Horison, Januari 2000

Mimpi
Oleh: Abdel Salam Al-Ujaili

1
Dalam mimpinya Mohamed Wesaja ini perkara biasa, karena dalam keadaan sadar pun ia senantiasa mengerjakan shalat serta tak pernah meninggalkan ibadah wajib ini. Dalam mimpinya tersebut, kala sujud pertama, ia membaca dengan suara keras surat al-Nasr. Ketika sujudnya hampir selesai, ia terjaga dari tidurnya dan merasakan takut yang luar biasa. "Firman Tuhan adalah suatu kebenaran!," katanya sambil duduk di kamar serta menggosok-gosok matanya.Mohamed Weess tidak ingat mengapa mimpi tersebut begitu lekat dalam pikirannya. Maka, begitu pagi menjelang, segera ia temui Sheikh Mohamed Sa'id, seorang tua di kampungnya. Baru sekitar tengah harian, ia dapat bertemu dengan orang tua itu. Segera ia kisahkan mimpinya. Sheikh berdiam diri agak lama sambil menundukkan kepalanya dengan kening berkerut-kerut, sebelum akhirnya bertanya: "Kau yakin bahwa surah yang kaubaca itu surah al-Nasr?" "Saya yakin," jawab Mohamed Weess. "Saya membacanya sampai selesai. Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Jika telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau lihat manusia masuk agama Allah beramai-ramai. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, dan mohon ampunlah kepada-Nya. Sesungguhnya Dia maha Penerima Taubat." "Firman Tuhan adalah kebenaran!" kata Sheikh Mohamed Sa'id. "Wahai Mohamed Weess, segala puji bagi-Nya. Mintalah ampunan daripadaNya. Sesungguhnya Dia maha mengasihi." "Wahai Sheikh Mohamed Sa'id, saya percaya ini adalah pertanda buruk bagi saya. Apakah tafsiran tuan tentang mimpi saya tersebut?" Sheikh Mohamed Sa'id memegang dan mengusap-usap janggutnya yang panjang dan tebal itu. Dia kelihatan agak keberatan untuk menerangkan pengetahuannya yang mendalam mengenai ilmu menafsirkan mimpi. Akhirnya ia bersuara juga. "Mohamed Weess, mohonlah ampunan daripada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengasih. Mimpi membaca surah ini menandakan bahwa orang itu sudah hampir tiba saat ajalnya." Mohamed Weess tergetar. Ia merasa tiba-tiba seluruh badannya menggigil.

"Apakah yang tuan Sheikh katakan?" "Amat berat bagiku untuk menyatakan ini kepadamu," jawab Sheikh. "Bagaimanapun, untuk menenangkan perasaanmu, kau akan beroleh rahmat Tuhan. Dan kematian pasti datang menjemput kita semua. Mohamed Weess, tak ada orang yang mimpi seperti ini dapat hidup lebih dari empat puluh hari." Setelah memberitahu hal tersebut, Sheikh itu pun terus pergi untuk menunaikan shalat Dzuhur, meninggalkan Mohamed Weess yang terpuruk di tanah sambil kebingungan. Kakinya seperti tak mampu lagi menampung berat badannya. "Empat puluh hari," suaranya bagai keluar tanpa melalui kerongkongannya. "Ya Tuhan, berilah hamba kekuatan." Desa di mana Mohamed Weess dan Sheikh Mohamed Sa'id tinggal hanyalah sebuah desa kecil, maka menjelang senja setiap penghuninya sudah tahu tentang mimpi Mohamed Weess dan tafsiran yang dibuat oleh Sheikh Mohamed Sa'id. Penduduk desa itu percaya pada tafsir mimpi. Itulah sebabnya pada petang berikutnya semua orang sudah begitu yakin bahwa Mohamed Weess akan mati dalam tempo empat puluh hari. Kaum lelaki berdatangan menziarahi Mohamed Weess, mula-mula seorang demi seorang, namun kemudian secara berombongan, hingga ia terpaksa berada di rumahnya menerima tetamu yang datang dan bertanya mengenai kesehatannya serta mengungkapkan rasa dukacita atas kematiannya yang bakal segera tiba itu. Kaum perempuan yang datang ke rumah Mohamed Weess datang untuk mendapatkan berita, sambil melihat-lihat keadaannya. Mereka mendapati Mohamed Weess masih segar bugar, tetapi tampak bingung. Sambil meratap mereka mohon agar Tuhan campur tangan dalam urusan Malakul Maut yang akan mencabut nyawa Mohamed Weess ketika dia masih sehat. Walaupun Mohamed Weess tidak sakit dan tidak pula uzur, segala langkah berjaga-jaga yang diambil untuknya serta segala pertanyaan lembut mengenai dirinya telah membuat dia mulai merasa sakit. Dia tabah menghadapi keadaan tersebut selama sepuluh hari, dan terus pulang-pergi antara pasar ternak dengan rumahnya. Bagaimanapun, tak butuh waktu lama dia tidak lagi tahan menanggung semua tekanan itu. Dia mulai merasa letih, dan orang ramai mulai menziarahinya pada waktu siang hati. Padahal sebelumnya mereka hanya datang pada malam hari. Dua puluh hari sejak saat ia bermimpi, keluarga Mohamed Weess merasa tidak perlulah lagi membereskan ranjangnya setiap hari karena kini Mohamed Weess senantiasa berbaring di situ siang dan malam. Setelah tiga puluh hari berlalu, pelbagai hidangan masakan kegemarannya yang disediakan khusus untuknya oleh keluarganya ternyata terkumpul di tepi ranjangnya tanpa dijamah. Dengan berpakaian serba putih dan membiarkan janggutnya tumbuh, Mohamed Weess menghabiskan waktunya hanya untuk bershalat. Dia terisak-isak bukan karena takut pada kematian atau kecewa karena hidup, melainkan karena takut akan hukuman yang bakal diterima di alam kubur dan rasa khawatir bahwa Tuhan tidak akan mengampuni kesalahannya karena kerap bersumpah dengan nama Tuhan sewaktu di pasar ternak, atau karena menipu para petani dari desa yang berdekatan. Waktu terus berlalu. Mendekati masa empat puluh hari, badan Mohamed Weess makin kurus karena kurang makan dan karena rasa penyesalan yang dalam terhadap dosa-dosanya yang telah lalu. Orang ramai -baik dari desanya ataupun desa yang berdekatan-ramai mempercakapkan cahaya keimanan yang terpancar pada wajahnya serta ayat-ayat mistik dan misteri yang diucapkannya tatkala ia sujud dan mengerjakan shalat. Tiga puluh sembilan hari sudah berlalu, dan pada waktu malam hari itulah aku memunculkan diriku. Anda mungkin bertanya, siapakah diriku?

2

Aku bertugas sebagai guru sekolah di desa tempat tinggal Mohamed Weess di mana ia bekerja sebagai pedagang berpengaruh di pasar ternak, dan di mana Sheikh Mohamed Sa'id dianggap sebagai wali. Aku sering menghabiskan cuti musim panas di Damaskus, dan kepulanganku ke desa itu jatuh pada hari ketigapuluh sembilan dari tempo yang dinyatakan oleh Sheikh Mohamed Sa'id kepada Mohamed Weess. Aku mengenali Mohamed Weess sebagaimana aku mengenali orang lain di desa itu. Ketika Mohamed Atallah yang bertugas sebagai porter di sekolah memberitahuku tentangnya, aku kebingungan: apakah harus tertawa atau bersimpati kepadanya. Bersama Mohamed Atallah aku segera pergi menjumpai Mohamed Weess untuk menenangkan fikirannya atau setidaknya untuk mengungkapkan rasa dukacitaku. Halaman rumahnya yang biasanya dipenuhi hewan ternak yang dibeli Mohamed Weess dari pasar, kini agak sesak dengan orang ramai yang datang untuk menyaksikan saat kematiannya. Sebuah sisi untuk lelaki dan sisi lain untuk perempuan. Di sisi ketiga terlihat beberapa ekor biri-biri dan kambing yang dibawa oleh kawan-kawan Mohamed Weess untuk dikorbankan pada esok harinya setelah rohnya berpisah dari jasadnya. Ketika aku masuk ke kamar Mohamed Weess tempat ia menunggu kedatangan Malakul Maut --dan akulah yang datang, bukannya malakul Maut-Mohammad Weess sedang duduk sambil berdoa, sementara Sheikh Mohamed Sa'id duduk di sudut lain melagukan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Aku sangat terperanjat melihat perubahan pada wajah Mohamed Weess. Wajahnya yang bulat dan pipinya yang berisi, kini sudah cekung dan pucat. Ini ditambah pula dengan janggutnya yang panjang. Kepucatannya kelihatan lebih jelas lagi dengan pakaiannya yang serba putih dan longgar itu. Sambil bershalat, dia memanjangkan sujudnya seolah-olah ia berharap agar kematian segera datang padanya. Tidak ada persamaan antara wali Tuhan ini yang keseluruhan wajahnya bermandikan cahaya iman, dengan Mohamed Weess yang asli, yang setiap pagi dari jendela sekolah bersumpahsumpah dengan nama Tuhan bahwa jika dia tidak rugi sebanyak tiga lira dari biri-biri yang baru dibelinya itu, dia akan menceraikan istrinya. Aku telah menziarahi Mohamed Weess dengan perasaan ragu-ragu dan serba ingin tahu. Namun, perubahan sedemikian rupa yang terjadi pada dirinya itu telah menyadarkan aku bahwa dia memang akan mati pada keesokan harinya seperti yang ditetapkan. Aku geram mendengar suara kuat Sheikh Mohamed Sa'id membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an sambil melirik ke arahku. Antara diriku dengan sheikh yang sifatnya merupakan gabungan sifat sederhana, bodoh, dan licik ini, aku merasakan adanya suatu rasa permusuhan yang sudah lama tumbuh. Aku sebenarnya benci kepada orang yang berlagak pandai dan suka menipu, hingga berhasil menguasai perasaan para penduduk desa yang tidak tahu apa-apa. Sementara itu, dia selalu menghasut penduduk desa supaya membenci dan menentangku dengan menuduh aku mengajar ajaran yang menghina Tuhan dan Rasul-Nya. Sesungguhnya usahanya itu tak pernah berkurang walaupun ia mulai mengetahui dari orang ramai bahwa asal-usul keluargaku adalah dari Zain al-Abidin, cucu dan mantu lelaki Nabi Muhammad. Sebaliknya, dia menjadikan ini sebagai alasan untuk terus bermusuhan denganku dan berkata: "Lihatlah lelaki itu, keturunan Zain al-Abdidin yang menyatakan dunia ini berputar dengan sendirinya, tetapi saya serahkan kepada kalian semua, pernahkan salah seorang dari kalian melihat pintu rumahnya yang menghadap ke timur itu tiba-tiba berputar jadi menghadap ke barat! " Sebagaimana yang aku katakan, aku merasa sangat marah begitu melihat kehadiran Sheikh Mohamed Sa'id. Aku hampir meraung dan meneriakkan bahwa dia sebenarnya seorang pembunuh, bahwa dialah yang membunuh Mohamed Weess dengan racunnya, yakni dengan menanamkan ke dalam fikiran Mohamed Weess bahwa ia akan mati dalam

3

waktu empat puluh hari. Bagaimanapun, sepanjang ingatanku, aku tidak pernah berhasil mengalahkan Sheikh Mohamed Sa'id dengan menyatakan perasaan benci dan marahku, karena ia senantiasa berhasil memenangkan hati penduduk desa dengan argumenargumennya yang lapuk. Yakni dengan menunjukkan bahwa bumi ini tidak berputar dan menanyakan apakah pernah terjadi seorang penduduk desa melihat pintu rumahnya yang menghadap ke timur tiba-tiba berputar ke barat? Dengan demikian, jelaslah bahwa bumi tidak berputar. Tuhan mengampuninya karena mendendamku dan Tuhan juga mengampuni Mohamed Weess meski dia akan terus berada di bawah pengaruh gila Sheikh Mohamed Sa'id hingga keesokan harinya. Dengan perasaan yang berat campur kecewa dan marah, aku langsung ke luar dari ruangan sekolahku. Mohamed Atallah, porter sekolah itu, telah mengejutkan aku pada waktu subuh. Aku telah menyimpan tiga butir buah pear yang aku bawa dari Damsyik itu di bawah jerigen air. Aku mengambilnya sebuah, kemudian segera menuju ke rumah Mohamed Weess. Halaman rumahnya kelihatan lengang, kecuali beberapa ekor kambing dan biri-biri yang seolah menanti saat kematian tuannya, dan selepas itu kematian mereka pula. Sisi bagian orang perempuan sedikit lebih terang dan dibauri dengan tangis perlahan. Pintu kamar Mohamed Weess tertutup, jadi aku mengintainya melalui pintu yang tertutup itu dan mendapati Mohamed Weess sedang tidur. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa dia keletihan setelah sepanjang malam beribadat sebagai persediaan menghadapi saat kematiannya. Aku mengetuk pintu beberapa kali, kemudian mendorong, dan membukanya sambil menyapa keras: "Segala Puji bagi Allah, Mohamed Weess" Dia terbangun dari tidurnya dengan masih terkantuk-kantuk. "Apa dia?" jeritnya. "Saya Naji, guru sekolah. Jangan takut Mohamed Weess. Dengar ucapan saya. Aku melihat air matanya menetes hingga ke pipi ketika ia duduk dengan lidahnya kelu dalam ketakutan. Karena kuatir dia akan langsung mati akibat sangat ketakutan sebelum sempat mendengar apa yang akan kukatakan, aku segera bersuara: "Saya datang bertemu anda, karena saya baru saja disadarkan oleh moyang saya, Zain al-Abidin. Semoga Allah memberkatinya, dan dia berkata kepada saya, 'Pergilah temui Mohamed Weess dan beritahu dia bahwa Allah telah mengujinya dan mendapati bahwa dia adalah hambanya yang sudah insaf akan semua dosanya. Berilah kepadanya buah ini, salah satu daripada buah-buah yang ada di surga. Suruhlah dia shalat bersama kamu dua rakaat sebelum naik matahari. Pada rakaat pertama, dia mesti membaca Surah al-Nasr dan Allah akan memanjangkan usianya sehingga dia dapat hidup dan melihat anak-cucunya." Mohamed Weess menelan air liurnya. Tampak bagiku bahwa ia seperti tidak percaya semua yang aku katakan. Matanya tertegun merenungi buah pear di tanganku (aku yakin tak ada seorang pun di desa ini yang pernah melihat buah pear ini sebelumnya). Aku mengupasnya dan menyuapkan ke dalam mulut Mohamed Weess, lalu menyuruh dia menelan semuanya, sekalian dengan bijinya. Kemudian aku menariknya ke sudut kamar. "Mohamed Weess , bersiaplah untuk sembahyang sebelum hari siang." "Tapi saya belum lagi bersuci, Tuan Naji."

4

Selepas itu aku terus pulang ke sekolah menunggu hari siang. bertambah oleh kenyataan bahwa aku gagal mengurangi meski seorang saja jumlah jemaah yang mengambil bagian bersembahyang bersama-sama di belakang Sheikh Mohamed Sa'id. Berkali-kali ia pernah menduduki jabatan sebagai menteri. yaitu sebagaimana dengan mimpi yang aku reka itu. Sebagai seorang Doktor ia menerjunkan diri di bidang politik." Aku bersembahyang berdiri di belakang Mohamed Weess. guru sekolah keturunan Zain al-Abidin! Tetapi apakah ini sungguh suatu kemenangan? Sebenarnya aku sendiri tidak pasti. Syria pada tahun 1918. Tekankan kedua telapak tanganmu ke tanah. aku lantas berkata: "Buatlah tayamum. Kami bersembahyang dua rakaat. dan bukan dengan tayamum! *** Salam al-Ujaili dilahirkan di Rakka. Mereka yang semalam memenuhi halaman rumah Mohamed Weess. masing-masing sibuk untuk mengetahui bagaimana moyangku Zain alAbidin datang kepadaku membawa keampunan Allah untuk Mohamed Weess. yaitu aku sendiri. aku mendapati diriku terpaksa berjemaah di belakang Mohamed Weess pada setiap kali sembahyang dengan bersuci sepenuhnya. Malah hewan ternak tersebut diserahkan kepadaku sebagai hadiah dari teman-teman Mohamed Weess kepada wali Allah. 5 . ini dibenarkan dalam Qur'an. seluruh desa telah mendengar cerita baru tentang Mohamed Weess. Untuk mengekalkan kehormatan keturunanku. Dalam rakaat pertama. termasuk sebagai Menteri Kebudayaan. Tetapi. Sebaliknya. dia membaca kesemua surah al-Nasr.Aku lantas teringat bahwa aku juga belum bersuci. karena kuatir kesan yang diharapkan itu akan hilang. Dalam tempo sejam. Naji. Keraguanku akan nilai kemenangan ini. Diterjemahkan oleh Nikmah Sarjono. Ini karena Mohamed Weess tidak mati dan kambing serta biri-biri di halaman rumahnya juga tidak jadi disembelih. kini berhimpun di halaman sekolah. Pada ketika itulah aku merasakan bahwa akhirnya aku berhasil mencapai kemenangan mutlak atas Sheikh Mohamed Sa'id. Mohamed Weess. bilangan jemaahnya telah bertambah satu lagi.

Perempuan itu tersentak seketika. Tak terkecuali mereka yang sudah berkeluarga. Kalau tidak. Bu?" tanya dokter. dokter telah selesai memeriksa pasien kelima. Bu! Ibu mengidap penyakit berbahaya. agar kesedihan ini tak menambah kesedihan lain. Penyakit kelamin!" gusar dokter. "Tolong.Komplikasi Oleh: Naguib Mahfouz 6 Pagi itu. Derita yang dialaminya berubah menjadi ketakutan baru. Kemudian masuk pasien keenam. Nafsu benar-benar membutakan kaum lelaki. Matanya berkaca-kaca. Pak Dokter!" teriaknya segera. ''Ya. Yang saya katakan benar. Ibu harus mengingatkan perbuatan terlarang itu. Tenangkan diri. Tapi terselip guratan penderitaan yang mendalam di wajahnya. Dengan malu dan hati-hati perempuan itu menceritakan penyakit kronisnya. Tenang sedikit tersenyum. Kendalikan emosi. . seorang ibu bertubuh semampai dan bercadar. Saya ingin tanya. Keduanya duduk berhadapan. Tanpa menunggu kedatangan suaminya dari kantor. Dokter terperanjat mendengar ceritanya. pengobatan penyakit ibu akan sia-sia. apakah ibu sudah bersuami?" Perempuan itu menganggukkan kepala. Dokter segera memeriksa. Tapi tak tahu bagaimana hal itu bisa terjadi. Rupanya keraguan dokter terbukti. Dokter mencermati apa yang diceritakan dengan kondisi sebenarnya. "Gawat. Takut dan gelisah. Dia harus menjaga ibu dari risiko pergaulan bebasnya. Bu. "Penyakit kelamin… ?" katanya seolah tak percaya. Kalau perlu dibawa serta ke mari. Parasnya cantik. "Oh…. Bagaimanapun juga ibu harus memberitahukan keadaan sebenarnya pada suami. Teriakan parau muntah dari bibir perempuan itu. "Ada apa. bak mawar putih berlepotan debu jalanan. Dokter menghampiri." lanjut dokter.

Tekad itu menjadikan jiwa dokter sedikit tenang. 7 ." saran dokter." "Oh….. rasa bersalah bersemayam dalam dirinya. ditatapnya dokter itu. Dadanya sesak. Bola mata perempuan itu bergerak-gerak bagai air raksa. Barangkali Dia akan melindungi suami saya." "Demi Tuhan. "Mengapa aku mencampuri urusan dan penderitaan orang lain? Aku hanya seorang dokter. "Tapi…. Dengan memelas. kecemasan. Kami akan menghindarinya sampai saya benar-benar sembuh. Suami saya orang baik-baik. Sulit rasanya meyakinkan dia supaya menerima kenyataan pahit ini. Dokter! Jangan libatkan suami saya!" rengek perempuan itu. Kepedihan." "Suasana hening mencekam. toh akhirnya akan ketahuan juga. Ah." "Meski sudah terlambat?" "Yah …saya tak punya pilihan lain. Dokter langsung bekerja. itu harus intens. jangan. Mati aku!!" "Tentunya suami ibu juga terjangkit. Mudah-mudahan Tuhan memberi jalan keluar pada keluarga kami. Dok! Suami saya tak boleh tahu masalah ini. Tentu masalah ini akan selesai. Tiba-tiba perempuan itu teringat sesuatu. semua ini terserah Tuhan. Sepandai-pandainya Ibu memendam rahasia ini.. Keresahan mencengkeram jiwa dokter." "Kalau begitu sementara ini saya tidak akan melakukan hubungan seksual."Tidak…! Tidak…! Tidak mungkin…! Cepat obati saya. Lakukan saja tugasmu. Dok." Dokter gelisah menatap wajah kusut perempuan itu. Bahwa ia dalam bahaya besar. "Kurang lebih dua mingguan. Aku harus mengobati perempuan lemah ini. Sudahlah! Semuanya kuserahkan pada Tuhan. "Bisakah Dokter menjaga rahasia ini?" tanyanya. "Butuh berapa lama untuk menyembuhkan penyakit ini. Sudahlah." batin dokter. Jiwanya seakan lebih menderita dibanding rasa sakit di tubuhnya. Mendadak pikirannya menerawang pada nasib keluarga perempuan itu. Akhirnya ia mengambil jalan tengah. Tak pantas melampaui batas kewenanganku. "Sebaiknya Ibu memberitahukan pada suami Ibu. Dok?" tanyanya.

" sambut dokter. Tentu. Wajah perempuan itu tampak ketakutan. Raut mukanya tampak cerdas dan berani. Ia katakan bahwa kondisi suaminya sehat-sehat saja. Pekerjaan dokter telah menghentikan langkahnya. Menjelang petang. "Sore. "Penyakit apa?" "Penyakit yang banyak dikeluhkan orang. Lelaki itu tertawa." hibur dokter. "Selamat sore. "Ibu Muhammad Abbas Efendi." "Menyesal?" ." "Oh…kasihan sekali. selesai. Dok."Tentu." katanya. Ketika perempuan itu beranjak keluar. Saya usahakan tiap hari datang ke sini. "Saya mengidap penyakit. Akan kuusahakan semampu saya. "Untuk apa?" tanyanya. Tenang saja! Kujamin rahasia ini tak kan terbongkar selamanya. Ini hanya formalitas belaka. tak perlu sedih." "Saya benar-benar menyesal." jawab lelaki itu. Dok. perempuan itu datang. "Saya rasa cukup sampai di sini dulu. Coba Ibu lihat daftar ini! Bukankah penuh dengan nama dan alamat pasien? Jangan takut. datang pasien berumur 30 tahunan. pegawai DPU." jawabnya sembari menarik nafas. dokter "Siapa nama Ibu?" tanya dokter. 8 *** Esoknya. "Tak perlu takut. Menampakkan keceriaan di balik kegelisahan yang menyelimuti dirinya. Badannya tinggi tegap. Selain Jumat." Lalu perempuan itu menghela nafas. saya hanya seorang dokter. Dok." ucapnya dengan hati yang terluka.

kalau tak mendengar pertanyaan Abbas. Saudara akan dapat menyelesaikannya dengan baik. Dok?" Kini rahasia itu telah terbongkar. *** 9 . "Saya usahakan. Dok?" tanya Abbas berulang-ulang. Dokter segera melihat dengan seksama daftar nama-nama. Tolong sebutkan nama Saudara!" "Muhammad Abbas." Abbas bingung. dokter. Silahkan ke kamar itu! Tunggu sebentar."Menyesal. Dokter hampir saja terlena oleh pikirannya. Abbas tak tahu bahwa perempuan itu lebih menderita dibanding dirinya." kata dokter dalam hati. "Tenang saja. Jangan sampai dia curiga. Lantas bertanya. "Mudah-mudahan Tuhan memberi jalan kebaikan bagi istrinya. Akan kuterangkan ihwal penyakit yang diderita istrinya." Dokter menerawang. "Dok. Kepalanya tertunduk hampir menyentuh lembaran daftar nama yang ada di depannya. Pergi. Saya benar-benar terjepit. Lantas keduanya akan kuobati sampai sembuh. "Memangnya kenapa?" "Saya sudah berkeluarga. Giginya geregetan. Akan kuyakinkan padanya bahwa perempuan itu adalah korbannya. Kemudian Abbas melangkahkan kakinya. mulut dokter hampir mengeluarkan kata 'Hah'. Apa yang harus saya perbuat. "Saya harus bagaimana. Semoga Abbas berhasil membawa istrinya ke mari. Sekarang dokter tahu bahwa bukan hanya bujangan yang bisa terperosok dalam dosa. Mendadak jiwanya bergejolak. hingga persoalan ini selesai. Usahakan ajak istri Saudara ke sini. Dok." jelas Abbas. Dengan demikian lelaki itu mau kembali pada istrinya dengan penuh penyesalan. Apa Dokter merasa rugi bila ada orang insaf datang padamu? Apa pasienmu akan berkurang?" "Kukira Saudara datang ke sini bukan untuk berfilsafat. Dokter menyembunyikan wajahnya. Abbas merengek. Sepasang suami-istri itu ternyata pendosa. Mereka menyesali diri. Saya sangat sedih begitu tahu istri tercinta saya juga mengalami hal yang sama. Tatkala dokter hendak melangkah menuju kamar praktek." jawabnya lemah. saya khawatir penyakit ini akan berakibat buruk. "Tahukan Saudara? Istri Saudara juga terancam!" "Ya. begitu tahu bahwa dialah orang yang terancam bahaya besar itu.

Hati saya dongkol. Tapi saya bingung. Dada saya sesak. Saya bingung. wajahmu pucat dan sedikit berubah. "Oh…hidup di dunia memang susah. saya harus menjalani masa sulit ini. saya berniat mengajak istri saya kemari untuk menemui dokter agar saya bisa tenang. Dokter mengira sore ini. Wajahnya pucat. "Kukira Saudara mengajak istri Saudara. Dok. Tapi sayang. Mana?" "Yah…. Saya juga tak tahu bagaimana harus memulainya. Ia mesti memeras otak untuk mencari jawabannya. Entah sampai kapan. Perlu Dokter ketahui. Rasanya sakit dan ingin marah. Lalu dengan hatihati. Abbas menggelangkan kepalanya. Impian untuk menimang anak. Kemarin malam. "Ada apa?" tanya dokter terperangah. Dok?" "Emm…sebenarnya persoalan Saudara sudah beres. Abbas dirundung ketakutan. Saudara tidak bisa meyakinkannya. Saya berbohong: 'Kulihat akhir-akhir ini. Lalu dengan ragu-ragu. Bagaimana kalau kita periksakan ke dokter?' Istri saya justru marah dan menolak keras: 'Tidak! Kau mengkhayal. Pokoknya tidak. Saya yakin menusianyalah yang menyebabkannya. Istri saya menjawab: 'Alhamdulillah. belakangan ini saya mengalami banyak peristiwa menyedihkan. mereka justru melalaikan dan membebankan pada dunia!" kata dokter. Usaha saya sia-sia. Tatapan matanya layu." Hati Abbas penuh teka-teki. Terpaksa sayalah yang memulai bertanya: 'Apa kau tak punya keluhan? Barangkali sakit?' Saya pura-pura tenang. Tapi ia tak melakukannya. bagaimana harus menjelaskan padanya. Sedih.Perempuan itu tak datang pada hari yang telah dijanjikan. Seolah tampak lebih tua dari biasanya. Tapi yang datang ternyata hanya Abbas. Aku benci dokter. "Singkatnya begini. tidak'. "Semakin banyak saya menuntut. Parahnya. "Entahlah. Saya mengharap dialah yang memulai bertanya. Kemudian berbicara dengan terbata-bata karena putus asa. Saya terus mendesaknya.bagaimana lagi. kini telah hilang. Saya coba memohon dengan baik-baik. "Menurut Dokter apa?" baliknya. 10 . Sinar matanya menyimpan banyak pertanyaan." tutur Abbas. kudekati istri saya. Sekarang saya telah bercerai dengan istri saya. "Saya sudah sering kali mendengar keluhan-keluhan seperti itu. Tiba-tiba istri saya gelisah. Aku ragu dan bosan mendengar nasihat mereka. bagaimana saya harus meyakinkannya. Kebingungan mendekap. semakin keras istri saya menolak. istri saya malah melawan dan bersikeras pada pendiriannya. Ya…. Tak bisa menguraikan apa yang terjadi di balik peristiwa itu." Dokter membungkukkan bahunya. ia akan datang bersama Abbas. Saya mengira dia gelisah karena kegelisahan saya.beginilah jadinya!" Abbas diam sejenak.

Dok. Perempuan itu sungguh membuat repot suaminya.Rambut saya berdiri mengeras seperti landak. Ceraikan saja aku!' Tiba-tiba istri saya tersungkur di kaki saya kemudian pingsan. Perasaan tentram. Dok?" "Runtuh sudah bangunan rumah tangga saya. Saya semakin bingung dan bertanyatanya: 'Apa yang membuatmu takut. Aku telah bersumpah pada Tuhan. Bagaimana saya bisa melepaskan selimut tebal dosa ini? Bisakah saya tabah menghadapi cobaan ini? Bisakah saya kembali bersih dan sehat seperti dulu lagi. Dok?" "Dosa telah memperdaya dan menjerat saya. Membuang semua kemarahan yang ada dalam diri saya. Istri saya menjerit: 'Ampun." tambah Abbas. Tubuhnya mengejang. saya berteriak keras. Saya bingung dibuatnya.Karena saking suntuknya. Saya telah ingkar. saya menjadi korban yang sia-sia! Adakah lelaki yang bernasib seperti saya. Otak saya ragu. saya melangkah ke arahnya. permintaan ampun dan pingsannya itu yang jelas hanya karena satu hal. Bengis. Saya terjerumus dalam jurang yang curam. Tuhan. bimbinglah jalan hidupku. Istriku? Kenapa kau tak mau ke dokter?' Istri saya justru berteriak lebih keras: 'Tidak…! Tidak…!' Saya bertambah marah. "Oh…saya telah berbuat dosa dan pantas mendapat hukuman. Tubuhnya menggigil. Karenanya. Pengakuan dosa. Aku telah berbuat dosa! Pasti kau sudah tahu semuanya. Raut mukanya berubah aneh. 11 . Tolong! Jangan sentuh aku.' Belum selesai saya bicara. istri saya bicara menantang bagai ular yang siap mematuk mangsanya. Cerpen ini diterjemahkan dari antologi cerita pendek Hams al-Junu'un. Padahal merekalah cahaya hidup saya yang senantiasa bersinar. Tapi ia yakin bahwa dirinya tak melampui batas kewenangan. Otak saya tak kuasa lagi berpikir dengan jernih: 'Ayo ikut aku ke dokter! Aku prihatin dan ingin tahu apa sebenarnya penyakit yang kau derita. Matanya melotot. Musnah sudah bayangan hidup bersama buah hati saya. Istriku?' Saya coba mengulang pertanyaan dengan lembut.*** Naguib Mahfouz lahir tahun 1911. Abbas! Ampun…! Rahasiaku telah terbongkar." lanjut Abbas. "Apa maksud semua ini. Tak ada kata 'tidak' dalam diri saya. Dengan murka. Dok? Saya hanya menduga. Kepala saya panas. dari Judul asli alMaradl al-Mutaba'adil oleh Ahmad Sya'roni dan Herri Munhanif. tapi istri saya memotong dengan gerakan aneh. Kini saya ingin pikiran saya terbuka. Saya ingin lepas dari belenggu perkawinan ini. dan pada 1998 mendapat Hadiah Nobel. tak mampu kuasai diri. Saya bertanya dalam hati: 'Ada apa.

Seluruh kekuatan dan pengalaman kami sebagai pemburu telah kami keluarkan sampai tandas. Gajah. Telah kami sibak semua palung lautan. selain menjadi seorang pemburu besar yang sanggup merobohkan gajah dengan satu gerakan. Inilah pertama kali kami merasa begitu lelah. Nenek moyang kami telah membentuk kami sebagai pemburu paling ulung. begitu tercium bau kami. telah lenyap kami tangkap. Apalah arti kami bila tak lagi hidup sebagai pemburu. Seperti juga semua makhluk yang ketakutan mendengar gemuruh kaki kami. Sampai kemudian kami menyadari. setelah bertahun-tahun memburu buruan kami yang bergerak begitu cepat. Maka mereka buru-buru menjauh pergi. rusa. tupai dan tikus. hanyut oleh pikiran kami. Sebagian lagi menyempatkan diri membersihkan wajah terlebih dahulu. jumlah kami memang makin membesar. macan. Sampai kelinci. ular.Para Pemburu Oleh: Agus Noor 12 Purnama mengapung di telaga. betapa binatang-binatang di dunia ini perlahanlahan telah habis kami buru. badak. serigala dan segala macamnya. Tak ada yang lebih terhormat bagi kami. Setiap bulan hampir seratus anak kami lahir. Legenda kami adalah penaklukan puluhan binatang buruan. untuk memburu binatang-binatang. Kami memandanginya dengan gamang. mengantar tidur anak-anak kami. ditangkup sunyi daun-daun yang mandi cahaya. Kami sudah tahu bagaimana menyembelih wildebeest. Angin bergegas pergi oleh kedatangan kami. nenek moyang dan anak cucu kami. tetapi lebih untuk kebanggaan dan kehormatan. Kami seperti mengejar kilat. Hingga kami merasa benar-benar sendiri. Telah kami jelajahi seluruh hutan. sementara . Membuat kami begitu merasa terhina. Siapakah yang tak tahu akan hal itu? Kami tak pernah gagal memburu sesuatu. buruan kami tetap saja melenggang bebas. Telah kami bongkar tiap lekuk pegunungan. Kami beristirahat di pinggir telaga itu. Meletakkan semua senjata yang selama ini kami jinjing dan gendong. Setiap dari kami dibesarkan dalam belukar. Sebagian dari kami langsung merebahkan tubuh atau bersandaran pada batang pohon dan gundukan batu. sebelum sampai ke telaga ini. bukan sebagai cara kami bertahan menghadapi hidup. sejak kami masih dalam kandungan. Seakan sia-sia kebesaran kami sebagai pemburu yang telah berabad-abad mengabdikan hidup dan peradaban kami hanya untuk berburu. Cerita-cerita penaklukan. Membuat kami cemas. Maklumlah. Tetapi mungkin juga memang binatang-binatang itu sudah habis kami bunuhi. sesekali meleleh oleh arus gelombang. Barangkali. binatangbinatang itu juga sudah terlalu hafal dengan kami. Inilah perjalanan terjauh dan terlelah kami. melihat kehormatan kami akan goyah suatu ketika. melulurkan kesejukan pada lengan dan kaki yang bengkak. Kami tak pernah tergoda menjadi petani atau pedagang. Kami mengembara dari satu benua ke benua lainnya. Menjadi hutan lebat yang tumbuh dalam kepala mereka. Lagu-lagu kami adalah lagu-lagu perburuan. tetapi kali ini. Kami adalah bangsa pemburu yang besar. dari tahun-ketahun.

“Masuklah dalam hutan.orang-orang tua kami bagai tak bisa mati. Setiap detik adalah pertarungan. Rupanya. Kepada mereka kami tawarkan kebebasan. yang membuat kalian akan merasa memiliki harga sebagai seorang pesakitan. Mereka kami beri kesempatan untuk bebas. dengan cara melarikan diri. tak hanya kami yang suka dengan permainan semacam itu. Mati dalam perburuan ini lebih terhormat bagi kalian. semua binatang telah habis kami buru. Selamatkan kehidupanmu. selain melakukan perburuan semacam ini? Mereka kami beri kehidupan sekaligus batas kematian.. Banyak juga di antara kami yang mati dalam perkelahian. Liat dan sigap. Dan itu. lari. baru kemudian kami memburu mereka. Sampai kemudian ide brilian terlontar. kami bunuh. Ketika kisah-kisah kami menjalar ke banyak negara. ketika dari banyak yang datang ke pada kami itu adalah para jendral. Selamat jalan. untuk ikut menikmati perburuan itu.” Dan para pesakitan itu pun kami lepas dengan upacara kehormatan. perlahan-lahan. memang makhluk yang tak gampang menyerah. sasaran perburuan yang menggairahkan. Bahkan membuat kami lebih merasa sempurna sebagai pemburu. Jangan cemas. kemudian menghantam kepala binatang itu dengan kepalan tangan. Kami tak lagi memburu binatang. banyak di antara kami yang menolak. Memburu budak-budak itu lebih mengasyikkan dari pada memburu binatang. Kami akan memburu manusia. kebiasaan baru tumbuh dalam kehidupan kami. Tapi itu lebih baik bagi kalian. Mereka sudah renta. membiarkan mereka lari dan menghilang. banyak orang di luar suku kami. Para penjahat itu. Anak-anak kami pun nampaknya lebih suka dengan perburuan macam itu. Itu menjadikan kami begitu bahagia. karena hal itu dianggap akan mengotori kemurnian darah pemburu kami. tapi manusia. untuk menggantikan binatang yang kini telah musnah. Inilah hidup yang sesungguhnya. seperti kami katakan tadi. Mereka lebih menantang untuk kami taklukkan. mendatangi kami. Banyak di antara kami yang sudah berusia 7890 tahun. Anggap semua ini hanya permainan. Adakah yang lebih menyenangkan. “Perburuan tak mungkin berhenti!” “Kita akan cepat renta bila sehari tak memburu apa pun!” “Takdir tak bisa dihentikan. Mula-mula.” “Lantas bagaimana?” “Apa pun yang terjadi kita mesti memburu sesuatu!” “Memburu apa?” Itu membuat kami terdiam. Meskipun kalian juga tak luput dari kematian. orang-orang 13 . Lantas. tetapi masih sanggup berlari mengejar entelope. dari pada mati di tiang gantungan: tak lagi punya pilihan.. Kami membeli juga para penjahat yang telah divonis mati. Mereka kami lepas ke tengah hutan. Kami iringi dengan lengkingan terompet dan juga dentuman meriam. kalian masih punya kesempatan untuk memperpanjang kehidupan. tapi tak gampang mati. Dan itulah kehormatan. Karena. Semoga nasib baik bersama kalian. meski kami akan memburu kalian. Tetapi kami tak bisa menolak. Maka kami pun membeli ratusan budak. hingga pecah berantakan. sungguh. Menjadi tradisi. Tapi sudah lama kami kesulitan menegakkan kehormatan macam itu.

Itu sering membuat kami terusik sunyi. jangan sedih.besar di negara mereka. dan kami tertawa bahagia.. sendiri. terkadang. Kami terus memburu. seakan maut sudah menyentuh bibir orang tua itu. yang melintas bagai badai dan gelombang.” Lalu seseorang yang paling tua di antara kami. kami terus bergerak dari benua ke benua dari zaman ke zaman. ketika kami memburu dan membantai orang-orang muslim di Bosnia. Tak ada lagi yang berani menggertak kami. Begitulah memang mestinya nasib penyair yang tak menulis syair pujapuji bagi keagungan kami. Kami berdiri di puncak menara peradaban. Jangan biarkan anak-anak kita menjadi pucat dan pasi. tetapi kami bebas memilih siapa pun yang paling menyenangkan kami buru. Bahkan mereka menjanjikan kami lahan-lahan perburuan yang lebih luas. 14 . tempat kami berpesta setelah seharian berburu. Para jendral menyediakan kami senjata-senjata paling mutakhir. Hidup pemburu agung! Kami pun menjadi kelompok pemburu yang besar.. tetapi juga denting gelas dalam kehangatan pesta. Apakah arti kekuatan bila tak ada tantangan yang sepandan? Tak ada lagi yang sanggup melawan kami. kami terus menuliskan sejarah kami yang agung. Malah sering para raja dan kepala negara memberi kemudahan kami dengan memberi lisensi untuk menghabisi para tokoh oposisi yang tak mereka sukai. yang sudah berumur 100 juta tahun lebih. Juga kaum intelektual yang selama ini mereka benci. menggulung apa pun yang kami sukai. keisengan. para bangsawan dan pengusaha besar. Para pengusaha mensubsidi kami modal bermilyar-milyar. sehingga permainan menjadi tak lagi begitu punya arti. Suaranya sudah gemetar. Kami tak lagi hanya terbiasa dengan bunyi pedang. para raja. Ah. Para raja dan kepala negara mempersilahkan kami untuk memilih rakyat mereka sebagai binatang buruan. Kami tak hanya punya kesempatan memburu para penjahat yang telah divonis mati. Perburuan bukan lagi perkara kebesaran dan kehormatan. Di antara kemeriahan pesta. Kami perlahan-lahan meninggalkan cara hidup kami di hutan. Jangan biarkan mereka menjadi lembek karena rasa sunyi ini. Kami seperti kehilangan buruan yang mengasyikkan. begitu melimpah buruan kami. yang memang memiliki kebiasaan berburu seperti kami dan memiliki lahan-lahan perburuan yang luas.” Gelas kami beradu. mengijinkan tempat-tempat itu untuk kami kelola dan kembangkan sebagai ladang perburuan yang lebih menantang dan menyenangkan. menyarankan kami agar mengumpulkan para kiai. menumpuk tengkorak kepala korban kami hingga menggunung sampai menyentuh awan. Kami menjadi kaum pemburu yang kian kokoh dan terhormat. “Ini darah seorang penyair untukmu. Ketika kami menjarah perempuan dan membunuhi anak-anak. Hingga kami tak lagi kekurangan buruan. Para bangsawan. Karena kami sudah terlalu kuat. dengan dukungan dana yang melimpah. Apalah arti semua itu bagi jiwa pemburu kami? Semua itu bukan lagi gairah petualangan dan tantangan. tetapi juga. dengan setiap malam tidur di ranjang yang bersih dan nyaman. menjadi tak tertandingi. pasokan senjata yang bagai anggur mengalir dalam gelas-gelas kami. Kami. “Kita harus melakukan sesuatu. tetapi penaklukan yang membosankan. yang telah menjadi sekelompok pemburu yang paling kuat. tetapi kami selalu dirundung sunyi. Kami bangun juga istana-istana. melintasi gelombang waktu. hingga pertarungan menjadi tak sepandan. ketika kami mengirim pasukan pemburu ke banyak negara untuk meluluhlantakkan apa saja. tak ada lagi kegairahan karena kemenangan. ketika kami memburu ribuan orang Yahudi untuk kami kirim ke kamp konsentrasi. para demonstran untuk kami habisi. ketika kami menembaki anak-anak Palestina. puluhan kepala negara.

” Lantas kami membiarkan satu persatu para kiai itu masuk masjid kecil itu. “Kami ingin Jibril. “Kami tak mau tahu. Tetapi mereka menolak. katakan kepada kami. bersulang. tetapi masjid itu tak juga penuh. Kami turut kemauan mereka. Mereka kami datangkan dari semua penjuru. meski sesungguhnya heran. Barisan kiai masih antri di depan masjid itu. Apakah kalian akan sholat sepanjang hari? Apakah kalian akan berdoa dan mengaji? Apakah kalian akan menangkar atau menjebak Jibril dengan sebuah perangkap? Kami tak mau tahu dengan itu semua.” kata kami kepada mereka. kami akan membikin perhitungan sendiri. membuat kami begitu ternganga. bagaimana cara kalian mendatangkan Jibril bagi kami. berkelok-kelok mengikuti 15 . menyambut hari depan kami yang gilang gemilang.” Mereka. Apalagi ketika kami melihat sendiri masjid itu.” “Baiklah.. Panji perburuan berkibar. dan meminta kami untuk membawa mereka ke sebuah kaki bukit di mana ada sebuah masjid kecil di pinggir hutan.. membangkitkan imajinasi kami. Seluruh bangunan itu terbuat dari pelapah kayu.. kami segera mengumpulkan para kiai. Dan tentu. “kalian kami beri waktu satu bulan. Benar-benar masjid kecil yang tak terawat. Gairah menjalar. malaikat. Kami segera mengeluarkan seluruh senjata kami. Sekarang. kalau perlu dengan paksa dan kekerasan. kenapa kami tak memburu malaikat? “Jibril! bagaimana kalau kita minta Jibril!” “Kami bersorai. dari seluruh dunia. Luasnya tak lebih dari lima kali lima tombak. Bila selama ini kalian tak bisa mendatangkan Jibril bagi kami. “Kalianlah yang bercanda. Dan aku ingin. aku ingin menikmati perburuan yang paling menggairahkan. Pintu itu terbuka untuk menerima siapa pun masuk ke dalamnya. Ya. Kami segera menghimpun topan. kapan kalian bisa menyediakan Jibril bagi kami?” Kami tatap wajah para kiai itu. “Baiklah. telah lapuk. Membuat darah kami menggelembungkan jiwa pemburu kami. kami giring ke sebuah istana kami yang paling megah. mencari kepastian dalam mata mereka. sebelum maut menjemputku. dengan meminta kami mendatangkan Jibril.” tegas kami. para kiai itu. “Kalian jangan bercanda!” teriak kami. Bagaimana tempat sekecil itu menampung jutaan kiai yang kami himpun dari seluruh penjuru ini.” “Apa hubungannya dengan para kiai itu?” “Kumpulkan mereka. Suruh mereka menyediakan malaikat untuk kita buru!” Kami terpukau oleh gagasan itu. anggur segera kami tuang dalam gelas. ketika hampir separo dari jutaan kiai itu sudah masuk ke dalam masjid.“Untuk apa mengumpulkan para kiai itu?” “Aku sudah mencium ajalku..

itulah yang kami saksikan. Dan kami mendengar gema dzikir dari dalam sana. menyentuh langit. betapa memang inilah yang selama ini kami tunggu-tunggu. Satu bulan lewat. antara takjub dan panik. raib begitu saja. Kami bakar masjid itu. Tombak. Kami sudah cukup punya pengertian. Tiba-tiba tubuh mereka hilang tak berbekas. bersama angin dan embun. kemudian kembali mengirim utusan untuk menemui para kiai di dalam masjid itu. tak membiarkan seekor tikus lolos dari amatan kami. Sementara suara dzikir itu terus saja bergema. Jibril. setiap orang yang kami kirim untuk menjumpai para kiai. gembira dan tak percaya. luar biasa. Kami memagarbetis masjid itu. dan api melahap cepat. Membuat kami tambah cemas menunggu. Kami terus berjaga. Dan. Segera kami kirim seseorang untuk menemui mereka. tetapi tak kunjung keluar jua. ya Allah. mengalun menidurkan rerumputan. kini telah muncul di hadapan kami. melihat impian kami sudah di depan mata. bagaimana mungkin? Tapi. Tapi seperti yang pertama dan kedua. Kami panik. sekaligus marah. Membuat kami cemas. seperti barisan semut yang begitu tertib menuju lubang sarang mereka . sepanjang hari sepanjang malam. membumbung. tetapi.gigir bukit. dengan sigap kami segera meraih senjata-senjata kami. Kadang kami merasa ada yang menggemericik dalam hati kami karena gema itu. utusan kami ini pun tak muncul lagi meski kami sudah menanti lebih lima hari. Kami kirim utusan kembali. lenyap seketika. semua dari kami yang masuk ke dalam masjid itu. Kami tak mau di tipu para kiai itu. itu pun pasti sudah berhimpitan. Namun orang itu tak kembali. tak pernah muncul kembali. Kami panggil namanya. orang kedua kami pun tak kembali. menguap begitu cepat. membuat kami tengadah ke puncak api. Sampai kemudian semua kiai telah masuk dalam masjid itu. anak 16 . Kami berteriak menyuruh para kiai itu keluar. bagai masuk ke tabir ruang dan waktu pada dimensi lain. jangan-jangan semua itu sihir belaka. Dan kami segera menyerbu. Namun dzikir itu masih kami dengar. di puncak kobaran api. memperingatkan para kiai bahwa waktu sudah habis buat mereka. hingga kayu-kayu bergemeretakan. ketika para kiai itu tak juga muncul dari dalam masjid. dengan sayap terentang sampai ujung paling jauh dari semesta. membuat udara bergetar dan perasaan kami gemetar. seseorang di antara kami berteriak. “Jibril!!” “Jibril!!” Seketika kami berteriak. seperti daun yang melayang-layang itu. tertelan dan lenyap. kenapa kami malah bengong begitu? Maka. tetapi hanya gema dzikir membalas suara kami. Begitulah berkali-kali. bukan? Jangan salahkan kami. takut mereka akan keluar dan meloloskan diri ketika kami tertidur. kami melihat selesat biru cahaya menatap kami. Tetapi seperti yang pertama. Seperti batang-batang pohon yang bergoyang itu. Kemarahan kami menyalakan api di tangan. mendadak menyadarkan kami. masuk dalam masjid itu. Lantas kami tak bisa lagi sabar. Kami tak mau kecolongan. berkobar dan segera kami lempar pada mesjid itu. di sana. yang hanyut dibuai dzikir para kiai. di pucuk api berkobar. Pada saat itulah. Gema itu melambung. Jutaan kiai masuk ke dalam masjid yang bagi kami hanya cukup untuk tidur dua puluh orang. Apakah ini keajaiban yang dikirim bagi kami? “Buru!” Teriakan itu.

Setelah berabad-abad kami hidup sebagai pemburu. Tombak terus beterbangan. Sebagian besar dari kami kini benar-benar renta. Bertahun-tahun kami memburu. Kami tak punya waktu untuk memikirkan itu semua. kami sudah harus kembali pergi ketika pada bayangan bulan. jaring-jaring baja telah kami rentangkan.panah. mengepakkan sayap-sayap cahaya-Nya. Jiwa pemburu kami bergelora oleh gairah perburuan kali ini. Kami tak sempat istirahat. Kami tak mau kehilangan jejak. agar kami mampu meringkus Jibril. mengharap kesegaran akan membuat tenaga kami kembali muda. Inilah perburuan paling menakjubkan bagi kami. dan langsung melesat. Inilah buruan kami yang abadi. setelah bermacam pengalaman perburuan membuat kami jadi pemburu sejati. kami melihat buruan abadi kami. kami benar-benar tak pernah punya waktu istirahat. dan kami pun tak sempat menguburkannya. perangkap telah kami pasang. Segera menghambur. Kami begitu sibuk memburu Jibril. Kami tak pernah tidur di satu tempat. Ketika kami baru saja rebahan dan membasuh kelelahan kami di telaga itu pun. membiarkan rambut dan jenggot kami memanjang tak terawat. mengejar Jibril. Membiarkan kaki kami koyak oleh duri. yang menyimpan bayangan bulan. Karena kami harus terus mengejar Jibril. roket dan basoka. Maka kami pun kembali bangkit. “Kesana!” seseorang dari kami berteriak. roket terus berlesatan. hingga telah lama anak-anak kami tak lahir. Sampai kami tiba di pinggir telaga ini. Dan memang. inilah sesungguh-sesungguhnya perburuan yang sejati. desing senapan mesin. “Kejar!” Kami pun melesat.*** 17 Yogyakarta. kami lihat jejak cahaya. 1995-1998 (Dongeng Buat Mas Danarto) . dengan cepat berlesatan ke arah selesat cahaya biru itu yang dengan cepat bergerak dengan sayap mengepak. Di seberang telaga sana. Kemanapun Jibril melesat. melanjutkan pemburuan abadi kami. kami memburunya. meraih peralatan berburu kami. ranjauranjau telah kami tanam. Banyak dari kami yang mati dalam perburuan ini.

Pernikahan Angin
Oleh: Dianing Widya Yudhistira

18

Aku di sini. Berada di ketinggian menara. Menikmati senja. Senja kali ini berwajah pucat. Langit diam. Sepi. Melintas di depanku burung gagak bergaun hitam. Menari di depanku. Tarian yang sebelumnya belum pernah aku saksikan. Seperti mengabarkan sesuatu yang ganjil. Angin masih terlalu cinta dengan kehadiranku. Ia sapa aku lembut. Perlahanlahan aku sapu anak rambut yang tergerai di wajahku. Tulus. Gagak itu masih menarikan tarian yang terluka. Entah tentang apa. Ketika senja berangkat ke malam, perlahan-lahan burung Gagak menghentikan tariannya. Menatap padaku. Tatapan matanya yang tajam, seolah-olah menelanjangi batinku. Aku belum tahu apa yang sesungguhnya Gagak sampaikan padaku. Yang aku tahu, malam ini seperti tak punya nafas. Tak ada angin yang meliukkan tubuhnya. Pohon-pohon diam. Tak kudengar desah dedauan. Gunung-gunung membisu. Demikian juga dengan hamparan laut di depanku. Diam. Malam begitu terbungkus kesunyian. Sehelai daun akasia yang menua, melayang di udara. Jatuh. Terkulai di tanah basah. Kesunyian kian lengkap. Aku masih di sini. Di ketinggian menara. Aku terpaku di ujung lengan cakrawala. Perlahan-lahan aku hela nafasku. Menghembuskannya dengan bebatuan. Tak ada yang menemaniku, malam ini. Tak ada yang mengajakku bicara malam ini. Hanya burung Hantu yang mau menampakkan diri. Seperti biasa. Ia adalah kekasihku. Yang selalu bercerita tentang bulan dan bintang. Yang memberi aku kedamaian. Ya. Seekor burung hantu. Menghampiriku. Hanya saja matanya tak bersinar seperti hari-hari kemarin. Mata itu redup. Burung hantu menatapku. Kosong. Sebaid lirik kehilangan aku temukan di sana. “Selamat malam, Dianing.” “Kabut apa yang menodai matamu, hingga ke pendam rasa ngeri.” “Engkau sesungguhnya, Dianing.” Dibentangkannya tanda tanya di hadapanku.

“Di mana Lismatano sekarang Dianing.” Aku tercenung. Ia menyebut nama laki-lakiku. “Pergilah ke hutan Para, Dianing.” Aku menautkan kening. “Kau akan tahu.” Tiba-tiba angin meliukkan tubuhnya dengan gerakan yang dahsyat. Ia memintalku dengan kekuatannya. Dengan cinta ia terbangkan aku ke hutan Para. Sekelilingku gulita. Tak ada cahaya. Tapi, cahaya bulan bugil membantu penglihatanku. Banyak pohon di kanan kiriku. Depan dan belakangku. Masyarakat pohon. Membisu dan gelisah. “Inikah hutan.” “Ya. Hutan Para.” Suara burung hantu. “Apa yang aku tahu.” “Ikuti aku.” Seperti perintahnya, aku ikuti langkah burung hantu. Semakin aku mengikutinya, jalan yang menanjak kian gelap. Gelap dan sangat gulita. Hanya deru nafas yang dahsyat terdengar di telingaku. Deru nafas yang memburu dan aku akrab dengannya. Terpadu dengan deru nafas yang lain. Entah nafas siapa. Aku langkahkan kakiku selangkah. Tiba-tiba di depanku terang benderang. Astaga!! Lismatano, laki-lakiku bergumul dengan tubuh perempuan lain. Gila!!! Seketika itu angin kembali meliukkan tubuhnya dengan dahsyat. Memintaku kembali. Entah dalam waktu seberapa detik menerbangkan aku. Yang jelas kurang dari satu detik aku kembali berada di ketinggian menara. Aku lunglai. Bayangan Lismatano dan perempuan itu terekam jelas di layar komputerku yang paling pertama. Malamku lunglai. Aku tahu burung hantu masih di sampingku. “Untuk apa kau bawa aku.” “Untuk menjelaskan padamu siapa sosok Lismatano.” Aku hanya bisa menelan pil pahit. Menikmati segala luka hati dengan tulus. Lismatano. Laki-laki yang sepenuhnya aku kagumi. Ternyata mampu menikam darahku.

19

“Apakah aku terlambat, Dianing.” “Sama sekali tidak.” “Mengapa batinmu begitu luruh.” “Aku tengah belajar untuk bahagia dan damai dalam sendiri.” Burung hantu tersenyum. Mengepakkan sayapnya di ketinggian menara ini. Selalu ia yang melindungiku. Telah aku putuskan untuk tak merajuk atau menerima Lismatano. Tak kan lagi aku melakukan kesalahan yang sama. Malam telah melengkapkan usianya. Aku pandang wajah bulan. Lewat cahayanya ia mengucapkan salam. Aku dengar bisikan angin. “Selamat malam.” Aku membalasnya dengan menguap. “Selamat malam, Dianing.” Aku tatap burung hantu. Ia membimbingku ke kamar. Menyelimuti aku. “Tidurlah dengan damai.” Aku mengangguk. Aku tahu ia akan menjagaku sepanjang malam. Di ketinggian menara ini. Perlahan-lahan aku terlena. Hembusan semilir angin menerpaku. Sejuk. Perlahan-lahan aku terbawa ke dunia lain. Dunia yang selalu aku impikan. Hamparan luas rumput hijau. Berbagai macam buah lezat dan makanan tersedia di sana. Di hamparan rumput itu mengalir parit. Yang airnya susu dan madu. Di hamparan luas rumput hijau itu, para bidadari tersenyum ramah. “Oh kehidupan yang menyenangkan.” Sejenak kutinggalkan dunia. Aku benar-benar menikmati dunia lain ini. Dalam tidurku, aku kembali terlempar ke dunia. Tapi, seperti ada yang menghalangi nafasku. Aku terengah-engah. Entah siapa. Wajahnya bersih. Ia bersayap dengan baju serba putih. “Aku akan menjemputmu, Dianing.” “Menjemputku!?” “Ya. Ke alam baru. Kehidupan yang sesungguhnya.” Aku tak mengerti.

20

Burung hantu menyentuh bahu kananku. Seolah mencegahku. “Kau tak bisa menghalangiku. Ini perintah Tuhanku. Tuhanmu jua.” “Ia masih terlalu muda.” “Kehendak Tuhan.” Aku lihat mereka berdebat. Mereka asyik dengan argumen-argumen mereka. Sementara aku hanya bisa menikmati perdebatan mereka. Karenanya, burung hantu terkapar. Sayapnya patah. Sosok bersayap itu kembali padaku. Tangannya yang dingin menyentuh kulitku. Entah apa yang ia lakukan. Yang aku tahu, sungguh tubuhku merasakan sakit yang dahsyat. Setiap kali tarikan hebat itu lepas kembali ketika menyentuh di leher. Aku mengerjang, merintih, terpuruk, lelah. Aku lihat burung hantu kembali bangkit. Kali ini tak ia pedulikan sayapnya yang terluka. Ia berusaha mencegah keluarnya rohku dari jazadku. Jadilah jazadku ajang perebutan roh. Sosok bersayap itu menghendaki rohku. Burung hantu ingin rohku tetap menyatu dengan jazad. Mereka tak tahu bagaimana aku menahan sakit. Cukup lama mereka bertarung. Entah berapa waktu. Karena sakit, aku merasakan sangat lama. Kekuasaan Tuhan tak ada yang mampu membendung. Hingga aku benarbenar terlempar ke dunia lain. Roh yang bertahun-tahun menghuni jasadku, kini telah diinginkan pemiliknya. Aku terbang tinggi tanpa tahu di mana akan berhenti. Aku saksikan jasadku dimandikan bunda dan saudara-saudaraku. Beberapa orang yang menyayangiku hadir di kematianku. Mereka mengucap seuntai kalimat duka. Ketika jasadku dishalatkan, aku merasakan kesejukan yang sangat. Tapi, aku merasakan sakit ketika bunda dan saudaraku terisak di makam. Ketika jasadku mulai dimasukkan ke liang, kedua saudaraku pingsan. Duh, jalanku tersandung semak belukar. Perlahan-lahan tanah menimbun Jasadku. Hingga merata dengan tanah. Tertanam sudah jasadku di tanah. Aku melesat ke langit demi langit. Beribu roh berkumpul di alam yang sulit aku uraikan. Berupa-rupa aku temui. Di depanku layar besar mengungkap kembali kisahku di dunia. termasuk kisahku dengan Lismatano. Aku merasakan getar aneh ketika melihat Lismatano. Entah, di alam yang lain ini aku masih mengenang Lismatano. Laki-laki yang pernah berjanji akan menikahiku. Di tengah riuhnya roh-roh yang menuju pengadilan akbar itu, tiba-tiba muncul burung hantu. Ia menuju ke Tuhan. Ia mengadu tentang aku. “Aku ingin Ia diberi keisitimewaan.” “Tentang apa.” Aku menatap burung hantu. “Biarpun Dianing telah kau ambil, berikan ia kesempatan ke dunia.”

21

“Maksudku melihat dunia. bulan menuju ke dunia. Dianing. Seperti berabad-abad lalu. Wajah yang cerah itu tiba-tiba luruh.” Aku lihat burung hantu terpekur sendiri. “Dianing.” “Ya.” “Oh ya.” Burung hantu terbang.” 22 . Lama menunggumu dan juga tengah menunggumu.” “Ya. Ia menjerit. Aku bertemu dengan mega. Aku lihat wajahnya sepi. “Cukup lama kami menunggu. Bulan bulat penuh. UNTUK pertama kalinya aku turun ke dunia.” “Ya. Ia bugil di malam yang damai itu. Indah sekali. Tersenyum dan memberi salam padaku. Aku temukan sebaid lirik kehilangan di matanya.” Kami berpelukan. Aku membalasnya dengan anggukan tulus.” “Baik karena cintaku aku merestui Dianing. Dianing. Ia menembus awan. Burung hantu mengepakkan sayapnya. Aku bahagia melihat secercah wajahnya yang ceria. Aku lewati langit demi langit.” “Cepatlah kau temui burung hantu. Aku izinkan ia suatu ketika turun ke dunia. bintang.” “Bila Tuhan mengizinkan. langit cerah. “Aku tunggu kedatanganmu di dunia. Gemerlap bintang menyambutku. “Gerangan siapa membuatmu sepi. Seperti menunggu kedatangan.” “Tentu. “Boleh aku tahu dukamu.” Matanya berpendar. mega. Atas izin Tuhanku.” Aku terpana.

” “Hutan Para!?” “Lismatano ada di sana dengan perempuan itu.Burung hantu menatapku. Tiba-tiba begitu sepi.” “Lalu?” “Lismatano memilih jalan buruk.” Burung hantu masih bertengger di pohon randu..” “Maksudmu. “Dianing.” Aku luruh. Bukankah ia bagian dari hidupmu di dunia.. Serumah tanpa ikatan sah sebagai suami istri.” Aku kembali ke hutan Para. “Lismatano tak pernah menikahi perempuan itu. “Kau tahu bukan perbuatan mereka melebihi hubungan suami istri. Di 23 . “Maukah kau ke hutan Para. Lismatano. Tatapan yang sulit aku urai. Telah berpaling dengan perempuan lain. Tak sekedar gelap.” panggil burung hantu lirih. “Bukankah mereka telah menikah.” “Ya.” Burung hantu menggeleng.” Aku tak mengira laki-laki masa laluku memilih hidup yang naif. “Bila kau berkenan. Hidup bersama tanpa kata yang jelas. Aku terpana. terjal dan mendaki. laki-laki yang pernah aku dambakan jadi suamiku.” Aku lunglai.” “Mereka seatap tanpa ikatan.” “Bicaralah. “Untuk apa.

Aku terpana. Sementara perempuannya berubah binatang. Tubuhnya tumbuh lumut. Aku berada di ketinggian menara. Merasakan cinta dan kasih sayangnya. Besar. Mei 1997. Perempuan itu berubah binatang yang sangat mengerikan.hutan Para itu aku kembali menyaksikan Lismatano bergulat dengan perempuan yang sama. Aku di atas pohon randu. Ia tak membatu. “Yuniz nama perempuan itu. tetapi tubuhnya berubah.” Aku hanya mengangguk.” Aku menghela nafas. Ia berkaki empat. . Lismatano dan perempuan itu terus bergulat. Perempuan itu. Kini tak bisa bergerak.. Saling menumpahkan nafsu. Kini aku hanya bisa merasakan sentuhan angin. Aku tak kuasa melihatnya. Pergulatan yang dahsyat. Siap menerkamku. Lismatano telah membatu. Aku tak percaya melihatnya.. Tapi. entahlah mengapa tibatiba aku terpaku di depan mereka.” “Itulah yang pantas mereka terima. Ya. Tubuh Lismatano mengeras. Ia dalam keadaan yang mengerikan ketika membatu. Ngeri. Lismatano telah membatu dan berlumut. “Bulan pun tak sudi menyaksikan persetubuhan mereka. Dianing. Aku yang terpaku. Mulutnya lebar ke arahku. Ia berubah jadi batu. Menikah dengan Lismatano hanya sebuah impian yang abadi. Lebat dan kotor. Tapi burung hantu segera menerbangkan aku.*** 24 Jakarta.” Aku menekuri tanah. Sebentar lagi aku harus kembali. Tubuhnya berbulu sangat lebat. Dan aku kini mulai belajar untuk damai dan bahagia dalam sendiri. “Mengapa dengan mereka. Tiba-tiba. Deru nafas memburu. Ya.

” “Apakah pejabat yang berkedudukan lebih tinggi juga sudah memberikan izin?” “Secara prinsip sudah. untuk mengeluarkan izin penggunaan pistol buat saya.. asal tahu saja... misalnya?” Pejabat tergelak..Horison. dor! Dor! Dor! Tembakan yang lain seperti saling susul untuk menembus sasaran. Dan berdehem. tersenyum lebar sebelum menjawab. “Mudahmudahan bukan hanya kebetulan.” “Apakah Bapak telah siap mengantisipasi segala kemungkinan-kemungkinan buruk? Seperti pemanfaatan pistol untuk penodongan oleh oknum wartawan. Aku tak ingin rekan wartawan kembali menjadi korban dalam gejolak suasana yang sedang memanas sekarang ini. . sebagai wartawan.. ternyata Bapak sangat jitu juga dalam membidik sasaran. “Bagus!” Instruktur menepuk bahu seorang peserta kursus menembak yang baru saja berhasil menembus jantung sasaran. tentu. Pejabat yang berdasi kuning. Menghapus peluh pada hidung. Pak. Tapi tidak ada satu pun yang meleset.... Ada yang menusuk jantung.” “Tentu. Dan tawa itu ternyata telah cukup untuk jawaban. *** “Jadi izin yang membolehkan wartawan menggunakan pistol.” Pelatih mengedipkan sebelah mata.. Ada yang menembus kepala. Februari 2000 Pistol Oleh: Ode Barta Ananda 25 Dor! Tak ada yang terkejut ketikatembakan itu menembus sasaran. Dan mudah-mudahan juga bidikan saya kali ini bisa secepatnya membukakan mata Bapak. “Selain pintar mengejar berita. benar berasal atas usul Bapak?” salah seorang dari kerumunan wartawan menanyai seorang pejabat. berkemeja putih dan bercelana abu-abu itu. Mlah.” Wartawan mendengus.. “Begitulah.. Ada yang mengelupaskan bahu..

Waktu angin mencubit kelopak yang akan menghasilkan putik. sarana latihan dan pistol ternyata disediakan oleh koperasi?” “Mungkinkah koperasi mematok harga setinggi itu?” menyusul tukasan lain. menurut perkiraan dokter. Yung! Bentuknya yang unik dan hasil rekamannya bersih sangat seimbang dengan harganya yang mahal.” “Untuk melunasi kreditnya. “OK. Namun wartawan telah kembali berujar. . memasang wajah serius. Bisa-bisa kutembak kau!” dia mendelik sambil pura-pura marah. Padahal.” Sang rekan hanya bisa kembali mengangguk-angguk sambil berusaha mancari jalan keluar. “Silahkan. sudah ditukas pertanyaan lain. Apa yang telah merusak konsentrasimu?” “Pembayaran pajak pistol ini. istri saya juga akan melahirkan tiga hari yang akan datang. Saat itulah para pencari berita berhasil mencegat pejabat yang baru saja keluar dari kantornya.” Belum selesai pertanyaan itu... “Dan sebagian tabungan juga baru saja saya belikan alat perekam baru. Ketika sinar matahari seakan berniat mencabik-cabik.” sang rekan merentangkan tangan.” *** Saat panas menukik terik. “Atau ada oknum-oknum tertentu yang sengaja menangguk di air keruh?” Pejabat mengerutkan kening. “Tak biasanya tembakan kau meleset?” seorang rekan tercengang. hampir seluruh kawan-kawan sangat menyayangkan biaya latihan menembak yang cukup tinggi. “Saya sedang tidak konsentrasi. saya harus menggadaikan pistol ini. Dan.” “Kenapa? Memikirkan pekerjaan? Atau gadis simpanan itu?” “Jangan terus bercanda. 26 *** Dor! Tembakan wartawan meleset. Harga pistol yang mahal..“Tapi. “Padahal menurut selentingan kabar. Pembayaran harus lunas tiga hari lagi. Lalu mengangguk-angguk. “Mana yang harus saya jawab lebih dulu?!” dia kesal dan langsung memasuki mobil sambil membanting pintu. Kau sudah lihat kan?” “Wow! Canggih.

Kenapa sekarang masih mengganggu lari pagiku?” Pejabat tersenyum sambil meninju perut wartawan dengan akrab. “Atau izin penggunaan pistol bagi wartawan ini memang untuk mencari untung?” “Jelas tidak!” Pejabat menekan gas lebih keras. Dan darah mempermerah jaketnya yang sudah merah.” pejabat tergelak juga. asyik berbincang-bincang dekat telepon umum. Saat fajar bergerak sembunyi. dan memberikan pertanyaan sambil menodongkan alat perekam. Dia tertelungkup. ternyata alat perekam saya yang mirip pistol ini. Malah semakin menekan gas mobilnya sambil menginjak rem. Wartawan tergelak. “Kau kan sudah menelepon tadi malam. Perut buncitnya terguncang-guncang menertawakan kebodohannya sendiri. Dia langsung mengangguk keras-keras. Dan menekan gas dalam-dalam. Waktu matahari baru saja bersiap menghangatkan bumi. sesuai dengan jabatan Bapak?” Pejabat terbelalak.“Kelihatannya biaya latihan. akan mengusahakan perbaikan semua masalah itu. saat itulah wartawan dan pejabat. “yang membuat Bapak ketakutan dan tergesa meninggalkan kami kemarin?” Pejabat mengangguk. tapi belum sempurna anggukannya. “Harus kuakui. Menutup kaca jendela mobil. harga pistol. wartawan telah menukas sambil mengacungkan alat perekam yang benar-benar mirip pistol..” wartawan mengeluarkan alat perekam itu. Wajahnya memucat. “Benarkah tidak ada keterlibatan oknum tertentu.. “Tak enak rasanya. Wartawan pemilik alat perekam baru yang berbentuk unik. “Jjjangan! Dddia bukan mengancam!” Dor! Sebuah peluru buas langsung menikam punggung wartawan. Pak?” Pejabat tak mengangguk dan tak juga menggeleng.” diulurkan tangan untuk berjabat. “Apakah Bapak. semakin tak menentu. menyeruak kerumunan.*** 27 . dan biaya administrasi lainnya. kalau tak langsung berhadapan dengan Bapak.. nilai pajak. *** Ketika embun jantan belum selesai membasuh pagi. yang sengaja mendongkrak segala biaya yang berhubungan dengan pistol? Atau. Melihat para wartawan tidak mengerti. ternyata aku masih ketakutan dengan sebuah alat perekam. "Setibanya di rumah. saya baru menyadari. dia beralih membunyikan klakson. untuk minta maaf. yang terlambat datang.” Pejabat melambaikan tangan ke arah belakang wartawan.

Prabu Kresna masih mengumpat-ngumpat kepada para Punakawan. gerombolan Pandawa. tak ada makhluk luar angkasa selain para dewa. “Siape ni nyang ngulang tahun. Apa sih maunya Amerika? Dasar Yahudi!” “Tapi Prabu. Gerombolan Pandawa berbelok ke arah Kentucky Fried Chicken. “Dalam dunia pewayangan. tiba-tiba Kresna. “Kramotak. kita masuk pub dulu!” ajak Bima. mo nraktir ceritanya?” hampir berbarengan Nakula dan Sadewa bertanya kepada rombongan. Bahkan Arjuna kembali menjadi ABG. “Sebel gua.” sahut Kresna. Kan kemarin kita terima faksimil dari seluruh propinsi bahwa mereka tidak akan menampilkan kesenian daerahnya masing-masing.” Sesaat hening. Ajakan untuk berdamai dan bersatu melawan musuh dari luar angkasa itu sangat menarik. Dewa jangan diberontak. Apa salahnya kita ajak Dursasana untuk bersatu melawan musuh dari laur angkasa. kramotak!” Hanya Dewala yang bisa mengontrol diri dan tampak kalem. dan Punakawan itu merasa dirinya masing-masing kembali menjadi remaja. saya tidak melihatnya dari sisi itu. “Bukan mau nraktir. terlihat gairahnya kalau diajak berpikir serius. Malah utusan dari Astina akan menampilkan operet Maria Cinta . Astrajingga dan Gareng ikut berlenggak-lenggok sebagai penari latar sekaligus menjadi Backing vokal. “Apa kita hanya akan menampilkan kabaret saja untuk perayaan negara. dari Jupiter misalnya?” balas Astrajingga. “Maksud Prabu?” Yudistira yang dari tadi miring saja. Melewati Alun-alun Bandung. Nakula dan Sadewa tiba-tiba berlagak sebagai penyanyi rap yang sladak-sluduk itu. BM dong!” balas Kresna. begitu ngepop. Aku tiba-tiba tergagasi oleh film tadi. mereka sponsor kita kok. Dikenakannya syal berwarna merah dan kacamata hitam. “Belum begitu laper gua ini. “Sambil makan malam. Tiba-tiba beberapa orang merasa lapar dan menuduh Prabu Kresna yang mengajak mereka berbelok ke arah Kentucky.Teater Dewala Oleh: Doddi Achmad Fawdzy 28 Sepuluh menit sehabis menyaksikan Indepedence Day. lagi-lagi propaganda Amerika. tidak terpengaruh oleh hiruk-pikuk ABG yang modernis itu. kita perlu merundingkan kembali materi untuk peringatan hari kemerdekaan negeri kita.

Kukira ini usulan yang baik dan kita harus menyambutnya. Rusak!” “Inilah salahnya Prabu. kita sekarang terlalu berjarak dengan wong cilik.” Bisma mengingatkan. Seperti biasa. segera bersembunyi ke belakang dan memijit remot recorder. Urusanmu mengelola satpam dan tukang parkir. Acara untuk menyambut hari ulang tahun kemerdekaan negara akan dipikirkan.” Arjuna bersungut-sungut. Tangannya masih menggenggam paha ayam. Bima menggebrak meja. Punakawan yang lain menyikutnya. Takdir kita untuk menerima kekalahan. Tapi Yudistira cepat berpikir dan berlaku bijak. Sementara kerusakan teknologi akan diserahkan kepada Batara Guru. Apa pun yang kita rencanakan. Bima meraung-raung. “Jadi mereka akan mengundang kita untuk menyelenggarakan acara kesenian yang akan melibatkan personal dari berbagai negara.” demikian Kombayana punya usul. misi perdamaian lewat kesenian dalam perayaan ulang tahun negara seperti yang diusulkan Dewala hanya omong kosong. “Misi ujicoba kita gagal. Tak ada kesenian dalam merebut kemenangan. apa tidak membingungkan pikiranku melihat realitas apresiasi masyarakat sudah turun seperti itu? Rusak Re. Perang dan kekerasan adalah dua jalan yang bersatu menjadi satu arah untuk mencapai kemenangan. Semar hanya gigit jari ketika Gatotkaca melaporkan kejadian sesungguhnya. Gareng kebagian memesan hidangan. Dewata telah memutuskannya. Mereka ketakutan dan terbirit-birit keluar setelah membayar makanan.” Semar mengingatkan. bahkan Semar menjewer kupingnya. Barata Yudha adalah sebuah takdir yang mesti kita terima. “Kukira tidak mesti seperti itu. Kita bisa menyusupkan orang-orang kita untuk menyelidiki lebih jauh rencana-rencana Pandawa dalam Barata Yudha nanti. Mungkin bisa jadi kesenian sebagai alternatif untuk mencapai perdamaian. 29 . Hasil pembicaraan pemerintah Amarta malam itu sampai ke telinga Patih Sengkuni dan Resi Kombayana.” Dibentak seperti itu. suasana rapat menjadi lebih kacau. Dewala mengambil sikap diam seribu bahasa. Mereka mendengar laporan bahwa Challenger meledak dan Chernobil bocor. Mungkin kita terlalu serakah dan ceroboh. Seorang anak kecil yang biasa mengemis atas suruhan Kurawa.yang Hilang. Tiba-tiba rapat di pihak Pandawa menjadi kacau balau. “Jangan sok tahu Kau. Para pengunjung tanpa disuruh segera meninggalkan makanannya. “Tidak. Perdamaian hanya menghambat rencana Dewata. Nakula dan Sadewa ikut naik pitam. Rupanya dia dan pemilik rumah makan itu bersekongkol sebagai agen mata-mata Astina.” “Ini kehendak Dewata. Kurawa telah terlalu curang dan tidak bisa dibiarkan.” Dewala mencoba menjelaskan. Ia membubarkan rapat dan memohon Prabu Kresna dan Wak Semar menyabarkan yang lain. Karena itu.

dari kopi dan dari rokok. silaturahmi antarseniman pun terbina. Dulu bambu bisa menebang milik siapa saja. seniman adalah pintu terakhir yang akan menjaga persaudaraan dan kebersamaan. Konon katanya menurut mitos. bahwa mereka saling menghargai pendapat dan karya seniman lain.” “Tapi apa justru tidak akan membuat semakin pongah?” “Sebenarnya ini tergantung dari sumber daya manusianya sendiri.” “Apa itu?” “Ada saja. Akan tetapi kita mesti terus berusaha dengan cara mengingatkan kembali diri kita masing-masing pada sejarah. Syukurlah kalau Prabu Yudis mau sponsori obsesi saya. Kalau sudah seperti itu. mereka tidak tahu bahwa mereka akan dicurangi oleh Paman Sengkuni. juga para teaterwannya diajak untuk ikut bermain dalam pementasan ini. pokoknya naskah karya siapa pun tak menjadi masalah.Berhari-hari Yudistira menghadapi komputer dan mencerna John Naisbitt tentang Kebangkitan Asia. Pokoknya rahasia.” “Itu wajar karena mereka punya ideologi. kalau memang bakatnya membelot ya membelotlah. Dengan dibahagiakan. sekarang rakyat sudah menjadi materialis.” “Tapi saat ini saya ragu. “Saya punya obsesi dari dulu untuk menggelar naskah Pandawa Adu Dadu. tetapi yang bisa membawa pada aufklarung dan bertemakan perdamaian dunia. Ini menjadi pelajaran juga bagi kita selaku pemegang pemerintahan untuk tidak terbawa oleh arus dan rayuan gombal musuh. Prabu. Tetapi kita juga tahu. Kebiasaannya bersemedi ditinggalkan. segala benda serba diuangkan. Eu begini Prabu. mengapa? karena kita tahu bahwa di Barata Yudha nanti mereka akan kalah. selain nanti para pembesar dari berbagai negara diundang. Nanti Prabu tidak merasa surprise lagi kalau saya beritahu dari sekarang. Dipanggilnya Dewala saat itu juga. Diam-diam ia tertarik dengan usulan Dewala. ia biasanya merasa bisa berpikir lebih tepat. itu sebabnya bahagiakanlah mereka dari sekarang. dalam akhir cerita. Keningnya semakin mengerut seperti kening Einstein.” “Bagi saya. insya Allah deh mereka tidak akan terlalu brutal dan mau menerima putusan Dewata dengan dada yang lapang. Kita harus mengalah dan membahagiakan saudara-saudara kita yang memilih jalur menjadi lawan. saya akan membalikkan fakta.” *** 30 .” jelas Yudistira. Dengan demikian. Sekarang berteater tidak bisa lagi diberangkatkan dari apa adanya. soalnya seniman di negeri kita sendiri tengah gontok-gontokan. Berhari-hari pula ia menjauhkan diri dari ranjang Drupadi. Cerita kekalahan ini akan sangat menyenangkan bagi Suyudana dan kawan-kawan. Kita mengalah untuk menang. ia lebih suka berhadapan dengan komputer dan internet. Tapi jalan keluar untuk damai belum juga didapatnya. Sebenarnya waktu Pandawa mau diajak main dadu. Pokoknya semua serba menyenangkan tamu undangan. “Justru naskah ini tepat sekali. tapi tidak ada sponsor sampai saat ini. Kita tahu bahwa Pandawa kalah taruhan. Saya punya teknik.

Singkat cerita, Dewala menjadi sutradara. Astrajingga mau menjadi Dursasana karena dibohongi oleh Dewala. Kabarnya yang akan menjadi Drupadi adalah istrinya Arjuna. Tapi setelah mendekati pementasan, casting itu diganti oleh Aswatama yang baru pulang studi komperatif tentang antropologi dari Amerika. Para seniman raksasa dari Astina menjadi Pandawa sedangkan para seniman dari Amarta menjadi Kurawa dalam casting ini. Dadu dilempar. Untuk lemparan pertama Kurawa kalah. Sengkuni tertawa, “mereka tertipu,” bisiknya. Para tamu undangan dari Astina terutama yang tidak pernah membaca karya sastra dan membaca sejarah wayang, tampak tegang. Sedang tamu undangan dari fihak Amarta bangga karena Pandawa menang dalam lemparan pertama itu. Begitu lemparan kedua dan selanjutnya, raut muka kedua belah pihak berubah. Pandita Durna dan Sengkuni menampakkan senyum kemenangan sambil melirik Yudistira yang tercenung mengerutkan dahi. Pada lemparan ke-sepuluh Amarta harus menyerahan negara sebagai taruhannya, dan kalah. “Mustahil,” gumam Arjuna. Pada lemparan terakhir, bila Pandawa kalah lagi mereka harus menyerahkan Drupadi sebagai taruhannya. Tentu saja Drupadi keberatan, tapi tak ada lagi benda yang bisa dipertaruhkan oleh Pandawa. Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa, dan seluruh kekayaan telah amblas ke tangan Kurawa. Bagi Dursasana yang belum beristri, justru taruhan yang paling berarti adalah Drupadi. Untuk apa para kesatria Pandawa itu, untuk apa kerajaan Amarta toh ia sudah bertahta di singgasana Astina. Ternyata Drupadi harus direlakan kepada Kurawa. Drupadi sesungguhnya tak percaya dengan kekalahan taruhan dadu ini, tetapi ia bahagia karena ini bisa menjadi kesempatan baginya untuk nyeleweng meskipun hanya dalam dongengan. Drupadi ingin tahu sehebat apa kejantanan Dursasana yang tergila-gila olehnya. Yudistira menunduk dan memejamkan mata ketika satu persatu pakaian Drupadi ditanggalkan oleh Dursasana. Brahmana dan seluruh Ksatria Pandawa telah disekap dalam penjara sebagai tawanan taruhan. Di luar plot cerita yang sesungguhnya, ternyata Drupadi bisa ditelanjangi oleh Dursasana yang diperankan oleh Astrajingga. Pada mulanya Astrajingga dengan penuh semangat menelanjangi Drupadi. Tetapi kemudian menjerit dan melompat dari panggung saat harus memperkosanya, karena yang memerankan Drupadi adalah Aswatama. Aswatama, keturunan homoseks itu mengejar-ngejar Astrajingga, “Please, touch me! Touch me!” Kejar-kejaran terjadi, membuat para penonton naik pitam. Resi Kombayana yang merasa ditelanjangi tentu saja marah tapi Bima tak kalah gertak. “Ternyata Aswatama itu seorang homoseks, Para Penonton.” Tiba-tiba Gareng menjelaskan lewat mikropon. Kurawa merasa tertipu dan dihina habis-habisan. Bodyguard dan pelindung Dursasana langsung memberondongkan peluru. Gatotkaca melesat ke angkasa, dilemparkannya senjata kimia. Antareja yang tidak mau menjilat jejak sendiri, melesatkan senjata laser dari jilatan lidahnya. Tapi justru tentara Pandawa yang mampus, sedang tentara Kurawa menjadi kebal.

31

Barata Yudha meledak dengan diawali adu panco antara Bima dengan Puntadewa. Sampai saat ini belum ada yang kalah. ***

32

Ondol
Oleh: A. Hidayat

33
Setelah begitu saja hilang selama enam bulan lebih, Ondol ditemukan mati di tepi kali. Mayatnya terapung tak tertutup selembar kain pun kecuali cawatnya yang putih kelabu dan tampak bolong-bolong. Beberapa bagian tubuhnya menunjukkan bahwa sebelum mati Ondol pernah mengalami penganiayaan. Jari-jari tangannya remuk bekas godaman batu. Sedangkan luka di dadanya hampir memperlihatkan beberapa buah tulang rusuknya. Ketika pertama kali ditemukan, Ondol yang mati di tepi kali itu tidak dikenali sebagai Ondol. Wajahnya hampir-hampir dapat dikatakan hancur remuk. Beberapa luka yang cukup dalam menggaris di pipi, di dahi dan di belakang tulang rahangnya. Sebelah telinganya juga hampir-hampir putus. Dan matanya seolah tidak nampak karena tertutup oleh sekelilingnya yang tembam dan kebiruan. Hilangnya Ondol yang misterius, kemudian kematiannya yang tidak lazim itu menimbulkan kecurigaan kerabat dan penduduk sedesa. Beberapa bulan sebelum tiba-tiba saja hilang, Ondol selalu diawasi beberapa orang yang entah dari mana. Kini Ondol ditemukan tewas dalam keadaan mengerikan. Pasti ada apa-apa di balik kehilangannya yang misterius dan kematiannya yang mengenaskan itu.

*** Setelah mayat Ondol diangkat dari kali dan kemudian diurus sebagaimana kebiasaan di desa, beberapa orang penduduk desa berangkat ke kota kecamatan untuk melaporkan peristiwa itu. Sementara mayat Ondol dimakamkan di bawah langit yang mulai teduh oleh warna senja, lima orang yang melapor itu tiba di kota kecamatan. Mula-mula mereka mendatangi kantor kecamatan, tetapi kantor itu tutup dan tak ada seorang pun yang berjaga di sana. Mereka kemudian menuju ke kantor yang berwajib di kecamatan. Namun, tanpa alasan apa pun, petugas piket di sana tidak mau melayani mereka. Petugas piket itu hanya memberi mereka sebuah surat pengantar yang harus mereka bayar seharga dua bungkus Dji Sam Soe. “Langsung saja ke kantor yang berwajib di kabupaten, ya!” katanya. Orang-orang yang melapor itu bergegas ke kota kabupaten.

Ruang penjagaan kantor yang berwajib di kota kabupaten itu kosong. Dengan ragu orang-orang yang melapor duduk di bangku yang ada. Beberapa lama kemudian, seseorang yang bersandal jepit keluar bersama seseorang yang berpeci. Di ambang pintu yang berpeci menyerahkan sebuah amplop kepada yang bersandal jepit. “Kalau kena tilang lagi, temui saya saja di sini. Pasti beres,” kata yang bersandal jepit sambil mengantar yang berpeci. Yang berpeci lantas pergi dengan mobil mengkilap yang terparkir di halaman. Yang bersandal jepit kemudian masuk dan duduk menghadapi orang-orang yang melapor. Orang-orang yang melapor serempak berdiri dan bersalaman dengan yang bersandal jepit, lalu duduk lagi. “Saudara-saudara juga kena tilang?” tanya yang bersandal jepit. “Oho, tidak Pak. Kami ke sini mau melapor,” kata salah seorang, mewakili yang lainnya. “Begini, Pak. Di tepi kali desa kami, tadi siang ditemukan seorang warga kami yang sudah tidak bernyawa. Ondol, Pak. Setelah hilang enam bulan lebih, Ondol ditemukan mati di tepi kali. Mayatnya terapung tak tertutup selembar kain pun kecuali cawatnya yang putih kelabu dan tampak bolong-bolong. Beberapa bagian tubuhnya menunjukkan bahwa sebelum mati Ondol pernah mengalami penganiayaan. Jari-jari tangannya remuk bekas godaman batu. Sedangkan luka di dadanya hampir memperlihatkan beberapa buah tulang rusuknya.” Yang bersandal jepit batuk-batuk kecil. “Nah, begitu Pak. Ketika pertama kali ditemukan, Ondol yang mati di tepi kali itu tidak dikenali sebagai Ondol. Wajahnya hampir-hampir dapat dikatakan hancur remuk. Beberapa luka yang cukup dalam menggaris di pipi, di dahi dan di belakang tulang rahangnya. Sebelah telinganya juga hampir-hampir putus. Dan matanya seolah tidak nampak karena tertutup oleh sekelilingnya yang tembam dan kebiruan.” Yang bersandal jepit batuk-batuk agak keras. “Hilangnya Ondol yang misterius, kemudian kematiannya yang tidak lazim itu menimbulkan kecurigaan kerabat dan penduduk sedesa. Beberapa bulan sebelum tiba-tiba saja hilang, Ondol selalu diawasi beberapa orang yang entah dari mana. Kini Ondol ditemukan tewas dalam keadaan mengerikan. Pasti ada apa-apa di balik kehilangannya yang misterius dan kematiannya yang mengenaskan itu....” “Sebentar, sebentar,” yang bersandal jepit memotong. “Sorri ya Pak, saya bukan yang menangani urusan kriminal macam itu. Urusan yang saya layani adalah soal tilang, tilang, tilang. Kalau bapak-bapak kena tilang hubungi saya. Tunggu yach, sebentar lagi.” Yang melapor hanya melongo. Untuk mengurangi rasa kesalnya, yang melapor kemudian mengeluarkan dua bungkus rokok. Dibukanya sebungkus, diambilnya sebatang dan dihisapnya dalam-dalam kemudian diedarkannya ke teman-temannya. Yang sebungkus lainnya disimpannya lebih dulu di hadapan yang bersandal jepit. “Nah, itu dia orangnya, Pak.” Kata yang bersandal jepit ketika dua orang temannya, yang berkumis dan yang berkaos oblong, muncul.

34

Asap rokok memenuhi ruangan yang tidak terlalu luas itu. sorri. Pasti ada apa-apa di balik kehilangannya yang misterius dan kematiannya yang mengenaskan itu.. Tunggu yeah. “Nah. Sebelah telinganya juga hampir-hampir putus. Orang yang berkaos oblong datang sambil merapikan rambutnya. He he he.. ini dia selesai mandi. Pak.” yang berkumis memotong. Urusan bunuh-membunuh bukan bagian saya. Jari-jari tangannya remuk bekas godaman batu. di dahi dan di belakang tulang rahangnya. Setelah hilang enam bulan lebih. Pak. yang berkaos oblong tadi. Wajahnya hampir-hampir dapat dikatakan hancur remuk. Yang bersandal jepit dan yang berkumis menemani mereka merokok.” Yang berkumis batuk-batuk kecil. Begini. Dan matanya seolah tidak nampak karena tertutup oleh sekelilingnya yang tembam dan kebiruan. tadi siang ditemukan seorang warga kami yang sudah tidak bernyawa. Ketika pertama kali ditemukan. dia lagi mandi dulu. Beberapa luka yang cukup dalam menggaris di pipi.” 35 . “Kalian akan melapor kejadian kriminal?” kata yang berkumis. kemudian kematiannya yang tidak lazim itu menimbulkan kecurigaan kerabat dan penduduk sedesa.” “Sebentar. Di tepi kali di desa kami. “Terima kasih. Kalau kalian punya narkotika.” Orang-orang yang melapor kembali menyulut rokok. Ondol ditemukan mati di tepi kali. Beberapa bulan sebelum tiba-tiba saja hilang.” yang bersandal jepit setengah berteriak kepada keduanya.“Hei.” kata yang berkumis kepada orang-orang yang melapor. Pak. “Hilangnya Ondol yang misterius. sorri yeah. Mayatnya terapung tak tertutup selembar kain pun kecuali cawatnya yang putih kelabu dan tampak bolong-bolong. berdiri dan mondar-mandir. Ayo sekarang lapor sama dia. Nah.” Yang bersandal jepit batuk-batuk agak keras. sedang yang berkaos oblong langsung masuk ke ruang lain. begitu Pak. Kalau yang menangani urusan bunuh-membunuh. “Sorri. kalian dengar. duduk sebentar dan kemudian berdiri mondar-mandir lagi. Begini. hubungi saya yeah. “Iya. Urusan saya adalah perkara kriminal yang berkaitan dengan narkotika dan perkara kenakalan remaja. Salah seorang yang melapor segera menyimpan lagi sebungkus rokok di hadapan yang berkumis. Ondol. Kini Ondol ditemukan tewas dalam keadaan mengerikan. Beberapa bagian tubuhnya menunjukkan bahwa sebelum mati Ondol pernah mengalami penganiayaan. nih ada laporan kriminil. Ondol selalu diawasi beberapa orang yang entah dari mana. Sedangkan luka di dadanya hampir memperlihatkan beberapa buah tulang rusuknya. Pak. sebentar. Ondol yang mati di tepi kali itu tidak dikenali sebagai Ondol. urusan kriminal itu banyak macamnya.. “Nah. Mulutnya bersiul sumbang entah lagu apa.

Ondol ditemukan mati di tepi kali.. Ondol. Ketika pertama kali ditemukan. Pasti ada apa-apa di balik kehilangannya yang misterius dan kematiannya yang mengenaskan itu. Ondol yang mati di tepi kali itu tidak dikenali sebagai Ondol. walaupun yang menyampaikannya gubernur bahkan menteri sekalipun.. Pak. ya. Di tepi kali di desa kami. begitu Pak. Setelah hilang enam bulan lebih. Beberapa luka yang cukup mendalam menggaris di pipi.. telah saya dengarkan. dengan menyerahkan berita acara kematian itu. Pak?” “Tentu saja tidak. ya.” Yang bersandal jepit bersin. apalagi ini adalah laporan kriminal yang berkaitan dengan pembunuhan.” kata yang berkaos. Pak. Beberapa bulan sebelum tiba-tiba saja hilang. Ondol. bunyinya mengagetkan yang melapor. Laporan lisan saja tidak cukup. ya. Pak. “Iya. selalu diawasi beberapa orang yang entah dari mana. Kini Ondol ditemukan tewas dalam keadaan mengerikan. Dan matanya seolah tidak nampak karena tertutup oleh sekelilingnya yang tembam dan kebiruan.” “Urusan bunuh-membunuh?” Mata yang berkaos oblong melirik ke bungkusan rokok di hadapan yang berkumis. Beberapa bagian tubuhnya menunjukkan bahwa sebelum mati Ondol pernah mengalami penganiayaan. “Nah. Sebelah telinganya juga hampir-hampir putus. Jari-jari tangannya remuk bekas godaman batu. “Ya. ayo mulai. Ya.” “Baik. Bagaimana. Pak. Wajahnya hampir-hampir dapat dikatakan hancur remuk. “apa kalian bawa berita acara kematiannya?” Orang-orang yang melapor kaget dan bingung. kami tidak membawanya.. “laporan kriminalitas?” “Iya.” Salah seorang yang melapor dengan tergopoh menyodorkan sebungkus rokok kepada yang berkaos oblong.” perintah yang berkaos oblong sambil segera menyulut rokok. “Begini. “Hilangnya Ondol yang misterius. Masa aparat desa tidak pernah mengumumkan peraturan ini!” 36 . Apakah tidak cukup dengan laporan lisan saya tadi. Mayatnya terapung tak tertutup selembar kain pun kecuali cawatnya yang putih kelabu dan tampak bolong-bolong. mesti dilaporkan secara ter-tu-lis. “Wah.” yang berkaos hampir-hampir membungkam mulut yang melapor dengan tangannya.” Yang bersandal jepit bersin lagi. tadi siang ditemukan seorang warga kami yang sudah tidak bernyawa. kemudian kematiannya yang tidak lazim itu menimbulkan kecurigaan kerabat dan penduduk sedesa. bunyinya kembali mengagetkan yang melapor. di dahi dan di belakang tulang rahangnya. Apalagi kalian cuma warga desa biasa! Sebuah laporan. Harus ada berita acara tertulis. Sedangkan luka di dadanya hampir memperlihatkan beberapa buah tulang rusuknya.“Nanti dulu. Pak.

Ada bukti pun. sodara-sodara. Dengan demikian tidak perlu ditanggapi. he he he. keterangan kelakuan baik sepanjang hayat. karena itu saya minta berita acara daripada kematian yang diissyukan tadi. Kebetulan ada perempuan montok di ruang tahanan.” kata salah seorang. Padahal pemilihan tinggal setahun lagi. kejadian ini menimpa Ondol yang cerdas dan berpendidikan. Tingkat kebenarannya masih dalam tarap diragukan dan belum bisa dipercaya sedikit pun. nih. “Menurut yang berwajib juga ini sebuah peristiwa kriminal yang perlu diusut tuntas. “Kalau soal ini dibiarkan. keterangan tidak pernah menentang dan menghina pemerintah. sebentar lagi kantor yang berwajib ini akan tutup. Bagaimana kalau semua orang yang punya keinginan untuk maju hilang dan terbunuh begitu saja?” tanya salah seorang. Lalu dikukuhkan oleh seorang notaris dan didaftarkan di pengadilan. tidak pernah terlibat penganiayaan petugas keamanan. kan?” 37 *** Di hadapan keluarga dan kerabat Ondol. orang-orang yang melapor menceritakan apa yang harus dilakukan agar peristiwa hilang serta tewasnya Ondol bisa diusut tuntas. Itu pun kalau perkara ini ingin diusut tuntas.” “Betul. orang yang kita harapkan suatu saat bisa memimpin desa ini. pasti dia kesepian. dan akan lebih kuat lagi jika diketahui oleh Bupati beserta ibu. Dibuat di atas kertas segel rangkap sepuluh. Berdasarkan peraturan nomor 12345/6/78. ya hanya bisa dianggap sebagai kebohongan. jika tidak ada berita acara tertulis hitam di atas putih.Yang berkaos oblong memandang tajam kepada orang-orang yang melapor. Kepala Desa beserta ibu. Dilengkapi pula dengan denah lokasi kematian. tak akan ada yang berani mendaftarkan diri menjadi calon kepala desa. dan syarat lain yang tercantum di sini.” “Caranya bagaimana. . Camat juga beserta ibu. Wajar dong kalau seminggu sekali kami juga menikmati kencan gratis di malam panjang.. “Nah.” Yang berkaos menyerahkan selembar kertas. Beberapa orang kerabat Ondol menyatakan bahwa kematian Ondol barangkali sudah merupakan takdir dan tak perlu diusut sebab-sebabnya. karena sekarang malam Minggu. visum dokter. Nah. Orangorang yang melapor menunduk semua. Ketua RW beserta ibu. Dan yang lebih penting lagi. Sebuah is-syu maksimal hanya bisa didengarkan atau dalam istilah yang lazim di sini: di-tam-pung. Pak?” “Menurut peraturan nomor 23456/7/89. “Ingat. Ondol mati tidak lazim dan keadaannya begitu mengerikan setelah setengah tahun lebih hilang secara misterius. Apalagi tanpa bukti. Pasti ini ada hubungannya dengan keinginan Ondol untuk memimpin dan memajukan desa ini. ya tass. Kepala Kepolisian beserta ibu. sebuah is-syu harus diperlakukan sebagai is-syu. berita acara itu sekurang-kurangnya ditandatangani oleh lima orang yang melapor serta diketahui oleh ketua RT beserta ibu.. “Kalau soal segawat ini hanya disampaikan secara lisan. Tetapi orang-orang yang melapor meyakinkan mereka akan pentingnya pengusutan kematian Ondol. itu namanya baru disebut issyu.

bisa saya terima. ya sayang sekali. sebuah peristiwa kriminal pembunuhan dengan lokasi kematian di tepi kali hanya dapat diusut tuntas bila berita acara kematiannya masuk kepada yang berwajib tidak lebih dari sebulan. kalian lupakan saja.” kata salah seorang.” Orang-orang yang melapor tersentak dan termangu. tetapi saya tidak berani kalau risikonya harus seperti Ondol. “Sekali lagi.” Akhirnya semua kerabat Ondol menyepakati dilakukannya pengusutan. Salah seorang. supersibuk. Kemarin! Mestinya kemarin ke sini. dengan semangat 45. lupakan saja kematian si Podol itu. Orang-orang yang melapor tak bisa berkata-kata. Bukan kami tidak ingin mengusut. Untuk mendapatkan visum dokter. Sebuah kejadian serupa yang terjadi minggu lalu harus segera kami usut dan memerlukan penanganan yang tidak main-main.. “Aduh. Sesuai dengan petunjuk Bapak. ya! OK?” Dengan langkah gontai mereka pamit dan pulang dengan seberkas tebal berita acara kematian. Mereka diterima oleh orang yang dulu mereka temui. “kami semua mengharapkan kematian Ondol akan segera diusut tuntas setuntas-tuntasnya. tetapi kalian yang teledor. Lihat. lebih kurang satu juta habis digunakan untuk berita acara itu. Kalau kemarin datang ke sini. Jaman sekarang kita harus berpacu dengan waktu! Ya. dan itu menjadi pro dan kontra bagi masyarakat desa. Selain harus mengusut perkara minggu lalu. Menurut peraturan nomor 34567/8/90.” Yang berkaos oblong mengerutkan dahi. yang menyatakan dirinya diminta untuk mencalonkan diri menjadi kepala desa. Menurut salah seorang kerabat Ondol. tidak disiplin dengan waktu. kenapa baru menyerahkan berita acara sekarang? Sayang sekali. orang-orang yang melapor kembali datang ke kantor yang berwajib di kabupaten. berbaik hati mengurus berita acara kematian Ondol. sekarang kami serahkan berita acara kematian Ondol. lebih baik kematian e. Baru sebulan lewat satu hari berita acara itu bisa didaftarkan di pengadilan. ini sudah menyangkut perkara sub-ver-sif. Pada hari itu juga. ini bukan lagi soal kriminal biasa? Yang berwajib saja mengatakan. Kerabat Ondol juga harus berpatungan menyiapkan sejumlah amplop untuk orang-orang yang menandatangani berita acara itu. Kami lagi sibuk. Karena itu. kami juga masih repot dengan perkara kematian si Udin brengsek setahun yang lalu itu. “Begini." kata yang berkaos setengah marah-marah.Saya juga telah diminta masyarakat banyak untuk mencalonkan diri.. atas nama hukum. pengusutan perlu dilakukan. Jelas bukan. “Sekarang kami tidak punya banyak waktu. Namun pembuatan berita acara itu memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit. “Jadi. tentu berita acara kematian ini." yang berkaos menunjuk setumpuk tebal kertas di atas meja. kami tidak punya waktu banyak. siapa namanya itu. Pak. 38 . mayat yang telah dikubur digali kembali. berkas lengkap berita acaranya juga sudah kami terima.

Beberapa anak kecil memungut kertas-kertas itu untuk dibuat mainan kapal-kapalan. ke halaman-halaman di rumah pinggir jalan.*** 39 . Mereka membeli beberapa buah goreng pisang dan goreng ketan. Beberapa bungkus nasi rames mereka makan untuk menghilangkan lapar.Dalam terik matahari yang membakar tubuh. melayang-layang dan jatuh ke tengah dan tepi jalan. sebagian lainnya hanyut di selokan. Sebagian kertas yang lain mereka lemparkan ke udara. mereka membungkus gorengan itu dengan kertas-kertas segel berita acara kematian Ondol. Karena plastik pembungkus di warung itu habis. mereka melangkah menuju sebuah warung kecil. Kertas-kertas warna-warni berhamburan.

Ataukah senyumnya itu yang menawarkan jalinan komunikasi yang harus diresapkan maknanya dalam hati? Anehnya dia tahu kalau aku sedang menerka-nerka. "Tapi aku takkan bisa menolong kalian. Lelah rasanya aku memanggil. tapi yang kutemui hanya diriku sendiri. tapi rasa ingin tahuku menggebu mengelucak di gejolak kalbu menoreh-noreh dinding hati yang keheranan. Akulah Nuh! Nuh yang diceritakan oleh bapak-bapak kamu. "Benarkah? Benarkah kau Nuh seperti yang aku angankan?" "Ya. Wajah putih berjenggot panjang itu masih menampakkan guratan ketegaran di pipinya. Aku jadi teringat cerita bapakku tentang laki-laki yang tidak disetiai istrinya di atas kapal kayu besar. Tongkat penyangganya menebar harum bau cendana. Aku hampir saja melompat kegirangan saat tahu kalau dia benar-benar Nuh. Tapi dia memandangku terus dan tersenyum mengejek. Mengapa tidak menjawab? Bisikku dalam hati. Kulihat di sekelilingku. "Ya. Di atas batu pualam hitam begitu tegar dia berdiri. . Bisukah? Tanyaku dalam hati. bahasa yang sangat asing ditelinganya. Oh! Hidungku mengendus wewangian hingga meranggas mengalir dalam rongga dada. Maret 2000 Nuh Oleh: Isworo Haris Sunardi 40 "Nuuuh …! Kaukah itu? Yang berlayar dengan sabar mengarungi lautan tiada berpantai?" tanyaku ketika melintas sesosok wajah di depan mataku. Dia tersenyum lagi." dia mengangguk.Horison. kali ini lebih lebar. tapi wajah itu terus saja berdiri tenang menatapku." "Kalian?" aku heran. di bawah angin besar membadai dan guyuran hujan menabrak-nabrak tap kapalnya. Kuusap-usap dengan keras dan kuucek-ucek kelopak di bawah alis ini. tapi (anehnya) warnanya hitam mengkilap. "Kaukah itu? Tanyaku sekali lagi. Barangkali dia tidak tahu bahasaku yang berasal dari Indonesia. "Kaukah itu? Jawablah!" Lelaki itu tetap diam." jawabnya tenang.

ketika menemukan sela-sela perjuangan di antara perang dan perang. Lalu aku berjalan di antara saudara-saudara sendiri yang bertongkatkan politik. Saat kuketahui mereka curang dan membahayakan. Ada guratan gelombang di keningnya." katanya menjelaskan. Karena lamanya aku membuat kapal. Aku berjalan di bawah penindasan. mereka sering pura-pura dengan cara memuja selayaknya seorang raja. Kusergap sebisanya dan kuhancurkan. Mereka ingin menelusur pada masa lalu dengan menerapkan di masa sekarang. Habis itu kubiarkan berbuat apa saja. Kau lupa pada orang yang suka memuja hingga kau turuti kemauan mereka." katanya menggeleng. Semua karena hanya ingin mengikuti kata hati tanpa kau fikirkan. kadang rumah yang berlebihan. aku bagi kebahagiaan. Kukejar dan terus kukejar lawanku hingga jurang beku dan ternyata aku dan anak buah setiaku berhasil menang. Di antara mereka banyak yang saleh-saleh. "Tapi Engkau bisa memberi nasihat buat kami. Aku sangat kecewa."Ya . Mereka bebas makan. Bukan untuk kalian. Tapi lama-lama setelah aku tua dan mulai banyak lupa. Aku terjungkal dalam kesendirian di lembah papa. "Kenapa?" "Kronologi perjalanannya berbeda. Lagi pula lautan yang kau renangi adalah lautan waktu yang berisi ketololan dan keteledoran. hanya untuk umatku. Kalian! Kau dan rakyatmu yang lupa akan hidup dan perjalanannya. Lama aku menunggu jawabannya." Aku terdiam. Kubabat tanpa sisa. Beda sekali dengan lautan yang aku layari. Aku berlayar di lautan tiada berpantai itu. Aku dan anak buahku. Dulu bangsaku lalai tidak mau menjalankan perintah Tuhan dan nasihatku. juga familiku. dengan tanah-tanah yang kubangun rumah. Berkali-kali aku dicaci dan dipecundangi. Dan matahari yang seharusnya hangat di setiap pagi berubah jadi resah yang menyengatnyengat pikiranku. aku jadi kebal. Tapi bangsamu adalah bangsa yang telah lama mengenal Tuhan. Kau dan rakyatmu lupa pada titian waktu bangsa sendiri. Bahkan tahi. Akhirnya sampai juga aku menguasainya. Sementara di atasku beribu peluru mendesing memburu. Aku merayap-rayap mencari-cari musuh yang lengah. Tugasku telah selesai dan tinggal santai. Akhirnya aku harus memilih jalan. Nuh? Aku mohon?" Kabut hitam menggumpal di wajah tua itu. Aku sering mendiamkan atau mendamaikan. Aku rindu harapan. seperti dia sedang serius berfikir. "Tidak. 41 . Setiap kali kutapaki jalan sambil memanggul sepi. Kucari-cari bayanganku dengan harapan-harapan sambil meraba-raba bangunan. Istriku sendiri yang mengajari. tidak …tidak! Aku tak bisa menasihatimu. telah berubah arah. Jembatan waktu yang kau tuju. seperti katamu. Nuh! Bagaimana sebaiknya bangsa ini berjuang berenang di lautan yang bergelombang duka ini. bahkan tahi dilemparkan ke muka ini. Alis putihnya mengumpul. berpakaian. Kutelusuri lagi perjalanan hidupku di saat masih kecil yang digeluti oleh lapar yang sangat. Apalagi kau suka pelihara bunglon-bunglon yang dengan cepat mengecat warna. mereka kusikat. juga kuda-kuda liar yang bisa kutundukkan.

tapi hutan itu malah terbakar. tapi tak juga muncul dalam benakku. Orang tabah itu akan kumintai nasihatnya. Aku gagal menyentuhnya. Kunyuk semprul! Ternyata di antara mereka itu ada beberapa musuh main petak umpet dan perang-perangan. akan kutempuh!" kataku. Lalu aku melesat di antara manusia-manusia pakar penasihatku. Aku jadi sendiri. Kuulurkan tangan agar aku dapat meraih kelembutan telapak tangannya. "Nuh! Dimana kau? Kenapa kau pergi lagi? Nuh! Nuh! Nuuuh…!" teriakku memanggilmanggil orang yang kukagumi itu. Tapi yang kucari tak ketemu juga. Bencana-bencana beruntun melanda. Dia julurkan telunjuknya ke arah langit. Dia julurkan jari manisnya menunjuk ke arah langit." Lalu dia menegakkan jari tengahnya ke arah langit hingga berjajar dengan telunjuknya. Di wajahnya ada teduh bulan purnama. "Jangan mengejek. Kesunyian-kesunyian yang kutelan sebagai pelepas dahagaku telah mengenyangkanku. dan gunung-gunung yang kupijak meledak. Nuh?" tanyaku tak sabar. Kureka-reka dalam khayalku sambil menyusuri lorong-lorong pabrik-pabrik dan mobil-mobil mewah siapa tahu ada di sana. tapi di belakang disiapkan membokong. Lama kucari-cari dan kunanti. Orang yang sabar berlayar itu akan kupungut hatinya. Nuh! Kau datang lagi saat aku terlompat. Nuh." "Lalu. Mereka tampak menyongsong. Hari-hari kuakrabi sepi bagai mimpi. Untunglah dia datang saat aku hampir terpagut rasa putus asa. "Tabah. Ketabahan yang kau pelihara sejak kecil itu membuat hatimu kuat. kedua tanganku mengepak serupa sayap." katanya." Nuh yang tua itu menggeleng. Aku ditandu dan dielu-elu. Bibirnya lembut mengurai suara. Lalu mendorong hingga terjerembab di lubang nista. betapa sedih ketika dia ulurkan tangan untuk menggapaiku tidak pernah sampai.Mereka punjung kata dengan emas. Dia tersenyum. Dan dia yang berjiwa penolong itu akan kucari petunjuknya. "Tegarkan jiwamu!" katanya dengan menekankan suaranya. Sambil berlari Dia kuhampiri. Nuh. Kulambaikan tangan pada orang-orang. "Ketegaranmu. Tapi layaknya sekat. tapi malah tersasar dalam lembah kurang ajar. 42 . Aku berlari di hutan-hutan. "Tanpa ketabahan kau takkan mungkin mampu mengarungi lautan duka resah ini hingga sekarang. Aku jadi berfikir saat dia menjurus-juruskan jarinya ke atas. Berjalan menyusuri ujung penantian. tepekur melebur diri dalam keheningan dan kesunyian. "Kau pasti akan merdeka seperti engkau berjuang mati-matian memperoleh kata itu.

" Aku termangu dalam buaian nasihatnya. Dia menyuruhku memandang ke atas. Tapi Nuh tibatiba pamit pergi setelah meninggalkan nasihatnya dengan menghunjamkan dalam hatiku. "Jadikan tiga itu tonggak kekuatan di hatimu untuk menetralisir kekalutanmu."Tenang!" katanya.*** 43 . Kendali emosi dari dendam pada orang-orang yang telah menjatuhkan kau sebagai kekuatan. ke sana!" katanya menjelaskan. Aku terdiam tenang. Tak terasa reflek jariku ikut menirukan gerakannya. terima kasih!" kataku sambil berlari melewati senja waktu malam yang mulai merayap meranggas gelap. Mataku terus saja menatapnya. "Ya. Sambil memberi salam dia pergi melambaikan tangan. Kupandangi dia saat berjalan meninggalkan. "Terima kasih Nuh.

Dia hanya mengenakan T-shirt polos. Gelombang masa yang bergulung-gulung bagai bah telah menyapu pertokoan. kukira. Persis ketika suatu malam.” aku menyebut pertemuan malam itu. turun amat perlahan. ketika kami tidur bersama pertama kali. ketika kami duduk di sebuah café di pinggir Champs Elessye. Terbang ke tempat-tempat yang jauh. dia bagai berada dalam situasi ekstase. dulu. dan Yogo telah datang. mereka yang hanya mengenal canda dan birahi. usai membebaskan sandera. Paris. Dia datang dari jauh. mungkin ke wilayah-wilayah yang belum dikenalnya. senja mulai nyungsep. memberi komando. pada sebuah flat sederhana di Brooklynn. Revolusi. Asing. “Perjumpaan dengan calon presiden. berkeringat. di sana. Kekuasaan. tadi. Pergilah. lesu. “Kita evaluasi perkembangan. Usai mengantar Ning. meneguk perlahan hangat tequilla. lamban.” ungkapnya tadi subuh sebelum berpisah. Atribut perwira yang selama ini menjadi citranya di depan publik. NY. Tapi adakah sesuatu yang asing bagi sebuah kemutlakan bernama naluri? Kukira tak ada. Urat-urat kesadaran yang memancarkan kharisma dari seorang prajurit lapangan. menyisakan cungkupcungkup api dari mobil-mobil terbakar. Jalan raya yang melintang membelah-belah kota menjadi senyap. aku segera terbang ke sini. bahkan nyaris lunglai. Sambil mengontrol radio. Kota sedang terbakar. kekuatan dan ambisi adalah aura yang memancar dari tubuh tegap Yogo. Malam yang teramat meletihkan telah kami lewatkan dan sekarang adalah tahap menunggu. beraroma perempuan dengan keliaran tersembunyi di balik kecerdasan dan pendidikan yang baik. pedalaman Irian. Dan burung-burung itu telah mengungsi meninggalkan taman di mana senja yang bisanya bersemangat menjemput malam. . telah bergegas pergi dari situ. Mungkin karena burung-burung sudah mengungsi entah ke mana. tapi. sepatu karet dan celana jeans. lenyap sama sekali. juga terekam dalam kalimat-kalimatnya yang cerdas. perkantoran dan meninggalkan nyala api yang perlahan-lahan makin membesar. mungkin. sedang bermula. nun beberapa tahun lampau. Bau tubuhnya masih tersisa dalam ketergesaan langkahku: asin. ”Anda bantu saya. Lalu di sini. Mei Oleh: Moch. Tak perlu kontak. meninggalkan gerah – juga kesal lantaran langit kota telah penuh asap. senja beringsut perlahan. Ning juga pernah bilang begitu. Hasymi Ibrahim 44 Di taman kota. Bau hutan tropis masih lekat di wajahnya. sepanjang malam. Bukan hal mudah mencapai taman ini. mematangkan dan memberi perintah “start”. lenggang. Senja yang kemarin juga. Anggap ini sebagai ekspresi persaudaraan. Pagi sekali.Pada Sebuah Taman.

Para pemain valas telah terkuasai. Persahabatan itu. Belum perlu ada kalkulasi menang atau kalah. kamu masih di situ?” kataku menjawab Ning. kelak. tegas dan banal. Yogo tak mungkin datang. seperti irama tubuhnya: simpel. tapi kuusahakan. tapi rencana masih sedang berlangsung. pupus. Langkah presiden selamanya memang tak terduga. rupanya tak dapat dipercaya. persahabatan adalah ikatan kita. masih mampu tampil sebagai satu-satunya pilar penentu. Aku telah membaca jutaan bit dari laporan intelejen. dan berbagai upaya pembusukan telah terjadi. Dan malam tadi. segera akan terbukti. simpel.” 45 . Beberapa buah bank sudah ambruk. Lesu. Lambaian tangan kekuasaan semakin mengentalkan darah ambisinya. khas orang lapangan yang pernah mengenyam pendidikan menengah di negeri-negeri asing. Presiden mundur besok. “Bang. Sebuah persilatan virtual telah berlangsung mulai tadi subuh – bahkan sudah dua hari sebelumnya. Dia berada satu level di bawah. Oh. Mundur mendadak tentu akan membuyarkan rencana. Sabotase. Demi Yogo. tapi aku punya keyakinan. Kebebalan presiden untuk bersikukuh pada kursi kekuasaan. Kamu kok diam saja?” “Aku bingung. Presiden yang ternyata sangat lemah. telah aku rekam di luar kepala. menganalisis arah perkembangan berbagai kelompok. bahkan dua tahun sebelumnya ketika ketekunan di depan mesin komputer menjadi aktivis menggairahkan. akan memuaskan semua orang dan segera akan berbalik menyerang kami. Markas keuangan sudah terbakar. “Ning. hingga subuh ketika kami pisah. Di ufuk. Yogo tampak angker. Ini harus dicegah. Ning menelepon. Juga kedatangan Yogo yang telat. Bahkan untuk beberapa tokoh kunci. betapa menggairahkan. Ada kontak dengan Yogo?” “Belum.” Singkat. Tapi apa mungkin? Yogo memang bukan panglima.” katanya simpel. Pendek kata semua berjalan sesuai rencana. Juga keagungan sebuah cita-cita. Mungkin dia sedang di istana. Kamu pasti setuju. mengamati penampilan sekian ratus tokoh di depan publik dari waktu ke waktu. demi kesan pada sebuah malam di sebuah kaki lima di Paris. faktor yang kami tak hitung selama ini. habis. langsung. Aku kontan diserang frustasi. juga kepercayaan atas nama keagungan. Akan menyetop aksi. —lampu teplok kehabisan minyak. Malam kemudian tiba dengan diam. diliputi misteri. Dia tak lebih seorang tua pikun yang sedang kehabisan cita-cita. Bahkan picu massa telah berhasil melalui eksekusi mahasiswa. Malam yang sepi. Presiden memang sudah terpojok.persahabatan. Dan sebagian besar kerja keras itu sudah berhasil. bayang kegagalan mulai tampak. sampai ke gelagat seksualnya di ranjang. Pulanglah. dia memilih mengalah sebelum bertempur. tapi ada saja hal yang tak dapat diduga. demonstrasi. dan demi keagungan. Tak ada basa-basi. Para aktivis telah diamankan. Dia ternyata bukan prajurit sejati seperti senantiasa dicitrakan di depan publik. bahwa dia takkan menyerah begitu saja. “Ia.

Castro. Di sini kita bisa berpikir jernih.” “Berendam bersama-sama. Bagi Yogo. Kali ini suaranya bernada khawatir. Reranting tampak seram memantulkan malam hari.” “Sebentar lagi aku datang. Durja. Malam sudah bertahta. Kota masih terbakar. Dia terlampau cerdas untuk dihentikan. cuma handuk. di taman tempat burung-burung bersenggama. “Iya. dan tak ada rencana ulang. alumni Oxford. Seperti yang sering kamu katakan. Hand-phoneku bertulilit. “Ning. lantaran aktornya bermain tak terkendali. Juga kepanikan dan kegamangan seorang yang tumbuh berkembang bersama ilusi revolusi. aku yang justru panik dan gamang. kini. Aku ingin berendam. Melainkan kepanikan seorang penulis skenario yang gagal mementaskan lakonnya dengan sempurna.” “Iya. Tak ada besok. Suara Yogo. seperti Che Guevara. "Kamu masih di situ?" tanya Ning. Atau bisa lanjut di masa yang datang. Duduk menunggumu. balas dendam kalangan militer. Di sini. almamaterku. Menggairahkan.” “Kalau begitu aku mandi lagi. kini.” “Sekarang pakai handuk?” ‘Ya. Udara gerah berbau asap. Sasaran tembak: Perdana Menteri yang terlampau cerdas dan sedang berkilau di dunia internasional. aku sudah mandi. Keagungan itu memang ilusi.“Pulanglah segera.” balasku memencet “off” pada hand-phone. Kami akan segera terbang ke negeri lain. kamu masih di situ?” “Ya. di sana prarencana sudah tersusun. bukan.” Suara Ning tetap empuk. pulang.” 46 . Tak ada kegetiran. dan mungkin Kaddafi – hadir untuk berperanan menumbangkan tiran dan eksis atas nama cita-cita dan keagungan. Biarlah persahabatan dengan Yogo berakhir. Dia memang lebih matang. Sementara bagiku? Masih ada Ning. sekarang atau tidak sama sekali. apalagi kegentaran. Yogo: gumamku membatin. Taman benar-benar muram. menghanguskan sisa rencana. Ini tentu akan lebih menggairahkan.” katanya singkat. Bukan karena risiko yang mesti datang. bertelur dan berkembang biak – dan kini telah mengungsi entah ke mana— semuanya telah berakhir. utamanya. Lakon yang berjalan tak sampai klimaks. Tapi tidak malam ini. “Tunggu sampai besok. Memanggil. Sebaliknya. Mungkin kematangan yang datang dari daya-daya seksualnya yang tak pernah surut dan padam. Kenyataan yang tak diperhitungkan akhirnya terjadi. Aku benar-benar frustasi.

Seperti gairah sebuah musim panas. ya!” “Cepat. di taman ini.“Terus?” “Terus larut seperti biasa.” Malam.” “Aku juga. di Brooklynn. nun bertahun lampau. kurasakan gairah yang lain. kini. Gairah bulan Mei. NY.*** 47 Jakarta. Juni 1998 .” “Aku meresapkan bau mulutmu.” “Tunggu.

Tangannya jadi lapar. siapa kau?!” Titiang yang akan melayani seluruh keperluan. Inilah perempuan itu. Kopag yakin dugaannya ini tidak meleset. Ratu. Seperti bau daundaun kering dan kayu basah. Baru kali ini Kopag merasakan bisa menikmati hidupnya. Aneh. Luar biasa. “Siapa itu?” “Titiang.” Suara itu terde-ngar bergetar.2 Mulai hari ini dan seterusnya. Sekarang Hyang Widhi mengirim untuknya. Apa pun yang . benarkah suara ini milik seorang perempuan? Ketika Kopag akan mengambil tongkatnya. Suara itu dirasakan penuh dengan kejujuran. Bau itu semakin mendekat dan menyesakkan dadanya. dari mana datangnya bau yang membuatnya begitu gelisah? Bau itu semakin mendekat. Tangan mereka bersentuhan. "Siapa tadi namamu?” Kopag mulai menenangkan dirinya sendiri. Pisaupisau yang runcing tebayang di otaknya. dan sangat tulus. “Luh Srenggi. perempuan yang dicarinya berabad-abad. Biasanya dia hanya dijadikan objek. Perempuan itu pasti memiliki kecantikan yang melebihi kecantikan sebatang pohon. Suara itu adalah suara perempuan. Seorang perempuan. Semua gara-gara dia mencium bau yang aneh dari sudut pintu. sekedar mendengarkan keputusan orang-orang terdekatnya. Aneh sekali. kasih sayang. Hampir saja pisau itu memahat kakinya. Dia bisa memberikan penilaian yang begitu objektif terhadap benda hidup yang bernama manusia. Kulit perempuan itu terasa seperti kulit kayu. tiba-tiba saja dia seperti ditenggelamkan ke lautan. Kopag menggigil ketika bau itu benar-benar menelanjangi wujud laki-lakinya.” Suara itu terdengar gugup. Katakan padaku. Apa yang terjadi dengan dirinya? Kopag memaki dirinya sendiri. Kopag semakin gelisah. atau seonggok kayu yang paling sakral sekalipun. Dia memerlukan alat-alat pahatnya.1 Luh Srenggi. Luh Srenggi cepat-cepat membantu.Pemahat Abad Oleh: Oka Rusmini 48 Kopag menjatuh-kan pisau ukirnya yang runcing.” “Srenggi? Srenggi siapa?!” Kopag semakin menggigil.

Tubuhnya seperti lekukan kayu. bisa dibuat sebuah pementasan. Laki-laki itu harus berperan sebagai laki-laki buta untuk menebus kelahiran dan hidupnya sendiri. cantikkah perempuan itu. Dia hamil. Dia anak laki-laki kedua yang lahir dari keluarga terkaya di Griya. sejak kecil dia terbiasa dididik menjadi perempuan bangsawan yang menghormati laki-lakinya. Belum lagi hutangnya yang tiba-tiba saja menumpuk. Dalam kondisi seperti itu. di sanalah dunia itu dibuat untuk laki-laki yang sejak pertama berkenalan dengan aroma bumi . Dia juga memiliki puluhan galeri lukis dan patung. Gelar Ida Bagus menunjukkan bahwa dia adalah anak laki-laki dari golongan Brahmana. Laki-laki itu adalah binatang yang paling mengerikan. aku juga harus memakai kriteria mereka?" "Kebenaran mereka? Aku tidak yakin mereka mampu melihat seluruh keindahan hidup ini dengan benar!” Suara Kopag terdengar penuh tekanan. “Apakah di bumi ini wujud kebenaran itu sudah seragam. dia merasa menemukan kebenaran yang berbeda dengan kebenaran yang diyakini oleh orang-orang yang selama ini rajin menanamkan kebenaran yang telah menjadi ukuran mereka. Dilahirkan sebagai laki-laki buta memang tidak menggairahkan. Apa artinya kekuatan seorang perempuan? Terlebih. agar orang-orang mudah mengenalinya dan membedakan dirinya berbeda dengan manusia lainnya. Karena tak ada perempuan-perempuan yang bisa dilihatnya dengan matanya. dan keindahannya sendiri. Alangkah ajaibnya kalau hidup juga bisa dipermainkan. Kopag harus patuh. lakilaki itu pulang dalam kondisi yang menyakitkan. setelah berbulan-bulan tidak pulang. Ayahnya seorang laki-laki sangat terhormat dan memiliki kedudukan tinggi di pemerintahan. kasta tertinggi dalam struktur masyarakat Bali. Perempuan itu menolak. Suatu hari. juga tidak berkomentar ketika Kopag memuji keindahan perempuan delapan belas tahun itu. Lahirlah seorang laki-laki yang merenggut nyawa perempuan itu. sangat sadar. Salahkah? Kecantikan perempuan muda itu adalah kecantikan yang sangat luar biasa. Aneh sekali tak ada manusia yang bisa menangkap kecantikannya. Bahkan Gubreg. perasaan. laki-laki itu bisa tidur dengan seluruh perempuan. Pikirannya kacau! Kopag sadar. Dia tidak pernah peduli. Seperti sebatang kayu dengan lekuknya yang begitu menggairahkan. Kali ini. laki-laki itu memaksa perempuan yang dinikahinya untuk bersetubuh. Sayangnya laki-laki itu memiliki mata yang sangat liar. sehatkah dia? Bagi Ayah Kopag. Dia tahu. “bahkan untuk menilai keindahan itu.dikatakan orang-orang di sekitarnya. Kata orang. Apa yang sesungguhnya salah pada kriteria yang telah diberikan Kopag terhadap perempuan? 49 *** Kehidupan telah memaksa bocah laki-laki itu memakai label Ida Bagus Made Kopag. apakah orang-orang yang memiliki kelengkapan utuh sebagai manusia ketika dilahirkan mampu menangkap seluruh rahasia kehidupan ini? Rahasia yang erat-erat digenggam dan disembunyikan alam? Salahkah kalau tiba-tiba saja Kopag menemukan kecantikan yang luar biasa pada diri Luh Srenggi. Kecantikan yang dia lihat dengan pikiran. Seluruh wajahnya juga lekukan kayu. pelayan tua itu. laki-lakinya akan menitipkan daging binatang dirahimnya. Tapi. Seluruh kekayaan ludes. Menghargai keindahan yang dititipkan alam padanya. Dia adalah kayu terindah dan tercantik. Tubuhnya kurus dan pucat. Gubreg?” Suara Kopag terdengar getir. setiap makhluk yang memiliki lubang bisa dimasuki.

alam menyerah pada kekuasaanya. merah. 50 . dia harus menunjukkan pada seluruh manusia di desa ini bahwa dirinya berhak masuk dalam lingkungan keluarga bangsawan. pelayan setia yang merawat Kopag sejak kecil. Kopag sangat menyukai kayu yang mengenalkannya pada dunianya. dia memahat pikirannya. Jujur saja. otaknya. Masih kata Gubreg. seperti Kopag juga menyerah pada kebutaan yang harus dia kenakan setiap saat. Kebutaan yang mengikuti dia terus-menerus. dan sangat pas. perempuan kebanyakan itu telah menikah dengan kakaknya dan menjadi keluarga Griya. Bagi Kopag. Kopag juga merasakan setiap mulut perempuan itu terbuka.dan hidup hanya merasakan kegelapan sebagai bahasanya. ketika untuk pertama kali iparnya itu menyalaminya. Kehidupan yang sering dimaki Kopag ternyata cukup demokratis. Bau itu seolah berlomba-lomba meloncat dari bibirnya yang konon sangat mungil. atau posisi piring dan gelas berubah di dapur. Postur tubuhnya seperti putri-putri raja Bali. Tanpa teriakan iparnya yang sering menyesakkan kuping. bagaimana sesungguhnya sebuah penilaian yang objektif dalam hubungan antarmanusia di bumi ini. perempuan itu harus mengubah namanya menjadi Jero Melati. Kopag telah merekontruksi sejarah seni rupa. Suara iparnya itu akan terus menari-nari di sekitar telinganya. perempuan itu adalah pemain sandiwara yang ulung. Dia bisa mengubah kayu kering menjadi sebuah karya seni yang memikat para intelektual seni rupa. Anyir. kembang sepatu yang baru ditanam perempuan nyinyir itu tersangkut tongkatnya. Dunia yang diinginkan. Nama perempuan itu Ni Luh Putu Sari. Karena perempuan Sudra. parekan. hidupnya. kulitnya yang sering jadi pujian. Ni Luh Putu Sari yang sejak menikah dan masuk menjadi keluarga Gria bernama Jero Melati itu memiliki kulit yang sangat indah. Perempuan itu benar-benar serius untuk memasuki perannya sebagai istri laki-laki Brahmana. Sebuah kesunyian dengan pagarpagar keindahan. Kopag tidak saja memahat kayu. Kopag sering berpikir. Aneh sekali. Teriakannya saja bisa memandulkan pisau pahatnya. Dia memberi Kopag poin. Orang-orang di luar hanya tahu bentuk tubuhnya yang konon sangat luar biasa. Disentuhnya kayu kering yang selama ini selalu mengantarnya ke mana dia pergi. Itu yang dirasakan Kopag. Karena dia bukan kaum Brahmana. dia mencium bau darah. Tanaman di halaman samping rusak atau terinjak kakinya. juga impian-impiannya. Ada-ada saja yang diributkannya. Bahkan Gubreg. Saat ini dia sangat mengikuti ambisinya untuk masuk dalam lingkungan keluarga Brahmana. yang tentu saja tidak dimiliki orang-orang. pokoknya seluruh tubuh perempuan itu selalu jadi pembicaraan kaum laki-laki. “Apa bisanya adikmu yang buta itu? Apa? Merepotkan!” Suara perempuan muda itu selalu menggelisahkannya. Iparnya yang luar biasa kasar dan cerewetnya jadi pujian dan pembicaraan seluruh laki-laki di Griya. selalu berkata bahwa beruntunglah kakaknya bisa mendapatkan perempuan tercantik di desa. Bagaimana mungkin perempuan konon kata orang-orang di desanya sangat cantik dan santun itu bisa berkata begitu kasar. Getaran tangannya sudah seperti tangan-tangan mayat yang membusuk. *** Kopag menarik nafasnya dalam-dalam. Untuk pertama kali.

Cucuku memiliki seluruh mata manusia yang ada di bumi ini. apa ini rasa yang dimiliki lakilaki? Ini wujud kelelakian itu?” suara Kopag terdengar pelan. Karmanya jatuh pada anaknya sendiri. Seperti apa perempuan cantik itu? Apa seperti bongkahan kayu beringin ini? Dingin. Gubreg pun mengajari Kopag menelanjangi tubuh pisau-pisau pahat. Rasanya baru mendengar satu huruf keluar dari bibir laki-laki Perancis itu seluruh isi perutnya seperti keluar. dia mampu membuat patung-patung dengan ukiran sangat sempurna. Susah. kata Frans. Susah. aku selalu tersentuh. Gubreg. Gubreg. sebelum berpulang. Sejak bergaul dengan Frans ada-ada saja yang ditanyakan Kopag padanya. tapi mampu memikatku. Tanyakan pada laki-laki bule itu!” Suara Gubreg terdengar penuh nada kecemburuan. Menanggung dosa ayahnya. Tinggi. Lihat. pematung jaman Renaisans. Ada rasa sakit mengelus dada tuanya. rasa apa yang sering membuatku meluap. Gubreg?” “Jangan bertanya yang aneh-aneh pada titiang. Laki-laki setengah baya itulah yang membuat Gubreg. dan menikmati aroma ketajamannya yang luar biasa indahnya. Laki-laki tua itu sekarang ini jadi cepat marah. Kau bisa lihat. Seluruh ilmu memahat dia alirkan dalam tubuh bocah kecil yang tidak berdaya itu. Juga dia baik-baik. perhatian yang lain. Dia ingat teriakan Kopag ketika 51 . Aku ingin tahu. yang diterjemahkannya. Ada yang hilang dalam tubuh laki-laki tua itu. Gubreg. Ratu. Sejak kecil. Aku masih percaya kehidupan itu bisa diajak bicara. Frans Kafkasau. tentang Michelangelo Buonorrty. kan? Kehidupan sendiri memberinya hadiah yang luar biasa.” Laki-laki tua itu terdiam. Jengkel! Waktu Kopag sekarang habis untuk diskusi. termasuk rangkaian pisaupisau pahatnya. Dia juga yang mengajarinya bahwa semua benda punya jiwa. “Gubreg. Dadanya sering mendidih. Ida Bagus Made Kopag memiliki tubuh yang sangat bagus. Kehilangan yang dalam. Gubreg? Tolong kau katakan seluruhnya. Sejak kecil kakeknya hanya mengajari Kopag bersentuhan dengan kayu-kayu untuk berkenalan dengan kehidupan.“Luar biasa kecantikan Jero Melati. yang konon. “Anak itu buta. dan tangannya juga sangat cekatan memahat patung-patung. kau belum jawab pertanyaanku. Lihat. Kadang-kadang dia bacakan buku-buku bahasa asing. Dia juga rajin membaca buku-buku dengan huruf braile. Atau sesekali dia dikunjugi orang asing dari Prancis. Laki-laki bule itu telah memberinya didikan yang baru. Kopag sudah bagian dari nafasnya. Hyang Widhi! Penguasa jagat! Kopag memang sudah besar. “Kau tidak ingin menjawabnya.” “Seperti apa perempuan cantik itu. jengkel! Ada-ada saja yang dibawanya. Gubreg. Titiang tidak bisa menjelaskan seperti Frans. Dipandangnya mata Kopag dalam-dalam. aku juga ingin merasakan. Kegelapan itu jadi milik cucuku yang paling abadi. sudah menjelang dua puluh lima tahun. Saat ini aku mencoba percaya pada matamu. Ratu. Bagi Gubreg. Pertumbuhannya selalu mengingatkanku pada perbuatan-perbuatan yang dila-kukan anakku. Kopag tidak lagi membutuhkannya. Atau sesekali mendatangkan guru yang mengajarinya membaca. Anggap dia anakmu!” Itu pesan Ida Bagus Rai. dialah yang mengajari Kopag mempelajari tekstur kayu.

Terlebih. Ratu?” “Kecantikan perempuan. dia sadar tubuhnya tidak boleh melahap tubuh perempuan Brahmana. Berkali-kali dia menarik nafas. Luar biasa. “Tentang apa lagi. “Gubreg. Gubreg menyaksikan. Gubreg. kebanyakan. begitu indah. “Aku ingin bercerita padamu. dan mampu meledakkan otaknya. Perempuan itu. Dia gelisah. Dayu Centaga selalu menyuruh Gubreg menggosok punggungnya dengan batu kali. Aroma tubuh perempuan itu sampai hari ini masih melekat erat di tubuhnya. Setiap mengingat batas yang ada antara dirinya dan Dayu Centaga. Waktu itu Gubreg seorang laki-laki kumal empat belas tahun. tubuhku gemetar setiap menyentuh pisau-pisau ini. Kilatan matahari menjilati keruncingan pisau pahat itu. Semua orang.. karena kelaparannya adalah kelaparan yang tidak pada tempatnya. 52 *** Pagi-pagi sekali.. dan tulang-tulangnya yang mulai rapuh membantunya merangkai masa lalunya kembali. betapa sinar matahari yang perkasa itu menjadi patah dan tak berdaya ketika menyentuh sedikit saja keruncingannya. Dia mengerti. Gubreg selalu merasakan tubuhnya dilubangi. Dia sering terjaga tengah malam .. Kaki perempuan itu putih.” “Titiang. Sangat paham. Lama-lama Gubreg merasakan sakit yang luar biasa menyerang tubuhnya. dan teramat menggelisahkan ketika tubuhnya mulai lapar dan memerlukan tubuh lain untuk santapan. ketajamannya.” suara Kopag terdengar penuh rasa ingin tahu. Perempuan junjungannya.pertama kali menyentuh tubuh-tubuh pisau yang telanjang itu.. Sampai menjelang tengah malam. Pisau justru seperti menantang matahari untuk bersabung. Rasa itu tiba-tiba saja muncul kembali dalam otak.” Suara Gubreg terdengar patah. Tubuh perempuan itu seperti ular yang melingkar dan menjepit batang-batang tubuhnya. dia juga pernah merasakan seperti apa percikan nafsu itu ketika pertama kali menampar wujud manusianya. Takut sekali menjawab pertanyaan tentang esensi menjadi laki-laki. Aroma itu tak bisa dihapus oleh usia yang dipinjam Gubreg pada hidup. yang hidup dari belas kasihan keluarga Dayu Centaga. Dia juga laki-laki. dia adalah laki-laki tak berguna. Perasaan apa yang sedang bertarung dalam tubuh Kopag? Gubreg takut. Sering sekali dia disuruh mengantar Dayu Centaga mandi di sungai Badung. Ratu. Sebagai laki-laki Sudra. Waktu itu umur Kopag tujuh tahun. memiliki penilaian khusus tentang hal itu..” Keruncingannya. Begitu parah.Titiang tidak bisa menceritakan kecantikan perempuan pada Ratu. angkuh dan selalu lapar. Begitu penuh misteri. dia luka. Kakinya kram setiap melihat tubuh basah itu naik ke atas dengan kain yang hanya sebatas dada. Kopag sudah membuka jendela studionya. Di tangan Kopag pisau itu jadi begitu dingin. perempuan yang sangat dihormatinya. Gubreg belum juga bisa menjawab arti menjadi lakilaki. Tak ada yang bisa diceritakan kegelisahannya.

” suara Kopag terdengar pelan. tanganku. Kenapa kayu-kayu ini selalu mengajakku berdiskusi. tanpa kegairahan sebagai laki-laki. Dia rasakan perubahan pada tubuhnya. yang memanfaatkan seluruh tubuhnya untuk mewujudkan jati diri tokoh yang dimainkan. tidak juga kesambet setan. Gubreg sempat membuang kotoran di pinggir sungai. “Gubreg. Demi Hyang Widhi. "Gubreg. tubuhku. kau ingat kata-kata Frans?” “Yang mana?” “Frans mengatakan keliaranku membentuk tubuh-tubuh manusia dalam kayu mengingatkan dia pada lukisan Pablo Picasso. Aku juga ingin tahu arti setiap impian. sampai akhirnya potongan-potongan tubuh itu ada di tanganku. selalu ingin mengupas dan melukai kayu-kayu itu. kau belum juga jawab pertanyaanku. Masih kata Balian tua itu. sampai menguliti otakku.. Dia menarik nafas berkali-kali. aku merasakan kecantikan perempuan itu melalui jari-jariku. membesarkan tubuhnya. Aku juga memiliki impian-impian sendiri pada patahan tubuh pohon itu. Balian tua itu memberinya jampi-jampi. pahatanku tentang perempuan sangat sempurna. Tanpa istri. Berkat kekuatan Gubreg. tetapi sudah menyerupai air bah. Rasa ingin tahu yang begitu besar. Gubreg bersedia menjalankan runtutan upacara itu. Kebetulan si penunggu sungai sedang beristirahat.” 53 . Gubreg tidak bisa bercerita tentang kelaparan tubuh laki-lakinya. Dia pasrah ketika Balian tua. dia merasakan cinta yang dalam pada Dayu Centaga. Suatu hari Frans dan seorang temannya mengatakan..dengan nafas yang memburu. Keluarga Griya mencarikan dia seorang Balian. Untuk mengembalikan kesehatan Gubreg. Gubreg menatap tajam tubuh Kopag yang sedang merampungkan pahatannya. sangat surealis. dukun. Kayu-kayu dan pisau telah memberiku mata yang lain. Aku selalu ingin tahu. Gubreg paham. karena aliran sungai dalam tubuhnya bukan lagi aliran sungai kecil. Tak seorang pun tahu. Guemica. tadinya penunggu sungai itu juga ingin mengganggu Dayu Centaga. komunikasi Balian tua itu dengan dunia gaib salah. Sesuatu yang dahsyat telah dititipkan alam pada tubuhnya. tidak lagi bisa menikmati kegairahan manusiawi sebagai manusia. Kecantikan perempuan yang kuterjemahkan lewat kayu-kayu itu mengingatkan Frans pada keliaran Martha Graham. dan berpikir. menjelang tujuh puluh lima. Sampai sekarang. berdialog. dingin. Kalau sekarang Kopag bertanya seperti apa kecantikan itu. Dayu Centaga tidak terkena. Tubuhnya jadi pucat. Gubreg. keluarga Griya membawa sesaji untuk penunggu sungai. Justru Gubreglah yang kena kemarahan si penunggu sungai. Cinta yang membuatnya jadi batu. mengajakku bicara. Untuk menghormati kebaikan keluarga Griya.memandikan tubuhnya di pinggir sungai. Impian-impian yang dimiliki oleh pohon ketika dia membesarkan ranting-rantingnya. Katanya agar roh jahat tidak mengenai keluarga Griya. Pada dasarnya aku selalu penasaran. Tubuhnya dilingkari asap yang sangat menyesakkan aliran pernafasannya. Kata Balian itu. Cinta yang tidak mungkin dihapus. Hyang Widhi. Gubreg. Gubreg sadar rasa laparnya sudah tidak bisa dibendung lagi. Gubreg masih setia mengabdi di Griya. Dan Gubreg tahu air dalam tubuhnya memerlukan muara. Gubreg tidak sakit. Kata mereka.

adik Jero Melati adalah perempuan paling liar dan nakal.” Suara perempuan itu terdengar mirip perintah dan pemaksaan. Gubreg menatap mata perempuan itu tajam. Mendengar komentar itu. Untuk pertama kali dia merasakan hawa jahat berendam dan menguasai tubuh cantik itu. Dia tahu. Jero Melati tidak pernah ceriwis. 54 *** “Kita harus carikan seorang istri untuk Ratu. adik Jero Melati bisa menjual tubuhnya.” . Bulan kemarin. perempuan satu ini memang bukan perempuan baik-baik. Saat ini galeri itu sudah tumbuh besar dan menjadi satu-satunya galeri yang paling diakui di Bali karena karya patung yang masuk harus melalui seleksi dan pertimbangan yang teliti. Ratu ingin apa lagi? Jangan menakuti titiang. keluarga besar ini kembali bisa hidup. Otaknya hanya berisi kehormatan. “Kau harus bisa meyakinkan dia bahwa adikku layak menjadi istrinya. ada bantuan dana dari Jerman dan Perancis. Gubreg mencoba memahami ke mana kira-kira arah pembicaraan Kopag. Kata orang-orang kampung. Dia mencoba memahami sesuatu yang sangat rahasia dan begitu dalam ingin disampaikan Kopag. Hanya satu yang ditangkap Gubreg. *** “Gubreg.” “Jero sudah punya calon?” “Ya. seorang anak yang dibesarkan dengan cara-caranya. kakak Kopag sendiri bisa membuka galeri patung yang besar.Gubreg tetap diam.” jawab perempuan itu serius. dia terus mengelilingi studionya. Benar kata Kopag. Gubreg diam. perempuan itu bebas menggunakan uang Kopag semaunya. Patung-patung Kopag laku keras dan diminati oleh kolektor dari dalam dan luar negeri. Laki-laki itu tidak pernah tahu apa arti ada uang atau tidak ada uang. Mengerikan! Padahal perempuan itu sangat cantik.” “Siapa?” “Adik perempuanku. Sekarang ini keluarga ini tentram.” suara Gubreg terdengar sangat hati-hati. Gubreg tahu tak ada yang diinginkan Kopag. Gubreg bahkan rela bocah laki-laki itu mencuri lembar demi lembar rahasia perjalanan dan rasa sakitnya sebagai laki-laki yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk mengabdi. Jero Melati tersenyum. Padahal kemiskinan kalau dihayati memiliki keindahan tersendiri. Berkat Kopag. Ratu terlihat sangat gelisah. “Ratu. Sayang. Kopag memerlukan perempuan. Aku sudah memikirkannya jauh-jauh hari. Bahkan. Aku ingin bicara!” Kali ini suara Kopag terdengar serius. diajar memahami kehidupan. Lima menit tanpa hasil. Kopag seperti linglung. dia tidak tahan miskin. “Bagaimana kalau dia kawin dengan calon yang telah kusiapkan.

Gubreg. Perempuan itu telah mengasah tubuh laki-lakiku. Ketika dia telanjang. “Aku telah menidurkan perempuan itu setiap malam. ketika kujatuhkan tubuhku memasuki tubuhnya. Dia adalah perempuan tercantik.” Suara Kopag terdengar sangat serius. Kau tahu.” Gubreg mengangkat wajahnya..“Ya..” Gubreg ambruk. Wajahnya juga rusak berat. dia lebih mirip makhluk yang mengerikan. ingin sekali dilihatnya wajah Kopag berseri. *** 55 1. Tubuhnya benar-benar lekukan kayu. Perempuan yang mengalahkan kecantikan kayu-kayuku. Aneh! Wajah itu tetap seperti batu.” “Ratu. ada daging besar tumbuh di atasnya. aku tenggelam dan habis. Hyang Widhi! Dewa apa yang ada dalam tubuh Kopag. Aku ingin kawin. Sebuah pisau pahat menembus dadanya yang tipis. apakah kuping tuanya tidak salah dengar? Bukankah Luh Srenggi adalah perempuan yang menyiapkan seluruh keperluan Kopag. titiang juga sudah membicarakan dengan Jero dan kakak Ratu. Gubreg. Saya 2. membersihkan studionya menyiapkan makan. Kali ini pilihanku tidak bisa diubah!” “Siapa?” “Luh Srenggi. Luh Srenggi. Panggilan kehormatan untuk bangsawan Bali . “Maaf Ratu. punggungnya bongkok. tak ada sebuah pisau pun bisa menandingi ketajamannya. dia hanya memiliki satu mata. Kulitnya juga kulit kayu.” “Apa kata mereka. matanya yang kiri bolong.?!” Gubreg seperti tercekik. Sadarkah dia. Kulitnya begitu kasar. kakinya pincang. “Aku sudah memiliki calon. Bahkan merekalah yang akan memilihkan calon istri untuk Ratu.” “Mereka setuju. tahukah dia makna kecantikan? Gubreg menarik nafas memegang dadanya kuat-kuat. dan mengambilkan pisau-pisau pahatnya? Perempuan itu bukan perempuan.

“Aku yang mati. Kematianku sudah menghasilkan lebih banyak uang lagi ke dalam bisnismu. Aku tetap saja hanya sebuah mayat yang sepi.Horison. kemudian sindiran-sindiran dan akhirnya menjadi umpatan-umpatan yang terdengar tidak bedanya dengan kutukan. Kebudayaan tidak lagi membuahbudikan keluhuran. kamu yang melejit.“ kata mayat itu. Air . April 2000 56 Mayat Oleh: Putu Wijaya Mayat itu mengeluh. Aku yang menanggung seluruh kerugian. Aku menderita. tapi sebetulnya kamu semua tertawa. Lalu mulai mengganggu setiap orang lewat dengan berbagai keluhan. diselidiki dan dipakai sebagai contoh. “Aku yang mati. Dan dagang sendiri bukan lagi menjadi ajang tukar-menukar jasa dengan saling menguntungkan. sebagai obyek untuk berbagai penyelidikan. memegang posisi puncak dan akhirnya menang. Kamu semua kelihatan saja menangis. Ini sama sekali tidak adil!” Ia bangkit dari kebisuan dan kekakuannya dan mulai menyusun protes. Ia berdiri di pinggir jalan. meringis. kamu terus hidup ngakak. “Peradaban sudah merosot. Ia menggugat perilaku yang semena-mena tersebut yang jelas sekali memperlihatkan keserakahan manusia. diperdebatkan. Dunia sudah menjadi sebuah pasar besar. kamu yang enak. Aku yang terdera. Aku diberitakan. analisa-analisa yang menyebabkan banyak orang menjadi terkenal dan kaya. Aku yang kejepit. dipergunjingkan. Aku yang sudah mencetak duit buat banyak orang yang memanfaatkan dengan cerdik seluruh peristiwa yang dahsyat ini. sehingga mereka menjadi terkenal. Aku menginginkan ada pencerahan atas kabut hitam yang akan membuat dunia dan kehidupan serta segala manusia isinya ini kiamat kubra. terkemuka. Yang akhirnya tak lebih penting dari segala manipulasi orang-orang tersebut. saling bergotong-royong. Kehidupan sudah rusak. Aku yang menjadi korban. Semua orang berdagang. tetapi membuat manusia semakin tamak dan tipis rasa kemanusiaannya. Aku yang sudah kesakitan. Tetapi aku sama sekali tak kebagian apaapa. tetapi sudah menjadi perang siasat untuk menipu dan membuat bangkrut orang lain.

Itu kan baru dibeli. ternyata hanya sebuah koteka. aku kan hanya menjalankan assignment. “Tanya Bapak. semua yang tidak adil. “Biarkan saja. Berjam-jam mayat itu mencurahkan segala tuntutannya. menutupi hidungnya.matamu hanya kelambu untuk menutup segala kebahagiaan dan keuntunganmu menjual berita-berita perih. Komputer penuh dengan katakata kotor. Mayat itu langsung duduk di depan komputer. tata krama. seluruh ketidak-benaran. untuk menahan lonjakan perasaannya yang tertampung oleh layar komputer. Para wartawan yang ditemuinya semua menghindar. telepon berbunyi. “Semuanya busuk. Bagaimana kalau dia menghancurkan komputer. apa saja yang sudah menyinggung. Ia menguras seluruh dendam. Sekretaris panik. Ia menghadapi mayat itu dengan senyum ramah.” Sedang atasannya yang paling atas sibuk menunjuk wakilnya supaya meladeni mayat yang cerewet itu. keluhuran budi apalagi kemanusiaan yang dikibar-kibarkan selama ini. Ia kemudian lebih banyak mengeram-ngeram seperti kata-kata tak mampu lagi menampung sumpah-serapahnya. Seperti bendungan ambrol. ia menembakkan seluruh unek-unek perutnya. Tapi suruh anak-anak siap untuk menjepret. terpaksa membatalkan niatnya untuk pulang lebih dulu. “Silakan menuliskan semua keberatan Anda terhadap pemberitaan kami. balada-balada dan orasi-orasi yang meratapi dan menggugat kematianku.” erang mayat itu. menciptakan esai-esai. Kamu tidak punya malu lagi mengeruk keuntungan dari orang yang mati!” Mayat itu mengetuk pintu sebuah media massa yang mengalami cetak ulang ketika memuat secara lengkap cerita dan foto-foto kematiannya. Kalau memang ada yang salah. Akhirnya ia menggigit kursi sampai cabik-cabik. luka. meskipun kami sudah sangat berhati-hati. Ini justru bagus untuk publikasi kita!” 57 . mengangkat bahu dan menunjuk atasannya. bahkan yang mungkin akan menyiksanya di kemudian hari. kami bersedia untuk meralatnya untuk kebahagiaan dan ketenangan Anda di sana.” “Biar saja. Tetapi ketika ia mau lari mengadukan itu kepada atasannya. kepatutan. untuk membungkus kebiadaban. Pak. Dalam uraian mayat itu dunia menjadi pabrik kejahatan yang hanya dihuni oleh bandit-bandit tengik. prasangka dan kesakitannya. Akhirnya sekretaris redaksi. Nanti setelah kempes dia kan pergi sendiri. Moral. mungkin dapat diselesaikan secara baik-baik.” “Tapi kursinya rusak. ia beberkan dengan kata-kata yang tajam dan berbisa. kesalahkaprahan. Sama-sama wanita. dia memerlukan ventilasi untuk menyalurkan emosinya. susila. elegi-elegi.” katanya mempersilahkan mayat itu menumpahkan semua sumpah-serapahnya. Apa saja yang sudah menyakitkan.

Dengan garuda yang masih bertengger di kepalanya. Mayat itu membentur dinding begitu kerasnya sehingga foto-foto di dinding berjatuhan. seperti orang yang mau bersekongkol. Mayat itu menggelengkan kepalanya. Mayat itu berdiri.Sekretaris bengong. 58 . Ia lalu menumbukkan kepalanya ke dinding.” “Apa kamu menganggap semua ini neko-neko?” “Tidak. lalu lari keluar. “Kamu mengerti?” “Ya.” “Kenapa tidak? Jelas sekali. karena mencabik kursi itu. Seperti balon kempes. ia menggepeng di atas kursi. Kini ia memerlukan sebuah tidur yang panjang. Sekaligus mengingatkan bahwa subuh sebentar lagi akan menyundul di langit timur. Di situ ia menangis tersedu-sedu. Seakan-akan ikut menikmati kepuasan mayat tersebut. Moncong garuda itu menancap di atas kepalanya. Minuman panas.” Mayat itu mengulurkan tangannya. Ia menoleh pada penjaga malam yang sudah lancang itu dengan mata berkilat-kilat. saya mengerti sekali. Nampak begitu lelah namun damai. menemukan untuk pertama kalinya. Di antaranya ada gambar garuda. semacam roti bakar yang masih bisa disamber dari perempatan jalan di malam yang selarut itu. Ia berdecak-decak kagum. Mayat itu terkejut. orang yang mampu memahami segala tuntutannya. ia kembali ke kursi. Tetapi sebelum pergi meninggalkan tamu eksklusif yang diwanti-wanti oleh sekretaris supaya diperlakukan ekstra istimewa itu. Sekretaris menutup matanya. Mayat itu baru menjadi sedikit tenang. “Jadi kamu percaya sekarang betapa tidak adilnya semua ini?” “Saya percaya. ia sempat mengerling ke atas layar komputer. Penjaga kantor yang tua bangka menghampirinya menanyakan apakah ia memerlukan sesuatu.” Mayat itu menjadi amat girang. Seluruhnya mampetan pikirannya sudah tersalurkan. Ia menoleh kembali ke layar komputer dengan lebih santai. hati dan otaknya. Mungkin juga makanan. juga tidak bisa mengurangi tegangan dadanya. Barangkali sepotong dua potong mimpi yang benar-benar mimpi. Itu memang benar. Setelah menangis tersedu-sedu nampaknya sebagian unek-unek tuntutannya berhasil ia lemparkan keluar dari perut. Penjaga malam itu juga mengulurkan tangannya. air dingin untuk penyegar.” “Kamu bisa merasakan. Ia tidak menginginkan apa-apa lagi. Ini menyebabkan kantuk mayat itu hilang. Tapi tangan penjaga malam itu dingin seperti beku. Penjaga kantor itu mengerti. Keduanya berjabatan tangan.

” “Apa? Kamu budak?” “Betul.” Mayat itu bergidik.” “Kenapa?” “Karena itu kewajiban saya.” Mayat itu terkejut. ia hampir terpekik. Tetapi ketika ia memandangi mata penjaga itu. “Kewajiban? Kewajiban apa? Kamu ngomong seperti seorang budak?!” “Ya memang. Karena di kedua mata nampak ruang kosong. Paling sedikit mata-mata yang diutus oleh kepala kantor. Bulu kuduknya meremang.“Kenapa tanganmu dingin sekali? Kamu takut?” “Tidak. “Apa lagi kewajiban kamu?” “Semuanya!” Mayat itu tercengang.” “Tapi kenapa kamu masih bisa melihat?” “Saya harus bisa melihat meskipun tidak punya mata. Ia curiga kalau-kalau bukan menghadapi seorang penjaga malam.” “Kamu heran atau kaget karena membaca semua ini?” “Tidak. Saya budak.” 59 . Siapa tahu itu agen polisi. “Astaga kamu tidak punya mata lagi?” “Tidak.” “Lalu kenapa tanganmu lebih dingin dari es?” “Ya memang begini keadaannya?” “Tapi kenapa?” “Karena inilah hidup saya.

” “Apa? Kamu betul-betul tidak punya perasaan dan pikiran?” “Betul. Mayat itu menggigil.” Mayat itu mendekat. Apa pun saya tidak punya. kamu kok sepertinya tidak punya hati dan juga tidak punya otak.” 60 . Matanya sampai tumpah keluar karena takjub. “Kamu sudah bangkrut sebangkrut-bangkrutnya. Orang itu memang sudah dikebiri total. Tak puas hanya melihat. Saya budak komplit. Jangankan perasaan dan pikiran.. . Saya harus hidup. Seluruh kemaluannya. aku jadi curiga. ia lalu menyentuh. selanjutnya merogoh tubuh penjaga malam itu. Tiba-tiba ia terpekik ngeri. Apa kamu bukan manusia?” “Saya manusia. termasuk kedua biji buah ampulurnya sudah dicomot. Dia berdiri dan memperhatikan penjaga itu lebih cermat. Ia tak punya segala-galanya.“Budak apa? Budak siapa?” “Budak segala-galanya. kemudian meraba-raba.” “Memang begitu. Maaf ya. “Wow! Badan kamu seperti tak punya tulang. meskipun tidak punya semua itu lagi.” Penjaga malam itu membuka seluruh pakaiannya. Kamu tidak punya apa-apa kamu sudah kalah komplit. maaf boleh aku kobok sekali lagi?” “Silakan. lalu ngobok sekali badan penjaga malam itu. Daging kamu bonyok!” “Memang!” “Bukan cuma itu. Ia terpekik kembali dan meloncat keluar. jangan-jangan kamu.” “Apa kamu sakti?” “Tidak!” “Lha kenapa kamu bisa hidup?” “Ya begitulah. “Ya Tuhan.” Mayat itu bingung.. Lihat kemaluan juga tidak ada lagi.” “Edan!” “Ya.

” “Gila! Bagaimana kamu bisa hidup hanya dengan gaji begitu?” “Itu juga dianggap sudah terlalu banyak. Pasti besar sekali karena kewajiban kamu begitu berat. Saya hanya jualan kertas-kertas kantor yang sudah tidak terpakai. “Nah sekarang kamu berpikir!” “Bukan begitu. Ia pelan-pelan duduk kembali.” “Maksud kamu gaji kamu seperak satu hari?” “Ya. silahkan. Terserah orang. “Kamu pasti korupsi?” “Tidak. Gaji kamu berapa sih.” Mayat itu ternganga. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana seorang yang bergaji seperak satu hari dengan tanggungan istri dan 10 anak bisa hidup. Ini kewajiban saya.” Mayat itu berpikir keras. wong ini harus.” 61 . Berapa?” “Tiga puluh.“Tidak mungkin!” “Memang tidak mungkin.” “Kalau begitu kamu ngobyek!” “Terserah.” “Tiga puluh juta?” “Bukan tiga puluh saja. Lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. telat mikir.” “Itu namanya pasrah. Saya memang telmi. Pasti penjaga malam itu korupsi. Bukan hanya saya yang harus hidup. Istri saya dan sepuluh orang anak saya juga harus hidup. Apa kamu orang Jawa?” Penjaga malam itu berpikir. kok. Pak. Pak.” “Coba ceritakan sedikit kehidupan kamu. saya tidak pilih-pilih nama. suka manggil saya apa saja. “Siapa sih sebenarnya kamu?” “Boleh panggil saya siapa saja. saya manut-manut saja. tetapi apa boleh buat.

” “Kenapa tidak bisa? Kamu tidak mau salaman? Ini hanya ekspresi bukan kolusi. Memang pada orang kecil sering muncul sifat-sifat luhur yang dahsyat. Tetapi sekali ini.” “Tidak bisa. “Tidak bisa.” “Ya. “Ayo salaman.” “Memang saya sudah mati. "Kamu luar biasa. Pak?” “Jelas!” “Ya sudah.” 62 . “Orang lain sudah mati kalau kondisinya seperti kamu ini. sambil mengulurkan tangannya mau berjabatan.” “Jadi kamu ini mayat?” “Betul sekali.” “Kamu sudah mati.” “Mayat seperti gua ini?” “Benar!” “Wow! Kalau begitu kita sama dong!” teriak mayat itu kegirangan karena merasa mendapat seorang teman secara tiba-tiba.” “Ah! Apa?” “Kata saya. kita sama! Tadinya kukira aku sendirian. penjaga malam itu tak menyambut uluran tangannya.” Mayat itu termenung. tidak akan dituntut." gumam mayat itu terpesona. saya sudah mati. Sekarang aku tahu masih ada orang lain. Saya tidak bisa salaman. jangan takut. Ayo salaman!” Penjaga malam itu menggeleng.“Kamu korupsi!” “Apa itu korupsi. Ia lupa pada masalahnya sendiri dan mulai kagum. Jangan keliru. Sedikitnya kita bisa berbagi kemalangan.

tempat saya tidak di kuburan. "Jadi kamu mayat hidup?" "Ya itu.” Penjaga malam itu pasang tabek.” “Tetapi bukan?” “Betul sekali. “Kamu jangan main-main. Saya sudah biasa tidak dipercayai. Tetapi di kantor ini. siapa yang harus melakukan pekerjaan yang jahanam tidak menguntungkan dan menyakitkan ini. Ini bukan waktunya untuk guyonan. Saya tidak boleh bicara terlalu banyak.” “Tidak. lalu ditangkap oleh gelap.” “Kenapa bukan?” “Karena meskipun saya mayat. Selamat beristirahat. 63 . Saya memang mayat. kalau perlu apa-apa jangan ragu-ragu memanggil saya. Baik. Saya tidak boleh tersinggung atau sakit hati. saya hanya parkir di situ supaya tidak mengganggu. saya sungguh-sungguh. Mati pun saya tetap harus bertugas. Boleh saja tidak percaya. Harus. tetapi bukan." "Kenapa kamu mau?" "Kalau tidak. lalu berjalan ke sudut yang tadi ditunjuknya. Tidak apa.” “O kalau begitu kamu hantu?” “Apa saya hantu?” “Ya kamu hantu kalau begitu!” “Ya sudah. memang beginilah saya. Saya mayat yang harus hidup. Boleh juga saya disebut begitu. Dipercaya atau tidak. Saya tidak boleh istirahat.“Keliru bagaimana?” “Saya bukan mayat seperti situ. Sumpah. Pak. Saya tidak tidur.” “Lho tadi kamu bilang kamu mayat?” “Betul.” Mayat itu berpikir. Mayat kok banyak bicara. mayat kan sudah tidak perlu tidur lagi." Mayat itu bengong.

Waktu itu mayat itu merasa malu hati. Remang-remang dalam kegelapan. hanya dengan satu gerakan.11 – 1997 . Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya seakan-akan sudah berbuat kekeliruan yang fatal. “Kasihan. sudah cukup. memanggil saya. ia melihat tubuh penjaga malam itu mencair dalam gelap. mayat itu lalu kembali kepada komputernya. Disertai penyesalan penuh. “Maaf. Penjaga malam itu tiba-tiba keluar dari gelap dengan tergopoh-gopoh menghampiri. perlu sesuatu?” Mayat itu terkejut. sama sekali tidak bisa dihapus lagi. 3 . tidak. Ia merasa sudah terlalu cengeng. seperti tidak ada artinya sama sekali.. Ia abadi..”. seluruh tulisan di dalam komputer itu sudah diprotek. Ia mencuri-curi melirik ke sudut. Diliriknya komputer yang penuh dengan tumpahan tuntutannya. Setelah melihat nasib penjaga malam itu. nasibku tidak terlalu jelek. Tetapi apa daya. Aku tidak perlu apa-apa lagi!” Penjaga malam itu mengangguk.Mayat itu terpesona.” desis mayat itu. “O tidak.*** 64 Jakarta. apa yang dirasanya sebagai kesakitan. ia menyentuh keybord komputer untuk menghapus semua keluhkesahnya. kalau begitu. Bahkan aku boleh dikata agak mendingan dibandingkan dengan penjaga malam itu. kalau begitu. “Ya Tuhan. Ada yang lebih jelek. lalu kembali lagi ke tempatnya.

Memakai sarung Samarinda biru yang juga telah memat. seolah-olah ingin kata-katanya didengar oleh setiap orang di seantero dunia. Sekali-sekali berhenti di depan kantor. selalu dengan tekanan nada sungguh-sungguh. Boleh jadi tidak ada yang dapat memahami arti kata-kata yang diucapkannya. "Atur sendiri-sendiri!" Bisa berarti: "Berdiri di atas kaki sendiri!" "Jangan sekali-kali ndompleng atau bergantung pada orang lain!" Atau: "Benahi dirimu sendiri. Seorang laki-laki tua. sekedar iseng semata tanpa maksud tujuan tertentu. ditandai oleh kerit-merut di wajahnya. jangan pusingkan orang lain!" "Jangan sok!" "Berbuatlah sesuai kemampuan!" . Ia mengenakan topi koboi yang pinggirannya geripis dan warnanya tidak menentu lagi. tapi pengawakannya tegap dan kekar. masih terang terngiang di telingaku kata-kata yang selalu diucapkannya dengan suara lantang. Sepintas lalu. nyaris berteriak. Hanya kata-kata itu yang selalu diucapkannya. Atau dengan kata-kata itu ia hendak menjelaskan suatu maksud. di depan teras-teras rumah yang pagarnya terkunci atau ketika di dunia santai berleha-leha di pojok-pojok sepi. di emperan-emperan toko.Rumah Tuhan Oleh: Muhammad Ali 65 Sampai saat ini. Karenanya ia ditakuti orang. Meskipun tua. di perempatan jalan. Masuk-keluar kampung. Ia selalu mencangkingkan sebuah buntalan besar yang kumal dan entah apa isinya. tidak ada artinya. Tidak jarang ia masuk nyelonong begitu saja ke ruang dalam kantor itu tanpa sedikit pun merasa canggung atau enggan. tempat orang lagi sibuk bekerja. Sesuatu yang punya arti. Ia mengenakan jas wol tua warna hitam yang bulunya telah lenyap dan kelihatannya terlalu besar menyungkup pundaknya. Di trotoar-trotoar. terlebih-lebih anak-anak tidak berani mendekatinya. Kata-kata yang sepintas lalu hampa tak bermakna. Sorot matanya memancar berbinar. seolah-olah kata-kata itu mengandung multi makna yang sulit ditebak artinya. Dengan terompahnya yang peyot solnya ia berjalan ke sana-sini mengelilingi kota. bila direnungkan. seperempat abad setelah ia meninggal dunia. lebih separo abad usianya. karena kata-kata itu seperti dilontarkan secara spontan. Mungkin jas itu diperolehnya dari belas kasihan salah seorang pegawai Palang Merah Sekutu di zaman pendudukan Nica. Kemudian seperti biasa ia menyerukan kata-kata yang telah dihapalnya di luar kepala: "Atur sendiri-sendiri!" Hingga pesuruh kantor tergopoh-gopoh mengusirnya keluar. berkali-kali. di mana pun kebetulan ia berada. Mungkin ia mantan pendekar silat atau bekas tukang pukul pengawal pribadi tokoh yang amat disegani orang. begitu berarti dan perlu diketahui oleh setiap orang. ia berkata: "Atur sendiri-sendiri!" Demikian dikatakannya setiap kali.

Saridin. Di emper stasiun kereta api. selalu berpindah-pindah. karena penampilannya yang tidak lazim. Berkat perlindungan Tuhan ia selamat dari bencana itu. Sidin. belum kuceritakan siapa ia sesungguhnya. Brodin atau Ilmudin. Bila malam tiba ia bergegas mencari tempat berteduh untuk mengistirahatkan tubuh. Martir habis-habisan Revolusi Kemerdekaan bangsa dan negara itu akhirnya terdampar di sebuah kota yang sama sekali tak ramah. Apakah "Din" itu kependekan dari nama lengkap Samsudin. Kusir-kusir dokar. Di bawah pohon di taman hotel berbintang. Ada selentingan. tak ada yang tahu. Siapa namanya. Bahkan pernah selama beberapa malam ia tidur di serambi rumah dinas walikota yang kebetulan tidak dijaga. Tapi semua itu tak dihiraukannya. Diamdiam ditinggalkannya desa tempat asalnya yang penuh kenangan pahit. Siang hari ia berkeliling mengitari jalan-jalan di kota. Di mana-mana ia ditampik dan dihalau. Pernah ia ngumpet di sudut tersembunyi sebuah bank. Karena ada saja orang yang mengusirnya dari tempat itu. penuh bertabur onak dan duri. Ternyata sebagai gelandangan ia bisa hidup terus selama bertahun-tahun. tak terkecuali gubuknya. jangan sombong dan bersikap tak terkendali!" Dan masih banyak lagi arti lain yang dapat ditarik dan disimpulkan dari kata-kata tersebut. mereka sama menertawakan dan mempergunjingkannya. Dari mana asalusulnya. Tanah itu ditumbuhi berbagai jenis pohon buah-buahan. Dari mana diperolehnya uang untuk penyambung hidupnya? Di samping ada orang-orang yang selalu 66 . Tempat peristirahatannya tidak tetap. Ia tetap lewat melintasi mereka sambil merunduk penuh kesabaran. Orang hanya mengenalnya hanya dengan panggilan pendek: "Din!" Tak lebih dari itu. Mereka membumihanguskan seluruh desa. Di emperan super market. karena walikota tidak pernah tidur di situ. meskipun agaknya bisa saja ia menghajar dan mengobrak-abrik orang-orang usil itu. Pengelanaannya tidak berjalan mulus. Sejak waktu itulah ia mulai linglung serupa orang yang kehilangan akal sehat. Di pemakaman-pemakaman umum. Di halte-halte bus kota. Di sampingnya mengalir sungai kecil yang jernih airnya. konon di masa mudanya dulu ia pernah memiliki sebidang tanah yang subur di desanya. Sebaliknya malah ia menganggap mereka orangorang gila. Oh ya. Penjaga malam yang berpatroli atau orang senasib yang merasa lebih berhak menguasai tempat itu. Tapi di zaman Revolusi Kemerdekaan tahun 1945 desanya diserbu oleh balatentara Sekutu yang diboncengi oleh serdadu-serdadu Nica. lalu berkelana tanpa tujuan mengikuti ayunan langkah kakinya. Sudah cukup banyak tempat yang disinggahinya sejak ia meninggalkan desanya beberapa tahun lalu. Ia bersama anak-bininya hidup tenteram dan makmur di sebuah gubuk mungil tak jauh dari tanahnya. Ketika berada di jalan-jalan beraspal di bawah sengatan terik matahari atau diliputi hawa dingin di malam hari ada saja orang-orang usil yang memperolok-olokkannya. Menghancur-leburkan kebun buahnya dan membantai anakbininya. tukang-tukang becak. lebih-lebih anakanak jalanan."Hiduplah secara tertib dan teratur!" "Tegakkan disiplin!" "Berbuat baiklah selalu. Ia melonjorkan kakinya yang penat berdebu.

senantiasa dihalau. jarang dikunjungi orang dan jelas tidak berpagar besi dengan jeruji yang ujungnya lancip serupa tombak. Tapi sial. Mereka sulit tidur. Maka teringatlah ia pada Rumah Tuhan. minta naungan dan perlindungan dari Si Empunya Rumah. Sebenarnya tak pernah ia dengan sadar melakukan perbuatan-perbuatan salah. yaitu Tuhan? Tiadakah rumah itu milik Tuhan? Bukan milik siapa-siapa? Tiadakah setiap hamba Tuhan yang baik berhak memperoleh naungan dan perlindungan di rumah-Nya? Begitulah pada suatu malam dengan penuh harapan ia melangkah menuju ke salah satu masjid agung di kota itu. lantainya dialasi tikar pandan yang telah usang dan koyak-koyak di sana-sini. Ia pergi ke kolam untuk mencuci kaki dan membasuh mukanya. suatu ketika tiba-tiba timbul dalam benaknya pikiran itu. Dilonjorkannya tubuhnya sambil berbantalkan buntalannya. lalu naik ke serambi surau. 67 . Baru ia tergugah geragapan ketika seruan azan Subuh berkumandang.menghalaunya. lebih-lebih warga kota yang selalu sibuk dan bising penuh polusi. Ketika sujud ia di bawah cerpu-Nya. Berlampu suram. Pagar tinggi tersebut dari besi yang berjeruji lancip ujungnya serupa tombak lagi terkunci rapat. Dibangun dari papan pohon waru dan pintunya terbuka lebar. Sampai akhir hayatnya ia ingin senantiasa suasana kedamaian. karena ada pagar tinggi menghadangnya. Masjid atau surau dan musala yang jumlahnya cukup banyak di kota itu. pikirnya. teringat akan nasibnya yang malang-melintang. ada juga insan-insan yang baik hati yang berbelas-kasih yang kadangkadang melemparkan uang recehan atau beberapa batang rokok kepadanya. lari ke kolam mengambil air wudu. Di surau itu telah berkumpul sejumlah orang. apalagi kejahatan. Di sampingnya ada sebuah kolam tempat air wudu yang kotor dan bau pesing. Letak surau itu di pinggiran kota yang terpencil. mengambil tempat di saf yang telah rapi berderet di belakang sang imam. diusir dari satu tempat ke tempat lain. untuk beristirahat di malam hari. serasa kini telah didapatkannya kedamaian hakiki yang selama ini menjauhinya. lalu melangkah ke dalam surau. ia tak bisa masuk ke dalam masjid. Surau itu lengang dan kosong. yang pikirannya selalu buncah dilanda berbagai seribu satu macam kerumitan hidup. Ia menuju ke salah satu surau yang diingatnya. bahkan tidak mampu memicingkan mata barang sekejap pun. kebanyakan orang-orang tua. Ia ikut melakukan salat Subuh berjamaah. Surau itu tampak kurang terpelihara. Kebanyakan orang. Tak lama kemudian terdengar dengkurnya. Dengan hati sendu dan putus asa. sekadar numpang tidur sejenak. yang akan melakukan salat subuh berjamaah. sesaat ia tersedak. Entah darimana. Cepat ia bangkit. yang tentu disambutnya dengan penuh rasa syukur disertai senyuman lebar. Memang tidak setiap orang bisa menikmati tidur begitu cepat dan nikmat pula seperti yang dialami oleh laki-laki tua yang terlantar itu. Mengapa ia tidak ke sana saja. ia surut. lalu mencoba mencari tempat lain utuk istirahat. Setelah selalu mengalami kesulitan dalam upaya memperoleh tempat peristirahatan yang aman. Dalam salat ia benar-benar menyadari akan kerapuhan dirinya di hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang disembahnya.

"Cukup bagiku Tuhan melihatku. Dan ketika salat rampung sudah.yang sekaligus membelakangi norma-norma agama. Seolah-olah ia sesuatu yang najis dan menjijikkan. Nasibnya tercabik-cabik di tengah kehidupan kota yang tak berbelas kasih. Suatu ketika. Bibirnya terkatup tak dapat menyampaikan terima kasih. Diraupnya tangan penjaga surau itu lalu menciumnya. terutama mereka yang termakan oleh apa disebut kemajuan ilmu pengetahuan. Sama sekali tidak terbayang raut kebencian atau kerisihan pada wajah mereka. kepasrahan dan ketergantungannya pada kekuasan-Nya. Lalu menyalaminya dengan akrab seraya berkata. Benar telah dilihatnya keraguan sementara orang. Ia yakin lewat pelita penerangnya Tuhan selalu melihat gerak-geriknya. ia tiba di surau sebelum waktu salat Zuhur. para jamaah sama mengarahkan pandangan mereka nanap kepadanya. Sesaat dipejamkannya kedua belah matanya. selalu dipupuknya. Di tengah kehiruk-pikukan dunia serba fana. Serasa ia bermimpi melihat sosok yang aneh berwujud penjaga surau yang kepalanya ubanan. Tak seorang pun peduli. Ia tersingkir. Keyakinan dan kebesaran-Nya. Hanya Tuhan satu-satunya yang dekat padanya. ilusi dan begitu banyak hal indah mempesona telah meninggalkannya. berkeliling kota tanpa tujuan. Sejak waktu itu ia tak usah lagi berkeliaran mencari tempat berteduh. Sementara asyik memikirkan tentang kehidupan serta kesesatan manusia dalam abad yang kisruh ini --yang disebut abad teknologi-. Satu-satunya yang masih tinggal padanya ialah kepercayaannya kepada Tuhan. ia mengelana seorang diri. "Saya adalah penjaga surau ini. menguntitnya ke mana ia pergi dan di mana ia berada.. Seorang laki-laki tua yang kepalanya beruban menghampirinya." jawabnya. terpencil dan dikucilkan dari arena pergaulan hidup manusia. Hartanya musnah. Ia duduk bersandar ke dinding papan.. limpahan karunia kasih sayang-Nya serta ampunan-Nya yang tiada batas akhirnya. Harapan-harapan. "Benarkah Tuhan melihatku?" tanya hati kecilnya. tidak seperti biasanya. Hidupnya yang hancur berantakan dan porak-poranda. Setiap malam ia langsung pergi ke surau itu untuk beristirahat." Mendapat tawaran yang tak terduga-duga itu hampir ia berjingkrak kegirangan. walau angin sejuk berhembus mengipasinya. Mereka hanya memandang sesaat lamanya. Saudara boleh beristirahat di sini setiap malam. Mereka ragu terhadap hikmat pengertian yang telah diberkati. melindunginya dari kegetiran dan kesengsaraan hidup. Menghapus keringat di jidatnya dan menghela napas panjang. Seakanakan sambil terpejam sempat disaksikannya di ruang matanya lakon kehidupannya yang sedang berputar. 68 . Sesudah salat Subuh ia meninggalkan surau melakukan kebiasaannya. Jika Saudara kehendaki.Selesai salat ia masih duduk bersimpuh khusyuk mengikuti sang imam yang memanjatkan doa ke hadirat Tuhan. Kepercayaan kepada Tuhan merupakan pelita penerang baginya yang selalu bersamanya dalam kegelapan kehidupannya. Agak lama matanya terpejam.. Keluarganya punah.

." kata sosok penjaga surau. Kedua belah matanya rapat terpejam. "Belum lama ini. Di sana segala sesuatu kekal abadi.. Mereka mengira telah berhasil mencapai ketinggian yang luar biasa. hingga menggigil sekujur sendinya. ketika badai mengamuk dan gempa bumi menggelegar. Laki-laki tua yang sering melontarkan kata-kata: "Atur sendiri-sendiri!" telah menghembuskan napasnya terakhir dengan penuh kedamaian di Rumah Tuhan yang sejuk dan damai. bahwa ia telah mempelajari dan meneliti bumi dan langit dari segala segi. dan akan selalu terjadi." Mendengar ajakan itu jiwanya terasa luluh. "Kini. Padahal mereka masih tetap mengorbit di seputar atmosfir bumi. Tapi ia takkan pernah bangun dari tidurnya. Jiwanya serasa lepas terbang ke sawang lapang tak terbatas.Orang tua itu berkata: "Ketahuilah olehmu. dalam hati nurani dan jiwanya. Seorang ilmuwan tersohor muncul dan menyatakan. "Mereka telah mendarat di permukaan bulan. tapi telah keburu sombong dan berlagak. Mereka malah sama sekali belum menyentuh tubir ruang angkasa semesta yang didindingi tujuh lapis langit. orang-orang datang bergerombol ramai-ramai mengerumuni sosok tubuh yang tersandar di dinding papan serambi surau. Ini merupakan masa paling buruk. indah sempurna tiada tara. Mereka coba mendekati planet Mars. seolah-olah ia tertidur lelap. Sungguh keterlaluan! Padahal ia dapat menemukan Tuhan dalam dirinya.*** 69 . Mereka juga mempelajari sebab-sebab turunnya hujan dan angin topan dan tidak lagi menggubris Tuhan. Sebenarnya mereka belum berbuat sesuatu yang berarti. tapi tidak pernah menemukan tanda-tanda adanya Tuhan. Hal ini tentu telah engkau ketahui. ketika manusia sama ketakutan. "Bukankah di sini kita tidak mendapat tempat yang layak? mari kita pergi menghadap ke hadirat-Nya. Ketika saat salat Zuhur tiba. mari kita tinggalkan dunia yang fana ini. bahkan di uratnadinya.. hai pengelana. Tapi akhirnya mereka menemukan penangkal petir dan guntur dan mereka tidak lagi merasa takut kepada Tuhan.

Horison, Juni 2000

Wawancara dengan Sinterklas Sebuah Renungan Sebelum Hari Natal

70

Oleh: Erich Kästner ( 1899 - 1974 )

Bel pintu sudah berbunyi lagi. Yang kesembilan kalinya dalam satu jam terakhir ini! Hari ini, begitulah tampaknya, para pencinta tombol bel pada berkeliaran di jalanan. Dengan murung aku merangkak menuju pintu dan membukanya. Bayangkan, siapa yang berdiri di luar? Sinterklas pribadi! Dalam pakaian kebesarannya yang bersejarah dan terkenal itu. "Oh," kataku. "Sinterklas yang terburu-buru!" "Yang kudus, kalau saya boleh minta." Nadanya sedikit tersinggung. "Ketika masih muda aku selalu menyebut Anda sebagai Sinterklas yang terburu-buru. Aku pikir itu lebih masuk akal." "Jadi, Andalah orangnya?" "Anda masih ingat hal itu?" "Tentu saja! Anak laki-laki kecil yang lucu, begitulah Anda waktu itu!" "Sekarang pun aku masih tetap kecil." "Dan sekarang Anda tinggal di sini?" "Betul sekali." Kami tersenyum pasrah dan mengenang masa-masa yang telah berlalu. "Mampirlah sebentar!" pintaku. "Marilah minum secangkir kopi bersamaku!" Jujur saja, sebenarnya aku merasa kasihan kepadanya. Apa yang harus kukatakan? Dia tidak pergi. Dia berkenan untuk singgah. Pertama-tama dia membersihkan sepatu botnya di keset depan pintu, lalu meletakkan karungnya di

samping gantungan mantel, menggantungkan ranting pelecutnya di sebuah gantungan, dan akhirnya dia minum kopi bersamaku di kamar tamu. "Anda mau cerutu?" "Aku tidak akan menolaknya." Kuambil kotak cerutu. Dia mengambil sebatang. Aku memberinya api. Lalu dengan bantuan sepatu bot yang kiri dia melepaskan sepatu botnya yang kanan dan menghembuskan nafas dengan lega. "Ini gara-gara ganjalan untuk telapak kakiku yang rata. Ganjalan ini sama sekali tidak nyaman." "Kasihan sekali Anda! Apalagi dengan pekerjaan Anda yang seperti itu." "Tetapi dibandingkan dulu, sekarang hanya ada sedikit pekerjaan. Dan itu baik untuk kakiku. Sekarang sinterklas-sinterklas palsu itu tumbuh seperti jamur saja layaknya." "Suatu hari anak-anak akan berpikir bahwa Anda, Sinterklas yang asli, sama sekali tak ada lagi." "Itu juga betul! Orang-orang itu merusak pekerjaanku! Kebanyakan dari mereka yang memakai mantel bulu, memakai jenggot dan meniruku itu, tidak mempunyai bakat barang sedikit pun! Mereka adalah orang-orang yang tidak profesional!" "Karena kita sedang berbicara tentang pekerjaan Anda," kataku, "aku punya pertanyaan kepada Anda, pertanyaan yang sudah sejak masa kecilku menyibukkanku. Dulu aku tidak berani bertanya. Tetapi sekarang aku sudah lebih berani karena aku menjadi wartawan." "Tidak apa-apa," katanya dan menambah kopi lagi. "Apa yang Anda sudah ingin tahu sejak waktu kecil?" "Begini," aku memulai dengan ragu-ragu, "pekerjaan Anda itu sebenarnya sejenis bisnis musiman yang tidak tetap, bukan? Pada bulan Desember, Anda punya banyak sekali pekerjaan. Semuanya bertumpuk hanya pada beberapa minggu saja. Pekerjaan itu bisa disebut sebagai bisnis dadakan. Lalu..." "Hm?" "Lalu, aku benar-benar ingin tahu, apa yang Anda kerjakan pada bulan-bulan lainnya!" Sinterklas tua yang baik itu memandangku dengan terpana. Kelihatannya, tidak ada seorang pun yang pernah mengajukan pertanyaan yang begitu mudah dimengerti itu kepadanya. "Kalau Anda tak mau membicarakannya... ." "Mau, mau kok," katanya dengan suara seperti menggeram. "Kenapa tidak?" Dia minum seteguk kopi dan mengepulkan asap rokok berbentuk lingkaran. "Pada bulan November, tentu saja aku sibuk dengan pengadaan bahan-bahan. Di beberapa negara tiba-tiba tidak ada coklat lagi. Tak seorang pun tahu mengapa. Atau apel ditimbun oleh para petani. Lalu segala macam masalah dengan pemeriksaan bea cukai. Dan setumpuk dokumen untuk

71

transportasi barang-barang. Dan kalau berjalan seperti itu terus, nanti aku harus memulainya sejak bulan Oktober. Sebetulnya, sampai sekarang pada bulan Oktober aku menarik diri dan dengan tenang membiarkan janggutku tumbuh." "Anda hanya berjanggut dalam musim dingin saja?" "Tentu saja. Aku `kan tidak bisa sepanjang tahun pergi ke sana-ke mari sebagai Sinterklas. Anda pikir, aku memakai mantel buluku terus menerus? Dan selama 365 hari menyeret-nyeret karung dan ranting pelecutku ke mana-mana? Nah, begitulah. Di bulan Januari aku membereskan pembukuan. Sungguh mengerikan. Dari abad ke abad, Hari Natal menjadi semakin mahal!" "Tentu saja." "Lalu, aku membaca surat-surat yang datang pada bulan Desember. Terutama surat dari anak-anak. Pekerjaan yang sungguh memakan waktu, tetapi penting. Karena kalau tidak, kontak dengan langganan akan terputus." "Logis." "Awal Februari aku pergi ke tukang cukur untuk mencukur jenggotku." Pada saat itu, bel pintu berbunyi lagi. "Permisi ya?" Dia mengangguk. Di luar, di depan pintu, berdiri seorang pedagang keliling dengan kartu pos bergambar yang berwarna-warni mencolok mata, dan dia bercerita tentang sebuah kisah yang sangat panjang dan sangat menyedihkan. Bagian pertama dari kisahnya itu kudengarkan dengan tabah sambil "menahan sakit" pada kupingku. Lantas aku memberinya uang kecil yang ada dalam saku celanaku, dan kami saling mengucapkan selamat juga untuk masa depan kami. Walaupun aku sudah berkeras menolaknya, dia tetap memaksakan setengah lusin dari kartu-kartu posnya yang mengerikan itu kepadaku. Dia, katanya, bagaimanapun bukanlah seorang pengemis. Aku menghormati harga dirinya yang indah itu dan mengalah. Akhirnya dia pergi. Ketika aku kembali ke kamar tamu, Sinterklas sedang mengenakan sepatu bot kanannya sambil merintih. "Aku harus meneruskan perjalanan," katanya, "kakiku toh tidak bertambah baik. Apa itu yang Anda pegang?" "Kartu pos. Seorang pedagang keliling memaksaku untuk menerimanya." "Sini, berikan kepadaku. Aku tahu orang yang mau menerimanya. Terima kasih banyak untuk keramahan Anda. Kalau saja aku bukan Sinterklas, aku pasti akan iri kepada Anda." Kami berjalan ke koridor, di mana dia mengambil perlengkapannya. "Sayang," kataku. "Anda masih berhutang kelanjutan kisah hidup Anda." Dia mengangkat bahu. "Sebetulnya tidak banyak yang banyak bisa diceritakan. Pada bulan Februari aku mengurus pesta karnaval anak-anak. Setelah itu, berkeliling di pasar saat musim semi. Berjualan balon dan mainan mekanik murah. Pada musim panas aku menjadi pengawas kolam renang dan memberi kursus berenang. Kadang-kadang aku pun berjualan es krim di jalan. Ya, dan setelah itu musim gugur datang lagi - sekarang aku benar-benar harus pergi."

72

Kami berjabatan tangan. Dari jendela, pandanganku mengikutinya. Dia berjalan di salju dengan langkah lebar dan tergesa-gesa. Di pojok Jalan Unger, seorang lelaki menantinya. Orang itu mirip si pedagang keliling yang banyak omong dengan kartu posnya yang konyol itu. Mereka berdua membelok di tikungan sudut jalan. Atau mungkin aku keliru? Seperempat jam kemudian bel sudah berbunyi lagi. Kali ini yang muncul adalah anak muda pesuruh toko makanan Zimmermann Söhne. Sebuah kunjungan yang menyenangkan! Aku akan membayar, tetapi dompetku tak kutemukan dengan segera. "Kan masih ada waktu, Pak Doktor," katanya dengan nada kebapakan. "Aku yakin bahwa aku meletakkannya di atas meja tulis!" kataku. "Baiklah, kalau begitu akan kubayar besok saja. Tapi tunggulah sebentar, saya ambilkan sebuah cerutu istimewa untuk Anda!" Kotak cerutu itu pun tak segera kutemukan. Itu artinya, nanti pun tak akan kutemukan. Tidak cerutu. Tidak juga dompet. Tempat rokok dari perak pun tidak bisa kutemukan. Dan kancing-kancing manset dengan batu bulan yang besar-besar dan mutiara-mutiara untuk jas berekor pun tak ada, baik di tempatnya atau pun di tempat lain. Setidaknya, tidak di rumahku. Aku tidak bisa menerangkan, ke mana barang-barang itu menghilang. Tetapi bagaimanapun, malam ini adalah malam yang tenang dan indah. Bel pintu tak berbunyi lagi. Sungguh, sebuah malam yang baik. Hanya saja, ada sesuatu yang kurang. Tetapi apa? Sebatang cerutu? Tentu saja! Untunglah geretan emas itu pun tidak ada lagi. Karena kalau ada, walaupun aku seorang yang tenang, aku harus mengakui: punya api, tapi tak punya rokok, itu bisa merusak seluruh malam!***

73

Kisah-kisah dari Buku Bacaan Wolfgang Borchert ( 1921 - 1947 )

Judul asli: "Lesebuchgeschichte". Diterjemahkan oleh Kelompok Kerja Penerjemahan Sastra Jerman, Jurusan Bahasa Indonesia, Seminar fuer Orientalische Sprachen (Seminar untuk Bahasa-bahasa Timur) Universitas Bonn (Silke Brand, Britta Debus, Helgard Haas, Birgit Lattenkamp, Klaus Mundt, di bawah bimbingan Dewi Noviami)

"Semua orang sudah mempunyai mesin jahit, radio, lemari es dan telepon. Bikin apa kita sekarang?" tanya Pemilik Pabrik. "Bom," kata Penemu. "Perang," kata Jenderal "Kalau tak ada pilihan lain," kata Pemilik Pabrik.

Dan di atas kertas ada angka-angka." "Empat ribu? Baiklah. dia sedih sekali dan menangis. Ya." "Dan saya tidak dapat memberi Anda kamar mandi. Mereka adalah seorang pemilik pabrik dan seorang pengusaha bangunan. seribu orang bisa terbunuh dalam waktu dua jam." "Dengan ubin hijau. Matahari menyinari bunga. "Ongkosnya?" "Dengan ubin?" "Dengan ubin hijau." Kedua laki-laki itu berpisah.Lelaki dengan jas kerja putih menulis angka di atas kertas. Saat itu zaman perang. tentu. Lalu dia membuka jas kerja putihnya dan selama satu jam merawat bunga yang ada di ambang jendela. Kemudian hanya dengan setengah gram. Sobat. Dan kertas. saya tak akan mampu memberi Anda uang empat ribu ini." "Dengan ubin hijau. " "Empat ribu. jika saja saya tidak mengubah coklat menjadi mesiu pada waktu yang tepat. *** . 74 *** Dua laki-laki bercakap-cakap. Dia menambahkan hurufhuruf yang sangat kecil dan halus. Ketika dia melihat sekuntum bunga mati.

di belakang.' Kedua laki-laki itu berpisah. Dia bangkit dan tertawa. 75 *** Dua laki-laki bercakap-cakap. Dia mengambil bola baru dan menggelindingkannya di atas lintasan." "Demi Tuhan. Pak Guru. Pak Guru. Kelihatannya seperti lelaki-lelaki kecil. Saat itu adalah zaman perang." "Terimakasih. Dua laki-laki bercakap-cakap. Para pemuda bernyanyi: Tuhan yang memberi senjata." Pak Guru memandang yang lain dengan ngeri. Sambil bercerita dia menggambar banyak salib kecil di atas kertas. Ada upacara. "Nah. Menimbulkan gemuruh halus." "Berapa Anda bisa memberi saya?" "Paling banyak delapan ratus. Lalu. Membacakan Hölderlin. Mengingatkan pada Langemarck. berpakaian hitam-hitam." "Anda masih punya berapa?" "Kalau lancar: empat ribu. Para pemuda maju ke garis depan. Mereka adalah para jenderal. Menyampaikan beberapa istilah: kehormatan." "Jadi. "Nah. Mengutip Clausewitz. sedang berkabung?" "Sama sekali tidak.Lintasan boling. Banyak mata bersinar. Mengharukan. Menyeramkan.… Sama sekali tidak. Sangat mengharukan. Berpidato pendek. Ingat Sparta. . seribu. berhentilah. Mereka berbicara tentang manusia. Banyak salib kecil." "Pasti akan habis. tanah air. Sangat mengharukan. bagaimana?" "Tidak begitu sukses. gada-gada kecil berjatuhan. Upacara yang mengharukan.

perempuan itu menamparnya. Ketika perang berakhir. "Kamu tidak boleh membunuh.*** Dua laki-laki bercakap-cakap." kata Hakim. prajurit itu pulang ke rumah. Orang itu dibunuhnya. Dia mati. . 76 *** Ketika konferensi perdamaian berakhir. "Sukarelawan?" "Tentu. Mereka adalah prajurit. Ketika salah seorang menteri meminta kembali senjatanya. Dan kamu?" "Sama. Tuan?" seru gadis-gadis berbibir merah." tanya Prajurit." "Berapa umurmu?" "Delapan belas. Pada waktu itu dia melihat seorang yang punya roti. Tapi dia tidak punya roti. Yang satu rubuh. seorang perempuan tua datang dan mengambil senjata mereka. Para menteri itu mengambil senjata dan menembak lelaki-lelaki kecil dari karton. "Mau menembak. Ketika mereka sedang menembak. Saat itu adalah zaman perang. para menteri jalan-jalan di kota. "Kenapa tidak. Pada waktu itu mereka melewati sebuah stand menembak." Kedua laki-laki itu berpisah.

Waktu mereka enam puluh dua tahun. mereka mati. Diterjemahkan oleh Kelompok Kerja Penerjemahan Sastra Jerman. *** Pada suatu ketika ada dua manusia. mereka saling memukul dengan tangan. Jurusan Bahasa Indonesia. mereka menggunakan bakteri. Dan kadang-kadang kadang-kadang seorang manusia bisa dijumpai. Lumut dan laut dan nyamuk-nyamuk: Semuanya masih tetap yang sama. Waktu mereka empat puluh dua tahun. mereka saling menembak dengan senjata. Seminar fuer Orientalische Sprachen (Seminar untuk Bahasa- . mereka saling melempar bom. dia mengamati dengan tenang: Pohon-pohon masih tetap pohon-pohon. Ikan-ikan kecil dan bintang-bintang. mereka saling memukul dengan tongkat dan saling melempar batu. Waktu mereka berdampingan. Burung-burung gagak masih menggaok.Dia adalah seorang ibu. Waktu mereka dua puluh dua tahun. seekor cacing tanah makan di kuburan mereka. delapan puluh dua tahun. Dan anjing-anjing masih mengangkat kakinya.*** Judul asli: "Interview mit einem Weihnachtsmann". Waktu mereka dua belas tahun. Tanahnya sama. Waktu mereka berumur dua tahun. Ketika tahun 5000 seekor tikus mondok muncul dari tanah. Semuanya tanah yang sama. Cacing tanah itu sama sekali tidak merasakan bahwa di situ dua manusia yang berbeda dikuburkan. Mereka dikuburkan 77 Ketika seratus tahun berlalu.

di bawah bimbingan Dewi Noviami). Birgit Lattenkamp. Beate Meik. 78 .bahasa Timur) Universitas Bonn (Silke Brand.

sedangkan Juenger lebih suka welsche Dole. Perihal kedua tokoh mengesankan yang sudah “is bitzeli fossil” inilah saya beritakan kepada rekan-rekan di lembaga penelitian. tampaknya lebih tua dan lemah daripada Juenger yang kelihatan gagah meskipun baru saja telah melampaui usia tujuh puluhan dan menampilkan diri sebagai seorang suka olah raga. percakapan mereka sangat kaku dan tersendat. mungkin surat-surat saya didengar sebagai ketukan takut-takut lembut di pintu. yaitu daerah yang dulu diperebutkan dengan sengit. dalam waktu beberapa hari dan hampir bersamaan datang dua surat jawaban yang menyatakan bahwa undangan saya diterima. puncakpuncak menara gereja itu menjulang tinggi di atas rumah-rumah penduduk kawasan Schiffslaende. Ia jelas kelihatan sebagai seorang yang menikmati kesenangan hidup. Kelihatan betul bahwa keduanya sangat berusaha memperlihatkan sopan santun dan daya pikat mereka masing-masing. Biasanya kami duduk-duduk di serambi restoran roti dan kue. ketika saya mengutip awal sebuah lagu yang selama Perang Dunia I sering dinyanyikan dan tidak diketahui penciptanya. tidak lama kemudian juga Juenger turut menyanyikan lagu yang melodinya sangat sedih dan mencekam. setelah dua rekan di lembaga penelitian kami sudah berulang kali dan sia-sia berusaha.Abadku Oleh: Günter Grass ( 1927 . sesudah berjalan kaki mendaki bukit Vogesen menuju ke Hartmannsweilerkopf. . Saya telah memesan kamar-kamar yang tenang di hotel “Zum Storchen”. apalagi saya warga negara Swiss suatu negara yang netral. Meskipun saya menggambarkan garis besar rencana penelitian kami hanya sesuai ketentuan umum. Usaha mereka “uff Sehwyzerduetsch zu schwaetze” amat lucu.. pada pertengahan tahun enam puluhan saya berhasil menggugah kedua pengarang lanjut usia itu —Juenger dan Remarque— agar mau bertemu. Karena tinggal di daerah Wuerttemberg.. yaitu “Flandrischer Totentanz”. Juenger datang liwat kota Basel. Pada pertemuan pertama. sambil memandang sungai Limnat. Mungkin saya lebih beruntung karena saya perempuan dan masih muda. akan tetapi sekaligus menyusahkan. Namun. Keduanya masih mengetahui larik-larik yang mengakhiri tiap bait: “Flandern in Not. pertama-tama Remarque mulai bersenandung. in Flandern reitet der Tod” (“Flandern dilanda bahaya. dengan banyak pertumpahan darah. Remarque—waktu itu usianya enam puluh tujuh tahun—datang dari arah kota Locarno. ) 79 1914 Akhirnya. Tamu-tamu kehormatanku—keduanya saksi zaman dan pelaku sejarah—berbincang-bincang sambil beradu pengetahuan tentang jenis-jenis anggur yang dihasilkan di Swiss: Remarque memuji berbagai jenis anggur yang berasal dari daerah Tessin. di Flandern maut merajalela”).. Kemudian keduanya memandang ke arah gereja Grossmuenster. balai kota dan hotel “Zum Rueden”.

Setidak-tidaknya Remarque memandang dirinya sendiri sebagai “mayat hidup”. Remarque. Akui sajalah. kami menemukan senapan. isinya bukan kumpulan pengalaman pribadi. kami merasa dilebur menjadi satu kekuatan besar. pertempuran sebagai pengalaman jiwa tetap memikat saya. sampai sekarang hancur jiwa raganya. juga karena disemangati oleh para guru. bahkan dalam novel Im Westen nichts Neues—novel pertama Anda yang memang hebat—Anda bercerita penuh perasaan dan gejolak batin tentang persahabatan sehidup semati di antara para prajurit.” Kedua pengarang tua itu memang tidak mulai berselisih. seperti Remarque sendiri. ia mengakui juga bahwa lama sebelum permulaan perang. perlengkapan tentara sukarela yang dalam kekuatan resimen telah maju ke garis depan …” 80 1915 . ia sudah sangat ingin mengalami keadaan bahaya dan sangat tertarik pada petualangan-petualangan luar biasa dan “bahkan ingin masuk Legiun Asing Prancis”. Anda tetap berpetualang seperti preman bajingan. Kalau yang satu masih tetap memandang dirinya sebagai seorang “pencinta damai yang tidak dapat berubah ataupun diubah”. satu tidak kembali. “Dinas di rumah sakit tentara sudah cukup sebagai sumber ilham saya. bahkan juga ciri-ciri pertempuran yang membawa banyak korban dan kerugian itu. meskipun Juenger menamakan kultus kepahlawanan Langemarck “bualan kaum nasionalis”.” Novel ini. akan tetapi mereka menekankan bahwa pandangan mereka mengenai perang berbeda. yang lain menuntut dimengerti dan dipahami sebagai “anarkis”. Tanpa pikir panjang dan tanpa rasa bersalah Anda telah mengerahkan satu pasukan tempur. Barangkali sebab itu. melainkan pengalaman di garis depan dari suatu generasi yang diperalat. Menjelang akhir pertemuan pertama—kedua pengarang itu masing-masing telah menghabiskan sebotol anggur merah—Juenger berbicara tentang Flandern lagi: “Ketika dua tahun kemudian kami masuk ke dalam parit-parit di garis depan daerah Langemarck. sampai serangan terakhir yang diperintahkan Ludendorff. bahwa gaya penulisan mereka berlawanan. yang tidak berkesempatan masuk sekolah menengah umum. “Dalam Stahlgewittern. Dan mereka yang kembali. “Omong kosong!” teriak Remarque. bahkan sampai pada hari-hari terakhir sebagai komandan pasukantempur. ketika dekat Bixschoote dan Ypern terjadi pertempuran seru yang mengakibatkan pertumpahan darah habis-habisan di pihak resimen-resimen tentara sukarela Jerman. kata Remarque. kopelrim dan selongsong peluru yang berasal dari pertempuran tahun empat belas. banyak murid sekolah menengah umum ramai-ramai mendaftarkan diri sebagai tentara sukarela. Bahkan juga Pickelhauben ditemukan. Meskipun perang itu kemudian membawa penderitaan. Lalu ia melanjutkan: “Ketika akhirnya perang meletus. hanya guna menangkap satu-dua orang musuh—sekedar untuk melampiaskan nafsu sadis dan sekaligus guna menjarah sebotol Cognac!” Namun kemudian ia mengakui bahwa di buku hariannya Juenger telah menggambarkan pertempuran parit. dengan sangat teliti. dan bahwa juga titik tolak mereka berlainan. Dari tiap dua orang. juga.Sesudah perenungan beberapa saat diselingi dehem-mendehem. Remarque mulai bercerita bahwa pada musim gugur tahun empat belas ia masih di bangku sekolah di kota Osnabrueck. memberi kesan yang sangat mendalam kepadanya. yang mengabarkan bahwa berondongan tembakan senapan mesin dari pihak Inggris dibalas sambil menyanyikan lagu kebangsaan*. Juenger sambil tersenyum halus menceritakan beberapa pengalaman masa sekolah kepada Remarque. bahwa legenda kepahlawanan di Langemarck.

bahannya kadang-kadang diganti dengan bahan campuran wol dan serat lain yang dipres. karena bagian depan helm itu harus memberi perlindungan sampai ke ujung hidung. Lalu ia mengeluh tentang hambatan penglihatan di waktu pertempuran parit. Namun. antara lain pabrik besi Thale. 81 . sebuah kafe yang sejak dulu sudah terkenal. Helm baja itu hasil percobaan seorang kapten arteleri bernama Schwerd setelah percobaan-percobaan sebelumnya tidak memberi hasil yang memuaskan. Andaikan Anda tahu. Sebaliknya pikiran kami bertiga bukan mengenai masa depan. Padahal buku saya dalam tahun 1933 termasuk buku yang dibakar secara resmi. “buku itu laris. Setiap tembakan jitu. perusahaan-perusahaan lain yang mendapat ordernya. sehingga selama dua belas tahun terpaksa berhenti beredar di pasaran buku Jerman. Disetujui pula bahwa saya diizinkan minum air jeruk.Pertemuan berikutnya berlangsung di Odeon. Namun Im Westen nichts Neues tiras penerbitannya jauh lebih tinggi daripada In Stahlgewittern. Kami berlomba dengan orang Prancis yang juga mulai memakai helm baja. Juenger langsung melontarkan sebuah kata yang tidak lepas dari pembicaraan selanjutnya: “Pickelhaube yang amat menjengkelkan ini. Semua pasukan di depan kota Verdun dan di pinggir sungai Somme mendapat prioritas. Juga Schweizerhelm yang sampai sekarang dipakai militer. mulai dari proses anti karat yang menghasilkan permukaan luar yang kusam berwarna kelabu. meskipun bentuknya agak diubah.” Sanggahan saya “Untung helm kami tidak terpaksa diuji coba dalam pertempuranpertempuran yang membawa pengorbanan dahsyat dan kerugian besar seperti yang Anda gambarkan dengan kekuatan bahasa yang begitu meyakinkan” diabaikannya. Karena Krupp tidak mampu menemukan campuran logam yang cocok untuk menghasilkan baja anti karat. yang berada di front Timur terpaksa palinglama menunggu.” Kemudian ia berbicara langsung kepada saya. melainkan seputar masa lalu. Remarque sengaja tetap membisu. terletak di atas meja marmer di antara roti croissant dan keju. sambil meletakkan beberapa bagian peta medan perang di meja yang sudah agak kosong setelah perangkat sarapan pagi disingkirkan. berapa banyak korban jiwa telah jatuh karena helm kulit yang tidak ada gunanya itu. Setiap pecahan peluru tembus. Remarque. kedua buku yang pernah menyulut perdebatan sengit antara kubu pro dan kontra perang. Di sinilah dulu Lenin menunggu keberangkatannya ke Rusia —perjalanan yang dikawal tentara kekaisaran Jerman— sambil membaca-baca Neue Zuercher Zeitung dan surat kabar lain serta diam-diam merencanakan revolusi. Kemudian saya berhasil mengalihkan pembicaraan ke perang parit di Flandern dan di tanah kapur daerah Champagne. Mulai enam belas Februari semua divisi di garis depan memakai helm baja. sampai ke bagian yang mencuat ke belakang guna melindungi tengkuk dan lapisan dalam berupa bantalan berisi rambut kuda atau terbuat dari campuran wol dan serat-serat lain yang dipres. “Betul. berkurang satu orang. pertama-tama kedua tamu saya sepakat bahwa pertemuan ini akan dimulai dengan sarapan pagi yang disertai minuman anggur. Remarque! Pelindung kepala itu dalam divisi kami di garis depan sudah sejak lima belas Juni diganti dengan helm baja. Seakan-akan menjadi saksi.” Juenger tidak menjawab. Selanjutnya Juenger menghujani Remarque dengan berbagai keterangan rinci. yang sudah tidak dipakai lagi ketika Anda jadi tentara. Ketika serangan dan pertahanan di pinggir sungai Somme mulai diperbincangkan. terjemahannya ke dalam beberapa bahasa asing mengalami nasib yang sama. pada dasarnya mengikuti model helm baja kami. bahkan juga penyangga yang diberi lubang ventilasi. hal itu disebabkan oleh lebarnya bagian dahi yang mencuat ke depan. apalagi dalam pertempuran parit! Bahkan karena kekurangan kulit.” kata Remarque. sedangkan madah perang karangan Anda jelas tidak pernah terhambat penerbitannya.

Saya. 82 . si none.“Nah. dipesankan air jeruk yang baru diperas segelas lagi.*** Diterjemahkan oleh Dewi Noviami.” Setelah agak lama tidak ada yang berbicara—kedua pengarang itu sedang menikmati Pfluemli dan kopi hitam—akhirnya Remarque mengatakan: “Helm baja jenis M 16. Anda tentu tahu bahwa pada saat-saat manuver selama serangan gempur.. Bahwa peluru yang ditembakkan oleh pasukan infanteri dan bahkan pecahan-pecahan kecil peluru meriam tetap menembus topi baja itu. topi baja yang hebat ini sangat mengganggu. yang tinggal kelihatan cuma bibir mereka yang meringis ketakutan dan dagu mereka yang gemetar. sesudah itu M 17.. .” Ia memanggil pelayan dan memesan Pfluemli lagi. hampir pipih. Melorot terus. ada lubang bekas peluru tentu. Lucu dan memelas sekaligus. sebuah helm Inggris yang bentuknya sama sekali lain. Wajah-wajah mereka yang masih lugu seperti anak sama sekali tertutup oleh helm itu. di meja tulis saya ada kenangkenangan. saya lebih suka memakai peci letnan saya yang sudah tua . jauh terlalu besar untuk pasukan pengganti yang terdiri dari prajurit-prajurit muda yang baru direkrut dan yang kadang-kadang bahkan belum selesai dilatih. mestinya Anda ketahui juga. Meskipun harus diakui sebagai tindakan ceroboh. Juenger juga.sutera lagi lapisan dalamnya!” Lalu ia teringat pada sesuatu yang dianggapnya lucu: “O ya.

Dan daging kalengan itu pun kumakan. Dengan canggung dia masuk ke lobang perlindungan dan hampir saja menyenggol rantang makanku. dia pun membawa rokok." kataku. "kemarikan. "Ayo." kata Gerhard. "jangan terlalu keras. di mana orang-orang Rusia berada. "atau kusimpankan sampai besok pagi?" Dari nada suaranya. Gerhard kemudian menyelinap kembali ke pos komando. sekop dan masker gas berdentingan dengan bodohnya. Di dalamnya ada banyak potongan-potongan daging empuk yang kukunyah dengan nikmat. dan mendengarkan ke arah belakang di mana terdengar suarasuara yang ditimbulkan petugas pengantar makanan itu." kataku perlahan. aku tahu bahwa dia terburu-buru untuk kembali ke pos komando. dialah yang mengantarkan orang itu. adalah hal yang biasa mengirim orang baru ke pos yang tersulit. melepaskan kopelrimnya.1985) 83 Bersama petugas pengantar makanan." "Ya. ke mari. di pos pengintaian." kataku. begitu saja dari kertas pembungkusnya.. sialan!" Peralatan kopelrimnya. sebungkus permen Drops dan lemak mentega dalam kertas karton... di pos komando. juga ke arah depan yang gelap dan sunyi. Malam-malam itu begitu gelap dan rasa takut seperti hujan badai berguntur di bumi yang muram dan asing. Aku berdiri di depan. dan bagus juga bahwa dalam kegelapan aku tidak bisa melihat ulat-ulat yang keluar dari buncis waktu dimasak. "orang baru yang menggantikan Gornizek . . sesuai dengan aturan. si orang baru berdiri di samping sambil menggigil dan membisu. Orang itu berdiri dengan sangat membisu di sampingku. dan selain membawa peralatan makan. aku tahu bagaimana dia. "Dan ini. "Tidak usah. dengan muka selalu menghadap ke . masker gas di sebelahnya dan pada tanggul lobang perlindungan diletangkannya senapan teracung ke arah musuh. meloloskan lalu meletakkan sekopnya ke samping." Dia menyerahkan roti dan daging kalengan dalam bungkusan kertas minyak." gumamku dan bergeser untuk memberinya tempat. untuk pos pengintaian.. semuanya akan segera kumakan. "Idiot. Lebih dengan pendengaranku daripada dengan penglihatan. Sop buncis sudah dingin." Selama itu. Letnan mengirim dia kepadamu. Sang Calo Oleh: Heinrich Böll (1917 . dia datang pada malam hari untuk menggantikan Gornizek yang berjaga di belakang. "Ini. kemudian roti kutekan-tekankan pada rantang yang sudah kosong. ... "Kau mau roti ini juga?" tanya Gerhard. dan bagaimana dia kemudian mengaitkan kopelrimnya lagi. Gerhard.Jak.

. "tapi aku tersedak. juga tidak boleh memulai peperangan." "Kalau begitu. Suara yang rapuh seperti seorang penyanyi tenor yang sentimental.." kataku pelan-pelan. Anak-anak muda yang malang itu ." "Tapi di pos. "Terima kasih." kata sebuah suara yang lemah." Aku heran bahwa dia sudah bisa berbisik dengan baik.sabar seperti seekor anak sapi yang mendapatkan botol pertamanya. 84 . "Sini. helm bajanya hampir seperti tameng punggung seekor kura-kura." "Tak ada yang boleh. "Kamu mau merokok juga?" "Tidak. "Tidak enak?" "Enak. "Di pos. Orang yang masih sangat muda itu punya sesuatu yang sangat khas pada tengkuknya yang mengingatkan pada permainan perang-perangan di sebuah lapangan di pinggiran kota." katanya lagi.." bisiknya." gumamnya. "kan tidak boleh duduk. terlihat dari tengkuknya bahwa dia masih muda. dan dalam kegelapan aku melihat sebuah profil. dan jika dia menoleh ke samping. Aku membungkuk." tampaknya itulah yang selalu mereka ucapkan. lalu dia bergidik dengan keras sampai-sampai aku harus melepaskannya. dia membiarkan beberapa tegukan tertelan. "Bagaimanapun kamu kan tidak bisa terus-terusan berdiri. tapi aku tahu bahwa dia duduk seperti seorang prajurit baru di sebuah kelas." Dia mengambil botol dari tanganku dan meneguk dengan baik. Winnetou." "Tidak. "minum seteguk." kataku." katanya menggagap. Bibir mereka gemetar karena takut dan hati mereka keras karena berani. . dengan tekanan yang sudah kupelajari dengan susah payah." Walaupun aku hanya bisa melihat siluetnya. menarik kerah mantel tinggi-tinggi sampai menutupi tengkuk dan menyalakan pipa rokok. tapi aku memegang kepalanya dan menyorongkan leher botol ke mulutnya . "Saudara merahku. "Duduklah yang tenang.." tambahku sambil menarik pinggiran mantelnya dan dengan setengah memaksanya untuk menduduki bangku. "Kemari. minum sendiri. tangan di lutut. "Diam!" aku membentaknya. sangat tegak dan setiap detik siap meloncat berdiri mengambil sikap siap seperti orang sinting. Tekanan yang bisa dimengerti orang dengan baik tapi hampir tidak bisa terdengar dalam jarak satu meter.musuh.

"Ini untuk yang pertama kalinya bertugas di luar?" Dia malu lagi. selalu begitu.. "Aku juga takut. lalu sisa-sisa sop. Avold. aku pasti akan berpikir: kalau saja gelap. juga di pos komando di belakang kami. Tetapi kalau terang. Dia sangat .. Di bagian depan tidak ada apapun. tapi lalu dia berkata: "Ya. Avold. bau keringat. lalu ruang penyimpanan pakaian lagi. Ah. "selalu malah.Aku pun minum." kataku karenanya. Lothringen. di 85 . aku merasakannya. tampaknya mereka telah selesai dengan pembagian makanan. kamu tahu. Di suatu tempat. Di kejauhan terdengar derum halus motor kendaraan... setidaknya remang-remang atau berkabut. Tapi aku tak melihat apapun kecuali sinar kilatan matanya yang menurutku tampak berbahaya. Dia menyebarkan bau ruang penyimpanan pakaian. juga sedikit berbau minuman keras. kalau saja hari menjadi siang." Aku merasakan bagaimana dia berpaling dengan cepat ke arahku. kalau saja sedikitnya remang-remang. pikirku. atau kalau saja tiba-tiba kabut datang. "Sekarang lebih baik... dan aku membungkuk ke arahnya untuk dapat melihat parasnya." "Sudah berapa lama jadi tentara?" "Delapan minggu. tapi memang begitulah mereka semua. oleh sebab itu aku mencari keberanian dari botol ini. dan dengan pandanganku aku berusaha untuk menembus kegelapan yang meliputi di depan kami.... sangat diam. Juga orang-orang Rusia itu mendapatkan makanan mereka." Kami diam beberapa saat." "Tidak begitu takut lagi. sedikitnya sesuatu. Dia menoleh lagi ke arah musuh... . kalau saja bisa melihat sesuatu. dan hanya siluetnya yang buram dan gelap.. tapi aku bisa mencium baunya... kan?" Dia malu untuk mengakui bahwa tadi dia ketakutan. melihat sesuatu." "Berapa lama di perjalanan?" "Empat belas hari.." "Dari mana?" "St. jauh lebih baik ." "Kalian datang dari mana?" "Dari St.. kan?" "Ya . agak terang.

untukku hal itu melelahkan dan bikin sinting.. Lalu kita menembakkan peluru asap merah. pasukan pengintai.depan sana. hampir lebih baik daripada aku.. paling-paling pagi hari. "Bagus dan kalau pasukan pengintai itu menyerang kita. maka kita harus tutup mulut. Ah. dan suaranya bergetar lagi. seolah seseorang membungkam mulut itu. kemudian salah seorang dari kita harus ada yang balik ke belakang dan memberitahukan kepada yang lain.." katanya.. kita harus mengawasi bila orang-orang Rusia itu datang... mengerti kan?" "Ya." Dia diam lagi. Tampaknya itu adalah hal enteng untuknya. mengerti? Tapi kalau yang datang hanya beberapa orang saja. Betapa indahnya mendengar nafas seorang manusia. "mereka tidak datang pada malam hari. Dua menit sebelum fajar. membuat suara gemuruh atau berteriak histeris. ke pos komando. "pos pengintaian. betapa baiknya dia bisa berbisik. Tapi tenang. sampai mampus. ini kalau . . "Tapi mereka tidak datang.." "Dan kalau kita mencurigai sesuatu." katanya dengan suara bergetar." Lagi-lagi aku heran. Tetapi itu bukan apa-apa. kita pasti melihatnya.. terdengar suara kicauan orang Rusia yang sekonyong-konyong tertahan. berteriak atau berseru sehingga malam membuyar seperti busa hitam. mengerti? Kita tidak boleh lari dari pasukan pengintai.. Artinya. Kamu sudah bertemu dia.. untukku hal itu selalu memakan tenaga. sungguh mengerikan bahwa dia tidak sekalipun memulai percakapan. merasakan bau apeknya. biarkan mereka lewat." "Habislah kita. "pos pengintaian.. bau seorang manusia yang kita tahu bahwa dalam detik berikutnya dia tidak berniat membunuh kita." katanya." "Dua menit sebelum fajar?" dia memotong omonganku. untuk mengekang suaraku. "Kamu tahu apa tugas kita?" tanyaku kepadanya. kan?" "Ya. kepada Letnan. . "Dua menit sebelum fajar mereka mulai jalan. lalu aku mendengar suara yang mengerikan: giginya bergemelutuk." omongku terus. bolehkah kita menembakkan roket isyarat." kataku. Aku paling senang kalau bisa meraung. Berbisik. "Ya.. menyerang." "Tapi kan itu sudah terlambat?" 86 ... "Bagus.. betapa indahnya bahwa aku tidak sendirian lagi... Aku pun minum lagi. supaya bisa melihat. "kalau kita tidak melihat mereka datang. mendengarnya. "Kalau ." gagapnya.... menembaknembak sedikit dengan senapan kita lalu pergi. artinya mereka sampai di sini ketika hari mulai menjadi terang. kita harus membunuh mereka.. Yang paling menyenangkan adalah bernyanyi.

kan. bukan Jeck. J. ..." "Seperti orang Inggris. artinya kita bisa berlari cepat-cepat seperti seekor kelinci. jadi kalau seseorang datang. "Calo apa ." Dia diam sesaat." "Apa?" "Calo." kataku parau." tanyaku lagi.... Dan sebelumnya kita toh bisa mendengar mereka. "Aku. seseorang yang aku pikir cocok. dan kalau seseorang datang. dan sekali lagi tampaknya kenangan menguasainya lagi. "lalu aku membawanya kepada salah satu perempuan .. "Dari Jakob .? Begitulah aku bertanya. yah.K. lalu pergi . sangat pelan. setidaknya hampir selalu. seseorang dari rombongan orangorang yang lewat....." katanya." "`Gimana. "aku berdiri di stasiun. siapa namamu?" Benar-benar menjengkelkan. Jak saja. "aku bernama Jak.. ya?" "Tidak. setiap kali kalau mau berbicara dengannya. Ngomong-ngomong. melihat lagi ke depan.. itu artinya aku harus mengeluarkan tanganku dari saku yang hangat dan dengan susah-payah memasukkannya lagi. Karena tegang aku lupa meneguk minuman. lalu aku bertanya kepadanya dengan sangat pelan." "Ke tempat pelacuran.. kamu mengerti? Tuan." dia mengeluh dalam-dalam." "Jadi calo apa sih?" Dia memalingkan lagi mukanya ke arahku.. "sebelum ini kamu kerja apa?" "Aku..?" 87 ..A. "Dan. biasanya tentara...." katanya dengan susah payah.. dengan sangat tiba-tiba.calo apa."Maka itu artinya kita harus cepat menembakkan isyarat merah. ..... dan aku merasakan bahwa dia sangat heran.. ingin bersenang-senang.... lalu dalam kegelapan. "." tanyaku. "jadi calo. "kalau orang itu mau bersenang-senang?" "Lalu.. calo apa ." katanya. jangan takut.. aku harus menyikut tulang rusuknya. calo saja..." "Jak.…" suaranya bergetar lagi dan mungkin kali ini bukan karena takut tetapi karena terkenang sesuatu." katanya. "Kamu kan pasti jadi calo untuk sesuatu. "Yah... Jak." katanya. kepalanya dipalingkannya lagi kepadaku. supaya menjadi hangat lagi... yang sedang kosong.

88 . mengerti. ya.." "Dan kamu tidak mencicipi mereka?" "Tidak.." katanya datar. karena kalau anak laki-laki maka bisa dinamainya Gottlob. dia bertanya. tapi aku tidak bisa menjawab." katanya. sangat sungguh-sungguh.."Bukan.. aku pasti harus berkelahi dengan yang lain. Tiga orang." "Dan. "Gottliese. mereka bekerja mandiri.. sejak ayahku gugur dan ibuku hilang. "Hubert.?" dia benar-benar tertawa sedikit. Dia selalu murah hati dan melankolis dan sebenarnya juga yang paling cantik ." katanya kemudian. terlalu berbahaya.. boleh aku minum lagi?" Ketika aku membungkuk untuk meraih botol. botol itu kosong. dan dari itu aku hidup.... aku punya beberapa perempuan tidak terikat.. "dan artinya kamu dulu seorang germo. Lili dan Gottliese." katanya dengan nada yang untukku agak menggurui. siapa namamu?" "Hubert. kamu mengerti. ke tanggul di mana dia sedang tiarap.. ah. Karena itu mereka tidak boleh memamerkan diri di jalan seperti yang lain . soalnya aku sedang meneguk dari botol itu. "germo adalah tuan-tuan besar. Dan sekarang aku tidak perlu bersusah payah membuka tutup gentong yang macet.. tidak punya germo.... Aneh ya? Dia selalu bilang kepadaku bahwa ayahnya menginginkan seorang anak laki-laki daripada perempuan. dengan paksa mereka mengutip uang banyak-banyak dan masih juga meniduri mereka. "tepatnya uang persen. Tidak." kataku sambil memberikan botol kepadanya. "Enak sekali. di suatu tempat yang sangat . "eh. .. dan karena itu aku jadi calo untuk mereka. kan?" "Bukan. ya. syukurlah! Kalau punya.." "Siapa?" potongku. tetapi karena dia perempuan jadi dinamai Gottliese. dia mengoceh hampir dengan sendirinya. beberapa perempuan bebas yang menghidupiku. aku kan hanya seorang calo. Sekarang.. sangat jauh. perempuan-perempuan itu.. dan." potongku. "Lihat itu!" Dia menarik aku ke depan. Aku yang harus memancing ikannya untuk kemudian mereka bakar dan makan. kamu mengerti.. Kami berdua lupa untuk apa kami nongkrong di tempat sialan ini. "bukan. dan suaranya sekarang bergetar hebat. lalu aku menggelindingkannya dengan lembut ke samping. dan aku lalu mendapat tulang-tulang sisanya. Tidak.." dia mendesah lagi. untuk siapa aku bekerja. Käthe. "aku tidak bekerja untuk tempat pelacuran." sambungnya. mereka tidak punya surat izin. Aneh." dia berkesah lagi. tanpa izin apa pun... dia bernama Gottliese." dia tertawa lagi sedikit. "Ya. "Lihat!" Kalau diperhatikan dengan sangat . tiran. Aku kan tidak mampu bekerja karena paru-paruku. "adalah yang paling baik. "Ngomong-ngomong. lepas." "Tulang-tulang ?" "Ya. .

manusia dalam jumlah yang sangat banyak yang sedang mendekat diam-diam. "Anak muda." "Tembakkan yang putih.." "Ah . itu tangkai-tangkai bunga matahari yang jauhnya mungkin satu kilometer dari sini. Satu saja... dan bikin kita takut karena tangkai-tangkai itu bergoyang-goyang. besok pagi-pagi kamu akan melihatnya dan tertawa." kataku sambil meletakkan tangan di pundaknya.." "Jak.kotor dan sebagian hancur tertembak. "Ya. mereka datang . tembakkan yang putih ... "besok pagi aku sudah mati. dan peluru yang lainnya aku perlukan kalau situasinya betul-betul serius... itu bukan apa-apa. itu bukan sesuatu yang nyata. Jak.... sesuatu yang nyata .. Supaya mereka tidak membom kita . "Jak. kalau pesawat pembom kita datang.. hitam -. Dan di dalam kegelapan di atas garis hitam pekat yang agak terang itu... tembakkan peluru isyarat yang putih!" bisiknya dengan suara yang makin menghilang. mereka merangkak di tanah... kamu akan melihatnya dan tertawa. sama sekali tanpa suara.. mereka datang. "aku tidak bisa menembakkan yang putih.. Di atas garis itu kelihatan agak terang. sepi sekali. mereka mengendap-endap... DDan bunganya sudah dipetiki oleh orang-orang Rusia itu." katanya dengan sangat dingin.. seperti ayunan lembut jerami . itu perasaan takut kita yang sedang bergerak. supaya mereka bisa tahu di mana kita berada. "Jak.... itu neraka. dan kalau mereka sudah dekat.terlihat sesuatu seperti horison. coba dengarkan?" Kami menahan nafas dan mendengarkan. itu perang.. Kalau hari sudah sangat terang.. sesuatu bergerak . jauh sekali. kita bisa juga mendengarnya..." balasku berbisik. "Ya. mereka datang. "kalau mereka benar-benar datang.." "Ah. jauh.... betul-betul jauh sekali . dan aku mendengar dari suaranya bahwa dia menjadi pucat seperti sang maut." kataku. Besok pagi kamu akan tertawa... kan? Aku tahu itu tangkaitangkai bunga matahari yang mengering. dan tak ada sesuatu apapun yang terdengar kecuali suara sepi yang mengerikan. .. Itu tangkai-tangkai bunga matahari. ada sedikit suara gemerincing ." kataku. itu .. Itu sesuatu yang nyata.. "ya." 89 . maka sudah terlambat. sebuah garis hitam pekat.. tembakkan yang putih . dan itu terlihat ada di ujung dunia.. Dia mengatakan hal itu dengan pasti dan mantap." lagi-lagi terdengar giginya bergemelutuk. itu bisa juga manusia yang diam-diam mendekat. aku bisa mendengar mereka.. "Ayo.. subuh. aku begitu kaget. sepi. Jak.." "Aku kan kenal mereka.. dengan sangat pelan-pelan mereka datang.." "Besok pagi. itu pasti sesuatu . Aku hanya punya dua peluru.. "diamlah.. mengerti? Dan satu aku perlukan untuk besok pagi-pagi." kataku. aku melihatnya . itu setumpuk tahi yang bikin kita gila ... "kamu gila.." Sekarang aku yang berpaling tiba-tiba kepadanya dengan heran." "Tapi lihatlah." bisiknya..

" sambungnya dengan suara capek. orang-orang Rusia itu mendapat jatah minuman keras mereka. Awalnya. bisa-bisa kita jadi selai. Tapi Lili selalu lebih baik daripada Käthe. Stasiun Pusat maksudku. Setiap kali. Dan kalau Gottliese mendapat tamu. dan mungkin sesuatu akan terjadi. tapi dia sering minum." katanya. Gottliese. kamu tahu. mereka suka melarikan diri.Dia diam. dan kami duduk lagi menyandar.. betul bukan. dan suara tembakannya akan keras sekali. Dan dari Stasiun Selatan ke rumah perempuan-perempuan itu jaraknya pendek. Ya. aku hanya mendengar mereka berbisik. "awalnya aku selalu mengantarkan mereka kepada Gottliese. mereka mendapatkan makanan dan jatah minuman keras mereka. "Tetapi Gottliese sering mendapat tamu. dia tinggal di sebuah gedung apartemen yang di dalamnya ada cafe. Kadang-kadang di Stasiun Selatan. mereka suka pergi begitu saja tanpa berkata apa pun. tak tahulah aku. Juga karena banyak tentara yang turun di situ karena mereka berpikir bahwa itu sudah Köln. "kalau aku kadang-kadang mendapatkan seseorang di Stasiun Pusat. kita masih punya waktu empat jam. Yah. lebih baik kamu cerita lagi. itu lebih praktis. Wajah seorang calo tulen. baru kemudian aku harus menembakkan yang putih. karena itu aku sering nongkrong di Stasiun Selatan. artinya hari ini. Barusan tadi. Käthe dan Gottliese di Barbarossaplatz. Lili di dekat Gedung Opera.. kadang ramah. aku tahu itu. percayalah kepadaku. baru keringat dinginmu mengucur deras. "Jak." dia membungkuk lagi ke arahku.." suaranya sekarang lamban seolah mulai tertidur. Begitu ingin aku melihat wajahnya." kataku. Besok pagi-pagi. karena ketakutan atau karena sesuatu yang lain. karena kalau tidak. kalau pesawat pembom kita datang. karena perempuan-perempuan itu tinggal di dekat daerah itu. "Di Köln. "kamu akan mengutuki aku kalau aku menembakkan yang putih. kamu tahu. aku sedih. "Tembakkanlah yang putih. sehingga aku terpaksa untuk menjawab ya.. "Jak.. kamu tahu. Dia yang selalu paling banyak memberiku uang. Dan kamu akan mengutuki aku kalau aku menembakkan yang putih sekarang. ketika tidak terjadi apa-apa. Tapi itu bukan alasan kenapa aku selalu pergi kepadanya terlebih dahulu. Ah. "Di Stasiun Pusat?" "Tidak. di pojokan-pojokan dan di stasiun-stasiun kereta api di semua kota-kota di Eropa dan selalu aku memalingkan muka dengan perasaan takut yang hebat yang tiba-tiba muncul di hatiku. mereka akan mulai berteriak dan bernyanyi dan menembak. dia yang paling baik." aku ingin mulai. jadi calo?" Dia mendesah dalam-dalam. Jarak dari Stasiun Pusat ke daerah selatan memang terlalu jauh. kadang kasar. kamu mengerti? Dalam setengah jam. Dan perempuan yang mabuk sungguh mengerikan. dan kadang-kadang dia turun juga ke jalan kalau lama tidak mendapat tamu. "tidak selalu. kemudian cafe itu terbakar. Sekarang tanggal 21. pesawat-pesawat itu akan menjatuhkan bom sangat dekat di depan kita. Dia punya banyak langganan tetap. . dari dekat.. tidak bisa ditebak. Käthe orangnya sangat dingin. di jalan menuju rumah perempuan-perempuan itu. lalu aku pergi kepada Lili. Dan itu bikin jengkel. Di mana kamu terakhir kali . kamu tidak percaya bahwa aku pergi dulu kepadanya bukan karena dia yang memberi terbanyak. karena itu orang tidak cepat jadi panik. aneh kan? Dia sangat sering mendapat tamu. . Dia memberi aku 90 . Lili juga orangnya tidak menyebalkan.." bisiknya seperti seorang sinting. kamu percaya?" Sekarang dia bertanya dengan nada yang begitu mendesak. kamu pasti tidak mempercayainya. Di tengah jalan.

. Aku percaya bahkan sebaliknya. dengan satu loncatan saja dia pasti sudah di luar lobang persembunyian. lalu mereka berteriak dan akan menembaki tanggul persembunyian dengan membabi-buta. itu bukan apa-apa. Lengking tawa perempuan itu merobek malam sampai berkeping-keping. sangat dekat ke arahku. Bagaimana tempat tinggalku. sekali waktu bahkan cuma sepuluh sen. persis seperti pada kita. Mereka hanya sedikit mabuk. "Tenanglah. Suaranya membumbung seperti sebuah tangisan dan bergabung dengan suara-suara lain. "dia hanya mendapat satu Mark. lalu akan menjadi sasaran tembak orang-orang Rusia itu. Semua orang yang lari seperti itu pasti menjadi sasaran tembak.. orang Rusia pertama mulai berteriak seperti orang gila. "Ya.. setiap kali setidaknya dua Mark. Gottliese berbeda. Kamu harus menunduk. Sepuluh persen! Sementara.. "Diamlah. menghadapi bahaya ditangkap polisi." kataku pada anak muda yang bergerak-gerak gelisah dan mengerangngerang itu. kami tahu pasti bahwa dia bernyanyi dan meneriakkan sesuatu yang jorok. seorang sipil. apa aku punya rokok dan lain-lain." tanyaku. "bagaimana rupanya?" Tapi pada saat itu." "Menghadiahi?" "Ya. sepuluh sen. Dan kemudian. Dia sangat pemurah. Dan uang persenannya baru kuterima di hari berikutnya." "Sepuluh sen?" tanyaku terkejut. . paling hanya beberapa menit.sepuluh persen. aku kadang harus berjalan setengah jam dalam malam yang dingin. Menghadiahi." "Jak. kadang-kadang dia tidak meminta uang sama sekali. . berdiri berjam-jam di stasiun atau nongkrong di bar minum bir murahan. ketika aku membawa tamu lagi untuk dia. "dia tidak meminta uang sama sekali?" "Ya. kamu mengerti.. kamu mengerti. Dan tembakan pertama pun meletus. dan hanya mendapat sepuluh persen! Tahi.. lalu dia akan menonjok mulut mereka. Sebenarnya." aku ingin bertanya. Dan dia pun lumayan mengurus aku. itu saja. . Dan Käthe masih juga memakiku. Dia malah menghadiahi tentara-tentara itu rokok atau roti atau sesuatulah. Kadang hanya lima puluh sen. Ah. Seorang perempuan yang sungguh melankolis.. Laki-laki itu tidak punya uang lagi. . Juga kalau pun dia tidak mendapatkan uang sama sekali... tambahan lagi sudah tua. Aku menarik mundur orang yang gemetar itu. yang paling cantik." katanya. karena tembakan seperti itu malah kadang-kadang akan mengena.. Dia selalu memberi banyak kepadaku. sudah." Sekarang kami mendengar suara seorang perempuan. Maka Käthe selalu yang terakhir. dan walaupun kami tidak mengerti sepatah kata pun. sampai komisar mereka mengetahuinya.. Aku masih bisa menangkap pinggiran mantel Jak. aku bilang sama kamu. dan apa-apa yang tidak boleh akan dihukum berat." "Seorang tentara?" "Bukan. Dan dia cantik." 91 . "tidak akan lama. . Mereka kan tidak boleh begitu." "Bagaimana..

" Dengan segan dia menjawab.. aku mendengar mereka datang.. Kathlene. seolah bulan mencair dan menyatu pasrah dengan bumi ... sungguh mungil. betul-betul sepi. suara gemuruhnya seperti kiamat.seperti kelap-kelip hujan salju di Hari Natal.. dan tak terdengar apa pun selain kesepian yang mengiangngiang menakutkan. dan dia sering tidak meminta bayaran. sekarang mereka datang." Aku mencengkeram lengannya kencang-kencang. Dia berjongkok kaku sambil membisu di sampingku. karena dari tempat di mana tadi terdengar suara teriakan dan lengkingan seorang perempuan yang mabuk itu. "tembakkanlah yang putih. "Rambut hitam dan dengan mata yang besar dan terang......Tapi teriakan itu tidak berhenti." kataku.. Tetapi aku tidak punya waktu lagi untuk itu... menyibak tirai perang menyelimuti kami. sangat pasti bahwa kamu akan mendengarnya. Aku pun tidak sempat lagi untuk menembakkan isyarat merah. sama sekali. tembakan dan sekali lagi suara mengerikan perempuan yang mabuk. mereka menyerbu maju." tiba-tiba dia bisa bicara lagi." sekarang aku bertanya. "Bagaimana. Sering dia memakai nama lain .." bisiknya. . "Sekarang .. Dia sangat mungil. Tidak bisa lain. Gottliese itu. "Cantik. dan ketika cahayanya menyebar seperti cairan perak yang lembut . "Ya. ." Sekarang tampaknya dia tidak mengacuhkan apa pun. karena di belakang dan di depan kami. Di depan terdengar teriakan lalu jeritan . Aku pikir. . atau Susemarie. Dan yang paling sial.. menyiapkan pistol isyarat yang sudah diisi peluru. "dan sedikit gila.. "Kamu lihat. . dan aku menembakkan isyarat putih itu hanya untuk melihat wajahnya. Aku berpegang erat pada anak muda yang ingin mendorongku dan melarikan diri itu. Inge Simone. entah siapa lagi. pakai otak dong." Aku memegang erat lengannya. Sebenarnya aku tidak mendengar apa pun. setiap hari nama baru . "sekarang aku akan menembakkan yang putih.aku tidak punya waktu lagi untuk melihat wajahnya. salah seorang dari kami di pos komando di belakang juga menembak. aku mendengar sesuatu. karena setidaknya aku ingin mendengar suaraku sendiri. "Jak. muncul kerumunan sosok-sosok bisu yang menunduk ke tanah dan kemudian tiba-tiba dengan suara "Hurra" yang bikin gila. "bagaimana parasnya." Nafasnya tersendat. "Ayo.. 92 . wajah seorang calo tulen. dalam terang. kalau tidak aku bisa gila. sedikitnya mereka dua ratus meter dari sini...." kataku. dengarkan dong!" Kami mendengarkan lagi." sambungku.. Dia sedikit gila.. . juga lengkingan liar itu. "Apa kamu tidak melihat api letusan senjata itu. . dan kalau mereka datang. kamu akan mendengarnya." "Tidak . di situ. Lalu sangat sepi. sekali lagi teriakan . kamu tahu..." katanya pendek. mengacungkannya di atas kepala lalu menembak..

supaya setidaknya dalam maut masih bisa melihat wajahnya. Tetapi mataku tidak melihat apa pun lagi kecuali darah. lebih hitam dari pada malam.... der Schlepper". ingin bersenang-senang.?" Lalu dengan keras dan sekonyong-konyong aku jatuh di atas tubuhnya oleh hentakan tangan liar yang mengerikan. dan wajah seorang pelacur yang menghadiahkan dirinya tidak untuk apa pun. dia berbisik pelan: "Tuan.Aku harus menarik Jak dari lobang itu dan ketika dengan susah payah aku berhasil menariknya... malah masih memberi sesuatu. sambil berteriak karena rasa takut aku membungkuk padanya. diterjemahkan oleh Dewi Noviami.*** Judul asli: "Jak. 93 .

Laki-laki itu mengangguk mengerti. pagar tanaman yang sebetulnya tidak begitu tinggi. Gelas Itu. Ketika perempuan itu menjawil tangan kirinya. Juli 2000 (Edisi 10 Tahun Cerpen Terbaik Horison) Potret Itu. Dan tahulah dia sekarang. Di bawah potret ada sebuah gelas. perempuan itu menutup jendela dengan hati-hati. mengapa di dekat . tapi sangat samar. Beberapa saat kemudian mereka berdua sudah berada di dalam kamar. terletak di sebuah rak buku kecil. Agak terkejut juga dia ketika dia merasa dijawil. Di dekat tempat tidur ada pula sebuah kursi. Dia mendekati dinding di sebelah kanan. dan mata itu tajam dan sebentar bergerak-gerak. dan kemudian beberapa buku. bahwa ketika hari sudah petang dan lampu jalanan mulai dinyalakan.Horison. kemudian meloncat ke pekarangan melalui pagar tanaman. dan judul buku-buku itu tidak mungkin dibaca karena sinar lampu sangat samar. perempuan itu membuka jendela dan memandang keluar. Tubuhnya agak membongkok manakala dia melihat-lihat buku-buku di dalam rak. mata perempuan itu bergerak-gerak cepat ke kanan dan ke kiri. Laki-laki bertubuh kurus jangkung itu juga gemetar. Dengan tangan gemetar. Laki-laki bertubuh kurus jangkung memang sudah menantikan saat-saat seperti ini. Pakaian Itu Oleh: Budi Darma 94 Sungguh menakjubkan. Dan di dalam rak terdapat beberapa buku. Dan yang mengherankan laki-laki itu adalah. kemudian gelas. Matanya berganti-ganti melihat potret laki-laki itu. perhatian laki-laki bertubuh kurus jangkung itu masih terlarut ke dalam potret laki-laki di dinding. Alis perempuan itu hitam tebal. Dengan tidak memandang ke arah laki-laki itu. Lampu di dalam kamar sudah menyala. Ketika melihat laki-laki bertubuh kurus jangkung berdiri di pinggir jalan. Ada sebuah meja kecil dengan bunga segar di dekat tempat tidur itu. melindungi matanya. dengan sebelumnya menyelidik cepat-cepat apakah perbuatannya terintai oleh orang lain. perempuan itu menuding ke arah dinding sebelah kanan. bahwa perempuan itu sedang menuding-nuding ke arah sebuah tempat tidur kecil.

martabat." Belum sempat bertanya apa-apa. wibawa tinggi." "Apa lagi?" "Apa lagi? Ya. Heran." "Apa lagi?" "Apa lagi? Ya. laki-laki itu sudah ditarik oleh perempuan itu untuk mendekati sebuah almari. apa lagi? Tentu saja saya mengagumi menakjubkan. "Apakah yang tadi kau lihat pada potret yang tergantung di dinding itu?" tanya perempuan itu." "Hanya itu?" Laki-laki itu kehabisan akal dan kehabisan kata. apa lagi? Saya kagum pada raut wajahnya. Saya heran mengapa laki-laki semulia ini bisa mati terganyang kanker. untuk memberikan kesempatan kepadanya guna lebih memuliakan cita-citanya dalam mengangkat harkat. ketika melihat pakaian di sebelah dalam almari itu ternyata penuh cipratan darah. Dia pasti mempunyai wibawa besar. Dan segeralah perempuan itu mengguyurkan minyak wangi dengan khidmat dan hormat ke pakaian itu. perempuan itu berjalan ke arah tombol listrik. "Saya tidak pernah melihat laki-laki seagung itu." "Apa lagi?" "Apa lagi? Ya. Meskipun demikian. tentunya tanpa mengetahui apa yang dikatakannya: "Tentu saja tidak.tempat tidur tidak ada potret seorang laki-laki. Laki-laki itu terus diam ketika perempuan itu mengudal-udal beberapa pakaian dari dalam almari. Saya heran mengapa takdir tidak memberinya umur panjang. Tapi laki-laki itu tidak bertanya. Maka berbicaralah dia asal berbicara. laki-laki itu agak terkejut. Dia pasti laki-laki ramah. Alangkah senangnya kau menjadi istrinya. Sungguh agung dia. Matanya sungguh 95 . beberapa pakaian laki-laki di dalam almari. Dan laki-laki itu tidak terkejut melihat. dan mematikan lampu bercahaya lemah itu. dan derajat sesamanya. Saya mengaguminya. karena perempuan itu sudah menjelaskan: "Dia tidak mau potretnya dipasang di sini. Jengkal demi jengkal wajahnya menunjukkan keagungan luar biasa." dia. kendatipun nampaknya tubuhnya hanyalah kurus jangkung. Setelah perempuan itu menutup almari dan laki-laki itu duduk dekat tempat-tidur. Dan ketika perempuan itu membuka almari. apa lagi? Saya yakin dia laki-laki gagah. terasalah bau enak menebar di dalam kamar remang-remang itu. misalnya saja potret laki-laki yang tergantung di dinding sebelah kiri.

dialah laki-laki yang saya cintai. dia dipotret sekitar tiga bulan lalu. dan akhirnya mengenai payudaranya. Dan setiap kali pandangan mata mereka bertemu. kemudian berjalan bergegas dan menyelinap di antara sekian banyak orang. Bekas-bekas bibirnya masih ada di situ. Betul yang kau katakan tadi. Dan karena dia harus menemui beberapa temannya. Dia bercerita mengenai perempuan-perempuan dan dengan sangat terbuka. Ingat. Setiap kali laki-laki itu akan masuk kantor. Dan setiap laki-laki itu akan meninggalkan kantor." kata perempuan itu. yang mungkin telah disampaikan oleh laki-laki mencurigakan itu. Akhirnya laki-laki itu tahu. kemudian mengawasinya dengan pandangan tidak enak. Dia tidak tahu mengapa sekonyong-konyong siang tadi dia menemukan sebuah surat tergeletak di meja kerjanya di kantor. Ketika dia menanyakan kepada sekretarisnya. Dan buku-buku dalam rak itu adalah buku-buku kegemarannya. Kalau tidak keliru. dia laki-laki mengagumkan." kata perempuan itu lagi. dan tentu saja dengan nada mengagung-agungkan saya. "Rupanya laki-laki lain yang pernah saya kenal tidak begitu menyukai payudara saya. mungkin dia jauh lebih agung dan jauh lebih mengagumkan dibanding dengan Nabi Yusuf. Surat itulah. mengenai buku-buku itu lagi. Nabi Yusuf tidak suka merayu. dan juga beberapa pesuruh siapa gerangan yang menaruhkan surat itu di atas mejanya. Dia ingat. di Balai Wartawan ketika diadakan pertemuan antara beberapa pedagang dengan wartawan. selalu saya usap-usap mulut gelas itu dengan pinggiran mulut saya. beberapa bawahannya. seperti dia sendiri dahulu sering mengagumi payudara saya. pertemuan dinyatakan bubar.laki itu hanya tahu bahwa sudah beberapa hari ini ada seorang laki-laki mencurigakan secara berkala mengitari kantornya. "Dari sekian banyak laki-laki yang saya kenal. Senang sekali dia membandingbandingkan payudara saya dengan payudara mereka. dengan nada sangat melecehkan mereka. laki-laki mencurigakan selalu menghadangnya dekat pintu. Laki. laki-laki mencurigakan selalu menghadangnya di dekat pintu dengan menggumamkan suara tidak jelas. "Laki-laki itulah yang saya cintai. yaitu merayu 96 . perempuan beralis hitam tebal dan bermata tajam serta anak perempuan itu terlepas dari tangannya. Kemudian dia sering melihat laki-laki mencurigakan berseliweran tidak jauh dari jendela kaca yang memisahkan kantornya dengan kebun kacang. Dan sering juga mulut gelas itu saya gosok-gosokkan ke payudara saya. Dan karena itu pulalah gelas peninggalannya saya taruh di bawah potretnya. Begitu cepat anak perempuan itu memotretnya. segemar dia membuka-buka lembar demi lembar pakaian yang saya kenakan."Siapa yang mengatakan dia dihabisi kanker?" Laki-laki itu diam. sangat mengagumkan. Sering mulut gelas itu saya lumat-lumat dengan bibir saya seperti pada waktu saya melumat-lumat bibirnya." Laki-laki itu diam. Dia selalu minum dari gelas itu setiap kali dia datang ke sini. Bagi saya. dan tentu saja tubuh saya dengan tubuh mereka. Hanya dialah yang sering membisikkan kata-kata aneh ke payudara saya segera setelah dia menjelek-jelekkan sekian banyak perempuan lain. Ketika laki-laki itu berusaha menemui anak perempuan itu. bahwa anak perempuan itu datang bersama seorang perempuan beralis hitam tebal dan bermata tajam. Dan setiap kali saya merindukannya. laki-laki mencurigakan selalu memandanginya dengan sikap tertegun. pada suatu malam dia melihat seorang anak perempuan kecil memotret dirinya. sementara dia suka merayu. Begitu gemar dia membuka-bukanya. "Karena itulah potretnya saya pasang di situ. yang telah mengantarkannya ke rumah perempuan beralis hitam tebal dan bermata tajam. tidak seorang pun tahu. Setiap kali dia ke sini selalu dia membuka-buka halaman-halaman buku itu. Dan kemudian perempuan itu bercerita mengenai gelas itu lagi.

sekian banyak perempuan, sampai akhirnya dia jatuh di hadapan saya, menjilati kaki saya. Setiap kali didekati perempuan, Nabi Yusuf selalu mengingatkan perempuan yang mendekatinya dan juga dirinya sendiri akan masa depan manusia, apabila manusia telah mati kelak. Ketika seorang perempuan berusaha merayunya dan mengatakan bahwa rambut Nabi Yusuf sangat indah, berkatalah Nabi Yusuf, 'Rambut inilah yang pertama kali akan berhamburan dari tubuh saya setelah nyawa saya meloncat dari tubuh saya.' Dan ketika seorang perempuan merayunya lagi, berkatalah Nabi Yusuf, 'Kelak tanah akan melumatkan wajah saya.' Laki-laki yang potretnya di sana itu sangat berbeda. Dia selalu melihat ke depan, tanpa mau mengerti bahwa pada suatu saat maut akan menjemputnya. Dia selalu membisikkan kata-kata indah mengenai kegunaan dan kenikmatan hidup. Tanpa pernah mengatakannya, dia selalu berpikir untuk memanfaatkan detik demi detik untuk berjasa, memberi kenikmatan bagi orang lain, dan juga bagi dirinya sendiri. Sering dia bercerita mengenai mimpi-mimpi indah, seperti misalnya memperluas usaha-usaha dagangannya kalau perlu dengan menaklukkan musuh-musuhnya, kemudian membangun rumah-rumah yatim piatu, mendirikan sekolah-sekolah, membantu rumah sakit-rumah sakit, dan entah apa lagi. Dia sangat suka membantu orang-orang papa dan orang-orang yang ingin maju, tapi sekaligus sangat membenci orang-orang malas dan tidak mempunyai otak. Dalam keadaan lelah dia mendatangi saya, untuk menikmati tubuh saya dan sekaligus menghidangkan kenikmatan bagi saya. Dia datang untuk mencari gairah hidup, agar dia menjadi lebih segar, lebih bersemangat, dan lebih mampu beribadah dalam bentuk kerja keras. Setiap inci tubuhnya adalah pertanda keagungannya, demikian pula setiap dengan nafasnya." "Dan manakah anak perempuan yang memotret dahulu?" "Ciumlah tangan saya sebelum saya menjawab pertanyaanmu." Belum selesai dia mencium tangan kanan perempuan itu, perempuan itu sudah menyodorkan tangan kirinya. "Ulangilah pertanyaanmu tadi." "Manakah anak perempuan yang memotret dahulu?" "Anak perempuan? Maaf, saya tidak tahu ke arah mana pembicaraanmu. Andaikata kau bermaksud untuk menanyakan apakah saya mempunyai anak perempuan, saya dapat menjawab bahwa saya tidak mempunyai anak perempuan. Ketahuilah anak perempuan suka rewel, demikianlah kata laki-laki yang saya cintai. Dan andaikata saya mempunyai anak, saya tidak akan mengijinkannya memotret." "Mengapa?" "Menurut laki-laki yang saya cintai itu, memotret hanyalah menghabiskan uang. Setiap orang harus berhemat. Dan mungkin karena itu pulalah dia tidak suka anak perempuan, sebab dia sering mengatakan bahwa anak perempuan hanya memboroskan saja. Dia juga tidak suka potret, karena potret hanyalah menghabiskan uang." "Benarkah laki-laki seagung itu mempunyai jalan pikiran demikian?"

97

"Memang saya sering menemui kesulitan dalam mengorek apa yang sebenarnya berkelebat di dalam nuraninya. Sering kata-katanya melompat demikian saja dari puncak otaknya, sementara kelebat hati nuraninya yang sesungguhnya tidak terucapkannya. Saya sendiri yakin dia sama sekali tidak pelit. Dia pasti menyimpan rahasia mengapa dia tidak menyukai anak perempuan. Dan saya pernah berhasil mengoreknya, ketika dia mengigau dalam tidurnya. Meskipun demikian, kata-katanya hanyalah pendek dan tidak jelas, sehingga sulit bagi saya untuk menafsirkannya. Tapi saya tahu, dia berhati agung. Bagi dia, laki-laki tidak bisa bebas dari perempuan, dan perempuan pada dasarnya adalah beban. Eva sengaja diciptakan Tuhan untuk menemani Adam, tapi sekaligus untuk melancarkan wahyu-wahyu setan. Istri paman Nabi Muhammad, Ummu Jamil namanya, justru akan mencelakakan keponakan suaminya sendiri. Siapa yang akan mencelakakan Nabi Nuh, tidak lain dan tidak bukan adalah istrinya sendiri. Negeri Sodom juga hancur lebur, setelah istri Nabi Luth, nabi yang dipercaya oleh Tuhan untuk menegakkan ketaqwaan di negeri itu, mengkhianati suaminya habis-habisan. Adalah pula Siti Qodariah, seorang wanita, yang berusaha mencelakakan Nabi Yusuf setelah usahanya untuk menikmati keindahan tubuh Nabi Yusuf gagal. Belasan tahun perang di Troya adalah juga perang untuk memperebutkan perempuan. Laki-laki sudah ditakdirkan untuk tidak mampu mengalahkan nafsunya sendiri, dan perempuan terlanjur sudah diciptakan untuk memperbudak nafsu laki-laki." Belum sempat laki-laki itu bertanya, perempuan itu menyuruhnya berjongkok di lantai dan menjilati kakinya. "Setiap laki-laki harus menjilati kaki saya," katanya. Setelah selesai menjilati seluruh bagian tubuh perempuan itu dan setelah selesai mengucapkan selamat tinggal, laki-laki itu keluar lewat pintu, dan pintu itu segera ditutup dari dalam, kemudian laki-laki itu meloncat keluar melalui pagar tanaman. Laki-laki itu merasa bahwa malam telah larut benar. Ketika memasuki sebuah gang, dia berjalan agak sempoyongan. Bau wangi tubuh perempuan yang baru saja ditinggalkannya masih melekat pada seluruh bagian tubuhnya sendiri. Dan keringat dari celah-celah kulitnya terasa begitu asing, karena yang tercium olehnya adalah keringat perempuan itu. Heran benar laki-laki itu, mengapa tadi dia tidak menanyakan siapa nama perempuan itu. Hapal-hapal ingat kalau tidak salah perempuan itu menamakan dirinya Maemunnah. Atau mungkin Robinggah. Mungkin juga dia Jurbbah. Bukankah dia Immlah? Ya, pokoknya pakai "ah", entah itu Siffiah, entah Monissah, atau Markammah. Dia ingat, perempuan itu tidak pernah menyebut-nyebut nama laki-laki yang potretnya tergantung di dinding. Dan laki-laki yang potretnya tergantung di dinding itu bukanlah suami perempuan itu. Laki-laki itu hanya kadang-kadang datang ke sana untuk menyibuknyibukkan dirinya. Ini sudah berlangsung selama beberapa tahun, ujar perempuan itu. Ketika laki-laki itu menanyakan siapa yang membuat potret di dinding itu, perempuan itu hanya menceritakan bahwa pada suatu hari dalam sebuah musim kemarau panjang ada seorang anak perempuan mengantarkan bingkisan besar ke rumahnya, dan ternyata bingkisan itu adalah potret itu. Anak perempuan itu sama sekali tidak pernah datang ke sana lagi.

98

Laki-laki itu terus berjalan tergontai-gontai. Ketika seekor kucing hitam melintas di gang dan memotong jalannya, dia tidak menahan langkahnya. Kucing itu pun tidak perduli bahwa dia sedang berpapasan dengan seorang laki-laki. Tetapi, ketika ku-cing itu melompat ke tempat agak tinggi dan menyorotkan matanya ke arah laki-laki itu, laki-laki itu merasa keringatnya keluar lebih deras. Dan keringat itu rasanya bukan keringatnya sendiri, karena baunya sama benar dengan bau keringat perempuan tadi. Sementara rasa hausnya memuncak sampai ke ubun-ubun kerongkongannya, laki-laki itu terus berjalan. Kata perempuan tadi, setiap kali laki-laki itu minta minum karena merasa haus. Dan setiap kali akan pulang, pasti laki-laki itu minta minum lagi untuk meninggalkan bekas bibir pada mulut gelas. Dan gelas itu masih tergeletak di rak buku. Tiba-tiba laki-laki itu merasa salah jalan. Ketika masih berada di jalan besar tadi, seharusnya dia berjalan terus, kemudian membelok ke kiri. Ternyata tadi dia membelok ke kanan sebelum waktunya. Dia membelok ke kiri. Setelah tertegun sejenak, dia memutuskan untuk kembali menyusuri gang, dan untuk kemudian memasuki jalan yang benar. Laki-laki itu masih berdiri tertegun ketika seekor kucing hitam kecil meloncat dari dinding di atas sana, lalu lari cepat memintasi jalannya. Ternyata kucing itu lari ke sebuah lorong di sebelah kanan. Dan ketika laki-laki itu melihat ke arah lorong, nampaklah olehnya sebuah lampu kecil, menerangi sesuatu yang tidak asing baginya, yaitu sumur. Mengapa dia tidak ke sana sebentar, menimba, dan minum? "Maka berjalanlah dia agar cepat menuju ke sumur. Namun, sebelum dia benar-benar dekat dengan sumur, seorang laki-laki menegor dia. "Mengapa malam-malam begini kamu berada di sini?" Dengan cepat dia mengenal siapa laki-laki itu: kedua matanya bulat seperti mata burung hantu, lehernya kurus panjang dengan buah kuldi mendongkol dan selalu naik turun, sementara urat-urat tangannya membengkak menutupi kedua tangannya, dan tangantangan itu benar-benar kurus. Dialah laki-laki mencurigakan, dan dialah yang selalu mengawasinya di kantor. "Mengapa malam-malam begini kamu berada di sini?" tanya laki-laki mencurigakan sekali lagi. Dia tidak dapat menjawab. Matanya menangkap buah kuldi laki-laki mencurigakan, dan ingatannya melompat ke payudara perempuan tadi. Benar-benar payudara perempuan tadi memberinya kenikmatan, dan benar-benar buah kuldi laki-laki mencurigakan itu memuakkan. Dia seolah-olah melihat Adam, pada waktu mata Adam mendelik karena buah terlarang yang dimakannya menyangkut di kerongkongannya. Tiba-tiba dia merasa sedang berhadapan dengan iblis. Adam di hadapannya adalah iblis, demikian juga perempuan tadi. Payudara perempuan tadi, tidak lain adalah buah terlarang yang terlanjur tersangkut, kemudian menawarkan kenikmatan dan sekaligus tindak-tindak maksiat. Rasa haus makin menggorok kerongkongannya. Dan ketika dia mengelus-elus kerongkongannya sendiri, sadarlah dia bahwa buah kuldinya sangat besar, naik turun, dan sangat menjijikkan. Tiba-tiba dia sadar, bahwa dia sendiri dan perempuan tadi tidak lain dan tidak bukan adalah sepasang iblis juga. Dan dia merasa benci terhadap perempuan itu, karena tadi dia tidak diijinkannya minum, karena, katanya, dia tidak mempunyai gelas lain

99

kecuali gelas di atas rak buku itu. Dan gelas itu, katanya lebih lanjut, hanyalah untuk menghidupkan kenang-kenangan. Ketika laki-laki mencurigakan menegurnya lagi, dia terus berjalan ke arah sumur. Dan tepat ketika dia memegang tali timba, laki-laki mencurigakan berkata: "Minumlah sepuas-puasmu, kalau perlu sampai meletus perutmu, karena sumur ini adalah milik saya." Dia melemparkan timba ke dalam sumur, dan ternyata sumur sangat dalam. Ketika lakilaki mencurigakan menceritakan perihal dirinya sendiri, dia sama sekali tidak mendengarkannya. Perlahan-lahan dan hati-hati sekali dia mengulur tali ke bawah, sampai akhirnya timba menyentuh air. Kemudian perlahan-lahan pula dia menarik tali timba ke atas. Laki-laki mencurigakan terus bercerita. Beberapa waktu lalu dia membeli kebun kacang tidak jauh dari kantor laki-laki bertubuh kurus jangkung. Setelah melalui beberapa perkelahian, barulah pemilik lama mau menyerahkan kebun kacang itu meskipun uangnya telah lama diterima sebelumnya. Belum lama laki-laki mencurigakan itu berhasil memiliki tanah miliknya sendiri, terdengar berita bahwa kebun kacang itu akan dicaplok oleh laki-laki bertubuh kurus jangkung untuk perluasan kantornya. Laki-laki mencurigakan ini belum mau percaya, dan karena itu berusaha mencari penjelasan. Setiap kali dia mendekati kantor untuk mencari kabar, selalu dia diolok-olok oleh orang-orang kantor itu. Selesailah sudah laki-laki bertubuh kurus jangkung minum. Tubuhnya merasa agak segar, namun tidak satu kata pun dari laki-laki mencurigakan ini yang masuk ke telinganya. Dia hanya berpikir, alangkah enaknya seandainya tadi dia diijinkan minum dari gelas di atas rak buku, sebab, setiap kali perempuan itu merindukannya, pastilah bekas bibirnya akan dijilat-jilat. Masih sempat dia melihat laki-laki mencurigakan, sebelum dia melangkah untuk kembali ke gang tadi. Dia merasa benar-benar jijik melihat laki-laki mencurigakan. Mata laki-laki mencurigakan itu, bulat dan besar, menyembunyikan kelicikan tanpa tara. Leher laki-laki mencurigakan itu, yaitu leher yang panjang, mengingatkannya pada leher burung onta yang diracunnya sewaktu dia berjalan-jalan di kebun binatang. Dan buah kuldi itu, bagaikan buah kuldinya sendiri, adalah pertanda dosa Adam, yaitu dosa yang menurunkan siksa bagi manusia entah sampai kapan. Ingin sekali dia cepat-cepat meninggalkan laki-laki mencurigakan. Namun, belum sempat dia melangkahkan kakinya lebih lanjut, laki-laki mencurigakan berlari-lari kecil ke arahnya, kemudian menghadangnya. Rasa jijiknya makin meledak. Sambil berusaha keras mengibaskan rasa jijiknya, dia mengambil jalan ke samping kiri. Dia mempercepat langkah, tapi terpaksa terhenti ketika sekonyong-konyong terasa punggungnya patah. Ketika laki-laki mencurigakan berdiri di hadapannya lagi, dia terpaksa membongkokkan tubuhnya ke depan, karena terasa olehnya bahwa tubuhnya akan patah menjadi dua bagian. Ketika akhirnya rebah ke tanah, masih sempat dia membalik tubuhnya, dan melihat ke arah bulan. Memang bulan masih tetap di sana, di langit sana. Laki-laki mencurigakan membongkok, sementara dia merasa makin jijik. Dia ingin muntah. Memang akhirnya dia muntah, tapi yang dimuntahkannya adalah darah.

100

yaitu kenyataan bahwa saya menyimpan jiwa iblis. Dan saya bangga akan jiwa iblis saya. tentu saja dengan persiapan cermat agar saya menang. pasti saya bertindak terlebih dahulu. sekali lagi. tapi perkelahian-perkelahian itu. bahwa laki-laki itu sudah tidak mungkin lagi mendengarnya. Sesama iblis bisa saling mengganyang. Juli 1990) . Dan setiap kali merasa takut. Dia mati dibunuh dekat sumur tidak berapa jauh dari sini. masalah kebun kacang hanyalah masalah permukaan. Perkelahian dengan pemilik lama mengenai kebun kacang juga bukan masalah berat. saya yakin bahwa iblis di dalam jiwamu jauh lebih kuat daripada jiwa iblis kebanggaan saya. bukan apa-apa bagi saya." Bulan tetap berputar-putar di atas sana. Bagi musuh-musuh saya segala macam perkelahian sebenarnya juga bukan apa-apa. Meskipun demikian. sesama iblis belum tentu bisa bersekutu.Dengan tenang. Ketahuilah. Saya selalu menyimpan pakaiannya yang berlumuran darah. Saya hanya menikmati satu hal." Dia menggumam dengan kesadaran penuh. Memang saya sering berkelahi.*** 101 (Dimuat dalam Horison. laki-laki itu masih sempat mengingat beberapa katakata perempuan tadi: "Laki-laki yang saya cintai itu tidak mati karena kanker seperti yang sering dipergunjingkan. laki-laki mencurigakan menggumam: "Ketahuilah. Sudah semenjak pertama kali saya melihat kamu. Kamu pun sebenarnya iblis. Benar-benar saya merasa takut terhadap kamu.

Tetapi karena aku tinggal sebatas luka.Jaring-jaring Merah Oleh: Helvy Tiana Rosa Apakah kehidupan itu? Cut Dini. dan pergi sambil menyeret potongan mayat manusia. aku melihat tiga sampai tujuh mayat sehari mengambang di sungai dekat rumahku! Aku juga pernah melihat Yunus Burong ditebas lehernya dan kepalanya dipertontonkan pada penduduk desa. Darah mereka muncrat ke mana-mana. Dadaku telah amat sesak. kutarik napas panjang. sebab aku hanya bisa memendam amarah. Ffffffhuuih. “Ugh!” Aku tersandung gundukan tanah. menuju Buket Tangkurak. lebih baik meniru anjing-anjing itu. temanku. Keringatku mengucur deras. Airmataku berderai-derai. Aku merangkak dan maju perlahan. Aku tersaruk-saruk berjalan sepanjang tiga kilometer dari Seurueke.orang ditembak di atas sebuah truk kuning. Serpihan tanpa makna. Lolong anjing malam bersahut-sahutan. seiring darah yang terus menetes dari kedua kakiku. Aku melihat orang. Hari-hari yang meranggas lara. wajah dan badanku terkena serpihan tanah merah. Seperti juga hidup itu. Terus tanpa henti kugunakan kedua cakar tangan ini. Dalam remang malam. Aku melihat tetang–gaku Rohani ditelanjangi. sebelum rumah dan suaminya dibakar. semuanya. Ya. Meski lelah. Jangan menangis lagi. kulihat dua ekor anjing hutan mengorek-ngorek sesuatu. 102 . tetapi langkahku makin kupercepat. Mereka menatapku seolah aku akan berteriak kengerian. bukan pada rembulan yang mengikutiku saat ini atau pada gugusan bintang yang mengintai pedih dalam liang-liang diri. tahukah anjing-anjing buduk itu. Sedikit pun tak kuhiraukan bau bangkai manusia yang menyengat hidung. Aku melihat semua itu! Ya. Dengan tangan kosong kuraup gundukan tanah merah di hadapanku. Dan kini hari telah semakin gelap. Inong! Kering airmatamu nanti. tanpa alasan. Ngeri? Oi. Juga saat mereka membantai … keluargaku. selalu saja marah bila mendengar jawabanku: Hidup adalah cabikan luka. Bukan. bebukitan penuh belukar dan pepohonan ini. Aku melihat saat Geuchik Harun diikat pada sebuah pohon dan ditembak berulangkali. diperkosa beramai-ramai. Perih.

Di mana? Di mana tangantangan mereka? Di mana tulang-tulang mereka di tanam? Di mana wajah tampan Hamzah? Yang mana tengkoraknya? Sekujur tubuhku gemetar menahan buncahan duka. menyanyi nyaring. Hanya tertawa dan menangis. Kudekatkan benda dingin itu ke mukaku. Ah.” kata yang ketiga. di mana aku? Dipan ini penuh kutu busuk. ” Aku pura-pura tidak mendengar perkataan si loreng-loreng itu. Cakarku terus menggali. Berarti…. “Sayang." jawabku sekenanya. . subuh tadi. sudahlah. Tangannya lembut membelai kepalaku. Mereka gila karena mengira aku gila. terus menggali. mencoba duduk. kami menari bungong jeumpa. ya. dahulu…. Ya. Tak tahukah mereka bahwa aku tak menyanyi sendiri? Aku bernyanyi bersama bulan. “Ia tak berbahaya. yang beberapa waktu lalu digiring ke bukit ini. Hangat. Kutemukan beberapa tengkorak. Mak. Bersama bayangan Ayah. lalu remah-remah daging manusia. Ya.” Aku menggeliat. “Dari mana. saat Hamzah yang telah meminangku. di antara suara serangga malam.” Kutatap seraut wajah dalam kherudoung putih di hadapanku. melintas di depan rumah dengan sepedanya. “Ya. Cahaya mentari masuk dari celah-celah bilik. Aku tidak mengganggu orang. biarkan saja. Ma’e dan Agam. Sssssssttt! Tiba-tiba. Inong? Aku mencarimu seharian. dengan iringan dawai kepedihan dari sanubari sendiri. Hingga aku semakin lemas dan akhirnya kembali terisak pilu. kupingku mendengar langkah-langkah orang. juga sangat muda.Tiba-tiba tanganku meraba sesuatu. Lalu aku tersenyum malu.” ujar yang lain. *** 103 “Inong…. di mana? Di mana tangan kurus Mak? Mana jari manis dengan cincin khas itu? Juga cincin tembaga berbatu hijau dan arloji tua yang dikenakan ayah saat orangorang bersenjata itu membawanya dalam keadaan luka parah. Bersama desir angin. Ureung-ureung menemukanmu di tepi jalan ke Buket Tangkurak. Sepatu-sepatu lars yang menginjak ranting dan daun kering. Dahulu. burung hantu dan lolong anjing hutan. Tulang. aku di rumah. dulu ia cantik…. Ah. “Aku cuma jalan-jalan. awan dan udara malam. Ah. “Perempuan gila itu!” suara seseorang gusar. Kami menyanyi. Mereka menuju ke arahku! Aku harus menyanyi. Banyak tulang. Meratapi orang-orang yang kukasihi. Aku menggali. Cut Dini. Aku bangkit.

Aku tak bisa bangkit. Lalu dengan cekatan membungkus baju itu dengan koran. ke pengajian. Kulihat ia menggigit bibirnya sesaat. Dulu. sambil menggoyang-goyangkan kedua kakiku.“Aku tahu. Kau tak akan mengganggu siapa pun….” “Itu baju yang tak pantas dilihat. “Therimoung… ghaseh….orang gila! Cut Dini-lah yang melarang. Tidak baik pergi sendirian. dasar orang. tetapi jangan pergi ke bukit itu atau bahkan ke rumoh geudong lagi. Sekuat tenaga kucoba untuk muncul. “Aku suka. Sampai aku bertemu Cut Dini dan bisa menjadi burung. “Aku ingin memakainya. Nanti orang-orang itu bisa menyakitimu lagi. Sebenarnya aku tak tahu banyak tentang Cut Dini. Menggaruk-garuk kepalaku. atau sekedar jalan-jalan. “Ini baju yang dijahitkan Mak.” lirihku. di belakang…. Ia memberiku makan. Kata mereka aku gila! Hah.” kataku pendek. Kau anak baik. “Baju yang koyak itu jangan dipakai lagi. Cut Dini juga yang mengingatkanku untuk mandi dan makan. memperhatikanku. bahkan ada sisa-sisa darah kering di sana. “Apa aku gila?” tanyaku. Tetapi tetap saja aku senang berteriak-teriak. bahkan menyentuh apa pun. tetapi tidak Cut Dini. Dan … cuma dia. Terus mengangguk-angguk. Lagi pula kau seorang muslimah.” katanya pelan. Ia kembali ke Aceh setelah tamat kuliah di Jakarta. Aku senang sekali. Cut Dini.” kata Cut Dini sambil memberiku minum. Kau sangat terpukul.” kata Cut Dini suatu ketika. Aku memakainya ketika orang-orang jahat itu datang. Segalanya terasa lebih ringan. Kupandang baju ungu muda yang kupakai. “Sudahlah. menggapai-gapai permukaan. Berbahaya. Ia sangat peduli.” kuteguk minuman itu.” ujar Cut Dini. Cut Dini menatap bola mataku dalam. Aku mengangguk-angguk. Aku kembali merebahkan badan di atas dipan. Orang-orang bilang ia anggota … apa itu … LSM? Juga aktivis masjid. ketiaknya juga. yang sudi berteman denganku. di antara para tetangga. kecuali semua yang bernama kepahitan. Aku melempari atau memukul orangorang yang lewat. Lalu di dekat perut. mengajakku ke dokter. Ia menyisir rambutku. Aku memakan dan meminum nyeri setiap hari. “Menurutmu?” Aku menggeleng kuat-kuat. setelah keluargaku dibantai dan aku dicemari beramai-ramai. Kugaruk-garuk kepalaku. Hingga suatu hari orang-orang desa akan memasungku.” 104 . Matanya pun selalu menatapku penuh pancaran kasih. Tangannya koyak. Namun tiada tepi. Aku suka membantah orang. aku seperti terperosok dalam kubangan lumpur yang dalam. “Kau sakit. menceritakan banyak hal. Aku belum begitu lama mengenalnya.

” Cut Dini membaca kertas itu. Aku jadi ingin marah. Aku terbang dan hinggap pada meja kusam di samping rumah. “Kami orang baik-baik. lebih lekat dari jendela. keji that! Tidak!” Kedua orang itu tampak gugup dan sesaat saling berpandangan. Aku terbang tinggi dan kadang menukik seketika. Lima ratus ribu? Horeeee! Apa bisa buat beli sayap? “Kami minta ia tidak mengatakan apa pun pada orang asing. Lupakan saja gadis gila itu. *** 105 Siang itu aku sedang menjadi burung. meski tak mengerti.Quran mungilnya dan membacanya dengan syahdu. Hua…ha…ha. di ruang tamu yang merangkap kamar tidurku. Tak ada tempat bagi orang seperti kalian di sini.” Aku nyengir. Kami hanya ingin memberikan sumbangan sebesar lima ratus ribu rupiah pada Inong. Ah. Jembatan Kuning. Cot Panglima. Ia atau bisa saja anda sebagai walinya menandatangani kertas bermaterai ini. Ini daerah operasi militer.” “Oh ya?” Nada Cut Dini sinis. mayat-mayat yang berserakan di Buket Tangkurak. Suaranya kadang berubah. lalu mengintip ke dalam lewat jendela yang rapuh. Bagaimana kalau kucuri saja topi-topi merah si loreng dan kubakar. Aku hinggap di ranting-ranting pohon belakang dan mematuki buah-buah di sana. memata-matai dan menganggap teman sendiri sebagai pengikut Hasan Tiro dari Gerakan Aceh Merdeka. Dua lelaki tegap dengan rambut cepak menyodorkan sesuatu pada Cut Dini. “Kami hanya menindak para GPK.” “Sudahlah. Kulihat wajahnya marah. Hutan Krueng Campli…dan di mana-mana!” suara Cut Dini meninggi. Huh. anak-anak yatim yang terlantar…. “Lalu perkampungan tiga ribu janda. “Tidak!! Bagaimana dengan pemerkosaan dan penyiksaan selama ini. Mengapa? Kugerak-gerakkan kepalaku menatap mimiknya. Aku seperti mendengar Hamzah mengaji —lewat pengeras suara— di musala. ambil saja uang ini buat anda. penjagalan di rumoh geudong. aku tertawa gelak-gelak. aku ingin menangis setiap mendengar bacaan Al-Quran. Sungai Tamiang.Lalu seperti biasanya Cut Dini mengambil Al. semuanya busuk. Kami menjaga keamanan masyarakat. “Siapa kalian?” tiba-tiba kudengar suara Cut Dini bergetar. Tetapi sekarang semua usai. banyak yang terpaksa menjadi cuak. “Kenyataannya masyarakat takut pada siapa? Dulu.” .

“Kami bukan GPK!”suara Ma’e. Pasti itu ayah orang yang memperkosaku! Pasti ia teman para pembunuh itu! Pasti mereka orang-orang gila yang suka menakut-nakuti orang! Paling tidak mereka cuak! Aku benci cuak! “Inong…. Zakariaaa! Keluar! Atau kami bakar rumah ini!!” Aku terbangun dan mengucek kedua mataku. ya. Aku berlari ke dapur.” kata Cut Dini tersenyum. “Benahi yang rapi lagi.” tukasku. “Dulu aku shalat bersama keluargaku. Kudengar Ayah tak putus berdzikir. Lalu Ma’e dan Agam. Ayah berjalan ke arah pintu diikuti Mak.” suara Cut Dini. abang dan adikku. Ulon hana teupheu sapheu!” . juga Agam dan Ma’e! Beberapa orang mengangkat Mak dan membawanya pergi! Sebelum aku berteriak. tiba-tiba saja Ayah diseret ke luar. Orang-orang itu kini hanya titik di kejauhan. Ketika pintu dibuka. Dzikir itu lebih mirip jeritan yang menyayat hati. Kulempar mereka dengan apa pun yang kutemui di meja dan di lantai. Puluhan orang ini telah membakar beberapa rumah! “Jangan ada yang menunduk!” Aku gemetar mendengar bentakan itu. bila ingin shalat seperti manusia. Aku mau shalat lohor dulu. 106 *** “Keluar. Ada apa? Pintu rumah kami digedor-gedor. “Mengapa aku tak pernah diajak salat?” protesku. Kalian sama dengan warga Mane… bekerjasama dengan GPK!” suaranya lagi. Aku berhenti jadi burung ajaib. “Jangan menjadi burung. sebelum aku bisa jadi burung. “Ini pelajaran bagi anggota GPK!” teriak seorang lelaki berseragam. “Masya Allah. “Zakaria dan keluarganya membantu anak buah Hasan Tiro sejak lama!” Warga desa menunduk. Kurasa ia seorang pemimpin. tetap lembut.” katanya. “Ayo lihat mereka. Mereka tak mampu membela kami. beberapa tangan kekar merobek-robek bajuku! Aku meronta-ronta. nanti perabotan itu rusak. Dari kejauhan kulihat api berkobar.” Aku berhenti melempar. dan kembali menimpuki mereka dengan panci dan penggorengan.Apa? Gadis gila?? Kukepakkan sayapku dan menukik ke arah dua lelaki itu. Mereka berteriak-teriak seperti anak kecil dan berebutan ke luar rumah.

Silau. Aku jatuh lagi.” Samar-samar kulihat kepala desa kami itu diikat pada sebatang pohon. “Inong. Serentetan tembakan segera menghunjam tubuh Geuchik Harun. “Pak Zakaria hanya seorang muadzin. Airmataku menderas. itu suara Hamzah! “Angkut orang yang bicara itu!” Aku melihat Hamzah dipukul bertubi-tubi hingga limbung. Di mana sayapku? Aku ingin terbang dari sini! Oiiii. Peristiwa empat tahun lalu dan rezim ini. lalu Ayah yang berlumuran darah! Tangan-tangan kekar menyeret mereka ke arah truk. Agam dan Ma’e? Di mana wajah saleh milik Hamzah? Di mana tengkoraknya? Tangan-tangan raksasa itu menggerakkan jaring ke sana ke mari. Sebuah pelukan yang sangat erat kurasakan. Inong! Inong. Dan aku tak ingat apa-apa lagi. lalu Ma’e abangku! Aku histeris. Aku menjerit-jerit dalam perangkap. “Astaghfirullah. Lalu airmata seseorang yang menetes-netes dan bercampur dengan aliran air di pipiku. mereka memang bukan orang jahat. Merah. tetapi aku tak bisa bangun. saat tak lama kemudian. “Kami tidak membela. nyeri yang amat sangat merejam-rejam tubuhku! “Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!”aku berteriak sekuat-kuatnya.” Tangan-tangan raksasa itu mengayun-ayunkan jaring. sebab aku berada di dalam jaring! Banyak orang sepertiku di sini. kulihat Agam tersungkur dan tak bergerak lagi. Kami tak bisa keluar dari sini! Tolong! Toloooooong! Di mana sayapku? Di mana? Di mana tangan Mak dengan cincin khas di jari manisnya? Aku ingin menggenggamnya. lalu…ia diinjak-injak! Dan diseret pergi. hingga aku letih sendiri. terkelupas dan berdarah. Inong! Semua sudah berlalu. “Siapa lagi yang mau membela?”tantang lelaki penyiksa itu pongah. “Bawa mereka ke bukit dekat jalan buntu! Juga gadis itu!” Aku meronta. di dalam jaring-jaring merah ini. “Allah tak akan membiarkan mereka. Wajah-wajah itu retak. Jiibandum ureung biasa. bangun!”dua tangan menggoncang-goncang badanku.” 107 . Inong! Tegar! La hawla wala quwwata illa bi 'l-Lah…. Tak jauh. Kalian salah sasaran!” Ya Allah. Pedih.“Lepaskan mereka. Di mana Ayah. tolong ambilkan sayapku! Aku ingin pindah ke awan! Di tanah kebanggaanku hanya tersisa nestapa!! Tak ada yang mendengar. istighfar…. Airmataku menganak sungai. mencakar. menggigit. Wajah-wajah dalam jaring pias. Aku dan kumpulan manusia di sini berjatuhan ke sana ke mari. menendang.” suara Geuchik Harun. Pusing. Tegar. Inong! Tak akan! Kau harus sembuh.

1998 Referensi: . Ia mengusap airmataku. Samar kulihat Cut Dini. Orang-orang ini tersentak. Menggelepar. . Hah. Aku mengamuk panik. Aku mencari bunyi. 5 Agustus 1998. Lalu tak jauh di hadapanku.Data yang diterbitkan oleh Forum LSM Aceh. terasa berputar. beri kami keadilan.” Aku terkapar kembali. Tiba-tiba suaraku hilang. “Pergiiiiiiii!” aku menjerit sekuat-kuatnya. memporakporandakan apa dan siapa pun yang ada di hadapanku! Aku…. Sekujur badanku bergetar. Daftar istilah: Buket Tangkurak : Bukit Tengkorak Geuchik Cuak : Kepala Desa : orang yang jadi mata-mata tentara . Apakah ia membawa jaring-jaring untuk menangkapku lagi? “Pergiiiii! Pergiiii semuaaaa!” teriakku. mencari gerak. Kompas ( semua terbitan Agustus 1998). Wajah tulus dengan kerudung putih itu. tak ada suara yang keluar. kulihat beberapa o-rang. Cuma luka nganga. menatapku kasihan. Tibatiba takutku naik lagi ke ubun-ubun. Berdarah dalam jaring. "Pergiiiiii!" aku menceracau. Tolong. Aku menggigil dan mendekap Cut Dini erat-erat. Tak ada apa pun. mereka akan membantu kita…. “Ia hanya satu dari ribuan korban kebiadaban itu. Aku berteriak. tetapi kaku. Aku menangis tersedu-sedu. tak ada airmata yang mengalir. “Inong…. apa peduliku?! Aku ingin berteriak. Republika. mencari bening. Di antaranya berseragam.Kabur. Oknum-oknum itu menjarah segalanya dari perempuan ini!” Takut-takut kuintip lelaki tegap yang sedang menatapku ini.Buletin Kontras no 1/Agustus 1998.*** 108 Cipayung. . mengamuk. Pak.Gatra. Terbit. Bapak sudah lihat sendiri.

Ma’e Mak rumoh geudong Mane ureung-ureung that ulon hana teupheu sapheu therimoung ghaseh kherudoung : panggilan untuk Ismail : Mak : rumah gedung (tempat penjagalan) : nama desa di Pidie : orang-orang : sekali : saya hanya orang biasa : terima kasih : kerudung 109 (Dimuat dalam Horison. April 1999) .

Dia memerlukan alat-alat pahatnya. siapa kau?!” "Titiang yang akan melayani seluruh keperluan Ratu.” Suara itu terdengar bergetar. Suara itu adalah suara perempuan. Semua gara-gara dia mencium bau yang aneh dari sudut pintu. dan sangat tulus. Kali ini. “Siapa tadi namamu?” Kopag mulai menenangkan dirinya sendiri. Baru kali ini Kopag merasakan bisa menikmati hidupnya. perempuan yang dicarinya berabad-abad. atau seonggok kayu yang paling sakral sekalipun. "Katakan padaku. benarkah suara ini milik seorang perempuan? Ketika Kopag akan mengambil tongkatnya. Suara itu dirasakan penuh dengan kejujuran. Kopag semakin gelisah.” “Srenggi? Srenggi siapa?!” Kopag semakin menggigil.” Suara itu terdengar gugup. Dia bisa memberikan penilaian yang begitu objektif terhadap benda hidup yang bernama manusia. Inilah perempuan itu. 110 . tiba-tiba saja dia seperti ditenggelamkan ke lautan. Pisaupisau yang runcing terbayang di otaknya. Bau itu semakin mendekat dan menyesakkan dadanya.1 Luh Srenggi. Kopag menggigil ketika bau itu benar-benar menelanjangi wujud laki-lakinya. Kopag harus patuh. Apa yang terjadi dengan dirinya? Kopag memaki dirinya sendiri. Luh Srenggi cepat-cepat membantu. “Luh Srenggi.2 Mulai hari ini dan seterusnya. Seperti bau daundaun kering dan kayu basah. dia merasa menemukan kebenaran yang berbeda dengan kebenaran yang diyakini oleh orang-orang yang selama ini rajin menanamkan kebenaran yang telah menjadi ukuran mereka.Pemahat Abad Oleh: Oka Rusmini Kopag menjatuhkan pisau ukirnya yang runcing. Seorang perempuan. Kulit perempuan itu terasa seperti kulit kayu. Tangannya jadi lapar. “Siapa itu?” “Titiang. Biasanya dia hanya dijadikan objek. Perempuan itu pasti memiliki kecantikan yang melebihi kecantikan sebatang pohon. Aneh sekali. Tangan mereka bersentuhan. Aneh. dari mana datangnya bau yang membuatnya begitu gelisah? Bau itu semakin mendekat. Sekarang Hyang Widhi mengirim untuknya. Luar biasa. Apa pun yang dikatakan orangorang di sekitarnya. Kopag yakin dugaannya ini tidak meleset. sekedar mendengarkan keputusan orang-orang terdekatnya. Hampir saja pisau itu memahat kakinya. kasih sayang.

Laki-laki itu adalah binatang yang paling mengerikan. Alangkah ajaibnya kalau hidup juga bisa dipermainkan. sangat sadar. laki-lakinya akan menitipkan daging binatang di rahimnya. Dia tidak pernah peduli. Dia bisa mengubah kayu kering menjadi sebuah karya seni yang memikat para intelektual seni rupa. bisa dibuat sebuah pementasan. Tubuhnya seperti lekukan kayu. Seluruh wajahnya juga lekukan kayu. Dia adalah kayu terindah dan tercantik. Gubreg?” Suara Kopag terdengar getir. Dia juga memiliki puluhan galeri lukis dan patung. sejak kecil dia terbiasa dididik menjadi perempuan bangsawan yang menghormati laki-lakinya. hidupnya. Sayangnya laki-laki itu memiliki mata yang sangat liar. Gelar Ida Bagus menunjukkan bahwa dia adalah anak laki-laki dari golongan Brahmana. Ayahnya seorang laki-laki sangat terhormat dan memiliki kedudukan tinggi di pemerintahan. agar orang-orang mudah mengenalinya dan membedakan dirinya berbeda dengan manusia lainnya. Tapi. Dia hamil. di sanalah dunia itu dibuat untuk laki-laki yang sejak pertama berkenalan dengan aroma bumi dan hidup hanya merasakan kegelapan sebagai bahasanya. yang tentu saja tidak dimiliki orang-orang. Belum lagi hutangnya yang tiba-tiba saja menumpuk. perasaan. cantikkah perempuan itu. lakilaki itu pulang dalam kondisi yang menyakitkan. dan keindahannya sendiri. Perempuan itu menolak. Seluruh kekayaan ludes. laki-laki itu bisa tidur dengan seluruh perempuan. Aneh sekali tak ada manusia yang bisa menangkap kecantikannya. Kata orang. Lahirlah seorang laki-laki yang merenggut nyawa perempuan itu. Kehidupan yang sering dimaki Kopag ternyata cukup demokratis. Menghargai keindahan yang dititipkan alam padanya. Bahkan Gubreg. Apa artinya kekuatan seorang perempuan? Terlebih. “bahkan untuk menilai keindahan itu. apakah orang-orang yang memiliki kelengkapan utuh sebagai manusia ketika dilahirkan mampu menangkap seluruh rahasia kehidupan ini? Rahasia yang erat-erat digenggam dan disembunyikan alam? Salahkah kalau tiba-tiba saja Kopag menemukan kecantikan yang luar biasa pada diri Luh Srenggi. Karena tak ada perempuan-perempuan yang bisa dilihatnya dengan matanya. Laki-laki itu harus berperan sebagai laki-laki buta untuk menebus kelahiran dan hidupnya sendiri. Dia anak laki-laki kedua yang lahir dari keluarga terkaya di Griya. Dia memberi Kopag poin. setiap makhluk yang memiliki lubang bisa dimasuki. Seperti sebatang kayu dengan lekuknya yang begitu menggairahkan. kasta tertinggi dalam struktur masyarakat Bali. Apa yang sesungguhnya salah pada kriteria yang telah diberikan Kopag terhadap perempuan? 111 *** Kehidupan telah memaksa bocah laki-laki itu memakai label Ida Bagus Made Kopag. Kopag . Kecantikan yang dia lihat dengan pikiran. juga tidak berkomentar ketika Kopag memuji keindahan perempuan delapan belas tahun itu. Dalam kondisi seperti itu. laki-laki itu memaksa perempuan yang dinikahinya untuk bersetubuh. aku juga harus memakai kriteria mereka?” “Kebenaran mereka? Aku tidak yakin mereka mampu melihat seluruh keindahan hidup ini dengan benar!” Suara Kopag terdengar penuh tekanan. Dia tahu. pelayan tua itu. Dilahirkan sebagai laki-laki buta memang tidak menggairahkan. Tubuhnya kurus dan pucat. Suatu hari. Salahkah? Kecantikan perempuan muda itu adalah kecantikan yang sangat luar biasa. sehatkah dia? Bagi ayah Kopag. setelah berbulan-bulan tidak pulang. Kopag telah merekonstruksi sejarah seni rupa. Pikirannya kacau! Kopag sadar.“Apakah di bumi ini wujud kebenaran itu sudah seragam.

Saat ini dia sangat mengikuti ambisinya untuk masuk dalam lingkungan keluarga Brahmana. parekan. Tanaman di halaman samping rusak atau terinjak kakinya. juga impian-impiannya. Orang-orang di luar hanya tahu bentuk tubuhnya yang konon sangat luar biasa. Kopag sangat menyukai kayu yang mengenalkannya pada dunianya. Tanpa teriakan iparnya yang sering menyesakkan kuping. Anyir. Jujur saja. Ni Luh Putu Sari yang sejak menikah dan masuk menjadi keluarga Griya bernama Jero Melati itu memiliki kulit yang sangat indah. Gubreg? Tolong kau katakan seluruhnya. Karena perempuan Sudra. selalu berkata bahwa beruntunglah kakaknya bisa mendapatkan perempuan tercantik di desa. “Apa bisanya adikmu yang buta itu? Apa? Merepotkan!” Suara perempuan muda itu selalu menggelisahkannya. kulitnya yang sering jadi pujian. Masih kata Gubreg. alam menyerah pada kekuasaannya. Postur tubuhnya seperti putri-putri raja Bali. Getaran tangannya sudah seperti tangan-tangan mayat yang membusuk. Bahkan Gubreg. perempuan itu harus mengubah namanya menjadi Jero Melati. Suara iparnya itu akan terus menari-nari di sekitar telinganya.” 112 . Teriakannya saja bisa memandulkan pisau pahatnya. merah. Ratu. Ada-ada saja yang diributkannya. Saat ini aku mencoba percaya pada matamu. pokoknya seluruh tubuh perempuan itu selalu jadi pembicaraan kaum laki-laki. Itu yang dirasakan Kopag. dia mencium bau darah.” “Seperti apa perempuan cantik itu. *** Kopag menarik nafasnya dalam-dalam. pelayan setia yang merawat Kopag sejak kecil. Kopag sering berpikir. Bagi Kopag. Disentuhnya kayu kering yang selama ini selalu mengantarnya ke mana dia pergi. Kopag juga merasakan setiap mulut perempuan itu terbuka. Untuk pertama kali. Iparnya yang luar biasa kasar dan cerewetnya jadi pujian dan pembicaraan seluruh laki-laki di Griya.tidak saja memahat kayu. Nama perempuan itu Ni Luh Putu Sari. dia harus menunjukkan pada seluruh manusia di desa ini bahwa dirinya berhak masuk dalam lingkungan keluarga bangsawan. aku juga ingin merasakan. dia memahat pikirannya. Karena dia bukan kaum Brahmana. Dunia yang diinginkan. dan sangat pas. atau posisi piring dan gelas berubah di dapur. seperti Kopag juga menyerah pada kebutaan yang harus dia kenakan setiap saat. otaknya. bagaimana sesungguhnya sebuah penilaian yang objektif dalam hubungan antarmanusia di bumi ini. Bagaimana mungkin perempuan konon kata orang-orang di desanya sangat cantik dan santun itu bisa berkata begitu kasar. perempuan itu adalah pemain sandiwara yang ulung. kembang sepatu yang baru ditanam perempuan nyinyir itu tersangkut tongkatnya. Bau itu seolah berlomba-lomba meloncat dari bibirnya yang konon sangat mungil. Perempuan itu benar-benar serius untuk memasuki perannya sebagai istri laki-laki Brahmana. Kebutaan yang mengikuti dia terus-menerus. Aneh sekali. perempuan kebanyakan itu telah menikah dengan kakaknya dan menjadi keluarga Griya. Sebuah kesunyian dengan pagarpagar keindahan. ketika untuk pertama kali iparnya itu menyalaminya. Aku ingin tahu. “Luar biasa kecantikan Jero Melati.

Laki-laki setengah baya itulah yang membuat Gubreg.” Keruncingannya.Laki-laki tua itu terdiam. Gubreg?” “Jangan bertanya yang aneh-aneh pada titiang. Dia juga rajin membaca buku-buku dengan huruf braile. “Anak itu buta. tapi mampu memikatku. Hyang Widhi! Penguasa jagat! Kopag memang sudah besar. dan tangannya juga sangat cekatan memahat patung-patung. Susah. perhatian yang lain. Ida Bagus Made Kopag memiliki tubuh yang sangat bagus. Sejak kecil kakeknya hanya mengajari Kopag bersentuhan dengan kayu-kayu untuk berkenalan dengan kehidupan. Dadanya sering mendidih. kau belum jawab pertanyaanku. Susah. Kopag sudah bagian dari nafasnya. Dia ingat teriakan Kopag ketika pertama kali menyentuh tubuh-tubuh pisau yang telanjang itu. Begitu penuh misteri. dan menikmati aroma ketajamannya yang luar biasa indahnya. Dia juga yang mengajarinya bahwa semua benda punya jiwa. Kadang-kadang dia bacakan buku-buku bahasa asing. yang konon. Sejak kecil. Kegelapan itu jadi milik cucuku yang paling abadi. pematung jaman Renaisans. Menanggung dosa ayahnya. “Kau tidak ingin menjawabnya. termasuk rangkaian pisaupisau pahatnya. Ada rasa sakit mengelus dada tuanya. Gubreg. Aku masih percaya kehidupan itu bisa diajak bicara. “Gubreg. Ada yang hilang dalam tubuh laki-laki tua itu. Bagi Gubreg. dia mampu membuat patung-patung dengan ukiran sangat sempurna. begitu indah. Jaga dia baik-baik. Cucuku memiliki seluruh mata manusia yang ada di bumi ini. rasa apa yang sering membuatku meluap. Luar biasa. Gubreg. Kau bisa lihat. Kehilangan yang dalam. yang diterjemahkannya. Pertumbuhannya selalu mengingatkanku pada perbuatan-perbuatan yang dilakukan anakku. tentang Michelangelo Buonorrty. Seperti apa perempuan cantik itu? Apa seperti bongkahan kayu beringin ini? Dingin. kata Frans. 113 . apa ini rasa yang dimiliki lakilaki? Ini wujud kelelakian itu?” suara Kopag terdengar pelan. Waktu itu umur Kopag tujuh tahun. Gubreg. Frans Kafkasau. Seluruh ilmu memahat dia alirkan dalam tubuh bocah kecil yang tidak berdaya itu. Karmanya jatuh pada anaknya sendiri. sebelum berpulang. Tanyakan pada laki-laki bule itu!” Suara Gubreg terdengar penuh nada kecemburuan. Lihat. Ratu. jengkel! Ada-ada saja yang dibawanya. sudah menjelang dua puluh lima tahun. aku selalu tersentuh. tubuhku gemetar setiap menyentuh pisau-pisau ini. Laki-laki tua itu sekarang ini jadi cepat marah. Atau sesekali mendatangkan guru yang mengajarinya membaca. Atau sesekali dia dikunjungi orang asing dari Prancis. Titiang tidak bisa menjelaskan seperti Frans. Dipandangnya mata Kopag dalam-dalam. kan? Kehidupan sendiri memberinya hadiah yang luar biasa. Jengkel! Waktu Kopag sekarang habis untuk diskusi. Kopag tidak lagi membutuhkannya. Sejak bergaul dengan Frans ada-ada saja yang ditanyakan Kopag padanya. Gubreg. Gubreg pun mengajari Kopag menelanjangi tubuh pisau-pisau pahat. dialah yang mengajari Kopag mempelajari tekstur kayu. ketajamannya. Tinggi. Rasanya baru mendengar satu huruf keluar dari bibir laki-laki Prancis itu seluruh isi perutnya seperti keluar. Gubreg. Lihat. “Gubreg. Anggap dia anakmu!” Itu pesan Ida Bagus Rai. Laki-laki bule itu telah memberinya didikan yang baru.

Sebagai laki-laki Sudra. yang hidup dari belas kasihan keluarga Dayu Centaga. Tak ada yang bisa diceritakan kegelisahannya.. betapa sinar matahari yang perkasa itu menjadi patah dan tak berdaya ketika menyentuh sedikit saja keruncingannya. dan teramat menggelisahkan ketika tubuhnya mulai lapar dan memerlukan tubuh lain untuk santapan. memiliki penilaian khusus tentang hal itu. Kata Balian itu.. Kakinya kram setiap melihat tubuh basah itu naik ke atas dengan kain yang hanya sebatas dada. Berkali-kali dia menarik nafas. Rasa itu tiba-tiba saja muncul kembali dalam otak. dan mampu meledakkan otaknya.” suara Kopag terdengar penuh rasa ingin tahu. Tubuh perempuan itu seperti ular yang melingkar dan menjepit batang-batang tubuhnya. Setiap mengingat batas yang ada antara dirinya dan Dayu Centaga. Waktu itu Gubreg seorang laki-laki kumal empat belas tahun. Kaki perempuan itu putih.titiang tidak bisa menceritakan kecantikan perempuan pada Ratu. . Dia gelisah. dan tulang-tulangnya yang mulai rapuh membantunya merangkai masa lalunya kembali. Dayu Centaga selalu menyuruh Gubreg menggosok punggungnya dengan batu kali. Tubuhnya dilingkari asap yang sangat menyesakkan aliran pernafasannya. *** 114 Pagi-pagi sekali. Dia juga laki-laki. Ratu. dia juga pernah merasakan seperti apa percikan nafsu itu ketika pertama kali menampar wujud manusianya. Terlebih. Gubreg sadar rasa laparnya sudah tidak bisa dibendung lagi. Keluarga Griya mencarikan dia seorang Balian. Lama-lama Gubreg merasakan sakit yang luar biasa menyerang tubuhnya. dia adalah laki-laki tak berguna. Ratu?” “Kecantikan perempuan. Aroma itu tak bisa dihapus oleh usia yang dipinjam Gubreg pada hidup. Masih kata Balian tua itu. Kopag sudah membuka jendela studionya. “Aku ingin bercerita padamu.. Balian tua itu memberinya jampi-jampi. Semua orang. kebanyakan. Perempuan itu. dukun. karena kelaparannya adalah kelaparan yang tidak pada tempatnya. Begitu parah.” “Titiang. Takut sekali menjawab pertanyaan tentang esensi menjadi laki-laki. Gubreg menyaksikan. Sampai menjelang tengah malam.. angkuh dan selalu lapar. Gubreg belum juga bisa menjawab arti menjadi lakilaki. Gubreg sempat membuang kotoran di pinggir sungai. Di tangan Kopag pisau itu jadi begitu dingin. dia luka. Hyang Widhi.Kilatan matahari menjilati keruncingan pisau pahat itu. Tubuhnya jadi pucat. Perasaan apa yang sedang bertarung dalam tubuh Kopag? Gubreg takut. Dia mengerti. perempuan yang sangat dihormatinya. “Tentang apa lagi. Aroma tubuh perempuan itu sampai hari ini masih melekat erat di tubuhnya. Gubreg selalu merasakan tubuhnya dilubangi.” Suara Gubreg terdengar patah. Sangat paham. Sering sekali dia disuruh mengantar Dayu Centaga mandi di sungai Badung. Dia sering terjaga tengah malam dengan nafas yang memburu. dia sadar tubuhnya tidak boleh melahap tubuh perempuan Brahmana. Kebetulan si penunggu sungai sedang beristirahat. Pisau justru seperti menantang matahari untuk bersabung.. Perempuan junjungannya.

diajar memahami kehidupan. sangat surealis. Gubreg menatap tajam tubuh Kopag yang sedang merampungkan pahatannya..” suara Kopag terdengar pelan. “Gubreg. mem-besarkan tubuhnya. Kenapa kayu-kayu ini selalu mengajakku berdiskusi. Sesuatu yang dahsyat telah dititipkan alam pada tubuhnya. Tak seorang pun tahu. Gubreg bersedia menjalankan runtutan upacara itu. Katanya agar roh jahat tidak mengenai keluarga Griya.” Gubreg tetap diam. 115 . sampai akhirnya potongan-potongan tubuh itu ada di tanganku. Aku selalu ingin tahu. Dia pasrah ketika Balian tua. Demi Hyang Widhi. Aku juga memiliki impian-impian sendiri pada patahan tubuh pohon itu. Sampai sekarang. Untuk menghormati kebaikan keluarga Griya. Dia mencoba memahami sesuatu yang sangat rahasia dan begitu dalam ingin disampaikan Kopag. sampai menguliti otakku. Justru Gubreglah yang kena kemarahan si penunggu sungai. Dan Gubreg tahu air dalam tubuhnya memerlukan muara. pahatanku tentang perempuan sangat sempurna. dingin. kau belum juga jawab pertanyaanku. Dayu Centaga tidak terkena. Kayu-kayu dan pisau telah memberiku mata yang lain. selalu ingin mengupas dan melukai kayu-kayu itu. Gubreg bahkan rela bocah laki-laki itu mencuri lembar demi lembar rahasia perjalanan dan rasa sakitnya sebagai laki-laki yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk mengabdi. komunikasi Balian tua itu dengan dunia gaib salah. tidak lagi bisa menikmati kegairahan manusiawi sebagai manusia. Berkat kekuatan Gubreg. tidak juga kesambet setan. seorang anak yang dibesarkan dengan cara-caranya. Dia rasakan perubahan pada tubuhnya. mengajakku bicara. Dia menarik nafas berkali-kali. Kecantikan perempuan yang kuterjemahkan lewat kayu-kayu itu mengingatkan Frans pada keliaran Martha Graham. kau ingat kata-kata Frans?” “Yang mana?” “Frans mengatakan keliaranku membentuk tubuh-tubuh manusia dalam kayu mengingatkan dia pada lukisan Pablo Picasso. Impian-impian yang dimiliki oleh po-hon ketika dia membesarkan ranting-rantingnya. Gubreg. Kata mereka. tetapi sudah menyerupai air bah.tadinya penunggu sungai itu juga ingin mengganggu Dayu Centaga. Kalau sekarang Kopag bertanya seperti apa kecantikan itu. tanganku. tubuhku. Cinta yang tidak mungkin dihapus. karena aliran sungai dalam tubuhnya bukan lagi aliran sungai kecil. “Gubreg. Rasa ingin tahu yang begitu besar. dia merasakan cinta yang dalam pada Dayu Centaga. Untuk mengembalikan kesehatan Gubreg. Suatu hari Frans dan seorang temannya mengatakan. Cinta yang membuatnya jadi batu. yang memanfaatkan seluruh tubuhnya untuk mewujudkan jati diri tokoh yang dimainkan. menjelang tujuh puluh lima. Guemica. Gubreg tidak sakit. aku merasakan kecantikan perempuan itu melalui jari-jariku. Gubreg paham. dan berpikir. tanpa kegairahan sebagai laki-laki. Tanpa istri. Gubreg tidak bisa bercerita tentang kelaparan tubuh laki-lakinya.. Gubreg masih setia mengabdi di Griya.memandikan tubuhnya di pinggir sungai. Gubreg. keluarga Griya membawa sesaji untuk penunggu sungai. Aku juga ingin tahu arti setiap impian. Pada dasarnya aku selalu penasaran. berdialog.

kakak Kopag sendiri bisa membuka galeri patung yang besar. keluarga besar ini kembali bisa hidup. Otaknya hanya berisi kehormatan. Patung-patung Kopag laku keras dan diminati oleh kolektor dari dalam dan luar negeri. Gubreg menatap mata perempuan itu tajam. “Bagaimana kalau dia kawin dengan calon yang telah kusiapkan. Laki-laki itu tidak pernah tahu apa arti ada uang atau tidak ada uang. dia tidak tahan miskin.” “Ya. Untuk pertama kali dia merasakan hawa jahat berendam dan menguasai tubuh cantik itu. Gubreg diam. “Kau harus bisa meyakinkan dia bahwa adikku layak menjadi istrinya. Benar kata Kopag. Mendengar komentar itu. Gubreg tahu tak ada yang diinginkan Kopag. Kata orang-orang kampung. Jero Melati tersenyum. “Ratu. Jero Melati tidak pernah ceriwis. Gubreg. Hanya satu yang ditangkap Gubreg. Sekarang ini keluarga ini tentram. dia terus mengelilingi studionya. adik Jero Melati bisa menjual tubuhnya.” Suara Kopag terdengar sangat serius. Sayang.” “Siapa?” “Adik perempuanku. Saat ini galeri itu sudah tumbuh besar dan menjadi satu-satunya galeri yang paling diakui di Bali karena karya patung yang masuk harus melalui seleksi dan pertimbangan yang teliti. Kopag seperti linglung. Aku ingin bicara!” Kali ini suara Kopag terdengar serius. Ratu ingin apa lagi? Jangan menakuti titiang. adik Jero Melati adalah perempuan paling liar dan nakal.” suara Gubreg terdengar sangat hati-hati. Mengerikan! Padahal perempuan itu sangat cantik. *** “Gubreg. Gubreg mencoba memahami ke mana kira-kira arah pembicaraan Kopag. .” “Jero sudah punya calon?” “Ya. Ratu terlihat sangat gelisah. Aku ingin kawin.” jawab perempuan itu serius.Berkat Kopag. perempuan satu ini memang bukan perempuan baik-baik. Padahal kemiskinan kalau dihayati memiliki keindahan tersendiri. Dia tahu.” Suara perempuan itu terdengar mirip perintah dan pemaksaan. Bulan kemarin. 116 *** “Kita harus carikan seorang istri untuk Ratu. Bahkan. Aku sudah memikirkannya jauh-jauh hari. Kopag memerlukan perempuan. perempuan itu bebas menggunakan uang Kopag semaunya. ada bantuan dana dari Jerman dan Prancis. Lima menit tanpa hasil.

tahukah dia makna kecantikan? Gubreg menarik nafas memegang dadanya kuat-kuat. aku tenggelam dan habis. Saya 2. Perempuan itu telah mengasah tubuh laki-lakiku. Dia adalah perempuan tercantik. Tubuhnya benar-benar lekukan kayu. Kulitnya begitu kasar. apakah kuping tuanya tidak salah dengar? Bukankah Luh Srenggi adalah perempuan yang menyiapkan seluruh keperluan Kopag.?!” Gubreg seperti tercekik. Kau tahu.” Gubreg ambruk. punggungnya bongkok.” Gubreg mengangkat wajahnya. ingin sekali dilihatnya wajah Kopag berseri. dan mengambilkan pisau-pisau pahatnya? Perempuan itu bukan perempuan. Perempuan yang mengalahkan kecantikan kayu-kayuku.” “Apa kata mereka. Aneh! Wajah itu tetap seperti batu. Gubreg.” “Ratu. ketika kujatuhkan tubuhku memasuki tubuhnya. ada daging besar tumbuh di atasnya. matanya yang kiri bolong.” “Mereka setuju. Sebuah pisau pahat menembus dadanya yang tipis. Kali ini pilihanku tidak bisa diubah!” “Siapa?” “Luh Srenggi. dia hanya memiliki satu mata. tak ada sebuah pisau pun bisa menandingi ketajamannya. “Aku sudah memiliki calon.*** 117 1. Ketika dia telanjang. Maret 2000) . “Aku telah menidurkan perempuan itu setiap malam. titiang juga sudah membicarakan dengan Jero dan kakak Ratu. Wajahnya juga rusak berat. Panggilan kehormatan untuk bangsawan Bali (Dimuat dalam Horison. membersihkan studionya menyiapkan makan. kakinya pincang.“Maaf Ratu. Hyang Widhi! Dewa apa yang ada dalam tubuh Kopag.. Sadarkah dia.. dia lebih mirip makhluk yang mengerikan. Bahkan merekalah yang akan memilihkan calon istri untuk Ratu. Luh Srenggi. Kulitnya juga kulit kayu.

Tetapi manusia yang telah menjadi batu tidak akan dapat memfungsikan dirinya.” kata Jim seperti yang sudah kuduga. “Oh. Lima belas tahun yang lalu. 118 . “Ketika kutinggalkan sekejap tadi.” kata Jim datar... betapa mengerikan. dan apa yang dapat dilakukan untuk membantu mereka.” “Jim. pertanyaan terakhir itu akan dijawab oleh Jim sendiri dengan mengatakan bahwa memang benarlah mereka manusia. Sampai pada kalimat tersebut.. Ia dan keluarganya —sebelum kawin— memang pohon penelitianku. Sambil mengangkat gagang telepon itu. Lalu ia bertanya bagaimana hal itu bisa terjadi.Menjadi Batu Oleh: Taufik Ikram Jamil Dinihari. “Tapi mengapa harus menjadi batu?” tanya Jim. Aku takut. “Bagaimana caranya mereka menjadi batu?” lanjutnya. ya seperti yang sudah kuduga. Tak ada jawaban.!” panggilku. menjadi batu membiarkan diri melakoni benda mati. “Jim!” ulangku.” simpul Jim. “Ya. aku membayangkan Jim kembali tercungapcungap menceritakan keluarga Niru menjadi batu. tetapi aku tak pemah menganggapnya sebagai sesuatu yang berasal dari luar diriku. mereka membunuh diri.. Jim akan tersentak sendiri karena ia mafhum bahwa memfungsikan diri adalah sesuatu yang abstrak. “Tak masuk akal.” kata Jim. Janganjangan menjadi batu merupakan upaya memfungsikan diri juga. “Aku kira sebentar lagi semua tubuh mereka akan menjadi batu.. “Niru telah mengantarkan aku ke jenjang karier seperti sekarang dan menjadi modal besar bagiku sampai diangkat menjadi profesor. tetapi aku sudah membayangkan. Cepat-cepat ia mengatakan. tergolek bagai barang tak berguna. bukan rentang waktu yang panjang untuk menelusuri hubungan kami. hanya leher sampai kepala mereka saja yang belum menjadi batu. “Pasti dari Jim. Ketika ia masih bujang lagi dan kini punya anak bersusun paku. Beberapa saat ia terdiam.” kata hatiku. “Kau kan tahu betapa Niru adalah bagian dari keluargaku juga. Tapi mereka manusia kan?” Aku diam. Berkali-kali ia ulangi pertanyaan tersebut. padahal bagian terpenting dalam hidup adalah memfungsikan diri. mengapa harus menjadi batu. ditingkahi desah ketakutan dan keasingannya menghadapi kenyataan itu.

. Hasil penelitian Jim di desa Niru sebenarnya tidaklah terlalu istimewa bagiku. Sesuatu yang sebenamya secara umum dinikmati tidak saja oleh Niru dan Suku Montai. tetapi hidup di tengah ladang minyak yang kaya raya dengan peralatan canggihnya. Niru tak mau datang dengan alasan yang tidak jelas walaupun segala sesuatunya ditanggung oleh Jim.. tut. Suku Montai. tetapi yang terdengar hanya tut . Aku membayangkan saat ini Jim berlari dari warung telepon yang seingatku terletak sekitar dua kilometer dari rumah Niru kalau mungkin ia menelepon dari tempat itu. Belum lagi pembangunan perkebunan besar-besaran yang tak terbayangkan sebelumnya.. barangkali disebabkan perhatian kami yang berbeda dan semua permasalahan di dalam penelitiannya sekaligus kualami sendiri dalam bentuk lain. Tampaknya aku harus melakukan tindakan karena sudah tiga kali ia menelepon. Mereka dalam keadaan yang tidak bisa membela diri terlebih lagi tidak punya sembarang pembela pun.sehingga ketika aku menelitinya atau orang kampung sekalian. “Halo. Cukup lama aku membiarkan gagang telepon melekap di telingaku dengan harapan Jim berbicara lagi. . tetap memandu Jim di lapangan..” Aku menarik napas. ia yang kawin dengan orang sekampungnya. Tak mengherankan kalau di antara keduanya terjalin hubungan antara pemandu dengan peneliti sampai di luar batas. sebenarnya hampir tergolong primitif. tetapi oleh waktu. Aku belum pernah setakut ini. Dalam kerangka yang lebih kecil dan sederhana dapatlah disebutkan bahwa penelitian Jim menggambarkan bagaimana di desa Niru terdapat berbagai hal yang teramat luar biasa secara ekonomi. tut .. tetapi masyarakatnya terbelakang. Suku Montai berdampingan dengan hal-hal yang wah itu.. Tentu saja aku tahu karena akulah yang membawa Jim pertama kali ke desa Niru. teruskan. tak lama setelah berkawan akrab dengan Jim. menuju rumah sahabat kami tersebut.. Ketika Jim dikukuhkan sebagai doktor di bidang yang ditelitinya yakni antropologi ekonomi. namun jarak di antara keduanya sangat jauh seperti tak dapat diukur lagi secara metrik. sekitar 150 km dari sini. Sayang. Keringat sebesar jagung segera saja mengalir di tubuhnya.” kata Jim... aku merasa meneliti diriku sendiri. lantas berkenalan dengan Niru.. Ya.” Jim agak berteriak. Niru masih bujang bedengkang waktu itu. “Kau dengar atau tidak?” “Teruskan. Ketika Jim kembali ke negeri asalnya setelah tiga tahun menetap di desa Niru. Tetapi belum sempat aku menyelidiki keberadaannya seperti tindakan apa yang diharapkannya dariku... 119 *** Dinihari. begitu orang menamakan asal Niru. Hallo. aku menjadi perantara hubungan mereka berdua. ketakutannya terasa semakin besar.. Niru dan aku diundang menghadiri acara tersebut. Sebentar ia tercegat di pintu dan sedikit saja ia menolak daun pintu dengan ujung telunjuk.” “Aku takut. dimulai dari puncak hidungnya yang tercacak... hubungan kami terputus. sangat takut. cahaya pelita sudah menyergap mukanya. tetapi banyak orang lain lagi termasuk aku..

Jim mengikuti arah mata itu dengan pandangan tanpa ia tahu apa maksudnya. Sesuatu yang sulit diterjemahkan kalau tidak berdiri pada bidang Niru maupun Jim. malah ia semakin gelisah. padahal baru beberapa jam sebelumnya Jim dan Niru masih berbicara perkara biasa-biasa saja. “Aku panggil Tuk Batin ke sini. anak-anak. Kaki sampai dada lelaki itu sudah membatu. 120 . Dulu. Kesimpulan menjadi batu dibuat Jim setelah ia melihat makin malam semakin banyak bagian tubuh Niru maupun anggota keluarganya yang menjadi batu. Jim tak tahu apa yang harus dilakukannya.. Cahaya bulan sepenggal dan kerlip-kerlip bintang yang tersapu awan hitam tidak menimbulkan sembarang kesan elok di hatinya. membuat pemandangan di dalam rumah ini bagaikan satu hamparan yang terasa amat asing.” kata Jim. Setelah berkali-kali mengajak berjalan ke luar yang dengan senyum ditolak Niru. Leman. ke pinggir hutan selatan. “Jangan!” “Bontik?” “Jangan. Tetapi mana mungkin aku mempertahankan ketidakpercayaan itu kalau aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana perlahan-lahan badan mereka berubah menjadi batu. Jim kembali memutarkan badannya. Duduk saja di sini. sebelum fajar menyingsing. “Tapi Niru.” kata Niru. Aku memegang batu itu.” Terdengar Niru ketawa kecil. Jim menyadari keberadaan Niru dan keluarganya seperti sekarang tak lama setelah ia mengajak Niru berjalan untuk makan angin di luar. dan istrinya seperti tidak mengalami apa-apa. Langsung saja matanya menyergap Niru yang tergolek di sudut. Ia mencangkung pada pipa minyak yang bergaris tengah sekitar 80 sentimeter dan membentang tak sampai 15 meter dari rumah Niru.” kata Jim lewat telepon beberapa jam lalu. . “Atau Katik. Raut. turun ke tanah. Saat pertarna kali menelepon dini hari tadi. Angin berkibar. semula aku tak percaya. Jim pun sadar bahwa sesuatu telah terjadi pada keluarga ini. Kakinya tiba-tiba saja tertuntun kembali masuk ke dalam rumah Niru. Juga Siah istri Niru yang tergeletak dekat dapur. mengajak Jim berbincang. menjelang dini hari mereka selalu berjalan ke luar. dan. Sinar maupun cahaya dari maskapai minyak dan pabrik-pabrik sawit serta bedeng-bedengnya yang dipandang dari kegelapan kampung ini meskipun membuat hati mereka sayup. enam anak kecil juga dalam keadaan demikian. Jim terpelanting..Wajahnya kelihatan menyala karena butir-butir keringat seperti tersimbah cahaya pelita yang merah kekuning-kuningan. tinggal mukanya yang ranum seperti tidak mengalami apa-apa. lelaki itu akhimya mengeluarkan kakinya. Mengeluarkan kaki yang sudah menjadi batu. juga mampu menghidangkan suasana lain. menusuk-nusuk hati Jim. Terasa begitu cepat waktu berlalu. wajahnya pun terlihat berayun. Tak jauh dari Niru. Menengadah. “Sungguh. Ketika Niru menunjuk kaki anak-anak dan istrinya. Matanya yang bundar memandang tubuhnya yang sudah membatu. tetapi tak lama kemudian ia cepat menguasai. Jim memang mengatakan bahwa apa yang terjadi sekarang pada Niru dan keluarganya seperti tiba-tiba. Siah dan anak-anaknya ikut terlibat dalam pertemuan dua sahabat lama itu. Berat.

. Ya. aku melihat bulan tergantung yang cahayanya pucat karena disambar cahaya merkuri di tengah jalan.” kata Jim dalam telepon sebentar tadi yang kembali terngiang-ngiang dalam telingaku.. Belum ada lagi panggilan dari Jim. telepon masih terlentang. nanti saja. tapi nantilah .” “Ya. Ia seperti duduk di ruang .” “Kau percaya?” “Karena kau tak mungkin berbohong. Kudengar juga suara anakku mengerang. aku katakan sebagai hujatan_ tentang menjadi batu tersebut terus saja meluncur dari mulutnya.” sambung Jim..keras sebagaimana layaknya batu. tut . apa lagi yang dapat dikatakan Niru?” “Dan menjadi batu sebenarnya bukan pilihan kan? batu?” Tetapi mengapa mereka menjadi Ia akan 121 Aku ingin menjawab pertanyaan itu. dan bercerita tentang kayangan yang sudah hilang.... menceritakan ikan yang menghilang dari sungai. Cepat pula ia bertanya. tapi aku yakin bahwa ia segera menelepon. aku tak mungkin berbohong.” “Dan kau mendengar bagaimana Niru terus berbicara seperti biasa. Aku takut. Bayangan Jim menyeruak di antara cahaya remang-remang di dalam rumah ini. terdengar suaranya tersendat-sendat. Ia hanya mau mengenang masa-masa lampau. tiba-tiba saja sambungan telepon terputus dan aku hanya dapat mendengar suara tut . Kendaraan mulai lewat di depan rumah..” “Bagaimana kau tahu?” Aku berdehem.” Apa yang dapat dilakukan dengan menjadi batu.. Ia sedikit pun tak mau menjawab pertanyaanku. Dari jendela. “Kau percaya cerita ini?” “Percaya. Aku ingin mengatakan.. sementara sekian pertanyaanku kepada Niru hanyalah sia-sia. Apalagi waktu itu. damar yang sulit dicari.. tetapi hujatan Jim _ya.. “Lantas. “Bagaimana kau tahu?” desak Jim. “Ini sungguh amat menakutkan aku. “Sungguh aku tak dapat mengerti kalau menjadi batu sebagai suatu pilihan. dan. tut . *** Sampai menjelang subuh. soal-soal kemesraan. Kau tahu bagaimana batu kan?” kalimat Jim bertubitubi.. Barangkali selama menunggu ini aku sempat tertidur dan terjaga karena suara batuk istriku..

ada dua hamparan batu-batuan seperti itu di sini.tengah. bahkan alat kelamin lelaki maupun perempuan. tilam. Ada juga batu berbentuk kapal. Katanya. Tak ada tanggapan Jim terhadap jawabanku itu. Keesokannya. Aku agak terkejut karena hal ini di luar programnya semula. tetapi baru tiga hari ia sudah merindukan keluarganya. Setahuku. Dari mata Jim aku tahu ia sebenamya berkali-kali melontarkan pertanyaan serupa. dan tanah yang kelihatan semakin 122 . dan entah apa lagi. Sejak saat itu Jim tidak pernah lagi ke sini dan kabar mengenainya kudengar sekali-sekali. Aku tak banyak tanya saat itu dan apa pula gunanya karena Jim tidak pemah dapat dihalangi. Menyulut rokok sebatang dan menghisapnya dalam-dalam. ia kemudian mengatakan ingin keluar. “Mengapa kau tak pernah bercerita tentang hamparan batu yang berbentuk manusia dan peralatan hidupnya sehari-hari di sini?” tanya Jim suatu malam. Niru maupun orang sedesanya tetap seperti dahulu. Seperti biasa ia hanya tersenyum kecil melihat kelakuanku itu sambil mengangkat bahu. tentu terutama dengan Niru dan keluarganya. Ia melihat halaman majalah yang memuat tulisan itu dan menyodorkan kepadaku. tetapi aku menawarkan diri untuk menemaninya sekedar basa-basi karena malam itu aku menunggu tamu. membaca majalah berita yang kubeli sore tadi.” kata Jim seraya tidak lupa mengatakan bahwa ia sudah diangkat menjadi profesor. malahan masuk ke dalam kamar yang memang kusediakan untuknya kalau ia datang ke sini. Tak lama kemudian ia sudah keluar lagi dengan amat necis. kemudian kembali memandang majalah itu dan mencari nama penulisnya. Sekarang batu-batu itu membesar dan konon pada suatu saat kelak akan memakan lahan sehingga mempersempit dan semakin mempersempit lahan yang ada. baru Jim pulang dengan bau penuh bir. Satu hamparan di pinggir pantai dan satu hamparan lagi di dalam sebuah goa di hutan lebat. ketika mataku sudah terlayang. kadang-kadang bergoyang-goyang sebagai tanda bahwa ia menyenangi bacaan itu. seorang teman lama. Pandangannya tidak lepas dari mataku meskipun aku sudah mengambil majalah tersebut sambil lewat saja. pagi-pagi lagi Jim mengatakan akan pulang ke Tanah Airnya. Kalaupun ada perubahan. lesung. limau. sendok. Tak ada perubahan. bantal. Kakinya terkepang. Dini hari. Niatnya ke desa Niru dengan sendirinya batal walaupun aku sudah mengingatkannya. mungkin tujuh tahun yang lalu. jalan yang lebar. Tak diajaknya aku. “Mengapa kau tak pernah cerita ada hamparan batu yang berbentuk manusia dan peralatan hidupnya sehari-hari di sini?” Sebagai jawabannya aku memandang langit-langit. batu-batu tersebut adalah wujud dari tindakan sekelompok manusia yang tak mungkin lagi berbuat lain dalam menghadapi gelombang hidup terutama dalam menolak perintah raja. ia akan berada di sini barang sepekan dalam urusan apa yang disebutnya sebagai mengecas baterai. Tapi ia tidak meneruskan bacaannya. yang pernah kusaksikan beberapa kali. tak sedikit pun membacanya kecuali memandang gambar-gambar hamparan batu tersebut. Bau parfumnya menyengat sampai aku harus mendengus-denguskan hidung. kelapa sawit di sana sudah menghasilkan sekian kali panen. Sampailah beberapa hari lalu saat ia meneleponku dan menyatakan keinginannya untuk datang ke sini. Di desa itu sebagaimana diungkapkannya lewat telepon. Di bandar udara Jim mengoceh banyak hal mengenai kedatangannya sekali ini terutama tentang penghormatannya atas Montai dan Niru khususnya yang mengantarkannya ke jenjang karier seperti sekarang. Konon. Tanpa sengaja aku memandang gambar batubatu yang berbentuk manusia. “Aku ingin reuni di Montai.

telepon berderak. bawa bertenang. Tak ada maksud apa-apa kecuali agar ia paham bahwa kami tidak pernah menyerah kepada keadaan. Dari desah napasnya pula aku dapat meraba bagaimana Jim tercungap-cungap. bahkan kami di kota ini. payah. menelan air liurnya beberapa kali. setidak-tidaknya aku akan katakan sepatah dua kata tentang hal itu ketika Jim menelepon lagi yang kini sedang kutunggu-tunggu. Rumah atau lebih tepat dikatakan pondok itu pun sudah mundur sampai tujuh kali. Suara napas Jim yang kukenal segera menyambar telingaku.tandus.” kata Jim. “Ketika kutanyakan hal ini. “Sudahlah Jim. Jim menjawab dengan sedu-sedan. Waktu itu aku tak sempat mengatakan apa saja yang telah dilakukan Niru dan warga kampung itu. sehingga makin terpuruk ke dalam hutan karena pengembangan ladang minyak dan perkebunan. Aku berniat sekali mengatakan hal ini kepadanya ketika ia pulang nanti. “Bertenang?” tanyanya kemudian. Di sisi lain untuk menggambarkan keadaan tempat yang didiami Niru dan keluarganya.. tanah yang dibelinya seluas dua hektar untuk Niru dan sejumlah orang sebagai tanda mata itu sudah berpindah tangan tanpa ganti rugi sepeser pun dan di atasnya telah berdiri berdegam sebuah hotel.” Lama tidak ada jawaban dan aku terus-menerus memintanya untuk bertenang.” “Bertenang dan pulang?” Aku mengogam. Baiklah. Perlu waktu khusus untuk mengatakannya kepada Jim. kendaraan tiada hentihentinya lalu-lalang di desa itu. Aku akan menjemputmu. Persis saat azan subuh mulai berkumandang. Jim juga mengatakan. dan tak henti-hentinya mengusap muka. Jim cukup mengatakan bahwa rumah Niru masih terbuat dari kulit kayu dan tidak memiliki listrik. termasuk hotel dan warung telepon yang boleh dikatakan tidak begitu jauh dari rumah Niru.. Ketika kutanyakan khabarnya.” “Kemudian membawa aku pulang?” “Ya. memang sulit. tidak cukup hanya melalui telepon.” .. Niru hanya mengatakan: payah. “Bagaimana aku dapat bertenang dan pulang dalam keadaan seperti ini?” “Ya. 123 *** Ternyata penantianku tidak sia-sia. Persekitaran desa Niru semakin terang benderang dengan berbagai fasilitas. “Pulanglah dulu ke sini. Bangunan-bangunan kilang minyak makin menjulang. sementara benakku membayangkan bahwa Jim akan mengabarkan kisah baru yang jauh lebih seru.

bahkan menjadikannya sebagai titik awal untuk menceritakan pengalamannya yang lain menjelang subuh itu. Ada yang sedang mencangkung. Entah berapa kali Jim bolak-balik di antara satu rumah ke rumah lain yang sekaligus menyaksikan orang-orang sudah menjadi batu tanpa mengerti mengapa ia bertindak demikian. Luka pada beberapa bagian tubuhnya tak terasakan lagi. Tapi aku menyesal karena berkata seperti itu. sedangkan istri dan anak-anaknya tergelimpang di halaman. ia melihat Niru yang sudah menjadi batu lebih dulu. Matanya memandang tembus ke langit. ternyata bocor. Pada beberapa rumah yang penghuninya tak dikenal Jim. Ia berharap agar semuanya ini hanya mimpi kosong belaka. Ketika ia sampai pada ujung rentangan menolak. dengan cepat ia meluncur ke rentangan menerima kenyataan tersebut. Barangkali dipengaruhi oleh kedekatan hati. Bontik. Atap rumah yang terbuat dari daun nipah yang seharusnya menghalangi mata Niru memandang ke luar. Walhasil ia harus mengeluarkan tenaga sedemikian banyaknya dengan sia-sia. Seolah-olah bagian-bagian tubuhnya bekerja sendiri-sendiri. kaki kirinya ingin ke belakang atau ke samping kanan maupun ke samping kiri. Tetapi aku melihat. tetapi semakin besar harapan itu bergumul dalam pikiran dan perasaannya. sehingga alat indera tersebut seperti menyala dan melahirkan suasana yang sungguh sulit dilukiskan kata-kata. Ketika itu tanpa seizin Niru aku pergi ke rumah Bontik. salah seorang manusia yang menjadi batu di halaman.” kata Jim. sedangkan pinggang sampai kepalanya membuat garis 120 derajat. Ketika kakinya melangkah sesungguhnya tangannya hanya ingin berdiam. kawan Niru sejak kecil dan cukup dikenal Jim. “Ketika kau melihat semua orang di desa itu menjadi batu?” aku memotong kalimat Jim. Untunglah Jim tidak menangkap kelalaian tersebut. bahkan kadang-kadang terasa kalau kaki kanan ingin ke depan. ketika.. Tetapi mata Niru... sedangkan istri dan tiga orang anaknya berada di belakang rumah. Cahaya bulan sepenggal yang masuk ke dalam rumah melalui lubang itu tepat menimpa mata Niru.. sementara tangan kiri melempai mengikuti bentuk pinggang. Ia menerangkan tentang bagaimana ia berlari dari satu rumah ke rumah lain dengan napas terengah-engah. tetapi ia 124 . ia dan keluarganya juga begitu. dan entah macam mana lagi. Begitu pula Tuk Batin yang terlihat duduk di bendul dengan muka tegang. Lelaki ini beserta anggota keluarganya berada dalam rumah.” Kalimat Jim terputus. Sebaliknya belum sempat ia menyadari keadaan dirinya menerima kenyataan itu dengan hati jernih. Ia merasa amat letih. Bontik dan keluarganya juga sudah menjadi batu. Tangan kanan menopang kepalanya.“Bagaimana aku dapat melakukan hal itu. Tiga anak mereka yang lain berada di dalam rumah dengan berbagai macam pose. Aku pergi ke rumah Tuk Batin.. Kini mereka semuanya sudah menjadi batu. semakin besarlah kesadarannya tentang kenyataan ini. “Ya. orang yang menjadi batu terlihat di halaman itu pun dalam berbagai pose.. Tidak sekali dua ia tersampuk benda-benda yang tak sempat dilihatnya sehingga ia tersungkur ke tanah. Di antara rentangan sikap semacam itulah ia tergantung dan saling tarik-menarik. Dari sinilah kemudian aku tahu bahwa semua penduduk desa ini sudah menjadi batu yang prosesnya sama dengan apa yang dialami Niru dan kusaksikan langsung. ia meluncur pula ke rentangan yang menolak. Bermacam-macam susunan orang-orang yang sudah menjadi batu itu. Tetapi Niru setengah duduk: kaki sampai pinggangnya sejajar dengan lantai kaki kanan menghimpit kaki kiri. berdiri bercekak pinggang. sementara otaknya melayang entah ke mana.

ia tak tahu. “Kalau saja Jim tahu bahwa nanti malam. hanya dengan menjadi batu saja kami dapat bertahan. Kau sudah mati. Ia seperti orang sasau --di antara gila dengan waras. seolah-olah tidak ada kejadian apa-apa di sini. bertambah kecewa karena kau menyuruh aku pulang. Kalau saja Jim tahu. keluargaku. Pekikan itu pulalah yang seolah-olah mengantarkan kakinya melangkah ke warung telepon dan kembali menelepon aku.” Jim marah besar. “Kau bangsat. “Tapi aku bertambah kecewa. semuanya ini sudah direncanakan secara detil sejak dua tahun lalu sehingga aku mengetahui apa-apa saja yang dialaminya di desa Niru walaupun ia tidak menelepon. Dengan sedikit sisa kesadaran sebagai orang waras. Tanpa merasa tersinggung sedikit pun. aku juga meletakkan gagang telepon. Suaranya lantang berkumandang. Meraih kursi dan pelan-pelan meletakkan tongkeng di kursi. September 1997) . kemudian menyandarkan tubuhku ke sandarannya sehingga aku benar-benar rebah. Memandang ke langit-langit. terasa seperti jarum menusuk telingaku. aku berkata pelan. Di mana letak dirimu sebagai manusia?” Aku diam.” Sungguh. “Kemanusiaanmu sudah tak berguna.tidak dapat mengenal keletihan itu sehingga tidak mampu pula diatasinya. dan para tetangga yang menjadi batu seperti sudah dialami sekian banyak warga sebelumnya. Entah apa yang dipekiknya. Ia kemudian terhenyak di anak tangga rumah Niru tanpa dapat membagi perasaan.*** 125 (Dimuat dalam Horison. Seharusnya. Kau sedikit pun tidak memiliki perasaan. Bukan bermaksud menjemputku pulang. kita berbuat sesuatu menghadapi kenyataan ini. selanjutnya ia memekik keras berkalikali. taik kucing!” Jim menghempaskan gagang telepon. giliranku.

Membuat kami begitu merasa terhina. Inilah perjalanan terjauh dan terlelah kami. sesekali meleleh oleh arus gelombang. Sampai kemudian kami menyadari. Seperti juga semua makhluk yang ketakutan mendengar gemuruh kaki kami. Tak ada yang lebih terhormat bagi kami. jumlah kami memang makin membesar. Sebagian dari kami langsung merebahkan tubuh atau bersandaran pada batang pohon dan gundukan batu. Maka mereka buru-buru menjauh pergi. Kami beristirahat di pinggir telaga itu. Membuat kami cemas. buruan kami tetap saja melenggang bebas. Telah kami jelajahi seluruh hutan. serigala dan segala macamnya. Gajah. untuk memburu binatang-binatang. Lagu-lagu kami adalah lagu-lagu perburuan. tupai dan tikus. melulurkan kesejukan pada lengan dan kaki yang bengkak. dari tahun ke tahun. setelah bertahun-tahun memburu buruan kami yang bergerak begitu cepat. Kami tak pernah tergoda menjadi petani atau pedagang. Inilah pertama kali kami merasa begitu lelah. Kami memandanginya dengan gamang. begitu tercium bau kami. Hingga kami merasa benar-benar sendiri. Kami mengembara dari satu benua ke benua lainnya. betapa binatang-binatang di dunia ini perlahanlahan telah habis kami buru. Siapakah yang tak tahu akan hal itu? Kami tak pernah gagal memburu sesuatu. mengantar tidur anak-anak kami. Apalah arti kami bila tak lagi hidup sebagai pemburu. Meletakkan semua senjata yang selama ini kami jinjing dan gendong. rusa. telah lenyap kami tangkap. Barangkali. tetapi masih sanggup berlari 126 . ditangkup sunyi daun-daun yang mandi cahaya. Kami seperti mengejar kilat. Maklumlah. sebelum sampai ke telaga ini. Angin bergegas pergi oleh kedatangan kami. Tetapi mungkin juga memang binatang-binatang itu sudah habis kami bunuhi. sementara orang-orang tua kami bagai tak bisa mati. Setiap bulan hampir seratus anak kami lahir. macan. Sebagian lagi menyempatkan diri membersihkan wajah terlebih dahulu. Telah kami bongkar tiap lekuk pegunungan. selain menjadi seorang pemburu besar yang sanggup merobohkan gajah dengan satu gerakan. Sampai kelinci. binatangbinatang itu juga sudah terlalu hafal dengan kami. ular. nenek moyang dan anak cucu kami. bukan sebagai cara kami bertahan menghadapi hidup. Kami adalah bangsa pemburu yang besar. Seluruh kekuatan dan pengalaman kami sebagai pemburu telah kami keluarkan sampai tandas. Setiap dari kami dibesarkan dalam belukar. tetapi kali ini. sejak kami masih dalam kandungan. hanyut oleh pikiran kami.Para Pemburu Oleh: Agus Noor Purnama mengapung di telaga. Mereka sudah renta. Nenek moyang kami telah membentuk kami sebagai pemburu paling ulung. tapi tak gampang mati. Seakan sia-sia kebesaran kami sebagai pemburu yang telah berabad-abad mengabdikan hidup dan peradaban kami hanya untuk berburu. Legenda kami adalah penaklukan puluhan binatang buruan. tetapi lebih untuk kebanggaan dan kehormatan. Telah kami sibak semua palung lautan. badak. Menjadi hutan lebat yang tumbuh dalam kepala mereka. Banyak di antara kami yang sudah berusia 7890 tahun. Cerita-cerita penaklukan. melihat kehormatan kami akan goyah suatu ketika. Kami sudah tahu bagaimana menyembelih wildebeest.

yang membuat kalian akan merasa memiliki harga sebagai seorang pesakitan. Semoga nasib baik bersama kalian.. Tapi itu lebih baik bagi kalian. Para bangsawan. Inilah hidup yang sesungguhnya. para bangsawan dan pengusaha besar. Itu menjadikan kami begitu bahagia. Karena. hingga pecah berantakan. baru kemudian kami memburu mereka. karena hal itu dianggap akan mengotori kemurnian darah pemburu kami. Liat dan sigap. Sampai kemudian ide brilian terlontar. para raja. Meskipun kalian juga tak luput dari kematian. Para penjahat itu. perlahan-lahan. Tapi sudah lama kami kesulitan menegakkan kehormatan macam itu. Kami membeli juga para penjahat yang telah divonis mati. Kepada mereka kami tawarkan kebebasan. dengan cara melarikan diri. puluhan kepala negara. seperti kami katakan tadi. Kami tak lagi memburu binatang. membiarkan mereka lari dan menghilang. Mereka kami lepas ke tengah hutan. Rupanya. selain melakukan perburuan semacam ini? Mereka kami beri kehidupan sekaligus batas kematian. Selamatkan kehidupanmu. kemudian menghantam kepala binatang itu dengan kepalan tangan. Ketika kisah-kisah kami menjalar ke banyak negara. yang memang memiliki kebiasaan berburu seperti kami 127 . sasaran perburuan yang menggairahkan. Kami akan memburu manusia. daripada mati di tiang gantungan: tak lagi punya pilihan. sungguh. Lantas. Mereka kami beri kesempatan untuk bebas. Banyak juga di antara kami yang mati dalam perkelahian. Adakah yang lebih menyenangkan. memang makhluk yang tak gampang menyerah. lari. Tetapi kami tak bisa menolak. tapi manusia. kami bunuh. kebiasaan baru tumbuh dalam kehidupan kami. kalian masih punya kesempatan untuk memperpanjang kehidupan.” “Lantas bagaimana?” “Apa pun yang terjadi kita mesti memburu sesuatu!” “Memburu apa?” Itu membuat kami terdiam. “Masuklah dalam hutan. Setiap detik adalah pertarungan. Dan itulah kehormatan. Bahkan membuat kami lebih merasa sempurna sebagai pemburu. Mereka lebih menantang untuk kami taklukkan. meski kami akan memburu kalian.. Mula-mula. Dan itu. Jangan cemas. banyak orang di luar suku kami. untuk ikut menikmati perburuan itu. orangorang besar di negara mereka. semua binatang telah habis kami buru. . mendatangi kami.mengejar antelope. Mati dalam perburuan ini lebih terhormat bagi kalian. tak hanya kami yang suka dengan permainan semacam itu. Kami iringi dengan lengkingan terompet dan juga dentuman meriam. banyak di antara kami yang menolak. Anggap semua ini hanya permainan. Anak-anak kami pun nampaknya lebih suka dengan perburuan macam itu. Memburu budak-budak itu lebih mengasyikkan daripada memburu binatang. untuk menggantikan binatang yang kini telah musnah.” Dan para pesakitan itu pun kami lepas dengan upacara kehormatan. Menjadi tradisi. Selamat jalan. ketika dari banyak yang datang kepada kami itu adalah para jenderal. Maka kami pun membeli ratusan budak. “Perburuan tak mungkin berhenti!” “Kita akan cepat renta bila sehari tak memburu apa pun!” “Takdir tak bisa dihentikan.

kami terus menuliskan sejarah kami yang agung. Suaranya sudah gemetar. keisengan. terkadang. hingga pertarungan menjadi tak sepadan.. Para raja dan kepala negara mempersilahkan kami untuk memilih rakyat mereka sebagai binatang buruan. menumpuk tengkorak kepala korban kami hingga menggunung sampai menyentuh awan. menggulung apa pun yang kami sukai. mengijinkan tempat-tempat itu untuk kami kelola dan kembangkan sebagai ladang perburuan yang lebih menantang dan menyenangkan. ketika kami memburu dan membantai orang-orang muslim di Bosnia. Hidup pemburu agung! Kami pun menjadi kelompok pemburu yang besar. Kami tak lagi hanya terbiasa dengan bunyi pedang. Kami.dan memiliki lahan-lahan perburuan yang luas. pasokan senjata yang bagai anggur mengalir dalam gelas-gelas kami. Apalah arti semua itu bagi jiwa pemburu kami? Semua itu bukan lagi gairah petualangan dan tantangan. yang sudah berumur 100 juta tahun lebih. ketika kami menembaki anak-anak Palestina. ketika kami memburu ribuan orang Yahudi untuk kami kirim ke kamp konsentrasi.” Gelas kami beradu. Ah. . Malah sering para raja dan kepala negara memberi kemudahan kami dengan memberi lisensi untuk menghabisi para tokoh oposisi yang tak mereka sukai.. Kami perlahan-lahan meninggalkan cara hidup kami di hutan. Bahkan mereka menjanjikan kami lahan-lahan perburuan yang lebih luas. dan kami tertawa bahagia. Karena kami sudah terlalu kuat. “Untuk apa mengumpulkan para kiai itu?” 128 . Juga kaum intelektual yang selama ini mereka benci. tetapi kami bebas memilih siapa pun yang paling menyenangkan kami buru. Kami bangun juga istana-istana. Hingga kami tak lagi kekurangan buruan. kami terus bergerak dari benua ke benua dari zaman ke zaman. “Ini darah seorang penyair untukmu. “Kita harus melakukan sesuatu. Kami tak hanya punya kesempatan memburu para penjahat yang telah divonis mati. Apakah arti kekuatan bila tak ada tantangan yang sepadan? Tak ada lagi yang sanggup melawan kami. jangan sedih. menyarankan kami agar mengumpulkan para kiai. dengan setiap malam tidur di ranjang yang bersih dan nyaman. Ketika kami menjarah perempuan dan membunuhi anak-anak. tetapi juga denting gelas dalam kehangatan pesta. sehingga permainan menjadi tak lagi begitu punya arti. tetapi penaklukan yang membosankan. Tak ada lagi yang berani menggertak kami. ketika kami mengirim pasukan pemburu ke banyak negara untuk meluluhlantakkan apa saja. seakan maut sudah menyentuh bibir orang tua itu. Di antara kemeriahan pesta. Kami terus memburu. melintasi gelombang waktu. begitu melimpah buruan kami. tempat kami berpesta setelah seharian berburu. Kami seperti kehilangan buruan yang mengasyikkan. tetapi kami selalu dirundung sunyi. yang telah menjadi sekelompok pemburu yang paling kuat. para demonstran untuk kami habisi. tak ada lagi kegairahan karena kemenangan. Begitulah memang mestinya nasib penyair yang tak menulis syair pujapuji bagi keagungan kami. Kami berdiri di puncak menara peradaban. yang melintas bagai badai dan gelombang. dengan dukungan dana yang melimpah. Kami menjadi kaum pemburu yang kian kokoh dan terhormat. tetapi juga. Para pengusaha mensubsidi kami modal bermilyar-milyar. sendiri. Jangan biarkan anak-anak kita menjadi pucat dan pasi. Jangan biarkan mereka menjadi lembek karena rasa sunyi ini.” Lalu seseorang yang paling tua di antara kami. Para jenderal menyediakan kami senjata-senjata paling mutakhir. menjadi tak tertandingi. Itu sering membuat kami terusik sunyi. Perburuan bukan lagi perkara kebesaran dan kehormatan.

” Lantas kami membiarkan satu persatu para kiai itu masuk masjid kecil itu. kami akan membikin perhitungan sendiri. kalau perlu dengan paksa dan kekerasan.” Mereka. membuat kami begitu ternganga.” “Apa hubungannya dengan para kiai itu?” “Kumpulkan mereka. “Baiklah. “Kami ingin Jibril. aku ingin menikmati perburuan yang paling menggairahkan. Panji perburuan berkibar. Gairah menjalar. Bagaimana tempat sekecil itu menampung jutaan kiai yang kami himpun dari seluruh penjuru ini. dan meminta kami untuk membawa mereka ke sebuah kaki bukit di mana ada sebuah masjid kecil di pinggir hutan.” kata kami kepada mereka. bagaimana cara kalian mendatangkan Jibril bagi kami. “Kami tak mau tahu. seperti barisan semut yang begitu tertib menuju lubang sarang mereka. dari seluruh dunia. Bila selama ini kalian tak bisa mendatangkan Jibril bagi kami.. Jutaan kiai masuk ke dalam masjid yang bagi kami hanya cukup untuk tidur dua puluh orang. Tetapi mereka menolak. katakan kepada kami. membangkitkan imajinasi kami. Mereka kami datangkan dari semua penjuru. Membuat darah kami menggelembungkan jiwa pemburu kami. itu 129 .. telah lapuk. “Kalianlah yang bercanda. . Kami segera menghimpun topan. menyambut hari depan kami yang gilang gemilang. Dan aku ingin.. Kami segera mengeluarkan seluruh senjata kami. kami giring ke sebuah istana kami yang paling megah. ketika hampir separo dari jutaan kiai itu sudah masuk ke dalam masjid. bersulang. Suruh mereka menyediakan malaikat untuk kita buru!” Kami terpukau oleh gagasan itu. sebelum maut menjemputku. Seluruh bangunan itu terbuat dari pelepah kayu. kami segera mengumpulkan para kiai. kenapa kami tak memburu malaikat? “Jibril! bagaimana kalau kita minta Jibril!” “Kami bersorai. kapan kalian bisa menyediakan Jibril bagi kami?” Kami tatap wajah para kiai itu.. mencari kepastian dalam mata mereka. malaikat. Barisan kiai masih antri di depan masjid itu.” “Baiklah. Luasnya tak lebih dari lima kali lima tombak. Ya. tetapi masjid itu tak juga penuh.“Aku sudah mencium ajalku. Kami turut kemauan mereka. Dan tentu. Pintu itu terbuka untuk menerima siapa pun masuk ke dalamnya. dengan meminta kami mendatangkan Jibril. Sekarang.” tegas kami. . “kalian kami beri waktu satu bulan. anggur segera kami tuang dalam gelas. berkelok-kelok mengikuti gigir bukit. Apalagi ketika kami melihat sendiri masjid itu. meski sesungguhnya heran. Apakah kalian akan shalat sepanjang hari? Apakah kalian akan berdoa dan mengaji? Apakah kalian akan menangkar atau menjebak Jibril dengan sebuah perangkap? Kami tak mau tahu dengan itu semua. para kiai itu. “Kalian jangan bercanda!” teriak kami. Benar-benar masjid kecil yang tak terawat.

Apakah ini keajaiban yang dikirim bagi kami? “Buru!” Teriakan itu. seseorang di antara kami berteriak. Kami kirim utusan kembali. tetapi. Tiba-tiba tubuh mereka hilang tak berbekas. Namun dzikir itu masih kami dengar. Kami tak mau ditipu para kiai itu. di sana. desing senapan mesin. menyentuh langit. raib begitu saja. itulah yang kami saksikan. masuk dalam masjid itu. membuat kami tengadah ke puncak api. tertelan dan lenyap. sekaligus marah. yang hanyut dibuai dzikir para kiai. Kami berteriak menyuruh para kiai itu keluar. melihat impian kami sudah di depan mata. Tapi seperti yang pertama dan kedua. anak panah. tak pernah muncul kembali. memperingatkan para kiai bahwa waktu sudah habis buat mereka. Kami panggil namanya. ketika para kiai itu tak juga muncul dari dalam masjid. Jibril. Gema itu melambung. Membuat kami tambah cemas menunggu. 130 . kenapa kami malah bengong begitu? Maka. bersama angin dan embun. membumbung. Kami sudah cukup punya pengertian. bagai masuk ke tabir ruang dan waktu pada dimensi lain. Begitulah berkali-kali. jangan-jangan semua itu sihir belaka. kini telah muncul di hadapan kami. orang kedua kami pun tak kembali. Membuat kami cemas. Sementara suara dzikir itu terus saja bergema. dengan cepat berlesatan ke arah selesat cahaya biru itu yang dengan cepat bergerak dengan sayap mengepak. berkobar dan segera kami lempar pada mesjid itu. dan api melahap cepat. Dan kami mendengar gema dzikir dari dalam sana. Kami tak mau kecolongan. bagaimana mungkin? Tapi. tak membiarkan seekor tikus lolos dari amatan kami. antara takjub dan panik. takut mereka akan keluar dan meloloskan diri ketika kami tertidur. lenyap seketika. kami melihat selesat biru cahaya menatap kami. tetapi hanya gema dzikir membalas suara kami. mendadak menyadarkan kami. Kemarahan kami menyalakan api di tangan. bukan? Jangan salahkan kami. Kami panik. Tetapi seperti yang pertama. semua dari kami yang masuk ke dalam masjid itu. “Jibril!!” “Jibril!!” Seketika kami berteriak. Kami memagarbetis masjid itu. gembira dan tak percaya. di puncak kobaran api. kemudian kembali mengirim utusan untuk menemui para kiai di dalam masjid itu. Namun orang itu tak kembali. membuat udara bergetar dan perasaan kami gemetar.pun pasti sudah berhimpitan. Seperti batang-batang pohon yang bergoyang itu. Kami bakar masjid itu. Lantas kami tak bisa lagi sabar. utusan kami ini pun tak muncul lagi meski kami sudah menanti lebih lima hari. betapa memang inilah yang selama ini kami tunggu-tunggu. Satu bulan lewat. Pada saat itulah. luar biasa. hingga kayu-kayu bergemeretakan. Kami terus berjaga. dengan sayap terentang sampai ujung paling jauh dari semesta. ya Allah. seperti daun yang melayang-layang itu. sepanjang hari sepanjang malam. di pucuk api berkobar. roket dan basoka. mengalun menidurkan rerumputan. Dan kami segera menyerbu. menguap begitu cepat. Segera kami kirim seseorang untuk menemui mereka. dengan sigap kami segera meraih senjata-senjata kami. setiap orang yang kami kirim untuk menjumpai para kiai. Tombak. Dan. Sampai kemudian semua kiai telah masuk dalam masjid itu. Kadang kami merasa ada yang menggemericik dalam hati kami karena gema itu. tetapi tak kunjung keluar jua.

Segera menghambur. setelah bermacam pengalaman perburuan membuat kami jadi pemburu sejati. yang menyimpan bayangan bulan. Kami tak mau kehilangan jejak. Jiwa pemburu kami bergelora oleh gairah perburuan kali ini. Kami begitu sibuk memburu Jibril. mengepakkan sayap-sayap cahaya-Nya. Sampai kami tiba di pinggir telaga ini. kami memburunya. agar kami mampu meringkus Jibril. Januari 2000) . Kami tak punya waktu untuk memikirkan itu semua.*** 131 Yogyakarta. Sebagian besar dari kami kini benar-benar renta. mengharap kesegaran akan membuat tenaga kami kembali muda. kami lihat jejak cahaya. melanjutkan pemburuan abadi kami. Dan memang. 1995-1998 (Dongeng Buat Mas Danarto) (Dimuat dalam Horison. dan kami pun tak sempat menguburkannya. Bertahun-tahun kami memburu. membiarkan rambut dan jenggot kami memanjang tak terawat.“Kejar!” Kami pun melesat. Karena kami harus terus mengejar Jibril. Banyak dari kami yang mati dalam perburuan ini. Maka kami pun kembali bangkit. Inilah perburuan paling menakjubkan bagi kami. inilah sesungguh-sesungguhnya perburuan yang sejati. Tombak terus beterbangan. dan langsung melesat. Kami tak sempat istirahat. hingga telah lama anak-anak kami tak lahir. Inilah buruan kami yang abadi. ranjauranjau telah kami tanam. jaring-jaring baja telah kami rentangkan. kami melihat buruan abadi kami. kami benar-benar tak pernah punya waktu istirahat. Kami tak pernah tidur di satu tempat. Ke mana pun Jibril melesat. “Ke sana!” seseorang dari kami berteriak. kami sudah harus kembali pergi ketika pada bayangan bulan. perangkap telah kami pasang. Setelah berabad-abad kami hidup sebagai pemburu. Membiarkan kaki kami koyak oleh duri. Ketika kami baru saja rebahan dan membasuh kelelahan kami di telaga itu pun. Di seberang telaga sana. roket terus berlesatan. mengejar Jibril. meraih peralatan berburu kami.

main galasin. Kemudian mengumpul kembali memenuhi jalanan. dapat menduganya. sehingga kami tak merasa lagi perbedaannya. 132 2 Di gang itulah aku dan teman-teman tumbuh dan dibesarkan. main congklak. atau melompat-lompat main engklek. 4 . Sementara gadia-gadis kecilnya duduk bersila main masakmasakan. Kadang-kadang. di jalanan yang sempit itu. Tak tahu siapa yang mengubahnya. Kami telah lebur jadi satu: penghuni Gang Haji Abdul Jalil. Di sana. apa pun namanya. anak-anak menyibak ke tepi. Tapi inilah gambaran kota yang sebenarnya.Gank Oleh: Syahril Latif 1 Gang Haji Abdul Jalil adalah sebuah gang sempit yang terletak persis di depan Kuburan Karet yang terkenal itu. yang bercampur-baur menjadi satu dengan penduduk asli Betawi. berkejaran. main bola kaki. Belakangan. Monas. 3 Penghuni gang itu terdiri dari berbagai suku. yang terpaksa merayap pelan bagai keong. Hotel Indonesia. dan lain sebagainya. untuk cepat dan mudahnya. ada yang mengubahnya: Gank Haji Abdul Jackal. Dan apabila ada mobil lewat. sehingga menjadi Gank. oleh tukang. Dunia Fantasi Ancol. main layangan. disingkat saja menjadi Gang Jalil. setelah mobil berlalu. di mana penduduk tinggal tumplek berdesakan. beca terutama. Anak-anak remaja mengganti huruf pada Gang itu dengan k. Namun. main petak-umpet. anak-anak bermain gundu. Seakan. sehingga kau tidak akan menjumpai dalam kartu pos bergambar untuk promosi pariwisata. semua orang mengenalnya sebagai Gang Haji Abdul Jalil. Sebuah gang sempit yang tak berarti. seperti Taman Mini. siapa lagi kalau bukan salah seorang di antara kami. seperti setelah biduk lalu kiambang bertaut. Apalah arti sebuah nama. Tapi semua orang seperti sudah maklum.

” “Kok sama hebatnya?” “Maklum. bidan. 7 Jika lagi kehabisan. guru sekolah.” begitu kami selalu menjelaskan. pegawai negeri biasa saja. Dan tanya lagi. sopir. sih? 133 6 Di sini dapat kau jumpai segala macam orang: tukang sol sepatu. dosen. pelayan toko. Kadang-kadang mereka saling antar-mengantar sayuran atau makanan kecil.Rata-rata. rumah-rumah.” kata mereka. tukang kayu. makelar. membuat kehadirannya bagaikan putri raja di tengah rakyat gembel. ngurus hal orang lain.” “Bagian apa?” “Tau. tukang cukur. satpam. “Yang di seberangnya?” “Itu mah. pedagang kaki lima. menjabat bagian basah. berukuran kecil dan tak teratur bentuk dan susunannya. kenek. montir. perawat dan lain sebagainya. dan tanya lagi. dengar-dengar bagian pembelian atau perizinan.” “Lebih pantas lagi. semua kami miskin dan karenanya kami saling mengenal dan akrab satu sama lain. 5 Sebagai gambaran kemiskinan. bertanya heran: “Rumah siapa yang cakep itu?” “Itu rumah pegawai pajak. kami pun sederhana. pegawai negeri dan swasta. penjual nasi Padang dan Tegal. “Yang di sebelahnya?” “Rumah pegawai Bea Cukai. “Pantas!” jawab mereka. ibu-ibu kami saling pinjam garam atau korek api atau bumbu masakan kepada tetangga. Kadang menumpang menjahit baju anak di rumah tetangga yang punya . tukang listrik. yang segera mengundang tamu atau teman kami yang datang berkunjung. Kok. Ada juga satu dua rumah gedung yang berpekarangan luas dan bertaman. Tak tahulah.

tak bisa dirahasiakan. Tsainakum. Atau juga. Biasanya. bisa-bisa berlangsung hingga beduk subuh. Tiinakum. Baunakum.. anak-anak mereka sudah berbaikan kembali. 10 Apa saja yang dimasak tetangga. Anehnya. Ainakum. Yang paling cepat ketahuan. Bainakum. mengantar kantuk. Iinakum. boleh dikata selalu ada permainan domino. lebih terkenal: gaple. sungguh menitikkan air liur. Taunakum. Tsaunakum. 134 9 Kurasa gang kami tak pernah sepi. teriakan penjaja sayuran dan makanan.” Ejaan itu mengalun dalam irama yang khas. Tsaanakum. teriakan anak-anak bermain. Tainakum.. di luar pekarangan rumah. Buunakum. Aromanya akan mengambang ke mana-mana. Baanakum.mesin jahit. tetangga lain akan cepat turun tangan memberikan bantuan perbaikan. Tuunakum. 12 . Taanakum. Begitulah cara ayah-ayah kami melepaskan lelah setelah seharian mencari nafkah membanting tulang. Pada malam minggu. 11 Lepas Isya dan makan malam. Uunakum. Tsuunakum . melayang jauh dihantar angin siang. soal anak-anak. sementara ibu-ibu itu masih bersungut-sungut. ke sepanjang gang. 8 Sesekali. begitulah cara mereka membanting kesal ke atas meja gaple. Biinakum. Tak tahulah. mengasyikkan. Macam-macamlah sumber kebisingan itu: radio atau kaset yang tak henti-hentinya distel. Aunakum.. ibu-ibu kami terlibat juga dalam pertengkaran kecil. atau listrik yang korsleting. kalau ibumu menggoreng ikan asin. yang berantem. Yang ini. Tsiinakum. Dan andaikata ada pompa air yang rusak. di saat warga sedang terkantuk-kantuk disengat panas Jakarta. Dan lepas tengah hari. terdengar mengalun suara anak-anak mengeja Juz Amma dari madrasah: “Aanakum.

mulai dari dangdut. atau belagak memainkan musik jazz dengan gitarnya. persis pengamen jalanan. Semua jenis lagu kami senang. sekali sebulan pada petang Jumat. 14 Sekali-sekali. Sekali-sekali ada juga yang mencoba seriosa. Sesekali kami larut juga dalam irama gambus. Nampaknya kehadiran kami melegakan hati mereka. Di tengah pengajian sedang berlangsung. Martin. Kami yang muda-muda. semua anak-anak Gang Haji Abdul Jalil adalah teman. saling menenggang. Tony Handoko dan beberapa anak tertentu. Sebentar mereka sudah dipanggil ibu mereka. semua membuka matanya lebar-lebar. Atau disusul adiknya disuruh pulang. 15 Bagiku. agaknya dangdut dan pop itulah. kami yang muda-muda pun tak mau ketinggalan duduk menggerombol: ngobrol ngalor-ngidul. Dulu ketika masih kecil. Heran. Dan kalau bisa ingin berbuat lebih baik kepada yang lain. pop sampai keroncong. Tempatnya: gardu jaga siskamling. tanda setan sedang mengencinginya!” Tiba-tiba. Menertawakan siapa? 135 13 Jika yang tua-tua senang gaple. sebagai basa-basi. Tapi rasanya lebih intim dengan Hamzah. tapi tak kena: sumbang. kami saling menjaga. hampir sebaya. menyanyi dan main gitar. mata itu bisa melotot terus sampai pagi. Tapi yang mendapat tempat di hati kami. kalau main gaple semalam suntuk. 16 . tak sampai larut. setengah menyindir: “Mata yang mengantuk kalau dibawa mendengar pengajian. kami sering berantem. Sekarang tidak. ayah-ayah kami pada mengantuk. setengah melucu.Berbeda sedikit dengan hari-hari biasa. orang tua-tua kami mengadakan pengajian di mesjid. dan yang lain segera menyorakinya. Menurut Ustadz Malik. Usia kami tak jauh beda. ditingkah senda gurau dan gelak tawa tak berkeputusan. sedikit kaget dan lantas tertawa. Najib. Kami menyebutnya ‘markas’. anak-anak cewek ikut nimbrung bersama kami. ikut hadir.

Mau melanjutkan ke Perguruan Tinggi Swasta. gerak tangan. bukan cerita silat lagi. Ia ikut salah satu kelompok teater yang sering mentas di TIM. Akhir-akhir ini ia agak jarang nongol di ‘markas’? Waktunya dihabiskannya di TIM. apakah dia masih bisa berbisik. biaya kuliah terlalu tinggi. nada suaranya agak dilantunkan bagaikan orang berdiri di atas panggung. Tapi Hamzah tidak marah. Merasa lebih penting dan menonjol dari yang lain. sejak jadi mahasiswa Sastra Inggris paling getol nyanyi Inggris. ekspresi wajah dan lain sebagainya. jalannya. Dan sekarang. di luar jangkauan. kayaknya bukan lagi Martin yang kami kenal selama ini: Martin yang lugu dan agak pemalu. deh. benar-benar ia putus sekolah. Tiba-tiba saja ia telah menjadi manusia aneh di tengah-tengah kami. Akan hasil perburuannya itu. Agaknya ia tak bisa lagi mengecilkan suaranya. Anak-anak hampir tak dapat menahan ketawa. Kami tak tahu pasti. bacaannya bukan komik lagi. Maka dengan senjata ijazah SMA-nya diterobosnya rimba perkantoran kota Jakarta. disibukkan oleh latihan-latihan teaternya. Di situlah ia bercokol. cara tersenyum. Soalnya setelah gagal sipenmaru. Gaya bicaranya. Najib anak Ustadz Malik. gayanya overacting. Masuk kantor keluar kantor. kalian tahu. Apalah yang dapat diharapkan dari pencarian ayahnya yang ustadz. “Maklum. Gayanya mirip-mirip Rendra. Agaknya dangdut seperti sudah dilupakannya. Pokoknya. maunya. berat. tak mungkin. Kadang-kadang ikut mentas ke kota-kota lain! 18 Kukira. kalau dia lagi sendirian di teras rumahnya. guru ngaji di gang kami. deh! Bayangin. si Najiblah yang membuat kami semua merasa heran. bagaikan buku yang belum habis dibaca kita sudah . Itu. ni yee?!” ejek anak-anak.” tambah yang lain. Kalau ia bicara. Tak acuh. Atau dikuburnya? Pokoknya lagu Barat melulu. Selangit. seakan ia jauh dari kita. dia sedang baca apa? George Bernard Shaw atau Hemingway atau Tolstoy atau Albert Camus atau Dokter Zhivagonya Boris Pasternak atau Thomas Elliot! Pokoknya: berat! 136 17 Kalau si Martin lain lagi. ia tahu diri. Sejak jadi pemain teater.Hamzah gitaris andalan kami. “Inggris.

ke Pesantren Bangil. Najib merasa sangat terhimpit. Bahkan ia minta aku menemaninya selama seminggu di pesantren. Papanya sudah berangan-angan supaya Tony jadi akuntan dan akan mengirimnya ke Amerika. Kaget. sesuai menurut apa yang dikatakan Najib ketika suatu kali ayahnya bertanya. seperti musang. anak pegawai pajak yang gedongan itu. bagaikan disambar petir di siang bolong. berang. rumah minum. Ketika hal itu disampaikan. Tapi Allah memang Maha Pemurah. “Jangan lupa shalat. kemudian ikut training untuk jadi Bartender. Papanya menganggap keputusan Tony itu benar-benar gila. Nah. Apakah ia suka atau tidak. bagaikan rentetan tembakan senapan mesin sebagaimana yang kau lihat dalam film Rambo. pimpinan pesantren itu. Tony memintaku. Sejak itu kami kehilangan seorang teman kongkow. Yang ia tahu. Papanya menyesalkan sangat keinginan Tony itu. Najib mulai bekerja di sana. Untunglah hal itu diizinkan Pak Kiai. setelah Najib ditest.” pesan ayahnya. kami. akhirnya Najib mendapat juga apa yang dicarinya. jika Allah berkehendak memberi hidayah kepada hambanya. Dan ia tahu betul berbohong itu dosa. sampai papanya reda dan terhenyak di kursi. Selanjutnya diberondongnya Tony dengan omelan tak berkeputusan. dan di mana mau shalat. Lingkungannya tak memungkinkan. Beberapa hari kemudian. tak alang kepalang. Tony bungkem. Sampai kapan? Dan kami. bersamaan dengan itu Allah ingin menguji Najib. Agaknya ia kalah. heran. tapi dilakoninya terus. bingung. Artinya. dan ia tak mau jadi bahan tertawaan teman-temannya. Setelah pernyataan pemberitahuan itu kepada papanya dan diberondong habis-habisan. dan tak ada tempo. Siang hari ia tidur. bersikeras pada papanya mau masuk pesantren. siapa sangka. Karena Najib bekerja malam hari hingga subuh. atau kayak petasan gantung waktu sunatan. tak membantah sepatah pun. Ia memerlukan teman dalam perjalanannya. . 137 19 Sebaliknya. Jelas Najib berbohong. Tony Handoko yang agak ugal-ugalan itu. tentu kau sudah dapat menebak.tahu jalan ceritanya. Teriak papanya: “Mau jadi apa kau?! Mau jadi santri miskin?!” Suaranya menggelegar sepanjang gang. Dan bahkan kini ia sudah tak shalat lagi. merasa berkewajiban menyimpan rahasia ini kepada Ustadz Malik. Satu-satunya perusahaan yang mau menerimanya adalah sebuah Pub. Pengasih dan Penyayang. dan semua orang di gang. bukan main kagetnya sang papa. Bekerja di bar itu dosa. Najib bekerja sebagai Satpam di sebuah perusahaan. Pokoknya. Tony dan aku berangkat naik kereta api ke Jawa Timur. merunduk terus. Orang tak ingin menghancurkan perasaannya. menguji keimanannya. Sebenarnya. kerja. kalau itu diartikan secara harfiah: kerja. Ayahnya Ustadz Malik tak tahu putranya bekerja di tempat haram itu.

pada hari ketiga. tak lain tak bukan. Hendaklah mereka mengulurkan kain kerudung/jilbab mereka ke .… Apa dengan kekayaan itu dapat dibeli kebahagiaan akhirat? Papa sudah dipengaruhi oleh Dajjal yang bermata satu. Tapi Tony tak mau. Kini. “Toh tidak apa pulang buat sebentar. hampir menangis. kesenangan . pimpinan Imam Hassan Al-Banna. Kau lihatlah si Aisah. Saya hanya bisa berdoa. Ma. hanya mencari kesenangan dunia….” jawabnya pasti. Ia diminta ibunya pulang sebentar untuk menjenguk papanya.. guru ngaji kami ditangkap! La hawla wa la quwwata illa bi 'l-Lah. Dunia. menjadi anak durhaka. martabat. Papa memang selalu begitu. Ya. agar semua kami ditangkap. teman kami juga.. teman Maryam (nanti kalau ada tempo aku cerita padamu). Ikut pengajian gelap.. apa pun namanya. sebagaimana yang kita lihat di majalah-majalah atawa koran-koran. menurut Ustadz Malik. “Itulah pakaian Muslimah yang sebenarnya. dari ibu Tony. pengajian subversif. saya dibilang sudah sesat? Dituduh mendapat pengajian yang sesat? . Maunya perintahnya saja yang mesti diturut.. Lanjutnya: “Kalau tidaklah karena takut dosa. Dalam batin. Dan katanya: “Coba fikir. anak buah fanatik pengikut Imam Khomeini. istri-istri orang mu'min. semoga Allah memberi papa taufiq dan hidayah. Allah. Coba. Tapi. Sesuai dengan apa yang termaktub dalam Al-Quran. Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu. Sekarang sedang tersapu oleh gemerlapnya keindahan dunia 138 21 Sebenarnya. hampir saya tidak bisa memaafkan papa. Dan kesan pertama kita melihatnya. papanya jatuh sakit. saya bertanya: siapa yang sesat? Saya atau papa? Apa yang papa fikirkan hanya duit melulu . dunia dan kesenangan melulu. Dan sebagaimana dikatakannya dalam surat kepada ibunya.. Nah. yang suka “ekstrim” bukan Tony Handoko seorang.” Pakaian yang menutup aurat. Ada lagi. tapi miskin rohani... sekarang pakai jilbab (itu istilah yang ngepop sekarang. Belakangan ada lagi yang menyebutnya pakaian wanita Ikhwanul Muslimin Mesir. kepadaku ia berkata: “Nanti sebentar papa akan sembuh juga. kulihat air matanya menggenang.. surah Al-Ahzab ayat 59: “Hai. Jelas ini fitnah! . persis seperti kaum wanita pasidaran Iran. anak-anak perempuanmu. bukan?” “Tidak sekarang. Begitu Surat Kilat Khusus yang kami terima. Aisah yang satu ini. “Sekarang saya lagi kesal sama papa. pengajian yang disusupi faham komunis. itu kata lain dari pada kerudung).20 Sehari setelah keberangkatan Tony.. masak papa tega menuduh saya subversif. Saya percaya masih tersimpan benih-benih iman dalam dada papa. seakan dengan itu dapat dibeli semuanya: gengsi.” Aku mencoba melunakkan hatinya. Engkaulah Yang Maha Tahu! Dan papa sampai hati akan mengadukan kelompok pengajian kami kepada yang berwajib.. Tidak! Saya tidak akan pulang! Saya sudah bosan dengan suasana rumah!” Tony menarik nafas panjang. nampak kesal.

bahwa negara menjamin kemerdekaan dan kebebasan setiap warga negara untuk memeluk suatu agama atau keper- 139 . Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal. Dan dosaku dua kali lipat: dosa karena telah memberi yang salah. sejak Aisah menjadi eskrim. fikirku. Dan siapa yang mau menjahitkan kepada saya? Terserahlah..” katanya.” kataku pula. Oleh kepala sekolah. ia dianggap melanggar peraturan seragam sekolah. Dan Allah Maha Pengampun-Penyayang. maka Rasulullah melengah seraya berkata: “Hai Asma. Aku tak tahu bagaimana kesudahannya. ia berdosa dan aku pun berdosa.” Dan dari Hadis Rasulullah Saw.. baju lengan panjang dan rok yang komprang kedodoran itu! Kepala Sekolah sudah memberi peringatan beberapa kali. “Apa pakaian-pakaian yang dulu itu sudah kau sedekahkan. sama saja kita membagi dosa kepada yang lain.” “Kau ini aneh. baik yang maxi. perancang busana. siapa yang mau saja. kapan saja. “Salah apa saya jika saya mengamalkan ajaran agama saya?! Toh. Sebenarnya. Aisah. dapat saya kutipkan sebuah Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Daud dari Aisyah r.” Mantap sekali ia. Tapi lihatlah betapa cobaan yang dihadapinya. barangkali.” dan beliau menunjuk kepada muka dan kedua telapak tangannya. agar mereka tidak diganggu. Sekarang siapa yang mau menjahitkan pakaian padamu kalau hanya jilbab melulu?” “Lupakanlah itu. Aisah mendapat kerepotan di sekolahnya (sebuah SMA Negeri di bilangan Kebayoran Baru). misalnya pada An Nur ayat 31. menjulukinya dengan “pakaian ninja”. kayaknya Aisah tak punya lagi barang sepotong pun baju model lain. ekstrim itu. Yang kutahu Aisah tetap tegar. Aisah boleh bermantap-mantap.seluruh tubuh mereka. masih ada beberapa ayat dan hadis. dengan ancaman sewaktu-waktu bisa dikeluarkan dari sekolah. wanita yang telah sampai masa haid tidak boleh terlihat kecuali ini dan ini. Aisah?” Suatu kali aku coba menduga kepadanya.a. “Itu waktu saya masih jahiliyah. Garagara pakaian jilbab itulah. blus yang dulu. midi. Semoga Allah mengampunkan ketidaktahuanku. Kayaknya semua pakaian rok. di mana saja. Tapi Aisah tak acuh saja.. Rezeki di tangan Allah. Dan sejak itu. apalagi mini. “Itu namanya. ia selalu berjilbab! Anak-anak yang iseng. maaf. “Menyuruh orang membuka aurat. lisan dan tulisan. Namun ia tetap dianggap melanggar.: suatu ketika Asma binti Abu Bakar masuk ke tempat Rasulullah sedang Asma memakai baju yang tipis (membayang tubuhnya). tapi Saudara-saudara dapat mencarinya sendiri dalam Al-Quran. “Dulu sebelum begini malah kau seorang modis. walau warnanya sudah putih di atas dan abu-abu di bawah (sudah disesuaikan Aisah). dan dosa yang dilakukan orang itu. Berkata mantap kepada kami anak-anak gang.” jawabnya. hal itu dijamin oleh Undang-Undang Dasar Empat Lima kita! Baca tuh pasal 29 ayat 2. Soalnya: jilbab yang kayak ninja itu. Al A’raaf ayat 26 dan beberapa Hadis yang diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad! Pokoknya. sudah dibakar ludes! Atau dihanyutkan ke Kali Malang (tak jauh dari gang kami).

dong. plok plok plok.” jawab kami spontan memberi semangat dan membenarkan Aisah. Apabila Aisah lewat di depan ‘markas’. yang terlibat narkotik itu. ya (senyum. dasar anak-anak. Kan hanya orang-orang PKI yang sangat anti agama?” “Ya. ‘kali. Rupanya Aisah belum selesai. senang sekali.” .. ini enggak ge-er.” celetuk kami. Begitu ia lewat. yang suka keluyuran di jalanan atau ke disko pada jam-jam pelajaran! Ke sana alamat penertiban itu! Bukan kepada hak asasi orang?! Orang yang baik-baik seperti kita-kita ini lagi. yang merokok itu. Mengembangkan kedua tangannya. tak tanggung-tanggung! Tetapi sebaliknya.. belum merasa puas. Dan bertepuk tangan serempak.. kalau mau ditertibkan juga. Tiba-tiba seseorang memberi komando: “Tepuk pra-mu-ka!” Plok plok plok.. Aisah melanjutkan: “Itu tuh. suka becanda. katanya sambil setengah berbisik. mengangkat bahu.. anak-anak yang tadinya asyik-asyiknya menyanyi dangdut atau pop. yang mabuk-mabukan itu. pengamalannya kita jegal.. Apakah ini tidak munafik namanya? Atau mungkin ada penamaan lain?” “Munafiiiik. suka menggoda.” Lagi-lagi kami keplok. 140 22 Di mana pun.cayaan dan untuk beribadah sebagaimana yang diajarkan oleh agama maupun kepercayaan itu! Nah. “PKIiiiiiiii. Semua bertepuk kegirangan bagaikan anak-anak pramuka.. segera mengalihkan iramanya ke kasidahan: “Indung-indung kepala lindung Hujan di udik di sini mendung Anak siapa pakai kerudung Mata melirik kaki kesandung. aduh manisnya)... mana yang lebih tinggi kedudukan hukumnya UUD 45 atau Peraturan Seragam Sekolah?!” “Jelas UUD 45. Tilawatul Quran kita rayakan secara besar-besaran dengan biaya jutaan.!” tambah kami lagi. tertibkanlah siswa-siswa yang suka berantem itu.!” teriak anak-anak serempak. ‘kali... Aisah mengeluh: “Boleh jadi semua kita telah menjadi orang-orang munafik terhadap agama yang kita anut.. Kita curiga dengan berbagai prasangka.. membenarkan. mencorongkan kedua telapak tangannya ke moncong: “Jangan-jangan kepala sekolah itu bekas PKI. tak pernah luput ia jadi godaan. plok plok plok plok plok plok plok.

. Namun Aisah diam saja. Mereka menyingkir secara teratur. Jalan terus.” Dan macam-macam lagi.” Anak-anak pada sorak kegirangan. Mek!” Lalu kutarik Aisah ke toko kaset. persis kayak segerombolan anjing hendak berebut tulang. assalamu'alaikum.” “Sorangan wae?” “Mari.. yuk?” “Ntar lu digampar bokapnya!” “Enggak apa asal gue dapat anaknya yang ca'em. dong. Sekilas kudengar. mengitarinya seakan hendak memangsa. dalam hati masingmasing kami. “Kau tidak diapa-apakan mereka?” tanyaku. kulihat Aisah berjalan seorang diri pulang sekolah. alimnya. kupanggil Aisah dengan suara lantang untuk mengagetkan anak-anak itu. Aku sudah siap menghadapi segala kemungkinan. “Ucapin salam dulu. “Waduh. gue anterin. Mungkin. buru-buru aku keluar. “Tidak.” “O ya lupa.” 141 . “Ada cowoknya.Aisah terus berlalu dengan senyum-senyum dikulum. “Wah. Aku berhasil.” “Anak-anak berengsek!” “Mereka cuma iseng. “Wa'alaikum salam.?” 23 Suatu kali sedang aku asyik mentes kaset yang akan kubeli di sebuah toko di Benhil. kalian ini tak tahu aturan!” ujar yang lain belagak memarahi teman-temannya. Neng?” Dengan lembut Aisah menjawab. Serombongan cowok SMA yang berpapasan dengannya menggoda Aisah dengan sikap agak kurang sopan. berkata: “Alangkah manisnya anak ini. Kuatir mereka menggoda lebih jauh lagi.

ampun. Hamzah menaruh hati pada Maryam.” “Ya. Bukan pada nyanyian. Sepantasnya kita mendoakan mereka pula. dari kuncup mekar menjadi bunga yang indah. Penampilan yang pertama mengejutkan banyak orang adalah ketika suatu kali ia ikut acara perkenalan penyanyi remaja di TV.. ya ampun. kalau berganti-ganti saja pemuda-pemuda luar datang berkunjung ke rumahnya.” kataku tak habis fikir pada Aisah yang satu ini. Gadis kecil yang kemarin-kemarin ini masih ingusan. maka terdengar bisik-bisik yang dikeraskan: “Baru lagi. Kemudian pasangan anak muda itu pergi ke luar rumah untuk latihan menyanyi. “Tapi.. ada lagi yang mengajaknya pergi menonton.” kataku. Yang tercantik di gang kami. tiba-tiba seperti disunglap... yang artinya selamat dan sejahteralah anda. main engklek. Di lain waktu.. selalu dengan muka baru: penyanyi tenar ibukota. dan macam-macam acara lain. pemain tenis yang lagi ngetop. Gadis kecil itu tumbuh jadi remaja yang amat cantik dan mempesona. Maka sejak itu. kami tak merasa heran. Semua orang kagum padanya. Hamzah belum pernah mengatakan secara terus terang. melainkan kecantikannya yang membius itu. lain pula Maryam. pemain film yang sedang in. Kukira. anak teater yang lagi ngepop.. geram. Bahkan yang tercantik di ibukota republik ini. Cuekin aja!” “Dosa lho. 142 24 Lain Aisah. salam tak dijawab. Dan yang paling akhir anak orang kaya bermobil Baby Benz. masih suka main congklak dengan teman-teman sebayanya. Pokoknya selalu dengan cowok baru! Dan setiap kali Maryam dan padangannya lewat di depan ‘markas’. Dan. Bukankah salam itu doa. ni yee?!” 25 Maryam memang cantik. kenapa anak-anak gituan kau kasih hati?” “Kasih hati bagaimana?” “Salam mereka kau jawab. Sejak itu ia dikenal secara luas. . main loncat karet. Dan Maryam sadar akan perubahan dirinya. ke restoran.“Kurang ajar. demikian menurut Hamzah.

berani-berani takut. “Tidak!” jawabnya tegas. berfilsafat.” kata Hamzah pula. 26 Suatu hari. Dalam puisi-puisi dan cerpen-cerpennya dapat kutangkap kesepian hati yang dibawanya ke mana pun ia pergi. yang ber-Baby Benz itu. Maryam seorang anak yang baik.“Tapi apalah arti kecantikan jika tidak disertai dengan ‘kematangan dan kedalaman’. seperti ada sesuatu yang terlepas dan hilang. 143 27 Tapi akhimya aku tahu juga. Aku terperangah. Di antara kawan tak kulihat lagi Hamzah. Namun perasaan ini disimpannya sendiri. aku tak tahu. seorang anak yang patuh. tempat di mana ia melarikan kepedihannya. Sekarang ia bekerja di sebuah majalah. Dalam senda gurau dan nyanyian diam-diam menyelinap kesepian ke dalam hatiku. ketika Maryam menyebarkan undangan perkawinannya dengan anak penguasa Real Estate. mungkin anak-anak lain tidak. Memutuskan hidup jadi pengarang dan berhenti kuliah. Hamzah mendadak pindah ke Rawamangun. membesarkannya dalam kemiskinan yang berkepanjangan. Untuk itu ia siap berkorban. . aku tak merasa betah lagi duduk lama-lama di ‘markas’ kami. Mungkin di malam-malam begini ia sedang mengetik puisi-puisi atau cerpen-cerpen. Dari bacaan berat mana pula Hamzah memperoleh ‘kematangan dan kedalaman’ itu. yang pergi membawa luka hatinya dalam kesepian di kamar indekosnya jauh di Rawamangun sana. ia ingin membahagiakan kedua orang tuanya. Semoga hal itu menjadi tanda baktinya buat mereka yang telah bersusah payah. Dan terlebih dari semua itu. 28 Dari bisik-bisik anak-anak cewek dapat kutangkap bahwa sebenarnya Maryam pun mencintai Hamzah. Ia tak hendak dan berani menyatakan kepada ayah ibunya. Indekos di sebuah kamar yang sederhana. Kali ini tampak serius dengan muka murung. 29 Akhir-akhir ini. yang tak mungkin dapat diraih kembali. kutanyakan pada Hamzah apakah ia mencintai Maryam.

Batinnya tertekan.” 31 Malam hari ketika aku pulang dari mencari pekerjaan yang belum juga kudapatkan. nongkrong terus dengan bocah-bocah itu? Teman-teman sebayamu sudah pada bekerja! Contohlah mereka itu! Lagi pula.*** (Dimuat dalam Horison. Adik-adikmu masih banyak yang perlu ayah perhatikan. Najib mungkin sedang mencampur minuman haram satu dengan yang lainnya. terpencil. Namun ia tak bisa berbuat lain. Sedang mengapakah Martin sekarang? Lakon apakah yang sedang diperankannya sekarang? Hamlet tokoh yang selalu dibuai bimbang? Lama ia tak pulang.Tony Handoko mungkin sedang terbenam dalam kitab kuning bertuliskan Arab gundul. tertekan sedikit oleh perasaan rindu. Agustus 1990) . Atau mungkin ia sedang larut dalam zikir yang dalam. Martin dan Hamzah. ayah sudah tak sanggup lagi membiayai sekolahmu. Tiba-tiba aku merasa teramat sepi. sambil mengenang ayahnya sedang mengaji di rumah. Tapi sudah tentu tak kulihat lagi di sana Najib. Aku tak tahu sedang mentas di kota mana ia sekarang. Tony Handoko. jauh dari keramaian kota. 144 30 Suatu hari ayahku berkata dengan sedikit keras kepadaku: “Syamsu. aku selalu lewat di depan ‘markas’. Ramainya masih seperti biasa. apakah kau tak merasa malu. Masing-masing teman pergi membawa nasibnya sendiri-sendiri. Nun jauh di desa Bangil.

” kataku. bahwa mantan pacar istriku adalah aku. ya Sam?” ujar istriku suatu sore.” “Ingat enggak. Ini karena ulah jam itu. Bila loncengnya berbunyi. Sedangkan kami berdua membutuhkan tamu.” kataku. “Juga mantan pacarmu. Tinggi jam itu setinggi tubuhku. siapa yang datang pada pesta kita itu?” “Mantan pacarmu. Tentu lelucon ini menambah semarak suami-istri. Kuingat sekali. maka terdengarlah sebuah nyanyi.Lonceng Oleh: Motinggo Busye 145 Jam dengan merk Junghun itu belakangan ini menyengsarakanku. Kami ketawa bersama. aku dan Ina sedang duduk-duduk berdua sembari minum teh dan makan jeruk. Ina. Sam. Jika ditaruh di ruang tamu. Mereka harus diberitahu. Walaupun akhirnya mengesalkan. tetap saja aku mencoba memetik kenangan lama yang indah setelah jam Junghun itu mengisi ruang tengah rumah kami. Kita menikah pada 10 November dua puluh lima tahun yang lalu.” katanya. Istriku menjadi perempuan yang bawel. . “Sebentar lagi kita akan merayakan ulang tahun perkawinan kita yang kedua puluh lima.” “Kamu tentu ingat tanggalnya. Kami dulu mempertimbangkannya cukup lama untuk memutuskan di mana harus diletakkan jam yang sebesar itu. “Hari itu ulang tahun perkawinan perak kita. Orang yang kurang rasa humor mungkin heran. Sore itu. dan mantan pacarku adalah istriku Ina. Nyanyian ini mengisi kalbu istriku dan kalbuku sendiri.” “Kalau begitu tinggal 4 hari lagi. sebab kehadirannya merasa dikontrol oleh jam. kelak tamuku akan cepat pulang. Padahal barang itu kami beli untuk menambah kebahagiaan istriku dan aku. hanya untuk perkawinan perak itu saja kami berdua sangat sibuk. “Betul. Kami suka mengulangi lelucon yang sama itu setiap ada bekas teman sekelas hadir.

secara mendadak dan serentak langkah kami berhenti. Di toko saya cuma tinggal satu ini. Aku dan istriku saling menatap. aku dan istriku berpelukan. “Ini benar-benar abadi. kurang sedikit. Bertahun-tahun kami menikmati duduk berdua menunggu lonceng jam itu bernyanyi setiap seperempat jam. Ketika loncengnya berbunyi 1 kali. Dari masa berpacaran dulu.” Istriku telah dikunci tanpa alternatif. "Merk ini nomor satu. Ke- 146 . Kami meniru para pelaut yang suka bayar masing-masing bila makan di restoran. Tapi irama lagu lonceng jam ini melebihi seluruh musik klasik kesukaan kami. Kebetulan kami berdua menyukai musik klasik.” ujar sang pemilik toko. Ketika loncengnya berbunyi menyanyikan irama indah itu. Ketika setiba di rumah. Kami justru menciptakan humor baru ketika harus ber-navy-navy. aku menggenapi kekurangan itu. “Kita menemukan pilihan jam antik. Lonceng jam itu memberikan zat rohaniah pada diri kami. tak ada satu pun benda yang berkenan di hati kami berdua.” Memang begitu. Dan ketika gema 12 kali masih mendengung. Kadang sudah pergi kembali lagi ke toko sebagaimana terjadi pada hari itu. ketika uang dihitung. kami menganut aliran navy-navy. Cuma saya yang jual merk Junghun ini. dan ini juga satu-satunya.” “Ya kurangilah separohnya. Maka kutinggalkan beberapa lembar di tasku agar kamu ikut membayar juga. Ketika kami lewati beberapa toko.” ujar istriku. dia menyanyikan satu bait saja. Sam. “Coba Nyonya cari di seluruh Glodok ini. makin sering aku disuruh istriku dengan nada setengah memerintah. Jam Junghun telah kami taruh di ruang tengah.00 pada hari 10 November. “Tanyakan harganya. istriku bilang. Apa suami-suami yang lain di dunia ini juga seperti itu. Kebiasaan ini bukan selalu buruk. Kebiasaan istriku adalah sama dengan kebiasaan banyak perempuan di jagat ini: menawar terlalu rendah dan berlama-lama untuk jenis satu barang. remasanku lebih kuat lagi. Terdengar satu nada indah mirip lagu yang menyentuh perasaan kami. Istriku melotot setelah aku sebutkan harga yang diberitahukan pemilik toko jam itu. aku meremas jari tangan istriku. “Merknya Junghun. Setelah dua tiga toko kami masuki. Dia selama tiga hari kami tunggu berbunyi.Kami telah pergi ke Pasar Glodok untuk mencari sebuah barang yang bisa dipajang di rumah dan punya kesan abadi.” kataku. Lalu. “Sebenarnya aku menguji apakah kau masih kikir.” kata istriku. Saat itu adalah pukul 00.” ujar istriku. Makin larut perkawinan kami. Sebagaimana biasa. Sam. Ketika pada seperempat jam. aku tak tahu dan tak perlu tahu.

sama pula di perguruan tinggi. ketika aku harus berhenti sewaktu kita menikah sudah pasti ada seorang gadis yang senang. Sam?” Makin tua dia masih pencemburu seperti dulu. Pernah juga istriku bertanya. dia menyanyikan dua bait.tika setengah jam. “Kita tak perlu bertengkar lagi.” Aku memilih diam. Perkawinan kita 40 tahun tanpa anak dan cucu. kamu suka membisu. Yang ada di sini adalah aku. jika ada dua orang menikah di satu ruang kerja. “Kalau kamu kawin sama Aimah. yang perempuan harus mengalah menjadi penunggu rumah. dan pada waktu satu jam. Aku betah di rumah karena sudah memasuki pensiun. Jadi Ina cuma berdinas 1 tahun kerja saja. tiga bait. ”Si Aimah. dan sama pula selesainya. “Mungkin kamu betah di rumah karena lonceng ini. Orang yang sama sekelas di SMA. “Ya.” katanya. “Kita tak pernah merasa tua oleh lonceng jam ini ya. Padahal dia amat mencintaimu. “Tapi aku betah di rumah bukan karena lonceng jam ini. Sam.” kata istriku. Dan inilah yang bikin aku marah dan kami bertengkar. lalu menyetel jarum panjang dan jarum 147 . mungkin kamu sudah punya anak dan cucu.“ sambungnya. kamu dan jam dengan loncengnya itu. Ketika tiba tiga perempat jam. Tetapi pertanyaan itu agak aneh di telingaku. Yaitu menaikkan kerekan rantai tiga bandulan itu. Sebelum empat bait lagu itu bergetar. aku bisa memperbaikinya. lonceng jam menyanyikan lagu itu. Padahal jam ini sudah 15 tahun di rumah kita. Ketika pertengkaran itu terjadi. Sam?” kata istriku. dan terutama karena adanya kamu. Akhirnya aku bertengkar juga karena dia lagi-lagi menyebut nama Aimah. empat bait komplit. “Kalau aku bicara soal si Aimah.” kataku. yang perempuan harus diberhentikan dengan hormat. Biasanya kalau jam itu mati. ajaib sekali. Peraturan kantor memang. akan sama nasibnya jika melamar di kantor yang sama di bidang yang sama pula: jika menikah. “Aku tahu.” kata istriku lagi.” “Sudah gaek masih gombal.” ucapnya. “Kenapa kamu tidak kawin lagi saja.” Tetapi. aku dan Ina sudah berpelukan.

” “Mau cari Aimah?” “Bawel kamu. Bahkan mencak-mencak. Bertahuntahun dia membuat kita berdua menikmati irama loncengnya yang pernah bernyanyi merdu. Sam. Dan aku gigih terus memperbaikinya. Seorang tukang arloji kubawa ke rumahku. dan bunyinya harus tepat 12 kali pada pukul 00.pendeknya untuk menyesuaikan waktu. Dua tahun menjelang ulang tahun perkawinan emas kami.” “Sudah.” “Aku mau keluar. Bahkan ngawur.” Aku mencari ahli jam. orang di rumah itu mengatakan.” kataku pada Ina. namanya Mahboub Assegaf. Kamu makin tua makin cerewet. “Kau bilang dulu kamu menguasai ilmu listrik. Dimulai dengan cekcok mulut lagi.00 tengah malam 10 November.” “Sudahlah. Jangan. Ketika aku tiba di rumah Arab itu. kita tak boleh merusak kenangan yang diberikannya. “Tenang dulu. Tapi itu tidak berarti aku tak 'kan bertengkar lagi dengan Ina. ada dijual di sini.” kataku ketika memperkenalkan tukang arloji itu kepada Ina. Dan istriku terus pula menertawakan kegagalanku walau tanpa perkataan “tolol”. Kalau mau beli buah kurma dan kismis. Pukul 12 bunyinya 6 kali. jam ini berbunyi 36 kali. Menurut pemilik toko di Glodok itu. Ina. Jangan jadi nenek sihir lagi. Dia ini ahli jam generasi penerus ayahnya.” kataku.” Aku mengalah. ada orang Arab di Tanah Abang. “Itu logis saja. Ina. sekaligus menyebarkan bau ketiaknya di ruang tengah kami yang nyaman. Kita jual saja jam Junghun ini. Dia katakan. Kita beli yang baru. Kali ini loncengnya berbunyi tidak cocok lagi dengan waktu. Dia marah. Keringat membasahi bajunya. “Aku tak bertemu dengan orang Arab itu. "Jam ini penuh kenangan. Ina. Dia tidak berbunyi 12 kali pada waktu pukul 12.” “Kamu makin tua makin tolol. diam kamu. bahwa “Ami Assegaf” sudah wafat. ahli pembetulan jam dan piano. Akhirnya dia berkata putus asa: “Maaf. Tapi kenapa betulin jam saja sudah salah. Aku kan tidak bilang kamu tolol. Istriku senyum mencemoohinya. aku terus berusaha agar jam Junghun itu bisa menyanyi lagi.” kataku. Sam. Anak muda itu bekerja keras." 148 . “Oh si Aimah itu turunan Arab ya?” “Coba tenang. aku pergi ke Jatinegara. Istriku mendehem. Bahkan dia mengenal Ami Mahboub Assegaf.

” kata istriku. Ya. Manusia tidak boleh ditaklukkan oleh benda yang bermerk Junghun. sampai aku berhasil! Aku merayakan pesta emas 50 tahun perkawinan kami.” kataku yakin. Ia menderita tekanan darah tinggi. Ini menambah semangatku. Memang dia gila. “Sabar.*** 149 (Dimuat dalam Horison. Istriku menyebut lagi perkataan “tolol” itu.“Cukup. Kita jangan panik. September 1999) . Nak. Katanya. Aku akan coba perbaiki sendiri. Manusia harus mengalahkan benda mati ini.00 jam itu bernyanyi empat bait komplit. diiringi kemerduan lonceng jam Junghun yang amat sangat indah. Ina. Dia mulai berlangganan dokter spesialis penyakit dalam. jam gila itu berbunyi 120 kali. Suatu malam dia menjerit karena satu mimpi buruk. Tengah malam pukul 00. dan tak 'kan pernah mendengarnya. lalu mendentingkan loncengnya 12 kali. Yang mulai menjadi korban jam Junghun adalah Ina. kurayakan pesta emas perkawinan itu seorang diri. saat itu istriku tidak mendengarnya. Sayang.

Dan dia begitu tertegun. Dengan hati-hati ditusuknya gelembung itu dengan ujung jarinya. Diamatinya kedua telapak tangannya yang penuh dengan buih-buih sabun yang memantulkan warna-warni pelangi. sedang kedua orang tuanya selalu sibuk dengan usaha dagang mereka. Diamatinya dengan lebih teliti gelembung itu. Joko Tingkir. Sesekali ditiupnya buih-buih itu dan beberapa gelembung melayang berputar-putar. Warna-warni pelangi terpantul dengan indahnya. Juga nampak bayangan dirinya yang lucu. Ken Arok. permainan dan impiannya justru mengukuhkan rasa sepi dan sendiri.” Begitu tutur ibunya suatu hari waktu dia merengek karena tak ada kawan bermain dan beberapa saudara tuanya tak ada di rumah. Dengan hati-hati dihembusnya gelembung itu yang semakin membesar. Suatu kali. Hanya secara kebetulan suatu hari salah seorang saudaranya begitu jengkel dengan pertanyaan yang selalu berulang-ulang memberikan jawaban yang cukup memuaskan. satu gelembung tetap bergantung di ujung pipa rumput kering itu tak mau pergi. mungkin ada awan atau saudaranya yang lain di dalam gelembung itu. Dongeng-dongeng itu begitu indah dan memukau. Buih-buih sabun itu semakin bertambah setiap kali dia berkecimpung.Lelaki Tua dari Noumea Oleh: Waluya DS 150 Seperti biasanya untuk menghilangkan ketegangan urat-urat badannya lelaki tua itu mengambil bubble bath. dia pasti akan bisa melihat rumah-rumah. Aryo Jipang. kau tak akan pernah merasa sepi atau sendiri. “Ceritakanlah negeri leluhur itu padaku. “Di negeri leluhur kita. pepohonan serta sungai-sungai dari angkasa. Dan dia tak bisa mengerti kenapa orang tuanya meninggalkan Negeri Leluhur yang begitu mempesona. Ki Pemanahan. Dan setiap kali gelembung-gelembung sabun itu pecah dia merasakan satu kekecewaan seperti tergugah dari impian yang mempesonakan. Persis seperti masa kanak-kanaknya di halaman belakang rumahnya di Noumea. dengan pipa dari semacam rumput kering dia menghembus air embun dan belasan gelembung beterbangan dipermainkan angin. Tapi dia belum mau melepaskan gelembung itu karena dia takut potret dirinya itu nanti akan merasa sendiri dan sepi di angkasa. Setiap pertanyaan yang dilontarkannya selalu lewat tanpa terjawab. Dia pikir bila gelembung ini terbang nanti bersama potret dirinya itu. . Damarwulan. bahkan juga bagaimana keramatnya Kreto Kencono Kanjeng Susuhunan. Sering satu atau dua jam merendam diri sambil mempermainkan buih-buih sabun yang memenuhi bath tub dia bisa merasakan kesendiriannya dan melupakan persoalan-persoalan yang menjerat perasan serta pemikiran. Nak. Sutawijoyo. Ibu?” Bila ada waktu ibunya dengan tak bosan-bosan bercerita dongeng-dongeng Panji.

Dengan salah seorang anggota jemaah gereja yang lain Babah Loo Cin Yong. Tentu hasil usaha dagang itu juga dipakai untuk membiayai kegiatan mereka. Sebagai keluarga bangsawan jadi Kristen dan punya usaha dagang dengan orang Cina terlalu memalukan keluarga. Pertemuannya dengan Tuan van Stifhout. bapak melakukan usaha dagang bersama yang cukup berhasil.” “Tapi itu hidupku sendiri. “Nah. Orang selalu dengan gampang mencelupkan tangan untuk ikut mengeruhkan suasana. pendeta Belanda yang akhirnya membaptisnya sebagai orang Kristen telah membukakan lembaran baru dalam hidupnya.” “Maksudmu?” “Dengan bapak kita di Negeri Leluhur dahulu. Lebih baik kau coba membina hidupmu di sini. Salah satu di antaranya.“Rupanya dongeng-dongeng ibu telah begitu meracunimu. bapak merasa tidak punya tempat dan hak. Rio. Kebanggaan yang baru kau tunjukkan itu tak ada artinya sekali di sini. ada huru-hara yang dilakukan oleh kalangan tentara penjajah Belanda yang didalangi Tuan Sneevliet. “Kau mau tahu jawabanku atau mau protes melulu?” Dia hanya mengangguk karena jawaban saudaranya terasa lebih penting daripada mempertengkarkan namanya. Dan juga diberitakan bahwa usaha dagang bapak sebenarnya hanyalah usaha terselubung untuk memudahkan gerakan kader-kader Komunis. bukan? Untuk menghindarkan hal-hal yang tidak di inginkan. 151 . Kau hanya harus terima utuh. “Bagus.” protesnya. Rio. Sebagai putra seorang pangeran yang dilahirkan oleh salah seorang selir. Didesas-desuskan bahwa bapak ikut terlibat hanya karena pernah terlihat berbicara dengan Tuan Semaun yang merupakan kader Tuan Sneevliet.” “Aku hanya ingin supaya kau tak kecewa nanti. Jangan kau biarkan angan-anganmu menggelembung dan menelan dirimu sendiri nanti. Dia lebih senang dipanggil dengan nama sebenarnya yang lebih punya bobot karena nama Aryo mencerminkan darah bangsawan yang mengalir di tubuhnya. apa kataku. bapak membawa kita untuk memulai hidup baru di Noumea. Setiap adat dan kebudayaan punya kelebihan dan kekurangan yang tak bisa dicomot di sana-sini. dia merasa terpenjara oleh adat dan kebudayaan yang lebih merupakan beban daripada usaha manusia untuk memuliakan hidupnya. Kau sudah menunjukkan satu kemajuan ke arah pemikiran yang praktis dan realistis. karena cintanya pada kita semua.” potongnya.” “Namaku Aryo dan bukan Rio. itu lebih penting. Banyak usaha dilakukan untuk mendepak bapak. waktu itu kau masih dalam kandungan.” “Tapi namaku bukan Rio. Lupakanlah dongeng-dongeng dan Negeri Leluhur itu.

Pernah kudengar bapak sedang bicara pada ibu bahwa bapak tidak menyesal sama sekali meninggalkan Jawa. Bagaimana kalau semua itu hanya tutur kata untuk menghiburnya saja? Tapi setiap kali melihat sekelilingnya. bukan? Semua perayaan itu selalu menggodanya. Kalau kita tak mau tahu-menahu soal asal-usul 152 . Dia merasa begitu bahagia bahwa ternyata dongeng ibunya bukan hanya omong kosong belaka. Hanyalah orang Kanak orang pribumi. orang-orang Kanak. Dia betul-betul merasa tersisih mencari tempat berpijak meskipun saat ini hanyalah dalam dongeng-dongeng dan kerinduan pada Ratu Adil. Dan pulau Jawa hanyalah sebagian kecil dari Indonesia. tapi daerah Perancis Selatan. Apalagi ketika dia tahu bahwa Sri Sultan menjabat wakil presiden. Memang tidak gampang memisahkan benang yang kusut. Dia merasa bangga ketika tahu bahwa tak ada pemerintah penjajahan lagi. Daerah ini bukanlah daerah Pasifik. bapak dengar khabar bahwa orangorang Komunis atau yang dicurigai sebagai Komunis dibuang ke Digul oleh pemerintah penjajahan. Tapi ternyata punya pijaksana yang nyata bahwa keturunan Parikesit masih punya kekuasaan di pulau Jawa. di Noumea yang semasa bukan tempatnya. “Tapi bukankah itu justru kelebihan kita?” belanya. Kita semua punya hidup yang harus diurus di sini. namun dia hanya diam saja karena sudah berjanji tak akan bertanya-tanya lagi. sebuah nama yang pernah didengar dari dongeng ibunya. Beberapa tahun setelah kita menetap di Noumea. Mungkin dongeng-dongeng dan riwayat bapaknya sebetulnya tak pernah ada. Bahkan dia merasa beruntung mengambil keputusan sebelum tuduhan atas dirinya menjadi-jadi. orang-orang Perancis. Dengan melarikan diri bukankah ini justru memperkuat tuduhan yang sebenarnya. Tiba-tiba dia merasa punya tugas yang harus diemban untuk mengembalikan kekuasaan mutlak Sri Sultan. Sedang Ngayogyakarta Hadiningrat menjadi daerah istimewa di bawah kekuasaan Sri Sultan Hamengku Buwono. Dia merasa tidak begitu akrab dengan nama Indonesia.” Jawaban saudaranya itu justru menimbulkan beberapa pertanyaan baru. Rio! Lupakanlah angan-anganmu itu. Kau kira orang-orang Jawa di sana tak mampu mengatasi tantangan hidup mereka dan memerlukan uluran tanganmu?” damprat saudaranya ketika dia merasa sebagai titisan Nabi Musa yang harus membawa orang-orang Jawa di Kaledonia kembali ke tanah leluhur. dan dirinya begitu berbeda. “Lihatlah orang-orang Perancis ke mana mereka berkiblat. Tapi tak bisa di sini. “Kau sudah gila. Betapa gembiranya ia ketika suatu hari sebuah kapal berlabuh dengan kelasi-kelasi yang bisa berbicara bahasa Jawa yang sedikit-sedikit dia bisa mengerti. Dan para kelasi itu bilang kapal ini akan jadi kapal pelatih bagi pelaut-pelaut Indonesia. Orang Perancis datang dari Eropa dan dirinya pasti punya tanah asal. Lebih baik memulai satu kehidupan yang baru seperti nasehat saudaranya. Kapal itu bernama Dewa Ruci. Semua urusan ketatanegaraan sudah diatur oleh orang pribumi sendiri. Para kelasi itu menjelaskan bahwa daerah ini hampir meliputi sebagian besar daerah Sumpah Palapa Gajah Mada. Kehidupan dan tata cara mereka tak ada yang berubah bukan? Lalu bagaimana dengan pendatang-pendatang Vietnam? Mereka mengirimkan uang dan senjata untuk melanjutkan perjuangan melawan kekuatan Komunis. Kenapa harus merisaukan martabat keluarga yang sebetulnya tidak dengan tulus menerima bapaknya sebagai bagian dari keluarga itu? Bukankah tanggung jawab bapaknya sebenarnya hanya pada keluarga mereka sendiri? Seharusnya bapaknya lebih baik tetap di Jawa untuk membuktikan bahwa dia tak ada hubungan sama sekali dengan kaum Komunis.

kita tak akan jauh berbeda dengan orang Kanak. Kata dokter otaknya sudah rusak karena kekurangan zat asam. Dia begitu tertegun membaca surat terakhir Dewi padanya: Jangan marah. dari Profesor-profesor itu aku tak belajar apa-apa sama sekali. Dewi memang tumbuh menjadi wanita yang anggun semampai dengan tingkah yang lembut mempesona di samping otaknya yang cukup cemerlang. Kakek.” “Bicaramu sudah begitu ngawur. anak satu-satunya mendapatkm kecelakaan ketika menyelam di laut. Cobalah turun tangan bersama kami mengembangkan keluarga. Dari seorang kawan dia mendengar bahwa di Monash ada seorang Profesor Yahudi yang ahli dalam bidang politik di Indonesia dan juga seorang Profesor Belanda yang ahli dalam masalah Mataram. dan jangan kau biarkan kegilaanmu itu berlarut-larut.” Dia merasa usahanya membujuk sanak saudaranya sia-sia belaka. Mata inti dari kuliah-kuliah mereka bisa dengan gampang kudapatkan dari buku-buku. Kami sadar menghadapi beban mental merawat Jatmiko yang mati tidak hidup pun tidak. Dengan melakukan hal-hal yang positif akan mengembangkan self esteemmu. Namun setelah beberapa tahun di Melbourne. Kau tahu satu-satunya kesalahan mereka justru karena mereka tidak berasal dari manamana. Tapi dia masih belum merasa bahwa impian itu sudah di luar jangkauannya. Dia ditemukan dalam keadaan lumpuh. Tapi yang ada tinggallah tubuhnya yang harus ditunggu kerelaannya melepaskan dunia yang fana. Dia merasa perlu pergi ke Melbourne untuk memberi beberapa petunjuk pada Dewi. Soalnya setiap orang bisa punya pendapat. Apalagi masih harus menga-suh cucumu Dewi bukan soal yang gampang. Mereka menjadi golongan minoritas dan kehilangan hak di tempat mereka sendiri. Sadarlah. Dan pendapat tanpa diberi ujud nyata dalam perbuatan bagiku tak ada nilainya sama sekali. 153 . Tumbuh harapannya suatu hari nanti Dewi akan bertemu dengan salah seorang pangeran dari Jawa dan mereka akan menurunkan Ratu Adil yang senantiasa dinantikan itu. Dengarkan kami baik-baik. Rasa kehilangan Jatmiko bisa segera terobati karena sepenuhnya perhatiannya tertumpah pada Dewi yang kehilangan ibunya waktu dilahirkan. Sekali lagi gelembung-gelembung impiannya retak. Rio. Memang langkah pertama mewujudkan impiannya itu semakin kabur setelah Jatmiko.kita dan hanya memikirkan hidup kita di sini saja. lewat surat-suratnya Dewi tidak pernah menyebutkan pengetahuan barunya soal Jawa. Rio. begitu berat. Aku lebih menemukan arti serta diriku sendiri dengan belajar melukis di Victorian College of The Arts. Jatmiko memang masih hidup. Akhir-akhir ini kami semua merasa begitu khawatir tentang kegilaanmu yang semakin parah. Mungkin kami harus mengundang dokter jiwa untuk memeriksamu. Untuk menjembati pertemuan Dewi dengan pangeran dari Jawa itu Dewi dikirimkannya ke Melbaourne untuk menggali ilmu di Universitas Monash. Tak ada seorang pun selain istrinya yang setia mencoba memahami jalan pikirannya.

Sebelum mereka pergi. Tapi mereka tidak pernah menyebutkam rencana kawin sama sekali. Bukan salah Dewi kalau dia tidak mengerti rencanamu. Sedapat mungkin diusahakan menunjukkan sikap kebijaksanaan calon seorang eyang buyut. karena John harus memberi kuliah dalam waktu setengah jam lagi. Tanpa memberi khabar pada Dewi. “Kakek dan nenek menginap di hotel apa?” “Windsor di Spring Street. Melbourne terasa begitu teratur dan rapi. Dan peluang untuk ketemu dengan Sang Pangeran Jawa itu juga akan lebih besar. “I have a surprise for both of you too. Tak ada angin. Di situ ada perguruan tinggi seni lukis dan sekaligus juga merupakan pusat kegiatan kesenian tradisionil Jawa yang adi luhung.” goda Dewi walaupun dia tahu bahwa kakeknya selalu punya selera yang tinggi. Kakek dan Nenek seperti sedang berbulan madu saja. Sejak kapan Dewi berbahasa Inggris pada mereka. Rio. Dia begitu senang bahwa Hotel Windsor adalah hotel yang mapan punya sentuhan kolonial. salah-salah kakek dan nenek bisa dikira turis dari Jepang. Tapi masalah berikutnya yang disampaikan oleh Dewi secara kalem itu menyambar seperti ledakan bom atom Perancis di Atol.“Jangan tergesa-gesa marah. itu hotel yang mewah. 154 . dia dan istrinya menuju ke Australia. Setelah mendarat di lapangan terbang Tullamarine mereka langsung menuju Hotel Windsor di bilangan kota. “Wah. Ini Rio dan Handayani.” jawabnya sambil memberikan nomor kamar mereka. Tidak seperti hotel-hotel modern yang baru yang begitu trendi. ternyata dia masih bisa menahan diri dengan mengajak mereka makan bersama malam nanti. “Untung tidak ke Southern Cross. langsung memberikan ciuman di kedua belah pipinya. Dia pikir kalau Dewi memang tertarik pada dunia seni mungkin lebih baik dikirim ke Yogyakarta. Tapi kenalkan dulu. tak ada mendung dan hujan tapi geledek segera menyambar. tapi paling tidak pada mulanya Dewi seharusnya menyapa dalam bahasa Jawa.” Sejauh ini dia masih merasa bisa mengontrol keadaan. kakek dan nenekku. Dewi bukan sebangsa serdadu yang hanya menjalankan perintah tanpa berpikir atau mengajukan pertanyaan. Banyak garis bengkok yang masih bisa diluruskan pikirnya. “What a lovely surprise. Sedang kesan pertamanya seperti begitu formal dan konservatif.” Dewi dengan wajah yang berseri-seri muncul di depan kamar ketika dia membuka pintu. Dewi sedang menantikan kelahiran anak pertamanya! Merasa dirinya sebagai priyayi Jawa dia tak bisa menunjukkan perasaannya yang sebenarnya. Berada di Yogya pasti akan menghasilkan pengalaman langsung mengenal dan terlihat dalam tata cara adat istiadat Jawa. Setelah makan siang mereka menelpon Dewi yang tidak menyangka sama sekali bahwa kakek dan neneknya ada di Melbourne. Mungkin karena ada John. John ternyata memang calon sang ayah yang tinggal bersama Dewi selama dua tahun belakangan ini. Dia harus merasa tetap tawakal dan sabar. John.” bujuk dan peringatan istrinya yang hampir selama perkawinan mereka hanya selalu mengiyakan kehendaknya dan hampir tidak pernah menyatakan pendapat sendiri.” Ya Allah ya Rabbi.

Gemericik air mengingatkannya pada kolam hias di halaman depan rumahnya. “Mandi yang bersih.” 155 . Sebelum masuk ke bath tub dilihatnya bayangan tubuhnya di kaca. “Lebih baik kau mandi dulu. Dari bathroom terdengar bunyi kran dibuka. Rio.” Dia ingat ibunya selalu menegurnya bila ia terlalu lama bermain-main saja di bath tub.” Dia tidak begitu mengacuhkan kata-kata istrinya dan sibuk mengenakan pakaiannya yang bersih. Dalam hati dipujinya istrinya yang selalu dengan baik menyiapkan air untuknya. “Dia bilang kalau kita mau makan yang agak kerakyatan kita bisa ke Victoria Street.” Dia lepaskan semua pakaiannya dan dibiarkannya terpuruk di karpet. kau banyak sekali kokot bolot seperti kuli yang tidak pernah mandi. Dengan telanjang dia berjalan menyeberang kamar menuju ke bathroom. Air sudah kusiapkan semua. Tapi kalau kita kepingin makanan Barat dengan suasana yang tidak terlalu formal. Dewi akan telpon dulu nanti waktu pulang dari periksa di ahli kandungan. Biasanya bila sudah terlalu lama istrinya pasti masuk ke bathroom dengan membawa handuk yang bersih atau piyama. Sekarang tidak pernah ada seorang pun yang mengganggunya.” Istrinya hanya mengangguk dan cepat-cepat keluar karena mendengar bunyi telpon berdering. Dia membaringkan dirinya di bath tub dengan hanya kepalanya yang menyembul keluar. kita bisa ke Grill Room di basement. Dia tidak bisa mengerti sama sekali bahwa Dewi bicara hamil di luar perkawinan tanpa rasa rikuh atau malu. aku kepingin jalan-jalan sebentar di Bourke Street. kau mau piyama atau ganti pakaian untuk nanti malam sekaligus?” tanya istrinya membangunkannya dari segala kenangan. Lalu kita bisa dapat supper di Graund Floor untuk ngobrol sambil mendengarkan permainan piano. ke restauran Vietnam. Dihempaskannya badannya ke kasur dan langit-langit kamar seolah berputar. Sesaat kemudian dia berbalik menghadapi istrinya. Dikeringkannya tubuhnya dengan handuk lalu ditaburinya dengan talek yang lembut baunya. Dia tersenyum sendiri. “Beri aku pakaian yang bersih. bahkan seperti bangga sekali. masih nampak cukup tampan untuk seumurnya. “Rio. “Kita bisa bicara dengan tenang nanti. pintu masuknya dari Little Collins. Sebentar lagi istrinya pasti akan membenahi. lebih-lebih kalau kau mau mencoba sausages atau sate buaya sebagai entree.” ucap Dewi sebelum pergi.” kata istrinya sambil menghampirinya.” kata istrinya sambil memberinya sepasang pakaian yang bersih. “Rio kau dengarkan aku atau tidak?” Lama tak ada jawaban.“Ya. Rio. tidak terlalu panas dan campuran bubble bath cukup creamy dan kaya akan buih. “Ya. Dan aku begitu heran bahwa kau hanya tenang-tenang seolah-olah tak punya pendapat sendiri. ingin dia menyebut istrinya Sembadra karena begitu bakti dan setia seperti istri Arjuna. “Dewi yang baru saja telpon.

” Tiba-tiba dia tidak tahan melihat air mata meleleh di pipi istrinya. dulu Dewi pasti kukirim ke sana.” Hening dan mereka berdua saling bertatapan. itu.” Dia menarik napas panjang dan melangkah menuju ke jendela sambil setengah berkata pada dirinya sendiri.” potong istrinya. kesalahanmu justru kenapa kau selalu bicara apa maumu saja dan tidak pernah memikirkan keinginan dan pikiran orang lain.” “O. Kuharap kita bisa berbicara secara lebih beradab. Kau boleh punya ukuran moral yang tinggi untuk hidupmu sendiri. “Jangan kau anggap aku melawanmu. 156 . ya dia hamil.“Pendapat dalam hal apa?” tanya istrinya. Aku tidak peduli apakah kau mencintaiku atau tidak. Aku tak mau bicara. Tapi kau tak boleh memaksakan ukuran itu untuk hidup orang lain. Tapi soal Dewi. Rio. Aku bicara dengan jujur seperti ini karena aku mencintaimu.” Dia begitu tersentak ketika untuk pertama kalinya istrinya berani menegurnya.. Apakah kau anggap aku ini babu atau istrimu itu tidak soal bagiku. Cinta yang tulus adalah cinta yang tanpa pamrih. “Sejak kapan kau ikut memusuhiku?” “Kau mau mendengarkan pendapatku atau hanya mau memancing pertengkaran saja?” Dia hanya melotot tak bisa percaya bahwa wanita yang sedang bicara di depannya adalah istrinya yang sudah bertahun-tahun hidup bersamanya. Rio. Dia begitu geram mendengar kata-kata istrinya yang datar tapi cukup tajam. dia. Dia tidak menjawab dan istrinya pergi menelpon room service memesan sebotol anggur kesenangannya dan minta diberi dua gelas. “Kau tahu kenapa kita kemari!? Untuk apa kita ke Melbourne?” “Kau jangan membentakku seperti itu. Rio. “Kalau soal impian gilamu mengenai Negeri Leluhur itu terus terang saja aku tak punya. Rio. kau mau juga?” tanya istrinya. “Kesalahanku kenapa aku tidak pernah berusaha mencari saudarasaudara bapakku di Jawa. Anak yang dia kandung itu adalah buyut kita sendiri. Rio. Namun ia mencoba menutupi keharuannya. Ia adalah pengorbanan itu sendiri...” “Kau tahu. “Dewi! Dia. Dibukanya pintu ketika pelayan datang membawa pesanan istrinya. aku tak punya pendapat karena aku tidak tahu sama sekali soal Negeri Leluhur itu. Kalau aku tahu mereka. “Aku mau pesan minuman. Meskipun keturunan orang Jawa aku hanyalah wong cilik keturunan kuli kontrak.

” Dia hanya mengangguk dan pelan-pelan terasa pundaknya yang berat menjadi ringan. apa yang kita cari dalam hidup ini selain kebahagiaan? Bagiku yang lain-lain tidak soal selama Dewi merasa bahagia untuk dirinya sendiri. Dia reguk anggur itu setelah si pelayan pergi. Istrinya memandangnya dengan pandangan tidak percaya.Ditandatanganinya nota bon supaya bill itu dimasukkan dalam rekeningnya nanti. Maret 1990) . “Rio. Sir?” Dia hanya mengangguk dan pelayan itu membuka botol serta menuangkan anggur ke kedua gelas untuk dia dan istrinya.*** 157 (Dimuat dalam Horison. “Shall I open the bottle now. Pelayan itu tersenyum lebar menerima tip yang lumayan.

Setelah hampir berminggu-minggu hanya merayapi jalan setapak di antara pohon-pohon dan semak belukar. bahkan kuda-kuda itu sendiri bagaikan tidak lagi menunggu perintah untuk segera memacu diri mereka. . dan umbul-umbul kini membuka jalan ke depan. “Pacu!” Orang-orang yang berada paling depan sebenamya tidak usah menunggu diperintah untuk memacu kudanya. Seluruh tubuh kami terbungkus jubah bulu binatang yang tebal dan berat. gelap. Para pembawa panji.000 pasukan berkuda. Di hadapan kami kini terbentang padang stepa yang begitu luas bagaikan tiada bertepi. Kuda-kuda kami saling berpacu dengan perkasa.000 pasukan berkuda. Padang stepa diselimuti salju yang tipis. dingin angin bagaikan mengiris wajah-wajah kami yang sebetulnya toh cuma tampak matanya saja. melesat secepat-cepatnya bagaikan berpacu dengan angin dingin yang bertiup begitu kencang menggigilkan tulang. seolah-olah bahkan jiwa kami kalau bisa lepas dari belenggu badan. berpacu melawan angin. 10. “Pacu! Pacu! Pacu!” Kami semua berpacu sepanjang padang stepa yang terbuka sambil berteriak-teriak menuntaskan kegembiraan kami. melesat dan menggebu. bumi bergetar oleh derap pasukan yang melaju dan menggebu. Kuda-kuda kami berpacu dengan riang. Kuda-kuda kami menggebu. 10.Tempat yang Terindah untuk Mati Oleh: Seno Gumira Ajidarma 158 Kami. seperti mengerti betapa jiwa kami telah lama begitu tertekan dalam perjalanan berat menempuh hutan yang rapat. begitu juga tangan kami yang memegang kendali. Bendera raksasa yang berkibar dan menyibak angin itu terlihat menggetarkan. Kami juga mengenakan topi dan sepatu dari kulit binatang berbulu tebal. dan berteriak-teriak meluapkan kegembiraan kami. dan penuh dengan rintangan. “Huuuu! Huuuuu! Huuuu!” Satu per satu penunggang kuda yang keluar dari hutan segera melaju. Kami menggebu begitu laju. Namun sekarang. lepas dari kungkungan jurang dan tebing yang serba menjulang dan mencekam. Kami. padang yang terbuka itu bagaikan pelepasan yang lebih dari memadai untuk melampiaskan kerinduan kami akan kebebasan. akhirnya keluar dari hutan itu. cuma inilah yang bisa kami lakukan. mendesing menuju kebebasan. berderap melaju menuju cakrawala. dengan tenaga baru yang seolah-olah begitu saja datang dari langit. Semuanya terbungkus. bendera.

Sampai di manakah suatu perjalanan berakhir? Apakah mungkin suatu perjalanan berakhir? Apakah mesti suatu perjalanan berakhir? Sudah bertahun-tahun kami mengembara dan kami tidak pernah merasa yakin kapan suatu perjalanan bisa berakhir. dan berpacu. yang kadang-kadang terdengar seperti sebuah percakapan. Kuda-kuda kami terus berpacu dengan laju. Setiap orang memacu kudanya ke cakrawala yang melingkar 360 derajat. Kami bagaikan berpacu di atas permadani tanpa tepi. bagai berpacu dengan angin. Kami tahu. dua. surai kudakuda kami yang tebal melambai-lambai dengan megah dan seluruh gerak tubuh mereka bagaikan menari dengan indah. bahkan bisa lima tahun. Rumah kami sekarang adalah perjalanan itu sendiri. namun sampai sekarang tiada satu alasan pun bisa menghentikan kami. Langit yang tadi bagai tempurung raksasa membiru kini semburat merah terbakar. kini kami mengambil peluang untuk meraih kegembiraan. Telinga kami semua penuh dengan desau. berpacu dan berpacu. Kuda-kuda memang lebih dari sekadar bagian hidup kami. Matahari terasa betapa berat. dan peredaran bintang. Padang stepa yang terbuka masih tidak memperlihatkan apa-apa kecuali hamparan rumput kering yang kelabu dengan polesan salju. Apakah yang terjadi di tempat-tempat lain ketika kami berpacu? Panah seorang pemburu sedang melesat ke jantung seekor rusa ketika kami berpacu.Kaki-kaki kuda kami bagaikan tak mengenal lelah. Kami tidak mengerti apa jadinya hidup kami tanpa kuda. Kami mengembara dan menjelajah segenap permukaan bumi untuk mencari suatu akhir. Cahaya matahari menyiram padang. perjalanan kami masih jauh lagi. Di telinga kami angin bersiut dan menderu. kami mendaki celah-celah gunung. Tanpa kuda. Kami selalu bepergian. dan segera lenyap di balik kaki langit. namun yang maknanya seperti selalu menghindari kepastian. Kuda-kuda kami masih terus berderap. kami mengarungi gurun pasir. Jangankan berpacu yang begitu menggembirakan. Kami selalu berpindah sesuai dengan pergantian musim. Selama berjam-jam kami akan berpacu dan kami akan tahu bahwa pemandangan ini tidak akan pernah berubah. Begitu luasnya padang gurun ini sehingga kami merasa berjalan di tempat. Semua ini tak bisa lancar tanpa kuda sepanjang pengembaraan. dan kuda-kuda kami tetap setia mengikuti sampai akhir tujuan. Seekor ikan salmon menangkap umpan dan tersendal pancing ke udara ketika kami berpacu. Kami terus-menerus berderap sepanjang padang. Benarkah seekor gajah menegakkan belalainya dan melengkingkan bunyi terompetnya nun entah di mana ketika kami berpacu? Seseorang mendayung perahu menuju matahari terbenam ketika kami berpacu. Burung-burung kondor beterbangan melingkar di langit mengincar pengembara yang sekarat kehausan ketika kami berpacu. tapi kami tidak juga ingin berhenti. menancap kemerahan bagai kuil yang menanti penziarah dari segenap 159 . apalah artinya kami? Kuda-kuda kami selalu mengerti apa yang kami inginkan. Langit hanya biru. bahkan perjalanan berminggu-minggu di dalam hutan yang melelahkan pun kami lakukan asalkan kami bisa mencapai tempat tujuan. namun kami selalu berangkat kembali. dan mereka selalu memenuhi segala kehendak kami dengan memuaskan. Kami bisa berhenti dan menetap di suatu tempat untuk satu. Kini kami semua sudah siap menempuh perjalanan yang terakhir. “Huuuuu! Huuuuuu! Huuuuuuu!” Kami berderap dan berpacu memburu matahari yang terbenam ke balik cakrawala. Kami berpacu. dan kini kami berpacu di tengah padang tanpa tepi. perjalanan angin. Hutan di belakang kami kini bagaikan titik-titik hitam. berpacu. selalu berpindah. Kami menyeberangi sungai. Kami bersedia membayar segalanya untuk perasaan merdeka yang kami dapatkan. selalu bertualang.

menjadi bayang-bayang kehitaman yang melesat ke suatu arah. musim dingin belum berakhir sehingga sepuluh danau itu masih menjadi dataran salju.. Beberapa orang masih minum susu hangat yang beraroma teh. dari lembah ke lembah. "Maka sang raja pun jatuh cinta kepada wanita dari negeri seberang itu. Kami memuja rembulan dan matahari. Kami menyembah langit. Tapi apakah rembulan mengerti arti lagu seruling itu? Seruling itu berkisah tentang riwayat kami yang panjang dengan bahasa kami sendiri. ketika kami akhirnya sampai ke lembah itu. Di setiap api unggun masih tampak orang-orang membakar sisa-sisa daging perbekalan mereka dan mengunyahnya dengan lahap. Apakah rembulan bisa memahami. Namun. orang-orang yang mengendarai kuda dengan tertunduk. kami menyembah bumi. Ia meniup seruling di atas tebing. dan mendengarkan seseorang bercerita.. dari bukit ke bukit.000 orang dari kami berkemah.bahkan rembulan seperti turun ke bumi hanya untuk mendengarkannya meniup seruling. seolah-olah berhadapan dengan rembulan . Seseorang dari kami tampak meniup seruling di kejauhan itu. Bukit-bukit batu yang menjulang dan membentuk lembah ini melindungi kami dari angin sehingga kami bisa menyalakan api unggun. Lembah Sepuluh Rembulan adalah suatu lembah gersang dengan dataran yang sangat luas. betapa berat penderitaan suku kami sepanjang perjalanan mengarungi benua itu.000 pasukan berkuda. Kalau matahari itu menghilang di balik cakrawala. cahayanya dipantulkan kembali oleh permukaan danau yang diselimuti salju. kami harus memburunya ke balik cakrawala." Kami selalu membutuhkan cerita. sementara seorang nenek tua bersenandung dengan suara buruk tentang tanah air yang sudah mereka tinggalkan. Ada sepuluh danau di lembah yang luas membentang itu dan seharusnya ada sepuluh rembulan mengapung di atas sepuluh danau. 10. semenjak begitu banyak tahun yang telah lama berlalu. dan anak-anak yang tidur dengan gelisah di dalam gerobak-gerobak penuh barang dan bahan makanan. Kami berderap dan berpacu menuju matahari itu. Kami siapkan kantung-kantung tidur dan selimut kami. Di setiap danau itu setiap 1.penjuru bumi. menghadapi segenap rintangan alam maupun suku-suku musuh kami? Apakah rembulan mampu menangkap gelora semangat pengembaraan kami? Tak terhitung lagi berapa orang telah mati dan berapa bayi telah dilahirkan sepanjang perjalanan dari kampung ke kampung.000 saudara-saudara kami. 160 . Di Lembah Sepuluh Rembulan inilah kami akan menunggu 100. Kami. Kami membiarkan kuda kami menjilati lelehan salju dan merumput di sana-sini. *** Tempat itu dinamakan Lembah Sepuluh Rembulan. Langit masih membara. betapa nun di sebuah benua yang jauh bertahun-tahun yang silam suku kami berkemas untuk sebuah perjalanan yang tak kami ketahui kapan akan berakhir? Apakah rembulan mengerti. Berkisah tentang kafilah panjang yang menyeberangi gurun. seruling. Ia meniup seruling sambil duduk di sebuah batu di atas tebing.. dan kuda. Kami mencintai keindahan seperti mencintai kehidupan itu sendiri. Bila bulan yang perak itu muncul di langit malam.

Bertengger di atas sana. Tenda-tenda kami adalah tenda yang besar dan hangat. makin lama makin menghilang. tapi juga karena kulit berbulunya yang tebal kami butuhkan untuk membuat tenda. anak-anak. “Hooooiiiii! Mereka sudah datang!” . 161 *** Setahun kemudian seorang pengawal di atas tebing berteriak. sudah berabad-abad bentuk tenda kami tidak pernah berubah. melanjutkan kerinduannya yang panjang akan kampung halaman kami yang terletak di sebuah dataran tinggi di tepi sungai. dan kami menyukainya karena memang tidak pernah ingin kehilangan masa lalu kami yang semakin hari serasa semakin indah. Kadang kami tidak tahu apa yang harus kami perbuat. Gemeretak api unggun segera berakhir. Betapa segala hal di muka bumi ini saling berkaitan. Barangkali kami akan memanfaatkan waktu untuk berburu. Kami. Kemudian. Kami sudah menempuh perjalanan yang panjang dan kini kami ingin tidur. Kami mengerti betapa angin akan mengembara ke segenap penjuru bumi. Di Lembah Sepuluh Rembulan hanya terdengar desau angin. Suara-suara itu dibawa angin ke bukit-bukit di mana anak-anak gembala memainkan serulingnya sambil tiduran di atas kerbau -. 10. bahkan ia menyeberangi samudera mahaluas. tiada yang mendengkur sama sekali. Kami pasrah. dan orang tua. bukan hanya karena daging binatang buruan kami perlukan untuk menimbun perbekalan yang mulai menipis. Sesekali tertutup awan. Angin masih terus bertiup dan tak akan pemah berhenti. tertidur dengan pulas. Kemudian. karena musim dingin yang selalu berangin akan terus-menerus menguji ketabahan hati kami. menghubungkan kami dengan segenap unsur kehidupan. Betapa selalu masa lalu berada dalam diri kami. menjelma gambar-gambar yang berkelebat dari masa lalu kami. sementara di kejauhan terdengar gemerincing anting-anting dari daun telinga yang panjang itu dicuci. Seruling itu mengingatkan kami kembali kepada kampung halaman leluhur kami yang sungainya tidak pernah membeku. akan membutuhkan tendatenda itu. dengan latar belakang pegunungan yang menjulang megah.000 pasukan berkuda. peniup seruling itu masih di sana. ketika suara seruling itu lenyap ke balik malam barangkali kami masih mendengarnya di dalam mimpi-mimpi kami. Rupa-rupanya bulan yang turun mendengarkan suara seruling mengangkasa kembali.000 saudara-saudara kami tiba. Maka terlihatlah gerak cahaya rembulan yang memantul di dinding-dinding batu. mereka yang sebagian terdiri dari wanita. Ketika kami semua bersiap tidur dan memandang bintang gemintang di langit. Apabila 100. di mana bila senja tiba di tepi sungai akan terdengar derai tawa ceria gadis-gadis yang mandi.inikah sebabnya suara seruling itu membuat kami diam? Kami sedih.Apakah yang akan kami lakukan selama hari-hari penantian kami? Tidur tanpa tenda adalah suatu siksaan yang berat bagi kami. Tinggal bara api menyala diam-diam. tinggal kesunyian di Lembah Sepuluh Rembulan. Di dalam tenda itu kami bisa memasak sekaligus menghangatkan diri kami.

Semua ini menggetarkan jiwa kami dan kami merasa betapa setiap detik dalam hidup kami sangat mempunyai arti. Tentu ada yang mati dan lahir sepanjang perjalanan. dengan gerobak. Masing-masing dari kami kemudian berhenti dan berhadapan.Kami semua segera melompat ke atas kuda. sebagian dari mereka yang mengendarai unta dan berkuda segera melesat ke depan ingin segera bertemu dengan kami. kami berlari-lari turun dari bukit. bendera. namun kami juga tahu hari-hari kami akan lebih menggembirakan. Tak kurang dari 100. Mereka semua telah menempuh perjalanan yang panjang di jalan yang telah kami rintis. Hari sudah menjelang senja. siap menempuh perjalanan untuk mati. Sebagian yang lain malah langsung keluar dari celah lembah.000 saudara-saudara kami yang masih merupakan sosok-sosok hitam di kaki langit itu. pemandangan yang kami nantikan. Angin begitu dingin. Kemudian kami melihat panji. dan memacunya ke tempat-tempat yang tinggi. namun betapa dari sinar mata mereka terpancar jiwa pasrah dan ikhlas. Rombongan yang terdepan itu masih menanti mereka yang terseok di belakang. menari di atas perahu. memetik kecapi di puncak bukit. Suku kami telah bersatu kembali di bawah langit dan bumi yang sama. Berkibar dengan megah. Sosok-sosok hitam itu makin lama makin membesar. Kami tahu hari-hari akan menjadi lebih berat. Ketika saudara-saudara kami melihat kami datang menyambut mereka. Mereka yang terdepan akhirnya bertemu muka dengan kami. langit bagai tenda raksasa berwarna ungu. namun tiada akan ada satu pun halangan kini bagi kami untuk mengungkapkan sukacita kami. Lebih banyak lagi yang berjalan kaki. bergetar-getar dalam tiupan angin. berderap dan berpacu. Senja itu langit yang ungu serasa begitu cerah. Begitulah kami akan membaca puisi di tepi danau. Saudarasaudara kami masih merupakan sosok-sosok hitam yang seolah-olah berjalan di tempat. kereta. Seperti apakah mereka kini? “Huuu! Huuuu! Huuuu!” Kaki-kaki kuda. Dengan segera. gajah dan unta.000 saudara-saudara kami muncul dengan meyakinkan dari balik kaki langit. Dengan perasaan yang sangat tidak sabar dan menggebu-gebu. Kami menyatu kembali dalam gairah kehidupan yang panas. dan umbul-umbul yang sama. Tentulah jumlah mereka sudah tidak genap 100. seperti yang sudah-sudah. dan terbentanglah di hadapan kami pemandangan yang menggembirakan itu. seluruh pakaian mereka usang dan kelabu. kami menggebu menyambut 100. Kami menggebu dengan perasaan rindu dan penuh dengan cinta. Kami semua turun dari kuda. langsung melompat ke atas kuda kami. “Akbar!" “Abdul!” Kami semua berpelukan dengan penuh rindu dan penuh dendam. Wajah-wajah mereka tampak lelah dan kuyu.000 orang lagi. kami baru akan mengetahuinya nanti. penuh dengan debu. Tiada yang lebih menggairahkan selain kehendak yang menggebu menjumpai orang-orang tercinta. dan melakukan meditasi bersama dari malam sampai pagi di bawah 162 .

Saudarasaudara kami yang baru datang itu begitu lelah dan begitu kurus sehingga agaknya kami masih akan bertahan beberapa lama lagi di sini sebelum kelak berkemas dan berangkat kembali.000 orang itu datang pada musim dingin. menyeberang dari benua ke benua hanya untuk selalu pergi dan tak akan pernah kembali? Kami terus-menerus saling berpelukan dengan jerit dan tangis yang makin menjadi-jadi.rembulan dan matahari. Kami semua menemukan masing-masing keluarga. begitu juga unta dan kudakuda kami. Kami membagi diri kami berdasarkan pemukiman di sepuluh danau sehingga setiap 10. Kami begitu siap untuk bahagia. begitu mengerti. kami menyalurkan kebahagiaan kami dengan suatu cara yang hanya kami bisa melakukannya. Kami tidak bermabukmabukan dan lupa daratan. Bahkan ketebalan es di atas danau itu mampu menahan beban gajah yang berjalan di atasnya. dan kini begitu kurus. Langit memberkati kami. kami mengatur pengelompokan sesuai dengan asal-usul setiap keluarga di kampung kami.000 orang dari pasukan berkuda kami. Dalam perjalanan itu 53 orang dari kami meninggal. Paduan suara lagu kami dipantulkan kembali oleh dinding-dinding tebing dan semua ini hanya mengingatkan betapa kami sebagai manusia sungguh memiliki nilai yang hakiki. Betapa mereka begitu tabah. Maka begitulah kami segera bekerja begitu tiba di Lembah Sepuluh Rembulan. sementara itu 53 bayi dilahirkan sehingga jumlah saudara-saudara kami yang baru datang itu tetap genap berjumlah 100. 163 . Mereka begitu jinak. Kami tahu kami akan menyanyi dan menari malam ini. dan kami menguburkannya di tengah jalan. Kini semuanya sudah berada di Lembah Sepuluh Rembulan. tapi siapakah yang akan bisa tampak terurus dalam perjalanan panjang. tapi kami menahan kegembiraan meluap kami sebagai bekal menahan penderitaan pada masa-masa yang akan datang. Wanita dan anak-anak kami berambut kasar dan merah. bisa melihat bagaimana sepuluh rembulan itu mengapung di atas sepuluh danau selama musim panas yang tetap saja dingin. Semua orang tampak tak terurus. jadi mereka hanya melihat sepuluh danau yang membeku.000 orang.000 orang. kami berjalan kembali ke Lembah Sepuluh Rembulan sambil menyenandungkan lagu syukur dari hati. Kami akan membagi arak dan anggur dan kami akan menuangkannya ke atas daging bakar yang merah berasap membangkitkan lapar. Kami mendirikan tenda bagi orang-orang yang sakit. Gajah-gajah yang kami bawa berbulu tebal. Adapun pasukan berkuda yang merintis jalan masih tetap berjumlah 10. “Sarita!” “Maneka!” Mengapa kita bisa terus-menerus memikirkan seseorang meskipun kita berjarak begitu jauh dari seseorang itu dan telah berpisah begitu lama sehingga kadang-kadang sebenamya susah mempertahankan ingatan atas seseorang itu dari hari ke hari dalam suatu perjalanan yang terus-menerus berubah warna? Namun. Kami akan membakar daging rusa dan kami akan memakannya sepuas hati.000 orang dari saudara-saudara kami yang baru tiba akan bergabung dengan setiap 1. betapa tiada jarak lagi kini bagi kami. Kami yang telah tinggal di sini selama setahun. Kami menatap saudara-saudara kami yang baru tiba dan merasa sedih meskipun gembira. dan begitu penurut sehingga kami sungguh berterima kasih dengan segala pengorbanan mereka dalam perjalanan kami. Saudara-saudara kami yang 100.

namun seperti tidak mendapat halangan jika berjalan di dalam hutan. 110. Pada musim semi danau masih membeku. khusyuk dan meyakinkan. kaki mereka yang besar menapak dengan lincah di jalan setapak dan keseimbangan gajah-gajah ini sangat baik dalam pendakian dinding-dinding yang curam. 164 *** Sudah berbulan-bulan kami terus berjalan. dan setiap orang yang melihatnya tersenyum dalam hati. Semua orang yang pergi mendahului mati dalam pelukan cahaya. Rombongan kami membentuk barisan yang panjang bila melewati celah yang curam. kuda dan unta melangkah pelan tapi pasti seperti doa yang diucapkan perlahan. merayap di jurang yang curam. namun rerumputan menjadi lebih hijau. berjalan. tapi kami rombongan 110. Barangkali mereka juga melihat cahaya itu yang hanya bisa ditatap dengan mata hati di langit jiwa masing-masing yang mengerti dari mana hidup ini datang dan ke mana hidup ini pergi. dan hewan-hewan peliharaan yang tak boleh ditinggalkan. 110. menyebar seperti semut bila tiba di padang terbentang. Tentu mereka tahu jalan yang terbaik buat gajah sehingga kadang-kadang mereka harus memisahkan diri untuk bertemu lagi di suatu tempat lain. Mata mereka mengatakannya. Ada semacam cahaya dari langit dalam hati yang terus-menerus bergerak setiap kali kami melangkah mendekatinya. Kadang-kadang perpisahan ini bisa sampai berharihari lamanya.Begitulah selama beberapa bulan yang tenang kami tinggal di Lembah Sepuluh Rembulan. Kami semua. Dari atas tebing kami menoleh untuk terakhir kalinya ke Lembah Sepuluh Rembulan. menempuh ngarai. Kami. Kami terus-menerus berjalan dengan hati yang terpaut kepada cahaya. orang sakit dalam tanduan. Sebelum matahari terbit kami sudah berangkat lagi. menembus badai.000 orang. mendaki gunung-gunung batu. Kami berjalan menapaki jalur di antara lembah. Gajahgajah ini berbadan besar. dengan bayi di gendongan.000 orang. dan berjalan mengarungi gurun. jalanan setapak berlumut yang begitu licin dan terlalu sering memelesetkan. Kami. 110. kami semua. Kami melihat sepuluh rembulan mengapung di atas sepuluh danau.000 orang. Bayi-bayi seperti tahu diri untuk tidak menangis. Kami jarang bercakap-cakap di antara kami karena hati kami sekarang hanya berisi penyerahan diri kepada kehidupan. bahkan mata mereka pun bagai menatap sesuatu yang penuh dengan pesona. Begitulah kami berjalan. lemah. Kami berangkat pada pagi subuh. berkemas dan bersiap melanjutkan perjalanan. Kami tidak pernah memacu kuda kami kecuali jika kami putuskan berhenti sebentar untuk berburu. dan lumpuh kami naikkan ke atas gajah-gajah kami yang masih setia.000 anak manusia terus-menerus melangkah. Ketika tiba musim panas. Mereka yang telah menjadi tua. melangkah perlahan-lahan menapaki jalan yang telah dikodratkan bagi kami. sementara yang lain meneruskan perjalanan.000 orang dengan segala hewan peliharaan tidak pernah benar-benar saling terpisah. Begitulah di antara kami kemudian ada yang meninggal dan kami pun segera menguburnya tanpa meninggalkan upacara yang diharuskan. 110. maka sebagian dari kami pun berhenti mengurusnya. Mereka yang mati . Bulan masih menggantung di langit. Kadangkala tiba saatnya seorang wanita harus melahirkan di tengah jalan. dan menapaki gigir-gigirnya yang mengerikan. dan menyeberangi sungai. Ketika matahari terbenam kami semua beristirahat dan tidur.

kami kemudian merasa terbimbing oleh tanda-tanda cahaya dalam jiwa kami yang penuh dengan keyakinan. dari dongeng ke dongeng. meskipun matahari terbenam yang jingga itu begitu memukau di latar langit yang ungu. menuju sebuah dunia di alam sana yang hanya bisa dihayati setelah kematian. Namun kami tahu. Kami. Kami melangkah. 110. Dunia kami memang berubah semenjak menerima tanda-tanda yang begitu memikat untuk diberi tanggapan. Setelah bertahun-tahun menempuh perjalanan yang serasa alangkah panjang dari benua ke benua. Kami semua terpana dan terpesona dan merasa segala-galanya tiada berarti lagi selain keinginan untuk menuju sumber suara dan mimpi-mimpi itu. Itulah dunia yang kami rindukan. terus-menerus berjalan. Kami semua bisa mengalami mimpi-mimpi yang sama dari malam ke malam yang penuh keanehan di mana bunyi genderang terdengar dari langit dan dari seberang sungai bagaikan terdengar paduan suara yang mengalun merdu dan menyejukkan. Kami tak lagi mengerti apakah mimpi-mimpi kami merupakan warisan darah yang diturunkan ataukah memang datang dari langit malam yang penuh dengan khayalan.000 anak manusia. dunia yang kami impikan dari abad ke abad. ini bukanlah tempat yang dimaksudkan dalam mimpi-mimpi kami tentang tempat yang terindah untuk menuju kematian karena tempat itu memang tidak terletak di muka bumi ini. Dari hari ke hari. menapak pelan. Dari gurun ke gurun rombongan kami berjalan. 165 *** . Arwah mereka membubung menyusuri cahaya. Kami melewati desa dan kota yang penduduknya melihat kami lewat bagai pawai panjang dari sebuah tontonan yang mengherankan. masih terus-menerus berjalan di atas bumi yang fana. Tentu saja kami masih selalu teringat betapa pada awal keberangkatan segalanya terasa menggemparkan. Orang-orang tua di kampung mengatakan bahwa suku kami selalu mengalami hal-hal yang demikian semenjak abad-abad yang telah lama silam. Dalam kenangan kami masih tergambar dengan jelas betapa di tempattempat yang kami lewati pemandangan terpampang begitu indah sehingga kami kadangkala merasa terkecoh karena mengira inilah tempat yang kami rindukan. sudah lama juga kami tidak menjumpai tempat pemukiman maupun binatang.dalam perjalanan ini sebenarnyalah mati dalam kebahagiaan. dengan kepastian bahwa jalan cahaya itu akan kami temukan. Sebegitu buruknyakah kehidupan sehingga kematian bisa menjadi impian terindah bagi 110. Kami berangkat meninggalkan sebuah negeri di sebuah pulau yang segera menjadi kosong. semakin banyak tanda-tanda dalam mimpi-mimpi malam kami dan betapa kami semua semakin merasa bahwa hanya dengan menuju tempat yang kami inginkan itulah terletak arti kehidupan kami. Langit merah di kaki langit. dari segala keinginan dan kehendak yang sejak lama terlukis di gua-gua leluhur kami yang begitu gelap di mana mereka merindukan cahaya keabadian.000 orang yang tadinya hidup tenteram di tepi sebuah sungai dengan latar belakang pegunungan biru yang menjulang bagai tempat persemayaman dewa-dewa dari suatu dunia entah di mana bagai negeri yang hanya ada dalam dongengan? Kami pergi meninggalkan kampung halaman kami dengan meninggalkan segala kebahagiaan yang telah kami dapatkan demi panggilan dari cahaya dalam mimpi-mimpi kami. Maka begitulah hidup kami berubah ketika mendadak kami semua harus berkemas mempersiapkan sebuah perjalanan yang belum bisa diketahui berapa lama dan kapan akan berakhir.

Garis cahaya yang meluncur sepanjang kaki langit melingkari kami. namun kami melihat segalagalanya memutih diserap cahaya. Kami belum lagi mengerti kebahagiaan macam apakah yang masih bisa kami dapatkan lagi dalam kehidupan yang abadi. panji. Tubuh kami bergetar dengan hebat dan kami merasa kecut. sepatu. Kami tetap menunduk dengan perasaan tercekat. Tiada suara yang menggelegar. Pastilah dunia ini begitu luas dan begitu penuh kemungkinan sehingga jalan cahaya dalam impian ternyata mampu menampung 110. Kami menanak sarapan pagi kami dengan percakapan sesedikit mungkin dan kami makan perlahan-lahan tapi pasti untuk meyakinkan betapa kami akan menyambut saat-saat terbaik dalam hidup kami dengan perut terisi. Kami tahu semuanya akan pergi dan berlalu seperti juga berakhimya perjalanan kami yang terlalu sulit untuk bisa diceritakan dengan kata-kata. Dari balik kabut itu. Kami membasuh wajah dan telapak tangan kami dengan segantang air dari masing-masing perbekalan kami. tampak kuda-kuda kami yang perkasa menatap kami dengan pandangan seolah-olah mengerti tentang segala hal yang akan terjadi.Kemudian. mereka pun banyak yang mati sepanjang perjalanan. kami telah melakukan perjalanan bersama cahaya ke suatu tempat yang tiada tertera dalam peta mana pun di muka bumi. dan kuda-kuda. Kami hanya bisa menunduk dan merendahkan diri.000 orang seketika lengkap dengan hewan-hewan peliharaan dan itu pun ternyata belum apa-apa. Padang rumput memutih. Langit ungu muda. Kami mencoba mengingat segala sesuatu yang berwarna dari kenangan dan mimpi-mimpi kami. tibalah kami pada suatu pagi di mana kami setelah bangun dari tidur yang panjang merasa tidak usah berjalan ke mana-mana lagi. kami menikmati setiap detik dari saat-saat kebahagiaan kami yang fana. Kulit hewan peliharaan kami pun memutih. unta-unta. Kami merasa sangat berterima kasih kepada hewan-hewan peliharaan kami dan kami merasa lebih dari layak bisa membawanya membubung ke Negeri Cahaya. Tanpa diperintah setiap orang lantas melakukan semua persiapan untuk menanti saat itu. Kemudian kabut menjadi semakin tipis. segala-galanya memutih. namun cahaya itu menembus dunia angan-angan kami sehingga segala sesuatu yang kami pandang dengan mata terbuka maupun tertutup berwarna putih. mengambang. hanya tegak di atas lutut kami. memang. Tiada mega di langit -. seperti juga seluruh busana terbaik yang kami kenakan. Semua orang mempersiapkan dirinya tanpa kata tanpa angan-angan tanpa pertanyaan karena semua ini telah mengisi jiwa dan pikiran kami selama melakukan perjalanan bertahun-tahun mengikuti cahaya di dalam langit jiwa kami. bendera dan umbul-umbul kami yang berwarna merah pun memutih. namun kami selalu mendapatkan gantinya. Sembari berjalan kian kemari setelah mengenakan busana terbaik yang kami miliki. Cahaya yang terang menyilaukan segera memutihkan dunia kami. Hewan-hewan peliharaan kami pun seperti tampak mempersiapkan diri. Maka langit pun terkuak dan kami terkesiap. memang langit yang ungu membiru dan menggelap di kaki langit masih seperti sesuatu yang terdapat di muka bumi tapi bukan langit yang ungu membiru dan menggelap di kaki langit masih seperti sesuatu yang terdapat di muka bumi. memang masih seperti hamparan salju yang terpoles di sana-sini dengan hewan-hewan ternak berbulu tebal tapi bukan hamparan salju yang terpoles-poles di sana-sini dengan hewan-hewan ternak berbulu tebal. Kami tahu betapa ketika kami menutup mata dan kemudian membukanya lagi. memang. kulit 166 . Memang masih seperti gunung-gemunung tapi bukan gunung-gemunung. dan pergi. namun dada kami berdebar bagaikan terdengar suara yang menggelegar.kami merasa saat-saat itu memang segera akan sampai. Gajah-gajah. Inilah pagi yang berembun dan berkabut yang perlahan-lahan berpendar menampakkan siapa berada di selatan dan siapa berada di utara.

atau meneruskan perjalanan? Setelah bertahun-tahun menjadi bagian dari suatu perjalanan panjang ke satu tujuan kurindukan diriku sendiri yang selalu berbisik perlahan-lahan. dalam penyucian cahaya berkilatan. Sudah begitu jauh aku berjalan. Tiada lagi angin bertiup. Tiada yang lebih penting lagi kini selain perjalanan menuju ketiadaan. Apakah aku harus berhenti. betapa bisa cahaya kesaksian tiada melihat kebohongan? Kulihat satu per satu dari kami.000 anak manusia. sendiri-sendiri maupun bersama rombongan. dari selatan sampai ke utara. Sungguh semua ini terlalu menarik untuk ditinggalkan. segalanya memutih lantas mengertap berkilauan seperti cahaya itu sendiri. gua pelangi yang menyilaukan. dengan atau tanpa badan. tiada lagi debu mengepul. 110. Lantas kami alami bagaimana jiwa kami diluncurkan. Begitulah rombongan kami. begitu pula kami jalani kodrat kehidupan kami dengan tulus dan penuh keyakinan dengan perasaan bahwa semua ini memang suatu anugerah yang terlalu menyenangkan. bayi menangis. kemudian tidak bisa saling melihat karena di sekitar kami hanya cahaya yang berdenyar-denyar menyilaukan membuat kami masing-masing untuk pertama kalinya merasa sangat sendiri setelah dari hari ke hari hampir selalu bersama-sama semenjak dilahirkan di kampung kami.999 anak cahaya melebur ke dalam cahaya gemerlapan. Langit yang berlapis-lapis memeluk jiwa kami dan kami kemudian merasa mampu berada di segala arah. semakin aku merasa diriku bukan bagian dari rombongan. dengan segala derita dan pengabdian. Kini kami semua telah menjadi anak cahaya yang memutih dan tidak saling mengenal perbedaan-perbedaan kami karena kami semua hanyalah anak-anak cahaya yang saling menyilaukan dan saling melupakan. semakin aku terikat kepada kenangan. namun seperti juga air sungai dari sebuah sumber mata air di puncak gunung yang mengalir menuju lautan. dan suara seruling dari atas tebing pada malam bulan purnama. dari cahaya ke cahaya. secara serentak tanpa harus merasa berada di tempat yang berlain-lainan. kuda-kuda berpacu.*** . 109. Kulihat 109. Semakin jauh aku berjalan.dan rambut kami. kelak-kelok labirin yang memusingkan. Begitulah kami semua. dari barat sampai ke timur. tujuh matahari. Begitulah kami menyerahkan diri dengan segala dosa dalam tubuh dan jiwa untuk disucikan oleh cahaya itu sebelum kami berangkat ke akhir tujuan kami. kemah-kemah awan. Aku melihat seribu cahaya berenang dan berkelebatan. Tinggal aku sendirian. 167 *** Kulihat di sepanjang langit. Dari kelam ke kelam. menaiki kuda putih di atas awan. melihat-lihat pemandangan. dan berdoa di dalam tujuh kuil di atas awan.999 anak cahaya. Hanya zat yang hanya bisa merasa bahagia di jalan yang terindah menuju kematian. Tiada yang lebih berharga lagi selain keindahan dalam kematian. Barangkali ini memang tempat yang terindah untuk mati. Tiada lagi yang bisa kami lakukan selain meneruskan perjalanan. bangkit kembali dari tumpuan lutut kami dan kembali menaiki kuda-kuda kami menyusuri jalan cahaya di langit yang telah terhampar di hadapan kami. ditelan gua-gua kebahagiaan di atas awan. Kami berangkat melewati tujuh rembulan.

Jakarta. Maret-Juni 1996 (Dimuat dalam Horison. Juli 1996) 168 .Ulaanbaatar .

ke sana lagi! Lihat dari sana. orang yang dirasakannya benar menjadi penolongnya di hari tua. Di sebuah onggokan ia berhenti. sambil mengibas-ngibaskan tangannya.” gumamnya. Seraya melangkah ia mereka-reka kembali rencananya yang sudah bermalam-malam bersama menantunya..” kata Okayama. Negeri ini indah sekali. Wajahnya jadi cerah seperti langit yang ada di atasnya. Ia senang mengikuti petunjuk Pak Marta. menyapu lautan yang biru dan mengikuti gelombang yang beruntun bergantian sampai ke pantai. tetapi . kepada penduduk di kampung itu.. Dari kejauhan ia berteriak dalam bahasa yang jauh daripada dikuasainya. “Bagusu-neh! Bagusu-neh!” ulangnya di depan Pak Marta. yang kali ini tertinggal di Osaka. “Massugu! Massugu! Maju lagi! Maju lagi! Ayo. lalu menatap ke kejauhan. Subarkah. Nikmat benar dirasakannya menerawang.. mengikuti anjuran Pak Marta. “Hay! Hay!” kata Okayama sambil lari-lari kecil.” Ia seperti mau menjelaskan kepada semua pihak. “Aaahh. sahabat besannya.Enclave* Oleh: Ramadhan KH “Arigato gozaimasu! Arigato gozaimasu!” (Terima kasih! Terima kasih!). bagus) sambil melambai-lambaikan tangannya. Michiko. kepada pepohonan dan binatang-binatang 169 . bagusu-neh. senang. “Tetapi . Gembira sekali. “Tempat ini bagus sekali. Bukan tanah saya. beberapa kali.. lalu menarik senyum sendirian. mengikuti goresan kaki langit. melihat lautan itu dari tempat yang lebih dekat ke pantai. Ini tanah Subarkah dan Michiko.” Pak Marta menganjurkan Okayama supaya melangkah lebih jauh. Okayama-san mengucapkan kata-kata itu sambil membungkukkan badannya dalam-dalam. Sungguh. membicarakannya. senang. dengan perasaan haru dan suara hikmat ia lepaskan isi hatinya itu dengan tulus. “Senang? Senang punya tanah ini?” tanya Pak Marta dalam bahasa Jepang. Ia merasa benar-benar gembira. Beberapa meter di depannya berdiri Pak Marta yang menerima ucapan terima kasih Okayama itu. tetapi sudah mulai dipelajarinya dengan tekun: “Bagusu-neh. Dan tentu saja ia pernah merundingkannya juga dengan anaknya.” (Bagus. tidak ikut terbang ke Jakarta. dari tepian yang lebih jauh. ini bukan tanah saya.

diikuti oleh Okayama-san. apalagi di seputar Tokyo. Okayama yang sudah pensiun dan ditinggalkan istrinya meninggal tiga tahun yang lalu. Asal diurus. adalah disebabkan pengetahuannya bahwa di Jepang mustahil ia bisa membeli tanah seluas itu. di tepi Samudera Hindia yang elok itu. sehingga mereka mendapatkan tanah ini. di dalam surat-surat jual belinya. Pak Marta mengajak bicara Okayama-san dalam bahasa Jepang. bahwa tanah itu bukan miliknya. tertawa lebar. Dan ia gembira. Bicaralah lagi Okayama-san dalam bahasanya. Bahwa Okayama-san. “Untuk siapa lagi uangku itu kalau bukan untuk Michiko (anak tunggalnya). bisa tentu bisa. bisa hidup di sini. Michiko. Juga Subarkah. anak-anak saya akan mendirikan rumah di sini. pohon pisang. Disebutnya di sini. Ia masih bisa berbicara dalam bahasa yang dulu pernah dikuasainya dengan benar selama jaman Jepang. Lihat itu. Sebab itu ia berikan uang senilai empat puluh juta rupiah. Tanahnya. Hahahaha. sudah menolong anak-anak saya. Sekarang.” jawab Pak Marta. uangnya bisa dipakai anaknya untuk membeli tanah di tepi pantai di daerah Sukabumi Selatan itu. Bakal jadi bagus.” Pak Marta tertawa. Michiko. kini merasa senang. bisa memiliki tanah seluas satu hektar lebih. dicampur sedikit dengan tanah dari kebun saya di Cisaat. bisa. karena mahalnya. “Saya sekali lagi mesti mengucapkan terima kasih kepada Pak Marta-san. kemungkinan besar ia sudah dikirimkan ke Negeri Sakura untuk melanjutkan sekolahnya.yang ada di sana. pisang yang disukai Okayama-san. sebegitu yang diperlukan Michiko. Okayama sudah punya gambar bentuk rumah yang akan dibangunnya di atas tanah milik keturunannya itu. melainkan milik anaknya dan menantunya. Sebuah rumah potongan Jepang dengan jendela-jendela dan atap 170 . Bukan spesial karena istrinya jadi pemilik tanah itu di sana. Tapi jangan minta pohon sakura tentunya. pisang lumut. Kalau tidak terpatahkan oleh kekalahan Jepang dalam peperangan. orang menjual tanah dengan ukuran jengkalan. pisang raja. di tepi pantai di Sukabumi Selatan itu. sangat gembira. Ia pun senang bisa membuat mertuanya gembira. pohon-pohon kelapa bagus-bagus di sini. di hari tuanya. Kalau terlaksana. Bagus sekali tanah ini. “Apa bunga anggrek bisa tumbuh di sini?” “Bisa. Malahan terakhir sudah dicantumkan dalam sertifikatnya. Di Jepang. dengan kebunnya yang bagus. ia memilikinya juga. Di atas tanah seluas satu hektar lebih milik Michiko itu. sekarang sudah ada rumah kecil yang masih sederhana. sang menantu yang juga ada di sana mendampingi sang mertua. dan setiap kali berada di Sindanglaut untuk barang dua atau tiga bulan. Nyonya Subarkah. Tidak ada tanaman yang tidak bisa tumbuh di sini.” Okayama pernah berpikir. Lihat. Ia merasa. bahwa tanah itu milik Michiko. melainkan karena mertuanya bisa mendapat kesibukan yang bakal disukainya: bercocok tanam. sejuta Yen sejengkal. Apa pohon kaki (kesemek. bukan meteran.” jawab Pak Marta meyakinkan sambil menatap Okayama. pohon kesemek. untuk membeli tanah di kampung Sindanglaut. bahwa Subarkah menetapkan. Tapi nanti rumah tua itu akan diganti dengan bangunan yang bagus. punya rencana berlibur tiga kali dalam setahun. Waktu itu ia duduk di sekolah menengah di Bogor dan terkenal di antara sesama teman sekolahnya sebagai murid yang paling pintar bahasa Jepangnya. anaknya. Tetapi hati kecilnya tidak bisa membohonginya. pisang ambon. tanah itu atas nama istrinya. bahasa Jepang) bisa tumbuh di sini?” “O. karena uang yang dibelikan tanah itu adalah uang simpanannya. “Semua tanaman bisa hidup di sini.

” kata Okayama-san kepada Kakutani-san yang juga mempunyai cukup uang simpanannya. “Kamu kan belum punya istri lagi.. dengan uang yang sudah diperhitungkannya cukup. kamu bisa dapatkan seorang. di mana letaknya Sidanglaut itu. selain ada laut yang bagus.. bagaimana saya bisa membeli tanah di sana? Saya kan tidak punya menantu orang Indonesia. besan Okayama. saya akan kawin lagi. “Beneran.. seperti sudah tidak punya harapan. Saya pun waktu lewat di sana.” cerita Okayama kepada Kakutani. Hahaha! Dan.” 171 . segera ia bercerita kepada Kakutani bahwa ia baru saja membeli tanah di Indonesia. Cantik-cantik. “Dan bagusnya.” kata Kakutani dengan nada rendah. Saya pernah dibawa oleh kenalan saya lewat di sana. “Dan istimewa lagi. badak yang terkenal.. pemandangan seputar itu. bagusnya pemandangan di sana! Luar biasa! Pasti kamu pun akan suka. Di Kadupandak itu banyak sekali yang cantik. ada daerah yang masih dihuni oleh badak. melihat binatang langka?” “Ya. dan sebagainya dan sebagainya. waktu datang di Osaka. bahwa wanita itu benar cantik walaupun sudah ada usia. Tinggal tidak berjauhan. merasa jadi muda kembali. “Pasti ia cantik sekali waktu mudanya. bukan mimpi pagi. dengan uangmu yang ada di bank sekarang. Cantik-cantik lho.” komentar Kakutani di dalam hatinya waktu ia pertama kali melihatnya. Ia ceritakan dengan terperinci sekali berapa harga tanah yang dibelinya. Mereka sama-sama duda. Mereka tidak perlu kita ajar lagi supaya tinggal di rumah. Tetapi ia tidak punya keinginan lebih jauh. Dan sewaktu Okayama sudah berada lagi di Osaka... Dan.. kita bisa lewat di sebuah kampung yang namanya Kadupandak. Kalau kita jalan ke Sindanglaut itu. karena ayah Subarkah masih ada. ya. “Tapi. Sungguh! Kamu bisa bergairah lagi jika lewat di kampung itu. Itu sudah kebiasaan mereka. Dan terkenang sampai sekarang. Kalau saya seusiamu (--Kakutani lebih muda--). “Cantik-cantik?” Kakutani seperti mau tambah diyakinkan. dengan nada suara seperti berhasrat.” Kakutani seperti kena goncangan yang membuat ia sadar. atas nama siapa. Rencananya pun sudah bisa mulai dilaksanakan. akan mengambil wanita Indonesia. Kebiasaan mereka pun baik-baik. Kesukaan kamu kan masuk hutan. “Mengapa kamu tidak punya akal?” kata Okayama. *** Okayama-san bersahabat kental dengan Kakutani-san. Apa sungguh begitu?” “Sungguh!” kata Okayama meyakinkan. “dari tempat itu.potongan khas Jepang. hahaha. Ia pun pernah bertemu dengan ibu Subarkah. Dan gambaran itu buat Okayama sekarang.

” Ia pun ingat. Ia. dan bisa membeli tanah yang luas. cuma kalau bersama saya ia akan ke luar rumah. Itu kan benar bagus. Kakutani bercerita bahwa Nurseha memenuhi hasratnya dan tidak banyak permintaannya. “Hanya meminta supaya saya masuk agamanya. begitu nama perempuan yang dibawanya. “Secepatnya. di samping tanah Michiko. Dan benar murah. Nampaknya agamanya kuat. *** Saatnya pun tiba. Dan kamu yang mengatakan bahwa perempuan Indonesia itu bisa tinggal di rumah.” Kakutani menarik wajah bangga dan serius. bukan? Nulseha (--ia tidak bisa mengucapkan r--) sendiri sudah janji. Mereka berdua menginap di sebuah hotel di jalan Thamrin. “Sesudah kami nikah. Dan terbetik hasratnya: “Kalau istriku setia. saya akan belikan istri saya tanah yang itu. mengapa aku harus kikir dengan tidak memberikan uang kepadanya untuk bisa memiliki tanah yang luas dan bagus. dan sudah pergi ke Sindanglaut.” kata Kakutani kepada Okayama. Waktu ada kesempatan berdua Kakutani dan Okayama. Kalau istriku menyenangkan. bagaimana?” tanya Okayama lagi setelah ia ingat pada tanah yang sudah diinjaknya bersama. Ia bisa menghapus apa yang sudah-sudah. pada mulanya. Cuma keadaan ekonominya saja yang pernah membawa dia ke tempat panti pijat. “Jadi. mengapa pula aku mesti simpan uang itu? Dengan uang cuma sebegitu mustahil aku bisa membeli tanah di negeriku sendiri ini. “Kalau sudah begitu. Tentu saja jadi.” jawab Kakutani-san. “Ia berjanji. Dan saya sepakati. Kakutani dan Okayama sudah ada di Jakarta. Cepat sekali prosesnya.” Kakutani sudah bisa melupakan apa yang telah terjadi dan dialami Nurseha sebelum ini. bahwa ia sekarang sudah sebatang kara.” kata Okayama. dengan pemandangan yang indah seperti yang diceritakan Okayama? Aku pun tentu bisa menikmatinya. “Bagus. 172 .” kata Kakutani setelah didesak di mana mereka bertemu.Kakutani jadi berpikir beneran. Yang dipentingkannya hari depannya. bagus kalau begitu.” kata Kakutani. ditemukannya di sebuah panti pijat. apa bisa ia sekarang tinggal di rumah?” tanya Okayama yang ragu. ”Dan soal tanah itu. Malahan ini yang kedua kalinya sudah. tidak ceritakan bahwa Nurseha. “Kapan akan nikah?” tanya Okayama-san. “Kami akan kawin. Kakutani memperlihatkan seorang wanita yang lumayan cantiknya kepada Okayama. dan mau menerima kebiasaanku.

setelah Kakutani memenuhi syarat yang diminta oleh Nurseha dan keluarganya. dan kamu merasa encok di sini. atau di sore menuju senja. bahwa ia nanti bisa berlibur di tempat yang bagus itu. disaksikan oleh Okayama. kita bisa tinggal di sana. bagus sekali. “Tapi bagaimana kami bisa membeli tanah di sana?” tanya Kanazawa kepada teman akrabnya. Sebab itu pula ia tak beralangan menceritakan tentang tanah yang dibelinya. pemborong bangunan. Pantainya bagus. Ia sudah menghitung. Nurseha merasa pintar. untuk usaha. Kalau musim dingin di sini. Tidak lama setelah itu.” kata Kakutani. Pasti ada cara-caranya. setelah ia membandingkan dengan harga tanah di negerinya. Kakutani punya sahabat akrab. tapi sekarang sudah jadi istrinya. bahwa nilai tanah akan cepat naik. tak dirasakannya jauh. Apalagi sekarang. Pasti bisa. Kanazawa-san. “Benar murah.” 173 *** Di sebuah organisasi di kotanya. *** . Di sana kan selalu ada matahari.*** Benar juga. Lebih luas daripada yang dimiliki Michiko dan lebih mahal harganya. Soal jarak Jepang . di tepi pantai yang lautnya biru. atas nama Nurseha yang pernah ditemukannya di sebuah panti pijat.” pikir Kakutani. Tetapi terbeli oleh Nurseha yang membuat surat janji. tergerak juga hatinya. segala di sana sudah terbuka. kamu akan senang tinggal di sana. Pernikahan itu dilaksanakan di depan penghulu. Percayalah. Tentu yang ukurannya luas yah.Indonesia. Kakutani dan Nurseha melangsungkan perhelatan di Sukabumi. Tanah di Sindanglaut yang berdempetan dengan milik Michiko pun kemudian dibeli Nurseha atas namanya. Kanazawa-san. Tetapi yang pasti lagi. dan gelombangnya amat memikat. Lautnya bagus. Dan ia pegang surat-surat tanah itu. dan uang rupiah tak akan bisa mengejar harga tanah.” pikirnya. tempat ia menceritakan rahasia hidupnya. Apalagi di pagi hari. bahwa kalau sampai ia dan suaminya bercerai. uang senilai pembelian tanah itu akan dikembalikan. Kamu tidak akan bisa membeli tanah seluas itu dengan seluruh kekayaanmu yang kamu miliki di sini. di sana segala bisa diatur. cerah langitnya. Kita diajak oleh mereka untuk datang ke sana. “Bisa. kita bisa tinggal di sana semusim-semusim. Ia pun ingin memiliki tanah sebagus seperti yang diceritakan temannya. Ia pun sudah beberapa kali membaca brosur-brosur tentang perjalanan ke Indonesia dan apa yang bisa dilihat di negeri di sebelah selatan itu. “Aku akan sering saja berada di sana. ia merasa senang. “Mustahil aku bisa punya tanah sebagus itu dan seluas itu di negeriku sendiri. Kata orang di sana. Tetapi Kakutani-san merasa pintar juga.

Rumah-rumah kampung itu bisa dipindahkan. bahwa yang dikatakannya itu bisa jadi kenyataan. Ia pun yakin dengan uang segala bisa beres. bisa meyakinkan. Ramdan. “Bagaimana cara membelinya?” tanya Kanazawa.” kata Kosasih dengan menarik senyum lebar. Sudah dua kali ia pernah mengatur jual beli tanah dengan orang.” pikirnya. ada sebidang tanah luas yang juga tidak jauh letaknya dari tanah Michiko. Tanah itu bekas perkebunan kecil. bisa diatur supaya jadi jalan ke pantai. Kanazawa-san takjub melihat daerah pantai Samudera Hindia itu. seorang yang lebih tua. ini orangnya yang bisa membantu kita. Ia pun yakin.” kata Kakutani sambil menunjuk seorang laki-laki yang bekerja di Kecamatan di Sidanglaut. Ketiga orang Jepang itu pergi ke tanah bekas perkebunan kecil itu. Yang kedua kali untuk istrinya. bahwa kekurangan yang dirasakan oleh Kanazawa itu nanti bisa diatasi. “Bapak ini. Okayama dan Kakutani lalu mengajak bicara Kosasih yang sudah siap untuk membantu. Supaya nyambung jadi bagian tanah ini. Ia merasa. “Ini.orang Jepang itu dan memasukkan uang ke kantongnya sendiri lebih dari lumayan.Kanazawa-san terbang bersama Kakutani dan Okayama ke Jakarta. Lalu mereka pergi ke Sindanglaut. Tanah itu tidak nempel pada pantai.” kata Okayama sambil memegang tangan Kosasih. Sebab itu ia cepat berkata kepada Okayama: “Kami bisa atur. Tidak ada yang tidak bisa diatur di sini. lewat Okayama yang sudah tambah pintar berbahasa Indonesia. dibarengi oleh Kosasih dan dua orang kawannya. Kosasih seperti bisa menangkap apa yang diinginkan oleh Kanazawa. terasa tak menentu. yang tempo hari mengatur pembelian tanah untuk Michiko dan Nurseha. antara lahan ini dan laut. bisa menolong kita. “Yang satu kali untuk menantunya bersama anaknya. Ada kekurangan di tanah bekas perkebunan kecil itu yang terasa oleh Kanazawa-san. Ia mengetahui. tersenyum lebar. Tanah yang menghalang-halangi itu. Orang kita-kita juga. bahwa atasan-atasannya yang ada di Kecamatan dan di Kabupaten akan setuju.” pikirnya. “Tak ada kesalahan saya. Tetapi.” kata Kanazawa kepada Okayama dan Kakutani. dengan kebutuhannya. Ia tentu saja senang. “Tetapi hotel akan laku kalau menempel pada laut. “Tidak jadi soal. 174 .” kata Kosasih sambil menarik wajah senyum dan meyakinkan. Tetapi terhalang oleh beberapa rumah kampung dari tanah Michiko. Kanazawa-san menginginkan membuat semacam hotel di sana. Sah-sah saja. Pak Kosasih. sebenamya hati nuraninya pernah goyang. Sudah tergitik juga hati Kosasih oleh gambaran bahwa kali ini ia bisa beruntung banyak lagi. Tetapi Kosasih. sehamparan tanah yang ada di tepi laut itu digabungkan saja dengan tanah bekas perkebunan kecil itu. seorang lagi yang lebih muda. tetapi keuntungan yang diperolehnya menghapus kegelisahannya itu. Dan akan dijual. tapi sudah tidak terurus. Garnida. “Apa yang tidak bisa dengan uang?” pikirnya. Kosasih yang pernah membantu kedua orang itu dengan urusan tanah di sana.

Dan bertambah lagi kericuhan di daerah itu. apa yang tidak bisa dibereskan di kampung ini. lalu ke arah Okayama. Dengan duit. Kakutani-san pun langsung mengukur-ukur tanah yang akan dipakai untuk bangunan rumah yang bakal dihuni bersama Nurseha. Tinggallah nanti ia mencari tukang-tukang yang bakal diperbantukan kepada arsitek Jepang yang bakal membangun rumahnya itu. “Ya. Kata pembangunan itu mengubah kesulitan yang tadi pernah mengganjal sebentar di hatinya. ada Tanaka-san. Ia tidak kepalang bergerak. Rumah tua sudah dibongkar. Entah berapa ongkos memindahkan mereka yang sebenarnya. Penghuni beberapa rumah yang menghalang-halangi antara tanah Michiko dan Kanazawa pun sudah sepakat untuk pindah. Beberapa orang pegawai Kabupaten Sukabumi pun ada di sekelilingnya. Rencana bangunan hotel sudah siap. sehingga bisa dipakai untuk keperluan Kanazawa-san yang punya uang banyak. Sindanglaut mereka tuju. 175 *** Selang beberapa waktu. “Ini jadinya proyek pembangunan. Maka pembangunan dimulai di daerah itu. tapi harapan menyelinap di antara perasaannya. Nampak sekali ada kesibukan di wilayah yang tadinya kampung itu. Ia menunggu kepastian. Orang-orang Jepang itu tidak tahu. sudah mulai dengan membangun rumah yang mereka citacitakan. Kakutani-san dan Kanazawa-san sudah berada di Indonesia lagi. Takahashi-san dan .” Kata "pembangunan" itu melintas sejenak saja di kepalanya. Kanazawa-san dikerumuni oleh pegawai-pegawai dari Kecamatan Sindanglaut. segala bahan yang diperlukannya sudah ia siapkan dari dan di negerinya. Kemudian kepalanya digerakkannya menghadap ke arah Kakutani. tapi menyebabkannya jadi merasa kuat. Tanah yang menghalangi-halangi perkebunan kecil dengan laut itu pun sudah diatur oleh orang-orang di kantor Kecamatan. Kanazawa-san nampak tenang-tenang saja. Kosasih mendengarkan saja. Uang siluman tak jelas masuk ke kantong saku siapa. Mereka tidak membuang waktu. atas anjuran penasihatnya ia sudah menggaet orang di Jakarta penguasa penting. melainkan ada Saito-san. masih jauh lebih murah daripada jika harus membangun di negerinya. tak mengerti sepatah kata pun. Subarkah. malahan di kantor Gubernuran.Ia berpikir lagi. karena bukan saja Okayama-san. Tiang-tiang baru sudah dipancangkan. di kantor Kabupaten. Masing-masing mengatur kepemilikannya. Soal tanah yang menghalang-halangi sudah terpecahkan. asal benar bisa diatur begitu. “Pasti bisa! Pasti bisa!” kata Kosasih kepada Kanazawa. Ketiga orang Jepang itu mengangguk-angguk. tuan Kanazawa tertarik. Lalu mereka berbicara dalam bahasa mereka. meminta dukungan. Kakutani-san dan Kanazawa-san yang membangun di sana. Dan ia sudah jadi lebih pandai." kata Okayama. Okayama yang sekali ini didampingi Michiko dan suaminya. pikirnya. Okayama-san. Sebab memang setelah diperhitungkannya.

Nurseha adalah istri Kakutani. Michiko adalah istri Subarkah. Jangan ditanya asal usul tanah itu: tanah wakaf pun sudah berubah catatannya. karena rumahnya pun sudah tergusur. Sebab kebanyakan pemilik tanah itu _lewat menantu. pikir mereka.beberapa lagi orang Jepang yang bukan saja tertarik. melainkan sudah mulai membangun di daerah yang tadinya masih ladang tegalan. Kebanyakan peralatan dan malahan bahan-bahannya pun didatangkan dari Jepang. di atas tanah yang lebih dari dua ratus hektar. pikirnya. gamang. sahabat dan pelbagai cara dan ilmu yang tak jelas duduk perkaranya_ memungkinkan rumah-rumah dan bangunan lainnya di sana berbentuk seperti di kampung asal mereka. Untuk pihak yang pintar. untuk ikut serta dalam pembangunan itu. Di hatinya ia merasa tertinggal. “Untuk siapa saja. daerah kantong Jepang. keturunan mereka. Kanazawa-san adalah pengusaha yang diajak datang untuk menanam modal. semua kedudukan pun bisa kita capai. Kosasih sudah punya rumah baru dan istri baru di Sukabumi dan keluyuran dengan mobil Suzuki yang paling mutakhir. sahabat kentalnya. Garnida sudah naik motor Honda yang paling diidam-idamkannya dan paling disenanginya. Okahara-san sami mawon. Ia sudah bergabung dengan anak-anak pembesar di Jakarta. Sampai-sampai bangunan yang seperti toko dan hotel pun disusun dan berbentuk bangunan Jepang. Ya. lalu ia sebentar merenung. yang bisa membelinya dan membangunnya. Dan mereka ingat pada beberapa kursi yang ada di sejumlah negara di luar negeri mereka yang sudah diduduki oleh bangsa mereka. bahwa di kampung di tepi Samudera Hindia itu sudah berdiri satu daerah enclave. . bahwa dunia ini untuk kita semua. tetapi ia sudah tua. “Siapa yang salah?” pikirnya. *** Pak Marta datang di Sindanglaut. Anaka-san menempuh jalan yang juga tidak seberapa sulit dirasakannya. Ia menjawab sendiri: Okayama-san adalah mertua Subarkah. untuk semua penghuni bumi. Mereka seperti sudah berpikir. istri. Dan semua menghitung: tanah di Sindanglaut itu benar-benar jauh lebih murah dibandingkan dengan yang ada di Tokyo. Ia pun sudah mendengar kabar dari orang tua Subarkah. untuk kita. Orang-orang Jepang itu mendengar kemungkinan-kemungkinan itu dari mulut ke mulut.” pikir mereka. sawah musiman dan kebun terlantar itu. Tinggallah Ramdan yang berjongkok menatap orang-orang yang sedang mengangkatangkat kayu dan besi itu dari kejauhan. Melangkah pun sudah sakit-sakitan. Lebih dari duapuluh orang Jepang sudah membangun di daerah Sindanglaut itu. atau yang di Osaka atau yang di Okinawa sekalipun. 176 *** Maka ramailah pembangunan di Sindanglaut. Bukan saja hatinya terganggu. Saito-san idem dito. Brosur-brosur pariwisata pun sampai pada mereka.

.“Tetapi siapa di daerah ini yang tidak tergusur.” Di tengah itu Garnida muncul dengan menaiki motornya. Sudah gemukan bentuk badannya dibanding dengan beberapa bulan yang lalu. Percakapannya menunjukkan kegembiraan yang luar biasa. “Bagaimana perasaan Bapak melihat kampung ini sekarang?” tanya Pak Marta.” Ramdan mengikuti ajakan Pak Marta.” kata Pak Marta kepada Ramdan yang tetap jongkok di dekatnya. Suara Ramdan terdengar melas sekali.” Pak Marta cepat mengerti.” Ia tidak meneruskan ingatannya. Pakaiannya serba baru dan mencolok. orang tuanya. Dulu saya pernah benci kepada orang-orang Jepang itu.” kata Pak Marta. bersih. “Alhamdulillah. Kelanjutannya jadi amat serius. Daerah ini mesti dibangun. Ia ingat. “Bapak bekerja di Kecamatan. Pak. mertua-mertuanya. “Duduklah di sini. Ia gundah. Di sini masih ada kursi. kan?” kata Pak Marta. Dengan ragu. tapi saya menolak. “Tempat ini bagus. “Wah. “Pilihanku benar.” jawab Kosasih. orang tua itu. Bapak. “Di sini lebih menguntungkan.” Ia setengah membusungkan dada. Kendaraannya. “Ya. “Tidak mengalami jaman Jepang?” “Ah. terutama kepada istri-istrinya. ke lautan yang biru. Pak. Tetapi. yah. anak-anaknya. Mukanya pun nampak licin. menyayat hati orang yang diajaknya bicara.. Ia arahkan tatapannya ke kejauhan. Pak. Pak Marta tidak sanggup menatap wajah Ramdan yang sudah kurus dan keriput itu. menjawab: “Entahlah. 177 . Ia sendiri diliputi beberapa pertanyaan yang tidak bisa dijawabnya sendiri. ke langit yang bersih. ke ombak yang bergelombang. Tadinya saya mau dipindahkan ke Sukabumi. benar bagus. bangkit dan duduk di kursi. Ia sudah bisa membelikan mereka pelbagai barang modern yang biasa ditayangkan di televisi yang ia saksikan di rumahnya. Ia seperti menelannya. “Berapa umur Bapak?” tanya Pak Marta kepada Kosasih. “Jangan jongkok terus begitu. Pak Marta?!” kata Ramdan kepada Pak Marta yang duduk di kursi di depannya. mobil Suzuki diparkirnya di halaman kantornya. terjepit antara sesal dan senang. permulaannya amat sederhana. saya belum lahir waktu itu. kamu sudah punya motor segala sekarang. Ramdan.” ajak Pak Marta kepada Ramdan. ke kaki langit. Sementara itu Kosasih datang. Hati kecilnya berbisik jujur. Ia merasa berjasa.. Pak Marta. Ia menarik wajah gembira.” kata Garnida.

Masing-masing dengan pikirannya sendiri. Tak ada jembatan penghubung yang mengaitkan pembicaraan serius di antara mereka. Ia terhitung pemuda masa sekarang yang diusik oleh pelbagai tayangan barang jualan di layar kaca dan hanya memikirkan masa ini.“Maju yah. (Dimuat dalam Horison. mengikuti pihak yang menginginkan. September 1997) . juga tidak pernah berkenalan dengan buku-buku tentang masa lampau. Sementara itu pembangunan di daerah enclave berjalan terus.” kata Garnida. Ia pindah ke kampung di balik bukit itu. hari ini. digusur. sudah seperti kelelahan jika harus berpikir. saat ini. Suasana pun seperti direka untuk jadi demikian. Sekali Garnida bertatapan muka dengan Ramdan. Ia bicara sesungguhnya.” “Ya. Ia tidak menatap ke masa depan. Hasil kerja di sini?” tanya Pak Marta. detik ini. Ramdan mengetahui silsilah pembelian motor itu. Maka ia menyelip menyambung pembicaraan: “Rumahnya. Pak. Pak Kosasih membujuk kami. Pak. Dan yang tua serta yang muda. *** 178 *) Enclave = Daerah kantong. rumah orang tuanya.

paving. Pak RT sanggup mencarikan. Pak RT bukan kepala keluarga teladan. Iwan adalah sulung dari empat anak. Tetangga lebih banyak membeli kurang dari satu kilo.1 . Bapaknya Iwan berpatungan dengan Pak Lurah. Pada suatu ketika. ubin. karena anaknya lebih dari dua. Karena dekat dengan Pak Lurah. Sekarang setelah rezeki semakin deras datang. semua keperluan MCK. tidak jauh dari pasar Jatingaleh. ditata di rak warung. uang yang dia terima cukup untuk membeli sebuah rumah reyot di pinggir jalan. setengah dan satu kilo-an. Perempuan itu sibuk menghitung bungkusan gula pasir yang baru selesai dia timbang. Lalu bapaknya Iwan menjadi terkenal sebagai makelar tanah dan rumah. Dua anak lelaki. Satu on. karena Pak RT seperti berbicara kepada dirinya sendiri. buat apa rezeki kalau tidak untuk membangun keluarga besar! Padahal. seperempat. dia sering mendapat persenan keuntungan menjual tanah atau rumah di kawasan sana. Dia memang mahir mempengaruhi calon pembeli.” “Jum’atan apa tidak dia. bertanya kepada istrinya: “Mana Iwan?” “Belum kelihatan. orang Jawa bilang: Sendang kapit pancuran. Dan bila orang memerlukan barang yang tidak nampak di situ. dia bahkan semakin mengkhianati program pemerintah: dia ingin menambah dua atau tiga anak lagi. Dia pikir. lebih dari tiga.” Istrinya tidak menanggapi. Maka kantung-kantung plastik kecil lebih banyak terisi di rak-rak itu. Kebetulan yang perempuan berada di tengahtengah. tempat yang telah dia miliki itu sudah sangat pas. Agustus 2000 Jati Diri Oleh: Nh Dini 179 Pak RT tergesa masuk. Semua tergantung pada komisi yang disepakati. mendirikan usaha penjualan kayu. dua perempuan.Horison. Sudah tiga tahun bapaknya Iwan menjadi RT. Kini masing-masing mengelompok.

Tubuh Iwan kurus kering. Dia bikin sebuah ruangan polos. sekaligus selalu repot di toko material bangunan. Tetapi tak satu pun anggota keluarganya memperhatikan.Ketika ayahnya menjadi RT. di warung-warung kopi atau di kios rokok yang juga menyediakan minuman pembakar tenggorokan. Semua nampak bahagia. semuanya berubah bagi Iwan.” 180 . melainkan lintingan daun kering yang mampu membikin perasaan melayanglayang. Pak RT langsung membelinya. Dia bebas. Rumah berganti ubin. Jika ada tetangga yang usil bertanya mengapa dia begitu cepat pergi lagi keluar rumah. Dan sejak ayahnya mempunyai kedudukan tersebut. Dengan begitu. muda-mudi rapat di sini. menjadi gadis kecil dan berani memprotes: “Bapak pergi-pergi terus! Kalau tidak di toko. Katanya. Sore ketika kebanyakan keluarga berkumpul. adik Iwan yang paling cerewet menginginkan ayahnya kadangkala datang ke sekolah mengambil rapor seperti orang tua. “Aku tidak punya waktu. Keluarga Pak RT kelihatan sejahtera. “Ini untuk pertemuan-pertemuan. Karena bapak itu jarang berada di rumah di saat Iwan pulang untuk makan siang. jawabnya yang paling sering adalah “Saya harus ke pertemuan.” Atau: “Muda-mudi itu harus ada yang mengarahkan. Penduduk sekitar tetap banyak yang tidak mampu.orang tua lain. menjadi bangsal aula cukup besar. Tapi mereka menyukai Pak RT yang selalu penuh pengabdian. PKK. Lalu diteruskan: “Biar ibumu yang pergi. Kini lantainya keramik putih berkilau. Dia merasa hidup lebih leluasa.” itulah jawaban Pak RT. Atau bila tiba-tiba pulang sebelum pukul tujuh. Bagian depan.” Adik Iwan sudah berangkat remaja. nyaris menjadi anak jalanan. Dia baru lulus SLTP. Pintu-pintu bisa dipasang atau dicopot. karena bisa berbuat apa pun sesuai kemauannya. seluruh kepanjangan dinding tertutup bahan yang sama. sekaligus mengurusi muda-mudi kampung. Adiknya yang terkecil delapan tahun. Rokok yang dihisap bukan lagi merk dikenal. Pak RT masih mengurusi usahanya. Di situ tikar digelar.” Iwan hidup di luar. Bapak-bapak. sehingga terang memantulkan cahaya hari. dia bergegas mandi lalu pergi lagi memimpin pertemuan ini atau itu di salah satu ruangan kantor kelurahan. Mak kalian dan aku tidak akan sering berada di luar. usia Iwan 16 tahun. selalu di kelurahan!” Anak-anaknya sangat hafal dengan jawaban Pak RT: “Di toko aku tidak menganggur! Aku mencari uang buat kalian! Buat kita!” Yuni. Ketika rumah di samping dijual. Lalu dilengkapi meja-meja pendek. menggerombol bersama teman-teman sesama seragam SMU di perhentian bis.

minta gula dan kopinya saja sedikit. aku tidak perlu memngawasinya. “Bikinkan aku warung. bukan?” 181 . ada yang sampai hati menunjuk stoples di atas rak. batu atau pasir. Bisa dibayar dua kali. Selalu ada yang lewat. Kali itu Iwan bahkan makan siang di meja keluarga. Hanya kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Kebetulan memang bapaknya Iwan sedang berpikir-pikir akan menambah sarana penataran pesanan yang semakin sering datang. “Kalau boleh. Dan karena rezeki berlimpahan. meterai. tiba-tiba. Kebanyakan penduduk di sana tidak seberuntung keluarga Pak RT. Pak. Sekarang anak-anak sudah besar. Kemenakan. Aku ingin mencari uang sendiri. Ibunya Iwan tidak lupa menyumpalkan uang dua ribu ke dalam genggaman si tetangga. Di lain waktu. ayah dan dua adiknya. Pembantu itu bisa bertambah lagi di saat tetangga datang mengobrol. Bapak dan ibu mabok dengan keberhasilan mencari uang. ada tetangga yang berani berkata. Asal masih bagus jalannya. Sedangkan yang pertama.” Ternyata dagangan itu pun berjalan lancar. Beri aku modal.” Pak RT punya sebuah kijang. Di mana-mana orang memerlukan kayu. Sekarang. Sambil makan. "Tidak usah baru.Di waktu itulah ibu Iwan berkata kepada suaminya. dia terkenal sebagai orang yang tidak tega. lalu membantu mengerjakan ini atau itu. “Kamu sudah memperbaiki prestasimu di kelas? rapormu yang paling akhir jelek sekali. Yang terkumpul adalah ibu. obat-obatan. Itulah salah satu sebab mengapa bapaknya Iwan menjadi RT. menawarkannya kepadanya. Sama seperti suaminya. Pasangan itu banyak menolong dan membantu penduduk sekitar. Tapi pekan kemarin dia tambah satu lagi. Yang dijajakan di warung bertambah: alatalat tulis. siapa saja yang berasal dari desa sama. pembantu yang dua orang ditambah satu lagi. “Apa kamu naik kelas nanti kok minta dibelikan kendaraan. turut bersembahyang Jum’at di belakang ayahnya. Mereka selalu kekurangan. Iwan sengaja memperlihatkan diri. Orang terus membangun. Buat sekolah.” Ibunya Iwan baik hati. Kadang-kadang menjadi tiga jika saudara ibunya Iwan datang dari lereng gunung Sumbing. berjalan kaki menuju rumah yang terletak tidak jauh dari masjid. Mereka pulang bersama. Kecil-kecilan saja. Untuk toko. dia ingat harus menanak nasi atau menjemur cucian. adik atau saudaranya ipar. kendaraan yang kedua itu melulu hanya untuk mengangkut bahan-bahan kotor. bahkan perangko. Dia minta dibelikan kendaraan.” suara Pak RT tidak bertanya. sambil katanya: “Apa boleh minta tehnya? Buat satu kali cem-ceman2 saja. akan lebih mudah disewakan buah pindahan atau lainnya jika bak belakang selalu kelihatan bersih. Kemudian. lalu singgah. karena seorang kenalan terdesak kebutuhan uang. Pada suatu siang. Iwan mengeluarkan kalimat yang sejak beberapa pekan didiktekan teman-temannya. dilanjutkan dipasrahi membina kaum muda di sana. selain buat keperluan toko.” Dan kalau itu sudah diberikan. semula dia sediakan satu kendaraan bak terbuka.

”. “Di kelas. Tetapi pemanfaatannya sangat kecil. sulung. Karena dalam keseharian.” Iwan kelihatan tidak was-was mengenai angka-angka di rapornya. Karena badannya lebih tinggi dan besar dari anggota kelompok itu. tidak dimanja. di waktu malam. ruwet menjadi satu. “Kalau Khodir yang bawa kendaraanmu. tinggal aku yang belum punya kendaraan. pasti kita menang.. Kadang-kadang. terjadi kebut-kebutan. “Kalau punya kendaraan sendiri. sampai mobil-mobil dan kendaraan roda dua lain yang setengah rongsokan. Jika pertandingan akan diselanggarakan di sana. Lalu kita bisa bikin oplosan lain. Dan dia tidak khawatir ayahnya akan menyelidiki kebenarannya. Seusai sekolah. Padahal seharusnya kamu yang dibelikan kendaraan! Minta saja! Kalau kamu punya roda dua. Di mana ada kegiatan berkelompok.” tiba-tiba si ibu ikut urun bicara.. sehingga tanaman dan perdu liar berduri berdesakan menjadi sarang aneka binatang melata. Rumput ilalang bertumbuhan nyaris setinggi orang. Mereka tidak hanya melampiaskan nafsu mengatasi lawan dengan kecepatan.... Tetapi Pak RT tidak termakan oleh rayuan si anak. Aku mendapat resep baru dari tetangga yang datang dari gunungkidul. Anak-anak repot.” kata kawan Iwan yang lain. sehingga dia sendiri terjerat dalam khayalannya. kenyataan dan harapannya sudah begitu menyatu. Dia yang paling lama memiliki kendaraan.Rupanya si ayah masih ingat juga bahwa anak sulungnya mencetak empat angka di bawah sedang di catur wulan yang lalu. Iwan meninggalkan rumah sebelum keluarga selesai menyunyah pisang. atau mana yang dia harap ada. Kini teman-teman itu menyulut api pemberontakan terhadap Pak RT: “Ayahmu kaya. Baru saja membeli kendaraan lagi untuk tokonya. Lebihlebih menyuruhnya belajar. Di sanalah. Pak RT tidak pernah menunjukkan kepedulian tentang kehadirannya. kena hujan. Sudut dan selinapan yang dekat pagar dibiarkan. Yang dia katakan tadi entah merupakan kebohongan yang keberapa kali yang dia ucapkan sejak pagi hari itu. Dia keluar masih mendengar omelan Mak terhadap suaminya.”. barulah bagian-bagian tertentu dirapikan. Sebetulnya merupakan kebanggaan penduduk ibu kota propinsi.” dan yang disebut Khodir mengangguk-angguk. Karena Iwan semakin sering mengatakan hal yang hanya terjadi di kepalanya. temannya yang paling menonjol. Iwan termakan oleh gosokan itu. Di sana mereka juga menghambakan diri pada kemaksiatan berjudi.” kata Iwan lagi. Hal ini agak mengejutkan Iwan. menjadi kernet omprengan.” begitu kata Herman. “Benar. Lalu alur keseharian kembali seperti semula. Mana yang sungguh ada. “Itu benar. Herman-lah yang mengepalai. kendaraan umum selalu datang terlambat karena jalan macet. Bisa turut berpacu di Jatidiri. Kebohongan memang sudah mendasari hidup Iwan. Dan karena merasa permintaannya tidak bakal terpenuhi. Pemuda-pemuda tanggung memacu kendarasan mewah beroda empat atau dua. 182 . semua teman Iwan sungkan kepada Khodir. kita bisa cari uang. Teman-temannya menyuruh Iwan mengambil uang di warung Mak.. Stadion Jatidiri besar. berlanjut biasa. “Apa lagi ini nanti musim hujan. “Sampeyan3 ini bagaimana! Punya anak lelaki. Minta kendaraan saja. Yang dia inginkan demikian. aku bisa mengantarkan Yuni setiap pagi..

Mak lega.” lalu dari saku celana seragam yang kembali dia pakai. dia keluarkan gumpalan uang lusuh. di muka sekolah. Paling-paling lima ribu. bahkan nyaris merayu si anak. sudah menyambar tas dan melangkah ke pintu kamar akan keluar.” Mak menghitung. terkejut bukan kepalang karena uang yang dia selipkan di belakang stoples di rak paling atas hilang. dia tunggu lagi sampai anak itu mandi. Tidak banyak. “Apa usaha temanmu?” “Bengkel kecil-kecilan. Tadi siang kamu juga tidak pulang makan. “Ke mana?” Mak masih mengikuti. Dia mengira anaknya marah karena permintaannya ditolak Pak RT. menggosok rambut dengan kain apa saja yang tersampir di sana. Mak tunggu anak sulung itu seharian. Tenang dan tanpa ragu Iwan menyahut. “Mau belajar bersama teman-teman. Mukamu pucat. tangannya mengulurkan satu lembar sepuluh ribuan. “Pasti Iwan yang mengambil!” kata Mak seorang diri. Kalau ada keperluan sekolah bisa sepuluh atau dua puluh ribu. pagi Iwan dan Yuni disuruh mengambil uang sendiri di kotak di dalam laci. Dia mau buka usaha. anaknya bawa 183 .Hanya. meneruskan bicaranya.” Lalu Iwan terburu-buru. pada suatu pagi ketika Mak akan membuka warung. “Ini sisanya. Iwan pergi untuk belajar di rumah kawannya. Sampul coklat masih ada tetapi kosong. Mak bertanya lembut. Diberikan kepada Mak. Mak takut bicara kasar.” kata Iwan lagi.000. berhenti lalu katanya “Minta Rp 10. Rambutnya masih basah dan belum disisir. Di sana tentu disuguhi makanan. kasihan tidak punya modal.” Iwan menyahut. Baru muncul hampir petang. jumlahnya mendekati tujuh ratus ribu. Herman akan mengembalikan. lalu akan mengenakan baju. “Makan dulu! Kamu kurus. Mak”. bersama tukang pompa ban. untuk apa uang itu. Rupanya baru kali itulah dia menyadari betapa kurusnya si sulung yang dia banggabanggakan.” “Aku jajan bakso tadi. dadanya kerempeng. Malahan mungkin dengan bunga. karena si sulung sudah berlalu. Tapi tidak apa-apa. Apa lagi. Hati Mak tenang. “Nanti kalau usahanya berjalan.” Mak harus puas dengan jawaban tersebut. Alangkah terkejut dia melihat tulang iga Iwan yang mencuat. Terakhir dia masukkan uang kemarin malam. Mak turut masuk kamar. dua ratus ribu lebih sedikit. menutup kancing baju. Biasanya. Besok pagi langsung ke sekolah. “Mau ke mana?” Mak bertanya. “Kuberikan kepada Herman. Mak bertanya mengapa mengambil uang sebanyak itu.

Dan yang sesungguhnya terjadi ialah. Ibunya Iwan. Mak yang berangkat. Banyak makanan dijajakan di malam begitu. Seperti biasa. Mendengar itu.” istri Pak RT berkata membela anaknya. bukan?” Mak kebingungan. “Bukankah Herman membuka usaha di depan sekolah?" Ibu Iwan merasa perlu mengutarakan pengetahuannya. maka kami memberi kelonggaran mengikuti tes untuk akhir catur wulan. “Hari Senin masih masuk. Jangan sampai terlanjur mendapat pengaruh buruk dari jalanan. 184 .” akhirnya itulah yang dikatakan Mak. Rapor anak-anak itu semakin lama semakin jelek. Jadi Mak juga meniru suaminya. Yang paling nampak adalah ibu Herman.. Khodir berkali-kali mangkir. dua hari kemudian orang tua diminta datang mengambil rapor. Anak Ibu pulang ke rumah setiap hari.” dan Mak itu hampir melepas lanjutan kalimat. lebih baik mengetahui anaknya berada di rumah teman. Juga hadir dua guru. Rabu sampai hari ini tidak kelihatan. Herman sudah dua bulan tidak masuk. Mak senang. Mak berpikir. “Kami menerima uang tes.” kata kepala sekolah. Maknya Iwan menjadi ragu. tapi Selasa. katanya. Sekarang. bahwa Iwan mengambil uang banyak sekali dari warungnya untuk ‘dipinjamkan’ kepada temannya itu. Sejak si sulung lulus SLTP. dia memutuskan: “Sebaiknya ibu-ibu berbicara kepada anak-anak Anda. Itu memang baik jika memang demikianlah kejadian yang sesungguhnya. tidak tahu bagaimana harus menjawab secara tepat. Pak RT tidak pernah menyuruh-nyuruh anak itu berbuat begini atau begitu. ibu-ibu akan melunasi uang sekolah sekarang. tidak nampak di sekolah sejak empat hari. Katanya banyak tambahan pelajaran. “Usaha apa?” hampir serempak mereka yang berada di sana bertanya. Kecuali Anda. anak-anak mereka tidak naik kelas.. tidak keluyuran. Kami kira. Iwan sendiri. Ketika kepala sekolah merasa sudah cukup mengorbankan waktunya untuk mereka. Seorang guru melihat ke buku catatan. “Dia berangkat sekolah setiap pagi. bisa jajan. dia menganggapnya sudah besar. ya dia pasrahkan saja ke bawah Lindungan Yang Maha Kuasa. ialah anak-anak mereka sudah setengah tahun tidak membayar uang sekolah. “Buka reparasi kecil-kecilan bersama tukang ban. “Dia pulang sore.uang. Itu baik. menanggapi. mandi atau untuk keperluan lain. kalau Iwan pulang makan.” Dan yang lebih-lebih mengejutkan para orang tua kedua teman Iwan. Sudah tahu sendiri apa yang harus dikerjakan. Tetapi kalau anak itu tidak kelihatan. Kepala sekolah menemuinya bersama sekelompok orang tua lain di ruang tersendiri. Rupanya. Dengan suara terbata-bata.

saya juga dengar. tetapi semua tahu bahwa mengikuti pertemuan di rumah Pak RT tidak pernah rugi. serunya. Kami 185 . juga selalu banyak makanan dan rokok.“Memang banyak ekstra kurikuler. selalu merepotkan ibu. Kami semua tahu bahwa Pak RT pasti hadir meskipun kami harus menunggu. Bu. pria-pria lajang atau yang telah berumah tangga tapi lebih suka menghindar dari kerepotan anak tak hentinya memasuki pintu di sebelah ruang tamu Pak RT.” sahut Pak RT.”tanggap Pak RT sambil menempatkan dirinya di atas tikar. sopir taksinya ditusuk pakai obeng. Mereka pulang berpeluang mengantongi paling sedikit satu pak kretek atau filter. mengerti. mengelilingi tiga atau empat piring berisi kudapan. masing-masing tamu sudah mendapat jatah teh manis. Sementara itu orang mulai berdatangan memasuki ruang pertemuan. Walaupun tidak semua dari mereka itu aktif mengerjakan sesuatu guna membantu kelancaran organisasi kampung. Selain di situ suasana cerah. Pak RT. Petang itu Pak RT pulang setelah panggilan shalat Maghrib dikumandangkan. Tetapi saya jarang melihat Iwan mengikuti tambahan pelajaran itu. “Silahkan! Silahkan! Direruskan saja. Para pelayan sudah terdidik. Gelasgelas itu diletakkan oleh pembantu di atas meja rendah yang berderet di tengah. lalu mendongak ke arah dalam. mulutnya mengunyah gorengan bergedel jagung penuh minyak. “Tidak apa-apa. “Maaf! Maaf! Saya terlambat!” kalimat itu selalu mengiringi masuknya Pak RT ke dalam ruangan.” “Ya. Ada sopir taksi yang dirampok katanya. “Apa beritanya sudah masuk koran atau televisi?” “Kok belum ada. sesuai pilihan masing-masing. Padahal katanya. ini kami sedang memperbincangkan berita yang didengar tukang rokok di depan Karangrejo. “Bu! Tehnya ditambah!” Pembantu-pembantu meyorongkan ceret berisi tambahan minuman. “Anu 4. Begitu pula para pendatang. Kaum muda lelaki dan perempuan.” sahut seorang guru. Pak RT orang yang sibuk.” Disambut dari sisi lain: “Ya benar. Pak RT tetap belum pernah terlambat mengikuti rapat kami!” “Sebetulnya malahan kami yang merepotkan Bu RT. Dan selalu ada yang menjawab. Untuk beberapa saat terdengar pembicaraan. Kami minta maaf.” seseorang menjelaskan. Ini kami sudah mulai menikmati hidangan. Tergesagesa dia mandi dan melunasi tiga rekaat. Tanpa menunggu lama.” kata-kata lain yang dimaksudkan lebih manis terdengar dari pojok lain. lalu mengenakan baju berkerah dan sarung.

berbicara. “Bapak Rajiman?” “Ya. Atau paling lambat setengah sepuluh.” lelaki yang terdekat dengan pintu melongokkan kepala memberi salam. “Selamat malam.“Di mana kejadiannya?” Pak RT bertanya.” sahut suara lain.” Pak RT mengambil satu bergedel lagi. satu pelaku sudah diringkus. langsung menuju pintu yang terbuka. kemudian berhenti di depan rumah Pak RT. Dia juga belum diberitahu oleh istrinya bahwa Iwan tidak naik kelas atau pun mangkir sekolah pekan itu. Pertemuan demikian diusahakan berakhir pukul sembilan. “Ayo kita mulai membicarakan lapangan volly saja! Jangan ngurusi rampokan. Dua orang turun. bakso atau sate. saya sendiri. “Betul! Betul! Kalau tidak. Pak RT membiarkan pintu terbuka. Mereka ngelantur mengobrol. 186 . Penjual mi ayam pagi-pagi di depan toko saya yang cerita begitu. Televisi di sudut ruang dinyalakan. seorang di pagar. tiga tamu belum meninggalkan ruang pertemuan. Mereka makan dan berbicara. Satu kali bertanya kepada tukang becak. menyumpalkannya di antara gigi besarnya. sementara kotak kaca dibiarkan terus menyiarkan tayangan yang dipilih.” sahut Pak RT. Serius atau santai. “Di situ saja! Di dekat Jatidiri!” “Wah. dekat sekali! Kok polisi tidak sampai ke sini ya. Ada tiga lelaki lain. Dia menggandeng lengan orang yang baru datang. Pak RT bangkit dari tikar. Mereka bersama Pak RT menikmati sate ayam dengan lontong kenyal. Yang penting Pak RT tidak makan lagi. kita tidak akan selesai sampai besok pagi. mengenai itu juga saya dengar. Dia kelihatan sibuk. tiduran atau bersandar ke dinding. Sebuah jip memasuki kampung pukul sepuluh lebih sedikit. Yang lain-lain kabur!” “Ya. menariknya menjauhi pintu. menemui si pendatang. Bau daging bakar berbumbu memenuhi udara malam lembab. Rundingan yang disebut rapat pun dimulai. Mata bapak itu melirik ke kejauhan. Tetapi tidak jarang Pak RT menahan dua atau tiga tetangga. membantah. Seorang di tengah-tengah halaman.” “Yang saya dengar. tak satu kali pun ingat apakah dia sudah melihat anak sulungnya hari itu. Satu kali menengok ke arah dalam rumah. mengatakan gagasannya. seorang lagi duduk di belakang kemudi. Itu biar diurus polisi!” kata seorang lelaki yang duduk tidak jauh dari pintu masuk. Terdengar suara bebincang rendah. Begitu nampak terpikat dia sehingga sejak melangkahkan kaki ke dalam rumah petang itu. memanggil penjaja makanan apa saja: mi kopyok. mereka santai menonton. Malam itu. Kelihatan kepala Pak RT tertegak.

“Maaf. Tiba-tiba ada suara pembantu lain yang lebih jelas.” Tetangga di sebelah Pak RT tidak berani mengeluarkan pendapat. langsung menuju ke rumah induk. “Saya dan ibunya membanting tulang memutar otak untuk mencari uang. Sesaat berlalu.*** 187 1. Belum ketahuan pasti jenis apa.. Maka ketahuan bahwa dia membawa senjata tajam. Juga sebuah kotak korek api penuh butiran obat terlarang. biasanya dipakai karena gugup atau sungkan .” Lalu Pak RT muncul di pintu. Dia menawarkan diri menemani Pak RT ke kantor polisi. Dia memanggil-manggil. Sumber air/telaga terletak di antara 2. Pak RT menyetir kendaraannya mengikuti jip keluar kampung. Khodir mengaku bahwa dia melakukan perampokan dibantu oleh Herman dan Iwan. Nama Iwan disebut-sebut. “Saya tidak tahu apa maunya anak-anak ini!” kata Pak RT seperti kepada dirinya sendiri. Di sakunya terdapat bungkus rokok berisi lintingan ganja siap pakai. Pak RT harus memberitahu polisi alamat semua kenalan atau saudara yang mungkin dijadikan tempat bersembunyi kedua remaja itu. saya harus pergi. Serse memberitahu bapaknya Iwan. Kata tambahan dalam bahasa Jawa. Tugasnya malam itu adalah menemani Pak RT. Karena tidak mau berhenti sewaktu dipanggil. jelas terdengar bahwa waktu istirahat seisi rumah terganggu. Silakan Anda pulang. Supaya mereka hidup layak. Dia adalah satu dari mereka yang selalu dibantu Pak RT supaya bisa hidup berkecukupan.Dua menit kemudian Pak RT masuk kembali. Dia berlari ketika polisi menyelidiki kasus perampokan dan penusukan sopir taksi dinihari sebelumnya. Kamu dua pancuran. Katanya singkat kepada tamunya yang baru menikmati daging sate. Biar pintu ditutup. . bahwa Khodir ditangkap di terminal Jatingaleh. Seorang tetangga duduk di sampingnya.” Lima menit berlalu sejak kedatangan tamu baru itu. Percakapan yang kacau menyusul perbantahan di antara penghuni. Tetapi nyatanya. bisa sekolah. Bukan untuk berbicara.. Teh kental 3. sudah mengenakan celana panjang. kakinya ditembak. 4. “Sudah hampir seminggu Gus Iwan tidak pulang.

Gelap. Namun di bagian kota lainnya langit digantungi mendung gelap dan bumi di bawahnya mungkin disiram hujan. Masing-masing memasang muka dan pakaian berkabung yang sedemikian pantas. Dan panas terik seolah membakar udara pantai. Ganjilnya.000 jiwa itu. Lihatlah. Dengan datangnya kematian ayah kami maka kesedihan besar pun berlalu bagi adik-adikku. di bawah matahari silau para pelayat datang dari mana-mana untuk menghadiri pemakamannya. sambil menepuk perut dan menitikkan airmata kesakitan. September 2000 Upacara Hitam Oleh: Abrar Yusra 188 Langit di atas kepalaku terpentang biru. Tapi apa peduliku. Pada hari pemakaman ayahku alam pun tidaklah adil. “Di sini. bagaikan organ-organ di dalam tubuhnya dipelintir tanpa ampun oleh tangan-tangan buas yang tak kelihatan. Tidak. Tubuh ayah yang gemuk seperti ulat itu terbaring sehat-sehat saja. Silau. Maka bukitbukit kuburan seperti jadi lautan manusia. Walikota pun ikut berjubal di tengah khalayak dan kini di panas terik ia dengan takzim sedang menyampaikan pidato kematian yang panjang dan entah kapan habisnya. “tapi sudah hilang sendiri!” . jangan-jangan mereka justru tertawa di hati masing-masing! Di deretan depan kulihat adik-adikku. Ayah berkata. Sebab yang paling merisaukan sebenarnya adalah saat-saat ayah bergulat di pembaringan.” bilang ayah. Ketika meninggal ia masih pimpinan beberapa yayasan. Siapa tahu. Aku memandang khalayak. Ayahku bukan pejabat atau tokoh politik. silau juga. Tapi aku tahu hati mereka lebih cerah karena ayah sudah meninggal dunia. katakanlah tidak memalukan — termasuk Aditi kecil. sewaktu-waktu dalam waktu pendek ayah pun berteriak-teriak dan tubuhnya menggelepar-gelepar melawan sakit.Horison. Namun ia adalah salah seorang tokoh masyarakat yang begitu dihormati di kota pantai yang berpenduduk sekitar 400. Aku menatap matahari. melawan penderitaan di hari-hari sekaratnya yang panjang. Sebaliknya justru merupakan permulaan bagi kesedihan besarku. mengirimkan sinar matahari yang menerobos menyilaukan mata. Masih berbayang di ingatanku bagaimana mulanya.

apalagi mengobatinya. Maka hidup ayah jadi aneh. tiba-tiba ayah menggelepar-gelepar dan berteriak-teriak keras kesakitan. Malam itu para pengunjung sudah pada pulang. sehingga membuatnya capek. Nampaknya seperti untuk bersenang-senang.” kataku. “Masa panitia yayasan rumah sakit diobati dukun kampung?” Serangan penyakit aneh itu mulanya sekali dalam 20 hari. Sesudah berlangsung beberapa bulan masih belum ada dokter yang mampu mengenal penyakit ayah. “Jangan.Ayah malah mencoba tertawa. Lalu kami mendatangkan sendiri seorang dokter ke rumah di pinggiran kota. “Tak ada gejala penyakit apa-apa. nyatanya serangan sakit demikian datang lagi lantas hilang lagi. seolah ia sudah sembuh. Ayah pun ragu apakah ia betul-betul sakit. serangan sakit itu datang sendiri dan hilang pula sendiri. Rencana untuk membawa ayah atau mendatangkan dukun ditolak ayah mentahmentah. Penyakit itu menganiaya ayah dengan semena-mena benar. tak peduli sedang ada tamu atau tidak. Baru saja sekali enam hari. Makin lama muka tua itu makin berkerumuk. Tapi makin lama makin sering. perlu diobati atau tidak. Ia lebih banyak tidur dan makin lama hanya terjaga bila rasa sakit menyerang lagi tanpa ampun. Ayah sendiri sudah mulai menolak berbagai undangan rapat dan ceramah yang biasanya tak pernah dilakukannya. lalu mengerang-erang melepaskan kata-kata tak jelas yang berlepotan dari mulutnya. 189 . Namun jika serangan penyakitnya datang. “Lebih baiklah kalau ayah di rumah saja. juga tanpa hasil apa pun.“ kata dokter. Yang tinggal hanya para tetangga. Malah ayah bisa tertawa keras meskipun tubuhnya lebih kurus. Ya. di antaranya tanpa bersuara main halma atau main kartu. Mereka datang memang untuk sekedar menghibur atau menunjukkan rasa akrab pada kami tapi bukan menunggu atau mengharapkan kesembuhan si sakit. Siapa pun maklum bahwa kematian ayah memang tinggal soal waktu saja lagi. maka ayah tidak kami perkenankan keluar rumah sendiri. Maka para pengunjung pun pada berdatangan ke rumah. Seolah hanya diserang penyakit yang lucu. ketika sedang tidur atau lagi ngomong baik-baik. Dan sejak ayah mengalaminya di dalam mobil lalu ketika sedang berpidato. Berita bahwa ayah sakit segera terbetik ke mana-mana. Sebab seperti semacam misteri. kapan saja di mana saja. Maka ayah kami bawa ke dokter spesialis yang lain dan tak ada hasilnya. Aku suka sikap terbuka para tetangga demikian. Ada yang ketawa sebab mendapati ayah biasa-biasa saja. lalu sekali tiga hari! Kini sewaktu-waktu ayah bisa terserang rasa sakit. Kami anak-anak ayah tidak puas dengan hasil pemeriksaan dokter.” cemooh ayah tertawa. Tapi ayah merasa perlu mendatangi sendiri seorang dokter spesialis di pusat kota. Kami benar-benar kalang kabut. makin sering saja. Makin cekung dan sepi.

Seolah raung itu pun menghabiskan cadangan tenaganya. Seolah mau bilang apa pun akan kulakukan asal ayahku tak dizalimi penyakit yang misterius itu lagi. “Ampun. “Kambuh lagi?” Aku mengangguk. Itu seperti dongeng dari dunia dan zaman lain. ampun!” Lalu dengan sisa-sisa tenaganya yang amat lemah. Aku gemas kenapa ayah tidak mati-mati juga. Setelah berbulan-bulan maka seakan baru benarbenar kusadari bahwa tubuh ayah yang gemuk seperti ulat itu kini sudah keropos seperti kepompong busuk. Tapi kematian rupanya tidaklah ditentukan oleh permintaan dan desakan seseorang. Sinar hidup dari matanya sudah padam! Aku serasa mau gila. Tak ada daya untuk melawan perkosaan penyakitnya. Muka cekung ayah sudah menghitam. Maka aku berdoa untuk kematian ayahku. “Harus kaulakukan sesuatu. ayah seperti memohon: “Biarkan aku mati. Yang geresehpeseh bahasa Inggeris. maka: “Jangan!” rintih ayah tak jelas. tinggal tulang-tulang dibalut kulit keriput. Dan di ruang tengah kedengaran tamu terakhir yang sebelumnya bersamaku menunggui ayah sedang menutup daun-daun jendela. barangkali juga pingsan lagi. “Bagaimana beliau?” ia bertanya. Seperti digerogoti setan. Seolah menampik hidup dan penderitaan. Adik-adik sudah pada tidur. Nak!” suara si kakek lagi. mati!” Maka ayahku menangis. 190 .Sudah larut dinihari. si kakek itu lagi. Ia sudah melihat dengan mata kepala sendiri bahwa malam itu serangan sakit ayah paling menjadi-jadi. Ia tersenyum. Maka kudengar langkah-langkah memasuki pintu kamar.” Aku menatapnya tak berdaya. apakah harus menerima atau membantah kisahnya. bahkan ilmuilmu hitam. Segala cara kami lakukan untuk itu. Rasanya berdosa membiarkan ayah hidup eh sakit teraniaya demikian. Nah. Ayahku meraung lagi. Tapi aku lebih kenal ayahmu sebab dulu kami pejuang gerilya yang harus mencari senjata dan bertempur. ya ndak! Tahu apa itu ilmu hitam?” Aku hanya melongo. seolah mataku dapat mengikuti atau membayangkan suatu makhluk tak dikenal bergedencak dalam tubuh ayah seperti seekor binatang liar seradak-seruduk di bawah selimut. Keterlaluan penderitaan orang tua itu. Tak tahu aku. Bagimu mungkin ia seseorang yang hebat. Termasuk berguru ilmu-ilmu kebatinan. “Saya bisa membantumu. punya mobil. Hanya kematian yang mungkin mengakhiri penderitaannya. Konon ia teman ayahku dulu. Yah. “Kamu kenal siapa ayahmu. rupanya ia sudah selesai menutup jendela-jendela. Tak tahan menyaksikan tubuh ringkih itu kembali menggelepargelepar. Aku di kamar tidur ayah dihinggapi perasaan aneh: aku serasa mau sinting karena ayah tak sembuh-sembuh juga. Lalu ia bilang dengan suara tenang tapi terang. pemimpin masyarakat yang modern.

sebab demikian firman Tuhan tentang iblis. karena iblis yang dengan persumpahan bersarang dalam diri ayahku takkan mati-mati sampai hari kiamat. seolah kulihat nyata_. betapa terkutuk. Tapi sejauh yang dapat kutangkap. Kalau aku tidak malu. yang sempat sadar pada detik-detik terakhir. anaknya. serta mulut komat-kamit begitu lemah. Tapi itulah suatu kematian paling ganjil yang pernah kukenal. hina dan memalukan. yang berjuang dengan cara-cara terhormat. Maka Si Hitam jahat itu kini mendiami diriku.! Kini di bawah matahari. benar-benar iblis. Maka tanpa pikir lagi kukatakan pada si kakek bahwa aku mau memungut Si Hitam.. Maka jalan terbaik bagimu. Betapa terkutuk nasibku!*** 191 . Sebelumnya aku selalu mengagumi ayahku dan membayangkannya sebagai tokoh yang terhormat. Seseorang yang memelihara ilmu hitam sebenarnya memelihara iblis dalam dirinya. Bahkan aku ingin seperti itu! Ternyata ayahku memperdayakan orang-orang yang mengaguminya dan menjahanamkan aku. cukuplah di sini kukatakan bahwa ilmu hitam terkutuk itu mengakibatkan maut pun menolak tubuh ayahku. Sebab kubayangkan. _tidak. Sebab aku tak pernah membayangkan bahwa kematian ayahku harus kutebus dengan mewarisi keiblisan dan iblis ayahku dalam suatu upacara paling gila malam itu. itulah yang diseru dalam mantra-mantra dengan nama Si Bujang Hitam atau Si Anjing Hitam!” Panjang juga uraiannya.“Sederhananya ilmu iblis. justru tidak sedih atas kematian ayahku. akhirnya menghembuskan nafas terakhir dengan tubuh capek berkeringat.. kami berhasil membebaskan ayah dari penderitaannya. Tapi Si Hitam terus bergedencak menyiksa ayahku yang terkapar tidak hidup dan tidak mati. meskipun aku tak merasakannya! Dan ayah pun. Si Hitam sedang sewenang-wenang seradak-seruduk di sana. Tak dapat kubayangkan bahwa iblis itu. atau kampak atau apa! Apakah Si Hitam mulai membuatku jahat? Maka matahari yang menyilaukan ini. Maka beliau akan meninggal dengan tenteram!” Ketika tubuh ringkih ayah menggelepar-gelepar lagi maka aku seolah benar-benar sedang dalam cengkeraman mimpi buruk. Lalu ditambahkannya dengan suara tenang juga: “Si iblis itulah yang menzalimi beliau. benar-benar tidak adil dan menakutkan seperti mimpi buruk! Dalam hati aku menyumpahnyumpah karena aku kehilangan makna diriku sendiri. di tengah khalayak ramai yang memenuhi bukit-bukit kuburan jelaslah bahwa memang ayahku sudah meninggal dan dihormati penduduk kota selayaknya. karena aku kasihan padanya! Dengan perasaan kosong kulihat mayat ayahku diturunkan ramai-ramai ke lubang kuburan gelap. Kematian adalah pantas dan wajar bagi setiap orang. kaupungut saja Si Hitam. akan terus memperkosa ayahku. malah sepertinya aku ingin mencincang-cincang mayatnya dengan pisau. yah. Cara mati ayahku yang terkutuk itu hanya menjanjikan bahwa masa depanku tidaklah lebih dari pengulangan atau pelanjut kebusukan ayahku sendiri. jika memang hanya itulah cara agar Si Hitam keluar dari tubuh ayahku — sesuai dengan persumpahan ayahku! Tak usahlah kukisahkan bagaimana dengan bantuan si kakek itu. upacara pemakaman dan khalayak ini pun kurasakan sebagai bagian dari takdirku yang terkutuk sebagai pewaris biang dosa ayahku. Aku sendiri. betapa terkutuk! Ternyata aku tidak siap untuk itu. bahkan paling terkutuk. apa pun artinya.

aku pontang-panting mencari cermin. 1992 Menyiram Bunga di dalam Cermin Oleh: Yus R. Aku teringat masa kecil saat emosi telah memuncak aku melepaskannya dengan tangisan yang keras dan merasa tenang setelah tangis itu berhenti. tapi selalu berakhir dengan kelelahan. Di dalamnya. menjadi diri sendiri. Tubuhku menjadi media ekspresi penghuninya yang bukan aku saja itu. Begitu banyak perilaku yang tidak bisa dimengerti mengapa pernah aku lakukan. Teringat kelegaan dari tangisan di waktu kecil itu. Setiap tengah malam aku terbangun dan mencari-cari cermin. aku ingin mengusirnya. Aku merasa tubuhku ini bukan lagi rumah pribadiku. tiba-tiba aku tidak bisa yakin apakah cairan yang keluar dari seluruh tubuhku itu benar-benar darah atau air mata.Jakarta. lidahku. maka kamu akan melihat diri sendiri. Kesadaran itulah yang mendorongku untuk bercermin. Aku tidak bebas lagi bergerak. Aku merasakan suatu kesakitan yang nikmat saat darah itu mengucur setetes demi setetes. Tapi sering aku tiba-tiba asing dengan diri sendiri. Semua cermin telah retak dan pecah. Setiap suara entah dari mana itu bergaung memenuhi kesumpekan ruang tubuhku. dengan kekerasan atau tanpa kekerasan. menerjemahkan hati menjadi apa saja. diskotik. hotel. candi. mushola. . Aku memasuki wc-wc umum. setidaknya untuk mengetahui siapa saja penyatron ruang-ruang tubuhku yang sadar atau tanpa sadar sempat kukosongkan itu. berekspresi. Semua cermin yang kutemukan tidak bisa lagi dipergunakan. kakiku. Maka aku menemukan cermin itu saat keinginan yang sunyi itu menusuk-nusuk seluruh tubuhku dengan pisau cekamannya. mataku. mulutku. Betapa sunyi keinginan ini.” kata suara entah dari mana yang selalu bergaung memenuhi kesumpekan ruang tubuhku ini. gereja. bisa bergerak selain diperintah olehku. bisa jadi telah dibangun kamar-kamar yang sadar atau tanpa sadar telah aku kontrakkan kepada entah apa dan siapa. Bila sudah mengetahuinya. Maka tanganku. Ismail 192 “Bercerminlah dengan khusuk. Seluruh anggota tubuhku mengalirkan darah. Tapi keinginan yang mencekam itu selalu membangun kelelahanku menjadi orang yang pantang menyerah. karena aku memang bukan seorang pemain sinetron atau drama. Dan begitu banyak keinginan yang tidak aku lakukan. Bukankah setiap hari aku menjadi aku. Aku toh bukan Dedi Mizwar yang biasa memerankan Naga Bonar atau apa dan siapa saja.

Barangkali kesakitan dan kenikmatan adalah dua hal yang menempati satu ruang kesadaran. ini sebuah jeritan atau geraman dari dendam. di mana saja. “Mau kamu mencoba menyiram bunga?” tanya si penyiram itu ketika aku begitu takjub dengan matanya. Dan begitu banyak lagi metamorfosa lainnya. Di tanah. air. Ada pucuk yang diam-diam menjadi kesegaran daun menjadi kelelahan daun kering dan menjadi cekaman musim gugur. Namaku memang tidak jelas. mengalir ke mana saja yang kumau. “Mau menyiram bunga?” tanya si penyiram itu sekali lagi. semuanya menjadi silet-silet yang tanpa henti menoreh-noreh tubuhku. Tapi kesakitan itu pun aku rasakan menjadi kenikmatan yang tiada bandingannya. aku melihat berbagai metamorfosa menjadi warna-warna yang artinya tak terjangkau pengetahuan ilmu semiotikku. kesunyiaan. Lukisan penyiram bunga dengan latar belakang kemerahan langit senja yang entah di mana dan kapan pernah aku lihat itu terpantul kembali di setiap potret diri yang kulihat di mana-mana dan apa saja yang tiba-tiba kulihat sebagai cermin. Tapi begitu air jatuh dari gayungku. ketakberdayaan. api. Kesedihan. daun. Sampai aku sadar bahwa badai itu hadir di dalam tubuhku. mengobrak-abrik ruang-ruang tubuhku. Dengan gembira aku mengangguk dan menghampiri.Keraguan itu menjadikan aku merasa sekali waktu cairan yang keluar dari tubuhku itu benar-benar air mata dan di waktu lain benar-benar sebagai darah. Aku ingin merasakan lebih dalam getaran metamorfosa dari banyak hal itu. bagaimana angin bergurau dengan tangkai mawar. Aku selalu terkenang dengan sebuah lukisan (yang entah di mana dan kapan pernah aku lihat) tentang seseorang sedang menyiram bunga dengan latar belakang langit senja yang kemerahan. Ada kuncup yang menjadi keindahan bunga mekar menjadi keresahan kelopakkelopak yang tanggal dan menjadi kesadaran kesementaraan. bagaimana tanah menguapkan bau yang khas. Perubahan keyakinan itu memang begitu menyakitkan. Aku tak pernah lupa bagaimana air menetes dari ujung daun. dsb. Aku meresap ke dalam tanah sambil mengingat hektaran hutan menjadi gurun tandus. Aku banting-banting di tengah lautan yang kuciptakan sendiri. Di matanya. Aku suka membicarakan apa saja dengan siapa saja. aku lupa dengan metamorfosa itu. Eh. tubuhku terpampang seperti jutaan potret dari yang beragam betuk dan rupa. aku tak yakin. Entah . ketaksempurnaan. angin. Bila bertemu denganku. Aku tidak bisa membedakan suara keduanya. kabut. kepedihan. Aku telah terbawa air. Sejak kecil cita-citaku memang menanam bunga. kesendirian. Tapi bila ingin ngobrol menghabiskan malam atau menghabiskan waktu menjadi tanpa ukuran. 193 *** PANGGIL apa saja maka aku akan menoleh. Aku menyusuri daun dan batang sambil mengingat kesakitan hutan yang ditebang dan di bakar. Tiba-tiba aku menyadari bahwa aku sebenarnya tidak perlu cermin. jangan ragu-ragu untuk menyapa. Aku mendengar kesakitan hutan itu seperti jeritan badai yang terus berdebur. sampah. Tapi ketidakjelasan itu merupakan kejelasanku. Tubuhku telah terpantul di mana-mana. kepapaan. batang. temui saja aku di kebun bunga.

Atau Pangandaran. Bertahun-tahun kami mengembara. Barangkali sepanjang hidup ini akan dihabiskan untuk mengembara. Tapi sayang kami tidak mencatat peristiwa-peristiwa itu. Kami seperti punya kesepakatan bahwa sebaiknya memang tidak dicatat dan dibicarakan.” Siapa sebenarnya orang ini? Orang gila atau makhluk angkasa luar? Karena aku diamkan cukup lama. Peristiwa-peristiwa itu memang penuh dengan darah dan rasa perih. berapa milyar pembaca yang akan sakit. Barangkali merasakan kesakitan-kesakitan di tempat-tempat yang berbeda itu adalah hidup kami. bila seluruh peristiwa itu tercatat. “Ya. Kami merasa peristiwa itulah yang lebih penting dibanding dengan nama-nama. karena tahu-tahu aku berada di pantai yang tenang dan pagi yang anggun. Pantai Panjang juga bisa. Sungai-sungai mengalirkan air mata. Pantai apakah ini? “Mau ikut denganku?” tanya seseorang dengan ransel besar di punggungnya yang mengingatkanku akan perjalanan yang panjang dan jauh.” Beberapa jenak aku tercenung. Tapi kertas dan tinta itu bukanlah alasan yang tepat mengapa kami tidak mencatat. Kamu bisa menamakan pantai apa saja sesukamu. Tidak bisa terbayangkan. “Pantai apakah ini?” Aku malah balik bertanya. Kami banyak menyaksikan beragam peristiwa di setiap tempat. Atau Pelabuhan Ratu. pergi dari tempat yang satu ke tempat yang lain sambil merasakan rasa sakit sendiri-sendiri. aku dan angin. “Kuta.berapa lama aku pingsan.” Aku memandang orang yang aneh itu. kami merasa begitu banyak tempat yang belum kami kunjungi. 194 . Karena semua nama akan cocok dengan pantai ini. begitu lelah. Setiap kaki melangkah meninggalkan suatu tempat. Benarkah ini pantai Kuta? Melihat dari tanda-tandanya aku merasa ini Pantai Panjang. Aku merasa tubuh ini sakit-sakit. Saat itulah aku yakin bahwa orang itu adalah angin. berapa banyak kertas dan tinta yang akan kami habiskan bila setiap peristiwa dicatat. “Apa perlunya nama. Aku menyusulnya sambil berteriak. kami merasa begitu banyak tempat yang belum kami kunjungi. rasa sakit barangkali bagian dari hidup. Air mata siapa lagi itu kalau bukan milik kita. Maka kami. Sepanjang sejarah. “Aku ikut!” Kami mendaki bukit menuruni gunung masuk ke lembah menyusup ke lorong-lorong. Suara tangis terdengar di mana-mana. karena hanya kita yang menghuni dunia ini. Barangkali benar bahwa nama-nama tempat tidak penting bagi seorang pengembara. orang beransel besar itu terbang. Setiap kaki melangkah meninggalkan suatu tempat. Kami tahu tempat-tempat itu pun akan menyediakan hidangan kesakitan-kesakitan lain begitu kami datang. tapi kami tidak bisa tidak mengunjungi tempat-tempat itu. Barangkali hidup memang pengembaraan itu sendiri seperti kata Seno Gumira Ajidarma dalam sebuah cerpennya yang kubaca di toko buku entah di daerah mana. Kami tidak bisa membayangkan.

Aku pingsan entah berapa lama.” Dan entah apa lagi yang diucapkan si penyiram bunga bermata penuh metamorfosa itu. Kita tidak bisa merasa sakit dan perih..*** 195 . Dia barangkali tidak sadar bahwa kepergianku dari taman itu pun adalah pengembaraan. aku berada di sebuah taman yang entah bernama apa dan di mana.. Aku lebih tertarik dengan matahari yang membuat langit memerah itu. Atau aku pun adalah ulat? Ah. kita tidak bisa tidak pergi. Karena sakit dan perih adalah hidup kita. Dan begitu terbangun.Keyakinan itu terus berada di hatiku sampai rasa lelah dan sakit tidak bisa lagi aku tahan. Sinar lembutnya disambut hangat lebah-lebah yang tanpa lelah mencari madu dari bunga ke bunga. aku tak mau mengikuti pengembaraan yang melelahkan itu. aku yakin bahwa taman ini adalah lukisan yang terpantul di potret diri dari cermin-cermin itu.. Ingatlah. Eh. “Mengapa tidak menyiram bunga lagi? Dengan menyiram. Saat kulihat ke sekeliling. Memandangnya sambil mencoba memahami kunyahan mulutnya aku merasa begitu dekat dengan ulat. aku baru sadar di taman ini pun ada ulat yang terus-terusan memakan daun dan mengerek batang. Tapi aku tidak mengacuhkannya. Aku berdiri dan pergi. Aku sadar bahwa aku tidak seperti angin yang ditakdirkan sebagai pengembara. “Mengapa berhenti menyiram bunga?“ kata seseorang yang sebelumnya kukenal sebagai si penyiram bunga itu. Aku tak mau pergi dengan ulat seperti yang pernah kulakukan dengan air dan angin. kamu bisa pergi ke mana saja.

aku duduk di pinggir sungai dan memperhatikan patahan air yang mengalir menjauh ke arah Timur. kecuali pada pagi hari. Segera setelah selesai membaca Quran pada pagi hari. Ketika lelah berenang ke sana-ke mari. juga aku akan mengingat saat-saat ia berdoa dan akan membawakan untuknya sajadah dan mengisi tempat air untuk wudhunya tanpa perlu ia memintanya. aku cepat menghafal Quran dan Syeh selalu memintaku untuk berdiri dan memperdengarkan ayat dari Sang Maha Pengampun kapan saja ia menerima tamu. Aku tidak ingat tepatnya berapa umurku. mereka akan menepuk kepalaku dan mencubit pipiku — hal-hal yang mereka tidak lakukan pada kakekku. Oktober 2000 Segenggam Kurma Oleh: Tayih Salih 196 Ketika itu aku pasti masih sangat muda. Aku biasanya tahu saat kakek menginginkan aku tertawa. seperti kakekku. terasa lembut dan tebal dan putih seperti kain wol — belum pernah dalam hidupku aku menyaksikan sesuatu yang lebih putih atau lebih indah. kakekkulah yang akan membawaku ke mana pun ia pergi. tetapi aku ingat betul bahwa bila orang melihatku bersama kakekku. dan aku juga mencintai sungai itu. ketika aku ke mesjid untuk belajar Quran. aku akan melemparkan batu tulis kayuku dan melesat menuju ibuku. sungai. Ketika ia tidak . dan berlari untuk menyelam di sungai. Aku menyayanginya dan akan membayangkan diriku. Aku suka membiarkan khayalanku dan membayangkan sebuah suku raksasa tinggal di belakang hutan itu. yang akan menepuk kepala dan pipiku seperti yang mereka lakukan ketika melihatku bersama kakekku. dan bersembunyi di belakang hutan kecil rimbunan pohon akasia yang tebal. dengan tergesa-gesa menelan sarapanku. Mesjid. cepat seperti jin. Sebabnya. aku malah senang melakukannya. tinggi dan langsing sepertinya. ia akan menyeka ujung hidungnya dengan jari telunjuknya.Horison. pada saat aku sudah menjadi laki-laki dewasa. atau belum pernah kulihat kakekku memasuki rumah tanpa harus membungkukkan badan begitu rendahnya sehingga aku mengingat bagaimana sungai akan mengalir memutar di belakang hutan kecil pepohonan akasia. Sungguh. karena sepupusepupuku adalah gerombolan anak yang bodoh dan aku — begitu kata orang — adalah anak yang pandai. orang-orang tinggi dan kurus dengan janggut putih dan hidung tajam. Sebelum kakekku bisa menjawab pertanyaanku yang banyak. karena aku tidak pernah melihat orang di seluruh daerah ini yang menyapanya tanpa harus mendongakkan kepalanya. tidak heran. saat untuk diam. dan ladang itu — semua itu adalah hal-hal terpenting dalam kehidupan kami. aku dulu mencintai mesjid. Yang aneh adalah bahwa aku tidak pernah pergi bersama ayahku. Kakekku pasti juga luar biasa tinggi. Aku yakin bahwa aku adalah cucu kesayangannnya. berjalan dengan langkah-langkah yang lebar. Sementara kebanyakan anak-anak seusiaku menggerutu kalau harus ke mesjid untuk belajar Quran.

adalah lelaki yang doyan kawin. Masood. “siapa yang memiliki pohon-pohon kurma itu. “Perempuan. anakku.” Kakekku kemudian melanjutkan.” kata Masood. ia berkata. Aku ingin sekali kakek tidak melakukan apa yang dikatakannya! Aku ingat Masood menyanyi.” Aku dengan cepat menghitung bahwa Masood pastinya sudah menikahi sekitar sembilan puluh perempuan. empat puluh tahun yang lalu semua ini menjadi milik Masood — dua pertiga dari semua itu sekarang menjadi milikku. Posisinya berubah sekarang. semua pohon itu ataupun tanah hitam yang pecah-pecah ini. “Menurutku kakek tidak suka pada tetangga kita Masood?” Yang dijawabnya. galabia-nya dengan lengan baju yang robek. Masood saat itu adalah pemilik semua kekayaan ini.” aku berkata pada diriku sendiri. keledainya yang lambat dan pelananya yang tak terpelihara. Aku bertanya pada kakek mengapa Masood menjual tanahnya. Kakek tidak pernah tertawa. karena kubayangkan bahwa tanah ini sudah menjadi milik kakek sejak Tuhan menciptakannya. Setiap kali ia kawin ia menjual satu atau dua feddan padaku. dan kupikir bahwa sebelum Allah memanggilku aku akan membeli sisanya yang sepertiga juga. “Aku tidak peduli. ia suka mendengarkan aku membacakan ayat Quran dengan suara penuh irama. Aku berkata pada kakekku. dan kakek dan aku saling bertukar pandangan. “Masood. Suatu hari aku bertanya tentang tetangga kami. kemudian. “Ya. akasia. “Tidak satu feddan pun milikku ketika aku pertama kali menjejakkan kaki di desa ini. “Kau lihat tanah yang ujungnya di padang pasir sampai ke tepi Sundai Nil? Ratusan feddans. penampilannya yang jorok. suaranya yang indah dan tawanya yang keras yang menyerupai suara air yang berdeguk. Lalu kuingat tiga istrinya. “Kami akan memanen kurma hari ini. dan sayal? Semua ini jatuh ke pangkuan Masood. Aku sudah melakukan semua kecuali membersihkan pikiranku dari pikiran-pikiran yang berdesakan masuk ke kepalaku pada saat aku melihat laki-laki itu mendekati kami. “Orang itu culas dan aku tidak suka orang macam itu.” dan dari cara kakek mengatakan kata itu aku merasa bahwa “perempuan” adalah sesuatu yang buruk sekali.memiliki kegiatan lain. diwarisi olehnya dari ayahnya. memandangi luasnya ladang. dan aku bisa mengatakan lewat wajahnya bahwa ia tersentuh. yang kutahu itu adalah tempat bagi impian-impianku dan tempatku bermain. aku mengalihkan pandanganku darinya ke daerah yang luas yang tadi diterangkan oleh kata-katanya.” Aku berkata kepada kakek.” Aku tidak tahu mengapa aku merasakan ketakutan pada kata-kata kakekku — dan rasa kasihan kepada tetangga kami Masood. “Kalian tidak ingin ke sana?” 197 . Kau lihat semua pohon kurma itu? Dan pohon-pohon itu — sant.” Ini jadi berita untukku.” Memanfaatkan kakekku yang membisu. “Apa sih orang culas itu?” Kakekku menundukkan kepalanya sejenak. anakku. sesudah menyentuh ujung hidungnya.

Sekali ia meneriaki seorang anak laki-laki yang bertengger di puncak pohon kurma dan ia sudah mulai menggarap rumpunan kurma dengan sabitnya yang panjang dan tajam.” Tak ada yang memperhatikan apa yang dikatakannya dan anak laki-laki itu terus duduk di puncak pohon kurma. seperti manusia. kakek melompat berdiri dan aku melihat matanya bersinar sesaat dengan kecerahan yang luar biasa. lalu mengembalikannya. “Pohon kurma. Aku melihat Masood memenuhi kedua tangannya dengan kurma dan membawanya ke dekat hidungnya. Aku ingat ucapan Masood padaku ketika ia suatu kali melihatku mempermainkan cabang pohon kurma muda. Seseorang membawakan kakekku bangku yang ditutupi dengan penutup dari kulit sapi. Hussein si pedagang mengambil sepuluh. Kemudian aku menyaksikan mereka membagi kantung-kantung itu di antara mereka. melompat di atas kakinya. “Awas jangan sampai kau potong jantung kurmanya. aku melihat teman-temanku berkerumun seperti semut di seputar batang pohon kurma. Terkadang perhatiannya tersita pada bunyi rumpun besar kurma yang hancur terjatuh dari ketingggian. Namun. yang kemudian kukunyah. yang kuhitung ada tiga puluh. sesuatu yang memiliki jantung yang berdetak. mengumpulkan kurma dan memakan sebagian besarnya. seperti seseorang yang ingin mundur tetapi kakinya memaksa maju. dan berjalan menuju kantungkantung kurma. beberapa mengambil satu dua kurma untuk dimakan. Mousa si pemilik ladang di sebelah ladang kami sebelah Timur. Aku melirik Masood dan menyaksikannya sedang mendekati kami dengan luar biasa perlahan. Aku melihat orang berdatangan dan menimbang kurma ke dalam wadah timbangan dan menuangnya ke dalam kantung-kantung. dan dua laki-laki yang belum pernah kulihat sebelumnya. kecuali Hussein si pedagang. Ketika sekali lagi aku memandang luasnya tanah yang membentang di hadapanku. Kerumunan orang bubar. dengan cepat dan penuh tenaga.” Aku membayangkan pohon kurma sebagai sesuatu yang punya perasaan. merasakan kebahagiaan dan penderitaan. dan dua orang yang tak dikenal. menggarap cabang dengan sabitnya sampai rumpun kurma mulai jatuh seperti sesatu yang turun dari surga. Tiba-tiba kakek bangun. Aku mendengar bunyi siulan dan melihat kakek sudah jatuh tertidur.” Dan aku merasakan rasa malu di dalam diri yang tidak beralasan. aku sudah mulai berpikir tentang kata-kata Masood “jantung kurma. Mereka membentuk lingkaran di seputar kurma dan mulai memeriksanya.Walaupun begitu. Namun. Kakek memberiku segenggam penuh. tetapi biarpun aku kenal mereka semua. aku merasa bahwa ia tidak betul-betul menginginkan kakek hadir di sana. Kurma-kurma dikumpulkan menjadi tumpukan yang tinggi. aku punya banyak alasan untuk memperhatikan Masood. kecuali ia memasukkan potongan tangkai ke dalam mulutnya dan sedang mengunyahnya seperti orang membuat perutnya kenyang dengan makanan yang tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan mulut yang masih penuh. sementara aku tetap berdiri. masing-masing orang tak dikenal itu mengambil 198 . anakku. Lalu aku perhatikan Masood tidak mengubah cara berdirinya. Di sana ada begitu banyak orang. Ia menarik tanganku dan kami menuju ke tempat panen kurma milik Masood. jauh dari kerumunan orang banyak ia berdiri seolah itu bukan urusannya. Ia diikuti Hussein si pedagang. walaupun kenyataannya pohon-pohon kurma yang akan dipanen adalah miliknya. Mousa di pemilik ladang di sebelah ladang kami.

Larson dalam Under African Skies. Aku berlari ke kejauhan.” kata kakekku kepada Masood. aku sedikit ragu. dan kantung-kantung kurma itu dipunggah ke atas punggung binatang-binatang itu. Aku yang tak mengerti apa pun melihat kepada Masood dan menyaksikan matanya bergerak ke kanan dan ke kiri layaknya dua ekor kucing kecil yang tidak tahu jalan pulang ke rumah. 199 . Aku mendengarnya mengeluarkan suara di tenggorokannya seperti rintihan domba yang akan dijagal. Mendengar kakekku memanggilku. 1997.lima. Salah satu keledai mengeluarkan suara ringkikan yang membuat mulut unta-unta itu berbusa dan mengeluh ribut sekali. sepertinya aku membawa di dalam diriku sebuah rahasia yang ingin kuhindari. dua orang asing itu membawa unta. Edinburg: Payback Press. Mo-dern African Stories. Tentang desanya itu. “Kau masih berhutang lima puluh pound padaku. Cerpen "Segenggam Kurma" ini diambil dari kumpulan tersebut. Salih mulai menulis tahun 1953. aku merasakan sakit yang teramat sangat di dadaku. Ia mendapatkan pendidikan tinggi di Universitas Khartoum. Cerpen ini diterjemahkan oleh Sapardi Djoko Damono. Keluarganya adalah petani dan guru. namun sebentar kemudian ia bekerja di BBC sebagai perencana siaran drama dalam bahasa Arab. merasakan tanganku mengarah padanya seolah aku ingin menyentuh keliman pakaiannya. aku meletakkan jariku ke dalam tenggorokanku dan memuntahkan kurma yang sudah kumakan. yang kemudian bersama sejumlah cerpen Afrika lain dikumpulkan oleh Charles R. Aku mencapai tepi sungai di dekat belokan di belakang hutan kecil pohon akasia. Masa kecilnya dihabiskannya di desa itu. diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Denys Johnson-Davies. Aku mempercepat langkahku. yang hanya berisi tiga cerpen baru terbit tahun 1968. Untuk alasan yang tak kuketahui. ia pernah menyatakan bahwa ia masih merasa tinggal di sana mengembara ke mana-mana. dilahirkan pada tahun 1929 di desa Al-Debba di Sudan Tengah. Aku merasa mendekati Masood. Mousa si pemilik ladang di sebelah ladang kami di sisi Timur mengambil lima. tanpa tahu mengapa. yang kemudian dilanjutkannya di beberapa universitas di Inggris.*** Tayeb Salih (Al-Tayeb Salih). “Kita bicarakan itu nanti. Kemudian. kemudian melanjutkan perjalanan. Ia pernah menjadi guru di Sudan. dan kakek mengambil lima.” Hussein memanggil pembantu-pembantunya dan mereka menggiring keledai. Aku merasa pada saat itu bahwa aku membencinya. tetapi kumpulan cerpennya yang pertama.

. Bunyi berderatderit itu bergema lagi. Namun aku juga kini merasa cemas seperti orang-orang lain yang serba waspada. Tak ada bobot manusia yang menekan di papan itu. Kupusatkan pendengaran. Sebuah suara dalam diriku? Suatu bunyi. aku dilatih agar jangan merasa takut atau terancam. Kujawab bahwa aku tidak menulis cerita anak-anak. Kutentramkan diri. Namun. Tak ada pistol di bawah bantalku. Aku boleh menulis apa saja yang kuinginkan. Lagi pula kaca rumahku tipis bagai lapisan embun. Kemarin malam aku terbangun tiba-tiba tanpa mengetahui apa yang mengejutkan diriku. Kupandangi pintu.di dalam gelap. seorang pengarang telah menghimbau agar setiap penulis menulis sekurang-kurangnya satu cerita anak-anak. tetapi degup jantungku tak menentu seperti menghantami jantungku. Anjing garang yang mengawal seorang duda tua dan koleksi jam antiknya telah dijerat sebelum ditikam oleh seorang buruh biasa yang telah di-PHK tanpa dibayar upahnya. Kuteliti tiap bunyi yang paling perlahan sekalipun. Aku tidak memiliki terali besi. sambil membayang-bayangkan sesuatu dalam kepala --bukannya melihat-. November 2000 Syahdan Pada Dahulu Kala Oleh: Nadine Gordimer 200 Seseorang telah memintaku untuk menyumbangkan sebuah antologi cerita anakanak. Bunyi deritan itu hanya disebabkan perasaan yang tertekan. seorang perempuan telah dibunuh (kata orang) di siang bolong. Tak dapat aku menumpukan pendengaranku karena gangguan yang ada pada siang hari. mengenalinya baik-baik sambil memilah-milah kemungkinan ancamannya.Horison. Aku menanti untuk mendengar kalau-kalau ada tanda yang menunjukkan bahwa kaki itu bergerak lagi dari satu kamar ke kamar lain. Tahun lalu. Bunyi berderit-derit bagai langkah kaki yang diseret satu demi satu di atas papan seolah membawa beban yang berat. Orang itu mengatakan bahwa dalam suatu kongres/pameran buku/seminar yang diadakan baru-baru ini. Terpikir olehku untuk mengiriminya selembar kartu pos untuk menyatakan bahwa aku tidak sepaham dengan pendapatnya. Kupasang telinga. mudah pecah seperti gelas anggur.

serta menjadi anggota siskamling di lingkungan itu yang memberi mereka sekeping papan pengumuman di pintu pagar betuliskan "Dalam Lindungan Keamanan". di mana orang kulit hitam ditempatkan. Orang-orang itu dilarang masuk kawasan pinggiran kota besar. ucap sang suami. di bawahku. Sukar untuk mengasuransikan rumah. kerusakan akibat banjir. atau mobil mereka dari kerusakan akibat kerusuhan. Membuka pintu pagar. penggalian yang bertingkat-tingkat saat penambangan dan lorong jalanan tambang-tambang emas telah melongsorkan bebatuannya serta menyebabkan tanah ini jadi berongga. di dasar rumah ini. Kerusuhan memang terjadi. jauh dari pandangan dan pendengaran orang-orang di kawasan tepian kota besar. Mereka memiliki seekor kucing dan seekor anjing yang amat disayangi anak kecil itu. Rumah yang melingkupi tubuhku saat aku sedang tidur dibangun di atas bekas tanah pertambangan. diri mereka diasuransikan dari musibah kebakaran. dan kaca yang menyangga rumah menjadi longgar. yang mungkin bertopeng hingga sulit diduga apakah ia orang kulit putih atau kulit hitam. Ada pula sebuah kolam renang yang berpagar untuk mengelakkan anaknya dan teman-teman mainnya agar tidak terjatuh ke dalam kolam dan mati lemas. Sukar bagiku untuk mencari tempat guna mengistirahatkan pikiran dan tubuhku. kolam renang. Di dalam sebuah rumah di pinggiran metropolitan. Mereka memiliki seorang anak lelaki yang amat mereka cintai. tetapi pencurian banyak terjadi di kawasan tepian kota besar. Siapa yang menurunkan tanda DALAM LINDUNGAN KEAMANAN itu dan akan membuka pintu pagar. mencegah kemungkinan perampokan. semen. Akupun bercerita pada diriku sendiri. Jadi. Merelakan diri tidur kembali. dan seseorang pembantu rumah yang dapat dipercayai telah diikat dan dikunci 201 . ia mungkin runtuh atau longsor 3000 kaki ke bawah. kayu yang dibuat oleh para penambang pelarian Chopi dan Tsoinga yang pernah berada di bawah sana. Seluruh rumah bergetar sedikit dan menyebabkan batu. Nun jauh di bawah kamarku. gas air mata dan senapan untuk mengusir mereka. manakala mereka hendak memulai kehidupan yang bahagia untuk selama-lamanya. tak ada yang perlu dicemaskan. ucap sang suami pada istrinya. atau mungkin ada orang yang pernah dikubur di situ dengan batu nisan yang menyedihkan. mobil-mobil dilempari batu. Namun sang istri masih merasa cemas kalau-kalau suatu hari nanti orang-orang ini akan turun ke jalan dan merusak papan bertuliskan DALAM LINDUNGAN KEAMANAN itu. Mereka mempunyai seorang pembantu rumah yang amat bisa dipercaya. agar jangan mengambil siapapun di tepi jalan. yaitu ibu sang suami. Namun. Degupan jantungku menurun seperti ayunan terakhir di atas zilofon. untuk menenangkan hati sang istri. mereka telah dinasihati oleh seorang tukang sihir tua yang bijaksana.Aku merasa ada di tengah-tengah tekanan itu. kecuali pembantu rumah tangga dan tukang kebun yang dapat dipercaya. sang suami telah memasang pagar berlistrik. Tingkat tempat adanya runtuhan mungkin tak digunakan lagi. di sana ada polisi dan tentara. mesti menyatakan niatnya dengan menekan tombol dan berbicara melalui alat penerima yang disambungkan ke rumah. Jika ada permukaan yang bergetar. Mereka memiliki sebuah mobil dan sebuah trailer karavan yang digunakan untuk pergi berlibur. Jangan mengomel saja. juga karena bus-bus dibakar. Anak kecil itu sungguh tertarik dengan alat tersebut dan menggunakannya sebagai walkie talkie dalam permainan polisi dan pencuri. dan perampokan. kayu. serta seorang tukang kebun yang rajin. dan anak-anak sekolah ditembaki polisi di kawasan pemukiman kulit hitam sana. lalu memaksa masuk. Mereka tergolong masyarakat yang diberi kemudahaan dalam pengobatan. tapi di luar kota. saking cintanya. air bertetesan dari rekahannya. Kerusuhan telah dapat ditanggulangi. tinggallah sepasang suami-istri yang saling menyayang serta hidup dengan penuh kebahagiaan. dalam perut bumi. bersama-sama dengan kawan-kawan yang sebaya dengannya. anjing peliharaan mereka diberi peneng. Oleh sebab itu. kisah dalam tidur.

dan jika kucing piaraan anak mereka coba memanjat masuk melalui ventilasi untuk menemaninya tidur pada waktu malam sebagaimana yang biasa ia lakukan. pembantu rumah tersebut telah meminta majikannya untuk memasang terali pada pintu dan jendela rumah. mengambil peralatan elektronik seperti hi-fi. Tetapi pembantunya berkata bahwa mereka adalah para bandit yang akan mengikat dia dan menguncinya dalam lemari. seseorang mungkin masih dapat memanjat tembok atau pagar yang berlistrik itu untuk masuk ke dalam taman. Sang istri berkata. Tetapi sang suami dan sang istri teringat akan peringatan agar jangan mengambil orang yang tak dikenal. Mereka duduk dengan kaki terjuntai ke dahan pohonan yang bagai sebuah lorong hijau di jalan raya. Sang istri tidak sampai hati melihat orang yang kelaparan. barang-barang berharga dan pakaian. atau apa saja. serta kadang-kadang membongkar apa saja yang ada dalam lemari es jika merasa sangat lapar.di dalam almari oleh pencuri ketika ia diamanati untuk menjaga rumah majikannya. kamera. Dan sang suami pun membawa masuk sepeda roda tiga anaknya dari taman setiap malam karena jika rumah itu benar-benar selamat. tibalah saat ketika banyak pembantu rumah dan tukang kebun yang tidak dapat dipercaya datang beramai-ramai memenuhi tepian kota besar itu. Benar katamu. Ikutilah nasihatnya. hingga akhirnya tidak diindahkan lagi oleh penduduk kawasan itu. yaitu ibu sang suami. Perusahaan asuransi tidak membayar ganti rugi untuk sebuah minuman malta sekalipun. Bunyi alarm yang nyaring. lantas menerobos masuk. Setengahnya mendesak agar diambil bekerja: mencabut rumput. setiap minggu terdapat banyak berita tentang perampokan di siang bolong dan di malam yang sepi. kalau begitu tembok itu sebaiknya ditinggikan lagi. Tetapi. Seperti biasa. Bunyinya dianggap biasa. Ia lalu menyuruh pembantu rumahnya mengantarkan roti dan teh. dan berselang-seling di halamanhalaman rumah. Sebuah kawasan tepi kota yang cantik jadi rusak oleh kehadiran mereka. Sebagian dari mereka meminum minuman keras dan mengotori jalan raya dengan botol-botol kosong. bahkan pada waktu subuh. ucap sang istri. dengan tanggung jawab menjaga harta pasangan itu dan anak kecil mereka. Kadang mereka tertidur di depan pagar pada siang hari. serta memasang alarm. kucing itu pun menyentuh alarm dan membangunkan seisi rumah. Dan perempuan sihir tua yang bijak itu. benar ucapan pembantu itu. mengecat atap. sama dengan bunyi katak menguak hingga tidak mencemaskan para pencuri untuk mengambil kesempatan dan menggergaji terali-terali besi. bahkan berani istirahat sejenak untuk meminum wiski yang diambil dari dalam kabinet atau dari bar. setelah dikunci rapatrapat dan alarm dinyalakan. Akhirnya. televisi. Pembantu rumah pasangan suami istri dan anak kecil itu merasa sedih dengan nasib malang yang menimpa rekannya. Maka pada setiap pintu dan jendela rumah yang didiami oleh mereka dengan penuh kebahagiaan buat selama-lamanya itu. ikuti nasehatnya. Kau hanya membikin mereka jadi makin beringas dengan roti dan tehmu itu. Si anak kecil pun mendapat pakaian orang angkasa dan sebuah buku cerita dongeng. meraung dan menjerit. mereka melihat pohonan dan langit melalui terali. Sebagian lagi meminta sedekah. akibat menganggur. Mereka mencari peluang kalau-kalau… . radio. Sang suami berkata. betul katanya. bersipongang satu sama lain. membayar untuk tambahan batu bata sebagai hadiah Hari Natalnya kepada anak dan menantunya. kerugian besar hanya diketahui oleh pemiliknya saja. Alarm tersebut nampaknya sering dijawab oleh alarm-alarm lain dari rumah-rumah lain yang disentuh oleh kucing piaraan mereka atau digigit tikus. menunggu sang suami atau sang istri ke luar dari pintu pagar yang berlistrik itu. Pencuri-pencuri itu tidak langsung menghargai apa yang telah diminum oleh mereka. meskipun pada bulan purnama di musim 202 . tape recorder.

jangan cemas sayang. Sang suami. Pada keesokan harinya.panas yang indah. Sang suami berkata. tak mengapa. ucap sang suami. kemudian melompat dengan gerakan yang cantik dan mendarat dengan mengibasngibaskan ekornya ke dalam kawasan rumah. Tembok putih itu dikotori oleh bekas jejak kucing dan di bagian luar tembok yang menghadap jalan terdapat bekas jejak dari tanah merah yang lebar seperti tapak sepatu yang tersarung di kaki penganggur-penganggur yang membuang waktu tanpa tujuan. sebuah keluarga sedang menikmati makan malam ketika kamar tidur di tingkat atas dibongkar. menyilaukan. Sedang anak lelaki mereka dan anjingnya berlari ke muka. sang istri. Pasangan suami istri yang sedang berbincang tentang perampokan bersenjata terkini yang berlaku di pinggir kota itu telah diganggu oleh kemunculan kucing peliharaan anak mereka yang coba memanjat tembok setinggi tujuh kaki itu. Betul katamu. kuat dan sederhana. berkali-kali. Keesokan harinya. Sama sekali tak ada jalan ke luar bagi mereka yang terlibat di situ. Cahaya matahari memancar dan cahayanya menerpa mata pisau bergerigi yang mengelilingi rumah tersebut. Ini semua menyulitkan orang untuk coba memanjat dan merangkak ke dalam gulungan itu tanpa dia tersangkut pada gulungan itu. tidak pernah coba melanggar pagar keamanan itu. Sang istri terpesona memandangnya. keduanya membuat keputusan untuk memilih sebuah bentuk yang paling baik saja. sang suami dan istri membandingkan setiap bentuk yang paling berkesan. sang istri dan anak kecil membawa anjing mereka berjalan-jalan di kawasan kediaman mereka. Di sepanjang tembok. sang ibu membacakan sebuah kisah dongeng pada sang anak dari buku yang dihadiahkan oleh perempuan sihir tua yang bijak pada hari Natal. Setiap percobaan hanya akan menyebabkan darah keluar lebih banyak lagi. Hubungi GIGI NAGA. Semakin terkait. kucing mereka hanya tidur di kamar si anak dan bermain di taman saja. tidak mungkin. lalu berkata. saat mereka sedang berhenti di hadapan sebuah dinding tembok tanpa berkata-kata. karena sejak hari itu. Separuh tembok dilekatkan dengan papan kecil yang ditulis dengan nama dan nomor telepon perusahaan yang bertanggung jawab memasang peralatan tersebut. Pada suatu malam. terbentang gulungan besi yang keras. Sebuah pilihan yang murah. Kilau itu akan hilang nanti. mula-mula memanjat ke atas dengan kaki depannya di permukaan dinding tembok. kucing selalu melihat sebelum melompat. dan selang beberapa minggu. mereka tidak lagi berhenti sejenak untuk menikmati keindahan pagar mawar di halaman yang kesemuanya kini tertutup di balik pagar serta temboktembok dengan peralatannya. tajam bergerigi serta bercabang mata pisau. berkilat. yaitu memasang pecahan kaca yang ditancapkan di atas semenan tembok dengan jerajak besi yang berujung tajam. Sang istri berkata. sang istri dan anak lelaki mereka yang kecil tinggal bersama-sama dengan anjing dan kucing peliharaan mereka dengan penuh kebahagiaan buat selama-lamanya. si anak beraksi seperti seorang putra raja yang gagah berani melepas dan 203 . sekumpulan pekerja datang merentangkan gulungan berduri dan berpisau di sekeliling tembok rumah. di mana tempat sang suami. siapapun akan berpikir dua kali… dan mereka mulai menimbang nasihat yang tercatat di atas papan kecil yang dilekatkan di tembok. Ada juga usaha untuk mencontoh kehalusan seni bangunan penjara berbentuk vila Spanyol (besi-besi tajam yang dicat merah jambu) dengan pasu-pasu berbentuk labu yang ditempel dengan lukisan klasik (besi-besi tajam yang panjangnya 12 inchi berlekak-lekuk dan bercat putih). dan anak kecil mereka membuat pilihan menakjubkan. saya harap si kucing peka. Sang suami berkata. kulit makin terkoyak dan luka makin jadi dalam. Masyarakat ingin keselamatan yang mutlak. Dan sang istri menunggu hingga si anak kecil pergi bermain. yakni bentuk yang paling sederhana namun luhur yang direncanakan seperti bentuk kamp tahanan: tidak berbunga-bunga. Ketika sang suami. Mereka benar. mereka menjamin gulungan itu tahan karat.

Smith Commmonwealth Literature Award. Dalam pada itu. Si anak membawa tangga ke tembok. lahir di Transvaal. Kumpulan cerpennya antara lain Livingstone Companions. dan Something Out There. Friday's Footprint. Lalu tangannya. dan anggota kehormatan American Academy and Institute of Art and Letters. Diterjemahkan oleh Agus dan Nikmah Sarjono 204 . Ia menjerit kesakitan dan meronta semakin ke dalam gelungan itu. sementara si anak yang bermandi darah dikeluarkan dari gulungan dengan menggunakan gergaji. dan sebagainya. Kaitan yang pertama mengenai lututnya. Tukang kebun yang rajin itu telah luka tangannya ketika mencoba menyelamatkan si anak. pembantu rumah yang dipercayai yang tengah diserang histria. Datanglah kemudian sang suami dan sang istri dengan tergopoh menuju taman. the W. Jump and Other Stories. A Soldier's Embrace. entah apa sebabnya (mungkin kucing. Ia menyusupkan diri ke dalam gulungan yang berkilat itu semuat-muat badannya. Not dor Publication. sang istri. pemotong kawat. Selected Stories. lalu segera berlari mendapati si anak kecil dan menjerit bersamasama dengannya. dan the Scottish Arts Council Neil M. agaknya) alarm pun menggila di tengah-tengah jeritan mereka. Pasangan pembantu rumah dan tukang kebunlah yang pertama kali melihat peristiwa itu. Cerpenis dan novelis Afrika Selatan ini banyak mendapat penghargaan di bidang sastra.*** Nadine Gordimer. kepalanya. kapak. Dia seorang dosen tamu di Royal Society of Literature.H. Nobel Sastra diraihnya pada tahun 1991. dan tukang kebun yang menangis. Gunn Fellowship.membabat duri-duri tebal untuk masuk ke istana dan mengecup sang puteri yang tidur serta menyadarkannya kembali. Mereka -sang suami. 1923.membawa anak itu masuk ke dalam rumah. antara lain: Booker Prize.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful