Horison, Januari 2000

Mimpi
Oleh: Abdel Salam Al-Ujaili

1
Dalam mimpinya Mohamed Wesaja ini perkara biasa, karena dalam keadaan sadar pun ia senantiasa mengerjakan shalat serta tak pernah meninggalkan ibadah wajib ini. Dalam mimpinya tersebut, kala sujud pertama, ia membaca dengan suara keras surat al-Nasr. Ketika sujudnya hampir selesai, ia terjaga dari tidurnya dan merasakan takut yang luar biasa. "Firman Tuhan adalah suatu kebenaran!," katanya sambil duduk di kamar serta menggosok-gosok matanya.Mohamed Weess tidak ingat mengapa mimpi tersebut begitu lekat dalam pikirannya. Maka, begitu pagi menjelang, segera ia temui Sheikh Mohamed Sa'id, seorang tua di kampungnya. Baru sekitar tengah harian, ia dapat bertemu dengan orang tua itu. Segera ia kisahkan mimpinya. Sheikh berdiam diri agak lama sambil menundukkan kepalanya dengan kening berkerut-kerut, sebelum akhirnya bertanya: "Kau yakin bahwa surah yang kaubaca itu surah al-Nasr?" "Saya yakin," jawab Mohamed Weess. "Saya membacanya sampai selesai. Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Jika telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau lihat manusia masuk agama Allah beramai-ramai. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, dan mohon ampunlah kepada-Nya. Sesungguhnya Dia maha Penerima Taubat." "Firman Tuhan adalah kebenaran!" kata Sheikh Mohamed Sa'id. "Wahai Mohamed Weess, segala puji bagi-Nya. Mintalah ampunan daripadaNya. Sesungguhnya Dia maha mengasihi." "Wahai Sheikh Mohamed Sa'id, saya percaya ini adalah pertanda buruk bagi saya. Apakah tafsiran tuan tentang mimpi saya tersebut?" Sheikh Mohamed Sa'id memegang dan mengusap-usap janggutnya yang panjang dan tebal itu. Dia kelihatan agak keberatan untuk menerangkan pengetahuannya yang mendalam mengenai ilmu menafsirkan mimpi. Akhirnya ia bersuara juga. "Mohamed Weess, mohonlah ampunan daripada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengasih. Mimpi membaca surah ini menandakan bahwa orang itu sudah hampir tiba saat ajalnya." Mohamed Weess tergetar. Ia merasa tiba-tiba seluruh badannya menggigil.

"Apakah yang tuan Sheikh katakan?" "Amat berat bagiku untuk menyatakan ini kepadamu," jawab Sheikh. "Bagaimanapun, untuk menenangkan perasaanmu, kau akan beroleh rahmat Tuhan. Dan kematian pasti datang menjemput kita semua. Mohamed Weess, tak ada orang yang mimpi seperti ini dapat hidup lebih dari empat puluh hari." Setelah memberitahu hal tersebut, Sheikh itu pun terus pergi untuk menunaikan shalat Dzuhur, meninggalkan Mohamed Weess yang terpuruk di tanah sambil kebingungan. Kakinya seperti tak mampu lagi menampung berat badannya. "Empat puluh hari," suaranya bagai keluar tanpa melalui kerongkongannya. "Ya Tuhan, berilah hamba kekuatan." Desa di mana Mohamed Weess dan Sheikh Mohamed Sa'id tinggal hanyalah sebuah desa kecil, maka menjelang senja setiap penghuninya sudah tahu tentang mimpi Mohamed Weess dan tafsiran yang dibuat oleh Sheikh Mohamed Sa'id. Penduduk desa itu percaya pada tafsir mimpi. Itulah sebabnya pada petang berikutnya semua orang sudah begitu yakin bahwa Mohamed Weess akan mati dalam tempo empat puluh hari. Kaum lelaki berdatangan menziarahi Mohamed Weess, mula-mula seorang demi seorang, namun kemudian secara berombongan, hingga ia terpaksa berada di rumahnya menerima tetamu yang datang dan bertanya mengenai kesehatannya serta mengungkapkan rasa dukacita atas kematiannya yang bakal segera tiba itu. Kaum perempuan yang datang ke rumah Mohamed Weess datang untuk mendapatkan berita, sambil melihat-lihat keadaannya. Mereka mendapati Mohamed Weess masih segar bugar, tetapi tampak bingung. Sambil meratap mereka mohon agar Tuhan campur tangan dalam urusan Malakul Maut yang akan mencabut nyawa Mohamed Weess ketika dia masih sehat. Walaupun Mohamed Weess tidak sakit dan tidak pula uzur, segala langkah berjaga-jaga yang diambil untuknya serta segala pertanyaan lembut mengenai dirinya telah membuat dia mulai merasa sakit. Dia tabah menghadapi keadaan tersebut selama sepuluh hari, dan terus pulang-pergi antara pasar ternak dengan rumahnya. Bagaimanapun, tak butuh waktu lama dia tidak lagi tahan menanggung semua tekanan itu. Dia mulai merasa letih, dan orang ramai mulai menziarahinya pada waktu siang hati. Padahal sebelumnya mereka hanya datang pada malam hari. Dua puluh hari sejak saat ia bermimpi, keluarga Mohamed Weess merasa tidak perlulah lagi membereskan ranjangnya setiap hari karena kini Mohamed Weess senantiasa berbaring di situ siang dan malam. Setelah tiga puluh hari berlalu, pelbagai hidangan masakan kegemarannya yang disediakan khusus untuknya oleh keluarganya ternyata terkumpul di tepi ranjangnya tanpa dijamah. Dengan berpakaian serba putih dan membiarkan janggutnya tumbuh, Mohamed Weess menghabiskan waktunya hanya untuk bershalat. Dia terisak-isak bukan karena takut pada kematian atau kecewa karena hidup, melainkan karena takut akan hukuman yang bakal diterima di alam kubur dan rasa khawatir bahwa Tuhan tidak akan mengampuni kesalahannya karena kerap bersumpah dengan nama Tuhan sewaktu di pasar ternak, atau karena menipu para petani dari desa yang berdekatan. Waktu terus berlalu. Mendekati masa empat puluh hari, badan Mohamed Weess makin kurus karena kurang makan dan karena rasa penyesalan yang dalam terhadap dosa-dosanya yang telah lalu. Orang ramai -baik dari desanya ataupun desa yang berdekatan-ramai mempercakapkan cahaya keimanan yang terpancar pada wajahnya serta ayat-ayat mistik dan misteri yang diucapkannya tatkala ia sujud dan mengerjakan shalat. Tiga puluh sembilan hari sudah berlalu, dan pada waktu malam hari itulah aku memunculkan diriku. Anda mungkin bertanya, siapakah diriku?

2

Aku bertugas sebagai guru sekolah di desa tempat tinggal Mohamed Weess di mana ia bekerja sebagai pedagang berpengaruh di pasar ternak, dan di mana Sheikh Mohamed Sa'id dianggap sebagai wali. Aku sering menghabiskan cuti musim panas di Damaskus, dan kepulanganku ke desa itu jatuh pada hari ketigapuluh sembilan dari tempo yang dinyatakan oleh Sheikh Mohamed Sa'id kepada Mohamed Weess. Aku mengenali Mohamed Weess sebagaimana aku mengenali orang lain di desa itu. Ketika Mohamed Atallah yang bertugas sebagai porter di sekolah memberitahuku tentangnya, aku kebingungan: apakah harus tertawa atau bersimpati kepadanya. Bersama Mohamed Atallah aku segera pergi menjumpai Mohamed Weess untuk menenangkan fikirannya atau setidaknya untuk mengungkapkan rasa dukacitaku. Halaman rumahnya yang biasanya dipenuhi hewan ternak yang dibeli Mohamed Weess dari pasar, kini agak sesak dengan orang ramai yang datang untuk menyaksikan saat kematiannya. Sebuah sisi untuk lelaki dan sisi lain untuk perempuan. Di sisi ketiga terlihat beberapa ekor biri-biri dan kambing yang dibawa oleh kawan-kawan Mohamed Weess untuk dikorbankan pada esok harinya setelah rohnya berpisah dari jasadnya. Ketika aku masuk ke kamar Mohamed Weess tempat ia menunggu kedatangan Malakul Maut --dan akulah yang datang, bukannya malakul Maut-Mohammad Weess sedang duduk sambil berdoa, sementara Sheikh Mohamed Sa'id duduk di sudut lain melagukan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Aku sangat terperanjat melihat perubahan pada wajah Mohamed Weess. Wajahnya yang bulat dan pipinya yang berisi, kini sudah cekung dan pucat. Ini ditambah pula dengan janggutnya yang panjang. Kepucatannya kelihatan lebih jelas lagi dengan pakaiannya yang serba putih dan longgar itu. Sambil bershalat, dia memanjangkan sujudnya seolah-olah ia berharap agar kematian segera datang padanya. Tidak ada persamaan antara wali Tuhan ini yang keseluruhan wajahnya bermandikan cahaya iman, dengan Mohamed Weess yang asli, yang setiap pagi dari jendela sekolah bersumpahsumpah dengan nama Tuhan bahwa jika dia tidak rugi sebanyak tiga lira dari biri-biri yang baru dibelinya itu, dia akan menceraikan istrinya. Aku telah menziarahi Mohamed Weess dengan perasaan ragu-ragu dan serba ingin tahu. Namun, perubahan sedemikian rupa yang terjadi pada dirinya itu telah menyadarkan aku bahwa dia memang akan mati pada keesokan harinya seperti yang ditetapkan. Aku geram mendengar suara kuat Sheikh Mohamed Sa'id membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an sambil melirik ke arahku. Antara diriku dengan sheikh yang sifatnya merupakan gabungan sifat sederhana, bodoh, dan licik ini, aku merasakan adanya suatu rasa permusuhan yang sudah lama tumbuh. Aku sebenarnya benci kepada orang yang berlagak pandai dan suka menipu, hingga berhasil menguasai perasaan para penduduk desa yang tidak tahu apa-apa. Sementara itu, dia selalu menghasut penduduk desa supaya membenci dan menentangku dengan menuduh aku mengajar ajaran yang menghina Tuhan dan Rasul-Nya. Sesungguhnya usahanya itu tak pernah berkurang walaupun ia mulai mengetahui dari orang ramai bahwa asal-usul keluargaku adalah dari Zain al-Abidin, cucu dan mantu lelaki Nabi Muhammad. Sebaliknya, dia menjadikan ini sebagai alasan untuk terus bermusuhan denganku dan berkata: "Lihatlah lelaki itu, keturunan Zain al-Abdidin yang menyatakan dunia ini berputar dengan sendirinya, tetapi saya serahkan kepada kalian semua, pernahkan salah seorang dari kalian melihat pintu rumahnya yang menghadap ke timur itu tiba-tiba berputar jadi menghadap ke barat! " Sebagaimana yang aku katakan, aku merasa sangat marah begitu melihat kehadiran Sheikh Mohamed Sa'id. Aku hampir meraung dan meneriakkan bahwa dia sebenarnya seorang pembunuh, bahwa dialah yang membunuh Mohamed Weess dengan racunnya, yakni dengan menanamkan ke dalam fikiran Mohamed Weess bahwa ia akan mati dalam

3

waktu empat puluh hari. Bagaimanapun, sepanjang ingatanku, aku tidak pernah berhasil mengalahkan Sheikh Mohamed Sa'id dengan menyatakan perasaan benci dan marahku, karena ia senantiasa berhasil memenangkan hati penduduk desa dengan argumenargumennya yang lapuk. Yakni dengan menunjukkan bahwa bumi ini tidak berputar dan menanyakan apakah pernah terjadi seorang penduduk desa melihat pintu rumahnya yang menghadap ke timur tiba-tiba berputar ke barat? Dengan demikian, jelaslah bahwa bumi tidak berputar. Tuhan mengampuninya karena mendendamku dan Tuhan juga mengampuni Mohamed Weess meski dia akan terus berada di bawah pengaruh gila Sheikh Mohamed Sa'id hingga keesokan harinya. Dengan perasaan yang berat campur kecewa dan marah, aku langsung ke luar dari ruangan sekolahku. Mohamed Atallah, porter sekolah itu, telah mengejutkan aku pada waktu subuh. Aku telah menyimpan tiga butir buah pear yang aku bawa dari Damsyik itu di bawah jerigen air. Aku mengambilnya sebuah, kemudian segera menuju ke rumah Mohamed Weess. Halaman rumahnya kelihatan lengang, kecuali beberapa ekor kambing dan biri-biri yang seolah menanti saat kematian tuannya, dan selepas itu kematian mereka pula. Sisi bagian orang perempuan sedikit lebih terang dan dibauri dengan tangis perlahan. Pintu kamar Mohamed Weess tertutup, jadi aku mengintainya melalui pintu yang tertutup itu dan mendapati Mohamed Weess sedang tidur. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa dia keletihan setelah sepanjang malam beribadat sebagai persediaan menghadapi saat kematiannya. Aku mengetuk pintu beberapa kali, kemudian mendorong, dan membukanya sambil menyapa keras: "Segala Puji bagi Allah, Mohamed Weess" Dia terbangun dari tidurnya dengan masih terkantuk-kantuk. "Apa dia?" jeritnya. "Saya Naji, guru sekolah. Jangan takut Mohamed Weess. Dengar ucapan saya. Aku melihat air matanya menetes hingga ke pipi ketika ia duduk dengan lidahnya kelu dalam ketakutan. Karena kuatir dia akan langsung mati akibat sangat ketakutan sebelum sempat mendengar apa yang akan kukatakan, aku segera bersuara: "Saya datang bertemu anda, karena saya baru saja disadarkan oleh moyang saya, Zain al-Abidin. Semoga Allah memberkatinya, dan dia berkata kepada saya, 'Pergilah temui Mohamed Weess dan beritahu dia bahwa Allah telah mengujinya dan mendapati bahwa dia adalah hambanya yang sudah insaf akan semua dosanya. Berilah kepadanya buah ini, salah satu daripada buah-buah yang ada di surga. Suruhlah dia shalat bersama kamu dua rakaat sebelum naik matahari. Pada rakaat pertama, dia mesti membaca Surah al-Nasr dan Allah akan memanjangkan usianya sehingga dia dapat hidup dan melihat anak-cucunya." Mohamed Weess menelan air liurnya. Tampak bagiku bahwa ia seperti tidak percaya semua yang aku katakan. Matanya tertegun merenungi buah pear di tanganku (aku yakin tak ada seorang pun di desa ini yang pernah melihat buah pear ini sebelumnya). Aku mengupasnya dan menyuapkan ke dalam mulut Mohamed Weess, lalu menyuruh dia menelan semuanya, sekalian dengan bijinya. Kemudian aku menariknya ke sudut kamar. "Mohamed Weess , bersiaplah untuk sembahyang sebelum hari siang." "Tapi saya belum lagi bersuci, Tuan Naji."

4

Malah hewan ternak tersebut diserahkan kepadaku sebagai hadiah dari teman-teman Mohamed Weess kepada wali Allah. Naji. bertambah oleh kenyataan bahwa aku gagal mengurangi meski seorang saja jumlah jemaah yang mengambil bagian bersembahyang bersama-sama di belakang Sheikh Mohamed Sa'id. Mereka yang semalam memenuhi halaman rumah Mohamed Weess. Selepas itu aku terus pulang ke sekolah menunggu hari siang. masing-masing sibuk untuk mengetahui bagaimana moyangku Zain alAbidin datang kepadaku membawa keampunan Allah untuk Mohamed Weess. bilangan jemaahnya telah bertambah satu lagi. Untuk mengekalkan kehormatan keturunanku. termasuk sebagai Menteri Kebudayaan.Aku lantas teringat bahwa aku juga belum bersuci. Dalam rakaat pertama. yaitu sebagaimana dengan mimpi yang aku reka itu. seluruh desa telah mendengar cerita baru tentang Mohamed Weess. dan bukan dengan tayamum! *** Salam al-Ujaili dilahirkan di Rakka. Diterjemahkan oleh Nikmah Sarjono. aku lantas berkata: "Buatlah tayamum. Tekankan kedua telapak tanganmu ke tanah. Mohamed Weess." Aku bersembahyang berdiri di belakang Mohamed Weess. Sebagai seorang Doktor ia menerjunkan diri di bidang politik. karena kuatir kesan yang diharapkan itu akan hilang. 5 . guru sekolah keturunan Zain al-Abidin! Tetapi apakah ini sungguh suatu kemenangan? Sebenarnya aku sendiri tidak pasti. Tetapi. Syria pada tahun 1918. ini dibenarkan dalam Qur'an. dia membaca kesemua surah al-Nasr. Dalam tempo sejam. Kami bersembahyang dua rakaat. yaitu aku sendiri. Pada ketika itulah aku merasakan bahwa akhirnya aku berhasil mencapai kemenangan mutlak atas Sheikh Mohamed Sa'id. Ini karena Mohamed Weess tidak mati dan kambing serta biri-biri di halaman rumahnya juga tidak jadi disembelih. Keraguanku akan nilai kemenangan ini. Berkali-kali ia pernah menduduki jabatan sebagai menteri. Sebaliknya. kini berhimpun di halaman sekolah. aku mendapati diriku terpaksa berjemaah di belakang Mohamed Weess pada setiap kali sembahyang dengan bersuci sepenuhnya.

agar kesedihan ini tak menambah kesedihan lain. Ibu harus mengingatkan perbuatan terlarang itu. bak mawar putih berlepotan debu jalanan. apakah ibu sudah bersuami?" Perempuan itu menganggukkan kepala. "Gawat. Tapi tak tahu bagaimana hal itu bisa terjadi. Bu?" tanya dokter. ''Ya. Nafsu benar-benar membutakan kaum lelaki. "Oh…. Matanya berkaca-kaca. Keduanya duduk berhadapan. Pak Dokter!" teriaknya segera. Tanpa menunggu kedatangan suaminya dari kantor. pengobatan penyakit ibu akan sia-sia. Tenang sedikit tersenyum. Kalau tidak. Kemudian masuk pasien keenam. "Penyakit kelamin… ?" katanya seolah tak percaya. Perempuan itu tersentak seketika. "Ada apa." lanjut dokter.Komplikasi Oleh: Naguib Mahfouz 6 Pagi itu. Dengan malu dan hati-hati perempuan itu menceritakan penyakit kronisnya. Derita yang dialaminya berubah menjadi ketakutan baru. seorang ibu bertubuh semampai dan bercadar. Dia harus menjaga ibu dari risiko pergaulan bebasnya. Takut dan gelisah. Bu. Parasnya cantik. Tak terkecuali mereka yang sudah berkeluarga. Tapi terselip guratan penderitaan yang mendalam di wajahnya. Dokter segera memeriksa. Kalau perlu dibawa serta ke mari. Dokter terperanjat mendengar ceritanya. Bu! Ibu mengidap penyakit berbahaya. Rupanya keraguan dokter terbukti. . Yang saya katakan benar. dokter telah selesai memeriksa pasien kelima. "Tolong. Penyakit kelamin!" gusar dokter. Tenangkan diri. Bagaimanapun juga ibu harus memberitahukan keadaan sebenarnya pada suami. Saya ingin tanya. Dokter mencermati apa yang diceritakan dengan kondisi sebenarnya. Teriakan parau muntah dari bibir perempuan itu. Dokter menghampiri. Kendalikan emosi.

Tak pantas melampaui batas kewenanganku. Dengan memelas." Dokter gelisah menatap wajah kusut perempuan itu. Tiba-tiba perempuan itu teringat sesuatu. Mudah-mudahan Tuhan memberi jalan keluar pada keluarga kami. Barangkali Dia akan melindungi suami saya. "Butuh berapa lama untuk menyembuhkan penyakit ini. Jiwanya seakan lebih menderita dibanding rasa sakit di tubuhnya." "Oh…." batin dokter.. Bola mata perempuan itu bergerak-gerak bagai air raksa. Dok?" tanyanya. toh akhirnya akan ketahuan juga. "Kurang lebih dua mingguan. Mendadak pikirannya menerawang pada nasib keluarga perempuan itu. Akhirnya ia mengambil jalan tengah. Lakukan saja tugasmu. semua ini terserah Tuhan. "Sebaiknya Ibu memberitahukan pada suami Ibu. kecemasan. Sepandai-pandainya Ibu memendam rahasia ini. Mati aku!!" "Tentunya suami ibu juga terjangkit. 7 . itu harus intens. Dokter langsung bekerja. Sulit rasanya meyakinkan dia supaya menerima kenyataan pahit ini. "Mengapa aku mencampuri urusan dan penderitaan orang lain? Aku hanya seorang dokter. ditatapnya dokter itu. Kepedihan. Bahwa ia dalam bahaya besar."Tidak…! Tidak…! Tidak mungkin…! Cepat obati saya. Aku harus mengobati perempuan lemah ini. Dadanya sesak. Sudahlah." "Meski sudah terlambat?" "Yah …saya tak punya pilihan lain. Tekad itu menjadikan jiwa dokter sedikit tenang." saran dokter." "Suasana hening mencekam. Tentu masalah ini akan selesai. Dok. jangan. Suami saya orang baik-baik. "Tapi…. Kami akan menghindarinya sampai saya benar-benar sembuh.. rasa bersalah bersemayam dalam dirinya. Dokter! Jangan libatkan suami saya!" rengek perempuan itu. Dok! Suami saya tak boleh tahu masalah ini." "Kalau begitu sementara ini saya tidak akan melakukan hubungan seksual. "Bisakah Dokter menjaga rahasia ini?" tanyanya. Sudahlah! Semuanya kuserahkan pada Tuhan. Keresahan mencengkeram jiwa dokter. Ah." "Demi Tuhan.

" "Saya benar-benar menyesal." jawab lelaki itu. Dok. saya hanya seorang dokter. "Sore. Akan kuusahakan semampu saya. "Tak perlu takut. Pekerjaan dokter telah menghentikan langkahnya." sambut dokter. Dok." "Menyesal?" . perempuan itu datang. Menampakkan keceriaan di balik kegelisahan yang menyelimuti dirinya." jawabnya sembari menarik nafas. Menjelang petang. Tentu. tak perlu sedih. Ini hanya formalitas belaka. pegawai DPU. "Saya mengidap penyakit. Coba Ibu lihat daftar ini! Bukankah penuh dengan nama dan alamat pasien? Jangan takut. "Saya rasa cukup sampai di sini dulu. Raut mukanya tampak cerdas dan berani." "Oh…kasihan sekali. "Penyakit apa?" "Penyakit yang banyak dikeluhkan orang. Selain Jumat. Ketika perempuan itu beranjak keluar. Saya usahakan tiap hari datang ke sini. datang pasien berumur 30 tahunan. Dok. 8 *** Esoknya." hibur dokter." Lalu perempuan itu menghela nafas." katanya. Wajah perempuan itu tampak ketakutan."Tentu. "Selamat sore. dokter "Siapa nama Ibu?" tanya dokter. Ia katakan bahwa kondisi suaminya sehat-sehat saja. Badannya tinggi tegap. Lelaki itu tertawa. Tenang saja! Kujamin rahasia ini tak kan terbongkar selamanya." ucapnya dengan hati yang terluka. "Untuk apa?" tanyanya. "Ibu Muhammad Abbas Efendi. selesai.

Mereka menyesali diri. Saya sangat sedih begitu tahu istri tercinta saya juga mengalami hal yang sama. Akan kuyakinkan padanya bahwa perempuan itu adalah korbannya. Dengan demikian lelaki itu mau kembali pada istrinya dengan penuh penyesalan. Apa yang harus saya perbuat. Usahakan ajak istri Saudara ke sini. Dokter menyembunyikan wajahnya." kata dokter dalam hati. Apa Dokter merasa rugi bila ada orang insaf datang padamu? Apa pasienmu akan berkurang?" "Kukira Saudara datang ke sini bukan untuk berfilsafat. Saudara akan dapat menyelesaikannya dengan baik. Akan kuterangkan ihwal penyakit yang diderita istrinya. Dokter hampir saja terlena oleh pikirannya. "Tenang saja. Lantas keduanya akan kuobati sampai sembuh. "Memangnya kenapa?" "Saya sudah berkeluarga. hingga persoalan ini selesai." jelas Abbas. Dok?" Kini rahasia itu telah terbongkar. dokter. mulut dokter hampir mengeluarkan kata 'Hah'."Menyesal. Tatkala dokter hendak melangkah menuju kamar praktek. Pergi. Kemudian Abbas melangkahkan kakinya. begitu tahu bahwa dialah orang yang terancam bahaya besar itu. Abbas tak tahu bahwa perempuan itu lebih menderita dibanding dirinya. Silahkan ke kamar itu! Tunggu sebentar. Saya benar-benar terjepit. Dok?" tanya Abbas berulang-ulang. "Tahukan Saudara? Istri Saudara juga terancam!" "Ya. kalau tak mendengar pertanyaan Abbas. Tolong sebutkan nama Saudara!" "Muhammad Abbas. "Saya harus bagaimana. Dok. Dokter segera melihat dengan seksama daftar nama-nama. Jangan sampai dia curiga. Lantas bertanya. Kepalanya tertunduk hampir menyentuh lembaran daftar nama yang ada di depannya. *** 9 . "Dok." jawabnya lemah. "Saya usahakan. Mendadak jiwanya bergejolak. Sekarang dokter tahu bahwa bukan hanya bujangan yang bisa terperosok dalam dosa. Abbas merengek. Sepasang suami-istri itu ternyata pendosa. Giginya geregetan." Dokter menerawang. saya khawatir penyakit ini akan berakibat buruk." Abbas bingung. Semoga Abbas berhasil membawa istrinya ke mari. "Mudah-mudahan Tuhan memberi jalan kebaikan bagi istrinya.

beginilah jadinya!" Abbas diam sejenak. Rasanya sakit dan ingin marah. "Menurut Dokter apa?" baliknya. bagaimana harus menjelaskan padanya. Dok?" "Emm…sebenarnya persoalan Saudara sudah beres. Bagaimana kalau kita periksakan ke dokter?' Istri saya justru marah dan menolak keras: 'Tidak! Kau mengkhayal. Lalu dengan ragu-ragu." tutur Abbas. Terpaksa sayalah yang memulai bertanya: 'Apa kau tak punya keluhan? Barangkali sakit?' Saya pura-pura tenang. Sedih. Saudara tidak bisa meyakinkannya. Mana?" "Yah…. Sekarang saya telah bercerai dengan istri saya. Dok. kudekati istri saya. Parahnya. "Oh…hidup di dunia memang susah. Abbas dirundung ketakutan.Perempuan itu tak datang pada hari yang telah dijanjikan. Lalu dengan hatihati." Dokter membungkukkan bahunya. Entah sampai kapan." Hati Abbas penuh teka-teki. "Singkatnya begini. "Saya sudah sering kali mendengar keluhan-keluhan seperti itu. Usaha saya sia-sia. Tapi sayang. ia akan datang bersama Abbas. Saya mengharap dialah yang memulai bertanya. 10 . Saya juga tak tahu bagaimana harus memulainya. tidak'. wajahmu pucat dan sedikit berubah. Saya berbohong: 'Kulihat akhir-akhir ini. Abbas menggelangkan kepalanya. "Ada apa?" tanya dokter terperangah. Kemudian berbicara dengan terbata-bata karena putus asa. Saya bingung. Aku ragu dan bosan mendengar nasihat mereka. Sinar matanya menyimpan banyak pertanyaan. Ya…. Istri saya menjawab: 'Alhamdulillah. semakin keras istri saya menolak. Tapi yang datang ternyata hanya Abbas.bagaimana lagi. Pokoknya tidak. "Entahlah. "Kukira Saudara mengajak istri Saudara. Saya coba memohon dengan baik-baik. bagaimana saya harus meyakinkannya. Impian untuk menimang anak. Tatapan matanya layu. Wajahnya pucat. Seolah tampak lebih tua dari biasanya. mereka justru melalaikan dan membebankan pada dunia!" kata dokter. Perlu Dokter ketahui. Saya mengira dia gelisah karena kegelisahan saya. "Semakin banyak saya menuntut. Kemarin malam. saya berniat mengajak istri saya kemari untuk menemui dokter agar saya bisa tenang. Tiba-tiba istri saya gelisah. Tak bisa menguraikan apa yang terjadi di balik peristiwa itu. Dada saya sesak. Ia mesti memeras otak untuk mencari jawabannya. Aku benci dokter. kini telah hilang. Tapi ia tak melakukannya. Saya yakin menusianyalah yang menyebabkannya. Kebingungan mendekap. istri saya malah melawan dan bersikeras pada pendiriannya. Tapi saya bingung. Hati saya dongkol. Dokter mengira sore ini. belakangan ini saya mengalami banyak peristiwa menyedihkan. Saya terus mendesaknya. saya harus menjalani masa sulit ini.

Dok?" "Dosa telah memperdaya dan menjerat saya. Istriku?' Saya coba mengulang pertanyaan dengan lembut. Saya terjerumus dalam jurang yang curam. dan pada 1998 mendapat Hadiah Nobel. Tolong! Jangan sentuh aku. Saya telah ingkar. permintaan ampun dan pingsannya itu yang jelas hanya karena satu hal." lanjut Abbas. Otak saya tak kuasa lagi berpikir dengan jernih: 'Ayo ikut aku ke dokter! Aku prihatin dan ingin tahu apa sebenarnya penyakit yang kau derita. "Apa maksud semua ini. Abbas! Ampun…! Rahasiaku telah terbongkar. Bagaimana saya bisa melepaskan selimut tebal dosa ini? Bisakah saya tabah menghadapi cobaan ini? Bisakah saya kembali bersih dan sehat seperti dulu lagi. Saya ingin lepas dari belenggu perkawinan ini. Cerpen ini diterjemahkan dari antologi cerita pendek Hams al-Junu'un. Otak saya ragu." tambah Abbas. Istri saya menjerit: 'Ampun. Kini saya ingin pikiran saya terbuka. Karenanya. Raut mukanya berubah aneh. istri saya bicara menantang bagai ular yang siap mematuk mangsanya. Pengakuan dosa. Perasaan tentram. Dok. Kepala saya panas. Musnah sudah bayangan hidup bersama buah hati saya. Saya bingung dibuatnya. Tuhan.Karena saking suntuknya. Tubuhnya menggigil. Dok? Saya hanya menduga. Dengan murka. Istriku? Kenapa kau tak mau ke dokter?' Istri saya justru berteriak lebih keras: 'Tidak…! Tidak…!' Saya bertambah marah. saya menjadi korban yang sia-sia! Adakah lelaki yang bernasib seperti saya. "Oh…saya telah berbuat dosa dan pantas mendapat hukuman. 11 .Rambut saya berdiri mengeras seperti landak. Bengis. Saya bertanya dalam hati: 'Ada apa. Dok?" "Runtuh sudah bangunan rumah tangga saya. saya melangkah ke arahnya. Ceraikan saja aku!' Tiba-tiba istri saya tersungkur di kaki saya kemudian pingsan. Tubuhnya mengejang. bimbinglah jalan hidupku. Saya semakin bingung dan bertanyatanya: 'Apa yang membuatmu takut. Padahal merekalah cahaya hidup saya yang senantiasa bersinar. saya berteriak keras. dari Judul asli alMaradl al-Mutaba'adil oleh Ahmad Sya'roni dan Herri Munhanif. Tak ada kata 'tidak' dalam diri saya. tak mampu kuasai diri. Tapi ia yakin bahwa dirinya tak melampui batas kewenangan. Perempuan itu sungguh membuat repot suaminya. Matanya melotot. tapi istri saya memotong dengan gerakan aneh. Aku telah bersumpah pada Tuhan. Aku telah berbuat dosa! Pasti kau sudah tahu semuanya.' Belum selesai saya bicara. Membuang semua kemarahan yang ada dalam diri saya.*** Naguib Mahfouz lahir tahun 1911.

badak. Telah kami jelajahi seluruh hutan. begitu tercium bau kami. sementara . sejak kami masih dalam kandungan. Sebagian lagi menyempatkan diri membersihkan wajah terlebih dahulu. Kami adalah bangsa pemburu yang besar. Siapakah yang tak tahu akan hal itu? Kami tak pernah gagal memburu sesuatu. Cerita-cerita penaklukan. tetapi kali ini. melihat kehormatan kami akan goyah suatu ketika. Inilah perjalanan terjauh dan terlelah kami. Kami mengembara dari satu benua ke benua lainnya. Legenda kami adalah penaklukan puluhan binatang buruan. Telah kami bongkar tiap lekuk pegunungan. rusa. Telah kami sibak semua palung lautan. Seperti juga semua makhluk yang ketakutan mendengar gemuruh kaki kami. Membuat kami cemas. bukan sebagai cara kami bertahan menghadapi hidup. Barangkali. Lagu-lagu kami adalah lagu-lagu perburuan. hanyut oleh pikiran kami. Kami sudah tahu bagaimana menyembelih wildebeest. Inilah pertama kali kami merasa begitu lelah. betapa binatang-binatang di dunia ini perlahanlahan telah habis kami buru. jumlah kami memang makin membesar. ular. sebelum sampai ke telaga ini. Nenek moyang kami telah membentuk kami sebagai pemburu paling ulung. Setiap bulan hampir seratus anak kami lahir. untuk memburu binatang-binatang. Sampai kemudian kami menyadari. Menjadi hutan lebat yang tumbuh dalam kepala mereka. Setiap dari kami dibesarkan dalam belukar. macan. Seluruh kekuatan dan pengalaman kami sebagai pemburu telah kami keluarkan sampai tandas. tupai dan tikus. Meletakkan semua senjata yang selama ini kami jinjing dan gendong. Hingga kami merasa benar-benar sendiri. Membuat kami begitu merasa terhina. Seakan sia-sia kebesaran kami sebagai pemburu yang telah berabad-abad mengabdikan hidup dan peradaban kami hanya untuk berburu. tetapi lebih untuk kebanggaan dan kehormatan. Kami tak pernah tergoda menjadi petani atau pedagang. buruan kami tetap saja melenggang bebas. binatangbinatang itu juga sudah terlalu hafal dengan kami. Angin bergegas pergi oleh kedatangan kami. nenek moyang dan anak cucu kami.Para Pemburu Oleh: Agus Noor 12 Purnama mengapung di telaga. Maka mereka buru-buru menjauh pergi. Kami beristirahat di pinggir telaga itu. Kami memandanginya dengan gamang. Maklumlah. melulurkan kesejukan pada lengan dan kaki yang bengkak. Kami seperti mengejar kilat. Tak ada yang lebih terhormat bagi kami. selain menjadi seorang pemburu besar yang sanggup merobohkan gajah dengan satu gerakan. setelah bertahun-tahun memburu buruan kami yang bergerak begitu cepat. dari tahun-ketahun. sesekali meleleh oleh arus gelombang. Tetapi mungkin juga memang binatang-binatang itu sudah habis kami bunuhi. telah lenyap kami tangkap. ditangkup sunyi daun-daun yang mandi cahaya. Sampai kelinci. serigala dan segala macamnya. Gajah. Sebagian dari kami langsung merebahkan tubuh atau bersandaran pada batang pohon dan gundukan batu. Apalah arti kami bila tak lagi hidup sebagai pemburu. mengantar tidur anak-anak kami.

sasaran perburuan yang menggairahkan. “Perburuan tak mungkin berhenti!” “Kita akan cepat renta bila sehari tak memburu apa pun!” “Takdir tak bisa dihentikan. membiarkan mereka lari dan menghilang. tak hanya kami yang suka dengan permainan semacam itu. Sampai kemudian ide brilian terlontar. semua binatang telah habis kami buru. memang makhluk yang tak gampang menyerah. “Masuklah dalam hutan. perlahan-lahan. dari pada mati di tiang gantungan: tak lagi punya pilihan. Mereka kami lepas ke tengah hutan. Kami iringi dengan lengkingan terompet dan juga dentuman meriam. Rupanya. seperti kami katakan tadi. ketika dari banyak yang datang ke pada kami itu adalah para jendral. tapi tak gampang mati. Liat dan sigap. Semoga nasib baik bersama kalian.” Dan para pesakitan itu pun kami lepas dengan upacara kehormatan. orang-orang 13 . Itu menjadikan kami begitu bahagia. Jangan cemas. Mereka kami beri kesempatan untuk bebas. Kami tak lagi memburu binatang. kebiasaan baru tumbuh dalam kehidupan kami. sungguh. Kami membeli juga para penjahat yang telah divonis mati. Tapi itu lebih baik bagi kalian. untuk ikut menikmati perburuan itu. kemudian menghantam kepala binatang itu dengan kepalan tangan.orang-orang tua kami bagai tak bisa mati. kami bunuh. untuk menggantikan binatang yang kini telah musnah. Setiap detik adalah pertarungan. Karena. Mereka lebih menantang untuk kami taklukkan. Tetapi kami tak bisa menolak. Mula-mula. selain melakukan perburuan semacam ini? Mereka kami beri kehidupan sekaligus batas kematian. tetapi masih sanggup berlari mengejar entelope. Mereka sudah renta. Maka kami pun membeli ratusan budak. Selamat jalan. dengan cara melarikan diri. Selamatkan kehidupanmu.. Anak-anak kami pun nampaknya lebih suka dengan perburuan macam itu. Bahkan membuat kami lebih merasa sempurna sebagai pemburu. baru kemudian kami memburu mereka. Adakah yang lebih menyenangkan. Anggap semua ini hanya permainan.. Menjadi tradisi. kalian masih punya kesempatan untuk memperpanjang kehidupan. hingga pecah berantakan. Mati dalam perburuan ini lebih terhormat bagi kalian. Dan itulah kehormatan. banyak orang di luar suku kami. mendatangi kami. Kepada mereka kami tawarkan kebebasan. lari.” “Lantas bagaimana?” “Apa pun yang terjadi kita mesti memburu sesuatu!” “Memburu apa?” Itu membuat kami terdiam. Lantas. Ketika kisah-kisah kami menjalar ke banyak negara. yang membuat kalian akan merasa memiliki harga sebagai seorang pesakitan. Tapi sudah lama kami kesulitan menegakkan kehormatan macam itu. Para penjahat itu. Kami akan memburu manusia. Banyak di antara kami yang sudah berusia 7890 tahun. banyak di antara kami yang menolak. karena hal itu dianggap akan mengotori kemurnian darah pemburu kami. meski kami akan memburu kalian. Dan itu. Memburu budak-budak itu lebih mengasyikkan dari pada memburu binatang. Inilah hidup yang sesungguhnya. Banyak juga di antara kami yang mati dalam perkelahian. Meskipun kalian juga tak luput dari kematian. tapi manusia.

Perburuan bukan lagi perkara kebesaran dan kehormatan. tetapi kami bebas memilih siapa pun yang paling menyenangkan kami buru. yang telah menjadi sekelompok pemburu yang paling kuat. pasokan senjata yang bagai anggur mengalir dalam gelas-gelas kami. ketika kami memburu ribuan orang Yahudi untuk kami kirim ke kamp konsentrasi. Apalah arti semua itu bagi jiwa pemburu kami? Semua itu bukan lagi gairah petualangan dan tantangan.” Lalu seseorang yang paling tua di antara kami. Jangan biarkan anak-anak kita menjadi pucat dan pasi. ketika kami menembaki anak-anak Palestina. Bahkan mereka menjanjikan kami lahan-lahan perburuan yang lebih luas. Kami. Tak ada lagi yang berani menggertak kami. Para bangsawan. menjadi tak tertandingi. para raja.. Begitulah memang mestinya nasib penyair yang tak menulis syair pujapuji bagi keagungan kami. Kami terus memburu. jangan sedih. 14 . melintasi gelombang waktu. Para pengusaha mensubsidi kami modal bermilyar-milyar. Suaranya sudah gemetar. dengan setiap malam tidur di ranjang yang bersih dan nyaman. Kami bangun juga istana-istana. Kami tak hanya punya kesempatan memburu para penjahat yang telah divonis mati. tetapi juga. “Ini darah seorang penyair untukmu. begitu melimpah buruan kami. tetapi penaklukan yang membosankan. menggulung apa pun yang kami sukai. yang memang memiliki kebiasaan berburu seperti kami dan memiliki lahan-lahan perburuan yang luas. yang melintas bagai badai dan gelombang. Ketika kami menjarah perempuan dan membunuhi anak-anak. Hingga kami tak lagi kekurangan buruan.. dan kami tertawa bahagia. Kami perlahan-lahan meninggalkan cara hidup kami di hutan. seakan maut sudah menyentuh bibir orang tua itu. Juga kaum intelektual yang selama ini mereka benci. Para raja dan kepala negara mempersilahkan kami untuk memilih rakyat mereka sebagai binatang buruan. terkadang. Kami berdiri di puncak menara peradaban. Para jendral menyediakan kami senjata-senjata paling mutakhir. menumpuk tengkorak kepala korban kami hingga menggunung sampai menyentuh awan. Hidup pemburu agung! Kami pun menjadi kelompok pemburu yang besar. para demonstran untuk kami habisi. para bangsawan dan pengusaha besar. kami terus menuliskan sejarah kami yang agung. Di antara kemeriahan pesta. Itu sering membuat kami terusik sunyi. mengijinkan tempat-tempat itu untuk kami kelola dan kembangkan sebagai ladang perburuan yang lebih menantang dan menyenangkan. ketika kami memburu dan membantai orang-orang muslim di Bosnia.besar di negara mereka. Malah sering para raja dan kepala negara memberi kemudahan kami dengan memberi lisensi untuk menghabisi para tokoh oposisi yang tak mereka sukai. sendiri. keisengan. dengan dukungan dana yang melimpah. sehingga permainan menjadi tak lagi begitu punya arti. Kami tak lagi hanya terbiasa dengan bunyi pedang. Apakah arti kekuatan bila tak ada tantangan yang sepandan? Tak ada lagi yang sanggup melawan kami. hingga pertarungan menjadi tak sepandan. puluhan kepala negara. Karena kami sudah terlalu kuat. “Kita harus melakukan sesuatu. Kami seperti kehilangan buruan yang mengasyikkan. tak ada lagi kegairahan karena kemenangan. ketika kami mengirim pasukan pemburu ke banyak negara untuk meluluhlantakkan apa saja. Jangan biarkan mereka menjadi lembek karena rasa sunyi ini. tetapi juga denting gelas dalam kehangatan pesta. Ah. kami terus bergerak dari benua ke benua dari zaman ke zaman. tetapi kami selalu dirundung sunyi. yang sudah berumur 100 juta tahun lebih.” Gelas kami beradu. tempat kami berpesta setelah seharian berburu. Kami menjadi kaum pemburu yang kian kokoh dan terhormat. menyarankan kami agar mengumpulkan para kiai.

kapan kalian bisa menyediakan Jibril bagi kami?” Kami tatap wajah para kiai itu. “Kalian jangan bercanda!” teriak kami.” Lantas kami membiarkan satu persatu para kiai itu masuk masjid kecil itu. tetapi masjid itu tak juga penuh. telah lapuk.” Mereka. Dan aku ingin. Benar-benar masjid kecil yang tak terawat. “Kami ingin Jibril. aku ingin menikmati perburuan yang paling menggairahkan.” kata kami kepada mereka. Ya. Sekarang.” tegas kami. “kalian kami beri waktu satu bulan. Kami turut kemauan mereka. kami akan membikin perhitungan sendiri. anggur segera kami tuang dalam gelas. Dan tentu. Panji perburuan berkibar. meski sesungguhnya heran. kenapa kami tak memburu malaikat? “Jibril! bagaimana kalau kita minta Jibril!” “Kami bersorai.” “Baiklah. bersulang. membangkitkan imajinasi kami. membuat kami begitu ternganga. Pintu itu terbuka untuk menerima siapa pun masuk ke dalamnya.“Untuk apa mengumpulkan para kiai itu?” “Aku sudah mencium ajalku. dari seluruh dunia. Membuat darah kami menggelembungkan jiwa pemburu kami. “Kalianlah yang bercanda. Kami segera menghimpun topan. Apalagi ketika kami melihat sendiri masjid itu.. para kiai itu. sebelum maut menjemputku. ketika hampir separo dari jutaan kiai itu sudah masuk ke dalam masjid. kami giring ke sebuah istana kami yang paling megah. malaikat. Bagaimana tempat sekecil itu menampung jutaan kiai yang kami himpun dari seluruh penjuru ini. mencari kepastian dalam mata mereka. kami segera mengumpulkan para kiai. Seluruh bangunan itu terbuat dari pelapah kayu. Barisan kiai masih antri di depan masjid itu. menyambut hari depan kami yang gilang gemilang... berkelok-kelok mengikuti 15 .” “Apa hubungannya dengan para kiai itu?” “Kumpulkan mereka. katakan kepada kami. Suruh mereka menyediakan malaikat untuk kita buru!” Kami terpukau oleh gagasan itu. “Baiklah. “Kami tak mau tahu. Apakah kalian akan sholat sepanjang hari? Apakah kalian akan berdoa dan mengaji? Apakah kalian akan menangkar atau menjebak Jibril dengan sebuah perangkap? Kami tak mau tahu dengan itu semua. Kami segera mengeluarkan seluruh senjata kami. Gairah menjalar. dan meminta kami untuk membawa mereka ke sebuah kaki bukit di mana ada sebuah masjid kecil di pinggir hutan. dengan meminta kami mendatangkan Jibril. Tetapi mereka menolak. Luasnya tak lebih dari lima kali lima tombak. bagaimana cara kalian mendatangkan Jibril bagi kami. kalau perlu dengan paksa dan kekerasan. Mereka kami datangkan dari semua penjuru. Bila selama ini kalian tak bisa mendatangkan Jibril bagi kami..

seseorang di antara kami berteriak. tetapi tak kunjung keluar jua. Kami tak mau di tipu para kiai itu. memperingatkan para kiai bahwa waktu sudah habis buat mereka. “Jibril!!” “Jibril!!” Seketika kami berteriak. lenyap seketika. melihat impian kami sudah di depan mata. Sampai kemudian semua kiai telah masuk dalam masjid itu. menguap begitu cepat. luar biasa. Kadang kami merasa ada yang menggemericik dalam hati kami karena gema itu. raib begitu saja. kemudian kembali mengirim utusan untuk menemui para kiai di dalam masjid itu. Jutaan kiai masuk ke dalam masjid yang bagi kami hanya cukup untuk tidur dua puluh orang. Tombak. betapa memang inilah yang selama ini kami tunggu-tunggu. Dan kami mendengar gema dzikir dari dalam sana. Kami kirim utusan kembali. Tapi seperti yang pertama dan kedua. Pada saat itulah. di pucuk api berkobar. mengalun menidurkan rerumputan. bagai masuk ke tabir ruang dan waktu pada dimensi lain. Segera kami kirim seseorang untuk menemui mereka. membuat udara bergetar dan perasaan kami gemetar. takut mereka akan keluar dan meloloskan diri ketika kami tertidur. bagaimana mungkin? Tapi. Begitulah berkali-kali. Kami bakar masjid itu. Membuat kami cemas. Dan kami segera menyerbu. tetapi. mendadak menyadarkan kami. kenapa kami malah bengong begitu? Maka. Lantas kami tak bisa lagi sabar. kami melihat selesat biru cahaya menatap kami. orang kedua kami pun tak kembali. seperti daun yang melayang-layang itu. Sementara suara dzikir itu terus saja bergema. Kemarahan kami menyalakan api di tangan. membumbung. tak pernah muncul kembali. itulah yang kami saksikan. kini telah muncul di hadapan kami. dengan sigap kami segera meraih senjata-senjata kami. Seperti batang-batang pohon yang bergoyang itu. utusan kami ini pun tak muncul lagi meski kami sudah menanti lebih lima hari. Namun dzikir itu masih kami dengar. sepanjang hari sepanjang malam. Satu bulan lewat. Namun orang itu tak kembali. Dan. Kami berteriak menyuruh para kiai itu keluar. Gema itu melambung.gigir bukit. tetapi hanya gema dzikir membalas suara kami. dan api melahap cepat. jangan-jangan semua itu sihir belaka. tak membiarkan seekor tikus lolos dari amatan kami. menyentuh langit. membuat kami tengadah ke puncak api. Kami sudah cukup punya pengertian. di puncak kobaran api. semua dari kami yang masuk ke dalam masjid itu. Kami memagarbetis masjid itu. bersama angin dan embun. dengan sayap terentang sampai ujung paling jauh dari semesta. gembira dan tak percaya. bukan? Jangan salahkan kami. yang hanyut dibuai dzikir para kiai. Apakah ini keajaiban yang dikirim bagi kami? “Buru!” Teriakan itu. Jibril. Tetapi seperti yang pertama. Kami panggil namanya. masuk dalam masjid itu. tertelan dan lenyap. setiap orang yang kami kirim untuk menjumpai para kiai. ketika para kiai itu tak juga muncul dari dalam masjid. anak 16 . hingga kayu-kayu bergemeretakan. Tiba-tiba tubuh mereka hilang tak berbekas. Kami terus berjaga. antara takjub dan panik. berkobar dan segera kami lempar pada mesjid itu. Kami tak mau kecolongan. ya Allah. sekaligus marah. di sana. Kami panik. seperti barisan semut yang begitu tertib menuju lubang sarang mereka . Membuat kami tambah cemas menunggu. itu pun pasti sudah berhimpitan.

Kami tak mau kehilangan jejak. kami lihat jejak cahaya. Tombak terus beterbangan. Ketika kami baru saja rebahan dan membasuh kelelahan kami di telaga itu pun. Inilah buruan kami yang abadi. Jiwa pemburu kami bergelora oleh gairah perburuan kali ini. Sebagian besar dari kami kini benar-benar renta. 1995-1998 (Dongeng Buat Mas Danarto) . Kemanapun Jibril melesat. hingga telah lama anak-anak kami tak lahir. kami melihat buruan abadi kami. Setelah berabad-abad kami hidup sebagai pemburu. meraih peralatan berburu kami. kami benar-benar tak pernah punya waktu istirahat. Bertahun-tahun kami memburu. ranjauranjau telah kami tanam. dan kami pun tak sempat menguburkannya. Dan memang. inilah sesungguh-sesungguhnya perburuan yang sejati. dengan cepat berlesatan ke arah selesat cahaya biru itu yang dengan cepat bergerak dengan sayap mengepak. Kami tak pernah tidur di satu tempat. Banyak dari kami yang mati dalam perburuan ini. melanjutkan pemburuan abadi kami. desing senapan mesin. mengepakkan sayap-sayap cahaya-Nya. Membiarkan kaki kami koyak oleh duri.*** 17 Yogyakarta. Kami begitu sibuk memburu Jibril. roket terus berlesatan. jaring-jaring baja telah kami rentangkan. kami sudah harus kembali pergi ketika pada bayangan bulan. roket dan basoka. “Kejar!” Kami pun melesat. Sampai kami tiba di pinggir telaga ini. Karena kami harus terus mengejar Jibril. yang menyimpan bayangan bulan. Segera menghambur. mengejar Jibril. Di seberang telaga sana. Kami tak sempat istirahat. kami memburunya. Maka kami pun kembali bangkit. perangkap telah kami pasang. membiarkan rambut dan jenggot kami memanjang tak terawat. setelah bermacam pengalaman perburuan membuat kami jadi pemburu sejati. mengharap kesegaran akan membuat tenaga kami kembali muda.panah. Inilah perburuan paling menakjubkan bagi kami. “Kesana!” seseorang dari kami berteriak. dan langsung melesat. agar kami mampu meringkus Jibril. Kami tak punya waktu untuk memikirkan itu semua.

Pernikahan Angin
Oleh: Dianing Widya Yudhistira

18

Aku di sini. Berada di ketinggian menara. Menikmati senja. Senja kali ini berwajah pucat. Langit diam. Sepi. Melintas di depanku burung gagak bergaun hitam. Menari di depanku. Tarian yang sebelumnya belum pernah aku saksikan. Seperti mengabarkan sesuatu yang ganjil. Angin masih terlalu cinta dengan kehadiranku. Ia sapa aku lembut. Perlahanlahan aku sapu anak rambut yang tergerai di wajahku. Tulus. Gagak itu masih menarikan tarian yang terluka. Entah tentang apa. Ketika senja berangkat ke malam, perlahan-lahan burung Gagak menghentikan tariannya. Menatap padaku. Tatapan matanya yang tajam, seolah-olah menelanjangi batinku. Aku belum tahu apa yang sesungguhnya Gagak sampaikan padaku. Yang aku tahu, malam ini seperti tak punya nafas. Tak ada angin yang meliukkan tubuhnya. Pohon-pohon diam. Tak kudengar desah dedauan. Gunung-gunung membisu. Demikian juga dengan hamparan laut di depanku. Diam. Malam begitu terbungkus kesunyian. Sehelai daun akasia yang menua, melayang di udara. Jatuh. Terkulai di tanah basah. Kesunyian kian lengkap. Aku masih di sini. Di ketinggian menara. Aku terpaku di ujung lengan cakrawala. Perlahan-lahan aku hela nafasku. Menghembuskannya dengan bebatuan. Tak ada yang menemaniku, malam ini. Tak ada yang mengajakku bicara malam ini. Hanya burung Hantu yang mau menampakkan diri. Seperti biasa. Ia adalah kekasihku. Yang selalu bercerita tentang bulan dan bintang. Yang memberi aku kedamaian. Ya. Seekor burung hantu. Menghampiriku. Hanya saja matanya tak bersinar seperti hari-hari kemarin. Mata itu redup. Burung hantu menatapku. Kosong. Sebaid lirik kehilangan aku temukan di sana. “Selamat malam, Dianing.” “Kabut apa yang menodai matamu, hingga ke pendam rasa ngeri.” “Engkau sesungguhnya, Dianing.” Dibentangkannya tanda tanya di hadapanku.

“Di mana Lismatano sekarang Dianing.” Aku tercenung. Ia menyebut nama laki-lakiku. “Pergilah ke hutan Para, Dianing.” Aku menautkan kening. “Kau akan tahu.” Tiba-tiba angin meliukkan tubuhnya dengan gerakan yang dahsyat. Ia memintalku dengan kekuatannya. Dengan cinta ia terbangkan aku ke hutan Para. Sekelilingku gulita. Tak ada cahaya. Tapi, cahaya bulan bugil membantu penglihatanku. Banyak pohon di kanan kiriku. Depan dan belakangku. Masyarakat pohon. Membisu dan gelisah. “Inikah hutan.” “Ya. Hutan Para.” Suara burung hantu. “Apa yang aku tahu.” “Ikuti aku.” Seperti perintahnya, aku ikuti langkah burung hantu. Semakin aku mengikutinya, jalan yang menanjak kian gelap. Gelap dan sangat gulita. Hanya deru nafas yang dahsyat terdengar di telingaku. Deru nafas yang memburu dan aku akrab dengannya. Terpadu dengan deru nafas yang lain. Entah nafas siapa. Aku langkahkan kakiku selangkah. Tiba-tiba di depanku terang benderang. Astaga!! Lismatano, laki-lakiku bergumul dengan tubuh perempuan lain. Gila!!! Seketika itu angin kembali meliukkan tubuhnya dengan dahsyat. Memintaku kembali. Entah dalam waktu seberapa detik menerbangkan aku. Yang jelas kurang dari satu detik aku kembali berada di ketinggian menara. Aku lunglai. Bayangan Lismatano dan perempuan itu terekam jelas di layar komputerku yang paling pertama. Malamku lunglai. Aku tahu burung hantu masih di sampingku. “Untuk apa kau bawa aku.” “Untuk menjelaskan padamu siapa sosok Lismatano.” Aku hanya bisa menelan pil pahit. Menikmati segala luka hati dengan tulus. Lismatano. Laki-laki yang sepenuhnya aku kagumi. Ternyata mampu menikam darahku.

19

“Apakah aku terlambat, Dianing.” “Sama sekali tidak.” “Mengapa batinmu begitu luruh.” “Aku tengah belajar untuk bahagia dan damai dalam sendiri.” Burung hantu tersenyum. Mengepakkan sayapnya di ketinggian menara ini. Selalu ia yang melindungiku. Telah aku putuskan untuk tak merajuk atau menerima Lismatano. Tak kan lagi aku melakukan kesalahan yang sama. Malam telah melengkapkan usianya. Aku pandang wajah bulan. Lewat cahayanya ia mengucapkan salam. Aku dengar bisikan angin. “Selamat malam.” Aku membalasnya dengan menguap. “Selamat malam, Dianing.” Aku tatap burung hantu. Ia membimbingku ke kamar. Menyelimuti aku. “Tidurlah dengan damai.” Aku mengangguk. Aku tahu ia akan menjagaku sepanjang malam. Di ketinggian menara ini. Perlahan-lahan aku terlena. Hembusan semilir angin menerpaku. Sejuk. Perlahan-lahan aku terbawa ke dunia lain. Dunia yang selalu aku impikan. Hamparan luas rumput hijau. Berbagai macam buah lezat dan makanan tersedia di sana. Di hamparan rumput itu mengalir parit. Yang airnya susu dan madu. Di hamparan luas rumput hijau itu, para bidadari tersenyum ramah. “Oh kehidupan yang menyenangkan.” Sejenak kutinggalkan dunia. Aku benar-benar menikmati dunia lain ini. Dalam tidurku, aku kembali terlempar ke dunia. Tapi, seperti ada yang menghalangi nafasku. Aku terengah-engah. Entah siapa. Wajahnya bersih. Ia bersayap dengan baju serba putih. “Aku akan menjemputmu, Dianing.” “Menjemputku!?” “Ya. Ke alam baru. Kehidupan yang sesungguhnya.” Aku tak mengerti.

20

Burung hantu menyentuh bahu kananku. Seolah mencegahku. “Kau tak bisa menghalangiku. Ini perintah Tuhanku. Tuhanmu jua.” “Ia masih terlalu muda.” “Kehendak Tuhan.” Aku lihat mereka berdebat. Mereka asyik dengan argumen-argumen mereka. Sementara aku hanya bisa menikmati perdebatan mereka. Karenanya, burung hantu terkapar. Sayapnya patah. Sosok bersayap itu kembali padaku. Tangannya yang dingin menyentuh kulitku. Entah apa yang ia lakukan. Yang aku tahu, sungguh tubuhku merasakan sakit yang dahsyat. Setiap kali tarikan hebat itu lepas kembali ketika menyentuh di leher. Aku mengerjang, merintih, terpuruk, lelah. Aku lihat burung hantu kembali bangkit. Kali ini tak ia pedulikan sayapnya yang terluka. Ia berusaha mencegah keluarnya rohku dari jazadku. Jadilah jazadku ajang perebutan roh. Sosok bersayap itu menghendaki rohku. Burung hantu ingin rohku tetap menyatu dengan jazad. Mereka tak tahu bagaimana aku menahan sakit. Cukup lama mereka bertarung. Entah berapa waktu. Karena sakit, aku merasakan sangat lama. Kekuasaan Tuhan tak ada yang mampu membendung. Hingga aku benarbenar terlempar ke dunia lain. Roh yang bertahun-tahun menghuni jasadku, kini telah diinginkan pemiliknya. Aku terbang tinggi tanpa tahu di mana akan berhenti. Aku saksikan jasadku dimandikan bunda dan saudara-saudaraku. Beberapa orang yang menyayangiku hadir di kematianku. Mereka mengucap seuntai kalimat duka. Ketika jasadku dishalatkan, aku merasakan kesejukan yang sangat. Tapi, aku merasakan sakit ketika bunda dan saudaraku terisak di makam. Ketika jasadku mulai dimasukkan ke liang, kedua saudaraku pingsan. Duh, jalanku tersandung semak belukar. Perlahan-lahan tanah menimbun Jasadku. Hingga merata dengan tanah. Tertanam sudah jasadku di tanah. Aku melesat ke langit demi langit. Beribu roh berkumpul di alam yang sulit aku uraikan. Berupa-rupa aku temui. Di depanku layar besar mengungkap kembali kisahku di dunia. termasuk kisahku dengan Lismatano. Aku merasakan getar aneh ketika melihat Lismatano. Entah, di alam yang lain ini aku masih mengenang Lismatano. Laki-laki yang pernah berjanji akan menikahiku. Di tengah riuhnya roh-roh yang menuju pengadilan akbar itu, tiba-tiba muncul burung hantu. Ia menuju ke Tuhan. Ia mengadu tentang aku. “Aku ingin Ia diberi keisitimewaan.” “Tentang apa.” Aku menatap burung hantu. “Biarpun Dianing telah kau ambil, berikan ia kesempatan ke dunia.”

21

Aku izinkan ia suatu ketika turun ke dunia. Seperti berabad-abad lalu.” “Baik karena cintaku aku merestui Dianing. Bulan bulat penuh. Aku bahagia melihat secercah wajahnya yang ceria.” “Oh ya.” “Ya.” “Ya. Aku lewati langit demi langit. “Aku tunggu kedatanganmu di dunia. Seperti menunggu kedatangan. Ia menjerit. “Cukup lama kami menunggu. Aku membalasnya dengan anggukan tulus. Aku temukan sebaid lirik kehilangan di matanya. Aku lihat wajahnya sepi. Tersenyum dan memberi salam padaku. Ia menembus awan. Lama menunggumu dan juga tengah menunggumu. Dianing. “Gerangan siapa membuatmu sepi.” “Tentu.” “Cepatlah kau temui burung hantu. Gemerlap bintang menyambutku. Dianing.” Burung hantu terbang. “Boleh aku tahu dukamu. bintang. Aku bertemu dengan mega.” 22 .” Matanya berpendar.” Aku lihat burung hantu terpekur sendiri. mega. Indah sekali. bulan menuju ke dunia.” “Bila Tuhan mengizinkan.” “Ya. Wajah yang cerah itu tiba-tiba luruh.” Aku terpana.” Kami berpelukan. langit cerah. “Dianing.“Maksudku melihat dunia. Atas izin Tuhanku. Burung hantu mengepakkan sayapnya. Ia bugil di malam yang damai itu. UNTUK pertama kalinya aku turun ke dunia.

” Burung hantu menggeleng. terjal dan mendaki. Tatapan yang sulit aku urai..” “Bicaralah. “Maukah kau ke hutan Para.Burung hantu menatapku. “Lismatano tak pernah menikahi perempuan itu. Hidup bersama tanpa kata yang jelas.” “Maksudmu. “Kau tahu bukan perbuatan mereka melebihi hubungan suami istri.” “Lalu?” “Lismatano memilih jalan buruk.” “Ya.” Aku lunglai. Tiba-tiba begitu sepi..” Aku luruh.” Burung hantu masih bertengger di pohon randu. laki-laki yang pernah aku dambakan jadi suamiku. “Bukankah mereka telah menikah. “Untuk apa.” Aku tak mengira laki-laki masa laluku memilih hidup yang naif. Lismatano. Tak sekedar gelap. “Bila kau berkenan. Di 23 .” Aku kembali ke hutan Para.” panggil burung hantu lirih.” “Hutan Para!?” “Lismatano ada di sana dengan perempuan itu. Aku terpana. Telah berpaling dengan perempuan lain. “Dianing.” “Mereka seatap tanpa ikatan. Serumah tanpa ikatan sah sebagai suami istri. Bukankah ia bagian dari hidupmu di dunia.

Aku terpana. Ia berubah jadi batu. Ia berkaki empat. Mei 1997. Ia dalam keadaan yang mengerikan ketika membatu. Tapi. Mulutnya lebar ke arahku. Merasakan cinta dan kasih sayangnya. Deru nafas memburu. Dan aku kini mulai belajar untuk damai dan bahagia dalam sendiri.” Aku menghela nafas. Aku yang terpaku. Tubuhnya berbulu sangat lebat. Tiba-tiba. Sementara perempuannya berubah binatang.” “Itulah yang pantas mereka terima.” Aku menekuri tanah. Ya. entahlah mengapa tibatiba aku terpaku di depan mereka. Dianing. Perempuan itu berubah binatang yang sangat mengerikan. Aku berada di ketinggian menara.. Aku tak percaya melihatnya. Sebentar lagi aku harus kembali. “Bulan pun tak sudi menyaksikan persetubuhan mereka.hutan Para itu aku kembali menyaksikan Lismatano bergulat dengan perempuan yang sama. Kini aku hanya bisa merasakan sentuhan angin.. Lismatano telah membatu. tetapi tubuhnya berubah. Aku di atas pohon randu. “Yuniz nama perempuan itu. Kini tak bisa bergerak.” Aku hanya mengangguk. Ngeri. Tapi burung hantu segera menerbangkan aku. Lismatano telah membatu dan berlumut. Tubuhnya tumbuh lumut. Aku tak kuasa melihatnya. Siap menerkamku. Pergulatan yang dahsyat. Ya. . Saling menumpahkan nafsu. Lismatano dan perempuan itu terus bergulat. “Mengapa dengan mereka.*** 24 Jakarta. Perempuan itu. Tubuh Lismatano mengeras. Ia tak membatu. Besar. Menikah dengan Lismatano hanya sebuah impian yang abadi. Lebat dan kotor.

sebagai wartawan. “Selain pintar mengejar berita.. Pejabat yang berdasi kuning. Ada yang menusuk jantung. Aku tak ingin rekan wartawan kembali menjadi korban dalam gejolak suasana yang sedang memanas sekarang ini. Februari 2000 Pistol Oleh: Ode Barta Ananda 25 Dor! Tak ada yang terkejut ketikatembakan itu menembus sasaran. asal tahu saja.. Pak... “Mudahmudahan bukan hanya kebetulan.. untuk mengeluarkan izin penggunaan pistol buat saya. tersenyum lebar sebelum menjawab.” “Apakah pejabat yang berkedudukan lebih tinggi juga sudah memberikan izin?” “Secara prinsip sudah. dor! Dor! Dor! Tembakan yang lain seperti saling susul untuk menembus sasaran.. Ada yang menembus kepala.” “Tentu.” Pelatih mengedipkan sebelah mata.... . Mlah.” “Apakah Bapak telah siap mengantisipasi segala kemungkinan-kemungkinan buruk? Seperti pemanfaatan pistol untuk penodongan oleh oknum wartawan. Ada yang mengelupaskan bahu. *** “Jadi izin yang membolehkan wartawan menggunakan pistol. Tapi tidak ada satu pun yang meleset. Dan tawa itu ternyata telah cukup untuk jawaban. ternyata Bapak sangat jitu juga dalam membidik sasaran... “Bagus!” Instruktur menepuk bahu seorang peserta kursus menembak yang baru saja berhasil menembus jantung sasaran.. berkemeja putih dan bercelana abu-abu itu. tentu. misalnya?” Pejabat tergelak. Menghapus peluh pada hidung. “Begitulah.Horison. Dan berdehem. benar berasal atas usul Bapak?” salah seorang dari kerumunan wartawan menanyai seorang pejabat. Dan mudah-mudahan juga bidikan saya kali ini bisa secepatnya membukakan mata Bapak.” Wartawan mendengus.

Ketika sinar matahari seakan berniat mencabik-cabik. “Padahal menurut selentingan kabar. istri saya juga akan melahirkan tiga hari yang akan datang. Kau sudah lihat kan?” “Wow! Canggih.” Belum selesai pertanyaan itu.. “OK. “Saya sedang tidak konsentrasi.” Sang rekan hanya bisa kembali mengangguk-angguk sambil berusaha mancari jalan keluar. Bisa-bisa kutembak kau!” dia mendelik sambil pura-pura marah. memasang wajah serius.“Tapi. Saat itulah para pencari berita berhasil mencegat pejabat yang baru saja keluar dari kantornya. “Silahkan.. 26 *** Dor! Tembakan wartawan meleset. sarana latihan dan pistol ternyata disediakan oleh koperasi?” “Mungkinkah koperasi mematok harga setinggi itu?” menyusul tukasan lain..” “Untuk melunasi kreditnya. “Dan sebagian tabungan juga baru saja saya belikan alat perekam baru. Pembayaran harus lunas tiga hari lagi. “Mana yang harus saya jawab lebih dulu?!” dia kesal dan langsung memasuki mobil sambil membanting pintu. Padahal. hampir seluruh kawan-kawan sangat menyayangkan biaya latihan menembak yang cukup tinggi. . Apa yang telah merusak konsentrasimu?” “Pembayaran pajak pistol ini.” sang rekan merentangkan tangan. Namun wartawan telah kembali berujar. Yung! Bentuknya yang unik dan hasil rekamannya bersih sangat seimbang dengan harganya yang mahal. “Atau ada oknum-oknum tertentu yang sengaja menangguk di air keruh?” Pejabat mengerutkan kening. saya harus menggadaikan pistol ini.” “Kenapa? Memikirkan pekerjaan? Atau gadis simpanan itu?” “Jangan terus bercanda. Harga pistol yang mahal. Lalu mengangguk-angguk.” *** Saat panas menukik terik. Waktu angin mencubit kelopak yang akan menghasilkan putik. menurut perkiraan dokter. sudah ditukas pertanyaan lain. Dan. “Tak biasanya tembakan kau meleset?” seorang rekan tercengang.

Dan menekan gas dalam-dalam. “Tak enak rasanya. Wartawan pemilik alat perekam baru yang berbentuk unik. semakin tak menentu. harga pistol. Wartawan tergelak. “Apakah Bapak. tapi belum sempurna anggukannya. asyik berbincang-bincang dekat telepon umum. Dia tertelungkup. menyeruak kerumunan. *** Ketika embun jantan belum selesai membasuh pagi. akan mengusahakan perbaikan semua masalah itu. Wajahnya memucat. Melihat para wartawan tidak mengerti.. “Kau kan sudah menelepon tadi malam.” pejabat tergelak juga.“Kelihatannya biaya latihan. kalau tak langsung berhadapan dengan Bapak. “Harus kuakui. “yang membuat Bapak ketakutan dan tergesa meninggalkan kami kemarin?” Pejabat mengangguk..*** 27 .” wartawan mengeluarkan alat perekam itu. Menutup kaca jendela mobil..” Pejabat melambaikan tangan ke arah belakang wartawan. Dia langsung mengangguk keras-keras. dan memberikan pertanyaan sambil menodongkan alat perekam. ternyata aku masih ketakutan dengan sebuah alat perekam.” diulurkan tangan untuk berjabat. ternyata alat perekam saya yang mirip pistol ini. “Benarkah tidak ada keterlibatan oknum tertentu. yang terlambat datang. saya baru menyadari. yang sengaja mendongkrak segala biaya yang berhubungan dengan pistol? Atau. Malah semakin menekan gas mobilnya sambil menginjak rem. Dan darah mempermerah jaketnya yang sudah merah. saat itulah wartawan dan pejabat. Pak?” Pejabat tak mengangguk dan tak juga menggeleng. Perut buncitnya terguncang-guncang menertawakan kebodohannya sendiri. "Setibanya di rumah. Kenapa sekarang masih mengganggu lari pagiku?” Pejabat tersenyum sambil meninju perut wartawan dengan akrab. Saat fajar bergerak sembunyi. sesuai dengan jabatan Bapak?” Pejabat terbelalak. dan biaya administrasi lainnya. “Atau izin penggunaan pistol bagi wartawan ini memang untuk mencari untung?” “Jelas tidak!” Pejabat menekan gas lebih keras. untuk minta maaf. wartawan telah menukas sambil mengacungkan alat perekam yang benar-benar mirip pistol. dia beralih membunyikan klakson. “Jjjangan! Dddia bukan mengancam!” Dor! Sebuah peluru buas langsung menikam punggung wartawan. nilai pajak. Waktu matahari baru saja bersiap menghangatkan bumi.

begitu ngepop. “Sambil makan malam. Nakula dan Sadewa tiba-tiba berlagak sebagai penyanyi rap yang sladak-sluduk itu. gerombolan Pandawa.Teater Dewala Oleh: Doddi Achmad Fawdzy 28 Sepuluh menit sehabis menyaksikan Indepedence Day. lagi-lagi propaganda Amerika. “Siape ni nyang ngulang tahun. Apa sih maunya Amerika? Dasar Yahudi!” “Tapi Prabu. kramotak!” Hanya Dewala yang bisa mengontrol diri dan tampak kalem. tiba-tiba Kresna. Apa salahnya kita ajak Dursasana untuk bersatu melawan musuh dari laur angkasa. “Kramotak. mo nraktir ceritanya?” hampir berbarengan Nakula dan Sadewa bertanya kepada rombongan. Bahkan Arjuna kembali menjadi ABG. BM dong!” balas Kresna. Ajakan untuk berdamai dan bersatu melawan musuh dari luar angkasa itu sangat menarik.” sahut Kresna. Malah utusan dari Astina akan menampilkan operet Maria Cinta . dari Jupiter misalnya?” balas Astrajingga. tidak terpengaruh oleh hiruk-pikuk ABG yang modernis itu. tak ada makhluk luar angkasa selain para dewa. “Dalam dunia pewayangan.” Sesaat hening. terlihat gairahnya kalau diajak berpikir serius. kita perlu merundingkan kembali materi untuk peringatan hari kemerdekaan negeri kita. dan Punakawan itu merasa dirinya masing-masing kembali menjadi remaja. Dewa jangan diberontak. Astrajingga dan Gareng ikut berlenggak-lenggok sebagai penari latar sekaligus menjadi Backing vokal. Dikenakannya syal berwarna merah dan kacamata hitam. “Apa kita hanya akan menampilkan kabaret saja untuk perayaan negara. Aku tiba-tiba tergagasi oleh film tadi. “Maksud Prabu?” Yudistira yang dari tadi miring saja. Kan kemarin kita terima faksimil dari seluruh propinsi bahwa mereka tidak akan menampilkan kesenian daerahnya masing-masing. Gerombolan Pandawa berbelok ke arah Kentucky Fried Chicken. Melewati Alun-alun Bandung. mereka sponsor kita kok. “Belum begitu laper gua ini. Tiba-tiba beberapa orang merasa lapar dan menuduh Prabu Kresna yang mengajak mereka berbelok ke arah Kentucky. Prabu Kresna masih mengumpat-ngumpat kepada para Punakawan. saya tidak melihatnya dari sisi itu. kita masuk pub dulu!” ajak Bima. “Bukan mau nraktir. “Sebel gua.

Bima menggebrak meja. Sementara kerusakan teknologi akan diserahkan kepada Batara Guru. Hasil pembicaraan pemerintah Amarta malam itu sampai ke telinga Patih Sengkuni dan Resi Kombayana. kita sekarang terlalu berjarak dengan wong cilik. “Kukira tidak mesti seperti itu. Perang dan kekerasan adalah dua jalan yang bersatu menjadi satu arah untuk mencapai kemenangan. Mungkin bisa jadi kesenian sebagai alternatif untuk mencapai perdamaian. suasana rapat menjadi lebih kacau. Perdamaian hanya menghambat rencana Dewata. Acara untuk menyambut hari ulang tahun kemerdekaan negara akan dipikirkan. Urusanmu mengelola satpam dan tukang parkir.” demikian Kombayana punya usul. Seperti biasa. Para pengunjung tanpa disuruh segera meninggalkan makanannya. Kurawa telah terlalu curang dan tidak bisa dibiarkan. Takdir kita untuk menerima kekalahan. Ia membubarkan rapat dan memohon Prabu Kresna dan Wak Semar menyabarkan yang lain.” Bisma mengingatkan. Apa pun yang kita rencanakan.” Arjuna bersungut-sungut. Seorang anak kecil yang biasa mengemis atas suruhan Kurawa. “Jadi mereka akan mengundang kita untuk menyelenggarakan acara kesenian yang akan melibatkan personal dari berbagai negara. Karena itu. “Misi ujicoba kita gagal. Bima meraung-raung.” Dibentak seperti itu. “Tidak. Kukira ini usulan yang baik dan kita harus menyambutnya. Punakawan yang lain menyikutnya. bahkan Semar menjewer kupingnya. 29 . Mereka mendengar laporan bahwa Challenger meledak dan Chernobil bocor.” Semar mengingatkan. Nakula dan Sadewa ikut naik pitam. Mungkin kita terlalu serakah dan ceroboh.” “Ini kehendak Dewata. Barata Yudha adalah sebuah takdir yang mesti kita terima. Tapi Yudistira cepat berpikir dan berlaku bijak. “Jangan sok tahu Kau.yang Hilang. apa tidak membingungkan pikiranku melihat realitas apresiasi masyarakat sudah turun seperti itu? Rusak Re. Tangannya masih menggenggam paha ayam. Kita bisa menyusupkan orang-orang kita untuk menyelidiki lebih jauh rencana-rencana Pandawa dalam Barata Yudha nanti. Dewala mengambil sikap diam seribu bahasa. Tak ada kesenian dalam merebut kemenangan.” Dewala mencoba menjelaskan. Dewata telah memutuskannya. Gareng kebagian memesan hidangan. Rupanya dia dan pemilik rumah makan itu bersekongkol sebagai agen mata-mata Astina. Mereka ketakutan dan terbirit-birit keluar setelah membayar makanan. misi perdamaian lewat kesenian dalam perayaan ulang tahun negara seperti yang diusulkan Dewala hanya omong kosong. segera bersembunyi ke belakang dan memijit remot recorder. Tiba-tiba rapat di pihak Pandawa menjadi kacau balau. Rusak!” “Inilah salahnya Prabu. Semar hanya gigit jari ketika Gatotkaca melaporkan kejadian sesungguhnya.

Pokoknya semua serba menyenangkan tamu undangan. mereka tidak tahu bahwa mereka akan dicurangi oleh Paman Sengkuni. soalnya seniman di negeri kita sendiri tengah gontok-gontokan. Prabu. mengapa? karena kita tahu bahwa di Barata Yudha nanti mereka akan kalah. Kita tahu bahwa Pandawa kalah taruhan. itu sebabnya bahagiakanlah mereka dari sekarang. segala benda serba diuangkan. Syukurlah kalau Prabu Yudis mau sponsori obsesi saya. saya akan membalikkan fakta. pokoknya naskah karya siapa pun tak menjadi masalah. Saya punya teknik. Tapi jalan keluar untuk damai belum juga didapatnya. Sekarang berteater tidak bisa lagi diberangkatkan dari apa adanya.” “Tapi apa justru tidak akan membuat semakin pongah?” “Sebenarnya ini tergantung dari sumber daya manusianya sendiri. Dipanggilnya Dewala saat itu juga. Cerita kekalahan ini akan sangat menyenangkan bagi Suyudana dan kawan-kawan. Kalau sudah seperti itu. Sebenarnya waktu Pandawa mau diajak main dadu. sekarang rakyat sudah menjadi materialis. silaturahmi antarseniman pun terbina.” “Itu wajar karena mereka punya ideologi. dalam akhir cerita. “Saya punya obsesi dari dulu untuk menggelar naskah Pandawa Adu Dadu. Dulu bambu bisa menebang milik siapa saja. Kita harus mengalah dan membahagiakan saudara-saudara kita yang memilih jalur menjadi lawan.” jelas Yudistira. Tetapi kita juga tahu. Kebiasaannya bersemedi ditinggalkan.” *** 30 . insya Allah deh mereka tidak akan terlalu brutal dan mau menerima putusan Dewata dengan dada yang lapang. dari kopi dan dari rokok. tapi tidak ada sponsor sampai saat ini. Dengan dibahagiakan. Ini menjadi pelajaran juga bagi kita selaku pemegang pemerintahan untuk tidak terbawa oleh arus dan rayuan gombal musuh. Akan tetapi kita mesti terus berusaha dengan cara mengingatkan kembali diri kita masing-masing pada sejarah. “Justru naskah ini tepat sekali. Berhari-hari pula ia menjauhkan diri dari ranjang Drupadi. juga para teaterwannya diajak untuk ikut bermain dalam pementasan ini. Keningnya semakin mengerut seperti kening Einstein. Konon katanya menurut mitos. Eu begini Prabu.” “Apa itu?” “Ada saja. tetapi yang bisa membawa pada aufklarung dan bertemakan perdamaian dunia. bahwa mereka saling menghargai pendapat dan karya seniman lain. Diam-diam ia tertarik dengan usulan Dewala. kalau memang bakatnya membelot ya membelotlah. Nanti Prabu tidak merasa surprise lagi kalau saya beritahu dari sekarang.” “Tapi saat ini saya ragu. Dengan demikian.” “Bagi saya. Pokoknya rahasia. seniman adalah pintu terakhir yang akan menjaga persaudaraan dan kebersamaan. ia lebih suka berhadapan dengan komputer dan internet. selain nanti para pembesar dari berbagai negara diundang.Berhari-hari Yudistira menghadapi komputer dan mencerna John Naisbitt tentang Kebangkitan Asia. ia biasanya merasa bisa berpikir lebih tepat. Kita mengalah untuk menang.

Singkat cerita, Dewala menjadi sutradara. Astrajingga mau menjadi Dursasana karena dibohongi oleh Dewala. Kabarnya yang akan menjadi Drupadi adalah istrinya Arjuna. Tapi setelah mendekati pementasan, casting itu diganti oleh Aswatama yang baru pulang studi komperatif tentang antropologi dari Amerika. Para seniman raksasa dari Astina menjadi Pandawa sedangkan para seniman dari Amarta menjadi Kurawa dalam casting ini. Dadu dilempar. Untuk lemparan pertama Kurawa kalah. Sengkuni tertawa, “mereka tertipu,” bisiknya. Para tamu undangan dari Astina terutama yang tidak pernah membaca karya sastra dan membaca sejarah wayang, tampak tegang. Sedang tamu undangan dari fihak Amarta bangga karena Pandawa menang dalam lemparan pertama itu. Begitu lemparan kedua dan selanjutnya, raut muka kedua belah pihak berubah. Pandita Durna dan Sengkuni menampakkan senyum kemenangan sambil melirik Yudistira yang tercenung mengerutkan dahi. Pada lemparan ke-sepuluh Amarta harus menyerahan negara sebagai taruhannya, dan kalah. “Mustahil,” gumam Arjuna. Pada lemparan terakhir, bila Pandawa kalah lagi mereka harus menyerahkan Drupadi sebagai taruhannya. Tentu saja Drupadi keberatan, tapi tak ada lagi benda yang bisa dipertaruhkan oleh Pandawa. Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa, dan seluruh kekayaan telah amblas ke tangan Kurawa. Bagi Dursasana yang belum beristri, justru taruhan yang paling berarti adalah Drupadi. Untuk apa para kesatria Pandawa itu, untuk apa kerajaan Amarta toh ia sudah bertahta di singgasana Astina. Ternyata Drupadi harus direlakan kepada Kurawa. Drupadi sesungguhnya tak percaya dengan kekalahan taruhan dadu ini, tetapi ia bahagia karena ini bisa menjadi kesempatan baginya untuk nyeleweng meskipun hanya dalam dongengan. Drupadi ingin tahu sehebat apa kejantanan Dursasana yang tergila-gila olehnya. Yudistira menunduk dan memejamkan mata ketika satu persatu pakaian Drupadi ditanggalkan oleh Dursasana. Brahmana dan seluruh Ksatria Pandawa telah disekap dalam penjara sebagai tawanan taruhan. Di luar plot cerita yang sesungguhnya, ternyata Drupadi bisa ditelanjangi oleh Dursasana yang diperankan oleh Astrajingga. Pada mulanya Astrajingga dengan penuh semangat menelanjangi Drupadi. Tetapi kemudian menjerit dan melompat dari panggung saat harus memperkosanya, karena yang memerankan Drupadi adalah Aswatama. Aswatama, keturunan homoseks itu mengejar-ngejar Astrajingga, “Please, touch me! Touch me!” Kejar-kejaran terjadi, membuat para penonton naik pitam. Resi Kombayana yang merasa ditelanjangi tentu saja marah tapi Bima tak kalah gertak. “Ternyata Aswatama itu seorang homoseks, Para Penonton.” Tiba-tiba Gareng menjelaskan lewat mikropon. Kurawa merasa tertipu dan dihina habis-habisan. Bodyguard dan pelindung Dursasana langsung memberondongkan peluru. Gatotkaca melesat ke angkasa, dilemparkannya senjata kimia. Antareja yang tidak mau menjilat jejak sendiri, melesatkan senjata laser dari jilatan lidahnya. Tapi justru tentara Pandawa yang mampus, sedang tentara Kurawa menjadi kebal.

31

Barata Yudha meledak dengan diawali adu panco antara Bima dengan Puntadewa. Sampai saat ini belum ada yang kalah. ***

32

Ondol
Oleh: A. Hidayat

33
Setelah begitu saja hilang selama enam bulan lebih, Ondol ditemukan mati di tepi kali. Mayatnya terapung tak tertutup selembar kain pun kecuali cawatnya yang putih kelabu dan tampak bolong-bolong. Beberapa bagian tubuhnya menunjukkan bahwa sebelum mati Ondol pernah mengalami penganiayaan. Jari-jari tangannya remuk bekas godaman batu. Sedangkan luka di dadanya hampir memperlihatkan beberapa buah tulang rusuknya. Ketika pertama kali ditemukan, Ondol yang mati di tepi kali itu tidak dikenali sebagai Ondol. Wajahnya hampir-hampir dapat dikatakan hancur remuk. Beberapa luka yang cukup dalam menggaris di pipi, di dahi dan di belakang tulang rahangnya. Sebelah telinganya juga hampir-hampir putus. Dan matanya seolah tidak nampak karena tertutup oleh sekelilingnya yang tembam dan kebiruan. Hilangnya Ondol yang misterius, kemudian kematiannya yang tidak lazim itu menimbulkan kecurigaan kerabat dan penduduk sedesa. Beberapa bulan sebelum tiba-tiba saja hilang, Ondol selalu diawasi beberapa orang yang entah dari mana. Kini Ondol ditemukan tewas dalam keadaan mengerikan. Pasti ada apa-apa di balik kehilangannya yang misterius dan kematiannya yang mengenaskan itu.

*** Setelah mayat Ondol diangkat dari kali dan kemudian diurus sebagaimana kebiasaan di desa, beberapa orang penduduk desa berangkat ke kota kecamatan untuk melaporkan peristiwa itu. Sementara mayat Ondol dimakamkan di bawah langit yang mulai teduh oleh warna senja, lima orang yang melapor itu tiba di kota kecamatan. Mula-mula mereka mendatangi kantor kecamatan, tetapi kantor itu tutup dan tak ada seorang pun yang berjaga di sana. Mereka kemudian menuju ke kantor yang berwajib di kecamatan. Namun, tanpa alasan apa pun, petugas piket di sana tidak mau melayani mereka. Petugas piket itu hanya memberi mereka sebuah surat pengantar yang harus mereka bayar seharga dua bungkus Dji Sam Soe. “Langsung saja ke kantor yang berwajib di kabupaten, ya!” katanya. Orang-orang yang melapor itu bergegas ke kota kabupaten.

Ruang penjagaan kantor yang berwajib di kota kabupaten itu kosong. Dengan ragu orang-orang yang melapor duduk di bangku yang ada. Beberapa lama kemudian, seseorang yang bersandal jepit keluar bersama seseorang yang berpeci. Di ambang pintu yang berpeci menyerahkan sebuah amplop kepada yang bersandal jepit. “Kalau kena tilang lagi, temui saya saja di sini. Pasti beres,” kata yang bersandal jepit sambil mengantar yang berpeci. Yang berpeci lantas pergi dengan mobil mengkilap yang terparkir di halaman. Yang bersandal jepit kemudian masuk dan duduk menghadapi orang-orang yang melapor. Orang-orang yang melapor serempak berdiri dan bersalaman dengan yang bersandal jepit, lalu duduk lagi. “Saudara-saudara juga kena tilang?” tanya yang bersandal jepit. “Oho, tidak Pak. Kami ke sini mau melapor,” kata salah seorang, mewakili yang lainnya. “Begini, Pak. Di tepi kali desa kami, tadi siang ditemukan seorang warga kami yang sudah tidak bernyawa. Ondol, Pak. Setelah hilang enam bulan lebih, Ondol ditemukan mati di tepi kali. Mayatnya terapung tak tertutup selembar kain pun kecuali cawatnya yang putih kelabu dan tampak bolong-bolong. Beberapa bagian tubuhnya menunjukkan bahwa sebelum mati Ondol pernah mengalami penganiayaan. Jari-jari tangannya remuk bekas godaman batu. Sedangkan luka di dadanya hampir memperlihatkan beberapa buah tulang rusuknya.” Yang bersandal jepit batuk-batuk kecil. “Nah, begitu Pak. Ketika pertama kali ditemukan, Ondol yang mati di tepi kali itu tidak dikenali sebagai Ondol. Wajahnya hampir-hampir dapat dikatakan hancur remuk. Beberapa luka yang cukup dalam menggaris di pipi, di dahi dan di belakang tulang rahangnya. Sebelah telinganya juga hampir-hampir putus. Dan matanya seolah tidak nampak karena tertutup oleh sekelilingnya yang tembam dan kebiruan.” Yang bersandal jepit batuk-batuk agak keras. “Hilangnya Ondol yang misterius, kemudian kematiannya yang tidak lazim itu menimbulkan kecurigaan kerabat dan penduduk sedesa. Beberapa bulan sebelum tiba-tiba saja hilang, Ondol selalu diawasi beberapa orang yang entah dari mana. Kini Ondol ditemukan tewas dalam keadaan mengerikan. Pasti ada apa-apa di balik kehilangannya yang misterius dan kematiannya yang mengenaskan itu....” “Sebentar, sebentar,” yang bersandal jepit memotong. “Sorri ya Pak, saya bukan yang menangani urusan kriminal macam itu. Urusan yang saya layani adalah soal tilang, tilang, tilang. Kalau bapak-bapak kena tilang hubungi saya. Tunggu yach, sebentar lagi.” Yang melapor hanya melongo. Untuk mengurangi rasa kesalnya, yang melapor kemudian mengeluarkan dua bungkus rokok. Dibukanya sebungkus, diambilnya sebatang dan dihisapnya dalam-dalam kemudian diedarkannya ke teman-temannya. Yang sebungkus lainnya disimpannya lebih dulu di hadapan yang bersandal jepit. “Nah, itu dia orangnya, Pak.” Kata yang bersandal jepit ketika dua orang temannya, yang berkumis dan yang berkaos oblong, muncul.

34

” Orang-orang yang melapor kembali menyulut rokok. kalian dengar. sorri yeah. Pak. Dan matanya seolah tidak nampak karena tertutup oleh sekelilingnya yang tembam dan kebiruan. urusan kriminal itu banyak macamnya. Kini Ondol ditemukan tewas dalam keadaan mengerikan. Mayatnya terapung tak tertutup selembar kain pun kecuali cawatnya yang putih kelabu dan tampak bolong-bolong. Orang yang berkaos oblong datang sambil merapikan rambutnya.” yang berkumis memotong. Pak. “Kalian akan melapor kejadian kriminal?” kata yang berkumis.. Kalau yang menangani urusan bunuh-membunuh.. ini dia selesai mandi. Begini. begitu Pak. “Nah.” Yang berkumis batuk-batuk kecil. di dahi dan di belakang tulang rahangnya. Sebelah telinganya juga hampir-hampir putus. Beberapa luka yang cukup dalam menggaris di pipi.” Yang bersandal jepit batuk-batuk agak keras.“Hei. duduk sebentar dan kemudian berdiri mondar-mandir lagi. Salah seorang yang melapor segera menyimpan lagi sebungkus rokok di hadapan yang berkumis. nih ada laporan kriminil. Asap rokok memenuhi ruangan yang tidak terlalu luas itu. Tunggu yeah. Kalau kalian punya narkotika. Urusan bunuh-membunuh bukan bagian saya. “Hilangnya Ondol yang misterius. Begini. Pasti ada apa-apa di balik kehilangannya yang misterius dan kematiannya yang mengenaskan itu. berdiri dan mondar-mandir. Beberapa bagian tubuhnya menunjukkan bahwa sebelum mati Ondol pernah mengalami penganiayaan. Yang bersandal jepit dan yang berkumis menemani mereka merokok. Di tepi kali di desa kami. Ondol selalu diawasi beberapa orang yang entah dari mana. kemudian kematiannya yang tidak lazim itu menimbulkan kecurigaan kerabat dan penduduk sedesa. dia lagi mandi dulu. Ondol. Sedangkan luka di dadanya hampir memperlihatkan beberapa buah tulang rusuknya. “Terima kasih. hubungi saya yeah. Wajahnya hampir-hampir dapat dikatakan hancur remuk. Mulutnya bersiul sumbang entah lagu apa.” 35 . Pak. “Nah. Jari-jari tangannya remuk bekas godaman batu.” kata yang berkumis kepada orang-orang yang melapor. Setelah hilang enam bulan lebih. Urusan saya adalah perkara kriminal yang berkaitan dengan narkotika dan perkara kenakalan remaja. sebentar. sorri. Ondol ditemukan mati di tepi kali. yang berkaos oblong tadi. “Iya. tadi siang ditemukan seorang warga kami yang sudah tidak bernyawa. Pak. Nah. “Sorri.” yang bersandal jepit setengah berteriak kepada keduanya. Beberapa bulan sebelum tiba-tiba saja hilang.. sedang yang berkaos oblong langsung masuk ke ruang lain. Ayo sekarang lapor sama dia. He he he. Ondol yang mati di tepi kali itu tidak dikenali sebagai Ondol. Ketika pertama kali ditemukan.” “Sebentar.

begitu Pak. Di tepi kali di desa kami. Mayatnya terapung tak tertutup selembar kain pun kecuali cawatnya yang putih kelabu dan tampak bolong-bolong. Beberapa bulan sebelum tiba-tiba saja hilang. Pak?” “Tentu saja tidak. Ketika pertama kali ditemukan. kemudian kematiannya yang tidak lazim itu menimbulkan kecurigaan kerabat dan penduduk sedesa.” Yang bersandal jepit bersin. ayo mulai. Harus ada berita acara tertulis. “laporan kriminalitas?” “Iya. Sebelah telinganya juga hampir-hampir putus. Ondol ditemukan mati di tepi kali. “Nah. di dahi dan di belakang tulang rahangnya.” Yang bersandal jepit bersin lagi. Beberapa luka yang cukup mendalam menggaris di pipi. Kini Ondol ditemukan tewas dalam keadaan mengerikan. Setelah hilang enam bulan lebih. Pak. Pak. bunyinya mengagetkan yang melapor. “apa kalian bawa berita acara kematiannya?” Orang-orang yang melapor kaget dan bingung.. “Hilangnya Ondol yang misterius. “Wah. “Begini.“Nanti dulu. Pak. tadi siang ditemukan seorang warga kami yang sudah tidak bernyawa. Bagaimana. ya. bunyinya kembali mengagetkan yang melapor. kami tidak membawanya.” Salah seorang yang melapor dengan tergopoh menyodorkan sebungkus rokok kepada yang berkaos oblong.” “Urusan bunuh-membunuh?” Mata yang berkaos oblong melirik ke bungkusan rokok di hadapan yang berkumis. walaupun yang menyampaikannya gubernur bahkan menteri sekalipun. telah saya dengarkan. Apalagi kalian cuma warga desa biasa! Sebuah laporan.. Ya. “Ya.” perintah yang berkaos oblong sambil segera menyulut rokok. Pasti ada apa-apa di balik kehilangannya yang misterius dan kematiannya yang mengenaskan itu.” “Baik.” kata yang berkaos.. “Iya. Ondol yang mati di tepi kali itu tidak dikenali sebagai Ondol. apalagi ini adalah laporan kriminal yang berkaitan dengan pembunuhan. Ondol. mesti dilaporkan secara ter-tu-lis. Pak. ya. Sedangkan luka di dadanya hampir memperlihatkan beberapa buah tulang rusuknya. Jari-jari tangannya remuk bekas godaman batu. Apakah tidak cukup dengan laporan lisan saya tadi. Wajahnya hampir-hampir dapat dikatakan hancur remuk. dengan menyerahkan berita acara kematian itu. Beberapa bagian tubuhnya menunjukkan bahwa sebelum mati Ondol pernah mengalami penganiayaan.. Ondol. Masa aparat desa tidak pernah mengumumkan peraturan ini!” 36 .” yang berkaos hampir-hampir membungkam mulut yang melapor dengan tangannya. selalu diawasi beberapa orang yang entah dari mana. Laporan lisan saja tidak cukup. Dan matanya seolah tidak nampak karena tertutup oleh sekelilingnya yang tembam dan kebiruan. ya. Pak.

tak akan ada yang berani mendaftarkan diri menjadi calon kepala desa. sebentar lagi kantor yang berwajib ini akan tutup. Itu pun kalau perkara ini ingin diusut tuntas. orang-orang yang melapor menceritakan apa yang harus dilakukan agar peristiwa hilang serta tewasnya Ondol bisa diusut tuntas. dan syarat lain yang tercantum di sini. orang yang kita harapkan suatu saat bisa memimpin desa ini. sebuah is-syu harus diperlakukan sebagai is-syu. kejadian ini menimpa Ondol yang cerdas dan berpendidikan. “Menurut yang berwajib juga ini sebuah peristiwa kriminal yang perlu diusut tuntas. Ketua RW beserta ibu. Camat juga beserta ibu. Apalagi tanpa bukti. “Kalau soal segawat ini hanya disampaikan secara lisan.. ya hanya bisa dianggap sebagai kebohongan. Padahal pemilihan tinggal setahun lagi. “Nah. “Kalau soal ini dibiarkan. Wajar dong kalau seminggu sekali kami juga menikmati kencan gratis di malam panjang. kan?” 37 *** Di hadapan keluarga dan kerabat Ondol. dan akan lebih kuat lagi jika diketahui oleh Bupati beserta ibu. Tingkat kebenarannya masih dalam tarap diragukan dan belum bisa dipercaya sedikit pun. keterangan kelakuan baik sepanjang hayat. Dengan demikian tidak perlu ditanggapi. sodara-sodara. Pak?” “Menurut peraturan nomor 23456/7/89. nih. itu namanya baru disebut issyu. karena itu saya minta berita acara daripada kematian yang diissyukan tadi. . Bagaimana kalau semua orang yang punya keinginan untuk maju hilang dan terbunuh begitu saja?” tanya salah seorang. Pasti ini ada hubungannya dengan keinginan Ondol untuk memimpin dan memajukan desa ini. Dilengkapi pula dengan denah lokasi kematian. ya tass. Kepala Desa beserta ibu. Dibuat di atas kertas segel rangkap sepuluh.” “Caranya bagaimana. visum dokter. Orangorang yang melapor menunduk semua. Berdasarkan peraturan nomor 12345/6/78. Ondol mati tidak lazim dan keadaannya begitu mengerikan setelah setengah tahun lebih hilang secara misterius. Kebetulan ada perempuan montok di ruang tahanan. “Ingat. karena sekarang malam Minggu.. Beberapa orang kerabat Ondol menyatakan bahwa kematian Ondol barangkali sudah merupakan takdir dan tak perlu diusut sebab-sebabnya. Dan yang lebih penting lagi. tidak pernah terlibat penganiayaan petugas keamanan.” “Betul. Kepala Kepolisian beserta ibu. keterangan tidak pernah menentang dan menghina pemerintah. he he he. pasti dia kesepian.” kata salah seorang. Tetapi orang-orang yang melapor meyakinkan mereka akan pentingnya pengusutan kematian Ondol. jika tidak ada berita acara tertulis hitam di atas putih. Sebuah is-syu maksimal hanya bisa didengarkan atau dalam istilah yang lazim di sini: di-tam-pung. Nah.Yang berkaos oblong memandang tajam kepada orang-orang yang melapor. Ada bukti pun.” Yang berkaos menyerahkan selembar kertas. berita acara itu sekurang-kurangnya ditandatangani oleh lima orang yang melapor serta diketahui oleh ketua RT beserta ibu. Lalu dikukuhkan oleh seorang notaris dan didaftarkan di pengadilan.

dengan semangat 45. berkas lengkap berita acaranya juga sudah kami terima. 38 . Salah seorang. Bukan kami tidak ingin mengusut. “Begini. Lihat. tentu berita acara kematian ini.” Orang-orang yang melapor tersentak dan termangu. tidak disiplin dengan waktu.” kata salah seorang..Saya juga telah diminta masyarakat banyak untuk mencalonkan diri. “Sekali lagi. tetapi kalian yang teledor. kalian lupakan saja. yang menyatakan dirinya diminta untuk mencalonkan diri menjadi kepala desa. kami tidak punya waktu banyak. “Jadi. siapa namanya itu.. “Sekarang kami tidak punya banyak waktu." yang berkaos menunjuk setumpuk tebal kertas di atas meja. Selain harus mengusut perkara minggu lalu. Mereka diterima oleh orang yang dulu mereka temui. Pada hari itu juga." kata yang berkaos setengah marah-marah. Pak. ini bukan lagi soal kriminal biasa? Yang berwajib saja mengatakan. Menurut peraturan nomor 34567/8/90. Kami lagi sibuk. kami juga masih repot dengan perkara kematian si Udin brengsek setahun yang lalu itu. atas nama hukum. Sebuah kejadian serupa yang terjadi minggu lalu harus segera kami usut dan memerlukan penanganan yang tidak main-main. Karena itu. pengusutan perlu dilakukan. Jelas bukan. sebuah peristiwa kriminal pembunuhan dengan lokasi kematian di tepi kali hanya dapat diusut tuntas bila berita acara kematiannya masuk kepada yang berwajib tidak lebih dari sebulan. Kerabat Ondol juga harus berpatungan menyiapkan sejumlah amplop untuk orang-orang yang menandatangani berita acara itu. Orang-orang yang melapor tak bisa berkata-kata. supersibuk. Kemarin! Mestinya kemarin ke sini. kenapa baru menyerahkan berita acara sekarang? Sayang sekali. Baru sebulan lewat satu hari berita acara itu bisa didaftarkan di pengadilan. mayat yang telah dikubur digali kembali. Untuk mendapatkan visum dokter. ini sudah menyangkut perkara sub-ver-sif.” Yang berkaos oblong mengerutkan dahi.” Akhirnya semua kerabat Ondol menyepakati dilakukannya pengusutan. ya sayang sekali. ya! OK?” Dengan langkah gontai mereka pamit dan pulang dengan seberkas tebal berita acara kematian. Namun pembuatan berita acara itu memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Kalau kemarin datang ke sini. bisa saya terima. Sesuai dengan petunjuk Bapak. “Aduh. dan itu menjadi pro dan kontra bagi masyarakat desa. lupakan saja kematian si Podol itu. berbaik hati mengurus berita acara kematian Ondol. “kami semua mengharapkan kematian Ondol akan segera diusut tuntas setuntas-tuntasnya. tetapi saya tidak berani kalau risikonya harus seperti Ondol. lebih baik kematian e. orang-orang yang melapor kembali datang ke kantor yang berwajib di kabupaten. Jaman sekarang kita harus berpacu dengan waktu! Ya. sekarang kami serahkan berita acara kematian Ondol. lebih kurang satu juta habis digunakan untuk berita acara itu. Menurut salah seorang kerabat Ondol.

Dalam terik matahari yang membakar tubuh. melayang-layang dan jatuh ke tengah dan tepi jalan. Karena plastik pembungkus di warung itu habis. mereka melangkah menuju sebuah warung kecil. mereka membungkus gorengan itu dengan kertas-kertas segel berita acara kematian Ondol. Kertas-kertas warna-warni berhamburan. Mereka membeli beberapa buah goreng pisang dan goreng ketan. ke halaman-halaman di rumah pinggir jalan. Beberapa anak kecil memungut kertas-kertas itu untuk dibuat mainan kapal-kapalan.*** 39 . sebagian lainnya hanyut di selokan. Beberapa bungkus nasi rames mereka makan untuk menghilangkan lapar. Sebagian kertas yang lain mereka lemparkan ke udara.

tapi (anehnya) warnanya hitam mengkilap. Tapi dia memandangku terus dan tersenyum mengejek. Aku hampir saja melompat kegirangan saat tahu kalau dia benar-benar Nuh. Wajah putih berjenggot panjang itu masih menampakkan guratan ketegaran di pipinya. Aku jadi teringat cerita bapakku tentang laki-laki yang tidak disetiai istrinya di atas kapal kayu besar. tapi wajah itu terus saja berdiri tenang menatapku. Mengapa tidak menjawab? Bisikku dalam hati. "Tapi aku takkan bisa menolong kalian.Horison. Maret 2000 Nuh Oleh: Isworo Haris Sunardi 40 "Nuuuh …! Kaukah itu? Yang berlayar dengan sabar mengarungi lautan tiada berpantai?" tanyaku ketika melintas sesosok wajah di depan mataku. Oh! Hidungku mengendus wewangian hingga meranggas mengalir dalam rongga dada. Bisukah? Tanyaku dalam hati. Di atas batu pualam hitam begitu tegar dia berdiri. "Benarkah? Benarkah kau Nuh seperti yang aku angankan?" "Ya. Kulihat di sekelilingku. tapi yang kutemui hanya diriku sendiri. . Barangkali dia tidak tahu bahasaku yang berasal dari Indonesia. Akulah Nuh! Nuh yang diceritakan oleh bapak-bapak kamu." jawabnya tenang. di bawah angin besar membadai dan guyuran hujan menabrak-nabrak tap kapalnya. "Ya. Kuusap-usap dengan keras dan kuucek-ucek kelopak di bawah alis ini. Dia tersenyum lagi. Ataukah senyumnya itu yang menawarkan jalinan komunikasi yang harus diresapkan maknanya dalam hati? Anehnya dia tahu kalau aku sedang menerka-nerka. "Kaukah itu? Tanyaku sekali lagi." "Kalian?" aku heran. Tongkat penyangganya menebar harum bau cendana. Lelah rasanya aku memanggil. "Kaukah itu? Jawablah!" Lelaki itu tetap diam. tapi rasa ingin tahuku menggebu mengelucak di gejolak kalbu menoreh-noreh dinding hati yang keheranan." dia mengangguk. kali ini lebih lebar. bahasa yang sangat asing ditelinganya.

" katanya menjelaskan. Nuh? Aku mohon?" Kabut hitam menggumpal di wajah tua itu. telah berubah arah. Saat kuketahui mereka curang dan membahayakan. 41 . Kau dan rakyatmu lupa pada titian waktu bangsa sendiri. Lagi pula lautan yang kau renangi adalah lautan waktu yang berisi ketololan dan keteledoran. Nuh! Bagaimana sebaiknya bangsa ini berjuang berenang di lautan yang bergelombang duka ini. Dan matahari yang seharusnya hangat di setiap pagi berubah jadi resah yang menyengatnyengat pikiranku. ketika menemukan sela-sela perjuangan di antara perang dan perang. "Tidak. Tapi lama-lama setelah aku tua dan mulai banyak lupa. Beda sekali dengan lautan yang aku layari. Aku terjungkal dalam kesendirian di lembah papa. Kucari-cari bayanganku dengan harapan-harapan sambil meraba-raba bangunan. Aku merayap-rayap mencari-cari musuh yang lengah. tidak …tidak! Aku tak bisa menasihatimu. Mereka bebas makan. Lama aku menunggu jawabannya." Aku terdiam. aku jadi kebal. juga familiku. Semua karena hanya ingin mengikuti kata hati tanpa kau fikirkan. Akhirnya sampai juga aku menguasainya. Aku dan anak buahku. Kukejar dan terus kukejar lawanku hingga jurang beku dan ternyata aku dan anak buah setiaku berhasil menang. Kubabat tanpa sisa. Aku berjalan di bawah penindasan. mereka sering pura-pura dengan cara memuja selayaknya seorang raja. Aku sangat kecewa. berpakaian. Bahkan tahi. dengan tanah-tanah yang kubangun rumah. Kusergap sebisanya dan kuhancurkan. bahkan tahi dilemparkan ke muka ini. Jembatan waktu yang kau tuju. Berkali-kali aku dicaci dan dipecundangi. juga kuda-kuda liar yang bisa kutundukkan. Sementara di atasku beribu peluru mendesing memburu. Tapi bangsamu adalah bangsa yang telah lama mengenal Tuhan. Kutelusuri lagi perjalanan hidupku di saat masih kecil yang digeluti oleh lapar yang sangat. Ada guratan gelombang di keningnya. Karena lamanya aku membuat kapal. Mereka ingin menelusur pada masa lalu dengan menerapkan di masa sekarang. Aku berlayar di lautan tiada berpantai itu. Habis itu kubiarkan berbuat apa saja. mereka kusikat. Istriku sendiri yang mengajari. Aku rindu harapan. Dulu bangsaku lalai tidak mau menjalankan perintah Tuhan dan nasihatku. Kalian! Kau dan rakyatmu yang lupa akan hidup dan perjalanannya."Ya . Setiap kali kutapaki jalan sambil memanggul sepi." katanya menggeleng. Tugasku telah selesai dan tinggal santai. Di antara mereka banyak yang saleh-saleh. kadang rumah yang berlebihan. "Tapi Engkau bisa memberi nasihat buat kami. Kau lupa pada orang yang suka memuja hingga kau turuti kemauan mereka. "Kenapa?" "Kronologi perjalanannya berbeda. Akhirnya aku harus memilih jalan. hanya untuk umatku. Lalu aku berjalan di antara saudara-saudara sendiri yang bertongkatkan politik. Bukan untuk kalian. aku bagi kebahagiaan. Alis putihnya mengumpul. seperti dia sedang serius berfikir. Aku sering mendiamkan atau mendamaikan. seperti katamu. Apalagi kau suka pelihara bunglon-bunglon yang dengan cepat mengecat warna.

Untunglah dia datang saat aku hampir terpagut rasa putus asa. Tapi layaknya sekat. Dan dia yang berjiwa penolong itu akan kucari petunjuknya. Lalu aku melesat di antara manusia-manusia pakar penasihatku." katanya. Orang tabah itu akan kumintai nasihatnya. Dia julurkan telunjuknya ke arah langit. Kesunyian-kesunyian yang kutelan sebagai pelepas dahagaku telah mengenyangkanku. Aku gagal menyentuhnya. tapi di belakang disiapkan membokong." "Lalu. "Tanpa ketabahan kau takkan mungkin mampu mengarungi lautan duka resah ini hingga sekarang. "Tabah. Nuh?" tanyaku tak sabar. Kuulurkan tangan agar aku dapat meraih kelembutan telapak tangannya. Orang yang sabar berlayar itu akan kupungut hatinya.Mereka punjung kata dengan emas. Kunyuk semprul! Ternyata di antara mereka itu ada beberapa musuh main petak umpet dan perang-perangan. Tapi yang kucari tak ketemu juga. akan kutempuh!" kataku. tepekur melebur diri dalam keheningan dan kesunyian. Nuh! Kau datang lagi saat aku terlompat. tapi malah tersasar dalam lembah kurang ajar. tapi tak juga muncul dalam benakku. betapa sedih ketika dia ulurkan tangan untuk menggapaiku tidak pernah sampai. Berjalan menyusuri ujung penantian. Kureka-reka dalam khayalku sambil menyusuri lorong-lorong pabrik-pabrik dan mobil-mobil mewah siapa tahu ada di sana. Aku jadi berfikir saat dia menjurus-juruskan jarinya ke atas. "Ketegaranmu. Aku berlari di hutan-hutan. Nuh." Lalu dia menegakkan jari tengahnya ke arah langit hingga berjajar dengan telunjuknya. "Kau pasti akan merdeka seperti engkau berjuang mati-matian memperoleh kata itu. Aku jadi sendiri. Dia julurkan jari manisnya menunjuk ke arah langit. kedua tanganku mengepak serupa sayap. Aku ditandu dan dielu-elu. Hari-hari kuakrabi sepi bagai mimpi. Nuh. "Tegarkan jiwamu!" katanya dengan menekankan suaranya. Ketabahan yang kau pelihara sejak kecil itu membuat hatimu kuat. Kulambaikan tangan pada orang-orang. 42 . "Nuh! Dimana kau? Kenapa kau pergi lagi? Nuh! Nuh! Nuuuh…!" teriakku memanggilmanggil orang yang kukagumi itu. dan gunung-gunung yang kupijak meledak. Bencana-bencana beruntun melanda." Nuh yang tua itu menggeleng. Bibirnya lembut mengurai suara. Di wajahnya ada teduh bulan purnama. Dia tersenyum. tapi hutan itu malah terbakar. Sambil berlari Dia kuhampiri. Lalu mendorong hingga terjerembab di lubang nista. Lama kucari-cari dan kunanti. Mereka tampak menyongsong. "Jangan mengejek.

Tak terasa reflek jariku ikut menirukan gerakannya. Tapi Nuh tibatiba pamit pergi setelah meninggalkan nasihatnya dengan menghunjamkan dalam hatiku."Tenang!" katanya. Mataku terus saja menatapnya. "Terima kasih Nuh. Sambil memberi salam dia pergi melambaikan tangan." Aku termangu dalam buaian nasihatnya. "Ya. Kendali emosi dari dendam pada orang-orang yang telah menjatuhkan kau sebagai kekuatan. Dia menyuruhku memandang ke atas.*** 43 . "Jadikan tiga itu tonggak kekuatan di hatimu untuk menetralisir kekalutanmu. Kupandangi dia saat berjalan meninggalkan. Aku terdiam tenang. ke sana!" katanya menjelaskan. terima kasih!" kataku sambil berlari melewati senja waktu malam yang mulai merayap meranggas gelap.

dulu. meninggalkan gerah – juga kesal lantaran langit kota telah penuh asap. Atribut perwira yang selama ini menjadi citranya di depan publik. Tak perlu kontak. meneguk perlahan hangat tequilla. Dan burung-burung itu telah mengungsi meninggalkan taman di mana senja yang bisanya bersemangat menjemput malam. Pergilah. lamban. tapi. aku segera terbang ke sini. menyisakan cungkupcungkup api dari mobil-mobil terbakar. Revolusi. Dia datang dari jauh. mungkin ke wilayah-wilayah yang belum dikenalnya. lenggang. Pagi sekali.Pada Sebuah Taman. Ning juga pernah bilang begitu. kukira. Dia hanya mengenakan T-shirt polos. lenyap sama sekali. dia bagai berada dalam situasi ekstase.” ungkapnya tadi subuh sebelum berpisah. tadi. sepatu karet dan celana jeans. perkantoran dan meninggalkan nyala api yang perlahan-lahan makin membesar. Malam yang teramat meletihkan telah kami lewatkan dan sekarang adalah tahap menunggu. “Kita evaluasi perkembangan. Tapi adakah sesuatu yang asing bagi sebuah kemutlakan bernama naluri? Kukira tak ada. Jalan raya yang melintang membelah-belah kota menjadi senyap. senja mulai nyungsep. sedang bermula. Anggap ini sebagai ekspresi persaudaraan. Hasymi Ibrahim 44 Di taman kota. Asing.” aku menyebut pertemuan malam itu. bahkan nyaris lunglai. turun amat perlahan. Kota sedang terbakar. berkeringat. Bau hutan tropis masih lekat di wajahnya. kekuatan dan ambisi adalah aura yang memancar dari tubuh tegap Yogo. pedalaman Irian. ketika kami duduk di sebuah café di pinggir Champs Elessye. telah bergegas pergi dari situ. Lalu di sini. . Sambil mengontrol radio. Bau tubuhnya masih tersisa dalam ketergesaan langkahku: asin. mereka yang hanya mengenal canda dan birahi. Bukan hal mudah mencapai taman ini. mematangkan dan memberi perintah “start”. Senja yang kemarin juga. Usai mengantar Ning. di sana. usai membebaskan sandera. Terbang ke tempat-tempat yang jauh. “Perjumpaan dengan calon presiden. dan Yogo telah datang. Paris. pada sebuah flat sederhana di Brooklynn. sepanjang malam. beraroma perempuan dengan keliaran tersembunyi di balik kecerdasan dan pendidikan yang baik. memberi komando. mungkin. Persis ketika suatu malam. ketika kami tidur bersama pertama kali. ”Anda bantu saya. nun beberapa tahun lampau. NY. juga terekam dalam kalimat-kalimatnya yang cerdas. Mungkin karena burung-burung sudah mengungsi entah ke mana. Gelombang masa yang bergulung-gulung bagai bah telah menyapu pertokoan. senja beringsut perlahan. lesu. Kekuasaan. Urat-urat kesadaran yang memancarkan kharisma dari seorang prajurit lapangan. Mei Oleh: Moch.

dan berbagai upaya pembusukan telah terjadi. Aku telah membaca jutaan bit dari laporan intelejen. Presiden yang ternyata sangat lemah. kamu masih di situ?” kataku menjawab Ning. tapi aku punya keyakinan. telah aku rekam di luar kepala. Dia tak lebih seorang tua pikun yang sedang kehabisan cita-cita. khas orang lapangan yang pernah mengenyam pendidikan menengah di negeri-negeri asing. juga kepercayaan atas nama keagungan. “Ia. menganalisis arah perkembangan berbagai kelompok. Markas keuangan sudah terbakar. Presiden memang sudah terpojok. Malam yang sepi. Ada kontak dengan Yogo?” “Belum. —lampu teplok kehabisan minyak. sampai ke gelagat seksualnya di ranjang. faktor yang kami tak hitung selama ini. persahabatan adalah ikatan kita. Dia berada satu level di bawah. Tak ada basa-basi. Para aktivis telah diamankan. Mungkin dia sedang di istana. Lesu. simpel. kelak. Akan menyetop aksi. tapi ada saja hal yang tak dapat diduga. Kamu pasti setuju. Pendek kata semua berjalan sesuai rencana. Sabotase. Bahkan untuk beberapa tokoh kunci. Beberapa buah bank sudah ambruk. Pulanglah.persahabatan. Mundur mendadak tentu akan membuyarkan rencana. Oh. Lambaian tangan kekuasaan semakin mengentalkan darah ambisinya. hingga subuh ketika kami pisah. bahwa dia takkan menyerah begitu saja. langsung. Di ufuk. “Ning. Ini harus dicegah. Juga keagungan sebuah cita-cita. Kamu kok diam saja?” “Aku bingung. Bahkan picu massa telah berhasil melalui eksekusi mahasiswa. dia memilih mengalah sebelum bertempur. masih mampu tampil sebagai satu-satunya pilar penentu. Tapi apa mungkin? Yogo memang bukan panglima. Juga kedatangan Yogo yang telat. bahkan dua tahun sebelumnya ketika ketekunan di depan mesin komputer menjadi aktivis menggairahkan. rupanya tak dapat dipercaya. Aku kontan diserang frustasi. Kebebalan presiden untuk bersikukuh pada kursi kekuasaan. Para pemain valas telah terkuasai. seperti irama tubuhnya: simpel. Belum perlu ada kalkulasi menang atau kalah. betapa menggairahkan. dan demi keagungan. tegas dan banal. Dia ternyata bukan prajurit sejati seperti senantiasa dicitrakan di depan publik. mengamati penampilan sekian ratus tokoh di depan publik dari waktu ke waktu. “Bang. Sebuah persilatan virtual telah berlangsung mulai tadi subuh – bahkan sudah dua hari sebelumnya. pupus.” Singkat. diliputi misteri. Yogo tampak angker. demonstrasi. Presiden mundur besok. Malam kemudian tiba dengan diam. Ning menelepon. habis. Dan sebagian besar kerja keras itu sudah berhasil.” 45 .” katanya simpel. Yogo tak mungkin datang. Persahabatan itu. bayang kegagalan mulai tampak. demi kesan pada sebuah malam di sebuah kaki lima di Paris. tapi rencana masih sedang berlangsung. Langkah presiden selamanya memang tak terduga. Demi Yogo. Dan malam tadi. tapi kuusahakan. akan memuaskan semua orang dan segera akan berbalik menyerang kami. segera akan terbukti.

Tak ada besok. kini. Aku benar-benar frustasi. Aku ingin berendam. Melainkan kepanikan seorang penulis skenario yang gagal mementaskan lakonnya dengan sempurna. lantaran aktornya bermain tak terkendali.” “Kalau begitu aku mandi lagi. Menggairahkan. Suara Yogo. Bagi Yogo.” “Iya. pulang. dan tak ada rencana ulang. Kali ini suaranya bernada khawatir.” Suara Ning tetap empuk.” “Sekarang pakai handuk?” ‘Ya. “Iya. apalagi kegentaran. Bukan karena risiko yang mesti datang. di sana prarencana sudah tersusun. “Ning. Atau bisa lanjut di masa yang datang. Di sini kita bisa berpikir jernih. Dia terlampau cerdas untuk dihentikan.” “Berendam bersama-sama. Yogo: gumamku membatin. "Kamu masih di situ?" tanya Ning. Tak ada kegetiran. bertelur dan berkembang biak – dan kini telah mengungsi entah ke mana— semuanya telah berakhir. Ini tentu akan lebih menggairahkan.” “Sebentar lagi aku datang. Sementara bagiku? Masih ada Ning. Mungkin kematangan yang datang dari daya-daya seksualnya yang tak pernah surut dan padam. Kenyataan yang tak diperhitungkan akhirnya terjadi. aku yang justru panik dan gamang. Tapi tidak malam ini. sekarang atau tidak sama sekali. “Tunggu sampai besok. Keagungan itu memang ilusi. Taman benar-benar muram. kini. Malam sudah bertahta. Duduk menunggumu. bukan. balas dendam kalangan militer. Juga kepanikan dan kegamangan seorang yang tumbuh berkembang bersama ilusi revolusi. alumni Oxford. Kami akan segera terbang ke negeri lain. Castro. Seperti yang sering kamu katakan. utamanya. aku sudah mandi.“Pulanglah segera.” 46 .” balasku memencet “off” pada hand-phone. Udara gerah berbau asap. menghanguskan sisa rencana. Di sini. Dia memang lebih matang. Biarlah persahabatan dengan Yogo berakhir. seperti Che Guevara. Reranting tampak seram memantulkan malam hari. Durja. Memanggil. kamu masih di situ?” “Ya. Hand-phoneku bertulilit. almamaterku. di taman tempat burung-burung bersenggama. dan mungkin Kaddafi – hadir untuk berperanan menumbangkan tiran dan eksis atas nama cita-cita dan keagungan.” katanya singkat. cuma handuk. Sebaliknya. Lakon yang berjalan tak sampai klimaks. Kota masih terbakar. Sasaran tembak: Perdana Menteri yang terlampau cerdas dan sedang berkilau di dunia internasional.

NY.” “Tunggu. nun bertahun lampau. ya!” “Cepat.” Malam.” “Aku meresapkan bau mulutmu. di Brooklynn. kini. Seperti gairah sebuah musim panas.” “Aku juga. di taman ini.*** 47 Jakarta. kurasakan gairah yang lain. Juni 1998 .“Terus?” “Terus larut seperti biasa. Gairah bulan Mei.

Perempuan itu pasti memiliki kecantikan yang melebihi kecantikan sebatang pohon. Aneh sekali. Luh Srenggi cepat-cepat membantu. Bau itu semakin mendekat dan menyesakkan dadanya. Semua gara-gara dia mencium bau yang aneh dari sudut pintu.Pemahat Abad Oleh: Oka Rusmini 48 Kopag menjatuh-kan pisau ukirnya yang runcing.2 Mulai hari ini dan seterusnya.1 Luh Srenggi. “Luh Srenggi.” Suara itu terdengar gugup. Kopag yakin dugaannya ini tidak meleset. Tangan mereka bersentuhan. Baru kali ini Kopag merasakan bisa menikmati hidupnya. Biasanya dia hanya dijadikan objek. sekedar mendengarkan keputusan orang-orang terdekatnya. Luar biasa. Aneh. Dia bisa memberikan penilaian yang begitu objektif terhadap benda hidup yang bernama manusia. tiba-tiba saja dia seperti ditenggelamkan ke lautan. Kulit perempuan itu terasa seperti kulit kayu. dan sangat tulus. Suara itu dirasakan penuh dengan kejujuran. “Siapa itu?” “Titiang. Hampir saja pisau itu memahat kakinya. Seperti bau daundaun kering dan kayu basah. Apa yang terjadi dengan dirinya? Kopag memaki dirinya sendiri. Inilah perempuan itu. Sekarang Hyang Widhi mengirim untuknya. Seorang perempuan. Tangannya jadi lapar. Katakan padaku. Apa pun yang . Kopag menggigil ketika bau itu benar-benar menelanjangi wujud laki-lakinya.” Suara itu terde-ngar bergetar. kasih sayang. perempuan yang dicarinya berabad-abad. siapa kau?!” Titiang yang akan melayani seluruh keperluan. benarkah suara ini milik seorang perempuan? Ketika Kopag akan mengambil tongkatnya. "Siapa tadi namamu?” Kopag mulai menenangkan dirinya sendiri. Suara itu adalah suara perempuan. dari mana datangnya bau yang membuatnya begitu gelisah? Bau itu semakin mendekat. Kopag semakin gelisah. atau seonggok kayu yang paling sakral sekalipun.” “Srenggi? Srenggi siapa?!” Kopag semakin menggigil. Dia memerlukan alat-alat pahatnya. Ratu. Pisaupisau yang runcing tebayang di otaknya.

Tubuhnya seperti lekukan kayu. pelayan tua itu. Gubreg?” Suara Kopag terdengar getir. Dia juga memiliki puluhan galeri lukis dan patung.dikatakan orang-orang di sekitarnya. Dalam kondisi seperti itu. Seperti sebatang kayu dengan lekuknya yang begitu menggairahkan. Dia tidak pernah peduli. dia merasa menemukan kebenaran yang berbeda dengan kebenaran yang diyakini oleh orang-orang yang selama ini rajin menanamkan kebenaran yang telah menjadi ukuran mereka. Karena tak ada perempuan-perempuan yang bisa dilihatnya dengan matanya. Bahkan Gubreg. Seluruh wajahnya juga lekukan kayu. apakah orang-orang yang memiliki kelengkapan utuh sebagai manusia ketika dilahirkan mampu menangkap seluruh rahasia kehidupan ini? Rahasia yang erat-erat digenggam dan disembunyikan alam? Salahkah kalau tiba-tiba saja Kopag menemukan kecantikan yang luar biasa pada diri Luh Srenggi. juga tidak berkomentar ketika Kopag memuji keindahan perempuan delapan belas tahun itu. Aneh sekali tak ada manusia yang bisa menangkap kecantikannya. Kopag harus patuh. laki-laki itu bisa tidur dengan seluruh perempuan. Dilahirkan sebagai laki-laki buta memang tidak menggairahkan. kasta tertinggi dalam struktur masyarakat Bali. Perempuan itu menolak. Gelar Ida Bagus menunjukkan bahwa dia adalah anak laki-laki dari golongan Brahmana. Salahkah? Kecantikan perempuan muda itu adalah kecantikan yang sangat luar biasa. lakilaki itu pulang dalam kondisi yang menyakitkan. sangat sadar. Tapi. Belum lagi hutangnya yang tiba-tiba saja menumpuk. “Apakah di bumi ini wujud kebenaran itu sudah seragam. agar orang-orang mudah mengenalinya dan membedakan dirinya berbeda dengan manusia lainnya. Laki-laki itu adalah binatang yang paling mengerikan. sehatkah dia? Bagi Ayah Kopag. laki-lakinya akan menitipkan daging binatang dirahimnya. Kali ini. Alangkah ajaibnya kalau hidup juga bisa dipermainkan. aku juga harus memakai kriteria mereka?" "Kebenaran mereka? Aku tidak yakin mereka mampu melihat seluruh keindahan hidup ini dengan benar!” Suara Kopag terdengar penuh tekanan. Seluruh kekayaan ludes. Lahirlah seorang laki-laki yang merenggut nyawa perempuan itu. laki-laki itu memaksa perempuan yang dinikahinya untuk bersetubuh. Ayahnya seorang laki-laki sangat terhormat dan memiliki kedudukan tinggi di pemerintahan. Laki-laki itu harus berperan sebagai laki-laki buta untuk menebus kelahiran dan hidupnya sendiri. di sanalah dunia itu dibuat untuk laki-laki yang sejak pertama berkenalan dengan aroma bumi . Apa yang sesungguhnya salah pada kriteria yang telah diberikan Kopag terhadap perempuan? 49 *** Kehidupan telah memaksa bocah laki-laki itu memakai label Ida Bagus Made Kopag. Kata orang. Kecantikan yang dia lihat dengan pikiran. Menghargai keindahan yang dititipkan alam padanya. setiap makhluk yang memiliki lubang bisa dimasuki. setelah berbulan-bulan tidak pulang. Pikirannya kacau! Kopag sadar. Apa artinya kekuatan seorang perempuan? Terlebih. dan keindahannya sendiri. perasaan. sejak kecil dia terbiasa dididik menjadi perempuan bangsawan yang menghormati laki-lakinya. Tubuhnya kurus dan pucat. Dia adalah kayu terindah dan tercantik. Suatu hari. Dia hamil. “bahkan untuk menilai keindahan itu. Dia anak laki-laki kedua yang lahir dari keluarga terkaya di Griya. bisa dibuat sebuah pementasan. cantikkah perempuan itu. Dia tahu. Sayangnya laki-laki itu memiliki mata yang sangat liar.

ketika untuk pertama kali iparnya itu menyalaminya. bagaimana sesungguhnya sebuah penilaian yang objektif dalam hubungan antarmanusia di bumi ini. perempuan itu adalah pemain sandiwara yang ulung. Ni Luh Putu Sari yang sejak menikah dan masuk menjadi keluarga Gria bernama Jero Melati itu memiliki kulit yang sangat indah. dia harus menunjukkan pada seluruh manusia di desa ini bahwa dirinya berhak masuk dalam lingkungan keluarga bangsawan. Tanpa teriakan iparnya yang sering menyesakkan kuping. Dia bisa mengubah kayu kering menjadi sebuah karya seni yang memikat para intelektual seni rupa. perempuan itu harus mengubah namanya menjadi Jero Melati. Getaran tangannya sudah seperti tangan-tangan mayat yang membusuk. Perempuan itu benar-benar serius untuk memasuki perannya sebagai istri laki-laki Brahmana. Dia memberi Kopag poin. kembang sepatu yang baru ditanam perempuan nyinyir itu tersangkut tongkatnya. perempuan kebanyakan itu telah menikah dengan kakaknya dan menjadi keluarga Griya. kulitnya yang sering jadi pujian. “Apa bisanya adikmu yang buta itu? Apa? Merepotkan!” Suara perempuan muda itu selalu menggelisahkannya. Itu yang dirasakan Kopag. Bahkan Gubreg. Kopag tidak saja memahat kayu. Jujur saja. alam menyerah pada kekuasaanya. merah. Kopag juga merasakan setiap mulut perempuan itu terbuka. Iparnya yang luar biasa kasar dan cerewetnya jadi pujian dan pembicaraan seluruh laki-laki di Griya. Bagaimana mungkin perempuan konon kata orang-orang di desanya sangat cantik dan santun itu bisa berkata begitu kasar. dia memahat pikirannya. Ada-ada saja yang diributkannya. hidupnya. pokoknya seluruh tubuh perempuan itu selalu jadi pembicaraan kaum laki-laki. seperti Kopag juga menyerah pada kebutaan yang harus dia kenakan setiap saat. parekan. otaknya. Dunia yang diinginkan. Kebutaan yang mengikuti dia terus-menerus. juga impian-impiannya. Bagi Kopag. Karena perempuan Sudra. 50 . Untuk pertama kali. yang tentu saja tidak dimiliki orang-orang. Anyir. Suara iparnya itu akan terus menari-nari di sekitar telinganya. Bau itu seolah berlomba-lomba meloncat dari bibirnya yang konon sangat mungil. *** Kopag menarik nafasnya dalam-dalam. dan sangat pas. Kehidupan yang sering dimaki Kopag ternyata cukup demokratis. Nama perempuan itu Ni Luh Putu Sari. Aneh sekali. Karena dia bukan kaum Brahmana. Kopag sangat menyukai kayu yang mengenalkannya pada dunianya. Teriakannya saja bisa memandulkan pisau pahatnya. selalu berkata bahwa beruntunglah kakaknya bisa mendapatkan perempuan tercantik di desa. atau posisi piring dan gelas berubah di dapur. dia mencium bau darah. Orang-orang di luar hanya tahu bentuk tubuhnya yang konon sangat luar biasa. Kopag telah merekontruksi sejarah seni rupa. Tanaman di halaman samping rusak atau terinjak kakinya. Disentuhnya kayu kering yang selama ini selalu mengantarnya ke mana dia pergi. Sebuah kesunyian dengan pagarpagar keindahan. Masih kata Gubreg. Saat ini dia sangat mengikuti ambisinya untuk masuk dalam lingkungan keluarga Brahmana.dan hidup hanya merasakan kegelapan sebagai bahasanya. Postur tubuhnya seperti putri-putri raja Bali. pelayan setia yang merawat Kopag sejak kecil. Kopag sering berpikir.

yang diterjemahkannya. dia mampu membuat patung-patung dengan ukiran sangat sempurna. sebelum berpulang. Jengkel! Waktu Kopag sekarang habis untuk diskusi. Frans Kafkasau. Juga dia baik-baik. Karmanya jatuh pada anaknya sendiri. Ida Bagus Made Kopag memiliki tubuh yang sangat bagus. Laki-laki setengah baya itulah yang membuat Gubreg. Seluruh ilmu memahat dia alirkan dalam tubuh bocah kecil yang tidak berdaya itu.” “Seperti apa perempuan cantik itu. Dadanya sering mendidih. Gubreg. Dipandangnya mata Kopag dalam-dalam. pematung jaman Renaisans. Ada yang hilang dalam tubuh laki-laki tua itu. Menanggung dosa ayahnya. Kadang-kadang dia bacakan buku-buku bahasa asing.“Luar biasa kecantikan Jero Melati. Tanyakan pada laki-laki bule itu!” Suara Gubreg terdengar penuh nada kecemburuan. perhatian yang lain. Gubreg. dan tangannya juga sangat cekatan memahat patung-patung. kata Frans. Sejak kecil. termasuk rangkaian pisaupisau pahatnya. Gubreg? Tolong kau katakan seluruhnya. Seperti apa perempuan cantik itu? Apa seperti bongkahan kayu beringin ini? Dingin. tapi mampu memikatku. Kau bisa lihat. Atau sesekali mendatangkan guru yang mengajarinya membaca. Bagi Gubreg. Kopag sudah bagian dari nafasnya. Lihat. Anggap dia anakmu!” Itu pesan Ida Bagus Rai. Cucuku memiliki seluruh mata manusia yang ada di bumi ini. yang konon. Ratu. Susah. sudah menjelang dua puluh lima tahun. Ada rasa sakit mengelus dada tuanya. Kopag tidak lagi membutuhkannya. Aku ingin tahu. Ratu. Susah. Rasanya baru mendengar satu huruf keluar dari bibir laki-laki Perancis itu seluruh isi perutnya seperti keluar. jengkel! Ada-ada saja yang dibawanya.” Laki-laki tua itu terdiam. “Anak itu buta. rasa apa yang sering membuatku meluap. kan? Kehidupan sendiri memberinya hadiah yang luar biasa. Saat ini aku mencoba percaya pada matamu. Gubreg pun mengajari Kopag menelanjangi tubuh pisau-pisau pahat. Lihat. Kegelapan itu jadi milik cucuku yang paling abadi. dan menikmati aroma ketajamannya yang luar biasa indahnya. Laki-laki bule itu telah memberinya didikan yang baru. dialah yang mengajari Kopag mempelajari tekstur kayu. tentang Michelangelo Buonorrty. kau belum jawab pertanyaanku. “Gubreg. Gubreg. Atau sesekali dia dikunjugi orang asing dari Prancis. Sejak bergaul dengan Frans ada-ada saja yang ditanyakan Kopag padanya. Sejak kecil kakeknya hanya mengajari Kopag bersentuhan dengan kayu-kayu untuk berkenalan dengan kehidupan. Pertumbuhannya selalu mengingatkanku pada perbuatan-perbuatan yang dila-kukan anakku. Aku masih percaya kehidupan itu bisa diajak bicara. Titiang tidak bisa menjelaskan seperti Frans. Dia ingat teriakan Kopag ketika 51 . Kehilangan yang dalam. Hyang Widhi! Penguasa jagat! Kopag memang sudah besar. Laki-laki tua itu sekarang ini jadi cepat marah. apa ini rasa yang dimiliki lakilaki? Ini wujud kelelakian itu?” suara Kopag terdengar pelan. Dia juga yang mengajarinya bahwa semua benda punya jiwa. Gubreg?” “Jangan bertanya yang aneh-aneh pada titiang. Tinggi. Dia juga rajin membaca buku-buku dengan huruf braile. “Kau tidak ingin menjawabnya. aku juga ingin merasakan. Gubreg. aku selalu tersentuh.

52 *** Pagi-pagi sekali.. Kakinya kram setiap melihat tubuh basah itu naik ke atas dengan kain yang hanya sebatas dada. Dia mengerti. Pisau justru seperti menantang matahari untuk bersabung. Gubreg selalu merasakan tubuhnya dilubangi. Lama-lama Gubreg merasakan sakit yang luar biasa menyerang tubuhnya. Waktu itu Gubreg seorang laki-laki kumal empat belas tahun. dan tulang-tulangnya yang mulai rapuh membantunya merangkai masa lalunya kembali.” Suara Gubreg terdengar patah. ketajamannya. Takut sekali menjawab pertanyaan tentang esensi menjadi laki-laki. dan teramat menggelisahkan ketika tubuhnya mulai lapar dan memerlukan tubuh lain untuk santapan. “Tentang apa lagi.” suara Kopag terdengar penuh rasa ingin tahu. Gubreg belum juga bisa menjawab arti menjadi lakilaki. Kilatan matahari menjilati keruncingan pisau pahat itu. Tak ada yang bisa diceritakan kegelisahannya. dia juga pernah merasakan seperti apa percikan nafsu itu ketika pertama kali menampar wujud manusianya. Setiap mengingat batas yang ada antara dirinya dan Dayu Centaga.Titiang tidak bisa menceritakan kecantikan perempuan pada Ratu..” “Titiang. Begitu penuh misteri. Kopag sudah membuka jendela studionya. “Aku ingin bercerita padamu. Sampai menjelang tengah malam. Luar biasa. Sering sekali dia disuruh mengantar Dayu Centaga mandi di sungai Badung.pertama kali menyentuh tubuh-tubuh pisau yang telanjang itu. Dayu Centaga selalu menyuruh Gubreg menggosok punggungnya dengan batu kali. Ratu. angkuh dan selalu lapar.. Rasa itu tiba-tiba saja muncul kembali dalam otak. dia sadar tubuhnya tidak boleh melahap tubuh perempuan Brahmana. Gubreg menyaksikan. Terlebih. betapa sinar matahari yang perkasa itu menjadi patah dan tak berdaya ketika menyentuh sedikit saja keruncingannya. Perempuan itu. Dia juga laki-laki. perempuan yang sangat dihormatinya. Begitu parah. dia luka. Gubreg. Sebagai laki-laki Sudra. Tubuh perempuan itu seperti ular yang melingkar dan menjepit batang-batang tubuhnya. dan mampu meledakkan otaknya. Dia sering terjaga tengah malam . “Gubreg. Waktu itu umur Kopag tujuh tahun. kebanyakan. tubuhku gemetar setiap menyentuh pisau-pisau ini. Semua orang.. Dia gelisah. Ratu?” “Kecantikan perempuan.. Perasaan apa yang sedang bertarung dalam tubuh Kopag? Gubreg takut. karena kelaparannya adalah kelaparan yang tidak pada tempatnya. Kaki perempuan itu putih. yang hidup dari belas kasihan keluarga Dayu Centaga. Di tangan Kopag pisau itu jadi begitu dingin.” Keruncingannya. Berkali-kali dia menarik nafas. Aroma tubuh perempuan itu sampai hari ini masih melekat erat di tubuhnya. Perempuan junjungannya. Aroma itu tak bisa dihapus oleh usia yang dipinjam Gubreg pada hidup. begitu indah. dia adalah laki-laki tak berguna. memiliki penilaian khusus tentang hal itu. Sangat paham.

Aku juga memiliki impian-impian sendiri pada patahan tubuh pohon itu. Dia pasrah ketika Balian tua. "Gubreg. Tanpa istri. Gubreg tidak bisa bercerita tentang kelaparan tubuh laki-lakinya. Rasa ingin tahu yang begitu besar. sangat surealis. dia merasakan cinta yang dalam pada Dayu Centaga. Gubreg paham. Hyang Widhi. tubuhku. Kecantikan perempuan yang kuterjemahkan lewat kayu-kayu itu mengingatkan Frans pada keliaran Martha Graham. Balian tua itu memberinya jampi-jampi. sampai akhirnya potongan-potongan tubuh itu ada di tanganku. Gubreg menatap tajam tubuh Kopag yang sedang merampungkan pahatannya. aku merasakan kecantikan perempuan itu melalui jari-jariku. Suatu hari Frans dan seorang temannya mengatakan.” 53 .memandikan tubuhnya di pinggir sungai. pahatanku tentang perempuan sangat sempurna. dingin. menjelang tujuh puluh lima.. Kenapa kayu-kayu ini selalu mengajakku berdiskusi. kau ingat kata-kata Frans?” “Yang mana?” “Frans mengatakan keliaranku membentuk tubuh-tubuh manusia dalam kayu mengingatkan dia pada lukisan Pablo Picasso. Aku selalu ingin tahu. Pada dasarnya aku selalu penasaran. Gubreg. Dayu Centaga tidak terkena. Tak seorang pun tahu. Keluarga Griya mencarikan dia seorang Balian. selalu ingin mengupas dan melukai kayu-kayu itu. Katanya agar roh jahat tidak mengenai keluarga Griya. Impian-impian yang dimiliki oleh pohon ketika dia membesarkan ranting-rantingnya.dengan nafas yang memburu. Aku juga ingin tahu arti setiap impian. Dia menarik nafas berkali-kali. Cinta yang membuatnya jadi batu. Gubreg sempat membuang kotoran di pinggir sungai. Sampai sekarang. Gubreg sadar rasa laparnya sudah tidak bisa dibendung lagi. Gubreg masih setia mengabdi di Griya. Berkat kekuatan Gubreg. dukun. Gubreg tidak sakit. Gubreg bersedia menjalankan runtutan upacara itu. Masih kata Balian tua itu. “Gubreg. keluarga Griya membawa sesaji untuk penunggu sungai. Cinta yang tidak mungkin dihapus. Kata mereka. Kayu-kayu dan pisau telah memberiku mata yang lain. Tubuhnya jadi pucat.” suara Kopag terdengar pelan. Untuk mengembalikan kesehatan Gubreg. sampai menguliti otakku. tadinya penunggu sungai itu juga ingin mengganggu Dayu Centaga. Kata Balian itu. Tubuhnya dilingkari asap yang sangat menyesakkan aliran pernafasannya. Untuk menghormati kebaikan keluarga Griya. Demi Hyang Widhi. komunikasi Balian tua itu dengan dunia gaib salah. Dan Gubreg tahu air dalam tubuhnya memerlukan muara. yang memanfaatkan seluruh tubuhnya untuk mewujudkan jati diri tokoh yang dimainkan. tidak juga kesambet setan. Gubreg. Justru Gubreglah yang kena kemarahan si penunggu sungai. Guemica. membesarkan tubuhnya. dan berpikir. tanpa kegairahan sebagai laki-laki. Sesuatu yang dahsyat telah dititipkan alam pada tubuhnya. tetapi sudah menyerupai air bah. tidak lagi bisa menikmati kegairahan manusiawi sebagai manusia. Kalau sekarang Kopag bertanya seperti apa kecantikan itu. Kebetulan si penunggu sungai sedang beristirahat. berdialog. tanganku. Dia rasakan perubahan pada tubuhnya. kau belum juga jawab pertanyaanku.. mengajakku bicara. karena aliran sungai dalam tubuhnya bukan lagi aliran sungai kecil.

Gubreg bahkan rela bocah laki-laki itu mencuri lembar demi lembar rahasia perjalanan dan rasa sakitnya sebagai laki-laki yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk mengabdi. Lima menit tanpa hasil. Bulan kemarin. Laki-laki itu tidak pernah tahu apa arti ada uang atau tidak ada uang. perempuan itu bebas menggunakan uang Kopag semaunya. diajar memahami kehidupan. *** “Gubreg. Bahkan. “Bagaimana kalau dia kawin dengan calon yang telah kusiapkan. 54 *** “Kita harus carikan seorang istri untuk Ratu. adik Jero Melati adalah perempuan paling liar dan nakal. Patung-patung Kopag laku keras dan diminati oleh kolektor dari dalam dan luar negeri. keluarga besar ini kembali bisa hidup.Gubreg tetap diam.” Suara perempuan itu terdengar mirip perintah dan pemaksaan. Benar kata Kopag.” jawab perempuan itu serius. Aku sudah memikirkannya jauh-jauh hari. dia tidak tahan miskin. Gubreg menatap mata perempuan itu tajam. perempuan satu ini memang bukan perempuan baik-baik. Kata orang-orang kampung. Ratu ingin apa lagi? Jangan menakuti titiang. seorang anak yang dibesarkan dengan cara-caranya. dia terus mengelilingi studionya. “Kau harus bisa meyakinkan dia bahwa adikku layak menjadi istrinya. ada bantuan dana dari Jerman dan Perancis. Mendengar komentar itu.” “Jero sudah punya calon?” “Ya. Gubreg diam. Jero Melati tersenyum. Otaknya hanya berisi kehormatan. Hanya satu yang ditangkap Gubreg. Kopag memerlukan perempuan. Ratu terlihat sangat gelisah.” suara Gubreg terdengar sangat hati-hati. adik Jero Melati bisa menjual tubuhnya. Padahal kemiskinan kalau dihayati memiliki keindahan tersendiri. Dia tahu. Jero Melati tidak pernah ceriwis. “Ratu. Saat ini galeri itu sudah tumbuh besar dan menjadi satu-satunya galeri yang paling diakui di Bali karena karya patung yang masuk harus melalui seleksi dan pertimbangan yang teliti. Sekarang ini keluarga ini tentram.” . Gubreg mencoba memahami ke mana kira-kira arah pembicaraan Kopag. Berkat Kopag. Gubreg tahu tak ada yang diinginkan Kopag. Aku ingin bicara!” Kali ini suara Kopag terdengar serius. Dia mencoba memahami sesuatu yang sangat rahasia dan begitu dalam ingin disampaikan Kopag.” “Siapa?” “Adik perempuanku. Kopag seperti linglung. Untuk pertama kali dia merasakan hawa jahat berendam dan menguasai tubuh cantik itu. Mengerikan! Padahal perempuan itu sangat cantik. kakak Kopag sendiri bisa membuka galeri patung yang besar. Sayang.

” Suara Kopag terdengar sangat serius. Bahkan merekalah yang akan memilihkan calon istri untuk Ratu. Kulitnya juga kulit kayu. Dia adalah perempuan tercantik. Luh Srenggi. dia lebih mirip makhluk yang mengerikan. aku tenggelam dan habis. Perempuan yang mengalahkan kecantikan kayu-kayuku. Perempuan itu telah mengasah tubuh laki-lakiku. Kulitnya begitu kasar. Panggilan kehormatan untuk bangsawan Bali . “Maaf Ratu. ingin sekali dilihatnya wajah Kopag berseri. Kali ini pilihanku tidak bisa diubah!” “Siapa?” “Luh Srenggi. Hyang Widhi! Dewa apa yang ada dalam tubuh Kopag.. Sadarkah dia. Ketika dia telanjang. membersihkan studionya menyiapkan makan. kakinya pincang. dia hanya memiliki satu mata. Aku ingin kawin.. “Aku telah menidurkan perempuan itu setiap malam.?!” Gubreg seperti tercekik. ketika kujatuhkan tubuhku memasuki tubuhnya. Tubuhnya benar-benar lekukan kayu. Gubreg. punggungnya bongkok. dan mengambilkan pisau-pisau pahatnya? Perempuan itu bukan perempuan. Saya 2. Sebuah pisau pahat menembus dadanya yang tipis. tak ada sebuah pisau pun bisa menandingi ketajamannya. *** 55 1. Wajahnya juga rusak berat.“Ya.” Gubreg mengangkat wajahnya. matanya yang kiri bolong.” “Apa kata mereka.” “Mereka setuju. titiang juga sudah membicarakan dengan Jero dan kakak Ratu. Gubreg. Aneh! Wajah itu tetap seperti batu. apakah kuping tuanya tidak salah dengar? Bukankah Luh Srenggi adalah perempuan yang menyiapkan seluruh keperluan Kopag. ada daging besar tumbuh di atasnya. tahukah dia makna kecantikan? Gubreg menarik nafas memegang dadanya kuat-kuat. Kau tahu.” “Ratu. “Aku sudah memiliki calon.” Gubreg ambruk.

kamu yang melejit. saling bergotong-royong. analisa-analisa yang menyebabkan banyak orang menjadi terkenal dan kaya. Aku yang menanggung seluruh kerugian. Semua orang berdagang. Dunia sudah menjadi sebuah pasar besar. Kematianku sudah menghasilkan lebih banyak uang lagi ke dalam bisnismu.Horison. Ia berdiri di pinggir jalan. Aku menginginkan ada pencerahan atas kabut hitam yang akan membuat dunia dan kehidupan serta segala manusia isinya ini kiamat kubra. Aku menderita. Ia menggugat perilaku yang semena-mena tersebut yang jelas sekali memperlihatkan keserakahan manusia. Aku diberitakan. Yang akhirnya tak lebih penting dari segala manipulasi orang-orang tersebut. sebagai obyek untuk berbagai penyelidikan. sehingga mereka menjadi terkenal. “Aku yang mati. Aku yang menjadi korban. Ini sama sekali tidak adil!” Ia bangkit dari kebisuan dan kekakuannya dan mulai menyusun protes. kemudian sindiran-sindiran dan akhirnya menjadi umpatan-umpatan yang terdengar tidak bedanya dengan kutukan. Lalu mulai mengganggu setiap orang lewat dengan berbagai keluhan. memegang posisi puncak dan akhirnya menang. April 2000 56 Mayat Oleh: Putu Wijaya Mayat itu mengeluh. Aku yang sudah mencetak duit buat banyak orang yang memanfaatkan dengan cerdik seluruh peristiwa yang dahsyat ini. kamu terus hidup ngakak. Kamu semua kelihatan saja menangis. dipergunjingkan. “Aku yang mati. terkemuka. “Peradaban sudah merosot. tetapi sudah menjadi perang siasat untuk menipu dan membuat bangkrut orang lain. tetapi membuat manusia semakin tamak dan tipis rasa kemanusiaannya. diperdebatkan. Air . meringis. kamu yang enak.“ kata mayat itu. Aku yang kejepit. tapi sebetulnya kamu semua tertawa. Aku yang sudah kesakitan. Kebudayaan tidak lagi membuahbudikan keluhuran. Kehidupan sudah rusak. diselidiki dan dipakai sebagai contoh. Tetapi aku sama sekali tak kebagian apaapa. Dan dagang sendiri bukan lagi menjadi ajang tukar-menukar jasa dengan saling menguntungkan. Aku tetap saja hanya sebuah mayat yang sepi. Aku yang terdera.

“Biarkan saja. Apa saja yang sudah menyakitkan.” Sedang atasannya yang paling atas sibuk menunjuk wakilnya supaya meladeni mayat yang cerewet itu. Ini justru bagus untuk publikasi kita!” 57 . Bagaimana kalau dia menghancurkan komputer. terpaksa membatalkan niatnya untuk pulang lebih dulu. Para wartawan yang ditemuinya semua menghindar. susila. Akhirnya sekretaris redaksi.” erang mayat itu. semua yang tidak adil. apa saja yang sudah menyinggung. aku kan hanya menjalankan assignment.” “Tapi kursinya rusak. kami bersedia untuk meralatnya untuk kebahagiaan dan ketenangan Anda di sana. menutupi hidungnya. Mayat itu langsung duduk di depan komputer. telepon berbunyi. ia menembakkan seluruh unek-unek perutnya. untuk menahan lonjakan perasaannya yang tertampung oleh layar komputer. balada-balada dan orasi-orasi yang meratapi dan menggugat kematianku. mungkin dapat diselesaikan secara baik-baik. prasangka dan kesakitannya. Kamu tidak punya malu lagi mengeruk keuntungan dari orang yang mati!” Mayat itu mengetuk pintu sebuah media massa yang mengalami cetak ulang ketika memuat secara lengkap cerita dan foto-foto kematiannya. dia memerlukan ventilasi untuk menyalurkan emosinya. “Semuanya busuk. Ia menghadapi mayat itu dengan senyum ramah. Sama-sama wanita. “Silakan menuliskan semua keberatan Anda terhadap pemberitaan kami.” “Biar saja.” katanya mempersilahkan mayat itu menumpahkan semua sumpah-serapahnya. seluruh ketidak-benaran. Seperti bendungan ambrol. luka. Pak. Kalau memang ada yang salah. keluhuran budi apalagi kemanusiaan yang dikibar-kibarkan selama ini. Ia kemudian lebih banyak mengeram-ngeram seperti kata-kata tak mampu lagi menampung sumpah-serapahnya.matamu hanya kelambu untuk menutup segala kebahagiaan dan keuntunganmu menjual berita-berita perih. ia beberkan dengan kata-kata yang tajam dan berbisa. tata krama. Ia menguras seluruh dendam. untuk membungkus kebiadaban. Tetapi ketika ia mau lari mengadukan itu kepada atasannya. Komputer penuh dengan katakata kotor. Sekretaris panik. Akhirnya ia menggigit kursi sampai cabik-cabik. Dalam uraian mayat itu dunia menjadi pabrik kejahatan yang hanya dihuni oleh bandit-bandit tengik. Moral. “Tanya Bapak. Berjam-jam mayat itu mencurahkan segala tuntutannya. mengangkat bahu dan menunjuk atasannya. elegi-elegi. Itu kan baru dibeli. menciptakan esai-esai. kesalahkaprahan. Nanti setelah kempes dia kan pergi sendiri. kepatutan. ternyata hanya sebuah koteka. Tapi suruh anak-anak siap untuk menjepret. bahkan yang mungkin akan menyiksanya di kemudian hari. meskipun kami sudah sangat berhati-hati.

Ia menoleh pada penjaga malam yang sudah lancang itu dengan mata berkilat-kilat. Dengan garuda yang masih bertengger di kepalanya. orang yang mampu memahami segala tuntutannya. Keduanya berjabatan tangan. Ia lalu menumbukkan kepalanya ke dinding. 58 . “Kamu mengerti?” “Ya.” “Kamu bisa merasakan. Seakan-akan ikut menikmati kepuasan mayat tersebut. ia kembali ke kursi. Setelah menangis tersedu-sedu nampaknya sebagian unek-unek tuntutannya berhasil ia lemparkan keluar dari perut. Seperti balon kempes.” “Apa kamu menganggap semua ini neko-neko?” “Tidak. Mayat itu baru menjadi sedikit tenang. Nampak begitu lelah namun damai. Barangkali sepotong dua potong mimpi yang benar-benar mimpi. Ia berdecak-decak kagum. juga tidak bisa mengurangi tegangan dadanya. Penjaga kantor yang tua bangka menghampirinya menanyakan apakah ia memerlukan sesuatu. Penjaga kantor itu mengerti. Itu memang benar.” Mayat itu menjadi amat girang.” “Kenapa tidak? Jelas sekali.Sekretaris bengong. Ia tidak menginginkan apa-apa lagi. Mayat itu berdiri. Sekretaris menutup matanya. Minuman panas. Penjaga malam itu juga mengulurkan tangannya. menemukan untuk pertama kalinya. Seluruhnya mampetan pikirannya sudah tersalurkan. hati dan otaknya. saya mengerti sekali. lalu lari keluar.” Mayat itu mengulurkan tangannya. Mayat itu membentur dinding begitu kerasnya sehingga foto-foto di dinding berjatuhan. Mungkin juga makanan. seperti orang yang mau bersekongkol. karena mencabik kursi itu. Tapi tangan penjaga malam itu dingin seperti beku. ia menggepeng di atas kursi. Ini menyebabkan kantuk mayat itu hilang. Mayat itu menggelengkan kepalanya. Sekaligus mengingatkan bahwa subuh sebentar lagi akan menyundul di langit timur. ia sempat mengerling ke atas layar komputer. Di antaranya ada gambar garuda. semacam roti bakar yang masih bisa disamber dari perempatan jalan di malam yang selarut itu. Tetapi sebelum pergi meninggalkan tamu eksklusif yang diwanti-wanti oleh sekretaris supaya diperlakukan ekstra istimewa itu. Moncong garuda itu menancap di atas kepalanya. “Jadi kamu percaya sekarang betapa tidak adilnya semua ini?” “Saya percaya. Ia menoleh kembali ke layar komputer dengan lebih santai. air dingin untuk penyegar. Di situ ia menangis tersedu-sedu. Mayat itu terkejut. Kini ia memerlukan sebuah tidur yang panjang.

” Mayat itu terkejut. “Apa lagi kewajiban kamu?” “Semuanya!” Mayat itu tercengang. Bulu kuduknya meremang. Siapa tahu itu agen polisi. Karena di kedua mata nampak ruang kosong. Tetapi ketika ia memandangi mata penjaga itu. “Astaga kamu tidak punya mata lagi?” “Tidak. Saya budak. Ia curiga kalau-kalau bukan menghadapi seorang penjaga malam. ia hampir terpekik. “Kewajiban? Kewajiban apa? Kamu ngomong seperti seorang budak?!” “Ya memang.” “Kamu heran atau kaget karena membaca semua ini?” “Tidak.” 59 .” “Kenapa?” “Karena itu kewajiban saya. Paling sedikit mata-mata yang diutus oleh kepala kantor.” “Lalu kenapa tanganmu lebih dingin dari es?” “Ya memang begini keadaannya?” “Tapi kenapa?” “Karena inilah hidup saya.“Kenapa tanganmu dingin sekali? Kamu takut?” “Tidak.” Mayat itu bergidik.” “Tapi kenapa kamu masih bisa melihat?” “Saya harus bisa melihat meskipun tidak punya mata.” “Apa? Kamu budak?” “Betul.

“Kamu sudah bangkrut sebangkrut-bangkrutnya. Dia berdiri dan memperhatikan penjaga itu lebih cermat.” “Apa? Kamu betul-betul tidak punya perasaan dan pikiran?” “Betul.” Mayat itu bingung. Matanya sampai tumpah keluar karena takjub. meskipun tidak punya semua itu lagi. Maaf ya. lalu ngobok sekali badan penjaga malam itu.“Budak apa? Budak siapa?” “Budak segala-galanya. Tak puas hanya melihat. jangan-jangan kamu. Ia tak punya segala-galanya. Apa pun saya tidak punya. Seluruh kemaluannya. Saya budak komplit. Ia terpekik kembali dan meloncat keluar. “Wow! Badan kamu seperti tak punya tulang.. . maaf boleh aku kobok sekali lagi?” “Silakan.” Penjaga malam itu membuka seluruh pakaiannya. termasuk kedua biji buah ampulurnya sudah dicomot.. Kamu tidak punya apa-apa kamu sudah kalah komplit. selanjutnya merogoh tubuh penjaga malam itu. Apa kamu bukan manusia?” “Saya manusia. Mayat itu menggigil. Tiba-tiba ia terpekik ngeri. Lihat kemaluan juga tidak ada lagi. Orang itu memang sudah dikebiri total.” “Memang begitu.” “Apa kamu sakti?” “Tidak!” “Lha kenapa kamu bisa hidup?” “Ya begitulah. Saya harus hidup. ia lalu menyentuh. kemudian meraba-raba. kamu kok sepertinya tidak punya hati dan juga tidak punya otak. aku jadi curiga.” “Edan!” “Ya. Daging kamu bonyok!” “Memang!” “Bukan cuma itu. Jangankan perasaan dan pikiran. “Ya Tuhan.” Mayat itu mendekat.” 60 .

” “Kalau begitu kamu ngobyek!” “Terserah.” “Maksud kamu gaji kamu seperak satu hari?” “Ya.” 61 . Pak. saya tidak pilih-pilih nama. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana seorang yang bergaji seperak satu hari dengan tanggungan istri dan 10 anak bisa hidup. Pasti penjaga malam itu korupsi. “Siapa sih sebenarnya kamu?” “Boleh panggil saya siapa saja. Saya hanya jualan kertas-kertas kantor yang sudah tidak terpakai.” “Gila! Bagaimana kamu bisa hidup hanya dengan gaji begitu?” “Itu juga dianggap sudah terlalu banyak. Ia pelan-pelan duduk kembali. Pak.” “Tiga puluh juta?” “Bukan tiga puluh saja. telat mikir. “Kamu pasti korupsi?” “Tidak. Saya memang telmi. Ini kewajiban saya. kok.” “Coba ceritakan sedikit kehidupan kamu. suka manggil saya apa saja. Bukan hanya saya yang harus hidup.“Tidak mungkin!” “Memang tidak mungkin. wong ini harus. Pasti besar sekali karena kewajiban kamu begitu berat. Berapa?” “Tiga puluh. Apa kamu orang Jawa?” Penjaga malam itu berpikir.” Mayat itu berpikir keras. Gaji kamu berapa sih. Lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.” “Itu namanya pasrah. Istri saya dan sepuluh orang anak saya juga harus hidup. “Nah sekarang kamu berpikir!” “Bukan begitu. saya manut-manut saja. Terserah orang. silahkan. tetapi apa boleh buat.” Mayat itu ternganga.

kita sama! Tadinya kukira aku sendirian.” “Ah! Apa?” “Kata saya. Pak?” “Jelas!” “Ya sudah. Jangan keliru. Sekarang aku tahu masih ada orang lain. saya sudah mati.” “Kamu sudah mati.” “Memang saya sudah mati. jangan takut.” “Mayat seperti gua ini?” “Benar!” “Wow! Kalau begitu kita sama dong!” teriak mayat itu kegirangan karena merasa mendapat seorang teman secara tiba-tiba.” 62 .“Kamu korupsi!” “Apa itu korupsi. “Ayo salaman.” Mayat itu termenung. Ia lupa pada masalahnya sendiri dan mulai kagum. penjaga malam itu tak menyambut uluran tangannya.” “Jadi kamu ini mayat?” “Betul sekali.” “Ya." gumam mayat itu terpesona. “Orang lain sudah mati kalau kondisinya seperti kamu ini. “Tidak bisa.” “Kenapa tidak bisa? Kamu tidak mau salaman? Ini hanya ekspresi bukan kolusi. Saya tidak bisa salaman. sambil mengulurkan tangannya mau berjabatan. Memang pada orang kecil sering muncul sifat-sifat luhur yang dahsyat. Ayo salaman!” Penjaga malam itu menggeleng. Sedikitnya kita bisa berbagi kemalangan.” “Tidak bisa. tidak akan dituntut. "Kamu luar biasa. Tetapi sekali ini.

Boleh saja tidak percaya. Sumpah.” “Kenapa bukan?” “Karena meskipun saya mayat. Harus. Saya memang mayat. Saya sudah biasa tidak dipercayai. tempat saya tidak di kuburan. "Jadi kamu mayat hidup?" "Ya itu. siapa yang harus melakukan pekerjaan yang jahanam tidak menguntungkan dan menyakitkan ini. Mayat kok banyak bicara. memang beginilah saya. 63 . Boleh juga saya disebut begitu." "Kenapa kamu mau?" "Kalau tidak. lalu ditangkap oleh gelap. Tidak apa. mayat kan sudah tidak perlu tidur lagi.” “Lho tadi kamu bilang kamu mayat?” “Betul.” Mayat itu berpikir. “Kamu jangan main-main. Mati pun saya tetap harus bertugas. Tetapi di kantor ini.” “Tidak." Mayat itu bengong. Saya tidak boleh bicara terlalu banyak. Selamat beristirahat. Saya mayat yang harus hidup. Saya tidak tidur. Ini bukan waktunya untuk guyonan. kalau perlu apa-apa jangan ragu-ragu memanggil saya.” “Tetapi bukan?” “Betul sekali. Pak.” Penjaga malam itu pasang tabek.“Keliru bagaimana?” “Saya bukan mayat seperti situ. Dipercaya atau tidak. Saya tidak boleh tersinggung atau sakit hati.” “O kalau begitu kamu hantu?” “Apa saya hantu?” “Ya kamu hantu kalau begitu!” “Ya sudah. saya sungguh-sungguh. saya hanya parkir di situ supaya tidak mengganggu. tetapi bukan. Baik. Saya tidak boleh istirahat. lalu berjalan ke sudut yang tadi ditunjuknya.

3 . seluruh tulisan di dalam komputer itu sudah diprotek. “Kasihan.”. Ia abadi. Setelah melihat nasib penjaga malam itu. “Ya Tuhan. ia melihat tubuh penjaga malam itu mencair dalam gelap. Tetapi apa daya.*** 64 Jakarta. Waktu itu mayat itu merasa malu hati. Disertai penyesalan penuh. ia menyentuh keybord komputer untuk menghapus semua keluhkesahnya. tidak. mayat itu lalu kembali kepada komputernya. Remang-remang dalam kegelapan.. hanya dengan satu gerakan. Aku tidak perlu apa-apa lagi!” Penjaga malam itu mengangguk. sudah cukup.Mayat itu terpesona. “O tidak. Ia mencuri-curi melirik ke sudut. Bahkan aku boleh dikata agak mendingan dibandingkan dengan penjaga malam itu. lalu kembali lagi ke tempatnya. perlu sesuatu?” Mayat itu terkejut. Penjaga malam itu tiba-tiba keluar dari gelap dengan tergopoh-gopoh menghampiri. memanggil saya. Diliriknya komputer yang penuh dengan tumpahan tuntutannya. “Maaf. Ada yang lebih jelek.. kalau begitu. apa yang dirasanya sebagai kesakitan. sama sekali tidak bisa dihapus lagi. nasibku tidak terlalu jelek. Ia merasa sudah terlalu cengeng. seperti tidak ada artinya sama sekali.” desis mayat itu. kalau begitu. Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya seakan-akan sudah berbuat kekeliruan yang fatal.11 – 1997 .

tapi pengawakannya tegap dan kekar. Kata-kata yang sepintas lalu hampa tak bermakna. jangan pusingkan orang lain!" "Jangan sok!" "Berbuatlah sesuai kemampuan!" . Sorot matanya memancar berbinar. seperempat abad setelah ia meninggal dunia. di perempatan jalan. sekedar iseng semata tanpa maksud tujuan tertentu. Mungkin jas itu diperolehnya dari belas kasihan salah seorang pegawai Palang Merah Sekutu di zaman pendudukan Nica. selalu dengan tekanan nada sungguh-sungguh. begitu berarti dan perlu diketahui oleh setiap orang. masih terang terngiang di telingaku kata-kata yang selalu diucapkannya dengan suara lantang. Tidak jarang ia masuk nyelonong begitu saja ke ruang dalam kantor itu tanpa sedikit pun merasa canggung atau enggan. seolah-olah ingin kata-katanya didengar oleh setiap orang di seantero dunia. Boleh jadi tidak ada yang dapat memahami arti kata-kata yang diucapkannya. tempat orang lagi sibuk bekerja. Hanya kata-kata itu yang selalu diucapkannya. Masuk-keluar kampung. Ia mengenakan topi koboi yang pinggirannya geripis dan warnanya tidak menentu lagi. Atau dengan kata-kata itu ia hendak menjelaskan suatu maksud. ia berkata: "Atur sendiri-sendiri!" Demikian dikatakannya setiap kali. nyaris berteriak.Rumah Tuhan Oleh: Muhammad Ali 65 Sampai saat ini. di mana pun kebetulan ia berada. Memakai sarung Samarinda biru yang juga telah memat. berkali-kali. di depan teras-teras rumah yang pagarnya terkunci atau ketika di dunia santai berleha-leha di pojok-pojok sepi. "Atur sendiri-sendiri!" Bisa berarti: "Berdiri di atas kaki sendiri!" "Jangan sekali-kali ndompleng atau bergantung pada orang lain!" Atau: "Benahi dirimu sendiri. di emperan-emperan toko. Sesuatu yang punya arti. Kemudian seperti biasa ia menyerukan kata-kata yang telah dihapalnya di luar kepala: "Atur sendiri-sendiri!" Hingga pesuruh kantor tergopoh-gopoh mengusirnya keluar. Sekali-sekali berhenti di depan kantor. Seorang laki-laki tua. bila direnungkan. Meskipun tua. lebih separo abad usianya. terlebih-lebih anak-anak tidak berani mendekatinya. Karenanya ia ditakuti orang. Ia selalu mencangkingkan sebuah buntalan besar yang kumal dan entah apa isinya. seolah-olah kata-kata itu mengandung multi makna yang sulit ditebak artinya. Ia mengenakan jas wol tua warna hitam yang bulunya telah lenyap dan kelihatannya terlalu besar menyungkup pundaknya. Sepintas lalu. ditandai oleh kerit-merut di wajahnya. Dengan terompahnya yang peyot solnya ia berjalan ke sana-sini mengelilingi kota. karena kata-kata itu seperti dilontarkan secara spontan. Mungkin ia mantan pendekar silat atau bekas tukang pukul pengawal pribadi tokoh yang amat disegani orang. tidak ada artinya. Di trotoar-trotoar.

Martir habis-habisan Revolusi Kemerdekaan bangsa dan negara itu akhirnya terdampar di sebuah kota yang sama sekali tak ramah. Diamdiam ditinggalkannya desa tempat asalnya yang penuh kenangan pahit. Saridin. Kusir-kusir dokar. Penjaga malam yang berpatroli atau orang senasib yang merasa lebih berhak menguasai tempat itu. Sebaliknya malah ia menganggap mereka orangorang gila. selalu berpindah-pindah. Apakah "Din" itu kependekan dari nama lengkap Samsudin. Dari mana diperolehnya uang untuk penyambung hidupnya? Di samping ada orang-orang yang selalu 66 . Ia bersama anak-bininya hidup tenteram dan makmur di sebuah gubuk mungil tak jauh dari tanahnya. Di halte-halte bus kota. belum kuceritakan siapa ia sesungguhnya. karena penampilannya yang tidak lazim. Di mana-mana ia ditampik dan dihalau. Karena ada saja orang yang mengusirnya dari tempat itu. tak ada yang tahu. tukang-tukang becak. konon di masa mudanya dulu ia pernah memiliki sebidang tanah yang subur di desanya. Tanah itu ditumbuhi berbagai jenis pohon buah-buahan. Ketika berada di jalan-jalan beraspal di bawah sengatan terik matahari atau diliputi hawa dingin di malam hari ada saja orang-orang usil yang memperolok-olokkannya. Pernah ia ngumpet di sudut tersembunyi sebuah bank. Di pemakaman-pemakaman umum. Di sampingnya mengalir sungai kecil yang jernih airnya. lebih-lebih anakanak jalanan. Ia melonjorkan kakinya yang penat berdebu. Tempat peristirahatannya tidak tetap. Bila malam tiba ia bergegas mencari tempat berteduh untuk mengistirahatkan tubuh. lalu berkelana tanpa tujuan mengikuti ayunan langkah kakinya. Ia tetap lewat melintasi mereka sambil merunduk penuh kesabaran. Ada selentingan. jangan sombong dan bersikap tak terkendali!" Dan masih banyak lagi arti lain yang dapat ditarik dan disimpulkan dari kata-kata tersebut. Di emperan super market. mereka sama menertawakan dan mempergunjingkannya. Siang hari ia berkeliling mengitari jalan-jalan di kota. Pengelanaannya tidak berjalan mulus. Siapa namanya. Ternyata sebagai gelandangan ia bisa hidup terus selama bertahun-tahun. tak terkecuali gubuknya. Tapi di zaman Revolusi Kemerdekaan tahun 1945 desanya diserbu oleh balatentara Sekutu yang diboncengi oleh serdadu-serdadu Nica. Berkat perlindungan Tuhan ia selamat dari bencana itu. Sudah cukup banyak tempat yang disinggahinya sejak ia meninggalkan desanya beberapa tahun lalu."Hiduplah secara tertib dan teratur!" "Tegakkan disiplin!" "Berbuat baiklah selalu. Di emper stasiun kereta api. meskipun agaknya bisa saja ia menghajar dan mengobrak-abrik orang-orang usil itu. Sejak waktu itulah ia mulai linglung serupa orang yang kehilangan akal sehat. Menghancur-leburkan kebun buahnya dan membantai anakbininya. penuh bertabur onak dan duri. Bahkan pernah selama beberapa malam ia tidur di serambi rumah dinas walikota yang kebetulan tidak dijaga. karena walikota tidak pernah tidur di situ. Tapi semua itu tak dihiraukannya. Brodin atau Ilmudin. Di bawah pohon di taman hotel berbintang. Mereka membumihanguskan seluruh desa. Oh ya. Sidin. Dari mana asalusulnya. Orang hanya mengenalnya hanya dengan panggilan pendek: "Din!" Tak lebih dari itu.

Setelah selalu mengalami kesulitan dalam upaya memperoleh tempat peristirahatan yang aman. untuk beristirahat di malam hari. Mengapa ia tidak ke sana saja. 67 . Surau itu tampak kurang terpelihara. minta naungan dan perlindungan dari Si Empunya Rumah. Dibangun dari papan pohon waru dan pintunya terbuka lebar. Di surau itu telah berkumpul sejumlah orang. lalu mencoba mencari tempat lain utuk istirahat. Memang tidak setiap orang bisa menikmati tidur begitu cepat dan nikmat pula seperti yang dialami oleh laki-laki tua yang terlantar itu. yang tentu disambutnya dengan penuh rasa syukur disertai senyuman lebar. diusir dari satu tempat ke tempat lain. Sampai akhir hayatnya ia ingin senantiasa suasana kedamaian. ia surut. Dalam salat ia benar-benar menyadari akan kerapuhan dirinya di hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang disembahnya. lantainya dialasi tikar pandan yang telah usang dan koyak-koyak di sana-sini. jarang dikunjungi orang dan jelas tidak berpagar besi dengan jeruji yang ujungnya lancip serupa tombak. Masjid atau surau dan musala yang jumlahnya cukup banyak di kota itu. Berlampu suram. Ketika sujud ia di bawah cerpu-Nya. Entah darimana. Ia menuju ke salah satu surau yang diingatnya. pikirnya. yaitu Tuhan? Tiadakah rumah itu milik Tuhan? Bukan milik siapa-siapa? Tiadakah setiap hamba Tuhan yang baik berhak memperoleh naungan dan perlindungan di rumah-Nya? Begitulah pada suatu malam dengan penuh harapan ia melangkah menuju ke salah satu masjid agung di kota itu. Sebenarnya tak pernah ia dengan sadar melakukan perbuatan-perbuatan salah. suatu ketika tiba-tiba timbul dalam benaknya pikiran itu. Tapi sial. senantiasa dihalau. mengambil tempat di saf yang telah rapi berderet di belakang sang imam. Ia ikut melakukan salat Subuh berjamaah. Dilonjorkannya tubuhnya sambil berbantalkan buntalannya. bahkan tidak mampu memicingkan mata barang sekejap pun. ia tak bisa masuk ke dalam masjid. Letak surau itu di pinggiran kota yang terpencil. yang pikirannya selalu buncah dilanda berbagai seribu satu macam kerumitan hidup. serasa kini telah didapatkannya kedamaian hakiki yang selama ini menjauhinya. Pagar tinggi tersebut dari besi yang berjeruji lancip ujungnya serupa tombak lagi terkunci rapat. Maka teringatlah ia pada Rumah Tuhan. Surau itu lengang dan kosong. Tak lama kemudian terdengar dengkurnya. apalagi kejahatan.menghalaunya. lalu naik ke serambi surau. kebanyakan orang-orang tua. ada juga insan-insan yang baik hati yang berbelas-kasih yang kadangkadang melemparkan uang recehan atau beberapa batang rokok kepadanya. Ia pergi ke kolam untuk mencuci kaki dan membasuh mukanya. Di sampingnya ada sebuah kolam tempat air wudu yang kotor dan bau pesing. lalu melangkah ke dalam surau. sekadar numpang tidur sejenak. karena ada pagar tinggi menghadangnya. Dengan hati sendu dan putus asa. Baru ia tergugah geragapan ketika seruan azan Subuh berkumandang. yang akan melakukan salat subuh berjamaah. sesaat ia tersedak. lari ke kolam mengambil air wudu. Mereka sulit tidur. lebih-lebih warga kota yang selalu sibuk dan bising penuh polusi. Cepat ia bangkit. teringat akan nasibnya yang malang-melintang. Kebanyakan orang.

Serasa ia bermimpi melihat sosok yang aneh berwujud penjaga surau yang kepalanya ubanan. Seakanakan sambil terpejam sempat disaksikannya di ruang matanya lakon kehidupannya yang sedang berputar. Diraupnya tangan penjaga surau itu lalu menciumnya. Hanya Tuhan satu-satunya yang dekat padanya. Lalu menyalaminya dengan akrab seraya berkata. Tak seorang pun peduli. Kepercayaan kepada Tuhan merupakan pelita penerang baginya yang selalu bersamanya dalam kegelapan kehidupannya. Ia tersingkir. Seolah-olah ia sesuatu yang najis dan menjijikkan. menguntitnya ke mana ia pergi dan di mana ia berada. Jika Saudara kehendaki.. Sama sekali tidak terbayang raut kebencian atau kerisihan pada wajah mereka. Sejak waktu itu ia tak usah lagi berkeliaran mencari tempat berteduh. Keluarganya punah. Sesaat dipejamkannya kedua belah matanya. terpencil dan dikucilkan dari arena pergaulan hidup manusia. selalu dipupuknya.. melindunginya dari kegetiran dan kesengsaraan hidup.Selesai salat ia masih duduk bersimpuh khusyuk mengikuti sang imam yang memanjatkan doa ke hadirat Tuhan." jawabnya.. Di tengah kehiruk-pikukan dunia serba fana. "Cukup bagiku Tuhan melihatku. kepasrahan dan ketergantungannya pada kekuasan-Nya. walau angin sejuk berhembus mengipasinya. ia tiba di surau sebelum waktu salat Zuhur. Ia duduk bersandar ke dinding papan. 68 . limpahan karunia kasih sayang-Nya serta ampunan-Nya yang tiada batas akhirnya. Mereka ragu terhadap hikmat pengertian yang telah diberkati. tidak seperti biasanya. "Benarkah Tuhan melihatku?" tanya hati kecilnya. Benar telah dilihatnya keraguan sementara orang. Nasibnya tercabik-cabik di tengah kehidupan kota yang tak berbelas kasih.yang sekaligus membelakangi norma-norma agama. Hartanya musnah. ilusi dan begitu banyak hal indah mempesona telah meninggalkannya. "Saya adalah penjaga surau ini. terutama mereka yang termakan oleh apa disebut kemajuan ilmu pengetahuan. Setiap malam ia langsung pergi ke surau itu untuk beristirahat. Harapan-harapan. berkeliling kota tanpa tujuan. para jamaah sama mengarahkan pandangan mereka nanap kepadanya. Ia yakin lewat pelita penerangnya Tuhan selalu melihat gerak-geriknya. Satu-satunya yang masih tinggal padanya ialah kepercayaannya kepada Tuhan. Sementara asyik memikirkan tentang kehidupan serta kesesatan manusia dalam abad yang kisruh ini --yang disebut abad teknologi-. Bibirnya terkatup tak dapat menyampaikan terima kasih. Mereka hanya memandang sesaat lamanya." Mendapat tawaran yang tak terduga-duga itu hampir ia berjingkrak kegirangan. Saudara boleh beristirahat di sini setiap malam. Sesudah salat Subuh ia meninggalkan surau melakukan kebiasaannya. Agak lama matanya terpejam. Dan ketika salat rampung sudah. Menghapus keringat di jidatnya dan menghela napas panjang. Seorang laki-laki tua yang kepalanya beruban menghampirinya. Keyakinan dan kebesaran-Nya. Suatu ketika. ia mengelana seorang diri. Hidupnya yang hancur berantakan dan porak-poranda.

bahkan di uratnadinya.. dalam hati nurani dan jiwanya. tapi telah keburu sombong dan berlagak. hai pengelana. Di sana segala sesuatu kekal abadi. ketika badai mengamuk dan gempa bumi menggelegar. "Kini.. Sungguh keterlaluan! Padahal ia dapat menemukan Tuhan dalam dirinya. Kedua belah matanya rapat terpejam.Orang tua itu berkata: "Ketahuilah olehmu." Mendengar ajakan itu jiwanya terasa luluh. tapi tidak pernah menemukan tanda-tanda adanya Tuhan. Sebenarnya mereka belum berbuat sesuatu yang berarti. Mereka mengira telah berhasil mencapai ketinggian yang luar biasa. mari kita tinggalkan dunia yang fana ini. dan akan selalu terjadi. orang-orang datang bergerombol ramai-ramai mengerumuni sosok tubuh yang tersandar di dinding papan serambi surau. ketika manusia sama ketakutan. Mereka juga mempelajari sebab-sebab turunnya hujan dan angin topan dan tidak lagi menggubris Tuhan. Padahal mereka masih tetap mengorbit di seputar atmosfir bumi. Ketika saat salat Zuhur tiba. Jiwanya serasa lepas terbang ke sawang lapang tak terbatas. Mereka malah sama sekali belum menyentuh tubir ruang angkasa semesta yang didindingi tujuh lapis langit. "Bukankah di sini kita tidak mendapat tempat yang layak? mari kita pergi menghadap ke hadirat-Nya. Mereka coba mendekati planet Mars. Seorang ilmuwan tersohor muncul dan menyatakan. "Mereka telah mendarat di permukaan bulan.*** 69 . Hal ini tentu telah engkau ketahui. hingga menggigil sekujur sendinya. Ini merupakan masa paling buruk. Tapi ia takkan pernah bangun dari tidurnya. Tapi akhirnya mereka menemukan penangkal petir dan guntur dan mereka tidak lagi merasa takut kepada Tuhan." kata sosok penjaga surau. seolah-olah ia tertidur lelap. bahwa ia telah mempelajari dan meneliti bumi dan langit dari segala segi.. "Belum lama ini. indah sempurna tiada tara. Laki-laki tua yang sering melontarkan kata-kata: "Atur sendiri-sendiri!" telah menghembuskan napasnya terakhir dengan penuh kedamaian di Rumah Tuhan yang sejuk dan damai.

Horison, Juni 2000

Wawancara dengan Sinterklas Sebuah Renungan Sebelum Hari Natal

70

Oleh: Erich Kästner ( 1899 - 1974 )

Bel pintu sudah berbunyi lagi. Yang kesembilan kalinya dalam satu jam terakhir ini! Hari ini, begitulah tampaknya, para pencinta tombol bel pada berkeliaran di jalanan. Dengan murung aku merangkak menuju pintu dan membukanya. Bayangkan, siapa yang berdiri di luar? Sinterklas pribadi! Dalam pakaian kebesarannya yang bersejarah dan terkenal itu. "Oh," kataku. "Sinterklas yang terburu-buru!" "Yang kudus, kalau saya boleh minta." Nadanya sedikit tersinggung. "Ketika masih muda aku selalu menyebut Anda sebagai Sinterklas yang terburu-buru. Aku pikir itu lebih masuk akal." "Jadi, Andalah orangnya?" "Anda masih ingat hal itu?" "Tentu saja! Anak laki-laki kecil yang lucu, begitulah Anda waktu itu!" "Sekarang pun aku masih tetap kecil." "Dan sekarang Anda tinggal di sini?" "Betul sekali." Kami tersenyum pasrah dan mengenang masa-masa yang telah berlalu. "Mampirlah sebentar!" pintaku. "Marilah minum secangkir kopi bersamaku!" Jujur saja, sebenarnya aku merasa kasihan kepadanya. Apa yang harus kukatakan? Dia tidak pergi. Dia berkenan untuk singgah. Pertama-tama dia membersihkan sepatu botnya di keset depan pintu, lalu meletakkan karungnya di

samping gantungan mantel, menggantungkan ranting pelecutnya di sebuah gantungan, dan akhirnya dia minum kopi bersamaku di kamar tamu. "Anda mau cerutu?" "Aku tidak akan menolaknya." Kuambil kotak cerutu. Dia mengambil sebatang. Aku memberinya api. Lalu dengan bantuan sepatu bot yang kiri dia melepaskan sepatu botnya yang kanan dan menghembuskan nafas dengan lega. "Ini gara-gara ganjalan untuk telapak kakiku yang rata. Ganjalan ini sama sekali tidak nyaman." "Kasihan sekali Anda! Apalagi dengan pekerjaan Anda yang seperti itu." "Tetapi dibandingkan dulu, sekarang hanya ada sedikit pekerjaan. Dan itu baik untuk kakiku. Sekarang sinterklas-sinterklas palsu itu tumbuh seperti jamur saja layaknya." "Suatu hari anak-anak akan berpikir bahwa Anda, Sinterklas yang asli, sama sekali tak ada lagi." "Itu juga betul! Orang-orang itu merusak pekerjaanku! Kebanyakan dari mereka yang memakai mantel bulu, memakai jenggot dan meniruku itu, tidak mempunyai bakat barang sedikit pun! Mereka adalah orang-orang yang tidak profesional!" "Karena kita sedang berbicara tentang pekerjaan Anda," kataku, "aku punya pertanyaan kepada Anda, pertanyaan yang sudah sejak masa kecilku menyibukkanku. Dulu aku tidak berani bertanya. Tetapi sekarang aku sudah lebih berani karena aku menjadi wartawan." "Tidak apa-apa," katanya dan menambah kopi lagi. "Apa yang Anda sudah ingin tahu sejak waktu kecil?" "Begini," aku memulai dengan ragu-ragu, "pekerjaan Anda itu sebenarnya sejenis bisnis musiman yang tidak tetap, bukan? Pada bulan Desember, Anda punya banyak sekali pekerjaan. Semuanya bertumpuk hanya pada beberapa minggu saja. Pekerjaan itu bisa disebut sebagai bisnis dadakan. Lalu..." "Hm?" "Lalu, aku benar-benar ingin tahu, apa yang Anda kerjakan pada bulan-bulan lainnya!" Sinterklas tua yang baik itu memandangku dengan terpana. Kelihatannya, tidak ada seorang pun yang pernah mengajukan pertanyaan yang begitu mudah dimengerti itu kepadanya. "Kalau Anda tak mau membicarakannya... ." "Mau, mau kok," katanya dengan suara seperti menggeram. "Kenapa tidak?" Dia minum seteguk kopi dan mengepulkan asap rokok berbentuk lingkaran. "Pada bulan November, tentu saja aku sibuk dengan pengadaan bahan-bahan. Di beberapa negara tiba-tiba tidak ada coklat lagi. Tak seorang pun tahu mengapa. Atau apel ditimbun oleh para petani. Lalu segala macam masalah dengan pemeriksaan bea cukai. Dan setumpuk dokumen untuk

71

transportasi barang-barang. Dan kalau berjalan seperti itu terus, nanti aku harus memulainya sejak bulan Oktober. Sebetulnya, sampai sekarang pada bulan Oktober aku menarik diri dan dengan tenang membiarkan janggutku tumbuh." "Anda hanya berjanggut dalam musim dingin saja?" "Tentu saja. Aku `kan tidak bisa sepanjang tahun pergi ke sana-ke mari sebagai Sinterklas. Anda pikir, aku memakai mantel buluku terus menerus? Dan selama 365 hari menyeret-nyeret karung dan ranting pelecutku ke mana-mana? Nah, begitulah. Di bulan Januari aku membereskan pembukuan. Sungguh mengerikan. Dari abad ke abad, Hari Natal menjadi semakin mahal!" "Tentu saja." "Lalu, aku membaca surat-surat yang datang pada bulan Desember. Terutama surat dari anak-anak. Pekerjaan yang sungguh memakan waktu, tetapi penting. Karena kalau tidak, kontak dengan langganan akan terputus." "Logis." "Awal Februari aku pergi ke tukang cukur untuk mencukur jenggotku." Pada saat itu, bel pintu berbunyi lagi. "Permisi ya?" Dia mengangguk. Di luar, di depan pintu, berdiri seorang pedagang keliling dengan kartu pos bergambar yang berwarna-warni mencolok mata, dan dia bercerita tentang sebuah kisah yang sangat panjang dan sangat menyedihkan. Bagian pertama dari kisahnya itu kudengarkan dengan tabah sambil "menahan sakit" pada kupingku. Lantas aku memberinya uang kecil yang ada dalam saku celanaku, dan kami saling mengucapkan selamat juga untuk masa depan kami. Walaupun aku sudah berkeras menolaknya, dia tetap memaksakan setengah lusin dari kartu-kartu posnya yang mengerikan itu kepadaku. Dia, katanya, bagaimanapun bukanlah seorang pengemis. Aku menghormati harga dirinya yang indah itu dan mengalah. Akhirnya dia pergi. Ketika aku kembali ke kamar tamu, Sinterklas sedang mengenakan sepatu bot kanannya sambil merintih. "Aku harus meneruskan perjalanan," katanya, "kakiku toh tidak bertambah baik. Apa itu yang Anda pegang?" "Kartu pos. Seorang pedagang keliling memaksaku untuk menerimanya." "Sini, berikan kepadaku. Aku tahu orang yang mau menerimanya. Terima kasih banyak untuk keramahan Anda. Kalau saja aku bukan Sinterklas, aku pasti akan iri kepada Anda." Kami berjalan ke koridor, di mana dia mengambil perlengkapannya. "Sayang," kataku. "Anda masih berhutang kelanjutan kisah hidup Anda." Dia mengangkat bahu. "Sebetulnya tidak banyak yang banyak bisa diceritakan. Pada bulan Februari aku mengurus pesta karnaval anak-anak. Setelah itu, berkeliling di pasar saat musim semi. Berjualan balon dan mainan mekanik murah. Pada musim panas aku menjadi pengawas kolam renang dan memberi kursus berenang. Kadang-kadang aku pun berjualan es krim di jalan. Ya, dan setelah itu musim gugur datang lagi - sekarang aku benar-benar harus pergi."

72

Kami berjabatan tangan. Dari jendela, pandanganku mengikutinya. Dia berjalan di salju dengan langkah lebar dan tergesa-gesa. Di pojok Jalan Unger, seorang lelaki menantinya. Orang itu mirip si pedagang keliling yang banyak omong dengan kartu posnya yang konyol itu. Mereka berdua membelok di tikungan sudut jalan. Atau mungkin aku keliru? Seperempat jam kemudian bel sudah berbunyi lagi. Kali ini yang muncul adalah anak muda pesuruh toko makanan Zimmermann Söhne. Sebuah kunjungan yang menyenangkan! Aku akan membayar, tetapi dompetku tak kutemukan dengan segera. "Kan masih ada waktu, Pak Doktor," katanya dengan nada kebapakan. "Aku yakin bahwa aku meletakkannya di atas meja tulis!" kataku. "Baiklah, kalau begitu akan kubayar besok saja. Tapi tunggulah sebentar, saya ambilkan sebuah cerutu istimewa untuk Anda!" Kotak cerutu itu pun tak segera kutemukan. Itu artinya, nanti pun tak akan kutemukan. Tidak cerutu. Tidak juga dompet. Tempat rokok dari perak pun tidak bisa kutemukan. Dan kancing-kancing manset dengan batu bulan yang besar-besar dan mutiara-mutiara untuk jas berekor pun tak ada, baik di tempatnya atau pun di tempat lain. Setidaknya, tidak di rumahku. Aku tidak bisa menerangkan, ke mana barang-barang itu menghilang. Tetapi bagaimanapun, malam ini adalah malam yang tenang dan indah. Bel pintu tak berbunyi lagi. Sungguh, sebuah malam yang baik. Hanya saja, ada sesuatu yang kurang. Tetapi apa? Sebatang cerutu? Tentu saja! Untunglah geretan emas itu pun tidak ada lagi. Karena kalau ada, walaupun aku seorang yang tenang, aku harus mengakui: punya api, tapi tak punya rokok, itu bisa merusak seluruh malam!***

73

Kisah-kisah dari Buku Bacaan Wolfgang Borchert ( 1921 - 1947 )

Judul asli: "Lesebuchgeschichte". Diterjemahkan oleh Kelompok Kerja Penerjemahan Sastra Jerman, Jurusan Bahasa Indonesia, Seminar fuer Orientalische Sprachen (Seminar untuk Bahasa-bahasa Timur) Universitas Bonn (Silke Brand, Britta Debus, Helgard Haas, Birgit Lattenkamp, Klaus Mundt, di bawah bimbingan Dewi Noviami)

"Semua orang sudah mempunyai mesin jahit, radio, lemari es dan telepon. Bikin apa kita sekarang?" tanya Pemilik Pabrik. "Bom," kata Penemu. "Perang," kata Jenderal "Kalau tak ada pilihan lain," kata Pemilik Pabrik.

seribu orang bisa terbunuh dalam waktu dua jam." "Dengan ubin hijau. Lalu dia membuka jas kerja putihnya dan selama satu jam merawat bunga yang ada di ambang jendela." "Empat ribu? Baiklah. " "Empat ribu. Dan kertas." Kedua laki-laki itu berpisah.Lelaki dengan jas kerja putih menulis angka di atas kertas. 74 *** Dua laki-laki bercakap-cakap. Ya." "Dan saya tidak dapat memberi Anda kamar mandi." "Dengan ubin hijau. Mereka adalah seorang pemilik pabrik dan seorang pengusaha bangunan. Dan di atas kertas ada angka-angka. Ketika dia melihat sekuntum bunga mati. *** . "Ongkosnya?" "Dengan ubin?" "Dengan ubin hijau. Saat itu zaman perang. jika saja saya tidak mengubah coklat menjadi mesiu pada waktu yang tepat. Matahari menyinari bunga. saya tak akan mampu memberi Anda uang empat ribu ini. dia sedih sekali dan menangis. Dia menambahkan hurufhuruf yang sangat kecil dan halus. Kemudian hanya dengan setengah gram. tentu. Sobat.

"Nah. Sangat mengharukan. Mengingatkan pada Langemarck. berpakaian hitam-hitam. Ada upacara. seribu." "Anda masih punya berapa?" "Kalau lancar: empat ribu. "Nah. 75 *** Dua laki-laki bercakap-cakap. Membacakan Hölderlin. Mereka berbicara tentang manusia. Pak Guru. berhentilah. gada-gada kecil berjatuhan. Sangat mengharukan. Dia mengambil bola baru dan menggelindingkannya di atas lintasan.Lintasan boling. Banyak mata bersinar. Menyampaikan beberapa istilah: kehormatan." Pak Guru memandang yang lain dengan ngeri. Kelihatannya seperti lelaki-lelaki kecil. Menyeramkan." "Terimakasih. Lalu." "Jadi. sedang berkabung?" "Sama sekali tidak. Menimbulkan gemuruh halus." "Demi Tuhan." "Pasti akan habis. Banyak salib kecil. di belakang. Para pemuda maju ke garis depan. Dia bangkit dan tertawa.… Sama sekali tidak. tanah air. . Dua laki-laki bercakap-cakap. Berpidato pendek. Ingat Sparta. Sambil bercerita dia menggambar banyak salib kecil di atas kertas. Saat itu adalah zaman perang. bagaimana?" "Tidak begitu sukses. Mengutip Clausewitz. Pak Guru." "Berapa Anda bisa memberi saya?" "Paling banyak delapan ratus. Mereka adalah para jenderal.' Kedua laki-laki itu berpisah. Para pemuda bernyanyi: Tuhan yang memberi senjata. Upacara yang mengharukan. Mengharukan.

Pada waktu itu dia melihat seorang yang punya roti. Ketika mereka sedang menembak. "Kamu tidak boleh membunuh. perempuan itu menamparnya." "Berapa umurmu?" "Delapan belas. Yang satu rubuh. Para menteri itu mengambil senjata dan menembak lelaki-lelaki kecil dari karton. Mereka adalah prajurit. "Kenapa tidak. . Tuan?" seru gadis-gadis berbibir merah. Ketika perang berakhir. seorang perempuan tua datang dan mengambil senjata mereka." Kedua laki-laki itu berpisah. Tapi dia tidak punya roti. Dia mati. Orang itu dibunuhnya. para menteri jalan-jalan di kota." tanya Prajurit. Pada waktu itu mereka melewati sebuah stand menembak. Ketika salah seorang menteri meminta kembali senjatanya. Dan kamu?" "Sama. Saat itu adalah zaman perang. 76 *** Ketika konferensi perdamaian berakhir.*** Dua laki-laki bercakap-cakap. prajurit itu pulang ke rumah. "Sukarelawan?" "Tentu." kata Hakim. "Mau menembak.

Waktu mereka berdampingan. Waktu mereka dua puluh dua tahun. Tanahnya sama.Dia adalah seorang ibu. Semuanya tanah yang sama. Waktu mereka berumur dua tahun. mereka saling melempar bom. Lumut dan laut dan nyamuk-nyamuk: Semuanya masih tetap yang sama. dia mengamati dengan tenang: Pohon-pohon masih tetap pohon-pohon. Dan anjing-anjing masih mengangkat kakinya. mereka menggunakan bakteri. mereka saling memukul dengan tangan. Burung-burung gagak masih menggaok. mereka saling memukul dengan tongkat dan saling melempar batu. *** Pada suatu ketika ada dua manusia. mereka mati. Jurusan Bahasa Indonesia. Ikan-ikan kecil dan bintang-bintang. seekor cacing tanah makan di kuburan mereka. Ketika tahun 5000 seekor tikus mondok muncul dari tanah. Waktu mereka empat puluh dua tahun. Diterjemahkan oleh Kelompok Kerja Penerjemahan Sastra Jerman. Waktu mereka enam puluh dua tahun.*** Judul asli: "Interview mit einem Weihnachtsmann". Mereka dikuburkan 77 Ketika seratus tahun berlalu. mereka saling menembak dengan senjata. Waktu mereka dua belas tahun. delapan puluh dua tahun. Cacing tanah itu sama sekali tidak merasakan bahwa di situ dua manusia yang berbeda dikuburkan. Dan kadang-kadang kadang-kadang seorang manusia bisa dijumpai. Seminar fuer Orientalische Sprachen (Seminar untuk Bahasa- .

Beate Meik. Birgit Lattenkamp. di bawah bimbingan Dewi Noviami). 78 .bahasa Timur) Universitas Bonn (Silke Brand.

Kelihatan betul bahwa keduanya sangat berusaha memperlihatkan sopan santun dan daya pikat mereka masing-masing. tidak lama kemudian juga Juenger turut menyanyikan lagu yang melodinya sangat sedih dan mencekam. ) 79 1914 Akhirnya. Tamu-tamu kehormatanku—keduanya saksi zaman dan pelaku sejarah—berbincang-bincang sambil beradu pengetahuan tentang jenis-jenis anggur yang dihasilkan di Swiss: Remarque memuji berbagai jenis anggur yang berasal dari daerah Tessin. Keduanya masih mengetahui larik-larik yang mengakhiri tiap bait: “Flandern in Not. Kemudian keduanya memandang ke arah gereja Grossmuenster.. sedangkan Juenger lebih suka welsche Dole.. dalam waktu beberapa hari dan hampir bersamaan datang dua surat jawaban yang menyatakan bahwa undangan saya diterima. Usaha mereka “uff Sehwyzerduetsch zu schwaetze” amat lucu.. apalagi saya warga negara Swiss suatu negara yang netral. Pada pertemuan pertama. yaitu daerah yang dulu diperebutkan dengan sengit. puncakpuncak menara gereja itu menjulang tinggi di atas rumah-rumah penduduk kawasan Schiffslaende. . mungkin surat-surat saya didengar sebagai ketukan takut-takut lembut di pintu. Saya telah memesan kamar-kamar yang tenang di hotel “Zum Storchen”. sesudah berjalan kaki mendaki bukit Vogesen menuju ke Hartmannsweilerkopf. akan tetapi sekaligus menyusahkan. Ia jelas kelihatan sebagai seorang yang menikmati kesenangan hidup. tampaknya lebih tua dan lemah daripada Juenger yang kelihatan gagah meskipun baru saja telah melampaui usia tujuh puluhan dan menampilkan diri sebagai seorang suka olah raga. dengan banyak pertumpahan darah. percakapan mereka sangat kaku dan tersendat. Karena tinggal di daerah Wuerttemberg. setelah dua rekan di lembaga penelitian kami sudah berulang kali dan sia-sia berusaha. Meskipun saya menggambarkan garis besar rencana penelitian kami hanya sesuai ketentuan umum. Mungkin saya lebih beruntung karena saya perempuan dan masih muda. pada pertengahan tahun enam puluhan saya berhasil menggugah kedua pengarang lanjut usia itu —Juenger dan Remarque— agar mau bertemu. pertama-tama Remarque mulai bersenandung. Namun. Biasanya kami duduk-duduk di serambi restoran roti dan kue. in Flandern reitet der Tod” (“Flandern dilanda bahaya. Perihal kedua tokoh mengesankan yang sudah “is bitzeli fossil” inilah saya beritakan kepada rekan-rekan di lembaga penelitian. sambil memandang sungai Limnat. balai kota dan hotel “Zum Rueden”.Abadku Oleh: Günter Grass ( 1927 . Juenger datang liwat kota Basel. ketika saya mengutip awal sebuah lagu yang selama Perang Dunia I sering dinyanyikan dan tidak diketahui penciptanya. di Flandern maut merajalela”). Remarque—waktu itu usianya enam puluh tujuh tahun—datang dari arah kota Locarno. yaitu “Flandrischer Totentanz”.

seperti Remarque sendiri. banyak murid sekolah menengah umum ramai-ramai mendaftarkan diri sebagai tentara sukarela. melainkan pengalaman di garis depan dari suatu generasi yang diperalat. kopelrim dan selongsong peluru yang berasal dari pertempuran tahun empat belas. Anda tetap berpetualang seperti preman bajingan.Sesudah perenungan beberapa saat diselingi dehem-mendehem. Dan mereka yang kembali. Dari tiap dua orang. juga. dengan sangat teliti. ia sudah sangat ingin mengalami keadaan bahaya dan sangat tertarik pada petualangan-petualangan luar biasa dan “bahkan ingin masuk Legiun Asing Prancis”. “Dalam Stahlgewittern. kata Remarque. Remarque mulai bercerita bahwa pada musim gugur tahun empat belas ia masih di bangku sekolah di kota Osnabrueck. Menjelang akhir pertemuan pertama—kedua pengarang itu masing-masing telah menghabiskan sebotol anggur merah—Juenger berbicara tentang Flandern lagi: “Ketika dua tahun kemudian kami masuk ke dalam parit-parit di garis depan daerah Langemarck. Setidak-tidaknya Remarque memandang dirinya sendiri sebagai “mayat hidup”. yang mengabarkan bahwa berondongan tembakan senapan mesin dari pihak Inggris dibalas sambil menyanyikan lagu kebangsaan*. bahwa gaya penulisan mereka berlawanan. Meskipun perang itu kemudian membawa penderitaan.” Kedua pengarang tua itu memang tidak mulai berselisih. bahkan dalam novel Im Westen nichts Neues—novel pertama Anda yang memang hebat—Anda bercerita penuh perasaan dan gejolak batin tentang persahabatan sehidup semati di antara para prajurit. meskipun Juenger menamakan kultus kepahlawanan Langemarck “bualan kaum nasionalis”. Akui sajalah. yang lain menuntut dimengerti dan dipahami sebagai “anarkis”. yang tidak berkesempatan masuk sekolah menengah umum. bahwa legenda kepahlawanan di Langemarck. Juenger sambil tersenyum halus menceritakan beberapa pengalaman masa sekolah kepada Remarque. “Omong kosong!” teriak Remarque. Kalau yang satu masih tetap memandang dirinya sebagai seorang “pencinta damai yang tidak dapat berubah ataupun diubah”. satu tidak kembali. pertempuran sebagai pengalaman jiwa tetap memikat saya. Remarque. sampai serangan terakhir yang diperintahkan Ludendorff. kami menemukan senapan. “Dinas di rumah sakit tentara sudah cukup sebagai sumber ilham saya. Bahkan juga Pickelhauben ditemukan. sampai sekarang hancur jiwa raganya. dan bahwa juga titik tolak mereka berlainan. ia mengakui juga bahwa lama sebelum permulaan perang. Lalu ia melanjutkan: “Ketika akhirnya perang meletus. juga karena disemangati oleh para guru. bahkan sampai pada hari-hari terakhir sebagai komandan pasukantempur. kami merasa dilebur menjadi satu kekuatan besar. Tanpa pikir panjang dan tanpa rasa bersalah Anda telah mengerahkan satu pasukan tempur. hanya guna menangkap satu-dua orang musuh—sekedar untuk melampiaskan nafsu sadis dan sekaligus guna menjarah sebotol Cognac!” Namun kemudian ia mengakui bahwa di buku hariannya Juenger telah menggambarkan pertempuran parit. memberi kesan yang sangat mendalam kepadanya. perlengkapan tentara sukarela yang dalam kekuatan resimen telah maju ke garis depan …” 80 1915 . isinya bukan kumpulan pengalaman pribadi. akan tetapi mereka menekankan bahwa pandangan mereka mengenai perang berbeda. Barangkali sebab itu.” Novel ini. bahkan juga ciri-ciri pertempuran yang membawa banyak korban dan kerugian itu. ketika dekat Bixschoote dan Ypern terjadi pertempuran seru yang mengakibatkan pertumpahan darah habis-habisan di pihak resimen-resimen tentara sukarela Jerman.

“buku itu laris. Kemudian saya berhasil mengalihkan pembicaraan ke perang parit di Flandern dan di tanah kapur daerah Champagne. karena bagian depan helm itu harus memberi perlindungan sampai ke ujung hidung. terletak di atas meja marmer di antara roti croissant dan keju.” Sanggahan saya “Untung helm kami tidak terpaksa diuji coba dalam pertempuranpertempuran yang membawa pengorbanan dahsyat dan kerugian besar seperti yang Anda gambarkan dengan kekuatan bahasa yang begitu meyakinkan” diabaikannya. Remarque.Pertemuan berikutnya berlangsung di Odeon. Mulai enam belas Februari semua divisi di garis depan memakai helm baja. sambil meletakkan beberapa bagian peta medan perang di meja yang sudah agak kosong setelah perangkat sarapan pagi disingkirkan. Kami berlomba dengan orang Prancis yang juga mulai memakai helm baja. Di sinilah dulu Lenin menunggu keberangkatannya ke Rusia —perjalanan yang dikawal tentara kekaisaran Jerman— sambil membaca-baca Neue Zuercher Zeitung dan surat kabar lain serta diam-diam merencanakan revolusi. Semua pasukan di depan kota Verdun dan di pinggir sungai Somme mendapat prioritas. Namun Im Westen nichts Neues tiras penerbitannya jauh lebih tinggi daripada In Stahlgewittern. sebuah kafe yang sejak dulu sudah terkenal. Karena Krupp tidak mampu menemukan campuran logam yang cocok untuk menghasilkan baja anti karat. Andaikan Anda tahu. Remarque! Pelindung kepala itu dalam divisi kami di garis depan sudah sejak lima belas Juni diganti dengan helm baja. berkurang satu orang. melainkan seputar masa lalu. Setiap tembakan jitu. bahkan juga penyangga yang diberi lubang ventilasi. Lalu ia mengeluh tentang hambatan penglihatan di waktu pertempuran parit. sedangkan madah perang karangan Anda jelas tidak pernah terhambat penerbitannya. pertama-tama kedua tamu saya sepakat bahwa pertemuan ini akan dimulai dengan sarapan pagi yang disertai minuman anggur. yang sudah tidak dipakai lagi ketika Anda jadi tentara. antara lain pabrik besi Thale. Disetujui pula bahwa saya diizinkan minum air jeruk. terjemahannya ke dalam beberapa bahasa asing mengalami nasib yang sama. pada dasarnya mengikuti model helm baja kami. Seakan-akan menjadi saksi. Setiap pecahan peluru tembus. Juga Schweizerhelm yang sampai sekarang dipakai militer. sehingga selama dua belas tahun terpaksa berhenti beredar di pasaran buku Jerman. meskipun bentuknya agak diubah. Padahal buku saya dalam tahun 1933 termasuk buku yang dibakar secara resmi. Helm baja itu hasil percobaan seorang kapten arteleri bernama Schwerd setelah percobaan-percobaan sebelumnya tidak memberi hasil yang memuaskan. 81 . “Betul.” kata Remarque. Ketika serangan dan pertahanan di pinggir sungai Somme mulai diperbincangkan. yang berada di front Timur terpaksa palinglama menunggu. berapa banyak korban jiwa telah jatuh karena helm kulit yang tidak ada gunanya itu. kedua buku yang pernah menyulut perdebatan sengit antara kubu pro dan kontra perang. perusahaan-perusahaan lain yang mendapat ordernya. Sebaliknya pikiran kami bertiga bukan mengenai masa depan. sampai ke bagian yang mencuat ke belakang guna melindungi tengkuk dan lapisan dalam berupa bantalan berisi rambut kuda atau terbuat dari campuran wol dan serat-serat lain yang dipres. Juenger langsung melontarkan sebuah kata yang tidak lepas dari pembicaraan selanjutnya: “Pickelhaube yang amat menjengkelkan ini. hal itu disebabkan oleh lebarnya bagian dahi yang mencuat ke depan. mulai dari proses anti karat yang menghasilkan permukaan luar yang kusam berwarna kelabu.” Juenger tidak menjawab. Namun. Selanjutnya Juenger menghujani Remarque dengan berbagai keterangan rinci. apalagi dalam pertempuran parit! Bahkan karena kekurangan kulit. bahannya kadang-kadang diganti dengan bahan campuran wol dan serat lain yang dipres. Remarque sengaja tetap membisu.” Kemudian ia berbicara langsung kepada saya.

mestinya Anda ketahui juga. sesudah itu M 17. Saya.” Setelah agak lama tidak ada yang berbicara—kedua pengarang itu sedang menikmati Pfluemli dan kopi hitam—akhirnya Remarque mengatakan: “Helm baja jenis M 16.. si none. Wajah-wajah mereka yang masih lugu seperti anak sama sekali tertutup oleh helm itu. Lucu dan memelas sekaligus. yang tinggal kelihatan cuma bibir mereka yang meringis ketakutan dan dagu mereka yang gemetar. topi baja yang hebat ini sangat mengganggu.sutera lagi lapisan dalamnya!” Lalu ia teringat pada sesuatu yang dianggapnya lucu: “O ya. hampir pipih. Meskipun harus diakui sebagai tindakan ceroboh. saya lebih suka memakai peci letnan saya yang sudah tua .” Ia memanggil pelayan dan memesan Pfluemli lagi.. Juenger juga. Melorot terus. 82 . . jauh terlalu besar untuk pasukan pengganti yang terdiri dari prajurit-prajurit muda yang baru direkrut dan yang kadang-kadang bahkan belum selesai dilatih. sebuah helm Inggris yang bentuknya sama sekali lain. ada lubang bekas peluru tentu.*** Diterjemahkan oleh Dewi Noviami.“Nah. Bahwa peluru yang ditembakkan oleh pasukan infanteri dan bahkan pecahan-pecahan kecil peluru meriam tetap menembus topi baja itu. Anda tentu tahu bahwa pada saat-saat manuver selama serangan gempur. di meja tulis saya ada kenangkenangan. dipesankan air jeruk yang baru diperas segelas lagi.

sialan!" Peralatan kopelrimnya." "Ya. dengan muka selalu menghadap ke . Gerhard. "Idiot." kata Gerhard. "atau kusimpankan sampai besok pagi?" Dari nada suaranya. si orang baru berdiri di samping sambil menggigil dan membisu. "orang baru yang menggantikan Gornizek . Aku berdiri di depan." kataku. Sang Calo Oleh: Heinrich Böll (1917 . dan bagaimana dia kemudian mengaitkan kopelrimnya lagi. Di dalamnya ada banyak potongan-potongan daging empuk yang kukunyah dengan nikmat. melepaskan kopelrimnya. sekop dan masker gas berdentingan dengan bodohnya. adalah hal yang biasa mengirim orang baru ke pos yang tersulit. juga ke arah depan yang gelap dan sunyi.1985) 83 Bersama petugas pengantar makanan.Jak. di mana orang-orang Rusia berada. "jangan terlalu keras. semuanya akan segera kumakan. dialah yang mengantarkan orang itu. dan bagus juga bahwa dalam kegelapan aku tidak bisa melihat ulat-ulat yang keluar dari buncis waktu dimasak. kemudian roti kutekan-tekankan pada rantang yang sudah kosong. begitu saja dari kertas pembungkusnya. Lebih dengan pendengaranku daripada dengan penglihatan.. Sop buncis sudah dingin. Malam-malam itu begitu gelap dan rasa takut seperti hujan badai berguntur di bumi yang muram dan asing. aku tahu bahwa dia terburu-buru untuk kembali ke pos komando. ke mari.." kataku perlahan. di pos komando. . "Ini.. dia datang pada malam hari untuk menggantikan Gornizek yang berjaga di belakang. "Ayo. Orang itu berdiri dengan sangat membisu di sampingku. Dengan canggung dia masuk ke lobang perlindungan dan hampir saja menyenggol rantang makanku. . sebungkus permen Drops dan lemak mentega dalam kertas karton.." kataku. "Tidak usah." gumamku dan bergeser untuk memberinya tempat. di pos pengintaian. dan selain membawa peralatan makan. "Dan ini. "Kau mau roti ini juga?" tanya Gerhard. masker gas di sebelahnya dan pada tanggul lobang perlindungan diletangkannya senapan teracung ke arah musuh. sesuai dengan aturan. meloloskan lalu meletakkan sekopnya ke samping. aku tahu bagaimana dia.. dan mendengarkan ke arah belakang di mana terdengar suarasuara yang ditimbulkan petugas pengantar makanan itu." Dia menyerahkan roti dan daging kalengan dalam bungkusan kertas minyak. Gerhard kemudian menyelinap kembali ke pos komando.. "kemarikan. dia pun membawa rokok. Letnan mengirim dia kepadamu. untuk pos pengintaian." Selama itu. Dan daging kalengan itu pun kumakan.

" kataku pelan-pelan. dia membiarkan beberapa tegukan tertelan." bisiknya. Tekanan yang bisa dimengerti orang dengan baik tapi hampir tidak bisa terdengar dalam jarak satu meter. "Saudara merahku. Winnetou. lalu dia bergidik dengan keras sampai-sampai aku harus melepaskannya. "Terima kasih.. Suara yang rapuh seperti seorang penyanyi tenor yang sentimental. "Duduklah yang tenang. "Kemari.. "kan tidak boleh duduk." tampaknya itulah yang selalu mereka ucapkan. helm bajanya hampir seperti tameng punggung seekor kura-kura.sabar seperti seekor anak sapi yang mendapatkan botol pertamanya. Orang yang masih sangat muda itu punya sesuatu yang sangat khas pada tengkuknya yang mengingatkan pada permainan perang-perangan di sebuah lapangan di pinggiran kota." "Tak ada yang boleh." tambahku sambil menarik pinggiran mantelnya dan dengan setengah memaksanya untuk menduduki bangku. "Kamu mau merokok juga?" "Tidak. Aku membungkuk." "Tapi di pos." Walaupun aku hanya bisa melihat siluetnya." "Kalau begitu." Dia mengambil botol dari tanganku dan meneguk dengan baik." gumamnya.. tapi aku tahu bahwa dia duduk seperti seorang prajurit baru di sebuah kelas. menarik kerah mantel tinggi-tinggi sampai menutupi tengkuk dan menyalakan pipa rokok. "tapi aku tersedak. minum sendiri." kata sebuah suara yang lemah. "Diam!" aku membentaknya. tapi aku memegang kepalanya dan menyorongkan leher botol ke mulutnya . tangan di lutut. "minum seteguk. terlihat dari tengkuknya bahwa dia masih muda. 84 ." Aku heran bahwa dia sudah bisa berbisik dengan baik. sangat tegak dan setiap detik siap meloncat berdiri mengambil sikap siap seperti orang sinting. "Tidak enak?" "Enak." katanya lagi." "Tidak.. . "Bagaimanapun kamu kan tidak bisa terus-terusan berdiri. Anak-anak muda yang malang itu . dengan tekanan yang sudah kupelajari dengan susah payah." katanya menggagap. Bibir mereka gemetar karena takut dan hati mereka keras karena berani. dan jika dia menoleh ke samping. "Sini." kataku. juga tidak boleh memulai peperangan.musuh. dan dalam kegelapan aku melihat sebuah profil. "Di pos.

tapi aku bisa mencium baunya. Dia sangat . "selalu malah. aku merasakannya. lalu ruang penyimpanan pakaian lagi.. Ah.. Dia menyebarkan bau ruang penyimpanan pakaian. kalau saja hari menjadi siang. tampaknya mereka telah selesai dengan pembagian makanan. kalau saja bisa melihat sesuatu. bau keringat.. "Ini untuk yang pertama kalinya bertugas di luar?" Dia malu lagi." "Tidak begitu takut lagi.. tapi memang begitulah mereka semua." Kami diam beberapa saat." "Sudah berapa lama jadi tentara?" "Delapan minggu." "Dari mana?" "St. kamu tahu.. Tapi aku tak melihat apapun kecuali sinar kilatan matanya yang menurutku tampak berbahaya. Di kejauhan terdengar derum halus motor kendaraan. "Sekarang lebih baik.. kan?" Dia malu untuk mengakui bahwa tadi dia ketakutan.. Tetapi kalau terang.. Juga orang-orang Rusia itu mendapatkan makanan mereka." Aku merasakan bagaimana dia berpaling dengan cepat ke arahku. jauh lebih baik .. dan hanya siluetnya yang buram dan gelap. Di bagian depan tidak ada apapun.. sangat diam. tapi lalu dia berkata: "Ya.. setidaknya remang-remang atau berkabut. agak terang. oleh sebab itu aku mencari keberanian dari botol ini. aku pasti akan berpikir: kalau saja gelap. Avold. di 85 . dan aku membungkuk ke arahnya untuk dapat melihat parasnya." "Berapa lama di perjalanan?" "Empat belas hari. juga di pos komando di belakang kami. atau kalau saja tiba-tiba kabut datang. Dia menoleh lagi ke arah musuh. juga sedikit berbau minuman keras. lalu sisa-sisa sop. selalu begitu. sedikitnya sesuatu. pikirku. Lothringen.. Di suatu tempat..Aku pun minum." "Kalian datang dari mana?" "Dari St. melihat sesuatu. "Aku juga takut. dan dengan pandanganku aku berusaha untuk menembus kegelapan yang meliputi di depan kami. Avold... .." kataku karenanya. kalau saja sedikitnya remang-remang. kan?" "Ya .

lalu aku mendengar suara yang mengerikan: giginya bergemelutuk. "pos pengintaian. "Tapi mereka tidak datang. mengerti? Tapi kalau yang datang hanya beberapa orang saja. menembaknembak sedikit dengan senapan kita lalu pergi." Dia diam lagi." "Tapi kan itu sudah terlambat?" 86 . Aku paling senang kalau bisa meraung... "Bagus. paling-paling pagi hari. Lalu kita menembakkan peluru asap merah. kita pasti melihatnya. untuk mengekang suaraku." katanya dengan suara bergetar. terdengar suara kicauan orang Rusia yang sekonyong-konyong tertahan." gagapnya." omongku terus. betapa baiknya dia bisa berbisik. Betapa indahnya mendengar nafas seorang manusia. supaya bisa melihat.. kepada Letnan. untukku hal itu melelahkan dan bikin sinting. "Kalau . kan?" "Ya." "Dan kalau kita mencurigai sesuatu. betapa indahnya bahwa aku tidak sendirian lagi. artinya mereka sampai di sini ketika hari mulai menjadi terang. dan suaranya bergetar lagi. "Dua menit sebelum fajar mereka mulai jalan. berteriak atau berseru sehingga malam membuyar seperti busa hitam." katanya... Tetapi itu bukan apa-apa. Ah. Kamu sudah bertemu dia.... sungguh mengerikan bahwa dia tidak sekalipun memulai percakapan. Tapi tenang. bau seorang manusia yang kita tahu bahwa dalam detik berikutnya dia tidak berniat membunuh kita.. mengerti? Kita tidak boleh lari dari pasukan pengintai.. "pos pengintaian. kemudian salah seorang dari kita harus ada yang balik ke belakang dan memberitahukan kepada yang lain. ini kalau .. mengerti kan?" "Ya. sampai mampus. membuat suara gemuruh atau berteriak histeris. ke pos komando." Lagi-lagi aku heran. "Bagus dan kalau pasukan pengintai itu menyerang kita. merasakan bau apeknya. bolehkah kita menembakkan roket isyarat. menyerang." katanya. mendengarnya. Berbisik. . "Kamu tahu apa tugas kita?" tanyaku kepadanya. biarkan mereka lewat." "Habislah kita. maka kita harus tutup mulut. untukku hal itu selalu memakan tenaga. Yang paling menyenangkan adalah bernyanyi... "mereka tidak datang pada malam hari... kita harus membunuh mereka. hampir lebih baik daripada aku..." "Dua menit sebelum fajar?" dia memotong omonganku. kita harus mengawasi bila orang-orang Rusia itu datang. . pasukan pengintai... Aku pun minum lagi.. "Ya. Dua menit sebelum fajar.." kataku.depan sana. Artinya. Tampaknya itu adalah hal enteng untuknya. "kalau kita tidak melihat mereka datang. seolah seseorang membungkam mulut itu.

"lalu aku membawanya kepada salah satu perempuan .. bukan Jeck..…" suaranya bergetar lagi dan mungkin kali ini bukan karena takut tetapi karena terkenang sesuatu... dan kalau seseorang datang." "Ke tempat pelacuran. "Dari Jakob .. jangan takut.. setiap kali kalau mau berbicara dengannya. "Yah. "Dan.." dia mengeluh dalam-dalam. siapa namamu?" Benar-benar menjengkelkan. .. melihat lagi ke depan..calo apa. ". Ngomong-ngomong.. calo saja.. lalu dalam kegelapan. kamu mengerti? Tuan. "kalau orang itu mau bersenang-senang?" "Lalu." katanya.?" 87 ... lalu pergi . "sebelum ini kamu kerja apa?" "Aku." "`Gimana. "aku berdiri di stasiun.. .. "Calo apa ." katanya.." katanya. ya?" "Tidak. dan aku merasakan bahwa dia sangat heran." kataku parau.? Begitulah aku bertanya.K.. Karena tegang aku lupa meneguk minuman... Jak saja. yah.. "jadi calo... yang sedang kosong.. seseorang yang aku pikir cocok." "Apa?" "Calo.." "Jak..." tanyaku lagi... biasanya tentara.. J.. itu artinya aku harus mengeluarkan tanganku dari saku yang hangat dan dengan susah-payah memasukkannya lagi. kan." katanya. lalu aku bertanya kepadanya dengan sangat pelan. Jak. kepalanya dipalingkannya lagi kepadaku. aku harus menyikut tulang rusuknya. dengan sangat tiba-tiba..." katanya dengan susah payah.. "aku bernama Jak."Maka itu artinya kita harus cepat menembakkan isyarat merah. "Aku. jadi kalau seseorang datang." "Jadi calo apa sih?" Dia memalingkan lagi mukanya ke arahku. sangat pelan." "Seperti orang Inggris.. Dan sebelumnya kita toh bisa mendengar mereka. artinya kita bisa berlari cepat-cepat seperti seekor kelinci. calo apa . setidaknya hampir selalu. seseorang dari rombongan orangorang yang lewat. supaya menjadi hangat lagi. dan sekali lagi tampaknya kenangan menguasainya lagi. "Kamu kan pasti jadi calo untuk sesuatu. ingin bersenang-senang." Dia diam sesaat." tanyaku.A...

"Gottliese. tidak punya germo. untuk siapa aku bekerja. ya. dan suaranya sekarang bergetar hebat. 88 . dia mengoceh hampir dengan sendirinya. dengan paksa mereka mengutip uang banyak-banyak dan masih juga meniduri mereka. di suatu tempat yang sangat . . ." potongku. mereka tidak punya surat izin. "Lihat!" Kalau diperhatikan dengan sangat . mereka bekerja mandiri.. kamu mengerti. Aneh ya? Dia selalu bilang kepadaku bahwa ayahnya menginginkan seorang anak laki-laki daripada perempuan." "Tulang-tulang ?" "Ya. "Enak sekali." dia berkesah lagi. ah.. perempuan-perempuan itu. "germo adalah tuan-tuan besar. dia bertanya."Bukan. dan karena itu aku jadi calo untuk mereka. Käthe. ya. tiran.. Tidak. "tepatnya uang persen. aku kan hanya seorang calo.... tanpa izin apa pun. dia bernama Gottliese." katanya datar. "Ya. tapi aku tidak bisa menjawab. sejak ayahku gugur dan ibuku hilang. Tiga orang. botol itu kosong.. mengerti. Dia selalu murah hati dan melankolis dan sebenarnya juga yang paling cantik ... "Lihat itu!" Dia menarik aku ke depan. terlalu berbahaya.. Aneh. "Hubert. aku pasti harus berkelahi dengan yang lain. dan.. Dan sekarang aku tidak perlu bersusah payah membuka tutup gentong yang macet. "Ngomong-ngomong. siapa namamu?" "Hubert.. "adalah yang paling baik. Lili dan Gottliese.." dia tertawa lagi sedikit. kan?" "Bukan. kamu mengerti. "dan artinya kamu dulu seorang germo. sangat sungguh-sungguh. dan aku lalu mendapat tulang-tulang sisanya. soalnya aku sedang meneguk dari botol itu.?" dia benar-benar tertawa sedikit.. sangat jauh. Sekarang...." katanya kemudian. Aku kan tidak mampu bekerja karena paru-paruku. "eh. dan dari itu aku hidup." katanya dengan nada yang untukku agak menggurui. "bukan." dia mendesah lagi.. aku punya beberapa perempuan tidak terikat. lalu aku menggelindingkannya dengan lembut ke samping. ke tanggul di mana dia sedang tiarap." kataku sambil memberikan botol kepadanya. karena kalau anak laki-laki maka bisa dinamainya Gottlob. lepas...." "Dan. Tidak. syukurlah! Kalau punya. "aku tidak bekerja untuk tempat pelacuran.." "Dan kamu tidak mencicipi mereka?" "Tidak. boleh aku minum lagi?" Ketika aku membungkuk untuk meraih botol." sambungnya.." "Siapa?" potongku. beberapa perempuan bebas yang menghidupiku. Karena itu mereka tidak boleh memamerkan diri di jalan seperti yang lain . Aku yang harus memancing ikannya untuk kemudian mereka bakar dan makan. Kami berdua lupa untuk apa kami nongkrong di tempat sialan ini. tetapi karena dia perempuan jadi dinamai Gottliese." katanya.

itu pasti sesuatu . sepi sekali. Satu saja. besok pagi-pagi kamu akan melihatnya dan tertawa.. "aku tidak bisa menembakkan yang putih.kotor dan sebagian hancur tertembak. Kalau hari sudah sangat terang... "Jak....." balasku berbisik.. "diamlah. "kalau mereka benar-benar datang." bisiknya." "Tembakkan yang putih." "Jak.. kalau pesawat pembom kita datang. kita bisa juga mendengarnya. kamu akan melihatnya dan tertawa. Dia mengatakan hal itu dengan pasti dan mantap. betul-betul jauh sekali ... "Ya. itu setumpuk tahi yang bikin kita gila . dan kalau mereka sudah dekat. "Ayo. mengerti? Dan satu aku perlukan untuk besok pagi-pagi. itu perang. "Jak... Di atas garis itu kelihatan agak terang.. "besok pagi aku sudah mati. dan bikin kita takut karena tangkai-tangkai itu bergoyang-goyang. seperti ayunan lembut jerami . sebuah garis hitam pekat.. mereka datang. itu tangkai-tangkai bunga matahari yang jauhnya mungkin satu kilometer dari sini...... dan peluru yang lainnya aku perlukan kalau situasinya betul-betul serius. kan? Aku tahu itu tangkaitangkai bunga matahari yang mengering. mereka mengendap-endap. itu neraka... Besok pagi kamu akan tertawa. jauh sekali." katanya dengan sangat dingin...." kataku. tembakkan peluru isyarat yang putih!" bisiknya dengan suara yang makin menghilang. ada sedikit suara gemerincing .. "ya. dan tak ada sesuatu apapun yang terdengar kecuali suara sepi yang mengerikan. dengan sangat pelan-pelan mereka datang. sama sekali tanpa suara. tembakkan yang putih ." kataku sambil meletakkan tangan di pundaknya.terlihat sesuatu seperti horison.... sesuatu yang nyata . mereka datang . sesuatu bergerak . supaya mereka bisa tahu di mana kita berada. Itu tangkai-tangkai bunga matahari. Itu sesuatu yang nyata. coba dengarkan?" Kami menahan nafas dan mendengarkan." lagi-lagi terdengar giginya bergemelutuk. hitam -. Aku hanya punya dua peluru... mereka datang. manusia dalam jumlah yang sangat banyak yang sedang mendekat diam-diam.. aku bisa mendengar mereka. itu bisa juga manusia yang diam-diam mendekat.." Sekarang aku yang berpaling tiba-tiba kepadanya dengan heran." kataku. aku melihatnya ... "Ya. ." "Ah. maka sudah terlambat... itu . itu perasaan takut kita yang sedang bergerak.. Jak... dan aku mendengar dari suaranya bahwa dia menjadi pucat seperti sang maut. "kamu gila. mereka merangkak di tanah. Jak. "Anak muda... sepi." "Ah ." kataku. aku begitu kaget.. Dan di dalam kegelapan di atas garis hitam pekat yang agak terang itu." "Aku kan kenal mereka.. itu bukan apa-apa." "Tapi lihatlah. itu bukan sesuatu yang nyata." "Besok pagi. DDan bunganya sudah dipetiki oleh orang-orang Rusia itu. tembakkan yang putih .." 89 . dan itu terlihat ada di ujung dunia.. subuh. jauh... Supaya mereka tidak membom kita ....

di jalan menuju rumah perempuan-perempuan itu." sambungnya dengan suara capek. kadang ramah. dia yang paling baik. Tapi itu bukan alasan kenapa aku selalu pergi kepadanya terlebih dahulu. Dan perempuan yang mabuk sungguh mengerikan. karena itu orang tidak cepat jadi panik. di pojokan-pojokan dan di stasiun-stasiun kereta api di semua kota-kota di Eropa dan selalu aku memalingkan muka dengan perasaan takut yang hebat yang tiba-tiba muncul di hatiku. orang-orang Rusia itu mendapat jatah minuman keras mereka. dia tinggal di sebuah gedung apartemen yang di dalamnya ada cafe. mereka suka melarikan diri.Dia diam. Lili juga orangnya tidak menyebalkan. Sekarang tanggal 21. lalu aku pergi kepada Lili. kamu tidak percaya bahwa aku pergi dulu kepadanya bukan karena dia yang memberi terbanyak. kemudian cafe itu terbakar. Tapi Lili selalu lebih baik daripada Käthe. kamu mengerti? Dalam setengah jam. aku hanya mendengar mereka berbisik. Kadang-kadang di Stasiun Selatan. . Gottliese. karena perempuan-perempuan itu tinggal di dekat daerah itu.." dia membungkuk lagi ke arahku.. percayalah kepadaku. kamu tahu. Yah. Barusan tadi. dan suara tembakannya akan keras sekali. Ya.. baru kemudian aku harus menembakkan yang putih. Stasiun Pusat maksudku." suaranya sekarang lamban seolah mulai tertidur. kamu pasti tidak mempercayainya. Di mana kamu terakhir kali . Dan itu bikin jengkel. Wajah seorang calo tulen. sehingga aku terpaksa untuk menjawab ya. betul bukan. mereka akan mulai berteriak dan bernyanyi dan menembak. dari dekat." katanya. kamu tahu. dan kadang-kadang dia turun juga ke jalan kalau lama tidak mendapat tamu. "awalnya aku selalu mengantarkan mereka kepada Gottliese." kataku. Setiap kali. Awalnya. "Jak.. Di tengah jalan. kalau pesawat pembom kita datang. Ah. dan mungkin sesuatu akan terjadi." aku ingin mulai. Dia memberi aku 90 . "Tembakkanlah yang putih. artinya hari ini. Käthe orangnya sangat dingin. tak tahulah aku. . jadi calo?" Dia mendesah dalam-dalam. mereka suka pergi begitu saja tanpa berkata apa pun." bisiknya seperti seorang sinting. Besok pagi-pagi. Jarak dari Stasiun Pusat ke daerah selatan memang terlalu jauh. "tidak selalu. kita masih punya waktu empat jam. karena ketakutan atau karena sesuatu yang lain. kamu tahu. Juga karena banyak tentara yang turun di situ karena mereka berpikir bahwa itu sudah Köln. karena itu aku sering nongkrong di Stasiun Selatan. ketika tidak terjadi apa-apa. Begitu ingin aku melihat wajahnya. dan kami duduk lagi menyandar. tapi dia sering minum.. kamu percaya?" Sekarang dia bertanya dengan nada yang begitu mendesak. Dia punya banyak langganan tetap. "kamu akan mengutuki aku kalau aku menembakkan yang putih. Dan dari Stasiun Selatan ke rumah perempuan-perempuan itu jaraknya pendek. "kalau aku kadang-kadang mendapatkan seseorang di Stasiun Pusat. kadang kasar. tidak bisa ditebak. itu lebih praktis. aku sedih. bisa-bisa kita jadi selai. "Di Stasiun Pusat?" "Tidak. aneh kan? Dia sangat sering mendapat tamu. "Di Köln.. lebih baik kamu cerita lagi. Käthe dan Gottliese di Barbarossaplatz. aku tahu itu. mereka mendapatkan makanan dan jatah minuman keras mereka. Dan kalau Gottliese mendapat tamu. baru keringat dinginmu mengucur deras. Dan kamu akan mengutuki aku kalau aku menembakkan yang putih sekarang. Lili di dekat Gedung Opera.. karena kalau tidak. "Tetapi Gottliese sering mendapat tamu. pesawat-pesawat itu akan menjatuhkan bom sangat dekat di depan kita. "Jak. Dia yang selalu paling banyak memberiku uang.

." kataku pada anak muda yang bergerak-gerak gelisah dan mengerangngerang itu." 91 . itu saja. apa aku punya rokok dan lain-lain. yang paling cantik.. "dia hanya mendapat satu Mark. Sepuluh persen! Sementara. menghadapi bahaya ditangkap polisi. "tidak akan lama. . lalu akan menjadi sasaran tembak orang-orang Rusia itu. "Tenanglah. Dia malah menghadiahi tentara-tentara itu rokok atau roti atau sesuatulah. Aku menarik mundur orang yang gemetar itu. Gottliese berbeda. Dan uang persenannya baru kuterima di hari berikutnya. . kamu mengerti. dan walaupun kami tidak mengerti sepatah kata pun. aku kadang harus berjalan setengah jam dalam malam yang dingin. "bagaimana rupanya?" Tapi pada saat itu.. orang Rusia pertama mulai berteriak seperti orang gila. seorang sipil. dan hanya mendapat sepuluh persen! Tahi. Aku percaya bahkan sebaliknya. Mereka kan tidak boleh begitu." katanya. karena tembakan seperti itu malah kadang-kadang akan mengena. dengan satu loncatan saja dia pasti sudah di luar lobang persembunyian.. persis seperti pada kita. Maka Käthe selalu yang terakhir. sudah.. lalu mereka berteriak dan akan menembaki tanggul persembunyian dengan membabi-buta. setiap kali setidaknya dua Mark.. dan apa-apa yang tidak boleh akan dihukum berat. paling hanya beberapa menit. "Ya. Bagaimana tempat tinggalku. sampai komisar mereka mengetahuinya. itu bukan apa-apa." "Menghadiahi?" "Ya. aku bilang sama kamu." "Bagaimana. Dia selalu memberi banyak kepadaku. Dan Käthe masih juga memakiku.. Seorang perempuan yang sungguh melankolis. Kadang hanya lima puluh sen. Juga kalau pun dia tidak mendapatkan uang sama sekali. Kamu harus menunduk. ketika aku membawa tamu lagi untuk dia. Mereka hanya sedikit mabuk. sepuluh sen. kamu mengerti. . Dan dia cantik. sangat dekat ke arahku...sepuluh persen. berdiri berjam-jam di stasiun atau nongkrong di bar minum bir murahan. Suaranya membumbung seperti sebuah tangisan dan bergabung dengan suara-suara lain. Dan dia pun lumayan mengurus aku. tambahan lagi sudah tua. Dan kemudian. kami tahu pasti bahwa dia bernyanyi dan meneriakkan sesuatu yang jorok. Aku masih bisa menangkap pinggiran mantel Jak." "Sepuluh sen?" tanyaku terkejut. "Diamlah. Laki-laki itu tidak punya uang lagi. Dia sangat pemurah. Sebenarnya.. . Lengking tawa perempuan itu merobek malam sampai berkeping-keping." "Seorang tentara?" "Bukan. Menghadiahi. lalu dia akan menonjok mulut mereka. kadang-kadang dia tidak meminta uang sama sekali.. Semua orang yang lari seperti itu pasti menjadi sasaran tembak..." Sekarang kami mendengar suara seorang perempuan. Ah." tanyaku. Dan tembakan pertama pun meletus. "dia tidak meminta uang sama sekali?" "Ya." aku ingin bertanya. sekali waktu bahkan cuma sepuluh sen." "Jak.

aku mendengar sesuatu. Aku pikir.. kalau tidak aku bisa gila. dan tak terdengar apa pun selain kesepian yang mengiangngiang menakutkan." Dengan segan dia menjawab." "Tidak ." sambungku. dan aku menembakkan isyarat putih itu hanya untuk melihat wajahnya. "sekarang aku akan menembakkan yang putih. "Ayo. Dia sedikit gila. kamu akan mendengarnya. "Ya. Di depan terdengar teriakan lalu jeritan .. karena dari tempat di mana tadi terdengar suara teriakan dan lengkingan seorang perempuan yang mabuk itu. . .." tiba-tiba dia bisa bicara lagi. dengarkan dong!" Kami mendengarkan lagi. "Apa kamu tidak melihat api letusan senjata itu.. "Cantik. "dan sedikit gila. dan kalau mereka datang." kataku. Tetapi aku tidak punya waktu lagi untuk itu. kamu tahu. menyibak tirai perang menyelimuti kami. sama sekali. atau Susemarie. Sering dia memakai nama lain . di situ. aku mendengar mereka datang.seperti kelap-kelip hujan salju di Hari Natal. Sebenarnya aku tidak mendengar apa pun.Tapi teriakan itu tidak berhenti. mengacungkannya di atas kepala lalu menembak. karena di belakang dan di depan kami. "Jak.. Inge Simone. "bagaimana parasnya. "Sekarang . dalam terang." Aku memegang erat lengannya. .. suara gemuruhnya seperti kiamat. "Bagaimana. 92 .. . pakai otak dong. Aku berpegang erat pada anak muda yang ingin mendorongku dan melarikan diri itu... Aku pun tidak sempat lagi untuk menembakkan isyarat merah. sekarang mereka datang. karena setidaknya aku ingin mendengar suaraku sendiri. "Rambut hitam dan dengan mata yang besar dan terang.. sangat pasti bahwa kamu akan mendengarnya. sungguh mungil.." kataku.. dan dia sering tidak meminta bayaran... muncul kerumunan sosok-sosok bisu yang menunduk ke tanah dan kemudian tiba-tiba dengan suara "Hurra" yang bikin gila.." katanya pendek. juga lengkingan liar itu. menyiapkan pistol isyarat yang sudah diisi peluru.. entah siapa lagi.. Tidak bisa lain." bisiknya. salah seorang dari kami di pos komando di belakang juga menembak... seolah bulan mencair dan menyatu pasrah dengan bumi ...." Nafasnya tersendat. Kathlene. dan ketika cahayanya menyebar seperti cairan perak yang lembut . sekali lagi teriakan . sedikitnya mereka dua ratus meter dari sini. "tembakkanlah yang putih." sekarang aku bertanya. Lalu sangat sepi.. . Dan yang paling sial. Gottliese itu.." Sekarang tampaknya dia tidak mengacuhkan apa pun... setiap hari nama baru . "Kamu lihat. mereka menyerbu maju." Aku mencengkeram lengannya kencang-kencang. Dia sangat mungil. tembakan dan sekali lagi suara mengerikan perempuan yang mabuk. betul-betul sepi. . Dia berjongkok kaku sambil membisu di sampingku. wajah seorang calo tulen.aku tidak punya waktu lagi untuk melihat wajahnya.

ingin bersenang-senang. sambil berteriak karena rasa takut aku membungkuk padanya. diterjemahkan oleh Dewi Noviami.. der Schlepper". dia berbisik pelan: "Tuan.. malah masih memberi sesuatu. 93 . lebih hitam dari pada malam.?" Lalu dengan keras dan sekonyong-konyong aku jatuh di atas tubuhnya oleh hentakan tangan liar yang mengerikan.. Tetapi mataku tidak melihat apa pun lagi kecuali darah. supaya setidaknya dalam maut masih bisa melihat wajahnya..Aku harus menarik Jak dari lobang itu dan ketika dengan susah payah aku berhasil menariknya. dan wajah seorang pelacur yang menghadiahkan dirinya tidak untuk apa pun..*** Judul asli: "Jak.

Horison. mata perempuan itu bergerak-gerak cepat ke kanan dan ke kiri. Ketika melihat laki-laki bertubuh kurus jangkung berdiri di pinggir jalan. perempuan itu membuka jendela dan memandang keluar. kemudian gelas. Matanya berganti-ganti melihat potret laki-laki itu. Beberapa saat kemudian mereka berdua sudah berada di dalam kamar. Gelas Itu. Dengan tidak memandang ke arah laki-laki itu. Di dekat tempat tidur ada pula sebuah kursi. Agak terkejut juga dia ketika dia merasa dijawil. Laki-laki bertubuh kurus jangkung memang sudah menantikan saat-saat seperti ini. perhatian laki-laki bertubuh kurus jangkung itu masih terlarut ke dalam potret laki-laki di dinding. Ketika perempuan itu menjawil tangan kirinya. Dan tahulah dia sekarang. Dengan tangan gemetar. dan judul buku-buku itu tidak mungkin dibaca karena sinar lampu sangat samar. bahwa perempuan itu sedang menuding-nuding ke arah sebuah tempat tidur kecil. Laki-laki bertubuh kurus jangkung itu juga gemetar. bahwa ketika hari sudah petang dan lampu jalanan mulai dinyalakan. Alis perempuan itu hitam tebal. dengan sebelumnya menyelidik cepat-cepat apakah perbuatannya terintai oleh orang lain. Di bawah potret ada sebuah gelas. melindungi matanya. Juli 2000 (Edisi 10 Tahun Cerpen Terbaik Horison) Potret Itu. kemudian meloncat ke pekarangan melalui pagar tanaman. mengapa di dekat . Ada sebuah meja kecil dengan bunga segar di dekat tempat tidur itu. Pakaian Itu Oleh: Budi Darma 94 Sungguh menakjubkan. tapi sangat samar. terletak di sebuah rak buku kecil. dan kemudian beberapa buku. pagar tanaman yang sebetulnya tidak begitu tinggi. perempuan itu menuding ke arah dinding sebelah kanan. perempuan itu menutup jendela dengan hati-hati. Lampu di dalam kamar sudah menyala. Laki-laki itu mengangguk mengerti. Dia mendekati dinding di sebelah kanan. Tubuhnya agak membongkok manakala dia melihat-lihat buku-buku di dalam rak. dan mata itu tajam dan sebentar bergerak-gerak. Dan di dalam rak terdapat beberapa buku. Dan yang mengherankan laki-laki itu adalah.

" "Hanya itu?" Laki-laki itu kehabisan akal dan kehabisan kata. Saya mengaguminya." "Apa lagi?" "Apa lagi? Ya. perempuan itu berjalan ke arah tombol listrik. laki-laki itu sudah ditarik oleh perempuan itu untuk mendekati sebuah almari. martabat." Belum sempat bertanya apa-apa. beberapa pakaian laki-laki di dalam almari. kendatipun nampaknya tubuhnya hanyalah kurus jangkung. wibawa tinggi. Matanya sungguh 95 . apa lagi? Saya yakin dia laki-laki gagah. apa lagi? Saya kagum pada raut wajahnya. laki-laki itu agak terkejut. apa lagi? Tentu saja saya mengagumi menakjubkan. Heran. "Saya tidak pernah melihat laki-laki seagung itu. Laki-laki itu terus diam ketika perempuan itu mengudal-udal beberapa pakaian dari dalam almari. untuk memberikan kesempatan kepadanya guna lebih memuliakan cita-citanya dalam mengangkat harkat. Dan laki-laki itu tidak terkejut melihat." "Apa lagi?" "Apa lagi? Ya. Saya heran mengapa takdir tidak memberinya umur panjang. dan mematikan lampu bercahaya lemah itu. ketika melihat pakaian di sebelah dalam almari itu ternyata penuh cipratan darah. tentunya tanpa mengetahui apa yang dikatakannya: "Tentu saja tidak. Setelah perempuan itu menutup almari dan laki-laki itu duduk dekat tempat-tidur. dan derajat sesamanya. karena perempuan itu sudah menjelaskan: "Dia tidak mau potretnya dipasang di sini. Meskipun demikian. Sungguh agung dia. misalnya saja potret laki-laki yang tergantung di dinding sebelah kiri." dia.tempat tidur tidak ada potret seorang laki-laki. Alangkah senangnya kau menjadi istrinya. Dia pasti mempunyai wibawa besar. Maka berbicaralah dia asal berbicara. Dan ketika perempuan itu membuka almari. Jengkal demi jengkal wajahnya menunjukkan keagungan luar biasa." "Apa lagi?" "Apa lagi? Ya. Saya heran mengapa laki-laki semulia ini bisa mati terganyang kanker. Dan segeralah perempuan itu mengguyurkan minyak wangi dengan khidmat dan hormat ke pakaian itu. "Apakah yang tadi kau lihat pada potret yang tergantung di dinding itu?" tanya perempuan itu. Dia pasti laki-laki ramah. terasalah bau enak menebar di dalam kamar remang-remang itu. Tapi laki-laki itu tidak bertanya.

dia laki-laki mengagumkan. Bekas-bekas bibirnya masih ada di situ. Ingat. Dan setiap kali pandangan mata mereka bertemu. Dia tidak tahu mengapa sekonyong-konyong siang tadi dia menemukan sebuah surat tergeletak di meja kerjanya di kantor. Ketika laki-laki itu berusaha menemui anak perempuan itu. Dia ingat." kata perempuan itu lagi. "Dari sekian banyak laki-laki yang saya kenal. Dia bercerita mengenai perempuan-perempuan dan dengan sangat terbuka. "Karena itulah potretnya saya pasang di situ. Dan karena dia harus menemui beberapa temannya. segemar dia membuka-buka lembar demi lembar pakaian yang saya kenakan. laki-laki mencurigakan selalu menghadangnya dekat pintu. yang telah mengantarkannya ke rumah perempuan beralis hitam tebal dan bermata tajam. Surat itulah.laki itu hanya tahu bahwa sudah beberapa hari ini ada seorang laki-laki mencurigakan secara berkala mengitari kantornya. kemudian mengawasinya dengan pandangan tidak enak. Dia selalu minum dari gelas itu setiap kali dia datang ke sini. dengan nada sangat melecehkan mereka. sementara dia suka merayu. dia dipotret sekitar tiga bulan lalu. perempuan beralis hitam tebal dan bermata tajam serta anak perempuan itu terlepas dari tangannya. dan tentu saja tubuh saya dengan tubuh mereka. beberapa bawahannya. Kalau tidak keliru. selalu saya usap-usap mulut gelas itu dengan pinggiran mulut saya. Dan setiap laki-laki itu akan meninggalkan kantor. Bagi saya. kemudian berjalan bergegas dan menyelinap di antara sekian banyak orang. dan akhirnya mengenai payudaranya. Dan karena itu pulalah gelas peninggalannya saya taruh di bawah potretnya. mungkin dia jauh lebih agung dan jauh lebih mengagumkan dibanding dengan Nabi Yusuf. di Balai Wartawan ketika diadakan pertemuan antara beberapa pedagang dengan wartawan. dialah laki-laki yang saya cintai. "Laki-laki itulah yang saya cintai. Dan buku-buku dalam rak itu adalah buku-buku kegemarannya. Senang sekali dia membandingbandingkan payudara saya dengan payudara mereka. Setiap kali dia ke sini selalu dia membuka-buka halaman-halaman buku itu. dan tentu saja dengan nada mengagung-agungkan saya. yang mungkin telah disampaikan oleh laki-laki mencurigakan itu. pada suatu malam dia melihat seorang anak perempuan kecil memotret dirinya. Sering mulut gelas itu saya lumat-lumat dengan bibir saya seperti pada waktu saya melumat-lumat bibirnya. bahwa anak perempuan itu datang bersama seorang perempuan beralis hitam tebal dan bermata tajam. yaitu merayu 96 . "Rupanya laki-laki lain yang pernah saya kenal tidak begitu menyukai payudara saya." kata perempuan itu. Dan setiap kali saya merindukannya." Laki-laki itu diam. pertemuan dinyatakan bubar."Siapa yang mengatakan dia dihabisi kanker?" Laki-laki itu diam. Begitu cepat anak perempuan itu memotretnya. mengenai buku-buku itu lagi. Laki. laki-laki mencurigakan selalu menghadangnya di dekat pintu dengan menggumamkan suara tidak jelas. Akhirnya laki-laki itu tahu. Begitu gemar dia membuka-bukanya. seperti dia sendiri dahulu sering mengagumi payudara saya. laki-laki mencurigakan selalu memandanginya dengan sikap tertegun. Hanya dialah yang sering membisikkan kata-kata aneh ke payudara saya segera setelah dia menjelek-jelekkan sekian banyak perempuan lain. sangat mengagumkan. Nabi Yusuf tidak suka merayu. Ketika dia menanyakan kepada sekretarisnya. Betul yang kau katakan tadi. dan juga beberapa pesuruh siapa gerangan yang menaruhkan surat itu di atas mejanya. Kemudian dia sering melihat laki-laki mencurigakan berseliweran tidak jauh dari jendela kaca yang memisahkan kantornya dengan kebun kacang. Dan kemudian perempuan itu bercerita mengenai gelas itu lagi. Setiap kali laki-laki itu akan masuk kantor. tidak seorang pun tahu. Dan sering juga mulut gelas itu saya gosok-gosokkan ke payudara saya.

sekian banyak perempuan, sampai akhirnya dia jatuh di hadapan saya, menjilati kaki saya. Setiap kali didekati perempuan, Nabi Yusuf selalu mengingatkan perempuan yang mendekatinya dan juga dirinya sendiri akan masa depan manusia, apabila manusia telah mati kelak. Ketika seorang perempuan berusaha merayunya dan mengatakan bahwa rambut Nabi Yusuf sangat indah, berkatalah Nabi Yusuf, 'Rambut inilah yang pertama kali akan berhamburan dari tubuh saya setelah nyawa saya meloncat dari tubuh saya.' Dan ketika seorang perempuan merayunya lagi, berkatalah Nabi Yusuf, 'Kelak tanah akan melumatkan wajah saya.' Laki-laki yang potretnya di sana itu sangat berbeda. Dia selalu melihat ke depan, tanpa mau mengerti bahwa pada suatu saat maut akan menjemputnya. Dia selalu membisikkan kata-kata indah mengenai kegunaan dan kenikmatan hidup. Tanpa pernah mengatakannya, dia selalu berpikir untuk memanfaatkan detik demi detik untuk berjasa, memberi kenikmatan bagi orang lain, dan juga bagi dirinya sendiri. Sering dia bercerita mengenai mimpi-mimpi indah, seperti misalnya memperluas usaha-usaha dagangannya kalau perlu dengan menaklukkan musuh-musuhnya, kemudian membangun rumah-rumah yatim piatu, mendirikan sekolah-sekolah, membantu rumah sakit-rumah sakit, dan entah apa lagi. Dia sangat suka membantu orang-orang papa dan orang-orang yang ingin maju, tapi sekaligus sangat membenci orang-orang malas dan tidak mempunyai otak. Dalam keadaan lelah dia mendatangi saya, untuk menikmati tubuh saya dan sekaligus menghidangkan kenikmatan bagi saya. Dia datang untuk mencari gairah hidup, agar dia menjadi lebih segar, lebih bersemangat, dan lebih mampu beribadah dalam bentuk kerja keras. Setiap inci tubuhnya adalah pertanda keagungannya, demikian pula setiap dengan nafasnya." "Dan manakah anak perempuan yang memotret dahulu?" "Ciumlah tangan saya sebelum saya menjawab pertanyaanmu." Belum selesai dia mencium tangan kanan perempuan itu, perempuan itu sudah menyodorkan tangan kirinya. "Ulangilah pertanyaanmu tadi." "Manakah anak perempuan yang memotret dahulu?" "Anak perempuan? Maaf, saya tidak tahu ke arah mana pembicaraanmu. Andaikata kau bermaksud untuk menanyakan apakah saya mempunyai anak perempuan, saya dapat menjawab bahwa saya tidak mempunyai anak perempuan. Ketahuilah anak perempuan suka rewel, demikianlah kata laki-laki yang saya cintai. Dan andaikata saya mempunyai anak, saya tidak akan mengijinkannya memotret." "Mengapa?" "Menurut laki-laki yang saya cintai itu, memotret hanyalah menghabiskan uang. Setiap orang harus berhemat. Dan mungkin karena itu pulalah dia tidak suka anak perempuan, sebab dia sering mengatakan bahwa anak perempuan hanya memboroskan saja. Dia juga tidak suka potret, karena potret hanyalah menghabiskan uang." "Benarkah laki-laki seagung itu mempunyai jalan pikiran demikian?"

97

"Memang saya sering menemui kesulitan dalam mengorek apa yang sebenarnya berkelebat di dalam nuraninya. Sering kata-katanya melompat demikian saja dari puncak otaknya, sementara kelebat hati nuraninya yang sesungguhnya tidak terucapkannya. Saya sendiri yakin dia sama sekali tidak pelit. Dia pasti menyimpan rahasia mengapa dia tidak menyukai anak perempuan. Dan saya pernah berhasil mengoreknya, ketika dia mengigau dalam tidurnya. Meskipun demikian, kata-katanya hanyalah pendek dan tidak jelas, sehingga sulit bagi saya untuk menafsirkannya. Tapi saya tahu, dia berhati agung. Bagi dia, laki-laki tidak bisa bebas dari perempuan, dan perempuan pada dasarnya adalah beban. Eva sengaja diciptakan Tuhan untuk menemani Adam, tapi sekaligus untuk melancarkan wahyu-wahyu setan. Istri paman Nabi Muhammad, Ummu Jamil namanya, justru akan mencelakakan keponakan suaminya sendiri. Siapa yang akan mencelakakan Nabi Nuh, tidak lain dan tidak bukan adalah istrinya sendiri. Negeri Sodom juga hancur lebur, setelah istri Nabi Luth, nabi yang dipercaya oleh Tuhan untuk menegakkan ketaqwaan di negeri itu, mengkhianati suaminya habis-habisan. Adalah pula Siti Qodariah, seorang wanita, yang berusaha mencelakakan Nabi Yusuf setelah usahanya untuk menikmati keindahan tubuh Nabi Yusuf gagal. Belasan tahun perang di Troya adalah juga perang untuk memperebutkan perempuan. Laki-laki sudah ditakdirkan untuk tidak mampu mengalahkan nafsunya sendiri, dan perempuan terlanjur sudah diciptakan untuk memperbudak nafsu laki-laki." Belum sempat laki-laki itu bertanya, perempuan itu menyuruhnya berjongkok di lantai dan menjilati kakinya. "Setiap laki-laki harus menjilati kaki saya," katanya. Setelah selesai menjilati seluruh bagian tubuh perempuan itu dan setelah selesai mengucapkan selamat tinggal, laki-laki itu keluar lewat pintu, dan pintu itu segera ditutup dari dalam, kemudian laki-laki itu meloncat keluar melalui pagar tanaman. Laki-laki itu merasa bahwa malam telah larut benar. Ketika memasuki sebuah gang, dia berjalan agak sempoyongan. Bau wangi tubuh perempuan yang baru saja ditinggalkannya masih melekat pada seluruh bagian tubuhnya sendiri. Dan keringat dari celah-celah kulitnya terasa begitu asing, karena yang tercium olehnya adalah keringat perempuan itu. Heran benar laki-laki itu, mengapa tadi dia tidak menanyakan siapa nama perempuan itu. Hapal-hapal ingat kalau tidak salah perempuan itu menamakan dirinya Maemunnah. Atau mungkin Robinggah. Mungkin juga dia Jurbbah. Bukankah dia Immlah? Ya, pokoknya pakai "ah", entah itu Siffiah, entah Monissah, atau Markammah. Dia ingat, perempuan itu tidak pernah menyebut-nyebut nama laki-laki yang potretnya tergantung di dinding. Dan laki-laki yang potretnya tergantung di dinding itu bukanlah suami perempuan itu. Laki-laki itu hanya kadang-kadang datang ke sana untuk menyibuknyibukkan dirinya. Ini sudah berlangsung selama beberapa tahun, ujar perempuan itu. Ketika laki-laki itu menanyakan siapa yang membuat potret di dinding itu, perempuan itu hanya menceritakan bahwa pada suatu hari dalam sebuah musim kemarau panjang ada seorang anak perempuan mengantarkan bingkisan besar ke rumahnya, dan ternyata bingkisan itu adalah potret itu. Anak perempuan itu sama sekali tidak pernah datang ke sana lagi.

98

Laki-laki itu terus berjalan tergontai-gontai. Ketika seekor kucing hitam melintas di gang dan memotong jalannya, dia tidak menahan langkahnya. Kucing itu pun tidak perduli bahwa dia sedang berpapasan dengan seorang laki-laki. Tetapi, ketika ku-cing itu melompat ke tempat agak tinggi dan menyorotkan matanya ke arah laki-laki itu, laki-laki itu merasa keringatnya keluar lebih deras. Dan keringat itu rasanya bukan keringatnya sendiri, karena baunya sama benar dengan bau keringat perempuan tadi. Sementara rasa hausnya memuncak sampai ke ubun-ubun kerongkongannya, laki-laki itu terus berjalan. Kata perempuan tadi, setiap kali laki-laki itu minta minum karena merasa haus. Dan setiap kali akan pulang, pasti laki-laki itu minta minum lagi untuk meninggalkan bekas bibir pada mulut gelas. Dan gelas itu masih tergeletak di rak buku. Tiba-tiba laki-laki itu merasa salah jalan. Ketika masih berada di jalan besar tadi, seharusnya dia berjalan terus, kemudian membelok ke kiri. Ternyata tadi dia membelok ke kanan sebelum waktunya. Dia membelok ke kiri. Setelah tertegun sejenak, dia memutuskan untuk kembali menyusuri gang, dan untuk kemudian memasuki jalan yang benar. Laki-laki itu masih berdiri tertegun ketika seekor kucing hitam kecil meloncat dari dinding di atas sana, lalu lari cepat memintasi jalannya. Ternyata kucing itu lari ke sebuah lorong di sebelah kanan. Dan ketika laki-laki itu melihat ke arah lorong, nampaklah olehnya sebuah lampu kecil, menerangi sesuatu yang tidak asing baginya, yaitu sumur. Mengapa dia tidak ke sana sebentar, menimba, dan minum? "Maka berjalanlah dia agar cepat menuju ke sumur. Namun, sebelum dia benar-benar dekat dengan sumur, seorang laki-laki menegor dia. "Mengapa malam-malam begini kamu berada di sini?" Dengan cepat dia mengenal siapa laki-laki itu: kedua matanya bulat seperti mata burung hantu, lehernya kurus panjang dengan buah kuldi mendongkol dan selalu naik turun, sementara urat-urat tangannya membengkak menutupi kedua tangannya, dan tangantangan itu benar-benar kurus. Dialah laki-laki mencurigakan, dan dialah yang selalu mengawasinya di kantor. "Mengapa malam-malam begini kamu berada di sini?" tanya laki-laki mencurigakan sekali lagi. Dia tidak dapat menjawab. Matanya menangkap buah kuldi laki-laki mencurigakan, dan ingatannya melompat ke payudara perempuan tadi. Benar-benar payudara perempuan tadi memberinya kenikmatan, dan benar-benar buah kuldi laki-laki mencurigakan itu memuakkan. Dia seolah-olah melihat Adam, pada waktu mata Adam mendelik karena buah terlarang yang dimakannya menyangkut di kerongkongannya. Tiba-tiba dia merasa sedang berhadapan dengan iblis. Adam di hadapannya adalah iblis, demikian juga perempuan tadi. Payudara perempuan tadi, tidak lain adalah buah terlarang yang terlanjur tersangkut, kemudian menawarkan kenikmatan dan sekaligus tindak-tindak maksiat. Rasa haus makin menggorok kerongkongannya. Dan ketika dia mengelus-elus kerongkongannya sendiri, sadarlah dia bahwa buah kuldinya sangat besar, naik turun, dan sangat menjijikkan. Tiba-tiba dia sadar, bahwa dia sendiri dan perempuan tadi tidak lain dan tidak bukan adalah sepasang iblis juga. Dan dia merasa benci terhadap perempuan itu, karena tadi dia tidak diijinkannya minum, karena, katanya, dia tidak mempunyai gelas lain

99

kecuali gelas di atas rak buku itu. Dan gelas itu, katanya lebih lanjut, hanyalah untuk menghidupkan kenang-kenangan. Ketika laki-laki mencurigakan menegurnya lagi, dia terus berjalan ke arah sumur. Dan tepat ketika dia memegang tali timba, laki-laki mencurigakan berkata: "Minumlah sepuas-puasmu, kalau perlu sampai meletus perutmu, karena sumur ini adalah milik saya." Dia melemparkan timba ke dalam sumur, dan ternyata sumur sangat dalam. Ketika lakilaki mencurigakan menceritakan perihal dirinya sendiri, dia sama sekali tidak mendengarkannya. Perlahan-lahan dan hati-hati sekali dia mengulur tali ke bawah, sampai akhirnya timba menyentuh air. Kemudian perlahan-lahan pula dia menarik tali timba ke atas. Laki-laki mencurigakan terus bercerita. Beberapa waktu lalu dia membeli kebun kacang tidak jauh dari kantor laki-laki bertubuh kurus jangkung. Setelah melalui beberapa perkelahian, barulah pemilik lama mau menyerahkan kebun kacang itu meskipun uangnya telah lama diterima sebelumnya. Belum lama laki-laki mencurigakan itu berhasil memiliki tanah miliknya sendiri, terdengar berita bahwa kebun kacang itu akan dicaplok oleh laki-laki bertubuh kurus jangkung untuk perluasan kantornya. Laki-laki mencurigakan ini belum mau percaya, dan karena itu berusaha mencari penjelasan. Setiap kali dia mendekati kantor untuk mencari kabar, selalu dia diolok-olok oleh orang-orang kantor itu. Selesailah sudah laki-laki bertubuh kurus jangkung minum. Tubuhnya merasa agak segar, namun tidak satu kata pun dari laki-laki mencurigakan ini yang masuk ke telinganya. Dia hanya berpikir, alangkah enaknya seandainya tadi dia diijinkan minum dari gelas di atas rak buku, sebab, setiap kali perempuan itu merindukannya, pastilah bekas bibirnya akan dijilat-jilat. Masih sempat dia melihat laki-laki mencurigakan, sebelum dia melangkah untuk kembali ke gang tadi. Dia merasa benar-benar jijik melihat laki-laki mencurigakan. Mata laki-laki mencurigakan itu, bulat dan besar, menyembunyikan kelicikan tanpa tara. Leher laki-laki mencurigakan itu, yaitu leher yang panjang, mengingatkannya pada leher burung onta yang diracunnya sewaktu dia berjalan-jalan di kebun binatang. Dan buah kuldi itu, bagaikan buah kuldinya sendiri, adalah pertanda dosa Adam, yaitu dosa yang menurunkan siksa bagi manusia entah sampai kapan. Ingin sekali dia cepat-cepat meninggalkan laki-laki mencurigakan. Namun, belum sempat dia melangkahkan kakinya lebih lanjut, laki-laki mencurigakan berlari-lari kecil ke arahnya, kemudian menghadangnya. Rasa jijiknya makin meledak. Sambil berusaha keras mengibaskan rasa jijiknya, dia mengambil jalan ke samping kiri. Dia mempercepat langkah, tapi terpaksa terhenti ketika sekonyong-konyong terasa punggungnya patah. Ketika laki-laki mencurigakan berdiri di hadapannya lagi, dia terpaksa membongkokkan tubuhnya ke depan, karena terasa olehnya bahwa tubuhnya akan patah menjadi dua bagian. Ketika akhirnya rebah ke tanah, masih sempat dia membalik tubuhnya, dan melihat ke arah bulan. Memang bulan masih tetap di sana, di langit sana. Laki-laki mencurigakan membongkok, sementara dia merasa makin jijik. Dia ingin muntah. Memang akhirnya dia muntah, tapi yang dimuntahkannya adalah darah.

100

Meskipun demikian. masalah kebun kacang hanyalah masalah permukaan." Bulan tetap berputar-putar di atas sana. laki-laki itu masih sempat mengingat beberapa katakata perempuan tadi: "Laki-laki yang saya cintai itu tidak mati karena kanker seperti yang sering dipergunjingkan. Ketahuilah. tentu saja dengan persiapan cermat agar saya menang. Dia mati dibunuh dekat sumur tidak berapa jauh dari sini. Juli 1990) ." Dia menggumam dengan kesadaran penuh. Memang saya sering berkelahi. Sudah semenjak pertama kali saya melihat kamu. bahwa laki-laki itu sudah tidak mungkin lagi mendengarnya. Benar-benar saya merasa takut terhadap kamu. Dan setiap kali merasa takut. sekali lagi. Sesama iblis bisa saling mengganyang. saya yakin bahwa iblis di dalam jiwamu jauh lebih kuat daripada jiwa iblis kebanggaan saya. Kamu pun sebenarnya iblis. Perkelahian dengan pemilik lama mengenai kebun kacang juga bukan masalah berat. Bagi musuh-musuh saya segala macam perkelahian sebenarnya juga bukan apa-apa.*** 101 (Dimuat dalam Horison. sesama iblis belum tentu bisa bersekutu. laki-laki mencurigakan menggumam: "Ketahuilah. tapi perkelahian-perkelahian itu. yaitu kenyataan bahwa saya menyimpan jiwa iblis. Saya selalu menyimpan pakaiannya yang berlumuran darah. Saya hanya menikmati satu hal. bukan apa-apa bagi saya. Dan saya bangga akan jiwa iblis saya. pasti saya bertindak terlebih dahulu.Dengan tenang.

bukan pada rembulan yang mengikutiku saat ini atau pada gugusan bintang yang mengintai pedih dalam liang-liang diri. dan pergi sambil menyeret potongan mayat manusia. Aku melihat saat Geuchik Harun diikat pada sebuah pohon dan ditembak berulangkali. Mereka menatapku seolah aku akan berteriak kengerian. Darah mereka muncrat ke mana-mana. tahukah anjing-anjing buduk itu. aku melihat tiga sampai tujuh mayat sehari mengambang di sungai dekat rumahku! Aku juga pernah melihat Yunus Burong ditebas lehernya dan kepalanya dipertontonkan pada penduduk desa. Aku melihat tetang–gaku Rohani ditelanjangi. Sedikit pun tak kuhiraukan bau bangkai manusia yang menyengat hidung. selalu saja marah bila mendengar jawabanku: Hidup adalah cabikan luka. Tetapi karena aku tinggal sebatas luka. Juga saat mereka membantai … keluargaku. Ffffffhuuih. Jangan menangis lagi. Dan kini hari telah semakin gelap. Serpihan tanpa makna. “Ugh!” Aku tersandung gundukan tanah. Ngeri? Oi. tanpa alasan. sebab aku hanya bisa memendam amarah. Inong! Kering airmatamu nanti. Dengan tangan kosong kuraup gundukan tanah merah di hadapanku. bebukitan penuh belukar dan pepohonan ini. Perih. kutarik napas panjang. wajah dan badanku terkena serpihan tanah merah. 102 . diperkosa beramai-ramai.Jaring-jaring Merah Oleh: Helvy Tiana Rosa Apakah kehidupan itu? Cut Dini. Meski lelah. Lolong anjing malam bersahut-sahutan. Bukan. Aku merangkak dan maju perlahan. Seperti juga hidup itu. Aku melihat semua itu! Ya. menuju Buket Tangkurak. seiring darah yang terus menetes dari kedua kakiku. Hari-hari yang meranggas lara. tetapi langkahku makin kupercepat. sebelum rumah dan suaminya dibakar. Keringatku mengucur deras. temanku. Aku tersaruk-saruk berjalan sepanjang tiga kilometer dari Seurueke. kulihat dua ekor anjing hutan mengorek-ngorek sesuatu. Ya. Dalam remang malam. lebih baik meniru anjing-anjing itu. Aku melihat orang. Dadaku telah amat sesak.orang ditembak di atas sebuah truk kuning. semuanya. Airmataku berderai-derai. Terus tanpa henti kugunakan kedua cakar tangan ini.

Cut Dini. Ah. Kutemukan beberapa tengkorak. di mana aku? Dipan ini penuh kutu busuk. subuh tadi. Mereka menuju ke arahku! Aku harus menyanyi. ” Aku pura-pura tidak mendengar perkataan si loreng-loreng itu. kami menari bungong jeumpa. Banyak tulang. Cahaya mentari masuk dari celah-celah bilik. sudahlah. Di mana? Di mana tangantangan mereka? Di mana tulang-tulang mereka di tanam? Di mana wajah tampan Hamzah? Yang mana tengkoraknya? Sekujur tubuhku gemetar menahan buncahan duka.” Kutatap seraut wajah dalam kherudoung putih di hadapanku. biarkan saja. melintas di depan rumah dengan sepedanya. Bersama bayangan Ayah. awan dan udara malam. lalu remah-remah daging manusia. terus menggali. mencoba duduk. Ya. dulu ia cantik…. aku di rumah. burung hantu dan lolong anjing hutan. Tak tahukah mereka bahwa aku tak menyanyi sendiri? Aku bernyanyi bersama bulan." jawabku sekenanya. Dahulu. “Perempuan gila itu!” suara seseorang gusar. dengan iringan dawai kepedihan dari sanubari sendiri. “Dari mana. juga sangat muda. Ureung-ureung menemukanmu di tepi jalan ke Buket Tangkurak. Aku tidak mengganggu orang. Mak. menyanyi nyaring. Mereka gila karena mengira aku gila. Ya. Sssssssttt! Tiba-tiba. Hangat. Cakarku terus menggali. yang beberapa waktu lalu digiring ke bukit ini. Hanya tertawa dan menangis. Kami menyanyi. Tulang. “Ia tak berbahaya. “Sayang. ya. kupingku mendengar langkah-langkah orang. Ah. Ah. Aku bangkit.” kata yang ketiga.” ujar yang lain. di antara suara serangga malam. “Aku cuma jalan-jalan. Ma’e dan Agam.Tiba-tiba tanganku meraba sesuatu. dahulu…. “Ya. Lalu aku tersenyum malu. di mana? Di mana tangan kurus Mak? Mana jari manis dengan cincin khas itu? Juga cincin tembaga berbatu hijau dan arloji tua yang dikenakan ayah saat orangorang bersenjata itu membawanya dalam keadaan luka parah. Sepatu-sepatu lars yang menginjak ranting dan daun kering.” Aku menggeliat. . Kudekatkan benda dingin itu ke mukaku. saat Hamzah yang telah meminangku. Inong? Aku mencarimu seharian. Bersama desir angin. Hingga aku semakin lemas dan akhirnya kembali terisak pilu. Aku menggali. Meratapi orang-orang yang kukasihi. Berarti…. Tangannya lembut membelai kepalaku. *** 103 “Inong….

” lirihku. “Menurutmu?” Aku menggeleng kuat-kuat. di belakang…. Sebenarnya aku tak tahu banyak tentang Cut Dini. Orang-orang bilang ia anggota … apa itu … LSM? Juga aktivis masjid. Ia kembali ke Aceh setelah tamat kuliah di Jakarta. Dulu.“Aku tahu. Menggaruk-garuk kepalaku.” 104 . aku seperti terperosok dalam kubangan lumpur yang dalam. atau sekedar jalan-jalan. Ia sangat peduli.” kata Cut Dini suatu ketika. Cut Dini. “Aku ingin memakainya. mengajakku ke dokter. Kupandang baju ungu muda yang kupakai. ke pengajian. Cut Dini juga yang mengingatkanku untuk mandi dan makan. Segalanya terasa lebih ringan.” kataku pendek. Aku tak bisa bangkit. Aku senang sekali. Hingga suatu hari orang-orang desa akan memasungku. Kau sangat terpukul.orang gila! Cut Dini-lah yang melarang. Matanya pun selalu menatapku penuh pancaran kasih. Kugaruk-garuk kepalaku. Sampai aku bertemu Cut Dini dan bisa menjadi burung. Terus mengangguk-angguk. Aku memakainya ketika orang-orang jahat itu datang. Ia menyisir rambutku. Kata mereka aku gila! Hah. Aku kembali merebahkan badan di atas dipan. Tetapi tetap saja aku senang berteriak-teriak.” ujar Cut Dini. Aku belum begitu lama mengenalnya. di antara para tetangga. “Ini baju yang dijahitkan Mak. Lalu dengan cekatan membungkus baju itu dengan koran. Dan … cuma dia. Sekuat tenaga kucoba untuk muncul. memperhatikanku. dasar orang.” “Itu baju yang tak pantas dilihat. Lagi pula kau seorang muslimah. “Apa aku gila?” tanyaku. bahkan ada sisa-sisa darah kering di sana. menceritakan banyak hal. tetapi jangan pergi ke bukit itu atau bahkan ke rumoh geudong lagi. Aku suka membantah orang. Lalu di dekat perut. Namun tiada tepi. kecuali semua yang bernama kepahitan. Aku mengangguk-angguk.” kuteguk minuman itu. menggapai-gapai permukaan. Kau anak baik.” katanya pelan. setelah keluargaku dibantai dan aku dicemari beramai-ramai. “Kau sakit. Ia memberiku makan. ketiaknya juga. Berbahaya. Kulihat ia menggigit bibirnya sesaat. Kau tak akan mengganggu siapa pun…. Cut Dini menatap bola mataku dalam. sambil menggoyang-goyangkan kedua kakiku. Aku memakan dan meminum nyeri setiap hari.” kata Cut Dini sambil memberiku minum. Nanti orang-orang itu bisa menyakitimu lagi. yang sudi berteman denganku. tetapi tidak Cut Dini. Aku melempari atau memukul orangorang yang lewat. “Aku suka. bahkan menyentuh apa pun. “Therimoung… ghaseh…. Tangannya koyak. “Sudahlah. Tidak baik pergi sendirian. “Baju yang koyak itu jangan dipakai lagi.

Ini daerah operasi militer. Jembatan Kuning.” Aku nyengir. “Siapa kalian?” tiba-tiba kudengar suara Cut Dini bergetar. di ruang tamu yang merangkap kamar tidurku. aku tertawa gelak-gelak. meski tak mengerti. Tak ada tempat bagi orang seperti kalian di sini. Lupakan saja gadis gila itu. aku ingin menangis setiap mendengar bacaan Al-Quran. Bagaimana kalau kucuri saja topi-topi merah si loreng dan kubakar. Aku terbang tinggi dan kadang menukik seketika. Ah. “Kenyataannya masyarakat takut pada siapa? Dulu. “Kami orang baik-baik. “Tidak!! Bagaimana dengan pemerkosaan dan penyiksaan selama ini. lalu mengintip ke dalam lewat jendela yang rapuh. Dua lelaki tegap dengan rambut cepak menyodorkan sesuatu pada Cut Dini. Aku jadi ingin marah. Aku terbang dan hinggap pada meja kusam di samping rumah. Kami menjaga keamanan masyarakat. Aku seperti mendengar Hamzah mengaji —lewat pengeras suara— di musala. *** 105 Siang itu aku sedang menjadi burung. “Lalu perkampungan tiga ribu janda. Sungai Tamiang. “Kami hanya menindak para GPK.” “Oh ya?” Nada Cut Dini sinis.Quran mungilnya dan membacanya dengan syahdu. Lima ratus ribu? Horeeee! Apa bisa buat beli sayap? “Kami minta ia tidak mengatakan apa pun pada orang asing. lebih lekat dari jendela. Cot Panglima. Mengapa? Kugerak-gerakkan kepalaku menatap mimiknya. Suaranya kadang berubah. memata-matai dan menganggap teman sendiri sebagai pengikut Hasan Tiro dari Gerakan Aceh Merdeka.Lalu seperti biasanya Cut Dini mengambil Al. Tetapi sekarang semua usai. Ia atau bisa saja anda sebagai walinya menandatangani kertas bermaterai ini. Huh. Hua…ha…ha.” . keji that! Tidak!” Kedua orang itu tampak gugup dan sesaat saling berpandangan. anak-anak yatim yang terlantar…. semuanya busuk. penjagalan di rumoh geudong. ambil saja uang ini buat anda. Hutan Krueng Campli…dan di mana-mana!” suara Cut Dini meninggi. banyak yang terpaksa menjadi cuak. Kulihat wajahnya marah. mayat-mayat yang berserakan di Buket Tangkurak. Kami hanya ingin memberikan sumbangan sebesar lima ratus ribu rupiah pada Inong.” “Sudahlah. Aku hinggap di ranting-ranting pohon belakang dan mematuki buah-buah di sana.” Cut Dini membaca kertas itu.

Puluhan orang ini telah membakar beberapa rumah! “Jangan ada yang menunduk!” Aku gemetar mendengar bentakan itu. Kalian sama dengan warga Mane… bekerjasama dengan GPK!” suaranya lagi. “Dulu aku shalat bersama keluargaku. “Kami bukan GPK!”suara Ma’e. “Mengapa aku tak pernah diajak salat?” protesku. 106 *** “Keluar.” katanya. Kudengar Ayah tak putus berdzikir. Dari kejauhan kulihat api berkobar. nanti perabotan itu rusak. Kurasa ia seorang pemimpin. Kulempar mereka dengan apa pun yang kutemui di meja dan di lantai. juga Agam dan Ma’e! Beberapa orang mengangkat Mak dan membawanya pergi! Sebelum aku berteriak.” kata Cut Dini tersenyum. “Ini pelajaran bagi anggota GPK!” teriak seorang lelaki berseragam. Ada apa? Pintu rumah kami digedor-gedor. tiba-tiba saja Ayah diseret ke luar.Apa? Gadis gila?? Kukepakkan sayapku dan menukik ke arah dua lelaki itu. sebelum aku bisa jadi burung. Orang-orang itu kini hanya titik di kejauhan. “Zakaria dan keluarganya membantu anak buah Hasan Tiro sejak lama!” Warga desa menunduk. “Benahi yang rapi lagi. Pasti itu ayah orang yang memperkosaku! Pasti ia teman para pembunuh itu! Pasti mereka orang-orang gila yang suka menakut-nakuti orang! Paling tidak mereka cuak! Aku benci cuak! “Inong…. Dzikir itu lebih mirip jeritan yang menyayat hati.” Aku berhenti melempar. “Ayo lihat mereka. abang dan adikku. tetap lembut. bila ingin shalat seperti manusia. Mereka berteriak-teriak seperti anak kecil dan berebutan ke luar rumah. “Jangan menjadi burung. Aku mau shalat lohor dulu. Aku berhenti jadi burung ajaib. dan kembali menimpuki mereka dengan panci dan penggorengan. ya. Ulon hana teupheu sapheu!” .” tukasku. “Masya Allah. Ketika pintu dibuka. Ayah berjalan ke arah pintu diikuti Mak. Mereka tak mampu membela kami. beberapa tangan kekar merobek-robek bajuku! Aku meronta-ronta. Lalu Ma’e dan Agam. Zakariaaa! Keluar! Atau kami bakar rumah ini!!” Aku terbangun dan mengucek kedua mataku. Aku berlari ke dapur.” suara Cut Dini.

Peristiwa empat tahun lalu dan rezim ini. lalu Ma’e abangku! Aku histeris. Airmataku menderas. mencakar. tetapi aku tak bisa bangun. “Allah tak akan membiarkan mereka.“Lepaskan mereka. Wajah-wajah dalam jaring pias. Inong! Semua sudah berlalu. Tegar. “Bawa mereka ke bukit dekat jalan buntu! Juga gadis itu!” Aku meronta. tolong ambilkan sayapku! Aku ingin pindah ke awan! Di tanah kebanggaanku hanya tersisa nestapa!! Tak ada yang mendengar. “Astaghfirullah. Di mana sayapku? Aku ingin terbang dari sini! Oiiii. Wajah-wajah itu retak. Silau. Aku menjerit-jerit dalam perangkap. “Kami tidak membela. Sebuah pelukan yang sangat erat kurasakan. Jiibandum ureung biasa. Agam dan Ma’e? Di mana wajah saleh milik Hamzah? Di mana tengkoraknya? Tangan-tangan raksasa itu menggerakkan jaring ke sana ke mari. Tak jauh. Pedih. mereka memang bukan orang jahat.” suara Geuchik Harun. “Siapa lagi yang mau membela?”tantang lelaki penyiksa itu pongah. Inong! Tak akan! Kau harus sembuh. itu suara Hamzah! “Angkut orang yang bicara itu!” Aku melihat Hamzah dipukul bertubi-tubi hingga limbung. terkelupas dan berdarah. nyeri yang amat sangat merejam-rejam tubuhku! “Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!”aku berteriak sekuat-kuatnya. Kalian salah sasaran!” Ya Allah. “Pak Zakaria hanya seorang muadzin.” Samar-samar kulihat kepala desa kami itu diikat pada sebatang pohon. di dalam jaring-jaring merah ini.” 107 . Aku jatuh lagi. sebab aku berada di dalam jaring! Banyak orang sepertiku di sini.” Tangan-tangan raksasa itu mengayun-ayunkan jaring. Inong! Inong. lalu Ayah yang berlumuran darah! Tangan-tangan kekar menyeret mereka ke arah truk. Pusing. menendang. saat tak lama kemudian. kulihat Agam tersungkur dan tak bergerak lagi. Dan aku tak ingat apa-apa lagi. menggigit. Serentetan tembakan segera menghunjam tubuh Geuchik Harun. bangun!”dua tangan menggoncang-goncang badanku. Di mana Ayah. hingga aku letih sendiri. Airmataku menganak sungai. Aku dan kumpulan manusia di sini berjatuhan ke sana ke mari. lalu…ia diinjak-injak! Dan diseret pergi. “Inong. Inong! Tegar! La hawla wala quwwata illa bi 'l-Lah…. Merah. istighfar…. Lalu airmata seseorang yang menetes-netes dan bercampur dengan aliran air di pipiku. Kami tak bisa keluar dari sini! Tolong! Toloooooong! Di mana sayapku? Di mana? Di mana tangan Mak dengan cincin khas di jari manisnya? Aku ingin menggenggamnya.

tak ada airmata yang mengalir. Sekujur badanku bergetar.Data yang diterbitkan oleh Forum LSM Aceh. Aku menggigil dan mendekap Cut Dini erat-erat. . Ia mengusap airmataku. Di antaranya berseragam. Tibatiba takutku naik lagi ke ubun-ubun.*** 108 Cipayung. beri kami keadilan. tak ada suara yang keluar. Bapak sudah lihat sendiri. terasa berputar. Pak. Cuma luka nganga. mencari bening. "Pergiiiiii!" aku menceracau. Daftar istilah: Buket Tangkurak : Bukit Tengkorak Geuchik Cuak : Kepala Desa : orang yang jadi mata-mata tentara . Lalu tak jauh di hadapanku.Buletin Kontras no 1/Agustus 1998. Orang-orang ini tersentak. . Terbit. Aku berteriak. kulihat beberapa o-rang.Kabur. mereka akan membantu kita…. Tolong. apa peduliku?! Aku ingin berteriak. tetapi kaku.Gatra. mengamuk. Menggelepar. Apakah ia membawa jaring-jaring untuk menangkapku lagi? “Pergiiiii! Pergiiii semuaaaa!” teriakku. Republika. menatapku kasihan. Aku menangis tersedu-sedu. “Pergiiiiiiii!” aku menjerit sekuat-kuatnya. memporakporandakan apa dan siapa pun yang ada di hadapanku! Aku…. Oknum-oknum itu menjarah segalanya dari perempuan ini!” Takut-takut kuintip lelaki tegap yang sedang menatapku ini. “Inong….” Aku terkapar kembali. “Ia hanya satu dari ribuan korban kebiadaban itu. 5 Agustus 1998. 1998 Referensi: . Samar kulihat Cut Dini. Tak ada apa pun. Tiba-tiba suaraku hilang. Berdarah dalam jaring. Aku mengamuk panik. Kompas ( semua terbitan Agustus 1998). mencari gerak. Hah. Wajah tulus dengan kerudung putih itu. Aku mencari bunyi.

April 1999) .Ma’e Mak rumoh geudong Mane ureung-ureung that ulon hana teupheu sapheu therimoung ghaseh kherudoung : panggilan untuk Ismail : Mak : rumah gedung (tempat penjagalan) : nama desa di Pidie : orang-orang : sekali : saya hanya orang biasa : terima kasih : kerudung 109 (Dimuat dalam Horison.

siapa kau?!” "Titiang yang akan melayani seluruh keperluan Ratu. kasih sayang. Apa yang terjadi dengan dirinya? Kopag memaki dirinya sendiri. sekedar mendengarkan keputusan orang-orang terdekatnya. Semua gara-gara dia mencium bau yang aneh dari sudut pintu. Tangan mereka bersentuhan. Apa pun yang dikatakan orangorang di sekitarnya. Pisaupisau yang runcing terbayang di otaknya. Bau itu semakin mendekat dan menyesakkan dadanya. “Luh Srenggi. atau seonggok kayu yang paling sakral sekalipun. dan sangat tulus. Perempuan itu pasti memiliki kecantikan yang melebihi kecantikan sebatang pohon. Kopag semakin gelisah. Luar biasa. Aneh sekali. Inilah perempuan itu. Luh Srenggi cepat-cepat membantu.1 Luh Srenggi. tiba-tiba saja dia seperti ditenggelamkan ke lautan. Baru kali ini Kopag merasakan bisa menikmati hidupnya. benarkah suara ini milik seorang perempuan? Ketika Kopag akan mengambil tongkatnya. “Siapa tadi namamu?” Kopag mulai menenangkan dirinya sendiri. Kali ini.2 Mulai hari ini dan seterusnya. 110 . Kopag yakin dugaannya ini tidak meleset.” Suara itu terdengar bergetar. perempuan yang dicarinya berabad-abad. dia merasa menemukan kebenaran yang berbeda dengan kebenaran yang diyakini oleh orang-orang yang selama ini rajin menanamkan kebenaran yang telah menjadi ukuran mereka. Aneh. Seorang perempuan. Dia memerlukan alat-alat pahatnya.Pemahat Abad Oleh: Oka Rusmini Kopag menjatuhkan pisau ukirnya yang runcing. Suara itu dirasakan penuh dengan kejujuran. Kulit perempuan itu terasa seperti kulit kayu.” “Srenggi? Srenggi siapa?!” Kopag semakin menggigil. Suara itu adalah suara perempuan. Tangannya jadi lapar. “Siapa itu?” “Titiang. dari mana datangnya bau yang membuatnya begitu gelisah? Bau itu semakin mendekat. "Katakan padaku. Kopag harus patuh. Seperti bau daundaun kering dan kayu basah. Sekarang Hyang Widhi mengirim untuknya. Dia bisa memberikan penilaian yang begitu objektif terhadap benda hidup yang bernama manusia. Hampir saja pisau itu memahat kakinya. Biasanya dia hanya dijadikan objek.” Suara itu terdengar gugup. Kopag menggigil ketika bau itu benar-benar menelanjangi wujud laki-lakinya.

Seperti sebatang kayu dengan lekuknya yang begitu menggairahkan. Laki-laki itu harus berperan sebagai laki-laki buta untuk menebus kelahiran dan hidupnya sendiri. Dia hamil. Gelar Ida Bagus menunjukkan bahwa dia adalah anak laki-laki dari golongan Brahmana. Sayangnya laki-laki itu memiliki mata yang sangat liar. Seluruh wajahnya juga lekukan kayu. perasaan. Dia tahu. Dia memberi Kopag poin. Dia adalah kayu terindah dan tercantik. sejak kecil dia terbiasa dididik menjadi perempuan bangsawan yang menghormati laki-lakinya. Dia bisa mengubah kayu kering menjadi sebuah karya seni yang memikat para intelektual seni rupa. Perempuan itu menolak. apakah orang-orang yang memiliki kelengkapan utuh sebagai manusia ketika dilahirkan mampu menangkap seluruh rahasia kehidupan ini? Rahasia yang erat-erat digenggam dan disembunyikan alam? Salahkah kalau tiba-tiba saja Kopag menemukan kecantikan yang luar biasa pada diri Luh Srenggi. Belum lagi hutangnya yang tiba-tiba saja menumpuk. Apa yang sesungguhnya salah pada kriteria yang telah diberikan Kopag terhadap perempuan? 111 *** Kehidupan telah memaksa bocah laki-laki itu memakai label Ida Bagus Made Kopag. setelah berbulan-bulan tidak pulang. Salahkah? Kecantikan perempuan muda itu adalah kecantikan yang sangat luar biasa. Dalam kondisi seperti itu. di sanalah dunia itu dibuat untuk laki-laki yang sejak pertama berkenalan dengan aroma bumi dan hidup hanya merasakan kegelapan sebagai bahasanya. Dia anak laki-laki kedua yang lahir dari keluarga terkaya di Griya. Lahirlah seorang laki-laki yang merenggut nyawa perempuan itu. Gubreg?” Suara Kopag terdengar getir. Suatu hari. Dilahirkan sebagai laki-laki buta memang tidak menggairahkan. Dia juga memiliki puluhan galeri lukis dan patung. setiap makhluk yang memiliki lubang bisa dimasuki. Alangkah ajaibnya kalau hidup juga bisa dipermainkan. cantikkah perempuan itu. pelayan tua itu. Kata orang. yang tentu saja tidak dimiliki orang-orang. Kecantikan yang dia lihat dengan pikiran. juga tidak berkomentar ketika Kopag memuji keindahan perempuan delapan belas tahun itu. Kopag . Aneh sekali tak ada manusia yang bisa menangkap kecantikannya. Tubuhnya seperti lekukan kayu. Kehidupan yang sering dimaki Kopag ternyata cukup demokratis. laki-lakinya akan menitipkan daging binatang di rahimnya.“Apakah di bumi ini wujud kebenaran itu sudah seragam. Pikirannya kacau! Kopag sadar. Bahkan Gubreg. agar orang-orang mudah mengenalinya dan membedakan dirinya berbeda dengan manusia lainnya. Menghargai keindahan yang dititipkan alam padanya. “bahkan untuk menilai keindahan itu. Kopag telah merekonstruksi sejarah seni rupa. lakilaki itu pulang dalam kondisi yang menyakitkan. aku juga harus memakai kriteria mereka?” “Kebenaran mereka? Aku tidak yakin mereka mampu melihat seluruh keindahan hidup ini dengan benar!” Suara Kopag terdengar penuh tekanan. Tubuhnya kurus dan pucat. bisa dibuat sebuah pementasan. Seluruh kekayaan ludes. Apa artinya kekuatan seorang perempuan? Terlebih. Karena tak ada perempuan-perempuan yang bisa dilihatnya dengan matanya. laki-laki itu memaksa perempuan yang dinikahinya untuk bersetubuh. sangat sadar. Ayahnya seorang laki-laki sangat terhormat dan memiliki kedudukan tinggi di pemerintahan. sehatkah dia? Bagi ayah Kopag. Laki-laki itu adalah binatang yang paling mengerikan. Dia tidak pernah peduli. dan keindahannya sendiri. hidupnya. Tapi. laki-laki itu bisa tidur dengan seluruh perempuan. kasta tertinggi dalam struktur masyarakat Bali.

Postur tubuhnya seperti putri-putri raja Bali. atau posisi piring dan gelas berubah di dapur. Sebuah kesunyian dengan pagarpagar keindahan. selalu berkata bahwa beruntunglah kakaknya bisa mendapatkan perempuan tercantik di desa. bagaimana sesungguhnya sebuah penilaian yang objektif dalam hubungan antarmanusia di bumi ini.” 112 . Kopag juga merasakan setiap mulut perempuan itu terbuka. perempuan itu harus mengubah namanya menjadi Jero Melati. Gubreg? Tolong kau katakan seluruhnya. dan sangat pas. parekan. “Apa bisanya adikmu yang buta itu? Apa? Merepotkan!” Suara perempuan muda itu selalu menggelisahkannya. *** Kopag menarik nafasnya dalam-dalam. merah. kulitnya yang sering jadi pujian. Kopag sangat menyukai kayu yang mengenalkannya pada dunianya. dia memahat pikirannya. Ni Luh Putu Sari yang sejak menikah dan masuk menjadi keluarga Griya bernama Jero Melati itu memiliki kulit yang sangat indah. Orang-orang di luar hanya tahu bentuk tubuhnya yang konon sangat luar biasa. pokoknya seluruh tubuh perempuan itu selalu jadi pembicaraan kaum laki-laki. Masih kata Gubreg. Iparnya yang luar biasa kasar dan cerewetnya jadi pujian dan pembicaraan seluruh laki-laki di Griya. perempuan kebanyakan itu telah menikah dengan kakaknya dan menjadi keluarga Griya. Teriakannya saja bisa memandulkan pisau pahatnya. “Luar biasa kecantikan Jero Melati. Bagaimana mungkin perempuan konon kata orang-orang di desanya sangat cantik dan santun itu bisa berkata begitu kasar. Aneh sekali. dia mencium bau darah.” “Seperti apa perempuan cantik itu. Bagi Kopag. Suara iparnya itu akan terus menari-nari di sekitar telinganya. Disentuhnya kayu kering yang selama ini selalu mengantarnya ke mana dia pergi. Karena perempuan Sudra. Nama perempuan itu Ni Luh Putu Sari. Ratu. Untuk pertama kali. Getaran tangannya sudah seperti tangan-tangan mayat yang membusuk. alam menyerah pada kekuasaannya. Itu yang dirasakan Kopag.tidak saja memahat kayu. perempuan itu adalah pemain sandiwara yang ulung. juga impian-impiannya. Dunia yang diinginkan. seperti Kopag juga menyerah pada kebutaan yang harus dia kenakan setiap saat. ketika untuk pertama kali iparnya itu menyalaminya. Karena dia bukan kaum Brahmana. aku juga ingin merasakan. Tanpa teriakan iparnya yang sering menyesakkan kuping. Kebutaan yang mengikuti dia terus-menerus. Ada-ada saja yang diributkannya. Saat ini aku mencoba percaya pada matamu. Bahkan Gubreg. Anyir. Jujur saja. pelayan setia yang merawat Kopag sejak kecil. Bau itu seolah berlomba-lomba meloncat dari bibirnya yang konon sangat mungil. Aku ingin tahu. Tanaman di halaman samping rusak atau terinjak kakinya. otaknya. Saat ini dia sangat mengikuti ambisinya untuk masuk dalam lingkungan keluarga Brahmana. Kopag sering berpikir. kembang sepatu yang baru ditanam perempuan nyinyir itu tersangkut tongkatnya. Perempuan itu benar-benar serius untuk memasuki perannya sebagai istri laki-laki Brahmana. dia harus menunjukkan pada seluruh manusia di desa ini bahwa dirinya berhak masuk dalam lingkungan keluarga bangsawan.

aku selalu tersentuh. Laki-laki tua itu sekarang ini jadi cepat marah.” Keruncingannya. Titiang tidak bisa menjelaskan seperti Frans. “Gubreg. Rasanya baru mendengar satu huruf keluar dari bibir laki-laki Prancis itu seluruh isi perutnya seperti keluar. kan? Kehidupan sendiri memberinya hadiah yang luar biasa. Laki-laki bule itu telah memberinya didikan yang baru. kau belum jawab pertanyaanku. Susah. Sejak kecil. dan tangannya juga sangat cekatan memahat patung-patung. Frans Kafkasau. Ada yang hilang dalam tubuh laki-laki tua itu. Anggap dia anakmu!” Itu pesan Ida Bagus Rai. Gubreg. tapi mampu memikatku. sebelum berpulang. Seluruh ilmu memahat dia alirkan dalam tubuh bocah kecil yang tidak berdaya itu. Kegelapan itu jadi milik cucuku yang paling abadi. Tanyakan pada laki-laki bule itu!” Suara Gubreg terdengar penuh nada kecemburuan. Hyang Widhi! Penguasa jagat! Kopag memang sudah besar. Gubreg. rasa apa yang sering membuatku meluap. Susah. Kadang-kadang dia bacakan buku-buku bahasa asing. Gubreg?” “Jangan bertanya yang aneh-aneh pada titiang. sudah menjelang dua puluh lima tahun. Bagi Gubreg. Laki-laki setengah baya itulah yang membuat Gubreg. Dia juga rajin membaca buku-buku dengan huruf braile. Ratu. 113 . Dia ingat teriakan Kopag ketika pertama kali menyentuh tubuh-tubuh pisau yang telanjang itu. perhatian yang lain. Gubreg. Seperti apa perempuan cantik itu? Apa seperti bongkahan kayu beringin ini? Dingin. Kau bisa lihat. Pertumbuhannya selalu mengingatkanku pada perbuatan-perbuatan yang dilakukan anakku. Cucuku memiliki seluruh mata manusia yang ada di bumi ini. tentang Michelangelo Buonorrty. Dadanya sering mendidih. Sejak kecil kakeknya hanya mengajari Kopag bersentuhan dengan kayu-kayu untuk berkenalan dengan kehidupan. Kopag tidak lagi membutuhkannya. Karmanya jatuh pada anaknya sendiri. Dia juga yang mengajarinya bahwa semua benda punya jiwa. Lihat. dia mampu membuat patung-patung dengan ukiran sangat sempurna. begitu indah. Kehilangan yang dalam. Jengkel! Waktu Kopag sekarang habis untuk diskusi. Ada rasa sakit mengelus dada tuanya. “Kau tidak ingin menjawabnya. tubuhku gemetar setiap menyentuh pisau-pisau ini. Aku masih percaya kehidupan itu bisa diajak bicara. Atau sesekali dia dikunjungi orang asing dari Prancis. Menanggung dosa ayahnya.Laki-laki tua itu terdiam. dialah yang mengajari Kopag mempelajari tekstur kayu. Dipandangnya mata Kopag dalam-dalam. Gubreg pun mengajari Kopag menelanjangi tubuh pisau-pisau pahat. Waktu itu umur Kopag tujuh tahun. jengkel! Ada-ada saja yang dibawanya. Atau sesekali mendatangkan guru yang mengajarinya membaca. apa ini rasa yang dimiliki lakilaki? Ini wujud kelelakian itu?” suara Kopag terdengar pelan. Ida Bagus Made Kopag memiliki tubuh yang sangat bagus. Begitu penuh misteri. yang konon. Jaga dia baik-baik. yang diterjemahkannya. Gubreg. termasuk rangkaian pisaupisau pahatnya. kata Frans. “Gubreg. Sejak bergaul dengan Frans ada-ada saja yang ditanyakan Kopag padanya. Kopag sudah bagian dari nafasnya. Lihat. Gubreg. “Anak itu buta. ketajamannya. Luar biasa. pematung jaman Renaisans. dan menikmati aroma ketajamannya yang luar biasa indahnya. Tinggi.

” Suara Gubreg terdengar patah. Waktu itu Gubreg seorang laki-laki kumal empat belas tahun. Sering sekali dia disuruh mengantar Dayu Centaga mandi di sungai Badung.” “Titiang. Kaki perempuan itu putih. Masih kata Balian tua itu. Begitu parah. Tubuhnya dilingkari asap yang sangat menyesakkan aliran pernafasannya. dia juga pernah merasakan seperti apa percikan nafsu itu ketika pertama kali menampar wujud manusianya.. Lama-lama Gubreg merasakan sakit yang luar biasa menyerang tubuhnya. dan tulang-tulangnya yang mulai rapuh membantunya merangkai masa lalunya kembali. memiliki penilaian khusus tentang hal itu. dia adalah laki-laki tak berguna. karena kelaparannya adalah kelaparan yang tidak pada tempatnya. Berkali-kali dia menarik nafas. Tak ada yang bisa diceritakan kegelisahannya. Gubreg menyaksikan. “Aku ingin bercerita padamu. Kebetulan si penunggu sungai sedang beristirahat. Semua orang. Hyang Widhi. dia sadar tubuhnya tidak boleh melahap tubuh perempuan Brahmana. Perempuan itu. Gubreg belum juga bisa menjawab arti menjadi lakilaki. angkuh dan selalu lapar. Dia mengerti. kebanyakan. yang hidup dari belas kasihan keluarga Dayu Centaga. Kopag sudah membuka jendela studionya. Tubuh perempuan itu seperti ular yang melingkar dan menjepit batang-batang tubuhnya. Sebagai laki-laki Sudra. dia luka. betapa sinar matahari yang perkasa itu menjadi patah dan tak berdaya ketika menyentuh sedikit saja keruncingannya. Gubreg sadar rasa laparnya sudah tidak bisa dibendung lagi. Rasa itu tiba-tiba saja muncul kembali dalam otak.Kilatan matahari menjilati keruncingan pisau pahat itu. Balian tua itu memberinya jampi-jampi.. Setiap mengingat batas yang ada antara dirinya dan Dayu Centaga. Aroma tubuh perempuan itu sampai hari ini masih melekat erat di tubuhnya. Gubreg sempat membuang kotoran di pinggir sungai. Aroma itu tak bisa dihapus oleh usia yang dipinjam Gubreg pada hidup. Dia sering terjaga tengah malam dengan nafas yang memburu. *** 114 Pagi-pagi sekali.. “Tentang apa lagi. Kata Balian itu. Kakinya kram setiap melihat tubuh basah itu naik ke atas dengan kain yang hanya sebatas dada. perempuan yang sangat dihormatinya. Sampai menjelang tengah malam. Pisau justru seperti menantang matahari untuk bersabung. Ratu?” “Kecantikan perempuan. Keluarga Griya mencarikan dia seorang Balian. Terlebih. Dia juga laki-laki. Perempuan junjungannya. Sangat paham.. . Perasaan apa yang sedang bertarung dalam tubuh Kopag? Gubreg takut. dan teramat menggelisahkan ketika tubuhnya mulai lapar dan memerlukan tubuh lain untuk santapan.. Dayu Centaga selalu menyuruh Gubreg menggosok punggungnya dengan batu kali. Di tangan Kopag pisau itu jadi begitu dingin.” suara Kopag terdengar penuh rasa ingin tahu. dukun.titiang tidak bisa menceritakan kecantikan perempuan pada Ratu. Ratu. Takut sekali menjawab pertanyaan tentang esensi menjadi laki-laki. Dia gelisah. Tubuhnya jadi pucat. dan mampu meledakkan otaknya. Gubreg selalu merasakan tubuhnya dilubangi.

Untuk menghormati kebaikan keluarga Griya. Cinta yang membuatnya jadi batu. Sesuatu yang dahsyat telah dititipkan alam pada tubuhnya. Sampai sekarang. Dia pasrah ketika Balian tua. “Gubreg. sampai akhirnya potongan-potongan tubuh itu ada di tanganku. tetapi sudah menyerupai air bah. Gubreg menatap tajam tubuh Kopag yang sedang merampungkan pahatannya. Dia menarik nafas berkali-kali. Dia mencoba memahami sesuatu yang sangat rahasia dan begitu dalam ingin disampaikan Kopag.memandikan tubuhnya di pinggir sungai. Rasa ingin tahu yang begitu besar. Aku selalu ingin tahu. sampai menguliti otakku. keluarga Griya membawa sesaji untuk penunggu sungai.tadinya penunggu sungai itu juga ingin mengganggu Dayu Centaga. Gubreg bersedia menjalankan runtutan upacara itu. seorang anak yang dibesarkan dengan cara-caranya. Dia rasakan perubahan pada tubuhnya. komunikasi Balian tua itu dengan dunia gaib salah. Gubreg bahkan rela bocah laki-laki itu mencuri lembar demi lembar rahasia perjalanan dan rasa sakitnya sebagai laki-laki yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk mengabdi. Gubreg. menjelang tujuh puluh lima. Tanpa istri. diajar memahami kehidupan. Impian-impian yang dimiliki oleh po-hon ketika dia membesarkan ranting-rantingnya. yang memanfaatkan seluruh tubuhnya untuk mewujudkan jati diri tokoh yang dimainkan. dingin. Kecantikan perempuan yang kuterjemahkan lewat kayu-kayu itu mengingatkan Frans pada keliaran Martha Graham. mem-besarkan tubuhnya. Aku juga ingin tahu arti setiap impian. Pada dasarnya aku selalu penasaran. Cinta yang tidak mungkin dihapus. Katanya agar roh jahat tidak mengenai keluarga Griya. Gubreg tidak bisa bercerita tentang kelaparan tubuh laki-lakinya. Gubreg masih setia mengabdi di Griya.. “Gubreg. tanpa kegairahan sebagai laki-laki. 115 . tidak juga kesambet setan. Aku juga memiliki impian-impian sendiri pada patahan tubuh pohon itu. pahatanku tentang perempuan sangat sempurna. tidak lagi bisa menikmati kegairahan manusiawi sebagai manusia. kau ingat kata-kata Frans?” “Yang mana?” “Frans mengatakan keliaranku membentuk tubuh-tubuh manusia dalam kayu mengingatkan dia pada lukisan Pablo Picasso. Gubreg tidak sakit. Kalau sekarang Kopag bertanya seperti apa kecantikan itu. dia merasakan cinta yang dalam pada Dayu Centaga. karena aliran sungai dalam tubuhnya bukan lagi aliran sungai kecil. Berkat kekuatan Gubreg. Gubreg paham. Untuk mengembalikan kesehatan Gubreg.” suara Kopag terdengar pelan.” Gubreg tetap diam. selalu ingin mengupas dan melukai kayu-kayu itu. Demi Hyang Widhi. Dan Gubreg tahu air dalam tubuhnya memerlukan muara. Kayu-kayu dan pisau telah memberiku mata yang lain. Gubreg. sangat surealis. Suatu hari Frans dan seorang temannya mengatakan. Dayu Centaga tidak terkena. aku merasakan kecantikan perempuan itu melalui jari-jariku. Guemica. Kenapa kayu-kayu ini selalu mengajakku berdiskusi. dan berpikir. kau belum juga jawab pertanyaanku. berdialog.. Justru Gubreglah yang kena kemarahan si penunggu sungai. mengajakku bicara. Kata mereka. tanganku. tubuhku. Tak seorang pun tahu.

Jero Melati tersenyum. Mengerikan! Padahal perempuan itu sangat cantik. Aku ingin bicara!” Kali ini suara Kopag terdengar serius. Saat ini galeri itu sudah tumbuh besar dan menjadi satu-satunya galeri yang paling diakui di Bali karena karya patung yang masuk harus melalui seleksi dan pertimbangan yang teliti. Bahkan. Dia tahu. “Bagaimana kalau dia kawin dengan calon yang telah kusiapkan. Lima menit tanpa hasil. Mendengar komentar itu. “Kau harus bisa meyakinkan dia bahwa adikku layak menjadi istrinya.” “Siapa?” “Adik perempuanku. Gubreg. Jero Melati tidak pernah ceriwis. Gubreg diam. 116 *** “Kita harus carikan seorang istri untuk Ratu. dia tidak tahan miskin. perempuan itu bebas menggunakan uang Kopag semaunya. Ratu terlihat sangat gelisah. Laki-laki itu tidak pernah tahu apa arti ada uang atau tidak ada uang. Untuk pertama kali dia merasakan hawa jahat berendam dan menguasai tubuh cantik itu. Kopag memerlukan perempuan. kakak Kopag sendiri bisa membuka galeri patung yang besar. keluarga besar ini kembali bisa hidup. Benar kata Kopag. “Ratu. Otaknya hanya berisi kehormatan. ada bantuan dana dari Jerman dan Prancis.” Suara Kopag terdengar sangat serius. adik Jero Melati bisa menjual tubuhnya. Kata orang-orang kampung. Kopag seperti linglung.” Suara perempuan itu terdengar mirip perintah dan pemaksaan. Bulan kemarin. Gubreg tahu tak ada yang diinginkan Kopag.Berkat Kopag. Aku ingin kawin. Gubreg mencoba memahami ke mana kira-kira arah pembicaraan Kopag. Aku sudah memikirkannya jauh-jauh hari. *** “Gubreg. Patung-patung Kopag laku keras dan diminati oleh kolektor dari dalam dan luar negeri. Sayang.” jawab perempuan itu serius. Ratu ingin apa lagi? Jangan menakuti titiang. Sekarang ini keluarga ini tentram.” “Jero sudah punya calon?” “Ya. . adik Jero Melati adalah perempuan paling liar dan nakal. Gubreg menatap mata perempuan itu tajam. Padahal kemiskinan kalau dihayati memiliki keindahan tersendiri. dia terus mengelilingi studionya. Hanya satu yang ditangkap Gubreg.” “Ya. perempuan satu ini memang bukan perempuan baik-baik.” suara Gubreg terdengar sangat hati-hati.

Bahkan merekalah yang akan memilihkan calon istri untuk Ratu. Kulitnya begitu kasar. Dia adalah perempuan tercantik. dia hanya memiliki satu mata.?!” Gubreg seperti tercekik. kakinya pincang. dia lebih mirip makhluk yang mengerikan. punggungnya bongkok. Sebuah pisau pahat menembus dadanya yang tipis. Kau tahu. dan mengambilkan pisau-pisau pahatnya? Perempuan itu bukan perempuan. Perempuan yang mengalahkan kecantikan kayu-kayuku. “Aku telah menidurkan perempuan itu setiap malam. Hyang Widhi! Dewa apa yang ada dalam tubuh Kopag. titiang juga sudah membicarakan dengan Jero dan kakak Ratu.” “Apa kata mereka. Saya 2. matanya yang kiri bolong. membersihkan studionya menyiapkan makan. Luh Srenggi.” Gubreg mengangkat wajahnya. apakah kuping tuanya tidak salah dengar? Bukankah Luh Srenggi adalah perempuan yang menyiapkan seluruh keperluan Kopag. Ketika dia telanjang. tak ada sebuah pisau pun bisa menandingi ketajamannya. Wajahnya juga rusak berat.” “Mereka setuju. Kali ini pilihanku tidak bisa diubah!” “Siapa?” “Luh Srenggi. ada daging besar tumbuh di atasnya. aku tenggelam dan habis. Aneh! Wajah itu tetap seperti batu.. tahukah dia makna kecantikan? Gubreg menarik nafas memegang dadanya kuat-kuat. Panggilan kehormatan untuk bangsawan Bali (Dimuat dalam Horison.” “Ratu. Gubreg. ingin sekali dilihatnya wajah Kopag berseri. Maret 2000) .“Maaf Ratu. ketika kujatuhkan tubuhku memasuki tubuhnya. Sadarkah dia. “Aku sudah memiliki calon.. Tubuhnya benar-benar lekukan kayu. Kulitnya juga kulit kayu.” Gubreg ambruk.*** 117 1. Perempuan itu telah mengasah tubuh laki-lakiku.

tergolek bagai barang tak berguna. “Niru telah mengantarkan aku ke jenjang karier seperti sekarang dan menjadi modal besar bagiku sampai diangkat menjadi profesor. betapa mengerikan. “Jim!” ulangku. “Ketika kutinggalkan sekejap tadi. Sambil mengangkat gagang telepon itu. “Bagaimana caranya mereka menjadi batu?” lanjutnya. Sampai pada kalimat tersebut.” “Jim.. “Oh. “Tapi mengapa harus menjadi batu?” tanya Jim. tetapi aku tak pemah menganggapnya sebagai sesuatu yang berasal dari luar diriku. tetapi aku sudah membayangkan. Ia dan keluarganya —sebelum kawin— memang pohon penelitianku. Tetapi manusia yang telah menjadi batu tidak akan dapat memfungsikan dirinya. ya seperti yang sudah kuduga. Janganjangan menjadi batu merupakan upaya memfungsikan diri juga. aku membayangkan Jim kembali tercungapcungap menceritakan keluarga Niru menjadi batu. Jim akan tersentak sendiri karena ia mafhum bahwa memfungsikan diri adalah sesuatu yang abstrak.” kata Jim seperti yang sudah kuduga.” simpul Jim... “Tak masuk akal. Cepat-cepat ia mengatakan. bukan rentang waktu yang panjang untuk menelusuri hubungan kami. “Ya. hanya leher sampai kepala mereka saja yang belum menjadi batu. Lalu ia bertanya bagaimana hal itu bisa terjadi. padahal bagian terpenting dalam hidup adalah memfungsikan diri. Beberapa saat ia terdiam. mengapa harus menjadi batu.” kata hatiku. Lima belas tahun yang lalu. dan apa yang dapat dilakukan untuk membantu mereka. menjadi batu membiarkan diri melakoni benda mati. Tak ada jawaban.. “Kau kan tahu betapa Niru adalah bagian dari keluargaku juga. ditingkahi desah ketakutan dan keasingannya menghadapi kenyataan itu..” kata Jim. “Aku kira sebentar lagi semua tubuh mereka akan menjadi batu. Tapi mereka manusia kan?” Aku diam. Berkali-kali ia ulangi pertanyaan tersebut. pertanyaan terakhir itu akan dijawab oleh Jim sendiri dengan mengatakan bahwa memang benarlah mereka manusia.” kata Jim datar.Menjadi Batu Oleh: Taufik Ikram Jamil Dinihari. 118 . Ketika ia masih bujang lagi dan kini punya anak bersusun paku.!” panggilku. “Pasti dari Jim. mereka membunuh diri. Aku takut.

tetap memandu Jim di lapangan. Niru dan aku diundang menghadiri acara tersebut.. Sayang. hubungan kami terputus... Aku membayangkan saat ini Jim berlari dari warung telepon yang seingatku terletak sekitar dua kilometer dari rumah Niru kalau mungkin ia menelepon dari tempat itu. Tak mengherankan kalau di antara keduanya terjalin hubungan antara pemandu dengan peneliti sampai di luar batas. . namun jarak di antara keduanya sangat jauh seperti tak dapat diukur lagi secara metrik. tetapi masyarakatnya terbelakang.. Hallo... Cukup lama aku membiarkan gagang telepon melekap di telingaku dengan harapan Jim berbicara lagi. tetapi oleh waktu.. Tetapi belum sempat aku menyelidiki keberadaannya seperti tindakan apa yang diharapkannya dariku. Niru tak mau datang dengan alasan yang tidak jelas walaupun segala sesuatunya ditanggung oleh Jim.” kata Jim. Tampaknya aku harus melakukan tindakan karena sudah tiga kali ia menelepon. Sebentar ia tercegat di pintu dan sedikit saja ia menolak daun pintu dengan ujung telunjuk. sebenarnya hampir tergolong primitif. Keringat sebesar jagung segera saja mengalir di tubuhnya. tut. cahaya pelita sudah menyergap mukanya. dimulai dari puncak hidungnya yang tercacak. teruskan. 119 *** Dinihari. lantas berkenalan dengan Niru. Dalam kerangka yang lebih kecil dan sederhana dapatlah disebutkan bahwa penelitian Jim menggambarkan bagaimana di desa Niru terdapat berbagai hal yang teramat luar biasa secara ekonomi. Aku belum pernah setakut ini. Niru masih bujang bedengkang waktu itu. menuju rumah sahabat kami tersebut. aku merasa meneliti diriku sendiri. sekitar 150 km dari sini... Ketika Jim kembali ke negeri asalnya setelah tiga tahun menetap di desa Niru. Sesuatu yang sebenamya secara umum dinikmati tidak saja oleh Niru dan Suku Montai. tetapi banyak orang lain lagi termasuk aku. Ketika Jim dikukuhkan sebagai doktor di bidang yang ditelitinya yakni antropologi ekonomi. aku menjadi perantara hubungan mereka berdua. tut . tetapi yang terdengar hanya tut .. tetapi hidup di tengah ladang minyak yang kaya raya dengan peralatan canggihnya.” Aku menarik napas.. Ya. tak lama setelah berkawan akrab dengan Jim. Suku Montai. Belum lagi pembangunan perkebunan besar-besaran yang tak terbayangkan sebelumnya. “Halo.. ia yang kawin dengan orang sekampungnya.. begitu orang menamakan asal Niru.” “Aku takut. Tentu saja aku tahu karena akulah yang membawa Jim pertama kali ke desa Niru.sehingga ketika aku menelitinya atau orang kampung sekalian. Suku Montai berdampingan dengan hal-hal yang wah itu. ketakutannya terasa semakin besar. “Kau dengar atau tidak?” “Teruskan.. barangkali disebabkan perhatian kami yang berbeda dan semua permasalahan di dalam penelitiannya sekaligus kualami sendiri dalam bentuk lain. sangat takut. Mereka dalam keadaan yang tidak bisa membela diri terlebih lagi tidak punya sembarang pembela pun.. Hasil penelitian Jim di desa Niru sebenarnya tidaklah terlalu istimewa bagiku.” Jim agak berteriak..

Siah dan anak-anaknya ikut terlibat dalam pertemuan dua sahabat lama itu. semula aku tak percaya. menjelang dini hari mereka selalu berjalan ke luar. Dulu. “Sungguh. Berat.” kata Niru. Tak jauh dari Niru. turun ke tanah. “Tapi Niru.” kata Jim lewat telepon beberapa jam lalu. sebelum fajar menyingsing. Sesuatu yang sulit diterjemahkan kalau tidak berdiri pada bidang Niru maupun Jim. “Aku panggil Tuk Batin ke sini. juga mampu menghidangkan suasana lain. Cahaya bulan sepenggal dan kerlip-kerlip bintang yang tersapu awan hitam tidak menimbulkan sembarang kesan elok di hatinya. Angin berkibar. dan. ke pinggir hutan selatan. Kaki sampai dada lelaki itu sudah membatu.Wajahnya kelihatan menyala karena butir-butir keringat seperti tersimbah cahaya pelita yang merah kekuning-kuningan. wajahnya pun terlihat berayun. padahal baru beberapa jam sebelumnya Jim dan Niru masih berbicara perkara biasa-biasa saja. Ketika Niru menunjuk kaki anak-anak dan istrinya. Jim terpelanting. membuat pemandangan di dalam rumah ini bagaikan satu hamparan yang terasa amat asing. “Jangan!” “Bontik?” “Jangan. Kesimpulan menjadi batu dibuat Jim setelah ia melihat makin malam semakin banyak bagian tubuh Niru maupun anggota keluarganya yang menjadi batu. Jim mengikuti arah mata itu dengan pandangan tanpa ia tahu apa maksudnya.. Setelah berkali-kali mengajak berjalan ke luar yang dengan senyum ditolak Niru. Terasa begitu cepat waktu berlalu. lelaki itu akhimya mengeluarkan kakinya. “Atau Katik. Ia mencangkung pada pipa minyak yang bergaris tengah sekitar 80 sentimeter dan membentang tak sampai 15 meter dari rumah Niru. malah ia semakin gelisah. Leman. Tetapi mana mungkin aku mempertahankan ketidakpercayaan itu kalau aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana perlahan-lahan badan mereka berubah menjadi batu.” kata Jim. Jim menyadari keberadaan Niru dan keluarganya seperti sekarang tak lama setelah ia mengajak Niru berjalan untuk makan angin di luar. Jim memang mengatakan bahwa apa yang terjadi sekarang pada Niru dan keluarganya seperti tiba-tiba. tinggal mukanya yang ranum seperti tidak mengalami apa-apa. menusuk-nusuk hati Jim. Jim tak tahu apa yang harus dilakukannya. Jim pun sadar bahwa sesuatu telah terjadi pada keluarga ini. Aku memegang batu itu. Langsung saja matanya menyergap Niru yang tergolek di sudut. . Mengeluarkan kaki yang sudah menjadi batu. dan istrinya seperti tidak mengalami apa-apa. Raut. Saat pertarna kali menelepon dini hari tadi. tetapi tak lama kemudian ia cepat menguasai. Sinar maupun cahaya dari maskapai minyak dan pabrik-pabrik sawit serta bedeng-bedengnya yang dipandang dari kegelapan kampung ini meskipun membuat hati mereka sayup. Matanya yang bundar memandang tubuhnya yang sudah membatu. 120 . Kakinya tiba-tiba saja tertuntun kembali masuk ke dalam rumah Niru.. anak-anak. Duduk saja di sini. Menengadah. enam anak kecil juga dalam keadaan demikian. mengajak Jim berbincang.” Terdengar Niru ketawa kecil. Jim kembali memutarkan badannya. Juga Siah istri Niru yang tergeletak dekat dapur.

Ia sedikit pun tak mau menjawab pertanyaanku. Ia seperti duduk di ruang . menceritakan ikan yang menghilang dari sungai. Kudengar juga suara anakku mengerang. Bayangan Jim menyeruak di antara cahaya remang-remang di dalam rumah ini.. *** Sampai menjelang subuh. Apalagi waktu itu. tiba-tiba saja sambungan telepon terputus dan aku hanya dapat mendengar suara tut . Dari jendela. Aku takut. dan bercerita tentang kayangan yang sudah hilang.. tapi aku yakin bahwa ia segera menelepon..” “Bagaimana kau tahu?” Aku berdehem. tut . Cepat pula ia bertanya. terdengar suaranya tersendat-sendat. “Kau percaya cerita ini?” “Percaya.keras sebagaimana layaknya batu... Aku ingin mengatakan.. aku tak mungkin berbohong... Kau tahu bagaimana batu kan?” kalimat Jim bertubitubi. tut . Ya.” kata Jim dalam telepon sebentar tadi yang kembali terngiang-ngiang dalam telingaku.” Apa yang dapat dilakukan dengan menjadi batu. tapi nantilah .. “Sungguh aku tak dapat mengerti kalau menjadi batu sebagai suatu pilihan.. “Ini sungguh amat menakutkan aku. sementara sekian pertanyaanku kepada Niru hanyalah sia-sia.” “Kau percaya?” “Karena kau tak mungkin berbohong. tetapi hujatan Jim _ya. “Bagaimana kau tahu?” desak Jim. Kendaraan mulai lewat di depan rumah.” sambung Jim... Belum ada lagi panggilan dari Jim.. nanti saja.” “Dan kau mendengar bagaimana Niru terus berbicara seperti biasa. telepon masih terlentang. Ia hanya mau mengenang masa-masa lampau. damar yang sulit dicari.” “Ya. soal-soal kemesraan. aku melihat bulan tergantung yang cahayanya pucat karena disambar cahaya merkuri di tengah jalan. “Lantas. aku katakan sebagai hujatan_ tentang menjadi batu tersebut terus saja meluncur dari mulutnya. Barangkali selama menunggu ini aku sempat tertidur dan terjaga karena suara batuk istriku. apa lagi yang dapat dikatakan Niru?” “Dan menjadi batu sebenarnya bukan pilihan kan? batu?” Tetapi mengapa mereka menjadi Ia akan 121 Aku ingin menjawab pertanyaan itu. dan.

bahkan alat kelamin lelaki maupun perempuan. tetapi baru tiga hari ia sudah merindukan keluarganya. “Mengapa kau tak pernah cerita ada hamparan batu yang berbentuk manusia dan peralatan hidupnya sehari-hari di sini?” Sebagai jawabannya aku memandang langit-langit. kemudian kembali memandang majalah itu dan mencari nama penulisnya. sendok. Ia melihat halaman majalah yang memuat tulisan itu dan menyodorkan kepadaku. ia akan berada di sini barang sepekan dalam urusan apa yang disebutnya sebagai mengecas baterai. malahan masuk ke dalam kamar yang memang kusediakan untuknya kalau ia datang ke sini. ketika mataku sudah terlayang. Katanya. jalan yang lebar. seorang teman lama. Menyulut rokok sebatang dan menghisapnya dalam-dalam. ia kemudian mengatakan ingin keluar. Kalaupun ada perubahan. membaca majalah berita yang kubeli sore tadi. batu-batu tersebut adalah wujud dari tindakan sekelompok manusia yang tak mungkin lagi berbuat lain dalam menghadapi gelombang hidup terutama dalam menolak perintah raja. kadang-kadang bergoyang-goyang sebagai tanda bahwa ia menyenangi bacaan itu. lesung. bantal. Satu hamparan di pinggir pantai dan satu hamparan lagi di dalam sebuah goa di hutan lebat. Di desa itu sebagaimana diungkapkannya lewat telepon. “Mengapa kau tak pernah bercerita tentang hamparan batu yang berbentuk manusia dan peralatan hidupnya sehari-hari di sini?” tanya Jim suatu malam. tetapi aku menawarkan diri untuk menemaninya sekedar basa-basi karena malam itu aku menunggu tamu. baru Jim pulang dengan bau penuh bir. Tapi ia tidak meneruskan bacaannya. limau. Tak ada tanggapan Jim terhadap jawabanku itu. ada dua hamparan batu-batuan seperti itu di sini. Tak ada perubahan. kelapa sawit di sana sudah menghasilkan sekian kali panen. Konon. tak sedikit pun membacanya kecuali memandang gambar-gambar hamparan batu tersebut. Tak lama kemudian ia sudah keluar lagi dengan amat necis. Aku tak banyak tanya saat itu dan apa pula gunanya karena Jim tidak pemah dapat dihalangi. Tak diajaknya aku. dan tanah yang kelihatan semakin 122 . pagi-pagi lagi Jim mengatakan akan pulang ke Tanah Airnya. tilam. Tanpa sengaja aku memandang gambar batubatu yang berbentuk manusia. tentu terutama dengan Niru dan keluarganya. Di bandar udara Jim mengoceh banyak hal mengenai kedatangannya sekali ini terutama tentang penghormatannya atas Montai dan Niru khususnya yang mengantarkannya ke jenjang karier seperti sekarang. Pandangannya tidak lepas dari mataku meskipun aku sudah mengambil majalah tersebut sambil lewat saja. Keesokannya. Bau parfumnya menyengat sampai aku harus mendengus-denguskan hidung.” kata Jim seraya tidak lupa mengatakan bahwa ia sudah diangkat menjadi profesor. yang pernah kusaksikan beberapa kali. Sampailah beberapa hari lalu saat ia meneleponku dan menyatakan keinginannya untuk datang ke sini. Setahuku. Aku agak terkejut karena hal ini di luar programnya semula. Niatnya ke desa Niru dengan sendirinya batal walaupun aku sudah mengingatkannya. “Aku ingin reuni di Montai. dan entah apa lagi. Dari mata Jim aku tahu ia sebenamya berkali-kali melontarkan pertanyaan serupa. Seperti biasa ia hanya tersenyum kecil melihat kelakuanku itu sambil mengangkat bahu. Dini hari. Sejak saat itu Jim tidak pernah lagi ke sini dan kabar mengenainya kudengar sekali-sekali. Sekarang batu-batu itu membesar dan konon pada suatu saat kelak akan memakan lahan sehingga mempersempit dan semakin mempersempit lahan yang ada. Ada juga batu berbentuk kapal. mungkin tujuh tahun yang lalu.tengah. Kakinya terkepang. Niru maupun orang sedesanya tetap seperti dahulu.

“Bagaimana aku dapat bertenang dan pulang dalam keadaan seperti ini?” “Ya.. memang sulit. sementara benakku membayangkan bahwa Jim akan mengabarkan kisah baru yang jauh lebih seru. “Sudahlah Jim. kendaraan tiada hentihentinya lalu-lalang di desa itu. Baiklah. menelan air liurnya beberapa kali. Waktu itu aku tak sempat mengatakan apa saja yang telah dilakukan Niru dan warga kampung itu. bahkan kami di kota ini. Ketika kutanyakan khabarnya.” “Kemudian membawa aku pulang?” “Ya. Jim menjawab dengan sedu-sedan. “Ketika kutanyakan hal ini. Aku akan menjemputmu. Rumah atau lebih tepat dikatakan pondok itu pun sudah mundur sampai tujuh kali. Di sisi lain untuk menggambarkan keadaan tempat yang didiami Niru dan keluarganya. setidak-tidaknya aku akan katakan sepatah dua kata tentang hal itu ketika Jim menelepon lagi yang kini sedang kutunggu-tunggu.. Jim juga mengatakan.” “Bertenang dan pulang?” Aku mengogam. payah. Jim cukup mengatakan bahwa rumah Niru masih terbuat dari kulit kayu dan tidak memiliki listrik. telepon berderak. Perlu waktu khusus untuk mengatakannya kepada Jim. Dari desah napasnya pula aku dapat meraba bagaimana Jim tercungap-cungap.. “Bertenang?” tanyanya kemudian. bawa bertenang. dan tak henti-hentinya mengusap muka. Niru hanya mengatakan: payah. tanah yang dibelinya seluas dua hektar untuk Niru dan sejumlah orang sebagai tanda mata itu sudah berpindah tangan tanpa ganti rugi sepeser pun dan di atasnya telah berdiri berdegam sebuah hotel. Tak ada maksud apa-apa kecuali agar ia paham bahwa kami tidak pernah menyerah kepada keadaan. 123 *** Ternyata penantianku tidak sia-sia. Bangunan-bangunan kilang minyak makin menjulang. sehingga makin terpuruk ke dalam hutan karena pengembangan ladang minyak dan perkebunan. tidak cukup hanya melalui telepon.tandus. Aku berniat sekali mengatakan hal ini kepadanya ketika ia pulang nanti. “Pulanglah dulu ke sini.” . Suara napas Jim yang kukenal segera menyambar telingaku.” kata Jim. Persis saat azan subuh mulai berkumandang. Persekitaran desa Niru semakin terang benderang dengan berbagai fasilitas.” Lama tidak ada jawaban dan aku terus-menerus memintanya untuk bertenang. termasuk hotel dan warung telepon yang boleh dikatakan tidak begitu jauh dari rumah Niru.

berdiri bercekak pinggang. Bermacam-macam susunan orang-orang yang sudah menjadi batu itu. salah seorang manusia yang menjadi batu di halaman. Seolah-olah bagian-bagian tubuhnya bekerja sendiri-sendiri. sementara tangan kiri melempai mengikuti bentuk pinggang. tetapi ia 124 . bahkan kadang-kadang terasa kalau kaki kanan ingin ke depan. Tidak sekali dua ia tersampuk benda-benda yang tak sempat dilihatnya sehingga ia tersungkur ke tanah. dengan cepat ia meluncur ke rentangan menerima kenyataan tersebut. Dari sinilah kemudian aku tahu bahwa semua penduduk desa ini sudah menjadi batu yang prosesnya sama dengan apa yang dialami Niru dan kusaksikan langsung. Tiga anak mereka yang lain berada di dalam rumah dengan berbagai macam pose. sementara otaknya melayang entah ke mana. Ia berharap agar semuanya ini hanya mimpi kosong belaka. Tapi aku menyesal karena berkata seperti itu... Kini mereka semuanya sudah menjadi batu. ia melihat Niru yang sudah menjadi batu lebih dulu..” kata Jim. ternyata bocor. tetapi semakin besar harapan itu bergumul dalam pikiran dan perasaannya. Ketika kakinya melangkah sesungguhnya tangannya hanya ingin berdiam. sehingga alat indera tersebut seperti menyala dan melahirkan suasana yang sungguh sulit dilukiskan kata-kata. Sebaliknya belum sempat ia menyadari keadaan dirinya menerima kenyataan itu dengan hati jernih. sedangkan pinggang sampai kepalanya membuat garis 120 derajat. bahkan menjadikannya sebagai titik awal untuk menceritakan pengalamannya yang lain menjelang subuh itu. Begitu pula Tuk Batin yang terlihat duduk di bendul dengan muka tegang. Di antara rentangan sikap semacam itulah ia tergantung dan saling tarik-menarik.. orang yang menjadi batu terlihat di halaman itu pun dalam berbagai pose. Ada yang sedang mencangkung. Bontik dan keluarganya juga sudah menjadi batu. Pada beberapa rumah yang penghuninya tak dikenal Jim. ia meluncur pula ke rentangan yang menolak. ia dan keluarganya juga begitu. Barangkali dipengaruhi oleh kedekatan hati.. kaki kirinya ingin ke belakang atau ke samping kanan maupun ke samping kiri. Entah berapa kali Jim bolak-balik di antara satu rumah ke rumah lain yang sekaligus menyaksikan orang-orang sudah menjadi batu tanpa mengerti mengapa ia bertindak demikian. Tetapi aku melihat. Untunglah Jim tidak menangkap kelalaian tersebut. “Ketika kau melihat semua orang di desa itu menjadi batu?” aku memotong kalimat Jim. Tetapi mata Niru. semakin besarlah kesadarannya tentang kenyataan ini. Ia menerangkan tentang bagaimana ia berlari dari satu rumah ke rumah lain dengan napas terengah-engah. Cahaya bulan sepenggal yang masuk ke dalam rumah melalui lubang itu tepat menimpa mata Niru.“Bagaimana aku dapat melakukan hal itu. Matanya memandang tembus ke langit. Ketika ia sampai pada ujung rentangan menolak. Lelaki ini beserta anggota keluarganya berada dalam rumah. Bontik. kawan Niru sejak kecil dan cukup dikenal Jim. Tangan kanan menopang kepalanya. dan entah macam mana lagi. sedangkan istri dan anak-anaknya tergelimpang di halaman. Tetapi Niru setengah duduk: kaki sampai pinggangnya sejajar dengan lantai kaki kanan menghimpit kaki kiri. sedangkan istri dan tiga orang anaknya berada di belakang rumah. Atap rumah yang terbuat dari daun nipah yang seharusnya menghalangi mata Niru memandang ke luar. Ia merasa amat letih. “Ya. Luka pada beberapa bagian tubuhnya tak terasakan lagi..” Kalimat Jim terputus. ketika. Ketika itu tanpa seizin Niru aku pergi ke rumah Bontik. Aku pergi ke rumah Tuk Batin. Walhasil ia harus mengeluarkan tenaga sedemikian banyaknya dengan sia-sia.

aku berkata pelan. taik kucing!” Jim menghempaskan gagang telepon. Ia kemudian terhenyak di anak tangga rumah Niru tanpa dapat membagi perasaan. Pekikan itu pulalah yang seolah-olah mengantarkan kakinya melangkah ke warung telepon dan kembali menelepon aku. ia tak tahu. seolah-olah tidak ada kejadian apa-apa di sini. September 1997) . Seharusnya. Kau sedikit pun tidak memiliki perasaan. giliranku. Bukan bermaksud menjemputku pulang. Di mana letak dirimu sebagai manusia?” Aku diam. selanjutnya ia memekik keras berkalikali. aku juga meletakkan gagang telepon. Kalau saja Jim tahu. hanya dengan menjadi batu saja kami dapat bertahan. Entah apa yang dipekiknya. “Kemanusiaanmu sudah tak berguna.*** 125 (Dimuat dalam Horison. dan para tetangga yang menjadi batu seperti sudah dialami sekian banyak warga sebelumnya.” Sungguh. bertambah kecewa karena kau menyuruh aku pulang. Ia seperti orang sasau --di antara gila dengan waras. Memandang ke langit-langit. “Kau bangsat. “Tapi aku bertambah kecewa. Suaranya lantang berkumandang. Dengan sedikit sisa kesadaran sebagai orang waras. semuanya ini sudah direncanakan secara detil sejak dua tahun lalu sehingga aku mengetahui apa-apa saja yang dialaminya di desa Niru walaupun ia tidak menelepon. keluargaku. “Kalau saja Jim tahu bahwa nanti malam. Tanpa merasa tersinggung sedikit pun. Kau sudah mati.tidak dapat mengenal keletihan itu sehingga tidak mampu pula diatasinya. kemudian menyandarkan tubuhku ke sandarannya sehingga aku benar-benar rebah. terasa seperti jarum menusuk telingaku. kita berbuat sesuatu menghadapi kenyataan ini. Meraih kursi dan pelan-pelan meletakkan tongkeng di kursi.” Jim marah besar.

Barangkali. Maka mereka buru-buru menjauh pergi. betapa binatang-binatang di dunia ini perlahanlahan telah habis kami buru. Apalah arti kami bila tak lagi hidup sebagai pemburu. sejak kami masih dalam kandungan. Sebagian dari kami langsung merebahkan tubuh atau bersandaran pada batang pohon dan gundukan batu. Tak ada yang lebih terhormat bagi kami. Telah kami sibak semua palung lautan. bukan sebagai cara kami bertahan menghadapi hidup. Seluruh kekuatan dan pengalaman kami sebagai pemburu telah kami keluarkan sampai tandas. Inilah perjalanan terjauh dan terlelah kami. Hingga kami merasa benar-benar sendiri. ditangkup sunyi daun-daun yang mandi cahaya. Tetapi mungkin juga memang binatang-binatang itu sudah habis kami bunuhi. Legenda kami adalah penaklukan puluhan binatang buruan. Angin bergegas pergi oleh kedatangan kami. tetapi kali ini. ular. sebelum sampai ke telaga ini. Kami beristirahat di pinggir telaga itu. Inilah pertama kali kami merasa begitu lelah. Seperti juga semua makhluk yang ketakutan mendengar gemuruh kaki kami. sementara orang-orang tua kami bagai tak bisa mati.Para Pemburu Oleh: Agus Noor Purnama mengapung di telaga. nenek moyang dan anak cucu kami. setelah bertahun-tahun memburu buruan kami yang bergerak begitu cepat. begitu tercium bau kami. Kami sudah tahu bagaimana menyembelih wildebeest. Telah kami jelajahi seluruh hutan. macan. mengantar tidur anak-anak kami. Cerita-cerita penaklukan. sesekali meleleh oleh arus gelombang. Sampai kelinci. badak. Meletakkan semua senjata yang selama ini kami jinjing dan gendong. Setiap bulan hampir seratus anak kami lahir. Maklumlah. tupai dan tikus. binatangbinatang itu juga sudah terlalu hafal dengan kami. telah lenyap kami tangkap. jumlah kami memang makin membesar. untuk memburu binatang-binatang. Membuat kami begitu merasa terhina. Setiap dari kami dibesarkan dalam belukar. Telah kami bongkar tiap lekuk pegunungan. Kami seperti mengejar kilat. Kami adalah bangsa pemburu yang besar. melulurkan kesejukan pada lengan dan kaki yang bengkak. selain menjadi seorang pemburu besar yang sanggup merobohkan gajah dengan satu gerakan. rusa. dari tahun ke tahun. Kami memandanginya dengan gamang. Siapakah yang tak tahu akan hal itu? Kami tak pernah gagal memburu sesuatu. Kami tak pernah tergoda menjadi petani atau pedagang. Menjadi hutan lebat yang tumbuh dalam kepala mereka. Sampai kemudian kami menyadari. tetapi masih sanggup berlari 126 . Seakan sia-sia kebesaran kami sebagai pemburu yang telah berabad-abad mengabdikan hidup dan peradaban kami hanya untuk berburu. Nenek moyang kami telah membentuk kami sebagai pemburu paling ulung. Mereka sudah renta. Gajah. buruan kami tetap saja melenggang bebas. tetapi lebih untuk kebanggaan dan kehormatan. Sebagian lagi menyempatkan diri membersihkan wajah terlebih dahulu. serigala dan segala macamnya. tapi tak gampang mati. Membuat kami cemas. Kami mengembara dari satu benua ke benua lainnya. hanyut oleh pikiran kami. melihat kehormatan kami akan goyah suatu ketika. Banyak di antara kami yang sudah berusia 7890 tahun. Lagu-lagu kami adalah lagu-lagu perburuan.

hingga pecah berantakan. Selamat jalan. Kepada mereka kami tawarkan kebebasan. . memang makhluk yang tak gampang menyerah. para raja. Mula-mula. Tetapi kami tak bisa menolak. Mereka lebih menantang untuk kami taklukkan. Bahkan membuat kami lebih merasa sempurna sebagai pemburu. Kami tak lagi memburu binatang. Karena. “Masuklah dalam hutan. Kami akan memburu manusia. Liat dan sigap. Inilah hidup yang sesungguhnya. Anak-anak kami pun nampaknya lebih suka dengan perburuan macam itu. untuk ikut menikmati perburuan itu. kemudian menghantam kepala binatang itu dengan kepalan tangan. baru kemudian kami memburu mereka. mendatangi kami. Sampai kemudian ide brilian terlontar. sasaran perburuan yang menggairahkan. untuk menggantikan binatang yang kini telah musnah. Mereka kami lepas ke tengah hutan. membiarkan mereka lari dan menghilang. Lantas. Itu menjadikan kami begitu bahagia. Kami iringi dengan lengkingan terompet dan juga dentuman meriam. tapi manusia. Jangan cemas. Banyak juga di antara kami yang mati dalam perkelahian. perlahan-lahan. sungguh. Memburu budak-budak itu lebih mengasyikkan daripada memburu binatang. Semoga nasib baik bersama kalian. Para bangsawan. Rupanya.” Dan para pesakitan itu pun kami lepas dengan upacara kehormatan. Para penjahat itu. banyak orang di luar suku kami. dengan cara melarikan diri. lari. yang memang memiliki kebiasaan berburu seperti kami 127 . Setiap detik adalah pertarungan. seperti kami katakan tadi. kami bunuh. banyak di antara kami yang menolak.mengejar antelope. kebiasaan baru tumbuh dalam kehidupan kami. Anggap semua ini hanya permainan. Dan itu. Dan itulah kehormatan. orangorang besar di negara mereka. para bangsawan dan pengusaha besar. Mati dalam perburuan ini lebih terhormat bagi kalian.” “Lantas bagaimana?” “Apa pun yang terjadi kita mesti memburu sesuatu!” “Memburu apa?” Itu membuat kami terdiam. “Perburuan tak mungkin berhenti!” “Kita akan cepat renta bila sehari tak memburu apa pun!” “Takdir tak bisa dihentikan. Tapi itu lebih baik bagi kalian. Meskipun kalian juga tak luput dari kematian. karena hal itu dianggap akan mengotori kemurnian darah pemburu kami. daripada mati di tiang gantungan: tak lagi punya pilihan. Adakah yang lebih menyenangkan. Menjadi tradisi. meski kami akan memburu kalian. Kami membeli juga para penjahat yang telah divonis mati. Ketika kisah-kisah kami menjalar ke banyak negara. ketika dari banyak yang datang kepada kami itu adalah para jenderal. selain melakukan perburuan semacam ini? Mereka kami beri kehidupan sekaligus batas kematian. semua binatang telah habis kami buru.. kalian masih punya kesempatan untuk memperpanjang kehidupan. Mereka kami beri kesempatan untuk bebas. Tapi sudah lama kami kesulitan menegakkan kehormatan macam itu. Selamatkan kehidupanmu. tak hanya kami yang suka dengan permainan semacam itu. Maka kami pun membeli ratusan budak. puluhan kepala negara.. yang membuat kalian akan merasa memiliki harga sebagai seorang pesakitan.

” Gelas kami beradu. ketika kami mengirim pasukan pemburu ke banyak negara untuk meluluhlantakkan apa saja. “Kita harus melakukan sesuatu. Itu sering membuat kami terusik sunyi. Hidup pemburu agung! Kami pun menjadi kelompok pemburu yang besar.” Lalu seseorang yang paling tua di antara kami. Hingga kami tak lagi kekurangan buruan. menggulung apa pun yang kami sukai. sendiri.. Apakah arti kekuatan bila tak ada tantangan yang sepadan? Tak ada lagi yang sanggup melawan kami. kami terus bergerak dari benua ke benua dari zaman ke zaman. kami terus menuliskan sejarah kami yang agung. begitu melimpah buruan kami. ketika kami memburu ribuan orang Yahudi untuk kami kirim ke kamp konsentrasi. dengan setiap malam tidur di ranjang yang bersih dan nyaman. Perburuan bukan lagi perkara kebesaran dan kehormatan. menjadi tak tertandingi. tempat kami berpesta setelah seharian berburu. tetapi penaklukan yang membosankan. tetapi juga denting gelas dalam kehangatan pesta. sehingga permainan menjadi tak lagi begitu punya arti. Juga kaum intelektual yang selama ini mereka benci. yang telah menjadi sekelompok pemburu yang paling kuat. yang melintas bagai badai dan gelombang. menyarankan kami agar mengumpulkan para kiai. Tak ada lagi yang berani menggertak kami. Kami terus memburu. mengijinkan tempat-tempat itu untuk kami kelola dan kembangkan sebagai ladang perburuan yang lebih menantang dan menyenangkan. tetapi kami selalu dirundung sunyi. pasokan senjata yang bagai anggur mengalir dalam gelas-gelas kami. terkadang. “Ini darah seorang penyair untukmu. Jangan biarkan mereka menjadi lembek karena rasa sunyi ini. Malah sering para raja dan kepala negara memberi kemudahan kami dengan memberi lisensi untuk menghabisi para tokoh oposisi yang tak mereka sukai. Di antara kemeriahan pesta. menumpuk tengkorak kepala korban kami hingga menggunung sampai menyentuh awan. dengan dukungan dana yang melimpah. Apalah arti semua itu bagi jiwa pemburu kami? Semua itu bukan lagi gairah petualangan dan tantangan. Jangan biarkan anak-anak kita menjadi pucat dan pasi. Kami menjadi kaum pemburu yang kian kokoh dan terhormat. Suaranya sudah gemetar. Kami bangun juga istana-istana. Kami tak lagi hanya terbiasa dengan bunyi pedang. Kami seperti kehilangan buruan yang mengasyikkan. tetapi juga. yang sudah berumur 100 juta tahun lebih.. Bahkan mereka menjanjikan kami lahan-lahan perburuan yang lebih luas. Para raja dan kepala negara mempersilahkan kami untuk memilih rakyat mereka sebagai binatang buruan. ketika kami memburu dan membantai orang-orang muslim di Bosnia. Kami perlahan-lahan meninggalkan cara hidup kami di hutan. jangan sedih. Ah. melintasi gelombang waktu. . ketika kami menembaki anak-anak Palestina. seakan maut sudah menyentuh bibir orang tua itu. tetapi kami bebas memilih siapa pun yang paling menyenangkan kami buru. Para pengusaha mensubsidi kami modal bermilyar-milyar. Begitulah memang mestinya nasib penyair yang tak menulis syair pujapuji bagi keagungan kami. Kami berdiri di puncak menara peradaban. “Untuk apa mengumpulkan para kiai itu?” 128 . dan kami tertawa bahagia. Karena kami sudah terlalu kuat. Kami tak hanya punya kesempatan memburu para penjahat yang telah divonis mati. keisengan. Ketika kami menjarah perempuan dan membunuhi anak-anak. Para jenderal menyediakan kami senjata-senjata paling mutakhir. tak ada lagi kegairahan karena kemenangan. para demonstran untuk kami habisi.dan memiliki lahan-lahan perburuan yang luas. Kami. hingga pertarungan menjadi tak sepadan.

“Kalianlah yang bercanda.” tegas kami. bagaimana cara kalian mendatangkan Jibril bagi kami. katakan kepada kami.” kata kami kepada mereka. Pintu itu terbuka untuk menerima siapa pun masuk ke dalamnya. Seluruh bangunan itu terbuat dari pelepah kayu. berkelok-kelok mengikuti gigir bukit. kami segera mengumpulkan para kiai. kapan kalian bisa menyediakan Jibril bagi kami?” Kami tatap wajah para kiai itu. aku ingin menikmati perburuan yang paling menggairahkan.. Ya. mencari kepastian dalam mata mereka. Sekarang. dengan meminta kami mendatangkan Jibril.. Barisan kiai masih antri di depan masjid itu. para kiai itu. Gairah menjalar. Luasnya tak lebih dari lima kali lima tombak. kenapa kami tak memburu malaikat? “Jibril! bagaimana kalau kita minta Jibril!” “Kami bersorai. dan meminta kami untuk membawa mereka ke sebuah kaki bukit di mana ada sebuah masjid kecil di pinggir hutan. telah lapuk. Tetapi mereka menolak. sebelum maut menjemputku.” “Baiklah. Suruh mereka menyediakan malaikat untuk kita buru!” Kami terpukau oleh gagasan itu. kalau perlu dengan paksa dan kekerasan. kami akan membikin perhitungan sendiri.” “Apa hubungannya dengan para kiai itu?” “Kumpulkan mereka. Kami turut kemauan mereka. Jutaan kiai masuk ke dalam masjid yang bagi kami hanya cukup untuk tidur dua puluh orang.” Mereka. “Kami tak mau tahu. . seperti barisan semut yang begitu tertib menuju lubang sarang mereka.. . Dan tentu. malaikat. Apalagi ketika kami melihat sendiri masjid itu. Apakah kalian akan shalat sepanjang hari? Apakah kalian akan berdoa dan mengaji? Apakah kalian akan menangkar atau menjebak Jibril dengan sebuah perangkap? Kami tak mau tahu dengan itu semua. dari seluruh dunia.“Aku sudah mencium ajalku. Mereka kami datangkan dari semua penjuru. “kalian kami beri waktu satu bulan. Kami segera menghimpun topan. Bagaimana tempat sekecil itu menampung jutaan kiai yang kami himpun dari seluruh penjuru ini. menyambut hari depan kami yang gilang gemilang. bersulang. Kami segera mengeluarkan seluruh senjata kami. Panji perburuan berkibar.” Lantas kami membiarkan satu persatu para kiai itu masuk masjid kecil itu. itu 129 . Membuat darah kami menggelembungkan jiwa pemburu kami.. meski sesungguhnya heran. Bila selama ini kalian tak bisa mendatangkan Jibril bagi kami. Benar-benar masjid kecil yang tak terawat. kami giring ke sebuah istana kami yang paling megah. membuat kami begitu ternganga. anggur segera kami tuang dalam gelas. “Baiklah. membangkitkan imajinasi kami. “Kalian jangan bercanda!” teriak kami. tetapi masjid itu tak juga penuh. Dan aku ingin. “Kami ingin Jibril. ketika hampir separo dari jutaan kiai itu sudah masuk ke dalam masjid.

memperingatkan para kiai bahwa waktu sudah habis buat mereka. kini telah muncul di hadapan kami. mendadak menyadarkan kami. takut mereka akan keluar dan meloloskan diri ketika kami tertidur. Tombak. Tapi seperti yang pertama dan kedua. bagai masuk ke tabir ruang dan waktu pada dimensi lain. Kami bakar masjid itu. membuat kami tengadah ke puncak api. Membuat kami cemas. seperti daun yang melayang-layang itu. desing senapan mesin. jangan-jangan semua itu sihir belaka. Kami kirim utusan kembali. bagaimana mungkin? Tapi. tetapi. “Jibril!!” “Jibril!!” Seketika kami berteriak.pun pasti sudah berhimpitan. yang hanyut dibuai dzikir para kiai. Dan. Kemarahan kami menyalakan api di tangan. Gema itu melambung. mengalun menidurkan rerumputan. membuat udara bergetar dan perasaan kami gemetar. dengan sayap terentang sampai ujung paling jauh dari semesta. Membuat kami tambah cemas menunggu. Namun dzikir itu masih kami dengar. luar biasa. di pucuk api berkobar. Tetapi seperti yang pertama. tertelan dan lenyap. Lantas kami tak bisa lagi sabar. membumbung. Kami berteriak menyuruh para kiai itu keluar. Kami tak mau ditipu para kiai itu. tetapi tak kunjung keluar jua. Kami tak mau kecolongan. kenapa kami malah bengong begitu? Maka. Sementara suara dzikir itu terus saja bergema. lenyap seketika. betapa memang inilah yang selama ini kami tunggu-tunggu. Pada saat itulah. berkobar dan segera kami lempar pada mesjid itu. Namun orang itu tak kembali. melihat impian kami sudah di depan mata. gembira dan tak percaya. kami melihat selesat biru cahaya menatap kami. masuk dalam masjid itu. 130 . Kadang kami merasa ada yang menggemericik dalam hati kami karena gema itu. dengan cepat berlesatan ke arah selesat cahaya biru itu yang dengan cepat bergerak dengan sayap mengepak. di sana. Kami panik. Apakah ini keajaiban yang dikirim bagi kami? “Buru!” Teriakan itu. Kami terus berjaga. tak membiarkan seekor tikus lolos dari amatan kami. roket dan basoka. hingga kayu-kayu bergemeretakan. dengan sigap kami segera meraih senjata-senjata kami. ya Allah. Dan kami segera menyerbu. utusan kami ini pun tak muncul lagi meski kami sudah menanti lebih lima hari. Jibril. menguap begitu cepat. antara takjub dan panik. Sampai kemudian semua kiai telah masuk dalam masjid itu. menyentuh langit. ketika para kiai itu tak juga muncul dari dalam masjid. kemudian kembali mengirim utusan untuk menemui para kiai di dalam masjid itu. Kami memagarbetis masjid itu. orang kedua kami pun tak kembali. Begitulah berkali-kali. Kami sudah cukup punya pengertian. Seperti batang-batang pohon yang bergoyang itu. anak panah. seseorang di antara kami berteriak. semua dari kami yang masuk ke dalam masjid itu. bukan? Jangan salahkan kami. Segera kami kirim seseorang untuk menemui mereka. itulah yang kami saksikan. setiap orang yang kami kirim untuk menjumpai para kiai. tak pernah muncul kembali. Satu bulan lewat. bersama angin dan embun. sepanjang hari sepanjang malam. sekaligus marah. raib begitu saja. di puncak kobaran api. Dan kami mendengar gema dzikir dari dalam sana. Kami panggil namanya. dan api melahap cepat. tetapi hanya gema dzikir membalas suara kami. Tiba-tiba tubuh mereka hilang tak berbekas.

Karena kami harus terus mengejar Jibril. Sampai kami tiba di pinggir telaga ini. ranjauranjau telah kami tanam. setelah bermacam pengalaman perburuan membuat kami jadi pemburu sejati. kami benar-benar tak pernah punya waktu istirahat. Di seberang telaga sana. dan langsung melesat. 1995-1998 (Dongeng Buat Mas Danarto) (Dimuat dalam Horison. Dan memang.“Kejar!” Kami pun melesat. Setelah berabad-abad kami hidup sebagai pemburu.*** 131 Yogyakarta. Inilah buruan kami yang abadi. Kami tak mau kehilangan jejak. mengepakkan sayap-sayap cahaya-Nya. kami lihat jejak cahaya. Ke mana pun Jibril melesat. Jiwa pemburu kami bergelora oleh gairah perburuan kali ini. Kami begitu sibuk memburu Jibril. Bertahun-tahun kami memburu. agar kami mampu meringkus Jibril. hingga telah lama anak-anak kami tak lahir. Ketika kami baru saja rebahan dan membasuh kelelahan kami di telaga itu pun. Januari 2000) . roket terus berlesatan. kami sudah harus kembali pergi ketika pada bayangan bulan. Sebagian besar dari kami kini benar-benar renta. perangkap telah kami pasang. Kami tak punya waktu untuk memikirkan itu semua. mengejar Jibril. membiarkan rambut dan jenggot kami memanjang tak terawat. Banyak dari kami yang mati dalam perburuan ini. yang menyimpan bayangan bulan. melanjutkan pemburuan abadi kami. dan kami pun tak sempat menguburkannya. Tombak terus beterbangan. jaring-jaring baja telah kami rentangkan. kami memburunya. Inilah perburuan paling menakjubkan bagi kami. mengharap kesegaran akan membuat tenaga kami kembali muda. Kami tak pernah tidur di satu tempat. “Ke sana!” seseorang dari kami berteriak. Maka kami pun kembali bangkit. inilah sesungguh-sesungguhnya perburuan yang sejati. Membiarkan kaki kami koyak oleh duri. Kami tak sempat istirahat. Segera menghambur. meraih peralatan berburu kami. kami melihat buruan abadi kami.

Seakan. Anak-anak remaja mengganti huruf pada Gang itu dengan k. Sebuah gang sempit yang tak berarti. Dunia Fantasi Ancol. seperti setelah biduk lalu kiambang bertaut. 4 . sehingga kami tak merasa lagi perbedaannya. Apalah arti sebuah nama. sehingga kau tidak akan menjumpai dalam kartu pos bergambar untuk promosi pariwisata. atau melompat-lompat main engklek. oleh tukang. main bola kaki. 3 Penghuni gang itu terdiri dari berbagai suku. dan lain sebagainya. main galasin.Gank Oleh: Syahril Latif 1 Gang Haji Abdul Jalil adalah sebuah gang sempit yang terletak persis di depan Kuburan Karet yang terkenal itu. di mana penduduk tinggal tumplek berdesakan. disingkat saja menjadi Gang Jalil. sehingga menjadi Gank. main congklak. di jalanan yang sempit itu. Dan apabila ada mobil lewat. semua orang mengenalnya sebagai Gang Haji Abdul Jalil. Tak tahu siapa yang mengubahnya. Monas. Sementara gadia-gadis kecilnya duduk bersila main masakmasakan. Kami telah lebur jadi satu: penghuni Gang Haji Abdul Jalil. Tapi inilah gambaran kota yang sebenarnya. Di sana. Kemudian mengumpul kembali memenuhi jalanan. yang terpaksa merayap pelan bagai keong. Belakangan. Kadang-kadang. apa pun namanya. 132 2 Di gang itulah aku dan teman-teman tumbuh dan dibesarkan. main layangan. seperti Taman Mini. siapa lagi kalau bukan salah seorang di antara kami. anak-anak bermain gundu. anak-anak menyibak ke tepi. Hotel Indonesia. main petak-umpet. yang bercampur-baur menjadi satu dengan penduduk asli Betawi. setelah mobil berlalu. berkejaran. dapat menduganya. ada yang mengubahnya: Gank Haji Abdul Jackal. Namun. Tapi semua orang seperti sudah maklum. beca terutama. untuk cepat dan mudahnya.

“Yang di sebelahnya?” “Rumah pegawai Bea Cukai. “Yang di seberangnya?” “Itu mah. Ada juga satu dua rumah gedung yang berpekarangan luas dan bertaman. sih? 133 6 Di sini dapat kau jumpai segala macam orang: tukang sol sepatu. kenek. Dan tanya lagi. Kok. Tak tahulah. “Pantas!” jawab mereka. bertanya heran: “Rumah siapa yang cakep itu?” “Itu rumah pegawai pajak. kami pun sederhana.Rata-rata. Kadang menumpang menjahit baju anak di rumah tetangga yang punya . penjual nasi Padang dan Tegal. pedagang kaki lima. sopir. dan tanya lagi. pegawai negeri dan swasta. montir. rumah-rumah. tukang listrik. guru sekolah. Kadang-kadang mereka saling antar-mengantar sayuran atau makanan kecil. berukuran kecil dan tak teratur bentuk dan susunannya.” kata mereka.” “Lebih pantas lagi. pegawai negeri biasa saja. 5 Sebagai gambaran kemiskinan.” begitu kami selalu menjelaskan. tukang kayu. 7 Jika lagi kehabisan. ibu-ibu kami saling pinjam garam atau korek api atau bumbu masakan kepada tetangga. makelar.” “Kok sama hebatnya?” “Maklum. perawat dan lain sebagainya.” “Bagian apa?” “Tau. satpam. pelayan toko. yang segera mengundang tamu atau teman kami yang datang berkunjung. bidan. tukang cukur. ngurus hal orang lain. menjabat bagian basah. dengar-dengar bagian pembelian atau perizinan. membuat kehadirannya bagaikan putri raja di tengah rakyat gembel. dosen. semua kami miskin dan karenanya kami saling mengenal dan akrab satu sama lain.

.. anak-anak mereka sudah berbaikan kembali. mengasyikkan. Macam-macamlah sumber kebisingan itu: radio atau kaset yang tak henti-hentinya distel. Bainakum. Tsaunakum. Baanakum.mesin jahit. lebih terkenal: gaple. terdengar mengalun suara anak-anak mengeja Juz Amma dari madrasah: “Aanakum. begitulah cara mereka membanting kesal ke atas meja gaple. 10 Apa saja yang dimasak tetangga. Iinakum. di saat warga sedang terkantuk-kantuk disengat panas Jakarta. Aromanya akan mengambang ke mana-mana. Begitulah cara ayah-ayah kami melepaskan lelah setelah seharian mencari nafkah membanting tulang. Tsaanakum. atau listrik yang korsleting. bisa-bisa berlangsung hingga beduk subuh. ke sepanjang gang. teriakan penjaja sayuran dan makanan. Biasanya. sungguh menitikkan air liur. di luar pekarangan rumah. yang berantem. Taanakum. Atau juga. Buunakum. Tuunakum. Tsainakum. Baunakum. Tsiinakum. tak bisa dirahasiakan. melayang jauh dihantar angin siang. Tiinakum. sementara ibu-ibu itu masih bersungut-sungut. Aunakum. Ainakum. Yang ini. Taunakum. ibu-ibu kami terlibat juga dalam pertengkaran kecil. mengantar kantuk. Tainakum. teriakan anak-anak bermain. 134 9 Kurasa gang kami tak pernah sepi. Uunakum. Dan lepas tengah hari. Tsuunakum . Pada malam minggu. Anehnya. Yang paling cepat ketahuan. 8 Sesekali. soal anak-anak. Tak tahulah. 11 Lepas Isya dan makan malam.” Ejaan itu mengalun dalam irama yang khas. tetangga lain akan cepat turun tangan memberikan bantuan perbaikan. kalau ibumu menggoreng ikan asin. boleh dikata selalu ada permainan domino. Dan andaikata ada pompa air yang rusak. Biinakum.. 12 .

agaknya dangdut dan pop itulah. atau belagak memainkan musik jazz dengan gitarnya. persis pengamen jalanan. mata itu bisa melotot terus sampai pagi. Kami menyebutnya ‘markas’. saling menenggang. Tapi yang mendapat tempat di hati kami. anak-anak cewek ikut nimbrung bersama kami. ayah-ayah kami pada mengantuk. Nampaknya kehadiran kami melegakan hati mereka. Martin. 14 Sekali-sekali. tapi tak kena: sumbang. Tony Handoko dan beberapa anak tertentu. semua membuka matanya lebar-lebar. Menurut Ustadz Malik. ditingkah senda gurau dan gelak tawa tak berkeputusan. tak sampai larut. Tapi rasanya lebih intim dengan Hamzah. setengah melucu. Dulu ketika masih kecil. kalau main gaple semalam suntuk. kami yang muda-muda pun tak mau ketinggalan duduk menggerombol: ngobrol ngalor-ngidul. sebagai basa-basi. 15 Bagiku. semua anak-anak Gang Haji Abdul Jalil adalah teman. Semua jenis lagu kami senang. menyanyi dan main gitar. Di tengah pengajian sedang berlangsung. kami saling menjaga. orang tua-tua kami mengadakan pengajian di mesjid. Usia kami tak jauh beda. 16 . Dan kalau bisa ingin berbuat lebih baik kepada yang lain. tanda setan sedang mengencinginya!” Tiba-tiba. hampir sebaya. Sekarang tidak. dan yang lain segera menyorakinya. Kami yang muda-muda. Sesekali kami larut juga dalam irama gambus. Najib. sedikit kaget dan lantas tertawa. Menertawakan siapa? 135 13 Jika yang tua-tua senang gaple.Berbeda sedikit dengan hari-hari biasa. setengah menyindir: “Mata yang mengantuk kalau dibawa mendengar pengajian. Tempatnya: gardu jaga siskamling. Heran. sekali sebulan pada petang Jumat. Sebentar mereka sudah dipanggil ibu mereka. pop sampai keroncong. ikut hadir. Atau disusul adiknya disuruh pulang. mulai dari dangdut. kami sering berantem. Sekali-sekali ada juga yang mencoba seriosa.

Mau melanjutkan ke Perguruan Tinggi Swasta. gerak tangan. Dan sekarang. Gayanya mirip-mirip Rendra. bagaikan buku yang belum habis dibaca kita sudah . Ia ikut salah satu kelompok teater yang sering mentas di TIM. nada suaranya agak dilantunkan bagaikan orang berdiri di atas panggung. tak mungkin. biaya kuliah terlalu tinggi. Tapi Hamzah tidak marah. kayaknya bukan lagi Martin yang kami kenal selama ini: Martin yang lugu dan agak pemalu. Kami tak tahu pasti. disibukkan oleh latihan-latihan teaternya. Sejak jadi pemain teater. cara tersenyum. Akhir-akhir ini ia agak jarang nongol di ‘markas’? Waktunya dihabiskannya di TIM. ni yee?!” ejek anak-anak. apakah dia masih bisa berbisik. Atau dikuburnya? Pokoknya lagu Barat melulu. kalau dia lagi sendirian di teras rumahnya. dia sedang baca apa? George Bernard Shaw atau Hemingway atau Tolstoy atau Albert Camus atau Dokter Zhivagonya Boris Pasternak atau Thomas Elliot! Pokoknya: berat! 136 17 Kalau si Martin lain lagi.” tambah yang lain. Apalah yang dapat diharapkan dari pencarian ayahnya yang ustadz. guru ngaji di gang kami. Agaknya ia tak bisa lagi mengecilkan suaranya. ekspresi wajah dan lain sebagainya. seakan ia jauh dari kita. Kadang-kadang ikut mentas ke kota-kota lain! 18 Kukira. kalian tahu. Selangit. “Maklum. Akan hasil perburuannya itu. Pokoknya. Tiba-tiba saja ia telah menjadi manusia aneh di tengah-tengah kami. Kalau ia bicara. Di situlah ia bercokol. di luar jangkauan. Soalnya setelah gagal sipenmaru. Merasa lebih penting dan menonjol dari yang lain. deh! Bayangin. berat. Agaknya dangdut seperti sudah dilupakannya. Anak-anak hampir tak dapat menahan ketawa. Tak acuh. bukan cerita silat lagi. “Inggris. benar-benar ia putus sekolah. Najib anak Ustadz Malik. sejak jadi mahasiswa Sastra Inggris paling getol nyanyi Inggris. Itu. gayanya overacting. jalannya. maunya. Maka dengan senjata ijazah SMA-nya diterobosnya rimba perkantoran kota Jakarta. bacaannya bukan komik lagi. Masuk kantor keluar kantor.Hamzah gitaris andalan kami. deh. Gaya bicaranya. ia tahu diri. si Najiblah yang membuat kami semua merasa heran.

Najib merasa sangat terhimpit. Tony memintaku. Nah. Teriak papanya: “Mau jadi apa kau?! Mau jadi santri miskin?!” Suaranya menggelegar sepanjang gang. 137 19 Sebaliknya. tak membantah sepatah pun. Bahkan ia minta aku menemaninya selama seminggu di pesantren. dan tak ada tempo. atau kayak petasan gantung waktu sunatan. kerja. Kaget. Tapi Allah memang Maha Pemurah. Pokoknya. bukan main kagetnya sang papa. heran. kemudian ikut training untuk jadi Bartender. . Siang hari ia tidur. merunduk terus. Tony dan aku berangkat naik kereta api ke Jawa Timur. Yang ia tahu. Tony bungkem. ke Pesantren Bangil. merasa berkewajiban menyimpan rahasia ini kepada Ustadz Malik. siapa sangka. bingung. “Jangan lupa shalat. dan di mana mau shalat. rumah minum. Papanya menyesalkan sangat keinginan Tony itu. tak alang kepalang. tapi dilakoninya terus. Tony Handoko yang agak ugal-ugalan itu. kalau itu diartikan secara harfiah: kerja. Ayahnya Ustadz Malik tak tahu putranya bekerja di tempat haram itu. Satu-satunya perusahaan yang mau menerimanya adalah sebuah Pub.” pesan ayahnya.tahu jalan ceritanya. Agaknya ia kalah. sampai papanya reda dan terhenyak di kursi. Dan bahkan kini ia sudah tak shalat lagi. Lingkungannya tak memungkinkan. kami. akhirnya Najib mendapat juga apa yang dicarinya. Sebenarnya. Najib bekerja sebagai Satpam di sebuah perusahaan. Karena Najib bekerja malam hari hingga subuh. anak pegawai pajak yang gedongan itu. pimpinan pesantren itu. berang. Selanjutnya diberondongnya Tony dengan omelan tak berkeputusan. Papanya menganggap keputusan Tony itu benar-benar gila. Pengasih dan Penyayang. menguji keimanannya. dan semua orang di gang. Beberapa hari kemudian. dan ia tak mau jadi bahan tertawaan teman-temannya. bagaikan disambar petir di siang bolong. Setelah pernyataan pemberitahuan itu kepada papanya dan diberondong habis-habisan. bersamaan dengan itu Allah ingin menguji Najib. Ia memerlukan teman dalam perjalanannya. Ketika hal itu disampaikan. Orang tak ingin menghancurkan perasaannya. Apakah ia suka atau tidak. seperti musang. Sejak itu kami kehilangan seorang teman kongkow. setelah Najib ditest. Papanya sudah berangan-angan supaya Tony jadi akuntan dan akan mengirimnya ke Amerika. Jelas Najib berbohong. sesuai menurut apa yang dikatakan Najib ketika suatu kali ayahnya bertanya. bersikeras pada papanya mau masuk pesantren. Artinya. Najib mulai bekerja di sana. Bekerja di bar itu dosa. Untunglah hal itu diizinkan Pak Kiai. bagaikan rentetan tembakan senapan mesin sebagaimana yang kau lihat dalam film Rambo. jika Allah berkehendak memberi hidayah kepada hambanya. Sampai kapan? Dan kami. Dan ia tahu betul berbohong itu dosa. tentu kau sudah dapat menebak.

sekarang pakai jilbab (itu istilah yang ngepop sekarang. anak-anak perempuanmu. bukan?” “Tidak sekarang. surah Al-Ahzab ayat 59: “Hai. dari ibu Tony.. Tapi.” Pakaian yang menutup aurat. Dalam batin.. Tidak! Saya tidak akan pulang! Saya sudah bosan dengan suasana rumah!” Tony menarik nafas panjang. Allah. Dunia. Coba. Hendaklah mereka mengulurkan kain kerudung/jilbab mereka ke . istri-istri orang mu'min. pada hari ketiga. nampak kesal. Ia diminta ibunya pulang sebentar untuk menjenguk papanya. sebagaimana yang kita lihat di majalah-majalah atawa koran-koran.” jawabnya pasti. Dan kesan pertama kita melihatnya. Saya hanya bisa berdoa. itu kata lain dari pada kerudung). tapi miskin rohani. agar semua kami ditangkap. yang suka “ekstrim” bukan Tony Handoko seorang. pengajian subversif. Tapi Tony tak mau. Begitu Surat Kilat Khusus yang kami terima. Belakangan ada lagi yang menyebutnya pakaian wanita Ikhwanul Muslimin Mesir. hampir saya tidak bisa memaafkan papa. semoga Allah memberi papa taufiq dan hidayah. “Toh tidak apa pulang buat sebentar. Engkaulah Yang Maha Tahu! Dan papa sampai hati akan mengadukan kelompok pengajian kami kepada yang berwajib. saya bertanya: siapa yang sesat? Saya atau papa? Apa yang papa fikirkan hanya duit melulu .” Aku mencoba melunakkan hatinya. guru ngaji kami ditangkap! La hawla wa la quwwata illa bi 'l-Lah. dunia dan kesenangan melulu.. Maunya perintahnya saja yang mesti diturut. Dan sebagaimana dikatakannya dalam surat kepada ibunya. Nah. martabat. teman kami juga.20 Sehari setelah keberangkatan Tony. Saya percaya masih tersimpan benih-benih iman dalam dada papa. Dan katanya: “Coba fikir. Sesuai dengan apa yang termaktub dalam Al-Quran. pimpinan Imam Hassan Al-Banna.. Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu. Kini. seakan dengan itu dapat dibeli semuanya: gengsi. Ya. masak papa tega menuduh saya subversif. “Itulah pakaian Muslimah yang sebenarnya. menurut Ustadz Malik..… Apa dengan kekayaan itu dapat dibeli kebahagiaan akhirat? Papa sudah dipengaruhi oleh Dajjal yang bermata satu. saya dibilang sudah sesat? Dituduh mendapat pengajian yang sesat? . teman Maryam (nanti kalau ada tempo aku cerita padamu).. hanya mencari kesenangan dunia…. Lanjutnya: “Kalau tidaklah karena takut dosa. pengajian yang disusupi faham komunis. “Sekarang saya lagi kesal sama papa.. Sekarang sedang tersapu oleh gemerlapnya keindahan dunia 138 21 Sebenarnya. hampir menangis.. Ikut pengajian gelap.. Papa memang selalu begitu. menjadi anak durhaka. kulihat air matanya menggenang. Jelas ini fitnah! . kesenangan .. anak buah fanatik pengikut Imam Khomeini. Ma. Ada lagi. apa pun namanya. persis seperti kaum wanita pasidaran Iran. papanya jatuh sakit. Aisah yang satu ini. tak lain tak bukan. Kau lihatlah si Aisah. kepadaku ia berkata: “Nanti sebentar papa akan sembuh juga.

maka Rasulullah melengah seraya berkata: “Hai Asma. “Apa pakaian-pakaian yang dulu itu sudah kau sedekahkan. ekstrim itu..a. agar mereka tidak diganggu.: suatu ketika Asma binti Abu Bakar masuk ke tempat Rasulullah sedang Asma memakai baju yang tipis (membayang tubuhnya). “Salah apa saya jika saya mengamalkan ajaran agama saya?! Toh. “Dulu sebelum begini malah kau seorang modis. Soalnya: jilbab yang kayak ninja itu. lisan dan tulisan. Kayaknya semua pakaian rok. dengan ancaman sewaktu-waktu bisa dikeluarkan dari sekolah.seluruh tubuh mereka. ia selalu berjilbab! Anak-anak yang iseng.” dan beliau menunjuk kepada muka dan kedua telapak tangannya. Al A’raaf ayat 26 dan beberapa Hadis yang diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad! Pokoknya. perancang busana. fikirku. Yang kutahu Aisah tetap tegar. Rezeki di tangan Allah. ia dianggap melanggar peraturan seragam sekolah. Semoga Allah mengampunkan ketidaktahuanku. misalnya pada An Nur ayat 31. dan dosa yang dilakukan orang itu. walau warnanya sudah putih di atas dan abu-abu di bawah (sudah disesuaikan Aisah). “Itu namanya. dapat saya kutipkan sebuah Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Daud dari Aisyah r. “Itu waktu saya masih jahiliyah. Aku tak tahu bagaimana kesudahannya.” jawabnya. sama saja kita membagi dosa kepada yang lain. Aisah.” Mantap sekali ia. sudah dibakar ludes! Atau dihanyutkan ke Kali Malang (tak jauh dari gang kami). sejak Aisah menjadi eskrim. Tapi Aisah tak acuh saja.. Tapi lihatlah betapa cobaan yang dihadapinya. Dan Allah Maha Pengampun-Penyayang. Namun ia tetap dianggap melanggar. Aisah?” Suatu kali aku coba menduga kepadanya. Dan siapa yang mau menjahitkan kepada saya? Terserahlah. apalagi mini. barangkali. midi. “Menyuruh orang membuka aurat.” kataku pula. baju lengan panjang dan rok yang komprang kedodoran itu! Kepala Sekolah sudah memberi peringatan beberapa kali. Dan sejak itu. di mana saja. kapan saja.. Sebenarnya. Dan dosaku dua kali lipat: dosa karena telah memberi yang salah. bahwa negara menjamin kemerdekaan dan kebebasan setiap warga negara untuk memeluk suatu agama atau keper- 139 . Aisah boleh bermantap-mantap. tapi Saudara-saudara dapat mencarinya sendiri dalam Al-Quran.” katanya. wanita yang telah sampai masa haid tidak boleh terlihat kecuali ini dan ini. Oleh kepala sekolah.” Dan dari Hadis Rasulullah Saw. maaf. hal itu dijamin oleh Undang-Undang Dasar Empat Lima kita! Baca tuh pasal 29 ayat 2. menjulukinya dengan “pakaian ninja”. ia berdosa dan aku pun berdosa. blus yang dulu. siapa yang mau saja. baik yang maxi. kayaknya Aisah tak punya lagi barang sepotong pun baju model lain. masih ada beberapa ayat dan hadis. Garagara pakaian jilbab itulah. Aisah mendapat kerepotan di sekolahnya (sebuah SMA Negeri di bilangan Kebayoran Baru). Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal.” “Kau ini aneh. Sekarang siapa yang mau menjahitkan pakaian padamu kalau hanya jilbab melulu?” “Lupakanlah itu. Berkata mantap kepada kami anak-anak gang.

mengangkat bahu. dong. segera mengalihkan iramanya ke kasidahan: “Indung-indung kepala lindung Hujan di udik di sini mendung Anak siapa pakai kerudung Mata melirik kaki kesandung.. belum merasa puas. yang terlibat narkotik itu. senang sekali. kalau mau ditertibkan juga. Aisah melanjutkan: “Itu tuh..!” tambah kami lagi. Apakah ini tidak munafik namanya? Atau mungkin ada penamaan lain?” “Munafiiiik.” . Kita curiga dengan berbagai prasangka. plok plok plok. Aisah mengeluh: “Boleh jadi semua kita telah menjadi orang-orang munafik terhadap agama yang kita anut. membenarkan. Apabila Aisah lewat di depan ‘markas’. aduh manisnya). mana yang lebih tinggi kedudukan hukumnya UUD 45 atau Peraturan Seragam Sekolah?!” “Jelas UUD 45. dasar anak-anak. Tilawatul Quran kita rayakan secara besar-besaran dengan biaya jutaan..” jawab kami spontan memberi semangat dan membenarkan Aisah. ya (senyum. tak tanggung-tanggung! Tetapi sebaliknya... mencorongkan kedua telapak tangannya ke moncong: “Jangan-jangan kepala sekolah itu bekas PKI. “PKIiiiiiiii.. plok plok plok plok plok plok plok. suka menggoda.” celetuk kami. tertibkanlah siswa-siswa yang suka berantem itu. katanya sambil setengah berbisik... yang merokok itu. Semua bertepuk kegirangan bagaikan anak-anak pramuka. ‘kali. yang suka keluyuran di jalanan atau ke disko pada jam-jam pelajaran! Ke sana alamat penertiban itu! Bukan kepada hak asasi orang?! Orang yang baik-baik seperti kita-kita ini lagi.” Lagi-lagi kami keplok...cayaan dan untuk beribadah sebagaimana yang diajarkan oleh agama maupun kepercayaan itu! Nah. Begitu ia lewat. pengamalannya kita jegal. 140 22 Di mana pun. Tiba-tiba seseorang memberi komando: “Tepuk pra-mu-ka!” Plok plok plok. suka becanda. Mengembangkan kedua tangannya.. Dan bertepuk tangan serempak.!” teriak anak-anak serempak. anak-anak yang tadinya asyik-asyiknya menyanyi dangdut atau pop. ini enggak ge-er.. Rupanya Aisah belum selesai. Kan hanya orang-orang PKI yang sangat anti agama?” “Ya. yang mabuk-mabukan itu. tak pernah luput ia jadi godaan.. ‘kali.

“Tidak. “Ucapin salam dulu. “Kau tidak diapa-apakan mereka?” tanyaku. dong. Sekilas kudengar. alimnya. “Ada cowoknya. buru-buru aku keluar.” Dan macam-macam lagi. persis kayak segerombolan anjing hendak berebut tulang. Jalan terus.?” 23 Suatu kali sedang aku asyik mentes kaset yang akan kubeli di sebuah toko di Benhil.” Anak-anak pada sorak kegirangan. Mungkin. assalamu'alaikum. Serombongan cowok SMA yang berpapasan dengannya menggoda Aisah dengan sikap agak kurang sopan. dalam hati masingmasing kami. kupanggil Aisah dengan suara lantang untuk mengagetkan anak-anak itu. gue anterin.” 141 . “Wah. berkata: “Alangkah manisnya anak ini.. “Wa'alaikum salam.Aisah terus berlalu dengan senyum-senyum dikulum. kalian ini tak tahu aturan!” ujar yang lain belagak memarahi teman-temannya. mengitarinya seakan hendak memangsa. Aku berhasil. Kuatir mereka menggoda lebih jauh lagi.” “Anak-anak berengsek!” “Mereka cuma iseng. Aku sudah siap menghadapi segala kemungkinan. “Waduh. Neng?” Dengan lembut Aisah menjawab.. Mek!” Lalu kutarik Aisah ke toko kaset. kulihat Aisah berjalan seorang diri pulang sekolah.” “Sorangan wae?” “Mari.” “O ya lupa. Namun Aisah diam saja. yuk?” “Ntar lu digampar bokapnya!” “Enggak apa asal gue dapat anaknya yang ca'em. Mereka menyingkir secara teratur.

. Kemudian pasangan anak muda itu pergi ke luar rumah untuk latihan menyanyi. 142 24 Lain Aisah. Sejak itu ia dikenal secara luas. kalau berganti-ganti saja pemuda-pemuda luar datang berkunjung ke rumahnya. dan macam-macam acara lain. pemain film yang sedang in. lain pula Maryam.” kataku.“Kurang ajar. Hamzah belum pernah mengatakan secara terus terang. kami tak merasa heran. Semua orang kagum padanya.” kataku tak habis fikir pada Aisah yang satu ini.. Penampilan yang pertama mengejutkan banyak orang adalah ketika suatu kali ia ikut acara perkenalan penyanyi remaja di TV. Hamzah menaruh hati pada Maryam. tiba-tiba seperti disunglap. main engklek. Bahkan yang tercantik di ibukota republik ini. ampun. maka terdengar bisik-bisik yang dikeraskan: “Baru lagi. ya ampun. . ada lagi yang mengajaknya pergi menonton. Dan Maryam sadar akan perubahan dirinya. anak teater yang lagi ngepop. Pokoknya selalu dengan cowok baru! Dan setiap kali Maryam dan padangannya lewat di depan ‘markas’. Yang tercantik di gang kami. selalu dengan muka baru: penyanyi tenar ibukota. salam tak dijawab. main loncat karet. yang artinya selamat dan sejahteralah anda. pemain tenis yang lagi ngetop.. Kukira. Dan yang paling akhir anak orang kaya bermobil Baby Benz. Dan.. kenapa anak-anak gituan kau kasih hati?” “Kasih hati bagaimana?” “Salam mereka kau jawab.. Sepantasnya kita mendoakan mereka pula. Bukankah salam itu doa. Gadis kecil yang kemarin-kemarin ini masih ingusan.” “Ya. Gadis kecil itu tumbuh jadi remaja yang amat cantik dan mempesona. ke restoran. demikian menurut Hamzah. Di lain waktu. melainkan kecantikannya yang membius itu. dari kuncup mekar menjadi bunga yang indah. masih suka main congklak dengan teman-teman sebayanya. geram. Bukan pada nyanyian. ni yee?!” 25 Maryam memang cantik. Maka sejak itu. Cuekin aja!” “Dosa lho.. “Tapi.

yang pergi membawa luka hatinya dalam kesepian di kamar indekosnya jauh di Rawamangun sana. Memutuskan hidup jadi pengarang dan berhenti kuliah. berfilsafat. berani-berani takut. 26 Suatu hari. Semoga hal itu menjadi tanda baktinya buat mereka yang telah bersusah payah. seperti ada sesuatu yang terlepas dan hilang. mungkin anak-anak lain tidak. 28 Dari bisik-bisik anak-anak cewek dapat kutangkap bahwa sebenarnya Maryam pun mencintai Hamzah. Di antara kawan tak kulihat lagi Hamzah. Aku terperangah. Maryam seorang anak yang baik. .“Tapi apalah arti kecantikan jika tidak disertai dengan ‘kematangan dan kedalaman’. 29 Akhir-akhir ini. Indekos di sebuah kamar yang sederhana. Dalam senda gurau dan nyanyian diam-diam menyelinap kesepian ke dalam hatiku. 143 27 Tapi akhimya aku tahu juga. tempat di mana ia melarikan kepedihannya. Dalam puisi-puisi dan cerpen-cerpennya dapat kutangkap kesepian hati yang dibawanya ke mana pun ia pergi. ia ingin membahagiakan kedua orang tuanya. aku tak tahu. ketika Maryam menyebarkan undangan perkawinannya dengan anak penguasa Real Estate. Namun perasaan ini disimpannya sendiri. Ia tak hendak dan berani menyatakan kepada ayah ibunya. Dan terlebih dari semua itu. seorang anak yang patuh. Sekarang ia bekerja di sebuah majalah. membesarkannya dalam kemiskinan yang berkepanjangan. Dari bacaan berat mana pula Hamzah memperoleh ‘kematangan dan kedalaman’ itu. aku tak merasa betah lagi duduk lama-lama di ‘markas’ kami. yang tak mungkin dapat diraih kembali. Mungkin di malam-malam begini ia sedang mengetik puisi-puisi atau cerpen-cerpen. Untuk itu ia siap berkorban. Kali ini tampak serius dengan muka murung. kutanyakan pada Hamzah apakah ia mencintai Maryam.” kata Hamzah pula. Hamzah mendadak pindah ke Rawamangun. yang ber-Baby Benz itu. “Tidak!” jawabnya tegas.

Nun jauh di desa Bangil. Namun ia tak bisa berbuat lain. jauh dari keramaian kota. Batinnya tertekan.” 31 Malam hari ketika aku pulang dari mencari pekerjaan yang belum juga kudapatkan. nongkrong terus dengan bocah-bocah itu? Teman-teman sebayamu sudah pada bekerja! Contohlah mereka itu! Lagi pula. Masing-masing teman pergi membawa nasibnya sendiri-sendiri. Tiba-tiba aku merasa teramat sepi. Sedang mengapakah Martin sekarang? Lakon apakah yang sedang diperankannya sekarang? Hamlet tokoh yang selalu dibuai bimbang? Lama ia tak pulang. Tony Handoko. 144 30 Suatu hari ayahku berkata dengan sedikit keras kepadaku: “Syamsu. Najib mungkin sedang mencampur minuman haram satu dengan yang lainnya. Tapi sudah tentu tak kulihat lagi di sana Najib. Ramainya masih seperti biasa. terpencil. Aku tak tahu sedang mentas di kota mana ia sekarang. apakah kau tak merasa malu. Martin dan Hamzah. Adik-adikmu masih banyak yang perlu ayah perhatikan.Tony Handoko mungkin sedang terbenam dalam kitab kuning bertuliskan Arab gundul. Agustus 1990) . sambil mengenang ayahnya sedang mengaji di rumah. aku selalu lewat di depan ‘markas’. tertekan sedikit oleh perasaan rindu.*** (Dimuat dalam Horison. ayah sudah tak sanggup lagi membiayai sekolahmu. Atau mungkin ia sedang larut dalam zikir yang dalam.

Tentu lelucon ini menambah semarak suami-istri. Sedangkan kami berdua membutuhkan tamu.Lonceng Oleh: Motinggo Busye 145 Jam dengan merk Junghun itu belakangan ini menyengsarakanku. “Hari itu ulang tahun perkawinan perak kita. dan mantan pacarku adalah istriku Ina.” “Kalau begitu tinggal 4 hari lagi. “Sebentar lagi kita akan merayakan ulang tahun perkawinan kita yang kedua puluh lima. Bila loncengnya berbunyi. tetap saja aku mencoba memetik kenangan lama yang indah setelah jam Junghun itu mengisi ruang tengah rumah kami. Kuingat sekali. Tinggi jam itu setinggi tubuhku. kelak tamuku akan cepat pulang.” katanya. “Juga mantan pacarmu. bahwa mantan pacar istriku adalah aku. Padahal barang itu kami beli untuk menambah kebahagiaan istriku dan aku.” “Ingat enggak. Ina. Istriku menjadi perempuan yang bawel. Kami ketawa bersama. Sore itu. Nyanyian ini mengisi kalbu istriku dan kalbuku sendiri. Kami dulu mempertimbangkannya cukup lama untuk memutuskan di mana harus diletakkan jam yang sebesar itu. Jika ditaruh di ruang tamu. Sam. sebab kehadirannya merasa dikontrol oleh jam. aku dan Ina sedang duduk-duduk berdua sembari minum teh dan makan jeruk. “Betul. Walaupun akhirnya mengesalkan. siapa yang datang pada pesta kita itu?” “Mantan pacarmu.” kataku. Ini karena ulah jam itu. hanya untuk perkawinan perak itu saja kami berdua sangat sibuk.” kataku. ya Sam?” ujar istriku suatu sore. Orang yang kurang rasa humor mungkin heran. Mereka harus diberitahu. maka terdengarlah sebuah nyanyi. . Kita menikah pada 10 November dua puluh lima tahun yang lalu. Kami suka mengulangi lelucon yang sama itu setiap ada bekas teman sekelas hadir.” “Kamu tentu ingat tanggalnya.

Ketika kami lewati beberapa toko. Ketika loncengnya berbunyi 1 kali. “Ini benar-benar abadi. Dari masa berpacaran dulu. kami menganut aliran navy-navy. “Sebenarnya aku menguji apakah kau masih kikir. Istriku melotot setelah aku sebutkan harga yang diberitahukan pemilik toko jam itu. Aku dan istriku saling menatap. aku meremas jari tangan istriku. Terdengar satu nada indah mirip lagu yang menyentuh perasaan kami. Sam. Makin larut perkawinan kami. Ketika setiba di rumah. Di toko saya cuma tinggal satu ini. tak ada satu pun benda yang berkenan di hati kami berdua. secara mendadak dan serentak langkah kami berhenti. Saat itu adalah pukul 00. Cuma saya yang jual merk Junghun ini.” kata istriku.” Istriku telah dikunci tanpa alternatif.” ujar sang pemilik toko. “Tanyakan harganya. aku tak tahu dan tak perlu tahu.” ujar istriku. Sam. Sebagaimana biasa. Dia selama tiga hari kami tunggu berbunyi. aku menggenapi kekurangan itu. Apa suami-suami yang lain di dunia ini juga seperti itu.” ujar istriku. Kami meniru para pelaut yang suka bayar masing-masing bila makan di restoran. Kadang sudah pergi kembali lagi ke toko sebagaimana terjadi pada hari itu. istriku bilang. aku dan istriku berpelukan. Ketika pada seperempat jam. dan ini juga satu-satunya. Kebiasaan ini bukan selalu buruk. “Coba Nyonya cari di seluruh Glodok ini.” “Ya kurangilah separohnya. Ke- 146 . remasanku lebih kuat lagi.” kataku. makin sering aku disuruh istriku dengan nada setengah memerintah. Ketika loncengnya berbunyi menyanyikan irama indah itu. Kami justru menciptakan humor baru ketika harus ber-navy-navy.00 pada hari 10 November.Kami telah pergi ke Pasar Glodok untuk mencari sebuah barang yang bisa dipajang di rumah dan punya kesan abadi. Setelah dua tiga toko kami masuki. ketika uang dihitung. Jam Junghun telah kami taruh di ruang tengah. Tapi irama lagu lonceng jam ini melebihi seluruh musik klasik kesukaan kami. "Merk ini nomor satu. dia menyanyikan satu bait saja. Lonceng jam itu memberikan zat rohaniah pada diri kami. Kebiasaan istriku adalah sama dengan kebiasaan banyak perempuan di jagat ini: menawar terlalu rendah dan berlama-lama untuk jenis satu barang. Maka kutinggalkan beberapa lembar di tasku agar kamu ikut membayar juga. Lalu. Bertahun-tahun kami menikmati duduk berdua menunggu lonceng jam itu bernyanyi setiap seperempat jam. Kebetulan kami berdua menyukai musik klasik.” Memang begitu. kurang sedikit. “Merknya Junghun. “Kita menemukan pilihan jam antik. Dan ketika gema 12 kali masih mendengung.

tiga bait. kamu dan jam dengan loncengnya itu. Sam. Pernah juga istriku bertanya. kamu suka membisu. Padahal jam ini sudah 15 tahun di rumah kita. empat bait komplit.” Aku memilih diam. Sebelum empat bait lagu itu bergetar. ajaib sekali.“ sambungnya. yang perempuan harus mengalah menjadi penunggu rumah. “Tapi aku betah di rumah bukan karena lonceng jam ini. dan pada waktu satu jam. “Kita tak pernah merasa tua oleh lonceng jam ini ya. dan sama pula selesainya. “Aku tahu. Perkawinan kita 40 tahun tanpa anak dan cucu. Peraturan kantor memang. lonceng jam menyanyikan lagu itu.” ucapnya.” katanya.” kata istriku lagi. “Kalau kamu kawin sama Aimah. Sam?” kata istriku. dia menyanyikan dua bait. Tetapi pertanyaan itu agak aneh di telingaku.” kataku. ”Si Aimah. mungkin kamu sudah punya anak dan cucu. aku bisa memperbaikinya. Jadi Ina cuma berdinas 1 tahun kerja saja. Ketika pertengkaran itu terjadi. “Mungkin kamu betah di rumah karena lonceng ini. sama pula di perguruan tinggi. “Ya. Yaitu menaikkan kerekan rantai tiga bandulan itu. Padahal dia amat mencintaimu. Aku betah di rumah karena sudah memasuki pensiun. Ketika tiba tiga perempat jam. Biasanya kalau jam itu mati. “Kalau aku bicara soal si Aimah. Yang ada di sini adalah aku. Akhirnya aku bertengkar juga karena dia lagi-lagi menyebut nama Aimah. dan terutama karena adanya kamu.” Tetapi. Sam?” Makin tua dia masih pencemburu seperti dulu.” kata istriku. yang perempuan harus diberhentikan dengan hormat.tika setengah jam. Dan inilah yang bikin aku marah dan kami bertengkar. aku dan Ina sudah berpelukan. “Kenapa kamu tidak kawin lagi saja. “Kita tak perlu bertengkar lagi.” “Sudah gaek masih gombal. ketika aku harus berhenti sewaktu kita menikah sudah pasti ada seorang gadis yang senang. jika ada dua orang menikah di satu ruang kerja. Orang yang sama sekelas di SMA. akan sama nasibnya jika melamar di kantor yang sama di bidang yang sama pula: jika menikah. lalu menyetel jarum panjang dan jarum 147 .

Akhirnya dia berkata putus asa: “Maaf. Ina." 148 . Kali ini loncengnya berbunyi tidak cocok lagi dengan waktu. Dia ini ahli jam generasi penerus ayahnya. Bertahuntahun dia membuat kita berdua menikmati irama loncengnya yang pernah bernyanyi merdu. Bahkan mencak-mencak.” “Kamu makin tua makin tolol. Dan istriku terus pula menertawakan kegagalanku walau tanpa perkataan “tolol”. Dan aku gigih terus memperbaikinya. Aku kan tidak bilang kamu tolol. "Jam ini penuh kenangan.00 tengah malam 10 November. Ina. dan bunyinya harus tepat 12 kali pada pukul 00. “Tenang dulu. Kita jual saja jam Junghun ini. Dimulai dengan cekcok mulut lagi. Keringat membasahi bajunya. “Oh si Aimah itu turunan Arab ya?” “Coba tenang. Tapi itu tidak berarti aku tak 'kan bertengkar lagi dengan Ina.” Aku mencari ahli jam. ada dijual di sini. ada orang Arab di Tanah Abang.” kataku ketika memperkenalkan tukang arloji itu kepada Ina. Ketika aku tiba di rumah Arab itu. Pukul 12 bunyinya 6 kali. aku pergi ke Jatinegara.” “Sudah. orang di rumah itu mengatakan. kita tak boleh merusak kenangan yang diberikannya. ahli pembetulan jam dan piano. diam kamu. Ina.” “Sudahlah. Jangan jadi nenek sihir lagi. namanya Mahboub Assegaf. “Aku tak bertemu dengan orang Arab itu. “Kau bilang dulu kamu menguasai ilmu listrik. jam ini berbunyi 36 kali.” “Mau cari Aimah?” “Bawel kamu.” kataku. “Itu logis saja.” Aku mengalah. Menurut pemilik toko di Glodok itu. Bahkan dia mengenal Ami Mahboub Assegaf. Kita beli yang baru. sekaligus menyebarkan bau ketiaknya di ruang tengah kami yang nyaman. Anak muda itu bekerja keras. Sam. aku terus berusaha agar jam Junghun itu bisa menyanyi lagi. Dia marah. Istriku mendehem.pendeknya untuk menyesuaikan waktu. Istriku senyum mencemoohinya. Dia katakan.” kataku.” “Aku mau keluar. Kamu makin tua makin cerewet. Jangan. Seorang tukang arloji kubawa ke rumahku. bahwa “Ami Assegaf” sudah wafat. Bahkan ngawur. Tapi kenapa betulin jam saja sudah salah. Dia tidak berbunyi 12 kali pada waktu pukul 12.” kataku pada Ina. Sam. Dua tahun menjelang ulang tahun perkawinan emas kami. Kalau mau beli buah kurma dan kismis.

Kita jangan panik. Ina. Yang mulai menjadi korban jam Junghun adalah Ina. Suatu malam dia menjerit karena satu mimpi buruk. jam gila itu berbunyi 120 kali. Istriku menyebut lagi perkataan “tolol” itu. Ini menambah semangatku. Aku akan coba perbaiki sendiri. “Sabar. lalu mendentingkan loncengnya 12 kali. Sayang. dan tak 'kan pernah mendengarnya. kurayakan pesta emas perkawinan itu seorang diri.” kataku yakin. Dia mulai berlangganan dokter spesialis penyakit dalam. Manusia harus mengalahkan benda mati ini. Memang dia gila. Nak.00 jam itu bernyanyi empat bait komplit. September 1999) . Tengah malam pukul 00. sampai aku berhasil! Aku merayakan pesta emas 50 tahun perkawinan kami. Ia menderita tekanan darah tinggi.“Cukup. Manusia tidak boleh ditaklukkan oleh benda yang bermerk Junghun. Ya. diiringi kemerduan lonceng jam Junghun yang amat sangat indah. Katanya.*** 149 (Dimuat dalam Horison. saat itu istriku tidak mendengarnya.” kata istriku.

Juga nampak bayangan dirinya yang lucu. Sering satu atau dua jam merendam diri sambil mempermainkan buih-buih sabun yang memenuhi bath tub dia bisa merasakan kesendiriannya dan melupakan persoalan-persoalan yang menjerat perasan serta pemikiran. Diamatinya dengan lebih teliti gelembung itu. Hanya secara kebetulan suatu hari salah seorang saudaranya begitu jengkel dengan pertanyaan yang selalu berulang-ulang memberikan jawaban yang cukup memuaskan.Lelaki Tua dari Noumea Oleh: Waluya DS 150 Seperti biasanya untuk menghilangkan ketegangan urat-urat badannya lelaki tua itu mengambil bubble bath. “Ceritakanlah negeri leluhur itu padaku. Aryo Jipang. Joko Tingkir. mungkin ada awan atau saudaranya yang lain di dalam gelembung itu. Dan dia tak bisa mengerti kenapa orang tuanya meninggalkan Negeri Leluhur yang begitu mempesona. Ibu?” Bila ada waktu ibunya dengan tak bosan-bosan bercerita dongeng-dongeng Panji. permainan dan impiannya justru mengukuhkan rasa sepi dan sendiri. Persis seperti masa kanak-kanaknya di halaman belakang rumahnya di Noumea. Dia pikir bila gelembung ini terbang nanti bersama potret dirinya itu. Sutawijoyo. Dongeng-dongeng itu begitu indah dan memukau. Nak. dia pasti akan bisa melihat rumah-rumah. Dan setiap kali gelembung-gelembung sabun itu pecah dia merasakan satu kekecewaan seperti tergugah dari impian yang mempesonakan. “Di negeri leluhur kita. Damarwulan. Buih-buih sabun itu semakin bertambah setiap kali dia berkecimpung. Suatu kali. Ken Arok. Dan dia begitu tertegun. pepohonan serta sungai-sungai dari angkasa. Tapi dia belum mau melepaskan gelembung itu karena dia takut potret dirinya itu nanti akan merasa sendiri dan sepi di angkasa. Dengan hati-hati ditusuknya gelembung itu dengan ujung jarinya. dengan pipa dari semacam rumput kering dia menghembus air embun dan belasan gelembung beterbangan dipermainkan angin. satu gelembung tetap bergantung di ujung pipa rumput kering itu tak mau pergi. bahkan juga bagaimana keramatnya Kreto Kencono Kanjeng Susuhunan. kau tak akan pernah merasa sepi atau sendiri.” Begitu tutur ibunya suatu hari waktu dia merengek karena tak ada kawan bermain dan beberapa saudara tuanya tak ada di rumah. Setiap pertanyaan yang dilontarkannya selalu lewat tanpa terjawab. sedang kedua orang tuanya selalu sibuk dengan usaha dagang mereka. Ki Pemanahan. Sesekali ditiupnya buih-buih itu dan beberapa gelembung melayang berputar-putar. Diamatinya kedua telapak tangannya yang penuh dengan buih-buih sabun yang memantulkan warna-warni pelangi. Dengan hati-hati dihembusnya gelembung itu yang semakin membesar. Warna-warni pelangi terpantul dengan indahnya. .

apa kataku. Kau sudah menunjukkan satu kemajuan ke arah pemikiran yang praktis dan realistis. Lupakanlah dongeng-dongeng dan Negeri Leluhur itu.” “Aku hanya ingin supaya kau tak kecewa nanti. Salah satu di antaranya. “Nah. Setiap adat dan kebudayaan punya kelebihan dan kekurangan yang tak bisa dicomot di sana-sini. Kau hanya harus terima utuh. bapak melakukan usaha dagang bersama yang cukup berhasil. Rio. Dan juga diberitakan bahwa usaha dagang bapak sebenarnya hanyalah usaha terselubung untuk memudahkan gerakan kader-kader Komunis.” potongnya.” “Tapi itu hidupku sendiri.” protesnya. Jangan kau biarkan angan-anganmu menggelembung dan menelan dirimu sendiri nanti.” “Tapi namaku bukan Rio. Tentu hasil usaha dagang itu juga dipakai untuk membiayai kegiatan mereka. 151 . Kebanggaan yang baru kau tunjukkan itu tak ada artinya sekali di sini. bapak membawa kita untuk memulai hidup baru di Noumea.“Rupanya dongeng-dongeng ibu telah begitu meracunimu. waktu itu kau masih dalam kandungan. Didesas-desuskan bahwa bapak ikut terlibat hanya karena pernah terlihat berbicara dengan Tuan Semaun yang merupakan kader Tuan Sneevliet. Banyak usaha dilakukan untuk mendepak bapak.” “Maksudmu?” “Dengan bapak kita di Negeri Leluhur dahulu. Pertemuannya dengan Tuan van Stifhout. “Kau mau tahu jawabanku atau mau protes melulu?” Dia hanya mengangguk karena jawaban saudaranya terasa lebih penting daripada mempertengkarkan namanya. Dia lebih senang dipanggil dengan nama sebenarnya yang lebih punya bobot karena nama Aryo mencerminkan darah bangsawan yang mengalir di tubuhnya. bukan? Untuk menghindarkan hal-hal yang tidak di inginkan. ada huru-hara yang dilakukan oleh kalangan tentara penjajah Belanda yang didalangi Tuan Sneevliet. karena cintanya pada kita semua. Rio. Orang selalu dengan gampang mencelupkan tangan untuk ikut mengeruhkan suasana. Sebagai keluarga bangsawan jadi Kristen dan punya usaha dagang dengan orang Cina terlalu memalukan keluarga. Sebagai putra seorang pangeran yang dilahirkan oleh salah seorang selir. “Bagus.” “Namaku Aryo dan bukan Rio. dia merasa terpenjara oleh adat dan kebudayaan yang lebih merupakan beban daripada usaha manusia untuk memuliakan hidupnya. Lebih baik kau coba membina hidupmu di sini. pendeta Belanda yang akhirnya membaptisnya sebagai orang Kristen telah membukakan lembaran baru dalam hidupnya. itu lebih penting. bapak merasa tidak punya tempat dan hak. Dengan salah seorang anggota jemaah gereja yang lain Babah Loo Cin Yong.

Orang Perancis datang dari Eropa dan dirinya pasti punya tanah asal. Rio! Lupakanlah angan-anganmu itu. Dan para kelasi itu bilang kapal ini akan jadi kapal pelatih bagi pelaut-pelaut Indonesia. orang-orang Perancis. Betapa gembiranya ia ketika suatu hari sebuah kapal berlabuh dengan kelasi-kelasi yang bisa berbicara bahasa Jawa yang sedikit-sedikit dia bisa mengerti. sebuah nama yang pernah didengar dari dongeng ibunya. Kehidupan dan tata cara mereka tak ada yang berubah bukan? Lalu bagaimana dengan pendatang-pendatang Vietnam? Mereka mengirimkan uang dan senjata untuk melanjutkan perjuangan melawan kekuatan Komunis. Kenapa harus merisaukan martabat keluarga yang sebetulnya tidak dengan tulus menerima bapaknya sebagai bagian dari keluarga itu? Bukankah tanggung jawab bapaknya sebenarnya hanya pada keluarga mereka sendiri? Seharusnya bapaknya lebih baik tetap di Jawa untuk membuktikan bahwa dia tak ada hubungan sama sekali dengan kaum Komunis. orang-orang Kanak. Dia merasa tidak begitu akrab dengan nama Indonesia. Lebih baik memulai satu kehidupan yang baru seperti nasehat saudaranya. Kau kira orang-orang Jawa di sana tak mampu mengatasi tantangan hidup mereka dan memerlukan uluran tanganmu?” damprat saudaranya ketika dia merasa sebagai titisan Nabi Musa yang harus membawa orang-orang Jawa di Kaledonia kembali ke tanah leluhur. Bahkan dia merasa beruntung mengambil keputusan sebelum tuduhan atas dirinya menjadi-jadi. Tapi ternyata punya pijaksana yang nyata bahwa keturunan Parikesit masih punya kekuasaan di pulau Jawa.Pernah kudengar bapak sedang bicara pada ibu bahwa bapak tidak menyesal sama sekali meninggalkan Jawa. Bagaimana kalau semua itu hanya tutur kata untuk menghiburnya saja? Tapi setiap kali melihat sekelilingnya. Dia merasa begitu bahagia bahwa ternyata dongeng ibunya bukan hanya omong kosong belaka. Semua urusan ketatanegaraan sudah diatur oleh orang pribumi sendiri. di Noumea yang semasa bukan tempatnya. Mungkin dongeng-dongeng dan riwayat bapaknya sebetulnya tak pernah ada. bukan? Semua perayaan itu selalu menggodanya. Apalagi ketika dia tahu bahwa Sri Sultan menjabat wakil presiden. bapak dengar khabar bahwa orangorang Komunis atau yang dicurigai sebagai Komunis dibuang ke Digul oleh pemerintah penjajahan. namun dia hanya diam saja karena sudah berjanji tak akan bertanya-tanya lagi. “Kau sudah gila. Kita semua punya hidup yang harus diurus di sini. Dengan melarikan diri bukankah ini justru memperkuat tuduhan yang sebenarnya. Memang tidak gampang memisahkan benang yang kusut. dan dirinya begitu berbeda. Sedang Ngayogyakarta Hadiningrat menjadi daerah istimewa di bawah kekuasaan Sri Sultan Hamengku Buwono. Hanyalah orang Kanak orang pribumi. Dia betul-betul merasa tersisih mencari tempat berpijak meskipun saat ini hanyalah dalam dongeng-dongeng dan kerinduan pada Ratu Adil. “Lihatlah orang-orang Perancis ke mana mereka berkiblat. Daerah ini bukanlah daerah Pasifik. Tiba-tiba dia merasa punya tugas yang harus diemban untuk mengembalikan kekuasaan mutlak Sri Sultan. Kapal itu bernama Dewa Ruci. Kalau kita tak mau tahu-menahu soal asal-usul 152 . tapi daerah Perancis Selatan. Beberapa tahun setelah kita menetap di Noumea. Dan pulau Jawa hanyalah sebagian kecil dari Indonesia.” Jawaban saudaranya itu justru menimbulkan beberapa pertanyaan baru. “Tapi bukankah itu justru kelebihan kita?” belanya. Para kelasi itu menjelaskan bahwa daerah ini hampir meliputi sebagian besar daerah Sumpah Palapa Gajah Mada. Dia merasa bangga ketika tahu bahwa tak ada pemerintah penjajahan lagi. Tapi tak bisa di sini.

Memang langkah pertama mewujudkan impiannya itu semakin kabur setelah Jatmiko. Dengan melakukan hal-hal yang positif akan mengembangkan self esteemmu. Tapi dia masih belum merasa bahwa impian itu sudah di luar jangkauannya. Rasa kehilangan Jatmiko bisa segera terobati karena sepenuhnya perhatiannya tertumpah pada Dewi yang kehilangan ibunya waktu dilahirkan. Namun setelah beberapa tahun di Melbourne. Rio. Dengarkan kami baik-baik. Mungkin kami harus mengundang dokter jiwa untuk memeriksamu. lewat surat-suratnya Dewi tidak pernah menyebutkan pengetahuan barunya soal Jawa. Dan pendapat tanpa diberi ujud nyata dalam perbuatan bagiku tak ada nilainya sama sekali. Sekali lagi gelembung-gelembung impiannya retak. Dia merasa perlu pergi ke Melbourne untuk memberi beberapa petunjuk pada Dewi. Dari seorang kawan dia mendengar bahwa di Monash ada seorang Profesor Yahudi yang ahli dalam bidang politik di Indonesia dan juga seorang Profesor Belanda yang ahli dalam masalah Mataram. dari Profesor-profesor itu aku tak belajar apa-apa sama sekali. Kami sadar menghadapi beban mental merawat Jatmiko yang mati tidak hidup pun tidak. begitu berat. Akhir-akhir ini kami semua merasa begitu khawatir tentang kegilaanmu yang semakin parah. Jatmiko memang masih hidup. Untuk menjembati pertemuan Dewi dengan pangeran dari Jawa itu Dewi dikirimkannya ke Melbaourne untuk menggali ilmu di Universitas Monash. Tumbuh harapannya suatu hari nanti Dewi akan bertemu dengan salah seorang pangeran dari Jawa dan mereka akan menurunkan Ratu Adil yang senantiasa dinantikan itu. Cobalah turun tangan bersama kami mengembangkan keluarga. Kata dokter otaknya sudah rusak karena kekurangan zat asam. Mata inti dari kuliah-kuliah mereka bisa dengan gampang kudapatkan dari buku-buku. Dia ditemukan dalam keadaan lumpuh. dan jangan kau biarkan kegilaanmu itu berlarut-larut.” “Bicaramu sudah begitu ngawur. Apalagi masih harus menga-suh cucumu Dewi bukan soal yang gampang. Dia begitu tertegun membaca surat terakhir Dewi padanya: Jangan marah.kita dan hanya memikirkan hidup kita di sini saja. 153 . Rio. Soalnya setiap orang bisa punya pendapat. Sadarlah. Dewi memang tumbuh menjadi wanita yang anggun semampai dengan tingkah yang lembut mempesona di samping otaknya yang cukup cemerlang. Aku lebih menemukan arti serta diriku sendiri dengan belajar melukis di Victorian College of The Arts. Tapi yang ada tinggallah tubuhnya yang harus ditunggu kerelaannya melepaskan dunia yang fana.” Dia merasa usahanya membujuk sanak saudaranya sia-sia belaka. Tak ada seorang pun selain istrinya yang setia mencoba memahami jalan pikirannya. kita tak akan jauh berbeda dengan orang Kanak. Mereka menjadi golongan minoritas dan kehilangan hak di tempat mereka sendiri. Kau tahu satu-satunya kesalahan mereka justru karena mereka tidak berasal dari manamana. Kakek. anak satu-satunya mendapatkm kecelakaan ketika menyelam di laut.

Mungkin karena ada John. Di situ ada perguruan tinggi seni lukis dan sekaligus juga merupakan pusat kegiatan kesenian tradisionil Jawa yang adi luhung. Rio. Dan peluang untuk ketemu dengan Sang Pangeran Jawa itu juga akan lebih besar. 154 .” bujuk dan peringatan istrinya yang hampir selama perkawinan mereka hanya selalu mengiyakan kehendaknya dan hampir tidak pernah menyatakan pendapat sendiri. salah-salah kakek dan nenek bisa dikira turis dari Jepang. Tidak seperti hotel-hotel modern yang baru yang begitu trendi. Sedapat mungkin diusahakan menunjukkan sikap kebijaksanaan calon seorang eyang buyut. “I have a surprise for both of you too. Tapi mereka tidak pernah menyebutkam rencana kawin sama sekali. “Kakek dan nenek menginap di hotel apa?” “Windsor di Spring Street. Dia harus merasa tetap tawakal dan sabar. karena John harus memberi kuliah dalam waktu setengah jam lagi.” goda Dewi walaupun dia tahu bahwa kakeknya selalu punya selera yang tinggi.” jawabnya sambil memberikan nomor kamar mereka. Ini Rio dan Handayani.” Ya Allah ya Rabbi. “Untung tidak ke Southern Cross. dia dan istrinya menuju ke Australia. Bukan salah Dewi kalau dia tidak mengerti rencanamu. Dia begitu senang bahwa Hotel Windsor adalah hotel yang mapan punya sentuhan kolonial. Dia pikir kalau Dewi memang tertarik pada dunia seni mungkin lebih baik dikirim ke Yogyakarta. Tak ada angin.” Sejauh ini dia masih merasa bisa mengontrol keadaan. tak ada mendung dan hujan tapi geledek segera menyambar. John.” Dewi dengan wajah yang berseri-seri muncul di depan kamar ketika dia membuka pintu. Sejak kapan Dewi berbahasa Inggris pada mereka. Tapi kenalkan dulu. Setelah makan siang mereka menelpon Dewi yang tidak menyangka sama sekali bahwa kakek dan neneknya ada di Melbourne. Setelah mendarat di lapangan terbang Tullamarine mereka langsung menuju Hotel Windsor di bilangan kota. tapi paling tidak pada mulanya Dewi seharusnya menyapa dalam bahasa Jawa. Berada di Yogya pasti akan menghasilkan pengalaman langsung mengenal dan terlihat dalam tata cara adat istiadat Jawa. Tapi masalah berikutnya yang disampaikan oleh Dewi secara kalem itu menyambar seperti ledakan bom atom Perancis di Atol. Sedang kesan pertamanya seperti begitu formal dan konservatif.“Jangan tergesa-gesa marah. John ternyata memang calon sang ayah yang tinggal bersama Dewi selama dua tahun belakangan ini. langsung memberikan ciuman di kedua belah pipinya. Banyak garis bengkok yang masih bisa diluruskan pikirnya. kakek dan nenekku. Kakek dan Nenek seperti sedang berbulan madu saja. “Wah. Tanpa memberi khabar pada Dewi. Dewi sedang menantikan kelahiran anak pertamanya! Merasa dirinya sebagai priyayi Jawa dia tak bisa menunjukkan perasaannya yang sebenarnya. itu hotel yang mewah. Dewi bukan sebangsa serdadu yang hanya menjalankan perintah tanpa berpikir atau mengajukan pertanyaan. ternyata dia masih bisa menahan diri dengan mengajak mereka makan bersama malam nanti. Sebelum mereka pergi. “What a lovely surprise. Melbourne terasa begitu teratur dan rapi.

Gemericik air mengingatkannya pada kolam hias di halaman depan rumahnya. “Mandi yang bersih. “Lebih baik kau mandi dulu. Dia tersenyum sendiri.” kata istrinya sambil memberinya sepasang pakaian yang bersih. ke restauran Vietnam. Rio. Sesaat kemudian dia berbalik menghadapi istrinya. Tapi kalau kita kepingin makanan Barat dengan suasana yang tidak terlalu formal. bahkan seperti bangga sekali. aku kepingin jalan-jalan sebentar di Bourke Street. pintu masuknya dari Little Collins. Dan aku begitu heran bahwa kau hanya tenang-tenang seolah-olah tak punya pendapat sendiri. lebih-lebih kalau kau mau mencoba sausages atau sate buaya sebagai entree.” Dia ingat ibunya selalu menegurnya bila ia terlalu lama bermain-main saja di bath tub.” Dia lepaskan semua pakaiannya dan dibiarkannya terpuruk di karpet. tidak terlalu panas dan campuran bubble bath cukup creamy dan kaya akan buih. “Beri aku pakaian yang bersih. Dengan telanjang dia berjalan menyeberang kamar menuju ke bathroom. Dewi akan telpon dulu nanti waktu pulang dari periksa di ahli kandungan.” ucap Dewi sebelum pergi. Sekarang tidak pernah ada seorang pun yang mengganggunya. “Dia bilang kalau kita mau makan yang agak kerakyatan kita bisa ke Victoria Street.” Dia tidak begitu mengacuhkan kata-kata istrinya dan sibuk mengenakan pakaiannya yang bersih. Air sudah kusiapkan semua. “Rio kau dengarkan aku atau tidak?” Lama tak ada jawaban. “Kita bisa bicara dengan tenang nanti. Rio. Dia tidak bisa mengerti sama sekali bahwa Dewi bicara hamil di luar perkawinan tanpa rasa rikuh atau malu.” kata istrinya sambil menghampirinya. Dia membaringkan dirinya di bath tub dengan hanya kepalanya yang menyembul keluar. “Dewi yang baru saja telpon. “Ya. Biasanya bila sudah terlalu lama istrinya pasti masuk ke bathroom dengan membawa handuk yang bersih atau piyama. ingin dia menyebut istrinya Sembadra karena begitu bakti dan setia seperti istri Arjuna. masih nampak cukup tampan untuk seumurnya.” Istrinya hanya mengangguk dan cepat-cepat keluar karena mendengar bunyi telpon berdering. Dikeringkannya tubuhnya dengan handuk lalu ditaburinya dengan talek yang lembut baunya. kita bisa ke Grill Room di basement. Sebelum masuk ke bath tub dilihatnya bayangan tubuhnya di kaca. Dalam hati dipujinya istrinya yang selalu dengan baik menyiapkan air untuknya. kau banyak sekali kokot bolot seperti kuli yang tidak pernah mandi. Dihempaskannya badannya ke kasur dan langit-langit kamar seolah berputar. “Rio.“Ya. kau mau piyama atau ganti pakaian untuk nanti malam sekaligus?” tanya istrinya membangunkannya dari segala kenangan. Lalu kita bisa dapat supper di Graund Floor untuk ngobrol sambil mendengarkan permainan piano. Sebentar lagi istrinya pasti akan membenahi.” 155 . Dari bathroom terdengar bunyi kran dibuka.

Rio.” Tiba-tiba dia tidak tahan melihat air mata meleleh di pipi istrinya. dia. Kuharap kita bisa berbicara secara lebih beradab. kau mau juga?” tanya istrinya. Aku tidak peduli apakah kau mencintaiku atau tidak. “Jangan kau anggap aku melawanmu.” Dia begitu tersentak ketika untuk pertama kalinya istrinya berani menegurnya. Rio. itu. Rio. Apakah kau anggap aku ini babu atau istrimu itu tidak soal bagiku. “Kesalahanku kenapa aku tidak pernah berusaha mencari saudarasaudara bapakku di Jawa.” potong istrinya. Cinta yang tulus adalah cinta yang tanpa pamrih.” “O. Aku tak mau bicara. aku tak punya pendapat karena aku tidak tahu sama sekali soal Negeri Leluhur itu. Kalau aku tahu mereka. Dia begitu geram mendengar kata-kata istrinya yang datar tapi cukup tajam.“Pendapat dalam hal apa?” tanya istrinya. ya dia hamil.” Hening dan mereka berdua saling bertatapan.” “Kau tahu. 156 ... kesalahanmu justru kenapa kau selalu bicara apa maumu saja dan tidak pernah memikirkan keinginan dan pikiran orang lain. “Dewi! Dia. Rio. “Sejak kapan kau ikut memusuhiku?” “Kau mau mendengarkan pendapatku atau hanya mau memancing pertengkaran saja?” Dia hanya melotot tak bisa percaya bahwa wanita yang sedang bicara di depannya adalah istrinya yang sudah bertahun-tahun hidup bersamanya. Dibukanya pintu ketika pelayan datang membawa pesanan istrinya. dulu Dewi pasti kukirim ke sana.. Tapi soal Dewi. Namun ia mencoba menutupi keharuannya. Meskipun keturunan orang Jawa aku hanyalah wong cilik keturunan kuli kontrak. Anak yang dia kandung itu adalah buyut kita sendiri. Tapi kau tak boleh memaksakan ukuran itu untuk hidup orang lain. Rio. Aku bicara dengan jujur seperti ini karena aku mencintaimu. “Kalau soal impian gilamu mengenai Negeri Leluhur itu terus terang saja aku tak punya. Ia adalah pengorbanan itu sendiri. “Kau tahu kenapa kita kemari!? Untuk apa kita ke Melbourne?” “Kau jangan membentakku seperti itu. Kau boleh punya ukuran moral yang tinggi untuk hidupmu sendiri.” Dia menarik napas panjang dan melangkah menuju ke jendela sambil setengah berkata pada dirinya sendiri. “Aku mau pesan minuman. Dia tidak menjawab dan istrinya pergi menelpon room service memesan sebotol anggur kesenangannya dan minta diberi dua gelas.

Sir?” Dia hanya mengangguk dan pelayan itu membuka botol serta menuangkan anggur ke kedua gelas untuk dia dan istrinya. Istrinya memandangnya dengan pandangan tidak percaya.” Dia hanya mengangguk dan pelan-pelan terasa pundaknya yang berat menjadi ringan. apa yang kita cari dalam hidup ini selain kebahagiaan? Bagiku yang lain-lain tidak soal selama Dewi merasa bahagia untuk dirinya sendiri. Pelayan itu tersenyum lebar menerima tip yang lumayan. “Rio.Ditandatanganinya nota bon supaya bill itu dimasukkan dalam rekeningnya nanti. “Shall I open the bottle now.*** 157 (Dimuat dalam Horison. Dia reguk anggur itu setelah si pelayan pergi. Maret 1990) .

seolah-olah bahkan jiwa kami kalau bisa lepas dari belenggu badan. dan penuh dengan rintangan. “Pacu! Pacu! Pacu!” Kami semua berpacu sepanjang padang stepa yang terbuka sambil berteriak-teriak menuntaskan kegembiraan kami. 10. 10. cuma inilah yang bisa kami lakukan. dan umbul-umbul kini membuka jalan ke depan. Kuda-kuda kami berpacu dengan riang. Seluruh tubuh kami terbungkus jubah bulu binatang yang tebal dan berat. dingin angin bagaikan mengiris wajah-wajah kami yang sebetulnya toh cuma tampak matanya saja. Kuda-kuda kami menggebu. .Tempat yang Terindah untuk Mati Oleh: Seno Gumira Ajidarma 158 Kami. bumi bergetar oleh derap pasukan yang melaju dan menggebu. Bendera raksasa yang berkibar dan menyibak angin itu terlihat menggetarkan. mendesing menuju kebebasan. begitu juga tangan kami yang memegang kendali.000 pasukan berkuda. berpacu melawan angin. Kami menggebu begitu laju. Kami. melesat dan menggebu. Namun sekarang. melesat secepat-cepatnya bagaikan berpacu dengan angin dingin yang bertiup begitu kencang menggigilkan tulang.000 pasukan berkuda. seperti mengerti betapa jiwa kami telah lama begitu tertekan dalam perjalanan berat menempuh hutan yang rapat. bendera. dan berteriak-teriak meluapkan kegembiraan kami. Semuanya terbungkus. Padang stepa diselimuti salju yang tipis. Para pembawa panji. “Pacu!” Orang-orang yang berada paling depan sebenamya tidak usah menunggu diperintah untuk memacu kudanya. akhirnya keluar dari hutan itu. Kuda-kuda kami saling berpacu dengan perkasa. dengan tenaga baru yang seolah-olah begitu saja datang dari langit. Kami juga mengenakan topi dan sepatu dari kulit binatang berbulu tebal. bahkan kuda-kuda itu sendiri bagaikan tidak lagi menunggu perintah untuk segera memacu diri mereka. Setelah hampir berminggu-minggu hanya merayapi jalan setapak di antara pohon-pohon dan semak belukar. lepas dari kungkungan jurang dan tebing yang serba menjulang dan mencekam. berderap melaju menuju cakrawala. gelap. Di hadapan kami kini terbentang padang stepa yang begitu luas bagaikan tiada bertepi. “Huuuu! Huuuuu! Huuuu!” Satu per satu penunggang kuda yang keluar dari hutan segera melaju. padang yang terbuka itu bagaikan pelepasan yang lebih dari memadai untuk melampiaskan kerinduan kami akan kebebasan.

dan peredaran bintang. Benarkah seekor gajah menegakkan belalainya dan melengkingkan bunyi terompetnya nun entah di mana ketika kami berpacu? Seseorang mendayung perahu menuju matahari terbenam ketika kami berpacu. Kuda-kuda kami masih terus berderap. Kami bagaikan berpacu di atas permadani tanpa tepi. Begitu luasnya padang gurun ini sehingga kami merasa berjalan di tempat. Kuda-kuda memang lebih dari sekadar bagian hidup kami. Kami tidak mengerti apa jadinya hidup kami tanpa kuda. Burung-burung kondor beterbangan melingkar di langit mengincar pengembara yang sekarat kehausan ketika kami berpacu. Kami mengembara dan menjelajah segenap permukaan bumi untuk mencari suatu akhir. dan kuda-kuda kami tetap setia mengikuti sampai akhir tujuan. kami mengarungi gurun pasir. bahkan perjalanan berminggu-minggu di dalam hutan yang melelahkan pun kami lakukan asalkan kami bisa mencapai tempat tujuan. Selama berjam-jam kami akan berpacu dan kami akan tahu bahwa pemandangan ini tidak akan pernah berubah. perjalanan kami masih jauh lagi. Jangankan berpacu yang begitu menggembirakan. berpacu. kini kami mengambil peluang untuk meraih kegembiraan. Seekor ikan salmon menangkap umpan dan tersendal pancing ke udara ketika kami berpacu. perjalanan angin. namun yang maknanya seperti selalu menghindari kepastian. Kami bisa berhenti dan menetap di suatu tempat untuk satu. selalu bertualang. namun sampai sekarang tiada satu alasan pun bisa menghentikan kami. dan mereka selalu memenuhi segala kehendak kami dengan memuaskan. surai kudakuda kami yang tebal melambai-lambai dengan megah dan seluruh gerak tubuh mereka bagaikan menari dengan indah. dan kini kami berpacu di tengah padang tanpa tepi.Kaki-kaki kuda kami bagaikan tak mengenal lelah. tapi kami tidak juga ingin berhenti. Kini kami semua sudah siap menempuh perjalanan yang terakhir. Di telinga kami angin bersiut dan menderu. Kami selalu berpindah sesuai dengan pergantian musim. Setiap orang memacu kudanya ke cakrawala yang melingkar 360 derajat. yang kadang-kadang terdengar seperti sebuah percakapan. dan berpacu. Kami terus-menerus berderap sepanjang padang. Cahaya matahari menyiram padang. dan segera lenyap di balik kaki langit. Rumah kami sekarang adalah perjalanan itu sendiri. apalah artinya kami? Kuda-kuda kami selalu mengerti apa yang kami inginkan. Kuda-kuda kami terus berpacu dengan laju. Kami bersedia membayar segalanya untuk perasaan merdeka yang kami dapatkan. menancap kemerahan bagai kuil yang menanti penziarah dari segenap 159 . Hutan di belakang kami kini bagaikan titik-titik hitam. dua. Apakah yang terjadi di tempat-tempat lain ketika kami berpacu? Panah seorang pemburu sedang melesat ke jantung seekor rusa ketika kami berpacu. Kami berpacu. Kami menyeberangi sungai. Tanpa kuda. Matahari terasa betapa berat. Kami selalu bepergian. bagai berpacu dengan angin. Sampai di manakah suatu perjalanan berakhir? Apakah mungkin suatu perjalanan berakhir? Apakah mesti suatu perjalanan berakhir? Sudah bertahun-tahun kami mengembara dan kami tidak pernah merasa yakin kapan suatu perjalanan bisa berakhir. selalu berpindah. kami mendaki celah-celah gunung. namun kami selalu berangkat kembali. bahkan bisa lima tahun. Telinga kami semua penuh dengan desau. Langit yang tadi bagai tempurung raksasa membiru kini semburat merah terbakar. “Huuuuu! Huuuuuu! Huuuuuuu!” Kami berderap dan berpacu memburu matahari yang terbenam ke balik cakrawala. Langit hanya biru. berpacu dan berpacu. Kami tahu. Padang stepa yang terbuka masih tidak memperlihatkan apa-apa kecuali hamparan rumput kering yang kelabu dengan polesan salju. Semua ini tak bisa lancar tanpa kuda sepanjang pengembaraan.

"Maka sang raja pun jatuh cinta kepada wanita dari negeri seberang itu. Tapi apakah rembulan mengerti arti lagu seruling itu? Seruling itu berkisah tentang riwayat kami yang panjang dengan bahasa kami sendiri. Seseorang dari kami tampak meniup seruling di kejauhan itu. sementara seorang nenek tua bersenandung dengan suara buruk tentang tanah air yang sudah mereka tinggalkan. dan kuda. menjadi bayang-bayang kehitaman yang melesat ke suatu arah. Berkisah tentang kafilah panjang yang menyeberangi gurun. seolah-olah berhadapan dengan rembulan . Kami berderap dan berpacu menuju matahari itu. Di setiap api unggun masih tampak orang-orang membakar sisa-sisa daging perbekalan mereka dan mengunyahnya dengan lahap. Kami. semenjak begitu banyak tahun yang telah lama berlalu. Ia meniup seruling sambil duduk di sebuah batu di atas tebing. Kalau matahari itu menghilang di balik cakrawala. Langit masih membara. Ia meniup seruling di atas tebing. Bukit-bukit batu yang menjulang dan membentuk lembah ini melindungi kami dari angin sehingga kami bisa menyalakan api unggun. Di setiap danau itu setiap 1.000 pasukan berkuda. Apakah rembulan bisa memahami. Kami mencintai keindahan seperti mencintai kehidupan itu sendiri.. 10. Kami menyembah langit..000 saudara-saudara kami. dan anak-anak yang tidur dengan gelisah di dalam gerobak-gerobak penuh barang dan bahan makanan.penjuru bumi. betapa nun di sebuah benua yang jauh bertahun-tahun yang silam suku kami berkemas untuk sebuah perjalanan yang tak kami ketahui kapan akan berakhir? Apakah rembulan mengerti. musim dingin belum berakhir sehingga sepuluh danau itu masih menjadi dataran salju.000 orang dari kami berkemah. Kami memuja rembulan dan matahari. seruling. menghadapi segenap rintangan alam maupun suku-suku musuh kami? Apakah rembulan mampu menangkap gelora semangat pengembaraan kami? Tak terhitung lagi berapa orang telah mati dan berapa bayi telah dilahirkan sepanjang perjalanan dari kampung ke kampung. orang-orang yang mengendarai kuda dengan tertunduk. kami menyembah bumi. Bila bulan yang perak itu muncul di langit malam. Lembah Sepuluh Rembulan adalah suatu lembah gersang dengan dataran yang sangat luas. Kami siapkan kantung-kantung tidur dan selimut kami. Beberapa orang masih minum susu hangat yang beraroma teh. kami harus memburunya ke balik cakrawala.bahkan rembulan seperti turun ke bumi hanya untuk mendengarkannya meniup seruling. dari bukit ke bukit. ketika kami akhirnya sampai ke lembah itu.. *** Tempat itu dinamakan Lembah Sepuluh Rembulan. dan mendengarkan seseorang bercerita. Kami membiarkan kuda kami menjilati lelehan salju dan merumput di sana-sini. 160 . cahayanya dipantulkan kembali oleh permukaan danau yang diselimuti salju. betapa berat penderitaan suku kami sepanjang perjalanan mengarungi benua itu." Kami selalu membutuhkan cerita. Namun. Ada sepuluh danau di lembah yang luas membentang itu dan seharusnya ada sepuluh rembulan mengapung di atas sepuluh danau. dari lembah ke lembah. Di Lembah Sepuluh Rembulan inilah kami akan menunggu 100.

Maka terlihatlah gerak cahaya rembulan yang memantul di dinding-dinding batu. Sesekali tertutup awan. menghubungkan kami dengan segenap unsur kehidupan.000 pasukan berkuda. peniup seruling itu masih di sana. Kami pasrah. 10.Apakah yang akan kami lakukan selama hari-hari penantian kami? Tidur tanpa tenda adalah suatu siksaan yang berat bagi kami.inikah sebabnya suara seruling itu membuat kami diam? Kami sedih. Kami sudah menempuh perjalanan yang panjang dan kini kami ingin tidur. menjelma gambar-gambar yang berkelebat dari masa lalu kami. anak-anak. Betapa segala hal di muka bumi ini saling berkaitan. Rupa-rupanya bulan yang turun mendengarkan suara seruling mengangkasa kembali. 161 *** Setahun kemudian seorang pengawal di atas tebing berteriak. melanjutkan kerinduannya yang panjang akan kampung halaman kami yang terletak di sebuah dataran tinggi di tepi sungai. sudah berabad-abad bentuk tenda kami tidak pernah berubah. Tinggal bara api menyala diam-diam. mereka yang sebagian terdiri dari wanita. Di Lembah Sepuluh Rembulan hanya terdengar desau angin. di mana bila senja tiba di tepi sungai akan terdengar derai tawa ceria gadis-gadis yang mandi. Angin masih terus bertiup dan tak akan pemah berhenti. Gemeretak api unggun segera berakhir. Apabila 100. makin lama makin menghilang. tinggal kesunyian di Lembah Sepuluh Rembulan. Seruling itu mengingatkan kami kembali kepada kampung halaman leluhur kami yang sungainya tidak pernah membeku. Kami. bukan hanya karena daging binatang buruan kami perlukan untuk menimbun perbekalan yang mulai menipis. sementara di kejauhan terdengar gemerincing anting-anting dari daun telinga yang panjang itu dicuci. dan kami menyukainya karena memang tidak pernah ingin kehilangan masa lalu kami yang semakin hari serasa semakin indah. Kemudian. bahkan ia menyeberangi samudera mahaluas. Tenda-tenda kami adalah tenda yang besar dan hangat. dengan latar belakang pegunungan yang menjulang megah. tiada yang mendengkur sama sekali. karena musim dingin yang selalu berangin akan terus-menerus menguji ketabahan hati kami. akan membutuhkan tendatenda itu. Kadang kami tidak tahu apa yang harus kami perbuat. ketika suara seruling itu lenyap ke balik malam barangkali kami masih mendengarnya di dalam mimpi-mimpi kami. Suara-suara itu dibawa angin ke bukit-bukit di mana anak-anak gembala memainkan serulingnya sambil tiduran di atas kerbau -. Kami mengerti betapa angin akan mengembara ke segenap penjuru bumi. Bertengger di atas sana. Ketika kami semua bersiap tidur dan memandang bintang gemintang di langit. Kemudian. Di dalam tenda itu kami bisa memasak sekaligus menghangatkan diri kami. “Hooooiiiii! Mereka sudah datang!” . tertidur dengan pulas. tapi juga karena kulit berbulunya yang tebal kami butuhkan untuk membuat tenda.000 saudara-saudara kami tiba. Barangkali kami akan memanfaatkan waktu untuk berburu. Betapa selalu masa lalu berada dalam diri kami. dan orang tua.

menari di atas perahu. Kami semua turun dari kuda. Seperti apakah mereka kini? “Huuu! Huuuu! Huuuu!” Kaki-kaki kuda. Tentulah jumlah mereka sudah tidak genap 100. Masing-masing dari kami kemudian berhenti dan berhadapan.000 saudara-saudara kami yang masih merupakan sosok-sosok hitam di kaki langit itu. seperti yang sudah-sudah. Hari sudah menjelang senja. Sosok-sosok hitam itu makin lama makin membesar. Dengan segera. sebagian dari mereka yang mengendarai unta dan berkuda segera melesat ke depan ingin segera bertemu dengan kami. langit bagai tenda raksasa berwarna ungu. kami berlari-lari turun dari bukit. Kami menggebu dengan perasaan rindu dan penuh dengan cinta. dan umbul-umbul yang sama.Kami semua segera melompat ke atas kuda. dan melakukan meditasi bersama dari malam sampai pagi di bawah 162 . Tiada yang lebih menggairahkan selain kehendak yang menggebu menjumpai orang-orang tercinta. gajah dan unta. Kami tahu hari-hari akan menjadi lebih berat. Kemudian kami melihat panji. Tentu ada yang mati dan lahir sepanjang perjalanan. Angin begitu dingin. dan memacunya ke tempat-tempat yang tinggi. Dengan perasaan yang sangat tidak sabar dan menggebu-gebu. “Akbar!" “Abdul!” Kami semua berpelukan dengan penuh rindu dan penuh dendam. Lebih banyak lagi yang berjalan kaki. kami menggebu menyambut 100. bendera. Tak kurang dari 100. dan terbentanglah di hadapan kami pemandangan yang menggembirakan itu. Sebagian yang lain malah langsung keluar dari celah lembah. Senja itu langit yang ungu serasa begitu cerah. Semua ini menggetarkan jiwa kami dan kami merasa betapa setiap detik dalam hidup kami sangat mempunyai arti. memetik kecapi di puncak bukit. Mereka semua telah menempuh perjalanan yang panjang di jalan yang telah kami rintis.000 saudara-saudara kami muncul dengan meyakinkan dari balik kaki langit. namun kami juga tahu hari-hari kami akan lebih menggembirakan. kami baru akan mengetahuinya nanti. penuh dengan debu. bergetar-getar dalam tiupan angin. Begitulah kami akan membaca puisi di tepi danau. Wajah-wajah mereka tampak lelah dan kuyu. Saudarasaudara kami masih merupakan sosok-sosok hitam yang seolah-olah berjalan di tempat. seluruh pakaian mereka usang dan kelabu. langsung melompat ke atas kuda kami. Kami menyatu kembali dalam gairah kehidupan yang panas.000 orang lagi. kereta. Berkibar dengan megah. siap menempuh perjalanan untuk mati. Mereka yang terdepan akhirnya bertemu muka dengan kami. namun tiada akan ada satu pun halangan kini bagi kami untuk mengungkapkan sukacita kami. dengan gerobak. pemandangan yang kami nantikan. Rombongan yang terdepan itu masih menanti mereka yang terseok di belakang. Suku kami telah bersatu kembali di bawah langit dan bumi yang sama. Ketika saudara-saudara kami melihat kami datang menyambut mereka. berderap dan berpacu. namun betapa dari sinar mata mereka terpancar jiwa pasrah dan ikhlas.

Semua orang tampak tak terurus. Adapun pasukan berkuda yang merintis jalan masih tetap berjumlah 10. Kami yang telah tinggal di sini selama setahun. bisa melihat bagaimana sepuluh rembulan itu mengapung di atas sepuluh danau selama musim panas yang tetap saja dingin.000 orang dari pasukan berkuda kami. Wanita dan anak-anak kami berambut kasar dan merah. jadi mereka hanya melihat sepuluh danau yang membeku. Langit memberkati kami. Saudara-saudara kami yang 100. kami berjalan kembali ke Lembah Sepuluh Rembulan sambil menyenandungkan lagu syukur dari hati. Kami akan membakar daging rusa dan kami akan memakannya sepuas hati. Kami mendirikan tenda bagi orang-orang yang sakit.rembulan dan matahari. Mereka begitu jinak.000 orang itu datang pada musim dingin. kami mengatur pengelompokan sesuai dengan asal-usul setiap keluarga di kampung kami. dan kami menguburkannya di tengah jalan. kami menyalurkan kebahagiaan kami dengan suatu cara yang hanya kami bisa melakukannya.000 orang. begitu mengerti. sementara itu 53 bayi dilahirkan sehingga jumlah saudara-saudara kami yang baru datang itu tetap genap berjumlah 100. Kami menatap saudara-saudara kami yang baru tiba dan merasa sedih meskipun gembira. “Sarita!” “Maneka!” Mengapa kita bisa terus-menerus memikirkan seseorang meskipun kita berjarak begitu jauh dari seseorang itu dan telah berpisah begitu lama sehingga kadang-kadang sebenamya susah mempertahankan ingatan atas seseorang itu dari hari ke hari dalam suatu perjalanan yang terus-menerus berubah warna? Namun. menyeberang dari benua ke benua hanya untuk selalu pergi dan tak akan pernah kembali? Kami terus-menerus saling berpelukan dengan jerit dan tangis yang makin menjadi-jadi. Kami membagi diri kami berdasarkan pemukiman di sepuluh danau sehingga setiap 10. Kami akan membagi arak dan anggur dan kami akan menuangkannya ke atas daging bakar yang merah berasap membangkitkan lapar.000 orang. Bahkan ketebalan es di atas danau itu mampu menahan beban gajah yang berjalan di atasnya. dan begitu penurut sehingga kami sungguh berterima kasih dengan segala pengorbanan mereka dalam perjalanan kami. Betapa mereka begitu tabah. Kami semua menemukan masing-masing keluarga. betapa tiada jarak lagi kini bagi kami. Saudarasaudara kami yang baru datang itu begitu lelah dan begitu kurus sehingga agaknya kami masih akan bertahan beberapa lama lagi di sini sebelum kelak berkemas dan berangkat kembali. Maka begitulah kami segera bekerja begitu tiba di Lembah Sepuluh Rembulan. Kini semuanya sudah berada di Lembah Sepuluh Rembulan. begitu juga unta dan kudakuda kami. Paduan suara lagu kami dipantulkan kembali oleh dinding-dinding tebing dan semua ini hanya mengingatkan betapa kami sebagai manusia sungguh memiliki nilai yang hakiki. Dalam perjalanan itu 53 orang dari kami meninggal. tapi siapakah yang akan bisa tampak terurus dalam perjalanan panjang. Gajah-gajah yang kami bawa berbulu tebal. dan kini begitu kurus.000 orang dari saudara-saudara kami yang baru tiba akan bergabung dengan setiap 1. Kami begitu siap untuk bahagia. Kami tahu kami akan menyanyi dan menari malam ini. Kami tidak bermabukmabukan dan lupa daratan. tapi kami menahan kegembiraan meluap kami sebagai bekal menahan penderitaan pada masa-masa yang akan datang. 163 .

Semua orang yang pergi mendahului mati dalam pelukan cahaya. Rombongan kami membentuk barisan yang panjang bila melewati celah yang curam.000 orang. Ada semacam cahaya dari langit dalam hati yang terus-menerus bergerak setiap kali kami melangkah mendekatinya. Tentu mereka tahu jalan yang terbaik buat gajah sehingga kadang-kadang mereka harus memisahkan diri untuk bertemu lagi di suatu tempat lain. sementara yang lain meneruskan perjalanan. menempuh ngarai. Kami tidak pernah memacu kuda kami kecuali jika kami putuskan berhenti sebentar untuk berburu. Dari atas tebing kami menoleh untuk terakhir kalinya ke Lembah Sepuluh Rembulan. 110. Begitulah di antara kami kemudian ada yang meninggal dan kami pun segera menguburnya tanpa meninggalkan upacara yang diharuskan. Ketika tiba musim panas. Mata mereka mengatakannya. lemah. melangkah perlahan-lahan menapaki jalan yang telah dikodratkan bagi kami. Sebelum matahari terbit kami sudah berangkat lagi. kami semua. dan berjalan mengarungi gurun. berkemas dan bersiap melanjutkan perjalanan. 110. Mereka yang mati . Kami melihat sepuluh rembulan mengapung di atas sepuluh danau. Mereka yang telah menjadi tua. menyebar seperti semut bila tiba di padang terbentang. Kami. berjalan. Bulan masih menggantung di langit.000 orang. tapi kami rombongan 110. Kami terus-menerus berjalan dengan hati yang terpaut kepada cahaya. Kami jarang bercakap-cakap di antara kami karena hati kami sekarang hanya berisi penyerahan diri kepada kehidupan. Begitulah kami berjalan.Begitulah selama beberapa bulan yang tenang kami tinggal di Lembah Sepuluh Rembulan. Ketika matahari terbenam kami semua beristirahat dan tidur. Kadangkala tiba saatnya seorang wanita harus melahirkan di tengah jalan. dan menyeberangi sungai. 110. kuda dan unta melangkah pelan tapi pasti seperti doa yang diucapkan perlahan. dan setiap orang yang melihatnya tersenyum dalam hati. merayap di jurang yang curam. namun seperti tidak mendapat halangan jika berjalan di dalam hutan. Kami berangkat pada pagi subuh.000 orang. Barangkali mereka juga melihat cahaya itu yang hanya bisa ditatap dengan mata hati di langit jiwa masing-masing yang mengerti dari mana hidup ini datang dan ke mana hidup ini pergi. 110. Kami. orang sakit dalam tanduan. Kami berjalan menapaki jalur di antara lembah. dengan bayi di gendongan. maka sebagian dari kami pun berhenti mengurusnya. bahkan mata mereka pun bagai menatap sesuatu yang penuh dengan pesona. dan hewan-hewan peliharaan yang tak boleh ditinggalkan. Gajahgajah ini berbadan besar. mendaki gunung-gunung batu. dan menapaki gigir-gigirnya yang mengerikan. Pada musim semi danau masih membeku. Bayi-bayi seperti tahu diri untuk tidak menangis. kaki mereka yang besar menapak dengan lincah di jalan setapak dan keseimbangan gajah-gajah ini sangat baik dalam pendakian dinding-dinding yang curam.000 anak manusia terus-menerus melangkah. jalanan setapak berlumut yang begitu licin dan terlalu sering memelesetkan. menembus badai. 164 *** Sudah berbulan-bulan kami terus berjalan.000 orang dengan segala hewan peliharaan tidak pernah benar-benar saling terpisah. namun rerumputan menjadi lebih hijau. khusyuk dan meyakinkan. dan lumpuh kami naikkan ke atas gajah-gajah kami yang masih setia. Kami semua. Kadang-kadang perpisahan ini bisa sampai berharihari lamanya.

110. Tentu saja kami masih selalu teringat betapa pada awal keberangkatan segalanya terasa menggemparkan. ini bukanlah tempat yang dimaksudkan dalam mimpi-mimpi kami tentang tempat yang terindah untuk menuju kematian karena tempat itu memang tidak terletak di muka bumi ini. Dalam kenangan kami masih tergambar dengan jelas betapa di tempattempat yang kami lewati pemandangan terpampang begitu indah sehingga kami kadangkala merasa terkecoh karena mengira inilah tempat yang kami rindukan. Arwah mereka membubung menyusuri cahaya. terus-menerus berjalan. dengan kepastian bahwa jalan cahaya itu akan kami temukan. Itulah dunia yang kami rindukan. Kami tak lagi mengerti apakah mimpi-mimpi kami merupakan warisan darah yang diturunkan ataukah memang datang dari langit malam yang penuh dengan khayalan. Kami berangkat meninggalkan sebuah negeri di sebuah pulau yang segera menjadi kosong. dari dongeng ke dongeng. Kami melangkah. semakin banyak tanda-tanda dalam mimpi-mimpi malam kami dan betapa kami semua semakin merasa bahwa hanya dengan menuju tempat yang kami inginkan itulah terletak arti kehidupan kami. Kami. dari segala keinginan dan kehendak yang sejak lama terlukis di gua-gua leluhur kami yang begitu gelap di mana mereka merindukan cahaya keabadian. menuju sebuah dunia di alam sana yang hanya bisa dihayati setelah kematian. Dunia kami memang berubah semenjak menerima tanda-tanda yang begitu memikat untuk diberi tanggapan. dunia yang kami impikan dari abad ke abad. kami kemudian merasa terbimbing oleh tanda-tanda cahaya dalam jiwa kami yang penuh dengan keyakinan. Kami semua terpana dan terpesona dan merasa segala-galanya tiada berarti lagi selain keinginan untuk menuju sumber suara dan mimpi-mimpi itu. masih terus-menerus berjalan di atas bumi yang fana. Sebegitu buruknyakah kehidupan sehingga kematian bisa menjadi impian terindah bagi 110. meskipun matahari terbenam yang jingga itu begitu memukau di latar langit yang ungu.dalam perjalanan ini sebenarnyalah mati dalam kebahagiaan. Kami melewati desa dan kota yang penduduknya melihat kami lewat bagai pawai panjang dari sebuah tontonan yang mengherankan.000 anak manusia. sudah lama juga kami tidak menjumpai tempat pemukiman maupun binatang. 165 *** . Orang-orang tua di kampung mengatakan bahwa suku kami selalu mengalami hal-hal yang demikian semenjak abad-abad yang telah lama silam. Kami semua bisa mengalami mimpi-mimpi yang sama dari malam ke malam yang penuh keanehan di mana bunyi genderang terdengar dari langit dan dari seberang sungai bagaikan terdengar paduan suara yang mengalun merdu dan menyejukkan. menapak pelan. Dari gurun ke gurun rombongan kami berjalan.000 orang yang tadinya hidup tenteram di tepi sebuah sungai dengan latar belakang pegunungan biru yang menjulang bagai tempat persemayaman dewa-dewa dari suatu dunia entah di mana bagai negeri yang hanya ada dalam dongengan? Kami pergi meninggalkan kampung halaman kami dengan meninggalkan segala kebahagiaan yang telah kami dapatkan demi panggilan dari cahaya dalam mimpi-mimpi kami. Namun kami tahu. Langit merah di kaki langit. Setelah bertahun-tahun menempuh perjalanan yang serasa alangkah panjang dari benua ke benua. Dari hari ke hari. Maka begitulah hidup kami berubah ketika mendadak kami semua harus berkemas mempersiapkan sebuah perjalanan yang belum bisa diketahui berapa lama dan kapan akan berakhir.

namun kami melihat segalagalanya memutih diserap cahaya. mengambang. unta-unta. Kami belum lagi mengerti kebahagiaan macam apakah yang masih bisa kami dapatkan lagi dalam kehidupan yang abadi.Kemudian. Pastilah dunia ini begitu luas dan begitu penuh kemungkinan sehingga jalan cahaya dalam impian ternyata mampu menampung 110. Tiada mega di langit -. Langit ungu muda. Memang masih seperti gunung-gemunung tapi bukan gunung-gemunung. kami telah melakukan perjalanan bersama cahaya ke suatu tempat yang tiada tertera dalam peta mana pun di muka bumi. Dari balik kabut itu. dan pergi. memang langit yang ungu membiru dan menggelap di kaki langit masih seperti sesuatu yang terdapat di muka bumi tapi bukan langit yang ungu membiru dan menggelap di kaki langit masih seperti sesuatu yang terdapat di muka bumi. hanya tegak di atas lutut kami. Gajah-gajah.000 orang seketika lengkap dengan hewan-hewan peliharaan dan itu pun ternyata belum apa-apa. kami menikmati setiap detik dari saat-saat kebahagiaan kami yang fana. tibalah kami pada suatu pagi di mana kami setelah bangun dari tidur yang panjang merasa tidak usah berjalan ke mana-mana lagi. mereka pun banyak yang mati sepanjang perjalanan. panji. Sembari berjalan kian kemari setelah mengenakan busana terbaik yang kami miliki. Kami tahu betapa ketika kami menutup mata dan kemudian membukanya lagi. seperti juga seluruh busana terbaik yang kami kenakan.kami merasa saat-saat itu memang segera akan sampai. Garis cahaya yang meluncur sepanjang kaki langit melingkari kami. memang. Kami membasuh wajah dan telapak tangan kami dengan segantang air dari masing-masing perbekalan kami. Kami tahu semuanya akan pergi dan berlalu seperti juga berakhimya perjalanan kami yang terlalu sulit untuk bisa diceritakan dengan kata-kata. namun kami selalu mendapatkan gantinya. Maka langit pun terkuak dan kami terkesiap. Inilah pagi yang berembun dan berkabut yang perlahan-lahan berpendar menampakkan siapa berada di selatan dan siapa berada di utara. Kami merasa sangat berterima kasih kepada hewan-hewan peliharaan kami dan kami merasa lebih dari layak bisa membawanya membubung ke Negeri Cahaya. Kulit hewan peliharaan kami pun memutih. Tanpa diperintah setiap orang lantas melakukan semua persiapan untuk menanti saat itu. Kemudian kabut menjadi semakin tipis. kulit 166 . namun dada kami berdebar bagaikan terdengar suara yang menggelegar. Kami menanak sarapan pagi kami dengan percakapan sesedikit mungkin dan kami makan perlahan-lahan tapi pasti untuk meyakinkan betapa kami akan menyambut saat-saat terbaik dalam hidup kami dengan perut terisi. Kami mencoba mengingat segala sesuatu yang berwarna dari kenangan dan mimpi-mimpi kami. tampak kuda-kuda kami yang perkasa menatap kami dengan pandangan seolah-olah mengerti tentang segala hal yang akan terjadi. segala-galanya memutih. Kami tetap menunduk dengan perasaan tercekat. Padang rumput memutih. Tubuh kami bergetar dengan hebat dan kami merasa kecut. Cahaya yang terang menyilaukan segera memutihkan dunia kami. sepatu. bendera dan umbul-umbul kami yang berwarna merah pun memutih. Semua orang mempersiapkan dirinya tanpa kata tanpa angan-angan tanpa pertanyaan karena semua ini telah mengisi jiwa dan pikiran kami selama melakukan perjalanan bertahun-tahun mengikuti cahaya di dalam langit jiwa kami. memang masih seperti hamparan salju yang terpoles di sana-sini dengan hewan-hewan ternak berbulu tebal tapi bukan hamparan salju yang terpoles-poles di sana-sini dengan hewan-hewan ternak berbulu tebal. Hewan-hewan peliharaan kami pun seperti tampak mempersiapkan diri. Kami hanya bisa menunduk dan merendahkan diri. Tiada suara yang menggelegar. memang. namun cahaya itu menembus dunia angan-angan kami sehingga segala sesuatu yang kami pandang dengan mata terbuka maupun tertutup berwarna putih. dan kuda-kuda.

000 anak manusia. kuda-kuda berpacu. Hanya zat yang hanya bisa merasa bahagia di jalan yang terindah menuju kematian. Begitulah kami semua.999 anak cahaya. betapa bisa cahaya kesaksian tiada melihat kebohongan? Kulihat satu per satu dari kami. dan suara seruling dari atas tebing pada malam bulan purnama. dengan segala derita dan pengabdian. kemudian tidak bisa saling melihat karena di sekitar kami hanya cahaya yang berdenyar-denyar menyilaukan membuat kami masing-masing untuk pertama kalinya merasa sangat sendiri setelah dari hari ke hari hampir selalu bersama-sama semenjak dilahirkan di kampung kami. bayi menangis. semakin aku terikat kepada kenangan. dengan atau tanpa badan. Tiada yang lebih penting lagi kini selain perjalanan menuju ketiadaan. Barangkali ini memang tempat yang terindah untuk mati. Tiada lagi yang bisa kami lakukan selain meneruskan perjalanan. segalanya memutih lantas mengertap berkilauan seperti cahaya itu sendiri. 109. dan berdoa di dalam tujuh kuil di atas awan. Tinggal aku sendirian. dari selatan sampai ke utara.999 anak cahaya melebur ke dalam cahaya gemerlapan. melihat-lihat pemandangan. Kami berangkat melewati tujuh rembulan. begitu pula kami jalani kodrat kehidupan kami dengan tulus dan penuh keyakinan dengan perasaan bahwa semua ini memang suatu anugerah yang terlalu menyenangkan. Semakin jauh aku berjalan. ditelan gua-gua kebahagiaan di atas awan. Lantas kami alami bagaimana jiwa kami diluncurkan. kelak-kelok labirin yang memusingkan. namun seperti juga air sungai dari sebuah sumber mata air di puncak gunung yang mengalir menuju lautan. dari barat sampai ke timur.*** . atau meneruskan perjalanan? Setelah bertahun-tahun menjadi bagian dari suatu perjalanan panjang ke satu tujuan kurindukan diriku sendiri yang selalu berbisik perlahan-lahan. Langit yang berlapis-lapis memeluk jiwa kami dan kami kemudian merasa mampu berada di segala arah. dari cahaya ke cahaya. Begitulah rombongan kami. gua pelangi yang menyilaukan. semakin aku merasa diriku bukan bagian dari rombongan. Kini kami semua telah menjadi anak cahaya yang memutih dan tidak saling mengenal perbedaan-perbedaan kami karena kami semua hanyalah anak-anak cahaya yang saling menyilaukan dan saling melupakan. Aku melihat seribu cahaya berenang dan berkelebatan. bangkit kembali dari tumpuan lutut kami dan kembali menaiki kuda-kuda kami menyusuri jalan cahaya di langit yang telah terhampar di hadapan kami. Sungguh semua ini terlalu menarik untuk ditinggalkan. Kulihat 109. sendiri-sendiri maupun bersama rombongan. Tiada yang lebih berharga lagi selain keindahan dalam kematian. Tiada lagi angin bertiup. menaiki kuda putih di atas awan. 110. Dari kelam ke kelam. dalam penyucian cahaya berkilatan. secara serentak tanpa harus merasa berada di tempat yang berlain-lainan. Apakah aku harus berhenti. tiada lagi debu mengepul. Begitulah kami menyerahkan diri dengan segala dosa dalam tubuh dan jiwa untuk disucikan oleh cahaya itu sebelum kami berangkat ke akhir tujuan kami. tujuh matahari. Sudah begitu jauh aku berjalan. 167 *** Kulihat di sepanjang langit. kemah-kemah awan.dan rambut kami.

Ulaanbaatar . Juli 1996) 168 . Maret-Juni 1996 (Dimuat dalam Horison.Jakarta.

. “Bagusu-neh! Bagusu-neh!” ulangnya di depan Pak Marta. Seraya melangkah ia mereka-reka kembali rencananya yang sudah bermalam-malam bersama menantunya. mengikuti goresan kaki langit. “Tetapi . “Aaahh. Sungguh. tetapi sudah mulai dipelajarinya dengan tekun: “Bagusu-neh. Ia merasa benar-benar gembira. Subarkah.” (Bagus.. senang. Okayama-san mengucapkan kata-kata itu sambil membungkukkan badannya dalam-dalam. dengan perasaan haru dan suara hikmat ia lepaskan isi hatinya itu dengan tulus. tidak ikut terbang ke Jakarta. ini bukan tanah saya. Nikmat benar dirasakannya menerawang. “Hay! Hay!” kata Okayama sambil lari-lari kecil. “Tempat ini bagus sekali. bagus) sambil melambai-lambaikan tangannya. dari tepian yang lebih jauh. Beberapa meter di depannya berdiri Pak Marta yang menerima ucapan terima kasih Okayama itu. Bukan tanah saya.” Ia seperti mau menjelaskan kepada semua pihak.. “Massugu! Massugu! Maju lagi! Maju lagi! Ayo. mengikuti anjuran Pak Marta. sahabat besannya. lalu menatap ke kejauhan. beberapa kali. Wajahnya jadi cerah seperti langit yang ada di atasnya. orang yang dirasakannya benar menjadi penolongnya di hari tua. Michiko. lalu menarik senyum sendirian. menyapu lautan yang biru dan mengikuti gelombang yang beruntun bergantian sampai ke pantai. kepada pepohonan dan binatang-binatang 169 . “Senang? Senang punya tanah ini?” tanya Pak Marta dalam bahasa Jepang. bagusu-neh. tetapi . Dan tentu saja ia pernah merundingkannya juga dengan anaknya. yang kali ini tertinggal di Osaka. melihat lautan itu dari tempat yang lebih dekat ke pantai.” gumamnya. Gembira sekali. Ia senang mengikuti petunjuk Pak Marta. senang..” kata Okayama. membicarakannya. kepada penduduk di kampung itu. Dari kejauhan ia berteriak dalam bahasa yang jauh daripada dikuasainya. Ini tanah Subarkah dan Michiko. sambil mengibas-ngibaskan tangannya. Negeri ini indah sekali. ke sana lagi! Lihat dari sana.Enclave* Oleh: Ramadhan KH “Arigato gozaimasu! Arigato gozaimasu!” (Terima kasih! Terima kasih!). Di sebuah onggokan ia berhenti.” Pak Marta menganjurkan Okayama supaya melangkah lebih jauh.

Asal diurus. tertawa lebar. Apa pohon kaki (kesemek. untuk membeli tanah di kampung Sindanglaut. karena mahalnya. di tepi pantai di Sukabumi Selatan itu. kemungkinan besar ia sudah dikirimkan ke Negeri Sakura untuk melanjutkan sekolahnya. sangat gembira. bahwa Subarkah menetapkan. bisa. “Untuk siapa lagi uangku itu kalau bukan untuk Michiko (anak tunggalnya).” Pak Marta tertawa. Okayama yang sudah pensiun dan ditinggalkan istrinya meninggal tiga tahun yang lalu. sang menantu yang juga ada di sana mendampingi sang mertua. Ia pun senang bisa membuat mertuanya gembira. Tapi jangan minta pohon sakura tentunya. bisa tentu bisa. Bagus sekali tanah ini. “Semua tanaman bisa hidup di sini. tanah itu atas nama istrinya. di tepi Samudera Hindia yang elok itu. Juga Subarkah. Waktu itu ia duduk di sekolah menengah di Bogor dan terkenal di antara sesama teman sekolahnya sebagai murid yang paling pintar bahasa Jepangnya. anak-anak saya akan mendirikan rumah di sini. Lihat itu. bisa hidup di sini. punya rencana berlibur tiga kali dalam setahun. sehingga mereka mendapatkan tanah ini. anaknya. Tidak ada tanaman yang tidak bisa tumbuh di sini. dan setiap kali berada di Sindanglaut untuk barang dua atau tiga bulan. pohon-pohon kelapa bagus-bagus di sini. Okayama sudah punya gambar bentuk rumah yang akan dibangunnya di atas tanah milik keturunannya itu. Ia merasa. karena uang yang dibelikan tanah itu adalah uang simpanannya. uangnya bisa dipakai anaknya untuk membeli tanah di tepi pantai di daerah Sukabumi Selatan itu. diikuti oleh Okayama-san. pohon pisang. bahwa tanah itu bukan miliknya. “Saya sekali lagi mesti mengucapkan terima kasih kepada Pak Marta-san. di hari tuanya. di dalam surat-surat jual belinya.” jawab Pak Marta.” jawab Pak Marta meyakinkan sambil menatap Okayama. Michiko. Nyonya Subarkah. sebegitu yang diperlukan Michiko. pohon kesemek. melainkan karena mertuanya bisa mendapat kesibukan yang bakal disukainya: bercocok tanam. Sebuah rumah potongan Jepang dengan jendela-jendela dan atap 170 . Hahahaha. Bakal jadi bagus. Dan ia gembira. Sebab itu ia berikan uang senilai empat puluh juta rupiah. Pak Marta mengajak bicara Okayama-san dalam bahasa Jepang. bahwa tanah itu milik Michiko. ia memilikinya juga. Tanahnya. “Apa bunga anggrek bisa tumbuh di sini?” “Bisa. Di atas tanah seluas satu hektar lebih milik Michiko itu. Sekarang. pisang raja. pisang ambon. Malahan terakhir sudah dicantumkan dalam sertifikatnya. Ia masih bisa berbicara dalam bahasa yang dulu pernah dikuasainya dengan benar selama jaman Jepang. adalah disebabkan pengetahuannya bahwa di Jepang mustahil ia bisa membeli tanah seluas itu. Michiko. melainkan milik anaknya dan menantunya. Kalau terlaksana. bukan meteran. pisang yang disukai Okayama-san.” Okayama pernah berpikir. Bahwa Okayama-san. kini merasa senang. apalagi di seputar Tokyo. Kalau tidak terpatahkan oleh kekalahan Jepang dalam peperangan. Di Jepang. bisa memiliki tanah seluas satu hektar lebih. sekarang sudah ada rumah kecil yang masih sederhana. sudah menolong anak-anak saya.yang ada di sana. dengan kebunnya yang bagus. Bicaralah lagi Okayama-san dalam bahasanya. bahasa Jepang) bisa tumbuh di sini?” “O. dicampur sedikit dengan tanah dari kebun saya di Cisaat. Lihat. pisang lumut. Disebutnya di sini. sejuta Yen sejengkal. Bukan spesial karena istrinya jadi pemilik tanah itu di sana. Tetapi hati kecilnya tidak bisa membohonginya. Tapi nanti rumah tua itu akan diganti dengan bangunan yang bagus. orang menjual tanah dengan ukuran jengkalan.

” kata Okayama-san kepada Kakutani-san yang juga mempunyai cukup uang simpanannya. Saya pernah dibawa oleh kenalan saya lewat di sana.. ya. dengan nada suara seperti berhasrat. seperti sudah tidak punya harapan. melihat binatang langka?” “Ya. pemandangan seputar itu. “Dan bagusnya. dengan uang yang sudah diperhitungkannya cukup. Hahaha! Dan. saya akan kawin lagi. “Beneran. Tetapi ia tidak punya keinginan lebih jauh.” cerita Okayama kepada Kakutani.” kata Kakutani dengan nada rendah. dengan uangmu yang ada di bank sekarang. karena ayah Subarkah masih ada.. Dan sewaktu Okayama sudah berada lagi di Osaka. *** Okayama-san bersahabat kental dengan Kakutani-san. Dan. besan Okayama.. “Pasti ia cantik sekali waktu mudanya. Kebiasaan mereka pun baik-baik. “Dan istimewa lagi. Mereka sama-sama duda. “Mengapa kamu tidak punya akal?” kata Okayama. atas nama siapa. Ia ceritakan dengan terperinci sekali berapa harga tanah yang dibelinya. “Cantik-cantik?” Kakutani seperti mau tambah diyakinkan. “Tapi. bagusnya pemandangan di sana! Luar biasa! Pasti kamu pun akan suka. Di Kadupandak itu banyak sekali yang cantik. kita bisa lewat di sebuah kampung yang namanya Kadupandak. Saya pun waktu lewat di sana. Kalau kita jalan ke Sindanglaut itu. ada daerah yang masih dihuni oleh badak. Apa sungguh begitu?” “Sungguh!” kata Okayama meyakinkan. “dari tempat itu.” komentar Kakutani di dalam hatinya waktu ia pertama kali melihatnya. merasa jadi muda kembali. bagaimana saya bisa membeli tanah di sana? Saya kan tidak punya menantu orang Indonesia. dan sebagainya dan sebagainya. Sungguh! Kamu bisa bergairah lagi jika lewat di kampung itu. di mana letaknya Sidanglaut itu. Kalau saya seusiamu (--Kakutani lebih muda--). Ia pun pernah bertemu dengan ibu Subarkah.” Kakutani seperti kena goncangan yang membuat ia sadar.. kamu bisa dapatkan seorang. Cantik-cantik. badak yang terkenal.” 171 .. Rencananya pun sudah bisa mulai dilaksanakan. hahaha. Kesukaan kamu kan masuk hutan. Mereka tidak perlu kita ajar lagi supaya tinggal di rumah.. bukan mimpi pagi. Dan terkenang sampai sekarang.. waktu datang di Osaka. “Kamu kan belum punya istri lagi. selain ada laut yang bagus. akan mengambil wanita Indonesia. segera ia bercerita kepada Kakutani bahwa ia baru saja membeli tanah di Indonesia. bahwa wanita itu benar cantik walaupun sudah ada usia. Cantik-cantik lho.potongan khas Jepang. Dan gambaran itu buat Okayama sekarang. Itu sudah kebiasaan mereka. Tinggal tidak berjauhan.

Yang dipentingkannya hari depannya.” kata Kakutani kepada Okayama. dan mau menerima kebiasaanku. tidak ceritakan bahwa Nurseha. Kakutani memperlihatkan seorang wanita yang lumayan cantiknya kepada Okayama. “Secepatnya. Tentu saja jadi. begitu nama perempuan yang dibawanya. “Ia berjanji. Itu kan benar bagus. dengan pemandangan yang indah seperti yang diceritakan Okayama? Aku pun tentu bisa menikmatinya. *** Saatnya pun tiba. saya akan belikan istri saya tanah yang itu. mengapa pula aku mesti simpan uang itu? Dengan uang cuma sebegitu mustahil aku bisa membeli tanah di negeriku sendiri ini. di samping tanah Michiko.” Kakutani menarik wajah bangga dan serius. bagus kalau begitu. “Kapan akan nikah?” tanya Okayama-san. Kakutani dan Okayama sudah ada di Jakarta. “Hanya meminta supaya saya masuk agamanya.” Ia pun ingat. Ia bisa menghapus apa yang sudah-sudah. “Kalau sudah begitu. Waktu ada kesempatan berdua Kakutani dan Okayama. Malahan ini yang kedua kalinya sudah.” kata Okayama. bagaimana?” tanya Okayama lagi setelah ia ingat pada tanah yang sudah diinjaknya bersama. “Kami akan kawin. bukan? Nulseha (--ia tidak bisa mengucapkan r--) sendiri sudah janji.Kakutani jadi berpikir beneran. “Bagus. bahwa ia sekarang sudah sebatang kara. 172 . Dan saya sepakati.” kata Kakutani setelah didesak di mana mereka bertemu. Dan terbetik hasratnya: “Kalau istriku setia. Dan kamu yang mengatakan bahwa perempuan Indonesia itu bisa tinggal di rumah.” Kakutani sudah bisa melupakan apa yang telah terjadi dan dialami Nurseha sebelum ini.” jawab Kakutani-san. Dan benar murah. “Sesudah kami nikah. mengapa aku harus kikir dengan tidak memberikan uang kepadanya untuk bisa memiliki tanah yang luas dan bagus. Cuma keadaan ekonominya saja yang pernah membawa dia ke tempat panti pijat. Mereka berdua menginap di sebuah hotel di jalan Thamrin. Kakutani bercerita bahwa Nurseha memenuhi hasratnya dan tidak banyak permintaannya. cuma kalau bersama saya ia akan ke luar rumah. Cepat sekali prosesnya. dan bisa membeli tanah yang luas. dan sudah pergi ke Sindanglaut. Nampaknya agamanya kuat. ditemukannya di sebuah panti pijat. “Jadi. ”Dan soal tanah itu.” kata Kakutani. Kalau istriku menyenangkan. Ia. apa bisa ia sekarang tinggal di rumah?” tanya Okayama yang ragu. pada mulanya.

cerah langitnya. bahwa ia nanti bisa berlibur di tempat yang bagus itu. segala di sana sudah terbuka. Tentu yang ukurannya luas yah. Tidak lama setelah itu. uang senilai pembelian tanah itu akan dikembalikan. Dan ia pegang surat-surat tanah itu.” pikir Kakutani. “Tapi bagaimana kami bisa membeli tanah di sana?” tanya Kanazawa kepada teman akrabnya. “Mustahil aku bisa punya tanah sebagus itu dan seluas itu di negeriku sendiri. atau di sore menuju senja. ia merasa senang. bagus sekali. Tetapi Kakutani-san merasa pintar juga. Pernikahan itu dilaksanakan di depan penghulu. Kamu tidak akan bisa membeli tanah seluas itu dengan seluruh kekayaanmu yang kamu miliki di sini. Kanazawa-san.” pikirnya. untuk usaha. setelah Kakutani memenuhi syarat yang diminta oleh Nurseha dan keluarganya. tempat ia menceritakan rahasia hidupnya. Kanazawa-san. Pasti ada cara-caranya. Kata orang di sana. Tanah di Sindanglaut yang berdempetan dengan milik Michiko pun kemudian dibeli Nurseha atas namanya. “Aku akan sering saja berada di sana. Ia pun sudah beberapa kali membaca brosur-brosur tentang perjalanan ke Indonesia dan apa yang bisa dilihat di negeri di sebelah selatan itu.” 173 *** Di sebuah organisasi di kotanya. “Bisa. setelah ia membandingkan dengan harga tanah di negerinya. Tetapi terbeli oleh Nurseha yang membuat surat janji. Lebih luas daripada yang dimiliki Michiko dan lebih mahal harganya. Ia sudah menghitung. Di sana kan selalu ada matahari. kita bisa tinggal di sana. bahwa nilai tanah akan cepat naik. dan kamu merasa encok di sini. Lautnya bagus. Tetapi yang pasti lagi. Kalau musim dingin di sini. tak dirasakannya jauh. Kakutani punya sahabat akrab. tapi sekarang sudah jadi istrinya. Kakutani dan Nurseha melangsungkan perhelatan di Sukabumi. atas nama Nurseha yang pernah ditemukannya di sebuah panti pijat. Apalagi sekarang. di sana segala bisa diatur. pemborong bangunan. disaksikan oleh Okayama. “Benar murah. Nurseha merasa pintar. Pasti bisa. kita bisa tinggal di sana semusim-semusim. kamu akan senang tinggal di sana. dan uang rupiah tak akan bisa mengejar harga tanah. Pantainya bagus. dan gelombangnya amat memikat. Kita diajak oleh mereka untuk datang ke sana. bahwa kalau sampai ia dan suaminya bercerai. Apalagi di pagi hari.” kata Kakutani. *** .Indonesia. tergerak juga hatinya. Ia pun ingin memiliki tanah sebagus seperti yang diceritakan temannya. di tepi pantai yang lautnya biru. Soal jarak Jepang . Sebab itu pula ia tak beralangan menceritakan tentang tanah yang dibelinya. Percayalah.*** Benar juga.

bisa diatur supaya jadi jalan ke pantai. bahwa kekurangan yang dirasakan oleh Kanazawa itu nanti bisa diatasi. yang tempo hari mengatur pembelian tanah untuk Michiko dan Nurseha. Yang kedua kali untuk istrinya. Okayama dan Kakutani lalu mengajak bicara Kosasih yang sudah siap untuk membantu. Tanah yang menghalang-halangi itu. Sudah tergitik juga hati Kosasih oleh gambaran bahwa kali ini ia bisa beruntung banyak lagi. “Ini. ini orangnya yang bisa membantu kita. antara lahan ini dan laut. “Tetapi hotel akan laku kalau menempel pada laut. seorang lagi yang lebih muda. Ramdan. bisa menolong kita. Tidak ada yang tidak bisa diatur di sini. sehamparan tanah yang ada di tepi laut itu digabungkan saja dengan tanah bekas perkebunan kecil itu.” pikirnya.” pikirnya. sebenamya hati nuraninya pernah goyang. lewat Okayama yang sudah tambah pintar berbahasa Indonesia. Tetapi. Ada kekurangan di tanah bekas perkebunan kecil itu yang terasa oleh Kanazawa-san.Kanazawa-san terbang bersama Kakutani dan Okayama ke Jakarta. Pak Kosasih. Sudah dua kali ia pernah mengatur jual beli tanah dengan orang. Tanah itu bekas perkebunan kecil. Tanah itu tidak nempel pada pantai. “Yang satu kali untuk menantunya bersama anaknya. Garnida. Ketiga orang Jepang itu pergi ke tanah bekas perkebunan kecil itu. bisa meyakinkan. Sebab itu ia cepat berkata kepada Okayama: “Kami bisa atur. Ia mengetahui. bahwa yang dikatakannya itu bisa jadi kenyataan. Ia merasa. Tetapi terhalang oleh beberapa rumah kampung dari tanah Michiko. “Apa yang tidak bisa dengan uang?” pikirnya. tersenyum lebar. tetapi keuntungan yang diperolehnya menghapus kegelisahannya itu. “Tak ada kesalahan saya. Orang kita-kita juga.” kata Kosasih dengan menarik senyum lebar. “Tidak jadi soal. “Bapak ini. Ia pun yakin dengan uang segala bisa beres. Supaya nyambung jadi bagian tanah ini. Tetapi Kosasih. 174 . seorang yang lebih tua. Rumah-rumah kampung itu bisa dipindahkan. Ia tentu saja senang.” kata Kakutani sambil menunjuk seorang laki-laki yang bekerja di Kecamatan di Sidanglaut. Kosasih yang pernah membantu kedua orang itu dengan urusan tanah di sana. Dan akan dijual.” kata Okayama sambil memegang tangan Kosasih.orang Jepang itu dan memasukkan uang ke kantongnya sendiri lebih dari lumayan. tapi sudah tidak terurus. Kanazawa-san menginginkan membuat semacam hotel di sana. ada sebidang tanah luas yang juga tidak jauh letaknya dari tanah Michiko. dibarengi oleh Kosasih dan dua orang kawannya. dengan kebutuhannya.” kata Kosasih sambil menarik wajah senyum dan meyakinkan. Sah-sah saja. “Bagaimana cara membelinya?” tanya Kanazawa. Kosasih seperti bisa menangkap apa yang diinginkan oleh Kanazawa.” kata Kanazawa kepada Okayama dan Kakutani. bahwa atasan-atasannya yang ada di Kecamatan dan di Kabupaten akan setuju. terasa tak menentu. Kanazawa-san takjub melihat daerah pantai Samudera Hindia itu. Ia pun yakin. Lalu mereka pergi ke Sindanglaut.

" kata Okayama. Kakutani-san dan Kanazawa-san sudah berada di Indonesia lagi. meminta dukungan. Maka pembangunan dimulai di daerah itu. tak mengerti sepatah kata pun. tapi harapan menyelinap di antara perasaannya. Beberapa orang pegawai Kabupaten Sukabumi pun ada di sekelilingnya. tapi menyebabkannya jadi merasa kuat. tuan Kanazawa tertarik. Ia menunggu kepastian. sudah mulai dengan membangun rumah yang mereka citacitakan. apa yang tidak bisa dibereskan di kampung ini. ada Tanaka-san. melainkan ada Saito-san. Okayama-san. Sindanglaut mereka tuju.” Kata "pembangunan" itu melintas sejenak saja di kepalanya. Entah berapa ongkos memindahkan mereka yang sebenarnya. segala bahan yang diperlukannya sudah ia siapkan dari dan di negerinya. pikirnya. Kakutani-san dan Kanazawa-san yang membangun di sana. Tanah yang menghalangi-halangi perkebunan kecil dengan laut itu pun sudah diatur oleh orang-orang di kantor Kecamatan. Subarkah. Rumah tua sudah dibongkar. Okayama yang sekali ini didampingi Michiko dan suaminya. Ketiga orang Jepang itu mengangguk-angguk. Mereka tidak membuang waktu. Nampak sekali ada kesibukan di wilayah yang tadinya kampung itu. Ia tidak kepalang bergerak. malahan di kantor Gubernuran. “Ya. Dan ia sudah jadi lebih pandai. Penghuni beberapa rumah yang menghalang-halangi antara tanah Michiko dan Kanazawa pun sudah sepakat untuk pindah. Uang siluman tak jelas masuk ke kantong saku siapa. Tiang-tiang baru sudah dipancangkan. Kata pembangunan itu mengubah kesulitan yang tadi pernah mengganjal sebentar di hatinya. Lalu mereka berbicara dalam bahasa mereka. Kanazawa-san nampak tenang-tenang saja. asal benar bisa diatur begitu. lalu ke arah Okayama. Takahashi-san dan . Orang-orang Jepang itu tidak tahu. “Ini jadinya proyek pembangunan.Ia berpikir lagi. Kosasih mendengarkan saja. “Pasti bisa! Pasti bisa!” kata Kosasih kepada Kanazawa. Soal tanah yang menghalang-halangi sudah terpecahkan. atas anjuran penasihatnya ia sudah menggaet orang di Jakarta penguasa penting. Kakutani-san pun langsung mengukur-ukur tanah yang akan dipakai untuk bangunan rumah yang bakal dihuni bersama Nurseha. karena bukan saja Okayama-san. Rencana bangunan hotel sudah siap. masih jauh lebih murah daripada jika harus membangun di negerinya. Tinggallah nanti ia mencari tukang-tukang yang bakal diperbantukan kepada arsitek Jepang yang bakal membangun rumahnya itu. Dan bertambah lagi kericuhan di daerah itu. 175 *** Selang beberapa waktu. Dengan duit. Sebab memang setelah diperhitungkannya. Kemudian kepalanya digerakkannya menghadap ke arah Kakutani. di kantor Kabupaten. Kanazawa-san dikerumuni oleh pegawai-pegawai dari Kecamatan Sindanglaut. Masing-masing mengatur kepemilikannya. sehingga bisa dipakai untuk keperluan Kanazawa-san yang punya uang banyak.

. Tinggallah Ramdan yang berjongkok menatap orang-orang yang sedang mengangkatangkat kayu dan besi itu dari kejauhan. Saito-san idem dito. Jangan ditanya asal usul tanah itu: tanah wakaf pun sudah berubah catatannya. Di hatinya ia merasa tertinggal. daerah kantong Jepang. sahabat dan pelbagai cara dan ilmu yang tak jelas duduk perkaranya_ memungkinkan rumah-rumah dan bangunan lainnya di sana berbentuk seperti di kampung asal mereka. Mereka seperti sudah berpikir. 176 *** Maka ramailah pembangunan di Sindanglaut. istri. sawah musiman dan kebun terlantar itu. Okahara-san sami mawon. pikir mereka. sahabat kentalnya. Bukan saja hatinya terganggu. bahwa di kampung di tepi Samudera Hindia itu sudah berdiri satu daerah enclave. Orang-orang Jepang itu mendengar kemungkinan-kemungkinan itu dari mulut ke mulut. Ia pun sudah mendengar kabar dari orang tua Subarkah. untuk semua penghuni bumi. Michiko adalah istri Subarkah. tetapi ia sudah tua.” pikir mereka. Ia menjawab sendiri: Okayama-san adalah mertua Subarkah. Melangkah pun sudah sakit-sakitan. Kanazawa-san adalah pengusaha yang diajak datang untuk menanam modal. “Untuk siapa saja. Kosasih sudah punya rumah baru dan istri baru di Sukabumi dan keluyuran dengan mobil Suzuki yang paling mutakhir. Garnida sudah naik motor Honda yang paling diidam-idamkannya dan paling disenanginya. “Siapa yang salah?” pikirnya. semua kedudukan pun bisa kita capai. Nurseha adalah istri Kakutani. karena rumahnya pun sudah tergusur. bahwa dunia ini untuk kita semua. Brosur-brosur pariwisata pun sampai pada mereka. atau yang di Osaka atau yang di Okinawa sekalipun. yang bisa membelinya dan membangunnya. untuk kita. Lebih dari duapuluh orang Jepang sudah membangun di daerah Sindanglaut itu. Kebanyakan peralatan dan malahan bahan-bahannya pun didatangkan dari Jepang. lalu ia sebentar merenung. Ia sudah bergabung dengan anak-anak pembesar di Jakarta. Dan semua menghitung: tanah di Sindanglaut itu benar-benar jauh lebih murah dibandingkan dengan yang ada di Tokyo. Anaka-san menempuh jalan yang juga tidak seberapa sulit dirasakannya. *** Pak Marta datang di Sindanglaut. Ya. gamang. di atas tanah yang lebih dari dua ratus hektar. pikirnya.beberapa lagi orang Jepang yang bukan saja tertarik. Sampai-sampai bangunan yang seperti toko dan hotel pun disusun dan berbentuk bangunan Jepang. untuk ikut serta dalam pembangunan itu. Dan mereka ingat pada beberapa kursi yang ada di sejumlah negara di luar negeri mereka yang sudah diduduki oleh bangsa mereka. Sebab kebanyakan pemilik tanah itu _lewat menantu. melainkan sudah mulai membangun di daerah yang tadinya masih ladang tegalan. keturunan mereka. Untuk pihak yang pintar.

mobil Suzuki diparkirnya di halaman kantornya. “Tidak mengalami jaman Jepang?” “Ah. orang tuanya. tapi saya menolak. “Berapa umur Bapak?” tanya Pak Marta kepada Kosasih.” jawab Kosasih. “Ya.“Tetapi siapa di daerah ini yang tidak tergusur. Ia arahkan tatapannya ke kejauhan. “Bapak bekerja di Kecamatan.” Ia tidak meneruskan ingatannya. Mukanya pun nampak licin. “Bagaimana perasaan Bapak melihat kampung ini sekarang?” tanya Pak Marta. kan?” kata Pak Marta. ke lautan yang biru. Pak. anak-anaknya. menjawab: “Entahlah. Ramdan. bangkit dan duduk di kursi.” Pak Marta cepat mengerti. Kelanjutannya jadi amat serius. Pak. ke kaki langit. benar bagus. Ia merasa berjasa. Sudah gemukan bentuk badannya dibanding dengan beberapa bulan yang lalu. Tadinya saya mau dipindahkan ke Sukabumi. Bapak.” kata Garnida. Sementara itu Kosasih datang. Ia menarik wajah gembira. ke langit yang bersih. Pakaiannya serba baru dan mencolok.. “Alhamdulillah.” kata Pak Marta kepada Ramdan yang tetap jongkok di dekatnya. Hati kecilnya berbisik jujur. Daerah ini mesti dibangun. terutama kepada istri-istrinya. Dulu saya pernah benci kepada orang-orang Jepang itu. Ia gundah. kamu sudah punya motor segala sekarang. bersih. “Jangan jongkok terus begitu.” kata Pak Marta. Pak Marta.. Di sini masih ada kursi. Percakapannya menunjukkan kegembiraan yang luar biasa.” Di tengah itu Garnida muncul dengan menaiki motornya. Kendaraannya. Ia sendiri diliputi beberapa pertanyaan yang tidak bisa dijawabnya sendiri. Pak Marta?!” kata Ramdan kepada Pak Marta yang duduk di kursi di depannya..” ajak Pak Marta kepada Ramdan. orang tua itu. Ia ingat. saya belum lahir waktu itu. Pak Marta tidak sanggup menatap wajah Ramdan yang sudah kurus dan keriput itu. Dengan ragu. menyayat hati orang yang diajaknya bicara. permulaannya amat sederhana. ke ombak yang bergelombang. yah. “Di sini lebih menguntungkan. 177 . Pak. “Wah. Ia seperti menelannya. “Duduklah di sini. “Tempat ini bagus. Tetapi. terjepit antara sesal dan senang. Suara Ramdan terdengar melas sekali.” Ramdan mengikuti ajakan Pak Marta.” Ia setengah membusungkan dada. Ia sudah bisa membelikan mereka pelbagai barang modern yang biasa ditayangkan di televisi yang ia saksikan di rumahnya. mertua-mertuanya. “Pilihanku benar.

Hasil kerja di sini?” tanya Pak Marta. Pak. Maka ia menyelip menyambung pembicaraan: “Rumahnya.” kata Garnida. Sekali Garnida bertatapan muka dengan Ramdan. (Dimuat dalam Horison. Ia pindah ke kampung di balik bukit itu. Tak ada jembatan penghubung yang mengaitkan pembicaraan serius di antara mereka. September 1997) . Ia tidak menatap ke masa depan.“Maju yah. Ia bicara sesungguhnya. sudah seperti kelelahan jika harus berpikir. Pak. Sementara itu pembangunan di daerah enclave berjalan terus. Suasana pun seperti direka untuk jadi demikian. saat ini. digusur. Pak Kosasih membujuk kami. Dan yang tua serta yang muda. Ramdan mengetahui silsilah pembelian motor itu. mengikuti pihak yang menginginkan. rumah orang tuanya.” “Ya. detik ini. Masing-masing dengan pikirannya sendiri. juga tidak pernah berkenalan dengan buku-buku tentang masa lampau. hari ini. Ia terhitung pemuda masa sekarang yang diusik oleh pelbagai tayangan barang jualan di layar kaca dan hanya memikirkan masa ini. *** 178 *) Enclave = Daerah kantong.

setengah dan satu kilo-an. Pada suatu ketika. Sekarang setelah rezeki semakin deras datang. ubin. karena anaknya lebih dari dua. Dia memang mahir mempengaruhi calon pembeli. mendirikan usaha penjualan kayu. semua keperluan MCK. Perempuan itu sibuk menghitung bungkusan gula pasir yang baru selesai dia timbang. Dia pikir. dia bahkan semakin mengkhianati program pemerintah: dia ingin menambah dua atau tiga anak lagi. buat apa rezeki kalau tidak untuk membangun keluarga besar! Padahal. paving. tidak jauh dari pasar Jatingaleh. Bapaknya Iwan berpatungan dengan Pak Lurah. Sudah tiga tahun bapaknya Iwan menjadi RT. Pak RT sanggup mencarikan. dia sering mendapat persenan keuntungan menjual tanah atau rumah di kawasan sana. Semua tergantung pada komisi yang disepakati. seperempat.” Istrinya tidak menanggapi. Lalu bapaknya Iwan menjadi terkenal sebagai makelar tanah dan rumah.Horison. tempat yang telah dia miliki itu sudah sangat pas. dua perempuan. Pak RT bukan kepala keluarga teladan. Dua anak lelaki. Kebetulan yang perempuan berada di tengahtengah. orang Jawa bilang: Sendang kapit pancuran. Iwan adalah sulung dari empat anak. bertanya kepada istrinya: “Mana Iwan?” “Belum kelihatan. Kini masing-masing mengelompok. karena Pak RT seperti berbicara kepada dirinya sendiri. ditata di rak warung. uang yang dia terima cukup untuk membeli sebuah rumah reyot di pinggir jalan. Karena dekat dengan Pak Lurah. Maka kantung-kantung plastik kecil lebih banyak terisi di rak-rak itu. Satu on. Tetangga lebih banyak membeli kurang dari satu kilo. Agustus 2000 Jati Diri Oleh: Nh Dini 179 Pak RT tergesa masuk.1 .” “Jum’atan apa tidak dia. Dan bila orang memerlukan barang yang tidak nampak di situ. lebih dari tiga.

Kini lantainya keramik putih berkilau. Dia baru lulus SLTP. melainkan lintingan daun kering yang mampu membikin perasaan melayanglayang. Atau bila tiba-tiba pulang sebelum pukul tujuh. Pak RT langsung membelinya. Penduduk sekitar tetap banyak yang tidak mampu. dia bergegas mandi lalu pergi lagi memimpin pertemuan ini atau itu di salah satu ruangan kantor kelurahan. muda-mudi rapat di sini. sekaligus mengurusi muda-mudi kampung. Lalu diteruskan: “Biar ibumu yang pergi. usia Iwan 16 tahun. menjadi bangsal aula cukup besar. Sore ketika kebanyakan keluarga berkumpul. sehingga terang memantulkan cahaya hari. Dia bikin sebuah ruangan polos.” Atau: “Muda-mudi itu harus ada yang mengarahkan. “Aku tidak punya waktu.Ketika ayahnya menjadi RT. Jika ada tetangga yang usil bertanya mengapa dia begitu cepat pergi lagi keluar rumah. Rokok yang dihisap bukan lagi merk dikenal.” itulah jawaban Pak RT. di warung-warung kopi atau di kios rokok yang juga menyediakan minuman pembakar tenggorokan. nyaris menjadi anak jalanan. Katanya.orang tua lain. Dengan begitu. Tetapi tak satu pun anggota keluarganya memperhatikan. karena bisa berbuat apa pun sesuai kemauannya. Tubuh Iwan kurus kering. Pak RT masih mengurusi usahanya. selalu di kelurahan!” Anak-anaknya sangat hafal dengan jawaban Pak RT: “Di toko aku tidak menganggur! Aku mencari uang buat kalian! Buat kita!” Yuni. Adiknya yang terkecil delapan tahun. Mak kalian dan aku tidak akan sering berada di luar. menggerombol bersama teman-teman sesama seragam SMU di perhentian bis. adik Iwan yang paling cerewet menginginkan ayahnya kadangkala datang ke sekolah mengambil rapor seperti orang tua. semuanya berubah bagi Iwan. Karena bapak itu jarang berada di rumah di saat Iwan pulang untuk makan siang. Lalu dilengkapi meja-meja pendek. Bagian depan. Di situ tikar digelar. Tapi mereka menyukai Pak RT yang selalu penuh pengabdian. sekaligus selalu repot di toko material bangunan. menjadi gadis kecil dan berani memprotes: “Bapak pergi-pergi terus! Kalau tidak di toko. Dan sejak ayahnya mempunyai kedudukan tersebut. Ketika rumah di samping dijual. Rumah berganti ubin. “Ini untuk pertemuan-pertemuan.” Iwan hidup di luar. Pintu-pintu bisa dipasang atau dicopot. PKK. Dia merasa hidup lebih leluasa. seluruh kepanjangan dinding tertutup bahan yang sama. Semua nampak bahagia. Dia bebas. jawabnya yang paling sering adalah “Saya harus ke pertemuan.” 180 .” Adik Iwan sudah berangkat remaja. Keluarga Pak RT kelihatan sejahtera. Bapak-bapak.

Tapi pekan kemarin dia tambah satu lagi. Sekarang. Sekarang anak-anak sudah besar. bukan?” 181 . Bapak dan ibu mabok dengan keberhasilan mencari uang. aku tidak perlu memngawasinya. bahkan perangko. pembantu yang dua orang ditambah satu lagi. Sama seperti suaminya. Pak. Itulah salah satu sebab mengapa bapaknya Iwan menjadi RT. lalu singgah. Mereka selalu kekurangan. Dia minta dibelikan kendaraan. “Kalau boleh.” suara Pak RT tidak bertanya. Selalu ada yang lewat.Di waktu itulah ibu Iwan berkata kepada suaminya. lalu membantu mengerjakan ini atau itu. sambil katanya: “Apa boleh minta tehnya? Buat satu kali cem-ceman2 saja. “Apa kamu naik kelas nanti kok minta dibelikan kendaraan. Iwan mengeluarkan kalimat yang sejak beberapa pekan didiktekan teman-temannya. Pada suatu siang. dia terkenal sebagai orang yang tidak tega. Di lain waktu. Beri aku modal. Di mana-mana orang memerlukan kayu. Sedangkan yang pertama. Aku ingin mencari uang sendiri. berjalan kaki menuju rumah yang terletak tidak jauh dari masjid. Dan karena rezeki berlimpahan. adik atau saudaranya ipar. Kemenakan. akan lebih mudah disewakan buah pindahan atau lainnya jika bak belakang selalu kelihatan bersih. Kadang-kadang menjadi tiga jika saudara ibunya Iwan datang dari lereng gunung Sumbing. Kemudian. Mereka pulang bersama. “Kamu sudah memperbaiki prestasimu di kelas? rapormu yang paling akhir jelek sekali. siapa saja yang berasal dari desa sama. Iwan sengaja memperlihatkan diri. turut bersembahyang Jum’at di belakang ayahnya. Untuk toko. Pembantu itu bisa bertambah lagi di saat tetangga datang mengobrol. Yang dijajakan di warung bertambah: alatalat tulis.” Dan kalau itu sudah diberikan. obat-obatan. Hanya kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Pasangan itu banyak menolong dan membantu penduduk sekitar. tiba-tiba. menawarkannya kepadanya.” Pak RT punya sebuah kijang. dia ingat harus menanak nasi atau menjemur cucian. Kebetulan memang bapaknya Iwan sedang berpikir-pikir akan menambah sarana penataran pesanan yang semakin sering datang. Kebanyakan penduduk di sana tidak seberuntung keluarga Pak RT. Buat sekolah. batu atau pasir. "Tidak usah baru. “Bikinkan aku warung. meterai. minta gula dan kopinya saja sedikit. Ibunya Iwan tidak lupa menyumpalkan uang dua ribu ke dalam genggaman si tetangga. Bisa dibayar dua kali. kendaraan yang kedua itu melulu hanya untuk mengangkut bahan-bahan kotor. Yang terkumpul adalah ibu. ayah dan dua adiknya. semula dia sediakan satu kendaraan bak terbuka. dilanjutkan dipasrahi membina kaum muda di sana.” Ibunya Iwan baik hati. ada yang sampai hati menunjuk stoples di atas rak. Sambil makan. Kecil-kecilan saja. ada tetangga yang berani berkata. selain buat keperluan toko. Asal masih bagus jalannya. Orang terus membangun.” Ternyata dagangan itu pun berjalan lancar. Kali itu Iwan bahkan makan siang di meja keluarga. karena seorang kenalan terdesak kebutuhan uang.

kenyataan dan harapannya sudah begitu menyatu. Padahal seharusnya kamu yang dibelikan kendaraan! Minta saja! Kalau kamu punya roda dua. Aku mendapat resep baru dari tetangga yang datang dari gunungkidul. Minta kendaraan saja. Pemuda-pemuda tanggung memacu kendarasan mewah beroda empat atau dua. Dia yang paling lama memiliki kendaraan. Jika pertandingan akan diselanggarakan di sana. “Di kelas. Sebetulnya merupakan kebanggaan penduduk ibu kota propinsi. Lalu kita bisa bikin oplosan lain. Sudut dan selinapan yang dekat pagar dibiarkan. Lalu alur keseharian kembali seperti semula.” dan yang disebut Khodir mengangguk-angguk. Di sanalah. kita bisa cari uang.. Karena Iwan semakin sering mengatakan hal yang hanya terjadi di kepalanya. “Itu benar. Karena badannya lebih tinggi dan besar dari anggota kelompok itu.”.. Di mana ada kegiatan berkelompok. Rumput ilalang bertumbuhan nyaris setinggi orang.. Teman-temannya menyuruh Iwan mengambil uang di warung Mak. barulah bagian-bagian tertentu dirapikan. sampai mobil-mobil dan kendaraan roda dua lain yang setengah rongsokan. di waktu malam. “Kalau punya kendaraan sendiri. Tetapi Pak RT tidak termakan oleh rayuan si anak. Tetapi pemanfaatannya sangat kecil. semua teman Iwan sungkan kepada Khodir. Di sana mereka juga menghambakan diri pada kemaksiatan berjudi. pasti kita menang. berlanjut biasa. sulung. Iwan meninggalkan rumah sebelum keluarga selesai menyunyah pisang. kendaraan umum selalu datang terlambat karena jalan macet. sehingga dia sendiri terjerat dalam khayalannya. Lebihlebih menyuruhnya belajar.” Iwan kelihatan tidak was-was mengenai angka-angka di rapornya..” begitu kata Herman. Stadion Jatidiri besar. Dan karena merasa permintaannya tidak bakal terpenuhi. kena hujan. 182 . Kebohongan memang sudah mendasari hidup Iwan.Rupanya si ayah masih ingat juga bahwa anak sulungnya mencetak empat angka di bawah sedang di catur wulan yang lalu. Baru saja membeli kendaraan lagi untuk tokonya. sehingga tanaman dan perdu liar berduri berdesakan menjadi sarang aneka binatang melata. Kadang-kadang.” kata kawan Iwan yang lain. Mana yang sungguh ada. “Benar. ruwet menjadi satu. Yang dia inginkan demikian.” kata Iwan lagi. Herman-lah yang mengepalai. Pak RT tidak pernah menunjukkan kepedulian tentang kehadirannya. temannya yang paling menonjol. Yang dia katakan tadi entah merupakan kebohongan yang keberapa kali yang dia ucapkan sejak pagi hari itu. Kini teman-teman itu menyulut api pemberontakan terhadap Pak RT: “Ayahmu kaya. terjadi kebut-kebutan. “Kalau Khodir yang bawa kendaraanmu. Mereka tidak hanya melampiaskan nafsu mengatasi lawan dengan kecepatan. tidak dimanja.” tiba-tiba si ibu ikut urun bicara. Anak-anak repot. Karena dalam keseharian. Dia keluar masih mendengar omelan Mak terhadap suaminya. aku bisa mengantarkan Yuni setiap pagi.”. Iwan termakan oleh gosokan itu. Hal ini agak mengejutkan Iwan. Seusai sekolah. “Sampeyan3 ini bagaimana! Punya anak lelaki. menjadi kernet omprengan.. Dan dia tidak khawatir ayahnya akan menyelidiki kebenarannya.. Bisa turut berpacu di Jatidiri.. atau mana yang dia harap ada. “Apa lagi ini nanti musim hujan. tinggal aku yang belum punya kendaraan.

“Ini sisanya. Sampul coklat masih ada tetapi kosong.” Mak harus puas dengan jawaban tersebut. Malahan mungkin dengan bunga. dua ratus ribu lebih sedikit. Mak lega.000. Terakhir dia masukkan uang kemarin malam.” “Aku jajan bakso tadi. “Mau belajar bersama teman-teman. anaknya bawa 183 . menggosok rambut dengan kain apa saja yang tersampir di sana. kasihan tidak punya modal. “Apa usaha temanmu?” “Bengkel kecil-kecilan. tangannya mengulurkan satu lembar sepuluh ribuan. karena si sulung sudah berlalu. Rupanya baru kali itulah dia menyadari betapa kurusnya si sulung yang dia banggabanggakan. Rambutnya masih basah dan belum disisir. Iwan pergi untuk belajar di rumah kawannya. “Nanti kalau usahanya berjalan. Mak takut bicara kasar. di muka sekolah. Herman akan mengembalikan. Mak tunggu anak sulung itu seharian. Dia mau buka usaha. bersama tukang pompa ban.” Lalu Iwan terburu-buru. Tapi tidak apa-apa.” Mak menghitung. sudah menyambar tas dan melangkah ke pintu kamar akan keluar. Hati Mak tenang. berhenti lalu katanya “Minta Rp 10. Dia mengira anaknya marah karena permintaannya ditolak Pak RT. “Kuberikan kepada Herman. pada suatu pagi ketika Mak akan membuka warung. dadanya kerempeng. pagi Iwan dan Yuni disuruh mengambil uang sendiri di kotak di dalam laci. Tadi siang kamu juga tidak pulang makan. “Makan dulu! Kamu kurus. bahkan nyaris merayu si anak. Biasanya.Hanya. dia keluarkan gumpalan uang lusuh. Mak bertanya mengapa mengambil uang sebanyak itu.” Iwan menyahut. dia tunggu lagi sampai anak itu mandi. Mak bertanya lembut. terkejut bukan kepalang karena uang yang dia selipkan di belakang stoples di rak paling atas hilang. menutup kancing baju. Besok pagi langsung ke sekolah. “Mau ke mana?” Mak bertanya. Alangkah terkejut dia melihat tulang iga Iwan yang mencuat. Mak”. “Ke mana?” Mak masih mengikuti. “Pasti Iwan yang mengambil!” kata Mak seorang diri. meneruskan bicaranya. Kalau ada keperluan sekolah bisa sepuluh atau dua puluh ribu. jumlahnya mendekati tujuh ratus ribu. Tenang dan tanpa ragu Iwan menyahut. Paling-paling lima ribu. Tidak banyak. Mukamu pucat. Di sana tentu disuguhi makanan.” lalu dari saku celana seragam yang kembali dia pakai. Baru muncul hampir petang.” kata Iwan lagi. lalu akan mengenakan baju. untuk apa uang itu. Mak turut masuk kamar. Diberikan kepada Mak. Apa lagi.

Seperti biasa. maka kami memberi kelonggaran mengikuti tes untuk akhir catur wulan. “Usaha apa?” hampir serempak mereka yang berada di sana bertanya. lebih baik mengetahui anaknya berada di rumah teman. “Kami menerima uang tes. tidak tahu bagaimana harus menjawab secara tepat. anak-anak mereka tidak naik kelas. “Buka reparasi kecil-kecilan bersama tukang ban.” dan Mak itu hampir melepas lanjutan kalimat. Mak yang berangkat. Itu memang baik jika memang demikianlah kejadian yang sesungguhnya. bukan?” Mak kebingungan. Jangan sampai terlanjur mendapat pengaruh buruk dari jalanan. Tetapi kalau anak itu tidak kelihatan. Herman sudah dua bulan tidak masuk.uang. Mendengar itu. kalau Iwan pulang makan. “Hari Senin masih masuk. Banyak makanan dijajakan di malam begitu. “Bukankah Herman membuka usaha di depan sekolah?" Ibu Iwan merasa perlu mengutarakan pengetahuannya. Kami kira. dia menganggapnya sudah besar. Itu baik. Mak berpikir.” istri Pak RT berkata membela anaknya. ya dia pasrahkan saja ke bawah Lindungan Yang Maha Kuasa. Rabu sampai hari ini tidak kelihatan. tidak nampak di sekolah sejak empat hari. ibu-ibu akan melunasi uang sekolah sekarang. Rapor anak-anak itu semakin lama semakin jelek. Dan yang sesungguhnya terjadi ialah. “Dia pulang sore. Rupanya. menanggapi. Seorang guru melihat ke buku catatan. Katanya banyak tambahan pelajaran. Pak RT tidak pernah menyuruh-nyuruh anak itu berbuat begini atau begitu. Maknya Iwan menjadi ragu. Ibunya Iwan. katanya. Anak Ibu pulang ke rumah setiap hari. Kepala sekolah menemuinya bersama sekelompok orang tua lain di ruang tersendiri. Jadi Mak juga meniru suaminya. dua hari kemudian orang tua diminta datang mengambil rapor. “Dia berangkat sekolah setiap pagi. Dengan suara terbata-bata. Sekarang. Sudah tahu sendiri apa yang harus dikerjakan. tapi Selasa. Sejak si sulung lulus SLTP. bisa jajan. Yang paling nampak adalah ibu Herman. Ketika kepala sekolah merasa sudah cukup mengorbankan waktunya untuk mereka. Iwan sendiri. mandi atau untuk keperluan lain.” Dan yang lebih-lebih mengejutkan para orang tua kedua teman Iwan. dia memutuskan: “Sebaiknya ibu-ibu berbicara kepada anak-anak Anda. 184 . tidak keluyuran. Juga hadir dua guru.” akhirnya itulah yang dikatakan Mak. Khodir berkali-kali mangkir. Mak senang... ialah anak-anak mereka sudah setengah tahun tidak membayar uang sekolah.” kata kepala sekolah. Kecuali Anda. bahwa Iwan mengambil uang banyak sekali dari warungnya untuk ‘dipinjamkan’ kepada temannya itu.

Ada sopir taksi yang dirampok katanya.” sahut Pak RT. Begitu pula para pendatang. sesuai pilihan masing-masing. Gelasgelas itu diletakkan oleh pembantu di atas meja rendah yang berderet di tengah. Sementara itu orang mulai berdatangan memasuki ruang pertemuan.” Disambut dari sisi lain: “Ya benar. Padahal katanya.” “Ya. selalu merepotkan ibu. Tergesagesa dia mandi dan melunasi tiga rekaat. serunya.” kata-kata lain yang dimaksudkan lebih manis terdengar dari pojok lain. ini kami sedang memperbincangkan berita yang didengar tukang rokok di depan Karangrejo. mengerti. Tanpa menunggu lama. mulutnya mengunyah gorengan bergedel jagung penuh minyak.” seseorang menjelaskan. masing-masing tamu sudah mendapat jatah teh manis. Para pelayan sudah terdidik. Selain di situ suasana cerah. “Bu! Tehnya ditambah!” Pembantu-pembantu meyorongkan ceret berisi tambahan minuman. “Maaf! Maaf! Saya terlambat!” kalimat itu selalu mengiringi masuknya Pak RT ke dalam ruangan. “Apa beritanya sudah masuk koran atau televisi?” “Kok belum ada. mengelilingi tiga atau empat piring berisi kudapan.” sahut seorang guru. sopir taksinya ditusuk pakai obeng. lalu mendongak ke arah dalam. Pak RT orang yang sibuk. Kaum muda lelaki dan perempuan. saya juga dengar. “Anu 4.”tanggap Pak RT sambil menempatkan dirinya di atas tikar. tetapi semua tahu bahwa mengikuti pertemuan di rumah Pak RT tidak pernah rugi. lalu mengenakan baju berkerah dan sarung. Pak RT tetap belum pernah terlambat mengikuti rapat kami!” “Sebetulnya malahan kami yang merepotkan Bu RT.“Memang banyak ekstra kurikuler. Kami minta maaf. Bu. Mereka pulang berpeluang mengantongi paling sedikit satu pak kretek atau filter. “Tidak apa-apa. “Silahkan! Silahkan! Direruskan saja. Ini kami sudah mulai menikmati hidangan. Tetapi saya jarang melihat Iwan mengikuti tambahan pelajaran itu. Dan selalu ada yang menjawab. Untuk beberapa saat terdengar pembicaraan. Walaupun tidak semua dari mereka itu aktif mengerjakan sesuatu guna membantu kelancaran organisasi kampung. Petang itu Pak RT pulang setelah panggilan shalat Maghrib dikumandangkan. Kami 185 . Pak RT. pria-pria lajang atau yang telah berumah tangga tapi lebih suka menghindar dari kerepotan anak tak hentinya memasuki pintu di sebelah ruang tamu Pak RT. juga selalu banyak makanan dan rokok. Kami semua tahu bahwa Pak RT pasti hadir meskipun kami harus menunggu.

Satu kali menengok ke arah dalam rumah. Yang lain-lain kabur!” “Ya. Mata bapak itu melirik ke kejauhan. Kelihatan kepala Pak RT tertegak. Terdengar suara bebincang rendah. berbicara.” sahut Pak RT. seorang di pagar. Dia juga belum diberitahu oleh istrinya bahwa Iwan tidak naik kelas atau pun mangkir sekolah pekan itu. satu pelaku sudah diringkus. Pak RT bangkit dari tikar. “Bapak Rajiman?” “Ya.” “Yang saya dengar. menemui si pendatang. mereka santai menonton. mengatakan gagasannya.“Di mana kejadiannya?” Pak RT bertanya. Seorang di tengah-tengah halaman. Satu kali bertanya kepada tukang becak. kemudian berhenti di depan rumah Pak RT. “Betul! Betul! Kalau tidak. sementara kotak kaca dibiarkan terus menyiarkan tayangan yang dipilih. Ada tiga lelaki lain. Pertemuan demikian diusahakan berakhir pukul sembilan. Itu biar diurus polisi!” kata seorang lelaki yang duduk tidak jauh dari pintu masuk.” lelaki yang terdekat dengan pintu melongokkan kepala memberi salam. “Selamat malam. seorang lagi duduk di belakang kemudi. tiduran atau bersandar ke dinding. Dia menggandeng lengan orang yang baru datang. Televisi di sudut ruang dinyalakan. Mereka makan dan berbicara. bakso atau sate. Sebuah jip memasuki kampung pukul sepuluh lebih sedikit. Mereka ngelantur mengobrol. dekat sekali! Kok polisi tidak sampai ke sini ya. Begitu nampak terpikat dia sehingga sejak melangkahkan kaki ke dalam rumah petang itu.” sahut suara lain. Mereka bersama Pak RT menikmati sate ayam dengan lontong kenyal. “Ayo kita mulai membicarakan lapangan volly saja! Jangan ngurusi rampokan. Penjual mi ayam pagi-pagi di depan toko saya yang cerita begitu. mengenai itu juga saya dengar. Serius atau santai.” Pak RT mengambil satu bergedel lagi. memanggil penjaja makanan apa saja: mi kopyok. kita tidak akan selesai sampai besok pagi. Atau paling lambat setengah sepuluh. 186 . Dia kelihatan sibuk. menariknya menjauhi pintu. tiga tamu belum meninggalkan ruang pertemuan. Bau daging bakar berbumbu memenuhi udara malam lembab. membantah. langsung menuju pintu yang terbuka. Tetapi tidak jarang Pak RT menahan dua atau tiga tetangga. Malam itu. “Di situ saja! Di dekat Jatidiri!” “Wah. tak satu kali pun ingat apakah dia sudah melihat anak sulungnya hari itu. Pak RT membiarkan pintu terbuka. Yang penting Pak RT tidak makan lagi. Rundingan yang disebut rapat pun dimulai. Dua orang turun. saya sendiri. menyumpalkannya di antara gigi besarnya.

Dia adalah satu dari mereka yang selalu dibantu Pak RT supaya bisa hidup berkecukupan. Tiba-tiba ada suara pembantu lain yang lebih jelas. Tugasnya malam itu adalah menemani Pak RT. 4. Katanya singkat kepada tamunya yang baru menikmati daging sate. Maka ketahuan bahwa dia membawa senjata tajam. Nama Iwan disebut-sebut. “Maaf. Sumber air/telaga terletak di antara 2. Pak RT menyetir kendaraannya mengikuti jip keluar kampung. Silakan Anda pulang.*** 187 1.. sudah mengenakan celana panjang. bahwa Khodir ditangkap di terminal Jatingaleh. saya harus pergi. Bukan untuk berbicara. langsung menuju ke rumah induk. “Saya dan ibunya membanting tulang memutar otak untuk mencari uang.Dua menit kemudian Pak RT masuk kembali. Sesaat berlalu. Supaya mereka hidup layak. Dia berlari ketika polisi menyelidiki kasus perampokan dan penusukan sopir taksi dinihari sebelumnya. . Teh kental 3. Serse memberitahu bapaknya Iwan. Percakapan yang kacau menyusul perbantahan di antara penghuni. Di sakunya terdapat bungkus rokok berisi lintingan ganja siap pakai. Juga sebuah kotak korek api penuh butiran obat terlarang. bisa sekolah. Seorang tetangga duduk di sampingnya. biasanya dipakai karena gugup atau sungkan . Belum ketahuan pasti jenis apa. Tetapi nyatanya. Biar pintu ditutup. Karena tidak mau berhenti sewaktu dipanggil. “Saya tidak tahu apa maunya anak-anak ini!” kata Pak RT seperti kepada dirinya sendiri. Kata tambahan dalam bahasa Jawa. Kamu dua pancuran. Dia menawarkan diri menemani Pak RT ke kantor polisi. jelas terdengar bahwa waktu istirahat seisi rumah terganggu..” Lima menit berlalu sejak kedatangan tamu baru itu. “Sudah hampir seminggu Gus Iwan tidak pulang. kakinya ditembak. Pak RT harus memberitahu polisi alamat semua kenalan atau saudara yang mungkin dijadikan tempat bersembunyi kedua remaja itu.” Tetangga di sebelah Pak RT tidak berani mengeluarkan pendapat. Dia memanggil-manggil.” Lalu Pak RT muncul di pintu. Khodir mengaku bahwa dia melakukan perampokan dibantu oleh Herman dan Iwan.

Ayah berkata. September 2000 Upacara Hitam Oleh: Abrar Yusra 188 Langit di atas kepalaku terpentang biru. Walikota pun ikut berjubal di tengah khalayak dan kini di panas terik ia dengan takzim sedang menyampaikan pidato kematian yang panjang dan entah kapan habisnya. Ketika meninggal ia masih pimpinan beberapa yayasan. Tapi aku tahu hati mereka lebih cerah karena ayah sudah meninggal dunia. Gelap. sambil menepuk perut dan menitikkan airmata kesakitan. Siapa tahu. Tidak. Sebaliknya justru merupakan permulaan bagi kesedihan besarku. Tubuh ayah yang gemuk seperti ulat itu terbaring sehat-sehat saja. silau juga.Horison. melawan penderitaan di hari-hari sekaratnya yang panjang. di bawah matahari silau para pelayat datang dari mana-mana untuk menghadiri pemakamannya. Masing-masing memasang muka dan pakaian berkabung yang sedemikian pantas. Dengan datangnya kematian ayah kami maka kesedihan besar pun berlalu bagi adik-adikku. bagaikan organ-organ di dalam tubuhnya dipelintir tanpa ampun oleh tangan-tangan buas yang tak kelihatan. “tapi sudah hilang sendiri!” . Aku memandang khalayak. “Di sini. Masih berbayang di ingatanku bagaimana mulanya.000 jiwa itu. Aku menatap matahari. Ayahku bukan pejabat atau tokoh politik. Namun di bagian kota lainnya langit digantungi mendung gelap dan bumi di bawahnya mungkin disiram hujan. Silau.” bilang ayah. Lihatlah. Tapi apa peduliku. katakanlah tidak memalukan — termasuk Aditi kecil. jangan-jangan mereka justru tertawa di hati masing-masing! Di deretan depan kulihat adik-adikku. Sebab yang paling merisaukan sebenarnya adalah saat-saat ayah bergulat di pembaringan. Pada hari pemakaman ayahku alam pun tidaklah adil. Maka bukitbukit kuburan seperti jadi lautan manusia. sewaktu-waktu dalam waktu pendek ayah pun berteriak-teriak dan tubuhnya menggelepar-gelepar melawan sakit. Dan panas terik seolah membakar udara pantai. Namun ia adalah salah seorang tokoh masyarakat yang begitu dihormati di kota pantai yang berpenduduk sekitar 400. mengirimkan sinar matahari yang menerobos menyilaukan mata. Ganjilnya.

nyatanya serangan sakit demikian datang lagi lantas hilang lagi. Yang tinggal hanya para tetangga. Siapa pun maklum bahwa kematian ayah memang tinggal soal waktu saja lagi. Nampaknya seperti untuk bersenang-senang. “Lebih baiklah kalau ayah di rumah saja. Maka ayah kami bawa ke dokter spesialis yang lain dan tak ada hasilnya. Baru saja sekali enam hari. Maka para pengunjung pun pada berdatangan ke rumah. maka ayah tidak kami perkenankan keluar rumah sendiri. Makin lama muka tua itu makin berkerumuk. serangan sakit itu datang sendiri dan hilang pula sendiri. Kami benar-benar kalang kabut.“ kata dokter. Penyakit itu menganiaya ayah dengan semena-mena benar. Tapi makin lama makin sering. Sebab seperti semacam misteri. tak peduli sedang ada tamu atau tidak. Tapi ayah merasa perlu mendatangi sendiri seorang dokter spesialis di pusat kota. Ayah pun ragu apakah ia betul-betul sakit. Seolah hanya diserang penyakit yang lucu. perlu diobati atau tidak. “Tak ada gejala penyakit apa-apa. juga tanpa hasil apa pun.” cemooh ayah tertawa. Makin cekung dan sepi. 189 . kapan saja di mana saja. ketika sedang tidur atau lagi ngomong baik-baik. Aku suka sikap terbuka para tetangga demikian.Ayah malah mencoba tertawa. Kami anak-anak ayah tidak puas dengan hasil pemeriksaan dokter. Berita bahwa ayah sakit segera terbetik ke mana-mana. di antaranya tanpa bersuara main halma atau main kartu. Lalu kami mendatangkan sendiri seorang dokter ke rumah di pinggiran kota. tiba-tiba ayah menggelepar-gelepar dan berteriak-teriak keras kesakitan. seolah ia sudah sembuh. Maka hidup ayah jadi aneh. apalagi mengobatinya. Ya. Ayah sendiri sudah mulai menolak berbagai undangan rapat dan ceramah yang biasanya tak pernah dilakukannya. Sesudah berlangsung beberapa bulan masih belum ada dokter yang mampu mengenal penyakit ayah. lalu sekali tiga hari! Kini sewaktu-waktu ayah bisa terserang rasa sakit. Namun jika serangan penyakitnya datang. “Jangan. Rencana untuk membawa ayah atau mendatangkan dukun ditolak ayah mentahmentah. Mereka datang memang untuk sekedar menghibur atau menunjukkan rasa akrab pada kami tapi bukan menunggu atau mengharapkan kesembuhan si sakit. makin sering saja. Malah ayah bisa tertawa keras meskipun tubuhnya lebih kurus. Ada yang ketawa sebab mendapati ayah biasa-biasa saja.” kataku. sehingga membuatnya capek. Dan sejak ayah mengalaminya di dalam mobil lalu ketika sedang berpidato. “Masa panitia yayasan rumah sakit diobati dukun kampung?” Serangan penyakit aneh itu mulanya sekali dalam 20 hari. Malam itu para pengunjung sudah pada pulang. lalu mengerang-erang melepaskan kata-kata tak jelas yang berlepotan dari mulutnya. Ia lebih banyak tidur dan makin lama hanya terjaga bila rasa sakit menyerang lagi tanpa ampun.

seolah mataku dapat mengikuti atau membayangkan suatu makhluk tak dikenal bergedencak dalam tubuh ayah seperti seekor binatang liar seradak-seruduk di bawah selimut. Itu seperti dongeng dari dunia dan zaman lain. ampun!” Lalu dengan sisa-sisa tenaganya yang amat lemah. Rasanya berdosa membiarkan ayah hidup eh sakit teraniaya demikian. apakah harus menerima atau membantah kisahnya. ayah seperti memohon: “Biarkan aku mati. “Saya bisa membantumu. Ayahku meraung lagi. Tapi aku lebih kenal ayahmu sebab dulu kami pejuang gerilya yang harus mencari senjata dan bertempur. Maka kudengar langkah-langkah memasuki pintu kamar. Tak ada daya untuk melawan perkosaan penyakitnya. Segala cara kami lakukan untuk itu. Lalu ia bilang dengan suara tenang tapi terang. tinggal tulang-tulang dibalut kulit keriput. punya mobil. Ia sudah melihat dengan mata kepala sendiri bahwa malam itu serangan sakit ayah paling menjadi-jadi. Yah. rupanya ia sudah selesai menutup jendela-jendela. Muka cekung ayah sudah menghitam. Aku gemas kenapa ayah tidak mati-mati juga. Yang geresehpeseh bahasa Inggeris. “Kamu kenal siapa ayahmu. “Bagaimana beliau?” ia bertanya. “Ampun. Tak tahan menyaksikan tubuh ringkih itu kembali menggelepargelepar. Konon ia teman ayahku dulu. Nak!” suara si kakek lagi. barangkali juga pingsan lagi. Tapi kematian rupanya tidaklah ditentukan oleh permintaan dan desakan seseorang. Hanya kematian yang mungkin mengakhiri penderitaannya. Termasuk berguru ilmu-ilmu kebatinan. Tak tahu aku. Seperti digerogoti setan. 190 . Dan di ruang tengah kedengaran tamu terakhir yang sebelumnya bersamaku menunggui ayah sedang menutup daun-daun jendela. Seolah mau bilang apa pun akan kulakukan asal ayahku tak dizalimi penyakit yang misterius itu lagi. “Kambuh lagi?” Aku mengangguk.” Aku menatapnya tak berdaya. maka: “Jangan!” rintih ayah tak jelas. Ia tersenyum. Nah. Bagimu mungkin ia seseorang yang hebat. Adik-adik sudah pada tidur. Seolah menampik hidup dan penderitaan. ya ndak! Tahu apa itu ilmu hitam?” Aku hanya melongo. bahkan ilmuilmu hitam. Aku di kamar tidur ayah dihinggapi perasaan aneh: aku serasa mau sinting karena ayah tak sembuh-sembuh juga.Sudah larut dinihari. si kakek itu lagi. Sinar hidup dari matanya sudah padam! Aku serasa mau gila. “Harus kaulakukan sesuatu. Maka aku berdoa untuk kematian ayahku. pemimpin masyarakat yang modern. mati!” Maka ayahku menangis. Seolah raung itu pun menghabiskan cadangan tenaganya. Keterlaluan penderitaan orang tua itu. Setelah berbulan-bulan maka seakan baru benarbenar kusadari bahwa tubuh ayah yang gemuk seperti ulat itu kini sudah keropos seperti kepompong busuk.

! Kini di bawah matahari. Cara mati ayahku yang terkutuk itu hanya menjanjikan bahwa masa depanku tidaklah lebih dari pengulangan atau pelanjut kebusukan ayahku sendiri. akhirnya menghembuskan nafas terakhir dengan tubuh capek berkeringat. kaupungut saja Si Hitam. Tapi Si Hitam terus bergedencak menyiksa ayahku yang terkapar tidak hidup dan tidak mati..“Sederhananya ilmu iblis. justru tidak sedih atas kematian ayahku. karena iblis yang dengan persumpahan bersarang dalam diri ayahku takkan mati-mati sampai hari kiamat. hina dan memalukan. jika memang hanya itulah cara agar Si Hitam keluar dari tubuh ayahku — sesuai dengan persumpahan ayahku! Tak usahlah kukisahkan bagaimana dengan bantuan si kakek itu. upacara pemakaman dan khalayak ini pun kurasakan sebagai bagian dari takdirku yang terkutuk sebagai pewaris biang dosa ayahku. malah sepertinya aku ingin mencincang-cincang mayatnya dengan pisau. Maka Si Hitam jahat itu kini mendiami diriku. Maka tanpa pikir lagi kukatakan pada si kakek bahwa aku mau memungut Si Hitam. yang berjuang dengan cara-cara terhormat. Kalau aku tidak malu. akan terus memperkosa ayahku. betapa terkutuk! Ternyata aku tidak siap untuk itu. anaknya. benar-benar tidak adil dan menakutkan seperti mimpi buruk! Dalam hati aku menyumpahnyumpah karena aku kehilangan makna diriku sendiri. Sebab kubayangkan. Kematian adalah pantas dan wajar bagi setiap orang. serta mulut komat-kamit begitu lemah. bahkan paling terkutuk. meskipun aku tak merasakannya! Dan ayah pun. atau kampak atau apa! Apakah Si Hitam mulai membuatku jahat? Maka matahari yang menyilaukan ini. Lalu ditambahkannya dengan suara tenang juga: “Si iblis itulah yang menzalimi beliau. seolah kulihat nyata_. yang sempat sadar pada detik-detik terakhir. Si Hitam sedang sewenang-wenang seradak-seruduk di sana. sebab demikian firman Tuhan tentang iblis. yah. Betapa terkutuk nasibku!*** 191 . benar-benar iblis. betapa terkutuk. cukuplah di sini kukatakan bahwa ilmu hitam terkutuk itu mengakibatkan maut pun menolak tubuh ayahku. Tapi sejauh yang dapat kutangkap. Maka jalan terbaik bagimu. kami berhasil membebaskan ayah dari penderitaannya. _tidak. karena aku kasihan padanya! Dengan perasaan kosong kulihat mayat ayahku diturunkan ramai-ramai ke lubang kuburan gelap. Tak dapat kubayangkan bahwa iblis itu. Maka beliau akan meninggal dengan tenteram!” Ketika tubuh ringkih ayah menggelepar-gelepar lagi maka aku seolah benar-benar sedang dalam cengkeraman mimpi buruk. itulah yang diseru dalam mantra-mantra dengan nama Si Bujang Hitam atau Si Anjing Hitam!” Panjang juga uraiannya. Sebelumnya aku selalu mengagumi ayahku dan membayangkannya sebagai tokoh yang terhormat. Aku sendiri. apa pun artinya. Tapi itulah suatu kematian paling ganjil yang pernah kukenal. di tengah khalayak ramai yang memenuhi bukit-bukit kuburan jelaslah bahwa memang ayahku sudah meninggal dan dihormati penduduk kota selayaknya.. Seseorang yang memelihara ilmu hitam sebenarnya memelihara iblis dalam dirinya. Bahkan aku ingin seperti itu! Ternyata ayahku memperdayakan orang-orang yang mengaguminya dan menjahanamkan aku. Sebab aku tak pernah membayangkan bahwa kematian ayahku harus kutebus dengan mewarisi keiblisan dan iblis ayahku dalam suatu upacara paling gila malam itu.

hotel. lidahku. dengan kekerasan atau tanpa kekerasan. Bila sudah mengetahuinya. Tapi sering aku tiba-tiba asing dengan diri sendiri. Tapi keinginan yang mencekam itu selalu membangun kelelahanku menjadi orang yang pantang menyerah. kakiku. Aku merasa tubuhku ini bukan lagi rumah pribadiku. Teringat kelegaan dari tangisan di waktu kecil itu. aku pontang-panting mencari cermin. Begitu banyak perilaku yang tidak bisa dimengerti mengapa pernah aku lakukan. tapi selalu berakhir dengan kelelahan. Aku memasuki wc-wc umum. bisa jadi telah dibangun kamar-kamar yang sadar atau tanpa sadar telah aku kontrakkan kepada entah apa dan siapa. Setiap suara entah dari mana itu bergaung memenuhi kesumpekan ruang tubuhku. Tubuhku menjadi media ekspresi penghuninya yang bukan aku saja itu. gereja. Semua cermin yang kutemukan tidak bisa lagi dipergunakan. tiba-tiba aku tidak bisa yakin apakah cairan yang keluar dari seluruh tubuhku itu benar-benar darah atau air mata. Setiap tengah malam aku terbangun dan mencari-cari cermin.Jakarta. menerjemahkan hati menjadi apa saja. 1992 Menyiram Bunga di dalam Cermin Oleh: Yus R. mulutku. Aku merasakan suatu kesakitan yang nikmat saat darah itu mengucur setetes demi setetes. Di dalamnya. Semua cermin telah retak dan pecah. diskotik. Bukankah setiap hari aku menjadi aku. Ismail 192 “Bercerminlah dengan khusuk. Aku toh bukan Dedi Mizwar yang biasa memerankan Naga Bonar atau apa dan siapa saja. mushola. maka kamu akan melihat diri sendiri. setidaknya untuk mengetahui siapa saja penyatron ruang-ruang tubuhku yang sadar atau tanpa sadar sempat kukosongkan itu. . Betapa sunyi keinginan ini. berekspresi. Aku tidak bebas lagi bergerak. Dan begitu banyak keinginan yang tidak aku lakukan. Maka tanganku. mataku. bisa bergerak selain diperintah olehku. candi. aku ingin mengusirnya. Kesadaran itulah yang mendorongku untuk bercermin. karena aku memang bukan seorang pemain sinetron atau drama. Seluruh anggota tubuhku mengalirkan darah.” kata suara entah dari mana yang selalu bergaung memenuhi kesumpekan ruang tubuhku ini. menjadi diri sendiri. Maka aku menemukan cermin itu saat keinginan yang sunyi itu menusuk-nusuk seluruh tubuhku dengan pisau cekamannya. Aku teringat masa kecil saat emosi telah memuncak aku melepaskannya dengan tangisan yang keras dan merasa tenang setelah tangis itu berhenti.

tubuhku terpampang seperti jutaan potret dari yang beragam betuk dan rupa. Barangkali kesakitan dan kenikmatan adalah dua hal yang menempati satu ruang kesadaran. Di tanah. bagaimana angin bergurau dengan tangkai mawar. kabut. Dan begitu banyak lagi metamorfosa lainnya. Aku meresap ke dalam tanah sambil mengingat hektaran hutan menjadi gurun tandus. Di matanya. kepapaan. Tapi kesakitan itu pun aku rasakan menjadi kenikmatan yang tiada bandingannya. sampah. “Mau kamu mencoba menyiram bunga?” tanya si penyiram itu ketika aku begitu takjub dengan matanya. Aku telah terbawa air. Bila bertemu denganku. Tapi begitu air jatuh dari gayungku. Kesedihan. temui saja aku di kebun bunga. mengalir ke mana saja yang kumau. Entah . angin. mengobrak-abrik ruang-ruang tubuhku. aku lupa dengan metamorfosa itu. api. kesendirian. daun. Namaku memang tidak jelas. Aku tak pernah lupa bagaimana air menetes dari ujung daun. semuanya menjadi silet-silet yang tanpa henti menoreh-noreh tubuhku. Perubahan keyakinan itu memang begitu menyakitkan. Tapi bila ingin ngobrol menghabiskan malam atau menghabiskan waktu menjadi tanpa ukuran. kepedihan. Aku selalu terkenang dengan sebuah lukisan (yang entah di mana dan kapan pernah aku lihat) tentang seseorang sedang menyiram bunga dengan latar belakang langit senja yang kemerahan. Ada pucuk yang diam-diam menjadi kesegaran daun menjadi kelelahan daun kering dan menjadi cekaman musim gugur. “Mau menyiram bunga?” tanya si penyiram itu sekali lagi. Sampai aku sadar bahwa badai itu hadir di dalam tubuhku. Tapi ketidakjelasan itu merupakan kejelasanku. Ada kuncup yang menjadi keindahan bunga mekar menjadi keresahan kelopakkelopak yang tanggal dan menjadi kesadaran kesementaraan. Dengan gembira aku mengangguk dan menghampiri. Lukisan penyiram bunga dengan latar belakang kemerahan langit senja yang entah di mana dan kapan pernah aku lihat itu terpantul kembali di setiap potret diri yang kulihat di mana-mana dan apa saja yang tiba-tiba kulihat sebagai cermin. Aku mendengar kesakitan hutan itu seperti jeritan badai yang terus berdebur. jangan ragu-ragu untuk menyapa. air. ketakberdayaan. ketaksempurnaan. dsb. aku melihat berbagai metamorfosa menjadi warna-warna yang artinya tak terjangkau pengetahuan ilmu semiotikku. batang. Aku suka membicarakan apa saja dengan siapa saja. Aku tidak bisa membedakan suara keduanya. Tubuhku telah terpantul di mana-mana. aku tak yakin. Aku banting-banting di tengah lautan yang kuciptakan sendiri. Aku menyusuri daun dan batang sambil mengingat kesakitan hutan yang ditebang dan di bakar.Keraguan itu menjadikan aku merasa sekali waktu cairan yang keluar dari tubuhku itu benar-benar air mata dan di waktu lain benar-benar sebagai darah. kesunyiaan. bagaimana tanah menguapkan bau yang khas. ini sebuah jeritan atau geraman dari dendam. Tiba-tiba aku menyadari bahwa aku sebenarnya tidak perlu cermin. Eh. Sejak kecil cita-citaku memang menanam bunga. 193 *** PANGGIL apa saja maka aku akan menoleh. di mana saja. Aku ingin merasakan lebih dalam getaran metamorfosa dari banyak hal itu.

pergi dari tempat yang satu ke tempat yang lain sambil merasakan rasa sakit sendiri-sendiri. Saat itulah aku yakin bahwa orang itu adalah angin. Pantai Panjang juga bisa. rasa sakit barangkali bagian dari hidup. kami merasa begitu banyak tempat yang belum kami kunjungi. Kami seperti punya kesepakatan bahwa sebaiknya memang tidak dicatat dan dibicarakan. Barangkali benar bahwa nama-nama tempat tidak penting bagi seorang pengembara. Kami merasa peristiwa itulah yang lebih penting dibanding dengan nama-nama. Sungai-sungai mengalirkan air mata. berapa banyak kertas dan tinta yang akan kami habiskan bila setiap peristiwa dicatat.” Beberapa jenak aku tercenung. Kamu bisa menamakan pantai apa saja sesukamu. 194 . “Apa perlunya nama. orang beransel besar itu terbang. Sepanjang sejarah. aku dan angin. Atau Pelabuhan Ratu. bila seluruh peristiwa itu tercatat. Kami tahu tempat-tempat itu pun akan menyediakan hidangan kesakitan-kesakitan lain begitu kami datang. Karena semua nama akan cocok dengan pantai ini. begitu lelah. Barangkali merasakan kesakitan-kesakitan di tempat-tempat yang berbeda itu adalah hidup kami. karena hanya kita yang menghuni dunia ini. Benarkah ini pantai Kuta? Melihat dari tanda-tandanya aku merasa ini Pantai Panjang. Barangkali sepanjang hidup ini akan dihabiskan untuk mengembara. tapi kami tidak bisa tidak mengunjungi tempat-tempat itu. berapa milyar pembaca yang akan sakit. Setiap kaki melangkah meninggalkan suatu tempat. Tidak bisa terbayangkan. Kami banyak menyaksikan beragam peristiwa di setiap tempat. Barangkali hidup memang pengembaraan itu sendiri seperti kata Seno Gumira Ajidarma dalam sebuah cerpennya yang kubaca di toko buku entah di daerah mana. kami merasa begitu banyak tempat yang belum kami kunjungi. Aku menyusulnya sambil berteriak. Kami tidak bisa membayangkan. Tapi sayang kami tidak mencatat peristiwa-peristiwa itu. karena tahu-tahu aku berada di pantai yang tenang dan pagi yang anggun. Setiap kaki melangkah meninggalkan suatu tempat.berapa lama aku pingsan. Aku merasa tubuh ini sakit-sakit. Air mata siapa lagi itu kalau bukan milik kita. “Kuta. “Pantai apakah ini?” Aku malah balik bertanya. Suara tangis terdengar di mana-mana. “Ya. Pantai apakah ini? “Mau ikut denganku?” tanya seseorang dengan ransel besar di punggungnya yang mengingatkanku akan perjalanan yang panjang dan jauh. Bertahun-tahun kami mengembara. Tapi kertas dan tinta itu bukanlah alasan yang tepat mengapa kami tidak mencatat.” Siapa sebenarnya orang ini? Orang gila atau makhluk angkasa luar? Karena aku diamkan cukup lama.” Aku memandang orang yang aneh itu. Peristiwa-peristiwa itu memang penuh dengan darah dan rasa perih. “Aku ikut!” Kami mendaki bukit menuruni gunung masuk ke lembah menyusup ke lorong-lorong. Maka kami. Atau Pangandaran.

” Dan entah apa lagi yang diucapkan si penyiram bunga bermata penuh metamorfosa itu. Atau aku pun adalah ulat? Ah.. aku yakin bahwa taman ini adalah lukisan yang terpantul di potret diri dari cermin-cermin itu. Aku lebih tertarik dengan matahari yang membuat langit memerah itu. Aku berdiri dan pergi.. “Mengapa berhenti menyiram bunga?“ kata seseorang yang sebelumnya kukenal sebagai si penyiram bunga itu. Aku pingsan entah berapa lama. Saat kulihat ke sekeliling.. Kita tidak bisa merasa sakit dan perih. aku berada di sebuah taman yang entah bernama apa dan di mana. Dia barangkali tidak sadar bahwa kepergianku dari taman itu pun adalah pengembaraan.Keyakinan itu terus berada di hatiku sampai rasa lelah dan sakit tidak bisa lagi aku tahan. kamu bisa pergi ke mana saja. Ingatlah. Aku sadar bahwa aku tidak seperti angin yang ditakdirkan sebagai pengembara. Dan begitu terbangun. Karena sakit dan perih adalah hidup kita.*** 195 . Aku tak mau pergi dengan ulat seperti yang pernah kulakukan dengan air dan angin. “Mengapa tidak menyiram bunga lagi? Dengan menyiram. kita tidak bisa tidak pergi. aku tak mau mengikuti pengembaraan yang melelahkan itu. aku baru sadar di taman ini pun ada ulat yang terus-terusan memakan daun dan mengerek batang. Eh. Memandangnya sambil mencoba memahami kunyahan mulutnya aku merasa begitu dekat dengan ulat. Sinar lembutnya disambut hangat lebah-lebah yang tanpa lelah mencari madu dari bunga ke bunga. Tapi aku tidak mengacuhkannya.

aku akan melemparkan batu tulis kayuku dan melesat menuju ibuku. Mesjid. aku cepat menghafal Quran dan Syeh selalu memintaku untuk berdiri dan memperdengarkan ayat dari Sang Maha Pengampun kapan saja ia menerima tamu. Aku suka membiarkan khayalanku dan membayangkan sebuah suku raksasa tinggal di belakang hutan itu. Aku biasanya tahu saat kakek menginginkan aku tertawa. Segera setelah selesai membaca Quran pada pagi hari. dan berlari untuk menyelam di sungai. Aku yakin bahwa aku adalah cucu kesayangannnya. Yang aneh adalah bahwa aku tidak pernah pergi bersama ayahku. sungai. kecuali pada pagi hari. Sebabnya. karena aku tidak pernah melihat orang di seluruh daerah ini yang menyapanya tanpa harus mendongakkan kepalanya. aku duduk di pinggir sungai dan memperhatikan patahan air yang mengalir menjauh ke arah Timur. tetapi aku ingat betul bahwa bila orang melihatku bersama kakekku. tidak heran. berjalan dengan langkah-langkah yang lebar. dan ladang itu — semua itu adalah hal-hal terpenting dalam kehidupan kami. atau belum pernah kulihat kakekku memasuki rumah tanpa harus membungkukkan badan begitu rendahnya sehingga aku mengingat bagaimana sungai akan mengalir memutar di belakang hutan kecil pepohonan akasia. Sungguh. dengan tergesa-gesa menelan sarapanku. juga aku akan mengingat saat-saat ia berdoa dan akan membawakan untuknya sajadah dan mengisi tempat air untuk wudhunya tanpa perlu ia memintanya. Ketika lelah berenang ke sana-ke mari. tinggi dan langsing sepertinya. Aku tidak ingat tepatnya berapa umurku. Kakekku pasti juga luar biasa tinggi. pada saat aku sudah menjadi laki-laki dewasa. Oktober 2000 Segenggam Kurma Oleh: Tayih Salih 196 Ketika itu aku pasti masih sangat muda. dan bersembunyi di belakang hutan kecil rimbunan pohon akasia yang tebal. terasa lembut dan tebal dan putih seperti kain wol — belum pernah dalam hidupku aku menyaksikan sesuatu yang lebih putih atau lebih indah. ketika aku ke mesjid untuk belajar Quran. orang-orang tinggi dan kurus dengan janggut putih dan hidung tajam. aku dulu mencintai mesjid. Ketika ia tidak . mereka akan menepuk kepalaku dan mencubit pipiku — hal-hal yang mereka tidak lakukan pada kakekku. aku malah senang melakukannya. seperti kakekku. yang akan menepuk kepala dan pipiku seperti yang mereka lakukan ketika melihatku bersama kakekku. karena sepupusepupuku adalah gerombolan anak yang bodoh dan aku — begitu kata orang — adalah anak yang pandai. kakekkulah yang akan membawaku ke mana pun ia pergi. saat untuk diam. Aku menyayanginya dan akan membayangkan diriku. cepat seperti jin. ia akan menyeka ujung hidungnya dengan jari telunjuknya. dan aku juga mencintai sungai itu.Horison. Sebelum kakekku bisa menjawab pertanyaanku yang banyak. Sementara kebanyakan anak-anak seusiaku menggerutu kalau harus ke mesjid untuk belajar Quran.

“Kalian tidak ingin ke sana?” 197 . “Tidak satu feddan pun milikku ketika aku pertama kali menjejakkan kaki di desa ini.” Memanfaatkan kakekku yang membisu. Aku ingin sekali kakek tidak melakukan apa yang dikatakannya! Aku ingat Masood menyanyi.” aku berkata pada diriku sendiri. “Masood. galabia-nya dengan lengan baju yang robek. aku mengalihkan pandanganku darinya ke daerah yang luas yang tadi diterangkan oleh kata-katanya. suaranya yang indah dan tawanya yang keras yang menyerupai suara air yang berdeguk.” kata Masood. “Aku tidak peduli. “Ya. anakku. Masood. kemudian. semua pohon itu ataupun tanah hitam yang pecah-pecah ini. ia suka mendengarkan aku membacakan ayat Quran dengan suara penuh irama. “siapa yang memiliki pohon-pohon kurma itu.memiliki kegiatan lain.” Aku tidak tahu mengapa aku merasakan ketakutan pada kata-kata kakekku — dan rasa kasihan kepada tetangga kami Masood. Posisinya berubah sekarang. “Menurutku kakek tidak suka pada tetangga kita Masood?” Yang dijawabnya. karena kubayangkan bahwa tanah ini sudah menjadi milik kakek sejak Tuhan menciptakannya. yang kutahu itu adalah tempat bagi impian-impianku dan tempatku bermain. sesudah menyentuh ujung hidungnya.” Kakekku kemudian melanjutkan. “Kau lihat tanah yang ujungnya di padang pasir sampai ke tepi Sundai Nil? Ratusan feddans. Suatu hari aku bertanya tentang tetangga kami. dan kupikir bahwa sebelum Allah memanggilku aku akan membeli sisanya yang sepertiga juga. Aku sudah melakukan semua kecuali membersihkan pikiranku dari pikiran-pikiran yang berdesakan masuk ke kepalaku pada saat aku melihat laki-laki itu mendekati kami. empat puluh tahun yang lalu semua ini menjadi milik Masood — dua pertiga dari semua itu sekarang menjadi milikku. Lalu kuingat tiga istrinya. Setiap kali ia kawin ia menjual satu atau dua feddan padaku. “Perempuan. keledainya yang lambat dan pelananya yang tak terpelihara. Aku bertanya pada kakek mengapa Masood menjual tanahnya. penampilannya yang jorok.” Aku dengan cepat menghitung bahwa Masood pastinya sudah menikahi sekitar sembilan puluh perempuan. dan aku bisa mengatakan lewat wajahnya bahwa ia tersentuh. dan sayal? Semua ini jatuh ke pangkuan Masood. diwarisi olehnya dari ayahnya.” dan dari cara kakek mengatakan kata itu aku merasa bahwa “perempuan” adalah sesuatu yang buruk sekali. ia berkata. akasia. memandangi luasnya ladang.” Ini jadi berita untukku. “Kami akan memanen kurma hari ini. “Apa sih orang culas itu?” Kakekku menundukkan kepalanya sejenak. anakku. Masood saat itu adalah pemilik semua kekayaan ini. Kakek tidak pernah tertawa. dan kakek dan aku saling bertukar pandangan. Kau lihat semua pohon kurma itu? Dan pohon-pohon itu — sant. “Orang itu culas dan aku tidak suka orang macam itu.” Aku berkata kepada kakek. adalah lelaki yang doyan kawin. Aku berkata pada kakekku.

melompat di atas kakinya. Namun. dan berjalan menuju kantungkantung kurma. mengumpulkan kurma dan memakan sebagian besarnya. walaupun kenyataannya pohon-pohon kurma yang akan dipanen adalah miliknya. Kakek memberiku segenggam penuh. Sekali ia meneriaki seorang anak laki-laki yang bertengger di puncak pohon kurma dan ia sudah mulai menggarap rumpunan kurma dengan sabitnya yang panjang dan tajam. Mousa si pemilik ladang di sebelah ladang kami sebelah Timur. “Pohon kurma. Di sana ada begitu banyak orang. tetapi biarpun aku kenal mereka semua. Aku melihat orang berdatangan dan menimbang kurma ke dalam wadah timbangan dan menuangnya ke dalam kantung-kantung. Namun. yang kemudian kukunyah.” Dan aku merasakan rasa malu di dalam diri yang tidak beralasan. aku sudah mulai berpikir tentang kata-kata Masood “jantung kurma. kakek melompat berdiri dan aku melihat matanya bersinar sesaat dengan kecerahan yang luar biasa. anakku. seperti manusia. sesuatu yang memiliki jantung yang berdetak. Terkadang perhatiannya tersita pada bunyi rumpun besar kurma yang hancur terjatuh dari ketingggian. dengan cepat dan penuh tenaga. aku melihat teman-temanku berkerumun seperti semut di seputar batang pohon kurma. Aku melirik Masood dan menyaksikannya sedang mendekati kami dengan luar biasa perlahan. jauh dari kerumunan orang banyak ia berdiri seolah itu bukan urusannya. merasakan kebahagiaan dan penderitaan. kecuali ia memasukkan potongan tangkai ke dalam mulutnya dan sedang mengunyahnya seperti orang membuat perutnya kenyang dengan makanan yang tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan mulut yang masih penuh.” Aku membayangkan pohon kurma sebagai sesuatu yang punya perasaan. beberapa mengambil satu dua kurma untuk dimakan. “Awas jangan sampai kau potong jantung kurmanya. yang kuhitung ada tiga puluh.” Tak ada yang memperhatikan apa yang dikatakannya dan anak laki-laki itu terus duduk di puncak pohon kurma. dan dua laki-laki yang belum pernah kulihat sebelumnya. Aku mendengar bunyi siulan dan melihat kakek sudah jatuh tertidur. Aku melihat Masood memenuhi kedua tangannya dengan kurma dan membawanya ke dekat hidungnya. masing-masing orang tak dikenal itu mengambil 198 . Lalu aku perhatikan Masood tidak mengubah cara berdirinya. dan dua orang yang tak dikenal. Mereka membentuk lingkaran di seputar kurma dan mulai memeriksanya. Ia menarik tanganku dan kami menuju ke tempat panen kurma milik Masood. seperti seseorang yang ingin mundur tetapi kakinya memaksa maju. aku punya banyak alasan untuk memperhatikan Masood. kecuali Hussein si pedagang. Tiba-tiba kakek bangun. Kerumunan orang bubar. Seseorang membawakan kakekku bangku yang ditutupi dengan penutup dari kulit sapi. Kemudian aku menyaksikan mereka membagi kantung-kantung itu di antara mereka. aku merasa bahwa ia tidak betul-betul menginginkan kakek hadir di sana. Hussein si pedagang mengambil sepuluh. Ketika sekali lagi aku memandang luasnya tanah yang membentang di hadapanku. lalu mengembalikannya.Walaupun begitu. menggarap cabang dengan sabitnya sampai rumpun kurma mulai jatuh seperti sesatu yang turun dari surga. Aku ingat ucapan Masood padaku ketika ia suatu kali melihatku mempermainkan cabang pohon kurma muda. Kurma-kurma dikumpulkan menjadi tumpukan yang tinggi. Ia diikuti Hussein si pedagang. sementara aku tetap berdiri. Mousa di pemilik ladang di sebelah ladang kami.

” Hussein memanggil pembantu-pembantunya dan mereka menggiring keledai. Cerpen ini diterjemahkan oleh Sapardi Djoko Damono. yang kemudian bersama sejumlah cerpen Afrika lain dikumpulkan oleh Charles R. dilahirkan pada tahun 1929 di desa Al-Debba di Sudan Tengah. Salah satu keledai mengeluarkan suara ringkikan yang membuat mulut unta-unta itu berbusa dan mengeluh ribut sekali.*** Tayeb Salih (Al-Tayeb Salih).lima. dan kantung-kantung kurma itu dipunggah ke atas punggung binatang-binatang itu. Aku mendengarnya mengeluarkan suara di tenggorokannya seperti rintihan domba yang akan dijagal. diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Denys Johnson-Davies. Aku merasa pada saat itu bahwa aku membencinya. Edinburg: Payback Press. Ia pernah menjadi guru di Sudan. Mo-dern African Stories. Aku berlari ke kejauhan. Aku mempercepat langkahku. Salih mulai menulis tahun 1953. Larson dalam Under African Skies. Aku yang tak mengerti apa pun melihat kepada Masood dan menyaksikan matanya bergerak ke kanan dan ke kiri layaknya dua ekor kucing kecil yang tidak tahu jalan pulang ke rumah. 1997. dua orang asing itu membawa unta. Kemudian. dan kakek mengambil lima. Untuk alasan yang tak kuketahui. Masa kecilnya dihabiskannya di desa itu. Keluarganya adalah petani dan guru. namun sebentar kemudian ia bekerja di BBC sebagai perencana siaran drama dalam bahasa Arab. Aku merasa mendekati Masood. aku sedikit ragu. Mendengar kakekku memanggilku. “Kita bicarakan itu nanti.” kata kakekku kepada Masood. merasakan tanganku mengarah padanya seolah aku ingin menyentuh keliman pakaiannya. Cerpen "Segenggam Kurma" ini diambil dari kumpulan tersebut. yang hanya berisi tiga cerpen baru terbit tahun 1968. ia pernah menyatakan bahwa ia masih merasa tinggal di sana mengembara ke mana-mana. Mousa si pemilik ladang di sebelah ladang kami di sisi Timur mengambil lima. tanpa tahu mengapa. Tentang desanya itu. yang kemudian dilanjutkannya di beberapa universitas di Inggris. Ia mendapatkan pendidikan tinggi di Universitas Khartoum. Aku mencapai tepi sungai di dekat belokan di belakang hutan kecil pohon akasia. 199 . sepertinya aku membawa di dalam diriku sebuah rahasia yang ingin kuhindari. “Kau masih berhutang lima puluh pound padaku. aku merasakan sakit yang teramat sangat di dadaku. tetapi kumpulan cerpennya yang pertama. aku meletakkan jariku ke dalam tenggorokanku dan memuntahkan kurma yang sudah kumakan. kemudian melanjutkan perjalanan.

seorang pengarang telah menghimbau agar setiap penulis menulis sekurang-kurangnya satu cerita anak-anak. Aku tidak memiliki terali besi. seorang perempuan telah dibunuh (kata orang) di siang bolong. Bunyi deritan itu hanya disebabkan perasaan yang tertekan. Anjing garang yang mengawal seorang duda tua dan koleksi jam antiknya telah dijerat sebelum ditikam oleh seorang buruh biasa yang telah di-PHK tanpa dibayar upahnya. Tahun lalu. Tak dapat aku menumpukan pendengaranku karena gangguan yang ada pada siang hari. Bunyi berderit-derit bagai langkah kaki yang diseret satu demi satu di atas papan seolah membawa beban yang berat. sambil membayang-bayangkan sesuatu dalam kepala --bukannya melihat-. tetapi degup jantungku tak menentu seperti menghantami jantungku. Terpikir olehku untuk mengiriminya selembar kartu pos untuk menyatakan bahwa aku tidak sepaham dengan pendapatnya. Kutentramkan diri. Kupusatkan pendengaran. Lagi pula kaca rumahku tipis bagai lapisan embun. Orang itu mengatakan bahwa dalam suatu kongres/pameran buku/seminar yang diadakan baru-baru ini.Horison. Tak ada bobot manusia yang menekan di papan itu. Namun aku juga kini merasa cemas seperti orang-orang lain yang serba waspada. Aku menanti untuk mendengar kalau-kalau ada tanda yang menunjukkan bahwa kaki itu bergerak lagi dari satu kamar ke kamar lain. mengenalinya baik-baik sambil memilah-milah kemungkinan ancamannya. mudah pecah seperti gelas anggur. Kupasang telinga. Tak ada pistol di bawah bantalku.di dalam gelap. Aku boleh menulis apa saja yang kuinginkan. November 2000 Syahdan Pada Dahulu Kala Oleh: Nadine Gordimer 200 Seseorang telah memintaku untuk menyumbangkan sebuah antologi cerita anakanak. Kemarin malam aku terbangun tiba-tiba tanpa mengetahui apa yang mengejutkan diriku. Sebuah suara dalam diriku? Suatu bunyi. Kupandangi pintu. Kujawab bahwa aku tidak menulis cerita anak-anak. Namun. Kuteliti tiap bunyi yang paling perlahan sekalipun. Bunyi berderatderit itu bergema lagi. aku dilatih agar jangan merasa takut atau terancam. .

tapi di luar kota. tinggallah sepasang suami-istri yang saling menyayang serta hidup dengan penuh kebahagiaan. Nun jauh di bawah kamarku. kecuali pembantu rumah tangga dan tukang kebun yang dapat dipercaya. Sukar untuk mengasuransikan rumah. dan kaca yang menyangga rumah menjadi longgar. Membuka pintu pagar. saking cintanya. kolam renang. Sukar bagiku untuk mencari tempat guna mengistirahatkan pikiran dan tubuhku. Anak kecil itu sungguh tertarik dengan alat tersebut dan menggunakannya sebagai walkie talkie dalam permainan polisi dan pencuri. lalu memaksa masuk. Namun. Oleh sebab itu. untuk menenangkan hati sang istri. Kerusuhan telah dapat ditanggulangi. Mereka tergolong masyarakat yang diberi kemudahaan dalam pengobatan. tetapi pencurian banyak terjadi di kawasan tepian kota besar. jauh dari pandangan dan pendengaran orang-orang di kawasan tepian kota besar. penggalian yang bertingkat-tingkat saat penambangan dan lorong jalanan tambang-tambang emas telah melongsorkan bebatuannya serta menyebabkan tanah ini jadi berongga. Mereka memiliki seekor kucing dan seekor anjing yang amat disayangi anak kecil itu. anjing peliharaan mereka diberi peneng. bersama-sama dengan kawan-kawan yang sebaya dengannya. diri mereka diasuransikan dari musibah kebakaran. dan anak-anak sekolah ditembaki polisi di kawasan pemukiman kulit hitam sana. Seluruh rumah bergetar sedikit dan menyebabkan batu. kayu yang dibuat oleh para penambang pelarian Chopi dan Tsoinga yang pernah berada di bawah sana. mencegah kemungkinan perampokan. Namun sang istri masih merasa cemas kalau-kalau suatu hari nanti orang-orang ini akan turun ke jalan dan merusak papan bertuliskan DALAM LINDUNGAN KEAMANAN itu. di mana orang kulit hitam ditempatkan. Akupun bercerita pada diriku sendiri. manakala mereka hendak memulai kehidupan yang bahagia untuk selama-lamanya. kerusakan akibat banjir. agar jangan mengambil siapapun di tepi jalan. kisah dalam tidur. serta seorang tukang kebun yang rajin. kayu. Di dalam sebuah rumah di pinggiran metropolitan. Kerusuhan memang terjadi. Mereka mempunyai seorang pembantu rumah yang amat bisa dipercaya. yang mungkin bertopeng hingga sulit diduga apakah ia orang kulit putih atau kulit hitam. atau mungkin ada orang yang pernah dikubur di situ dengan batu nisan yang menyedihkan. di dasar rumah ini. Merelakan diri tidur kembali. gas air mata dan senapan untuk mengusir mereka. ucap sang suami pada istrinya. mobil-mobil dilempari batu.Aku merasa ada di tengah-tengah tekanan itu. Jangan mengomel saja. semen. yaitu ibu sang suami. Orang-orang itu dilarang masuk kawasan pinggiran kota besar. juga karena bus-bus dibakar. Rumah yang melingkupi tubuhku saat aku sedang tidur dibangun di atas bekas tanah pertambangan. sang suami telah memasang pagar berlistrik. Degupan jantungku menurun seperti ayunan terakhir di atas zilofon. air bertetesan dari rekahannya. dan seseorang pembantu rumah yang dapat dipercayai telah diikat dan dikunci 201 . tak ada yang perlu dicemaskan. ucap sang suami. di sana ada polisi dan tentara. Jika ada permukaan yang bergetar. mesti menyatakan niatnya dengan menekan tombol dan berbicara melalui alat penerima yang disambungkan ke rumah. ia mungkin runtuh atau longsor 3000 kaki ke bawah. mereka telah dinasihati oleh seorang tukang sihir tua yang bijaksana. Mereka memiliki seorang anak lelaki yang amat mereka cintai. Tingkat tempat adanya runtuhan mungkin tak digunakan lagi. Jadi. Siapa yang menurunkan tanda DALAM LINDUNGAN KEAMANAN itu dan akan membuka pintu pagar. atau mobil mereka dari kerusakan akibat kerusuhan. Mereka memiliki sebuah mobil dan sebuah trailer karavan yang digunakan untuk pergi berlibur. dalam perut bumi. Ada pula sebuah kolam renang yang berpagar untuk mengelakkan anaknya dan teman-teman mainnya agar tidak terjatuh ke dalam kolam dan mati lemas. serta menjadi anggota siskamling di lingkungan itu yang memberi mereka sekeping papan pengumuman di pintu pagar betuliskan "Dalam Lindungan Keamanan". di bawahku. dan perampokan.

Setengahnya mendesak agar diambil bekerja: mencabut rumput. betul katanya. Bunyinya dianggap biasa. meraung dan menjerit. Tetapi sang suami dan sang istri teringat akan peringatan agar jangan mengambil orang yang tak dikenal. Mereka duduk dengan kaki terjuntai ke dahan pohonan yang bagai sebuah lorong hijau di jalan raya. Maka pada setiap pintu dan jendela rumah yang didiami oleh mereka dengan penuh kebahagiaan buat selama-lamanya itu. Akhirnya. Pembantu rumah pasangan suami istri dan anak kecil itu merasa sedih dengan nasib malang yang menimpa rekannya. mengambil peralatan elektronik seperti hi-fi. pembantu rumah tersebut telah meminta majikannya untuk memasang terali pada pintu dan jendela rumah. Sang istri tidak sampai hati melihat orang yang kelaparan. dengan tanggung jawab menjaga harta pasangan itu dan anak kecil mereka. bahkan pada waktu subuh. Bunyi alarm yang nyaring. Dan perempuan sihir tua yang bijak itu. Mereka mencari peluang kalau-kalau… . Alarm tersebut nampaknya sering dijawab oleh alarm-alarm lain dari rumah-rumah lain yang disentuh oleh kucing piaraan mereka atau digigit tikus. yaitu ibu sang suami. mereka melihat pohonan dan langit melalui terali. setiap minggu terdapat banyak berita tentang perampokan di siang bolong dan di malam yang sepi. Pencuri-pencuri itu tidak langsung menghargai apa yang telah diminum oleh mereka. atau apa saja. serta kadang-kadang membongkar apa saja yang ada dalam lemari es jika merasa sangat lapar. Tetapi. Sebagian dari mereka meminum minuman keras dan mengotori jalan raya dengan botol-botol kosong. tape recorder. bersipongang satu sama lain. serta memasang alarm. mengecat atap. Sang istri berkata. hingga akhirnya tidak diindahkan lagi oleh penduduk kawasan itu. kamera. Sebuah kawasan tepi kota yang cantik jadi rusak oleh kehadiran mereka. Kau hanya membikin mereka jadi makin beringas dengan roti dan tehmu itu. dan berselang-seling di halamanhalaman rumah. tibalah saat ketika banyak pembantu rumah dan tukang kebun yang tidak dapat dipercaya datang beramai-ramai memenuhi tepian kota besar itu. membayar untuk tambahan batu bata sebagai hadiah Hari Natalnya kepada anak dan menantunya. Perusahaan asuransi tidak membayar ganti rugi untuk sebuah minuman malta sekalipun. meskipun pada bulan purnama di musim 202 . ucap sang istri. kalau begitu tembok itu sebaiknya ditinggikan lagi. Ikutilah nasihatnya. kucing itu pun menyentuh alarm dan membangunkan seisi rumah. setelah dikunci rapatrapat dan alarm dinyalakan. radio. Ia lalu menyuruh pembantu rumahnya mengantarkan roti dan teh. barang-barang berharga dan pakaian. benar ucapan pembantu itu. Benar katamu. Si anak kecil pun mendapat pakaian orang angkasa dan sebuah buku cerita dongeng. sama dengan bunyi katak menguak hingga tidak mencemaskan para pencuri untuk mengambil kesempatan dan menggergaji terali-terali besi. akibat menganggur.di dalam almari oleh pencuri ketika ia diamanati untuk menjaga rumah majikannya. kerugian besar hanya diketahui oleh pemiliknya saja. menunggu sang suami atau sang istri ke luar dari pintu pagar yang berlistrik itu. Tetapi pembantunya berkata bahwa mereka adalah para bandit yang akan mengikat dia dan menguncinya dalam lemari. Sebagian lagi meminta sedekah. lantas menerobos masuk. ikuti nasehatnya. bahkan berani istirahat sejenak untuk meminum wiski yang diambil dari dalam kabinet atau dari bar. televisi. Seperti biasa. Sang suami berkata. Dan sang suami pun membawa masuk sepeda roda tiga anaknya dari taman setiap malam karena jika rumah itu benar-benar selamat. seseorang mungkin masih dapat memanjat tembok atau pagar yang berlistrik itu untuk masuk ke dalam taman. Kadang mereka tertidur di depan pagar pada siang hari. dan jika kucing piaraan anak mereka coba memanjat masuk melalui ventilasi untuk menemaninya tidur pada waktu malam sebagaimana yang biasa ia lakukan.

Ini semua menyulitkan orang untuk coba memanjat dan merangkak ke dalam gulungan itu tanpa dia tersangkut pada gulungan itu. Tembok putih itu dikotori oleh bekas jejak kucing dan di bagian luar tembok yang menghadap jalan terdapat bekas jejak dari tanah merah yang lebar seperti tapak sepatu yang tersarung di kaki penganggur-penganggur yang membuang waktu tanpa tujuan. yaitu memasang pecahan kaca yang ditancapkan di atas semenan tembok dengan jerajak besi yang berujung tajam. Ada juga usaha untuk mencontoh kehalusan seni bangunan penjara berbentuk vila Spanyol (besi-besi tajam yang dicat merah jambu) dengan pasu-pasu berbentuk labu yang ditempel dengan lukisan klasik (besi-besi tajam yang panjangnya 12 inchi berlekak-lekuk dan bercat putih). Betul katamu. si anak beraksi seperti seorang putra raja yang gagah berani melepas dan 203 . Di sepanjang tembok. Sebuah pilihan yang murah. karena sejak hari itu. jangan cemas sayang. menyilaukan. saya harap si kucing peka. saat mereka sedang berhenti di hadapan sebuah dinding tembok tanpa berkata-kata. Semakin terkait. Separuh tembok dilekatkan dengan papan kecil yang ditulis dengan nama dan nomor telepon perusahaan yang bertanggung jawab memasang peralatan tersebut. sebuah keluarga sedang menikmati makan malam ketika kamar tidur di tingkat atas dibongkar. sekumpulan pekerja datang merentangkan gulungan berduri dan berpisau di sekeliling tembok rumah. tidak mungkin. Mereka benar. kulit makin terkoyak dan luka makin jadi dalam. tak mengapa. dan selang beberapa minggu. Setiap percobaan hanya akan menyebabkan darah keluar lebih banyak lagi. sang istri dan anak kecil membawa anjing mereka berjalan-jalan di kawasan kediaman mereka. sang istri. mula-mula memanjat ke atas dengan kaki depannya di permukaan dinding tembok. Sang suami berkata. Sang istri terpesona memandangnya. Dan sang istri menunggu hingga si anak kecil pergi bermain. di mana tempat sang suami. tidak pernah coba melanggar pagar keamanan itu. siapapun akan berpikir dua kali… dan mereka mulai menimbang nasihat yang tercatat di atas papan kecil yang dilekatkan di tembok. Pada suatu malam. Sang suami berkata. sang suami dan istri membandingkan setiap bentuk yang paling berkesan. Ketika sang suami. dan anak kecil mereka membuat pilihan menakjubkan. kucing selalu melihat sebelum melompat. Sama sekali tak ada jalan ke luar bagi mereka yang terlibat di situ. mereka menjamin gulungan itu tahan karat.panas yang indah. mereka tidak lagi berhenti sejenak untuk menikmati keindahan pagar mawar di halaman yang kesemuanya kini tertutup di balik pagar serta temboktembok dengan peralatannya. Masyarakat ingin keselamatan yang mutlak. yakni bentuk yang paling sederhana namun luhur yang direncanakan seperti bentuk kamp tahanan: tidak berbunga-bunga. kuat dan sederhana. kucing mereka hanya tidur di kamar si anak dan bermain di taman saja. Sang istri berkata. tajam bergerigi serta bercabang mata pisau. Pada keesokan harinya. Cahaya matahari memancar dan cahayanya menerpa mata pisau bergerigi yang mengelilingi rumah tersebut. Sedang anak lelaki mereka dan anjingnya berlari ke muka. keduanya membuat keputusan untuk memilih sebuah bentuk yang paling baik saja. sang ibu membacakan sebuah kisah dongeng pada sang anak dari buku yang dihadiahkan oleh perempuan sihir tua yang bijak pada hari Natal. lalu berkata. berkilat. ucap sang suami. Hubungi GIGI NAGA. Pasangan suami istri yang sedang berbincang tentang perampokan bersenjata terkini yang berlaku di pinggir kota itu telah diganggu oleh kemunculan kucing peliharaan anak mereka yang coba memanjat tembok setinggi tujuh kaki itu. kemudian melompat dengan gerakan yang cantik dan mendarat dengan mengibasngibaskan ekornya ke dalam kawasan rumah. berkali-kali. terbentang gulungan besi yang keras. Keesokan harinya. Kilau itu akan hilang nanti. Sang suami. sang istri dan anak lelaki mereka yang kecil tinggal bersama-sama dengan anjing dan kucing peliharaan mereka dengan penuh kebahagiaan buat selama-lamanya.

the W. Dalam pada itu. Not dor Publication. sementara si anak yang bermandi darah dikeluarkan dari gulungan dengan menggunakan gergaji. dan tukang kebun yang menangis. A Soldier's Embrace. pemotong kawat. Lalu tangannya.membawa anak itu masuk ke dalam rumah. Nobel Sastra diraihnya pada tahun 1991. Cerpenis dan novelis Afrika Selatan ini banyak mendapat penghargaan di bidang sastra. kapak. Kumpulan cerpennya antara lain Livingstone Companions. Selected Stories. Datanglah kemudian sang suami dan sang istri dengan tergopoh menuju taman.H. pembantu rumah yang dipercayai yang tengah diserang histria. Dia seorang dosen tamu di Royal Society of Literature.membabat duri-duri tebal untuk masuk ke istana dan mengecup sang puteri yang tidur serta menyadarkannya kembali. Gunn Fellowship. Ia menyusupkan diri ke dalam gulungan yang berkilat itu semuat-muat badannya. Smith Commmonwealth Literature Award. entah apa sebabnya (mungkin kucing. lalu segera berlari mendapati si anak kecil dan menjerit bersamasama dengannya. Pasangan pembantu rumah dan tukang kebunlah yang pertama kali melihat peristiwa itu. Friday's Footprint. Diterjemahkan oleh Agus dan Nikmah Sarjono 204 . Si anak membawa tangga ke tembok. Mereka -sang suami. agaknya) alarm pun menggila di tengah-tengah jeritan mereka. dan sebagainya. Ia menjerit kesakitan dan meronta semakin ke dalam gelungan itu. dan anggota kehormatan American Academy and Institute of Art and Letters. dan Something Out There. Kaitan yang pertama mengenai lututnya. antara lain: Booker Prize. Jump and Other Stories. sang istri. dan the Scottish Arts Council Neil M. Tukang kebun yang rajin itu telah luka tangannya ketika mencoba menyelamatkan si anak. 1923. kepalanya.*** Nadine Gordimer. lahir di Transvaal.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful