucap seuntai kalimat duka. Ketika jasadku dishalatkan, aku merasakan kesejukan yang sangat. Tapi, aku merasakan sakit ketika bunda dan saudaraku terisak di makam. Ketika jasadku mulai dimasukkan ke liang, kedua saudaraku pingsan. Duh, jalanku tersandung semak belukar. Perlahan-lahan tanah menimbun Jasadku. Hingga merata dengan tanah. Tertanam sudah jasadku di tanah. Aku melesat ke langit demi langit. Beribu roh berkumpul di alam yang sulit aku uraikan. Berupa-rupa aku temui. Di depanku layar besar mengungkap kembali kisahku di dunia. termasuk kisahku dengan Lismatano. Aku merasakan getar aneh ketika melihat Lismatano. Entah, di alam yang lain ini aku masih mengenang Lismatano. Laki-laki yang pernah berjanji akan menikahiku. Di tengah riuhnya roh-roh yang menuju pengadilan akbar itu, tiba-tiba muncul burung hantu. Ia menuju ke Tuhan. Ia mengadu tentang aku. “Aku ingin Ia diberi keisitimewaan.” “Tentang apa.” Aku menatap burung hantu. “Biarpun Dianing telah kau ambil, berikan ia kesempatan ke dunia.”

21

Aku lihat wajahnya sepi.” “Ya. Aku bahagia melihat secercah wajahnya yang ceria. Ia menembus awan.” Kami berpelukan. Burung hantu mengepakkan sayapnya. Dianing. Ia menjerit.” “Ya. Lama menunggumu dan juga tengah menunggumu. “Dianing. “Boleh aku tahu dukamu.” 22 . Seperti berabad-abad lalu. Ia bugil di malam yang damai itu. mega. Aku temukan sebaid lirik kehilangan di matanya.” “Ya. Bulan bulat penuh. Tersenyum dan memberi salam padaku. bulan menuju ke dunia.” “Cepatlah kau temui burung hantu.” “Bila Tuhan mengizinkan. Gemerlap bintang menyambutku.” “Tentu. UNTUK pertama kalinya aku turun ke dunia. Aku lewati langit demi langit. “Cukup lama kami menunggu.” Aku terpana.“Maksudku melihat dunia.” Matanya berpendar. bintang.” Aku lihat burung hantu terpekur sendiri. “Aku tunggu kedatanganmu di dunia. Aku bertemu dengan mega. Indah sekali. Dianing. Seperti menunggu kedatangan. Atas izin Tuhanku. Aku izinkan ia suatu ketika turun ke dunia. langit cerah.” Burung hantu terbang. Aku membalasnya dengan anggukan tulus. Wajah yang cerah itu tiba-tiba luruh.” “Baik karena cintaku aku merestui Dianing. “Gerangan siapa membuatmu sepi.” “Oh ya.

Bukankah ia bagian dari hidupmu di dunia. “Untuk apa.” “Hutan Para!?” “Lismatano ada di sana dengan perempuan itu.” Burung hantu masih bertengger di pohon randu. Tak sekedar gelap. Di 23 .” panggil burung hantu lirih. Hidup bersama tanpa kata yang jelas. laki-laki yang pernah aku dambakan jadi suamiku.” “Lalu?” “Lismatano memilih jalan buruk.” Aku tak mengira laki-laki masa laluku memilih hidup yang naif.” “Mereka seatap tanpa ikatan. “Bukankah mereka telah menikah.” “Maksudmu.” Burung hantu menggeleng. “Lismatano tak pernah menikahi perempuan itu. Telah berpaling dengan perempuan lain. Aku terpana. “Dianing.” “Bicaralah.” Aku luruh. Lismatano. “Bila kau berkenan.Burung hantu menatapku. Tiba-tiba begitu sepi..” Aku kembali ke hutan Para. “Kau tahu bukan perbuatan mereka melebihi hubungan suami istri.. terjal dan mendaki. Serumah tanpa ikatan sah sebagai suami istri. Tatapan yang sulit aku urai.” Aku lunglai.” “Ya. “Maukah kau ke hutan Para.

hutan Para itu aku kembali menyaksikan Lismatano bergulat dengan perempuan yang sama. Tiba-tiba.*** 24 Jakarta. Ia tak membatu. Sebentar lagi aku harus kembali. Ia berubah jadi batu. Kini tak bisa bergerak. Saling menumpahkan nafsu. Perempuan itu. Sementara perempuannya berubah binatang. Tapi. tetapi tubuhnya berubah. Lebat dan kotor. . Perempuan itu berubah binatang yang sangat mengerikan. Pergulatan yang dahsyat. Lismatano telah membatu dan berlumut.. Ya. Besar. Mei 1997. “Bulan pun tak sudi menyaksikan persetubuhan mereka. Aku terpana. “Mengapa dengan mereka. Lismatano dan perempuan itu terus bergulat. Ia dalam keadaan yang mengerikan ketika membatu. Ia berkaki empat.. Ya. Aku yang terpaku. Dianing. Aku berada di ketinggian menara. Siap menerkamku. Mulutnya lebar ke arahku. Aku tak kuasa melihatnya. Lismatano telah membatu. Tubuhnya tumbuh lumut. “Yuniz nama perempuan itu. entahlah mengapa tibatiba aku terpaku di depan mereka. Tubuhnya berbulu sangat lebat.” “Itulah yang pantas mereka terima. Kini aku hanya bisa merasakan sentuhan angin. Dan aku kini mulai belajar untuk damai dan bahagia dalam sendiri.” Aku menghela nafas. Ngeri. Aku tak percaya melihatnya.” Aku hanya mengangguk. Deru nafas memburu. Tapi burung hantu segera menerbangkan aku. Aku di atas pohon randu. Tubuh Lismatano mengeras. Menikah dengan Lismatano hanya sebuah impian yang abadi.” Aku menekuri tanah. Merasakan cinta dan kasih sayangnya.

Dan mudah-mudahan juga bidikan saya kali ini bisa secepatnya membukakan mata Bapak.. . *** “Jadi izin yang membolehkan wartawan menggunakan pistol. berkemeja putih dan bercelana abu-abu itu.” Wartawan mendengus. Dan tawa itu ternyata telah cukup untuk jawaban. “Selain pintar mengejar berita. Februari 2000 Pistol Oleh: Ode Barta Ananda 25 Dor! Tak ada yang terkejut ketikatembakan itu menembus sasaran..Horison. Ada yang mengelupaskan bahu. benar berasal atas usul Bapak?” salah seorang dari kerumunan wartawan menanyai seorang pejabat.... misalnya?” Pejabat tergelak. “Bagus!” Instruktur menepuk bahu seorang peserta kursus menembak yang baru saja berhasil menembus jantung sasaran. sebagai wartawan.. Aku tak ingin rekan wartawan kembali menjadi korban dalam gejolak suasana yang sedang memanas sekarang ini. dor! Dor! Dor! Tembakan yang lain seperti saling susul untuk menembus sasaran.” “Apakah pejabat yang berkedudukan lebih tinggi juga sudah memberikan izin?” “Secara prinsip sudah. Menghapus peluh pada hidung. asal tahu saja. Pejabat yang berdasi kuning.” “Apakah Bapak telah siap mengantisipasi segala kemungkinan-kemungkinan buruk? Seperti pemanfaatan pistol untuk penodongan oleh oknum wartawan. “Begitulah. Ada yang menembus kepala. Dan berdehem.. Tapi tidak ada satu pun yang meleset. ternyata Bapak sangat jitu juga dalam membidik sasaran. “Mudahmudahan bukan hanya kebetulan. Ada yang menusuk jantung.” “Tentu... untuk mengeluarkan izin penggunaan pistol buat saya..” Pelatih mengedipkan sebelah mata. Pak... tersenyum lebar sebelum menjawab. tentu. Mlah.

sarana latihan dan pistol ternyata disediakan oleh koperasi?” “Mungkinkah koperasi mematok harga setinggi itu?” menyusul tukasan lain.. Dan. menurut perkiraan dokter. Namun wartawan telah kembali berujar. . “Saya sedang tidak konsentrasi. istri saya juga akan melahirkan tiga hari yang akan datang. Yung! Bentuknya yang unik dan hasil rekamannya bersih sangat seimbang dengan harganya yang mahal. “Atau ada oknum-oknum tertentu yang sengaja menangguk di air keruh?” Pejabat mengerutkan kening. sudah ditukas pertanyaan lain.” “Untuk melunasi kreditnya.” “Kenapa? Memikirkan pekerjaan? Atau gadis simpanan itu?” “Jangan terus bercanda. “Padahal menurut selentingan kabar.” Belum selesai pertanyaan itu. Kau sudah lihat kan?” “Wow! Canggih. hampir seluruh kawan-kawan sangat menyayangkan biaya latihan menembak yang cukup tinggi. Harga pistol yang mahal. memasang wajah serius. 26 *** Dor! Tembakan wartawan meleset. “Dan sebagian tabungan juga baru saja saya belikan alat perekam baru.” sang rekan merentangkan tangan. Pembayaran harus lunas tiga hari lagi. Apa yang telah merusak konsentrasimu?” “Pembayaran pajak pistol ini. Lalu mengangguk-angguk. Padahal. “Mana yang harus saya jawab lebih dulu?!” dia kesal dan langsung memasuki mobil sambil membanting pintu. “OK. “Silahkan. Waktu angin mencubit kelopak yang akan menghasilkan putik..” *** Saat panas menukik terik. Ketika sinar matahari seakan berniat mencabik-cabik. Saat itulah para pencari berita berhasil mencegat pejabat yang baru saja keluar dari kantornya.” Sang rekan hanya bisa kembali mengangguk-angguk sambil berusaha mancari jalan keluar. Bisa-bisa kutembak kau!” dia mendelik sambil pura-pura marah. “Tak biasanya tembakan kau meleset?” seorang rekan tercengang. saya harus menggadaikan pistol ini.“Tapi..

“Kelihatannya biaya latihan. sesuai dengan jabatan Bapak?” Pejabat terbelalak.. wartawan telah menukas sambil mengacungkan alat perekam yang benar-benar mirip pistol. ternyata alat perekam saya yang mirip pistol ini.. Melihat para wartawan tidak mengerti. dia beralih membunyikan klakson. saya baru menyadari. yang terlambat datang. harga pistol. Menutup kaca jendela mobil.” wartawan mengeluarkan alat perekam itu. kalau tak langsung berhadapan dengan Bapak. menyeruak kerumunan. “Atau izin penggunaan pistol bagi wartawan ini memang untuk mencari untung?” “Jelas tidak!” Pejabat menekan gas lebih keras. Wajahnya memucat. Dan darah mempermerah jaketnya yang sudah merah. dan biaya administrasi lainnya. Pak?” Pejabat tak mengangguk dan tak juga menggeleng. dan memberikan pertanyaan sambil menodongkan alat perekam. “Tak enak rasanya. Waktu matahari baru saja bersiap menghangatkan bumi. “Benarkah tidak ada keterlibatan oknum tertentu. Wartawan pemilik alat perekam baru yang berbentuk unik. saat itulah wartawan dan pejabat.. nilai pajak. “Kau kan sudah menelepon tadi malam. untuk minta maaf. yang sengaja mendongkrak segala biaya yang berhubungan dengan pistol? Atau.” diulurkan tangan untuk berjabat. Saat fajar bergerak sembunyi. Dia tertelungkup. "Setibanya di rumah. Malah semakin menekan gas mobilnya sambil menginjak rem. Dan menekan gas dalam-dalam. “yang membuat Bapak ketakutan dan tergesa meninggalkan kami kemarin?” Pejabat mengangguk. ternyata aku masih ketakutan dengan sebuah alat perekam. semakin tak menentu. “Apakah Bapak.” Pejabat melambaikan tangan ke arah belakang wartawan.” pejabat tergelak juga. *** Ketika embun jantan belum selesai membasuh pagi. Kenapa sekarang masih mengganggu lari pagiku?” Pejabat tersenyum sambil meninju perut wartawan dengan akrab. Wartawan tergelak. akan mengusahakan perbaikan semua masalah itu. “Harus kuakui. asyik berbincang-bincang dekat telepon umum.*** 27 . “Jjjangan! Dddia bukan mengancam!” Dor! Sebuah peluru buas langsung menikam punggung wartawan. Perut buncitnya terguncang-guncang menertawakan kebodohannya sendiri. tapi belum sempurna anggukannya. Dia langsung mengangguk keras-keras.

dan Punakawan itu merasa dirinya masing-masing kembali menjadi remaja. lagi-lagi propaganda Amerika. “Apa kita hanya akan menampilkan kabaret saja untuk perayaan negara. gerombolan Pandawa. kramotak!” Hanya Dewala yang bisa mengontrol diri dan tampak kalem. Bahkan Arjuna kembali menjadi ABG. “Sambil makan malam. Dikenakannya syal berwarna merah dan kacamata hitam. mo nraktir ceritanya?” hampir berbarengan Nakula dan Sadewa bertanya kepada rombongan. “Belum begitu laper gua ini. “Sebel gua. kita masuk pub dulu!” ajak Bima. BM dong!” balas Kresna. “Bukan mau nraktir. begitu ngepop. Ajakan untuk berdamai dan bersatu melawan musuh dari luar angkasa itu sangat menarik.” sahut Kresna. Aku tiba-tiba tergagasi oleh film tadi. tidak terpengaruh oleh hiruk-pikuk ABG yang modernis itu. Apa sih maunya Amerika? Dasar Yahudi!” “Tapi Prabu.” Sesaat hening. Apa salahnya kita ajak Dursasana untuk bersatu melawan musuh dari laur angkasa. “Siape ni nyang ngulang tahun. tak ada makhluk luar angkasa selain para dewa. tiba-tiba Kresna. mereka sponsor kita kok.Teater Dewala Oleh: Doddi Achmad Fawdzy 28 Sepuluh menit sehabis menyaksikan Indepedence Day. Nakula dan Sadewa tiba-tiba berlagak sebagai penyanyi rap yang sladak-sluduk itu. Malah utusan dari Astina akan menampilkan operet Maria Cinta . Melewati Alun-alun Bandung. Gerombolan Pandawa berbelok ke arah Kentucky Fried Chicken. Prabu Kresna masih mengumpat-ngumpat kepada para Punakawan. Dewa jangan diberontak. kita perlu merundingkan kembali materi untuk peringatan hari kemerdekaan negeri kita. dari Jupiter misalnya?” balas Astrajingga. “Maksud Prabu?” Yudistira yang dari tadi miring saja. Astrajingga dan Gareng ikut berlenggak-lenggok sebagai penari latar sekaligus menjadi Backing vokal. saya tidak melihatnya dari sisi itu. Kan kemarin kita terima faksimil dari seluruh propinsi bahwa mereka tidak akan menampilkan kesenian daerahnya masing-masing. “Dalam dunia pewayangan. terlihat gairahnya kalau diajak berpikir serius. “Kramotak. Tiba-tiba beberapa orang merasa lapar dan menuduh Prabu Kresna yang mengajak mereka berbelok ke arah Kentucky.

segera bersembunyi ke belakang dan memijit remot recorder.” Dewala mencoba menjelaskan.” Arjuna bersungut-sungut. Kukira ini usulan yang baik dan kita harus menyambutnya. Hasil pembicaraan pemerintah Amarta malam itu sampai ke telinga Patih Sengkuni dan Resi Kombayana. Apa pun yang kita rencanakan. “Jangan sok tahu Kau. Mungkin kita terlalu serakah dan ceroboh.” demikian Kombayana punya usul. Mungkin bisa jadi kesenian sebagai alternatif untuk mencapai perdamaian. Dewata telah memutuskannya. “Jadi mereka akan mengundang kita untuk menyelenggarakan acara kesenian yang akan melibatkan personal dari berbagai negara. Sementara kerusakan teknologi akan diserahkan kepada Batara Guru. Gareng kebagian memesan hidangan. Bima menggebrak meja. Kita bisa menyusupkan orang-orang kita untuk menyelidiki lebih jauh rencana-rencana Pandawa dalam Barata Yudha nanti. Urusanmu mengelola satpam dan tukang parkir. “Tidak.” Semar mengingatkan. Karena itu. Nakula dan Sadewa ikut naik pitam. Dewala mengambil sikap diam seribu bahasa. “Kukira tidak mesti seperti itu. Punakawan yang lain menyikutnya. Bima meraung-raung.” Bisma mengingatkan. Perang dan kekerasan adalah dua jalan yang bersatu menjadi satu arah untuk mencapai kemenangan. Tak ada kesenian dalam merebut kemenangan. apa tidak membingungkan pikiranku melihat realitas apresiasi masyarakat sudah turun seperti itu? Rusak Re. Ia membubarkan rapat dan memohon Prabu Kresna dan Wak Semar menyabarkan yang lain. Seorang anak kecil yang biasa mengemis atas suruhan Kurawa.yang Hilang. Para pengunjung tanpa disuruh segera meninggalkan makanannya. Semar hanya gigit jari ketika Gatotkaca melaporkan kejadian sesungguhnya. misi perdamaian lewat kesenian dalam perayaan ulang tahun negara seperti yang diusulkan Dewala hanya omong kosong. Tangannya masih menggenggam paha ayam. Rusak!” “Inilah salahnya Prabu. 29 . Takdir kita untuk menerima kekalahan. Mereka ketakutan dan terbirit-birit keluar setelah membayar makanan. Barata Yudha adalah sebuah takdir yang mesti kita terima.” Dibentak seperti itu. Rupanya dia dan pemilik rumah makan itu bersekongkol sebagai agen mata-mata Astina. Tapi Yudistira cepat berpikir dan berlaku bijak. Kurawa telah terlalu curang dan tidak bisa dibiarkan. Tiba-tiba rapat di pihak Pandawa menjadi kacau balau. Mereka mendengar laporan bahwa Challenger meledak dan Chernobil bocor.” “Ini kehendak Dewata. kita sekarang terlalu berjarak dengan wong cilik. Seperti biasa. suasana rapat menjadi lebih kacau. Acara untuk menyambut hari ulang tahun kemerdekaan negara akan dipikirkan. “Misi ujicoba kita gagal. bahkan Semar menjewer kupingnya. Perdamaian hanya menghambat rencana Dewata.

saya akan membalikkan fakta.” “Tapi saat ini saya ragu. Pokoknya semua serba menyenangkan tamu undangan.” “Itu wajar karena mereka punya ideologi. Kita mengalah untuk menang. ia biasanya merasa bisa berpikir lebih tepat. Ini menjadi pelajaran juga bagi kita selaku pemegang pemerintahan untuk tidak terbawa oleh arus dan rayuan gombal musuh. Sebenarnya waktu Pandawa mau diajak main dadu. Dulu bambu bisa menebang milik siapa saja. itu sebabnya bahagiakanlah mereka dari sekarang. juga para teaterwannya diajak untuk ikut bermain dalam pementasan ini. insya Allah deh mereka tidak akan terlalu brutal dan mau menerima putusan Dewata dengan dada yang lapang. “Justru naskah ini tepat sekali. dalam akhir cerita. Syukurlah kalau Prabu Yudis mau sponsori obsesi saya. sekarang rakyat sudah menjadi materialis. Tetapi kita juga tahu. mengapa? karena kita tahu bahwa di Barata Yudha nanti mereka akan kalah. mereka tidak tahu bahwa mereka akan dicurangi oleh Paman Sengkuni. Saya punya teknik. Prabu. Kita tahu bahwa Pandawa kalah taruhan. Akan tetapi kita mesti terus berusaha dengan cara mengingatkan kembali diri kita masing-masing pada sejarah. Cerita kekalahan ini akan sangat menyenangkan bagi Suyudana dan kawan-kawan. Dengan dibahagiakan. soalnya seniman di negeri kita sendiri tengah gontok-gontokan. ia lebih suka berhadapan dengan komputer dan internet. “Saya punya obsesi dari dulu untuk menggelar naskah Pandawa Adu Dadu. selain nanti para pembesar dari berbagai negara diundang. Eu begini Prabu. Kita harus mengalah dan membahagiakan saudara-saudara kita yang memilih jalur menjadi lawan. Konon katanya menurut mitos.” *** 30 .” “Tapi apa justru tidak akan membuat semakin pongah?” “Sebenarnya ini tergantung dari sumber daya manusianya sendiri. kalau memang bakatnya membelot ya membelotlah. Kalau sudah seperti itu. bahwa mereka saling menghargai pendapat dan karya seniman lain. dari kopi dan dari rokok. Berhari-hari pula ia menjauhkan diri dari ranjang Drupadi.” “Bagi saya. tetapi yang bisa membawa pada aufklarung dan bertemakan perdamaian dunia. Tapi jalan keluar untuk damai belum juga didapatnya. Diam-diam ia tertarik dengan usulan Dewala. Dengan demikian.Berhari-hari Yudistira menghadapi komputer dan mencerna John Naisbitt tentang Kebangkitan Asia. Nanti Prabu tidak merasa surprise lagi kalau saya beritahu dari sekarang. tapi tidak ada sponsor sampai saat ini. seniman adalah pintu terakhir yang akan menjaga persaudaraan dan kebersamaan. segala benda serba diuangkan. silaturahmi antarseniman pun terbina. Kebiasaannya bersemedi ditinggalkan. Dipanggilnya Dewala saat itu juga.” jelas Yudistira. Sekarang berteater tidak bisa lagi diberangkatkan dari apa adanya.” “Apa itu?” “Ada saja. pokoknya naskah karya siapa pun tak menjadi masalah. Pokoknya rahasia. Keningnya semakin mengerut seperti kening Einstein.

Singkat cerita, Dewala menjadi sutradara. Astrajingga mau menjadi Dursasana karena dibohongi oleh Dewala. Kabarnya yang akan menjadi Drupadi adalah istrinya Arjuna. Tapi setelah mendekati pementasan, casting itu diganti oleh Aswatama yang baru pulang studi komperatif tentang antropologi dari Amerika. Para seniman raksasa dari Astina menjadi Pandawa sedangkan para seniman dari Amarta menjadi Kurawa dalam casting ini. Dadu dilempar. Untuk lemparan pertama Kurawa kalah. Sengkuni tertawa, “mereka tertipu,” bisiknya. Para tamu undangan dari Astina terutama yang tidak pernah membaca karya sastra dan membaca sejarah wayang, tampak tegang. Sedang tamu undangan dari fihak Amarta bangga karena Pandawa menang dalam lemparan pertama itu. Begitu lemparan kedua dan selanjutnya, raut muka kedua belah pihak berubah. Pandita Durna dan Sengkuni menampakkan senyum kemenangan sambil melirik Yudistira yang tercenung mengerutkan dahi. Pada lemparan ke-sepuluh Amarta harus menyerahan negara sebagai taruhannya, dan kalah. “Mustahil,” gumam Arjuna. Pada lemparan terakhir, bila Pandawa kalah lagi mereka harus menyerahkan Drupadi sebagai taruhannya. Tentu saja Drupadi keberatan, tapi tak ada lagi benda yang bisa dipertaruhkan oleh Pandawa. Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa, dan seluruh kekayaan telah amblas ke tangan Kurawa. Bagi Dursasana yang belum beristri, justru taruhan yang paling berarti adalah Drupadi. Untuk apa para kesatria Pandawa itu, untuk apa kerajaan Amarta toh ia sudah bertahta di singgasana Astina. Ternyata Drupadi harus direlakan kepada Kurawa. Drupadi sesungguhnya tak percaya dengan kekalahan taruhan dadu ini, tetapi ia bahagia karena ini bisa menjadi kesempatan baginya untuk nyeleweng meskipun hanya dalam dongengan. Drupadi ingin tahu sehebat apa kejantanan Dursasana yang tergila-gila olehnya. Yudistira menunduk dan memejamkan mata ketika satu persatu pakaian Drupadi ditanggalkan oleh Dursasana. Brahmana dan seluruh Ksatria Pandawa telah disekap dalam penjara sebagai tawanan taruhan. Di luar plot cerita yang sesungguhnya, ternyata Drupadi bisa ditelanjangi oleh Dursasana yang diperankan oleh Astrajingga. Pada mulanya Astrajingga dengan penuh semangat menelanjangi Drupadi. Tetapi kemudian menjerit dan melompat dari panggung saat harus memperkosanya, karena yang memerankan Drupadi adalah Aswatama. Aswatama, keturunan homoseks itu mengejar-ngejar Astrajingga, “Please, touch me! Touch me!” Kejar-kejaran terjadi, membuat para penonton naik pitam. Resi Kombayana yang merasa ditelanjangi tentu saja marah tapi Bima tak kalah gertak. “Ternyata Aswatama itu seorang homoseks, Para Penonton.” Tiba-tiba Gareng menjelaskan lewat mikropon. Kurawa merasa tertipu dan dihina habis-habisan. Bodyguard dan pelindung Dursasana langsung memberondongkan peluru. Gatotkaca melesat ke angkasa, dilemparkannya senjata kimia. Antareja yang tidak mau menjilat jejak sendiri, melesatkan senjata laser dari jilatan lidahnya. Tapi justru tentara Pandawa yang mampus, sedang tentara Kurawa menjadi kebal.

31

Barata Yudha meledak dengan diawali adu panco antara Bima dengan Puntadewa. Sampai saat ini belum ada yang kalah. ***

32

Ondol
Oleh: A. Hidayat

33
Setelah begitu saja hilang selama enam bulan lebih, Ondol ditemukan mati di tepi kali. Mayatnya terapung tak tertutup selembar kain pun kecuali cawatnya yang putih kelabu dan tampak bolong-bolong. Beberapa bagian tubuhnya menunjukkan bahwa sebelum mati Ondol pernah mengalami penganiayaan. Jari-jari tangannya remuk bekas godaman batu. Sedangkan luka di dadanya hampir memperlihatkan beberapa buah tulang rusuknya. Ketika pertama kali ditemukan, Ondol yang mati di tepi kali itu tidak dikenali sebagai Ondol. Wajahnya hampir-hampir dapat dikatakan hancur remuk. Beberapa luka yang cukup dalam menggaris di pipi, di dahi dan di belakang tulang rahangnya. Sebelah telinganya juga hampir-hampir putus. Dan matanya seolah tidak nampak karena tertutup oleh sekelilingnya yang tembam dan kebiruan. Hilangnya Ondol yang misterius, kemudian kematiannya yang tidak lazim itu menimbulkan kecurigaan kerabat dan penduduk sedesa. Beberapa bulan sebelum tiba-tiba saja hilang, Ondol selalu diawasi beberapa orang yang entah dari mana. Kini Ondol ditemukan tewas dalam keadaan mengerikan. Pasti ada apa-apa di balik kehilangannya yang misterius dan kematiannya yang mengenaskan itu.

*** Setelah mayat Ondol diangkat dari kali dan kemudian diurus sebagaimana kebiasaan di desa, beberapa orang penduduk desa berangkat ke kota kecamatan untuk melaporkan peristiwa itu. Sementara mayat Ondol dimakamkan di bawah langit yang mulai teduh oleh warna senja, lima orang yang melapor itu tiba di kota kecamatan. Mula-mula mereka mendatangi kantor kecamatan, tetapi kantor itu tutup dan tak ada seorang pun yang berjaga di sana. Mereka kemudian menuju ke kantor yang berwajib di kecamatan. Namun, tanpa alasan apa pun, petugas piket di sana tidak mau melayani mereka. Petugas piket itu hanya memberi mereka sebuah surat pengantar yang harus mereka bayar seharga dua bungkus Dji Sam Soe. “Langsung saja ke kantor yang berwajib di kabupaten, ya!” katanya. Orang-orang yang melapor itu bergegas ke kota kabupaten.

Ruang penjagaan kantor yang berwajib di kota kabupaten itu kosong. Dengan ragu orang-orang yang melapor duduk di bangku yang ada. Beberapa lama kemudian, seseorang yang bersandal jepit keluar bersama seseorang yang berpeci. Di ambang pintu yang berpeci menyerahkan sebuah amplop kepada yang bersandal jepit. “Kalau kena tilang lagi, temui saya saja di sini. Pasti beres,” kata yang bersandal jepit sambil mengantar yang berpeci. Yang berpeci lantas pergi dengan mobil mengkilap yang terparkir di halaman. Yang bersandal jepit kemudian masuk dan duduk menghadapi orang-orang yang melapor. Orang-orang yang melapor serempak berdiri dan bersalaman dengan yang bersandal jepit, lalu duduk lagi. “Saudara-saudara juga kena tilang?” tanya yang bersandal jepit. “Oho, tidak Pak. Kami ke sini mau melapor,” kata salah seorang, mewakili yang lainnya. “Begini, Pak. Di tepi kali desa kami, tadi siang ditemukan seorang warga kami yang sudah tidak bernyawa. Ondol, Pak. Setelah hilang enam bulan lebih, Ondol ditemukan mati di tepi kali. Mayatnya terapung tak tertutup selembar kain pun kecuali cawatnya yang putih kelabu dan tampak bolong-bolong. Beberapa bagian tubuhnya menunjukkan bahwa sebelum mati Ondol pernah mengalami penganiayaan. Jari-jari tangannya remuk bekas godaman batu. Sedangkan luka di dadanya hampir memperlihatkan beberapa buah tulang rusuknya.” Yang bersandal jepit batuk-batuk kecil. “Nah, begitu Pak. Ketika pertama kali ditemukan, Ondol yang mati di tepi kali itu tidak dikenali sebagai Ondol. Wajahnya hampir-hampir dapat dikatakan hancur remuk. Beberapa luka yang cukup dalam menggaris di pipi, di dahi dan di belakang tulang rahangnya. Sebelah telinganya juga hampir-hampir putus. Dan matanya seolah tidak nampak karena tertutup oleh sekelilingnya yang tembam dan kebiruan.” Yang bersandal jepit batuk-batuk agak keras. “Hilangnya Ondol yang misterius, kemudian kematiannya yang tidak lazim itu menimbulkan kecurigaan kerabat dan penduduk sedesa. Beberapa bulan sebelum tiba-tiba saja hilang, Ondol selalu diawasi beberapa orang yang entah dari mana. Kini Ondol ditemukan tewas dalam keadaan mengerikan. Pasti ada apa-apa di balik kehilangannya yang misterius dan kematiannya yang mengenaskan itu....” “Sebentar, sebentar,” yang bersandal jepit memotong. “Sorri ya Pak, saya bukan yang menangani urusan kriminal macam itu. Urusan yang saya layani adalah soal tilang, tilang, tilang. Kalau bapak-bapak kena tilang hubungi saya. Tunggu yach, sebentar lagi.” Yang melapor hanya melongo. Untuk mengurangi rasa kesalnya, yang melapor kemudian mengeluarkan dua bungkus rokok. Dibukanya sebungkus, diambilnya sebatang dan dihisapnya dalam-dalam kemudian diedarkannya ke teman-temannya. Yang sebungkus lainnya disimpannya lebih dulu di hadapan yang bersandal jepit. “Nah, itu dia orangnya, Pak.” Kata yang bersandal jepit ketika dua orang temannya, yang berkumis dan yang berkaos oblong, muncul.

34

Pak. Urusan saya adalah perkara kriminal yang berkaitan dengan narkotika dan perkara kenakalan remaja. He he he. hubungi saya yeah. Sebelah telinganya juga hampir-hampir putus.” 35 . Wajahnya hampir-hampir dapat dikatakan hancur remuk. sedang yang berkaos oblong langsung masuk ke ruang lain. Setelah hilang enam bulan lebih.” yang berkumis memotong.” Orang-orang yang melapor kembali menyulut rokok. sorri. “Hilangnya Ondol yang misterius. Tunggu yeah. Beberapa luka yang cukup dalam menggaris di pipi. “Sorri. “Nah. begitu Pak. Ayo sekarang lapor sama dia. Asap rokok memenuhi ruangan yang tidak terlalu luas itu. Kini Ondol ditemukan tewas dalam keadaan mengerikan.. ini dia selesai mandi.” “Sebentar. “Nah. Beberapa bulan sebelum tiba-tiba saja hilang. “Terima kasih. tadi siang ditemukan seorang warga kami yang sudah tidak bernyawa. sebentar. duduk sebentar dan kemudian berdiri mondar-mandir lagi. sorri yeah.” Yang bersandal jepit batuk-batuk agak keras. Pak. Salah seorang yang melapor segera menyimpan lagi sebungkus rokok di hadapan yang berkumis. Pak. berdiri dan mondar-mandir..” Yang berkumis batuk-batuk kecil. Ondol yang mati di tepi kali itu tidak dikenali sebagai Ondol. Pak. di dahi dan di belakang tulang rahangnya. Pasti ada apa-apa di balik kehilangannya yang misterius dan kematiannya yang mengenaskan itu. Dan matanya seolah tidak nampak karena tertutup oleh sekelilingnya yang tembam dan kebiruan. Beberapa bagian tubuhnya menunjukkan bahwa sebelum mati Ondol pernah mengalami penganiayaan. Mulutnya bersiul sumbang entah lagu apa. Begini. Di tepi kali di desa kami. Sedangkan luka di dadanya hampir memperlihatkan beberapa buah tulang rusuknya. Ondol selalu diawasi beberapa orang yang entah dari mana. “Kalian akan melapor kejadian kriminal?” kata yang berkumis. urusan kriminal itu banyak macamnya. Jari-jari tangannya remuk bekas godaman batu. yang berkaos oblong tadi. Kalau yang menangani urusan bunuh-membunuh. Yang bersandal jepit dan yang berkumis menemani mereka merokok.” yang bersandal jepit setengah berteriak kepada keduanya.. Kalau kalian punya narkotika. Urusan bunuh-membunuh bukan bagian saya. kalian dengar. “Iya. kemudian kematiannya yang tidak lazim itu menimbulkan kecurigaan kerabat dan penduduk sedesa. nih ada laporan kriminil. Mayatnya terapung tak tertutup selembar kain pun kecuali cawatnya yang putih kelabu dan tampak bolong-bolong. Ketika pertama kali ditemukan.“Hei. Ondol ditemukan mati di tepi kali. Ondol.” kata yang berkumis kepada orang-orang yang melapor. dia lagi mandi dulu. Begini. Nah. Orang yang berkaos oblong datang sambil merapikan rambutnya.

Pak. Mayatnya terapung tak tertutup selembar kain pun kecuali cawatnya yang putih kelabu dan tampak bolong-bolong. Pak. ayo mulai. “Ya. Sebelah telinganya juga hampir-hampir putus. “Begini. Ya. Pak. Ketika pertama kali ditemukan.. Pak.” “Baik. “Hilangnya Ondol yang misterius.. Ondol yang mati di tepi kali itu tidak dikenali sebagai Ondol. tadi siang ditemukan seorang warga kami yang sudah tidak bernyawa. Sedangkan luka di dadanya hampir memperlihatkan beberapa buah tulang rusuknya. Beberapa luka yang cukup mendalam menggaris di pipi.” Salah seorang yang melapor dengan tergopoh menyodorkan sebungkus rokok kepada yang berkaos oblong. ya.” yang berkaos hampir-hampir membungkam mulut yang melapor dengan tangannya. Ondol. Jari-jari tangannya remuk bekas godaman batu. “apa kalian bawa berita acara kematiannya?” Orang-orang yang melapor kaget dan bingung. “Iya. walaupun yang menyampaikannya gubernur bahkan menteri sekalipun. Beberapa bagian tubuhnya menunjukkan bahwa sebelum mati Ondol pernah mengalami penganiayaan. Pak?” “Tentu saja tidak. Di tepi kali di desa kami. “Nah. Pasti ada apa-apa di balik kehilangannya yang misterius dan kematiannya yang mengenaskan itu. apalagi ini adalah laporan kriminal yang berkaitan dengan pembunuhan. ya. Bagaimana.” “Urusan bunuh-membunuh?” Mata yang berkaos oblong melirik ke bungkusan rokok di hadapan yang berkumis. selalu diawasi beberapa orang yang entah dari mana. Wajahnya hampir-hampir dapat dikatakan hancur remuk. Ondol ditemukan mati di tepi kali.” kata yang berkaos.. Masa aparat desa tidak pernah mengumumkan peraturan ini!” 36 . Harus ada berita acara tertulis.” Yang bersandal jepit bersin..“Nanti dulu. Apalagi kalian cuma warga desa biasa! Sebuah laporan. ya.” perintah yang berkaos oblong sambil segera menyulut rokok. bunyinya kembali mengagetkan yang melapor. Dan matanya seolah tidak nampak karena tertutup oleh sekelilingnya yang tembam dan kebiruan. Beberapa bulan sebelum tiba-tiba saja hilang. kemudian kematiannya yang tidak lazim itu menimbulkan kecurigaan kerabat dan penduduk sedesa. Ondol. kami tidak membawanya. dengan menyerahkan berita acara kematian itu. di dahi dan di belakang tulang rahangnya. mesti dilaporkan secara ter-tu-lis. Pak. Laporan lisan saja tidak cukup. “Wah.” Yang bersandal jepit bersin lagi. Kini Ondol ditemukan tewas dalam keadaan mengerikan. Apakah tidak cukup dengan laporan lisan saya tadi. bunyinya mengagetkan yang melapor. begitu Pak. “laporan kriminalitas?” “Iya. telah saya dengarkan. Setelah hilang enam bulan lebih.

Kebetulan ada perempuan montok di ruang tahanan.” “Caranya bagaimana.” “Betul. kejadian ini menimpa Ondol yang cerdas dan berpendidikan. Kepala Kepolisian beserta ibu. sodara-sodara. he he he. tak akan ada yang berani mendaftarkan diri menjadi calon kepala desa. visum dokter. Dengan demikian tidak perlu ditanggapi. “Kalau soal ini dibiarkan.” kata salah seorang. Pasti ini ada hubungannya dengan keinginan Ondol untuk memimpin dan memajukan desa ini. dan syarat lain yang tercantum di sini. Dilengkapi pula dengan denah lokasi kematian. Ondol mati tidak lazim dan keadaannya begitu mengerikan setelah setengah tahun lebih hilang secara misterius.” Yang berkaos menyerahkan selembar kertas. “Ingat. Pak?” “Menurut peraturan nomor 23456/7/89. Ada bukti pun.Yang berkaos oblong memandang tajam kepada orang-orang yang melapor. Sebuah is-syu maksimal hanya bisa didengarkan atau dalam istilah yang lazim di sini: di-tam-pung. Dan yang lebih penting lagi. Kepala Desa beserta ibu. berita acara itu sekurang-kurangnya ditandatangani oleh lima orang yang melapor serta diketahui oleh ketua RT beserta ibu. sebuah is-syu harus diperlakukan sebagai is-syu. sebentar lagi kantor yang berwajib ini akan tutup. Orangorang yang melapor menunduk semua.. Bagaimana kalau semua orang yang punya keinginan untuk maju hilang dan terbunuh begitu saja?” tanya salah seorang. Itu pun kalau perkara ini ingin diusut tuntas. pasti dia kesepian. “Kalau soal segawat ini hanya disampaikan secara lisan. Padahal pemilihan tinggal setahun lagi. itu namanya baru disebut issyu. Lalu dikukuhkan oleh seorang notaris dan didaftarkan di pengadilan. Tingkat kebenarannya masih dalam tarap diragukan dan belum bisa dipercaya sedikit pun. Tetapi orang-orang yang melapor meyakinkan mereka akan pentingnya pengusutan kematian Ondol. “Menurut yang berwajib juga ini sebuah peristiwa kriminal yang perlu diusut tuntas. Nah. ya tass. karena itu saya minta berita acara daripada kematian yang diissyukan tadi. jika tidak ada berita acara tertulis hitam di atas putih. Berdasarkan peraturan nomor 12345/6/78. ya hanya bisa dianggap sebagai kebohongan. Apalagi tanpa bukti. orang yang kita harapkan suatu saat bisa memimpin desa ini. orang-orang yang melapor menceritakan apa yang harus dilakukan agar peristiwa hilang serta tewasnya Ondol bisa diusut tuntas.. Dibuat di atas kertas segel rangkap sepuluh. Beberapa orang kerabat Ondol menyatakan bahwa kematian Ondol barangkali sudah merupakan takdir dan tak perlu diusut sebab-sebabnya. Camat juga beserta ibu. Wajar dong kalau seminggu sekali kami juga menikmati kencan gratis di malam panjang. dan akan lebih kuat lagi jika diketahui oleh Bupati beserta ibu. nih. . keterangan tidak pernah menentang dan menghina pemerintah. Ketua RW beserta ibu. karena sekarang malam Minggu. tidak pernah terlibat penganiayaan petugas keamanan. keterangan kelakuan baik sepanjang hayat. “Nah. kan?” 37 *** Di hadapan keluarga dan kerabat Ondol.

Kemarin! Mestinya kemarin ke sini. Baru sebulan lewat satu hari berita acara itu bisa didaftarkan di pengadilan. Karena itu. lebih kurang satu juta habis digunakan untuk berita acara itu. bisa saya terima. 38 . orang-orang yang melapor kembali datang ke kantor yang berwajib di kabupaten. Salah seorang.” Orang-orang yang melapor tersentak dan termangu. berbaik hati mengurus berita acara kematian Ondol. tetapi saya tidak berani kalau risikonya harus seperti Ondol. lupakan saja kematian si Podol itu. “Aduh. lebih baik kematian e. “Sekali lagi. Bukan kami tidak ingin mengusut. sebuah peristiwa kriminal pembunuhan dengan lokasi kematian di tepi kali hanya dapat diusut tuntas bila berita acara kematiannya masuk kepada yang berwajib tidak lebih dari sebulan. “Sekarang kami tidak punya banyak waktu. ini sudah menyangkut perkara sub-ver-sif.Saya juga telah diminta masyarakat banyak untuk mencalonkan diri. tetapi kalian yang teledor. tentu berita acara kematian ini. Sesuai dengan petunjuk Bapak. Sebuah kejadian serupa yang terjadi minggu lalu harus segera kami usut dan memerlukan penanganan yang tidak main-main. Untuk mendapatkan visum dokter. Mereka diterima oleh orang yang dulu mereka temui. tidak disiplin dengan waktu.. Namun pembuatan berita acara itu memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit. ini bukan lagi soal kriminal biasa? Yang berwajib saja mengatakan. sekarang kami serahkan berita acara kematian Ondol. berkas lengkap berita acaranya juga sudah kami terima. dan itu menjadi pro dan kontra bagi masyarakat desa. kami tidak punya waktu banyak. supersibuk. ya! OK?” Dengan langkah gontai mereka pamit dan pulang dengan seberkas tebal berita acara kematian. Jelas bukan. Orang-orang yang melapor tak bisa berkata-kata." yang berkaos menunjuk setumpuk tebal kertas di atas meja. Kerabat Ondol juga harus berpatungan menyiapkan sejumlah amplop untuk orang-orang yang menandatangani berita acara itu. Jaman sekarang kita harus berpacu dengan waktu! Ya. Menurut salah seorang kerabat Ondol.. Selain harus mengusut perkara minggu lalu.” Yang berkaos oblong mengerutkan dahi. yang menyatakan dirinya diminta untuk mencalonkan diri menjadi kepala desa. Menurut peraturan nomor 34567/8/90. siapa namanya itu. “Jadi. pengusutan perlu dilakukan. Pak. kami juga masih repot dengan perkara kematian si Udin brengsek setahun yang lalu itu. ya sayang sekali." kata yang berkaos setengah marah-marah.” kata salah seorang. Kami lagi sibuk.” Akhirnya semua kerabat Ondol menyepakati dilakukannya pengusutan. mayat yang telah dikubur digali kembali. kenapa baru menyerahkan berita acara sekarang? Sayang sekali. kalian lupakan saja. Kalau kemarin datang ke sini. Lihat. Pada hari itu juga. atas nama hukum. dengan semangat 45. “Begini. “kami semua mengharapkan kematian Ondol akan segera diusut tuntas setuntas-tuntasnya.

*** 39 . mereka membungkus gorengan itu dengan kertas-kertas segel berita acara kematian Ondol. Beberapa anak kecil memungut kertas-kertas itu untuk dibuat mainan kapal-kapalan. Kertas-kertas warna-warni berhamburan.Dalam terik matahari yang membakar tubuh. Beberapa bungkus nasi rames mereka makan untuk menghilangkan lapar. sebagian lainnya hanyut di selokan. ke halaman-halaman di rumah pinggir jalan. mereka melangkah menuju sebuah warung kecil. melayang-layang dan jatuh ke tengah dan tepi jalan. Sebagian kertas yang lain mereka lemparkan ke udara. Karena plastik pembungkus di warung itu habis. Mereka membeli beberapa buah goreng pisang dan goreng ketan.

Wajah putih berjenggot panjang itu masih menampakkan guratan ketegaran di pipinya. Mengapa tidak menjawab? Bisikku dalam hati. "Kaukah itu? Tanyaku sekali lagi. Kulihat di sekelilingku. Barangkali dia tidak tahu bahasaku yang berasal dari Indonesia. "Ya.Horison. bahasa yang sangat asing ditelinganya. Akulah Nuh! Nuh yang diceritakan oleh bapak-bapak kamu. Tongkat penyangganya menebar harum bau cendana." jawabnya tenang. Oh! Hidungku mengendus wewangian hingga meranggas mengalir dalam rongga dada. Ataukah senyumnya itu yang menawarkan jalinan komunikasi yang harus diresapkan maknanya dalam hati? Anehnya dia tahu kalau aku sedang menerka-nerka. kali ini lebih lebar. Dia tersenyum lagi. "Tapi aku takkan bisa menolong kalian." dia mengangguk. tapi rasa ingin tahuku menggebu mengelucak di gejolak kalbu menoreh-noreh dinding hati yang keheranan. di bawah angin besar membadai dan guyuran hujan menabrak-nabrak tap kapalnya." "Kalian?" aku heran. Aku jadi teringat cerita bapakku tentang laki-laki yang tidak disetiai istrinya di atas kapal kayu besar. Di atas batu pualam hitam begitu tegar dia berdiri. tapi (anehnya) warnanya hitam mengkilap. tapi yang kutemui hanya diriku sendiri. Tapi dia memandangku terus dan tersenyum mengejek. "Benarkah? Benarkah kau Nuh seperti yang aku angankan?" "Ya. "Kaukah itu? Jawablah!" Lelaki itu tetap diam. tapi wajah itu terus saja berdiri tenang menatapku. Kuusap-usap dengan keras dan kuucek-ucek kelopak di bawah alis ini. Lelah rasanya aku memanggil. . Aku hampir saja melompat kegirangan saat tahu kalau dia benar-benar Nuh. Maret 2000 Nuh Oleh: Isworo Haris Sunardi 40 "Nuuuh …! Kaukah itu? Yang berlayar dengan sabar mengarungi lautan tiada berpantai?" tanyaku ketika melintas sesosok wajah di depan mataku. Bisukah? Tanyaku dalam hati.

Beda sekali dengan lautan yang aku layari. Aku sering mendiamkan atau mendamaikan. Dulu bangsaku lalai tidak mau menjalankan perintah Tuhan dan nasihatku. Tugasku telah selesai dan tinggal santai." katanya menjelaskan. Aku rindu harapan. Akhirnya sampai juga aku menguasainya. bahkan tahi dilemparkan ke muka ini. Setiap kali kutapaki jalan sambil memanggul sepi."Ya . Istriku sendiri yang mengajari. Kukejar dan terus kukejar lawanku hingga jurang beku dan ternyata aku dan anak buah setiaku berhasil menang. Kau dan rakyatmu lupa pada titian waktu bangsa sendiri. aku jadi kebal. Aku sangat kecewa. aku bagi kebahagiaan. Aku merayap-rayap mencari-cari musuh yang lengah. juga kuda-kuda liar yang bisa kutundukkan. Dan matahari yang seharusnya hangat di setiap pagi berubah jadi resah yang menyengatnyengat pikiranku. Alis putihnya mengumpul. Akhirnya aku harus memilih jalan. Karena lamanya aku membuat kapal. Kalian! Kau dan rakyatmu yang lupa akan hidup dan perjalanannya. Tapi lama-lama setelah aku tua dan mulai banyak lupa." katanya menggeleng. Sementara di atasku beribu peluru mendesing memburu. Di antara mereka banyak yang saleh-saleh. ketika menemukan sela-sela perjuangan di antara perang dan perang. "Tidak. Semua karena hanya ingin mengikuti kata hati tanpa kau fikirkan. Nuh! Bagaimana sebaiknya bangsa ini berjuang berenang di lautan yang bergelombang duka ini. seperti dia sedang serius berfikir. Nuh? Aku mohon?" Kabut hitam menggumpal di wajah tua itu. Kubabat tanpa sisa. Berkali-kali aku dicaci dan dipecundangi. tidak …tidak! Aku tak bisa menasihatimu. hanya untuk umatku. Aku terjungkal dalam kesendirian di lembah papa. Bahkan tahi. Apalagi kau suka pelihara bunglon-bunglon yang dengan cepat mengecat warna. Saat kuketahui mereka curang dan membahayakan. berpakaian. Aku dan anak buahku. Ada guratan gelombang di keningnya. Aku berlayar di lautan tiada berpantai itu. Bukan untuk kalian. "Tapi Engkau bisa memberi nasihat buat kami. mereka sering pura-pura dengan cara memuja selayaknya seorang raja. mereka kusikat. dengan tanah-tanah yang kubangun rumah. Tapi bangsamu adalah bangsa yang telah lama mengenal Tuhan. Mereka ingin menelusur pada masa lalu dengan menerapkan di masa sekarang. Lalu aku berjalan di antara saudara-saudara sendiri yang bertongkatkan politik. Aku berjalan di bawah penindasan. Kau lupa pada orang yang suka memuja hingga kau turuti kemauan mereka. juga familiku. "Kenapa?" "Kronologi perjalanannya berbeda. Kusergap sebisanya dan kuhancurkan. Mereka bebas makan. Lagi pula lautan yang kau renangi adalah lautan waktu yang berisi ketololan dan keteledoran. telah berubah arah. kadang rumah yang berlebihan. 41 . Jembatan waktu yang kau tuju. seperti katamu. Kucari-cari bayanganku dengan harapan-harapan sambil meraba-raba bangunan. Lama aku menunggu jawabannya. Habis itu kubiarkan berbuat apa saja. Kutelusuri lagi perjalanan hidupku di saat masih kecil yang digeluti oleh lapar yang sangat." Aku terdiam.

Sambil berlari Dia kuhampiri.Mereka punjung kata dengan emas. Bencana-bencana beruntun melanda. akan kutempuh!" kataku. tapi tak juga muncul dalam benakku. "Kau pasti akan merdeka seperti engkau berjuang mati-matian memperoleh kata itu. kedua tanganku mengepak serupa sayap. "Ketegaranmu. Orang yang sabar berlayar itu akan kupungut hatinya. tapi malah tersasar dalam lembah kurang ajar. Di wajahnya ada teduh bulan purnama. Aku jadi sendiri. Kureka-reka dalam khayalku sambil menyusuri lorong-lorong pabrik-pabrik dan mobil-mobil mewah siapa tahu ada di sana. Lalu aku melesat di antara manusia-manusia pakar penasihatku. dan gunung-gunung yang kupijak meledak. "Tanpa ketabahan kau takkan mungkin mampu mengarungi lautan duka resah ini hingga sekarang. tapi di belakang disiapkan membokong. Dia julurkan telunjuknya ke arah langit. Tapi layaknya sekat. Tapi yang kucari tak ketemu juga. Nuh. Dia tersenyum. Lalu mendorong hingga terjerembab di lubang nista. "Nuh! Dimana kau? Kenapa kau pergi lagi? Nuh! Nuh! Nuuuh…!" teriakku memanggilmanggil orang yang kukagumi itu." Nuh yang tua itu menggeleng. Hari-hari kuakrabi sepi bagai mimpi. Orang tabah itu akan kumintai nasihatnya. Mereka tampak menyongsong. Lama kucari-cari dan kunanti. Dan dia yang berjiwa penolong itu akan kucari petunjuknya. Berjalan menyusuri ujung penantian." katanya. Kesunyian-kesunyian yang kutelan sebagai pelepas dahagaku telah mengenyangkanku. Kulambaikan tangan pada orang-orang." Lalu dia menegakkan jari tengahnya ke arah langit hingga berjajar dengan telunjuknya. Nuh. Kunyuk semprul! Ternyata di antara mereka itu ada beberapa musuh main petak umpet dan perang-perangan. Untunglah dia datang saat aku hampir terpagut rasa putus asa. 42 . Aku gagal menyentuhnya. Ketabahan yang kau pelihara sejak kecil itu membuat hatimu kuat. tapi hutan itu malah terbakar. Bibirnya lembut mengurai suara. betapa sedih ketika dia ulurkan tangan untuk menggapaiku tidak pernah sampai. Nuh! Kau datang lagi saat aku terlompat. Nuh?" tanyaku tak sabar. Aku berlari di hutan-hutan. "Tegarkan jiwamu!" katanya dengan menekankan suaranya. Dia julurkan jari manisnya menunjuk ke arah langit. Kuulurkan tangan agar aku dapat meraih kelembutan telapak tangannya. Aku jadi berfikir saat dia menjurus-juruskan jarinya ke atas. tepekur melebur diri dalam keheningan dan kesunyian." "Lalu. "Tabah. Aku ditandu dan dielu-elu. "Jangan mengejek.

"Ya.*** 43 . Aku terdiam tenang. Mataku terus saja menatapnya. ke sana!" katanya menjelaskan. "Terima kasih Nuh. terima kasih!" kataku sambil berlari melewati senja waktu malam yang mulai merayap meranggas gelap. Kendali emosi dari dendam pada orang-orang yang telah menjatuhkan kau sebagai kekuatan. Sambil memberi salam dia pergi melambaikan tangan." Aku termangu dalam buaian nasihatnya. Dia menyuruhku memandang ke atas. Tak terasa reflek jariku ikut menirukan gerakannya. Tapi Nuh tibatiba pamit pergi setelah meninggalkan nasihatnya dengan menghunjamkan dalam hatiku."Tenang!" katanya. Kupandangi dia saat berjalan meninggalkan. "Jadikan tiga itu tonggak kekuatan di hatimu untuk menetralisir kekalutanmu.

Kekuasaan.” ungkapnya tadi subuh sebelum berpisah. turun amat perlahan. nun beberapa tahun lampau. Dia datang dari jauh. ketika kami tidur bersama pertama kali. senja beringsut perlahan. tapi. beraroma perempuan dengan keliaran tersembunyi di balik kecerdasan dan pendidikan yang baik. usai membebaskan sandera. sepatu karet dan celana jeans. kekuatan dan ambisi adalah aura yang memancar dari tubuh tegap Yogo. Persis ketika suatu malam. tadi. meninggalkan gerah – juga kesal lantaran langit kota telah penuh asap. Pagi sekali. Dan burung-burung itu telah mengungsi meninggalkan taman di mana senja yang bisanya bersemangat menjemput malam. Terbang ke tempat-tempat yang jauh. dia bagai berada dalam situasi ekstase. mungkin. Usai mengantar Ning. Lalu di sini. dulu. Asing. pedalaman Irian. Jalan raya yang melintang membelah-belah kota menjadi senyap.” aku menyebut pertemuan malam itu. Ning juga pernah bilang begitu. Sambil mengontrol radio. ketika kami duduk di sebuah café di pinggir Champs Elessye. lenggang. lamban. Mungkin karena burung-burung sudah mengungsi entah ke mana. mereka yang hanya mengenal canda dan birahi. juga terekam dalam kalimat-kalimatnya yang cerdas. mematangkan dan memberi perintah “start”. Tapi adakah sesuatu yang asing bagi sebuah kemutlakan bernama naluri? Kukira tak ada. di sana. mungkin ke wilayah-wilayah yang belum dikenalnya. Urat-urat kesadaran yang memancarkan kharisma dari seorang prajurit lapangan. Kota sedang terbakar. Bau hutan tropis masih lekat di wajahnya. Dia hanya mengenakan T-shirt polos. menyisakan cungkupcungkup api dari mobil-mobil terbakar. sedang bermula. Atribut perwira yang selama ini menjadi citranya di depan publik. Bukan hal mudah mencapai taman ini. telah bergegas pergi dari situ. Hasymi Ibrahim 44 Di taman kota. dan Yogo telah datang. senja mulai nyungsep. Senja yang kemarin juga. “Kita evaluasi perkembangan. ”Anda bantu saya. . pada sebuah flat sederhana di Brooklynn. Pergilah. meneguk perlahan hangat tequilla. berkeringat. memberi komando. Tak perlu kontak. Bau tubuhnya masih tersisa dalam ketergesaan langkahku: asin. Mei Oleh: Moch. Gelombang masa yang bergulung-gulung bagai bah telah menyapu pertokoan. Paris. Revolusi. Anggap ini sebagai ekspresi persaudaraan. lenyap sama sekali. Malam yang teramat meletihkan telah kami lewatkan dan sekarang adalah tahap menunggu. kukira. lesu. bahkan nyaris lunglai. “Perjumpaan dengan calon presiden.Pada Sebuah Taman. perkantoran dan meninggalkan nyala api yang perlahan-lahan makin membesar. aku segera terbang ke sini. sepanjang malam. NY.

Presiden mundur besok. Beberapa buah bank sudah ambruk. Mungkin dia sedang di istana. Sabotase. Presiden yang ternyata sangat lemah. bayang kegagalan mulai tampak. demi kesan pada sebuah malam di sebuah kaki lima di Paris. Malam yang sepi.” katanya simpel. Dan malam tadi. Bahkan untuk beberapa tokoh kunci. dan berbagai upaya pembusukan telah terjadi. Langkah presiden selamanya memang tak terduga. seperti irama tubuhnya: simpel. persahabatan adalah ikatan kita. Juga keagungan sebuah cita-cita. Tapi apa mungkin? Yogo memang bukan panglima. Aku telah membaca jutaan bit dari laporan intelejen. tapi rencana masih sedang berlangsung. simpel. Oh. menganalisis arah perkembangan berbagai kelompok. diliputi misteri. bahkan dua tahun sebelumnya ketika ketekunan di depan mesin komputer menjadi aktivis menggairahkan. hingga subuh ketika kami pisah. kelak. rupanya tak dapat dipercaya. Markas keuangan sudah terbakar. bahwa dia takkan menyerah begitu saja. Sebuah persilatan virtual telah berlangsung mulai tadi subuh – bahkan sudah dua hari sebelumnya. —lampu teplok kehabisan minyak. pupus. dia memilih mengalah sebelum bertempur. dan demi keagungan. mengamati penampilan sekian ratus tokoh di depan publik dari waktu ke waktu. Mundur mendadak tentu akan membuyarkan rencana. Ini harus dicegah. tegas dan banal. kamu masih di situ?” kataku menjawab Ning. Lesu. tapi aku punya keyakinan. Dia berada satu level di bawah. Lambaian tangan kekuasaan semakin mengentalkan darah ambisinya. Persahabatan itu. Presiden memang sudah terpojok. tapi ada saja hal yang tak dapat diduga. Juga kedatangan Yogo yang telat. Di ufuk. sampai ke gelagat seksualnya di ranjang. Ning menelepon. segera akan terbukti. Pendek kata semua berjalan sesuai rencana.” 45 . tapi kuusahakan. Ada kontak dengan Yogo?” “Belum. akan memuaskan semua orang dan segera akan berbalik menyerang kami. khas orang lapangan yang pernah mengenyam pendidikan menengah di negeri-negeri asing. “Ning. Bahkan picu massa telah berhasil melalui eksekusi mahasiswa. Kamu pasti setuju. Dia ternyata bukan prajurit sejati seperti senantiasa dicitrakan di depan publik. Para pemain valas telah terkuasai. “Ia. Yogo tampak angker. Pulanglah. Demi Yogo. Dan sebagian besar kerja keras itu sudah berhasil. demonstrasi. Para aktivis telah diamankan. langsung. “Bang. Tak ada basa-basi.persahabatan. Malam kemudian tiba dengan diam. juga kepercayaan atas nama keagungan. faktor yang kami tak hitung selama ini.” Singkat. Dia tak lebih seorang tua pikun yang sedang kehabisan cita-cita. Kamu kok diam saja?” “Aku bingung. Akan menyetop aksi. Yogo tak mungkin datang. habis. telah aku rekam di luar kepala. Belum perlu ada kalkulasi menang atau kalah. Aku kontan diserang frustasi. Kebebalan presiden untuk bersikukuh pada kursi kekuasaan. masih mampu tampil sebagai satu-satunya pilar penentu. betapa menggairahkan.

Hand-phoneku bertulilit. Aku ingin berendam. bertelur dan berkembang biak – dan kini telah mengungsi entah ke mana— semuanya telah berakhir. balas dendam kalangan militer. Tak ada kegetiran. Ini tentu akan lebih menggairahkan. Bukan karena risiko yang mesti datang.” Suara Ning tetap empuk. “Iya. di taman tempat burung-burung bersenggama. Seperti yang sering kamu katakan. cuma handuk. kamu masih di situ?” “Ya. Memanggil. Tak ada besok. Dia terlampau cerdas untuk dihentikan. Duduk menunggumu. sekarang atau tidak sama sekali. dan tak ada rencana ulang. Menggairahkan. Kami akan segera terbang ke negeri lain. menghanguskan sisa rencana.” katanya singkat. Udara gerah berbau asap. Di sini kita bisa berpikir jernih. "Kamu masih di situ?" tanya Ning. Mungkin kematangan yang datang dari daya-daya seksualnya yang tak pernah surut dan padam. Keagungan itu memang ilusi.” balasku memencet “off” pada hand-phone. aku yang justru panik dan gamang.” “Sebentar lagi aku datang. apalagi kegentaran. kini. Dia memang lebih matang. Juga kepanikan dan kegamangan seorang yang tumbuh berkembang bersama ilusi revolusi. alumni Oxford. dan mungkin Kaddafi – hadir untuk berperanan menumbangkan tiran dan eksis atas nama cita-cita dan keagungan. Kenyataan yang tak diperhitungkan akhirnya terjadi.“Pulanglah segera.” “Iya. Bagi Yogo. Sementara bagiku? Masih ada Ning. Atau bisa lanjut di masa yang datang. di sana prarencana sudah tersusun. utamanya.” 46 . Castro. seperti Che Guevara. aku sudah mandi. Tapi tidak malam ini. kini. “Ning. Taman benar-benar muram. Sebaliknya. Lakon yang berjalan tak sampai klimaks. Kota masih terbakar. Biarlah persahabatan dengan Yogo berakhir. Yogo: gumamku membatin. “Tunggu sampai besok. Di sini. Sasaran tembak: Perdana Menteri yang terlampau cerdas dan sedang berkilau di dunia internasional. almamaterku. Aku benar-benar frustasi. Reranting tampak seram memantulkan malam hari. pulang.” “Sekarang pakai handuk?” ‘Ya.” “Berendam bersama-sama. Melainkan kepanikan seorang penulis skenario yang gagal mementaskan lakonnya dengan sempurna. bukan. Suara Yogo. Kali ini suaranya bernada khawatir. Malam sudah bertahta. lantaran aktornya bermain tak terkendali.” “Kalau begitu aku mandi lagi. Durja.

” “Aku meresapkan bau mulutmu. NY. Juni 1998 . di taman ini.“Terus?” “Terus larut seperti biasa. di Brooklynn. Gairah bulan Mei. nun bertahun lampau.” “Tunggu. Seperti gairah sebuah musim panas.” Malam. kini.” “Aku juga. ya!” “Cepat.*** 47 Jakarta. kurasakan gairah yang lain.

Tangan mereka bersentuhan. Dia memerlukan alat-alat pahatnya. kasih sayang. “Luh Srenggi. benarkah suara ini milik seorang perempuan? Ketika Kopag akan mengambil tongkatnya. Perempuan itu pasti memiliki kecantikan yang melebihi kecantikan sebatang pohon. Luh Srenggi cepat-cepat membantu. Ratu.Pemahat Abad Oleh: Oka Rusmini 48 Kopag menjatuh-kan pisau ukirnya yang runcing. dan sangat tulus. Apa pun yang . Kopag yakin dugaannya ini tidak meleset.” Suara itu terdengar gugup. Inilah perempuan itu. Pisaupisau yang runcing tebayang di otaknya. Tangannya jadi lapar. atau seonggok kayu yang paling sakral sekalipun. "Siapa tadi namamu?” Kopag mulai menenangkan dirinya sendiri. siapa kau?!” Titiang yang akan melayani seluruh keperluan. Aneh. Hampir saja pisau itu memahat kakinya.” “Srenggi? Srenggi siapa?!” Kopag semakin menggigil. Katakan padaku. Seperti bau daundaun kering dan kayu basah. Baru kali ini Kopag merasakan bisa menikmati hidupnya. Bau itu semakin mendekat dan menyesakkan dadanya. Semua gara-gara dia mencium bau yang aneh dari sudut pintu. tiba-tiba saja dia seperti ditenggelamkan ke lautan. Suara itu adalah suara perempuan. dari mana datangnya bau yang membuatnya begitu gelisah? Bau itu semakin mendekat.1 Luh Srenggi. Kopag semakin gelisah. Sekarang Hyang Widhi mengirim untuknya. Aneh sekali.” Suara itu terde-ngar bergetar. “Siapa itu?” “Titiang.2 Mulai hari ini dan seterusnya. Dia bisa memberikan penilaian yang begitu objektif terhadap benda hidup yang bernama manusia. Suara itu dirasakan penuh dengan kejujuran. Kopag menggigil ketika bau itu benar-benar menelanjangi wujud laki-lakinya. Seorang perempuan. Luar biasa. Biasanya dia hanya dijadikan objek. sekedar mendengarkan keputusan orang-orang terdekatnya. Apa yang terjadi dengan dirinya? Kopag memaki dirinya sendiri. perempuan yang dicarinya berabad-abad. Kulit perempuan itu terasa seperti kulit kayu.

Karena tak ada perempuan-perempuan yang bisa dilihatnya dengan matanya. Kecantikan yang dia lihat dengan pikiran. Tapi. bisa dibuat sebuah pementasan. Dalam kondisi seperti itu. Bahkan Gubreg. agar orang-orang mudah mengenalinya dan membedakan dirinya berbeda dengan manusia lainnya. Kali ini. juga tidak berkomentar ketika Kopag memuji keindahan perempuan delapan belas tahun itu. Dia juga memiliki puluhan galeri lukis dan patung. “Apakah di bumi ini wujud kebenaran itu sudah seragam. Laki-laki itu adalah binatang yang paling mengerikan. Seluruh kekayaan ludes. dan keindahannya sendiri. sehatkah dia? Bagi Ayah Kopag. apakah orang-orang yang memiliki kelengkapan utuh sebagai manusia ketika dilahirkan mampu menangkap seluruh rahasia kehidupan ini? Rahasia yang erat-erat digenggam dan disembunyikan alam? Salahkah kalau tiba-tiba saja Kopag menemukan kecantikan yang luar biasa pada diri Luh Srenggi. setiap makhluk yang memiliki lubang bisa dimasuki. Gubreg?” Suara Kopag terdengar getir. Dia anak laki-laki kedua yang lahir dari keluarga terkaya di Griya. Tubuhnya kurus dan pucat. Perempuan itu menolak.dikatakan orang-orang di sekitarnya. Gelar Ida Bagus menunjukkan bahwa dia adalah anak laki-laki dari golongan Brahmana. aku juga harus memakai kriteria mereka?" "Kebenaran mereka? Aku tidak yakin mereka mampu melihat seluruh keindahan hidup ini dengan benar!” Suara Kopag terdengar penuh tekanan. Aneh sekali tak ada manusia yang bisa menangkap kecantikannya. cantikkah perempuan itu. Dia tahu. Pikirannya kacau! Kopag sadar. Lahirlah seorang laki-laki yang merenggut nyawa perempuan itu. di sanalah dunia itu dibuat untuk laki-laki yang sejak pertama berkenalan dengan aroma bumi . Dia adalah kayu terindah dan tercantik. lakilaki itu pulang dalam kondisi yang menyakitkan. Ayahnya seorang laki-laki sangat terhormat dan memiliki kedudukan tinggi di pemerintahan. Dia tidak pernah peduli. Kata orang. laki-lakinya akan menitipkan daging binatang dirahimnya. dia merasa menemukan kebenaran yang berbeda dengan kebenaran yang diyakini oleh orang-orang yang selama ini rajin menanamkan kebenaran yang telah menjadi ukuran mereka. Apa artinya kekuatan seorang perempuan? Terlebih. Salahkah? Kecantikan perempuan muda itu adalah kecantikan yang sangat luar biasa. laki-laki itu memaksa perempuan yang dinikahinya untuk bersetubuh. Kopag harus patuh. Laki-laki itu harus berperan sebagai laki-laki buta untuk menebus kelahiran dan hidupnya sendiri. pelayan tua itu. sejak kecil dia terbiasa dididik menjadi perempuan bangsawan yang menghormati laki-lakinya. Seluruh wajahnya juga lekukan kayu. kasta tertinggi dalam struktur masyarakat Bali. sangat sadar. Tubuhnya seperti lekukan kayu. setelah berbulan-bulan tidak pulang. Apa yang sesungguhnya salah pada kriteria yang telah diberikan Kopag terhadap perempuan? 49 *** Kehidupan telah memaksa bocah laki-laki itu memakai label Ida Bagus Made Kopag. Suatu hari. “bahkan untuk menilai keindahan itu. Dia hamil. laki-laki itu bisa tidur dengan seluruh perempuan. Sayangnya laki-laki itu memiliki mata yang sangat liar. Dilahirkan sebagai laki-laki buta memang tidak menggairahkan. Alangkah ajaibnya kalau hidup juga bisa dipermainkan. perasaan. Belum lagi hutangnya yang tiba-tiba saja menumpuk. Seperti sebatang kayu dengan lekuknya yang begitu menggairahkan. Menghargai keindahan yang dititipkan alam padanya.

merah. Disentuhnya kayu kering yang selama ini selalu mengantarnya ke mana dia pergi. Tanaman di halaman samping rusak atau terinjak kakinya. Karena perempuan Sudra. Sebuah kesunyian dengan pagarpagar keindahan. ketika untuk pertama kali iparnya itu menyalaminya. Anyir. Iparnya yang luar biasa kasar dan cerewetnya jadi pujian dan pembicaraan seluruh laki-laki di Griya. alam menyerah pada kekuasaanya. Kopag sangat menyukai kayu yang mengenalkannya pada dunianya. Bahkan Gubreg. dia harus menunjukkan pada seluruh manusia di desa ini bahwa dirinya berhak masuk dalam lingkungan keluarga bangsawan. dan sangat pas. Itu yang dirasakan Kopag. Ada-ada saja yang diributkannya. Jujur saja. Bau itu seolah berlomba-lomba meloncat dari bibirnya yang konon sangat mungil. perempuan itu harus mengubah namanya menjadi Jero Melati. bagaimana sesungguhnya sebuah penilaian yang objektif dalam hubungan antarmanusia di bumi ini. dia mencium bau darah. 50 . Dia bisa mengubah kayu kering menjadi sebuah karya seni yang memikat para intelektual seni rupa. perempuan itu adalah pemain sandiwara yang ulung. Teriakannya saja bisa memandulkan pisau pahatnya. Bagaimana mungkin perempuan konon kata orang-orang di desanya sangat cantik dan santun itu bisa berkata begitu kasar. Dia memberi Kopag poin. Kehidupan yang sering dimaki Kopag ternyata cukup demokratis. Kopag tidak saja memahat kayu. Postur tubuhnya seperti putri-putri raja Bali. Getaran tangannya sudah seperti tangan-tangan mayat yang membusuk. *** Kopag menarik nafasnya dalam-dalam. Kopag juga merasakan setiap mulut perempuan itu terbuka. juga impian-impiannya. Nama perempuan itu Ni Luh Putu Sari. hidupnya. parekan. pelayan setia yang merawat Kopag sejak kecil. pokoknya seluruh tubuh perempuan itu selalu jadi pembicaraan kaum laki-laki. “Apa bisanya adikmu yang buta itu? Apa? Merepotkan!” Suara perempuan muda itu selalu menggelisahkannya. Kopag sering berpikir.dan hidup hanya merasakan kegelapan sebagai bahasanya. Tanpa teriakan iparnya yang sering menyesakkan kuping. Aneh sekali. seperti Kopag juga menyerah pada kebutaan yang harus dia kenakan setiap saat. selalu berkata bahwa beruntunglah kakaknya bisa mendapatkan perempuan tercantik di desa. kulitnya yang sering jadi pujian. Perempuan itu benar-benar serius untuk memasuki perannya sebagai istri laki-laki Brahmana. kembang sepatu yang baru ditanam perempuan nyinyir itu tersangkut tongkatnya. Orang-orang di luar hanya tahu bentuk tubuhnya yang konon sangat luar biasa. Karena dia bukan kaum Brahmana. atau posisi piring dan gelas berubah di dapur. Ni Luh Putu Sari yang sejak menikah dan masuk menjadi keluarga Gria bernama Jero Melati itu memiliki kulit yang sangat indah. Bagi Kopag. Suara iparnya itu akan terus menari-nari di sekitar telinganya. Dunia yang diinginkan. dia memahat pikirannya. Kebutaan yang mengikuti dia terus-menerus. Untuk pertama kali. perempuan kebanyakan itu telah menikah dengan kakaknya dan menjadi keluarga Griya. yang tentu saja tidak dimiliki orang-orang. otaknya. Masih kata Gubreg. Saat ini dia sangat mengikuti ambisinya untuk masuk dalam lingkungan keluarga Brahmana. Kopag telah merekontruksi sejarah seni rupa.

Gubreg? Tolong kau katakan seluruhnya. “Gubreg. Ada rasa sakit mengelus dada tuanya. tapi mampu memikatku. Ada yang hilang dalam tubuh laki-laki tua itu. Kehilangan yang dalam. Kau bisa lihat. Aku masih percaya kehidupan itu bisa diajak bicara. jengkel! Ada-ada saja yang dibawanya. Tanyakan pada laki-laki bule itu!” Suara Gubreg terdengar penuh nada kecemburuan. Kopag sudah bagian dari nafasnya. Gubreg pun mengajari Kopag menelanjangi tubuh pisau-pisau pahat.” Laki-laki tua itu terdiam. Dia ingat teriakan Kopag ketika 51 . termasuk rangkaian pisaupisau pahatnya.” “Seperti apa perempuan cantik itu. Cucuku memiliki seluruh mata manusia yang ada di bumi ini. dan tangannya juga sangat cekatan memahat patung-patung. Dadanya sering mendidih. pematung jaman Renaisans. Kadang-kadang dia bacakan buku-buku bahasa asing. Ratu. Juga dia baik-baik. Atau sesekali mendatangkan guru yang mengajarinya membaca. Aku ingin tahu. Sejak kecil. Sejak bergaul dengan Frans ada-ada saja yang ditanyakan Kopag padanya. Laki-laki tua itu sekarang ini jadi cepat marah. Atau sesekali dia dikunjugi orang asing dari Prancis. Susah. Lihat. Seperti apa perempuan cantik itu? Apa seperti bongkahan kayu beringin ini? Dingin. yang konon. Tinggi. Ida Bagus Made Kopag memiliki tubuh yang sangat bagus. Seluruh ilmu memahat dia alirkan dalam tubuh bocah kecil yang tidak berdaya itu. sebelum berpulang. Anggap dia anakmu!” Itu pesan Ida Bagus Rai. dialah yang mengajari Kopag mempelajari tekstur kayu. rasa apa yang sering membuatku meluap. kau belum jawab pertanyaanku. Gubreg. yang diterjemahkannya. Laki-laki bule itu telah memberinya didikan yang baru. Kegelapan itu jadi milik cucuku yang paling abadi. Dia juga yang mengajarinya bahwa semua benda punya jiwa. Gubreg. Ratu. aku selalu tersentuh. Kopag tidak lagi membutuhkannya. Dipandangnya mata Kopag dalam-dalam. kan? Kehidupan sendiri memberinya hadiah yang luar biasa. Menanggung dosa ayahnya. Gubreg. Rasanya baru mendengar satu huruf keluar dari bibir laki-laki Perancis itu seluruh isi perutnya seperti keluar. aku juga ingin merasakan. dan menikmati aroma ketajamannya yang luar biasa indahnya. Titiang tidak bisa menjelaskan seperti Frans. Gubreg. perhatian yang lain. apa ini rasa yang dimiliki lakilaki? Ini wujud kelelakian itu?” suara Kopag terdengar pelan. Frans Kafkasau. Pertumbuhannya selalu mengingatkanku pada perbuatan-perbuatan yang dila-kukan anakku. tentang Michelangelo Buonorrty. Sejak kecil kakeknya hanya mengajari Kopag bersentuhan dengan kayu-kayu untuk berkenalan dengan kehidupan. Laki-laki setengah baya itulah yang membuat Gubreg. Dia juga rajin membaca buku-buku dengan huruf braile. Hyang Widhi! Penguasa jagat! Kopag memang sudah besar. Saat ini aku mencoba percaya pada matamu. Gubreg?” “Jangan bertanya yang aneh-aneh pada titiang. Karmanya jatuh pada anaknya sendiri. kata Frans. Bagi Gubreg. sudah menjelang dua puluh lima tahun. “Kau tidak ingin menjawabnya.“Luar biasa kecantikan Jero Melati. Susah. dia mampu membuat patung-patung dengan ukiran sangat sempurna. Jengkel! Waktu Kopag sekarang habis untuk diskusi. “Anak itu buta. Lihat.

memiliki penilaian khusus tentang hal itu. Kaki perempuan itu putih. perempuan yang sangat dihormatinya. Perempuan junjungannya.” Suara Gubreg terdengar patah. Dayu Centaga selalu menyuruh Gubreg menggosok punggungnya dengan batu kali.. Sebagai laki-laki Sudra.” “Titiang.pertama kali menyentuh tubuh-tubuh pisau yang telanjang itu. Berkali-kali dia menarik nafas. Gubreg. yang hidup dari belas kasihan keluarga Dayu Centaga. Perempuan itu. Kakinya kram setiap melihat tubuh basah itu naik ke atas dengan kain yang hanya sebatas dada. ketajamannya. dia luka. dia sadar tubuhnya tidak boleh melahap tubuh perempuan Brahmana. kebanyakan..” Keruncingannya.. Rasa itu tiba-tiba saja muncul kembali dalam otak. dan teramat menggelisahkan ketika tubuhnya mulai lapar dan memerlukan tubuh lain untuk santapan. Takut sekali menjawab pertanyaan tentang esensi menjadi laki-laki. Setiap mengingat batas yang ada antara dirinya dan Dayu Centaga. Aroma itu tak bisa dihapus oleh usia yang dipinjam Gubreg pada hidup. Waktu itu umur Kopag tujuh tahun. Kilatan matahari menjilati keruncingan pisau pahat itu. Aroma tubuh perempuan itu sampai hari ini masih melekat erat di tubuhnya. Pisau justru seperti menantang matahari untuk bersabung. dia juga pernah merasakan seperti apa percikan nafsu itu ketika pertama kali menampar wujud manusianya. begitu indah. Begitu parah.Titiang tidak bisa menceritakan kecantikan perempuan pada Ratu. Gubreg belum juga bisa menjawab arti menjadi lakilaki.” suara Kopag terdengar penuh rasa ingin tahu. angkuh dan selalu lapar. Begitu penuh misteri.. Lama-lama Gubreg merasakan sakit yang luar biasa menyerang tubuhnya.. Sering sekali dia disuruh mengantar Dayu Centaga mandi di sungai Badung. “Tentang apa lagi. Tubuh perempuan itu seperti ular yang melingkar dan menjepit batang-batang tubuhnya. Dia mengerti. Dia juga laki-laki. dan tulang-tulangnya yang mulai rapuh membantunya merangkai masa lalunya kembali. Ratu. betapa sinar matahari yang perkasa itu menjadi patah dan tak berdaya ketika menyentuh sedikit saja keruncingannya. Waktu itu Gubreg seorang laki-laki kumal empat belas tahun. Luar biasa. Sampai menjelang tengah malam. Terlebih. Sangat paham. “Aku ingin bercerita padamu. dia adalah laki-laki tak berguna. Di tangan Kopag pisau itu jadi begitu dingin. 52 *** Pagi-pagi sekali. Gubreg menyaksikan. dan mampu meledakkan otaknya. karena kelaparannya adalah kelaparan yang tidak pada tempatnya. Ratu?” “Kecantikan perempuan. “Gubreg. Semua orang. Dia sering terjaga tengah malam . Tak ada yang bisa diceritakan kegelisahannya. Kopag sudah membuka jendela studionya. Dia gelisah. Perasaan apa yang sedang bertarung dalam tubuh Kopag? Gubreg takut. tubuhku gemetar setiap menyentuh pisau-pisau ini. Gubreg selalu merasakan tubuhnya dilubangi.

Gubreg tidak bisa bercerita tentang kelaparan tubuh laki-lakinya. “Gubreg.” suara Kopag terdengar pelan. "Gubreg. Dia menarik nafas berkali-kali. Hyang Widhi. Sampai sekarang. Keluarga Griya mencarikan dia seorang Balian. tetapi sudah menyerupai air bah. Gubreg.. Gubreg sadar rasa laparnya sudah tidak bisa dibendung lagi. Guemica. selalu ingin mengupas dan melukai kayu-kayu itu. Impian-impian yang dimiliki oleh pohon ketika dia membesarkan ranting-rantingnya. Sesuatu yang dahsyat telah dititipkan alam pada tubuhnya. Aku juga memiliki impian-impian sendiri pada patahan tubuh pohon itu. tadinya penunggu sungai itu juga ingin mengganggu Dayu Centaga. Gubreg tidak sakit. Gubreg bersedia menjalankan runtutan upacara itu. Kayu-kayu dan pisau telah memberiku mata yang lain. Demi Hyang Widhi. tubuhku. sampai menguliti otakku. Tanpa istri. Berkat kekuatan Gubreg. Kata Balian itu. Dan Gubreg tahu air dalam tubuhnya memerlukan muara. Untuk mengembalikan kesehatan Gubreg. berdialog.” 53 . Justru Gubreglah yang kena kemarahan si penunggu sungai. Gubreg. menjelang tujuh puluh lima. Suatu hari Frans dan seorang temannya mengatakan. tidak lagi bisa menikmati kegairahan manusiawi sebagai manusia. Gubreg menatap tajam tubuh Kopag yang sedang merampungkan pahatannya. Untuk menghormati kebaikan keluarga Griya. aku merasakan kecantikan perempuan itu melalui jari-jariku. Tubuhnya jadi pucat. Kecantikan perempuan yang kuterjemahkan lewat kayu-kayu itu mengingatkan Frans pada keliaran Martha Graham. Gubreg sempat membuang kotoran di pinggir sungai. Gubreg paham. komunikasi Balian tua itu dengan dunia gaib salah. mengajakku bicara. tanganku. Dia pasrah ketika Balian tua. membesarkan tubuhnya. kau ingat kata-kata Frans?” “Yang mana?” “Frans mengatakan keliaranku membentuk tubuh-tubuh manusia dalam kayu mengingatkan dia pada lukisan Pablo Picasso. tanpa kegairahan sebagai laki-laki.dengan nafas yang memburu. Kata mereka. keluarga Griya membawa sesaji untuk penunggu sungai. Cinta yang membuatnya jadi batu. karena aliran sungai dalam tubuhnya bukan lagi aliran sungai kecil. Pada dasarnya aku selalu penasaran. Aku juga ingin tahu arti setiap impian. kau belum juga jawab pertanyaanku. sangat surealis. Gubreg masih setia mengabdi di Griya. pahatanku tentang perempuan sangat sempurna. dia merasakan cinta yang dalam pada Dayu Centaga. Cinta yang tidak mungkin dihapus. Dayu Centaga tidak terkena. dukun. Tubuhnya dilingkari asap yang sangat menyesakkan aliran pernafasannya. Tak seorang pun tahu. dan berpikir. Aku selalu ingin tahu. Masih kata Balian tua itu. Rasa ingin tahu yang begitu besar.memandikan tubuhnya di pinggir sungai. Katanya agar roh jahat tidak mengenai keluarga Griya. dingin. Kalau sekarang Kopag bertanya seperti apa kecantikan itu. Balian tua itu memberinya jampi-jampi. tidak juga kesambet setan. yang memanfaatkan seluruh tubuhnya untuk mewujudkan jati diri tokoh yang dimainkan. Kebetulan si penunggu sungai sedang beristirahat. Dia rasakan perubahan pada tubuhnya. Kenapa kayu-kayu ini selalu mengajakku berdiskusi. sampai akhirnya potongan-potongan tubuh itu ada di tanganku..

Laki-laki itu tidak pernah tahu apa arti ada uang atau tidak ada uang.” Suara perempuan itu terdengar mirip perintah dan pemaksaan. adik Jero Melati adalah perempuan paling liar dan nakal.Gubreg tetap diam. Gubreg mencoba memahami ke mana kira-kira arah pembicaraan Kopag. Gubreg tahu tak ada yang diinginkan Kopag. Kata orang-orang kampung. “Kau harus bisa meyakinkan dia bahwa adikku layak menjadi istrinya.” suara Gubreg terdengar sangat hati-hati. Berkat Kopag. perempuan itu bebas menggunakan uang Kopag semaunya. Kopag memerlukan perempuan. Gubreg menatap mata perempuan itu tajam. Untuk pertama kali dia merasakan hawa jahat berendam dan menguasai tubuh cantik itu. 54 *** “Kita harus carikan seorang istri untuk Ratu.” “Siapa?” “Adik perempuanku. “Bagaimana kalau dia kawin dengan calon yang telah kusiapkan. Padahal kemiskinan kalau dihayati memiliki keindahan tersendiri. Jero Melati tersenyum. Mendengar komentar itu. perempuan satu ini memang bukan perempuan baik-baik. Otaknya hanya berisi kehormatan. diajar memahami kehidupan. seorang anak yang dibesarkan dengan cara-caranya.” . Saat ini galeri itu sudah tumbuh besar dan menjadi satu-satunya galeri yang paling diakui di Bali karena karya patung yang masuk harus melalui seleksi dan pertimbangan yang teliti. Kopag seperti linglung.” “Jero sudah punya calon?” “Ya. Hanya satu yang ditangkap Gubreg. “Ratu. kakak Kopag sendiri bisa membuka galeri patung yang besar. Sekarang ini keluarga ini tentram. *** “Gubreg.” jawab perempuan itu serius. Dia tahu. Bulan kemarin. keluarga besar ini kembali bisa hidup. Sayang. Jero Melati tidak pernah ceriwis. Aku sudah memikirkannya jauh-jauh hari. Benar kata Kopag. adik Jero Melati bisa menjual tubuhnya. ada bantuan dana dari Jerman dan Perancis. Lima menit tanpa hasil. Dia mencoba memahami sesuatu yang sangat rahasia dan begitu dalam ingin disampaikan Kopag. Bahkan. Ratu terlihat sangat gelisah. dia tidak tahan miskin. Mengerikan! Padahal perempuan itu sangat cantik. Ratu ingin apa lagi? Jangan menakuti titiang. Aku ingin bicara!” Kali ini suara Kopag terdengar serius. Gubreg diam. Patung-patung Kopag laku keras dan diminati oleh kolektor dari dalam dan luar negeri. Gubreg bahkan rela bocah laki-laki itu mencuri lembar demi lembar rahasia perjalanan dan rasa sakitnya sebagai laki-laki yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk mengabdi. dia terus mengelilingi studionya.

punggungnya bongkok.” “Apa kata mereka. apakah kuping tuanya tidak salah dengar? Bukankah Luh Srenggi adalah perempuan yang menyiapkan seluruh keperluan Kopag. dia hanya memiliki satu mata. Ketika dia telanjang. Kali ini pilihanku tidak bisa diubah!” “Siapa?” “Luh Srenggi. Gubreg..“Ya. Aneh! Wajah itu tetap seperti batu. “Maaf Ratu. ingin sekali dilihatnya wajah Kopag berseri. Dia adalah perempuan tercantik. Kulitnya juga kulit kayu. Gubreg. Sebuah pisau pahat menembus dadanya yang tipis. matanya yang kiri bolong. Bahkan merekalah yang akan memilihkan calon istri untuk Ratu. Tubuhnya benar-benar lekukan kayu.. Perempuan yang mengalahkan kecantikan kayu-kayuku. titiang juga sudah membicarakan dengan Jero dan kakak Ratu. Perempuan itu telah mengasah tubuh laki-lakiku. dan mengambilkan pisau-pisau pahatnya? Perempuan itu bukan perempuan. Hyang Widhi! Dewa apa yang ada dalam tubuh Kopag. aku tenggelam dan habis.” “Ratu.” Suara Kopag terdengar sangat serius. Panggilan kehormatan untuk bangsawan Bali . ketika kujatuhkan tubuhku memasuki tubuhnya. Kulitnya begitu kasar. dia lebih mirip makhluk yang mengerikan.?!” Gubreg seperti tercekik.” Gubreg ambruk. Wajahnya juga rusak berat. membersihkan studionya menyiapkan makan. “Aku telah menidurkan perempuan itu setiap malam. kakinya pincang. ada daging besar tumbuh di atasnya. Aku ingin kawin. Sadarkah dia. Kau tahu. Luh Srenggi.” “Mereka setuju. “Aku sudah memiliki calon. *** 55 1.” Gubreg mengangkat wajahnya. tak ada sebuah pisau pun bisa menandingi ketajamannya. Saya 2. tahukah dia makna kecantikan? Gubreg menarik nafas memegang dadanya kuat-kuat.

saling bergotong-royong. tapi sebetulnya kamu semua tertawa. kamu terus hidup ngakak.Horison. terkemuka. Dan dagang sendiri bukan lagi menjadi ajang tukar-menukar jasa dengan saling menguntungkan. Aku yang menjadi korban. Aku menderita. Aku yang sudah kesakitan. Aku tetap saja hanya sebuah mayat yang sepi. sebagai obyek untuk berbagai penyelidikan. Aku diberitakan. April 2000 56 Mayat Oleh: Putu Wijaya Mayat itu mengeluh. sehingga mereka menjadi terkenal. Tetapi aku sama sekali tak kebagian apaapa. “Aku yang mati. Kematianku sudah menghasilkan lebih banyak uang lagi ke dalam bisnismu. dipergunjingkan. Ia berdiri di pinggir jalan. diselidiki dan dipakai sebagai contoh. diperdebatkan. Semua orang berdagang. Lalu mulai mengganggu setiap orang lewat dengan berbagai keluhan. Aku yang terdera. Yang akhirnya tak lebih penting dari segala manipulasi orang-orang tersebut. “Aku yang mati.“ kata mayat itu. memegang posisi puncak dan akhirnya menang. Ini sama sekali tidak adil!” Ia bangkit dari kebisuan dan kekakuannya dan mulai menyusun protes. meringis. Kehidupan sudah rusak. Aku yang sudah mencetak duit buat banyak orang yang memanfaatkan dengan cerdik seluruh peristiwa yang dahsyat ini. analisa-analisa yang menyebabkan banyak orang menjadi terkenal dan kaya. Dunia sudah menjadi sebuah pasar besar. kemudian sindiran-sindiran dan akhirnya menjadi umpatan-umpatan yang terdengar tidak bedanya dengan kutukan. kamu yang melejit. Aku yang kejepit. Aku yang menanggung seluruh kerugian. Air . Kebudayaan tidak lagi membuahbudikan keluhuran. kamu yang enak. Kamu semua kelihatan saja menangis. Aku menginginkan ada pencerahan atas kabut hitam yang akan membuat dunia dan kehidupan serta segala manusia isinya ini kiamat kubra. tetapi membuat manusia semakin tamak dan tipis rasa kemanusiaannya. tetapi sudah menjadi perang siasat untuk menipu dan membuat bangkrut orang lain. Ia menggugat perilaku yang semena-mena tersebut yang jelas sekali memperlihatkan keserakahan manusia. “Peradaban sudah merosot.

” “Tapi kursinya rusak. kepatutan. Pak. Sekretaris panik. Itu kan baru dibeli. Tapi suruh anak-anak siap untuk menjepret. “Biarkan saja. bahkan yang mungkin akan menyiksanya di kemudian hari. Mayat itu langsung duduk di depan komputer. telepon berbunyi. Tetapi ketika ia mau lari mengadukan itu kepada atasannya. ia beberkan dengan kata-kata yang tajam dan berbisa. Seperti bendungan ambrol. meskipun kami sudah sangat berhati-hati. seluruh ketidak-benaran. Berjam-jam mayat itu mencurahkan segala tuntutannya. prasangka dan kesakitannya. untuk membungkus kebiadaban.” erang mayat itu. Para wartawan yang ditemuinya semua menghindar. Bagaimana kalau dia menghancurkan komputer. tata krama. Kalau memang ada yang salah. kami bersedia untuk meralatnya untuk kebahagiaan dan ketenangan Anda di sana. elegi-elegi. aku kan hanya menjalankan assignment. Ia kemudian lebih banyak mengeram-ngeram seperti kata-kata tak mampu lagi menampung sumpah-serapahnya. balada-balada dan orasi-orasi yang meratapi dan menggugat kematianku. terpaksa membatalkan niatnya untuk pulang lebih dulu.” katanya mempersilahkan mayat itu menumpahkan semua sumpah-serapahnya.matamu hanya kelambu untuk menutup segala kebahagiaan dan keuntunganmu menjual berita-berita perih. Nanti setelah kempes dia kan pergi sendiri.” “Biar saja.” Sedang atasannya yang paling atas sibuk menunjuk wakilnya supaya meladeni mayat yang cerewet itu. Ia menghadapi mayat itu dengan senyum ramah. menutupi hidungnya. Dalam uraian mayat itu dunia menjadi pabrik kejahatan yang hanya dihuni oleh bandit-bandit tengik. Ia menguras seluruh dendam. kesalahkaprahan. semua yang tidak adil. Ini justru bagus untuk publikasi kita!” 57 . Apa saja yang sudah menyakitkan. mengangkat bahu dan menunjuk atasannya. Moral. untuk menahan lonjakan perasaannya yang tertampung oleh layar komputer. ia menembakkan seluruh unek-unek perutnya. luka. “Tanya Bapak. keluhuran budi apalagi kemanusiaan yang dikibar-kibarkan selama ini. Akhirnya sekretaris redaksi. menciptakan esai-esai. dia memerlukan ventilasi untuk menyalurkan emosinya. mungkin dapat diselesaikan secara baik-baik. apa saja yang sudah menyinggung. ternyata hanya sebuah koteka. Akhirnya ia menggigit kursi sampai cabik-cabik. Sama-sama wanita. susila. Komputer penuh dengan katakata kotor. “Silakan menuliskan semua keberatan Anda terhadap pemberitaan kami. Kamu tidak punya malu lagi mengeruk keuntungan dari orang yang mati!” Mayat itu mengetuk pintu sebuah media massa yang mengalami cetak ulang ketika memuat secara lengkap cerita dan foto-foto kematiannya. “Semuanya busuk.

Moncong garuda itu menancap di atas kepalanya. Sekretaris menutup matanya.” “Kamu bisa merasakan. “Jadi kamu percaya sekarang betapa tidak adilnya semua ini?” “Saya percaya. Ia menoleh kembali ke layar komputer dengan lebih santai. Minuman panas. Ia lalu menumbukkan kepalanya ke dinding. Tetapi sebelum pergi meninggalkan tamu eksklusif yang diwanti-wanti oleh sekretaris supaya diperlakukan ekstra istimewa itu. Mayat itu baru menjadi sedikit tenang. Ia berdecak-decak kagum. Mayat itu menggelengkan kepalanya. Barangkali sepotong dua potong mimpi yang benar-benar mimpi. seperti orang yang mau bersekongkol. ia kembali ke kursi. lalu lari keluar.” “Apa kamu menganggap semua ini neko-neko?” “Tidak.Sekretaris bengong. Penjaga kantor itu mengerti. Di antaranya ada gambar garuda. Nampak begitu lelah namun damai. Setelah menangis tersedu-sedu nampaknya sebagian unek-unek tuntutannya berhasil ia lemparkan keluar dari perut. Mayat itu terkejut. “Kamu mengerti?” “Ya. menemukan untuk pertama kalinya. orang yang mampu memahami segala tuntutannya. Dengan garuda yang masih bertengger di kepalanya. Seluruhnya mampetan pikirannya sudah tersalurkan. Itu memang benar.” Mayat itu mengulurkan tangannya. Kini ia memerlukan sebuah tidur yang panjang. air dingin untuk penyegar. Ini menyebabkan kantuk mayat itu hilang. Mayat itu berdiri. Penjaga kantor yang tua bangka menghampirinya menanyakan apakah ia memerlukan sesuatu. Seakan-akan ikut menikmati kepuasan mayat tersebut. Sekaligus mengingatkan bahwa subuh sebentar lagi akan menyundul di langit timur. ia sempat mengerling ke atas layar komputer. 58 . juga tidak bisa mengurangi tegangan dadanya. Mungkin juga makanan. ia menggepeng di atas kursi.” Mayat itu menjadi amat girang. Seperti balon kempes. hati dan otaknya. Di situ ia menangis tersedu-sedu.” “Kenapa tidak? Jelas sekali. saya mengerti sekali. Keduanya berjabatan tangan. semacam roti bakar yang masih bisa disamber dari perempatan jalan di malam yang selarut itu. Mayat itu membentur dinding begitu kerasnya sehingga foto-foto di dinding berjatuhan. Tapi tangan penjaga malam itu dingin seperti beku. karena mencabik kursi itu. Ia menoleh pada penjaga malam yang sudah lancang itu dengan mata berkilat-kilat. Penjaga malam itu juga mengulurkan tangannya. Ia tidak menginginkan apa-apa lagi.

Bulu kuduknya meremang. Karena di kedua mata nampak ruang kosong. Saya budak.” “Kenapa?” “Karena itu kewajiban saya.” Mayat itu bergidik. Siapa tahu itu agen polisi. Paling sedikit mata-mata yang diutus oleh kepala kantor.” 59 .” “Tapi kenapa kamu masih bisa melihat?” “Saya harus bisa melihat meskipun tidak punya mata. Ia curiga kalau-kalau bukan menghadapi seorang penjaga malam. Tetapi ketika ia memandangi mata penjaga itu.” “Apa? Kamu budak?” “Betul. “Astaga kamu tidak punya mata lagi?” “Tidak. “Apa lagi kewajiban kamu?” “Semuanya!” Mayat itu tercengang. “Kewajiban? Kewajiban apa? Kamu ngomong seperti seorang budak?!” “Ya memang.” Mayat itu terkejut.” “Kamu heran atau kaget karena membaca semua ini?” “Tidak.” “Lalu kenapa tanganmu lebih dingin dari es?” “Ya memang begini keadaannya?” “Tapi kenapa?” “Karena inilah hidup saya. ia hampir terpekik.“Kenapa tanganmu dingin sekali? Kamu takut?” “Tidak.

. “Ya Tuhan. Daging kamu bonyok!” “Memang!” “Bukan cuma itu. ia lalu menyentuh. jangan-jangan kamu.” “Memang begitu. meskipun tidak punya semua itu lagi. “Kamu sudah bangkrut sebangkrut-bangkrutnya. Ia tak punya segala-galanya.” 60 .” Mayat itu mendekat.” Penjaga malam itu membuka seluruh pakaiannya.” Mayat itu bingung. Kamu tidak punya apa-apa kamu sudah kalah komplit.” “Apa? Kamu betul-betul tidak punya perasaan dan pikiran?” “Betul.“Budak apa? Budak siapa?” “Budak segala-galanya. termasuk kedua biji buah ampulurnya sudah dicomot. maaf boleh aku kobok sekali lagi?” “Silakan. Dia berdiri dan memperhatikan penjaga itu lebih cermat. “Wow! Badan kamu seperti tak punya tulang. Saya budak komplit. Ia terpekik kembali dan meloncat keluar. Orang itu memang sudah dikebiri total. Seluruh kemaluannya. Matanya sampai tumpah keluar karena takjub.” “Apa kamu sakti?” “Tidak!” “Lha kenapa kamu bisa hidup?” “Ya begitulah. lalu ngobok sekali badan penjaga malam itu.. Apa kamu bukan manusia?” “Saya manusia. . kemudian meraba-raba. Jangankan perasaan dan pikiran. kamu kok sepertinya tidak punya hati dan juga tidak punya otak.” “Edan!” “Ya. Tiba-tiba ia terpekik ngeri. Lihat kemaluan juga tidak ada lagi. aku jadi curiga. Mayat itu menggigil. Apa pun saya tidak punya. Tak puas hanya melihat. Saya harus hidup. selanjutnya merogoh tubuh penjaga malam itu. Maaf ya.

telat mikir. “Nah sekarang kamu berpikir!” “Bukan begitu. saya tidak pilih-pilih nama. saya manut-manut saja.” “Coba ceritakan sedikit kehidupan kamu.” 61 . Ini kewajiban saya. Istri saya dan sepuluh orang anak saya juga harus hidup. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana seorang yang bergaji seperak satu hari dengan tanggungan istri dan 10 anak bisa hidup.” Mayat itu ternganga. wong ini harus.” “Maksud kamu gaji kamu seperak satu hari?” “Ya. Pak. Lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. suka manggil saya apa saja. Pasti besar sekali karena kewajiban kamu begitu berat. kok. Pak.” Mayat itu berpikir keras. Saya memang telmi. Berapa?” “Tiga puluh.” “Tiga puluh juta?” “Bukan tiga puluh saja.” “Itu namanya pasrah. silahkan.” “Kalau begitu kamu ngobyek!” “Terserah. Ia pelan-pelan duduk kembali. Gaji kamu berapa sih. “Siapa sih sebenarnya kamu?” “Boleh panggil saya siapa saja. “Kamu pasti korupsi?” “Tidak. tetapi apa boleh buat.” “Gila! Bagaimana kamu bisa hidup hanya dengan gaji begitu?” “Itu juga dianggap sudah terlalu banyak. Saya hanya jualan kertas-kertas kantor yang sudah tidak terpakai. Apa kamu orang Jawa?” Penjaga malam itu berpikir. Bukan hanya saya yang harus hidup. Pasti penjaga malam itu korupsi. Terserah orang.“Tidak mungkin!” “Memang tidak mungkin.

"Kamu luar biasa. sambil mengulurkan tangannya mau berjabatan.“Kamu korupsi!” “Apa itu korupsi.” “Ya. “Ayo salaman.” “Ah! Apa?” “Kata saya.” “Tidak bisa. tidak akan dituntut." gumam mayat itu terpesona. penjaga malam itu tak menyambut uluran tangannya.” “Kamu sudah mati. saya sudah mati. Ia lupa pada masalahnya sendiri dan mulai kagum. “Orang lain sudah mati kalau kondisinya seperti kamu ini. Sekarang aku tahu masih ada orang lain. jangan takut.” Mayat itu termenung.” “Mayat seperti gua ini?” “Benar!” “Wow! Kalau begitu kita sama dong!” teriak mayat itu kegirangan karena merasa mendapat seorang teman secara tiba-tiba. Jangan keliru. Sedikitnya kita bisa berbagi kemalangan. kita sama! Tadinya kukira aku sendirian. Memang pada orang kecil sering muncul sifat-sifat luhur yang dahsyat. Ayo salaman!” Penjaga malam itu menggeleng. Tetapi sekali ini. Pak?” “Jelas!” “Ya sudah.” “Memang saya sudah mati.” “Jadi kamu ini mayat?” “Betul sekali. Saya tidak bisa salaman. “Tidak bisa.” “Kenapa tidak bisa? Kamu tidak mau salaman? Ini hanya ekspresi bukan kolusi.” 62 .

saya sungguh-sungguh. lalu berjalan ke sudut yang tadi ditunjuknya. kalau perlu apa-apa jangan ragu-ragu memanggil saya. Dipercaya atau tidak.” “Lho tadi kamu bilang kamu mayat?” “Betul. Sumpah. siapa yang harus melakukan pekerjaan yang jahanam tidak menguntungkan dan menyakitkan ini. Tetapi di kantor ini.” “Kenapa bukan?” “Karena meskipun saya mayat. 63 . Pak. Saya memang mayat." "Kenapa kamu mau?" "Kalau tidak.” “O kalau begitu kamu hantu?” “Apa saya hantu?” “Ya kamu hantu kalau begitu!” “Ya sudah. “Kamu jangan main-main. mayat kan sudah tidak perlu tidur lagi. Harus.” “Tetapi bukan?” “Betul sekali. Boleh juga saya disebut begitu. tempat saya tidak di kuburan.“Keliru bagaimana?” “Saya bukan mayat seperti situ. tetapi bukan. Baik. saya hanya parkir di situ supaya tidak mengganggu." Mayat itu bengong. Saya tidak tidur. lalu ditangkap oleh gelap. memang beginilah saya.” “Tidak. Saya mayat yang harus hidup. Boleh saja tidak percaya. Mayat kok banyak bicara. Tidak apa.” Penjaga malam itu pasang tabek. Saya sudah biasa tidak dipercayai. Saya tidak boleh tersinggung atau sakit hati. Ini bukan waktunya untuk guyonan. Mati pun saya tetap harus bertugas. Saya tidak boleh istirahat. Saya tidak boleh bicara terlalu banyak. Selamat beristirahat.” Mayat itu berpikir. "Jadi kamu mayat hidup?" "Ya itu.

ia menyentuh keybord komputer untuk menghapus semua keluhkesahnya. 3 . “Ya Tuhan. lalu kembali lagi ke tempatnya.”. “Maaf. Disertai penyesalan penuh. memanggil saya. hanya dengan satu gerakan. Aku tidak perlu apa-apa lagi!” Penjaga malam itu mengangguk. perlu sesuatu?” Mayat itu terkejut. Ia mencuri-curi melirik ke sudut. Ia abadi. Waktu itu mayat itu merasa malu hati. Remang-remang dalam kegelapan..Mayat itu terpesona. Setelah melihat nasib penjaga malam itu. apa yang dirasanya sebagai kesakitan. Penjaga malam itu tiba-tiba keluar dari gelap dengan tergopoh-gopoh menghampiri. nasibku tidak terlalu jelek. ia melihat tubuh penjaga malam itu mencair dalam gelap. Ada yang lebih jelek. Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya seakan-akan sudah berbuat kekeliruan yang fatal. “O tidak. mayat itu lalu kembali kepada komputernya. seluruh tulisan di dalam komputer itu sudah diprotek. “Kasihan..” desis mayat itu. tidak. Tetapi apa daya. Ia merasa sudah terlalu cengeng. Diliriknya komputer yang penuh dengan tumpahan tuntutannya. sudah cukup.*** 64 Jakarta. sama sekali tidak bisa dihapus lagi. Bahkan aku boleh dikata agak mendingan dibandingkan dengan penjaga malam itu. seperti tidak ada artinya sama sekali. kalau begitu.11 – 1997 . kalau begitu.

seperempat abad setelah ia meninggal dunia. berkali-kali. Di trotoar-trotoar. masih terang terngiang di telingaku kata-kata yang selalu diucapkannya dengan suara lantang. di perempatan jalan. terlebih-lebih anak-anak tidak berani mendekatinya. "Atur sendiri-sendiri!" Bisa berarti: "Berdiri di atas kaki sendiri!" "Jangan sekali-kali ndompleng atau bergantung pada orang lain!" Atau: "Benahi dirimu sendiri. Memakai sarung Samarinda biru yang juga telah memat. Mungkin jas itu diperolehnya dari belas kasihan salah seorang pegawai Palang Merah Sekutu di zaman pendudukan Nica. Kata-kata yang sepintas lalu hampa tak bermakna. di depan teras-teras rumah yang pagarnya terkunci atau ketika di dunia santai berleha-leha di pojok-pojok sepi. sekedar iseng semata tanpa maksud tujuan tertentu. nyaris berteriak. Mungkin ia mantan pendekar silat atau bekas tukang pukul pengawal pribadi tokoh yang amat disegani orang. Hanya kata-kata itu yang selalu diucapkannya. Boleh jadi tidak ada yang dapat memahami arti kata-kata yang diucapkannya. Masuk-keluar kampung. selalu dengan tekanan nada sungguh-sungguh. bila direnungkan. Karenanya ia ditakuti orang. di emperan-emperan toko. begitu berarti dan perlu diketahui oleh setiap orang. ia berkata: "Atur sendiri-sendiri!" Demikian dikatakannya setiap kali. Sorot matanya memancar berbinar. Sekali-sekali berhenti di depan kantor. Ia selalu mencangkingkan sebuah buntalan besar yang kumal dan entah apa isinya. Ia mengenakan jas wol tua warna hitam yang bulunya telah lenyap dan kelihatannya terlalu besar menyungkup pundaknya. tempat orang lagi sibuk bekerja. jangan pusingkan orang lain!" "Jangan sok!" "Berbuatlah sesuai kemampuan!" . di mana pun kebetulan ia berada. lebih separo abad usianya. Tidak jarang ia masuk nyelonong begitu saja ke ruang dalam kantor itu tanpa sedikit pun merasa canggung atau enggan. Atau dengan kata-kata itu ia hendak menjelaskan suatu maksud. Sesuatu yang punya arti.Rumah Tuhan Oleh: Muhammad Ali 65 Sampai saat ini. Sepintas lalu. seolah-olah ingin kata-katanya didengar oleh setiap orang di seantero dunia. Dengan terompahnya yang peyot solnya ia berjalan ke sana-sini mengelilingi kota. tidak ada artinya. Seorang laki-laki tua. karena kata-kata itu seperti dilontarkan secara spontan. seolah-olah kata-kata itu mengandung multi makna yang sulit ditebak artinya. ditandai oleh kerit-merut di wajahnya. tapi pengawakannya tegap dan kekar. Ia mengenakan topi koboi yang pinggirannya geripis dan warnanya tidak menentu lagi. Meskipun tua. Kemudian seperti biasa ia menyerukan kata-kata yang telah dihapalnya di luar kepala: "Atur sendiri-sendiri!" Hingga pesuruh kantor tergopoh-gopoh mengusirnya keluar.

Di sampingnya mengalir sungai kecil yang jernih airnya. Ketika berada di jalan-jalan beraspal di bawah sengatan terik matahari atau diliputi hawa dingin di malam hari ada saja orang-orang usil yang memperolok-olokkannya. Sudah cukup banyak tempat yang disinggahinya sejak ia meninggalkan desanya beberapa tahun lalu. lebih-lebih anakanak jalanan. Menghancur-leburkan kebun buahnya dan membantai anakbininya. tukang-tukang becak. Bila malam tiba ia bergegas mencari tempat berteduh untuk mengistirahatkan tubuh. Sidin. Orang hanya mengenalnya hanya dengan panggilan pendek: "Din!" Tak lebih dari itu. Kusir-kusir dokar. Karena ada saja orang yang mengusirnya dari tempat itu. Sejak waktu itulah ia mulai linglung serupa orang yang kehilangan akal sehat. Berkat perlindungan Tuhan ia selamat dari bencana itu. mereka sama menertawakan dan mempergunjingkannya. Martir habis-habisan Revolusi Kemerdekaan bangsa dan negara itu akhirnya terdampar di sebuah kota yang sama sekali tak ramah. Brodin atau Ilmudin. Oh ya. meskipun agaknya bisa saja ia menghajar dan mengobrak-abrik orang-orang usil itu. selalu berpindah-pindah. belum kuceritakan siapa ia sesungguhnya. Mereka membumihanguskan seluruh desa. Dari mana asalusulnya. karena walikota tidak pernah tidur di situ. Ia bersama anak-bininya hidup tenteram dan makmur di sebuah gubuk mungil tak jauh dari tanahnya. Pengelanaannya tidak berjalan mulus. Di halte-halte bus kota. Pernah ia ngumpet di sudut tersembunyi sebuah bank. Di emperan super market. Tapi semua itu tak dihiraukannya. penuh bertabur onak dan duri. Ternyata sebagai gelandangan ia bisa hidup terus selama bertahun-tahun. tak terkecuali gubuknya. Dari mana diperolehnya uang untuk penyambung hidupnya? Di samping ada orang-orang yang selalu 66 . jangan sombong dan bersikap tak terkendali!" Dan masih banyak lagi arti lain yang dapat ditarik dan disimpulkan dari kata-kata tersebut."Hiduplah secara tertib dan teratur!" "Tegakkan disiplin!" "Berbuat baiklah selalu. Bahkan pernah selama beberapa malam ia tidur di serambi rumah dinas walikota yang kebetulan tidak dijaga. Tapi di zaman Revolusi Kemerdekaan tahun 1945 desanya diserbu oleh balatentara Sekutu yang diboncengi oleh serdadu-serdadu Nica. tak ada yang tahu. karena penampilannya yang tidak lazim. Siang hari ia berkeliling mengitari jalan-jalan di kota. Penjaga malam yang berpatroli atau orang senasib yang merasa lebih berhak menguasai tempat itu. Apakah "Din" itu kependekan dari nama lengkap Samsudin. Ia tetap lewat melintasi mereka sambil merunduk penuh kesabaran. Sebaliknya malah ia menganggap mereka orangorang gila. Ia melonjorkan kakinya yang penat berdebu. Tempat peristirahatannya tidak tetap. Di pemakaman-pemakaman umum. Saridin. Diamdiam ditinggalkannya desa tempat asalnya yang penuh kenangan pahit. Tanah itu ditumbuhi berbagai jenis pohon buah-buahan. lalu berkelana tanpa tujuan mengikuti ayunan langkah kakinya. Ada selentingan. Di mana-mana ia ditampik dan dihalau. Siapa namanya. Di bawah pohon di taman hotel berbintang. Di emper stasiun kereta api. konon di masa mudanya dulu ia pernah memiliki sebidang tanah yang subur di desanya.

karena ada pagar tinggi menghadangnya. Sampai akhir hayatnya ia ingin senantiasa suasana kedamaian. lebih-lebih warga kota yang selalu sibuk dan bising penuh polusi. Dilonjorkannya tubuhnya sambil berbantalkan buntalannya. Maka teringatlah ia pada Rumah Tuhan. Di sampingnya ada sebuah kolam tempat air wudu yang kotor dan bau pesing. Tapi sial. Letak surau itu di pinggiran kota yang terpencil. Memang tidak setiap orang bisa menikmati tidur begitu cepat dan nikmat pula seperti yang dialami oleh laki-laki tua yang terlantar itu. 67 . Sebenarnya tak pernah ia dengan sadar melakukan perbuatan-perbuatan salah. diusir dari satu tempat ke tempat lain. Surau itu tampak kurang terpelihara. lari ke kolam mengambil air wudu. minta naungan dan perlindungan dari Si Empunya Rumah. Cepat ia bangkit. sesaat ia tersedak. yaitu Tuhan? Tiadakah rumah itu milik Tuhan? Bukan milik siapa-siapa? Tiadakah setiap hamba Tuhan yang baik berhak memperoleh naungan dan perlindungan di rumah-Nya? Begitulah pada suatu malam dengan penuh harapan ia melangkah menuju ke salah satu masjid agung di kota itu. Masjid atau surau dan musala yang jumlahnya cukup banyak di kota itu. serasa kini telah didapatkannya kedamaian hakiki yang selama ini menjauhinya. Tak lama kemudian terdengar dengkurnya. teringat akan nasibnya yang malang-melintang. Surau itu lengang dan kosong. lalu naik ke serambi surau. mengambil tempat di saf yang telah rapi berderet di belakang sang imam. Entah darimana. Kebanyakan orang. Di surau itu telah berkumpul sejumlah orang. lalu mencoba mencari tempat lain utuk istirahat. sekadar numpang tidur sejenak. lantainya dialasi tikar pandan yang telah usang dan koyak-koyak di sana-sini. Dalam salat ia benar-benar menyadari akan kerapuhan dirinya di hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang disembahnya. Dibangun dari papan pohon waru dan pintunya terbuka lebar. Ia ikut melakukan salat Subuh berjamaah. yang pikirannya selalu buncah dilanda berbagai seribu satu macam kerumitan hidup. pikirnya. Ia pergi ke kolam untuk mencuci kaki dan membasuh mukanya. Baru ia tergugah geragapan ketika seruan azan Subuh berkumandang. kebanyakan orang-orang tua.menghalaunya. ada juga insan-insan yang baik hati yang berbelas-kasih yang kadangkadang melemparkan uang recehan atau beberapa batang rokok kepadanya. yang tentu disambutnya dengan penuh rasa syukur disertai senyuman lebar. Pagar tinggi tersebut dari besi yang berjeruji lancip ujungnya serupa tombak lagi terkunci rapat. ia tak bisa masuk ke dalam masjid. ia surut. jarang dikunjungi orang dan jelas tidak berpagar besi dengan jeruji yang ujungnya lancip serupa tombak. yang akan melakukan salat subuh berjamaah. apalagi kejahatan. Setelah selalu mengalami kesulitan dalam upaya memperoleh tempat peristirahatan yang aman. lalu melangkah ke dalam surau. Ia menuju ke salah satu surau yang diingatnya. senantiasa dihalau. Mereka sulit tidur. suatu ketika tiba-tiba timbul dalam benaknya pikiran itu. Mengapa ia tidak ke sana saja. Ketika sujud ia di bawah cerpu-Nya. Dengan hati sendu dan putus asa. Berlampu suram. untuk beristirahat di malam hari. bahkan tidak mampu memicingkan mata barang sekejap pun.

Benar telah dilihatnya keraguan sementara orang. terutama mereka yang termakan oleh apa disebut kemajuan ilmu pengetahuan. Hanya Tuhan satu-satunya yang dekat padanya. Sementara asyik memikirkan tentang kehidupan serta kesesatan manusia dalam abad yang kisruh ini --yang disebut abad teknologi-. Suatu ketika. Kepercayaan kepada Tuhan merupakan pelita penerang baginya yang selalu bersamanya dalam kegelapan kehidupannya. ia tiba di surau sebelum waktu salat Zuhur. Sama sekali tidak terbayang raut kebencian atau kerisihan pada wajah mereka. Nasibnya tercabik-cabik di tengah kehidupan kota yang tak berbelas kasih.yang sekaligus membelakangi norma-norma agama. selalu dipupuknya. Sejak waktu itu ia tak usah lagi berkeliaran mencari tempat berteduh. Menghapus keringat di jidatnya dan menghela napas panjang. Lalu menyalaminya dengan akrab seraya berkata. Setiap malam ia langsung pergi ke surau itu untuk beristirahat. Mereka ragu terhadap hikmat pengertian yang telah diberkati. kepasrahan dan ketergantungannya pada kekuasan-Nya. Mereka hanya memandang sesaat lamanya. terpencil dan dikucilkan dari arena pergaulan hidup manusia. berkeliling kota tanpa tujuan. Serasa ia bermimpi melihat sosok yang aneh berwujud penjaga surau yang kepalanya ubanan. Saudara boleh beristirahat di sini setiap malam. "Cukup bagiku Tuhan melihatku. "Saya adalah penjaga surau ini. Dan ketika salat rampung sudah. Harapan-harapan. menguntitnya ke mana ia pergi dan di mana ia berada. ia mengelana seorang diri. melindunginya dari kegetiran dan kesengsaraan hidup. 68 .. Ia duduk bersandar ke dinding papan. Satu-satunya yang masih tinggal padanya ialah kepercayaannya kepada Tuhan. Hidupnya yang hancur berantakan dan porak-poranda." Mendapat tawaran yang tak terduga-duga itu hampir ia berjingkrak kegirangan. Sesaat dipejamkannya kedua belah matanya. Jika Saudara kehendaki. para jamaah sama mengarahkan pandangan mereka nanap kepadanya. Agak lama matanya terpejam. Seakanakan sambil terpejam sempat disaksikannya di ruang matanya lakon kehidupannya yang sedang berputar. ilusi dan begitu banyak hal indah mempesona telah meninggalkannya. Seolah-olah ia sesuatu yang najis dan menjijikkan. Ia yakin lewat pelita penerangnya Tuhan selalu melihat gerak-geriknya.. tidak seperti biasanya. Seorang laki-laki tua yang kepalanya beruban menghampirinya. Sesudah salat Subuh ia meninggalkan surau melakukan kebiasaannya. walau angin sejuk berhembus mengipasinya. Diraupnya tangan penjaga surau itu lalu menciumnya. Tak seorang pun peduli. "Benarkah Tuhan melihatku?" tanya hati kecilnya.Selesai salat ia masih duduk bersimpuh khusyuk mengikuti sang imam yang memanjatkan doa ke hadirat Tuhan." jawabnya. limpahan karunia kasih sayang-Nya serta ampunan-Nya yang tiada batas akhirnya. Keluarganya punah.. Ia tersingkir. Hartanya musnah. Bibirnya terkatup tak dapat menyampaikan terima kasih. Di tengah kehiruk-pikukan dunia serba fana. Keyakinan dan kebesaran-Nya.

ketika manusia sama ketakutan. Kedua belah matanya rapat terpejam. tapi tidak pernah menemukan tanda-tanda adanya Tuhan. Di sana segala sesuatu kekal abadi. "Belum lama ini. Laki-laki tua yang sering melontarkan kata-kata: "Atur sendiri-sendiri!" telah menghembuskan napasnya terakhir dengan penuh kedamaian di Rumah Tuhan yang sejuk dan damai. Hal ini tentu telah engkau ketahui. Jiwanya serasa lepas terbang ke sawang lapang tak terbatas.. "Mereka telah mendarat di permukaan bulan." kata sosok penjaga surau. seolah-olah ia tertidur lelap. Mereka mengira telah berhasil mencapai ketinggian yang luar biasa. Mereka malah sama sekali belum menyentuh tubir ruang angkasa semesta yang didindingi tujuh lapis langit. dan akan selalu terjadi. mari kita tinggalkan dunia yang fana ini. "Bukankah di sini kita tidak mendapat tempat yang layak? mari kita pergi menghadap ke hadirat-Nya. Ini merupakan masa paling buruk. Padahal mereka masih tetap mengorbit di seputar atmosfir bumi. tapi telah keburu sombong dan berlagak.Orang tua itu berkata: "Ketahuilah olehmu. Mereka juga mempelajari sebab-sebab turunnya hujan dan angin topan dan tidak lagi menggubris Tuhan. Tapi akhirnya mereka menemukan penangkal petir dan guntur dan mereka tidak lagi merasa takut kepada Tuhan. Seorang ilmuwan tersohor muncul dan menyatakan. bahkan di uratnadinya. Sungguh keterlaluan! Padahal ia dapat menemukan Tuhan dalam dirinya. Ketika saat salat Zuhur tiba. hai pengelana.. orang-orang datang bergerombol ramai-ramai mengerumuni sosok tubuh yang tersandar di dinding papan serambi surau. hingga menggigil sekujur sendinya. Mereka coba mendekati planet Mars. Tapi ia takkan pernah bangun dari tidurnya. ketika badai mengamuk dan gempa bumi menggelegar. Sebenarnya mereka belum berbuat sesuatu yang berarti. bahwa ia telah mempelajari dan meneliti bumi dan langit dari segala segi. indah sempurna tiada tara. "Kini." Mendengar ajakan itu jiwanya terasa luluh.*** 69 .. dalam hati nurani dan jiwanya.

Horison, Juni 2000

Wawancara dengan Sinterklas Sebuah Renungan Sebelum Hari Natal

70

Oleh: Erich Kästner ( 1899 - 1974 )

Bel pintu sudah berbunyi lagi. Yang kesembilan kalinya dalam satu jam terakhir ini! Hari ini, begitulah tampaknya, para pencinta tombol bel pada berkeliaran di jalanan. Dengan murung aku merangkak menuju pintu dan membukanya. Bayangkan, siapa yang berdiri di luar? Sinterklas pribadi! Dalam pakaian kebesarannya yang bersejarah dan terkenal itu. "Oh," kataku. "Sinterklas yang terburu-buru!" "Yang kudus, kalau saya boleh minta." Nadanya sedikit tersinggung. "Ketika masih muda aku selalu menyebut Anda sebagai Sinterklas yang terburu-buru. Aku pikir itu lebih masuk akal." "Jadi, Andalah orangnya?" "Anda masih ingat hal itu?" "Tentu saja! Anak laki-laki kecil yang lucu, begitulah Anda waktu itu!" "Sekarang pun aku masih tetap kecil." "Dan sekarang Anda tinggal di sini?" "Betul sekali." Kami tersenyum pasrah dan mengenang masa-masa yang telah berlalu. "Mampirlah sebentar!" pintaku. "Marilah minum secangkir kopi bersamaku!" Jujur saja, sebenarnya aku merasa kasihan kepadanya. Apa yang harus kukatakan? Dia tidak pergi. Dia berkenan untuk singgah. Pertama-tama dia membersihkan sepatu botnya di keset depan pintu, lalu meletakkan karungnya di

samping gantungan mantel, menggantungkan ranting pelecutnya di sebuah gantungan, dan akhirnya dia minum kopi bersamaku di kamar tamu. "Anda mau cerutu?" "Aku tidak akan menolaknya." Kuambil kotak cerutu. Dia mengambil sebatang. Aku memberinya api. Lalu dengan bantuan sepatu bot yang kiri dia melepaskan sepatu botnya yang kanan dan menghembuskan nafas dengan lega. "Ini gara-gara ganjalan untuk telapak kakiku yang rata. Ganjalan ini sama sekali tidak nyaman." "Kasihan sekali Anda! Apalagi dengan pekerjaan Anda yang seperti itu." "Tetapi dibandingkan dulu, sekarang hanya ada sedikit pekerjaan. Dan itu baik untuk kakiku. Sekarang sinterklas-sinterklas palsu itu tumbuh seperti jamur saja layaknya." "Suatu hari anak-anak akan berpikir bahwa Anda, Sinterklas yang asli, sama sekali tak ada lagi." "Itu juga betul! Orang-orang itu merusak pekerjaanku! Kebanyakan dari mereka yang memakai mantel bulu, memakai jenggot dan meniruku itu, tidak mempunyai bakat barang sedikit pun! Mereka adalah orang-orang yang tidak profesional!" "Karena kita sedang berbicara tentang pekerjaan Anda," kataku, "aku punya pertanyaan kepada Anda, pertanyaan yang sudah sejak masa kecilku menyibukkanku. Dulu aku tidak berani bertanya. Tetapi sekarang aku sudah lebih berani karena aku menjadi wartawan." "Tidak apa-apa," katanya dan menambah kopi lagi. "Apa yang Anda sudah ingin tahu sejak waktu kecil?" "Begini," aku memulai dengan ragu-ragu, "pekerjaan Anda itu sebenarnya sejenis bisnis musiman yang tidak tetap, bukan? Pada bulan Desember, Anda punya banyak sekali pekerjaan. Semuanya bertumpuk hanya pada beberapa minggu saja. Pekerjaan itu bisa disebut sebagai bisnis dadakan. Lalu..." "Hm?" "Lalu, aku benar-benar ingin tahu, apa yang Anda kerjakan pada bulan-bulan lainnya!" Sinterklas tua yang baik itu memandangku dengan terpana. Kelihatannya, tidak ada seorang pun yang pernah mengajukan pertanyaan yang begitu mudah dimengerti itu kepadanya. "Kalau Anda tak mau membicarakannya... ." "Mau, mau kok," katanya dengan suara seperti menggeram. "Kenapa tidak?" Dia minum seteguk kopi dan mengepulkan asap rokok berbentuk lingkaran. "Pada bulan November, tentu saja aku sibuk dengan pengadaan bahan-bahan. Di beberapa negara tiba-tiba tidak ada coklat lagi. Tak seorang pun tahu mengapa. Atau apel ditimbun oleh para petani. Lalu segala macam masalah dengan pemeriksaan bea cukai. Dan setumpuk dokumen untuk

71

transportasi barang-barang. Dan kalau berjalan seperti itu terus, nanti aku harus memulainya sejak bulan Oktober. Sebetulnya, sampai sekarang pada bulan Oktober aku menarik diri dan dengan tenang membiarkan janggutku tumbuh." "Anda hanya berjanggut dalam musim dingin saja?" "Tentu saja. Aku `kan tidak bisa sepanjang tahun pergi ke sana-ke mari sebagai Sinterklas. Anda pikir, aku memakai mantel buluku terus menerus? Dan selama 365 hari menyeret-nyeret karung dan ranting pelecutku ke mana-mana? Nah, begitulah. Di bulan Januari aku membereskan pembukuan. Sungguh mengerikan. Dari abad ke abad, Hari Natal menjadi semakin mahal!" "Tentu saja." "Lalu, aku membaca surat-surat yang datang pada bulan Desember. Terutama surat dari anak-anak. Pekerjaan yang sungguh memakan waktu, tetapi penting. Karena kalau tidak, kontak dengan langganan akan terputus." "Logis." "Awal Februari aku pergi ke tukang cukur untuk mencukur jenggotku." Pada saat itu, bel pintu berbunyi lagi. "Permisi ya?" Dia mengangguk. Di luar, di depan pintu, berdiri seorang pedagang keliling dengan kartu pos bergambar yang berwarna-warni mencolok mata, dan dia bercerita tentang sebuah kisah yang sangat panjang dan sangat menyedihkan. Bagian pertama dari kisahnya itu kudengarkan dengan tabah sambil "menahan sakit" pada kupingku. Lantas aku memberinya uang kecil yang ada dalam saku celanaku, dan kami saling mengucapkan selamat juga untuk masa depan kami. Walaupun aku sudah berkeras menolaknya, dia tetap memaksakan setengah lusin dari kartu-kartu posnya yang mengerikan itu kepadaku. Dia, katanya, bagaimanapun bukanlah seorang pengemis. Aku menghormati harga dirinya yang indah itu dan mengalah. Akhirnya dia pergi. Ketika aku kembali ke kamar tamu, Sinterklas sedang mengenakan sepatu bot kanannya sambil merintih. "Aku harus meneruskan perjalanan," katanya, "kakiku toh tidak bertambah baik. Apa itu yang Anda pegang?" "Kartu pos. Seorang pedagang keliling memaksaku untuk menerimanya." "Sini, berikan kepadaku. Aku tahu orang yang mau menerimanya. Terima kasih banyak untuk keramahan Anda. Kalau saja aku bukan Sinterklas, aku pasti akan iri kepada Anda." Kami berjalan ke koridor, di mana dia mengambil perlengkapannya. "Sayang," kataku. "Anda masih berhutang kelanjutan kisah hidup Anda." Dia mengangkat bahu. "Sebetulnya tidak banyak yang banyak bisa diceritakan. Pada bulan Februari aku mengurus pesta karnaval anak-anak. Setelah itu, berkeliling di pasar saat musim semi. Berjualan balon dan mainan mekanik murah. Pada musim panas aku menjadi pengawas kolam renang dan memberi kursus berenang. Kadang-kadang aku pun berjualan es krim di jalan. Ya, dan setelah itu musim gugur datang lagi - sekarang aku benar-benar harus pergi."

72

Kami berjabatan tangan. Dari jendela, pandanganku mengikutinya. Dia berjalan di salju dengan langkah lebar dan tergesa-gesa. Di pojok Jalan Unger, seorang lelaki menantinya. Orang itu mirip si pedagang keliling yang banyak omong dengan kartu posnya yang konyol itu. Mereka berdua membelok di tikungan sudut jalan. Atau mungkin aku keliru? Seperempat jam kemudian bel sudah berbunyi lagi. Kali ini yang muncul adalah anak muda pesuruh toko makanan Zimmermann Söhne. Sebuah kunjungan yang menyenangkan! Aku akan membayar, tetapi dompetku tak kutemukan dengan segera. "Kan masih ada waktu, Pak Doktor," katanya dengan nada kebapakan. "Aku yakin bahwa aku meletakkannya di atas meja tulis!" kataku. "Baiklah, kalau begitu akan kubayar besok saja. Tapi tunggulah sebentar, saya ambilkan sebuah cerutu istimewa untuk Anda!" Kotak cerutu itu pun tak segera kutemukan. Itu artinya, nanti pun tak akan kutemukan. Tidak cerutu. Tidak juga dompet. Tempat rokok dari perak pun tidak bisa kutemukan. Dan kancing-kancing manset dengan batu bulan yang besar-besar dan mutiara-mutiara untuk jas berekor pun tak ada, baik di tempatnya atau pun di tempat lain. Setidaknya, tidak di rumahku. Aku tidak bisa menerangkan, ke mana barang-barang itu menghilang. Tetapi bagaimanapun, malam ini adalah malam yang tenang dan indah. Bel pintu tak berbunyi lagi. Sungguh, sebuah malam yang baik. Hanya saja, ada sesuatu yang kurang. Tetapi apa? Sebatang cerutu? Tentu saja! Untunglah geretan emas itu pun tidak ada lagi. Karena kalau ada, walaupun aku seorang yang tenang, aku harus mengakui: punya api, tapi tak punya rokok, itu bisa merusak seluruh malam!***

73

Kisah-kisah dari Buku Bacaan Wolfgang Borchert ( 1921 - 1947 )

Judul asli: "Lesebuchgeschichte". Diterjemahkan oleh Kelompok Kerja Penerjemahan Sastra Jerman, Jurusan Bahasa Indonesia, Seminar fuer Orientalische Sprachen (Seminar untuk Bahasa-bahasa Timur) Universitas Bonn (Silke Brand, Britta Debus, Helgard Haas, Birgit Lattenkamp, Klaus Mundt, di bawah bimbingan Dewi Noviami)

"Semua orang sudah mempunyai mesin jahit, radio, lemari es dan telepon. Bikin apa kita sekarang?" tanya Pemilik Pabrik. "Bom," kata Penemu. "Perang," kata Jenderal "Kalau tak ada pilihan lain," kata Pemilik Pabrik.

Ketika dia melihat sekuntum bunga mati. "Ongkosnya?" "Dengan ubin?" "Dengan ubin hijau. saya tak akan mampu memberi Anda uang empat ribu ini." Kedua laki-laki itu berpisah. Kemudian hanya dengan setengah gram. Dan di atas kertas ada angka-angka." "Empat ribu? Baiklah. tentu. Dia menambahkan hurufhuruf yang sangat kecil dan halus. Mereka adalah seorang pemilik pabrik dan seorang pengusaha bangunan. Sobat. dia sedih sekali dan menangis.Lelaki dengan jas kerja putih menulis angka di atas kertas. Ya. 74 *** Dua laki-laki bercakap-cakap. " "Empat ribu. seribu orang bisa terbunuh dalam waktu dua jam. Matahari menyinari bunga." "Dengan ubin hijau. *** . jika saja saya tidak mengubah coklat menjadi mesiu pada waktu yang tepat." "Dengan ubin hijau." "Dan saya tidak dapat memberi Anda kamar mandi. Dan kertas. Lalu dia membuka jas kerja putihnya dan selama satu jam merawat bunga yang ada di ambang jendela. Saat itu zaman perang.

Membacakan Hölderlin. Kelihatannya seperti lelaki-lelaki kecil. Banyak salib kecil. Dua laki-laki bercakap-cakap. Sangat mengharukan. . Dia mengambil bola baru dan menggelindingkannya di atas lintasan. "Nah. Sambil bercerita dia menggambar banyak salib kecil di atas kertas." "Jadi." "Anda masih punya berapa?" "Kalau lancar: empat ribu. Pak Guru. Mengingatkan pada Langemarck. Sangat mengharukan. Menyampaikan beberapa istilah: kehormatan. bagaimana?" "Tidak begitu sukses." "Pasti akan habis." "Berapa Anda bisa memberi saya?" "Paling banyak delapan ratus. sedang berkabung?" "Sama sekali tidak. seribu.… Sama sekali tidak. berhentilah. Lalu. Menimbulkan gemuruh halus. Saat itu adalah zaman perang. Dia bangkit dan tertawa. Mereka berbicara tentang manusia. Ada upacara." "Demi Tuhan. 75 *** Dua laki-laki bercakap-cakap. Para pemuda bernyanyi: Tuhan yang memberi senjata. Banyak mata bersinar. "Nah. di belakang. berpakaian hitam-hitam. Menyeramkan. Berpidato pendek. Pak Guru. Mereka adalah para jenderal. Mengharukan. Mengutip Clausewitz. gada-gada kecil berjatuhan." Pak Guru memandang yang lain dengan ngeri." "Terimakasih.Lintasan boling. Upacara yang mengharukan. Para pemuda maju ke garis depan.' Kedua laki-laki itu berpisah. tanah air. Ingat Sparta.

Ketika mereka sedang menembak." "Berapa umurmu?" "Delapan belas.*** Dua laki-laki bercakap-cakap. Dan kamu?" "Sama. "Kenapa tidak. Mereka adalah prajurit. perempuan itu menamparnya. Pada waktu itu dia melihat seorang yang punya roti. seorang perempuan tua datang dan mengambil senjata mereka. Orang itu dibunuhnya. Tuan?" seru gadis-gadis berbibir merah. Ketika perang berakhir. "Sukarelawan?" "Tentu. Yang satu rubuh. Tapi dia tidak punya roti. Saat itu adalah zaman perang. Ketika salah seorang menteri meminta kembali senjatanya. "Kamu tidak boleh membunuh. Para menteri itu mengambil senjata dan menembak lelaki-lelaki kecil dari karton." tanya Prajurit. para menteri jalan-jalan di kota." kata Hakim. "Mau menembak. Dia mati. 76 *** Ketika konferensi perdamaian berakhir. . prajurit itu pulang ke rumah." Kedua laki-laki itu berpisah. Pada waktu itu mereka melewati sebuah stand menembak.

mereka menggunakan bakteri. mereka saling memukul dengan tangan. Semuanya tanah yang sama. mereka mati. *** Pada suatu ketika ada dua manusia. Ketika tahun 5000 seekor tikus mondok muncul dari tanah. Dan anjing-anjing masih mengangkat kakinya. mereka saling melempar bom. Waktu mereka dua belas tahun. seekor cacing tanah makan di kuburan mereka. delapan puluh dua tahun. Lumut dan laut dan nyamuk-nyamuk: Semuanya masih tetap yang sama.Dia adalah seorang ibu.*** Judul asli: "Interview mit einem Weihnachtsmann". Burung-burung gagak masih menggaok. Jurusan Bahasa Indonesia. dia mengamati dengan tenang: Pohon-pohon masih tetap pohon-pohon. Tanahnya sama. Waktu mereka berumur dua tahun. mereka saling memukul dengan tongkat dan saling melempar batu. Waktu mereka empat puluh dua tahun. Waktu mereka berdampingan. Waktu mereka dua puluh dua tahun. Dan kadang-kadang kadang-kadang seorang manusia bisa dijumpai. Mereka dikuburkan 77 Ketika seratus tahun berlalu. Waktu mereka enam puluh dua tahun. mereka saling menembak dengan senjata. Seminar fuer Orientalische Sprachen (Seminar untuk Bahasa- . Cacing tanah itu sama sekali tidak merasakan bahwa di situ dua manusia yang berbeda dikuburkan. Diterjemahkan oleh Kelompok Kerja Penerjemahan Sastra Jerman. Ikan-ikan kecil dan bintang-bintang.

Birgit Lattenkamp. di bawah bimbingan Dewi Noviami).bahasa Timur) Universitas Bonn (Silke Brand. Beate Meik. 78 .

Juenger datang liwat kota Basel.. Usaha mereka “uff Sehwyzerduetsch zu schwaetze” amat lucu.. Kemudian keduanya memandang ke arah gereja Grossmuenster. mungkin surat-surat saya didengar sebagai ketukan takut-takut lembut di pintu. pertama-tama Remarque mulai bersenandung. balai kota dan hotel “Zum Rueden”. Mungkin saya lebih beruntung karena saya perempuan dan masih muda. sesudah berjalan kaki mendaki bukit Vogesen menuju ke Hartmannsweilerkopf. Karena tinggal di daerah Wuerttemberg. ketika saya mengutip awal sebuah lagu yang selama Perang Dunia I sering dinyanyikan dan tidak diketahui penciptanya. Ia jelas kelihatan sebagai seorang yang menikmati kesenangan hidup. ) 79 1914 Akhirnya. Tamu-tamu kehormatanku—keduanya saksi zaman dan pelaku sejarah—berbincang-bincang sambil beradu pengetahuan tentang jenis-jenis anggur yang dihasilkan di Swiss: Remarque memuji berbagai jenis anggur yang berasal dari daerah Tessin. .. Keduanya masih mengetahui larik-larik yang mengakhiri tiap bait: “Flandern in Not. puncakpuncak menara gereja itu menjulang tinggi di atas rumah-rumah penduduk kawasan Schiffslaende. Remarque—waktu itu usianya enam puluh tujuh tahun—datang dari arah kota Locarno. Biasanya kami duduk-duduk di serambi restoran roti dan kue. Saya telah memesan kamar-kamar yang tenang di hotel “Zum Storchen”. apalagi saya warga negara Swiss suatu negara yang netral. pada pertengahan tahun enam puluhan saya berhasil menggugah kedua pengarang lanjut usia itu —Juenger dan Remarque— agar mau bertemu. yaitu daerah yang dulu diperebutkan dengan sengit. akan tetapi sekaligus menyusahkan. sambil memandang sungai Limnat. Pada pertemuan pertama. di Flandern maut merajalela”). Meskipun saya menggambarkan garis besar rencana penelitian kami hanya sesuai ketentuan umum. dengan banyak pertumpahan darah. Namun. percakapan mereka sangat kaku dan tersendat.Abadku Oleh: Günter Grass ( 1927 . dalam waktu beberapa hari dan hampir bersamaan datang dua surat jawaban yang menyatakan bahwa undangan saya diterima. Perihal kedua tokoh mengesankan yang sudah “is bitzeli fossil” inilah saya beritakan kepada rekan-rekan di lembaga penelitian. tidak lama kemudian juga Juenger turut menyanyikan lagu yang melodinya sangat sedih dan mencekam. yaitu “Flandrischer Totentanz”. setelah dua rekan di lembaga penelitian kami sudah berulang kali dan sia-sia berusaha. in Flandern reitet der Tod” (“Flandern dilanda bahaya. sedangkan Juenger lebih suka welsche Dole. tampaknya lebih tua dan lemah daripada Juenger yang kelihatan gagah meskipun baru saja telah melampaui usia tujuh puluhan dan menampilkan diri sebagai seorang suka olah raga. Kelihatan betul bahwa keduanya sangat berusaha memperlihatkan sopan santun dan daya pikat mereka masing-masing.

bahwa legenda kepahlawanan di Langemarck.Sesudah perenungan beberapa saat diselingi dehem-mendehem. kami merasa dilebur menjadi satu kekuatan besar. dan bahwa juga titik tolak mereka berlainan. bahkan dalam novel Im Westen nichts Neues—novel pertama Anda yang memang hebat—Anda bercerita penuh perasaan dan gejolak batin tentang persahabatan sehidup semati di antara para prajurit. “Dinas di rumah sakit tentara sudah cukup sebagai sumber ilham saya. ia sudah sangat ingin mengalami keadaan bahaya dan sangat tertarik pada petualangan-petualangan luar biasa dan “bahkan ingin masuk Legiun Asing Prancis”. banyak murid sekolah menengah umum ramai-ramai mendaftarkan diri sebagai tentara sukarela. sampai serangan terakhir yang diperintahkan Ludendorff. Remarque. juga karena disemangati oleh para guru. Menjelang akhir pertemuan pertama—kedua pengarang itu masing-masing telah menghabiskan sebotol anggur merah—Juenger berbicara tentang Flandern lagi: “Ketika dua tahun kemudian kami masuk ke dalam parit-parit di garis depan daerah Langemarck. juga. ketika dekat Bixschoote dan Ypern terjadi pertempuran seru yang mengakibatkan pertumpahan darah habis-habisan di pihak resimen-resimen tentara sukarela Jerman. Dan mereka yang kembali. Kalau yang satu masih tetap memandang dirinya sebagai seorang “pencinta damai yang tidak dapat berubah ataupun diubah”. “Omong kosong!” teriak Remarque. Anda tetap berpetualang seperti preman bajingan. memberi kesan yang sangat mendalam kepadanya. meskipun Juenger menamakan kultus kepahlawanan Langemarck “bualan kaum nasionalis”. melainkan pengalaman di garis depan dari suatu generasi yang diperalat. Remarque mulai bercerita bahwa pada musim gugur tahun empat belas ia masih di bangku sekolah di kota Osnabrueck. akan tetapi mereka menekankan bahwa pandangan mereka mengenai perang berbeda. “Dalam Stahlgewittern. dengan sangat teliti. Barangkali sebab itu. perlengkapan tentara sukarela yang dalam kekuatan resimen telah maju ke garis depan …” 80 1915 . isinya bukan kumpulan pengalaman pribadi. Dari tiap dua orang. bahkan juga ciri-ciri pertempuran yang membawa banyak korban dan kerugian itu. Meskipun perang itu kemudian membawa penderitaan. Lalu ia melanjutkan: “Ketika akhirnya perang meletus. kami menemukan senapan.” Kedua pengarang tua itu memang tidak mulai berselisih. pertempuran sebagai pengalaman jiwa tetap memikat saya. seperti Remarque sendiri. yang mengabarkan bahwa berondongan tembakan senapan mesin dari pihak Inggris dibalas sambil menyanyikan lagu kebangsaan*. bahkan sampai pada hari-hari terakhir sebagai komandan pasukantempur.” Novel ini. Juenger sambil tersenyum halus menceritakan beberapa pengalaman masa sekolah kepada Remarque. hanya guna menangkap satu-dua orang musuh—sekedar untuk melampiaskan nafsu sadis dan sekaligus guna menjarah sebotol Cognac!” Namun kemudian ia mengakui bahwa di buku hariannya Juenger telah menggambarkan pertempuran parit. yang lain menuntut dimengerti dan dipahami sebagai “anarkis”. Akui sajalah. bahwa gaya penulisan mereka berlawanan. sampai sekarang hancur jiwa raganya. kata Remarque. Setidak-tidaknya Remarque memandang dirinya sendiri sebagai “mayat hidup”. kopelrim dan selongsong peluru yang berasal dari pertempuran tahun empat belas. Bahkan juga Pickelhauben ditemukan. yang tidak berkesempatan masuk sekolah menengah umum. satu tidak kembali. ia mengakui juga bahwa lama sebelum permulaan perang. Tanpa pikir panjang dan tanpa rasa bersalah Anda telah mengerahkan satu pasukan tempur.

Karena Krupp tidak mampu menemukan campuran logam yang cocok untuk menghasilkan baja anti karat.” kata Remarque.Pertemuan berikutnya berlangsung di Odeon. Selanjutnya Juenger menghujani Remarque dengan berbagai keterangan rinci. “buku itu laris. sebuah kafe yang sejak dulu sudah terkenal. Helm baja itu hasil percobaan seorang kapten arteleri bernama Schwerd setelah percobaan-percobaan sebelumnya tidak memberi hasil yang memuaskan. pada dasarnya mengikuti model helm baja kami. Juenger langsung melontarkan sebuah kata yang tidak lepas dari pembicaraan selanjutnya: “Pickelhaube yang amat menjengkelkan ini. kedua buku yang pernah menyulut perdebatan sengit antara kubu pro dan kontra perang. bahannya kadang-kadang diganti dengan bahan campuran wol dan serat lain yang dipres.” Kemudian ia berbicara langsung kepada saya. Andaikan Anda tahu. Mulai enam belas Februari semua divisi di garis depan memakai helm baja. Ketika serangan dan pertahanan di pinggir sungai Somme mulai diperbincangkan. Sebaliknya pikiran kami bertiga bukan mengenai masa depan. yang berada di front Timur terpaksa palinglama menunggu. sehingga selama dua belas tahun terpaksa berhenti beredar di pasaran buku Jerman. Lalu ia mengeluh tentang hambatan penglihatan di waktu pertempuran parit. sambil meletakkan beberapa bagian peta medan perang di meja yang sudah agak kosong setelah perangkat sarapan pagi disingkirkan. “Betul. Namun Im Westen nichts Neues tiras penerbitannya jauh lebih tinggi daripada In Stahlgewittern. Semua pasukan di depan kota Verdun dan di pinggir sungai Somme mendapat prioritas. yang sudah tidak dipakai lagi ketika Anda jadi tentara. pertama-tama kedua tamu saya sepakat bahwa pertemuan ini akan dimulai dengan sarapan pagi yang disertai minuman anggur. Kami berlomba dengan orang Prancis yang juga mulai memakai helm baja. Remarque! Pelindung kepala itu dalam divisi kami di garis depan sudah sejak lima belas Juni diganti dengan helm baja. Seakan-akan menjadi saksi. terletak di atas meja marmer di antara roti croissant dan keju. karena bagian depan helm itu harus memberi perlindungan sampai ke ujung hidung. meskipun bentuknya agak diubah. Juga Schweizerhelm yang sampai sekarang dipakai militer. Setiap tembakan jitu. berkurang satu orang. bahkan juga penyangga yang diberi lubang ventilasi. terjemahannya ke dalam beberapa bahasa asing mengalami nasib yang sama. berapa banyak korban jiwa telah jatuh karena helm kulit yang tidak ada gunanya itu. apalagi dalam pertempuran parit! Bahkan karena kekurangan kulit. Disetujui pula bahwa saya diizinkan minum air jeruk. sampai ke bagian yang mencuat ke belakang guna melindungi tengkuk dan lapisan dalam berupa bantalan berisi rambut kuda atau terbuat dari campuran wol dan serat-serat lain yang dipres. Padahal buku saya dalam tahun 1933 termasuk buku yang dibakar secara resmi. Namun.” Juenger tidak menjawab.” Sanggahan saya “Untung helm kami tidak terpaksa diuji coba dalam pertempuranpertempuran yang membawa pengorbanan dahsyat dan kerugian besar seperti yang Anda gambarkan dengan kekuatan bahasa yang begitu meyakinkan” diabaikannya. Remarque. Remarque sengaja tetap membisu. perusahaan-perusahaan lain yang mendapat ordernya. hal itu disebabkan oleh lebarnya bagian dahi yang mencuat ke depan. mulai dari proses anti karat yang menghasilkan permukaan luar yang kusam berwarna kelabu. 81 . Kemudian saya berhasil mengalihkan pembicaraan ke perang parit di Flandern dan di tanah kapur daerah Champagne. antara lain pabrik besi Thale. Setiap pecahan peluru tembus. Di sinilah dulu Lenin menunggu keberangkatannya ke Rusia —perjalanan yang dikawal tentara kekaisaran Jerman— sambil membaca-baca Neue Zuercher Zeitung dan surat kabar lain serta diam-diam merencanakan revolusi. sedangkan madah perang karangan Anda jelas tidak pernah terhambat penerbitannya. melainkan seputar masa lalu.

Wajah-wajah mereka yang masih lugu seperti anak sama sekali tertutup oleh helm itu.. hampir pipih. . sesudah itu M 17. sebuah helm Inggris yang bentuknya sama sekali lain.. dipesankan air jeruk yang baru diperas segelas lagi. Bahwa peluru yang ditembakkan oleh pasukan infanteri dan bahkan pecahan-pecahan kecil peluru meriam tetap menembus topi baja itu. topi baja yang hebat ini sangat mengganggu. mestinya Anda ketahui juga. Melorot terus. si none. saya lebih suka memakai peci letnan saya yang sudah tua . Saya.“Nah. yang tinggal kelihatan cuma bibir mereka yang meringis ketakutan dan dagu mereka yang gemetar. Anda tentu tahu bahwa pada saat-saat manuver selama serangan gempur. 82 . ada lubang bekas peluru tentu.sutera lagi lapisan dalamnya!” Lalu ia teringat pada sesuatu yang dianggapnya lucu: “O ya. Lucu dan memelas sekaligus.*** Diterjemahkan oleh Dewi Noviami.” Setelah agak lama tidak ada yang berbicara—kedua pengarang itu sedang menikmati Pfluemli dan kopi hitam—akhirnya Remarque mengatakan: “Helm baja jenis M 16. jauh terlalu besar untuk pasukan pengganti yang terdiri dari prajurit-prajurit muda yang baru direkrut dan yang kadang-kadang bahkan belum selesai dilatih. Meskipun harus diakui sebagai tindakan ceroboh. Juenger juga.” Ia memanggil pelayan dan memesan Pfluemli lagi. di meja tulis saya ada kenangkenangan.

Lebih dengan pendengaranku daripada dengan penglihatan." Dia menyerahkan roti dan daging kalengan dalam bungkusan kertas minyak. sialan!" Peralatan kopelrimnya.Jak. dan mendengarkan ke arah belakang di mana terdengar suarasuara yang ditimbulkan petugas pengantar makanan itu." kataku perlahan. "Kau mau roti ini juga?" tanya Gerhard. "orang baru yang menggantikan Gornizek . Aku berdiri di depan. Sop buncis sudah dingin." "Ya. Gerhard kemudian menyelinap kembali ke pos komando. sebungkus permen Drops dan lemak mentega dalam kertas karton. "atau kusimpankan sampai besok pagi?" Dari nada suaranya. Letnan mengirim dia kepadamu.1985) 83 Bersama petugas pengantar makanan. ke mari. "Idiot. "Dan ini. kemudian roti kutekan-tekankan pada rantang yang sudah kosong. sekop dan masker gas berdentingan dengan bodohnya. dialah yang mengantarkan orang itu. meloloskan lalu meletakkan sekopnya ke samping. "Tidak usah." kata Gerhard. Di dalamnya ada banyak potongan-potongan daging empuk yang kukunyah dengan nikmat. dia datang pada malam hari untuk menggantikan Gornizek yang berjaga di belakang. melepaskan kopelrimnya. Sang Calo Oleh: Heinrich Böll (1917 . aku tahu bahwa dia terburu-buru untuk kembali ke pos komando. aku tahu bagaimana dia. "jangan terlalu keras. "kemarikan." kataku. Dengan canggung dia masuk ke lobang perlindungan dan hampir saja menyenggol rantang makanku. "Ini. dengan muka selalu menghadap ke . dia pun membawa rokok. Malam-malam itu begitu gelap dan rasa takut seperti hujan badai berguntur di bumi yang muram dan asing. . juga ke arah depan yang gelap dan sunyi. di mana orang-orang Rusia berada. dan bagus juga bahwa dalam kegelapan aku tidak bisa melihat ulat-ulat yang keluar dari buncis waktu dimasak. dan bagaimana dia kemudian mengaitkan kopelrimnya lagi. dan selain membawa peralatan makan. Dan daging kalengan itu pun kumakan. di pos komando. di pos pengintaian... si orang baru berdiri di samping sambil menggigil dan membisu. semuanya akan segera kumakan." Selama itu. Orang itu berdiri dengan sangat membisu di sampingku. "Ayo. untuk pos pengintaian. begitu saja dari kertas pembungkusnya..." kataku. . Gerhard.." gumamku dan bergeser untuk memberinya tempat. sesuai dengan aturan. masker gas di sebelahnya dan pada tanggul lobang perlindungan diletangkannya senapan teracung ke arah musuh. adalah hal yang biasa mengirim orang baru ke pos yang tersulit..

tangan di lutut.. "Diam!" aku membentaknya." "Tidak." "Tak ada yang boleh. dengan tekanan yang sudah kupelajari dengan susah payah. Tekanan yang bisa dimengerti orang dengan baik tapi hampir tidak bisa terdengar dalam jarak satu meter.." kataku." "Tapi di pos. "tapi aku tersedak. "Tidak enak?" "Enak." kata sebuah suara yang lemah." Dia mengambil botol dari tanganku dan meneguk dengan baik." tampaknya itulah yang selalu mereka ucapkan. juga tidak boleh memulai peperangan. dan dalam kegelapan aku melihat sebuah profil." Walaupun aku hanya bisa melihat siluetnya. dia membiarkan beberapa tegukan tertelan." "Kalau begitu. sangat tegak dan setiap detik siap meloncat berdiri mengambil sikap siap seperti orang sinting.sabar seperti seekor anak sapi yang mendapatkan botol pertamanya. "Saudara merahku." katanya menggagap. menarik kerah mantel tinggi-tinggi sampai menutupi tengkuk dan menyalakan pipa rokok. .. "Duduklah yang tenang. "minum seteguk. "Sini. "Terima kasih." bisiknya." gumamnya. "Bagaimanapun kamu kan tidak bisa terus-terusan berdiri. 84 . lalu dia bergidik dengan keras sampai-sampai aku harus melepaskannya. Aku membungkuk. "Kamu mau merokok juga?" "Tidak. "kan tidak boleh duduk. minum sendiri. Bibir mereka gemetar karena takut dan hati mereka keras karena berani. Anak-anak muda yang malang itu .. tapi aku memegang kepalanya dan menyorongkan leher botol ke mulutnya ." Aku heran bahwa dia sudah bisa berbisik dengan baik. dan jika dia menoleh ke samping. Winnetou. Suara yang rapuh seperti seorang penyanyi tenor yang sentimental." katanya lagi." kataku pelan-pelan. "Di pos." tambahku sambil menarik pinggiran mantelnya dan dengan setengah memaksanya untuk menduduki bangku. Orang yang masih sangat muda itu punya sesuatu yang sangat khas pada tengkuknya yang mengingatkan pada permainan perang-perangan di sebuah lapangan di pinggiran kota. helm bajanya hampir seperti tameng punggung seekor kura-kura. terlihat dari tengkuknya bahwa dia masih muda. "Kemari. tapi aku tahu bahwa dia duduk seperti seorang prajurit baru di sebuah kelas.musuh.

"Aku juga takut.. pikirku. "Ini untuk yang pertama kalinya bertugas di luar?" Dia malu lagi.. Lothringen. Di bagian depan tidak ada apapun. Dia menoleh lagi ke arah musuh. tapi aku bisa mencium baunya.. selalu begitu. jauh lebih baik . juga sedikit berbau minuman keras." "Kalian datang dari mana?" "Dari St." "Berapa lama di perjalanan?" "Empat belas hari. Avold. kalau saja sedikitnya remang-remang. tapi memang begitulah mereka semua.Aku pun minum. bau keringat... kalau saja bisa melihat sesuatu." Aku merasakan bagaimana dia berpaling dengan cepat ke arahku. Tetapi kalau terang.. aku pasti akan berpikir: kalau saja gelap. sedikitnya sesuatu. dan hanya siluetnya yang buram dan gelap. "selalu malah. kamu tahu. setidaknya remang-remang atau berkabut.. atau kalau saja tiba-tiba kabut datang. melihat sesuatu. dan dengan pandanganku aku berusaha untuk menembus kegelapan yang meliputi di depan kami. Avold. juga di pos komando di belakang kami. kan?" "Ya ." "Sudah berapa lama jadi tentara?" "Delapan minggu.." Kami diam beberapa saat." "Tidak begitu takut lagi. Tapi aku tak melihat apapun kecuali sinar kilatan matanya yang menurutku tampak berbahaya. agak terang." "Dari mana?" "St. kan?" Dia malu untuk mengakui bahwa tadi dia ketakutan. oleh sebab itu aku mencari keberanian dari botol ini. di 85 . Di kejauhan terdengar derum halus motor kendaraan.. tampaknya mereka telah selesai dengan pembagian makanan. lalu ruang penyimpanan pakaian lagi.. sangat diam. . Dia sangat . kalau saja hari menjadi siang.. "Sekarang lebih baik." kataku karenanya. Ah... Dia menyebarkan bau ruang penyimpanan pakaian.. Juga orang-orang Rusia itu mendapatkan makanan mereka. tapi lalu dia berkata: "Ya.. lalu sisa-sisa sop. Di suatu tempat.. dan aku membungkuk ke arahnya untuk dapat melihat parasnya. aku merasakannya.

" "Dua menit sebelum fajar?" dia memotong omonganku.. betapa indahnya bahwa aku tidak sendirian lagi." omongku terus." "Tapi kan itu sudah terlambat?" 86 .. paling-paling pagi hari. Tampaknya itu adalah hal enteng untuknya.. Artinya. "Bagus dan kalau pasukan pengintai itu menyerang kita. "Kalau . kepada Letnan. "Kamu tahu apa tugas kita?" tanyaku kepadanya. membuat suara gemuruh atau berteriak histeris. "kalau kita tidak melihat mereka datang. "mereka tidak datang pada malam hari." katanya dengan suara bergetar.. mendengarnya. lalu aku mendengar suara yang mengerikan: giginya bergemelutuk." gagapnya. kemudian salah seorang dari kita harus ada yang balik ke belakang dan memberitahukan kepada yang lain. mengerti? Kita tidak boleh lari dari pasukan pengintai.. mengerti kan?" "Ya. "Bagus. merasakan bau apeknya.. untukku hal itu selalu memakan tenaga. Aku pun minum lagi. untukku hal itu melelahkan dan bikin sinting. . dan suaranya bergetar lagi." "Dan kalau kita mencurigai sesuatu. ke pos komando. maka kita harus tutup mulut. berteriak atau berseru sehingga malam membuyar seperti busa hitam. artinya mereka sampai di sini ketika hari mulai menjadi terang... supaya bisa melihat. Betapa indahnya mendengar nafas seorang manusia.. pasukan pengintai. "pos pengintaian. Lalu kita menembakkan peluru asap merah.. ini kalau ... "Tapi mereka tidak datang.. Dua menit sebelum fajar. bau seorang manusia yang kita tahu bahwa dalam detik berikutnya dia tidak berniat membunuh kita. betapa baiknya dia bisa berbisik.. kita harus membunuh mereka.. Kamu sudah bertemu dia." katanya. kita pasti melihatnya. "pos pengintaian.. untuk mengekang suaraku.. "Dua menit sebelum fajar mereka mulai jalan. "Ya. terdengar suara kicauan orang Rusia yang sekonyong-konyong tertahan. seolah seseorang membungkam mulut itu. sampai mampus." Lagi-lagi aku heran.depan sana." "Habislah kita. biarkan mereka lewat. Aku paling senang kalau bisa meraung. Ah.. menyerang. mengerti? Tapi kalau yang datang hanya beberapa orang saja. sungguh mengerikan bahwa dia tidak sekalipun memulai percakapan." Dia diam lagi." katanya." kataku. Berbisik. Tetapi itu bukan apa-apa. menembaknembak sedikit dengan senapan kita lalu pergi. . Yang paling menyenangkan adalah bernyanyi.. kita harus mengawasi bila orang-orang Rusia itu datang. Tapi tenang. kan?" "Ya. bolehkah kita menembakkan roket isyarat... hampir lebih baik daripada aku.

Ngomong-ngomong.. "lalu aku membawanya kepada salah satu perempuan . lalu dalam kegelapan."Maka itu artinya kita harus cepat menembakkan isyarat merah.. yah.. kamu mengerti? Tuan.. kan. "Kamu kan pasti jadi calo untuk sesuatu. sangat pelan. jadi kalau seseorang datang." "Jadi calo apa sih?" Dia memalingkan lagi mukanya ke arahku. yang sedang kosong. dengan sangat tiba-tiba. setidaknya hampir selalu. aku harus menyikut tulang rusuknya..A." tanyaku." tanyaku lagi." "Seperti orang Inggris.... dan aku merasakan bahwa dia sangat heran. ingin bersenang-senang.. "jadi calo... bukan Jeck... . seseorang dari rombongan orangorang yang lewat. Jak saja. "Dari Jakob . Karena tegang aku lupa meneguk minuman. lalu pergi .. itu artinya aku harus mengeluarkan tanganku dari saku yang hangat dan dengan susah-payah memasukkannya lagi.. lalu aku bertanya kepadanya dengan sangat pelan." "Apa?" "Calo. ya?" "Tidak. artinya kita bisa berlari cepat-cepat seperti seekor kelinci." dia mengeluh dalam-dalam. calo saja. "Calo apa . calo apa ." kataku parau.. "kalau orang itu mau bersenang-senang?" "Lalu." katanya dengan susah payah. melihat lagi ke depan.K. biasanya tentara. "aku bernama Jak. Jak.. supaya menjadi hangat lagi. seseorang yang aku pikir cocok. "Dan." katanya. "Aku." katanya.. setiap kali kalau mau berbicara dengannya.... ." katanya...." "Jak. jangan takut.…" suaranya bergetar lagi dan mungkin kali ini bukan karena takut tetapi karena terkenang sesuatu.. dan sekali lagi tampaknya kenangan menguasainya lagi. J...? Begitulah aku bertanya." "`Gimana. "aku berdiri di stasiun. "..... siapa namamu?" Benar-benar menjengkelkan.. Dan sebelumnya kita toh bisa mendengar mereka..." katanya.. "Yah.?" 87 ." Dia diam sesaat.. dan kalau seseorang datang.calo apa. kepalanya dipalingkannya lagi kepadaku." "Ke tempat pelacuran. "sebelum ini kamu kerja apa?" "Aku.

Tidak. dia bernama Gottliese. botol itu kosong. "Lihat!" Kalau diperhatikan dengan sangat . "Ngomong-ngomong. .. tetapi karena dia perempuan jadi dinamai Gottliese.. terlalu berbahaya. "adalah yang paling baik. boleh aku minum lagi?" Ketika aku membungkuk untuk meraih botol." katanya. "tepatnya uang persen. dengan paksa mereka mengutip uang banyak-banyak dan masih juga meniduri mereka." "Siapa?" potongku. "aku tidak bekerja untuk tempat pelacuran.... mereka bekerja mandiri. Tidak. kan?" "Bukan. ah.. Aneh. sejak ayahku gugur dan ibuku hilang. tapi aku tidak bisa menjawab. Käthe. lalu aku menggelindingkannya dengan lembut ke samping. soalnya aku sedang meneguk dari botol itu. beberapa perempuan bebas yang menghidupiku...." "Dan. Aku yang harus memancing ikannya untuk kemudian mereka bakar dan makan. kamu mengerti. .." sambungnya. "Ya. ya. aku kan hanya seorang calo." "Dan kamu tidak mencicipi mereka?" "Tidak. perempuan-perempuan itu. Lili dan Gottliese. "Gottliese. ya. tanpa izin apa pun. Aku kan tidak mampu bekerja karena paru-paruku. "germo adalah tuan-tuan besar..." dia mendesah lagi." potongku.?" dia benar-benar tertawa sedikit.. ke tanggul di mana dia sedang tiarap. di suatu tempat yang sangat .." katanya dengan nada yang untukku agak menggurui. aku pasti harus berkelahi dengan yang lain. Dan sekarang aku tidak perlu bersusah payah membuka tutup gentong yang macet. "dan artinya kamu dulu seorang germo.. dia bertanya. dan aku lalu mendapat tulang-tulang sisanya. sangat jauh." katanya datar.. siapa namamu?" "Hubert." dia berkesah lagi. "Enak sekali. tiran. dan. Tiga orang. dan dari itu aku hidup. sangat sungguh-sungguh. dan karena itu aku jadi calo untuk mereka. karena kalau anak laki-laki maka bisa dinamainya Gottlob."Bukan.." dia tertawa lagi sedikit. dan suaranya sekarang bergetar hebat... Aneh ya? Dia selalu bilang kepadaku bahwa ayahnya menginginkan seorang anak laki-laki daripada perempuan. tidak punya germo. "bukan. Karena itu mereka tidak boleh memamerkan diri di jalan seperti yang lain ." "Tulang-tulang ?" "Ya. 88 . "Lihat itu!" Dia menarik aku ke depan. untuk siapa aku bekerja. Kami berdua lupa untuk apa kami nongkrong di tempat sialan ini." katanya kemudian. "eh. dia mengoceh hampir dengan sendirinya." kataku sambil memberikan botol kepadanya. mengerti. syukurlah! Kalau punya... "Hubert. Sekarang. aku punya beberapa perempuan tidak terikat.. lepas. mereka tidak punya surat izin.. Dia selalu murah hati dan melankolis dan sebenarnya juga yang paling cantik . kamu mengerti.

"kalau mereka benar-benar datang. coba dengarkan?" Kami menahan nafas dan mendengarkan. hitam -. Itu sesuatu yang nyata... itu bukan apa-apa.. Di atas garis itu kelihatan agak terang. dengan sangat pelan-pelan mereka datang. "Ayo.. Jak. itu neraka. "kamu gila.. tembakkan yang putih . "ya. Dia mengatakan hal itu dengan pasti dan mantap.. ada sedikit suara gemerincing .. itu bukan sesuatu yang nyata." lagi-lagi terdengar giginya bergemelutuk... Itu tangkai-tangkai bunga matahari.. mereka datang." balasku berbisik. jauh..." "Ah. sesuatu bergerak . aku bisa mendengar mereka.. Kalau hari sudah sangat terang." 89 . sepi...." katanya dengan sangat dingin." kataku sambil meletakkan tangan di pundaknya. sepi sekali. Aku hanya punya dua peluru. .." "Jak. mengerti? Dan satu aku perlukan untuk besok pagi-pagi." kataku.. seperti ayunan lembut jerami . sama sekali tanpa suara. maka sudah terlambat. tembakkan yang putih .. sebuah garis hitam pekat. "Ya... aku melihatnya ..kotor dan sebagian hancur tertembak. "diamlah. DDan bunganya sudah dipetiki oleh orang-orang Rusia itu.. subuh.." "Aku kan kenal mereka... dan peluru yang lainnya aku perlukan kalau situasinya betul-betul serius. dan tak ada sesuatu apapun yang terdengar kecuali suara sepi yang mengerikan.. "besok pagi aku sudah mati." "Ah . Satu saja. mereka mengendap-endap. dan bikin kita takut karena tangkai-tangkai itu bergoyang-goyang." "Tapi lihatlah. kan? Aku tahu itu tangkaitangkai bunga matahari yang mengering. itu pasti sesuatu . kamu akan melihatnya dan tertawa... "Anak muda... kita bisa juga mendengarnya.. dan kalau mereka sudah dekat.. betul-betul jauh sekali . Supaya mereka tidak membom kita .." kataku. sesuatu yang nyata .." "Besok pagi. mereka merangkak di tanah." Sekarang aku yang berpaling tiba-tiba kepadanya dengan heran. itu perasaan takut kita yang sedang bergerak." bisiknya.. "Jak. itu perang. manusia dalam jumlah yang sangat banyak yang sedang mendekat diam-diam.." kataku. Dan di dalam kegelapan di atas garis hitam pekat yang agak terang itu. "Ya. supaya mereka bisa tahu di mana kita berada.... tembakkan peluru isyarat yang putih!" bisiknya dengan suara yang makin menghilang. itu setumpuk tahi yang bikin kita gila .. jauh sekali.." "Tembakkan yang putih. besok pagi-pagi kamu akan melihatnya dan tertawa.terlihat sesuatu seperti horison. itu bisa juga manusia yang diam-diam mendekat.. Jak. dan itu terlihat ada di ujung dunia. dan aku mendengar dari suaranya bahwa dia menjadi pucat seperti sang maut. mereka datang . mereka datang. Besok pagi kamu akan tertawa.. "Jak. aku begitu kaget. itu tangkai-tangkai bunga matahari yang jauhnya mungkin satu kilometer dari sini. "aku tidak bisa menembakkan yang putih.. kalau pesawat pembom kita datang.. itu ......

" dia membungkuk lagi ke arahku.. Di mana kamu terakhir kali . "Tetapi Gottliese sering mendapat tamu. "Jak.. Dia punya banyak langganan tetap. "kamu akan mengutuki aku kalau aku menembakkan yang putih. artinya hari ini. kadang ramah. dia tinggal di sebuah gedung apartemen yang di dalamnya ada cafe. "Jak. betul bukan. Yah. Tapi Lili selalu lebih baik daripada Käthe. Setiap kali. . karena perempuan-perempuan itu tinggal di dekat daerah itu. Kadang-kadang di Stasiun Selatan. mereka akan mulai berteriak dan bernyanyi dan menembak. dia yang paling baik. mereka suka melarikan diri. Käthe dan Gottliese di Barbarossaplatz. dan mungkin sesuatu akan terjadi. bisa-bisa kita jadi selai. "kalau aku kadang-kadang mendapatkan seseorang di Stasiun Pusat. Dan kamu akan mengutuki aku kalau aku menembakkan yang putih sekarang. kamu tahu. dan kami duduk lagi menyandar. tapi dia sering minum. mereka mendapatkan makanan dan jatah minuman keras mereka. Barusan tadi. kamu tahu. Gottliese." bisiknya seperti seorang sinting. Dan perempuan yang mabuk sungguh mengerikan. mereka suka pergi begitu saja tanpa berkata apa pun. Stasiun Pusat maksudku. . Ah. pesawat-pesawat itu akan menjatuhkan bom sangat dekat di depan kita. Besok pagi-pagi. sehingga aku terpaksa untuk menjawab ya. aneh kan? Dia sangat sering mendapat tamu. itu lebih praktis. aku sedih. jadi calo?" Dia mendesah dalam-dalam. lalu aku pergi kepada Lili. karena kalau tidak. aku hanya mendengar mereka berbisik. Sekarang tanggal 21. dari dekat.. Dan dari Stasiun Selatan ke rumah perempuan-perempuan itu jaraknya pendek. "tidak selalu. kalau pesawat pembom kita datang. lebih baik kamu cerita lagi. "awalnya aku selalu mengantarkan mereka kepada Gottliese. ketika tidak terjadi apa-apa. Wajah seorang calo tulen. Begitu ingin aku melihat wajahnya. kita masih punya waktu empat jam. "Di Stasiun Pusat?" "Tidak. Juga karena banyak tentara yang turun di situ karena mereka berpikir bahwa itu sudah Köln. Lili juga orangnya tidak menyebalkan. Ya. kamu tidak percaya bahwa aku pergi dulu kepadanya bukan karena dia yang memberi terbanyak. Dan kalau Gottliese mendapat tamu. Dan itu bikin jengkel.. Dia yang selalu paling banyak memberiku uang.." katanya. Käthe orangnya sangat dingin. Di tengah jalan." aku ingin mulai. Awalnya. percayalah kepadaku. orang-orang Rusia itu mendapat jatah minuman keras mereka.. kamu percaya?" Sekarang dia bertanya dengan nada yang begitu mendesak. kamu pasti tidak mempercayainya. kemudian cafe itu terbakar. kadang kasar. karena itu orang tidak cepat jadi panik. kamu mengerti? Dalam setengah jam. "Tembakkanlah yang putih." kataku." sambungnya dengan suara capek." suaranya sekarang lamban seolah mulai tertidur. di pojokan-pojokan dan di stasiun-stasiun kereta api di semua kota-kota di Eropa dan selalu aku memalingkan muka dengan perasaan takut yang hebat yang tiba-tiba muncul di hatiku. dan suara tembakannya akan keras sekali. aku tahu itu. kamu tahu. Tapi itu bukan alasan kenapa aku selalu pergi kepadanya terlebih dahulu. baru kemudian aku harus menembakkan yang putih. Lili di dekat Gedung Opera. baru keringat dinginmu mengucur deras. di jalan menuju rumah perempuan-perempuan itu. karena itu aku sering nongkrong di Stasiun Selatan. karena ketakutan atau karena sesuatu yang lain.Dia diam. dan kadang-kadang dia turun juga ke jalan kalau lama tidak mendapat tamu.. tak tahulah aku. tidak bisa ditebak. "Di Köln. Dia memberi aku 90 . Jarak dari Stasiun Pusat ke daerah selatan memang terlalu jauh.

. Maka Käthe selalu yang terakhir. Dia malah menghadiahi tentara-tentara itu rokok atau roti atau sesuatulah. sudah. Aku masih bisa menangkap pinggiran mantel Jak.. Kamu harus menunduk." "Sepuluh sen?" tanyaku terkejut. dan hanya mendapat sepuluh persen! Tahi. .. lalu akan menjadi sasaran tembak orang-orang Rusia itu. itu saja.. "dia hanya mendapat satu Mark. "Tenanglah. Gottliese berbeda. Sepuluh persen! Sementara. "bagaimana rupanya?" Tapi pada saat itu.. paling hanya beberapa menit. itu bukan apa-apa. sepuluh sen. Suaranya membumbung seperti sebuah tangisan dan bergabung dengan suara-suara lain. ketika aku membawa tamu lagi untuk dia. Sebenarnya. .. persis seperti pada kita. Bagaimana tempat tinggalku. Aku menarik mundur orang yang gemetar itu. seorang sipil. menghadapi bahaya ditangkap polisi.. apa aku punya rokok dan lain-lain. kadang-kadang dia tidak meminta uang sama sekali. berdiri berjam-jam di stasiun atau nongkrong di bar minum bir murahan. Mereka kan tidak boleh begitu. . "tidak akan lama. Dan uang persenannya baru kuterima di hari berikutnya." Sekarang kami mendengar suara seorang perempuan. orang Rusia pertama mulai berteriak seperti orang gila. karena tembakan seperti itu malah kadang-kadang akan mengena. aku kadang harus berjalan setengah jam dalam malam yang dingin. kamu mengerti. dengan satu loncatan saja dia pasti sudah di luar lobang persembunyian." "Seorang tentara?" "Bukan. Lengking tawa perempuan itu merobek malam sampai berkeping-keping.sepuluh persen. Ah. "Ya. Juga kalau pun dia tidak mendapatkan uang sama sekali." "Bagaimana. tambahan lagi sudah tua. Menghadiahi." tanyaku." kataku pada anak muda yang bergerak-gerak gelisah dan mengerangngerang itu. Dan tembakan pertama pun meletus. Kadang hanya lima puluh sen. kamu mengerti. lalu mereka berteriak dan akan menembaki tanggul persembunyian dengan membabi-buta. Laki-laki itu tidak punya uang lagi." katanya. Semua orang yang lari seperti itu pasti menjadi sasaran tembak. dan apa-apa yang tidak boleh akan dihukum berat. kami tahu pasti bahwa dia bernyanyi dan meneriakkan sesuatu yang jorok." "Jak. . Dan Käthe masih juga memakiku." 91 . Dia sangat pemurah.. Dan dia cantik. sampai komisar mereka mengetahuinya. setiap kali setidaknya dua Mark.. Mereka hanya sedikit mabuk. yang paling cantik. "dia tidak meminta uang sama sekali?" "Ya. "Diamlah. Seorang perempuan yang sungguh melankolis. lalu dia akan menonjok mulut mereka. aku bilang sama kamu. Dia selalu memberi banyak kepadaku. sekali waktu bahkan cuma sepuluh sen." aku ingin bertanya. Aku percaya bahkan sebaliknya. dan walaupun kami tidak mengerti sepatah kata pun..." "Menghadiahi?" "Ya. Dan kemudian. sangat dekat ke arahku... Dan dia pun lumayan mengurus aku.

" Aku memegang erat lengannya.. "Jak. tembakan dan sekali lagi suara mengerikan perempuan yang mabuk. betul-betul sepi.aku tidak punya waktu lagi untuk melihat wajahnya. karena setidaknya aku ingin mendengar suaraku sendiri. "Rambut hitam dan dengan mata yang besar dan terang. muncul kerumunan sosok-sosok bisu yang menunduk ke tanah dan kemudian tiba-tiba dengan suara "Hurra" yang bikin gila." Sekarang tampaknya dia tidak mengacuhkan apa pun. Tetapi aku tidak punya waktu lagi untuk itu. mereka menyerbu maju. . "sekarang aku akan menembakkan yang putih.Tapi teriakan itu tidak berhenti.. "tembakkanlah yang putih..." kataku.. atau Susemarie.." Dengan segan dia menjawab. sama sekali. dalam terang. "Ayo.. dan tak terdengar apa pun selain kesepian yang mengiangngiang menakutkan.." katanya pendek. . "Apa kamu tidak melihat api letusan senjata itu. Dia sangat mungil. mengacungkannya di atas kepala lalu menembak. sangat pasti bahwa kamu akan mendengarnya... Kathlene. "dan sedikit gila. seolah bulan mencair dan menyatu pasrah dengan bumi . "Kamu lihat. . juga lengkingan liar itu. . kamu tahu." Aku mencengkeram lengannya kencang-kencang. . dan ketika cahayanya menyebar seperti cairan perak yang lembut .. kalau tidak aku bisa gila.." tiba-tiba dia bisa bicara lagi.. "Ya. wajah seorang calo tulen. Gottliese itu. di situ. sungguh mungil. "Cantik.. salah seorang dari kami di pos komando di belakang juga menembak. Inge Simone. setiap hari nama baru . Dan yang paling sial. Lalu sangat sepi. suara gemuruhnya seperti kiamat. Aku berpegang erat pada anak muda yang ingin mendorongku dan melarikan diri itu. sedikitnya mereka dua ratus meter dari sini. entah siapa lagi.. menyiapkan pistol isyarat yang sudah diisi peluru." kataku.. aku mendengar mereka datang. Dia berjongkok kaku sambil membisu di sampingku. dengarkan dong!" Kami mendengarkan lagi. Di depan terdengar teriakan lalu jeritan ... Tidak bisa lain.. sekali lagi teriakan ... Sering dia memakai nama lain . "bagaimana parasnya..seperti kelap-kelip hujan salju di Hari Natal. kamu akan mendengarnya. dan aku menembakkan isyarat putih itu hanya untuk melihat wajahnya.. aku mendengar sesuatu." bisiknya. Aku pun tidak sempat lagi untuk menembakkan isyarat merah. dan kalau mereka datang. 92 ." Nafasnya tersendat... karena di belakang dan di depan kami. ." "Tidak ." sambungku. Aku pikir.. pakai otak dong. Sebenarnya aku tidak mendengar apa pun. karena dari tempat di mana tadi terdengar suara teriakan dan lengkingan seorang perempuan yang mabuk itu. "Bagaimana. Dia sedikit gila. dan dia sering tidak meminta bayaran. menyibak tirai perang menyelimuti kami. "Sekarang ." sekarang aku bertanya. sekarang mereka datang.

dia berbisik pelan: "Tuan. diterjemahkan oleh Dewi Noviami. supaya setidaknya dalam maut masih bisa melihat wajahnya. sambil berteriak karena rasa takut aku membungkuk padanya. lebih hitam dari pada malam. 93 ..?" Lalu dengan keras dan sekonyong-konyong aku jatuh di atas tubuhnya oleh hentakan tangan liar yang mengerikan.*** Judul asli: "Jak. dan wajah seorang pelacur yang menghadiahkan dirinya tidak untuk apa pun. der Schlepper". malah masih memberi sesuatu. Tetapi mataku tidak melihat apa pun lagi kecuali darah... ingin bersenang-senang...Aku harus menarik Jak dari lobang itu dan ketika dengan susah payah aku berhasil menariknya.

Pakaian Itu Oleh: Budi Darma 94 Sungguh menakjubkan. perempuan itu membuka jendela dan memandang keluar. terletak di sebuah rak buku kecil. Tubuhnya agak membongkok manakala dia melihat-lihat buku-buku di dalam rak.Horison. Beberapa saat kemudian mereka berdua sudah berada di dalam kamar. Di bawah potret ada sebuah gelas. mengapa di dekat . Juli 2000 (Edisi 10 Tahun Cerpen Terbaik Horison) Potret Itu. Ada sebuah meja kecil dengan bunga segar di dekat tempat tidur itu. dengan sebelumnya menyelidik cepat-cepat apakah perbuatannya terintai oleh orang lain. Ketika perempuan itu menjawil tangan kirinya. Dengan tangan gemetar. pagar tanaman yang sebetulnya tidak begitu tinggi. Di dekat tempat tidur ada pula sebuah kursi. perempuan itu menuding ke arah dinding sebelah kanan. bahwa ketika hari sudah petang dan lampu jalanan mulai dinyalakan. Laki-laki itu mengangguk mengerti. Gelas Itu. Laki-laki bertubuh kurus jangkung memang sudah menantikan saat-saat seperti ini. dan kemudian beberapa buku. Laki-laki bertubuh kurus jangkung itu juga gemetar. Dia mendekati dinding di sebelah kanan. perhatian laki-laki bertubuh kurus jangkung itu masih terlarut ke dalam potret laki-laki di dinding. dan judul buku-buku itu tidak mungkin dibaca karena sinar lampu sangat samar. Ketika melihat laki-laki bertubuh kurus jangkung berdiri di pinggir jalan. melindungi matanya. perempuan itu menutup jendela dengan hati-hati. Dengan tidak memandang ke arah laki-laki itu. Alis perempuan itu hitam tebal. Matanya berganti-ganti melihat potret laki-laki itu. kemudian meloncat ke pekarangan melalui pagar tanaman. dan mata itu tajam dan sebentar bergerak-gerak. mata perempuan itu bergerak-gerak cepat ke kanan dan ke kiri. bahwa perempuan itu sedang menuding-nuding ke arah sebuah tempat tidur kecil. tapi sangat samar. Agak terkejut juga dia ketika dia merasa dijawil. Dan yang mengherankan laki-laki itu adalah. Dan tahulah dia sekarang. kemudian gelas. Dan di dalam rak terdapat beberapa buku. Lampu di dalam kamar sudah menyala.

beberapa pakaian laki-laki di dalam almari. laki-laki itu sudah ditarik oleh perempuan itu untuk mendekati sebuah almari. untuk memberikan kesempatan kepadanya guna lebih memuliakan cita-citanya dalam mengangkat harkat. Sungguh agung dia. wibawa tinggi." "Apa lagi?" "Apa lagi? Ya." Belum sempat bertanya apa-apa." dia. apa lagi? Saya yakin dia laki-laki gagah. Matanya sungguh 95 . Jengkal demi jengkal wajahnya menunjukkan keagungan luar biasa. ketika melihat pakaian di sebelah dalam almari itu ternyata penuh cipratan darah. karena perempuan itu sudah menjelaskan: "Dia tidak mau potretnya dipasang di sini. Saya heran mengapa laki-laki semulia ini bisa mati terganyang kanker. misalnya saja potret laki-laki yang tergantung di dinding sebelah kiri. Setelah perempuan itu menutup almari dan laki-laki itu duduk dekat tempat-tidur.tempat tidur tidak ada potret seorang laki-laki. terasalah bau enak menebar di dalam kamar remang-remang itu. Saya heran mengapa takdir tidak memberinya umur panjang." "Apa lagi?" "Apa lagi? Ya. "Apakah yang tadi kau lihat pada potret yang tergantung di dinding itu?" tanya perempuan itu. kendatipun nampaknya tubuhnya hanyalah kurus jangkung. apa lagi? Saya kagum pada raut wajahnya. Saya mengaguminya. Dan segeralah perempuan itu mengguyurkan minyak wangi dengan khidmat dan hormat ke pakaian itu. Laki-laki itu terus diam ketika perempuan itu mengudal-udal beberapa pakaian dari dalam almari." "Hanya itu?" Laki-laki itu kehabisan akal dan kehabisan kata. apa lagi? Tentu saja saya mengagumi menakjubkan. laki-laki itu agak terkejut. Meskipun demikian. dan mematikan lampu bercahaya lemah itu." "Apa lagi?" "Apa lagi? Ya. Maka berbicaralah dia asal berbicara. Heran. Dia pasti mempunyai wibawa besar. martabat. tentunya tanpa mengetahui apa yang dikatakannya: "Tentu saja tidak. Dan ketika perempuan itu membuka almari. Tapi laki-laki itu tidak bertanya. perempuan itu berjalan ke arah tombol listrik. Dan laki-laki itu tidak terkejut melihat. "Saya tidak pernah melihat laki-laki seagung itu. Alangkah senangnya kau menjadi istrinya. Dia pasti laki-laki ramah. dan derajat sesamanya.

Surat itulah. Dan kemudian perempuan itu bercerita mengenai gelas itu lagi. dia laki-laki mengagumkan." kata perempuan itu lagi." kata perempuan itu. Bekas-bekas bibirnya masih ada di situ. laki-laki mencurigakan selalu menghadangnya dekat pintu. mungkin dia jauh lebih agung dan jauh lebih mengagumkan dibanding dengan Nabi Yusuf. dia dipotret sekitar tiga bulan lalu. "Dari sekian banyak laki-laki yang saya kenal. Dan sering juga mulut gelas itu saya gosok-gosokkan ke payudara saya. Dia selalu minum dari gelas itu setiap kali dia datang ke sini. "Karena itulah potretnya saya pasang di situ. Ketika laki-laki itu berusaha menemui anak perempuan itu. Dia bercerita mengenai perempuan-perempuan dan dengan sangat terbuka. Dia ingat. laki-laki mencurigakan selalu memandanginya dengan sikap tertegun. dan tentu saja tubuh saya dengan tubuh mereka. segemar dia membuka-buka lembar demi lembar pakaian yang saya kenakan. Dan setiap laki-laki itu akan meninggalkan kantor. Setiap kali laki-laki itu akan masuk kantor. Ketika dia menanyakan kepada sekretarisnya. Kalau tidak keliru. beberapa bawahannya. bahwa anak perempuan itu datang bersama seorang perempuan beralis hitam tebal dan bermata tajam. yang telah mengantarkannya ke rumah perempuan beralis hitam tebal dan bermata tajam. dan juga beberapa pesuruh siapa gerangan yang menaruhkan surat itu di atas mejanya. yang mungkin telah disampaikan oleh laki-laki mencurigakan itu." Laki-laki itu diam. sementara dia suka merayu. Akhirnya laki-laki itu tahu. sangat mengagumkan. dengan nada sangat melecehkan mereka. Dia tidak tahu mengapa sekonyong-konyong siang tadi dia menemukan sebuah surat tergeletak di meja kerjanya di kantor."Siapa yang mengatakan dia dihabisi kanker?" Laki-laki itu diam. Hanya dialah yang sering membisikkan kata-kata aneh ke payudara saya segera setelah dia menjelek-jelekkan sekian banyak perempuan lain. "Rupanya laki-laki lain yang pernah saya kenal tidak begitu menyukai payudara saya. Senang sekali dia membandingbandingkan payudara saya dengan payudara mereka. selalu saya usap-usap mulut gelas itu dengan pinggiran mulut saya. di Balai Wartawan ketika diadakan pertemuan antara beberapa pedagang dengan wartawan. Sering mulut gelas itu saya lumat-lumat dengan bibir saya seperti pada waktu saya melumat-lumat bibirnya. Dan karena dia harus menemui beberapa temannya.laki itu hanya tahu bahwa sudah beberapa hari ini ada seorang laki-laki mencurigakan secara berkala mengitari kantornya. perempuan beralis hitam tebal dan bermata tajam serta anak perempuan itu terlepas dari tangannya. yaitu merayu 96 . Ingat. Laki. dan tentu saja dengan nada mengagung-agungkan saya. laki-laki mencurigakan selalu menghadangnya di dekat pintu dengan menggumamkan suara tidak jelas. dan akhirnya mengenai payudaranya. Begitu cepat anak perempuan itu memotretnya. pertemuan dinyatakan bubar. Dan buku-buku dalam rak itu adalah buku-buku kegemarannya. Nabi Yusuf tidak suka merayu. Dan setiap kali saya merindukannya. "Laki-laki itulah yang saya cintai. kemudian berjalan bergegas dan menyelinap di antara sekian banyak orang. Begitu gemar dia membuka-bukanya. Setiap kali dia ke sini selalu dia membuka-buka halaman-halaman buku itu. Betul yang kau katakan tadi. tidak seorang pun tahu. dialah laki-laki yang saya cintai. Bagi saya. Dan setiap kali pandangan mata mereka bertemu. seperti dia sendiri dahulu sering mengagumi payudara saya. pada suatu malam dia melihat seorang anak perempuan kecil memotret dirinya. Kemudian dia sering melihat laki-laki mencurigakan berseliweran tidak jauh dari jendela kaca yang memisahkan kantornya dengan kebun kacang. kemudian mengawasinya dengan pandangan tidak enak. mengenai buku-buku itu lagi. Dan karena itu pulalah gelas peninggalannya saya taruh di bawah potretnya.

sekian banyak perempuan, sampai akhirnya dia jatuh di hadapan saya, menjilati kaki saya. Setiap kali didekati perempuan, Nabi Yusuf selalu mengingatkan perempuan yang mendekatinya dan juga dirinya sendiri akan masa depan manusia, apabila manusia telah mati kelak. Ketika seorang perempuan berusaha merayunya dan mengatakan bahwa rambut Nabi Yusuf sangat indah, berkatalah Nabi Yusuf, 'Rambut inilah yang pertama kali akan berhamburan dari tubuh saya setelah nyawa saya meloncat dari tubuh saya.' Dan ketika seorang perempuan merayunya lagi, berkatalah Nabi Yusuf, 'Kelak tanah akan melumatkan wajah saya.' Laki-laki yang potretnya di sana itu sangat berbeda. Dia selalu melihat ke depan, tanpa mau mengerti bahwa pada suatu saat maut akan menjemputnya. Dia selalu membisikkan kata-kata indah mengenai kegunaan dan kenikmatan hidup. Tanpa pernah mengatakannya, dia selalu berpikir untuk memanfaatkan detik demi detik untuk berjasa, memberi kenikmatan bagi orang lain, dan juga bagi dirinya sendiri. Sering dia bercerita mengenai mimpi-mimpi indah, seperti misalnya memperluas usaha-usaha dagangannya kalau perlu dengan menaklukkan musuh-musuhnya, kemudian membangun rumah-rumah yatim piatu, mendirikan sekolah-sekolah, membantu rumah sakit-rumah sakit, dan entah apa lagi. Dia sangat suka membantu orang-orang papa dan orang-orang yang ingin maju, tapi sekaligus sangat membenci orang-orang malas dan tidak mempunyai otak. Dalam keadaan lelah dia mendatangi saya, untuk menikmati tubuh saya dan sekaligus menghidangkan kenikmatan bagi saya. Dia datang untuk mencari gairah hidup, agar dia menjadi lebih segar, lebih bersemangat, dan lebih mampu beribadah dalam bentuk kerja keras. Setiap inci tubuhnya adalah pertanda keagungannya, demikian pula setiap dengan nafasnya." "Dan manakah anak perempuan yang memotret dahulu?" "Ciumlah tangan saya sebelum saya menjawab pertanyaanmu." Belum selesai dia mencium tangan kanan perempuan itu, perempuan itu sudah menyodorkan tangan kirinya. "Ulangilah pertanyaanmu tadi." "Manakah anak perempuan yang memotret dahulu?" "Anak perempuan? Maaf, saya tidak tahu ke arah mana pembicaraanmu. Andaikata kau bermaksud untuk menanyakan apakah saya mempunyai anak perempuan, saya dapat menjawab bahwa saya tidak mempunyai anak perempuan. Ketahuilah anak perempuan suka rewel, demikianlah kata laki-laki yang saya cintai. Dan andaikata saya mempunyai anak, saya tidak akan mengijinkannya memotret." "Mengapa?" "Menurut laki-laki yang saya cintai itu, memotret hanyalah menghabiskan uang. Setiap orang harus berhemat. Dan mungkin karena itu pulalah dia tidak suka anak perempuan, sebab dia sering mengatakan bahwa anak perempuan hanya memboroskan saja. Dia juga tidak suka potret, karena potret hanyalah menghabiskan uang." "Benarkah laki-laki seagung itu mempunyai jalan pikiran demikian?"

97

"Memang saya sering menemui kesulitan dalam mengorek apa yang sebenarnya berkelebat di dalam nuraninya. Sering kata-katanya melompat demikian saja dari puncak otaknya, sementara kelebat hati nuraninya yang sesungguhnya tidak terucapkannya. Saya sendiri yakin dia sama sekali tidak pelit. Dia pasti menyimpan rahasia mengapa dia tidak menyukai anak perempuan. Dan saya pernah berhasil mengoreknya, ketika dia mengigau dalam tidurnya. Meskipun demikian, kata-katanya hanyalah pendek dan tidak jelas, sehingga sulit bagi saya untuk menafsirkannya. Tapi saya tahu, dia berhati agung. Bagi dia, laki-laki tidak bisa bebas dari perempuan, dan perempuan pada dasarnya adalah beban. Eva sengaja diciptakan Tuhan untuk menemani Adam, tapi sekaligus untuk melancarkan wahyu-wahyu setan. Istri paman Nabi Muhammad, Ummu Jamil namanya, justru akan mencelakakan keponakan suaminya sendiri. Siapa yang akan mencelakakan Nabi Nuh, tidak lain dan tidak bukan adalah istrinya sendiri. Negeri Sodom juga hancur lebur, setelah istri Nabi Luth, nabi yang dipercaya oleh Tuhan untuk menegakkan ketaqwaan di negeri itu, mengkhianati suaminya habis-habisan. Adalah pula Siti Qodariah, seorang wanita, yang berusaha mencelakakan Nabi Yusuf setelah usahanya untuk menikmati keindahan tubuh Nabi Yusuf gagal. Belasan tahun perang di Troya adalah juga perang untuk memperebutkan perempuan. Laki-laki sudah ditakdirkan untuk tidak mampu mengalahkan nafsunya sendiri, dan perempuan terlanjur sudah diciptakan untuk memperbudak nafsu laki-laki." Belum sempat laki-laki itu bertanya, perempuan itu menyuruhnya berjongkok di lantai dan menjilati kakinya. "Setiap laki-laki harus menjilati kaki saya," katanya. Setelah selesai menjilati seluruh bagian tubuh perempuan itu dan setelah selesai mengucapkan selamat tinggal, laki-laki itu keluar lewat pintu, dan pintu itu segera ditutup dari dalam, kemudian laki-laki itu meloncat keluar melalui pagar tanaman. Laki-laki itu merasa bahwa malam telah larut benar. Ketika memasuki sebuah gang, dia berjalan agak sempoyongan. Bau wangi tubuh perempuan yang baru saja ditinggalkannya masih melekat pada seluruh bagian tubuhnya sendiri. Dan keringat dari celah-celah kulitnya terasa begitu asing, karena yang tercium olehnya adalah keringat perempuan itu. Heran benar laki-laki itu, mengapa tadi dia tidak menanyakan siapa nama perempuan itu. Hapal-hapal ingat kalau tidak salah perempuan itu menamakan dirinya Maemunnah. Atau mungkin Robinggah. Mungkin juga dia Jurbbah. Bukankah dia Immlah? Ya, pokoknya pakai "ah", entah itu Siffiah, entah Monissah, atau Markammah. Dia ingat, perempuan itu tidak pernah menyebut-nyebut nama laki-laki yang potretnya tergantung di dinding. Dan laki-laki yang potretnya tergantung di dinding itu bukanlah suami perempuan itu. Laki-laki itu hanya kadang-kadang datang ke sana untuk menyibuknyibukkan dirinya. Ini sudah berlangsung selama beberapa tahun, ujar perempuan itu. Ketika laki-laki itu menanyakan siapa yang membuat potret di dinding itu, perempuan itu hanya menceritakan bahwa pada suatu hari dalam sebuah musim kemarau panjang ada seorang anak perempuan mengantarkan bingkisan besar ke rumahnya, dan ternyata bingkisan itu adalah potret itu. Anak perempuan itu sama sekali tidak pernah datang ke sana lagi.

98

Laki-laki itu terus berjalan tergontai-gontai. Ketika seekor kucing hitam melintas di gang dan memotong jalannya, dia tidak menahan langkahnya. Kucing itu pun tidak perduli bahwa dia sedang berpapasan dengan seorang laki-laki. Tetapi, ketika ku-cing itu melompat ke tempat agak tinggi dan menyorotkan matanya ke arah laki-laki itu, laki-laki itu merasa keringatnya keluar lebih deras. Dan keringat itu rasanya bukan keringatnya sendiri, karena baunya sama benar dengan bau keringat perempuan tadi. Sementara rasa hausnya memuncak sampai ke ubun-ubun kerongkongannya, laki-laki itu terus berjalan. Kata perempuan tadi, setiap kali laki-laki itu minta minum karena merasa haus. Dan setiap kali akan pulang, pasti laki-laki itu minta minum lagi untuk meninggalkan bekas bibir pada mulut gelas. Dan gelas itu masih tergeletak di rak buku. Tiba-tiba laki-laki itu merasa salah jalan. Ketika masih berada di jalan besar tadi, seharusnya dia berjalan terus, kemudian membelok ke kiri. Ternyata tadi dia membelok ke kanan sebelum waktunya. Dia membelok ke kiri. Setelah tertegun sejenak, dia memutuskan untuk kembali menyusuri gang, dan untuk kemudian memasuki jalan yang benar. Laki-laki itu masih berdiri tertegun ketika seekor kucing hitam kecil meloncat dari dinding di atas sana, lalu lari cepat memintasi jalannya. Ternyata kucing itu lari ke sebuah lorong di sebelah kanan. Dan ketika laki-laki itu melihat ke arah lorong, nampaklah olehnya sebuah lampu kecil, menerangi sesuatu yang tidak asing baginya, yaitu sumur. Mengapa dia tidak ke sana sebentar, menimba, dan minum? "Maka berjalanlah dia agar cepat menuju ke sumur. Namun, sebelum dia benar-benar dekat dengan sumur, seorang laki-laki menegor dia. "Mengapa malam-malam begini kamu berada di sini?" Dengan cepat dia mengenal siapa laki-laki itu: kedua matanya bulat seperti mata burung hantu, lehernya kurus panjang dengan buah kuldi mendongkol dan selalu naik turun, sementara urat-urat tangannya membengkak menutupi kedua tangannya, dan tangantangan itu benar-benar kurus. Dialah laki-laki mencurigakan, dan dialah yang selalu mengawasinya di kantor. "Mengapa malam-malam begini kamu berada di sini?" tanya laki-laki mencurigakan sekali lagi. Dia tidak dapat menjawab. Matanya menangkap buah kuldi laki-laki mencurigakan, dan ingatannya melompat ke payudara perempuan tadi. Benar-benar payudara perempuan tadi memberinya kenikmatan, dan benar-benar buah kuldi laki-laki mencurigakan itu memuakkan. Dia seolah-olah melihat Adam, pada waktu mata Adam mendelik karena buah terlarang yang dimakannya menyangkut di kerongkongannya. Tiba-tiba dia merasa sedang berhadapan dengan iblis. Adam di hadapannya adalah iblis, demikian juga perempuan tadi. Payudara perempuan tadi, tidak lain adalah buah terlarang yang terlanjur tersangkut, kemudian menawarkan kenikmatan dan sekaligus tindak-tindak maksiat. Rasa haus makin menggorok kerongkongannya. Dan ketika dia mengelus-elus kerongkongannya sendiri, sadarlah dia bahwa buah kuldinya sangat besar, naik turun, dan sangat menjijikkan. Tiba-tiba dia sadar, bahwa dia sendiri dan perempuan tadi tidak lain dan tidak bukan adalah sepasang iblis juga. Dan dia merasa benci terhadap perempuan itu, karena tadi dia tidak diijinkannya minum, karena, katanya, dia tidak mempunyai gelas lain

99

kecuali gelas di atas rak buku itu. Dan gelas itu, katanya lebih lanjut, hanyalah untuk menghidupkan kenang-kenangan. Ketika laki-laki mencurigakan menegurnya lagi, dia terus berjalan ke arah sumur. Dan tepat ketika dia memegang tali timba, laki-laki mencurigakan berkata: "Minumlah sepuas-puasmu, kalau perlu sampai meletus perutmu, karena sumur ini adalah milik saya." Dia melemparkan timba ke dalam sumur, dan ternyata sumur sangat dalam. Ketika lakilaki mencurigakan menceritakan perihal dirinya sendiri, dia sama sekali tidak mendengarkannya. Perlahan-lahan dan hati-hati sekali dia mengulur tali ke bawah, sampai akhirnya timba menyentuh air. Kemudian perlahan-lahan pula dia menarik tali timba ke atas. Laki-laki mencurigakan terus bercerita. Beberapa waktu lalu dia membeli kebun kacang tidak jauh dari kantor laki-laki bertubuh kurus jangkung. Setelah melalui beberapa perkelahian, barulah pemilik lama mau menyerahkan kebun kacang itu meskipun uangnya telah lama diterima sebelumnya. Belum lama laki-laki mencurigakan itu berhasil memiliki tanah miliknya sendiri, terdengar berita bahwa kebun kacang itu akan dicaplok oleh laki-laki bertubuh kurus jangkung untuk perluasan kantornya. Laki-laki mencurigakan ini belum mau percaya, dan karena itu berusaha mencari penjelasan. Setiap kali dia mendekati kantor untuk mencari kabar, selalu dia diolok-olok oleh orang-orang kantor itu. Selesailah sudah laki-laki bertubuh kurus jangkung minum. Tubuhnya merasa agak segar, namun tidak satu kata pun dari laki-laki mencurigakan ini yang masuk ke telinganya. Dia hanya berpikir, alangkah enaknya seandainya tadi dia diijinkan minum dari gelas di atas rak buku, sebab, setiap kali perempuan itu merindukannya, pastilah bekas bibirnya akan dijilat-jilat. Masih sempat dia melihat laki-laki mencurigakan, sebelum dia melangkah untuk kembali ke gang tadi. Dia merasa benar-benar jijik melihat laki-laki mencurigakan. Mata laki-laki mencurigakan itu, bulat dan besar, menyembunyikan kelicikan tanpa tara. Leher laki-laki mencurigakan itu, yaitu leher yang panjang, mengingatkannya pada leher burung onta yang diracunnya sewaktu dia berjalan-jalan di kebun binatang. Dan buah kuldi itu, bagaikan buah kuldinya sendiri, adalah pertanda dosa Adam, yaitu dosa yang menurunkan siksa bagi manusia entah sampai kapan. Ingin sekali dia cepat-cepat meninggalkan laki-laki mencurigakan. Namun, belum sempat dia melangkahkan kakinya lebih lanjut, laki-laki mencurigakan berlari-lari kecil ke arahnya, kemudian menghadangnya. Rasa jijiknya makin meledak. Sambil berusaha keras mengibaskan rasa jijiknya, dia mengambil jalan ke samping kiri. Dia mempercepat langkah, tapi terpaksa terhenti ketika sekonyong-konyong terasa punggungnya patah. Ketika laki-laki mencurigakan berdiri di hadapannya lagi, dia terpaksa membongkokkan tubuhnya ke depan, karena terasa olehnya bahwa tubuhnya akan patah menjadi dua bagian. Ketika akhirnya rebah ke tanah, masih sempat dia membalik tubuhnya, dan melihat ke arah bulan. Memang bulan masih tetap di sana, di langit sana. Laki-laki mencurigakan membongkok, sementara dia merasa makin jijik. Dia ingin muntah. Memang akhirnya dia muntah, tapi yang dimuntahkannya adalah darah.

100

" Bulan tetap berputar-putar di atas sana. Kamu pun sebenarnya iblis. Dan setiap kali merasa takut. Bagi musuh-musuh saya segala macam perkelahian sebenarnya juga bukan apa-apa.*** 101 (Dimuat dalam Horison. Saya selalu menyimpan pakaiannya yang berlumuran darah.Dengan tenang. yaitu kenyataan bahwa saya menyimpan jiwa iblis. tapi perkelahian-perkelahian itu. Memang saya sering berkelahi. Sudah semenjak pertama kali saya melihat kamu. laki-laki mencurigakan menggumam: "Ketahuilah. saya yakin bahwa iblis di dalam jiwamu jauh lebih kuat daripada jiwa iblis kebanggaan saya. bukan apa-apa bagi saya. Benar-benar saya merasa takut terhadap kamu. sesama iblis belum tentu bisa bersekutu. Dan saya bangga akan jiwa iblis saya. Ketahuilah. Saya hanya menikmati satu hal. laki-laki itu masih sempat mengingat beberapa katakata perempuan tadi: "Laki-laki yang saya cintai itu tidak mati karena kanker seperti yang sering dipergunjingkan. pasti saya bertindak terlebih dahulu. Perkelahian dengan pemilik lama mengenai kebun kacang juga bukan masalah berat. sekali lagi. bahwa laki-laki itu sudah tidak mungkin lagi mendengarnya. Meskipun demikian. Sesama iblis bisa saling mengganyang. Dia mati dibunuh dekat sumur tidak berapa jauh dari sini." Dia menggumam dengan kesadaran penuh. masalah kebun kacang hanyalah masalah permukaan. Juli 1990) . tentu saja dengan persiapan cermat agar saya menang.

Aku melihat tetang–gaku Rohani ditelanjangi.Jaring-jaring Merah Oleh: Helvy Tiana Rosa Apakah kehidupan itu? Cut Dini. seiring darah yang terus menetes dari kedua kakiku. Bukan. tetapi langkahku makin kupercepat. Hari-hari yang meranggas lara. Aku merangkak dan maju perlahan. Mereka menatapku seolah aku akan berteriak kengerian. Inong! Kering airmatamu nanti. kutarik napas panjang. bukan pada rembulan yang mengikutiku saat ini atau pada gugusan bintang yang mengintai pedih dalam liang-liang diri. tahukah anjing-anjing buduk itu. Aku melihat orang. Tetapi karena aku tinggal sebatas luka. Keringatku mengucur deras. Perih. aku melihat tiga sampai tujuh mayat sehari mengambang di sungai dekat rumahku! Aku juga pernah melihat Yunus Burong ditebas lehernya dan kepalanya dipertontonkan pada penduduk desa. wajah dan badanku terkena serpihan tanah merah. Jangan menangis lagi. Aku melihat semua itu! Ya. Dalam remang malam. Aku tersaruk-saruk berjalan sepanjang tiga kilometer dari Seurueke. Ngeri? Oi. Sedikit pun tak kuhiraukan bau bangkai manusia yang menyengat hidung. diperkosa beramai-ramai. selalu saja marah bila mendengar jawabanku: Hidup adalah cabikan luka. “Ugh!” Aku tersandung gundukan tanah. 102 . Terus tanpa henti kugunakan kedua cakar tangan ini. tanpa alasan. sebab aku hanya bisa memendam amarah. Ya. menuju Buket Tangkurak. Darah mereka muncrat ke mana-mana. Aku melihat saat Geuchik Harun diikat pada sebuah pohon dan ditembak berulangkali. Juga saat mereka membantai … keluargaku. Meski lelah. Ffffffhuuih. sebelum rumah dan suaminya dibakar. Dengan tangan kosong kuraup gundukan tanah merah di hadapanku. temanku. Serpihan tanpa makna. Seperti juga hidup itu. dan pergi sambil menyeret potongan mayat manusia. bebukitan penuh belukar dan pepohonan ini.orang ditembak di atas sebuah truk kuning. semuanya. kulihat dua ekor anjing hutan mengorek-ngorek sesuatu. Airmataku berderai-derai. lebih baik meniru anjing-anjing itu. Dan kini hari telah semakin gelap. Lolong anjing malam bersahut-sahutan. Dadaku telah amat sesak.

Hanya tertawa dan menangis. awan dan udara malam. Ah. menyanyi nyaring. Banyak tulang. Ya. Inong? Aku mencarimu seharian. Tak tahukah mereka bahwa aku tak menyanyi sendiri? Aku bernyanyi bersama bulan. dulu ia cantik…. juga sangat muda. lalu remah-remah daging manusia. sudahlah. biarkan saja. Ma’e dan Agam. Cahaya mentari masuk dari celah-celah bilik.” Kutatap seraut wajah dalam kherudoung putih di hadapanku. Aku bangkit. ” Aku pura-pura tidak mendengar perkataan si loreng-loreng itu. Tulang. melintas di depan rumah dengan sepedanya. kupingku mendengar langkah-langkah orang. Bersama bayangan Ayah. dahulu…. di mana? Di mana tangan kurus Mak? Mana jari manis dengan cincin khas itu? Juga cincin tembaga berbatu hijau dan arloji tua yang dikenakan ayah saat orangorang bersenjata itu membawanya dalam keadaan luka parah. burung hantu dan lolong anjing hutan. Lalu aku tersenyum malu. yang beberapa waktu lalu digiring ke bukit ini. terus menggali." jawabku sekenanya. Hingga aku semakin lemas dan akhirnya kembali terisak pilu. “Aku cuma jalan-jalan. Di mana? Di mana tangantangan mereka? Di mana tulang-tulang mereka di tanam? Di mana wajah tampan Hamzah? Yang mana tengkoraknya? Sekujur tubuhku gemetar menahan buncahan duka. Hangat. Cut Dini. Cakarku terus menggali. Aku menggali. Meratapi orang-orang yang kukasihi. Ya. Dahulu. ya. di mana aku? Dipan ini penuh kutu busuk. Ureung-ureung menemukanmu di tepi jalan ke Buket Tangkurak. Sepatu-sepatu lars yang menginjak ranting dan daun kering. “Ia tak berbahaya. di antara suara serangga malam. aku di rumah. Mereka menuju ke arahku! Aku harus menyanyi.Tiba-tiba tanganku meraba sesuatu. Berarti…. Kami menyanyi. dengan iringan dawai kepedihan dari sanubari sendiri. Bersama desir angin. mencoba duduk. Sssssssttt! Tiba-tiba. Ah. Tangannya lembut membelai kepalaku. “Sayang. “Ya. *** 103 “Inong…. kami menari bungong jeumpa. “Dari mana. . Mak.” kata yang ketiga. Mereka gila karena mengira aku gila. Aku tidak mengganggu orang. subuh tadi.” Aku menggeliat. Kutemukan beberapa tengkorak. Kudekatkan benda dingin itu ke mukaku. Ah. “Perempuan gila itu!” suara seseorang gusar. saat Hamzah yang telah meminangku.” ujar yang lain.

Lagi pula kau seorang muslimah. Ia sangat peduli. Aku tak bisa bangkit. Segalanya terasa lebih ringan. Aku melempari atau memukul orangorang yang lewat. Dan … cuma dia. Matanya pun selalu menatapku penuh pancaran kasih. Kau sangat terpukul. di belakang…. Aku mengangguk-angguk. “Baju yang koyak itu jangan dipakai lagi. mengajakku ke dokter. Aku suka membantah orang. Berbahaya. “Therimoung… ghaseh…. kecuali semua yang bernama kepahitan. sambil menggoyang-goyangkan kedua kakiku.“Aku tahu. dasar orang.” kata Cut Dini suatu ketika. Ia memberiku makan. Aku senang sekali. Dulu. “Aku ingin memakainya. memperhatikanku. yang sudi berteman denganku. Aku belum begitu lama mengenalnya. Sampai aku bertemu Cut Dini dan bisa menjadi burung. bahkan menyentuh apa pun. Ia menyisir rambutku. Cut Dini. Hingga suatu hari orang-orang desa akan memasungku. menggapai-gapai permukaan. Namun tiada tepi. “Ini baju yang dijahitkan Mak. atau sekedar jalan-jalan. ke pengajian. Tetapi tetap saja aku senang berteriak-teriak. Aku kembali merebahkan badan di atas dipan. Menggaruk-garuk kepalaku. Terus mengangguk-angguk. Nanti orang-orang itu bisa menyakitimu lagi.” “Itu baju yang tak pantas dilihat. “Aku suka. Sekuat tenaga kucoba untuk muncul. Kata mereka aku gila! Hah. Kau anak baik. tetapi jangan pergi ke bukit itu atau bahkan ke rumoh geudong lagi. Kau tak akan mengganggu siapa pun….” kata Cut Dini sambil memberiku minum. Sebenarnya aku tak tahu banyak tentang Cut Dini.” kuteguk minuman itu. tetapi tidak Cut Dini. aku seperti terperosok dalam kubangan lumpur yang dalam. ketiaknya juga. Kugaruk-garuk kepalaku. Ia kembali ke Aceh setelah tamat kuliah di Jakarta.” ujar Cut Dini. Cut Dini juga yang mengingatkanku untuk mandi dan makan. Tidak baik pergi sendirian. Orang-orang bilang ia anggota … apa itu … LSM? Juga aktivis masjid. Kulihat ia menggigit bibirnya sesaat.” lirihku.orang gila! Cut Dini-lah yang melarang. “Apa aku gila?” tanyaku. “Kau sakit. “Sudahlah. setelah keluargaku dibantai dan aku dicemari beramai-ramai. Lalu dengan cekatan membungkus baju itu dengan koran. Tangannya koyak.” 104 . Kupandang baju ungu muda yang kupakai. bahkan ada sisa-sisa darah kering di sana. Aku memakan dan meminum nyeri setiap hari. “Menurutmu?” Aku menggeleng kuat-kuat.” kataku pendek. Aku memakainya ketika orang-orang jahat itu datang. Cut Dini menatap bola mataku dalam. di antara para tetangga. Lalu di dekat perut. menceritakan banyak hal.” katanya pelan.

” . Aku terbang tinggi dan kadang menukik seketika. di ruang tamu yang merangkap kamar tidurku. Bagaimana kalau kucuri saja topi-topi merah si loreng dan kubakar. Hua…ha…ha.Quran mungilnya dan membacanya dengan syahdu. lebih lekat dari jendela.” “Oh ya?” Nada Cut Dini sinis. Tak ada tempat bagi orang seperti kalian di sini. banyak yang terpaksa menjadi cuak.” “Sudahlah. Suaranya kadang berubah. ambil saja uang ini buat anda. Huh. Ini daerah operasi militer. Ia atau bisa saja anda sebagai walinya menandatangani kertas bermaterai ini.” Aku nyengir. Aku hinggap di ranting-ranting pohon belakang dan mematuki buah-buah di sana. penjagalan di rumoh geudong. Tetapi sekarang semua usai. “Kami orang baik-baik. Ah. Jembatan Kuning. aku ingin menangis setiap mendengar bacaan Al-Quran. Aku jadi ingin marah. “Lalu perkampungan tiga ribu janda. mayat-mayat yang berserakan di Buket Tangkurak. “Siapa kalian?” tiba-tiba kudengar suara Cut Dini bergetar.Lalu seperti biasanya Cut Dini mengambil Al. Kulihat wajahnya marah. Kami menjaga keamanan masyarakat. Dua lelaki tegap dengan rambut cepak menyodorkan sesuatu pada Cut Dini. lalu mengintip ke dalam lewat jendela yang rapuh. anak-anak yatim yang terlantar…. Lupakan saja gadis gila itu. keji that! Tidak!” Kedua orang itu tampak gugup dan sesaat saling berpandangan. semuanya busuk. “Tidak!! Bagaimana dengan pemerkosaan dan penyiksaan selama ini. “Kami hanya menindak para GPK. Sungai Tamiang. meski tak mengerti. Mengapa? Kugerak-gerakkan kepalaku menatap mimiknya.” Cut Dini membaca kertas itu. Cot Panglima. Aku terbang dan hinggap pada meja kusam di samping rumah. Aku seperti mendengar Hamzah mengaji —lewat pengeras suara— di musala. memata-matai dan menganggap teman sendiri sebagai pengikut Hasan Tiro dari Gerakan Aceh Merdeka. “Kenyataannya masyarakat takut pada siapa? Dulu. Kami hanya ingin memberikan sumbangan sebesar lima ratus ribu rupiah pada Inong. Lima ratus ribu? Horeeee! Apa bisa buat beli sayap? “Kami minta ia tidak mengatakan apa pun pada orang asing. Hutan Krueng Campli…dan di mana-mana!” suara Cut Dini meninggi. *** 105 Siang itu aku sedang menjadi burung. aku tertawa gelak-gelak.

“Zakaria dan keluarganya membantu anak buah Hasan Tiro sejak lama!” Warga desa menunduk.” suara Cut Dini. Dzikir itu lebih mirip jeritan yang menyayat hati. dan kembali menimpuki mereka dengan panci dan penggorengan. Orang-orang itu kini hanya titik di kejauhan. “Ini pelajaran bagi anggota GPK!” teriak seorang lelaki berseragam. Zakariaaa! Keluar! Atau kami bakar rumah ini!!” Aku terbangun dan mengucek kedua mataku. “Benahi yang rapi lagi. Aku mau shalat lohor dulu. Aku berhenti jadi burung ajaib. beberapa tangan kekar merobek-robek bajuku! Aku meronta-ronta.” Aku berhenti melempar. Ayah berjalan ke arah pintu diikuti Mak. nanti perabotan itu rusak.” kata Cut Dini tersenyum. “Masya Allah. Kalian sama dengan warga Mane… bekerjasama dengan GPK!” suaranya lagi. Ketika pintu dibuka. juga Agam dan Ma’e! Beberapa orang mengangkat Mak dan membawanya pergi! Sebelum aku berteriak. 106 *** “Keluar. ya. “Mengapa aku tak pernah diajak salat?” protesku. Kudengar Ayah tak putus berdzikir. Puluhan orang ini telah membakar beberapa rumah! “Jangan ada yang menunduk!” Aku gemetar mendengar bentakan itu. tiba-tiba saja Ayah diseret ke luar. Kurasa ia seorang pemimpin.” tukasku. Aku berlari ke dapur. “Dulu aku shalat bersama keluargaku. Kulempar mereka dengan apa pun yang kutemui di meja dan di lantai. Mereka berteriak-teriak seperti anak kecil dan berebutan ke luar rumah. Dari kejauhan kulihat api berkobar. Pasti itu ayah orang yang memperkosaku! Pasti ia teman para pembunuh itu! Pasti mereka orang-orang gila yang suka menakut-nakuti orang! Paling tidak mereka cuak! Aku benci cuak! “Inong….Apa? Gadis gila?? Kukepakkan sayapku dan menukik ke arah dua lelaki itu. “Jangan menjadi burung. abang dan adikku. Ulon hana teupheu sapheu!” . Lalu Ma’e dan Agam. Ada apa? Pintu rumah kami digedor-gedor. Mereka tak mampu membela kami.” katanya. bila ingin shalat seperti manusia. “Ayo lihat mereka. sebelum aku bisa jadi burung. “Kami bukan GPK!”suara Ma’e. tetap lembut.

Peristiwa empat tahun lalu dan rezim ini. “Inong. Pedih. mereka memang bukan orang jahat. Wajah-wajah dalam jaring pias. Inong! Tegar! La hawla wala quwwata illa bi 'l-Lah…. Kalian salah sasaran!” Ya Allah. mencakar. “Pak Zakaria hanya seorang muadzin.” Tangan-tangan raksasa itu mengayun-ayunkan jaring. Tak jauh. Aku menjerit-jerit dalam perangkap.” 107 . “Kami tidak membela. lalu…ia diinjak-injak! Dan diseret pergi. Airmataku menganak sungai. Jiibandum ureung biasa. istighfar…. Serentetan tembakan segera menghunjam tubuh Geuchik Harun. lalu Ayah yang berlumuran darah! Tangan-tangan kekar menyeret mereka ke arah truk.” suara Geuchik Harun. terkelupas dan berdarah. Di mana Ayah. Airmataku menderas. menendang. Pusing. Aku jatuh lagi. tetapi aku tak bisa bangun.“Lepaskan mereka. lalu Ma’e abangku! Aku histeris. Tegar. Inong! Semua sudah berlalu. itu suara Hamzah! “Angkut orang yang bicara itu!” Aku melihat Hamzah dipukul bertubi-tubi hingga limbung. Kami tak bisa keluar dari sini! Tolong! Toloooooong! Di mana sayapku? Di mana? Di mana tangan Mak dengan cincin khas di jari manisnya? Aku ingin menggenggamnya. nyeri yang amat sangat merejam-rejam tubuhku! “Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!”aku berteriak sekuat-kuatnya. “Siapa lagi yang mau membela?”tantang lelaki penyiksa itu pongah. menggigit. bangun!”dua tangan menggoncang-goncang badanku. sebab aku berada di dalam jaring! Banyak orang sepertiku di sini. kulihat Agam tersungkur dan tak bergerak lagi. Di mana sayapku? Aku ingin terbang dari sini! Oiiii. “Bawa mereka ke bukit dekat jalan buntu! Juga gadis itu!” Aku meronta. Silau. tolong ambilkan sayapku! Aku ingin pindah ke awan! Di tanah kebanggaanku hanya tersisa nestapa!! Tak ada yang mendengar. Lalu airmata seseorang yang menetes-netes dan bercampur dengan aliran air di pipiku. Agam dan Ma’e? Di mana wajah saleh milik Hamzah? Di mana tengkoraknya? Tangan-tangan raksasa itu menggerakkan jaring ke sana ke mari.” Samar-samar kulihat kepala desa kami itu diikat pada sebatang pohon. saat tak lama kemudian. di dalam jaring-jaring merah ini. Wajah-wajah itu retak. Sebuah pelukan yang sangat erat kurasakan. hingga aku letih sendiri. Merah. Inong! Tak akan! Kau harus sembuh. Inong! Inong. “Astaghfirullah. “Allah tak akan membiarkan mereka. Dan aku tak ingat apa-apa lagi. Aku dan kumpulan manusia di sini berjatuhan ke sana ke mari.

“Ia hanya satu dari ribuan korban kebiadaban itu. Samar kulihat Cut Dini.” Aku terkapar kembali. mengamuk. Pak. kulihat beberapa o-rang. Aku berteriak. Aku menangis tersedu-sedu. . Aku mengamuk panik. Terbit. Di antaranya berseragam. Oknum-oknum itu menjarah segalanya dari perempuan ini!” Takut-takut kuintip lelaki tegap yang sedang menatapku ini. . 5 Agustus 1998.Buletin Kontras no 1/Agustus 1998.Kabur. “Inong…. Tiba-tiba suaraku hilang. mereka akan membantu kita…. Sekujur badanku bergetar. Tak ada apa pun. Lalu tak jauh di hadapanku.*** 108 Cipayung. Bapak sudah lihat sendiri. beri kami keadilan. Kompas ( semua terbitan Agustus 1998).Data yang diterbitkan oleh Forum LSM Aceh. Hah. apa peduliku?! Aku ingin berteriak. mencari bening. “Pergiiiiiiii!” aku menjerit sekuat-kuatnya. Daftar istilah: Buket Tangkurak : Bukit Tengkorak Geuchik Cuak : Kepala Desa : orang yang jadi mata-mata tentara . terasa berputar. 1998 Referensi: . Apakah ia membawa jaring-jaring untuk menangkapku lagi? “Pergiiiii! Pergiiii semuaaaa!” teriakku. Menggelepar. Cuma luka nganga. Orang-orang ini tersentak. Tibatiba takutku naik lagi ke ubun-ubun. mencari gerak. memporakporandakan apa dan siapa pun yang ada di hadapanku! Aku…. menatapku kasihan. Ia mengusap airmataku. tetapi kaku. tak ada airmata yang mengalir.Gatra. tak ada suara yang keluar. Tolong. "Pergiiiiii!" aku menceracau. Aku mencari bunyi. Berdarah dalam jaring. Republika. Aku menggigil dan mendekap Cut Dini erat-erat. Wajah tulus dengan kerudung putih itu.

Ma’e Mak rumoh geudong Mane ureung-ureung that ulon hana teupheu sapheu therimoung ghaseh kherudoung : panggilan untuk Ismail : Mak : rumah gedung (tempat penjagalan) : nama desa di Pidie : orang-orang : sekali : saya hanya orang biasa : terima kasih : kerudung 109 (Dimuat dalam Horison. April 1999) .

Pisaupisau yang runcing terbayang di otaknya. benarkah suara ini milik seorang perempuan? Ketika Kopag akan mengambil tongkatnya. Dia bisa memberikan penilaian yang begitu objektif terhadap benda hidup yang bernama manusia. 110 . Luh Srenggi cepat-cepat membantu. perempuan yang dicarinya berabad-abad. Tangan mereka bersentuhan. Biasanya dia hanya dijadikan objek.” “Srenggi? Srenggi siapa?!” Kopag semakin menggigil.” Suara itu terdengar bergetar. Seperti bau daundaun kering dan kayu basah. siapa kau?!” "Titiang yang akan melayani seluruh keperluan Ratu. Dia memerlukan alat-alat pahatnya. Suara itu dirasakan penuh dengan kejujuran. Kopag semakin gelisah. dan sangat tulus. dia merasa menemukan kebenaran yang berbeda dengan kebenaran yang diyakini oleh orang-orang yang selama ini rajin menanamkan kebenaran yang telah menjadi ukuran mereka. Perempuan itu pasti memiliki kecantikan yang melebihi kecantikan sebatang pohon. Semua gara-gara dia mencium bau yang aneh dari sudut pintu. sekedar mendengarkan keputusan orang-orang terdekatnya. kasih sayang. Kulit perempuan itu terasa seperti kulit kayu. “Luh Srenggi. dari mana datangnya bau yang membuatnya begitu gelisah? Bau itu semakin mendekat. Aneh sekali. atau seonggok kayu yang paling sakral sekalipun. “Siapa itu?” “Titiang. Kali ini. Sekarang Hyang Widhi mengirim untuknya.1 Luh Srenggi. Kopag menggigil ketika bau itu benar-benar menelanjangi wujud laki-lakinya. Apa yang terjadi dengan dirinya? Kopag memaki dirinya sendiri.2 Mulai hari ini dan seterusnya. Hampir saja pisau itu memahat kakinya. Seorang perempuan. Apa pun yang dikatakan orangorang di sekitarnya. Bau itu semakin mendekat dan menyesakkan dadanya. Suara itu adalah suara perempuan. Baru kali ini Kopag merasakan bisa menikmati hidupnya. “Siapa tadi namamu?” Kopag mulai menenangkan dirinya sendiri. Kopag yakin dugaannya ini tidak meleset.” Suara itu terdengar gugup. Luar biasa. Tangannya jadi lapar. "Katakan padaku. Aneh. tiba-tiba saja dia seperti ditenggelamkan ke lautan.Pemahat Abad Oleh: Oka Rusmini Kopag menjatuhkan pisau ukirnya yang runcing. Kopag harus patuh. Inilah perempuan itu.

Dia adalah kayu terindah dan tercantik. Laki-laki itu adalah binatang yang paling mengerikan. setelah berbulan-bulan tidak pulang. Alangkah ajaibnya kalau hidup juga bisa dipermainkan. Dia juga memiliki puluhan galeri lukis dan patung. Ayahnya seorang laki-laki sangat terhormat dan memiliki kedudukan tinggi di pemerintahan. Dalam kondisi seperti itu. hidupnya. Gelar Ida Bagus menunjukkan bahwa dia adalah anak laki-laki dari golongan Brahmana. di sanalah dunia itu dibuat untuk laki-laki yang sejak pertama berkenalan dengan aroma bumi dan hidup hanya merasakan kegelapan sebagai bahasanya. Dia tidak pernah peduli. laki-lakinya akan menitipkan daging binatang di rahimnya. Dilahirkan sebagai laki-laki buta memang tidak menggairahkan. sehatkah dia? Bagi ayah Kopag. setiap makhluk yang memiliki lubang bisa dimasuki. Suatu hari. Laki-laki itu harus berperan sebagai laki-laki buta untuk menebus kelahiran dan hidupnya sendiri. Kopag telah merekonstruksi sejarah seni rupa. Seluruh wajahnya juga lekukan kayu. Kata orang. Tapi. Karena tak ada perempuan-perempuan yang bisa dilihatnya dengan matanya. Seluruh kekayaan ludes. yang tentu saja tidak dimiliki orang-orang. Lahirlah seorang laki-laki yang merenggut nyawa perempuan itu.“Apakah di bumi ini wujud kebenaran itu sudah seragam. laki-laki itu bisa tidur dengan seluruh perempuan. juga tidak berkomentar ketika Kopag memuji keindahan perempuan delapan belas tahun itu. Perempuan itu menolak. sejak kecil dia terbiasa dididik menjadi perempuan bangsawan yang menghormati laki-lakinya. Kecantikan yang dia lihat dengan pikiran. apakah orang-orang yang memiliki kelengkapan utuh sebagai manusia ketika dilahirkan mampu menangkap seluruh rahasia kehidupan ini? Rahasia yang erat-erat digenggam dan disembunyikan alam? Salahkah kalau tiba-tiba saja Kopag menemukan kecantikan yang luar biasa pada diri Luh Srenggi. Apa artinya kekuatan seorang perempuan? Terlebih. Kehidupan yang sering dimaki Kopag ternyata cukup demokratis. Belum lagi hutangnya yang tiba-tiba saja menumpuk. lakilaki itu pulang dalam kondisi yang menyakitkan. Aneh sekali tak ada manusia yang bisa menangkap kecantikannya. sangat sadar. Dia hamil. Gubreg?” Suara Kopag terdengar getir. Tubuhnya kurus dan pucat. Apa yang sesungguhnya salah pada kriteria yang telah diberikan Kopag terhadap perempuan? 111 *** Kehidupan telah memaksa bocah laki-laki itu memakai label Ida Bagus Made Kopag. aku juga harus memakai kriteria mereka?” “Kebenaran mereka? Aku tidak yakin mereka mampu melihat seluruh keindahan hidup ini dengan benar!” Suara Kopag terdengar penuh tekanan. laki-laki itu memaksa perempuan yang dinikahinya untuk bersetubuh. bisa dibuat sebuah pementasan. kasta tertinggi dalam struktur masyarakat Bali. Dia memberi Kopag poin. cantikkah perempuan itu. pelayan tua itu. Pikirannya kacau! Kopag sadar. Bahkan Gubreg. agar orang-orang mudah mengenalinya dan membedakan dirinya berbeda dengan manusia lainnya. perasaan. Menghargai keindahan yang dititipkan alam padanya. Kopag . dan keindahannya sendiri. Salahkah? Kecantikan perempuan muda itu adalah kecantikan yang sangat luar biasa. Dia bisa mengubah kayu kering menjadi sebuah karya seni yang memikat para intelektual seni rupa. Sayangnya laki-laki itu memiliki mata yang sangat liar. Dia tahu. Tubuhnya seperti lekukan kayu. Seperti sebatang kayu dengan lekuknya yang begitu menggairahkan. Dia anak laki-laki kedua yang lahir dari keluarga terkaya di Griya. “bahkan untuk menilai keindahan itu.

ketika untuk pertama kali iparnya itu menyalaminya. Saat ini aku mencoba percaya pada matamu. Nama perempuan itu Ni Luh Putu Sari. dan sangat pas. Ada-ada saja yang diributkannya. pokoknya seluruh tubuh perempuan itu selalu jadi pembicaraan kaum laki-laki. alam menyerah pada kekuasaannya.tidak saja memahat kayu. Ni Luh Putu Sari yang sejak menikah dan masuk menjadi keluarga Griya bernama Jero Melati itu memiliki kulit yang sangat indah. Aku ingin tahu. merah. dia harus menunjukkan pada seluruh manusia di desa ini bahwa dirinya berhak masuk dalam lingkungan keluarga bangsawan. Masih kata Gubreg. Iparnya yang luar biasa kasar dan cerewetnya jadi pujian dan pembicaraan seluruh laki-laki di Griya. kembang sepatu yang baru ditanam perempuan nyinyir itu tersangkut tongkatnya. Postur tubuhnya seperti putri-putri raja Bali. Kopag sangat menyukai kayu yang mengenalkannya pada dunianya. dia mencium bau darah. selalu berkata bahwa beruntunglah kakaknya bisa mendapatkan perempuan tercantik di desa. “Luar biasa kecantikan Jero Melati. Tanpa teriakan iparnya yang sering menyesakkan kuping. bagaimana sesungguhnya sebuah penilaian yang objektif dalam hubungan antarmanusia di bumi ini. Aneh sekali. Disentuhnya kayu kering yang selama ini selalu mengantarnya ke mana dia pergi. Tanaman di halaman samping rusak atau terinjak kakinya. perempuan itu adalah pemain sandiwara yang ulung. Bagi Kopag. Dunia yang diinginkan.” “Seperti apa perempuan cantik itu. aku juga ingin merasakan. kulitnya yang sering jadi pujian. Anyir. Untuk pertama kali. Karena perempuan Sudra. *** Kopag menarik nafasnya dalam-dalam. pelayan setia yang merawat Kopag sejak kecil. juga impian-impiannya. Gubreg? Tolong kau katakan seluruhnya. Getaran tangannya sudah seperti tangan-tangan mayat yang membusuk. Ratu. Teriakannya saja bisa memandulkan pisau pahatnya. Kopag sering berpikir. Suara iparnya itu akan terus menari-nari di sekitar telinganya. Jujur saja. perempuan itu harus mengubah namanya menjadi Jero Melati. seperti Kopag juga menyerah pada kebutaan yang harus dia kenakan setiap saat. Itu yang dirasakan Kopag. Kopag juga merasakan setiap mulut perempuan itu terbuka. otaknya. Perempuan itu benar-benar serius untuk memasuki perannya sebagai istri laki-laki Brahmana. “Apa bisanya adikmu yang buta itu? Apa? Merepotkan!” Suara perempuan muda itu selalu menggelisahkannya. Bahkan Gubreg. Bagaimana mungkin perempuan konon kata orang-orang di desanya sangat cantik dan santun itu bisa berkata begitu kasar. perempuan kebanyakan itu telah menikah dengan kakaknya dan menjadi keluarga Griya. Orang-orang di luar hanya tahu bentuk tubuhnya yang konon sangat luar biasa.” 112 . dia memahat pikirannya. Karena dia bukan kaum Brahmana. Saat ini dia sangat mengikuti ambisinya untuk masuk dalam lingkungan keluarga Brahmana. Bau itu seolah berlomba-lomba meloncat dari bibirnya yang konon sangat mungil. parekan. Kebutaan yang mengikuti dia terus-menerus. Sebuah kesunyian dengan pagarpagar keindahan. atau posisi piring dan gelas berubah di dapur.

Dadanya sering mendidih. kau belum jawab pertanyaanku.Laki-laki tua itu terdiam. dan menikmati aroma ketajamannya yang luar biasa indahnya. Hyang Widhi! Penguasa jagat! Kopag memang sudah besar. Ada yang hilang dalam tubuh laki-laki tua itu. “Gubreg. “Kau tidak ingin menjawabnya. sudah menjelang dua puluh lima tahun. Rasanya baru mendengar satu huruf keluar dari bibir laki-laki Prancis itu seluruh isi perutnya seperti keluar. Atau sesekali mendatangkan guru yang mengajarinya membaca. dan tangannya juga sangat cekatan memahat patung-patung. termasuk rangkaian pisaupisau pahatnya. Jaga dia baik-baik. Ida Bagus Made Kopag memiliki tubuh yang sangat bagus. Kegelapan itu jadi milik cucuku yang paling abadi. ketajamannya. apa ini rasa yang dimiliki lakilaki? Ini wujud kelelakian itu?” suara Kopag terdengar pelan. Kehilangan yang dalam. yang diterjemahkannya. Cucuku memiliki seluruh mata manusia yang ada di bumi ini. Atau sesekali dia dikunjungi orang asing dari Prancis. Gubreg. Bagi Gubreg. Titiang tidak bisa menjelaskan seperti Frans. Dia ingat teriakan Kopag ketika pertama kali menyentuh tubuh-tubuh pisau yang telanjang itu. Laki-laki bule itu telah memberinya didikan yang baru. begitu indah. Susah. tubuhku gemetar setiap menyentuh pisau-pisau ini. Gubreg. kata Frans. Kopag sudah bagian dari nafasnya. Gubreg. Tinggi. dia mampu membuat patung-patung dengan ukiran sangat sempurna. sebelum berpulang. “Anak itu buta. Sejak kecil. Kadang-kadang dia bacakan buku-buku bahasa asing. rasa apa yang sering membuatku meluap. Gubreg pun mengajari Kopag menelanjangi tubuh pisau-pisau pahat. Gubreg. Ada rasa sakit mengelus dada tuanya. pematung jaman Renaisans. Susah. aku selalu tersentuh. Ratu. Pertumbuhannya selalu mengingatkanku pada perbuatan-perbuatan yang dilakukan anakku. Sejak kecil kakeknya hanya mengajari Kopag bersentuhan dengan kayu-kayu untuk berkenalan dengan kehidupan. Seperti apa perempuan cantik itu? Apa seperti bongkahan kayu beringin ini? Dingin. Lihat. Gubreg?” “Jangan bertanya yang aneh-aneh pada titiang. Kopag tidak lagi membutuhkannya. Waktu itu umur Kopag tujuh tahun. Begitu penuh misteri. Seluruh ilmu memahat dia alirkan dalam tubuh bocah kecil yang tidak berdaya itu. Tanyakan pada laki-laki bule itu!” Suara Gubreg terdengar penuh nada kecemburuan. Laki-laki setengah baya itulah yang membuat Gubreg. kan? Kehidupan sendiri memberinya hadiah yang luar biasa. Laki-laki tua itu sekarang ini jadi cepat marah. Jengkel! Waktu Kopag sekarang habis untuk diskusi. Sejak bergaul dengan Frans ada-ada saja yang ditanyakan Kopag padanya. dialah yang mengajari Kopag mempelajari tekstur kayu.” Keruncingannya. 113 . Aku masih percaya kehidupan itu bisa diajak bicara. tapi mampu memikatku. Gubreg. Karmanya jatuh pada anaknya sendiri. Luar biasa. “Gubreg. Anggap dia anakmu!” Itu pesan Ida Bagus Rai. Dipandangnya mata Kopag dalam-dalam. Lihat. yang konon. Kau bisa lihat. tentang Michelangelo Buonorrty. Frans Kafkasau. Dia juga rajin membaca buku-buku dengan huruf braile. Menanggung dosa ayahnya. jengkel! Ada-ada saja yang dibawanya. Dia juga yang mengajarinya bahwa semua benda punya jiwa. perhatian yang lain.

. Gubreg belum juga bisa menjawab arti menjadi lakilaki. Hyang Widhi. Ratu?” “Kecantikan perempuan. Balian tua itu memberinya jampi-jampi. dan teramat menggelisahkan ketika tubuhnya mulai lapar dan memerlukan tubuh lain untuk santapan.. Ratu... Keluarga Griya mencarikan dia seorang Balian. dia adalah laki-laki tak berguna. Kata Balian itu. betapa sinar matahari yang perkasa itu menjadi patah dan tak berdaya ketika menyentuh sedikit saja keruncingannya. . *** 114 Pagi-pagi sekali. Sampai menjelang tengah malam.titiang tidak bisa menceritakan kecantikan perempuan pada Ratu. Terlebih. Tubuh perempuan itu seperti ular yang melingkar dan menjepit batang-batang tubuhnya. Rasa itu tiba-tiba saja muncul kembali dalam otak. karena kelaparannya adalah kelaparan yang tidak pada tempatnya. Dia sering terjaga tengah malam dengan nafas yang memburu. Setiap mengingat batas yang ada antara dirinya dan Dayu Centaga.Kilatan matahari menjilati keruncingan pisau pahat itu. “Tentang apa lagi. Kakinya kram setiap melihat tubuh basah itu naik ke atas dengan kain yang hanya sebatas dada. Aroma tubuh perempuan itu sampai hari ini masih melekat erat di tubuhnya. Sebagai laki-laki Sudra. dia luka. Masih kata Balian tua itu. Berkali-kali dia menarik nafas. dia juga pernah merasakan seperti apa percikan nafsu itu ketika pertama kali menampar wujud manusianya.” Suara Gubreg terdengar patah. Sering sekali dia disuruh mengantar Dayu Centaga mandi di sungai Badung. kebanyakan. Begitu parah. Perempuan junjungannya. dia sadar tubuhnya tidak boleh melahap tubuh perempuan Brahmana. Pisau justru seperti menantang matahari untuk bersabung. Aroma itu tak bisa dihapus oleh usia yang dipinjam Gubreg pada hidup. dukun. Gubreg menyaksikan. Dia mengerti. dan tulang-tulangnya yang mulai rapuh membantunya merangkai masa lalunya kembali. Semua orang. “Aku ingin bercerita padamu. Dia juga laki-laki.” “Titiang.. Tubuhnya jadi pucat. Gubreg selalu merasakan tubuhnya dilubangi.” suara Kopag terdengar penuh rasa ingin tahu. Sangat paham. Kebetulan si penunggu sungai sedang beristirahat. Kopag sudah membuka jendela studionya. Di tangan Kopag pisau itu jadi begitu dingin. Tak ada yang bisa diceritakan kegelisahannya. yang hidup dari belas kasihan keluarga Dayu Centaga. Lama-lama Gubreg merasakan sakit yang luar biasa menyerang tubuhnya. Dia gelisah. Waktu itu Gubreg seorang laki-laki kumal empat belas tahun. perempuan yang sangat dihormatinya. Perasaan apa yang sedang bertarung dalam tubuh Kopag? Gubreg takut. Perempuan itu. Takut sekali menjawab pertanyaan tentang esensi menjadi laki-laki. Gubreg sadar rasa laparnya sudah tidak bisa dibendung lagi. Gubreg sempat membuang kotoran di pinggir sungai. angkuh dan selalu lapar. Kaki perempuan itu putih. Dayu Centaga selalu menyuruh Gubreg menggosok punggungnya dengan batu kali. memiliki penilaian khusus tentang hal itu. dan mampu meledakkan otaknya. Tubuhnya dilingkari asap yang sangat menyesakkan aliran pernafasannya.

dan berpikir. Dia pasrah ketika Balian tua. “Gubreg. karena aliran sungai dalam tubuhnya bukan lagi aliran sungai kecil. Impian-impian yang dimiliki oleh po-hon ketika dia membesarkan ranting-rantingnya. kau belum juga jawab pertanyaanku. dia merasakan cinta yang dalam pada Dayu Centaga. Demi Hyang Widhi. Gubreg. kau ingat kata-kata Frans?” “Yang mana?” “Frans mengatakan keliaranku membentuk tubuh-tubuh manusia dalam kayu mengingatkan dia pada lukisan Pablo Picasso. tanpa kegairahan sebagai laki-laki. Aku selalu ingin tahu. Gubreg paham. Dayu Centaga tidak terkena. Aku juga memiliki impian-impian sendiri pada patahan tubuh pohon itu. Dia rasakan perubahan pada tubuhnya. seorang anak yang dibesarkan dengan cara-caranya. tidak lagi bisa menikmati kegairahan manusiawi sebagai manusia. Justru Gubreglah yang kena kemarahan si penunggu sungai. pahatanku tentang perempuan sangat sempurna. Tak seorang pun tahu. Untuk mengembalikan kesehatan Gubreg. Sesuatu yang dahsyat telah dititipkan alam pada tubuhnya. Gubreg bahkan rela bocah laki-laki itu mencuri lembar demi lembar rahasia perjalanan dan rasa sakitnya sebagai laki-laki yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk mengabdi. Kenapa kayu-kayu ini selalu mengajakku berdiskusi. Cinta yang tidak mungkin dihapus. tubuhku.” suara Kopag terdengar pelan. Cinta yang membuatnya jadi batu. menjelang tujuh puluh lima. diajar memahami kehidupan. Gubreg bersedia menjalankan runtutan upacara itu. sangat surealis. Suatu hari Frans dan seorang temannya mengatakan.. “Gubreg. mengajakku bicara. aku merasakan kecantikan perempuan itu melalui jari-jariku. dingin. tetapi sudah menyerupai air bah. Pada dasarnya aku selalu penasaran.” Gubreg tetap diam. sampai akhirnya potongan-potongan tubuh itu ada di tanganku. Gubreg masih setia mengabdi di Griya. Gubreg tidak sakit. Rasa ingin tahu yang begitu besar. selalu ingin mengupas dan melukai kayu-kayu itu. komunikasi Balian tua itu dengan dunia gaib salah. Guemica. Kayu-kayu dan pisau telah memberiku mata yang lain. tidak juga kesambet setan. Katanya agar roh jahat tidak mengenai keluarga Griya. Sampai sekarang. 115 . Untuk menghormati kebaikan keluarga Griya. Dan Gubreg tahu air dalam tubuhnya memerlukan muara. Kecantikan perempuan yang kuterjemahkan lewat kayu-kayu itu mengingatkan Frans pada keliaran Martha Graham. Gubreg menatap tajam tubuh Kopag yang sedang merampungkan pahatannya.memandikan tubuhnya di pinggir sungai. Dia mencoba memahami sesuatu yang sangat rahasia dan begitu dalam ingin disampaikan Kopag. yang memanfaatkan seluruh tubuhnya untuk mewujudkan jati diri tokoh yang dimainkan. Aku juga ingin tahu arti setiap impian. Kata mereka. mem-besarkan tubuhnya. Kalau sekarang Kopag bertanya seperti apa kecantikan itu. keluarga Griya membawa sesaji untuk penunggu sungai. sampai menguliti otakku. Tanpa istri. Dia menarik nafas berkali-kali. Gubreg. Berkat kekuatan Gubreg.. Gubreg tidak bisa bercerita tentang kelaparan tubuh laki-lakinya.tadinya penunggu sungai itu juga ingin mengganggu Dayu Centaga. berdialog. tanganku.

Ratu ingin apa lagi? Jangan menakuti titiang.” jawab perempuan itu serius. Gubreg menatap mata perempuan itu tajam. Hanya satu yang ditangkap Gubreg. Mengerikan! Padahal perempuan itu sangat cantik. Saat ini galeri itu sudah tumbuh besar dan menjadi satu-satunya galeri yang paling diakui di Bali karena karya patung yang masuk harus melalui seleksi dan pertimbangan yang teliti. Patung-patung Kopag laku keras dan diminati oleh kolektor dari dalam dan luar negeri. Aku ingin bicara!” Kali ini suara Kopag terdengar serius. ada bantuan dana dari Jerman dan Prancis. Jero Melati tidak pernah ceriwis.” Suara Kopag terdengar sangat serius. Laki-laki itu tidak pernah tahu apa arti ada uang atau tidak ada uang. Bulan kemarin. Benar kata Kopag.” “Jero sudah punya calon?” “Ya. Gubreg diam. perempuan satu ini memang bukan perempuan baik-baik. . Kopag seperti linglung. Aku ingin kawin. Ratu terlihat sangat gelisah.” “Siapa?” “Adik perempuanku. adik Jero Melati bisa menjual tubuhnya. Dia tahu. Kopag memerlukan perempuan.Berkat Kopag. Mendengar komentar itu. Untuk pertama kali dia merasakan hawa jahat berendam dan menguasai tubuh cantik itu. adik Jero Melati adalah perempuan paling liar dan nakal.” suara Gubreg terdengar sangat hati-hati. “Bagaimana kalau dia kawin dengan calon yang telah kusiapkan. 116 *** “Kita harus carikan seorang istri untuk Ratu. perempuan itu bebas menggunakan uang Kopag semaunya. dia terus mengelilingi studionya. Gubreg tahu tak ada yang diinginkan Kopag. Gubreg. Aku sudah memikirkannya jauh-jauh hari. Jero Melati tersenyum. dia tidak tahan miskin. Otaknya hanya berisi kehormatan. Bahkan. Kata orang-orang kampung. keluarga besar ini kembali bisa hidup. *** “Gubreg. “Kau harus bisa meyakinkan dia bahwa adikku layak menjadi istrinya. kakak Kopag sendiri bisa membuka galeri patung yang besar. Sayang. Sekarang ini keluarga ini tentram. “Ratu. Gubreg mencoba memahami ke mana kira-kira arah pembicaraan Kopag.” “Ya. Padahal kemiskinan kalau dihayati memiliki keindahan tersendiri. Lima menit tanpa hasil.” Suara perempuan itu terdengar mirip perintah dan pemaksaan.

*** 117 1. kakinya pincang. Gubreg. Kulitnya begitu kasar. Panggilan kehormatan untuk bangsawan Bali (Dimuat dalam Horison.” “Apa kata mereka. ingin sekali dilihatnya wajah Kopag berseri. matanya yang kiri bolong. tahukah dia makna kecantikan? Gubreg menarik nafas memegang dadanya kuat-kuat. Perempuan itu telah mengasah tubuh laki-lakiku. Aneh! Wajah itu tetap seperti batu.?!” Gubreg seperti tercekik.” Gubreg ambruk. Sebuah pisau pahat menembus dadanya yang tipis. tak ada sebuah pisau pun bisa menandingi ketajamannya.. ada daging besar tumbuh di atasnya. ketika kujatuhkan tubuhku memasuki tubuhnya.“Maaf Ratu. membersihkan studionya menyiapkan makan. punggungnya bongkok. “Aku telah menidurkan perempuan itu setiap malam. Bahkan merekalah yang akan memilihkan calon istri untuk Ratu.” “Mereka setuju. dia lebih mirip makhluk yang mengerikan. Maret 2000) . Dia adalah perempuan tercantik. “Aku sudah memiliki calon. Perempuan yang mengalahkan kecantikan kayu-kayuku. Wajahnya juga rusak berat.” Gubreg mengangkat wajahnya. aku tenggelam dan habis.” “Ratu. titiang juga sudah membicarakan dengan Jero dan kakak Ratu. Hyang Widhi! Dewa apa yang ada dalam tubuh Kopag. Tubuhnya benar-benar lekukan kayu. Ketika dia telanjang. Kulitnya juga kulit kayu. Sadarkah dia. Luh Srenggi. dan mengambilkan pisau-pisau pahatnya? Perempuan itu bukan perempuan. Saya 2. apakah kuping tuanya tidak salah dengar? Bukankah Luh Srenggi adalah perempuan yang menyiapkan seluruh keperluan Kopag. Kali ini pilihanku tidak bisa diubah!” “Siapa?” “Luh Srenggi. dia hanya memiliki satu mata. Kau tahu..

betapa mengerikan.!” panggilku.” kata Jim seperti yang sudah kuduga.” kata hatiku. Janganjangan menjadi batu merupakan upaya memfungsikan diri juga.Menjadi Batu Oleh: Taufik Ikram Jamil Dinihari.. mereka membunuh diri. mengapa harus menjadi batu. Beberapa saat ia terdiam.” “Jim. Lalu ia bertanya bagaimana hal itu bisa terjadi.. tergolek bagai barang tak berguna. Cepat-cepat ia mengatakan. pertanyaan terakhir itu akan dijawab oleh Jim sendiri dengan mengatakan bahwa memang benarlah mereka manusia. Sambil mengangkat gagang telepon itu. Tetapi manusia yang telah menjadi batu tidak akan dapat memfungsikan dirinya. “Ketika kutinggalkan sekejap tadi.. Ia dan keluarganya —sebelum kawin— memang pohon penelitianku. Aku takut. Tapi mereka manusia kan?” Aku diam.” simpul Jim. “Bagaimana caranya mereka menjadi batu?” lanjutnya. padahal bagian terpenting dalam hidup adalah memfungsikan diri. ya seperti yang sudah kuduga. Ketika ia masih bujang lagi dan kini punya anak bersusun paku.” kata Jim. “Tak masuk akal. Jim akan tersentak sendiri karena ia mafhum bahwa memfungsikan diri adalah sesuatu yang abstrak. “Oh. menjadi batu membiarkan diri melakoni benda mati. tetapi aku sudah membayangkan. Berkali-kali ia ulangi pertanyaan tersebut. Tak ada jawaban. “Niru telah mengantarkan aku ke jenjang karier seperti sekarang dan menjadi modal besar bagiku sampai diangkat menjadi profesor. ditingkahi desah ketakutan dan keasingannya menghadapi kenyataan itu. Lima belas tahun yang lalu.” kata Jim datar. bukan rentang waktu yang panjang untuk menelusuri hubungan kami. “Aku kira sebentar lagi semua tubuh mereka akan menjadi batu. hanya leher sampai kepala mereka saja yang belum menjadi batu. “Ya. tetapi aku tak pemah menganggapnya sebagai sesuatu yang berasal dari luar diriku. “Jim!” ulangku.. Sampai pada kalimat tersebut. “Pasti dari Jim. 118 . “Tapi mengapa harus menjadi batu?” tanya Jim. “Kau kan tahu betapa Niru adalah bagian dari keluargaku juga. aku membayangkan Jim kembali tercungapcungap menceritakan keluarga Niru menjadi batu.. dan apa yang dapat dilakukan untuk membantu mereka.

tetapi masyarakatnya terbelakang.. tak lama setelah berkawan akrab dengan Jim.. 119 *** Dinihari. tut. tetapi banyak orang lain lagi termasuk aku. menuju rumah sahabat kami tersebut. aku merasa meneliti diriku sendiri. Niru dan aku diundang menghadiri acara tersebut. Ya. tut .. cahaya pelita sudah menyergap mukanya. Sayang. Cukup lama aku membiarkan gagang telepon melekap di telingaku dengan harapan Jim berbicara lagi. hubungan kami terputus. Niru masih bujang bedengkang waktu itu. “Halo. Mereka dalam keadaan yang tidak bisa membela diri terlebih lagi tidak punya sembarang pembela pun. teruskan. Ketika Jim kembali ke negeri asalnya setelah tiga tahun menetap di desa Niru. Tetapi belum sempat aku menyelidiki keberadaannya seperti tindakan apa yang diharapkannya dariku. Aku membayangkan saat ini Jim berlari dari warung telepon yang seingatku terletak sekitar dua kilometer dari rumah Niru kalau mungkin ia menelepon dari tempat itu. Tampaknya aku harus melakukan tindakan karena sudah tiga kali ia menelepon.” “Aku takut. “Kau dengar atau tidak?” “Teruskan. Hasil penelitian Jim di desa Niru sebenarnya tidaklah terlalu istimewa bagiku.sehingga ketika aku menelitinya atau orang kampung sekalian.. Belum lagi pembangunan perkebunan besar-besaran yang tak terbayangkan sebelumnya.” Jim agak berteriak. tetapi oleh waktu. Aku belum pernah setakut ini. tetapi hidup di tengah ladang minyak yang kaya raya dengan peralatan canggihnya. Sebentar ia tercegat di pintu dan sedikit saja ia menolak daun pintu dengan ujung telunjuk. tetap memandu Jim di lapangan.. Tentu saja aku tahu karena akulah yang membawa Jim pertama kali ke desa Niru..” kata Jim.. tetapi yang terdengar hanya tut . Suku Montai.. Suku Montai berdampingan dengan hal-hal yang wah itu. sangat takut. lantas berkenalan dengan Niru. Tak mengherankan kalau di antara keduanya terjalin hubungan antara pemandu dengan peneliti sampai di luar batas. Ketika Jim dikukuhkan sebagai doktor di bidang yang ditelitinya yakni antropologi ekonomi. ketakutannya terasa semakin besar... sebenarnya hampir tergolong primitif.. Hallo. Keringat sebesar jagung segera saja mengalir di tubuhnya. ia yang kawin dengan orang sekampungnya.. Niru tak mau datang dengan alasan yang tidak jelas walaupun segala sesuatunya ditanggung oleh Jim..” Aku menarik napas. Sesuatu yang sebenamya secara umum dinikmati tidak saja oleh Niru dan Suku Montai.. barangkali disebabkan perhatian kami yang berbeda dan semua permasalahan di dalam penelitiannya sekaligus kualami sendiri dalam bentuk lain. begitu orang menamakan asal Niru.. sekitar 150 km dari sini.. . namun jarak di antara keduanya sangat jauh seperti tak dapat diukur lagi secara metrik. aku menjadi perantara hubungan mereka berdua. dimulai dari puncak hidungnya yang tercacak. Dalam kerangka yang lebih kecil dan sederhana dapatlah disebutkan bahwa penelitian Jim menggambarkan bagaimana di desa Niru terdapat berbagai hal yang teramat luar biasa secara ekonomi.

Mengeluarkan kaki yang sudah menjadi batu.” Terdengar Niru ketawa kecil. enam anak kecil juga dalam keadaan demikian. Siah dan anak-anaknya ikut terlibat dalam pertemuan dua sahabat lama itu. Duduk saja di sini. Ia mencangkung pada pipa minyak yang bergaris tengah sekitar 80 sentimeter dan membentang tak sampai 15 meter dari rumah Niru. sebelum fajar menyingsing. menjelang dini hari mereka selalu berjalan ke luar. Matanya yang bundar memandang tubuhnya yang sudah membatu. Berat. membuat pemandangan di dalam rumah ini bagaikan satu hamparan yang terasa amat asing. tinggal mukanya yang ranum seperti tidak mengalami apa-apa. Langsung saja matanya menyergap Niru yang tergolek di sudut. semula aku tak percaya. Jim menyadari keberadaan Niru dan keluarganya seperti sekarang tak lama setelah ia mengajak Niru berjalan untuk makan angin di luar. . Setelah berkali-kali mengajak berjalan ke luar yang dengan senyum ditolak Niru. Menengadah.” kata Niru. dan istrinya seperti tidak mengalami apa-apa. Jim tak tahu apa yang harus dilakukannya. Kaki sampai dada lelaki itu sudah membatu. tetapi tak lama kemudian ia cepat menguasai. Aku memegang batu itu. juga mampu menghidangkan suasana lain. dan. “Sungguh. malah ia semakin gelisah. Cahaya bulan sepenggal dan kerlip-kerlip bintang yang tersapu awan hitam tidak menimbulkan sembarang kesan elok di hatinya. “Tapi Niru. 120 .Wajahnya kelihatan menyala karena butir-butir keringat seperti tersimbah cahaya pelita yang merah kekuning-kuningan.” kata Jim. Terasa begitu cepat waktu berlalu. Jim kembali memutarkan badannya. Juga Siah istri Niru yang tergeletak dekat dapur. Leman. Ketika Niru menunjuk kaki anak-anak dan istrinya. Angin berkibar. Raut. Kakinya tiba-tiba saja tertuntun kembali masuk ke dalam rumah Niru. mengajak Jim berbincang. Jim terpelanting. turun ke tanah. Saat pertarna kali menelepon dini hari tadi. Dulu. menusuk-nusuk hati Jim. wajahnya pun terlihat berayun.. Sesuatu yang sulit diterjemahkan kalau tidak berdiri pada bidang Niru maupun Jim. Kesimpulan menjadi batu dibuat Jim setelah ia melihat makin malam semakin banyak bagian tubuh Niru maupun anggota keluarganya yang menjadi batu. ke pinggir hutan selatan. lelaki itu akhimya mengeluarkan kakinya. Tak jauh dari Niru.” kata Jim lewat telepon beberapa jam lalu. Tetapi mana mungkin aku mempertahankan ketidakpercayaan itu kalau aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana perlahan-lahan badan mereka berubah menjadi batu. Jim pun sadar bahwa sesuatu telah terjadi pada keluarga ini. Jim memang mengatakan bahwa apa yang terjadi sekarang pada Niru dan keluarganya seperti tiba-tiba. Sinar maupun cahaya dari maskapai minyak dan pabrik-pabrik sawit serta bedeng-bedengnya yang dipandang dari kegelapan kampung ini meskipun membuat hati mereka sayup. Jim mengikuti arah mata itu dengan pandangan tanpa ia tahu apa maksudnya. “Jangan!” “Bontik?” “Jangan. “Aku panggil Tuk Batin ke sini. padahal baru beberapa jam sebelumnya Jim dan Niru masih berbicara perkara biasa-biasa saja. anak-anak.. “Atau Katik.

telepon masih terlentang.... Belum ada lagi panggilan dari Jim.” sambung Jim. “Sungguh aku tak dapat mengerti kalau menjadi batu sebagai suatu pilihan. Kau tahu bagaimana batu kan?” kalimat Jim bertubitubi. aku katakan sebagai hujatan_ tentang menjadi batu tersebut terus saja meluncur dari mulutnya. Ia seperti duduk di ruang . tut ...keras sebagaimana layaknya batu. Bayangan Jim menyeruak di antara cahaya remang-remang di dalam rumah ini. Kendaraan mulai lewat di depan rumah. Apalagi waktu itu. nanti saja. “Kau percaya cerita ini?” “Percaya. soal-soal kemesraan.. Ia sedikit pun tak mau menjawab pertanyaanku. dan. Aku ingin mengatakan. tut .. menceritakan ikan yang menghilang dari sungai.” kata Jim dalam telepon sebentar tadi yang kembali terngiang-ngiang dalam telingaku. tetapi hujatan Jim _ya. aku melihat bulan tergantung yang cahayanya pucat karena disambar cahaya merkuri di tengah jalan. Dari jendela..” “Kau percaya?” “Karena kau tak mungkin berbohong. tapi aku yakin bahwa ia segera menelepon. damar yang sulit dicari.” Apa yang dapat dilakukan dengan menjadi batu. dan bercerita tentang kayangan yang sudah hilang. Cepat pula ia bertanya..” “Dan kau mendengar bagaimana Niru terus berbicara seperti biasa.” “Bagaimana kau tahu?” Aku berdehem. “Ini sungguh amat menakutkan aku. Ya... “Lantas.. tiba-tiba saja sambungan telepon terputus dan aku hanya dapat mendengar suara tut .. sementara sekian pertanyaanku kepada Niru hanyalah sia-sia. Ia hanya mau mengenang masa-masa lampau. Barangkali selama menunggu ini aku sempat tertidur dan terjaga karena suara batuk istriku. apa lagi yang dapat dikatakan Niru?” “Dan menjadi batu sebenarnya bukan pilihan kan? batu?” Tetapi mengapa mereka menjadi Ia akan 121 Aku ingin menjawab pertanyaan itu. *** Sampai menjelang subuh. “Bagaimana kau tahu?” desak Jim. aku tak mungkin berbohong. terdengar suaranya tersendat-sendat. tapi nantilah . Kudengar juga suara anakku mengerang. Aku takut.” “Ya.

batu-batu tersebut adalah wujud dari tindakan sekelompok manusia yang tak mungkin lagi berbuat lain dalam menghadapi gelombang hidup terutama dalam menolak perintah raja. Aku tak banyak tanya saat itu dan apa pula gunanya karena Jim tidak pemah dapat dihalangi.” kata Jim seraya tidak lupa mengatakan bahwa ia sudah diangkat menjadi profesor. jalan yang lebar. Niru maupun orang sedesanya tetap seperti dahulu. bantal. seorang teman lama. dan tanah yang kelihatan semakin 122 .tengah. “Mengapa kau tak pernah bercerita tentang hamparan batu yang berbentuk manusia dan peralatan hidupnya sehari-hari di sini?” tanya Jim suatu malam. Tak ada tanggapan Jim terhadap jawabanku itu. sendok. Dini hari. “Mengapa kau tak pernah cerita ada hamparan batu yang berbentuk manusia dan peralatan hidupnya sehari-hari di sini?” Sebagai jawabannya aku memandang langit-langit. pagi-pagi lagi Jim mengatakan akan pulang ke Tanah Airnya. Katanya. tak sedikit pun membacanya kecuali memandang gambar-gambar hamparan batu tersebut. ia kemudian mengatakan ingin keluar. Tak lama kemudian ia sudah keluar lagi dengan amat necis. ia akan berada di sini barang sepekan dalam urusan apa yang disebutnya sebagai mengecas baterai. tetapi aku menawarkan diri untuk menemaninya sekedar basa-basi karena malam itu aku menunggu tamu. mungkin tujuh tahun yang lalu. Satu hamparan di pinggir pantai dan satu hamparan lagi di dalam sebuah goa di hutan lebat. yang pernah kusaksikan beberapa kali. Niatnya ke desa Niru dengan sendirinya batal walaupun aku sudah mengingatkannya. ketika mataku sudah terlayang. Di bandar udara Jim mengoceh banyak hal mengenai kedatangannya sekali ini terutama tentang penghormatannya atas Montai dan Niru khususnya yang mengantarkannya ke jenjang karier seperti sekarang. Bau parfumnya menyengat sampai aku harus mendengus-denguskan hidung. Konon. Pandangannya tidak lepas dari mataku meskipun aku sudah mengambil majalah tersebut sambil lewat saja. Di desa itu sebagaimana diungkapkannya lewat telepon. Ia melihat halaman majalah yang memuat tulisan itu dan menyodorkan kepadaku. ada dua hamparan batu-batuan seperti itu di sini. Seperti biasa ia hanya tersenyum kecil melihat kelakuanku itu sambil mengangkat bahu. malahan masuk ke dalam kamar yang memang kusediakan untuknya kalau ia datang ke sini. Kalaupun ada perubahan. Menyulut rokok sebatang dan menghisapnya dalam-dalam. Dari mata Jim aku tahu ia sebenamya berkali-kali melontarkan pertanyaan serupa. tilam. dan entah apa lagi. baru Jim pulang dengan bau penuh bir. kadang-kadang bergoyang-goyang sebagai tanda bahwa ia menyenangi bacaan itu. Tak diajaknya aku. membaca majalah berita yang kubeli sore tadi. Sekarang batu-batu itu membesar dan konon pada suatu saat kelak akan memakan lahan sehingga mempersempit dan semakin mempersempit lahan yang ada. tentu terutama dengan Niru dan keluarganya. bahkan alat kelamin lelaki maupun perempuan. Aku agak terkejut karena hal ini di luar programnya semula. tetapi baru tiga hari ia sudah merindukan keluarganya. “Aku ingin reuni di Montai. kelapa sawit di sana sudah menghasilkan sekian kali panen. limau. Sampailah beberapa hari lalu saat ia meneleponku dan menyatakan keinginannya untuk datang ke sini. Tapi ia tidak meneruskan bacaannya. Ada juga batu berbentuk kapal. lesung. Kakinya terkepang. Sejak saat itu Jim tidak pernah lagi ke sini dan kabar mengenainya kudengar sekali-sekali. kemudian kembali memandang majalah itu dan mencari nama penulisnya. Setahuku. Keesokannya. Tak ada perubahan. Tanpa sengaja aku memandang gambar batubatu yang berbentuk manusia.

“Sudahlah Jim. Ketika kutanyakan khabarnya. Bangunan-bangunan kilang minyak makin menjulang. Aku berniat sekali mengatakan hal ini kepadanya ketika ia pulang nanti. Suara napas Jim yang kukenal segera menyambar telingaku. sementara benakku membayangkan bahwa Jim akan mengabarkan kisah baru yang jauh lebih seru.” “Bertenang dan pulang?” Aku mengogam.” . termasuk hotel dan warung telepon yang boleh dikatakan tidak begitu jauh dari rumah Niru... Niru hanya mengatakan: payah. Baiklah. sehingga makin terpuruk ke dalam hutan karena pengembangan ladang minyak dan perkebunan. Jim menjawab dengan sedu-sedan.” “Kemudian membawa aku pulang?” “Ya. bawa bertenang. Rumah atau lebih tepat dikatakan pondok itu pun sudah mundur sampai tujuh kali. “Bertenang?” tanyanya kemudian. tanah yang dibelinya seluas dua hektar untuk Niru dan sejumlah orang sebagai tanda mata itu sudah berpindah tangan tanpa ganti rugi sepeser pun dan di atasnya telah berdiri berdegam sebuah hotel.. “Bagaimana aku dapat bertenang dan pulang dalam keadaan seperti ini?” “Ya. Tak ada maksud apa-apa kecuali agar ia paham bahwa kami tidak pernah menyerah kepada keadaan. “Ketika kutanyakan hal ini.” kata Jim. payah. Dari desah napasnya pula aku dapat meraba bagaimana Jim tercungap-cungap. Jim cukup mengatakan bahwa rumah Niru masih terbuat dari kulit kayu dan tidak memiliki listrik.” Lama tidak ada jawaban dan aku terus-menerus memintanya untuk bertenang. Jim juga mengatakan. Persekitaran desa Niru semakin terang benderang dengan berbagai fasilitas. Aku akan menjemputmu. 123 *** Ternyata penantianku tidak sia-sia. bahkan kami di kota ini. Persis saat azan subuh mulai berkumandang. menelan air liurnya beberapa kali. tidak cukup hanya melalui telepon.tandus. Di sisi lain untuk menggambarkan keadaan tempat yang didiami Niru dan keluarganya. telepon berderak. Waktu itu aku tak sempat mengatakan apa saja yang telah dilakukan Niru dan warga kampung itu. kendaraan tiada hentihentinya lalu-lalang di desa itu. “Pulanglah dulu ke sini. dan tak henti-hentinya mengusap muka. memang sulit. Perlu waktu khusus untuk mengatakannya kepada Jim. setidak-tidaknya aku akan katakan sepatah dua kata tentang hal itu ketika Jim menelepon lagi yang kini sedang kutunggu-tunggu.

Tapi aku menyesal karena berkata seperti itu. Ada yang sedang mencangkung. Aku pergi ke rumah Tuk Batin. Bontik dan keluarganya juga sudah menjadi batu. Ia menerangkan tentang bagaimana ia berlari dari satu rumah ke rumah lain dengan napas terengah-engah. ternyata bocor. Ketika itu tanpa seizin Niru aku pergi ke rumah Bontik. Tetapi Niru setengah duduk: kaki sampai pinggangnya sejajar dengan lantai kaki kanan menghimpit kaki kiri. Bontik. Dari sinilah kemudian aku tahu bahwa semua penduduk desa ini sudah menjadi batu yang prosesnya sama dengan apa yang dialami Niru dan kusaksikan langsung. tetapi ia 124 . Matanya memandang tembus ke langit. Cahaya bulan sepenggal yang masuk ke dalam rumah melalui lubang itu tepat menimpa mata Niru. Seolah-olah bagian-bagian tubuhnya bekerja sendiri-sendiri. Tetapi aku melihat. Ketika ia sampai pada ujung rentangan menolak.. ketika. dan entah macam mana lagi.. ia dan keluarganya juga begitu. Untunglah Jim tidak menangkap kelalaian tersebut. Ketika kakinya melangkah sesungguhnya tangannya hanya ingin berdiam. dengan cepat ia meluncur ke rentangan menerima kenyataan tersebut.” Kalimat Jim terputus. Walhasil ia harus mengeluarkan tenaga sedemikian banyaknya dengan sia-sia. ia melihat Niru yang sudah menjadi batu lebih dulu. Tiga anak mereka yang lain berada di dalam rumah dengan berbagai macam pose. Sebaliknya belum sempat ia menyadari keadaan dirinya menerima kenyataan itu dengan hati jernih. Tangan kanan menopang kepalanya. orang yang menjadi batu terlihat di halaman itu pun dalam berbagai pose. Tetapi mata Niru. “Ketika kau melihat semua orang di desa itu menjadi batu?” aku memotong kalimat Jim. sedangkan istri dan tiga orang anaknya berada di belakang rumah. sedangkan pinggang sampai kepalanya membuat garis 120 derajat. Di antara rentangan sikap semacam itulah ia tergantung dan saling tarik-menarik. berdiri bercekak pinggang. Lelaki ini beserta anggota keluarganya berada dalam rumah. Ia berharap agar semuanya ini hanya mimpi kosong belaka. Ia merasa amat letih. tetapi semakin besar harapan itu bergumul dalam pikiran dan perasaannya... Barangkali dipengaruhi oleh kedekatan hati. Atap rumah yang terbuat dari daun nipah yang seharusnya menghalangi mata Niru memandang ke luar. Bermacam-macam susunan orang-orang yang sudah menjadi batu itu. bahkan menjadikannya sebagai titik awal untuk menceritakan pengalamannya yang lain menjelang subuh itu.. Pada beberapa rumah yang penghuninya tak dikenal Jim. kawan Niru sejak kecil dan cukup dikenal Jim.. Entah berapa kali Jim bolak-balik di antara satu rumah ke rumah lain yang sekaligus menyaksikan orang-orang sudah menjadi batu tanpa mengerti mengapa ia bertindak demikian. ia meluncur pula ke rentangan yang menolak. sementara tangan kiri melempai mengikuti bentuk pinggang. sehingga alat indera tersebut seperti menyala dan melahirkan suasana yang sungguh sulit dilukiskan kata-kata. “Ya. semakin besarlah kesadarannya tentang kenyataan ini. bahkan kadang-kadang terasa kalau kaki kanan ingin ke depan. sementara otaknya melayang entah ke mana. Kini mereka semuanya sudah menjadi batu. salah seorang manusia yang menjadi batu di halaman. Tidak sekali dua ia tersampuk benda-benda yang tak sempat dilihatnya sehingga ia tersungkur ke tanah. kaki kirinya ingin ke belakang atau ke samping kanan maupun ke samping kiri.“Bagaimana aku dapat melakukan hal itu. sedangkan istri dan anak-anaknya tergelimpang di halaman. Luka pada beberapa bagian tubuhnya tak terasakan lagi.” kata Jim. Begitu pula Tuk Batin yang terlihat duduk di bendul dengan muka tegang.

Memandang ke langit-langit. September 1997) . Seharusnya. Kau sudah mati. Suaranya lantang berkumandang.*** 125 (Dimuat dalam Horison. semuanya ini sudah direncanakan secara detil sejak dua tahun lalu sehingga aku mengetahui apa-apa saja yang dialaminya di desa Niru walaupun ia tidak menelepon. bertambah kecewa karena kau menyuruh aku pulang.” Sungguh. Dengan sedikit sisa kesadaran sebagai orang waras. dan para tetangga yang menjadi batu seperti sudah dialami sekian banyak warga sebelumnya. taik kucing!” Jim menghempaskan gagang telepon. Pekikan itu pulalah yang seolah-olah mengantarkan kakinya melangkah ke warung telepon dan kembali menelepon aku. Kalau saja Jim tahu. kita berbuat sesuatu menghadapi kenyataan ini. Tanpa merasa tersinggung sedikit pun. Di mana letak dirimu sebagai manusia?” Aku diam. “Kau bangsat. “Kalau saja Jim tahu bahwa nanti malam. terasa seperti jarum menusuk telingaku.tidak dapat mengenal keletihan itu sehingga tidak mampu pula diatasinya. Kau sedikit pun tidak memiliki perasaan. hanya dengan menjadi batu saja kami dapat bertahan. keluargaku. kemudian menyandarkan tubuhku ke sandarannya sehingga aku benar-benar rebah. ia tak tahu. aku juga meletakkan gagang telepon. Meraih kursi dan pelan-pelan meletakkan tongkeng di kursi. “Tapi aku bertambah kecewa. Bukan bermaksud menjemputku pulang. Ia kemudian terhenyak di anak tangga rumah Niru tanpa dapat membagi perasaan.” Jim marah besar. Ia seperti orang sasau --di antara gila dengan waras. selanjutnya ia memekik keras berkalikali. giliranku. Entah apa yang dipekiknya. “Kemanusiaanmu sudah tak berguna. seolah-olah tidak ada kejadian apa-apa di sini. aku berkata pelan.

hanyut oleh pikiran kami. selain menjadi seorang pemburu besar yang sanggup merobohkan gajah dengan satu gerakan. Seluruh kekuatan dan pengalaman kami sebagai pemburu telah kami keluarkan sampai tandas. Sebagian lagi menyempatkan diri membersihkan wajah terlebih dahulu. ular. Tetapi mungkin juga memang binatang-binatang itu sudah habis kami bunuhi. binatangbinatang itu juga sudah terlalu hafal dengan kami. Cerita-cerita penaklukan. tetapi lebih untuk kebanggaan dan kehormatan. Lagu-lagu kami adalah lagu-lagu perburuan. Maka mereka buru-buru menjauh pergi. Tak ada yang lebih terhormat bagi kami. serigala dan segala macamnya. mengantar tidur anak-anak kami. melulurkan kesejukan pada lengan dan kaki yang bengkak. Kami tak pernah tergoda menjadi petani atau pedagang. macan. ditangkup sunyi daun-daun yang mandi cahaya. Sebagian dari kami langsung merebahkan tubuh atau bersandaran pada batang pohon dan gundukan batu. begitu tercium bau kami. Kami memandanginya dengan gamang. tetapi kali ini. sementara orang-orang tua kami bagai tak bisa mati. Setiap bulan hampir seratus anak kami lahir. buruan kami tetap saja melenggang bebas. tapi tak gampang mati. Kami sudah tahu bagaimana menyembelih wildebeest. Membuat kami cemas. rusa. Telah kami bongkar tiap lekuk pegunungan. setelah bertahun-tahun memburu buruan kami yang bergerak begitu cepat. Kami adalah bangsa pemburu yang besar. Barangkali. telah lenyap kami tangkap. Angin bergegas pergi oleh kedatangan kami. sesekali meleleh oleh arus gelombang. dari tahun ke tahun. sebelum sampai ke telaga ini. tupai dan tikus. bukan sebagai cara kami bertahan menghadapi hidup. betapa binatang-binatang di dunia ini perlahanlahan telah habis kami buru. Gajah. Nenek moyang kami telah membentuk kami sebagai pemburu paling ulung.Para Pemburu Oleh: Agus Noor Purnama mengapung di telaga. Siapakah yang tak tahu akan hal itu? Kami tak pernah gagal memburu sesuatu. jumlah kami memang makin membesar. Setiap dari kami dibesarkan dalam belukar. Sampai kelinci. Menjadi hutan lebat yang tumbuh dalam kepala mereka. Maklumlah. Apalah arti kami bila tak lagi hidup sebagai pemburu. tetapi masih sanggup berlari 126 . badak. untuk memburu binatang-binatang. Sampai kemudian kami menyadari. nenek moyang dan anak cucu kami. Membuat kami begitu merasa terhina. Meletakkan semua senjata yang selama ini kami jinjing dan gendong. Inilah pertama kali kami merasa begitu lelah. Banyak di antara kami yang sudah berusia 7890 tahun. Telah kami sibak semua palung lautan. Kami seperti mengejar kilat. Kami mengembara dari satu benua ke benua lainnya. Inilah perjalanan terjauh dan terlelah kami. melihat kehormatan kami akan goyah suatu ketika. Kami beristirahat di pinggir telaga itu. sejak kami masih dalam kandungan. Seakan sia-sia kebesaran kami sebagai pemburu yang telah berabad-abad mengabdikan hidup dan peradaban kami hanya untuk berburu. Hingga kami merasa benar-benar sendiri. Seperti juga semua makhluk yang ketakutan mendengar gemuruh kaki kami. Mereka sudah renta. Legenda kami adalah penaklukan puluhan binatang buruan. Telah kami jelajahi seluruh hutan.

sungguh. kemudian menghantam kepala binatang itu dengan kepalan tangan. selain melakukan perburuan semacam ini? Mereka kami beri kehidupan sekaligus batas kematian. Lantas. banyak orang di luar suku kami. Bahkan membuat kami lebih merasa sempurna sebagai pemburu. meski kami akan memburu kalian. Semoga nasib baik bersama kalian. puluhan kepala negara. Selamat jalan. Tapi itu lebih baik bagi kalian. Para bangsawan.. seperti kami katakan tadi. para bangsawan dan pengusaha besar. dengan cara melarikan diri. yang memang memiliki kebiasaan berburu seperti kami 127 . Meskipun kalian juga tak luput dari kematian. sasaran perburuan yang menggairahkan. Inilah hidup yang sesungguhnya.. lari. Menjadi tradisi. Mereka lebih menantang untuk kami taklukkan. Setiap detik adalah pertarungan. Kami membeli juga para penjahat yang telah divonis mati. Mereka kami lepas ke tengah hutan. baru kemudian kami memburu mereka. Dan itulah kehormatan. mendatangi kami. Liat dan sigap. . Selamatkan kehidupanmu. “Perburuan tak mungkin berhenti!” “Kita akan cepat renta bila sehari tak memburu apa pun!” “Takdir tak bisa dihentikan. orangorang besar di negara mereka. Maka kami pun membeli ratusan budak. yang membuat kalian akan merasa memiliki harga sebagai seorang pesakitan. Anak-anak kami pun nampaknya lebih suka dengan perburuan macam itu. kebiasaan baru tumbuh dalam kehidupan kami. untuk ikut menikmati perburuan itu. Adakah yang lebih menyenangkan. Karena. Jangan cemas. Kami tak lagi memburu binatang.” Dan para pesakitan itu pun kami lepas dengan upacara kehormatan. membiarkan mereka lari dan menghilang. ketika dari banyak yang datang kepada kami itu adalah para jenderal. Kepada mereka kami tawarkan kebebasan. Tetapi kami tak bisa menolak. Kami iringi dengan lengkingan terompet dan juga dentuman meriam. tak hanya kami yang suka dengan permainan semacam itu. Tapi sudah lama kami kesulitan menegakkan kehormatan macam itu. “Masuklah dalam hutan. Memburu budak-budak itu lebih mengasyikkan daripada memburu binatang. daripada mati di tiang gantungan: tak lagi punya pilihan.” “Lantas bagaimana?” “Apa pun yang terjadi kita mesti memburu sesuatu!” “Memburu apa?” Itu membuat kami terdiam. tapi manusia. kalian masih punya kesempatan untuk memperpanjang kehidupan. memang makhluk yang tak gampang menyerah. Ketika kisah-kisah kami menjalar ke banyak negara. Anggap semua ini hanya permainan. Dan itu.mengejar antelope. karena hal itu dianggap akan mengotori kemurnian darah pemburu kami. para raja. Para penjahat itu. kami bunuh. untuk menggantikan binatang yang kini telah musnah. Sampai kemudian ide brilian terlontar. perlahan-lahan. semua binatang telah habis kami buru. Rupanya. banyak di antara kami yang menolak. Kami akan memburu manusia. Mati dalam perburuan ini lebih terhormat bagi kalian. Banyak juga di antara kami yang mati dalam perkelahian. Itu menjadikan kami begitu bahagia. Mula-mula. Mereka kami beri kesempatan untuk bebas. hingga pecah berantakan.

Di antara kemeriahan pesta. ketika kami menembaki anak-anak Palestina. seakan maut sudah menyentuh bibir orang tua itu.dan memiliki lahan-lahan perburuan yang luas. Suaranya sudah gemetar. Juga kaum intelektual yang selama ini mereka benci. menggulung apa pun yang kami sukai. yang sudah berumur 100 juta tahun lebih. Jangan biarkan anak-anak kita menjadi pucat dan pasi. . Hingga kami tak lagi kekurangan buruan. “Ini darah seorang penyair untukmu. kami terus menuliskan sejarah kami yang agung. Kami terus memburu. Hidup pemburu agung! Kami pun menjadi kelompok pemburu yang besar. Tak ada lagi yang berani menggertak kami. tetapi kami bebas memilih siapa pun yang paling menyenangkan kami buru. mengijinkan tempat-tempat itu untuk kami kelola dan kembangkan sebagai ladang perburuan yang lebih menantang dan menyenangkan. dan kami tertawa bahagia. Perburuan bukan lagi perkara kebesaran dan kehormatan. Apalah arti semua itu bagi jiwa pemburu kami? Semua itu bukan lagi gairah petualangan dan tantangan. Ah.” Gelas kami beradu. begitu melimpah buruan kami. menumpuk tengkorak kepala korban kami hingga menggunung sampai menyentuh awan. Kami seperti kehilangan buruan yang mengasyikkan.” Lalu seseorang yang paling tua di antara kami. Ketika kami menjarah perempuan dan membunuhi anak-anak. kami terus bergerak dari benua ke benua dari zaman ke zaman. “Untuk apa mengumpulkan para kiai itu?” 128 . tetapi kami selalu dirundung sunyi. Kami tak lagi hanya terbiasa dengan bunyi pedang. menjadi tak tertandingi. tak ada lagi kegairahan karena kemenangan. Kami menjadi kaum pemburu yang kian kokoh dan terhormat. tetapi juga denting gelas dalam kehangatan pesta. tempat kami berpesta setelah seharian berburu.. Kami bangun juga istana-istana. Para pengusaha mensubsidi kami modal bermilyar-milyar. Kami. yang melintas bagai badai dan gelombang. melintasi gelombang waktu. Kami perlahan-lahan meninggalkan cara hidup kami di hutan. Begitulah memang mestinya nasib penyair yang tak menulis syair pujapuji bagi keagungan kami. ketika kami mengirim pasukan pemburu ke banyak negara untuk meluluhlantakkan apa saja. “Kita harus melakukan sesuatu. keisengan. Apakah arti kekuatan bila tak ada tantangan yang sepadan? Tak ada lagi yang sanggup melawan kami. sehingga permainan menjadi tak lagi begitu punya arti. Para jenderal menyediakan kami senjata-senjata paling mutakhir. Itu sering membuat kami terusik sunyi. tetapi juga. dengan dukungan dana yang melimpah. yang telah menjadi sekelompok pemburu yang paling kuat. jangan sedih. pasokan senjata yang bagai anggur mengalir dalam gelas-gelas kami. Kami berdiri di puncak menara peradaban. Karena kami sudah terlalu kuat. ketika kami memburu dan membantai orang-orang muslim di Bosnia.. tetapi penaklukan yang membosankan. Jangan biarkan mereka menjadi lembek karena rasa sunyi ini. Bahkan mereka menjanjikan kami lahan-lahan perburuan yang lebih luas. menyarankan kami agar mengumpulkan para kiai. Para raja dan kepala negara mempersilahkan kami untuk memilih rakyat mereka sebagai binatang buruan. Malah sering para raja dan kepala negara memberi kemudahan kami dengan memberi lisensi untuk menghabisi para tokoh oposisi yang tak mereka sukai. para demonstran untuk kami habisi. hingga pertarungan menjadi tak sepadan. ketika kami memburu ribuan orang Yahudi untuk kami kirim ke kamp konsentrasi. sendiri. dengan setiap malam tidur di ranjang yang bersih dan nyaman. Kami tak hanya punya kesempatan memburu para penjahat yang telah divonis mati. terkadang.

Bagaimana tempat sekecil itu menampung jutaan kiai yang kami himpun dari seluruh penjuru ini. Membuat darah kami menggelembungkan jiwa pemburu kami. Apalagi ketika kami melihat sendiri masjid itu. “Kalianlah yang bercanda. “Kami ingin Jibril. Kami turut kemauan mereka. Apakah kalian akan shalat sepanjang hari? Apakah kalian akan berdoa dan mengaji? Apakah kalian akan menangkar atau menjebak Jibril dengan sebuah perangkap? Kami tak mau tahu dengan itu semua. Dan tentu. kalau perlu dengan paksa dan kekerasan. Ya. “Kami tak mau tahu. dengan meminta kami mendatangkan Jibril. itu 129 . Mereka kami datangkan dari semua penjuru. dari seluruh dunia. membuat kami begitu ternganga. Suruh mereka menyediakan malaikat untuk kita buru!” Kami terpukau oleh gagasan itu.. “Baiklah.“Aku sudah mencium ajalku. tetapi masjid itu tak juga penuh. berkelok-kelok mengikuti gigir bukit. Pintu itu terbuka untuk menerima siapa pun masuk ke dalamnya. kapan kalian bisa menyediakan Jibril bagi kami?” Kami tatap wajah para kiai itu.” kata kami kepada mereka. . seperti barisan semut yang begitu tertib menuju lubang sarang mereka. anggur segera kami tuang dalam gelas. Seluruh bangunan itu terbuat dari pelepah kayu. ketika hampir separo dari jutaan kiai itu sudah masuk ke dalam masjid. menyambut hari depan kami yang gilang gemilang.. Kami segera menghimpun topan. .” Mereka. Sekarang. “Kalian jangan bercanda!” teriak kami. membangkitkan imajinasi kami. kenapa kami tak memburu malaikat? “Jibril! bagaimana kalau kita minta Jibril!” “Kami bersorai. malaikat.” “Baiklah.” “Apa hubungannya dengan para kiai itu?” “Kumpulkan mereka. Dan aku ingin. bagaimana cara kalian mendatangkan Jibril bagi kami. Panji perburuan berkibar.. katakan kepada kami..” Lantas kami membiarkan satu persatu para kiai itu masuk masjid kecil itu. mencari kepastian dalam mata mereka. kami segera mengumpulkan para kiai.” tegas kami. dan meminta kami untuk membawa mereka ke sebuah kaki bukit di mana ada sebuah masjid kecil di pinggir hutan. Barisan kiai masih antri di depan masjid itu. Kami segera mengeluarkan seluruh senjata kami. Tetapi mereka menolak. Benar-benar masjid kecil yang tak terawat. Gairah menjalar. Luasnya tak lebih dari lima kali lima tombak. meski sesungguhnya heran. telah lapuk. Jutaan kiai masuk ke dalam masjid yang bagi kami hanya cukup untuk tidur dua puluh orang. bersulang. Bila selama ini kalian tak bisa mendatangkan Jibril bagi kami. “kalian kami beri waktu satu bulan. sebelum maut menjemputku. kami giring ke sebuah istana kami yang paling megah. para kiai itu. kami akan membikin perhitungan sendiri. aku ingin menikmati perburuan yang paling menggairahkan.

Begitulah berkali-kali. kenapa kami malah bengong begitu? Maka. Gema itu melambung. Kami panik. anak panah. tetapi. roket dan basoka. Namun orang itu tak kembali. dengan sigap kami segera meraih senjata-senjata kami. ketika para kiai itu tak juga muncul dari dalam masjid. tetapi tak kunjung keluar jua. Seperti batang-batang pohon yang bergoyang itu. Kemarahan kami menyalakan api di tangan. betapa memang inilah yang selama ini kami tunggu-tunggu. seseorang di antara kami berteriak. “Jibril!!” “Jibril!!” Seketika kami berteriak. melihat impian kami sudah di depan mata. hingga kayu-kayu bergemeretakan.pun pasti sudah berhimpitan. Kami tak mau kecolongan. dengan cepat berlesatan ke arah selesat cahaya biru itu yang dengan cepat bergerak dengan sayap mengepak. semua dari kami yang masuk ke dalam masjid itu. bagaimana mungkin? Tapi. berkobar dan segera kami lempar pada mesjid itu. sekaligus marah. kini telah muncul di hadapan kami. di pucuk api berkobar. memperingatkan para kiai bahwa waktu sudah habis buat mereka. bukan? Jangan salahkan kami. dan api melahap cepat. Kami memagarbetis masjid itu. Jibril. Apakah ini keajaiban yang dikirim bagi kami? “Buru!” Teriakan itu. Kami bakar masjid itu. membumbung. mendadak menyadarkan kami. Dan kami segera menyerbu. bersama angin dan embun. sepanjang hari sepanjang malam. menyentuh langit. Membuat kami tambah cemas menunggu. raib begitu saja. Kami panggil namanya. Satu bulan lewat. membuat udara bergetar dan perasaan kami gemetar. Sampai kemudian semua kiai telah masuk dalam masjid itu. antara takjub dan panik. utusan kami ini pun tak muncul lagi meski kami sudah menanti lebih lima hari. gembira dan tak percaya. Tombak. Dan. dengan sayap terentang sampai ujung paling jauh dari semesta. ya Allah. itulah yang kami saksikan. jangan-jangan semua itu sihir belaka. kami melihat selesat biru cahaya menatap kami. menguap begitu cepat. seperti daun yang melayang-layang itu. Kami tak mau ditipu para kiai itu. Namun dzikir itu masih kami dengar. Kami kirim utusan kembali. membuat kami tengadah ke puncak api. kemudian kembali mengirim utusan untuk menemui para kiai di dalam masjid itu. di sana. setiap orang yang kami kirim untuk menjumpai para kiai. Pada saat itulah. orang kedua kami pun tak kembali. tak membiarkan seekor tikus lolos dari amatan kami. bagai masuk ke tabir ruang dan waktu pada dimensi lain. masuk dalam masjid itu. Lantas kami tak bisa lagi sabar. takut mereka akan keluar dan meloloskan diri ketika kami tertidur. Kami terus berjaga. yang hanyut dibuai dzikir para kiai. luar biasa. Membuat kami cemas. Segera kami kirim seseorang untuk menemui mereka. di puncak kobaran api. Tetapi seperti yang pertama. Kami berteriak menyuruh para kiai itu keluar. tetapi hanya gema dzikir membalas suara kami. lenyap seketika. tertelan dan lenyap. Kami sudah cukup punya pengertian. Kadang kami merasa ada yang menggemericik dalam hati kami karena gema itu. Tiba-tiba tubuh mereka hilang tak berbekas. desing senapan mesin. Sementara suara dzikir itu terus saja bergema. mengalun menidurkan rerumputan. 130 . Dan kami mendengar gema dzikir dari dalam sana. Tapi seperti yang pertama dan kedua. tak pernah muncul kembali.

Di seberang telaga sana. Segera menghambur. jaring-jaring baja telah kami rentangkan. Inilah perburuan paling menakjubkan bagi kami. Sebagian besar dari kami kini benar-benar renta. Kami tak punya waktu untuk memikirkan itu semua. Tombak terus beterbangan. Maka kami pun kembali bangkit. Karena kami harus terus mengejar Jibril. mengejar Jibril. perangkap telah kami pasang. dan langsung melesat. Kami begitu sibuk memburu Jibril. kami benar-benar tak pernah punya waktu istirahat.*** 131 Yogyakarta. Banyak dari kami yang mati dalam perburuan ini. mengharap kesegaran akan membuat tenaga kami kembali muda. Dan memang. kami sudah harus kembali pergi ketika pada bayangan bulan. mengepakkan sayap-sayap cahaya-Nya. Jiwa pemburu kami bergelora oleh gairah perburuan kali ini. kami lihat jejak cahaya. Inilah buruan kami yang abadi. melanjutkan pemburuan abadi kami. Ketika kami baru saja rebahan dan membasuh kelelahan kami di telaga itu pun. Ke mana pun Jibril melesat. agar kami mampu meringkus Jibril. yang menyimpan bayangan bulan. dan kami pun tak sempat menguburkannya. kami memburunya. Januari 2000) . setelah bermacam pengalaman perburuan membuat kami jadi pemburu sejati. Kami tak pernah tidur di satu tempat. hingga telah lama anak-anak kami tak lahir. ranjauranjau telah kami tanam. Sampai kami tiba di pinggir telaga ini. inilah sesungguh-sesungguhnya perburuan yang sejati. membiarkan rambut dan jenggot kami memanjang tak terawat. Setelah berabad-abad kami hidup sebagai pemburu. Kami tak mau kehilangan jejak. Kami tak sempat istirahat. Bertahun-tahun kami memburu. kami melihat buruan abadi kami. meraih peralatan berburu kami.“Kejar!” Kami pun melesat. “Ke sana!” seseorang dari kami berteriak. Membiarkan kaki kami koyak oleh duri. 1995-1998 (Dongeng Buat Mas Danarto) (Dimuat dalam Horison. roket terus berlesatan.

apa pun namanya. beca terutama. Kemudian mengumpul kembali memenuhi jalanan. disingkat saja menjadi Gang Jalil. berkejaran. Apalah arti sebuah nama. Kadang-kadang. Dunia Fantasi Ancol. anak-anak menyibak ke tepi. Tapi semua orang seperti sudah maklum. di mana penduduk tinggal tumplek berdesakan. setelah mobil berlalu. sehingga kami tak merasa lagi perbedaannya. 3 Penghuni gang itu terdiri dari berbagai suku. Monas. ada yang mengubahnya: Gank Haji Abdul Jackal. anak-anak bermain gundu. di jalanan yang sempit itu. seperti Taman Mini.Gank Oleh: Syahril Latif 1 Gang Haji Abdul Jalil adalah sebuah gang sempit yang terletak persis di depan Kuburan Karet yang terkenal itu. 132 2 Di gang itulah aku dan teman-teman tumbuh dan dibesarkan. Tak tahu siapa yang mengubahnya. Namun. siapa lagi kalau bukan salah seorang di antara kami. Sebuah gang sempit yang tak berarti. Belakangan. Hotel Indonesia. dan lain sebagainya. seperti setelah biduk lalu kiambang bertaut. Sementara gadia-gadis kecilnya duduk bersila main masakmasakan. sehingga menjadi Gank. yang terpaksa merayap pelan bagai keong. Seakan. sehingga kau tidak akan menjumpai dalam kartu pos bergambar untuk promosi pariwisata. main bola kaki. oleh tukang. Di sana. Kami telah lebur jadi satu: penghuni Gang Haji Abdul Jalil. main galasin. untuk cepat dan mudahnya. Tapi inilah gambaran kota yang sebenarnya. 4 . main layangan. Anak-anak remaja mengganti huruf pada Gang itu dengan k. yang bercampur-baur menjadi satu dengan penduduk asli Betawi. dapat menduganya. main petak-umpet. main congklak. Dan apabila ada mobil lewat. semua orang mengenalnya sebagai Gang Haji Abdul Jalil. atau melompat-lompat main engklek.

pedagang kaki lima. sih? 133 6 Di sini dapat kau jumpai segala macam orang: tukang sol sepatu. perawat dan lain sebagainya. kami pun sederhana. tukang kayu. dengar-dengar bagian pembelian atau perizinan. “Yang di seberangnya?” “Itu mah.” “Kok sama hebatnya?” “Maklum. dan tanya lagi. “Pantas!” jawab mereka. sopir. Kok. rumah-rumah. montir. berukuran kecil dan tak teratur bentuk dan susunannya.” begitu kami selalu menjelaskan. 5 Sebagai gambaran kemiskinan. tukang cukur. penjual nasi Padang dan Tegal. dosen.” kata mereka. pegawai negeri dan swasta. bertanya heran: “Rumah siapa yang cakep itu?” “Itu rumah pegawai pajak. Ada juga satu dua rumah gedung yang berpekarangan luas dan bertaman. Kadang-kadang mereka saling antar-mengantar sayuran atau makanan kecil. tukang listrik. pegawai negeri biasa saja. ngurus hal orang lain. Tak tahulah. pelayan toko. menjabat bagian basah. “Yang di sebelahnya?” “Rumah pegawai Bea Cukai. semua kami miskin dan karenanya kami saling mengenal dan akrab satu sama lain. bidan. kenek. 7 Jika lagi kehabisan. yang segera mengundang tamu atau teman kami yang datang berkunjung. satpam. membuat kehadirannya bagaikan putri raja di tengah rakyat gembel.” “Bagian apa?” “Tau. Kadang menumpang menjahit baju anak di rumah tetangga yang punya . guru sekolah.” “Lebih pantas lagi. ibu-ibu kami saling pinjam garam atau korek api atau bumbu masakan kepada tetangga. makelar.Rata-rata. Dan tanya lagi.

Buunakum. bisa-bisa berlangsung hingga beduk subuh. soal anak-anak. kalau ibumu menggoreng ikan asin.. teriakan penjaja sayuran dan makanan. Tak tahulah. 12 . anak-anak mereka sudah berbaikan kembali.” Ejaan itu mengalun dalam irama yang khas. Biinakum. sungguh menitikkan air liur. begitulah cara mereka membanting kesal ke atas meja gaple. melayang jauh dihantar angin siang. Tiinakum. lebih terkenal: gaple. Biasanya.. 8 Sesekali. Taunakum. Uunakum. di luar pekarangan rumah. Iinakum. Yang paling cepat ketahuan. atau listrik yang korsleting. Tsiinakum. Anehnya. sementara ibu-ibu itu masih bersungut-sungut. 10 Apa saja yang dimasak tetangga.. Begitulah cara ayah-ayah kami melepaskan lelah setelah seharian mencari nafkah membanting tulang. teriakan anak-anak bermain. Taanakum. terdengar mengalun suara anak-anak mengeja Juz Amma dari madrasah: “Aanakum. mengasyikkan. Tuunakum. Bainakum. ibu-ibu kami terlibat juga dalam pertengkaran kecil. boleh dikata selalu ada permainan domino. tak bisa dirahasiakan. Tsaunakum. mengantar kantuk. Yang ini. Baanakum. yang berantem. Pada malam minggu. Dan andaikata ada pompa air yang rusak. Atau juga.mesin jahit. Aunakum. Tsainakum. tetangga lain akan cepat turun tangan memberikan bantuan perbaikan. 11 Lepas Isya dan makan malam. 134 9 Kurasa gang kami tak pernah sepi. Tainakum. Tsuunakum . di saat warga sedang terkantuk-kantuk disengat panas Jakarta. Macam-macamlah sumber kebisingan itu: radio atau kaset yang tak henti-hentinya distel. Baunakum. Ainakum. Aromanya akan mengambang ke mana-mana. Tsaanakum. Dan lepas tengah hari. ke sepanjang gang.

kami saling menjaga. ikut hadir. persis pengamen jalanan. Najib. setengah melucu. ayah-ayah kami pada mengantuk. pop sampai keroncong.Berbeda sedikit dengan hari-hari biasa. kami sering berantem. setengah menyindir: “Mata yang mengantuk kalau dibawa mendengar pengajian. Heran. menyanyi dan main gitar. tanda setan sedang mengencinginya!” Tiba-tiba. Sebentar mereka sudah dipanggil ibu mereka. Dan kalau bisa ingin berbuat lebih baik kepada yang lain. Usia kami tak jauh beda. semua anak-anak Gang Haji Abdul Jalil adalah teman. Tempatnya: gardu jaga siskamling. 14 Sekali-sekali. Di tengah pengajian sedang berlangsung. mata itu bisa melotot terus sampai pagi. Tony Handoko dan beberapa anak tertentu. agaknya dangdut dan pop itulah. Kami menyebutnya ‘markas’. Semua jenis lagu kami senang. sebagai basa-basi. Martin. Tapi rasanya lebih intim dengan Hamzah. Menertawakan siapa? 135 13 Jika yang tua-tua senang gaple. Menurut Ustadz Malik. atau belagak memainkan musik jazz dengan gitarnya. saling menenggang. sekali sebulan pada petang Jumat. Kami yang muda-muda. Nampaknya kehadiran kami melegakan hati mereka. Sekarang tidak. Dulu ketika masih kecil. 15 Bagiku. mulai dari dangdut. ditingkah senda gurau dan gelak tawa tak berkeputusan. Tapi yang mendapat tempat di hati kami. semua membuka matanya lebar-lebar. kalau main gaple semalam suntuk. Sesekali kami larut juga dalam irama gambus. hampir sebaya. orang tua-tua kami mengadakan pengajian di mesjid. anak-anak cewek ikut nimbrung bersama kami. dan yang lain segera menyorakinya. kami yang muda-muda pun tak mau ketinggalan duduk menggerombol: ngobrol ngalor-ngidul. Atau disusul adiknya disuruh pulang. sedikit kaget dan lantas tertawa. 16 . tak sampai larut. Sekali-sekali ada juga yang mencoba seriosa. tapi tak kena: sumbang.

“Inggris. Ia ikut salah satu kelompok teater yang sering mentas di TIM. Dan sekarang. jalannya. maunya. Kami tak tahu pasti. deh! Bayangin. Gayanya mirip-mirip Rendra.Hamzah gitaris andalan kami. Gaya bicaranya. Kalau ia bicara. nada suaranya agak dilantunkan bagaikan orang berdiri di atas panggung. Itu. Agaknya dangdut seperti sudah dilupakannya. “Maklum. apakah dia masih bisa berbisik. dia sedang baca apa? George Bernard Shaw atau Hemingway atau Tolstoy atau Albert Camus atau Dokter Zhivagonya Boris Pasternak atau Thomas Elliot! Pokoknya: berat! 136 17 Kalau si Martin lain lagi. Sejak jadi pemain teater. gerak tangan. ni yee?!” ejek anak-anak. Apalah yang dapat diharapkan dari pencarian ayahnya yang ustadz. Pokoknya. Akhir-akhir ini ia agak jarang nongol di ‘markas’? Waktunya dihabiskannya di TIM. bacaannya bukan komik lagi. Tapi Hamzah tidak marah. Masuk kantor keluar kantor. si Najiblah yang membuat kami semua merasa heran. Tiba-tiba saja ia telah menjadi manusia aneh di tengah-tengah kami. kalian tahu. biaya kuliah terlalu tinggi.” tambah yang lain. sejak jadi mahasiswa Sastra Inggris paling getol nyanyi Inggris. cara tersenyum. guru ngaji di gang kami. Merasa lebih penting dan menonjol dari yang lain. Di situlah ia bercokol. Akan hasil perburuannya itu. berat. Mau melanjutkan ke Perguruan Tinggi Swasta. Kadang-kadang ikut mentas ke kota-kota lain! 18 Kukira. kayaknya bukan lagi Martin yang kami kenal selama ini: Martin yang lugu dan agak pemalu. Atau dikuburnya? Pokoknya lagu Barat melulu. gayanya overacting. deh. disibukkan oleh latihan-latihan teaternya. Najib anak Ustadz Malik. bukan cerita silat lagi. Soalnya setelah gagal sipenmaru. Anak-anak hampir tak dapat menahan ketawa. Selangit. Maka dengan senjata ijazah SMA-nya diterobosnya rimba perkantoran kota Jakarta. tak mungkin. ia tahu diri. seakan ia jauh dari kita. bagaikan buku yang belum habis dibaca kita sudah . di luar jangkauan. benar-benar ia putus sekolah. Agaknya ia tak bisa lagi mengecilkan suaranya. ekspresi wajah dan lain sebagainya. kalau dia lagi sendirian di teras rumahnya. Tak acuh.

Dan ia tahu betul berbohong itu dosa. Tony memintaku. pimpinan pesantren itu. Najib merasa sangat terhimpit. seperti musang.” pesan ayahnya. Kaget. Bekerja di bar itu dosa. menguji keimanannya. sesuai menurut apa yang dikatakan Najib ketika suatu kali ayahnya bertanya. merasa berkewajiban menyimpan rahasia ini kepada Ustadz Malik. kerja. Tony Handoko yang agak ugal-ugalan itu. bingung.tahu jalan ceritanya. Jelas Najib berbohong. Artinya. Najib mulai bekerja di sana. dan di mana mau shalat. Ketika hal itu disampaikan. Ayahnya Ustadz Malik tak tahu putranya bekerja di tempat haram itu. Tony bungkem. Yang ia tahu. bagaikan rentetan tembakan senapan mesin sebagaimana yang kau lihat dalam film Rambo. tentu kau sudah dapat menebak. atau kayak petasan gantung waktu sunatan. Siang hari ia tidur. tapi dilakoninya terus. Ia memerlukan teman dalam perjalanannya. anak pegawai pajak yang gedongan itu. heran. Tony dan aku berangkat naik kereta api ke Jawa Timur. bagaikan disambar petir di siang bolong. dan tak ada tempo. Pokoknya. bukan main kagetnya sang papa. Satu-satunya perusahaan yang mau menerimanya adalah sebuah Pub. Beberapa hari kemudian. Orang tak ingin menghancurkan perasaannya. “Jangan lupa shalat. Sampai kapan? Dan kami. Tapi Allah memang Maha Pemurah. Papanya sudah berangan-angan supaya Tony jadi akuntan dan akan mengirimnya ke Amerika. bersikeras pada papanya mau masuk pesantren. kami. bersamaan dengan itu Allah ingin menguji Najib. Teriak papanya: “Mau jadi apa kau?! Mau jadi santri miskin?!” Suaranya menggelegar sepanjang gang. rumah minum. Nah. . sampai papanya reda dan terhenyak di kursi. jika Allah berkehendak memberi hidayah kepada hambanya. setelah Najib ditest. tak alang kepalang. dan semua orang di gang. berang. Agaknya ia kalah. Papanya menganggap keputusan Tony itu benar-benar gila. Bahkan ia minta aku menemaninya selama seminggu di pesantren. Sebenarnya. Papanya menyesalkan sangat keinginan Tony itu. Selanjutnya diberondongnya Tony dengan omelan tak berkeputusan. Sejak itu kami kehilangan seorang teman kongkow. kemudian ikut training untuk jadi Bartender. Pengasih dan Penyayang. dan ia tak mau jadi bahan tertawaan teman-temannya. Untunglah hal itu diizinkan Pak Kiai. Dan bahkan kini ia sudah tak shalat lagi. Apakah ia suka atau tidak. Setelah pernyataan pemberitahuan itu kepada papanya dan diberondong habis-habisan. Najib bekerja sebagai Satpam di sebuah perusahaan. kalau itu diartikan secara harfiah: kerja. akhirnya Najib mendapat juga apa yang dicarinya. ke Pesantren Bangil. merunduk terus. tak membantah sepatah pun. Karena Najib bekerja malam hari hingga subuh. Lingkungannya tak memungkinkan. siapa sangka. 137 19 Sebaliknya.

Kini.. persis seperti kaum wanita pasidaran Iran. Lanjutnya: “Kalau tidaklah karena takut dosa.20 Sehari setelah keberangkatan Tony. “Toh tidak apa pulang buat sebentar. hampir menangis.. surah Al-Ahzab ayat 59: “Hai. saya dibilang sudah sesat? Dituduh mendapat pengajian yang sesat? . sebagaimana yang kita lihat di majalah-majalah atawa koran-koran. saya bertanya: siapa yang sesat? Saya atau papa? Apa yang papa fikirkan hanya duit melulu .. menurut Ustadz Malik. teman Maryam (nanti kalau ada tempo aku cerita padamu). Dan kesan pertama kita melihatnya. Ia diminta ibunya pulang sebentar untuk menjenguk papanya. masak papa tega menuduh saya subversif. teman kami juga. pimpinan Imam Hassan Al-Banna. hanya mencari kesenangan dunia…. pada hari ketiga.. yang suka “ekstrim” bukan Tony Handoko seorang. Tidak! Saya tidak akan pulang! Saya sudah bosan dengan suasana rumah!” Tony menarik nafas panjang. kesenangan .. Sekarang sedang tersapu oleh gemerlapnya keindahan dunia 138 21 Sebenarnya. guru ngaji kami ditangkap! La hawla wa la quwwata illa bi 'l-Lah. itu kata lain dari pada kerudung). Dalam batin. Hendaklah mereka mengulurkan kain kerudung/jilbab mereka ke . hampir saya tidak bisa memaafkan papa. Allah. anak-anak perempuanmu.. “Sekarang saya lagi kesal sama papa. papanya jatuh sakit.” Pakaian yang menutup aurat.” jawabnya pasti. bukan?” “Tidak sekarang. semoga Allah memberi papa taufiq dan hidayah. kepadaku ia berkata: “Nanti sebentar papa akan sembuh juga. dunia dan kesenangan melulu. Belakangan ada lagi yang menyebutnya pakaian wanita Ikhwanul Muslimin Mesir. Jelas ini fitnah! . Sesuai dengan apa yang termaktub dalam Al-Quran. tapi miskin rohani. Dan katanya: “Coba fikir. nampak kesal.. Aisah yang satu ini. kulihat air matanya menggenang. seakan dengan itu dapat dibeli semuanya: gengsi. istri-istri orang mu'min. Ma. dari ibu Tony. Maunya perintahnya saja yang mesti diturut.… Apa dengan kekayaan itu dapat dibeli kebahagiaan akhirat? Papa sudah dipengaruhi oleh Dajjal yang bermata satu. Saya hanya bisa berdoa. Saya percaya masih tersimpan benih-benih iman dalam dada papa. Ikut pengajian gelap. Tapi Tony tak mau. “Itulah pakaian Muslimah yang sebenarnya. tak lain tak bukan.. anak buah fanatik pengikut Imam Khomeini. martabat. agar semua kami ditangkap. Tapi. Ada lagi. Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu. Engkaulah Yang Maha Tahu! Dan papa sampai hati akan mengadukan kelompok pengajian kami kepada yang berwajib. menjadi anak durhaka.” Aku mencoba melunakkan hatinya. Dan sebagaimana dikatakannya dalam surat kepada ibunya... sekarang pakai jilbab (itu istilah yang ngepop sekarang. Begitu Surat Kilat Khusus yang kami terima. pengajian subversif. Kau lihatlah si Aisah. Coba. Papa memang selalu begitu. apa pun namanya. Ya. Dunia. pengajian yang disusupi faham komunis. Nah.

kayaknya Aisah tak punya lagi barang sepotong pun baju model lain. Tapi lihatlah betapa cobaan yang dihadapinya. Rezeki di tangan Allah. ekstrim itu. Aisah. Dan siapa yang mau menjahitkan kepada saya? Terserahlah. ia berdosa dan aku pun berdosa. barangkali. Oleh kepala sekolah. “Dulu sebelum begini malah kau seorang modis...a. sejak Aisah menjadi eskrim. Yang kutahu Aisah tetap tegar. sama saja kita membagi dosa kepada yang lain.: suatu ketika Asma binti Abu Bakar masuk ke tempat Rasulullah sedang Asma memakai baju yang tipis (membayang tubuhnya). Dan dosaku dua kali lipat: dosa karena telah memberi yang salah. kapan saja. Aku tak tahu bagaimana kesudahannya. ia selalu berjilbab! Anak-anak yang iseng.” katanya. apalagi mini. perancang busana. blus yang dulu. baik yang maxi. Al A’raaf ayat 26 dan beberapa Hadis yang diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad! Pokoknya. siapa yang mau saja. sudah dibakar ludes! Atau dihanyutkan ke Kali Malang (tak jauh dari gang kami). “Itu namanya. agar mereka tidak diganggu.. hal itu dijamin oleh Undang-Undang Dasar Empat Lima kita! Baca tuh pasal 29 ayat 2. midi.” jawabnya. misalnya pada An Nur ayat 31. Semoga Allah mengampunkan ketidaktahuanku. walau warnanya sudah putih di atas dan abu-abu di bawah (sudah disesuaikan Aisah). lisan dan tulisan. Namun ia tetap dianggap melanggar. Aisah boleh bermantap-mantap. Dan sejak itu. Aisah mendapat kerepotan di sekolahnya (sebuah SMA Negeri di bilangan Kebayoran Baru). tapi Saudara-saudara dapat mencarinya sendiri dalam Al-Quran. Garagara pakaian jilbab itulah. Kayaknya semua pakaian rok. Soalnya: jilbab yang kayak ninja itu. maka Rasulullah melengah seraya berkata: “Hai Asma.” Dan dari Hadis Rasulullah Saw. Sekarang siapa yang mau menjahitkan pakaian padamu kalau hanya jilbab melulu?” “Lupakanlah itu. wanita yang telah sampai masa haid tidak boleh terlihat kecuali ini dan ini. fikirku. dapat saya kutipkan sebuah Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Daud dari Aisyah r. dan dosa yang dilakukan orang itu.” kataku pula. “Itu waktu saya masih jahiliyah. maaf. ia dianggap melanggar peraturan seragam sekolah.” Mantap sekali ia.seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal. di mana saja. menjulukinya dengan “pakaian ninja”. bahwa negara menjamin kemerdekaan dan kebebasan setiap warga negara untuk memeluk suatu agama atau keper- 139 . dengan ancaman sewaktu-waktu bisa dikeluarkan dari sekolah.” “Kau ini aneh. Dan Allah Maha Pengampun-Penyayang. “Apa pakaian-pakaian yang dulu itu sudah kau sedekahkan. masih ada beberapa ayat dan hadis. Tapi Aisah tak acuh saja.” dan beliau menunjuk kepada muka dan kedua telapak tangannya. “Salah apa saya jika saya mengamalkan ajaran agama saya?! Toh. baju lengan panjang dan rok yang komprang kedodoran itu! Kepala Sekolah sudah memberi peringatan beberapa kali. Berkata mantap kepada kami anak-anak gang. Sebenarnya. “Menyuruh orang membuka aurat. Aisah?” Suatu kali aku coba menduga kepadanya.

. ‘kali. Dan bertepuk tangan serempak. Apakah ini tidak munafik namanya? Atau mungkin ada penamaan lain?” “Munafiiiik. kalau mau ditertibkan juga. tertibkanlah siswa-siswa yang suka berantem itu. yang mabuk-mabukan itu... suka menggoda. Kan hanya orang-orang PKI yang sangat anti agama?” “Ya. anak-anak yang tadinya asyik-asyiknya menyanyi dangdut atau pop. dasar anak-anak. membenarkan. ya (senyum..” celetuk kami. mengangkat bahu. yang suka keluyuran di jalanan atau ke disko pada jam-jam pelajaran! Ke sana alamat penertiban itu! Bukan kepada hak asasi orang?! Orang yang baik-baik seperti kita-kita ini lagi. Semua bertepuk kegirangan bagaikan anak-anak pramuka. “PKIiiiiiiii. suka becanda. katanya sambil setengah berbisik.. belum merasa puas. aduh manisnya). Mengembangkan kedua tangannya..” jawab kami spontan memberi semangat dan membenarkan Aisah.!” teriak anak-anak serempak.!” tambah kami lagi.” Lagi-lagi kami keplok.” . Begitu ia lewat. plok plok plok. senang sekali..cayaan dan untuk beribadah sebagaimana yang diajarkan oleh agama maupun kepercayaan itu! Nah. yang terlibat narkotik itu. Tiba-tiba seseorang memberi komando: “Tepuk pra-mu-ka!” Plok plok plok.. Kita curiga dengan berbagai prasangka. ini enggak ge-er. Rupanya Aisah belum selesai.. 140 22 Di mana pun.. plok plok plok plok plok plok plok. yang merokok itu. Aisah mengeluh: “Boleh jadi semua kita telah menjadi orang-orang munafik terhadap agama yang kita anut. Apabila Aisah lewat di depan ‘markas’. Aisah melanjutkan: “Itu tuh. tak tanggung-tanggung! Tetapi sebaliknya. dong. mencorongkan kedua telapak tangannya ke moncong: “Jangan-jangan kepala sekolah itu bekas PKI. segera mengalihkan iramanya ke kasidahan: “Indung-indung kepala lindung Hujan di udik di sini mendung Anak siapa pakai kerudung Mata melirik kaki kesandung. tak pernah luput ia jadi godaan. ‘kali... mana yang lebih tinggi kedudukan hukumnya UUD 45 atau Peraturan Seragam Sekolah?!” “Jelas UUD 45. pengamalannya kita jegal. Tilawatul Quran kita rayakan secara besar-besaran dengan biaya jutaan..

” “Anak-anak berengsek!” “Mereka cuma iseng..” 141 . “Ucapin salam dulu. Neng?” Dengan lembut Aisah menjawab. alimnya. berkata: “Alangkah manisnya anak ini. kalian ini tak tahu aturan!” ujar yang lain belagak memarahi teman-temannya. dong. assalamu'alaikum. Aku berhasil.Aisah terus berlalu dengan senyum-senyum dikulum. kulihat Aisah berjalan seorang diri pulang sekolah. “Kau tidak diapa-apakan mereka?” tanyaku. “Tidak. Mereka menyingkir secara teratur. Serombongan cowok SMA yang berpapasan dengannya menggoda Aisah dengan sikap agak kurang sopan. yuk?” “Ntar lu digampar bokapnya!” “Enggak apa asal gue dapat anaknya yang ca'em. gue anterin. buru-buru aku keluar.?” 23 Suatu kali sedang aku asyik mentes kaset yang akan kubeli di sebuah toko di Benhil. kupanggil Aisah dengan suara lantang untuk mengagetkan anak-anak itu. Kuatir mereka menggoda lebih jauh lagi.. dalam hati masingmasing kami. mengitarinya seakan hendak memangsa. Aku sudah siap menghadapi segala kemungkinan. “Wa'alaikum salam. Sekilas kudengar. Jalan terus. Mek!” Lalu kutarik Aisah ke toko kaset. “Waduh.” “Sorangan wae?” “Mari. Namun Aisah diam saja. persis kayak segerombolan anjing hendak berebut tulang. “Wah.” Dan macam-macam lagi.” Anak-anak pada sorak kegirangan.” “O ya lupa. “Ada cowoknya. Mungkin.

ya ampun. yang artinya selamat dan sejahteralah anda. melainkan kecantikannya yang membius itu. Maka sejak itu. Bahkan yang tercantik di ibukota republik ini. Sepantasnya kita mendoakan mereka pula. Dan Maryam sadar akan perubahan dirinya. 142 24 Lain Aisah. Gadis kecil yang kemarin-kemarin ini masih ingusan.. geram. demikian menurut Hamzah.” “Ya. ada lagi yang mengajaknya pergi menonton. Bukan pada nyanyian.. kalau berganti-ganti saja pemuda-pemuda luar datang berkunjung ke rumahnya. Dan yang paling akhir anak orang kaya bermobil Baby Benz. tiba-tiba seperti disunglap. Hamzah belum pernah mengatakan secara terus terang. main loncat karet. Cuekin aja!” “Dosa lho. ampun. “Tapi.. Di lain waktu. Gadis kecil itu tumbuh jadi remaja yang amat cantik dan mempesona. pemain tenis yang lagi ngetop. maka terdengar bisik-bisik yang dikeraskan: “Baru lagi. masih suka main congklak dengan teman-teman sebayanya.. salam tak dijawab.. Sejak itu ia dikenal secara luas. Dan.. Bukankah salam itu doa. selalu dengan muka baru: penyanyi tenar ibukota. anak teater yang lagi ngepop. dan macam-macam acara lain. Semua orang kagum padanya. Kukira. Yang tercantik di gang kami. main engklek. ni yee?!” 25 Maryam memang cantik. Pokoknya selalu dengan cowok baru! Dan setiap kali Maryam dan padangannya lewat di depan ‘markas’. kami tak merasa heran. ke restoran. Kemudian pasangan anak muda itu pergi ke luar rumah untuk latihan menyanyi. . Hamzah menaruh hati pada Maryam. kenapa anak-anak gituan kau kasih hati?” “Kasih hati bagaimana?” “Salam mereka kau jawab. lain pula Maryam.” kataku tak habis fikir pada Aisah yang satu ini.“Kurang ajar. pemain film yang sedang in.” kataku. dari kuncup mekar menjadi bunga yang indah. Penampilan yang pertama mengejutkan banyak orang adalah ketika suatu kali ia ikut acara perkenalan penyanyi remaja di TV.

berani-berani takut. aku tak tahu. yang ber-Baby Benz itu.“Tapi apalah arti kecantikan jika tidak disertai dengan ‘kematangan dan kedalaman’. Namun perasaan ini disimpannya sendiri. ketika Maryam menyebarkan undangan perkawinannya dengan anak penguasa Real Estate. 26 Suatu hari. Kali ini tampak serius dengan muka murung. “Tidak!” jawabnya tegas. Aku terperangah. Mungkin di malam-malam begini ia sedang mengetik puisi-puisi atau cerpen-cerpen. Dan terlebih dari semua itu. yang tak mungkin dapat diraih kembali. aku tak merasa betah lagi duduk lama-lama di ‘markas’ kami. 28 Dari bisik-bisik anak-anak cewek dapat kutangkap bahwa sebenarnya Maryam pun mencintai Hamzah. Hamzah mendadak pindah ke Rawamangun. Ia tak hendak dan berani menyatakan kepada ayah ibunya. .” kata Hamzah pula. berfilsafat. Sekarang ia bekerja di sebuah majalah. membesarkannya dalam kemiskinan yang berkepanjangan. ia ingin membahagiakan kedua orang tuanya. Dari bacaan berat mana pula Hamzah memperoleh ‘kematangan dan kedalaman’ itu. Memutuskan hidup jadi pengarang dan berhenti kuliah. tempat di mana ia melarikan kepedihannya. Maryam seorang anak yang baik. Dalam puisi-puisi dan cerpen-cerpennya dapat kutangkap kesepian hati yang dibawanya ke mana pun ia pergi. Dalam senda gurau dan nyanyian diam-diam menyelinap kesepian ke dalam hatiku. 143 27 Tapi akhimya aku tahu juga. 29 Akhir-akhir ini. Untuk itu ia siap berkorban. seperti ada sesuatu yang terlepas dan hilang. Semoga hal itu menjadi tanda baktinya buat mereka yang telah bersusah payah. mungkin anak-anak lain tidak. seorang anak yang patuh. kutanyakan pada Hamzah apakah ia mencintai Maryam. yang pergi membawa luka hatinya dalam kesepian di kamar indekosnya jauh di Rawamangun sana. Indekos di sebuah kamar yang sederhana. Di antara kawan tak kulihat lagi Hamzah.

Namun ia tak bisa berbuat lain. apakah kau tak merasa malu. Aku tak tahu sedang mentas di kota mana ia sekarang. Batinnya tertekan.” 31 Malam hari ketika aku pulang dari mencari pekerjaan yang belum juga kudapatkan. Tiba-tiba aku merasa teramat sepi. Sedang mengapakah Martin sekarang? Lakon apakah yang sedang diperankannya sekarang? Hamlet tokoh yang selalu dibuai bimbang? Lama ia tak pulang. Najib mungkin sedang mencampur minuman haram satu dengan yang lainnya. Atau mungkin ia sedang larut dalam zikir yang dalam. aku selalu lewat di depan ‘markas’. Nun jauh di desa Bangil. tertekan sedikit oleh perasaan rindu. terpencil. 144 30 Suatu hari ayahku berkata dengan sedikit keras kepadaku: “Syamsu. Tony Handoko. Agustus 1990) . Masing-masing teman pergi membawa nasibnya sendiri-sendiri. Martin dan Hamzah. ayah sudah tak sanggup lagi membiayai sekolahmu. Ramainya masih seperti biasa.Tony Handoko mungkin sedang terbenam dalam kitab kuning bertuliskan Arab gundul.*** (Dimuat dalam Horison. Tapi sudah tentu tak kulihat lagi di sana Najib. Adik-adikmu masih banyak yang perlu ayah perhatikan. sambil mengenang ayahnya sedang mengaji di rumah. nongkrong terus dengan bocah-bocah itu? Teman-teman sebayamu sudah pada bekerja! Contohlah mereka itu! Lagi pula. jauh dari keramaian kota.

Bila loncengnya berbunyi. Sedangkan kami berdua membutuhkan tamu. Tentu lelucon ini menambah semarak suami-istri. Kami dulu mempertimbangkannya cukup lama untuk memutuskan di mana harus diletakkan jam yang sebesar itu. bahwa mantan pacar istriku adalah aku. hanya untuk perkawinan perak itu saja kami berdua sangat sibuk. sebab kehadirannya merasa dikontrol oleh jam. Ina. Jika ditaruh di ruang tamu.” “Kalau begitu tinggal 4 hari lagi. Sore itu.” “Ingat enggak. Nyanyian ini mengisi kalbu istriku dan kalbuku sendiri. “Sebentar lagi kita akan merayakan ulang tahun perkawinan kita yang kedua puluh lima. Ini karena ulah jam itu. tetap saja aku mencoba memetik kenangan lama yang indah setelah jam Junghun itu mengisi ruang tengah rumah kami. “Hari itu ulang tahun perkawinan perak kita. Kami suka mengulangi lelucon yang sama itu setiap ada bekas teman sekelas hadir. Padahal barang itu kami beli untuk menambah kebahagiaan istriku dan aku.” “Kamu tentu ingat tanggalnya. ya Sam?” ujar istriku suatu sore.Lonceng Oleh: Motinggo Busye 145 Jam dengan merk Junghun itu belakangan ini menyengsarakanku. dan mantan pacarku adalah istriku Ina. Sam. aku dan Ina sedang duduk-duduk berdua sembari minum teh dan makan jeruk. Walaupun akhirnya mengesalkan. “Juga mantan pacarmu.” kataku.” katanya. “Betul. siapa yang datang pada pesta kita itu?” “Mantan pacarmu. Tinggi jam itu setinggi tubuhku. Kuingat sekali. Mereka harus diberitahu. Kami ketawa bersama. . Orang yang kurang rasa humor mungkin heran. kelak tamuku akan cepat pulang. Kita menikah pada 10 November dua puluh lima tahun yang lalu.” kataku. Istriku menjadi perempuan yang bawel. maka terdengarlah sebuah nyanyi.

“Coba Nyonya cari di seluruh Glodok ini. kurang sedikit. Kebetulan kami berdua menyukai musik klasik. Lonceng jam itu memberikan zat rohaniah pada diri kami. “Sebenarnya aku menguji apakah kau masih kikir. Setelah dua tiga toko kami masuki. Terdengar satu nada indah mirip lagu yang menyentuh perasaan kami. “Merknya Junghun. “Ini benar-benar abadi. Cuma saya yang jual merk Junghun ini.” kataku. “Tanyakan harganya. Ke- 146 . istriku bilang. aku dan istriku berpelukan. Sam.” ujar sang pemilik toko. tak ada satu pun benda yang berkenan di hati kami berdua. Kami meniru para pelaut yang suka bayar masing-masing bila makan di restoran. Apa suami-suami yang lain di dunia ini juga seperti itu.” ujar istriku. aku menggenapi kekurangan itu. Ketika loncengnya berbunyi menyanyikan irama indah itu. Kebiasaan istriku adalah sama dengan kebiasaan banyak perempuan di jagat ini: menawar terlalu rendah dan berlama-lama untuk jenis satu barang. Ketika kami lewati beberapa toko. Saat itu adalah pukul 00.” Memang begitu. Makin larut perkawinan kami. Kebiasaan ini bukan selalu buruk.00 pada hari 10 November. Dan ketika gema 12 kali masih mendengung. Jam Junghun telah kami taruh di ruang tengah. dan ini juga satu-satunya. Kadang sudah pergi kembali lagi ke toko sebagaimana terjadi pada hari itu. Tapi irama lagu lonceng jam ini melebihi seluruh musik klasik kesukaan kami.” “Ya kurangilah separohnya. Sam. secara mendadak dan serentak langkah kami berhenti.Kami telah pergi ke Pasar Glodok untuk mencari sebuah barang yang bisa dipajang di rumah dan punya kesan abadi. aku meremas jari tangan istriku.” Istriku telah dikunci tanpa alternatif. Istriku melotot setelah aku sebutkan harga yang diberitahukan pemilik toko jam itu. Di toko saya cuma tinggal satu ini. Ketika loncengnya berbunyi 1 kali. Dari masa berpacaran dulu. Lalu. remasanku lebih kuat lagi. “Kita menemukan pilihan jam antik. Aku dan istriku saling menatap.” kata istriku. dia menyanyikan satu bait saja. Bertahun-tahun kami menikmati duduk berdua menunggu lonceng jam itu bernyanyi setiap seperempat jam. Kami justru menciptakan humor baru ketika harus ber-navy-navy.” ujar istriku. makin sering aku disuruh istriku dengan nada setengah memerintah. ketika uang dihitung. Sebagaimana biasa. Ketika pada seperempat jam. Ketika setiba di rumah. kami menganut aliran navy-navy. "Merk ini nomor satu. Dia selama tiga hari kami tunggu berbunyi. aku tak tahu dan tak perlu tahu. Maka kutinggalkan beberapa lembar di tasku agar kamu ikut membayar juga.

akan sama nasibnya jika melamar di kantor yang sama di bidang yang sama pula: jika menikah.” kata istriku lagi. “Tapi aku betah di rumah bukan karena lonceng jam ini. “Kenapa kamu tidak kawin lagi saja. Sam?” kata istriku. “Kalau aku bicara soal si Aimah.“ sambungnya. mungkin kamu sudah punya anak dan cucu. Yaitu menaikkan kerekan rantai tiga bandulan itu. “Aku tahu. yang perempuan harus diberhentikan dengan hormat. Padahal jam ini sudah 15 tahun di rumah kita. sama pula di perguruan tinggi. Orang yang sama sekelas di SMA.” Aku memilih diam. dan pada waktu satu jam. ketika aku harus berhenti sewaktu kita menikah sudah pasti ada seorang gadis yang senang. Peraturan kantor memang. “Kita tak pernah merasa tua oleh lonceng jam ini ya. Aku betah di rumah karena sudah memasuki pensiun. lalu menyetel jarum panjang dan jarum 147 . Sebelum empat bait lagu itu bergetar.” kata istriku. Biasanya kalau jam itu mati. dia menyanyikan dua bait. aku dan Ina sudah berpelukan. yang perempuan harus mengalah menjadi penunggu rumah. “Mungkin kamu betah di rumah karena lonceng ini. Sam. ”Si Aimah. dan terutama karena adanya kamu. Padahal dia amat mencintaimu. Ketika tiba tiga perempat jam.” ucapnya. jika ada dua orang menikah di satu ruang kerja. Dan inilah yang bikin aku marah dan kami bertengkar.” katanya. empat bait komplit. kamu suka membisu. Jadi Ina cuma berdinas 1 tahun kerja saja.” Tetapi. “Ya. ajaib sekali. Sam?” Makin tua dia masih pencemburu seperti dulu.tika setengah jam. Yang ada di sini adalah aku. lonceng jam menyanyikan lagu itu. Tetapi pertanyaan itu agak aneh di telingaku. kamu dan jam dengan loncengnya itu. Ketika pertengkaran itu terjadi. aku bisa memperbaikinya. Akhirnya aku bertengkar juga karena dia lagi-lagi menyebut nama Aimah. dan sama pula selesainya. Perkawinan kita 40 tahun tanpa anak dan cucu. tiga bait.” kataku. “Kalau kamu kawin sama Aimah.” “Sudah gaek masih gombal. Pernah juga istriku bertanya. “Kita tak perlu bertengkar lagi.

00 tengah malam 10 November. kita tak boleh merusak kenangan yang diberikannya. Keringat membasahi bajunya. Istriku senyum mencemoohinya. Dan istriku terus pula menertawakan kegagalanku walau tanpa perkataan “tolol”. bahwa “Ami Assegaf” sudah wafat. Bahkan dia mengenal Ami Mahboub Assegaf. Kalau mau beli buah kurma dan kismis. Dua tahun menjelang ulang tahun perkawinan emas kami. orang di rumah itu mengatakan.” kataku ketika memperkenalkan tukang arloji itu kepada Ina.” kataku. “Itu logis saja. Bahkan mencak-mencak. “Aku tak bertemu dengan orang Arab itu. namanya Mahboub Assegaf. Ina. Akhirnya dia berkata putus asa: “Maaf. ada orang Arab di Tanah Abang. diam kamu. “Oh si Aimah itu turunan Arab ya?” “Coba tenang. Sam. “Tenang dulu.pendeknya untuk menyesuaikan waktu.” kataku.” “Kamu makin tua makin tolol. Ina. aku pergi ke Jatinegara. Aku kan tidak bilang kamu tolol. Jangan jadi nenek sihir lagi. “Kau bilang dulu kamu menguasai ilmu listrik. Kali ini loncengnya berbunyi tidak cocok lagi dengan waktu. Istriku mendehem. sekaligus menyebarkan bau ketiaknya di ruang tengah kami yang nyaman. Dia marah. "Jam ini penuh kenangan.” “Sudahlah. dan bunyinya harus tepat 12 kali pada pukul 00. Tapi kenapa betulin jam saja sudah salah. Kamu makin tua makin cerewet. Bertahuntahun dia membuat kita berdua menikmati irama loncengnya yang pernah bernyanyi merdu. Dia tidak berbunyi 12 kali pada waktu pukul 12.” Aku mengalah. Dimulai dengan cekcok mulut lagi. Menurut pemilik toko di Glodok itu. Ketika aku tiba di rumah Arab itu. jam ini berbunyi 36 kali. ahli pembetulan jam dan piano. Jangan. ada dijual di sini. Dan aku gigih terus memperbaikinya. Kita beli yang baru. Tapi itu tidak berarti aku tak 'kan bertengkar lagi dengan Ina. Seorang tukang arloji kubawa ke rumahku. Pukul 12 bunyinya 6 kali. aku terus berusaha agar jam Junghun itu bisa menyanyi lagi.” “Mau cari Aimah?” “Bawel kamu. Sam. Anak muda itu bekerja keras. Ina. Bahkan ngawur.” “Aku mau keluar." 148 .” Aku mencari ahli jam. Kita jual saja jam Junghun ini. Dia katakan.” “Sudah. Dia ini ahli jam generasi penerus ayahnya.” kataku pada Ina.

kurayakan pesta emas perkawinan itu seorang diri. September 1999) . Istriku menyebut lagi perkataan “tolol” itu. Ini menambah semangatku.” kata istriku. Memang dia gila. Kita jangan panik. lalu mendentingkan loncengnya 12 kali. diiringi kemerduan lonceng jam Junghun yang amat sangat indah. Ya. Dia mulai berlangganan dokter spesialis penyakit dalam. Ia menderita tekanan darah tinggi. Ina. Suatu malam dia menjerit karena satu mimpi buruk.00 jam itu bernyanyi empat bait komplit. Manusia tidak boleh ditaklukkan oleh benda yang bermerk Junghun. jam gila itu berbunyi 120 kali. Aku akan coba perbaiki sendiri. Sayang. dan tak 'kan pernah mendengarnya. Tengah malam pukul 00. Manusia harus mengalahkan benda mati ini. Nak.“Cukup. “Sabar. Katanya.*** 149 (Dimuat dalam Horison. sampai aku berhasil! Aku merayakan pesta emas 50 tahun perkawinan kami. saat itu istriku tidak mendengarnya. Yang mulai menjadi korban jam Junghun adalah Ina.” kataku yakin.

Tapi dia belum mau melepaskan gelembung itu karena dia takut potret dirinya itu nanti akan merasa sendiri dan sepi di angkasa. Suatu kali.” Begitu tutur ibunya suatu hari waktu dia merengek karena tak ada kawan bermain dan beberapa saudara tuanya tak ada di rumah. Aryo Jipang. Dan dia begitu tertegun. dia pasti akan bisa melihat rumah-rumah. Ken Arok. mungkin ada awan atau saudaranya yang lain di dalam gelembung itu. Setiap pertanyaan yang dilontarkannya selalu lewat tanpa terjawab. pepohonan serta sungai-sungai dari angkasa. Sering satu atau dua jam merendam diri sambil mempermainkan buih-buih sabun yang memenuhi bath tub dia bisa merasakan kesendiriannya dan melupakan persoalan-persoalan yang menjerat perasan serta pemikiran. Warna-warni pelangi terpantul dengan indahnya. kau tak akan pernah merasa sepi atau sendiri. Ibu?” Bila ada waktu ibunya dengan tak bosan-bosan bercerita dongeng-dongeng Panji.Lelaki Tua dari Noumea Oleh: Waluya DS 150 Seperti biasanya untuk menghilangkan ketegangan urat-urat badannya lelaki tua itu mengambil bubble bath. permainan dan impiannya justru mengukuhkan rasa sepi dan sendiri. satu gelembung tetap bergantung di ujung pipa rumput kering itu tak mau pergi. Dongeng-dongeng itu begitu indah dan memukau. . Dan dia tak bisa mengerti kenapa orang tuanya meninggalkan Negeri Leluhur yang begitu mempesona. “Ceritakanlah negeri leluhur itu padaku. bahkan juga bagaimana keramatnya Kreto Kencono Kanjeng Susuhunan. Dengan hati-hati ditusuknya gelembung itu dengan ujung jarinya. Diamatinya kedua telapak tangannya yang penuh dengan buih-buih sabun yang memantulkan warna-warni pelangi. Diamatinya dengan lebih teliti gelembung itu. Ki Pemanahan. Sesekali ditiupnya buih-buih itu dan beberapa gelembung melayang berputar-putar. “Di negeri leluhur kita. Nak. Sutawijoyo. Damarwulan. dengan pipa dari semacam rumput kering dia menghembus air embun dan belasan gelembung beterbangan dipermainkan angin. Persis seperti masa kanak-kanaknya di halaman belakang rumahnya di Noumea. Hanya secara kebetulan suatu hari salah seorang saudaranya begitu jengkel dengan pertanyaan yang selalu berulang-ulang memberikan jawaban yang cukup memuaskan. Juga nampak bayangan dirinya yang lucu. Joko Tingkir. Dia pikir bila gelembung ini terbang nanti bersama potret dirinya itu. Dan setiap kali gelembung-gelembung sabun itu pecah dia merasakan satu kekecewaan seperti tergugah dari impian yang mempesonakan. Buih-buih sabun itu semakin bertambah setiap kali dia berkecimpung. sedang kedua orang tuanya selalu sibuk dengan usaha dagang mereka. Dengan hati-hati dihembusnya gelembung itu yang semakin membesar.

” “Tapi itu hidupku sendiri. dia merasa terpenjara oleh adat dan kebudayaan yang lebih merupakan beban daripada usaha manusia untuk memuliakan hidupnya. “Nah. itu lebih penting. “Kau mau tahu jawabanku atau mau protes melulu?” Dia hanya mengangguk karena jawaban saudaranya terasa lebih penting daripada mempertengkarkan namanya. bapak merasa tidak punya tempat dan hak. Setiap adat dan kebudayaan punya kelebihan dan kekurangan yang tak bisa dicomot di sana-sini.“Rupanya dongeng-dongeng ibu telah begitu meracunimu. bapak melakukan usaha dagang bersama yang cukup berhasil. Kau hanya harus terima utuh. Tentu hasil usaha dagang itu juga dipakai untuk membiayai kegiatan mereka.” “Namaku Aryo dan bukan Rio. Jangan kau biarkan angan-anganmu menggelembung dan menelan dirimu sendiri nanti. Rio. karena cintanya pada kita semua. Sebagai putra seorang pangeran yang dilahirkan oleh salah seorang selir. Kebanggaan yang baru kau tunjukkan itu tak ada artinya sekali di sini. bukan? Untuk menghindarkan hal-hal yang tidak di inginkan. Lebih baik kau coba membina hidupmu di sini.” protesnya.” “Tapi namaku bukan Rio. ada huru-hara yang dilakukan oleh kalangan tentara penjajah Belanda yang didalangi Tuan Sneevliet. Dan juga diberitakan bahwa usaha dagang bapak sebenarnya hanyalah usaha terselubung untuk memudahkan gerakan kader-kader Komunis. 151 . bapak membawa kita untuk memulai hidup baru di Noumea.” potongnya. Rio. Pertemuannya dengan Tuan van Stifhout. “Bagus. waktu itu kau masih dalam kandungan.” “Aku hanya ingin supaya kau tak kecewa nanti. Salah satu di antaranya. Dia lebih senang dipanggil dengan nama sebenarnya yang lebih punya bobot karena nama Aryo mencerminkan darah bangsawan yang mengalir di tubuhnya. Kau sudah menunjukkan satu kemajuan ke arah pemikiran yang praktis dan realistis. pendeta Belanda yang akhirnya membaptisnya sebagai orang Kristen telah membukakan lembaran baru dalam hidupnya. Didesas-desuskan bahwa bapak ikut terlibat hanya karena pernah terlihat berbicara dengan Tuan Semaun yang merupakan kader Tuan Sneevliet. apa kataku. Lupakanlah dongeng-dongeng dan Negeri Leluhur itu. Banyak usaha dilakukan untuk mendepak bapak. Dengan salah seorang anggota jemaah gereja yang lain Babah Loo Cin Yong. Orang selalu dengan gampang mencelupkan tangan untuk ikut mengeruhkan suasana. Sebagai keluarga bangsawan jadi Kristen dan punya usaha dagang dengan orang Cina terlalu memalukan keluarga.” “Maksudmu?” “Dengan bapak kita di Negeri Leluhur dahulu.

Apalagi ketika dia tahu bahwa Sri Sultan menjabat wakil presiden. “Kau sudah gila. Kehidupan dan tata cara mereka tak ada yang berubah bukan? Lalu bagaimana dengan pendatang-pendatang Vietnam? Mereka mengirimkan uang dan senjata untuk melanjutkan perjuangan melawan kekuatan Komunis. Hanyalah orang Kanak orang pribumi. Betapa gembiranya ia ketika suatu hari sebuah kapal berlabuh dengan kelasi-kelasi yang bisa berbicara bahasa Jawa yang sedikit-sedikit dia bisa mengerti. Dia merasa tidak begitu akrab dengan nama Indonesia. bapak dengar khabar bahwa orangorang Komunis atau yang dicurigai sebagai Komunis dibuang ke Digul oleh pemerintah penjajahan. Semua urusan ketatanegaraan sudah diatur oleh orang pribumi sendiri. tapi daerah Perancis Selatan. Tapi tak bisa di sini. orang-orang Kanak. Dan para kelasi itu bilang kapal ini akan jadi kapal pelatih bagi pelaut-pelaut Indonesia. Mungkin dongeng-dongeng dan riwayat bapaknya sebetulnya tak pernah ada. sebuah nama yang pernah didengar dari dongeng ibunya. Dia betul-betul merasa tersisih mencari tempat berpijak meskipun saat ini hanyalah dalam dongeng-dongeng dan kerinduan pada Ratu Adil. Memang tidak gampang memisahkan benang yang kusut. Daerah ini bukanlah daerah Pasifik. Dia merasa begitu bahagia bahwa ternyata dongeng ibunya bukan hanya omong kosong belaka. Dia merasa bangga ketika tahu bahwa tak ada pemerintah penjajahan lagi. Para kelasi itu menjelaskan bahwa daerah ini hampir meliputi sebagian besar daerah Sumpah Palapa Gajah Mada. Kita semua punya hidup yang harus diurus di sini. Lebih baik memulai satu kehidupan yang baru seperti nasehat saudaranya. orang-orang Perancis. dan dirinya begitu berbeda. “Tapi bukankah itu justru kelebihan kita?” belanya. Rio! Lupakanlah angan-anganmu itu. Kenapa harus merisaukan martabat keluarga yang sebetulnya tidak dengan tulus menerima bapaknya sebagai bagian dari keluarga itu? Bukankah tanggung jawab bapaknya sebenarnya hanya pada keluarga mereka sendiri? Seharusnya bapaknya lebih baik tetap di Jawa untuk membuktikan bahwa dia tak ada hubungan sama sekali dengan kaum Komunis. Kapal itu bernama Dewa Ruci. Bagaimana kalau semua itu hanya tutur kata untuk menghiburnya saja? Tapi setiap kali melihat sekelilingnya. Sedang Ngayogyakarta Hadiningrat menjadi daerah istimewa di bawah kekuasaan Sri Sultan Hamengku Buwono. Dengan melarikan diri bukankah ini justru memperkuat tuduhan yang sebenarnya. Bahkan dia merasa beruntung mengambil keputusan sebelum tuduhan atas dirinya menjadi-jadi.” Jawaban saudaranya itu justru menimbulkan beberapa pertanyaan baru. Tiba-tiba dia merasa punya tugas yang harus diemban untuk mengembalikan kekuasaan mutlak Sri Sultan. bukan? Semua perayaan itu selalu menggodanya.Pernah kudengar bapak sedang bicara pada ibu bahwa bapak tidak menyesal sama sekali meninggalkan Jawa. Orang Perancis datang dari Eropa dan dirinya pasti punya tanah asal. “Lihatlah orang-orang Perancis ke mana mereka berkiblat. di Noumea yang semasa bukan tempatnya. Kau kira orang-orang Jawa di sana tak mampu mengatasi tantangan hidup mereka dan memerlukan uluran tanganmu?” damprat saudaranya ketika dia merasa sebagai titisan Nabi Musa yang harus membawa orang-orang Jawa di Kaledonia kembali ke tanah leluhur. Dan pulau Jawa hanyalah sebagian kecil dari Indonesia. Kalau kita tak mau tahu-menahu soal asal-usul 152 . Tapi ternyata punya pijaksana yang nyata bahwa keturunan Parikesit masih punya kekuasaan di pulau Jawa. Beberapa tahun setelah kita menetap di Noumea. namun dia hanya diam saja karena sudah berjanji tak akan bertanya-tanya lagi.

Dari seorang kawan dia mendengar bahwa di Monash ada seorang Profesor Yahudi yang ahli dalam bidang politik di Indonesia dan juga seorang Profesor Belanda yang ahli dalam masalah Mataram. anak satu-satunya mendapatkm kecelakaan ketika menyelam di laut. Kata dokter otaknya sudah rusak karena kekurangan zat asam. Kau tahu satu-satunya kesalahan mereka justru karena mereka tidak berasal dari manamana. Apalagi masih harus menga-suh cucumu Dewi bukan soal yang gampang. Sekali lagi gelembung-gelembung impiannya retak. Tapi dia masih belum merasa bahwa impian itu sudah di luar jangkauannya.” Dia merasa usahanya membujuk sanak saudaranya sia-sia belaka. Dia begitu tertegun membaca surat terakhir Dewi padanya: Jangan marah. Dan pendapat tanpa diberi ujud nyata dalam perbuatan bagiku tak ada nilainya sama sekali. Namun setelah beberapa tahun di Melbourne. Memang langkah pertama mewujudkan impiannya itu semakin kabur setelah Jatmiko. Kami sadar menghadapi beban mental merawat Jatmiko yang mati tidak hidup pun tidak. Akhir-akhir ini kami semua merasa begitu khawatir tentang kegilaanmu yang semakin parah. begitu berat. Dengarkan kami baik-baik. lewat surat-suratnya Dewi tidak pernah menyebutkan pengetahuan barunya soal Jawa. dan jangan kau biarkan kegilaanmu itu berlarut-larut. Mereka menjadi golongan minoritas dan kehilangan hak di tempat mereka sendiri. Dia merasa perlu pergi ke Melbourne untuk memberi beberapa petunjuk pada Dewi. Tak ada seorang pun selain istrinya yang setia mencoba memahami jalan pikirannya. Cobalah turun tangan bersama kami mengembangkan keluarga. Rio. Kakek. Dewi memang tumbuh menjadi wanita yang anggun semampai dengan tingkah yang lembut mempesona di samping otaknya yang cukup cemerlang. Dengan melakukan hal-hal yang positif akan mengembangkan self esteemmu.” “Bicaramu sudah begitu ngawur. Mata inti dari kuliah-kuliah mereka bisa dengan gampang kudapatkan dari buku-buku. kita tak akan jauh berbeda dengan orang Kanak. Untuk menjembati pertemuan Dewi dengan pangeran dari Jawa itu Dewi dikirimkannya ke Melbaourne untuk menggali ilmu di Universitas Monash. dari Profesor-profesor itu aku tak belajar apa-apa sama sekali. Jatmiko memang masih hidup. 153 . Mungkin kami harus mengundang dokter jiwa untuk memeriksamu. Dia ditemukan dalam keadaan lumpuh. Rasa kehilangan Jatmiko bisa segera terobati karena sepenuhnya perhatiannya tertumpah pada Dewi yang kehilangan ibunya waktu dilahirkan. Rio. Soalnya setiap orang bisa punya pendapat.kita dan hanya memikirkan hidup kita di sini saja. Tumbuh harapannya suatu hari nanti Dewi akan bertemu dengan salah seorang pangeran dari Jawa dan mereka akan menurunkan Ratu Adil yang senantiasa dinantikan itu. Sadarlah. Tapi yang ada tinggallah tubuhnya yang harus ditunggu kerelaannya melepaskan dunia yang fana. Aku lebih menemukan arti serta diriku sendiri dengan belajar melukis di Victorian College of The Arts.

langsung memberikan ciuman di kedua belah pipinya. ternyata dia masih bisa menahan diri dengan mengajak mereka makan bersama malam nanti. Tapi masalah berikutnya yang disampaikan oleh Dewi secara kalem itu menyambar seperti ledakan bom atom Perancis di Atol. Dewi sedang menantikan kelahiran anak pertamanya! Merasa dirinya sebagai priyayi Jawa dia tak bisa menunjukkan perasaannya yang sebenarnya. Di situ ada perguruan tinggi seni lukis dan sekaligus juga merupakan pusat kegiatan kesenian tradisionil Jawa yang adi luhung. Bukan salah Dewi kalau dia tidak mengerti rencanamu. Tapi kenalkan dulu. itu hotel yang mewah. Tapi mereka tidak pernah menyebutkam rencana kawin sama sekali. Setelah makan siang mereka menelpon Dewi yang tidak menyangka sama sekali bahwa kakek dan neneknya ada di Melbourne. karena John harus memberi kuliah dalam waktu setengah jam lagi. Mungkin karena ada John. salah-salah kakek dan nenek bisa dikira turis dari Jepang. dia dan istrinya menuju ke Australia. Rio. “What a lovely surprise.” Ya Allah ya Rabbi. Tanpa memberi khabar pada Dewi. John. Sejak kapan Dewi berbahasa Inggris pada mereka. Ini Rio dan Handayani. Dia pikir kalau Dewi memang tertarik pada dunia seni mungkin lebih baik dikirim ke Yogyakarta. Melbourne terasa begitu teratur dan rapi. kakek dan nenekku. Sedang kesan pertamanya seperti begitu formal dan konservatif. “I have a surprise for both of you too.” Sejauh ini dia masih merasa bisa mengontrol keadaan.“Jangan tergesa-gesa marah. Tak ada angin. Setelah mendarat di lapangan terbang Tullamarine mereka langsung menuju Hotel Windsor di bilangan kota. “Wah. John ternyata memang calon sang ayah yang tinggal bersama Dewi selama dua tahun belakangan ini. Dia harus merasa tetap tawakal dan sabar. Dia begitu senang bahwa Hotel Windsor adalah hotel yang mapan punya sentuhan kolonial. Banyak garis bengkok yang masih bisa diluruskan pikirnya.” jawabnya sambil memberikan nomor kamar mereka. “Untung tidak ke Southern Cross. tak ada mendung dan hujan tapi geledek segera menyambar. 154 . Dewi bukan sebangsa serdadu yang hanya menjalankan perintah tanpa berpikir atau mengajukan pertanyaan. Berada di Yogya pasti akan menghasilkan pengalaman langsung mengenal dan terlihat dalam tata cara adat istiadat Jawa. “Kakek dan nenek menginap di hotel apa?” “Windsor di Spring Street. Sebelum mereka pergi. Tidak seperti hotel-hotel modern yang baru yang begitu trendi.” Dewi dengan wajah yang berseri-seri muncul di depan kamar ketika dia membuka pintu.” bujuk dan peringatan istrinya yang hampir selama perkawinan mereka hanya selalu mengiyakan kehendaknya dan hampir tidak pernah menyatakan pendapat sendiri. Dan peluang untuk ketemu dengan Sang Pangeran Jawa itu juga akan lebih besar. tapi paling tidak pada mulanya Dewi seharusnya menyapa dalam bahasa Jawa. Sedapat mungkin diusahakan menunjukkan sikap kebijaksanaan calon seorang eyang buyut.” goda Dewi walaupun dia tahu bahwa kakeknya selalu punya selera yang tinggi. Kakek dan Nenek seperti sedang berbulan madu saja.

“Mandi yang bersih. kau mau piyama atau ganti pakaian untuk nanti malam sekaligus?” tanya istrinya membangunkannya dari segala kenangan. Sekarang tidak pernah ada seorang pun yang mengganggunya. Tapi kalau kita kepingin makanan Barat dengan suasana yang tidak terlalu formal. kita bisa ke Grill Room di basement. ingin dia menyebut istrinya Sembadra karena begitu bakti dan setia seperti istri Arjuna.” kata istrinya sambil menghampirinya. Rio. “Rio kau dengarkan aku atau tidak?” Lama tak ada jawaban. Air sudah kusiapkan semua. “Dia bilang kalau kita mau makan yang agak kerakyatan kita bisa ke Victoria Street. Sesaat kemudian dia berbalik menghadapi istrinya. Dia tersenyum sendiri. Dia membaringkan dirinya di bath tub dengan hanya kepalanya yang menyembul keluar. Dan aku begitu heran bahwa kau hanya tenang-tenang seolah-olah tak punya pendapat sendiri. “Kita bisa bicara dengan tenang nanti. lebih-lebih kalau kau mau mencoba sausages atau sate buaya sebagai entree. Gemericik air mengingatkannya pada kolam hias di halaman depan rumahnya. Sebelum masuk ke bath tub dilihatnya bayangan tubuhnya di kaca. Lalu kita bisa dapat supper di Graund Floor untuk ngobrol sambil mendengarkan permainan piano. masih nampak cukup tampan untuk seumurnya. Dia tidak bisa mengerti sama sekali bahwa Dewi bicara hamil di luar perkawinan tanpa rasa rikuh atau malu.” Dia tidak begitu mengacuhkan kata-kata istrinya dan sibuk mengenakan pakaiannya yang bersih.” ucap Dewi sebelum pergi. Dalam hati dipujinya istrinya yang selalu dengan baik menyiapkan air untuknya. “Dewi yang baru saja telpon.” Istrinya hanya mengangguk dan cepat-cepat keluar karena mendengar bunyi telpon berdering. Dengan telanjang dia berjalan menyeberang kamar menuju ke bathroom. “Lebih baik kau mandi dulu.“Ya. Dewi akan telpon dulu nanti waktu pulang dari periksa di ahli kandungan. bahkan seperti bangga sekali. “Beri aku pakaian yang bersih.” kata istrinya sambil memberinya sepasang pakaian yang bersih.” Dia lepaskan semua pakaiannya dan dibiarkannya terpuruk di karpet. aku kepingin jalan-jalan sebentar di Bourke Street. Biasanya bila sudah terlalu lama istrinya pasti masuk ke bathroom dengan membawa handuk yang bersih atau piyama. “Rio. Sebentar lagi istrinya pasti akan membenahi. Dikeringkannya tubuhnya dengan handuk lalu ditaburinya dengan talek yang lembut baunya.” Dia ingat ibunya selalu menegurnya bila ia terlalu lama bermain-main saja di bath tub. ke restauran Vietnam. “Ya. tidak terlalu panas dan campuran bubble bath cukup creamy dan kaya akan buih. Dihempaskannya badannya ke kasur dan langit-langit kamar seolah berputar. Rio.” 155 . pintu masuknya dari Little Collins. Dari bathroom terdengar bunyi kran dibuka. kau banyak sekali kokot bolot seperti kuli yang tidak pernah mandi.

Dia tidak menjawab dan istrinya pergi menelpon room service memesan sebotol anggur kesenangannya dan minta diberi dua gelas. “Sejak kapan kau ikut memusuhiku?” “Kau mau mendengarkan pendapatku atau hanya mau memancing pertengkaran saja?” Dia hanya melotot tak bisa percaya bahwa wanita yang sedang bicara di depannya adalah istrinya yang sudah bertahun-tahun hidup bersamanya. “Kesalahanku kenapa aku tidak pernah berusaha mencari saudarasaudara bapakku di Jawa.” “O. Aku bicara dengan jujur seperti ini karena aku mencintaimu.” Dia menarik napas panjang dan melangkah menuju ke jendela sambil setengah berkata pada dirinya sendiri. dia. kesalahanmu justru kenapa kau selalu bicara apa maumu saja dan tidak pernah memikirkan keinginan dan pikiran orang lain.. Apakah kau anggap aku ini babu atau istrimu itu tidak soal bagiku. aku tak punya pendapat karena aku tidak tahu sama sekali soal Negeri Leluhur itu. Rio. “Aku mau pesan minuman. Cinta yang tulus adalah cinta yang tanpa pamrih.” Tiba-tiba dia tidak tahan melihat air mata meleleh di pipi istrinya. Kalau aku tahu mereka.. itu.” “Kau tahu. Aku tak mau bicara. “Kau tahu kenapa kita kemari!? Untuk apa kita ke Melbourne?” “Kau jangan membentakku seperti itu. “Kalau soal impian gilamu mengenai Negeri Leluhur itu terus terang saja aku tak punya. Dia begitu geram mendengar kata-kata istrinya yang datar tapi cukup tajam.” Dia begitu tersentak ketika untuk pertama kalinya istrinya berani menegurnya. Aku tidak peduli apakah kau mencintaiku atau tidak. Ia adalah pengorbanan itu sendiri. Rio. Rio. Meskipun keturunan orang Jawa aku hanyalah wong cilik keturunan kuli kontrak. Tapi soal Dewi.. kau mau juga?” tanya istrinya. “Dewi! Dia. Kuharap kita bisa berbicara secara lebih beradab. “Jangan kau anggap aku melawanmu. Rio. dulu Dewi pasti kukirim ke sana. Dibukanya pintu ketika pelayan datang membawa pesanan istrinya.” potong istrinya.“Pendapat dalam hal apa?” tanya istrinya.” Hening dan mereka berdua saling bertatapan. Kau boleh punya ukuran moral yang tinggi untuk hidupmu sendiri. Rio. Tapi kau tak boleh memaksakan ukuran itu untuk hidup orang lain. Anak yang dia kandung itu adalah buyut kita sendiri. ya dia hamil. 156 . Namun ia mencoba menutupi keharuannya.

“Shall I open the bottle now. Dia reguk anggur itu setelah si pelayan pergi. “Rio. Pelayan itu tersenyum lebar menerima tip yang lumayan.*** 157 (Dimuat dalam Horison. apa yang kita cari dalam hidup ini selain kebahagiaan? Bagiku yang lain-lain tidak soal selama Dewi merasa bahagia untuk dirinya sendiri.Ditandatanganinya nota bon supaya bill itu dimasukkan dalam rekeningnya nanti. Istrinya memandangnya dengan pandangan tidak percaya.” Dia hanya mengangguk dan pelan-pelan terasa pundaknya yang berat menjadi ringan. Sir?” Dia hanya mengangguk dan pelayan itu membuka botol serta menuangkan anggur ke kedua gelas untuk dia dan istrinya. Maret 1990) .

bahkan kuda-kuda itu sendiri bagaikan tidak lagi menunggu perintah untuk segera memacu diri mereka. dingin angin bagaikan mengiris wajah-wajah kami yang sebetulnya toh cuma tampak matanya saja.Tempat yang Terindah untuk Mati Oleh: Seno Gumira Ajidarma 158 Kami. Kuda-kuda kami saling berpacu dengan perkasa. dan berteriak-teriak meluapkan kegembiraan kami. bendera. Kami. dengan tenaga baru yang seolah-olah begitu saja datang dari langit. dan umbul-umbul kini membuka jalan ke depan. seolah-olah bahkan jiwa kami kalau bisa lepas dari belenggu badan. gelap. Para pembawa panji. dan penuh dengan rintangan. bumi bergetar oleh derap pasukan yang melaju dan menggebu. melesat dan menggebu. berderap melaju menuju cakrawala. Di hadapan kami kini terbentang padang stepa yang begitu luas bagaikan tiada bertepi. Semuanya terbungkus. “Pacu! Pacu! Pacu!” Kami semua berpacu sepanjang padang stepa yang terbuka sambil berteriak-teriak menuntaskan kegembiraan kami. Bendera raksasa yang berkibar dan menyibak angin itu terlihat menggetarkan. Kuda-kuda kami berpacu dengan riang. Padang stepa diselimuti salju yang tipis. Kami juga mengenakan topi dan sepatu dari kulit binatang berbulu tebal. . begitu juga tangan kami yang memegang kendali. berpacu melawan angin. Namun sekarang. “Pacu!” Orang-orang yang berada paling depan sebenamya tidak usah menunggu diperintah untuk memacu kudanya. 10. seperti mengerti betapa jiwa kami telah lama begitu tertekan dalam perjalanan berat menempuh hutan yang rapat. lepas dari kungkungan jurang dan tebing yang serba menjulang dan mencekam. padang yang terbuka itu bagaikan pelepasan yang lebih dari memadai untuk melampiaskan kerinduan kami akan kebebasan. melesat secepat-cepatnya bagaikan berpacu dengan angin dingin yang bertiup begitu kencang menggigilkan tulang. Kami menggebu begitu laju. akhirnya keluar dari hutan itu.000 pasukan berkuda. mendesing menuju kebebasan. 10. Kuda-kuda kami menggebu. cuma inilah yang bisa kami lakukan.000 pasukan berkuda. Setelah hampir berminggu-minggu hanya merayapi jalan setapak di antara pohon-pohon dan semak belukar. Seluruh tubuh kami terbungkus jubah bulu binatang yang tebal dan berat. “Huuuu! Huuuuu! Huuuu!” Satu per satu penunggang kuda yang keluar dari hutan segera melaju.

Tanpa kuda. Kami bisa berhenti dan menetap di suatu tempat untuk satu. namun sampai sekarang tiada satu alasan pun bisa menghentikan kami. Jangankan berpacu yang begitu menggembirakan. Burung-burung kondor beterbangan melingkar di langit mengincar pengembara yang sekarat kehausan ketika kami berpacu. Cahaya matahari menyiram padang. bahkan bisa lima tahun. Kuda-kuda kami masih terus berderap. Kami selalu berpindah sesuai dengan pergantian musim. Hutan di belakang kami kini bagaikan titik-titik hitam. selalu bertualang. surai kudakuda kami yang tebal melambai-lambai dengan megah dan seluruh gerak tubuh mereka bagaikan menari dengan indah. Kami berpacu. dan peredaran bintang. Kini kami semua sudah siap menempuh perjalanan yang terakhir. Seekor ikan salmon menangkap umpan dan tersendal pancing ke udara ketika kami berpacu. Kami terus-menerus berderap sepanjang padang. Sampai di manakah suatu perjalanan berakhir? Apakah mungkin suatu perjalanan berakhir? Apakah mesti suatu perjalanan berakhir? Sudah bertahun-tahun kami mengembara dan kami tidak pernah merasa yakin kapan suatu perjalanan bisa berakhir. Begitu luasnya padang gurun ini sehingga kami merasa berjalan di tempat. dan segera lenyap di balik kaki langit. kami mendaki celah-celah gunung. perjalanan kami masih jauh lagi. bahkan perjalanan berminggu-minggu di dalam hutan yang melelahkan pun kami lakukan asalkan kami bisa mencapai tempat tujuan. Kami bagaikan berpacu di atas permadani tanpa tepi. Kami tidak mengerti apa jadinya hidup kami tanpa kuda. Langit yang tadi bagai tempurung raksasa membiru kini semburat merah terbakar. Kuda-kuda kami terus berpacu dengan laju. namun kami selalu berangkat kembali. bagai berpacu dengan angin.Kaki-kaki kuda kami bagaikan tak mengenal lelah. “Huuuuu! Huuuuuu! Huuuuuuu!” Kami berderap dan berpacu memburu matahari yang terbenam ke balik cakrawala. Kami selalu bepergian. tapi kami tidak juga ingin berhenti. Kami bersedia membayar segalanya untuk perasaan merdeka yang kami dapatkan. Rumah kami sekarang adalah perjalanan itu sendiri. namun yang maknanya seperti selalu menghindari kepastian. dan berpacu. Kuda-kuda memang lebih dari sekadar bagian hidup kami. dan kuda-kuda kami tetap setia mengikuti sampai akhir tujuan. Kami tahu. selalu berpindah. Apakah yang terjadi di tempat-tempat lain ketika kami berpacu? Panah seorang pemburu sedang melesat ke jantung seekor rusa ketika kami berpacu. Telinga kami semua penuh dengan desau. kini kami mengambil peluang untuk meraih kegembiraan. Selama berjam-jam kami akan berpacu dan kami akan tahu bahwa pemandangan ini tidak akan pernah berubah. menancap kemerahan bagai kuil yang menanti penziarah dari segenap 159 . Di telinga kami angin bersiut dan menderu. Langit hanya biru. Kami mengembara dan menjelajah segenap permukaan bumi untuk mencari suatu akhir. Benarkah seekor gajah menegakkan belalainya dan melengkingkan bunyi terompetnya nun entah di mana ketika kami berpacu? Seseorang mendayung perahu menuju matahari terbenam ketika kami berpacu. berpacu. kami mengarungi gurun pasir. apalah artinya kami? Kuda-kuda kami selalu mengerti apa yang kami inginkan. Semua ini tak bisa lancar tanpa kuda sepanjang pengembaraan. dan mereka selalu memenuhi segala kehendak kami dengan memuaskan. dan kini kami berpacu di tengah padang tanpa tepi. Padang stepa yang terbuka masih tidak memperlihatkan apa-apa kecuali hamparan rumput kering yang kelabu dengan polesan salju. Matahari terasa betapa berat. perjalanan angin. Kami menyeberangi sungai. dua. berpacu dan berpacu. yang kadang-kadang terdengar seperti sebuah percakapan. Setiap orang memacu kudanya ke cakrawala yang melingkar 360 derajat.

10.. Apakah rembulan bisa memahami. seruling. *** Tempat itu dinamakan Lembah Sepuluh Rembulan. Kami mencintai keindahan seperti mencintai kehidupan itu sendiri. Tapi apakah rembulan mengerti arti lagu seruling itu? Seruling itu berkisah tentang riwayat kami yang panjang dengan bahasa kami sendiri. dan mendengarkan seseorang bercerita. Ia meniup seruling di atas tebing." Kami selalu membutuhkan cerita. Kalau matahari itu menghilang di balik cakrawala. menghadapi segenap rintangan alam maupun suku-suku musuh kami? Apakah rembulan mampu menangkap gelora semangat pengembaraan kami? Tak terhitung lagi berapa orang telah mati dan berapa bayi telah dilahirkan sepanjang perjalanan dari kampung ke kampung. kami menyembah bumi. Beberapa orang masih minum susu hangat yang beraroma teh. Lembah Sepuluh Rembulan adalah suatu lembah gersang dengan dataran yang sangat luas.000 orang dari kami berkemah. menjadi bayang-bayang kehitaman yang melesat ke suatu arah. semenjak begitu banyak tahun yang telah lama berlalu. kami harus memburunya ke balik cakrawala. seolah-olah berhadapan dengan rembulan . dan kuda.bahkan rembulan seperti turun ke bumi hanya untuk mendengarkannya meniup seruling. betapa berat penderitaan suku kami sepanjang perjalanan mengarungi benua itu. Kami siapkan kantung-kantung tidur dan selimut kami. Ia meniup seruling sambil duduk di sebuah batu di atas tebing. Kami berderap dan berpacu menuju matahari itu. Di setiap danau itu setiap 1. Berkisah tentang kafilah panjang yang menyeberangi gurun. Kami menyembah langit. Di setiap api unggun masih tampak orang-orang membakar sisa-sisa daging perbekalan mereka dan mengunyahnya dengan lahap. orang-orang yang mengendarai kuda dengan tertunduk. sementara seorang nenek tua bersenandung dengan suara buruk tentang tanah air yang sudah mereka tinggalkan. ketika kami akhirnya sampai ke lembah itu. musim dingin belum berakhir sehingga sepuluh danau itu masih menjadi dataran salju. "Maka sang raja pun jatuh cinta kepada wanita dari negeri seberang itu. Bila bulan yang perak itu muncul di langit malam.. Di Lembah Sepuluh Rembulan inilah kami akan menunggu 100.. betapa nun di sebuah benua yang jauh bertahun-tahun yang silam suku kami berkemas untuk sebuah perjalanan yang tak kami ketahui kapan akan berakhir? Apakah rembulan mengerti. Kami membiarkan kuda kami menjilati lelehan salju dan merumput di sana-sini. Seseorang dari kami tampak meniup seruling di kejauhan itu. Bukit-bukit batu yang menjulang dan membentuk lembah ini melindungi kami dari angin sehingga kami bisa menyalakan api unggun. Kami. dari lembah ke lembah.000 saudara-saudara kami. cahayanya dipantulkan kembali oleh permukaan danau yang diselimuti salju. dan anak-anak yang tidur dengan gelisah di dalam gerobak-gerobak penuh barang dan bahan makanan. Ada sepuluh danau di lembah yang luas membentang itu dan seharusnya ada sepuluh rembulan mengapung di atas sepuluh danau. Namun. dari bukit ke bukit. 160 .penjuru bumi. Kami memuja rembulan dan matahari. Langit masih membara.000 pasukan berkuda.

Maka terlihatlah gerak cahaya rembulan yang memantul di dinding-dinding batu. Di Lembah Sepuluh Rembulan hanya terdengar desau angin. Suara-suara itu dibawa angin ke bukit-bukit di mana anak-anak gembala memainkan serulingnya sambil tiduran di atas kerbau -. dan kami menyukainya karena memang tidak pernah ingin kehilangan masa lalu kami yang semakin hari serasa semakin indah. Tinggal bara api menyala diam-diam. Kami. 161 *** Setahun kemudian seorang pengawal di atas tebing berteriak.000 pasukan berkuda. peniup seruling itu masih di sana. Angin masih terus bertiup dan tak akan pemah berhenti. mereka yang sebagian terdiri dari wanita. Kemudian. Kemudian. bahkan ia menyeberangi samudera mahaluas. Di dalam tenda itu kami bisa memasak sekaligus menghangatkan diri kami. Kami mengerti betapa angin akan mengembara ke segenap penjuru bumi. Ketika kami semua bersiap tidur dan memandang bintang gemintang di langit. Kadang kami tidak tahu apa yang harus kami perbuat. melanjutkan kerinduannya yang panjang akan kampung halaman kami yang terletak di sebuah dataran tinggi di tepi sungai. Apabila 100. makin lama makin menghilang. dengan latar belakang pegunungan yang menjulang megah. menjelma gambar-gambar yang berkelebat dari masa lalu kami. Tenda-tenda kami adalah tenda yang besar dan hangat. 10.000 saudara-saudara kami tiba. dan orang tua. Bertengger di atas sana. tinggal kesunyian di Lembah Sepuluh Rembulan. tapi juga karena kulit berbulunya yang tebal kami butuhkan untuk membuat tenda. karena musim dingin yang selalu berangin akan terus-menerus menguji ketabahan hati kami. Seruling itu mengingatkan kami kembali kepada kampung halaman leluhur kami yang sungainya tidak pernah membeku. tertidur dengan pulas. sudah berabad-abad bentuk tenda kami tidak pernah berubah. Sesekali tertutup awan. bukan hanya karena daging binatang buruan kami perlukan untuk menimbun perbekalan yang mulai menipis. menghubungkan kami dengan segenap unsur kehidupan.Apakah yang akan kami lakukan selama hari-hari penantian kami? Tidur tanpa tenda adalah suatu siksaan yang berat bagi kami. tiada yang mendengkur sama sekali. Barangkali kami akan memanfaatkan waktu untuk berburu. Betapa selalu masa lalu berada dalam diri kami. anak-anak. di mana bila senja tiba di tepi sungai akan terdengar derai tawa ceria gadis-gadis yang mandi. Betapa segala hal di muka bumi ini saling berkaitan. “Hooooiiiii! Mereka sudah datang!” . Gemeretak api unggun segera berakhir. sementara di kejauhan terdengar gemerincing anting-anting dari daun telinga yang panjang itu dicuci.inikah sebabnya suara seruling itu membuat kami diam? Kami sedih. Kami sudah menempuh perjalanan yang panjang dan kini kami ingin tidur. Rupa-rupanya bulan yang turun mendengarkan suara seruling mengangkasa kembali. Kami pasrah. ketika suara seruling itu lenyap ke balik malam barangkali kami masih mendengarnya di dalam mimpi-mimpi kami. akan membutuhkan tendatenda itu.

Mereka yang terdepan akhirnya bertemu muka dengan kami. siap menempuh perjalanan untuk mati. Seperti apakah mereka kini? “Huuu! Huuuu! Huuuu!” Kaki-kaki kuda.000 orang lagi. penuh dengan debu. berderap dan berpacu. Kami semua turun dari kuda. Rombongan yang terdepan itu masih menanti mereka yang terseok di belakang. kami baru akan mengetahuinya nanti. Tentulah jumlah mereka sudah tidak genap 100. namun kami juga tahu hari-hari kami akan lebih menggembirakan. dan memacunya ke tempat-tempat yang tinggi. Berkibar dengan megah. Kami menggebu dengan perasaan rindu dan penuh dengan cinta. menari di atas perahu. namun betapa dari sinar mata mereka terpancar jiwa pasrah dan ikhlas. Mereka semua telah menempuh perjalanan yang panjang di jalan yang telah kami rintis. Begitulah kami akan membaca puisi di tepi danau. gajah dan unta. Kemudian kami melihat panji. dan umbul-umbul yang sama. dan terbentanglah di hadapan kami pemandangan yang menggembirakan itu. Kami tahu hari-hari akan menjadi lebih berat. seperti yang sudah-sudah. dan melakukan meditasi bersama dari malam sampai pagi di bawah 162 . bergetar-getar dalam tiupan angin. Semua ini menggetarkan jiwa kami dan kami merasa betapa setiap detik dalam hidup kami sangat mempunyai arti. Saudarasaudara kami masih merupakan sosok-sosok hitam yang seolah-olah berjalan di tempat. Masing-masing dari kami kemudian berhenti dan berhadapan. Tak kurang dari 100. bendera. kami menggebu menyambut 100. memetik kecapi di puncak bukit.000 saudara-saudara kami yang masih merupakan sosok-sosok hitam di kaki langit itu. Dengan perasaan yang sangat tidak sabar dan menggebu-gebu. Ketika saudara-saudara kami melihat kami datang menyambut mereka.000 saudara-saudara kami muncul dengan meyakinkan dari balik kaki langit. Dengan segera. Hari sudah menjelang senja. langsung melompat ke atas kuda kami. Senja itu langit yang ungu serasa begitu cerah. Tentu ada yang mati dan lahir sepanjang perjalanan. seluruh pakaian mereka usang dan kelabu. dengan gerobak. “Akbar!" “Abdul!” Kami semua berpelukan dengan penuh rindu dan penuh dendam. Kami menyatu kembali dalam gairah kehidupan yang panas. kami berlari-lari turun dari bukit. langit bagai tenda raksasa berwarna ungu. pemandangan yang kami nantikan. sebagian dari mereka yang mengendarai unta dan berkuda segera melesat ke depan ingin segera bertemu dengan kami. Angin begitu dingin. Lebih banyak lagi yang berjalan kaki. Tiada yang lebih menggairahkan selain kehendak yang menggebu menjumpai orang-orang tercinta. Wajah-wajah mereka tampak lelah dan kuyu. kereta. Suku kami telah bersatu kembali di bawah langit dan bumi yang sama. Sebagian yang lain malah langsung keluar dari celah lembah. Sosok-sosok hitam itu makin lama makin membesar.Kami semua segera melompat ke atas kuda. namun tiada akan ada satu pun halangan kini bagi kami untuk mengungkapkan sukacita kami.

Gajah-gajah yang kami bawa berbulu tebal. kami berjalan kembali ke Lembah Sepuluh Rembulan sambil menyenandungkan lagu syukur dari hati. Kami yang telah tinggal di sini selama setahun. Kami membagi diri kami berdasarkan pemukiman di sepuluh danau sehingga setiap 10. Kami begitu siap untuk bahagia. Kami menatap saudara-saudara kami yang baru tiba dan merasa sedih meskipun gembira. Maka begitulah kami segera bekerja begitu tiba di Lembah Sepuluh Rembulan.rembulan dan matahari. dan kini begitu kurus. dan kami menguburkannya di tengah jalan. Adapun pasukan berkuda yang merintis jalan masih tetap berjumlah 10. Saudarasaudara kami yang baru datang itu begitu lelah dan begitu kurus sehingga agaknya kami masih akan bertahan beberapa lama lagi di sini sebelum kelak berkemas dan berangkat kembali. kami mengatur pengelompokan sesuai dengan asal-usul setiap keluarga di kampung kami. Dalam perjalanan itu 53 orang dari kami meninggal. “Sarita!” “Maneka!” Mengapa kita bisa terus-menerus memikirkan seseorang meskipun kita berjarak begitu jauh dari seseorang itu dan telah berpisah begitu lama sehingga kadang-kadang sebenamya susah mempertahankan ingatan atas seseorang itu dari hari ke hari dalam suatu perjalanan yang terus-menerus berubah warna? Namun. Semua orang tampak tak terurus. 163 . Kami tahu kami akan menyanyi dan menari malam ini. Kami akan membakar daging rusa dan kami akan memakannya sepuas hati. begitu juga unta dan kudakuda kami. Paduan suara lagu kami dipantulkan kembali oleh dinding-dinding tebing dan semua ini hanya mengingatkan betapa kami sebagai manusia sungguh memiliki nilai yang hakiki. jadi mereka hanya melihat sepuluh danau yang membeku. dan begitu penurut sehingga kami sungguh berterima kasih dengan segala pengorbanan mereka dalam perjalanan kami. Betapa mereka begitu tabah. begitu mengerti. kami menyalurkan kebahagiaan kami dengan suatu cara yang hanya kami bisa melakukannya. menyeberang dari benua ke benua hanya untuk selalu pergi dan tak akan pernah kembali? Kami terus-menerus saling berpelukan dengan jerit dan tangis yang makin menjadi-jadi. Kami tidak bermabukmabukan dan lupa daratan. Langit memberkati kami. Bahkan ketebalan es di atas danau itu mampu menahan beban gajah yang berjalan di atasnya. Mereka begitu jinak.000 orang dari saudara-saudara kami yang baru tiba akan bergabung dengan setiap 1. Kami mendirikan tenda bagi orang-orang yang sakit. bisa melihat bagaimana sepuluh rembulan itu mengapung di atas sepuluh danau selama musim panas yang tetap saja dingin.000 orang. Kini semuanya sudah berada di Lembah Sepuluh Rembulan.000 orang. Saudara-saudara kami yang 100. Kami akan membagi arak dan anggur dan kami akan menuangkannya ke atas daging bakar yang merah berasap membangkitkan lapar.000 orang itu datang pada musim dingin. sementara itu 53 bayi dilahirkan sehingga jumlah saudara-saudara kami yang baru datang itu tetap genap berjumlah 100. tapi siapakah yang akan bisa tampak terurus dalam perjalanan panjang. Kami semua menemukan masing-masing keluarga.000 orang dari pasukan berkuda kami. betapa tiada jarak lagi kini bagi kami. tapi kami menahan kegembiraan meluap kami sebagai bekal menahan penderitaan pada masa-masa yang akan datang. Wanita dan anak-anak kami berambut kasar dan merah.

dan menapaki gigir-gigirnya yang mengerikan. Ada semacam cahaya dari langit dalam hati yang terus-menerus bergerak setiap kali kami melangkah mendekatinya. dan lumpuh kami naikkan ke atas gajah-gajah kami yang masih setia. Gajahgajah ini berbadan besar. orang sakit dalam tanduan. merayap di jurang yang curam. khusyuk dan meyakinkan. 110. Tentu mereka tahu jalan yang terbaik buat gajah sehingga kadang-kadang mereka harus memisahkan diri untuk bertemu lagi di suatu tempat lain. Kami berangkat pada pagi subuh.000 orang. Kami jarang bercakap-cakap di antara kami karena hati kami sekarang hanya berisi penyerahan diri kepada kehidupan. Kami. Mereka yang telah menjadi tua. Kami tidak pernah memacu kuda kami kecuali jika kami putuskan berhenti sebentar untuk berburu. Mereka yang mati . Begitulah kami berjalan. mendaki gunung-gunung batu. melangkah perlahan-lahan menapaki jalan yang telah dikodratkan bagi kami. kaki mereka yang besar menapak dengan lincah di jalan setapak dan keseimbangan gajah-gajah ini sangat baik dalam pendakian dinding-dinding yang curam. dengan bayi di gendongan. Bulan masih menggantung di langit. 110. bahkan mata mereka pun bagai menatap sesuatu yang penuh dengan pesona. menempuh ngarai. 164 *** Sudah berbulan-bulan kami terus berjalan. menembus badai.000 orang. dan menyeberangi sungai. Kami berjalan menapaki jalur di antara lembah. Sebelum matahari terbit kami sudah berangkat lagi. Kadang-kadang perpisahan ini bisa sampai berharihari lamanya. Begitulah di antara kami kemudian ada yang meninggal dan kami pun segera menguburnya tanpa meninggalkan upacara yang diharuskan. dan hewan-hewan peliharaan yang tak boleh ditinggalkan. 110. Pada musim semi danau masih membeku. Kadangkala tiba saatnya seorang wanita harus melahirkan di tengah jalan. kami semua. sementara yang lain meneruskan perjalanan. maka sebagian dari kami pun berhenti mengurusnya. Kami terus-menerus berjalan dengan hati yang terpaut kepada cahaya. dan berjalan mengarungi gurun. berjalan. menyebar seperti semut bila tiba di padang terbentang.Begitulah selama beberapa bulan yang tenang kami tinggal di Lembah Sepuluh Rembulan. tapi kami rombongan 110. Kami semua. Ketika matahari terbenam kami semua beristirahat dan tidur. Kami. kuda dan unta melangkah pelan tapi pasti seperti doa yang diucapkan perlahan. Ketika tiba musim panas. lemah. Mata mereka mengatakannya. Rombongan kami membentuk barisan yang panjang bila melewati celah yang curam.000 anak manusia terus-menerus melangkah. dan setiap orang yang melihatnya tersenyum dalam hati. namun seperti tidak mendapat halangan jika berjalan di dalam hutan. Dari atas tebing kami menoleh untuk terakhir kalinya ke Lembah Sepuluh Rembulan. jalanan setapak berlumut yang begitu licin dan terlalu sering memelesetkan. namun rerumputan menjadi lebih hijau. Barangkali mereka juga melihat cahaya itu yang hanya bisa ditatap dengan mata hati di langit jiwa masing-masing yang mengerti dari mana hidup ini datang dan ke mana hidup ini pergi.000 orang dengan segala hewan peliharaan tidak pernah benar-benar saling terpisah. Bayi-bayi seperti tahu diri untuk tidak menangis. Kami melihat sepuluh rembulan mengapung di atas sepuluh danau. Semua orang yang pergi mendahului mati dalam pelukan cahaya. berkemas dan bersiap melanjutkan perjalanan.000 orang. 110.

Kami semua terpana dan terpesona dan merasa segala-galanya tiada berarti lagi selain keinginan untuk menuju sumber suara dan mimpi-mimpi itu. Sebegitu buruknyakah kehidupan sehingga kematian bisa menjadi impian terindah bagi 110. Kami tak lagi mengerti apakah mimpi-mimpi kami merupakan warisan darah yang diturunkan ataukah memang datang dari langit malam yang penuh dengan khayalan. menuju sebuah dunia di alam sana yang hanya bisa dihayati setelah kematian. ini bukanlah tempat yang dimaksudkan dalam mimpi-mimpi kami tentang tempat yang terindah untuk menuju kematian karena tempat itu memang tidak terletak di muka bumi ini. Dari gurun ke gurun rombongan kami berjalan. Kami melewati desa dan kota yang penduduknya melihat kami lewat bagai pawai panjang dari sebuah tontonan yang mengherankan. Dunia kami memang berubah semenjak menerima tanda-tanda yang begitu memikat untuk diberi tanggapan. Kami melangkah.000 orang yang tadinya hidup tenteram di tepi sebuah sungai dengan latar belakang pegunungan biru yang menjulang bagai tempat persemayaman dewa-dewa dari suatu dunia entah di mana bagai negeri yang hanya ada dalam dongengan? Kami pergi meninggalkan kampung halaman kami dengan meninggalkan segala kebahagiaan yang telah kami dapatkan demi panggilan dari cahaya dalam mimpi-mimpi kami. meskipun matahari terbenam yang jingga itu begitu memukau di latar langit yang ungu. terus-menerus berjalan. kami kemudian merasa terbimbing oleh tanda-tanda cahaya dalam jiwa kami yang penuh dengan keyakinan. Kami berangkat meninggalkan sebuah negeri di sebuah pulau yang segera menjadi kosong. menapak pelan.000 anak manusia. semakin banyak tanda-tanda dalam mimpi-mimpi malam kami dan betapa kami semua semakin merasa bahwa hanya dengan menuju tempat yang kami inginkan itulah terletak arti kehidupan kami. Orang-orang tua di kampung mengatakan bahwa suku kami selalu mengalami hal-hal yang demikian semenjak abad-abad yang telah lama silam. Maka begitulah hidup kami berubah ketika mendadak kami semua harus berkemas mempersiapkan sebuah perjalanan yang belum bisa diketahui berapa lama dan kapan akan berakhir. Namun kami tahu. 165 *** . Arwah mereka membubung menyusuri cahaya. 110. Dari hari ke hari. dari segala keinginan dan kehendak yang sejak lama terlukis di gua-gua leluhur kami yang begitu gelap di mana mereka merindukan cahaya keabadian. masih terus-menerus berjalan di atas bumi yang fana. Setelah bertahun-tahun menempuh perjalanan yang serasa alangkah panjang dari benua ke benua. sudah lama juga kami tidak menjumpai tempat pemukiman maupun binatang.dalam perjalanan ini sebenarnyalah mati dalam kebahagiaan. dari dongeng ke dongeng. dunia yang kami impikan dari abad ke abad. Kami. Itulah dunia yang kami rindukan. Tentu saja kami masih selalu teringat betapa pada awal keberangkatan segalanya terasa menggemparkan. Dalam kenangan kami masih tergambar dengan jelas betapa di tempattempat yang kami lewati pemandangan terpampang begitu indah sehingga kami kadangkala merasa terkecoh karena mengira inilah tempat yang kami rindukan. Kami semua bisa mengalami mimpi-mimpi yang sama dari malam ke malam yang penuh keanehan di mana bunyi genderang terdengar dari langit dan dari seberang sungai bagaikan terdengar paduan suara yang mengalun merdu dan menyejukkan. dengan kepastian bahwa jalan cahaya itu akan kami temukan. Langit merah di kaki langit.

mereka pun banyak yang mati sepanjang perjalanan. Tiada mega di langit -. bendera dan umbul-umbul kami yang berwarna merah pun memutih.Kemudian. Cahaya yang terang menyilaukan segera memutihkan dunia kami. memang. Kami hanya bisa menunduk dan merendahkan diri. Tiada suara yang menggelegar. kulit 166 . memang masih seperti hamparan salju yang terpoles di sana-sini dengan hewan-hewan ternak berbulu tebal tapi bukan hamparan salju yang terpoles-poles di sana-sini dengan hewan-hewan ternak berbulu tebal. Tanpa diperintah setiap orang lantas melakukan semua persiapan untuk menanti saat itu. kami telah melakukan perjalanan bersama cahaya ke suatu tempat yang tiada tertera dalam peta mana pun di muka bumi. unta-unta. Langit ungu muda. seperti juga seluruh busana terbaik yang kami kenakan. Tubuh kami bergetar dengan hebat dan kami merasa kecut. Kulit hewan peliharaan kami pun memutih. mengambang. dan pergi. Dari balik kabut itu.kami merasa saat-saat itu memang segera akan sampai. Sembari berjalan kian kemari setelah mengenakan busana terbaik yang kami miliki. Hewan-hewan peliharaan kami pun seperti tampak mempersiapkan diri.000 orang seketika lengkap dengan hewan-hewan peliharaan dan itu pun ternyata belum apa-apa. memang. Kemudian kabut menjadi semakin tipis. Kami belum lagi mengerti kebahagiaan macam apakah yang masih bisa kami dapatkan lagi dalam kehidupan yang abadi. Maka langit pun terkuak dan kami terkesiap. tibalah kami pada suatu pagi di mana kami setelah bangun dari tidur yang panjang merasa tidak usah berjalan ke mana-mana lagi. Kami merasa sangat berterima kasih kepada hewan-hewan peliharaan kami dan kami merasa lebih dari layak bisa membawanya membubung ke Negeri Cahaya. kami menikmati setiap detik dari saat-saat kebahagiaan kami yang fana. tampak kuda-kuda kami yang perkasa menatap kami dengan pandangan seolah-olah mengerti tentang segala hal yang akan terjadi. Pastilah dunia ini begitu luas dan begitu penuh kemungkinan sehingga jalan cahaya dalam impian ternyata mampu menampung 110. Kami tahu semuanya akan pergi dan berlalu seperti juga berakhimya perjalanan kami yang terlalu sulit untuk bisa diceritakan dengan kata-kata. memang langit yang ungu membiru dan menggelap di kaki langit masih seperti sesuatu yang terdapat di muka bumi tapi bukan langit yang ungu membiru dan menggelap di kaki langit masih seperti sesuatu yang terdapat di muka bumi. Kami menanak sarapan pagi kami dengan percakapan sesedikit mungkin dan kami makan perlahan-lahan tapi pasti untuk meyakinkan betapa kami akan menyambut saat-saat terbaik dalam hidup kami dengan perut terisi. Kami mencoba mengingat segala sesuatu yang berwarna dari kenangan dan mimpi-mimpi kami. Memang masih seperti gunung-gemunung tapi bukan gunung-gemunung. namun cahaya itu menembus dunia angan-angan kami sehingga segala sesuatu yang kami pandang dengan mata terbuka maupun tertutup berwarna putih. Padang rumput memutih. namun dada kami berdebar bagaikan terdengar suara yang menggelegar. segala-galanya memutih. namun kami melihat segalagalanya memutih diserap cahaya. Garis cahaya yang meluncur sepanjang kaki langit melingkari kami. Gajah-gajah. Kami tetap menunduk dengan perasaan tercekat. Kami membasuh wajah dan telapak tangan kami dengan segantang air dari masing-masing perbekalan kami. hanya tegak di atas lutut kami. dan kuda-kuda. Semua orang mempersiapkan dirinya tanpa kata tanpa angan-angan tanpa pertanyaan karena semua ini telah mengisi jiwa dan pikiran kami selama melakukan perjalanan bertahun-tahun mengikuti cahaya di dalam langit jiwa kami. Kami tahu betapa ketika kami menutup mata dan kemudian membukanya lagi. Inilah pagi yang berembun dan berkabut yang perlahan-lahan berpendar menampakkan siapa berada di selatan dan siapa berada di utara. sepatu. panji. namun kami selalu mendapatkan gantinya.

Lantas kami alami bagaimana jiwa kami diluncurkan. dari barat sampai ke timur. kemudian tidak bisa saling melihat karena di sekitar kami hanya cahaya yang berdenyar-denyar menyilaukan membuat kami masing-masing untuk pertama kalinya merasa sangat sendiri setelah dari hari ke hari hampir selalu bersama-sama semenjak dilahirkan di kampung kami. atau meneruskan perjalanan? Setelah bertahun-tahun menjadi bagian dari suatu perjalanan panjang ke satu tujuan kurindukan diriku sendiri yang selalu berbisik perlahan-lahan. kuda-kuda berpacu. dan berdoa di dalam tujuh kuil di atas awan. Begitulah rombongan kami. dengan segala derita dan pengabdian.999 anak cahaya melebur ke dalam cahaya gemerlapan.dan rambut kami. dan suara seruling dari atas tebing pada malam bulan purnama. namun seperti juga air sungai dari sebuah sumber mata air di puncak gunung yang mengalir menuju lautan. Sudah begitu jauh aku berjalan.999 anak cahaya. Begitulah kami menyerahkan diri dengan segala dosa dalam tubuh dan jiwa untuk disucikan oleh cahaya itu sebelum kami berangkat ke akhir tujuan kami. Barangkali ini memang tempat yang terindah untuk mati. melihat-lihat pemandangan. tiada lagi debu mengepul. bayi menangis. Kulihat 109. gua pelangi yang menyilaukan. kelak-kelok labirin yang memusingkan. Tiada lagi angin bertiup. segalanya memutih lantas mengertap berkilauan seperti cahaya itu sendiri. sendiri-sendiri maupun bersama rombongan. Semakin jauh aku berjalan. ditelan gua-gua kebahagiaan di atas awan. Kami berangkat melewati tujuh rembulan. Hanya zat yang hanya bisa merasa bahagia di jalan yang terindah menuju kematian. Kini kami semua telah menjadi anak cahaya yang memutih dan tidak saling mengenal perbedaan-perbedaan kami karena kami semua hanyalah anak-anak cahaya yang saling menyilaukan dan saling melupakan. dari selatan sampai ke utara.*** . tujuh matahari. Sungguh semua ini terlalu menarik untuk ditinggalkan. 167 *** Kulihat di sepanjang langit. Tiada yang lebih penting lagi kini selain perjalanan menuju ketiadaan. semakin aku merasa diriku bukan bagian dari rombongan. 110. dalam penyucian cahaya berkilatan. betapa bisa cahaya kesaksian tiada melihat kebohongan? Kulihat satu per satu dari kami. Tiada yang lebih berharga lagi selain keindahan dalam kematian. Begitulah kami semua. begitu pula kami jalani kodrat kehidupan kami dengan tulus dan penuh keyakinan dengan perasaan bahwa semua ini memang suatu anugerah yang terlalu menyenangkan. kemah-kemah awan. dengan atau tanpa badan. semakin aku terikat kepada kenangan. menaiki kuda putih di atas awan. secara serentak tanpa harus merasa berada di tempat yang berlain-lainan. Tinggal aku sendirian. Tiada lagi yang bisa kami lakukan selain meneruskan perjalanan. bangkit kembali dari tumpuan lutut kami dan kembali menaiki kuda-kuda kami menyusuri jalan cahaya di langit yang telah terhampar di hadapan kami. Dari kelam ke kelam.000 anak manusia. dari cahaya ke cahaya. 109. Aku melihat seribu cahaya berenang dan berkelebatan. Langit yang berlapis-lapis memeluk jiwa kami dan kami kemudian merasa mampu berada di segala arah. Apakah aku harus berhenti.

Jakarta. Maret-Juni 1996 (Dimuat dalam Horison.Ulaanbaatar . Juli 1996) 168 .

kepada pepohonan dan binatang-binatang 169 . “Tetapi . Wajahnya jadi cerah seperti langit yang ada di atasnya. “Tempat ini bagus sekali. beberapa kali. Dari kejauhan ia berteriak dalam bahasa yang jauh daripada dikuasainya. “Senang? Senang punya tanah ini?” tanya Pak Marta dalam bahasa Jepang.. bagus) sambil melambai-lambaikan tangannya. ini bukan tanah saya.” Ia seperti mau menjelaskan kepada semua pihak. “Massugu! Massugu! Maju lagi! Maju lagi! Ayo.. melihat lautan itu dari tempat yang lebih dekat ke pantai. menyapu lautan yang biru dan mengikuti gelombang yang beruntun bergantian sampai ke pantai.” (Bagus. Negeri ini indah sekali. Ia senang mengikuti petunjuk Pak Marta. tidak ikut terbang ke Jakarta. lalu menarik senyum sendirian. bagusu-neh. Seraya melangkah ia mereka-reka kembali rencananya yang sudah bermalam-malam bersama menantunya. lalu menatap ke kejauhan. Nikmat benar dirasakannya menerawang. Dan tentu saja ia pernah merundingkannya juga dengan anaknya. dengan perasaan haru dan suara hikmat ia lepaskan isi hatinya itu dengan tulus.” kata Okayama. Sungguh. Okayama-san mengucapkan kata-kata itu sambil membungkukkan badannya dalam-dalam.. sahabat besannya. “Aaahh. Di sebuah onggokan ia berhenti.. yang kali ini tertinggal di Osaka. dari tepian yang lebih jauh. mengikuti goresan kaki langit. ke sana lagi! Lihat dari sana. Bukan tanah saya. senang. tetapi sudah mulai dipelajarinya dengan tekun: “Bagusu-neh. senang. orang yang dirasakannya benar menjadi penolongnya di hari tua. membicarakannya. kepada penduduk di kampung itu. mengikuti anjuran Pak Marta. Ini tanah Subarkah dan Michiko. sambil mengibas-ngibaskan tangannya. Michiko.Enclave* Oleh: Ramadhan KH “Arigato gozaimasu! Arigato gozaimasu!” (Terima kasih! Terima kasih!). Beberapa meter di depannya berdiri Pak Marta yang menerima ucapan terima kasih Okayama itu. Ia merasa benar-benar gembira. Gembira sekali.” Pak Marta menganjurkan Okayama supaya melangkah lebih jauh. tetapi . “Hay! Hay!” kata Okayama sambil lari-lari kecil. “Bagusu-neh! Bagusu-neh!” ulangnya di depan Pak Marta.” gumamnya. Subarkah.

orang menjual tanah dengan ukuran jengkalan. Bakal jadi bagus. anaknya. Juga Subarkah. Malahan terakhir sudah dicantumkan dalam sertifikatnya.” Okayama pernah berpikir. di tepi Samudera Hindia yang elok itu. Okayama yang sudah pensiun dan ditinggalkan istrinya meninggal tiga tahun yang lalu. sangat gembira. Michiko. Di Jepang. untuk membeli tanah di kampung Sindanglaut. “Saya sekali lagi mesti mengucapkan terima kasih kepada Pak Marta-san. Tidak ada tanaman yang tidak bisa tumbuh di sini. Di atas tanah seluas satu hektar lebih milik Michiko itu. bisa memiliki tanah seluas satu hektar lebih. adalah disebabkan pengetahuannya bahwa di Jepang mustahil ia bisa membeli tanah seluas itu. Lihat. dicampur sedikit dengan tanah dari kebun saya di Cisaat. melainkan karena mertuanya bisa mendapat kesibukan yang bakal disukainya: bercocok tanam. diikuti oleh Okayama-san. Okayama sudah punya gambar bentuk rumah yang akan dibangunnya di atas tanah milik keturunannya itu. Disebutnya di sini. Kalau terlaksana. uangnya bisa dipakai anaknya untuk membeli tanah di tepi pantai di daerah Sukabumi Selatan itu. di tepi pantai di Sukabumi Selatan itu. Tapi nanti rumah tua itu akan diganti dengan bangunan yang bagus.” jawab Pak Marta. bahwa Subarkah menetapkan. melainkan milik anaknya dan menantunya. bisa hidup di sini. Michiko. karena uang yang dibelikan tanah itu adalah uang simpanannya. bukan meteran. Tapi jangan minta pohon sakura tentunya. Hahahaha. Bukan spesial karena istrinya jadi pemilik tanah itu di sana. dan setiap kali berada di Sindanglaut untuk barang dua atau tiga bulan. kini merasa senang. Asal diurus. “Untuk siapa lagi uangku itu kalau bukan untuk Michiko (anak tunggalnya). di hari tuanya. dengan kebunnya yang bagus. Pak Marta mengajak bicara Okayama-san dalam bahasa Jepang. “Apa bunga anggrek bisa tumbuh di sini?” “Bisa. Dan ia gembira. pohon pisang. di dalam surat-surat jual belinya. sejuta Yen sejengkal. Ia pun senang bisa membuat mertuanya gembira. Tetapi hati kecilnya tidak bisa membohonginya. tertawa lebar. sang menantu yang juga ada di sana mendampingi sang mertua. kemungkinan besar ia sudah dikirimkan ke Negeri Sakura untuk melanjutkan sekolahnya. sekarang sudah ada rumah kecil yang masih sederhana. “Semua tanaman bisa hidup di sini. bahwa tanah itu bukan miliknya. punya rencana berlibur tiga kali dalam setahun. Kalau tidak terpatahkan oleh kekalahan Jepang dalam peperangan. pisang raja. Sekarang. tanah itu atas nama istrinya. Bahwa Okayama-san.yang ada di sana. pohon kesemek. bisa tentu bisa.” jawab Pak Marta meyakinkan sambil menatap Okayama. pisang yang disukai Okayama-san. pisang lumut. Sebuah rumah potongan Jepang dengan jendela-jendela dan atap 170 . Apa pohon kaki (kesemek. karena mahalnya. bahasa Jepang) bisa tumbuh di sini?” “O. bisa. Bicaralah lagi Okayama-san dalam bahasanya.” Pak Marta tertawa. sebegitu yang diperlukan Michiko. apalagi di seputar Tokyo. sehingga mereka mendapatkan tanah ini. Bagus sekali tanah ini. pisang ambon. ia memilikinya juga. pohon-pohon kelapa bagus-bagus di sini. Ia merasa. bahwa tanah itu milik Michiko. Nyonya Subarkah. sudah menolong anak-anak saya. Waktu itu ia duduk di sekolah menengah di Bogor dan terkenal di antara sesama teman sekolahnya sebagai murid yang paling pintar bahasa Jepangnya. Sebab itu ia berikan uang senilai empat puluh juta rupiah. anak-anak saya akan mendirikan rumah di sini. Ia masih bisa berbicara dalam bahasa yang dulu pernah dikuasainya dengan benar selama jaman Jepang. Lihat itu. Tanahnya.

dan sebagainya dan sebagainya. Mereka tidak perlu kita ajar lagi supaya tinggal di rumah. badak yang terkenal. melihat binatang langka?” “Ya. atas nama siapa. Cantik-cantik. hahaha. Saya pun waktu lewat di sana. ya. seperti sudah tidak punya harapan. Tetapi ia tidak punya keinginan lebih jauh. “Dan bagusnya. Mereka sama-sama duda. Cantik-cantik lho. “Dan istimewa lagi. pemandangan seputar itu. Apa sungguh begitu?” “Sungguh!” kata Okayama meyakinkan. bukan mimpi pagi. “Tapi. dengan uangmu yang ada di bank sekarang. “Kamu kan belum punya istri lagi..potongan khas Jepang. Tinggal tidak berjauhan. Hahaha! Dan. Kalau kita jalan ke Sindanglaut itu.. segera ia bercerita kepada Kakutani bahwa ia baru saja membeli tanah di Indonesia.. dengan nada suara seperti berhasrat. besan Okayama. Sungguh! Kamu bisa bergairah lagi jika lewat di kampung itu.” kata Okayama-san kepada Kakutani-san yang juga mempunyai cukup uang simpanannya. kamu bisa dapatkan seorang.. “dari tempat itu. Dan terkenang sampai sekarang.” kata Kakutani dengan nada rendah. *** Okayama-san bersahabat kental dengan Kakutani-san. Kalau saya seusiamu (--Kakutani lebih muda--). saya akan kawin lagi. Dan sewaktu Okayama sudah berada lagi di Osaka. “Mengapa kamu tidak punya akal?” kata Okayama. bagaimana saya bisa membeli tanah di sana? Saya kan tidak punya menantu orang Indonesia.” Kakutani seperti kena goncangan yang membuat ia sadar. “Cantik-cantik?” Kakutani seperti mau tambah diyakinkan. “Pasti ia cantik sekali waktu mudanya. bahwa wanita itu benar cantik walaupun sudah ada usia. Ia pun pernah bertemu dengan ibu Subarkah.” 171 .. Di Kadupandak itu banyak sekali yang cantik. Saya pernah dibawa oleh kenalan saya lewat di sana.” komentar Kakutani di dalam hatinya waktu ia pertama kali melihatnya. merasa jadi muda kembali. dengan uang yang sudah diperhitungkannya cukup. Dan gambaran itu buat Okayama sekarang. Dan. ada daerah yang masih dihuni oleh badak. selain ada laut yang bagus. waktu datang di Osaka.. di mana letaknya Sidanglaut itu. Rencananya pun sudah bisa mulai dilaksanakan. Kebiasaan mereka pun baik-baik. Ia ceritakan dengan terperinci sekali berapa harga tanah yang dibelinya.” cerita Okayama kepada Kakutani. Kesukaan kamu kan masuk hutan. akan mengambil wanita Indonesia. “Beneran. karena ayah Subarkah masih ada. kita bisa lewat di sebuah kampung yang namanya Kadupandak. bagusnya pemandangan di sana! Luar biasa! Pasti kamu pun akan suka.. Itu sudah kebiasaan mereka.

” kata Kakutani kepada Okayama. bukan? Nulseha (--ia tidak bisa mengucapkan r--) sendiri sudah janji. pada mulanya. Itu kan benar bagus. tidak ceritakan bahwa Nurseha.” Ia pun ingat. Dan benar murah. 172 . bahwa ia sekarang sudah sebatang kara. Dan kamu yang mengatakan bahwa perempuan Indonesia itu bisa tinggal di rumah. apa bisa ia sekarang tinggal di rumah?” tanya Okayama yang ragu. di samping tanah Michiko. bagus kalau begitu. Kakutani bercerita bahwa Nurseha memenuhi hasratnya dan tidak banyak permintaannya. “Kami akan kawin. “Kalau sudah begitu. Mereka berdua menginap di sebuah hotel di jalan Thamrin. dan bisa membeli tanah yang luas. Nampaknya agamanya kuat.” kata Okayama. dengan pemandangan yang indah seperti yang diceritakan Okayama? Aku pun tentu bisa menikmatinya. Yang dipentingkannya hari depannya. mengapa pula aku mesti simpan uang itu? Dengan uang cuma sebegitu mustahil aku bisa membeli tanah di negeriku sendiri ini. Ia. “Bagus. “Jadi. “Kapan akan nikah?” tanya Okayama-san. dan sudah pergi ke Sindanglaut. Kakutani memperlihatkan seorang wanita yang lumayan cantiknya kepada Okayama. Kalau istriku menyenangkan. bagaimana?” tanya Okayama lagi setelah ia ingat pada tanah yang sudah diinjaknya bersama. Cepat sekali prosesnya. begitu nama perempuan yang dibawanya.” jawab Kakutani-san. cuma kalau bersama saya ia akan ke luar rumah. ”Dan soal tanah itu. Cuma keadaan ekonominya saja yang pernah membawa dia ke tempat panti pijat. Waktu ada kesempatan berdua Kakutani dan Okayama. Kakutani dan Okayama sudah ada di Jakarta.” kata Kakutani. “Secepatnya. dan mau menerima kebiasaanku. Tentu saja jadi. Dan terbetik hasratnya: “Kalau istriku setia. Dan saya sepakati. “Sesudah kami nikah. Malahan ini yang kedua kalinya sudah. saya akan belikan istri saya tanah yang itu.Kakutani jadi berpikir beneran.” Kakutani sudah bisa melupakan apa yang telah terjadi dan dialami Nurseha sebelum ini. “Hanya meminta supaya saya masuk agamanya. *** Saatnya pun tiba. ditemukannya di sebuah panti pijat.” kata Kakutani setelah didesak di mana mereka bertemu. “Ia berjanji. mengapa aku harus kikir dengan tidak memberikan uang kepadanya untuk bisa memiliki tanah yang luas dan bagus. Ia bisa menghapus apa yang sudah-sudah.” Kakutani menarik wajah bangga dan serius.

tergerak juga hatinya. dan kamu merasa encok di sini. dan uang rupiah tak akan bisa mengejar harga tanah. “Bisa. Tentu yang ukurannya luas yah. Apalagi sekarang. Lautnya bagus. Pasti bisa. Tanah di Sindanglaut yang berdempetan dengan milik Michiko pun kemudian dibeli Nurseha atas namanya. kamu akan senang tinggal di sana. *** . Tidak lama setelah itu.*** Benar juga. Di sana kan selalu ada matahari. untuk usaha. Kanazawa-san. pemborong bangunan. Nurseha merasa pintar. Tetapi yang pasti lagi. “Tapi bagaimana kami bisa membeli tanah di sana?” tanya Kanazawa kepada teman akrabnya. Kita diajak oleh mereka untuk datang ke sana. Tetapi terbeli oleh Nurseha yang membuat surat janji. Pasti ada cara-caranya. Ia pun ingin memiliki tanah sebagus seperti yang diceritakan temannya. atau di sore menuju senja. “Mustahil aku bisa punya tanah sebagus itu dan seluas itu di negeriku sendiri. Kata orang di sana. kita bisa tinggal di sana. ia merasa senang. Kamu tidak akan bisa membeli tanah seluas itu dengan seluruh kekayaanmu yang kamu miliki di sini. Pernikahan itu dilaksanakan di depan penghulu. tempat ia menceritakan rahasia hidupnya. Apalagi di pagi hari. Kanazawa-san. Kalau musim dingin di sini. Kakutani dan Nurseha melangsungkan perhelatan di Sukabumi. uang senilai pembelian tanah itu akan dikembalikan. Ia sudah menghitung. tapi sekarang sudah jadi istrinya. “Benar murah.” pikir Kakutani. bahwa ia nanti bisa berlibur di tempat yang bagus itu. disaksikan oleh Okayama. bahwa kalau sampai ia dan suaminya bercerai. bahwa nilai tanah akan cepat naik. Lebih luas daripada yang dimiliki Michiko dan lebih mahal harganya. kita bisa tinggal di sana semusim-semusim.” 173 *** Di sebuah organisasi di kotanya. dan gelombangnya amat memikat. setelah Kakutani memenuhi syarat yang diminta oleh Nurseha dan keluarganya. setelah ia membandingkan dengan harga tanah di negerinya. Soal jarak Jepang . cerah langitnya. Sebab itu pula ia tak beralangan menceritakan tentang tanah yang dibelinya. di tepi pantai yang lautnya biru. Percayalah. Ia pun sudah beberapa kali membaca brosur-brosur tentang perjalanan ke Indonesia dan apa yang bisa dilihat di negeri di sebelah selatan itu.Indonesia. “Aku akan sering saja berada di sana. di sana segala bisa diatur.” pikirnya. Dan ia pegang surat-surat tanah itu. bagus sekali. tak dirasakannya jauh. Pantainya bagus.” kata Kakutani. atas nama Nurseha yang pernah ditemukannya di sebuah panti pijat. Tetapi Kakutani-san merasa pintar juga. Kakutani punya sahabat akrab. segala di sana sudah terbuka.

Tetapi Kosasih. Sah-sah saja. “Tetapi hotel akan laku kalau menempel pada laut. Kosasih seperti bisa menangkap apa yang diinginkan oleh Kanazawa. “Bapak ini. Tetapi. “Tak ada kesalahan saya. “Tidak jadi soal.” kata Kosasih dengan menarik senyum lebar. bahwa kekurangan yang dirasakan oleh Kanazawa itu nanti bisa diatasi. Tanah itu tidak nempel pada pantai.” kata Okayama sambil memegang tangan Kosasih. “Ini.orang Jepang itu dan memasukkan uang ke kantongnya sendiri lebih dari lumayan. Pak Kosasih. Dan akan dijual. Ketiga orang Jepang itu pergi ke tanah bekas perkebunan kecil itu. Lalu mereka pergi ke Sindanglaut.” kata Kosasih sambil menarik wajah senyum dan meyakinkan. sebenamya hati nuraninya pernah goyang. dibarengi oleh Kosasih dan dua orang kawannya. Sudah dua kali ia pernah mengatur jual beli tanah dengan orang. Ia tentu saja senang. Yang kedua kali untuk istrinya. bisa menolong kita. Ramdan. Sudah tergitik juga hati Kosasih oleh gambaran bahwa kali ini ia bisa beruntung banyak lagi. Ia mengetahui. Kanazawa-san menginginkan membuat semacam hotel di sana. tetapi keuntungan yang diperolehnya menghapus kegelisahannya itu. seorang lagi yang lebih muda. Rumah-rumah kampung itu bisa dipindahkan. yang tempo hari mengatur pembelian tanah untuk Michiko dan Nurseha. seorang yang lebih tua. Supaya nyambung jadi bagian tanah ini. Kanazawa-san takjub melihat daerah pantai Samudera Hindia itu. bahwa yang dikatakannya itu bisa jadi kenyataan.Kanazawa-san terbang bersama Kakutani dan Okayama ke Jakarta. bisa meyakinkan. lewat Okayama yang sudah tambah pintar berbahasa Indonesia.” pikirnya. Ia pun yakin. Sebab itu ia cepat berkata kepada Okayama: “Kami bisa atur. “Yang satu kali untuk menantunya bersama anaknya. bisa diatur supaya jadi jalan ke pantai. Ia merasa. antara lahan ini dan laut.” kata Kanazawa kepada Okayama dan Kakutani. tersenyum lebar. Orang kita-kita juga.” kata Kakutani sambil menunjuk seorang laki-laki yang bekerja di Kecamatan di Sidanglaut. “Apa yang tidak bisa dengan uang?” pikirnya. Tetapi terhalang oleh beberapa rumah kampung dari tanah Michiko. Tidak ada yang tidak bisa diatur di sini. ini orangnya yang bisa membantu kita. Kosasih yang pernah membantu kedua orang itu dengan urusan tanah di sana. dengan kebutuhannya. Ia pun yakin dengan uang segala bisa beres. “Bagaimana cara membelinya?” tanya Kanazawa. ada sebidang tanah luas yang juga tidak jauh letaknya dari tanah Michiko.” pikirnya. 174 . Tanah yang menghalang-halangi itu. bahwa atasan-atasannya yang ada di Kecamatan dan di Kabupaten akan setuju. terasa tak menentu. sehamparan tanah yang ada di tepi laut itu digabungkan saja dengan tanah bekas perkebunan kecil itu. Garnida. Okayama dan Kakutani lalu mengajak bicara Kosasih yang sudah siap untuk membantu. Ada kekurangan di tanah bekas perkebunan kecil itu yang terasa oleh Kanazawa-san. Tanah itu bekas perkebunan kecil. tapi sudah tidak terurus.

Kakutani-san dan Kanazawa-san sudah berada di Indonesia lagi. Beberapa orang pegawai Kabupaten Sukabumi pun ada di sekelilingnya. di kantor Kabupaten. sehingga bisa dipakai untuk keperluan Kanazawa-san yang punya uang banyak. Nampak sekali ada kesibukan di wilayah yang tadinya kampung itu." kata Okayama. Kemudian kepalanya digerakkannya menghadap ke arah Kakutani. Ia tidak kepalang bergerak. lalu ke arah Okayama. Sebab memang setelah diperhitungkannya. Subarkah. Kanazawa-san dikerumuni oleh pegawai-pegawai dari Kecamatan Sindanglaut. tak mengerti sepatah kata pun. tapi menyebabkannya jadi merasa kuat. Kata pembangunan itu mengubah kesulitan yang tadi pernah mengganjal sebentar di hatinya. Masing-masing mengatur kepemilikannya. apa yang tidak bisa dibereskan di kampung ini. malahan di kantor Gubernuran. Kakutani-san pun langsung mengukur-ukur tanah yang akan dipakai untuk bangunan rumah yang bakal dihuni bersama Nurseha. Ketiga orang Jepang itu mengangguk-angguk. masih jauh lebih murah daripada jika harus membangun di negerinya. “Ya. Dan bertambah lagi kericuhan di daerah itu. Kakutani-san dan Kanazawa-san yang membangun di sana. asal benar bisa diatur begitu. Ia menunggu kepastian. tuan Kanazawa tertarik. Rumah tua sudah dibongkar. melainkan ada Saito-san.” Kata "pembangunan" itu melintas sejenak saja di kepalanya. tapi harapan menyelinap di antara perasaannya. Tinggallah nanti ia mencari tukang-tukang yang bakal diperbantukan kepada arsitek Jepang yang bakal membangun rumahnya itu. “Pasti bisa! Pasti bisa!” kata Kosasih kepada Kanazawa. 175 *** Selang beberapa waktu. Dan ia sudah jadi lebih pandai. Dengan duit. meminta dukungan. “Ini jadinya proyek pembangunan. Soal tanah yang menghalang-halangi sudah terpecahkan. Uang siluman tak jelas masuk ke kantong saku siapa. ada Tanaka-san. Maka pembangunan dimulai di daerah itu. sudah mulai dengan membangun rumah yang mereka citacitakan. Kanazawa-san nampak tenang-tenang saja. Takahashi-san dan . Lalu mereka berbicara dalam bahasa mereka. Mereka tidak membuang waktu. Tiang-tiang baru sudah dipancangkan. Rencana bangunan hotel sudah siap.Ia berpikir lagi. Entah berapa ongkos memindahkan mereka yang sebenarnya. Orang-orang Jepang itu tidak tahu. pikirnya. Sindanglaut mereka tuju. karena bukan saja Okayama-san. Kosasih mendengarkan saja. Tanah yang menghalangi-halangi perkebunan kecil dengan laut itu pun sudah diatur oleh orang-orang di kantor Kecamatan. atas anjuran penasihatnya ia sudah menggaet orang di Jakarta penguasa penting. Okayama-san. Okayama yang sekali ini didampingi Michiko dan suaminya. Penghuni beberapa rumah yang menghalang-halangi antara tanah Michiko dan Kanazawa pun sudah sepakat untuk pindah. segala bahan yang diperlukannya sudah ia siapkan dari dan di negerinya.

Tinggallah Ramdan yang berjongkok menatap orang-orang yang sedang mengangkatangkat kayu dan besi itu dari kejauhan. Kebanyakan peralatan dan malahan bahan-bahannya pun didatangkan dari Jepang. “Untuk siapa saja. bahwa dunia ini untuk kita semua. Kanazawa-san adalah pengusaha yang diajak datang untuk menanam modal. . di atas tanah yang lebih dari dua ratus hektar. Garnida sudah naik motor Honda yang paling diidam-idamkannya dan paling disenanginya. Okahara-san sami mawon. Di hatinya ia merasa tertinggal. yang bisa membelinya dan membangunnya. Saito-san idem dito. daerah kantong Jepang. Sebab kebanyakan pemilik tanah itu _lewat menantu. untuk kita. istri. Ia pun sudah mendengar kabar dari orang tua Subarkah. gamang. Michiko adalah istri Subarkah. sahabat dan pelbagai cara dan ilmu yang tak jelas duduk perkaranya_ memungkinkan rumah-rumah dan bangunan lainnya di sana berbentuk seperti di kampung asal mereka. untuk semua penghuni bumi. Melangkah pun sudah sakit-sakitan. tetapi ia sudah tua. melainkan sudah mulai membangun di daerah yang tadinya masih ladang tegalan. Ia sudah bergabung dengan anak-anak pembesar di Jakarta. pikir mereka. untuk ikut serta dalam pembangunan itu. Jangan ditanya asal usul tanah itu: tanah wakaf pun sudah berubah catatannya. atau yang di Osaka atau yang di Okinawa sekalipun. Mereka seperti sudah berpikir. *** Pak Marta datang di Sindanglaut. Bukan saja hatinya terganggu.beberapa lagi orang Jepang yang bukan saja tertarik. Untuk pihak yang pintar. karena rumahnya pun sudah tergusur. Ya. 176 *** Maka ramailah pembangunan di Sindanglaut. Orang-orang Jepang itu mendengar kemungkinan-kemungkinan itu dari mulut ke mulut. sawah musiman dan kebun terlantar itu. Lebih dari duapuluh orang Jepang sudah membangun di daerah Sindanglaut itu. Brosur-brosur pariwisata pun sampai pada mereka. lalu ia sebentar merenung. Dan semua menghitung: tanah di Sindanglaut itu benar-benar jauh lebih murah dibandingkan dengan yang ada di Tokyo. pikirnya. “Siapa yang salah?” pikirnya. keturunan mereka. Dan mereka ingat pada beberapa kursi yang ada di sejumlah negara di luar negeri mereka yang sudah diduduki oleh bangsa mereka. Ia menjawab sendiri: Okayama-san adalah mertua Subarkah. Nurseha adalah istri Kakutani. sahabat kentalnya.” pikir mereka. Anaka-san menempuh jalan yang juga tidak seberapa sulit dirasakannya. Kosasih sudah punya rumah baru dan istri baru di Sukabumi dan keluyuran dengan mobil Suzuki yang paling mutakhir. Sampai-sampai bangunan yang seperti toko dan hotel pun disusun dan berbentuk bangunan Jepang. bahwa di kampung di tepi Samudera Hindia itu sudah berdiri satu daerah enclave. semua kedudukan pun bisa kita capai.

saya belum lahir waktu itu. Ia gundah. Pak. 177 . kan?” kata Pak Marta.” Pak Marta cepat mengerti. ke langit yang bersih. ke kaki langit. “Duduklah di sini. orang tuanya. anak-anaknya. Pakaiannya serba baru dan mencolok. permulaannya amat sederhana. mobil Suzuki diparkirnya di halaman kantornya. kamu sudah punya motor segala sekarang. Suara Ramdan terdengar melas sekali. Ia sudah bisa membelikan mereka pelbagai barang modern yang biasa ditayangkan di televisi yang ia saksikan di rumahnya.” Ia setengah membusungkan dada. Ia seperti menelannya. bersih. “Jangan jongkok terus begitu. ke lautan yang biru.” Di tengah itu Garnida muncul dengan menaiki motornya. Pak Marta?!” kata Ramdan kepada Pak Marta yang duduk di kursi di depannya.. Dulu saya pernah benci kepada orang-orang Jepang itu. Sudah gemukan bentuk badannya dibanding dengan beberapa bulan yang lalu. menjawab: “Entahlah. Dengan ragu. Pak Marta tidak sanggup menatap wajah Ramdan yang sudah kurus dan keriput itu. “Tempat ini bagus. menyayat hati orang yang diajaknya bicara. Pak. bangkit dan duduk di kursi. benar bagus. “Di sini lebih menguntungkan. Daerah ini mesti dibangun. Sementara itu Kosasih datang. yah. “Bapak bekerja di Kecamatan. “Ya. Percakapannya menunjukkan kegembiraan yang luar biasa.. Ia menarik wajah gembira. terutama kepada istri-istrinya. “Alhamdulillah. Ia ingat. Bapak.” ajak Pak Marta kepada Ramdan. tapi saya menolak. “Tidak mengalami jaman Jepang?” “Ah. Tadinya saya mau dipindahkan ke Sukabumi. “Pilihanku benar. “Berapa umur Bapak?” tanya Pak Marta kepada Kosasih. Mukanya pun nampak licin.” kata Pak Marta. Pak Marta. Ia merasa berjasa.” kata Garnida.” Ramdan mengikuti ajakan Pak Marta. Tetapi.” jawab Kosasih. Hati kecilnya berbisik jujur. ke ombak yang bergelombang. Kelanjutannya jadi amat serius.“Tetapi siapa di daerah ini yang tidak tergusur.” kata Pak Marta kepada Ramdan yang tetap jongkok di dekatnya. Kendaraannya. mertua-mertuanya. Ramdan. terjepit antara sesal dan senang. “Wah. “Bagaimana perasaan Bapak melihat kampung ini sekarang?” tanya Pak Marta. Ia sendiri diliputi beberapa pertanyaan yang tidak bisa dijawabnya sendiri.” Ia tidak meneruskan ingatannya.. orang tua itu. Ia arahkan tatapannya ke kejauhan. Pak. Di sini masih ada kursi.

Sementara itu pembangunan di daerah enclave berjalan terus. Pak. Tak ada jembatan penghubung yang mengaitkan pembicaraan serius di antara mereka. rumah orang tuanya. September 1997) . juga tidak pernah berkenalan dengan buku-buku tentang masa lampau. digusur. Pak Kosasih membujuk kami.” kata Garnida. sudah seperti kelelahan jika harus berpikir. Ia bicara sesungguhnya.” “Ya. mengikuti pihak yang menginginkan. Hasil kerja di sini?” tanya Pak Marta. Ia pindah ke kampung di balik bukit itu. detik ini. Ramdan mengetahui silsilah pembelian motor itu. Masing-masing dengan pikirannya sendiri. saat ini. (Dimuat dalam Horison. Ia terhitung pemuda masa sekarang yang diusik oleh pelbagai tayangan barang jualan di layar kaca dan hanya memikirkan masa ini. Dan yang tua serta yang muda. Suasana pun seperti direka untuk jadi demikian. Pak.“Maju yah. Maka ia menyelip menyambung pembicaraan: “Rumahnya. Ia tidak menatap ke masa depan. Sekali Garnida bertatapan muka dengan Ramdan. hari ini. *** 178 *) Enclave = Daerah kantong.

Bapaknya Iwan berpatungan dengan Pak Lurah. Iwan adalah sulung dari empat anak. tempat yang telah dia miliki itu sudah sangat pas. Pak RT bukan kepala keluarga teladan. ubin. Karena dekat dengan Pak Lurah.1 . dua perempuan. setengah dan satu kilo-an. Pak RT sanggup mencarikan. Sekarang setelah rezeki semakin deras datang. bertanya kepada istrinya: “Mana Iwan?” “Belum kelihatan. seperempat. dia bahkan semakin mengkhianati program pemerintah: dia ingin menambah dua atau tiga anak lagi. semua keperluan MCK. Sudah tiga tahun bapaknya Iwan menjadi RT. paving. uang yang dia terima cukup untuk membeli sebuah rumah reyot di pinggir jalan.” Istrinya tidak menanggapi. tidak jauh dari pasar Jatingaleh. Maka kantung-kantung plastik kecil lebih banyak terisi di rak-rak itu. Dan bila orang memerlukan barang yang tidak nampak di situ. karena anaknya lebih dari dua. karena Pak RT seperti berbicara kepada dirinya sendiri. Tetangga lebih banyak membeli kurang dari satu kilo.” “Jum’atan apa tidak dia. lebih dari tiga.Horison. ditata di rak warung. orang Jawa bilang: Sendang kapit pancuran. dia sering mendapat persenan keuntungan menjual tanah atau rumah di kawasan sana. Lalu bapaknya Iwan menjadi terkenal sebagai makelar tanah dan rumah. Agustus 2000 Jati Diri Oleh: Nh Dini 179 Pak RT tergesa masuk. Kini masing-masing mengelompok. Pada suatu ketika. Kebetulan yang perempuan berada di tengahtengah. buat apa rezeki kalau tidak untuk membangun keluarga besar! Padahal. Dia pikir. Perempuan itu sibuk menghitung bungkusan gula pasir yang baru selesai dia timbang. Satu on. Semua tergantung pada komisi yang disepakati. Dia memang mahir mempengaruhi calon pembeli. mendirikan usaha penjualan kayu. Dua anak lelaki.

jawabnya yang paling sering adalah “Saya harus ke pertemuan.” Atau: “Muda-mudi itu harus ada yang mengarahkan.” 180 . Jika ada tetangga yang usil bertanya mengapa dia begitu cepat pergi lagi keluar rumah. karena bisa berbuat apa pun sesuai kemauannya. Penduduk sekitar tetap banyak yang tidak mampu. Bagian depan. Dia merasa hidup lebih leluasa. Kini lantainya keramik putih berkilau. sehingga terang memantulkan cahaya hari. nyaris menjadi anak jalanan.” itulah jawaban Pak RT. Rokok yang dihisap bukan lagi merk dikenal. Di situ tikar digelar. adik Iwan yang paling cerewet menginginkan ayahnya kadangkala datang ke sekolah mengambil rapor seperti orang tua.orang tua lain. sekaligus selalu repot di toko material bangunan. Lalu dilengkapi meja-meja pendek. “Aku tidak punya waktu. Adiknya yang terkecil delapan tahun. “Ini untuk pertemuan-pertemuan. menggerombol bersama teman-teman sesama seragam SMU di perhentian bis. Rumah berganti ubin.Ketika ayahnya menjadi RT. Tubuh Iwan kurus kering. Tetapi tak satu pun anggota keluarganya memperhatikan. Dia bikin sebuah ruangan polos. di warung-warung kopi atau di kios rokok yang juga menyediakan minuman pembakar tenggorokan. selalu di kelurahan!” Anak-anaknya sangat hafal dengan jawaban Pak RT: “Di toko aku tidak menganggur! Aku mencari uang buat kalian! Buat kita!” Yuni. Pak RT masih mengurusi usahanya. muda-mudi rapat di sini. Sore ketika kebanyakan keluarga berkumpul. PKK. menjadi bangsal aula cukup besar. dia bergegas mandi lalu pergi lagi memimpin pertemuan ini atau itu di salah satu ruangan kantor kelurahan. Dan sejak ayahnya mempunyai kedudukan tersebut.” Iwan hidup di luar. seluruh kepanjangan dinding tertutup bahan yang sama. Dengan begitu. Dia baru lulus SLTP. Lalu diteruskan: “Biar ibumu yang pergi.” Adik Iwan sudah berangkat remaja. usia Iwan 16 tahun. Ketika rumah di samping dijual. Tapi mereka menyukai Pak RT yang selalu penuh pengabdian. Atau bila tiba-tiba pulang sebelum pukul tujuh. Dia bebas. melainkan lintingan daun kering yang mampu membikin perasaan melayanglayang. Keluarga Pak RT kelihatan sejahtera. Karena bapak itu jarang berada di rumah di saat Iwan pulang untuk makan siang. Pintu-pintu bisa dipasang atau dicopot. semuanya berubah bagi Iwan. Semua nampak bahagia. Bapak-bapak. Mak kalian dan aku tidak akan sering berada di luar. Katanya. menjadi gadis kecil dan berani memprotes: “Bapak pergi-pergi terus! Kalau tidak di toko. sekaligus mengurusi muda-mudi kampung. Pak RT langsung membelinya.

Kemudian. Sekarang. menawarkannya kepadanya. bukan?” 181 . Kali itu Iwan bahkan makan siang di meja keluarga. “Kamu sudah memperbaiki prestasimu di kelas? rapormu yang paling akhir jelek sekali. Bapak dan ibu mabok dengan keberhasilan mencari uang. “Bikinkan aku warung. Kebetulan memang bapaknya Iwan sedang berpikir-pikir akan menambah sarana penataran pesanan yang semakin sering datang.” Ibunya Iwan baik hati. dia ingat harus menanak nasi atau menjemur cucian. tiba-tiba. Sambil makan. Di mana-mana orang memerlukan kayu. Asal masih bagus jalannya. selain buat keperluan toko. obat-obatan. Ibunya Iwan tidak lupa menyumpalkan uang dua ribu ke dalam genggaman si tetangga. ayah dan dua adiknya. Orang terus membangun. kendaraan yang kedua itu melulu hanya untuk mengangkut bahan-bahan kotor. Kemenakan. berjalan kaki menuju rumah yang terletak tidak jauh dari masjid.” Dan kalau itu sudah diberikan. pembantu yang dua orang ditambah satu lagi. Dan karena rezeki berlimpahan. Dia minta dibelikan kendaraan. Selalu ada yang lewat. Itulah salah satu sebab mengapa bapaknya Iwan menjadi RT. karena seorang kenalan terdesak kebutuhan uang. Hanya kebutuhan rumah tangga sehari-hari. sambil katanya: “Apa boleh minta tehnya? Buat satu kali cem-ceman2 saja.” suara Pak RT tidak bertanya. Iwan mengeluarkan kalimat yang sejak beberapa pekan didiktekan teman-temannya. Sama seperti suaminya. Kecil-kecilan saja.” Pak RT punya sebuah kijang. Kebanyakan penduduk di sana tidak seberuntung keluarga Pak RT. Di lain waktu. Aku ingin mencari uang sendiri.” Ternyata dagangan itu pun berjalan lancar. Untuk toko. Pak. minta gula dan kopinya saja sedikit. Yang terkumpul adalah ibu. Kadang-kadang menjadi tiga jika saudara ibunya Iwan datang dari lereng gunung Sumbing. Buat sekolah. ada tetangga yang berani berkata. Tapi pekan kemarin dia tambah satu lagi. Mereka selalu kekurangan. siapa saja yang berasal dari desa sama. semula dia sediakan satu kendaraan bak terbuka. lalu membantu mengerjakan ini atau itu. meterai. Beri aku modal. Pada suatu siang. Mereka pulang bersama. turut bersembahyang Jum’at di belakang ayahnya. akan lebih mudah disewakan buah pindahan atau lainnya jika bak belakang selalu kelihatan bersih. adik atau saudaranya ipar. "Tidak usah baru. Sedangkan yang pertama. ada yang sampai hati menunjuk stoples di atas rak. dia terkenal sebagai orang yang tidak tega. Yang dijajakan di warung bertambah: alatalat tulis. Sekarang anak-anak sudah besar. “Kalau boleh. Bisa dibayar dua kali. aku tidak perlu memngawasinya. batu atau pasir. Pembantu itu bisa bertambah lagi di saat tetangga datang mengobrol. lalu singgah. Pasangan itu banyak menolong dan membantu penduduk sekitar. “Apa kamu naik kelas nanti kok minta dibelikan kendaraan. dilanjutkan dipasrahi membina kaum muda di sana. Iwan sengaja memperlihatkan diri. bahkan perangko.Di waktu itulah ibu Iwan berkata kepada suaminya.

Di sana mereka juga menghambakan diri pada kemaksiatan berjudi. Tetapi Pak RT tidak termakan oleh rayuan si anak. Padahal seharusnya kamu yang dibelikan kendaraan! Minta saja! Kalau kamu punya roda dua. semua teman Iwan sungkan kepada Khodir. Minta kendaraan saja. Seusai sekolah. pasti kita menang. Yang dia katakan tadi entah merupakan kebohongan yang keberapa kali yang dia ucapkan sejak pagi hari itu. Kini teman-teman itu menyulut api pemberontakan terhadap Pak RT: “Ayahmu kaya. atau mana yang dia harap ada. ruwet menjadi satu. Lebihlebih menyuruhnya belajar. “Kalau Khodir yang bawa kendaraanmu. kita bisa cari uang. menjadi kernet omprengan. Karena dalam keseharian. barulah bagian-bagian tertentu dirapikan. Dan karena merasa permintaannya tidak bakal terpenuhi. Hal ini agak mengejutkan Iwan. 182 . Bisa turut berpacu di Jatidiri.. Herman-lah yang mengepalai. “Itu benar. Sebetulnya merupakan kebanggaan penduduk ibu kota propinsi. aku bisa mengantarkan Yuni setiap pagi.. kena hujan. Dan dia tidak khawatir ayahnya akan menyelidiki kebenarannya.”. tidak dimanja. Jika pertandingan akan diselanggarakan di sana. Lalu kita bisa bikin oplosan lain. Tetapi pemanfaatannya sangat kecil. “Di kelas.. Pak RT tidak pernah menunjukkan kepedulian tentang kehadirannya.” kata kawan Iwan yang lain. Anak-anak repot. Di mana ada kegiatan berkelompok. temannya yang paling menonjol. “Sampeyan3 ini bagaimana! Punya anak lelaki. terjadi kebut-kebutan. kendaraan umum selalu datang terlambat karena jalan macet.Rupanya si ayah masih ingat juga bahwa anak sulungnya mencetak empat angka di bawah sedang di catur wulan yang lalu. tinggal aku yang belum punya kendaraan. Pemuda-pemuda tanggung memacu kendarasan mewah beroda empat atau dua... Sudut dan selinapan yang dekat pagar dibiarkan. sampai mobil-mobil dan kendaraan roda dua lain yang setengah rongsokan. Baru saja membeli kendaraan lagi untuk tokonya. sehingga tanaman dan perdu liar berduri berdesakan menjadi sarang aneka binatang melata. Iwan termakan oleh gosokan itu. “Kalau punya kendaraan sendiri. Kadang-kadang. “Benar. Teman-temannya menyuruh Iwan mengambil uang di warung Mak. Dia yang paling lama memiliki kendaraan.” dan yang disebut Khodir mengangguk-angguk. Rumput ilalang bertumbuhan nyaris setinggi orang.” kata Iwan lagi. Mana yang sungguh ada. di waktu malam. berlanjut biasa. Stadion Jatidiri besar. Aku mendapat resep baru dari tetangga yang datang dari gunungkidul. Kebohongan memang sudah mendasari hidup Iwan.” begitu kata Herman.” Iwan kelihatan tidak was-was mengenai angka-angka di rapornya. “Apa lagi ini nanti musim hujan.”. Mereka tidak hanya melampiaskan nafsu mengatasi lawan dengan kecepatan.” tiba-tiba si ibu ikut urun bicara. Lalu alur keseharian kembali seperti semula... Karena Iwan semakin sering mengatakan hal yang hanya terjadi di kepalanya. Yang dia inginkan demikian. Dia keluar masih mendengar omelan Mak terhadap suaminya. Di sanalah. sehingga dia sendiri terjerat dalam khayalannya. kenyataan dan harapannya sudah begitu menyatu. sulung. Karena badannya lebih tinggi dan besar dari anggota kelompok itu. Iwan meninggalkan rumah sebelum keluarga selesai menyunyah pisang.

“Pasti Iwan yang mengambil!” kata Mak seorang diri. menutup kancing baju. dia keluarkan gumpalan uang lusuh. Malahan mungkin dengan bunga. jumlahnya mendekati tujuh ratus ribu.Hanya. lalu akan mengenakan baju. Iwan pergi untuk belajar di rumah kawannya. dia tunggu lagi sampai anak itu mandi. untuk apa uang itu. Mak turut masuk kamar. Mukamu pucat. dua ratus ribu lebih sedikit.” Mak menghitung. pada suatu pagi ketika Mak akan membuka warung. Di sana tentu disuguhi makanan. Alangkah terkejut dia melihat tulang iga Iwan yang mencuat.” Lalu Iwan terburu-buru. Terakhir dia masukkan uang kemarin malam. Diberikan kepada Mak.000. anaknya bawa 183 . Mak bertanya lembut. karena si sulung sudah berlalu. Dia mengira anaknya marah karena permintaannya ditolak Pak RT. “Mau belajar bersama teman-teman. Paling-paling lima ribu. Hati Mak tenang. Rupanya baru kali itulah dia menyadari betapa kurusnya si sulung yang dia banggabanggakan. Rambutnya masih basah dan belum disisir. menggosok rambut dengan kain apa saja yang tersampir di sana. Mak takut bicara kasar. “Ke mana?” Mak masih mengikuti. “Nanti kalau usahanya berjalan. “Kuberikan kepada Herman. tangannya mengulurkan satu lembar sepuluh ribuan. Apa lagi. Mak”. “Ini sisanya. Sampul coklat masih ada tetapi kosong. Tapi tidak apa-apa. Mak lega. Kalau ada keperluan sekolah bisa sepuluh atau dua puluh ribu. Biasanya. berhenti lalu katanya “Minta Rp 10. “Mau ke mana?” Mak bertanya. bersama tukang pompa ban. bahkan nyaris merayu si anak. pagi Iwan dan Yuni disuruh mengambil uang sendiri di kotak di dalam laci. Tidak banyak. di muka sekolah. Herman akan mengembalikan. Besok pagi langsung ke sekolah. meneruskan bicaranya. Mak tunggu anak sulung itu seharian. sudah menyambar tas dan melangkah ke pintu kamar akan keluar. terkejut bukan kepalang karena uang yang dia selipkan di belakang stoples di rak paling atas hilang. kasihan tidak punya modal. Baru muncul hampir petang.” “Aku jajan bakso tadi.” lalu dari saku celana seragam yang kembali dia pakai.” Mak harus puas dengan jawaban tersebut.” kata Iwan lagi. “Apa usaha temanmu?” “Bengkel kecil-kecilan.” Iwan menyahut. dadanya kerempeng. Tadi siang kamu juga tidak pulang makan. Tenang dan tanpa ragu Iwan menyahut. “Makan dulu! Kamu kurus. Mak bertanya mengapa mengambil uang sebanyak itu. Dia mau buka usaha.

” akhirnya itulah yang dikatakan Mak. “Dia pulang sore. kalau Iwan pulang makan. Maknya Iwan menjadi ragu. Seorang guru melihat ke buku catatan. “Buka reparasi kecil-kecilan bersama tukang ban. tidak keluyuran. Banyak makanan dijajakan di malam begitu. katanya. tapi Selasa. “Dia berangkat sekolah setiap pagi. maka kami memberi kelonggaran mengikuti tes untuk akhir catur wulan. Ketika kepala sekolah merasa sudah cukup mengorbankan waktunya untuk mereka. Yang paling nampak adalah ibu Herman. Dengan suara terbata-bata. Seperti biasa. Ibunya Iwan. Kecuali Anda. Katanya banyak tambahan pelajaran.. Khodir berkali-kali mangkir. Sekarang. bahwa Iwan mengambil uang banyak sekali dari warungnya untuk ‘dipinjamkan’ kepada temannya itu. anak-anak mereka tidak naik kelas.. lebih baik mengetahui anaknya berada di rumah teman.” Dan yang lebih-lebih mengejutkan para orang tua kedua teman Iwan. Sudah tahu sendiri apa yang harus dikerjakan. Iwan sendiri. Rapor anak-anak itu semakin lama semakin jelek. “Hari Senin masih masuk. tidak tahu bagaimana harus menjawab secara tepat. dua hari kemudian orang tua diminta datang mengambil rapor. Kami kira. dia memutuskan: “Sebaiknya ibu-ibu berbicara kepada anak-anak Anda. menanggapi. ialah anak-anak mereka sudah setengah tahun tidak membayar uang sekolah. “Usaha apa?” hampir serempak mereka yang berada di sana bertanya. “Bukankah Herman membuka usaha di depan sekolah?" Ibu Iwan merasa perlu mengutarakan pengetahuannya. mandi atau untuk keperluan lain. ibu-ibu akan melunasi uang sekolah sekarang. Juga hadir dua guru.uang. Mak yang berangkat. bukan?” Mak kebingungan. Mendengar itu. dia menganggapnya sudah besar. Kepala sekolah menemuinya bersama sekelompok orang tua lain di ruang tersendiri.” istri Pak RT berkata membela anaknya. Pak RT tidak pernah menyuruh-nyuruh anak itu berbuat begini atau begitu. Rabu sampai hari ini tidak kelihatan. Mak senang.” dan Mak itu hampir melepas lanjutan kalimat. Rupanya. Herman sudah dua bulan tidak masuk.” kata kepala sekolah. Jadi Mak juga meniru suaminya. Sejak si sulung lulus SLTP. Jangan sampai terlanjur mendapat pengaruh buruk dari jalanan. ya dia pasrahkan saja ke bawah Lindungan Yang Maha Kuasa. 184 . Itu memang baik jika memang demikianlah kejadian yang sesungguhnya. Tetapi kalau anak itu tidak kelihatan. Mak berpikir. tidak nampak di sekolah sejak empat hari. bisa jajan. Itu baik. Anak Ibu pulang ke rumah setiap hari. Dan yang sesungguhnya terjadi ialah. “Kami menerima uang tes.

Tergesagesa dia mandi dan melunasi tiga rekaat. Sementara itu orang mulai berdatangan memasuki ruang pertemuan. Petang itu Pak RT pulang setelah panggilan shalat Maghrib dikumandangkan. mengelilingi tiga atau empat piring berisi kudapan. Kaum muda lelaki dan perempuan. Kami 185 . juga selalu banyak makanan dan rokok. lalu mengenakan baju berkerah dan sarung. Untuk beberapa saat terdengar pembicaraan. Selain di situ suasana cerah. lalu mendongak ke arah dalam. Pak RT tetap belum pernah terlambat mengikuti rapat kami!” “Sebetulnya malahan kami yang merepotkan Bu RT.”tanggap Pak RT sambil menempatkan dirinya di atas tikar. ini kami sedang memperbincangkan berita yang didengar tukang rokok di depan Karangrejo. Begitu pula para pendatang.“Memang banyak ekstra kurikuler. serunya. Ada sopir taksi yang dirampok katanya. “Silahkan! Silahkan! Direruskan saja. mulutnya mengunyah gorengan bergedel jagung penuh minyak. saya juga dengar. Gelasgelas itu diletakkan oleh pembantu di atas meja rendah yang berderet di tengah. Dan selalu ada yang menjawab. “Bu! Tehnya ditambah!” Pembantu-pembantu meyorongkan ceret berisi tambahan minuman. “Maaf! Maaf! Saya terlambat!” kalimat itu selalu mengiringi masuknya Pak RT ke dalam ruangan. Padahal katanya. Para pelayan sudah terdidik. Mereka pulang berpeluang mengantongi paling sedikit satu pak kretek atau filter. Pak RT orang yang sibuk. Tanpa menunggu lama.” seseorang menjelaskan. Bu.” kata-kata lain yang dimaksudkan lebih manis terdengar dari pojok lain. Kami semua tahu bahwa Pak RT pasti hadir meskipun kami harus menunggu.” Disambut dari sisi lain: “Ya benar. masing-masing tamu sudah mendapat jatah teh manis. Ini kami sudah mulai menikmati hidangan. mengerti.” “Ya. Kami minta maaf.” sahut seorang guru. pria-pria lajang atau yang telah berumah tangga tapi lebih suka menghindar dari kerepotan anak tak hentinya memasuki pintu di sebelah ruang tamu Pak RT. “Anu 4.” sahut Pak RT. “Tidak apa-apa. Walaupun tidak semua dari mereka itu aktif mengerjakan sesuatu guna membantu kelancaran organisasi kampung. sesuai pilihan masing-masing. sopir taksinya ditusuk pakai obeng. Pak RT. Tetapi saya jarang melihat Iwan mengikuti tambahan pelajaran itu. tetapi semua tahu bahwa mengikuti pertemuan di rumah Pak RT tidak pernah rugi. selalu merepotkan ibu. “Apa beritanya sudah masuk koran atau televisi?” “Kok belum ada.

langsung menuju pintu yang terbuka. Penjual mi ayam pagi-pagi di depan toko saya yang cerita begitu. Pertemuan demikian diusahakan berakhir pukul sembilan. Begitu nampak terpikat dia sehingga sejak melangkahkan kaki ke dalam rumah petang itu. seorang lagi duduk di belakang kemudi. dekat sekali! Kok polisi tidak sampai ke sini ya. “Bapak Rajiman?” “Ya. mengenai itu juga saya dengar. memanggil penjaja makanan apa saja: mi kopyok.” lelaki yang terdekat dengan pintu melongokkan kepala memberi salam. saya sendiri. Dia menggandeng lengan orang yang baru datang. Pak RT membiarkan pintu terbuka.” sahut Pak RT. “Ayo kita mulai membicarakan lapangan volly saja! Jangan ngurusi rampokan. menemui si pendatang. Atau paling lambat setengah sepuluh. Bau daging bakar berbumbu memenuhi udara malam lembab. Rundingan yang disebut rapat pun dimulai. sementara kotak kaca dibiarkan terus menyiarkan tayangan yang dipilih. Mereka makan dan berbicara. mengatakan gagasannya. Televisi di sudut ruang dinyalakan. bakso atau sate. Dia kelihatan sibuk. tiduran atau bersandar ke dinding. “Betul! Betul! Kalau tidak. kita tidak akan selesai sampai besok pagi. Satu kali menengok ke arah dalam rumah.” Pak RT mengambil satu bergedel lagi. Mata bapak itu melirik ke kejauhan. Mereka bersama Pak RT menikmati sate ayam dengan lontong kenyal. Itu biar diurus polisi!” kata seorang lelaki yang duduk tidak jauh dari pintu masuk. Mereka ngelantur mengobrol. Seorang di tengah-tengah halaman. “Selamat malam. menariknya menjauhi pintu. seorang di pagar. tak satu kali pun ingat apakah dia sudah melihat anak sulungnya hari itu. “Di situ saja! Di dekat Jatidiri!” “Wah. tiga tamu belum meninggalkan ruang pertemuan. Dia juga belum diberitahu oleh istrinya bahwa Iwan tidak naik kelas atau pun mangkir sekolah pekan itu. Tetapi tidak jarang Pak RT menahan dua atau tiga tetangga. Terdengar suara bebincang rendah. Yang penting Pak RT tidak makan lagi. 186 . Sebuah jip memasuki kampung pukul sepuluh lebih sedikit. mereka santai menonton. Yang lain-lain kabur!” “Ya. Ada tiga lelaki lain.“Di mana kejadiannya?” Pak RT bertanya. Serius atau santai. menyumpalkannya di antara gigi besarnya. berbicara. Dua orang turun. Satu kali bertanya kepada tukang becak. membantah.” sahut suara lain. Pak RT bangkit dari tikar.” “Yang saya dengar. Kelihatan kepala Pak RT tertegak. kemudian berhenti di depan rumah Pak RT. Malam itu. satu pelaku sudah diringkus.

saya harus pergi.” Lima menit berlalu sejak kedatangan tamu baru itu. Tetapi nyatanya. biasanya dipakai karena gugup atau sungkan . jelas terdengar bahwa waktu istirahat seisi rumah terganggu. Seorang tetangga duduk di sampingnya. kakinya ditembak. Sesaat berlalu. 4. “Saya tidak tahu apa maunya anak-anak ini!” kata Pak RT seperti kepada dirinya sendiri. Teh kental 3. sudah mengenakan celana panjang. Nama Iwan disebut-sebut. langsung menuju ke rumah induk. Kamu dua pancuran. bahwa Khodir ditangkap di terminal Jatingaleh. Juga sebuah kotak korek api penuh butiran obat terlarang. Katanya singkat kepada tamunya yang baru menikmati daging sate. Karena tidak mau berhenti sewaktu dipanggil. “Maaf.*** 187 1. Di sakunya terdapat bungkus rokok berisi lintingan ganja siap pakai. Khodir mengaku bahwa dia melakukan perampokan dibantu oleh Herman dan Iwan.Dua menit kemudian Pak RT masuk kembali. Dia menawarkan diri menemani Pak RT ke kantor polisi. . Dia berlari ketika polisi menyelidiki kasus perampokan dan penusukan sopir taksi dinihari sebelumnya.. Silakan Anda pulang. Sumber air/telaga terletak di antara 2. Tugasnya malam itu adalah menemani Pak RT.” Lalu Pak RT muncul di pintu. “Sudah hampir seminggu Gus Iwan tidak pulang. Belum ketahuan pasti jenis apa.. Dia memanggil-manggil.” Tetangga di sebelah Pak RT tidak berani mengeluarkan pendapat. Kata tambahan dalam bahasa Jawa. “Saya dan ibunya membanting tulang memutar otak untuk mencari uang. Percakapan yang kacau menyusul perbantahan di antara penghuni. Tiba-tiba ada suara pembantu lain yang lebih jelas. Bukan untuk berbicara. Biar pintu ditutup. Pak RT menyetir kendaraannya mengikuti jip keluar kampung. Maka ketahuan bahwa dia membawa senjata tajam. Pak RT harus memberitahu polisi alamat semua kenalan atau saudara yang mungkin dijadikan tempat bersembunyi kedua remaja itu. Dia adalah satu dari mereka yang selalu dibantu Pak RT supaya bisa hidup berkecukupan. bisa sekolah. Supaya mereka hidup layak. Serse memberitahu bapaknya Iwan.

Dan panas terik seolah membakar udara pantai. di bawah matahari silau para pelayat datang dari mana-mana untuk menghadiri pemakamannya. Namun ia adalah salah seorang tokoh masyarakat yang begitu dihormati di kota pantai yang berpenduduk sekitar 400. September 2000 Upacara Hitam Oleh: Abrar Yusra 188 Langit di atas kepalaku terpentang biru. Siapa tahu. Pada hari pemakaman ayahku alam pun tidaklah adil. “Di sini.Horison. Masing-masing memasang muka dan pakaian berkabung yang sedemikian pantas.” bilang ayah. Namun di bagian kota lainnya langit digantungi mendung gelap dan bumi di bawahnya mungkin disiram hujan. Gelap. Silau. Sebab yang paling merisaukan sebenarnya adalah saat-saat ayah bergulat di pembaringan. Ketika meninggal ia masih pimpinan beberapa yayasan. Aku memandang khalayak. Walikota pun ikut berjubal di tengah khalayak dan kini di panas terik ia dengan takzim sedang menyampaikan pidato kematian yang panjang dan entah kapan habisnya. Ayah berkata. Ganjilnya. Masih berbayang di ingatanku bagaimana mulanya.000 jiwa itu. Sebaliknya justru merupakan permulaan bagi kesedihan besarku. Tubuh ayah yang gemuk seperti ulat itu terbaring sehat-sehat saja. mengirimkan sinar matahari yang menerobos menyilaukan mata. jangan-jangan mereka justru tertawa di hati masing-masing! Di deretan depan kulihat adik-adikku. melawan penderitaan di hari-hari sekaratnya yang panjang. Ayahku bukan pejabat atau tokoh politik. Tapi aku tahu hati mereka lebih cerah karena ayah sudah meninggal dunia. Tapi apa peduliku. Aku menatap matahari. silau juga. Lihatlah. bagaikan organ-organ di dalam tubuhnya dipelintir tanpa ampun oleh tangan-tangan buas yang tak kelihatan. Tidak. “tapi sudah hilang sendiri!” . Maka bukitbukit kuburan seperti jadi lautan manusia. sambil menepuk perut dan menitikkan airmata kesakitan. katakanlah tidak memalukan — termasuk Aditi kecil. Dengan datangnya kematian ayah kami maka kesedihan besar pun berlalu bagi adik-adikku. sewaktu-waktu dalam waktu pendek ayah pun berteriak-teriak dan tubuhnya menggelepar-gelepar melawan sakit.

maka ayah tidak kami perkenankan keluar rumah sendiri. Ayah pun ragu apakah ia betul-betul sakit. Berita bahwa ayah sakit segera terbetik ke mana-mana. Malam itu para pengunjung sudah pada pulang. Nampaknya seperti untuk bersenang-senang. Maka hidup ayah jadi aneh. Ayah sendiri sudah mulai menolak berbagai undangan rapat dan ceramah yang biasanya tak pernah dilakukannya. Siapa pun maklum bahwa kematian ayah memang tinggal soal waktu saja lagi. seolah ia sudah sembuh. “Lebih baiklah kalau ayah di rumah saja. Tapi makin lama makin sering. serangan sakit itu datang sendiri dan hilang pula sendiri. Maka ayah kami bawa ke dokter spesialis yang lain dan tak ada hasilnya. sehingga membuatnya capek. ketika sedang tidur atau lagi ngomong baik-baik. apalagi mengobatinya. makin sering saja. Sebab seperti semacam misteri. Kami benar-benar kalang kabut. Ia lebih banyak tidur dan makin lama hanya terjaga bila rasa sakit menyerang lagi tanpa ampun. di antaranya tanpa bersuara main halma atau main kartu. Kami anak-anak ayah tidak puas dengan hasil pemeriksaan dokter. Mereka datang memang untuk sekedar menghibur atau menunjukkan rasa akrab pada kami tapi bukan menunggu atau mengharapkan kesembuhan si sakit. “Tak ada gejala penyakit apa-apa. lalu mengerang-erang melepaskan kata-kata tak jelas yang berlepotan dari mulutnya. Lalu kami mendatangkan sendiri seorang dokter ke rumah di pinggiran kota. Dan sejak ayah mengalaminya di dalam mobil lalu ketika sedang berpidato. Tapi ayah merasa perlu mendatangi sendiri seorang dokter spesialis di pusat kota. 189 .“ kata dokter. kapan saja di mana saja. Makin cekung dan sepi. Namun jika serangan penyakitnya datang.” cemooh ayah tertawa. nyatanya serangan sakit demikian datang lagi lantas hilang lagi. Makin lama muka tua itu makin berkerumuk. Maka para pengunjung pun pada berdatangan ke rumah. Yang tinggal hanya para tetangga. Seolah hanya diserang penyakit yang lucu.Ayah malah mencoba tertawa. Ada yang ketawa sebab mendapati ayah biasa-biasa saja. Baru saja sekali enam hari. tak peduli sedang ada tamu atau tidak. lalu sekali tiga hari! Kini sewaktu-waktu ayah bisa terserang rasa sakit. Ya. perlu diobati atau tidak. Sesudah berlangsung beberapa bulan masih belum ada dokter yang mampu mengenal penyakit ayah. juga tanpa hasil apa pun. tiba-tiba ayah menggelepar-gelepar dan berteriak-teriak keras kesakitan. Rencana untuk membawa ayah atau mendatangkan dukun ditolak ayah mentahmentah. Penyakit itu menganiaya ayah dengan semena-mena benar. “Masa panitia yayasan rumah sakit diobati dukun kampung?” Serangan penyakit aneh itu mulanya sekali dalam 20 hari.” kataku. “Jangan. Aku suka sikap terbuka para tetangga demikian. Malah ayah bisa tertawa keras meskipun tubuhnya lebih kurus.

Keterlaluan penderitaan orang tua itu. Hanya kematian yang mungkin mengakhiri penderitaannya. Nah. Rasanya berdosa membiarkan ayah hidup eh sakit teraniaya demikian. Seperti digerogoti setan. Yah. Tapi kematian rupanya tidaklah ditentukan oleh permintaan dan desakan seseorang. bahkan ilmuilmu hitam. ampun!” Lalu dengan sisa-sisa tenaganya yang amat lemah. ayah seperti memohon: “Biarkan aku mati. seolah mataku dapat mengikuti atau membayangkan suatu makhluk tak dikenal bergedencak dalam tubuh ayah seperti seekor binatang liar seradak-seruduk di bawah selimut. Aku di kamar tidur ayah dihinggapi perasaan aneh: aku serasa mau sinting karena ayah tak sembuh-sembuh juga. rupanya ia sudah selesai menutup jendela-jendela. tinggal tulang-tulang dibalut kulit keriput. Lalu ia bilang dengan suara tenang tapi terang. Seolah menampik hidup dan penderitaan. “Ampun. Nak!” suara si kakek lagi. Seolah mau bilang apa pun akan kulakukan asal ayahku tak dizalimi penyakit yang misterius itu lagi. Aku gemas kenapa ayah tidak mati-mati juga. Ia tersenyum. Termasuk berguru ilmu-ilmu kebatinan. Bagimu mungkin ia seseorang yang hebat. punya mobil. Ayahku meraung lagi. Sinar hidup dari matanya sudah padam! Aku serasa mau gila. 190 . Dan di ruang tengah kedengaran tamu terakhir yang sebelumnya bersamaku menunggui ayah sedang menutup daun-daun jendela. apakah harus menerima atau membantah kisahnya. Tak tahan menyaksikan tubuh ringkih itu kembali menggelepargelepar. pemimpin masyarakat yang modern. Itu seperti dongeng dari dunia dan zaman lain. Adik-adik sudah pada tidur. “Bagaimana beliau?” ia bertanya. Tak ada daya untuk melawan perkosaan penyakitnya. Tak tahu aku.Sudah larut dinihari.” Aku menatapnya tak berdaya. ya ndak! Tahu apa itu ilmu hitam?” Aku hanya melongo. Konon ia teman ayahku dulu. Setelah berbulan-bulan maka seakan baru benarbenar kusadari bahwa tubuh ayah yang gemuk seperti ulat itu kini sudah keropos seperti kepompong busuk. barangkali juga pingsan lagi. “Kamu kenal siapa ayahmu. “Harus kaulakukan sesuatu. Seolah raung itu pun menghabiskan cadangan tenaganya. Segala cara kami lakukan untuk itu. Maka kudengar langkah-langkah memasuki pintu kamar. Yang geresehpeseh bahasa Inggeris. Muka cekung ayah sudah menghitam. Maka aku berdoa untuk kematian ayahku. maka: “Jangan!” rintih ayah tak jelas. mati!” Maka ayahku menangis. Ia sudah melihat dengan mata kepala sendiri bahwa malam itu serangan sakit ayah paling menjadi-jadi. si kakek itu lagi. Tapi aku lebih kenal ayahmu sebab dulu kami pejuang gerilya yang harus mencari senjata dan bertempur. “Saya bisa membantumu. “Kambuh lagi?” Aku mengangguk.

. cukuplah di sini kukatakan bahwa ilmu hitam terkutuk itu mengakibatkan maut pun menolak tubuh ayahku.! Kini di bawah matahari. Maka jalan terbaik bagimu. atau kampak atau apa! Apakah Si Hitam mulai membuatku jahat? Maka matahari yang menyilaukan ini. meskipun aku tak merasakannya! Dan ayah pun. benar-benar tidak adil dan menakutkan seperti mimpi buruk! Dalam hati aku menyumpahnyumpah karena aku kehilangan makna diriku sendiri. upacara pemakaman dan khalayak ini pun kurasakan sebagai bagian dari takdirku yang terkutuk sebagai pewaris biang dosa ayahku. anaknya. yang sempat sadar pada detik-detik terakhir. Tak dapat kubayangkan bahwa iblis itu. betapa terkutuk. Tapi itulah suatu kematian paling ganjil yang pernah kukenal. Sebelumnya aku selalu mengagumi ayahku dan membayangkannya sebagai tokoh yang terhormat. di tengah khalayak ramai yang memenuhi bukit-bukit kuburan jelaslah bahwa memang ayahku sudah meninggal dan dihormati penduduk kota selayaknya. seolah kulihat nyata_. kami berhasil membebaskan ayah dari penderitaannya. Tapi Si Hitam terus bergedencak menyiksa ayahku yang terkapar tidak hidup dan tidak mati. akan terus memperkosa ayahku. betapa terkutuk! Ternyata aku tidak siap untuk itu. hina dan memalukan. Sebab kubayangkan. yah. bahkan paling terkutuk. Si Hitam sedang sewenang-wenang seradak-seruduk di sana. benar-benar iblis. Cara mati ayahku yang terkutuk itu hanya menjanjikan bahwa masa depanku tidaklah lebih dari pengulangan atau pelanjut kebusukan ayahku sendiri. justru tidak sedih atas kematian ayahku.“Sederhananya ilmu iblis. Maka beliau akan meninggal dengan tenteram!” Ketika tubuh ringkih ayah menggelepar-gelepar lagi maka aku seolah benar-benar sedang dalam cengkeraman mimpi buruk. akhirnya menghembuskan nafas terakhir dengan tubuh capek berkeringat. Lalu ditambahkannya dengan suara tenang juga: “Si iblis itulah yang menzalimi beliau. apa pun artinya. jika memang hanya itulah cara agar Si Hitam keluar dari tubuh ayahku — sesuai dengan persumpahan ayahku! Tak usahlah kukisahkan bagaimana dengan bantuan si kakek itu.. malah sepertinya aku ingin mencincang-cincang mayatnya dengan pisau. serta mulut komat-kamit begitu lemah. Kalau aku tidak malu. Seseorang yang memelihara ilmu hitam sebenarnya memelihara iblis dalam dirinya. karena iblis yang dengan persumpahan bersarang dalam diri ayahku takkan mati-mati sampai hari kiamat. karena aku kasihan padanya! Dengan perasaan kosong kulihat mayat ayahku diturunkan ramai-ramai ke lubang kuburan gelap. Kematian adalah pantas dan wajar bagi setiap orang. kaupungut saja Si Hitam. _tidak. Sebab aku tak pernah membayangkan bahwa kematian ayahku harus kutebus dengan mewarisi keiblisan dan iblis ayahku dalam suatu upacara paling gila malam itu. Maka Si Hitam jahat itu kini mendiami diriku. Tapi sejauh yang dapat kutangkap. itulah yang diseru dalam mantra-mantra dengan nama Si Bujang Hitam atau Si Anjing Hitam!” Panjang juga uraiannya. Maka tanpa pikir lagi kukatakan pada si kakek bahwa aku mau memungut Si Hitam. yang berjuang dengan cara-cara terhormat. Aku sendiri. Bahkan aku ingin seperti itu! Ternyata ayahku memperdayakan orang-orang yang mengaguminya dan menjahanamkan aku. Betapa terkutuk nasibku!*** 191 . sebab demikian firman Tuhan tentang iblis.

” kata suara entah dari mana yang selalu bergaung memenuhi kesumpekan ruang tubuhku ini. lidahku. Semua cermin yang kutemukan tidak bisa lagi dipergunakan. Betapa sunyi keinginan ini. Seluruh anggota tubuhku mengalirkan darah. . tapi selalu berakhir dengan kelelahan. maka kamu akan melihat diri sendiri. Aku merasa tubuhku ini bukan lagi rumah pribadiku. Kesadaran itulah yang mendorongku untuk bercermin. mataku. Aku merasakan suatu kesakitan yang nikmat saat darah itu mengucur setetes demi setetes. setidaknya untuk mengetahui siapa saja penyatron ruang-ruang tubuhku yang sadar atau tanpa sadar sempat kukosongkan itu. Bukankah setiap hari aku menjadi aku. Maka aku menemukan cermin itu saat keinginan yang sunyi itu menusuk-nusuk seluruh tubuhku dengan pisau cekamannya. Ismail 192 “Bercerminlah dengan khusuk. Aku memasuki wc-wc umum. diskotik. Setiap tengah malam aku terbangun dan mencari-cari cermin. menerjemahkan hati menjadi apa saja. menjadi diri sendiri. mushola. dengan kekerasan atau tanpa kekerasan. berekspresi. karena aku memang bukan seorang pemain sinetron atau drama. Setiap suara entah dari mana itu bergaung memenuhi kesumpekan ruang tubuhku. Semua cermin telah retak dan pecah. Tubuhku menjadi media ekspresi penghuninya yang bukan aku saja itu. Tapi sering aku tiba-tiba asing dengan diri sendiri. Maka tanganku. bisa bergerak selain diperintah olehku. hotel. Begitu banyak perilaku yang tidak bisa dimengerti mengapa pernah aku lakukan. Teringat kelegaan dari tangisan di waktu kecil itu. bisa jadi telah dibangun kamar-kamar yang sadar atau tanpa sadar telah aku kontrakkan kepada entah apa dan siapa. tiba-tiba aku tidak bisa yakin apakah cairan yang keluar dari seluruh tubuhku itu benar-benar darah atau air mata. 1992 Menyiram Bunga di dalam Cermin Oleh: Yus R. gereja. mulutku. kakiku. aku pontang-panting mencari cermin. Aku tidak bebas lagi bergerak. Aku toh bukan Dedi Mizwar yang biasa memerankan Naga Bonar atau apa dan siapa saja. candi. Bila sudah mengetahuinya. aku ingin mengusirnya. Aku teringat masa kecil saat emosi telah memuncak aku melepaskannya dengan tangisan yang keras dan merasa tenang setelah tangis itu berhenti. Dan begitu banyak keinginan yang tidak aku lakukan.Jakarta. Di dalamnya. Tapi keinginan yang mencekam itu selalu membangun kelelahanku menjadi orang yang pantang menyerah.

aku melihat berbagai metamorfosa menjadi warna-warna yang artinya tak terjangkau pengetahuan ilmu semiotikku. batang. Dengan gembira aku mengangguk dan menghampiri. Di matanya. Namaku memang tidak jelas. tubuhku terpampang seperti jutaan potret dari yang beragam betuk dan rupa. Entah . Perubahan keyakinan itu memang begitu menyakitkan. Aku telah terbawa air. Aku suka membicarakan apa saja dengan siapa saja. aku tak yakin. ketaksempurnaan. Tapi ketidakjelasan itu merupakan kejelasanku. Aku meresap ke dalam tanah sambil mengingat hektaran hutan menjadi gurun tandus. mengobrak-abrik ruang-ruang tubuhku. Bila bertemu denganku. Tapi kesakitan itu pun aku rasakan menjadi kenikmatan yang tiada bandingannya. di mana saja. Lukisan penyiram bunga dengan latar belakang kemerahan langit senja yang entah di mana dan kapan pernah aku lihat itu terpantul kembali di setiap potret diri yang kulihat di mana-mana dan apa saja yang tiba-tiba kulihat sebagai cermin.Keraguan itu menjadikan aku merasa sekali waktu cairan yang keluar dari tubuhku itu benar-benar air mata dan di waktu lain benar-benar sebagai darah. Sejak kecil cita-citaku memang menanam bunga. ini sebuah jeritan atau geraman dari dendam. Sampai aku sadar bahwa badai itu hadir di dalam tubuhku. api. 193 *** PANGGIL apa saja maka aku akan menoleh. bagaimana tanah menguapkan bau yang khas. Ada kuncup yang menjadi keindahan bunga mekar menjadi keresahan kelopakkelopak yang tanggal dan menjadi kesadaran kesementaraan. kesendirian. semuanya menjadi silet-silet yang tanpa henti menoreh-noreh tubuhku. Tapi begitu air jatuh dari gayungku. bagaimana angin bergurau dengan tangkai mawar. air. Aku tidak bisa membedakan suara keduanya. kesunyiaan. kepedihan. kepapaan. Aku ingin merasakan lebih dalam getaran metamorfosa dari banyak hal itu. Di tanah. Tubuhku telah terpantul di mana-mana. Aku banting-banting di tengah lautan yang kuciptakan sendiri. Kesedihan. Aku menyusuri daun dan batang sambil mengingat kesakitan hutan yang ditebang dan di bakar. dsb. kabut. Eh. “Mau kamu mencoba menyiram bunga?” tanya si penyiram itu ketika aku begitu takjub dengan matanya. Tapi bila ingin ngobrol menghabiskan malam atau menghabiskan waktu menjadi tanpa ukuran. Barangkali kesakitan dan kenikmatan adalah dua hal yang menempati satu ruang kesadaran. sampah. Aku mendengar kesakitan hutan itu seperti jeritan badai yang terus berdebur. ketakberdayaan. Aku tak pernah lupa bagaimana air menetes dari ujung daun. Ada pucuk yang diam-diam menjadi kesegaran daun menjadi kelelahan daun kering dan menjadi cekaman musim gugur. Dan begitu banyak lagi metamorfosa lainnya. Tiba-tiba aku menyadari bahwa aku sebenarnya tidak perlu cermin. Aku selalu terkenang dengan sebuah lukisan (yang entah di mana dan kapan pernah aku lihat) tentang seseorang sedang menyiram bunga dengan latar belakang langit senja yang kemerahan. jangan ragu-ragu untuk menyapa. daun. aku lupa dengan metamorfosa itu. “Mau menyiram bunga?” tanya si penyiram itu sekali lagi. angin. temui saja aku di kebun bunga. mengalir ke mana saja yang kumau.

Kami tidak bisa membayangkan. “Apa perlunya nama. Aku merasa tubuh ini sakit-sakit.” Aku memandang orang yang aneh itu. Peristiwa-peristiwa itu memang penuh dengan darah dan rasa perih. bila seluruh peristiwa itu tercatat. Kami tahu tempat-tempat itu pun akan menyediakan hidangan kesakitan-kesakitan lain begitu kami datang. Tidak bisa terbayangkan. 194 . Atau Pangandaran.” Siapa sebenarnya orang ini? Orang gila atau makhluk angkasa luar? Karena aku diamkan cukup lama. Aku menyusulnya sambil berteriak. Karena semua nama akan cocok dengan pantai ini. aku dan angin. Sepanjang sejarah. Air mata siapa lagi itu kalau bukan milik kita. Barangkali sepanjang hidup ini akan dihabiskan untuk mengembara. berapa banyak kertas dan tinta yang akan kami habiskan bila setiap peristiwa dicatat. Setiap kaki melangkah meninggalkan suatu tempat. Setiap kaki melangkah meninggalkan suatu tempat. orang beransel besar itu terbang. Kami merasa peristiwa itulah yang lebih penting dibanding dengan nama-nama. Bertahun-tahun kami mengembara.” Beberapa jenak aku tercenung. Kami seperti punya kesepakatan bahwa sebaiknya memang tidak dicatat dan dibicarakan. “Pantai apakah ini?” Aku malah balik bertanya. “Ya. kami merasa begitu banyak tempat yang belum kami kunjungi. “Aku ikut!” Kami mendaki bukit menuruni gunung masuk ke lembah menyusup ke lorong-lorong. Sungai-sungai mengalirkan air mata. Pantai apakah ini? “Mau ikut denganku?” tanya seseorang dengan ransel besar di punggungnya yang mengingatkanku akan perjalanan yang panjang dan jauh. Tapi sayang kami tidak mencatat peristiwa-peristiwa itu. Barangkali benar bahwa nama-nama tempat tidak penting bagi seorang pengembara. tapi kami tidak bisa tidak mengunjungi tempat-tempat itu. karena tahu-tahu aku berada di pantai yang tenang dan pagi yang anggun. Suara tangis terdengar di mana-mana. Atau Pelabuhan Ratu. begitu lelah. berapa milyar pembaca yang akan sakit. kami merasa begitu banyak tempat yang belum kami kunjungi. Tapi kertas dan tinta itu bukanlah alasan yang tepat mengapa kami tidak mencatat. Barangkali hidup memang pengembaraan itu sendiri seperti kata Seno Gumira Ajidarma dalam sebuah cerpennya yang kubaca di toko buku entah di daerah mana. Barangkali merasakan kesakitan-kesakitan di tempat-tempat yang berbeda itu adalah hidup kami. Maka kami. pergi dari tempat yang satu ke tempat yang lain sambil merasakan rasa sakit sendiri-sendiri. rasa sakit barangkali bagian dari hidup. Kami banyak menyaksikan beragam peristiwa di setiap tempat. Pantai Panjang juga bisa. karena hanya kita yang menghuni dunia ini. “Kuta. Kamu bisa menamakan pantai apa saja sesukamu.berapa lama aku pingsan. Saat itulah aku yakin bahwa orang itu adalah angin. Benarkah ini pantai Kuta? Melihat dari tanda-tandanya aku merasa ini Pantai Panjang.

aku berada di sebuah taman yang entah bernama apa dan di mana.*** 195 . aku yakin bahwa taman ini adalah lukisan yang terpantul di potret diri dari cermin-cermin itu. Eh. Sinar lembutnya disambut hangat lebah-lebah yang tanpa lelah mencari madu dari bunga ke bunga.Keyakinan itu terus berada di hatiku sampai rasa lelah dan sakit tidak bisa lagi aku tahan. aku baru sadar di taman ini pun ada ulat yang terus-terusan memakan daun dan mengerek batang. “Mengapa berhenti menyiram bunga?“ kata seseorang yang sebelumnya kukenal sebagai si penyiram bunga itu. Aku tak mau pergi dengan ulat seperti yang pernah kulakukan dengan air dan angin. Atau aku pun adalah ulat? Ah. Tapi aku tidak mengacuhkannya. Ingatlah. Kita tidak bisa merasa sakit dan perih. Memandangnya sambil mencoba memahami kunyahan mulutnya aku merasa begitu dekat dengan ulat.. “Mengapa tidak menyiram bunga lagi? Dengan menyiram. Karena sakit dan perih adalah hidup kita. Aku berdiri dan pergi. Aku pingsan entah berapa lama. Dia barangkali tidak sadar bahwa kepergianku dari taman itu pun adalah pengembaraan.. kamu bisa pergi ke mana saja. kita tidak bisa tidak pergi.” Dan entah apa lagi yang diucapkan si penyiram bunga bermata penuh metamorfosa itu. aku tak mau mengikuti pengembaraan yang melelahkan itu. Aku lebih tertarik dengan matahari yang membuat langit memerah itu. Saat kulihat ke sekeliling.. Dan begitu terbangun. Aku sadar bahwa aku tidak seperti angin yang ditakdirkan sebagai pengembara.

Aku tidak ingat tepatnya berapa umurku. dan ladang itu — semua itu adalah hal-hal terpenting dalam kehidupan kami. dan aku juga mencintai sungai itu. dengan tergesa-gesa menelan sarapanku. Kakekku pasti juga luar biasa tinggi. tinggi dan langsing sepertinya. Aku biasanya tahu saat kakek menginginkan aku tertawa. ketika aku ke mesjid untuk belajar Quran. atau belum pernah kulihat kakekku memasuki rumah tanpa harus membungkukkan badan begitu rendahnya sehingga aku mengingat bagaimana sungai akan mengalir memutar di belakang hutan kecil pepohonan akasia. saat untuk diam. terasa lembut dan tebal dan putih seperti kain wol — belum pernah dalam hidupku aku menyaksikan sesuatu yang lebih putih atau lebih indah.Horison. aku malah senang melakukannya. seperti kakekku. aku duduk di pinggir sungai dan memperhatikan patahan air yang mengalir menjauh ke arah Timur. pada saat aku sudah menjadi laki-laki dewasa. aku dulu mencintai mesjid. dan bersembunyi di belakang hutan kecil rimbunan pohon akasia yang tebal. Yang aneh adalah bahwa aku tidak pernah pergi bersama ayahku. Sementara kebanyakan anak-anak seusiaku menggerutu kalau harus ke mesjid untuk belajar Quran. sungai. Ketika lelah berenang ke sana-ke mari. juga aku akan mengingat saat-saat ia berdoa dan akan membawakan untuknya sajadah dan mengisi tempat air untuk wudhunya tanpa perlu ia memintanya. dan berlari untuk menyelam di sungai. orang-orang tinggi dan kurus dengan janggut putih dan hidung tajam. Aku suka membiarkan khayalanku dan membayangkan sebuah suku raksasa tinggal di belakang hutan itu. Sebelum kakekku bisa menjawab pertanyaanku yang banyak. ia akan menyeka ujung hidungnya dengan jari telunjuknya. yang akan menepuk kepala dan pipiku seperti yang mereka lakukan ketika melihatku bersama kakekku. Sungguh. Segera setelah selesai membaca Quran pada pagi hari. aku cepat menghafal Quran dan Syeh selalu memintaku untuk berdiri dan memperdengarkan ayat dari Sang Maha Pengampun kapan saja ia menerima tamu. cepat seperti jin. mereka akan menepuk kepalaku dan mencubit pipiku — hal-hal yang mereka tidak lakukan pada kakekku. karena sepupusepupuku adalah gerombolan anak yang bodoh dan aku — begitu kata orang — adalah anak yang pandai. Sebabnya. aku akan melemparkan batu tulis kayuku dan melesat menuju ibuku. Mesjid. kecuali pada pagi hari. tetapi aku ingat betul bahwa bila orang melihatku bersama kakekku. karena aku tidak pernah melihat orang di seluruh daerah ini yang menyapanya tanpa harus mendongakkan kepalanya. Ketika ia tidak . kakekkulah yang akan membawaku ke mana pun ia pergi. tidak heran. Aku menyayanginya dan akan membayangkan diriku. berjalan dengan langkah-langkah yang lebar. Aku yakin bahwa aku adalah cucu kesayangannnya. Oktober 2000 Segenggam Kurma Oleh: Tayih Salih 196 Ketika itu aku pasti masih sangat muda.

Kau lihat semua pohon kurma itu? Dan pohon-pohon itu — sant. Masood. Masood saat itu adalah pemilik semua kekayaan ini. penampilannya yang jorok. dan kakek dan aku saling bertukar pandangan. kemudian. galabia-nya dengan lengan baju yang robek. “Perempuan. “siapa yang memiliki pohon-pohon kurma itu. Aku bertanya pada kakek mengapa Masood menjual tanahnya. Aku sudah melakukan semua kecuali membersihkan pikiranku dari pikiran-pikiran yang berdesakan masuk ke kepalaku pada saat aku melihat laki-laki itu mendekati kami. semua pohon itu ataupun tanah hitam yang pecah-pecah ini.” dan dari cara kakek mengatakan kata itu aku merasa bahwa “perempuan” adalah sesuatu yang buruk sekali. Aku ingin sekali kakek tidak melakukan apa yang dikatakannya! Aku ingat Masood menyanyi. Aku berkata pada kakekku. akasia. empat puluh tahun yang lalu semua ini menjadi milik Masood — dua pertiga dari semua itu sekarang menjadi milikku. “Kau lihat tanah yang ujungnya di padang pasir sampai ke tepi Sundai Nil? Ratusan feddans.” Kakekku kemudian melanjutkan. “Aku tidak peduli. “Kami akan memanen kurma hari ini. sesudah menyentuh ujung hidungnya. ia suka mendengarkan aku membacakan ayat Quran dengan suara penuh irama. adalah lelaki yang doyan kawin. ia berkata. “Ya. suaranya yang indah dan tawanya yang keras yang menyerupai suara air yang berdeguk. Posisinya berubah sekarang.” Aku berkata kepada kakek. anakku. Kakek tidak pernah tertawa. diwarisi olehnya dari ayahnya. Suatu hari aku bertanya tentang tetangga kami. aku mengalihkan pandanganku darinya ke daerah yang luas yang tadi diterangkan oleh kata-katanya. dan sayal? Semua ini jatuh ke pangkuan Masood. keledainya yang lambat dan pelananya yang tak terpelihara.” aku berkata pada diriku sendiri. Setiap kali ia kawin ia menjual satu atau dua feddan padaku. “Orang itu culas dan aku tidak suka orang macam itu. “Kalian tidak ingin ke sana?” 197 . “Masood. dan kupikir bahwa sebelum Allah memanggilku aku akan membeli sisanya yang sepertiga juga. memandangi luasnya ladang.” Aku tidak tahu mengapa aku merasakan ketakutan pada kata-kata kakekku — dan rasa kasihan kepada tetangga kami Masood.memiliki kegiatan lain. yang kutahu itu adalah tempat bagi impian-impianku dan tempatku bermain. Lalu kuingat tiga istrinya. karena kubayangkan bahwa tanah ini sudah menjadi milik kakek sejak Tuhan menciptakannya. dan aku bisa mengatakan lewat wajahnya bahwa ia tersentuh. “Tidak satu feddan pun milikku ketika aku pertama kali menjejakkan kaki di desa ini. “Apa sih orang culas itu?” Kakekku menundukkan kepalanya sejenak. “Menurutku kakek tidak suka pada tetangga kita Masood?” Yang dijawabnya. anakku.” Memanfaatkan kakekku yang membisu.” Aku dengan cepat menghitung bahwa Masood pastinya sudah menikahi sekitar sembilan puluh perempuan.” kata Masood.” Ini jadi berita untukku.

Sekali ia meneriaki seorang anak laki-laki yang bertengger di puncak pohon kurma dan ia sudah mulai menggarap rumpunan kurma dengan sabitnya yang panjang dan tajam. Aku mendengar bunyi siulan dan melihat kakek sudah jatuh tertidur. masing-masing orang tak dikenal itu mengambil 198 . Namun. Namun. “Pohon kurma. tetapi biarpun aku kenal mereka semua. Kerumunan orang bubar.” Tak ada yang memperhatikan apa yang dikatakannya dan anak laki-laki itu terus duduk di puncak pohon kurma. seperti seseorang yang ingin mundur tetapi kakinya memaksa maju. Seseorang membawakan kakekku bangku yang ditutupi dengan penutup dari kulit sapi. anakku. dan dua laki-laki yang belum pernah kulihat sebelumnya. Kurma-kurma dikumpulkan menjadi tumpukan yang tinggi.Walaupun begitu. kecuali ia memasukkan potongan tangkai ke dalam mulutnya dan sedang mengunyahnya seperti orang membuat perutnya kenyang dengan makanan yang tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan mulut yang masih penuh. kecuali Hussein si pedagang. kakek melompat berdiri dan aku melihat matanya bersinar sesaat dengan kecerahan yang luar biasa. Mereka membentuk lingkaran di seputar kurma dan mulai memeriksanya. aku sudah mulai berpikir tentang kata-kata Masood “jantung kurma. Ia diikuti Hussein si pedagang. dengan cepat dan penuh tenaga. yang kuhitung ada tiga puluh. yang kemudian kukunyah. sesuatu yang memiliki jantung yang berdetak. Ia menarik tanganku dan kami menuju ke tempat panen kurma milik Masood. seperti manusia. Aku melirik Masood dan menyaksikannya sedang mendekati kami dengan luar biasa perlahan. Kakek memberiku segenggam penuh. Aku ingat ucapan Masood padaku ketika ia suatu kali melihatku mempermainkan cabang pohon kurma muda. jauh dari kerumunan orang banyak ia berdiri seolah itu bukan urusannya. Aku melihat orang berdatangan dan menimbang kurma ke dalam wadah timbangan dan menuangnya ke dalam kantung-kantung. Terkadang perhatiannya tersita pada bunyi rumpun besar kurma yang hancur terjatuh dari ketingggian. “Awas jangan sampai kau potong jantung kurmanya. melompat di atas kakinya. Lalu aku perhatikan Masood tidak mengubah cara berdirinya. Mousa si pemilik ladang di sebelah ladang kami sebelah Timur. aku merasa bahwa ia tidak betul-betul menginginkan kakek hadir di sana. Tiba-tiba kakek bangun. merasakan kebahagiaan dan penderitaan. sementara aku tetap berdiri. Di sana ada begitu banyak orang. lalu mengembalikannya. beberapa mengambil satu dua kurma untuk dimakan. Aku melihat Masood memenuhi kedua tangannya dengan kurma dan membawanya ke dekat hidungnya. Mousa di pemilik ladang di sebelah ladang kami. dan berjalan menuju kantungkantung kurma. menggarap cabang dengan sabitnya sampai rumpun kurma mulai jatuh seperti sesatu yang turun dari surga. Hussein si pedagang mengambil sepuluh. Ketika sekali lagi aku memandang luasnya tanah yang membentang di hadapanku.” Aku membayangkan pohon kurma sebagai sesuatu yang punya perasaan. aku punya banyak alasan untuk memperhatikan Masood. dan dua orang yang tak dikenal. walaupun kenyataannya pohon-pohon kurma yang akan dipanen adalah miliknya. aku melihat teman-temanku berkerumun seperti semut di seputar batang pohon kurma. Kemudian aku menyaksikan mereka membagi kantung-kantung itu di antara mereka.” Dan aku merasakan rasa malu di dalam diri yang tidak beralasan. mengumpulkan kurma dan memakan sebagian besarnya.

Aku mempercepat langkahku. Larson dalam Under African Skies. dan kakek mengambil lima. Cerpen "Segenggam Kurma" ini diambil dari kumpulan tersebut. Masa kecilnya dihabiskannya di desa itu. aku sedikit ragu. Salah satu keledai mengeluarkan suara ringkikan yang membuat mulut unta-unta itu berbusa dan mengeluh ribut sekali. Tentang desanya itu. Mendengar kakekku memanggilku. diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Denys Johnson-Davies. Aku yang tak mengerti apa pun melihat kepada Masood dan menyaksikan matanya bergerak ke kanan dan ke kiri layaknya dua ekor kucing kecil yang tidak tahu jalan pulang ke rumah. dua orang asing itu membawa unta. sepertinya aku membawa di dalam diriku sebuah rahasia yang ingin kuhindari. Ia mendapatkan pendidikan tinggi di Universitas Khartoum. Mousa si pemilik ladang di sebelah ladang kami di sisi Timur mengambil lima. ia pernah menyatakan bahwa ia masih merasa tinggal di sana mengembara ke mana-mana. Aku merasa mendekati Masood. yang kemudian dilanjutkannya di beberapa universitas di Inggris. merasakan tanganku mengarah padanya seolah aku ingin menyentuh keliman pakaiannya. Edinburg: Payback Press.” kata kakekku kepada Masood. yang kemudian bersama sejumlah cerpen Afrika lain dikumpulkan oleh Charles R. dan kantung-kantung kurma itu dipunggah ke atas punggung binatang-binatang itu. Ia pernah menjadi guru di Sudan. tanpa tahu mengapa. tetapi kumpulan cerpennya yang pertama. Aku mendengarnya mengeluarkan suara di tenggorokannya seperti rintihan domba yang akan dijagal. Aku mencapai tepi sungai di dekat belokan di belakang hutan kecil pohon akasia. dilahirkan pada tahun 1929 di desa Al-Debba di Sudan Tengah. kemudian melanjutkan perjalanan. yang hanya berisi tiga cerpen baru terbit tahun 1968. 1997.” Hussein memanggil pembantu-pembantunya dan mereka menggiring keledai. Keluarganya adalah petani dan guru. aku meletakkan jariku ke dalam tenggorokanku dan memuntahkan kurma yang sudah kumakan. 199 . “Kita bicarakan itu nanti. aku merasakan sakit yang teramat sangat di dadaku. namun sebentar kemudian ia bekerja di BBC sebagai perencana siaran drama dalam bahasa Arab. Untuk alasan yang tak kuketahui. Aku merasa pada saat itu bahwa aku membencinya.*** Tayeb Salih (Al-Tayeb Salih). Aku berlari ke kejauhan. “Kau masih berhutang lima puluh pound padaku. Mo-dern African Stories. Salih mulai menulis tahun 1953. Kemudian.lima. Cerpen ini diterjemahkan oleh Sapardi Djoko Damono.

Kupusatkan pendengaran. Kujawab bahwa aku tidak menulis cerita anak-anak.Horison. November 2000 Syahdan Pada Dahulu Kala Oleh: Nadine Gordimer 200 Seseorang telah memintaku untuk menyumbangkan sebuah antologi cerita anakanak. Kupandangi pintu. tetapi degup jantungku tak menentu seperti menghantami jantungku. Tak ada pistol di bawah bantalku. Tahun lalu. mudah pecah seperti gelas anggur. Terpikir olehku untuk mengiriminya selembar kartu pos untuk menyatakan bahwa aku tidak sepaham dengan pendapatnya. Kuteliti tiap bunyi yang paling perlahan sekalipun. Kupasang telinga. Bunyi deritan itu hanya disebabkan perasaan yang tertekan. mengenalinya baik-baik sambil memilah-milah kemungkinan ancamannya. Aku menanti untuk mendengar kalau-kalau ada tanda yang menunjukkan bahwa kaki itu bergerak lagi dari satu kamar ke kamar lain. seorang perempuan telah dibunuh (kata orang) di siang bolong. sambil membayang-bayangkan sesuatu dalam kepala --bukannya melihat-. Bunyi berderatderit itu bergema lagi.di dalam gelap. aku dilatih agar jangan merasa takut atau terancam. Bunyi berderit-derit bagai langkah kaki yang diseret satu demi satu di atas papan seolah membawa beban yang berat. Kutentramkan diri. Tak dapat aku menumpukan pendengaranku karena gangguan yang ada pada siang hari. Lagi pula kaca rumahku tipis bagai lapisan embun. Orang itu mengatakan bahwa dalam suatu kongres/pameran buku/seminar yang diadakan baru-baru ini. . Anjing garang yang mengawal seorang duda tua dan koleksi jam antiknya telah dijerat sebelum ditikam oleh seorang buruh biasa yang telah di-PHK tanpa dibayar upahnya. seorang pengarang telah menghimbau agar setiap penulis menulis sekurang-kurangnya satu cerita anak-anak. Namun aku juga kini merasa cemas seperti orang-orang lain yang serba waspada. Aku tidak memiliki terali besi. Kemarin malam aku terbangun tiba-tiba tanpa mengetahui apa yang mengejutkan diriku. Sebuah suara dalam diriku? Suatu bunyi. Tak ada bobot manusia yang menekan di papan itu. Namun. Aku boleh menulis apa saja yang kuinginkan.

diri mereka diasuransikan dari musibah kebakaran. Mereka memiliki sebuah mobil dan sebuah trailer karavan yang digunakan untuk pergi berlibur. dan perampokan. gas air mata dan senapan untuk mengusir mereka. di bawahku. ia mungkin runtuh atau longsor 3000 kaki ke bawah. tak ada yang perlu dicemaskan. agar jangan mengambil siapapun di tepi jalan. kayu yang dibuat oleh para penambang pelarian Chopi dan Tsoinga yang pernah berada di bawah sana. serta seorang tukang kebun yang rajin. ucap sang suami pada istrinya. di mana orang kulit hitam ditempatkan. yang mungkin bertopeng hingga sulit diduga apakah ia orang kulit putih atau kulit hitam. Di dalam sebuah rumah di pinggiran metropolitan. mesti menyatakan niatnya dengan menekan tombol dan berbicara melalui alat penerima yang disambungkan ke rumah. kayu. semen. bersama-sama dengan kawan-kawan yang sebaya dengannya. Siapa yang menurunkan tanda DALAM LINDUNGAN KEAMANAN itu dan akan membuka pintu pagar. yaitu ibu sang suami. anjing peliharaan mereka diberi peneng. atau mobil mereka dari kerusakan akibat kerusuhan. kerusakan akibat banjir. ucap sang suami. Rumah yang melingkupi tubuhku saat aku sedang tidur dibangun di atas bekas tanah pertambangan. untuk menenangkan hati sang istri. Oleh sebab itu. Sukar untuk mengasuransikan rumah. di dasar rumah ini. manakala mereka hendak memulai kehidupan yang bahagia untuk selama-lamanya. kolam renang. Mereka mempunyai seorang pembantu rumah yang amat bisa dipercaya. Sukar bagiku untuk mencari tempat guna mengistirahatkan pikiran dan tubuhku. Mereka memiliki seorang anak lelaki yang amat mereka cintai. di sana ada polisi dan tentara. Mereka tergolong masyarakat yang diberi kemudahaan dalam pengobatan. mobil-mobil dilempari batu. tinggallah sepasang suami-istri yang saling menyayang serta hidup dengan penuh kebahagiaan. Kerusuhan memang terjadi. Tingkat tempat adanya runtuhan mungkin tak digunakan lagi. Mereka memiliki seekor kucing dan seekor anjing yang amat disayangi anak kecil itu. Degupan jantungku menurun seperti ayunan terakhir di atas zilofon. saking cintanya. kisah dalam tidur. dan kaca yang menyangga rumah menjadi longgar. mereka telah dinasihati oleh seorang tukang sihir tua yang bijaksana. Anak kecil itu sungguh tertarik dengan alat tersebut dan menggunakannya sebagai walkie talkie dalam permainan polisi dan pencuri. Orang-orang itu dilarang masuk kawasan pinggiran kota besar. atau mungkin ada orang yang pernah dikubur di situ dengan batu nisan yang menyedihkan. serta menjadi anggota siskamling di lingkungan itu yang memberi mereka sekeping papan pengumuman di pintu pagar betuliskan "Dalam Lindungan Keamanan". Jangan mengomel saja. Ada pula sebuah kolam renang yang berpagar untuk mengelakkan anaknya dan teman-teman mainnya agar tidak terjatuh ke dalam kolam dan mati lemas. Akupun bercerita pada diriku sendiri. Merelakan diri tidur kembali. Jika ada permukaan yang bergetar. sang suami telah memasang pagar berlistrik. dalam perut bumi.Aku merasa ada di tengah-tengah tekanan itu. tapi di luar kota. juga karena bus-bus dibakar. mencegah kemungkinan perampokan. Nun jauh di bawah kamarku. dan seseorang pembantu rumah yang dapat dipercayai telah diikat dan dikunci 201 . Namun. Seluruh rumah bergetar sedikit dan menyebabkan batu. dan anak-anak sekolah ditembaki polisi di kawasan pemukiman kulit hitam sana. kecuali pembantu rumah tangga dan tukang kebun yang dapat dipercaya. tetapi pencurian banyak terjadi di kawasan tepian kota besar. Jadi. Namun sang istri masih merasa cemas kalau-kalau suatu hari nanti orang-orang ini akan turun ke jalan dan merusak papan bertuliskan DALAM LINDUNGAN KEAMANAN itu. air bertetesan dari rekahannya. lalu memaksa masuk. Membuka pintu pagar. penggalian yang bertingkat-tingkat saat penambangan dan lorong jalanan tambang-tambang emas telah melongsorkan bebatuannya serta menyebabkan tanah ini jadi berongga. jauh dari pandangan dan pendengaran orang-orang di kawasan tepian kota besar. Kerusuhan telah dapat ditanggulangi.

Mereka mencari peluang kalau-kalau… . ucap sang istri. mereka melihat pohonan dan langit melalui terali. betul katanya. Sang istri berkata. Benar katamu. Sang suami berkata. atau apa saja. sama dengan bunyi katak menguak hingga tidak mencemaskan para pencuri untuk mengambil kesempatan dan menggergaji terali-terali besi. Pencuri-pencuri itu tidak langsung menghargai apa yang telah diminum oleh mereka. serta kadang-kadang membongkar apa saja yang ada dalam lemari es jika merasa sangat lapar. Tetapi. Alarm tersebut nampaknya sering dijawab oleh alarm-alarm lain dari rumah-rumah lain yang disentuh oleh kucing piaraan mereka atau digigit tikus. barang-barang berharga dan pakaian. Dan perempuan sihir tua yang bijak itu. Akhirnya. Tetapi sang suami dan sang istri teringat akan peringatan agar jangan mengambil orang yang tak dikenal. bersipongang satu sama lain. kucing itu pun menyentuh alarm dan membangunkan seisi rumah. Sebagian dari mereka meminum minuman keras dan mengotori jalan raya dengan botol-botol kosong. meraung dan menjerit. Setengahnya mendesak agar diambil bekerja: mencabut rumput. akibat menganggur. Si anak kecil pun mendapat pakaian orang angkasa dan sebuah buku cerita dongeng. Sebagian lagi meminta sedekah. dengan tanggung jawab menjaga harta pasangan itu dan anak kecil mereka. Bunyi alarm yang nyaring. tibalah saat ketika banyak pembantu rumah dan tukang kebun yang tidak dapat dipercaya datang beramai-ramai memenuhi tepian kota besar itu. Sebuah kawasan tepi kota yang cantik jadi rusak oleh kehadiran mereka. Dan sang suami pun membawa masuk sepeda roda tiga anaknya dari taman setiap malam karena jika rumah itu benar-benar selamat. Seperti biasa. Pembantu rumah pasangan suami istri dan anak kecil itu merasa sedih dengan nasib malang yang menimpa rekannya. Mereka duduk dengan kaki terjuntai ke dahan pohonan yang bagai sebuah lorong hijau di jalan raya. Bunyinya dianggap biasa. seseorang mungkin masih dapat memanjat tembok atau pagar yang berlistrik itu untuk masuk ke dalam taman. Perusahaan asuransi tidak membayar ganti rugi untuk sebuah minuman malta sekalipun. dan jika kucing piaraan anak mereka coba memanjat masuk melalui ventilasi untuk menemaninya tidur pada waktu malam sebagaimana yang biasa ia lakukan. Ikutilah nasihatnya. Maka pada setiap pintu dan jendela rumah yang didiami oleh mereka dengan penuh kebahagiaan buat selama-lamanya itu. kerugian besar hanya diketahui oleh pemiliknya saja. bahkan berani istirahat sejenak untuk meminum wiski yang diambil dari dalam kabinet atau dari bar. serta memasang alarm. mengecat atap. televisi. setelah dikunci rapatrapat dan alarm dinyalakan. hingga akhirnya tidak diindahkan lagi oleh penduduk kawasan itu. radio. kalau begitu tembok itu sebaiknya ditinggikan lagi. pembantu rumah tersebut telah meminta majikannya untuk memasang terali pada pintu dan jendela rumah. mengambil peralatan elektronik seperti hi-fi. bahkan pada waktu subuh. lantas menerobos masuk.di dalam almari oleh pencuri ketika ia diamanati untuk menjaga rumah majikannya. ikuti nasehatnya. Sang istri tidak sampai hati melihat orang yang kelaparan. kamera. menunggu sang suami atau sang istri ke luar dari pintu pagar yang berlistrik itu. yaitu ibu sang suami. Kadang mereka tertidur di depan pagar pada siang hari. Tetapi pembantunya berkata bahwa mereka adalah para bandit yang akan mengikat dia dan menguncinya dalam lemari. tape recorder. meskipun pada bulan purnama di musim 202 . membayar untuk tambahan batu bata sebagai hadiah Hari Natalnya kepada anak dan menantunya. Kau hanya membikin mereka jadi makin beringas dengan roti dan tehmu itu. dan berselang-seling di halamanhalaman rumah. benar ucapan pembantu itu. Ia lalu menyuruh pembantu rumahnya mengantarkan roti dan teh. setiap minggu terdapat banyak berita tentang perampokan di siang bolong dan di malam yang sepi.

Pada keesokan harinya. lalu berkata. terbentang gulungan besi yang keras. Masyarakat ingin keselamatan yang mutlak. Kilau itu akan hilang nanti. Sama sekali tak ada jalan ke luar bagi mereka yang terlibat di situ. Ada juga usaha untuk mencontoh kehalusan seni bangunan penjara berbentuk vila Spanyol (besi-besi tajam yang dicat merah jambu) dengan pasu-pasu berbentuk labu yang ditempel dengan lukisan klasik (besi-besi tajam yang panjangnya 12 inchi berlekak-lekuk dan bercat putih). saya harap si kucing peka. Sebuah pilihan yang murah. Sang istri berkata. Sedang anak lelaki mereka dan anjingnya berlari ke muka. sang istri. menyilaukan. Dan sang istri menunggu hingga si anak kecil pergi bermain. kemudian melompat dengan gerakan yang cantik dan mendarat dengan mengibasngibaskan ekornya ke dalam kawasan rumah. Sang istri terpesona memandangnya. mula-mula memanjat ke atas dengan kaki depannya di permukaan dinding tembok. Sang suami berkata. Mereka benar. si anak beraksi seperti seorang putra raja yang gagah berani melepas dan 203 . dan anak kecil mereka membuat pilihan menakjubkan. Hubungi GIGI NAGA. Betul katamu. sang istri dan anak kecil membawa anjing mereka berjalan-jalan di kawasan kediaman mereka. Cahaya matahari memancar dan cahayanya menerpa mata pisau bergerigi yang mengelilingi rumah tersebut. tak mengapa. mereka tidak lagi berhenti sejenak untuk menikmati keindahan pagar mawar di halaman yang kesemuanya kini tertutup di balik pagar serta temboktembok dengan peralatannya. kucing mereka hanya tidur di kamar si anak dan bermain di taman saja. saat mereka sedang berhenti di hadapan sebuah dinding tembok tanpa berkata-kata.panas yang indah. sang ibu membacakan sebuah kisah dongeng pada sang anak dari buku yang dihadiahkan oleh perempuan sihir tua yang bijak pada hari Natal. siapapun akan berpikir dua kali… dan mereka mulai menimbang nasihat yang tercatat di atas papan kecil yang dilekatkan di tembok. Keesokan harinya. Di sepanjang tembok. tajam bergerigi serta bercabang mata pisau. keduanya membuat keputusan untuk memilih sebuah bentuk yang paling baik saja. tidak mungkin. berkilat. Pada suatu malam. karena sejak hari itu. tidak pernah coba melanggar pagar keamanan itu. Semakin terkait. kuat dan sederhana. Setiap percobaan hanya akan menyebabkan darah keluar lebih banyak lagi. Separuh tembok dilekatkan dengan papan kecil yang ditulis dengan nama dan nomor telepon perusahaan yang bertanggung jawab memasang peralatan tersebut. Ketika sang suami. ucap sang suami. Tembok putih itu dikotori oleh bekas jejak kucing dan di bagian luar tembok yang menghadap jalan terdapat bekas jejak dari tanah merah yang lebar seperti tapak sepatu yang tersarung di kaki penganggur-penganggur yang membuang waktu tanpa tujuan. mereka menjamin gulungan itu tahan karat. kulit makin terkoyak dan luka makin jadi dalam. Sang suami berkata. Ini semua menyulitkan orang untuk coba memanjat dan merangkak ke dalam gulungan itu tanpa dia tersangkut pada gulungan itu. kucing selalu melihat sebelum melompat. Sang suami. sang istri dan anak lelaki mereka yang kecil tinggal bersama-sama dengan anjing dan kucing peliharaan mereka dengan penuh kebahagiaan buat selama-lamanya. sang suami dan istri membandingkan setiap bentuk yang paling berkesan. dan selang beberapa minggu. yaitu memasang pecahan kaca yang ditancapkan di atas semenan tembok dengan jerajak besi yang berujung tajam. sekumpulan pekerja datang merentangkan gulungan berduri dan berpisau di sekeliling tembok rumah. yakni bentuk yang paling sederhana namun luhur yang direncanakan seperti bentuk kamp tahanan: tidak berbunga-bunga. Pasangan suami istri yang sedang berbincang tentang perampokan bersenjata terkini yang berlaku di pinggir kota itu telah diganggu oleh kemunculan kucing peliharaan anak mereka yang coba memanjat tembok setinggi tujuh kaki itu. sebuah keluarga sedang menikmati makan malam ketika kamar tidur di tingkat atas dibongkar. di mana tempat sang suami. jangan cemas sayang. berkali-kali.

pemotong kawat. Dalam pada itu. 1923. kapak.membawa anak itu masuk ke dalam rumah. Kumpulan cerpennya antara lain Livingstone Companions. Nobel Sastra diraihnya pada tahun 1991. Ia menyusupkan diri ke dalam gulungan yang berkilat itu semuat-muat badannya. dan tukang kebun yang menangis. Friday's Footprint. Gunn Fellowship. dan the Scottish Arts Council Neil M. Jump and Other Stories. Pasangan pembantu rumah dan tukang kebunlah yang pertama kali melihat peristiwa itu.H. Lalu tangannya. Datanglah kemudian sang suami dan sang istri dengan tergopoh menuju taman. lahir di Transvaal.membabat duri-duri tebal untuk masuk ke istana dan mengecup sang puteri yang tidur serta menyadarkannya kembali. dan sebagainya.*** Nadine Gordimer. Smith Commmonwealth Literature Award. Si anak membawa tangga ke tembok. antara lain: Booker Prize. Not dor Publication. kepalanya. pembantu rumah yang dipercayai yang tengah diserang histria. the W. Selected Stories. Diterjemahkan oleh Agus dan Nikmah Sarjono 204 . lalu segera berlari mendapati si anak kecil dan menjerit bersamasama dengannya. dan Something Out There. sang istri. A Soldier's Embrace. Ia menjerit kesakitan dan meronta semakin ke dalam gelungan itu. Dia seorang dosen tamu di Royal Society of Literature. entah apa sebabnya (mungkin kucing. agaknya) alarm pun menggila di tengah-tengah jeritan mereka. Kaitan yang pertama mengenai lututnya. Tukang kebun yang rajin itu telah luka tangannya ketika mencoba menyelamatkan si anak. Cerpenis dan novelis Afrika Selatan ini banyak mendapat penghargaan di bidang sastra. Mereka -sang suami. dan anggota kehormatan American Academy and Institute of Art and Letters. sementara si anak yang bermandi darah dikeluarkan dari gulungan dengan menggunakan gergaji.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful