Horison, Januari 2000

Mimpi
Oleh: Abdel Salam Al-Ujaili

1
Dalam mimpinya Mohamed Wesaja ini perkara biasa, karena dalam keadaan sadar pun ia senantiasa mengerjakan shalat serta tak pernah meninggalkan ibadah wajib ini. Dalam mimpinya tersebut, kala sujud pertama, ia membaca dengan suara keras surat al-Nasr. Ketika sujudnya hampir selesai, ia terjaga dari tidurnya dan merasakan takut yang luar biasa. "Firman Tuhan adalah suatu kebenaran!," katanya sambil duduk di kamar serta menggosok-gosok matanya.Mohamed Weess tidak ingat mengapa mimpi tersebut begitu lekat dalam pikirannya. Maka, begitu pagi menjelang, segera ia temui Sheikh Mohamed Sa'id, seorang tua di kampungnya. Baru sekitar tengah harian, ia dapat bertemu dengan orang tua itu. Segera ia kisahkan mimpinya. Sheikh berdiam diri agak lama sambil menundukkan kepalanya dengan kening berkerut-kerut, sebelum akhirnya bertanya: "Kau yakin bahwa surah yang kaubaca itu surah al-Nasr?" "Saya yakin," jawab Mohamed Weess. "Saya membacanya sampai selesai. Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Jika telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau lihat manusia masuk agama Allah beramai-ramai. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, dan mohon ampunlah kepada-Nya. Sesungguhnya Dia maha Penerima Taubat." "Firman Tuhan adalah kebenaran!" kata Sheikh Mohamed Sa'id. "Wahai Mohamed Weess, segala puji bagi-Nya. Mintalah ampunan daripadaNya. Sesungguhnya Dia maha mengasihi." "Wahai Sheikh Mohamed Sa'id, saya percaya ini adalah pertanda buruk bagi saya. Apakah tafsiran tuan tentang mimpi saya tersebut?" Sheikh Mohamed Sa'id memegang dan mengusap-usap janggutnya yang panjang dan tebal itu. Dia kelihatan agak keberatan untuk menerangkan pengetahuannya yang mendalam mengenai ilmu menafsirkan mimpi. Akhirnya ia bersuara juga. "Mohamed Weess, mohonlah ampunan daripada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengasih. Mimpi membaca surah ini menandakan bahwa orang itu sudah hampir tiba saat ajalnya." Mohamed Weess tergetar. Ia merasa tiba-tiba seluruh badannya menggigil.

"Apakah yang tuan Sheikh katakan?" "Amat berat bagiku untuk menyatakan ini kepadamu," jawab Sheikh. "Bagaimanapun, untuk menenangkan perasaanmu, kau akan beroleh rahmat Tuhan. Dan kematian pasti datang menjemput kita semua. Mohamed Weess, tak ada orang yang mimpi seperti ini dapat hidup lebih dari empat puluh hari." Setelah memberitahu hal tersebut, Sheikh itu pun terus pergi untuk menunaikan shalat Dzuhur, meninggalkan Mohamed Weess yang terpuruk di tanah sambil kebingungan. Kakinya seperti tak mampu lagi menampung berat badannya. "Empat puluh hari," suaranya bagai keluar tanpa melalui kerongkongannya. "Ya Tuhan, berilah hamba kekuatan." Desa di mana Mohamed Weess dan Sheikh Mohamed Sa'id tinggal hanyalah sebuah desa kecil, maka menjelang senja setiap penghuninya sudah tahu tentang mimpi Mohamed Weess dan tafsiran yang dibuat oleh Sheikh Mohamed Sa'id. Penduduk desa itu percaya pada tafsir mimpi. Itulah sebabnya pada petang berikutnya semua orang sudah begitu yakin bahwa Mohamed Weess akan mati dalam tempo empat puluh hari. Kaum lelaki berdatangan menziarahi Mohamed Weess, mula-mula seorang demi seorang, namun kemudian secara berombongan, hingga ia terpaksa berada di rumahnya menerima tetamu yang datang dan bertanya mengenai kesehatannya serta mengungkapkan rasa dukacita atas kematiannya yang bakal segera tiba itu. Kaum perempuan yang datang ke rumah Mohamed Weess datang untuk mendapatkan berita, sambil melihat-lihat keadaannya. Mereka mendapati Mohamed Weess masih segar bugar, tetapi tampak bingung. Sambil meratap mereka mohon agar Tuhan campur tangan dalam urusan Malakul Maut yang akan mencabut nyawa Mohamed Weess ketika dia masih sehat. Walaupun Mohamed Weess tidak sakit dan tidak pula uzur, segala langkah berjaga-jaga yang diambil untuknya serta segala pertanyaan lembut mengenai dirinya telah membuat dia mulai merasa sakit. Dia tabah menghadapi keadaan tersebut selama sepuluh hari, dan terus pulang-pergi antara pasar ternak dengan rumahnya. Bagaimanapun, tak butuh waktu lama dia tidak lagi tahan menanggung semua tekanan itu. Dia mulai merasa letih, dan orang ramai mulai menziarahinya pada waktu siang hati. Padahal sebelumnya mereka hanya datang pada malam hari. Dua puluh hari sejak saat ia bermimpi, keluarga Mohamed Weess merasa tidak perlulah lagi membereskan ranjangnya setiap hari karena kini Mohamed Weess senantiasa berbaring di situ siang dan malam. Setelah tiga puluh hari berlalu, pelbagai hidangan masakan kegemarannya yang disediakan khusus untuknya oleh keluarganya ternyata terkumpul di tepi ranjangnya tanpa dijamah. Dengan berpakaian serba putih dan membiarkan janggutnya tumbuh, Mohamed Weess menghabiskan waktunya hanya untuk bershalat. Dia terisak-isak bukan karena takut pada kematian atau kecewa karena hidup, melainkan karena takut akan hukuman yang bakal diterima di alam kubur dan rasa khawatir bahwa Tuhan tidak akan mengampuni kesalahannya karena kerap bersumpah dengan nama Tuhan sewaktu di pasar ternak, atau karena menipu para petani dari desa yang berdekatan. Waktu terus berlalu. Mendekati masa empat puluh hari, badan Mohamed Weess makin kurus karena kurang makan dan karena rasa penyesalan yang dalam terhadap dosa-dosanya yang telah lalu. Orang ramai -baik dari desanya ataupun desa yang berdekatan-ramai mempercakapkan cahaya keimanan yang terpancar pada wajahnya serta ayat-ayat mistik dan misteri yang diucapkannya tatkala ia sujud dan mengerjakan shalat. Tiga puluh sembilan hari sudah berlalu, dan pada waktu malam hari itulah aku memunculkan diriku. Anda mungkin bertanya, siapakah diriku?

2

Aku bertugas sebagai guru sekolah di desa tempat tinggal Mohamed Weess di mana ia bekerja sebagai pedagang berpengaruh di pasar ternak, dan di mana Sheikh Mohamed Sa'id dianggap sebagai wali. Aku sering menghabiskan cuti musim panas di Damaskus, dan kepulanganku ke desa itu jatuh pada hari ketigapuluh sembilan dari tempo yang dinyatakan oleh Sheikh Mohamed Sa'id kepada Mohamed Weess. Aku mengenali Mohamed Weess sebagaimana aku mengenali orang lain di desa itu. Ketika Mohamed Atallah yang bertugas sebagai porter di sekolah memberitahuku tentangnya, aku kebingungan: apakah harus tertawa atau bersimpati kepadanya. Bersama Mohamed Atallah aku segera pergi menjumpai Mohamed Weess untuk menenangkan fikirannya atau setidaknya untuk mengungkapkan rasa dukacitaku. Halaman rumahnya yang biasanya dipenuhi hewan ternak yang dibeli Mohamed Weess dari pasar, kini agak sesak dengan orang ramai yang datang untuk menyaksikan saat kematiannya. Sebuah sisi untuk lelaki dan sisi lain untuk perempuan. Di sisi ketiga terlihat beberapa ekor biri-biri dan kambing yang dibawa oleh kawan-kawan Mohamed Weess untuk dikorbankan pada esok harinya setelah rohnya berpisah dari jasadnya. Ketika aku masuk ke kamar Mohamed Weess tempat ia menunggu kedatangan Malakul Maut --dan akulah yang datang, bukannya malakul Maut-Mohammad Weess sedang duduk sambil berdoa, sementara Sheikh Mohamed Sa'id duduk di sudut lain melagukan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Aku sangat terperanjat melihat perubahan pada wajah Mohamed Weess. Wajahnya yang bulat dan pipinya yang berisi, kini sudah cekung dan pucat. Ini ditambah pula dengan janggutnya yang panjang. Kepucatannya kelihatan lebih jelas lagi dengan pakaiannya yang serba putih dan longgar itu. Sambil bershalat, dia memanjangkan sujudnya seolah-olah ia berharap agar kematian segera datang padanya. Tidak ada persamaan antara wali Tuhan ini yang keseluruhan wajahnya bermandikan cahaya iman, dengan Mohamed Weess yang asli, yang setiap pagi dari jendela sekolah bersumpahsumpah dengan nama Tuhan bahwa jika dia tidak rugi sebanyak tiga lira dari biri-biri yang baru dibelinya itu, dia akan menceraikan istrinya. Aku telah menziarahi Mohamed Weess dengan perasaan ragu-ragu dan serba ingin tahu. Namun, perubahan sedemikian rupa yang terjadi pada dirinya itu telah menyadarkan aku bahwa dia memang akan mati pada keesokan harinya seperti yang ditetapkan. Aku geram mendengar suara kuat Sheikh Mohamed Sa'id membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an sambil melirik ke arahku. Antara diriku dengan sheikh yang sifatnya merupakan gabungan sifat sederhana, bodoh, dan licik ini, aku merasakan adanya suatu rasa permusuhan yang sudah lama tumbuh. Aku sebenarnya benci kepada orang yang berlagak pandai dan suka menipu, hingga berhasil menguasai perasaan para penduduk desa yang tidak tahu apa-apa. Sementara itu, dia selalu menghasut penduduk desa supaya membenci dan menentangku dengan menuduh aku mengajar ajaran yang menghina Tuhan dan Rasul-Nya. Sesungguhnya usahanya itu tak pernah berkurang walaupun ia mulai mengetahui dari orang ramai bahwa asal-usul keluargaku adalah dari Zain al-Abidin, cucu dan mantu lelaki Nabi Muhammad. Sebaliknya, dia menjadikan ini sebagai alasan untuk terus bermusuhan denganku dan berkata: "Lihatlah lelaki itu, keturunan Zain al-Abdidin yang menyatakan dunia ini berputar dengan sendirinya, tetapi saya serahkan kepada kalian semua, pernahkan salah seorang dari kalian melihat pintu rumahnya yang menghadap ke timur itu tiba-tiba berputar jadi menghadap ke barat! " Sebagaimana yang aku katakan, aku merasa sangat marah begitu melihat kehadiran Sheikh Mohamed Sa'id. Aku hampir meraung dan meneriakkan bahwa dia sebenarnya seorang pembunuh, bahwa dialah yang membunuh Mohamed Weess dengan racunnya, yakni dengan menanamkan ke dalam fikiran Mohamed Weess bahwa ia akan mati dalam

3

waktu empat puluh hari. Bagaimanapun, sepanjang ingatanku, aku tidak pernah berhasil mengalahkan Sheikh Mohamed Sa'id dengan menyatakan perasaan benci dan marahku, karena ia senantiasa berhasil memenangkan hati penduduk desa dengan argumenargumennya yang lapuk. Yakni dengan menunjukkan bahwa bumi ini tidak berputar dan menanyakan apakah pernah terjadi seorang penduduk desa melihat pintu rumahnya yang menghadap ke timur tiba-tiba berputar ke barat? Dengan demikian, jelaslah bahwa bumi tidak berputar. Tuhan mengampuninya karena mendendamku dan Tuhan juga mengampuni Mohamed Weess meski dia akan terus berada di bawah pengaruh gila Sheikh Mohamed Sa'id hingga keesokan harinya. Dengan perasaan yang berat campur kecewa dan marah, aku langsung ke luar dari ruangan sekolahku. Mohamed Atallah, porter sekolah itu, telah mengejutkan aku pada waktu subuh. Aku telah menyimpan tiga butir buah pear yang aku bawa dari Damsyik itu di bawah jerigen air. Aku mengambilnya sebuah, kemudian segera menuju ke rumah Mohamed Weess. Halaman rumahnya kelihatan lengang, kecuali beberapa ekor kambing dan biri-biri yang seolah menanti saat kematian tuannya, dan selepas itu kematian mereka pula. Sisi bagian orang perempuan sedikit lebih terang dan dibauri dengan tangis perlahan. Pintu kamar Mohamed Weess tertutup, jadi aku mengintainya melalui pintu yang tertutup itu dan mendapati Mohamed Weess sedang tidur. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa dia keletihan setelah sepanjang malam beribadat sebagai persediaan menghadapi saat kematiannya. Aku mengetuk pintu beberapa kali, kemudian mendorong, dan membukanya sambil menyapa keras: "Segala Puji bagi Allah, Mohamed Weess" Dia terbangun dari tidurnya dengan masih terkantuk-kantuk. "Apa dia?" jeritnya. "Saya Naji, guru sekolah. Jangan takut Mohamed Weess. Dengar ucapan saya. Aku melihat air matanya menetes hingga ke pipi ketika ia duduk dengan lidahnya kelu dalam ketakutan. Karena kuatir dia akan langsung mati akibat sangat ketakutan sebelum sempat mendengar apa yang akan kukatakan, aku segera bersuara: "Saya datang bertemu anda, karena saya baru saja disadarkan oleh moyang saya, Zain al-Abidin. Semoga Allah memberkatinya, dan dia berkata kepada saya, 'Pergilah temui Mohamed Weess dan beritahu dia bahwa Allah telah mengujinya dan mendapati bahwa dia adalah hambanya yang sudah insaf akan semua dosanya. Berilah kepadanya buah ini, salah satu daripada buah-buah yang ada di surga. Suruhlah dia shalat bersama kamu dua rakaat sebelum naik matahari. Pada rakaat pertama, dia mesti membaca Surah al-Nasr dan Allah akan memanjangkan usianya sehingga dia dapat hidup dan melihat anak-cucunya." Mohamed Weess menelan air liurnya. Tampak bagiku bahwa ia seperti tidak percaya semua yang aku katakan. Matanya tertegun merenungi buah pear di tanganku (aku yakin tak ada seorang pun di desa ini yang pernah melihat buah pear ini sebelumnya). Aku mengupasnya dan menyuapkan ke dalam mulut Mohamed Weess, lalu menyuruh dia menelan semuanya, sekalian dengan bijinya. Kemudian aku menariknya ke sudut kamar. "Mohamed Weess , bersiaplah untuk sembahyang sebelum hari siang." "Tapi saya belum lagi bersuci, Tuan Naji."

4

guru sekolah keturunan Zain al-Abidin! Tetapi apakah ini sungguh suatu kemenangan? Sebenarnya aku sendiri tidak pasti. Tetapi. Tekankan kedua telapak tanganmu ke tanah. Naji. Sebaliknya. bertambah oleh kenyataan bahwa aku gagal mengurangi meski seorang saja jumlah jemaah yang mengambil bagian bersembahyang bersama-sama di belakang Sheikh Mohamed Sa'id. yaitu aku sendiri. Dalam rakaat pertama. karena kuatir kesan yang diharapkan itu akan hilang. Dalam tempo sejam. Selepas itu aku terus pulang ke sekolah menunggu hari siang. Diterjemahkan oleh Nikmah Sarjono. dia membaca kesemua surah al-Nasr. Untuk mengekalkan kehormatan keturunanku. Syria pada tahun 1918. Mohamed Weess. Kami bersembahyang dua rakaat. masing-masing sibuk untuk mengetahui bagaimana moyangku Zain alAbidin datang kepadaku membawa keampunan Allah untuk Mohamed Weess. Pada ketika itulah aku merasakan bahwa akhirnya aku berhasil mencapai kemenangan mutlak atas Sheikh Mohamed Sa'id. yaitu sebagaimana dengan mimpi yang aku reka itu. Berkali-kali ia pernah menduduki jabatan sebagai menteri. termasuk sebagai Menteri Kebudayaan. seluruh desa telah mendengar cerita baru tentang Mohamed Weess. kini berhimpun di halaman sekolah. Sebagai seorang Doktor ia menerjunkan diri di bidang politik. dan bukan dengan tayamum! *** Salam al-Ujaili dilahirkan di Rakka." Aku bersembahyang berdiri di belakang Mohamed Weess. Mereka yang semalam memenuhi halaman rumah Mohamed Weess. ini dibenarkan dalam Qur'an. Malah hewan ternak tersebut diserahkan kepadaku sebagai hadiah dari teman-teman Mohamed Weess kepada wali Allah. aku mendapati diriku terpaksa berjemaah di belakang Mohamed Weess pada setiap kali sembahyang dengan bersuci sepenuhnya. Ini karena Mohamed Weess tidak mati dan kambing serta biri-biri di halaman rumahnya juga tidak jadi disembelih. 5 . aku lantas berkata: "Buatlah tayamum. bilangan jemaahnya telah bertambah satu lagi.Aku lantas teringat bahwa aku juga belum bersuci. Keraguanku akan nilai kemenangan ini.

"Ada apa. agar kesedihan ini tak menambah kesedihan lain. . Tapi tak tahu bagaimana hal itu bisa terjadi.Komplikasi Oleh: Naguib Mahfouz 6 Pagi itu. Bu! Ibu mengidap penyakit berbahaya. Bagaimanapun juga ibu harus memberitahukan keadaan sebenarnya pada suami. Tapi terselip guratan penderitaan yang mendalam di wajahnya. Perempuan itu tersentak seketika. Takut dan gelisah. Dokter terperanjat mendengar ceritanya. Tenang sedikit tersenyum. Tak terkecuali mereka yang sudah berkeluarga. Parasnya cantik. Matanya berkaca-kaca. Derita yang dialaminya berubah menjadi ketakutan baru. Kalau tidak. apakah ibu sudah bersuami?" Perempuan itu menganggukkan kepala. dokter telah selesai memeriksa pasien kelima. "Tolong. Kemudian masuk pasien keenam. Kalau perlu dibawa serta ke mari. Bu. Nafsu benar-benar membutakan kaum lelaki. "Gawat." lanjut dokter. seorang ibu bertubuh semampai dan bercadar. Saya ingin tanya. Dia harus menjaga ibu dari risiko pergaulan bebasnya. Keduanya duduk berhadapan. pengobatan penyakit ibu akan sia-sia. bak mawar putih berlepotan debu jalanan. Pak Dokter!" teriaknya segera. Kendalikan emosi. Rupanya keraguan dokter terbukti. "Oh…. Tenangkan diri. ''Ya. Bu?" tanya dokter. Ibu harus mengingatkan perbuatan terlarang itu. Dokter segera memeriksa. "Penyakit kelamin… ?" katanya seolah tak percaya. Tanpa menunggu kedatangan suaminya dari kantor. Dengan malu dan hati-hati perempuan itu menceritakan penyakit kronisnya. Teriakan parau muntah dari bibir perempuan itu. Dokter menghampiri. Yang saya katakan benar. Penyakit kelamin!" gusar dokter. Dokter mencermati apa yang diceritakan dengan kondisi sebenarnya.

"Sebaiknya Ibu memberitahukan pada suami Ibu. Sulit rasanya meyakinkan dia supaya menerima kenyataan pahit ini. Sudahlah! Semuanya kuserahkan pada Tuhan.. Ah. "Butuh berapa lama untuk menyembuhkan penyakit ini. Tentu masalah ini akan selesai. Aku harus mengobati perempuan lemah ini. Akhirnya ia mengambil jalan tengah. Dadanya sesak. "Mengapa aku mencampuri urusan dan penderitaan orang lain? Aku hanya seorang dokter. "Bisakah Dokter menjaga rahasia ini?" tanyanya.." "Kalau begitu sementara ini saya tidak akan melakukan hubungan seksual." "Meski sudah terlambat?" "Yah …saya tak punya pilihan lain." Dokter gelisah menatap wajah kusut perempuan itu. Tak pantas melampaui batas kewenanganku. Tekad itu menjadikan jiwa dokter sedikit tenang. ditatapnya dokter itu. Dokter! Jangan libatkan suami saya!" rengek perempuan itu. Sudahlah." "Oh…. "Tapi…. Jiwanya seakan lebih menderita dibanding rasa sakit di tubuhnya. jangan. Tiba-tiba perempuan itu teringat sesuatu. semua ini terserah Tuhan. Dok. kecemasan. Dokter langsung bekerja. Mendadak pikirannya menerawang pada nasib keluarga perempuan itu. itu harus intens."Tidak…! Tidak…! Tidak mungkin…! Cepat obati saya. Mati aku!!" "Tentunya suami ibu juga terjangkit. Sepandai-pandainya Ibu memendam rahasia ini. Dengan memelas. Bola mata perempuan itu bergerak-gerak bagai air raksa. Dok! Suami saya tak boleh tahu masalah ini. Keresahan mencengkeram jiwa dokter. Mudah-mudahan Tuhan memberi jalan keluar pada keluarga kami. "Kurang lebih dua mingguan. Bahwa ia dalam bahaya besar." "Demi Tuhan. Lakukan saja tugasmu. Dok?" tanyanya." batin dokter. toh akhirnya akan ketahuan juga. Kami akan menghindarinya sampai saya benar-benar sembuh. Barangkali Dia akan melindungi suami saya. Kepedihan." saran dokter." "Suasana hening mencekam. Suami saya orang baik-baik. rasa bersalah bersemayam dalam dirinya. 7 .

Dok." Lalu perempuan itu menghela nafas. Raut mukanya tampak cerdas dan berani. "Saya rasa cukup sampai di sini dulu. "Selamat sore." jawabnya sembari menarik nafas. dokter "Siapa nama Ibu?" tanya dokter. Dok. Badannya tinggi tegap. Saya usahakan tiap hari datang ke sini. "Untuk apa?" tanyanya. Pekerjaan dokter telah menghentikan langkahnya." "Oh…kasihan sekali. Coba Ibu lihat daftar ini! Bukankah penuh dengan nama dan alamat pasien? Jangan takut. Ketika perempuan itu beranjak keluar." "Menyesal?" . "Saya mengidap penyakit."Tentu. Ini hanya formalitas belaka. Wajah perempuan itu tampak ketakutan. 8 *** Esoknya. Lelaki itu tertawa. Akan kuusahakan semampu saya. Dok. "Tak perlu takut." "Saya benar-benar menyesal. Ia katakan bahwa kondisi suaminya sehat-sehat saja. pegawai DPU. "Ibu Muhammad Abbas Efendi. Tentu. "Penyakit apa?" "Penyakit yang banyak dikeluhkan orang. Selain Jumat." ucapnya dengan hati yang terluka. selesai." jawab lelaki itu." katanya. perempuan itu datang. tak perlu sedih. Tenang saja! Kujamin rahasia ini tak kan terbongkar selamanya." sambut dokter. Menampakkan keceriaan di balik kegelisahan yang menyelimuti dirinya. "Sore. Menjelang petang." hibur dokter. saya hanya seorang dokter. datang pasien berumur 30 tahunan.

Dengan demikian lelaki itu mau kembali pada istrinya dengan penuh penyesalan. "Mudah-mudahan Tuhan memberi jalan kebaikan bagi istrinya. Abbas merengek. Apa yang harus saya perbuat. Apa Dokter merasa rugi bila ada orang insaf datang padamu? Apa pasienmu akan berkurang?" "Kukira Saudara datang ke sini bukan untuk berfilsafat. Jangan sampai dia curiga. Sekarang dokter tahu bahwa bukan hanya bujangan yang bisa terperosok dalam dosa. Dokter segera melihat dengan seksama daftar nama-nama. Akan kuterangkan ihwal penyakit yang diderita istrinya. "Saya harus bagaimana. Tolong sebutkan nama Saudara!" "Muhammad Abbas. Mendadak jiwanya bergejolak. Dok." Dokter menerawang." jelas Abbas. hingga persoalan ini selesai. begitu tahu bahwa dialah orang yang terancam bahaya besar itu. Kemudian Abbas melangkahkan kakinya. Giginya geregetan. Tatkala dokter hendak melangkah menuju kamar praktek. Kepalanya tertunduk hampir menyentuh lembaran daftar nama yang ada di depannya. Saya sangat sedih begitu tahu istri tercinta saya juga mengalami hal yang sama." jawabnya lemah. Lantas keduanya akan kuobati sampai sembuh. kalau tak mendengar pertanyaan Abbas. saya khawatir penyakit ini akan berakibat buruk. Saya benar-benar terjepit. Abbas tak tahu bahwa perempuan itu lebih menderita dibanding dirinya. Sepasang suami-istri itu ternyata pendosa." kata dokter dalam hati. Dok?" Kini rahasia itu telah terbongkar. "Dok. "Tahukan Saudara? Istri Saudara juga terancam!" "Ya. Usahakan ajak istri Saudara ke sini. "Tenang saja. Akan kuyakinkan padanya bahwa perempuan itu adalah korbannya. Mereka menyesali diri. Dokter menyembunyikan wajahnya." Abbas bingung. Dok?" tanya Abbas berulang-ulang. Semoga Abbas berhasil membawa istrinya ke mari. Saudara akan dapat menyelesaikannya dengan baik. dokter. mulut dokter hampir mengeluarkan kata 'Hah'. Dokter hampir saja terlena oleh pikirannya. Lantas bertanya."Menyesal. "Memangnya kenapa?" "Saya sudah berkeluarga. *** 9 . Pergi. "Saya usahakan. Silahkan ke kamar itu! Tunggu sebentar.

Hati saya dongkol. "Entahlah. kudekati istri saya. Tak bisa menguraikan apa yang terjadi di balik peristiwa itu. 10 . Dokter mengira sore ini. Terpaksa sayalah yang memulai bertanya: 'Apa kau tak punya keluhan? Barangkali sakit?' Saya pura-pura tenang.Perempuan itu tak datang pada hari yang telah dijanjikan. "Menurut Dokter apa?" baliknya. Ia mesti memeras otak untuk mencari jawabannya. bagaimana harus menjelaskan padanya. Abbas menggelangkan kepalanya. Impian untuk menimang anak. wajahmu pucat dan sedikit berubah. Sedih. "Ada apa?" tanya dokter terperangah. Pokoknya tidak. saya harus menjalani masa sulit ini. istri saya malah melawan dan bersikeras pada pendiriannya. Saya mengira dia gelisah karena kegelisahan saya. "Kukira Saudara mengajak istri Saudara. Sekarang saya telah bercerai dengan istri saya. Saya bingung. Tapi ia tak melakukannya.beginilah jadinya!" Abbas diam sejenak. Aku benci dokter. Ya…. semakin keras istri saya menolak. Dok?" "Emm…sebenarnya persoalan Saudara sudah beres. Saya coba memohon dengan baik-baik. Istri saya menjawab: 'Alhamdulillah. "Singkatnya begini." Dokter membungkukkan bahunya. Entah sampai kapan. Rasanya sakit dan ingin marah. Mana?" "Yah…. Kemarin malam. ia akan datang bersama Abbas." Hati Abbas penuh teka-teki. mereka justru melalaikan dan membebankan pada dunia!" kata dokter. Saya berbohong: 'Kulihat akhir-akhir ini. Seolah tampak lebih tua dari biasanya. kini telah hilang.bagaimana lagi. Tapi saya bingung. Aku ragu dan bosan mendengar nasihat mereka. bagaimana saya harus meyakinkannya. Dok. "Oh…hidup di dunia memang susah. Sinar matanya menyimpan banyak pertanyaan. Lalu dengan hatihati. Perlu Dokter ketahui. Tiba-tiba istri saya gelisah. saya berniat mengajak istri saya kemari untuk menemui dokter agar saya bisa tenang. Lalu dengan ragu-ragu. "Semakin banyak saya menuntut. Tapi yang datang ternyata hanya Abbas. "Saya sudah sering kali mendengar keluhan-keluhan seperti itu. Saya terus mendesaknya. Parahnya. Saya juga tak tahu bagaimana harus memulainya. Saya mengharap dialah yang memulai bertanya. Dada saya sesak. Tapi sayang. Saya yakin menusianyalah yang menyebabkannya. Bagaimana kalau kita periksakan ke dokter?' Istri saya justru marah dan menolak keras: 'Tidak! Kau mengkhayal. Saudara tidak bisa meyakinkannya. Usaha saya sia-sia. belakangan ini saya mengalami banyak peristiwa menyedihkan. Kebingungan mendekap. tidak'. Abbas dirundung ketakutan. Tatapan matanya layu. Kemudian berbicara dengan terbata-bata karena putus asa." tutur Abbas. Wajahnya pucat.

Raut mukanya berubah aneh. Tubuhnya menggigil. Aku telah bersumpah pada Tuhan. Perempuan itu sungguh membuat repot suaminya. dari Judul asli alMaradl al-Mutaba'adil oleh Ahmad Sya'roni dan Herri Munhanif. dan pada 1998 mendapat Hadiah Nobel. Saya telah ingkar. Perasaan tentram. Padahal merekalah cahaya hidup saya yang senantiasa bersinar. Matanya melotot. Saya ingin lepas dari belenggu perkawinan ini. Istriku?' Saya coba mengulang pertanyaan dengan lembut. Saya bertanya dalam hati: 'Ada apa. Kepala saya panas. Kini saya ingin pikiran saya terbuka. "Oh…saya telah berbuat dosa dan pantas mendapat hukuman. Dok?" "Dosa telah memperdaya dan menjerat saya. Tuhan. Dok? Saya hanya menduga. Bengis. Membuang semua kemarahan yang ada dalam diri saya. Aku telah berbuat dosa! Pasti kau sudah tahu semuanya.*** Naguib Mahfouz lahir tahun 1911." tambah Abbas. Karenanya. Saya terjerumus dalam jurang yang curam.' Belum selesai saya bicara. Saya bingung dibuatnya. Bagaimana saya bisa melepaskan selimut tebal dosa ini? Bisakah saya tabah menghadapi cobaan ini? Bisakah saya kembali bersih dan sehat seperti dulu lagi. Istriku? Kenapa kau tak mau ke dokter?' Istri saya justru berteriak lebih keras: 'Tidak…! Tidak…!' Saya bertambah marah. tapi istri saya memotong dengan gerakan aneh. saya melangkah ke arahnya. Istri saya menjerit: 'Ampun. Dengan murka. Dok?" "Runtuh sudah bangunan rumah tangga saya. saya menjadi korban yang sia-sia! Adakah lelaki yang bernasib seperti saya.Rambut saya berdiri mengeras seperti landak. Pengakuan dosa. Otak saya ragu. Abbas! Ampun…! Rahasiaku telah terbongkar. bimbinglah jalan hidupku. Tapi ia yakin bahwa dirinya tak melampui batas kewenangan. istri saya bicara menantang bagai ular yang siap mematuk mangsanya. Ceraikan saja aku!' Tiba-tiba istri saya tersungkur di kaki saya kemudian pingsan. 11 . Tak ada kata 'tidak' dalam diri saya." lanjut Abbas. Dok. Tolong! Jangan sentuh aku. Otak saya tak kuasa lagi berpikir dengan jernih: 'Ayo ikut aku ke dokter! Aku prihatin dan ingin tahu apa sebenarnya penyakit yang kau derita. "Apa maksud semua ini. Saya semakin bingung dan bertanyatanya: 'Apa yang membuatmu takut. permintaan ampun dan pingsannya itu yang jelas hanya karena satu hal. Cerpen ini diterjemahkan dari antologi cerita pendek Hams al-Junu'un. Tubuhnya mengejang. Musnah sudah bayangan hidup bersama buah hati saya. tak mampu kuasai diri. saya berteriak keras.Karena saking suntuknya.

sementara . buruan kami tetap saja melenggang bebas. Kami adalah bangsa pemburu yang besar. Membuat kami cemas. Sebagian lagi menyempatkan diri membersihkan wajah terlebih dahulu. Kami sudah tahu bagaimana menyembelih wildebeest. Hingga kami merasa benar-benar sendiri. Gajah. betapa binatang-binatang di dunia ini perlahanlahan telah habis kami buru. Seperti juga semua makhluk yang ketakutan mendengar gemuruh kaki kami. serigala dan segala macamnya. selain menjadi seorang pemburu besar yang sanggup merobohkan gajah dengan satu gerakan. nenek moyang dan anak cucu kami. Maklumlah. melihat kehormatan kami akan goyah suatu ketika. ular. Kami mengembara dari satu benua ke benua lainnya. Barangkali. ditangkup sunyi daun-daun yang mandi cahaya. Lagu-lagu kami adalah lagu-lagu perburuan. Inilah pertama kali kami merasa begitu lelah. Apalah arti kami bila tak lagi hidup sebagai pemburu. Inilah perjalanan terjauh dan terlelah kami. mengantar tidur anak-anak kami. macan. tupai dan tikus. Maka mereka buru-buru menjauh pergi. Kami beristirahat di pinggir telaga itu. binatangbinatang itu juga sudah terlalu hafal dengan kami. Cerita-cerita penaklukan. Tak ada yang lebih terhormat bagi kami. melulurkan kesejukan pada lengan dan kaki yang bengkak. sebelum sampai ke telaga ini. hanyut oleh pikiran kami. Legenda kami adalah penaklukan puluhan binatang buruan. begitu tercium bau kami. Meletakkan semua senjata yang selama ini kami jinjing dan gendong. telah lenyap kami tangkap. bukan sebagai cara kami bertahan menghadapi hidup. dari tahun-ketahun. tetapi kali ini. Setiap bulan hampir seratus anak kami lahir. Angin bergegas pergi oleh kedatangan kami. Telah kami jelajahi seluruh hutan. sejak kami masih dalam kandungan. Kami memandanginya dengan gamang. sesekali meleleh oleh arus gelombang. Telah kami sibak semua palung lautan. tetapi lebih untuk kebanggaan dan kehormatan. Seakan sia-sia kebesaran kami sebagai pemburu yang telah berabad-abad mengabdikan hidup dan peradaban kami hanya untuk berburu. jumlah kami memang makin membesar. Seluruh kekuatan dan pengalaman kami sebagai pemburu telah kami keluarkan sampai tandas. Kami seperti mengejar kilat. setelah bertahun-tahun memburu buruan kami yang bergerak begitu cepat. Setiap dari kami dibesarkan dalam belukar. Nenek moyang kami telah membentuk kami sebagai pemburu paling ulung. Menjadi hutan lebat yang tumbuh dalam kepala mereka. badak. Kami tak pernah tergoda menjadi petani atau pedagang. Sebagian dari kami langsung merebahkan tubuh atau bersandaran pada batang pohon dan gundukan batu. Telah kami bongkar tiap lekuk pegunungan.Para Pemburu Oleh: Agus Noor 12 Purnama mengapung di telaga. Membuat kami begitu merasa terhina. Sampai kelinci. Siapakah yang tak tahu akan hal itu? Kami tak pernah gagal memburu sesuatu. untuk memburu binatang-binatang. rusa. Tetapi mungkin juga memang binatang-binatang itu sudah habis kami bunuhi. Sampai kemudian kami menyadari.

“Perburuan tak mungkin berhenti!” “Kita akan cepat renta bila sehari tak memburu apa pun!” “Takdir tak bisa dihentikan. tapi tak gampang mati. Liat dan sigap. semua binatang telah habis kami buru. Kami iringi dengan lengkingan terompet dan juga dentuman meriam. Memburu budak-budak itu lebih mengasyikkan dari pada memburu binatang. kalian masih punya kesempatan untuk memperpanjang kehidupan. selain melakukan perburuan semacam ini? Mereka kami beri kehidupan sekaligus batas kematian. Dan itulah kehormatan. Mereka kami beri kesempatan untuk bebas. Para penjahat itu.” Dan para pesakitan itu pun kami lepas dengan upacara kehormatan. Kami akan memburu manusia. Lantas. perlahan-lahan. kami bunuh. dari pada mati di tiang gantungan: tak lagi punya pilihan. Kami membeli juga para penjahat yang telah divonis mati. Meskipun kalian juga tak luput dari kematian. Semoga nasib baik bersama kalian. Mereka lebih menantang untuk kami taklukkan. Bahkan membuat kami lebih merasa sempurna sebagai pemburu. meski kami akan memburu kalian. Mula-mula. tapi manusia. seperti kami katakan tadi. Kami tak lagi memburu binatang. mendatangi kami. Setiap detik adalah pertarungan. Anggap semua ini hanya permainan. untuk ikut menikmati perburuan itu. Karena. sasaran perburuan yang menggairahkan. Mereka kami lepas ke tengah hutan. memang makhluk yang tak gampang menyerah. Tapi itu lebih baik bagi kalian. Selamatkan kehidupanmu. Dan itu. banyak orang di luar suku kami. tetapi masih sanggup berlari mengejar entelope. yang membuat kalian akan merasa memiliki harga sebagai seorang pesakitan. Tapi sudah lama kami kesulitan menegakkan kehormatan macam itu. orang-orang 13 . Jangan cemas. Menjadi tradisi. Rupanya. “Masuklah dalam hutan. untuk menggantikan binatang yang kini telah musnah. Mereka sudah renta. Inilah hidup yang sesungguhnya. lari. Sampai kemudian ide brilian terlontar. hingga pecah berantakan. baru kemudian kami memburu mereka. kemudian menghantam kepala binatang itu dengan kepalan tangan. tak hanya kami yang suka dengan permainan semacam itu. Itu menjadikan kami begitu bahagia. Banyak di antara kami yang sudah berusia 7890 tahun. Anak-anak kami pun nampaknya lebih suka dengan perburuan macam itu. Adakah yang lebih menyenangkan. membiarkan mereka lari dan menghilang. Ketika kisah-kisah kami menjalar ke banyak negara. banyak di antara kami yang menolak. Mati dalam perburuan ini lebih terhormat bagi kalian. sungguh.. karena hal itu dianggap akan mengotori kemurnian darah pemburu kami.. Tetapi kami tak bisa menolak.orang-orang tua kami bagai tak bisa mati. kebiasaan baru tumbuh dalam kehidupan kami. Maka kami pun membeli ratusan budak. dengan cara melarikan diri. Banyak juga di antara kami yang mati dalam perkelahian. Kepada mereka kami tawarkan kebebasan. ketika dari banyak yang datang ke pada kami itu adalah para jendral.” “Lantas bagaimana?” “Apa pun yang terjadi kita mesti memburu sesuatu!” “Memburu apa?” Itu membuat kami terdiam. Selamat jalan.

Ah. tetapi kami bebas memilih siapa pun yang paling menyenangkan kami buru. pasokan senjata yang bagai anggur mengalir dalam gelas-gelas kami.besar di negara mereka. Kami. hingga pertarungan menjadi tak sepandan. yang sudah berumur 100 juta tahun lebih. para raja.. 14 . Kami tak hanya punya kesempatan memburu para penjahat yang telah divonis mati. Apalah arti semua itu bagi jiwa pemburu kami? Semua itu bukan lagi gairah petualangan dan tantangan. ketika kami menembaki anak-anak Palestina. ketika kami mengirim pasukan pemburu ke banyak negara untuk meluluhlantakkan apa saja. Ketika kami menjarah perempuan dan membunuhi anak-anak. Begitulah memang mestinya nasib penyair yang tak menulis syair pujapuji bagi keagungan kami. Malah sering para raja dan kepala negara memberi kemudahan kami dengan memberi lisensi untuk menghabisi para tokoh oposisi yang tak mereka sukai. dengan setiap malam tidur di ranjang yang bersih dan nyaman. keisengan. ketika kami memburu ribuan orang Yahudi untuk kami kirim ke kamp konsentrasi. menumpuk tengkorak kepala korban kami hingga menggunung sampai menyentuh awan. begitu melimpah buruan kami. kami terus bergerak dari benua ke benua dari zaman ke zaman. Apakah arti kekuatan bila tak ada tantangan yang sepandan? Tak ada lagi yang sanggup melawan kami. tak ada lagi kegairahan karena kemenangan. Bahkan mereka menjanjikan kami lahan-lahan perburuan yang lebih luas. Kami berdiri di puncak menara peradaban. Itu sering membuat kami terusik sunyi. tetapi kami selalu dirundung sunyi. “Ini darah seorang penyair untukmu. Hidup pemburu agung! Kami pun menjadi kelompok pemburu yang besar. tetapi juga denting gelas dalam kehangatan pesta. dan kami tertawa bahagia. yang telah menjadi sekelompok pemburu yang paling kuat. Kami terus memburu. para demonstran untuk kami habisi. seakan maut sudah menyentuh bibir orang tua itu. Tak ada lagi yang berani menggertak kami. yang melintas bagai badai dan gelombang. Juga kaum intelektual yang selama ini mereka benci.. Para raja dan kepala negara mempersilahkan kami untuk memilih rakyat mereka sebagai binatang buruan.” Gelas kami beradu. Para jendral menyediakan kami senjata-senjata paling mutakhir. kami terus menuliskan sejarah kami yang agung. Suaranya sudah gemetar. menggulung apa pun yang kami sukai. Kami menjadi kaum pemburu yang kian kokoh dan terhormat. Jangan biarkan anak-anak kita menjadi pucat dan pasi. “Kita harus melakukan sesuatu. Para pengusaha mensubsidi kami modal bermilyar-milyar. mengijinkan tempat-tempat itu untuk kami kelola dan kembangkan sebagai ladang perburuan yang lebih menantang dan menyenangkan. yang memang memiliki kebiasaan berburu seperti kami dan memiliki lahan-lahan perburuan yang luas. tempat kami berpesta setelah seharian berburu. tetapi juga. ketika kami memburu dan membantai orang-orang muslim di Bosnia. jangan sedih. tetapi penaklukan yang membosankan. Di antara kemeriahan pesta. Para bangsawan. sendiri. Kami tak lagi hanya terbiasa dengan bunyi pedang. Kami perlahan-lahan meninggalkan cara hidup kami di hutan. Jangan biarkan mereka menjadi lembek karena rasa sunyi ini. sehingga permainan menjadi tak lagi begitu punya arti. Kami bangun juga istana-istana. dengan dukungan dana yang melimpah. Perburuan bukan lagi perkara kebesaran dan kehormatan. melintasi gelombang waktu.” Lalu seseorang yang paling tua di antara kami. menjadi tak tertandingi. menyarankan kami agar mengumpulkan para kiai. para bangsawan dan pengusaha besar. Hingga kami tak lagi kekurangan buruan. terkadang. puluhan kepala negara. Kami seperti kehilangan buruan yang mengasyikkan. Karena kami sudah terlalu kuat.

“Kami ingin Jibril.” Mereka. Luasnya tak lebih dari lima kali lima tombak. berkelok-kelok mengikuti 15 . menyambut hari depan kami yang gilang gemilang. Sekarang. membuat kami begitu ternganga. Pintu itu terbuka untuk menerima siapa pun masuk ke dalamnya. Barisan kiai masih antri di depan masjid itu. katakan kepada kami. Panji perburuan berkibar. Benar-benar masjid kecil yang tak terawat.” tegas kami. dengan meminta kami mendatangkan Jibril. “Kalianlah yang bercanda. Apakah kalian akan sholat sepanjang hari? Apakah kalian akan berdoa dan mengaji? Apakah kalian akan menangkar atau menjebak Jibril dengan sebuah perangkap? Kami tak mau tahu dengan itu semua. “kalian kami beri waktu satu bulan. kami akan membikin perhitungan sendiri. Apalagi ketika kami melihat sendiri masjid itu.. ketika hampir separo dari jutaan kiai itu sudah masuk ke dalam masjid. Ya. “Baiklah. Kami segera mengeluarkan seluruh senjata kami.” Lantas kami membiarkan satu persatu para kiai itu masuk masjid kecil itu.” “Baiklah. membangkitkan imajinasi kami. Suruh mereka menyediakan malaikat untuk kita buru!” Kami terpukau oleh gagasan itu. Kami segera menghimpun topan. kami giring ke sebuah istana kami yang paling megah.“Untuk apa mengumpulkan para kiai itu?” “Aku sudah mencium ajalku. kenapa kami tak memburu malaikat? “Jibril! bagaimana kalau kita minta Jibril!” “Kami bersorai.. Tetapi mereka menolak. tetapi masjid itu tak juga penuh. kami segera mengumpulkan para kiai. “Kalian jangan bercanda!” teriak kami. kapan kalian bisa menyediakan Jibril bagi kami?” Kami tatap wajah para kiai itu. dari seluruh dunia. Membuat darah kami menggelembungkan jiwa pemburu kami.. Bila selama ini kalian tak bisa mendatangkan Jibril bagi kami. aku ingin menikmati perburuan yang paling menggairahkan. Gairah menjalar. Kami turut kemauan mereka. dan meminta kami untuk membawa mereka ke sebuah kaki bukit di mana ada sebuah masjid kecil di pinggir hutan.. meski sesungguhnya heran. Dan tentu.” “Apa hubungannya dengan para kiai itu?” “Kumpulkan mereka. para kiai itu. bersulang. bagaimana cara kalian mendatangkan Jibril bagi kami. telah lapuk.” kata kami kepada mereka. malaikat. sebelum maut menjemputku. anggur segera kami tuang dalam gelas. Bagaimana tempat sekecil itu menampung jutaan kiai yang kami himpun dari seluruh penjuru ini. kalau perlu dengan paksa dan kekerasan. Mereka kami datangkan dari semua penjuru. “Kami tak mau tahu. mencari kepastian dalam mata mereka. Seluruh bangunan itu terbuat dari pelapah kayu. Dan aku ingin.

setiap orang yang kami kirim untuk menjumpai para kiai. melihat impian kami sudah di depan mata. gembira dan tak percaya. jangan-jangan semua itu sihir belaka. luar biasa. seperti daun yang melayang-layang itu. Tetapi seperti yang pertama. membuat udara bergetar dan perasaan kami gemetar. bukan? Jangan salahkan kami. Tombak. utusan kami ini pun tak muncul lagi meski kami sudah menanti lebih lima hari. Sementara suara dzikir itu terus saja bergema. tetapi hanya gema dzikir membalas suara kami. “Jibril!!” “Jibril!!” Seketika kami berteriak. Kami tak mau kecolongan. lenyap seketika. tetapi. bagaimana mungkin? Tapi. Kami panggil namanya. Seperti batang-batang pohon yang bergoyang itu. betapa memang inilah yang selama ini kami tunggu-tunggu. Kami berteriak menyuruh para kiai itu keluar. sepanjang hari sepanjang malam. Tiba-tiba tubuh mereka hilang tak berbekas. Lantas kami tak bisa lagi sabar. anak 16 . mendadak menyadarkan kami. Kami memagarbetis masjid itu. Kami terus berjaga.gigir bukit. tertelan dan lenyap. menyentuh langit. Kami sudah cukup punya pengertian. hingga kayu-kayu bergemeretakan. di sana. Segera kami kirim seseorang untuk menemui mereka. Pada saat itulah. raib begitu saja. masuk dalam masjid itu. itu pun pasti sudah berhimpitan. Dan kami mendengar gema dzikir dari dalam sana. membumbung. Kemarahan kami menyalakan api di tangan. Namun orang itu tak kembali. Jibril. kenapa kami malah bengong begitu? Maka. di puncak kobaran api. sekaligus marah. memperingatkan para kiai bahwa waktu sudah habis buat mereka. dengan sigap kami segera meraih senjata-senjata kami. Membuat kami cemas. Satu bulan lewat. mengalun menidurkan rerumputan. Membuat kami tambah cemas menunggu. berkobar dan segera kami lempar pada mesjid itu. Kami tak mau di tipu para kiai itu. itulah yang kami saksikan. ketika para kiai itu tak juga muncul dari dalam masjid. bagai masuk ke tabir ruang dan waktu pada dimensi lain. tak pernah muncul kembali. Kami bakar masjid itu. kami melihat selesat biru cahaya menatap kami. takut mereka akan keluar dan meloloskan diri ketika kami tertidur. Namun dzikir itu masih kami dengar. bersama angin dan embun. seseorang di antara kami berteriak. ya Allah. Sampai kemudian semua kiai telah masuk dalam masjid itu. dengan sayap terentang sampai ujung paling jauh dari semesta. Gema itu melambung. membuat kami tengadah ke puncak api. seperti barisan semut yang begitu tertib menuju lubang sarang mereka . Begitulah berkali-kali. tetapi tak kunjung keluar jua. di pucuk api berkobar. dan api melahap cepat. kini telah muncul di hadapan kami. menguap begitu cepat. kemudian kembali mengirim utusan untuk menemui para kiai di dalam masjid itu. orang kedua kami pun tak kembali. antara takjub dan panik. Kadang kami merasa ada yang menggemericik dalam hati kami karena gema itu. Kami panik. Dan. tak membiarkan seekor tikus lolos dari amatan kami. Tapi seperti yang pertama dan kedua. Jutaan kiai masuk ke dalam masjid yang bagi kami hanya cukup untuk tidur dua puluh orang. yang hanyut dibuai dzikir para kiai. semua dari kami yang masuk ke dalam masjid itu. Apakah ini keajaiban yang dikirim bagi kami? “Buru!” Teriakan itu. Dan kami segera menyerbu. Kami kirim utusan kembali.

hingga telah lama anak-anak kami tak lahir. “Kesana!” seseorang dari kami berteriak. Kemanapun Jibril melesat. Sampai kami tiba di pinggir telaga ini. Karena kami harus terus mengejar Jibril. kami sudah harus kembali pergi ketika pada bayangan bulan. Inilah perburuan paling menakjubkan bagi kami. Bertahun-tahun kami memburu.*** 17 Yogyakarta. Banyak dari kami yang mati dalam perburuan ini. membiarkan rambut dan jenggot kami memanjang tak terawat. kami lihat jejak cahaya. Kami tak pernah tidur di satu tempat. Dan memang. melanjutkan pemburuan abadi kami. Kami tak sempat istirahat. agar kami mampu meringkus Jibril. inilah sesungguh-sesungguhnya perburuan yang sejati. Jiwa pemburu kami bergelora oleh gairah perburuan kali ini. Sebagian besar dari kami kini benar-benar renta. “Kejar!” Kami pun melesat. roket terus berlesatan. ranjauranjau telah kami tanam. Di seberang telaga sana. dengan cepat berlesatan ke arah selesat cahaya biru itu yang dengan cepat bergerak dengan sayap mengepak. Kami begitu sibuk memburu Jibril. Membiarkan kaki kami koyak oleh duri. mengepakkan sayap-sayap cahaya-Nya. jaring-jaring baja telah kami rentangkan. dan langsung melesat. kami benar-benar tak pernah punya waktu istirahat. Kami tak punya waktu untuk memikirkan itu semua. dan kami pun tak sempat menguburkannya. kami melihat buruan abadi kami. meraih peralatan berburu kami. Ketika kami baru saja rebahan dan membasuh kelelahan kami di telaga itu pun. roket dan basoka. mengharap kesegaran akan membuat tenaga kami kembali muda. Maka kami pun kembali bangkit. Tombak terus beterbangan. Segera menghambur. perangkap telah kami pasang. Inilah buruan kami yang abadi. desing senapan mesin.panah. Kami tak mau kehilangan jejak. yang menyimpan bayangan bulan. setelah bermacam pengalaman perburuan membuat kami jadi pemburu sejati. Setelah berabad-abad kami hidup sebagai pemburu. 1995-1998 (Dongeng Buat Mas Danarto) . mengejar Jibril. kami memburunya.

Pernikahan Angin
Oleh: Dianing Widya Yudhistira

18

Aku di sini. Berada di ketinggian menara. Menikmati senja. Senja kali ini berwajah pucat. Langit diam. Sepi. Melintas di depanku burung gagak bergaun hitam. Menari di depanku. Tarian yang sebelumnya belum pernah aku saksikan. Seperti mengabarkan sesuatu yang ganjil. Angin masih terlalu cinta dengan kehadiranku. Ia sapa aku lembut. Perlahanlahan aku sapu anak rambut yang tergerai di wajahku. Tulus. Gagak itu masih menarikan tarian yang terluka. Entah tentang apa. Ketika senja berangkat ke malam, perlahan-lahan burung Gagak menghentikan tariannya. Menatap padaku. Tatapan matanya yang tajam, seolah-olah menelanjangi batinku. Aku belum tahu apa yang sesungguhnya Gagak sampaikan padaku. Yang aku tahu, malam ini seperti tak punya nafas. Tak ada angin yang meliukkan tubuhnya. Pohon-pohon diam. Tak kudengar desah dedauan. Gunung-gunung membisu. Demikian juga dengan hamparan laut di depanku. Diam. Malam begitu terbungkus kesunyian. Sehelai daun akasia yang menua, melayang di udara. Jatuh. Terkulai di tanah basah. Kesunyian kian lengkap. Aku masih di sini. Di ketinggian menara. Aku terpaku di ujung lengan cakrawala. Perlahan-lahan aku hela nafasku. Menghembuskannya dengan bebatuan. Tak ada yang menemaniku, malam ini. Tak ada yang mengajakku bicara malam ini. Hanya burung Hantu yang mau menampakkan diri. Seperti biasa. Ia adalah kekasihku. Yang selalu bercerita tentang bulan dan bintang. Yang memberi aku kedamaian. Ya. Seekor burung hantu. Menghampiriku. Hanya saja matanya tak bersinar seperti hari-hari kemarin. Mata itu redup. Burung hantu menatapku. Kosong. Sebaid lirik kehilangan aku temukan di sana. “Selamat malam, Dianing.” “Kabut apa yang menodai matamu, hingga ke pendam rasa ngeri.” “Engkau sesungguhnya, Dianing.” Dibentangkannya tanda tanya di hadapanku.

“Di mana Lismatano sekarang Dianing.” Aku tercenung. Ia menyebut nama laki-lakiku. “Pergilah ke hutan Para, Dianing.” Aku menautkan kening. “Kau akan tahu.” Tiba-tiba angin meliukkan tubuhnya dengan gerakan yang dahsyat. Ia memintalku dengan kekuatannya. Dengan cinta ia terbangkan aku ke hutan Para. Sekelilingku gulita. Tak ada cahaya. Tapi, cahaya bulan bugil membantu penglihatanku. Banyak pohon di kanan kiriku. Depan dan belakangku. Masyarakat pohon. Membisu dan gelisah. “Inikah hutan.” “Ya. Hutan Para.” Suara burung hantu. “Apa yang aku tahu.” “Ikuti aku.” Seperti perintahnya, aku ikuti langkah burung hantu. Semakin aku mengikutinya, jalan yang menanjak kian gelap. Gelap dan sangat gulita. Hanya deru nafas yang dahsyat terdengar di telingaku. Deru nafas yang memburu dan aku akrab dengannya. Terpadu dengan deru nafas yang lain. Entah nafas siapa. Aku langkahkan kakiku selangkah. Tiba-tiba di depanku terang benderang. Astaga!! Lismatano, laki-lakiku bergumul dengan tubuh perempuan lain. Gila!!! Seketika itu angin kembali meliukkan tubuhnya dengan dahsyat. Memintaku kembali. Entah dalam waktu seberapa detik menerbangkan aku. Yang jelas kurang dari satu detik aku kembali berada di ketinggian menara. Aku lunglai. Bayangan Lismatano dan perempuan itu terekam jelas di layar komputerku yang paling pertama. Malamku lunglai. Aku tahu burung hantu masih di sampingku. “Untuk apa kau bawa aku.” “Untuk menjelaskan padamu siapa sosok Lismatano.” Aku hanya bisa menelan pil pahit. Menikmati segala luka hati dengan tulus. Lismatano. Laki-laki yang sepenuhnya aku kagumi. Ternyata mampu menikam darahku.

19

“Apakah aku terlambat, Dianing.” “Sama sekali tidak.” “Mengapa batinmu begitu luruh.” “Aku tengah belajar untuk bahagia dan damai dalam sendiri.” Burung hantu tersenyum. Mengepakkan sayapnya di ketinggian menara ini. Selalu ia yang melindungiku. Telah aku putuskan untuk tak merajuk atau menerima Lismatano. Tak kan lagi aku melakukan kesalahan yang sama. Malam telah melengkapkan usianya. Aku pandang wajah bulan. Lewat cahayanya ia mengucapkan salam. Aku dengar bisikan angin. “Selamat malam.” Aku membalasnya dengan menguap. “Selamat malam, Dianing.” Aku tatap burung hantu. Ia membimbingku ke kamar. Menyelimuti aku. “Tidurlah dengan damai.” Aku mengangguk. Aku tahu ia akan menjagaku sepanjang malam. Di ketinggian menara ini. Perlahan-lahan aku terlena. Hembusan semilir angin menerpaku. Sejuk. Perlahan-lahan aku terbawa ke dunia lain. Dunia yang selalu aku impikan. Hamparan luas rumput hijau. Berbagai macam buah lezat dan makanan tersedia di sana. Di hamparan rumput itu mengalir parit. Yang airnya susu dan madu. Di hamparan luas rumput hijau itu, para bidadari tersenyum ramah. “Oh kehidupan yang menyenangkan.” Sejenak kutinggalkan dunia. Aku benar-benar menikmati dunia lain ini. Dalam tidurku, aku kembali terlempar ke dunia. Tapi, seperti ada yang menghalangi nafasku. Aku terengah-engah. Entah siapa. Wajahnya bersih. Ia bersayap dengan baju serba putih. “Aku akan menjemputmu, Dianing.” “Menjemputku!?” “Ya. Ke alam baru. Kehidupan yang sesungguhnya.” Aku tak mengerti.

20

Burung hantu menyentuh bahu kananku. Seolah mencegahku. “Kau tak bisa menghalangiku. Ini perintah Tuhanku. Tuhanmu jua.” “Ia masih terlalu muda.” “Kehendak Tuhan.” Aku lihat mereka berdebat. Mereka asyik dengan argumen-argumen mereka. Sementara aku hanya bisa menikmati perdebatan mereka. Karenanya, burung hantu terkapar. Sayapnya patah. Sosok bersayap itu kembali padaku. Tangannya yang dingin menyentuh kulitku. Entah apa yang ia lakukan. Yang aku tahu, sungguh tubuhku merasakan sakit yang dahsyat. Setiap kali tarikan hebat itu lepas kembali ketika menyentuh di leher. Aku mengerjang, merintih, terpuruk, lelah. Aku lihat burung hantu kembali bangkit. Kali ini tak ia pedulikan sayapnya yang terluka. Ia berusaha mencegah keluarnya rohku dari jazadku. Jadilah jazadku ajang perebutan roh. Sosok bersayap itu menghendaki rohku. Burung hantu ingin rohku tetap menyatu dengan jazad. Mereka tak tahu bagaimana aku menahan sakit. Cukup lama mereka bertarung. Entah berapa waktu. Karena sakit, aku merasakan sangat lama. Kekuasaan Tuhan tak ada yang mampu membendung. Hingga aku benarbenar terlempar ke dunia lain. Roh yang bertahun-tahun menghuni jasadku, kini telah diinginkan pemiliknya. Aku terbang tinggi tanpa tahu di mana akan berhenti. Aku saksikan jasadku dimandikan bunda dan saudara-saudaraku. Beberapa orang yang menyayangiku hadir di kematianku. Mereka mengucap seuntai kalimat duka. Ketika jasadku dishalatkan, aku merasakan kesejukan yang sangat. Tapi, aku merasakan sakit ketika bunda dan saudaraku terisak di makam. Ketika jasadku mulai dimasukkan ke liang, kedua saudaraku pingsan. Duh, jalanku tersandung semak belukar. Perlahan-lahan tanah menimbun Jasadku. Hingga merata dengan tanah. Tertanam sudah jasadku di tanah. Aku melesat ke langit demi langit. Beribu roh berkumpul di alam yang sulit aku uraikan. Berupa-rupa aku temui. Di depanku layar besar mengungkap kembali kisahku di dunia. termasuk kisahku dengan Lismatano. Aku merasakan getar aneh ketika melihat Lismatano. Entah, di alam yang lain ini aku masih mengenang Lismatano. Laki-laki yang pernah berjanji akan menikahiku. Di tengah riuhnya roh-roh yang menuju pengadilan akbar itu, tiba-tiba muncul burung hantu. Ia menuju ke Tuhan. Ia mengadu tentang aku. “Aku ingin Ia diberi keisitimewaan.” “Tentang apa.” Aku menatap burung hantu. “Biarpun Dianing telah kau ambil, berikan ia kesempatan ke dunia.”

21

Aku izinkan ia suatu ketika turun ke dunia. Tersenyum dan memberi salam padaku. Wajah yang cerah itu tiba-tiba luruh. bintang.” “Oh ya. Aku temukan sebaid lirik kehilangan di matanya.” “Bila Tuhan mengizinkan. Ia menembus awan. bulan menuju ke dunia.” Matanya berpendar.” Aku lihat burung hantu terpekur sendiri.” “Ya. Atas izin Tuhanku. “Cukup lama kami menunggu. Bulan bulat penuh. Aku bertemu dengan mega. Seperti berabad-abad lalu. Aku bahagia melihat secercah wajahnya yang ceria.” Kami berpelukan.” “Cepatlah kau temui burung hantu.” “Ya. Aku lihat wajahnya sepi. “Boleh aku tahu dukamu. Ia bugil di malam yang damai itu. Indah sekali. Dianing. Seperti menunggu kedatangan.” Aku terpana.” Burung hantu terbang. “Gerangan siapa membuatmu sepi. Ia menjerit.” “Baik karena cintaku aku merestui Dianing. Lama menunggumu dan juga tengah menunggumu. “Aku tunggu kedatanganmu di dunia. Aku membalasnya dengan anggukan tulus. Dianing. UNTUK pertama kalinya aku turun ke dunia.“Maksudku melihat dunia. Aku lewati langit demi langit.” 22 . Gemerlap bintang menyambutku. Burung hantu mengepakkan sayapnya.” “Tentu. “Dianing.” “Ya. langit cerah. mega.

Telah berpaling dengan perempuan lain.” “Bicaralah.” “Hutan Para!?” “Lismatano ada di sana dengan perempuan itu. Bukankah ia bagian dari hidupmu di dunia.” “Mereka seatap tanpa ikatan..” Burung hantu masih bertengger di pohon randu. Tak sekedar gelap. “Maukah kau ke hutan Para. “Bukankah mereka telah menikah. Lismatano.. Hidup bersama tanpa kata yang jelas. Di 23 . “Dianing.” “Ya. laki-laki yang pernah aku dambakan jadi suamiku.” Aku lunglai. Aku terpana. “Bila kau berkenan. terjal dan mendaki.” Burung hantu menggeleng.” panggil burung hantu lirih.” Aku kembali ke hutan Para. “Kau tahu bukan perbuatan mereka melebihi hubungan suami istri. Tiba-tiba begitu sepi.” Aku luruh.” “Maksudmu.” “Lalu?” “Lismatano memilih jalan buruk.Burung hantu menatapku. Tatapan yang sulit aku urai. “Untuk apa.” Aku tak mengira laki-laki masa laluku memilih hidup yang naif. “Lismatano tak pernah menikahi perempuan itu. Serumah tanpa ikatan sah sebagai suami istri.

Aku yang terpaku. “Yuniz nama perempuan itu. Dan aku kini mulai belajar untuk damai dan bahagia dalam sendiri. Sementara perempuannya berubah binatang. Pergulatan yang dahsyat. Ngeri. Deru nafas memburu.” “Itulah yang pantas mereka terima. . Ya. Tubuhnya berbulu sangat lebat. Lebat dan kotor. Tapi burung hantu segera menerbangkan aku. Perempuan itu berubah binatang yang sangat mengerikan. Dianing. Lismatano telah membatu. Lismatano dan perempuan itu terus bergulat. Lismatano telah membatu dan berlumut. “Mengapa dengan mereka. entahlah mengapa tibatiba aku terpaku di depan mereka. Kini aku hanya bisa merasakan sentuhan angin.” Aku menghela nafas.” Aku menekuri tanah.hutan Para itu aku kembali menyaksikan Lismatano bergulat dengan perempuan yang sama. Ia tak membatu. Ia berubah jadi batu.*** 24 Jakarta. Ia dalam keadaan yang mengerikan ketika membatu. Siap menerkamku. Tiba-tiba. Mulutnya lebar ke arahku.” Aku hanya mengangguk. Saling menumpahkan nafsu. Sebentar lagi aku harus kembali. Merasakan cinta dan kasih sayangnya.. Tubuhnya tumbuh lumut. Tapi. Menikah dengan Lismatano hanya sebuah impian yang abadi. Aku di atas pohon randu. Besar. Aku berada di ketinggian menara. Tubuh Lismatano mengeras. Ya. tetapi tubuhnya berubah. Perempuan itu. Mei 1997. Kini tak bisa bergerak.. Aku terpana. “Bulan pun tak sudi menyaksikan persetubuhan mereka. Ia berkaki empat. Aku tak kuasa melihatnya. Aku tak percaya melihatnya.

Dan tawa itu ternyata telah cukup untuk jawaban. tersenyum lebar sebelum menjawab.” “Apakah Bapak telah siap mengantisipasi segala kemungkinan-kemungkinan buruk? Seperti pemanfaatan pistol untuk penodongan oleh oknum wartawan. berkemeja putih dan bercelana abu-abu itu. Ada yang mengelupaskan bahu. Menghapus peluh pada hidung.. sebagai wartawan. Pejabat yang berdasi kuning..” “Tentu. benar berasal atas usul Bapak?” salah seorang dari kerumunan wartawan menanyai seorang pejabat.. tentu..Horison. Dan berdehem. ternyata Bapak sangat jitu juga dalam membidik sasaran. Februari 2000 Pistol Oleh: Ode Barta Ananda 25 Dor! Tak ada yang terkejut ketikatembakan itu menembus sasaran. untuk mengeluarkan izin penggunaan pistol buat saya. Tapi tidak ada satu pun yang meleset.. *** “Jadi izin yang membolehkan wartawan menggunakan pistol. Dan mudah-mudahan juga bidikan saya kali ini bisa secepatnya membukakan mata Bapak.. “Selain pintar mengejar berita. dor! Dor! Dor! Tembakan yang lain seperti saling susul untuk menembus sasaran. Ada yang menusuk jantung.. asal tahu saja.” Pelatih mengedipkan sebelah mata.. Pak.. “Begitulah. misalnya?” Pejabat tergelak.” “Apakah pejabat yang berkedudukan lebih tinggi juga sudah memberikan izin?” “Secara prinsip sudah. “Mudahmudahan bukan hanya kebetulan. . Aku tak ingin rekan wartawan kembali menjadi korban dalam gejolak suasana yang sedang memanas sekarang ini... Ada yang menembus kepala.. “Bagus!” Instruktur menepuk bahu seorang peserta kursus menembak yang baru saja berhasil menembus jantung sasaran. Mlah.” Wartawan mendengus.

menurut perkiraan dokter. . “Padahal menurut selentingan kabar. “Atau ada oknum-oknum tertentu yang sengaja menangguk di air keruh?” Pejabat mengerutkan kening. “Tak biasanya tembakan kau meleset?” seorang rekan tercengang.” Belum selesai pertanyaan itu. Apa yang telah merusak konsentrasimu?” “Pembayaran pajak pistol ini. memasang wajah serius. “Saya sedang tidak konsentrasi. Lalu mengangguk-angguk.“Tapi. saya harus menggadaikan pistol ini. “Dan sebagian tabungan juga baru saja saya belikan alat perekam baru. Harga pistol yang mahal.. hampir seluruh kawan-kawan sangat menyayangkan biaya latihan menembak yang cukup tinggi. Namun wartawan telah kembali berujar. “Mana yang harus saya jawab lebih dulu?!” dia kesal dan langsung memasuki mobil sambil membanting pintu. Kau sudah lihat kan?” “Wow! Canggih. Waktu angin mencubit kelopak yang akan menghasilkan putik. 26 *** Dor! Tembakan wartawan meleset. sudah ditukas pertanyaan lain. Pembayaran harus lunas tiga hari lagi. sarana latihan dan pistol ternyata disediakan oleh koperasi?” “Mungkinkah koperasi mematok harga setinggi itu?” menyusul tukasan lain. “OK. Ketika sinar matahari seakan berniat mencabik-cabik. Yung! Bentuknya yang unik dan hasil rekamannya bersih sangat seimbang dengan harganya yang mahal.” “Untuk melunasi kreditnya..” Sang rekan hanya bisa kembali mengangguk-angguk sambil berusaha mancari jalan keluar. Saat itulah para pencari berita berhasil mencegat pejabat yang baru saja keluar dari kantornya.” sang rekan merentangkan tangan. istri saya juga akan melahirkan tiga hari yang akan datang..” *** Saat panas menukik terik.” “Kenapa? Memikirkan pekerjaan? Atau gadis simpanan itu?” “Jangan terus bercanda. Bisa-bisa kutembak kau!” dia mendelik sambil pura-pura marah. “Silahkan. Padahal. Dan.

Malah semakin menekan gas mobilnya sambil menginjak rem. ternyata aku masih ketakutan dengan sebuah alat perekam. Dia langsung mengangguk keras-keras. "Setibanya di rumah. semakin tak menentu. Pak?” Pejabat tak mengangguk dan tak juga menggeleng. harga pistol. “Atau izin penggunaan pistol bagi wartawan ini memang untuk mencari untung?” “Jelas tidak!” Pejabat menekan gas lebih keras. yang terlambat datang. “Harus kuakui. Waktu matahari baru saja bersiap menghangatkan bumi. “yang membuat Bapak ketakutan dan tergesa meninggalkan kami kemarin?” Pejabat mengangguk.” Pejabat melambaikan tangan ke arah belakang wartawan. Saat fajar bergerak sembunyi. Melihat para wartawan tidak mengerti. “Apakah Bapak. “Tak enak rasanya. saat itulah wartawan dan pejabat.. tapi belum sempurna anggukannya. Dan menekan gas dalam-dalam.. Perut buncitnya terguncang-guncang menertawakan kebodohannya sendiri. dia beralih membunyikan klakson. kalau tak langsung berhadapan dengan Bapak. untuk minta maaf. saya baru menyadari. akan mengusahakan perbaikan semua masalah itu. Dan darah mempermerah jaketnya yang sudah merah. asyik berbincang-bincang dekat telepon umum. dan biaya administrasi lainnya.” diulurkan tangan untuk berjabat. “Benarkah tidak ada keterlibatan oknum tertentu. Wartawan tergelak. “Jjjangan! Dddia bukan mengancam!” Dor! Sebuah peluru buas langsung menikam punggung wartawan. “Kau kan sudah menelepon tadi malam. *** Ketika embun jantan belum selesai membasuh pagi. Menutup kaca jendela mobil. ternyata alat perekam saya yang mirip pistol ini. yang sengaja mendongkrak segala biaya yang berhubungan dengan pistol? Atau. wartawan telah menukas sambil mengacungkan alat perekam yang benar-benar mirip pistol.” pejabat tergelak juga.*** 27 . Dia tertelungkup. Wajahnya memucat. menyeruak kerumunan.” wartawan mengeluarkan alat perekam itu. sesuai dengan jabatan Bapak?” Pejabat terbelalak. Wartawan pemilik alat perekam baru yang berbentuk unik.“Kelihatannya biaya latihan. dan memberikan pertanyaan sambil menodongkan alat perekam.. nilai pajak. Kenapa sekarang masih mengganggu lari pagiku?” Pejabat tersenyum sambil meninju perut wartawan dengan akrab.

Ajakan untuk berdamai dan bersatu melawan musuh dari luar angkasa itu sangat menarik. saya tidak melihatnya dari sisi itu. lagi-lagi propaganda Amerika. terlihat gairahnya kalau diajak berpikir serius. kita masuk pub dulu!” ajak Bima. dan Punakawan itu merasa dirinya masing-masing kembali menjadi remaja. Prabu Kresna masih mengumpat-ngumpat kepada para Punakawan. “Belum begitu laper gua ini. dari Jupiter misalnya?” balas Astrajingga. Bahkan Arjuna kembali menjadi ABG. tidak terpengaruh oleh hiruk-pikuk ABG yang modernis itu. “Dalam dunia pewayangan. Gerombolan Pandawa berbelok ke arah Kentucky Fried Chicken. BM dong!” balas Kresna. gerombolan Pandawa. Dikenakannya syal berwarna merah dan kacamata hitam. mo nraktir ceritanya?” hampir berbarengan Nakula dan Sadewa bertanya kepada rombongan. “Apa kita hanya akan menampilkan kabaret saja untuk perayaan negara. Tiba-tiba beberapa orang merasa lapar dan menuduh Prabu Kresna yang mengajak mereka berbelok ke arah Kentucky.” sahut Kresna.” Sesaat hening. Apa sih maunya Amerika? Dasar Yahudi!” “Tapi Prabu. “Kramotak. Apa salahnya kita ajak Dursasana untuk bersatu melawan musuh dari laur angkasa. “Sambil makan malam. Malah utusan dari Astina akan menampilkan operet Maria Cinta . tiba-tiba Kresna. Melewati Alun-alun Bandung.Teater Dewala Oleh: Doddi Achmad Fawdzy 28 Sepuluh menit sehabis menyaksikan Indepedence Day. Nakula dan Sadewa tiba-tiba berlagak sebagai penyanyi rap yang sladak-sluduk itu. “Siape ni nyang ngulang tahun. “Sebel gua. tak ada makhluk luar angkasa selain para dewa. Astrajingga dan Gareng ikut berlenggak-lenggok sebagai penari latar sekaligus menjadi Backing vokal. mereka sponsor kita kok. kita perlu merundingkan kembali materi untuk peringatan hari kemerdekaan negeri kita. Aku tiba-tiba tergagasi oleh film tadi. “Bukan mau nraktir. “Maksud Prabu?” Yudistira yang dari tadi miring saja. begitu ngepop. kramotak!” Hanya Dewala yang bisa mengontrol diri dan tampak kalem. Kan kemarin kita terima faksimil dari seluruh propinsi bahwa mereka tidak akan menampilkan kesenian daerahnya masing-masing. Dewa jangan diberontak.

Kurawa telah terlalu curang dan tidak bisa dibiarkan. Rusak!” “Inilah salahnya Prabu. Nakula dan Sadewa ikut naik pitam. “Misi ujicoba kita gagal.” Semar mengingatkan. Rupanya dia dan pemilik rumah makan itu bersekongkol sebagai agen mata-mata Astina. Kita bisa menyusupkan orang-orang kita untuk menyelidiki lebih jauh rencana-rencana Pandawa dalam Barata Yudha nanti. Mereka mendengar laporan bahwa Challenger meledak dan Chernobil bocor. “Tidak. Seperti biasa. Tak ada kesenian dalam merebut kemenangan. Seorang anak kecil yang biasa mengemis atas suruhan Kurawa. Mungkin bisa jadi kesenian sebagai alternatif untuk mencapai perdamaian. Tapi Yudistira cepat berpikir dan berlaku bijak. “Kukira tidak mesti seperti itu. Dewata telah memutuskannya. Kukira ini usulan yang baik dan kita harus menyambutnya.” demikian Kombayana punya usul. Perdamaian hanya menghambat rencana Dewata. apa tidak membingungkan pikiranku melihat realitas apresiasi masyarakat sudah turun seperti itu? Rusak Re. Para pengunjung tanpa disuruh segera meninggalkan makanannya. Acara untuk menyambut hari ulang tahun kemerdekaan negara akan dipikirkan. “Jangan sok tahu Kau.” Dibentak seperti itu. bahkan Semar menjewer kupingnya. Gareng kebagian memesan hidangan. Ia membubarkan rapat dan memohon Prabu Kresna dan Wak Semar menyabarkan yang lain. Urusanmu mengelola satpam dan tukang parkir. Punakawan yang lain menyikutnya.” Arjuna bersungut-sungut. suasana rapat menjadi lebih kacau. “Jadi mereka akan mengundang kita untuk menyelenggarakan acara kesenian yang akan melibatkan personal dari berbagai negara. Perang dan kekerasan adalah dua jalan yang bersatu menjadi satu arah untuk mencapai kemenangan. Bima menggebrak meja. Dewala mengambil sikap diam seribu bahasa. kita sekarang terlalu berjarak dengan wong cilik.” “Ini kehendak Dewata. segera bersembunyi ke belakang dan memijit remot recorder. misi perdamaian lewat kesenian dalam perayaan ulang tahun negara seperti yang diusulkan Dewala hanya omong kosong. Tangannya masih menggenggam paha ayam. 29 . Mungkin kita terlalu serakah dan ceroboh. Mereka ketakutan dan terbirit-birit keluar setelah membayar makanan. Takdir kita untuk menerima kekalahan.” Dewala mencoba menjelaskan. Apa pun yang kita rencanakan.” Bisma mengingatkan. Barata Yudha adalah sebuah takdir yang mesti kita terima. Karena itu. Semar hanya gigit jari ketika Gatotkaca melaporkan kejadian sesungguhnya. Hasil pembicaraan pemerintah Amarta malam itu sampai ke telinga Patih Sengkuni dan Resi Kombayana. Bima meraung-raung.yang Hilang. Tiba-tiba rapat di pihak Pandawa menjadi kacau balau. Sementara kerusakan teknologi akan diserahkan kepada Batara Guru.

Dengan dibahagiakan. bahwa mereka saling menghargai pendapat dan karya seniman lain. Kita tahu bahwa Pandawa kalah taruhan. tapi tidak ada sponsor sampai saat ini. Sekarang berteater tidak bisa lagi diberangkatkan dari apa adanya. Ini menjadi pelajaran juga bagi kita selaku pemegang pemerintahan untuk tidak terbawa oleh arus dan rayuan gombal musuh. dalam akhir cerita. soalnya seniman di negeri kita sendiri tengah gontok-gontokan.” “Itu wajar karena mereka punya ideologi. Syukurlah kalau Prabu Yudis mau sponsori obsesi saya.” “Tapi saat ini saya ragu. Dipanggilnya Dewala saat itu juga. dari kopi dan dari rokok. Dengan demikian. Kalau sudah seperti itu. insya Allah deh mereka tidak akan terlalu brutal dan mau menerima putusan Dewata dengan dada yang lapang. Eu begini Prabu. Kita harus mengalah dan membahagiakan saudara-saudara kita yang memilih jalur menjadi lawan. Tetapi kita juga tahu. pokoknya naskah karya siapa pun tak menjadi masalah. Sebenarnya waktu Pandawa mau diajak main dadu.” “Tapi apa justru tidak akan membuat semakin pongah?” “Sebenarnya ini tergantung dari sumber daya manusianya sendiri.Berhari-hari Yudistira menghadapi komputer dan mencerna John Naisbitt tentang Kebangkitan Asia. mereka tidak tahu bahwa mereka akan dicurangi oleh Paman Sengkuni. saya akan membalikkan fakta. silaturahmi antarseniman pun terbina. “Saya punya obsesi dari dulu untuk menggelar naskah Pandawa Adu Dadu.” “Apa itu?” “Ada saja. Diam-diam ia tertarik dengan usulan Dewala. itu sebabnya bahagiakanlah mereka dari sekarang. tetapi yang bisa membawa pada aufklarung dan bertemakan perdamaian dunia. ia lebih suka berhadapan dengan komputer dan internet. ia biasanya merasa bisa berpikir lebih tepat.” “Bagi saya. selain nanti para pembesar dari berbagai negara diundang. kalau memang bakatnya membelot ya membelotlah. Prabu. Cerita kekalahan ini akan sangat menyenangkan bagi Suyudana dan kawan-kawan. Kebiasaannya bersemedi ditinggalkan. Tapi jalan keluar untuk damai belum juga didapatnya. Pokoknya rahasia.” *** 30 . segala benda serba diuangkan. Konon katanya menurut mitos. Akan tetapi kita mesti terus berusaha dengan cara mengingatkan kembali diri kita masing-masing pada sejarah. Keningnya semakin mengerut seperti kening Einstein. sekarang rakyat sudah menjadi materialis. seniman adalah pintu terakhir yang akan menjaga persaudaraan dan kebersamaan. Berhari-hari pula ia menjauhkan diri dari ranjang Drupadi. Pokoknya semua serba menyenangkan tamu undangan. Saya punya teknik.” jelas Yudistira. Nanti Prabu tidak merasa surprise lagi kalau saya beritahu dari sekarang. Dulu bambu bisa menebang milik siapa saja. “Justru naskah ini tepat sekali. juga para teaterwannya diajak untuk ikut bermain dalam pementasan ini. mengapa? karena kita tahu bahwa di Barata Yudha nanti mereka akan kalah. Kita mengalah untuk menang.

Singkat cerita, Dewala menjadi sutradara. Astrajingga mau menjadi Dursasana karena dibohongi oleh Dewala. Kabarnya yang akan menjadi Drupadi adalah istrinya Arjuna. Tapi setelah mendekati pementasan, casting itu diganti oleh Aswatama yang baru pulang studi komperatif tentang antropologi dari Amerika. Para seniman raksasa dari Astina menjadi Pandawa sedangkan para seniman dari Amarta menjadi Kurawa dalam casting ini. Dadu dilempar. Untuk lemparan pertama Kurawa kalah. Sengkuni tertawa, “mereka tertipu,” bisiknya. Para tamu undangan dari Astina terutama yang tidak pernah membaca karya sastra dan membaca sejarah wayang, tampak tegang. Sedang tamu undangan dari fihak Amarta bangga karena Pandawa menang dalam lemparan pertama itu. Begitu lemparan kedua dan selanjutnya, raut muka kedua belah pihak berubah. Pandita Durna dan Sengkuni menampakkan senyum kemenangan sambil melirik Yudistira yang tercenung mengerutkan dahi. Pada lemparan ke-sepuluh Amarta harus menyerahan negara sebagai taruhannya, dan kalah. “Mustahil,” gumam Arjuna. Pada lemparan terakhir, bila Pandawa kalah lagi mereka harus menyerahkan Drupadi sebagai taruhannya. Tentu saja Drupadi keberatan, tapi tak ada lagi benda yang bisa dipertaruhkan oleh Pandawa. Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa, dan seluruh kekayaan telah amblas ke tangan Kurawa. Bagi Dursasana yang belum beristri, justru taruhan yang paling berarti adalah Drupadi. Untuk apa para kesatria Pandawa itu, untuk apa kerajaan Amarta toh ia sudah bertahta di singgasana Astina. Ternyata Drupadi harus direlakan kepada Kurawa. Drupadi sesungguhnya tak percaya dengan kekalahan taruhan dadu ini, tetapi ia bahagia karena ini bisa menjadi kesempatan baginya untuk nyeleweng meskipun hanya dalam dongengan. Drupadi ingin tahu sehebat apa kejantanan Dursasana yang tergila-gila olehnya. Yudistira menunduk dan memejamkan mata ketika satu persatu pakaian Drupadi ditanggalkan oleh Dursasana. Brahmana dan seluruh Ksatria Pandawa telah disekap dalam penjara sebagai tawanan taruhan. Di luar plot cerita yang sesungguhnya, ternyata Drupadi bisa ditelanjangi oleh Dursasana yang diperankan oleh Astrajingga. Pada mulanya Astrajingga dengan penuh semangat menelanjangi Drupadi. Tetapi kemudian menjerit dan melompat dari panggung saat harus memperkosanya, karena yang memerankan Drupadi adalah Aswatama. Aswatama, keturunan homoseks itu mengejar-ngejar Astrajingga, “Please, touch me! Touch me!” Kejar-kejaran terjadi, membuat para penonton naik pitam. Resi Kombayana yang merasa ditelanjangi tentu saja marah tapi Bima tak kalah gertak. “Ternyata Aswatama itu seorang homoseks, Para Penonton.” Tiba-tiba Gareng menjelaskan lewat mikropon. Kurawa merasa tertipu dan dihina habis-habisan. Bodyguard dan pelindung Dursasana langsung memberondongkan peluru. Gatotkaca melesat ke angkasa, dilemparkannya senjata kimia. Antareja yang tidak mau menjilat jejak sendiri, melesatkan senjata laser dari jilatan lidahnya. Tapi justru tentara Pandawa yang mampus, sedang tentara Kurawa menjadi kebal.

31

Barata Yudha meledak dengan diawali adu panco antara Bima dengan Puntadewa. Sampai saat ini belum ada yang kalah. ***

32

Ondol
Oleh: A. Hidayat

33
Setelah begitu saja hilang selama enam bulan lebih, Ondol ditemukan mati di tepi kali. Mayatnya terapung tak tertutup selembar kain pun kecuali cawatnya yang putih kelabu dan tampak bolong-bolong. Beberapa bagian tubuhnya menunjukkan bahwa sebelum mati Ondol pernah mengalami penganiayaan. Jari-jari tangannya remuk bekas godaman batu. Sedangkan luka di dadanya hampir memperlihatkan beberapa buah tulang rusuknya. Ketika pertama kali ditemukan, Ondol yang mati di tepi kali itu tidak dikenali sebagai Ondol. Wajahnya hampir-hampir dapat dikatakan hancur remuk. Beberapa luka yang cukup dalam menggaris di pipi, di dahi dan di belakang tulang rahangnya. Sebelah telinganya juga hampir-hampir putus. Dan matanya seolah tidak nampak karena tertutup oleh sekelilingnya yang tembam dan kebiruan. Hilangnya Ondol yang misterius, kemudian kematiannya yang tidak lazim itu menimbulkan kecurigaan kerabat dan penduduk sedesa. Beberapa bulan sebelum tiba-tiba saja hilang, Ondol selalu diawasi beberapa orang yang entah dari mana. Kini Ondol ditemukan tewas dalam keadaan mengerikan. Pasti ada apa-apa di balik kehilangannya yang misterius dan kematiannya yang mengenaskan itu.

*** Setelah mayat Ondol diangkat dari kali dan kemudian diurus sebagaimana kebiasaan di desa, beberapa orang penduduk desa berangkat ke kota kecamatan untuk melaporkan peristiwa itu. Sementara mayat Ondol dimakamkan di bawah langit yang mulai teduh oleh warna senja, lima orang yang melapor itu tiba di kota kecamatan. Mula-mula mereka mendatangi kantor kecamatan, tetapi kantor itu tutup dan tak ada seorang pun yang berjaga di sana. Mereka kemudian menuju ke kantor yang berwajib di kecamatan. Namun, tanpa alasan apa pun, petugas piket di sana tidak mau melayani mereka. Petugas piket itu hanya memberi mereka sebuah surat pengantar yang harus mereka bayar seharga dua bungkus Dji Sam Soe. “Langsung saja ke kantor yang berwajib di kabupaten, ya!” katanya. Orang-orang yang melapor itu bergegas ke kota kabupaten.

Ruang penjagaan kantor yang berwajib di kota kabupaten itu kosong. Dengan ragu orang-orang yang melapor duduk di bangku yang ada. Beberapa lama kemudian, seseorang yang bersandal jepit keluar bersama seseorang yang berpeci. Di ambang pintu yang berpeci menyerahkan sebuah amplop kepada yang bersandal jepit. “Kalau kena tilang lagi, temui saya saja di sini. Pasti beres,” kata yang bersandal jepit sambil mengantar yang berpeci. Yang berpeci lantas pergi dengan mobil mengkilap yang terparkir di halaman. Yang bersandal jepit kemudian masuk dan duduk menghadapi orang-orang yang melapor. Orang-orang yang melapor serempak berdiri dan bersalaman dengan yang bersandal jepit, lalu duduk lagi. “Saudara-saudara juga kena tilang?” tanya yang bersandal jepit. “Oho, tidak Pak. Kami ke sini mau melapor,” kata salah seorang, mewakili yang lainnya. “Begini, Pak. Di tepi kali desa kami, tadi siang ditemukan seorang warga kami yang sudah tidak bernyawa. Ondol, Pak. Setelah hilang enam bulan lebih, Ondol ditemukan mati di tepi kali. Mayatnya terapung tak tertutup selembar kain pun kecuali cawatnya yang putih kelabu dan tampak bolong-bolong. Beberapa bagian tubuhnya menunjukkan bahwa sebelum mati Ondol pernah mengalami penganiayaan. Jari-jari tangannya remuk bekas godaman batu. Sedangkan luka di dadanya hampir memperlihatkan beberapa buah tulang rusuknya.” Yang bersandal jepit batuk-batuk kecil. “Nah, begitu Pak. Ketika pertama kali ditemukan, Ondol yang mati di tepi kali itu tidak dikenali sebagai Ondol. Wajahnya hampir-hampir dapat dikatakan hancur remuk. Beberapa luka yang cukup dalam menggaris di pipi, di dahi dan di belakang tulang rahangnya. Sebelah telinganya juga hampir-hampir putus. Dan matanya seolah tidak nampak karena tertutup oleh sekelilingnya yang tembam dan kebiruan.” Yang bersandal jepit batuk-batuk agak keras. “Hilangnya Ondol yang misterius, kemudian kematiannya yang tidak lazim itu menimbulkan kecurigaan kerabat dan penduduk sedesa. Beberapa bulan sebelum tiba-tiba saja hilang, Ondol selalu diawasi beberapa orang yang entah dari mana. Kini Ondol ditemukan tewas dalam keadaan mengerikan. Pasti ada apa-apa di balik kehilangannya yang misterius dan kematiannya yang mengenaskan itu....” “Sebentar, sebentar,” yang bersandal jepit memotong. “Sorri ya Pak, saya bukan yang menangani urusan kriminal macam itu. Urusan yang saya layani adalah soal tilang, tilang, tilang. Kalau bapak-bapak kena tilang hubungi saya. Tunggu yach, sebentar lagi.” Yang melapor hanya melongo. Untuk mengurangi rasa kesalnya, yang melapor kemudian mengeluarkan dua bungkus rokok. Dibukanya sebungkus, diambilnya sebatang dan dihisapnya dalam-dalam kemudian diedarkannya ke teman-temannya. Yang sebungkus lainnya disimpannya lebih dulu di hadapan yang bersandal jepit. “Nah, itu dia orangnya, Pak.” Kata yang bersandal jepit ketika dua orang temannya, yang berkumis dan yang berkaos oblong, muncul.

34

urusan kriminal itu banyak macamnya. Tunggu yeah. Ondol ditemukan mati di tepi kali.” 35 . Beberapa luka yang cukup dalam menggaris di pipi.” Yang berkumis batuk-batuk kecil. Nah. “Iya. Wajahnya hampir-hampir dapat dikatakan hancur remuk. Ondol. Begini. He he he. Pak.” kata yang berkumis kepada orang-orang yang melapor. “Nah. Asap rokok memenuhi ruangan yang tidak terlalu luas itu.“Hei. Ayo sekarang lapor sama dia. dia lagi mandi dulu.” Yang bersandal jepit batuk-batuk agak keras. Pak. berdiri dan mondar-mandir.” yang berkumis memotong.. “Nah. Ketika pertama kali ditemukan. Di tepi kali di desa kami. Kalau yang menangani urusan bunuh-membunuh.. Beberapa bagian tubuhnya menunjukkan bahwa sebelum mati Ondol pernah mengalami penganiayaan. Beberapa bulan sebelum tiba-tiba saja hilang. hubungi saya yeah. di dahi dan di belakang tulang rahangnya. nih ada laporan kriminil. yang berkaos oblong tadi. kalian dengar.” Orang-orang yang melapor kembali menyulut rokok. begitu Pak. Pasti ada apa-apa di balik kehilangannya yang misterius dan kematiannya yang mengenaskan itu. sorri yeah.” “Sebentar. “Terima kasih. Salah seorang yang melapor segera menyimpan lagi sebungkus rokok di hadapan yang berkumis. Urusan saya adalah perkara kriminal yang berkaitan dengan narkotika dan perkara kenakalan remaja. sebentar. kemudian kematiannya yang tidak lazim itu menimbulkan kecurigaan kerabat dan penduduk sedesa. Kini Ondol ditemukan tewas dalam keadaan mengerikan. Kalau kalian punya narkotika. Yang bersandal jepit dan yang berkumis menemani mereka merokok. duduk sebentar dan kemudian berdiri mondar-mandir lagi.. “Hilangnya Ondol yang misterius. Orang yang berkaos oblong datang sambil merapikan rambutnya. Sedangkan luka di dadanya hampir memperlihatkan beberapa buah tulang rusuknya. Sebelah telinganya juga hampir-hampir putus. sorri. Setelah hilang enam bulan lebih. Dan matanya seolah tidak nampak karena tertutup oleh sekelilingnya yang tembam dan kebiruan. Begini. tadi siang ditemukan seorang warga kami yang sudah tidak bernyawa. Jari-jari tangannya remuk bekas godaman batu. Pak.” yang bersandal jepit setengah berteriak kepada keduanya. Ondol selalu diawasi beberapa orang yang entah dari mana. Urusan bunuh-membunuh bukan bagian saya. Mulutnya bersiul sumbang entah lagu apa. Mayatnya terapung tak tertutup selembar kain pun kecuali cawatnya yang putih kelabu dan tampak bolong-bolong. “Sorri. sedang yang berkaos oblong langsung masuk ke ruang lain. “Kalian akan melapor kejadian kriminal?” kata yang berkumis. Pak. Ondol yang mati di tepi kali itu tidak dikenali sebagai Ondol. ini dia selesai mandi.

“Wah. Jari-jari tangannya remuk bekas godaman batu. “Nah. Ya. dengan menyerahkan berita acara kematian itu. bunyinya kembali mengagetkan yang melapor. Pak. apalagi ini adalah laporan kriminal yang berkaitan dengan pembunuhan. ayo mulai.” Yang bersandal jepit bersin lagi.. Ketika pertama kali ditemukan. “Iya. Harus ada berita acara tertulis. Pak. mesti dilaporkan secara ter-tu-lis. Ondol.” perintah yang berkaos oblong sambil segera menyulut rokok. Apalagi kalian cuma warga desa biasa! Sebuah laporan. Ondol. Beberapa luka yang cukup mendalam menggaris di pipi. Pak?” “Tentu saja tidak. ya. begitu Pak.. Di tepi kali di desa kami. kami tidak membawanya. Bagaimana. Wajahnya hampir-hampir dapat dikatakan hancur remuk. “Ya. Mayatnya terapung tak tertutup selembar kain pun kecuali cawatnya yang putih kelabu dan tampak bolong-bolong. “laporan kriminalitas?” “Iya.” Salah seorang yang melapor dengan tergopoh menyodorkan sebungkus rokok kepada yang berkaos oblong.. tadi siang ditemukan seorang warga kami yang sudah tidak bernyawa. Dan matanya seolah tidak nampak karena tertutup oleh sekelilingnya yang tembam dan kebiruan. Sebelah telinganya juga hampir-hampir putus.” “Baik. Apakah tidak cukup dengan laporan lisan saya tadi.” Yang bersandal jepit bersin.” yang berkaos hampir-hampir membungkam mulut yang melapor dengan tangannya. ya. Ondol ditemukan mati di tepi kali.“Nanti dulu. Kini Ondol ditemukan tewas dalam keadaan mengerikan. Masa aparat desa tidak pernah mengumumkan peraturan ini!” 36 . Pak.. Pak. bunyinya mengagetkan yang melapor. Pasti ada apa-apa di balik kehilangannya yang misterius dan kematiannya yang mengenaskan itu. kemudian kematiannya yang tidak lazim itu menimbulkan kecurigaan kerabat dan penduduk sedesa. “Hilangnya Ondol yang misterius. ya. Pak. Setelah hilang enam bulan lebih. Ondol yang mati di tepi kali itu tidak dikenali sebagai Ondol. telah saya dengarkan. di dahi dan di belakang tulang rahangnya. selalu diawasi beberapa orang yang entah dari mana. Beberapa bulan sebelum tiba-tiba saja hilang. Beberapa bagian tubuhnya menunjukkan bahwa sebelum mati Ondol pernah mengalami penganiayaan. “Begini. walaupun yang menyampaikannya gubernur bahkan menteri sekalipun.” “Urusan bunuh-membunuh?” Mata yang berkaos oblong melirik ke bungkusan rokok di hadapan yang berkumis. Laporan lisan saja tidak cukup. “apa kalian bawa berita acara kematiannya?” Orang-orang yang melapor kaget dan bingung. Sedangkan luka di dadanya hampir memperlihatkan beberapa buah tulang rusuknya.” kata yang berkaos.

tak akan ada yang berani mendaftarkan diri menjadi calon kepala desa.Yang berkaos oblong memandang tajam kepada orang-orang yang melapor. “Kalau soal ini dibiarkan. Dengan demikian tidak perlu ditanggapi. “Nah. ya hanya bisa dianggap sebagai kebohongan. Ketua RW beserta ibu. “Menurut yang berwajib juga ini sebuah peristiwa kriminal yang perlu diusut tuntas. nih. Camat juga beserta ibu. Ondol mati tidak lazim dan keadaannya begitu mengerikan setelah setengah tahun lebih hilang secara misterius.. Kepala Kepolisian beserta ibu. Berdasarkan peraturan nomor 12345/6/78. berita acara itu sekurang-kurangnya ditandatangani oleh lima orang yang melapor serta diketahui oleh ketua RT beserta ibu.” kata salah seorang. Pak?” “Menurut peraturan nomor 23456/7/89. keterangan kelakuan baik sepanjang hayat. Kebetulan ada perempuan montok di ruang tahanan. Itu pun kalau perkara ini ingin diusut tuntas. keterangan tidak pernah menentang dan menghina pemerintah. orang-orang yang melapor menceritakan apa yang harus dilakukan agar peristiwa hilang serta tewasnya Ondol bisa diusut tuntas. Sebuah is-syu maksimal hanya bisa didengarkan atau dalam istilah yang lazim di sini: di-tam-pung. Pasti ini ada hubungannya dengan keinginan Ondol untuk memimpin dan memajukan desa ini. dan akan lebih kuat lagi jika diketahui oleh Bupati beserta ibu. Nah. Orangorang yang melapor menunduk semua. Wajar dong kalau seminggu sekali kami juga menikmati kencan gratis di malam panjang. sebentar lagi kantor yang berwajib ini akan tutup. Beberapa orang kerabat Ondol menyatakan bahwa kematian Ondol barangkali sudah merupakan takdir dan tak perlu diusut sebab-sebabnya. “Ingat.. Dilengkapi pula dengan denah lokasi kematian. pasti dia kesepian.” “Betul. jika tidak ada berita acara tertulis hitam di atas putih. orang yang kita harapkan suatu saat bisa memimpin desa ini. itu namanya baru disebut issyu. he he he. visum dokter. Padahal pemilihan tinggal setahun lagi.” Yang berkaos menyerahkan selembar kertas. ya tass. tidak pernah terlibat penganiayaan petugas keamanan. Dibuat di atas kertas segel rangkap sepuluh.” “Caranya bagaimana. kejadian ini menimpa Ondol yang cerdas dan berpendidikan. kan?” 37 *** Di hadapan keluarga dan kerabat Ondol. . Tingkat kebenarannya masih dalam tarap diragukan dan belum bisa dipercaya sedikit pun. Lalu dikukuhkan oleh seorang notaris dan didaftarkan di pengadilan. Dan yang lebih penting lagi. Apalagi tanpa bukti. “Kalau soal segawat ini hanya disampaikan secara lisan. Bagaimana kalau semua orang yang punya keinginan untuk maju hilang dan terbunuh begitu saja?” tanya salah seorang. dan syarat lain yang tercantum di sini. sebuah is-syu harus diperlakukan sebagai is-syu. sodara-sodara. Ada bukti pun. karena itu saya minta berita acara daripada kematian yang diissyukan tadi. Tetapi orang-orang yang melapor meyakinkan mereka akan pentingnya pengusutan kematian Ondol. karena sekarang malam Minggu. Kepala Desa beserta ibu.

berbaik hati mengurus berita acara kematian Ondol. kami juga masih repot dengan perkara kematian si Udin brengsek setahun yang lalu itu. dan itu menjadi pro dan kontra bagi masyarakat desa. sebuah peristiwa kriminal pembunuhan dengan lokasi kematian di tepi kali hanya dapat diusut tuntas bila berita acara kematiannya masuk kepada yang berwajib tidak lebih dari sebulan. lebih baik kematian e. Jaman sekarang kita harus berpacu dengan waktu! Ya. Pak.Saya juga telah diminta masyarakat banyak untuk mencalonkan diri. Sesuai dengan petunjuk Bapak. Namun pembuatan berita acara itu memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit. “Sekali lagi. siapa namanya itu. berkas lengkap berita acaranya juga sudah kami terima." yang berkaos menunjuk setumpuk tebal kertas di atas meja. “Begini. Kalau kemarin datang ke sini.” Yang berkaos oblong mengerutkan dahi. Selain harus mengusut perkara minggu lalu. Pada hari itu juga.” kata salah seorang. Sebuah kejadian serupa yang terjadi minggu lalu harus segera kami usut dan memerlukan penanganan yang tidak main-main. ya! OK?” Dengan langkah gontai mereka pamit dan pulang dengan seberkas tebal berita acara kematian. kalian lupakan saja. Kami lagi sibuk.. lupakan saja kematian si Podol itu. Menurut salah seorang kerabat Ondol.” Akhirnya semua kerabat Ondol menyepakati dilakukannya pengusutan. atas nama hukum. “kami semua mengharapkan kematian Ondol akan segera diusut tuntas setuntas-tuntasnya. pengusutan perlu dilakukan. yang menyatakan dirinya diminta untuk mencalonkan diri menjadi kepala desa. Mereka diterima oleh orang yang dulu mereka temui. bisa saya terima. supersibuk. Baru sebulan lewat satu hari berita acara itu bisa didaftarkan di pengadilan. Bukan kami tidak ingin mengusut. lebih kurang satu juta habis digunakan untuk berita acara itu. sekarang kami serahkan berita acara kematian Ondol. Untuk mendapatkan visum dokter. ini sudah menyangkut perkara sub-ver-sif. tentu berita acara kematian ini. “Jadi. Kerabat Ondol juga harus berpatungan menyiapkan sejumlah amplop untuk orang-orang yang menandatangani berita acara itu. dengan semangat 45. Lihat. ini bukan lagi soal kriminal biasa? Yang berwajib saja mengatakan. Kemarin! Mestinya kemarin ke sini. tetapi saya tidak berani kalau risikonya harus seperti Ondol. 38 . Menurut peraturan nomor 34567/8/90. tidak disiplin dengan waktu.” Orang-orang yang melapor tersentak dan termangu. kami tidak punya waktu banyak. Karena itu.. ya sayang sekali. “Aduh. tetapi kalian yang teledor. kenapa baru menyerahkan berita acara sekarang? Sayang sekali. “Sekarang kami tidak punya banyak waktu. Salah seorang. mayat yang telah dikubur digali kembali. Jelas bukan. Orang-orang yang melapor tak bisa berkata-kata. orang-orang yang melapor kembali datang ke kantor yang berwajib di kabupaten." kata yang berkaos setengah marah-marah.

Mereka membeli beberapa buah goreng pisang dan goreng ketan.Dalam terik matahari yang membakar tubuh. melayang-layang dan jatuh ke tengah dan tepi jalan. Karena plastik pembungkus di warung itu habis. sebagian lainnya hanyut di selokan. Kertas-kertas warna-warni berhamburan. Beberapa bungkus nasi rames mereka makan untuk menghilangkan lapar. Sebagian kertas yang lain mereka lemparkan ke udara. mereka melangkah menuju sebuah warung kecil. ke halaman-halaman di rumah pinggir jalan. Beberapa anak kecil memungut kertas-kertas itu untuk dibuat mainan kapal-kapalan. mereka membungkus gorengan itu dengan kertas-kertas segel berita acara kematian Ondol.*** 39 .

Aku hampir saja melompat kegirangan saat tahu kalau dia benar-benar Nuh. Dia tersenyum lagi. Barangkali dia tidak tahu bahasaku yang berasal dari Indonesia. Aku jadi teringat cerita bapakku tentang laki-laki yang tidak disetiai istrinya di atas kapal kayu besar. Ataukah senyumnya itu yang menawarkan jalinan komunikasi yang harus diresapkan maknanya dalam hati? Anehnya dia tahu kalau aku sedang menerka-nerka. Bisukah? Tanyaku dalam hati. bahasa yang sangat asing ditelinganya. "Tapi aku takkan bisa menolong kalian. Di atas batu pualam hitam begitu tegar dia berdiri. Tapi dia memandangku terus dan tersenyum mengejek. kali ini lebih lebar. di bawah angin besar membadai dan guyuran hujan menabrak-nabrak tap kapalnya. Maret 2000 Nuh Oleh: Isworo Haris Sunardi 40 "Nuuuh …! Kaukah itu? Yang berlayar dengan sabar mengarungi lautan tiada berpantai?" tanyaku ketika melintas sesosok wajah di depan mataku. Kulihat di sekelilingku. Kuusap-usap dengan keras dan kuucek-ucek kelopak di bawah alis ini." "Kalian?" aku heran. tapi (anehnya) warnanya hitam mengkilap. "Benarkah? Benarkah kau Nuh seperti yang aku angankan?" "Ya. Oh! Hidungku mengendus wewangian hingga meranggas mengalir dalam rongga dada. "Ya. tapi yang kutemui hanya diriku sendiri. Lelah rasanya aku memanggil. tapi wajah itu terus saja berdiri tenang menatapku. Wajah putih berjenggot panjang itu masih menampakkan guratan ketegaran di pipinya." jawabnya tenang. Akulah Nuh! Nuh yang diceritakan oleh bapak-bapak kamu. . Tongkat penyangganya menebar harum bau cendana." dia mengangguk. tapi rasa ingin tahuku menggebu mengelucak di gejolak kalbu menoreh-noreh dinding hati yang keheranan. Mengapa tidak menjawab? Bisikku dalam hati. "Kaukah itu? Tanyaku sekali lagi. "Kaukah itu? Jawablah!" Lelaki itu tetap diam.Horison.

Kalian! Kau dan rakyatmu yang lupa akan hidup dan perjalanannya. Tapi lama-lama setelah aku tua dan mulai banyak lupa. Akhirnya sampai juga aku menguasainya. Ada guratan gelombang di keningnya. juga familiku. Aku berlayar di lautan tiada berpantai itu. 41 . Nuh? Aku mohon?" Kabut hitam menggumpal di wajah tua itu. Aku rindu harapan. Saat kuketahui mereka curang dan membahayakan. dengan tanah-tanah yang kubangun rumah. Kubabat tanpa sisa. Lagi pula lautan yang kau renangi adalah lautan waktu yang berisi ketololan dan keteledoran. Bukan untuk kalian. tidak …tidak! Aku tak bisa menasihatimu." katanya menggeleng. Beda sekali dengan lautan yang aku layari. "Kenapa?" "Kronologi perjalanannya berbeda. Kau lupa pada orang yang suka memuja hingga kau turuti kemauan mereka. Akhirnya aku harus memilih jalan. Karena lamanya aku membuat kapal. Aku sering mendiamkan atau mendamaikan. Mereka ingin menelusur pada masa lalu dengan menerapkan di masa sekarang. Tugasku telah selesai dan tinggal santai. Habis itu kubiarkan berbuat apa saja. juga kuda-kuda liar yang bisa kutundukkan. Alis putihnya mengumpul. Aku terjungkal dalam kesendirian di lembah papa. aku jadi kebal. kadang rumah yang berlebihan. Jembatan waktu yang kau tuju. Istriku sendiri yang mengajari. Kucari-cari bayanganku dengan harapan-harapan sambil meraba-raba bangunan. "Tidak. Sementara di atasku beribu peluru mendesing memburu. Nuh! Bagaimana sebaiknya bangsa ini berjuang berenang di lautan yang bergelombang duka ini. mereka sering pura-pura dengan cara memuja selayaknya seorang raja. Mereka bebas makan. aku bagi kebahagiaan. Kukejar dan terus kukejar lawanku hingga jurang beku dan ternyata aku dan anak buah setiaku berhasil menang." Aku terdiam. Kau dan rakyatmu lupa pada titian waktu bangsa sendiri. Tapi bangsamu adalah bangsa yang telah lama mengenal Tuhan. hanya untuk umatku." katanya menjelaskan. Semua karena hanya ingin mengikuti kata hati tanpa kau fikirkan. Dulu bangsaku lalai tidak mau menjalankan perintah Tuhan dan nasihatku. Aku dan anak buahku. Di antara mereka banyak yang saleh-saleh. Dan matahari yang seharusnya hangat di setiap pagi berubah jadi resah yang menyengatnyengat pikiranku."Ya . Aku berjalan di bawah penindasan. berpakaian. Lalu aku berjalan di antara saudara-saudara sendiri yang bertongkatkan politik. ketika menemukan sela-sela perjuangan di antara perang dan perang. Kusergap sebisanya dan kuhancurkan. telah berubah arah. Aku merayap-rayap mencari-cari musuh yang lengah. Setiap kali kutapaki jalan sambil memanggul sepi. Berkali-kali aku dicaci dan dipecundangi. Kutelusuri lagi perjalanan hidupku di saat masih kecil yang digeluti oleh lapar yang sangat. bahkan tahi dilemparkan ke muka ini. Aku sangat kecewa. seperti dia sedang serius berfikir. Lama aku menunggu jawabannya. seperti katamu. Apalagi kau suka pelihara bunglon-bunglon yang dengan cepat mengecat warna. "Tapi Engkau bisa memberi nasihat buat kami. mereka kusikat. Bahkan tahi.

Aku jadi sendiri. Dia julurkan telunjuknya ke arah langit. kedua tanganku mengepak serupa sayap. "Nuh! Dimana kau? Kenapa kau pergi lagi? Nuh! Nuh! Nuuuh…!" teriakku memanggilmanggil orang yang kukagumi itu. tapi hutan itu malah terbakar. Untunglah dia datang saat aku hampir terpagut rasa putus asa. Orang yang sabar berlayar itu akan kupungut hatinya. Hari-hari kuakrabi sepi bagai mimpi. Kulambaikan tangan pada orang-orang. "Tabah. Orang tabah itu akan kumintai nasihatnya. Berjalan menyusuri ujung penantian. tepekur melebur diri dalam keheningan dan kesunyian. Bibirnya lembut mengurai suara. Dan dia yang berjiwa penolong itu akan kucari petunjuknya. Di wajahnya ada teduh bulan purnama. "Ketegaranmu." katanya. Bencana-bencana beruntun melanda. Lalu aku melesat di antara manusia-manusia pakar penasihatku. akan kutempuh!" kataku. Mereka tampak menyongsong." Nuh yang tua itu menggeleng. 42 . Dia tersenyum. Ketabahan yang kau pelihara sejak kecil itu membuat hatimu kuat. Kunyuk semprul! Ternyata di antara mereka itu ada beberapa musuh main petak umpet dan perang-perangan. Lalu mendorong hingga terjerembab di lubang nista." Lalu dia menegakkan jari tengahnya ke arah langit hingga berjajar dengan telunjuknya. Tapi layaknya sekat. Kuulurkan tangan agar aku dapat meraih kelembutan telapak tangannya. "Tanpa ketabahan kau takkan mungkin mampu mengarungi lautan duka resah ini hingga sekarang. Nuh. "Tegarkan jiwamu!" katanya dengan menekankan suaranya. Aku jadi berfikir saat dia menjurus-juruskan jarinya ke atas. Nuh! Kau datang lagi saat aku terlompat. betapa sedih ketika dia ulurkan tangan untuk menggapaiku tidak pernah sampai. "Kau pasti akan merdeka seperti engkau berjuang mati-matian memperoleh kata itu. tapi tak juga muncul dalam benakku.Mereka punjung kata dengan emas. Kesunyian-kesunyian yang kutelan sebagai pelepas dahagaku telah mengenyangkanku. Aku ditandu dan dielu-elu. Sambil berlari Dia kuhampiri. Nuh. Aku berlari di hutan-hutan. Kureka-reka dalam khayalku sambil menyusuri lorong-lorong pabrik-pabrik dan mobil-mobil mewah siapa tahu ada di sana. tapi di belakang disiapkan membokong. Dia julurkan jari manisnya menunjuk ke arah langit. dan gunung-gunung yang kupijak meledak. Tapi yang kucari tak ketemu juga. Lama kucari-cari dan kunanti. tapi malah tersasar dalam lembah kurang ajar." "Lalu. "Jangan mengejek. Aku gagal menyentuhnya. Nuh?" tanyaku tak sabar.

Kupandangi dia saat berjalan meninggalkan. Kendali emosi dari dendam pada orang-orang yang telah menjatuhkan kau sebagai kekuatan. "Terima kasih Nuh. "Jadikan tiga itu tonggak kekuatan di hatimu untuk menetralisir kekalutanmu. Tak terasa reflek jariku ikut menirukan gerakannya."Tenang!" katanya. terima kasih!" kataku sambil berlari melewati senja waktu malam yang mulai merayap meranggas gelap. ke sana!" katanya menjelaskan. Tapi Nuh tibatiba pamit pergi setelah meninggalkan nasihatnya dengan menghunjamkan dalam hatiku. Sambil memberi salam dia pergi melambaikan tangan. "Ya.*** 43 . Dia menyuruhku memandang ke atas. Mataku terus saja menatapnya. Aku terdiam tenang." Aku termangu dalam buaian nasihatnya.

mereka yang hanya mengenal canda dan birahi. mungkin ke wilayah-wilayah yang belum dikenalnya. tadi. Terbang ke tempat-tempat yang jauh. tapi. Atribut perwira yang selama ini menjadi citranya di depan publik. Ning juga pernah bilang begitu. berkeringat. Bukan hal mudah mencapai taman ini. Usai mengantar Ning. Dan burung-burung itu telah mengungsi meninggalkan taman di mana senja yang bisanya bersemangat menjemput malam. telah bergegas pergi dari situ. ketika kami tidur bersama pertama kali. Kota sedang terbakar. Persis ketika suatu malam. kekuatan dan ambisi adalah aura yang memancar dari tubuh tegap Yogo. nun beberapa tahun lampau. dia bagai berada dalam situasi ekstase. Gelombang masa yang bergulung-gulung bagai bah telah menyapu pertokoan. juga terekam dalam kalimat-kalimatnya yang cerdas. Pergilah. meneguk perlahan hangat tequilla. Asing. Dia datang dari jauh. usai membebaskan sandera. lenggang. pada sebuah flat sederhana di Brooklynn. ”Anda bantu saya. mungkin. sedang bermula. di sana. Dia hanya mengenakan T-shirt polos. Mungkin karena burung-burung sudah mengungsi entah ke mana. Urat-urat kesadaran yang memancarkan kharisma dari seorang prajurit lapangan. lamban. Bau hutan tropis masih lekat di wajahnya. Bau tubuhnya masih tersisa dalam ketergesaan langkahku: asin. Sambil mengontrol radio. memberi komando. Paris. Tak perlu kontak. Pagi sekali. menyisakan cungkupcungkup api dari mobil-mobil terbakar. kukira. . ketika kami duduk di sebuah café di pinggir Champs Elessye. Kekuasaan. “Kita evaluasi perkembangan.” aku menyebut pertemuan malam itu. NY. Lalu di sini. bahkan nyaris lunglai. senja mulai nyungsep. meninggalkan gerah – juga kesal lantaran langit kota telah penuh asap.Pada Sebuah Taman. sepanjang malam. Malam yang teramat meletihkan telah kami lewatkan dan sekarang adalah tahap menunggu. Hasymi Ibrahim 44 Di taman kota. dulu. “Perjumpaan dengan calon presiden. dan Yogo telah datang. pedalaman Irian. perkantoran dan meninggalkan nyala api yang perlahan-lahan makin membesar. lenyap sama sekali. mematangkan dan memberi perintah “start”. aku segera terbang ke sini. sepatu karet dan celana jeans. Senja yang kemarin juga.” ungkapnya tadi subuh sebelum berpisah. Tapi adakah sesuatu yang asing bagi sebuah kemutlakan bernama naluri? Kukira tak ada. Jalan raya yang melintang membelah-belah kota menjadi senyap. Revolusi. beraroma perempuan dengan keliaran tersembunyi di balik kecerdasan dan pendidikan yang baik. lesu. Anggap ini sebagai ekspresi persaudaraan. Mei Oleh: Moch. senja beringsut perlahan. turun amat perlahan.

tapi aku punya keyakinan. seperti irama tubuhnya: simpel. Kebebalan presiden untuk bersikukuh pada kursi kekuasaan. Akan menyetop aksi. bahwa dia takkan menyerah begitu saja. habis. Belum perlu ada kalkulasi menang atau kalah. Juga keagungan sebuah cita-cita. Sebuah persilatan virtual telah berlangsung mulai tadi subuh – bahkan sudah dua hari sebelumnya. Lesu. Persahabatan itu. “Ning. akan memuaskan semua orang dan segera akan berbalik menyerang kami. pupus. tapi ada saja hal yang tak dapat diduga. Para aktivis telah diamankan. Langkah presiden selamanya memang tak terduga. “Bang. Ada kontak dengan Yogo?” “Belum. Juga kedatangan Yogo yang telat. “Ia. kelak. dan demi keagungan. rupanya tak dapat dipercaya. Ning menelepon. bahkan dua tahun sebelumnya ketika ketekunan di depan mesin komputer menjadi aktivis menggairahkan. Pulanglah. Presiden yang ternyata sangat lemah. Oh. Kamu pasti setuju. khas orang lapangan yang pernah mengenyam pendidikan menengah di negeri-negeri asing. tapi kuusahakan. dan berbagai upaya pembusukan telah terjadi. Mungkin dia sedang di istana. sampai ke gelagat seksualnya di ranjang.” katanya simpel. Dia ternyata bukan prajurit sejati seperti senantiasa dicitrakan di depan publik. faktor yang kami tak hitung selama ini. langsung. bayang kegagalan mulai tampak. demonstrasi. juga kepercayaan atas nama keagungan. Yogo tampak angker. telah aku rekam di luar kepala. Tak ada basa-basi. Mundur mendadak tentu akan membuyarkan rencana. hingga subuh ketika kami pisah. Aku kontan diserang frustasi. Di ufuk. Bahkan picu massa telah berhasil melalui eksekusi mahasiswa. dia memilih mengalah sebelum bertempur. Markas keuangan sudah terbakar. Beberapa buah bank sudah ambruk. mengamati penampilan sekian ratus tokoh di depan publik dari waktu ke waktu. betapa menggairahkan. persahabatan adalah ikatan kita. tegas dan banal. demi kesan pada sebuah malam di sebuah kaki lima di Paris. Dia berada satu level di bawah. Malam kemudian tiba dengan diam. Para pemain valas telah terkuasai. Lambaian tangan kekuasaan semakin mengentalkan darah ambisinya. Tapi apa mungkin? Yogo memang bukan panglima. —lampu teplok kehabisan minyak. Pendek kata semua berjalan sesuai rencana. Dan sebagian besar kerja keras itu sudah berhasil. Dia tak lebih seorang tua pikun yang sedang kehabisan cita-cita.” 45 .” Singkat. Sabotase. Malam yang sepi. Dan malam tadi. kamu masih di situ?” kataku menjawab Ning.persahabatan. Presiden mundur besok. tapi rencana masih sedang berlangsung. Ini harus dicegah. Yogo tak mungkin datang. menganalisis arah perkembangan berbagai kelompok. Aku telah membaca jutaan bit dari laporan intelejen. masih mampu tampil sebagai satu-satunya pilar penentu. diliputi misteri. segera akan terbukti. Demi Yogo. Presiden memang sudah terpojok. Bahkan untuk beberapa tokoh kunci. simpel. Kamu kok diam saja?” “Aku bingung.

Suara Yogo. Bagi Yogo. Tapi tidak malam ini. Ini tentu akan lebih menggairahkan. Malam sudah bertahta. aku yang justru panik dan gamang.” “Iya. Biarlah persahabatan dengan Yogo berakhir. Dia memang lebih matang. bukan. dan tak ada rencana ulang.” “Sekarang pakai handuk?” ‘Ya.” “Berendam bersama-sama.“Pulanglah segera. Kali ini suaranya bernada khawatir.” katanya singkat. Hand-phoneku bertulilit. "Kamu masih di situ?" tanya Ning. balas dendam kalangan militer. Seperti yang sering kamu katakan.” “Kalau begitu aku mandi lagi. Taman benar-benar muram. Aku ingin berendam. Di sini. Kota masih terbakar.” Suara Ning tetap empuk. “Iya.” balasku memencet “off” pada hand-phone. Castro. Durja. almamaterku. Juga kepanikan dan kegamangan seorang yang tumbuh berkembang bersama ilusi revolusi. Menggairahkan. aku sudah mandi. Sementara bagiku? Masih ada Ning. Duduk menunggumu. kini. bertelur dan berkembang biak – dan kini telah mengungsi entah ke mana— semuanya telah berakhir. Dia terlampau cerdas untuk dihentikan. Reranting tampak seram memantulkan malam hari. Atau bisa lanjut di masa yang datang. alumni Oxford. Yogo: gumamku membatin. kamu masih di situ?” “Ya. Udara gerah berbau asap. pulang. “Ning. Kami akan segera terbang ke negeri lain. di sana prarencana sudah tersusun. Keagungan itu memang ilusi. kini. seperti Che Guevara. Memanggil. menghanguskan sisa rencana. sekarang atau tidak sama sekali. Sasaran tembak: Perdana Menteri yang terlampau cerdas dan sedang berkilau di dunia internasional. Sebaliknya. lantaran aktornya bermain tak terkendali. Mungkin kematangan yang datang dari daya-daya seksualnya yang tak pernah surut dan padam. Lakon yang berjalan tak sampai klimaks. dan mungkin Kaddafi – hadir untuk berperanan menumbangkan tiran dan eksis atas nama cita-cita dan keagungan. apalagi kegentaran. Aku benar-benar frustasi. cuma handuk. Di sini kita bisa berpikir jernih. Tak ada besok.” 46 . Tak ada kegetiran. di taman tempat burung-burung bersenggama. utamanya. Kenyataan yang tak diperhitungkan akhirnya terjadi. “Tunggu sampai besok.” “Sebentar lagi aku datang. Melainkan kepanikan seorang penulis skenario yang gagal mementaskan lakonnya dengan sempurna. Bukan karena risiko yang mesti datang.

” “Aku meresapkan bau mulutmu. Gairah bulan Mei.” “Aku juga. kini. Seperti gairah sebuah musim panas.“Terus?” “Terus larut seperti biasa. Juni 1998 .*** 47 Jakarta. nun bertahun lampau. NY. di taman ini.” “Tunggu.” Malam. di Brooklynn. ya!” “Cepat. kurasakan gairah yang lain.

” Suara itu terde-ngar bergetar. Luar biasa. Perempuan itu pasti memiliki kecantikan yang melebihi kecantikan sebatang pohon. Pisaupisau yang runcing tebayang di otaknya. Bau itu semakin mendekat dan menyesakkan dadanya.Pemahat Abad Oleh: Oka Rusmini 48 Kopag menjatuh-kan pisau ukirnya yang runcing. Dia memerlukan alat-alat pahatnya. Katakan padaku. Suara itu dirasakan penuh dengan kejujuran. Sekarang Hyang Widhi mengirim untuknya. Dia bisa memberikan penilaian yang begitu objektif terhadap benda hidup yang bernama manusia. Hampir saja pisau itu memahat kakinya. Apa pun yang . perempuan yang dicarinya berabad-abad. Seorang perempuan. Kulit perempuan itu terasa seperti kulit kayu.” Suara itu terdengar gugup. Tangan mereka bersentuhan. Seperti bau daundaun kering dan kayu basah.” “Srenggi? Srenggi siapa?!” Kopag semakin menggigil. tiba-tiba saja dia seperti ditenggelamkan ke lautan. Semua gara-gara dia mencium bau yang aneh dari sudut pintu. Inilah perempuan itu. Aneh.1 Luh Srenggi. “Siapa itu?” “Titiang. atau seonggok kayu yang paling sakral sekalipun. Aneh sekali. Suara itu adalah suara perempuan. Kopag menggigil ketika bau itu benar-benar menelanjangi wujud laki-lakinya. dan sangat tulus. Kopag semakin gelisah. Tangannya jadi lapar. siapa kau?!” Titiang yang akan melayani seluruh keperluan.2 Mulai hari ini dan seterusnya. dari mana datangnya bau yang membuatnya begitu gelisah? Bau itu semakin mendekat. kasih sayang. Biasanya dia hanya dijadikan objek. Ratu. sekedar mendengarkan keputusan orang-orang terdekatnya. Kopag yakin dugaannya ini tidak meleset. Apa yang terjadi dengan dirinya? Kopag memaki dirinya sendiri. Baru kali ini Kopag merasakan bisa menikmati hidupnya. “Luh Srenggi. Luh Srenggi cepat-cepat membantu. benarkah suara ini milik seorang perempuan? Ketika Kopag akan mengambil tongkatnya. "Siapa tadi namamu?” Kopag mulai menenangkan dirinya sendiri.

Sayangnya laki-laki itu memiliki mata yang sangat liar. Karena tak ada perempuan-perempuan yang bisa dilihatnya dengan matanya. “Apakah di bumi ini wujud kebenaran itu sudah seragam. Seperti sebatang kayu dengan lekuknya yang begitu menggairahkan. laki-lakinya akan menitipkan daging binatang dirahimnya. Kecantikan yang dia lihat dengan pikiran. sehatkah dia? Bagi Ayah Kopag. laki-laki itu bisa tidur dengan seluruh perempuan. Suatu hari. Belum lagi hutangnya yang tiba-tiba saja menumpuk. Pikirannya kacau! Kopag sadar. Kali ini. Seluruh wajahnya juga lekukan kayu. Ayahnya seorang laki-laki sangat terhormat dan memiliki kedudukan tinggi di pemerintahan. Kata orang. Laki-laki itu adalah binatang yang paling mengerikan. laki-laki itu memaksa perempuan yang dinikahinya untuk bersetubuh. Lahirlah seorang laki-laki yang merenggut nyawa perempuan itu. Salahkah? Kecantikan perempuan muda itu adalah kecantikan yang sangat luar biasa. cantikkah perempuan itu. Apa yang sesungguhnya salah pada kriteria yang telah diberikan Kopag terhadap perempuan? 49 *** Kehidupan telah memaksa bocah laki-laki itu memakai label Ida Bagus Made Kopag. sejak kecil dia terbiasa dididik menjadi perempuan bangsawan yang menghormati laki-lakinya.dikatakan orang-orang di sekitarnya. apakah orang-orang yang memiliki kelengkapan utuh sebagai manusia ketika dilahirkan mampu menangkap seluruh rahasia kehidupan ini? Rahasia yang erat-erat digenggam dan disembunyikan alam? Salahkah kalau tiba-tiba saja Kopag menemukan kecantikan yang luar biasa pada diri Luh Srenggi. aku juga harus memakai kriteria mereka?" "Kebenaran mereka? Aku tidak yakin mereka mampu melihat seluruh keindahan hidup ini dengan benar!” Suara Kopag terdengar penuh tekanan. Dalam kondisi seperti itu. Dia juga memiliki puluhan galeri lukis dan patung. Seluruh kekayaan ludes. Laki-laki itu harus berperan sebagai laki-laki buta untuk menebus kelahiran dan hidupnya sendiri. juga tidak berkomentar ketika Kopag memuji keindahan perempuan delapan belas tahun itu. Perempuan itu menolak. setelah berbulan-bulan tidak pulang. perasaan. Kopag harus patuh. setiap makhluk yang memiliki lubang bisa dimasuki. Gubreg?” Suara Kopag terdengar getir. lakilaki itu pulang dalam kondisi yang menyakitkan. Apa artinya kekuatan seorang perempuan? Terlebih. “bahkan untuk menilai keindahan itu. Tapi. Dia adalah kayu terindah dan tercantik. Alangkah ajaibnya kalau hidup juga bisa dipermainkan. Dilahirkan sebagai laki-laki buta memang tidak menggairahkan. pelayan tua itu. di sanalah dunia itu dibuat untuk laki-laki yang sejak pertama berkenalan dengan aroma bumi . kasta tertinggi dalam struktur masyarakat Bali. Menghargai keindahan yang dititipkan alam padanya. bisa dibuat sebuah pementasan. Aneh sekali tak ada manusia yang bisa menangkap kecantikannya. Bahkan Gubreg. dia merasa menemukan kebenaran yang berbeda dengan kebenaran yang diyakini oleh orang-orang yang selama ini rajin menanamkan kebenaran yang telah menjadi ukuran mereka. Tubuhnya kurus dan pucat. Dia hamil. dan keindahannya sendiri. Dia anak laki-laki kedua yang lahir dari keluarga terkaya di Griya. Dia tidak pernah peduli. Tubuhnya seperti lekukan kayu. Dia tahu. sangat sadar. agar orang-orang mudah mengenalinya dan membedakan dirinya berbeda dengan manusia lainnya. Gelar Ida Bagus menunjukkan bahwa dia adalah anak laki-laki dari golongan Brahmana.

kembang sepatu yang baru ditanam perempuan nyinyir itu tersangkut tongkatnya. Kopag sering berpikir. Sebuah kesunyian dengan pagarpagar keindahan. pokoknya seluruh tubuh perempuan itu selalu jadi pembicaraan kaum laki-laki. Aneh sekali. dia memahat pikirannya. hidupnya. Kebutaan yang mengikuti dia terus-menerus. Dunia yang diinginkan. kulitnya yang sering jadi pujian. perempuan itu adalah pemain sandiwara yang ulung. dan sangat pas. Bagi Kopag. perempuan kebanyakan itu telah menikah dengan kakaknya dan menjadi keluarga Griya. Tanaman di halaman samping rusak atau terinjak kakinya.dan hidup hanya merasakan kegelapan sebagai bahasanya. otaknya. bagaimana sesungguhnya sebuah penilaian yang objektif dalam hubungan antarmanusia di bumi ini. “Apa bisanya adikmu yang buta itu? Apa? Merepotkan!” Suara perempuan muda itu selalu menggelisahkannya. dia mencium bau darah. Itu yang dirasakan Kopag. perempuan itu harus mengubah namanya menjadi Jero Melati. Orang-orang di luar hanya tahu bentuk tubuhnya yang konon sangat luar biasa. ketika untuk pertama kali iparnya itu menyalaminya. Iparnya yang luar biasa kasar dan cerewetnya jadi pujian dan pembicaraan seluruh laki-laki di Griya. pelayan setia yang merawat Kopag sejak kecil. Saat ini dia sangat mengikuti ambisinya untuk masuk dalam lingkungan keluarga Brahmana. juga impian-impiannya. Nama perempuan itu Ni Luh Putu Sari. Dia memberi Kopag poin. merah. seperti Kopag juga menyerah pada kebutaan yang harus dia kenakan setiap saat. Disentuhnya kayu kering yang selama ini selalu mengantarnya ke mana dia pergi. Perempuan itu benar-benar serius untuk memasuki perannya sebagai istri laki-laki Brahmana. Masih kata Gubreg. Jujur saja. Karena dia bukan kaum Brahmana. 50 . Tanpa teriakan iparnya yang sering menyesakkan kuping. *** Kopag menarik nafasnya dalam-dalam. Kopag telah merekontruksi sejarah seni rupa. Getaran tangannya sudah seperti tangan-tangan mayat yang membusuk. Postur tubuhnya seperti putri-putri raja Bali. Kopag juga merasakan setiap mulut perempuan itu terbuka. parekan. yang tentu saja tidak dimiliki orang-orang. Ni Luh Putu Sari yang sejak menikah dan masuk menjadi keluarga Gria bernama Jero Melati itu memiliki kulit yang sangat indah. Bau itu seolah berlomba-lomba meloncat dari bibirnya yang konon sangat mungil. Teriakannya saja bisa memandulkan pisau pahatnya. Bagaimana mungkin perempuan konon kata orang-orang di desanya sangat cantik dan santun itu bisa berkata begitu kasar. Suara iparnya itu akan terus menari-nari di sekitar telinganya. Kopag tidak saja memahat kayu. Untuk pertama kali. Kopag sangat menyukai kayu yang mengenalkannya pada dunianya. selalu berkata bahwa beruntunglah kakaknya bisa mendapatkan perempuan tercantik di desa. Karena perempuan Sudra. Anyir. alam menyerah pada kekuasaanya. Ada-ada saja yang diributkannya. atau posisi piring dan gelas berubah di dapur. Dia bisa mengubah kayu kering menjadi sebuah karya seni yang memikat para intelektual seni rupa. Bahkan Gubreg. Kehidupan yang sering dimaki Kopag ternyata cukup demokratis. dia harus menunjukkan pada seluruh manusia di desa ini bahwa dirinya berhak masuk dalam lingkungan keluarga bangsawan.

Kadang-kadang dia bacakan buku-buku bahasa asing. Cucuku memiliki seluruh mata manusia yang ada di bumi ini. pematung jaman Renaisans. Ada rasa sakit mengelus dada tuanya. Laki-laki tua itu sekarang ini jadi cepat marah. apa ini rasa yang dimiliki lakilaki? Ini wujud kelelakian itu?” suara Kopag terdengar pelan. rasa apa yang sering membuatku meluap. sudah menjelang dua puluh lima tahun. “Gubreg. Juga dia baik-baik. kau belum jawab pertanyaanku. Tanyakan pada laki-laki bule itu!” Suara Gubreg terdengar penuh nada kecemburuan. Ida Bagus Made Kopag memiliki tubuh yang sangat bagus. Bagi Gubreg. Gubreg? Tolong kau katakan seluruhnya. Karmanya jatuh pada anaknya sendiri. Kegelapan itu jadi milik cucuku yang paling abadi. Titiang tidak bisa menjelaskan seperti Frans. yang diterjemahkannya.” “Seperti apa perempuan cantik itu.“Luar biasa kecantikan Jero Melati. tapi mampu memikatku. Dadanya sering mendidih. jengkel! Ada-ada saja yang dibawanya. Sejak bergaul dengan Frans ada-ada saja yang ditanyakan Kopag padanya. dia mampu membuat patung-patung dengan ukiran sangat sempurna. Lihat.” Laki-laki tua itu terdiam. Saat ini aku mencoba percaya pada matamu. aku juga ingin merasakan. Laki-laki setengah baya itulah yang membuat Gubreg. dan tangannya juga sangat cekatan memahat patung-patung. Gubreg. Ratu. Laki-laki bule itu telah memberinya didikan yang baru. Gubreg?” “Jangan bertanya yang aneh-aneh pada titiang. Sejak kecil. Gubreg. “Kau tidak ingin menjawabnya. Ratu. Kopag tidak lagi membutuhkannya. Gubreg. perhatian yang lain. Kopag sudah bagian dari nafasnya. Atau sesekali dia dikunjugi orang asing dari Prancis. Susah. “Anak itu buta. sebelum berpulang. Aku ingin tahu. termasuk rangkaian pisaupisau pahatnya. Atau sesekali mendatangkan guru yang mengajarinya membaca. Tinggi. Dia ingat teriakan Kopag ketika 51 . Ada yang hilang dalam tubuh laki-laki tua itu. Dia juga rajin membaca buku-buku dengan huruf braile. Dia juga yang mengajarinya bahwa semua benda punya jiwa. aku selalu tersentuh. Seperti apa perempuan cantik itu? Apa seperti bongkahan kayu beringin ini? Dingin. tentang Michelangelo Buonorrty. Aku masih percaya kehidupan itu bisa diajak bicara. Lihat. Anggap dia anakmu!” Itu pesan Ida Bagus Rai. Gubreg. Jengkel! Waktu Kopag sekarang habis untuk diskusi. dan menikmati aroma ketajamannya yang luar biasa indahnya. kata Frans. Pertumbuhannya selalu mengingatkanku pada perbuatan-perbuatan yang dila-kukan anakku. yang konon. Hyang Widhi! Penguasa jagat! Kopag memang sudah besar. Kau bisa lihat. Gubreg pun mengajari Kopag menelanjangi tubuh pisau-pisau pahat. Dipandangnya mata Kopag dalam-dalam. kan? Kehidupan sendiri memberinya hadiah yang luar biasa. Seluruh ilmu memahat dia alirkan dalam tubuh bocah kecil yang tidak berdaya itu. Susah. Menanggung dosa ayahnya. dialah yang mengajari Kopag mempelajari tekstur kayu. Sejak kecil kakeknya hanya mengajari Kopag bersentuhan dengan kayu-kayu untuk berkenalan dengan kehidupan. Rasanya baru mendengar satu huruf keluar dari bibir laki-laki Perancis itu seluruh isi perutnya seperti keluar. Frans Kafkasau. Kehilangan yang dalam.

52 *** Pagi-pagi sekali.” Suara Gubreg terdengar patah. Kaki perempuan itu putih. Kakinya kram setiap melihat tubuh basah itu naik ke atas dengan kain yang hanya sebatas dada. dan mampu meledakkan otaknya. Tak ada yang bisa diceritakan kegelisahannya. Luar biasa. begitu indah. Setiap mengingat batas yang ada antara dirinya dan Dayu Centaga. kebanyakan. Sering sekali dia disuruh mengantar Dayu Centaga mandi di sungai Badung. Ratu. Di tangan Kopag pisau itu jadi begitu dingin. Aroma tubuh perempuan itu sampai hari ini masih melekat erat di tubuhnya. dia juga pernah merasakan seperti apa percikan nafsu itu ketika pertama kali menampar wujud manusianya. dan teramat menggelisahkan ketika tubuhnya mulai lapar dan memerlukan tubuh lain untuk santapan. Terlebih. Lama-lama Gubreg merasakan sakit yang luar biasa menyerang tubuhnya. karena kelaparannya adalah kelaparan yang tidak pada tempatnya. ketajamannya. Kilatan matahari menjilati keruncingan pisau pahat itu. yang hidup dari belas kasihan keluarga Dayu Centaga. Aroma itu tak bisa dihapus oleh usia yang dipinjam Gubreg pada hidup. dia luka.. angkuh dan selalu lapar. tubuhku gemetar setiap menyentuh pisau-pisau ini.” Keruncingannya.Titiang tidak bisa menceritakan kecantikan perempuan pada Ratu. dia sadar tubuhnya tidak boleh melahap tubuh perempuan Brahmana. Perempuan itu.. Semua orang. Gubreg belum juga bisa menjawab arti menjadi lakilaki. Ratu?” “Kecantikan perempuan. Sebagai laki-laki Sudra. Dia gelisah. Dia juga laki-laki... Gubreg menyaksikan. Dia mengerti. Waktu itu umur Kopag tujuh tahun. Gubreg. Perempuan junjungannya. betapa sinar matahari yang perkasa itu menjadi patah dan tak berdaya ketika menyentuh sedikit saja keruncingannya. Pisau justru seperti menantang matahari untuk bersabung. Waktu itu Gubreg seorang laki-laki kumal empat belas tahun. Begitu parah.” “Titiang.. Takut sekali menjawab pertanyaan tentang esensi menjadi laki-laki. Perasaan apa yang sedang bertarung dalam tubuh Kopag? Gubreg takut. “Tentang apa lagi. Gubreg selalu merasakan tubuhnya dilubangi. Rasa itu tiba-tiba saja muncul kembali dalam otak. Sangat paham. perempuan yang sangat dihormatinya.pertama kali menyentuh tubuh-tubuh pisau yang telanjang itu. memiliki penilaian khusus tentang hal itu. Tubuh perempuan itu seperti ular yang melingkar dan menjepit batang-batang tubuhnya. Berkali-kali dia menarik nafas. Dia sering terjaga tengah malam . “Aku ingin bercerita padamu. Kopag sudah membuka jendela studionya.” suara Kopag terdengar penuh rasa ingin tahu. Dayu Centaga selalu menyuruh Gubreg menggosok punggungnya dengan batu kali. “Gubreg. Begitu penuh misteri. dia adalah laki-laki tak berguna. Sampai menjelang tengah malam. dan tulang-tulangnya yang mulai rapuh membantunya merangkai masa lalunya kembali.

memandikan tubuhnya di pinggir sungai. membesarkan tubuhnya. menjelang tujuh puluh lima. Demi Hyang Widhi. Aku selalu ingin tahu. Cinta yang tidak mungkin dihapus. Aku juga ingin tahu arti setiap impian. Aku juga memiliki impian-impian sendiri pada patahan tubuh pohon itu. Gubreg paham. Suatu hari Frans dan seorang temannya mengatakan. dan berpikir. Pada dasarnya aku selalu penasaran. Gubreg tidak sakit. Sampai sekarang. Gubreg tidak bisa bercerita tentang kelaparan tubuh laki-lakinya. Dia rasakan perubahan pada tubuhnya. Tanpa istri.dengan nafas yang memburu. Masih kata Balian tua itu. tidak lagi bisa menikmati kegairahan manusiawi sebagai manusia. Guemica. selalu ingin mengupas dan melukai kayu-kayu itu. Katanya agar roh jahat tidak mengenai keluarga Griya. Balian tua itu memberinya jampi-jampi. karena aliran sungai dalam tubuhnya bukan lagi aliran sungai kecil. Gubreg bersedia menjalankan runtutan upacara itu. aku merasakan kecantikan perempuan itu melalui jari-jariku. tetapi sudah menyerupai air bah. Gubreg. Dan Gubreg tahu air dalam tubuhnya memerlukan muara. Hyang Widhi. keluarga Griya membawa sesaji untuk penunggu sungai. mengajakku bicara.” suara Kopag terdengar pelan. Kenapa kayu-kayu ini selalu mengajakku berdiskusi. Sesuatu yang dahsyat telah dititipkan alam pada tubuhnya. Kalau sekarang Kopag bertanya seperti apa kecantikan itu. sangat surealis. tanpa kegairahan sebagai laki-laki. sampai akhirnya potongan-potongan tubuh itu ada di tanganku. pahatanku tentang perempuan sangat sempurna. Gubreg sadar rasa laparnya sudah tidak bisa dibendung lagi. Gubreg masih setia mengabdi di Griya. Dia menarik nafas berkali-kali. Tak seorang pun tahu.” 53 . Gubreg sempat membuang kotoran di pinggir sungai. tidak juga kesambet setan. Tubuhnya dilingkari asap yang sangat menyesakkan aliran pernafasannya. Tubuhnya jadi pucat. tanganku. Untuk menghormati kebaikan keluarga Griya. Keluarga Griya mencarikan dia seorang Balian. Berkat kekuatan Gubreg. “Gubreg. sampai menguliti otakku. Kebetulan si penunggu sungai sedang beristirahat. Impian-impian yang dimiliki oleh pohon ketika dia membesarkan ranting-rantingnya.. dukun. Gubreg menatap tajam tubuh Kopag yang sedang merampungkan pahatannya. Dia pasrah ketika Balian tua. Kata Balian itu. Rasa ingin tahu yang begitu besar. dingin. tubuhku. Untuk mengembalikan kesehatan Gubreg. yang memanfaatkan seluruh tubuhnya untuk mewujudkan jati diri tokoh yang dimainkan.. "Gubreg. Gubreg. Justru Gubreglah yang kena kemarahan si penunggu sungai. Kata mereka. tadinya penunggu sungai itu juga ingin mengganggu Dayu Centaga. kau ingat kata-kata Frans?” “Yang mana?” “Frans mengatakan keliaranku membentuk tubuh-tubuh manusia dalam kayu mengingatkan dia pada lukisan Pablo Picasso. kau belum juga jawab pertanyaanku. berdialog. Kecantikan perempuan yang kuterjemahkan lewat kayu-kayu itu mengingatkan Frans pada keliaran Martha Graham. Kayu-kayu dan pisau telah memberiku mata yang lain. Cinta yang membuatnya jadi batu. dia merasakan cinta yang dalam pada Dayu Centaga. Dayu Centaga tidak terkena. komunikasi Balian tua itu dengan dunia gaib salah.

perempuan itu bebas menggunakan uang Kopag semaunya. kakak Kopag sendiri bisa membuka galeri patung yang besar. Sekarang ini keluarga ini tentram. Benar kata Kopag. Gubreg diam. Gubreg menatap mata perempuan itu tajam. diajar memahami kehidupan. *** “Gubreg. “Kau harus bisa meyakinkan dia bahwa adikku layak menjadi istrinya. Patung-patung Kopag laku keras dan diminati oleh kolektor dari dalam dan luar negeri. Ratu ingin apa lagi? Jangan menakuti titiang. Aku ingin bicara!” Kali ini suara Kopag terdengar serius. ada bantuan dana dari Jerman dan Perancis. Jero Melati tersenyum. Gubreg tahu tak ada yang diinginkan Kopag. Laki-laki itu tidak pernah tahu apa arti ada uang atau tidak ada uang. perempuan satu ini memang bukan perempuan baik-baik. Lima menit tanpa hasil. Padahal kemiskinan kalau dihayati memiliki keindahan tersendiri. dia terus mengelilingi studionya. Bahkan.” jawab perempuan itu serius.” suara Gubreg terdengar sangat hati-hati. Untuk pertama kali dia merasakan hawa jahat berendam dan menguasai tubuh cantik itu. adik Jero Melati bisa menjual tubuhnya.” . Ratu terlihat sangat gelisah. Mendengar komentar itu. dia tidak tahan miskin. keluarga besar ini kembali bisa hidup. Mengerikan! Padahal perempuan itu sangat cantik. Gubreg mencoba memahami ke mana kira-kira arah pembicaraan Kopag. 54 *** “Kita harus carikan seorang istri untuk Ratu. Kata orang-orang kampung. Saat ini galeri itu sudah tumbuh besar dan menjadi satu-satunya galeri yang paling diakui di Bali karena karya patung yang masuk harus melalui seleksi dan pertimbangan yang teliti. “Bagaimana kalau dia kawin dengan calon yang telah kusiapkan. Dia tahu. Jero Melati tidak pernah ceriwis. Kopag memerlukan perempuan.Gubreg tetap diam. adik Jero Melati adalah perempuan paling liar dan nakal. Hanya satu yang ditangkap Gubreg. Dia mencoba memahami sesuatu yang sangat rahasia dan begitu dalam ingin disampaikan Kopag. Aku sudah memikirkannya jauh-jauh hari. Otaknya hanya berisi kehormatan.” “Jero sudah punya calon?” “Ya. “Ratu. Gubreg bahkan rela bocah laki-laki itu mencuri lembar demi lembar rahasia perjalanan dan rasa sakitnya sebagai laki-laki yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk mengabdi. Berkat Kopag. Sayang. Kopag seperti linglung.” Suara perempuan itu terdengar mirip perintah dan pemaksaan.” “Siapa?” “Adik perempuanku. Bulan kemarin. seorang anak yang dibesarkan dengan cara-caranya.

Kulitnya juga kulit kayu. titiang juga sudah membicarakan dengan Jero dan kakak Ratu. ketika kujatuhkan tubuhku memasuki tubuhnya. membersihkan studionya menyiapkan makan.” Suara Kopag terdengar sangat serius. dan mengambilkan pisau-pisau pahatnya? Perempuan itu bukan perempuan. “Maaf Ratu. Ketika dia telanjang. Wajahnya juga rusak berat. Aku ingin kawin. Perempuan yang mengalahkan kecantikan kayu-kayuku. Panggilan kehormatan untuk bangsawan Bali .?!” Gubreg seperti tercekik.“Ya. Bahkan merekalah yang akan memilihkan calon istri untuk Ratu.” “Apa kata mereka.. punggungnya bongkok. “Aku sudah memiliki calon. ingin sekali dilihatnya wajah Kopag berseri. Perempuan itu telah mengasah tubuh laki-lakiku. matanya yang kiri bolong. apakah kuping tuanya tidak salah dengar? Bukankah Luh Srenggi adalah perempuan yang menyiapkan seluruh keperluan Kopag. Tubuhnya benar-benar lekukan kayu. Saya 2. kakinya pincang.” “Ratu. dia hanya memiliki satu mata. Sadarkah dia. Hyang Widhi! Dewa apa yang ada dalam tubuh Kopag.” Gubreg mengangkat wajahnya.. Aneh! Wajah itu tetap seperti batu. ada daging besar tumbuh di atasnya. Kulitnya begitu kasar. Dia adalah perempuan tercantik. Gubreg. dia lebih mirip makhluk yang mengerikan.” Gubreg ambruk. Kau tahu. *** 55 1. tak ada sebuah pisau pun bisa menandingi ketajamannya. Gubreg.” “Mereka setuju. “Aku telah menidurkan perempuan itu setiap malam. Kali ini pilihanku tidak bisa diubah!” “Siapa?” “Luh Srenggi. Luh Srenggi. aku tenggelam dan habis. tahukah dia makna kecantikan? Gubreg menarik nafas memegang dadanya kuat-kuat. Sebuah pisau pahat menembus dadanya yang tipis.

Aku yang terdera. “Aku yang mati. Ini sama sekali tidak adil!” Ia bangkit dari kebisuan dan kekakuannya dan mulai menyusun protes. diselidiki dan dipakai sebagai contoh. Aku yang kejepit. Aku yang sudah mencetak duit buat banyak orang yang memanfaatkan dengan cerdik seluruh peristiwa yang dahsyat ini. meringis. Ia menggugat perilaku yang semena-mena tersebut yang jelas sekali memperlihatkan keserakahan manusia. Aku tetap saja hanya sebuah mayat yang sepi. “Aku yang mati. kemudian sindiran-sindiran dan akhirnya menjadi umpatan-umpatan yang terdengar tidak bedanya dengan kutukan. “Peradaban sudah merosot. Air . terkemuka. sehingga mereka menjadi terkenal. analisa-analisa yang menyebabkan banyak orang menjadi terkenal dan kaya. Ia berdiri di pinggir jalan. kamu yang enak. memegang posisi puncak dan akhirnya menang.“ kata mayat itu. Yang akhirnya tak lebih penting dari segala manipulasi orang-orang tersebut. Lalu mulai mengganggu setiap orang lewat dengan berbagai keluhan. April 2000 56 Mayat Oleh: Putu Wijaya Mayat itu mengeluh. Kamu semua kelihatan saja menangis. tetapi sudah menjadi perang siasat untuk menipu dan membuat bangkrut orang lain. dipergunjingkan. Aku menderita. Tetapi aku sama sekali tak kebagian apaapa. Kematianku sudah menghasilkan lebih banyak uang lagi ke dalam bisnismu. Dan dagang sendiri bukan lagi menjadi ajang tukar-menukar jasa dengan saling menguntungkan. Dunia sudah menjadi sebuah pasar besar. Aku yang menanggung seluruh kerugian. diperdebatkan. sebagai obyek untuk berbagai penyelidikan.Horison. Aku yang menjadi korban. Kebudayaan tidak lagi membuahbudikan keluhuran. tetapi membuat manusia semakin tamak dan tipis rasa kemanusiaannya. Kehidupan sudah rusak. tapi sebetulnya kamu semua tertawa. saling bergotong-royong. Aku menginginkan ada pencerahan atas kabut hitam yang akan membuat dunia dan kehidupan serta segala manusia isinya ini kiamat kubra. kamu terus hidup ngakak. Semua orang berdagang. Aku diberitakan. kamu yang melejit. Aku yang sudah kesakitan.

Ini justru bagus untuk publikasi kita!” 57 . bahkan yang mungkin akan menyiksanya di kemudian hari. ternyata hanya sebuah koteka. Tetapi ketika ia mau lari mengadukan itu kepada atasannya. “Semuanya busuk. Mayat itu langsung duduk di depan komputer. Dalam uraian mayat itu dunia menjadi pabrik kejahatan yang hanya dihuni oleh bandit-bandit tengik. kesalahkaprahan. menciptakan esai-esai. Sekretaris panik. untuk menahan lonjakan perasaannya yang tertampung oleh layar komputer. balada-balada dan orasi-orasi yang meratapi dan menggugat kematianku. ia beberkan dengan kata-kata yang tajam dan berbisa. Akhirnya ia menggigit kursi sampai cabik-cabik. Pak. keluhuran budi apalagi kemanusiaan yang dikibar-kibarkan selama ini. Seperti bendungan ambrol. dia memerlukan ventilasi untuk menyalurkan emosinya.” katanya mempersilahkan mayat itu menumpahkan semua sumpah-serapahnya.” erang mayat itu. Bagaimana kalau dia menghancurkan komputer. “Silakan menuliskan semua keberatan Anda terhadap pemberitaan kami. seluruh ketidak-benaran. Sama-sama wanita. Apa saja yang sudah menyakitkan. elegi-elegi. tata krama. “Biarkan saja. kepatutan. “Tanya Bapak. Komputer penuh dengan katakata kotor. luka. Nanti setelah kempes dia kan pergi sendiri.” Sedang atasannya yang paling atas sibuk menunjuk wakilnya supaya meladeni mayat yang cerewet itu. Ia menghadapi mayat itu dengan senyum ramah. Kamu tidak punya malu lagi mengeruk keuntungan dari orang yang mati!” Mayat itu mengetuk pintu sebuah media massa yang mengalami cetak ulang ketika memuat secara lengkap cerita dan foto-foto kematiannya. Kalau memang ada yang salah. aku kan hanya menjalankan assignment. apa saja yang sudah menyinggung. semua yang tidak adil.matamu hanya kelambu untuk menutup segala kebahagiaan dan keuntunganmu menjual berita-berita perih. Ia menguras seluruh dendam. kami bersedia untuk meralatnya untuk kebahagiaan dan ketenangan Anda di sana. telepon berbunyi. mengangkat bahu dan menunjuk atasannya. meskipun kami sudah sangat berhati-hati. prasangka dan kesakitannya. Para wartawan yang ditemuinya semua menghindar. mungkin dapat diselesaikan secara baik-baik.” “Biar saja. menutupi hidungnya. Itu kan baru dibeli. susila.” “Tapi kursinya rusak. Berjam-jam mayat itu mencurahkan segala tuntutannya. Moral. terpaksa membatalkan niatnya untuk pulang lebih dulu. untuk membungkus kebiadaban. Tapi suruh anak-anak siap untuk menjepret. Ia kemudian lebih banyak mengeram-ngeram seperti kata-kata tak mampu lagi menampung sumpah-serapahnya. Akhirnya sekretaris redaksi. ia menembakkan seluruh unek-unek perutnya.

saya mengerti sekali. Ia menoleh kembali ke layar komputer dengan lebih santai. Mayat itu baru menjadi sedikit tenang. Di antaranya ada gambar garuda. Moncong garuda itu menancap di atas kepalanya. Ia tidak menginginkan apa-apa lagi.Sekretaris bengong. karena mencabik kursi itu. Minuman panas. Sekaligus mengingatkan bahwa subuh sebentar lagi akan menyundul di langit timur. Seperti balon kempes. Mayat itu membentur dinding begitu kerasnya sehingga foto-foto di dinding berjatuhan. Setelah menangis tersedu-sedu nampaknya sebagian unek-unek tuntutannya berhasil ia lemparkan keluar dari perut. Tetapi sebelum pergi meninggalkan tamu eksklusif yang diwanti-wanti oleh sekretaris supaya diperlakukan ekstra istimewa itu. Seakan-akan ikut menikmati kepuasan mayat tersebut. Dengan garuda yang masih bertengger di kepalanya. Sekretaris menutup matanya. Penjaga malam itu juga mengulurkan tangannya. Seluruhnya mampetan pikirannya sudah tersalurkan.” Mayat itu mengulurkan tangannya. air dingin untuk penyegar. Barangkali sepotong dua potong mimpi yang benar-benar mimpi. “Jadi kamu percaya sekarang betapa tidak adilnya semua ini?” “Saya percaya. Ia berdecak-decak kagum. Keduanya berjabatan tangan. Di situ ia menangis tersedu-sedu. hati dan otaknya. Mayat itu berdiri. semacam roti bakar yang masih bisa disamber dari perempatan jalan di malam yang selarut itu. seperti orang yang mau bersekongkol. ia kembali ke kursi.” “Kamu bisa merasakan. Ia menoleh pada penjaga malam yang sudah lancang itu dengan mata berkilat-kilat. lalu lari keluar.” “Apa kamu menganggap semua ini neko-neko?” “Tidak. Penjaga kantor itu mengerti. Kini ia memerlukan sebuah tidur yang panjang. ia sempat mengerling ke atas layar komputer. Mungkin juga makanan. Mayat itu menggelengkan kepalanya. juga tidak bisa mengurangi tegangan dadanya. Ini menyebabkan kantuk mayat itu hilang. Nampak begitu lelah namun damai. ia menggepeng di atas kursi. 58 . Ia lalu menumbukkan kepalanya ke dinding. orang yang mampu memahami segala tuntutannya.” “Kenapa tidak? Jelas sekali. Itu memang benar. Tapi tangan penjaga malam itu dingin seperti beku. Penjaga kantor yang tua bangka menghampirinya menanyakan apakah ia memerlukan sesuatu. menemukan untuk pertama kalinya.” Mayat itu menjadi amat girang. “Kamu mengerti?” “Ya. Mayat itu terkejut.

ia hampir terpekik. “Apa lagi kewajiban kamu?” “Semuanya!” Mayat itu tercengang. Ia curiga kalau-kalau bukan menghadapi seorang penjaga malam.” 59 . “Astaga kamu tidak punya mata lagi?” “Tidak.” “Kenapa?” “Karena itu kewajiban saya. Paling sedikit mata-mata yang diutus oleh kepala kantor.” “Apa? Kamu budak?” “Betul.” “Tapi kenapa kamu masih bisa melihat?” “Saya harus bisa melihat meskipun tidak punya mata.” Mayat itu terkejut.” “Kamu heran atau kaget karena membaca semua ini?” “Tidak.” Mayat itu bergidik. Saya budak.” “Lalu kenapa tanganmu lebih dingin dari es?” “Ya memang begini keadaannya?” “Tapi kenapa?” “Karena inilah hidup saya. Tetapi ketika ia memandangi mata penjaga itu. Siapa tahu itu agen polisi. Karena di kedua mata nampak ruang kosong. “Kewajiban? Kewajiban apa? Kamu ngomong seperti seorang budak?!” “Ya memang.“Kenapa tanganmu dingin sekali? Kamu takut?” “Tidak. Bulu kuduknya meremang.

“Wow! Badan kamu seperti tak punya tulang. kamu kok sepertinya tidak punya hati dan juga tidak punya otak. Mayat itu menggigil..” “Apa? Kamu betul-betul tidak punya perasaan dan pikiran?” “Betul. Daging kamu bonyok!” “Memang!” “Bukan cuma itu. Apa kamu bukan manusia?” “Saya manusia. Saya budak komplit. Kamu tidak punya apa-apa kamu sudah kalah komplit.” Penjaga malam itu membuka seluruh pakaiannya. Seluruh kemaluannya. Ia tak punya segala-galanya.“Budak apa? Budak siapa?” “Budak segala-galanya. ia lalu menyentuh. Matanya sampai tumpah keluar karena takjub. Saya harus hidup. aku jadi curiga. Ia terpekik kembali dan meloncat keluar. maaf boleh aku kobok sekali lagi?” “Silakan.” Mayat itu bingung. lalu ngobok sekali badan penjaga malam itu. Tak puas hanya melihat. meskipun tidak punya semua itu lagi. “Kamu sudah bangkrut sebangkrut-bangkrutnya. Orang itu memang sudah dikebiri total. Dia berdiri dan memperhatikan penjaga itu lebih cermat.” “Edan!” “Ya. jangan-jangan kamu. Lihat kemaluan juga tidak ada lagi.” 60 .. Jangankan perasaan dan pikiran. Tiba-tiba ia terpekik ngeri. “Ya Tuhan. kemudian meraba-raba.” “Apa kamu sakti?” “Tidak!” “Lha kenapa kamu bisa hidup?” “Ya begitulah. Apa pun saya tidak punya. Maaf ya. selanjutnya merogoh tubuh penjaga malam itu.” Mayat itu mendekat.” “Memang begitu. . termasuk kedua biji buah ampulurnya sudah dicomot.

Saya hanya jualan kertas-kertas kantor yang sudah tidak terpakai. suka manggil saya apa saja.“Tidak mungkin!” “Memang tidak mungkin. Ia pelan-pelan duduk kembali. telat mikir.” Mayat itu ternganga. Berapa?” “Tiga puluh. wong ini harus. Pasti penjaga malam itu korupsi. saya tidak pilih-pilih nama.” Mayat itu berpikir keras.” “Coba ceritakan sedikit kehidupan kamu. “Siapa sih sebenarnya kamu?” “Boleh panggil saya siapa saja. silahkan.” “Tiga puluh juta?” “Bukan tiga puluh saja. Terserah orang. Pasti besar sekali karena kewajiban kamu begitu berat.” “Kalau begitu kamu ngobyek!” “Terserah.” “Gila! Bagaimana kamu bisa hidup hanya dengan gaji begitu?” “Itu juga dianggap sudah terlalu banyak. Gaji kamu berapa sih. Istri saya dan sepuluh orang anak saya juga harus hidup. saya manut-manut saja.” “Maksud kamu gaji kamu seperak satu hari?” “Ya. Pak. Apa kamu orang Jawa?” Penjaga malam itu berpikir. “Kamu pasti korupsi?” “Tidak. Saya memang telmi. Lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. “Nah sekarang kamu berpikir!” “Bukan begitu. Bukan hanya saya yang harus hidup. Ini kewajiban saya. kok. tetapi apa boleh buat. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana seorang yang bergaji seperak satu hari dengan tanggungan istri dan 10 anak bisa hidup. Pak.” “Itu namanya pasrah.” 61 .

” Mayat itu termenung. “Orang lain sudah mati kalau kondisinya seperti kamu ini. Memang pada orang kecil sering muncul sifat-sifat luhur yang dahsyat. penjaga malam itu tak menyambut uluran tangannya. jangan takut.” “Kenapa tidak bisa? Kamu tidak mau salaman? Ini hanya ekspresi bukan kolusi.” 62 .” “Memang saya sudah mati. "Kamu luar biasa." gumam mayat itu terpesona. Pak?” “Jelas!” “Ya sudah.” “Jadi kamu ini mayat?” “Betul sekali.” “Mayat seperti gua ini?” “Benar!” “Wow! Kalau begitu kita sama dong!” teriak mayat itu kegirangan karena merasa mendapat seorang teman secara tiba-tiba. Sekarang aku tahu masih ada orang lain. “Tidak bisa. Ia lupa pada masalahnya sendiri dan mulai kagum. sambil mengulurkan tangannya mau berjabatan. “Ayo salaman. Saya tidak bisa salaman.“Kamu korupsi!” “Apa itu korupsi. Tetapi sekali ini. Sedikitnya kita bisa berbagi kemalangan. Ayo salaman!” Penjaga malam itu menggeleng. tidak akan dituntut. kita sama! Tadinya kukira aku sendirian.” “Ah! Apa?” “Kata saya. Jangan keliru.” “Ya.” “Tidak bisa.” “Kamu sudah mati. saya sudah mati.

Harus. memang beginilah saya. Mayat kok banyak bicara. Saya tidak boleh bicara terlalu banyak. Ini bukan waktunya untuk guyonan." Mayat itu bengong. Mati pun saya tetap harus bertugas. mayat kan sudah tidak perlu tidur lagi.“Keliru bagaimana?” “Saya bukan mayat seperti situ.” Mayat itu berpikir. Selamat beristirahat. Pak. 63 . saya sungguh-sungguh. kalau perlu apa-apa jangan ragu-ragu memanggil saya.” “Lho tadi kamu bilang kamu mayat?” “Betul. Saya tidak boleh istirahat. lalu berjalan ke sudut yang tadi ditunjuknya.” “Kenapa bukan?” “Karena meskipun saya mayat. Saya tidak boleh tersinggung atau sakit hati.” Penjaga malam itu pasang tabek.” “Tidak." "Kenapa kamu mau?" "Kalau tidak. Sumpah.” “Tetapi bukan?” “Betul sekali. saya hanya parkir di situ supaya tidak mengganggu. Saya sudah biasa tidak dipercayai. "Jadi kamu mayat hidup?" "Ya itu. siapa yang harus melakukan pekerjaan yang jahanam tidak menguntungkan dan menyakitkan ini.” “O kalau begitu kamu hantu?” “Apa saya hantu?” “Ya kamu hantu kalau begitu!” “Ya sudah. Saya tidak tidur. Tidak apa. Saya memang mayat. Saya mayat yang harus hidup. Boleh saja tidak percaya. Boleh juga saya disebut begitu. tetapi bukan. Tetapi di kantor ini. Baik. lalu ditangkap oleh gelap. tempat saya tidak di kuburan. Dipercaya atau tidak. “Kamu jangan main-main.

ia menyentuh keybord komputer untuk menghapus semua keluhkesahnya. Remang-remang dalam kegelapan. “O tidak. Setelah melihat nasib penjaga malam itu. Waktu itu mayat itu merasa malu hati. Ia merasa sudah terlalu cengeng. seluruh tulisan di dalam komputer itu sudah diprotek. Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya seakan-akan sudah berbuat kekeliruan yang fatal.”. Tetapi apa daya. Diliriknya komputer yang penuh dengan tumpahan tuntutannya. sudah cukup. apa yang dirasanya sebagai kesakitan. hanya dengan satu gerakan.11 – 1997 .” desis mayat itu. Ada yang lebih jelek. seperti tidak ada artinya sama sekali. “Ya Tuhan. 3 . “Maaf. Penjaga malam itu tiba-tiba keluar dari gelap dengan tergopoh-gopoh menghampiri. Disertai penyesalan penuh. kalau begitu. Ia abadi.. mayat itu lalu kembali kepada komputernya. kalau begitu. Bahkan aku boleh dikata agak mendingan dibandingkan dengan penjaga malam itu. nasibku tidak terlalu jelek.Mayat itu terpesona. Ia mencuri-curi melirik ke sudut.. ia melihat tubuh penjaga malam itu mencair dalam gelap.*** 64 Jakarta. tidak. lalu kembali lagi ke tempatnya. perlu sesuatu?” Mayat itu terkejut. Aku tidak perlu apa-apa lagi!” Penjaga malam itu mengangguk. memanggil saya. sama sekali tidak bisa dihapus lagi. “Kasihan.

Ia mengenakan topi koboi yang pinggirannya geripis dan warnanya tidak menentu lagi. berkali-kali. Kemudian seperti biasa ia menyerukan kata-kata yang telah dihapalnya di luar kepala: "Atur sendiri-sendiri!" Hingga pesuruh kantor tergopoh-gopoh mengusirnya keluar. Seorang laki-laki tua. begitu berarti dan perlu diketahui oleh setiap orang. Karenanya ia ditakuti orang. seolah-olah ingin kata-katanya didengar oleh setiap orang di seantero dunia. di mana pun kebetulan ia berada. Ia selalu mencangkingkan sebuah buntalan besar yang kumal dan entah apa isinya. Sekali-sekali berhenti di depan kantor. Atau dengan kata-kata itu ia hendak menjelaskan suatu maksud. Ia mengenakan jas wol tua warna hitam yang bulunya telah lenyap dan kelihatannya terlalu besar menyungkup pundaknya. Meskipun tua. selalu dengan tekanan nada sungguh-sungguh. Tidak jarang ia masuk nyelonong begitu saja ke ruang dalam kantor itu tanpa sedikit pun merasa canggung atau enggan. lebih separo abad usianya. Sesuatu yang punya arti. di depan teras-teras rumah yang pagarnya terkunci atau ketika di dunia santai berleha-leha di pojok-pojok sepi. ia berkata: "Atur sendiri-sendiri!" Demikian dikatakannya setiap kali. tempat orang lagi sibuk bekerja. Sorot matanya memancar berbinar. nyaris berteriak. sekedar iseng semata tanpa maksud tujuan tertentu. karena kata-kata itu seperti dilontarkan secara spontan. "Atur sendiri-sendiri!" Bisa berarti: "Berdiri di atas kaki sendiri!" "Jangan sekali-kali ndompleng atau bergantung pada orang lain!" Atau: "Benahi dirimu sendiri. masih terang terngiang di telingaku kata-kata yang selalu diucapkannya dengan suara lantang. Masuk-keluar kampung. Dengan terompahnya yang peyot solnya ia berjalan ke sana-sini mengelilingi kota. terlebih-lebih anak-anak tidak berani mendekatinya. Boleh jadi tidak ada yang dapat memahami arti kata-kata yang diucapkannya. Memakai sarung Samarinda biru yang juga telah memat. Di trotoar-trotoar. jangan pusingkan orang lain!" "Jangan sok!" "Berbuatlah sesuai kemampuan!" . Mungkin jas itu diperolehnya dari belas kasihan salah seorang pegawai Palang Merah Sekutu di zaman pendudukan Nica. Mungkin ia mantan pendekar silat atau bekas tukang pukul pengawal pribadi tokoh yang amat disegani orang. tidak ada artinya. di emperan-emperan toko. Hanya kata-kata itu yang selalu diucapkannya. ditandai oleh kerit-merut di wajahnya. Sepintas lalu. Kata-kata yang sepintas lalu hampa tak bermakna. bila direnungkan. seperempat abad setelah ia meninggal dunia. di perempatan jalan. tapi pengawakannya tegap dan kekar.Rumah Tuhan Oleh: Muhammad Ali 65 Sampai saat ini. seolah-olah kata-kata itu mengandung multi makna yang sulit ditebak artinya.

meskipun agaknya bisa saja ia menghajar dan mengobrak-abrik orang-orang usil itu. Pengelanaannya tidak berjalan mulus. Pernah ia ngumpet di sudut tersembunyi sebuah bank. Karena ada saja orang yang mengusirnya dari tempat itu. Siang hari ia berkeliling mengitari jalan-jalan di kota. Tempat peristirahatannya tidak tetap. Kusir-kusir dokar. belum kuceritakan siapa ia sesungguhnya. Di bawah pohon di taman hotel berbintang. Penjaga malam yang berpatroli atau orang senasib yang merasa lebih berhak menguasai tempat itu. Sudah cukup banyak tempat yang disinggahinya sejak ia meninggalkan desanya beberapa tahun lalu. Siapa namanya. konon di masa mudanya dulu ia pernah memiliki sebidang tanah yang subur di desanya. Bahkan pernah selama beberapa malam ia tidur di serambi rumah dinas walikota yang kebetulan tidak dijaga. Martir habis-habisan Revolusi Kemerdekaan bangsa dan negara itu akhirnya terdampar di sebuah kota yang sama sekali tak ramah. Mereka membumihanguskan seluruh desa. tak terkecuali gubuknya. Ketika berada di jalan-jalan beraspal di bawah sengatan terik matahari atau diliputi hawa dingin di malam hari ada saja orang-orang usil yang memperolok-olokkannya."Hiduplah secara tertib dan teratur!" "Tegakkan disiplin!" "Berbuat baiklah selalu. Ternyata sebagai gelandangan ia bisa hidup terus selama bertahun-tahun. Sebaliknya malah ia menganggap mereka orangorang gila. Apakah "Din" itu kependekan dari nama lengkap Samsudin. Oh ya. Di sampingnya mengalir sungai kecil yang jernih airnya. Di mana-mana ia ditampik dan dihalau. jangan sombong dan bersikap tak terkendali!" Dan masih banyak lagi arti lain yang dapat ditarik dan disimpulkan dari kata-kata tersebut. Ia melonjorkan kakinya yang penat berdebu. mereka sama menertawakan dan mempergunjingkannya. selalu berpindah-pindah. Di emper stasiun kereta api. Tapi semua itu tak dihiraukannya. Tanah itu ditumbuhi berbagai jenis pohon buah-buahan. Diamdiam ditinggalkannya desa tempat asalnya yang penuh kenangan pahit. Menghancur-leburkan kebun buahnya dan membantai anakbininya. karena walikota tidak pernah tidur di situ. Brodin atau Ilmudin. Saridin. Sejak waktu itulah ia mulai linglung serupa orang yang kehilangan akal sehat. penuh bertabur onak dan duri. Ia tetap lewat melintasi mereka sambil merunduk penuh kesabaran. Berkat perlindungan Tuhan ia selamat dari bencana itu. Di halte-halte bus kota. lebih-lebih anakanak jalanan. Di pemakaman-pemakaman umum. Ada selentingan. Sidin. Ia bersama anak-bininya hidup tenteram dan makmur di sebuah gubuk mungil tak jauh dari tanahnya. Dari mana asalusulnya. lalu berkelana tanpa tujuan mengikuti ayunan langkah kakinya. tukang-tukang becak. Dari mana diperolehnya uang untuk penyambung hidupnya? Di samping ada orang-orang yang selalu 66 . Orang hanya mengenalnya hanya dengan panggilan pendek: "Din!" Tak lebih dari itu. tak ada yang tahu. Di emperan super market. Bila malam tiba ia bergegas mencari tempat berteduh untuk mengistirahatkan tubuh. Tapi di zaman Revolusi Kemerdekaan tahun 1945 desanya diserbu oleh balatentara Sekutu yang diboncengi oleh serdadu-serdadu Nica. karena penampilannya yang tidak lazim.

karena ada pagar tinggi menghadangnya. Maka teringatlah ia pada Rumah Tuhan. pikirnya. Ketika sujud ia di bawah cerpu-Nya. lalu mencoba mencari tempat lain utuk istirahat. ada juga insan-insan yang baik hati yang berbelas-kasih yang kadangkadang melemparkan uang recehan atau beberapa batang rokok kepadanya. untuk beristirahat di malam hari. lebih-lebih warga kota yang selalu sibuk dan bising penuh polusi. bahkan tidak mampu memicingkan mata barang sekejap pun. Entah darimana. Mengapa ia tidak ke sana saja. Tak lama kemudian terdengar dengkurnya. teringat akan nasibnya yang malang-melintang. Sebenarnya tak pernah ia dengan sadar melakukan perbuatan-perbuatan salah. lalu melangkah ke dalam surau. lantainya dialasi tikar pandan yang telah usang dan koyak-koyak di sana-sini. 67 . Cepat ia bangkit. Ia menuju ke salah satu surau yang diingatnya. minta naungan dan perlindungan dari Si Empunya Rumah. Dengan hati sendu dan putus asa. apalagi kejahatan. Sampai akhir hayatnya ia ingin senantiasa suasana kedamaian. Dilonjorkannya tubuhnya sambil berbantalkan buntalannya. yaitu Tuhan? Tiadakah rumah itu milik Tuhan? Bukan milik siapa-siapa? Tiadakah setiap hamba Tuhan yang baik berhak memperoleh naungan dan perlindungan di rumah-Nya? Begitulah pada suatu malam dengan penuh harapan ia melangkah menuju ke salah satu masjid agung di kota itu. Di sampingnya ada sebuah kolam tempat air wudu yang kotor dan bau pesing. Dalam salat ia benar-benar menyadari akan kerapuhan dirinya di hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang disembahnya. serasa kini telah didapatkannya kedamaian hakiki yang selama ini menjauhinya. Masjid atau surau dan musala yang jumlahnya cukup banyak di kota itu. Mereka sulit tidur. Surau itu tampak kurang terpelihara. mengambil tempat di saf yang telah rapi berderet di belakang sang imam.menghalaunya. Tapi sial. Baru ia tergugah geragapan ketika seruan azan Subuh berkumandang. Setelah selalu mengalami kesulitan dalam upaya memperoleh tempat peristirahatan yang aman. lalu naik ke serambi surau. ia surut. Surau itu lengang dan kosong. jarang dikunjungi orang dan jelas tidak berpagar besi dengan jeruji yang ujungnya lancip serupa tombak. sekadar numpang tidur sejenak. Berlampu suram. sesaat ia tersedak. Ia ikut melakukan salat Subuh berjamaah. Pagar tinggi tersebut dari besi yang berjeruji lancip ujungnya serupa tombak lagi terkunci rapat. Memang tidak setiap orang bisa menikmati tidur begitu cepat dan nikmat pula seperti yang dialami oleh laki-laki tua yang terlantar itu. yang tentu disambutnya dengan penuh rasa syukur disertai senyuman lebar. diusir dari satu tempat ke tempat lain. Letak surau itu di pinggiran kota yang terpencil. lari ke kolam mengambil air wudu. yang pikirannya selalu buncah dilanda berbagai seribu satu macam kerumitan hidup. Ia pergi ke kolam untuk mencuci kaki dan membasuh mukanya. ia tak bisa masuk ke dalam masjid. kebanyakan orang-orang tua. senantiasa dihalau. suatu ketika tiba-tiba timbul dalam benaknya pikiran itu. Di surau itu telah berkumpul sejumlah orang. Dibangun dari papan pohon waru dan pintunya terbuka lebar. yang akan melakukan salat subuh berjamaah. Kebanyakan orang.

Selesai salat ia masih duduk bersimpuh khusyuk mengikuti sang imam yang memanjatkan doa ke hadirat Tuhan. Hartanya musnah. Ia duduk bersandar ke dinding papan. Lalu menyalaminya dengan akrab seraya berkata. "Benarkah Tuhan melihatku?" tanya hati kecilnya. tidak seperti biasanya. Ia yakin lewat pelita penerangnya Tuhan selalu melihat gerak-geriknya. Diraupnya tangan penjaga surau itu lalu menciumnya. Seorang laki-laki tua yang kepalanya beruban menghampirinya. terpencil dan dikucilkan dari arena pergaulan hidup manusia. Satu-satunya yang masih tinggal padanya ialah kepercayaannya kepada Tuhan. Harapan-harapan. Seolah-olah ia sesuatu yang najis dan menjijikkan. Saudara boleh beristirahat di sini setiap malam. ilusi dan begitu banyak hal indah mempesona telah meninggalkannya. Mereka ragu terhadap hikmat pengertian yang telah diberkati. berkeliling kota tanpa tujuan.. Benar telah dilihatnya keraguan sementara orang. limpahan karunia kasih sayang-Nya serta ampunan-Nya yang tiada batas akhirnya. Di tengah kehiruk-pikukan dunia serba fana. "Cukup bagiku Tuhan melihatku. selalu dipupuknya. Sesaat dipejamkannya kedua belah matanya. Dan ketika salat rampung sudah. "Saya adalah penjaga surau ini. melindunginya dari kegetiran dan kesengsaraan hidup. Kepercayaan kepada Tuhan merupakan pelita penerang baginya yang selalu bersamanya dalam kegelapan kehidupannya. Mereka hanya memandang sesaat lamanya. Keluarganya punah. Serasa ia bermimpi melihat sosok yang aneh berwujud penjaga surau yang kepalanya ubanan. Sejak waktu itu ia tak usah lagi berkeliaran mencari tempat berteduh.. Sementara asyik memikirkan tentang kehidupan serta kesesatan manusia dalam abad yang kisruh ini --yang disebut abad teknologi-. Seakanakan sambil terpejam sempat disaksikannya di ruang matanya lakon kehidupannya yang sedang berputar. Sesudah salat Subuh ia meninggalkan surau melakukan kebiasaannya. Setiap malam ia langsung pergi ke surau itu untuk beristirahat. Jika Saudara kehendaki. Suatu ketika. Sama sekali tidak terbayang raut kebencian atau kerisihan pada wajah mereka. menguntitnya ke mana ia pergi dan di mana ia berada. para jamaah sama mengarahkan pandangan mereka nanap kepadanya. terutama mereka yang termakan oleh apa disebut kemajuan ilmu pengetahuan. Hidupnya yang hancur berantakan dan porak-poranda.yang sekaligus membelakangi norma-norma agama. Menghapus keringat di jidatnya dan menghela napas panjang. Ia tersingkir. ia tiba di surau sebelum waktu salat Zuhur. Hanya Tuhan satu-satunya yang dekat padanya. walau angin sejuk berhembus mengipasinya. kepasrahan dan ketergantungannya pada kekuasan-Nya.. Agak lama matanya terpejam. Bibirnya terkatup tak dapat menyampaikan terima kasih. Nasibnya tercabik-cabik di tengah kehidupan kota yang tak berbelas kasih. ia mengelana seorang diri." jawabnya. 68 ." Mendapat tawaran yang tak terduga-duga itu hampir ia berjingkrak kegirangan. Tak seorang pun peduli. Keyakinan dan kebesaran-Nya.

Orang tua itu berkata: "Ketahuilah olehmu. Di sana segala sesuatu kekal abadi. tapi telah keburu sombong dan berlagak. Mereka coba mendekati planet Mars. indah sempurna tiada tara.. mari kita tinggalkan dunia yang fana ini. "Belum lama ini. Mereka juga mempelajari sebab-sebab turunnya hujan dan angin topan dan tidak lagi menggubris Tuhan.. Sebenarnya mereka belum berbuat sesuatu yang berarti. Seorang ilmuwan tersohor muncul dan menyatakan. Ketika saat salat Zuhur tiba. Tapi akhirnya mereka menemukan penangkal petir dan guntur dan mereka tidak lagi merasa takut kepada Tuhan. hingga menggigil sekujur sendinya. Mereka malah sama sekali belum menyentuh tubir ruang angkasa semesta yang didindingi tujuh lapis langit. dalam hati nurani dan jiwanya. Mereka mengira telah berhasil mencapai ketinggian yang luar biasa. ketika manusia sama ketakutan. Ini merupakan masa paling buruk. Hal ini tentu telah engkau ketahui. dan akan selalu terjadi. Laki-laki tua yang sering melontarkan kata-kata: "Atur sendiri-sendiri!" telah menghembuskan napasnya terakhir dengan penuh kedamaian di Rumah Tuhan yang sejuk dan damai. seolah-olah ia tertidur lelap. "Kini. bahwa ia telah mempelajari dan meneliti bumi dan langit dari segala segi. "Bukankah di sini kita tidak mendapat tempat yang layak? mari kita pergi menghadap ke hadirat-Nya.. Jiwanya serasa lepas terbang ke sawang lapang tak terbatas. tapi tidak pernah menemukan tanda-tanda adanya Tuhan. Kedua belah matanya rapat terpejam." kata sosok penjaga surau." Mendengar ajakan itu jiwanya terasa luluh. Padahal mereka masih tetap mengorbit di seputar atmosfir bumi. orang-orang datang bergerombol ramai-ramai mengerumuni sosok tubuh yang tersandar di dinding papan serambi surau. hai pengelana. "Mereka telah mendarat di permukaan bulan. Sungguh keterlaluan! Padahal ia dapat menemukan Tuhan dalam dirinya. ketika badai mengamuk dan gempa bumi menggelegar. bahkan di uratnadinya. Tapi ia takkan pernah bangun dari tidurnya.*** 69 .

Horison, Juni 2000

Wawancara dengan Sinterklas Sebuah Renungan Sebelum Hari Natal

70

Oleh: Erich Kästner ( 1899 - 1974 )

Bel pintu sudah berbunyi lagi. Yang kesembilan kalinya dalam satu jam terakhir ini! Hari ini, begitulah tampaknya, para pencinta tombol bel pada berkeliaran di jalanan. Dengan murung aku merangkak menuju pintu dan membukanya. Bayangkan, siapa yang berdiri di luar? Sinterklas pribadi! Dalam pakaian kebesarannya yang bersejarah dan terkenal itu. "Oh," kataku. "Sinterklas yang terburu-buru!" "Yang kudus, kalau saya boleh minta." Nadanya sedikit tersinggung. "Ketika masih muda aku selalu menyebut Anda sebagai Sinterklas yang terburu-buru. Aku pikir itu lebih masuk akal." "Jadi, Andalah orangnya?" "Anda masih ingat hal itu?" "Tentu saja! Anak laki-laki kecil yang lucu, begitulah Anda waktu itu!" "Sekarang pun aku masih tetap kecil." "Dan sekarang Anda tinggal di sini?" "Betul sekali." Kami tersenyum pasrah dan mengenang masa-masa yang telah berlalu. "Mampirlah sebentar!" pintaku. "Marilah minum secangkir kopi bersamaku!" Jujur saja, sebenarnya aku merasa kasihan kepadanya. Apa yang harus kukatakan? Dia tidak pergi. Dia berkenan untuk singgah. Pertama-tama dia membersihkan sepatu botnya di keset depan pintu, lalu meletakkan karungnya di

samping gantungan mantel, menggantungkan ranting pelecutnya di sebuah gantungan, dan akhirnya dia minum kopi bersamaku di kamar tamu. "Anda mau cerutu?" "Aku tidak akan menolaknya." Kuambil kotak cerutu. Dia mengambil sebatang. Aku memberinya api. Lalu dengan bantuan sepatu bot yang kiri dia melepaskan sepatu botnya yang kanan dan menghembuskan nafas dengan lega. "Ini gara-gara ganjalan untuk telapak kakiku yang rata. Ganjalan ini sama sekali tidak nyaman." "Kasihan sekali Anda! Apalagi dengan pekerjaan Anda yang seperti itu." "Tetapi dibandingkan dulu, sekarang hanya ada sedikit pekerjaan. Dan itu baik untuk kakiku. Sekarang sinterklas-sinterklas palsu itu tumbuh seperti jamur saja layaknya." "Suatu hari anak-anak akan berpikir bahwa Anda, Sinterklas yang asli, sama sekali tak ada lagi." "Itu juga betul! Orang-orang itu merusak pekerjaanku! Kebanyakan dari mereka yang memakai mantel bulu, memakai jenggot dan meniruku itu, tidak mempunyai bakat barang sedikit pun! Mereka adalah orang-orang yang tidak profesional!" "Karena kita sedang berbicara tentang pekerjaan Anda," kataku, "aku punya pertanyaan kepada Anda, pertanyaan yang sudah sejak masa kecilku menyibukkanku. Dulu aku tidak berani bertanya. Tetapi sekarang aku sudah lebih berani karena aku menjadi wartawan." "Tidak apa-apa," katanya dan menambah kopi lagi. "Apa yang Anda sudah ingin tahu sejak waktu kecil?" "Begini," aku memulai dengan ragu-ragu, "pekerjaan Anda itu sebenarnya sejenis bisnis musiman yang tidak tetap, bukan? Pada bulan Desember, Anda punya banyak sekali pekerjaan. Semuanya bertumpuk hanya pada beberapa minggu saja. Pekerjaan itu bisa disebut sebagai bisnis dadakan. Lalu..." "Hm?" "Lalu, aku benar-benar ingin tahu, apa yang Anda kerjakan pada bulan-bulan lainnya!" Sinterklas tua yang baik itu memandangku dengan terpana. Kelihatannya, tidak ada seorang pun yang pernah mengajukan pertanyaan yang begitu mudah dimengerti itu kepadanya. "Kalau Anda tak mau membicarakannya... ." "Mau, mau kok," katanya dengan suara seperti menggeram. "Kenapa tidak?" Dia minum seteguk kopi dan mengepulkan asap rokok berbentuk lingkaran. "Pada bulan November, tentu saja aku sibuk dengan pengadaan bahan-bahan. Di beberapa negara tiba-tiba tidak ada coklat lagi. Tak seorang pun tahu mengapa. Atau apel ditimbun oleh para petani. Lalu segala macam masalah dengan pemeriksaan bea cukai. Dan setumpuk dokumen untuk

71

transportasi barang-barang. Dan kalau berjalan seperti itu terus, nanti aku harus memulainya sejak bulan Oktober. Sebetulnya, sampai sekarang pada bulan Oktober aku menarik diri dan dengan tenang membiarkan janggutku tumbuh." "Anda hanya berjanggut dalam musim dingin saja?" "Tentu saja. Aku `kan tidak bisa sepanjang tahun pergi ke sana-ke mari sebagai Sinterklas. Anda pikir, aku memakai mantel buluku terus menerus? Dan selama 365 hari menyeret-nyeret karung dan ranting pelecutku ke mana-mana? Nah, begitulah. Di bulan Januari aku membereskan pembukuan. Sungguh mengerikan. Dari abad ke abad, Hari Natal menjadi semakin mahal!" "Tentu saja." "Lalu, aku membaca surat-surat yang datang pada bulan Desember. Terutama surat dari anak-anak. Pekerjaan yang sungguh memakan waktu, tetapi penting. Karena kalau tidak, kontak dengan langganan akan terputus." "Logis." "Awal Februari aku pergi ke tukang cukur untuk mencukur jenggotku." Pada saat itu, bel pintu berbunyi lagi. "Permisi ya?" Dia mengangguk. Di luar, di depan pintu, berdiri seorang pedagang keliling dengan kartu pos bergambar yang berwarna-warni mencolok mata, dan dia bercerita tentang sebuah kisah yang sangat panjang dan sangat menyedihkan. Bagian pertama dari kisahnya itu kudengarkan dengan tabah sambil "menahan sakit" pada kupingku. Lantas aku memberinya uang kecil yang ada dalam saku celanaku, dan kami saling mengucapkan selamat juga untuk masa depan kami. Walaupun aku sudah berkeras menolaknya, dia tetap memaksakan setengah lusin dari kartu-kartu posnya yang mengerikan itu kepadaku. Dia, katanya, bagaimanapun bukanlah seorang pengemis. Aku menghormati harga dirinya yang indah itu dan mengalah. Akhirnya dia pergi. Ketika aku kembali ke kamar tamu, Sinterklas sedang mengenakan sepatu bot kanannya sambil merintih. "Aku harus meneruskan perjalanan," katanya, "kakiku toh tidak bertambah baik. Apa itu yang Anda pegang?" "Kartu pos. Seorang pedagang keliling memaksaku untuk menerimanya." "Sini, berikan kepadaku. Aku tahu orang yang mau menerimanya. Terima kasih banyak untuk keramahan Anda. Kalau saja aku bukan Sinterklas, aku pasti akan iri kepada Anda." Kami berjalan ke koridor, di mana dia mengambil perlengkapannya. "Sayang," kataku. "Anda masih berhutang kelanjutan kisah hidup Anda." Dia mengangkat bahu. "Sebetulnya tidak banyak yang banyak bisa diceritakan. Pada bulan Februari aku mengurus pesta karnaval anak-anak. Setelah itu, berkeliling di pasar saat musim semi. Berjualan balon dan mainan mekanik murah. Pada musim panas aku menjadi pengawas kolam renang dan memberi kursus berenang. Kadang-kadang aku pun berjualan es krim di jalan. Ya, dan setelah itu musim gugur datang lagi - sekarang aku benar-benar harus pergi."

72

Kami berjabatan tangan. Dari jendela, pandanganku mengikutinya. Dia berjalan di salju dengan langkah lebar dan tergesa-gesa. Di pojok Jalan Unger, seorang lelaki menantinya. Orang itu mirip si pedagang keliling yang banyak omong dengan kartu posnya yang konyol itu. Mereka berdua membelok di tikungan sudut jalan. Atau mungkin aku keliru? Seperempat jam kemudian bel sudah berbunyi lagi. Kali ini yang muncul adalah anak muda pesuruh toko makanan Zimmermann Söhne. Sebuah kunjungan yang menyenangkan! Aku akan membayar, tetapi dompetku tak kutemukan dengan segera. "Kan masih ada waktu, Pak Doktor," katanya dengan nada kebapakan. "Aku yakin bahwa aku meletakkannya di atas meja tulis!" kataku. "Baiklah, kalau begitu akan kubayar besok saja. Tapi tunggulah sebentar, saya ambilkan sebuah cerutu istimewa untuk Anda!" Kotak cerutu itu pun tak segera kutemukan. Itu artinya, nanti pun tak akan kutemukan. Tidak cerutu. Tidak juga dompet. Tempat rokok dari perak pun tidak bisa kutemukan. Dan kancing-kancing manset dengan batu bulan yang besar-besar dan mutiara-mutiara untuk jas berekor pun tak ada, baik di tempatnya atau pun di tempat lain. Setidaknya, tidak di rumahku. Aku tidak bisa menerangkan, ke mana barang-barang itu menghilang. Tetapi bagaimanapun, malam ini adalah malam yang tenang dan indah. Bel pintu tak berbunyi lagi. Sungguh, sebuah malam yang baik. Hanya saja, ada sesuatu yang kurang. Tetapi apa? Sebatang cerutu? Tentu saja! Untunglah geretan emas itu pun tidak ada lagi. Karena kalau ada, walaupun aku seorang yang tenang, aku harus mengakui: punya api, tapi tak punya rokok, itu bisa merusak seluruh malam!***

73

Kisah-kisah dari Buku Bacaan Wolfgang Borchert ( 1921 - 1947 )

Judul asli: "Lesebuchgeschichte". Diterjemahkan oleh Kelompok Kerja Penerjemahan Sastra Jerman, Jurusan Bahasa Indonesia, Seminar fuer Orientalische Sprachen (Seminar untuk Bahasa-bahasa Timur) Universitas Bonn (Silke Brand, Britta Debus, Helgard Haas, Birgit Lattenkamp, Klaus Mundt, di bawah bimbingan Dewi Noviami)

"Semua orang sudah mempunyai mesin jahit, radio, lemari es dan telepon. Bikin apa kita sekarang?" tanya Pemilik Pabrik. "Bom," kata Penemu. "Perang," kata Jenderal "Kalau tak ada pilihan lain," kata Pemilik Pabrik.

seribu orang bisa terbunuh dalam waktu dua jam. Dia menambahkan hurufhuruf yang sangat kecil dan halus. Dan di atas kertas ada angka-angka. " "Empat ribu. Kemudian hanya dengan setengah gram. Matahari menyinari bunga. jika saja saya tidak mengubah coklat menjadi mesiu pada waktu yang tepat." "Empat ribu? Baiklah. Mereka adalah seorang pemilik pabrik dan seorang pengusaha bangunan. tentu." Kedua laki-laki itu berpisah. Sobat. Saat itu zaman perang. Ketika dia melihat sekuntum bunga mati. saya tak akan mampu memberi Anda uang empat ribu ini. Dan kertas. "Ongkosnya?" "Dengan ubin?" "Dengan ubin hijau." "Dengan ubin hijau." "Dan saya tidak dapat memberi Anda kamar mandi. *** .Lelaki dengan jas kerja putih menulis angka di atas kertas. 74 *** Dua laki-laki bercakap-cakap." "Dengan ubin hijau. Ya. Lalu dia membuka jas kerja putihnya dan selama satu jam merawat bunga yang ada di ambang jendela. dia sedih sekali dan menangis.

" "Terimakasih. Menyeramkan." "Jadi. Menyampaikan beberapa istilah: kehormatan. Menimbulkan gemuruh halus. Mengingatkan pada Langemarck. seribu. 75 *** Dua laki-laki bercakap-cakap. Sangat mengharukan. Pak Guru. Banyak salib kecil. Mengharukan." "Berapa Anda bisa memberi saya?" "Paling banyak delapan ratus. sedang berkabung?" "Sama sekali tidak. Ingat Sparta.… Sama sekali tidak. Mereka adalah para jenderal. Dia mengambil bola baru dan menggelindingkannya di atas lintasan. Pak Guru. "Nah. Para pemuda bernyanyi: Tuhan yang memberi senjata. di belakang. Dua laki-laki bercakap-cakap. Upacara yang mengharukan. ." Pak Guru memandang yang lain dengan ngeri. Kelihatannya seperti lelaki-lelaki kecil.' Kedua laki-laki itu berpisah. bagaimana?" "Tidak begitu sukses." "Anda masih punya berapa?" "Kalau lancar: empat ribu. gada-gada kecil berjatuhan. Sangat mengharukan. Banyak mata bersinar. berpakaian hitam-hitam. Dia bangkit dan tertawa. "Nah. Mengutip Clausewitz." "Pasti akan habis. berhentilah. Saat itu adalah zaman perang. Sambil bercerita dia menggambar banyak salib kecil di atas kertas. Ada upacara." "Demi Tuhan. tanah air.Lintasan boling. Mereka berbicara tentang manusia. Lalu. Berpidato pendek. Para pemuda maju ke garis depan. Membacakan Hölderlin.

Pada waktu itu dia melihat seorang yang punya roti." "Berapa umurmu?" "Delapan belas. para menteri jalan-jalan di kota." Kedua laki-laki itu berpisah. Ketika perang berakhir. Pada waktu itu mereka melewati sebuah stand menembak. prajurit itu pulang ke rumah.*** Dua laki-laki bercakap-cakap. Tuan?" seru gadis-gadis berbibir merah. "Mau menembak." kata Hakim. Tapi dia tidak punya roti. Para menteri itu mengambil senjata dan menembak lelaki-lelaki kecil dari karton. Dia mati. Ketika salah seorang menteri meminta kembali senjatanya. seorang perempuan tua datang dan mengambil senjata mereka. Dan kamu?" "Sama. Orang itu dibunuhnya. . 76 *** Ketika konferensi perdamaian berakhir. "Kenapa tidak." tanya Prajurit. Yang satu rubuh. "Kamu tidak boleh membunuh. "Sukarelawan?" "Tentu. Saat itu adalah zaman perang. perempuan itu menamparnya. Mereka adalah prajurit. Ketika mereka sedang menembak.

mereka saling memukul dengan tangan. Dan anjing-anjing masih mengangkat kakinya. mereka menggunakan bakteri. Diterjemahkan oleh Kelompok Kerja Penerjemahan Sastra Jerman. *** Pada suatu ketika ada dua manusia.*** Judul asli: "Interview mit einem Weihnachtsmann". Dan kadang-kadang kadang-kadang seorang manusia bisa dijumpai. Cacing tanah itu sama sekali tidak merasakan bahwa di situ dua manusia yang berbeda dikuburkan. mereka saling memukul dengan tongkat dan saling melempar batu. Ketika tahun 5000 seekor tikus mondok muncul dari tanah. Waktu mereka dua puluh dua tahun. Semuanya tanah yang sama.Dia adalah seorang ibu. Waktu mereka empat puluh dua tahun. mereka saling menembak dengan senjata. Waktu mereka enam puluh dua tahun. mereka saling melempar bom. Tanahnya sama. Mereka dikuburkan 77 Ketika seratus tahun berlalu. delapan puluh dua tahun. Burung-burung gagak masih menggaok. seekor cacing tanah makan di kuburan mereka. Waktu mereka berdampingan. Lumut dan laut dan nyamuk-nyamuk: Semuanya masih tetap yang sama. Jurusan Bahasa Indonesia. mereka mati. dia mengamati dengan tenang: Pohon-pohon masih tetap pohon-pohon. Waktu mereka berumur dua tahun. Seminar fuer Orientalische Sprachen (Seminar untuk Bahasa- . Ikan-ikan kecil dan bintang-bintang. Waktu mereka dua belas tahun.

di bawah bimbingan Dewi Noviami). 78 . Birgit Lattenkamp. Beate Meik.bahasa Timur) Universitas Bonn (Silke Brand.

Pada pertemuan pertama. puncakpuncak menara gereja itu menjulang tinggi di atas rumah-rumah penduduk kawasan Schiffslaende. Karena tinggal di daerah Wuerttemberg. pertama-tama Remarque mulai bersenandung. Meskipun saya menggambarkan garis besar rencana penelitian kami hanya sesuai ketentuan umum.. yaitu “Flandrischer Totentanz”.Abadku Oleh: Günter Grass ( 1927 . Remarque—waktu itu usianya enam puluh tujuh tahun—datang dari arah kota Locarno. di Flandern maut merajalela”). dengan banyak pertumpahan darah. setelah dua rekan di lembaga penelitian kami sudah berulang kali dan sia-sia berusaha. Biasanya kami duduk-duduk di serambi restoran roti dan kue. akan tetapi sekaligus menyusahkan. balai kota dan hotel “Zum Rueden”. .. Kemudian keduanya memandang ke arah gereja Grossmuenster. Saya telah memesan kamar-kamar yang tenang di hotel “Zum Storchen”. apalagi saya warga negara Swiss suatu negara yang netral. in Flandern reitet der Tod” (“Flandern dilanda bahaya. sambil memandang sungai Limnat. sedangkan Juenger lebih suka welsche Dole. Perihal kedua tokoh mengesankan yang sudah “is bitzeli fossil” inilah saya beritakan kepada rekan-rekan di lembaga penelitian. tampaknya lebih tua dan lemah daripada Juenger yang kelihatan gagah meskipun baru saja telah melampaui usia tujuh puluhan dan menampilkan diri sebagai seorang suka olah raga. yaitu daerah yang dulu diperebutkan dengan sengit. Mungkin saya lebih beruntung karena saya perempuan dan masih muda. Usaha mereka “uff Sehwyzerduetsch zu schwaetze” amat lucu.. dalam waktu beberapa hari dan hampir bersamaan datang dua surat jawaban yang menyatakan bahwa undangan saya diterima. ketika saya mengutip awal sebuah lagu yang selama Perang Dunia I sering dinyanyikan dan tidak diketahui penciptanya. Ia jelas kelihatan sebagai seorang yang menikmati kesenangan hidup. ) 79 1914 Akhirnya. tidak lama kemudian juga Juenger turut menyanyikan lagu yang melodinya sangat sedih dan mencekam. pada pertengahan tahun enam puluhan saya berhasil menggugah kedua pengarang lanjut usia itu —Juenger dan Remarque— agar mau bertemu. percakapan mereka sangat kaku dan tersendat. sesudah berjalan kaki mendaki bukit Vogesen menuju ke Hartmannsweilerkopf. Kelihatan betul bahwa keduanya sangat berusaha memperlihatkan sopan santun dan daya pikat mereka masing-masing. Juenger datang liwat kota Basel. Namun. mungkin surat-surat saya didengar sebagai ketukan takut-takut lembut di pintu. Tamu-tamu kehormatanku—keduanya saksi zaman dan pelaku sejarah—berbincang-bincang sambil beradu pengetahuan tentang jenis-jenis anggur yang dihasilkan di Swiss: Remarque memuji berbagai jenis anggur yang berasal dari daerah Tessin. Keduanya masih mengetahui larik-larik yang mengakhiri tiap bait: “Flandern in Not.

satu tidak kembali. Akui sajalah. Lalu ia melanjutkan: “Ketika akhirnya perang meletus. kopelrim dan selongsong peluru yang berasal dari pertempuran tahun empat belas. Menjelang akhir pertemuan pertama—kedua pengarang itu masing-masing telah menghabiskan sebotol anggur merah—Juenger berbicara tentang Flandern lagi: “Ketika dua tahun kemudian kami masuk ke dalam parit-parit di garis depan daerah Langemarck. bahkan dalam novel Im Westen nichts Neues—novel pertama Anda yang memang hebat—Anda bercerita penuh perasaan dan gejolak batin tentang persahabatan sehidup semati di antara para prajurit. banyak murid sekolah menengah umum ramai-ramai mendaftarkan diri sebagai tentara sukarela. ia sudah sangat ingin mengalami keadaan bahaya dan sangat tertarik pada petualangan-petualangan luar biasa dan “bahkan ingin masuk Legiun Asing Prancis”. Meskipun perang itu kemudian membawa penderitaan. yang tidak berkesempatan masuk sekolah menengah umum. Barangkali sebab itu. Tanpa pikir panjang dan tanpa rasa bersalah Anda telah mengerahkan satu pasukan tempur. Kalau yang satu masih tetap memandang dirinya sebagai seorang “pencinta damai yang tidak dapat berubah ataupun diubah”. yang lain menuntut dimengerti dan dipahami sebagai “anarkis”. ketika dekat Bixschoote dan Ypern terjadi pertempuran seru yang mengakibatkan pertumpahan darah habis-habisan di pihak resimen-resimen tentara sukarela Jerman. juga. hanya guna menangkap satu-dua orang musuh—sekedar untuk melampiaskan nafsu sadis dan sekaligus guna menjarah sebotol Cognac!” Namun kemudian ia mengakui bahwa di buku hariannya Juenger telah menggambarkan pertempuran parit. bahkan sampai pada hari-hari terakhir sebagai komandan pasukantempur. Dan mereka yang kembali. “Dinas di rumah sakit tentara sudah cukup sebagai sumber ilham saya. bahwa gaya penulisan mereka berlawanan. dengan sangat teliti. Bahkan juga Pickelhauben ditemukan. kata Remarque. Remarque. bahkan juga ciri-ciri pertempuran yang membawa banyak korban dan kerugian itu. sampai sekarang hancur jiwa raganya. Remarque mulai bercerita bahwa pada musim gugur tahun empat belas ia masih di bangku sekolah di kota Osnabrueck. yang mengabarkan bahwa berondongan tembakan senapan mesin dari pihak Inggris dibalas sambil menyanyikan lagu kebangsaan*. ia mengakui juga bahwa lama sebelum permulaan perang. Anda tetap berpetualang seperti preman bajingan.Sesudah perenungan beberapa saat diselingi dehem-mendehem. pertempuran sebagai pengalaman jiwa tetap memikat saya. perlengkapan tentara sukarela yang dalam kekuatan resimen telah maju ke garis depan …” 80 1915 . melainkan pengalaman di garis depan dari suatu generasi yang diperalat. sampai serangan terakhir yang diperintahkan Ludendorff. meskipun Juenger menamakan kultus kepahlawanan Langemarck “bualan kaum nasionalis”. Dari tiap dua orang. seperti Remarque sendiri. Juenger sambil tersenyum halus menceritakan beberapa pengalaman masa sekolah kepada Remarque.” Kedua pengarang tua itu memang tidak mulai berselisih. kami merasa dilebur menjadi satu kekuatan besar. “Omong kosong!” teriak Remarque. isinya bukan kumpulan pengalaman pribadi. Setidak-tidaknya Remarque memandang dirinya sendiri sebagai “mayat hidup”. juga karena disemangati oleh para guru.” Novel ini. “Dalam Stahlgewittern. kami menemukan senapan. akan tetapi mereka menekankan bahwa pandangan mereka mengenai perang berbeda. bahwa legenda kepahlawanan di Langemarck. memberi kesan yang sangat mendalam kepadanya. dan bahwa juga titik tolak mereka berlainan.

Seakan-akan menjadi saksi.” Kemudian ia berbicara langsung kepada saya. Di sinilah dulu Lenin menunggu keberangkatannya ke Rusia —perjalanan yang dikawal tentara kekaisaran Jerman— sambil membaca-baca Neue Zuercher Zeitung dan surat kabar lain serta diam-diam merencanakan revolusi. Selanjutnya Juenger menghujani Remarque dengan berbagai keterangan rinci. perusahaan-perusahaan lain yang mendapat ordernya. Kami berlomba dengan orang Prancis yang juga mulai memakai helm baja. yang sudah tidak dipakai lagi ketika Anda jadi tentara. sehingga selama dua belas tahun terpaksa berhenti beredar di pasaran buku Jerman. berapa banyak korban jiwa telah jatuh karena helm kulit yang tidak ada gunanya itu. Juga Schweizerhelm yang sampai sekarang dipakai militer. Andaikan Anda tahu. Juenger langsung melontarkan sebuah kata yang tidak lepas dari pembicaraan selanjutnya: “Pickelhaube yang amat menjengkelkan ini. Mulai enam belas Februari semua divisi di garis depan memakai helm baja.” kata Remarque. 81 . Karena Krupp tidak mampu menemukan campuran logam yang cocok untuk menghasilkan baja anti karat. terjemahannya ke dalam beberapa bahasa asing mengalami nasib yang sama. Ketika serangan dan pertahanan di pinggir sungai Somme mulai diperbincangkan. yang berada di front Timur terpaksa palinglama menunggu. karena bagian depan helm itu harus memberi perlindungan sampai ke ujung hidung. bahannya kadang-kadang diganti dengan bahan campuran wol dan serat lain yang dipres. Padahal buku saya dalam tahun 1933 termasuk buku yang dibakar secara resmi. sedangkan madah perang karangan Anda jelas tidak pernah terhambat penerbitannya. berkurang satu orang. Namun Im Westen nichts Neues tiras penerbitannya jauh lebih tinggi daripada In Stahlgewittern.” Sanggahan saya “Untung helm kami tidak terpaksa diuji coba dalam pertempuranpertempuran yang membawa pengorbanan dahsyat dan kerugian besar seperti yang Anda gambarkan dengan kekuatan bahasa yang begitu meyakinkan” diabaikannya. Setiap pecahan peluru tembus. Helm baja itu hasil percobaan seorang kapten arteleri bernama Schwerd setelah percobaan-percobaan sebelumnya tidak memberi hasil yang memuaskan. meskipun bentuknya agak diubah.” Juenger tidak menjawab. Kemudian saya berhasil mengalihkan pembicaraan ke perang parit di Flandern dan di tanah kapur daerah Champagne. Semua pasukan di depan kota Verdun dan di pinggir sungai Somme mendapat prioritas. terletak di atas meja marmer di antara roti croissant dan keju. “buku itu laris. apalagi dalam pertempuran parit! Bahkan karena kekurangan kulit. sampai ke bagian yang mencuat ke belakang guna melindungi tengkuk dan lapisan dalam berupa bantalan berisi rambut kuda atau terbuat dari campuran wol dan serat-serat lain yang dipres. pada dasarnya mengikuti model helm baja kami. hal itu disebabkan oleh lebarnya bagian dahi yang mencuat ke depan. mulai dari proses anti karat yang menghasilkan permukaan luar yang kusam berwarna kelabu. Remarque sengaja tetap membisu. antara lain pabrik besi Thale. Lalu ia mengeluh tentang hambatan penglihatan di waktu pertempuran parit. kedua buku yang pernah menyulut perdebatan sengit antara kubu pro dan kontra perang. Remarque. Remarque! Pelindung kepala itu dalam divisi kami di garis depan sudah sejak lima belas Juni diganti dengan helm baja. Setiap tembakan jitu. Disetujui pula bahwa saya diizinkan minum air jeruk. pertama-tama kedua tamu saya sepakat bahwa pertemuan ini akan dimulai dengan sarapan pagi yang disertai minuman anggur. bahkan juga penyangga yang diberi lubang ventilasi. sebuah kafe yang sejak dulu sudah terkenal. melainkan seputar masa lalu. “Betul. sambil meletakkan beberapa bagian peta medan perang di meja yang sudah agak kosong setelah perangkat sarapan pagi disingkirkan. Sebaliknya pikiran kami bertiga bukan mengenai masa depan. Namun.Pertemuan berikutnya berlangsung di Odeon.

” Ia memanggil pelayan dan memesan Pfluemli lagi. sesudah itu M 17. jauh terlalu besar untuk pasukan pengganti yang terdiri dari prajurit-prajurit muda yang baru direkrut dan yang kadang-kadang bahkan belum selesai dilatih. Lucu dan memelas sekaligus. yang tinggal kelihatan cuma bibir mereka yang meringis ketakutan dan dagu mereka yang gemetar. si none. topi baja yang hebat ini sangat mengganggu. Saya. 82 ..“Nah.. dipesankan air jeruk yang baru diperas segelas lagi. mestinya Anda ketahui juga. Juenger juga. ada lubang bekas peluru tentu.*** Diterjemahkan oleh Dewi Noviami. . sebuah helm Inggris yang bentuknya sama sekali lain.” Setelah agak lama tidak ada yang berbicara—kedua pengarang itu sedang menikmati Pfluemli dan kopi hitam—akhirnya Remarque mengatakan: “Helm baja jenis M 16. Meskipun harus diakui sebagai tindakan ceroboh. saya lebih suka memakai peci letnan saya yang sudah tua . Melorot terus. di meja tulis saya ada kenangkenangan. Wajah-wajah mereka yang masih lugu seperti anak sama sekali tertutup oleh helm itu.sutera lagi lapisan dalamnya!” Lalu ia teringat pada sesuatu yang dianggapnya lucu: “O ya. Anda tentu tahu bahwa pada saat-saat manuver selama serangan gempur. hampir pipih. Bahwa peluru yang ditembakkan oleh pasukan infanteri dan bahkan pecahan-pecahan kecil peluru meriam tetap menembus topi baja itu.

Orang itu berdiri dengan sangat membisu di sampingku. masker gas di sebelahnya dan pada tanggul lobang perlindungan diletangkannya senapan teracung ke arah musuh. melepaskan kopelrimnya. "jangan terlalu keras. "kemarikan. aku tahu bagaimana dia.. dan bagus juga bahwa dalam kegelapan aku tidak bisa melihat ulat-ulat yang keluar dari buncis waktu dimasak. "Tidak usah. dengan muka selalu menghadap ke . "Kau mau roti ini juga?" tanya Gerhard. Letnan mengirim dia kepadamu. "Ayo. Gerhard. di pos pengintaian. semuanya akan segera kumakan. meloloskan lalu meletakkan sekopnya ke samping." Selama itu." kataku.Jak. Sop buncis sudah dingin. dialah yang mengantarkan orang itu.." Dia menyerahkan roti dan daging kalengan dalam bungkusan kertas minyak. juga ke arah depan yang gelap dan sunyi. si orang baru berdiri di samping sambil menggigil dan membisu. "orang baru yang menggantikan Gornizek . dia datang pada malam hari untuk menggantikan Gornizek yang berjaga di belakang. dan mendengarkan ke arah belakang di mana terdengar suarasuara yang ditimbulkan petugas pengantar makanan itu.. sebungkus permen Drops dan lemak mentega dalam kertas karton. Gerhard kemudian menyelinap kembali ke pos komando. Di dalamnya ada banyak potongan-potongan daging empuk yang kukunyah dengan nikmat. Sang Calo Oleh: Heinrich Böll (1917 . aku tahu bahwa dia terburu-buru untuk kembali ke pos komando. "Idiot. dia pun membawa rokok. Lebih dengan pendengaranku daripada dengan penglihatan. ." kataku. sekop dan masker gas berdentingan dengan bodohnya." kataku perlahan. di mana orang-orang Rusia berada. Dengan canggung dia masuk ke lobang perlindungan dan hampir saja menyenggol rantang makanku. . dan bagaimana dia kemudian mengaitkan kopelrimnya lagi. begitu saja dari kertas pembungkusnya. adalah hal yang biasa mengirim orang baru ke pos yang tersulit. dan selain membawa peralatan makan." gumamku dan bergeser untuk memberinya tempat. Dan daging kalengan itu pun kumakan.. ke mari. "atau kusimpankan sampai besok pagi?" Dari nada suaranya." kata Gerhard. "Dan ini. di pos komando. Aku berdiri di depan.1985) 83 Bersama petugas pengantar makanan. sialan!" Peralatan kopelrimnya. "Ini." "Ya.. untuk pos pengintaian. sesuai dengan aturan. Malam-malam itu begitu gelap dan rasa takut seperti hujan badai berguntur di bumi yang muram dan asing.. kemudian roti kutekan-tekankan pada rantang yang sudah kosong.

tapi aku tahu bahwa dia duduk seperti seorang prajurit baru di sebuah kelas. "Diam!" aku membentaknya." Dia mengambil botol dari tanganku dan meneguk dengan baik. menarik kerah mantel tinggi-tinggi sampai menutupi tengkuk dan menyalakan pipa rokok. "Tidak enak?" "Enak. 84 . ." tampaknya itulah yang selalu mereka ucapkan." "Kalau begitu.. "kan tidak boleh duduk." katanya lagi." katanya menggagap.. tangan di lutut." "Tidak. "tapi aku tersedak. "Saudara merahku." Walaupun aku hanya bisa melihat siluetnya. dengan tekanan yang sudah kupelajari dengan susah payah. terlihat dari tengkuknya bahwa dia masih muda." Aku heran bahwa dia sudah bisa berbisik dengan baik." kataku. minum sendiri. "Bagaimanapun kamu kan tidak bisa terus-terusan berdiri." tambahku sambil menarik pinggiran mantelnya dan dengan setengah memaksanya untuk menduduki bangku." kataku pelan-pelan.sabar seperti seekor anak sapi yang mendapatkan botol pertamanya.. dan dalam kegelapan aku melihat sebuah profil. Bibir mereka gemetar karena takut dan hati mereka keras karena berani.. "Sini.musuh. helm bajanya hampir seperti tameng punggung seekor kura-kura. Winnetou. juga tidak boleh memulai peperangan. tapi aku memegang kepalanya dan menyorongkan leher botol ke mulutnya . "Di pos. Tekanan yang bisa dimengerti orang dengan baik tapi hampir tidak bisa terdengar dalam jarak satu meter. dia membiarkan beberapa tegukan tertelan. dan jika dia menoleh ke samping." kata sebuah suara yang lemah. Anak-anak muda yang malang itu . "Kamu mau merokok juga?" "Tidak. "Kemari. "Duduklah yang tenang." "Tapi di pos." bisiknya. lalu dia bergidik dengan keras sampai-sampai aku harus melepaskannya. Orang yang masih sangat muda itu punya sesuatu yang sangat khas pada tengkuknya yang mengingatkan pada permainan perang-perangan di sebuah lapangan di pinggiran kota." "Tak ada yang boleh. sangat tegak dan setiap detik siap meloncat berdiri mengambil sikap siap seperti orang sinting." gumamnya. "minum seteguk. Suara yang rapuh seperti seorang penyanyi tenor yang sentimental. "Terima kasih. Aku membungkuk.

"Aku juga takut. Juga orang-orang Rusia itu mendapatkan makanan mereka. bau keringat. Ah. Avold.... dan dengan pandanganku aku berusaha untuk menembus kegelapan yang meliputi di depan kami.Aku pun minum. "selalu malah.... "Sekarang lebih baik.. oleh sebab itu aku mencari keberanian dari botol ini. Dia menyebarkan bau ruang penyimpanan pakaian.. tapi memang begitulah mereka semua.. aku merasakannya. juga sedikit berbau minuman keras. sangat diam. pikirku. juga di pos komando di belakang kami. Lothringen. atau kalau saja tiba-tiba kabut datang. lalu sisa-sisa sop. Dia sangat .. tapi lalu dia berkata: "Ya.. kalau saja bisa melihat sesuatu." Aku merasakan bagaimana dia berpaling dengan cepat ke arahku." "Berapa lama di perjalanan?" "Empat belas hari. tampaknya mereka telah selesai dengan pembagian makanan. kan?" "Ya . dan hanya siluetnya yang buram dan gelap. Tetapi kalau terang. di 85 . Tapi aku tak melihat apapun kecuali sinar kilatan matanya yang menurutku tampak berbahaya.." Kami diam beberapa saat. dan aku membungkuk ke arahnya untuk dapat melihat parasnya.. Avold. Di suatu tempat. sedikitnya sesuatu. tapi aku bisa mencium baunya.. selalu begitu." "Sudah berapa lama jadi tentara?" "Delapan minggu.. lalu ruang penyimpanan pakaian lagi. kan?" Dia malu untuk mengakui bahwa tadi dia ketakutan." "Tidak begitu takut lagi. jauh lebih baik . "Ini untuk yang pertama kalinya bertugas di luar?" Dia malu lagi. aku pasti akan berpikir: kalau saja gelap. agak terang. kalau saja sedikitnya remang-remang. Di kejauhan terdengar derum halus motor kendaraan. kalau saja hari menjadi siang." "Dari mana?" "St. setidaknya remang-remang atau berkabut.. melihat sesuatu. ." "Kalian datang dari mana?" "Dari St. Di bagian depan tidak ada apapun. kamu tahu." kataku karenanya. Dia menoleh lagi ke arah musuh.

. mendengarnya. kan?" "Ya. betapa baiknya dia bisa berbisik. sungguh mengerikan bahwa dia tidak sekalipun memulai percakapan.depan sana.. kita harus membunuh mereka. kita harus mengawasi bila orang-orang Rusia itu datang... berteriak atau berseru sehingga malam membuyar seperti busa hitam. mengerti kan?" "Ya. "Ya.." "Dan kalau kita mencurigai sesuatu. kepada Letnan. "Kalau . biarkan mereka lewat. maka kita harus tutup mulut." "Habislah kita. "Kamu tahu apa tugas kita?" tanyaku kepadanya.. ... Betapa indahnya mendengar nafas seorang manusia. bolehkah kita menembakkan roket isyarat. artinya mereka sampai di sini ketika hari mulai menjadi terang. hampir lebih baik daripada aku.. "kalau kita tidak melihat mereka datang. mengerti? Tapi kalau yang datang hanya beberapa orang saja. merasakan bau apeknya. "pos pengintaian. supaya bisa melihat. "Bagus. terdengar suara kicauan orang Rusia yang sekonyong-konyong tertahan. "mereka tidak datang pada malam hari." kataku. "Dua menit sebelum fajar mereka mulai jalan." katanya dengan suara bergetar. Lalu kita menembakkan peluru asap merah. Ah... untukku hal itu melelahkan dan bikin sinting. menyerang.. Berbisik. pasukan pengintai." Dia diam lagi. Kamu sudah bertemu dia." omongku terus. bau seorang manusia yang kita tahu bahwa dalam detik berikutnya dia tidak berniat membunuh kita. Tampaknya itu adalah hal enteng untuknya.. betapa indahnya bahwa aku tidak sendirian lagi.. seolah seseorang membungkam mulut itu. lalu aku mendengar suara yang mengerikan: giginya bergemelutuk.." gagapnya. kita pasti melihatnya. Yang paling menyenangkan adalah bernyanyi. membuat suara gemuruh atau berteriak histeris. "Tapi mereka tidak datang. untuk mengekang suaraku. . Tapi tenang. sampai mampus. Artinya. ke pos komando. menembaknembak sedikit dengan senapan kita lalu pergi." "Dua menit sebelum fajar?" dia memotong omonganku. untukku hal itu selalu memakan tenaga.. Dua menit sebelum fajar.. paling-paling pagi hari. kemudian salah seorang dari kita harus ada yang balik ke belakang dan memberitahukan kepada yang lain.. mengerti? Kita tidak boleh lari dari pasukan pengintai.. ini kalau ." katanya. "Bagus dan kalau pasukan pengintai itu menyerang kita.. dan suaranya bergetar lagi. "pos pengintaian." katanya. Aku paling senang kalau bisa meraung. Aku pun minum lagi.." "Tapi kan itu sudah terlambat?" 86 ." Lagi-lagi aku heran. Tetapi itu bukan apa-apa.

. siapa namamu?" Benar-benar menjengkelkan. J. kamu mengerti? Tuan." "Jak. calo saja.. ingin bersenang-senang.?" 87 . "Dari Jakob ." katanya. "Kamu kan pasti jadi calo untuk sesuatu." katanya dengan susah payah." katanya. "Yah.…" suaranya bergetar lagi dan mungkin kali ini bukan karena takut tetapi karena terkenang sesuatu. dengan sangat tiba-tiba.. lalu aku bertanya kepadanya dengan sangat pelan. yah.... supaya menjadi hangat lagi. "Dan. dan aku merasakan bahwa dia sangat heran. lalu pergi ." katanya. itu artinya aku harus mengeluarkan tanganku dari saku yang hangat dan dengan susah-payah memasukkannya lagi... jangan takut. biasanya tentara." "Ke tempat pelacuran. ...." "Jadi calo apa sih?" Dia memalingkan lagi mukanya ke arahku. Jak. artinya kita bisa berlari cepat-cepat seperti seekor kelinci. Dan sebelumnya kita toh bisa mendengar mereka.. dan sekali lagi tampaknya kenangan menguasainya lagi. aku harus menyikut tulang rusuknya.A. . seseorang yang aku pikir cocok. "lalu aku membawanya kepada salah satu perempuan . "..." "`Gimana.." tanyaku lagi.. sangat pelan.. "Calo apa . "aku bernama Jak..." tanyaku... "aku berdiri di stasiun."Maka itu artinya kita harus cepat menembakkan isyarat merah.. "kalau orang itu mau bersenang-senang?" "Lalu. Karena tegang aku lupa meneguk minuman. kepalanya dipalingkannya lagi kepadaku.. ya?" "Tidak." "Apa?" "Calo. seseorang dari rombongan orangorang yang lewat.. Jak saja. melihat lagi ke depan.. dan kalau seseorang datang." Dia diam sesaat.K. Ngomong-ngomong.? Begitulah aku bertanya.. "Aku. "sebelum ini kamu kerja apa?" "Aku. setidaknya hampir selalu... "jadi calo.. setiap kali kalau mau berbicara dengannya." katanya.. calo apa ." "Seperti orang Inggris.." dia mengeluh dalam-dalam. kan... yang sedang kosong. jadi kalau seseorang datang.. lalu dalam kegelapan.. bukan Jeck." kataku parau.calo apa..

.. Aku kan tidak mampu bekerja karena paru-paruku. kan?" "Bukan." "Dan. Dia selalu murah hati dan melankolis dan sebenarnya juga yang paling cantik .. dia mengoceh hampir dengan sendirinya. boleh aku minum lagi?" Ketika aku membungkuk untuk meraih botol." kataku sambil memberikan botol kepadanya. aku pasti harus berkelahi dengan yang lain. "Ngomong-ngomong." katanya datar.. soalnya aku sedang meneguk dari botol itu. Tidak. "Enak sekali. Tidak. "Lihat itu!" Dia menarik aku ke depan. terlalu berbahaya." katanya dengan nada yang untukku agak menggurui. "tepatnya uang persen.. tanpa izin apa pun.. mereka tidak punya surat izin.. tetapi karena dia perempuan jadi dinamai Gottliese. dengan paksa mereka mengutip uang banyak-banyak dan masih juga meniduri mereka. aku punya beberapa perempuan tidak terikat. dan aku lalu mendapat tulang-tulang sisanya. kamu mengerti." "Dan kamu tidak mencicipi mereka?" "Tidak. Aku yang harus memancing ikannya untuk kemudian mereka bakar dan makan... mengerti. lalu aku menggelindingkannya dengan lembut ke samping. Karena itu mereka tidak boleh memamerkan diri di jalan seperti yang lain . di suatu tempat yang sangat . sangat sungguh-sungguh.. Tiga orang. beberapa perempuan bebas yang menghidupiku. sangat jauh.. "bukan. 88 . lepas. Dan sekarang aku tidak perlu bersusah payah membuka tutup gentong yang macet.. perempuan-perempuan itu. ah.. ya. "Gottliese. siapa namamu?" "Hubert. "eh. Sekarang. . . "Lihat!" Kalau diperhatikan dengan sangat . sejak ayahku gugur dan ibuku hilang.." dia tertawa lagi sedikit. tiran. Aneh ya? Dia selalu bilang kepadaku bahwa ayahnya menginginkan seorang anak laki-laki daripada perempuan." "Tulang-tulang ?" "Ya. dan. "germo adalah tuan-tuan besar. kamu mengerti. mereka bekerja mandiri. dia bertanya. "Hubert." potongku..."Bukan." "Siapa?" potongku." dia berkesah lagi." katanya kemudian..?" dia benar-benar tertawa sedikit. aku kan hanya seorang calo. untuk siapa aku bekerja. Kami berdua lupa untuk apa kami nongkrong di tempat sialan ini. dan dari itu aku hidup. Aneh. "dan artinya kamu dulu seorang germo.." dia mendesah lagi.. tidak punya germo.. tapi aku tidak bisa menjawab. dan suaranya sekarang bergetar hebat. ya." sambungnya. Käthe. ke tanggul di mana dia sedang tiarap. Lili dan Gottliese.. syukurlah! Kalau punya. dia bernama Gottliese.. "adalah yang paling baik. dan karena itu aku jadi calo untuk mereka. "Ya. botol itu kosong. karena kalau anak laki-laki maka bisa dinamainya Gottlob.." katanya. "aku tidak bekerja untuk tempat pelacuran.

.. Jak." 89 . manusia dalam jumlah yang sangat banyak yang sedang mendekat diam-diam....... kita bisa juga mendengarnya. itu bisa juga manusia yang diam-diam mendekat." kataku sambil meletakkan tangan di pundaknya.. Jak. Dan di dalam kegelapan di atas garis hitam pekat yang agak terang itu... dan itu terlihat ada di ujung dunia. Supaya mereka tidak membom kita . dan kalau mereka sudah dekat." "Aku kan kenal mereka..kotor dan sebagian hancur tertembak. ada sedikit suara gemerincing . tembakkan peluru isyarat yang putih!" bisiknya dengan suara yang makin menghilang. "Anak muda. "kalau mereka benar-benar datang. itu .. hitam -." kataku. coba dengarkan?" Kami menahan nafas dan mendengarkan. ." kataku.. maka sudah terlambat. sesuatu bergerak .. "Ayo. Dia mengatakan hal itu dengan pasti dan mantap.. Itu tangkai-tangkai bunga matahari.." "Ah ." lagi-lagi terdengar giginya bergemelutuk.. Aku hanya punya dua peluru. aku bisa mendengar mereka.. mereka datang ." katanya dengan sangat dingin. sama sekali tanpa suara. kan? Aku tahu itu tangkaitangkai bunga matahari yang mengering.. betul-betul jauh sekali .. aku melihatnya . tembakkan yang putih .. sepi. itu setumpuk tahi yang bikin kita gila . aku begitu kaget. mereka mengendap-endap. "besok pagi aku sudah mati." "Tapi lihatlah. Besok pagi kamu akan tertawa.. dan peluru yang lainnya aku perlukan kalau situasinya betul-betul serius.... "Ya.. sesuatu yang nyata . dan tak ada sesuatu apapun yang terdengar kecuali suara sepi yang mengerikan. Satu saja. itu pasti sesuatu . itu bukan apa-apa. supaya mereka bisa tahu di mana kita berada. itu perang.. dengan sangat pelan-pelan mereka datang. "aku tidak bisa menembakkan yang putih." bisiknya.. kalau pesawat pembom kita datang." kataku. itu neraka. subuh. tembakkan yang putih .... jauh sekali. seperti ayunan lembut jerami . mengerti? Dan satu aku perlukan untuk besok pagi-pagi.. mereka merangkak di tanah.." balasku berbisik. dan aku mendengar dari suaranya bahwa dia menjadi pucat seperti sang maut... itu tangkai-tangkai bunga matahari yang jauhnya mungkin satu kilometer dari sini." "Besok pagi.. "ya..." "Ah. sebuah garis hitam pekat. "diamlah. Itu sesuatu yang nyata.. jauh.. DDan bunganya sudah dipetiki oleh orang-orang Rusia itu. sepi sekali. dan bikin kita takut karena tangkai-tangkai itu bergoyang-goyang. mereka datang.. "Jak." "Jak. "Jak... Di atas garis itu kelihatan agak terang.. besok pagi-pagi kamu akan melihatnya dan tertawa... "Ya. itu perasaan takut kita yang sedang bergerak... kamu akan melihatnya dan tertawa. mereka datang.terlihat sesuatu seperti horison." "Tembakkan yang putih.." Sekarang aku yang berpaling tiba-tiba kepadanya dengan heran. "kamu gila. itu bukan sesuatu yang nyata.. Kalau hari sudah sangat terang.

. tak tahulah aku. dan suara tembakannya akan keras sekali. dia tinggal di sebuah gedung apartemen yang di dalamnya ada cafe. sehingga aku terpaksa untuk menjawab ya. "tidak selalu. "kamu akan mengutuki aku kalau aku menembakkan yang putih. Wajah seorang calo tulen. dan mungkin sesuatu akan terjadi. Ah. Dan kalau Gottliese mendapat tamu. Juga karena banyak tentara yang turun di situ karena mereka berpikir bahwa itu sudah Köln. bisa-bisa kita jadi selai. Stasiun Pusat maksudku. artinya hari ini. karena perempuan-perempuan itu tinggal di dekat daerah itu. pesawat-pesawat itu akan menjatuhkan bom sangat dekat di depan kita. Di mana kamu terakhir kali . Gottliese." katanya. Begitu ingin aku melihat wajahnya. ketika tidak terjadi apa-apa. karena kalau tidak. Dan kamu akan mengutuki aku kalau aku menembakkan yang putih sekarang. Ya. mereka mendapatkan makanan dan jatah minuman keras mereka. Lili di dekat Gedung Opera. Tapi Lili selalu lebih baik daripada Käthe... . karena itu aku sering nongkrong di Stasiun Selatan." sambungnya dengan suara capek. percayalah kepadaku. tapi dia sering minum. Dan dari Stasiun Selatan ke rumah perempuan-perempuan itu jaraknya pendek. Besok pagi-pagi. Dia punya banyak langganan tetap. kamu tidak percaya bahwa aku pergi dulu kepadanya bukan karena dia yang memberi terbanyak. betul bukan." aku ingin mulai. Lili juga orangnya tidak menyebalkan. di jalan menuju rumah perempuan-perempuan itu.Dia diam.. "awalnya aku selalu mengantarkan mereka kepada Gottliese. Käthe orangnya sangat dingin. kamu tahu. di pojokan-pojokan dan di stasiun-stasiun kereta api di semua kota-kota di Eropa dan selalu aku memalingkan muka dengan perasaan takut yang hebat yang tiba-tiba muncul di hatiku. "Di Stasiun Pusat?" "Tidak. lalu aku pergi kepada Lili." bisiknya seperti seorang sinting. "kalau aku kadang-kadang mendapatkan seseorang di Stasiun Pusat. baru kemudian aku harus menembakkan yang putih. kita masih punya waktu empat jam. Dan itu bikin jengkel.. Tapi itu bukan alasan kenapa aku selalu pergi kepadanya terlebih dahulu. aneh kan? Dia sangat sering mendapat tamu." suaranya sekarang lamban seolah mulai tertidur. "Di Köln. Jarak dari Stasiun Pusat ke daerah selatan memang terlalu jauh. . dari dekat. "Tetapi Gottliese sering mendapat tamu. "Jak. kamu tahu. aku sedih. tidak bisa ditebak. "Jak. karena ketakutan atau karena sesuatu yang lain." dia membungkuk lagi ke arahku. kamu tahu. karena itu orang tidak cepat jadi panik. "Tembakkanlah yang putih. mereka suka melarikan diri. Dan perempuan yang mabuk sungguh mengerikan. mereka suka pergi begitu saja tanpa berkata apa pun. aku tahu itu. Awalnya. dan kadang-kadang dia turun juga ke jalan kalau lama tidak mendapat tamu. Dia yang selalu paling banyak memberiku uang. Yah. dan kami duduk lagi menyandar. kalau pesawat pembom kita datang. Barusan tadi.. Käthe dan Gottliese di Barbarossaplatz. kadang ramah." kataku. dia yang paling baik. Kadang-kadang di Stasiun Selatan. aku hanya mendengar mereka berbisik. Sekarang tanggal 21. Di tengah jalan. kamu pasti tidak mempercayainya. orang-orang Rusia itu mendapat jatah minuman keras mereka. Setiap kali. kadang kasar. kamu percaya?" Sekarang dia bertanya dengan nada yang begitu mendesak. kemudian cafe itu terbakar.. baru keringat dinginmu mengucur deras. kamu mengerti? Dalam setengah jam. itu lebih praktis. jadi calo?" Dia mendesah dalam-dalam. lebih baik kamu cerita lagi. Dia memberi aku 90 . mereka akan mulai berteriak dan bernyanyi dan menembak.

" katanya.." "Menghadiahi?" "Ya. sepuluh sen. kadang-kadang dia tidak meminta uang sama sekali. karena tembakan seperti itu malah kadang-kadang akan mengena.. sudah. seorang sipil.. setiap kali setidaknya dua Mark.. apa aku punya rokok dan lain-lain. Aku percaya bahkan sebaliknya. Dia selalu memberi banyak kepadaku. Sebenarnya. kamu mengerti. Sepuluh persen! Sementara. Dan Käthe masih juga memakiku. "Diamlah. Menghadiahi. Juga kalau pun dia tidak mendapatkan uang sama sekali. Maka Käthe selalu yang terakhir. sekali waktu bahkan cuma sepuluh sen.. aku kadang harus berjalan setengah jam dalam malam yang dingin. dan apa-apa yang tidak boleh akan dihukum berat. Kamu harus menunduk. Mereka hanya sedikit mabuk. lalu dia akan menonjok mulut mereka. lalu akan menjadi sasaran tembak orang-orang Rusia itu. sampai komisar mereka mengetahuinya. itu bukan apa-apa. Aku menarik mundur orang yang gemetar itu. Semua orang yang lari seperti itu pasti menjadi sasaran tembak. "dia tidak meminta uang sama sekali?" "Ya. Bagaimana tempat tinggalku. menghadapi bahaya ditangkap polisi. paling hanya beberapa menit." aku ingin bertanya. Gottliese berbeda. Laki-laki itu tidak punya uang lagi.. itu saja." "Sepuluh sen?" tanyaku terkejut. Ah. Lengking tawa perempuan itu merobek malam sampai berkeping-keping. . . Suaranya membumbung seperti sebuah tangisan dan bergabung dengan suara-suara lain. berdiri berjam-jam di stasiun atau nongkrong di bar minum bir murahan. Dan uang persenannya baru kuterima di hari berikutnya. persis seperti pada kita. Dia sangat pemurah. dan walaupun kami tidak mengerti sepatah kata pun. ." Sekarang kami mendengar suara seorang perempuan. tambahan lagi sudah tua. Dan dia cantik. sangat dekat ke arahku. ketika aku membawa tamu lagi untuk dia. Dan dia pun lumayan mengurus aku.. yang paling cantik. Dan kemudian." "Bagaimana. "tidak akan lama. kami tahu pasti bahwa dia bernyanyi dan meneriakkan sesuatu yang jorok." tanyaku. Dan tembakan pertama pun meletus." 91 . kamu mengerti. dan hanya mendapat sepuluh persen! Tahi. dengan satu loncatan saja dia pasti sudah di luar lobang persembunyian. Kadang hanya lima puluh sen. aku bilang sama kamu. "dia hanya mendapat satu Mark. Mereka kan tidak boleh begitu. "Ya. Dia malah menghadiahi tentara-tentara itu rokok atau roti atau sesuatulah. orang Rusia pertama mulai berteriak seperti orang gila. Seorang perempuan yang sungguh melankolis." "Seorang tentara?" "Bukan. . . lalu mereka berteriak dan akan menembaki tanggul persembunyian dengan membabi-buta.. Aku masih bisa menangkap pinggiran mantel Jak. "Tenanglah..sepuluh persen." "Jak. "bagaimana rupanya?" Tapi pada saat itu.." kataku pada anak muda yang bergerak-gerak gelisah dan mengerangngerang itu...

"Sekarang . . . di situ. sangat pasti bahwa kamu akan mendengarnya. Tetapi aku tidak punya waktu lagi untuk itu.." kataku. salah seorang dari kami di pos komando di belakang juga menembak." tiba-tiba dia bisa bicara lagi. Dan yang paling sial. sama sekali. sungguh mungil.. dengarkan dong!" Kami mendengarkan lagi. Tidak bisa lain.. pakai otak dong. "Ya. . "Bagaimana. . . atau Susemarie." "Tidak .seperti kelap-kelip hujan salju di Hari Natal." kataku." Sekarang tampaknya dia tidak mengacuhkan apa pun." Aku mencengkeram lengannya kencang-kencang. 92 . dan aku menembakkan isyarat putih itu hanya untuk melihat wajahnya. betul-betul sepi. "sekarang aku akan menembakkan yang putih. sekali lagi teriakan ." sekarang aku bertanya.... Sering dia memakai nama lain .... entah siapa lagi. Aku pun tidak sempat lagi untuk menembakkan isyarat merah. sedikitnya mereka dua ratus meter dari sini... Kathlene. mengacungkannya di atas kepala lalu menembak." Nafasnya tersendat. dan kalau mereka datang.aku tidak punya waktu lagi untuk melihat wajahnya. karena setidaknya aku ingin mendengar suaraku sendiri." katanya pendek... aku mendengar mereka datang. "Cantik. "Apa kamu tidak melihat api letusan senjata itu. kamu tahu. dan dia sering tidak meminta bayaran. "Rambut hitam dan dengan mata yang besar dan terang.. Lalu sangat sepi. Dia sedikit gila. menyibak tirai perang menyelimuti kami. karena di belakang dan di depan kami. menyiapkan pistol isyarat yang sudah diisi peluru. Di depan terdengar teriakan lalu jeritan .Tapi teriakan itu tidak berhenti. kalau tidak aku bisa gila. dalam terang.. sekarang mereka datang." bisiknya.." Aku memegang erat lengannya.. "tembakkanlah yang putih. tembakan dan sekali lagi suara mengerikan perempuan yang mabuk.. juga lengkingan liar itu. Aku berpegang erat pada anak muda yang ingin mendorongku dan melarikan diri itu. Inge Simone.." sambungku. Aku pikir. Dia berjongkok kaku sambil membisu di sampingku." Dengan segan dia menjawab. "Kamu lihat. kamu akan mendengarnya. "bagaimana parasnya. "Ayo. dan ketika cahayanya menyebar seperti cairan perak yang lembut . Gottliese itu. wajah seorang calo tulen.. seolah bulan mencair dan menyatu pasrah dengan bumi . dan tak terdengar apa pun selain kesepian yang mengiangngiang menakutkan. Sebenarnya aku tidak mendengar apa pun. "Jak.... . aku mendengar sesuatu.. setiap hari nama baru .. suara gemuruhnya seperti kiamat. muncul kerumunan sosok-sosok bisu yang menunduk ke tanah dan kemudian tiba-tiba dengan suara "Hurra" yang bikin gila. "dan sedikit gila. karena dari tempat di mana tadi terdengar suara teriakan dan lengkingan seorang perempuan yang mabuk itu. mereka menyerbu maju. Dia sangat mungil..

?" Lalu dengan keras dan sekonyong-konyong aku jatuh di atas tubuhnya oleh hentakan tangan liar yang mengerikan. supaya setidaknya dalam maut masih bisa melihat wajahnya. dan wajah seorang pelacur yang menghadiahkan dirinya tidak untuk apa pun.. ingin bersenang-senang. Tetapi mataku tidak melihat apa pun lagi kecuali darah. lebih hitam dari pada malam. diterjemahkan oleh Dewi Noviami.. sambil berteriak karena rasa takut aku membungkuk padanya.. 93 .*** Judul asli: "Jak. der Schlepper".Aku harus menarik Jak dari lobang itu dan ketika dengan susah payah aku berhasil menariknya. dia berbisik pelan: "Tuan.. malah masih memberi sesuatu..

bahwa ketika hari sudah petang dan lampu jalanan mulai dinyalakan. dan mata itu tajam dan sebentar bergerak-gerak. Juli 2000 (Edisi 10 Tahun Cerpen Terbaik Horison) Potret Itu. Gelas Itu. bahwa perempuan itu sedang menuding-nuding ke arah sebuah tempat tidur kecil. dan judul buku-buku itu tidak mungkin dibaca karena sinar lampu sangat samar. mata perempuan itu bergerak-gerak cepat ke kanan dan ke kiri. Pakaian Itu Oleh: Budi Darma 94 Sungguh menakjubkan. melindungi matanya. terletak di sebuah rak buku kecil. Lampu di dalam kamar sudah menyala. Laki-laki bertubuh kurus jangkung memang sudah menantikan saat-saat seperti ini. kemudian meloncat ke pekarangan melalui pagar tanaman. perempuan itu membuka jendela dan memandang keluar. Beberapa saat kemudian mereka berdua sudah berada di dalam kamar. Laki-laki bertubuh kurus jangkung itu juga gemetar. Dengan tidak memandang ke arah laki-laki itu. perhatian laki-laki bertubuh kurus jangkung itu masih terlarut ke dalam potret laki-laki di dinding.Horison. Di dekat tempat tidur ada pula sebuah kursi. Laki-laki itu mengangguk mengerti. perempuan itu menutup jendela dengan hati-hati. Ketika melihat laki-laki bertubuh kurus jangkung berdiri di pinggir jalan. Dan tahulah dia sekarang. Alis perempuan itu hitam tebal. Di bawah potret ada sebuah gelas. kemudian gelas. Dia mendekati dinding di sebelah kanan. perempuan itu menuding ke arah dinding sebelah kanan. dan kemudian beberapa buku. Dan di dalam rak terdapat beberapa buku. Agak terkejut juga dia ketika dia merasa dijawil. tapi sangat samar. mengapa di dekat . Ketika perempuan itu menjawil tangan kirinya. Dengan tangan gemetar. Dan yang mengherankan laki-laki itu adalah. Ada sebuah meja kecil dengan bunga segar di dekat tempat tidur itu. Tubuhnya agak membongkok manakala dia melihat-lihat buku-buku di dalam rak. Matanya berganti-ganti melihat potret laki-laki itu. dengan sebelumnya menyelidik cepat-cepat apakah perbuatannya terintai oleh orang lain. pagar tanaman yang sebetulnya tidak begitu tinggi.

" "Apa lagi?" "Apa lagi? Ya. apa lagi? Saya yakin dia laki-laki gagah. Laki-laki itu terus diam ketika perempuan itu mengudal-udal beberapa pakaian dari dalam almari." dia. Saya heran mengapa takdir tidak memberinya umur panjang. martabat. laki-laki itu sudah ditarik oleh perempuan itu untuk mendekati sebuah almari. beberapa pakaian laki-laki di dalam almari. misalnya saja potret laki-laki yang tergantung di dinding sebelah kiri." Belum sempat bertanya apa-apa. dan mematikan lampu bercahaya lemah itu. Dan segeralah perempuan itu mengguyurkan minyak wangi dengan khidmat dan hormat ke pakaian itu. Alangkah senangnya kau menjadi istrinya. untuk memberikan kesempatan kepadanya guna lebih memuliakan cita-citanya dalam mengangkat harkat. Jengkal demi jengkal wajahnya menunjukkan keagungan luar biasa. perempuan itu berjalan ke arah tombol listrik. "Saya tidak pernah melihat laki-laki seagung itu. Setelah perempuan itu menutup almari dan laki-laki itu duduk dekat tempat-tidur. "Apakah yang tadi kau lihat pada potret yang tergantung di dinding itu?" tanya perempuan itu. Maka berbicaralah dia asal berbicara. Dan ketika perempuan itu membuka almari. Matanya sungguh 95 ." "Hanya itu?" Laki-laki itu kehabisan akal dan kehabisan kata. laki-laki itu agak terkejut. Tapi laki-laki itu tidak bertanya." "Apa lagi?" "Apa lagi? Ya. Sungguh agung dia. Heran. kendatipun nampaknya tubuhnya hanyalah kurus jangkung. Saya heran mengapa laki-laki semulia ini bisa mati terganyang kanker. apa lagi? Tentu saja saya mengagumi menakjubkan. tentunya tanpa mengetahui apa yang dikatakannya: "Tentu saja tidak. Dia pasti mempunyai wibawa besar. Saya mengaguminya." "Apa lagi?" "Apa lagi? Ya. apa lagi? Saya kagum pada raut wajahnya.tempat tidur tidak ada potret seorang laki-laki. Meskipun demikian. karena perempuan itu sudah menjelaskan: "Dia tidak mau potretnya dipasang di sini. Dan laki-laki itu tidak terkejut melihat. terasalah bau enak menebar di dalam kamar remang-remang itu. Dia pasti laki-laki ramah. dan derajat sesamanya. ketika melihat pakaian di sebelah dalam almari itu ternyata penuh cipratan darah. wibawa tinggi.

dan juga beberapa pesuruh siapa gerangan yang menaruhkan surat itu di atas mejanya. dia laki-laki mengagumkan.laki itu hanya tahu bahwa sudah beberapa hari ini ada seorang laki-laki mencurigakan secara berkala mengitari kantornya. yang telah mengantarkannya ke rumah perempuan beralis hitam tebal dan bermata tajam. Setiap kali dia ke sini selalu dia membuka-buka halaman-halaman buku itu. Dan setiap laki-laki itu akan meninggalkan kantor. sangat mengagumkan. Dan buku-buku dalam rak itu adalah buku-buku kegemarannya. dan tentu saja dengan nada mengagung-agungkan saya. Nabi Yusuf tidak suka merayu. di Balai Wartawan ketika diadakan pertemuan antara beberapa pedagang dengan wartawan. Dia ingat. Dan sering juga mulut gelas itu saya gosok-gosokkan ke payudara saya. Dan karena dia harus menemui beberapa temannya. dialah laki-laki yang saya cintai. segemar dia membuka-buka lembar demi lembar pakaian yang saya kenakan. sementara dia suka merayu. tidak seorang pun tahu. selalu saya usap-usap mulut gelas itu dengan pinggiran mulut saya. "Laki-laki itulah yang saya cintai. Dan kemudian perempuan itu bercerita mengenai gelas itu lagi."Siapa yang mengatakan dia dihabisi kanker?" Laki-laki itu diam. perempuan beralis hitam tebal dan bermata tajam serta anak perempuan itu terlepas dari tangannya. Ketika laki-laki itu berusaha menemui anak perempuan itu. "Karena itulah potretnya saya pasang di situ. seperti dia sendiri dahulu sering mengagumi payudara saya. dan akhirnya mengenai payudaranya. Ingat. Dan karena itu pulalah gelas peninggalannya saya taruh di bawah potretnya. Senang sekali dia membandingbandingkan payudara saya dengan payudara mereka. Dia tidak tahu mengapa sekonyong-konyong siang tadi dia menemukan sebuah surat tergeletak di meja kerjanya di kantor. Sering mulut gelas itu saya lumat-lumat dengan bibir saya seperti pada waktu saya melumat-lumat bibirnya. Kalau tidak keliru. dengan nada sangat melecehkan mereka. dia dipotret sekitar tiga bulan lalu. laki-laki mencurigakan selalu menghadangnya dekat pintu. "Dari sekian banyak laki-laki yang saya kenal. Hanya dialah yang sering membisikkan kata-kata aneh ke payudara saya segera setelah dia menjelek-jelekkan sekian banyak perempuan lain. pada suatu malam dia melihat seorang anak perempuan kecil memotret dirinya. pertemuan dinyatakan bubar." kata perempuan itu lagi. Bagi saya. dan tentu saja tubuh saya dengan tubuh mereka. "Rupanya laki-laki lain yang pernah saya kenal tidak begitu menyukai payudara saya. Surat itulah. laki-laki mencurigakan selalu memandanginya dengan sikap tertegun. yang mungkin telah disampaikan oleh laki-laki mencurigakan itu. Dan setiap kali saya merindukannya. laki-laki mencurigakan selalu menghadangnya di dekat pintu dengan menggumamkan suara tidak jelas. mungkin dia jauh lebih agung dan jauh lebih mengagumkan dibanding dengan Nabi Yusuf. Kemudian dia sering melihat laki-laki mencurigakan berseliweran tidak jauh dari jendela kaca yang memisahkan kantornya dengan kebun kacang. Laki. kemudian mengawasinya dengan pandangan tidak enak. Dia selalu minum dari gelas itu setiap kali dia datang ke sini. Akhirnya laki-laki itu tahu. Begitu cepat anak perempuan itu memotretnya. yaitu merayu 96 ." Laki-laki itu diam. beberapa bawahannya. mengenai buku-buku itu lagi. Begitu gemar dia membuka-bukanya. Dia bercerita mengenai perempuan-perempuan dan dengan sangat terbuka. Setiap kali laki-laki itu akan masuk kantor. Betul yang kau katakan tadi. Dan setiap kali pandangan mata mereka bertemu. bahwa anak perempuan itu datang bersama seorang perempuan beralis hitam tebal dan bermata tajam. Bekas-bekas bibirnya masih ada di situ. kemudian berjalan bergegas dan menyelinap di antara sekian banyak orang." kata perempuan itu. Ketika dia menanyakan kepada sekretarisnya.

sekian banyak perempuan, sampai akhirnya dia jatuh di hadapan saya, menjilati kaki saya. Setiap kali didekati perempuan, Nabi Yusuf selalu mengingatkan perempuan yang mendekatinya dan juga dirinya sendiri akan masa depan manusia, apabila manusia telah mati kelak. Ketika seorang perempuan berusaha merayunya dan mengatakan bahwa rambut Nabi Yusuf sangat indah, berkatalah Nabi Yusuf, 'Rambut inilah yang pertama kali akan berhamburan dari tubuh saya setelah nyawa saya meloncat dari tubuh saya.' Dan ketika seorang perempuan merayunya lagi, berkatalah Nabi Yusuf, 'Kelak tanah akan melumatkan wajah saya.' Laki-laki yang potretnya di sana itu sangat berbeda. Dia selalu melihat ke depan, tanpa mau mengerti bahwa pada suatu saat maut akan menjemputnya. Dia selalu membisikkan kata-kata indah mengenai kegunaan dan kenikmatan hidup. Tanpa pernah mengatakannya, dia selalu berpikir untuk memanfaatkan detik demi detik untuk berjasa, memberi kenikmatan bagi orang lain, dan juga bagi dirinya sendiri. Sering dia bercerita mengenai mimpi-mimpi indah, seperti misalnya memperluas usaha-usaha dagangannya kalau perlu dengan menaklukkan musuh-musuhnya, kemudian membangun rumah-rumah yatim piatu, mendirikan sekolah-sekolah, membantu rumah sakit-rumah sakit, dan entah apa lagi. Dia sangat suka membantu orang-orang papa dan orang-orang yang ingin maju, tapi sekaligus sangat membenci orang-orang malas dan tidak mempunyai otak. Dalam keadaan lelah dia mendatangi saya, untuk menikmati tubuh saya dan sekaligus menghidangkan kenikmatan bagi saya. Dia datang untuk mencari gairah hidup, agar dia menjadi lebih segar, lebih bersemangat, dan lebih mampu beribadah dalam bentuk kerja keras. Setiap inci tubuhnya adalah pertanda keagungannya, demikian pula setiap dengan nafasnya." "Dan manakah anak perempuan yang memotret dahulu?" "Ciumlah tangan saya sebelum saya menjawab pertanyaanmu." Belum selesai dia mencium tangan kanan perempuan itu, perempuan itu sudah menyodorkan tangan kirinya. "Ulangilah pertanyaanmu tadi." "Manakah anak perempuan yang memotret dahulu?" "Anak perempuan? Maaf, saya tidak tahu ke arah mana pembicaraanmu. Andaikata kau bermaksud untuk menanyakan apakah saya mempunyai anak perempuan, saya dapat menjawab bahwa saya tidak mempunyai anak perempuan. Ketahuilah anak perempuan suka rewel, demikianlah kata laki-laki yang saya cintai. Dan andaikata saya mempunyai anak, saya tidak akan mengijinkannya memotret." "Mengapa?" "Menurut laki-laki yang saya cintai itu, memotret hanyalah menghabiskan uang. Setiap orang harus berhemat. Dan mungkin karena itu pulalah dia tidak suka anak perempuan, sebab dia sering mengatakan bahwa anak perempuan hanya memboroskan saja. Dia juga tidak suka potret, karena potret hanyalah menghabiskan uang." "Benarkah laki-laki seagung itu mempunyai jalan pikiran demikian?"

97

"Memang saya sering menemui kesulitan dalam mengorek apa yang sebenarnya berkelebat di dalam nuraninya. Sering kata-katanya melompat demikian saja dari puncak otaknya, sementara kelebat hati nuraninya yang sesungguhnya tidak terucapkannya. Saya sendiri yakin dia sama sekali tidak pelit. Dia pasti menyimpan rahasia mengapa dia tidak menyukai anak perempuan. Dan saya pernah berhasil mengoreknya, ketika dia mengigau dalam tidurnya. Meskipun demikian, kata-katanya hanyalah pendek dan tidak jelas, sehingga sulit bagi saya untuk menafsirkannya. Tapi saya tahu, dia berhati agung. Bagi dia, laki-laki tidak bisa bebas dari perempuan, dan perempuan pada dasarnya adalah beban. Eva sengaja diciptakan Tuhan untuk menemani Adam, tapi sekaligus untuk melancarkan wahyu-wahyu setan. Istri paman Nabi Muhammad, Ummu Jamil namanya, justru akan mencelakakan keponakan suaminya sendiri. Siapa yang akan mencelakakan Nabi Nuh, tidak lain dan tidak bukan adalah istrinya sendiri. Negeri Sodom juga hancur lebur, setelah istri Nabi Luth, nabi yang dipercaya oleh Tuhan untuk menegakkan ketaqwaan di negeri itu, mengkhianati suaminya habis-habisan. Adalah pula Siti Qodariah, seorang wanita, yang berusaha mencelakakan Nabi Yusuf setelah usahanya untuk menikmati keindahan tubuh Nabi Yusuf gagal. Belasan tahun perang di Troya adalah juga perang untuk memperebutkan perempuan. Laki-laki sudah ditakdirkan untuk tidak mampu mengalahkan nafsunya sendiri, dan perempuan terlanjur sudah diciptakan untuk memperbudak nafsu laki-laki." Belum sempat laki-laki itu bertanya, perempuan itu menyuruhnya berjongkok di lantai dan menjilati kakinya. "Setiap laki-laki harus menjilati kaki saya," katanya. Setelah selesai menjilati seluruh bagian tubuh perempuan itu dan setelah selesai mengucapkan selamat tinggal, laki-laki itu keluar lewat pintu, dan pintu itu segera ditutup dari dalam, kemudian laki-laki itu meloncat keluar melalui pagar tanaman. Laki-laki itu merasa bahwa malam telah larut benar. Ketika memasuki sebuah gang, dia berjalan agak sempoyongan. Bau wangi tubuh perempuan yang baru saja ditinggalkannya masih melekat pada seluruh bagian tubuhnya sendiri. Dan keringat dari celah-celah kulitnya terasa begitu asing, karena yang tercium olehnya adalah keringat perempuan itu. Heran benar laki-laki itu, mengapa tadi dia tidak menanyakan siapa nama perempuan itu. Hapal-hapal ingat kalau tidak salah perempuan itu menamakan dirinya Maemunnah. Atau mungkin Robinggah. Mungkin juga dia Jurbbah. Bukankah dia Immlah? Ya, pokoknya pakai "ah", entah itu Siffiah, entah Monissah, atau Markammah. Dia ingat, perempuan itu tidak pernah menyebut-nyebut nama laki-laki yang potretnya tergantung di dinding. Dan laki-laki yang potretnya tergantung di dinding itu bukanlah suami perempuan itu. Laki-laki itu hanya kadang-kadang datang ke sana untuk menyibuknyibukkan dirinya. Ini sudah berlangsung selama beberapa tahun, ujar perempuan itu. Ketika laki-laki itu menanyakan siapa yang membuat potret di dinding itu, perempuan itu hanya menceritakan bahwa pada suatu hari dalam sebuah musim kemarau panjang ada seorang anak perempuan mengantarkan bingkisan besar ke rumahnya, dan ternyata bingkisan itu adalah potret itu. Anak perempuan itu sama sekali tidak pernah datang ke sana lagi.

98

Laki-laki itu terus berjalan tergontai-gontai. Ketika seekor kucing hitam melintas di gang dan memotong jalannya, dia tidak menahan langkahnya. Kucing itu pun tidak perduli bahwa dia sedang berpapasan dengan seorang laki-laki. Tetapi, ketika ku-cing itu melompat ke tempat agak tinggi dan menyorotkan matanya ke arah laki-laki itu, laki-laki itu merasa keringatnya keluar lebih deras. Dan keringat itu rasanya bukan keringatnya sendiri, karena baunya sama benar dengan bau keringat perempuan tadi. Sementara rasa hausnya memuncak sampai ke ubun-ubun kerongkongannya, laki-laki itu terus berjalan. Kata perempuan tadi, setiap kali laki-laki itu minta minum karena merasa haus. Dan setiap kali akan pulang, pasti laki-laki itu minta minum lagi untuk meninggalkan bekas bibir pada mulut gelas. Dan gelas itu masih tergeletak di rak buku. Tiba-tiba laki-laki itu merasa salah jalan. Ketika masih berada di jalan besar tadi, seharusnya dia berjalan terus, kemudian membelok ke kiri. Ternyata tadi dia membelok ke kanan sebelum waktunya. Dia membelok ke kiri. Setelah tertegun sejenak, dia memutuskan untuk kembali menyusuri gang, dan untuk kemudian memasuki jalan yang benar. Laki-laki itu masih berdiri tertegun ketika seekor kucing hitam kecil meloncat dari dinding di atas sana, lalu lari cepat memintasi jalannya. Ternyata kucing itu lari ke sebuah lorong di sebelah kanan. Dan ketika laki-laki itu melihat ke arah lorong, nampaklah olehnya sebuah lampu kecil, menerangi sesuatu yang tidak asing baginya, yaitu sumur. Mengapa dia tidak ke sana sebentar, menimba, dan minum? "Maka berjalanlah dia agar cepat menuju ke sumur. Namun, sebelum dia benar-benar dekat dengan sumur, seorang laki-laki menegor dia. "Mengapa malam-malam begini kamu berada di sini?" Dengan cepat dia mengenal siapa laki-laki itu: kedua matanya bulat seperti mata burung hantu, lehernya kurus panjang dengan buah kuldi mendongkol dan selalu naik turun, sementara urat-urat tangannya membengkak menutupi kedua tangannya, dan tangantangan itu benar-benar kurus. Dialah laki-laki mencurigakan, dan dialah yang selalu mengawasinya di kantor. "Mengapa malam-malam begini kamu berada di sini?" tanya laki-laki mencurigakan sekali lagi. Dia tidak dapat menjawab. Matanya menangkap buah kuldi laki-laki mencurigakan, dan ingatannya melompat ke payudara perempuan tadi. Benar-benar payudara perempuan tadi memberinya kenikmatan, dan benar-benar buah kuldi laki-laki mencurigakan itu memuakkan. Dia seolah-olah melihat Adam, pada waktu mata Adam mendelik karena buah terlarang yang dimakannya menyangkut di kerongkongannya. Tiba-tiba dia merasa sedang berhadapan dengan iblis. Adam di hadapannya adalah iblis, demikian juga perempuan tadi. Payudara perempuan tadi, tidak lain adalah buah terlarang yang terlanjur tersangkut, kemudian menawarkan kenikmatan dan sekaligus tindak-tindak maksiat. Rasa haus makin menggorok kerongkongannya. Dan ketika dia mengelus-elus kerongkongannya sendiri, sadarlah dia bahwa buah kuldinya sangat besar, naik turun, dan sangat menjijikkan. Tiba-tiba dia sadar, bahwa dia sendiri dan perempuan tadi tidak lain dan tidak bukan adalah sepasang iblis juga. Dan dia merasa benci terhadap perempuan itu, karena tadi dia tidak diijinkannya minum, karena, katanya, dia tidak mempunyai gelas lain

99

kecuali gelas di atas rak buku itu. Dan gelas itu, katanya lebih lanjut, hanyalah untuk menghidupkan kenang-kenangan. Ketika laki-laki mencurigakan menegurnya lagi, dia terus berjalan ke arah sumur. Dan tepat ketika dia memegang tali timba, laki-laki mencurigakan berkata: "Minumlah sepuas-puasmu, kalau perlu sampai meletus perutmu, karena sumur ini adalah milik saya." Dia melemparkan timba ke dalam sumur, dan ternyata sumur sangat dalam. Ketika lakilaki mencurigakan menceritakan perihal dirinya sendiri, dia sama sekali tidak mendengarkannya. Perlahan-lahan dan hati-hati sekali dia mengulur tali ke bawah, sampai akhirnya timba menyentuh air. Kemudian perlahan-lahan pula dia menarik tali timba ke atas. Laki-laki mencurigakan terus bercerita. Beberapa waktu lalu dia membeli kebun kacang tidak jauh dari kantor laki-laki bertubuh kurus jangkung. Setelah melalui beberapa perkelahian, barulah pemilik lama mau menyerahkan kebun kacang itu meskipun uangnya telah lama diterima sebelumnya. Belum lama laki-laki mencurigakan itu berhasil memiliki tanah miliknya sendiri, terdengar berita bahwa kebun kacang itu akan dicaplok oleh laki-laki bertubuh kurus jangkung untuk perluasan kantornya. Laki-laki mencurigakan ini belum mau percaya, dan karena itu berusaha mencari penjelasan. Setiap kali dia mendekati kantor untuk mencari kabar, selalu dia diolok-olok oleh orang-orang kantor itu. Selesailah sudah laki-laki bertubuh kurus jangkung minum. Tubuhnya merasa agak segar, namun tidak satu kata pun dari laki-laki mencurigakan ini yang masuk ke telinganya. Dia hanya berpikir, alangkah enaknya seandainya tadi dia diijinkan minum dari gelas di atas rak buku, sebab, setiap kali perempuan itu merindukannya, pastilah bekas bibirnya akan dijilat-jilat. Masih sempat dia melihat laki-laki mencurigakan, sebelum dia melangkah untuk kembali ke gang tadi. Dia merasa benar-benar jijik melihat laki-laki mencurigakan. Mata laki-laki mencurigakan itu, bulat dan besar, menyembunyikan kelicikan tanpa tara. Leher laki-laki mencurigakan itu, yaitu leher yang panjang, mengingatkannya pada leher burung onta yang diracunnya sewaktu dia berjalan-jalan di kebun binatang. Dan buah kuldi itu, bagaikan buah kuldinya sendiri, adalah pertanda dosa Adam, yaitu dosa yang menurunkan siksa bagi manusia entah sampai kapan. Ingin sekali dia cepat-cepat meninggalkan laki-laki mencurigakan. Namun, belum sempat dia melangkahkan kakinya lebih lanjut, laki-laki mencurigakan berlari-lari kecil ke arahnya, kemudian menghadangnya. Rasa jijiknya makin meledak. Sambil berusaha keras mengibaskan rasa jijiknya, dia mengambil jalan ke samping kiri. Dia mempercepat langkah, tapi terpaksa terhenti ketika sekonyong-konyong terasa punggungnya patah. Ketika laki-laki mencurigakan berdiri di hadapannya lagi, dia terpaksa membongkokkan tubuhnya ke depan, karena terasa olehnya bahwa tubuhnya akan patah menjadi dua bagian. Ketika akhirnya rebah ke tanah, masih sempat dia membalik tubuhnya, dan melihat ke arah bulan. Memang bulan masih tetap di sana, di langit sana. Laki-laki mencurigakan membongkok, sementara dia merasa makin jijik. Dia ingin muntah. Memang akhirnya dia muntah, tapi yang dimuntahkannya adalah darah.

100

Benar-benar saya merasa takut terhadap kamu. pasti saya bertindak terlebih dahulu. bukan apa-apa bagi saya. Kamu pun sebenarnya iblis. Saya hanya menikmati satu hal. Sesama iblis bisa saling mengganyang. laki-laki itu masih sempat mengingat beberapa katakata perempuan tadi: "Laki-laki yang saya cintai itu tidak mati karena kanker seperti yang sering dipergunjingkan. tentu saja dengan persiapan cermat agar saya menang. Perkelahian dengan pemilik lama mengenai kebun kacang juga bukan masalah berat. tapi perkelahian-perkelahian itu.Dengan tenang. saya yakin bahwa iblis di dalam jiwamu jauh lebih kuat daripada jiwa iblis kebanggaan saya. masalah kebun kacang hanyalah masalah permukaan. Dan setiap kali merasa takut.*** 101 (Dimuat dalam Horison. Bagi musuh-musuh saya segala macam perkelahian sebenarnya juga bukan apa-apa. bahwa laki-laki itu sudah tidak mungkin lagi mendengarnya. Saya selalu menyimpan pakaiannya yang berlumuran darah. sekali lagi." Dia menggumam dengan kesadaran penuh. Dan saya bangga akan jiwa iblis saya. Sudah semenjak pertama kali saya melihat kamu. Dia mati dibunuh dekat sumur tidak berapa jauh dari sini. yaitu kenyataan bahwa saya menyimpan jiwa iblis. Memang saya sering berkelahi. Ketahuilah. Meskipun demikian." Bulan tetap berputar-putar di atas sana. Juli 1990) . laki-laki mencurigakan menggumam: "Ketahuilah. sesama iblis belum tentu bisa bersekutu.

dan pergi sambil menyeret potongan mayat manusia. tetapi langkahku makin kupercepat. Sedikit pun tak kuhiraukan bau bangkai manusia yang menyengat hidung. Keringatku mengucur deras. Dadaku telah amat sesak. Aku melihat tetang–gaku Rohani ditelanjangi. seiring darah yang terus menetes dari kedua kakiku. Jangan menangis lagi. semuanya. Inong! Kering airmatamu nanti. Lolong anjing malam bersahut-sahutan. kutarik napas panjang. Dan kini hari telah semakin gelap. Hari-hari yang meranggas lara. Aku melihat semua itu! Ya. Aku melihat saat Geuchik Harun diikat pada sebuah pohon dan ditembak berulangkali. Airmataku berderai-derai. bebukitan penuh belukar dan pepohonan ini. Meski lelah. tanpa alasan. Tetapi karena aku tinggal sebatas luka. Juga saat mereka membantai … keluargaku. Seperti juga hidup itu. temanku. lebih baik meniru anjing-anjing itu. sebab aku hanya bisa memendam amarah. Ya. Mereka menatapku seolah aku akan berteriak kengerian. 102 . Dalam remang malam. Ffffffhuuih. tahukah anjing-anjing buduk itu. Perih. wajah dan badanku terkena serpihan tanah merah. Aku merangkak dan maju perlahan.Jaring-jaring Merah Oleh: Helvy Tiana Rosa Apakah kehidupan itu? Cut Dini. menuju Buket Tangkurak. kulihat dua ekor anjing hutan mengorek-ngorek sesuatu. Dengan tangan kosong kuraup gundukan tanah merah di hadapanku. selalu saja marah bila mendengar jawabanku: Hidup adalah cabikan luka. sebelum rumah dan suaminya dibakar. Terus tanpa henti kugunakan kedua cakar tangan ini. Bukan. Ngeri? Oi. Darah mereka muncrat ke mana-mana.orang ditembak di atas sebuah truk kuning. bukan pada rembulan yang mengikutiku saat ini atau pada gugusan bintang yang mengintai pedih dalam liang-liang diri. Aku tersaruk-saruk berjalan sepanjang tiga kilometer dari Seurueke. aku melihat tiga sampai tujuh mayat sehari mengambang di sungai dekat rumahku! Aku juga pernah melihat Yunus Burong ditebas lehernya dan kepalanya dipertontonkan pada penduduk desa. Aku melihat orang. Serpihan tanpa makna. diperkosa beramai-ramai. “Ugh!” Aku tersandung gundukan tanah.

yang beberapa waktu lalu digiring ke bukit ini. Cut Dini. Ah. Sssssssttt! Tiba-tiba. melintas di depan rumah dengan sepedanya. Cahaya mentari masuk dari celah-celah bilik. . Bersama bayangan Ayah. Kutemukan beberapa tengkorak. “Sayang. “Ia tak berbahaya. Hangat. dengan iringan dawai kepedihan dari sanubari sendiri. Ya. Di mana? Di mana tangantangan mereka? Di mana tulang-tulang mereka di tanam? Di mana wajah tampan Hamzah? Yang mana tengkoraknya? Sekujur tubuhku gemetar menahan buncahan duka. Tulang. Mereka gila karena mengira aku gila. “Perempuan gila itu!” suara seseorang gusar." jawabku sekenanya. aku di rumah. Lalu aku tersenyum malu. Tak tahukah mereka bahwa aku tak menyanyi sendiri? Aku bernyanyi bersama bulan. Ureung-ureung menemukanmu di tepi jalan ke Buket Tangkurak. Hingga aku semakin lemas dan akhirnya kembali terisak pilu. Ah. Ya. Sepatu-sepatu lars yang menginjak ranting dan daun kering. Aku menggali. dahulu…. Mereka menuju ke arahku! Aku harus menyanyi. Ma’e dan Agam. di mana aku? Dipan ini penuh kutu busuk. awan dan udara malam. dulu ia cantik….Tiba-tiba tanganku meraba sesuatu. “Aku cuma jalan-jalan. saat Hamzah yang telah meminangku. mencoba duduk.” Kutatap seraut wajah dalam kherudoung putih di hadapanku. Aku bangkit. Bersama desir angin. *** 103 “Inong…. Hanya tertawa dan menangis. Meratapi orang-orang yang kukasihi. burung hantu dan lolong anjing hutan. ya. menyanyi nyaring. Berarti…. Ah. di mana? Di mana tangan kurus Mak? Mana jari manis dengan cincin khas itu? Juga cincin tembaga berbatu hijau dan arloji tua yang dikenakan ayah saat orangorang bersenjata itu membawanya dalam keadaan luka parah. di antara suara serangga malam. subuh tadi. Kami menyanyi. kami menari bungong jeumpa. kupingku mendengar langkah-langkah orang.” ujar yang lain. Cakarku terus menggali. Mak. lalu remah-remah daging manusia. terus menggali.” Aku menggeliat. “Dari mana. Banyak tulang. Dahulu. “Ya. Aku tidak mengganggu orang.” kata yang ketiga. sudahlah. juga sangat muda. Inong? Aku mencarimu seharian. Kudekatkan benda dingin itu ke mukaku. Tangannya lembut membelai kepalaku. biarkan saja. ” Aku pura-pura tidak mendengar perkataan si loreng-loreng itu.

” 104 . kecuali semua yang bernama kepahitan. setelah keluargaku dibantai dan aku dicemari beramai-ramai. “Kau sakit. “Ini baju yang dijahitkan Mak. Matanya pun selalu menatapku penuh pancaran kasih. di antara para tetangga. Sebenarnya aku tak tahu banyak tentang Cut Dini. tetapi jangan pergi ke bukit itu atau bahkan ke rumoh geudong lagi. “Apa aku gila?” tanyaku.” kuteguk minuman itu.” kata Cut Dini suatu ketika. Aku senang sekali. Menggaruk-garuk kepalaku. Sampai aku bertemu Cut Dini dan bisa menjadi burung. bahkan ada sisa-sisa darah kering di sana. aku seperti terperosok dalam kubangan lumpur yang dalam. “Baju yang koyak itu jangan dipakai lagi. bahkan menyentuh apa pun.“Aku tahu. dasar orang. Sekuat tenaga kucoba untuk muncul. tetapi tidak Cut Dini. “Sudahlah. Aku tak bisa bangkit. Nanti orang-orang itu bisa menyakitimu lagi. Segalanya terasa lebih ringan. Cut Dini. memperhatikanku. Aku suka membantah orang. Ia menyisir rambutku.” kata Cut Dini sambil memberiku minum. Lalu dengan cekatan membungkus baju itu dengan koran. menceritakan banyak hal. ke pengajian. Aku memakan dan meminum nyeri setiap hari. di belakang…. “Aku ingin memakainya. Orang-orang bilang ia anggota … apa itu … LSM? Juga aktivis masjid. Cut Dini menatap bola mataku dalam. mengajakku ke dokter. Aku melempari atau memukul orangorang yang lewat.” kataku pendek. Kupandang baju ungu muda yang kupakai.” lirihku. menggapai-gapai permukaan. Hingga suatu hari orang-orang desa akan memasungku. yang sudi berteman denganku. Aku mengangguk-angguk. Tidak baik pergi sendirian. “Aku suka. ketiaknya juga. Lalu di dekat perut. sambil menggoyang-goyangkan kedua kakiku. Dan … cuma dia. Aku belum begitu lama mengenalnya. “Menurutmu?” Aku menggeleng kuat-kuat. Kata mereka aku gila! Hah. Lagi pula kau seorang muslimah. Berbahaya. Tetapi tetap saja aku senang berteriak-teriak. Ia kembali ke Aceh setelah tamat kuliah di Jakarta. Terus mengangguk-angguk. Aku memakainya ketika orang-orang jahat itu datang.orang gila! Cut Dini-lah yang melarang.” “Itu baju yang tak pantas dilihat.” ujar Cut Dini. Kau tak akan mengganggu siapa pun…. Kau anak baik. atau sekedar jalan-jalan.” katanya pelan. Cut Dini juga yang mengingatkanku untuk mandi dan makan. Namun tiada tepi. “Therimoung… ghaseh…. Kau sangat terpukul. Tangannya koyak. Ia sangat peduli. Ia memberiku makan. Dulu. Kugaruk-garuk kepalaku. Kulihat ia menggigit bibirnya sesaat. Aku kembali merebahkan badan di atas dipan.

Ia atau bisa saja anda sebagai walinya menandatangani kertas bermaterai ini. Kulihat wajahnya marah. anak-anak yatim yang terlantar….Quran mungilnya dan membacanya dengan syahdu. keji that! Tidak!” Kedua orang itu tampak gugup dan sesaat saling berpandangan. Sungai Tamiang. Lupakan saja gadis gila itu. mayat-mayat yang berserakan di Buket Tangkurak. “Kami orang baik-baik. Dua lelaki tegap dengan rambut cepak menyodorkan sesuatu pada Cut Dini.” . Bagaimana kalau kucuri saja topi-topi merah si loreng dan kubakar.” “Sudahlah. Jembatan Kuning. Mengapa? Kugerak-gerakkan kepalaku menatap mimiknya. Ah. Aku terbang tinggi dan kadang menukik seketika. “Kenyataannya masyarakat takut pada siapa? Dulu.Lalu seperti biasanya Cut Dini mengambil Al. “Siapa kalian?” tiba-tiba kudengar suara Cut Dini bergetar. Aku hinggap di ranting-ranting pohon belakang dan mematuki buah-buah di sana. Ini daerah operasi militer. Kami hanya ingin memberikan sumbangan sebesar lima ratus ribu rupiah pada Inong.” Cut Dini membaca kertas itu.” Aku nyengir. Suaranya kadang berubah. meski tak mengerti. ambil saja uang ini buat anda. banyak yang terpaksa menjadi cuak. Lima ratus ribu? Horeeee! Apa bisa buat beli sayap? “Kami minta ia tidak mengatakan apa pun pada orang asing. lalu mengintip ke dalam lewat jendela yang rapuh. Huh. lebih lekat dari jendela. Tetapi sekarang semua usai. Aku terbang dan hinggap pada meja kusam di samping rumah. Aku seperti mendengar Hamzah mengaji —lewat pengeras suara— di musala. “Kami hanya menindak para GPK. semuanya busuk. Tak ada tempat bagi orang seperti kalian di sini. memata-matai dan menganggap teman sendiri sebagai pengikut Hasan Tiro dari Gerakan Aceh Merdeka. Hua…ha…ha. Hutan Krueng Campli…dan di mana-mana!” suara Cut Dini meninggi. “Tidak!! Bagaimana dengan pemerkosaan dan penyiksaan selama ini.” “Oh ya?” Nada Cut Dini sinis. aku tertawa gelak-gelak. penjagalan di rumoh geudong. “Lalu perkampungan tiga ribu janda. Kami menjaga keamanan masyarakat. di ruang tamu yang merangkap kamar tidurku. *** 105 Siang itu aku sedang menjadi burung. aku ingin menangis setiap mendengar bacaan Al-Quran. Cot Panglima. Aku jadi ingin marah.

Kalian sama dengan warga Mane… bekerjasama dengan GPK!” suaranya lagi.Apa? Gadis gila?? Kukepakkan sayapku dan menukik ke arah dua lelaki itu. Aku berlari ke dapur.” katanya. “Zakaria dan keluarganya membantu anak buah Hasan Tiro sejak lama!” Warga desa menunduk. Aku mau shalat lohor dulu. tetap lembut. Dzikir itu lebih mirip jeritan yang menyayat hati. dan kembali menimpuki mereka dengan panci dan penggorengan. Ulon hana teupheu sapheu!” . Zakariaaa! Keluar! Atau kami bakar rumah ini!!” Aku terbangun dan mengucek kedua mataku. juga Agam dan Ma’e! Beberapa orang mengangkat Mak dan membawanya pergi! Sebelum aku berteriak. nanti perabotan itu rusak. Ada apa? Pintu rumah kami digedor-gedor. Lalu Ma’e dan Agam. tiba-tiba saja Ayah diseret ke luar. “Benahi yang rapi lagi. Mereka tak mampu membela kami. Ketika pintu dibuka. Kudengar Ayah tak putus berdzikir. “Dulu aku shalat bersama keluargaku. abang dan adikku. Ayah berjalan ke arah pintu diikuti Mak. Kulempar mereka dengan apa pun yang kutemui di meja dan di lantai. “Kami bukan GPK!”suara Ma’e. 106 *** “Keluar. bila ingin shalat seperti manusia. beberapa tangan kekar merobek-robek bajuku! Aku meronta-ronta. Dari kejauhan kulihat api berkobar. Kurasa ia seorang pemimpin. Orang-orang itu kini hanya titik di kejauhan. “Masya Allah.” tukasku.” Aku berhenti melempar. Mereka berteriak-teriak seperti anak kecil dan berebutan ke luar rumah. “Jangan menjadi burung. “Ayo lihat mereka. Pasti itu ayah orang yang memperkosaku! Pasti ia teman para pembunuh itu! Pasti mereka orang-orang gila yang suka menakut-nakuti orang! Paling tidak mereka cuak! Aku benci cuak! “Inong…. ya. sebelum aku bisa jadi burung. Aku berhenti jadi burung ajaib. “Ini pelajaran bagi anggota GPK!” teriak seorang lelaki berseragam.” kata Cut Dini tersenyum. “Mengapa aku tak pernah diajak salat?” protesku. Puluhan orang ini telah membakar beberapa rumah! “Jangan ada yang menunduk!” Aku gemetar mendengar bentakan itu.” suara Cut Dini.

“Inong. Agam dan Ma’e? Di mana wajah saleh milik Hamzah? Di mana tengkoraknya? Tangan-tangan raksasa itu menggerakkan jaring ke sana ke mari. Jiibandum ureung biasa.” Tangan-tangan raksasa itu mengayun-ayunkan jaring. Airmataku menderas. Silau. Peristiwa empat tahun lalu dan rezim ini. istighfar….” 107 . Dan aku tak ingat apa-apa lagi. Inong! Semua sudah berlalu. mencakar. sebab aku berada di dalam jaring! Banyak orang sepertiku di sini. itu suara Hamzah! “Angkut orang yang bicara itu!” Aku melihat Hamzah dipukul bertubi-tubi hingga limbung. saat tak lama kemudian. hingga aku letih sendiri. Inong! Tak akan! Kau harus sembuh. mereka memang bukan orang jahat. “Astaghfirullah. Tegar. Lalu airmata seseorang yang menetes-netes dan bercampur dengan aliran air di pipiku. Di mana sayapku? Aku ingin terbang dari sini! Oiiii. tetapi aku tak bisa bangun.” suara Geuchik Harun. Aku menjerit-jerit dalam perangkap. Kalian salah sasaran!” Ya Allah. Inong! Inong. terkelupas dan berdarah. Merah. “Bawa mereka ke bukit dekat jalan buntu! Juga gadis itu!” Aku meronta. “Kami tidak membela. “Pak Zakaria hanya seorang muadzin. lalu…ia diinjak-injak! Dan diseret pergi. Aku dan kumpulan manusia di sini berjatuhan ke sana ke mari. Kami tak bisa keluar dari sini! Tolong! Toloooooong! Di mana sayapku? Di mana? Di mana tangan Mak dengan cincin khas di jari manisnya? Aku ingin menggenggamnya. nyeri yang amat sangat merejam-rejam tubuhku! “Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!”aku berteriak sekuat-kuatnya. Inong! Tegar! La hawla wala quwwata illa bi 'l-Lah…. Serentetan tembakan segera menghunjam tubuh Geuchik Harun. Pusing. menggigit. Di mana Ayah. Aku jatuh lagi. Sebuah pelukan yang sangat erat kurasakan.” Samar-samar kulihat kepala desa kami itu diikat pada sebatang pohon.“Lepaskan mereka. “Allah tak akan membiarkan mereka. di dalam jaring-jaring merah ini. Wajah-wajah itu retak. bangun!”dua tangan menggoncang-goncang badanku. Wajah-wajah dalam jaring pias. lalu Ma’e abangku! Aku histeris. “Siapa lagi yang mau membela?”tantang lelaki penyiksa itu pongah. Pedih. Airmataku menganak sungai. kulihat Agam tersungkur dan tak bergerak lagi. Tak jauh. tolong ambilkan sayapku! Aku ingin pindah ke awan! Di tanah kebanggaanku hanya tersisa nestapa!! Tak ada yang mendengar. menendang. lalu Ayah yang berlumuran darah! Tangan-tangan kekar menyeret mereka ke arah truk.

Buletin Kontras no 1/Agustus 1998. Wajah tulus dengan kerudung putih itu. Pak. . “Inong…. Sekujur badanku bergetar.Data yang diterbitkan oleh Forum LSM Aceh. Aku mencari bunyi. beri kami keadilan. “Pergiiiiiiii!” aku menjerit sekuat-kuatnya.*** 108 Cipayung. Daftar istilah: Buket Tangkurak : Bukit Tengkorak Geuchik Cuak : Kepala Desa : orang yang jadi mata-mata tentara . Di antaranya berseragam. apa peduliku?! Aku ingin berteriak. Oknum-oknum itu menjarah segalanya dari perempuan ini!” Takut-takut kuintip lelaki tegap yang sedang menatapku ini. Aku berteriak. 5 Agustus 1998. Hah. mencari bening. Cuma luka nganga. Kompas ( semua terbitan Agustus 1998). “Ia hanya satu dari ribuan korban kebiadaban itu. terasa berputar. tak ada airmata yang mengalir. mereka akan membantu kita…. Lalu tak jauh di hadapanku.Kabur. Tibatiba takutku naik lagi ke ubun-ubun. menatapku kasihan. Orang-orang ini tersentak. . 1998 Referensi: . Berdarah dalam jaring. Tolong. Republika. tetapi kaku. Apakah ia membawa jaring-jaring untuk menangkapku lagi? “Pergiiiii! Pergiiii semuaaaa!” teriakku. mencari gerak.” Aku terkapar kembali. Tak ada apa pun. memporakporandakan apa dan siapa pun yang ada di hadapanku! Aku…. kulihat beberapa o-rang.Gatra. Menggelepar. tak ada suara yang keluar. Tiba-tiba suaraku hilang. Samar kulihat Cut Dini. Aku menggigil dan mendekap Cut Dini erat-erat. Aku menangis tersedu-sedu. Terbit. "Pergiiiiii!" aku menceracau. Ia mengusap airmataku. mengamuk. Bapak sudah lihat sendiri. Aku mengamuk panik.

April 1999) .Ma’e Mak rumoh geudong Mane ureung-ureung that ulon hana teupheu sapheu therimoung ghaseh kherudoung : panggilan untuk Ismail : Mak : rumah gedung (tempat penjagalan) : nama desa di Pidie : orang-orang : sekali : saya hanya orang biasa : terima kasih : kerudung 109 (Dimuat dalam Horison.

kasih sayang. 110 . atau seonggok kayu yang paling sakral sekalipun. tiba-tiba saja dia seperti ditenggelamkan ke lautan. Luar biasa.” “Srenggi? Srenggi siapa?!” Kopag semakin menggigil. siapa kau?!” "Titiang yang akan melayani seluruh keperluan Ratu. Pisaupisau yang runcing terbayang di otaknya. Baru kali ini Kopag merasakan bisa menikmati hidupnya. Biasanya dia hanya dijadikan objek.1 Luh Srenggi. Suara itu dirasakan penuh dengan kejujuran.2 Mulai hari ini dan seterusnya. Seorang perempuan. Luh Srenggi cepat-cepat membantu.” Suara itu terdengar gugup. Aneh. “Siapa tadi namamu?” Kopag mulai menenangkan dirinya sendiri. Hampir saja pisau itu memahat kakinya. Bau itu semakin mendekat dan menyesakkan dadanya. Tangan mereka bersentuhan. Aneh sekali. dan sangat tulus. Inilah perempuan itu. Kulit perempuan itu terasa seperti kulit kayu. Dia memerlukan alat-alat pahatnya. Sekarang Hyang Widhi mengirim untuknya. “Siapa itu?” “Titiang. Kali ini. Semua gara-gara dia mencium bau yang aneh dari sudut pintu. Apa pun yang dikatakan orangorang di sekitarnya. Tangannya jadi lapar. sekedar mendengarkan keputusan orang-orang terdekatnya.” Suara itu terdengar bergetar. Kopag semakin gelisah. Apa yang terjadi dengan dirinya? Kopag memaki dirinya sendiri. Suara itu adalah suara perempuan. “Luh Srenggi. Dia bisa memberikan penilaian yang begitu objektif terhadap benda hidup yang bernama manusia. Seperti bau daundaun kering dan kayu basah. Kopag menggigil ketika bau itu benar-benar menelanjangi wujud laki-lakinya. Kopag harus patuh. dari mana datangnya bau yang membuatnya begitu gelisah? Bau itu semakin mendekat. benarkah suara ini milik seorang perempuan? Ketika Kopag akan mengambil tongkatnya. "Katakan padaku. dia merasa menemukan kebenaran yang berbeda dengan kebenaran yang diyakini oleh orang-orang yang selama ini rajin menanamkan kebenaran yang telah menjadi ukuran mereka. perempuan yang dicarinya berabad-abad. Kopag yakin dugaannya ini tidak meleset.Pemahat Abad Oleh: Oka Rusmini Kopag menjatuhkan pisau ukirnya yang runcing. Perempuan itu pasti memiliki kecantikan yang melebihi kecantikan sebatang pohon.

Kehidupan yang sering dimaki Kopag ternyata cukup demokratis. lakilaki itu pulang dalam kondisi yang menyakitkan. hidupnya. Dia tidak pernah peduli. Kecantikan yang dia lihat dengan pikiran. Gelar Ida Bagus menunjukkan bahwa dia adalah anak laki-laki dari golongan Brahmana. di sanalah dunia itu dibuat untuk laki-laki yang sejak pertama berkenalan dengan aroma bumi dan hidup hanya merasakan kegelapan sebagai bahasanya. Seluruh kekayaan ludes. laki-laki itu bisa tidur dengan seluruh perempuan. dan keindahannya sendiri. Seluruh wajahnya juga lekukan kayu. Dilahirkan sebagai laki-laki buta memang tidak menggairahkan. Dia tahu. Suatu hari. perasaan. Menghargai keindahan yang dititipkan alam padanya. setelah berbulan-bulan tidak pulang. “bahkan untuk menilai keindahan itu. Tubuhnya kurus dan pucat. Dalam kondisi seperti itu. Dia hamil. kasta tertinggi dalam struktur masyarakat Bali. Ayahnya seorang laki-laki sangat terhormat dan memiliki kedudukan tinggi di pemerintahan. Kopag . Lahirlah seorang laki-laki yang merenggut nyawa perempuan itu. Dia adalah kayu terindah dan tercantik. apakah orang-orang yang memiliki kelengkapan utuh sebagai manusia ketika dilahirkan mampu menangkap seluruh rahasia kehidupan ini? Rahasia yang erat-erat digenggam dan disembunyikan alam? Salahkah kalau tiba-tiba saja Kopag menemukan kecantikan yang luar biasa pada diri Luh Srenggi. pelayan tua itu. Alangkah ajaibnya kalau hidup juga bisa dipermainkan. Aneh sekali tak ada manusia yang bisa menangkap kecantikannya. laki-laki itu memaksa perempuan yang dinikahinya untuk bersetubuh.“Apakah di bumi ini wujud kebenaran itu sudah seragam. Perempuan itu menolak. Tapi. Apa artinya kekuatan seorang perempuan? Terlebih. Seperti sebatang kayu dengan lekuknya yang begitu menggairahkan. Dia bisa mengubah kayu kering menjadi sebuah karya seni yang memikat para intelektual seni rupa. Dia juga memiliki puluhan galeri lukis dan patung. juga tidak berkomentar ketika Kopag memuji keindahan perempuan delapan belas tahun itu. Karena tak ada perempuan-perempuan yang bisa dilihatnya dengan matanya. bisa dibuat sebuah pementasan. Tubuhnya seperti lekukan kayu. Dia anak laki-laki kedua yang lahir dari keluarga terkaya di Griya. agar orang-orang mudah mengenalinya dan membedakan dirinya berbeda dengan manusia lainnya. sangat sadar. Laki-laki itu harus berperan sebagai laki-laki buta untuk menebus kelahiran dan hidupnya sendiri. Apa yang sesungguhnya salah pada kriteria yang telah diberikan Kopag terhadap perempuan? 111 *** Kehidupan telah memaksa bocah laki-laki itu memakai label Ida Bagus Made Kopag. laki-lakinya akan menitipkan daging binatang di rahimnya. Kopag telah merekonstruksi sejarah seni rupa. sejak kecil dia terbiasa dididik menjadi perempuan bangsawan yang menghormati laki-lakinya. Salahkah? Kecantikan perempuan muda itu adalah kecantikan yang sangat luar biasa. Sayangnya laki-laki itu memiliki mata yang sangat liar. Kata orang. Gubreg?” Suara Kopag terdengar getir. Dia memberi Kopag poin. Bahkan Gubreg. sehatkah dia? Bagi ayah Kopag. aku juga harus memakai kriteria mereka?” “Kebenaran mereka? Aku tidak yakin mereka mampu melihat seluruh keindahan hidup ini dengan benar!” Suara Kopag terdengar penuh tekanan. Laki-laki itu adalah binatang yang paling mengerikan. setiap makhluk yang memiliki lubang bisa dimasuki. Belum lagi hutangnya yang tiba-tiba saja menumpuk. yang tentu saja tidak dimiliki orang-orang. Pikirannya kacau! Kopag sadar. cantikkah perempuan itu.

atau posisi piring dan gelas berubah di dapur. Bau itu seolah berlomba-lomba meloncat dari bibirnya yang konon sangat mungil. Bagaimana mungkin perempuan konon kata orang-orang di desanya sangat cantik dan santun itu bisa berkata begitu kasar. Aku ingin tahu. seperti Kopag juga menyerah pada kebutaan yang harus dia kenakan setiap saat. Karena dia bukan kaum Brahmana. Saat ini dia sangat mengikuti ambisinya untuk masuk dalam lingkungan keluarga Brahmana. alam menyerah pada kekuasaannya. kembang sepatu yang baru ditanam perempuan nyinyir itu tersangkut tongkatnya. Saat ini aku mencoba percaya pada matamu. “Apa bisanya adikmu yang buta itu? Apa? Merepotkan!” Suara perempuan muda itu selalu menggelisahkannya. aku juga ingin merasakan. Tanpa teriakan iparnya yang sering menyesakkan kuping. juga impian-impiannya. Tanaman di halaman samping rusak atau terinjak kakinya.tidak saja memahat kayu. Orang-orang di luar hanya tahu bentuk tubuhnya yang konon sangat luar biasa. perempuan itu harus mengubah namanya menjadi Jero Melati. dan sangat pas. pokoknya seluruh tubuh perempuan itu selalu jadi pembicaraan kaum laki-laki. dia harus menunjukkan pada seluruh manusia di desa ini bahwa dirinya berhak masuk dalam lingkungan keluarga bangsawan. Iparnya yang luar biasa kasar dan cerewetnya jadi pujian dan pembicaraan seluruh laki-laki di Griya. Jujur saja. Ada-ada saja yang diributkannya. Dunia yang diinginkan. Nama perempuan itu Ni Luh Putu Sari. bagaimana sesungguhnya sebuah penilaian yang objektif dalam hubungan antarmanusia di bumi ini. Masih kata Gubreg. selalu berkata bahwa beruntunglah kakaknya bisa mendapatkan perempuan tercantik di desa. merah. Teriakannya saja bisa memandulkan pisau pahatnya.” 112 . Sebuah kesunyian dengan pagarpagar keindahan. *** Kopag menarik nafasnya dalam-dalam. Postur tubuhnya seperti putri-putri raja Bali. Getaran tangannya sudah seperti tangan-tangan mayat yang membusuk. Bahkan Gubreg. dia memahat pikirannya. Bagi Kopag. Anyir. Kebutaan yang mengikuti dia terus-menerus. Disentuhnya kayu kering yang selama ini selalu mengantarnya ke mana dia pergi. parekan. Untuk pertama kali. otaknya. pelayan setia yang merawat Kopag sejak kecil. dia mencium bau darah. Kopag sering berpikir. Ratu. kulitnya yang sering jadi pujian. Suara iparnya itu akan terus menari-nari di sekitar telinganya.” “Seperti apa perempuan cantik itu. Kopag sangat menyukai kayu yang mengenalkannya pada dunianya. Ni Luh Putu Sari yang sejak menikah dan masuk menjadi keluarga Griya bernama Jero Melati itu memiliki kulit yang sangat indah. “Luar biasa kecantikan Jero Melati. perempuan itu adalah pemain sandiwara yang ulung. Gubreg? Tolong kau katakan seluruhnya. Karena perempuan Sudra. Kopag juga merasakan setiap mulut perempuan itu terbuka. Aneh sekali. ketika untuk pertama kali iparnya itu menyalaminya. Itu yang dirasakan Kopag. perempuan kebanyakan itu telah menikah dengan kakaknya dan menjadi keluarga Griya. Perempuan itu benar-benar serius untuk memasuki perannya sebagai istri laki-laki Brahmana.

Ida Bagus Made Kopag memiliki tubuh yang sangat bagus. Anggap dia anakmu!” Itu pesan Ida Bagus Rai. Ratu. Lihat. Dia ingat teriakan Kopag ketika pertama kali menyentuh tubuh-tubuh pisau yang telanjang itu. 113 . Laki-laki bule itu telah memberinya didikan yang baru. Lihat.” Keruncingannya. tentang Michelangelo Buonorrty. “Kau tidak ingin menjawabnya. kata Frans. Susah. “Gubreg. Menanggung dosa ayahnya. Gubreg.Laki-laki tua itu terdiam. Titiang tidak bisa menjelaskan seperti Frans. Gubreg. kau belum jawab pertanyaanku. Dia juga rajin membaca buku-buku dengan huruf braile. rasa apa yang sering membuatku meluap. Rasanya baru mendengar satu huruf keluar dari bibir laki-laki Prancis itu seluruh isi perutnya seperti keluar. Dipandangnya mata Kopag dalam-dalam. Gubreg. sudah menjelang dua puluh lima tahun. ketajamannya. Kehilangan yang dalam. Seluruh ilmu memahat dia alirkan dalam tubuh bocah kecil yang tidak berdaya itu. sebelum berpulang. tubuhku gemetar setiap menyentuh pisau-pisau ini. “Gubreg. Seperti apa perempuan cantik itu? Apa seperti bongkahan kayu beringin ini? Dingin. Aku masih percaya kehidupan itu bisa diajak bicara. Dadanya sering mendidih. begitu indah. kan? Kehidupan sendiri memberinya hadiah yang luar biasa. Cucuku memiliki seluruh mata manusia yang ada di bumi ini. Laki-laki tua itu sekarang ini jadi cepat marah. Luar biasa. Kau bisa lihat. Gubreg?” “Jangan bertanya yang aneh-aneh pada titiang. Jengkel! Waktu Kopag sekarang habis untuk diskusi. Jaga dia baik-baik. pematung jaman Renaisans. Hyang Widhi! Penguasa jagat! Kopag memang sudah besar. Sejak kecil. Kopag sudah bagian dari nafasnya. Dia juga yang mengajarinya bahwa semua benda punya jiwa. Gubreg. Ada rasa sakit mengelus dada tuanya. “Anak itu buta. Kegelapan itu jadi milik cucuku yang paling abadi. jengkel! Ada-ada saja yang dibawanya. Ada yang hilang dalam tubuh laki-laki tua itu. Kadang-kadang dia bacakan buku-buku bahasa asing. Laki-laki setengah baya itulah yang membuat Gubreg. Bagi Gubreg. Sejak bergaul dengan Frans ada-ada saja yang ditanyakan Kopag padanya. dia mampu membuat patung-patung dengan ukiran sangat sempurna. aku selalu tersentuh. dialah yang mengajari Kopag mempelajari tekstur kayu. Gubreg pun mengajari Kopag menelanjangi tubuh pisau-pisau pahat. dan tangannya juga sangat cekatan memahat patung-patung. Atau sesekali mendatangkan guru yang mengajarinya membaca. Gubreg. Atau sesekali dia dikunjungi orang asing dari Prancis. Frans Kafkasau. Karmanya jatuh pada anaknya sendiri. Susah. termasuk rangkaian pisaupisau pahatnya. Begitu penuh misteri. tapi mampu memikatku. yang konon. perhatian yang lain. Tinggi. Waktu itu umur Kopag tujuh tahun. dan menikmati aroma ketajamannya yang luar biasa indahnya. Sejak kecil kakeknya hanya mengajari Kopag bersentuhan dengan kayu-kayu untuk berkenalan dengan kehidupan. Kopag tidak lagi membutuhkannya. yang diterjemahkannya. Tanyakan pada laki-laki bule itu!” Suara Gubreg terdengar penuh nada kecemburuan. apa ini rasa yang dimiliki lakilaki? Ini wujud kelelakian itu?” suara Kopag terdengar pelan. Pertumbuhannya selalu mengingatkanku pada perbuatan-perbuatan yang dilakukan anakku.

dia adalah laki-laki tak berguna. yang hidup dari belas kasihan keluarga Dayu Centaga. Dia sering terjaga tengah malam dengan nafas yang memburu. Kopag sudah membuka jendela studionya. Dia gelisah. dia luka. Tak ada yang bisa diceritakan kegelisahannya. Semua orang. dukun. “Aku ingin bercerita padamu. perempuan yang sangat dihormatinya. Sampai menjelang tengah malam.” suara Kopag terdengar penuh rasa ingin tahu. memiliki penilaian khusus tentang hal itu.. Sering sekali dia disuruh mengantar Dayu Centaga mandi di sungai Badung. Kata Balian itu. Begitu parah. “Tentang apa lagi.titiang tidak bisa menceritakan kecantikan perempuan pada Ratu. Perempuan itu. Ratu?” “Kecantikan perempuan. Ratu. Balian tua itu memberinya jampi-jampi. kebanyakan. *** 114 Pagi-pagi sekali. Tubuhnya jadi pucat. Tubuh perempuan itu seperti ular yang melingkar dan menjepit batang-batang tubuhnya. Gubreg belum juga bisa menjawab arti menjadi lakilaki. betapa sinar matahari yang perkasa itu menjadi patah dan tak berdaya ketika menyentuh sedikit saja keruncingannya. Sangat paham. Kebetulan si penunggu sungai sedang beristirahat.. Waktu itu Gubreg seorang laki-laki kumal empat belas tahun. Keluarga Griya mencarikan dia seorang Balian. Aroma itu tak bisa dihapus oleh usia yang dipinjam Gubreg pada hidup. dan mampu meledakkan otaknya. Perasaan apa yang sedang bertarung dalam tubuh Kopag? Gubreg takut. Setiap mengingat batas yang ada antara dirinya dan Dayu Centaga. Takut sekali menjawab pertanyaan tentang esensi menjadi laki-laki. Gubreg selalu merasakan tubuhnya dilubangi. Di tangan Kopag pisau itu jadi begitu dingin. Dia juga laki-laki. Masih kata Balian tua itu. Gubreg menyaksikan.. Gubreg sempat membuang kotoran di pinggir sungai. dia sadar tubuhnya tidak boleh melahap tubuh perempuan Brahmana. angkuh dan selalu lapar. dan teramat menggelisahkan ketika tubuhnya mulai lapar dan memerlukan tubuh lain untuk santapan. Perempuan junjungannya. Berkali-kali dia menarik nafas.” Suara Gubreg terdengar patah. Pisau justru seperti menantang matahari untuk bersabung. .Kilatan matahari menjilati keruncingan pisau pahat itu. Rasa itu tiba-tiba saja muncul kembali dalam otak. Tubuhnya dilingkari asap yang sangat menyesakkan aliran pernafasannya. dan tulang-tulangnya yang mulai rapuh membantunya merangkai masa lalunya kembali. Sebagai laki-laki Sudra. dia juga pernah merasakan seperti apa percikan nafsu itu ketika pertama kali menampar wujud manusianya. Hyang Widhi. karena kelaparannya adalah kelaparan yang tidak pada tempatnya. Kakinya kram setiap melihat tubuh basah itu naik ke atas dengan kain yang hanya sebatas dada. Kaki perempuan itu putih.. Aroma tubuh perempuan itu sampai hari ini masih melekat erat di tubuhnya. Dia mengerti.” “Titiang. Terlebih.. Lama-lama Gubreg merasakan sakit yang luar biasa menyerang tubuhnya. Gubreg sadar rasa laparnya sudah tidak bisa dibendung lagi. Dayu Centaga selalu menyuruh Gubreg menggosok punggungnya dengan batu kali.

Gubreg bahkan rela bocah laki-laki itu mencuri lembar demi lembar rahasia perjalanan dan rasa sakitnya sebagai laki-laki yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk mengabdi. dan berpikir. Gubreg tidak sakit. kau ingat kata-kata Frans?” “Yang mana?” “Frans mengatakan keliaranku membentuk tubuh-tubuh manusia dalam kayu mengingatkan dia pada lukisan Pablo Picasso. karena aliran sungai dalam tubuhnya bukan lagi aliran sungai kecil. Aku selalu ingin tahu. 115 . Gubreg masih setia mengabdi di Griya. Gubreg. berdialog. dia merasakan cinta yang dalam pada Dayu Centaga. tanpa kegairahan sebagai laki-laki. Justru Gubreglah yang kena kemarahan si penunggu sungai. mengajakku bicara. Gubreg menatap tajam tubuh Kopag yang sedang merampungkan pahatannya. pahatanku tentang perempuan sangat sempurna. tubuhku. Suatu hari Frans dan seorang temannya mengatakan. Kenapa kayu-kayu ini selalu mengajakku berdiskusi. Kata mereka. Tanpa istri. “Gubreg. sangat surealis. Cinta yang tidak mungkin dihapus. tidak juga kesambet setan. Demi Hyang Widhi. Berkat kekuatan Gubreg. Aku juga ingin tahu arti setiap impian. Rasa ingin tahu yang begitu besar. aku merasakan kecantikan perempuan itu melalui jari-jariku. Pada dasarnya aku selalu penasaran.. Kalau sekarang Kopag bertanya seperti apa kecantikan itu. tidak lagi bisa menikmati kegairahan manusiawi sebagai manusia.tadinya penunggu sungai itu juga ingin mengganggu Dayu Centaga. sampai menguliti otakku.” suara Kopag terdengar pelan. Dia rasakan perubahan pada tubuhnya.memandikan tubuhnya di pinggir sungai. Dan Gubreg tahu air dalam tubuhnya memerlukan muara. yang memanfaatkan seluruh tubuhnya untuk mewujudkan jati diri tokoh yang dimainkan. Gubreg tidak bisa bercerita tentang kelaparan tubuh laki-lakinya. menjelang tujuh puluh lima. Aku juga memiliki impian-impian sendiri pada patahan tubuh pohon itu. keluarga Griya membawa sesaji untuk penunggu sungai. Untuk mengembalikan kesehatan Gubreg. Cinta yang membuatnya jadi batu. diajar memahami kehidupan.” Gubreg tetap diam. Dia menarik nafas berkali-kali. Dia mencoba memahami sesuatu yang sangat rahasia dan begitu dalam ingin disampaikan Kopag. sampai akhirnya potongan-potongan tubuh itu ada di tanganku. Kecantikan perempuan yang kuterjemahkan lewat kayu-kayu itu mengingatkan Frans pada keliaran Martha Graham. seorang anak yang dibesarkan dengan cara-caranya. mem-besarkan tubuhnya. kau belum juga jawab pertanyaanku. Gubreg. Kayu-kayu dan pisau telah memberiku mata yang lain. selalu ingin mengupas dan melukai kayu-kayu itu.. “Gubreg. Untuk menghormati kebaikan keluarga Griya. Katanya agar roh jahat tidak mengenai keluarga Griya. Tak seorang pun tahu. Dayu Centaga tidak terkena. Gubreg paham. komunikasi Balian tua itu dengan dunia gaib salah. Sampai sekarang. dingin. Guemica. Dia pasrah ketika Balian tua. tetapi sudah menyerupai air bah. Impian-impian yang dimiliki oleh po-hon ketika dia membesarkan ranting-rantingnya. Sesuatu yang dahsyat telah dititipkan alam pada tubuhnya. tanganku. Gubreg bersedia menjalankan runtutan upacara itu.

Sayang. adik Jero Melati adalah perempuan paling liar dan nakal.” Suara Kopag terdengar sangat serius. adik Jero Melati bisa menjual tubuhnya. Jero Melati tersenyum.” Suara perempuan itu terdengar mirip perintah dan pemaksaan. 116 *** “Kita harus carikan seorang istri untuk Ratu. Aku ingin bicara!” Kali ini suara Kopag terdengar serius. Mengerikan! Padahal perempuan itu sangat cantik. dia tidak tahan miskin. *** “Gubreg. Jero Melati tidak pernah ceriwis. Hanya satu yang ditangkap Gubreg. Lima menit tanpa hasil. Kata orang-orang kampung. Laki-laki itu tidak pernah tahu apa arti ada uang atau tidak ada uang. Otaknya hanya berisi kehormatan. .” “Jero sudah punya calon?” “Ya. Sekarang ini keluarga ini tentram. Benar kata Kopag. Ratu terlihat sangat gelisah. Kopag seperti linglung. Gubreg diam. Dia tahu.” jawab perempuan itu serius. perempuan itu bebas menggunakan uang Kopag semaunya. Gubreg mencoba memahami ke mana kira-kira arah pembicaraan Kopag.” “Siapa?” “Adik perempuanku. Gubreg. “Ratu. Patung-patung Kopag laku keras dan diminati oleh kolektor dari dalam dan luar negeri. Ratu ingin apa lagi? Jangan menakuti titiang. Padahal kemiskinan kalau dihayati memiliki keindahan tersendiri. Kopag memerlukan perempuan. Saat ini galeri itu sudah tumbuh besar dan menjadi satu-satunya galeri yang paling diakui di Bali karena karya patung yang masuk harus melalui seleksi dan pertimbangan yang teliti. ada bantuan dana dari Jerman dan Prancis.” “Ya. Bulan kemarin. Gubreg tahu tak ada yang diinginkan Kopag. “Bagaimana kalau dia kawin dengan calon yang telah kusiapkan.Berkat Kopag. Untuk pertama kali dia merasakan hawa jahat berendam dan menguasai tubuh cantik itu. perempuan satu ini memang bukan perempuan baik-baik. Gubreg menatap mata perempuan itu tajam. Aku sudah memikirkannya jauh-jauh hari. Bahkan. Aku ingin kawin. keluarga besar ini kembali bisa hidup.” suara Gubreg terdengar sangat hati-hati. dia terus mengelilingi studionya. Mendengar komentar itu. “Kau harus bisa meyakinkan dia bahwa adikku layak menjadi istrinya. kakak Kopag sendiri bisa membuka galeri patung yang besar.

. Wajahnya juga rusak berat. aku tenggelam dan habis. Panggilan kehormatan untuk bangsawan Bali (Dimuat dalam Horison. Sadarkah dia. Luh Srenggi. membersihkan studionya menyiapkan makan. Kulitnya juga kulit kayu. titiang juga sudah membicarakan dengan Jero dan kakak Ratu.*** 117 1. matanya yang kiri bolong. punggungnya bongkok. “Aku sudah memiliki calon. apakah kuping tuanya tidak salah dengar? Bukankah Luh Srenggi adalah perempuan yang menyiapkan seluruh keperluan Kopag. “Aku telah menidurkan perempuan itu setiap malam. Kulitnya begitu kasar. ingin sekali dilihatnya wajah Kopag berseri. Tubuhnya benar-benar lekukan kayu. Maret 2000) . kakinya pincang.” “Mereka setuju.?!” Gubreg seperti tercekik. ada daging besar tumbuh di atasnya. Aneh! Wajah itu tetap seperti batu. Saya 2. Hyang Widhi! Dewa apa yang ada dalam tubuh Kopag. Ketika dia telanjang.” Gubreg ambruk. Perempuan itu telah mengasah tubuh laki-lakiku.“Maaf Ratu. dia hanya memiliki satu mata. Bahkan merekalah yang akan memilihkan calon istri untuk Ratu. Dia adalah perempuan tercantik.” “Ratu. Kau tahu. dan mengambilkan pisau-pisau pahatnya? Perempuan itu bukan perempuan. Gubreg. Perempuan yang mengalahkan kecantikan kayu-kayuku. dia lebih mirip makhluk yang mengerikan. Kali ini pilihanku tidak bisa diubah!” “Siapa?” “Luh Srenggi. tak ada sebuah pisau pun bisa menandingi ketajamannya. Sebuah pisau pahat menembus dadanya yang tipis.” Gubreg mengangkat wajahnya.” “Apa kata mereka. ketika kujatuhkan tubuhku memasuki tubuhnya.. tahukah dia makna kecantikan? Gubreg menarik nafas memegang dadanya kuat-kuat.

“Tapi mengapa harus menjadi batu?” tanya Jim. mereka membunuh diri. aku membayangkan Jim kembali tercungapcungap menceritakan keluarga Niru menjadi batu. betapa mengerikan. “Kau kan tahu betapa Niru adalah bagian dari keluargaku juga. “Oh. “Ketika kutinggalkan sekejap tadi. Berkali-kali ia ulangi pertanyaan tersebut. Sambil mengangkat gagang telepon itu. “Pasti dari Jim. hanya leher sampai kepala mereka saja yang belum menjadi batu. “Ya. “Aku kira sebentar lagi semua tubuh mereka akan menjadi batu. Sampai pada kalimat tersebut. Cepat-cepat ia mengatakan. ya seperti yang sudah kuduga. Aku takut. bukan rentang waktu yang panjang untuk menelusuri hubungan kami. “Niru telah mengantarkan aku ke jenjang karier seperti sekarang dan menjadi modal besar bagiku sampai diangkat menjadi profesor..” kata Jim. tergolek bagai barang tak berguna. Beberapa saat ia terdiam. pertanyaan terakhir itu akan dijawab oleh Jim sendiri dengan mengatakan bahwa memang benarlah mereka manusia. padahal bagian terpenting dalam hidup adalah memfungsikan diri. Ketika ia masih bujang lagi dan kini punya anak bersusun paku. mengapa harus menjadi batu.” “Jim. Ia dan keluarganya —sebelum kawin— memang pohon penelitianku. tetapi aku sudah membayangkan.!” panggilku. Janganjangan menjadi batu merupakan upaya memfungsikan diri juga. menjadi batu membiarkan diri melakoni benda mati.. 118 .. “Bagaimana caranya mereka menjadi batu?” lanjutnya. Tapi mereka manusia kan?” Aku diam.” kata Jim seperti yang sudah kuduga. Tak ada jawaban.. ditingkahi desah ketakutan dan keasingannya menghadapi kenyataan itu.” kata hatiku. “Jim!” ulangku.” kata Jim datar. dan apa yang dapat dilakukan untuk membantu mereka.” simpul Jim. “Tak masuk akal.Menjadi Batu Oleh: Taufik Ikram Jamil Dinihari. Tetapi manusia yang telah menjadi batu tidak akan dapat memfungsikan dirinya.. Lima belas tahun yang lalu. Lalu ia bertanya bagaimana hal itu bisa terjadi. Jim akan tersentak sendiri karena ia mafhum bahwa memfungsikan diri adalah sesuatu yang abstrak. tetapi aku tak pemah menganggapnya sebagai sesuatu yang berasal dari luar diriku.

ketakutannya terasa semakin besar. . Hasil penelitian Jim di desa Niru sebenarnya tidaklah terlalu istimewa bagiku.... “Halo.” Jim agak berteriak.” “Aku takut.. Mereka dalam keadaan yang tidak bisa membela diri terlebih lagi tidak punya sembarang pembela pun. Sesuatu yang sebenamya secara umum dinikmati tidak saja oleh Niru dan Suku Montai.. Aku membayangkan saat ini Jim berlari dari warung telepon yang seingatku terletak sekitar dua kilometer dari rumah Niru kalau mungkin ia menelepon dari tempat itu. Niru masih bujang bedengkang waktu itu. Dalam kerangka yang lebih kecil dan sederhana dapatlah disebutkan bahwa penelitian Jim menggambarkan bagaimana di desa Niru terdapat berbagai hal yang teramat luar biasa secara ekonomi.” kata Jim..” Aku menarik napas. aku merasa meneliti diriku sendiri. lantas berkenalan dengan Niru. tetapi oleh waktu. Niru dan aku diundang menghadiri acara tersebut.. tetapi banyak orang lain lagi termasuk aku.. Sebentar ia tercegat di pintu dan sedikit saja ia menolak daun pintu dengan ujung telunjuk. Tak mengherankan kalau di antara keduanya terjalin hubungan antara pemandu dengan peneliti sampai di luar batas. tut. sekitar 150 km dari sini. Tetapi belum sempat aku menyelidiki keberadaannya seperti tindakan apa yang diharapkannya dariku. tetapi masyarakatnya terbelakang. Hallo. ia yang kawin dengan orang sekampungnya. teruskan. Cukup lama aku membiarkan gagang telepon melekap di telingaku dengan harapan Jim berbicara lagi. begitu orang menamakan asal Niru. tetapi hidup di tengah ladang minyak yang kaya raya dengan peralatan canggihnya. sebenarnya hampir tergolong primitif. Ketika Jim kembali ke negeri asalnya setelah tiga tahun menetap di desa Niru. hubungan kami terputus.. tetap memandu Jim di lapangan.. Niru tak mau datang dengan alasan yang tidak jelas walaupun segala sesuatunya ditanggung oleh Jim. aku menjadi perantara hubungan mereka berdua. sangat takut... “Kau dengar atau tidak?” “Teruskan. Tampaknya aku harus melakukan tindakan karena sudah tiga kali ia menelepon. Suku Montai.. Suku Montai berdampingan dengan hal-hal yang wah itu. namun jarak di antara keduanya sangat jauh seperti tak dapat diukur lagi secara metrik. Tentu saja aku tahu karena akulah yang membawa Jim pertama kali ke desa Niru. cahaya pelita sudah menyergap mukanya.sehingga ketika aku menelitinya atau orang kampung sekalian.. Ketika Jim dikukuhkan sebagai doktor di bidang yang ditelitinya yakni antropologi ekonomi. Belum lagi pembangunan perkebunan besar-besaran yang tak terbayangkan sebelumnya. tut . Aku belum pernah setakut ini.. 119 *** Dinihari. menuju rumah sahabat kami tersebut. barangkali disebabkan perhatian kami yang berbeda dan semua permasalahan di dalam penelitiannya sekaligus kualami sendiri dalam bentuk lain. dimulai dari puncak hidungnya yang tercacak.. Keringat sebesar jagung segera saja mengalir di tubuhnya. Ya. tak lama setelah berkawan akrab dengan Jim. Sayang. tetapi yang terdengar hanya tut .

Mengeluarkan kaki yang sudah menjadi batu. Sinar maupun cahaya dari maskapai minyak dan pabrik-pabrik sawit serta bedeng-bedengnya yang dipandang dari kegelapan kampung ini meskipun membuat hati mereka sayup. Jim terpelanting. Jim mengikuti arah mata itu dengan pandangan tanpa ia tahu apa maksudnya. Jim menyadari keberadaan Niru dan keluarganya seperti sekarang tak lama setelah ia mengajak Niru berjalan untuk makan angin di luar. “Aku panggil Tuk Batin ke sini. Tak jauh dari Niru. Duduk saja di sini. . menjelang dini hari mereka selalu berjalan ke luar. Kaki sampai dada lelaki itu sudah membatu. dan. enam anak kecil juga dalam keadaan demikian. “Sungguh. ke pinggir hutan selatan. “Jangan!” “Bontik?” “Jangan. Jim kembali memutarkan badannya.” kata Jim. sebelum fajar menyingsing. Leman. Terasa begitu cepat waktu berlalu. Ia mencangkung pada pipa minyak yang bergaris tengah sekitar 80 sentimeter dan membentang tak sampai 15 meter dari rumah Niru. Kakinya tiba-tiba saja tertuntun kembali masuk ke dalam rumah Niru. anak-anak. Jim memang mengatakan bahwa apa yang terjadi sekarang pada Niru dan keluarganya seperti tiba-tiba. tetapi tak lama kemudian ia cepat menguasai. mengajak Jim berbincang. Langsung saja matanya menyergap Niru yang tergolek di sudut. semula aku tak percaya. Jim pun sadar bahwa sesuatu telah terjadi pada keluarga ini. Saat pertarna kali menelepon dini hari tadi.” kata Niru. dan istrinya seperti tidak mengalami apa-apa. Jim tak tahu apa yang harus dilakukannya. Berat. Raut. Aku memegang batu itu. Kesimpulan menjadi batu dibuat Jim setelah ia melihat makin malam semakin banyak bagian tubuh Niru maupun anggota keluarganya yang menjadi batu. Setelah berkali-kali mengajak berjalan ke luar yang dengan senyum ditolak Niru. Juga Siah istri Niru yang tergeletak dekat dapur. wajahnya pun terlihat berayun. Cahaya bulan sepenggal dan kerlip-kerlip bintang yang tersapu awan hitam tidak menimbulkan sembarang kesan elok di hatinya. Tetapi mana mungkin aku mempertahankan ketidakpercayaan itu kalau aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana perlahan-lahan badan mereka berubah menjadi batu. lelaki itu akhimya mengeluarkan kakinya. Menengadah. malah ia semakin gelisah. padahal baru beberapa jam sebelumnya Jim dan Niru masih berbicara perkara biasa-biasa saja. “Tapi Niru. Siah dan anak-anaknya ikut terlibat dalam pertemuan dua sahabat lama itu. turun ke tanah. membuat pemandangan di dalam rumah ini bagaikan satu hamparan yang terasa amat asing. menusuk-nusuk hati Jim. “Atau Katik. Dulu.. Angin berkibar.” kata Jim lewat telepon beberapa jam lalu.Wajahnya kelihatan menyala karena butir-butir keringat seperti tersimbah cahaya pelita yang merah kekuning-kuningan. juga mampu menghidangkan suasana lain. Ketika Niru menunjuk kaki anak-anak dan istrinya. Matanya yang bundar memandang tubuhnya yang sudah membatu.” Terdengar Niru ketawa kecil. 120 . Sesuatu yang sulit diterjemahkan kalau tidak berdiri pada bidang Niru maupun Jim.. tinggal mukanya yang ranum seperti tidak mengalami apa-apa.

apa lagi yang dapat dikatakan Niru?” “Dan menjadi batu sebenarnya bukan pilihan kan? batu?” Tetapi mengapa mereka menjadi Ia akan 121 Aku ingin menjawab pertanyaan itu. Bayangan Jim menyeruak di antara cahaya remang-remang di dalam rumah ini. dan bercerita tentang kayangan yang sudah hilang.” “Bagaimana kau tahu?” Aku berdehem. Apalagi waktu itu. “Sungguh aku tak dapat mengerti kalau menjadi batu sebagai suatu pilihan. Kudengar juga suara anakku mengerang.. terdengar suaranya tersendat-sendat.keras sebagaimana layaknya batu. “Ini sungguh amat menakutkan aku. tetapi hujatan Jim _ya.” sambung Jim.. tut .... Dari jendela. Aku ingin mengatakan.. “Kau percaya cerita ini?” “Percaya. Ia hanya mau mengenang masa-masa lampau. Barangkali selama menunggu ini aku sempat tertidur dan terjaga karena suara batuk istriku..” kata Jim dalam telepon sebentar tadi yang kembali terngiang-ngiang dalam telingaku. Ia seperti duduk di ruang . *** Sampai menjelang subuh. Ya.” Apa yang dapat dilakukan dengan menjadi batu.. telepon masih terlentang. sementara sekian pertanyaanku kepada Niru hanyalah sia-sia.” “Ya. tapi aku yakin bahwa ia segera menelepon. aku melihat bulan tergantung yang cahayanya pucat karena disambar cahaya merkuri di tengah jalan... nanti saja. tiba-tiba saja sambungan telepon terputus dan aku hanya dapat mendengar suara tut . “Lantas. Belum ada lagi panggilan dari Jim. aku katakan sebagai hujatan_ tentang menjadi batu tersebut terus saja meluncur dari mulutnya. Cepat pula ia bertanya.. damar yang sulit dicari.” “Dan kau mendengar bagaimana Niru terus berbicara seperti biasa. Kendaraan mulai lewat di depan rumah. menceritakan ikan yang menghilang dari sungai. dan. Ia sedikit pun tak mau menjawab pertanyaanku. tut . Kau tahu bagaimana batu kan?” kalimat Jim bertubitubi.” “Kau percaya?” “Karena kau tak mungkin berbohong. soal-soal kemesraan. tapi nantilah . Aku takut. “Bagaimana kau tahu?” desak Jim. aku tak mungkin berbohong...

Kakinya terkepang. Ia melihat halaman majalah yang memuat tulisan itu dan menyodorkan kepadaku. Dari mata Jim aku tahu ia sebenamya berkali-kali melontarkan pertanyaan serupa. Pandangannya tidak lepas dari mataku meskipun aku sudah mengambil majalah tersebut sambil lewat saja. ia kemudian mengatakan ingin keluar. kelapa sawit di sana sudah menghasilkan sekian kali panen. Ada juga batu berbentuk kapal. Sekarang batu-batu itu membesar dan konon pada suatu saat kelak akan memakan lahan sehingga mempersempit dan semakin mempersempit lahan yang ada. lesung. Tak diajaknya aku. membaca majalah berita yang kubeli sore tadi. ketika mataku sudah terlayang. yang pernah kusaksikan beberapa kali. sendok. Aku agak terkejut karena hal ini di luar programnya semula. Aku tak banyak tanya saat itu dan apa pula gunanya karena Jim tidak pemah dapat dihalangi. tentu terutama dengan Niru dan keluarganya. Dini hari. Niatnya ke desa Niru dengan sendirinya batal walaupun aku sudah mengingatkannya. Kalaupun ada perubahan. Menyulut rokok sebatang dan menghisapnya dalam-dalam.” kata Jim seraya tidak lupa mengatakan bahwa ia sudah diangkat menjadi profesor. “Mengapa kau tak pernah bercerita tentang hamparan batu yang berbentuk manusia dan peralatan hidupnya sehari-hari di sini?” tanya Jim suatu malam. kadang-kadang bergoyang-goyang sebagai tanda bahwa ia menyenangi bacaan itu. jalan yang lebar. Satu hamparan di pinggir pantai dan satu hamparan lagi di dalam sebuah goa di hutan lebat. Tak ada tanggapan Jim terhadap jawabanku itu. “Mengapa kau tak pernah cerita ada hamparan batu yang berbentuk manusia dan peralatan hidupnya sehari-hari di sini?” Sebagai jawabannya aku memandang langit-langit. pagi-pagi lagi Jim mengatakan akan pulang ke Tanah Airnya. ia akan berada di sini barang sepekan dalam urusan apa yang disebutnya sebagai mengecas baterai. Tapi ia tidak meneruskan bacaannya. Niru maupun orang sedesanya tetap seperti dahulu. Sejak saat itu Jim tidak pernah lagi ke sini dan kabar mengenainya kudengar sekali-sekali. mungkin tujuh tahun yang lalu.tengah. “Aku ingin reuni di Montai. Tanpa sengaja aku memandang gambar batubatu yang berbentuk manusia. Keesokannya. limau. Sampailah beberapa hari lalu saat ia meneleponku dan menyatakan keinginannya untuk datang ke sini. bahkan alat kelamin lelaki maupun perempuan. Katanya. dan tanah yang kelihatan semakin 122 . Di desa itu sebagaimana diungkapkannya lewat telepon. Di bandar udara Jim mengoceh banyak hal mengenai kedatangannya sekali ini terutama tentang penghormatannya atas Montai dan Niru khususnya yang mengantarkannya ke jenjang karier seperti sekarang. Tak lama kemudian ia sudah keluar lagi dengan amat necis. tetapi baru tiga hari ia sudah merindukan keluarganya. tak sedikit pun membacanya kecuali memandang gambar-gambar hamparan batu tersebut. dan entah apa lagi. kemudian kembali memandang majalah itu dan mencari nama penulisnya. tetapi aku menawarkan diri untuk menemaninya sekedar basa-basi karena malam itu aku menunggu tamu. Seperti biasa ia hanya tersenyum kecil melihat kelakuanku itu sambil mengangkat bahu. Setahuku. ada dua hamparan batu-batuan seperti itu di sini. baru Jim pulang dengan bau penuh bir. batu-batu tersebut adalah wujud dari tindakan sekelompok manusia yang tak mungkin lagi berbuat lain dalam menghadapi gelombang hidup terutama dalam menolak perintah raja. Konon. Tak ada perubahan. malahan masuk ke dalam kamar yang memang kusediakan untuknya kalau ia datang ke sini. tilam. bantal. seorang teman lama. Bau parfumnya menyengat sampai aku harus mendengus-denguskan hidung.

Persis saat azan subuh mulai berkumandang. bahkan kami di kota ini. Baiklah. Niru hanya mengatakan: payah. Jim juga mengatakan.. Jim cukup mengatakan bahwa rumah Niru masih terbuat dari kulit kayu dan tidak memiliki listrik. 123 *** Ternyata penantianku tidak sia-sia. Persekitaran desa Niru semakin terang benderang dengan berbagai fasilitas. setidak-tidaknya aku akan katakan sepatah dua kata tentang hal itu ketika Jim menelepon lagi yang kini sedang kutunggu-tunggu.” Lama tidak ada jawaban dan aku terus-menerus memintanya untuk bertenang.” kata Jim.tandus. Jim menjawab dengan sedu-sedan. sehingga makin terpuruk ke dalam hutan karena pengembangan ladang minyak dan perkebunan. “Ketika kutanyakan hal ini. dan tak henti-hentinya mengusap muka. Aku berniat sekali mengatakan hal ini kepadanya ketika ia pulang nanti. Waktu itu aku tak sempat mengatakan apa saja yang telah dilakukan Niru dan warga kampung itu. “Pulanglah dulu ke sini. Tak ada maksud apa-apa kecuali agar ia paham bahwa kami tidak pernah menyerah kepada keadaan. “Bertenang?” tanyanya kemudian. tanah yang dibelinya seluas dua hektar untuk Niru dan sejumlah orang sebagai tanda mata itu sudah berpindah tangan tanpa ganti rugi sepeser pun dan di atasnya telah berdiri berdegam sebuah hotel. Dari desah napasnya pula aku dapat meraba bagaimana Jim tercungap-cungap. payah. Aku akan menjemputmu. termasuk hotel dan warung telepon yang boleh dikatakan tidak begitu jauh dari rumah Niru..” “Bertenang dan pulang?” Aku mengogam. kendaraan tiada hentihentinya lalu-lalang di desa itu. Perlu waktu khusus untuk mengatakannya kepada Jim. Suara napas Jim yang kukenal segera menyambar telingaku. “Bagaimana aku dapat bertenang dan pulang dalam keadaan seperti ini?” “Ya. telepon berderak.” “Kemudian membawa aku pulang?” “Ya. Bangunan-bangunan kilang minyak makin menjulang. Di sisi lain untuk menggambarkan keadaan tempat yang didiami Niru dan keluarganya. memang sulit.” . menelan air liurnya beberapa kali. Rumah atau lebih tepat dikatakan pondok itu pun sudah mundur sampai tujuh kali. “Sudahlah Jim. Ketika kutanyakan khabarnya.. bawa bertenang. sementara benakku membayangkan bahwa Jim akan mengabarkan kisah baru yang jauh lebih seru. tidak cukup hanya melalui telepon.

Tetapi Niru setengah duduk: kaki sampai pinggangnya sejajar dengan lantai kaki kanan menghimpit kaki kiri. Pada beberapa rumah yang penghuninya tak dikenal Jim. dengan cepat ia meluncur ke rentangan menerima kenyataan tersebut.. Bontik dan keluarganya juga sudah menjadi batu.. berdiri bercekak pinggang.” kata Jim. Tapi aku menyesal karena berkata seperti itu. Walhasil ia harus mengeluarkan tenaga sedemikian banyaknya dengan sia-sia. Matanya memandang tembus ke langit. kawan Niru sejak kecil dan cukup dikenal Jim. Atap rumah yang terbuat dari daun nipah yang seharusnya menghalangi mata Niru memandang ke luar. sedangkan istri dan tiga orang anaknya berada di belakang rumah. Tetapi mata Niru.. Entah berapa kali Jim bolak-balik di antara satu rumah ke rumah lain yang sekaligus menyaksikan orang-orang sudah menjadi batu tanpa mengerti mengapa ia bertindak demikian. sedangkan istri dan anak-anaknya tergelimpang di halaman. bahkan menjadikannya sebagai titik awal untuk menceritakan pengalamannya yang lain menjelang subuh itu. ia meluncur pula ke rentangan yang menolak. Tetapi aku melihat. kaki kirinya ingin ke belakang atau ke samping kanan maupun ke samping kiri. Aku pergi ke rumah Tuk Batin. Bermacam-macam susunan orang-orang yang sudah menjadi batu itu. Bontik. bahkan kadang-kadang terasa kalau kaki kanan ingin ke depan. dan entah macam mana lagi. ia dan keluarganya juga begitu. Ia merasa amat letih. Ada yang sedang mencangkung. sementara otaknya melayang entah ke mana.. orang yang menjadi batu terlihat di halaman itu pun dalam berbagai pose. Dari sinilah kemudian aku tahu bahwa semua penduduk desa ini sudah menjadi batu yang prosesnya sama dengan apa yang dialami Niru dan kusaksikan langsung. Ia berharap agar semuanya ini hanya mimpi kosong belaka. Sebaliknya belum sempat ia menyadari keadaan dirinya menerima kenyataan itu dengan hati jernih. Untunglah Jim tidak menangkap kelalaian tersebut. Di antara rentangan sikap semacam itulah ia tergantung dan saling tarik-menarik. Ketika kakinya melangkah sesungguhnya tangannya hanya ingin berdiam.. ternyata bocor. ketika. sehingga alat indera tersebut seperti menyala dan melahirkan suasana yang sungguh sulit dilukiskan kata-kata. Barangkali dipengaruhi oleh kedekatan hati. sementara tangan kiri melempai mengikuti bentuk pinggang. Kini mereka semuanya sudah menjadi batu. “Ya. Tidak sekali dua ia tersampuk benda-benda yang tak sempat dilihatnya sehingga ia tersungkur ke tanah. semakin besarlah kesadarannya tentang kenyataan ini. Lelaki ini beserta anggota keluarganya berada dalam rumah. sedangkan pinggang sampai kepalanya membuat garis 120 derajat. Cahaya bulan sepenggal yang masuk ke dalam rumah melalui lubang itu tepat menimpa mata Niru. ia melihat Niru yang sudah menjadi batu lebih dulu.” Kalimat Jim terputus. Seolah-olah bagian-bagian tubuhnya bekerja sendiri-sendiri. Tiga anak mereka yang lain berada di dalam rumah dengan berbagai macam pose. “Ketika kau melihat semua orang di desa itu menjadi batu?” aku memotong kalimat Jim. Begitu pula Tuk Batin yang terlihat duduk di bendul dengan muka tegang. Luka pada beberapa bagian tubuhnya tak terasakan lagi. Ia menerangkan tentang bagaimana ia berlari dari satu rumah ke rumah lain dengan napas terengah-engah.“Bagaimana aku dapat melakukan hal itu. salah seorang manusia yang menjadi batu di halaman. tetapi semakin besar harapan itu bergumul dalam pikiran dan perasaannya. Ketika ia sampai pada ujung rentangan menolak. Tangan kanan menopang kepalanya. tetapi ia 124 .. Ketika itu tanpa seizin Niru aku pergi ke rumah Bontik.

selanjutnya ia memekik keras berkalikali. Memandang ke langit-langit. September 1997) .*** 125 (Dimuat dalam Horison. Pekikan itu pulalah yang seolah-olah mengantarkan kakinya melangkah ke warung telepon dan kembali menelepon aku. Kau sedikit pun tidak memiliki perasaan. Bukan bermaksud menjemputku pulang. “Kalau saja Jim tahu bahwa nanti malam. Seharusnya. kita berbuat sesuatu menghadapi kenyataan ini.tidak dapat mengenal keletihan itu sehingga tidak mampu pula diatasinya. keluargaku. “Kau bangsat. Di mana letak dirimu sebagai manusia?” Aku diam. Tanpa merasa tersinggung sedikit pun. Meraih kursi dan pelan-pelan meletakkan tongkeng di kursi. Kalau saja Jim tahu. semuanya ini sudah direncanakan secara detil sejak dua tahun lalu sehingga aku mengetahui apa-apa saja yang dialaminya di desa Niru walaupun ia tidak menelepon. Ia kemudian terhenyak di anak tangga rumah Niru tanpa dapat membagi perasaan. Kau sudah mati. hanya dengan menjadi batu saja kami dapat bertahan. aku juga meletakkan gagang telepon. aku berkata pelan. giliranku. terasa seperti jarum menusuk telingaku.” Jim marah besar. “Tapi aku bertambah kecewa. seolah-olah tidak ada kejadian apa-apa di sini. Suaranya lantang berkumandang. Ia seperti orang sasau --di antara gila dengan waras. dan para tetangga yang menjadi batu seperti sudah dialami sekian banyak warga sebelumnya.” Sungguh. taik kucing!” Jim menghempaskan gagang telepon. Dengan sedikit sisa kesadaran sebagai orang waras. Entah apa yang dipekiknya. bertambah kecewa karena kau menyuruh aku pulang. “Kemanusiaanmu sudah tak berguna. ia tak tahu. kemudian menyandarkan tubuhku ke sandarannya sehingga aku benar-benar rebah.

Menjadi hutan lebat yang tumbuh dalam kepala mereka. tapi tak gampang mati. Membuat kami begitu merasa terhina. Tetapi mungkin juga memang binatang-binatang itu sudah habis kami bunuhi. Lagu-lagu kami adalah lagu-lagu perburuan. Meletakkan semua senjata yang selama ini kami jinjing dan gendong. bukan sebagai cara kami bertahan menghadapi hidup. Tak ada yang lebih terhormat bagi kami. betapa binatang-binatang di dunia ini perlahanlahan telah habis kami buru. Angin bergegas pergi oleh kedatangan kami. Hingga kami merasa benar-benar sendiri. Inilah perjalanan terjauh dan terlelah kami. Seluruh kekuatan dan pengalaman kami sebagai pemburu telah kami keluarkan sampai tandas. setelah bertahun-tahun memburu buruan kami yang bergerak begitu cepat. serigala dan segala macamnya. untuk memburu binatang-binatang. Inilah pertama kali kami merasa begitu lelah. sesekali meleleh oleh arus gelombang. Kami sudah tahu bagaimana menyembelih wildebeest. Nenek moyang kami telah membentuk kami sebagai pemburu paling ulung. Apalah arti kami bila tak lagi hidup sebagai pemburu. Cerita-cerita penaklukan. jumlah kami memang makin membesar. Setiap bulan hampir seratus anak kami lahir. Kami mengembara dari satu benua ke benua lainnya. sementara orang-orang tua kami bagai tak bisa mati. melulurkan kesejukan pada lengan dan kaki yang bengkak. tupai dan tikus. Banyak di antara kami yang sudah berusia 7890 tahun. Siapakah yang tak tahu akan hal itu? Kami tak pernah gagal memburu sesuatu. Sebagian dari kami langsung merebahkan tubuh atau bersandaran pada batang pohon dan gundukan batu. Telah kami sibak semua palung lautan. ditangkup sunyi daun-daun yang mandi cahaya. Maka mereka buru-buru menjauh pergi. telah lenyap kami tangkap. rusa. macan. dari tahun ke tahun. melihat kehormatan kami akan goyah suatu ketika. Barangkali. Membuat kami cemas. tetapi lebih untuk kebanggaan dan kehormatan. sebelum sampai ke telaga ini. begitu tercium bau kami. binatangbinatang itu juga sudah terlalu hafal dengan kami. selain menjadi seorang pemburu besar yang sanggup merobohkan gajah dengan satu gerakan. Telah kami jelajahi seluruh hutan. Seperti juga semua makhluk yang ketakutan mendengar gemuruh kaki kami. Maklumlah. hanyut oleh pikiran kami. buruan kami tetap saja melenggang bebas. Kami seperti mengejar kilat. tetapi kali ini. Seakan sia-sia kebesaran kami sebagai pemburu yang telah berabad-abad mengabdikan hidup dan peradaban kami hanya untuk berburu. Sebagian lagi menyempatkan diri membersihkan wajah terlebih dahulu. Setiap dari kami dibesarkan dalam belukar. Kami beristirahat di pinggir telaga itu. Sampai kelinci. Kami tak pernah tergoda menjadi petani atau pedagang. Mereka sudah renta. tetapi masih sanggup berlari 126 . badak. Sampai kemudian kami menyadari. Kami memandanginya dengan gamang. ular. mengantar tidur anak-anak kami. Telah kami bongkar tiap lekuk pegunungan. Gajah. sejak kami masih dalam kandungan.Para Pemburu Oleh: Agus Noor Purnama mengapung di telaga. nenek moyang dan anak cucu kami. Legenda kami adalah penaklukan puluhan binatang buruan. Kami adalah bangsa pemburu yang besar.

memang makhluk yang tak gampang menyerah. sasaran perburuan yang menggairahkan. Selamatkan kehidupanmu. ketika dari banyak yang datang kepada kami itu adalah para jenderal. meski kami akan memburu kalian. Dan itulah kehormatan. karena hal itu dianggap akan mengotori kemurnian darah pemburu kami. Inilah hidup yang sesungguhnya.. yang membuat kalian akan merasa memiliki harga sebagai seorang pesakitan. Setiap detik adalah pertarungan.. untuk menggantikan binatang yang kini telah musnah. Tetapi kami tak bisa menolak. Tapi sudah lama kami kesulitan menegakkan kehormatan macam itu. tak hanya kami yang suka dengan permainan semacam itu.” “Lantas bagaimana?” “Apa pun yang terjadi kita mesti memburu sesuatu!” “Memburu apa?” Itu membuat kami terdiam. Karena. Mereka kami lepas ke tengah hutan. orangorang besar di negara mereka. Maka kami pun membeli ratusan budak. Mereka lebih menantang untuk kami taklukkan. Adakah yang lebih menyenangkan. Dan itu. Para penjahat itu. dengan cara melarikan diri. kemudian menghantam kepala binatang itu dengan kepalan tangan. Ketika kisah-kisah kami menjalar ke banyak negara. Kami membeli juga para penjahat yang telah divonis mati. puluhan kepala negara. . Tapi itu lebih baik bagi kalian. Mati dalam perburuan ini lebih terhormat bagi kalian. Mereka kami beri kesempatan untuk bebas. Anggap semua ini hanya permainan. hingga pecah berantakan. baru kemudian kami memburu mereka. Meskipun kalian juga tak luput dari kematian. para bangsawan dan pengusaha besar. para raja. Lantas. kalian masih punya kesempatan untuk memperpanjang kehidupan. Liat dan sigap. “Perburuan tak mungkin berhenti!” “Kita akan cepat renta bila sehari tak memburu apa pun!” “Takdir tak bisa dihentikan. Para bangsawan. Menjadi tradisi. Bahkan membuat kami lebih merasa sempurna sebagai pemburu. selain melakukan perburuan semacam ini? Mereka kami beri kehidupan sekaligus batas kematian. Rupanya. semua binatang telah habis kami buru. perlahan-lahan. seperti kami katakan tadi. lari. Kami akan memburu manusia. membiarkan mereka lari dan menghilang. Anak-anak kami pun nampaknya lebih suka dengan perburuan macam itu. kebiasaan baru tumbuh dalam kehidupan kami.” Dan para pesakitan itu pun kami lepas dengan upacara kehormatan.mengejar antelope. Kami tak lagi memburu binatang. Itu menjadikan kami begitu bahagia. banyak orang di luar suku kami. banyak di antara kami yang menolak. untuk ikut menikmati perburuan itu. Banyak juga di antara kami yang mati dalam perkelahian. daripada mati di tiang gantungan: tak lagi punya pilihan. Sampai kemudian ide brilian terlontar. kami bunuh. mendatangi kami. Kepada mereka kami tawarkan kebebasan. Semoga nasib baik bersama kalian. yang memang memiliki kebiasaan berburu seperti kami 127 . Jangan cemas. sungguh. Selamat jalan. Mula-mula. tapi manusia. Memburu budak-budak itu lebih mengasyikkan daripada memburu binatang. Kami iringi dengan lengkingan terompet dan juga dentuman meriam. “Masuklah dalam hutan.

Kami seperti kehilangan buruan yang mengasyikkan. hingga pertarungan menjadi tak sepadan. tetapi juga. Kami perlahan-lahan meninggalkan cara hidup kami di hutan. Kami menjadi kaum pemburu yang kian kokoh dan terhormat. yang melintas bagai badai dan gelombang. sendiri. Suaranya sudah gemetar. Para raja dan kepala negara mempersilahkan kami untuk memilih rakyat mereka sebagai binatang buruan. Apakah arti kekuatan bila tak ada tantangan yang sepadan? Tak ada lagi yang sanggup melawan kami. kami terus bergerak dari benua ke benua dari zaman ke zaman. keisengan. tetapi kami selalu dirundung sunyi. Di antara kemeriahan pesta. Perburuan bukan lagi perkara kebesaran dan kehormatan. Kami terus memburu. Hidup pemburu agung! Kami pun menjadi kelompok pemburu yang besar. sehingga permainan menjadi tak lagi begitu punya arti. dan kami tertawa bahagia. Jangan biarkan mereka menjadi lembek karena rasa sunyi ini. dengan setiap malam tidur di ranjang yang bersih dan nyaman. mengijinkan tempat-tempat itu untuk kami kelola dan kembangkan sebagai ladang perburuan yang lebih menantang dan menyenangkan. melintasi gelombang waktu. Kami tak hanya punya kesempatan memburu para penjahat yang telah divonis mati. “Untuk apa mengumpulkan para kiai itu?” 128 . menggulung apa pun yang kami sukai. Kami.. tempat kami berpesta setelah seharian berburu. dengan dukungan dana yang melimpah. Jangan biarkan anak-anak kita menjadi pucat dan pasi. Juga kaum intelektual yang selama ini mereka benci. tetapi juga denting gelas dalam kehangatan pesta. yang sudah berumur 100 juta tahun lebih.” Gelas kami beradu. Tak ada lagi yang berani menggertak kami. menyarankan kami agar mengumpulkan para kiai. Ketika kami menjarah perempuan dan membunuhi anak-anak. Ah. menumpuk tengkorak kepala korban kami hingga menggunung sampai menyentuh awan. “Ini darah seorang penyair untukmu. Apalah arti semua itu bagi jiwa pemburu kami? Semua itu bukan lagi gairah petualangan dan tantangan. tetapi kami bebas memilih siapa pun yang paling menyenangkan kami buru. ketika kami memburu dan membantai orang-orang muslim di Bosnia. Hingga kami tak lagi kekurangan buruan. tetapi penaklukan yang membosankan. kami terus menuliskan sejarah kami yang agung. yang telah menjadi sekelompok pemburu yang paling kuat. Para pengusaha mensubsidi kami modal bermilyar-milyar. Para jenderal menyediakan kami senjata-senjata paling mutakhir. Bahkan mereka menjanjikan kami lahan-lahan perburuan yang lebih luas. Itu sering membuat kami terusik sunyi. jangan sedih. tak ada lagi kegairahan karena kemenangan. begitu melimpah buruan kami. ketika kami memburu ribuan orang Yahudi untuk kami kirim ke kamp konsentrasi. terkadang. Kami bangun juga istana-istana.. menjadi tak tertandingi. Kami berdiri di puncak menara peradaban. . ketika kami mengirim pasukan pemburu ke banyak negara untuk meluluhlantakkan apa saja. pasokan senjata yang bagai anggur mengalir dalam gelas-gelas kami. “Kita harus melakukan sesuatu. Malah sering para raja dan kepala negara memberi kemudahan kami dengan memberi lisensi untuk menghabisi para tokoh oposisi yang tak mereka sukai. Kami tak lagi hanya terbiasa dengan bunyi pedang. seakan maut sudah menyentuh bibir orang tua itu.” Lalu seseorang yang paling tua di antara kami. ketika kami menembaki anak-anak Palestina. para demonstran untuk kami habisi.dan memiliki lahan-lahan perburuan yang luas. Begitulah memang mestinya nasib penyair yang tak menulis syair pujapuji bagi keagungan kami. Karena kami sudah terlalu kuat.

. bagaimana cara kalian mendatangkan Jibril bagi kami. kalau perlu dengan paksa dan kekerasan. Ya. Pintu itu terbuka untuk menerima siapa pun masuk ke dalamnya. itu 129 . Suruh mereka menyediakan malaikat untuk kita buru!” Kami terpukau oleh gagasan itu. Sekarang. “Kalianlah yang bercanda. kami segera mengumpulkan para kiai.” “Apa hubungannya dengan para kiai itu?” “Kumpulkan mereka. Dan tentu. Mereka kami datangkan dari semua penjuru. “kalian kami beri waktu satu bulan. Bila selama ini kalian tak bisa mendatangkan Jibril bagi kami.. Bagaimana tempat sekecil itu menampung jutaan kiai yang kami himpun dari seluruh penjuru ini. Jutaan kiai masuk ke dalam masjid yang bagi kami hanya cukup untuk tidur dua puluh orang.” tegas kami. malaikat. Seluruh bangunan itu terbuat dari pelepah kayu. “Kalian jangan bercanda!” teriak kami. Tetapi mereka menolak. kami akan membikin perhitungan sendiri. dan meminta kami untuk membawa mereka ke sebuah kaki bukit di mana ada sebuah masjid kecil di pinggir hutan. menyambut hari depan kami yang gilang gemilang. sebelum maut menjemputku.” Lantas kami membiarkan satu persatu para kiai itu masuk masjid kecil itu.” Mereka. seperti barisan semut yang begitu tertib menuju lubang sarang mereka. katakan kepada kami. anggur segera kami tuang dalam gelas. Luasnya tak lebih dari lima kali lima tombak.“Aku sudah mencium ajalku. “Kami ingin Jibril. berkelok-kelok mengikuti gigir bukit. bersulang. para kiai itu. Apakah kalian akan shalat sepanjang hari? Apakah kalian akan berdoa dan mengaji? Apakah kalian akan menangkar atau menjebak Jibril dengan sebuah perangkap? Kami tak mau tahu dengan itu semua.. Gairah menjalar..” “Baiklah. Barisan kiai masih antri di depan masjid itu. tetapi masjid itu tak juga penuh.” kata kami kepada mereka. . mencari kepastian dalam mata mereka. ketika hampir separo dari jutaan kiai itu sudah masuk ke dalam masjid. “Baiklah. Benar-benar masjid kecil yang tak terawat. meski sesungguhnya heran. “Kami tak mau tahu.. membangkitkan imajinasi kami. Dan aku ingin. Kami turut kemauan mereka. telah lapuk. Kami segera menghimpun topan. membuat kami begitu ternganga. aku ingin menikmati perburuan yang paling menggairahkan. kami giring ke sebuah istana kami yang paling megah. Panji perburuan berkibar. Membuat darah kami menggelembungkan jiwa pemburu kami. kapan kalian bisa menyediakan Jibril bagi kami?” Kami tatap wajah para kiai itu. dari seluruh dunia. dengan meminta kami mendatangkan Jibril. Kami segera mengeluarkan seluruh senjata kami. kenapa kami tak memburu malaikat? “Jibril! bagaimana kalau kita minta Jibril!” “Kami bersorai. Apalagi ketika kami melihat sendiri masjid itu.

Lantas kami tak bisa lagi sabar. Kadang kami merasa ada yang menggemericik dalam hati kami karena gema itu. tetapi tak kunjung keluar jua. raib begitu saja. Segera kami kirim seseorang untuk menemui mereka. orang kedua kami pun tak kembali. membuat udara bergetar dan perasaan kami gemetar. Pada saat itulah. tak pernah muncul kembali. bagai masuk ke tabir ruang dan waktu pada dimensi lain. luar biasa. Namun dzikir itu masih kami dengar. Dan kami segera menyerbu. desing senapan mesin. membumbung. kini telah muncul di hadapan kami. kenapa kami malah bengong begitu? Maka. Kami kirim utusan kembali. Sementara suara dzikir itu terus saja bergema. 130 . tetapi hanya gema dzikir membalas suara kami. Begitulah berkali-kali. di sana. gembira dan tak percaya. Seperti batang-batang pohon yang bergoyang itu. tetapi. Kami tak mau ditipu para kiai itu. Gema itu melambung. Kami memagarbetis masjid itu. lenyap seketika. Sampai kemudian semua kiai telah masuk dalam masjid itu. roket dan basoka. Namun orang itu tak kembali. memperingatkan para kiai bahwa waktu sudah habis buat mereka. Tombak. kami melihat selesat biru cahaya menatap kami. melihat impian kami sudah di depan mata. Satu bulan lewat. itulah yang kami saksikan. bagaimana mungkin? Tapi. membuat kami tengadah ke puncak api. dengan sigap kami segera meraih senjata-senjata kami. jangan-jangan semua itu sihir belaka. ya Allah. Kemarahan kami menyalakan api di tangan. Kami sudah cukup punya pengertian. kemudian kembali mengirim utusan untuk menemui para kiai di dalam masjid itu. sepanjang hari sepanjang malam. Dan. hingga kayu-kayu bergemeretakan. tertelan dan lenyap. seperti daun yang melayang-layang itu. Tapi seperti yang pertama dan kedua. Tiba-tiba tubuh mereka hilang tak berbekas. Dan kami mendengar gema dzikir dari dalam sana. antara takjub dan panik. Apakah ini keajaiban yang dikirim bagi kami? “Buru!” Teriakan itu. masuk dalam masjid itu. Kami bakar masjid itu. mendadak menyadarkan kami. Jibril. mengalun menidurkan rerumputan. betapa memang inilah yang selama ini kami tunggu-tunggu. Membuat kami tambah cemas menunggu. sekaligus marah. Kami panik. di pucuk api berkobar. menguap begitu cepat. menyentuh langit. di puncak kobaran api. setiap orang yang kami kirim untuk menjumpai para kiai. dengan sayap terentang sampai ujung paling jauh dari semesta. bersama angin dan embun. Kami berteriak menyuruh para kiai itu keluar. seseorang di antara kami berteriak. Kami panggil namanya. yang hanyut dibuai dzikir para kiai. semua dari kami yang masuk ke dalam masjid itu. berkobar dan segera kami lempar pada mesjid itu. Kami terus berjaga. anak panah. “Jibril!!” “Jibril!!” Seketika kami berteriak. dan api melahap cepat. bukan? Jangan salahkan kami. Tetapi seperti yang pertama. ketika para kiai itu tak juga muncul dari dalam masjid. tak membiarkan seekor tikus lolos dari amatan kami. Kami tak mau kecolongan. Membuat kami cemas. utusan kami ini pun tak muncul lagi meski kami sudah menanti lebih lima hari.pun pasti sudah berhimpitan. takut mereka akan keluar dan meloloskan diri ketika kami tertidur. dengan cepat berlesatan ke arah selesat cahaya biru itu yang dengan cepat bergerak dengan sayap mengepak.

Jiwa pemburu kami bergelora oleh gairah perburuan kali ini. Dan memang. Kami tak punya waktu untuk memikirkan itu semua. Setelah berabad-abad kami hidup sebagai pemburu.“Kejar!” Kami pun melesat. agar kami mampu meringkus Jibril. meraih peralatan berburu kami. mengejar Jibril. membiarkan rambut dan jenggot kami memanjang tak terawat. 1995-1998 (Dongeng Buat Mas Danarto) (Dimuat dalam Horison. Segera menghambur. dan kami pun tak sempat menguburkannya. Kami tak mau kehilangan jejak. Sebagian besar dari kami kini benar-benar renta. Ketika kami baru saja rebahan dan membasuh kelelahan kami di telaga itu pun. kami lihat jejak cahaya. mengepakkan sayap-sayap cahaya-Nya. dan langsung melesat. Karena kami harus terus mengejar Jibril. kami sudah harus kembali pergi ketika pada bayangan bulan. Bertahun-tahun kami memburu. melanjutkan pemburuan abadi kami. roket terus berlesatan. Banyak dari kami yang mati dalam perburuan ini. perangkap telah kami pasang. ranjauranjau telah kami tanam. yang menyimpan bayangan bulan. jaring-jaring baja telah kami rentangkan. Ke mana pun Jibril melesat. Inilah perburuan paling menakjubkan bagi kami. Inilah buruan kami yang abadi. hingga telah lama anak-anak kami tak lahir. Kami begitu sibuk memburu Jibril. kami melihat buruan abadi kami. Kami tak sempat istirahat. Kami tak pernah tidur di satu tempat. kami benar-benar tak pernah punya waktu istirahat. Membiarkan kaki kami koyak oleh duri. Januari 2000) . inilah sesungguh-sesungguhnya perburuan yang sejati. Maka kami pun kembali bangkit. “Ke sana!” seseorang dari kami berteriak. kami memburunya. mengharap kesegaran akan membuat tenaga kami kembali muda. Tombak terus beterbangan. setelah bermacam pengalaman perburuan membuat kami jadi pemburu sejati. Di seberang telaga sana.*** 131 Yogyakarta. Sampai kami tiba di pinggir telaga ini.

semua orang mengenalnya sebagai Gang Haji Abdul Jalil. Tapi inilah gambaran kota yang sebenarnya. Anak-anak remaja mengganti huruf pada Gang itu dengan k. main congklak. Tak tahu siapa yang mengubahnya. 4 . berkejaran. Kami telah lebur jadi satu: penghuni Gang Haji Abdul Jalil. sehingga kami tak merasa lagi perbedaannya. ada yang mengubahnya: Gank Haji Abdul Jackal. dapat menduganya. 132 2 Di gang itulah aku dan teman-teman tumbuh dan dibesarkan. Namun. siapa lagi kalau bukan salah seorang di antara kami. anak-anak menyibak ke tepi. setelah mobil berlalu. Belakangan. main petak-umpet. Hotel Indonesia. Apalah arti sebuah nama. oleh tukang. seperti Taman Mini. Tapi semua orang seperti sudah maklum. Di sana. Monas. anak-anak bermain gundu. dan lain sebagainya. di jalanan yang sempit itu. beca terutama. 3 Penghuni gang itu terdiri dari berbagai suku. sehingga kau tidak akan menjumpai dalam kartu pos bergambar untuk promosi pariwisata. Sebuah gang sempit yang tak berarti. Sementara gadia-gadis kecilnya duduk bersila main masakmasakan. Seakan. main layangan. Dunia Fantasi Ancol. disingkat saja menjadi Gang Jalil. atau melompat-lompat main engklek. Kadang-kadang. untuk cepat dan mudahnya. seperti setelah biduk lalu kiambang bertaut. main bola kaki. apa pun namanya. yang terpaksa merayap pelan bagai keong. Dan apabila ada mobil lewat. main galasin. sehingga menjadi Gank.Gank Oleh: Syahril Latif 1 Gang Haji Abdul Jalil adalah sebuah gang sempit yang terletak persis di depan Kuburan Karet yang terkenal itu. Kemudian mengumpul kembali memenuhi jalanan. yang bercampur-baur menjadi satu dengan penduduk asli Betawi. di mana penduduk tinggal tumplek berdesakan.

” kata mereka. rumah-rumah. penjual nasi Padang dan Tegal. Dan tanya lagi. yang segera mengundang tamu atau teman kami yang datang berkunjung. “Yang di sebelahnya?” “Rumah pegawai Bea Cukai. “Pantas!” jawab mereka. Kadang menumpang menjahit baju anak di rumah tetangga yang punya . Tak tahulah. Ada juga satu dua rumah gedung yang berpekarangan luas dan bertaman. kami pun sederhana. makelar. satpam. tukang cukur.” “Lebih pantas lagi. 5 Sebagai gambaran kemiskinan. berukuran kecil dan tak teratur bentuk dan susunannya. perawat dan lain sebagainya. Kadang-kadang mereka saling antar-mengantar sayuran atau makanan kecil.” “Bagian apa?” “Tau. menjabat bagian basah. pegawai negeri dan swasta. Kok. membuat kehadirannya bagaikan putri raja di tengah rakyat gembel.” “Kok sama hebatnya?” “Maklum. bertanya heran: “Rumah siapa yang cakep itu?” “Itu rumah pegawai pajak. sih? 133 6 Di sini dapat kau jumpai segala macam orang: tukang sol sepatu. dengar-dengar bagian pembelian atau perizinan.” begitu kami selalu menjelaskan. sopir. ibu-ibu kami saling pinjam garam atau korek api atau bumbu masakan kepada tetangga. bidan. pegawai negeri biasa saja. dosen. “Yang di seberangnya?” “Itu mah. dan tanya lagi. tukang listrik. pedagang kaki lima. kenek. ngurus hal orang lain. montir.Rata-rata. pelayan toko. guru sekolah. semua kami miskin dan karenanya kami saling mengenal dan akrab satu sama lain. tukang kayu. 7 Jika lagi kehabisan.

Biinakum. ke sepanjang gang. Tuunakum. Tiinakum. sementara ibu-ibu itu masih bersungut-sungut.. Tsaunakum. Taanakum. Dan andaikata ada pompa air yang rusak.mesin jahit. begitulah cara mereka membanting kesal ke atas meja gaple. Tsaanakum. Tsainakum. Baunakum. Bainakum. 10 Apa saja yang dimasak tetangga. di luar pekarangan rumah. Baanakum... Anehnya. kalau ibumu menggoreng ikan asin. teriakan penjaja sayuran dan makanan. 12 . terdengar mengalun suara anak-anak mengeja Juz Amma dari madrasah: “Aanakum. Uunakum. Ainakum. 8 Sesekali. Begitulah cara ayah-ayah kami melepaskan lelah setelah seharian mencari nafkah membanting tulang. atau listrik yang korsleting. Atau juga. Yang ini. Macam-macamlah sumber kebisingan itu: radio atau kaset yang tak henti-hentinya distel. bisa-bisa berlangsung hingga beduk subuh. lebih terkenal: gaple. Aunakum. mengantar kantuk. Buunakum. Tsiinakum. sungguh menitikkan air liur. mengasyikkan. Aromanya akan mengambang ke mana-mana. Tainakum. Tak tahulah. Biasanya.” Ejaan itu mengalun dalam irama yang khas. soal anak-anak. 134 9 Kurasa gang kami tak pernah sepi. tetangga lain akan cepat turun tangan memberikan bantuan perbaikan. Tsuunakum . Yang paling cepat ketahuan. Iinakum. ibu-ibu kami terlibat juga dalam pertengkaran kecil. Pada malam minggu. yang berantem. melayang jauh dihantar angin siang. teriakan anak-anak bermain. Dan lepas tengah hari. boleh dikata selalu ada permainan domino. Taunakum. di saat warga sedang terkantuk-kantuk disengat panas Jakarta. tak bisa dirahasiakan. anak-anak mereka sudah berbaikan kembali. 11 Lepas Isya dan makan malam.

Menurut Ustadz Malik. Usia kami tak jauh beda. Nampaknya kehadiran kami melegakan hati mereka. Heran. Menertawakan siapa? 135 13 Jika yang tua-tua senang gaple. Tapi rasanya lebih intim dengan Hamzah. 16 . Semua jenis lagu kami senang.Berbeda sedikit dengan hari-hari biasa. menyanyi dan main gitar. sebagai basa-basi. Atau disusul adiknya disuruh pulang. anak-anak cewek ikut nimbrung bersama kami. saling menenggang. tanda setan sedang mengencinginya!” Tiba-tiba. Martin. Tempatnya: gardu jaga siskamling. mata itu bisa melotot terus sampai pagi. Sebentar mereka sudah dipanggil ibu mereka. Najib. agaknya dangdut dan pop itulah. Dulu ketika masih kecil. atau belagak memainkan musik jazz dengan gitarnya. Sekali-sekali ada juga yang mencoba seriosa. ikut hadir. Sesekali kami larut juga dalam irama gambus. 15 Bagiku. semua anak-anak Gang Haji Abdul Jalil adalah teman. semua membuka matanya lebar-lebar. Kami menyebutnya ‘markas’. setengah melucu. sekali sebulan pada petang Jumat. Dan kalau bisa ingin berbuat lebih baik kepada yang lain. Kami yang muda-muda. pop sampai keroncong. orang tua-tua kami mengadakan pengajian di mesjid. ditingkah senda gurau dan gelak tawa tak berkeputusan. tapi tak kena: sumbang. kami saling menjaga. mulai dari dangdut. dan yang lain segera menyorakinya. Tapi yang mendapat tempat di hati kami. kalau main gaple semalam suntuk. setengah menyindir: “Mata yang mengantuk kalau dibawa mendengar pengajian. Tony Handoko dan beberapa anak tertentu. kami yang muda-muda pun tak mau ketinggalan duduk menggerombol: ngobrol ngalor-ngidul. kami sering berantem. hampir sebaya. persis pengamen jalanan. Sekarang tidak. Di tengah pengajian sedang berlangsung. 14 Sekali-sekali. sedikit kaget dan lantas tertawa. tak sampai larut. ayah-ayah kami pada mengantuk.

dia sedang baca apa? George Bernard Shaw atau Hemingway atau Tolstoy atau Albert Camus atau Dokter Zhivagonya Boris Pasternak atau Thomas Elliot! Pokoknya: berat! 136 17 Kalau si Martin lain lagi. biaya kuliah terlalu tinggi. si Najiblah yang membuat kami semua merasa heran. Maka dengan senjata ijazah SMA-nya diterobosnya rimba perkantoran kota Jakarta. kalau dia lagi sendirian di teras rumahnya. kayaknya bukan lagi Martin yang kami kenal selama ini: Martin yang lugu dan agak pemalu. Sejak jadi pemain teater. Dan sekarang. kalian tahu. deh! Bayangin. Agaknya ia tak bisa lagi mengecilkan suaranya. disibukkan oleh latihan-latihan teaternya. sejak jadi mahasiswa Sastra Inggris paling getol nyanyi Inggris. Kadang-kadang ikut mentas ke kota-kota lain! 18 Kukira. Merasa lebih penting dan menonjol dari yang lain. guru ngaji di gang kami. Soalnya setelah gagal sipenmaru. Pokoknya. Apalah yang dapat diharapkan dari pencarian ayahnya yang ustadz. ni yee?!” ejek anak-anak. Mau melanjutkan ke Perguruan Tinggi Swasta. jalannya. bacaannya bukan komik lagi. Tiba-tiba saja ia telah menjadi manusia aneh di tengah-tengah kami.” tambah yang lain. Di situlah ia bercokol. tak mungkin. Ia ikut salah satu kelompok teater yang sering mentas di TIM. ekspresi wajah dan lain sebagainya. “Inggris. “Maklum. Atau dikuburnya? Pokoknya lagu Barat melulu. Tapi Hamzah tidak marah. Anak-anak hampir tak dapat menahan ketawa. bukan cerita silat lagi. maunya. gayanya overacting. berat. Gayanya mirip-mirip Rendra. gerak tangan. ia tahu diri. bagaikan buku yang belum habis dibaca kita sudah . Najib anak Ustadz Malik. cara tersenyum. Akan hasil perburuannya itu.Hamzah gitaris andalan kami. Itu. Tak acuh. Masuk kantor keluar kantor. Kalau ia bicara. nada suaranya agak dilantunkan bagaikan orang berdiri di atas panggung. Selangit. seakan ia jauh dari kita. Gaya bicaranya. Kami tak tahu pasti. apakah dia masih bisa berbisik. di luar jangkauan. deh. Akhir-akhir ini ia agak jarang nongol di ‘markas’? Waktunya dihabiskannya di TIM. Agaknya dangdut seperti sudah dilupakannya. benar-benar ia putus sekolah.

dan ia tak mau jadi bahan tertawaan teman-temannya. atau kayak petasan gantung waktu sunatan. Sebenarnya. berang. bersikeras pada papanya mau masuk pesantren. Selanjutnya diberondongnya Tony dengan omelan tak berkeputusan. Setelah pernyataan pemberitahuan itu kepada papanya dan diberondong habis-habisan. Najib merasa sangat terhimpit. merasa berkewajiban menyimpan rahasia ini kepada Ustadz Malik. siapa sangka. setelah Najib ditest. bingung. jika Allah berkehendak memberi hidayah kepada hambanya. “Jangan lupa shalat. merunduk terus. sesuai menurut apa yang dikatakan Najib ketika suatu kali ayahnya bertanya. akhirnya Najib mendapat juga apa yang dicarinya. Tapi Allah memang Maha Pemurah.” pesan ayahnya. rumah minum. Siang hari ia tidur. bagaikan disambar petir di siang bolong. Papanya sudah berangan-angan supaya Tony jadi akuntan dan akan mengirimnya ke Amerika. Papanya menyesalkan sangat keinginan Tony itu. Najib mulai bekerja di sana. Tony memintaku. Teriak papanya: “Mau jadi apa kau?! Mau jadi santri miskin?!” Suaranya menggelegar sepanjang gang. pimpinan pesantren itu. tak membantah sepatah pun. Agaknya ia kalah. Sejak itu kami kehilangan seorang teman kongkow. sampai papanya reda dan terhenyak di kursi. kalau itu diartikan secara harfiah: kerja. tak alang kepalang. Tony bungkem. Kaget. tapi dilakoninya terus. Tony dan aku berangkat naik kereta api ke Jawa Timur. ke Pesantren Bangil. dan di mana mau shalat. Yang ia tahu. Pokoknya. . Beberapa hari kemudian. Jelas Najib berbohong. Papanya menganggap keputusan Tony itu benar-benar gila.tahu jalan ceritanya. Najib bekerja sebagai Satpam di sebuah perusahaan. Dan ia tahu betul berbohong itu dosa. Ayahnya Ustadz Malik tak tahu putranya bekerja di tempat haram itu. heran. kemudian ikut training untuk jadi Bartender. bagaikan rentetan tembakan senapan mesin sebagaimana yang kau lihat dalam film Rambo. anak pegawai pajak yang gedongan itu. Untunglah hal itu diizinkan Pak Kiai. Tony Handoko yang agak ugal-ugalan itu. menguji keimanannya. Sampai kapan? Dan kami. bersamaan dengan itu Allah ingin menguji Najib. kerja. tentu kau sudah dapat menebak. dan tak ada tempo. 137 19 Sebaliknya. Dan bahkan kini ia sudah tak shalat lagi. Apakah ia suka atau tidak. Nah. seperti musang. Ketika hal itu disampaikan. Bekerja di bar itu dosa. Orang tak ingin menghancurkan perasaannya. bukan main kagetnya sang papa. Pengasih dan Penyayang. Lingkungannya tak memungkinkan. Satu-satunya perusahaan yang mau menerimanya adalah sebuah Pub. Ia memerlukan teman dalam perjalanannya. kami. Artinya. Karena Najib bekerja malam hari hingga subuh. Bahkan ia minta aku menemaninya selama seminggu di pesantren. dan semua orang di gang.

yang suka “ekstrim” bukan Tony Handoko seorang. Ia diminta ibunya pulang sebentar untuk menjenguk papanya. tak lain tak bukan.” Aku mencoba melunakkan hatinya. “Sekarang saya lagi kesal sama papa. sebagaimana yang kita lihat di majalah-majalah atawa koran-koran. nampak kesal. Allah.. hampir saya tidak bisa memaafkan papa.. Dan kesan pertama kita melihatnya. bukan?” “Tidak sekarang. Maunya perintahnya saja yang mesti diturut. Coba. teman kami juga. Saya hanya bisa berdoa. Dan katanya: “Coba fikir.. itu kata lain dari pada kerudung). menurut Ustadz Malik. anak buah fanatik pengikut Imam Khomeini. istri-istri orang mu'min. sekarang pakai jilbab (itu istilah yang ngepop sekarang. hanya mencari kesenangan dunia…. hampir menangis. Lanjutnya: “Kalau tidaklah karena takut dosa. Dan sebagaimana dikatakannya dalam surat kepada ibunya. “Toh tidak apa pulang buat sebentar. seakan dengan itu dapat dibeli semuanya: gengsi. Tapi. Dunia. Nah. teman Maryam (nanti kalau ada tempo aku cerita padamu). Aisah yang satu ini. dari ibu Tony. martabat. Begitu Surat Kilat Khusus yang kami terima. papanya jatuh sakit. Tapi Tony tak mau. agar semua kami ditangkap. Ada lagi.. Ma.. pimpinan Imam Hassan Al-Banna. pada hari ketiga. dunia dan kesenangan melulu. guru ngaji kami ditangkap! La hawla wa la quwwata illa bi 'l-Lah. Ikut pengajian gelap. Sesuai dengan apa yang termaktub dalam Al-Quran.” Pakaian yang menutup aurat. Saya percaya masih tersimpan benih-benih iman dalam dada papa. Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu. kesenangan . menjadi anak durhaka. Ya. Belakangan ada lagi yang menyebutnya pakaian wanita Ikhwanul Muslimin Mesir. Sekarang sedang tersapu oleh gemerlapnya keindahan dunia 138 21 Sebenarnya. semoga Allah memberi papa taufiq dan hidayah. pengajian subversif. pengajian yang disusupi faham komunis. anak-anak perempuanmu. Kau lihatlah si Aisah. Tidak! Saya tidak akan pulang! Saya sudah bosan dengan suasana rumah!” Tony menarik nafas panjang. saya dibilang sudah sesat? Dituduh mendapat pengajian yang sesat? ..” jawabnya pasti. surah Al-Ahzab ayat 59: “Hai.. tapi miskin rohani.. masak papa tega menuduh saya subversif.… Apa dengan kekayaan itu dapat dibeli kebahagiaan akhirat? Papa sudah dipengaruhi oleh Dajjal yang bermata satu. persis seperti kaum wanita pasidaran Iran.. kepadaku ia berkata: “Nanti sebentar papa akan sembuh juga. Dalam batin. Papa memang selalu begitu. kulihat air matanya menggenang. Hendaklah mereka mengulurkan kain kerudung/jilbab mereka ke .20 Sehari setelah keberangkatan Tony. Engkaulah Yang Maha Tahu! Dan papa sampai hati akan mengadukan kelompok pengajian kami kepada yang berwajib. Jelas ini fitnah! . Kini. apa pun namanya. “Itulah pakaian Muslimah yang sebenarnya.. saya bertanya: siapa yang sesat? Saya atau papa? Apa yang papa fikirkan hanya duit melulu .

apalagi mini. Aku tak tahu bagaimana kesudahannya. Kayaknya semua pakaian rok.” jawabnya. dapat saya kutipkan sebuah Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Daud dari Aisyah r. Aisah boleh bermantap-mantap. ia berdosa dan aku pun berdosa. ia dianggap melanggar peraturan seragam sekolah.. Tapi lihatlah betapa cobaan yang dihadapinya. Al A’raaf ayat 26 dan beberapa Hadis yang diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad! Pokoknya. siapa yang mau saja. baik yang maxi. maka Rasulullah melengah seraya berkata: “Hai Asma. “Salah apa saya jika saya mengamalkan ajaran agama saya?! Toh. Dan siapa yang mau menjahitkan kepada saya? Terserahlah. Yang kutahu Aisah tetap tegar. ekstrim itu.” Mantap sekali ia. hal itu dijamin oleh Undang-Undang Dasar Empat Lima kita! Baca tuh pasal 29 ayat 2. “Menyuruh orang membuka aurat. misalnya pada An Nur ayat 31. Aisah?” Suatu kali aku coba menduga kepadanya. dan dosa yang dilakukan orang itu.” dan beliau menunjuk kepada muka dan kedua telapak tangannya. menjulukinya dengan “pakaian ninja”. tapi Saudara-saudara dapat mencarinya sendiri dalam Al-Quran. barangkali.: suatu ketika Asma binti Abu Bakar masuk ke tempat Rasulullah sedang Asma memakai baju yang tipis (membayang tubuhnya). perancang busana. Dan dosaku dua kali lipat: dosa karena telah memberi yang salah. Dan Allah Maha Pengampun-Penyayang. ia selalu berjilbab! Anak-anak yang iseng. bahwa negara menjamin kemerdekaan dan kebebasan setiap warga negara untuk memeluk suatu agama atau keper- 139 . dengan ancaman sewaktu-waktu bisa dikeluarkan dari sekolah. maaf. Dan sejak itu. kayaknya Aisah tak punya lagi barang sepotong pun baju model lain. Aisah. sama saja kita membagi dosa kepada yang lain. walau warnanya sudah putih di atas dan abu-abu di bawah (sudah disesuaikan Aisah). Berkata mantap kepada kami anak-anak gang. Tapi Aisah tak acuh saja. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal. kapan saja. baju lengan panjang dan rok yang komprang kedodoran itu! Kepala Sekolah sudah memberi peringatan beberapa kali.” kataku pula. “Dulu sebelum begini malah kau seorang modis. sejak Aisah menjadi eskrim.” katanya. midi. lisan dan tulisan. Sekarang siapa yang mau menjahitkan pakaian padamu kalau hanya jilbab melulu?” “Lupakanlah itu. masih ada beberapa ayat dan hadis. Aisah mendapat kerepotan di sekolahnya (sebuah SMA Negeri di bilangan Kebayoran Baru). sudah dibakar ludes! Atau dihanyutkan ke Kali Malang (tak jauh dari gang kami).” “Kau ini aneh. Namun ia tetap dianggap melanggar. Oleh kepala sekolah. “Apa pakaian-pakaian yang dulu itu sudah kau sedekahkan. Garagara pakaian jilbab itulah. agar mereka tidak diganggu.seluruh tubuh mereka. fikirku. Sebenarnya. di mana saja.a. Rezeki di tangan Allah. Semoga Allah mengampunkan ketidaktahuanku.. “Itu namanya. “Itu waktu saya masih jahiliyah.. wanita yang telah sampai masa haid tidak boleh terlihat kecuali ini dan ini. blus yang dulu. Soalnya: jilbab yang kayak ninja itu.” Dan dari Hadis Rasulullah Saw.

katanya sambil setengah berbisik.. segera mengalihkan iramanya ke kasidahan: “Indung-indung kepala lindung Hujan di udik di sini mendung Anak siapa pakai kerudung Mata melirik kaki kesandung. belum merasa puas. anak-anak yang tadinya asyik-asyiknya menyanyi dangdut atau pop.” celetuk kami. “PKIiiiiiiii. yang mabuk-mabukan itu.. Dan bertepuk tangan serempak. aduh manisnya)... membenarkan. tak pernah luput ia jadi godaan. mengangkat bahu. pengamalannya kita jegal. senang sekali. Kan hanya orang-orang PKI yang sangat anti agama?” “Ya..!” teriak anak-anak serempak. Aisah mengeluh: “Boleh jadi semua kita telah menjadi orang-orang munafik terhadap agama yang kita anut. yang terlibat narkotik itu. Semua bertepuk kegirangan bagaikan anak-anak pramuka. tak tanggung-tanggung! Tetapi sebaliknya.. Mengembangkan kedua tangannya. ‘kali.!” tambah kami lagi. plok plok plok plok plok plok plok. mana yang lebih tinggi kedudukan hukumnya UUD 45 atau Peraturan Seragam Sekolah?!” “Jelas UUD 45. yang merokok itu. 140 22 Di mana pun.. ‘kali. Tiba-tiba seseorang memberi komando: “Tepuk pra-mu-ka!” Plok plok plok..cayaan dan untuk beribadah sebagaimana yang diajarkan oleh agama maupun kepercayaan itu! Nah.. Tilawatul Quran kita rayakan secara besar-besaran dengan biaya jutaan.. kalau mau ditertibkan juga.. Aisah melanjutkan: “Itu tuh. suka becanda. suka menggoda.” jawab kami spontan memberi semangat dan membenarkan Aisah.. Apakah ini tidak munafik namanya? Atau mungkin ada penamaan lain?” “Munafiiiik. ini enggak ge-er.” . plok plok plok. mencorongkan kedua telapak tangannya ke moncong: “Jangan-jangan kepala sekolah itu bekas PKI. tertibkanlah siswa-siswa yang suka berantem itu. dong. yang suka keluyuran di jalanan atau ke disko pada jam-jam pelajaran! Ke sana alamat penertiban itu! Bukan kepada hak asasi orang?! Orang yang baik-baik seperti kita-kita ini lagi. ya (senyum. Rupanya Aisah belum selesai..” Lagi-lagi kami keplok. Apabila Aisah lewat di depan ‘markas’. Begitu ia lewat. dasar anak-anak. Kita curiga dengan berbagai prasangka.

Aisah terus berlalu dengan senyum-senyum dikulum.?” 23 Suatu kali sedang aku asyik mentes kaset yang akan kubeli di sebuah toko di Benhil. “Waduh. kulihat Aisah berjalan seorang diri pulang sekolah. dong. Namun Aisah diam saja. assalamu'alaikum. dalam hati masingmasing kami. “Wa'alaikum salam.” “Sorangan wae?” “Mari. Sekilas kudengar. Aku berhasil. Kuatir mereka menggoda lebih jauh lagi. persis kayak segerombolan anjing hendak berebut tulang. Mek!” Lalu kutarik Aisah ke toko kaset.” Dan macam-macam lagi. Mungkin. berkata: “Alangkah manisnya anak ini. mengitarinya seakan hendak memangsa.” “Anak-anak berengsek!” “Mereka cuma iseng.” 141 . “Kau tidak diapa-apakan mereka?” tanyaku. “Ada cowoknya.. buru-buru aku keluar. gue anterin. Aku sudah siap menghadapi segala kemungkinan. kupanggil Aisah dengan suara lantang untuk mengagetkan anak-anak itu. yuk?” “Ntar lu digampar bokapnya!” “Enggak apa asal gue dapat anaknya yang ca'em.” Anak-anak pada sorak kegirangan. “Wah.” “O ya lupa. Jalan terus. Neng?” Dengan lembut Aisah menjawab. Mereka menyingkir secara teratur.. alimnya. Serombongan cowok SMA yang berpapasan dengannya menggoda Aisah dengan sikap agak kurang sopan. “Tidak. “Ucapin salam dulu. kalian ini tak tahu aturan!” ujar yang lain belagak memarahi teman-temannya.

Semua orang kagum padanya. Gadis kecil itu tumbuh jadi remaja yang amat cantik dan mempesona. lain pula Maryam. Kukira. ni yee?!” 25 Maryam memang cantik. Hamzah belum pernah mengatakan secara terus terang. Kemudian pasangan anak muda itu pergi ke luar rumah untuk latihan menyanyi. Pokoknya selalu dengan cowok baru! Dan setiap kali Maryam dan padangannya lewat di depan ‘markas’.. geram.“Kurang ajar. ada lagi yang mengajaknya pergi menonton. demikian menurut Hamzah. Sejak itu ia dikenal secara luas. Dan. . masih suka main congklak dengan teman-teman sebayanya. tiba-tiba seperti disunglap. Di lain waktu. main engklek. Gadis kecil yang kemarin-kemarin ini masih ingusan. ke restoran. Sepantasnya kita mendoakan mereka pula.. Maka sejak itu. Dan yang paling akhir anak orang kaya bermobil Baby Benz. selalu dengan muka baru: penyanyi tenar ibukota... yang artinya selamat dan sejahteralah anda.. Bukan pada nyanyian. Penampilan yang pertama mengejutkan banyak orang adalah ketika suatu kali ia ikut acara perkenalan penyanyi remaja di TV. salam tak dijawab. Bahkan yang tercantik di ibukota republik ini. Bukankah salam itu doa. Hamzah menaruh hati pada Maryam. pemain tenis yang lagi ngetop. anak teater yang lagi ngepop. main loncat karet.” “Ya. “Tapi. kenapa anak-anak gituan kau kasih hati?” “Kasih hati bagaimana?” “Salam mereka kau jawab.. pemain film yang sedang in. Dan Maryam sadar akan perubahan dirinya. kami tak merasa heran.” kataku tak habis fikir pada Aisah yang satu ini. ampun. kalau berganti-ganti saja pemuda-pemuda luar datang berkunjung ke rumahnya. dan macam-macam acara lain. Yang tercantik di gang kami. melainkan kecantikannya yang membius itu. dari kuncup mekar menjadi bunga yang indah.” kataku. Cuekin aja!” “Dosa lho. ya ampun. maka terdengar bisik-bisik yang dikeraskan: “Baru lagi. 142 24 Lain Aisah.

Sekarang ia bekerja di sebuah majalah. . Memutuskan hidup jadi pengarang dan berhenti kuliah. mungkin anak-anak lain tidak. aku tak merasa betah lagi duduk lama-lama di ‘markas’ kami. ketika Maryam menyebarkan undangan perkawinannya dengan anak penguasa Real Estate. Dalam puisi-puisi dan cerpen-cerpennya dapat kutangkap kesepian hati yang dibawanya ke mana pun ia pergi. 28 Dari bisik-bisik anak-anak cewek dapat kutangkap bahwa sebenarnya Maryam pun mencintai Hamzah. kutanyakan pada Hamzah apakah ia mencintai Maryam. yang tak mungkin dapat diraih kembali. Maryam seorang anak yang baik. Ia tak hendak dan berani menyatakan kepada ayah ibunya. Mungkin di malam-malam begini ia sedang mengetik puisi-puisi atau cerpen-cerpen. Kali ini tampak serius dengan muka murung. “Tidak!” jawabnya tegas. berfilsafat.” kata Hamzah pula. seorang anak yang patuh. ia ingin membahagiakan kedua orang tuanya. tempat di mana ia melarikan kepedihannya. Aku terperangah.“Tapi apalah arti kecantikan jika tidak disertai dengan ‘kematangan dan kedalaman’. seperti ada sesuatu yang terlepas dan hilang. yang pergi membawa luka hatinya dalam kesepian di kamar indekosnya jauh di Rawamangun sana. 26 Suatu hari. Di antara kawan tak kulihat lagi Hamzah. 29 Akhir-akhir ini. membesarkannya dalam kemiskinan yang berkepanjangan. Hamzah mendadak pindah ke Rawamangun. yang ber-Baby Benz itu. Indekos di sebuah kamar yang sederhana. Dan terlebih dari semua itu. Semoga hal itu menjadi tanda baktinya buat mereka yang telah bersusah payah. berani-berani takut. Namun perasaan ini disimpannya sendiri. Untuk itu ia siap berkorban. Dari bacaan berat mana pula Hamzah memperoleh ‘kematangan dan kedalaman’ itu. aku tak tahu. 143 27 Tapi akhimya aku tahu juga. Dalam senda gurau dan nyanyian diam-diam menyelinap kesepian ke dalam hatiku.

terpencil. Nun jauh di desa Bangil. sambil mengenang ayahnya sedang mengaji di rumah. nongkrong terus dengan bocah-bocah itu? Teman-teman sebayamu sudah pada bekerja! Contohlah mereka itu! Lagi pula. Aku tak tahu sedang mentas di kota mana ia sekarang. Tapi sudah tentu tak kulihat lagi di sana Najib. Masing-masing teman pergi membawa nasibnya sendiri-sendiri.” 31 Malam hari ketika aku pulang dari mencari pekerjaan yang belum juga kudapatkan. Martin dan Hamzah.*** (Dimuat dalam Horison. Batinnya tertekan. jauh dari keramaian kota. Agustus 1990) . Najib mungkin sedang mencampur minuman haram satu dengan yang lainnya. Namun ia tak bisa berbuat lain. apakah kau tak merasa malu. Atau mungkin ia sedang larut dalam zikir yang dalam. Sedang mengapakah Martin sekarang? Lakon apakah yang sedang diperankannya sekarang? Hamlet tokoh yang selalu dibuai bimbang? Lama ia tak pulang. 144 30 Suatu hari ayahku berkata dengan sedikit keras kepadaku: “Syamsu. tertekan sedikit oleh perasaan rindu. aku selalu lewat di depan ‘markas’. Adik-adikmu masih banyak yang perlu ayah perhatikan.Tony Handoko mungkin sedang terbenam dalam kitab kuning bertuliskan Arab gundul. Tiba-tiba aku merasa teramat sepi. Tony Handoko. ayah sudah tak sanggup lagi membiayai sekolahmu. Ramainya masih seperti biasa.

hanya untuk perkawinan perak itu saja kami berdua sangat sibuk. Kuingat sekali. Mereka harus diberitahu. Tinggi jam itu setinggi tubuhku. Kami ketawa bersama. bahwa mantan pacar istriku adalah aku. sebab kehadirannya merasa dikontrol oleh jam. “Betul. Bila loncengnya berbunyi. Orang yang kurang rasa humor mungkin heran.” kataku. Sore itu. Padahal barang itu kami beli untuk menambah kebahagiaan istriku dan aku. Jika ditaruh di ruang tamu. Istriku menjadi perempuan yang bawel. ya Sam?” ujar istriku suatu sore. “Sebentar lagi kita akan merayakan ulang tahun perkawinan kita yang kedua puluh lima. “Hari itu ulang tahun perkawinan perak kita. aku dan Ina sedang duduk-duduk berdua sembari minum teh dan makan jeruk. dan mantan pacarku adalah istriku Ina. .” katanya. Ini karena ulah jam itu.” kataku. Sam. Walaupun akhirnya mengesalkan. kelak tamuku akan cepat pulang.” “Ingat enggak. tetap saja aku mencoba memetik kenangan lama yang indah setelah jam Junghun itu mengisi ruang tengah rumah kami. Nyanyian ini mengisi kalbu istriku dan kalbuku sendiri. Kita menikah pada 10 November dua puluh lima tahun yang lalu. maka terdengarlah sebuah nyanyi.Lonceng Oleh: Motinggo Busye 145 Jam dengan merk Junghun itu belakangan ini menyengsarakanku.” “Kamu tentu ingat tanggalnya.” “Kalau begitu tinggal 4 hari lagi. Ina. siapa yang datang pada pesta kita itu?” “Mantan pacarmu. Tentu lelucon ini menambah semarak suami-istri. “Juga mantan pacarmu. Sedangkan kami berdua membutuhkan tamu. Kami suka mengulangi lelucon yang sama itu setiap ada bekas teman sekelas hadir. Kami dulu mempertimbangkannya cukup lama untuk memutuskan di mana harus diletakkan jam yang sebesar itu.

ketika uang dihitung. aku menggenapi kekurangan itu. Kami meniru para pelaut yang suka bayar masing-masing bila makan di restoran. Sebagaimana biasa. Ketika kami lewati beberapa toko. istriku bilang. “Merknya Junghun. Dari masa berpacaran dulu.” Istriku telah dikunci tanpa alternatif. aku tak tahu dan tak perlu tahu. secara mendadak dan serentak langkah kami berhenti. “Tanyakan harganya.” ujar istriku. Dia selama tiga hari kami tunggu berbunyi. aku meremas jari tangan istriku. “Ini benar-benar abadi. Istriku melotot setelah aku sebutkan harga yang diberitahukan pemilik toko jam itu.” kata istriku. Di toko saya cuma tinggal satu ini. "Merk ini nomor satu. Maka kutinggalkan beberapa lembar di tasku agar kamu ikut membayar juga.” ujar sang pemilik toko.” ujar istriku. tak ada satu pun benda yang berkenan di hati kami berdua. Ketika loncengnya berbunyi menyanyikan irama indah itu.” Memang begitu. Kebiasaan ini bukan selalu buruk.” “Ya kurangilah separohnya. Kami justru menciptakan humor baru ketika harus ber-navy-navy. Sam. Lonceng jam itu memberikan zat rohaniah pada diri kami. remasanku lebih kuat lagi. Jam Junghun telah kami taruh di ruang tengah. kurang sedikit. Ketika loncengnya berbunyi 1 kali. makin sering aku disuruh istriku dengan nada setengah memerintah. dia menyanyikan satu bait saja. Tapi irama lagu lonceng jam ini melebihi seluruh musik klasik kesukaan kami. Ketika setiba di rumah. Apa suami-suami yang lain di dunia ini juga seperti itu. Bertahun-tahun kami menikmati duduk berdua menunggu lonceng jam itu bernyanyi setiap seperempat jam.” kataku. Makin larut perkawinan kami. Setelah dua tiga toko kami masuki. “Kita menemukan pilihan jam antik. Kadang sudah pergi kembali lagi ke toko sebagaimana terjadi pada hari itu. Aku dan istriku saling menatap. Ketika pada seperempat jam. aku dan istriku berpelukan. Sam.00 pada hari 10 November. Ke- 146 . Terdengar satu nada indah mirip lagu yang menyentuh perasaan kami. Cuma saya yang jual merk Junghun ini. Kebiasaan istriku adalah sama dengan kebiasaan banyak perempuan di jagat ini: menawar terlalu rendah dan berlama-lama untuk jenis satu barang. “Coba Nyonya cari di seluruh Glodok ini. Kebetulan kami berdua menyukai musik klasik. dan ini juga satu-satunya. Dan ketika gema 12 kali masih mendengung. Saat itu adalah pukul 00. “Sebenarnya aku menguji apakah kau masih kikir. Lalu. kami menganut aliran navy-navy.Kami telah pergi ke Pasar Glodok untuk mencari sebuah barang yang bisa dipajang di rumah dan punya kesan abadi.

dan terutama karena adanya kamu. Tetapi pertanyaan itu agak aneh di telingaku. Padahal dia amat mencintaimu. yang perempuan harus mengalah menjadi penunggu rumah. “Kita tak pernah merasa tua oleh lonceng jam ini ya. “Aku tahu. Yang ada di sini adalah aku. Peraturan kantor memang. mungkin kamu sudah punya anak dan cucu. dan sama pula selesainya.” “Sudah gaek masih gombal. jika ada dua orang menikah di satu ruang kerja. Biasanya kalau jam itu mati. dia menyanyikan dua bait. akan sama nasibnya jika melamar di kantor yang sama di bidang yang sama pula: jika menikah.” kataku. Sebelum empat bait lagu itu bergetar. kamu dan jam dengan loncengnya itu. Pernah juga istriku bertanya. dan pada waktu satu jam.” katanya. tiga bait.” Aku memilih diam. “Ya. “Kalau kamu kawin sama Aimah. Aku betah di rumah karena sudah memasuki pensiun. kamu suka membisu. Ketika pertengkaran itu terjadi. Orang yang sama sekelas di SMA. lalu menyetel jarum panjang dan jarum 147 . Yaitu menaikkan kerekan rantai tiga bandulan itu.” kata istriku lagi. aku bisa memperbaikinya. Ketika tiba tiga perempat jam. “Kenapa kamu tidak kawin lagi saja. Padahal jam ini sudah 15 tahun di rumah kita. Jadi Ina cuma berdinas 1 tahun kerja saja.“ sambungnya. Sam?” Makin tua dia masih pencemburu seperti dulu. “Mungkin kamu betah di rumah karena lonceng ini. ketika aku harus berhenti sewaktu kita menikah sudah pasti ada seorang gadis yang senang. “Kita tak perlu bertengkar lagi. “Tapi aku betah di rumah bukan karena lonceng jam ini.” Tetapi. ajaib sekali. “Kalau aku bicara soal si Aimah. ”Si Aimah. sama pula di perguruan tinggi. empat bait komplit. aku dan Ina sudah berpelukan.” kata istriku.” ucapnya. Dan inilah yang bikin aku marah dan kami bertengkar. lonceng jam menyanyikan lagu itu. yang perempuan harus diberhentikan dengan hormat.tika setengah jam. Sam?” kata istriku. Akhirnya aku bertengkar juga karena dia lagi-lagi menyebut nama Aimah. Sam. Perkawinan kita 40 tahun tanpa anak dan cucu.

Tapi kenapa betulin jam saja sudah salah. namanya Mahboub Assegaf. ada dijual di sini. Dan istriku terus pula menertawakan kegagalanku walau tanpa perkataan “tolol”. Dia ini ahli jam generasi penerus ayahnya. diam kamu. “Aku tak bertemu dengan orang Arab itu. Kita jual saja jam Junghun ini. “Itu logis saja.” “Aku mau keluar. Dia katakan.00 tengah malam 10 November. Tapi itu tidak berarti aku tak 'kan bertengkar lagi dengan Ina. Kali ini loncengnya berbunyi tidak cocok lagi dengan waktu. Keringat membasahi bajunya.” “Sudahlah. Bahkan mencak-mencak.” Aku mencari ahli jam.” kataku ketika memperkenalkan tukang arloji itu kepada Ina. Istriku mendehem. Bertahuntahun dia membuat kita berdua menikmati irama loncengnya yang pernah bernyanyi merdu." 148 . Istriku senyum mencemoohinya. Ketika aku tiba di rumah Arab itu. Akhirnya dia berkata putus asa: “Maaf. Jangan jadi nenek sihir lagi. sekaligus menyebarkan bau ketiaknya di ruang tengah kami yang nyaman.” kataku.pendeknya untuk menyesuaikan waktu. kita tak boleh merusak kenangan yang diberikannya.” “Mau cari Aimah?” “Bawel kamu.” kataku pada Ina. Dimulai dengan cekcok mulut lagi. bahwa “Ami Assegaf” sudah wafat. Dan aku gigih terus memperbaikinya. Kalau mau beli buah kurma dan kismis. "Jam ini penuh kenangan. “Kau bilang dulu kamu menguasai ilmu listrik. Sam.” Aku mengalah. “Oh si Aimah itu turunan Arab ya?” “Coba tenang. Kita beli yang baru. Pukul 12 bunyinya 6 kali. Dia marah.” “Kamu makin tua makin tolol. Seorang tukang arloji kubawa ke rumahku. dan bunyinya harus tepat 12 kali pada pukul 00. ada orang Arab di Tanah Abang.” kataku. Menurut pemilik toko di Glodok itu. Bahkan ngawur. Ina. Ina. aku terus berusaha agar jam Junghun itu bisa menyanyi lagi. Jangan. jam ini berbunyi 36 kali. Dia tidak berbunyi 12 kali pada waktu pukul 12. Anak muda itu bekerja keras.” “Sudah. “Tenang dulu. Ina. Aku kan tidak bilang kamu tolol. Bahkan dia mengenal Ami Mahboub Assegaf. orang di rumah itu mengatakan. ahli pembetulan jam dan piano. Dua tahun menjelang ulang tahun perkawinan emas kami. aku pergi ke Jatinegara. Kamu makin tua makin cerewet. Sam.

dan tak 'kan pernah mendengarnya. saat itu istriku tidak mendengarnya. Yang mulai menjadi korban jam Junghun adalah Ina. Kita jangan panik. Suatu malam dia menjerit karena satu mimpi buruk. September 1999) . Aku akan coba perbaiki sendiri.00 jam itu bernyanyi empat bait komplit.” kataku yakin. jam gila itu berbunyi 120 kali. diiringi kemerduan lonceng jam Junghun yang amat sangat indah. Katanya.*** 149 (Dimuat dalam Horison. Manusia harus mengalahkan benda mati ini. Ina. Nak. lalu mendentingkan loncengnya 12 kali. Memang dia gila. sampai aku berhasil! Aku merayakan pesta emas 50 tahun perkawinan kami.” kata istriku.“Cukup. Istriku menyebut lagi perkataan “tolol” itu. Dia mulai berlangganan dokter spesialis penyakit dalam. Ini menambah semangatku. Ya. Manusia tidak boleh ditaklukkan oleh benda yang bermerk Junghun. kurayakan pesta emas perkawinan itu seorang diri. Sayang. Ia menderita tekanan darah tinggi. Tengah malam pukul 00. “Sabar.

Ibu?” Bila ada waktu ibunya dengan tak bosan-bosan bercerita dongeng-dongeng Panji. “Ceritakanlah negeri leluhur itu padaku. Diamatinya dengan lebih teliti gelembung itu. Joko Tingkir.Lelaki Tua dari Noumea Oleh: Waluya DS 150 Seperti biasanya untuk menghilangkan ketegangan urat-urat badannya lelaki tua itu mengambil bubble bath. Suatu kali. Sesekali ditiupnya buih-buih itu dan beberapa gelembung melayang berputar-putar. Setiap pertanyaan yang dilontarkannya selalu lewat tanpa terjawab. Ken Arok. “Di negeri leluhur kita. Dengan hati-hati ditusuknya gelembung itu dengan ujung jarinya. Dan dia begitu tertegun. Buih-buih sabun itu semakin bertambah setiap kali dia berkecimpung. Diamatinya kedua telapak tangannya yang penuh dengan buih-buih sabun yang memantulkan warna-warni pelangi. Nak. Warna-warni pelangi terpantul dengan indahnya. dia pasti akan bisa melihat rumah-rumah. dengan pipa dari semacam rumput kering dia menghembus air embun dan belasan gelembung beterbangan dipermainkan angin. Dia pikir bila gelembung ini terbang nanti bersama potret dirinya itu. Dan setiap kali gelembung-gelembung sabun itu pecah dia merasakan satu kekecewaan seperti tergugah dari impian yang mempesonakan. Hanya secara kebetulan suatu hari salah seorang saudaranya begitu jengkel dengan pertanyaan yang selalu berulang-ulang memberikan jawaban yang cukup memuaskan. pepohonan serta sungai-sungai dari angkasa. Dongeng-dongeng itu begitu indah dan memukau. Dengan hati-hati dihembusnya gelembung itu yang semakin membesar. sedang kedua orang tuanya selalu sibuk dengan usaha dagang mereka. Persis seperti masa kanak-kanaknya di halaman belakang rumahnya di Noumea. Damarwulan. . kau tak akan pernah merasa sepi atau sendiri. Sering satu atau dua jam merendam diri sambil mempermainkan buih-buih sabun yang memenuhi bath tub dia bisa merasakan kesendiriannya dan melupakan persoalan-persoalan yang menjerat perasan serta pemikiran. Sutawijoyo. Tapi dia belum mau melepaskan gelembung itu karena dia takut potret dirinya itu nanti akan merasa sendiri dan sepi di angkasa. bahkan juga bagaimana keramatnya Kreto Kencono Kanjeng Susuhunan. Ki Pemanahan.” Begitu tutur ibunya suatu hari waktu dia merengek karena tak ada kawan bermain dan beberapa saudara tuanya tak ada di rumah. mungkin ada awan atau saudaranya yang lain di dalam gelembung itu. Dan dia tak bisa mengerti kenapa orang tuanya meninggalkan Negeri Leluhur yang begitu mempesona. Juga nampak bayangan dirinya yang lucu. Aryo Jipang. permainan dan impiannya justru mengukuhkan rasa sepi dan sendiri. satu gelembung tetap bergantung di ujung pipa rumput kering itu tak mau pergi.

“Nah. “Kau mau tahu jawabanku atau mau protes melulu?” Dia hanya mengangguk karena jawaban saudaranya terasa lebih penting daripada mempertengkarkan namanya. Kau hanya harus terima utuh. Lupakanlah dongeng-dongeng dan Negeri Leluhur itu. ada huru-hara yang dilakukan oleh kalangan tentara penjajah Belanda yang didalangi Tuan Sneevliet.” “Tapi namaku bukan Rio.” potongnya. Kebanggaan yang baru kau tunjukkan itu tak ada artinya sekali di sini. Rio. waktu itu kau masih dalam kandungan. Pertemuannya dengan Tuan van Stifhout. Rio. Sebagai putra seorang pangeran yang dilahirkan oleh salah seorang selir. Dia lebih senang dipanggil dengan nama sebenarnya yang lebih punya bobot karena nama Aryo mencerminkan darah bangsawan yang mengalir di tubuhnya. Salah satu di antaranya.“Rupanya dongeng-dongeng ibu telah begitu meracunimu. Banyak usaha dilakukan untuk mendepak bapak. Jangan kau biarkan angan-anganmu menggelembung dan menelan dirimu sendiri nanti. 151 .” “Tapi itu hidupku sendiri. Kau sudah menunjukkan satu kemajuan ke arah pemikiran yang praktis dan realistis. Didesas-desuskan bahwa bapak ikut terlibat hanya karena pernah terlihat berbicara dengan Tuan Semaun yang merupakan kader Tuan Sneevliet. Tentu hasil usaha dagang itu juga dipakai untuk membiayai kegiatan mereka.” “Namaku Aryo dan bukan Rio. Setiap adat dan kebudayaan punya kelebihan dan kekurangan yang tak bisa dicomot di sana-sini. dia merasa terpenjara oleh adat dan kebudayaan yang lebih merupakan beban daripada usaha manusia untuk memuliakan hidupnya. bukan? Untuk menghindarkan hal-hal yang tidak di inginkan. itu lebih penting.” protesnya. karena cintanya pada kita semua. bapak merasa tidak punya tempat dan hak. bapak melakukan usaha dagang bersama yang cukup berhasil. apa kataku. pendeta Belanda yang akhirnya membaptisnya sebagai orang Kristen telah membukakan lembaran baru dalam hidupnya.” “Maksudmu?” “Dengan bapak kita di Negeri Leluhur dahulu. Dengan salah seorang anggota jemaah gereja yang lain Babah Loo Cin Yong. Lebih baik kau coba membina hidupmu di sini. bapak membawa kita untuk memulai hidup baru di Noumea. Sebagai keluarga bangsawan jadi Kristen dan punya usaha dagang dengan orang Cina terlalu memalukan keluarga. Dan juga diberitakan bahwa usaha dagang bapak sebenarnya hanyalah usaha terselubung untuk memudahkan gerakan kader-kader Komunis. “Bagus. Orang selalu dengan gampang mencelupkan tangan untuk ikut mengeruhkan suasana.” “Aku hanya ingin supaya kau tak kecewa nanti.

“Kau sudah gila. Kau kira orang-orang Jawa di sana tak mampu mengatasi tantangan hidup mereka dan memerlukan uluran tanganmu?” damprat saudaranya ketika dia merasa sebagai titisan Nabi Musa yang harus membawa orang-orang Jawa di Kaledonia kembali ke tanah leluhur. Semua urusan ketatanegaraan sudah diatur oleh orang pribumi sendiri. Dan pulau Jawa hanyalah sebagian kecil dari Indonesia. Dan para kelasi itu bilang kapal ini akan jadi kapal pelatih bagi pelaut-pelaut Indonesia. Memang tidak gampang memisahkan benang yang kusut. Kapal itu bernama Dewa Ruci. Kehidupan dan tata cara mereka tak ada yang berubah bukan? Lalu bagaimana dengan pendatang-pendatang Vietnam? Mereka mengirimkan uang dan senjata untuk melanjutkan perjuangan melawan kekuatan Komunis. Dengan melarikan diri bukankah ini justru memperkuat tuduhan yang sebenarnya. orang-orang Perancis. Para kelasi itu menjelaskan bahwa daerah ini hampir meliputi sebagian besar daerah Sumpah Palapa Gajah Mada.” Jawaban saudaranya itu justru menimbulkan beberapa pertanyaan baru. sebuah nama yang pernah didengar dari dongeng ibunya. Kita semua punya hidup yang harus diurus di sini. Dia betul-betul merasa tersisih mencari tempat berpijak meskipun saat ini hanyalah dalam dongeng-dongeng dan kerinduan pada Ratu Adil. Rio! Lupakanlah angan-anganmu itu. Beberapa tahun setelah kita menetap di Noumea. Daerah ini bukanlah daerah Pasifik. Kenapa harus merisaukan martabat keluarga yang sebetulnya tidak dengan tulus menerima bapaknya sebagai bagian dari keluarga itu? Bukankah tanggung jawab bapaknya sebenarnya hanya pada keluarga mereka sendiri? Seharusnya bapaknya lebih baik tetap di Jawa untuk membuktikan bahwa dia tak ada hubungan sama sekali dengan kaum Komunis. Bahkan dia merasa beruntung mengambil keputusan sebelum tuduhan atas dirinya menjadi-jadi. “Tapi bukankah itu justru kelebihan kita?” belanya. Tapi tak bisa di sini. “Lihatlah orang-orang Perancis ke mana mereka berkiblat. Tapi ternyata punya pijaksana yang nyata bahwa keturunan Parikesit masih punya kekuasaan di pulau Jawa. orang-orang Kanak. Betapa gembiranya ia ketika suatu hari sebuah kapal berlabuh dengan kelasi-kelasi yang bisa berbicara bahasa Jawa yang sedikit-sedikit dia bisa mengerti. Dia merasa begitu bahagia bahwa ternyata dongeng ibunya bukan hanya omong kosong belaka. bukan? Semua perayaan itu selalu menggodanya. bapak dengar khabar bahwa orangorang Komunis atau yang dicurigai sebagai Komunis dibuang ke Digul oleh pemerintah penjajahan. Hanyalah orang Kanak orang pribumi. namun dia hanya diam saja karena sudah berjanji tak akan bertanya-tanya lagi. Kalau kita tak mau tahu-menahu soal asal-usul 152 . Apalagi ketika dia tahu bahwa Sri Sultan menjabat wakil presiden. Bagaimana kalau semua itu hanya tutur kata untuk menghiburnya saja? Tapi setiap kali melihat sekelilingnya. Sedang Ngayogyakarta Hadiningrat menjadi daerah istimewa di bawah kekuasaan Sri Sultan Hamengku Buwono. Mungkin dongeng-dongeng dan riwayat bapaknya sebetulnya tak pernah ada. Dia merasa tidak begitu akrab dengan nama Indonesia. tapi daerah Perancis Selatan. dan dirinya begitu berbeda. Dia merasa bangga ketika tahu bahwa tak ada pemerintah penjajahan lagi.Pernah kudengar bapak sedang bicara pada ibu bahwa bapak tidak menyesal sama sekali meninggalkan Jawa. di Noumea yang semasa bukan tempatnya. Orang Perancis datang dari Eropa dan dirinya pasti punya tanah asal. Lebih baik memulai satu kehidupan yang baru seperti nasehat saudaranya. Tiba-tiba dia merasa punya tugas yang harus diemban untuk mengembalikan kekuasaan mutlak Sri Sultan.

Namun setelah beberapa tahun di Melbourne. Dengan melakukan hal-hal yang positif akan mengembangkan self esteemmu. Apalagi masih harus menga-suh cucumu Dewi bukan soal yang gampang. Tapi yang ada tinggallah tubuhnya yang harus ditunggu kerelaannya melepaskan dunia yang fana. Kata dokter otaknya sudah rusak karena kekurangan zat asam. Mata inti dari kuliah-kuliah mereka bisa dengan gampang kudapatkan dari buku-buku.” “Bicaramu sudah begitu ngawur. Tapi dia masih belum merasa bahwa impian itu sudah di luar jangkauannya. Sekali lagi gelembung-gelembung impiannya retak. Dari seorang kawan dia mendengar bahwa di Monash ada seorang Profesor Yahudi yang ahli dalam bidang politik di Indonesia dan juga seorang Profesor Belanda yang ahli dalam masalah Mataram. Dia merasa perlu pergi ke Melbourne untuk memberi beberapa petunjuk pada Dewi. Dia ditemukan dalam keadaan lumpuh. Tak ada seorang pun selain istrinya yang setia mencoba memahami jalan pikirannya. Akhir-akhir ini kami semua merasa begitu khawatir tentang kegilaanmu yang semakin parah. Dewi memang tumbuh menjadi wanita yang anggun semampai dengan tingkah yang lembut mempesona di samping otaknya yang cukup cemerlang.kita dan hanya memikirkan hidup kita di sini saja. dari Profesor-profesor itu aku tak belajar apa-apa sama sekali. Untuk menjembati pertemuan Dewi dengan pangeran dari Jawa itu Dewi dikirimkannya ke Melbaourne untuk menggali ilmu di Universitas Monash. begitu berat. Tumbuh harapannya suatu hari nanti Dewi akan bertemu dengan salah seorang pangeran dari Jawa dan mereka akan menurunkan Ratu Adil yang senantiasa dinantikan itu. Kau tahu satu-satunya kesalahan mereka justru karena mereka tidak berasal dari manamana. Soalnya setiap orang bisa punya pendapat. Mereka menjadi golongan minoritas dan kehilangan hak di tempat mereka sendiri. dan jangan kau biarkan kegilaanmu itu berlarut-larut. Sadarlah. Mungkin kami harus mengundang dokter jiwa untuk memeriksamu. Kami sadar menghadapi beban mental merawat Jatmiko yang mati tidak hidup pun tidak. Rio. Rasa kehilangan Jatmiko bisa segera terobati karena sepenuhnya perhatiannya tertumpah pada Dewi yang kehilangan ibunya waktu dilahirkan. Rio. kita tak akan jauh berbeda dengan orang Kanak. Dan pendapat tanpa diberi ujud nyata dalam perbuatan bagiku tak ada nilainya sama sekali. Kakek. Aku lebih menemukan arti serta diriku sendiri dengan belajar melukis di Victorian College of The Arts. 153 . Dengarkan kami baik-baik. anak satu-satunya mendapatkm kecelakaan ketika menyelam di laut.” Dia merasa usahanya membujuk sanak saudaranya sia-sia belaka. Memang langkah pertama mewujudkan impiannya itu semakin kabur setelah Jatmiko. Jatmiko memang masih hidup. Dia begitu tertegun membaca surat terakhir Dewi padanya: Jangan marah. lewat surat-suratnya Dewi tidak pernah menyebutkan pengetahuan barunya soal Jawa. Cobalah turun tangan bersama kami mengembangkan keluarga.

Dia harus merasa tetap tawakal dan sabar. “I have a surprise for both of you too. Tidak seperti hotel-hotel modern yang baru yang begitu trendi. dia dan istrinya menuju ke Australia. Setelah makan siang mereka menelpon Dewi yang tidak menyangka sama sekali bahwa kakek dan neneknya ada di Melbourne. Tak ada angin. Dan peluang untuk ketemu dengan Sang Pangeran Jawa itu juga akan lebih besar. kakek dan nenekku. salah-salah kakek dan nenek bisa dikira turis dari Jepang. “Kakek dan nenek menginap di hotel apa?” “Windsor di Spring Street. itu hotel yang mewah. “Untung tidak ke Southern Cross. Berada di Yogya pasti akan menghasilkan pengalaman langsung mengenal dan terlihat dalam tata cara adat istiadat Jawa. “Wah. tak ada mendung dan hujan tapi geledek segera menyambar. Melbourne terasa begitu teratur dan rapi.” Ya Allah ya Rabbi. “What a lovely surprise. Tapi mereka tidak pernah menyebutkam rencana kawin sama sekali.” Dewi dengan wajah yang berseri-seri muncul di depan kamar ketika dia membuka pintu. Banyak garis bengkok yang masih bisa diluruskan pikirnya.” jawabnya sambil memberikan nomor kamar mereka. Tapi kenalkan dulu.” goda Dewi walaupun dia tahu bahwa kakeknya selalu punya selera yang tinggi. Dewi bukan sebangsa serdadu yang hanya menjalankan perintah tanpa berpikir atau mengajukan pertanyaan.” Sejauh ini dia masih merasa bisa mengontrol keadaan. John ternyata memang calon sang ayah yang tinggal bersama Dewi selama dua tahun belakangan ini. Kakek dan Nenek seperti sedang berbulan madu saja. Mungkin karena ada John. Sedapat mungkin diusahakan menunjukkan sikap kebijaksanaan calon seorang eyang buyut. karena John harus memberi kuliah dalam waktu setengah jam lagi. Dewi sedang menantikan kelahiran anak pertamanya! Merasa dirinya sebagai priyayi Jawa dia tak bisa menunjukkan perasaannya yang sebenarnya. Di situ ada perguruan tinggi seni lukis dan sekaligus juga merupakan pusat kegiatan kesenian tradisionil Jawa yang adi luhung. Sedang kesan pertamanya seperti begitu formal dan konservatif. tapi paling tidak pada mulanya Dewi seharusnya menyapa dalam bahasa Jawa. Ini Rio dan Handayani. langsung memberikan ciuman di kedua belah pipinya. Sebelum mereka pergi. Dia begitu senang bahwa Hotel Windsor adalah hotel yang mapan punya sentuhan kolonial. Bukan salah Dewi kalau dia tidak mengerti rencanamu. ternyata dia masih bisa menahan diri dengan mengajak mereka makan bersama malam nanti.“Jangan tergesa-gesa marah. John. Tapi masalah berikutnya yang disampaikan oleh Dewi secara kalem itu menyambar seperti ledakan bom atom Perancis di Atol. Sejak kapan Dewi berbahasa Inggris pada mereka. Setelah mendarat di lapangan terbang Tullamarine mereka langsung menuju Hotel Windsor di bilangan kota. Dia pikir kalau Dewi memang tertarik pada dunia seni mungkin lebih baik dikirim ke Yogyakarta. 154 . Rio.” bujuk dan peringatan istrinya yang hampir selama perkawinan mereka hanya selalu mengiyakan kehendaknya dan hampir tidak pernah menyatakan pendapat sendiri. Tanpa memberi khabar pada Dewi.

kita bisa ke Grill Room di basement. masih nampak cukup tampan untuk seumurnya.” kata istrinya sambil menghampirinya. Rio.” ucap Dewi sebelum pergi.” Dia ingat ibunya selalu menegurnya bila ia terlalu lama bermain-main saja di bath tub. Gemericik air mengingatkannya pada kolam hias di halaman depan rumahnya. bahkan seperti bangga sekali. “Mandi yang bersih. tidak terlalu panas dan campuran bubble bath cukup creamy dan kaya akan buih.” Istrinya hanya mengangguk dan cepat-cepat keluar karena mendengar bunyi telpon berdering. pintu masuknya dari Little Collins. “Rio. Lalu kita bisa dapat supper di Graund Floor untuk ngobrol sambil mendengarkan permainan piano. Rio. Biasanya bila sudah terlalu lama istrinya pasti masuk ke bathroom dengan membawa handuk yang bersih atau piyama. Sekarang tidak pernah ada seorang pun yang mengganggunya. Dalam hati dipujinya istrinya yang selalu dengan baik menyiapkan air untuknya. Sesaat kemudian dia berbalik menghadapi istrinya. “Lebih baik kau mandi dulu.“Ya.” Dia lepaskan semua pakaiannya dan dibiarkannya terpuruk di karpet. Sebelum masuk ke bath tub dilihatnya bayangan tubuhnya di kaca. Tapi kalau kita kepingin makanan Barat dengan suasana yang tidak terlalu formal. ke restauran Vietnam. kau mau piyama atau ganti pakaian untuk nanti malam sekaligus?” tanya istrinya membangunkannya dari segala kenangan.” Dia tidak begitu mengacuhkan kata-kata istrinya dan sibuk mengenakan pakaiannya yang bersih. Air sudah kusiapkan semua. Dikeringkannya tubuhnya dengan handuk lalu ditaburinya dengan talek yang lembut baunya. Dengan telanjang dia berjalan menyeberang kamar menuju ke bathroom. “Rio kau dengarkan aku atau tidak?” Lama tak ada jawaban. Dihempaskannya badannya ke kasur dan langit-langit kamar seolah berputar. Sebentar lagi istrinya pasti akan membenahi.” 155 . Dia tersenyum sendiri. “Kita bisa bicara dengan tenang nanti. Dia tidak bisa mengerti sama sekali bahwa Dewi bicara hamil di luar perkawinan tanpa rasa rikuh atau malu. Dan aku begitu heran bahwa kau hanya tenang-tenang seolah-olah tak punya pendapat sendiri. lebih-lebih kalau kau mau mencoba sausages atau sate buaya sebagai entree. Dari bathroom terdengar bunyi kran dibuka. ingin dia menyebut istrinya Sembadra karena begitu bakti dan setia seperti istri Arjuna. aku kepingin jalan-jalan sebentar di Bourke Street. “Beri aku pakaian yang bersih. “Ya. Dewi akan telpon dulu nanti waktu pulang dari periksa di ahli kandungan. kau banyak sekali kokot bolot seperti kuli yang tidak pernah mandi. Dia membaringkan dirinya di bath tub dengan hanya kepalanya yang menyembul keluar. “Dia bilang kalau kita mau makan yang agak kerakyatan kita bisa ke Victoria Street. “Dewi yang baru saja telpon.” kata istrinya sambil memberinya sepasang pakaian yang bersih.

Tapi soal Dewi. ya dia hamil. Apakah kau anggap aku ini babu atau istrimu itu tidak soal bagiku. “Jangan kau anggap aku melawanmu. dulu Dewi pasti kukirim ke sana. Kau boleh punya ukuran moral yang tinggi untuk hidupmu sendiri. Ia adalah pengorbanan itu sendiri. Tapi kau tak boleh memaksakan ukuran itu untuk hidup orang lain.” potong istrinya. kesalahanmu justru kenapa kau selalu bicara apa maumu saja dan tidak pernah memikirkan keinginan dan pikiran orang lain.. Rio. Anak yang dia kandung itu adalah buyut kita sendiri. Rio. “Dewi! Dia.” Dia begitu tersentak ketika untuk pertama kalinya istrinya berani menegurnya.. Meskipun keturunan orang Jawa aku hanyalah wong cilik keturunan kuli kontrak. Namun ia mencoba menutupi keharuannya. Cinta yang tulus adalah cinta yang tanpa pamrih. Dia tidak menjawab dan istrinya pergi menelpon room service memesan sebotol anggur kesenangannya dan minta diberi dua gelas. Rio.“Pendapat dalam hal apa?” tanya istrinya. dia. “Kau tahu kenapa kita kemari!? Untuk apa kita ke Melbourne?” “Kau jangan membentakku seperti itu.. aku tak punya pendapat karena aku tidak tahu sama sekali soal Negeri Leluhur itu. Rio. itu. Aku bicara dengan jujur seperti ini karena aku mencintaimu.” “Kau tahu. “Kesalahanku kenapa aku tidak pernah berusaha mencari saudarasaudara bapakku di Jawa. kau mau juga?” tanya istrinya.” Tiba-tiba dia tidak tahan melihat air mata meleleh di pipi istrinya. 156 . Aku tak mau bicara. Kuharap kita bisa berbicara secara lebih beradab.” Dia menarik napas panjang dan melangkah menuju ke jendela sambil setengah berkata pada dirinya sendiri. Dia begitu geram mendengar kata-kata istrinya yang datar tapi cukup tajam. Rio. “Aku mau pesan minuman. Kalau aku tahu mereka. “Kalau soal impian gilamu mengenai Negeri Leluhur itu terus terang saja aku tak punya.” “O. Dibukanya pintu ketika pelayan datang membawa pesanan istrinya. Aku tidak peduli apakah kau mencintaiku atau tidak.” Hening dan mereka berdua saling bertatapan. “Sejak kapan kau ikut memusuhiku?” “Kau mau mendengarkan pendapatku atau hanya mau memancing pertengkaran saja?” Dia hanya melotot tak bisa percaya bahwa wanita yang sedang bicara di depannya adalah istrinya yang sudah bertahun-tahun hidup bersamanya.

Sir?” Dia hanya mengangguk dan pelayan itu membuka botol serta menuangkan anggur ke kedua gelas untuk dia dan istrinya. Pelayan itu tersenyum lebar menerima tip yang lumayan. Dia reguk anggur itu setelah si pelayan pergi. “Rio.” Dia hanya mengangguk dan pelan-pelan terasa pundaknya yang berat menjadi ringan. Istrinya memandangnya dengan pandangan tidak percaya. Maret 1990) .Ditandatanganinya nota bon supaya bill itu dimasukkan dalam rekeningnya nanti. apa yang kita cari dalam hidup ini selain kebahagiaan? Bagiku yang lain-lain tidak soal selama Dewi merasa bahagia untuk dirinya sendiri.*** 157 (Dimuat dalam Horison. “Shall I open the bottle now.

akhirnya keluar dari hutan itu. bendera. mendesing menuju kebebasan. seperti mengerti betapa jiwa kami telah lama begitu tertekan dalam perjalanan berat menempuh hutan yang rapat.Tempat yang Terindah untuk Mati Oleh: Seno Gumira Ajidarma 158 Kami. “Pacu! Pacu! Pacu!” Kami semua berpacu sepanjang padang stepa yang terbuka sambil berteriak-teriak menuntaskan kegembiraan kami. Kuda-kuda kami menggebu.000 pasukan berkuda. Setelah hampir berminggu-minggu hanya merayapi jalan setapak di antara pohon-pohon dan semak belukar. dingin angin bagaikan mengiris wajah-wajah kami yang sebetulnya toh cuma tampak matanya saja. seolah-olah bahkan jiwa kami kalau bisa lepas dari belenggu badan. berpacu melawan angin. Di hadapan kami kini terbentang padang stepa yang begitu luas bagaikan tiada bertepi. bumi bergetar oleh derap pasukan yang melaju dan menggebu. bahkan kuda-kuda itu sendiri bagaikan tidak lagi menunggu perintah untuk segera memacu diri mereka. Kami menggebu begitu laju. gelap. melesat secepat-cepatnya bagaikan berpacu dengan angin dingin yang bertiup begitu kencang menggigilkan tulang. Kami. Semuanya terbungkus. dengan tenaga baru yang seolah-olah begitu saja datang dari langit. Kuda-kuda kami saling berpacu dengan perkasa. berderap melaju menuju cakrawala. Bendera raksasa yang berkibar dan menyibak angin itu terlihat menggetarkan. Para pembawa panji. dan penuh dengan rintangan. melesat dan menggebu. Kami juga mengenakan topi dan sepatu dari kulit binatang berbulu tebal. 10. Namun sekarang. Padang stepa diselimuti salju yang tipis. Seluruh tubuh kami terbungkus jubah bulu binatang yang tebal dan berat. cuma inilah yang bisa kami lakukan. “Pacu!” Orang-orang yang berada paling depan sebenamya tidak usah menunggu diperintah untuk memacu kudanya. . 10. dan umbul-umbul kini membuka jalan ke depan. Kuda-kuda kami berpacu dengan riang. lepas dari kungkungan jurang dan tebing yang serba menjulang dan mencekam. padang yang terbuka itu bagaikan pelepasan yang lebih dari memadai untuk melampiaskan kerinduan kami akan kebebasan. “Huuuu! Huuuuu! Huuuu!” Satu per satu penunggang kuda yang keluar dari hutan segera melaju. dan berteriak-teriak meluapkan kegembiraan kami.000 pasukan berkuda. begitu juga tangan kami yang memegang kendali.

Selama berjam-jam kami akan berpacu dan kami akan tahu bahwa pemandangan ini tidak akan pernah berubah. Benarkah seekor gajah menegakkan belalainya dan melengkingkan bunyi terompetnya nun entah di mana ketika kami berpacu? Seseorang mendayung perahu menuju matahari terbenam ketika kami berpacu. Sampai di manakah suatu perjalanan berakhir? Apakah mungkin suatu perjalanan berakhir? Apakah mesti suatu perjalanan berakhir? Sudah bertahun-tahun kami mengembara dan kami tidak pernah merasa yakin kapan suatu perjalanan bisa berakhir. bahkan bisa lima tahun. Kami selalu bepergian. Kami tahu. Seekor ikan salmon menangkap umpan dan tersendal pancing ke udara ketika kami berpacu. Langit yang tadi bagai tempurung raksasa membiru kini semburat merah terbakar. namun yang maknanya seperti selalu menghindari kepastian. Langit hanya biru. Kami bersedia membayar segalanya untuk perasaan merdeka yang kami dapatkan. dan segera lenyap di balik kaki langit. perjalanan kami masih jauh lagi. namun sampai sekarang tiada satu alasan pun bisa menghentikan kami.Kaki-kaki kuda kami bagaikan tak mengenal lelah. Kami selalu berpindah sesuai dengan pergantian musim. Semua ini tak bisa lancar tanpa kuda sepanjang pengembaraan. namun kami selalu berangkat kembali. menancap kemerahan bagai kuil yang menanti penziarah dari segenap 159 . Cahaya matahari menyiram padang. kini kami mengambil peluang untuk meraih kegembiraan. apalah artinya kami? Kuda-kuda kami selalu mengerti apa yang kami inginkan. Kami berpacu. bahkan perjalanan berminggu-minggu di dalam hutan yang melelahkan pun kami lakukan asalkan kami bisa mencapai tempat tujuan. Kami menyeberangi sungai. Kami terus-menerus berderap sepanjang padang. Di telinga kami angin bersiut dan menderu. Rumah kami sekarang adalah perjalanan itu sendiri. Jangankan berpacu yang begitu menggembirakan. Apakah yang terjadi di tempat-tempat lain ketika kami berpacu? Panah seorang pemburu sedang melesat ke jantung seekor rusa ketika kami berpacu. Kini kami semua sudah siap menempuh perjalanan yang terakhir. Kuda-kuda kami terus berpacu dengan laju. dan kini kami berpacu di tengah padang tanpa tepi. surai kudakuda kami yang tebal melambai-lambai dengan megah dan seluruh gerak tubuh mereka bagaikan menari dengan indah. Kami bagaikan berpacu di atas permadani tanpa tepi. berpacu dan berpacu. dan mereka selalu memenuhi segala kehendak kami dengan memuaskan. perjalanan angin. Kami mengembara dan menjelajah segenap permukaan bumi untuk mencari suatu akhir. Kami tidak mengerti apa jadinya hidup kami tanpa kuda. dan kuda-kuda kami tetap setia mengikuti sampai akhir tujuan. dua. Matahari terasa betapa berat. kami mendaki celah-celah gunung. dan peredaran bintang. tapi kami tidak juga ingin berhenti. Telinga kami semua penuh dengan desau. berpacu. bagai berpacu dengan angin. Burung-burung kondor beterbangan melingkar di langit mengincar pengembara yang sekarat kehausan ketika kami berpacu. Hutan di belakang kami kini bagaikan titik-titik hitam. selalu bertualang. dan berpacu. Kami bisa berhenti dan menetap di suatu tempat untuk satu. Setiap orang memacu kudanya ke cakrawala yang melingkar 360 derajat. Begitu luasnya padang gurun ini sehingga kami merasa berjalan di tempat. yang kadang-kadang terdengar seperti sebuah percakapan. Kuda-kuda kami masih terus berderap. Kuda-kuda memang lebih dari sekadar bagian hidup kami. kami mengarungi gurun pasir. selalu berpindah. Padang stepa yang terbuka masih tidak memperlihatkan apa-apa kecuali hamparan rumput kering yang kelabu dengan polesan salju. Tanpa kuda. “Huuuuu! Huuuuuu! Huuuuuuu!” Kami berderap dan berpacu memburu matahari yang terbenam ke balik cakrawala.

Lembah Sepuluh Rembulan adalah suatu lembah gersang dengan dataran yang sangat luas.. ketika kami akhirnya sampai ke lembah itu. Apakah rembulan bisa memahami. Di setiap danau itu setiap 1. Kami membiarkan kuda kami menjilati lelehan salju dan merumput di sana-sini. Di Lembah Sepuluh Rembulan inilah kami akan menunggu 100. Ia meniup seruling sambil duduk di sebuah batu di atas tebing.000 orang dari kami berkemah. Berkisah tentang kafilah panjang yang menyeberangi gurun. seruling. semenjak begitu banyak tahun yang telah lama berlalu. Di setiap api unggun masih tampak orang-orang membakar sisa-sisa daging perbekalan mereka dan mengunyahnya dengan lahap. dan mendengarkan seseorang bercerita. Namun.. dan anak-anak yang tidur dengan gelisah di dalam gerobak-gerobak penuh barang dan bahan makanan. Bukit-bukit batu yang menjulang dan membentuk lembah ini melindungi kami dari angin sehingga kami bisa menyalakan api unggun. Kami menyembah langit. *** Tempat itu dinamakan Lembah Sepuluh Rembulan. Kalau matahari itu menghilang di balik cakrawala. dari lembah ke lembah. sementara seorang nenek tua bersenandung dengan suara buruk tentang tanah air yang sudah mereka tinggalkan. dari bukit ke bukit. kami menyembah bumi. Ada sepuluh danau di lembah yang luas membentang itu dan seharusnya ada sepuluh rembulan mengapung di atas sepuluh danau. menghadapi segenap rintangan alam maupun suku-suku musuh kami? Apakah rembulan mampu menangkap gelora semangat pengembaraan kami? Tak terhitung lagi berapa orang telah mati dan berapa bayi telah dilahirkan sepanjang perjalanan dari kampung ke kampung. seolah-olah berhadapan dengan rembulan .bahkan rembulan seperti turun ke bumi hanya untuk mendengarkannya meniup seruling. Ia meniup seruling di atas tebing. Kami siapkan kantung-kantung tidur dan selimut kami. "Maka sang raja pun jatuh cinta kepada wanita dari negeri seberang itu. Bila bulan yang perak itu muncul di langit malam. betapa berat penderitaan suku kami sepanjang perjalanan mengarungi benua itu. 10. Beberapa orang masih minum susu hangat yang beraroma teh.penjuru bumi. Tapi apakah rembulan mengerti arti lagu seruling itu? Seruling itu berkisah tentang riwayat kami yang panjang dengan bahasa kami sendiri. Kami mencintai keindahan seperti mencintai kehidupan itu sendiri.000 pasukan berkuda. Kami berderap dan berpacu menuju matahari itu.000 saudara-saudara kami. dan kuda. menjadi bayang-bayang kehitaman yang melesat ke suatu arah.. Kami memuja rembulan dan matahari. kami harus memburunya ke balik cakrawala. cahayanya dipantulkan kembali oleh permukaan danau yang diselimuti salju. Langit masih membara. 160 ." Kami selalu membutuhkan cerita. Kami. betapa nun di sebuah benua yang jauh bertahun-tahun yang silam suku kami berkemas untuk sebuah perjalanan yang tak kami ketahui kapan akan berakhir? Apakah rembulan mengerti. orang-orang yang mengendarai kuda dengan tertunduk. Seseorang dari kami tampak meniup seruling di kejauhan itu. musim dingin belum berakhir sehingga sepuluh danau itu masih menjadi dataran salju.

Kemudian. anak-anak. Betapa segala hal di muka bumi ini saling berkaitan. makin lama makin menghilang. sementara di kejauhan terdengar gemerincing anting-anting dari daun telinga yang panjang itu dicuci. bukan hanya karena daging binatang buruan kami perlukan untuk menimbun perbekalan yang mulai menipis. Ketika kami semua bersiap tidur dan memandang bintang gemintang di langit. mereka yang sebagian terdiri dari wanita. dan orang tua. tapi juga karena kulit berbulunya yang tebal kami butuhkan untuk membuat tenda. Rupa-rupanya bulan yang turun mendengarkan suara seruling mengangkasa kembali. bahkan ia menyeberangi samudera mahaluas. “Hooooiiiii! Mereka sudah datang!” . sudah berabad-abad bentuk tenda kami tidak pernah berubah.000 saudara-saudara kami tiba. Kadang kami tidak tahu apa yang harus kami perbuat.000 pasukan berkuda. Seruling itu mengingatkan kami kembali kepada kampung halaman leluhur kami yang sungainya tidak pernah membeku. melanjutkan kerinduannya yang panjang akan kampung halaman kami yang terletak di sebuah dataran tinggi di tepi sungai. Sesekali tertutup awan. Kami mengerti betapa angin akan mengembara ke segenap penjuru bumi. 10. Betapa selalu masa lalu berada dalam diri kami. Kami sudah menempuh perjalanan yang panjang dan kini kami ingin tidur. ketika suara seruling itu lenyap ke balik malam barangkali kami masih mendengarnya di dalam mimpi-mimpi kami. tiada yang mendengkur sama sekali. dengan latar belakang pegunungan yang menjulang megah. menjelma gambar-gambar yang berkelebat dari masa lalu kami. karena musim dingin yang selalu berangin akan terus-menerus menguji ketabahan hati kami. Tinggal bara api menyala diam-diam. Angin masih terus bertiup dan tak akan pemah berhenti. Suara-suara itu dibawa angin ke bukit-bukit di mana anak-anak gembala memainkan serulingnya sambil tiduran di atas kerbau -. Kami pasrah. Tenda-tenda kami adalah tenda yang besar dan hangat. Maka terlihatlah gerak cahaya rembulan yang memantul di dinding-dinding batu. Di dalam tenda itu kami bisa memasak sekaligus menghangatkan diri kami. di mana bila senja tiba di tepi sungai akan terdengar derai tawa ceria gadis-gadis yang mandi. Apabila 100. Gemeretak api unggun segera berakhir. tinggal kesunyian di Lembah Sepuluh Rembulan. Kami.inikah sebabnya suara seruling itu membuat kami diam? Kami sedih. Barangkali kami akan memanfaatkan waktu untuk berburu. 161 *** Setahun kemudian seorang pengawal di atas tebing berteriak. peniup seruling itu masih di sana. Di Lembah Sepuluh Rembulan hanya terdengar desau angin. tertidur dengan pulas. Kemudian. akan membutuhkan tendatenda itu. Bertengger di atas sana.Apakah yang akan kami lakukan selama hari-hari penantian kami? Tidur tanpa tenda adalah suatu siksaan yang berat bagi kami. menghubungkan kami dengan segenap unsur kehidupan. dan kami menyukainya karena memang tidak pernah ingin kehilangan masa lalu kami yang semakin hari serasa semakin indah.

Dengan perasaan yang sangat tidak sabar dan menggebu-gebu. dan umbul-umbul yang sama. Semua ini menggetarkan jiwa kami dan kami merasa betapa setiap detik dalam hidup kami sangat mempunyai arti. gajah dan unta. siap menempuh perjalanan untuk mati. bendera. Kami menyatu kembali dalam gairah kehidupan yang panas. Tiada yang lebih menggairahkan selain kehendak yang menggebu menjumpai orang-orang tercinta. penuh dengan debu. Suku kami telah bersatu kembali di bawah langit dan bumi yang sama. Kami tahu hari-hari akan menjadi lebih berat. Begitulah kami akan membaca puisi di tepi danau. Masing-masing dari kami kemudian berhenti dan berhadapan. dan melakukan meditasi bersama dari malam sampai pagi di bawah 162 . Rombongan yang terdepan itu masih menanti mereka yang terseok di belakang. berderap dan berpacu. Saudarasaudara kami masih merupakan sosok-sosok hitam yang seolah-olah berjalan di tempat. dan terbentanglah di hadapan kami pemandangan yang menggembirakan itu. langsung melompat ke atas kuda kami. langit bagai tenda raksasa berwarna ungu. Seperti apakah mereka kini? “Huuu! Huuuu! Huuuu!” Kaki-kaki kuda. Mereka yang terdepan akhirnya bertemu muka dengan kami. pemandangan yang kami nantikan.000 orang lagi. “Akbar!" “Abdul!” Kami semua berpelukan dengan penuh rindu dan penuh dendam. memetik kecapi di puncak bukit. Tentu ada yang mati dan lahir sepanjang perjalanan. Angin begitu dingin. seperti yang sudah-sudah. Wajah-wajah mereka tampak lelah dan kuyu. bergetar-getar dalam tiupan angin. Berkibar dengan megah. Tak kurang dari 100. Ketika saudara-saudara kami melihat kami datang menyambut mereka. kami baru akan mengetahuinya nanti. Dengan segera. namun betapa dari sinar mata mereka terpancar jiwa pasrah dan ikhlas. dan memacunya ke tempat-tempat yang tinggi. namun kami juga tahu hari-hari kami akan lebih menggembirakan. Kemudian kami melihat panji. Senja itu langit yang ungu serasa begitu cerah. Mereka semua telah menempuh perjalanan yang panjang di jalan yang telah kami rintis. kereta. menari di atas perahu. kami menggebu menyambut 100.000 saudara-saudara kami muncul dengan meyakinkan dari balik kaki langit. seluruh pakaian mereka usang dan kelabu. Sosok-sosok hitam itu makin lama makin membesar. Hari sudah menjelang senja. sebagian dari mereka yang mengendarai unta dan berkuda segera melesat ke depan ingin segera bertemu dengan kami. namun tiada akan ada satu pun halangan kini bagi kami untuk mengungkapkan sukacita kami.000 saudara-saudara kami yang masih merupakan sosok-sosok hitam di kaki langit itu. Kami menggebu dengan perasaan rindu dan penuh dengan cinta. Kami semua turun dari kuda. kami berlari-lari turun dari bukit. dengan gerobak. Lebih banyak lagi yang berjalan kaki. Sebagian yang lain malah langsung keluar dari celah lembah.Kami semua segera melompat ke atas kuda. Tentulah jumlah mereka sudah tidak genap 100.

Dalam perjalanan itu 53 orang dari kami meninggal. Kami mendirikan tenda bagi orang-orang yang sakit.000 orang dari saudara-saudara kami yang baru tiba akan bergabung dengan setiap 1. Saudara-saudara kami yang 100. betapa tiada jarak lagi kini bagi kami. dan begitu penurut sehingga kami sungguh berterima kasih dengan segala pengorbanan mereka dalam perjalanan kami. kami menyalurkan kebahagiaan kami dengan suatu cara yang hanya kami bisa melakukannya. Kami begitu siap untuk bahagia. menyeberang dari benua ke benua hanya untuk selalu pergi dan tak akan pernah kembali? Kami terus-menerus saling berpelukan dengan jerit dan tangis yang makin menjadi-jadi. sementara itu 53 bayi dilahirkan sehingga jumlah saudara-saudara kami yang baru datang itu tetap genap berjumlah 100. jadi mereka hanya melihat sepuluh danau yang membeku. Wanita dan anak-anak kami berambut kasar dan merah. kami berjalan kembali ke Lembah Sepuluh Rembulan sambil menyenandungkan lagu syukur dari hati. Saudarasaudara kami yang baru datang itu begitu lelah dan begitu kurus sehingga agaknya kami masih akan bertahan beberapa lama lagi di sini sebelum kelak berkemas dan berangkat kembali. Langit memberkati kami. “Sarita!” “Maneka!” Mengapa kita bisa terus-menerus memikirkan seseorang meskipun kita berjarak begitu jauh dari seseorang itu dan telah berpisah begitu lama sehingga kadang-kadang sebenamya susah mempertahankan ingatan atas seseorang itu dari hari ke hari dalam suatu perjalanan yang terus-menerus berubah warna? Namun. kami mengatur pengelompokan sesuai dengan asal-usul setiap keluarga di kampung kami.000 orang dari pasukan berkuda kami. bisa melihat bagaimana sepuluh rembulan itu mengapung di atas sepuluh danau selama musim panas yang tetap saja dingin. begitu mengerti. Kami yang telah tinggal di sini selama setahun.000 orang.000 orang itu datang pada musim dingin. Mereka begitu jinak. Betapa mereka begitu tabah. Kini semuanya sudah berada di Lembah Sepuluh Rembulan. 163 . Kami akan membagi arak dan anggur dan kami akan menuangkannya ke atas daging bakar yang merah berasap membangkitkan lapar. Kami akan membakar daging rusa dan kami akan memakannya sepuas hati. dan kini begitu kurus. Kami semua menemukan masing-masing keluarga.rembulan dan matahari.000 orang. Kami tidak bermabukmabukan dan lupa daratan. dan kami menguburkannya di tengah jalan. tapi kami menahan kegembiraan meluap kami sebagai bekal menahan penderitaan pada masa-masa yang akan datang. Gajah-gajah yang kami bawa berbulu tebal. Kami menatap saudara-saudara kami yang baru tiba dan merasa sedih meskipun gembira. Bahkan ketebalan es di atas danau itu mampu menahan beban gajah yang berjalan di atasnya. tapi siapakah yang akan bisa tampak terurus dalam perjalanan panjang. Paduan suara lagu kami dipantulkan kembali oleh dinding-dinding tebing dan semua ini hanya mengingatkan betapa kami sebagai manusia sungguh memiliki nilai yang hakiki. Kami tahu kami akan menyanyi dan menari malam ini. Maka begitulah kami segera bekerja begitu tiba di Lembah Sepuluh Rembulan. begitu juga unta dan kudakuda kami. Semua orang tampak tak terurus. Adapun pasukan berkuda yang merintis jalan masih tetap berjumlah 10. Kami membagi diri kami berdasarkan pemukiman di sepuluh danau sehingga setiap 10.

berjalan. Mereka yang telah menjadi tua. Begitulah di antara kami kemudian ada yang meninggal dan kami pun segera menguburnya tanpa meninggalkan upacara yang diharuskan. Mereka yang mati . merayap di jurang yang curam.000 orang. melangkah perlahan-lahan menapaki jalan yang telah dikodratkan bagi kami. Kami berangkat pada pagi subuh. kaki mereka yang besar menapak dengan lincah di jalan setapak dan keseimbangan gajah-gajah ini sangat baik dalam pendakian dinding-dinding yang curam. Barangkali mereka juga melihat cahaya itu yang hanya bisa ditatap dengan mata hati di langit jiwa masing-masing yang mengerti dari mana hidup ini datang dan ke mana hidup ini pergi. 110. dan lumpuh kami naikkan ke atas gajah-gajah kami yang masih setia. dan menapaki gigir-gigirnya yang mengerikan. Ada semacam cahaya dari langit dalam hati yang terus-menerus bergerak setiap kali kami melangkah mendekatinya. Kami melihat sepuluh rembulan mengapung di atas sepuluh danau. Tentu mereka tahu jalan yang terbaik buat gajah sehingga kadang-kadang mereka harus memisahkan diri untuk bertemu lagi di suatu tempat lain. dan berjalan mengarungi gurun. Kadangkala tiba saatnya seorang wanita harus melahirkan di tengah jalan. sementara yang lain meneruskan perjalanan. menempuh ngarai. Pada musim semi danau masih membeku. orang sakit dalam tanduan. 110. Bayi-bayi seperti tahu diri untuk tidak menangis. berkemas dan bersiap melanjutkan perjalanan. menyebar seperti semut bila tiba di padang terbentang. 110. mendaki gunung-gunung batu. namun seperti tidak mendapat halangan jika berjalan di dalam hutan. dan hewan-hewan peliharaan yang tak boleh ditinggalkan. kami semua. jalanan setapak berlumut yang begitu licin dan terlalu sering memelesetkan. namun rerumputan menjadi lebih hijau. Kami tidak pernah memacu kuda kami kecuali jika kami putuskan berhenti sebentar untuk berburu. Kami berjalan menapaki jalur di antara lembah. Kami. Ketika matahari terbenam kami semua beristirahat dan tidur. dengan bayi di gendongan.000 anak manusia terus-menerus melangkah. tapi kami rombongan 110. Rombongan kami membentuk barisan yang panjang bila melewati celah yang curam. maka sebagian dari kami pun berhenti mengurusnya. Kami semua. Dari atas tebing kami menoleh untuk terakhir kalinya ke Lembah Sepuluh Rembulan. bahkan mata mereka pun bagai menatap sesuatu yang penuh dengan pesona. Ketika tiba musim panas.000 orang. khusyuk dan meyakinkan. Kami jarang bercakap-cakap di antara kami karena hati kami sekarang hanya berisi penyerahan diri kepada kehidupan. dan setiap orang yang melihatnya tersenyum dalam hati.Begitulah selama beberapa bulan yang tenang kami tinggal di Lembah Sepuluh Rembulan. Kami terus-menerus berjalan dengan hati yang terpaut kepada cahaya. Bulan masih menggantung di langit. dan menyeberangi sungai. menembus badai.000 orang. Begitulah kami berjalan. kuda dan unta melangkah pelan tapi pasti seperti doa yang diucapkan perlahan. Semua orang yang pergi mendahului mati dalam pelukan cahaya. Mata mereka mengatakannya. Kadang-kadang perpisahan ini bisa sampai berharihari lamanya. Sebelum matahari terbit kami sudah berangkat lagi.000 orang dengan segala hewan peliharaan tidak pernah benar-benar saling terpisah. Gajahgajah ini berbadan besar. 164 *** Sudah berbulan-bulan kami terus berjalan. Kami. 110. lemah.

Kami berangkat meninggalkan sebuah negeri di sebuah pulau yang segera menjadi kosong. ini bukanlah tempat yang dimaksudkan dalam mimpi-mimpi kami tentang tempat yang terindah untuk menuju kematian karena tempat itu memang tidak terletak di muka bumi ini. Kami melewati desa dan kota yang penduduknya melihat kami lewat bagai pawai panjang dari sebuah tontonan yang mengherankan. Itulah dunia yang kami rindukan. Dunia kami memang berubah semenjak menerima tanda-tanda yang begitu memikat untuk diberi tanggapan. Kami melangkah. dunia yang kami impikan dari abad ke abad. dengan kepastian bahwa jalan cahaya itu akan kami temukan. sudah lama juga kami tidak menjumpai tempat pemukiman maupun binatang. 165 *** . Sebegitu buruknyakah kehidupan sehingga kematian bisa menjadi impian terindah bagi 110. Setelah bertahun-tahun menempuh perjalanan yang serasa alangkah panjang dari benua ke benua. Langit merah di kaki langit.000 anak manusia. Orang-orang tua di kampung mengatakan bahwa suku kami selalu mengalami hal-hal yang demikian semenjak abad-abad yang telah lama silam. Dari hari ke hari. 110. Namun kami tahu. Dalam kenangan kami masih tergambar dengan jelas betapa di tempattempat yang kami lewati pemandangan terpampang begitu indah sehingga kami kadangkala merasa terkecoh karena mengira inilah tempat yang kami rindukan. Arwah mereka membubung menyusuri cahaya. kami kemudian merasa terbimbing oleh tanda-tanda cahaya dalam jiwa kami yang penuh dengan keyakinan.000 orang yang tadinya hidup tenteram di tepi sebuah sungai dengan latar belakang pegunungan biru yang menjulang bagai tempat persemayaman dewa-dewa dari suatu dunia entah di mana bagai negeri yang hanya ada dalam dongengan? Kami pergi meninggalkan kampung halaman kami dengan meninggalkan segala kebahagiaan yang telah kami dapatkan demi panggilan dari cahaya dalam mimpi-mimpi kami. masih terus-menerus berjalan di atas bumi yang fana. menuju sebuah dunia di alam sana yang hanya bisa dihayati setelah kematian. dari dongeng ke dongeng. Kami.dalam perjalanan ini sebenarnyalah mati dalam kebahagiaan. Kami semua terpana dan terpesona dan merasa segala-galanya tiada berarti lagi selain keinginan untuk menuju sumber suara dan mimpi-mimpi itu. dari segala keinginan dan kehendak yang sejak lama terlukis di gua-gua leluhur kami yang begitu gelap di mana mereka merindukan cahaya keabadian. terus-menerus berjalan. menapak pelan. Dari gurun ke gurun rombongan kami berjalan. Kami semua bisa mengalami mimpi-mimpi yang sama dari malam ke malam yang penuh keanehan di mana bunyi genderang terdengar dari langit dan dari seberang sungai bagaikan terdengar paduan suara yang mengalun merdu dan menyejukkan. semakin banyak tanda-tanda dalam mimpi-mimpi malam kami dan betapa kami semua semakin merasa bahwa hanya dengan menuju tempat yang kami inginkan itulah terletak arti kehidupan kami. Kami tak lagi mengerti apakah mimpi-mimpi kami merupakan warisan darah yang diturunkan ataukah memang datang dari langit malam yang penuh dengan khayalan. Tentu saja kami masih selalu teringat betapa pada awal keberangkatan segalanya terasa menggemparkan. Maka begitulah hidup kami berubah ketika mendadak kami semua harus berkemas mempersiapkan sebuah perjalanan yang belum bisa diketahui berapa lama dan kapan akan berakhir. meskipun matahari terbenam yang jingga itu begitu memukau di latar langit yang ungu.

bendera dan umbul-umbul kami yang berwarna merah pun memutih. namun dada kami berdebar bagaikan terdengar suara yang menggelegar. namun kami selalu mendapatkan gantinya.000 orang seketika lengkap dengan hewan-hewan peliharaan dan itu pun ternyata belum apa-apa. Sembari berjalan kian kemari setelah mengenakan busana terbaik yang kami miliki. hanya tegak di atas lutut kami. Tiada mega di langit -. Kami tahu semuanya akan pergi dan berlalu seperti juga berakhimya perjalanan kami yang terlalu sulit untuk bisa diceritakan dengan kata-kata. unta-unta. mereka pun banyak yang mati sepanjang perjalanan. Kulit hewan peliharaan kami pun memutih. Memang masih seperti gunung-gemunung tapi bukan gunung-gemunung. kami telah melakukan perjalanan bersama cahaya ke suatu tempat yang tiada tertera dalam peta mana pun di muka bumi. Kami menanak sarapan pagi kami dengan percakapan sesedikit mungkin dan kami makan perlahan-lahan tapi pasti untuk meyakinkan betapa kami akan menyambut saat-saat terbaik dalam hidup kami dengan perut terisi. Padang rumput memutih. Kemudian kabut menjadi semakin tipis. segala-galanya memutih. Maka langit pun terkuak dan kami terkesiap. Kami membasuh wajah dan telapak tangan kami dengan segantang air dari masing-masing perbekalan kami. namun kami melihat segalagalanya memutih diserap cahaya.Kemudian. dan kuda-kuda. Kami merasa sangat berterima kasih kepada hewan-hewan peliharaan kami dan kami merasa lebih dari layak bisa membawanya membubung ke Negeri Cahaya. memang masih seperti hamparan salju yang terpoles di sana-sini dengan hewan-hewan ternak berbulu tebal tapi bukan hamparan salju yang terpoles-poles di sana-sini dengan hewan-hewan ternak berbulu tebal. Cahaya yang terang menyilaukan segera memutihkan dunia kami. Kami mencoba mengingat segala sesuatu yang berwarna dari kenangan dan mimpi-mimpi kami. Semua orang mempersiapkan dirinya tanpa kata tanpa angan-angan tanpa pertanyaan karena semua ini telah mengisi jiwa dan pikiran kami selama melakukan perjalanan bertahun-tahun mengikuti cahaya di dalam langit jiwa kami. Gajah-gajah. Pastilah dunia ini begitu luas dan begitu penuh kemungkinan sehingga jalan cahaya dalam impian ternyata mampu menampung 110. kami menikmati setiap detik dari saat-saat kebahagiaan kami yang fana. Kami tahu betapa ketika kami menutup mata dan kemudian membukanya lagi. Kami hanya bisa menunduk dan merendahkan diri. memang. sepatu. Garis cahaya yang meluncur sepanjang kaki langit melingkari kami. panji. Hewan-hewan peliharaan kami pun seperti tampak mempersiapkan diri. Tiada suara yang menggelegar. memang langit yang ungu membiru dan menggelap di kaki langit masih seperti sesuatu yang terdapat di muka bumi tapi bukan langit yang ungu membiru dan menggelap di kaki langit masih seperti sesuatu yang terdapat di muka bumi. Tanpa diperintah setiap orang lantas melakukan semua persiapan untuk menanti saat itu. Kami belum lagi mengerti kebahagiaan macam apakah yang masih bisa kami dapatkan lagi dalam kehidupan yang abadi. tampak kuda-kuda kami yang perkasa menatap kami dengan pandangan seolah-olah mengerti tentang segala hal yang akan terjadi. dan pergi. mengambang. kulit 166 . Langit ungu muda. tibalah kami pada suatu pagi di mana kami setelah bangun dari tidur yang panjang merasa tidak usah berjalan ke mana-mana lagi. Dari balik kabut itu. namun cahaya itu menembus dunia angan-angan kami sehingga segala sesuatu yang kami pandang dengan mata terbuka maupun tertutup berwarna putih. Kami tetap menunduk dengan perasaan tercekat. memang. Inilah pagi yang berembun dan berkabut yang perlahan-lahan berpendar menampakkan siapa berada di selatan dan siapa berada di utara. seperti juga seluruh busana terbaik yang kami kenakan.kami merasa saat-saat itu memang segera akan sampai. Tubuh kami bergetar dengan hebat dan kami merasa kecut.

dalam penyucian cahaya berkilatan. semakin aku merasa diriku bukan bagian dari rombongan. atau meneruskan perjalanan? Setelah bertahun-tahun menjadi bagian dari suatu perjalanan panjang ke satu tujuan kurindukan diriku sendiri yang selalu berbisik perlahan-lahan. namun seperti juga air sungai dari sebuah sumber mata air di puncak gunung yang mengalir menuju lautan. kelak-kelok labirin yang memusingkan. kemudian tidak bisa saling melihat karena di sekitar kami hanya cahaya yang berdenyar-denyar menyilaukan membuat kami masing-masing untuk pertama kalinya merasa sangat sendiri setelah dari hari ke hari hampir selalu bersama-sama semenjak dilahirkan di kampung kami. Aku melihat seribu cahaya berenang dan berkelebatan. Tiada lagi angin bertiup. Dari kelam ke kelam. Kulihat 109. kuda-kuda berpacu.999 anak cahaya melebur ke dalam cahaya gemerlapan. dari cahaya ke cahaya. tujuh matahari. secara serentak tanpa harus merasa berada di tempat yang berlain-lainan. Langit yang berlapis-lapis memeluk jiwa kami dan kami kemudian merasa mampu berada di segala arah. Hanya zat yang hanya bisa merasa bahagia di jalan yang terindah menuju kematian. Lantas kami alami bagaimana jiwa kami diluncurkan. betapa bisa cahaya kesaksian tiada melihat kebohongan? Kulihat satu per satu dari kami. ditelan gua-gua kebahagiaan di atas awan. kemah-kemah awan. Apakah aku harus berhenti.*** . dengan segala derita dan pengabdian. Tinggal aku sendirian. dan suara seruling dari atas tebing pada malam bulan purnama. Begitulah kami menyerahkan diri dengan segala dosa dalam tubuh dan jiwa untuk disucikan oleh cahaya itu sebelum kami berangkat ke akhir tujuan kami. segalanya memutih lantas mengertap berkilauan seperti cahaya itu sendiri.dan rambut kami. menaiki kuda putih di atas awan. gua pelangi yang menyilaukan. sendiri-sendiri maupun bersama rombongan. tiada lagi debu mengepul. Tiada lagi yang bisa kami lakukan selain meneruskan perjalanan. dari selatan sampai ke utara. 109. bayi menangis. semakin aku terikat kepada kenangan. begitu pula kami jalani kodrat kehidupan kami dengan tulus dan penuh keyakinan dengan perasaan bahwa semua ini memang suatu anugerah yang terlalu menyenangkan. Barangkali ini memang tempat yang terindah untuk mati. dari barat sampai ke timur. Kami berangkat melewati tujuh rembulan. 110. Tiada yang lebih berharga lagi selain keindahan dalam kematian. Sudah begitu jauh aku berjalan. Begitulah kami semua. Kini kami semua telah menjadi anak cahaya yang memutih dan tidak saling mengenal perbedaan-perbedaan kami karena kami semua hanyalah anak-anak cahaya yang saling menyilaukan dan saling melupakan. Semakin jauh aku berjalan. Begitulah rombongan kami.999 anak cahaya. melihat-lihat pemandangan. bangkit kembali dari tumpuan lutut kami dan kembali menaiki kuda-kuda kami menyusuri jalan cahaya di langit yang telah terhampar di hadapan kami. Tiada yang lebih penting lagi kini selain perjalanan menuju ketiadaan. Sungguh semua ini terlalu menarik untuk ditinggalkan. dengan atau tanpa badan. dan berdoa di dalam tujuh kuil di atas awan.000 anak manusia. 167 *** Kulihat di sepanjang langit.

Maret-Juni 1996 (Dimuat dalam Horison.Jakarta.Ulaanbaatar . Juli 1996) 168 .

” kata Okayama. lalu menatap ke kejauhan. sambil mengibas-ngibaskan tangannya. Gembira sekali.” gumamnya. senang. Beberapa meter di depannya berdiri Pak Marta yang menerima ucapan terima kasih Okayama itu. Dan tentu saja ia pernah merundingkannya juga dengan anaknya. “Tetapi .Enclave* Oleh: Ramadhan KH “Arigato gozaimasu! Arigato gozaimasu!” (Terima kasih! Terima kasih!). mengikuti anjuran Pak Marta. melihat lautan itu dari tempat yang lebih dekat ke pantai. Di sebuah onggokan ia berhenti. Sungguh. orang yang dirasakannya benar menjadi penolongnya di hari tua. Ini tanah Subarkah dan Michiko. mengikuti goresan kaki langit. ke sana lagi! Lihat dari sana. Nikmat benar dirasakannya menerawang.” Ia seperti mau menjelaskan kepada semua pihak.” Pak Marta menganjurkan Okayama supaya melangkah lebih jauh. dengan perasaan haru dan suara hikmat ia lepaskan isi hatinya itu dengan tulus. menyapu lautan yang biru dan mengikuti gelombang yang beruntun bergantian sampai ke pantai. Ia merasa benar-benar gembira. membicarakannya. yang kali ini tertinggal di Osaka. “Aaahh. senang. tetapi sudah mulai dipelajarinya dengan tekun: “Bagusu-neh. bagusu-neh. Ia senang mengikuti petunjuk Pak Marta. Negeri ini indah sekali... kepada pepohonan dan binatang-binatang 169 . tetapi . “Hay! Hay!” kata Okayama sambil lari-lari kecil.. beberapa kali. dari tepian yang lebih jauh. “Senang? Senang punya tanah ini?” tanya Pak Marta dalam bahasa Jepang. Okayama-san mengucapkan kata-kata itu sambil membungkukkan badannya dalam-dalam.. “Massugu! Massugu! Maju lagi! Maju lagi! Ayo. bagus) sambil melambai-lambaikan tangannya. Dari kejauhan ia berteriak dalam bahasa yang jauh daripada dikuasainya. Subarkah. “Tempat ini bagus sekali. Wajahnya jadi cerah seperti langit yang ada di atasnya. ini bukan tanah saya. Bukan tanah saya. Seraya melangkah ia mereka-reka kembali rencananya yang sudah bermalam-malam bersama menantunya. “Bagusu-neh! Bagusu-neh!” ulangnya di depan Pak Marta. sahabat besannya.” (Bagus. tidak ikut terbang ke Jakarta. Michiko. kepada penduduk di kampung itu. lalu menarik senyum sendirian.

Lihat. Asal diurus. Disebutnya di sini. pisang raja. Pak Marta mengajak bicara Okayama-san dalam bahasa Jepang. uangnya bisa dipakai anaknya untuk membeli tanah di tepi pantai di daerah Sukabumi Selatan itu. bisa. Sekarang. Okayama sudah punya gambar bentuk rumah yang akan dibangunnya di atas tanah milik keturunannya itu.” jawab Pak Marta. Ia merasa. anak-anak saya akan mendirikan rumah di sini. bisa memiliki tanah seluas satu hektar lebih. apalagi di seputar Tokyo. Kalau terlaksana. dengan kebunnya yang bagus. Tidak ada tanaman yang tidak bisa tumbuh di sini. bahwa tanah itu bukan miliknya. Bagus sekali tanah ini. dicampur sedikit dengan tanah dari kebun saya di Cisaat.” Okayama pernah berpikir. karena uang yang dibelikan tanah itu adalah uang simpanannya. Hahahaha. Ia pun senang bisa membuat mertuanya gembira.yang ada di sana. dan setiap kali berada di Sindanglaut untuk barang dua atau tiga bulan. sudah menolong anak-anak saya. Sebab itu ia berikan uang senilai empat puluh juta rupiah. Bahwa Okayama-san. bisa tentu bisa. karena mahalnya. tertawa lebar. Bukan spesial karena istrinya jadi pemilik tanah itu di sana. Tapi jangan minta pohon sakura tentunya. sejuta Yen sejengkal. ia memilikinya juga. Kalau tidak terpatahkan oleh kekalahan Jepang dalam peperangan. Nyonya Subarkah. punya rencana berlibur tiga kali dalam setahun. orang menjual tanah dengan ukuran jengkalan. pisang yang disukai Okayama-san. pohon kesemek. Michiko. untuk membeli tanah di kampung Sindanglaut. pisang ambon. bahasa Jepang) bisa tumbuh di sini?” “O. Tetapi hati kecilnya tidak bisa membohonginya. sangat gembira. sebegitu yang diperlukan Michiko. anaknya. di tepi pantai di Sukabumi Selatan itu. tanah itu atas nama istrinya. kini merasa senang. Bakal jadi bagus. Juga Subarkah. diikuti oleh Okayama-san. Waktu itu ia duduk di sekolah menengah di Bogor dan terkenal di antara sesama teman sekolahnya sebagai murid yang paling pintar bahasa Jepangnya. pohon pisang. Ia masih bisa berbicara dalam bahasa yang dulu pernah dikuasainya dengan benar selama jaman Jepang. melainkan karena mertuanya bisa mendapat kesibukan yang bakal disukainya: bercocok tanam. Malahan terakhir sudah dicantumkan dalam sertifikatnya. “Apa bunga anggrek bisa tumbuh di sini?” “Bisa. “Saya sekali lagi mesti mengucapkan terima kasih kepada Pak Marta-san. Sebuah rumah potongan Jepang dengan jendela-jendela dan atap 170 . bahwa Subarkah menetapkan. Tapi nanti rumah tua itu akan diganti dengan bangunan yang bagus. Lihat itu. sekarang sudah ada rumah kecil yang masih sederhana. Dan ia gembira. sang menantu yang juga ada di sana mendampingi sang mertua. Michiko.” Pak Marta tertawa. Bicaralah lagi Okayama-san dalam bahasanya. di tepi Samudera Hindia yang elok itu. “Semua tanaman bisa hidup di sini. kemungkinan besar ia sudah dikirimkan ke Negeri Sakura untuk melanjutkan sekolahnya. melainkan milik anaknya dan menantunya. sehingga mereka mendapatkan tanah ini. adalah disebabkan pengetahuannya bahwa di Jepang mustahil ia bisa membeli tanah seluas itu. pohon-pohon kelapa bagus-bagus di sini. Apa pohon kaki (kesemek. bukan meteran. bahwa tanah itu milik Michiko. “Untuk siapa lagi uangku itu kalau bukan untuk Michiko (anak tunggalnya). Tanahnya. pisang lumut. Okayama yang sudah pensiun dan ditinggalkan istrinya meninggal tiga tahun yang lalu. Di Jepang.” jawab Pak Marta meyakinkan sambil menatap Okayama. bisa hidup di sini. Di atas tanah seluas satu hektar lebih milik Michiko itu. di dalam surat-surat jual belinya. di hari tuanya.

Mereka sama-sama duda.” 171 . “Mengapa kamu tidak punya akal?” kata Okayama. selain ada laut yang bagus. dan sebagainya dan sebagainya. Cantik-cantik. “dari tempat itu. Kesukaan kamu kan masuk hutan. Cantik-cantik lho.” kata Okayama-san kepada Kakutani-san yang juga mempunyai cukup uang simpanannya. Dan. Dan terkenang sampai sekarang. akan mengambil wanita Indonesia. Sungguh! Kamu bisa bergairah lagi jika lewat di kampung itu. pemandangan seputar itu. hahaha.. Ia pun pernah bertemu dengan ibu Subarkah. besan Okayama. “Pasti ia cantik sekali waktu mudanya. kita bisa lewat di sebuah kampung yang namanya Kadupandak. Saya pun waktu lewat di sana. atas nama siapa. Kalau saya seusiamu (--Kakutani lebih muda--).. bukan mimpi pagi. Rencananya pun sudah bisa mulai dilaksanakan. *** Okayama-san bersahabat kental dengan Kakutani-san. “Dan istimewa lagi. segera ia bercerita kepada Kakutani bahwa ia baru saja membeli tanah di Indonesia. Saya pernah dibawa oleh kenalan saya lewat di sana. Dan gambaran itu buat Okayama sekarang. Kalau kita jalan ke Sindanglaut itu. kamu bisa dapatkan seorang. Hahaha! Dan. ya. saya akan kawin lagi. “Tapi. merasa jadi muda kembali.. “Dan bagusnya. dengan uangmu yang ada di bank sekarang.potongan khas Jepang. dengan nada suara seperti berhasrat. Ia ceritakan dengan terperinci sekali berapa harga tanah yang dibelinya. “Cantik-cantik?” Kakutani seperti mau tambah diyakinkan. di mana letaknya Sidanglaut itu. Dan sewaktu Okayama sudah berada lagi di Osaka. “Kamu kan belum punya istri lagi. karena ayah Subarkah masih ada. bagaimana saya bisa membeli tanah di sana? Saya kan tidak punya menantu orang Indonesia.” Kakutani seperti kena goncangan yang membuat ia sadar.” kata Kakutani dengan nada rendah. Di Kadupandak itu banyak sekali yang cantik. Apa sungguh begitu?” “Sungguh!” kata Okayama meyakinkan. dengan uang yang sudah diperhitungkannya cukup. seperti sudah tidak punya harapan. bahwa wanita itu benar cantik walaupun sudah ada usia. badak yang terkenal.” komentar Kakutani di dalam hatinya waktu ia pertama kali melihatnya.. Tetapi ia tidak punya keinginan lebih jauh. ada daerah yang masih dihuni oleh badak. Tinggal tidak berjauhan. melihat binatang langka?” “Ya. Mereka tidak perlu kita ajar lagi supaya tinggal di rumah. Itu sudah kebiasaan mereka. Kebiasaan mereka pun baik-baik.. bagusnya pemandangan di sana! Luar biasa! Pasti kamu pun akan suka... waktu datang di Osaka. “Beneran.” cerita Okayama kepada Kakutani.

dengan pemandangan yang indah seperti yang diceritakan Okayama? Aku pun tentu bisa menikmatinya. *** Saatnya pun tiba. Kakutani bercerita bahwa Nurseha memenuhi hasratnya dan tidak banyak permintaannya. 172 . Dan saya sepakati. tidak ceritakan bahwa Nurseha. “Kalau sudah begitu. pada mulanya. Itu kan benar bagus. “Kami akan kawin. bahwa ia sekarang sudah sebatang kara. bagus kalau begitu. cuma kalau bersama saya ia akan ke luar rumah. Kakutani dan Okayama sudah ada di Jakarta. dan sudah pergi ke Sindanglaut. “Jadi. begitu nama perempuan yang dibawanya.Kakutani jadi berpikir beneran. Ia. apa bisa ia sekarang tinggal di rumah?” tanya Okayama yang ragu.” Kakutani menarik wajah bangga dan serius.” kata Okayama. Dan benar murah. Cuma keadaan ekonominya saja yang pernah membawa dia ke tempat panti pijat. Mereka berdua menginap di sebuah hotel di jalan Thamrin.” Kakutani sudah bisa melupakan apa yang telah terjadi dan dialami Nurseha sebelum ini.” kata Kakutani. “Sesudah kami nikah.” jawab Kakutani-san. bukan? Nulseha (--ia tidak bisa mengucapkan r--) sendiri sudah janji. saya akan belikan istri saya tanah yang itu. Dan kamu yang mengatakan bahwa perempuan Indonesia itu bisa tinggal di rumah. mengapa pula aku mesti simpan uang itu? Dengan uang cuma sebegitu mustahil aku bisa membeli tanah di negeriku sendiri ini. Kalau istriku menyenangkan. dan mau menerima kebiasaanku. Dan terbetik hasratnya: “Kalau istriku setia. ”Dan soal tanah itu. “Secepatnya. Tentu saja jadi. Ia bisa menghapus apa yang sudah-sudah. bagaimana?” tanya Okayama lagi setelah ia ingat pada tanah yang sudah diinjaknya bersama. mengapa aku harus kikir dengan tidak memberikan uang kepadanya untuk bisa memiliki tanah yang luas dan bagus.” Ia pun ingat. Cepat sekali prosesnya. “Bagus. Yang dipentingkannya hari depannya.” kata Kakutani setelah didesak di mana mereka bertemu. ditemukannya di sebuah panti pijat. dan bisa membeli tanah yang luas. Nampaknya agamanya kuat.” kata Kakutani kepada Okayama. “Kapan akan nikah?” tanya Okayama-san. “Hanya meminta supaya saya masuk agamanya. “Ia berjanji. Kakutani memperlihatkan seorang wanita yang lumayan cantiknya kepada Okayama. di samping tanah Michiko. Malahan ini yang kedua kalinya sudah. Waktu ada kesempatan berdua Kakutani dan Okayama.

Kanazawa-san. Ia sudah menghitung. Kanazawa-san. Kita diajak oleh mereka untuk datang ke sana. atas nama Nurseha yang pernah ditemukannya di sebuah panti pijat. bahwa ia nanti bisa berlibur di tempat yang bagus itu. tempat ia menceritakan rahasia hidupnya. “Aku akan sering saja berada di sana. bagus sekali. Lebih luas daripada yang dimiliki Michiko dan lebih mahal harganya. setelah ia membandingkan dengan harga tanah di negerinya. Tetapi yang pasti lagi. dan gelombangnya amat memikat.” 173 *** Di sebuah organisasi di kotanya. dan kamu merasa encok di sini. Pasti ada cara-caranya. Kalau musim dingin di sini. Tidak lama setelah itu. Sebab itu pula ia tak beralangan menceritakan tentang tanah yang dibelinya. tak dirasakannya jauh.*** Benar juga. setelah Kakutani memenuhi syarat yang diminta oleh Nurseha dan keluarganya. Pernikahan itu dilaksanakan di depan penghulu. pemborong bangunan. Dan ia pegang surat-surat tanah itu. disaksikan oleh Okayama. Percayalah. Ia pun ingin memiliki tanah sebagus seperti yang diceritakan temannya. di tepi pantai yang lautnya biru. Apalagi di pagi hari. atau di sore menuju senja. Tetapi Kakutani-san merasa pintar juga. Kamu tidak akan bisa membeli tanah seluas itu dengan seluruh kekayaanmu yang kamu miliki di sini. dan uang rupiah tak akan bisa mengejar harga tanah. untuk usaha. Ia pun sudah beberapa kali membaca brosur-brosur tentang perjalanan ke Indonesia dan apa yang bisa dilihat di negeri di sebelah selatan itu. bahwa nilai tanah akan cepat naik. *** . kamu akan senang tinggal di sana. “Benar murah. Soal jarak Jepang . bahwa kalau sampai ia dan suaminya bercerai. ia merasa senang. tapi sekarang sudah jadi istrinya. Tentu yang ukurannya luas yah. kita bisa tinggal di sana. Apalagi sekarang. Di sana kan selalu ada matahari. Tanah di Sindanglaut yang berdempetan dengan milik Michiko pun kemudian dibeli Nurseha atas namanya. tergerak juga hatinya. Lautnya bagus. Pantainya bagus.” kata Kakutani. “Tapi bagaimana kami bisa membeli tanah di sana?” tanya Kanazawa kepada teman akrabnya. Kata orang di sana. kita bisa tinggal di sana semusim-semusim.Indonesia.” pikir Kakutani.” pikirnya. Nurseha merasa pintar. Kakutani dan Nurseha melangsungkan perhelatan di Sukabumi. Kakutani punya sahabat akrab. uang senilai pembelian tanah itu akan dikembalikan. segala di sana sudah terbuka. di sana segala bisa diatur. “Mustahil aku bisa punya tanah sebagus itu dan seluas itu di negeriku sendiri. “Bisa. Tetapi terbeli oleh Nurseha yang membuat surat janji. Pasti bisa. cerah langitnya.

bisa diatur supaya jadi jalan ke pantai. Tetapi terhalang oleh beberapa rumah kampung dari tanah Michiko. bahwa kekurangan yang dirasakan oleh Kanazawa itu nanti bisa diatasi. Tanah itu bekas perkebunan kecil.” kata Kosasih dengan menarik senyum lebar. Sudah dua kali ia pernah mengatur jual beli tanah dengan orang. “Yang satu kali untuk menantunya bersama anaknya. terasa tak menentu.” kata Kanazawa kepada Okayama dan Kakutani.Kanazawa-san terbang bersama Kakutani dan Okayama ke Jakarta. Lalu mereka pergi ke Sindanglaut. Pak Kosasih. Kanazawa-san menginginkan membuat semacam hotel di sana. Sudah tergitik juga hati Kosasih oleh gambaran bahwa kali ini ia bisa beruntung banyak lagi. Okayama dan Kakutani lalu mengajak bicara Kosasih yang sudah siap untuk membantu. sehamparan tanah yang ada di tepi laut itu digabungkan saja dengan tanah bekas perkebunan kecil itu. dengan kebutuhannya. Kosasih yang pernah membantu kedua orang itu dengan urusan tanah di sana.orang Jepang itu dan memasukkan uang ke kantongnya sendiri lebih dari lumayan. Ia mengetahui.” kata Kosasih sambil menarik wajah senyum dan meyakinkan. Rumah-rumah kampung itu bisa dipindahkan. seorang yang lebih tua. “Bagaimana cara membelinya?” tanya Kanazawa. Ada kekurangan di tanah bekas perkebunan kecil itu yang terasa oleh Kanazawa-san. bisa meyakinkan. sebenamya hati nuraninya pernah goyang. ini orangnya yang bisa membantu kita. Yang kedua kali untuk istrinya. Tanah yang menghalang-halangi itu. antara lahan ini dan laut. Tetapi. “Apa yang tidak bisa dengan uang?” pikirnya. Sebab itu ia cepat berkata kepada Okayama: “Kami bisa atur. Ramdan. tetapi keuntungan yang diperolehnya menghapus kegelisahannya itu. “Tidak jadi soal. bahwa atasan-atasannya yang ada di Kecamatan dan di Kabupaten akan setuju. Ia pun yakin. Kanazawa-san takjub melihat daerah pantai Samudera Hindia itu.” kata Okayama sambil memegang tangan Kosasih. “Bapak ini.” kata Kakutani sambil menunjuk seorang laki-laki yang bekerja di Kecamatan di Sidanglaut. Garnida.” pikirnya. Ia pun yakin dengan uang segala bisa beres. Tetapi Kosasih. dibarengi oleh Kosasih dan dua orang kawannya. 174 . bisa menolong kita. “Ini. “Tetapi hotel akan laku kalau menempel pada laut. Ia merasa. tersenyum lebar. lewat Okayama yang sudah tambah pintar berbahasa Indonesia. Supaya nyambung jadi bagian tanah ini.” pikirnya. bahwa yang dikatakannya itu bisa jadi kenyataan. Orang kita-kita juga. Ia tentu saja senang. seorang lagi yang lebih muda. Ketiga orang Jepang itu pergi ke tanah bekas perkebunan kecil itu. Sah-sah saja. ada sebidang tanah luas yang juga tidak jauh letaknya dari tanah Michiko. Tidak ada yang tidak bisa diatur di sini. Tanah itu tidak nempel pada pantai. “Tak ada kesalahan saya. yang tempo hari mengatur pembelian tanah untuk Michiko dan Nurseha. Kosasih seperti bisa menangkap apa yang diinginkan oleh Kanazawa. tapi sudah tidak terurus. Dan akan dijual.

tak mengerti sepatah kata pun. ada Tanaka-san. Takahashi-san dan . Nampak sekali ada kesibukan di wilayah yang tadinya kampung itu. 175 *** Selang beberapa waktu. Entah berapa ongkos memindahkan mereka yang sebenarnya. Soal tanah yang menghalang-halangi sudah terpecahkan. sudah mulai dengan membangun rumah yang mereka citacitakan." kata Okayama. apa yang tidak bisa dibereskan di kampung ini. Kanazawa-san nampak tenang-tenang saja. sehingga bisa dipakai untuk keperluan Kanazawa-san yang punya uang banyak. lalu ke arah Okayama. atas anjuran penasihatnya ia sudah menggaet orang di Jakarta penguasa penting. Subarkah. Ketiga orang Jepang itu mengangguk-angguk.” Kata "pembangunan" itu melintas sejenak saja di kepalanya. Rencana bangunan hotel sudah siap. di kantor Kabupaten. Kakutani-san dan Kanazawa-san sudah berada di Indonesia lagi. Sindanglaut mereka tuju. Kata pembangunan itu mengubah kesulitan yang tadi pernah mengganjal sebentar di hatinya. masih jauh lebih murah daripada jika harus membangun di negerinya. segala bahan yang diperlukannya sudah ia siapkan dari dan di negerinya. malahan di kantor Gubernuran. Ia menunggu kepastian. Dengan duit. Beberapa orang pegawai Kabupaten Sukabumi pun ada di sekelilingnya. Dan ia sudah jadi lebih pandai. Lalu mereka berbicara dalam bahasa mereka. asal benar bisa diatur begitu. Tiang-tiang baru sudah dipancangkan. meminta dukungan. Okayama-san. “Ini jadinya proyek pembangunan.Ia berpikir lagi. Penghuni beberapa rumah yang menghalang-halangi antara tanah Michiko dan Kanazawa pun sudah sepakat untuk pindah. Orang-orang Jepang itu tidak tahu. “Ya. tapi harapan menyelinap di antara perasaannya. Kanazawa-san dikerumuni oleh pegawai-pegawai dari Kecamatan Sindanglaut. pikirnya. Ia tidak kepalang bergerak. tuan Kanazawa tertarik. Maka pembangunan dimulai di daerah itu. Kakutani-san pun langsung mengukur-ukur tanah yang akan dipakai untuk bangunan rumah yang bakal dihuni bersama Nurseha. Okayama yang sekali ini didampingi Michiko dan suaminya. Mereka tidak membuang waktu. Tanah yang menghalangi-halangi perkebunan kecil dengan laut itu pun sudah diatur oleh orang-orang di kantor Kecamatan. Dan bertambah lagi kericuhan di daerah itu. Tinggallah nanti ia mencari tukang-tukang yang bakal diperbantukan kepada arsitek Jepang yang bakal membangun rumahnya itu. karena bukan saja Okayama-san. Kemudian kepalanya digerakkannya menghadap ke arah Kakutani. “Pasti bisa! Pasti bisa!” kata Kosasih kepada Kanazawa. Rumah tua sudah dibongkar. Kakutani-san dan Kanazawa-san yang membangun di sana. Masing-masing mengatur kepemilikannya. Kosasih mendengarkan saja. melainkan ada Saito-san. tapi menyebabkannya jadi merasa kuat. Sebab memang setelah diperhitungkannya. Uang siluman tak jelas masuk ke kantong saku siapa.

Mereka seperti sudah berpikir.” pikir mereka. Saito-san idem dito. bahwa dunia ini untuk kita semua. untuk kita. pikir mereka. karena rumahnya pun sudah tergusur. Ia menjawab sendiri: Okayama-san adalah mertua Subarkah. . daerah kantong Jepang. Sebab kebanyakan pemilik tanah itu _lewat menantu. Dan semua menghitung: tanah di Sindanglaut itu benar-benar jauh lebih murah dibandingkan dengan yang ada di Tokyo. Kanazawa-san adalah pengusaha yang diajak datang untuk menanam modal. Bukan saja hatinya terganggu. Anaka-san menempuh jalan yang juga tidak seberapa sulit dirasakannya. 176 *** Maka ramailah pembangunan di Sindanglaut. tetapi ia sudah tua. sahabat dan pelbagai cara dan ilmu yang tak jelas duduk perkaranya_ memungkinkan rumah-rumah dan bangunan lainnya di sana berbentuk seperti di kampung asal mereka. Ya. gamang. sahabat kentalnya. istri. di atas tanah yang lebih dari dua ratus hektar. Jangan ditanya asal usul tanah itu: tanah wakaf pun sudah berubah catatannya. Okahara-san sami mawon. Ia pun sudah mendengar kabar dari orang tua Subarkah. *** Pak Marta datang di Sindanglaut. Michiko adalah istri Subarkah.beberapa lagi orang Jepang yang bukan saja tertarik. pikirnya. untuk semua penghuni bumi. bahwa di kampung di tepi Samudera Hindia itu sudah berdiri satu daerah enclave. Kebanyakan peralatan dan malahan bahan-bahannya pun didatangkan dari Jepang. keturunan mereka. melainkan sudah mulai membangun di daerah yang tadinya masih ladang tegalan. Sampai-sampai bangunan yang seperti toko dan hotel pun disusun dan berbentuk bangunan Jepang. lalu ia sebentar merenung. sawah musiman dan kebun terlantar itu. Tinggallah Ramdan yang berjongkok menatap orang-orang yang sedang mengangkatangkat kayu dan besi itu dari kejauhan. semua kedudukan pun bisa kita capai. “Untuk siapa saja. Ia sudah bergabung dengan anak-anak pembesar di Jakarta. “Siapa yang salah?” pikirnya. Melangkah pun sudah sakit-sakitan. atau yang di Osaka atau yang di Okinawa sekalipun. Lebih dari duapuluh orang Jepang sudah membangun di daerah Sindanglaut itu. Garnida sudah naik motor Honda yang paling diidam-idamkannya dan paling disenanginya. Orang-orang Jepang itu mendengar kemungkinan-kemungkinan itu dari mulut ke mulut. yang bisa membelinya dan membangunnya. untuk ikut serta dalam pembangunan itu. Untuk pihak yang pintar. Brosur-brosur pariwisata pun sampai pada mereka. Kosasih sudah punya rumah baru dan istri baru di Sukabumi dan keluyuran dengan mobil Suzuki yang paling mutakhir. Dan mereka ingat pada beberapa kursi yang ada di sejumlah negara di luar negeri mereka yang sudah diduduki oleh bangsa mereka. Di hatinya ia merasa tertinggal. Nurseha adalah istri Kakutani.

“Tempat ini bagus. Pak.” kata Garnida. ke ombak yang bergelombang. Ia seperti menelannya. Pak Marta?!” kata Ramdan kepada Pak Marta yang duduk di kursi di depannya. Ia arahkan tatapannya ke kejauhan. Dulu saya pernah benci kepada orang-orang Jepang itu. Hati kecilnya berbisik jujur. saya belum lahir waktu itu. Pak Marta tidak sanggup menatap wajah Ramdan yang sudah kurus dan keriput itu. Kendaraannya. anak-anaknya. Ia gundah. kan?” kata Pak Marta. Pakaiannya serba baru dan mencolok. permulaannya amat sederhana. menyayat hati orang yang diajaknya bicara. Pak. mertua-mertuanya.. “Tidak mengalami jaman Jepang?” “Ah..” Ia setengah membusungkan dada. Ia sendiri diliputi beberapa pertanyaan yang tidak bisa dijawabnya sendiri. Sementara itu Kosasih datang. “Berapa umur Bapak?” tanya Pak Marta kepada Kosasih. “Alhamdulillah. mobil Suzuki diparkirnya di halaman kantornya. Tetapi. Ia menarik wajah gembira.” ajak Pak Marta kepada Ramdan. ke kaki langit. bersih. menjawab: “Entahlah.” kata Pak Marta kepada Ramdan yang tetap jongkok di dekatnya.” kata Pak Marta.” Ramdan mengikuti ajakan Pak Marta. yah.” Di tengah itu Garnida muncul dengan menaiki motornya. Di sini masih ada kursi. “Bagaimana perasaan Bapak melihat kampung ini sekarang?” tanya Pak Marta. “Wah. Ia sudah bisa membelikan mereka pelbagai barang modern yang biasa ditayangkan di televisi yang ia saksikan di rumahnya. benar bagus. Kelanjutannya jadi amat serius. ke langit yang bersih. bangkit dan duduk di kursi. orang tuanya. terjepit antara sesal dan senang. “Bapak bekerja di Kecamatan. “Jangan jongkok terus begitu.” jawab Kosasih. Pak Marta. orang tua itu. Bapak.. Daerah ini mesti dibangun. “Ya. tapi saya menolak. ke lautan yang biru. Ramdan.” Ia tidak meneruskan ingatannya. Suara Ramdan terdengar melas sekali. Sudah gemukan bentuk badannya dibanding dengan beberapa bulan yang lalu. 177 . Percakapannya menunjukkan kegembiraan yang luar biasa. “Di sini lebih menguntungkan. “Pilihanku benar.” Pak Marta cepat mengerti. Dengan ragu. “Duduklah di sini. Mukanya pun nampak licin. Pak. terutama kepada istri-istrinya. Ia merasa berjasa. Tadinya saya mau dipindahkan ke Sukabumi.“Tetapi siapa di daerah ini yang tidak tergusur. kamu sudah punya motor segala sekarang. Ia ingat.

juga tidak pernah berkenalan dengan buku-buku tentang masa lampau. Sekali Garnida bertatapan muka dengan Ramdan. Sementara itu pembangunan di daerah enclave berjalan terus. Maka ia menyelip menyambung pembicaraan: “Rumahnya. digusur. sudah seperti kelelahan jika harus berpikir. saat ini. *** 178 *) Enclave = Daerah kantong. Tak ada jembatan penghubung yang mengaitkan pembicaraan serius di antara mereka. Suasana pun seperti direka untuk jadi demikian. Ia bicara sesungguhnya. rumah orang tuanya. Pak. detik ini. September 1997) . Pak. Masing-masing dengan pikirannya sendiri. Ramdan mengetahui silsilah pembelian motor itu.” “Ya.“Maju yah. (Dimuat dalam Horison. mengikuti pihak yang menginginkan. Hasil kerja di sini?” tanya Pak Marta. Dan yang tua serta yang muda. Ia terhitung pemuda masa sekarang yang diusik oleh pelbagai tayangan barang jualan di layar kaca dan hanya memikirkan masa ini. hari ini.” kata Garnida. Pak Kosasih membujuk kami. Ia pindah ke kampung di balik bukit itu. Ia tidak menatap ke masa depan.

Pak RT bukan kepala keluarga teladan. Bapaknya Iwan berpatungan dengan Pak Lurah.Horison. dia bahkan semakin mengkhianati program pemerintah: dia ingin menambah dua atau tiga anak lagi. dia sering mendapat persenan keuntungan menjual tanah atau rumah di kawasan sana. Iwan adalah sulung dari empat anak. Tetangga lebih banyak membeli kurang dari satu kilo. mendirikan usaha penjualan kayu. Satu on. Pak RT sanggup mencarikan. Sudah tiga tahun bapaknya Iwan menjadi RT. Sekarang setelah rezeki semakin deras datang. uang yang dia terima cukup untuk membeli sebuah rumah reyot di pinggir jalan. Dua anak lelaki. Kini masing-masing mengelompok.” Istrinya tidak menanggapi. Agustus 2000 Jati Diri Oleh: Nh Dini 179 Pak RT tergesa masuk. bertanya kepada istrinya: “Mana Iwan?” “Belum kelihatan. Dan bila orang memerlukan barang yang tidak nampak di situ. ditata di rak warung. semua keperluan MCK.” “Jum’atan apa tidak dia. setengah dan satu kilo-an. Semua tergantung pada komisi yang disepakati. orang Jawa bilang: Sendang kapit pancuran.1 . tidak jauh dari pasar Jatingaleh. Dia memang mahir mempengaruhi calon pembeli. paving. lebih dari tiga. dua perempuan. Perempuan itu sibuk menghitung bungkusan gula pasir yang baru selesai dia timbang. karena Pak RT seperti berbicara kepada dirinya sendiri. Karena dekat dengan Pak Lurah. buat apa rezeki kalau tidak untuk membangun keluarga besar! Padahal. Lalu bapaknya Iwan menjadi terkenal sebagai makelar tanah dan rumah. ubin. Kebetulan yang perempuan berada di tengahtengah. karena anaknya lebih dari dua. Dia pikir. tempat yang telah dia miliki itu sudah sangat pas. seperempat. Pada suatu ketika. Maka kantung-kantung plastik kecil lebih banyak terisi di rak-rak itu.

semuanya berubah bagi Iwan. Bapak-bapak. Penduduk sekitar tetap banyak yang tidak mampu.” Atau: “Muda-mudi itu harus ada yang mengarahkan.” Iwan hidup di luar. Pintu-pintu bisa dipasang atau dicopot. karena bisa berbuat apa pun sesuai kemauannya. Pak RT masih mengurusi usahanya. Jika ada tetangga yang usil bertanya mengapa dia begitu cepat pergi lagi keluar rumah. Ketika rumah di samping dijual. Bagian depan. Keluarga Pak RT kelihatan sejahtera. Lalu dilengkapi meja-meja pendek. sekaligus mengurusi muda-mudi kampung. seluruh kepanjangan dinding tertutup bahan yang sama. Kini lantainya keramik putih berkilau. Adiknya yang terkecil delapan tahun. Tapi mereka menyukai Pak RT yang selalu penuh pengabdian. Karena bapak itu jarang berada di rumah di saat Iwan pulang untuk makan siang. Dia bebas. Tetapi tak satu pun anggota keluarganya memperhatikan. jawabnya yang paling sering adalah “Saya harus ke pertemuan. Dia baru lulus SLTP. Sore ketika kebanyakan keluarga berkumpul. Atau bila tiba-tiba pulang sebelum pukul tujuh. menjadi gadis kecil dan berani memprotes: “Bapak pergi-pergi terus! Kalau tidak di toko. Katanya. Rumah berganti ubin. menggerombol bersama teman-teman sesama seragam SMU di perhentian bis. Semua nampak bahagia. Rokok yang dihisap bukan lagi merk dikenal. Dengan begitu. sekaligus selalu repot di toko material bangunan.” 180 . “Ini untuk pertemuan-pertemuan. menjadi bangsal aula cukup besar. melainkan lintingan daun kering yang mampu membikin perasaan melayanglayang. di warung-warung kopi atau di kios rokok yang juga menyediakan minuman pembakar tenggorokan.Ketika ayahnya menjadi RT. nyaris menjadi anak jalanan. Pak RT langsung membelinya. usia Iwan 16 tahun. Dan sejak ayahnya mempunyai kedudukan tersebut. “Aku tidak punya waktu. adik Iwan yang paling cerewet menginginkan ayahnya kadangkala datang ke sekolah mengambil rapor seperti orang tua. Lalu diteruskan: “Biar ibumu yang pergi. Dia bikin sebuah ruangan polos.” Adik Iwan sudah berangkat remaja.” itulah jawaban Pak RT. Di situ tikar digelar. sehingga terang memantulkan cahaya hari.orang tua lain. PKK. Tubuh Iwan kurus kering. Dia merasa hidup lebih leluasa. selalu di kelurahan!” Anak-anaknya sangat hafal dengan jawaban Pak RT: “Di toko aku tidak menganggur! Aku mencari uang buat kalian! Buat kita!” Yuni. Mak kalian dan aku tidak akan sering berada di luar. dia bergegas mandi lalu pergi lagi memimpin pertemuan ini atau itu di salah satu ruangan kantor kelurahan. muda-mudi rapat di sini.

pembantu yang dua orang ditambah satu lagi. “Apa kamu naik kelas nanti kok minta dibelikan kendaraan. akan lebih mudah disewakan buah pindahan atau lainnya jika bak belakang selalu kelihatan bersih. "Tidak usah baru. dilanjutkan dipasrahi membina kaum muda di sana. Selalu ada yang lewat. lalu membantu mengerjakan ini atau itu. Di lain waktu. aku tidak perlu memngawasinya. Bisa dibayar dua kali. kendaraan yang kedua itu melulu hanya untuk mengangkut bahan-bahan kotor. “Bikinkan aku warung. Tapi pekan kemarin dia tambah satu lagi. Kebetulan memang bapaknya Iwan sedang berpikir-pikir akan menambah sarana penataran pesanan yang semakin sering datang. Sama seperti suaminya. berjalan kaki menuju rumah yang terletak tidak jauh dari masjid. adik atau saudaranya ipar. dia ingat harus menanak nasi atau menjemur cucian. sambil katanya: “Apa boleh minta tehnya? Buat satu kali cem-ceman2 saja. Mereka pulang bersama. Asal masih bagus jalannya. Kemenakan. Iwan mengeluarkan kalimat yang sejak beberapa pekan didiktekan teman-temannya. Aku ingin mencari uang sendiri. ada tetangga yang berani berkata. meterai. Di mana-mana orang memerlukan kayu. Ibunya Iwan tidak lupa menyumpalkan uang dua ribu ke dalam genggaman si tetangga. Kadang-kadang menjadi tiga jika saudara ibunya Iwan datang dari lereng gunung Sumbing. Sambil makan.” Ternyata dagangan itu pun berjalan lancar. Dia minta dibelikan kendaraan. Kali itu Iwan bahkan makan siang di meja keluarga. Orang terus membangun.Di waktu itulah ibu Iwan berkata kepada suaminya. Buat sekolah. tiba-tiba.” Dan kalau itu sudah diberikan.” suara Pak RT tidak bertanya. “Kamu sudah memperbaiki prestasimu di kelas? rapormu yang paling akhir jelek sekali. siapa saja yang berasal dari desa sama. semula dia sediakan satu kendaraan bak terbuka. Itulah salah satu sebab mengapa bapaknya Iwan menjadi RT. Sekarang. Pasangan itu banyak menolong dan membantu penduduk sekitar.” Ibunya Iwan baik hati. menawarkannya kepadanya. Hanya kebutuhan rumah tangga sehari-hari. karena seorang kenalan terdesak kebutuhan uang. Kebanyakan penduduk di sana tidak seberuntung keluarga Pak RT. bahkan perangko. Bapak dan ibu mabok dengan keberhasilan mencari uang.” Pak RT punya sebuah kijang. turut bersembahyang Jum’at di belakang ayahnya. Beri aku modal. Yang terkumpul adalah ibu. Pada suatu siang. Pak. dia terkenal sebagai orang yang tidak tega. Yang dijajakan di warung bertambah: alatalat tulis. bukan?” 181 . ada yang sampai hati menunjuk stoples di atas rak. Sedangkan yang pertama. Iwan sengaja memperlihatkan diri. Kecil-kecilan saja. obat-obatan. selain buat keperluan toko. Dan karena rezeki berlimpahan. minta gula dan kopinya saja sedikit. Sekarang anak-anak sudah besar. Kemudian. lalu singgah. ayah dan dua adiknya. Pembantu itu bisa bertambah lagi di saat tetangga datang mengobrol. Untuk toko. “Kalau boleh. Mereka selalu kekurangan. batu atau pasir.

Hal ini agak mengejutkan Iwan. di waktu malam. Dia yang paling lama memiliki kendaraan. Karena badannya lebih tinggi dan besar dari anggota kelompok itu. Lebihlebih menyuruhnya belajar. Seusai sekolah. Anak-anak repot. sulung. sampai mobil-mobil dan kendaraan roda dua lain yang setengah rongsokan. Rumput ilalang bertumbuhan nyaris setinggi orang.. Lalu alur keseharian kembali seperti semula.. Jika pertandingan akan diselanggarakan di sana. “Kalau Khodir yang bawa kendaraanmu.. kena hujan.” tiba-tiba si ibu ikut urun bicara. “Sampeyan3 ini bagaimana! Punya anak lelaki.” kata kawan Iwan yang lain.” kata Iwan lagi. aku bisa mengantarkan Yuni setiap pagi. “Apa lagi ini nanti musim hujan. Dan karena merasa permintaannya tidak bakal terpenuhi. atau mana yang dia harap ada. kendaraan umum selalu datang terlambat karena jalan macet. terjadi kebut-kebutan. Dia keluar masih mendengar omelan Mak terhadap suaminya. Yang dia katakan tadi entah merupakan kebohongan yang keberapa kali yang dia ucapkan sejak pagi hari itu. Minta kendaraan saja. Dan dia tidak khawatir ayahnya akan menyelidiki kebenarannya. berlanjut biasa...”. Yang dia inginkan demikian. Iwan meninggalkan rumah sebelum keluarga selesai menyunyah pisang. semua teman Iwan sungkan kepada Khodir. Aku mendapat resep baru dari tetangga yang datang dari gunungkidul. Sudut dan selinapan yang dekat pagar dibiarkan. “Di kelas.”. Tetapi Pak RT tidak termakan oleh rayuan si anak. Teman-temannya menyuruh Iwan mengambil uang di warung Mak. Kadang-kadang. Karena Iwan semakin sering mengatakan hal yang hanya terjadi di kepalanya.. Tetapi pemanfaatannya sangat kecil. Iwan termakan oleh gosokan itu. Stadion Jatidiri besar. sehingga dia sendiri terjerat dalam khayalannya. Herman-lah yang mengepalai. kenyataan dan harapannya sudah begitu menyatu. Bisa turut berpacu di Jatidiri. 182 . Sebetulnya merupakan kebanggaan penduduk ibu kota propinsi.” dan yang disebut Khodir mengangguk-angguk. tidak dimanja. Lalu kita bisa bikin oplosan lain. Pak RT tidak pernah menunjukkan kepedulian tentang kehadirannya. “Benar.Rupanya si ayah masih ingat juga bahwa anak sulungnya mencetak empat angka di bawah sedang di catur wulan yang lalu. sehingga tanaman dan perdu liar berduri berdesakan menjadi sarang aneka binatang melata. temannya yang paling menonjol. ruwet menjadi satu.. menjadi kernet omprengan. Di sana mereka juga menghambakan diri pada kemaksiatan berjudi. kita bisa cari uang. Di mana ada kegiatan berkelompok. “Kalau punya kendaraan sendiri. Kini teman-teman itu menyulut api pemberontakan terhadap Pak RT: “Ayahmu kaya. “Itu benar. Di sanalah. Padahal seharusnya kamu yang dibelikan kendaraan! Minta saja! Kalau kamu punya roda dua. Baru saja membeli kendaraan lagi untuk tokonya. barulah bagian-bagian tertentu dirapikan. Karena dalam keseharian.” begitu kata Herman.” Iwan kelihatan tidak was-was mengenai angka-angka di rapornya. pasti kita menang. Pemuda-pemuda tanggung memacu kendarasan mewah beroda empat atau dua. Mereka tidak hanya melampiaskan nafsu mengatasi lawan dengan kecepatan. Mana yang sungguh ada. Kebohongan memang sudah mendasari hidup Iwan. tinggal aku yang belum punya kendaraan.

Rambutnya masih basah dan belum disisir. Terakhir dia masukkan uang kemarin malam. Dia mau buka usaha. pagi Iwan dan Yuni disuruh mengambil uang sendiri di kotak di dalam laci. Baru muncul hampir petang. untuk apa uang itu. dadanya kerempeng. “Kuberikan kepada Herman. lalu akan mengenakan baju.” Mak harus puas dengan jawaban tersebut. dia tunggu lagi sampai anak itu mandi. Paling-paling lima ribu. Mak tunggu anak sulung itu seharian. Hati Mak tenang.” lalu dari saku celana seragam yang kembali dia pakai. menggosok rambut dengan kain apa saja yang tersampir di sana. Mak turut masuk kamar. Tidak banyak. bahkan nyaris merayu si anak. Biasanya. “Ini sisanya. “Nanti kalau usahanya berjalan. Kalau ada keperluan sekolah bisa sepuluh atau dua puluh ribu. Dia mengira anaknya marah karena permintaannya ditolak Pak RT. Tadi siang kamu juga tidak pulang makan. “Pasti Iwan yang mengambil!” kata Mak seorang diri. “Makan dulu! Kamu kurus. meneruskan bicaranya. sudah menyambar tas dan melangkah ke pintu kamar akan keluar. Mak lega. Rupanya baru kali itulah dia menyadari betapa kurusnya si sulung yang dia banggabanggakan.” kata Iwan lagi. dua ratus ribu lebih sedikit. “Apa usaha temanmu?” “Bengkel kecil-kecilan. Besok pagi langsung ke sekolah.” Mak menghitung. Di sana tentu disuguhi makanan. pada suatu pagi ketika Mak akan membuka warung. Alangkah terkejut dia melihat tulang iga Iwan yang mencuat.” “Aku jajan bakso tadi.” Iwan menyahut. Sampul coklat masih ada tetapi kosong. Tapi tidak apa-apa. “Mau ke mana?” Mak bertanya. Tenang dan tanpa ragu Iwan menyahut. berhenti lalu katanya “Minta Rp 10. Mak takut bicara kasar. Apa lagi. “Mau belajar bersama teman-teman. di muka sekolah. jumlahnya mendekati tujuh ratus ribu. Mak bertanya lembut. Diberikan kepada Mak. Mukamu pucat. karena si sulung sudah berlalu. tangannya mengulurkan satu lembar sepuluh ribuan.” Lalu Iwan terburu-buru. menutup kancing baju. Herman akan mengembalikan. bersama tukang pompa ban. terkejut bukan kepalang karena uang yang dia selipkan di belakang stoples di rak paling atas hilang. Iwan pergi untuk belajar di rumah kawannya.Hanya. “Ke mana?” Mak masih mengikuti. anaknya bawa 183 . Mak bertanya mengapa mengambil uang sebanyak itu. kasihan tidak punya modal. Malahan mungkin dengan bunga.000. dia keluarkan gumpalan uang lusuh. Mak”.

dua hari kemudian orang tua diminta datang mengambil rapor. 184 .” dan Mak itu hampir melepas lanjutan kalimat. Ketika kepala sekolah merasa sudah cukup mengorbankan waktunya untuk mereka. Herman sudah dua bulan tidak masuk. Anak Ibu pulang ke rumah setiap hari. “Usaha apa?” hampir serempak mereka yang berada di sana bertanya. Itu baik. “Dia berangkat sekolah setiap pagi. tidak tahu bagaimana harus menjawab secara tepat.uang. tidak nampak di sekolah sejak empat hari. tapi Selasa. Itu memang baik jika memang demikianlah kejadian yang sesungguhnya. Rupanya. Mak senang.. Ibunya Iwan. bukan?” Mak kebingungan. Juga hadir dua guru.” kata kepala sekolah. mandi atau untuk keperluan lain. Jangan sampai terlanjur mendapat pengaruh buruk dari jalanan.” istri Pak RT berkata membela anaknya. “Bukankah Herman membuka usaha di depan sekolah?" Ibu Iwan merasa perlu mengutarakan pengetahuannya. bahwa Iwan mengambil uang banyak sekali dari warungnya untuk ‘dipinjamkan’ kepada temannya itu. Kami kira.. tidak keluyuran. Mak yang berangkat. kalau Iwan pulang makan. ya dia pasrahkan saja ke bawah Lindungan Yang Maha Kuasa.” akhirnya itulah yang dikatakan Mak.” Dan yang lebih-lebih mengejutkan para orang tua kedua teman Iwan. “Hari Senin masih masuk. dia menganggapnya sudah besar. Tetapi kalau anak itu tidak kelihatan. “Kami menerima uang tes. Pak RT tidak pernah menyuruh-nyuruh anak itu berbuat begini atau begitu. Kepala sekolah menemuinya bersama sekelompok orang tua lain di ruang tersendiri. Khodir berkali-kali mangkir. Rabu sampai hari ini tidak kelihatan. Maknya Iwan menjadi ragu. Iwan sendiri. Seperti biasa. menanggapi. Rapor anak-anak itu semakin lama semakin jelek. Banyak makanan dijajakan di malam begitu. “Dia pulang sore. Katanya banyak tambahan pelajaran. ialah anak-anak mereka sudah setengah tahun tidak membayar uang sekolah. Seorang guru melihat ke buku catatan. Dengan suara terbata-bata. Sudah tahu sendiri apa yang harus dikerjakan. maka kami memberi kelonggaran mengikuti tes untuk akhir catur wulan. Sekarang. “Buka reparasi kecil-kecilan bersama tukang ban. anak-anak mereka tidak naik kelas. Mak berpikir. katanya. Yang paling nampak adalah ibu Herman. Mendengar itu. Jadi Mak juga meniru suaminya. dia memutuskan: “Sebaiknya ibu-ibu berbicara kepada anak-anak Anda. Kecuali Anda. lebih baik mengetahui anaknya berada di rumah teman. bisa jajan. Sejak si sulung lulus SLTP. ibu-ibu akan melunasi uang sekolah sekarang. Dan yang sesungguhnya terjadi ialah.

saya juga dengar. sopir taksinya ditusuk pakai obeng.” Disambut dari sisi lain: “Ya benar. Kami semua tahu bahwa Pak RT pasti hadir meskipun kami harus menunggu. “Apa beritanya sudah masuk koran atau televisi?” “Kok belum ada. Ada sopir taksi yang dirampok katanya. Padahal katanya. Para pelayan sudah terdidik.” kata-kata lain yang dimaksudkan lebih manis terdengar dari pojok lain. mulutnya mengunyah gorengan bergedel jagung penuh minyak. Bu. Pak RT tetap belum pernah terlambat mengikuti rapat kami!” “Sebetulnya malahan kami yang merepotkan Bu RT. Sementara itu orang mulai berdatangan memasuki ruang pertemuan. “Anu 4. Gelasgelas itu diletakkan oleh pembantu di atas meja rendah yang berderet di tengah. mengelilingi tiga atau empat piring berisi kudapan. ini kami sedang memperbincangkan berita yang didengar tukang rokok di depan Karangrejo. Kami minta maaf. “Tidak apa-apa. tetapi semua tahu bahwa mengikuti pertemuan di rumah Pak RT tidak pernah rugi. Dan selalu ada yang menjawab. sesuai pilihan masing-masing.”tanggap Pak RT sambil menempatkan dirinya di atas tikar. Mereka pulang berpeluang mengantongi paling sedikit satu pak kretek atau filter. “Maaf! Maaf! Saya terlambat!” kalimat itu selalu mengiringi masuknya Pak RT ke dalam ruangan. Kaum muda lelaki dan perempuan.” sahut seorang guru. serunya. Selain di situ suasana cerah. Kami 185 . Tetapi saya jarang melihat Iwan mengikuti tambahan pelajaran itu. Untuk beberapa saat terdengar pembicaraan. juga selalu banyak makanan dan rokok.” “Ya. lalu mendongak ke arah dalam. Begitu pula para pendatang.” sahut Pak RT.“Memang banyak ekstra kurikuler. selalu merepotkan ibu. “Bu! Tehnya ditambah!” Pembantu-pembantu meyorongkan ceret berisi tambahan minuman. Ini kami sudah mulai menikmati hidangan. “Silahkan! Silahkan! Direruskan saja.” seseorang menjelaskan. Tanpa menunggu lama. Walaupun tidak semua dari mereka itu aktif mengerjakan sesuatu guna membantu kelancaran organisasi kampung. Pak RT orang yang sibuk. masing-masing tamu sudah mendapat jatah teh manis. Pak RT. pria-pria lajang atau yang telah berumah tangga tapi lebih suka menghindar dari kerepotan anak tak hentinya memasuki pintu di sebelah ruang tamu Pak RT. mengerti. lalu mengenakan baju berkerah dan sarung. Petang itu Pak RT pulang setelah panggilan shalat Maghrib dikumandangkan. Tergesagesa dia mandi dan melunasi tiga rekaat.

Pak RT membiarkan pintu terbuka. Televisi di sudut ruang dinyalakan. Dia menggandeng lengan orang yang baru datang. Satu kali bertanya kepada tukang becak. seorang di pagar. menariknya menjauhi pintu. menyumpalkannya di antara gigi besarnya. “Ayo kita mulai membicarakan lapangan volly saja! Jangan ngurusi rampokan. Begitu nampak terpikat dia sehingga sejak melangkahkan kaki ke dalam rumah petang itu. “Selamat malam. Penjual mi ayam pagi-pagi di depan toko saya yang cerita begitu. mereka santai menonton. “Bapak Rajiman?” “Ya. Dia kelihatan sibuk. bakso atau sate. Atau paling lambat setengah sepuluh.” sahut Pak RT. Itu biar diurus polisi!” kata seorang lelaki yang duduk tidak jauh dari pintu masuk. satu pelaku sudah diringkus. Bau daging bakar berbumbu memenuhi udara malam lembab. dekat sekali! Kok polisi tidak sampai ke sini ya. menemui si pendatang.” lelaki yang terdekat dengan pintu melongokkan kepala memberi salam. Terdengar suara bebincang rendah. mengatakan gagasannya.” “Yang saya dengar. memanggil penjaja makanan apa saja: mi kopyok. saya sendiri. membantah. Yang lain-lain kabur!” “Ya. kita tidak akan selesai sampai besok pagi. Ada tiga lelaki lain. tak satu kali pun ingat apakah dia sudah melihat anak sulungnya hari itu. Seorang di tengah-tengah halaman. Dua orang turun. Sebuah jip memasuki kampung pukul sepuluh lebih sedikit. Kelihatan kepala Pak RT tertegak. seorang lagi duduk di belakang kemudi. Malam itu. Mereka bersama Pak RT menikmati sate ayam dengan lontong kenyal. Rundingan yang disebut rapat pun dimulai. “Di situ saja! Di dekat Jatidiri!” “Wah. Tetapi tidak jarang Pak RT menahan dua atau tiga tetangga. langsung menuju pintu yang terbuka. tiduran atau bersandar ke dinding.” Pak RT mengambil satu bergedel lagi. tiga tamu belum meninggalkan ruang pertemuan. kemudian berhenti di depan rumah Pak RT. Mereka makan dan berbicara. Satu kali menengok ke arah dalam rumah.“Di mana kejadiannya?” Pak RT bertanya. mengenai itu juga saya dengar.” sahut suara lain. Pertemuan demikian diusahakan berakhir pukul sembilan. Serius atau santai. 186 . Mereka ngelantur mengobrol. Pak RT bangkit dari tikar. Dia juga belum diberitahu oleh istrinya bahwa Iwan tidak naik kelas atau pun mangkir sekolah pekan itu. “Betul! Betul! Kalau tidak. sementara kotak kaca dibiarkan terus menyiarkan tayangan yang dipilih. Yang penting Pak RT tidak makan lagi. Mata bapak itu melirik ke kejauhan. berbicara.

Percakapan yang kacau menyusul perbantahan di antara penghuni. kakinya ditembak.*** 187 1. 4. Nama Iwan disebut-sebut. Juga sebuah kotak korek api penuh butiran obat terlarang.” Lima menit berlalu sejak kedatangan tamu baru itu. . Bukan untuk berbicara. Biar pintu ditutup. Kamu dua pancuran. “Maaf. sudah mengenakan celana panjang. Pak RT harus memberitahu polisi alamat semua kenalan atau saudara yang mungkin dijadikan tempat bersembunyi kedua remaja itu. Katanya singkat kepada tamunya yang baru menikmati daging sate.Dua menit kemudian Pak RT masuk kembali. Serse memberitahu bapaknya Iwan.. “Saya dan ibunya membanting tulang memutar otak untuk mencari uang. Sumber air/telaga terletak di antara 2. “Sudah hampir seminggu Gus Iwan tidak pulang. Pak RT menyetir kendaraannya mengikuti jip keluar kampung.” Lalu Pak RT muncul di pintu. Belum ketahuan pasti jenis apa. Dia berlari ketika polisi menyelidiki kasus perampokan dan penusukan sopir taksi dinihari sebelumnya. Silakan Anda pulang. Dia adalah satu dari mereka yang selalu dibantu Pak RT supaya bisa hidup berkecukupan. Teh kental 3. Karena tidak mau berhenti sewaktu dipanggil. langsung menuju ke rumah induk. Dia memanggil-manggil. Sesaat berlalu. biasanya dipakai karena gugup atau sungkan . “Saya tidak tahu apa maunya anak-anak ini!” kata Pak RT seperti kepada dirinya sendiri. saya harus pergi. Di sakunya terdapat bungkus rokok berisi lintingan ganja siap pakai. bahwa Khodir ditangkap di terminal Jatingaleh. Tetapi nyatanya. Maka ketahuan bahwa dia membawa senjata tajam. Tugasnya malam itu adalah menemani Pak RT. Supaya mereka hidup layak.. jelas terdengar bahwa waktu istirahat seisi rumah terganggu. Khodir mengaku bahwa dia melakukan perampokan dibantu oleh Herman dan Iwan. Kata tambahan dalam bahasa Jawa. Tiba-tiba ada suara pembantu lain yang lebih jelas. bisa sekolah.” Tetangga di sebelah Pak RT tidak berani mengeluarkan pendapat. Seorang tetangga duduk di sampingnya. Dia menawarkan diri menemani Pak RT ke kantor polisi.

Ketika meninggal ia masih pimpinan beberapa yayasan. Tidak. Namun di bagian kota lainnya langit digantungi mendung gelap dan bumi di bawahnya mungkin disiram hujan. Masih berbayang di ingatanku bagaimana mulanya. katakanlah tidak memalukan — termasuk Aditi kecil. di bawah matahari silau para pelayat datang dari mana-mana untuk menghadiri pemakamannya. Silau. Tubuh ayah yang gemuk seperti ulat itu terbaring sehat-sehat saja. melawan penderitaan di hari-hari sekaratnya yang panjang. September 2000 Upacara Hitam Oleh: Abrar Yusra 188 Langit di atas kepalaku terpentang biru. bagaikan organ-organ di dalam tubuhnya dipelintir tanpa ampun oleh tangan-tangan buas yang tak kelihatan. Sebaliknya justru merupakan permulaan bagi kesedihan besarku. Siapa tahu. Aku menatap matahari. Walikota pun ikut berjubal di tengah khalayak dan kini di panas terik ia dengan takzim sedang menyampaikan pidato kematian yang panjang dan entah kapan habisnya. sewaktu-waktu dalam waktu pendek ayah pun berteriak-teriak dan tubuhnya menggelepar-gelepar melawan sakit. “Di sini. mengirimkan sinar matahari yang menerobos menyilaukan mata. Tapi apa peduliku. Sebab yang paling merisaukan sebenarnya adalah saat-saat ayah bergulat di pembaringan. Namun ia adalah salah seorang tokoh masyarakat yang begitu dihormati di kota pantai yang berpenduduk sekitar 400. Lihatlah. “tapi sudah hilang sendiri!” . Tapi aku tahu hati mereka lebih cerah karena ayah sudah meninggal dunia.” bilang ayah. sambil menepuk perut dan menitikkan airmata kesakitan. Ayahku bukan pejabat atau tokoh politik. Masing-masing memasang muka dan pakaian berkabung yang sedemikian pantas. silau juga. Ayah berkata. Pada hari pemakaman ayahku alam pun tidaklah adil. Ganjilnya. Dengan datangnya kematian ayah kami maka kesedihan besar pun berlalu bagi adik-adikku.Horison. Aku memandang khalayak.000 jiwa itu. jangan-jangan mereka justru tertawa di hati masing-masing! Di deretan depan kulihat adik-adikku. Maka bukitbukit kuburan seperti jadi lautan manusia. Gelap. Dan panas terik seolah membakar udara pantai.

Tapi makin lama makin sering. Ayah pun ragu apakah ia betul-betul sakit. lalu mengerang-erang melepaskan kata-kata tak jelas yang berlepotan dari mulutnya. Rencana untuk membawa ayah atau mendatangkan dukun ditolak ayah mentahmentah. Baru saja sekali enam hari. tiba-tiba ayah menggelepar-gelepar dan berteriak-teriak keras kesakitan. Maka hidup ayah jadi aneh. Siapa pun maklum bahwa kematian ayah memang tinggal soal waktu saja lagi. Aku suka sikap terbuka para tetangga demikian. “Tak ada gejala penyakit apa-apa.” cemooh ayah tertawa. nyatanya serangan sakit demikian datang lagi lantas hilang lagi. di antaranya tanpa bersuara main halma atau main kartu. Nampaknya seperti untuk bersenang-senang. ketika sedang tidur atau lagi ngomong baik-baik. Makin lama muka tua itu makin berkerumuk. Ayah sendiri sudah mulai menolak berbagai undangan rapat dan ceramah yang biasanya tak pernah dilakukannya. Sesudah berlangsung beberapa bulan masih belum ada dokter yang mampu mengenal penyakit ayah. Kami anak-anak ayah tidak puas dengan hasil pemeriksaan dokter. Kami benar-benar kalang kabut. kapan saja di mana saja.” kataku. juga tanpa hasil apa pun. “Lebih baiklah kalau ayah di rumah saja. Dan sejak ayah mengalaminya di dalam mobil lalu ketika sedang berpidato. Ya. Seolah hanya diserang penyakit yang lucu. Mereka datang memang untuk sekedar menghibur atau menunjukkan rasa akrab pada kami tapi bukan menunggu atau mengharapkan kesembuhan si sakit. Makin cekung dan sepi. Tapi ayah merasa perlu mendatangi sendiri seorang dokter spesialis di pusat kota. Ia lebih banyak tidur dan makin lama hanya terjaga bila rasa sakit menyerang lagi tanpa ampun. 189 . Yang tinggal hanya para tetangga. perlu diobati atau tidak. Namun jika serangan penyakitnya datang.Ayah malah mencoba tertawa. Maka para pengunjung pun pada berdatangan ke rumah. “Masa panitia yayasan rumah sakit diobati dukun kampung?” Serangan penyakit aneh itu mulanya sekali dalam 20 hari. Malam itu para pengunjung sudah pada pulang. lalu sekali tiga hari! Kini sewaktu-waktu ayah bisa terserang rasa sakit. sehingga membuatnya capek. serangan sakit itu datang sendiri dan hilang pula sendiri. Penyakit itu menganiaya ayah dengan semena-mena benar. Malah ayah bisa tertawa keras meskipun tubuhnya lebih kurus. apalagi mengobatinya. Sebab seperti semacam misteri. Berita bahwa ayah sakit segera terbetik ke mana-mana. seolah ia sudah sembuh. maka ayah tidak kami perkenankan keluar rumah sendiri. “Jangan. makin sering saja. Ada yang ketawa sebab mendapati ayah biasa-biasa saja. Lalu kami mendatangkan sendiri seorang dokter ke rumah di pinggiran kota. Maka ayah kami bawa ke dokter spesialis yang lain dan tak ada hasilnya.“ kata dokter. tak peduli sedang ada tamu atau tidak.

ampun!” Lalu dengan sisa-sisa tenaganya yang amat lemah.Sudah larut dinihari. Lalu ia bilang dengan suara tenang tapi terang. Itu seperti dongeng dari dunia dan zaman lain. Nak!” suara si kakek lagi. Aku di kamar tidur ayah dihinggapi perasaan aneh: aku serasa mau sinting karena ayah tak sembuh-sembuh juga. Seperti digerogoti setan. si kakek itu lagi. Yang geresehpeseh bahasa Inggeris. Ia tersenyum. Ayahku meraung lagi. Maka aku berdoa untuk kematian ayahku. punya mobil. Seolah menampik hidup dan penderitaan.” Aku menatapnya tak berdaya. “Ampun. Adik-adik sudah pada tidur. ayah seperti memohon: “Biarkan aku mati. bahkan ilmuilmu hitam. Nah. “Harus kaulakukan sesuatu. maka: “Jangan!” rintih ayah tak jelas. Segala cara kami lakukan untuk itu. Tapi aku lebih kenal ayahmu sebab dulu kami pejuang gerilya yang harus mencari senjata dan bertempur. “Kambuh lagi?” Aku mengangguk. Maka kudengar langkah-langkah memasuki pintu kamar. Tak tahan menyaksikan tubuh ringkih itu kembali menggelepargelepar. Rasanya berdosa membiarkan ayah hidup eh sakit teraniaya demikian. Sinar hidup dari matanya sudah padam! Aku serasa mau gila. Tak tahu aku. rupanya ia sudah selesai menutup jendela-jendela. Tak ada daya untuk melawan perkosaan penyakitnya. Setelah berbulan-bulan maka seakan baru benarbenar kusadari bahwa tubuh ayah yang gemuk seperti ulat itu kini sudah keropos seperti kepompong busuk. “Kamu kenal siapa ayahmu. seolah mataku dapat mengikuti atau membayangkan suatu makhluk tak dikenal bergedencak dalam tubuh ayah seperti seekor binatang liar seradak-seruduk di bawah selimut. 190 . Ia sudah melihat dengan mata kepala sendiri bahwa malam itu serangan sakit ayah paling menjadi-jadi. Dan di ruang tengah kedengaran tamu terakhir yang sebelumnya bersamaku menunggui ayah sedang menutup daun-daun jendela. mati!” Maka ayahku menangis. Yah. Muka cekung ayah sudah menghitam. Hanya kematian yang mungkin mengakhiri penderitaannya. Konon ia teman ayahku dulu. Tapi kematian rupanya tidaklah ditentukan oleh permintaan dan desakan seseorang. Keterlaluan penderitaan orang tua itu. “Saya bisa membantumu. Termasuk berguru ilmu-ilmu kebatinan. tinggal tulang-tulang dibalut kulit keriput. barangkali juga pingsan lagi. Seolah raung itu pun menghabiskan cadangan tenaganya. ya ndak! Tahu apa itu ilmu hitam?” Aku hanya melongo. Seolah mau bilang apa pun akan kulakukan asal ayahku tak dizalimi penyakit yang misterius itu lagi. Aku gemas kenapa ayah tidak mati-mati juga. apakah harus menerima atau membantah kisahnya. Bagimu mungkin ia seseorang yang hebat. “Bagaimana beliau?” ia bertanya. pemimpin masyarakat yang modern.

itulah yang diseru dalam mantra-mantra dengan nama Si Bujang Hitam atau Si Anjing Hitam!” Panjang juga uraiannya. meskipun aku tak merasakannya! Dan ayah pun. Tapi itulah suatu kematian paling ganjil yang pernah kukenal. bahkan paling terkutuk. justru tidak sedih atas kematian ayahku. benar-benar iblis.“Sederhananya ilmu iblis. Kalau aku tidak malu. benar-benar tidak adil dan menakutkan seperti mimpi buruk! Dalam hati aku menyumpahnyumpah karena aku kehilangan makna diriku sendiri. Betapa terkutuk nasibku!*** 191 . Tapi Si Hitam terus bergedencak menyiksa ayahku yang terkapar tidak hidup dan tidak mati. Sebab aku tak pernah membayangkan bahwa kematian ayahku harus kutebus dengan mewarisi keiblisan dan iblis ayahku dalam suatu upacara paling gila malam itu. Maka jalan terbaik bagimu. Bahkan aku ingin seperti itu! Ternyata ayahku memperdayakan orang-orang yang mengaguminya dan menjahanamkan aku. Sebab kubayangkan. apa pun artinya. Maka beliau akan meninggal dengan tenteram!” Ketika tubuh ringkih ayah menggelepar-gelepar lagi maka aku seolah benar-benar sedang dalam cengkeraman mimpi buruk. yang sempat sadar pada detik-detik terakhir. anaknya. cukuplah di sini kukatakan bahwa ilmu hitam terkutuk itu mengakibatkan maut pun menolak tubuh ayahku. yah. karena aku kasihan padanya! Dengan perasaan kosong kulihat mayat ayahku diturunkan ramai-ramai ke lubang kuburan gelap. jika memang hanya itulah cara agar Si Hitam keluar dari tubuh ayahku — sesuai dengan persumpahan ayahku! Tak usahlah kukisahkan bagaimana dengan bantuan si kakek itu. _tidak.! Kini di bawah matahari. betapa terkutuk! Ternyata aku tidak siap untuk itu. di tengah khalayak ramai yang memenuhi bukit-bukit kuburan jelaslah bahwa memang ayahku sudah meninggal dan dihormati penduduk kota selayaknya. kami berhasil membebaskan ayah dari penderitaannya. malah sepertinya aku ingin mencincang-cincang mayatnya dengan pisau. hina dan memalukan. Aku sendiri. Tapi sejauh yang dapat kutangkap. Lalu ditambahkannya dengan suara tenang juga: “Si iblis itulah yang menzalimi beliau.. seolah kulihat nyata_. yang berjuang dengan cara-cara terhormat. Cara mati ayahku yang terkutuk itu hanya menjanjikan bahwa masa depanku tidaklah lebih dari pengulangan atau pelanjut kebusukan ayahku sendiri. Seseorang yang memelihara ilmu hitam sebenarnya memelihara iblis dalam dirinya. serta mulut komat-kamit begitu lemah. sebab demikian firman Tuhan tentang iblis. Tak dapat kubayangkan bahwa iblis itu. Maka tanpa pikir lagi kukatakan pada si kakek bahwa aku mau memungut Si Hitam. Sebelumnya aku selalu mengagumi ayahku dan membayangkannya sebagai tokoh yang terhormat. kaupungut saja Si Hitam. akhirnya menghembuskan nafas terakhir dengan tubuh capek berkeringat. Maka Si Hitam jahat itu kini mendiami diriku.. akan terus memperkosa ayahku. karena iblis yang dengan persumpahan bersarang dalam diri ayahku takkan mati-mati sampai hari kiamat. upacara pemakaman dan khalayak ini pun kurasakan sebagai bagian dari takdirku yang terkutuk sebagai pewaris biang dosa ayahku. Kematian adalah pantas dan wajar bagi setiap orang. betapa terkutuk. atau kampak atau apa! Apakah Si Hitam mulai membuatku jahat? Maka matahari yang menyilaukan ini. Si Hitam sedang sewenang-wenang seradak-seruduk di sana.

Maka tanganku. Maka aku menemukan cermin itu saat keinginan yang sunyi itu menusuk-nusuk seluruh tubuhku dengan pisau cekamannya. Teringat kelegaan dari tangisan di waktu kecil itu. maka kamu akan melihat diri sendiri. diskotik. tiba-tiba aku tidak bisa yakin apakah cairan yang keluar dari seluruh tubuhku itu benar-benar darah atau air mata. Semua cermin yang kutemukan tidak bisa lagi dipergunakan. mataku. Setiap tengah malam aku terbangun dan mencari-cari cermin. Tapi keinginan yang mencekam itu selalu membangun kelelahanku menjadi orang yang pantang menyerah. bisa bergerak selain diperintah olehku. Aku tidak bebas lagi bergerak.” kata suara entah dari mana yang selalu bergaung memenuhi kesumpekan ruang tubuhku ini.Jakarta. Bila sudah mengetahuinya. Tapi sering aku tiba-tiba asing dengan diri sendiri. Aku memasuki wc-wc umum. Bukankah setiap hari aku menjadi aku. Seluruh anggota tubuhku mengalirkan darah. gereja. mulutku. bisa jadi telah dibangun kamar-kamar yang sadar atau tanpa sadar telah aku kontrakkan kepada entah apa dan siapa. 1992 Menyiram Bunga di dalam Cermin Oleh: Yus R. Di dalamnya. lidahku. Aku merasakan suatu kesakitan yang nikmat saat darah itu mengucur setetes demi setetes. Kesadaran itulah yang mendorongku untuk bercermin. dengan kekerasan atau tanpa kekerasan. berekspresi. Ismail 192 “Bercerminlah dengan khusuk. aku ingin mengusirnya. Tubuhku menjadi media ekspresi penghuninya yang bukan aku saja itu. tapi selalu berakhir dengan kelelahan. mushola. Dan begitu banyak keinginan yang tidak aku lakukan. Semua cermin telah retak dan pecah. menjadi diri sendiri. . Aku teringat masa kecil saat emosi telah memuncak aku melepaskannya dengan tangisan yang keras dan merasa tenang setelah tangis itu berhenti. Begitu banyak perilaku yang tidak bisa dimengerti mengapa pernah aku lakukan. karena aku memang bukan seorang pemain sinetron atau drama. menerjemahkan hati menjadi apa saja. candi. Aku merasa tubuhku ini bukan lagi rumah pribadiku. aku pontang-panting mencari cermin. Setiap suara entah dari mana itu bergaung memenuhi kesumpekan ruang tubuhku. kakiku. Aku toh bukan Dedi Mizwar yang biasa memerankan Naga Bonar atau apa dan siapa saja. hotel. Betapa sunyi keinginan ini. setidaknya untuk mengetahui siapa saja penyatron ruang-ruang tubuhku yang sadar atau tanpa sadar sempat kukosongkan itu.

Ada kuncup yang menjadi keindahan bunga mekar menjadi keresahan kelopakkelopak yang tanggal dan menjadi kesadaran kesementaraan.Keraguan itu menjadikan aku merasa sekali waktu cairan yang keluar dari tubuhku itu benar-benar air mata dan di waktu lain benar-benar sebagai darah. kesunyiaan. Aku menyusuri daun dan batang sambil mengingat kesakitan hutan yang ditebang dan di bakar. Tapi bila ingin ngobrol menghabiskan malam atau menghabiskan waktu menjadi tanpa ukuran. tubuhku terpampang seperti jutaan potret dari yang beragam betuk dan rupa. Aku banting-banting di tengah lautan yang kuciptakan sendiri. Aku tidak bisa membedakan suara keduanya. jangan ragu-ragu untuk menyapa. kepapaan. dsb. Kesedihan. kepedihan. Dan begitu banyak lagi metamorfosa lainnya. Tapi ketidakjelasan itu merupakan kejelasanku. Aku selalu terkenang dengan sebuah lukisan (yang entah di mana dan kapan pernah aku lihat) tentang seseorang sedang menyiram bunga dengan latar belakang langit senja yang kemerahan. Tapi begitu air jatuh dari gayungku. aku melihat berbagai metamorfosa menjadi warna-warna yang artinya tak terjangkau pengetahuan ilmu semiotikku. semuanya menjadi silet-silet yang tanpa henti menoreh-noreh tubuhku. kesendirian. Tapi kesakitan itu pun aku rasakan menjadi kenikmatan yang tiada bandingannya. air. Di matanya. temui saja aku di kebun bunga. batang. Namaku memang tidak jelas. Aku telah terbawa air. Aku tak pernah lupa bagaimana air menetes dari ujung daun. Dengan gembira aku mengangguk dan menghampiri. mengalir ke mana saja yang kumau. Aku ingin merasakan lebih dalam getaran metamorfosa dari banyak hal itu. mengobrak-abrik ruang-ruang tubuhku. di mana saja. angin. “Mau menyiram bunga?” tanya si penyiram itu sekali lagi. Lukisan penyiram bunga dengan latar belakang kemerahan langit senja yang entah di mana dan kapan pernah aku lihat itu terpantul kembali di setiap potret diri yang kulihat di mana-mana dan apa saja yang tiba-tiba kulihat sebagai cermin. api. aku lupa dengan metamorfosa itu. daun. Entah . Di tanah. Aku suka membicarakan apa saja dengan siapa saja. Sejak kecil cita-citaku memang menanam bunga. bagaimana angin bergurau dengan tangkai mawar. kabut. Tubuhku telah terpantul di mana-mana. Barangkali kesakitan dan kenikmatan adalah dua hal yang menempati satu ruang kesadaran. Ada pucuk yang diam-diam menjadi kesegaran daun menjadi kelelahan daun kering dan menjadi cekaman musim gugur. ketakberdayaan. Aku meresap ke dalam tanah sambil mengingat hektaran hutan menjadi gurun tandus. ini sebuah jeritan atau geraman dari dendam. aku tak yakin. sampah. Sampai aku sadar bahwa badai itu hadir di dalam tubuhku. Perubahan keyakinan itu memang begitu menyakitkan. bagaimana tanah menguapkan bau yang khas. Tiba-tiba aku menyadari bahwa aku sebenarnya tidak perlu cermin. Eh. 193 *** PANGGIL apa saja maka aku akan menoleh. Aku mendengar kesakitan hutan itu seperti jeritan badai yang terus berdebur. “Mau kamu mencoba menyiram bunga?” tanya si penyiram itu ketika aku begitu takjub dengan matanya. ketaksempurnaan. Bila bertemu denganku.

karena tahu-tahu aku berada di pantai yang tenang dan pagi yang anggun. Aku menyusulnya sambil berteriak. Kami tidak bisa membayangkan.berapa lama aku pingsan. Setiap kaki melangkah meninggalkan suatu tempat. 194 .” Aku memandang orang yang aneh itu. Barangkali merasakan kesakitan-kesakitan di tempat-tempat yang berbeda itu adalah hidup kami.” Beberapa jenak aku tercenung. Air mata siapa lagi itu kalau bukan milik kita.” Siapa sebenarnya orang ini? Orang gila atau makhluk angkasa luar? Karena aku diamkan cukup lama. Setiap kaki melangkah meninggalkan suatu tempat. Atau Pangandaran. Tidak bisa terbayangkan. Barangkali benar bahwa nama-nama tempat tidak penting bagi seorang pengembara. orang beransel besar itu terbang. Kami banyak menyaksikan beragam peristiwa di setiap tempat. “Kuta. begitu lelah. berapa banyak kertas dan tinta yang akan kami habiskan bila setiap peristiwa dicatat. Kami tahu tempat-tempat itu pun akan menyediakan hidangan kesakitan-kesakitan lain begitu kami datang. kami merasa begitu banyak tempat yang belum kami kunjungi. Bertahun-tahun kami mengembara. Suara tangis terdengar di mana-mana. Atau Pelabuhan Ratu. Tapi sayang kami tidak mencatat peristiwa-peristiwa itu. Barangkali hidup memang pengembaraan itu sendiri seperti kata Seno Gumira Ajidarma dalam sebuah cerpennya yang kubaca di toko buku entah di daerah mana. “Aku ikut!” Kami mendaki bukit menuruni gunung masuk ke lembah menyusup ke lorong-lorong. Sepanjang sejarah. tapi kami tidak bisa tidak mengunjungi tempat-tempat itu. Saat itulah aku yakin bahwa orang itu adalah angin. bila seluruh peristiwa itu tercatat. Barangkali sepanjang hidup ini akan dihabiskan untuk mengembara. “Ya. karena hanya kita yang menghuni dunia ini. Kami merasa peristiwa itulah yang lebih penting dibanding dengan nama-nama. Benarkah ini pantai Kuta? Melihat dari tanda-tandanya aku merasa ini Pantai Panjang. kami merasa begitu banyak tempat yang belum kami kunjungi. “Apa perlunya nama. rasa sakit barangkali bagian dari hidup. Kamu bisa menamakan pantai apa saja sesukamu. “Pantai apakah ini?” Aku malah balik bertanya. Karena semua nama akan cocok dengan pantai ini. berapa milyar pembaca yang akan sakit. Tapi kertas dan tinta itu bukanlah alasan yang tepat mengapa kami tidak mencatat. pergi dari tempat yang satu ke tempat yang lain sambil merasakan rasa sakit sendiri-sendiri. Pantai Panjang juga bisa. Kami seperti punya kesepakatan bahwa sebaiknya memang tidak dicatat dan dibicarakan. Maka kami. Sungai-sungai mengalirkan air mata. Peristiwa-peristiwa itu memang penuh dengan darah dan rasa perih. Pantai apakah ini? “Mau ikut denganku?” tanya seseorang dengan ransel besar di punggungnya yang mengingatkanku akan perjalanan yang panjang dan jauh. aku dan angin. Aku merasa tubuh ini sakit-sakit.

kita tidak bisa tidak pergi. Tapi aku tidak mengacuhkannya.” Dan entah apa lagi yang diucapkan si penyiram bunga bermata penuh metamorfosa itu. Atau aku pun adalah ulat? Ah. Dia barangkali tidak sadar bahwa kepergianku dari taman itu pun adalah pengembaraan. aku tak mau mengikuti pengembaraan yang melelahkan itu. Sinar lembutnya disambut hangat lebah-lebah yang tanpa lelah mencari madu dari bunga ke bunga. Aku berdiri dan pergi. Aku lebih tertarik dengan matahari yang membuat langit memerah itu.*** 195 . “Mengapa tidak menyiram bunga lagi? Dengan menyiram. Kita tidak bisa merasa sakit dan perih. kamu bisa pergi ke mana saja. Memandangnya sambil mencoba memahami kunyahan mulutnya aku merasa begitu dekat dengan ulat. “Mengapa berhenti menyiram bunga?“ kata seseorang yang sebelumnya kukenal sebagai si penyiram bunga itu.. aku baru sadar di taman ini pun ada ulat yang terus-terusan memakan daun dan mengerek batang.. Karena sakit dan perih adalah hidup kita. Aku sadar bahwa aku tidak seperti angin yang ditakdirkan sebagai pengembara. aku yakin bahwa taman ini adalah lukisan yang terpantul di potret diri dari cermin-cermin itu. Eh. Saat kulihat ke sekeliling.. Aku tak mau pergi dengan ulat seperti yang pernah kulakukan dengan air dan angin. Dan begitu terbangun.Keyakinan itu terus berada di hatiku sampai rasa lelah dan sakit tidak bisa lagi aku tahan. Aku pingsan entah berapa lama. Ingatlah. aku berada di sebuah taman yang entah bernama apa dan di mana.

Yang aneh adalah bahwa aku tidak pernah pergi bersama ayahku. aku duduk di pinggir sungai dan memperhatikan patahan air yang mengalir menjauh ke arah Timur. Mesjid. kakekkulah yang akan membawaku ke mana pun ia pergi. Ketika ia tidak . Aku biasanya tahu saat kakek menginginkan aku tertawa. Aku yakin bahwa aku adalah cucu kesayangannnya. sungai. cepat seperti jin. berjalan dengan langkah-langkah yang lebar. atau belum pernah kulihat kakekku memasuki rumah tanpa harus membungkukkan badan begitu rendahnya sehingga aku mengingat bagaimana sungai akan mengalir memutar di belakang hutan kecil pepohonan akasia. Segera setelah selesai membaca Quran pada pagi hari. tinggi dan langsing sepertinya. tidak heran. dan ladang itu — semua itu adalah hal-hal terpenting dalam kehidupan kami. pada saat aku sudah menjadi laki-laki dewasa. juga aku akan mengingat saat-saat ia berdoa dan akan membawakan untuknya sajadah dan mengisi tempat air untuk wudhunya tanpa perlu ia memintanya. karena sepupusepupuku adalah gerombolan anak yang bodoh dan aku — begitu kata orang — adalah anak yang pandai. Sungguh. ketika aku ke mesjid untuk belajar Quran. tetapi aku ingat betul bahwa bila orang melihatku bersama kakekku. Aku menyayanginya dan akan membayangkan diriku. terasa lembut dan tebal dan putih seperti kain wol — belum pernah dalam hidupku aku menyaksikan sesuatu yang lebih putih atau lebih indah. dengan tergesa-gesa menelan sarapanku. Ketika lelah berenang ke sana-ke mari.Horison. Sebabnya. dan aku juga mencintai sungai itu. seperti kakekku. saat untuk diam. yang akan menepuk kepala dan pipiku seperti yang mereka lakukan ketika melihatku bersama kakekku. Aku suka membiarkan khayalanku dan membayangkan sebuah suku raksasa tinggal di belakang hutan itu. aku akan melemparkan batu tulis kayuku dan melesat menuju ibuku. Aku tidak ingat tepatnya berapa umurku. mereka akan menepuk kepalaku dan mencubit pipiku — hal-hal yang mereka tidak lakukan pada kakekku. aku dulu mencintai mesjid. orang-orang tinggi dan kurus dengan janggut putih dan hidung tajam. aku malah senang melakukannya. ia akan menyeka ujung hidungnya dengan jari telunjuknya. Sebelum kakekku bisa menjawab pertanyaanku yang banyak. Oktober 2000 Segenggam Kurma Oleh: Tayih Salih 196 Ketika itu aku pasti masih sangat muda. Kakekku pasti juga luar biasa tinggi. kecuali pada pagi hari. dan berlari untuk menyelam di sungai. karena aku tidak pernah melihat orang di seluruh daerah ini yang menyapanya tanpa harus mendongakkan kepalanya. Sementara kebanyakan anak-anak seusiaku menggerutu kalau harus ke mesjid untuk belajar Quran. dan bersembunyi di belakang hutan kecil rimbunan pohon akasia yang tebal. aku cepat menghafal Quran dan Syeh selalu memintaku untuk berdiri dan memperdengarkan ayat dari Sang Maha Pengampun kapan saja ia menerima tamu.

“Perempuan. memandangi luasnya ladang. kemudian.memiliki kegiatan lain. diwarisi olehnya dari ayahnya. “Tidak satu feddan pun milikku ketika aku pertama kali menjejakkan kaki di desa ini. keledainya yang lambat dan pelananya yang tak terpelihara. “Masood. “Orang itu culas dan aku tidak suka orang macam itu. “Aku tidak peduli. yang kutahu itu adalah tempat bagi impian-impianku dan tempatku bermain. Aku bertanya pada kakek mengapa Masood menjual tanahnya. “Kau lihat tanah yang ujungnya di padang pasir sampai ke tepi Sundai Nil? Ratusan feddans. adalah lelaki yang doyan kawin. Kakek tidak pernah tertawa.” Ini jadi berita untukku. Lalu kuingat tiga istrinya. “Menurutku kakek tidak suka pada tetangga kita Masood?” Yang dijawabnya. ia berkata.” Aku berkata kepada kakek. dan aku bisa mengatakan lewat wajahnya bahwa ia tersentuh. “Kami akan memanen kurma hari ini. anakku. ia suka mendengarkan aku membacakan ayat Quran dengan suara penuh irama. sesudah menyentuh ujung hidungnya. Setiap kali ia kawin ia menjual satu atau dua feddan padaku. empat puluh tahun yang lalu semua ini menjadi milik Masood — dua pertiga dari semua itu sekarang menjadi milikku. Posisinya berubah sekarang.” kata Masood. dan kakek dan aku saling bertukar pandangan. akasia. semua pohon itu ataupun tanah hitam yang pecah-pecah ini.” aku berkata pada diriku sendiri. “Kalian tidak ingin ke sana?” 197 . Masood saat itu adalah pemilik semua kekayaan ini. penampilannya yang jorok. dan sayal? Semua ini jatuh ke pangkuan Masood. dan kupikir bahwa sebelum Allah memanggilku aku akan membeli sisanya yang sepertiga juga. karena kubayangkan bahwa tanah ini sudah menjadi milik kakek sejak Tuhan menciptakannya. Masood.” Kakekku kemudian melanjutkan. suaranya yang indah dan tawanya yang keras yang menyerupai suara air yang berdeguk. “siapa yang memiliki pohon-pohon kurma itu. aku mengalihkan pandanganku darinya ke daerah yang luas yang tadi diterangkan oleh kata-katanya. Suatu hari aku bertanya tentang tetangga kami. Aku berkata pada kakekku. galabia-nya dengan lengan baju yang robek. “Apa sih orang culas itu?” Kakekku menundukkan kepalanya sejenak. Kau lihat semua pohon kurma itu? Dan pohon-pohon itu — sant.” Memanfaatkan kakekku yang membisu. “Ya.” Aku dengan cepat menghitung bahwa Masood pastinya sudah menikahi sekitar sembilan puluh perempuan.” Aku tidak tahu mengapa aku merasakan ketakutan pada kata-kata kakekku — dan rasa kasihan kepada tetangga kami Masood.” dan dari cara kakek mengatakan kata itu aku merasa bahwa “perempuan” adalah sesuatu yang buruk sekali. Aku sudah melakukan semua kecuali membersihkan pikiranku dari pikiran-pikiran yang berdesakan masuk ke kepalaku pada saat aku melihat laki-laki itu mendekati kami. Aku ingin sekali kakek tidak melakukan apa yang dikatakannya! Aku ingat Masood menyanyi. anakku.

“Pohon kurma. aku sudah mulai berpikir tentang kata-kata Masood “jantung kurma. Lalu aku perhatikan Masood tidak mengubah cara berdirinya. Kerumunan orang bubar. Terkadang perhatiannya tersita pada bunyi rumpun besar kurma yang hancur terjatuh dari ketingggian. Namun. sementara aku tetap berdiri. Kakek memberiku segenggam penuh. merasakan kebahagiaan dan penderitaan.” Tak ada yang memperhatikan apa yang dikatakannya dan anak laki-laki itu terus duduk di puncak pohon kurma. dan berjalan menuju kantungkantung kurma. “Awas jangan sampai kau potong jantung kurmanya. Kurma-kurma dikumpulkan menjadi tumpukan yang tinggi. kecuali Hussein si pedagang. melompat di atas kakinya. Tiba-tiba kakek bangun. Ia menarik tanganku dan kami menuju ke tempat panen kurma milik Masood. Ia diikuti Hussein si pedagang. Aku melirik Masood dan menyaksikannya sedang mendekati kami dengan luar biasa perlahan. dan dua laki-laki yang belum pernah kulihat sebelumnya. dengan cepat dan penuh tenaga. Aku ingat ucapan Masood padaku ketika ia suatu kali melihatku mempermainkan cabang pohon kurma muda. seperti manusia. walaupun kenyataannya pohon-pohon kurma yang akan dipanen adalah miliknya. Mousa si pemilik ladang di sebelah ladang kami sebelah Timur. Aku mendengar bunyi siulan dan melihat kakek sudah jatuh tertidur. Sekali ia meneriaki seorang anak laki-laki yang bertengger di puncak pohon kurma dan ia sudah mulai menggarap rumpunan kurma dengan sabitnya yang panjang dan tajam.Walaupun begitu. menggarap cabang dengan sabitnya sampai rumpun kurma mulai jatuh seperti sesatu yang turun dari surga. kecuali ia memasukkan potongan tangkai ke dalam mulutnya dan sedang mengunyahnya seperti orang membuat perutnya kenyang dengan makanan yang tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan mulut yang masih penuh. jauh dari kerumunan orang banyak ia berdiri seolah itu bukan urusannya. yang kemudian kukunyah. masing-masing orang tak dikenal itu mengambil 198 . yang kuhitung ada tiga puluh. Mereka membentuk lingkaran di seputar kurma dan mulai memeriksanya.” Aku membayangkan pohon kurma sebagai sesuatu yang punya perasaan. anakku. tetapi biarpun aku kenal mereka semua. kakek melompat berdiri dan aku melihat matanya bersinar sesaat dengan kecerahan yang luar biasa. Ketika sekali lagi aku memandang luasnya tanah yang membentang di hadapanku. mengumpulkan kurma dan memakan sebagian besarnya. Aku melihat orang berdatangan dan menimbang kurma ke dalam wadah timbangan dan menuangnya ke dalam kantung-kantung. dan dua orang yang tak dikenal. Seseorang membawakan kakekku bangku yang ditutupi dengan penutup dari kulit sapi. sesuatu yang memiliki jantung yang berdetak. Aku melihat Masood memenuhi kedua tangannya dengan kurma dan membawanya ke dekat hidungnya. Kemudian aku menyaksikan mereka membagi kantung-kantung itu di antara mereka. aku merasa bahwa ia tidak betul-betul menginginkan kakek hadir di sana. aku punya banyak alasan untuk memperhatikan Masood. Hussein si pedagang mengambil sepuluh. lalu mengembalikannya.” Dan aku merasakan rasa malu di dalam diri yang tidak beralasan. Namun. seperti seseorang yang ingin mundur tetapi kakinya memaksa maju. Di sana ada begitu banyak orang. beberapa mengambil satu dua kurma untuk dimakan. Mousa di pemilik ladang di sebelah ladang kami. aku melihat teman-temanku berkerumun seperti semut di seputar batang pohon kurma.

Kemudian. merasakan tanganku mengarah padanya seolah aku ingin menyentuh keliman pakaiannya. aku meletakkan jariku ke dalam tenggorokanku dan memuntahkan kurma yang sudah kumakan. Untuk alasan yang tak kuketahui. Aku yang tak mengerti apa pun melihat kepada Masood dan menyaksikan matanya bergerak ke kanan dan ke kiri layaknya dua ekor kucing kecil yang tidak tahu jalan pulang ke rumah. 199 .lima. sepertinya aku membawa di dalam diriku sebuah rahasia yang ingin kuhindari. Ia mendapatkan pendidikan tinggi di Universitas Khartoum. yang hanya berisi tiga cerpen baru terbit tahun 1968. yang kemudian dilanjutkannya di beberapa universitas di Inggris. yang kemudian bersama sejumlah cerpen Afrika lain dikumpulkan oleh Charles R. Aku mempercepat langkahku. Salih mulai menulis tahun 1953. Aku berlari ke kejauhan. Tentang desanya itu. Aku mendengarnya mengeluarkan suara di tenggorokannya seperti rintihan domba yang akan dijagal. “Kau masih berhutang lima puluh pound padaku. Mo-dern African Stories. Mendengar kakekku memanggilku. Edinburg: Payback Press. Mousa si pemilik ladang di sebelah ladang kami di sisi Timur mengambil lima. aku sedikit ragu. Salah satu keledai mengeluarkan suara ringkikan yang membuat mulut unta-unta itu berbusa dan mengeluh ribut sekali. Cerpen ini diterjemahkan oleh Sapardi Djoko Damono. Aku merasa pada saat itu bahwa aku membencinya. aku merasakan sakit yang teramat sangat di dadaku. ia pernah menyatakan bahwa ia masih merasa tinggal di sana mengembara ke mana-mana.*** Tayeb Salih (Al-Tayeb Salih). tetapi kumpulan cerpennya yang pertama. namun sebentar kemudian ia bekerja di BBC sebagai perencana siaran drama dalam bahasa Arab. dua orang asing itu membawa unta. tanpa tahu mengapa.” Hussein memanggil pembantu-pembantunya dan mereka menggiring keledai. “Kita bicarakan itu nanti. diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Denys Johnson-Davies. dilahirkan pada tahun 1929 di desa Al-Debba di Sudan Tengah. Keluarganya adalah petani dan guru. Aku mencapai tepi sungai di dekat belokan di belakang hutan kecil pohon akasia. Aku merasa mendekati Masood. kemudian melanjutkan perjalanan.” kata kakekku kepada Masood. dan kantung-kantung kurma itu dipunggah ke atas punggung binatang-binatang itu. Masa kecilnya dihabiskannya di desa itu. dan kakek mengambil lima. Ia pernah menjadi guru di Sudan. Larson dalam Under African Skies. Cerpen "Segenggam Kurma" ini diambil dari kumpulan tersebut. 1997.

Kutentramkan diri. Kujawab bahwa aku tidak menulis cerita anak-anak. Tak ada bobot manusia yang menekan di papan itu. Kupusatkan pendengaran. tetapi degup jantungku tak menentu seperti menghantami jantungku. Tak dapat aku menumpukan pendengaranku karena gangguan yang ada pada siang hari. Tahun lalu. Sebuah suara dalam diriku? Suatu bunyi. . Aku tidak memiliki terali besi. mengenalinya baik-baik sambil memilah-milah kemungkinan ancamannya.di dalam gelap. Namun aku juga kini merasa cemas seperti orang-orang lain yang serba waspada. sambil membayang-bayangkan sesuatu dalam kepala --bukannya melihat-. Orang itu mengatakan bahwa dalam suatu kongres/pameran buku/seminar yang diadakan baru-baru ini. seorang pengarang telah menghimbau agar setiap penulis menulis sekurang-kurangnya satu cerita anak-anak. Bunyi deritan itu hanya disebabkan perasaan yang tertekan. Terpikir olehku untuk mengiriminya selembar kartu pos untuk menyatakan bahwa aku tidak sepaham dengan pendapatnya. Lagi pula kaca rumahku tipis bagai lapisan embun. Namun. November 2000 Syahdan Pada Dahulu Kala Oleh: Nadine Gordimer 200 Seseorang telah memintaku untuk menyumbangkan sebuah antologi cerita anakanak. Kupasang telinga. Kuteliti tiap bunyi yang paling perlahan sekalipun. mudah pecah seperti gelas anggur. Aku boleh menulis apa saja yang kuinginkan. Tak ada pistol di bawah bantalku. aku dilatih agar jangan merasa takut atau terancam. Anjing garang yang mengawal seorang duda tua dan koleksi jam antiknya telah dijerat sebelum ditikam oleh seorang buruh biasa yang telah di-PHK tanpa dibayar upahnya. Kemarin malam aku terbangun tiba-tiba tanpa mengetahui apa yang mengejutkan diriku. Kupandangi pintu. Bunyi berderatderit itu bergema lagi. Aku menanti untuk mendengar kalau-kalau ada tanda yang menunjukkan bahwa kaki itu bergerak lagi dari satu kamar ke kamar lain. seorang perempuan telah dibunuh (kata orang) di siang bolong. Bunyi berderit-derit bagai langkah kaki yang diseret satu demi satu di atas papan seolah membawa beban yang berat.Horison.

lalu memaksa masuk. agar jangan mengambil siapapun di tepi jalan. Kerusuhan telah dapat ditanggulangi. Mereka memiliki seekor kucing dan seekor anjing yang amat disayangi anak kecil itu. serta menjadi anggota siskamling di lingkungan itu yang memberi mereka sekeping papan pengumuman di pintu pagar betuliskan "Dalam Lindungan Keamanan". Anak kecil itu sungguh tertarik dengan alat tersebut dan menggunakannya sebagai walkie talkie dalam permainan polisi dan pencuri. di sana ada polisi dan tentara. Namun sang istri masih merasa cemas kalau-kalau suatu hari nanti orang-orang ini akan turun ke jalan dan merusak papan bertuliskan DALAM LINDUNGAN KEAMANAN itu. dan anak-anak sekolah ditembaki polisi di kawasan pemukiman kulit hitam sana. Tingkat tempat adanya runtuhan mungkin tak digunakan lagi. manakala mereka hendak memulai kehidupan yang bahagia untuk selama-lamanya. Merelakan diri tidur kembali. semen. mobil-mobil dilempari batu. Rumah yang melingkupi tubuhku saat aku sedang tidur dibangun di atas bekas tanah pertambangan. Akupun bercerita pada diriku sendiri. atau mungkin ada orang yang pernah dikubur di situ dengan batu nisan yang menyedihkan. Oleh sebab itu. air bertetesan dari rekahannya. Jadi. Mereka memiliki seorang anak lelaki yang amat mereka cintai. diri mereka diasuransikan dari musibah kebakaran. Membuka pintu pagar. sang suami telah memasang pagar berlistrik. Mereka mempunyai seorang pembantu rumah yang amat bisa dipercaya. mereka telah dinasihati oleh seorang tukang sihir tua yang bijaksana. Namun. kayu. dan seseorang pembantu rumah yang dapat dipercayai telah diikat dan dikunci 201 . ucap sang suami. dan kaca yang menyangga rumah menjadi longgar. bersama-sama dengan kawan-kawan yang sebaya dengannya. tinggallah sepasang suami-istri yang saling menyayang serta hidup dengan penuh kebahagiaan. dan perampokan. Nun jauh di bawah kamarku. tetapi pencurian banyak terjadi di kawasan tepian kota besar. Sukar bagiku untuk mencari tempat guna mengistirahatkan pikiran dan tubuhku. untuk menenangkan hati sang istri. mencegah kemungkinan perampokan. Di dalam sebuah rumah di pinggiran metropolitan. kisah dalam tidur. mesti menyatakan niatnya dengan menekan tombol dan berbicara melalui alat penerima yang disambungkan ke rumah. Mereka tergolong masyarakat yang diberi kemudahaan dalam pengobatan. Degupan jantungku menurun seperti ayunan terakhir di atas zilofon. Kerusuhan memang terjadi. anjing peliharaan mereka diberi peneng. yaitu ibu sang suami. Seluruh rumah bergetar sedikit dan menyebabkan batu. tak ada yang perlu dicemaskan. penggalian yang bertingkat-tingkat saat penambangan dan lorong jalanan tambang-tambang emas telah melongsorkan bebatuannya serta menyebabkan tanah ini jadi berongga. jauh dari pandangan dan pendengaran orang-orang di kawasan tepian kota besar. yang mungkin bertopeng hingga sulit diduga apakah ia orang kulit putih atau kulit hitam. di dasar rumah ini. kerusakan akibat banjir. dalam perut bumi. Siapa yang menurunkan tanda DALAM LINDUNGAN KEAMANAN itu dan akan membuka pintu pagar. Orang-orang itu dilarang masuk kawasan pinggiran kota besar.Aku merasa ada di tengah-tengah tekanan itu. gas air mata dan senapan untuk mengusir mereka. Jika ada permukaan yang bergetar. kolam renang. tapi di luar kota. Mereka memiliki sebuah mobil dan sebuah trailer karavan yang digunakan untuk pergi berlibur. Jangan mengomel saja. saking cintanya. kayu yang dibuat oleh para penambang pelarian Chopi dan Tsoinga yang pernah berada di bawah sana. di mana orang kulit hitam ditempatkan. juga karena bus-bus dibakar. di bawahku. kecuali pembantu rumah tangga dan tukang kebun yang dapat dipercaya. ucap sang suami pada istrinya. ia mungkin runtuh atau longsor 3000 kaki ke bawah. Sukar untuk mengasuransikan rumah. atau mobil mereka dari kerusakan akibat kerusuhan. serta seorang tukang kebun yang rajin. Ada pula sebuah kolam renang yang berpagar untuk mengelakkan anaknya dan teman-teman mainnya agar tidak terjatuh ke dalam kolam dan mati lemas.

lantas menerobos masuk. Ia lalu menyuruh pembantu rumahnya mengantarkan roti dan teh. yaitu ibu sang suami. bersipongang satu sama lain. Perusahaan asuransi tidak membayar ganti rugi untuk sebuah minuman malta sekalipun. setiap minggu terdapat banyak berita tentang perampokan di siang bolong dan di malam yang sepi. Sebagian lagi meminta sedekah. serta memasang alarm. hingga akhirnya tidak diindahkan lagi oleh penduduk kawasan itu. Kau hanya membikin mereka jadi makin beringas dengan roti dan tehmu itu. akibat menganggur. serta kadang-kadang membongkar apa saja yang ada dalam lemari es jika merasa sangat lapar. kerugian besar hanya diketahui oleh pemiliknya saja. sama dengan bunyi katak menguak hingga tidak mencemaskan para pencuri untuk mengambil kesempatan dan menggergaji terali-terali besi. pembantu rumah tersebut telah meminta majikannya untuk memasang terali pada pintu dan jendela rumah. Bunyi alarm yang nyaring. Sang istri tidak sampai hati melihat orang yang kelaparan. Mereka mencari peluang kalau-kalau… . Seperti biasa. membayar untuk tambahan batu bata sebagai hadiah Hari Natalnya kepada anak dan menantunya. Pembantu rumah pasangan suami istri dan anak kecil itu merasa sedih dengan nasib malang yang menimpa rekannya. betul katanya. Ikutilah nasihatnya. Pencuri-pencuri itu tidak langsung menghargai apa yang telah diminum oleh mereka. meraung dan menjerit. Sang suami berkata. ikuti nasehatnya. Dan perempuan sihir tua yang bijak itu. Sebagian dari mereka meminum minuman keras dan mengotori jalan raya dengan botol-botol kosong. Kadang mereka tertidur di depan pagar pada siang hari. menunggu sang suami atau sang istri ke luar dari pintu pagar yang berlistrik itu. Akhirnya. tape recorder. dan jika kucing piaraan anak mereka coba memanjat masuk melalui ventilasi untuk menemaninya tidur pada waktu malam sebagaimana yang biasa ia lakukan. kalau begitu tembok itu sebaiknya ditinggikan lagi. Tetapi pembantunya berkata bahwa mereka adalah para bandit yang akan mengikat dia dan menguncinya dalam lemari. benar ucapan pembantu itu. mereka melihat pohonan dan langit melalui terali. televisi. Tetapi sang suami dan sang istri teringat akan peringatan agar jangan mengambil orang yang tak dikenal. bahkan berani istirahat sejenak untuk meminum wiski yang diambil dari dalam kabinet atau dari bar. atau apa saja. bahkan pada waktu subuh. tibalah saat ketika banyak pembantu rumah dan tukang kebun yang tidak dapat dipercaya datang beramai-ramai memenuhi tepian kota besar itu. Tetapi. setelah dikunci rapatrapat dan alarm dinyalakan. Si anak kecil pun mendapat pakaian orang angkasa dan sebuah buku cerita dongeng. dan berselang-seling di halamanhalaman rumah. Alarm tersebut nampaknya sering dijawab oleh alarm-alarm lain dari rumah-rumah lain yang disentuh oleh kucing piaraan mereka atau digigit tikus. meskipun pada bulan purnama di musim 202 . barang-barang berharga dan pakaian. kamera. mengambil peralatan elektronik seperti hi-fi. Bunyinya dianggap biasa. kucing itu pun menyentuh alarm dan membangunkan seisi rumah. seseorang mungkin masih dapat memanjat tembok atau pagar yang berlistrik itu untuk masuk ke dalam taman. radio. dengan tanggung jawab menjaga harta pasangan itu dan anak kecil mereka. Sang istri berkata. mengecat atap. Benar katamu. Sebuah kawasan tepi kota yang cantik jadi rusak oleh kehadiran mereka.di dalam almari oleh pencuri ketika ia diamanati untuk menjaga rumah majikannya. Mereka duduk dengan kaki terjuntai ke dahan pohonan yang bagai sebuah lorong hijau di jalan raya. ucap sang istri. Maka pada setiap pintu dan jendela rumah yang didiami oleh mereka dengan penuh kebahagiaan buat selama-lamanya itu. Dan sang suami pun membawa masuk sepeda roda tiga anaknya dari taman setiap malam karena jika rumah itu benar-benar selamat. Setengahnya mendesak agar diambil bekerja: mencabut rumput.

sekumpulan pekerja datang merentangkan gulungan berduri dan berpisau di sekeliling tembok rumah. Sang istri berkata. jangan cemas sayang. tidak mungkin. sang istri dan anak kecil membawa anjing mereka berjalan-jalan di kawasan kediaman mereka. Pasangan suami istri yang sedang berbincang tentang perampokan bersenjata terkini yang berlaku di pinggir kota itu telah diganggu oleh kemunculan kucing peliharaan anak mereka yang coba memanjat tembok setinggi tujuh kaki itu. Ada juga usaha untuk mencontoh kehalusan seni bangunan penjara berbentuk vila Spanyol (besi-besi tajam yang dicat merah jambu) dengan pasu-pasu berbentuk labu yang ditempel dengan lukisan klasik (besi-besi tajam yang panjangnya 12 inchi berlekak-lekuk dan bercat putih). kucing mereka hanya tidur di kamar si anak dan bermain di taman saja. keduanya membuat keputusan untuk memilih sebuah bentuk yang paling baik saja. Pada keesokan harinya. mula-mula memanjat ke atas dengan kaki depannya di permukaan dinding tembok. berkali-kali. yaitu memasang pecahan kaca yang ditancapkan di atas semenan tembok dengan jerajak besi yang berujung tajam. ucap sang suami. Mereka benar. yakni bentuk yang paling sederhana namun luhur yang direncanakan seperti bentuk kamp tahanan: tidak berbunga-bunga. Separuh tembok dilekatkan dengan papan kecil yang ditulis dengan nama dan nomor telepon perusahaan yang bertanggung jawab memasang peralatan tersebut. Ini semua menyulitkan orang untuk coba memanjat dan merangkak ke dalam gulungan itu tanpa dia tersangkut pada gulungan itu. dan anak kecil mereka membuat pilihan menakjubkan. tidak pernah coba melanggar pagar keamanan itu. tak mengapa. di mana tempat sang suami. Keesokan harinya. Dan sang istri menunggu hingga si anak kecil pergi bermain.panas yang indah. Sang istri terpesona memandangnya. Masyarakat ingin keselamatan yang mutlak. karena sejak hari itu. menyilaukan. Sang suami berkata. Sama sekali tak ada jalan ke luar bagi mereka yang terlibat di situ. saat mereka sedang berhenti di hadapan sebuah dinding tembok tanpa berkata-kata. sang istri dan anak lelaki mereka yang kecil tinggal bersama-sama dengan anjing dan kucing peliharaan mereka dengan penuh kebahagiaan buat selama-lamanya. Kilau itu akan hilang nanti. lalu berkata. kuat dan sederhana. berkilat. Sang suami berkata. Cahaya matahari memancar dan cahayanya menerpa mata pisau bergerigi yang mengelilingi rumah tersebut. Tembok putih itu dikotori oleh bekas jejak kucing dan di bagian luar tembok yang menghadap jalan terdapat bekas jejak dari tanah merah yang lebar seperti tapak sepatu yang tersarung di kaki penganggur-penganggur yang membuang waktu tanpa tujuan. Setiap percobaan hanya akan menyebabkan darah keluar lebih banyak lagi. sang ibu membacakan sebuah kisah dongeng pada sang anak dari buku yang dihadiahkan oleh perempuan sihir tua yang bijak pada hari Natal. kulit makin terkoyak dan luka makin jadi dalam. Sedang anak lelaki mereka dan anjingnya berlari ke muka. Betul katamu. dan selang beberapa minggu. Semakin terkait. mereka menjamin gulungan itu tahan karat. Hubungi GIGI NAGA. terbentang gulungan besi yang keras. tajam bergerigi serta bercabang mata pisau. kemudian melompat dengan gerakan yang cantik dan mendarat dengan mengibasngibaskan ekornya ke dalam kawasan rumah. saya harap si kucing peka. sang istri. Di sepanjang tembok. Pada suatu malam. mereka tidak lagi berhenti sejenak untuk menikmati keindahan pagar mawar di halaman yang kesemuanya kini tertutup di balik pagar serta temboktembok dengan peralatannya. Ketika sang suami. kucing selalu melihat sebelum melompat. sebuah keluarga sedang menikmati makan malam ketika kamar tidur di tingkat atas dibongkar. Sebuah pilihan yang murah. sang suami dan istri membandingkan setiap bentuk yang paling berkesan. si anak beraksi seperti seorang putra raja yang gagah berani melepas dan 203 . siapapun akan berpikir dua kali… dan mereka mulai menimbang nasihat yang tercatat di atas papan kecil yang dilekatkan di tembok. Sang suami.

A Soldier's Embrace. dan Something Out There.membawa anak itu masuk ke dalam rumah. Selected Stories. kepalanya. Smith Commmonwealth Literature Award. 1923. Ia menyusupkan diri ke dalam gulungan yang berkilat itu semuat-muat badannya. the W.H. dan anggota kehormatan American Academy and Institute of Art and Letters. pemotong kawat. Friday's Footprint. Dia seorang dosen tamu di Royal Society of Literature. Lalu tangannya. lahir di Transvaal. dan the Scottish Arts Council Neil M. Diterjemahkan oleh Agus dan Nikmah Sarjono 204 . Tukang kebun yang rajin itu telah luka tangannya ketika mencoba menyelamatkan si anak. Kumpulan cerpennya antara lain Livingstone Companions. dan tukang kebun yang menangis. agaknya) alarm pun menggila di tengah-tengah jeritan mereka. kapak.membabat duri-duri tebal untuk masuk ke istana dan mengecup sang puteri yang tidur serta menyadarkannya kembali. entah apa sebabnya (mungkin kucing. Kaitan yang pertama mengenai lututnya. antara lain: Booker Prize. Gunn Fellowship. Cerpenis dan novelis Afrika Selatan ini banyak mendapat penghargaan di bidang sastra. Dalam pada itu. sementara si anak yang bermandi darah dikeluarkan dari gulungan dengan menggunakan gergaji.*** Nadine Gordimer. Nobel Sastra diraihnya pada tahun 1991. Ia menjerit kesakitan dan meronta semakin ke dalam gelungan itu. Jump and Other Stories. pembantu rumah yang dipercayai yang tengah diserang histria. dan sebagainya. sang istri. Mereka -sang suami. lalu segera berlari mendapati si anak kecil dan menjerit bersamasama dengannya. Si anak membawa tangga ke tembok. Pasangan pembantu rumah dan tukang kebunlah yang pertama kali melihat peristiwa itu. Not dor Publication. Datanglah kemudian sang suami dan sang istri dengan tergopoh menuju taman.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.