Horison, Januari 2000

Mimpi
Oleh: Abdel Salam Al-Ujaili

1
Dalam mimpinya Mohamed Wesaja ini perkara biasa, karena dalam keadaan sadar pun ia senantiasa mengerjakan shalat serta tak pernah meninggalkan ibadah wajib ini. Dalam mimpinya tersebut, kala sujud pertama, ia membaca dengan suara keras surat al-Nasr. Ketika sujudnya hampir selesai, ia terjaga dari tidurnya dan merasakan takut yang luar biasa. "Firman Tuhan adalah suatu kebenaran!," katanya sambil duduk di kamar serta menggosok-gosok matanya.Mohamed Weess tidak ingat mengapa mimpi tersebut begitu lekat dalam pikirannya. Maka, begitu pagi menjelang, segera ia temui Sheikh Mohamed Sa'id, seorang tua di kampungnya. Baru sekitar tengah harian, ia dapat bertemu dengan orang tua itu. Segera ia kisahkan mimpinya. Sheikh berdiam diri agak lama sambil menundukkan kepalanya dengan kening berkerut-kerut, sebelum akhirnya bertanya: "Kau yakin bahwa surah yang kaubaca itu surah al-Nasr?" "Saya yakin," jawab Mohamed Weess. "Saya membacanya sampai selesai. Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Jika telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau lihat manusia masuk agama Allah beramai-ramai. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, dan mohon ampunlah kepada-Nya. Sesungguhnya Dia maha Penerima Taubat." "Firman Tuhan adalah kebenaran!" kata Sheikh Mohamed Sa'id. "Wahai Mohamed Weess, segala puji bagi-Nya. Mintalah ampunan daripadaNya. Sesungguhnya Dia maha mengasihi." "Wahai Sheikh Mohamed Sa'id, saya percaya ini adalah pertanda buruk bagi saya. Apakah tafsiran tuan tentang mimpi saya tersebut?" Sheikh Mohamed Sa'id memegang dan mengusap-usap janggutnya yang panjang dan tebal itu. Dia kelihatan agak keberatan untuk menerangkan pengetahuannya yang mendalam mengenai ilmu menafsirkan mimpi. Akhirnya ia bersuara juga. "Mohamed Weess, mohonlah ampunan daripada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengasih. Mimpi membaca surah ini menandakan bahwa orang itu sudah hampir tiba saat ajalnya." Mohamed Weess tergetar. Ia merasa tiba-tiba seluruh badannya menggigil.

"Apakah yang tuan Sheikh katakan?" "Amat berat bagiku untuk menyatakan ini kepadamu," jawab Sheikh. "Bagaimanapun, untuk menenangkan perasaanmu, kau akan beroleh rahmat Tuhan. Dan kematian pasti datang menjemput kita semua. Mohamed Weess, tak ada orang yang mimpi seperti ini dapat hidup lebih dari empat puluh hari." Setelah memberitahu hal tersebut, Sheikh itu pun terus pergi untuk menunaikan shalat Dzuhur, meninggalkan Mohamed Weess yang terpuruk di tanah sambil kebingungan. Kakinya seperti tak mampu lagi menampung berat badannya. "Empat puluh hari," suaranya bagai keluar tanpa melalui kerongkongannya. "Ya Tuhan, berilah hamba kekuatan." Desa di mana Mohamed Weess dan Sheikh Mohamed Sa'id tinggal hanyalah sebuah desa kecil, maka menjelang senja setiap penghuninya sudah tahu tentang mimpi Mohamed Weess dan tafsiran yang dibuat oleh Sheikh Mohamed Sa'id. Penduduk desa itu percaya pada tafsir mimpi. Itulah sebabnya pada petang berikutnya semua orang sudah begitu yakin bahwa Mohamed Weess akan mati dalam tempo empat puluh hari. Kaum lelaki berdatangan menziarahi Mohamed Weess, mula-mula seorang demi seorang, namun kemudian secara berombongan, hingga ia terpaksa berada di rumahnya menerima tetamu yang datang dan bertanya mengenai kesehatannya serta mengungkapkan rasa dukacita atas kematiannya yang bakal segera tiba itu. Kaum perempuan yang datang ke rumah Mohamed Weess datang untuk mendapatkan berita, sambil melihat-lihat keadaannya. Mereka mendapati Mohamed Weess masih segar bugar, tetapi tampak bingung. Sambil meratap mereka mohon agar Tuhan campur tangan dalam urusan Malakul Maut yang akan mencabut nyawa Mohamed Weess ketika dia masih sehat. Walaupun Mohamed Weess tidak sakit dan tidak pula uzur, segala langkah berjaga-jaga yang diambil untuknya serta segala pertanyaan lembut mengenai dirinya telah membuat dia mulai merasa sakit. Dia tabah menghadapi keadaan tersebut selama sepuluh hari, dan terus pulang-pergi antara pasar ternak dengan rumahnya. Bagaimanapun, tak butuh waktu lama dia tidak lagi tahan menanggung semua tekanan itu. Dia mulai merasa letih, dan orang ramai mulai menziarahinya pada waktu siang hati. Padahal sebelumnya mereka hanya datang pada malam hari. Dua puluh hari sejak saat ia bermimpi, keluarga Mohamed Weess merasa tidak perlulah lagi membereskan ranjangnya setiap hari karena kini Mohamed Weess senantiasa berbaring di situ siang dan malam. Setelah tiga puluh hari berlalu, pelbagai hidangan masakan kegemarannya yang disediakan khusus untuknya oleh keluarganya ternyata terkumpul di tepi ranjangnya tanpa dijamah. Dengan berpakaian serba putih dan membiarkan janggutnya tumbuh, Mohamed Weess menghabiskan waktunya hanya untuk bershalat. Dia terisak-isak bukan karena takut pada kematian atau kecewa karena hidup, melainkan karena takut akan hukuman yang bakal diterima di alam kubur dan rasa khawatir bahwa Tuhan tidak akan mengampuni kesalahannya karena kerap bersumpah dengan nama Tuhan sewaktu di pasar ternak, atau karena menipu para petani dari desa yang berdekatan. Waktu terus berlalu. Mendekati masa empat puluh hari, badan Mohamed Weess makin kurus karena kurang makan dan karena rasa penyesalan yang dalam terhadap dosa-dosanya yang telah lalu. Orang ramai -baik dari desanya ataupun desa yang berdekatan-ramai mempercakapkan cahaya keimanan yang terpancar pada wajahnya serta ayat-ayat mistik dan misteri yang diucapkannya tatkala ia sujud dan mengerjakan shalat. Tiga puluh sembilan hari sudah berlalu, dan pada waktu malam hari itulah aku memunculkan diriku. Anda mungkin bertanya, siapakah diriku?

2

Aku bertugas sebagai guru sekolah di desa tempat tinggal Mohamed Weess di mana ia bekerja sebagai pedagang berpengaruh di pasar ternak, dan di mana Sheikh Mohamed Sa'id dianggap sebagai wali. Aku sering menghabiskan cuti musim panas di Damaskus, dan kepulanganku ke desa itu jatuh pada hari ketigapuluh sembilan dari tempo yang dinyatakan oleh Sheikh Mohamed Sa'id kepada Mohamed Weess. Aku mengenali Mohamed Weess sebagaimana aku mengenali orang lain di desa itu. Ketika Mohamed Atallah yang bertugas sebagai porter di sekolah memberitahuku tentangnya, aku kebingungan: apakah harus tertawa atau bersimpati kepadanya. Bersama Mohamed Atallah aku segera pergi menjumpai Mohamed Weess untuk menenangkan fikirannya atau setidaknya untuk mengungkapkan rasa dukacitaku. Halaman rumahnya yang biasanya dipenuhi hewan ternak yang dibeli Mohamed Weess dari pasar, kini agak sesak dengan orang ramai yang datang untuk menyaksikan saat kematiannya. Sebuah sisi untuk lelaki dan sisi lain untuk perempuan. Di sisi ketiga terlihat beberapa ekor biri-biri dan kambing yang dibawa oleh kawan-kawan Mohamed Weess untuk dikorbankan pada esok harinya setelah rohnya berpisah dari jasadnya. Ketika aku masuk ke kamar Mohamed Weess tempat ia menunggu kedatangan Malakul Maut --dan akulah yang datang, bukannya malakul Maut-Mohammad Weess sedang duduk sambil berdoa, sementara Sheikh Mohamed Sa'id duduk di sudut lain melagukan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Aku sangat terperanjat melihat perubahan pada wajah Mohamed Weess. Wajahnya yang bulat dan pipinya yang berisi, kini sudah cekung dan pucat. Ini ditambah pula dengan janggutnya yang panjang. Kepucatannya kelihatan lebih jelas lagi dengan pakaiannya yang serba putih dan longgar itu. Sambil bershalat, dia memanjangkan sujudnya seolah-olah ia berharap agar kematian segera datang padanya. Tidak ada persamaan antara wali Tuhan ini yang keseluruhan wajahnya bermandikan cahaya iman, dengan Mohamed Weess yang asli, yang setiap pagi dari jendela sekolah bersumpahsumpah dengan nama Tuhan bahwa jika dia tidak rugi sebanyak tiga lira dari biri-biri yang baru dibelinya itu, dia akan menceraikan istrinya. Aku telah menziarahi Mohamed Weess dengan perasaan ragu-ragu dan serba ingin tahu. Namun, perubahan sedemikian rupa yang terjadi pada dirinya itu telah menyadarkan aku bahwa dia memang akan mati pada keesokan harinya seperti yang ditetapkan. Aku geram mendengar suara kuat Sheikh Mohamed Sa'id membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an sambil melirik ke arahku. Antara diriku dengan sheikh yang sifatnya merupakan gabungan sifat sederhana, bodoh, dan licik ini, aku merasakan adanya suatu rasa permusuhan yang sudah lama tumbuh. Aku sebenarnya benci kepada orang yang berlagak pandai dan suka menipu, hingga berhasil menguasai perasaan para penduduk desa yang tidak tahu apa-apa. Sementara itu, dia selalu menghasut penduduk desa supaya membenci dan menentangku dengan menuduh aku mengajar ajaran yang menghina Tuhan dan Rasul-Nya. Sesungguhnya usahanya itu tak pernah berkurang walaupun ia mulai mengetahui dari orang ramai bahwa asal-usul keluargaku adalah dari Zain al-Abidin, cucu dan mantu lelaki Nabi Muhammad. Sebaliknya, dia menjadikan ini sebagai alasan untuk terus bermusuhan denganku dan berkata: "Lihatlah lelaki itu, keturunan Zain al-Abdidin yang menyatakan dunia ini berputar dengan sendirinya, tetapi saya serahkan kepada kalian semua, pernahkan salah seorang dari kalian melihat pintu rumahnya yang menghadap ke timur itu tiba-tiba berputar jadi menghadap ke barat! " Sebagaimana yang aku katakan, aku merasa sangat marah begitu melihat kehadiran Sheikh Mohamed Sa'id. Aku hampir meraung dan meneriakkan bahwa dia sebenarnya seorang pembunuh, bahwa dialah yang membunuh Mohamed Weess dengan racunnya, yakni dengan menanamkan ke dalam fikiran Mohamed Weess bahwa ia akan mati dalam

3

waktu empat puluh hari. Bagaimanapun, sepanjang ingatanku, aku tidak pernah berhasil mengalahkan Sheikh Mohamed Sa'id dengan menyatakan perasaan benci dan marahku, karena ia senantiasa berhasil memenangkan hati penduduk desa dengan argumenargumennya yang lapuk. Yakni dengan menunjukkan bahwa bumi ini tidak berputar dan menanyakan apakah pernah terjadi seorang penduduk desa melihat pintu rumahnya yang menghadap ke timur tiba-tiba berputar ke barat? Dengan demikian, jelaslah bahwa bumi tidak berputar. Tuhan mengampuninya karena mendendamku dan Tuhan juga mengampuni Mohamed Weess meski dia akan terus berada di bawah pengaruh gila Sheikh Mohamed Sa'id hingga keesokan harinya. Dengan perasaan yang berat campur kecewa dan marah, aku langsung ke luar dari ruangan sekolahku. Mohamed Atallah, porter sekolah itu, telah mengejutkan aku pada waktu subuh. Aku telah menyimpan tiga butir buah pear yang aku bawa dari Damsyik itu di bawah jerigen air. Aku mengambilnya sebuah, kemudian segera menuju ke rumah Mohamed Weess. Halaman rumahnya kelihatan lengang, kecuali beberapa ekor kambing dan biri-biri yang seolah menanti saat kematian tuannya, dan selepas itu kematian mereka pula. Sisi bagian orang perempuan sedikit lebih terang dan dibauri dengan tangis perlahan. Pintu kamar Mohamed Weess tertutup, jadi aku mengintainya melalui pintu yang tertutup itu dan mendapati Mohamed Weess sedang tidur. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa dia keletihan setelah sepanjang malam beribadat sebagai persediaan menghadapi saat kematiannya. Aku mengetuk pintu beberapa kali, kemudian mendorong, dan membukanya sambil menyapa keras: "Segala Puji bagi Allah, Mohamed Weess" Dia terbangun dari tidurnya dengan masih terkantuk-kantuk. "Apa dia?" jeritnya. "Saya Naji, guru sekolah. Jangan takut Mohamed Weess. Dengar ucapan saya. Aku melihat air matanya menetes hingga ke pipi ketika ia duduk dengan lidahnya kelu dalam ketakutan. Karena kuatir dia akan langsung mati akibat sangat ketakutan sebelum sempat mendengar apa yang akan kukatakan, aku segera bersuara: "Saya datang bertemu anda, karena saya baru saja disadarkan oleh moyang saya, Zain al-Abidin. Semoga Allah memberkatinya, dan dia berkata kepada saya, 'Pergilah temui Mohamed Weess dan beritahu dia bahwa Allah telah mengujinya dan mendapati bahwa dia adalah hambanya yang sudah insaf akan semua dosanya. Berilah kepadanya buah ini, salah satu daripada buah-buah yang ada di surga. Suruhlah dia shalat bersama kamu dua rakaat sebelum naik matahari. Pada rakaat pertama, dia mesti membaca Surah al-Nasr dan Allah akan memanjangkan usianya sehingga dia dapat hidup dan melihat anak-cucunya." Mohamed Weess menelan air liurnya. Tampak bagiku bahwa ia seperti tidak percaya semua yang aku katakan. Matanya tertegun merenungi buah pear di tanganku (aku yakin tak ada seorang pun di desa ini yang pernah melihat buah pear ini sebelumnya). Aku mengupasnya dan menyuapkan ke dalam mulut Mohamed Weess, lalu menyuruh dia menelan semuanya, sekalian dengan bijinya. Kemudian aku menariknya ke sudut kamar. "Mohamed Weess , bersiaplah untuk sembahyang sebelum hari siang." "Tapi saya belum lagi bersuci, Tuan Naji."

4

Sebagai seorang Doktor ia menerjunkan diri di bidang politik." Aku bersembahyang berdiri di belakang Mohamed Weess. ini dibenarkan dalam Qur'an. dan bukan dengan tayamum! *** Salam al-Ujaili dilahirkan di Rakka. kini berhimpun di halaman sekolah. Berkali-kali ia pernah menduduki jabatan sebagai menteri. Keraguanku akan nilai kemenangan ini. Dalam rakaat pertama. Dalam tempo sejam. Selepas itu aku terus pulang ke sekolah menunggu hari siang. Pada ketika itulah aku merasakan bahwa akhirnya aku berhasil mencapai kemenangan mutlak atas Sheikh Mohamed Sa'id. guru sekolah keturunan Zain al-Abidin! Tetapi apakah ini sungguh suatu kemenangan? Sebenarnya aku sendiri tidak pasti. Ini karena Mohamed Weess tidak mati dan kambing serta biri-biri di halaman rumahnya juga tidak jadi disembelih. aku lantas berkata: "Buatlah tayamum. Naji. karena kuatir kesan yang diharapkan itu akan hilang. Tetapi. masing-masing sibuk untuk mengetahui bagaimana moyangku Zain alAbidin datang kepadaku membawa keampunan Allah untuk Mohamed Weess. yaitu sebagaimana dengan mimpi yang aku reka itu. bilangan jemaahnya telah bertambah satu lagi. Kami bersembahyang dua rakaat. dia membaca kesemua surah al-Nasr. Mohamed Weess. Untuk mengekalkan kehormatan keturunanku. seluruh desa telah mendengar cerita baru tentang Mohamed Weess. aku mendapati diriku terpaksa berjemaah di belakang Mohamed Weess pada setiap kali sembahyang dengan bersuci sepenuhnya. Malah hewan ternak tersebut diserahkan kepadaku sebagai hadiah dari teman-teman Mohamed Weess kepada wali Allah. termasuk sebagai Menteri Kebudayaan. Mereka yang semalam memenuhi halaman rumah Mohamed Weess. Syria pada tahun 1918. yaitu aku sendiri. 5 . Sebaliknya. bertambah oleh kenyataan bahwa aku gagal mengurangi meski seorang saja jumlah jemaah yang mengambil bagian bersembahyang bersama-sama di belakang Sheikh Mohamed Sa'id. Diterjemahkan oleh Nikmah Sarjono.Aku lantas teringat bahwa aku juga belum bersuci. Tekankan kedua telapak tanganmu ke tanah.

Tapi terselip guratan penderitaan yang mendalam di wajahnya. Tenangkan diri. Matanya berkaca-kaca. Dokter menghampiri. Kalau perlu dibawa serta ke mari. Perempuan itu tersentak seketika. Dia harus menjaga ibu dari risiko pergaulan bebasnya. Tapi tak tahu bagaimana hal itu bisa terjadi. Rupanya keraguan dokter terbukti. . Bu?" tanya dokter." lanjut dokter. apakah ibu sudah bersuami?" Perempuan itu menganggukkan kepala. Keduanya duduk berhadapan. Saya ingin tanya. Tanpa menunggu kedatangan suaminya dari kantor. Dokter terperanjat mendengar ceritanya. pengobatan penyakit ibu akan sia-sia. Kendalikan emosi. Dengan malu dan hati-hati perempuan itu menceritakan penyakit kronisnya. "Gawat. Teriakan parau muntah dari bibir perempuan itu. Derita yang dialaminya berubah menjadi ketakutan baru. agar kesedihan ini tak menambah kesedihan lain. Bagaimanapun juga ibu harus memberitahukan keadaan sebenarnya pada suami. Parasnya cantik. Pak Dokter!" teriaknya segera. "Tolong. Bu. Dokter mencermati apa yang diceritakan dengan kondisi sebenarnya. "Penyakit kelamin… ?" katanya seolah tak percaya. Kemudian masuk pasien keenam. ''Ya. dokter telah selesai memeriksa pasien kelima. bak mawar putih berlepotan debu jalanan. Yang saya katakan benar.Komplikasi Oleh: Naguib Mahfouz 6 Pagi itu. Kalau tidak. Tak terkecuali mereka yang sudah berkeluarga. Tenang sedikit tersenyum. Dokter segera memeriksa. "Ada apa. Bu! Ibu mengidap penyakit berbahaya. seorang ibu bertubuh semampai dan bercadar. Takut dan gelisah. Ibu harus mengingatkan perbuatan terlarang itu. Nafsu benar-benar membutakan kaum lelaki. "Oh…. Penyakit kelamin!" gusar dokter.

Bahwa ia dalam bahaya besar."Tidak…! Tidak…! Tidak mungkin…! Cepat obati saya." "Kalau begitu sementara ini saya tidak akan melakukan hubungan seksual. kecemasan. Dokter! Jangan libatkan suami saya!" rengek perempuan itu. jangan. "Mengapa aku mencampuri urusan dan penderitaan orang lain? Aku hanya seorang dokter. itu harus intens. Aku harus mengobati perempuan lemah ini." "Demi Tuhan. Kami akan menghindarinya sampai saya benar-benar sembuh. "Bisakah Dokter menjaga rahasia ini?" tanyanya." "Oh…. rasa bersalah bersemayam dalam dirinya. Dok! Suami saya tak boleh tahu masalah ini. ditatapnya dokter itu." saran dokter. Tentu masalah ini akan selesai.. 7 . Ah. Mendadak pikirannya menerawang pada nasib keluarga perempuan itu. Tiba-tiba perempuan itu teringat sesuatu." Dokter gelisah menatap wajah kusut perempuan itu. Dokter langsung bekerja." "Meski sudah terlambat?" "Yah …saya tak punya pilihan lain. Keresahan mencengkeram jiwa dokter. semua ini terserah Tuhan. Lakukan saja tugasmu. Dok. Akhirnya ia mengambil jalan tengah.. Dok?" tanyanya. Mati aku!!" "Tentunya suami ibu juga terjangkit. "Tapi…. toh akhirnya akan ketahuan juga. "Butuh berapa lama untuk menyembuhkan penyakit ini. Sulit rasanya meyakinkan dia supaya menerima kenyataan pahit ini. Sepandai-pandainya Ibu memendam rahasia ini. Sudahlah. Dengan memelas." batin dokter. Jiwanya seakan lebih menderita dibanding rasa sakit di tubuhnya. Barangkali Dia akan melindungi suami saya. Kepedihan. "Sebaiknya Ibu memberitahukan pada suami Ibu. Tekad itu menjadikan jiwa dokter sedikit tenang. Mudah-mudahan Tuhan memberi jalan keluar pada keluarga kami. Suami saya orang baik-baik. Sudahlah! Semuanya kuserahkan pada Tuhan." "Suasana hening mencekam. "Kurang lebih dua mingguan. Bola mata perempuan itu bergerak-gerak bagai air raksa. Tak pantas melampaui batas kewenanganku. Dadanya sesak.

"Sore. "Selamat sore. saya hanya seorang dokter. "Ibu Muhammad Abbas Efendi. Dok. perempuan itu datang. Pekerjaan dokter telah menghentikan langkahnya. Ia katakan bahwa kondisi suaminya sehat-sehat saja." "Menyesal?" ." hibur dokter. 8 *** Esoknya. datang pasien berumur 30 tahunan." jawabnya sembari menarik nafas. Tentu." jawab lelaki itu. Selain Jumat."Tentu. selesai. Tenang saja! Kujamin rahasia ini tak kan terbongkar selamanya. Lelaki itu tertawa. Dok. pegawai DPU. "Tak perlu takut. Akan kuusahakan semampu saya." ucapnya dengan hati yang terluka. dokter "Siapa nama Ibu?" tanya dokter. tak perlu sedih." sambut dokter. Ketika perempuan itu beranjak keluar. "Saya mengidap penyakit. Badannya tinggi tegap." "Saya benar-benar menyesal." Lalu perempuan itu menghela nafas. Raut mukanya tampak cerdas dan berani. Menjelang petang. Menampakkan keceriaan di balik kegelisahan yang menyelimuti dirinya." "Oh…kasihan sekali. "Untuk apa?" tanyanya. "Penyakit apa?" "Penyakit yang banyak dikeluhkan orang. Saya usahakan tiap hari datang ke sini. "Saya rasa cukup sampai di sini dulu. Dok. Coba Ibu lihat daftar ini! Bukankah penuh dengan nama dan alamat pasien? Jangan takut. Ini hanya formalitas belaka. Wajah perempuan itu tampak ketakutan." katanya.

begitu tahu bahwa dialah orang yang terancam bahaya besar itu. Dokter segera melihat dengan seksama daftar nama-nama." jawabnya lemah. "Dok."Menyesal. Kepalanya tertunduk hampir menyentuh lembaran daftar nama yang ada di depannya. Jangan sampai dia curiga. Dok?" Kini rahasia itu telah terbongkar. Dokter menyembunyikan wajahnya. Dengan demikian lelaki itu mau kembali pada istrinya dengan penuh penyesalan. Apa yang harus saya perbuat. Mendadak jiwanya bergejolak. hingga persoalan ini selesai. "Saya usahakan. Dok. Semoga Abbas berhasil membawa istrinya ke mari. "Mudah-mudahan Tuhan memberi jalan kebaikan bagi istrinya. Giginya geregetan. Kemudian Abbas melangkahkan kakinya. Silahkan ke kamar itu! Tunggu sebentar. "Memangnya kenapa?" "Saya sudah berkeluarga." jelas Abbas. Abbas merengek. Tolong sebutkan nama Saudara!" "Muhammad Abbas. "Tenang saja. Lantas bertanya." kata dokter dalam hati. *** 9 . Lantas keduanya akan kuobati sampai sembuh. "Tahukan Saudara? Istri Saudara juga terancam!" "Ya. "Saya harus bagaimana. kalau tak mendengar pertanyaan Abbas. Dokter hampir saja terlena oleh pikirannya. Abbas tak tahu bahwa perempuan itu lebih menderita dibanding dirinya." Dokter menerawang." Abbas bingung. Saudara akan dapat menyelesaikannya dengan baik. Dok?" tanya Abbas berulang-ulang. Akan kuyakinkan padanya bahwa perempuan itu adalah korbannya. Sepasang suami-istri itu ternyata pendosa. mulut dokter hampir mengeluarkan kata 'Hah'. dokter. Saya benar-benar terjepit. Mereka menyesali diri. Tatkala dokter hendak melangkah menuju kamar praktek. Akan kuterangkan ihwal penyakit yang diderita istrinya. Usahakan ajak istri Saudara ke sini. saya khawatir penyakit ini akan berakibat buruk. Saya sangat sedih begitu tahu istri tercinta saya juga mengalami hal yang sama. Apa Dokter merasa rugi bila ada orang insaf datang padamu? Apa pasienmu akan berkurang?" "Kukira Saudara datang ke sini bukan untuk berfilsafat. Sekarang dokter tahu bahwa bukan hanya bujangan yang bisa terperosok dalam dosa. Pergi.

"Oh…hidup di dunia memang susah. kudekati istri saya. 10 . Usaha saya sia-sia. istri saya malah melawan dan bersikeras pada pendiriannya. Entah sampai kapan. Sekarang saya telah bercerai dengan istri saya. Aku benci dokter. Saya yakin menusianyalah yang menyebabkannya. "Saya sudah sering kali mendengar keluhan-keluhan seperti itu.beginilah jadinya!" Abbas diam sejenak. Ya…. Tapi saya bingung. Pokoknya tidak. ia akan datang bersama Abbas. Tapi yang datang ternyata hanya Abbas. Saya juga tak tahu bagaimana harus memulainya. Seolah tampak lebih tua dari biasanya. Tiba-tiba istri saya gelisah." tutur Abbas. Ia mesti memeras otak untuk mencari jawabannya. Lalu dengan hatihati. Terpaksa sayalah yang memulai bertanya: 'Apa kau tak punya keluhan? Barangkali sakit?' Saya pura-pura tenang. Saya terus mendesaknya. Kebingungan mendekap. wajahmu pucat dan sedikit berubah. Istri saya menjawab: 'Alhamdulillah.bagaimana lagi. Saya berbohong: 'Kulihat akhir-akhir ini. Parahnya. Saya mengharap dialah yang memulai bertanya. "Semakin banyak saya menuntut. "Ada apa?" tanya dokter terperangah. saya harus menjalani masa sulit ini. bagaimana harus menjelaskan padanya. bagaimana saya harus meyakinkannya. Saya mengira dia gelisah karena kegelisahan saya. saya berniat mengajak istri saya kemari untuk menemui dokter agar saya bisa tenang. kini telah hilang. semakin keras istri saya menolak. Tapi sayang. mereka justru melalaikan dan membebankan pada dunia!" kata dokter. Mana?" "Yah…. Lalu dengan ragu-ragu. Dok?" "Emm…sebenarnya persoalan Saudara sudah beres. Tapi ia tak melakukannya. Saya bingung. Tak bisa menguraikan apa yang terjadi di balik peristiwa itu. Sedih. Abbas dirundung ketakutan. Abbas menggelangkan kepalanya. Perlu Dokter ketahui. Impian untuk menimang anak. "Singkatnya begini. "Kukira Saudara mengajak istri Saudara. Dok. Dada saya sesak. "Menurut Dokter apa?" baliknya. Wajahnya pucat. Aku ragu dan bosan mendengar nasihat mereka. Rasanya sakit dan ingin marah. Tatapan matanya layu. Saya coba memohon dengan baik-baik. belakangan ini saya mengalami banyak peristiwa menyedihkan. Sinar matanya menyimpan banyak pertanyaan.Perempuan itu tak datang pada hari yang telah dijanjikan. Dokter mengira sore ini. "Entahlah. Saudara tidak bisa meyakinkannya. Kemarin malam." Hati Abbas penuh teka-teki. tidak'." Dokter membungkukkan bahunya. Hati saya dongkol. Kemudian berbicara dengan terbata-bata karena putus asa. Bagaimana kalau kita periksakan ke dokter?' Istri saya justru marah dan menolak keras: 'Tidak! Kau mengkhayal.

"Apa maksud semua ini.Karena saking suntuknya. Otak saya ragu. Istriku? Kenapa kau tak mau ke dokter?' Istri saya justru berteriak lebih keras: 'Tidak…! Tidak…!' Saya bertambah marah. Matanya melotot. Kepala saya panas. Perempuan itu sungguh membuat repot suaminya. Cerpen ini diterjemahkan dari antologi cerita pendek Hams al-Junu'un.*** Naguib Mahfouz lahir tahun 1911. Saya bingung dibuatnya. Tolong! Jangan sentuh aku. Tuhan. bimbinglah jalan hidupku. Saya telah ingkar. Dok?" "Dosa telah memperdaya dan menjerat saya. Abbas! Ampun…! Rahasiaku telah terbongkar. Padahal merekalah cahaya hidup saya yang senantiasa bersinar. Musnah sudah bayangan hidup bersama buah hati saya. Aku telah bersumpah pada Tuhan.' Belum selesai saya bicara. Saya ingin lepas dari belenggu perkawinan ini. dan pada 1998 mendapat Hadiah Nobel. Tubuhnya mengejang. Istri saya menjerit: 'Ampun. tapi istri saya memotong dengan gerakan aneh. Kini saya ingin pikiran saya terbuka. Karenanya. Perasaan tentram. Aku telah berbuat dosa! Pasti kau sudah tahu semuanya. Saya terjerumus dalam jurang yang curam. Tapi ia yakin bahwa dirinya tak melampui batas kewenangan. Istriku?' Saya coba mengulang pertanyaan dengan lembut." tambah Abbas. Tak ada kata 'tidak' dalam diri saya. Membuang semua kemarahan yang ada dalam diri saya. Saya bertanya dalam hati: 'Ada apa. Pengakuan dosa. Otak saya tak kuasa lagi berpikir dengan jernih: 'Ayo ikut aku ke dokter! Aku prihatin dan ingin tahu apa sebenarnya penyakit yang kau derita. Dok. Dok? Saya hanya menduga. istri saya bicara menantang bagai ular yang siap mematuk mangsanya. Tubuhnya menggigil. Bagaimana saya bisa melepaskan selimut tebal dosa ini? Bisakah saya tabah menghadapi cobaan ini? Bisakah saya kembali bersih dan sehat seperti dulu lagi. Dok?" "Runtuh sudah bangunan rumah tangga saya. Saya semakin bingung dan bertanyatanya: 'Apa yang membuatmu takut. dari Judul asli alMaradl al-Mutaba'adil oleh Ahmad Sya'roni dan Herri Munhanif. tak mampu kuasai diri. Raut mukanya berubah aneh. "Oh…saya telah berbuat dosa dan pantas mendapat hukuman." lanjut Abbas. permintaan ampun dan pingsannya itu yang jelas hanya karena satu hal. Bengis. 11 . saya berteriak keras.Rambut saya berdiri mengeras seperti landak. Ceraikan saja aku!' Tiba-tiba istri saya tersungkur di kaki saya kemudian pingsan. saya melangkah ke arahnya. saya menjadi korban yang sia-sia! Adakah lelaki yang bernasib seperti saya. Dengan murka.

Setiap bulan hampir seratus anak kami lahir. Seluruh kekuatan dan pengalaman kami sebagai pemburu telah kami keluarkan sampai tandas. Tetapi mungkin juga memang binatang-binatang itu sudah habis kami bunuhi. Membuat kami begitu merasa terhina. macan. rusa. Sampai kelinci. Kami beristirahat di pinggir telaga itu. begitu tercium bau kami. Siapakah yang tak tahu akan hal itu? Kami tak pernah gagal memburu sesuatu. Seperti juga semua makhluk yang ketakutan mendengar gemuruh kaki kami. Tak ada yang lebih terhormat bagi kami. Telah kami jelajahi seluruh hutan. untuk memburu binatang-binatang. Menjadi hutan lebat yang tumbuh dalam kepala mereka. Kami adalah bangsa pemburu yang besar. Sebagian dari kami langsung merebahkan tubuh atau bersandaran pada batang pohon dan gundukan batu. sebelum sampai ke telaga ini. Legenda kami adalah penaklukan puluhan binatang buruan. tetapi lebih untuk kebanggaan dan kehormatan. Meletakkan semua senjata yang selama ini kami jinjing dan gendong. Hingga kami merasa benar-benar sendiri. nenek moyang dan anak cucu kami. ular.Para Pemburu Oleh: Agus Noor 12 Purnama mengapung di telaga. Inilah perjalanan terjauh dan terlelah kami. Kami tak pernah tergoda menjadi petani atau pedagang. Setiap dari kami dibesarkan dalam belukar. telah lenyap kami tangkap. Angin bergegas pergi oleh kedatangan kami. binatangbinatang itu juga sudah terlalu hafal dengan kami. tupai dan tikus. Membuat kami cemas. bukan sebagai cara kami bertahan menghadapi hidup. Telah kami sibak semua palung lautan. badak. Barangkali. sesekali meleleh oleh arus gelombang. sementara . Sebagian lagi menyempatkan diri membersihkan wajah terlebih dahulu. jumlah kami memang makin membesar. ditangkup sunyi daun-daun yang mandi cahaya. Kami memandanginya dengan gamang. Nenek moyang kami telah membentuk kami sebagai pemburu paling ulung. sejak kami masih dalam kandungan. Gajah. mengantar tidur anak-anak kami. hanyut oleh pikiran kami. Cerita-cerita penaklukan. Kami seperti mengejar kilat. melulurkan kesejukan pada lengan dan kaki yang bengkak. Kami sudah tahu bagaimana menyembelih wildebeest. Seakan sia-sia kebesaran kami sebagai pemburu yang telah berabad-abad mengabdikan hidup dan peradaban kami hanya untuk berburu. Maka mereka buru-buru menjauh pergi. setelah bertahun-tahun memburu buruan kami yang bergerak begitu cepat. selain menjadi seorang pemburu besar yang sanggup merobohkan gajah dengan satu gerakan. Maklumlah. Lagu-lagu kami adalah lagu-lagu perburuan. Inilah pertama kali kami merasa begitu lelah. melihat kehormatan kami akan goyah suatu ketika. dari tahun-ketahun. Telah kami bongkar tiap lekuk pegunungan. Apalah arti kami bila tak lagi hidup sebagai pemburu. serigala dan segala macamnya. buruan kami tetap saja melenggang bebas. tetapi kali ini. Sampai kemudian kami menyadari. betapa binatang-binatang di dunia ini perlahanlahan telah habis kami buru. Kami mengembara dari satu benua ke benua lainnya.

Sampai kemudian ide brilian terlontar. Anak-anak kami pun nampaknya lebih suka dengan perburuan macam itu. “Perburuan tak mungkin berhenti!” “Kita akan cepat renta bila sehari tak memburu apa pun!” “Takdir tak bisa dihentikan.. karena hal itu dianggap akan mengotori kemurnian darah pemburu kami. dengan cara melarikan diri. tak hanya kami yang suka dengan permainan semacam itu. Ketika kisah-kisah kami menjalar ke banyak negara. Kami tak lagi memburu binatang. perlahan-lahan. Maka kami pun membeli ratusan budak. Mereka kami lepas ke tengah hutan. Kami akan memburu manusia. Selamatkan kehidupanmu. Kepada mereka kami tawarkan kebebasan. untuk ikut menikmati perburuan itu. semua binatang telah habis kami buru. seperti kami katakan tadi.. Mula-mula. orang-orang 13 . Mereka lebih menantang untuk kami taklukkan. Rupanya. Anggap semua ini hanya permainan. membiarkan mereka lari dan menghilang. Karena. banyak orang di luar suku kami. Kami membeli juga para penjahat yang telah divonis mati. Inilah hidup yang sesungguhnya. Kami iringi dengan lengkingan terompet dan juga dentuman meriam. memang makhluk yang tak gampang menyerah. sungguh. lari. yang membuat kalian akan merasa memiliki harga sebagai seorang pesakitan. banyak di antara kami yang menolak. Jangan cemas. Setiap detik adalah pertarungan. Itu menjadikan kami begitu bahagia. Adakah yang lebih menyenangkan. kalian masih punya kesempatan untuk memperpanjang kehidupan. kemudian menghantam kepala binatang itu dengan kepalan tangan. Bahkan membuat kami lebih merasa sempurna sebagai pemburu. Mati dalam perburuan ini lebih terhormat bagi kalian. baru kemudian kami memburu mereka. hingga pecah berantakan. Tapi sudah lama kami kesulitan menegakkan kehormatan macam itu. Banyak di antara kami yang sudah berusia 7890 tahun. tapi tak gampang mati. kebiasaan baru tumbuh dalam kehidupan kami. Tapi itu lebih baik bagi kalian. selain melakukan perburuan semacam ini? Mereka kami beri kehidupan sekaligus batas kematian. Dan itu. tetapi masih sanggup berlari mengejar entelope.” Dan para pesakitan itu pun kami lepas dengan upacara kehormatan. mendatangi kami. Mereka kami beri kesempatan untuk bebas. Banyak juga di antara kami yang mati dalam perkelahian. Para penjahat itu. kami bunuh. Liat dan sigap. ketika dari banyak yang datang ke pada kami itu adalah para jendral. Meskipun kalian juga tak luput dari kematian. Selamat jalan. Mereka sudah renta.orang-orang tua kami bagai tak bisa mati. sasaran perburuan yang menggairahkan. dari pada mati di tiang gantungan: tak lagi punya pilihan. Dan itulah kehormatan. Menjadi tradisi. untuk menggantikan binatang yang kini telah musnah. “Masuklah dalam hutan. Semoga nasib baik bersama kalian. Lantas. Memburu budak-budak itu lebih mengasyikkan dari pada memburu binatang. tapi manusia. meski kami akan memburu kalian. Tetapi kami tak bisa menolak.” “Lantas bagaimana?” “Apa pun yang terjadi kita mesti memburu sesuatu!” “Memburu apa?” Itu membuat kami terdiam.

dengan setiap malam tidur di ranjang yang bersih dan nyaman. Malah sering para raja dan kepala negara memberi kemudahan kami dengan memberi lisensi untuk menghabisi para tokoh oposisi yang tak mereka sukai. dan kami tertawa bahagia. 14 . Kami menjadi kaum pemburu yang kian kokoh dan terhormat..” Gelas kami beradu. dengan dukungan dana yang melimpah. mengijinkan tempat-tempat itu untuk kami kelola dan kembangkan sebagai ladang perburuan yang lebih menantang dan menyenangkan.. Ah. Perburuan bukan lagi perkara kebesaran dan kehormatan. para demonstran untuk kami habisi. Para bangsawan. tak ada lagi kegairahan karena kemenangan. ketika kami memburu ribuan orang Yahudi untuk kami kirim ke kamp konsentrasi. Kami bangun juga istana-istana. Kami seperti kehilangan buruan yang mengasyikkan. Begitulah memang mestinya nasib penyair yang tak menulis syair pujapuji bagi keagungan kami. Itu sering membuat kami terusik sunyi. begitu melimpah buruan kami. Hidup pemburu agung! Kami pun menjadi kelompok pemburu yang besar. menyarankan kami agar mengumpulkan para kiai. tetapi juga denting gelas dalam kehangatan pesta. Para pengusaha mensubsidi kami modal bermilyar-milyar. kami terus menuliskan sejarah kami yang agung. Apalah arti semua itu bagi jiwa pemburu kami? Semua itu bukan lagi gairah petualangan dan tantangan. para raja. ketika kami mengirim pasukan pemburu ke banyak negara untuk meluluhlantakkan apa saja. keisengan. Bahkan mereka menjanjikan kami lahan-lahan perburuan yang lebih luas. puluhan kepala negara. Kami perlahan-lahan meninggalkan cara hidup kami di hutan. tetapi juga. seakan maut sudah menyentuh bibir orang tua itu. Apakah arti kekuatan bila tak ada tantangan yang sepandan? Tak ada lagi yang sanggup melawan kami. menjadi tak tertandingi. Suaranya sudah gemetar. Karena kami sudah terlalu kuat. Hingga kami tak lagi kekurangan buruan. menumpuk tengkorak kepala korban kami hingga menggunung sampai menyentuh awan. Kami tak lagi hanya terbiasa dengan bunyi pedang. Para raja dan kepala negara mempersilahkan kami untuk memilih rakyat mereka sebagai binatang buruan. menggulung apa pun yang kami sukai. yang memang memiliki kebiasaan berburu seperti kami dan memiliki lahan-lahan perburuan yang luas. kami terus bergerak dari benua ke benua dari zaman ke zaman. yang sudah berumur 100 juta tahun lebih. Kami terus memburu.” Lalu seseorang yang paling tua di antara kami. pasokan senjata yang bagai anggur mengalir dalam gelas-gelas kami. Di antara kemeriahan pesta. yang melintas bagai badai dan gelombang. hingga pertarungan menjadi tak sepandan. Jangan biarkan mereka menjadi lembek karena rasa sunyi ini. Jangan biarkan anak-anak kita menjadi pucat dan pasi.besar di negara mereka. ketika kami memburu dan membantai orang-orang muslim di Bosnia. Para jendral menyediakan kami senjata-senjata paling mutakhir. ketika kami menembaki anak-anak Palestina. Ketika kami menjarah perempuan dan membunuhi anak-anak. Tak ada lagi yang berani menggertak kami. jangan sedih. “Ini darah seorang penyair untukmu. “Kita harus melakukan sesuatu. Kami. para bangsawan dan pengusaha besar. tempat kami berpesta setelah seharian berburu. Kami tak hanya punya kesempatan memburu para penjahat yang telah divonis mati. sehingga permainan menjadi tak lagi begitu punya arti. sendiri. tetapi kami selalu dirundung sunyi. yang telah menjadi sekelompok pemburu yang paling kuat. tetapi kami bebas memilih siapa pun yang paling menyenangkan kami buru. tetapi penaklukan yang membosankan. melintasi gelombang waktu. Kami berdiri di puncak menara peradaban. terkadang. Juga kaum intelektual yang selama ini mereka benci.

bagaimana cara kalian mendatangkan Jibril bagi kami. “Kami tak mau tahu. Kami segera mengeluarkan seluruh senjata kami. dari seluruh dunia. sebelum maut menjemputku. kami akan membikin perhitungan sendiri. Apakah kalian akan sholat sepanjang hari? Apakah kalian akan berdoa dan mengaji? Apakah kalian akan menangkar atau menjebak Jibril dengan sebuah perangkap? Kami tak mau tahu dengan itu semua. “Baiklah. Suruh mereka menyediakan malaikat untuk kita buru!” Kami terpukau oleh gagasan itu. katakan kepada kami. Gairah menjalar. membangkitkan imajinasi kami. Pintu itu terbuka untuk menerima siapa pun masuk ke dalamnya. Tetapi mereka menolak. Apalagi ketika kami melihat sendiri masjid itu.“Untuk apa mengumpulkan para kiai itu?” “Aku sudah mencium ajalku.” tegas kami. kami giring ke sebuah istana kami yang paling megah. Luasnya tak lebih dari lima kali lima tombak.. kalau perlu dengan paksa dan kekerasan. Benar-benar masjid kecil yang tak terawat.. telah lapuk. aku ingin menikmati perburuan yang paling menggairahkan. Barisan kiai masih antri di depan masjid itu. kapan kalian bisa menyediakan Jibril bagi kami?” Kami tatap wajah para kiai itu. Mereka kami datangkan dari semua penjuru. Bagaimana tempat sekecil itu menampung jutaan kiai yang kami himpun dari seluruh penjuru ini.. dengan meminta kami mendatangkan Jibril. Panji perburuan berkibar. Ya. Bila selama ini kalian tak bisa mendatangkan Jibril bagi kami. “Kalian jangan bercanda!” teriak kami. malaikat. anggur segera kami tuang dalam gelas.. Kami turut kemauan mereka. kenapa kami tak memburu malaikat? “Jibril! bagaimana kalau kita minta Jibril!” “Kami bersorai. bersulang. kami segera mengumpulkan para kiai.” “Baiklah. Seluruh bangunan itu terbuat dari pelapah kayu. “Kami ingin Jibril. “Kalianlah yang bercanda. Dan tentu.” kata kami kepada mereka. para kiai itu. berkelok-kelok mengikuti 15 . membuat kami begitu ternganga. ketika hampir separo dari jutaan kiai itu sudah masuk ke dalam masjid. menyambut hari depan kami yang gilang gemilang. meski sesungguhnya heran.” Mereka.” Lantas kami membiarkan satu persatu para kiai itu masuk masjid kecil itu.” “Apa hubungannya dengan para kiai itu?” “Kumpulkan mereka. “kalian kami beri waktu satu bulan. Kami segera menghimpun topan. Membuat darah kami menggelembungkan jiwa pemburu kami. Sekarang. Dan aku ingin. tetapi masjid itu tak juga penuh. mencari kepastian dalam mata mereka. dan meminta kami untuk membawa mereka ke sebuah kaki bukit di mana ada sebuah masjid kecil di pinggir hutan.

utusan kami ini pun tak muncul lagi meski kami sudah menanti lebih lima hari.gigir bukit. Satu bulan lewat. Kami tak mau di tipu para kiai itu. Namun dzikir itu masih kami dengar. kini telah muncul di hadapan kami. “Jibril!!” “Jibril!!” Seketika kami berteriak. kami melihat selesat biru cahaya menatap kami. dan api melahap cepat. Sementara suara dzikir itu terus saja bergema. Apakah ini keajaiban yang dikirim bagi kami? “Buru!” Teriakan itu. dengan sayap terentang sampai ujung paling jauh dari semesta. luar biasa. tak membiarkan seekor tikus lolos dari amatan kami. Kami bakar masjid itu. Tombak. orang kedua kami pun tak kembali. sepanjang hari sepanjang malam. tetapi. Seperti batang-batang pohon yang bergoyang itu. Kami sudah cukup punya pengertian. tetapi hanya gema dzikir membalas suara kami. setiap orang yang kami kirim untuk menjumpai para kiai. Pada saat itulah. itulah yang kami saksikan. Sampai kemudian semua kiai telah masuk dalam masjid itu. membuat udara bergetar dan perasaan kami gemetar. memperingatkan para kiai bahwa waktu sudah habis buat mereka. takut mereka akan keluar dan meloloskan diri ketika kami tertidur. Kemarahan kami menyalakan api di tangan. Dan. melihat impian kami sudah di depan mata. Kami panggil namanya. Jutaan kiai masuk ke dalam masjid yang bagi kami hanya cukup untuk tidur dua puluh orang. Dan kami segera menyerbu. Membuat kami tambah cemas menunggu. seperti daun yang melayang-layang itu. Lantas kami tak bisa lagi sabar. semua dari kami yang masuk ke dalam masjid itu. betapa memang inilah yang selama ini kami tunggu-tunggu. tak pernah muncul kembali. yang hanyut dibuai dzikir para kiai. di sana. bagaimana mungkin? Tapi. antara takjub dan panik. membumbung. Kami memagarbetis masjid itu. bagai masuk ke tabir ruang dan waktu pada dimensi lain. Kami terus berjaga. sekaligus marah. seseorang di antara kami berteriak. tetapi tak kunjung keluar jua. Tapi seperti yang pertama dan kedua. Dan kami mendengar gema dzikir dari dalam sana. mendadak menyadarkan kami. kenapa kami malah bengong begitu? Maka. gembira dan tak percaya. berkobar dan segera kami lempar pada mesjid itu. di puncak kobaran api. Namun orang itu tak kembali. kemudian kembali mengirim utusan untuk menemui para kiai di dalam masjid itu. Kami kirim utusan kembali. bersama angin dan embun. Kami berteriak menyuruh para kiai itu keluar. anak 16 . Jibril. ketika para kiai itu tak juga muncul dari dalam masjid. menyentuh langit. bukan? Jangan salahkan kami. hingga kayu-kayu bergemeretakan. di pucuk api berkobar. Kami tak mau kecolongan. Kadang kami merasa ada yang menggemericik dalam hati kami karena gema itu. seperti barisan semut yang begitu tertib menuju lubang sarang mereka . Gema itu melambung. raib begitu saja. jangan-jangan semua itu sihir belaka. mengalun menidurkan rerumputan. Membuat kami cemas. Begitulah berkali-kali. menguap begitu cepat. tertelan dan lenyap. dengan sigap kami segera meraih senjata-senjata kami. membuat kami tengadah ke puncak api. Tiba-tiba tubuh mereka hilang tak berbekas. itu pun pasti sudah berhimpitan. lenyap seketika. Tetapi seperti yang pertama. Kami panik. Segera kami kirim seseorang untuk menemui mereka. ya Allah. masuk dalam masjid itu.

yang menyimpan bayangan bulan. “Kesana!” seseorang dari kami berteriak. Membiarkan kaki kami koyak oleh duri. Setelah berabad-abad kami hidup sebagai pemburu. mengepakkan sayap-sayap cahaya-Nya. meraih peralatan berburu kami. Kami tak sempat istirahat. jaring-jaring baja telah kami rentangkan. kami benar-benar tak pernah punya waktu istirahat. Bertahun-tahun kami memburu. 1995-1998 (Dongeng Buat Mas Danarto) . Segera menghambur. hingga telah lama anak-anak kami tak lahir. roket terus berlesatan. melanjutkan pemburuan abadi kami. Ketika kami baru saja rebahan dan membasuh kelelahan kami di telaga itu pun. roket dan basoka. perangkap telah kami pasang.*** 17 Yogyakarta. agar kami mampu meringkus Jibril. Kami tak punya waktu untuk memikirkan itu semua. Inilah buruan kami yang abadi. Kami tak mau kehilangan jejak. kami memburunya. Dan memang. dan kami pun tak sempat menguburkannya. dan langsung melesat. setelah bermacam pengalaman perburuan membuat kami jadi pemburu sejati. Kami tak pernah tidur di satu tempat. Kemanapun Jibril melesat. Sebagian besar dari kami kini benar-benar renta. kami lihat jejak cahaya. inilah sesungguh-sesungguhnya perburuan yang sejati. mengharap kesegaran akan membuat tenaga kami kembali muda. Jiwa pemburu kami bergelora oleh gairah perburuan kali ini. ranjauranjau telah kami tanam. Banyak dari kami yang mati dalam perburuan ini. Tombak terus beterbangan. Di seberang telaga sana. mengejar Jibril. Kami begitu sibuk memburu Jibril.panah. kami melihat buruan abadi kami. membiarkan rambut dan jenggot kami memanjang tak terawat. kami sudah harus kembali pergi ketika pada bayangan bulan. Sampai kami tiba di pinggir telaga ini. Karena kami harus terus mengejar Jibril. desing senapan mesin. Inilah perburuan paling menakjubkan bagi kami. “Kejar!” Kami pun melesat. dengan cepat berlesatan ke arah selesat cahaya biru itu yang dengan cepat bergerak dengan sayap mengepak. Maka kami pun kembali bangkit.

Pernikahan Angin
Oleh: Dianing Widya Yudhistira

18

Aku di sini. Berada di ketinggian menara. Menikmati senja. Senja kali ini berwajah pucat. Langit diam. Sepi. Melintas di depanku burung gagak bergaun hitam. Menari di depanku. Tarian yang sebelumnya belum pernah aku saksikan. Seperti mengabarkan sesuatu yang ganjil. Angin masih terlalu cinta dengan kehadiranku. Ia sapa aku lembut. Perlahanlahan aku sapu anak rambut yang tergerai di wajahku. Tulus. Gagak itu masih menarikan tarian yang terluka. Entah tentang apa. Ketika senja berangkat ke malam, perlahan-lahan burung Gagak menghentikan tariannya. Menatap padaku. Tatapan matanya yang tajam, seolah-olah menelanjangi batinku. Aku belum tahu apa yang sesungguhnya Gagak sampaikan padaku. Yang aku tahu, malam ini seperti tak punya nafas. Tak ada angin yang meliukkan tubuhnya. Pohon-pohon diam. Tak kudengar desah dedauan. Gunung-gunung membisu. Demikian juga dengan hamparan laut di depanku. Diam. Malam begitu terbungkus kesunyian. Sehelai daun akasia yang menua, melayang di udara. Jatuh. Terkulai di tanah basah. Kesunyian kian lengkap. Aku masih di sini. Di ketinggian menara. Aku terpaku di ujung lengan cakrawala. Perlahan-lahan aku hela nafasku. Menghembuskannya dengan bebatuan. Tak ada yang menemaniku, malam ini. Tak ada yang mengajakku bicara malam ini. Hanya burung Hantu yang mau menampakkan diri. Seperti biasa. Ia adalah kekasihku. Yang selalu bercerita tentang bulan dan bintang. Yang memberi aku kedamaian. Ya. Seekor burung hantu. Menghampiriku. Hanya saja matanya tak bersinar seperti hari-hari kemarin. Mata itu redup. Burung hantu menatapku. Kosong. Sebaid lirik kehilangan aku temukan di sana. “Selamat malam, Dianing.” “Kabut apa yang menodai matamu, hingga ke pendam rasa ngeri.” “Engkau sesungguhnya, Dianing.” Dibentangkannya tanda tanya di hadapanku.

“Di mana Lismatano sekarang Dianing.” Aku tercenung. Ia menyebut nama laki-lakiku. “Pergilah ke hutan Para, Dianing.” Aku menautkan kening. “Kau akan tahu.” Tiba-tiba angin meliukkan tubuhnya dengan gerakan yang dahsyat. Ia memintalku dengan kekuatannya. Dengan cinta ia terbangkan aku ke hutan Para. Sekelilingku gulita. Tak ada cahaya. Tapi, cahaya bulan bugil membantu penglihatanku. Banyak pohon di kanan kiriku. Depan dan belakangku. Masyarakat pohon. Membisu dan gelisah. “Inikah hutan.” “Ya. Hutan Para.” Suara burung hantu. “Apa yang aku tahu.” “Ikuti aku.” Seperti perintahnya, aku ikuti langkah burung hantu. Semakin aku mengikutinya, jalan yang menanjak kian gelap. Gelap dan sangat gulita. Hanya deru nafas yang dahsyat terdengar di telingaku. Deru nafas yang memburu dan aku akrab dengannya. Terpadu dengan deru nafas yang lain. Entah nafas siapa. Aku langkahkan kakiku selangkah. Tiba-tiba di depanku terang benderang. Astaga!! Lismatano, laki-lakiku bergumul dengan tubuh perempuan lain. Gila!!! Seketika itu angin kembali meliukkan tubuhnya dengan dahsyat. Memintaku kembali. Entah dalam waktu seberapa detik menerbangkan aku. Yang jelas kurang dari satu detik aku kembali berada di ketinggian menara. Aku lunglai. Bayangan Lismatano dan perempuan itu terekam jelas di layar komputerku yang paling pertama. Malamku lunglai. Aku tahu burung hantu masih di sampingku. “Untuk apa kau bawa aku.” “Untuk menjelaskan padamu siapa sosok Lismatano.” Aku hanya bisa menelan pil pahit. Menikmati segala luka hati dengan tulus. Lismatano. Laki-laki yang sepenuhnya aku kagumi. Ternyata mampu menikam darahku.

19

“Apakah aku terlambat, Dianing.” “Sama sekali tidak.” “Mengapa batinmu begitu luruh.” “Aku tengah belajar untuk bahagia dan damai dalam sendiri.” Burung hantu tersenyum. Mengepakkan sayapnya di ketinggian menara ini. Selalu ia yang melindungiku. Telah aku putuskan untuk tak merajuk atau menerima Lismatano. Tak kan lagi aku melakukan kesalahan yang sama. Malam telah melengkapkan usianya. Aku pandang wajah bulan. Lewat cahayanya ia mengucapkan salam. Aku dengar bisikan angin. “Selamat malam.” Aku membalasnya dengan menguap. “Selamat malam, Dianing.” Aku tatap burung hantu. Ia membimbingku ke kamar. Menyelimuti aku. “Tidurlah dengan damai.” Aku mengangguk. Aku tahu ia akan menjagaku sepanjang malam. Di ketinggian menara ini. Perlahan-lahan aku terlena. Hembusan semilir angin menerpaku. Sejuk. Perlahan-lahan aku terbawa ke dunia lain. Dunia yang selalu aku impikan. Hamparan luas rumput hijau. Berbagai macam buah lezat dan makanan tersedia di sana. Di hamparan rumput itu mengalir parit. Yang airnya susu dan madu. Di hamparan luas rumput hijau itu, para bidadari tersenyum ramah. “Oh kehidupan yang menyenangkan.” Sejenak kutinggalkan dunia. Aku benar-benar menikmati dunia lain ini. Dalam tidurku, aku kembali terlempar ke dunia. Tapi, seperti ada yang menghalangi nafasku. Aku terengah-engah. Entah siapa. Wajahnya bersih. Ia bersayap dengan baju serba putih. “Aku akan menjemputmu, Dianing.” “Menjemputku!?” “Ya. Ke alam baru. Kehidupan yang sesungguhnya.” Aku tak mengerti.

20

Burung hantu menyentuh bahu kananku. Seolah mencegahku. “Kau tak bisa menghalangiku. Ini perintah Tuhanku. Tuhanmu jua.” “Ia masih terlalu muda.” “Kehendak Tuhan.” Aku lihat mereka berdebat. Mereka asyik dengan argumen-argumen mereka. Sementara aku hanya bisa menikmati perdebatan mereka. Karenanya, burung hantu terkapar. Sayapnya patah. Sosok bersayap itu kembali padaku. Tangannya yang dingin menyentuh kulitku. Entah apa yang ia lakukan. Yang aku tahu, sungguh tubuhku merasakan sakit yang dahsyat. Setiap kali tarikan hebat itu lepas kembali ketika menyentuh di leher. Aku mengerjang, merintih, terpuruk, lelah. Aku lihat burung hantu kembali bangkit. Kali ini tak ia pedulikan sayapnya yang terluka. Ia berusaha mencegah keluarnya rohku dari jazadku. Jadilah jazadku ajang perebutan roh. Sosok bersayap itu menghendaki rohku. Burung hantu ingin rohku tetap menyatu dengan jazad. Mereka tak tahu bagaimana aku menahan sakit. Cukup lama mereka bertarung. Entah berapa waktu. Karena sakit, aku merasakan sangat lama. Kekuasaan Tuhan tak ada yang mampu membendung. Hingga aku benarbenar terlempar ke dunia lain. Roh yang bertahun-tahun menghuni jasadku, kini telah diinginkan pemiliknya. Aku terbang tinggi tanpa tahu di mana akan berhenti. Aku saksikan jasadku dimandikan bunda dan saudara-saudaraku. Beberapa orang yang menyayangiku hadir di kematianku. Mereka mengucap seuntai kalimat duka. Ketika jasadku dishalatkan, aku merasakan kesejukan yang sangat. Tapi, aku merasakan sakit ketika bunda dan saudaraku terisak di makam. Ketika jasadku mulai dimasukkan ke liang, kedua saudaraku pingsan. Duh, jalanku tersandung semak belukar. Perlahan-lahan tanah menimbun Jasadku. Hingga merata dengan tanah. Tertanam sudah jasadku di tanah. Aku melesat ke langit demi langit. Beribu roh berkumpul di alam yang sulit aku uraikan. Berupa-rupa aku temui. Di depanku layar besar mengungkap kembali kisahku di dunia. termasuk kisahku dengan Lismatano. Aku merasakan getar aneh ketika melihat Lismatano. Entah, di alam yang lain ini aku masih mengenang Lismatano. Laki-laki yang pernah berjanji akan menikahiku. Di tengah riuhnya roh-roh yang menuju pengadilan akbar itu, tiba-tiba muncul burung hantu. Ia menuju ke Tuhan. Ia mengadu tentang aku. “Aku ingin Ia diberi keisitimewaan.” “Tentang apa.” Aku menatap burung hantu. “Biarpun Dianing telah kau ambil, berikan ia kesempatan ke dunia.”

21

“Cukup lama kami menunggu.” Aku terpana. Aku lihat wajahnya sepi. langit cerah.” “Ya. Aku bahagia melihat secercah wajahnya yang ceria. Bulan bulat penuh.” Matanya berpendar. Dianing. Gemerlap bintang menyambutku. Ia bugil di malam yang damai itu.” “Ya. Indah sekali. Aku membalasnya dengan anggukan tulus.“Maksudku melihat dunia. Aku lewati langit demi langit. “Boleh aku tahu dukamu. Ia menjerit. Aku bertemu dengan mega.” “Baik karena cintaku aku merestui Dianing.” 22 . Lama menunggumu dan juga tengah menunggumu.” Kami berpelukan. “Aku tunggu kedatanganmu di dunia. Dianing.” “Cepatlah kau temui burung hantu. Tersenyum dan memberi salam padaku. Aku temukan sebaid lirik kehilangan di matanya.” “Bila Tuhan mengizinkan.” Aku lihat burung hantu terpekur sendiri. Burung hantu mengepakkan sayapnya. Wajah yang cerah itu tiba-tiba luruh.” “Oh ya. Seperti berabad-abad lalu.” “Tentu. Ia menembus awan. “Gerangan siapa membuatmu sepi. bulan menuju ke dunia. UNTUK pertama kalinya aku turun ke dunia. “Dianing. mega. Atas izin Tuhanku. Seperti menunggu kedatangan.” “Ya. bintang. Aku izinkan ia suatu ketika turun ke dunia.” Burung hantu terbang.

” “Ya. “Maukah kau ke hutan Para. Tak sekedar gelap.” Aku lunglai.” “Bicaralah. “Untuk apa.” Burung hantu menggeleng. “Dianing.. “Kau tahu bukan perbuatan mereka melebihi hubungan suami istri. “Bukankah mereka telah menikah. Telah berpaling dengan perempuan lain. Tatapan yang sulit aku urai.Burung hantu menatapku.” Aku tak mengira laki-laki masa laluku memilih hidup yang naif. Tiba-tiba begitu sepi.” panggil burung hantu lirih. Aku terpana.” Burung hantu masih bertengger di pohon randu.. Di 23 .” “Maksudmu.” “Hutan Para!?” “Lismatano ada di sana dengan perempuan itu. laki-laki yang pernah aku dambakan jadi suamiku. Bukankah ia bagian dari hidupmu di dunia. “Bila kau berkenan. terjal dan mendaki.” “Mereka seatap tanpa ikatan.” Aku kembali ke hutan Para. “Lismatano tak pernah menikahi perempuan itu.” Aku luruh. Hidup bersama tanpa kata yang jelas. Lismatano.” “Lalu?” “Lismatano memilih jalan buruk. Serumah tanpa ikatan sah sebagai suami istri.

” Aku menghela nafas. Menikah dengan Lismatano hanya sebuah impian yang abadi. Saling menumpahkan nafsu. Tapi. Deru nafas memburu. Pergulatan yang dahsyat. “Mengapa dengan mereka. Sebentar lagi aku harus kembali. Tubuhnya tumbuh lumut. Merasakan cinta dan kasih sayangnya.” “Itulah yang pantas mereka terima. tetapi tubuhnya berubah. Dianing. Ia dalam keadaan yang mengerikan ketika membatu. Ia berkaki empat. Sementara perempuannya berubah binatang. Tapi burung hantu segera menerbangkan aku.” Aku hanya mengangguk.*** 24 Jakarta. Mulutnya lebar ke arahku. Tiba-tiba.hutan Para itu aku kembali menyaksikan Lismatano bergulat dengan perempuan yang sama.” Aku menekuri tanah. Kini aku hanya bisa merasakan sentuhan angin. Aku tak percaya melihatnya. Ya. Lebat dan kotor. . “Bulan pun tak sudi menyaksikan persetubuhan mereka. Dan aku kini mulai belajar untuk damai dan bahagia dalam sendiri. Ya. Kini tak bisa bergerak. Perempuan itu berubah binatang yang sangat mengerikan.. Aku di atas pohon randu. Mei 1997.. Tubuh Lismatano mengeras. Siap menerkamku. Ia berubah jadi batu. Aku yang terpaku. Besar. “Yuniz nama perempuan itu. Ia tak membatu. Lismatano telah membatu dan berlumut. Lismatano telah membatu. Lismatano dan perempuan itu terus bergulat. Perempuan itu. Aku terpana. Tubuhnya berbulu sangat lebat. entahlah mengapa tibatiba aku terpaku di depan mereka. Aku berada di ketinggian menara. Ngeri. Aku tak kuasa melihatnya.

misalnya?” Pejabat tergelak. Ada yang menembus kepala.. “Mudahmudahan bukan hanya kebetulan. Februari 2000 Pistol Oleh: Ode Barta Ananda 25 Dor! Tak ada yang terkejut ketikatembakan itu menembus sasaran.. Dan tawa itu ternyata telah cukup untuk jawaban.. Tapi tidak ada satu pun yang meleset. ... Ada yang mengelupaskan bahu.” “Tentu.. Menghapus peluh pada hidung. asal tahu saja. untuk mengeluarkan izin penggunaan pistol buat saya. berkemeja putih dan bercelana abu-abu itu. “Begitulah. sebagai wartawan.” “Apakah pejabat yang berkedudukan lebih tinggi juga sudah memberikan izin?” “Secara prinsip sudah.....Horison. Dan mudah-mudahan juga bidikan saya kali ini bisa secepatnya membukakan mata Bapak. *** “Jadi izin yang membolehkan wartawan menggunakan pistol. ternyata Bapak sangat jitu juga dalam membidik sasaran. Dan berdehem. tersenyum lebar sebelum menjawab.” Pelatih mengedipkan sebelah mata. Pejabat yang berdasi kuning..” Wartawan mendengus. Aku tak ingin rekan wartawan kembali menjadi korban dalam gejolak suasana yang sedang memanas sekarang ini. Pak. “Selain pintar mengejar berita. dor! Dor! Dor! Tembakan yang lain seperti saling susul untuk menembus sasaran. benar berasal atas usul Bapak?” salah seorang dari kerumunan wartawan menanyai seorang pejabat. Mlah. tentu. “Bagus!” Instruktur menepuk bahu seorang peserta kursus menembak yang baru saja berhasil menembus jantung sasaran. Ada yang menusuk jantung..” “Apakah Bapak telah siap mengantisipasi segala kemungkinan-kemungkinan buruk? Seperti pemanfaatan pistol untuk penodongan oleh oknum wartawan.

Pembayaran harus lunas tiga hari lagi.” Sang rekan hanya bisa kembali mengangguk-angguk sambil berusaha mancari jalan keluar.” Belum selesai pertanyaan itu. “Padahal menurut selentingan kabar. 26 *** Dor! Tembakan wartawan meleset. “Mana yang harus saya jawab lebih dulu?!” dia kesal dan langsung memasuki mobil sambil membanting pintu.“Tapi. Harga pistol yang mahal.” “Kenapa? Memikirkan pekerjaan? Atau gadis simpanan itu?” “Jangan terus bercanda.” *** Saat panas menukik terik.” “Untuk melunasi kreditnya. Bisa-bisa kutembak kau!” dia mendelik sambil pura-pura marah. Yung! Bentuknya yang unik dan hasil rekamannya bersih sangat seimbang dengan harganya yang mahal. Ketika sinar matahari seakan berniat mencabik-cabik. istri saya juga akan melahirkan tiga hari yang akan datang. sudah ditukas pertanyaan lain.” sang rekan merentangkan tangan. Namun wartawan telah kembali berujar. memasang wajah serius. “Saya sedang tidak konsentrasi. Waktu angin mencubit kelopak yang akan menghasilkan putik. “Dan sebagian tabungan juga baru saja saya belikan alat perekam baru. sarana latihan dan pistol ternyata disediakan oleh koperasi?” “Mungkinkah koperasi mematok harga setinggi itu?” menyusul tukasan lain.. saya harus menggadaikan pistol ini. “Tak biasanya tembakan kau meleset?” seorang rekan tercengang. Kau sudah lihat kan?” “Wow! Canggih. . “Atau ada oknum-oknum tertentu yang sengaja menangguk di air keruh?” Pejabat mengerutkan kening. Apa yang telah merusak konsentrasimu?” “Pembayaran pajak pistol ini. Lalu mengangguk-angguk.. Dan. Padahal. Saat itulah para pencari berita berhasil mencegat pejabat yang baru saja keluar dari kantornya.. menurut perkiraan dokter. “Silahkan. hampir seluruh kawan-kawan sangat menyayangkan biaya latihan menembak yang cukup tinggi. “OK.

yang terlambat datang. tapi belum sempurna anggukannya. "Setibanya di rumah.. “Harus kuakui. Wartawan tergelak. dia beralih membunyikan klakson. “Tak enak rasanya. “Jjjangan! Dddia bukan mengancam!” Dor! Sebuah peluru buas langsung menikam punggung wartawan. “Atau izin penggunaan pistol bagi wartawan ini memang untuk mencari untung?” “Jelas tidak!” Pejabat menekan gas lebih keras. wartawan telah menukas sambil mengacungkan alat perekam yang benar-benar mirip pistol. Dan menekan gas dalam-dalam. dan biaya administrasi lainnya. Wartawan pemilik alat perekam baru yang berbentuk unik.” pejabat tergelak juga. kalau tak langsung berhadapan dengan Bapak.” diulurkan tangan untuk berjabat. harga pistol. Saat fajar bergerak sembunyi.” wartawan mengeluarkan alat perekam itu. Kenapa sekarang masih mengganggu lari pagiku?” Pejabat tersenyum sambil meninju perut wartawan dengan akrab. Waktu matahari baru saja bersiap menghangatkan bumi. menyeruak kerumunan. Wajahnya memucat. sesuai dengan jabatan Bapak?” Pejabat terbelalak. “Kau kan sudah menelepon tadi malam.. Pak?” Pejabat tak mengangguk dan tak juga menggeleng.. “Apakah Bapak. semakin tak menentu. Dan darah mempermerah jaketnya yang sudah merah. untuk minta maaf. Melihat para wartawan tidak mengerti.” Pejabat melambaikan tangan ke arah belakang wartawan. saat itulah wartawan dan pejabat. “yang membuat Bapak ketakutan dan tergesa meninggalkan kami kemarin?” Pejabat mengangguk. Perut buncitnya terguncang-guncang menertawakan kebodohannya sendiri. *** Ketika embun jantan belum selesai membasuh pagi. yang sengaja mendongkrak segala biaya yang berhubungan dengan pistol? Atau. Dia langsung mengangguk keras-keras.*** 27 . akan mengusahakan perbaikan semua masalah itu. asyik berbincang-bincang dekat telepon umum. dan memberikan pertanyaan sambil menodongkan alat perekam. ternyata alat perekam saya yang mirip pistol ini.“Kelihatannya biaya latihan. Malah semakin menekan gas mobilnya sambil menginjak rem. ternyata aku masih ketakutan dengan sebuah alat perekam. Menutup kaca jendela mobil. saya baru menyadari. Dia tertelungkup. nilai pajak. “Benarkah tidak ada keterlibatan oknum tertentu.

BM dong!” balas Kresna. “Kramotak. Astrajingga dan Gareng ikut berlenggak-lenggok sebagai penari latar sekaligus menjadi Backing vokal. terlihat gairahnya kalau diajak berpikir serius.Teater Dewala Oleh: Doddi Achmad Fawdzy 28 Sepuluh menit sehabis menyaksikan Indepedence Day. Gerombolan Pandawa berbelok ke arah Kentucky Fried Chicken. tiba-tiba Kresna.” Sesaat hening. dari Jupiter misalnya?” balas Astrajingga. Dewa jangan diberontak. kita perlu merundingkan kembali materi untuk peringatan hari kemerdekaan negeri kita. Prabu Kresna masih mengumpat-ngumpat kepada para Punakawan. kramotak!” Hanya Dewala yang bisa mengontrol diri dan tampak kalem. tak ada makhluk luar angkasa selain para dewa. kita masuk pub dulu!” ajak Bima. “Maksud Prabu?” Yudistira yang dari tadi miring saja. “Sambil makan malam. “Sebel gua. Ajakan untuk berdamai dan bersatu melawan musuh dari luar angkasa itu sangat menarik. Apa sih maunya Amerika? Dasar Yahudi!” “Tapi Prabu. “Belum begitu laper gua ini. “Dalam dunia pewayangan. “Siape ni nyang ngulang tahun. lagi-lagi propaganda Amerika. mereka sponsor kita kok. Melewati Alun-alun Bandung. dan Punakawan itu merasa dirinya masing-masing kembali menjadi remaja. “Bukan mau nraktir. gerombolan Pandawa. Tiba-tiba beberapa orang merasa lapar dan menuduh Prabu Kresna yang mengajak mereka berbelok ke arah Kentucky. “Apa kita hanya akan menampilkan kabaret saja untuk perayaan negara. Aku tiba-tiba tergagasi oleh film tadi. Apa salahnya kita ajak Dursasana untuk bersatu melawan musuh dari laur angkasa. mo nraktir ceritanya?” hampir berbarengan Nakula dan Sadewa bertanya kepada rombongan. tidak terpengaruh oleh hiruk-pikuk ABG yang modernis itu. begitu ngepop. saya tidak melihatnya dari sisi itu. Nakula dan Sadewa tiba-tiba berlagak sebagai penyanyi rap yang sladak-sluduk itu. Malah utusan dari Astina akan menampilkan operet Maria Cinta . Bahkan Arjuna kembali menjadi ABG. Kan kemarin kita terima faksimil dari seluruh propinsi bahwa mereka tidak akan menampilkan kesenian daerahnya masing-masing. Dikenakannya syal berwarna merah dan kacamata hitam.” sahut Kresna.

“Misi ujicoba kita gagal. Semar hanya gigit jari ketika Gatotkaca melaporkan kejadian sesungguhnya. Mereka mendengar laporan bahwa Challenger meledak dan Chernobil bocor. Mereka ketakutan dan terbirit-birit keluar setelah membayar makanan. Hasil pembicaraan pemerintah Amarta malam itu sampai ke telinga Patih Sengkuni dan Resi Kombayana. Tiba-tiba rapat di pihak Pandawa menjadi kacau balau. Seperti biasa. Sementara kerusakan teknologi akan diserahkan kepada Batara Guru. Mungkin kita terlalu serakah dan ceroboh. Apa pun yang kita rencanakan. 29 . Kita bisa menyusupkan orang-orang kita untuk menyelidiki lebih jauh rencana-rencana Pandawa dalam Barata Yudha nanti. Kurawa telah terlalu curang dan tidak bisa dibiarkan.” demikian Kombayana punya usul. Barata Yudha adalah sebuah takdir yang mesti kita terima. Bima meraung-raung. Rupanya dia dan pemilik rumah makan itu bersekongkol sebagai agen mata-mata Astina. Tangannya masih menggenggam paha ayam. Tak ada kesenian dalam merebut kemenangan.” Dibentak seperti itu. Urusanmu mengelola satpam dan tukang parkir. Rusak!” “Inilah salahnya Prabu. Kukira ini usulan yang baik dan kita harus menyambutnya. Karena itu. “Jangan sok tahu Kau. Perang dan kekerasan adalah dua jalan yang bersatu menjadi satu arah untuk mencapai kemenangan. Tapi Yudistira cepat berpikir dan berlaku bijak. “Jadi mereka akan mengundang kita untuk menyelenggarakan acara kesenian yang akan melibatkan personal dari berbagai negara. Acara untuk menyambut hari ulang tahun kemerdekaan negara akan dipikirkan. Gareng kebagian memesan hidangan.” Semar mengingatkan.” “Ini kehendak Dewata. segera bersembunyi ke belakang dan memijit remot recorder. “Kukira tidak mesti seperti itu. Dewata telah memutuskannya. Ia membubarkan rapat dan memohon Prabu Kresna dan Wak Semar menyabarkan yang lain. Dewala mengambil sikap diam seribu bahasa. Bima menggebrak meja. Punakawan yang lain menyikutnya.” Bisma mengingatkan. misi perdamaian lewat kesenian dalam perayaan ulang tahun negara seperti yang diusulkan Dewala hanya omong kosong. Nakula dan Sadewa ikut naik pitam. suasana rapat menjadi lebih kacau.” Arjuna bersungut-sungut. Seorang anak kecil yang biasa mengemis atas suruhan Kurawa.yang Hilang.” Dewala mencoba menjelaskan. Takdir kita untuk menerima kekalahan. kita sekarang terlalu berjarak dengan wong cilik. apa tidak membingungkan pikiranku melihat realitas apresiasi masyarakat sudah turun seperti itu? Rusak Re. bahkan Semar menjewer kupingnya. Para pengunjung tanpa disuruh segera meninggalkan makanannya. Perdamaian hanya menghambat rencana Dewata. Mungkin bisa jadi kesenian sebagai alternatif untuk mencapai perdamaian. “Tidak.

soalnya seniman di negeri kita sendiri tengah gontok-gontokan. Kita mengalah untuk menang. Tetapi kita juga tahu. tapi tidak ada sponsor sampai saat ini. Dulu bambu bisa menebang milik siapa saja. Sekarang berteater tidak bisa lagi diberangkatkan dari apa adanya. itu sebabnya bahagiakanlah mereka dari sekarang. “Justru naskah ini tepat sekali. “Saya punya obsesi dari dulu untuk menggelar naskah Pandawa Adu Dadu. Dengan demikian. kalau memang bakatnya membelot ya membelotlah. Eu begini Prabu. ia lebih suka berhadapan dengan komputer dan internet. dari kopi dan dari rokok. mereka tidak tahu bahwa mereka akan dicurangi oleh Paman Sengkuni. insya Allah deh mereka tidak akan terlalu brutal dan mau menerima putusan Dewata dengan dada yang lapang. Kita harus mengalah dan membahagiakan saudara-saudara kita yang memilih jalur menjadi lawan. Kebiasaannya bersemedi ditinggalkan.Berhari-hari Yudistira menghadapi komputer dan mencerna John Naisbitt tentang Kebangkitan Asia. ia biasanya merasa bisa berpikir lebih tepat. pokoknya naskah karya siapa pun tak menjadi masalah. bahwa mereka saling menghargai pendapat dan karya seniman lain. Kita tahu bahwa Pandawa kalah taruhan. mengapa? karena kita tahu bahwa di Barata Yudha nanti mereka akan kalah. Dipanggilnya Dewala saat itu juga. saya akan membalikkan fakta. Keningnya semakin mengerut seperti kening Einstein. Akan tetapi kita mesti terus berusaha dengan cara mengingatkan kembali diri kita masing-masing pada sejarah.” *** 30 . Pokoknya rahasia. silaturahmi antarseniman pun terbina. Ini menjadi pelajaran juga bagi kita selaku pemegang pemerintahan untuk tidak terbawa oleh arus dan rayuan gombal musuh. Kalau sudah seperti itu. Prabu. selain nanti para pembesar dari berbagai negara diundang. Dengan dibahagiakan.” “Itu wajar karena mereka punya ideologi. tetapi yang bisa membawa pada aufklarung dan bertemakan perdamaian dunia.” jelas Yudistira. dalam akhir cerita.” “Bagi saya. seniman adalah pintu terakhir yang akan menjaga persaudaraan dan kebersamaan. Nanti Prabu tidak merasa surprise lagi kalau saya beritahu dari sekarang. Konon katanya menurut mitos. Diam-diam ia tertarik dengan usulan Dewala. Pokoknya semua serba menyenangkan tamu undangan. segala benda serba diuangkan. Tapi jalan keluar untuk damai belum juga didapatnya. Syukurlah kalau Prabu Yudis mau sponsori obsesi saya.” “Tapi apa justru tidak akan membuat semakin pongah?” “Sebenarnya ini tergantung dari sumber daya manusianya sendiri.” “Tapi saat ini saya ragu. Berhari-hari pula ia menjauhkan diri dari ranjang Drupadi. Saya punya teknik. Cerita kekalahan ini akan sangat menyenangkan bagi Suyudana dan kawan-kawan. Sebenarnya waktu Pandawa mau diajak main dadu. juga para teaterwannya diajak untuk ikut bermain dalam pementasan ini. sekarang rakyat sudah menjadi materialis.” “Apa itu?” “Ada saja.

Singkat cerita, Dewala menjadi sutradara. Astrajingga mau menjadi Dursasana karena dibohongi oleh Dewala. Kabarnya yang akan menjadi Drupadi adalah istrinya Arjuna. Tapi setelah mendekati pementasan, casting itu diganti oleh Aswatama yang baru pulang studi komperatif tentang antropologi dari Amerika. Para seniman raksasa dari Astina menjadi Pandawa sedangkan para seniman dari Amarta menjadi Kurawa dalam casting ini. Dadu dilempar. Untuk lemparan pertama Kurawa kalah. Sengkuni tertawa, “mereka tertipu,” bisiknya. Para tamu undangan dari Astina terutama yang tidak pernah membaca karya sastra dan membaca sejarah wayang, tampak tegang. Sedang tamu undangan dari fihak Amarta bangga karena Pandawa menang dalam lemparan pertama itu. Begitu lemparan kedua dan selanjutnya, raut muka kedua belah pihak berubah. Pandita Durna dan Sengkuni menampakkan senyum kemenangan sambil melirik Yudistira yang tercenung mengerutkan dahi. Pada lemparan ke-sepuluh Amarta harus menyerahan negara sebagai taruhannya, dan kalah. “Mustahil,” gumam Arjuna. Pada lemparan terakhir, bila Pandawa kalah lagi mereka harus menyerahkan Drupadi sebagai taruhannya. Tentu saja Drupadi keberatan, tapi tak ada lagi benda yang bisa dipertaruhkan oleh Pandawa. Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa, dan seluruh kekayaan telah amblas ke tangan Kurawa. Bagi Dursasana yang belum beristri, justru taruhan yang paling berarti adalah Drupadi. Untuk apa para kesatria Pandawa itu, untuk apa kerajaan Amarta toh ia sudah bertahta di singgasana Astina. Ternyata Drupadi harus direlakan kepada Kurawa. Drupadi sesungguhnya tak percaya dengan kekalahan taruhan dadu ini, tetapi ia bahagia karena ini bisa menjadi kesempatan baginya untuk nyeleweng meskipun hanya dalam dongengan. Drupadi ingin tahu sehebat apa kejantanan Dursasana yang tergila-gila olehnya. Yudistira menunduk dan memejamkan mata ketika satu persatu pakaian Drupadi ditanggalkan oleh Dursasana. Brahmana dan seluruh Ksatria Pandawa telah disekap dalam penjara sebagai tawanan taruhan. Di luar plot cerita yang sesungguhnya, ternyata Drupadi bisa ditelanjangi oleh Dursasana yang diperankan oleh Astrajingga. Pada mulanya Astrajingga dengan penuh semangat menelanjangi Drupadi. Tetapi kemudian menjerit dan melompat dari panggung saat harus memperkosanya, karena yang memerankan Drupadi adalah Aswatama. Aswatama, keturunan homoseks itu mengejar-ngejar Astrajingga, “Please, touch me! Touch me!” Kejar-kejaran terjadi, membuat para penonton naik pitam. Resi Kombayana yang merasa ditelanjangi tentu saja marah tapi Bima tak kalah gertak. “Ternyata Aswatama itu seorang homoseks, Para Penonton.” Tiba-tiba Gareng menjelaskan lewat mikropon. Kurawa merasa tertipu dan dihina habis-habisan. Bodyguard dan pelindung Dursasana langsung memberondongkan peluru. Gatotkaca melesat ke angkasa, dilemparkannya senjata kimia. Antareja yang tidak mau menjilat jejak sendiri, melesatkan senjata laser dari jilatan lidahnya. Tapi justru tentara Pandawa yang mampus, sedang tentara Kurawa menjadi kebal.

31

Barata Yudha meledak dengan diawali adu panco antara Bima dengan Puntadewa. Sampai saat ini belum ada yang kalah. ***

32

Ondol
Oleh: A. Hidayat

33
Setelah begitu saja hilang selama enam bulan lebih, Ondol ditemukan mati di tepi kali. Mayatnya terapung tak tertutup selembar kain pun kecuali cawatnya yang putih kelabu dan tampak bolong-bolong. Beberapa bagian tubuhnya menunjukkan bahwa sebelum mati Ondol pernah mengalami penganiayaan. Jari-jari tangannya remuk bekas godaman batu. Sedangkan luka di dadanya hampir memperlihatkan beberapa buah tulang rusuknya. Ketika pertama kali ditemukan, Ondol yang mati di tepi kali itu tidak dikenali sebagai Ondol. Wajahnya hampir-hampir dapat dikatakan hancur remuk. Beberapa luka yang cukup dalam menggaris di pipi, di dahi dan di belakang tulang rahangnya. Sebelah telinganya juga hampir-hampir putus. Dan matanya seolah tidak nampak karena tertutup oleh sekelilingnya yang tembam dan kebiruan. Hilangnya Ondol yang misterius, kemudian kematiannya yang tidak lazim itu menimbulkan kecurigaan kerabat dan penduduk sedesa. Beberapa bulan sebelum tiba-tiba saja hilang, Ondol selalu diawasi beberapa orang yang entah dari mana. Kini Ondol ditemukan tewas dalam keadaan mengerikan. Pasti ada apa-apa di balik kehilangannya yang misterius dan kematiannya yang mengenaskan itu.

*** Setelah mayat Ondol diangkat dari kali dan kemudian diurus sebagaimana kebiasaan di desa, beberapa orang penduduk desa berangkat ke kota kecamatan untuk melaporkan peristiwa itu. Sementara mayat Ondol dimakamkan di bawah langit yang mulai teduh oleh warna senja, lima orang yang melapor itu tiba di kota kecamatan. Mula-mula mereka mendatangi kantor kecamatan, tetapi kantor itu tutup dan tak ada seorang pun yang berjaga di sana. Mereka kemudian menuju ke kantor yang berwajib di kecamatan. Namun, tanpa alasan apa pun, petugas piket di sana tidak mau melayani mereka. Petugas piket itu hanya memberi mereka sebuah surat pengantar yang harus mereka bayar seharga dua bungkus Dji Sam Soe. “Langsung saja ke kantor yang berwajib di kabupaten, ya!” katanya. Orang-orang yang melapor itu bergegas ke kota kabupaten.

Ruang penjagaan kantor yang berwajib di kota kabupaten itu kosong. Dengan ragu orang-orang yang melapor duduk di bangku yang ada. Beberapa lama kemudian, seseorang yang bersandal jepit keluar bersama seseorang yang berpeci. Di ambang pintu yang berpeci menyerahkan sebuah amplop kepada yang bersandal jepit. “Kalau kena tilang lagi, temui saya saja di sini. Pasti beres,” kata yang bersandal jepit sambil mengantar yang berpeci. Yang berpeci lantas pergi dengan mobil mengkilap yang terparkir di halaman. Yang bersandal jepit kemudian masuk dan duduk menghadapi orang-orang yang melapor. Orang-orang yang melapor serempak berdiri dan bersalaman dengan yang bersandal jepit, lalu duduk lagi. “Saudara-saudara juga kena tilang?” tanya yang bersandal jepit. “Oho, tidak Pak. Kami ke sini mau melapor,” kata salah seorang, mewakili yang lainnya. “Begini, Pak. Di tepi kali desa kami, tadi siang ditemukan seorang warga kami yang sudah tidak bernyawa. Ondol, Pak. Setelah hilang enam bulan lebih, Ondol ditemukan mati di tepi kali. Mayatnya terapung tak tertutup selembar kain pun kecuali cawatnya yang putih kelabu dan tampak bolong-bolong. Beberapa bagian tubuhnya menunjukkan bahwa sebelum mati Ondol pernah mengalami penganiayaan. Jari-jari tangannya remuk bekas godaman batu. Sedangkan luka di dadanya hampir memperlihatkan beberapa buah tulang rusuknya.” Yang bersandal jepit batuk-batuk kecil. “Nah, begitu Pak. Ketika pertama kali ditemukan, Ondol yang mati di tepi kali itu tidak dikenali sebagai Ondol. Wajahnya hampir-hampir dapat dikatakan hancur remuk. Beberapa luka yang cukup dalam menggaris di pipi, di dahi dan di belakang tulang rahangnya. Sebelah telinganya juga hampir-hampir putus. Dan matanya seolah tidak nampak karena tertutup oleh sekelilingnya yang tembam dan kebiruan.” Yang bersandal jepit batuk-batuk agak keras. “Hilangnya Ondol yang misterius, kemudian kematiannya yang tidak lazim itu menimbulkan kecurigaan kerabat dan penduduk sedesa. Beberapa bulan sebelum tiba-tiba saja hilang, Ondol selalu diawasi beberapa orang yang entah dari mana. Kini Ondol ditemukan tewas dalam keadaan mengerikan. Pasti ada apa-apa di balik kehilangannya yang misterius dan kematiannya yang mengenaskan itu....” “Sebentar, sebentar,” yang bersandal jepit memotong. “Sorri ya Pak, saya bukan yang menangani urusan kriminal macam itu. Urusan yang saya layani adalah soal tilang, tilang, tilang. Kalau bapak-bapak kena tilang hubungi saya. Tunggu yach, sebentar lagi.” Yang melapor hanya melongo. Untuk mengurangi rasa kesalnya, yang melapor kemudian mengeluarkan dua bungkus rokok. Dibukanya sebungkus, diambilnya sebatang dan dihisapnya dalam-dalam kemudian diedarkannya ke teman-temannya. Yang sebungkus lainnya disimpannya lebih dulu di hadapan yang bersandal jepit. “Nah, itu dia orangnya, Pak.” Kata yang bersandal jepit ketika dua orang temannya, yang berkumis dan yang berkaos oblong, muncul.

34

Sedangkan luka di dadanya hampir memperlihatkan beberapa buah tulang rusuknya. “Nah. Mulutnya bersiul sumbang entah lagu apa. Ondol. Mayatnya terapung tak tertutup selembar kain pun kecuali cawatnya yang putih kelabu dan tampak bolong-bolong. Ondol selalu diawasi beberapa orang yang entah dari mana. “Terima kasih. Ondol ditemukan mati di tepi kali. Beberapa bulan sebelum tiba-tiba saja hilang..” yang berkumis memotong. sebentar.” Orang-orang yang melapor kembali menyulut rokok. Orang yang berkaos oblong datang sambil merapikan rambutnya. Sebelah telinganya juga hampir-hampir putus. tadi siang ditemukan seorang warga kami yang sudah tidak bernyawa. Ayo sekarang lapor sama dia. Ondol yang mati di tepi kali itu tidak dikenali sebagai Ondol. “Nah. Urusan saya adalah perkara kriminal yang berkaitan dengan narkotika dan perkara kenakalan remaja. Pak. hubungi saya yeah. Asap rokok memenuhi ruangan yang tidak terlalu luas itu.“Hei. sedang yang berkaos oblong langsung masuk ke ruang lain. He he he. Pak.” Yang bersandal jepit batuk-batuk agak keras. duduk sebentar dan kemudian berdiri mondar-mandir lagi. Dan matanya seolah tidak nampak karena tertutup oleh sekelilingnya yang tembam dan kebiruan. yang berkaos oblong tadi. Tunggu yeah. Pak.” “Sebentar. Nah. Pak. begitu Pak. Pasti ada apa-apa di balik kehilangannya yang misterius dan kematiannya yang mengenaskan itu. kalian dengar. Begini. Ketika pertama kali ditemukan. “Iya. Setelah hilang enam bulan lebih. kemudian kematiannya yang tidak lazim itu menimbulkan kecurigaan kerabat dan penduduk sedesa. urusan kriminal itu banyak macamnya. Begini. sorri yeah. sorri. Kalau yang menangani urusan bunuh-membunuh. berdiri dan mondar-mandir. Urusan bunuh-membunuh bukan bagian saya.” 35 . Kalau kalian punya narkotika. dia lagi mandi dulu. nih ada laporan kriminil.” yang bersandal jepit setengah berteriak kepada keduanya. Kini Ondol ditemukan tewas dalam keadaan mengerikan. Wajahnya hampir-hampir dapat dikatakan hancur remuk. “Hilangnya Ondol yang misterius. Salah seorang yang melapor segera menyimpan lagi sebungkus rokok di hadapan yang berkumis. Di tepi kali di desa kami. “Sorri. Beberapa bagian tubuhnya menunjukkan bahwa sebelum mati Ondol pernah mengalami penganiayaan.” kata yang berkumis kepada orang-orang yang melapor.” Yang berkumis batuk-batuk kecil. di dahi dan di belakang tulang rahangnya. Yang bersandal jepit dan yang berkumis menemani mereka merokok. “Kalian akan melapor kejadian kriminal?” kata yang berkumis. Jari-jari tangannya remuk bekas godaman batu. Beberapa luka yang cukup dalam menggaris di pipi.. ini dia selesai mandi..

Pak. “Wah.” “Urusan bunuh-membunuh?” Mata yang berkaos oblong melirik ke bungkusan rokok di hadapan yang berkumis. Apalagi kalian cuma warga desa biasa! Sebuah laporan. ya. Pak. Pak. kemudian kematiannya yang tidak lazim itu menimbulkan kecurigaan kerabat dan penduduk sedesa. Kini Ondol ditemukan tewas dalam keadaan mengerikan. Ketika pertama kali ditemukan. bunyinya kembali mengagetkan yang melapor. selalu diawasi beberapa orang yang entah dari mana. ayo mulai. Harus ada berita acara tertulis. Setelah hilang enam bulan lebih.. “Ya. Beberapa luka yang cukup mendalam menggaris di pipi. Sedangkan luka di dadanya hampir memperlihatkan beberapa buah tulang rusuknya.. “Hilangnya Ondol yang misterius. Jari-jari tangannya remuk bekas godaman batu.” Salah seorang yang melapor dengan tergopoh menyodorkan sebungkus rokok kepada yang berkaos oblong..” Yang bersandal jepit bersin. Mayatnya terapung tak tertutup selembar kain pun kecuali cawatnya yang putih kelabu dan tampak bolong-bolong. di dahi dan di belakang tulang rahangnya. Ondol. Apakah tidak cukup dengan laporan lisan saya tadi. Pak?” “Tentu saja tidak. mesti dilaporkan secara ter-tu-lis.” kata yang berkaos.. Bagaimana. begitu Pak. “Begini. “Nah. Masa aparat desa tidak pernah mengumumkan peraturan ini!” 36 . Ondol yang mati di tepi kali itu tidak dikenali sebagai Ondol. Pasti ada apa-apa di balik kehilangannya yang misterius dan kematiannya yang mengenaskan itu. “Iya. “apa kalian bawa berita acara kematiannya?” Orang-orang yang melapor kaget dan bingung. bunyinya mengagetkan yang melapor. Ondol ditemukan mati di tepi kali. Beberapa bagian tubuhnya menunjukkan bahwa sebelum mati Ondol pernah mengalami penganiayaan. Dan matanya seolah tidak nampak karena tertutup oleh sekelilingnya yang tembam dan kebiruan. Pak. kami tidak membawanya. telah saya dengarkan. Sebelah telinganya juga hampir-hampir putus.” yang berkaos hampir-hampir membungkam mulut yang melapor dengan tangannya. Pak. dengan menyerahkan berita acara kematian itu. Laporan lisan saja tidak cukup. Beberapa bulan sebelum tiba-tiba saja hilang. Wajahnya hampir-hampir dapat dikatakan hancur remuk. Ya. “laporan kriminalitas?” “Iya.” Yang bersandal jepit bersin lagi.“Nanti dulu. walaupun yang menyampaikannya gubernur bahkan menteri sekalipun. ya. apalagi ini adalah laporan kriminal yang berkaitan dengan pembunuhan. Di tepi kali di desa kami.” perintah yang berkaos oblong sambil segera menyulut rokok. ya.” “Baik. tadi siang ditemukan seorang warga kami yang sudah tidak bernyawa. Ondol.

tak akan ada yang berani mendaftarkan diri menjadi calon kepala desa. Padahal pemilihan tinggal setahun lagi. visum dokter. ya hanya bisa dianggap sebagai kebohongan. Nah. Apalagi tanpa bukti. keterangan tidak pernah menentang dan menghina pemerintah. Ada bukti pun. Itu pun kalau perkara ini ingin diusut tuntas. Camat juga beserta ibu. Kepala Desa beserta ibu. “Kalau soal ini dibiarkan. sodara-sodara. Ondol mati tidak lazim dan keadaannya begitu mengerikan setelah setengah tahun lebih hilang secara misterius. karena sekarang malam Minggu. kejadian ini menimpa Ondol yang cerdas dan berpendidikan. karena itu saya minta berita acara daripada kematian yang diissyukan tadi. Kebetulan ada perempuan montok di ruang tahanan. Beberapa orang kerabat Ondol menyatakan bahwa kematian Ondol barangkali sudah merupakan takdir dan tak perlu diusut sebab-sebabnya. dan akan lebih kuat lagi jika diketahui oleh Bupati beserta ibu.. Dilengkapi pula dengan denah lokasi kematian. itu namanya baru disebut issyu. Dibuat di atas kertas segel rangkap sepuluh. Kepala Kepolisian beserta ibu. kan?” 37 *** Di hadapan keluarga dan kerabat Ondol. Dengan demikian tidak perlu ditanggapi. Tingkat kebenarannya masih dalam tarap diragukan dan belum bisa dipercaya sedikit pun. ya tass.” Yang berkaos menyerahkan selembar kertas. nih. Orangorang yang melapor menunduk semua. Ketua RW beserta ibu. “Menurut yang berwajib juga ini sebuah peristiwa kriminal yang perlu diusut tuntas. pasti dia kesepian. ..Yang berkaos oblong memandang tajam kepada orang-orang yang melapor. orang-orang yang melapor menceritakan apa yang harus dilakukan agar peristiwa hilang serta tewasnya Ondol bisa diusut tuntas. sebentar lagi kantor yang berwajib ini akan tutup. keterangan kelakuan baik sepanjang hayat. Pak?” “Menurut peraturan nomor 23456/7/89. Sebuah is-syu maksimal hanya bisa didengarkan atau dalam istilah yang lazim di sini: di-tam-pung. jika tidak ada berita acara tertulis hitam di atas putih.” kata salah seorang. “Ingat. Tetapi orang-orang yang melapor meyakinkan mereka akan pentingnya pengusutan kematian Ondol. Bagaimana kalau semua orang yang punya keinginan untuk maju hilang dan terbunuh begitu saja?” tanya salah seorang. Lalu dikukuhkan oleh seorang notaris dan didaftarkan di pengadilan. Dan yang lebih penting lagi. “Nah. sebuah is-syu harus diperlakukan sebagai is-syu. dan syarat lain yang tercantum di sini. “Kalau soal segawat ini hanya disampaikan secara lisan. Pasti ini ada hubungannya dengan keinginan Ondol untuk memimpin dan memajukan desa ini. Wajar dong kalau seminggu sekali kami juga menikmati kencan gratis di malam panjang.” “Caranya bagaimana. berita acara itu sekurang-kurangnya ditandatangani oleh lima orang yang melapor serta diketahui oleh ketua RT beserta ibu. tidak pernah terlibat penganiayaan petugas keamanan. he he he.” “Betul. Berdasarkan peraturan nomor 12345/6/78. orang yang kita harapkan suatu saat bisa memimpin desa ini.

” Orang-orang yang melapor tersentak dan termangu. 38 . Sebuah kejadian serupa yang terjadi minggu lalu harus segera kami usut dan memerlukan penanganan yang tidak main-main.. ya sayang sekali. Kerabat Ondol juga harus berpatungan menyiapkan sejumlah amplop untuk orang-orang yang menandatangani berita acara itu. Lihat. ya! OK?” Dengan langkah gontai mereka pamit dan pulang dengan seberkas tebal berita acara kematian. Karena itu.Saya juga telah diminta masyarakat banyak untuk mencalonkan diri.” kata salah seorang. berbaik hati mengurus berita acara kematian Ondol. tentu berita acara kematian ini. Kalau kemarin datang ke sini. siapa namanya itu. tetapi kalian yang teledor. tidak disiplin dengan waktu. “Aduh. dan itu menjadi pro dan kontra bagi masyarakat desa. Menurut salah seorang kerabat Ondol.” Yang berkaos oblong mengerutkan dahi. Pak. lebih baik kematian e. kenapa baru menyerahkan berita acara sekarang? Sayang sekali." kata yang berkaos setengah marah-marah. dengan semangat 45. tetapi saya tidak berani kalau risikonya harus seperti Ondol. kalian lupakan saja. Salah seorang. mayat yang telah dikubur digali kembali. Jaman sekarang kita harus berpacu dengan waktu! Ya. lupakan saja kematian si Podol itu. ini sudah menyangkut perkara sub-ver-sif. sebuah peristiwa kriminal pembunuhan dengan lokasi kematian di tepi kali hanya dapat diusut tuntas bila berita acara kematiannya masuk kepada yang berwajib tidak lebih dari sebulan. Namun pembuatan berita acara itu memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit. “Begini. kami juga masih repot dengan perkara kematian si Udin brengsek setahun yang lalu itu. Baru sebulan lewat satu hari berita acara itu bisa didaftarkan di pengadilan. lebih kurang satu juta habis digunakan untuk berita acara itu.” Akhirnya semua kerabat Ondol menyepakati dilakukannya pengusutan. Jelas bukan. atas nama hukum. Untuk mendapatkan visum dokter. ini bukan lagi soal kriminal biasa? Yang berwajib saja mengatakan. Mereka diterima oleh orang yang dulu mereka temui. “Jadi. sekarang kami serahkan berita acara kematian Ondol. orang-orang yang melapor kembali datang ke kantor yang berwajib di kabupaten." yang berkaos menunjuk setumpuk tebal kertas di atas meja. Orang-orang yang melapor tak bisa berkata-kata. Bukan kami tidak ingin mengusut. Pada hari itu juga. “Sekali lagi. bisa saya terima. Kami lagi sibuk. kami tidak punya waktu banyak. Menurut peraturan nomor 34567/8/90. yang menyatakan dirinya diminta untuk mencalonkan diri menjadi kepala desa. berkas lengkap berita acaranya juga sudah kami terima. Selain harus mengusut perkara minggu lalu. Kemarin! Mestinya kemarin ke sini. supersibuk. “Sekarang kami tidak punya banyak waktu. “kami semua mengharapkan kematian Ondol akan segera diusut tuntas setuntas-tuntasnya.. Sesuai dengan petunjuk Bapak. pengusutan perlu dilakukan.

Sebagian kertas yang lain mereka lemparkan ke udara. mereka melangkah menuju sebuah warung kecil. sebagian lainnya hanyut di selokan.*** 39 . ke halaman-halaman di rumah pinggir jalan. Beberapa anak kecil memungut kertas-kertas itu untuk dibuat mainan kapal-kapalan.Dalam terik matahari yang membakar tubuh. mereka membungkus gorengan itu dengan kertas-kertas segel berita acara kematian Ondol. Karena plastik pembungkus di warung itu habis. Beberapa bungkus nasi rames mereka makan untuk menghilangkan lapar. Kertas-kertas warna-warni berhamburan. Mereka membeli beberapa buah goreng pisang dan goreng ketan. melayang-layang dan jatuh ke tengah dan tepi jalan.

"Benarkah? Benarkah kau Nuh seperti yang aku angankan?" "Ya. Lelah rasanya aku memanggil. kali ini lebih lebar. Kulihat di sekelilingku. bahasa yang sangat asing ditelinganya. "Kaukah itu? Jawablah!" Lelaki itu tetap diam. Akulah Nuh! Nuh yang diceritakan oleh bapak-bapak kamu. Mengapa tidak menjawab? Bisikku dalam hati. Bisukah? Tanyaku dalam hati. tapi yang kutemui hanya diriku sendiri. tapi rasa ingin tahuku menggebu mengelucak di gejolak kalbu menoreh-noreh dinding hati yang keheranan.Horison. Maret 2000 Nuh Oleh: Isworo Haris Sunardi 40 "Nuuuh …! Kaukah itu? Yang berlayar dengan sabar mengarungi lautan tiada berpantai?" tanyaku ketika melintas sesosok wajah di depan mataku. tapi (anehnya) warnanya hitam mengkilap. Tongkat penyangganya menebar harum bau cendana. "Kaukah itu? Tanyaku sekali lagi." dia mengangguk. Barangkali dia tidak tahu bahasaku yang berasal dari Indonesia. . Di atas batu pualam hitam begitu tegar dia berdiri. Oh! Hidungku mengendus wewangian hingga meranggas mengalir dalam rongga dada. tapi wajah itu terus saja berdiri tenang menatapku." "Kalian?" aku heran. "Tapi aku takkan bisa menolong kalian. Aku jadi teringat cerita bapakku tentang laki-laki yang tidak disetiai istrinya di atas kapal kayu besar. di bawah angin besar membadai dan guyuran hujan menabrak-nabrak tap kapalnya. Ataukah senyumnya itu yang menawarkan jalinan komunikasi yang harus diresapkan maknanya dalam hati? Anehnya dia tahu kalau aku sedang menerka-nerka. Kuusap-usap dengan keras dan kuucek-ucek kelopak di bawah alis ini." jawabnya tenang. Dia tersenyum lagi. "Ya. Tapi dia memandangku terus dan tersenyum mengejek. Aku hampir saja melompat kegirangan saat tahu kalau dia benar-benar Nuh. Wajah putih berjenggot panjang itu masih menampakkan guratan ketegaran di pipinya.

Saat kuketahui mereka curang dan membahayakan. Lalu aku berjalan di antara saudara-saudara sendiri yang bertongkatkan politik. telah berubah arah. seperti dia sedang serius berfikir. juga kuda-kuda liar yang bisa kutundukkan. Kucari-cari bayanganku dengan harapan-harapan sambil meraba-raba bangunan. Aku sangat kecewa. Karena lamanya aku membuat kapal. Bukan untuk kalian. Kau dan rakyatmu lupa pada titian waktu bangsa sendiri. Kalian! Kau dan rakyatmu yang lupa akan hidup dan perjalanannya. Dan matahari yang seharusnya hangat di setiap pagi berubah jadi resah yang menyengatnyengat pikiranku. Mereka bebas makan. Aku dan anak buahku. ketika menemukan sela-sela perjuangan di antara perang dan perang. Dulu bangsaku lalai tidak mau menjalankan perintah Tuhan dan nasihatku. "Tapi Engkau bisa memberi nasihat buat kami. 41 . Aku sering mendiamkan atau mendamaikan. Bahkan tahi. mereka sering pura-pura dengan cara memuja selayaknya seorang raja. "Kenapa?" "Kronologi perjalanannya berbeda. Setiap kali kutapaki jalan sambil memanggul sepi. aku jadi kebal. Kukejar dan terus kukejar lawanku hingga jurang beku dan ternyata aku dan anak buah setiaku berhasil menang. Semua karena hanya ingin mengikuti kata hati tanpa kau fikirkan." katanya menjelaskan. Nuh? Aku mohon?" Kabut hitam menggumpal di wajah tua itu. Aku berjalan di bawah penindasan. Apalagi kau suka pelihara bunglon-bunglon yang dengan cepat mengecat warna. Lagi pula lautan yang kau renangi adalah lautan waktu yang berisi ketololan dan keteledoran. Aku berlayar di lautan tiada berpantai itu. aku bagi kebahagiaan. Kau lupa pada orang yang suka memuja hingga kau turuti kemauan mereka. Kusergap sebisanya dan kuhancurkan. Tapi lama-lama setelah aku tua dan mulai banyak lupa. Kubabat tanpa sisa. Akhirnya sampai juga aku menguasainya. bahkan tahi dilemparkan ke muka ini. Berkali-kali aku dicaci dan dipecundangi. Nuh! Bagaimana sebaiknya bangsa ini berjuang berenang di lautan yang bergelombang duka ini. Alis putihnya mengumpul. tidak …tidak! Aku tak bisa menasihatimu. Ada guratan gelombang di keningnya. kadang rumah yang berlebihan. Tugasku telah selesai dan tinggal santai. Di antara mereka banyak yang saleh-saleh. Jembatan waktu yang kau tuju. dengan tanah-tanah yang kubangun rumah. Akhirnya aku harus memilih jalan."Ya . Aku rindu harapan. berpakaian. mereka kusikat. hanya untuk umatku. Kutelusuri lagi perjalanan hidupku di saat masih kecil yang digeluti oleh lapar yang sangat. Mereka ingin menelusur pada masa lalu dengan menerapkan di masa sekarang. Beda sekali dengan lautan yang aku layari. seperti katamu. Aku terjungkal dalam kesendirian di lembah papa. Lama aku menunggu jawabannya." Aku terdiam. "Tidak. Sementara di atasku beribu peluru mendesing memburu. Aku merayap-rayap mencari-cari musuh yang lengah. Istriku sendiri yang mengajari." katanya menggeleng. Tapi bangsamu adalah bangsa yang telah lama mengenal Tuhan. juga familiku. Habis itu kubiarkan berbuat apa saja.

" "Lalu. dan gunung-gunung yang kupijak meledak. "Jangan mengejek. Kesunyian-kesunyian yang kutelan sebagai pelepas dahagaku telah mengenyangkanku. Tapi yang kucari tak ketemu juga. Tapi layaknya sekat. Lalu mendorong hingga terjerembab di lubang nista. Aku berlari di hutan-hutan. kedua tanganku mengepak serupa sayap. Untunglah dia datang saat aku hampir terpagut rasa putus asa. Dia julurkan telunjuknya ke arah langit. Kulambaikan tangan pada orang-orang. akan kutempuh!" kataku. Aku jadi sendiri. Bibirnya lembut mengurai suara. Lama kucari-cari dan kunanti." Lalu dia menegakkan jari tengahnya ke arah langit hingga berjajar dengan telunjuknya. Kureka-reka dalam khayalku sambil menyusuri lorong-lorong pabrik-pabrik dan mobil-mobil mewah siapa tahu ada di sana. "Tanpa ketabahan kau takkan mungkin mampu mengarungi lautan duka resah ini hingga sekarang. Kunyuk semprul! Ternyata di antara mereka itu ada beberapa musuh main petak umpet dan perang-perangan. Aku jadi berfikir saat dia menjurus-juruskan jarinya ke atas. tapi tak juga muncul dalam benakku. "Nuh! Dimana kau? Kenapa kau pergi lagi? Nuh! Nuh! Nuuuh…!" teriakku memanggilmanggil orang yang kukagumi itu.Mereka punjung kata dengan emas. Orang tabah itu akan kumintai nasihatnya. Nuh. Kuulurkan tangan agar aku dapat meraih kelembutan telapak tangannya. betapa sedih ketika dia ulurkan tangan untuk menggapaiku tidak pernah sampai. Nuh. tapi di belakang disiapkan membokong. Dia tersenyum. Dia julurkan jari manisnya menunjuk ke arah langit. Dan dia yang berjiwa penolong itu akan kucari petunjuknya. "Tegarkan jiwamu!" katanya dengan menekankan suaranya. tapi hutan itu malah terbakar. Hari-hari kuakrabi sepi bagai mimpi. Di wajahnya ada teduh bulan purnama." katanya. Aku ditandu dan dielu-elu. "Ketegaranmu. Mereka tampak menyongsong. tapi malah tersasar dalam lembah kurang ajar. 42 . tepekur melebur diri dalam keheningan dan kesunyian. Sambil berlari Dia kuhampiri. Lalu aku melesat di antara manusia-manusia pakar penasihatku. "Tabah. Nuh! Kau datang lagi saat aku terlompat. Nuh?" tanyaku tak sabar. Berjalan menyusuri ujung penantian. Orang yang sabar berlayar itu akan kupungut hatinya. Bencana-bencana beruntun melanda." Nuh yang tua itu menggeleng. "Kau pasti akan merdeka seperti engkau berjuang mati-matian memperoleh kata itu. Aku gagal menyentuhnya. Ketabahan yang kau pelihara sejak kecil itu membuat hatimu kuat.

"Tenang!" katanya. Mataku terus saja menatapnya. Dia menyuruhku memandang ke atas. Sambil memberi salam dia pergi melambaikan tangan.*** 43 . "Jadikan tiga itu tonggak kekuatan di hatimu untuk menetralisir kekalutanmu. Kendali emosi dari dendam pada orang-orang yang telah menjatuhkan kau sebagai kekuatan." Aku termangu dalam buaian nasihatnya. terima kasih!" kataku sambil berlari melewati senja waktu malam yang mulai merayap meranggas gelap. "Ya. Tak terasa reflek jariku ikut menirukan gerakannya. Aku terdiam tenang. Tapi Nuh tibatiba pamit pergi setelah meninggalkan nasihatnya dengan menghunjamkan dalam hatiku. ke sana!" katanya menjelaskan. Kupandangi dia saat berjalan meninggalkan. "Terima kasih Nuh.

ketika kami duduk di sebuah café di pinggir Champs Elessye. Bau hutan tropis masih lekat di wajahnya. . Pagi sekali.” aku menyebut pertemuan malam itu. menyisakan cungkupcungkup api dari mobil-mobil terbakar. Anggap ini sebagai ekspresi persaudaraan. juga terekam dalam kalimat-kalimatnya yang cerdas. meninggalkan gerah – juga kesal lantaran langit kota telah penuh asap. sepatu karet dan celana jeans. aku segera terbang ke sini. Paris. mungkin ke wilayah-wilayah yang belum dikenalnya. sedang bermula. beraroma perempuan dengan keliaran tersembunyi di balik kecerdasan dan pendidikan yang baik. Asing. Terbang ke tempat-tempat yang jauh. mungkin. pada sebuah flat sederhana di Brooklynn. berkeringat. lesu. Tak perlu kontak. kekuatan dan ambisi adalah aura yang memancar dari tubuh tegap Yogo.” ungkapnya tadi subuh sebelum berpisah.Pada Sebuah Taman. Bukan hal mudah mencapai taman ini. mereka yang hanya mengenal canda dan birahi. Sambil mengontrol radio. Mei Oleh: Moch. meneguk perlahan hangat tequilla. turun amat perlahan. dia bagai berada dalam situasi ekstase. Pergilah. dulu. Malam yang teramat meletihkan telah kami lewatkan dan sekarang adalah tahap menunggu. Bau tubuhnya masih tersisa dalam ketergesaan langkahku: asin. Gelombang masa yang bergulung-gulung bagai bah telah menyapu pertokoan. perkantoran dan meninggalkan nyala api yang perlahan-lahan makin membesar. telah bergegas pergi dari situ. lenggang. senja beringsut perlahan. Dia hanya mengenakan T-shirt polos. senja mulai nyungsep. memberi komando. Kota sedang terbakar. Tapi adakah sesuatu yang asing bagi sebuah kemutlakan bernama naluri? Kukira tak ada. ”Anda bantu saya. bahkan nyaris lunglai. Dia datang dari jauh. Atribut perwira yang selama ini menjadi citranya di depan publik. Lalu di sini. Urat-urat kesadaran yang memancarkan kharisma dari seorang prajurit lapangan. Dan burung-burung itu telah mengungsi meninggalkan taman di mana senja yang bisanya bersemangat menjemput malam. Usai mengantar Ning. mematangkan dan memberi perintah “start”. ketika kami tidur bersama pertama kali. nun beberapa tahun lampau. lenyap sama sekali. sepanjang malam. pedalaman Irian. tapi. Ning juga pernah bilang begitu. Revolusi. Persis ketika suatu malam. NY. lamban. Senja yang kemarin juga. Mungkin karena burung-burung sudah mengungsi entah ke mana. di sana. Kekuasaan. tadi. Hasymi Ibrahim 44 Di taman kota. Jalan raya yang melintang membelah-belah kota menjadi senyap. usai membebaskan sandera. “Kita evaluasi perkembangan. kukira. dan Yogo telah datang. “Perjumpaan dengan calon presiden.

Juga kedatangan Yogo yang telat. Persahabatan itu. Mundur mendadak tentu akan membuyarkan rencana. kelak. juga kepercayaan atas nama keagungan. Presiden memang sudah terpojok. tegas dan banal. Yogo tampak angker. Ning menelepon. masih mampu tampil sebagai satu-satunya pilar penentu. bahkan dua tahun sebelumnya ketika ketekunan di depan mesin komputer menjadi aktivis menggairahkan. tapi aku punya keyakinan. telah aku rekam di luar kepala. mengamati penampilan sekian ratus tokoh di depan publik dari waktu ke waktu. Akan menyetop aksi. Aku telah membaca jutaan bit dari laporan intelejen. Kamu pasti setuju. Belum perlu ada kalkulasi menang atau kalah. dia memilih mengalah sebelum bertempur. Lambaian tangan kekuasaan semakin mengentalkan darah ambisinya. Langkah presiden selamanya memang tak terduga. Para pemain valas telah terkuasai. Beberapa buah bank sudah ambruk. Ada kontak dengan Yogo?” “Belum. “Bang. simpel. demi kesan pada sebuah malam di sebuah kaki lima di Paris. “Ia. demonstrasi. Mungkin dia sedang di istana.” katanya simpel. bahwa dia takkan menyerah begitu saja. pupus. Juga keagungan sebuah cita-cita. faktor yang kami tak hitung selama ini. Dia berada satu level di bawah. Presiden mundur besok. tapi kuusahakan. sampai ke gelagat seksualnya di ranjang. Di ufuk. Kebebalan presiden untuk bersikukuh pada kursi kekuasaan.persahabatan. seperti irama tubuhnya: simpel. tapi ada saja hal yang tak dapat diduga. kamu masih di situ?” kataku menjawab Ning. Oh. Demi Yogo. Dia tak lebih seorang tua pikun yang sedang kehabisan cita-cita.” 45 . bayang kegagalan mulai tampak. segera akan terbukti. Dan sebagian besar kerja keras itu sudah berhasil. Aku kontan diserang frustasi. diliputi misteri. Malam kemudian tiba dengan diam. habis. Markas keuangan sudah terbakar. Kamu kok diam saja?” “Aku bingung. Bahkan untuk beberapa tokoh kunci. rupanya tak dapat dipercaya. Ini harus dicegah. Bahkan picu massa telah berhasil melalui eksekusi mahasiswa. Dia ternyata bukan prajurit sejati seperti senantiasa dicitrakan di depan publik. Para aktivis telah diamankan. Pulanglah. Sabotase. Lesu. —lampu teplok kehabisan minyak. Tak ada basa-basi. tapi rencana masih sedang berlangsung. khas orang lapangan yang pernah mengenyam pendidikan menengah di negeri-negeri asing. Tapi apa mungkin? Yogo memang bukan panglima. Malam yang sepi.” Singkat. langsung. akan memuaskan semua orang dan segera akan berbalik menyerang kami. menganalisis arah perkembangan berbagai kelompok. betapa menggairahkan. “Ning. dan berbagai upaya pembusukan telah terjadi. Pendek kata semua berjalan sesuai rencana. dan demi keagungan. Dan malam tadi. Presiden yang ternyata sangat lemah. Sebuah persilatan virtual telah berlangsung mulai tadi subuh – bahkan sudah dua hari sebelumnya. hingga subuh ketika kami pisah. persahabatan adalah ikatan kita. Yogo tak mungkin datang.

Kali ini suaranya bernada khawatir. aku yang justru panik dan gamang. “Iya.” “Sebentar lagi aku datang. bertelur dan berkembang biak – dan kini telah mengungsi entah ke mana— semuanya telah berakhir. Bagi Yogo. lantaran aktornya bermain tak terkendali. Duduk menunggumu. Lakon yang berjalan tak sampai klimaks.“Pulanglah segera. Malam sudah bertahta. Taman benar-benar muram. almamaterku. kini. pulang. Sasaran tembak: Perdana Menteri yang terlampau cerdas dan sedang berkilau di dunia internasional. kini. Tak ada kegetiran. Keagungan itu memang ilusi. Bukan karena risiko yang mesti datang. Ini tentu akan lebih menggairahkan. apalagi kegentaran. Udara gerah berbau asap.” katanya singkat. Di sini kita bisa berpikir jernih.” 46 .” Suara Ning tetap empuk. "Kamu masih di situ?" tanya Ning. Dia terlampau cerdas untuk dihentikan. Tak ada besok. Reranting tampak seram memantulkan malam hari. Mungkin kematangan yang datang dari daya-daya seksualnya yang tak pernah surut dan padam. Memanggil. Atau bisa lanjut di masa yang datang. Biarlah persahabatan dengan Yogo berakhir.” “Iya. Melainkan kepanikan seorang penulis skenario yang gagal mementaskan lakonnya dengan sempurna.” “Kalau begitu aku mandi lagi. Hand-phoneku bertulilit. Castro. Kota masih terbakar. “Ning. Sebaliknya. dan tak ada rencana ulang. dan mungkin Kaddafi – hadir untuk berperanan menumbangkan tiran dan eksis atas nama cita-cita dan keagungan. Di sini. alumni Oxford. seperti Che Guevara. balas dendam kalangan militer. Yogo: gumamku membatin. di taman tempat burung-burung bersenggama. Aku benar-benar frustasi. Aku ingin berendam. Kenyataan yang tak diperhitungkan akhirnya terjadi. cuma handuk. Sementara bagiku? Masih ada Ning. Dia memang lebih matang. bukan. “Tunggu sampai besok. Kami akan segera terbang ke negeri lain.” “Berendam bersama-sama. sekarang atau tidak sama sekali. menghanguskan sisa rencana. Seperti yang sering kamu katakan. di sana prarencana sudah tersusun. Tapi tidak malam ini. Menggairahkan. Durja. Juga kepanikan dan kegamangan seorang yang tumbuh berkembang bersama ilusi revolusi. kamu masih di situ?” “Ya. utamanya.” balasku memencet “off” pada hand-phone. Suara Yogo.” “Sekarang pakai handuk?” ‘Ya. aku sudah mandi.

kini.” “Aku juga. NY. di Brooklynn. kurasakan gairah yang lain. Gairah bulan Mei.” “Tunggu. nun bertahun lampau. ya!” “Cepat.“Terus?” “Terus larut seperti biasa. Juni 1998 . di taman ini.” “Aku meresapkan bau mulutmu.*** 47 Jakarta.” Malam. Seperti gairah sebuah musim panas.

“Siapa itu?” “Titiang. Tangan mereka bersentuhan. Suara itu adalah suara perempuan. Apa pun yang . tiba-tiba saja dia seperti ditenggelamkan ke lautan. Ratu. Baru kali ini Kopag merasakan bisa menikmati hidupnya. Kopag semakin gelisah. Suara itu dirasakan penuh dengan kejujuran. Kopag yakin dugaannya ini tidak meleset.Pemahat Abad Oleh: Oka Rusmini 48 Kopag menjatuh-kan pisau ukirnya yang runcing. Seperti bau daundaun kering dan kayu basah.” “Srenggi? Srenggi siapa?!” Kopag semakin menggigil. siapa kau?!” Titiang yang akan melayani seluruh keperluan. Aneh sekali. Kopag menggigil ketika bau itu benar-benar menelanjangi wujud laki-lakinya. benarkah suara ini milik seorang perempuan? Ketika Kopag akan mengambil tongkatnya. perempuan yang dicarinya berabad-abad.2 Mulai hari ini dan seterusnya. Kulit perempuan itu terasa seperti kulit kayu. Luar biasa.” Suara itu terdengar gugup. Hampir saja pisau itu memahat kakinya. Tangannya jadi lapar. Perempuan itu pasti memiliki kecantikan yang melebihi kecantikan sebatang pohon. Katakan padaku.1 Luh Srenggi. "Siapa tadi namamu?” Kopag mulai menenangkan dirinya sendiri. Sekarang Hyang Widhi mengirim untuknya. Dia memerlukan alat-alat pahatnya. Semua gara-gara dia mencium bau yang aneh dari sudut pintu. sekedar mendengarkan keputusan orang-orang terdekatnya. Biasanya dia hanya dijadikan objek. Dia bisa memberikan penilaian yang begitu objektif terhadap benda hidup yang bernama manusia. dan sangat tulus. Inilah perempuan itu. Pisaupisau yang runcing tebayang di otaknya.” Suara itu terde-ngar bergetar. Seorang perempuan. atau seonggok kayu yang paling sakral sekalipun. kasih sayang. Aneh. dari mana datangnya bau yang membuatnya begitu gelisah? Bau itu semakin mendekat. “Luh Srenggi. Bau itu semakin mendekat dan menyesakkan dadanya. Luh Srenggi cepat-cepat membantu. Apa yang terjadi dengan dirinya? Kopag memaki dirinya sendiri.

lakilaki itu pulang dalam kondisi yang menyakitkan. cantikkah perempuan itu. Suatu hari. Ayahnya seorang laki-laki sangat terhormat dan memiliki kedudukan tinggi di pemerintahan. Laki-laki itu adalah binatang yang paling mengerikan. setelah berbulan-bulan tidak pulang. sangat sadar. di sanalah dunia itu dibuat untuk laki-laki yang sejak pertama berkenalan dengan aroma bumi . Dia juga memiliki puluhan galeri lukis dan patung. Sayangnya laki-laki itu memiliki mata yang sangat liar. “bahkan untuk menilai keindahan itu. Dilahirkan sebagai laki-laki buta memang tidak menggairahkan. laki-lakinya akan menitipkan daging binatang dirahimnya. Belum lagi hutangnya yang tiba-tiba saja menumpuk. Seluruh wajahnya juga lekukan kayu. juga tidak berkomentar ketika Kopag memuji keindahan perempuan delapan belas tahun itu. dan keindahannya sendiri. setiap makhluk yang memiliki lubang bisa dimasuki. Bahkan Gubreg. Seluruh kekayaan ludes. apakah orang-orang yang memiliki kelengkapan utuh sebagai manusia ketika dilahirkan mampu menangkap seluruh rahasia kehidupan ini? Rahasia yang erat-erat digenggam dan disembunyikan alam? Salahkah kalau tiba-tiba saja Kopag menemukan kecantikan yang luar biasa pada diri Luh Srenggi. Gubreg?” Suara Kopag terdengar getir. aku juga harus memakai kriteria mereka?" "Kebenaran mereka? Aku tidak yakin mereka mampu melihat seluruh keindahan hidup ini dengan benar!” Suara Kopag terdengar penuh tekanan. kasta tertinggi dalam struktur masyarakat Bali. laki-laki itu memaksa perempuan yang dinikahinya untuk bersetubuh. Dalam kondisi seperti itu. pelayan tua itu. perasaan. Pikirannya kacau! Kopag sadar. Lahirlah seorang laki-laki yang merenggut nyawa perempuan itu. “Apakah di bumi ini wujud kebenaran itu sudah seragam. sehatkah dia? Bagi Ayah Kopag. Kopag harus patuh. Dia tahu. Aneh sekali tak ada manusia yang bisa menangkap kecantikannya. Tapi. dia merasa menemukan kebenaran yang berbeda dengan kebenaran yang diyakini oleh orang-orang yang selama ini rajin menanamkan kebenaran yang telah menjadi ukuran mereka.dikatakan orang-orang di sekitarnya. Dia anak laki-laki kedua yang lahir dari keluarga terkaya di Griya. Dia adalah kayu terindah dan tercantik. Salahkah? Kecantikan perempuan muda itu adalah kecantikan yang sangat luar biasa. Alangkah ajaibnya kalau hidup juga bisa dipermainkan. laki-laki itu bisa tidur dengan seluruh perempuan. Gelar Ida Bagus menunjukkan bahwa dia adalah anak laki-laki dari golongan Brahmana. Karena tak ada perempuan-perempuan yang bisa dilihatnya dengan matanya. agar orang-orang mudah mengenalinya dan membedakan dirinya berbeda dengan manusia lainnya. Dia tidak pernah peduli. Apa yang sesungguhnya salah pada kriteria yang telah diberikan Kopag terhadap perempuan? 49 *** Kehidupan telah memaksa bocah laki-laki itu memakai label Ida Bagus Made Kopag. bisa dibuat sebuah pementasan. Dia hamil. Tubuhnya seperti lekukan kayu. Menghargai keindahan yang dititipkan alam padanya. Perempuan itu menolak. Seperti sebatang kayu dengan lekuknya yang begitu menggairahkan. Kali ini. sejak kecil dia terbiasa dididik menjadi perempuan bangsawan yang menghormati laki-lakinya. Apa artinya kekuatan seorang perempuan? Terlebih. Kata orang. Laki-laki itu harus berperan sebagai laki-laki buta untuk menebus kelahiran dan hidupnya sendiri. Kecantikan yang dia lihat dengan pikiran. Tubuhnya kurus dan pucat.

juga impian-impiannya. atau posisi piring dan gelas berubah di dapur. bagaimana sesungguhnya sebuah penilaian yang objektif dalam hubungan antarmanusia di bumi ini. kembang sepatu yang baru ditanam perempuan nyinyir itu tersangkut tongkatnya. “Apa bisanya adikmu yang buta itu? Apa? Merepotkan!” Suara perempuan muda itu selalu menggelisahkannya. Masih kata Gubreg. ketika untuk pertama kali iparnya itu menyalaminya. Teriakannya saja bisa memandulkan pisau pahatnya. Kopag tidak saja memahat kayu. Kehidupan yang sering dimaki Kopag ternyata cukup demokratis. Kebutaan yang mengikuti dia terus-menerus. Kopag sering berpikir. Bagi Kopag. Karena perempuan Sudra. Kopag juga merasakan setiap mulut perempuan itu terbuka. Disentuhnya kayu kering yang selama ini selalu mengantarnya ke mana dia pergi. Untuk pertama kali. Kopag sangat menyukai kayu yang mengenalkannya pada dunianya. Tanpa teriakan iparnya yang sering menyesakkan kuping. Getaran tangannya sudah seperti tangan-tangan mayat yang membusuk. Itu yang dirasakan Kopag. selalu berkata bahwa beruntunglah kakaknya bisa mendapatkan perempuan tercantik di desa. Bau itu seolah berlomba-lomba meloncat dari bibirnya yang konon sangat mungil. Dunia yang diinginkan. Kopag telah merekontruksi sejarah seni rupa. Anyir. Postur tubuhnya seperti putri-putri raja Bali. Bagaimana mungkin perempuan konon kata orang-orang di desanya sangat cantik dan santun itu bisa berkata begitu kasar. Perempuan itu benar-benar serius untuk memasuki perannya sebagai istri laki-laki Brahmana. dan sangat pas. Dia bisa mengubah kayu kering menjadi sebuah karya seni yang memikat para intelektual seni rupa. alam menyerah pada kekuasaanya. Dia memberi Kopag poin. Karena dia bukan kaum Brahmana. kulitnya yang sering jadi pujian. Tanaman di halaman samping rusak atau terinjak kakinya. pokoknya seluruh tubuh perempuan itu selalu jadi pembicaraan kaum laki-laki. Aneh sekali. dia harus menunjukkan pada seluruh manusia di desa ini bahwa dirinya berhak masuk dalam lingkungan keluarga bangsawan. Sebuah kesunyian dengan pagarpagar keindahan. hidupnya. Ni Luh Putu Sari yang sejak menikah dan masuk menjadi keluarga Gria bernama Jero Melati itu memiliki kulit yang sangat indah. pelayan setia yang merawat Kopag sejak kecil. perempuan itu harus mengubah namanya menjadi Jero Melati. Saat ini dia sangat mengikuti ambisinya untuk masuk dalam lingkungan keluarga Brahmana. dia mencium bau darah. Bahkan Gubreg. Orang-orang di luar hanya tahu bentuk tubuhnya yang konon sangat luar biasa. seperti Kopag juga menyerah pada kebutaan yang harus dia kenakan setiap saat. otaknya. dia memahat pikirannya. perempuan itu adalah pemain sandiwara yang ulung.dan hidup hanya merasakan kegelapan sebagai bahasanya. Jujur saja. merah. Iparnya yang luar biasa kasar dan cerewetnya jadi pujian dan pembicaraan seluruh laki-laki di Griya. Suara iparnya itu akan terus menari-nari di sekitar telinganya. yang tentu saja tidak dimiliki orang-orang. parekan. Nama perempuan itu Ni Luh Putu Sari. Ada-ada saja yang diributkannya. *** Kopag menarik nafasnya dalam-dalam. 50 . perempuan kebanyakan itu telah menikah dengan kakaknya dan menjadi keluarga Griya.

Kopag sudah bagian dari nafasnya. Karmanya jatuh pada anaknya sendiri. Juga dia baik-baik. Frans Kafkasau. Gubreg. “Kau tidak ingin menjawabnya. Gubreg. Kegelapan itu jadi milik cucuku yang paling abadi. Sejak kecil kakeknya hanya mengajari Kopag bersentuhan dengan kayu-kayu untuk berkenalan dengan kehidupan. Kau bisa lihat. Laki-laki setengah baya itulah yang membuat Gubreg. Pertumbuhannya selalu mengingatkanku pada perbuatan-perbuatan yang dila-kukan anakku. Lihat. Gubreg. apa ini rasa yang dimiliki lakilaki? Ini wujud kelelakian itu?” suara Kopag terdengar pelan. Tinggi. Jengkel! Waktu Kopag sekarang habis untuk diskusi. Kehilangan yang dalam. Titiang tidak bisa menjelaskan seperti Frans. termasuk rangkaian pisaupisau pahatnya. Ratu. Aku masih percaya kehidupan itu bisa diajak bicara. Saat ini aku mencoba percaya pada matamu. Dia ingat teriakan Kopag ketika 51 . Cucuku memiliki seluruh mata manusia yang ada di bumi ini.“Luar biasa kecantikan Jero Melati. dan tangannya juga sangat cekatan memahat patung-patung. Kadang-kadang dia bacakan buku-buku bahasa asing. “Anak itu buta. Ada rasa sakit mengelus dada tuanya. Laki-laki tua itu sekarang ini jadi cepat marah. Hyang Widhi! Penguasa jagat! Kopag memang sudah besar. sudah menjelang dua puluh lima tahun. Lihat. tentang Michelangelo Buonorrty. Gubreg?” “Jangan bertanya yang aneh-aneh pada titiang. Kopag tidak lagi membutuhkannya. “Gubreg. tapi mampu memikatku. Sejak kecil. Laki-laki bule itu telah memberinya didikan yang baru. Ratu. Bagi Gubreg.” Laki-laki tua itu terdiam. Ada yang hilang dalam tubuh laki-laki tua itu. aku juga ingin merasakan. Ida Bagus Made Kopag memiliki tubuh yang sangat bagus. Atau sesekali dia dikunjugi orang asing dari Prancis. Dadanya sering mendidih. Gubreg pun mengajari Kopag menelanjangi tubuh pisau-pisau pahat. Seluruh ilmu memahat dia alirkan dalam tubuh bocah kecil yang tidak berdaya itu. Dia juga yang mengajarinya bahwa semua benda punya jiwa. Susah. yang diterjemahkannya. aku selalu tersentuh. Anggap dia anakmu!” Itu pesan Ida Bagus Rai. yang konon. kata Frans. Susah. Aku ingin tahu. Menanggung dosa ayahnya. dia mampu membuat patung-patung dengan ukiran sangat sempurna. Atau sesekali mendatangkan guru yang mengajarinya membaca. Dia juga rajin membaca buku-buku dengan huruf braile. kau belum jawab pertanyaanku. rasa apa yang sering membuatku meluap. Gubreg? Tolong kau katakan seluruhnya. dan menikmati aroma ketajamannya yang luar biasa indahnya. dialah yang mengajari Kopag mempelajari tekstur kayu. Rasanya baru mendengar satu huruf keluar dari bibir laki-laki Perancis itu seluruh isi perutnya seperti keluar. Sejak bergaul dengan Frans ada-ada saja yang ditanyakan Kopag padanya. sebelum berpulang. jengkel! Ada-ada saja yang dibawanya.” “Seperti apa perempuan cantik itu. kan? Kehidupan sendiri memberinya hadiah yang luar biasa. Seperti apa perempuan cantik itu? Apa seperti bongkahan kayu beringin ini? Dingin. Gubreg. perhatian yang lain. Tanyakan pada laki-laki bule itu!” Suara Gubreg terdengar penuh nada kecemburuan. pematung jaman Renaisans. Dipandangnya mata Kopag dalam-dalam.

” suara Kopag terdengar penuh rasa ingin tahu.. 52 *** Pagi-pagi sekali. Kopag sudah membuka jendela studionya. Ratu. Gubreg. Tak ada yang bisa diceritakan kegelisahannya. ketajamannya. Perempuan junjungannya.” “Titiang. Sampai menjelang tengah malam.. Dia sering terjaga tengah malam .. Perasaan apa yang sedang bertarung dalam tubuh Kopag? Gubreg takut. perempuan yang sangat dihormatinya. “Gubreg. dia luka. dia adalah laki-laki tak berguna. Semua orang. Ratu?” “Kecantikan perempuan. Waktu itu Gubreg seorang laki-laki kumal empat belas tahun. dan mampu meledakkan otaknya. Takut sekali menjawab pertanyaan tentang esensi menjadi laki-laki. Waktu itu umur Kopag tujuh tahun. Pisau justru seperti menantang matahari untuk bersabung. Terlebih. Kilatan matahari menjilati keruncingan pisau pahat itu. Begitu parah. betapa sinar matahari yang perkasa itu menjadi patah dan tak berdaya ketika menyentuh sedikit saja keruncingannya.. Lama-lama Gubreg merasakan sakit yang luar biasa menyerang tubuhnya. Gubreg belum juga bisa menjawab arti menjadi lakilaki. Di tangan Kopag pisau itu jadi begitu dingin. kebanyakan. Perempuan itu..Titiang tidak bisa menceritakan kecantikan perempuan pada Ratu. Aroma itu tak bisa dihapus oleh usia yang dipinjam Gubreg pada hidup. karena kelaparannya adalah kelaparan yang tidak pada tempatnya. Sangat paham.” Suara Gubreg terdengar patah. begitu indah. Dia gelisah. angkuh dan selalu lapar. Sebagai laki-laki Sudra. “Aku ingin bercerita padamu. dia juga pernah merasakan seperti apa percikan nafsu itu ketika pertama kali menampar wujud manusianya. dia sadar tubuhnya tidak boleh melahap tubuh perempuan Brahmana. Dia juga laki-laki. Rasa itu tiba-tiba saja muncul kembali dalam otak. yang hidup dari belas kasihan keluarga Dayu Centaga. Gubreg selalu merasakan tubuhnya dilubangi. memiliki penilaian khusus tentang hal itu. Luar biasa. dan tulang-tulangnya yang mulai rapuh membantunya merangkai masa lalunya kembali. Aroma tubuh perempuan itu sampai hari ini masih melekat erat di tubuhnya. Sering sekali dia disuruh mengantar Dayu Centaga mandi di sungai Badung. Dayu Centaga selalu menyuruh Gubreg menggosok punggungnya dengan batu kali. Tubuh perempuan itu seperti ular yang melingkar dan menjepit batang-batang tubuhnya. Dia mengerti. tubuhku gemetar setiap menyentuh pisau-pisau ini. Setiap mengingat batas yang ada antara dirinya dan Dayu Centaga. Berkali-kali dia menarik nafas.” Keruncingannya. “Tentang apa lagi. Kakinya kram setiap melihat tubuh basah itu naik ke atas dengan kain yang hanya sebatas dada. Begitu penuh misteri. dan teramat menggelisahkan ketika tubuhnya mulai lapar dan memerlukan tubuh lain untuk santapan. Kaki perempuan itu putih. Gubreg menyaksikan.pertama kali menyentuh tubuh-tubuh pisau yang telanjang itu.

Cinta yang membuatnya jadi batu. Suatu hari Frans dan seorang temannya mengatakan. Sampai sekarang. yang memanfaatkan seluruh tubuhnya untuk mewujudkan jati diri tokoh yang dimainkan. Dia menarik nafas berkali-kali.” suara Kopag terdengar pelan. Untuk mengembalikan kesehatan Gubreg. tubuhku. membesarkan tubuhnya. Dan Gubreg tahu air dalam tubuhnya memerlukan muara.. Dayu Centaga tidak terkena. Justru Gubreglah yang kena kemarahan si penunggu sungai. dukun. Sesuatu yang dahsyat telah dititipkan alam pada tubuhnya. Masih kata Balian tua itu. Cinta yang tidak mungkin dihapus. keluarga Griya membawa sesaji untuk penunggu sungai. Kata mereka. Kenapa kayu-kayu ini selalu mengajakku berdiskusi.. komunikasi Balian tua itu dengan dunia gaib salah. sangat surealis. Gubreg masih setia mengabdi di Griya. berdialog. kau ingat kata-kata Frans?” “Yang mana?” “Frans mengatakan keliaranku membentuk tubuh-tubuh manusia dalam kayu mengingatkan dia pada lukisan Pablo Picasso. Kayu-kayu dan pisau telah memberiku mata yang lain. tetapi sudah menyerupai air bah. Kecantikan perempuan yang kuterjemahkan lewat kayu-kayu itu mengingatkan Frans pada keliaran Martha Graham. Gubreg. Hyang Widhi. Impian-impian yang dimiliki oleh pohon ketika dia membesarkan ranting-rantingnya. Tanpa istri. sampai menguliti otakku. tidak juga kesambet setan. tidak lagi bisa menikmati kegairahan manusiawi sebagai manusia. Dia pasrah ketika Balian tua.” 53 . selalu ingin mengupas dan melukai kayu-kayu itu. menjelang tujuh puluh lima.memandikan tubuhnya di pinggir sungai. Gubreg tidak bisa bercerita tentang kelaparan tubuh laki-lakinya. Dia rasakan perubahan pada tubuhnya. Kebetulan si penunggu sungai sedang beristirahat. kau belum juga jawab pertanyaanku. pahatanku tentang perempuan sangat sempurna. tadinya penunggu sungai itu juga ingin mengganggu Dayu Centaga. Gubreg menatap tajam tubuh Kopag yang sedang merampungkan pahatannya. Aku selalu ingin tahu. mengajakku bicara. Pada dasarnya aku selalu penasaran. Tak seorang pun tahu. Gubreg bersedia menjalankan runtutan upacara itu. Kata Balian itu. dan berpikir. Gubreg sadar rasa laparnya sudah tidak bisa dibendung lagi. "Gubreg. Gubreg paham. Gubreg. Guemica. dingin. Untuk menghormati kebaikan keluarga Griya. dia merasakan cinta yang dalam pada Dayu Centaga. Berkat kekuatan Gubreg. tanganku. Keluarga Griya mencarikan dia seorang Balian. aku merasakan kecantikan perempuan itu melalui jari-jariku. karena aliran sungai dalam tubuhnya bukan lagi aliran sungai kecil. Tubuhnya dilingkari asap yang sangat menyesakkan aliran pernafasannya. Aku juga ingin tahu arti setiap impian. sampai akhirnya potongan-potongan tubuh itu ada di tanganku. Demi Hyang Widhi. “Gubreg. Gubreg sempat membuang kotoran di pinggir sungai. Kalau sekarang Kopag bertanya seperti apa kecantikan itu.dengan nafas yang memburu. Tubuhnya jadi pucat. Katanya agar roh jahat tidak mengenai keluarga Griya. Aku juga memiliki impian-impian sendiri pada patahan tubuh pohon itu. Balian tua itu memberinya jampi-jampi. tanpa kegairahan sebagai laki-laki. Gubreg tidak sakit. Rasa ingin tahu yang begitu besar.

Gubreg diam.” jawab perempuan itu serius. Sayang. Bulan kemarin. Untuk pertama kali dia merasakan hawa jahat berendam dan menguasai tubuh cantik itu. Kopag seperti linglung. Lima menit tanpa hasil. Ratu terlihat sangat gelisah. Otaknya hanya berisi kehormatan.” “Jero sudah punya calon?” “Ya. “Bagaimana kalau dia kawin dengan calon yang telah kusiapkan. Berkat Kopag. Gubreg tahu tak ada yang diinginkan Kopag.” suara Gubreg terdengar sangat hati-hati. Laki-laki itu tidak pernah tahu apa arti ada uang atau tidak ada uang. Kata orang-orang kampung. Kopag memerlukan perempuan.Gubreg tetap diam. Aku sudah memikirkannya jauh-jauh hari. “Kau harus bisa meyakinkan dia bahwa adikku layak menjadi istrinya. Benar kata Kopag. Ratu ingin apa lagi? Jangan menakuti titiang. ada bantuan dana dari Jerman dan Perancis. *** “Gubreg. Sekarang ini keluarga ini tentram. perempuan itu bebas menggunakan uang Kopag semaunya. Padahal kemiskinan kalau dihayati memiliki keindahan tersendiri. diajar memahami kehidupan. Dia tahu. dia terus mengelilingi studionya. Hanya satu yang ditangkap Gubreg. Mendengar komentar itu.” . 54 *** “Kita harus carikan seorang istri untuk Ratu. Gubreg bahkan rela bocah laki-laki itu mencuri lembar demi lembar rahasia perjalanan dan rasa sakitnya sebagai laki-laki yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk mengabdi. perempuan satu ini memang bukan perempuan baik-baik. Dia mencoba memahami sesuatu yang sangat rahasia dan begitu dalam ingin disampaikan Kopag. adik Jero Melati adalah perempuan paling liar dan nakal. Jero Melati tidak pernah ceriwis. seorang anak yang dibesarkan dengan cara-caranya. adik Jero Melati bisa menjual tubuhnya. Aku ingin bicara!” Kali ini suara Kopag terdengar serius.” Suara perempuan itu terdengar mirip perintah dan pemaksaan. Jero Melati tersenyum. keluarga besar ini kembali bisa hidup. Saat ini galeri itu sudah tumbuh besar dan menjadi satu-satunya galeri yang paling diakui di Bali karena karya patung yang masuk harus melalui seleksi dan pertimbangan yang teliti. Gubreg menatap mata perempuan itu tajam. kakak Kopag sendiri bisa membuka galeri patung yang besar. Gubreg mencoba memahami ke mana kira-kira arah pembicaraan Kopag.” “Siapa?” “Adik perempuanku. “Ratu. Patung-patung Kopag laku keras dan diminati oleh kolektor dari dalam dan luar negeri. Bahkan. Mengerikan! Padahal perempuan itu sangat cantik. dia tidak tahan miskin.

ada daging besar tumbuh di atasnya. Tubuhnya benar-benar lekukan kayu. Wajahnya juga rusak berat. kakinya pincang. matanya yang kiri bolong. Dia adalah perempuan tercantik. “Maaf Ratu. tahukah dia makna kecantikan? Gubreg menarik nafas memegang dadanya kuat-kuat. “Aku telah menidurkan perempuan itu setiap malam.. ketika kujatuhkan tubuhku memasuki tubuhnya. Hyang Widhi! Dewa apa yang ada dalam tubuh Kopag. aku tenggelam dan habis. Aneh! Wajah itu tetap seperti batu.” “Apa kata mereka. Kali ini pilihanku tidak bisa diubah!” “Siapa?” “Luh Srenggi. Sebuah pisau pahat menembus dadanya yang tipis.” Gubreg mengangkat wajahnya. Aku ingin kawin. ingin sekali dilihatnya wajah Kopag berseri. Panggilan kehormatan untuk bangsawan Bali .” Gubreg ambruk. Ketika dia telanjang. Saya 2.” “Ratu. Gubreg. “Aku sudah memiliki calon. apakah kuping tuanya tidak salah dengar? Bukankah Luh Srenggi adalah perempuan yang menyiapkan seluruh keperluan Kopag. dia lebih mirip makhluk yang mengerikan. dia hanya memiliki satu mata. Kulitnya begitu kasar. Kulitnya juga kulit kayu. Perempuan itu telah mengasah tubuh laki-lakiku. Luh Srenggi.?!” Gubreg seperti tercekik. Bahkan merekalah yang akan memilihkan calon istri untuk Ratu. Sadarkah dia.“Ya.” Suara Kopag terdengar sangat serius. Perempuan yang mengalahkan kecantikan kayu-kayuku. Gubreg. titiang juga sudah membicarakan dengan Jero dan kakak Ratu. *** 55 1.” “Mereka setuju. membersihkan studionya menyiapkan makan. Kau tahu. punggungnya bongkok.. tak ada sebuah pisau pun bisa menandingi ketajamannya. dan mengambilkan pisau-pisau pahatnya? Perempuan itu bukan perempuan.

tetapi sudah menjadi perang siasat untuk menipu dan membuat bangkrut orang lain. sebagai obyek untuk berbagai penyelidikan. Kematianku sudah menghasilkan lebih banyak uang lagi ke dalam bisnismu. Dan dagang sendiri bukan lagi menjadi ajang tukar-menukar jasa dengan saling menguntungkan. dipergunjingkan. Ia berdiri di pinggir jalan. Yang akhirnya tak lebih penting dari segala manipulasi orang-orang tersebut. Kebudayaan tidak lagi membuahbudikan keluhuran. Aku tetap saja hanya sebuah mayat yang sepi. Aku menderita. Aku diberitakan. terkemuka. sehingga mereka menjadi terkenal.“ kata mayat itu. Aku yang terdera. kamu terus hidup ngakak. Aku yang menanggung seluruh kerugian. saling bergotong-royong. meringis. kemudian sindiran-sindiran dan akhirnya menjadi umpatan-umpatan yang terdengar tidak bedanya dengan kutukan. “Peradaban sudah merosot. kamu yang enak. Aku yang sudah mencetak duit buat banyak orang yang memanfaatkan dengan cerdik seluruh peristiwa yang dahsyat ini. Ia menggugat perilaku yang semena-mena tersebut yang jelas sekali memperlihatkan keserakahan manusia. Kehidupan sudah rusak. Semua orang berdagang. analisa-analisa yang menyebabkan banyak orang menjadi terkenal dan kaya. kamu yang melejit. April 2000 56 Mayat Oleh: Putu Wijaya Mayat itu mengeluh. Aku yang sudah kesakitan. Aku menginginkan ada pencerahan atas kabut hitam yang akan membuat dunia dan kehidupan serta segala manusia isinya ini kiamat kubra. diselidiki dan dipakai sebagai contoh. Ini sama sekali tidak adil!” Ia bangkit dari kebisuan dan kekakuannya dan mulai menyusun protes. Air . Tetapi aku sama sekali tak kebagian apaapa. Kamu semua kelihatan saja menangis. Dunia sudah menjadi sebuah pasar besar. “Aku yang mati. diperdebatkan. Lalu mulai mengganggu setiap orang lewat dengan berbagai keluhan. tapi sebetulnya kamu semua tertawa. “Aku yang mati. memegang posisi puncak dan akhirnya menang. tetapi membuat manusia semakin tamak dan tipis rasa kemanusiaannya.Horison. Aku yang kejepit. Aku yang menjadi korban.

” “Biar saja. ternyata hanya sebuah koteka. tata krama. ia menembakkan seluruh unek-unek perutnya. terpaksa membatalkan niatnya untuk pulang lebih dulu. bahkan yang mungkin akan menyiksanya di kemudian hari. “Semuanya busuk. Kamu tidak punya malu lagi mengeruk keuntungan dari orang yang mati!” Mayat itu mengetuk pintu sebuah media massa yang mengalami cetak ulang ketika memuat secara lengkap cerita dan foto-foto kematiannya. kami bersedia untuk meralatnya untuk kebahagiaan dan ketenangan Anda di sana. untuk menahan lonjakan perasaannya yang tertampung oleh layar komputer. “Biarkan saja. Mayat itu langsung duduk di depan komputer.” erang mayat itu. Komputer penuh dengan katakata kotor. menutupi hidungnya. mungkin dapat diselesaikan secara baik-baik. Akhirnya ia menggigit kursi sampai cabik-cabik. prasangka dan kesakitannya.” Sedang atasannya yang paling atas sibuk menunjuk wakilnya supaya meladeni mayat yang cerewet itu. menciptakan esai-esai. aku kan hanya menjalankan assignment. kepatutan. elegi-elegi. Kalau memang ada yang salah. “Tanya Bapak. kesalahkaprahan. Pak. Para wartawan yang ditemuinya semua menghindar. untuk membungkus kebiadaban. Sama-sama wanita. “Silakan menuliskan semua keberatan Anda terhadap pemberitaan kami. meskipun kami sudah sangat berhati-hati. apa saja yang sudah menyinggung. Moral. susila. Dalam uraian mayat itu dunia menjadi pabrik kejahatan yang hanya dihuni oleh bandit-bandit tengik. keluhuran budi apalagi kemanusiaan yang dikibar-kibarkan selama ini. Seperti bendungan ambrol.” katanya mempersilahkan mayat itu menumpahkan semua sumpah-serapahnya.matamu hanya kelambu untuk menutup segala kebahagiaan dan keuntunganmu menjual berita-berita perih. Tapi suruh anak-anak siap untuk menjepret. Akhirnya sekretaris redaksi. semua yang tidak adil. Ia kemudian lebih banyak mengeram-ngeram seperti kata-kata tak mampu lagi menampung sumpah-serapahnya. dia memerlukan ventilasi untuk menyalurkan emosinya. balada-balada dan orasi-orasi yang meratapi dan menggugat kematianku. ia beberkan dengan kata-kata yang tajam dan berbisa. Bagaimana kalau dia menghancurkan komputer. Berjam-jam mayat itu mencurahkan segala tuntutannya.” “Tapi kursinya rusak. Ini justru bagus untuk publikasi kita!” 57 . Tetapi ketika ia mau lari mengadukan itu kepada atasannya. Apa saja yang sudah menyakitkan. Sekretaris panik. Nanti setelah kempes dia kan pergi sendiri. telepon berbunyi. seluruh ketidak-benaran. mengangkat bahu dan menunjuk atasannya. Ia menghadapi mayat itu dengan senyum ramah. Ia menguras seluruh dendam. luka. Itu kan baru dibeli.

Penjaga kantor yang tua bangka menghampirinya menanyakan apakah ia memerlukan sesuatu. Penjaga kantor itu mengerti. Mayat itu terkejut.Sekretaris bengong. Itu memang benar. Ia menoleh pada penjaga malam yang sudah lancang itu dengan mata berkilat-kilat. Dengan garuda yang masih bertengger di kepalanya. Sekaligus mengingatkan bahwa subuh sebentar lagi akan menyundul di langit timur. ia kembali ke kursi. Mayat itu berdiri.” Mayat itu menjadi amat girang. air dingin untuk penyegar. “Jadi kamu percaya sekarang betapa tidak adilnya semua ini?” “Saya percaya. Di situ ia menangis tersedu-sedu. Minuman panas. Tapi tangan penjaga malam itu dingin seperti beku. Ia tidak menginginkan apa-apa lagi. Mayat itu baru menjadi sedikit tenang. Kini ia memerlukan sebuah tidur yang panjang. Penjaga malam itu juga mengulurkan tangannya.” Mayat itu mengulurkan tangannya. Ia menoleh kembali ke layar komputer dengan lebih santai. saya mengerti sekali. Mungkin juga makanan. Mayat itu menggelengkan kepalanya. Barangkali sepotong dua potong mimpi yang benar-benar mimpi.” “Kenapa tidak? Jelas sekali. Setelah menangis tersedu-sedu nampaknya sebagian unek-unek tuntutannya berhasil ia lemparkan keluar dari perut. semacam roti bakar yang masih bisa disamber dari perempatan jalan di malam yang selarut itu. Moncong garuda itu menancap di atas kepalanya. seperti orang yang mau bersekongkol. juga tidak bisa mengurangi tegangan dadanya. ia menggepeng di atas kursi. Ini menyebabkan kantuk mayat itu hilang. karena mencabik kursi itu. Tetapi sebelum pergi meninggalkan tamu eksklusif yang diwanti-wanti oleh sekretaris supaya diperlakukan ekstra istimewa itu.” “Apa kamu menganggap semua ini neko-neko?” “Tidak. Ia berdecak-decak kagum. Keduanya berjabatan tangan. Nampak begitu lelah namun damai. hati dan otaknya.” “Kamu bisa merasakan. Mayat itu membentur dinding begitu kerasnya sehingga foto-foto di dinding berjatuhan. Di antaranya ada gambar garuda. ia sempat mengerling ke atas layar komputer. orang yang mampu memahami segala tuntutannya. Seluruhnya mampetan pikirannya sudah tersalurkan. lalu lari keluar. “Kamu mengerti?” “Ya. Seakan-akan ikut menikmati kepuasan mayat tersebut. Seperti balon kempes. 58 . menemukan untuk pertama kalinya. Sekretaris menutup matanya. Ia lalu menumbukkan kepalanya ke dinding.

“Kenapa tanganmu dingin sekali? Kamu takut?” “Tidak.” Mayat itu terkejut. Paling sedikit mata-mata yang diutus oleh kepala kantor. Karena di kedua mata nampak ruang kosong. Tetapi ketika ia memandangi mata penjaga itu. ia hampir terpekik. “Apa lagi kewajiban kamu?” “Semuanya!” Mayat itu tercengang. “Kewajiban? Kewajiban apa? Kamu ngomong seperti seorang budak?!” “Ya memang.” “Lalu kenapa tanganmu lebih dingin dari es?” “Ya memang begini keadaannya?” “Tapi kenapa?” “Karena inilah hidup saya. Siapa tahu itu agen polisi. “Astaga kamu tidak punya mata lagi?” “Tidak.” “Kenapa?” “Karena itu kewajiban saya.” Mayat itu bergidik. Bulu kuduknya meremang.” “Kamu heran atau kaget karena membaca semua ini?” “Tidak.” “Apa? Kamu budak?” “Betul. Saya budak.” “Tapi kenapa kamu masih bisa melihat?” “Saya harus bisa melihat meskipun tidak punya mata.” 59 . Ia curiga kalau-kalau bukan menghadapi seorang penjaga malam.

Matanya sampai tumpah keluar karena takjub. “Kamu sudah bangkrut sebangkrut-bangkrutnya. Orang itu memang sudah dikebiri total. Dia berdiri dan memperhatikan penjaga itu lebih cermat. Tiba-tiba ia terpekik ngeri.. Apa kamu bukan manusia?” “Saya manusia.” Penjaga malam itu membuka seluruh pakaiannya. meskipun tidak punya semua itu lagi. kamu kok sepertinya tidak punya hati dan juga tidak punya otak. Seluruh kemaluannya.. .“Budak apa? Budak siapa?” “Budak segala-galanya. maaf boleh aku kobok sekali lagi?” “Silakan. selanjutnya merogoh tubuh penjaga malam itu.” 60 .” “Apa? Kamu betul-betul tidak punya perasaan dan pikiran?” “Betul. Kamu tidak punya apa-apa kamu sudah kalah komplit. “Ya Tuhan. aku jadi curiga. termasuk kedua biji buah ampulurnya sudah dicomot. Maaf ya. Daging kamu bonyok!” “Memang!” “Bukan cuma itu. jangan-jangan kamu.” Mayat itu mendekat. Lihat kemaluan juga tidak ada lagi. Ia tak punya segala-galanya.” “Edan!” “Ya. kemudian meraba-raba. lalu ngobok sekali badan penjaga malam itu. Jangankan perasaan dan pikiran. “Wow! Badan kamu seperti tak punya tulang. Mayat itu menggigil. Saya harus hidup.” “Apa kamu sakti?” “Tidak!” “Lha kenapa kamu bisa hidup?” “Ya begitulah. ia lalu menyentuh. Apa pun saya tidak punya. Ia terpekik kembali dan meloncat keluar.” Mayat itu bingung. Saya budak komplit.” “Memang begitu. Tak puas hanya melihat.

Ini kewajiban saya. Ia pelan-pelan duduk kembali.” “Gila! Bagaimana kamu bisa hidup hanya dengan gaji begitu?” “Itu juga dianggap sudah terlalu banyak. Pak.” “Coba ceritakan sedikit kehidupan kamu. “Nah sekarang kamu berpikir!” “Bukan begitu. Saya hanya jualan kertas-kertas kantor yang sudah tidak terpakai. wong ini harus. kok. Berapa?” “Tiga puluh. Bukan hanya saya yang harus hidup. Saya memang telmi.“Tidak mungkin!” “Memang tidak mungkin. Pak. Gaji kamu berapa sih. Terserah orang.” “Kalau begitu kamu ngobyek!” “Terserah. saya tidak pilih-pilih nama. saya manut-manut saja. telat mikir. silahkan. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana seorang yang bergaji seperak satu hari dengan tanggungan istri dan 10 anak bisa hidup. “Kamu pasti korupsi?” “Tidak. Pasti penjaga malam itu korupsi.” “Tiga puluh juta?” “Bukan tiga puluh saja.” “Maksud kamu gaji kamu seperak satu hari?” “Ya.” Mayat itu berpikir keras.” Mayat itu ternganga.” 61 . Istri saya dan sepuluh orang anak saya juga harus hidup. “Siapa sih sebenarnya kamu?” “Boleh panggil saya siapa saja. suka manggil saya apa saja. Apa kamu orang Jawa?” Penjaga malam itu berpikir.” “Itu namanya pasrah. tetapi apa boleh buat. Lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. Pasti besar sekali karena kewajiban kamu begitu berat.

Pak?” “Jelas!” “Ya sudah. saya sudah mati. penjaga malam itu tak menyambut uluran tangannya. jangan takut.” “Memang saya sudah mati. Tetapi sekali ini. sambil mengulurkan tangannya mau berjabatan. Memang pada orang kecil sering muncul sifat-sifat luhur yang dahsyat. Sekarang aku tahu masih ada orang lain. Ia lupa pada masalahnya sendiri dan mulai kagum.” “Ah! Apa?” “Kata saya.” “Tidak bisa. “Orang lain sudah mati kalau kondisinya seperti kamu ini. tidak akan dituntut. Sedikitnya kita bisa berbagi kemalangan. "Kamu luar biasa.” “Jadi kamu ini mayat?” “Betul sekali.” “Kamu sudah mati. “Tidak bisa. Jangan keliru. Ayo salaman!” Penjaga malam itu menggeleng. “Ayo salaman." gumam mayat itu terpesona.” “Mayat seperti gua ini?” “Benar!” “Wow! Kalau begitu kita sama dong!” teriak mayat itu kegirangan karena merasa mendapat seorang teman secara tiba-tiba.” “Ya.” Mayat itu termenung. Saya tidak bisa salaman. kita sama! Tadinya kukira aku sendirian.” “Kenapa tidak bisa? Kamu tidak mau salaman? Ini hanya ekspresi bukan kolusi.” 62 .“Kamu korupsi!” “Apa itu korupsi.

Saya tidak boleh bicara terlalu banyak. kalau perlu apa-apa jangan ragu-ragu memanggil saya." Mayat itu bengong. Boleh saja tidak percaya. Tetapi di kantor ini.” Penjaga malam itu pasang tabek. Baik. Selamat beristirahat. “Kamu jangan main-main. Saya tidak tidur. memang beginilah saya." "Kenapa kamu mau?" "Kalau tidak. Tidak apa. mayat kan sudah tidak perlu tidur lagi. Dipercaya atau tidak. "Jadi kamu mayat hidup?" "Ya itu. Boleh juga saya disebut begitu.” Mayat itu berpikir. saya sungguh-sungguh. saya hanya parkir di situ supaya tidak mengganggu. Ini bukan waktunya untuk guyonan.” “Lho tadi kamu bilang kamu mayat?” “Betul. lalu ditangkap oleh gelap. Harus. lalu berjalan ke sudut yang tadi ditunjuknya. Pak.” “Tidak. tempat saya tidak di kuburan.” “O kalau begitu kamu hantu?” “Apa saya hantu?” “Ya kamu hantu kalau begitu!” “Ya sudah. Mayat kok banyak bicara. Sumpah.” “Kenapa bukan?” “Karena meskipun saya mayat. 63 . Saya tidak boleh tersinggung atau sakit hati. Saya tidak boleh istirahat. Saya sudah biasa tidak dipercayai. siapa yang harus melakukan pekerjaan yang jahanam tidak menguntungkan dan menyakitkan ini. tetapi bukan. Mati pun saya tetap harus bertugas. Saya mayat yang harus hidup.” “Tetapi bukan?” “Betul sekali. Saya memang mayat.“Keliru bagaimana?” “Saya bukan mayat seperti situ.

mayat itu lalu kembali kepada komputernya. Ia merasa sudah terlalu cengeng. Remang-remang dalam kegelapan. Ia mencuri-curi melirik ke sudut. ia menyentuh keybord komputer untuk menghapus semua keluhkesahnya. “Ya Tuhan. “Maaf. apa yang dirasanya sebagai kesakitan.. nasibku tidak terlalu jelek. sama sekali tidak bisa dihapus lagi. Ada yang lebih jelek. hanya dengan satu gerakan. “Kasihan.Mayat itu terpesona.”. kalau begitu. Bahkan aku boleh dikata agak mendingan dibandingkan dengan penjaga malam itu. tidak. Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya seakan-akan sudah berbuat kekeliruan yang fatal. seluruh tulisan di dalam komputer itu sudah diprotek.” desis mayat itu. 3 . seperti tidak ada artinya sama sekali. lalu kembali lagi ke tempatnya.. perlu sesuatu?” Mayat itu terkejut. Disertai penyesalan penuh.*** 64 Jakarta. Aku tidak perlu apa-apa lagi!” Penjaga malam itu mengangguk. “O tidak. Penjaga malam itu tiba-tiba keluar dari gelap dengan tergopoh-gopoh menghampiri. ia melihat tubuh penjaga malam itu mencair dalam gelap. sudah cukup. Diliriknya komputer yang penuh dengan tumpahan tuntutannya. kalau begitu. Ia abadi. Waktu itu mayat itu merasa malu hati. Tetapi apa daya. Setelah melihat nasib penjaga malam itu.11 – 1997 . memanggil saya.

Masuk-keluar kampung. di mana pun kebetulan ia berada. Ia selalu mencangkingkan sebuah buntalan besar yang kumal dan entah apa isinya. Sekali-sekali berhenti di depan kantor. Sorot matanya memancar berbinar. Tidak jarang ia masuk nyelonong begitu saja ke ruang dalam kantor itu tanpa sedikit pun merasa canggung atau enggan. Atau dengan kata-kata itu ia hendak menjelaskan suatu maksud. seperempat abad setelah ia meninggal dunia. Karenanya ia ditakuti orang. Memakai sarung Samarinda biru yang juga telah memat. Kemudian seperti biasa ia menyerukan kata-kata yang telah dihapalnya di luar kepala: "Atur sendiri-sendiri!" Hingga pesuruh kantor tergopoh-gopoh mengusirnya keluar. Boleh jadi tidak ada yang dapat memahami arti kata-kata yang diucapkannya. Mungkin jas itu diperolehnya dari belas kasihan salah seorang pegawai Palang Merah Sekutu di zaman pendudukan Nica. lebih separo abad usianya. bila direnungkan. di depan teras-teras rumah yang pagarnya terkunci atau ketika di dunia santai berleha-leha di pojok-pojok sepi. seolah-olah ingin kata-katanya didengar oleh setiap orang di seantero dunia. begitu berarti dan perlu diketahui oleh setiap orang. masih terang terngiang di telingaku kata-kata yang selalu diucapkannya dengan suara lantang. di perempatan jalan. Mungkin ia mantan pendekar silat atau bekas tukang pukul pengawal pribadi tokoh yang amat disegani orang. di emperan-emperan toko. Sesuatu yang punya arti. Kata-kata yang sepintas lalu hampa tak bermakna. tidak ada artinya. Ia mengenakan topi koboi yang pinggirannya geripis dan warnanya tidak menentu lagi. "Atur sendiri-sendiri!" Bisa berarti: "Berdiri di atas kaki sendiri!" "Jangan sekali-kali ndompleng atau bergantung pada orang lain!" Atau: "Benahi dirimu sendiri. selalu dengan tekanan nada sungguh-sungguh. ia berkata: "Atur sendiri-sendiri!" Demikian dikatakannya setiap kali. tempat orang lagi sibuk bekerja. seolah-olah kata-kata itu mengandung multi makna yang sulit ditebak artinya. Sepintas lalu. karena kata-kata itu seperti dilontarkan secara spontan. Dengan terompahnya yang peyot solnya ia berjalan ke sana-sini mengelilingi kota. nyaris berteriak. Hanya kata-kata itu yang selalu diucapkannya.Rumah Tuhan Oleh: Muhammad Ali 65 Sampai saat ini. Meskipun tua. berkali-kali. terlebih-lebih anak-anak tidak berani mendekatinya. sekedar iseng semata tanpa maksud tujuan tertentu. Di trotoar-trotoar. Ia mengenakan jas wol tua warna hitam yang bulunya telah lenyap dan kelihatannya terlalu besar menyungkup pundaknya. Seorang laki-laki tua. ditandai oleh kerit-merut di wajahnya. tapi pengawakannya tegap dan kekar. jangan pusingkan orang lain!" "Jangan sok!" "Berbuatlah sesuai kemampuan!" .

Bahkan pernah selama beberapa malam ia tidur di serambi rumah dinas walikota yang kebetulan tidak dijaga. Tapi di zaman Revolusi Kemerdekaan tahun 1945 desanya diserbu oleh balatentara Sekutu yang diboncengi oleh serdadu-serdadu Nica. Pengelanaannya tidak berjalan mulus. Ketika berada di jalan-jalan beraspal di bawah sengatan terik matahari atau diliputi hawa dingin di malam hari ada saja orang-orang usil yang memperolok-olokkannya. Siang hari ia berkeliling mengitari jalan-jalan di kota. Diamdiam ditinggalkannya desa tempat asalnya yang penuh kenangan pahit. karena penampilannya yang tidak lazim. Ia bersama anak-bininya hidup tenteram dan makmur di sebuah gubuk mungil tak jauh dari tanahnya. Sudah cukup banyak tempat yang disinggahinya sejak ia meninggalkan desanya beberapa tahun lalu. meskipun agaknya bisa saja ia menghajar dan mengobrak-abrik orang-orang usil itu. tukang-tukang becak. karena walikota tidak pernah tidur di situ. lebih-lebih anakanak jalanan. tak ada yang tahu. Menghancur-leburkan kebun buahnya dan membantai anakbininya. Saridin. Sebaliknya malah ia menganggap mereka orangorang gila. Oh ya. Dari mana asalusulnya. Di pemakaman-pemakaman umum. Kusir-kusir dokar. Pernah ia ngumpet di sudut tersembunyi sebuah bank. Karena ada saja orang yang mengusirnya dari tempat itu. Bila malam tiba ia bergegas mencari tempat berteduh untuk mengistirahatkan tubuh. selalu berpindah-pindah. Siapa namanya. Tapi semua itu tak dihiraukannya. Orang hanya mengenalnya hanya dengan panggilan pendek: "Din!" Tak lebih dari itu. Tanah itu ditumbuhi berbagai jenis pohon buah-buahan. Di bawah pohon di taman hotel berbintang. Ia tetap lewat melintasi mereka sambil merunduk penuh kesabaran. Martir habis-habisan Revolusi Kemerdekaan bangsa dan negara itu akhirnya terdampar di sebuah kota yang sama sekali tak ramah. tak terkecuali gubuknya. Mereka membumihanguskan seluruh desa. Tempat peristirahatannya tidak tetap. Penjaga malam yang berpatroli atau orang senasib yang merasa lebih berhak menguasai tempat itu. penuh bertabur onak dan duri. Berkat perlindungan Tuhan ia selamat dari bencana itu. konon di masa mudanya dulu ia pernah memiliki sebidang tanah yang subur di desanya. Sidin. Ada selentingan. Ternyata sebagai gelandangan ia bisa hidup terus selama bertahun-tahun. Dari mana diperolehnya uang untuk penyambung hidupnya? Di samping ada orang-orang yang selalu 66 . belum kuceritakan siapa ia sesungguhnya. lalu berkelana tanpa tujuan mengikuti ayunan langkah kakinya. Di emperan super market. Sejak waktu itulah ia mulai linglung serupa orang yang kehilangan akal sehat. Apakah "Din" itu kependekan dari nama lengkap Samsudin. Ia melonjorkan kakinya yang penat berdebu. Brodin atau Ilmudin. Di mana-mana ia ditampik dan dihalau. mereka sama menertawakan dan mempergunjingkannya. Di emper stasiun kereta api."Hiduplah secara tertib dan teratur!" "Tegakkan disiplin!" "Berbuat baiklah selalu. Di halte-halte bus kota. jangan sombong dan bersikap tak terkendali!" Dan masih banyak lagi arti lain yang dapat ditarik dan disimpulkan dari kata-kata tersebut. Di sampingnya mengalir sungai kecil yang jernih airnya.

teringat akan nasibnya yang malang-melintang. Masjid atau surau dan musala yang jumlahnya cukup banyak di kota itu. Setelah selalu mengalami kesulitan dalam upaya memperoleh tempat peristirahatan yang aman. yang tentu disambutnya dengan penuh rasa syukur disertai senyuman lebar. karena ada pagar tinggi menghadangnya. ada juga insan-insan yang baik hati yang berbelas-kasih yang kadangkadang melemparkan uang recehan atau beberapa batang rokok kepadanya. Surau itu lengang dan kosong. Mengapa ia tidak ke sana saja. Berlampu suram. jarang dikunjungi orang dan jelas tidak berpagar besi dengan jeruji yang ujungnya lancip serupa tombak. sekadar numpang tidur sejenak. ia surut. minta naungan dan perlindungan dari Si Empunya Rumah. bahkan tidak mampu memicingkan mata barang sekejap pun. Di surau itu telah berkumpul sejumlah orang. Dibangun dari papan pohon waru dan pintunya terbuka lebar. lebih-lebih warga kota yang selalu sibuk dan bising penuh polusi. Sebenarnya tak pernah ia dengan sadar melakukan perbuatan-perbuatan salah. Dilonjorkannya tubuhnya sambil berbantalkan buntalannya. mengambil tempat di saf yang telah rapi berderet di belakang sang imam. lalu melangkah ke dalam surau. lari ke kolam mengambil air wudu. ia tak bisa masuk ke dalam masjid. yang akan melakukan salat subuh berjamaah. Sampai akhir hayatnya ia ingin senantiasa suasana kedamaian. Dengan hati sendu dan putus asa. senantiasa dihalau. Di sampingnya ada sebuah kolam tempat air wudu yang kotor dan bau pesing. Kebanyakan orang. kebanyakan orang-orang tua. lantainya dialasi tikar pandan yang telah usang dan koyak-koyak di sana-sini. Ia menuju ke salah satu surau yang diingatnya. serasa kini telah didapatkannya kedamaian hakiki yang selama ini menjauhinya. Baru ia tergugah geragapan ketika seruan azan Subuh berkumandang. Ketika sujud ia di bawah cerpu-Nya. Entah darimana. Tak lama kemudian terdengar dengkurnya. yang pikirannya selalu buncah dilanda berbagai seribu satu macam kerumitan hidup. 67 . Ia pergi ke kolam untuk mencuci kaki dan membasuh mukanya. sesaat ia tersedak. Letak surau itu di pinggiran kota yang terpencil. diusir dari satu tempat ke tempat lain. lalu mencoba mencari tempat lain utuk istirahat. Ia ikut melakukan salat Subuh berjamaah. Cepat ia bangkit. untuk beristirahat di malam hari. Pagar tinggi tersebut dari besi yang berjeruji lancip ujungnya serupa tombak lagi terkunci rapat. pikirnya. apalagi kejahatan. Tapi sial. Memang tidak setiap orang bisa menikmati tidur begitu cepat dan nikmat pula seperti yang dialami oleh laki-laki tua yang terlantar itu. suatu ketika tiba-tiba timbul dalam benaknya pikiran itu.menghalaunya. Dalam salat ia benar-benar menyadari akan kerapuhan dirinya di hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang disembahnya. lalu naik ke serambi surau. yaitu Tuhan? Tiadakah rumah itu milik Tuhan? Bukan milik siapa-siapa? Tiadakah setiap hamba Tuhan yang baik berhak memperoleh naungan dan perlindungan di rumah-Nya? Begitulah pada suatu malam dengan penuh harapan ia melangkah menuju ke salah satu masjid agung di kota itu. Maka teringatlah ia pada Rumah Tuhan. Mereka sulit tidur. Surau itu tampak kurang terpelihara.

ilusi dan begitu banyak hal indah mempesona telah meninggalkannya. Mereka ragu terhadap hikmat pengertian yang telah diberkati. berkeliling kota tanpa tujuan. Seolah-olah ia sesuatu yang najis dan menjijikkan. Sama sekali tidak terbayang raut kebencian atau kerisihan pada wajah mereka. Sementara asyik memikirkan tentang kehidupan serta kesesatan manusia dalam abad yang kisruh ini --yang disebut abad teknologi-. Hidupnya yang hancur berantakan dan porak-poranda. Sesaat dipejamkannya kedua belah matanya. Keyakinan dan kebesaran-Nya. Hartanya musnah. Seakanakan sambil terpejam sempat disaksikannya di ruang matanya lakon kehidupannya yang sedang berputar. Jika Saudara kehendaki. kepasrahan dan ketergantungannya pada kekuasan-Nya. Saudara boleh beristirahat di sini setiap malam. Serasa ia bermimpi melihat sosok yang aneh berwujud penjaga surau yang kepalanya ubanan. "Cukup bagiku Tuhan melihatku. Satu-satunya yang masih tinggal padanya ialah kepercayaannya kepada Tuhan.Selesai salat ia masih duduk bersimpuh khusyuk mengikuti sang imam yang memanjatkan doa ke hadirat Tuhan.. "Saya adalah penjaga surau ini. Ia duduk bersandar ke dinding papan. Lalu menyalaminya dengan akrab seraya berkata. Nasibnya tercabik-cabik di tengah kehidupan kota yang tak berbelas kasih. Benar telah dilihatnya keraguan sementara orang. Sesudah salat Subuh ia meninggalkan surau melakukan kebiasaannya. Suatu ketika. Menghapus keringat di jidatnya dan menghela napas panjang. Diraupnya tangan penjaga surau itu lalu menciumnya. Ia tersingkir. melindunginya dari kegetiran dan kesengsaraan hidup. Ia yakin lewat pelita penerangnya Tuhan selalu melihat gerak-geriknya.yang sekaligus membelakangi norma-norma agama. Harapan-harapan. ia mengelana seorang diri. Tak seorang pun peduli. Dan ketika salat rampung sudah. selalu dipupuknya. Sejak waktu itu ia tak usah lagi berkeliaran mencari tempat berteduh. walau angin sejuk berhembus mengipasinya. Bibirnya terkatup tak dapat menyampaikan terima kasih. Kepercayaan kepada Tuhan merupakan pelita penerang baginya yang selalu bersamanya dalam kegelapan kehidupannya. terpencil dan dikucilkan dari arena pergaulan hidup manusia." Mendapat tawaran yang tak terduga-duga itu hampir ia berjingkrak kegirangan. tidak seperti biasanya. Keluarganya punah. Di tengah kehiruk-pikukan dunia serba fana.." jawabnya. terutama mereka yang termakan oleh apa disebut kemajuan ilmu pengetahuan. Hanya Tuhan satu-satunya yang dekat padanya. Setiap malam ia langsung pergi ke surau itu untuk beristirahat.. Seorang laki-laki tua yang kepalanya beruban menghampirinya. "Benarkah Tuhan melihatku?" tanya hati kecilnya. Mereka hanya memandang sesaat lamanya. limpahan karunia kasih sayang-Nya serta ampunan-Nya yang tiada batas akhirnya. menguntitnya ke mana ia pergi dan di mana ia berada. ia tiba di surau sebelum waktu salat Zuhur. Agak lama matanya terpejam. para jamaah sama mengarahkan pandangan mereka nanap kepadanya. 68 .

Sungguh keterlaluan! Padahal ia dapat menemukan Tuhan dalam dirinya." Mendengar ajakan itu jiwanya terasa luluh. mari kita tinggalkan dunia yang fana ini. Sebenarnya mereka belum berbuat sesuatu yang berarti. tapi tidak pernah menemukan tanda-tanda adanya Tuhan.. Mereka coba mendekati planet Mars. Hal ini tentu telah engkau ketahui.. Tapi akhirnya mereka menemukan penangkal petir dan guntur dan mereka tidak lagi merasa takut kepada Tuhan. Ketika saat salat Zuhur tiba. hai pengelana. Kedua belah matanya rapat terpejam. ketika badai mengamuk dan gempa bumi menggelegar. tapi telah keburu sombong dan berlagak." kata sosok penjaga surau. Mereka mengira telah berhasil mencapai ketinggian yang luar biasa. Laki-laki tua yang sering melontarkan kata-kata: "Atur sendiri-sendiri!" telah menghembuskan napasnya terakhir dengan penuh kedamaian di Rumah Tuhan yang sejuk dan damai. seolah-olah ia tertidur lelap. Di sana segala sesuatu kekal abadi. bahkan di uratnadinya.*** 69 . Tapi ia takkan pernah bangun dari tidurnya. "Mereka telah mendarat di permukaan bulan. bahwa ia telah mempelajari dan meneliti bumi dan langit dari segala segi. Jiwanya serasa lepas terbang ke sawang lapang tak terbatas. dan akan selalu terjadi. "Kini. "Belum lama ini. orang-orang datang bergerombol ramai-ramai mengerumuni sosok tubuh yang tersandar di dinding papan serambi surau. Padahal mereka masih tetap mengorbit di seputar atmosfir bumi.. Mereka malah sama sekali belum menyentuh tubir ruang angkasa semesta yang didindingi tujuh lapis langit.Orang tua itu berkata: "Ketahuilah olehmu. "Bukankah di sini kita tidak mendapat tempat yang layak? mari kita pergi menghadap ke hadirat-Nya. dalam hati nurani dan jiwanya. indah sempurna tiada tara. Mereka juga mempelajari sebab-sebab turunnya hujan dan angin topan dan tidak lagi menggubris Tuhan. Ini merupakan masa paling buruk. ketika manusia sama ketakutan. hingga menggigil sekujur sendinya. Seorang ilmuwan tersohor muncul dan menyatakan.

Horison, Juni 2000

Wawancara dengan Sinterklas Sebuah Renungan Sebelum Hari Natal

70

Oleh: Erich Kästner ( 1899 - 1974 )

Bel pintu sudah berbunyi lagi. Yang kesembilan kalinya dalam satu jam terakhir ini! Hari ini, begitulah tampaknya, para pencinta tombol bel pada berkeliaran di jalanan. Dengan murung aku merangkak menuju pintu dan membukanya. Bayangkan, siapa yang berdiri di luar? Sinterklas pribadi! Dalam pakaian kebesarannya yang bersejarah dan terkenal itu. "Oh," kataku. "Sinterklas yang terburu-buru!" "Yang kudus, kalau saya boleh minta." Nadanya sedikit tersinggung. "Ketika masih muda aku selalu menyebut Anda sebagai Sinterklas yang terburu-buru. Aku pikir itu lebih masuk akal." "Jadi, Andalah orangnya?" "Anda masih ingat hal itu?" "Tentu saja! Anak laki-laki kecil yang lucu, begitulah Anda waktu itu!" "Sekarang pun aku masih tetap kecil." "Dan sekarang Anda tinggal di sini?" "Betul sekali." Kami tersenyum pasrah dan mengenang masa-masa yang telah berlalu. "Mampirlah sebentar!" pintaku. "Marilah minum secangkir kopi bersamaku!" Jujur saja, sebenarnya aku merasa kasihan kepadanya. Apa yang harus kukatakan? Dia tidak pergi. Dia berkenan untuk singgah. Pertama-tama dia membersihkan sepatu botnya di keset depan pintu, lalu meletakkan karungnya di

samping gantungan mantel, menggantungkan ranting pelecutnya di sebuah gantungan, dan akhirnya dia minum kopi bersamaku di kamar tamu. "Anda mau cerutu?" "Aku tidak akan menolaknya." Kuambil kotak cerutu. Dia mengambil sebatang. Aku memberinya api. Lalu dengan bantuan sepatu bot yang kiri dia melepaskan sepatu botnya yang kanan dan menghembuskan nafas dengan lega. "Ini gara-gara ganjalan untuk telapak kakiku yang rata. Ganjalan ini sama sekali tidak nyaman." "Kasihan sekali Anda! Apalagi dengan pekerjaan Anda yang seperti itu." "Tetapi dibandingkan dulu, sekarang hanya ada sedikit pekerjaan. Dan itu baik untuk kakiku. Sekarang sinterklas-sinterklas palsu itu tumbuh seperti jamur saja layaknya." "Suatu hari anak-anak akan berpikir bahwa Anda, Sinterklas yang asli, sama sekali tak ada lagi." "Itu juga betul! Orang-orang itu merusak pekerjaanku! Kebanyakan dari mereka yang memakai mantel bulu, memakai jenggot dan meniruku itu, tidak mempunyai bakat barang sedikit pun! Mereka adalah orang-orang yang tidak profesional!" "Karena kita sedang berbicara tentang pekerjaan Anda," kataku, "aku punya pertanyaan kepada Anda, pertanyaan yang sudah sejak masa kecilku menyibukkanku. Dulu aku tidak berani bertanya. Tetapi sekarang aku sudah lebih berani karena aku menjadi wartawan." "Tidak apa-apa," katanya dan menambah kopi lagi. "Apa yang Anda sudah ingin tahu sejak waktu kecil?" "Begini," aku memulai dengan ragu-ragu, "pekerjaan Anda itu sebenarnya sejenis bisnis musiman yang tidak tetap, bukan? Pada bulan Desember, Anda punya banyak sekali pekerjaan. Semuanya bertumpuk hanya pada beberapa minggu saja. Pekerjaan itu bisa disebut sebagai bisnis dadakan. Lalu..." "Hm?" "Lalu, aku benar-benar ingin tahu, apa yang Anda kerjakan pada bulan-bulan lainnya!" Sinterklas tua yang baik itu memandangku dengan terpana. Kelihatannya, tidak ada seorang pun yang pernah mengajukan pertanyaan yang begitu mudah dimengerti itu kepadanya. "Kalau Anda tak mau membicarakannya... ." "Mau, mau kok," katanya dengan suara seperti menggeram. "Kenapa tidak?" Dia minum seteguk kopi dan mengepulkan asap rokok berbentuk lingkaran. "Pada bulan November, tentu saja aku sibuk dengan pengadaan bahan-bahan. Di beberapa negara tiba-tiba tidak ada coklat lagi. Tak seorang pun tahu mengapa. Atau apel ditimbun oleh para petani. Lalu segala macam masalah dengan pemeriksaan bea cukai. Dan setumpuk dokumen untuk

71

transportasi barang-barang. Dan kalau berjalan seperti itu terus, nanti aku harus memulainya sejak bulan Oktober. Sebetulnya, sampai sekarang pada bulan Oktober aku menarik diri dan dengan tenang membiarkan janggutku tumbuh." "Anda hanya berjanggut dalam musim dingin saja?" "Tentu saja. Aku `kan tidak bisa sepanjang tahun pergi ke sana-ke mari sebagai Sinterklas. Anda pikir, aku memakai mantel buluku terus menerus? Dan selama 365 hari menyeret-nyeret karung dan ranting pelecutku ke mana-mana? Nah, begitulah. Di bulan Januari aku membereskan pembukuan. Sungguh mengerikan. Dari abad ke abad, Hari Natal menjadi semakin mahal!" "Tentu saja." "Lalu, aku membaca surat-surat yang datang pada bulan Desember. Terutama surat dari anak-anak. Pekerjaan yang sungguh memakan waktu, tetapi penting. Karena kalau tidak, kontak dengan langganan akan terputus." "Logis." "Awal Februari aku pergi ke tukang cukur untuk mencukur jenggotku." Pada saat itu, bel pintu berbunyi lagi. "Permisi ya?" Dia mengangguk. Di luar, di depan pintu, berdiri seorang pedagang keliling dengan kartu pos bergambar yang berwarna-warni mencolok mata, dan dia bercerita tentang sebuah kisah yang sangat panjang dan sangat menyedihkan. Bagian pertama dari kisahnya itu kudengarkan dengan tabah sambil "menahan sakit" pada kupingku. Lantas aku memberinya uang kecil yang ada dalam saku celanaku, dan kami saling mengucapkan selamat juga untuk masa depan kami. Walaupun aku sudah berkeras menolaknya, dia tetap memaksakan setengah lusin dari kartu-kartu posnya yang mengerikan itu kepadaku. Dia, katanya, bagaimanapun bukanlah seorang pengemis. Aku menghormati harga dirinya yang indah itu dan mengalah. Akhirnya dia pergi. Ketika aku kembali ke kamar tamu, Sinterklas sedang mengenakan sepatu bot kanannya sambil merintih. "Aku harus meneruskan perjalanan," katanya, "kakiku toh tidak bertambah baik. Apa itu yang Anda pegang?" "Kartu pos. Seorang pedagang keliling memaksaku untuk menerimanya." "Sini, berikan kepadaku. Aku tahu orang yang mau menerimanya. Terima kasih banyak untuk keramahan Anda. Kalau saja aku bukan Sinterklas, aku pasti akan iri kepada Anda." Kami berjalan ke koridor, di mana dia mengambil perlengkapannya. "Sayang," kataku. "Anda masih berhutang kelanjutan kisah hidup Anda." Dia mengangkat bahu. "Sebetulnya tidak banyak yang banyak bisa diceritakan. Pada bulan Februari aku mengurus pesta karnaval anak-anak. Setelah itu, berkeliling di pasar saat musim semi. Berjualan balon dan mainan mekanik murah. Pada musim panas aku menjadi pengawas kolam renang dan memberi kursus berenang. Kadang-kadang aku pun berjualan es krim di jalan. Ya, dan setelah itu musim gugur datang lagi - sekarang aku benar-benar harus pergi."

72

Kami berjabatan tangan. Dari jendela, pandanganku mengikutinya. Dia berjalan di salju dengan langkah lebar dan tergesa-gesa. Di pojok Jalan Unger, seorang lelaki menantinya. Orang itu mirip si pedagang keliling yang banyak omong dengan kartu posnya yang konyol itu. Mereka berdua membelok di tikungan sudut jalan. Atau mungkin aku keliru? Seperempat jam kemudian bel sudah berbunyi lagi. Kali ini yang muncul adalah anak muda pesuruh toko makanan Zimmermann Söhne. Sebuah kunjungan yang menyenangkan! Aku akan membayar, tetapi dompetku tak kutemukan dengan segera. "Kan masih ada waktu, Pak Doktor," katanya dengan nada kebapakan. "Aku yakin bahwa aku meletakkannya di atas meja tulis!" kataku. "Baiklah, kalau begitu akan kubayar besok saja. Tapi tunggulah sebentar, saya ambilkan sebuah cerutu istimewa untuk Anda!" Kotak cerutu itu pun tak segera kutemukan. Itu artinya, nanti pun tak akan kutemukan. Tidak cerutu. Tidak juga dompet. Tempat rokok dari perak pun tidak bisa kutemukan. Dan kancing-kancing manset dengan batu bulan yang besar-besar dan mutiara-mutiara untuk jas berekor pun tak ada, baik di tempatnya atau pun di tempat lain. Setidaknya, tidak di rumahku. Aku tidak bisa menerangkan, ke mana barang-barang itu menghilang. Tetapi bagaimanapun, malam ini adalah malam yang tenang dan indah. Bel pintu tak berbunyi lagi. Sungguh, sebuah malam yang baik. Hanya saja, ada sesuatu yang kurang. Tetapi apa? Sebatang cerutu? Tentu saja! Untunglah geretan emas itu pun tidak ada lagi. Karena kalau ada, walaupun aku seorang yang tenang, aku harus mengakui: punya api, tapi tak punya rokok, itu bisa merusak seluruh malam!***

73

Kisah-kisah dari Buku Bacaan Wolfgang Borchert ( 1921 - 1947 )

Judul asli: "Lesebuchgeschichte". Diterjemahkan oleh Kelompok Kerja Penerjemahan Sastra Jerman, Jurusan Bahasa Indonesia, Seminar fuer Orientalische Sprachen (Seminar untuk Bahasa-bahasa Timur) Universitas Bonn (Silke Brand, Britta Debus, Helgard Haas, Birgit Lattenkamp, Klaus Mundt, di bawah bimbingan Dewi Noviami)

"Semua orang sudah mempunyai mesin jahit, radio, lemari es dan telepon. Bikin apa kita sekarang?" tanya Pemilik Pabrik. "Bom," kata Penemu. "Perang," kata Jenderal "Kalau tak ada pilihan lain," kata Pemilik Pabrik.

"Ongkosnya?" "Dengan ubin?" "Dengan ubin hijau. Ketika dia melihat sekuntum bunga mati. jika saja saya tidak mengubah coklat menjadi mesiu pada waktu yang tepat. tentu." "Dengan ubin hijau. Ya. Dia menambahkan hurufhuruf yang sangat kecil dan halus. seribu orang bisa terbunuh dalam waktu dua jam. dia sedih sekali dan menangis." "Dengan ubin hijau." Kedua laki-laki itu berpisah.Lelaki dengan jas kerja putih menulis angka di atas kertas. Sobat. Kemudian hanya dengan setengah gram. Dan kertas. Mereka adalah seorang pemilik pabrik dan seorang pengusaha bangunan. Lalu dia membuka jas kerja putihnya dan selama satu jam merawat bunga yang ada di ambang jendela. 74 *** Dua laki-laki bercakap-cakap. Dan di atas kertas ada angka-angka. " "Empat ribu." "Empat ribu? Baiklah. Matahari menyinari bunga." "Dan saya tidak dapat memberi Anda kamar mandi. *** . saya tak akan mampu memberi Anda uang empat ribu ini. Saat itu zaman perang.

" Pak Guru memandang yang lain dengan ngeri. seribu. Menyeramkan. Kelihatannya seperti lelaki-lelaki kecil. Para pemuda bernyanyi: Tuhan yang memberi senjata. Dua laki-laki bercakap-cakap. Upacara yang mengharukan. 75 *** Dua laki-laki bercakap-cakap. Mengharukan. Ingat Sparta.' Kedua laki-laki itu berpisah." "Berapa Anda bisa memberi saya?" "Paling banyak delapan ratus. Pak Guru." "Terimakasih. Mengingatkan pada Langemarck. Mengutip Clausewitz. berhentilah. bagaimana?" "Tidak begitu sukses.Lintasan boling. Membacakan Hölderlin." "Pasti akan habis. Lalu. "Nah. Dia mengambil bola baru dan menggelindingkannya di atas lintasan. Saat itu adalah zaman perang." "Demi Tuhan. Para pemuda maju ke garis depan. berpakaian hitam-hitam. Ada upacara. Menimbulkan gemuruh halus. sedang berkabung?" "Sama sekali tidak." "Anda masih punya berapa?" "Kalau lancar: empat ribu." "Jadi. Sambil bercerita dia menggambar banyak salib kecil di atas kertas. Sangat mengharukan. . Banyak mata bersinar.… Sama sekali tidak. Mereka adalah para jenderal. Pak Guru. Mereka berbicara tentang manusia. "Nah. Dia bangkit dan tertawa. tanah air. Menyampaikan beberapa istilah: kehormatan. Banyak salib kecil. di belakang. Sangat mengharukan. Berpidato pendek. gada-gada kecil berjatuhan.

Mereka adalah prajurit. seorang perempuan tua datang dan mengambil senjata mereka." kata Hakim. para menteri jalan-jalan di kota. "Mau menembak. Tapi dia tidak punya roti. Pada waktu itu mereka melewati sebuah stand menembak. Orang itu dibunuhnya. "Kenapa tidak. Yang satu rubuh." "Berapa umurmu?" "Delapan belas. Ketika perang berakhir. perempuan itu menamparnya. Pada waktu itu dia melihat seorang yang punya roti. Dan kamu?" "Sama.*** Dua laki-laki bercakap-cakap. Ketika mereka sedang menembak. Ketika salah seorang menteri meminta kembali senjatanya. Saat itu adalah zaman perang." tanya Prajurit. "Sukarelawan?" "Tentu. . prajurit itu pulang ke rumah. Dia mati. 76 *** Ketika konferensi perdamaian berakhir. "Kamu tidak boleh membunuh. Para menteri itu mengambil senjata dan menembak lelaki-lelaki kecil dari karton. Tuan?" seru gadis-gadis berbibir merah." Kedua laki-laki itu berpisah.

Lumut dan laut dan nyamuk-nyamuk: Semuanya masih tetap yang sama. Waktu mereka empat puluh dua tahun. Burung-burung gagak masih menggaok. Waktu mereka berumur dua tahun. *** Pada suatu ketika ada dua manusia. mereka saling melempar bom. Mereka dikuburkan 77 Ketika seratus tahun berlalu. dia mengamati dengan tenang: Pohon-pohon masih tetap pohon-pohon. mereka mati. Ikan-ikan kecil dan bintang-bintang. Waktu mereka dua belas tahun. Tanahnya sama. mereka saling menembak dengan senjata. mereka menggunakan bakteri. Jurusan Bahasa Indonesia. Dan kadang-kadang kadang-kadang seorang manusia bisa dijumpai. Diterjemahkan oleh Kelompok Kerja Penerjemahan Sastra Jerman. seekor cacing tanah makan di kuburan mereka. Ketika tahun 5000 seekor tikus mondok muncul dari tanah. delapan puluh dua tahun. mereka saling memukul dengan tangan. Semuanya tanah yang sama. Seminar fuer Orientalische Sprachen (Seminar untuk Bahasa- . Waktu mereka dua puluh dua tahun. mereka saling memukul dengan tongkat dan saling melempar batu. Dan anjing-anjing masih mengangkat kakinya.*** Judul asli: "Interview mit einem Weihnachtsmann". Waktu mereka berdampingan. Waktu mereka enam puluh dua tahun. Cacing tanah itu sama sekali tidak merasakan bahwa di situ dua manusia yang berbeda dikuburkan.Dia adalah seorang ibu.

di bawah bimbingan Dewi Noviami). Beate Meik. Birgit Lattenkamp. 78 .bahasa Timur) Universitas Bonn (Silke Brand.

tidak lama kemudian juga Juenger turut menyanyikan lagu yang melodinya sangat sedih dan mencekam. dengan banyak pertumpahan darah. Saya telah memesan kamar-kamar yang tenang di hotel “Zum Storchen”.Abadku Oleh: Günter Grass ( 1927 .. Kelihatan betul bahwa keduanya sangat berusaha memperlihatkan sopan santun dan daya pikat mereka masing-masing. Namun. Mungkin saya lebih beruntung karena saya perempuan dan masih muda. in Flandern reitet der Tod” (“Flandern dilanda bahaya. Tamu-tamu kehormatanku—keduanya saksi zaman dan pelaku sejarah—berbincang-bincang sambil beradu pengetahuan tentang jenis-jenis anggur yang dihasilkan di Swiss: Remarque memuji berbagai jenis anggur yang berasal dari daerah Tessin. pertama-tama Remarque mulai bersenandung. percakapan mereka sangat kaku dan tersendat.. sambil memandang sungai Limnat. ketika saya mengutip awal sebuah lagu yang selama Perang Dunia I sering dinyanyikan dan tidak diketahui penciptanya.. balai kota dan hotel “Zum Rueden”. Meskipun saya menggambarkan garis besar rencana penelitian kami hanya sesuai ketentuan umum. sesudah berjalan kaki mendaki bukit Vogesen menuju ke Hartmannsweilerkopf. Pada pertemuan pertama. akan tetapi sekaligus menyusahkan. di Flandern maut merajalela”). yaitu “Flandrischer Totentanz”. setelah dua rekan di lembaga penelitian kami sudah berulang kali dan sia-sia berusaha. apalagi saya warga negara Swiss suatu negara yang netral. sedangkan Juenger lebih suka welsche Dole. Keduanya masih mengetahui larik-larik yang mengakhiri tiap bait: “Flandern in Not. pada pertengahan tahun enam puluhan saya berhasil menggugah kedua pengarang lanjut usia itu —Juenger dan Remarque— agar mau bertemu. Biasanya kami duduk-duduk di serambi restoran roti dan kue. . Remarque—waktu itu usianya enam puluh tujuh tahun—datang dari arah kota Locarno. Kemudian keduanya memandang ke arah gereja Grossmuenster. Juenger datang liwat kota Basel. puncakpuncak menara gereja itu menjulang tinggi di atas rumah-rumah penduduk kawasan Schiffslaende. Karena tinggal di daerah Wuerttemberg. Ia jelas kelihatan sebagai seorang yang menikmati kesenangan hidup. Perihal kedua tokoh mengesankan yang sudah “is bitzeli fossil” inilah saya beritakan kepada rekan-rekan di lembaga penelitian. dalam waktu beberapa hari dan hampir bersamaan datang dua surat jawaban yang menyatakan bahwa undangan saya diterima. tampaknya lebih tua dan lemah daripada Juenger yang kelihatan gagah meskipun baru saja telah melampaui usia tujuh puluhan dan menampilkan diri sebagai seorang suka olah raga. ) 79 1914 Akhirnya. Usaha mereka “uff Sehwyzerduetsch zu schwaetze” amat lucu. yaitu daerah yang dulu diperebutkan dengan sengit. mungkin surat-surat saya didengar sebagai ketukan takut-takut lembut di pintu.

” Novel ini. juga.” Kedua pengarang tua itu memang tidak mulai berselisih. sampai sekarang hancur jiwa raganya. sampai serangan terakhir yang diperintahkan Ludendorff. “Omong kosong!” teriak Remarque. “Dinas di rumah sakit tentara sudah cukup sebagai sumber ilham saya. Bahkan juga Pickelhauben ditemukan. “Dalam Stahlgewittern. seperti Remarque sendiri. Kalau yang satu masih tetap memandang dirinya sebagai seorang “pencinta damai yang tidak dapat berubah ataupun diubah”. dengan sangat teliti. Remarque mulai bercerita bahwa pada musim gugur tahun empat belas ia masih di bangku sekolah di kota Osnabrueck. memberi kesan yang sangat mendalam kepadanya. hanya guna menangkap satu-dua orang musuh—sekedar untuk melampiaskan nafsu sadis dan sekaligus guna menjarah sebotol Cognac!” Namun kemudian ia mengakui bahwa di buku hariannya Juenger telah menggambarkan pertempuran parit. banyak murid sekolah menengah umum ramai-ramai mendaftarkan diri sebagai tentara sukarela.Sesudah perenungan beberapa saat diselingi dehem-mendehem. Akui sajalah. kami menemukan senapan. Menjelang akhir pertemuan pertama—kedua pengarang itu masing-masing telah menghabiskan sebotol anggur merah—Juenger berbicara tentang Flandern lagi: “Ketika dua tahun kemudian kami masuk ke dalam parit-parit di garis depan daerah Langemarck. Barangkali sebab itu. isinya bukan kumpulan pengalaman pribadi. akan tetapi mereka menekankan bahwa pandangan mereka mengenai perang berbeda. satu tidak kembali. Tanpa pikir panjang dan tanpa rasa bersalah Anda telah mengerahkan satu pasukan tempur. yang lain menuntut dimengerti dan dipahami sebagai “anarkis”. Remarque. kata Remarque. yang tidak berkesempatan masuk sekolah menengah umum. meskipun Juenger menamakan kultus kepahlawanan Langemarck “bualan kaum nasionalis”. Lalu ia melanjutkan: “Ketika akhirnya perang meletus. perlengkapan tentara sukarela yang dalam kekuatan resimen telah maju ke garis depan …” 80 1915 . bahkan sampai pada hari-hari terakhir sebagai komandan pasukantempur. ketika dekat Bixschoote dan Ypern terjadi pertempuran seru yang mengakibatkan pertumpahan darah habis-habisan di pihak resimen-resimen tentara sukarela Jerman. Anda tetap berpetualang seperti preman bajingan. Meskipun perang itu kemudian membawa penderitaan. dan bahwa juga titik tolak mereka berlainan. kami merasa dilebur menjadi satu kekuatan besar. Juenger sambil tersenyum halus menceritakan beberapa pengalaman masa sekolah kepada Remarque. kopelrim dan selongsong peluru yang berasal dari pertempuran tahun empat belas. bahwa gaya penulisan mereka berlawanan. yang mengabarkan bahwa berondongan tembakan senapan mesin dari pihak Inggris dibalas sambil menyanyikan lagu kebangsaan*. Dan mereka yang kembali. ia mengakui juga bahwa lama sebelum permulaan perang. Dari tiap dua orang. Setidak-tidaknya Remarque memandang dirinya sendiri sebagai “mayat hidup”. bahwa legenda kepahlawanan di Langemarck. ia sudah sangat ingin mengalami keadaan bahaya dan sangat tertarik pada petualangan-petualangan luar biasa dan “bahkan ingin masuk Legiun Asing Prancis”. bahkan dalam novel Im Westen nichts Neues—novel pertama Anda yang memang hebat—Anda bercerita penuh perasaan dan gejolak batin tentang persahabatan sehidup semati di antara para prajurit. juga karena disemangati oleh para guru. melainkan pengalaman di garis depan dari suatu generasi yang diperalat. pertempuran sebagai pengalaman jiwa tetap memikat saya. bahkan juga ciri-ciri pertempuran yang membawa banyak korban dan kerugian itu.

hal itu disebabkan oleh lebarnya bagian dahi yang mencuat ke depan. sambil meletakkan beberapa bagian peta medan perang di meja yang sudah agak kosong setelah perangkat sarapan pagi disingkirkan. sebuah kafe yang sejak dulu sudah terkenal. “buku itu laris. perusahaan-perusahaan lain yang mendapat ordernya. terjemahannya ke dalam beberapa bahasa asing mengalami nasib yang sama.” Juenger tidak menjawab.” kata Remarque. Helm baja itu hasil percobaan seorang kapten arteleri bernama Schwerd setelah percobaan-percobaan sebelumnya tidak memberi hasil yang memuaskan.” Sanggahan saya “Untung helm kami tidak terpaksa diuji coba dalam pertempuranpertempuran yang membawa pengorbanan dahsyat dan kerugian besar seperti yang Anda gambarkan dengan kekuatan bahasa yang begitu meyakinkan” diabaikannya. kedua buku yang pernah menyulut perdebatan sengit antara kubu pro dan kontra perang. “Betul. 81 . berapa banyak korban jiwa telah jatuh karena helm kulit yang tidak ada gunanya itu. antara lain pabrik besi Thale. yang berada di front Timur terpaksa palinglama menunggu. sedangkan madah perang karangan Anda jelas tidak pernah terhambat penerbitannya. Karena Krupp tidak mampu menemukan campuran logam yang cocok untuk menghasilkan baja anti karat. Lalu ia mengeluh tentang hambatan penglihatan di waktu pertempuran parit.” Kemudian ia berbicara langsung kepada saya. meskipun bentuknya agak diubah. Namun Im Westen nichts Neues tiras penerbitannya jauh lebih tinggi daripada In Stahlgewittern. Kemudian saya berhasil mengalihkan pembicaraan ke perang parit di Flandern dan di tanah kapur daerah Champagne. Sebaliknya pikiran kami bertiga bukan mengenai masa depan. Selanjutnya Juenger menghujani Remarque dengan berbagai keterangan rinci. Remarque sengaja tetap membisu. berkurang satu orang. Andaikan Anda tahu. Di sinilah dulu Lenin menunggu keberangkatannya ke Rusia —perjalanan yang dikawal tentara kekaisaran Jerman— sambil membaca-baca Neue Zuercher Zeitung dan surat kabar lain serta diam-diam merencanakan revolusi. Remarque! Pelindung kepala itu dalam divisi kami di garis depan sudah sejak lima belas Juni diganti dengan helm baja. Mulai enam belas Februari semua divisi di garis depan memakai helm baja. karena bagian depan helm itu harus memberi perlindungan sampai ke ujung hidung. Namun. bahkan juga penyangga yang diberi lubang ventilasi. Padahal buku saya dalam tahun 1933 termasuk buku yang dibakar secara resmi. Setiap tembakan jitu. melainkan seputar masa lalu. Ketika serangan dan pertahanan di pinggir sungai Somme mulai diperbincangkan. sehingga selama dua belas tahun terpaksa berhenti beredar di pasaran buku Jerman. Kami berlomba dengan orang Prancis yang juga mulai memakai helm baja. Remarque. pertama-tama kedua tamu saya sepakat bahwa pertemuan ini akan dimulai dengan sarapan pagi yang disertai minuman anggur. Semua pasukan di depan kota Verdun dan di pinggir sungai Somme mendapat prioritas.Pertemuan berikutnya berlangsung di Odeon. apalagi dalam pertempuran parit! Bahkan karena kekurangan kulit. Seakan-akan menjadi saksi. pada dasarnya mengikuti model helm baja kami. Juenger langsung melontarkan sebuah kata yang tidak lepas dari pembicaraan selanjutnya: “Pickelhaube yang amat menjengkelkan ini. mulai dari proses anti karat yang menghasilkan permukaan luar yang kusam berwarna kelabu. Juga Schweizerhelm yang sampai sekarang dipakai militer. Disetujui pula bahwa saya diizinkan minum air jeruk. Setiap pecahan peluru tembus. terletak di atas meja marmer di antara roti croissant dan keju. yang sudah tidak dipakai lagi ketika Anda jadi tentara. bahannya kadang-kadang diganti dengan bahan campuran wol dan serat lain yang dipres. sampai ke bagian yang mencuat ke belakang guna melindungi tengkuk dan lapisan dalam berupa bantalan berisi rambut kuda atau terbuat dari campuran wol dan serat-serat lain yang dipres.

Melorot terus.sutera lagi lapisan dalamnya!” Lalu ia teringat pada sesuatu yang dianggapnya lucu: “O ya. si none.. Juenger juga.” Setelah agak lama tidak ada yang berbicara—kedua pengarang itu sedang menikmati Pfluemli dan kopi hitam—akhirnya Remarque mengatakan: “Helm baja jenis M 16. hampir pipih. . Meskipun harus diakui sebagai tindakan ceroboh. Wajah-wajah mereka yang masih lugu seperti anak sama sekali tertutup oleh helm itu. Lucu dan memelas sekaligus. dipesankan air jeruk yang baru diperas segelas lagi.*** Diterjemahkan oleh Dewi Noviami. ada lubang bekas peluru tentu. saya lebih suka memakai peci letnan saya yang sudah tua .“Nah. Saya.” Ia memanggil pelayan dan memesan Pfluemli lagi. 82 . topi baja yang hebat ini sangat mengganggu. sebuah helm Inggris yang bentuknya sama sekali lain. sesudah itu M 17. yang tinggal kelihatan cuma bibir mereka yang meringis ketakutan dan dagu mereka yang gemetar. mestinya Anda ketahui juga. Bahwa peluru yang ditembakkan oleh pasukan infanteri dan bahkan pecahan-pecahan kecil peluru meriam tetap menembus topi baja itu. Anda tentu tahu bahwa pada saat-saat manuver selama serangan gempur. jauh terlalu besar untuk pasukan pengganti yang terdiri dari prajurit-prajurit muda yang baru direkrut dan yang kadang-kadang bahkan belum selesai dilatih.. di meja tulis saya ada kenangkenangan.

. dialah yang mengantarkan orang itu.Jak.. Lebih dengan pendengaranku daripada dengan penglihatan. . dan mendengarkan ke arah belakang di mana terdengar suarasuara yang ditimbulkan petugas pengantar makanan itu. dengan muka selalu menghadap ke . Letnan mengirim dia kepadamu." kataku perlahan. Aku berdiri di depan. "Ini. dan bagaimana dia kemudian mengaitkan kopelrimnya lagi. dia datang pada malam hari untuk menggantikan Gornizek yang berjaga di belakang. "Tidak usah. meloloskan lalu meletakkan sekopnya ke samping. begitu saja dari kertas pembungkusnya. Orang itu berdiri dengan sangat membisu di sampingku. "Ayo. "orang baru yang menggantikan Gornizek . aku tahu bahwa dia terburu-buru untuk kembali ke pos komando. "jangan terlalu keras. aku tahu bagaimana dia. "kemarikan.. .." kataku." kataku. sebungkus permen Drops dan lemak mentega dalam kertas karton." gumamku dan bergeser untuk memberinya tempat. semuanya akan segera kumakan." kata Gerhard. Gerhard kemudian menyelinap kembali ke pos komando. untuk pos pengintaian.." Selama itu. Malam-malam itu begitu gelap dan rasa takut seperti hujan badai berguntur di bumi yang muram dan asing. di pos pengintaian. sekop dan masker gas berdentingan dengan bodohnya. juga ke arah depan yang gelap dan sunyi. sialan!" Peralatan kopelrimnya. dan selain membawa peralatan makan. "Idiot. "Kau mau roti ini juga?" tanya Gerhard. di pos komando. si orang baru berdiri di samping sambil menggigil dan membisu. dia pun membawa rokok. Sop buncis sudah dingin.. adalah hal yang biasa mengirim orang baru ke pos yang tersulit. dan bagus juga bahwa dalam kegelapan aku tidak bisa melihat ulat-ulat yang keluar dari buncis waktu dimasak. di mana orang-orang Rusia berada. Gerhard. "atau kusimpankan sampai besok pagi?" Dari nada suaranya." "Ya. kemudian roti kutekan-tekankan pada rantang yang sudah kosong.1985) 83 Bersama petugas pengantar makanan. Dengan canggung dia masuk ke lobang perlindungan dan hampir saja menyenggol rantang makanku." Dia menyerahkan roti dan daging kalengan dalam bungkusan kertas minyak. Di dalamnya ada banyak potongan-potongan daging empuk yang kukunyah dengan nikmat. Sang Calo Oleh: Heinrich Böll (1917 . masker gas di sebelahnya dan pada tanggul lobang perlindungan diletangkannya senapan teracung ke arah musuh. sesuai dengan aturan. melepaskan kopelrimnya. "Dan ini. Dan daging kalengan itu pun kumakan. ke mari.

" tambahku sambil menarik pinggiran mantelnya dan dengan setengah memaksanya untuk menduduki bangku. "Diam!" aku membentaknya. sangat tegak dan setiap detik siap meloncat berdiri mengambil sikap siap seperti orang sinting. dia membiarkan beberapa tegukan tertelan. 84 .. "Bagaimanapun kamu kan tidak bisa terus-terusan berdiri." katanya lagi. Bibir mereka gemetar karena takut dan hati mereka keras karena berani. tapi aku memegang kepalanya dan menyorongkan leher botol ke mulutnya ." Walaupun aku hanya bisa melihat siluetnya. dan jika dia menoleh ke samping." katanya menggagap." tampaknya itulah yang selalu mereka ucapkan." "Tidak." bisiknya. tangan di lutut. "Kemari. Aku membungkuk." "Kalau begitu. Anak-anak muda yang malang itu .sabar seperti seekor anak sapi yang mendapatkan botol pertamanya. "Di pos." "Tapi di pos. dan dalam kegelapan aku melihat sebuah profil. Orang yang masih sangat muda itu punya sesuatu yang sangat khas pada tengkuknya yang mengingatkan pada permainan perang-perangan di sebuah lapangan di pinggiran kota. menarik kerah mantel tinggi-tinggi sampai menutupi tengkuk dan menyalakan pipa rokok. terlihat dari tengkuknya bahwa dia masih muda. Suara yang rapuh seperti seorang penyanyi tenor yang sentimental. . "Tidak enak?" "Enak." Aku heran bahwa dia sudah bisa berbisik dengan baik." "Tak ada yang boleh. "Sini.." Dia mengambil botol dari tanganku dan meneguk dengan baik. helm bajanya hampir seperti tameng punggung seekor kura-kura. "Terima kasih. juga tidak boleh memulai peperangan. "Kamu mau merokok juga?" "Tidak. Tekanan yang bisa dimengerti orang dengan baik tapi hampir tidak bisa terdengar dalam jarak satu meter.musuh." kataku. "Saudara merahku." gumamnya.. dengan tekanan yang sudah kupelajari dengan susah payah. Winnetou." kataku pelan-pelan. "Duduklah yang tenang. minum sendiri. "minum seteguk. lalu dia bergidik dengan keras sampai-sampai aku harus melepaskannya. "kan tidak boleh duduk." kata sebuah suara yang lemah. tapi aku tahu bahwa dia duduk seperti seorang prajurit baru di sebuah kelas. "tapi aku tersedak..

. atau kalau saja tiba-tiba kabut datang... aku pasti akan berpikir: kalau saja gelap. tapi lalu dia berkata: "Ya.. kalau saja sedikitnya remang-remang. "Sekarang lebih baik. Avold. selalu begitu.. tapi aku bisa mencium baunya. Juga orang-orang Rusia itu mendapatkan makanan mereka." "Berapa lama di perjalanan?" "Empat belas hari. agak terang. Dia sangat .. Ah. Tapi aku tak melihat apapun kecuali sinar kilatan matanya yang menurutku tampak berbahaya. "Ini untuk yang pertama kalinya bertugas di luar?" Dia malu lagi. kan?" "Ya . Avold. dan aku membungkuk ke arahnya untuk dapat melihat parasnya..Aku pun minum. kalau saja hari menjadi siang. lalu sisa-sisa sop. "Aku juga takut.. sedikitnya sesuatu." Aku merasakan bagaimana dia berpaling dengan cepat ke arahku. aku merasakannya." kataku karenanya. "selalu malah. bau keringat. juga sedikit berbau minuman keras. dan hanya siluetnya yang buram dan gelap.. Dia menyebarkan bau ruang penyimpanan pakaian... Di suatu tempat. pikirku.. sangat diam. setidaknya remang-remang atau berkabut. kamu tahu... . tapi memang begitulah mereka semua. kan?" Dia malu untuk mengakui bahwa tadi dia ketakutan." "Sudah berapa lama jadi tentara?" "Delapan minggu. kalau saja bisa melihat sesuatu. tampaknya mereka telah selesai dengan pembagian makanan. Di bagian depan tidak ada apapun. dan dengan pandanganku aku berusaha untuk menembus kegelapan yang meliputi di depan kami. melihat sesuatu. Dia menoleh lagi ke arah musuh. Tetapi kalau terang. juga di pos komando di belakang kami. oleh sebab itu aku mencari keberanian dari botol ini." Kami diam beberapa saat.." "Tidak begitu takut lagi.. lalu ruang penyimpanan pakaian lagi. Lothringen." "Dari mana?" "St. Di kejauhan terdengar derum halus motor kendaraan. jauh lebih baik . di 85 ." "Kalian datang dari mana?" "Dari St.

kita pasti melihatnya. betapa indahnya bahwa aku tidak sendirian lagi." "Dan kalau kita mencurigai sesuatu. bolehkah kita menembakkan roket isyarat.. kan?" "Ya. Tapi tenang. mengerti? Tapi kalau yang datang hanya beberapa orang saja. untukku hal itu selalu memakan tenaga. "Bagus dan kalau pasukan pengintai itu menyerang kita.. membuat suara gemuruh atau berteriak histeris.. berteriak atau berseru sehingga malam membuyar seperti busa hitam. pasukan pengintai. lalu aku mendengar suara yang mengerikan: giginya bergemelutuk." Dia diam lagi. artinya mereka sampai di sini ketika hari mulai menjadi terang. Dua menit sebelum fajar. betapa baiknya dia bisa berbisik.. "Tapi mereka tidak datang. "kalau kita tidak melihat mereka datang. Yang paling menyenangkan adalah bernyanyi... Berbisik. Lalu kita menembakkan peluru asap merah.." "Habislah kita. supaya bisa melihat.. Tampaknya itu adalah hal enteng untuknya. "Ya." katanya dengan suara bergetar. menembaknembak sedikit dengan senapan kita lalu pergi. mendengarnya. "pos pengintaian. untukku hal itu melelahkan dan bikin sinting. dan suaranya bergetar lagi. sungguh mengerikan bahwa dia tidak sekalipun memulai percakapan. mengerti? Kita tidak boleh lari dari pasukan pengintai. "Bagus. menyerang. merasakan bau apeknya." omongku terus. Aku paling senang kalau bisa meraung.. paling-paling pagi hari. "mereka tidak datang pada malam hari. kita harus mengawasi bila orang-orang Rusia itu datang.depan sana. "Dua menit sebelum fajar mereka mulai jalan.. ke pos komando.. maka kita harus tutup mulut. kita harus membunuh mereka." Lagi-lagi aku heran.. ini kalau ." katanya. "Kalau . untuk mengekang suaraku. seolah seseorang membungkam mulut itu.." "Dua menit sebelum fajar?" dia memotong omonganku. "pos pengintaian.." "Tapi kan itu sudah terlambat?" 86 . kemudian salah seorang dari kita harus ada yang balik ke belakang dan memberitahukan kepada yang lain.. . terdengar suara kicauan orang Rusia yang sekonyong-konyong tertahan. Kamu sudah bertemu dia.. Aku pun minum lagi. Artinya.." gagapnya. sampai mampus. mengerti kan?" "Ya.. biarkan mereka lewat." katanya. bau seorang manusia yang kita tahu bahwa dalam detik berikutnya dia tidak berniat membunuh kita... Ah. hampir lebih baik daripada aku. . kepada Letnan.. Tetapi itu bukan apa-apa. Betapa indahnya mendengar nafas seorang manusia. "Kamu tahu apa tugas kita?" tanyaku kepadanya." kataku.

" katanya. "sebelum ini kamu kerja apa?" "Aku..?" 87 . lalu aku bertanya kepadanya dengan sangat pelan. aku harus menyikut tulang rusuknya... melihat lagi ke depan. yang sedang kosong.. "aku berdiri di stasiun.. Jak.. Karena tegang aku lupa meneguk minuman." kataku parau." katanya dengan susah payah. "Aku. dan kalau seseorang datang.. "Yah. Dan sebelumnya kita toh bisa mendengar mereka.. jadi kalau seseorang datang.." katanya." "Jak.A. . itu artinya aku harus mengeluarkan tanganku dari saku yang hangat dan dengan susah-payah memasukkannya lagi.." "Seperti orang Inggris." katanya. yah.. "Dari Jakob . "kalau orang itu mau bersenang-senang?" "Lalu. J. supaya menjadi hangat lagi. siapa namamu?" Benar-benar menjengkelkan. kepalanya dipalingkannya lagi kepadaku.. "Kamu kan pasti jadi calo untuk sesuatu.. Ngomong-ngomong. "Calo apa . "aku bernama Jak." "`Gimana. artinya kita bisa berlari cepat-cepat seperti seekor kelinci.." tanyaku.. dan aku merasakan bahwa dia sangat heran. sangat pelan.. lalu dalam kegelapan. "jadi calo. kan. lalu pergi . setidaknya hampir selalu..calo apa.. ya?" "Tidak.." "Jadi calo apa sih?" Dia memalingkan lagi mukanya ke arahku.. "Dan.. seseorang dari rombongan orangorang yang lewat. kamu mengerti? Tuan. dan sekali lagi tampaknya kenangan menguasainya lagi.. calo saja..." katanya... setiap kali kalau mau berbicara dengannya. bukan Jeck. biasanya tentara...? Begitulah aku bertanya... calo apa ." Dia diam sesaat. jangan takut. dengan sangat tiba-tiba." "Apa?" "Calo."Maka itu artinya kita harus cepat menembakkan isyarat merah.K.. seseorang yang aku pikir cocok.…" suaranya bergetar lagi dan mungkin kali ini bukan karena takut tetapi karena terkenang sesuatu..." dia mengeluh dalam-dalam. ingin bersenang-senang. "lalu aku membawanya kepada salah satu perempuan . Jak saja. "." tanyaku lagi.. ..." "Ke tempat pelacuran.

perempuan-perempuan itu.. . aku punya beberapa perempuan tidak terikat. dengan paksa mereka mengutip uang banyak-banyak dan masih juga meniduri mereka. Tidak." katanya kemudian. ya. "Enak sekali. soalnya aku sedang meneguk dari botol itu." dia berkesah lagi." kataku sambil memberikan botol kepadanya. "Lihat itu!" Dia menarik aku ke depan. botol itu kosong.." "Tulang-tulang ?" "Ya. "aku tidak bekerja untuk tempat pelacuran. Aku kan tidak mampu bekerja karena paru-paruku. dia mengoceh hampir dengan sendirinya.. "dan artinya kamu dulu seorang germo. Lili dan Gottliese.. Aneh ya? Dia selalu bilang kepadaku bahwa ayahnya menginginkan seorang anak laki-laki daripada perempuan. "adalah yang paling baik. aku kan hanya seorang calo. . beberapa perempuan bebas yang menghidupiku. ya. Tiga orang." katanya datar. Sekarang. siapa namamu?" "Hubert. ke tanggul di mana dia sedang tiarap. boleh aku minum lagi?" Ketika aku membungkuk untuk meraih botol." katanya dengan nada yang untukku agak menggurui. Dia selalu murah hati dan melankolis dan sebenarnya juga yang paling cantik .. Aku yang harus memancing ikannya untuk kemudian mereka bakar dan makan.. "eh. "bukan. tetapi karena dia perempuan jadi dinamai Gottliese. syukurlah! Kalau punya. "germo adalah tuan-tuan besar. dia bernama Gottliese. "Ya. untuk siapa aku bekerja. mengerti. di suatu tempat yang sangat . Aneh. sangat sungguh-sungguh. sejak ayahku gugur dan ibuku hilang..... dan dari itu aku hidup. Tidak. "Ngomong-ngomong.... lepas. dan aku lalu mendapat tulang-tulang sisanya. dan. Dan sekarang aku tidak perlu bersusah payah membuka tutup gentong yang macet. terlalu berbahaya. aku pasti harus berkelahi dengan yang lain. tapi aku tidak bisa menjawab.. kamu mengerti. ah..." sambungnya.. Käthe. "tepatnya uang persen. dia bertanya.. tidak punya germo.. kamu mengerti. lalu aku menggelindingkannya dengan lembut ke samping. tiran. "Gottliese.." "Dan. "Lihat!" Kalau diperhatikan dengan sangat ." katanya." "Dan kamu tidak mencicipi mereka?" "Tidak.." dia mendesah lagi. dan karena itu aku jadi calo untuk mereka. 88 . karena kalau anak laki-laki maka bisa dinamainya Gottlob."Bukan. Karena itu mereka tidak boleh memamerkan diri di jalan seperti yang lain . sangat jauh." potongku." dia tertawa lagi sedikit." "Siapa?" potongku.?" dia benar-benar tertawa sedikit. tanpa izin apa pun. mereka bekerja mandiri. "Hubert. kan?" "Bukan.. mereka tidak punya surat izin. dan suaranya sekarang bergetar hebat.. Kami berdua lupa untuk apa kami nongkrong di tempat sialan ini.

" lagi-lagi terdengar giginya bergemelutuk. tembakkan yang putih .. mereka mengendap-endap. betul-betul jauh sekali . dengan sangat pelan-pelan mereka datang.." "Ah.. Kalau hari sudah sangat terang.. itu setumpuk tahi yang bikin kita gila ." kataku." "Tembakkan yang putih. subuh. itu neraka. Supaya mereka tidak membom kita . sama sekali tanpa suara. dan bikin kita takut karena tangkai-tangkai itu bergoyang-goyang." 89 .. kita bisa juga mendengarnya. "Jak." "Besok pagi. itu bukan apa-apa. "Ya. ada sedikit suara gemerincing . itu .. "kamu gila.. Dan di dalam kegelapan di atas garis hitam pekat yang agak terang itu. aku begitu kaget. dan itu terlihat ada di ujung dunia.. coba dengarkan?" Kami menahan nafas dan mendengarkan. "ya. itu bisa juga manusia yang diam-diam mendekat. Dia mengatakan hal itu dengan pasti dan mantap. besok pagi-pagi kamu akan melihatnya dan tertawa. Jak. "Ya. itu perang... Aku hanya punya dua peluru. Besok pagi kamu akan tertawa.terlihat sesuatu seperti horison. sesuatu bergerak . manusia dalam jumlah yang sangat banyak yang sedang mendekat diam-diam." bisiknya. mengerti? Dan satu aku perlukan untuk besok pagi-pagi... sebuah garis hitam pekat. tembakkan peluru isyarat yang putih!" bisiknya dengan suara yang makin menghilang.. seperti ayunan lembut jerami .kotor dan sebagian hancur tertembak...... sepi.." balasku berbisik." "Jak. itu pasti sesuatu . Jak. mereka datang. jauh. mereka datang ." kataku. dan tak ada sesuatu apapun yang terdengar kecuali suara sepi yang mengerikan. dan aku mendengar dari suaranya bahwa dia menjadi pucat seperti sang maut." "Ah . "besok pagi aku sudah mati.. mereka merangkak di tanah... "diamlah. dan kalau mereka sudah dekat." "Aku kan kenal mereka. sesuatu yang nyata .. Satu saja.. Itu sesuatu yang nyata.. "Jak. itu bukan sesuatu yang nyata..... maka sudah terlambat." Sekarang aku yang berpaling tiba-tiba kepadanya dengan heran.. supaya mereka bisa tahu di mana kita berada.. DDan bunganya sudah dipetiki oleh orang-orang Rusia itu.. "Anak muda.. . dan peluru yang lainnya aku perlukan kalau situasinya betul-betul serius. kan? Aku tahu itu tangkaitangkai bunga matahari yang mengering. tembakkan yang putih . hitam -. itu perasaan takut kita yang sedang bergerak.... aku bisa mendengar mereka. Di atas garis itu kelihatan agak terang. jauh sekali." "Tapi lihatlah. kamu akan melihatnya dan tertawa. aku melihatnya .." katanya dengan sangat dingin....." kataku sambil meletakkan tangan di pundaknya.. "Ayo. sepi sekali.. itu tangkai-tangkai bunga matahari yang jauhnya mungkin satu kilometer dari sini......... kalau pesawat pembom kita datang." kataku. mereka datang. "aku tidak bisa menembakkan yang putih. Itu tangkai-tangkai bunga matahari. "kalau mereka benar-benar datang.

pesawat-pesawat itu akan menjatuhkan bom sangat dekat di depan kita. tidak bisa ditebak.." bisiknya seperti seorang sinting. kamu pasti tidak mempercayainya. bisa-bisa kita jadi selai. Ah. . Dan kamu akan mengutuki aku kalau aku menembakkan yang putih sekarang." kataku. percayalah kepadaku. "awalnya aku selalu mengantarkan mereka kepada Gottliese. aku tahu itu. "kalau aku kadang-kadang mendapatkan seseorang di Stasiun Pusat. Dan perempuan yang mabuk sungguh mengerikan. Tapi itu bukan alasan kenapa aku selalu pergi kepadanya terlebih dahulu.. orang-orang Rusia itu mendapat jatah minuman keras mereka. aku hanya mendengar mereka berbisik. jadi calo?" Dia mendesah dalam-dalam. Di mana kamu terakhir kali . Dia punya banyak langganan tetap. kamu mengerti? Dalam setengah jam. kamu tahu. Dia yang selalu paling banyak memberiku uang. Begitu ingin aku melihat wajahnya. mereka suka melarikan diri. di pojokan-pojokan dan di stasiun-stasiun kereta api di semua kota-kota di Eropa dan selalu aku memalingkan muka dengan perasaan takut yang hebat yang tiba-tiba muncul di hatiku. Juga karena banyak tentara yang turun di situ karena mereka berpikir bahwa itu sudah Köln. Tapi Lili selalu lebih baik daripada Käthe. karena ketakutan atau karena sesuatu yang lain. Setiap kali. dia tinggal di sebuah gedung apartemen yang di dalamnya ada cafe. Barusan tadi. kamu tahu. karena perempuan-perempuan itu tinggal di dekat daerah itu. lebih baik kamu cerita lagi. lalu aku pergi kepada Lili. kalau pesawat pembom kita datang." suaranya sekarang lamban seolah mulai tertidur. kadang kasar. Ya. Jarak dari Stasiun Pusat ke daerah selatan memang terlalu jauh. "Di Köln. Wajah seorang calo tulen. Dan dari Stasiun Selatan ke rumah perempuan-perempuan itu jaraknya pendek. karena kalau tidak. Gottliese. kita masih punya waktu empat jam.. Lili juga orangnya tidak menyebalkan. dan suara tembakannya akan keras sekali. "Di Stasiun Pusat?" "Tidak. sehingga aku terpaksa untuk menjawab ya. Stasiun Pusat maksudku." dia membungkuk lagi ke arahku. tak tahulah aku. "Tembakkanlah yang putih. mereka akan mulai berteriak dan bernyanyi dan menembak. Sekarang tanggal 21. Kadang-kadang di Stasiun Selatan. Besok pagi-pagi. "Jak.. karena itu aku sering nongkrong di Stasiun Selatan. dan kami duduk lagi menyandar.. tapi dia sering minum. dia yang paling baik. Käthe dan Gottliese di Barbarossaplatz. kadang ramah. dari dekat. Dia memberi aku 90 . kamu percaya?" Sekarang dia bertanya dengan nada yang begitu mendesak. di jalan menuju rumah perempuan-perempuan itu. mereka mendapatkan makanan dan jatah minuman keras mereka. "tidak selalu. dan kadang-kadang dia turun juga ke jalan kalau lama tidak mendapat tamu." sambungnya dengan suara capek. Dan kalau Gottliese mendapat tamu. kemudian cafe itu terbakar. ketika tidak terjadi apa-apa. "kamu akan mengutuki aku kalau aku menembakkan yang putih. kamu tahu. "Tetapi Gottliese sering mendapat tamu. baru keringat dinginmu mengucur deras. "Jak. Dan itu bikin jengkel. dan mungkin sesuatu akan terjadi. Awalnya." katanya. baru kemudian aku harus menembakkan yang putih. aneh kan? Dia sangat sering mendapat tamu. artinya hari ini. mereka suka pergi begitu saja tanpa berkata apa pun.Dia diam. kamu tidak percaya bahwa aku pergi dulu kepadanya bukan karena dia yang memberi terbanyak.. .. karena itu orang tidak cepat jadi panik. Käthe orangnya sangat dingin. betul bukan." aku ingin mulai. itu lebih praktis. aku sedih. Yah. Lili di dekat Gedung Opera. Di tengah jalan.

" tanyaku. kamu mengerti." 91 . . Kadang hanya lima puluh sen. paling hanya beberapa menit. Laki-laki itu tidak punya uang lagi. karena tembakan seperti itu malah kadang-kadang akan mengena. Juga kalau pun dia tidak mendapatkan uang sama sekali. sepuluh sen.. . Suaranya membumbung seperti sebuah tangisan dan bergabung dengan suara-suara lain. menghadapi bahaya ditangkap polisi. Kamu harus menunduk. Bagaimana tempat tinggalku. Mereka kan tidak boleh begitu.. "bagaimana rupanya?" Tapi pada saat itu." "Jak.. "dia tidak meminta uang sama sekali?" "Ya.. kadang-kadang dia tidak meminta uang sama sekali. itu saja. Maka Käthe selalu yang terakhir. apa aku punya rokok dan lain-lain.. dan apa-apa yang tidak boleh akan dihukum berat. berdiri berjam-jam di stasiun atau nongkrong di bar minum bir murahan. kamu mengerti. Sebenarnya. Dan uang persenannya baru kuterima di hari berikutnya. Aku menarik mundur orang yang gemetar itu. lalu mereka berteriak dan akan menembaki tanggul persembunyian dengan membabi-buta. "tidak akan lama. persis seperti pada kita.. "dia hanya mendapat satu Mark. lalu dia akan menonjok mulut mereka. Dan dia cantik. Mereka hanya sedikit mabuk. Lengking tawa perempuan itu merobek malam sampai berkeping-keping.. sangat dekat ke arahku. tambahan lagi sudah tua." "Menghadiahi?" "Ya." kataku pada anak muda yang bergerak-gerak gelisah dan mengerangngerang itu." aku ingin bertanya. Dia sangat pemurah. Dan tembakan pertama pun meletus." "Seorang tentara?" "Bukan. "Ya. itu bukan apa-apa. Dia malah menghadiahi tentara-tentara itu rokok atau roti atau sesuatulah. seorang sipil. Ah." "Bagaimana." "Sepuluh sen?" tanyaku terkejut. aku kadang harus berjalan setengah jam dalam malam yang dingin.." Sekarang kami mendengar suara seorang perempuan.. dengan satu loncatan saja dia pasti sudah di luar lobang persembunyian. Sepuluh persen! Sementara. Dan Käthe masih juga memakiku.. yang paling cantik. Menghadiahi. . Aku masih bisa menangkap pinggiran mantel Jak." katanya. sudah. lalu akan menjadi sasaran tembak orang-orang Rusia itu. Dia selalu memberi banyak kepadaku. Aku percaya bahkan sebaliknya. "Tenanglah.sepuluh persen.. sekali waktu bahkan cuma sepuluh sen. setiap kali setidaknya dua Mark. "Diamlah. . . Dan dia pun lumayan mengurus aku. sampai komisar mereka mengetahuinya. kami tahu pasti bahwa dia bernyanyi dan meneriakkan sesuatu yang jorok. Seorang perempuan yang sungguh melankolis. Dan kemudian. dan walaupun kami tidak mengerti sepatah kata pun. Semua orang yang lari seperti itu pasti menjadi sasaran tembak. orang Rusia pertama mulai berteriak seperti orang gila. aku bilang sama kamu. Gottliese berbeda.. dan hanya mendapat sepuluh persen! Tahi. ketika aku membawa tamu lagi untuk dia.

Gottliese itu. dan ketika cahayanya menyebar seperti cairan perak yang lembut . "Ya.. "Cantik. aku mendengar mereka datang.." Nafasnya tersendat. "Bagaimana. . sekarang mereka datang. Kathlene.. kamu tahu. dalam terang. muncul kerumunan sosok-sosok bisu yang menunduk ke tanah dan kemudian tiba-tiba dengan suara "Hurra" yang bikin gila." Dengan segan dia menjawab." sambungku. mengacungkannya di atas kepala lalu menembak. "Rambut hitam dan dengan mata yang besar dan terang. Dia sedikit gila. 92 . . "Jak. "Kamu lihat.. Di depan terdengar teriakan lalu jeritan . kalau tidak aku bisa gila.. sekali lagi teriakan . Dia berjongkok kaku sambil membisu di sampingku... Aku pun tidak sempat lagi untuk menembakkan isyarat merah.. tembakan dan sekali lagi suara mengerikan perempuan yang mabuk. mereka menyerbu maju. salah seorang dari kami di pos komando di belakang juga menembak. atau Susemarie." kataku. suara gemuruhnya seperti kiamat. Tidak bisa lain... "Apa kamu tidak melihat api letusan senjata itu. Sering dia memakai nama lain . wajah seorang calo tulen. Aku pikir.seperti kelap-kelip hujan salju di Hari Natal. Dan yang paling sial." "Tidak .. aku mendengar sesuatu..aku tidak punya waktu lagi untuk melihat wajahnya... karena dari tempat di mana tadi terdengar suara teriakan dan lengkingan seorang perempuan yang mabuk itu. setiap hari nama baru . dengarkan dong!" Kami mendengarkan lagi. sangat pasti bahwa kamu akan mendengarnya. kamu akan mendengarnya." Aku mencengkeram lengannya kencang-kencang. dan kalau mereka datang." katanya pendek. dan aku menembakkan isyarat putih itu hanya untuk melihat wajahnya..Tapi teriakan itu tidak berhenti. Lalu sangat sepi. "tembakkanlah yang putih. pakai otak dong. . Tetapi aku tidak punya waktu lagi untuk itu. sama sekali. "bagaimana parasnya. betul-betul sepi. "sekarang aku akan menembakkan yang putih. ." sekarang aku bertanya. .... Sebenarnya aku tidak mendengar apa pun. seolah bulan mencair dan menyatu pasrah dengan bumi .... . entah siapa lagi. di situ. sungguh mungil.. menyibak tirai perang menyelimuti kami." Sekarang tampaknya dia tidak mengacuhkan apa pun... Dia sangat mungil. juga lengkingan liar itu. "dan sedikit gila. Inge Simone. dan dia sering tidak meminta bayaran. karena di belakang dan di depan kami.. menyiapkan pistol isyarat yang sudah diisi peluru. dan tak terdengar apa pun selain kesepian yang mengiangngiang menakutkan.." Aku memegang erat lengannya. "Ayo." tiba-tiba dia bisa bicara lagi." kataku. "Sekarang ." bisiknya. sedikitnya mereka dua ratus meter dari sini. Aku berpegang erat pada anak muda yang ingin mendorongku dan melarikan diri itu. karena setidaknya aku ingin mendengar suaraku sendiri.

.?" Lalu dengan keras dan sekonyong-konyong aku jatuh di atas tubuhnya oleh hentakan tangan liar yang mengerikan. 93 .. der Schlepper".. Tetapi mataku tidak melihat apa pun lagi kecuali darah. lebih hitam dari pada malam.Aku harus menarik Jak dari lobang itu dan ketika dengan susah payah aku berhasil menariknya. malah masih memberi sesuatu.*** Judul asli: "Jak. dia berbisik pelan: "Tuan.. ingin bersenang-senang. diterjemahkan oleh Dewi Noviami. supaya setidaknya dalam maut masih bisa melihat wajahnya. dan wajah seorang pelacur yang menghadiahkan dirinya tidak untuk apa pun.. sambil berteriak karena rasa takut aku membungkuk padanya.

dan mata itu tajam dan sebentar bergerak-gerak. Tubuhnya agak membongkok manakala dia melihat-lihat buku-buku di dalam rak. dan kemudian beberapa buku. Dan yang mengherankan laki-laki itu adalah. Ketika melihat laki-laki bertubuh kurus jangkung berdiri di pinggir jalan. kemudian meloncat ke pekarangan melalui pagar tanaman. Dan di dalam rak terdapat beberapa buku. perempuan itu membuka jendela dan memandang keluar. bahwa perempuan itu sedang menuding-nuding ke arah sebuah tempat tidur kecil. Laki-laki itu mengangguk mengerti. dengan sebelumnya menyelidik cepat-cepat apakah perbuatannya terintai oleh orang lain. mata perempuan itu bergerak-gerak cepat ke kanan dan ke kiri. Laki-laki bertubuh kurus jangkung itu juga gemetar. perempuan itu menuding ke arah dinding sebelah kanan. Laki-laki bertubuh kurus jangkung memang sudah menantikan saat-saat seperti ini. tapi sangat samar. Dengan tangan gemetar. kemudian gelas. perhatian laki-laki bertubuh kurus jangkung itu masih terlarut ke dalam potret laki-laki di dinding. Di dekat tempat tidur ada pula sebuah kursi. Gelas Itu. mengapa di dekat . Beberapa saat kemudian mereka berdua sudah berada di dalam kamar. terletak di sebuah rak buku kecil. Agak terkejut juga dia ketika dia merasa dijawil. bahwa ketika hari sudah petang dan lampu jalanan mulai dinyalakan. Ketika perempuan itu menjawil tangan kirinya. Dan tahulah dia sekarang. perempuan itu menutup jendela dengan hati-hati. dan judul buku-buku itu tidak mungkin dibaca karena sinar lampu sangat samar. Di bawah potret ada sebuah gelas. Lampu di dalam kamar sudah menyala. melindungi matanya. Alis perempuan itu hitam tebal. Dia mendekati dinding di sebelah kanan. pagar tanaman yang sebetulnya tidak begitu tinggi. Juli 2000 (Edisi 10 Tahun Cerpen Terbaik Horison) Potret Itu.Horison. Ada sebuah meja kecil dengan bunga segar di dekat tempat tidur itu. Pakaian Itu Oleh: Budi Darma 94 Sungguh menakjubkan. Matanya berganti-ganti melihat potret laki-laki itu. Dengan tidak memandang ke arah laki-laki itu.

Jengkal demi jengkal wajahnya menunjukkan keagungan luar biasa. wibawa tinggi." dia. dan derajat sesamanya. laki-laki itu agak terkejut. Dia pasti laki-laki ramah. untuk memberikan kesempatan kepadanya guna lebih memuliakan cita-citanya dalam mengangkat harkat. ketika melihat pakaian di sebelah dalam almari itu ternyata penuh cipratan darah. apa lagi? Saya yakin dia laki-laki gagah. Setelah perempuan itu menutup almari dan laki-laki itu duduk dekat tempat-tidur. Heran. laki-laki itu sudah ditarik oleh perempuan itu untuk mendekati sebuah almari. "Saya tidak pernah melihat laki-laki seagung itu. apa lagi? Tentu saja saya mengagumi menakjubkan.tempat tidur tidak ada potret seorang laki-laki. kendatipun nampaknya tubuhnya hanyalah kurus jangkung. Dan ketika perempuan itu membuka almari. martabat. Maka berbicaralah dia asal berbicara." "Apa lagi?" "Apa lagi? Ya. Sungguh agung dia. terasalah bau enak menebar di dalam kamar remang-remang itu. Laki-laki itu terus diam ketika perempuan itu mengudal-udal beberapa pakaian dari dalam almari. apa lagi? Saya kagum pada raut wajahnya. tentunya tanpa mengetahui apa yang dikatakannya: "Tentu saja tidak." Belum sempat bertanya apa-apa. Matanya sungguh 95 . dan mematikan lampu bercahaya lemah itu. Tapi laki-laki itu tidak bertanya." "Hanya itu?" Laki-laki itu kehabisan akal dan kehabisan kata. Dan laki-laki itu tidak terkejut melihat. karena perempuan itu sudah menjelaskan: "Dia tidak mau potretnya dipasang di sini. beberapa pakaian laki-laki di dalam almari. perempuan itu berjalan ke arah tombol listrik. Meskipun demikian. Saya heran mengapa takdir tidak memberinya umur panjang. Saya mengaguminya. Saya heran mengapa laki-laki semulia ini bisa mati terganyang kanker." "Apa lagi?" "Apa lagi? Ya. Alangkah senangnya kau menjadi istrinya." "Apa lagi?" "Apa lagi? Ya. "Apakah yang tadi kau lihat pada potret yang tergantung di dinding itu?" tanya perempuan itu. misalnya saja potret laki-laki yang tergantung di dinding sebelah kiri. Dia pasti mempunyai wibawa besar. Dan segeralah perempuan itu mengguyurkan minyak wangi dengan khidmat dan hormat ke pakaian itu.

Nabi Yusuf tidak suka merayu. selalu saya usap-usap mulut gelas itu dengan pinggiran mulut saya."Siapa yang mengatakan dia dihabisi kanker?" Laki-laki itu diam. sementara dia suka merayu. Dan kemudian perempuan itu bercerita mengenai gelas itu lagi. yang mungkin telah disampaikan oleh laki-laki mencurigakan itu. Sering mulut gelas itu saya lumat-lumat dengan bibir saya seperti pada waktu saya melumat-lumat bibirnya. Dia bercerita mengenai perempuan-perempuan dan dengan sangat terbuka. "Laki-laki itulah yang saya cintai. laki-laki mencurigakan selalu menghadangnya di dekat pintu dengan menggumamkan suara tidak jelas. tidak seorang pun tahu. Dia ingat. kemudian berjalan bergegas dan menyelinap di antara sekian banyak orang. seperti dia sendiri dahulu sering mengagumi payudara saya." kata perempuan itu lagi. kemudian mengawasinya dengan pandangan tidak enak. dia dipotret sekitar tiga bulan lalu. segemar dia membuka-buka lembar demi lembar pakaian yang saya kenakan. Dan setiap laki-laki itu akan meninggalkan kantor. Bekas-bekas bibirnya masih ada di situ. Hanya dialah yang sering membisikkan kata-kata aneh ke payudara saya segera setelah dia menjelek-jelekkan sekian banyak perempuan lain. dengan nada sangat melecehkan mereka." kata perempuan itu. Begitu gemar dia membuka-bukanya." Laki-laki itu diam. Ketika dia menanyakan kepada sekretarisnya. mungkin dia jauh lebih agung dan jauh lebih mengagumkan dibanding dengan Nabi Yusuf. Dan karena itu pulalah gelas peninggalannya saya taruh di bawah potretnya. dialah laki-laki yang saya cintai. beberapa bawahannya. di Balai Wartawan ketika diadakan pertemuan antara beberapa pedagang dengan wartawan. yaitu merayu 96 . Dan setiap kali saya merindukannya. "Dari sekian banyak laki-laki yang saya kenal. Dan karena dia harus menemui beberapa temannya.laki itu hanya tahu bahwa sudah beberapa hari ini ada seorang laki-laki mencurigakan secara berkala mengitari kantornya. laki-laki mencurigakan selalu menghadangnya dekat pintu. Akhirnya laki-laki itu tahu. Ketika laki-laki itu berusaha menemui anak perempuan itu. Laki. "Rupanya laki-laki lain yang pernah saya kenal tidak begitu menyukai payudara saya. Ingat. Dan buku-buku dalam rak itu adalah buku-buku kegemarannya. Setiap kali dia ke sini selalu dia membuka-buka halaman-halaman buku itu. pertemuan dinyatakan bubar. mengenai buku-buku itu lagi. laki-laki mencurigakan selalu memandanginya dengan sikap tertegun. dan akhirnya mengenai payudaranya. pada suatu malam dia melihat seorang anak perempuan kecil memotret dirinya. Dia selalu minum dari gelas itu setiap kali dia datang ke sini. Bagi saya. Dia tidak tahu mengapa sekonyong-konyong siang tadi dia menemukan sebuah surat tergeletak di meja kerjanya di kantor. Surat itulah. perempuan beralis hitam tebal dan bermata tajam serta anak perempuan itu terlepas dari tangannya. yang telah mengantarkannya ke rumah perempuan beralis hitam tebal dan bermata tajam. Dan setiap kali pandangan mata mereka bertemu. Betul yang kau katakan tadi. Setiap kali laki-laki itu akan masuk kantor. dia laki-laki mengagumkan. dan tentu saja tubuh saya dengan tubuh mereka. sangat mengagumkan. dan juga beberapa pesuruh siapa gerangan yang menaruhkan surat itu di atas mejanya. Senang sekali dia membandingbandingkan payudara saya dengan payudara mereka. Begitu cepat anak perempuan itu memotretnya. Kalau tidak keliru. Dan sering juga mulut gelas itu saya gosok-gosokkan ke payudara saya. "Karena itulah potretnya saya pasang di situ. bahwa anak perempuan itu datang bersama seorang perempuan beralis hitam tebal dan bermata tajam. Kemudian dia sering melihat laki-laki mencurigakan berseliweran tidak jauh dari jendela kaca yang memisahkan kantornya dengan kebun kacang. dan tentu saja dengan nada mengagung-agungkan saya.

sekian banyak perempuan, sampai akhirnya dia jatuh di hadapan saya, menjilati kaki saya. Setiap kali didekati perempuan, Nabi Yusuf selalu mengingatkan perempuan yang mendekatinya dan juga dirinya sendiri akan masa depan manusia, apabila manusia telah mati kelak. Ketika seorang perempuan berusaha merayunya dan mengatakan bahwa rambut Nabi Yusuf sangat indah, berkatalah Nabi Yusuf, 'Rambut inilah yang pertama kali akan berhamburan dari tubuh saya setelah nyawa saya meloncat dari tubuh saya.' Dan ketika seorang perempuan merayunya lagi, berkatalah Nabi Yusuf, 'Kelak tanah akan melumatkan wajah saya.' Laki-laki yang potretnya di sana itu sangat berbeda. Dia selalu melihat ke depan, tanpa mau mengerti bahwa pada suatu saat maut akan menjemputnya. Dia selalu membisikkan kata-kata indah mengenai kegunaan dan kenikmatan hidup. Tanpa pernah mengatakannya, dia selalu berpikir untuk memanfaatkan detik demi detik untuk berjasa, memberi kenikmatan bagi orang lain, dan juga bagi dirinya sendiri. Sering dia bercerita mengenai mimpi-mimpi indah, seperti misalnya memperluas usaha-usaha dagangannya kalau perlu dengan menaklukkan musuh-musuhnya, kemudian membangun rumah-rumah yatim piatu, mendirikan sekolah-sekolah, membantu rumah sakit-rumah sakit, dan entah apa lagi. Dia sangat suka membantu orang-orang papa dan orang-orang yang ingin maju, tapi sekaligus sangat membenci orang-orang malas dan tidak mempunyai otak. Dalam keadaan lelah dia mendatangi saya, untuk menikmati tubuh saya dan sekaligus menghidangkan kenikmatan bagi saya. Dia datang untuk mencari gairah hidup, agar dia menjadi lebih segar, lebih bersemangat, dan lebih mampu beribadah dalam bentuk kerja keras. Setiap inci tubuhnya adalah pertanda keagungannya, demikian pula setiap dengan nafasnya." "Dan manakah anak perempuan yang memotret dahulu?" "Ciumlah tangan saya sebelum saya menjawab pertanyaanmu." Belum selesai dia mencium tangan kanan perempuan itu, perempuan itu sudah menyodorkan tangan kirinya. "Ulangilah pertanyaanmu tadi." "Manakah anak perempuan yang memotret dahulu?" "Anak perempuan? Maaf, saya tidak tahu ke arah mana pembicaraanmu. Andaikata kau bermaksud untuk menanyakan apakah saya mempunyai anak perempuan, saya dapat menjawab bahwa saya tidak mempunyai anak perempuan. Ketahuilah anak perempuan suka rewel, demikianlah kata laki-laki yang saya cintai. Dan andaikata saya mempunyai anak, saya tidak akan mengijinkannya memotret." "Mengapa?" "Menurut laki-laki yang saya cintai itu, memotret hanyalah menghabiskan uang. Setiap orang harus berhemat. Dan mungkin karena itu pulalah dia tidak suka anak perempuan, sebab dia sering mengatakan bahwa anak perempuan hanya memboroskan saja. Dia juga tidak suka potret, karena potret hanyalah menghabiskan uang." "Benarkah laki-laki seagung itu mempunyai jalan pikiran demikian?"

97

"Memang saya sering menemui kesulitan dalam mengorek apa yang sebenarnya berkelebat di dalam nuraninya. Sering kata-katanya melompat demikian saja dari puncak otaknya, sementara kelebat hati nuraninya yang sesungguhnya tidak terucapkannya. Saya sendiri yakin dia sama sekali tidak pelit. Dia pasti menyimpan rahasia mengapa dia tidak menyukai anak perempuan. Dan saya pernah berhasil mengoreknya, ketika dia mengigau dalam tidurnya. Meskipun demikian, kata-katanya hanyalah pendek dan tidak jelas, sehingga sulit bagi saya untuk menafsirkannya. Tapi saya tahu, dia berhati agung. Bagi dia, laki-laki tidak bisa bebas dari perempuan, dan perempuan pada dasarnya adalah beban. Eva sengaja diciptakan Tuhan untuk menemani Adam, tapi sekaligus untuk melancarkan wahyu-wahyu setan. Istri paman Nabi Muhammad, Ummu Jamil namanya, justru akan mencelakakan keponakan suaminya sendiri. Siapa yang akan mencelakakan Nabi Nuh, tidak lain dan tidak bukan adalah istrinya sendiri. Negeri Sodom juga hancur lebur, setelah istri Nabi Luth, nabi yang dipercaya oleh Tuhan untuk menegakkan ketaqwaan di negeri itu, mengkhianati suaminya habis-habisan. Adalah pula Siti Qodariah, seorang wanita, yang berusaha mencelakakan Nabi Yusuf setelah usahanya untuk menikmati keindahan tubuh Nabi Yusuf gagal. Belasan tahun perang di Troya adalah juga perang untuk memperebutkan perempuan. Laki-laki sudah ditakdirkan untuk tidak mampu mengalahkan nafsunya sendiri, dan perempuan terlanjur sudah diciptakan untuk memperbudak nafsu laki-laki." Belum sempat laki-laki itu bertanya, perempuan itu menyuruhnya berjongkok di lantai dan menjilati kakinya. "Setiap laki-laki harus menjilati kaki saya," katanya. Setelah selesai menjilati seluruh bagian tubuh perempuan itu dan setelah selesai mengucapkan selamat tinggal, laki-laki itu keluar lewat pintu, dan pintu itu segera ditutup dari dalam, kemudian laki-laki itu meloncat keluar melalui pagar tanaman. Laki-laki itu merasa bahwa malam telah larut benar. Ketika memasuki sebuah gang, dia berjalan agak sempoyongan. Bau wangi tubuh perempuan yang baru saja ditinggalkannya masih melekat pada seluruh bagian tubuhnya sendiri. Dan keringat dari celah-celah kulitnya terasa begitu asing, karena yang tercium olehnya adalah keringat perempuan itu. Heran benar laki-laki itu, mengapa tadi dia tidak menanyakan siapa nama perempuan itu. Hapal-hapal ingat kalau tidak salah perempuan itu menamakan dirinya Maemunnah. Atau mungkin Robinggah. Mungkin juga dia Jurbbah. Bukankah dia Immlah? Ya, pokoknya pakai "ah", entah itu Siffiah, entah Monissah, atau Markammah. Dia ingat, perempuan itu tidak pernah menyebut-nyebut nama laki-laki yang potretnya tergantung di dinding. Dan laki-laki yang potretnya tergantung di dinding itu bukanlah suami perempuan itu. Laki-laki itu hanya kadang-kadang datang ke sana untuk menyibuknyibukkan dirinya. Ini sudah berlangsung selama beberapa tahun, ujar perempuan itu. Ketika laki-laki itu menanyakan siapa yang membuat potret di dinding itu, perempuan itu hanya menceritakan bahwa pada suatu hari dalam sebuah musim kemarau panjang ada seorang anak perempuan mengantarkan bingkisan besar ke rumahnya, dan ternyata bingkisan itu adalah potret itu. Anak perempuan itu sama sekali tidak pernah datang ke sana lagi.

98

Laki-laki itu terus berjalan tergontai-gontai. Ketika seekor kucing hitam melintas di gang dan memotong jalannya, dia tidak menahan langkahnya. Kucing itu pun tidak perduli bahwa dia sedang berpapasan dengan seorang laki-laki. Tetapi, ketika ku-cing itu melompat ke tempat agak tinggi dan menyorotkan matanya ke arah laki-laki itu, laki-laki itu merasa keringatnya keluar lebih deras. Dan keringat itu rasanya bukan keringatnya sendiri, karena baunya sama benar dengan bau keringat perempuan tadi. Sementara rasa hausnya memuncak sampai ke ubun-ubun kerongkongannya, laki-laki itu terus berjalan. Kata perempuan tadi, setiap kali laki-laki itu minta minum karena merasa haus. Dan setiap kali akan pulang, pasti laki-laki itu minta minum lagi untuk meninggalkan bekas bibir pada mulut gelas. Dan gelas itu masih tergeletak di rak buku. Tiba-tiba laki-laki itu merasa salah jalan. Ketika masih berada di jalan besar tadi, seharusnya dia berjalan terus, kemudian membelok ke kiri. Ternyata tadi dia membelok ke kanan sebelum waktunya. Dia membelok ke kiri. Setelah tertegun sejenak, dia memutuskan untuk kembali menyusuri gang, dan untuk kemudian memasuki jalan yang benar. Laki-laki itu masih berdiri tertegun ketika seekor kucing hitam kecil meloncat dari dinding di atas sana, lalu lari cepat memintasi jalannya. Ternyata kucing itu lari ke sebuah lorong di sebelah kanan. Dan ketika laki-laki itu melihat ke arah lorong, nampaklah olehnya sebuah lampu kecil, menerangi sesuatu yang tidak asing baginya, yaitu sumur. Mengapa dia tidak ke sana sebentar, menimba, dan minum? "Maka berjalanlah dia agar cepat menuju ke sumur. Namun, sebelum dia benar-benar dekat dengan sumur, seorang laki-laki menegor dia. "Mengapa malam-malam begini kamu berada di sini?" Dengan cepat dia mengenal siapa laki-laki itu: kedua matanya bulat seperti mata burung hantu, lehernya kurus panjang dengan buah kuldi mendongkol dan selalu naik turun, sementara urat-urat tangannya membengkak menutupi kedua tangannya, dan tangantangan itu benar-benar kurus. Dialah laki-laki mencurigakan, dan dialah yang selalu mengawasinya di kantor. "Mengapa malam-malam begini kamu berada di sini?" tanya laki-laki mencurigakan sekali lagi. Dia tidak dapat menjawab. Matanya menangkap buah kuldi laki-laki mencurigakan, dan ingatannya melompat ke payudara perempuan tadi. Benar-benar payudara perempuan tadi memberinya kenikmatan, dan benar-benar buah kuldi laki-laki mencurigakan itu memuakkan. Dia seolah-olah melihat Adam, pada waktu mata Adam mendelik karena buah terlarang yang dimakannya menyangkut di kerongkongannya. Tiba-tiba dia merasa sedang berhadapan dengan iblis. Adam di hadapannya adalah iblis, demikian juga perempuan tadi. Payudara perempuan tadi, tidak lain adalah buah terlarang yang terlanjur tersangkut, kemudian menawarkan kenikmatan dan sekaligus tindak-tindak maksiat. Rasa haus makin menggorok kerongkongannya. Dan ketika dia mengelus-elus kerongkongannya sendiri, sadarlah dia bahwa buah kuldinya sangat besar, naik turun, dan sangat menjijikkan. Tiba-tiba dia sadar, bahwa dia sendiri dan perempuan tadi tidak lain dan tidak bukan adalah sepasang iblis juga. Dan dia merasa benci terhadap perempuan itu, karena tadi dia tidak diijinkannya minum, karena, katanya, dia tidak mempunyai gelas lain

99

kecuali gelas di atas rak buku itu. Dan gelas itu, katanya lebih lanjut, hanyalah untuk menghidupkan kenang-kenangan. Ketika laki-laki mencurigakan menegurnya lagi, dia terus berjalan ke arah sumur. Dan tepat ketika dia memegang tali timba, laki-laki mencurigakan berkata: "Minumlah sepuas-puasmu, kalau perlu sampai meletus perutmu, karena sumur ini adalah milik saya." Dia melemparkan timba ke dalam sumur, dan ternyata sumur sangat dalam. Ketika lakilaki mencurigakan menceritakan perihal dirinya sendiri, dia sama sekali tidak mendengarkannya. Perlahan-lahan dan hati-hati sekali dia mengulur tali ke bawah, sampai akhirnya timba menyentuh air. Kemudian perlahan-lahan pula dia menarik tali timba ke atas. Laki-laki mencurigakan terus bercerita. Beberapa waktu lalu dia membeli kebun kacang tidak jauh dari kantor laki-laki bertubuh kurus jangkung. Setelah melalui beberapa perkelahian, barulah pemilik lama mau menyerahkan kebun kacang itu meskipun uangnya telah lama diterima sebelumnya. Belum lama laki-laki mencurigakan itu berhasil memiliki tanah miliknya sendiri, terdengar berita bahwa kebun kacang itu akan dicaplok oleh laki-laki bertubuh kurus jangkung untuk perluasan kantornya. Laki-laki mencurigakan ini belum mau percaya, dan karena itu berusaha mencari penjelasan. Setiap kali dia mendekati kantor untuk mencari kabar, selalu dia diolok-olok oleh orang-orang kantor itu. Selesailah sudah laki-laki bertubuh kurus jangkung minum. Tubuhnya merasa agak segar, namun tidak satu kata pun dari laki-laki mencurigakan ini yang masuk ke telinganya. Dia hanya berpikir, alangkah enaknya seandainya tadi dia diijinkan minum dari gelas di atas rak buku, sebab, setiap kali perempuan itu merindukannya, pastilah bekas bibirnya akan dijilat-jilat. Masih sempat dia melihat laki-laki mencurigakan, sebelum dia melangkah untuk kembali ke gang tadi. Dia merasa benar-benar jijik melihat laki-laki mencurigakan. Mata laki-laki mencurigakan itu, bulat dan besar, menyembunyikan kelicikan tanpa tara. Leher laki-laki mencurigakan itu, yaitu leher yang panjang, mengingatkannya pada leher burung onta yang diracunnya sewaktu dia berjalan-jalan di kebun binatang. Dan buah kuldi itu, bagaikan buah kuldinya sendiri, adalah pertanda dosa Adam, yaitu dosa yang menurunkan siksa bagi manusia entah sampai kapan. Ingin sekali dia cepat-cepat meninggalkan laki-laki mencurigakan. Namun, belum sempat dia melangkahkan kakinya lebih lanjut, laki-laki mencurigakan berlari-lari kecil ke arahnya, kemudian menghadangnya. Rasa jijiknya makin meledak. Sambil berusaha keras mengibaskan rasa jijiknya, dia mengambil jalan ke samping kiri. Dia mempercepat langkah, tapi terpaksa terhenti ketika sekonyong-konyong terasa punggungnya patah. Ketika laki-laki mencurigakan berdiri di hadapannya lagi, dia terpaksa membongkokkan tubuhnya ke depan, karena terasa olehnya bahwa tubuhnya akan patah menjadi dua bagian. Ketika akhirnya rebah ke tanah, masih sempat dia membalik tubuhnya, dan melihat ke arah bulan. Memang bulan masih tetap di sana, di langit sana. Laki-laki mencurigakan membongkok, sementara dia merasa makin jijik. Dia ingin muntah. Memang akhirnya dia muntah, tapi yang dimuntahkannya adalah darah.

100

masalah kebun kacang hanyalah masalah permukaan. Ketahuilah. laki-laki mencurigakan menggumam: "Ketahuilah. Sudah semenjak pertama kali saya melihat kamu." Bulan tetap berputar-putar di atas sana. sekali lagi. Saya hanya menikmati satu hal. sesama iblis belum tentu bisa bersekutu." Dia menggumam dengan kesadaran penuh. Bagi musuh-musuh saya segala macam perkelahian sebenarnya juga bukan apa-apa. Perkelahian dengan pemilik lama mengenai kebun kacang juga bukan masalah berat. tentu saja dengan persiapan cermat agar saya menang. saya yakin bahwa iblis di dalam jiwamu jauh lebih kuat daripada jiwa iblis kebanggaan saya. laki-laki itu masih sempat mengingat beberapa katakata perempuan tadi: "Laki-laki yang saya cintai itu tidak mati karena kanker seperti yang sering dipergunjingkan. pasti saya bertindak terlebih dahulu. Dan saya bangga akan jiwa iblis saya. Sesama iblis bisa saling mengganyang.Dengan tenang. Dia mati dibunuh dekat sumur tidak berapa jauh dari sini. Dan setiap kali merasa takut. Juli 1990) . Kamu pun sebenarnya iblis. Memang saya sering berkelahi.*** 101 (Dimuat dalam Horison. Benar-benar saya merasa takut terhadap kamu. tapi perkelahian-perkelahian itu. bahwa laki-laki itu sudah tidak mungkin lagi mendengarnya. yaitu kenyataan bahwa saya menyimpan jiwa iblis. Saya selalu menyimpan pakaiannya yang berlumuran darah. Meskipun demikian. bukan apa-apa bagi saya.

Ya. Aku melihat saat Geuchik Harun diikat pada sebuah pohon dan ditembak berulangkali. wajah dan badanku terkena serpihan tanah merah. Aku melihat semua itu! Ya. semuanya. Ngeri? Oi. tetapi langkahku makin kupercepat. Aku merangkak dan maju perlahan. Sedikit pun tak kuhiraukan bau bangkai manusia yang menyengat hidung.orang ditembak di atas sebuah truk kuning. Seperti juga hidup itu. Dalam remang malam. Dadaku telah amat sesak. aku melihat tiga sampai tujuh mayat sehari mengambang di sungai dekat rumahku! Aku juga pernah melihat Yunus Burong ditebas lehernya dan kepalanya dipertontonkan pada penduduk desa. Bukan. Jangan menangis lagi. dan pergi sambil menyeret potongan mayat manusia. lebih baik meniru anjing-anjing itu. Keringatku mengucur deras. kulihat dua ekor anjing hutan mengorek-ngorek sesuatu. Lolong anjing malam bersahut-sahutan. kutarik napas panjang. selalu saja marah bila mendengar jawabanku: Hidup adalah cabikan luka. Dengan tangan kosong kuraup gundukan tanah merah di hadapanku. Darah mereka muncrat ke mana-mana. “Ugh!” Aku tersandung gundukan tanah. menuju Buket Tangkurak. Serpihan tanpa makna. Hari-hari yang meranggas lara. sebelum rumah dan suaminya dibakar. Ffffffhuuih. Mereka menatapku seolah aku akan berteriak kengerian. diperkosa beramai-ramai. Perih. Juga saat mereka membantai … keluargaku. Aku melihat tetang–gaku Rohani ditelanjangi. seiring darah yang terus menetes dari kedua kakiku. bukan pada rembulan yang mengikutiku saat ini atau pada gugusan bintang yang mengintai pedih dalam liang-liang diri. Inong! Kering airmatamu nanti. sebab aku hanya bisa memendam amarah. Aku melihat orang. Terus tanpa henti kugunakan kedua cakar tangan ini. Aku tersaruk-saruk berjalan sepanjang tiga kilometer dari Seurueke. Tetapi karena aku tinggal sebatas luka. Dan kini hari telah semakin gelap. temanku.Jaring-jaring Merah Oleh: Helvy Tiana Rosa Apakah kehidupan itu? Cut Dini. tahukah anjing-anjing buduk itu. Meski lelah. 102 . tanpa alasan. Airmataku berderai-derai. bebukitan penuh belukar dan pepohonan ini.

sudahlah. Hangat. Aku menggali. di antara suara serangga malam. juga sangat muda. Ah. Cahaya mentari masuk dari celah-celah bilik. yang beberapa waktu lalu digiring ke bukit ini.” kata yang ketiga.” Aku menggeliat.Tiba-tiba tanganku meraba sesuatu. Tak tahukah mereka bahwa aku tak menyanyi sendiri? Aku bernyanyi bersama bulan. Kami menyanyi. dulu ia cantik…. Mereka menuju ke arahku! Aku harus menyanyi. “Dari mana. “Aku cuma jalan-jalan. Aku tidak mengganggu orang. Hanya tertawa dan menangis. Ya. kupingku mendengar langkah-langkah orang. Kudekatkan benda dingin itu ke mukaku. ” Aku pura-pura tidak mendengar perkataan si loreng-loreng itu. di mana? Di mana tangan kurus Mak? Mana jari manis dengan cincin khas itu? Juga cincin tembaga berbatu hijau dan arloji tua yang dikenakan ayah saat orangorang bersenjata itu membawanya dalam keadaan luka parah. Inong? Aku mencarimu seharian.” Kutatap seraut wajah dalam kherudoung putih di hadapanku. kami menari bungong jeumpa. Tulang. “Perempuan gila itu!” suara seseorang gusar. Aku bangkit. Ah. Hingga aku semakin lemas dan akhirnya kembali terisak pilu. terus menggali. Bersama bayangan Ayah. Banyak tulang. mencoba duduk. Di mana? Di mana tangantangan mereka? Di mana tulang-tulang mereka di tanam? Di mana wajah tampan Hamzah? Yang mana tengkoraknya? Sekujur tubuhku gemetar menahan buncahan duka. Mereka gila karena mengira aku gila. “Ya. melintas di depan rumah dengan sepedanya. saat Hamzah yang telah meminangku. Lalu aku tersenyum malu. awan dan udara malam.” ujar yang lain. aku di rumah. Dahulu. Cakarku terus menggali. “Sayang. biarkan saja. Tangannya lembut membelai kepalaku. Bersama desir angin. Cut Dini. Ya. lalu remah-remah daging manusia. Mak. Sepatu-sepatu lars yang menginjak ranting dan daun kering. . menyanyi nyaring." jawabku sekenanya. Ah. dahulu…. Meratapi orang-orang yang kukasihi. dengan iringan dawai kepedihan dari sanubari sendiri. Ma’e dan Agam. burung hantu dan lolong anjing hutan. Sssssssttt! Tiba-tiba. “Ia tak berbahaya. ya. di mana aku? Dipan ini penuh kutu busuk. *** 103 “Inong…. Berarti…. Kutemukan beberapa tengkorak. Ureung-ureung menemukanmu di tepi jalan ke Buket Tangkurak. subuh tadi.

“Aku ingin memakainya. dasar orang. Kau sangat terpukul. Sampai aku bertemu Cut Dini dan bisa menjadi burung. “Baju yang koyak itu jangan dipakai lagi. Ia memberiku makan. Kupandang baju ungu muda yang kupakai. Aku mengangguk-angguk. tetapi jangan pergi ke bukit itu atau bahkan ke rumoh geudong lagi. kecuali semua yang bernama kepahitan. Kau tak akan mengganggu siapa pun…. mengajakku ke dokter. Berbahaya.” kata Cut Dini sambil memberiku minum. Tetapi tetap saja aku senang berteriak-teriak. “Aku suka. “Kau sakit. Kau anak baik. Aku belum begitu lama mengenalnya. Aku suka membantah orang.” kataku pendek. atau sekedar jalan-jalan. “Apa aku gila?” tanyaku. Kugaruk-garuk kepalaku. Aku tak bisa bangkit. Lalu dengan cekatan membungkus baju itu dengan koran. Sebenarnya aku tak tahu banyak tentang Cut Dini. Terus mengangguk-angguk.” 104 . di belakang…. Lagi pula kau seorang muslimah. Sekuat tenaga kucoba untuk muncul. Matanya pun selalu menatapku penuh pancaran kasih. Dan … cuma dia. sambil menggoyang-goyangkan kedua kakiku.” katanya pelan. Cut Dini juga yang mengingatkanku untuk mandi dan makan.” lirihku. “Ini baju yang dijahitkan Mak.” ujar Cut Dini. Tidak baik pergi sendirian.” kuteguk minuman itu. bahkan menyentuh apa pun. ketiaknya juga. menggapai-gapai permukaan. aku seperti terperosok dalam kubangan lumpur yang dalam. di antara para tetangga. Cut Dini menatap bola mataku dalam. bahkan ada sisa-sisa darah kering di sana. “Sudahlah. Nanti orang-orang itu bisa menyakitimu lagi. yang sudi berteman denganku. Menggaruk-garuk kepalaku. tetapi tidak Cut Dini. Tangannya koyak. Aku memakainya ketika orang-orang jahat itu datang. Hingga suatu hari orang-orang desa akan memasungku. Lalu di dekat perut. Aku melempari atau memukul orangorang yang lewat. menceritakan banyak hal. memperhatikanku. Orang-orang bilang ia anggota … apa itu … LSM? Juga aktivis masjid.orang gila! Cut Dini-lah yang melarang. Ia menyisir rambutku. Aku senang sekali. ke pengajian. Dulu. Ia sangat peduli.” kata Cut Dini suatu ketika. Aku kembali merebahkan badan di atas dipan. Aku memakan dan meminum nyeri setiap hari. Cut Dini.” “Itu baju yang tak pantas dilihat. Segalanya terasa lebih ringan.“Aku tahu. Namun tiada tepi. Ia kembali ke Aceh setelah tamat kuliah di Jakarta. Kata mereka aku gila! Hah. “Therimoung… ghaseh…. “Menurutmu?” Aku menggeleng kuat-kuat. setelah keluargaku dibantai dan aku dicemari beramai-ramai. Kulihat ia menggigit bibirnya sesaat.

Lupakan saja gadis gila itu. banyak yang terpaksa menjadi cuak. Hua…ha…ha. mayat-mayat yang berserakan di Buket Tangkurak. Tetapi sekarang semua usai. “Siapa kalian?” tiba-tiba kudengar suara Cut Dini bergetar. Cot Panglima. Jembatan Kuning.” . Kulihat wajahnya marah. ambil saja uang ini buat anda. Suaranya kadang berubah. Huh.” Aku nyengir. *** 105 Siang itu aku sedang menjadi burung.Lalu seperti biasanya Cut Dini mengambil Al.” “Sudahlah. Ia atau bisa saja anda sebagai walinya menandatangani kertas bermaterai ini. “Kami orang baik-baik. Aku terbang dan hinggap pada meja kusam di samping rumah. Tak ada tempat bagi orang seperti kalian di sini. Aku terbang tinggi dan kadang menukik seketika. “Kami hanya menindak para GPK.Quran mungilnya dan membacanya dengan syahdu. lebih lekat dari jendela. keji that! Tidak!” Kedua orang itu tampak gugup dan sesaat saling berpandangan. Kami menjaga keamanan masyarakat. semuanya busuk. memata-matai dan menganggap teman sendiri sebagai pengikut Hasan Tiro dari Gerakan Aceh Merdeka. “Kenyataannya masyarakat takut pada siapa? Dulu. “Tidak!! Bagaimana dengan pemerkosaan dan penyiksaan selama ini. aku tertawa gelak-gelak. Bagaimana kalau kucuri saja topi-topi merah si loreng dan kubakar. Ah. Lima ratus ribu? Horeeee! Apa bisa buat beli sayap? “Kami minta ia tidak mengatakan apa pun pada orang asing.” “Oh ya?” Nada Cut Dini sinis. meski tak mengerti. “Lalu perkampungan tiga ribu janda. anak-anak yatim yang terlantar….” Cut Dini membaca kertas itu. Sungai Tamiang. Dua lelaki tegap dengan rambut cepak menyodorkan sesuatu pada Cut Dini. Hutan Krueng Campli…dan di mana-mana!” suara Cut Dini meninggi. lalu mengintip ke dalam lewat jendela yang rapuh. Aku seperti mendengar Hamzah mengaji —lewat pengeras suara— di musala. Ini daerah operasi militer. di ruang tamu yang merangkap kamar tidurku. penjagalan di rumoh geudong. Aku jadi ingin marah. aku ingin menangis setiap mendengar bacaan Al-Quran. Aku hinggap di ranting-ranting pohon belakang dan mematuki buah-buah di sana. Kami hanya ingin memberikan sumbangan sebesar lima ratus ribu rupiah pada Inong. Mengapa? Kugerak-gerakkan kepalaku menatap mimiknya.

Orang-orang itu kini hanya titik di kejauhan.” suara Cut Dini. Dari kejauhan kulihat api berkobar.” tukasku. tetap lembut. Kalian sama dengan warga Mane… bekerjasama dengan GPK!” suaranya lagi. Mereka tak mampu membela kami. Ayah berjalan ke arah pintu diikuti Mak. “Dulu aku shalat bersama keluargaku. Kulempar mereka dengan apa pun yang kutemui di meja dan di lantai. Lalu Ma’e dan Agam. beberapa tangan kekar merobek-robek bajuku! Aku meronta-ronta. sebelum aku bisa jadi burung. Kudengar Ayah tak putus berdzikir. tiba-tiba saja Ayah diseret ke luar. Kurasa ia seorang pemimpin. “Ini pelajaran bagi anggota GPK!” teriak seorang lelaki berseragam. “Zakaria dan keluarganya membantu anak buah Hasan Tiro sejak lama!” Warga desa menunduk. juga Agam dan Ma’e! Beberapa orang mengangkat Mak dan membawanya pergi! Sebelum aku berteriak. Mereka berteriak-teriak seperti anak kecil dan berebutan ke luar rumah. bila ingin shalat seperti manusia. Aku berlari ke dapur. Ada apa? Pintu rumah kami digedor-gedor.” kata Cut Dini tersenyum. Zakariaaa! Keluar! Atau kami bakar rumah ini!!” Aku terbangun dan mengucek kedua mataku. Pasti itu ayah orang yang memperkosaku! Pasti ia teman para pembunuh itu! Pasti mereka orang-orang gila yang suka menakut-nakuti orang! Paling tidak mereka cuak! Aku benci cuak! “Inong….Apa? Gadis gila?? Kukepakkan sayapku dan menukik ke arah dua lelaki itu. Dzikir itu lebih mirip jeritan yang menyayat hati. Puluhan orang ini telah membakar beberapa rumah! “Jangan ada yang menunduk!” Aku gemetar mendengar bentakan itu. Ketika pintu dibuka. “Masya Allah. dan kembali menimpuki mereka dengan panci dan penggorengan. 106 *** “Keluar. Aku berhenti jadi burung ajaib.” Aku berhenti melempar. “Ayo lihat mereka. abang dan adikku. nanti perabotan itu rusak. “Benahi yang rapi lagi. ya. “Mengapa aku tak pernah diajak salat?” protesku.” katanya. Ulon hana teupheu sapheu!” . “Kami bukan GPK!”suara Ma’e. Aku mau shalat lohor dulu. “Jangan menjadi burung.

Aku jatuh lagi. Inong! Tegar! La hawla wala quwwata illa bi 'l-Lah….” Tangan-tangan raksasa itu mengayun-ayunkan jaring. saat tak lama kemudian. “Astaghfirullah. itu suara Hamzah! “Angkut orang yang bicara itu!” Aku melihat Hamzah dipukul bertubi-tubi hingga limbung. menggigit. Wajah-wajah dalam jaring pias. tetapi aku tak bisa bangun. “Siapa lagi yang mau membela?”tantang lelaki penyiksa itu pongah. Pusing. hingga aku letih sendiri. Di mana sayapku? Aku ingin terbang dari sini! Oiiii. “Allah tak akan membiarkan mereka. Serentetan tembakan segera menghunjam tubuh Geuchik Harun.“Lepaskan mereka. Tak jauh. Airmataku menganak sungai. Kalian salah sasaran!” Ya Allah. Aku dan kumpulan manusia di sini berjatuhan ke sana ke mari. Sebuah pelukan yang sangat erat kurasakan. menendang. “Pak Zakaria hanya seorang muadzin. sebab aku berada di dalam jaring! Banyak orang sepertiku di sini. Wajah-wajah itu retak. bangun!”dua tangan menggoncang-goncang badanku. Kami tak bisa keluar dari sini! Tolong! Toloooooong! Di mana sayapku? Di mana? Di mana tangan Mak dengan cincin khas di jari manisnya? Aku ingin menggenggamnya.” Samar-samar kulihat kepala desa kami itu diikat pada sebatang pohon. Jiibandum ureung biasa. mereka memang bukan orang jahat. “Kami tidak membela. lalu Ayah yang berlumuran darah! Tangan-tangan kekar menyeret mereka ke arah truk. Peristiwa empat tahun lalu dan rezim ini. Merah. di dalam jaring-jaring merah ini. Agam dan Ma’e? Di mana wajah saleh milik Hamzah? Di mana tengkoraknya? Tangan-tangan raksasa itu menggerakkan jaring ke sana ke mari. kulihat Agam tersungkur dan tak bergerak lagi. nyeri yang amat sangat merejam-rejam tubuhku! “Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!”aku berteriak sekuat-kuatnya. Lalu airmata seseorang yang menetes-netes dan bercampur dengan aliran air di pipiku. Inong! Inong. tolong ambilkan sayapku! Aku ingin pindah ke awan! Di tanah kebanggaanku hanya tersisa nestapa!! Tak ada yang mendengar. istighfar…. “Inong. terkelupas dan berdarah. lalu…ia diinjak-injak! Dan diseret pergi. Airmataku menderas. Silau. lalu Ma’e abangku! Aku histeris. Aku menjerit-jerit dalam perangkap. Inong! Tak akan! Kau harus sembuh. Di mana Ayah. mencakar. Inong! Semua sudah berlalu. “Bawa mereka ke bukit dekat jalan buntu! Juga gadis itu!” Aku meronta. Dan aku tak ingat apa-apa lagi. Tegar.” 107 . Pedih.” suara Geuchik Harun.

mencari gerak. 5 Agustus 1998. Daftar istilah: Buket Tangkurak : Bukit Tengkorak Geuchik Cuak : Kepala Desa : orang yang jadi mata-mata tentara . Aku mencari bunyi. Aku berteriak. Oknum-oknum itu menjarah segalanya dari perempuan ini!” Takut-takut kuintip lelaki tegap yang sedang menatapku ini. Hah. Di antaranya berseragam. Pak. terasa berputar. 1998 Referensi: . “Pergiiiiiiii!” aku menjerit sekuat-kuatnya. “Ia hanya satu dari ribuan korban kebiadaban itu. Aku menggigil dan mendekap Cut Dini erat-erat. Republika. Bapak sudah lihat sendiri. Ia mengusap airmataku. kulihat beberapa o-rang.Data yang diterbitkan oleh Forum LSM Aceh. . tetapi kaku. .Buletin Kontras no 1/Agustus 1998. Kompas ( semua terbitan Agustus 1998). Cuma luka nganga. tak ada airmata yang mengalir. “Inong…. mereka akan membantu kita…. beri kami keadilan. Sekujur badanku bergetar. Tak ada apa pun. tak ada suara yang keluar. Orang-orang ini tersentak. Tiba-tiba suaraku hilang. Apakah ia membawa jaring-jaring untuk menangkapku lagi? “Pergiiiii! Pergiiii semuaaaa!” teriakku. Aku mengamuk panik. Tibatiba takutku naik lagi ke ubun-ubun. Terbit. Menggelepar.” Aku terkapar kembali.*** 108 Cipayung. mencari bening. Aku menangis tersedu-sedu. "Pergiiiiii!" aku menceracau.Kabur. apa peduliku?! Aku ingin berteriak. menatapku kasihan. Berdarah dalam jaring. mengamuk. Lalu tak jauh di hadapanku. Wajah tulus dengan kerudung putih itu.Gatra. memporakporandakan apa dan siapa pun yang ada di hadapanku! Aku…. Tolong. Samar kulihat Cut Dini.

April 1999) .Ma’e Mak rumoh geudong Mane ureung-ureung that ulon hana teupheu sapheu therimoung ghaseh kherudoung : panggilan untuk Ismail : Mak : rumah gedung (tempat penjagalan) : nama desa di Pidie : orang-orang : sekali : saya hanya orang biasa : terima kasih : kerudung 109 (Dimuat dalam Horison.

dari mana datangnya bau yang membuatnya begitu gelisah? Bau itu semakin mendekat. Aneh sekali. sekedar mendengarkan keputusan orang-orang terdekatnya. kasih sayang. Biasanya dia hanya dijadikan objek. dia merasa menemukan kebenaran yang berbeda dengan kebenaran yang diyakini oleh orang-orang yang selama ini rajin menanamkan kebenaran yang telah menjadi ukuran mereka. Aneh. Dia memerlukan alat-alat pahatnya. “Siapa tadi namamu?” Kopag mulai menenangkan dirinya sendiri. Suara itu dirasakan penuh dengan kejujuran. Hampir saja pisau itu memahat kakinya. Suara itu adalah suara perempuan. “Siapa itu?” “Titiang. dan sangat tulus. Perempuan itu pasti memiliki kecantikan yang melebihi kecantikan sebatang pohon. Seperti bau daundaun kering dan kayu basah.” Suara itu terdengar bergetar. Kopag harus patuh. 110 . perempuan yang dicarinya berabad-abad. Kulit perempuan itu terasa seperti kulit kayu.1 Luh Srenggi. Kopag menggigil ketika bau itu benar-benar menelanjangi wujud laki-lakinya. Baru kali ini Kopag merasakan bisa menikmati hidupnya. tiba-tiba saja dia seperti ditenggelamkan ke lautan. Sekarang Hyang Widhi mengirim untuknya. "Katakan padaku. Apa pun yang dikatakan orangorang di sekitarnya. atau seonggok kayu yang paling sakral sekalipun. Kopag yakin dugaannya ini tidak meleset. Inilah perempuan itu. Kopag semakin gelisah. Luh Srenggi cepat-cepat membantu. Pisaupisau yang runcing terbayang di otaknya. “Luh Srenggi. benarkah suara ini milik seorang perempuan? Ketika Kopag akan mengambil tongkatnya. siapa kau?!” "Titiang yang akan melayani seluruh keperluan Ratu.” “Srenggi? Srenggi siapa?!” Kopag semakin menggigil. Bau itu semakin mendekat dan menyesakkan dadanya. Tangannya jadi lapar. Dia bisa memberikan penilaian yang begitu objektif terhadap benda hidup yang bernama manusia.2 Mulai hari ini dan seterusnya. Seorang perempuan.” Suara itu terdengar gugup. Luar biasa. Tangan mereka bersentuhan. Apa yang terjadi dengan dirinya? Kopag memaki dirinya sendiri. Semua gara-gara dia mencium bau yang aneh dari sudut pintu.Pemahat Abad Oleh: Oka Rusmini Kopag menjatuhkan pisau ukirnya yang runcing. Kali ini.

bisa dibuat sebuah pementasan. Apa yang sesungguhnya salah pada kriteria yang telah diberikan Kopag terhadap perempuan? 111 *** Kehidupan telah memaksa bocah laki-laki itu memakai label Ida Bagus Made Kopag. Laki-laki itu adalah binatang yang paling mengerikan.“Apakah di bumi ini wujud kebenaran itu sudah seragam. aku juga harus memakai kriteria mereka?” “Kebenaran mereka? Aku tidak yakin mereka mampu melihat seluruh keindahan hidup ini dengan benar!” Suara Kopag terdengar penuh tekanan. apakah orang-orang yang memiliki kelengkapan utuh sebagai manusia ketika dilahirkan mampu menangkap seluruh rahasia kehidupan ini? Rahasia yang erat-erat digenggam dan disembunyikan alam? Salahkah kalau tiba-tiba saja Kopag menemukan kecantikan yang luar biasa pada diri Luh Srenggi. Gelar Ida Bagus menunjukkan bahwa dia adalah anak laki-laki dari golongan Brahmana. laki-laki itu memaksa perempuan yang dinikahinya untuk bersetubuh. Belum lagi hutangnya yang tiba-tiba saja menumpuk. sehatkah dia? Bagi ayah Kopag. Apa artinya kekuatan seorang perempuan? Terlebih. Aneh sekali tak ada manusia yang bisa menangkap kecantikannya. Dia bisa mengubah kayu kering menjadi sebuah karya seni yang memikat para intelektual seni rupa. laki-laki itu bisa tidur dengan seluruh perempuan. Menghargai keindahan yang dititipkan alam padanya. Perempuan itu menolak. sejak kecil dia terbiasa dididik menjadi perempuan bangsawan yang menghormati laki-lakinya. Karena tak ada perempuan-perempuan yang bisa dilihatnya dengan matanya. Tubuhnya seperti lekukan kayu. Kata orang. pelayan tua itu. Salahkah? Kecantikan perempuan muda itu adalah kecantikan yang sangat luar biasa. Tapi. Gubreg?” Suara Kopag terdengar getir. Seluruh kekayaan ludes. Dalam kondisi seperti itu. Lahirlah seorang laki-laki yang merenggut nyawa perempuan itu. laki-lakinya akan menitipkan daging binatang di rahimnya. Pikirannya kacau! Kopag sadar. perasaan. Ayahnya seorang laki-laki sangat terhormat dan memiliki kedudukan tinggi di pemerintahan. sangat sadar. kasta tertinggi dalam struktur masyarakat Bali. Kehidupan yang sering dimaki Kopag ternyata cukup demokratis. Kopag . Dia hamil. Dia juga memiliki puluhan galeri lukis dan patung. cantikkah perempuan itu. lakilaki itu pulang dalam kondisi yang menyakitkan. Kopag telah merekonstruksi sejarah seni rupa. juga tidak berkomentar ketika Kopag memuji keindahan perempuan delapan belas tahun itu. dan keindahannya sendiri. Seluruh wajahnya juga lekukan kayu. Dia tahu. Dia anak laki-laki kedua yang lahir dari keluarga terkaya di Griya. Kecantikan yang dia lihat dengan pikiran. setelah berbulan-bulan tidak pulang. yang tentu saja tidak dimiliki orang-orang. Dia memberi Kopag poin. Suatu hari. Bahkan Gubreg. setiap makhluk yang memiliki lubang bisa dimasuki. Sayangnya laki-laki itu memiliki mata yang sangat liar. di sanalah dunia itu dibuat untuk laki-laki yang sejak pertama berkenalan dengan aroma bumi dan hidup hanya merasakan kegelapan sebagai bahasanya. Dilahirkan sebagai laki-laki buta memang tidak menggairahkan. Seperti sebatang kayu dengan lekuknya yang begitu menggairahkan. Tubuhnya kurus dan pucat. Laki-laki itu harus berperan sebagai laki-laki buta untuk menebus kelahiran dan hidupnya sendiri. “bahkan untuk menilai keindahan itu. Dia tidak pernah peduli. agar orang-orang mudah mengenalinya dan membedakan dirinya berbeda dengan manusia lainnya. Alangkah ajaibnya kalau hidup juga bisa dipermainkan. Dia adalah kayu terindah dan tercantik. hidupnya.

alam menyerah pada kekuasaannya. parekan. Jujur saja. Masih kata Gubreg.” “Seperti apa perempuan cantik itu. Teriakannya saja bisa memandulkan pisau pahatnya. Tanpa teriakan iparnya yang sering menyesakkan kuping. Nama perempuan itu Ni Luh Putu Sari. Kopag sering berpikir. dia memahat pikirannya. Ada-ada saja yang diributkannya. kembang sepatu yang baru ditanam perempuan nyinyir itu tersangkut tongkatnya. bagaimana sesungguhnya sebuah penilaian yang objektif dalam hubungan antarmanusia di bumi ini. Bahkan Gubreg. *** Kopag menarik nafasnya dalam-dalam. “Luar biasa kecantikan Jero Melati. Ni Luh Putu Sari yang sejak menikah dan masuk menjadi keluarga Griya bernama Jero Melati itu memiliki kulit yang sangat indah. Saat ini dia sangat mengikuti ambisinya untuk masuk dalam lingkungan keluarga Brahmana. seperti Kopag juga menyerah pada kebutaan yang harus dia kenakan setiap saat. Itu yang dirasakan Kopag. Aku ingin tahu.tidak saja memahat kayu. Ratu. Sebuah kesunyian dengan pagarpagar keindahan.” 112 . Anyir. Postur tubuhnya seperti putri-putri raja Bali. merah. selalu berkata bahwa beruntunglah kakaknya bisa mendapatkan perempuan tercantik di desa. Saat ini aku mencoba percaya pada matamu. Orang-orang di luar hanya tahu bentuk tubuhnya yang konon sangat luar biasa. dia harus menunjukkan pada seluruh manusia di desa ini bahwa dirinya berhak masuk dalam lingkungan keluarga bangsawan. atau posisi piring dan gelas berubah di dapur. kulitnya yang sering jadi pujian. perempuan itu adalah pemain sandiwara yang ulung. “Apa bisanya adikmu yang buta itu? Apa? Merepotkan!” Suara perempuan muda itu selalu menggelisahkannya. Tanaman di halaman samping rusak atau terinjak kakinya. Suara iparnya itu akan terus menari-nari di sekitar telinganya. Getaran tangannya sudah seperti tangan-tangan mayat yang membusuk. dan sangat pas. Karena dia bukan kaum Brahmana. Dunia yang diinginkan. pokoknya seluruh tubuh perempuan itu selalu jadi pembicaraan kaum laki-laki. Kopag juga merasakan setiap mulut perempuan itu terbuka. pelayan setia yang merawat Kopag sejak kecil. ketika untuk pertama kali iparnya itu menyalaminya. Disentuhnya kayu kering yang selama ini selalu mengantarnya ke mana dia pergi. juga impian-impiannya. Bagaimana mungkin perempuan konon kata orang-orang di desanya sangat cantik dan santun itu bisa berkata begitu kasar. Bagi Kopag. otaknya. aku juga ingin merasakan. Gubreg? Tolong kau katakan seluruhnya. dia mencium bau darah. Karena perempuan Sudra. Bau itu seolah berlomba-lomba meloncat dari bibirnya yang konon sangat mungil. Untuk pertama kali. Kopag sangat menyukai kayu yang mengenalkannya pada dunianya. perempuan itu harus mengubah namanya menjadi Jero Melati. Perempuan itu benar-benar serius untuk memasuki perannya sebagai istri laki-laki Brahmana. Kebutaan yang mengikuti dia terus-menerus. Aneh sekali. perempuan kebanyakan itu telah menikah dengan kakaknya dan menjadi keluarga Griya. Iparnya yang luar biasa kasar dan cerewetnya jadi pujian dan pembicaraan seluruh laki-laki di Griya.

Kegelapan itu jadi milik cucuku yang paling abadi. aku selalu tersentuh. Laki-laki setengah baya itulah yang membuat Gubreg. Dadanya sering mendidih. Gubreg. Kopag sudah bagian dari nafasnya. termasuk rangkaian pisaupisau pahatnya. Laki-laki tua itu sekarang ini jadi cepat marah. Karmanya jatuh pada anaknya sendiri. Lihat. Kadang-kadang dia bacakan buku-buku bahasa asing. Gubreg?” “Jangan bertanya yang aneh-aneh pada titiang. Ada yang hilang dalam tubuh laki-laki tua itu. Ratu. Gubreg pun mengajari Kopag menelanjangi tubuh pisau-pisau pahat. “Kau tidak ingin menjawabnya. yang konon. Pertumbuhannya selalu mengingatkanku pada perbuatan-perbuatan yang dilakukan anakku. Frans Kafkasau. perhatian yang lain. Gubreg. Luar biasa. sudah menjelang dua puluh lima tahun. apa ini rasa yang dimiliki lakilaki? Ini wujud kelelakian itu?” suara Kopag terdengar pelan. dan menikmati aroma ketajamannya yang luar biasa indahnya. Sejak kecil. Menanggung dosa ayahnya. Dia juga yang mengajarinya bahwa semua benda punya jiwa. Sejak kecil kakeknya hanya mengajari Kopag bersentuhan dengan kayu-kayu untuk berkenalan dengan kehidupan. kata Frans. Kehilangan yang dalam. Hyang Widhi! Penguasa jagat! Kopag memang sudah besar. Atau sesekali dia dikunjungi orang asing dari Prancis. tubuhku gemetar setiap menyentuh pisau-pisau ini. 113 . Ada rasa sakit mengelus dada tuanya. Ida Bagus Made Kopag memiliki tubuh yang sangat bagus. begitu indah. Kau bisa lihat. Seperti apa perempuan cantik itu? Apa seperti bongkahan kayu beringin ini? Dingin. Begitu penuh misteri. kan? Kehidupan sendiri memberinya hadiah yang luar biasa. ketajamannya. kau belum jawab pertanyaanku. “Anak itu buta. Waktu itu umur Kopag tujuh tahun. Atau sesekali mendatangkan guru yang mengajarinya membaca. Gubreg. Rasanya baru mendengar satu huruf keluar dari bibir laki-laki Prancis itu seluruh isi perutnya seperti keluar. Gubreg. Aku masih percaya kehidupan itu bisa diajak bicara. “Gubreg. tentang Michelangelo Buonorrty. Dia juga rajin membaca buku-buku dengan huruf braile. dialah yang mengajari Kopag mempelajari tekstur kayu. Jengkel! Waktu Kopag sekarang habis untuk diskusi. Gubreg.Laki-laki tua itu terdiam. Dipandangnya mata Kopag dalam-dalam. Cucuku memiliki seluruh mata manusia yang ada di bumi ini.” Keruncingannya. Bagi Gubreg. dan tangannya juga sangat cekatan memahat patung-patung. Tinggi. dia mampu membuat patung-patung dengan ukiran sangat sempurna. Dia ingat teriakan Kopag ketika pertama kali menyentuh tubuh-tubuh pisau yang telanjang itu. tapi mampu memikatku. jengkel! Ada-ada saja yang dibawanya. Kopag tidak lagi membutuhkannya. Jaga dia baik-baik. Sejak bergaul dengan Frans ada-ada saja yang ditanyakan Kopag padanya. sebelum berpulang. Anggap dia anakmu!” Itu pesan Ida Bagus Rai. yang diterjemahkannya. Susah. rasa apa yang sering membuatku meluap. Susah. “Gubreg. Seluruh ilmu memahat dia alirkan dalam tubuh bocah kecil yang tidak berdaya itu. Lihat. Tanyakan pada laki-laki bule itu!” Suara Gubreg terdengar penuh nada kecemburuan. Laki-laki bule itu telah memberinya didikan yang baru. pematung jaman Renaisans. Titiang tidak bisa menjelaskan seperti Frans.

yang hidup dari belas kasihan keluarga Dayu Centaga. dan teramat menggelisahkan ketika tubuhnya mulai lapar dan memerlukan tubuh lain untuk santapan. Perasaan apa yang sedang bertarung dalam tubuh Kopag? Gubreg takut. Keluarga Griya mencarikan dia seorang Balian. Ratu. betapa sinar matahari yang perkasa itu menjadi patah dan tak berdaya ketika menyentuh sedikit saja keruncingannya. Kopag sudah membuka jendela studionya. Begitu parah.” “Titiang. Tubuh perempuan itu seperti ular yang melingkar dan menjepit batang-batang tubuhnya. dia luka. Dia gelisah. Di tangan Kopag pisau itu jadi begitu dingin. Gubreg selalu merasakan tubuhnya dilubangi. Perempuan itu. Setiap mengingat batas yang ada antara dirinya dan Dayu Centaga. kebanyakan. *** 114 Pagi-pagi sekali. Tak ada yang bisa diceritakan kegelisahannya. Tubuhnya dilingkari asap yang sangat menyesakkan aliran pernafasannya. Kakinya kram setiap melihat tubuh basah itu naik ke atas dengan kain yang hanya sebatas dada. Terlebih. Waktu itu Gubreg seorang laki-laki kumal empat belas tahun. Dia mengerti. karena kelaparannya adalah kelaparan yang tidak pada tempatnya. Perempuan junjungannya. Dia juga laki-laki. Gubreg sadar rasa laparnya sudah tidak bisa dibendung lagi. dia adalah laki-laki tak berguna. “Tentang apa lagi. Hyang Widhi. Gubreg belum juga bisa menjawab arti menjadi lakilaki. dan mampu meledakkan otaknya. Balian tua itu memberinya jampi-jampi. Aroma tubuh perempuan itu sampai hari ini masih melekat erat di tubuhnya. Berkali-kali dia menarik nafas.. Ratu?” “Kecantikan perempuan.. perempuan yang sangat dihormatinya.titiang tidak bisa menceritakan kecantikan perempuan pada Ratu.” suara Kopag terdengar penuh rasa ingin tahu. dia sadar tubuhnya tidak boleh melahap tubuh perempuan Brahmana. dukun. Dia sering terjaga tengah malam dengan nafas yang memburu. Dayu Centaga selalu menyuruh Gubreg menggosok punggungnya dengan batu kali. Aroma itu tak bisa dihapus oleh usia yang dipinjam Gubreg pada hidup. Rasa itu tiba-tiba saja muncul kembali dalam otak. Masih kata Balian tua itu. Gubreg menyaksikan. dan tulang-tulangnya yang mulai rapuh membantunya merangkai masa lalunya kembali. Kebetulan si penunggu sungai sedang beristirahat. Tubuhnya jadi pucat. Sering sekali dia disuruh mengantar Dayu Centaga mandi di sungai Badung. Sebagai laki-laki Sudra. Sampai menjelang tengah malam. Pisau justru seperti menantang matahari untuk bersabung. memiliki penilaian khusus tentang hal itu... Kata Balian itu. Takut sekali menjawab pertanyaan tentang esensi menjadi laki-laki. Lama-lama Gubreg merasakan sakit yang luar biasa menyerang tubuhnya. angkuh dan selalu lapar. Kaki perempuan itu putih.. .Kilatan matahari menjilati keruncingan pisau pahat itu.” Suara Gubreg terdengar patah. “Aku ingin bercerita padamu. Sangat paham. Gubreg sempat membuang kotoran di pinggir sungai. dia juga pernah merasakan seperti apa percikan nafsu itu ketika pertama kali menampar wujud manusianya. Semua orang.

berdialog. Dia rasakan perubahan pada tubuhnya. tidak juga kesambet setan. dia merasakan cinta yang dalam pada Dayu Centaga. Tak seorang pun tahu. “Gubreg. sampai menguliti otakku.” suara Kopag terdengar pelan. Kayu-kayu dan pisau telah memberiku mata yang lain. Aku juga memiliki impian-impian sendiri pada patahan tubuh pohon itu.tadinya penunggu sungai itu juga ingin mengganggu Dayu Centaga. mengajakku bicara. Pada dasarnya aku selalu penasaran. Guemica. Gubreg. Kenapa kayu-kayu ini selalu mengajakku berdiskusi. Gubreg menatap tajam tubuh Kopag yang sedang merampungkan pahatannya. tetapi sudah menyerupai air bah. tanpa kegairahan sebagai laki-laki. Sesuatu yang dahsyat telah dititipkan alam pada tubuhnya. sangat surealis. dan berpikir. Aku juga ingin tahu arti setiap impian. diajar memahami kehidupan. menjelang tujuh puluh lima. Kalau sekarang Kopag bertanya seperti apa kecantikan itu. Cinta yang membuatnya jadi batu. keluarga Griya membawa sesaji untuk penunggu sungai. Tanpa istri. karena aliran sungai dalam tubuhnya bukan lagi aliran sungai kecil. mem-besarkan tubuhnya. Dia mencoba memahami sesuatu yang sangat rahasia dan begitu dalam ingin disampaikan Kopag.” Gubreg tetap diam. Dia pasrah ketika Balian tua. Gubreg bahkan rela bocah laki-laki itu mencuri lembar demi lembar rahasia perjalanan dan rasa sakitnya sebagai laki-laki yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk mengabdi. Kecantikan perempuan yang kuterjemahkan lewat kayu-kayu itu mengingatkan Frans pada keliaran Martha Graham. sampai akhirnya potongan-potongan tubuh itu ada di tanganku. Kata mereka. Gubreg tidak bisa bercerita tentang kelaparan tubuh laki-lakinya. kau ingat kata-kata Frans?” “Yang mana?” “Frans mengatakan keliaranku membentuk tubuh-tubuh manusia dalam kayu mengingatkan dia pada lukisan Pablo Picasso. pahatanku tentang perempuan sangat sempurna. Untuk mengembalikan kesehatan Gubreg. Rasa ingin tahu yang begitu besar. komunikasi Balian tua itu dengan dunia gaib salah. Gubreg masih setia mengabdi di Griya. Berkat kekuatan Gubreg.memandikan tubuhnya di pinggir sungai. Demi Hyang Widhi. kau belum juga jawab pertanyaanku. Gubreg paham. yang memanfaatkan seluruh tubuhnya untuk mewujudkan jati diri tokoh yang dimainkan. Justru Gubreglah yang kena kemarahan si penunggu sungai. Dayu Centaga tidak terkena. Katanya agar roh jahat tidak mengenai keluarga Griya. dingin. 115 . “Gubreg. selalu ingin mengupas dan melukai kayu-kayu itu. seorang anak yang dibesarkan dengan cara-caranya. Sampai sekarang. Dan Gubreg tahu air dalam tubuhnya memerlukan muara. Dia menarik nafas berkali-kali. Cinta yang tidak mungkin dihapus. Untuk menghormati kebaikan keluarga Griya.. Suatu hari Frans dan seorang temannya mengatakan. Aku selalu ingin tahu. Impian-impian yang dimiliki oleh po-hon ketika dia membesarkan ranting-rantingnya. Gubreg. Gubreg bersedia menjalankan runtutan upacara itu. tanganku. aku merasakan kecantikan perempuan itu melalui jari-jariku.. tubuhku. tidak lagi bisa menikmati kegairahan manusiawi sebagai manusia. Gubreg tidak sakit.

“Ratu. ada bantuan dana dari Jerman dan Prancis. kakak Kopag sendiri bisa membuka galeri patung yang besar. Gubreg tahu tak ada yang diinginkan Kopag. Aku sudah memikirkannya jauh-jauh hari. Lima menit tanpa hasil. Sekarang ini keluarga ini tentram. Hanya satu yang ditangkap Gubreg. Laki-laki itu tidak pernah tahu apa arti ada uang atau tidak ada uang. Aku ingin bicara!” Kali ini suara Kopag terdengar serius.” suara Gubreg terdengar sangat hati-hati. adik Jero Melati adalah perempuan paling liar dan nakal. Bahkan. Ratu ingin apa lagi? Jangan menakuti titiang.” jawab perempuan itu serius. perempuan itu bebas menggunakan uang Kopag semaunya. Jero Melati tersenyum. Saat ini galeri itu sudah tumbuh besar dan menjadi satu-satunya galeri yang paling diakui di Bali karena karya patung yang masuk harus melalui seleksi dan pertimbangan yang teliti. Sayang. perempuan satu ini memang bukan perempuan baik-baik. Bulan kemarin. 116 *** “Kita harus carikan seorang istri untuk Ratu. Ratu terlihat sangat gelisah. Gubreg mencoba memahami ke mana kira-kira arah pembicaraan Kopag.Berkat Kopag. Gubreg.” Suara perempuan itu terdengar mirip perintah dan pemaksaan. Kopag seperti linglung. Kopag memerlukan perempuan. *** “Gubreg. Patung-patung Kopag laku keras dan diminati oleh kolektor dari dalam dan luar negeri. Kata orang-orang kampung. Otaknya hanya berisi kehormatan. Aku ingin kawin.” “Ya.” Suara Kopag terdengar sangat serius.” “Siapa?” “Adik perempuanku. keluarga besar ini kembali bisa hidup. “Kau harus bisa meyakinkan dia bahwa adikku layak menjadi istrinya. Untuk pertama kali dia merasakan hawa jahat berendam dan menguasai tubuh cantik itu. Gubreg diam. Padahal kemiskinan kalau dihayati memiliki keindahan tersendiri. . dia tidak tahan miskin. Jero Melati tidak pernah ceriwis. Gubreg menatap mata perempuan itu tajam. “Bagaimana kalau dia kawin dengan calon yang telah kusiapkan. Dia tahu. Mengerikan! Padahal perempuan itu sangat cantik. Benar kata Kopag. Mendengar komentar itu. dia terus mengelilingi studionya. adik Jero Melati bisa menjual tubuhnya.” “Jero sudah punya calon?” “Ya.

Perempuan yang mengalahkan kecantikan kayu-kayuku. Kali ini pilihanku tidak bisa diubah!” “Siapa?” “Luh Srenggi. ada daging besar tumbuh di atasnya. Sebuah pisau pahat menembus dadanya yang tipis. Aneh! Wajah itu tetap seperti batu.” Gubreg ambruk. Dia adalah perempuan tercantik.” “Mereka setuju.” Gubreg mengangkat wajahnya. membersihkan studionya menyiapkan makan. ketika kujatuhkan tubuhku memasuki tubuhnya. punggungnya bongkok. Hyang Widhi! Dewa apa yang ada dalam tubuh Kopag. aku tenggelam dan habis. Wajahnya juga rusak berat. dia hanya memiliki satu mata. “Aku telah menidurkan perempuan itu setiap malam. “Aku sudah memiliki calon.*** 117 1.?!” Gubreg seperti tercekik. tak ada sebuah pisau pun bisa menandingi ketajamannya. dia lebih mirip makhluk yang mengerikan.. ingin sekali dilihatnya wajah Kopag berseri. Kulitnya begitu kasar. Kulitnya juga kulit kayu. Sadarkah dia. titiang juga sudah membicarakan dengan Jero dan kakak Ratu. tahukah dia makna kecantikan? Gubreg menarik nafas memegang dadanya kuat-kuat. Gubreg.” “Ratu. dan mengambilkan pisau-pisau pahatnya? Perempuan itu bukan perempuan.“Maaf Ratu. Perempuan itu telah mengasah tubuh laki-lakiku. apakah kuping tuanya tidak salah dengar? Bukankah Luh Srenggi adalah perempuan yang menyiapkan seluruh keperluan Kopag. kakinya pincang..” “Apa kata mereka. matanya yang kiri bolong. Bahkan merekalah yang akan memilihkan calon istri untuk Ratu. Panggilan kehormatan untuk bangsawan Bali (Dimuat dalam Horison. Luh Srenggi. Tubuhnya benar-benar lekukan kayu. Saya 2. Kau tahu. Ketika dia telanjang. Maret 2000) .

!” panggilku. tergolek bagai barang tak berguna.” kata Jim.” kata Jim datar. “Pasti dari Jim. Lalu ia bertanya bagaimana hal itu bisa terjadi. ditingkahi desah ketakutan dan keasingannya menghadapi kenyataan itu.. Tapi mereka manusia kan?” Aku diam. “Aku kira sebentar lagi semua tubuh mereka akan menjadi batu. hanya leher sampai kepala mereka saja yang belum menjadi batu. Tak ada jawaban. Berkali-kali ia ulangi pertanyaan tersebut. tetapi aku sudah membayangkan. “Kau kan tahu betapa Niru adalah bagian dari keluargaku juga. aku membayangkan Jim kembali tercungapcungap menceritakan keluarga Niru menjadi batu. mereka membunuh diri.” kata hatiku.” kata Jim seperti yang sudah kuduga. dan apa yang dapat dilakukan untuk membantu mereka.. betapa mengerikan. Janganjangan menjadi batu merupakan upaya memfungsikan diri juga. Aku takut. “Bagaimana caranya mereka menjadi batu?” lanjutnya. “Niru telah mengantarkan aku ke jenjang karier seperti sekarang dan menjadi modal besar bagiku sampai diangkat menjadi profesor.. Ketika ia masih bujang lagi dan kini punya anak bersusun paku. padahal bagian terpenting dalam hidup adalah memfungsikan diri.. “Jim!” ulangku. Jim akan tersentak sendiri karena ia mafhum bahwa memfungsikan diri adalah sesuatu yang abstrak. Lima belas tahun yang lalu. ya seperti yang sudah kuduga. Tetapi manusia yang telah menjadi batu tidak akan dapat memfungsikan dirinya. “Oh. pertanyaan terakhir itu akan dijawab oleh Jim sendiri dengan mengatakan bahwa memang benarlah mereka manusia. “Ketika kutinggalkan sekejap tadi. Cepat-cepat ia mengatakan. “Tapi mengapa harus menjadi batu?” tanya Jim. bukan rentang waktu yang panjang untuk menelusuri hubungan kami. Sampai pada kalimat tersebut.. “Ya. Sambil mengangkat gagang telepon itu.” “Jim.” simpul Jim. 118 .Menjadi Batu Oleh: Taufik Ikram Jamil Dinihari. “Tak masuk akal. mengapa harus menjadi batu. Ia dan keluarganya —sebelum kawin— memang pohon penelitianku. menjadi batu membiarkan diri melakoni benda mati. Beberapa saat ia terdiam. tetapi aku tak pemah menganggapnya sebagai sesuatu yang berasal dari luar diriku.

barangkali disebabkan perhatian kami yang berbeda dan semua permasalahan di dalam penelitiannya sekaligus kualami sendiri dalam bentuk lain. tetapi oleh waktu. tak lama setelah berkawan akrab dengan Jim. Belum lagi pembangunan perkebunan besar-besaran yang tak terbayangkan sebelumnya. tut . Tetapi belum sempat aku menyelidiki keberadaannya seperti tindakan apa yang diharapkannya dariku... ia yang kawin dengan orang sekampungnya.. Niru masih bujang bedengkang waktu itu....” kata Jim. teruskan. Tentu saja aku tahu karena akulah yang membawa Jim pertama kali ke desa Niru. Ketika Jim dikukuhkan sebagai doktor di bidang yang ditelitinya yakni antropologi ekonomi.” Jim agak berteriak..” “Aku takut. namun jarak di antara keduanya sangat jauh seperti tak dapat diukur lagi secara metrik. Mereka dalam keadaan yang tidak bisa membela diri terlebih lagi tidak punya sembarang pembela pun.. sebenarnya hampir tergolong primitif.. 119 *** Dinihari. ketakutannya terasa semakin besar. Aku belum pernah setakut ini. sekitar 150 km dari sini. tetapi banyak orang lain lagi termasuk aku. Suku Montai berdampingan dengan hal-hal yang wah itu. cahaya pelita sudah menyergap mukanya.. dimulai dari puncak hidungnya yang tercacak. Hallo.sehingga ketika aku menelitinya atau orang kampung sekalian. lantas berkenalan dengan Niru. Cukup lama aku membiarkan gagang telepon melekap di telingaku dengan harapan Jim berbicara lagi. ... tetapi masyarakatnya terbelakang. Hasil penelitian Jim di desa Niru sebenarnya tidaklah terlalu istimewa bagiku.. menuju rumah sahabat kami tersebut. Aku membayangkan saat ini Jim berlari dari warung telepon yang seingatku terletak sekitar dua kilometer dari rumah Niru kalau mungkin ia menelepon dari tempat itu. sangat takut. aku menjadi perantara hubungan mereka berdua.” Aku menarik napas. Niru tak mau datang dengan alasan yang tidak jelas walaupun segala sesuatunya ditanggung oleh Jim. Dalam kerangka yang lebih kecil dan sederhana dapatlah disebutkan bahwa penelitian Jim menggambarkan bagaimana di desa Niru terdapat berbagai hal yang teramat luar biasa secara ekonomi.. Sebentar ia tercegat di pintu dan sedikit saja ia menolak daun pintu dengan ujung telunjuk. “Kau dengar atau tidak?” “Teruskan. Sesuatu yang sebenamya secara umum dinikmati tidak saja oleh Niru dan Suku Montai. Niru dan aku diundang menghadiri acara tersebut. hubungan kami terputus. Tak mengherankan kalau di antara keduanya terjalin hubungan antara pemandu dengan peneliti sampai di luar batas.. tetap memandu Jim di lapangan. Sayang. Ketika Jim kembali ke negeri asalnya setelah tiga tahun menetap di desa Niru. tetapi yang terdengar hanya tut . tut. Ya. begitu orang menamakan asal Niru. Suku Montai.. tetapi hidup di tengah ladang minyak yang kaya raya dengan peralatan canggihnya. Tampaknya aku harus melakukan tindakan karena sudah tiga kali ia menelepon. “Halo. Keringat sebesar jagung segera saja mengalir di tubuhnya. aku merasa meneliti diriku sendiri.

Kesimpulan menjadi batu dibuat Jim setelah ia melihat makin malam semakin banyak bagian tubuh Niru maupun anggota keluarganya yang menjadi batu. 120 . Tetapi mana mungkin aku mempertahankan ketidakpercayaan itu kalau aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana perlahan-lahan badan mereka berubah menjadi batu. enam anak kecil juga dalam keadaan demikian. “Sungguh. dan istrinya seperti tidak mengalami apa-apa. Jim terpelanting. Matanya yang bundar memandang tubuhnya yang sudah membatu. Menengadah.. Setelah berkali-kali mengajak berjalan ke luar yang dengan senyum ditolak Niru.” kata Jim lewat telepon beberapa jam lalu. “Aku panggil Tuk Batin ke sini. Tak jauh dari Niru. Jim kembali memutarkan badannya. Ketika Niru menunjuk kaki anak-anak dan istrinya. dan.Wajahnya kelihatan menyala karena butir-butir keringat seperti tersimbah cahaya pelita yang merah kekuning-kuningan. Langsung saja matanya menyergap Niru yang tergolek di sudut. Kakinya tiba-tiba saja tertuntun kembali masuk ke dalam rumah Niru.” Terdengar Niru ketawa kecil.” kata Jim. Berat.. Jim menyadari keberadaan Niru dan keluarganya seperti sekarang tak lama setelah ia mengajak Niru berjalan untuk makan angin di luar. Jim pun sadar bahwa sesuatu telah terjadi pada keluarga ini. Cahaya bulan sepenggal dan kerlip-kerlip bintang yang tersapu awan hitam tidak menimbulkan sembarang kesan elok di hatinya. Jim tak tahu apa yang harus dilakukannya. menjelang dini hari mereka selalu berjalan ke luar. Juga Siah istri Niru yang tergeletak dekat dapur. Jim mengikuti arah mata itu dengan pandangan tanpa ia tahu apa maksudnya. Sinar maupun cahaya dari maskapai minyak dan pabrik-pabrik sawit serta bedeng-bedengnya yang dipandang dari kegelapan kampung ini meskipun membuat hati mereka sayup. anak-anak. turun ke tanah. Saat pertarna kali menelepon dini hari tadi. lelaki itu akhimya mengeluarkan kakinya. Ia mencangkung pada pipa minyak yang bergaris tengah sekitar 80 sentimeter dan membentang tak sampai 15 meter dari rumah Niru. .” kata Niru. “Tapi Niru. Aku memegang batu itu. tinggal mukanya yang ranum seperti tidak mengalami apa-apa. Jim memang mengatakan bahwa apa yang terjadi sekarang pada Niru dan keluarganya seperti tiba-tiba. Kaki sampai dada lelaki itu sudah membatu. menusuk-nusuk hati Jim. juga mampu menghidangkan suasana lain. semula aku tak percaya. “Jangan!” “Bontik?” “Jangan. ke pinggir hutan selatan. membuat pemandangan di dalam rumah ini bagaikan satu hamparan yang terasa amat asing. Leman. Dulu. Raut. Mengeluarkan kaki yang sudah menjadi batu. mengajak Jim berbincang. sebelum fajar menyingsing. Duduk saja di sini. Sesuatu yang sulit diterjemahkan kalau tidak berdiri pada bidang Niru maupun Jim. malah ia semakin gelisah. “Atau Katik. Angin berkibar. Terasa begitu cepat waktu berlalu. wajahnya pun terlihat berayun. Siah dan anak-anaknya ikut terlibat dalam pertemuan dua sahabat lama itu. padahal baru beberapa jam sebelumnya Jim dan Niru masih berbicara perkara biasa-biasa saja. tetapi tak lama kemudian ia cepat menguasai.

. Apalagi waktu itu. Kau tahu bagaimana batu kan?” kalimat Jim bertubitubi. Dari jendela.” sambung Jim.” “Kau percaya?” “Karena kau tak mungkin berbohong. *** Sampai menjelang subuh. tiba-tiba saja sambungan telepon terputus dan aku hanya dapat mendengar suara tut .. Bayangan Jim menyeruak di antara cahaya remang-remang di dalam rumah ini.” “Bagaimana kau tahu?” Aku berdehem. Ia hanya mau mengenang masa-masa lampau.. aku katakan sebagai hujatan_ tentang menjadi batu tersebut terus saja meluncur dari mulutnya.. tapi aku yakin bahwa ia segera menelepon.. tapi nantilah .. dan bercerita tentang kayangan yang sudah hilang. Belum ada lagi panggilan dari Jim. aku tak mungkin berbohong. Cepat pula ia bertanya. Barangkali selama menunggu ini aku sempat tertidur dan terjaga karena suara batuk istriku. nanti saja. Ia sedikit pun tak mau menjawab pertanyaanku.. dan. damar yang sulit dicari....” “Ya.. Kendaraan mulai lewat di depan rumah. menceritakan ikan yang menghilang dari sungai. “Ini sungguh amat menakutkan aku. Ia seperti duduk di ruang .” Apa yang dapat dilakukan dengan menjadi batu. Aku takut.keras sebagaimana layaknya batu. “Bagaimana kau tahu?” desak Jim. tetapi hujatan Jim _ya. telepon masih terlentang. Aku ingin mengatakan. “Kau percaya cerita ini?” “Percaya.. aku melihat bulan tergantung yang cahayanya pucat karena disambar cahaya merkuri di tengah jalan.” “Dan kau mendengar bagaimana Niru terus berbicara seperti biasa. Ya. terdengar suaranya tersendat-sendat. soal-soal kemesraan. tut . Kudengar juga suara anakku mengerang. “Sungguh aku tak dapat mengerti kalau menjadi batu sebagai suatu pilihan..” kata Jim dalam telepon sebentar tadi yang kembali terngiang-ngiang dalam telingaku. tut . apa lagi yang dapat dikatakan Niru?” “Dan menjadi batu sebenarnya bukan pilihan kan? batu?” Tetapi mengapa mereka menjadi Ia akan 121 Aku ingin menjawab pertanyaan itu. sementara sekian pertanyaanku kepada Niru hanyalah sia-sia. “Lantas.

Tak ada perubahan. Setahuku. sendok. Seperti biasa ia hanya tersenyum kecil melihat kelakuanku itu sambil mengangkat bahu. tetapi aku menawarkan diri untuk menemaninya sekedar basa-basi karena malam itu aku menunggu tamu. “Mengapa kau tak pernah bercerita tentang hamparan batu yang berbentuk manusia dan peralatan hidupnya sehari-hari di sini?” tanya Jim suatu malam. Aku agak terkejut karena hal ini di luar programnya semula. tilam. Niatnya ke desa Niru dengan sendirinya batal walaupun aku sudah mengingatkannya. Aku tak banyak tanya saat itu dan apa pula gunanya karena Jim tidak pemah dapat dihalangi. Tak ada tanggapan Jim terhadap jawabanku itu. Sekarang batu-batu itu membesar dan konon pada suatu saat kelak akan memakan lahan sehingga mempersempit dan semakin mempersempit lahan yang ada. bantal. mungkin tujuh tahun yang lalu. ia kemudian mengatakan ingin keluar. ia akan berada di sini barang sepekan dalam urusan apa yang disebutnya sebagai mengecas baterai. dan tanah yang kelihatan semakin 122 . Kalaupun ada perubahan. ketika mataku sudah terlayang. ada dua hamparan batu-batuan seperti itu di sini. tentu terutama dengan Niru dan keluarganya. lesung. malahan masuk ke dalam kamar yang memang kusediakan untuknya kalau ia datang ke sini. Sejak saat itu Jim tidak pernah lagi ke sini dan kabar mengenainya kudengar sekali-sekali. seorang teman lama. limau. pagi-pagi lagi Jim mengatakan akan pulang ke Tanah Airnya. Tak diajaknya aku. Kakinya terkepang. Bau parfumnya menyengat sampai aku harus mendengus-denguskan hidung. Satu hamparan di pinggir pantai dan satu hamparan lagi di dalam sebuah goa di hutan lebat. Menyulut rokok sebatang dan menghisapnya dalam-dalam. “Aku ingin reuni di Montai. Konon. Dini hari. Pandangannya tidak lepas dari mataku meskipun aku sudah mengambil majalah tersebut sambil lewat saja. batu-batu tersebut adalah wujud dari tindakan sekelompok manusia yang tak mungkin lagi berbuat lain dalam menghadapi gelombang hidup terutama dalam menolak perintah raja. Di desa itu sebagaimana diungkapkannya lewat telepon. Ia melihat halaman majalah yang memuat tulisan itu dan menyodorkan kepadaku. kelapa sawit di sana sudah menghasilkan sekian kali panen. Keesokannya. Niru maupun orang sedesanya tetap seperti dahulu. baru Jim pulang dengan bau penuh bir. Ada juga batu berbentuk kapal. Tanpa sengaja aku memandang gambar batubatu yang berbentuk manusia. yang pernah kusaksikan beberapa kali. jalan yang lebar. kemudian kembali memandang majalah itu dan mencari nama penulisnya. Sampailah beberapa hari lalu saat ia meneleponku dan menyatakan keinginannya untuk datang ke sini. “Mengapa kau tak pernah cerita ada hamparan batu yang berbentuk manusia dan peralatan hidupnya sehari-hari di sini?” Sebagai jawabannya aku memandang langit-langit. membaca majalah berita yang kubeli sore tadi. tak sedikit pun membacanya kecuali memandang gambar-gambar hamparan batu tersebut. tetapi baru tiga hari ia sudah merindukan keluarganya. Tapi ia tidak meneruskan bacaannya. kadang-kadang bergoyang-goyang sebagai tanda bahwa ia menyenangi bacaan itu. Tak lama kemudian ia sudah keluar lagi dengan amat necis. dan entah apa lagi. Di bandar udara Jim mengoceh banyak hal mengenai kedatangannya sekali ini terutama tentang penghormatannya atas Montai dan Niru khususnya yang mengantarkannya ke jenjang karier seperti sekarang. bahkan alat kelamin lelaki maupun perempuan.” kata Jim seraya tidak lupa mengatakan bahwa ia sudah diangkat menjadi profesor. Katanya. Dari mata Jim aku tahu ia sebenamya berkali-kali melontarkan pertanyaan serupa.tengah.

setidak-tidaknya aku akan katakan sepatah dua kata tentang hal itu ketika Jim menelepon lagi yang kini sedang kutunggu-tunggu. “Ketika kutanyakan hal ini. sehingga makin terpuruk ke dalam hutan karena pengembangan ladang minyak dan perkebunan. Rumah atau lebih tepat dikatakan pondok itu pun sudah mundur sampai tujuh kali. 123 *** Ternyata penantianku tidak sia-sia. “Bertenang?” tanyanya kemudian. Waktu itu aku tak sempat mengatakan apa saja yang telah dilakukan Niru dan warga kampung itu. Baiklah. sementara benakku membayangkan bahwa Jim akan mengabarkan kisah baru yang jauh lebih seru. telepon berderak. tidak cukup hanya melalui telepon. Perlu waktu khusus untuk mengatakannya kepada Jim. bahkan kami di kota ini. Aku akan menjemputmu.. Niru hanya mengatakan: payah. Suara napas Jim yang kukenal segera menyambar telingaku. dan tak henti-hentinya mengusap muka. Di sisi lain untuk menggambarkan keadaan tempat yang didiami Niru dan keluarganya.” . kendaraan tiada hentihentinya lalu-lalang di desa itu.. payah. menelan air liurnya beberapa kali.” “Bertenang dan pulang?” Aku mengogam. Ketika kutanyakan khabarnya.” kata Jim. Jim cukup mengatakan bahwa rumah Niru masih terbuat dari kulit kayu dan tidak memiliki listrik. memang sulit. Jim juga mengatakan. Dari desah napasnya pula aku dapat meraba bagaimana Jim tercungap-cungap. Jim menjawab dengan sedu-sedan. Tak ada maksud apa-apa kecuali agar ia paham bahwa kami tidak pernah menyerah kepada keadaan. bawa bertenang.” Lama tidak ada jawaban dan aku terus-menerus memintanya untuk bertenang. termasuk hotel dan warung telepon yang boleh dikatakan tidak begitu jauh dari rumah Niru. tanah yang dibelinya seluas dua hektar untuk Niru dan sejumlah orang sebagai tanda mata itu sudah berpindah tangan tanpa ganti rugi sepeser pun dan di atasnya telah berdiri berdegam sebuah hotel. Persekitaran desa Niru semakin terang benderang dengan berbagai fasilitas. “Sudahlah Jim. Bangunan-bangunan kilang minyak makin menjulang.tandus. Persis saat azan subuh mulai berkumandang. “Pulanglah dulu ke sini.” “Kemudian membawa aku pulang?” “Ya. “Bagaimana aku dapat bertenang dan pulang dalam keadaan seperti ini?” “Ya.. Aku berniat sekali mengatakan hal ini kepadanya ketika ia pulang nanti.

” Kalimat Jim terputus. “Ya. Pada beberapa rumah yang penghuninya tak dikenal Jim. sedangkan pinggang sampai kepalanya membuat garis 120 derajat.. Untunglah Jim tidak menangkap kelalaian tersebut. kaki kirinya ingin ke belakang atau ke samping kanan maupun ke samping kiri. sedangkan istri dan anak-anaknya tergelimpang di halaman.. sehingga alat indera tersebut seperti menyala dan melahirkan suasana yang sungguh sulit dilukiskan kata-kata. Tiga anak mereka yang lain berada di dalam rumah dengan berbagai macam pose. ternyata bocor. Walhasil ia harus mengeluarkan tenaga sedemikian banyaknya dengan sia-sia. Ia merasa amat letih. Bontik. ia meluncur pula ke rentangan yang menolak. Begitu pula Tuk Batin yang terlihat duduk di bendul dengan muka tegang. Aku pergi ke rumah Tuk Batin. Ketika itu tanpa seizin Niru aku pergi ke rumah Bontik. Lelaki ini beserta anggota keluarganya berada dalam rumah. Kini mereka semuanya sudah menjadi batu. orang yang menjadi batu terlihat di halaman itu pun dalam berbagai pose.“Bagaimana aku dapat melakukan hal itu. Tetapi aku melihat. salah seorang manusia yang menjadi batu di halaman. Bontik dan keluarganya juga sudah menjadi batu. “Ketika kau melihat semua orang di desa itu menjadi batu?” aku memotong kalimat Jim. Tetapi mata Niru. sementara otaknya melayang entah ke mana. ia melihat Niru yang sudah menjadi batu lebih dulu.. Seolah-olah bagian-bagian tubuhnya bekerja sendiri-sendiri. tetapi semakin besar harapan itu bergumul dalam pikiran dan perasaannya.” kata Jim. berdiri bercekak pinggang. ketika.. bahkan kadang-kadang terasa kalau kaki kanan ingin ke depan. Sebaliknya belum sempat ia menyadari keadaan dirinya menerima kenyataan itu dengan hati jernih. sementara tangan kiri melempai mengikuti bentuk pinggang. ia dan keluarganya juga begitu. Matanya memandang tembus ke langit. Ia menerangkan tentang bagaimana ia berlari dari satu rumah ke rumah lain dengan napas terengah-engah. Tidak sekali dua ia tersampuk benda-benda yang tak sempat dilihatnya sehingga ia tersungkur ke tanah. Tapi aku menyesal karena berkata seperti itu. Ada yang sedang mencangkung. kawan Niru sejak kecil dan cukup dikenal Jim. Luka pada beberapa bagian tubuhnya tak terasakan lagi. Atap rumah yang terbuat dari daun nipah yang seharusnya menghalangi mata Niru memandang ke luar. Ketika kakinya melangkah sesungguhnya tangannya hanya ingin berdiam. Tangan kanan menopang kepalanya. Tetapi Niru setengah duduk: kaki sampai pinggangnya sejajar dengan lantai kaki kanan menghimpit kaki kiri. Bermacam-macam susunan orang-orang yang sudah menjadi batu itu. Barangkali dipengaruhi oleh kedekatan hati.. dan entah macam mana lagi. dengan cepat ia meluncur ke rentangan menerima kenyataan tersebut. sedangkan istri dan tiga orang anaknya berada di belakang rumah. Entah berapa kali Jim bolak-balik di antara satu rumah ke rumah lain yang sekaligus menyaksikan orang-orang sudah menjadi batu tanpa mengerti mengapa ia bertindak demikian.. Dari sinilah kemudian aku tahu bahwa semua penduduk desa ini sudah menjadi batu yang prosesnya sama dengan apa yang dialami Niru dan kusaksikan langsung. bahkan menjadikannya sebagai titik awal untuk menceritakan pengalamannya yang lain menjelang subuh itu. tetapi ia 124 . semakin besarlah kesadarannya tentang kenyataan ini. Di antara rentangan sikap semacam itulah ia tergantung dan saling tarik-menarik. Ia berharap agar semuanya ini hanya mimpi kosong belaka. Cahaya bulan sepenggal yang masuk ke dalam rumah melalui lubang itu tepat menimpa mata Niru. Ketika ia sampai pada ujung rentangan menolak.

Pekikan itu pulalah yang seolah-olah mengantarkan kakinya melangkah ke warung telepon dan kembali menelepon aku. Dengan sedikit sisa kesadaran sebagai orang waras. giliranku. kita berbuat sesuatu menghadapi kenyataan ini. ia tak tahu. September 1997) . seolah-olah tidak ada kejadian apa-apa di sini. semuanya ini sudah direncanakan secara detil sejak dua tahun lalu sehingga aku mengetahui apa-apa saja yang dialaminya di desa Niru walaupun ia tidak menelepon. terasa seperti jarum menusuk telingaku. Di mana letak dirimu sebagai manusia?” Aku diam. dan para tetangga yang menjadi batu seperti sudah dialami sekian banyak warga sebelumnya.” Sungguh. Ia kemudian terhenyak di anak tangga rumah Niru tanpa dapat membagi perasaan. Suaranya lantang berkumandang. taik kucing!” Jim menghempaskan gagang telepon. “Kemanusiaanmu sudah tak berguna. kemudian menyandarkan tubuhku ke sandarannya sehingga aku benar-benar rebah. Kau sedikit pun tidak memiliki perasaan. Kalau saja Jim tahu.tidak dapat mengenal keletihan itu sehingga tidak mampu pula diatasinya. Memandang ke langit-langit. Bukan bermaksud menjemputku pulang. “Tapi aku bertambah kecewa. aku berkata pelan. Meraih kursi dan pelan-pelan meletakkan tongkeng di kursi. Kau sudah mati.” Jim marah besar.*** 125 (Dimuat dalam Horison. “Kalau saja Jim tahu bahwa nanti malam. selanjutnya ia memekik keras berkalikali. bertambah kecewa karena kau menyuruh aku pulang. hanya dengan menjadi batu saja kami dapat bertahan. Tanpa merasa tersinggung sedikit pun. Entah apa yang dipekiknya. Ia seperti orang sasau --di antara gila dengan waras. aku juga meletakkan gagang telepon. keluargaku. Seharusnya. “Kau bangsat.

Kami mengembara dari satu benua ke benua lainnya. Inilah perjalanan terjauh dan terlelah kami. Kami adalah bangsa pemburu yang besar. ditangkup sunyi daun-daun yang mandi cahaya. Nenek moyang kami telah membentuk kami sebagai pemburu paling ulung. binatangbinatang itu juga sudah terlalu hafal dengan kami. Sampai kemudian kami menyadari. tetapi lebih untuk kebanggaan dan kehormatan. Kami tak pernah tergoda menjadi petani atau pedagang. Membuat kami begitu merasa terhina. ular. macan. telah lenyap kami tangkap. Seperti juga semua makhluk yang ketakutan mendengar gemuruh kaki kami. sebelum sampai ke telaga ini. Telah kami jelajahi seluruh hutan. serigala dan segala macamnya. rusa. sesekali meleleh oleh arus gelombang. Mereka sudah renta. sementara orang-orang tua kami bagai tak bisa mati. Tak ada yang lebih terhormat bagi kami. tupai dan tikus. Maka mereka buru-buru menjauh pergi. Seluruh kekuatan dan pengalaman kami sebagai pemburu telah kami keluarkan sampai tandas. Sebagian dari kami langsung merebahkan tubuh atau bersandaran pada batang pohon dan gundukan batu. Sampai kelinci. betapa binatang-binatang di dunia ini perlahanlahan telah habis kami buru. mengantar tidur anak-anak kami. hanyut oleh pikiran kami.Para Pemburu Oleh: Agus Noor Purnama mengapung di telaga. untuk memburu binatang-binatang. Kami beristirahat di pinggir telaga itu. Lagu-lagu kami adalah lagu-lagu perburuan. Gajah. Cerita-cerita penaklukan. sejak kami masih dalam kandungan. Membuat kami cemas. Setiap dari kami dibesarkan dalam belukar. Banyak di antara kami yang sudah berusia 7890 tahun. Hingga kami merasa benar-benar sendiri. Telah kami sibak semua palung lautan. melihat kehormatan kami akan goyah suatu ketika. jumlah kami memang makin membesar. setelah bertahun-tahun memburu buruan kami yang bergerak begitu cepat. melulurkan kesejukan pada lengan dan kaki yang bengkak. Menjadi hutan lebat yang tumbuh dalam kepala mereka. Sebagian lagi menyempatkan diri membersihkan wajah terlebih dahulu. tetapi kali ini. Kami seperti mengejar kilat. Legenda kami adalah penaklukan puluhan binatang buruan. Telah kami bongkar tiap lekuk pegunungan. Barangkali. Inilah pertama kali kami merasa begitu lelah. buruan kami tetap saja melenggang bebas. nenek moyang dan anak cucu kami. Tetapi mungkin juga memang binatang-binatang itu sudah habis kami bunuhi. Setiap bulan hampir seratus anak kami lahir. dari tahun ke tahun. tapi tak gampang mati. Apalah arti kami bila tak lagi hidup sebagai pemburu. Siapakah yang tak tahu akan hal itu? Kami tak pernah gagal memburu sesuatu. badak. tetapi masih sanggup berlari 126 . Meletakkan semua senjata yang selama ini kami jinjing dan gendong. selain menjadi seorang pemburu besar yang sanggup merobohkan gajah dengan satu gerakan. bukan sebagai cara kami bertahan menghadapi hidup. Maklumlah. Kami memandanginya dengan gamang. Kami sudah tahu bagaimana menyembelih wildebeest. Angin bergegas pergi oleh kedatangan kami. Seakan sia-sia kebesaran kami sebagai pemburu yang telah berabad-abad mengabdikan hidup dan peradaban kami hanya untuk berburu. begitu tercium bau kami.

karena hal itu dianggap akan mengotori kemurnian darah pemburu kami. Karena. perlahan-lahan. Kami akan memburu manusia. Banyak juga di antara kami yang mati dalam perkelahian. Anggap semua ini hanya permainan.. puluhan kepala negara. Semoga nasib baik bersama kalian. kalian masih punya kesempatan untuk memperpanjang kehidupan. Anak-anak kami pun nampaknya lebih suka dengan perburuan macam itu. yang memang memiliki kebiasaan berburu seperti kami 127 . semua binatang telah habis kami buru. ketika dari banyak yang datang kepada kami itu adalah para jenderal. Kami iringi dengan lengkingan terompet dan juga dentuman meriam.” Dan para pesakitan itu pun kami lepas dengan upacara kehormatan. Mula-mula. . kemudian menghantam kepala binatang itu dengan kepalan tangan. meski kami akan memburu kalian. Rupanya. sungguh. Tetapi kami tak bisa menolak. Menjadi tradisi. Mereka kami beri kesempatan untuk bebas. lari. Mati dalam perburuan ini lebih terhormat bagi kalian. selain melakukan perburuan semacam ini? Mereka kami beri kehidupan sekaligus batas kematian. Lantas. kebiasaan baru tumbuh dalam kehidupan kami. Selamatkan kehidupanmu. hingga pecah berantakan. Memburu budak-budak itu lebih mengasyikkan daripada memburu binatang. dengan cara melarikan diri. para raja. Setiap detik adalah pertarungan. Bahkan membuat kami lebih merasa sempurna sebagai pemburu. Tapi sudah lama kami kesulitan menegakkan kehormatan macam itu. sasaran perburuan yang menggairahkan. untuk menggantikan binatang yang kini telah musnah. yang membuat kalian akan merasa memiliki harga sebagai seorang pesakitan. Mereka lebih menantang untuk kami taklukkan. Meskipun kalian juga tak luput dari kematian. Maka kami pun membeli ratusan budak. Dan itulah kehormatan. kami bunuh. Kami membeli juga para penjahat yang telah divonis mati. seperti kami katakan tadi. Selamat jalan. orangorang besar di negara mereka. Inilah hidup yang sesungguhnya. memang makhluk yang tak gampang menyerah. baru kemudian kami memburu mereka. tapi manusia. Sampai kemudian ide brilian terlontar.. mendatangi kami. daripada mati di tiang gantungan: tak lagi punya pilihan. para bangsawan dan pengusaha besar. membiarkan mereka lari dan menghilang. Mereka kami lepas ke tengah hutan. untuk ikut menikmati perburuan itu. Tapi itu lebih baik bagi kalian. Itu menjadikan kami begitu bahagia. Kami tak lagi memburu binatang. tak hanya kami yang suka dengan permainan semacam itu.mengejar antelope. Para bangsawan. Liat dan sigap. Adakah yang lebih menyenangkan. Para penjahat itu. “Masuklah dalam hutan.” “Lantas bagaimana?” “Apa pun yang terjadi kita mesti memburu sesuatu!” “Memburu apa?” Itu membuat kami terdiam. Kepada mereka kami tawarkan kebebasan. banyak orang di luar suku kami. banyak di antara kami yang menolak. Jangan cemas. “Perburuan tak mungkin berhenti!” “Kita akan cepat renta bila sehari tak memburu apa pun!” “Takdir tak bisa dihentikan. Dan itu. Ketika kisah-kisah kami menjalar ke banyak negara.

tempat kami berpesta setelah seharian berburu. Tak ada lagi yang berani menggertak kami. Jangan biarkan anak-anak kita menjadi pucat dan pasi. Ketika kami menjarah perempuan dan membunuhi anak-anak. Kami terus memburu. yang melintas bagai badai dan gelombang. tetapi penaklukan yang membosankan. Itu sering membuat kami terusik sunyi. Kami tak lagi hanya terbiasa dengan bunyi pedang.dan memiliki lahan-lahan perburuan yang luas. tetapi juga. sendiri. tak ada lagi kegairahan karena kemenangan. Begitulah memang mestinya nasib penyair yang tak menulis syair pujapuji bagi keagungan kami. kami terus menuliskan sejarah kami yang agung. “Ini darah seorang penyair untukmu. Jangan biarkan mereka menjadi lembek karena rasa sunyi ini. yang sudah berumur 100 juta tahun lebih. Hingga kami tak lagi kekurangan buruan. begitu melimpah buruan kami. melintasi gelombang waktu. Perburuan bukan lagi perkara kebesaran dan kehormatan. jangan sedih. Karena kami sudah terlalu kuat. . menyarankan kami agar mengumpulkan para kiai. para demonstran untuk kami habisi. Apakah arti kekuatan bila tak ada tantangan yang sepadan? Tak ada lagi yang sanggup melawan kami. terkadang. Kami. ketika kami mengirim pasukan pemburu ke banyak negara untuk meluluhlantakkan apa saja. tetapi juga denting gelas dalam kehangatan pesta. pasokan senjata yang bagai anggur mengalir dalam gelas-gelas kami. Kami tak hanya punya kesempatan memburu para penjahat yang telah divonis mati. keisengan. menggulung apa pun yang kami sukai. ketika kami memburu ribuan orang Yahudi untuk kami kirim ke kamp konsentrasi. Di antara kemeriahan pesta. seakan maut sudah menyentuh bibir orang tua itu. Kami bangun juga istana-istana. Suaranya sudah gemetar. dengan setiap malam tidur di ranjang yang bersih dan nyaman. Kami perlahan-lahan meninggalkan cara hidup kami di hutan. menumpuk tengkorak kepala korban kami hingga menggunung sampai menyentuh awan. Kami menjadi kaum pemburu yang kian kokoh dan terhormat. Malah sering para raja dan kepala negara memberi kemudahan kami dengan memberi lisensi untuk menghabisi para tokoh oposisi yang tak mereka sukai. tetapi kami selalu dirundung sunyi. Ah. Juga kaum intelektual yang selama ini mereka benci. ketika kami memburu dan membantai orang-orang muslim di Bosnia.” Gelas kami beradu. Hidup pemburu agung! Kami pun menjadi kelompok pemburu yang besar. “Kita harus melakukan sesuatu. hingga pertarungan menjadi tak sepadan. yang telah menjadi sekelompok pemburu yang paling kuat. ketika kami menembaki anak-anak Palestina. “Untuk apa mengumpulkan para kiai itu?” 128 . dengan dukungan dana yang melimpah. Kami berdiri di puncak menara peradaban. kami terus bergerak dari benua ke benua dari zaman ke zaman. Para pengusaha mensubsidi kami modal bermilyar-milyar. Bahkan mereka menjanjikan kami lahan-lahan perburuan yang lebih luas. dan kami tertawa bahagia. Kami seperti kehilangan buruan yang mengasyikkan. Apalah arti semua itu bagi jiwa pemburu kami? Semua itu bukan lagi gairah petualangan dan tantangan. sehingga permainan menjadi tak lagi begitu punya arti. Para raja dan kepala negara mempersilahkan kami untuk memilih rakyat mereka sebagai binatang buruan. Para jenderal menyediakan kami senjata-senjata paling mutakhir..” Lalu seseorang yang paling tua di antara kami. menjadi tak tertandingi. tetapi kami bebas memilih siapa pun yang paling menyenangkan kami buru.. mengijinkan tempat-tempat itu untuk kami kelola dan kembangkan sebagai ladang perburuan yang lebih menantang dan menyenangkan.

Sekarang.“Aku sudah mencium ajalku. Seluruh bangunan itu terbuat dari pelepah kayu. itu 129 . ketika hampir separo dari jutaan kiai itu sudah masuk ke dalam masjid.” kata kami kepada mereka. Bagaimana tempat sekecil itu menampung jutaan kiai yang kami himpun dari seluruh penjuru ini. membuat kami begitu ternganga. Gairah menjalar. Membuat darah kami menggelembungkan jiwa pemburu kami. Bila selama ini kalian tak bisa mendatangkan Jibril bagi kami. “Kami ingin Jibril. bagaimana cara kalian mendatangkan Jibril bagi kami. “Kalianlah yang bercanda. anggur segera kami tuang dalam gelas.” Mereka. berkelok-kelok mengikuti gigir bukit. dan meminta kami untuk membawa mereka ke sebuah kaki bukit di mana ada sebuah masjid kecil di pinggir hutan.. Barisan kiai masih antri di depan masjid itu.. Apalagi ketika kami melihat sendiri masjid itu. Dan tentu. aku ingin menikmati perburuan yang paling menggairahkan. kenapa kami tak memburu malaikat? “Jibril! bagaimana kalau kita minta Jibril!” “Kami bersorai. kalau perlu dengan paksa dan kekerasan. dengan meminta kami mendatangkan Jibril. . membangkitkan imajinasi kami. Ya.” tegas kami. kami giring ke sebuah istana kami yang paling megah. Suruh mereka menyediakan malaikat untuk kita buru!” Kami terpukau oleh gagasan itu. Jutaan kiai masuk ke dalam masjid yang bagi kami hanya cukup untuk tidur dua puluh orang. telah lapuk.” Lantas kami membiarkan satu persatu para kiai itu masuk masjid kecil itu.” “Baiklah. Kami segera mengeluarkan seluruh senjata kami. dari seluruh dunia... Dan aku ingin. “Baiklah. malaikat. Kami turut kemauan mereka. “Kalian jangan bercanda!” teriak kami. kapan kalian bisa menyediakan Jibril bagi kami?” Kami tatap wajah para kiai itu. . Kami segera menghimpun topan. Tetapi mereka menolak. mencari kepastian dalam mata mereka. katakan kepada kami. kami segera mengumpulkan para kiai. Apakah kalian akan shalat sepanjang hari? Apakah kalian akan berdoa dan mengaji? Apakah kalian akan menangkar atau menjebak Jibril dengan sebuah perangkap? Kami tak mau tahu dengan itu semua. menyambut hari depan kami yang gilang gemilang. Luasnya tak lebih dari lima kali lima tombak.” “Apa hubungannya dengan para kiai itu?” “Kumpulkan mereka. “kalian kami beri waktu satu bulan. tetapi masjid itu tak juga penuh. seperti barisan semut yang begitu tertib menuju lubang sarang mereka. para kiai itu. Mereka kami datangkan dari semua penjuru. Benar-benar masjid kecil yang tak terawat. Panji perburuan berkibar. Pintu itu terbuka untuk menerima siapa pun masuk ke dalamnya. kami akan membikin perhitungan sendiri. sebelum maut menjemputku. “Kami tak mau tahu. bersulang. meski sesungguhnya heran.

bukan? Jangan salahkan kami. kenapa kami malah bengong begitu? Maka. tertelan dan lenyap. Dan kami segera menyerbu. Tiba-tiba tubuh mereka hilang tak berbekas. tetapi tak kunjung keluar jua. desing senapan mesin. di puncak kobaran api. berkobar dan segera kami lempar pada mesjid itu. kami melihat selesat biru cahaya menatap kami. Kami memagarbetis masjid itu. Satu bulan lewat. kini telah muncul di hadapan kami. orang kedua kami pun tak kembali. Kami panik. Seperti batang-batang pohon yang bergoyang itu. Kami berteriak menyuruh para kiai itu keluar. Kami tak mau kecolongan. jangan-jangan semua itu sihir belaka. betapa memang inilah yang selama ini kami tunggu-tunggu. seperti daun yang melayang-layang itu. Tetapi seperti yang pertama. luar biasa. Kami tak mau ditipu para kiai itu. itulah yang kami saksikan. Lantas kami tak bisa lagi sabar. membuat kami tengadah ke puncak api. gembira dan tak percaya. raib begitu saja. masuk dalam masjid itu. tak pernah muncul kembali. Jibril. ya Allah. Begitulah berkali-kali. Sampai kemudian semua kiai telah masuk dalam masjid itu. Gema itu melambung. “Jibril!!” “Jibril!!” Seketika kami berteriak. roket dan basoka. antara takjub dan panik. Sementara suara dzikir itu terus saja bergema. Dan kami mendengar gema dzikir dari dalam sana. bagai masuk ke tabir ruang dan waktu pada dimensi lain. sekaligus marah. tak membiarkan seekor tikus lolos dari amatan kami. Namun dzikir itu masih kami dengar. mengalun menidurkan rerumputan. tetapi hanya gema dzikir membalas suara kami. hingga kayu-kayu bergemeretakan. mendadak menyadarkan kami. semua dari kami yang masuk ke dalam masjid itu. membuat udara bergetar dan perasaan kami gemetar. Kami bakar masjid itu. dan api melahap cepat. melihat impian kami sudah di depan mata. Apakah ini keajaiban yang dikirim bagi kami? “Buru!” Teriakan itu. di sana. dengan sigap kami segera meraih senjata-senjata kami. bersama angin dan embun.pun pasti sudah berhimpitan. ketika para kiai itu tak juga muncul dari dalam masjid. di pucuk api berkobar. Membuat kami tambah cemas menunggu. kemudian kembali mengirim utusan untuk menemui para kiai di dalam masjid itu. sepanjang hari sepanjang malam. membumbung. utusan kami ini pun tak muncul lagi meski kami sudah menanti lebih lima hari. takut mereka akan keluar dan meloloskan diri ketika kami tertidur. Kami kirim utusan kembali. anak panah. tetapi. Kemarahan kami menyalakan api di tangan. memperingatkan para kiai bahwa waktu sudah habis buat mereka. Kadang kami merasa ada yang menggemericik dalam hati kami karena gema itu. Dan. dengan sayap terentang sampai ujung paling jauh dari semesta. 130 . bagaimana mungkin? Tapi. Pada saat itulah. Kami panggil namanya. menyentuh langit. Membuat kami cemas. Kami sudah cukup punya pengertian. lenyap seketika. Segera kami kirim seseorang untuk menemui mereka. menguap begitu cepat. yang hanyut dibuai dzikir para kiai. Tombak. seseorang di antara kami berteriak. dengan cepat berlesatan ke arah selesat cahaya biru itu yang dengan cepat bergerak dengan sayap mengepak. Kami terus berjaga. Tapi seperti yang pertama dan kedua. setiap orang yang kami kirim untuk menjumpai para kiai. Namun orang itu tak kembali.

dan langsung melesat. Jiwa pemburu kami bergelora oleh gairah perburuan kali ini. mengejar Jibril. Setelah berabad-abad kami hidup sebagai pemburu. Karena kami harus terus mengejar Jibril. kami memburunya. Kami tak mau kehilangan jejak. Kami begitu sibuk memburu Jibril. Membiarkan kaki kami koyak oleh duri. mengepakkan sayap-sayap cahaya-Nya. melanjutkan pemburuan abadi kami. kami lihat jejak cahaya. Kami tak sempat istirahat. mengharap kesegaran akan membuat tenaga kami kembali muda. Ke mana pun Jibril melesat. Inilah buruan kami yang abadi. ranjauranjau telah kami tanam. membiarkan rambut dan jenggot kami memanjang tak terawat. setelah bermacam pengalaman perburuan membuat kami jadi pemburu sejati. Ketika kami baru saja rebahan dan membasuh kelelahan kami di telaga itu pun. hingga telah lama anak-anak kami tak lahir. Bertahun-tahun kami memburu. Sebagian besar dari kami kini benar-benar renta. kami sudah harus kembali pergi ketika pada bayangan bulan.*** 131 Yogyakarta. perangkap telah kami pasang. Segera menghambur. jaring-jaring baja telah kami rentangkan.“Kejar!” Kami pun melesat. kami melihat buruan abadi kami. Kami tak pernah tidur di satu tempat. Kami tak punya waktu untuk memikirkan itu semua. meraih peralatan berburu kami. Dan memang. 1995-1998 (Dongeng Buat Mas Danarto) (Dimuat dalam Horison. Banyak dari kami yang mati dalam perburuan ini. roket terus berlesatan. “Ke sana!” seseorang dari kami berteriak. dan kami pun tak sempat menguburkannya. Inilah perburuan paling menakjubkan bagi kami. agar kami mampu meringkus Jibril. yang menyimpan bayangan bulan. kami benar-benar tak pernah punya waktu istirahat. Maka kami pun kembali bangkit. Di seberang telaga sana. Tombak terus beterbangan. Sampai kami tiba di pinggir telaga ini. inilah sesungguh-sesungguhnya perburuan yang sejati. Januari 2000) .

Hotel Indonesia. main petak-umpet. untuk cepat dan mudahnya. main bola kaki. setelah mobil berlalu. di jalanan yang sempit itu.Gank Oleh: Syahril Latif 1 Gang Haji Abdul Jalil adalah sebuah gang sempit yang terletak persis di depan Kuburan Karet yang terkenal itu. yang terpaksa merayap pelan bagai keong. Anak-anak remaja mengganti huruf pada Gang itu dengan k. 3 Penghuni gang itu terdiri dari berbagai suku. main congklak. Apalah arti sebuah nama. Kadang-kadang. Tak tahu siapa yang mengubahnya. Dan apabila ada mobil lewat. sehingga menjadi Gank. main galasin. Belakangan. sehingga kami tak merasa lagi perbedaannya. anak-anak bermain gundu. atau melompat-lompat main engklek. Namun. 4 . Dunia Fantasi Ancol. Kami telah lebur jadi satu: penghuni Gang Haji Abdul Jalil. 132 2 Di gang itulah aku dan teman-teman tumbuh dan dibesarkan. main layangan. Di sana. semua orang mengenalnya sebagai Gang Haji Abdul Jalil. dapat menduganya. seperti Taman Mini. siapa lagi kalau bukan salah seorang di antara kami. Tapi inilah gambaran kota yang sebenarnya. Sebuah gang sempit yang tak berarti. apa pun namanya. berkejaran. disingkat saja menjadi Gang Jalil. anak-anak menyibak ke tepi. di mana penduduk tinggal tumplek berdesakan. ada yang mengubahnya: Gank Haji Abdul Jackal. Seakan. Sementara gadia-gadis kecilnya duduk bersila main masakmasakan. dan lain sebagainya. sehingga kau tidak akan menjumpai dalam kartu pos bergambar untuk promosi pariwisata. Tapi semua orang seperti sudah maklum. Monas. oleh tukang. beca terutama. yang bercampur-baur menjadi satu dengan penduduk asli Betawi. seperti setelah biduk lalu kiambang bertaut. Kemudian mengumpul kembali memenuhi jalanan.

sopir. pedagang kaki lima. dan tanya lagi. sih? 133 6 Di sini dapat kau jumpai segala macam orang: tukang sol sepatu. dosen. guru sekolah. “Yang di sebelahnya?” “Rumah pegawai Bea Cukai. berukuran kecil dan tak teratur bentuk dan susunannya.” begitu kami selalu menjelaskan. dengar-dengar bagian pembelian atau perizinan. “Yang di seberangnya?” “Itu mah. ngurus hal orang lain. satpam.” “Bagian apa?” “Tau. tukang kayu. penjual nasi Padang dan Tegal. “Pantas!” jawab mereka.” kata mereka. perawat dan lain sebagainya. pelayan toko. makelar.” “Lebih pantas lagi. Dan tanya lagi. pegawai negeri dan swasta. menjabat bagian basah. yang segera mengundang tamu atau teman kami yang datang berkunjung. kenek. bidan. tukang listrik.” “Kok sama hebatnya?” “Maklum. bertanya heran: “Rumah siapa yang cakep itu?” “Itu rumah pegawai pajak. montir. tukang cukur. Kok. Kadang menumpang menjahit baju anak di rumah tetangga yang punya . semua kami miskin dan karenanya kami saling mengenal dan akrab satu sama lain.Rata-rata. rumah-rumah. pegawai negeri biasa saja. ibu-ibu kami saling pinjam garam atau korek api atau bumbu masakan kepada tetangga. Ada juga satu dua rumah gedung yang berpekarangan luas dan bertaman. Kadang-kadang mereka saling antar-mengantar sayuran atau makanan kecil. membuat kehadirannya bagaikan putri raja di tengah rakyat gembel. Tak tahulah. kami pun sederhana. 5 Sebagai gambaran kemiskinan. 7 Jika lagi kehabisan.

12 .. mengasyikkan.” Ejaan itu mengalun dalam irama yang khas. Buunakum. tak bisa dirahasiakan. Yang paling cepat ketahuan. di luar pekarangan rumah. Bainakum. Baanakum. Aunakum. Tsuunakum . ke sepanjang gang. 134 9 Kurasa gang kami tak pernah sepi. sungguh menitikkan air liur.. ibu-ibu kami terlibat juga dalam pertengkaran kecil. Tainakum. Macam-macamlah sumber kebisingan itu: radio atau kaset yang tak henti-hentinya distel. Tsiinakum. Taunakum.mesin jahit. Dan andaikata ada pompa air yang rusak. terdengar mengalun suara anak-anak mengeja Juz Amma dari madrasah: “Aanakum. Biinakum. Biasanya. lebih terkenal: gaple. Tsaunakum. anak-anak mereka sudah berbaikan kembali. Tuunakum. 10 Apa saja yang dimasak tetangga. Uunakum. tetangga lain akan cepat turun tangan memberikan bantuan perbaikan. Tiinakum. Taanakum. Yang ini. Tsaanakum. 11 Lepas Isya dan makan malam. Atau juga. boleh dikata selalu ada permainan domino. Dan lepas tengah hari. atau listrik yang korsleting. Pada malam minggu. 8 Sesekali. sementara ibu-ibu itu masih bersungut-sungut. Ainakum. Tsainakum. bisa-bisa berlangsung hingga beduk subuh. Anehnya. yang berantem. Tak tahulah.. di saat warga sedang terkantuk-kantuk disengat panas Jakarta. teriakan anak-anak bermain. begitulah cara mereka membanting kesal ke atas meja gaple. Baunakum. Aromanya akan mengambang ke mana-mana. soal anak-anak. kalau ibumu menggoreng ikan asin. mengantar kantuk. Iinakum. teriakan penjaja sayuran dan makanan. Begitulah cara ayah-ayah kami melepaskan lelah setelah seharian mencari nafkah membanting tulang. melayang jauh dihantar angin siang.

Berbeda sedikit dengan hari-hari biasa. Di tengah pengajian sedang berlangsung. anak-anak cewek ikut nimbrung bersama kami. ikut hadir. persis pengamen jalanan. atau belagak memainkan musik jazz dengan gitarnya. semua anak-anak Gang Haji Abdul Jalil adalah teman. hampir sebaya. menyanyi dan main gitar. Atau disusul adiknya disuruh pulang. agaknya dangdut dan pop itulah. sebagai basa-basi. setengah melucu. setengah menyindir: “Mata yang mengantuk kalau dibawa mendengar pengajian. Semua jenis lagu kami senang. ditingkah senda gurau dan gelak tawa tak berkeputusan. 16 . kami saling menjaga. semua membuka matanya lebar-lebar. Sesekali kami larut juga dalam irama gambus. Heran. mata itu bisa melotot terus sampai pagi. dan yang lain segera menyorakinya. Tapi rasanya lebih intim dengan Hamzah. Sebentar mereka sudah dipanggil ibu mereka. Dulu ketika masih kecil. Tempatnya: gardu jaga siskamling. Martin. ayah-ayah kami pada mengantuk. kalau main gaple semalam suntuk. saling menenggang. Nampaknya kehadiran kami melegakan hati mereka. kami sering berantem. Kami menyebutnya ‘markas’. Menertawakan siapa? 135 13 Jika yang tua-tua senang gaple. tak sampai larut. Usia kami tak jauh beda. Najib. mulai dari dangdut. kami yang muda-muda pun tak mau ketinggalan duduk menggerombol: ngobrol ngalor-ngidul. sekali sebulan pada petang Jumat. tapi tak kena: sumbang. Kami yang muda-muda. 15 Bagiku. Sekali-sekali ada juga yang mencoba seriosa. orang tua-tua kami mengadakan pengajian di mesjid. Tapi yang mendapat tempat di hati kami. Sekarang tidak. pop sampai keroncong. Menurut Ustadz Malik. tanda setan sedang mengencinginya!” Tiba-tiba. 14 Sekali-sekali. Dan kalau bisa ingin berbuat lebih baik kepada yang lain. sedikit kaget dan lantas tertawa. Tony Handoko dan beberapa anak tertentu.

seakan ia jauh dari kita. Anak-anak hampir tak dapat menahan ketawa. Dan sekarang. guru ngaji di gang kami. bukan cerita silat lagi. kalian tahu. Merasa lebih penting dan menonjol dari yang lain. Gayanya mirip-mirip Rendra. Tapi Hamzah tidak marah. Apalah yang dapat diharapkan dari pencarian ayahnya yang ustadz. kalau dia lagi sendirian di teras rumahnya. nada suaranya agak dilantunkan bagaikan orang berdiri di atas panggung. si Najiblah yang membuat kami semua merasa heran. Akhir-akhir ini ia agak jarang nongol di ‘markas’? Waktunya dihabiskannya di TIM. apakah dia masih bisa berbisik. Kadang-kadang ikut mentas ke kota-kota lain! 18 Kukira. Najib anak Ustadz Malik. “Maklum. berat. maunya. Agaknya ia tak bisa lagi mengecilkan suaranya. ekspresi wajah dan lain sebagainya. disibukkan oleh latihan-latihan teaternya. cara tersenyum. ni yee?!” ejek anak-anak. jalannya. Mau melanjutkan ke Perguruan Tinggi Swasta. deh! Bayangin. benar-benar ia putus sekolah. Itu. gerak tangan. deh. bagaikan buku yang belum habis dibaca kita sudah . Agaknya dangdut seperti sudah dilupakannya. Selangit. Atau dikuburnya? Pokoknya lagu Barat melulu. ia tahu diri. Gaya bicaranya. Tiba-tiba saja ia telah menjadi manusia aneh di tengah-tengah kami. biaya kuliah terlalu tinggi. di luar jangkauan. Kami tak tahu pasti. Akan hasil perburuannya itu. kayaknya bukan lagi Martin yang kami kenal selama ini: Martin yang lugu dan agak pemalu.” tambah yang lain. Kalau ia bicara. “Inggris. sejak jadi mahasiswa Sastra Inggris paling getol nyanyi Inggris. dia sedang baca apa? George Bernard Shaw atau Hemingway atau Tolstoy atau Albert Camus atau Dokter Zhivagonya Boris Pasternak atau Thomas Elliot! Pokoknya: berat! 136 17 Kalau si Martin lain lagi. Di situlah ia bercokol. Masuk kantor keluar kantor. Soalnya setelah gagal sipenmaru. tak mungkin. Maka dengan senjata ijazah SMA-nya diterobosnya rimba perkantoran kota Jakarta. Sejak jadi pemain teater.Hamzah gitaris andalan kami. gayanya overacting. Tak acuh. bacaannya bukan komik lagi. Ia ikut salah satu kelompok teater yang sering mentas di TIM. Pokoknya.

” pesan ayahnya. Jelas Najib berbohong. Ia memerlukan teman dalam perjalanannya. Satu-satunya perusahaan yang mau menerimanya adalah sebuah Pub. Apakah ia suka atau tidak. Sampai kapan? Dan kami. Bahkan ia minta aku menemaninya selama seminggu di pesantren. dan ia tak mau jadi bahan tertawaan teman-temannya. Ayahnya Ustadz Malik tak tahu putranya bekerja di tempat haram itu. merunduk terus. Tony memintaku. Tapi Allah memang Maha Pemurah. sesuai menurut apa yang dikatakan Najib ketika suatu kali ayahnya bertanya. . Dan ia tahu betul berbohong itu dosa. Karena Najib bekerja malam hari hingga subuh. ke Pesantren Bangil. Tony dan aku berangkat naik kereta api ke Jawa Timur. dan semua orang di gang. kerja. Siang hari ia tidur. rumah minum. Orang tak ingin menghancurkan perasaannya. Tony bungkem. Tony Handoko yang agak ugal-ugalan itu. bersikeras pada papanya mau masuk pesantren. kemudian ikut training untuk jadi Bartender. Setelah pernyataan pemberitahuan itu kepada papanya dan diberondong habis-habisan. pimpinan pesantren itu. bukan main kagetnya sang papa.tahu jalan ceritanya. Ketika hal itu disampaikan. Papanya menyesalkan sangat keinginan Tony itu. berang. tak alang kepalang. Beberapa hari kemudian. Najib bekerja sebagai Satpam di sebuah perusahaan. siapa sangka. Teriak papanya: “Mau jadi apa kau?! Mau jadi santri miskin?!” Suaranya menggelegar sepanjang gang. jika Allah berkehendak memberi hidayah kepada hambanya. Najib merasa sangat terhimpit. bingung. Artinya. Untunglah hal itu diizinkan Pak Kiai. merasa berkewajiban menyimpan rahasia ini kepada Ustadz Malik. setelah Najib ditest. bagaikan disambar petir di siang bolong. Lingkungannya tak memungkinkan. Sebenarnya. Pengasih dan Penyayang. Yang ia tahu. “Jangan lupa shalat. kalau itu diartikan secara harfiah: kerja. heran. kami. anak pegawai pajak yang gedongan itu. dan tak ada tempo. Bekerja di bar itu dosa. tapi dilakoninya terus. Najib mulai bekerja di sana. Papanya sudah berangan-angan supaya Tony jadi akuntan dan akan mengirimnya ke Amerika. seperti musang. 137 19 Sebaliknya. akhirnya Najib mendapat juga apa yang dicarinya. bagaikan rentetan tembakan senapan mesin sebagaimana yang kau lihat dalam film Rambo. Selanjutnya diberondongnya Tony dengan omelan tak berkeputusan. Nah. Sejak itu kami kehilangan seorang teman kongkow. Kaget. Papanya menganggap keputusan Tony itu benar-benar gila. atau kayak petasan gantung waktu sunatan. menguji keimanannya. tentu kau sudah dapat menebak. Dan bahkan kini ia sudah tak shalat lagi. bersamaan dengan itu Allah ingin menguji Najib. sampai papanya reda dan terhenyak di kursi. tak membantah sepatah pun. Pokoknya. dan di mana mau shalat. Agaknya ia kalah.

Aisah yang satu ini.. sekarang pakai jilbab (itu istilah yang ngepop sekarang.. bukan?” “Tidak sekarang. persis seperti kaum wanita pasidaran Iran. “Toh tidak apa pulang buat sebentar. pengajian subversif. Maunya perintahnya saja yang mesti diturut. Dan katanya: “Coba fikir. Tapi. Sekarang sedang tersapu oleh gemerlapnya keindahan dunia 138 21 Sebenarnya.. tak lain tak bukan. saya bertanya: siapa yang sesat? Saya atau papa? Apa yang papa fikirkan hanya duit melulu .20 Sehari setelah keberangkatan Tony. pengajian yang disusupi faham komunis. menjadi anak durhaka. kepadaku ia berkata: “Nanti sebentar papa akan sembuh juga. Tapi Tony tak mau. Coba. Dan sebagaimana dikatakannya dalam surat kepada ibunya. seakan dengan itu dapat dibeli semuanya: gengsi. Saya hanya bisa berdoa. hampir saya tidak bisa memaafkan papa. anak-anak perempuanmu. Kau lihatlah si Aisah.. martabat. tapi miskin rohani. Jelas ini fitnah! . hanya mencari kesenangan dunia….. Belakangan ada lagi yang menyebutnya pakaian wanita Ikhwanul Muslimin Mesir. pimpinan Imam Hassan Al-Banna. Nah. pada hari ketiga.. hampir menangis. nampak kesal. Papa memang selalu begitu. yang suka “ekstrim” bukan Tony Handoko seorang. Dalam batin. Allah.” Aku mencoba melunakkan hatinya. masak papa tega menuduh saya subversif. Hendaklah mereka mengulurkan kain kerudung/jilbab mereka ke . Begitu Surat Kilat Khusus yang kami terima. Tidak! Saya tidak akan pulang! Saya sudah bosan dengan suasana rumah!” Tony menarik nafas panjang. Dunia. Engkaulah Yang Maha Tahu! Dan papa sampai hati akan mengadukan kelompok pengajian kami kepada yang berwajib. menurut Ustadz Malik. Ada lagi. kesenangan .… Apa dengan kekayaan itu dapat dibeli kebahagiaan akhirat? Papa sudah dipengaruhi oleh Dajjal yang bermata satu. Saya percaya masih tersimpan benih-benih iman dalam dada papa. istri-istri orang mu'min... Sesuai dengan apa yang termaktub dalam Al-Quran. saya dibilang sudah sesat? Dituduh mendapat pengajian yang sesat? .” Pakaian yang menutup aurat. semoga Allah memberi papa taufiq dan hidayah. “Itulah pakaian Muslimah yang sebenarnya. anak buah fanatik pengikut Imam Khomeini. Ikut pengajian gelap. Lanjutnya: “Kalau tidaklah karena takut dosa. Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu. dunia dan kesenangan melulu. apa pun namanya. Ma. itu kata lain dari pada kerudung). agar semua kami ditangkap...” jawabnya pasti. surah Al-Ahzab ayat 59: “Hai. teman kami juga. teman Maryam (nanti kalau ada tempo aku cerita padamu). sebagaimana yang kita lihat di majalah-majalah atawa koran-koran. Dan kesan pertama kita melihatnya. Ia diminta ibunya pulang sebentar untuk menjenguk papanya. dari ibu Tony. Ya. “Sekarang saya lagi kesal sama papa. kulihat air matanya menggenang. Kini. guru ngaji kami ditangkap! La hawla wa la quwwata illa bi 'l-Lah. papanya jatuh sakit.

lisan dan tulisan. “Itu waktu saya masih jahiliyah. “Salah apa saya jika saya mengamalkan ajaran agama saya?! Toh.” kataku pula. “Apa pakaian-pakaian yang dulu itu sudah kau sedekahkan. Aisah. apalagi mini. walau warnanya sudah putih di atas dan abu-abu di bawah (sudah disesuaikan Aisah). Dan siapa yang mau menjahitkan kepada saya? Terserahlah. Garagara pakaian jilbab itulah.: suatu ketika Asma binti Abu Bakar masuk ke tempat Rasulullah sedang Asma memakai baju yang tipis (membayang tubuhnya).” Mantap sekali ia. sejak Aisah menjadi eskrim. “Dulu sebelum begini malah kau seorang modis. tapi Saudara-saudara dapat mencarinya sendiri dalam Al-Quran. Sekarang siapa yang mau menjahitkan pakaian padamu kalau hanya jilbab melulu?” “Lupakanlah itu. dapat saya kutipkan sebuah Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Daud dari Aisyah r. Yang kutahu Aisah tetap tegar. sudah dibakar ludes! Atau dihanyutkan ke Kali Malang (tak jauh dari gang kami). ekstrim itu.seluruh tubuh mereka. siapa yang mau saja.. perancang busana. Kayaknya semua pakaian rok.a. fikirku. bahwa negara menjamin kemerdekaan dan kebebasan setiap warga negara untuk memeluk suatu agama atau keper- 139 . wanita yang telah sampai masa haid tidak boleh terlihat kecuali ini dan ini. Namun ia tetap dianggap melanggar.” “Kau ini aneh. maaf. ia selalu berjilbab! Anak-anak yang iseng. kayaknya Aisah tak punya lagi barang sepotong pun baju model lain. Tapi lihatlah betapa cobaan yang dihadapinya.. Berkata mantap kepada kami anak-anak gang. Rezeki di tangan Allah. Dan sejak itu.” katanya. Semoga Allah mengampunkan ketidaktahuanku. Aisah?” Suatu kali aku coba menduga kepadanya. Dan Allah Maha Pengampun-Penyayang.” jawabnya. dan dosa yang dilakukan orang itu. dengan ancaman sewaktu-waktu bisa dikeluarkan dari sekolah. Al A’raaf ayat 26 dan beberapa Hadis yang diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad! Pokoknya. Aku tak tahu bagaimana kesudahannya. menjulukinya dengan “pakaian ninja”. masih ada beberapa ayat dan hadis. kapan saja. Aisah boleh bermantap-mantap. misalnya pada An Nur ayat 31. blus yang dulu. Oleh kepala sekolah. ia dianggap melanggar peraturan seragam sekolah.” Dan dari Hadis Rasulullah Saw. maka Rasulullah melengah seraya berkata: “Hai Asma.” dan beliau menunjuk kepada muka dan kedua telapak tangannya. Aisah mendapat kerepotan di sekolahnya (sebuah SMA Negeri di bilangan Kebayoran Baru). “Menyuruh orang membuka aurat. baik yang maxi. baju lengan panjang dan rok yang komprang kedodoran itu! Kepala Sekolah sudah memberi peringatan beberapa kali. ia berdosa dan aku pun berdosa. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal. “Itu namanya. barangkali. Soalnya: jilbab yang kayak ninja itu. midi.. Sebenarnya. sama saja kita membagi dosa kepada yang lain. Dan dosaku dua kali lipat: dosa karena telah memberi yang salah. Tapi Aisah tak acuh saja. agar mereka tidak diganggu. hal itu dijamin oleh Undang-Undang Dasar Empat Lima kita! Baca tuh pasal 29 ayat 2. di mana saja.

Rupanya Aisah belum selesai. ‘kali.. plok plok plok plok plok plok plok. Aisah melanjutkan: “Itu tuh. pengamalannya kita jegal.. “PKIiiiiiiii. ini enggak ge-er. yang merokok itu.. ya (senyum.!” tambah kami lagi. mana yang lebih tinggi kedudukan hukumnya UUD 45 atau Peraturan Seragam Sekolah?!” “Jelas UUD 45. Kita curiga dengan berbagai prasangka..” celetuk kami.. yang mabuk-mabukan itu.. Tilawatul Quran kita rayakan secara besar-besaran dengan biaya jutaan. segera mengalihkan iramanya ke kasidahan: “Indung-indung kepala lindung Hujan di udik di sini mendung Anak siapa pakai kerudung Mata melirik kaki kesandung.” jawab kami spontan memberi semangat dan membenarkan Aisah. Dan bertepuk tangan serempak. ‘kali.. dasar anak-anak.cayaan dan untuk beribadah sebagaimana yang diajarkan oleh agama maupun kepercayaan itu! Nah.. Apabila Aisah lewat di depan ‘markas’. aduh manisnya). yang suka keluyuran di jalanan atau ke disko pada jam-jam pelajaran! Ke sana alamat penertiban itu! Bukan kepada hak asasi orang?! Orang yang baik-baik seperti kita-kita ini lagi. membenarkan. suka becanda. belum merasa puas. senang sekali.” . kalau mau ditertibkan juga.. Apakah ini tidak munafik namanya? Atau mungkin ada penamaan lain?” “Munafiiiik. Tiba-tiba seseorang memberi komando: “Tepuk pra-mu-ka!” Plok plok plok. anak-anak yang tadinya asyik-asyiknya menyanyi dangdut atau pop. Mengembangkan kedua tangannya. Aisah mengeluh: “Boleh jadi semua kita telah menjadi orang-orang munafik terhadap agama yang kita anut.. katanya sambil setengah berbisik.. Semua bertepuk kegirangan bagaikan anak-anak pramuka. Begitu ia lewat. yang terlibat narkotik itu. tertibkanlah siswa-siswa yang suka berantem itu. Kan hanya orang-orang PKI yang sangat anti agama?” “Ya. tak pernah luput ia jadi godaan. suka menggoda. mencorongkan kedua telapak tangannya ke moncong: “Jangan-jangan kepala sekolah itu bekas PKI. mengangkat bahu.. dong. plok plok plok. 140 22 Di mana pun..!” teriak anak-anak serempak. tak tanggung-tanggung! Tetapi sebaliknya.” Lagi-lagi kami keplok.

“Kau tidak diapa-apakan mereka?” tanyaku.?” 23 Suatu kali sedang aku asyik mentes kaset yang akan kubeli di sebuah toko di Benhil. kulihat Aisah berjalan seorang diri pulang sekolah.” “Sorangan wae?” “Mari. “Tidak.. “Ada cowoknya. yuk?” “Ntar lu digampar bokapnya!” “Enggak apa asal gue dapat anaknya yang ca'em. Mungkin. “Wah..” 141 . Jalan terus. Kuatir mereka menggoda lebih jauh lagi. Aku sudah siap menghadapi segala kemungkinan.” Dan macam-macam lagi. berkata: “Alangkah manisnya anak ini. buru-buru aku keluar. Mek!” Lalu kutarik Aisah ke toko kaset. persis kayak segerombolan anjing hendak berebut tulang. alimnya.” “O ya lupa. mengitarinya seakan hendak memangsa.Aisah terus berlalu dengan senyum-senyum dikulum. assalamu'alaikum.” Anak-anak pada sorak kegirangan. Serombongan cowok SMA yang berpapasan dengannya menggoda Aisah dengan sikap agak kurang sopan. dong. “Wa'alaikum salam. Mereka menyingkir secara teratur. kalian ini tak tahu aturan!” ujar yang lain belagak memarahi teman-temannya. gue anterin. dalam hati masingmasing kami. “Ucapin salam dulu. Sekilas kudengar. “Waduh. Namun Aisah diam saja. kupanggil Aisah dengan suara lantang untuk mengagetkan anak-anak itu. Aku berhasil.” “Anak-anak berengsek!” “Mereka cuma iseng. Neng?” Dengan lembut Aisah menjawab.

kalau berganti-ganti saja pemuda-pemuda luar datang berkunjung ke rumahnya. Kemudian pasangan anak muda itu pergi ke luar rumah untuk latihan menyanyi.. Kukira. Dan yang paling akhir anak orang kaya bermobil Baby Benz. lain pula Maryam. ke restoran. Di lain waktu. Dan Maryam sadar akan perubahan dirinya. Bukankah salam itu doa. Dan. masih suka main congklak dengan teman-teman sebayanya... Bahkan yang tercantik di ibukota republik ini. melainkan kecantikannya yang membius itu. Semua orang kagum padanya. Cuekin aja!” “Dosa lho. Gadis kecil itu tumbuh jadi remaja yang amat cantik dan mempesona. dan macam-macam acara lain. .” kataku tak habis fikir pada Aisah yang satu ini. Maka sejak itu. pemain tenis yang lagi ngetop. Yang tercantik di gang kami.” “Ya. pemain film yang sedang in. Hamzah belum pernah mengatakan secara terus terang. ada lagi yang mengajaknya pergi menonton. Sejak itu ia dikenal secara luas. “Tapi. yang artinya selamat dan sejahteralah anda. salam tak dijawab. Gadis kecil yang kemarin-kemarin ini masih ingusan.“Kurang ajar. main engklek. main loncat karet. anak teater yang lagi ngepop. Penampilan yang pertama mengejutkan banyak orang adalah ketika suatu kali ia ikut acara perkenalan penyanyi remaja di TV. demikian menurut Hamzah. tiba-tiba seperti disunglap. geram. Bukan pada nyanyian. Pokoknya selalu dengan cowok baru! Dan setiap kali Maryam dan padangannya lewat di depan ‘markas’.. ni yee?!” 25 Maryam memang cantik. ya ampun. selalu dengan muka baru: penyanyi tenar ibukota. dari kuncup mekar menjadi bunga yang indah.” kataku. Hamzah menaruh hati pada Maryam. 142 24 Lain Aisah.. ampun. kami tak merasa heran. maka terdengar bisik-bisik yang dikeraskan: “Baru lagi. kenapa anak-anak gituan kau kasih hati?” “Kasih hati bagaimana?” “Salam mereka kau jawab.. Sepantasnya kita mendoakan mereka pula.

ketika Maryam menyebarkan undangan perkawinannya dengan anak penguasa Real Estate. membesarkannya dalam kemiskinan yang berkepanjangan. Dari bacaan berat mana pula Hamzah memperoleh ‘kematangan dan kedalaman’ itu. yang tak mungkin dapat diraih kembali.“Tapi apalah arti kecantikan jika tidak disertai dengan ‘kematangan dan kedalaman’. Maryam seorang anak yang baik. Untuk itu ia siap berkorban. ia ingin membahagiakan kedua orang tuanya.” kata Hamzah pula. seorang anak yang patuh. Sekarang ia bekerja di sebuah majalah. yang ber-Baby Benz itu. Kali ini tampak serius dengan muka murung. yang pergi membawa luka hatinya dalam kesepian di kamar indekosnya jauh di Rawamangun sana. aku tak tahu. 29 Akhir-akhir ini. “Tidak!” jawabnya tegas. mungkin anak-anak lain tidak. Aku terperangah. 26 Suatu hari. Namun perasaan ini disimpannya sendiri. Dalam puisi-puisi dan cerpen-cerpennya dapat kutangkap kesepian hati yang dibawanya ke mana pun ia pergi. Semoga hal itu menjadi tanda baktinya buat mereka yang telah bersusah payah. Ia tak hendak dan berani menyatakan kepada ayah ibunya. berani-berani takut. Mungkin di malam-malam begini ia sedang mengetik puisi-puisi atau cerpen-cerpen. Hamzah mendadak pindah ke Rawamangun. 28 Dari bisik-bisik anak-anak cewek dapat kutangkap bahwa sebenarnya Maryam pun mencintai Hamzah. tempat di mana ia melarikan kepedihannya. 143 27 Tapi akhimya aku tahu juga. Indekos di sebuah kamar yang sederhana. Dan terlebih dari semua itu. kutanyakan pada Hamzah apakah ia mencintai Maryam. Dalam senda gurau dan nyanyian diam-diam menyelinap kesepian ke dalam hatiku. Di antara kawan tak kulihat lagi Hamzah. berfilsafat. seperti ada sesuatu yang terlepas dan hilang. . Memutuskan hidup jadi pengarang dan berhenti kuliah. aku tak merasa betah lagi duduk lama-lama di ‘markas’ kami.

jauh dari keramaian kota. Ramainya masih seperti biasa. nongkrong terus dengan bocah-bocah itu? Teman-teman sebayamu sudah pada bekerja! Contohlah mereka itu! Lagi pula.” 31 Malam hari ketika aku pulang dari mencari pekerjaan yang belum juga kudapatkan. tertekan sedikit oleh perasaan rindu. Adik-adikmu masih banyak yang perlu ayah perhatikan. Aku tak tahu sedang mentas di kota mana ia sekarang. apakah kau tak merasa malu.*** (Dimuat dalam Horison. Namun ia tak bisa berbuat lain. Agustus 1990) . aku selalu lewat di depan ‘markas’. Batinnya tertekan. ayah sudah tak sanggup lagi membiayai sekolahmu. Tiba-tiba aku merasa teramat sepi. Najib mungkin sedang mencampur minuman haram satu dengan yang lainnya. Masing-masing teman pergi membawa nasibnya sendiri-sendiri. Nun jauh di desa Bangil. Atau mungkin ia sedang larut dalam zikir yang dalam.Tony Handoko mungkin sedang terbenam dalam kitab kuning bertuliskan Arab gundul. Martin dan Hamzah. terpencil. sambil mengenang ayahnya sedang mengaji di rumah. 144 30 Suatu hari ayahku berkata dengan sedikit keras kepadaku: “Syamsu. Sedang mengapakah Martin sekarang? Lakon apakah yang sedang diperankannya sekarang? Hamlet tokoh yang selalu dibuai bimbang? Lama ia tak pulang. Tony Handoko. Tapi sudah tentu tak kulihat lagi di sana Najib.

” katanya. sebab kehadirannya merasa dikontrol oleh jam. maka terdengarlah sebuah nyanyi.Lonceng Oleh: Motinggo Busye 145 Jam dengan merk Junghun itu belakangan ini menyengsarakanku. Ina. Kami dulu mempertimbangkannya cukup lama untuk memutuskan di mana harus diletakkan jam yang sebesar itu. kelak tamuku akan cepat pulang. Jika ditaruh di ruang tamu.” kataku.” “Kamu tentu ingat tanggalnya. Walaupun akhirnya mengesalkan. “Hari itu ulang tahun perkawinan perak kita. aku dan Ina sedang duduk-duduk berdua sembari minum teh dan makan jeruk. “Juga mantan pacarmu. Kuingat sekali.” “Kalau begitu tinggal 4 hari lagi. Sedangkan kami berdua membutuhkan tamu. Sore itu. tetap saja aku mencoba memetik kenangan lama yang indah setelah jam Junghun itu mengisi ruang tengah rumah kami. Mereka harus diberitahu. Istriku menjadi perempuan yang bawel. Sam. Kami suka mengulangi lelucon yang sama itu setiap ada bekas teman sekelas hadir. dan mantan pacarku adalah istriku Ina. Tinggi jam itu setinggi tubuhku. “Betul. . siapa yang datang pada pesta kita itu?” “Mantan pacarmu. Bila loncengnya berbunyi. hanya untuk perkawinan perak itu saja kami berdua sangat sibuk.” kataku. Kita menikah pada 10 November dua puluh lima tahun yang lalu. Padahal barang itu kami beli untuk menambah kebahagiaan istriku dan aku. Nyanyian ini mengisi kalbu istriku dan kalbuku sendiri. Orang yang kurang rasa humor mungkin heran. bahwa mantan pacar istriku adalah aku.” “Ingat enggak. Ini karena ulah jam itu. “Sebentar lagi kita akan merayakan ulang tahun perkawinan kita yang kedua puluh lima. ya Sam?” ujar istriku suatu sore. Tentu lelucon ini menambah semarak suami-istri. Kami ketawa bersama.

” kataku. Di toko saya cuma tinggal satu ini. Cuma saya yang jual merk Junghun ini. Makin larut perkawinan kami.” ujar sang pemilik toko. Kebiasaan ini bukan selalu buruk. “Sebenarnya aku menguji apakah kau masih kikir. kami menganut aliran navy-navy. Kami justru menciptakan humor baru ketika harus ber-navy-navy. Ketika loncengnya berbunyi menyanyikan irama indah itu. Terdengar satu nada indah mirip lagu yang menyentuh perasaan kami. ketika uang dihitung. Dari masa berpacaran dulu. “Merknya Junghun. Ketika setiba di rumah. Kami meniru para pelaut yang suka bayar masing-masing bila makan di restoran. Kebetulan kami berdua menyukai musik klasik. Istriku melotot setelah aku sebutkan harga yang diberitahukan pemilik toko jam itu. "Merk ini nomor satu.” ujar istriku. secara mendadak dan serentak langkah kami berhenti. makin sering aku disuruh istriku dengan nada setengah memerintah. Ketika kami lewati beberapa toko.” Memang begitu. dia menyanyikan satu bait saja. “Kita menemukan pilihan jam antik. dan ini juga satu-satunya. Dan ketika gema 12 kali masih mendengung. “Ini benar-benar abadi. Setelah dua tiga toko kami masuki. Sam.00 pada hari 10 November. Lonceng jam itu memberikan zat rohaniah pada diri kami. aku meremas jari tangan istriku. Sam. Tapi irama lagu lonceng jam ini melebihi seluruh musik klasik kesukaan kami. “Tanyakan harganya. tak ada satu pun benda yang berkenan di hati kami berdua. Sebagaimana biasa. Ketika pada seperempat jam. kurang sedikit. Kebiasaan istriku adalah sama dengan kebiasaan banyak perempuan di jagat ini: menawar terlalu rendah dan berlama-lama untuk jenis satu barang. istriku bilang. Saat itu adalah pukul 00. Ketika loncengnya berbunyi 1 kali.” ujar istriku.Kami telah pergi ke Pasar Glodok untuk mencari sebuah barang yang bisa dipajang di rumah dan punya kesan abadi. Maka kutinggalkan beberapa lembar di tasku agar kamu ikut membayar juga. Aku dan istriku saling menatap. remasanku lebih kuat lagi. Lalu.” kata istriku. Bertahun-tahun kami menikmati duduk berdua menunggu lonceng jam itu bernyanyi setiap seperempat jam. Apa suami-suami yang lain di dunia ini juga seperti itu. Ke- 146 . Jam Junghun telah kami taruh di ruang tengah.” Istriku telah dikunci tanpa alternatif. Kadang sudah pergi kembali lagi ke toko sebagaimana terjadi pada hari itu.” “Ya kurangilah separohnya. Dia selama tiga hari kami tunggu berbunyi. aku menggenapi kekurangan itu. aku dan istriku berpelukan. “Coba Nyonya cari di seluruh Glodok ini. aku tak tahu dan tak perlu tahu.

“Ya. yang perempuan harus mengalah menjadi penunggu rumah. Jadi Ina cuma berdinas 1 tahun kerja saja. dan sama pula selesainya. aku bisa memperbaikinya. “Kalau kamu kawin sama Aimah.” Tetapi.” katanya.” “Sudah gaek masih gombal. Dan inilah yang bikin aku marah dan kami bertengkar. Peraturan kantor memang. ”Si Aimah. Ketika tiba tiga perempat jam. lalu menyetel jarum panjang dan jarum 147 . tiga bait.” kata istriku lagi. “Kita tak pernah merasa tua oleh lonceng jam ini ya. “Kalau aku bicara soal si Aimah. dan terutama karena adanya kamu. empat bait komplit. kamu dan jam dengan loncengnya itu. “Aku tahu. yang perempuan harus diberhentikan dengan hormat. Orang yang sama sekelas di SMA. “Tapi aku betah di rumah bukan karena lonceng jam ini. ketika aku harus berhenti sewaktu kita menikah sudah pasti ada seorang gadis yang senang. Sebelum empat bait lagu itu bergetar.” Aku memilih diam. ajaib sekali.” kataku. kamu suka membisu. Padahal dia amat mencintaimu. jika ada dua orang menikah di satu ruang kerja. Biasanya kalau jam itu mati. lonceng jam menyanyikan lagu itu.” kata istriku. Tetapi pertanyaan itu agak aneh di telingaku. Perkawinan kita 40 tahun tanpa anak dan cucu. “Mungkin kamu betah di rumah karena lonceng ini. mungkin kamu sudah punya anak dan cucu. aku dan Ina sudah berpelukan. Sam?” kata istriku. Yang ada di sini adalah aku. Aku betah di rumah karena sudah memasuki pensiun. Akhirnya aku bertengkar juga karena dia lagi-lagi menyebut nama Aimah. Ketika pertengkaran itu terjadi. Sam?” Makin tua dia masih pencemburu seperti dulu.“ sambungnya. Yaitu menaikkan kerekan rantai tiga bandulan itu.tika setengah jam. “Kenapa kamu tidak kawin lagi saja. Sam. dan pada waktu satu jam. Padahal jam ini sudah 15 tahun di rumah kita. sama pula di perguruan tinggi. “Kita tak perlu bertengkar lagi.” ucapnya. dia menyanyikan dua bait. Pernah juga istriku bertanya. akan sama nasibnya jika melamar di kantor yang sama di bidang yang sama pula: jika menikah.

Istriku senyum mencemoohinya.” “Sudahlah. Dia tidak berbunyi 12 kali pada waktu pukul 12. Bahkan mencak-mencak. Anak muda itu bekerja keras. Dimulai dengan cekcok mulut lagi.pendeknya untuk menyesuaikan waktu. aku terus berusaha agar jam Junghun itu bisa menyanyi lagi. diam kamu. Bahkan ngawur. bahwa “Ami Assegaf” sudah wafat. Aku kan tidak bilang kamu tolol. Tapi kenapa betulin jam saja sudah salah. Dan aku gigih terus memperbaikinya.” kataku. Bahkan dia mengenal Ami Mahboub Assegaf. ada dijual di sini.” “Mau cari Aimah?” “Bawel kamu. Ketika aku tiba di rumah Arab itu. Pukul 12 bunyinya 6 kali." 148 . namanya Mahboub Assegaf. Sam. dan bunyinya harus tepat 12 kali pada pukul 00. Kita beli yang baru.” kataku. kita tak boleh merusak kenangan yang diberikannya. Dia marah.” “Sudah. “Oh si Aimah itu turunan Arab ya?” “Coba tenang. ada orang Arab di Tanah Abang. Kita jual saja jam Junghun ini. "Jam ini penuh kenangan. Jangan jadi nenek sihir lagi. Kali ini loncengnya berbunyi tidak cocok lagi dengan waktu. “Itu logis saja.” kataku pada Ina. ahli pembetulan jam dan piano.” “Aku mau keluar. Tapi itu tidak berarti aku tak 'kan bertengkar lagi dengan Ina. jam ini berbunyi 36 kali. Istriku mendehem. Kamu makin tua makin cerewet. “Kau bilang dulu kamu menguasai ilmu listrik. sekaligus menyebarkan bau ketiaknya di ruang tengah kami yang nyaman. orang di rumah itu mengatakan. Akhirnya dia berkata putus asa: “Maaf. “Aku tak bertemu dengan orang Arab itu. Jangan. Kalau mau beli buah kurma dan kismis. Ina. Menurut pemilik toko di Glodok itu. Bertahuntahun dia membuat kita berdua menikmati irama loncengnya yang pernah bernyanyi merdu. Dia katakan.” Aku mengalah. Dan istriku terus pula menertawakan kegagalanku walau tanpa perkataan “tolol”.” Aku mencari ahli jam. Ina. “Tenang dulu. Keringat membasahi bajunya. aku pergi ke Jatinegara. Seorang tukang arloji kubawa ke rumahku.00 tengah malam 10 November.” “Kamu makin tua makin tolol. Dia ini ahli jam generasi penerus ayahnya.” kataku ketika memperkenalkan tukang arloji itu kepada Ina. Ina. Dua tahun menjelang ulang tahun perkawinan emas kami. Sam.

Suatu malam dia menjerit karena satu mimpi buruk. diiringi kemerduan lonceng jam Junghun yang amat sangat indah. Sayang. Memang dia gila. Ina. Manusia harus mengalahkan benda mati ini. saat itu istriku tidak mendengarnya. sampai aku berhasil! Aku merayakan pesta emas 50 tahun perkawinan kami. Nak. Ini menambah semangatku. Istriku menyebut lagi perkataan “tolol” itu. Yang mulai menjadi korban jam Junghun adalah Ina. Manusia tidak boleh ditaklukkan oleh benda yang bermerk Junghun. Katanya. Ya.“Cukup. Tengah malam pukul 00.*** 149 (Dimuat dalam Horison.00 jam itu bernyanyi empat bait komplit. Ia menderita tekanan darah tinggi.” kata istriku. dan tak 'kan pernah mendengarnya. “Sabar. Aku akan coba perbaiki sendiri. jam gila itu berbunyi 120 kali. lalu mendentingkan loncengnya 12 kali.” kataku yakin. kurayakan pesta emas perkawinan itu seorang diri. September 1999) . Dia mulai berlangganan dokter spesialis penyakit dalam. Kita jangan panik.

Joko Tingkir. dengan pipa dari semacam rumput kering dia menghembus air embun dan belasan gelembung beterbangan dipermainkan angin. permainan dan impiannya justru mengukuhkan rasa sepi dan sendiri. Sering satu atau dua jam merendam diri sambil mempermainkan buih-buih sabun yang memenuhi bath tub dia bisa merasakan kesendiriannya dan melupakan persoalan-persoalan yang menjerat perasan serta pemikiran. Sutawijoyo. “Di negeri leluhur kita. Dan dia tak bisa mengerti kenapa orang tuanya meninggalkan Negeri Leluhur yang begitu mempesona. . Setiap pertanyaan yang dilontarkannya selalu lewat tanpa terjawab. dia pasti akan bisa melihat rumah-rumah. Nak. Warna-warni pelangi terpantul dengan indahnya.” Begitu tutur ibunya suatu hari waktu dia merengek karena tak ada kawan bermain dan beberapa saudara tuanya tak ada di rumah. Ki Pemanahan. kau tak akan pernah merasa sepi atau sendiri. Buih-buih sabun itu semakin bertambah setiap kali dia berkecimpung. Dengan hati-hati dihembusnya gelembung itu yang semakin membesar. Aryo Jipang. Damarwulan. Ken Arok. Dan setiap kali gelembung-gelembung sabun itu pecah dia merasakan satu kekecewaan seperti tergugah dari impian yang mempesonakan. “Ceritakanlah negeri leluhur itu padaku. Dengan hati-hati ditusuknya gelembung itu dengan ujung jarinya. Sesekali ditiupnya buih-buih itu dan beberapa gelembung melayang berputar-putar. Juga nampak bayangan dirinya yang lucu. bahkan juga bagaimana keramatnya Kreto Kencono Kanjeng Susuhunan. pepohonan serta sungai-sungai dari angkasa. satu gelembung tetap bergantung di ujung pipa rumput kering itu tak mau pergi. Dongeng-dongeng itu begitu indah dan memukau. Dan dia begitu tertegun. Tapi dia belum mau melepaskan gelembung itu karena dia takut potret dirinya itu nanti akan merasa sendiri dan sepi di angkasa. Diamatinya kedua telapak tangannya yang penuh dengan buih-buih sabun yang memantulkan warna-warni pelangi. Persis seperti masa kanak-kanaknya di halaman belakang rumahnya di Noumea. sedang kedua orang tuanya selalu sibuk dengan usaha dagang mereka. Ibu?” Bila ada waktu ibunya dengan tak bosan-bosan bercerita dongeng-dongeng Panji. mungkin ada awan atau saudaranya yang lain di dalam gelembung itu. Suatu kali.Lelaki Tua dari Noumea Oleh: Waluya DS 150 Seperti biasanya untuk menghilangkan ketegangan urat-urat badannya lelaki tua itu mengambil bubble bath. Hanya secara kebetulan suatu hari salah seorang saudaranya begitu jengkel dengan pertanyaan yang selalu berulang-ulang memberikan jawaban yang cukup memuaskan. Dia pikir bila gelembung ini terbang nanti bersama potret dirinya itu. Diamatinya dengan lebih teliti gelembung itu.

Orang selalu dengan gampang mencelupkan tangan untuk ikut mengeruhkan suasana. Jangan kau biarkan angan-anganmu menggelembung dan menelan dirimu sendiri nanti. Setiap adat dan kebudayaan punya kelebihan dan kekurangan yang tak bisa dicomot di sana-sini. Kebanggaan yang baru kau tunjukkan itu tak ada artinya sekali di sini. Salah satu di antaranya.” “Tapi itu hidupku sendiri. “Nah. karena cintanya pada kita semua. Lupakanlah dongeng-dongeng dan Negeri Leluhur itu. Dengan salah seorang anggota jemaah gereja yang lain Babah Loo Cin Yong.” “Tapi namaku bukan Rio. Didesas-desuskan bahwa bapak ikut terlibat hanya karena pernah terlihat berbicara dengan Tuan Semaun yang merupakan kader Tuan Sneevliet. Kau sudah menunjukkan satu kemajuan ke arah pemikiran yang praktis dan realistis. Sebagai putra seorang pangeran yang dilahirkan oleh salah seorang selir.” potongnya. Lebih baik kau coba membina hidupmu di sini. Pertemuannya dengan Tuan van Stifhout. Kau hanya harus terima utuh. “Kau mau tahu jawabanku atau mau protes melulu?” Dia hanya mengangguk karena jawaban saudaranya terasa lebih penting daripada mempertengkarkan namanya. bapak merasa tidak punya tempat dan hak. 151 . Banyak usaha dilakukan untuk mendepak bapak. dia merasa terpenjara oleh adat dan kebudayaan yang lebih merupakan beban daripada usaha manusia untuk memuliakan hidupnya. bapak membawa kita untuk memulai hidup baru di Noumea. Rio. Dia lebih senang dipanggil dengan nama sebenarnya yang lebih punya bobot karena nama Aryo mencerminkan darah bangsawan yang mengalir di tubuhnya. apa kataku. bapak melakukan usaha dagang bersama yang cukup berhasil. Tentu hasil usaha dagang itu juga dipakai untuk membiayai kegiatan mereka.” protesnya. itu lebih penting.” “Aku hanya ingin supaya kau tak kecewa nanti.” “Maksudmu?” “Dengan bapak kita di Negeri Leluhur dahulu. ada huru-hara yang dilakukan oleh kalangan tentara penjajah Belanda yang didalangi Tuan Sneevliet. Dan juga diberitakan bahwa usaha dagang bapak sebenarnya hanyalah usaha terselubung untuk memudahkan gerakan kader-kader Komunis. bukan? Untuk menghindarkan hal-hal yang tidak di inginkan. Rio. waktu itu kau masih dalam kandungan. “Bagus.” “Namaku Aryo dan bukan Rio.“Rupanya dongeng-dongeng ibu telah begitu meracunimu. pendeta Belanda yang akhirnya membaptisnya sebagai orang Kristen telah membukakan lembaran baru dalam hidupnya. Sebagai keluarga bangsawan jadi Kristen dan punya usaha dagang dengan orang Cina terlalu memalukan keluarga.

Tapi tak bisa di sini. orang-orang Perancis.Pernah kudengar bapak sedang bicara pada ibu bahwa bapak tidak menyesal sama sekali meninggalkan Jawa. Bagaimana kalau semua itu hanya tutur kata untuk menghiburnya saja? Tapi setiap kali melihat sekelilingnya. Semua urusan ketatanegaraan sudah diatur oleh orang pribumi sendiri. Mungkin dongeng-dongeng dan riwayat bapaknya sebetulnya tak pernah ada. Apalagi ketika dia tahu bahwa Sri Sultan menjabat wakil presiden. “Kau sudah gila. Bahkan dia merasa beruntung mengambil keputusan sebelum tuduhan atas dirinya menjadi-jadi. Rio! Lupakanlah angan-anganmu itu. Sedang Ngayogyakarta Hadiningrat menjadi daerah istimewa di bawah kekuasaan Sri Sultan Hamengku Buwono. sebuah nama yang pernah didengar dari dongeng ibunya. “Lihatlah orang-orang Perancis ke mana mereka berkiblat. Lebih baik memulai satu kehidupan yang baru seperti nasehat saudaranya. Kalau kita tak mau tahu-menahu soal asal-usul 152 . di Noumea yang semasa bukan tempatnya. Kita semua punya hidup yang harus diurus di sini. Kau kira orang-orang Jawa di sana tak mampu mengatasi tantangan hidup mereka dan memerlukan uluran tanganmu?” damprat saudaranya ketika dia merasa sebagai titisan Nabi Musa yang harus membawa orang-orang Jawa di Kaledonia kembali ke tanah leluhur. Kehidupan dan tata cara mereka tak ada yang berubah bukan? Lalu bagaimana dengan pendatang-pendatang Vietnam? Mereka mengirimkan uang dan senjata untuk melanjutkan perjuangan melawan kekuatan Komunis. bukan? Semua perayaan itu selalu menggodanya. Dia merasa tidak begitu akrab dengan nama Indonesia. Dan para kelasi itu bilang kapal ini akan jadi kapal pelatih bagi pelaut-pelaut Indonesia. bapak dengar khabar bahwa orangorang Komunis atau yang dicurigai sebagai Komunis dibuang ke Digul oleh pemerintah penjajahan. tapi daerah Perancis Selatan. Dan pulau Jawa hanyalah sebagian kecil dari Indonesia.” Jawaban saudaranya itu justru menimbulkan beberapa pertanyaan baru. dan dirinya begitu berbeda. Dia merasa begitu bahagia bahwa ternyata dongeng ibunya bukan hanya omong kosong belaka. Para kelasi itu menjelaskan bahwa daerah ini hampir meliputi sebagian besar daerah Sumpah Palapa Gajah Mada. Kenapa harus merisaukan martabat keluarga yang sebetulnya tidak dengan tulus menerima bapaknya sebagai bagian dari keluarga itu? Bukankah tanggung jawab bapaknya sebenarnya hanya pada keluarga mereka sendiri? Seharusnya bapaknya lebih baik tetap di Jawa untuk membuktikan bahwa dia tak ada hubungan sama sekali dengan kaum Komunis. Kapal itu bernama Dewa Ruci. Beberapa tahun setelah kita menetap di Noumea. Dengan melarikan diri bukankah ini justru memperkuat tuduhan yang sebenarnya. Hanyalah orang Kanak orang pribumi. Orang Perancis datang dari Eropa dan dirinya pasti punya tanah asal. “Tapi bukankah itu justru kelebihan kita?” belanya. Daerah ini bukanlah daerah Pasifik. Memang tidak gampang memisahkan benang yang kusut. Dia merasa bangga ketika tahu bahwa tak ada pemerintah penjajahan lagi. Tiba-tiba dia merasa punya tugas yang harus diemban untuk mengembalikan kekuasaan mutlak Sri Sultan. orang-orang Kanak. namun dia hanya diam saja karena sudah berjanji tak akan bertanya-tanya lagi. Tapi ternyata punya pijaksana yang nyata bahwa keturunan Parikesit masih punya kekuasaan di pulau Jawa. Betapa gembiranya ia ketika suatu hari sebuah kapal berlabuh dengan kelasi-kelasi yang bisa berbicara bahasa Jawa yang sedikit-sedikit dia bisa mengerti. Dia betul-betul merasa tersisih mencari tempat berpijak meskipun saat ini hanyalah dalam dongeng-dongeng dan kerinduan pada Ratu Adil.

Rasa kehilangan Jatmiko bisa segera terobati karena sepenuhnya perhatiannya tertumpah pada Dewi yang kehilangan ibunya waktu dilahirkan. Dengan melakukan hal-hal yang positif akan mengembangkan self esteemmu. Apalagi masih harus menga-suh cucumu Dewi bukan soal yang gampang. anak satu-satunya mendapatkm kecelakaan ketika menyelam di laut. Akhir-akhir ini kami semua merasa begitu khawatir tentang kegilaanmu yang semakin parah. Soalnya setiap orang bisa punya pendapat. dari Profesor-profesor itu aku tak belajar apa-apa sama sekali. lewat surat-suratnya Dewi tidak pernah menyebutkan pengetahuan barunya soal Jawa. dan jangan kau biarkan kegilaanmu itu berlarut-larut. Dan pendapat tanpa diberi ujud nyata dalam perbuatan bagiku tak ada nilainya sama sekali. Kami sadar menghadapi beban mental merawat Jatmiko yang mati tidak hidup pun tidak. Tapi yang ada tinggallah tubuhnya yang harus ditunggu kerelaannya melepaskan dunia yang fana. kita tak akan jauh berbeda dengan orang Kanak. Dia begitu tertegun membaca surat terakhir Dewi padanya: Jangan marah. Memang langkah pertama mewujudkan impiannya itu semakin kabur setelah Jatmiko. Aku lebih menemukan arti serta diriku sendiri dengan belajar melukis di Victorian College of The Arts. Sekali lagi gelembung-gelembung impiannya retak.kita dan hanya memikirkan hidup kita di sini saja. Dengarkan kami baik-baik. Namun setelah beberapa tahun di Melbourne. Kakek. 153 . Mata inti dari kuliah-kuliah mereka bisa dengan gampang kudapatkan dari buku-buku. Mungkin kami harus mengundang dokter jiwa untuk memeriksamu.” “Bicaramu sudah begitu ngawur. Tak ada seorang pun selain istrinya yang setia mencoba memahami jalan pikirannya. Dari seorang kawan dia mendengar bahwa di Monash ada seorang Profesor Yahudi yang ahli dalam bidang politik di Indonesia dan juga seorang Profesor Belanda yang ahli dalam masalah Mataram. Mereka menjadi golongan minoritas dan kehilangan hak di tempat mereka sendiri. Sadarlah. Kau tahu satu-satunya kesalahan mereka justru karena mereka tidak berasal dari manamana. Dia ditemukan dalam keadaan lumpuh. Kata dokter otaknya sudah rusak karena kekurangan zat asam.” Dia merasa usahanya membujuk sanak saudaranya sia-sia belaka. Dia merasa perlu pergi ke Melbourne untuk memberi beberapa petunjuk pada Dewi. Jatmiko memang masih hidup. Rio. Cobalah turun tangan bersama kami mengembangkan keluarga. Tapi dia masih belum merasa bahwa impian itu sudah di luar jangkauannya. Rio. Dewi memang tumbuh menjadi wanita yang anggun semampai dengan tingkah yang lembut mempesona di samping otaknya yang cukup cemerlang. Tumbuh harapannya suatu hari nanti Dewi akan bertemu dengan salah seorang pangeran dari Jawa dan mereka akan menurunkan Ratu Adil yang senantiasa dinantikan itu. begitu berat. Untuk menjembati pertemuan Dewi dengan pangeran dari Jawa itu Dewi dikirimkannya ke Melbaourne untuk menggali ilmu di Universitas Monash.

“Jangan tergesa-gesa marah. itu hotel yang mewah. Setelah mendarat di lapangan terbang Tullamarine mereka langsung menuju Hotel Windsor di bilangan kota. Bukan salah Dewi kalau dia tidak mengerti rencanamu.” Ya Allah ya Rabbi. Rio. Tapi masalah berikutnya yang disampaikan oleh Dewi secara kalem itu menyambar seperti ledakan bom atom Perancis di Atol. dia dan istrinya menuju ke Australia. “What a lovely surprise. salah-salah kakek dan nenek bisa dikira turis dari Jepang. Tak ada angin. Dewi bukan sebangsa serdadu yang hanya menjalankan perintah tanpa berpikir atau mengajukan pertanyaan. Melbourne terasa begitu teratur dan rapi. Tanpa memberi khabar pada Dewi.” jawabnya sambil memberikan nomor kamar mereka. Sejak kapan Dewi berbahasa Inggris pada mereka. “I have a surprise for both of you too. Setelah makan siang mereka menelpon Dewi yang tidak menyangka sama sekali bahwa kakek dan neneknya ada di Melbourne. Dewi sedang menantikan kelahiran anak pertamanya! Merasa dirinya sebagai priyayi Jawa dia tak bisa menunjukkan perasaannya yang sebenarnya.” goda Dewi walaupun dia tahu bahwa kakeknya selalu punya selera yang tinggi. “Untung tidak ke Southern Cross. John. kakek dan nenekku. Banyak garis bengkok yang masih bisa diluruskan pikirnya. Dia begitu senang bahwa Hotel Windsor adalah hotel yang mapan punya sentuhan kolonial. Mungkin karena ada John. Di situ ada perguruan tinggi seni lukis dan sekaligus juga merupakan pusat kegiatan kesenian tradisionil Jawa yang adi luhung. langsung memberikan ciuman di kedua belah pipinya. Berada di Yogya pasti akan menghasilkan pengalaman langsung mengenal dan terlihat dalam tata cara adat istiadat Jawa. “Kakek dan nenek menginap di hotel apa?” “Windsor di Spring Street. Tapi mereka tidak pernah menyebutkam rencana kawin sama sekali. “Wah. 154 .” Sejauh ini dia masih merasa bisa mengontrol keadaan. Sedapat mungkin diusahakan menunjukkan sikap kebijaksanaan calon seorang eyang buyut. ternyata dia masih bisa menahan diri dengan mengajak mereka makan bersama malam nanti. Tapi kenalkan dulu. Dan peluang untuk ketemu dengan Sang Pangeran Jawa itu juga akan lebih besar. John ternyata memang calon sang ayah yang tinggal bersama Dewi selama dua tahun belakangan ini.” Dewi dengan wajah yang berseri-seri muncul di depan kamar ketika dia membuka pintu. Sedang kesan pertamanya seperti begitu formal dan konservatif. tak ada mendung dan hujan tapi geledek segera menyambar. Ini Rio dan Handayani. Dia pikir kalau Dewi memang tertarik pada dunia seni mungkin lebih baik dikirim ke Yogyakarta. Tidak seperti hotel-hotel modern yang baru yang begitu trendi.” bujuk dan peringatan istrinya yang hampir selama perkawinan mereka hanya selalu mengiyakan kehendaknya dan hampir tidak pernah menyatakan pendapat sendiri. Kakek dan Nenek seperti sedang berbulan madu saja. tapi paling tidak pada mulanya Dewi seharusnya menyapa dalam bahasa Jawa. karena John harus memberi kuliah dalam waktu setengah jam lagi. Dia harus merasa tetap tawakal dan sabar. Sebelum mereka pergi.

Air sudah kusiapkan semua. kau banyak sekali kokot bolot seperti kuli yang tidak pernah mandi. Rio. ke restauran Vietnam. “Ya. Dia tersenyum sendiri. Sebentar lagi istrinya pasti akan membenahi. bahkan seperti bangga sekali. Dari bathroom terdengar bunyi kran dibuka. kau mau piyama atau ganti pakaian untuk nanti malam sekaligus?” tanya istrinya membangunkannya dari segala kenangan.” ucap Dewi sebelum pergi. Dalam hati dipujinya istrinya yang selalu dengan baik menyiapkan air untuknya. Sesaat kemudian dia berbalik menghadapi istrinya. Lalu kita bisa dapat supper di Graund Floor untuk ngobrol sambil mendengarkan permainan piano. pintu masuknya dari Little Collins.“Ya. masih nampak cukup tampan untuk seumurnya. “Dewi yang baru saja telpon. lebih-lebih kalau kau mau mencoba sausages atau sate buaya sebagai entree. Biasanya bila sudah terlalu lama istrinya pasti masuk ke bathroom dengan membawa handuk yang bersih atau piyama.” 155 .” Dia ingat ibunya selalu menegurnya bila ia terlalu lama bermain-main saja di bath tub. Gemericik air mengingatkannya pada kolam hias di halaman depan rumahnya. Dikeringkannya tubuhnya dengan handuk lalu ditaburinya dengan talek yang lembut baunya.” kata istrinya sambil menghampirinya. Sebelum masuk ke bath tub dilihatnya bayangan tubuhnya di kaca. Dan aku begitu heran bahwa kau hanya tenang-tenang seolah-olah tak punya pendapat sendiri. ingin dia menyebut istrinya Sembadra karena begitu bakti dan setia seperti istri Arjuna. tidak terlalu panas dan campuran bubble bath cukup creamy dan kaya akan buih. “Mandi yang bersih. kita bisa ke Grill Room di basement. aku kepingin jalan-jalan sebentar di Bourke Street. “Rio kau dengarkan aku atau tidak?” Lama tak ada jawaban. Rio. Dihempaskannya badannya ke kasur dan langit-langit kamar seolah berputar.” Dia tidak begitu mengacuhkan kata-kata istrinya dan sibuk mengenakan pakaiannya yang bersih.” Istrinya hanya mengangguk dan cepat-cepat keluar karena mendengar bunyi telpon berdering. Dia membaringkan dirinya di bath tub dengan hanya kepalanya yang menyembul keluar. Dia tidak bisa mengerti sama sekali bahwa Dewi bicara hamil di luar perkawinan tanpa rasa rikuh atau malu. “Kita bisa bicara dengan tenang nanti. Dengan telanjang dia berjalan menyeberang kamar menuju ke bathroom. “Beri aku pakaian yang bersih. “Dia bilang kalau kita mau makan yang agak kerakyatan kita bisa ke Victoria Street. Sekarang tidak pernah ada seorang pun yang mengganggunya. Dewi akan telpon dulu nanti waktu pulang dari periksa di ahli kandungan. “Rio. “Lebih baik kau mandi dulu.” kata istrinya sambil memberinya sepasang pakaian yang bersih. Tapi kalau kita kepingin makanan Barat dengan suasana yang tidak terlalu formal.” Dia lepaskan semua pakaiannya dan dibiarkannya terpuruk di karpet.

“Kalau soal impian gilamu mengenai Negeri Leluhur itu terus terang saja aku tak punya. “Jangan kau anggap aku melawanmu. Cinta yang tulus adalah cinta yang tanpa pamrih.” Dia begitu tersentak ketika untuk pertama kalinya istrinya berani menegurnya. Kuharap kita bisa berbicara secara lebih beradab. 156 . Dia begitu geram mendengar kata-kata istrinya yang datar tapi cukup tajam. Aku tak mau bicara. “Kau tahu kenapa kita kemari!? Untuk apa kita ke Melbourne?” “Kau jangan membentakku seperti itu. “Dewi! Dia. Anak yang dia kandung itu adalah buyut kita sendiri.” Tiba-tiba dia tidak tahan melihat air mata meleleh di pipi istrinya.. kau mau juga?” tanya istrinya. Aku tidak peduli apakah kau mencintaiku atau tidak. Kau boleh punya ukuran moral yang tinggi untuk hidupmu sendiri. Rio.” “O. Rio. Dibukanya pintu ketika pelayan datang membawa pesanan istrinya. Meskipun keturunan orang Jawa aku hanyalah wong cilik keturunan kuli kontrak. Kalau aku tahu mereka. itu. Ia adalah pengorbanan itu sendiri.” “Kau tahu.” Dia menarik napas panjang dan melangkah menuju ke jendela sambil setengah berkata pada dirinya sendiri. Aku bicara dengan jujur seperti ini karena aku mencintaimu. dulu Dewi pasti kukirim ke sana. “Kesalahanku kenapa aku tidak pernah berusaha mencari saudarasaudara bapakku di Jawa. dia. Tapi kau tak boleh memaksakan ukuran itu untuk hidup orang lain.. Dia tidak menjawab dan istrinya pergi menelpon room service memesan sebotol anggur kesenangannya dan minta diberi dua gelas.” potong istrinya. “Sejak kapan kau ikut memusuhiku?” “Kau mau mendengarkan pendapatku atau hanya mau memancing pertengkaran saja?” Dia hanya melotot tak bisa percaya bahwa wanita yang sedang bicara di depannya adalah istrinya yang sudah bertahun-tahun hidup bersamanya. Tapi soal Dewi. Namun ia mencoba menutupi keharuannya. Rio.” Hening dan mereka berdua saling bertatapan.. aku tak punya pendapat karena aku tidak tahu sama sekali soal Negeri Leluhur itu. ya dia hamil.“Pendapat dalam hal apa?” tanya istrinya. Rio. Rio. Apakah kau anggap aku ini babu atau istrimu itu tidak soal bagiku. “Aku mau pesan minuman. kesalahanmu justru kenapa kau selalu bicara apa maumu saja dan tidak pernah memikirkan keinginan dan pikiran orang lain.

apa yang kita cari dalam hidup ini selain kebahagiaan? Bagiku yang lain-lain tidak soal selama Dewi merasa bahagia untuk dirinya sendiri.” Dia hanya mengangguk dan pelan-pelan terasa pundaknya yang berat menjadi ringan. Istrinya memandangnya dengan pandangan tidak percaya.*** 157 (Dimuat dalam Horison. “Rio. Maret 1990) .Ditandatanganinya nota bon supaya bill itu dimasukkan dalam rekeningnya nanti. Dia reguk anggur itu setelah si pelayan pergi. Pelayan itu tersenyum lebar menerima tip yang lumayan. Sir?” Dia hanya mengangguk dan pelayan itu membuka botol serta menuangkan anggur ke kedua gelas untuk dia dan istrinya. “Shall I open the bottle now.

Kami juga mengenakan topi dan sepatu dari kulit binatang berbulu tebal. dan penuh dengan rintangan. dengan tenaga baru yang seolah-olah begitu saja datang dari langit.Tempat yang Terindah untuk Mati Oleh: Seno Gumira Ajidarma 158 Kami. dan umbul-umbul kini membuka jalan ke depan. cuma inilah yang bisa kami lakukan. Para pembawa panji. Namun sekarang. Kuda-kuda kami saling berpacu dengan perkasa. berpacu melawan angin. Seluruh tubuh kami terbungkus jubah bulu binatang yang tebal dan berat. melesat dan menggebu. Di hadapan kami kini terbentang padang stepa yang begitu luas bagaikan tiada bertepi. seperti mengerti betapa jiwa kami telah lama begitu tertekan dalam perjalanan berat menempuh hutan yang rapat. 10. begitu juga tangan kami yang memegang kendali. bendera. bumi bergetar oleh derap pasukan yang melaju dan menggebu. Semuanya terbungkus. seolah-olah bahkan jiwa kami kalau bisa lepas dari belenggu badan. bahkan kuda-kuda itu sendiri bagaikan tidak lagi menunggu perintah untuk segera memacu diri mereka. gelap. akhirnya keluar dari hutan itu. Kuda-kuda kami menggebu. padang yang terbuka itu bagaikan pelepasan yang lebih dari memadai untuk melampiaskan kerinduan kami akan kebebasan. 10. Setelah hampir berminggu-minggu hanya merayapi jalan setapak di antara pohon-pohon dan semak belukar. berderap melaju menuju cakrawala. “Pacu! Pacu! Pacu!” Kami semua berpacu sepanjang padang stepa yang terbuka sambil berteriak-teriak menuntaskan kegembiraan kami. Bendera raksasa yang berkibar dan menyibak angin itu terlihat menggetarkan. Kami.000 pasukan berkuda. “Huuuu! Huuuuu! Huuuu!” Satu per satu penunggang kuda yang keluar dari hutan segera melaju. Padang stepa diselimuti salju yang tipis. dan berteriak-teriak meluapkan kegembiraan kami. “Pacu!” Orang-orang yang berada paling depan sebenamya tidak usah menunggu diperintah untuk memacu kudanya. Kami menggebu begitu laju. mendesing menuju kebebasan.000 pasukan berkuda. melesat secepat-cepatnya bagaikan berpacu dengan angin dingin yang bertiup begitu kencang menggigilkan tulang. Kuda-kuda kami berpacu dengan riang. . lepas dari kungkungan jurang dan tebing yang serba menjulang dan mencekam. dingin angin bagaikan mengiris wajah-wajah kami yang sebetulnya toh cuma tampak matanya saja.

Matahari terasa betapa berat. Kami tidak mengerti apa jadinya hidup kami tanpa kuda. namun yang maknanya seperti selalu menghindari kepastian. Di telinga kami angin bersiut dan menderu. perjalanan angin. Telinga kami semua penuh dengan desau.Kaki-kaki kuda kami bagaikan tak mengenal lelah. Langit hanya biru. kami mendaki celah-celah gunung. Kami tahu. Kami berpacu. Setiap orang memacu kudanya ke cakrawala yang melingkar 360 derajat. Jangankan berpacu yang begitu menggembirakan. Begitu luasnya padang gurun ini sehingga kami merasa berjalan di tempat. Cahaya matahari menyiram padang. perjalanan kami masih jauh lagi. Kami menyeberangi sungai. selalu berpindah. dua. Benarkah seekor gajah menegakkan belalainya dan melengkingkan bunyi terompetnya nun entah di mana ketika kami berpacu? Seseorang mendayung perahu menuju matahari terbenam ketika kami berpacu. menancap kemerahan bagai kuil yang menanti penziarah dari segenap 159 . kami mengarungi gurun pasir. dan peredaran bintang. apalah artinya kami? Kuda-kuda kami selalu mengerti apa yang kami inginkan. Hutan di belakang kami kini bagaikan titik-titik hitam. Semua ini tak bisa lancar tanpa kuda sepanjang pengembaraan. Kami mengembara dan menjelajah segenap permukaan bumi untuk mencari suatu akhir. bahkan perjalanan berminggu-minggu di dalam hutan yang melelahkan pun kami lakukan asalkan kami bisa mencapai tempat tujuan. Kami bersedia membayar segalanya untuk perasaan merdeka yang kami dapatkan. Kini kami semua sudah siap menempuh perjalanan yang terakhir. Selama berjam-jam kami akan berpacu dan kami akan tahu bahwa pemandangan ini tidak akan pernah berubah. Padang stepa yang terbuka masih tidak memperlihatkan apa-apa kecuali hamparan rumput kering yang kelabu dengan polesan salju. selalu bertualang. namun sampai sekarang tiada satu alasan pun bisa menghentikan kami. dan segera lenyap di balik kaki langit. Apakah yang terjadi di tempat-tempat lain ketika kami berpacu? Panah seorang pemburu sedang melesat ke jantung seekor rusa ketika kami berpacu. surai kudakuda kami yang tebal melambai-lambai dengan megah dan seluruh gerak tubuh mereka bagaikan menari dengan indah. Burung-burung kondor beterbangan melingkar di langit mengincar pengembara yang sekarat kehausan ketika kami berpacu. bahkan bisa lima tahun. Kami selalu berpindah sesuai dengan pergantian musim. Langit yang tadi bagai tempurung raksasa membiru kini semburat merah terbakar. Kuda-kuda memang lebih dari sekadar bagian hidup kami. “Huuuuu! Huuuuuu! Huuuuuuu!” Kami berderap dan berpacu memburu matahari yang terbenam ke balik cakrawala. Seekor ikan salmon menangkap umpan dan tersendal pancing ke udara ketika kami berpacu. Kuda-kuda kami terus berpacu dengan laju. Kami selalu bepergian. Kami terus-menerus berderap sepanjang padang. bagai berpacu dengan angin. Sampai di manakah suatu perjalanan berakhir? Apakah mungkin suatu perjalanan berakhir? Apakah mesti suatu perjalanan berakhir? Sudah bertahun-tahun kami mengembara dan kami tidak pernah merasa yakin kapan suatu perjalanan bisa berakhir. Kuda-kuda kami masih terus berderap. Rumah kami sekarang adalah perjalanan itu sendiri. Tanpa kuda. dan berpacu. dan mereka selalu memenuhi segala kehendak kami dengan memuaskan. dan kini kami berpacu di tengah padang tanpa tepi. berpacu dan berpacu. berpacu. tapi kami tidak juga ingin berhenti. Kami bagaikan berpacu di atas permadani tanpa tepi. Kami bisa berhenti dan menetap di suatu tempat untuk satu. yang kadang-kadang terdengar seperti sebuah percakapan. dan kuda-kuda kami tetap setia mengikuti sampai akhir tujuan. namun kami selalu berangkat kembali. kini kami mengambil peluang untuk meraih kegembiraan.

Namun. Ia meniup seruling di atas tebing. ketika kami akhirnya sampai ke lembah itu. Apakah rembulan bisa memahami. menjadi bayang-bayang kehitaman yang melesat ke suatu arah. cahayanya dipantulkan kembali oleh permukaan danau yang diselimuti salju. menghadapi segenap rintangan alam maupun suku-suku musuh kami? Apakah rembulan mampu menangkap gelora semangat pengembaraan kami? Tak terhitung lagi berapa orang telah mati dan berapa bayi telah dilahirkan sepanjang perjalanan dari kampung ke kampung. Kalau matahari itu menghilang di balik cakrawala. dan mendengarkan seseorang bercerita.penjuru bumi. dan kuda. Ia meniup seruling sambil duduk di sebuah batu di atas tebing. betapa berat penderitaan suku kami sepanjang perjalanan mengarungi benua itu. seruling. Bila bulan yang perak itu muncul di langit malam. Langit masih membara. sementara seorang nenek tua bersenandung dengan suara buruk tentang tanah air yang sudah mereka tinggalkan. dari bukit ke bukit. *** Tempat itu dinamakan Lembah Sepuluh Rembulan. Di setiap danau itu setiap 1.bahkan rembulan seperti turun ke bumi hanya untuk mendengarkannya meniup seruling. 10. orang-orang yang mengendarai kuda dengan tertunduk. Lembah Sepuluh Rembulan adalah suatu lembah gersang dengan dataran yang sangat luas. seolah-olah berhadapan dengan rembulan ." Kami selalu membutuhkan cerita. Kami membiarkan kuda kami menjilati lelehan salju dan merumput di sana-sini. Tapi apakah rembulan mengerti arti lagu seruling itu? Seruling itu berkisah tentang riwayat kami yang panjang dengan bahasa kami sendiri. Di setiap api unggun masih tampak orang-orang membakar sisa-sisa daging perbekalan mereka dan mengunyahnya dengan lahap. Kami siapkan kantung-kantung tidur dan selimut kami..000 saudara-saudara kami. Kami. Seseorang dari kami tampak meniup seruling di kejauhan itu.. Bukit-bukit batu yang menjulang dan membentuk lembah ini melindungi kami dari angin sehingga kami bisa menyalakan api unggun. Berkisah tentang kafilah panjang yang menyeberangi gurun.000 pasukan berkuda. musim dingin belum berakhir sehingga sepuluh danau itu masih menjadi dataran salju.000 orang dari kami berkemah. "Maka sang raja pun jatuh cinta kepada wanita dari negeri seberang itu. Kami mencintai keindahan seperti mencintai kehidupan itu sendiri. 160 . semenjak begitu banyak tahun yang telah lama berlalu. kami menyembah bumi. betapa nun di sebuah benua yang jauh bertahun-tahun yang silam suku kami berkemas untuk sebuah perjalanan yang tak kami ketahui kapan akan berakhir? Apakah rembulan mengerti. Di Lembah Sepuluh Rembulan inilah kami akan menunggu 100. kami harus memburunya ke balik cakrawala. Kami berderap dan berpacu menuju matahari itu. Kami memuja rembulan dan matahari. dari lembah ke lembah.. Beberapa orang masih minum susu hangat yang beraroma teh. Kami menyembah langit. Ada sepuluh danau di lembah yang luas membentang itu dan seharusnya ada sepuluh rembulan mengapung di atas sepuluh danau. dan anak-anak yang tidur dengan gelisah di dalam gerobak-gerobak penuh barang dan bahan makanan.

peniup seruling itu masih di sana.000 saudara-saudara kami tiba. tapi juga karena kulit berbulunya yang tebal kami butuhkan untuk membuat tenda. Di dalam tenda itu kami bisa memasak sekaligus menghangatkan diri kami. Kemudian. anak-anak.000 pasukan berkuda. tertidur dengan pulas. Betapa segala hal di muka bumi ini saling berkaitan. Kami mengerti betapa angin akan mengembara ke segenap penjuru bumi. tiada yang mendengkur sama sekali. bukan hanya karena daging binatang buruan kami perlukan untuk menimbun perbekalan yang mulai menipis. menghubungkan kami dengan segenap unsur kehidupan. Kemudian. tinggal kesunyian di Lembah Sepuluh Rembulan. Di Lembah Sepuluh Rembulan hanya terdengar desau angin. sementara di kejauhan terdengar gemerincing anting-anting dari daun telinga yang panjang itu dicuci. Seruling itu mengingatkan kami kembali kepada kampung halaman leluhur kami yang sungainya tidak pernah membeku. Gemeretak api unggun segera berakhir. Rupa-rupanya bulan yang turun mendengarkan suara seruling mengangkasa kembali.inikah sebabnya suara seruling itu membuat kami diam? Kami sedih. 161 *** Setahun kemudian seorang pengawal di atas tebing berteriak. melanjutkan kerinduannya yang panjang akan kampung halaman kami yang terletak di sebuah dataran tinggi di tepi sungai. dan kami menyukainya karena memang tidak pernah ingin kehilangan masa lalu kami yang semakin hari serasa semakin indah. ketika suara seruling itu lenyap ke balik malam barangkali kami masih mendengarnya di dalam mimpi-mimpi kami. makin lama makin menghilang.Apakah yang akan kami lakukan selama hari-hari penantian kami? Tidur tanpa tenda adalah suatu siksaan yang berat bagi kami. menjelma gambar-gambar yang berkelebat dari masa lalu kami. Maka terlihatlah gerak cahaya rembulan yang memantul di dinding-dinding batu. Kadang kami tidak tahu apa yang harus kami perbuat. Kami pasrah. bahkan ia menyeberangi samudera mahaluas. Sesekali tertutup awan. dan orang tua. Barangkali kami akan memanfaatkan waktu untuk berburu. Bertengger di atas sana. di mana bila senja tiba di tepi sungai akan terdengar derai tawa ceria gadis-gadis yang mandi. Tenda-tenda kami adalah tenda yang besar dan hangat. karena musim dingin yang selalu berangin akan terus-menerus menguji ketabahan hati kami. dengan latar belakang pegunungan yang menjulang megah. Angin masih terus bertiup dan tak akan pemah berhenti. 10. “Hooooiiiii! Mereka sudah datang!” . sudah berabad-abad bentuk tenda kami tidak pernah berubah. akan membutuhkan tendatenda itu. Suara-suara itu dibawa angin ke bukit-bukit di mana anak-anak gembala memainkan serulingnya sambil tiduran di atas kerbau -. Kami. Ketika kami semua bersiap tidur dan memandang bintang gemintang di langit. Apabila 100. Betapa selalu masa lalu berada dalam diri kami. mereka yang sebagian terdiri dari wanita. Kami sudah menempuh perjalanan yang panjang dan kini kami ingin tidur. Tinggal bara api menyala diam-diam.

Kami semua segera melompat ke atas kuda. dan terbentanglah di hadapan kami pemandangan yang menggembirakan itu. Seperti apakah mereka kini? “Huuu! Huuuu! Huuuu!” Kaki-kaki kuda. dengan gerobak. memetik kecapi di puncak bukit. Tentulah jumlah mereka sudah tidak genap 100. Tentu ada yang mati dan lahir sepanjang perjalanan. Hari sudah menjelang senja. Wajah-wajah mereka tampak lelah dan kuyu.000 saudara-saudara kami yang masih merupakan sosok-sosok hitam di kaki langit itu. dan melakukan meditasi bersama dari malam sampai pagi di bawah 162 . gajah dan unta. namun kami juga tahu hari-hari kami akan lebih menggembirakan. Masing-masing dari kami kemudian berhenti dan berhadapan. berderap dan berpacu. Semua ini menggetarkan jiwa kami dan kami merasa betapa setiap detik dalam hidup kami sangat mempunyai arti. pemandangan yang kami nantikan. Sosok-sosok hitam itu makin lama makin membesar. Tiada yang lebih menggairahkan selain kehendak yang menggebu menjumpai orang-orang tercinta. seluruh pakaian mereka usang dan kelabu. bendera. Ketika saudara-saudara kami melihat kami datang menyambut mereka. Dengan segera. Berkibar dengan megah. dan umbul-umbul yang sama. siap menempuh perjalanan untuk mati. Sebagian yang lain malah langsung keluar dari celah lembah. Kami menyatu kembali dalam gairah kehidupan yang panas. kami berlari-lari turun dari bukit. Begitulah kami akan membaca puisi di tepi danau. menari di atas perahu. Mereka semua telah menempuh perjalanan yang panjang di jalan yang telah kami rintis. namun betapa dari sinar mata mereka terpancar jiwa pasrah dan ikhlas. Kemudian kami melihat panji. Rombongan yang terdepan itu masih menanti mereka yang terseok di belakang. penuh dengan debu. Angin begitu dingin. seperti yang sudah-sudah. Kami tahu hari-hari akan menjadi lebih berat. Senja itu langit yang ungu serasa begitu cerah. langit bagai tenda raksasa berwarna ungu. kami baru akan mengetahuinya nanti. bergetar-getar dalam tiupan angin. kereta. Saudarasaudara kami masih merupakan sosok-sosok hitam yang seolah-olah berjalan di tempat. Kami menggebu dengan perasaan rindu dan penuh dengan cinta. namun tiada akan ada satu pun halangan kini bagi kami untuk mengungkapkan sukacita kami. Suku kami telah bersatu kembali di bawah langit dan bumi yang sama. kami menggebu menyambut 100. Mereka yang terdepan akhirnya bertemu muka dengan kami. Dengan perasaan yang sangat tidak sabar dan menggebu-gebu. Tak kurang dari 100. Lebih banyak lagi yang berjalan kaki. dan memacunya ke tempat-tempat yang tinggi. sebagian dari mereka yang mengendarai unta dan berkuda segera melesat ke depan ingin segera bertemu dengan kami.000 saudara-saudara kami muncul dengan meyakinkan dari balik kaki langit. langsung melompat ke atas kuda kami. Kami semua turun dari kuda.000 orang lagi. “Akbar!" “Abdul!” Kami semua berpelukan dengan penuh rindu dan penuh dendam.

Kami akan membagi arak dan anggur dan kami akan menuangkannya ke atas daging bakar yang merah berasap membangkitkan lapar. “Sarita!” “Maneka!” Mengapa kita bisa terus-menerus memikirkan seseorang meskipun kita berjarak begitu jauh dari seseorang itu dan telah berpisah begitu lama sehingga kadang-kadang sebenamya susah mempertahankan ingatan atas seseorang itu dari hari ke hari dalam suatu perjalanan yang terus-menerus berubah warna? Namun. dan kami menguburkannya di tengah jalan. Kami membagi diri kami berdasarkan pemukiman di sepuluh danau sehingga setiap 10. Adapun pasukan berkuda yang merintis jalan masih tetap berjumlah 10. Wanita dan anak-anak kami berambut kasar dan merah. betapa tiada jarak lagi kini bagi kami. Kami menatap saudara-saudara kami yang baru tiba dan merasa sedih meskipun gembira. tapi kami menahan kegembiraan meluap kami sebagai bekal menahan penderitaan pada masa-masa yang akan datang. Kami yang telah tinggal di sini selama setahun. Kami akan membakar daging rusa dan kami akan memakannya sepuas hati. dan kini begitu kurus. jadi mereka hanya melihat sepuluh danau yang membeku. Kami tahu kami akan menyanyi dan menari malam ini. Maka begitulah kami segera bekerja begitu tiba di Lembah Sepuluh Rembulan.rembulan dan matahari.000 orang itu datang pada musim dingin. Betapa mereka begitu tabah. Paduan suara lagu kami dipantulkan kembali oleh dinding-dinding tebing dan semua ini hanya mengingatkan betapa kami sebagai manusia sungguh memiliki nilai yang hakiki. Semua orang tampak tak terurus. Saudara-saudara kami yang 100. bisa melihat bagaimana sepuluh rembulan itu mengapung di atas sepuluh danau selama musim panas yang tetap saja dingin. dan begitu penurut sehingga kami sungguh berterima kasih dengan segala pengorbanan mereka dalam perjalanan kami. Gajah-gajah yang kami bawa berbulu tebal. Kini semuanya sudah berada di Lembah Sepuluh Rembulan. sementara itu 53 bayi dilahirkan sehingga jumlah saudara-saudara kami yang baru datang itu tetap genap berjumlah 100.000 orang dari pasukan berkuda kami. begitu juga unta dan kudakuda kami. Kami mendirikan tenda bagi orang-orang yang sakit. begitu mengerti.000 orang dari saudara-saudara kami yang baru tiba akan bergabung dengan setiap 1. tapi siapakah yang akan bisa tampak terurus dalam perjalanan panjang.000 orang. Mereka begitu jinak. kami menyalurkan kebahagiaan kami dengan suatu cara yang hanya kami bisa melakukannya. 163 . Saudarasaudara kami yang baru datang itu begitu lelah dan begitu kurus sehingga agaknya kami masih akan bertahan beberapa lama lagi di sini sebelum kelak berkemas dan berangkat kembali. kami berjalan kembali ke Lembah Sepuluh Rembulan sambil menyenandungkan lagu syukur dari hati. Langit memberkati kami. Bahkan ketebalan es di atas danau itu mampu menahan beban gajah yang berjalan di atasnya. Kami tidak bermabukmabukan dan lupa daratan. kami mengatur pengelompokan sesuai dengan asal-usul setiap keluarga di kampung kami. menyeberang dari benua ke benua hanya untuk selalu pergi dan tak akan pernah kembali? Kami terus-menerus saling berpelukan dengan jerit dan tangis yang makin menjadi-jadi.000 orang. Kami begitu siap untuk bahagia. Dalam perjalanan itu 53 orang dari kami meninggal. Kami semua menemukan masing-masing keluarga.

dan berjalan mengarungi gurun. 110. bahkan mata mereka pun bagai menatap sesuatu yang penuh dengan pesona. Ada semacam cahaya dari langit dalam hati yang terus-menerus bergerak setiap kali kami melangkah mendekatinya. Dari atas tebing kami menoleh untuk terakhir kalinya ke Lembah Sepuluh Rembulan. kami semua. Ketika tiba musim panas. lemah. Begitulah kami berjalan. berjalan. Kami tidak pernah memacu kuda kami kecuali jika kami putuskan berhenti sebentar untuk berburu. namun rerumputan menjadi lebih hijau. maka sebagian dari kami pun berhenti mengurusnya. menyebar seperti semut bila tiba di padang terbentang. jalanan setapak berlumut yang begitu licin dan terlalu sering memelesetkan. Mereka yang mati .000 anak manusia terus-menerus melangkah.000 orang. berkemas dan bersiap melanjutkan perjalanan. Kami. Kadang-kadang perpisahan ini bisa sampai berharihari lamanya. kaki mereka yang besar menapak dengan lincah di jalan setapak dan keseimbangan gajah-gajah ini sangat baik dalam pendakian dinding-dinding yang curam. orang sakit dalam tanduan. Kami semua. Semua orang yang pergi mendahului mati dalam pelukan cahaya. Gajahgajah ini berbadan besar. dan setiap orang yang melihatnya tersenyum dalam hati. Barangkali mereka juga melihat cahaya itu yang hanya bisa ditatap dengan mata hati di langit jiwa masing-masing yang mengerti dari mana hidup ini datang dan ke mana hidup ini pergi. dan menyeberangi sungai. Kami berjalan menapaki jalur di antara lembah. Bulan masih menggantung di langit. 164 *** Sudah berbulan-bulan kami terus berjalan. dan menapaki gigir-gigirnya yang mengerikan. namun seperti tidak mendapat halangan jika berjalan di dalam hutan. dan hewan-hewan peliharaan yang tak boleh ditinggalkan.000 orang. 110.Begitulah selama beberapa bulan yang tenang kami tinggal di Lembah Sepuluh Rembulan. Kami. Mata mereka mengatakannya. mendaki gunung-gunung batu. Begitulah di antara kami kemudian ada yang meninggal dan kami pun segera menguburnya tanpa meninggalkan upacara yang diharuskan. Sebelum matahari terbit kami sudah berangkat lagi. menembus badai. Bayi-bayi seperti tahu diri untuk tidak menangis. Mereka yang telah menjadi tua. Kami melihat sepuluh rembulan mengapung di atas sepuluh danau. Kami terus-menerus berjalan dengan hati yang terpaut kepada cahaya.000 orang. kuda dan unta melangkah pelan tapi pasti seperti doa yang diucapkan perlahan. Kadangkala tiba saatnya seorang wanita harus melahirkan di tengah jalan. 110. 110. Kami berangkat pada pagi subuh. Tentu mereka tahu jalan yang terbaik buat gajah sehingga kadang-kadang mereka harus memisahkan diri untuk bertemu lagi di suatu tempat lain. Kami jarang bercakap-cakap di antara kami karena hati kami sekarang hanya berisi penyerahan diri kepada kehidupan. menempuh ngarai. dengan bayi di gendongan.000 orang dengan segala hewan peliharaan tidak pernah benar-benar saling terpisah. melangkah perlahan-lahan menapaki jalan yang telah dikodratkan bagi kami. Rombongan kami membentuk barisan yang panjang bila melewati celah yang curam. Pada musim semi danau masih membeku. sementara yang lain meneruskan perjalanan. dan lumpuh kami naikkan ke atas gajah-gajah kami yang masih setia. tapi kami rombongan 110. merayap di jurang yang curam. Ketika matahari terbenam kami semua beristirahat dan tidur. khusyuk dan meyakinkan.

Orang-orang tua di kampung mengatakan bahwa suku kami selalu mengalami hal-hal yang demikian semenjak abad-abad yang telah lama silam. Dunia kami memang berubah semenjak menerima tanda-tanda yang begitu memikat untuk diberi tanggapan. Kami semua bisa mengalami mimpi-mimpi yang sama dari malam ke malam yang penuh keanehan di mana bunyi genderang terdengar dari langit dan dari seberang sungai bagaikan terdengar paduan suara yang mengalun merdu dan menyejukkan. dari segala keinginan dan kehendak yang sejak lama terlukis di gua-gua leluhur kami yang begitu gelap di mana mereka merindukan cahaya keabadian. 165 *** . ini bukanlah tempat yang dimaksudkan dalam mimpi-mimpi kami tentang tempat yang terindah untuk menuju kematian karena tempat itu memang tidak terletak di muka bumi ini.dalam perjalanan ini sebenarnyalah mati dalam kebahagiaan. Kami berangkat meninggalkan sebuah negeri di sebuah pulau yang segera menjadi kosong. Langit merah di kaki langit. Kami. Dalam kenangan kami masih tergambar dengan jelas betapa di tempattempat yang kami lewati pemandangan terpampang begitu indah sehingga kami kadangkala merasa terkecoh karena mengira inilah tempat yang kami rindukan. dunia yang kami impikan dari abad ke abad. masih terus-menerus berjalan di atas bumi yang fana. dari dongeng ke dongeng. Maka begitulah hidup kami berubah ketika mendadak kami semua harus berkemas mempersiapkan sebuah perjalanan yang belum bisa diketahui berapa lama dan kapan akan berakhir. menuju sebuah dunia di alam sana yang hanya bisa dihayati setelah kematian. menapak pelan. 110.000 orang yang tadinya hidup tenteram di tepi sebuah sungai dengan latar belakang pegunungan biru yang menjulang bagai tempat persemayaman dewa-dewa dari suatu dunia entah di mana bagai negeri yang hanya ada dalam dongengan? Kami pergi meninggalkan kampung halaman kami dengan meninggalkan segala kebahagiaan yang telah kami dapatkan demi panggilan dari cahaya dalam mimpi-mimpi kami.000 anak manusia. Dari hari ke hari. Sebegitu buruknyakah kehidupan sehingga kematian bisa menjadi impian terindah bagi 110. meskipun matahari terbenam yang jingga itu begitu memukau di latar langit yang ungu. Kami melewati desa dan kota yang penduduknya melihat kami lewat bagai pawai panjang dari sebuah tontonan yang mengherankan. Namun kami tahu. Dari gurun ke gurun rombongan kami berjalan. Kami melangkah. Kami semua terpana dan terpesona dan merasa segala-galanya tiada berarti lagi selain keinginan untuk menuju sumber suara dan mimpi-mimpi itu. sudah lama juga kami tidak menjumpai tempat pemukiman maupun binatang. Tentu saja kami masih selalu teringat betapa pada awal keberangkatan segalanya terasa menggemparkan. Itulah dunia yang kami rindukan. terus-menerus berjalan. semakin banyak tanda-tanda dalam mimpi-mimpi malam kami dan betapa kami semua semakin merasa bahwa hanya dengan menuju tempat yang kami inginkan itulah terletak arti kehidupan kami. kami kemudian merasa terbimbing oleh tanda-tanda cahaya dalam jiwa kami yang penuh dengan keyakinan. Setelah bertahun-tahun menempuh perjalanan yang serasa alangkah panjang dari benua ke benua. Kami tak lagi mengerti apakah mimpi-mimpi kami merupakan warisan darah yang diturunkan ataukah memang datang dari langit malam yang penuh dengan khayalan. dengan kepastian bahwa jalan cahaya itu akan kami temukan. Arwah mereka membubung menyusuri cahaya.

namun dada kami berdebar bagaikan terdengar suara yang menggelegar. Kami belum lagi mengerti kebahagiaan macam apakah yang masih bisa kami dapatkan lagi dalam kehidupan yang abadi. Kami tetap menunduk dengan perasaan tercekat. Kulit hewan peliharaan kami pun memutih. dan pergi. bendera dan umbul-umbul kami yang berwarna merah pun memutih. Kami merasa sangat berterima kasih kepada hewan-hewan peliharaan kami dan kami merasa lebih dari layak bisa membawanya membubung ke Negeri Cahaya. dan kuda-kuda. Garis cahaya yang meluncur sepanjang kaki langit melingkari kami. unta-unta. Dari balik kabut itu. tampak kuda-kuda kami yang perkasa menatap kami dengan pandangan seolah-olah mengerti tentang segala hal yang akan terjadi. sepatu. memang langit yang ungu membiru dan menggelap di kaki langit masih seperti sesuatu yang terdapat di muka bumi tapi bukan langit yang ungu membiru dan menggelap di kaki langit masih seperti sesuatu yang terdapat di muka bumi. kulit 166 . Tubuh kami bergetar dengan hebat dan kami merasa kecut. memang masih seperti hamparan salju yang terpoles di sana-sini dengan hewan-hewan ternak berbulu tebal tapi bukan hamparan salju yang terpoles-poles di sana-sini dengan hewan-hewan ternak berbulu tebal. Tanpa diperintah setiap orang lantas melakukan semua persiapan untuk menanti saat itu. seperti juga seluruh busana terbaik yang kami kenakan. Inilah pagi yang berembun dan berkabut yang perlahan-lahan berpendar menampakkan siapa berada di selatan dan siapa berada di utara. Kami hanya bisa menunduk dan merendahkan diri. Kami membasuh wajah dan telapak tangan kami dengan segantang air dari masing-masing perbekalan kami. memang. tibalah kami pada suatu pagi di mana kami setelah bangun dari tidur yang panjang merasa tidak usah berjalan ke mana-mana lagi. Tiada mega di langit -. Hewan-hewan peliharaan kami pun seperti tampak mempersiapkan diri. Kami tahu betapa ketika kami menutup mata dan kemudian membukanya lagi. Kemudian kabut menjadi semakin tipis. namun kami selalu mendapatkan gantinya.000 orang seketika lengkap dengan hewan-hewan peliharaan dan itu pun ternyata belum apa-apa. Kami menanak sarapan pagi kami dengan percakapan sesedikit mungkin dan kami makan perlahan-lahan tapi pasti untuk meyakinkan betapa kami akan menyambut saat-saat terbaik dalam hidup kami dengan perut terisi. kami menikmati setiap detik dari saat-saat kebahagiaan kami yang fana. Memang masih seperti gunung-gemunung tapi bukan gunung-gemunung. namun cahaya itu menembus dunia angan-angan kami sehingga segala sesuatu yang kami pandang dengan mata terbuka maupun tertutup berwarna putih. hanya tegak di atas lutut kami. Pastilah dunia ini begitu luas dan begitu penuh kemungkinan sehingga jalan cahaya dalam impian ternyata mampu menampung 110. Cahaya yang terang menyilaukan segera memutihkan dunia kami. Kami tahu semuanya akan pergi dan berlalu seperti juga berakhimya perjalanan kami yang terlalu sulit untuk bisa diceritakan dengan kata-kata. segala-galanya memutih. Maka langit pun terkuak dan kami terkesiap. Padang rumput memutih. Langit ungu muda. Kami mencoba mengingat segala sesuatu yang berwarna dari kenangan dan mimpi-mimpi kami. namun kami melihat segalagalanya memutih diserap cahaya.kami merasa saat-saat itu memang segera akan sampai. mengambang. Sembari berjalan kian kemari setelah mengenakan busana terbaik yang kami miliki. Semua orang mempersiapkan dirinya tanpa kata tanpa angan-angan tanpa pertanyaan karena semua ini telah mengisi jiwa dan pikiran kami selama melakukan perjalanan bertahun-tahun mengikuti cahaya di dalam langit jiwa kami.Kemudian. memang. mereka pun banyak yang mati sepanjang perjalanan. kami telah melakukan perjalanan bersama cahaya ke suatu tempat yang tiada tertera dalam peta mana pun di muka bumi. Gajah-gajah. panji. Tiada suara yang menggelegar.

tujuh matahari. secara serentak tanpa harus merasa berada di tempat yang berlain-lainan. dalam penyucian cahaya berkilatan. 167 *** Kulihat di sepanjang langit. begitu pula kami jalani kodrat kehidupan kami dengan tulus dan penuh keyakinan dengan perasaan bahwa semua ini memang suatu anugerah yang terlalu menyenangkan.*** . betapa bisa cahaya kesaksian tiada melihat kebohongan? Kulihat satu per satu dari kami. Langit yang berlapis-lapis memeluk jiwa kami dan kami kemudian merasa mampu berada di segala arah. Hanya zat yang hanya bisa merasa bahagia di jalan yang terindah menuju kematian. Dari kelam ke kelam. sendiri-sendiri maupun bersama rombongan. Sudah begitu jauh aku berjalan. Sungguh semua ini terlalu menarik untuk ditinggalkan. Begitulah rombongan kami. Kulihat 109. Tinggal aku sendirian. Tiada yang lebih berharga lagi selain keindahan dalam kematian. Tiada yang lebih penting lagi kini selain perjalanan menuju ketiadaan. semakin aku merasa diriku bukan bagian dari rombongan. segalanya memutih lantas mengertap berkilauan seperti cahaya itu sendiri. 110.dan rambut kami. dan berdoa di dalam tujuh kuil di atas awan. Begitulah kami menyerahkan diri dengan segala dosa dalam tubuh dan jiwa untuk disucikan oleh cahaya itu sebelum kami berangkat ke akhir tujuan kami. menaiki kuda putih di atas awan. dari barat sampai ke timur. Begitulah kami semua. 109. gua pelangi yang menyilaukan. Lantas kami alami bagaimana jiwa kami diluncurkan. bangkit kembali dari tumpuan lutut kami dan kembali menaiki kuda-kuda kami menyusuri jalan cahaya di langit yang telah terhampar di hadapan kami. kemah-kemah awan.000 anak manusia. melihat-lihat pemandangan. Kami berangkat melewati tujuh rembulan. tiada lagi debu mengepul. Kini kami semua telah menjadi anak cahaya yang memutih dan tidak saling mengenal perbedaan-perbedaan kami karena kami semua hanyalah anak-anak cahaya yang saling menyilaukan dan saling melupakan. namun seperti juga air sungai dari sebuah sumber mata air di puncak gunung yang mengalir menuju lautan.999 anak cahaya. ditelan gua-gua kebahagiaan di atas awan. Semakin jauh aku berjalan. dan suara seruling dari atas tebing pada malam bulan purnama. dengan atau tanpa badan. Barangkali ini memang tempat yang terindah untuk mati. kelak-kelok labirin yang memusingkan. dari cahaya ke cahaya. Tiada lagi yang bisa kami lakukan selain meneruskan perjalanan.999 anak cahaya melebur ke dalam cahaya gemerlapan. semakin aku terikat kepada kenangan. bayi menangis. Apakah aku harus berhenti. kuda-kuda berpacu. Aku melihat seribu cahaya berenang dan berkelebatan. kemudian tidak bisa saling melihat karena di sekitar kami hanya cahaya yang berdenyar-denyar menyilaukan membuat kami masing-masing untuk pertama kalinya merasa sangat sendiri setelah dari hari ke hari hampir selalu bersama-sama semenjak dilahirkan di kampung kami. Tiada lagi angin bertiup. dari selatan sampai ke utara. dengan segala derita dan pengabdian. atau meneruskan perjalanan? Setelah bertahun-tahun menjadi bagian dari suatu perjalanan panjang ke satu tujuan kurindukan diriku sendiri yang selalu berbisik perlahan-lahan.

Ulaanbaatar . Maret-Juni 1996 (Dimuat dalam Horison. Juli 1996) 168 .Jakarta.

sambil mengibas-ngibaskan tangannya. Sungguh. “Tempat ini bagus sekali. menyapu lautan yang biru dan mengikuti gelombang yang beruntun bergantian sampai ke pantai. bagusu-neh. yang kali ini tertinggal di Osaka. dari tepian yang lebih jauh.” (Bagus. “Tetapi . senang. mengikuti goresan kaki langit. mengikuti anjuran Pak Marta.” Ia seperti mau menjelaskan kepada semua pihak. membicarakannya. dengan perasaan haru dan suara hikmat ia lepaskan isi hatinya itu dengan tulus. Bukan tanah saya. tidak ikut terbang ke Jakarta. Beberapa meter di depannya berdiri Pak Marta yang menerima ucapan terima kasih Okayama itu. Dari kejauhan ia berteriak dalam bahasa yang jauh daripada dikuasainya. ke sana lagi! Lihat dari sana. Michiko. sahabat besannya. senang. Negeri ini indah sekali. “Bagusu-neh! Bagusu-neh!” ulangnya di depan Pak Marta. Wajahnya jadi cerah seperti langit yang ada di atasnya. Ia merasa benar-benar gembira. Dan tentu saja ia pernah merundingkannya juga dengan anaknya. “Hay! Hay!” kata Okayama sambil lari-lari kecil. kepada pepohonan dan binatang-binatang 169 . lalu menatap ke kejauhan. “Aaahh. lalu menarik senyum sendirian. Ia senang mengikuti petunjuk Pak Marta.” Pak Marta menganjurkan Okayama supaya melangkah lebih jauh. orang yang dirasakannya benar menjadi penolongnya di hari tua.” gumamnya.. Di sebuah onggokan ia berhenti. melihat lautan itu dari tempat yang lebih dekat ke pantai. Seraya melangkah ia mereka-reka kembali rencananya yang sudah bermalam-malam bersama menantunya.. ini bukan tanah saya. beberapa kali. Ini tanah Subarkah dan Michiko. “Massugu! Massugu! Maju lagi! Maju lagi! Ayo. “Senang? Senang punya tanah ini?” tanya Pak Marta dalam bahasa Jepang. Okayama-san mengucapkan kata-kata itu sambil membungkukkan badannya dalam-dalam. kepada penduduk di kampung itu.” kata Okayama. tetapi . tetapi sudah mulai dipelajarinya dengan tekun: “Bagusu-neh.Enclave* Oleh: Ramadhan KH “Arigato gozaimasu! Arigato gozaimasu!” (Terima kasih! Terima kasih!).. Gembira sekali. bagus) sambil melambai-lambaikan tangannya. Nikmat benar dirasakannya menerawang. Subarkah..

“Saya sekali lagi mesti mengucapkan terima kasih kepada Pak Marta-san. melainkan milik anaknya dan menantunya. Okayama sudah punya gambar bentuk rumah yang akan dibangunnya di atas tanah milik keturunannya itu. Dan ia gembira. Tapi jangan minta pohon sakura tentunya.” jawab Pak Marta. tertawa lebar. sekarang sudah ada rumah kecil yang masih sederhana. Malahan terakhir sudah dicantumkan dalam sertifikatnya. Kalau tidak terpatahkan oleh kekalahan Jepang dalam peperangan. kemungkinan besar ia sudah dikirimkan ke Negeri Sakura untuk melanjutkan sekolahnya. bahwa tanah itu milik Michiko. sangat gembira. bahwa Subarkah menetapkan. Bakal jadi bagus. Kalau terlaksana. Sebab itu ia berikan uang senilai empat puluh juta rupiah. Apa pohon kaki (kesemek. Sebuah rumah potongan Jepang dengan jendela-jendela dan atap 170 . dan setiap kali berada di Sindanglaut untuk barang dua atau tiga bulan. Bicaralah lagi Okayama-san dalam bahasanya. bisa hidup di sini. pisang yang disukai Okayama-san. Asal diurus. tanah itu atas nama istrinya. dicampur sedikit dengan tanah dari kebun saya di Cisaat.yang ada di sana. bisa tentu bisa. pisang ambon. bukan meteran. Ia pun senang bisa membuat mertuanya gembira. “Apa bunga anggrek bisa tumbuh di sini?” “Bisa. bisa memiliki tanah seluas satu hektar lebih. adalah disebabkan pengetahuannya bahwa di Jepang mustahil ia bisa membeli tanah seluas itu. sebegitu yang diperlukan Michiko.” Pak Marta tertawa. orang menjual tanah dengan ukuran jengkalan.” Okayama pernah berpikir. anak-anak saya akan mendirikan rumah di sini. diikuti oleh Okayama-san. kini merasa senang. Bahwa Okayama-san. Tetapi hati kecilnya tidak bisa membohonginya. Di atas tanah seluas satu hektar lebih milik Michiko itu. sang menantu yang juga ada di sana mendampingi sang mertua. Pak Marta mengajak bicara Okayama-san dalam bahasa Jepang. Waktu itu ia duduk di sekolah menengah di Bogor dan terkenal di antara sesama teman sekolahnya sebagai murid yang paling pintar bahasa Jepangnya. Nyonya Subarkah. di tepi Samudera Hindia yang elok itu. ia memilikinya juga. Juga Subarkah. untuk membeli tanah di kampung Sindanglaut. bisa. uangnya bisa dipakai anaknya untuk membeli tanah di tepi pantai di daerah Sukabumi Selatan itu. di tepi pantai di Sukabumi Selatan itu. Bukan spesial karena istrinya jadi pemilik tanah itu di sana. di hari tuanya. Disebutnya di sini. “Semua tanaman bisa hidup di sini. pisang lumut. Okayama yang sudah pensiun dan ditinggalkan istrinya meninggal tiga tahun yang lalu. Bagus sekali tanah ini. Hahahaha. Lihat. sudah menolong anak-anak saya. Michiko. Ia merasa. Michiko. melainkan karena mertuanya bisa mendapat kesibukan yang bakal disukainya: bercocok tanam. Tidak ada tanaman yang tidak bisa tumbuh di sini. Tapi nanti rumah tua itu akan diganti dengan bangunan yang bagus. punya rencana berlibur tiga kali dalam setahun. di dalam surat-surat jual belinya. anaknya. Lihat itu. Ia masih bisa berbicara dalam bahasa yang dulu pernah dikuasainya dengan benar selama jaman Jepang. karena mahalnya. Tanahnya. apalagi di seputar Tokyo. pohon kesemek. Di Jepang. bahwa tanah itu bukan miliknya. pohon-pohon kelapa bagus-bagus di sini. sejuta Yen sejengkal. Sekarang. sehingga mereka mendapatkan tanah ini. bahasa Jepang) bisa tumbuh di sini?” “O. dengan kebunnya yang bagus. karena uang yang dibelikan tanah itu adalah uang simpanannya. pohon pisang.” jawab Pak Marta meyakinkan sambil menatap Okayama. “Untuk siapa lagi uangku itu kalau bukan untuk Michiko (anak tunggalnya). pisang raja.

karena ayah Subarkah masih ada.” kata Okayama-san kepada Kakutani-san yang juga mempunyai cukup uang simpanannya. Itu sudah kebiasaan mereka. Sungguh! Kamu bisa bergairah lagi jika lewat di kampung itu.. “Dan bagusnya. kamu bisa dapatkan seorang. Dan terkenang sampai sekarang. *** Okayama-san bersahabat kental dengan Kakutani-san. dengan nada suara seperti berhasrat.” 171 . seperti sudah tidak punya harapan. Rencananya pun sudah bisa mulai dilaksanakan. Di Kadupandak itu banyak sekali yang cantik. Dan sewaktu Okayama sudah berada lagi di Osaka. Saya pernah dibawa oleh kenalan saya lewat di sana.” komentar Kakutani di dalam hatinya waktu ia pertama kali melihatnya.. Apa sungguh begitu?” “Sungguh!” kata Okayama meyakinkan. ya. “Pasti ia cantik sekali waktu mudanya. Mereka sama-sama duda. akan mengambil wanita Indonesia.” kata Kakutani dengan nada rendah. atas nama siapa.. Mereka tidak perlu kita ajar lagi supaya tinggal di rumah. Kalau saya seusiamu (--Kakutani lebih muda--). segera ia bercerita kepada Kakutani bahwa ia baru saja membeli tanah di Indonesia. Kalau kita jalan ke Sindanglaut itu. ada daerah yang masih dihuni oleh badak.. dengan uangmu yang ada di bank sekarang. bukan mimpi pagi. “Cantik-cantik?” Kakutani seperti mau tambah diyakinkan. Tinggal tidak berjauhan. bagaimana saya bisa membeli tanah di sana? Saya kan tidak punya menantu orang Indonesia. besan Okayama. “Dan istimewa lagi. “dari tempat itu. Kebiasaan mereka pun baik-baik. “Tapi.” cerita Okayama kepada Kakutani. Ia ceritakan dengan terperinci sekali berapa harga tanah yang dibelinya. dan sebagainya dan sebagainya. dengan uang yang sudah diperhitungkannya cukup. Cantik-cantik lho.. selain ada laut yang bagus. merasa jadi muda kembali. melihat binatang langka?” “Ya. hahaha. Hahaha! Dan. bagusnya pemandangan di sana! Luar biasa! Pasti kamu pun akan suka. kita bisa lewat di sebuah kampung yang namanya Kadupandak. bahwa wanita itu benar cantik walaupun sudah ada usia. Tetapi ia tidak punya keinginan lebih jauh. Dan. Kesukaan kamu kan masuk hutan. saya akan kawin lagi.. Cantik-cantik.. “Mengapa kamu tidak punya akal?” kata Okayama. Dan gambaran itu buat Okayama sekarang. “Beneran. waktu datang di Osaka.potongan khas Jepang. badak yang terkenal. pemandangan seputar itu.” Kakutani seperti kena goncangan yang membuat ia sadar. “Kamu kan belum punya istri lagi. Ia pun pernah bertemu dengan ibu Subarkah. di mana letaknya Sidanglaut itu. Saya pun waktu lewat di sana.

” kata Okayama. “Bagus. Dan benar murah. bukan? Nulseha (--ia tidak bisa mengucapkan r--) sendiri sudah janji.” kata Kakutani kepada Okayama. Kakutani bercerita bahwa Nurseha memenuhi hasratnya dan tidak banyak permintaannya. ditemukannya di sebuah panti pijat. Yang dipentingkannya hari depannya. bagaimana?” tanya Okayama lagi setelah ia ingat pada tanah yang sudah diinjaknya bersama. mengapa pula aku mesti simpan uang itu? Dengan uang cuma sebegitu mustahil aku bisa membeli tanah di negeriku sendiri ini. “Jadi. Cuma keadaan ekonominya saja yang pernah membawa dia ke tempat panti pijat. “Hanya meminta supaya saya masuk agamanya. “Kami akan kawin. apa bisa ia sekarang tinggal di rumah?” tanya Okayama yang ragu. Kakutani dan Okayama sudah ada di Jakarta. *** Saatnya pun tiba. pada mulanya.” Ia pun ingat. Kalau istriku menyenangkan. Dan terbetik hasratnya: “Kalau istriku setia. saya akan belikan istri saya tanah yang itu. tidak ceritakan bahwa Nurseha. ”Dan soal tanah itu. di samping tanah Michiko. bagus kalau begitu.Kakutani jadi berpikir beneran. dengan pemandangan yang indah seperti yang diceritakan Okayama? Aku pun tentu bisa menikmatinya.” jawab Kakutani-san. begitu nama perempuan yang dibawanya. Dan kamu yang mengatakan bahwa perempuan Indonesia itu bisa tinggal di rumah. “Kapan akan nikah?” tanya Okayama-san. Nampaknya agamanya kuat. “Sesudah kami nikah. Malahan ini yang kedua kalinya sudah. Ia bisa menghapus apa yang sudah-sudah. dan bisa membeli tanah yang luas.” Kakutani sudah bisa melupakan apa yang telah terjadi dan dialami Nurseha sebelum ini.” kata Kakutani setelah didesak di mana mereka bertemu. Tentu saja jadi. Itu kan benar bagus. Dan saya sepakati. “Kalau sudah begitu.” kata Kakutani. cuma kalau bersama saya ia akan ke luar rumah. “Secepatnya. bahwa ia sekarang sudah sebatang kara. Ia. “Ia berjanji. Kakutani memperlihatkan seorang wanita yang lumayan cantiknya kepada Okayama. 172 .” Kakutani menarik wajah bangga dan serius. mengapa aku harus kikir dengan tidak memberikan uang kepadanya untuk bisa memiliki tanah yang luas dan bagus. Cepat sekali prosesnya. dan sudah pergi ke Sindanglaut. dan mau menerima kebiasaanku. Waktu ada kesempatan berdua Kakutani dan Okayama. Mereka berdua menginap di sebuah hotel di jalan Thamrin.

dan gelombangnya amat memikat. di tepi pantai yang lautnya biru. segala di sana sudah terbuka. Lautnya bagus. uang senilai pembelian tanah itu akan dikembalikan. tempat ia menceritakan rahasia hidupnya. Apalagi sekarang. kamu akan senang tinggal di sana. Dan ia pegang surat-surat tanah itu. bagus sekali. Kanazawa-san. kita bisa tinggal di sana semusim-semusim. Tetapi Kakutani-san merasa pintar juga. Pernikahan itu dilaksanakan di depan penghulu.” kata Kakutani. untuk usaha. Percayalah. Ia sudah menghitung. setelah ia membandingkan dengan harga tanah di negerinya. ia merasa senang. di sana segala bisa diatur. disaksikan oleh Okayama. *** . atas nama Nurseha yang pernah ditemukannya di sebuah panti pijat. “Bisa. Pantainya bagus. Ia pun ingin memiliki tanah sebagus seperti yang diceritakan temannya. Ia pun sudah beberapa kali membaca brosur-brosur tentang perjalanan ke Indonesia dan apa yang bisa dilihat di negeri di sebelah selatan itu. Nurseha merasa pintar. “Mustahil aku bisa punya tanah sebagus itu dan seluas itu di negeriku sendiri. Tidak lama setelah itu. Di sana kan selalu ada matahari. “Benar murah. Lebih luas daripada yang dimiliki Michiko dan lebih mahal harganya.Indonesia.*** Benar juga. Apalagi di pagi hari. bahwa ia nanti bisa berlibur di tempat yang bagus itu. Kanazawa-san. Pasti bisa. Sebab itu pula ia tak beralangan menceritakan tentang tanah yang dibelinya. Kita diajak oleh mereka untuk datang ke sana. Kalau musim dingin di sini. setelah Kakutani memenuhi syarat yang diminta oleh Nurseha dan keluarganya. tapi sekarang sudah jadi istrinya. kita bisa tinggal di sana. dan uang rupiah tak akan bisa mengejar harga tanah.” pikirnya. Tetapi terbeli oleh Nurseha yang membuat surat janji. Kamu tidak akan bisa membeli tanah seluas itu dengan seluruh kekayaanmu yang kamu miliki di sini. pemborong bangunan. bahwa kalau sampai ia dan suaminya bercerai. tergerak juga hatinya.” 173 *** Di sebuah organisasi di kotanya. “Tapi bagaimana kami bisa membeli tanah di sana?” tanya Kanazawa kepada teman akrabnya. Kakutani punya sahabat akrab. “Aku akan sering saja berada di sana. atau di sore menuju senja. Tanah di Sindanglaut yang berdempetan dengan milik Michiko pun kemudian dibeli Nurseha atas namanya. cerah langitnya. tak dirasakannya jauh.” pikir Kakutani. bahwa nilai tanah akan cepat naik. dan kamu merasa encok di sini. Pasti ada cara-caranya. Kata orang di sana. Kakutani dan Nurseha melangsungkan perhelatan di Sukabumi. Soal jarak Jepang . Tentu yang ukurannya luas yah. Tetapi yang pasti lagi.

Dan akan dijual. ada sebidang tanah luas yang juga tidak jauh letaknya dari tanah Michiko. Ramdan. seorang lagi yang lebih muda. tersenyum lebar. bahwa atasan-atasannya yang ada di Kecamatan dan di Kabupaten akan setuju. terasa tak menentu. dengan kebutuhannya. Lalu mereka pergi ke Sindanglaut. Supaya nyambung jadi bagian tanah ini. “Bapak ini. bisa menolong kita. dibarengi oleh Kosasih dan dua orang kawannya. Ia pun yakin. “Ini. Sebab itu ia cepat berkata kepada Okayama: “Kami bisa atur. antara lahan ini dan laut. Tanah itu tidak nempel pada pantai. bahwa kekurangan yang dirasakan oleh Kanazawa itu nanti bisa diatasi. bahwa yang dikatakannya itu bisa jadi kenyataan. Tidak ada yang tidak bisa diatur di sini. 174 . yang tempo hari mengatur pembelian tanah untuk Michiko dan Nurseha. Tetapi Kosasih. Ia tentu saja senang. Ketiga orang Jepang itu pergi ke tanah bekas perkebunan kecil itu. sehamparan tanah yang ada di tepi laut itu digabungkan saja dengan tanah bekas perkebunan kecil itu. Orang kita-kita juga. Tanah itu bekas perkebunan kecil.” kata Kosasih dengan menarik senyum lebar. seorang yang lebih tua. Sudah dua kali ia pernah mengatur jual beli tanah dengan orang. Tanah yang menghalang-halangi itu. Kosasih yang pernah membantu kedua orang itu dengan urusan tanah di sana. “Tak ada kesalahan saya. ini orangnya yang bisa membantu kita.” kata Kosasih sambil menarik wajah senyum dan meyakinkan. “Apa yang tidak bisa dengan uang?” pikirnya. “Yang satu kali untuk menantunya bersama anaknya. Rumah-rumah kampung itu bisa dipindahkan. Kanazawa-san takjub melihat daerah pantai Samudera Hindia itu. “Bagaimana cara membelinya?” tanya Kanazawa. Ia mengetahui. Sudah tergitik juga hati Kosasih oleh gambaran bahwa kali ini ia bisa beruntung banyak lagi. Kanazawa-san menginginkan membuat semacam hotel di sana. Yang kedua kali untuk istrinya. lewat Okayama yang sudah tambah pintar berbahasa Indonesia. “Tidak jadi soal.” pikirnya. Sah-sah saja. Okayama dan Kakutani lalu mengajak bicara Kosasih yang sudah siap untuk membantu. bisa diatur supaya jadi jalan ke pantai. “Tetapi hotel akan laku kalau menempel pada laut. tetapi keuntungan yang diperolehnya menghapus kegelisahannya itu. sebenamya hati nuraninya pernah goyang. Pak Kosasih. Kosasih seperti bisa menangkap apa yang diinginkan oleh Kanazawa. Tetapi.” kata Kanazawa kepada Okayama dan Kakutani.” pikirnya. bisa meyakinkan. Ada kekurangan di tanah bekas perkebunan kecil itu yang terasa oleh Kanazawa-san. Tetapi terhalang oleh beberapa rumah kampung dari tanah Michiko. tapi sudah tidak terurus.” kata Kakutani sambil menunjuk seorang laki-laki yang bekerja di Kecamatan di Sidanglaut. Ia merasa. Garnida.Kanazawa-san terbang bersama Kakutani dan Okayama ke Jakarta.” kata Okayama sambil memegang tangan Kosasih. Ia pun yakin dengan uang segala bisa beres.orang Jepang itu dan memasukkan uang ke kantongnya sendiri lebih dari lumayan.

Masing-masing mengatur kepemilikannya. Ketiga orang Jepang itu mengangguk-angguk. Orang-orang Jepang itu tidak tahu. malahan di kantor Gubernuran. melainkan ada Saito-san. Kakutani-san dan Kanazawa-san yang membangun di sana. segala bahan yang diperlukannya sudah ia siapkan dari dan di negerinya." kata Okayama. Dengan duit. Lalu mereka berbicara dalam bahasa mereka. meminta dukungan. Rencana bangunan hotel sudah siap. Sindanglaut mereka tuju. pikirnya. karena bukan saja Okayama-san. Sebab memang setelah diperhitungkannya. Kakutani-san pun langsung mengukur-ukur tanah yang akan dipakai untuk bangunan rumah yang bakal dihuni bersama Nurseha. Kakutani-san dan Kanazawa-san sudah berada di Indonesia lagi. 175 *** Selang beberapa waktu. Kosasih mendengarkan saja. Subarkah. Nampak sekali ada kesibukan di wilayah yang tadinya kampung itu. sudah mulai dengan membangun rumah yang mereka citacitakan. tak mengerti sepatah kata pun. Penghuni beberapa rumah yang menghalang-halangi antara tanah Michiko dan Kanazawa pun sudah sepakat untuk pindah. sehingga bisa dipakai untuk keperluan Kanazawa-san yang punya uang banyak. tapi menyebabkannya jadi merasa kuat.” Kata "pembangunan" itu melintas sejenak saja di kepalanya. masih jauh lebih murah daripada jika harus membangun di negerinya. Dan ia sudah jadi lebih pandai. Kata pembangunan itu mengubah kesulitan yang tadi pernah mengganjal sebentar di hatinya. Takahashi-san dan . apa yang tidak bisa dibereskan di kampung ini. Maka pembangunan dimulai di daerah itu. tuan Kanazawa tertarik. Dan bertambah lagi kericuhan di daerah itu. Kemudian kepalanya digerakkannya menghadap ke arah Kakutani. di kantor Kabupaten. tapi harapan menyelinap di antara perasaannya. asal benar bisa diatur begitu. Beberapa orang pegawai Kabupaten Sukabumi pun ada di sekelilingnya. lalu ke arah Okayama. Ia tidak kepalang bergerak. Mereka tidak membuang waktu. Entah berapa ongkos memindahkan mereka yang sebenarnya. “Ya. ada Tanaka-san. Okayama yang sekali ini didampingi Michiko dan suaminya. “Pasti bisa! Pasti bisa!” kata Kosasih kepada Kanazawa. “Ini jadinya proyek pembangunan. Okayama-san. Uang siluman tak jelas masuk ke kantong saku siapa. Tiang-tiang baru sudah dipancangkan. Tanah yang menghalangi-halangi perkebunan kecil dengan laut itu pun sudah diatur oleh orang-orang di kantor Kecamatan. atas anjuran penasihatnya ia sudah menggaet orang di Jakarta penguasa penting. Kanazawa-san nampak tenang-tenang saja. Kanazawa-san dikerumuni oleh pegawai-pegawai dari Kecamatan Sindanglaut. Tinggallah nanti ia mencari tukang-tukang yang bakal diperbantukan kepada arsitek Jepang yang bakal membangun rumahnya itu.Ia berpikir lagi. Soal tanah yang menghalang-halangi sudah terpecahkan. Rumah tua sudah dibongkar. Ia menunggu kepastian.

Michiko adalah istri Subarkah.beberapa lagi orang Jepang yang bukan saja tertarik.” pikir mereka. Bukan saja hatinya terganggu. Ya. Dan mereka ingat pada beberapa kursi yang ada di sejumlah negara di luar negeri mereka yang sudah diduduki oleh bangsa mereka. Orang-orang Jepang itu mendengar kemungkinan-kemungkinan itu dari mulut ke mulut. tetapi ia sudah tua. Kosasih sudah punya rumah baru dan istri baru di Sukabumi dan keluyuran dengan mobil Suzuki yang paling mutakhir. melainkan sudah mulai membangun di daerah yang tadinya masih ladang tegalan. . pikir mereka. Sampai-sampai bangunan yang seperti toko dan hotel pun disusun dan berbentuk bangunan Jepang. Tinggallah Ramdan yang berjongkok menatap orang-orang yang sedang mengangkatangkat kayu dan besi itu dari kejauhan. keturunan mereka. Lebih dari duapuluh orang Jepang sudah membangun di daerah Sindanglaut itu. gamang. Di hatinya ia merasa tertinggal. atau yang di Osaka atau yang di Okinawa sekalipun. bahwa di kampung di tepi Samudera Hindia itu sudah berdiri satu daerah enclave. Melangkah pun sudah sakit-sakitan. yang bisa membelinya dan membangunnya. Saito-san idem dito. untuk semua penghuni bumi. Dan semua menghitung: tanah di Sindanglaut itu benar-benar jauh lebih murah dibandingkan dengan yang ada di Tokyo. “Untuk siapa saja. Anaka-san menempuh jalan yang juga tidak seberapa sulit dirasakannya. Kanazawa-san adalah pengusaha yang diajak datang untuk menanam modal. *** Pak Marta datang di Sindanglaut. bahwa dunia ini untuk kita semua. pikirnya. karena rumahnya pun sudah tergusur. sawah musiman dan kebun terlantar itu. semua kedudukan pun bisa kita capai. istri. di atas tanah yang lebih dari dua ratus hektar. sahabat dan pelbagai cara dan ilmu yang tak jelas duduk perkaranya_ memungkinkan rumah-rumah dan bangunan lainnya di sana berbentuk seperti di kampung asal mereka. Ia pun sudah mendengar kabar dari orang tua Subarkah. Untuk pihak yang pintar. Jangan ditanya asal usul tanah itu: tanah wakaf pun sudah berubah catatannya. Garnida sudah naik motor Honda yang paling diidam-idamkannya dan paling disenanginya. Sebab kebanyakan pemilik tanah itu _lewat menantu. Brosur-brosur pariwisata pun sampai pada mereka. Ia menjawab sendiri: Okayama-san adalah mertua Subarkah. sahabat kentalnya. daerah kantong Jepang. Nurseha adalah istri Kakutani. Mereka seperti sudah berpikir. “Siapa yang salah?” pikirnya. Kebanyakan peralatan dan malahan bahan-bahannya pun didatangkan dari Jepang. lalu ia sebentar merenung. Okahara-san sami mawon. 176 *** Maka ramailah pembangunan di Sindanglaut. untuk kita. untuk ikut serta dalam pembangunan itu. Ia sudah bergabung dengan anak-anak pembesar di Jakarta.

Ia seperti menelannya. “Tidak mengalami jaman Jepang?” “Ah. orang tua itu. Ia menarik wajah gembira.. “Pilihanku benar. bersih. “Di sini lebih menguntungkan. benar bagus. Tetapi. “Jangan jongkok terus begitu. Ia arahkan tatapannya ke kejauhan.” ajak Pak Marta kepada Ramdan. “Bapak bekerja di Kecamatan. mobil Suzuki diparkirnya di halaman kantornya. Kelanjutannya jadi amat serius.” Ia setengah membusungkan dada. anak-anaknya. Ramdan. Dengan ragu. Sementara itu Kosasih datang. Pakaiannya serba baru dan mencolok. ke kaki langit. menyayat hati orang yang diajaknya bicara. Kendaraannya. terutama kepada istri-istrinya. Bapak. saya belum lahir waktu itu. “Duduklah di sini. ke lautan yang biru. ke ombak yang bergelombang. “Alhamdulillah. Ia merasa berjasa. Ia gundah. Daerah ini mesti dibangun. Ia sendiri diliputi beberapa pertanyaan yang tidak bisa dijawabnya sendiri.” jawab Kosasih. permulaannya amat sederhana. Suara Ramdan terdengar melas sekali. Mukanya pun nampak licin. Ia ingat.” Ramdan mengikuti ajakan Pak Marta. “Tempat ini bagus.” Di tengah itu Garnida muncul dengan menaiki motornya. “Wah. kamu sudah punya motor segala sekarang. kan?” kata Pak Marta. Pak Marta tidak sanggup menatap wajah Ramdan yang sudah kurus dan keriput itu. menjawab: “Entahlah. Pak Marta?!” kata Ramdan kepada Pak Marta yang duduk di kursi di depannya. Percakapannya menunjukkan kegembiraan yang luar biasa.” Ia tidak meneruskan ingatannya.” Pak Marta cepat mengerti. Di sini masih ada kursi. mertua-mertuanya. Hati kecilnya berbisik jujur.“Tetapi siapa di daerah ini yang tidak tergusur. Tadinya saya mau dipindahkan ke Sukabumi. Sudah gemukan bentuk badannya dibanding dengan beberapa bulan yang lalu.. ke langit yang bersih.” kata Pak Marta. Pak.” kata Garnida. Dulu saya pernah benci kepada orang-orang Jepang itu. orang tuanya. terjepit antara sesal dan senang. Ia sudah bisa membelikan mereka pelbagai barang modern yang biasa ditayangkan di televisi yang ia saksikan di rumahnya. Pak Marta. tapi saya menolak. Pak. “Ya. “Berapa umur Bapak?” tanya Pak Marta kepada Kosasih. yah..” kata Pak Marta kepada Ramdan yang tetap jongkok di dekatnya. Pak. “Bagaimana perasaan Bapak melihat kampung ini sekarang?” tanya Pak Marta. 177 . bangkit dan duduk di kursi.

Pak. Tak ada jembatan penghubung yang mengaitkan pembicaraan serius di antara mereka. sudah seperti kelelahan jika harus berpikir.” “Ya. Maka ia menyelip menyambung pembicaraan: “Rumahnya. Hasil kerja di sini?” tanya Pak Marta.” kata Garnida. mengikuti pihak yang menginginkan. Pak Kosasih membujuk kami. Dan yang tua serta yang muda. (Dimuat dalam Horison. Ia terhitung pemuda masa sekarang yang diusik oleh pelbagai tayangan barang jualan di layar kaca dan hanya memikirkan masa ini. Ia bicara sesungguhnya. *** 178 *) Enclave = Daerah kantong. Pak. hari ini. Sementara itu pembangunan di daerah enclave berjalan terus. Sekali Garnida bertatapan muka dengan Ramdan. September 1997) . Suasana pun seperti direka untuk jadi demikian. Masing-masing dengan pikirannya sendiri. Ramdan mengetahui silsilah pembelian motor itu. detik ini. saat ini. juga tidak pernah berkenalan dengan buku-buku tentang masa lampau.“Maju yah. digusur. rumah orang tuanya. Ia tidak menatap ke masa depan. Ia pindah ke kampung di balik bukit itu.

Satu on. ubin. tempat yang telah dia miliki itu sudah sangat pas. Kini masing-masing mengelompok. Sekarang setelah rezeki semakin deras datang. Iwan adalah sulung dari empat anak. uang yang dia terima cukup untuk membeli sebuah rumah reyot di pinggir jalan. paving. orang Jawa bilang: Sendang kapit pancuran. Dua anak lelaki. Dia memang mahir mempengaruhi calon pembeli. Tetangga lebih banyak membeli kurang dari satu kilo. dia bahkan semakin mengkhianati program pemerintah: dia ingin menambah dua atau tiga anak lagi. Lalu bapaknya Iwan menjadi terkenal sebagai makelar tanah dan rumah. Maka kantung-kantung plastik kecil lebih banyak terisi di rak-rak itu. tidak jauh dari pasar Jatingaleh. ditata di rak warung.Horison.” “Jum’atan apa tidak dia. Semua tergantung pada komisi yang disepakati. Pak RT sanggup mencarikan. Karena dekat dengan Pak Lurah. semua keperluan MCK.” Istrinya tidak menanggapi. dia sering mendapat persenan keuntungan menjual tanah atau rumah di kawasan sana. Dan bila orang memerlukan barang yang tidak nampak di situ.1 . setengah dan satu kilo-an. Pada suatu ketika. buat apa rezeki kalau tidak untuk membangun keluarga besar! Padahal. Perempuan itu sibuk menghitung bungkusan gula pasir yang baru selesai dia timbang. Dia pikir. Agustus 2000 Jati Diri Oleh: Nh Dini 179 Pak RT tergesa masuk. karena Pak RT seperti berbicara kepada dirinya sendiri. Sudah tiga tahun bapaknya Iwan menjadi RT. Kebetulan yang perempuan berada di tengahtengah. mendirikan usaha penjualan kayu. Pak RT bukan kepala keluarga teladan. karena anaknya lebih dari dua. seperempat. lebih dari tiga. dua perempuan. bertanya kepada istrinya: “Mana Iwan?” “Belum kelihatan. Bapaknya Iwan berpatungan dengan Pak Lurah.

Kini lantainya keramik putih berkilau. sehingga terang memantulkan cahaya hari. Penduduk sekitar tetap banyak yang tidak mampu. “Ini untuk pertemuan-pertemuan. Dengan begitu. menggerombol bersama teman-teman sesama seragam SMU di perhentian bis. Pintu-pintu bisa dipasang atau dicopot. Adiknya yang terkecil delapan tahun. semuanya berubah bagi Iwan. Mak kalian dan aku tidak akan sering berada di luar. Ketika rumah di samping dijual. Jika ada tetangga yang usil bertanya mengapa dia begitu cepat pergi lagi keluar rumah. Pak RT langsung membelinya. Dia bebas. Bapak-bapak.Ketika ayahnya menjadi RT. menjadi gadis kecil dan berani memprotes: “Bapak pergi-pergi terus! Kalau tidak di toko. sekaligus selalu repot di toko material bangunan. selalu di kelurahan!” Anak-anaknya sangat hafal dengan jawaban Pak RT: “Di toko aku tidak menganggur! Aku mencari uang buat kalian! Buat kita!” Yuni. dia bergegas mandi lalu pergi lagi memimpin pertemuan ini atau itu di salah satu ruangan kantor kelurahan.” Atau: “Muda-mudi itu harus ada yang mengarahkan. Tetapi tak satu pun anggota keluarganya memperhatikan. nyaris menjadi anak jalanan. Dia bikin sebuah ruangan polos. “Aku tidak punya waktu. Katanya. muda-mudi rapat di sini. menjadi bangsal aula cukup besar. PKK. Di situ tikar digelar. Tapi mereka menyukai Pak RT yang selalu penuh pengabdian. jawabnya yang paling sering adalah “Saya harus ke pertemuan. Atau bila tiba-tiba pulang sebelum pukul tujuh. Semua nampak bahagia.” itulah jawaban Pak RT. di warung-warung kopi atau di kios rokok yang juga menyediakan minuman pembakar tenggorokan. Lalu dilengkapi meja-meja pendek. sekaligus mengurusi muda-mudi kampung. Sore ketika kebanyakan keluarga berkumpul. Dan sejak ayahnya mempunyai kedudukan tersebut. Pak RT masih mengurusi usahanya. Karena bapak itu jarang berada di rumah di saat Iwan pulang untuk makan siang. adik Iwan yang paling cerewet menginginkan ayahnya kadangkala datang ke sekolah mengambil rapor seperti orang tua. melainkan lintingan daun kering yang mampu membikin perasaan melayanglayang. Dia baru lulus SLTP. karena bisa berbuat apa pun sesuai kemauannya. Tubuh Iwan kurus kering.orang tua lain. Keluarga Pak RT kelihatan sejahtera. Rokok yang dihisap bukan lagi merk dikenal.” 180 .” Iwan hidup di luar. usia Iwan 16 tahun. Rumah berganti ubin. Bagian depan.” Adik Iwan sudah berangkat remaja. seluruh kepanjangan dinding tertutup bahan yang sama. Dia merasa hidup lebih leluasa. Lalu diteruskan: “Biar ibumu yang pergi.

Bisa dibayar dua kali. "Tidak usah baru. sambil katanya: “Apa boleh minta tehnya? Buat satu kali cem-ceman2 saja. akan lebih mudah disewakan buah pindahan atau lainnya jika bak belakang selalu kelihatan bersih. Bapak dan ibu mabok dengan keberhasilan mencari uang. Di mana-mana orang memerlukan kayu. pembantu yang dua orang ditambah satu lagi.” Ibunya Iwan baik hati. Pasangan itu banyak menolong dan membantu penduduk sekitar. dia ingat harus menanak nasi atau menjemur cucian. Orang terus membangun. ada yang sampai hati menunjuk stoples di atas rak. Selalu ada yang lewat. Dan karena rezeki berlimpahan. Yang dijajakan di warung bertambah: alatalat tulis. Mereka selalu kekurangan.” suara Pak RT tidak bertanya.Di waktu itulah ibu Iwan berkata kepada suaminya. Untuk toko. berjalan kaki menuju rumah yang terletak tidak jauh dari masjid. aku tidak perlu memngawasinya.” Dan kalau itu sudah diberikan. Sama seperti suaminya. Pada suatu siang. Di lain waktu. Iwan mengeluarkan kalimat yang sejak beberapa pekan didiktekan teman-temannya. Pak. bahkan perangko. Sekarang. dilanjutkan dipasrahi membina kaum muda di sana. Kebanyakan penduduk di sana tidak seberuntung keluarga Pak RT. turut bersembahyang Jum’at di belakang ayahnya. Kemenakan. Kadang-kadang menjadi tiga jika saudara ibunya Iwan datang dari lereng gunung Sumbing. tiba-tiba.” Ternyata dagangan itu pun berjalan lancar. semula dia sediakan satu kendaraan bak terbuka. lalu singgah. “Bikinkan aku warung. Kecil-kecilan saja. Sambil makan. “Kamu sudah memperbaiki prestasimu di kelas? rapormu yang paling akhir jelek sekali. “Kalau boleh. Itulah salah satu sebab mengapa bapaknya Iwan menjadi RT. karena seorang kenalan terdesak kebutuhan uang. dia terkenal sebagai orang yang tidak tega. ayah dan dua adiknya.” Pak RT punya sebuah kijang. Iwan sengaja memperlihatkan diri. menawarkannya kepadanya. ada tetangga yang berani berkata. batu atau pasir. minta gula dan kopinya saja sedikit. lalu membantu mengerjakan ini atau itu. Ibunya Iwan tidak lupa menyumpalkan uang dua ribu ke dalam genggaman si tetangga. Aku ingin mencari uang sendiri. Beri aku modal. bukan?” 181 . obat-obatan. Sedangkan yang pertama. selain buat keperluan toko. meterai. Hanya kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Mereka pulang bersama. Buat sekolah. “Apa kamu naik kelas nanti kok minta dibelikan kendaraan. Dia minta dibelikan kendaraan. Kebetulan memang bapaknya Iwan sedang berpikir-pikir akan menambah sarana penataran pesanan yang semakin sering datang. siapa saja yang berasal dari desa sama. adik atau saudaranya ipar. Pembantu itu bisa bertambah lagi di saat tetangga datang mengobrol. kendaraan yang kedua itu melulu hanya untuk mengangkut bahan-bahan kotor. Tapi pekan kemarin dia tambah satu lagi. Kali itu Iwan bahkan makan siang di meja keluarga. Kemudian. Yang terkumpul adalah ibu. Asal masih bagus jalannya. Sekarang anak-anak sudah besar.

. terjadi kebut-kebutan. Teman-temannya menyuruh Iwan mengambil uang di warung Mak. Sebetulnya merupakan kebanggaan penduduk ibu kota propinsi. Dan dia tidak khawatir ayahnya akan menyelidiki kebenarannya. aku bisa mengantarkan Yuni setiap pagi. Di sanalah. “Itu benar. Kini teman-teman itu menyulut api pemberontakan terhadap Pak RT: “Ayahmu kaya. Karena dalam keseharian. Seusai sekolah.” kata kawan Iwan yang lain. Lalu kita bisa bikin oplosan lain. “Kalau punya kendaraan sendiri.. Kebohongan memang sudah mendasari hidup Iwan. Baru saja membeli kendaraan lagi untuk tokonya. Pemuda-pemuda tanggung memacu kendarasan mewah beroda empat atau dua. sehingga dia sendiri terjerat dalam khayalannya. Lebihlebih menyuruhnya belajar...”. Di sana mereka juga menghambakan diri pada kemaksiatan berjudi. Sudut dan selinapan yang dekat pagar dibiarkan. Mereka tidak hanya melampiaskan nafsu mengatasi lawan dengan kecepatan. kendaraan umum selalu datang terlambat karena jalan macet. sulung. tinggal aku yang belum punya kendaraan. Hal ini agak mengejutkan Iwan. temannya yang paling menonjol. Iwan termakan oleh gosokan itu.. 182 . “Benar. Di mana ada kegiatan berkelompok. berlanjut biasa. kenyataan dan harapannya sudah begitu menyatu. menjadi kernet omprengan. Bisa turut berpacu di Jatidiri. Mana yang sungguh ada. Rumput ilalang bertumbuhan nyaris setinggi orang.Rupanya si ayah masih ingat juga bahwa anak sulungnya mencetak empat angka di bawah sedang di catur wulan yang lalu. Dia yang paling lama memiliki kendaraan. Kadang-kadang. sampai mobil-mobil dan kendaraan roda dua lain yang setengah rongsokan. Stadion Jatidiri besar.” begitu kata Herman.” dan yang disebut Khodir mengangguk-angguk. Dia keluar masih mendengar omelan Mak terhadap suaminya. ruwet menjadi satu. “Apa lagi ini nanti musim hujan. Herman-lah yang mengepalai. Yang dia inginkan demikian. atau mana yang dia harap ada. Iwan meninggalkan rumah sebelum keluarga selesai menyunyah pisang. Dan karena merasa permintaannya tidak bakal terpenuhi. kita bisa cari uang. Tetapi pemanfaatannya sangat kecil. sehingga tanaman dan perdu liar berduri berdesakan menjadi sarang aneka binatang melata. Karena badannya lebih tinggi dan besar dari anggota kelompok itu. barulah bagian-bagian tertentu dirapikan. Padahal seharusnya kamu yang dibelikan kendaraan! Minta saja! Kalau kamu punya roda dua. Aku mendapat resep baru dari tetangga yang datang dari gunungkidul. Karena Iwan semakin sering mengatakan hal yang hanya terjadi di kepalanya. Anak-anak repot. Tetapi Pak RT tidak termakan oleh rayuan si anak. Minta kendaraan saja.. semua teman Iwan sungkan kepada Khodir. kena hujan. pasti kita menang.” tiba-tiba si ibu ikut urun bicara. Jika pertandingan akan diselanggarakan di sana. di waktu malam.” Iwan kelihatan tidak was-was mengenai angka-angka di rapornya. “Kalau Khodir yang bawa kendaraanmu. tidak dimanja.” kata Iwan lagi. “Di kelas.”. Yang dia katakan tadi entah merupakan kebohongan yang keberapa kali yang dia ucapkan sejak pagi hari itu. Lalu alur keseharian kembali seperti semula.. “Sampeyan3 ini bagaimana! Punya anak lelaki. Pak RT tidak pernah menunjukkan kepedulian tentang kehadirannya.

Apa lagi. sudah menyambar tas dan melangkah ke pintu kamar akan keluar. Tidak banyak. Mak turut masuk kamar. Tenang dan tanpa ragu Iwan menyahut.” Iwan menyahut. Mak bertanya mengapa mengambil uang sebanyak itu. “Mau ke mana?” Mak bertanya.” kata Iwan lagi. Mak bertanya lembut. Terakhir dia masukkan uang kemarin malam. Tapi tidak apa-apa. Baru muncul hampir petang.” Mak harus puas dengan jawaban tersebut.” “Aku jajan bakso tadi. “Pasti Iwan yang mengambil!” kata Mak seorang diri. menggosok rambut dengan kain apa saja yang tersampir di sana. Alangkah terkejut dia melihat tulang iga Iwan yang mencuat. Malahan mungkin dengan bunga. di muka sekolah. lalu akan mengenakan baju. “Ini sisanya. anaknya bawa 183 . untuk apa uang itu. terkejut bukan kepalang karena uang yang dia selipkan di belakang stoples di rak paling atas hilang. Mak”. Besok pagi langsung ke sekolah.000. jumlahnya mendekati tujuh ratus ribu. bahkan nyaris merayu si anak. Kalau ada keperluan sekolah bisa sepuluh atau dua puluh ribu. “Ke mana?” Mak masih mengikuti. karena si sulung sudah berlalu. dua ratus ribu lebih sedikit. tangannya mengulurkan satu lembar sepuluh ribuan. Iwan pergi untuk belajar di rumah kawannya. meneruskan bicaranya. Tadi siang kamu juga tidak pulang makan. kasihan tidak punya modal. dadanya kerempeng.Hanya. Rambutnya masih basah dan belum disisir. Rupanya baru kali itulah dia menyadari betapa kurusnya si sulung yang dia banggabanggakan. “Nanti kalau usahanya berjalan. “Makan dulu! Kamu kurus. pagi Iwan dan Yuni disuruh mengambil uang sendiri di kotak di dalam laci. Biasanya. dia tunggu lagi sampai anak itu mandi.” lalu dari saku celana seragam yang kembali dia pakai.” Mak menghitung. Dia mau buka usaha. bersama tukang pompa ban. “Mau belajar bersama teman-teman. Dia mengira anaknya marah karena permintaannya ditolak Pak RT. Mak tunggu anak sulung itu seharian. Mak takut bicara kasar. Di sana tentu disuguhi makanan. Sampul coklat masih ada tetapi kosong. Mak lega. Mukamu pucat.” Lalu Iwan terburu-buru. “Apa usaha temanmu?” “Bengkel kecil-kecilan. menutup kancing baju. dia keluarkan gumpalan uang lusuh. pada suatu pagi ketika Mak akan membuka warung. Herman akan mengembalikan. Hati Mak tenang. “Kuberikan kepada Herman. Diberikan kepada Mak. Paling-paling lima ribu. berhenti lalu katanya “Minta Rp 10.

. Itu memang baik jika memang demikianlah kejadian yang sesungguhnya. Mak senang. Mak yang berangkat.” dan Mak itu hampir melepas lanjutan kalimat. bisa jajan. tidak keluyuran. dia memutuskan: “Sebaiknya ibu-ibu berbicara kepada anak-anak Anda.. Rabu sampai hari ini tidak kelihatan. Katanya banyak tambahan pelajaran. Herman sudah dua bulan tidak masuk. Kecuali Anda. tapi Selasa. Kami kira. Juga hadir dua guru. “Hari Senin masih masuk. “Dia berangkat sekolah setiap pagi. Itu baik. Seperti biasa. Sekarang. Sudah tahu sendiri apa yang harus dikerjakan.uang. “Usaha apa?” hampir serempak mereka yang berada di sana bertanya. kalau Iwan pulang makan. “Kami menerima uang tes. “Buka reparasi kecil-kecilan bersama tukang ban. Dan yang sesungguhnya terjadi ialah. anak-anak mereka tidak naik kelas. 184 . ya dia pasrahkan saja ke bawah Lindungan Yang Maha Kuasa. Jangan sampai terlanjur mendapat pengaruh buruk dari jalanan. lebih baik mengetahui anaknya berada di rumah teman. Tetapi kalau anak itu tidak kelihatan. Ibunya Iwan. Rapor anak-anak itu semakin lama semakin jelek. bukan?” Mak kebingungan. Jadi Mak juga meniru suaminya. mandi atau untuk keperluan lain. Kepala sekolah menemuinya bersama sekelompok orang tua lain di ruang tersendiri. Banyak makanan dijajakan di malam begitu. dia menganggapnya sudah besar. menanggapi. bahwa Iwan mengambil uang banyak sekali dari warungnya untuk ‘dipinjamkan’ kepada temannya itu. Ketika kepala sekolah merasa sudah cukup mengorbankan waktunya untuk mereka.” kata kepala sekolah. Iwan sendiri. Dengan suara terbata-bata. Yang paling nampak adalah ibu Herman. dua hari kemudian orang tua diminta datang mengambil rapor. ibu-ibu akan melunasi uang sekolah sekarang.” istri Pak RT berkata membela anaknya. tidak tahu bagaimana harus menjawab secara tepat. ialah anak-anak mereka sudah setengah tahun tidak membayar uang sekolah. katanya. Maknya Iwan menjadi ragu. Anak Ibu pulang ke rumah setiap hari. Seorang guru melihat ke buku catatan.” akhirnya itulah yang dikatakan Mak. Rupanya. “Dia pulang sore. tidak nampak di sekolah sejak empat hari. Mendengar itu. “Bukankah Herman membuka usaha di depan sekolah?" Ibu Iwan merasa perlu mengutarakan pengetahuannya. Pak RT tidak pernah menyuruh-nyuruh anak itu berbuat begini atau begitu.” Dan yang lebih-lebih mengejutkan para orang tua kedua teman Iwan. Sejak si sulung lulus SLTP. Khodir berkali-kali mangkir. Mak berpikir. maka kami memberi kelonggaran mengikuti tes untuk akhir catur wulan.

Walaupun tidak semua dari mereka itu aktif mengerjakan sesuatu guna membantu kelancaran organisasi kampung. “Bu! Tehnya ditambah!” Pembantu-pembantu meyorongkan ceret berisi tambahan minuman.“Memang banyak ekstra kurikuler. “Silahkan! Silahkan! Direruskan saja. “Maaf! Maaf! Saya terlambat!” kalimat itu selalu mengiringi masuknya Pak RT ke dalam ruangan. masing-masing tamu sudah mendapat jatah teh manis. ini kami sedang memperbincangkan berita yang didengar tukang rokok di depan Karangrejo. Pak RT orang yang sibuk. mulutnya mengunyah gorengan bergedel jagung penuh minyak. Untuk beberapa saat terdengar pembicaraan. Kami semua tahu bahwa Pak RT pasti hadir meskipun kami harus menunggu. Dan selalu ada yang menjawab. Ini kami sudah mulai menikmati hidangan. Tergesagesa dia mandi dan melunasi tiga rekaat. Petang itu Pak RT pulang setelah panggilan shalat Maghrib dikumandangkan. sesuai pilihan masing-masing. Pak RT. Ada sopir taksi yang dirampok katanya. Mereka pulang berpeluang mengantongi paling sedikit satu pak kretek atau filter. Kami minta maaf. serunya. mengerti. Begitu pula para pendatang. Selain di situ suasana cerah. Kami 185 . pria-pria lajang atau yang telah berumah tangga tapi lebih suka menghindar dari kerepotan anak tak hentinya memasuki pintu di sebelah ruang tamu Pak RT. Pak RT tetap belum pernah terlambat mengikuti rapat kami!” “Sebetulnya malahan kami yang merepotkan Bu RT.” “Ya.”tanggap Pak RT sambil menempatkan dirinya di atas tikar. Tanpa menunggu lama.” kata-kata lain yang dimaksudkan lebih manis terdengar dari pojok lain. Bu. saya juga dengar. “Anu 4. “Tidak apa-apa. Kaum muda lelaki dan perempuan.” sahut seorang guru. lalu mengenakan baju berkerah dan sarung. Para pelayan sudah terdidik. Sementara itu orang mulai berdatangan memasuki ruang pertemuan. Padahal katanya.” seseorang menjelaskan. mengelilingi tiga atau empat piring berisi kudapan.” Disambut dari sisi lain: “Ya benar. lalu mendongak ke arah dalam. tetapi semua tahu bahwa mengikuti pertemuan di rumah Pak RT tidak pernah rugi.” sahut Pak RT. sopir taksinya ditusuk pakai obeng. “Apa beritanya sudah masuk koran atau televisi?” “Kok belum ada. Tetapi saya jarang melihat Iwan mengikuti tambahan pelajaran itu. juga selalu banyak makanan dan rokok. Gelasgelas itu diletakkan oleh pembantu di atas meja rendah yang berderet di tengah. selalu merepotkan ibu.

tiga tamu belum meninggalkan ruang pertemuan. Dua orang turun.” sahut Pak RT. saya sendiri. Pak RT bangkit dari tikar. Yang lain-lain kabur!” “Ya. langsung menuju pintu yang terbuka. bakso atau sate. “Bapak Rajiman?” “Ya. “Ayo kita mulai membicarakan lapangan volly saja! Jangan ngurusi rampokan. Mereka ngelantur mengobrol. Rundingan yang disebut rapat pun dimulai.” lelaki yang terdekat dengan pintu melongokkan kepala memberi salam. Pertemuan demikian diusahakan berakhir pukul sembilan. Televisi di sudut ruang dinyalakan.” Pak RT mengambil satu bergedel lagi. menemui si pendatang. dekat sekali! Kok polisi tidak sampai ke sini ya. satu pelaku sudah diringkus. Dia kelihatan sibuk. “Selamat malam. Yang penting Pak RT tidak makan lagi. kita tidak akan selesai sampai besok pagi. 186 . Itu biar diurus polisi!” kata seorang lelaki yang duduk tidak jauh dari pintu masuk. Sebuah jip memasuki kampung pukul sepuluh lebih sedikit. tak satu kali pun ingat apakah dia sudah melihat anak sulungnya hari itu. Satu kali bertanya kepada tukang becak. Terdengar suara bebincang rendah. Mereka bersama Pak RT menikmati sate ayam dengan lontong kenyal. seorang di pagar. Ada tiga lelaki lain. Seorang di tengah-tengah halaman. menyumpalkannya di antara gigi besarnya. Tetapi tidak jarang Pak RT menahan dua atau tiga tetangga. Dia menggandeng lengan orang yang baru datang. sementara kotak kaca dibiarkan terus menyiarkan tayangan yang dipilih. mereka santai menonton.” sahut suara lain. Mereka makan dan berbicara. “Betul! Betul! Kalau tidak.” “Yang saya dengar. tiduran atau bersandar ke dinding. memanggil penjaja makanan apa saja: mi kopyok. berbicara. Kelihatan kepala Pak RT tertegak. seorang lagi duduk di belakang kemudi. Bau daging bakar berbumbu memenuhi udara malam lembab. Satu kali menengok ke arah dalam rumah. Penjual mi ayam pagi-pagi di depan toko saya yang cerita begitu. kemudian berhenti di depan rumah Pak RT. Malam itu. membantah. mengatakan gagasannya.“Di mana kejadiannya?” Pak RT bertanya. Dia juga belum diberitahu oleh istrinya bahwa Iwan tidak naik kelas atau pun mangkir sekolah pekan itu. Mata bapak itu melirik ke kejauhan. “Di situ saja! Di dekat Jatidiri!” “Wah. Pak RT membiarkan pintu terbuka. Begitu nampak terpikat dia sehingga sejak melangkahkan kaki ke dalam rumah petang itu. Serius atau santai. menariknya menjauhi pintu. Atau paling lambat setengah sepuluh. mengenai itu juga saya dengar.

Juga sebuah kotak korek api penuh butiran obat terlarang. jelas terdengar bahwa waktu istirahat seisi rumah terganggu.Dua menit kemudian Pak RT masuk kembali. “Sudah hampir seminggu Gus Iwan tidak pulang. 4. Supaya mereka hidup layak. Sesaat berlalu. Belum ketahuan pasti jenis apa. Percakapan yang kacau menyusul perbantahan di antara penghuni. Maka ketahuan bahwa dia membawa senjata tajam. bahwa Khodir ditangkap di terminal Jatingaleh. Nama Iwan disebut-sebut. Teh kental 3. “Saya dan ibunya membanting tulang memutar otak untuk mencari uang. Biar pintu ditutup. Dia adalah satu dari mereka yang selalu dibantu Pak RT supaya bisa hidup berkecukupan. kakinya ditembak. Sumber air/telaga terletak di antara 2. . “Saya tidak tahu apa maunya anak-anak ini!” kata Pak RT seperti kepada dirinya sendiri.” Lima menit berlalu sejak kedatangan tamu baru itu. Tiba-tiba ada suara pembantu lain yang lebih jelas. Bukan untuk berbicara. Silakan Anda pulang. “Maaf. Di sakunya terdapat bungkus rokok berisi lintingan ganja siap pakai. bisa sekolah. Pak RT harus memberitahu polisi alamat semua kenalan atau saudara yang mungkin dijadikan tempat bersembunyi kedua remaja itu. Pak RT menyetir kendaraannya mengikuti jip keluar kampung. Dia berlari ketika polisi menyelidiki kasus perampokan dan penusukan sopir taksi dinihari sebelumnya.” Lalu Pak RT muncul di pintu. Kamu dua pancuran. Karena tidak mau berhenti sewaktu dipanggil. Dia memanggil-manggil. Katanya singkat kepada tamunya yang baru menikmati daging sate.” Tetangga di sebelah Pak RT tidak berani mengeluarkan pendapat. Khodir mengaku bahwa dia melakukan perampokan dibantu oleh Herman dan Iwan... Tetapi nyatanya. Serse memberitahu bapaknya Iwan. Kata tambahan dalam bahasa Jawa. biasanya dipakai karena gugup atau sungkan . Tugasnya malam itu adalah menemani Pak RT.*** 187 1. langsung menuju ke rumah induk. saya harus pergi. Dia menawarkan diri menemani Pak RT ke kantor polisi. Seorang tetangga duduk di sampingnya. sudah mengenakan celana panjang.

Masih berbayang di ingatanku bagaimana mulanya. Sebab yang paling merisaukan sebenarnya adalah saat-saat ayah bergulat di pembaringan. Dengan datangnya kematian ayah kami maka kesedihan besar pun berlalu bagi adik-adikku. Ketika meninggal ia masih pimpinan beberapa yayasan. “tapi sudah hilang sendiri!” . September 2000 Upacara Hitam Oleh: Abrar Yusra 188 Langit di atas kepalaku terpentang biru. Maka bukitbukit kuburan seperti jadi lautan manusia. jangan-jangan mereka justru tertawa di hati masing-masing! Di deretan depan kulihat adik-adikku. Tubuh ayah yang gemuk seperti ulat itu terbaring sehat-sehat saja. Pada hari pemakaman ayahku alam pun tidaklah adil. bagaikan organ-organ di dalam tubuhnya dipelintir tanpa ampun oleh tangan-tangan buas yang tak kelihatan. “Di sini.Horison. Siapa tahu. Aku memandang khalayak. Tidak. mengirimkan sinar matahari yang menerobos menyilaukan mata. Dan panas terik seolah membakar udara pantai.” bilang ayah. silau juga. melawan penderitaan di hari-hari sekaratnya yang panjang. sewaktu-waktu dalam waktu pendek ayah pun berteriak-teriak dan tubuhnya menggelepar-gelepar melawan sakit. Aku menatap matahari. Ayah berkata. Walikota pun ikut berjubal di tengah khalayak dan kini di panas terik ia dengan takzim sedang menyampaikan pidato kematian yang panjang dan entah kapan habisnya. Tapi aku tahu hati mereka lebih cerah karena ayah sudah meninggal dunia.000 jiwa itu. Namun ia adalah salah seorang tokoh masyarakat yang begitu dihormati di kota pantai yang berpenduduk sekitar 400. Ganjilnya. Silau. Namun di bagian kota lainnya langit digantungi mendung gelap dan bumi di bawahnya mungkin disiram hujan. Lihatlah. Sebaliknya justru merupakan permulaan bagi kesedihan besarku. di bawah matahari silau para pelayat datang dari mana-mana untuk menghadiri pemakamannya. Tapi apa peduliku. katakanlah tidak memalukan — termasuk Aditi kecil. Gelap. sambil menepuk perut dan menitikkan airmata kesakitan. Ayahku bukan pejabat atau tokoh politik. Masing-masing memasang muka dan pakaian berkabung yang sedemikian pantas.

” cemooh ayah tertawa. Yang tinggal hanya para tetangga. “Jangan. Tapi ayah merasa perlu mendatangi sendiri seorang dokter spesialis di pusat kota. nyatanya serangan sakit demikian datang lagi lantas hilang lagi. Malah ayah bisa tertawa keras meskipun tubuhnya lebih kurus. Namun jika serangan penyakitnya datang.” kataku. Dan sejak ayah mengalaminya di dalam mobil lalu ketika sedang berpidato. 189 . Maka para pengunjung pun pada berdatangan ke rumah. tak peduli sedang ada tamu atau tidak. Makin cekung dan sepi.Ayah malah mencoba tertawa. Ayah sendiri sudah mulai menolak berbagai undangan rapat dan ceramah yang biasanya tak pernah dilakukannya. maka ayah tidak kami perkenankan keluar rumah sendiri. Aku suka sikap terbuka para tetangga demikian.“ kata dokter. Rencana untuk membawa ayah atau mendatangkan dukun ditolak ayah mentahmentah. tiba-tiba ayah menggelepar-gelepar dan berteriak-teriak keras kesakitan. Tapi makin lama makin sering. Siapa pun maklum bahwa kematian ayah memang tinggal soal waktu saja lagi. lalu sekali tiga hari! Kini sewaktu-waktu ayah bisa terserang rasa sakit. ketika sedang tidur atau lagi ngomong baik-baik. seolah ia sudah sembuh. “Lebih baiklah kalau ayah di rumah saja. “Masa panitia yayasan rumah sakit diobati dukun kampung?” Serangan penyakit aneh itu mulanya sekali dalam 20 hari. lalu mengerang-erang melepaskan kata-kata tak jelas yang berlepotan dari mulutnya. makin sering saja. Ya. perlu diobati atau tidak. Makin lama muka tua itu makin berkerumuk. Kami anak-anak ayah tidak puas dengan hasil pemeriksaan dokter. Kami benar-benar kalang kabut. Ada yang ketawa sebab mendapati ayah biasa-biasa saja. Ia lebih banyak tidur dan makin lama hanya terjaga bila rasa sakit menyerang lagi tanpa ampun. Ayah pun ragu apakah ia betul-betul sakit. Sebab seperti semacam misteri. Lalu kami mendatangkan sendiri seorang dokter ke rumah di pinggiran kota. Berita bahwa ayah sakit segera terbetik ke mana-mana. Sesudah berlangsung beberapa bulan masih belum ada dokter yang mampu mengenal penyakit ayah. sehingga membuatnya capek. serangan sakit itu datang sendiri dan hilang pula sendiri. Maka hidup ayah jadi aneh. Malam itu para pengunjung sudah pada pulang. Baru saja sekali enam hari. di antaranya tanpa bersuara main halma atau main kartu. Maka ayah kami bawa ke dokter spesialis yang lain dan tak ada hasilnya. Penyakit itu menganiaya ayah dengan semena-mena benar. juga tanpa hasil apa pun. apalagi mengobatinya. Mereka datang memang untuk sekedar menghibur atau menunjukkan rasa akrab pada kami tapi bukan menunggu atau mengharapkan kesembuhan si sakit. kapan saja di mana saja. Seolah hanya diserang penyakit yang lucu. “Tak ada gejala penyakit apa-apa. Nampaknya seperti untuk bersenang-senang.

seolah mataku dapat mengikuti atau membayangkan suatu makhluk tak dikenal bergedencak dalam tubuh ayah seperti seekor binatang liar seradak-seruduk di bawah selimut. Itu seperti dongeng dari dunia dan zaman lain. ya ndak! Tahu apa itu ilmu hitam?” Aku hanya melongo.Sudah larut dinihari. Ayahku meraung lagi. barangkali juga pingsan lagi. “Bagaimana beliau?” ia bertanya. Adik-adik sudah pada tidur. Rasanya berdosa membiarkan ayah hidup eh sakit teraniaya demikian. bahkan ilmuilmu hitam. punya mobil. Termasuk berguru ilmu-ilmu kebatinan. Muka cekung ayah sudah menghitam. rupanya ia sudah selesai menutup jendela-jendela. “Saya bisa membantumu. apakah harus menerima atau membantah kisahnya. Lalu ia bilang dengan suara tenang tapi terang. Aku di kamar tidur ayah dihinggapi perasaan aneh: aku serasa mau sinting karena ayah tak sembuh-sembuh juga. Seperti digerogoti setan. Yang geresehpeseh bahasa Inggeris. Seolah raung itu pun menghabiskan cadangan tenaganya. maka: “Jangan!” rintih ayah tak jelas. Aku gemas kenapa ayah tidak mati-mati juga. si kakek itu lagi. Bagimu mungkin ia seseorang yang hebat. Nak!” suara si kakek lagi. “Kamu kenal siapa ayahmu. ayah seperti memohon: “Biarkan aku mati. Dan di ruang tengah kedengaran tamu terakhir yang sebelumnya bersamaku menunggui ayah sedang menutup daun-daun jendela. 190 . Sinar hidup dari matanya sudah padam! Aku serasa mau gila. ampun!” Lalu dengan sisa-sisa tenaganya yang amat lemah. Nah. tinggal tulang-tulang dibalut kulit keriput. Ia tersenyum. pemimpin masyarakat yang modern. Seolah menampik hidup dan penderitaan. Tak tahan menyaksikan tubuh ringkih itu kembali menggelepargelepar. Setelah berbulan-bulan maka seakan baru benarbenar kusadari bahwa tubuh ayah yang gemuk seperti ulat itu kini sudah keropos seperti kepompong busuk. “Ampun.” Aku menatapnya tak berdaya. Yah. mati!” Maka ayahku menangis. “Harus kaulakukan sesuatu. Tak tahu aku. “Kambuh lagi?” Aku mengangguk. Tapi aku lebih kenal ayahmu sebab dulu kami pejuang gerilya yang harus mencari senjata dan bertempur. Maka kudengar langkah-langkah memasuki pintu kamar. Maka aku berdoa untuk kematian ayahku. Tak ada daya untuk melawan perkosaan penyakitnya. Hanya kematian yang mungkin mengakhiri penderitaannya. Keterlaluan penderitaan orang tua itu. Tapi kematian rupanya tidaklah ditentukan oleh permintaan dan desakan seseorang. Seolah mau bilang apa pun akan kulakukan asal ayahku tak dizalimi penyakit yang misterius itu lagi. Konon ia teman ayahku dulu. Segala cara kami lakukan untuk itu. Ia sudah melihat dengan mata kepala sendiri bahwa malam itu serangan sakit ayah paling menjadi-jadi.

karena aku kasihan padanya! Dengan perasaan kosong kulihat mayat ayahku diturunkan ramai-ramai ke lubang kuburan gelap. meskipun aku tak merasakannya! Dan ayah pun. itulah yang diseru dalam mantra-mantra dengan nama Si Bujang Hitam atau Si Anjing Hitam!” Panjang juga uraiannya. Sebab kubayangkan. akhirnya menghembuskan nafas terakhir dengan tubuh capek berkeringat. bahkan paling terkutuk. atau kampak atau apa! Apakah Si Hitam mulai membuatku jahat? Maka matahari yang menyilaukan ini. Maka jalan terbaik bagimu. Tapi itulah suatu kematian paling ganjil yang pernah kukenal.! Kini di bawah matahari. Lalu ditambahkannya dengan suara tenang juga: “Si iblis itulah yang menzalimi beliau. upacara pemakaman dan khalayak ini pun kurasakan sebagai bagian dari takdirku yang terkutuk sebagai pewaris biang dosa ayahku.. jika memang hanya itulah cara agar Si Hitam keluar dari tubuh ayahku — sesuai dengan persumpahan ayahku! Tak usahlah kukisahkan bagaimana dengan bantuan si kakek itu. Maka tanpa pikir lagi kukatakan pada si kakek bahwa aku mau memungut Si Hitam. seolah kulihat nyata_. Kalau aku tidak malu. Sebelumnya aku selalu mengagumi ayahku dan membayangkannya sebagai tokoh yang terhormat. justru tidak sedih atas kematian ayahku. Maka beliau akan meninggal dengan tenteram!” Ketika tubuh ringkih ayah menggelepar-gelepar lagi maka aku seolah benar-benar sedang dalam cengkeraman mimpi buruk. Maka Si Hitam jahat itu kini mendiami diriku. kami berhasil membebaskan ayah dari penderitaannya. yang sempat sadar pada detik-detik terakhir. sebab demikian firman Tuhan tentang iblis. apa pun artinya. benar-benar iblis. Tak dapat kubayangkan bahwa iblis itu. Tapi Si Hitam terus bergedencak menyiksa ayahku yang terkapar tidak hidup dan tidak mati. akan terus memperkosa ayahku. benar-benar tidak adil dan menakutkan seperti mimpi buruk! Dalam hati aku menyumpahnyumpah karena aku kehilangan makna diriku sendiri. Tapi sejauh yang dapat kutangkap. yang berjuang dengan cara-cara terhormat. Sebab aku tak pernah membayangkan bahwa kematian ayahku harus kutebus dengan mewarisi keiblisan dan iblis ayahku dalam suatu upacara paling gila malam itu. Betapa terkutuk nasibku!*** 191 .“Sederhananya ilmu iblis. betapa terkutuk! Ternyata aku tidak siap untuk itu. anaknya. Seseorang yang memelihara ilmu hitam sebenarnya memelihara iblis dalam dirinya. di tengah khalayak ramai yang memenuhi bukit-bukit kuburan jelaslah bahwa memang ayahku sudah meninggal dan dihormati penduduk kota selayaknya.. kaupungut saja Si Hitam. Kematian adalah pantas dan wajar bagi setiap orang. karena iblis yang dengan persumpahan bersarang dalam diri ayahku takkan mati-mati sampai hari kiamat. cukuplah di sini kukatakan bahwa ilmu hitam terkutuk itu mengakibatkan maut pun menolak tubuh ayahku. Bahkan aku ingin seperti itu! Ternyata ayahku memperdayakan orang-orang yang mengaguminya dan menjahanamkan aku. malah sepertinya aku ingin mencincang-cincang mayatnya dengan pisau. Cara mati ayahku yang terkutuk itu hanya menjanjikan bahwa masa depanku tidaklah lebih dari pengulangan atau pelanjut kebusukan ayahku sendiri. yah. serta mulut komat-kamit begitu lemah. hina dan memalukan. Aku sendiri. _tidak. Si Hitam sedang sewenang-wenang seradak-seruduk di sana. betapa terkutuk.

mulutku.Jakarta. Kesadaran itulah yang mendorongku untuk bercermin. kakiku. Begitu banyak perilaku yang tidak bisa dimengerti mengapa pernah aku lakukan. gereja. Maka tanganku. Tubuhku menjadi media ekspresi penghuninya yang bukan aku saja itu. menerjemahkan hati menjadi apa saja. menjadi diri sendiri. Ismail 192 “Bercerminlah dengan khusuk. lidahku. Aku toh bukan Dedi Mizwar yang biasa memerankan Naga Bonar atau apa dan siapa saja. candi. bisa bergerak selain diperintah olehku. . Semua cermin yang kutemukan tidak bisa lagi dipergunakan. hotel. maka kamu akan melihat diri sendiri. Dan begitu banyak keinginan yang tidak aku lakukan. tapi selalu berakhir dengan kelelahan. Di dalamnya. setidaknya untuk mengetahui siapa saja penyatron ruang-ruang tubuhku yang sadar atau tanpa sadar sempat kukosongkan itu. Betapa sunyi keinginan ini. Teringat kelegaan dari tangisan di waktu kecil itu. Seluruh anggota tubuhku mengalirkan darah. Aku memasuki wc-wc umum. Setiap tengah malam aku terbangun dan mencari-cari cermin. aku ingin mengusirnya. Aku merasakan suatu kesakitan yang nikmat saat darah itu mengucur setetes demi setetes. Semua cermin telah retak dan pecah. tiba-tiba aku tidak bisa yakin apakah cairan yang keluar dari seluruh tubuhku itu benar-benar darah atau air mata. bisa jadi telah dibangun kamar-kamar yang sadar atau tanpa sadar telah aku kontrakkan kepada entah apa dan siapa. karena aku memang bukan seorang pemain sinetron atau drama. berekspresi. aku pontang-panting mencari cermin. mataku. 1992 Menyiram Bunga di dalam Cermin Oleh: Yus R.” kata suara entah dari mana yang selalu bergaung memenuhi kesumpekan ruang tubuhku ini. diskotik. Tapi sering aku tiba-tiba asing dengan diri sendiri. Tapi keinginan yang mencekam itu selalu membangun kelelahanku menjadi orang yang pantang menyerah. mushola. Bukankah setiap hari aku menjadi aku. dengan kekerasan atau tanpa kekerasan. Bila sudah mengetahuinya. Aku teringat masa kecil saat emosi telah memuncak aku melepaskannya dengan tangisan yang keras dan merasa tenang setelah tangis itu berhenti. Setiap suara entah dari mana itu bergaung memenuhi kesumpekan ruang tubuhku. Aku tidak bebas lagi bergerak. Maka aku menemukan cermin itu saat keinginan yang sunyi itu menusuk-nusuk seluruh tubuhku dengan pisau cekamannya. Aku merasa tubuhku ini bukan lagi rumah pribadiku.

Aku suka membicarakan apa saja dengan siapa saja. tubuhku terpampang seperti jutaan potret dari yang beragam betuk dan rupa. ketakberdayaan. Ada kuncup yang menjadi keindahan bunga mekar menjadi keresahan kelopakkelopak yang tanggal dan menjadi kesadaran kesementaraan. Sejak kecil cita-citaku memang menanam bunga. Aku tak pernah lupa bagaimana air menetes dari ujung daun. mengalir ke mana saja yang kumau. Aku meresap ke dalam tanah sambil mengingat hektaran hutan menjadi gurun tandus. di mana saja. Aku menyusuri daun dan batang sambil mengingat kesakitan hutan yang ditebang dan di bakar. 193 *** PANGGIL apa saja maka aku akan menoleh. Di tanah. Sampai aku sadar bahwa badai itu hadir di dalam tubuhku. angin. Entah . Bila bertemu denganku. kabut. kesendirian. batang. jangan ragu-ragu untuk menyapa. sampah. Aku selalu terkenang dengan sebuah lukisan (yang entah di mana dan kapan pernah aku lihat) tentang seseorang sedang menyiram bunga dengan latar belakang langit senja yang kemerahan. Tiba-tiba aku menyadari bahwa aku sebenarnya tidak perlu cermin. Tubuhku telah terpantul di mana-mana. ketaksempurnaan. Eh. Namaku memang tidak jelas. api. Lukisan penyiram bunga dengan latar belakang kemerahan langit senja yang entah di mana dan kapan pernah aku lihat itu terpantul kembali di setiap potret diri yang kulihat di mana-mana dan apa saja yang tiba-tiba kulihat sebagai cermin. mengobrak-abrik ruang-ruang tubuhku. kepapaan. bagaimana tanah menguapkan bau yang khas. Barangkali kesakitan dan kenikmatan adalah dua hal yang menempati satu ruang kesadaran. Tapi kesakitan itu pun aku rasakan menjadi kenikmatan yang tiada bandingannya. “Mau kamu mencoba menyiram bunga?” tanya si penyiram itu ketika aku begitu takjub dengan matanya. aku tak yakin.Keraguan itu menjadikan aku merasa sekali waktu cairan yang keluar dari tubuhku itu benar-benar air mata dan di waktu lain benar-benar sebagai darah. air. Dan begitu banyak lagi metamorfosa lainnya. temui saja aku di kebun bunga. daun. Tapi begitu air jatuh dari gayungku. aku lupa dengan metamorfosa itu. ini sebuah jeritan atau geraman dari dendam. Ada pucuk yang diam-diam menjadi kesegaran daun menjadi kelelahan daun kering dan menjadi cekaman musim gugur. Tapi ketidakjelasan itu merupakan kejelasanku. Aku banting-banting di tengah lautan yang kuciptakan sendiri. Aku ingin merasakan lebih dalam getaran metamorfosa dari banyak hal itu. Tapi bila ingin ngobrol menghabiskan malam atau menghabiskan waktu menjadi tanpa ukuran. Perubahan keyakinan itu memang begitu menyakitkan. kepedihan. Dengan gembira aku mengangguk dan menghampiri. bagaimana angin bergurau dengan tangkai mawar. Aku tidak bisa membedakan suara keduanya. dsb. aku melihat berbagai metamorfosa menjadi warna-warna yang artinya tak terjangkau pengetahuan ilmu semiotikku. kesunyiaan. Di matanya. Aku telah terbawa air. Kesedihan. semuanya menjadi silet-silet yang tanpa henti menoreh-noreh tubuhku. “Mau menyiram bunga?” tanya si penyiram itu sekali lagi. Aku mendengar kesakitan hutan itu seperti jeritan badai yang terus berdebur.

“Pantai apakah ini?” Aku malah balik bertanya. “Kuta. Atau Pelabuhan Ratu. Barangkali benar bahwa nama-nama tempat tidak penting bagi seorang pengembara. rasa sakit barangkali bagian dari hidup. Karena semua nama akan cocok dengan pantai ini.” Aku memandang orang yang aneh itu. bila seluruh peristiwa itu tercatat. 194 . Saat itulah aku yakin bahwa orang itu adalah angin. karena tahu-tahu aku berada di pantai yang tenang dan pagi yang anggun. Aku merasa tubuh ini sakit-sakit. Kami seperti punya kesepakatan bahwa sebaiknya memang tidak dicatat dan dibicarakan. Aku menyusulnya sambil berteriak. Kami tidak bisa membayangkan. Setiap kaki melangkah meninggalkan suatu tempat. “Aku ikut!” Kami mendaki bukit menuruni gunung masuk ke lembah menyusup ke lorong-lorong. Barangkali hidup memang pengembaraan itu sendiri seperti kata Seno Gumira Ajidarma dalam sebuah cerpennya yang kubaca di toko buku entah di daerah mana. Tapi kertas dan tinta itu bukanlah alasan yang tepat mengapa kami tidak mencatat. Kami tahu tempat-tempat itu pun akan menyediakan hidangan kesakitan-kesakitan lain begitu kami datang. Air mata siapa lagi itu kalau bukan milik kita. kami merasa begitu banyak tempat yang belum kami kunjungi. Pantai Panjang juga bisa. “Ya. Maka kami. orang beransel besar itu terbang. Tidak bisa terbayangkan. Kami merasa peristiwa itulah yang lebih penting dibanding dengan nama-nama.berapa lama aku pingsan.” Beberapa jenak aku tercenung. Sepanjang sejarah. Barangkali sepanjang hidup ini akan dihabiskan untuk mengembara. begitu lelah. tapi kami tidak bisa tidak mengunjungi tempat-tempat itu. karena hanya kita yang menghuni dunia ini.” Siapa sebenarnya orang ini? Orang gila atau makhluk angkasa luar? Karena aku diamkan cukup lama. Suara tangis terdengar di mana-mana. Atau Pangandaran. pergi dari tempat yang satu ke tempat yang lain sambil merasakan rasa sakit sendiri-sendiri. Tapi sayang kami tidak mencatat peristiwa-peristiwa itu. Barangkali merasakan kesakitan-kesakitan di tempat-tempat yang berbeda itu adalah hidup kami. “Apa perlunya nama. Kamu bisa menamakan pantai apa saja sesukamu. berapa milyar pembaca yang akan sakit. Benarkah ini pantai Kuta? Melihat dari tanda-tandanya aku merasa ini Pantai Panjang. Setiap kaki melangkah meninggalkan suatu tempat. Sungai-sungai mengalirkan air mata. kami merasa begitu banyak tempat yang belum kami kunjungi. Peristiwa-peristiwa itu memang penuh dengan darah dan rasa perih. Pantai apakah ini? “Mau ikut denganku?” tanya seseorang dengan ransel besar di punggungnya yang mengingatkanku akan perjalanan yang panjang dan jauh. Bertahun-tahun kami mengembara. berapa banyak kertas dan tinta yang akan kami habiskan bila setiap peristiwa dicatat. aku dan angin. Kami banyak menyaksikan beragam peristiwa di setiap tempat.

Memandangnya sambil mencoba memahami kunyahan mulutnya aku merasa begitu dekat dengan ulat. Tapi aku tidak mengacuhkannya. Aku sadar bahwa aku tidak seperti angin yang ditakdirkan sebagai pengembara. kita tidak bisa tidak pergi. Karena sakit dan perih adalah hidup kita. “Mengapa berhenti menyiram bunga?“ kata seseorang yang sebelumnya kukenal sebagai si penyiram bunga itu. Aku lebih tertarik dengan matahari yang membuat langit memerah itu.. Aku pingsan entah berapa lama. aku tak mau mengikuti pengembaraan yang melelahkan itu.. Sinar lembutnya disambut hangat lebah-lebah yang tanpa lelah mencari madu dari bunga ke bunga. Atau aku pun adalah ulat? Ah. Ingatlah. Aku berdiri dan pergi. Kita tidak bisa merasa sakit dan perih. Saat kulihat ke sekeliling. Aku tak mau pergi dengan ulat seperti yang pernah kulakukan dengan air dan angin.Keyakinan itu terus berada di hatiku sampai rasa lelah dan sakit tidak bisa lagi aku tahan. kamu bisa pergi ke mana saja. aku berada di sebuah taman yang entah bernama apa dan di mana. Dia barangkali tidak sadar bahwa kepergianku dari taman itu pun adalah pengembaraan. Eh. aku baru sadar di taman ini pun ada ulat yang terus-terusan memakan daun dan mengerek batang. “Mengapa tidak menyiram bunga lagi? Dengan menyiram..*** 195 .” Dan entah apa lagi yang diucapkan si penyiram bunga bermata penuh metamorfosa itu. aku yakin bahwa taman ini adalah lukisan yang terpantul di potret diri dari cermin-cermin itu. Dan begitu terbangun.

Aku biasanya tahu saat kakek menginginkan aku tertawa. yang akan menepuk kepala dan pipiku seperti yang mereka lakukan ketika melihatku bersama kakekku. dan bersembunyi di belakang hutan kecil rimbunan pohon akasia yang tebal. orang-orang tinggi dan kurus dengan janggut putih dan hidung tajam. aku duduk di pinggir sungai dan memperhatikan patahan air yang mengalir menjauh ke arah Timur. Aku yakin bahwa aku adalah cucu kesayangannnya. aku dulu mencintai mesjid. dan aku juga mencintai sungai itu. dan berlari untuk menyelam di sungai. Yang aneh adalah bahwa aku tidak pernah pergi bersama ayahku. Sebelum kakekku bisa menjawab pertanyaanku yang banyak. seperti kakekku. Oktober 2000 Segenggam Kurma Oleh: Tayih Salih 196 Ketika itu aku pasti masih sangat muda. Mesjid. Segera setelah selesai membaca Quran pada pagi hari. terasa lembut dan tebal dan putih seperti kain wol — belum pernah dalam hidupku aku menyaksikan sesuatu yang lebih putih atau lebih indah. berjalan dengan langkah-langkah yang lebar. pada saat aku sudah menjadi laki-laki dewasa. Aku tidak ingat tepatnya berapa umurku. kakekkulah yang akan membawaku ke mana pun ia pergi. kecuali pada pagi hari. mereka akan menepuk kepalaku dan mencubit pipiku — hal-hal yang mereka tidak lakukan pada kakekku. Aku suka membiarkan khayalanku dan membayangkan sebuah suku raksasa tinggal di belakang hutan itu. Ketika lelah berenang ke sana-ke mari. dengan tergesa-gesa menelan sarapanku.Horison. Sebabnya. tetapi aku ingat betul bahwa bila orang melihatku bersama kakekku. sungai. Ketika ia tidak . aku akan melemparkan batu tulis kayuku dan melesat menuju ibuku. Kakekku pasti juga luar biasa tinggi. juga aku akan mengingat saat-saat ia berdoa dan akan membawakan untuknya sajadah dan mengisi tempat air untuk wudhunya tanpa perlu ia memintanya. tinggi dan langsing sepertinya. saat untuk diam. karena sepupusepupuku adalah gerombolan anak yang bodoh dan aku — begitu kata orang — adalah anak yang pandai. atau belum pernah kulihat kakekku memasuki rumah tanpa harus membungkukkan badan begitu rendahnya sehingga aku mengingat bagaimana sungai akan mengalir memutar di belakang hutan kecil pepohonan akasia. dan ladang itu — semua itu adalah hal-hal terpenting dalam kehidupan kami. cepat seperti jin. tidak heran. Sementara kebanyakan anak-anak seusiaku menggerutu kalau harus ke mesjid untuk belajar Quran. Aku menyayanginya dan akan membayangkan diriku. karena aku tidak pernah melihat orang di seluruh daerah ini yang menyapanya tanpa harus mendongakkan kepalanya. ia akan menyeka ujung hidungnya dengan jari telunjuknya. aku cepat menghafal Quran dan Syeh selalu memintaku untuk berdiri dan memperdengarkan ayat dari Sang Maha Pengampun kapan saja ia menerima tamu. Sungguh. aku malah senang melakukannya. ketika aku ke mesjid untuk belajar Quran.

“Apa sih orang culas itu?” Kakekku menundukkan kepalanya sejenak. Masood. adalah lelaki yang doyan kawin. aku mengalihkan pandanganku darinya ke daerah yang luas yang tadi diterangkan oleh kata-katanya. “Aku tidak peduli. Masood saat itu adalah pemilik semua kekayaan ini. Setiap kali ia kawin ia menjual satu atau dua feddan padaku. suaranya yang indah dan tawanya yang keras yang menyerupai suara air yang berdeguk. anakku. “Tidak satu feddan pun milikku ketika aku pertama kali menjejakkan kaki di desa ini. “Orang itu culas dan aku tidak suka orang macam itu. Posisinya berubah sekarang. “Kami akan memanen kurma hari ini.” Aku dengan cepat menghitung bahwa Masood pastinya sudah menikahi sekitar sembilan puluh perempuan.” Kakekku kemudian melanjutkan. Kau lihat semua pohon kurma itu? Dan pohon-pohon itu — sant. anakku. Aku sudah melakukan semua kecuali membersihkan pikiranku dari pikiran-pikiran yang berdesakan masuk ke kepalaku pada saat aku melihat laki-laki itu mendekati kami.” kata Masood. Suatu hari aku bertanya tentang tetangga kami. yang kutahu itu adalah tempat bagi impian-impianku dan tempatku bermain. galabia-nya dengan lengan baju yang robek. penampilannya yang jorok. “Ya. Kakek tidak pernah tertawa. diwarisi olehnya dari ayahnya. empat puluh tahun yang lalu semua ini menjadi milik Masood — dua pertiga dari semua itu sekarang menjadi milikku. Aku ingin sekali kakek tidak melakukan apa yang dikatakannya! Aku ingat Masood menyanyi. kemudian.” Ini jadi berita untukku. “siapa yang memiliki pohon-pohon kurma itu. “Kalian tidak ingin ke sana?” 197 .” Aku tidak tahu mengapa aku merasakan ketakutan pada kata-kata kakekku — dan rasa kasihan kepada tetangga kami Masood. ia berkata. “Masood. Aku bertanya pada kakek mengapa Masood menjual tanahnya.” Memanfaatkan kakekku yang membisu.” aku berkata pada diriku sendiri. karena kubayangkan bahwa tanah ini sudah menjadi milik kakek sejak Tuhan menciptakannya. akasia. sesudah menyentuh ujung hidungnya. “Kau lihat tanah yang ujungnya di padang pasir sampai ke tepi Sundai Nil? Ratusan feddans.” dan dari cara kakek mengatakan kata itu aku merasa bahwa “perempuan” adalah sesuatu yang buruk sekali. semua pohon itu ataupun tanah hitam yang pecah-pecah ini. dan kupikir bahwa sebelum Allah memanggilku aku akan membeli sisanya yang sepertiga juga. dan kakek dan aku saling bertukar pandangan. Lalu kuingat tiga istrinya. ia suka mendengarkan aku membacakan ayat Quran dengan suara penuh irama. dan sayal? Semua ini jatuh ke pangkuan Masood. dan aku bisa mengatakan lewat wajahnya bahwa ia tersentuh.memiliki kegiatan lain.” Aku berkata kepada kakek. Aku berkata pada kakekku. memandangi luasnya ladang. “Menurutku kakek tidak suka pada tetangga kita Masood?” Yang dijawabnya. “Perempuan. keledainya yang lambat dan pelananya yang tak terpelihara.

menggarap cabang dengan sabitnya sampai rumpun kurma mulai jatuh seperti sesatu yang turun dari surga. dan berjalan menuju kantungkantung kurma. walaupun kenyataannya pohon-pohon kurma yang akan dipanen adalah miliknya. Di sana ada begitu banyak orang. Ia menarik tanganku dan kami menuju ke tempat panen kurma milik Masood. Mousa di pemilik ladang di sebelah ladang kami. sementara aku tetap berdiri. lalu mengembalikannya. aku sudah mulai berpikir tentang kata-kata Masood “jantung kurma. kecuali Hussein si pedagang. tetapi biarpun aku kenal mereka semua.” Aku membayangkan pohon kurma sebagai sesuatu yang punya perasaan. “Awas jangan sampai kau potong jantung kurmanya. dengan cepat dan penuh tenaga. Aku melihat Masood memenuhi kedua tangannya dengan kurma dan membawanya ke dekat hidungnya. jauh dari kerumunan orang banyak ia berdiri seolah itu bukan urusannya. Lalu aku perhatikan Masood tidak mengubah cara berdirinya. anakku. Seseorang membawakan kakekku bangku yang ditutupi dengan penutup dari kulit sapi. aku merasa bahwa ia tidak betul-betul menginginkan kakek hadir di sana.Walaupun begitu.” Dan aku merasakan rasa malu di dalam diri yang tidak beralasan. melompat di atas kakinya. dan dua laki-laki yang belum pernah kulihat sebelumnya. Kemudian aku menyaksikan mereka membagi kantung-kantung itu di antara mereka. yang kuhitung ada tiga puluh. dan dua orang yang tak dikenal. yang kemudian kukunyah. kakek melompat berdiri dan aku melihat matanya bersinar sesaat dengan kecerahan yang luar biasa. Kakek memberiku segenggam penuh. seperti seseorang yang ingin mundur tetapi kakinya memaksa maju. seperti manusia. Terkadang perhatiannya tersita pada bunyi rumpun besar kurma yang hancur terjatuh dari ketingggian. Ketika sekali lagi aku memandang luasnya tanah yang membentang di hadapanku. Aku mendengar bunyi siulan dan melihat kakek sudah jatuh tertidur. Aku melihat orang berdatangan dan menimbang kurma ke dalam wadah timbangan dan menuangnya ke dalam kantung-kantung. Namun. Kurma-kurma dikumpulkan menjadi tumpukan yang tinggi. masing-masing orang tak dikenal itu mengambil 198 . aku melihat teman-temanku berkerumun seperti semut di seputar batang pohon kurma. Ia diikuti Hussein si pedagang. Kerumunan orang bubar. Mousa si pemilik ladang di sebelah ladang kami sebelah Timur. sesuatu yang memiliki jantung yang berdetak. Namun. beberapa mengambil satu dua kurma untuk dimakan. Tiba-tiba kakek bangun.” Tak ada yang memperhatikan apa yang dikatakannya dan anak laki-laki itu terus duduk di puncak pohon kurma. Aku melirik Masood dan menyaksikannya sedang mendekati kami dengan luar biasa perlahan. kecuali ia memasukkan potongan tangkai ke dalam mulutnya dan sedang mengunyahnya seperti orang membuat perutnya kenyang dengan makanan yang tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan mulut yang masih penuh. Sekali ia meneriaki seorang anak laki-laki yang bertengger di puncak pohon kurma dan ia sudah mulai menggarap rumpunan kurma dengan sabitnya yang panjang dan tajam. aku punya banyak alasan untuk memperhatikan Masood. Aku ingat ucapan Masood padaku ketika ia suatu kali melihatku mempermainkan cabang pohon kurma muda. merasakan kebahagiaan dan penderitaan. “Pohon kurma. Hussein si pedagang mengambil sepuluh. mengumpulkan kurma dan memakan sebagian besarnya. Mereka membentuk lingkaran di seputar kurma dan mulai memeriksanya.

dan kakek mengambil lima. Larson dalam Under African Skies. “Kita bicarakan itu nanti.” kata kakekku kepada Masood.” Hussein memanggil pembantu-pembantunya dan mereka menggiring keledai. Tentang desanya itu. Kemudian. kemudian melanjutkan perjalanan. dua orang asing itu membawa unta. aku sedikit ragu. Salah satu keledai mengeluarkan suara ringkikan yang membuat mulut unta-unta itu berbusa dan mengeluh ribut sekali. Mendengar kakekku memanggilku. Mousa si pemilik ladang di sebelah ladang kami di sisi Timur mengambil lima. tetapi kumpulan cerpennya yang pertama. Ia mendapatkan pendidikan tinggi di Universitas Khartoum.lima. Keluarganya adalah petani dan guru. Masa kecilnya dihabiskannya di desa itu. Ia pernah menjadi guru di Sudan. dan kantung-kantung kurma itu dipunggah ke atas punggung binatang-binatang itu. yang kemudian bersama sejumlah cerpen Afrika lain dikumpulkan oleh Charles R. sepertinya aku membawa di dalam diriku sebuah rahasia yang ingin kuhindari. Salih mulai menulis tahun 1953. diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Denys Johnson-Davies. Aku mendengarnya mengeluarkan suara di tenggorokannya seperti rintihan domba yang akan dijagal. yang hanya berisi tiga cerpen baru terbit tahun 1968. Aku berlari ke kejauhan. Aku yang tak mengerti apa pun melihat kepada Masood dan menyaksikan matanya bergerak ke kanan dan ke kiri layaknya dua ekor kucing kecil yang tidak tahu jalan pulang ke rumah. Edinburg: Payback Press.*** Tayeb Salih (Al-Tayeb Salih). “Kau masih berhutang lima puluh pound padaku. Cerpen "Segenggam Kurma" ini diambil dari kumpulan tersebut. merasakan tanganku mengarah padanya seolah aku ingin menyentuh keliman pakaiannya. Mo-dern African Stories. 1997. tanpa tahu mengapa. aku meletakkan jariku ke dalam tenggorokanku dan memuntahkan kurma yang sudah kumakan. Aku merasa mendekati Masood. namun sebentar kemudian ia bekerja di BBC sebagai perencana siaran drama dalam bahasa Arab. dilahirkan pada tahun 1929 di desa Al-Debba di Sudan Tengah. aku merasakan sakit yang teramat sangat di dadaku. ia pernah menyatakan bahwa ia masih merasa tinggal di sana mengembara ke mana-mana. Aku merasa pada saat itu bahwa aku membencinya. 199 . yang kemudian dilanjutkannya di beberapa universitas di Inggris. Aku mempercepat langkahku. Cerpen ini diterjemahkan oleh Sapardi Djoko Damono. Untuk alasan yang tak kuketahui. Aku mencapai tepi sungai di dekat belokan di belakang hutan kecil pohon akasia.

seorang pengarang telah menghimbau agar setiap penulis menulis sekurang-kurangnya satu cerita anak-anak. Lagi pula kaca rumahku tipis bagai lapisan embun. tetapi degup jantungku tak menentu seperti menghantami jantungku. Bunyi berderit-derit bagai langkah kaki yang diseret satu demi satu di atas papan seolah membawa beban yang berat. Kutentramkan diri. Aku menanti untuk mendengar kalau-kalau ada tanda yang menunjukkan bahwa kaki itu bergerak lagi dari satu kamar ke kamar lain. Tak ada pistol di bawah bantalku. seorang perempuan telah dibunuh (kata orang) di siang bolong. Terpikir olehku untuk mengiriminya selembar kartu pos untuk menyatakan bahwa aku tidak sepaham dengan pendapatnya. mengenalinya baik-baik sambil memilah-milah kemungkinan ancamannya. Kujawab bahwa aku tidak menulis cerita anak-anak. Aku tidak memiliki terali besi. Namun. Bunyi deritan itu hanya disebabkan perasaan yang tertekan. Tahun lalu. Kupusatkan pendengaran. Bunyi berderatderit itu bergema lagi. Kemarin malam aku terbangun tiba-tiba tanpa mengetahui apa yang mengejutkan diriku. Tak dapat aku menumpukan pendengaranku karena gangguan yang ada pada siang hari. Anjing garang yang mengawal seorang duda tua dan koleksi jam antiknya telah dijerat sebelum ditikam oleh seorang buruh biasa yang telah di-PHK tanpa dibayar upahnya. Tak ada bobot manusia yang menekan di papan itu. . mudah pecah seperti gelas anggur.di dalam gelap. November 2000 Syahdan Pada Dahulu Kala Oleh: Nadine Gordimer 200 Seseorang telah memintaku untuk menyumbangkan sebuah antologi cerita anakanak. sambil membayang-bayangkan sesuatu dalam kepala --bukannya melihat-. Aku boleh menulis apa saja yang kuinginkan. aku dilatih agar jangan merasa takut atau terancam. Orang itu mengatakan bahwa dalam suatu kongres/pameran buku/seminar yang diadakan baru-baru ini. Kupasang telinga. Kupandangi pintu. Sebuah suara dalam diriku? Suatu bunyi. Kuteliti tiap bunyi yang paling perlahan sekalipun.Horison. Namun aku juga kini merasa cemas seperti orang-orang lain yang serba waspada.

penggalian yang bertingkat-tingkat saat penambangan dan lorong jalanan tambang-tambang emas telah melongsorkan bebatuannya serta menyebabkan tanah ini jadi berongga. lalu memaksa masuk. Sukar bagiku untuk mencari tempat guna mengistirahatkan pikiran dan tubuhku. serta menjadi anggota siskamling di lingkungan itu yang memberi mereka sekeping papan pengumuman di pintu pagar betuliskan "Dalam Lindungan Keamanan". Seluruh rumah bergetar sedikit dan menyebabkan batu. di sana ada polisi dan tentara. Jadi. Akupun bercerita pada diriku sendiri. tapi di luar kota. yang mungkin bertopeng hingga sulit diduga apakah ia orang kulit putih atau kulit hitam. Anak kecil itu sungguh tertarik dengan alat tersebut dan menggunakannya sebagai walkie talkie dalam permainan polisi dan pencuri. Oleh sebab itu. Di dalam sebuah rumah di pinggiran metropolitan. Mereka memiliki sebuah mobil dan sebuah trailer karavan yang digunakan untuk pergi berlibur. atau mobil mereka dari kerusakan akibat kerusuhan. Mereka memiliki seorang anak lelaki yang amat mereka cintai. di mana orang kulit hitam ditempatkan. mesti menyatakan niatnya dengan menekan tombol dan berbicara melalui alat penerima yang disambungkan ke rumah. kecuali pembantu rumah tangga dan tukang kebun yang dapat dipercaya. dalam perut bumi. di bawahku. Ada pula sebuah kolam renang yang berpagar untuk mengelakkan anaknya dan teman-teman mainnya agar tidak terjatuh ke dalam kolam dan mati lemas. Orang-orang itu dilarang masuk kawasan pinggiran kota besar. Jika ada permukaan yang bergetar. Sukar untuk mengasuransikan rumah. ucap sang suami. kayu. Merelakan diri tidur kembali. anjing peliharaan mereka diberi peneng. manakala mereka hendak memulai kehidupan yang bahagia untuk selama-lamanya. juga karena bus-bus dibakar. ia mungkin runtuh atau longsor 3000 kaki ke bawah. Degupan jantungku menurun seperti ayunan terakhir di atas zilofon. tinggallah sepasang suami-istri yang saling menyayang serta hidup dengan penuh kebahagiaan. atau mungkin ada orang yang pernah dikubur di situ dengan batu nisan yang menyedihkan. Tingkat tempat adanya runtuhan mungkin tak digunakan lagi. kolam renang.Aku merasa ada di tengah-tengah tekanan itu. Mereka memiliki seekor kucing dan seekor anjing yang amat disayangi anak kecil itu. bersama-sama dengan kawan-kawan yang sebaya dengannya. Kerusuhan telah dapat ditanggulangi. untuk menenangkan hati sang istri. mencegah kemungkinan perampokan. tak ada yang perlu dicemaskan. di dasar rumah ini. serta seorang tukang kebun yang rajin. mobil-mobil dilempari batu. Jangan mengomel saja. tetapi pencurian banyak terjadi di kawasan tepian kota besar. gas air mata dan senapan untuk mengusir mereka. saking cintanya. Namun sang istri masih merasa cemas kalau-kalau suatu hari nanti orang-orang ini akan turun ke jalan dan merusak papan bertuliskan DALAM LINDUNGAN KEAMANAN itu. Siapa yang menurunkan tanda DALAM LINDUNGAN KEAMANAN itu dan akan membuka pintu pagar. yaitu ibu sang suami. jauh dari pandangan dan pendengaran orang-orang di kawasan tepian kota besar. dan perampokan. Nun jauh di bawah kamarku. Membuka pintu pagar. Mereka tergolong masyarakat yang diberi kemudahaan dalam pengobatan. Mereka mempunyai seorang pembantu rumah yang amat bisa dipercaya. Rumah yang melingkupi tubuhku saat aku sedang tidur dibangun di atas bekas tanah pertambangan. dan seseorang pembantu rumah yang dapat dipercayai telah diikat dan dikunci 201 . air bertetesan dari rekahannya. diri mereka diasuransikan dari musibah kebakaran. kerusakan akibat banjir. dan anak-anak sekolah ditembaki polisi di kawasan pemukiman kulit hitam sana. kisah dalam tidur. Namun. mereka telah dinasihati oleh seorang tukang sihir tua yang bijaksana. ucap sang suami pada istrinya. dan kaca yang menyangga rumah menjadi longgar. agar jangan mengambil siapapun di tepi jalan. sang suami telah memasang pagar berlistrik. Kerusuhan memang terjadi. kayu yang dibuat oleh para penambang pelarian Chopi dan Tsoinga yang pernah berada di bawah sana. semen.

Sang suami berkata. barang-barang berharga dan pakaian. Alarm tersebut nampaknya sering dijawab oleh alarm-alarm lain dari rumah-rumah lain yang disentuh oleh kucing piaraan mereka atau digigit tikus. kerugian besar hanya diketahui oleh pemiliknya saja. tape recorder. Sebuah kawasan tepi kota yang cantik jadi rusak oleh kehadiran mereka. sama dengan bunyi katak menguak hingga tidak mencemaskan para pencuri untuk mengambil kesempatan dan menggergaji terali-terali besi. Si anak kecil pun mendapat pakaian orang angkasa dan sebuah buku cerita dongeng. benar ucapan pembantu itu. Pembantu rumah pasangan suami istri dan anak kecil itu merasa sedih dengan nasib malang yang menimpa rekannya. dan berselang-seling di halamanhalaman rumah. dan jika kucing piaraan anak mereka coba memanjat masuk melalui ventilasi untuk menemaninya tidur pada waktu malam sebagaimana yang biasa ia lakukan. dengan tanggung jawab menjaga harta pasangan itu dan anak kecil mereka. Sang istri tidak sampai hati melihat orang yang kelaparan. Akhirnya. kucing itu pun menyentuh alarm dan membangunkan seisi rumah. Bunyi alarm yang nyaring. yaitu ibu sang suami. televisi. Benar katamu. Mereka duduk dengan kaki terjuntai ke dahan pohonan yang bagai sebuah lorong hijau di jalan raya. kalau begitu tembok itu sebaiknya ditinggikan lagi. mereka melihat pohonan dan langit melalui terali. seseorang mungkin masih dapat memanjat tembok atau pagar yang berlistrik itu untuk masuk ke dalam taman. membayar untuk tambahan batu bata sebagai hadiah Hari Natalnya kepada anak dan menantunya. Dan sang suami pun membawa masuk sepeda roda tiga anaknya dari taman setiap malam karena jika rumah itu benar-benar selamat. ucap sang istri. Tetapi pembantunya berkata bahwa mereka adalah para bandit yang akan mengikat dia dan menguncinya dalam lemari. Perusahaan asuransi tidak membayar ganti rugi untuk sebuah minuman malta sekalipun. lantas menerobos masuk. Setengahnya mendesak agar diambil bekerja: mencabut rumput.di dalam almari oleh pencuri ketika ia diamanati untuk menjaga rumah majikannya. setelah dikunci rapatrapat dan alarm dinyalakan. Mereka mencari peluang kalau-kalau… . Tetapi. Ia lalu menyuruh pembantu rumahnya mengantarkan roti dan teh. Tetapi sang suami dan sang istri teringat akan peringatan agar jangan mengambil orang yang tak dikenal. pembantu rumah tersebut telah meminta majikannya untuk memasang terali pada pintu dan jendela rumah. atau apa saja. hingga akhirnya tidak diindahkan lagi oleh penduduk kawasan itu. mengambil peralatan elektronik seperti hi-fi. setiap minggu terdapat banyak berita tentang perampokan di siang bolong dan di malam yang sepi. Sebagian lagi meminta sedekah. bahkan pada waktu subuh. serta kadang-kadang membongkar apa saja yang ada dalam lemari es jika merasa sangat lapar. akibat menganggur. Bunyinya dianggap biasa. Maka pada setiap pintu dan jendela rumah yang didiami oleh mereka dengan penuh kebahagiaan buat selama-lamanya itu. Ikutilah nasihatnya. Kadang mereka tertidur di depan pagar pada siang hari. serta memasang alarm. meraung dan menjerit. Seperti biasa. bersipongang satu sama lain. Sebagian dari mereka meminum minuman keras dan mengotori jalan raya dengan botol-botol kosong. menunggu sang suami atau sang istri ke luar dari pintu pagar yang berlistrik itu. meskipun pada bulan purnama di musim 202 . Dan perempuan sihir tua yang bijak itu. mengecat atap. Sang istri berkata. betul katanya. bahkan berani istirahat sejenak untuk meminum wiski yang diambil dari dalam kabinet atau dari bar. kamera. radio. ikuti nasehatnya. tibalah saat ketika banyak pembantu rumah dan tukang kebun yang tidak dapat dipercaya datang beramai-ramai memenuhi tepian kota besar itu. Pencuri-pencuri itu tidak langsung menghargai apa yang telah diminum oleh mereka. Kau hanya membikin mereka jadi makin beringas dengan roti dan tehmu itu.

Sama sekali tak ada jalan ke luar bagi mereka yang terlibat di situ. mereka menjamin gulungan itu tahan karat. Mereka benar. kemudian melompat dengan gerakan yang cantik dan mendarat dengan mengibasngibaskan ekornya ke dalam kawasan rumah. terbentang gulungan besi yang keras. tidak pernah coba melanggar pagar keamanan itu. jangan cemas sayang. menyilaukan. Setiap percobaan hanya akan menyebabkan darah keluar lebih banyak lagi. siapapun akan berpikir dua kali… dan mereka mulai menimbang nasihat yang tercatat di atas papan kecil yang dilekatkan di tembok. saya harap si kucing peka. berkilat. mereka tidak lagi berhenti sejenak untuk menikmati keindahan pagar mawar di halaman yang kesemuanya kini tertutup di balik pagar serta temboktembok dengan peralatannya. Semakin terkait.panas yang indah. Ada juga usaha untuk mencontoh kehalusan seni bangunan penjara berbentuk vila Spanyol (besi-besi tajam yang dicat merah jambu) dengan pasu-pasu berbentuk labu yang ditempel dengan lukisan klasik (besi-besi tajam yang panjangnya 12 inchi berlekak-lekuk dan bercat putih). karena sejak hari itu. Betul katamu. Pada keesokan harinya. sebuah keluarga sedang menikmati makan malam ketika kamar tidur di tingkat atas dibongkar. kulit makin terkoyak dan luka makin jadi dalam. sang suami dan istri membandingkan setiap bentuk yang paling berkesan. Pasangan suami istri yang sedang berbincang tentang perampokan bersenjata terkini yang berlaku di pinggir kota itu telah diganggu oleh kemunculan kucing peliharaan anak mereka yang coba memanjat tembok setinggi tujuh kaki itu. si anak beraksi seperti seorang putra raja yang gagah berani melepas dan 203 . mula-mula memanjat ke atas dengan kaki depannya di permukaan dinding tembok. sang istri dan anak kecil membawa anjing mereka berjalan-jalan di kawasan kediaman mereka. kuat dan sederhana. Tembok putih itu dikotori oleh bekas jejak kucing dan di bagian luar tembok yang menghadap jalan terdapat bekas jejak dari tanah merah yang lebar seperti tapak sepatu yang tersarung di kaki penganggur-penganggur yang membuang waktu tanpa tujuan. Sang suami berkata. Pada suatu malam. ucap sang suami. dan selang beberapa minggu. yaitu memasang pecahan kaca yang ditancapkan di atas semenan tembok dengan jerajak besi yang berujung tajam. Cahaya matahari memancar dan cahayanya menerpa mata pisau bergerigi yang mengelilingi rumah tersebut. Separuh tembok dilekatkan dengan papan kecil yang ditulis dengan nama dan nomor telepon perusahaan yang bertanggung jawab memasang peralatan tersebut. Ini semua menyulitkan orang untuk coba memanjat dan merangkak ke dalam gulungan itu tanpa dia tersangkut pada gulungan itu. Di sepanjang tembok. Sang istri berkata. yakni bentuk yang paling sederhana namun luhur yang direncanakan seperti bentuk kamp tahanan: tidak berbunga-bunga. sang ibu membacakan sebuah kisah dongeng pada sang anak dari buku yang dihadiahkan oleh perempuan sihir tua yang bijak pada hari Natal. kucing selalu melihat sebelum melompat. saat mereka sedang berhenti di hadapan sebuah dinding tembok tanpa berkata-kata. Sebuah pilihan yang murah. kucing mereka hanya tidur di kamar si anak dan bermain di taman saja. Ketika sang suami. sang istri dan anak lelaki mereka yang kecil tinggal bersama-sama dengan anjing dan kucing peliharaan mereka dengan penuh kebahagiaan buat selama-lamanya. sang istri. Dan sang istri menunggu hingga si anak kecil pergi bermain. berkali-kali. keduanya membuat keputusan untuk memilih sebuah bentuk yang paling baik saja. Sedang anak lelaki mereka dan anjingnya berlari ke muka. lalu berkata. Masyarakat ingin keselamatan yang mutlak. dan anak kecil mereka membuat pilihan menakjubkan. di mana tempat sang suami. tajam bergerigi serta bercabang mata pisau. Sang istri terpesona memandangnya. tak mengapa. Kilau itu akan hilang nanti. Hubungi GIGI NAGA. tidak mungkin. sekumpulan pekerja datang merentangkan gulungan berduri dan berpisau di sekeliling tembok rumah. Keesokan harinya. Sang suami. Sang suami berkata.

Gunn Fellowship. 1923. dan Something Out There. lalu segera berlari mendapati si anak kecil dan menjerit bersamasama dengannya. Lalu tangannya.*** Nadine Gordimer. dan sebagainya. Kaitan yang pertama mengenai lututnya. Dalam pada itu. Cerpenis dan novelis Afrika Selatan ini banyak mendapat penghargaan di bidang sastra. Jump and Other Stories. Nobel Sastra diraihnya pada tahun 1991. A Soldier's Embrace. Pasangan pembantu rumah dan tukang kebunlah yang pertama kali melihat peristiwa itu. agaknya) alarm pun menggila di tengah-tengah jeritan mereka. Dia seorang dosen tamu di Royal Society of Literature. Ia menjerit kesakitan dan meronta semakin ke dalam gelungan itu. Datanglah kemudian sang suami dan sang istri dengan tergopoh menuju taman. Selected Stories. the W. kapak.membabat duri-duri tebal untuk masuk ke istana dan mengecup sang puteri yang tidur serta menyadarkannya kembali. Not dor Publication. Ia menyusupkan diri ke dalam gulungan yang berkilat itu semuat-muat badannya.H. entah apa sebabnya (mungkin kucing. dan tukang kebun yang menangis.membawa anak itu masuk ke dalam rumah. pembantu rumah yang dipercayai yang tengah diserang histria. Diterjemahkan oleh Agus dan Nikmah Sarjono 204 . dan anggota kehormatan American Academy and Institute of Art and Letters. Mereka -sang suami. Smith Commmonwealth Literature Award. lahir di Transvaal. sementara si anak yang bermandi darah dikeluarkan dari gulungan dengan menggunakan gergaji. antara lain: Booker Prize. Friday's Footprint. Kumpulan cerpennya antara lain Livingstone Companions. pemotong kawat. dan the Scottish Arts Council Neil M. kepalanya. Si anak membawa tangga ke tembok. sang istri. Tukang kebun yang rajin itu telah luka tangannya ketika mencoba menyelamatkan si anak.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful