P. 1
Cerpen Horison

Cerpen Horison

|Views: 66|Likes:
Published by Rofi Uddarojat

More info:

Published by: Rofi Uddarojat on Mar 23, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/23/2012

pdf

text

original

Horison, Januari 2000

Mimpi
Oleh: Abdel Salam Al-Ujaili

1
Dalam mimpinya Mohamed Wesaja ini perkara biasa, karena dalam keadaan sadar pun ia senantiasa mengerjakan shalat serta tak pernah meninggalkan ibadah wajib ini. Dalam mimpinya tersebut, kala sujud pertama, ia membaca dengan suara keras surat al-Nasr. Ketika sujudnya hampir selesai, ia terjaga dari tidurnya dan merasakan takut yang luar biasa. "Firman Tuhan adalah suatu kebenaran!," katanya sambil duduk di kamar serta menggosok-gosok matanya.Mohamed Weess tidak ingat mengapa mimpi tersebut begitu lekat dalam pikirannya. Maka, begitu pagi menjelang, segera ia temui Sheikh Mohamed Sa'id, seorang tua di kampungnya. Baru sekitar tengah harian, ia dapat bertemu dengan orang tua itu. Segera ia kisahkan mimpinya. Sheikh berdiam diri agak lama sambil menundukkan kepalanya dengan kening berkerut-kerut, sebelum akhirnya bertanya: "Kau yakin bahwa surah yang kaubaca itu surah al-Nasr?" "Saya yakin," jawab Mohamed Weess. "Saya membacanya sampai selesai. Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Jika telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau lihat manusia masuk agama Allah beramai-ramai. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, dan mohon ampunlah kepada-Nya. Sesungguhnya Dia maha Penerima Taubat." "Firman Tuhan adalah kebenaran!" kata Sheikh Mohamed Sa'id. "Wahai Mohamed Weess, segala puji bagi-Nya. Mintalah ampunan daripadaNya. Sesungguhnya Dia maha mengasihi." "Wahai Sheikh Mohamed Sa'id, saya percaya ini adalah pertanda buruk bagi saya. Apakah tafsiran tuan tentang mimpi saya tersebut?" Sheikh Mohamed Sa'id memegang dan mengusap-usap janggutnya yang panjang dan tebal itu. Dia kelihatan agak keberatan untuk menerangkan pengetahuannya yang mendalam mengenai ilmu menafsirkan mimpi. Akhirnya ia bersuara juga. "Mohamed Weess, mohonlah ampunan daripada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengasih. Mimpi membaca surah ini menandakan bahwa orang itu sudah hampir tiba saat ajalnya." Mohamed Weess tergetar. Ia merasa tiba-tiba seluruh badannya menggigil.

"Apakah yang tuan Sheikh katakan?" "Amat berat bagiku untuk menyatakan ini kepadamu," jawab Sheikh. "Bagaimanapun, untuk menenangkan perasaanmu, kau akan beroleh rahmat Tuhan. Dan kematian pasti datang menjemput kita semua. Mohamed Weess, tak ada orang yang mimpi seperti ini dapat hidup lebih dari empat puluh hari." Setelah memberitahu hal tersebut, Sheikh itu pun terus pergi untuk menunaikan shalat Dzuhur, meninggalkan Mohamed Weess yang terpuruk di tanah sambil kebingungan. Kakinya seperti tak mampu lagi menampung berat badannya. "Empat puluh hari," suaranya bagai keluar tanpa melalui kerongkongannya. "Ya Tuhan, berilah hamba kekuatan." Desa di mana Mohamed Weess dan Sheikh Mohamed Sa'id tinggal hanyalah sebuah desa kecil, maka menjelang senja setiap penghuninya sudah tahu tentang mimpi Mohamed Weess dan tafsiran yang dibuat oleh Sheikh Mohamed Sa'id. Penduduk desa itu percaya pada tafsir mimpi. Itulah sebabnya pada petang berikutnya semua orang sudah begitu yakin bahwa Mohamed Weess akan mati dalam tempo empat puluh hari. Kaum lelaki berdatangan menziarahi Mohamed Weess, mula-mula seorang demi seorang, namun kemudian secara berombongan, hingga ia terpaksa berada di rumahnya menerima tetamu yang datang dan bertanya mengenai kesehatannya serta mengungkapkan rasa dukacita atas kematiannya yang bakal segera tiba itu. Kaum perempuan yang datang ke rumah Mohamed Weess datang untuk mendapatkan berita, sambil melihat-lihat keadaannya. Mereka mendapati Mohamed Weess masih segar bugar, tetapi tampak bingung. Sambil meratap mereka mohon agar Tuhan campur tangan dalam urusan Malakul Maut yang akan mencabut nyawa Mohamed Weess ketika dia masih sehat. Walaupun Mohamed Weess tidak sakit dan tidak pula uzur, segala langkah berjaga-jaga yang diambil untuknya serta segala pertanyaan lembut mengenai dirinya telah membuat dia mulai merasa sakit. Dia tabah menghadapi keadaan tersebut selama sepuluh hari, dan terus pulang-pergi antara pasar ternak dengan rumahnya. Bagaimanapun, tak butuh waktu lama dia tidak lagi tahan menanggung semua tekanan itu. Dia mulai merasa letih, dan orang ramai mulai menziarahinya pada waktu siang hati. Padahal sebelumnya mereka hanya datang pada malam hari. Dua puluh hari sejak saat ia bermimpi, keluarga Mohamed Weess merasa tidak perlulah lagi membereskan ranjangnya setiap hari karena kini Mohamed Weess senantiasa berbaring di situ siang dan malam. Setelah tiga puluh hari berlalu, pelbagai hidangan masakan kegemarannya yang disediakan khusus untuknya oleh keluarganya ternyata terkumpul di tepi ranjangnya tanpa dijamah. Dengan berpakaian serba putih dan membiarkan janggutnya tumbuh, Mohamed Weess menghabiskan waktunya hanya untuk bershalat. Dia terisak-isak bukan karena takut pada kematian atau kecewa karena hidup, melainkan karena takut akan hukuman yang bakal diterima di alam kubur dan rasa khawatir bahwa Tuhan tidak akan mengampuni kesalahannya karena kerap bersumpah dengan nama Tuhan sewaktu di pasar ternak, atau karena menipu para petani dari desa yang berdekatan. Waktu terus berlalu. Mendekati masa empat puluh hari, badan Mohamed Weess makin kurus karena kurang makan dan karena rasa penyesalan yang dalam terhadap dosa-dosanya yang telah lalu. Orang ramai -baik dari desanya ataupun desa yang berdekatan-ramai mempercakapkan cahaya keimanan yang terpancar pada wajahnya serta ayat-ayat mistik dan misteri yang diucapkannya tatkala ia sujud dan mengerjakan shalat. Tiga puluh sembilan hari sudah berlalu, dan pada waktu malam hari itulah aku memunculkan diriku. Anda mungkin bertanya, siapakah diriku?

2

Aku bertugas sebagai guru sekolah di desa tempat tinggal Mohamed Weess di mana ia bekerja sebagai pedagang berpengaruh di pasar ternak, dan di mana Sheikh Mohamed Sa'id dianggap sebagai wali. Aku sering menghabiskan cuti musim panas di Damaskus, dan kepulanganku ke desa itu jatuh pada hari ketigapuluh sembilan dari tempo yang dinyatakan oleh Sheikh Mohamed Sa'id kepada Mohamed Weess. Aku mengenali Mohamed Weess sebagaimana aku mengenali orang lain di desa itu. Ketika Mohamed Atallah yang bertugas sebagai porter di sekolah memberitahuku tentangnya, aku kebingungan: apakah harus tertawa atau bersimpati kepadanya. Bersama Mohamed Atallah aku segera pergi menjumpai Mohamed Weess untuk menenangkan fikirannya atau setidaknya untuk mengungkapkan rasa dukacitaku. Halaman rumahnya yang biasanya dipenuhi hewan ternak yang dibeli Mohamed Weess dari pasar, kini agak sesak dengan orang ramai yang datang untuk menyaksikan saat kematiannya. Sebuah sisi untuk lelaki dan sisi lain untuk perempuan. Di sisi ketiga terlihat beberapa ekor biri-biri dan kambing yang dibawa oleh kawan-kawan Mohamed Weess untuk dikorbankan pada esok harinya setelah rohnya berpisah dari jasadnya. Ketika aku masuk ke kamar Mohamed Weess tempat ia menunggu kedatangan Malakul Maut --dan akulah yang datang, bukannya malakul Maut-Mohammad Weess sedang duduk sambil berdoa, sementara Sheikh Mohamed Sa'id duduk di sudut lain melagukan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Aku sangat terperanjat melihat perubahan pada wajah Mohamed Weess. Wajahnya yang bulat dan pipinya yang berisi, kini sudah cekung dan pucat. Ini ditambah pula dengan janggutnya yang panjang. Kepucatannya kelihatan lebih jelas lagi dengan pakaiannya yang serba putih dan longgar itu. Sambil bershalat, dia memanjangkan sujudnya seolah-olah ia berharap agar kematian segera datang padanya. Tidak ada persamaan antara wali Tuhan ini yang keseluruhan wajahnya bermandikan cahaya iman, dengan Mohamed Weess yang asli, yang setiap pagi dari jendela sekolah bersumpahsumpah dengan nama Tuhan bahwa jika dia tidak rugi sebanyak tiga lira dari biri-biri yang baru dibelinya itu, dia akan menceraikan istrinya. Aku telah menziarahi Mohamed Weess dengan perasaan ragu-ragu dan serba ingin tahu. Namun, perubahan sedemikian rupa yang terjadi pada dirinya itu telah menyadarkan aku bahwa dia memang akan mati pada keesokan harinya seperti yang ditetapkan. Aku geram mendengar suara kuat Sheikh Mohamed Sa'id membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an sambil melirik ke arahku. Antara diriku dengan sheikh yang sifatnya merupakan gabungan sifat sederhana, bodoh, dan licik ini, aku merasakan adanya suatu rasa permusuhan yang sudah lama tumbuh. Aku sebenarnya benci kepada orang yang berlagak pandai dan suka menipu, hingga berhasil menguasai perasaan para penduduk desa yang tidak tahu apa-apa. Sementara itu, dia selalu menghasut penduduk desa supaya membenci dan menentangku dengan menuduh aku mengajar ajaran yang menghina Tuhan dan Rasul-Nya. Sesungguhnya usahanya itu tak pernah berkurang walaupun ia mulai mengetahui dari orang ramai bahwa asal-usul keluargaku adalah dari Zain al-Abidin, cucu dan mantu lelaki Nabi Muhammad. Sebaliknya, dia menjadikan ini sebagai alasan untuk terus bermusuhan denganku dan berkata: "Lihatlah lelaki itu, keturunan Zain al-Abdidin yang menyatakan dunia ini berputar dengan sendirinya, tetapi saya serahkan kepada kalian semua, pernahkan salah seorang dari kalian melihat pintu rumahnya yang menghadap ke timur itu tiba-tiba berputar jadi menghadap ke barat! " Sebagaimana yang aku katakan, aku merasa sangat marah begitu melihat kehadiran Sheikh Mohamed Sa'id. Aku hampir meraung dan meneriakkan bahwa dia sebenarnya seorang pembunuh, bahwa dialah yang membunuh Mohamed Weess dengan racunnya, yakni dengan menanamkan ke dalam fikiran Mohamed Weess bahwa ia akan mati dalam

3

waktu empat puluh hari. Bagaimanapun, sepanjang ingatanku, aku tidak pernah berhasil mengalahkan Sheikh Mohamed Sa'id dengan menyatakan perasaan benci dan marahku, karena ia senantiasa berhasil memenangkan hati penduduk desa dengan argumenargumennya yang lapuk. Yakni dengan menunjukkan bahwa bumi ini tidak berputar dan menanyakan apakah pernah terjadi seorang penduduk desa melihat pintu rumahnya yang menghadap ke timur tiba-tiba berputar ke barat? Dengan demikian, jelaslah bahwa bumi tidak berputar. Tuhan mengampuninya karena mendendamku dan Tuhan juga mengampuni Mohamed Weess meski dia akan terus berada di bawah pengaruh gila Sheikh Mohamed Sa'id hingga keesokan harinya. Dengan perasaan yang berat campur kecewa dan marah, aku langsung ke luar dari ruangan sekolahku. Mohamed Atallah, porter sekolah itu, telah mengejutkan aku pada waktu subuh. Aku telah menyimpan tiga butir buah pear yang aku bawa dari Damsyik itu di bawah jerigen air. Aku mengambilnya sebuah, kemudian segera menuju ke rumah Mohamed Weess. Halaman rumahnya kelihatan lengang, kecuali beberapa ekor kambing dan biri-biri yang seolah menanti saat kematian tuannya, dan selepas itu kematian mereka pula. Sisi bagian orang perempuan sedikit lebih terang dan dibauri dengan tangis perlahan. Pintu kamar Mohamed Weess tertutup, jadi aku mengintainya melalui pintu yang tertutup itu dan mendapati Mohamed Weess sedang tidur. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa dia keletihan setelah sepanjang malam beribadat sebagai persediaan menghadapi saat kematiannya. Aku mengetuk pintu beberapa kali, kemudian mendorong, dan membukanya sambil menyapa keras: "Segala Puji bagi Allah, Mohamed Weess" Dia terbangun dari tidurnya dengan masih terkantuk-kantuk. "Apa dia?" jeritnya. "Saya Naji, guru sekolah. Jangan takut Mohamed Weess. Dengar ucapan saya. Aku melihat air matanya menetes hingga ke pipi ketika ia duduk dengan lidahnya kelu dalam ketakutan. Karena kuatir dia akan langsung mati akibat sangat ketakutan sebelum sempat mendengar apa yang akan kukatakan, aku segera bersuara: "Saya datang bertemu anda, karena saya baru saja disadarkan oleh moyang saya, Zain al-Abidin. Semoga Allah memberkatinya, dan dia berkata kepada saya, 'Pergilah temui Mohamed Weess dan beritahu dia bahwa Allah telah mengujinya dan mendapati bahwa dia adalah hambanya yang sudah insaf akan semua dosanya. Berilah kepadanya buah ini, salah satu daripada buah-buah yang ada di surga. Suruhlah dia shalat bersama kamu dua rakaat sebelum naik matahari. Pada rakaat pertama, dia mesti membaca Surah al-Nasr dan Allah akan memanjangkan usianya sehingga dia dapat hidup dan melihat anak-cucunya." Mohamed Weess menelan air liurnya. Tampak bagiku bahwa ia seperti tidak percaya semua yang aku katakan. Matanya tertegun merenungi buah pear di tanganku (aku yakin tak ada seorang pun di desa ini yang pernah melihat buah pear ini sebelumnya). Aku mengupasnya dan menyuapkan ke dalam mulut Mohamed Weess, lalu menyuruh dia menelan semuanya, sekalian dengan bijinya. Kemudian aku menariknya ke sudut kamar. "Mohamed Weess , bersiaplah untuk sembahyang sebelum hari siang." "Tapi saya belum lagi bersuci, Tuan Naji."

4

Tetapi. ini dibenarkan dalam Qur'an. Sebagai seorang Doktor ia menerjunkan diri di bidang politik. bertambah oleh kenyataan bahwa aku gagal mengurangi meski seorang saja jumlah jemaah yang mengambil bagian bersembahyang bersama-sama di belakang Sheikh Mohamed Sa'id.Aku lantas teringat bahwa aku juga belum bersuci. 5 . kini berhimpun di halaman sekolah. Keraguanku akan nilai kemenangan ini. dia membaca kesemua surah al-Nasr. karena kuatir kesan yang diharapkan itu akan hilang. bilangan jemaahnya telah bertambah satu lagi. Malah hewan ternak tersebut diserahkan kepadaku sebagai hadiah dari teman-teman Mohamed Weess kepada wali Allah. dan bukan dengan tayamum! *** Salam al-Ujaili dilahirkan di Rakka. seluruh desa telah mendengar cerita baru tentang Mohamed Weess. Dalam rakaat pertama." Aku bersembahyang berdiri di belakang Mohamed Weess. Kami bersembahyang dua rakaat. guru sekolah keturunan Zain al-Abidin! Tetapi apakah ini sungguh suatu kemenangan? Sebenarnya aku sendiri tidak pasti. Berkali-kali ia pernah menduduki jabatan sebagai menteri. Pada ketika itulah aku merasakan bahwa akhirnya aku berhasil mencapai kemenangan mutlak atas Sheikh Mohamed Sa'id. Untuk mengekalkan kehormatan keturunanku. masing-masing sibuk untuk mengetahui bagaimana moyangku Zain alAbidin datang kepadaku membawa keampunan Allah untuk Mohamed Weess. aku lantas berkata: "Buatlah tayamum. Diterjemahkan oleh Nikmah Sarjono. Tekankan kedua telapak tanganmu ke tanah. Naji. Syria pada tahun 1918. yaitu aku sendiri. Mohamed Weess. aku mendapati diriku terpaksa berjemaah di belakang Mohamed Weess pada setiap kali sembahyang dengan bersuci sepenuhnya. Dalam tempo sejam. Selepas itu aku terus pulang ke sekolah menunggu hari siang. Mereka yang semalam memenuhi halaman rumah Mohamed Weess. termasuk sebagai Menteri Kebudayaan. yaitu sebagaimana dengan mimpi yang aku reka itu. Ini karena Mohamed Weess tidak mati dan kambing serta biri-biri di halaman rumahnya juga tidak jadi disembelih. Sebaliknya.

Bu. ''Ya. Ibu harus mengingatkan perbuatan terlarang itu. dokter telah selesai memeriksa pasien kelima. "Oh…. "Penyakit kelamin… ?" katanya seolah tak percaya. Teriakan parau muntah dari bibir perempuan itu. Keduanya duduk berhadapan. Parasnya cantik. "Tolong." lanjut dokter. Dengan malu dan hati-hati perempuan itu menceritakan penyakit kronisnya. "Ada apa. Kalau perlu dibawa serta ke mari. Takut dan gelisah. Kemudian masuk pasien keenam. Tenangkan diri. Saya ingin tanya. . bak mawar putih berlepotan debu jalanan. Dokter menghampiri. Pak Dokter!" teriaknya segera. Matanya berkaca-kaca. Tak terkecuali mereka yang sudah berkeluarga. Bu! Ibu mengidap penyakit berbahaya. Tanpa menunggu kedatangan suaminya dari kantor. Yang saya katakan benar. Penyakit kelamin!" gusar dokter. Dia harus menjaga ibu dari risiko pergaulan bebasnya.Komplikasi Oleh: Naguib Mahfouz 6 Pagi itu. seorang ibu bertubuh semampai dan bercadar. Tapi terselip guratan penderitaan yang mendalam di wajahnya. apakah ibu sudah bersuami?" Perempuan itu menganggukkan kepala. Derita yang dialaminya berubah menjadi ketakutan baru. Bu?" tanya dokter. Kendalikan emosi. Dokter mencermati apa yang diceritakan dengan kondisi sebenarnya. pengobatan penyakit ibu akan sia-sia. Rupanya keraguan dokter terbukti. Tapi tak tahu bagaimana hal itu bisa terjadi. Dokter segera memeriksa. Kalau tidak. Dokter terperanjat mendengar ceritanya. Perempuan itu tersentak seketika. Tenang sedikit tersenyum. Nafsu benar-benar membutakan kaum lelaki. Bagaimanapun juga ibu harus memberitahukan keadaan sebenarnya pada suami. agar kesedihan ini tak menambah kesedihan lain. "Gawat.

jangan. Dok! Suami saya tak boleh tahu masalah ini. Tentu masalah ini akan selesai. Tekad itu menjadikan jiwa dokter sedikit tenang. Tiba-tiba perempuan itu teringat sesuatu. Keresahan mencengkeram jiwa dokter. Sudahlah. Lakukan saja tugasmu. Suami saya orang baik-baik." Dokter gelisah menatap wajah kusut perempuan itu. Tak pantas melampaui batas kewenanganku." saran dokter. Dok?" tanyanya. Mati aku!!" "Tentunya suami ibu juga terjangkit. Kami akan menghindarinya sampai saya benar-benar sembuh.."Tidak…! Tidak…! Tidak mungkin…! Cepat obati saya. Bahwa ia dalam bahaya besar. Ah. "Tapi….." "Meski sudah terlambat?" "Yah …saya tak punya pilihan lain. "Kurang lebih dua mingguan." "Oh…. ditatapnya dokter itu. semua ini terserah Tuhan. itu harus intens. Barangkali Dia akan melindungi suami saya. "Sebaiknya Ibu memberitahukan pada suami Ibu. Bola mata perempuan itu bergerak-gerak bagai air raksa. Mendadak pikirannya menerawang pada nasib keluarga perempuan itu." batin dokter. Mudah-mudahan Tuhan memberi jalan keluar pada keluarga kami. "Mengapa aku mencampuri urusan dan penderitaan orang lain? Aku hanya seorang dokter. Dok. Dadanya sesak. Sepandai-pandainya Ibu memendam rahasia ini. Dokter! Jangan libatkan suami saya!" rengek perempuan itu." "Demi Tuhan. Dengan memelas. toh akhirnya akan ketahuan juga. kecemasan. rasa bersalah bersemayam dalam dirinya. Akhirnya ia mengambil jalan tengah." "Suasana hening mencekam. Jiwanya seakan lebih menderita dibanding rasa sakit di tubuhnya. "Bisakah Dokter menjaga rahasia ini?" tanyanya. Kepedihan. 7 . Dokter langsung bekerja. Aku harus mengobati perempuan lemah ini. Sudahlah! Semuanya kuserahkan pada Tuhan. "Butuh berapa lama untuk menyembuhkan penyakit ini. Sulit rasanya meyakinkan dia supaya menerima kenyataan pahit ini." "Kalau begitu sementara ini saya tidak akan melakukan hubungan seksual.

" "Oh…kasihan sekali. Menampakkan keceriaan di balik kegelisahan yang menyelimuti dirinya." ucapnya dengan hati yang terluka. selesai." jawab lelaki itu. 8 *** Esoknya. "Tak perlu takut." sambut dokter. Coba Ibu lihat daftar ini! Bukankah penuh dengan nama dan alamat pasien? Jangan takut. Raut mukanya tampak cerdas dan berani. "Ibu Muhammad Abbas Efendi." "Saya benar-benar menyesal. "Penyakit apa?" "Penyakit yang banyak dikeluhkan orang. tak perlu sedih. Saya usahakan tiap hari datang ke sini. Akan kuusahakan semampu saya. Dok. "Selamat sore." hibur dokter. Ketika perempuan itu beranjak keluar." "Menyesal?" . Dok. perempuan itu datang." katanya. Selain Jumat. datang pasien berumur 30 tahunan. Wajah perempuan itu tampak ketakutan." jawabnya sembari menarik nafas. Pekerjaan dokter telah menghentikan langkahnya. Ini hanya formalitas belaka. Tenang saja! Kujamin rahasia ini tak kan terbongkar selamanya. "Saya mengidap penyakit. dokter "Siapa nama Ibu?" tanya dokter." Lalu perempuan itu menghela nafas. Dok. "Sore. "Untuk apa?" tanyanya. Lelaki itu tertawa. Menjelang petang. pegawai DPU. Badannya tinggi tegap. "Saya rasa cukup sampai di sini dulu. saya hanya seorang dokter. Tentu."Tentu. Ia katakan bahwa kondisi suaminya sehat-sehat saja.

Saudara akan dapat menyelesaikannya dengan baik. Saya sangat sedih begitu tahu istri tercinta saya juga mengalami hal yang sama. Silahkan ke kamar itu! Tunggu sebentar. Saya benar-benar terjepit. Mendadak jiwanya bergejolak. Sepasang suami-istri itu ternyata pendosa. Lantas bertanya. Dok?" tanya Abbas berulang-ulang. Pergi. Akan kuterangkan ihwal penyakit yang diderita istrinya." jelas Abbas. Usahakan ajak istri Saudara ke sini. Dok?" Kini rahasia itu telah terbongkar. Dok. Apa yang harus saya perbuat. Tolong sebutkan nama Saudara!" "Muhammad Abbas." Abbas bingung. dokter. Akan kuyakinkan padanya bahwa perempuan itu adalah korbannya." Dokter menerawang. Dokter segera melihat dengan seksama daftar nama-nama. Sekarang dokter tahu bahwa bukan hanya bujangan yang bisa terperosok dalam dosa. mulut dokter hampir mengeluarkan kata 'Hah'. "Dok. Tatkala dokter hendak melangkah menuju kamar praktek. Lantas keduanya akan kuobati sampai sembuh. Abbas merengek. Mereka menyesali diri. "Saya usahakan. hingga persoalan ini selesai. Semoga Abbas berhasil membawa istrinya ke mari." jawabnya lemah. "Memangnya kenapa?" "Saya sudah berkeluarga. Abbas tak tahu bahwa perempuan itu lebih menderita dibanding dirinya. *** 9 . kalau tak mendengar pertanyaan Abbas. Giginya geregetan. Apa Dokter merasa rugi bila ada orang insaf datang padamu? Apa pasienmu akan berkurang?" "Kukira Saudara datang ke sini bukan untuk berfilsafat."Menyesal. Dokter menyembunyikan wajahnya. Dengan demikian lelaki itu mau kembali pada istrinya dengan penuh penyesalan. Jangan sampai dia curiga. "Tenang saja. begitu tahu bahwa dialah orang yang terancam bahaya besar itu. saya khawatir penyakit ini akan berakibat buruk." kata dokter dalam hati. Kemudian Abbas melangkahkan kakinya. "Tahukan Saudara? Istri Saudara juga terancam!" "Ya. "Mudah-mudahan Tuhan memberi jalan kebaikan bagi istrinya. Kepalanya tertunduk hampir menyentuh lembaran daftar nama yang ada di depannya. Dokter hampir saja terlena oleh pikirannya. "Saya harus bagaimana.

semakin keras istri saya menolak. Sinar matanya menyimpan banyak pertanyaan. Perlu Dokter ketahui. Impian untuk menimang anak. 10 . "Menurut Dokter apa?" baliknya. Saudara tidak bisa meyakinkannya. Saya yakin menusianyalah yang menyebabkannya. Ia mesti memeras otak untuk mencari jawabannya. "Singkatnya begini. Dok?" "Emm…sebenarnya persoalan Saudara sudah beres. tidak'. Dok. Wajahnya pucat. saya harus menjalani masa sulit ini.beginilah jadinya!" Abbas diam sejenak. Sekarang saya telah bercerai dengan istri saya. Tapi saya bingung." Hati Abbas penuh teka-teki. Mana?" "Yah…. wajahmu pucat dan sedikit berubah. "Kukira Saudara mengajak istri Saudara. ia akan datang bersama Abbas. bagaimana saya harus meyakinkannya. Saya berbohong: 'Kulihat akhir-akhir ini. mereka justru melalaikan dan membebankan pada dunia!" kata dokter. Pokoknya tidak. Abbas menggelangkan kepalanya. Istri saya menjawab: 'Alhamdulillah. Aku benci dokter. Saya mengira dia gelisah karena kegelisahan saya. Seolah tampak lebih tua dari biasanya. Entah sampai kapan. Kemarin malam. "Semakin banyak saya menuntut. Tak bisa menguraikan apa yang terjadi di balik peristiwa itu. Bagaimana kalau kita periksakan ke dokter?' Istri saya justru marah dan menolak keras: 'Tidak! Kau mengkhayal. Lalu dengan ragu-ragu. Rasanya sakit dan ingin marah. "Ada apa?" tanya dokter terperangah. Tiba-tiba istri saya gelisah. saya berniat mengajak istri saya kemari untuk menemui dokter agar saya bisa tenang. belakangan ini saya mengalami banyak peristiwa menyedihkan. bagaimana harus menjelaskan padanya. Saya mengharap dialah yang memulai bertanya. Tatapan matanya layu. Saya coba memohon dengan baik-baik. Kemudian berbicara dengan terbata-bata karena putus asa." Dokter membungkukkan bahunya. Dokter mengira sore ini. Terpaksa sayalah yang memulai bertanya: 'Apa kau tak punya keluhan? Barangkali sakit?' Saya pura-pura tenang. "Oh…hidup di dunia memang susah. Saya juga tak tahu bagaimana harus memulainya. kudekati istri saya.bagaimana lagi. Tapi ia tak melakukannya. istri saya malah melawan dan bersikeras pada pendiriannya. Kebingungan mendekap. Tapi sayang. Aku ragu dan bosan mendengar nasihat mereka. kini telah hilang. Lalu dengan hatihati." tutur Abbas. Hati saya dongkol. "Saya sudah sering kali mendengar keluhan-keluhan seperti itu. Dada saya sesak.Perempuan itu tak datang pada hari yang telah dijanjikan. Abbas dirundung ketakutan. Usaha saya sia-sia. Parahnya. Tapi yang datang ternyata hanya Abbas. Ya…. Saya terus mendesaknya. "Entahlah. Sedih. Saya bingung.

Dok. Saya ingin lepas dari belenggu perkawinan ini.Rambut saya berdiri mengeras seperti landak. saya menjadi korban yang sia-sia! Adakah lelaki yang bernasib seperti saya. tak mampu kuasai diri.Karena saking suntuknya. Bagaimana saya bisa melepaskan selimut tebal dosa ini? Bisakah saya tabah menghadapi cobaan ini? Bisakah saya kembali bersih dan sehat seperti dulu lagi. Tapi ia yakin bahwa dirinya tak melampui batas kewenangan. Saya semakin bingung dan bertanyatanya: 'Apa yang membuatmu takut. Tak ada kata 'tidak' dalam diri saya. Saya bertanya dalam hati: 'Ada apa. Dok?" "Dosa telah memperdaya dan menjerat saya. "Oh…saya telah berbuat dosa dan pantas mendapat hukuman." lanjut Abbas. Padahal merekalah cahaya hidup saya yang senantiasa bersinar. saya melangkah ke arahnya. Bengis. Tubuhnya menggigil. Musnah sudah bayangan hidup bersama buah hati saya. Aku telah berbuat dosa! Pasti kau sudah tahu semuanya. Tolong! Jangan sentuh aku. Saya bingung dibuatnya. Ceraikan saja aku!' Tiba-tiba istri saya tersungkur di kaki saya kemudian pingsan. Tubuhnya mengejang. Perempuan itu sungguh membuat repot suaminya. saya berteriak keras. permintaan ampun dan pingsannya itu yang jelas hanya karena satu hal. Otak saya tak kuasa lagi berpikir dengan jernih: 'Ayo ikut aku ke dokter! Aku prihatin dan ingin tahu apa sebenarnya penyakit yang kau derita. Istriku?' Saya coba mengulang pertanyaan dengan lembut. Membuang semua kemarahan yang ada dalam diri saya. Aku telah bersumpah pada Tuhan. 11 . Pengakuan dosa. Perasaan tentram. Cerpen ini diterjemahkan dari antologi cerita pendek Hams al-Junu'un. Raut mukanya berubah aneh. dari Judul asli alMaradl al-Mutaba'adil oleh Ahmad Sya'roni dan Herri Munhanif. Tuhan. tapi istri saya memotong dengan gerakan aneh. dan pada 1998 mendapat Hadiah Nobel. Kini saya ingin pikiran saya terbuka. Matanya melotot. Saya telah ingkar. Kepala saya panas. Dok?" "Runtuh sudah bangunan rumah tangga saya. bimbinglah jalan hidupku. Saya terjerumus dalam jurang yang curam." tambah Abbas. Otak saya ragu. Abbas! Ampun…! Rahasiaku telah terbongkar.*** Naguib Mahfouz lahir tahun 1911. Dok? Saya hanya menduga. Istriku? Kenapa kau tak mau ke dokter?' Istri saya justru berteriak lebih keras: 'Tidak…! Tidak…!' Saya bertambah marah.' Belum selesai saya bicara. istri saya bicara menantang bagai ular yang siap mematuk mangsanya. Dengan murka. Istri saya menjerit: 'Ampun. Karenanya. "Apa maksud semua ini.

Sampai kemudian kami menyadari. rusa. sementara . ular. hanyut oleh pikiran kami. Cerita-cerita penaklukan. Telah kami sibak semua palung lautan. sebelum sampai ke telaga ini. sesekali meleleh oleh arus gelombang. Membuat kami begitu merasa terhina. Telah kami jelajahi seluruh hutan. untuk memburu binatang-binatang.Para Pemburu Oleh: Agus Noor 12 Purnama mengapung di telaga. Kami seperti mengejar kilat. betapa binatang-binatang di dunia ini perlahanlahan telah habis kami buru. Hingga kami merasa benar-benar sendiri. jumlah kami memang makin membesar. Nenek moyang kami telah membentuk kami sebagai pemburu paling ulung. nenek moyang dan anak cucu kami. buruan kami tetap saja melenggang bebas. Kami adalah bangsa pemburu yang besar. Inilah perjalanan terjauh dan terlelah kami. Lagu-lagu kami adalah lagu-lagu perburuan. Sampai kelinci. mengantar tidur anak-anak kami. macan. telah lenyap kami tangkap. tupai dan tikus. binatangbinatang itu juga sudah terlalu hafal dengan kami. Seakan sia-sia kebesaran kami sebagai pemburu yang telah berabad-abad mengabdikan hidup dan peradaban kami hanya untuk berburu. Inilah pertama kali kami merasa begitu lelah. Apalah arti kami bila tak lagi hidup sebagai pemburu. Siapakah yang tak tahu akan hal itu? Kami tak pernah gagal memburu sesuatu. Menjadi hutan lebat yang tumbuh dalam kepala mereka. Barangkali. melulurkan kesejukan pada lengan dan kaki yang bengkak. Maklumlah. Telah kami bongkar tiap lekuk pegunungan. tetapi kali ini. Kami memandanginya dengan gamang. setelah bertahun-tahun memburu buruan kami yang bergerak begitu cepat. Meletakkan semua senjata yang selama ini kami jinjing dan gendong. Maka mereka buru-buru menjauh pergi. bukan sebagai cara kami bertahan menghadapi hidup. begitu tercium bau kami. Sebagian dari kami langsung merebahkan tubuh atau bersandaran pada batang pohon dan gundukan batu. Legenda kami adalah penaklukan puluhan binatang buruan. Sebagian lagi menyempatkan diri membersihkan wajah terlebih dahulu. tetapi lebih untuk kebanggaan dan kehormatan. dari tahun-ketahun. Kami tak pernah tergoda menjadi petani atau pedagang. Kami mengembara dari satu benua ke benua lainnya. Tak ada yang lebih terhormat bagi kami. selain menjadi seorang pemburu besar yang sanggup merobohkan gajah dengan satu gerakan. ditangkup sunyi daun-daun yang mandi cahaya. Kami sudah tahu bagaimana menyembelih wildebeest. Setiap bulan hampir seratus anak kami lahir. Seluruh kekuatan dan pengalaman kami sebagai pemburu telah kami keluarkan sampai tandas. Kami beristirahat di pinggir telaga itu. Seperti juga semua makhluk yang ketakutan mendengar gemuruh kaki kami. Tetapi mungkin juga memang binatang-binatang itu sudah habis kami bunuhi. melihat kehormatan kami akan goyah suatu ketika. Setiap dari kami dibesarkan dalam belukar. badak. Gajah. Angin bergegas pergi oleh kedatangan kami. serigala dan segala macamnya. sejak kami masih dalam kandungan. Membuat kami cemas.

mendatangi kami. Jangan cemas. Anggap semua ini hanya permainan. Banyak juga di antara kami yang mati dalam perkelahian. Adakah yang lebih menyenangkan. Memburu budak-budak itu lebih mengasyikkan dari pada memburu binatang. Rupanya. Selamatkan kehidupanmu. Sampai kemudian ide brilian terlontar. Kepada mereka kami tawarkan kebebasan.orang-orang tua kami bagai tak bisa mati. Ketika kisah-kisah kami menjalar ke banyak negara.” Dan para pesakitan itu pun kami lepas dengan upacara kehormatan. Tapi itu lebih baik bagi kalian. ketika dari banyak yang datang ke pada kami itu adalah para jendral. Selamat jalan. Setiap detik adalah pertarungan. banyak di antara kami yang menolak. Tapi sudah lama kami kesulitan menegakkan kehormatan macam itu. Menjadi tradisi. selain melakukan perburuan semacam ini? Mereka kami beri kehidupan sekaligus batas kematian. banyak orang di luar suku kami. Kami tak lagi memburu binatang. yang membuat kalian akan merasa memiliki harga sebagai seorang pesakitan. Maka kami pun membeli ratusan budak. tak hanya kami yang suka dengan permainan semacam itu. lari. Karena. “Perburuan tak mungkin berhenti!” “Kita akan cepat renta bila sehari tak memburu apa pun!” “Takdir tak bisa dihentikan. Para penjahat itu. Itu menjadikan kami begitu bahagia. sasaran perburuan yang menggairahkan. tapi tak gampang mati.. Kami iringi dengan lengkingan terompet dan juga dentuman meriam. Anak-anak kami pun nampaknya lebih suka dengan perburuan macam itu. Kami membeli juga para penjahat yang telah divonis mati. meski kami akan memburu kalian. Meskipun kalian juga tak luput dari kematian. Tetapi kami tak bisa menolak. Lantas. Dan itu. kebiasaan baru tumbuh dalam kehidupan kami. Mereka sudah renta. baru kemudian kami memburu mereka. seperti kami katakan tadi. Semoga nasib baik bersama kalian. untuk menggantikan binatang yang kini telah musnah. Mereka kami lepas ke tengah hutan. tetapi masih sanggup berlari mengejar entelope. “Masuklah dalam hutan. semua binatang telah habis kami buru. Mula-mula. Banyak di antara kami yang sudah berusia 7890 tahun. hingga pecah berantakan. Bahkan membuat kami lebih merasa sempurna sebagai pemburu. perlahan-lahan. karena hal itu dianggap akan mengotori kemurnian darah pemburu kami. memang makhluk yang tak gampang menyerah. kalian masih punya kesempatan untuk memperpanjang kehidupan..” “Lantas bagaimana?” “Apa pun yang terjadi kita mesti memburu sesuatu!” “Memburu apa?” Itu membuat kami terdiam. Liat dan sigap. Kami akan memburu manusia. Mati dalam perburuan ini lebih terhormat bagi kalian. kemudian menghantam kepala binatang itu dengan kepalan tangan. untuk ikut menikmati perburuan itu. membiarkan mereka lari dan menghilang. tapi manusia. Inilah hidup yang sesungguhnya. orang-orang 13 . kami bunuh. sungguh. Mereka lebih menantang untuk kami taklukkan. dengan cara melarikan diri. dari pada mati di tiang gantungan: tak lagi punya pilihan. Mereka kami beri kesempatan untuk bebas. Dan itulah kehormatan.

para bangsawan dan pengusaha besar. menggulung apa pun yang kami sukai. keisengan. sehingga permainan menjadi tak lagi begitu punya arti. tetapi juga denting gelas dalam kehangatan pesta. ketika kami memburu dan membantai orang-orang muslim di Bosnia. ketika kami mengirim pasukan pemburu ke banyak negara untuk meluluhlantakkan apa saja. Suaranya sudah gemetar. para raja. tetapi penaklukan yang membosankan. Kami perlahan-lahan meninggalkan cara hidup kami di hutan. yang sudah berumur 100 juta tahun lebih. dengan dukungan dana yang melimpah.besar di negara mereka.” Gelas kami beradu. Kami terus memburu.” Lalu seseorang yang paling tua di antara kami. terkadang. Juga kaum intelektual yang selama ini mereka benci. jangan sedih. Jangan biarkan mereka menjadi lembek karena rasa sunyi ini. tak ada lagi kegairahan karena kemenangan. Ah. menumpuk tengkorak kepala korban kami hingga menggunung sampai menyentuh awan. 14 . menyarankan kami agar mengumpulkan para kiai. pasokan senjata yang bagai anggur mengalir dalam gelas-gelas kami.. Kami tak lagi hanya terbiasa dengan bunyi pedang. Para pengusaha mensubsidi kami modal bermilyar-milyar. begitu melimpah buruan kami. mengijinkan tempat-tempat itu untuk kami kelola dan kembangkan sebagai ladang perburuan yang lebih menantang dan menyenangkan. Itu sering membuat kami terusik sunyi. yang memang memiliki kebiasaan berburu seperti kami dan memiliki lahan-lahan perburuan yang luas. Para bangsawan. seakan maut sudah menyentuh bibir orang tua itu. Kami seperti kehilangan buruan yang mengasyikkan. Ketika kami menjarah perempuan dan membunuhi anak-anak. Para jendral menyediakan kami senjata-senjata paling mutakhir. puluhan kepala negara. Jangan biarkan anak-anak kita menjadi pucat dan pasi. Hingga kami tak lagi kekurangan buruan. kami terus bergerak dari benua ke benua dari zaman ke zaman. yang telah menjadi sekelompok pemburu yang paling kuat. “Ini darah seorang penyair untukmu. sendiri. Para raja dan kepala negara mempersilahkan kami untuk memilih rakyat mereka sebagai binatang buruan. dan kami tertawa bahagia. Begitulah memang mestinya nasib penyair yang tak menulis syair pujapuji bagi keagungan kami. Hidup pemburu agung! Kami pun menjadi kelompok pemburu yang besar. dengan setiap malam tidur di ranjang yang bersih dan nyaman. yang melintas bagai badai dan gelombang. hingga pertarungan menjadi tak sepandan. tetapi kami bebas memilih siapa pun yang paling menyenangkan kami buru. Kami menjadi kaum pemburu yang kian kokoh dan terhormat. Kami berdiri di puncak menara peradaban. Malah sering para raja dan kepala negara memberi kemudahan kami dengan memberi lisensi untuk menghabisi para tokoh oposisi yang tak mereka sukai. melintasi gelombang waktu. tempat kami berpesta setelah seharian berburu. Apalah arti semua itu bagi jiwa pemburu kami? Semua itu bukan lagi gairah petualangan dan tantangan. “Kita harus melakukan sesuatu. menjadi tak tertandingi. Bahkan mereka menjanjikan kami lahan-lahan perburuan yang lebih luas. Perburuan bukan lagi perkara kebesaran dan kehormatan. Apakah arti kekuatan bila tak ada tantangan yang sepandan? Tak ada lagi yang sanggup melawan kami. Karena kami sudah terlalu kuat. para demonstran untuk kami habisi. tetapi juga. Di antara kemeriahan pesta. ketika kami memburu ribuan orang Yahudi untuk kami kirim ke kamp konsentrasi. Kami.. tetapi kami selalu dirundung sunyi. Kami bangun juga istana-istana. Kami tak hanya punya kesempatan memburu para penjahat yang telah divonis mati. kami terus menuliskan sejarah kami yang agung. ketika kami menembaki anak-anak Palestina. Tak ada lagi yang berani menggertak kami.

“Untuk apa mengumpulkan para kiai itu?” “Aku sudah mencium ajalku. “Kami tak mau tahu. Membuat darah kami menggelembungkan jiwa pemburu kami. kami giring ke sebuah istana kami yang paling megah. Seluruh bangunan itu terbuat dari pelapah kayu. Kami turut kemauan mereka. bagaimana cara kalian mendatangkan Jibril bagi kami. Bila selama ini kalian tak bisa mendatangkan Jibril bagi kami. Tetapi mereka menolak. berkelok-kelok mengikuti 15 . Barisan kiai masih antri di depan masjid itu.. Apalagi ketika kami melihat sendiri masjid itu.” Lantas kami membiarkan satu persatu para kiai itu masuk masjid kecil itu.. katakan kepada kami. Mereka kami datangkan dari semua penjuru. Panji perburuan berkibar. kapan kalian bisa menyediakan Jibril bagi kami?” Kami tatap wajah para kiai itu. mencari kepastian dalam mata mereka. Sekarang. “kalian kami beri waktu satu bulan.” Mereka. kenapa kami tak memburu malaikat? “Jibril! bagaimana kalau kita minta Jibril!” “Kami bersorai. dari seluruh dunia. meski sesungguhnya heran. Kami segera menghimpun topan. Dan aku ingin.” kata kami kepada mereka. para kiai itu.” “Baiklah. membangkitkan imajinasi kami. Bagaimana tempat sekecil itu menampung jutaan kiai yang kami himpun dari seluruh penjuru ini. kalau perlu dengan paksa dan kekerasan. dengan meminta kami mendatangkan Jibril. “Kami ingin Jibril. Apakah kalian akan sholat sepanjang hari? Apakah kalian akan berdoa dan mengaji? Apakah kalian akan menangkar atau menjebak Jibril dengan sebuah perangkap? Kami tak mau tahu dengan itu semua. Kami segera mengeluarkan seluruh senjata kami.” tegas kami. “Kalianlah yang bercanda. sebelum maut menjemputku. aku ingin menikmati perburuan yang paling menggairahkan. “Kalian jangan bercanda!” teriak kami. anggur segera kami tuang dalam gelas. telah lapuk. malaikat.. dan meminta kami untuk membawa mereka ke sebuah kaki bukit di mana ada sebuah masjid kecil di pinggir hutan. Luasnya tak lebih dari lima kali lima tombak. kami akan membikin perhitungan sendiri. kami segera mengumpulkan para kiai. Suruh mereka menyediakan malaikat untuk kita buru!” Kami terpukau oleh gagasan itu. menyambut hari depan kami yang gilang gemilang. “Baiklah. Dan tentu.. bersulang. Ya. membuat kami begitu ternganga.” “Apa hubungannya dengan para kiai itu?” “Kumpulkan mereka. Pintu itu terbuka untuk menerima siapa pun masuk ke dalamnya. Benar-benar masjid kecil yang tak terawat. tetapi masjid itu tak juga penuh. ketika hampir separo dari jutaan kiai itu sudah masuk ke dalam masjid. Gairah menjalar.

Sementara suara dzikir itu terus saja bergema. tak membiarkan seekor tikus lolos dari amatan kami. gembira dan tak percaya. tetapi. Membuat kami tambah cemas menunggu. takut mereka akan keluar dan meloloskan diri ketika kami tertidur. Tetapi seperti yang pertama. utusan kami ini pun tak muncul lagi meski kami sudah menanti lebih lima hari. Dan kami segera menyerbu. Kami panik. dengan sayap terentang sampai ujung paling jauh dari semesta. tetapi tak kunjung keluar jua. Dan kami mendengar gema dzikir dari dalam sana. Jibril. Dan. Namun dzikir itu masih kami dengar. Kadang kami merasa ada yang menggemericik dalam hati kami karena gema itu. Satu bulan lewat. Gema itu melambung. kami melihat selesat biru cahaya menatap kami. Pada saat itulah. kenapa kami malah bengong begitu? Maka. membumbung. itulah yang kami saksikan. Kami memagarbetis masjid itu. yang hanyut dibuai dzikir para kiai. luar biasa. Membuat kami cemas. seperti barisan semut yang begitu tertib menuju lubang sarang mereka . Kami sudah cukup punya pengertian. bukan? Jangan salahkan kami. hingga kayu-kayu bergemeretakan. betapa memang inilah yang selama ini kami tunggu-tunggu. Kemarahan kami menyalakan api di tangan. Seperti batang-batang pohon yang bergoyang itu. di sana. sekaligus marah. seseorang di antara kami berteriak. Kami berteriak menyuruh para kiai itu keluar. Kami tak mau kecolongan. “Jibril!!” “Jibril!!” Seketika kami berteriak. memperingatkan para kiai bahwa waktu sudah habis buat mereka. tak pernah muncul kembali. Kami bakar masjid itu. bagai masuk ke tabir ruang dan waktu pada dimensi lain. lenyap seketika. jangan-jangan semua itu sihir belaka. Sampai kemudian semua kiai telah masuk dalam masjid itu. dan api melahap cepat. Namun orang itu tak kembali.gigir bukit. bersama angin dan embun. Tombak. raib begitu saja. membuat udara bergetar dan perasaan kami gemetar. Begitulah berkali-kali. seperti daun yang melayang-layang itu. anak 16 . Kami kirim utusan kembali. tetapi hanya gema dzikir membalas suara kami. menguap begitu cepat. menyentuh langit. Tiba-tiba tubuh mereka hilang tak berbekas. dengan sigap kami segera meraih senjata-senjata kami. mendadak menyadarkan kami. mengalun menidurkan rerumputan. Kami tak mau di tipu para kiai itu. di puncak kobaran api. semua dari kami yang masuk ke dalam masjid itu. Jutaan kiai masuk ke dalam masjid yang bagi kami hanya cukup untuk tidur dua puluh orang. sepanjang hari sepanjang malam. Tapi seperti yang pertama dan kedua. setiap orang yang kami kirim untuk menjumpai para kiai. kini telah muncul di hadapan kami. kemudian kembali mengirim utusan untuk menemui para kiai di dalam masjid itu. melihat impian kami sudah di depan mata. Kami terus berjaga. itu pun pasti sudah berhimpitan. ya Allah. tertelan dan lenyap. ketika para kiai itu tak juga muncul dari dalam masjid. Apakah ini keajaiban yang dikirim bagi kami? “Buru!” Teriakan itu. Segera kami kirim seseorang untuk menemui mereka. membuat kami tengadah ke puncak api. bagaimana mungkin? Tapi. orang kedua kami pun tak kembali. di pucuk api berkobar. Kami panggil namanya. Lantas kami tak bisa lagi sabar. berkobar dan segera kami lempar pada mesjid itu. masuk dalam masjid itu. antara takjub dan panik.

ranjauranjau telah kami tanam. kami benar-benar tak pernah punya waktu istirahat.panah. Segera menghambur. Maka kami pun kembali bangkit. Kami begitu sibuk memburu Jibril. Di seberang telaga sana. agar kami mampu meringkus Jibril. Kami tak pernah tidur di satu tempat. kami lihat jejak cahaya. Setelah berabad-abad kami hidup sebagai pemburu. “Kesana!” seseorang dari kami berteriak. setelah bermacam pengalaman perburuan membuat kami jadi pemburu sejati. kami sudah harus kembali pergi ketika pada bayangan bulan. Jiwa pemburu kami bergelora oleh gairah perburuan kali ini. Ketika kami baru saja rebahan dan membasuh kelelahan kami di telaga itu pun. Karena kami harus terus mengejar Jibril. Sampai kami tiba di pinggir telaga ini. melanjutkan pemburuan abadi kami.*** 17 Yogyakarta. Sebagian besar dari kami kini benar-benar renta. roket dan basoka. Membiarkan kaki kami koyak oleh duri. kami memburunya. Kemanapun Jibril melesat. Inilah buruan kami yang abadi. dengan cepat berlesatan ke arah selesat cahaya biru itu yang dengan cepat bergerak dengan sayap mengepak. hingga telah lama anak-anak kami tak lahir. Kami tak sempat istirahat. perangkap telah kami pasang. meraih peralatan berburu kami. Tombak terus beterbangan. roket terus berlesatan. mengharap kesegaran akan membuat tenaga kami kembali muda. jaring-jaring baja telah kami rentangkan. Kami tak mau kehilangan jejak. yang menyimpan bayangan bulan. Dan memang. 1995-1998 (Dongeng Buat Mas Danarto) . inilah sesungguh-sesungguhnya perburuan yang sejati. membiarkan rambut dan jenggot kami memanjang tak terawat. Bertahun-tahun kami memburu. dan langsung melesat. Inilah perburuan paling menakjubkan bagi kami. “Kejar!” Kami pun melesat. desing senapan mesin. Banyak dari kami yang mati dalam perburuan ini. Kami tak punya waktu untuk memikirkan itu semua. mengejar Jibril. mengepakkan sayap-sayap cahaya-Nya. kami melihat buruan abadi kami. dan kami pun tak sempat menguburkannya.

Pernikahan Angin
Oleh: Dianing Widya Yudhistira

18

Aku di sini. Berada di ketinggian menara. Menikmati senja. Senja kali ini berwajah pucat. Langit diam. Sepi. Melintas di depanku burung gagak bergaun hitam. Menari di depanku. Tarian yang sebelumnya belum pernah aku saksikan. Seperti mengabarkan sesuatu yang ganjil. Angin masih terlalu cinta dengan kehadiranku. Ia sapa aku lembut. Perlahanlahan aku sapu anak rambut yang tergerai di wajahku. Tulus. Gagak itu masih menarikan tarian yang terluka. Entah tentang apa. Ketika senja berangkat ke malam, perlahan-lahan burung Gagak menghentikan tariannya. Menatap padaku. Tatapan matanya yang tajam, seolah-olah menelanjangi batinku. Aku belum tahu apa yang sesungguhnya Gagak sampaikan padaku. Yang aku tahu, malam ini seperti tak punya nafas. Tak ada angin yang meliukkan tubuhnya. Pohon-pohon diam. Tak kudengar desah dedauan. Gunung-gunung membisu. Demikian juga dengan hamparan laut di depanku. Diam. Malam begitu terbungkus kesunyian. Sehelai daun akasia yang menua, melayang di udara. Jatuh. Terkulai di tanah basah. Kesunyian kian lengkap. Aku masih di sini. Di ketinggian menara. Aku terpaku di ujung lengan cakrawala. Perlahan-lahan aku hela nafasku. Menghembuskannya dengan bebatuan. Tak ada yang menemaniku, malam ini. Tak ada yang mengajakku bicara malam ini. Hanya burung Hantu yang mau menampakkan diri. Seperti biasa. Ia adalah kekasihku. Yang selalu bercerita tentang bulan dan bintang. Yang memberi aku kedamaian. Ya. Seekor burung hantu. Menghampiriku. Hanya saja matanya tak bersinar seperti hari-hari kemarin. Mata itu redup. Burung hantu menatapku. Kosong. Sebaid lirik kehilangan aku temukan di sana. “Selamat malam, Dianing.” “Kabut apa yang menodai matamu, hingga ke pendam rasa ngeri.” “Engkau sesungguhnya, Dianing.” Dibentangkannya tanda tanya di hadapanku.

“Di mana Lismatano sekarang Dianing.” Aku tercenung. Ia menyebut nama laki-lakiku. “Pergilah ke hutan Para, Dianing.” Aku menautkan kening. “Kau akan tahu.” Tiba-tiba angin meliukkan tubuhnya dengan gerakan yang dahsyat. Ia memintalku dengan kekuatannya. Dengan cinta ia terbangkan aku ke hutan Para. Sekelilingku gulita. Tak ada cahaya. Tapi, cahaya bulan bugil membantu penglihatanku. Banyak pohon di kanan kiriku. Depan dan belakangku. Masyarakat pohon. Membisu dan gelisah. “Inikah hutan.” “Ya. Hutan Para.” Suara burung hantu. “Apa yang aku tahu.” “Ikuti aku.” Seperti perintahnya, aku ikuti langkah burung hantu. Semakin aku mengikutinya, jalan yang menanjak kian gelap. Gelap dan sangat gulita. Hanya deru nafas yang dahsyat terdengar di telingaku. Deru nafas yang memburu dan aku akrab dengannya. Terpadu dengan deru nafas yang lain. Entah nafas siapa. Aku langkahkan kakiku selangkah. Tiba-tiba di depanku terang benderang. Astaga!! Lismatano, laki-lakiku bergumul dengan tubuh perempuan lain. Gila!!! Seketika itu angin kembali meliukkan tubuhnya dengan dahsyat. Memintaku kembali. Entah dalam waktu seberapa detik menerbangkan aku. Yang jelas kurang dari satu detik aku kembali berada di ketinggian menara. Aku lunglai. Bayangan Lismatano dan perempuan itu terekam jelas di layar komputerku yang paling pertama. Malamku lunglai. Aku tahu burung hantu masih di sampingku. “Untuk apa kau bawa aku.” “Untuk menjelaskan padamu siapa sosok Lismatano.” Aku hanya bisa menelan pil pahit. Menikmati segala luka hati dengan tulus. Lismatano. Laki-laki yang sepenuhnya aku kagumi. Ternyata mampu menikam darahku.

19

“Apakah aku terlambat, Dianing.” “Sama sekali tidak.” “Mengapa batinmu begitu luruh.” “Aku tengah belajar untuk bahagia dan damai dalam sendiri.” Burung hantu tersenyum. Mengepakkan sayapnya di ketinggian menara ini. Selalu ia yang melindungiku. Telah aku putuskan untuk tak merajuk atau menerima Lismatano. Tak kan lagi aku melakukan kesalahan yang sama. Malam telah melengkapkan usianya. Aku pandang wajah bulan. Lewat cahayanya ia mengucapkan salam. Aku dengar bisikan angin. “Selamat malam.” Aku membalasnya dengan menguap. “Selamat malam, Dianing.” Aku tatap burung hantu. Ia membimbingku ke kamar. Menyelimuti aku. “Tidurlah dengan damai.” Aku mengangguk. Aku tahu ia akan menjagaku sepanjang malam. Di ketinggian menara ini. Perlahan-lahan aku terlena. Hembusan semilir angin menerpaku. Sejuk. Perlahan-lahan aku terbawa ke dunia lain. Dunia yang selalu aku impikan. Hamparan luas rumput hijau. Berbagai macam buah lezat dan makanan tersedia di sana. Di hamparan rumput itu mengalir parit. Yang airnya susu dan madu. Di hamparan luas rumput hijau itu, para bidadari tersenyum ramah. “Oh kehidupan yang menyenangkan.” Sejenak kutinggalkan dunia. Aku benar-benar menikmati dunia lain ini. Dalam tidurku, aku kembali terlempar ke dunia. Tapi, seperti ada yang menghalangi nafasku. Aku terengah-engah. Entah siapa. Wajahnya bersih. Ia bersayap dengan baju serba putih. “Aku akan menjemputmu, Dianing.” “Menjemputku!?” “Ya. Ke alam baru. Kehidupan yang sesungguhnya.” Aku tak mengerti.

20

Burung hantu menyentuh bahu kananku. Seolah mencegahku. “Kau tak bisa menghalangiku. Ini perintah Tuhanku. Tuhanmu jua.” “Ia masih terlalu muda.” “Kehendak Tuhan.” Aku lihat mereka berdebat. Mereka asyik dengan argumen-argumen mereka. Sementara aku hanya bisa menikmati perdebatan mereka. Karenanya, burung hantu terkapar. Sayapnya patah. Sosok bersayap itu kembali padaku. Tangannya yang dingin menyentuh kulitku. Entah apa yang ia lakukan. Yang aku tahu, sungguh tubuhku merasakan sakit yang dahsyat. Setiap kali tarikan hebat itu lepas kembali ketika menyentuh di leher. Aku mengerjang, merintih, terpuruk, lelah. Aku lihat burung hantu kembali bangkit. Kali ini tak ia pedulikan sayapnya yang terluka. Ia berusaha mencegah keluarnya rohku dari jazadku. Jadilah jazadku ajang perebutan roh. Sosok bersayap itu menghendaki rohku. Burung hantu ingin rohku tetap menyatu dengan jazad. Mereka tak tahu bagaimana aku menahan sakit. Cukup lama mereka bertarung. Entah berapa waktu. Karena sakit, aku merasakan sangat lama. Kekuasaan Tuhan tak ada yang mampu membendung. Hingga aku benarbenar terlempar ke dunia lain. Roh yang bertahun-tahun menghuni jasadku, kini telah diinginkan pemiliknya. Aku terbang tinggi tanpa tahu di mana akan berhenti. Aku saksikan jasadku dimandikan bunda dan saudara-saudaraku. Beberapa orang yang menyayangiku hadir di kematianku. Mereka mengucap seuntai kalimat duka. Ketika jasadku dishalatkan, aku merasakan kesejukan yang sangat. Tapi, aku merasakan sakit ketika bunda dan saudaraku terisak di makam. Ketika jasadku mulai dimasukkan ke liang, kedua saudaraku pingsan. Duh, jalanku tersandung semak belukar. Perlahan-lahan tanah menimbun Jasadku. Hingga merata dengan tanah. Tertanam sudah jasadku di tanah. Aku melesat ke langit demi langit. Beribu roh berkumpul di alam yang sulit aku uraikan. Berupa-rupa aku temui. Di depanku layar besar mengungkap kembali kisahku di dunia. termasuk kisahku dengan Lismatano. Aku merasakan getar aneh ketika melihat Lismatano. Entah, di alam yang lain ini aku masih mengenang Lismatano. Laki-laki yang pernah berjanji akan menikahiku. Di tengah riuhnya roh-roh yang menuju pengadilan akbar itu, tiba-tiba muncul burung hantu. Ia menuju ke Tuhan. Ia mengadu tentang aku. “Aku ingin Ia diberi keisitimewaan.” “Tentang apa.” Aku menatap burung hantu. “Biarpun Dianing telah kau ambil, berikan ia kesempatan ke dunia.”

21

Bulan bulat penuh. “Aku tunggu kedatanganmu di dunia.” Aku terpana.” “Oh ya. Aku lewati langit demi langit. Dianing.” 22 . mega. “Gerangan siapa membuatmu sepi. Seperti menunggu kedatangan.” Matanya berpendar. Ia menjerit. Aku izinkan ia suatu ketika turun ke dunia. Indah sekali. “Cukup lama kami menunggu. Tersenyum dan memberi salam padaku. langit cerah. Dianing. Ia bugil di malam yang damai itu. Burung hantu mengepakkan sayapnya.” Burung hantu terbang.” “Ya. Lama menunggumu dan juga tengah menunggumu. Aku bahagia melihat secercah wajahnya yang ceria.” Kami berpelukan. UNTUK pertama kalinya aku turun ke dunia. bulan menuju ke dunia. Wajah yang cerah itu tiba-tiba luruh. Gemerlap bintang menyambutku.” “Ya.” “Cepatlah kau temui burung hantu. Aku lihat wajahnya sepi.” Aku lihat burung hantu terpekur sendiri. bintang. Aku temukan sebaid lirik kehilangan di matanya. “Boleh aku tahu dukamu. “Dianing. Ia menembus awan.” “Tentu.” “Bila Tuhan mengizinkan. Aku bertemu dengan mega. Aku membalasnya dengan anggukan tulus. Atas izin Tuhanku. Seperti berabad-abad lalu.” “Ya.“Maksudku melihat dunia.” “Baik karena cintaku aku merestui Dianing.

” panggil burung hantu lirih.” Burung hantu masih bertengger di pohon randu. “Dianing. Lismatano. Di 23 . Serumah tanpa ikatan sah sebagai suami istri. Hidup bersama tanpa kata yang jelas.” Burung hantu menggeleng.” “Mereka seatap tanpa ikatan. Telah berpaling dengan perempuan lain.” “Lalu?” “Lismatano memilih jalan buruk. “Lismatano tak pernah menikahi perempuan itu.” “Bicaralah.” Aku tak mengira laki-laki masa laluku memilih hidup yang naif.” Aku lunglai.” “Maksudmu.” “Hutan Para!?” “Lismatano ada di sana dengan perempuan itu. “Untuk apa.Burung hantu menatapku. “Maukah kau ke hutan Para. “Kau tahu bukan perbuatan mereka melebihi hubungan suami istri. “Bukankah mereka telah menikah. “Bila kau berkenan. Tiba-tiba begitu sepi. laki-laki yang pernah aku dambakan jadi suamiku.” “Ya. Tak sekedar gelap. Bukankah ia bagian dari hidupmu di dunia.” Aku luruh.” Aku kembali ke hutan Para.. Tatapan yang sulit aku urai. Aku terpana.. terjal dan mendaki.

Perempuan itu berubah binatang yang sangat mengerikan. Tiba-tiba. Dianing.” Aku menekuri tanah. Aku di atas pohon randu. Tubuh Lismatano mengeras. Tapi burung hantu segera menerbangkan aku.” Aku hanya mengangguk. Pergulatan yang dahsyat. Ya.” Aku menghela nafas. Saling menumpahkan nafsu.” “Itulah yang pantas mereka terima. Aku terpana. Lebat dan kotor. Dan aku kini mulai belajar untuk damai dan bahagia dalam sendiri.hutan Para itu aku kembali menyaksikan Lismatano bergulat dengan perempuan yang sama. Ia dalam keadaan yang mengerikan ketika membatu. Kini tak bisa bergerak. “Yuniz nama perempuan itu. Mulutnya lebar ke arahku. “Mengapa dengan mereka. . entahlah mengapa tibatiba aku terpaku di depan mereka. “Bulan pun tak sudi menyaksikan persetubuhan mereka. Lismatano dan perempuan itu terus bergulat. Tubuhnya tumbuh lumut. Sementara perempuannya berubah binatang.. Kini aku hanya bisa merasakan sentuhan angin. Aku yang terpaku. tetapi tubuhnya berubah. Sebentar lagi aku harus kembali. Merasakan cinta dan kasih sayangnya. Ngeri. Ia berubah jadi batu. Lismatano telah membatu dan berlumut.. Tubuhnya berbulu sangat lebat. Aku tak kuasa melihatnya. Ia tak membatu. Besar. Tapi. Ia berkaki empat. Aku tak percaya melihatnya. Siap menerkamku. Menikah dengan Lismatano hanya sebuah impian yang abadi. Aku berada di ketinggian menara. Lismatano telah membatu. Perempuan itu. Ya.*** 24 Jakarta. Deru nafas memburu. Mei 1997.

. sebagai wartawan. Ada yang menembus kepala. Dan tawa itu ternyata telah cukup untuk jawaban. berkemeja putih dan bercelana abu-abu itu.. asal tahu saja. Dan mudah-mudahan juga bidikan saya kali ini bisa secepatnya membukakan mata Bapak. dor! Dor! Dor! Tembakan yang lain seperti saling susul untuk menembus sasaran.Horison.. .... tersenyum lebar sebelum menjawab. Februari 2000 Pistol Oleh: Ode Barta Ananda 25 Dor! Tak ada yang terkejut ketikatembakan itu menembus sasaran. untuk mengeluarkan izin penggunaan pistol buat saya.” “Tentu. Pejabat yang berdasi kuning. benar berasal atas usul Bapak?” salah seorang dari kerumunan wartawan menanyai seorang pejabat. tentu. Mlah. Aku tak ingin rekan wartawan kembali menjadi korban dalam gejolak suasana yang sedang memanas sekarang ini. Tapi tidak ada satu pun yang meleset.” “Apakah pejabat yang berkedudukan lebih tinggi juga sudah memberikan izin?” “Secara prinsip sudah..” Pelatih mengedipkan sebelah mata.. “Bagus!” Instruktur menepuk bahu seorang peserta kursus menembak yang baru saja berhasil menembus jantung sasaran.. *** “Jadi izin yang membolehkan wartawan menggunakan pistol.” “Apakah Bapak telah siap mengantisipasi segala kemungkinan-kemungkinan buruk? Seperti pemanfaatan pistol untuk penodongan oleh oknum wartawan... ternyata Bapak sangat jitu juga dalam membidik sasaran. misalnya?” Pejabat tergelak. “Mudahmudahan bukan hanya kebetulan. Dan berdehem. Menghapus peluh pada hidung. Ada yang mengelupaskan bahu. Ada yang menusuk jantung.. “Begitulah. “Selain pintar mengejar berita.” Wartawan mendengus. Pak.

Kau sudah lihat kan?” “Wow! Canggih. sarana latihan dan pistol ternyata disediakan oleh koperasi?” “Mungkinkah koperasi mematok harga setinggi itu?” menyusul tukasan lain. Harga pistol yang mahal.” Sang rekan hanya bisa kembali mengangguk-angguk sambil berusaha mancari jalan keluar. Waktu angin mencubit kelopak yang akan menghasilkan putik. Apa yang telah merusak konsentrasimu?” “Pembayaran pajak pistol ini.“Tapi. Pembayaran harus lunas tiga hari lagi. “Padahal menurut selentingan kabar. Padahal. Ketika sinar matahari seakan berniat mencabik-cabik. hampir seluruh kawan-kawan sangat menyayangkan biaya latihan menembak yang cukup tinggi. “OK. memasang wajah serius. Bisa-bisa kutembak kau!” dia mendelik sambil pura-pura marah. Yung! Bentuknya yang unik dan hasil rekamannya bersih sangat seimbang dengan harganya yang mahal. sudah ditukas pertanyaan lain. 26 *** Dor! Tembakan wartawan meleset.” Belum selesai pertanyaan itu..” *** Saat panas menukik terik.” “Kenapa? Memikirkan pekerjaan? Atau gadis simpanan itu?” “Jangan terus bercanda.. “Dan sebagian tabungan juga baru saja saya belikan alat perekam baru. menurut perkiraan dokter. “Saya sedang tidak konsentrasi. Dan. Namun wartawan telah kembali berujar. saya harus menggadaikan pistol ini.” sang rekan merentangkan tangan. “Mana yang harus saya jawab lebih dulu?!” dia kesal dan langsung memasuki mobil sambil membanting pintu. “Atau ada oknum-oknum tertentu yang sengaja menangguk di air keruh?” Pejabat mengerutkan kening.. . Lalu mengangguk-angguk. istri saya juga akan melahirkan tiga hari yang akan datang.” “Untuk melunasi kreditnya. Saat itulah para pencari berita berhasil mencegat pejabat yang baru saja keluar dari kantornya. “Tak biasanya tembakan kau meleset?” seorang rekan tercengang. “Silahkan.

Wajahnya memucat.. “Benarkah tidak ada keterlibatan oknum tertentu. Melihat para wartawan tidak mengerti. “Harus kuakui. yang sengaja mendongkrak segala biaya yang berhubungan dengan pistol? Atau.” pejabat tergelak juga. Wartawan pemilik alat perekam baru yang berbentuk unik. Menutup kaca jendela mobil. dia beralih membunyikan klakson. semakin tak menentu. Saat fajar bergerak sembunyi. dan memberikan pertanyaan sambil menodongkan alat perekam. Dia tertelungkup. wartawan telah menukas sambil mengacungkan alat perekam yang benar-benar mirip pistol.” wartawan mengeluarkan alat perekam itu. sesuai dengan jabatan Bapak?” Pejabat terbelalak.. Wartawan tergelak. yang terlambat datang. Waktu matahari baru saja bersiap menghangatkan bumi. ternyata aku masih ketakutan dengan sebuah alat perekam. “Atau izin penggunaan pistol bagi wartawan ini memang untuk mencari untung?” “Jelas tidak!” Pejabat menekan gas lebih keras. Dan darah mempermerah jaketnya yang sudah merah. Perut buncitnya terguncang-guncang menertawakan kebodohannya sendiri. harga pistol. "Setibanya di rumah. Dan menekan gas dalam-dalam. “Jjjangan! Dddia bukan mengancam!” Dor! Sebuah peluru buas langsung menikam punggung wartawan. *** Ketika embun jantan belum selesai membasuh pagi. Dia langsung mengangguk keras-keras.” Pejabat melambaikan tangan ke arah belakang wartawan.“Kelihatannya biaya latihan. saya baru menyadari. kalau tak langsung berhadapan dengan Bapak. tapi belum sempurna anggukannya.” diulurkan tangan untuk berjabat. Malah semakin menekan gas mobilnya sambil menginjak rem. untuk minta maaf. “Apakah Bapak. saat itulah wartawan dan pejabat. “Kau kan sudah menelepon tadi malam. “yang membuat Bapak ketakutan dan tergesa meninggalkan kami kemarin?” Pejabat mengangguk.*** 27 . “Tak enak rasanya. asyik berbincang-bincang dekat telepon umum. akan mengusahakan perbaikan semua masalah itu. Kenapa sekarang masih mengganggu lari pagiku?” Pejabat tersenyum sambil meninju perut wartawan dengan akrab. ternyata alat perekam saya yang mirip pistol ini. dan biaya administrasi lainnya.. Pak?” Pejabat tak mengangguk dan tak juga menggeleng. nilai pajak. menyeruak kerumunan.

“Sambil makan malam. Ajakan untuk berdamai dan bersatu melawan musuh dari luar angkasa itu sangat menarik. kita perlu merundingkan kembali materi untuk peringatan hari kemerdekaan negeri kita. lagi-lagi propaganda Amerika. begitu ngepop. Prabu Kresna masih mengumpat-ngumpat kepada para Punakawan. “Sebel gua. Tiba-tiba beberapa orang merasa lapar dan menuduh Prabu Kresna yang mengajak mereka berbelok ke arah Kentucky. “Kramotak. kita masuk pub dulu!” ajak Bima. Dewa jangan diberontak. mereka sponsor kita kok. mo nraktir ceritanya?” hampir berbarengan Nakula dan Sadewa bertanya kepada rombongan. “Bukan mau nraktir. Astrajingga dan Gareng ikut berlenggak-lenggok sebagai penari latar sekaligus menjadi Backing vokal. BM dong!” balas Kresna. Kan kemarin kita terima faksimil dari seluruh propinsi bahwa mereka tidak akan menampilkan kesenian daerahnya masing-masing. Nakula dan Sadewa tiba-tiba berlagak sebagai penyanyi rap yang sladak-sluduk itu. Aku tiba-tiba tergagasi oleh film tadi. Bahkan Arjuna kembali menjadi ABG. saya tidak melihatnya dari sisi itu. Apa sih maunya Amerika? Dasar Yahudi!” “Tapi Prabu. dan Punakawan itu merasa dirinya masing-masing kembali menjadi remaja. Melewati Alun-alun Bandung. gerombolan Pandawa. Malah utusan dari Astina akan menampilkan operet Maria Cinta . terlihat gairahnya kalau diajak berpikir serius. “Maksud Prabu?” Yudistira yang dari tadi miring saja. “Siape ni nyang ngulang tahun. “Belum begitu laper gua ini. Apa salahnya kita ajak Dursasana untuk bersatu melawan musuh dari laur angkasa. dari Jupiter misalnya?” balas Astrajingga.” Sesaat hening. tiba-tiba Kresna. “Apa kita hanya akan menampilkan kabaret saja untuk perayaan negara.Teater Dewala Oleh: Doddi Achmad Fawdzy 28 Sepuluh menit sehabis menyaksikan Indepedence Day. Gerombolan Pandawa berbelok ke arah Kentucky Fried Chicken. tak ada makhluk luar angkasa selain para dewa. Dikenakannya syal berwarna merah dan kacamata hitam. “Dalam dunia pewayangan. kramotak!” Hanya Dewala yang bisa mengontrol diri dan tampak kalem. tidak terpengaruh oleh hiruk-pikuk ABG yang modernis itu.” sahut Kresna.

29 . “Jangan sok tahu Kau.yang Hilang. Sementara kerusakan teknologi akan diserahkan kepada Batara Guru. Dewala mengambil sikap diam seribu bahasa. Tiba-tiba rapat di pihak Pandawa menjadi kacau balau. kita sekarang terlalu berjarak dengan wong cilik. “Kukira tidak mesti seperti itu.” Semar mengingatkan. Kurawa telah terlalu curang dan tidak bisa dibiarkan. segera bersembunyi ke belakang dan memijit remot recorder. Dewata telah memutuskannya. Hasil pembicaraan pemerintah Amarta malam itu sampai ke telinga Patih Sengkuni dan Resi Kombayana. “Tidak. Tangannya masih menggenggam paha ayam. Takdir kita untuk menerima kekalahan.” “Ini kehendak Dewata. Perdamaian hanya menghambat rencana Dewata. Seorang anak kecil yang biasa mengemis atas suruhan Kurawa.” demikian Kombayana punya usul. Nakula dan Sadewa ikut naik pitam. Karena itu. apa tidak membingungkan pikiranku melihat realitas apresiasi masyarakat sudah turun seperti itu? Rusak Re. Rupanya dia dan pemilik rumah makan itu bersekongkol sebagai agen mata-mata Astina. Kukira ini usulan yang baik dan kita harus menyambutnya. Rusak!” “Inilah salahnya Prabu. Mungkin kita terlalu serakah dan ceroboh.” Arjuna bersungut-sungut. “Jadi mereka akan mengundang kita untuk menyelenggarakan acara kesenian yang akan melibatkan personal dari berbagai negara. Mereka ketakutan dan terbirit-birit keluar setelah membayar makanan. Gareng kebagian memesan hidangan. Perang dan kekerasan adalah dua jalan yang bersatu menjadi satu arah untuk mencapai kemenangan. Seperti biasa. misi perdamaian lewat kesenian dalam perayaan ulang tahun negara seperti yang diusulkan Dewala hanya omong kosong. Urusanmu mengelola satpam dan tukang parkir.” Dibentak seperti itu. Apa pun yang kita rencanakan. Kita bisa menyusupkan orang-orang kita untuk menyelidiki lebih jauh rencana-rencana Pandawa dalam Barata Yudha nanti. Mungkin bisa jadi kesenian sebagai alternatif untuk mencapai perdamaian. Acara untuk menyambut hari ulang tahun kemerdekaan negara akan dipikirkan. Para pengunjung tanpa disuruh segera meninggalkan makanannya.” Bisma mengingatkan. Tak ada kesenian dalam merebut kemenangan. Barata Yudha adalah sebuah takdir yang mesti kita terima. bahkan Semar menjewer kupingnya. Mereka mendengar laporan bahwa Challenger meledak dan Chernobil bocor. Semar hanya gigit jari ketika Gatotkaca melaporkan kejadian sesungguhnya. Bima menggebrak meja.” Dewala mencoba menjelaskan. Tapi Yudistira cepat berpikir dan berlaku bijak. Ia membubarkan rapat dan memohon Prabu Kresna dan Wak Semar menyabarkan yang lain. suasana rapat menjadi lebih kacau. Bima meraung-raung. Punakawan yang lain menyikutnya. “Misi ujicoba kita gagal.

tetapi yang bisa membawa pada aufklarung dan bertemakan perdamaian dunia.” “Itu wajar karena mereka punya ideologi. Sebenarnya waktu Pandawa mau diajak main dadu. Pokoknya semua serba menyenangkan tamu undangan. dari kopi dan dari rokok. “Justru naskah ini tepat sekali. selain nanti para pembesar dari berbagai negara diundang. Nanti Prabu tidak merasa surprise lagi kalau saya beritahu dari sekarang. mereka tidak tahu bahwa mereka akan dicurangi oleh Paman Sengkuni.” “Tapi saat ini saya ragu. Berhari-hari pula ia menjauhkan diri dari ranjang Drupadi. Keningnya semakin mengerut seperti kening Einstein. ia lebih suka berhadapan dengan komputer dan internet. Kebiasaannya bersemedi ditinggalkan. sekarang rakyat sudah menjadi materialis.” “Apa itu?” “Ada saja. Konon katanya menurut mitos. Kalau sudah seperti itu. Dengan demikian. Kita mengalah untuk menang. Sekarang berteater tidak bisa lagi diberangkatkan dari apa adanya. Pokoknya rahasia. Dengan dibahagiakan. insya Allah deh mereka tidak akan terlalu brutal dan mau menerima putusan Dewata dengan dada yang lapang. saya akan membalikkan fakta. Dulu bambu bisa menebang milik siapa saja. “Saya punya obsesi dari dulu untuk menggelar naskah Pandawa Adu Dadu. soalnya seniman di negeri kita sendiri tengah gontok-gontokan.Berhari-hari Yudistira menghadapi komputer dan mencerna John Naisbitt tentang Kebangkitan Asia. mengapa? karena kita tahu bahwa di Barata Yudha nanti mereka akan kalah. Kita tahu bahwa Pandawa kalah taruhan. pokoknya naskah karya siapa pun tak menjadi masalah. Prabu.” “Tapi apa justru tidak akan membuat semakin pongah?” “Sebenarnya ini tergantung dari sumber daya manusianya sendiri. segala benda serba diuangkan. juga para teaterwannya diajak untuk ikut bermain dalam pementasan ini. kalau memang bakatnya membelot ya membelotlah. itu sebabnya bahagiakanlah mereka dari sekarang. ia biasanya merasa bisa berpikir lebih tepat.” “Bagi saya. Diam-diam ia tertarik dengan usulan Dewala. seniman adalah pintu terakhir yang akan menjaga persaudaraan dan kebersamaan. Akan tetapi kita mesti terus berusaha dengan cara mengingatkan kembali diri kita masing-masing pada sejarah. Saya punya teknik. tapi tidak ada sponsor sampai saat ini. Cerita kekalahan ini akan sangat menyenangkan bagi Suyudana dan kawan-kawan. Syukurlah kalau Prabu Yudis mau sponsori obsesi saya. silaturahmi antarseniman pun terbina. Kita harus mengalah dan membahagiakan saudara-saudara kita yang memilih jalur menjadi lawan.” *** 30 . Tetapi kita juga tahu. Dipanggilnya Dewala saat itu juga. Tapi jalan keluar untuk damai belum juga didapatnya. Ini menjadi pelajaran juga bagi kita selaku pemegang pemerintahan untuk tidak terbawa oleh arus dan rayuan gombal musuh. Eu begini Prabu.” jelas Yudistira. bahwa mereka saling menghargai pendapat dan karya seniman lain. dalam akhir cerita.

Singkat cerita, Dewala menjadi sutradara. Astrajingga mau menjadi Dursasana karena dibohongi oleh Dewala. Kabarnya yang akan menjadi Drupadi adalah istrinya Arjuna. Tapi setelah mendekati pementasan, casting itu diganti oleh Aswatama yang baru pulang studi komperatif tentang antropologi dari Amerika. Para seniman raksasa dari Astina menjadi Pandawa sedangkan para seniman dari Amarta menjadi Kurawa dalam casting ini. Dadu dilempar. Untuk lemparan pertama Kurawa kalah. Sengkuni tertawa, “mereka tertipu,” bisiknya. Para tamu undangan dari Astina terutama yang tidak pernah membaca karya sastra dan membaca sejarah wayang, tampak tegang. Sedang tamu undangan dari fihak Amarta bangga karena Pandawa menang dalam lemparan pertama itu. Begitu lemparan kedua dan selanjutnya, raut muka kedua belah pihak berubah. Pandita Durna dan Sengkuni menampakkan senyum kemenangan sambil melirik Yudistira yang tercenung mengerutkan dahi. Pada lemparan ke-sepuluh Amarta harus menyerahan negara sebagai taruhannya, dan kalah. “Mustahil,” gumam Arjuna. Pada lemparan terakhir, bila Pandawa kalah lagi mereka harus menyerahkan Drupadi sebagai taruhannya. Tentu saja Drupadi keberatan, tapi tak ada lagi benda yang bisa dipertaruhkan oleh Pandawa. Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa, dan seluruh kekayaan telah amblas ke tangan Kurawa. Bagi Dursasana yang belum beristri, justru taruhan yang paling berarti adalah Drupadi. Untuk apa para kesatria Pandawa itu, untuk apa kerajaan Amarta toh ia sudah bertahta di singgasana Astina. Ternyata Drupadi harus direlakan kepada Kurawa. Drupadi sesungguhnya tak percaya dengan kekalahan taruhan dadu ini, tetapi ia bahagia karena ini bisa menjadi kesempatan baginya untuk nyeleweng meskipun hanya dalam dongengan. Drupadi ingin tahu sehebat apa kejantanan Dursasana yang tergila-gila olehnya. Yudistira menunduk dan memejamkan mata ketika satu persatu pakaian Drupadi ditanggalkan oleh Dursasana. Brahmana dan seluruh Ksatria Pandawa telah disekap dalam penjara sebagai tawanan taruhan. Di luar plot cerita yang sesungguhnya, ternyata Drupadi bisa ditelanjangi oleh Dursasana yang diperankan oleh Astrajingga. Pada mulanya Astrajingga dengan penuh semangat menelanjangi Drupadi. Tetapi kemudian menjerit dan melompat dari panggung saat harus memperkosanya, karena yang memerankan Drupadi adalah Aswatama. Aswatama, keturunan homoseks itu mengejar-ngejar Astrajingga, “Please, touch me! Touch me!” Kejar-kejaran terjadi, membuat para penonton naik pitam. Resi Kombayana yang merasa ditelanjangi tentu saja marah tapi Bima tak kalah gertak. “Ternyata Aswatama itu seorang homoseks, Para Penonton.” Tiba-tiba Gareng menjelaskan lewat mikropon. Kurawa merasa tertipu dan dihina habis-habisan. Bodyguard dan pelindung Dursasana langsung memberondongkan peluru. Gatotkaca melesat ke angkasa, dilemparkannya senjata kimia. Antareja yang tidak mau menjilat jejak sendiri, melesatkan senjata laser dari jilatan lidahnya. Tapi justru tentara Pandawa yang mampus, sedang tentara Kurawa menjadi kebal.

31

Barata Yudha meledak dengan diawali adu panco antara Bima dengan Puntadewa. Sampai saat ini belum ada yang kalah. ***

32

Ondol
Oleh: A. Hidayat

33
Setelah begitu saja hilang selama enam bulan lebih, Ondol ditemukan mati di tepi kali. Mayatnya terapung tak tertutup selembar kain pun kecuali cawatnya yang putih kelabu dan tampak bolong-bolong. Beberapa bagian tubuhnya menunjukkan bahwa sebelum mati Ondol pernah mengalami penganiayaan. Jari-jari tangannya remuk bekas godaman batu. Sedangkan luka di dadanya hampir memperlihatkan beberapa buah tulang rusuknya. Ketika pertama kali ditemukan, Ondol yang mati di tepi kali itu tidak dikenali sebagai Ondol. Wajahnya hampir-hampir dapat dikatakan hancur remuk. Beberapa luka yang cukup dalam menggaris di pipi, di dahi dan di belakang tulang rahangnya. Sebelah telinganya juga hampir-hampir putus. Dan matanya seolah tidak nampak karena tertutup oleh sekelilingnya yang tembam dan kebiruan. Hilangnya Ondol yang misterius, kemudian kematiannya yang tidak lazim itu menimbulkan kecurigaan kerabat dan penduduk sedesa. Beberapa bulan sebelum tiba-tiba saja hilang, Ondol selalu diawasi beberapa orang yang entah dari mana. Kini Ondol ditemukan tewas dalam keadaan mengerikan. Pasti ada apa-apa di balik kehilangannya yang misterius dan kematiannya yang mengenaskan itu.

*** Setelah mayat Ondol diangkat dari kali dan kemudian diurus sebagaimana kebiasaan di desa, beberapa orang penduduk desa berangkat ke kota kecamatan untuk melaporkan peristiwa itu. Sementara mayat Ondol dimakamkan di bawah langit yang mulai teduh oleh warna senja, lima orang yang melapor itu tiba di kota kecamatan. Mula-mula mereka mendatangi kantor kecamatan, tetapi kantor itu tutup dan tak ada seorang pun yang berjaga di sana. Mereka kemudian menuju ke kantor yang berwajib di kecamatan. Namun, tanpa alasan apa pun, petugas piket di sana tidak mau melayani mereka. Petugas piket itu hanya memberi mereka sebuah surat pengantar yang harus mereka bayar seharga dua bungkus Dji Sam Soe. “Langsung saja ke kantor yang berwajib di kabupaten, ya!” katanya. Orang-orang yang melapor itu bergegas ke kota kabupaten.

Ruang penjagaan kantor yang berwajib di kota kabupaten itu kosong. Dengan ragu orang-orang yang melapor duduk di bangku yang ada. Beberapa lama kemudian, seseorang yang bersandal jepit keluar bersama seseorang yang berpeci. Di ambang pintu yang berpeci menyerahkan sebuah amplop kepada yang bersandal jepit. “Kalau kena tilang lagi, temui saya saja di sini. Pasti beres,” kata yang bersandal jepit sambil mengantar yang berpeci. Yang berpeci lantas pergi dengan mobil mengkilap yang terparkir di halaman. Yang bersandal jepit kemudian masuk dan duduk menghadapi orang-orang yang melapor. Orang-orang yang melapor serempak berdiri dan bersalaman dengan yang bersandal jepit, lalu duduk lagi. “Saudara-saudara juga kena tilang?” tanya yang bersandal jepit. “Oho, tidak Pak. Kami ke sini mau melapor,” kata salah seorang, mewakili yang lainnya. “Begini, Pak. Di tepi kali desa kami, tadi siang ditemukan seorang warga kami yang sudah tidak bernyawa. Ondol, Pak. Setelah hilang enam bulan lebih, Ondol ditemukan mati di tepi kali. Mayatnya terapung tak tertutup selembar kain pun kecuali cawatnya yang putih kelabu dan tampak bolong-bolong. Beberapa bagian tubuhnya menunjukkan bahwa sebelum mati Ondol pernah mengalami penganiayaan. Jari-jari tangannya remuk bekas godaman batu. Sedangkan luka di dadanya hampir memperlihatkan beberapa buah tulang rusuknya.” Yang bersandal jepit batuk-batuk kecil. “Nah, begitu Pak. Ketika pertama kali ditemukan, Ondol yang mati di tepi kali itu tidak dikenali sebagai Ondol. Wajahnya hampir-hampir dapat dikatakan hancur remuk. Beberapa luka yang cukup dalam menggaris di pipi, di dahi dan di belakang tulang rahangnya. Sebelah telinganya juga hampir-hampir putus. Dan matanya seolah tidak nampak karena tertutup oleh sekelilingnya yang tembam dan kebiruan.” Yang bersandal jepit batuk-batuk agak keras. “Hilangnya Ondol yang misterius, kemudian kematiannya yang tidak lazim itu menimbulkan kecurigaan kerabat dan penduduk sedesa. Beberapa bulan sebelum tiba-tiba saja hilang, Ondol selalu diawasi beberapa orang yang entah dari mana. Kini Ondol ditemukan tewas dalam keadaan mengerikan. Pasti ada apa-apa di balik kehilangannya yang misterius dan kematiannya yang mengenaskan itu....” “Sebentar, sebentar,” yang bersandal jepit memotong. “Sorri ya Pak, saya bukan yang menangani urusan kriminal macam itu. Urusan yang saya layani adalah soal tilang, tilang, tilang. Kalau bapak-bapak kena tilang hubungi saya. Tunggu yach, sebentar lagi.” Yang melapor hanya melongo. Untuk mengurangi rasa kesalnya, yang melapor kemudian mengeluarkan dua bungkus rokok. Dibukanya sebungkus, diambilnya sebatang dan dihisapnya dalam-dalam kemudian diedarkannya ke teman-temannya. Yang sebungkus lainnya disimpannya lebih dulu di hadapan yang bersandal jepit. “Nah, itu dia orangnya, Pak.” Kata yang bersandal jepit ketika dua orang temannya, yang berkumis dan yang berkaos oblong, muncul.

34

“Hei. Tunggu yeah. tadi siang ditemukan seorang warga kami yang sudah tidak bernyawa. Beberapa bagian tubuhnya menunjukkan bahwa sebelum mati Ondol pernah mengalami penganiayaan. ini dia selesai mandi. Pak.. Mulutnya bersiul sumbang entah lagu apa. “Sorri. Pak. Sebelah telinganya juga hampir-hampir putus. Ondol selalu diawasi beberapa orang yang entah dari mana. Ondol.” yang berkumis memotong. dia lagi mandi dulu. “Iya. Asap rokok memenuhi ruangan yang tidak terlalu luas itu. “Kalian akan melapor kejadian kriminal?” kata yang berkumis. Begini. yang berkaos oblong tadi.” 35 . Pak.” Yang bersandal jepit batuk-batuk agak keras. nih ada laporan kriminil. Begini. Ayo sekarang lapor sama dia. Urusan bunuh-membunuh bukan bagian saya. Sedangkan luka di dadanya hampir memperlihatkan beberapa buah tulang rusuknya. Yang bersandal jepit dan yang berkumis menemani mereka merokok. begitu Pak. Nah. “Hilangnya Ondol yang misterius. sedang yang berkaos oblong langsung masuk ke ruang lain. sorri yeah. sebentar. Orang yang berkaos oblong datang sambil merapikan rambutnya. sorri. di dahi dan di belakang tulang rahangnya. Beberapa bulan sebelum tiba-tiba saja hilang. Setelah hilang enam bulan lebih. Di tepi kali di desa kami. Kalau yang menangani urusan bunuh-membunuh. Ketika pertama kali ditemukan.” “Sebentar. Pak. duduk sebentar dan kemudian berdiri mondar-mandir lagi. Mayatnya terapung tak tertutup selembar kain pun kecuali cawatnya yang putih kelabu dan tampak bolong-bolong. Urusan saya adalah perkara kriminal yang berkaitan dengan narkotika dan perkara kenakalan remaja. Jari-jari tangannya remuk bekas godaman batu. Salah seorang yang melapor segera menyimpan lagi sebungkus rokok di hadapan yang berkumis. urusan kriminal itu banyak macamnya. Wajahnya hampir-hampir dapat dikatakan hancur remuk. “Nah.. Kalau kalian punya narkotika.” yang bersandal jepit setengah berteriak kepada keduanya. “Terima kasih. berdiri dan mondar-mandir. Dan matanya seolah tidak nampak karena tertutup oleh sekelilingnya yang tembam dan kebiruan. kemudian kematiannya yang tidak lazim itu menimbulkan kecurigaan kerabat dan penduduk sedesa.” Yang berkumis batuk-batuk kecil.” Orang-orang yang melapor kembali menyulut rokok. Pasti ada apa-apa di balik kehilangannya yang misterius dan kematiannya yang mengenaskan itu. Kini Ondol ditemukan tewas dalam keadaan mengerikan. Ondol ditemukan mati di tepi kali.” kata yang berkumis kepada orang-orang yang melapor. Beberapa luka yang cukup dalam menggaris di pipi. He he he. kalian dengar.. “Nah. Ondol yang mati di tepi kali itu tidak dikenali sebagai Ondol. hubungi saya yeah.

” Yang bersandal jepit bersin. telah saya dengarkan. kemudian kematiannya yang tidak lazim itu menimbulkan kecurigaan kerabat dan penduduk sedesa.” kata yang berkaos. “Ya. Ondol yang mati di tepi kali itu tidak dikenali sebagai Ondol.” Yang bersandal jepit bersin lagi. “Begini.“Nanti dulu. ya. Pak.. Dan matanya seolah tidak nampak karena tertutup oleh sekelilingnya yang tembam dan kebiruan.” yang berkaos hampir-hampir membungkam mulut yang melapor dengan tangannya. “Iya. “Hilangnya Ondol yang misterius. Bagaimana. Ondol. Apalagi kalian cuma warga desa biasa! Sebuah laporan. di dahi dan di belakang tulang rahangnya. Setelah hilang enam bulan lebih. Kini Ondol ditemukan tewas dalam keadaan mengerikan. Ketika pertama kali ditemukan. Pak.” Salah seorang yang melapor dengan tergopoh menyodorkan sebungkus rokok kepada yang berkaos oblong. “laporan kriminalitas?” “Iya. Sebelah telinganya juga hampir-hampir putus. Apakah tidak cukup dengan laporan lisan saya tadi. Laporan lisan saja tidak cukup. Beberapa luka yang cukup mendalam menggaris di pipi. Pak. Wajahnya hampir-hampir dapat dikatakan hancur remuk. Sedangkan luka di dadanya hampir memperlihatkan beberapa buah tulang rusuknya.” “Urusan bunuh-membunuh?” Mata yang berkaos oblong melirik ke bungkusan rokok di hadapan yang berkumis.” “Baik. walaupun yang menyampaikannya gubernur bahkan menteri sekalipun. Beberapa bagian tubuhnya menunjukkan bahwa sebelum mati Ondol pernah mengalami penganiayaan. Harus ada berita acara tertulis. tadi siang ditemukan seorang warga kami yang sudah tidak bernyawa. Pak. bunyinya mengagetkan yang melapor. ayo mulai. bunyinya kembali mengagetkan yang melapor. Mayatnya terapung tak tertutup selembar kain pun kecuali cawatnya yang putih kelabu dan tampak bolong-bolong. kami tidak membawanya. ya.. begitu Pak. Jari-jari tangannya remuk bekas godaman batu. Di tepi kali di desa kami. Pak?” “Tentu saja tidak. Masa aparat desa tidak pernah mengumumkan peraturan ini!” 36 . “Wah. Ya.” perintah yang berkaos oblong sambil segera menyulut rokok. Pak. Ondol.. Pasti ada apa-apa di balik kehilangannya yang misterius dan kematiannya yang mengenaskan itu. dengan menyerahkan berita acara kematian itu. mesti dilaporkan secara ter-tu-lis. Beberapa bulan sebelum tiba-tiba saja hilang.. “Nah. Ondol ditemukan mati di tepi kali. ya. selalu diawasi beberapa orang yang entah dari mana. “apa kalian bawa berita acara kematiannya?” Orang-orang yang melapor kaget dan bingung. apalagi ini adalah laporan kriminal yang berkaitan dengan pembunuhan.

Yang berkaos oblong memandang tajam kepada orang-orang yang melapor. Beberapa orang kerabat Ondol menyatakan bahwa kematian Ondol barangkali sudah merupakan takdir dan tak perlu diusut sebab-sebabnya. dan akan lebih kuat lagi jika diketahui oleh Bupati beserta ibu. Dilengkapi pula dengan denah lokasi kematian. Ondol mati tidak lazim dan keadaannya begitu mengerikan setelah setengah tahun lebih hilang secara misterius.” kata salah seorang. Padahal pemilihan tinggal setahun lagi. nih. Dan yang lebih penting lagi. Kepala Desa beserta ibu. he he he. “Kalau soal ini dibiarkan. Itu pun kalau perkara ini ingin diusut tuntas. Apalagi tanpa bukti.. Tingkat kebenarannya masih dalam tarap diragukan dan belum bisa dipercaya sedikit pun. jika tidak ada berita acara tertulis hitam di atas putih. visum dokter. Berdasarkan peraturan nomor 12345/6/78. karena sekarang malam Minggu. itu namanya baru disebut issyu.” “Betul. Wajar dong kalau seminggu sekali kami juga menikmati kencan gratis di malam panjang. pasti dia kesepian. Orangorang yang melapor menunduk semua. kan?” 37 *** Di hadapan keluarga dan kerabat Ondol. Camat juga beserta ibu. Ketua RW beserta ibu. karena itu saya minta berita acara daripada kematian yang diissyukan tadi. sebentar lagi kantor yang berwajib ini akan tutup. berita acara itu sekurang-kurangnya ditandatangani oleh lima orang yang melapor serta diketahui oleh ketua RT beserta ibu. orang-orang yang melapor menceritakan apa yang harus dilakukan agar peristiwa hilang serta tewasnya Ondol bisa diusut tuntas. Kepala Kepolisian beserta ibu. Dengan demikian tidak perlu ditanggapi. Bagaimana kalau semua orang yang punya keinginan untuk maju hilang dan terbunuh begitu saja?” tanya salah seorang. tak akan ada yang berani mendaftarkan diri menjadi calon kepala desa. sodara-sodara. ya tass. Ada bukti pun. “Menurut yang berwajib juga ini sebuah peristiwa kriminal yang perlu diusut tuntas.” Yang berkaos menyerahkan selembar kertas. ya hanya bisa dianggap sebagai kebohongan. keterangan tidak pernah menentang dan menghina pemerintah. Pak?” “Menurut peraturan nomor 23456/7/89. Nah. Pasti ini ada hubungannya dengan keinginan Ondol untuk memimpin dan memajukan desa ini. Lalu dikukuhkan oleh seorang notaris dan didaftarkan di pengadilan. “Kalau soal segawat ini hanya disampaikan secara lisan. Tetapi orang-orang yang melapor meyakinkan mereka akan pentingnya pengusutan kematian Ondol. Dibuat di atas kertas segel rangkap sepuluh. dan syarat lain yang tercantum di sini.. Sebuah is-syu maksimal hanya bisa didengarkan atau dalam istilah yang lazim di sini: di-tam-pung. keterangan kelakuan baik sepanjang hayat. “Nah. tidak pernah terlibat penganiayaan petugas keamanan. sebuah is-syu harus diperlakukan sebagai is-syu. kejadian ini menimpa Ondol yang cerdas dan berpendidikan. “Ingat. . orang yang kita harapkan suatu saat bisa memimpin desa ini. Kebetulan ada perempuan montok di ruang tahanan.” “Caranya bagaimana.

yang menyatakan dirinya diminta untuk mencalonkan diri menjadi kepala desa.. Kerabat Ondol juga harus berpatungan menyiapkan sejumlah amplop untuk orang-orang yang menandatangani berita acara itu. Selain harus mengusut perkara minggu lalu. siapa namanya itu. pengusutan perlu dilakukan. tetapi kalian yang teledor. kami juga masih repot dengan perkara kematian si Udin brengsek setahun yang lalu itu. kenapa baru menyerahkan berita acara sekarang? Sayang sekali. ya! OK?” Dengan langkah gontai mereka pamit dan pulang dengan seberkas tebal berita acara kematian. “Begini. Menurut peraturan nomor 34567/8/90. Mereka diterima oleh orang yang dulu mereka temui. dan itu menjadi pro dan kontra bagi masyarakat desa. ini sudah menyangkut perkara sub-ver-sif. “Jadi." kata yang berkaos setengah marah-marah. berbaik hati mengurus berita acara kematian Ondol. bisa saya terima. 38 . Salah seorang. dengan semangat 45. Namun pembuatan berita acara itu memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit. kalian lupakan saja. lupakan saja kematian si Podol itu. Untuk mendapatkan visum dokter. Kalau kemarin datang ke sini. ini bukan lagi soal kriminal biasa? Yang berwajib saja mengatakan. Kami lagi sibuk. Kemarin! Mestinya kemarin ke sini. Orang-orang yang melapor tak bisa berkata-kata.. Sebuah kejadian serupa yang terjadi minggu lalu harus segera kami usut dan memerlukan penanganan yang tidak main-main. Jelas bukan. lebih kurang satu juta habis digunakan untuk berita acara itu.” Orang-orang yang melapor tersentak dan termangu.” kata salah seorang. Pak. Karena itu. “Sekali lagi.” Yang berkaos oblong mengerutkan dahi.” Akhirnya semua kerabat Ondol menyepakati dilakukannya pengusutan. lebih baik kematian e. berkas lengkap berita acaranya juga sudah kami terima. Lihat.Saya juga telah diminta masyarakat banyak untuk mencalonkan diri. “Sekarang kami tidak punya banyak waktu. “kami semua mengharapkan kematian Ondol akan segera diusut tuntas setuntas-tuntasnya. orang-orang yang melapor kembali datang ke kantor yang berwajib di kabupaten. ya sayang sekali. tentu berita acara kematian ini. kami tidak punya waktu banyak." yang berkaos menunjuk setumpuk tebal kertas di atas meja. Menurut salah seorang kerabat Ondol. Jaman sekarang kita harus berpacu dengan waktu! Ya. Baru sebulan lewat satu hari berita acara itu bisa didaftarkan di pengadilan. atas nama hukum. Sesuai dengan petunjuk Bapak. tidak disiplin dengan waktu. Bukan kami tidak ingin mengusut. mayat yang telah dikubur digali kembali. tetapi saya tidak berani kalau risikonya harus seperti Ondol. sebuah peristiwa kriminal pembunuhan dengan lokasi kematian di tepi kali hanya dapat diusut tuntas bila berita acara kematiannya masuk kepada yang berwajib tidak lebih dari sebulan. “Aduh. sekarang kami serahkan berita acara kematian Ondol. Pada hari itu juga. supersibuk.

Dalam terik matahari yang membakar tubuh. Karena plastik pembungkus di warung itu habis. sebagian lainnya hanyut di selokan. Mereka membeli beberapa buah goreng pisang dan goreng ketan. Kertas-kertas warna-warni berhamburan. Sebagian kertas yang lain mereka lemparkan ke udara. Beberapa bungkus nasi rames mereka makan untuk menghilangkan lapar. mereka melangkah menuju sebuah warung kecil. melayang-layang dan jatuh ke tengah dan tepi jalan. Beberapa anak kecil memungut kertas-kertas itu untuk dibuat mainan kapal-kapalan.*** 39 . ke halaman-halaman di rumah pinggir jalan. mereka membungkus gorengan itu dengan kertas-kertas segel berita acara kematian Ondol.

bahasa yang sangat asing ditelinganya. tapi wajah itu terus saja berdiri tenang menatapku. Di atas batu pualam hitam begitu tegar dia berdiri. . Kuusap-usap dengan keras dan kuucek-ucek kelopak di bawah alis ini. "Kaukah itu? Jawablah!" Lelaki itu tetap diam. Dia tersenyum lagi. "Benarkah? Benarkah kau Nuh seperti yang aku angankan?" "Ya. Aku jadi teringat cerita bapakku tentang laki-laki yang tidak disetiai istrinya di atas kapal kayu besar. Oh! Hidungku mengendus wewangian hingga meranggas mengalir dalam rongga dada. Ataukah senyumnya itu yang menawarkan jalinan komunikasi yang harus diresapkan maknanya dalam hati? Anehnya dia tahu kalau aku sedang menerka-nerka. Tapi dia memandangku terus dan tersenyum mengejek. kali ini lebih lebar. tapi rasa ingin tahuku menggebu mengelucak di gejolak kalbu menoreh-noreh dinding hati yang keheranan. tapi yang kutemui hanya diriku sendiri.Horison. Wajah putih berjenggot panjang itu masih menampakkan guratan ketegaran di pipinya. Tongkat penyangganya menebar harum bau cendana." jawabnya tenang. "Tapi aku takkan bisa menolong kalian. tapi (anehnya) warnanya hitam mengkilap." dia mengangguk. di bawah angin besar membadai dan guyuran hujan menabrak-nabrak tap kapalnya. Barangkali dia tidak tahu bahasaku yang berasal dari Indonesia. "Kaukah itu? Tanyaku sekali lagi. Kulihat di sekelilingku. Mengapa tidak menjawab? Bisikku dalam hati. Maret 2000 Nuh Oleh: Isworo Haris Sunardi 40 "Nuuuh …! Kaukah itu? Yang berlayar dengan sabar mengarungi lautan tiada berpantai?" tanyaku ketika melintas sesosok wajah di depan mataku. Akulah Nuh! Nuh yang diceritakan oleh bapak-bapak kamu." "Kalian?" aku heran. Bisukah? Tanyaku dalam hati. Aku hampir saja melompat kegirangan saat tahu kalau dia benar-benar Nuh. Lelah rasanya aku memanggil. "Ya.

bahkan tahi dilemparkan ke muka ini. Dan matahari yang seharusnya hangat di setiap pagi berubah jadi resah yang menyengatnyengat pikiranku." Aku terdiam. Istriku sendiri yang mengajari. Aku sangat kecewa. "Kenapa?" "Kronologi perjalanannya berbeda. seperti dia sedang serius berfikir. Aku merayap-rayap mencari-cari musuh yang lengah. 41 . Dulu bangsaku lalai tidak mau menjalankan perintah Tuhan dan nasihatku. Kusergap sebisanya dan kuhancurkan. berpakaian. Lama aku menunggu jawabannya. mereka sering pura-pura dengan cara memuja selayaknya seorang raja. Mereka ingin menelusur pada masa lalu dengan menerapkan di masa sekarang. Akhirnya aku harus memilih jalan. Kutelusuri lagi perjalanan hidupku di saat masih kecil yang digeluti oleh lapar yang sangat. Di antara mereka banyak yang saleh-saleh. Setiap kali kutapaki jalan sambil memanggul sepi." katanya menjelaskan. juga familiku. Lagi pula lautan yang kau renangi adalah lautan waktu yang berisi ketololan dan keteledoran. Kau lupa pada orang yang suka memuja hingga kau turuti kemauan mereka. Tugasku telah selesai dan tinggal santai. Bahkan tahi. aku jadi kebal. Mereka bebas makan. telah berubah arah. Kalian! Kau dan rakyatmu yang lupa akan hidup dan perjalanannya. Aku berjalan di bawah penindasan. hanya untuk umatku. Beda sekali dengan lautan yang aku layari. Habis itu kubiarkan berbuat apa saja. Lalu aku berjalan di antara saudara-saudara sendiri yang bertongkatkan politik. mereka kusikat. Nuh! Bagaimana sebaiknya bangsa ini berjuang berenang di lautan yang bergelombang duka ini. ketika menemukan sela-sela perjuangan di antara perang dan perang. Jembatan waktu yang kau tuju. Kucari-cari bayanganku dengan harapan-harapan sambil meraba-raba bangunan. kadang rumah yang berlebihan. Aku berlayar di lautan tiada berpantai itu. juga kuda-kuda liar yang bisa kutundukkan." katanya menggeleng. Sementara di atasku beribu peluru mendesing memburu. Kau dan rakyatmu lupa pada titian waktu bangsa sendiri. "Tapi Engkau bisa memberi nasihat buat kami. aku bagi kebahagiaan. Karena lamanya aku membuat kapal. Akhirnya sampai juga aku menguasainya. Aku sering mendiamkan atau mendamaikan."Ya . Nuh? Aku mohon?" Kabut hitam menggumpal di wajah tua itu. seperti katamu. Apalagi kau suka pelihara bunglon-bunglon yang dengan cepat mengecat warna. Aku terjungkal dalam kesendirian di lembah papa. Aku rindu harapan. Tapi bangsamu adalah bangsa yang telah lama mengenal Tuhan. "Tidak. Semua karena hanya ingin mengikuti kata hati tanpa kau fikirkan. Kukejar dan terus kukejar lawanku hingga jurang beku dan ternyata aku dan anak buah setiaku berhasil menang. Ada guratan gelombang di keningnya. Kubabat tanpa sisa. Tapi lama-lama setelah aku tua dan mulai banyak lupa. Aku dan anak buahku. tidak …tidak! Aku tak bisa menasihatimu. Berkali-kali aku dicaci dan dipecundangi. dengan tanah-tanah yang kubangun rumah. Alis putihnya mengumpul. Bukan untuk kalian. Saat kuketahui mereka curang dan membahayakan.

Mereka punjung kata dengan emas. Di wajahnya ada teduh bulan purnama. Nuh. Nuh! Kau datang lagi saat aku terlompat. "Tabah. 42 ." katanya. Kulambaikan tangan pada orang-orang. "Tanpa ketabahan kau takkan mungkin mampu mengarungi lautan duka resah ini hingga sekarang. "Jangan mengejek. Dan dia yang berjiwa penolong itu akan kucari petunjuknya. Lalu aku melesat di antara manusia-manusia pakar penasihatku. Dia tersenyum. tapi tak juga muncul dalam benakku." Lalu dia menegakkan jari tengahnya ke arah langit hingga berjajar dengan telunjuknya." "Lalu. Dia julurkan jari manisnya menunjuk ke arah langit. tepekur melebur diri dalam keheningan dan kesunyian. Untunglah dia datang saat aku hampir terpagut rasa putus asa. tapi di belakang disiapkan membokong. Bibirnya lembut mengurai suara. Dia julurkan telunjuknya ke arah langit. Kureka-reka dalam khayalku sambil menyusuri lorong-lorong pabrik-pabrik dan mobil-mobil mewah siapa tahu ada di sana. Aku gagal menyentuhnya. Mereka tampak menyongsong. Bencana-bencana beruntun melanda. betapa sedih ketika dia ulurkan tangan untuk menggapaiku tidak pernah sampai. Lama kucari-cari dan kunanti. Hari-hari kuakrabi sepi bagai mimpi. Aku jadi berfikir saat dia menjurus-juruskan jarinya ke atas. tapi malah tersasar dalam lembah kurang ajar. Kuulurkan tangan agar aku dapat meraih kelembutan telapak tangannya. "Kau pasti akan merdeka seperti engkau berjuang mati-matian memperoleh kata itu. kedua tanganku mengepak serupa sayap. "Nuh! Dimana kau? Kenapa kau pergi lagi? Nuh! Nuh! Nuuuh…!" teriakku memanggilmanggil orang yang kukagumi itu. Nuh. "Ketegaranmu. Sambil berlari Dia kuhampiri. Nuh?" tanyaku tak sabar. Orang yang sabar berlayar itu akan kupungut hatinya." Nuh yang tua itu menggeleng. Berjalan menyusuri ujung penantian. Aku berlari di hutan-hutan. Kunyuk semprul! Ternyata di antara mereka itu ada beberapa musuh main petak umpet dan perang-perangan. akan kutempuh!" kataku. Ketabahan yang kau pelihara sejak kecil itu membuat hatimu kuat. Aku jadi sendiri. Kesunyian-kesunyian yang kutelan sebagai pelepas dahagaku telah mengenyangkanku. Orang tabah itu akan kumintai nasihatnya. tapi hutan itu malah terbakar. "Tegarkan jiwamu!" katanya dengan menekankan suaranya. dan gunung-gunung yang kupijak meledak. Tapi layaknya sekat. Aku ditandu dan dielu-elu. Lalu mendorong hingga terjerembab di lubang nista. Tapi yang kucari tak ketemu juga.

Tapi Nuh tibatiba pamit pergi setelah meninggalkan nasihatnya dengan menghunjamkan dalam hatiku. Kendali emosi dari dendam pada orang-orang yang telah menjatuhkan kau sebagai kekuatan."Tenang!" katanya. Aku terdiam tenang. terima kasih!" kataku sambil berlari melewati senja waktu malam yang mulai merayap meranggas gelap. Mataku terus saja menatapnya.*** 43 . "Jadikan tiga itu tonggak kekuatan di hatimu untuk menetralisir kekalutanmu. Kupandangi dia saat berjalan meninggalkan. "Ya. Tak terasa reflek jariku ikut menirukan gerakannya." Aku termangu dalam buaian nasihatnya. "Terima kasih Nuh. Sambil memberi salam dia pergi melambaikan tangan. ke sana!" katanya menjelaskan. Dia menyuruhku memandang ke atas.

“Perjumpaan dengan calon presiden. meninggalkan gerah – juga kesal lantaran langit kota telah penuh asap. lenyap sama sekali. juga terekam dalam kalimat-kalimatnya yang cerdas. perkantoran dan meninggalkan nyala api yang perlahan-lahan makin membesar. dulu. Urat-urat kesadaran yang memancarkan kharisma dari seorang prajurit lapangan. Jalan raya yang melintang membelah-belah kota menjadi senyap.” ungkapnya tadi subuh sebelum berpisah. pada sebuah flat sederhana di Brooklynn. mungkin. telah bergegas pergi dari situ. Terbang ke tempat-tempat yang jauh. sedang bermula.” aku menyebut pertemuan malam itu. ketika kami tidur bersama pertama kali. menyisakan cungkupcungkup api dari mobil-mobil terbakar. Malam yang teramat meletihkan telah kami lewatkan dan sekarang adalah tahap menunggu. mereka yang hanya mengenal canda dan birahi. Bukan hal mudah mencapai taman ini. tapi. Atribut perwira yang selama ini menjadi citranya di depan publik. Pagi sekali. Sambil mengontrol radio. mungkin ke wilayah-wilayah yang belum dikenalnya. Bau hutan tropis masih lekat di wajahnya. Lalu di sini. senja beringsut perlahan. berkeringat. Kota sedang terbakar. “Kita evaluasi perkembangan. nun beberapa tahun lampau. Dan burung-burung itu telah mengungsi meninggalkan taman di mana senja yang bisanya bersemangat menjemput malam. Revolusi. Kekuasaan. pedalaman Irian. meneguk perlahan hangat tequilla. Mungkin karena burung-burung sudah mengungsi entah ke mana. . Usai mengantar Ning. tadi. NY. kukira. lenggang. ketika kami duduk di sebuah café di pinggir Champs Elessye. ”Anda bantu saya. usai membebaskan sandera. Senja yang kemarin juga. Persis ketika suatu malam. turun amat perlahan. memberi komando. Bau tubuhnya masih tersisa dalam ketergesaan langkahku: asin. dan Yogo telah datang. Asing.Pada Sebuah Taman. mematangkan dan memberi perintah “start”. Dia hanya mengenakan T-shirt polos. Paris. Ning juga pernah bilang begitu. senja mulai nyungsep. Tak perlu kontak. di sana. lesu. Tapi adakah sesuatu yang asing bagi sebuah kemutlakan bernama naluri? Kukira tak ada. sepanjang malam. Gelombang masa yang bergulung-gulung bagai bah telah menyapu pertokoan. Hasymi Ibrahim 44 Di taman kota. Mei Oleh: Moch. kekuatan dan ambisi adalah aura yang memancar dari tubuh tegap Yogo. sepatu karet dan celana jeans. bahkan nyaris lunglai. Anggap ini sebagai ekspresi persaudaraan. Pergilah. beraroma perempuan dengan keliaran tersembunyi di balik kecerdasan dan pendidikan yang baik. Dia datang dari jauh. dia bagai berada dalam situasi ekstase. aku segera terbang ke sini. lamban.

Dia berada satu level di bawah. Di ufuk. Bahkan picu massa telah berhasil melalui eksekusi mahasiswa.persahabatan.” katanya simpel. Para pemain valas telah terkuasai. Lesu. Demi Yogo. —lampu teplok kehabisan minyak. hingga subuh ketika kami pisah. Dia ternyata bukan prajurit sejati seperti senantiasa dicitrakan di depan publik. Malam yang sepi. rupanya tak dapat dipercaya. Para aktivis telah diamankan. Yogo tampak angker. segera akan terbukti. betapa menggairahkan. tegas dan banal. Langkah presiden selamanya memang tak terduga. Tak ada basa-basi. Lambaian tangan kekuasaan semakin mengentalkan darah ambisinya.” 45 . demi kesan pada sebuah malam di sebuah kaki lima di Paris. Presiden memang sudah terpojok. tapi rencana masih sedang berlangsung. juga kepercayaan atas nama keagungan. Ada kontak dengan Yogo?” “Belum. tapi ada saja hal yang tak dapat diduga. simpel. masih mampu tampil sebagai satu-satunya pilar penentu. kelak. bahwa dia takkan menyerah begitu saja. Markas keuangan sudah terbakar. Pulanglah. “Ia. Dan sebagian besar kerja keras itu sudah berhasil. Malam kemudian tiba dengan diam. pupus. bahkan dua tahun sebelumnya ketika ketekunan di depan mesin komputer menjadi aktivis menggairahkan. faktor yang kami tak hitung selama ini. Juga kedatangan Yogo yang telat. Kamu pasti setuju. tapi aku punya keyakinan. bayang kegagalan mulai tampak. langsung. kamu masih di situ?” kataku menjawab Ning. Juga keagungan sebuah cita-cita. Yogo tak mungkin datang. Beberapa buah bank sudah ambruk. dan demi keagungan. Mungkin dia sedang di istana. Dan malam tadi. habis. Sabotase. Kamu kok diam saja?” “Aku bingung. persahabatan adalah ikatan kita. tapi kuusahakan. Persahabatan itu. Akan menyetop aksi. dia memilih mengalah sebelum bertempur. sampai ke gelagat seksualnya di ranjang. Dia tak lebih seorang tua pikun yang sedang kehabisan cita-cita. “Bang. Pendek kata semua berjalan sesuai rencana. Presiden mundur besok.” Singkat. demonstrasi. Belum perlu ada kalkulasi menang atau kalah. Ini harus dicegah. khas orang lapangan yang pernah mengenyam pendidikan menengah di negeri-negeri asing. dan berbagai upaya pembusukan telah terjadi. akan memuaskan semua orang dan segera akan berbalik menyerang kami. telah aku rekam di luar kepala. Aku telah membaca jutaan bit dari laporan intelejen. Ning menelepon. menganalisis arah perkembangan berbagai kelompok. diliputi misteri. mengamati penampilan sekian ratus tokoh di depan publik dari waktu ke waktu. Oh. Presiden yang ternyata sangat lemah. Bahkan untuk beberapa tokoh kunci. seperti irama tubuhnya: simpel. Mundur mendadak tentu akan membuyarkan rencana. “Ning. Sebuah persilatan virtual telah berlangsung mulai tadi subuh – bahkan sudah dua hari sebelumnya. Tapi apa mungkin? Yogo memang bukan panglima. Aku kontan diserang frustasi. Kebebalan presiden untuk bersikukuh pada kursi kekuasaan.

Menggairahkan. Sasaran tembak: Perdana Menteri yang terlampau cerdas dan sedang berkilau di dunia internasional. Durja. Yogo: gumamku membatin. “Ning. Kami akan segera terbang ke negeri lain. Hand-phoneku bertulilit.” “Iya.” Suara Ning tetap empuk. Dia memang lebih matang. bertelur dan berkembang biak – dan kini telah mengungsi entah ke mana— semuanya telah berakhir. cuma handuk.” “Kalau begitu aku mandi lagi. Biarlah persahabatan dengan Yogo berakhir. Udara gerah berbau asap. Suara Yogo. Aku ingin berendam. Keagungan itu memang ilusi. Dia terlampau cerdas untuk dihentikan. Memanggil. "Kamu masih di situ?" tanya Ning. Taman benar-benar muram. Ini tentu akan lebih menggairahkan. almamaterku. Di sini kita bisa berpikir jernih. kini. Aku benar-benar frustasi.” “Sebentar lagi aku datang. menghanguskan sisa rencana. Seperti yang sering kamu katakan. utamanya. Juga kepanikan dan kegamangan seorang yang tumbuh berkembang bersama ilusi revolusi. bukan. dan tak ada rencana ulang. di sana prarencana sudah tersusun. Kenyataan yang tak diperhitungkan akhirnya terjadi. di taman tempat burung-burung bersenggama. dan mungkin Kaddafi – hadir untuk berperanan menumbangkan tiran dan eksis atas nama cita-cita dan keagungan.“Pulanglah segera. Kali ini suaranya bernada khawatir. Tak ada kegetiran.” “Sekarang pakai handuk?” ‘Ya. Bukan karena risiko yang mesti datang. pulang. Castro. Malam sudah bertahta. Lakon yang berjalan tak sampai klimaks. Duduk menunggumu. alumni Oxford. Sebaliknya. “Iya. Sementara bagiku? Masih ada Ning. Atau bisa lanjut di masa yang datang.” 46 . seperti Che Guevara. balas dendam kalangan militer. Mungkin kematangan yang datang dari daya-daya seksualnya yang tak pernah surut dan padam. apalagi kegentaran.” “Berendam bersama-sama. Tak ada besok. kamu masih di situ?” “Ya. Di sini.” katanya singkat. “Tunggu sampai besok. Tapi tidak malam ini. Melainkan kepanikan seorang penulis skenario yang gagal mementaskan lakonnya dengan sempurna. aku yang justru panik dan gamang. Bagi Yogo. kini. aku sudah mandi.” balasku memencet “off” pada hand-phone. sekarang atau tidak sama sekali. Kota masih terbakar. Reranting tampak seram memantulkan malam hari. lantaran aktornya bermain tak terkendali.

” “Tunggu.” “Aku meresapkan bau mulutmu.” Malam. ya!” “Cepat.” “Aku juga.“Terus?” “Terus larut seperti biasa. nun bertahun lampau. Gairah bulan Mei. NY. di Brooklynn. kini.*** 47 Jakarta. di taman ini. kurasakan gairah yang lain. Juni 1998 . Seperti gairah sebuah musim panas.

Luh Srenggi cepat-cepat membantu. Luar biasa. benarkah suara ini milik seorang perempuan? Ketika Kopag akan mengambil tongkatnya. Kopag semakin gelisah. Bau itu semakin mendekat dan menyesakkan dadanya. Dia memerlukan alat-alat pahatnya.” Suara itu terde-ngar bergetar. Aneh. Apa yang terjadi dengan dirinya? Kopag memaki dirinya sendiri. Apa pun yang . Kopag menggigil ketika bau itu benar-benar menelanjangi wujud laki-lakinya. "Siapa tadi namamu?” Kopag mulai menenangkan dirinya sendiri. Inilah perempuan itu. perempuan yang dicarinya berabad-abad. Suara itu dirasakan penuh dengan kejujuran. Pisaupisau yang runcing tebayang di otaknya. siapa kau?!” Titiang yang akan melayani seluruh keperluan. dan sangat tulus. Kopag yakin dugaannya ini tidak meleset. Sekarang Hyang Widhi mengirim untuknya. tiba-tiba saja dia seperti ditenggelamkan ke lautan. Kulit perempuan itu terasa seperti kulit kayu. atau seonggok kayu yang paling sakral sekalipun. dari mana datangnya bau yang membuatnya begitu gelisah? Bau itu semakin mendekat.1 Luh Srenggi. Hampir saja pisau itu memahat kakinya. Semua gara-gara dia mencium bau yang aneh dari sudut pintu. “Luh Srenggi.” “Srenggi? Srenggi siapa?!” Kopag semakin menggigil. Baru kali ini Kopag merasakan bisa menikmati hidupnya. Perempuan itu pasti memiliki kecantikan yang melebihi kecantikan sebatang pohon. sekedar mendengarkan keputusan orang-orang terdekatnya. Seperti bau daundaun kering dan kayu basah. Aneh sekali.Pemahat Abad Oleh: Oka Rusmini 48 Kopag menjatuh-kan pisau ukirnya yang runcing. Ratu. “Siapa itu?” “Titiang. Seorang perempuan.2 Mulai hari ini dan seterusnya. Tangan mereka bersentuhan. Tangannya jadi lapar. Katakan padaku. Biasanya dia hanya dijadikan objek. Dia bisa memberikan penilaian yang begitu objektif terhadap benda hidup yang bernama manusia. kasih sayang.” Suara itu terdengar gugup. Suara itu adalah suara perempuan.

“Apakah di bumi ini wujud kebenaran itu sudah seragam. dan keindahannya sendiri. Menghargai keindahan yang dititipkan alam padanya. Dia tahu. Salahkah? Kecantikan perempuan muda itu adalah kecantikan yang sangat luar biasa. Apa yang sesungguhnya salah pada kriteria yang telah diberikan Kopag terhadap perempuan? 49 *** Kehidupan telah memaksa bocah laki-laki itu memakai label Ida Bagus Made Kopag. perasaan. agar orang-orang mudah mengenalinya dan membedakan dirinya berbeda dengan manusia lainnya. Ayahnya seorang laki-laki sangat terhormat dan memiliki kedudukan tinggi di pemerintahan. Dia tidak pernah peduli. Dia adalah kayu terindah dan tercantik. Suatu hari. Tubuhnya seperti lekukan kayu. laki-laki itu bisa tidur dengan seluruh perempuan. Perempuan itu menolak. laki-laki itu memaksa perempuan yang dinikahinya untuk bersetubuh. Kali ini. dia merasa menemukan kebenaran yang berbeda dengan kebenaran yang diyakini oleh orang-orang yang selama ini rajin menanamkan kebenaran yang telah menjadi ukuran mereka. setelah berbulan-bulan tidak pulang. Seluruh wajahnya juga lekukan kayu. Karena tak ada perempuan-perempuan yang bisa dilihatnya dengan matanya. Belum lagi hutangnya yang tiba-tiba saja menumpuk. Aneh sekali tak ada manusia yang bisa menangkap kecantikannya. Laki-laki itu harus berperan sebagai laki-laki buta untuk menebus kelahiran dan hidupnya sendiri. bisa dibuat sebuah pementasan. Tapi. sangat sadar. Laki-laki itu adalah binatang yang paling mengerikan. Tubuhnya kurus dan pucat. Dilahirkan sebagai laki-laki buta memang tidak menggairahkan. pelayan tua itu. laki-lakinya akan menitipkan daging binatang dirahimnya. Pikirannya kacau! Kopag sadar. Lahirlah seorang laki-laki yang merenggut nyawa perempuan itu. lakilaki itu pulang dalam kondisi yang menyakitkan. Apa artinya kekuatan seorang perempuan? Terlebih. sejak kecil dia terbiasa dididik menjadi perempuan bangsawan yang menghormati laki-lakinya. di sanalah dunia itu dibuat untuk laki-laki yang sejak pertama berkenalan dengan aroma bumi . Alangkah ajaibnya kalau hidup juga bisa dipermainkan. setiap makhluk yang memiliki lubang bisa dimasuki.dikatakan orang-orang di sekitarnya. “bahkan untuk menilai keindahan itu. apakah orang-orang yang memiliki kelengkapan utuh sebagai manusia ketika dilahirkan mampu menangkap seluruh rahasia kehidupan ini? Rahasia yang erat-erat digenggam dan disembunyikan alam? Salahkah kalau tiba-tiba saja Kopag menemukan kecantikan yang luar biasa pada diri Luh Srenggi. Seperti sebatang kayu dengan lekuknya yang begitu menggairahkan. sehatkah dia? Bagi Ayah Kopag. Bahkan Gubreg. Kopag harus patuh. Gelar Ida Bagus menunjukkan bahwa dia adalah anak laki-laki dari golongan Brahmana. aku juga harus memakai kriteria mereka?" "Kebenaran mereka? Aku tidak yakin mereka mampu melihat seluruh keindahan hidup ini dengan benar!” Suara Kopag terdengar penuh tekanan. Kata orang. Dia hamil. kasta tertinggi dalam struktur masyarakat Bali. cantikkah perempuan itu. Dalam kondisi seperti itu. Gubreg?” Suara Kopag terdengar getir. Dia anak laki-laki kedua yang lahir dari keluarga terkaya di Griya. juga tidak berkomentar ketika Kopag memuji keindahan perempuan delapan belas tahun itu. Kecantikan yang dia lihat dengan pikiran. Sayangnya laki-laki itu memiliki mata yang sangat liar. Seluruh kekayaan ludes. Dia juga memiliki puluhan galeri lukis dan patung.

dan hidup hanya merasakan kegelapan sebagai bahasanya. bagaimana sesungguhnya sebuah penilaian yang objektif dalam hubungan antarmanusia di bumi ini. Kebutaan yang mengikuti dia terus-menerus. Bagaimana mungkin perempuan konon kata orang-orang di desanya sangat cantik dan santun itu bisa berkata begitu kasar. Orang-orang di luar hanya tahu bentuk tubuhnya yang konon sangat luar biasa. perempuan itu adalah pemain sandiwara yang ulung. Kopag sering berpikir. 50 . perempuan kebanyakan itu telah menikah dengan kakaknya dan menjadi keluarga Griya. Kopag telah merekontruksi sejarah seni rupa. Itu yang dirasakan Kopag. otaknya. Saat ini dia sangat mengikuti ambisinya untuk masuk dalam lingkungan keluarga Brahmana. pokoknya seluruh tubuh perempuan itu selalu jadi pembicaraan kaum laki-laki. Karena perempuan Sudra. yang tentu saja tidak dimiliki orang-orang. Nama perempuan itu Ni Luh Putu Sari. parekan. Dia memberi Kopag poin. Aneh sekali. Dunia yang diinginkan. Kopag sangat menyukai kayu yang mengenalkannya pada dunianya. Ni Luh Putu Sari yang sejak menikah dan masuk menjadi keluarga Gria bernama Jero Melati itu memiliki kulit yang sangat indah. perempuan itu harus mengubah namanya menjadi Jero Melati. Suara iparnya itu akan terus menari-nari di sekitar telinganya. Teriakannya saja bisa memandulkan pisau pahatnya. Karena dia bukan kaum Brahmana. dia harus menunjukkan pada seluruh manusia di desa ini bahwa dirinya berhak masuk dalam lingkungan keluarga bangsawan. Ada-ada saja yang diributkannya. *** Kopag menarik nafasnya dalam-dalam. ketika untuk pertama kali iparnya itu menyalaminya. Anyir. Getaran tangannya sudah seperti tangan-tangan mayat yang membusuk. alam menyerah pada kekuasaanya. dan sangat pas. Bahkan Gubreg. pelayan setia yang merawat Kopag sejak kecil. merah. atau posisi piring dan gelas berubah di dapur. Jujur saja. dia mencium bau darah. Bau itu seolah berlomba-lomba meloncat dari bibirnya yang konon sangat mungil. Dia bisa mengubah kayu kering menjadi sebuah karya seni yang memikat para intelektual seni rupa. Tanaman di halaman samping rusak atau terinjak kakinya. Kehidupan yang sering dimaki Kopag ternyata cukup demokratis. juga impian-impiannya. Masih kata Gubreg. Iparnya yang luar biasa kasar dan cerewetnya jadi pujian dan pembicaraan seluruh laki-laki di Griya. seperti Kopag juga menyerah pada kebutaan yang harus dia kenakan setiap saat. dia memahat pikirannya. Kopag juga merasakan setiap mulut perempuan itu terbuka. selalu berkata bahwa beruntunglah kakaknya bisa mendapatkan perempuan tercantik di desa. Tanpa teriakan iparnya yang sering menyesakkan kuping. kulitnya yang sering jadi pujian. Perempuan itu benar-benar serius untuk memasuki perannya sebagai istri laki-laki Brahmana. Disentuhnya kayu kering yang selama ini selalu mengantarnya ke mana dia pergi. kembang sepatu yang baru ditanam perempuan nyinyir itu tersangkut tongkatnya. Bagi Kopag. hidupnya. “Apa bisanya adikmu yang buta itu? Apa? Merepotkan!” Suara perempuan muda itu selalu menggelisahkannya. Untuk pertama kali. Kopag tidak saja memahat kayu. Sebuah kesunyian dengan pagarpagar keindahan. Postur tubuhnya seperti putri-putri raja Bali.

Titiang tidak bisa menjelaskan seperti Frans. dan tangannya juga sangat cekatan memahat patung-patung. aku juga ingin merasakan. Ada yang hilang dalam tubuh laki-laki tua itu. Kegelapan itu jadi milik cucuku yang paling abadi. Gubreg?” “Jangan bertanya yang aneh-aneh pada titiang. Atau sesekali mendatangkan guru yang mengajarinya membaca. dan menikmati aroma ketajamannya yang luar biasa indahnya. Seperti apa perempuan cantik itu? Apa seperti bongkahan kayu beringin ini? Dingin. Kehilangan yang dalam. Aku masih percaya kehidupan itu bisa diajak bicara. Laki-laki setengah baya itulah yang membuat Gubreg.“Luar biasa kecantikan Jero Melati. Tanyakan pada laki-laki bule itu!” Suara Gubreg terdengar penuh nada kecemburuan. Rasanya baru mendengar satu huruf keluar dari bibir laki-laki Perancis itu seluruh isi perutnya seperti keluar. Susah. Gubreg. perhatian yang lain. jengkel! Ada-ada saja yang dibawanya. Seluruh ilmu memahat dia alirkan dalam tubuh bocah kecil yang tidak berdaya itu. apa ini rasa yang dimiliki lakilaki? Ini wujud kelelakian itu?” suara Kopag terdengar pelan. Anggap dia anakmu!” Itu pesan Ida Bagus Rai. Ada rasa sakit mengelus dada tuanya. Laki-laki tua itu sekarang ini jadi cepat marah. Juga dia baik-baik. Dia juga yang mengajarinya bahwa semua benda punya jiwa. “Gubreg. tentang Michelangelo Buonorrty. Saat ini aku mencoba percaya pada matamu. Dia juga rajin membaca buku-buku dengan huruf braile. yang konon. Gubreg. kata Frans. Susah. Gubreg? Tolong kau katakan seluruhnya. Kopag sudah bagian dari nafasnya. Sejak kecil kakeknya hanya mengajari Kopag bersentuhan dengan kayu-kayu untuk berkenalan dengan kehidupan. Sejak kecil. “Kau tidak ingin menjawabnya. Cucuku memiliki seluruh mata manusia yang ada di bumi ini. Menanggung dosa ayahnya. Gubreg pun mengajari Kopag menelanjangi tubuh pisau-pisau pahat. sebelum berpulang. Kopag tidak lagi membutuhkannya. Gubreg. sudah menjelang dua puluh lima tahun. Kau bisa lihat. termasuk rangkaian pisaupisau pahatnya. Frans Kafkasau. Gubreg. Ida Bagus Made Kopag memiliki tubuh yang sangat bagus. Dia ingat teriakan Kopag ketika 51 .” “Seperti apa perempuan cantik itu. Aku ingin tahu. kau belum jawab pertanyaanku. Jengkel! Waktu Kopag sekarang habis untuk diskusi. kan? Kehidupan sendiri memberinya hadiah yang luar biasa. Karmanya jatuh pada anaknya sendiri. “Anak itu buta. Lihat. Atau sesekali dia dikunjugi orang asing dari Prancis. Sejak bergaul dengan Frans ada-ada saja yang ditanyakan Kopag padanya. rasa apa yang sering membuatku meluap. Tinggi. Bagi Gubreg. Kadang-kadang dia bacakan buku-buku bahasa asing. Hyang Widhi! Penguasa jagat! Kopag memang sudah besar. Lihat. pematung jaman Renaisans. tapi mampu memikatku. aku selalu tersentuh. Dipandangnya mata Kopag dalam-dalam. dialah yang mengajari Kopag mempelajari tekstur kayu. dia mampu membuat patung-patung dengan ukiran sangat sempurna. Pertumbuhannya selalu mengingatkanku pada perbuatan-perbuatan yang dila-kukan anakku. Dadanya sering mendidih. yang diterjemahkannya. Ratu.” Laki-laki tua itu terdiam. Laki-laki bule itu telah memberinya didikan yang baru. Ratu.

. Dia sering terjaga tengah malam . Tubuh perempuan itu seperti ular yang melingkar dan menjepit batang-batang tubuhnya. Setiap mengingat batas yang ada antara dirinya dan Dayu Centaga. Berkali-kali dia menarik nafas. Waktu itu Gubreg seorang laki-laki kumal empat belas tahun. “Aku ingin bercerita padamu.” “Titiang. Kaki perempuan itu putih. Sangat paham. Dayu Centaga selalu menyuruh Gubreg menggosok punggungnya dengan batu kali. Perasaan apa yang sedang bertarung dalam tubuh Kopag? Gubreg takut. Ratu?” “Kecantikan perempuan. dia sadar tubuhnya tidak boleh melahap tubuh perempuan Brahmana. Takut sekali menjawab pertanyaan tentang esensi menjadi laki-laki. Sampai menjelang tengah malam. Begitu penuh misteri. dan teramat menggelisahkan ketika tubuhnya mulai lapar dan memerlukan tubuh lain untuk santapan. “Tentang apa lagi. Aroma tubuh perempuan itu sampai hari ini masih melekat erat di tubuhnya. Aroma itu tak bisa dihapus oleh usia yang dipinjam Gubreg pada hidup. Kakinya kram setiap melihat tubuh basah itu naik ke atas dengan kain yang hanya sebatas dada. angkuh dan selalu lapar. Kopag sudah membuka jendela studionya. perempuan yang sangat dihormatinya. Gubreg belum juga bisa menjawab arti menjadi lakilaki. Begitu parah.. 52 *** Pagi-pagi sekali. Sebagai laki-laki Sudra. Dia gelisah. Perempuan junjungannya. Perempuan itu. dia juga pernah merasakan seperti apa percikan nafsu itu ketika pertama kali menampar wujud manusianya. Gubreg selalu merasakan tubuhnya dilubangi. Luar biasa. Di tangan Kopag pisau itu jadi begitu dingin. Pisau justru seperti menantang matahari untuk bersabung. karena kelaparannya adalah kelaparan yang tidak pada tempatnya. Waktu itu umur Kopag tujuh tahun. Semua orang. ketajamannya. dia adalah laki-laki tak berguna. “Gubreg..pertama kali menyentuh tubuh-tubuh pisau yang telanjang itu. Lama-lama Gubreg merasakan sakit yang luar biasa menyerang tubuhnya. kebanyakan. dan mampu meledakkan otaknya. Ratu. Tak ada yang bisa diceritakan kegelisahannya. memiliki penilaian khusus tentang hal itu. Sering sekali dia disuruh mengantar Dayu Centaga mandi di sungai Badung.” Suara Gubreg terdengar patah. begitu indah. Gubreg menyaksikan. yang hidup dari belas kasihan keluarga Dayu Centaga.. Kilatan matahari menjilati keruncingan pisau pahat itu. betapa sinar matahari yang perkasa itu menjadi patah dan tak berdaya ketika menyentuh sedikit saja keruncingannya. Rasa itu tiba-tiba saja muncul kembali dalam otak. Terlebih.Titiang tidak bisa menceritakan kecantikan perempuan pada Ratu. tubuhku gemetar setiap menyentuh pisau-pisau ini.” suara Kopag terdengar penuh rasa ingin tahu. Dia juga laki-laki. Gubreg. dan tulang-tulangnya yang mulai rapuh membantunya merangkai masa lalunya kembali. Dia mengerti.” Keruncingannya. dia luka..

tanpa kegairahan sebagai laki-laki. Kayu-kayu dan pisau telah memberiku mata yang lain. Gubreg bersedia menjalankan runtutan upacara itu. Tanpa istri. Untuk menghormati kebaikan keluarga Griya. Kenapa kayu-kayu ini selalu mengajakku berdiskusi. berdialog. Gubreg paham. Dia menarik nafas berkali-kali. Katanya agar roh jahat tidak mengenai keluarga Griya.dengan nafas yang memburu. Suatu hari Frans dan seorang temannya mengatakan. tidak juga kesambet setan. Dan Gubreg tahu air dalam tubuhnya memerlukan muara. Justru Gubreglah yang kena kemarahan si penunggu sungai. Dia pasrah ketika Balian tua. Tubuhnya dilingkari asap yang sangat menyesakkan aliran pernafasannya. pahatanku tentang perempuan sangat sempurna. komunikasi Balian tua itu dengan dunia gaib salah. Aku selalu ingin tahu.” suara Kopag terdengar pelan. Dayu Centaga tidak terkena. Kalau sekarang Kopag bertanya seperti apa kecantikan itu. tetapi sudah menyerupai air bah. Cinta yang tidak mungkin dihapus. tadinya penunggu sungai itu juga ingin mengganggu Dayu Centaga. Tubuhnya jadi pucat. Gubreg sadar rasa laparnya sudah tidak bisa dibendung lagi. sampai menguliti otakku.. sangat surealis.. aku merasakan kecantikan perempuan itu melalui jari-jariku. Gubreg masih setia mengabdi di Griya. “Gubreg. Dia rasakan perubahan pada tubuhnya. "Gubreg. dingin. Hyang Widhi. menjelang tujuh puluh lima. Gubreg menatap tajam tubuh Kopag yang sedang merampungkan pahatannya. selalu ingin mengupas dan melukai kayu-kayu itu. dan berpikir. Keluarga Griya mencarikan dia seorang Balian. Gubreg tidak sakit.memandikan tubuhnya di pinggir sungai.” 53 . karena aliran sungai dalam tubuhnya bukan lagi aliran sungai kecil. kau ingat kata-kata Frans?” “Yang mana?” “Frans mengatakan keliaranku membentuk tubuh-tubuh manusia dalam kayu mengingatkan dia pada lukisan Pablo Picasso. Untuk mengembalikan kesehatan Gubreg. kau belum juga jawab pertanyaanku. Pada dasarnya aku selalu penasaran. Balian tua itu memberinya jampi-jampi. Gubreg. Berkat kekuatan Gubreg. Sampai sekarang. Sesuatu yang dahsyat telah dititipkan alam pada tubuhnya. keluarga Griya membawa sesaji untuk penunggu sungai. Kebetulan si penunggu sungai sedang beristirahat. Kecantikan perempuan yang kuterjemahkan lewat kayu-kayu itu mengingatkan Frans pada keliaran Martha Graham. yang memanfaatkan seluruh tubuhnya untuk mewujudkan jati diri tokoh yang dimainkan. Rasa ingin tahu yang begitu besar. Gubreg. dia merasakan cinta yang dalam pada Dayu Centaga. Demi Hyang Widhi. Impian-impian yang dimiliki oleh pohon ketika dia membesarkan ranting-rantingnya. Masih kata Balian tua itu. Kata Balian itu. Aku juga memiliki impian-impian sendiri pada patahan tubuh pohon itu. Gubreg tidak bisa bercerita tentang kelaparan tubuh laki-lakinya. tubuhku. sampai akhirnya potongan-potongan tubuh itu ada di tanganku. Kata mereka. Cinta yang membuatnya jadi batu. Gubreg sempat membuang kotoran di pinggir sungai. dukun. Tak seorang pun tahu. membesarkan tubuhnya. mengajakku bicara. tanganku. tidak lagi bisa menikmati kegairahan manusiawi sebagai manusia. Aku juga ingin tahu arti setiap impian. Guemica.

Gubreg diam. Jero Melati tersenyum. Ratu terlihat sangat gelisah. keluarga besar ini kembali bisa hidup. Ratu ingin apa lagi? Jangan menakuti titiang. adik Jero Melati adalah perempuan paling liar dan nakal. seorang anak yang dibesarkan dengan cara-caranya. Padahal kemiskinan kalau dihayati memiliki keindahan tersendiri. diajar memahami kehidupan. Aku ingin bicara!” Kali ini suara Kopag terdengar serius. adik Jero Melati bisa menjual tubuhnya. Kopag seperti linglung. Bulan kemarin.” suara Gubreg terdengar sangat hati-hati. Sekarang ini keluarga ini tentram. Berkat Kopag. Aku sudah memikirkannya jauh-jauh hari. Jero Melati tidak pernah ceriwis. dia terus mengelilingi studionya. Gubreg bahkan rela bocah laki-laki itu mencuri lembar demi lembar rahasia perjalanan dan rasa sakitnya sebagai laki-laki yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk mengabdi. Dia mencoba memahami sesuatu yang sangat rahasia dan begitu dalam ingin disampaikan Kopag.Gubreg tetap diam.” . Mengerikan! Padahal perempuan itu sangat cantik. Sayang. Gubreg menatap mata perempuan itu tajam. “Bagaimana kalau dia kawin dengan calon yang telah kusiapkan. Gubreg tahu tak ada yang diinginkan Kopag.” “Jero sudah punya calon?” “Ya. Kopag memerlukan perempuan. Benar kata Kopag. Mendengar komentar itu. perempuan satu ini memang bukan perempuan baik-baik. Patung-patung Kopag laku keras dan diminati oleh kolektor dari dalam dan luar negeri. dia tidak tahan miskin. Laki-laki itu tidak pernah tahu apa arti ada uang atau tidak ada uang.” “Siapa?” “Adik perempuanku. *** “Gubreg. Kata orang-orang kampung. Dia tahu. Hanya satu yang ditangkap Gubreg. “Ratu. Lima menit tanpa hasil. Gubreg mencoba memahami ke mana kira-kira arah pembicaraan Kopag. Saat ini galeri itu sudah tumbuh besar dan menjadi satu-satunya galeri yang paling diakui di Bali karena karya patung yang masuk harus melalui seleksi dan pertimbangan yang teliti. 54 *** “Kita harus carikan seorang istri untuk Ratu. Otaknya hanya berisi kehormatan. “Kau harus bisa meyakinkan dia bahwa adikku layak menjadi istrinya.” Suara perempuan itu terdengar mirip perintah dan pemaksaan.” jawab perempuan itu serius. perempuan itu bebas menggunakan uang Kopag semaunya. kakak Kopag sendiri bisa membuka galeri patung yang besar. Bahkan. Untuk pertama kali dia merasakan hawa jahat berendam dan menguasai tubuh cantik itu. ada bantuan dana dari Jerman dan Perancis.

*** 55 1. “Aku telah menidurkan perempuan itu setiap malam. tak ada sebuah pisau pun bisa menandingi ketajamannya. membersihkan studionya menyiapkan makan. Wajahnya juga rusak berat.” Suara Kopag terdengar sangat serius. Kulitnya juga kulit kayu.” Gubreg ambruk. apakah kuping tuanya tidak salah dengar? Bukankah Luh Srenggi adalah perempuan yang menyiapkan seluruh keperluan Kopag. kakinya pincang. Perempuan itu telah mengasah tubuh laki-lakiku.. Sadarkah dia. Kali ini pilihanku tidak bisa diubah!” “Siapa?” “Luh Srenggi. Dia adalah perempuan tercantik. aku tenggelam dan habis. Aneh! Wajah itu tetap seperti batu. “Maaf Ratu.” “Apa kata mereka. Kau tahu. titiang juga sudah membicarakan dengan Jero dan kakak Ratu.. Sebuah pisau pahat menembus dadanya yang tipis. dan mengambilkan pisau-pisau pahatnya? Perempuan itu bukan perempuan. dia hanya memiliki satu mata. Bahkan merekalah yang akan memilihkan calon istri untuk Ratu. Aku ingin kawin. ketika kujatuhkan tubuhku memasuki tubuhnya.“Ya.” Gubreg mengangkat wajahnya.” “Ratu. Gubreg. punggungnya bongkok. Tubuhnya benar-benar lekukan kayu.” “Mereka setuju. ada daging besar tumbuh di atasnya. matanya yang kiri bolong. ingin sekali dilihatnya wajah Kopag berseri. “Aku sudah memiliki calon. Panggilan kehormatan untuk bangsawan Bali . dia lebih mirip makhluk yang mengerikan. Ketika dia telanjang. Kulitnya begitu kasar. tahukah dia makna kecantikan? Gubreg menarik nafas memegang dadanya kuat-kuat. Gubreg. Saya 2. Hyang Widhi! Dewa apa yang ada dalam tubuh Kopag. Luh Srenggi. Perempuan yang mengalahkan kecantikan kayu-kayuku.?!” Gubreg seperti tercekik.

kamu terus hidup ngakak. Yang akhirnya tak lebih penting dari segala manipulasi orang-orang tersebut. tapi sebetulnya kamu semua tertawa. “Aku yang mati. Ini sama sekali tidak adil!” Ia bangkit dari kebisuan dan kekakuannya dan mulai menyusun protes. “Peradaban sudah merosot. Aku tetap saja hanya sebuah mayat yang sepi. Air . sebagai obyek untuk berbagai penyelidikan. meringis. Aku yang sudah kesakitan. saling bergotong-royong.“ kata mayat itu. Aku menderita. Ia menggugat perilaku yang semena-mena tersebut yang jelas sekali memperlihatkan keserakahan manusia. Tetapi aku sama sekali tak kebagian apaapa. memegang posisi puncak dan akhirnya menang. Dan dagang sendiri bukan lagi menjadi ajang tukar-menukar jasa dengan saling menguntungkan. Aku yang kejepit. kamu yang melejit. diperdebatkan. sehingga mereka menjadi terkenal. Ia berdiri di pinggir jalan. diselidiki dan dipakai sebagai contoh. Aku yang menanggung seluruh kerugian. Aku yang menjadi korban. tetapi membuat manusia semakin tamak dan tipis rasa kemanusiaannya. April 2000 56 Mayat Oleh: Putu Wijaya Mayat itu mengeluh. Kehidupan sudah rusak. terkemuka. Aku diberitakan. Aku yang sudah mencetak duit buat banyak orang yang memanfaatkan dengan cerdik seluruh peristiwa yang dahsyat ini. Lalu mulai mengganggu setiap orang lewat dengan berbagai keluhan.Horison. Semua orang berdagang. Dunia sudah menjadi sebuah pasar besar. analisa-analisa yang menyebabkan banyak orang menjadi terkenal dan kaya. kamu yang enak. tetapi sudah menjadi perang siasat untuk menipu dan membuat bangkrut orang lain. Aku menginginkan ada pencerahan atas kabut hitam yang akan membuat dunia dan kehidupan serta segala manusia isinya ini kiamat kubra. Aku yang terdera. Kematianku sudah menghasilkan lebih banyak uang lagi ke dalam bisnismu. dipergunjingkan. “Aku yang mati. Kebudayaan tidak lagi membuahbudikan keluhuran. Kamu semua kelihatan saja menangis. kemudian sindiran-sindiran dan akhirnya menjadi umpatan-umpatan yang terdengar tidak bedanya dengan kutukan.

Komputer penuh dengan katakata kotor.matamu hanya kelambu untuk menutup segala kebahagiaan dan keuntunganmu menjual berita-berita perih. telepon berbunyi. Itu kan baru dibeli. Seperti bendungan ambrol. kesalahkaprahan. susila. seluruh ketidak-benaran. Mayat itu langsung duduk di depan komputer. Sama-sama wanita. prasangka dan kesakitannya. apa saja yang sudah menyinggung. keluhuran budi apalagi kemanusiaan yang dikibar-kibarkan selama ini. Akhirnya sekretaris redaksi. Ini justru bagus untuk publikasi kita!” 57 . terpaksa membatalkan niatnya untuk pulang lebih dulu. Ia kemudian lebih banyak mengeram-ngeram seperti kata-kata tak mampu lagi menampung sumpah-serapahnya. “Biarkan saja. menutupi hidungnya. “Tanya Bapak. Sekretaris panik. Para wartawan yang ditemuinya semua menghindar. untuk membungkus kebiadaban. dia memerlukan ventilasi untuk menyalurkan emosinya. ia menembakkan seluruh unek-unek perutnya. Bagaimana kalau dia menghancurkan komputer.” “Biar saja. kepatutan. aku kan hanya menjalankan assignment. Dalam uraian mayat itu dunia menjadi pabrik kejahatan yang hanya dihuni oleh bandit-bandit tengik. luka.” “Tapi kursinya rusak.” katanya mempersilahkan mayat itu menumpahkan semua sumpah-serapahnya. kami bersedia untuk meralatnya untuk kebahagiaan dan ketenangan Anda di sana. Tetapi ketika ia mau lari mengadukan itu kepada atasannya. untuk menahan lonjakan perasaannya yang tertampung oleh layar komputer. menciptakan esai-esai. Akhirnya ia menggigit kursi sampai cabik-cabik. Kalau memang ada yang salah. Moral. semua yang tidak adil. ia beberkan dengan kata-kata yang tajam dan berbisa. bahkan yang mungkin akan menyiksanya di kemudian hari. Tapi suruh anak-anak siap untuk menjepret. mengangkat bahu dan menunjuk atasannya. tata krama. elegi-elegi. “Semuanya busuk. mungkin dapat diselesaikan secara baik-baik. Pak. Kamu tidak punya malu lagi mengeruk keuntungan dari orang yang mati!” Mayat itu mengetuk pintu sebuah media massa yang mengalami cetak ulang ketika memuat secara lengkap cerita dan foto-foto kematiannya. balada-balada dan orasi-orasi yang meratapi dan menggugat kematianku.” Sedang atasannya yang paling atas sibuk menunjuk wakilnya supaya meladeni mayat yang cerewet itu. meskipun kami sudah sangat berhati-hati. “Silakan menuliskan semua keberatan Anda terhadap pemberitaan kami. Apa saja yang sudah menyakitkan.” erang mayat itu. Ia menguras seluruh dendam. Berjam-jam mayat itu mencurahkan segala tuntutannya. Ia menghadapi mayat itu dengan senyum ramah. ternyata hanya sebuah koteka. Nanti setelah kempes dia kan pergi sendiri.

Ia menoleh pada penjaga malam yang sudah lancang itu dengan mata berkilat-kilat. Mungkin juga makanan.” “Apa kamu menganggap semua ini neko-neko?” “Tidak. ia menggepeng di atas kursi. 58 . Penjaga malam itu juga mengulurkan tangannya. air dingin untuk penyegar. lalu lari keluar. semacam roti bakar yang masih bisa disamber dari perempatan jalan di malam yang selarut itu.” “Kenapa tidak? Jelas sekali. juga tidak bisa mengurangi tegangan dadanya. Seakan-akan ikut menikmati kepuasan mayat tersebut. Mayat itu terkejut. Ia lalu menumbukkan kepalanya ke dinding. Di situ ia menangis tersedu-sedu. Tapi tangan penjaga malam itu dingin seperti beku. Mayat itu membentur dinding begitu kerasnya sehingga foto-foto di dinding berjatuhan. Ia tidak menginginkan apa-apa lagi. Keduanya berjabatan tangan.” Mayat itu menjadi amat girang. Sekretaris menutup matanya.Sekretaris bengong. Ia menoleh kembali ke layar komputer dengan lebih santai.” Mayat itu mengulurkan tangannya. Kini ia memerlukan sebuah tidur yang panjang. Setelah menangis tersedu-sedu nampaknya sebagian unek-unek tuntutannya berhasil ia lemparkan keluar dari perut. Seperti balon kempes. Ini menyebabkan kantuk mayat itu hilang. Nampak begitu lelah namun damai. Seluruhnya mampetan pikirannya sudah tersalurkan. menemukan untuk pertama kalinya. seperti orang yang mau bersekongkol. Tetapi sebelum pergi meninggalkan tamu eksklusif yang diwanti-wanti oleh sekretaris supaya diperlakukan ekstra istimewa itu. saya mengerti sekali. Minuman panas. “Kamu mengerti?” “Ya.” “Kamu bisa merasakan. hati dan otaknya. Mayat itu menggelengkan kepalanya. Moncong garuda itu menancap di atas kepalanya. “Jadi kamu percaya sekarang betapa tidak adilnya semua ini?” “Saya percaya. Barangkali sepotong dua potong mimpi yang benar-benar mimpi. Di antaranya ada gambar garuda. orang yang mampu memahami segala tuntutannya. Mayat itu berdiri. Ia berdecak-decak kagum. Sekaligus mengingatkan bahwa subuh sebentar lagi akan menyundul di langit timur. karena mencabik kursi itu. ia kembali ke kursi. Dengan garuda yang masih bertengger di kepalanya. ia sempat mengerling ke atas layar komputer. Itu memang benar. Penjaga kantor yang tua bangka menghampirinya menanyakan apakah ia memerlukan sesuatu. Mayat itu baru menjadi sedikit tenang. Penjaga kantor itu mengerti.

” “Tapi kenapa kamu masih bisa melihat?” “Saya harus bisa melihat meskipun tidak punya mata. “Kewajiban? Kewajiban apa? Kamu ngomong seperti seorang budak?!” “Ya memang. ia hampir terpekik. Karena di kedua mata nampak ruang kosong.” Mayat itu bergidik. Saya budak.” “Apa? Kamu budak?” “Betul. Bulu kuduknya meremang. Siapa tahu itu agen polisi. Ia curiga kalau-kalau bukan menghadapi seorang penjaga malam.” “Lalu kenapa tanganmu lebih dingin dari es?” “Ya memang begini keadaannya?” “Tapi kenapa?” “Karena inilah hidup saya.” “Kenapa?” “Karena itu kewajiban saya. Paling sedikit mata-mata yang diutus oleh kepala kantor.” “Kamu heran atau kaget karena membaca semua ini?” “Tidak. Tetapi ketika ia memandangi mata penjaga itu.“Kenapa tanganmu dingin sekali? Kamu takut?” “Tidak. “Astaga kamu tidak punya mata lagi?” “Tidak.” 59 .” Mayat itu terkejut. “Apa lagi kewajiban kamu?” “Semuanya!” Mayat itu tercengang.

” Penjaga malam itu membuka seluruh pakaiannya.” 60 . Ia terpekik kembali dan meloncat keluar. Kamu tidak punya apa-apa kamu sudah kalah komplit. termasuk kedua biji buah ampulurnya sudah dicomot.. Saya budak komplit. “Kamu sudah bangkrut sebangkrut-bangkrutnya. kemudian meraba-raba. Maaf ya. “Ya Tuhan. ia lalu menyentuh. meskipun tidak punya semua itu lagi. Dia berdiri dan memperhatikan penjaga itu lebih cermat. selanjutnya merogoh tubuh penjaga malam itu.“Budak apa? Budak siapa?” “Budak segala-galanya. Saya harus hidup. Matanya sampai tumpah keluar karena takjub.” “Memang begitu. maaf boleh aku kobok sekali lagi?” “Silakan. Orang itu memang sudah dikebiri total. Tiba-tiba ia terpekik ngeri. Ia tak punya segala-galanya.” “Apa? Kamu betul-betul tidak punya perasaan dan pikiran?” “Betul.” Mayat itu bingung. Tak puas hanya melihat. kamu kok sepertinya tidak punya hati dan juga tidak punya otak. Mayat itu menggigil.” “Apa kamu sakti?” “Tidak!” “Lha kenapa kamu bisa hidup?” “Ya begitulah. “Wow! Badan kamu seperti tak punya tulang. Apa pun saya tidak punya. Apa kamu bukan manusia?” “Saya manusia. Seluruh kemaluannya. aku jadi curiga. Lihat kemaluan juga tidak ada lagi.” Mayat itu mendekat. jangan-jangan kamu.. .” “Edan!” “Ya. Daging kamu bonyok!” “Memang!” “Bukan cuma itu. Jangankan perasaan dan pikiran. lalu ngobok sekali badan penjaga malam itu.

Pasti penjaga malam itu korupsi.” Mayat itu ternganga. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana seorang yang bergaji seperak satu hari dengan tanggungan istri dan 10 anak bisa hidup. Terserah orang.” “Itu namanya pasrah.” Mayat itu berpikir keras.” “Coba ceritakan sedikit kehidupan kamu. Pasti besar sekali karena kewajiban kamu begitu berat. kok. Berapa?” “Tiga puluh. Gaji kamu berapa sih. Saya memang telmi.“Tidak mungkin!” “Memang tidak mungkin.” “Maksud kamu gaji kamu seperak satu hari?” “Ya. Saya hanya jualan kertas-kertas kantor yang sudah tidak terpakai. telat mikir.” “Tiga puluh juta?” “Bukan tiga puluh saja. Ia pelan-pelan duduk kembali.” 61 . Lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. wong ini harus.” “Kalau begitu kamu ngobyek!” “Terserah. Pak. tetapi apa boleh buat. “Kamu pasti korupsi?” “Tidak. Pak. saya manut-manut saja. Ini kewajiban saya. silahkan. saya tidak pilih-pilih nama. Bukan hanya saya yang harus hidup. Apa kamu orang Jawa?” Penjaga malam itu berpikir. “Siapa sih sebenarnya kamu?” “Boleh panggil saya siapa saja.” “Gila! Bagaimana kamu bisa hidup hanya dengan gaji begitu?” “Itu juga dianggap sudah terlalu banyak. suka manggil saya apa saja. Istri saya dan sepuluh orang anak saya juga harus hidup. “Nah sekarang kamu berpikir!” “Bukan begitu.

Memang pada orang kecil sering muncul sifat-sifat luhur yang dahsyat.” “Memang saya sudah mati.“Kamu korupsi!” “Apa itu korupsi. penjaga malam itu tak menyambut uluran tangannya. Jangan keliru. kita sama! Tadinya kukira aku sendirian.” 62 . tidak akan dituntut.” “Kenapa tidak bisa? Kamu tidak mau salaman? Ini hanya ekspresi bukan kolusi.” Mayat itu termenung.” “Ya. jangan takut. Sekarang aku tahu masih ada orang lain.” “Tidak bisa. Sedikitnya kita bisa berbagi kemalangan. saya sudah mati.” “Kamu sudah mati.” “Mayat seperti gua ini?” “Benar!” “Wow! Kalau begitu kita sama dong!” teriak mayat itu kegirangan karena merasa mendapat seorang teman secara tiba-tiba. “Tidak bisa.” “Ah! Apa?” “Kata saya." gumam mayat itu terpesona. sambil mengulurkan tangannya mau berjabatan. “Ayo salaman. Ia lupa pada masalahnya sendiri dan mulai kagum. Saya tidak bisa salaman. Ayo salaman!” Penjaga malam itu menggeleng.” “Jadi kamu ini mayat?” “Betul sekali. Tetapi sekali ini. "Kamu luar biasa. “Orang lain sudah mati kalau kondisinya seperti kamu ini. Pak?” “Jelas!” “Ya sudah.

tempat saya tidak di kuburan. Saya tidak boleh tersinggung atau sakit hati.” Penjaga malam itu pasang tabek.” “Kenapa bukan?” “Karena meskipun saya mayat.“Keliru bagaimana?” “Saya bukan mayat seperti situ. Boleh juga saya disebut begitu. saya sungguh-sungguh. Saya tidak boleh bicara terlalu banyak.” “Lho tadi kamu bilang kamu mayat?” “Betul. Mati pun saya tetap harus bertugas. Boleh saja tidak percaya. Saya memang mayat. Saya tidak boleh istirahat.” Mayat itu berpikir. Baik. "Jadi kamu mayat hidup?" "Ya itu.” “O kalau begitu kamu hantu?” “Apa saya hantu?” “Ya kamu hantu kalau begitu!” “Ya sudah. lalu berjalan ke sudut yang tadi ditunjuknya. Tetapi di kantor ini. Pak. Sumpah. Harus. siapa yang harus melakukan pekerjaan yang jahanam tidak menguntungkan dan menyakitkan ini. Saya mayat yang harus hidup. lalu ditangkap oleh gelap.” “Tetapi bukan?” “Betul sekali. Dipercaya atau tidak." Mayat itu bengong. tetapi bukan. Saya tidak tidur. 63 . Ini bukan waktunya untuk guyonan. “Kamu jangan main-main. saya hanya parkir di situ supaya tidak mengganggu. mayat kan sudah tidak perlu tidur lagi. kalau perlu apa-apa jangan ragu-ragu memanggil saya. Saya sudah biasa tidak dipercayai. Selamat beristirahat. Mayat kok banyak bicara. Tidak apa." "Kenapa kamu mau?" "Kalau tidak. memang beginilah saya.” “Tidak.

*** 64 Jakarta. “O tidak.”. Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya seakan-akan sudah berbuat kekeliruan yang fatal. ia menyentuh keybord komputer untuk menghapus semua keluhkesahnya. Bahkan aku boleh dikata agak mendingan dibandingkan dengan penjaga malam itu. Disertai penyesalan penuh.” desis mayat itu. Waktu itu mayat itu merasa malu hati. Ia mencuri-curi melirik ke sudut. tidak. 3 . ia melihat tubuh penjaga malam itu mencair dalam gelap. Aku tidak perlu apa-apa lagi!” Penjaga malam itu mengangguk. “Ya Tuhan. sudah cukup. Remang-remang dalam kegelapan. perlu sesuatu?” Mayat itu terkejut. seluruh tulisan di dalam komputer itu sudah diprotek. nasibku tidak terlalu jelek. Penjaga malam itu tiba-tiba keluar dari gelap dengan tergopoh-gopoh menghampiri. hanya dengan satu gerakan. kalau begitu. “Maaf. seperti tidak ada artinya sama sekali. Ia merasa sudah terlalu cengeng. Ia abadi. sama sekali tidak bisa dihapus lagi. Setelah melihat nasib penjaga malam itu. memanggil saya. Tetapi apa daya.Mayat itu terpesona.11 – 1997 . Diliriknya komputer yang penuh dengan tumpahan tuntutannya. mayat itu lalu kembali kepada komputernya.. kalau begitu. apa yang dirasanya sebagai kesakitan. “Kasihan.. lalu kembali lagi ke tempatnya. Ada yang lebih jelek.

ia berkata: "Atur sendiri-sendiri!" Demikian dikatakannya setiap kali. Ia mengenakan jas wol tua warna hitam yang bulunya telah lenyap dan kelihatannya terlalu besar menyungkup pundaknya. masih terang terngiang di telingaku kata-kata yang selalu diucapkannya dengan suara lantang. Karenanya ia ditakuti orang. tempat orang lagi sibuk bekerja. Sorot matanya memancar berbinar. Tidak jarang ia masuk nyelonong begitu saja ke ruang dalam kantor itu tanpa sedikit pun merasa canggung atau enggan. begitu berarti dan perlu diketahui oleh setiap orang. Hanya kata-kata itu yang selalu diucapkannya. jangan pusingkan orang lain!" "Jangan sok!" "Berbuatlah sesuai kemampuan!" . seperempat abad setelah ia meninggal dunia. ditandai oleh kerit-merut di wajahnya. seolah-olah ingin kata-katanya didengar oleh setiap orang di seantero dunia. bila direnungkan. di perempatan jalan. terlebih-lebih anak-anak tidak berani mendekatinya. Sepintas lalu. Memakai sarung Samarinda biru yang juga telah memat. nyaris berteriak. Dengan terompahnya yang peyot solnya ia berjalan ke sana-sini mengelilingi kota. Mungkin jas itu diperolehnya dari belas kasihan salah seorang pegawai Palang Merah Sekutu di zaman pendudukan Nica. seolah-olah kata-kata itu mengandung multi makna yang sulit ditebak artinya. tapi pengawakannya tegap dan kekar. di depan teras-teras rumah yang pagarnya terkunci atau ketika di dunia santai berleha-leha di pojok-pojok sepi. lebih separo abad usianya. Di trotoar-trotoar. Atau dengan kata-kata itu ia hendak menjelaskan suatu maksud. Ia mengenakan topi koboi yang pinggirannya geripis dan warnanya tidak menentu lagi. Ia selalu mencangkingkan sebuah buntalan besar yang kumal dan entah apa isinya. Seorang laki-laki tua. Meskipun tua. selalu dengan tekanan nada sungguh-sungguh. Kemudian seperti biasa ia menyerukan kata-kata yang telah dihapalnya di luar kepala: "Atur sendiri-sendiri!" Hingga pesuruh kantor tergopoh-gopoh mengusirnya keluar. di emperan-emperan toko. berkali-kali. "Atur sendiri-sendiri!" Bisa berarti: "Berdiri di atas kaki sendiri!" "Jangan sekali-kali ndompleng atau bergantung pada orang lain!" Atau: "Benahi dirimu sendiri. Sesuatu yang punya arti.Rumah Tuhan Oleh: Muhammad Ali 65 Sampai saat ini. Sekali-sekali berhenti di depan kantor. Boleh jadi tidak ada yang dapat memahami arti kata-kata yang diucapkannya. tidak ada artinya. Mungkin ia mantan pendekar silat atau bekas tukang pukul pengawal pribadi tokoh yang amat disegani orang. karena kata-kata itu seperti dilontarkan secara spontan. Kata-kata yang sepintas lalu hampa tak bermakna. sekedar iseng semata tanpa maksud tujuan tertentu. Masuk-keluar kampung. di mana pun kebetulan ia berada.

Di sampingnya mengalir sungai kecil yang jernih airnya. Sudah cukup banyak tempat yang disinggahinya sejak ia meninggalkan desanya beberapa tahun lalu. Tapi di zaman Revolusi Kemerdekaan tahun 1945 desanya diserbu oleh balatentara Sekutu yang diboncengi oleh serdadu-serdadu Nica. Orang hanya mengenalnya hanya dengan panggilan pendek: "Din!" Tak lebih dari itu. Sejak waktu itulah ia mulai linglung serupa orang yang kehilangan akal sehat. Ternyata sebagai gelandangan ia bisa hidup terus selama bertahun-tahun. Di emperan super market. Oh ya. lalu berkelana tanpa tujuan mengikuti ayunan langkah kakinya. tukang-tukang becak. Di bawah pohon di taman hotel berbintang. jangan sombong dan bersikap tak terkendali!" Dan masih banyak lagi arti lain yang dapat ditarik dan disimpulkan dari kata-kata tersebut. Kusir-kusir dokar. Di emper stasiun kereta api. Sidin. Berkat perlindungan Tuhan ia selamat dari bencana itu. selalu berpindah-pindah. Martir habis-habisan Revolusi Kemerdekaan bangsa dan negara itu akhirnya terdampar di sebuah kota yang sama sekali tak ramah. Siapa namanya. belum kuceritakan siapa ia sesungguhnya. Ia melonjorkan kakinya yang penat berdebu. Saridin. lebih-lebih anakanak jalanan. Karena ada saja orang yang mengusirnya dari tempat itu. penuh bertabur onak dan duri. mereka sama menertawakan dan mempergunjingkannya. tak ada yang tahu. Ketika berada di jalan-jalan beraspal di bawah sengatan terik matahari atau diliputi hawa dingin di malam hari ada saja orang-orang usil yang memperolok-olokkannya. Di halte-halte bus kota. karena penampilannya yang tidak lazim. Tempat peristirahatannya tidak tetap. Penjaga malam yang berpatroli atau orang senasib yang merasa lebih berhak menguasai tempat itu. Pernah ia ngumpet di sudut tersembunyi sebuah bank. Dari mana diperolehnya uang untuk penyambung hidupnya? Di samping ada orang-orang yang selalu 66 . Di pemakaman-pemakaman umum. Apakah "Din" itu kependekan dari nama lengkap Samsudin. Mereka membumihanguskan seluruh desa. Diamdiam ditinggalkannya desa tempat asalnya yang penuh kenangan pahit. Menghancur-leburkan kebun buahnya dan membantai anakbininya. Ia bersama anak-bininya hidup tenteram dan makmur di sebuah gubuk mungil tak jauh dari tanahnya. Di mana-mana ia ditampik dan dihalau."Hiduplah secara tertib dan teratur!" "Tegakkan disiplin!" "Berbuat baiklah selalu. Ia tetap lewat melintasi mereka sambil merunduk penuh kesabaran. karena walikota tidak pernah tidur di situ. konon di masa mudanya dulu ia pernah memiliki sebidang tanah yang subur di desanya. Dari mana asalusulnya. Ada selentingan. Pengelanaannya tidak berjalan mulus. meskipun agaknya bisa saja ia menghajar dan mengobrak-abrik orang-orang usil itu. Brodin atau Ilmudin. Tanah itu ditumbuhi berbagai jenis pohon buah-buahan. tak terkecuali gubuknya. Bahkan pernah selama beberapa malam ia tidur di serambi rumah dinas walikota yang kebetulan tidak dijaga. Sebaliknya malah ia menganggap mereka orangorang gila. Tapi semua itu tak dihiraukannya. Siang hari ia berkeliling mengitari jalan-jalan di kota. Bila malam tiba ia bergegas mencari tempat berteduh untuk mengistirahatkan tubuh.

bahkan tidak mampu memicingkan mata barang sekejap pun. senantiasa dihalau. ia tak bisa masuk ke dalam masjid. Sampai akhir hayatnya ia ingin senantiasa suasana kedamaian. lalu melangkah ke dalam surau. sekadar numpang tidur sejenak. Baru ia tergugah geragapan ketika seruan azan Subuh berkumandang. lantainya dialasi tikar pandan yang telah usang dan koyak-koyak di sana-sini. Dilonjorkannya tubuhnya sambil berbantalkan buntalannya. serasa kini telah didapatkannya kedamaian hakiki yang selama ini menjauhinya. Dibangun dari papan pohon waru dan pintunya terbuka lebar. Di surau itu telah berkumpul sejumlah orang. Tapi sial. Ketika sujud ia di bawah cerpu-Nya. Sebenarnya tak pernah ia dengan sadar melakukan perbuatan-perbuatan salah. ada juga insan-insan yang baik hati yang berbelas-kasih yang kadangkadang melemparkan uang recehan atau beberapa batang rokok kepadanya. teringat akan nasibnya yang malang-melintang. lalu naik ke serambi surau. Setelah selalu mengalami kesulitan dalam upaya memperoleh tempat peristirahatan yang aman. yaitu Tuhan? Tiadakah rumah itu milik Tuhan? Bukan milik siapa-siapa? Tiadakah setiap hamba Tuhan yang baik berhak memperoleh naungan dan perlindungan di rumah-Nya? Begitulah pada suatu malam dengan penuh harapan ia melangkah menuju ke salah satu masjid agung di kota itu. Mereka sulit tidur. Ia menuju ke salah satu surau yang diingatnya. mengambil tempat di saf yang telah rapi berderet di belakang sang imam. Entah darimana. ia surut. untuk beristirahat di malam hari. Surau itu tampak kurang terpelihara. Di sampingnya ada sebuah kolam tempat air wudu yang kotor dan bau pesing. Dalam salat ia benar-benar menyadari akan kerapuhan dirinya di hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang disembahnya. Surau itu lengang dan kosong. minta naungan dan perlindungan dari Si Empunya Rumah. karena ada pagar tinggi menghadangnya. Cepat ia bangkit.menghalaunya. yang pikirannya selalu buncah dilanda berbagai seribu satu macam kerumitan hidup. Ia ikut melakukan salat Subuh berjamaah. Kebanyakan orang. suatu ketika tiba-tiba timbul dalam benaknya pikiran itu. Memang tidak setiap orang bisa menikmati tidur begitu cepat dan nikmat pula seperti yang dialami oleh laki-laki tua yang terlantar itu. pikirnya. Masjid atau surau dan musala yang jumlahnya cukup banyak di kota itu. Pagar tinggi tersebut dari besi yang berjeruji lancip ujungnya serupa tombak lagi terkunci rapat. lalu mencoba mencari tempat lain utuk istirahat. kebanyakan orang-orang tua. lebih-lebih warga kota yang selalu sibuk dan bising penuh polusi. Dengan hati sendu dan putus asa. lari ke kolam mengambil air wudu. 67 . sesaat ia tersedak. diusir dari satu tempat ke tempat lain. apalagi kejahatan. yang akan melakukan salat subuh berjamaah. Tak lama kemudian terdengar dengkurnya. Letak surau itu di pinggiran kota yang terpencil. Maka teringatlah ia pada Rumah Tuhan. Ia pergi ke kolam untuk mencuci kaki dan membasuh mukanya. Berlampu suram. yang tentu disambutnya dengan penuh rasa syukur disertai senyuman lebar. jarang dikunjungi orang dan jelas tidak berpagar besi dengan jeruji yang ujungnya lancip serupa tombak. Mengapa ia tidak ke sana saja.

"Benarkah Tuhan melihatku?" tanya hati kecilnya." jawabnya. menguntitnya ke mana ia pergi dan di mana ia berada. Sementara asyik memikirkan tentang kehidupan serta kesesatan manusia dalam abad yang kisruh ini --yang disebut abad teknologi-. Saudara boleh beristirahat di sini setiap malam. melindunginya dari kegetiran dan kesengsaraan hidup. Hidupnya yang hancur berantakan dan porak-poranda. kepasrahan dan ketergantungannya pada kekuasan-Nya. Nasibnya tercabik-cabik di tengah kehidupan kota yang tak berbelas kasih. Serasa ia bermimpi melihat sosok yang aneh berwujud penjaga surau yang kepalanya ubanan." Mendapat tawaran yang tak terduga-duga itu hampir ia berjingkrak kegirangan. tidak seperti biasanya.. Seorang laki-laki tua yang kepalanya beruban menghampirinya. Ia tersingkir. Setiap malam ia langsung pergi ke surau itu untuk beristirahat.. "Cukup bagiku Tuhan melihatku. Seolah-olah ia sesuatu yang najis dan menjijikkan. Jika Saudara kehendaki. selalu dipupuknya. Keyakinan dan kebesaran-Nya.. Suatu ketika. Satu-satunya yang masih tinggal padanya ialah kepercayaannya kepada Tuhan. ia mengelana seorang diri. "Saya adalah penjaga surau ini. Kepercayaan kepada Tuhan merupakan pelita penerang baginya yang selalu bersamanya dalam kegelapan kehidupannya. Bibirnya terkatup tak dapat menyampaikan terima kasih. Lalu menyalaminya dengan akrab seraya berkata. berkeliling kota tanpa tujuan.Selesai salat ia masih duduk bersimpuh khusyuk mengikuti sang imam yang memanjatkan doa ke hadirat Tuhan. Menghapus keringat di jidatnya dan menghela napas panjang. Di tengah kehiruk-pikukan dunia serba fana. Mereka ragu terhadap hikmat pengertian yang telah diberkati. ia tiba di surau sebelum waktu salat Zuhur. Hanya Tuhan satu-satunya yang dekat padanya. Sejak waktu itu ia tak usah lagi berkeliaran mencari tempat berteduh. 68 . ilusi dan begitu banyak hal indah mempesona telah meninggalkannya. Sama sekali tidak terbayang raut kebencian atau kerisihan pada wajah mereka. Keluarganya punah. para jamaah sama mengarahkan pandangan mereka nanap kepadanya. Sesudah salat Subuh ia meninggalkan surau melakukan kebiasaannya. Harapan-harapan. Agak lama matanya terpejam. Diraupnya tangan penjaga surau itu lalu menciumnya. Seakanakan sambil terpejam sempat disaksikannya di ruang matanya lakon kehidupannya yang sedang berputar. Sesaat dipejamkannya kedua belah matanya. Benar telah dilihatnya keraguan sementara orang.yang sekaligus membelakangi norma-norma agama. Dan ketika salat rampung sudah. Ia duduk bersandar ke dinding papan. walau angin sejuk berhembus mengipasinya. Hartanya musnah. Ia yakin lewat pelita penerangnya Tuhan selalu melihat gerak-geriknya. Tak seorang pun peduli. terpencil dan dikucilkan dari arena pergaulan hidup manusia. terutama mereka yang termakan oleh apa disebut kemajuan ilmu pengetahuan. Mereka hanya memandang sesaat lamanya. limpahan karunia kasih sayang-Nya serta ampunan-Nya yang tiada batas akhirnya.

*** 69 . tapi telah keburu sombong dan berlagak. orang-orang datang bergerombol ramai-ramai mengerumuni sosok tubuh yang tersandar di dinding papan serambi surau. dalam hati nurani dan jiwanya.. hai pengelana. Ketika saat salat Zuhur tiba. "Belum lama ini. Kedua belah matanya rapat terpejam. Mereka juga mempelajari sebab-sebab turunnya hujan dan angin topan dan tidak lagi menggubris Tuhan. "Bukankah di sini kita tidak mendapat tempat yang layak? mari kita pergi menghadap ke hadirat-Nya. ketika manusia sama ketakutan. Seorang ilmuwan tersohor muncul dan menyatakan. Mereka coba mendekati planet Mars. "Mereka telah mendarat di permukaan bulan. Padahal mereka masih tetap mengorbit di seputar atmosfir bumi. indah sempurna tiada tara. Laki-laki tua yang sering melontarkan kata-kata: "Atur sendiri-sendiri!" telah menghembuskan napasnya terakhir dengan penuh kedamaian di Rumah Tuhan yang sejuk dan damai. Di sana segala sesuatu kekal abadi. Sebenarnya mereka belum berbuat sesuatu yang berarti. Tapi akhirnya mereka menemukan penangkal petir dan guntur dan mereka tidak lagi merasa takut kepada Tuhan.Orang tua itu berkata: "Ketahuilah olehmu. mari kita tinggalkan dunia yang fana ini. Tapi ia takkan pernah bangun dari tidurnya. bahkan di uratnadinya.. dan akan selalu terjadi. seolah-olah ia tertidur lelap. Mereka mengira telah berhasil mencapai ketinggian yang luar biasa.. hingga menggigil sekujur sendinya. ketika badai mengamuk dan gempa bumi menggelegar. bahwa ia telah mempelajari dan meneliti bumi dan langit dari segala segi. tapi tidak pernah menemukan tanda-tanda adanya Tuhan. "Kini. Sungguh keterlaluan! Padahal ia dapat menemukan Tuhan dalam dirinya." kata sosok penjaga surau. Hal ini tentu telah engkau ketahui. Jiwanya serasa lepas terbang ke sawang lapang tak terbatas." Mendengar ajakan itu jiwanya terasa luluh. Mereka malah sama sekali belum menyentuh tubir ruang angkasa semesta yang didindingi tujuh lapis langit. Ini merupakan masa paling buruk.

Horison, Juni 2000

Wawancara dengan Sinterklas Sebuah Renungan Sebelum Hari Natal

70

Oleh: Erich Kästner ( 1899 - 1974 )

Bel pintu sudah berbunyi lagi. Yang kesembilan kalinya dalam satu jam terakhir ini! Hari ini, begitulah tampaknya, para pencinta tombol bel pada berkeliaran di jalanan. Dengan murung aku merangkak menuju pintu dan membukanya. Bayangkan, siapa yang berdiri di luar? Sinterklas pribadi! Dalam pakaian kebesarannya yang bersejarah dan terkenal itu. "Oh," kataku. "Sinterklas yang terburu-buru!" "Yang kudus, kalau saya boleh minta." Nadanya sedikit tersinggung. "Ketika masih muda aku selalu menyebut Anda sebagai Sinterklas yang terburu-buru. Aku pikir itu lebih masuk akal." "Jadi, Andalah orangnya?" "Anda masih ingat hal itu?" "Tentu saja! Anak laki-laki kecil yang lucu, begitulah Anda waktu itu!" "Sekarang pun aku masih tetap kecil." "Dan sekarang Anda tinggal di sini?" "Betul sekali." Kami tersenyum pasrah dan mengenang masa-masa yang telah berlalu. "Mampirlah sebentar!" pintaku. "Marilah minum secangkir kopi bersamaku!" Jujur saja, sebenarnya aku merasa kasihan kepadanya. Apa yang harus kukatakan? Dia tidak pergi. Dia berkenan untuk singgah. Pertama-tama dia membersihkan sepatu botnya di keset depan pintu, lalu meletakkan karungnya di

samping gantungan mantel, menggantungkan ranting pelecutnya di sebuah gantungan, dan akhirnya dia minum kopi bersamaku di kamar tamu. "Anda mau cerutu?" "Aku tidak akan menolaknya." Kuambil kotak cerutu. Dia mengambil sebatang. Aku memberinya api. Lalu dengan bantuan sepatu bot yang kiri dia melepaskan sepatu botnya yang kanan dan menghembuskan nafas dengan lega. "Ini gara-gara ganjalan untuk telapak kakiku yang rata. Ganjalan ini sama sekali tidak nyaman." "Kasihan sekali Anda! Apalagi dengan pekerjaan Anda yang seperti itu." "Tetapi dibandingkan dulu, sekarang hanya ada sedikit pekerjaan. Dan itu baik untuk kakiku. Sekarang sinterklas-sinterklas palsu itu tumbuh seperti jamur saja layaknya." "Suatu hari anak-anak akan berpikir bahwa Anda, Sinterklas yang asli, sama sekali tak ada lagi." "Itu juga betul! Orang-orang itu merusak pekerjaanku! Kebanyakan dari mereka yang memakai mantel bulu, memakai jenggot dan meniruku itu, tidak mempunyai bakat barang sedikit pun! Mereka adalah orang-orang yang tidak profesional!" "Karena kita sedang berbicara tentang pekerjaan Anda," kataku, "aku punya pertanyaan kepada Anda, pertanyaan yang sudah sejak masa kecilku menyibukkanku. Dulu aku tidak berani bertanya. Tetapi sekarang aku sudah lebih berani karena aku menjadi wartawan." "Tidak apa-apa," katanya dan menambah kopi lagi. "Apa yang Anda sudah ingin tahu sejak waktu kecil?" "Begini," aku memulai dengan ragu-ragu, "pekerjaan Anda itu sebenarnya sejenis bisnis musiman yang tidak tetap, bukan? Pada bulan Desember, Anda punya banyak sekali pekerjaan. Semuanya bertumpuk hanya pada beberapa minggu saja. Pekerjaan itu bisa disebut sebagai bisnis dadakan. Lalu..." "Hm?" "Lalu, aku benar-benar ingin tahu, apa yang Anda kerjakan pada bulan-bulan lainnya!" Sinterklas tua yang baik itu memandangku dengan terpana. Kelihatannya, tidak ada seorang pun yang pernah mengajukan pertanyaan yang begitu mudah dimengerti itu kepadanya. "Kalau Anda tak mau membicarakannya... ." "Mau, mau kok," katanya dengan suara seperti menggeram. "Kenapa tidak?" Dia minum seteguk kopi dan mengepulkan asap rokok berbentuk lingkaran. "Pada bulan November, tentu saja aku sibuk dengan pengadaan bahan-bahan. Di beberapa negara tiba-tiba tidak ada coklat lagi. Tak seorang pun tahu mengapa. Atau apel ditimbun oleh para petani. Lalu segala macam masalah dengan pemeriksaan bea cukai. Dan setumpuk dokumen untuk

71

transportasi barang-barang. Dan kalau berjalan seperti itu terus, nanti aku harus memulainya sejak bulan Oktober. Sebetulnya, sampai sekarang pada bulan Oktober aku menarik diri dan dengan tenang membiarkan janggutku tumbuh." "Anda hanya berjanggut dalam musim dingin saja?" "Tentu saja. Aku `kan tidak bisa sepanjang tahun pergi ke sana-ke mari sebagai Sinterklas. Anda pikir, aku memakai mantel buluku terus menerus? Dan selama 365 hari menyeret-nyeret karung dan ranting pelecutku ke mana-mana? Nah, begitulah. Di bulan Januari aku membereskan pembukuan. Sungguh mengerikan. Dari abad ke abad, Hari Natal menjadi semakin mahal!" "Tentu saja." "Lalu, aku membaca surat-surat yang datang pada bulan Desember. Terutama surat dari anak-anak. Pekerjaan yang sungguh memakan waktu, tetapi penting. Karena kalau tidak, kontak dengan langganan akan terputus." "Logis." "Awal Februari aku pergi ke tukang cukur untuk mencukur jenggotku." Pada saat itu, bel pintu berbunyi lagi. "Permisi ya?" Dia mengangguk. Di luar, di depan pintu, berdiri seorang pedagang keliling dengan kartu pos bergambar yang berwarna-warni mencolok mata, dan dia bercerita tentang sebuah kisah yang sangat panjang dan sangat menyedihkan. Bagian pertama dari kisahnya itu kudengarkan dengan tabah sambil "menahan sakit" pada kupingku. Lantas aku memberinya uang kecil yang ada dalam saku celanaku, dan kami saling mengucapkan selamat juga untuk masa depan kami. Walaupun aku sudah berkeras menolaknya, dia tetap memaksakan setengah lusin dari kartu-kartu posnya yang mengerikan itu kepadaku. Dia, katanya, bagaimanapun bukanlah seorang pengemis. Aku menghormati harga dirinya yang indah itu dan mengalah. Akhirnya dia pergi. Ketika aku kembali ke kamar tamu, Sinterklas sedang mengenakan sepatu bot kanannya sambil merintih. "Aku harus meneruskan perjalanan," katanya, "kakiku toh tidak bertambah baik. Apa itu yang Anda pegang?" "Kartu pos. Seorang pedagang keliling memaksaku untuk menerimanya." "Sini, berikan kepadaku. Aku tahu orang yang mau menerimanya. Terima kasih banyak untuk keramahan Anda. Kalau saja aku bukan Sinterklas, aku pasti akan iri kepada Anda." Kami berjalan ke koridor, di mana dia mengambil perlengkapannya. "Sayang," kataku. "Anda masih berhutang kelanjutan kisah hidup Anda." Dia mengangkat bahu. "Sebetulnya tidak banyak yang banyak bisa diceritakan. Pada bulan Februari aku mengurus pesta karnaval anak-anak. Setelah itu, berkeliling di pasar saat musim semi. Berjualan balon dan mainan mekanik murah. Pada musim panas aku menjadi pengawas kolam renang dan memberi kursus berenang. Kadang-kadang aku pun berjualan es krim di jalan. Ya, dan setelah itu musim gugur datang lagi - sekarang aku benar-benar harus pergi."

72

Kami berjabatan tangan. Dari jendela, pandanganku mengikutinya. Dia berjalan di salju dengan langkah lebar dan tergesa-gesa. Di pojok Jalan Unger, seorang lelaki menantinya. Orang itu mirip si pedagang keliling yang banyak omong dengan kartu posnya yang konyol itu. Mereka berdua membelok di tikungan sudut jalan. Atau mungkin aku keliru? Seperempat jam kemudian bel sudah berbunyi lagi. Kali ini yang muncul adalah anak muda pesuruh toko makanan Zimmermann Söhne. Sebuah kunjungan yang menyenangkan! Aku akan membayar, tetapi dompetku tak kutemukan dengan segera. "Kan masih ada waktu, Pak Doktor," katanya dengan nada kebapakan. "Aku yakin bahwa aku meletakkannya di atas meja tulis!" kataku. "Baiklah, kalau begitu akan kubayar besok saja. Tapi tunggulah sebentar, saya ambilkan sebuah cerutu istimewa untuk Anda!" Kotak cerutu itu pun tak segera kutemukan. Itu artinya, nanti pun tak akan kutemukan. Tidak cerutu. Tidak juga dompet. Tempat rokok dari perak pun tidak bisa kutemukan. Dan kancing-kancing manset dengan batu bulan yang besar-besar dan mutiara-mutiara untuk jas berekor pun tak ada, baik di tempatnya atau pun di tempat lain. Setidaknya, tidak di rumahku. Aku tidak bisa menerangkan, ke mana barang-barang itu menghilang. Tetapi bagaimanapun, malam ini adalah malam yang tenang dan indah. Bel pintu tak berbunyi lagi. Sungguh, sebuah malam yang baik. Hanya saja, ada sesuatu yang kurang. Tetapi apa? Sebatang cerutu? Tentu saja! Untunglah geretan emas itu pun tidak ada lagi. Karena kalau ada, walaupun aku seorang yang tenang, aku harus mengakui: punya api, tapi tak punya rokok, itu bisa merusak seluruh malam!***

73

Kisah-kisah dari Buku Bacaan Wolfgang Borchert ( 1921 - 1947 )

Judul asli: "Lesebuchgeschichte". Diterjemahkan oleh Kelompok Kerja Penerjemahan Sastra Jerman, Jurusan Bahasa Indonesia, Seminar fuer Orientalische Sprachen (Seminar untuk Bahasa-bahasa Timur) Universitas Bonn (Silke Brand, Britta Debus, Helgard Haas, Birgit Lattenkamp, Klaus Mundt, di bawah bimbingan Dewi Noviami)

"Semua orang sudah mempunyai mesin jahit, radio, lemari es dan telepon. Bikin apa kita sekarang?" tanya Pemilik Pabrik. "Bom," kata Penemu. "Perang," kata Jenderal "Kalau tak ada pilihan lain," kata Pemilik Pabrik.

Saat itu zaman perang. Kemudian hanya dengan setengah gram." Kedua laki-laki itu berpisah. seribu orang bisa terbunuh dalam waktu dua jam. Sobat. Mereka adalah seorang pemilik pabrik dan seorang pengusaha bangunan." "Dan saya tidak dapat memberi Anda kamar mandi. Ketika dia melihat sekuntum bunga mati. Dan di atas kertas ada angka-angka." "Empat ribu? Baiklah. 74 *** Dua laki-laki bercakap-cakap. " "Empat ribu." "Dengan ubin hijau. jika saja saya tidak mengubah coklat menjadi mesiu pada waktu yang tepat. tentu. Ya. Matahari menyinari bunga. *** ." "Dengan ubin hijau. dia sedih sekali dan menangis. "Ongkosnya?" "Dengan ubin?" "Dengan ubin hijau.Lelaki dengan jas kerja putih menulis angka di atas kertas. Lalu dia membuka jas kerja putihnya dan selama satu jam merawat bunga yang ada di ambang jendela. Dan kertas. saya tak akan mampu memberi Anda uang empat ribu ini. Dia menambahkan hurufhuruf yang sangat kecil dan halus.

Dia bangkit dan tertawa. bagaimana?" "Tidak begitu sukses. Mereka adalah para jenderal. Berpidato pendek. Dua laki-laki bercakap-cakap.… Sama sekali tidak." "Jadi." "Pasti akan habis. Sambil bercerita dia menggambar banyak salib kecil di atas kertas. Mereka berbicara tentang manusia. Sangat mengharukan. Saat itu adalah zaman perang. Kelihatannya seperti lelaki-lelaki kecil." Pak Guru memandang yang lain dengan ngeri. "Nah. Mengharukan. sedang berkabung?" "Sama sekali tidak. Sangat mengharukan. "Nah." "Anda masih punya berapa?" "Kalau lancar: empat ribu. 75 *** Dua laki-laki bercakap-cakap. Banyak mata bersinar. Mengingatkan pada Langemarck. Pak Guru. gada-gada kecil berjatuhan. Para pemuda bernyanyi: Tuhan yang memberi senjata. Lalu. Banyak salib kecil. Upacara yang mengharukan. seribu. di belakang. Pak Guru. ." "Berapa Anda bisa memberi saya?" "Paling banyak delapan ratus. Dia mengambil bola baru dan menggelindingkannya di atas lintasan. Menyeramkan. tanah air.Lintasan boling. berhentilah. Membacakan Hölderlin. berpakaian hitam-hitam. Ingat Sparta. Ada upacara." "Terimakasih.' Kedua laki-laki itu berpisah. Para pemuda maju ke garis depan. Menyampaikan beberapa istilah: kehormatan. Menimbulkan gemuruh halus." "Demi Tuhan. Mengutip Clausewitz.

" "Berapa umurmu?" "Delapan belas. para menteri jalan-jalan di kota. Orang itu dibunuhnya. Yang satu rubuh.*** Dua laki-laki bercakap-cakap." tanya Prajurit." Kedua laki-laki itu berpisah. Dia mati. 76 *** Ketika konferensi perdamaian berakhir. Ketika perang berakhir. Para menteri itu mengambil senjata dan menembak lelaki-lelaki kecil dari karton. Pada waktu itu mereka melewati sebuah stand menembak. Tapi dia tidak punya roti. perempuan itu menamparnya. seorang perempuan tua datang dan mengambil senjata mereka. Saat itu adalah zaman perang. Tuan?" seru gadis-gadis berbibir merah. "Kamu tidak boleh membunuh. Dan kamu?" "Sama. . "Mau menembak. Ketika salah seorang menteri meminta kembali senjatanya. Ketika mereka sedang menembak." kata Hakim. prajurit itu pulang ke rumah. Mereka adalah prajurit. Pada waktu itu dia melihat seorang yang punya roti. "Sukarelawan?" "Tentu. "Kenapa tidak.

Lumut dan laut dan nyamuk-nyamuk: Semuanya masih tetap yang sama. Waktu mereka dua belas tahun. Waktu mereka enam puluh dua tahun. mereka menggunakan bakteri. Waktu mereka berumur dua tahun. Ikan-ikan kecil dan bintang-bintang. delapan puluh dua tahun.*** Judul asli: "Interview mit einem Weihnachtsmann". Waktu mereka dua puluh dua tahun. Diterjemahkan oleh Kelompok Kerja Penerjemahan Sastra Jerman. mereka saling melempar bom. Seminar fuer Orientalische Sprachen (Seminar untuk Bahasa- . Semuanya tanah yang sama. Burung-burung gagak masih menggaok. mereka saling memukul dengan tongkat dan saling melempar batu. dia mengamati dengan tenang: Pohon-pohon masih tetap pohon-pohon. Tanahnya sama. Dan kadang-kadang kadang-kadang seorang manusia bisa dijumpai. Ketika tahun 5000 seekor tikus mondok muncul dari tanah. mereka saling memukul dengan tangan. Jurusan Bahasa Indonesia. mereka mati. Cacing tanah itu sama sekali tidak merasakan bahwa di situ dua manusia yang berbeda dikuburkan. *** Pada suatu ketika ada dua manusia. Mereka dikuburkan 77 Ketika seratus tahun berlalu. Dan anjing-anjing masih mengangkat kakinya. Waktu mereka berdampingan. seekor cacing tanah makan di kuburan mereka. mereka saling menembak dengan senjata.Dia adalah seorang ibu. Waktu mereka empat puluh dua tahun.

Beate Meik. di bawah bimbingan Dewi Noviami). 78 . Birgit Lattenkamp.bahasa Timur) Universitas Bonn (Silke Brand.

tampaknya lebih tua dan lemah daripada Juenger yang kelihatan gagah meskipun baru saja telah melampaui usia tujuh puluhan dan menampilkan diri sebagai seorang suka olah raga. sedangkan Juenger lebih suka welsche Dole. Juenger datang liwat kota Basel. Ia jelas kelihatan sebagai seorang yang menikmati kesenangan hidup. Remarque—waktu itu usianya enam puluh tujuh tahun—datang dari arah kota Locarno. sambil memandang sungai Limnat. Keduanya masih mengetahui larik-larik yang mengakhiri tiap bait: “Flandern in Not. pada pertengahan tahun enam puluhan saya berhasil menggugah kedua pengarang lanjut usia itu —Juenger dan Remarque— agar mau bertemu. yaitu “Flandrischer Totentanz”. Pada pertemuan pertama. puncakpuncak menara gereja itu menjulang tinggi di atas rumah-rumah penduduk kawasan Schiffslaende. Biasanya kami duduk-duduk di serambi restoran roti dan kue. Kemudian keduanya memandang ke arah gereja Grossmuenster.Abadku Oleh: Günter Grass ( 1927 . percakapan mereka sangat kaku dan tersendat. sesudah berjalan kaki mendaki bukit Vogesen menuju ke Hartmannsweilerkopf. dalam waktu beberapa hari dan hampir bersamaan datang dua surat jawaban yang menyatakan bahwa undangan saya diterima.. Meskipun saya menggambarkan garis besar rencana penelitian kami hanya sesuai ketentuan umum. apalagi saya warga negara Swiss suatu negara yang netral. Kelihatan betul bahwa keduanya sangat berusaha memperlihatkan sopan santun dan daya pikat mereka masing-masing. in Flandern reitet der Tod” (“Flandern dilanda bahaya. ) 79 1914 Akhirnya. setelah dua rekan di lembaga penelitian kami sudah berulang kali dan sia-sia berusaha. tidak lama kemudian juga Juenger turut menyanyikan lagu yang melodinya sangat sedih dan mencekam. dengan banyak pertumpahan darah. Karena tinggal di daerah Wuerttemberg. Perihal kedua tokoh mengesankan yang sudah “is bitzeli fossil” inilah saya beritakan kepada rekan-rekan di lembaga penelitian. Saya telah memesan kamar-kamar yang tenang di hotel “Zum Storchen”. balai kota dan hotel “Zum Rueden”. . pertama-tama Remarque mulai bersenandung. Tamu-tamu kehormatanku—keduanya saksi zaman dan pelaku sejarah—berbincang-bincang sambil beradu pengetahuan tentang jenis-jenis anggur yang dihasilkan di Swiss: Remarque memuji berbagai jenis anggur yang berasal dari daerah Tessin.. yaitu daerah yang dulu diperebutkan dengan sengit. ketika saya mengutip awal sebuah lagu yang selama Perang Dunia I sering dinyanyikan dan tidak diketahui penciptanya. Mungkin saya lebih beruntung karena saya perempuan dan masih muda. Namun. akan tetapi sekaligus menyusahkan. mungkin surat-surat saya didengar sebagai ketukan takut-takut lembut di pintu. Usaha mereka “uff Sehwyzerduetsch zu schwaetze” amat lucu.. di Flandern maut merajalela”).

” Kedua pengarang tua itu memang tidak mulai berselisih. dengan sangat teliti. Bahkan juga Pickelhauben ditemukan. akan tetapi mereka menekankan bahwa pandangan mereka mengenai perang berbeda. yang mengabarkan bahwa berondongan tembakan senapan mesin dari pihak Inggris dibalas sambil menyanyikan lagu kebangsaan*. pertempuran sebagai pengalaman jiwa tetap memikat saya.” Novel ini. Tanpa pikir panjang dan tanpa rasa bersalah Anda telah mengerahkan satu pasukan tempur. Menjelang akhir pertemuan pertama—kedua pengarang itu masing-masing telah menghabiskan sebotol anggur merah—Juenger berbicara tentang Flandern lagi: “Ketika dua tahun kemudian kami masuk ke dalam parit-parit di garis depan daerah Langemarck. Kalau yang satu masih tetap memandang dirinya sebagai seorang “pencinta damai yang tidak dapat berubah ataupun diubah”. Dari tiap dua orang. hanya guna menangkap satu-dua orang musuh—sekedar untuk melampiaskan nafsu sadis dan sekaligus guna menjarah sebotol Cognac!” Namun kemudian ia mengakui bahwa di buku hariannya Juenger telah menggambarkan pertempuran parit. bahwa gaya penulisan mereka berlawanan. isinya bukan kumpulan pengalaman pribadi. yang lain menuntut dimengerti dan dipahami sebagai “anarkis”. kata Remarque. “Dalam Stahlgewittern. Remarque. Barangkali sebab itu. Remarque mulai bercerita bahwa pada musim gugur tahun empat belas ia masih di bangku sekolah di kota Osnabrueck. juga karena disemangati oleh para guru. banyak murid sekolah menengah umum ramai-ramai mendaftarkan diri sebagai tentara sukarela. Juenger sambil tersenyum halus menceritakan beberapa pengalaman masa sekolah kepada Remarque. bahkan dalam novel Im Westen nichts Neues—novel pertama Anda yang memang hebat—Anda bercerita penuh perasaan dan gejolak batin tentang persahabatan sehidup semati di antara para prajurit. Anda tetap berpetualang seperti preman bajingan. Dan mereka yang kembali. Meskipun perang itu kemudian membawa penderitaan. ketika dekat Bixschoote dan Ypern terjadi pertempuran seru yang mengakibatkan pertumpahan darah habis-habisan di pihak resimen-resimen tentara sukarela Jerman. kami menemukan senapan. dan bahwa juga titik tolak mereka berlainan. “Omong kosong!” teriak Remarque. satu tidak kembali. “Dinas di rumah sakit tentara sudah cukup sebagai sumber ilham saya. memberi kesan yang sangat mendalam kepadanya. kopelrim dan selongsong peluru yang berasal dari pertempuran tahun empat belas. perlengkapan tentara sukarela yang dalam kekuatan resimen telah maju ke garis depan …” 80 1915 . melainkan pengalaman di garis depan dari suatu generasi yang diperalat. bahwa legenda kepahlawanan di Langemarck. kami merasa dilebur menjadi satu kekuatan besar. yang tidak berkesempatan masuk sekolah menengah umum. bahkan sampai pada hari-hari terakhir sebagai komandan pasukantempur. bahkan juga ciri-ciri pertempuran yang membawa banyak korban dan kerugian itu. Setidak-tidaknya Remarque memandang dirinya sendiri sebagai “mayat hidup”.Sesudah perenungan beberapa saat diselingi dehem-mendehem. seperti Remarque sendiri. Lalu ia melanjutkan: “Ketika akhirnya perang meletus. sampai serangan terakhir yang diperintahkan Ludendorff. meskipun Juenger menamakan kultus kepahlawanan Langemarck “bualan kaum nasionalis”. Akui sajalah. ia mengakui juga bahwa lama sebelum permulaan perang. juga. ia sudah sangat ingin mengalami keadaan bahaya dan sangat tertarik pada petualangan-petualangan luar biasa dan “bahkan ingin masuk Legiun Asing Prancis”. sampai sekarang hancur jiwa raganya.

Seakan-akan menjadi saksi. Namun Im Westen nichts Neues tiras penerbitannya jauh lebih tinggi daripada In Stahlgewittern. antara lain pabrik besi Thale. pada dasarnya mengikuti model helm baja kami. terletak di atas meja marmer di antara roti croissant dan keju. meskipun bentuknya agak diubah. Andaikan Anda tahu. Disetujui pula bahwa saya diizinkan minum air jeruk. Helm baja itu hasil percobaan seorang kapten arteleri bernama Schwerd setelah percobaan-percobaan sebelumnya tidak memberi hasil yang memuaskan.” Sanggahan saya “Untung helm kami tidak terpaksa diuji coba dalam pertempuranpertempuran yang membawa pengorbanan dahsyat dan kerugian besar seperti yang Anda gambarkan dengan kekuatan bahasa yang begitu meyakinkan” diabaikannya. “buku itu laris. berapa banyak korban jiwa telah jatuh karena helm kulit yang tidak ada gunanya itu. sampai ke bagian yang mencuat ke belakang guna melindungi tengkuk dan lapisan dalam berupa bantalan berisi rambut kuda atau terbuat dari campuran wol dan serat-serat lain yang dipres. Karena Krupp tidak mampu menemukan campuran logam yang cocok untuk menghasilkan baja anti karat. kedua buku yang pernah menyulut perdebatan sengit antara kubu pro dan kontra perang. hal itu disebabkan oleh lebarnya bagian dahi yang mencuat ke depan. Semua pasukan di depan kota Verdun dan di pinggir sungai Somme mendapat prioritas. Remarque.” Kemudian ia berbicara langsung kepada saya.” Juenger tidak menjawab. perusahaan-perusahaan lain yang mendapat ordernya. Kami berlomba dengan orang Prancis yang juga mulai memakai helm baja. mulai dari proses anti karat yang menghasilkan permukaan luar yang kusam berwarna kelabu. Sebaliknya pikiran kami bertiga bukan mengenai masa depan. bahannya kadang-kadang diganti dengan bahan campuran wol dan serat lain yang dipres. sedangkan madah perang karangan Anda jelas tidak pernah terhambat penerbitannya. Remarque! Pelindung kepala itu dalam divisi kami di garis depan sudah sejak lima belas Juni diganti dengan helm baja. 81 . Selanjutnya Juenger menghujani Remarque dengan berbagai keterangan rinci.” kata Remarque. Di sinilah dulu Lenin menunggu keberangkatannya ke Rusia —perjalanan yang dikawal tentara kekaisaran Jerman— sambil membaca-baca Neue Zuercher Zeitung dan surat kabar lain serta diam-diam merencanakan revolusi. terjemahannya ke dalam beberapa bahasa asing mengalami nasib yang sama. melainkan seputar masa lalu. karena bagian depan helm itu harus memberi perlindungan sampai ke ujung hidung. Ketika serangan dan pertahanan di pinggir sungai Somme mulai diperbincangkan. Remarque sengaja tetap membisu. sambil meletakkan beberapa bagian peta medan perang di meja yang sudah agak kosong setelah perangkat sarapan pagi disingkirkan. sebuah kafe yang sejak dulu sudah terkenal. apalagi dalam pertempuran parit! Bahkan karena kekurangan kulit. Juenger langsung melontarkan sebuah kata yang tidak lepas dari pembicaraan selanjutnya: “Pickelhaube yang amat menjengkelkan ini. sehingga selama dua belas tahun terpaksa berhenti beredar di pasaran buku Jerman. yang berada di front Timur terpaksa palinglama menunggu. yang sudah tidak dipakai lagi ketika Anda jadi tentara. Lalu ia mengeluh tentang hambatan penglihatan di waktu pertempuran parit. bahkan juga penyangga yang diberi lubang ventilasi. Juga Schweizerhelm yang sampai sekarang dipakai militer. berkurang satu orang. Setiap pecahan peluru tembus.Pertemuan berikutnya berlangsung di Odeon. Kemudian saya berhasil mengalihkan pembicaraan ke perang parit di Flandern dan di tanah kapur daerah Champagne. pertama-tama kedua tamu saya sepakat bahwa pertemuan ini akan dimulai dengan sarapan pagi yang disertai minuman anggur. Namun. Mulai enam belas Februari semua divisi di garis depan memakai helm baja. Setiap tembakan jitu. Padahal buku saya dalam tahun 1933 termasuk buku yang dibakar secara resmi. “Betul.

mestinya Anda ketahui juga.” Setelah agak lama tidak ada yang berbicara—kedua pengarang itu sedang menikmati Pfluemli dan kopi hitam—akhirnya Remarque mengatakan: “Helm baja jenis M 16. hampir pipih. Saya.“Nah. topi baja yang hebat ini sangat mengganggu. . yang tinggal kelihatan cuma bibir mereka yang meringis ketakutan dan dagu mereka yang gemetar. Melorot terus. Bahwa peluru yang ditembakkan oleh pasukan infanteri dan bahkan pecahan-pecahan kecil peluru meriam tetap menembus topi baja itu. Wajah-wajah mereka yang masih lugu seperti anak sama sekali tertutup oleh helm itu. dipesankan air jeruk yang baru diperas segelas lagi. 82 . jauh terlalu besar untuk pasukan pengganti yang terdiri dari prajurit-prajurit muda yang baru direkrut dan yang kadang-kadang bahkan belum selesai dilatih.sutera lagi lapisan dalamnya!” Lalu ia teringat pada sesuatu yang dianggapnya lucu: “O ya.*** Diterjemahkan oleh Dewi Noviami. di meja tulis saya ada kenangkenangan.. saya lebih suka memakai peci letnan saya yang sudah tua . Lucu dan memelas sekaligus. Anda tentu tahu bahwa pada saat-saat manuver selama serangan gempur. ada lubang bekas peluru tentu.” Ia memanggil pelayan dan memesan Pfluemli lagi. si none. sebuah helm Inggris yang bentuknya sama sekali lain. Juenger juga. Meskipun harus diakui sebagai tindakan ceroboh.. sesudah itu M 17.

sekop dan masker gas berdentingan dengan bodohnya.1985) 83 Bersama petugas pengantar makanan. dan selain membawa peralatan makan. kemudian roti kutekan-tekankan pada rantang yang sudah kosong. sebungkus permen Drops dan lemak mentega dalam kertas karton. Dan daging kalengan itu pun kumakan. "atau kusimpankan sampai besok pagi?" Dari nada suaranya. untuk pos pengintaian. ke mari. aku tahu bahwa dia terburu-buru untuk kembali ke pos komando. "Dan ini. dialah yang mengantarkan orang itu." kataku. dan mendengarkan ke arah belakang di mana terdengar suarasuara yang ditimbulkan petugas pengantar makanan itu. dan bagaimana dia kemudian mengaitkan kopelrimnya lagi.Jak. "jangan terlalu keras. dan bagus juga bahwa dalam kegelapan aku tidak bisa melihat ulat-ulat yang keluar dari buncis waktu dimasak. sialan!" Peralatan kopelrimnya. Orang itu berdiri dengan sangat membisu di sampingku... Di dalamnya ada banyak potongan-potongan daging empuk yang kukunyah dengan nikmat. dia datang pada malam hari untuk menggantikan Gornizek yang berjaga di belakang." Dia menyerahkan roti dan daging kalengan dalam bungkusan kertas minyak. adalah hal yang biasa mengirim orang baru ke pos yang tersulit. masker gas di sebelahnya dan pada tanggul lobang perlindungan diletangkannya senapan teracung ke arah musuh. juga ke arah depan yang gelap dan sunyi." gumamku dan bergeser untuk memberinya tempat. "Ini. begitu saja dari kertas pembungkusnya. si orang baru berdiri di samping sambil menggigil dan membisu. Malam-malam itu begitu gelap dan rasa takut seperti hujan badai berguntur di bumi yang muram dan asing." kataku. aku tahu bagaimana dia. Gerhard. Aku berdiri di depan. . dengan muka selalu menghadap ke ." "Ya. "kemarikan. "Tidak usah. di mana orang-orang Rusia berada.. Sop buncis sudah dingin. melepaskan kopelrimnya. "Idiot.. sesuai dengan aturan. Letnan mengirim dia kepadamu.. Lebih dengan pendengaranku daripada dengan penglihatan. "Kau mau roti ini juga?" tanya Gerhard." Selama itu." kata Gerhard. "orang baru yang menggantikan Gornizek ." kataku perlahan.. . semuanya akan segera kumakan. meloloskan lalu meletakkan sekopnya ke samping. Dengan canggung dia masuk ke lobang perlindungan dan hampir saja menyenggol rantang makanku. "Ayo. di pos komando. di pos pengintaian. dia pun membawa rokok. Sang Calo Oleh: Heinrich Böll (1917 . Gerhard kemudian menyelinap kembali ke pos komando.

" bisiknya. "Di pos." Aku heran bahwa dia sudah bisa berbisik dengan baik. Tekanan yang bisa dimengerti orang dengan baik tapi hampir tidak bisa terdengar dalam jarak satu meter. ." katanya lagi." kataku pelan-pelan." "Tidak. "kan tidak boleh duduk." tambahku sambil menarik pinggiran mantelnya dan dengan setengah memaksanya untuk menduduki bangku. tapi aku tahu bahwa dia duduk seperti seorang prajurit baru di sebuah kelas. "Saudara merahku. helm bajanya hampir seperti tameng punggung seekor kura-kura. Suara yang rapuh seperti seorang penyanyi tenor yang sentimental." "Kalau begitu. dan jika dia menoleh ke samping." kata sebuah suara yang lemah." tampaknya itulah yang selalu mereka ucapkan. "Tidak enak?" "Enak. "Kemari. minum sendiri. dengan tekanan yang sudah kupelajari dengan susah payah. "Bagaimanapun kamu kan tidak bisa terus-terusan berdiri." kataku.musuh. "Kamu mau merokok juga?" "Tidak." katanya menggagap.. Bibir mereka gemetar karena takut dan hati mereka keras karena berani. "Sini. lalu dia bergidik dengan keras sampai-sampai aku harus melepaskannya.. "Terima kasih. juga tidak boleh memulai peperangan. menarik kerah mantel tinggi-tinggi sampai menutupi tengkuk dan menyalakan pipa rokok.. tangan di lutut. "Diam!" aku membentaknya.sabar seperti seekor anak sapi yang mendapatkan botol pertamanya." Dia mengambil botol dari tanganku dan meneguk dengan baik." "Tak ada yang boleh.. "tapi aku tersedak. "Duduklah yang tenang. Aku membungkuk. sangat tegak dan setiap detik siap meloncat berdiri mengambil sikap siap seperti orang sinting." "Tapi di pos." gumamnya. terlihat dari tengkuknya bahwa dia masih muda. "minum seteguk. tapi aku memegang kepalanya dan menyorongkan leher botol ke mulutnya . 84 . Orang yang masih sangat muda itu punya sesuatu yang sangat khas pada tengkuknya yang mengingatkan pada permainan perang-perangan di sebuah lapangan di pinggiran kota. Winnetou." Walaupun aku hanya bisa melihat siluetnya. dan dalam kegelapan aku melihat sebuah profil. dia membiarkan beberapa tegukan tertelan. Anak-anak muda yang malang itu .

Aku pun minum. Dia sangat . dan aku membungkuk ke arahnya untuk dapat melihat parasnya..." "Berapa lama di perjalanan?" "Empat belas hari. "Ini untuk yang pertama kalinya bertugas di luar?" Dia malu lagi... . Tapi aku tak melihat apapun kecuali sinar kilatan matanya yang menurutku tampak berbahaya. aku pasti akan berpikir: kalau saja gelap. tampaknya mereka telah selesai dengan pembagian makanan. bau keringat. oleh sebab itu aku mencari keberanian dari botol ini.." kataku karenanya. kan?" Dia malu untuk mengakui bahwa tadi dia ketakutan.. "Aku juga takut. Dia menoleh lagi ke arah musuh. Di bagian depan tidak ada apapun.. kalau saja bisa melihat sesuatu. kamu tahu. kalau saja hari menjadi siang. Tetapi kalau terang... Di suatu tempat. sedikitnya sesuatu." "Sudah berapa lama jadi tentara?" "Delapan minggu. atau kalau saja tiba-tiba kabut datang. "Sekarang lebih baik. tapi lalu dia berkata: "Ya.. melihat sesuatu. kalau saja sedikitnya remang-remang. Dia menyebarkan bau ruang penyimpanan pakaian.. aku merasakannya." Kami diam beberapa saat. di 85 . jauh lebih baik . pikirku. selalu begitu. kan?" "Ya . Di kejauhan terdengar derum halus motor kendaraan." Aku merasakan bagaimana dia berpaling dengan cepat ke arahku. lalu sisa-sisa sop. Ah." "Dari mana?" "St.. lalu ruang penyimpanan pakaian lagi. dan hanya siluetnya yang buram dan gelap... tapi memang begitulah mereka semua. juga sedikit berbau minuman keras. setidaknya remang-remang atau berkabut." "Kalian datang dari mana?" "Dari St." "Tidak begitu takut lagi. juga di pos komando di belakang kami.. Juga orang-orang Rusia itu mendapatkan makanan mereka. sangat diam. Lothringen. agak terang. "selalu malah.. Avold. tapi aku bisa mencium baunya. Avold. dan dengan pandanganku aku berusaha untuk menembus kegelapan yang meliputi di depan kami.

." kataku. Artinya. Kamu sudah bertemu dia." "Dua menit sebelum fajar?" dia memotong omonganku. mengerti? Kita tidak boleh lari dari pasukan pengintai. untukku hal itu melelahkan dan bikin sinting. membuat suara gemuruh atau berteriak histeris. kan?" "Ya.. kemudian salah seorang dari kita harus ada yang balik ke belakang dan memberitahukan kepada yang lain.. merasakan bau apeknya. "pos pengintaian." katanya. "kalau kita tidak melihat mereka datang. menyerang. terdengar suara kicauan orang Rusia yang sekonyong-konyong tertahan. Betapa indahnya mendengar nafas seorang manusia. dan suaranya bergetar lagi." Lagi-lagi aku heran. biarkan mereka lewat.depan sana." "Habislah kita... kita pasti melihatnya.. kita harus membunuh mereka. menembaknembak sedikit dengan senapan kita lalu pergi. Dua menit sebelum fajar.. hampir lebih baik daripada aku. Tetapi itu bukan apa-apa.. Aku paling senang kalau bisa meraung." "Dan kalau kita mencurigai sesuatu.." gagapnya. untuk mengekang suaraku. Yang paling menyenangkan adalah bernyanyi. Berbisik. pasukan pengintai. mengerti kan?" "Ya." omongku terus.. betapa baiknya dia bisa berbisik. Ah. "Kamu tahu apa tugas kita?" tanyaku kepadanya. ke pos komando." "Tapi kan itu sudah terlambat?" 86 ...." katanya. berteriak atau berseru sehingga malam membuyar seperti busa hitam. "Kalau . mengerti? Tapi kalau yang datang hanya beberapa orang saja. supaya bisa melihat. kita harus mengawasi bila orang-orang Rusia itu datang. Tapi tenang. "Ya.. kepada Letnan. Aku pun minum lagi. "Bagus dan kalau pasukan pengintai itu menyerang kita. "pos pengintaian. .. . paling-paling pagi hari. Tampaknya itu adalah hal enteng untuknya. "Bagus. Lalu kita menembakkan peluru asap merah. ini kalau . "Tapi mereka tidak datang.. artinya mereka sampai di sini ketika hari mulai menjadi terang. mendengarnya. sungguh mengerikan bahwa dia tidak sekalipun memulai percakapan. lalu aku mendengar suara yang mengerikan: giginya bergemelutuk. "mereka tidak datang pada malam hari. sampai mampus. "Dua menit sebelum fajar mereka mulai jalan. bolehkah kita menembakkan roket isyarat. untukku hal itu selalu memakan tenaga.." katanya dengan suara bergetar. seolah seseorang membungkam mulut itu. maka kita harus tutup mulut... betapa indahnya bahwa aku tidak sendirian lagi.. bau seorang manusia yang kita tahu bahwa dalam detik berikutnya dia tidak berniat membunuh kita." Dia diam lagi..

." Dia diam sesaat." "Seperti orang Inggris.. kepalanya dipalingkannya lagi kepadaku. "Dan. dengan sangat tiba-tiba.. calo saja. lalu pergi ." katanya. siapa namamu?" Benar-benar menjengkelkan. "..?" 87 . "aku berdiri di stasiun." katanya. yah.. Jak saja." kataku parau. "aku bernama Jak. bukan Jeck.. "Yah. melihat lagi ke depan. artinya kita bisa berlari cepat-cepat seperti seekor kelinci..? Begitulah aku bertanya. dan kalau seseorang datang.. setidaknya hampir selalu. itu artinya aku harus mengeluarkan tanganku dari saku yang hangat dan dengan susah-payah memasukkannya lagi.. "Aku." tanyaku lagi. kan.. lalu dalam kegelapan. "Dari Jakob .. ingin bersenang-senang.. dan sekali lagi tampaknya kenangan menguasainya lagi." katanya. Ngomong-ngomong.." tanyaku. jangan takut." "`Gimana. lalu aku bertanya kepadanya dengan sangat pelan. "kalau orang itu mau bersenang-senang?" "Lalu..…" suaranya bergetar lagi dan mungkin kali ini bukan karena takut tetapi karena terkenang sesuatu. . "Calo apa ... calo apa ." "Apa?" "Calo. seseorang dari rombongan orangorang yang lewat. "jadi calo...K... seseorang yang aku pikir cocok." dia mengeluh dalam-dalam.calo apa.. dan aku merasakan bahwa dia sangat heran. Jak. jadi kalau seseorang datang. kamu mengerti? Tuan. Karena tegang aku lupa meneguk minuman.....A. "sebelum ini kamu kerja apa?" "Aku." "Jadi calo apa sih?" Dia memalingkan lagi mukanya ke arahku.. supaya menjadi hangat lagi. biasanya tentara.." "Jak. "Kamu kan pasti jadi calo untuk sesuatu. sangat pelan.. Dan sebelumnya kita toh bisa mendengar mereka.." katanya.. "lalu aku membawanya kepada salah satu perempuan . aku harus menyikut tulang rusuknya." "Ke tempat pelacuran. . yang sedang kosong. J. setiap kali kalau mau berbicara dengannya..."Maka itu artinya kita harus cepat menembakkan isyarat merah.. ya?" "Tidak.." katanya dengan susah payah...

" kataku sambil memberikan botol kepadanya. beberapa perempuan bebas yang menghidupiku. dia bernama Gottliese. sangat jauh. tapi aku tidak bisa menjawab. dan aku lalu mendapat tulang-tulang sisanya." "Dan. dan karena itu aku jadi calo untuk mereka.. Kami berdua lupa untuk apa kami nongkrong di tempat sialan ini. Lili dan Gottliese." katanya dengan nada yang untukku agak menggurui. dan." dia mendesah lagi. "Ya. .... Karena itu mereka tidak boleh memamerkan diri di jalan seperti yang lain . tiran. ya.. untuk siapa aku bekerja.. sangat sungguh-sungguh. aku kan hanya seorang calo." katanya datar.. Käthe. mereka tidak punya surat izin. kan?" "Bukan. "Ngomong-ngomong.?" dia benar-benar tertawa sedikit. sejak ayahku gugur dan ibuku hilang. kamu mengerti. boleh aku minum lagi?" Ketika aku membungkuk untuk meraih botol.. 88 . "aku tidak bekerja untuk tempat pelacuran. Aneh. tidak punya germo. "germo adalah tuan-tuan besar. aku punya beberapa perempuan tidak terikat. "adalah yang paling baik. Aku yang harus memancing ikannya untuk kemudian mereka bakar dan makan.. aku pasti harus berkelahi dengan yang lain." dia tertawa lagi sedikit. siapa namamu?" "Hubert. "Enak sekali... Tidak." dia berkesah lagi."Bukan. "Gottliese.." potongku. dengan paksa mereka mengutip uang banyak-banyak dan masih juga meniduri mereka. terlalu berbahaya. syukurlah! Kalau punya.. dan dari itu aku hidup. dan suaranya sekarang bergetar hebat. ke tanggul di mana dia sedang tiarap." katanya kemudian.. karena kalau anak laki-laki maka bisa dinamainya Gottlob.. botol itu kosong.. tetapi karena dia perempuan jadi dinamai Gottliese. "tepatnya uang persen. Sekarang. tanpa izin apa pun. Aku kan tidak mampu bekerja karena paru-paruku. lalu aku menggelindingkannya dengan lembut ke samping. dia mengoceh hampir dengan sendirinya." sambungnya. Tidak." "Dan kamu tidak mencicipi mereka?" "Tidak. "Lihat itu!" Dia menarik aku ke depan. ya... "Lihat!" Kalau diperhatikan dengan sangat . ah." katanya. di suatu tempat yang sangat . mengerti.. soalnya aku sedang meneguk dari botol itu. perempuan-perempuan itu. Tiga orang.. "Hubert. lepas. .. Dan sekarang aku tidak perlu bersusah payah membuka tutup gentong yang macet.. Aneh ya? Dia selalu bilang kepadaku bahwa ayahnya menginginkan seorang anak laki-laki daripada perempuan.. dia bertanya. "bukan." "Tulang-tulang ?" "Ya. "eh. "dan artinya kamu dulu seorang germo." "Siapa?" potongku. kamu mengerti. Dia selalu murah hati dan melankolis dan sebenarnya juga yang paling cantik . mereka bekerja mandiri.

. supaya mereka bisa tahu di mana kita berada.." balasku berbisik.. mengerti? Dan satu aku perlukan untuk besok pagi-pagi.. kalau pesawat pembom kita datang.. sepi sekali. itu tangkai-tangkai bunga matahari yang jauhnya mungkin satu kilometer dari sini. dan itu terlihat ada di ujung dunia. .." "Aku kan kenal mereka.. dan peluru yang lainnya aku perlukan kalau situasinya betul-betul serius. itu pasti sesuatu .." Sekarang aku yang berpaling tiba-tiba kepadanya dengan heran. kan? Aku tahu itu tangkaitangkai bunga matahari yang mengering. Jak. "Anak muda...... "Ayo.. sepi. itu bisa juga manusia yang diam-diam mendekat. sesuatu yang nyata . besok pagi-pagi kamu akan melihatnya dan tertawa. maka sudah terlambat..." katanya dengan sangat dingin.. itu . dengan sangat pelan-pelan mereka datang. manusia dalam jumlah yang sangat banyak yang sedang mendekat diam-diam. jauh. "kalau mereka benar-benar datang.. dan kalau mereka sudah dekat." "Ah. tembakkan peluru isyarat yang putih!" bisiknya dengan suara yang makin menghilang. coba dengarkan?" Kami menahan nafas dan mendengarkan.." kataku. subuh... tembakkan yang putih .." kataku... "aku tidak bisa menembakkan yang putih. hitam -.." "Tembakkan yang putih. ada sedikit suara gemerincing .." "Besok pagi.." bisiknya. Aku hanya punya dua peluru. "diamlah..." kataku. Itu sesuatu yang nyata. Di atas garis itu kelihatan agak terang. kamu akan melihatnya dan tertawa. "ya. mereka merangkak di tanah... Itu tangkai-tangkai bunga matahari. sesuatu bergerak .. Satu saja.. Jak. sama sekali tanpa suara. Supaya mereka tidak membom kita .. Dia mengatakan hal itu dengan pasti dan mantap. "Jak. dan bikin kita takut karena tangkai-tangkai itu bergoyang-goyang. aku begitu kaget." lagi-lagi terdengar giginya bergemelutuk.." "Jak." "Ah ." kataku sambil meletakkan tangan di pundaknya." 89 .. itu perang... mereka datang .. DDan bunganya sudah dipetiki oleh orang-orang Rusia itu. kita bisa juga mendengarnya. "Jak. Dan di dalam kegelapan di atas garis hitam pekat yang agak terang itu.. "Ya.. itu bukan sesuatu yang nyata.. mereka datang. jauh sekali.. tembakkan yang putih . itu setumpuk tahi yang bikin kita gila .. mereka mengendap-endap. "kamu gila. Kalau hari sudah sangat terang. sebuah garis hitam pekat..kotor dan sebagian hancur tertembak. seperti ayunan lembut jerami . dan tak ada sesuatu apapun yang terdengar kecuali suara sepi yang mengerikan.. betul-betul jauh sekali . Besok pagi kamu akan tertawa. dan aku mendengar dari suaranya bahwa dia menjadi pucat seperti sang maut. "besok pagi aku sudah mati.. "Ya. mereka datang. aku melihatnya ... itu neraka.." "Tapi lihatlah. itu bukan apa-apa. aku bisa mendengar mereka. itu perasaan takut kita yang sedang bergerak.terlihat sesuatu seperti horison..

mereka mendapatkan makanan dan jatah minuman keras mereka. Dan dari Stasiun Selatan ke rumah perempuan-perempuan itu jaraknya pendek. artinya hari ini. "Di Stasiun Pusat?" "Tidak. di jalan menuju rumah perempuan-perempuan itu. aku sedih." sambungnya dengan suara capek. lebih baik kamu cerita lagi.. mereka suka pergi begitu saja tanpa berkata apa pun. Tapi itu bukan alasan kenapa aku selalu pergi kepadanya terlebih dahulu. "kamu akan mengutuki aku kalau aku menembakkan yang putih. "kalau aku kadang-kadang mendapatkan seseorang di Stasiun Pusat. kamu percaya?" Sekarang dia bertanya dengan nada yang begitu mendesak. Juga karena banyak tentara yang turun di situ karena mereka berpikir bahwa itu sudah Köln. Gottliese. karena itu aku sering nongkrong di Stasiun Selatan. ketika tidak terjadi apa-apa. tidak bisa ditebak. Tapi Lili selalu lebih baik daripada Käthe. dan mungkin sesuatu akan terjadi. Wajah seorang calo tulen. karena perempuan-perempuan itu tinggal di dekat daerah itu. Di mana kamu terakhir kali . Dia yang selalu paling banyak memberiku uang." bisiknya seperti seorang sinting.. kamu tahu. karena ketakutan atau karena sesuatu yang lain." katanya. kalau pesawat pembom kita datang. "awalnya aku selalu mengantarkan mereka kepada Gottliese. "Jak. dan kami duduk lagi menyandar. kemudian cafe itu terbakar. aku hanya mendengar mereka berbisik. mereka suka melarikan diri. Dia punya banyak langganan tetap. tak tahulah aku. Dan kamu akan mengutuki aku kalau aku menembakkan yang putih sekarang. bisa-bisa kita jadi selai. kita masih punya waktu empat jam. Lili juga orangnya tidak menyebalkan. "Tembakkanlah yang putih. kamu tahu. "Di Köln. di pojokan-pojokan dan di stasiun-stasiun kereta api di semua kota-kota di Eropa dan selalu aku memalingkan muka dengan perasaan takut yang hebat yang tiba-tiba muncul di hatiku. "tidak selalu. Setiap kali. Begitu ingin aku melihat wajahnya." aku ingin mulai. dia tinggal di sebuah gedung apartemen yang di dalamnya ada cafe. Di tengah jalan.. Dan perempuan yang mabuk sungguh mengerikan. aneh kan? Dia sangat sering mendapat tamu. Lili di dekat Gedung Opera. Käthe dan Gottliese di Barbarossaplatz. Dia memberi aku 90 ... dia yang paling baik. kadang ramah. pesawat-pesawat itu akan menjatuhkan bom sangat dekat di depan kita. Dan kalau Gottliese mendapat tamu. karena kalau tidak. kamu tahu. dari dekat. dan kadang-kadang dia turun juga ke jalan kalau lama tidak mendapat tamu. itu lebih praktis. kamu mengerti? Dalam setengah jam. Kadang-kadang di Stasiun Selatan. .. betul bukan. Awalnya. Dan itu bikin jengkel. lalu aku pergi kepada Lili. dan suara tembakannya akan keras sekali. "Tetapi Gottliese sering mendapat tamu. jadi calo?" Dia mendesah dalam-dalam." dia membungkuk lagi ke arahku. Jarak dari Stasiun Pusat ke daerah selatan memang terlalu jauh." kataku. kamu tidak percaya bahwa aku pergi dulu kepadanya bukan karena dia yang memberi terbanyak. orang-orang Rusia itu mendapat jatah minuman keras mereka. Barusan tadi. Ya. mereka akan mulai berteriak dan bernyanyi dan menembak. . baru kemudian aku harus menembakkan yang putih.. Ah. sehingga aku terpaksa untuk menjawab ya. "Jak." suaranya sekarang lamban seolah mulai tertidur. Käthe orangnya sangat dingin. Besok pagi-pagi. Yah. baru keringat dinginmu mengucur deras. kamu pasti tidak mempercayainya.Dia diam. aku tahu itu. percayalah kepadaku. tapi dia sering minum. karena itu orang tidak cepat jadi panik. Sekarang tanggal 21. Stasiun Pusat maksudku. kadang kasar.

Sebenarnya. lalu mereka berteriak dan akan menembaki tanggul persembunyian dengan membabi-buta." "Sepuluh sen?" tanyaku terkejut. Aku masih bisa menangkap pinggiran mantel Jak. kamu mengerti. Dan tembakan pertama pun meletus. "Ya." "Bagaimana.sepuluh persen. sangat dekat ke arahku. lalu akan menjadi sasaran tembak orang-orang Rusia itu. Seorang perempuan yang sungguh melankolis... itu bukan apa-apa.. kamu mengerti. . kami tahu pasti bahwa dia bernyanyi dan meneriakkan sesuatu yang jorok." "Seorang tentara?" "Bukan. Aku menarik mundur orang yang gemetar itu. "dia tidak meminta uang sama sekali?" "Ya. Dan kemudian. dan walaupun kami tidak mengerti sepatah kata pun." 91 . .. aku bilang sama kamu. seorang sipil." tanyaku. berdiri berjam-jam di stasiun atau nongkrong di bar minum bir murahan. Mereka kan tidak boleh begitu. kadang-kadang dia tidak meminta uang sama sekali. . dengan satu loncatan saja dia pasti sudah di luar lobang persembunyian.. menghadapi bahaya ditangkap polisi... Ah. Mereka hanya sedikit mabuk.. . Sepuluh persen! Sementara. Menghadiahi. Juga kalau pun dia tidak mendapatkan uang sama sekali. "Diamlah. "bagaimana rupanya?" Tapi pada saat itu. Semua orang yang lari seperti itu pasti menjadi sasaran tembak.. Dia malah menghadiahi tentara-tentara itu rokok atau roti atau sesuatulah.. lalu dia akan menonjok mulut mereka. ketika aku membawa tamu lagi untuk dia." "Jak. Dia selalu memberi banyak kepadaku. setiap kali setidaknya dua Mark. Kamu harus menunduk. Dan Käthe masih juga memakiku. Suaranya membumbung seperti sebuah tangisan dan bergabung dengan suara-suara lain. yang paling cantik." aku ingin bertanya. Dan dia cantik. karena tembakan seperti itu malah kadang-kadang akan mengena." "Menghadiahi?" "Ya. paling hanya beberapa menit. "Tenanglah. ." kataku pada anak muda yang bergerak-gerak gelisah dan mengerangngerang itu. dan apa-apa yang tidak boleh akan dihukum berat. sekali waktu bahkan cuma sepuluh sen. orang Rusia pertama mulai berteriak seperti orang gila. persis seperti pada kita. "tidak akan lama. Laki-laki itu tidak punya uang lagi." katanya. "dia hanya mendapat satu Mark. sepuluh sen. sampai komisar mereka mengetahuinya. Bagaimana tempat tinggalku. apa aku punya rokok dan lain-lain. aku kadang harus berjalan setengah jam dalam malam yang dingin." Sekarang kami mendengar suara seorang perempuan.. Lengking tawa perempuan itu merobek malam sampai berkeping-keping. Maka Käthe selalu yang terakhir. Dan uang persenannya baru kuterima di hari berikutnya. tambahan lagi sudah tua. Aku percaya bahkan sebaliknya. Dan dia pun lumayan mengurus aku. sudah. dan hanya mendapat sepuluh persen! Tahi. itu saja.. Gottliese berbeda. Dia sangat pemurah. Kadang hanya lima puluh sen.

... salah seorang dari kami di pos komando di belakang juga menembak." Nafasnya tersendat... sekali lagi teriakan . Tetapi aku tidak punya waktu lagi untuk itu." Aku mencengkeram lengannya kencang-kencang." "Tidak . Kathlene. dalam terang. dan dia sering tidak meminta bayaran.. entah siapa lagi." bisiknya. "Ya." Aku memegang erat lengannya. "Jak. . tembakan dan sekali lagi suara mengerikan perempuan yang mabuk." Dengan segan dia menjawab. sangat pasti bahwa kamu akan mendengarnya. kamu akan mendengarnya.." sekarang aku bertanya. aku mendengar sesuatu. setiap hari nama baru . kamu tahu. . . atau Susemarie. Sebenarnya aku tidak mendengar apa pun. "Cantik. "Ayo.. . "tembakkanlah yang putih.. karena di belakang dan di depan kami. "Rambut hitam dan dengan mata yang besar dan terang." Sekarang tampaknya dia tidak mengacuhkan apa pun. sekarang mereka datang... "Kamu lihat. sungguh mungil. Tidak bisa lain. Gottliese itu. suara gemuruhnya seperti kiamat." sambungku. "Sekarang .aku tidak punya waktu lagi untuk melihat wajahnya. Dia sangat mungil. sama sekali. seolah bulan mencair dan menyatu pasrah dengan bumi .. menyiapkan pistol isyarat yang sudah diisi peluru.. .. aku mendengar mereka datang.. dan tak terdengar apa pun selain kesepian yang mengiangngiang menakutkan.seperti kelap-kelip hujan salju di Hari Natal. Di depan terdengar teriakan lalu jeritan . dengarkan dong!" Kami mendengarkan lagi. muncul kerumunan sosok-sosok bisu yang menunduk ke tanah dan kemudian tiba-tiba dengan suara "Hurra" yang bikin gila. Sering dia memakai nama lain . dan kalau mereka datang. "sekarang aku akan menembakkan yang putih. 92 . di situ. Lalu sangat sepi. Aku berpegang erat pada anak muda yang ingin mendorongku dan melarikan diri itu.. menyibak tirai perang menyelimuti kami.. "Apa kamu tidak melihat api letusan senjata itu. "Bagaimana.... Dia berjongkok kaku sambil membisu di sampingku. kalau tidak aku bisa gila." katanya pendek. dan aku menembakkan isyarat putih itu hanya untuk melihat wajahnya. Aku pun tidak sempat lagi untuk menembakkan isyarat merah.. Aku pikir. . sedikitnya mereka dua ratus meter dari sini." kataku. betul-betul sepi. juga lengkingan liar itu.. mereka menyerbu maju.Tapi teriakan itu tidak berhenti..." kataku. Dan yang paling sial. pakai otak dong. "bagaimana parasnya. "dan sedikit gila. karena setidaknya aku ingin mendengar suaraku sendiri." tiba-tiba dia bisa bicara lagi. Inge Simone. karena dari tempat di mana tadi terdengar suara teriakan dan lengkingan seorang perempuan yang mabuk itu.. dan ketika cahayanya menyebar seperti cairan perak yang lembut . Dia sedikit gila. wajah seorang calo tulen.. mengacungkannya di atas kepala lalu menembak.

ingin bersenang-senang. supaya setidaknya dalam maut masih bisa melihat wajahnya. malah masih memberi sesuatu. lebih hitam dari pada malam. Tetapi mataku tidak melihat apa pun lagi kecuali darah. 93 .. der Schlepper". diterjemahkan oleh Dewi Noviami.Aku harus menarik Jak dari lobang itu dan ketika dengan susah payah aku berhasil menariknya. dan wajah seorang pelacur yang menghadiahkan dirinya tidak untuk apa pun.... dia berbisik pelan: "Tuan.*** Judul asli: "Jak..?" Lalu dengan keras dan sekonyong-konyong aku jatuh di atas tubuhnya oleh hentakan tangan liar yang mengerikan. sambil berteriak karena rasa takut aku membungkuk padanya.

dan judul buku-buku itu tidak mungkin dibaca karena sinar lampu sangat samar. pagar tanaman yang sebetulnya tidak begitu tinggi. Agak terkejut juga dia ketika dia merasa dijawil. bahwa perempuan itu sedang menuding-nuding ke arah sebuah tempat tidur kecil. tapi sangat samar. Tubuhnya agak membongkok manakala dia melihat-lihat buku-buku di dalam rak. perhatian laki-laki bertubuh kurus jangkung itu masih terlarut ke dalam potret laki-laki di dinding. Alis perempuan itu hitam tebal. Ada sebuah meja kecil dengan bunga segar di dekat tempat tidur itu. perempuan itu membuka jendela dan memandang keluar. Dan tahulah dia sekarang. Dan di dalam rak terdapat beberapa buku. perempuan itu menuding ke arah dinding sebelah kanan. Dengan tangan gemetar. Laki-laki bertubuh kurus jangkung itu juga gemetar. Laki-laki itu mengangguk mengerti. mata perempuan itu bergerak-gerak cepat ke kanan dan ke kiri. Laki-laki bertubuh kurus jangkung memang sudah menantikan saat-saat seperti ini. dan mata itu tajam dan sebentar bergerak-gerak. Dia mendekati dinding di sebelah kanan. terletak di sebuah rak buku kecil. mengapa di dekat . Pakaian Itu Oleh: Budi Darma 94 Sungguh menakjubkan. Lampu di dalam kamar sudah menyala. Di dekat tempat tidur ada pula sebuah kursi. melindungi matanya. Juli 2000 (Edisi 10 Tahun Cerpen Terbaik Horison) Potret Itu. perempuan itu menutup jendela dengan hati-hati. Dan yang mengherankan laki-laki itu adalah. Ketika perempuan itu menjawil tangan kirinya. dan kemudian beberapa buku.Horison. Dengan tidak memandang ke arah laki-laki itu. Ketika melihat laki-laki bertubuh kurus jangkung berdiri di pinggir jalan. Di bawah potret ada sebuah gelas. bahwa ketika hari sudah petang dan lampu jalanan mulai dinyalakan. dengan sebelumnya menyelidik cepat-cepat apakah perbuatannya terintai oleh orang lain. kemudian gelas. Beberapa saat kemudian mereka berdua sudah berada di dalam kamar. kemudian meloncat ke pekarangan melalui pagar tanaman. Matanya berganti-ganti melihat potret laki-laki itu. Gelas Itu.

Dia pasti laki-laki ramah. Dan laki-laki itu tidak terkejut melihat. Jengkal demi jengkal wajahnya menunjukkan keagungan luar biasa. Meskipun demikian. misalnya saja potret laki-laki yang tergantung di dinding sebelah kiri. Matanya sungguh 95 ." "Apa lagi?" "Apa lagi? Ya. "Saya tidak pernah melihat laki-laki seagung itu. ketika melihat pakaian di sebelah dalam almari itu ternyata penuh cipratan darah. Saya heran mengapa laki-laki semulia ini bisa mati terganyang kanker. Maka berbicaralah dia asal berbicara. Dan ketika perempuan itu membuka almari. dan derajat sesamanya. Dan segeralah perempuan itu mengguyurkan minyak wangi dengan khidmat dan hormat ke pakaian itu." "Apa lagi?" "Apa lagi? Ya. Heran.tempat tidur tidak ada potret seorang laki-laki. apa lagi? Tentu saja saya mengagumi menakjubkan. beberapa pakaian laki-laki di dalam almari. Laki-laki itu terus diam ketika perempuan itu mengudal-udal beberapa pakaian dari dalam almari." Belum sempat bertanya apa-apa. Sungguh agung dia. Tapi laki-laki itu tidak bertanya. untuk memberikan kesempatan kepadanya guna lebih memuliakan cita-citanya dalam mengangkat harkat. laki-laki itu agak terkejut. wibawa tinggi. karena perempuan itu sudah menjelaskan: "Dia tidak mau potretnya dipasang di sini." "Apa lagi?" "Apa lagi? Ya." dia. tentunya tanpa mengetahui apa yang dikatakannya: "Tentu saja tidak. Saya heran mengapa takdir tidak memberinya umur panjang." "Hanya itu?" Laki-laki itu kehabisan akal dan kehabisan kata. "Apakah yang tadi kau lihat pada potret yang tergantung di dinding itu?" tanya perempuan itu. Dia pasti mempunyai wibawa besar. perempuan itu berjalan ke arah tombol listrik. Alangkah senangnya kau menjadi istrinya. dan mematikan lampu bercahaya lemah itu. Saya mengaguminya. Setelah perempuan itu menutup almari dan laki-laki itu duduk dekat tempat-tidur. kendatipun nampaknya tubuhnya hanyalah kurus jangkung. terasalah bau enak menebar di dalam kamar remang-remang itu. martabat. apa lagi? Saya kagum pada raut wajahnya. laki-laki itu sudah ditarik oleh perempuan itu untuk mendekati sebuah almari. apa lagi? Saya yakin dia laki-laki gagah.

Ingat. Begitu cepat anak perempuan itu memotretnya. yaitu merayu 96 . Ketika dia menanyakan kepada sekretarisnya. Dan setiap kali pandangan mata mereka bertemu. Dan kemudian perempuan itu bercerita mengenai gelas itu lagi. beberapa bawahannya. perempuan beralis hitam tebal dan bermata tajam serta anak perempuan itu terlepas dari tangannya. laki-laki mencurigakan selalu memandanginya dengan sikap tertegun. Kalau tidak keliru. dia dipotret sekitar tiga bulan lalu. Dia bercerita mengenai perempuan-perempuan dan dengan sangat terbuka. kemudian mengawasinya dengan pandangan tidak enak. Ketika laki-laki itu berusaha menemui anak perempuan itu. Dan sering juga mulut gelas itu saya gosok-gosokkan ke payudara saya. dan tentu saja dengan nada mengagung-agungkan saya. Dan buku-buku dalam rak itu adalah buku-buku kegemarannya. Dan karena dia harus menemui beberapa temannya. Senang sekali dia membandingbandingkan payudara saya dengan payudara mereka. Laki.laki itu hanya tahu bahwa sudah beberapa hari ini ada seorang laki-laki mencurigakan secara berkala mengitari kantornya. seperti dia sendiri dahulu sering mengagumi payudara saya. laki-laki mencurigakan selalu menghadangnya dekat pintu. dan tentu saja tubuh saya dengan tubuh mereka. mungkin dia jauh lebih agung dan jauh lebih mengagumkan dibanding dengan Nabi Yusuf. tidak seorang pun tahu. Hanya dialah yang sering membisikkan kata-kata aneh ke payudara saya segera setelah dia menjelek-jelekkan sekian banyak perempuan lain. sementara dia suka merayu. Dia selalu minum dari gelas itu setiap kali dia datang ke sini. pertemuan dinyatakan bubar. yang mungkin telah disampaikan oleh laki-laki mencurigakan itu. "Dari sekian banyak laki-laki yang saya kenal. Dia ingat. bahwa anak perempuan itu datang bersama seorang perempuan beralis hitam tebal dan bermata tajam. laki-laki mencurigakan selalu menghadangnya di dekat pintu dengan menggumamkan suara tidak jelas. Setiap kali dia ke sini selalu dia membuka-buka halaman-halaman buku itu. sangat mengagumkan. Akhirnya laki-laki itu tahu. Dan setiap laki-laki itu akan meninggalkan kantor. di Balai Wartawan ketika diadakan pertemuan antara beberapa pedagang dengan wartawan. yang telah mengantarkannya ke rumah perempuan beralis hitam tebal dan bermata tajam. Setiap kali laki-laki itu akan masuk kantor. Nabi Yusuf tidak suka merayu. "Rupanya laki-laki lain yang pernah saya kenal tidak begitu menyukai payudara saya. Dia tidak tahu mengapa sekonyong-konyong siang tadi dia menemukan sebuah surat tergeletak di meja kerjanya di kantor. Surat itulah. dia laki-laki mengagumkan. pada suatu malam dia melihat seorang anak perempuan kecil memotret dirinya. Dan setiap kali saya merindukannya. "Karena itulah potretnya saya pasang di situ. kemudian berjalan bergegas dan menyelinap di antara sekian banyak orang. Sering mulut gelas itu saya lumat-lumat dengan bibir saya seperti pada waktu saya melumat-lumat bibirnya." kata perempuan itu. Betul yang kau katakan tadi. mengenai buku-buku itu lagi. Bekas-bekas bibirnya masih ada di situ. Bagi saya. Begitu gemar dia membuka-bukanya. "Laki-laki itulah yang saya cintai."Siapa yang mengatakan dia dihabisi kanker?" Laki-laki itu diam. dengan nada sangat melecehkan mereka. segemar dia membuka-buka lembar demi lembar pakaian yang saya kenakan. dialah laki-laki yang saya cintai. Dan karena itu pulalah gelas peninggalannya saya taruh di bawah potretnya. dan akhirnya mengenai payudaranya." kata perempuan itu lagi." Laki-laki itu diam. dan juga beberapa pesuruh siapa gerangan yang menaruhkan surat itu di atas mejanya. selalu saya usap-usap mulut gelas itu dengan pinggiran mulut saya. Kemudian dia sering melihat laki-laki mencurigakan berseliweran tidak jauh dari jendela kaca yang memisahkan kantornya dengan kebun kacang.

sekian banyak perempuan, sampai akhirnya dia jatuh di hadapan saya, menjilati kaki saya. Setiap kali didekati perempuan, Nabi Yusuf selalu mengingatkan perempuan yang mendekatinya dan juga dirinya sendiri akan masa depan manusia, apabila manusia telah mati kelak. Ketika seorang perempuan berusaha merayunya dan mengatakan bahwa rambut Nabi Yusuf sangat indah, berkatalah Nabi Yusuf, 'Rambut inilah yang pertama kali akan berhamburan dari tubuh saya setelah nyawa saya meloncat dari tubuh saya.' Dan ketika seorang perempuan merayunya lagi, berkatalah Nabi Yusuf, 'Kelak tanah akan melumatkan wajah saya.' Laki-laki yang potretnya di sana itu sangat berbeda. Dia selalu melihat ke depan, tanpa mau mengerti bahwa pada suatu saat maut akan menjemputnya. Dia selalu membisikkan kata-kata indah mengenai kegunaan dan kenikmatan hidup. Tanpa pernah mengatakannya, dia selalu berpikir untuk memanfaatkan detik demi detik untuk berjasa, memberi kenikmatan bagi orang lain, dan juga bagi dirinya sendiri. Sering dia bercerita mengenai mimpi-mimpi indah, seperti misalnya memperluas usaha-usaha dagangannya kalau perlu dengan menaklukkan musuh-musuhnya, kemudian membangun rumah-rumah yatim piatu, mendirikan sekolah-sekolah, membantu rumah sakit-rumah sakit, dan entah apa lagi. Dia sangat suka membantu orang-orang papa dan orang-orang yang ingin maju, tapi sekaligus sangat membenci orang-orang malas dan tidak mempunyai otak. Dalam keadaan lelah dia mendatangi saya, untuk menikmati tubuh saya dan sekaligus menghidangkan kenikmatan bagi saya. Dia datang untuk mencari gairah hidup, agar dia menjadi lebih segar, lebih bersemangat, dan lebih mampu beribadah dalam bentuk kerja keras. Setiap inci tubuhnya adalah pertanda keagungannya, demikian pula setiap dengan nafasnya." "Dan manakah anak perempuan yang memotret dahulu?" "Ciumlah tangan saya sebelum saya menjawab pertanyaanmu." Belum selesai dia mencium tangan kanan perempuan itu, perempuan itu sudah menyodorkan tangan kirinya. "Ulangilah pertanyaanmu tadi." "Manakah anak perempuan yang memotret dahulu?" "Anak perempuan? Maaf, saya tidak tahu ke arah mana pembicaraanmu. Andaikata kau bermaksud untuk menanyakan apakah saya mempunyai anak perempuan, saya dapat menjawab bahwa saya tidak mempunyai anak perempuan. Ketahuilah anak perempuan suka rewel, demikianlah kata laki-laki yang saya cintai. Dan andaikata saya mempunyai anak, saya tidak akan mengijinkannya memotret." "Mengapa?" "Menurut laki-laki yang saya cintai itu, memotret hanyalah menghabiskan uang. Setiap orang harus berhemat. Dan mungkin karena itu pulalah dia tidak suka anak perempuan, sebab dia sering mengatakan bahwa anak perempuan hanya memboroskan saja. Dia juga tidak suka potret, karena potret hanyalah menghabiskan uang." "Benarkah laki-laki seagung itu mempunyai jalan pikiran demikian?"

97

"Memang saya sering menemui kesulitan dalam mengorek apa yang sebenarnya berkelebat di dalam nuraninya. Sering kata-katanya melompat demikian saja dari puncak otaknya, sementara kelebat hati nuraninya yang sesungguhnya tidak terucapkannya. Saya sendiri yakin dia sama sekali tidak pelit. Dia pasti menyimpan rahasia mengapa dia tidak menyukai anak perempuan. Dan saya pernah berhasil mengoreknya, ketika dia mengigau dalam tidurnya. Meskipun demikian, kata-katanya hanyalah pendek dan tidak jelas, sehingga sulit bagi saya untuk menafsirkannya. Tapi saya tahu, dia berhati agung. Bagi dia, laki-laki tidak bisa bebas dari perempuan, dan perempuan pada dasarnya adalah beban. Eva sengaja diciptakan Tuhan untuk menemani Adam, tapi sekaligus untuk melancarkan wahyu-wahyu setan. Istri paman Nabi Muhammad, Ummu Jamil namanya, justru akan mencelakakan keponakan suaminya sendiri. Siapa yang akan mencelakakan Nabi Nuh, tidak lain dan tidak bukan adalah istrinya sendiri. Negeri Sodom juga hancur lebur, setelah istri Nabi Luth, nabi yang dipercaya oleh Tuhan untuk menegakkan ketaqwaan di negeri itu, mengkhianati suaminya habis-habisan. Adalah pula Siti Qodariah, seorang wanita, yang berusaha mencelakakan Nabi Yusuf setelah usahanya untuk menikmati keindahan tubuh Nabi Yusuf gagal. Belasan tahun perang di Troya adalah juga perang untuk memperebutkan perempuan. Laki-laki sudah ditakdirkan untuk tidak mampu mengalahkan nafsunya sendiri, dan perempuan terlanjur sudah diciptakan untuk memperbudak nafsu laki-laki." Belum sempat laki-laki itu bertanya, perempuan itu menyuruhnya berjongkok di lantai dan menjilati kakinya. "Setiap laki-laki harus menjilati kaki saya," katanya. Setelah selesai menjilati seluruh bagian tubuh perempuan itu dan setelah selesai mengucapkan selamat tinggal, laki-laki itu keluar lewat pintu, dan pintu itu segera ditutup dari dalam, kemudian laki-laki itu meloncat keluar melalui pagar tanaman. Laki-laki itu merasa bahwa malam telah larut benar. Ketika memasuki sebuah gang, dia berjalan agak sempoyongan. Bau wangi tubuh perempuan yang baru saja ditinggalkannya masih melekat pada seluruh bagian tubuhnya sendiri. Dan keringat dari celah-celah kulitnya terasa begitu asing, karena yang tercium olehnya adalah keringat perempuan itu. Heran benar laki-laki itu, mengapa tadi dia tidak menanyakan siapa nama perempuan itu. Hapal-hapal ingat kalau tidak salah perempuan itu menamakan dirinya Maemunnah. Atau mungkin Robinggah. Mungkin juga dia Jurbbah. Bukankah dia Immlah? Ya, pokoknya pakai "ah", entah itu Siffiah, entah Monissah, atau Markammah. Dia ingat, perempuan itu tidak pernah menyebut-nyebut nama laki-laki yang potretnya tergantung di dinding. Dan laki-laki yang potretnya tergantung di dinding itu bukanlah suami perempuan itu. Laki-laki itu hanya kadang-kadang datang ke sana untuk menyibuknyibukkan dirinya. Ini sudah berlangsung selama beberapa tahun, ujar perempuan itu. Ketika laki-laki itu menanyakan siapa yang membuat potret di dinding itu, perempuan itu hanya menceritakan bahwa pada suatu hari dalam sebuah musim kemarau panjang ada seorang anak perempuan mengantarkan bingkisan besar ke rumahnya, dan ternyata bingkisan itu adalah potret itu. Anak perempuan itu sama sekali tidak pernah datang ke sana lagi.

98

Laki-laki itu terus berjalan tergontai-gontai. Ketika seekor kucing hitam melintas di gang dan memotong jalannya, dia tidak menahan langkahnya. Kucing itu pun tidak perduli bahwa dia sedang berpapasan dengan seorang laki-laki. Tetapi, ketika ku-cing itu melompat ke tempat agak tinggi dan menyorotkan matanya ke arah laki-laki itu, laki-laki itu merasa keringatnya keluar lebih deras. Dan keringat itu rasanya bukan keringatnya sendiri, karena baunya sama benar dengan bau keringat perempuan tadi. Sementara rasa hausnya memuncak sampai ke ubun-ubun kerongkongannya, laki-laki itu terus berjalan. Kata perempuan tadi, setiap kali laki-laki itu minta minum karena merasa haus. Dan setiap kali akan pulang, pasti laki-laki itu minta minum lagi untuk meninggalkan bekas bibir pada mulut gelas. Dan gelas itu masih tergeletak di rak buku. Tiba-tiba laki-laki itu merasa salah jalan. Ketika masih berada di jalan besar tadi, seharusnya dia berjalan terus, kemudian membelok ke kiri. Ternyata tadi dia membelok ke kanan sebelum waktunya. Dia membelok ke kiri. Setelah tertegun sejenak, dia memutuskan untuk kembali menyusuri gang, dan untuk kemudian memasuki jalan yang benar. Laki-laki itu masih berdiri tertegun ketika seekor kucing hitam kecil meloncat dari dinding di atas sana, lalu lari cepat memintasi jalannya. Ternyata kucing itu lari ke sebuah lorong di sebelah kanan. Dan ketika laki-laki itu melihat ke arah lorong, nampaklah olehnya sebuah lampu kecil, menerangi sesuatu yang tidak asing baginya, yaitu sumur. Mengapa dia tidak ke sana sebentar, menimba, dan minum? "Maka berjalanlah dia agar cepat menuju ke sumur. Namun, sebelum dia benar-benar dekat dengan sumur, seorang laki-laki menegor dia. "Mengapa malam-malam begini kamu berada di sini?" Dengan cepat dia mengenal siapa laki-laki itu: kedua matanya bulat seperti mata burung hantu, lehernya kurus panjang dengan buah kuldi mendongkol dan selalu naik turun, sementara urat-urat tangannya membengkak menutupi kedua tangannya, dan tangantangan itu benar-benar kurus. Dialah laki-laki mencurigakan, dan dialah yang selalu mengawasinya di kantor. "Mengapa malam-malam begini kamu berada di sini?" tanya laki-laki mencurigakan sekali lagi. Dia tidak dapat menjawab. Matanya menangkap buah kuldi laki-laki mencurigakan, dan ingatannya melompat ke payudara perempuan tadi. Benar-benar payudara perempuan tadi memberinya kenikmatan, dan benar-benar buah kuldi laki-laki mencurigakan itu memuakkan. Dia seolah-olah melihat Adam, pada waktu mata Adam mendelik karena buah terlarang yang dimakannya menyangkut di kerongkongannya. Tiba-tiba dia merasa sedang berhadapan dengan iblis. Adam di hadapannya adalah iblis, demikian juga perempuan tadi. Payudara perempuan tadi, tidak lain adalah buah terlarang yang terlanjur tersangkut, kemudian menawarkan kenikmatan dan sekaligus tindak-tindak maksiat. Rasa haus makin menggorok kerongkongannya. Dan ketika dia mengelus-elus kerongkongannya sendiri, sadarlah dia bahwa buah kuldinya sangat besar, naik turun, dan sangat menjijikkan. Tiba-tiba dia sadar, bahwa dia sendiri dan perempuan tadi tidak lain dan tidak bukan adalah sepasang iblis juga. Dan dia merasa benci terhadap perempuan itu, karena tadi dia tidak diijinkannya minum, karena, katanya, dia tidak mempunyai gelas lain

99

kecuali gelas di atas rak buku itu. Dan gelas itu, katanya lebih lanjut, hanyalah untuk menghidupkan kenang-kenangan. Ketika laki-laki mencurigakan menegurnya lagi, dia terus berjalan ke arah sumur. Dan tepat ketika dia memegang tali timba, laki-laki mencurigakan berkata: "Minumlah sepuas-puasmu, kalau perlu sampai meletus perutmu, karena sumur ini adalah milik saya." Dia melemparkan timba ke dalam sumur, dan ternyata sumur sangat dalam. Ketika lakilaki mencurigakan menceritakan perihal dirinya sendiri, dia sama sekali tidak mendengarkannya. Perlahan-lahan dan hati-hati sekali dia mengulur tali ke bawah, sampai akhirnya timba menyentuh air. Kemudian perlahan-lahan pula dia menarik tali timba ke atas. Laki-laki mencurigakan terus bercerita. Beberapa waktu lalu dia membeli kebun kacang tidak jauh dari kantor laki-laki bertubuh kurus jangkung. Setelah melalui beberapa perkelahian, barulah pemilik lama mau menyerahkan kebun kacang itu meskipun uangnya telah lama diterima sebelumnya. Belum lama laki-laki mencurigakan itu berhasil memiliki tanah miliknya sendiri, terdengar berita bahwa kebun kacang itu akan dicaplok oleh laki-laki bertubuh kurus jangkung untuk perluasan kantornya. Laki-laki mencurigakan ini belum mau percaya, dan karena itu berusaha mencari penjelasan. Setiap kali dia mendekati kantor untuk mencari kabar, selalu dia diolok-olok oleh orang-orang kantor itu. Selesailah sudah laki-laki bertubuh kurus jangkung minum. Tubuhnya merasa agak segar, namun tidak satu kata pun dari laki-laki mencurigakan ini yang masuk ke telinganya. Dia hanya berpikir, alangkah enaknya seandainya tadi dia diijinkan minum dari gelas di atas rak buku, sebab, setiap kali perempuan itu merindukannya, pastilah bekas bibirnya akan dijilat-jilat. Masih sempat dia melihat laki-laki mencurigakan, sebelum dia melangkah untuk kembali ke gang tadi. Dia merasa benar-benar jijik melihat laki-laki mencurigakan. Mata laki-laki mencurigakan itu, bulat dan besar, menyembunyikan kelicikan tanpa tara. Leher laki-laki mencurigakan itu, yaitu leher yang panjang, mengingatkannya pada leher burung onta yang diracunnya sewaktu dia berjalan-jalan di kebun binatang. Dan buah kuldi itu, bagaikan buah kuldinya sendiri, adalah pertanda dosa Adam, yaitu dosa yang menurunkan siksa bagi manusia entah sampai kapan. Ingin sekali dia cepat-cepat meninggalkan laki-laki mencurigakan. Namun, belum sempat dia melangkahkan kakinya lebih lanjut, laki-laki mencurigakan berlari-lari kecil ke arahnya, kemudian menghadangnya. Rasa jijiknya makin meledak. Sambil berusaha keras mengibaskan rasa jijiknya, dia mengambil jalan ke samping kiri. Dia mempercepat langkah, tapi terpaksa terhenti ketika sekonyong-konyong terasa punggungnya patah. Ketika laki-laki mencurigakan berdiri di hadapannya lagi, dia terpaksa membongkokkan tubuhnya ke depan, karena terasa olehnya bahwa tubuhnya akan patah menjadi dua bagian. Ketika akhirnya rebah ke tanah, masih sempat dia membalik tubuhnya, dan melihat ke arah bulan. Memang bulan masih tetap di sana, di langit sana. Laki-laki mencurigakan membongkok, sementara dia merasa makin jijik. Dia ingin muntah. Memang akhirnya dia muntah, tapi yang dimuntahkannya adalah darah.

100

Kamu pun sebenarnya iblis. Perkelahian dengan pemilik lama mengenai kebun kacang juga bukan masalah berat. Juli 1990) . saya yakin bahwa iblis di dalam jiwamu jauh lebih kuat daripada jiwa iblis kebanggaan saya. Meskipun demikian. Dan setiap kali merasa takut. bukan apa-apa bagi saya. Dia mati dibunuh dekat sumur tidak berapa jauh dari sini. Sudah semenjak pertama kali saya melihat kamu. Saya hanya menikmati satu hal. Benar-benar saya merasa takut terhadap kamu. Bagi musuh-musuh saya segala macam perkelahian sebenarnya juga bukan apa-apa. bahwa laki-laki itu sudah tidak mungkin lagi mendengarnya. Memang saya sering berkelahi. laki-laki itu masih sempat mengingat beberapa katakata perempuan tadi: "Laki-laki yang saya cintai itu tidak mati karena kanker seperti yang sering dipergunjingkan. sesama iblis belum tentu bisa bersekutu. laki-laki mencurigakan menggumam: "Ketahuilah." Bulan tetap berputar-putar di atas sana.*** 101 (Dimuat dalam Horison. tapi perkelahian-perkelahian itu. yaitu kenyataan bahwa saya menyimpan jiwa iblis. masalah kebun kacang hanyalah masalah permukaan. Saya selalu menyimpan pakaiannya yang berlumuran darah. pasti saya bertindak terlebih dahulu. tentu saja dengan persiapan cermat agar saya menang. Sesama iblis bisa saling mengganyang. Dan saya bangga akan jiwa iblis saya. sekali lagi. Ketahuilah." Dia menggumam dengan kesadaran penuh.Dengan tenang.

Aku tersaruk-saruk berjalan sepanjang tiga kilometer dari Seurueke. Ffffffhuuih. Airmataku berderai-derai. aku melihat tiga sampai tujuh mayat sehari mengambang di sungai dekat rumahku! Aku juga pernah melihat Yunus Burong ditebas lehernya dan kepalanya dipertontonkan pada penduduk desa. Seperti juga hidup itu.Jaring-jaring Merah Oleh: Helvy Tiana Rosa Apakah kehidupan itu? Cut Dini. menuju Buket Tangkurak. “Ugh!” Aku tersandung gundukan tanah. Lolong anjing malam bersahut-sahutan. Aku merangkak dan maju perlahan. tanpa alasan. seiring darah yang terus menetes dari kedua kakiku. Keringatku mengucur deras. Aku melihat semua itu! Ya. sebelum rumah dan suaminya dibakar. Ya. bukan pada rembulan yang mengikutiku saat ini atau pada gugusan bintang yang mengintai pedih dalam liang-liang diri. Sedikit pun tak kuhiraukan bau bangkai manusia yang menyengat hidung. Bukan. dan pergi sambil menyeret potongan mayat manusia. Perih. Dengan tangan kosong kuraup gundukan tanah merah di hadapanku. Aku melihat saat Geuchik Harun diikat pada sebuah pohon dan ditembak berulangkali. Tetapi karena aku tinggal sebatas luka. Terus tanpa henti kugunakan kedua cakar tangan ini. tahukah anjing-anjing buduk itu. Ngeri? Oi. Dan kini hari telah semakin gelap. Hari-hari yang meranggas lara. Inong! Kering airmatamu nanti. diperkosa beramai-ramai.orang ditembak di atas sebuah truk kuning. temanku. wajah dan badanku terkena serpihan tanah merah. kutarik napas panjang. Aku melihat tetang–gaku Rohani ditelanjangi. semuanya. sebab aku hanya bisa memendam amarah. kulihat dua ekor anjing hutan mengorek-ngorek sesuatu. Juga saat mereka membantai … keluargaku. 102 . Dalam remang malam. Darah mereka muncrat ke mana-mana. Jangan menangis lagi. bebukitan penuh belukar dan pepohonan ini. Aku melihat orang. lebih baik meniru anjing-anjing itu. Mereka menatapku seolah aku akan berteriak kengerian. tetapi langkahku makin kupercepat. selalu saja marah bila mendengar jawabanku: Hidup adalah cabikan luka. Meski lelah. Serpihan tanpa makna. Dadaku telah amat sesak.

saat Hamzah yang telah meminangku. Lalu aku tersenyum malu. “Aku cuma jalan-jalan. Ah. . Berarti…. Kutemukan beberapa tengkorak. “Perempuan gila itu!” suara seseorang gusar. Mereka gila karena mengira aku gila. awan dan udara malam. Ya. Mereka menuju ke arahku! Aku harus menyanyi. Ma’e dan Agam. Di mana? Di mana tangantangan mereka? Di mana tulang-tulang mereka di tanam? Di mana wajah tampan Hamzah? Yang mana tengkoraknya? Sekujur tubuhku gemetar menahan buncahan duka. Meratapi orang-orang yang kukasihi. Banyak tulang. Aku bangkit. sudahlah. di antara suara serangga malam. Hingga aku semakin lemas dan akhirnya kembali terisak pilu.” Aku menggeliat. dahulu…. Kudekatkan benda dingin itu ke mukaku. juga sangat muda.” ujar yang lain. Ureung-ureung menemukanmu di tepi jalan ke Buket Tangkurak. “Dari mana. Aku menggali.Tiba-tiba tanganku meraba sesuatu. “Ia tak berbahaya. Cut Dini.” kata yang ketiga. Ah. Cahaya mentari masuk dari celah-celah bilik. Hanya tertawa dan menangis. di mana? Di mana tangan kurus Mak? Mana jari manis dengan cincin khas itu? Juga cincin tembaga berbatu hijau dan arloji tua yang dikenakan ayah saat orangorang bersenjata itu membawanya dalam keadaan luka parah. terus menggali. mencoba duduk. Bersama desir angin. Aku tidak mengganggu orang. “Ya. Sepatu-sepatu lars yang menginjak ranting dan daun kering. kami menari bungong jeumpa. Sssssssttt! Tiba-tiba. “Sayang. subuh tadi. Mak. burung hantu dan lolong anjing hutan. lalu remah-remah daging manusia. Bersama bayangan Ayah. dengan iringan dawai kepedihan dari sanubari sendiri. aku di rumah. menyanyi nyaring. *** 103 “Inong…. ya. Ah. yang beberapa waktu lalu digiring ke bukit ini. Inong? Aku mencarimu seharian. Tak tahukah mereka bahwa aku tak menyanyi sendiri? Aku bernyanyi bersama bulan. Cakarku terus menggali. Kami menyanyi. Tulang.” Kutatap seraut wajah dalam kherudoung putih di hadapanku." jawabku sekenanya. biarkan saja. di mana aku? Dipan ini penuh kutu busuk. Hangat. Tangannya lembut membelai kepalaku. ” Aku pura-pura tidak mendengar perkataan si loreng-loreng itu. melintas di depan rumah dengan sepedanya. kupingku mendengar langkah-langkah orang. Ya. Dahulu. dulu ia cantik….

“Apa aku gila?” tanyaku. Segalanya terasa lebih ringan. Cut Dini menatap bola mataku dalam. Tetapi tetap saja aku senang berteriak-teriak. Sekuat tenaga kucoba untuk muncul.” 104 . dasar orang. “Menurutmu?” Aku menggeleng kuat-kuat. bahkan ada sisa-sisa darah kering di sana.” katanya pelan. “Sudahlah. Ia kembali ke Aceh setelah tamat kuliah di Jakarta.” kuteguk minuman itu. Aku memakainya ketika orang-orang jahat itu datang. Menggaruk-garuk kepalaku. Ia menyisir rambutku.orang gila! Cut Dini-lah yang melarang. Lagi pula kau seorang muslimah. “Ini baju yang dijahitkan Mak.” kataku pendek. yang sudi berteman denganku. “Kau sakit. Namun tiada tepi. tetapi jangan pergi ke bukit itu atau bahkan ke rumoh geudong lagi. ke pengajian. Aku tak bisa bangkit. aku seperti terperosok dalam kubangan lumpur yang dalam. Tidak baik pergi sendirian. Kau anak baik. di belakang…. Hingga suatu hari orang-orang desa akan memasungku. Aku mengangguk-angguk. kecuali semua yang bernama kepahitan.” kata Cut Dini suatu ketika. Tangannya koyak. Ia sangat peduli. Aku belum begitu lama mengenalnya. Ia memberiku makan. menggapai-gapai permukaan. Kata mereka aku gila! Hah. Aku suka membantah orang. atau sekedar jalan-jalan. Nanti orang-orang itu bisa menyakitimu lagi. Berbahaya.“Aku tahu. Kau sangat terpukul. Aku melempari atau memukul orangorang yang lewat.” kata Cut Dini sambil memberiku minum. Matanya pun selalu menatapku penuh pancaran kasih.” lirihku. tetapi tidak Cut Dini. “Therimoung… ghaseh…. Terus mengangguk-angguk. menceritakan banyak hal. Kugaruk-garuk kepalaku. Aku kembali merebahkan badan di atas dipan.” “Itu baju yang tak pantas dilihat. Sebenarnya aku tak tahu banyak tentang Cut Dini. Kulihat ia menggigit bibirnya sesaat. “Aku ingin memakainya. Cut Dini juga yang mengingatkanku untuk mandi dan makan. Dan … cuma dia. Sampai aku bertemu Cut Dini dan bisa menjadi burung. memperhatikanku. Dulu. setelah keluargaku dibantai dan aku dicemari beramai-ramai. “Aku suka. Cut Dini. Orang-orang bilang ia anggota … apa itu … LSM? Juga aktivis masjid. “Baju yang koyak itu jangan dipakai lagi. Kau tak akan mengganggu siapa pun…. Kupandang baju ungu muda yang kupakai. Aku senang sekali. sambil menggoyang-goyangkan kedua kakiku. mengajakku ke dokter. ketiaknya juga.” ujar Cut Dini. Lalu di dekat perut. Lalu dengan cekatan membungkus baju itu dengan koran. di antara para tetangga. Aku memakan dan meminum nyeri setiap hari. bahkan menyentuh apa pun.

Kulihat wajahnya marah. “Kami hanya menindak para GPK. memata-matai dan menganggap teman sendiri sebagai pengikut Hasan Tiro dari Gerakan Aceh Merdeka. Ah. Ia atau bisa saja anda sebagai walinya menandatangani kertas bermaterai ini. Jembatan Kuning.” “Oh ya?” Nada Cut Dini sinis. Aku hinggap di ranting-ranting pohon belakang dan mematuki buah-buah di sana.Quran mungilnya dan membacanya dengan syahdu. “Tidak!! Bagaimana dengan pemerkosaan dan penyiksaan selama ini. aku ingin menangis setiap mendengar bacaan Al-Quran.” . “Siapa kalian?” tiba-tiba kudengar suara Cut Dini bergetar. Kami hanya ingin memberikan sumbangan sebesar lima ratus ribu rupiah pada Inong. Cot Panglima. Aku jadi ingin marah. banyak yang terpaksa menjadi cuak. Aku seperti mendengar Hamzah mengaji —lewat pengeras suara— di musala. penjagalan di rumoh geudong. “Kami orang baik-baik. Lima ratus ribu? Horeeee! Apa bisa buat beli sayap? “Kami minta ia tidak mengatakan apa pun pada orang asing. Bagaimana kalau kucuri saja topi-topi merah si loreng dan kubakar. keji that! Tidak!” Kedua orang itu tampak gugup dan sesaat saling berpandangan.” Cut Dini membaca kertas itu. Kami menjaga keamanan masyarakat. semuanya busuk. Tak ada tempat bagi orang seperti kalian di sini. Mengapa? Kugerak-gerakkan kepalaku menatap mimiknya. lalu mengintip ke dalam lewat jendela yang rapuh. Aku terbang tinggi dan kadang menukik seketika. Lupakan saja gadis gila itu. Dua lelaki tegap dengan rambut cepak menyodorkan sesuatu pada Cut Dini.” “Sudahlah. “Lalu perkampungan tiga ribu janda. Hua…ha…ha.” Aku nyengir. “Kenyataannya masyarakat takut pada siapa? Dulu. Suaranya kadang berubah. anak-anak yatim yang terlantar…. Huh. Tetapi sekarang semua usai. mayat-mayat yang berserakan di Buket Tangkurak. Sungai Tamiang.Lalu seperti biasanya Cut Dini mengambil Al. ambil saja uang ini buat anda. Hutan Krueng Campli…dan di mana-mana!” suara Cut Dini meninggi. aku tertawa gelak-gelak. meski tak mengerti. *** 105 Siang itu aku sedang menjadi burung. Aku terbang dan hinggap pada meja kusam di samping rumah. Ini daerah operasi militer. lebih lekat dari jendela. di ruang tamu yang merangkap kamar tidurku.

Ayah berjalan ke arah pintu diikuti Mak. Lalu Ma’e dan Agam. Kulempar mereka dengan apa pun yang kutemui di meja dan di lantai.” kata Cut Dini tersenyum. Aku berhenti jadi burung ajaib. Kurasa ia seorang pemimpin.” suara Cut Dini. “Jangan menjadi burung. bila ingin shalat seperti manusia. ya. Aku mau shalat lohor dulu. Ketika pintu dibuka. “Benahi yang rapi lagi. tetap lembut. Kalian sama dengan warga Mane… bekerjasama dengan GPK!” suaranya lagi.” tukasku. Dari kejauhan kulihat api berkobar. “Dulu aku shalat bersama keluargaku. “Masya Allah. Ada apa? Pintu rumah kami digedor-gedor. Aku berlari ke dapur. Ulon hana teupheu sapheu!” . beberapa tangan kekar merobek-robek bajuku! Aku meronta-ronta. Mereka berteriak-teriak seperti anak kecil dan berebutan ke luar rumah. Pasti itu ayah orang yang memperkosaku! Pasti ia teman para pembunuh itu! Pasti mereka orang-orang gila yang suka menakut-nakuti orang! Paling tidak mereka cuak! Aku benci cuak! “Inong…. abang dan adikku. Orang-orang itu kini hanya titik di kejauhan. “Kami bukan GPK!”suara Ma’e.” katanya. juga Agam dan Ma’e! Beberapa orang mengangkat Mak dan membawanya pergi! Sebelum aku berteriak. “Zakaria dan keluarganya membantu anak buah Hasan Tiro sejak lama!” Warga desa menunduk. Dzikir itu lebih mirip jeritan yang menyayat hati. Kudengar Ayah tak putus berdzikir.Apa? Gadis gila?? Kukepakkan sayapku dan menukik ke arah dua lelaki itu. Mereka tak mampu membela kami. “Ayo lihat mereka. “Mengapa aku tak pernah diajak salat?” protesku. 106 *** “Keluar. “Ini pelajaran bagi anggota GPK!” teriak seorang lelaki berseragam.” Aku berhenti melempar. dan kembali menimpuki mereka dengan panci dan penggorengan. Puluhan orang ini telah membakar beberapa rumah! “Jangan ada yang menunduk!” Aku gemetar mendengar bentakan itu. tiba-tiba saja Ayah diseret ke luar. nanti perabotan itu rusak. sebelum aku bisa jadi burung. Zakariaaa! Keluar! Atau kami bakar rumah ini!!” Aku terbangun dan mengucek kedua mataku.

mereka memang bukan orang jahat. Serentetan tembakan segera menghunjam tubuh Geuchik Harun. Di mana Ayah. Lalu airmata seseorang yang menetes-netes dan bercampur dengan aliran air di pipiku. lalu…ia diinjak-injak! Dan diseret pergi. Inong! Tak akan! Kau harus sembuh.” Samar-samar kulihat kepala desa kami itu diikat pada sebatang pohon. “Pak Zakaria hanya seorang muadzin. terkelupas dan berdarah. “Kami tidak membela. menendang.” 107 . tolong ambilkan sayapku! Aku ingin pindah ke awan! Di tanah kebanggaanku hanya tersisa nestapa!! Tak ada yang mendengar. lalu Ma’e abangku! Aku histeris. kulihat Agam tersungkur dan tak bergerak lagi. Silau. Aku menjerit-jerit dalam perangkap. sebab aku berada di dalam jaring! Banyak orang sepertiku di sini. nyeri yang amat sangat merejam-rejam tubuhku! “Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!”aku berteriak sekuat-kuatnya. Pedih. istighfar….” suara Geuchik Harun. Pusing. Inong! Semua sudah berlalu. bangun!”dua tangan menggoncang-goncang badanku. Tegar. “Siapa lagi yang mau membela?”tantang lelaki penyiksa itu pongah. itu suara Hamzah! “Angkut orang yang bicara itu!” Aku melihat Hamzah dipukul bertubi-tubi hingga limbung. Airmataku menganak sungai. hingga aku letih sendiri. menggigit. Dan aku tak ingat apa-apa lagi.“Lepaskan mereka. Wajah-wajah dalam jaring pias. Sebuah pelukan yang sangat erat kurasakan. Agam dan Ma’e? Di mana wajah saleh milik Hamzah? Di mana tengkoraknya? Tangan-tangan raksasa itu menggerakkan jaring ke sana ke mari. Kalian salah sasaran!” Ya Allah. Di mana sayapku? Aku ingin terbang dari sini! Oiiii. Aku jatuh lagi.” Tangan-tangan raksasa itu mengayun-ayunkan jaring. Tak jauh. di dalam jaring-jaring merah ini. Jiibandum ureung biasa. Airmataku menderas. Wajah-wajah itu retak. Aku dan kumpulan manusia di sini berjatuhan ke sana ke mari. “Allah tak akan membiarkan mereka. saat tak lama kemudian. “Inong. Inong! Inong. Merah. Kami tak bisa keluar dari sini! Tolong! Toloooooong! Di mana sayapku? Di mana? Di mana tangan Mak dengan cincin khas di jari manisnya? Aku ingin menggenggamnya. tetapi aku tak bisa bangun. lalu Ayah yang berlumuran darah! Tangan-tangan kekar menyeret mereka ke arah truk. “Astaghfirullah. Peristiwa empat tahun lalu dan rezim ini. mencakar. Inong! Tegar! La hawla wala quwwata illa bi 'l-Lah…. “Bawa mereka ke bukit dekat jalan buntu! Juga gadis itu!” Aku meronta.

tak ada suara yang keluar. Pak. Aku mengamuk panik. Apakah ia membawa jaring-jaring untuk menangkapku lagi? “Pergiiiii! Pergiiii semuaaaa!” teriakku. 1998 Referensi: . “Pergiiiiiiii!” aku menjerit sekuat-kuatnya. Lalu tak jauh di hadapanku.Kabur. . "Pergiiiiii!" aku menceracau.Buletin Kontras no 1/Agustus 1998.” Aku terkapar kembali. Aku berteriak. Terbit. Kompas ( semua terbitan Agustus 1998). mencari bening. Di antaranya berseragam. Sekujur badanku bergetar. Tolong. Wajah tulus dengan kerudung putih itu. Republika. memporakporandakan apa dan siapa pun yang ada di hadapanku! Aku…. Bapak sudah lihat sendiri. 5 Agustus 1998. apa peduliku?! Aku ingin berteriak. Daftar istilah: Buket Tangkurak : Bukit Tengkorak Geuchik Cuak : Kepala Desa : orang yang jadi mata-mata tentara . Hah. mereka akan membantu kita…. Aku menangis tersedu-sedu. Tibatiba takutku naik lagi ke ubun-ubun.*** 108 Cipayung. Orang-orang ini tersentak. terasa berputar. Tiba-tiba suaraku hilang. Samar kulihat Cut Dini.Gatra. mengamuk. “Inong…. Aku mencari bunyi. “Ia hanya satu dari ribuan korban kebiadaban itu. kulihat beberapa o-rang. . mencari gerak. beri kami keadilan.Data yang diterbitkan oleh Forum LSM Aceh. Cuma luka nganga. tak ada airmata yang mengalir. tetapi kaku. Tak ada apa pun. Ia mengusap airmataku. Berdarah dalam jaring. menatapku kasihan. Oknum-oknum itu menjarah segalanya dari perempuan ini!” Takut-takut kuintip lelaki tegap yang sedang menatapku ini. Aku menggigil dan mendekap Cut Dini erat-erat. Menggelepar.

April 1999) .Ma’e Mak rumoh geudong Mane ureung-ureung that ulon hana teupheu sapheu therimoung ghaseh kherudoung : panggilan untuk Ismail : Mak : rumah gedung (tempat penjagalan) : nama desa di Pidie : orang-orang : sekali : saya hanya orang biasa : terima kasih : kerudung 109 (Dimuat dalam Horison.

Bau itu semakin mendekat dan menyesakkan dadanya. 110 .Pemahat Abad Oleh: Oka Rusmini Kopag menjatuhkan pisau ukirnya yang runcing. Dia memerlukan alat-alat pahatnya. Aneh. Hampir saja pisau itu memahat kakinya. sekedar mendengarkan keputusan orang-orang terdekatnya. “Luh Srenggi. Perempuan itu pasti memiliki kecantikan yang melebihi kecantikan sebatang pohon. benarkah suara ini milik seorang perempuan? Ketika Kopag akan mengambil tongkatnya. Aneh sekali. Sekarang Hyang Widhi mengirim untuknya. Dia bisa memberikan penilaian yang begitu objektif terhadap benda hidup yang bernama manusia. Kopag harus patuh. “Siapa tadi namamu?” Kopag mulai menenangkan dirinya sendiri.” Suara itu terdengar bergetar. Luh Srenggi cepat-cepat membantu. Pisaupisau yang runcing terbayang di otaknya. kasih sayang. Biasanya dia hanya dijadikan objek. Kali ini. dan sangat tulus. Inilah perempuan itu. Apa yang terjadi dengan dirinya? Kopag memaki dirinya sendiri. Baru kali ini Kopag merasakan bisa menikmati hidupnya. tiba-tiba saja dia seperti ditenggelamkan ke lautan. Seperti bau daundaun kering dan kayu basah.” Suara itu terdengar gugup. dia merasa menemukan kebenaran yang berbeda dengan kebenaran yang diyakini oleh orang-orang yang selama ini rajin menanamkan kebenaran yang telah menjadi ukuran mereka. “Siapa itu?” “Titiang. dari mana datangnya bau yang membuatnya begitu gelisah? Bau itu semakin mendekat. Tangannya jadi lapar. Seorang perempuan. Semua gara-gara dia mencium bau yang aneh dari sudut pintu. Kopag menggigil ketika bau itu benar-benar menelanjangi wujud laki-lakinya. "Katakan padaku.2 Mulai hari ini dan seterusnya. Apa pun yang dikatakan orangorang di sekitarnya. atau seonggok kayu yang paling sakral sekalipun. Luar biasa. Suara itu dirasakan penuh dengan kejujuran. Kopag yakin dugaannya ini tidak meleset. perempuan yang dicarinya berabad-abad. siapa kau?!” "Titiang yang akan melayani seluruh keperluan Ratu. Kulit perempuan itu terasa seperti kulit kayu.” “Srenggi? Srenggi siapa?!” Kopag semakin menggigil. Kopag semakin gelisah.1 Luh Srenggi. Tangan mereka bersentuhan. Suara itu adalah suara perempuan.

Karena tak ada perempuan-perempuan yang bisa dilihatnya dengan matanya. Dia anak laki-laki kedua yang lahir dari keluarga terkaya di Griya. bisa dibuat sebuah pementasan. Gubreg?” Suara Kopag terdengar getir. agar orang-orang mudah mengenalinya dan membedakan dirinya berbeda dengan manusia lainnya. setelah berbulan-bulan tidak pulang. Belum lagi hutangnya yang tiba-tiba saja menumpuk. Kecantikan yang dia lihat dengan pikiran. Sayangnya laki-laki itu memiliki mata yang sangat liar.“Apakah di bumi ini wujud kebenaran itu sudah seragam. Apa artinya kekuatan seorang perempuan? Terlebih. Kehidupan yang sering dimaki Kopag ternyata cukup demokratis. hidupnya. aku juga harus memakai kriteria mereka?” “Kebenaran mereka? Aku tidak yakin mereka mampu melihat seluruh keindahan hidup ini dengan benar!” Suara Kopag terdengar penuh tekanan. Dia tidak pernah peduli. lakilaki itu pulang dalam kondisi yang menyakitkan. Salahkah? Kecantikan perempuan muda itu adalah kecantikan yang sangat luar biasa. Seluruh kekayaan ludes. sangat sadar. laki-laki itu memaksa perempuan yang dinikahinya untuk bersetubuh. Kopag telah merekonstruksi sejarah seni rupa. Dia bisa mengubah kayu kering menjadi sebuah karya seni yang memikat para intelektual seni rupa. Tubuhnya kurus dan pucat. “bahkan untuk menilai keindahan itu. Kopag . Tapi. setiap makhluk yang memiliki lubang bisa dimasuki. Laki-laki itu adalah binatang yang paling mengerikan. dan keindahannya sendiri. laki-lakinya akan menitipkan daging binatang di rahimnya. Dia memberi Kopag poin. Dia hamil. Dilahirkan sebagai laki-laki buta memang tidak menggairahkan. sehatkah dia? Bagi ayah Kopag. laki-laki itu bisa tidur dengan seluruh perempuan. Bahkan Gubreg. Gelar Ida Bagus menunjukkan bahwa dia adalah anak laki-laki dari golongan Brahmana. Tubuhnya seperti lekukan kayu. Alangkah ajaibnya kalau hidup juga bisa dipermainkan. juga tidak berkomentar ketika Kopag memuji keindahan perempuan delapan belas tahun itu. Pikirannya kacau! Kopag sadar. Apa yang sesungguhnya salah pada kriteria yang telah diberikan Kopag terhadap perempuan? 111 *** Kehidupan telah memaksa bocah laki-laki itu memakai label Ida Bagus Made Kopag. pelayan tua itu. Seluruh wajahnya juga lekukan kayu. Dia adalah kayu terindah dan tercantik. yang tentu saja tidak dimiliki orang-orang. Perempuan itu menolak. sejak kecil dia terbiasa dididik menjadi perempuan bangsawan yang menghormati laki-lakinya. Dalam kondisi seperti itu. apakah orang-orang yang memiliki kelengkapan utuh sebagai manusia ketika dilahirkan mampu menangkap seluruh rahasia kehidupan ini? Rahasia yang erat-erat digenggam dan disembunyikan alam? Salahkah kalau tiba-tiba saja Kopag menemukan kecantikan yang luar biasa pada diri Luh Srenggi. perasaan. cantikkah perempuan itu. di sanalah dunia itu dibuat untuk laki-laki yang sejak pertama berkenalan dengan aroma bumi dan hidup hanya merasakan kegelapan sebagai bahasanya. Lahirlah seorang laki-laki yang merenggut nyawa perempuan itu. Menghargai keindahan yang dititipkan alam padanya. Kata orang. Laki-laki itu harus berperan sebagai laki-laki buta untuk menebus kelahiran dan hidupnya sendiri. Suatu hari. Aneh sekali tak ada manusia yang bisa menangkap kecantikannya. Dia juga memiliki puluhan galeri lukis dan patung. Dia tahu. kasta tertinggi dalam struktur masyarakat Bali. Seperti sebatang kayu dengan lekuknya yang begitu menggairahkan. Ayahnya seorang laki-laki sangat terhormat dan memiliki kedudukan tinggi di pemerintahan.

perempuan itu harus mengubah namanya menjadi Jero Melati. Ratu. parekan. Bahkan Gubreg. dan sangat pas. Postur tubuhnya seperti putri-putri raja Bali. Orang-orang di luar hanya tahu bentuk tubuhnya yang konon sangat luar biasa. seperti Kopag juga menyerah pada kebutaan yang harus dia kenakan setiap saat. “Luar biasa kecantikan Jero Melati. Karena perempuan Sudra. Sebuah kesunyian dengan pagarpagar keindahan. alam menyerah pada kekuasaannya. perempuan itu adalah pemain sandiwara yang ulung. Kopag sangat menyukai kayu yang mengenalkannya pada dunianya. Kebutaan yang mengikuti dia terus-menerus. Iparnya yang luar biasa kasar dan cerewetnya jadi pujian dan pembicaraan seluruh laki-laki di Griya. Masih kata Gubreg. aku juga ingin merasakan. Tanpa teriakan iparnya yang sering menyesakkan kuping. Gubreg? Tolong kau katakan seluruhnya. dia harus menunjukkan pada seluruh manusia di desa ini bahwa dirinya berhak masuk dalam lingkungan keluarga bangsawan. pokoknya seluruh tubuh perempuan itu selalu jadi pembicaraan kaum laki-laki. Dunia yang diinginkan. atau posisi piring dan gelas berubah di dapur. dia memahat pikirannya. dia mencium bau darah. Kopag sering berpikir.tidak saja memahat kayu. Ada-ada saja yang diributkannya. ketika untuk pertama kali iparnya itu menyalaminya. Bagi Kopag. Ni Luh Putu Sari yang sejak menikah dan masuk menjadi keluarga Griya bernama Jero Melati itu memiliki kulit yang sangat indah. juga impian-impiannya. *** Kopag menarik nafasnya dalam-dalam. Jujur saja.” “Seperti apa perempuan cantik itu. Saat ini aku mencoba percaya pada matamu. perempuan kebanyakan itu telah menikah dengan kakaknya dan menjadi keluarga Griya. Aneh sekali. Kopag juga merasakan setiap mulut perempuan itu terbuka. pelayan setia yang merawat Kopag sejak kecil. Untuk pertama kali. Tanaman di halaman samping rusak atau terinjak kakinya. Suara iparnya itu akan terus menari-nari di sekitar telinganya. kembang sepatu yang baru ditanam perempuan nyinyir itu tersangkut tongkatnya. merah. Getaran tangannya sudah seperti tangan-tangan mayat yang membusuk. Bau itu seolah berlomba-lomba meloncat dari bibirnya yang konon sangat mungil. kulitnya yang sering jadi pujian. Bagaimana mungkin perempuan konon kata orang-orang di desanya sangat cantik dan santun itu bisa berkata begitu kasar. “Apa bisanya adikmu yang buta itu? Apa? Merepotkan!” Suara perempuan muda itu selalu menggelisahkannya. Saat ini dia sangat mengikuti ambisinya untuk masuk dalam lingkungan keluarga Brahmana. Nama perempuan itu Ni Luh Putu Sari. Disentuhnya kayu kering yang selama ini selalu mengantarnya ke mana dia pergi. Teriakannya saja bisa memandulkan pisau pahatnya.” 112 . bagaimana sesungguhnya sebuah penilaian yang objektif dalam hubungan antarmanusia di bumi ini. Itu yang dirasakan Kopag. Anyir. otaknya. Aku ingin tahu. Karena dia bukan kaum Brahmana. selalu berkata bahwa beruntunglah kakaknya bisa mendapatkan perempuan tercantik di desa. Perempuan itu benar-benar serius untuk memasuki perannya sebagai istri laki-laki Brahmana.

Gubreg. Sejak kecil. Atau sesekali mendatangkan guru yang mengajarinya membaca. Gubreg. Seluruh ilmu memahat dia alirkan dalam tubuh bocah kecil yang tidak berdaya itu. Hyang Widhi! Penguasa jagat! Kopag memang sudah besar. Kau bisa lihat. tentang Michelangelo Buonorrty. jengkel! Ada-ada saja yang dibawanya. Lihat. dia mampu membuat patung-patung dengan ukiran sangat sempurna. rasa apa yang sering membuatku meluap. sebelum berpulang. kau belum jawab pertanyaanku. “Gubreg. “Anak itu buta. Dia ingat teriakan Kopag ketika pertama kali menyentuh tubuh-tubuh pisau yang telanjang itu. dialah yang mengajari Kopag mempelajari tekstur kayu. Begitu penuh misteri. Ada yang hilang dalam tubuh laki-laki tua itu. Susah. Ida Bagus Made Kopag memiliki tubuh yang sangat bagus. yang konon. “Kau tidak ingin menjawabnya. Sejak kecil kakeknya hanya mengajari Kopag bersentuhan dengan kayu-kayu untuk berkenalan dengan kehidupan. Laki-laki setengah baya itulah yang membuat Gubreg. Karmanya jatuh pada anaknya sendiri. Gubreg?” “Jangan bertanya yang aneh-aneh pada titiang. Gubreg. Aku masih percaya kehidupan itu bisa diajak bicara. kan? Kehidupan sendiri memberinya hadiah yang luar biasa. Gubreg. Atau sesekali dia dikunjungi orang asing dari Prancis. Frans Kafkasau. begitu indah.” Keruncingannya. Lihat. Sejak bergaul dengan Frans ada-ada saja yang ditanyakan Kopag padanya. Anggap dia anakmu!” Itu pesan Ida Bagus Rai. Seperti apa perempuan cantik itu? Apa seperti bongkahan kayu beringin ini? Dingin. dan tangannya juga sangat cekatan memahat patung-patung. Kadang-kadang dia bacakan buku-buku bahasa asing. “Gubreg. Waktu itu umur Kopag tujuh tahun. Dipandangnya mata Kopag dalam-dalam. Menanggung dosa ayahnya. Titiang tidak bisa menjelaskan seperti Frans. Susah. ketajamannya. apa ini rasa yang dimiliki lakilaki? Ini wujud kelelakian itu?” suara Kopag terdengar pelan. Laki-laki bule itu telah memberinya didikan yang baru. Jengkel! Waktu Kopag sekarang habis untuk diskusi. Kehilangan yang dalam. kata Frans. 113 .Laki-laki tua itu terdiam. dan menikmati aroma ketajamannya yang luar biasa indahnya. perhatian yang lain. tapi mampu memikatku. Laki-laki tua itu sekarang ini jadi cepat marah. Rasanya baru mendengar satu huruf keluar dari bibir laki-laki Prancis itu seluruh isi perutnya seperti keluar. pematung jaman Renaisans. Ratu. Gubreg pun mengajari Kopag menelanjangi tubuh pisau-pisau pahat. Pertumbuhannya selalu mengingatkanku pada perbuatan-perbuatan yang dilakukan anakku. Ada rasa sakit mengelus dada tuanya. Tanyakan pada laki-laki bule itu!” Suara Gubreg terdengar penuh nada kecemburuan. sudah menjelang dua puluh lima tahun. Luar biasa. termasuk rangkaian pisaupisau pahatnya. tubuhku gemetar setiap menyentuh pisau-pisau ini. Bagi Gubreg. Gubreg. Tinggi. aku selalu tersentuh. Kopag tidak lagi membutuhkannya. Jaga dia baik-baik. Kegelapan itu jadi milik cucuku yang paling abadi. Dia juga yang mengajarinya bahwa semua benda punya jiwa. Cucuku memiliki seluruh mata manusia yang ada di bumi ini. Dia juga rajin membaca buku-buku dengan huruf braile. Dadanya sering mendidih. yang diterjemahkannya. Kopag sudah bagian dari nafasnya.

Gubreg menyaksikan. Dia juga laki-laki. Terlebih.. Sering sekali dia disuruh mengantar Dayu Centaga mandi di sungai Badung. Dia gelisah. Balian tua itu memberinya jampi-jampi. Ratu. dia juga pernah merasakan seperti apa percikan nafsu itu ketika pertama kali menampar wujud manusianya.titiang tidak bisa menceritakan kecantikan perempuan pada Ratu. Takut sekali menjawab pertanyaan tentang esensi menjadi laki-laki. karena kelaparannya adalah kelaparan yang tidak pada tempatnya. Rasa itu tiba-tiba saja muncul kembali dalam otak. Lama-lama Gubreg merasakan sakit yang luar biasa menyerang tubuhnya. Aroma tubuh perempuan itu sampai hari ini masih melekat erat di tubuhnya. perempuan yang sangat dihormatinya.Kilatan matahari menjilati keruncingan pisau pahat itu.” Suara Gubreg terdengar patah.. dan tulang-tulangnya yang mulai rapuh membantunya merangkai masa lalunya kembali. Kebetulan si penunggu sungai sedang beristirahat. Tubuh perempuan itu seperti ular yang melingkar dan menjepit batang-batang tubuhnya. dia sadar tubuhnya tidak boleh melahap tubuh perempuan Brahmana. dukun. kebanyakan. Dia sering terjaga tengah malam dengan nafas yang memburu. Sampai menjelang tengah malam. Kopag sudah membuka jendela studionya. yang hidup dari belas kasihan keluarga Dayu Centaga. . Tubuhnya jadi pucat. dia luka. Keluarga Griya mencarikan dia seorang Balian. Masih kata Balian tua itu. Aroma itu tak bisa dihapus oleh usia yang dipinjam Gubreg pada hidup. Perempuan itu. Kakinya kram setiap melihat tubuh basah itu naik ke atas dengan kain yang hanya sebatas dada. Di tangan Kopag pisau itu jadi begitu dingin. Tubuhnya dilingkari asap yang sangat menyesakkan aliran pernafasannya. Hyang Widhi. Gubreg sempat membuang kotoran di pinggir sungai. Kaki perempuan itu putih. Semua orang. Gubreg selalu merasakan tubuhnya dilubangi. Setiap mengingat batas yang ada antara dirinya dan Dayu Centaga.” suara Kopag terdengar penuh rasa ingin tahu. Pisau justru seperti menantang matahari untuk bersabung. “Aku ingin bercerita padamu. dan mampu meledakkan otaknya.” “Titiang.. Berkali-kali dia menarik nafas. Perempuan junjungannya. Gubreg sadar rasa laparnya sudah tidak bisa dibendung lagi. *** 114 Pagi-pagi sekali. “Tentang apa lagi. dia adalah laki-laki tak berguna. Waktu itu Gubreg seorang laki-laki kumal empat belas tahun. Gubreg belum juga bisa menjawab arti menjadi lakilaki. Begitu parah. betapa sinar matahari yang perkasa itu menjadi patah dan tak berdaya ketika menyentuh sedikit saja keruncingannya.. Dayu Centaga selalu menyuruh Gubreg menggosok punggungnya dengan batu kali.. Perasaan apa yang sedang bertarung dalam tubuh Kopag? Gubreg takut. memiliki penilaian khusus tentang hal itu. angkuh dan selalu lapar. Tak ada yang bisa diceritakan kegelisahannya. Kata Balian itu. Dia mengerti. Sebagai laki-laki Sudra. dan teramat menggelisahkan ketika tubuhnya mulai lapar dan memerlukan tubuh lain untuk santapan. Sangat paham. Ratu?” “Kecantikan perempuan.

mem-besarkan tubuhnya. selalu ingin mengupas dan melukai kayu-kayu itu. yang memanfaatkan seluruh tubuhnya untuk mewujudkan jati diri tokoh yang dimainkan. Aku selalu ingin tahu. diajar memahami kehidupan. aku merasakan kecantikan perempuan itu melalui jari-jariku.” Gubreg tetap diam.memandikan tubuhnya di pinggir sungai. seorang anak yang dibesarkan dengan cara-caranya. sampai menguliti otakku. dan berpikir. tubuhku. komunikasi Balian tua itu dengan dunia gaib salah. tidak juga kesambet setan. Demi Hyang Widhi. karena aliran sungai dalam tubuhnya bukan lagi aliran sungai kecil. Gubreg paham.tadinya penunggu sungai itu juga ingin mengganggu Dayu Centaga. keluarga Griya membawa sesaji untuk penunggu sungai. Tanpa istri. Gubreg.. Cinta yang membuatnya jadi batu. Justru Gubreglah yang kena kemarahan si penunggu sungai. Dia pasrah ketika Balian tua. mengajakku bicara. berdialog. Kalau sekarang Kopag bertanya seperti apa kecantikan itu. Dia mencoba memahami sesuatu yang sangat rahasia dan begitu dalam ingin disampaikan Kopag. 115 . Dia menarik nafas berkali-kali.” suara Kopag terdengar pelan. Gubreg menatap tajam tubuh Kopag yang sedang merampungkan pahatannya. tanganku. Gubreg bahkan rela bocah laki-laki itu mencuri lembar demi lembar rahasia perjalanan dan rasa sakitnya sebagai laki-laki yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk mengabdi. Berkat kekuatan Gubreg. Tak seorang pun tahu. Suatu hari Frans dan seorang temannya mengatakan. Guemica. Kenapa kayu-kayu ini selalu mengajakku berdiskusi. Kayu-kayu dan pisau telah memberiku mata yang lain. tidak lagi bisa menikmati kegairahan manusiawi sebagai manusia. Sampai sekarang. tetapi sudah menyerupai air bah. sangat surealis. Untuk mengembalikan kesehatan Gubreg. “Gubreg. pahatanku tentang perempuan sangat sempurna. Aku juga memiliki impian-impian sendiri pada patahan tubuh pohon itu. tanpa kegairahan sebagai laki-laki. Sesuatu yang dahsyat telah dititipkan alam pada tubuhnya. kau ingat kata-kata Frans?” “Yang mana?” “Frans mengatakan keliaranku membentuk tubuh-tubuh manusia dalam kayu mengingatkan dia pada lukisan Pablo Picasso.. Rasa ingin tahu yang begitu besar. Gubreg. menjelang tujuh puluh lima. Kata mereka. dia merasakan cinta yang dalam pada Dayu Centaga. sampai akhirnya potongan-potongan tubuh itu ada di tanganku. Pada dasarnya aku selalu penasaran. Impian-impian yang dimiliki oleh po-hon ketika dia membesarkan ranting-rantingnya. dingin. Dia rasakan perubahan pada tubuhnya. Katanya agar roh jahat tidak mengenai keluarga Griya. Aku juga ingin tahu arti setiap impian. Gubreg tidak sakit. “Gubreg. Gubreg masih setia mengabdi di Griya. Dan Gubreg tahu air dalam tubuhnya memerlukan muara. Untuk menghormati kebaikan keluarga Griya. Cinta yang tidak mungkin dihapus. Dayu Centaga tidak terkena. kau belum juga jawab pertanyaanku. Kecantikan perempuan yang kuterjemahkan lewat kayu-kayu itu mengingatkan Frans pada keliaran Martha Graham. Gubreg bersedia menjalankan runtutan upacara itu. Gubreg tidak bisa bercerita tentang kelaparan tubuh laki-lakinya.

Mengerikan! Padahal perempuan itu sangat cantik. Lima menit tanpa hasil. . “Ratu. Sayang. Aku sudah memikirkannya jauh-jauh hari. Gubreg diam. Ratu terlihat sangat gelisah. Hanya satu yang ditangkap Gubreg. adik Jero Melati adalah perempuan paling liar dan nakal. ada bantuan dana dari Jerman dan Prancis. Aku ingin bicara!” Kali ini suara Kopag terdengar serius. Benar kata Kopag.” “Ya. perempuan satu ini memang bukan perempuan baik-baik. perempuan itu bebas menggunakan uang Kopag semaunya. “Kau harus bisa meyakinkan dia bahwa adikku layak menjadi istrinya. Jero Melati tidak pernah ceriwis.” “Jero sudah punya calon?” “Ya. Gubreg menatap mata perempuan itu tajam.” “Siapa?” “Adik perempuanku. Gubreg. Bulan kemarin. Otaknya hanya berisi kehormatan. Dia tahu. Kata orang-orang kampung. “Bagaimana kalau dia kawin dengan calon yang telah kusiapkan.” Suara Kopag terdengar sangat serius. Sekarang ini keluarga ini tentram. Untuk pertama kali dia merasakan hawa jahat berendam dan menguasai tubuh cantik itu. Ratu ingin apa lagi? Jangan menakuti titiang. Kopag seperti linglung. *** “Gubreg. Kopag memerlukan perempuan. dia tidak tahan miskin. 116 *** “Kita harus carikan seorang istri untuk Ratu. Patung-patung Kopag laku keras dan diminati oleh kolektor dari dalam dan luar negeri.” jawab perempuan itu serius.Berkat Kopag. kakak Kopag sendiri bisa membuka galeri patung yang besar. Aku ingin kawin. Laki-laki itu tidak pernah tahu apa arti ada uang atau tidak ada uang. adik Jero Melati bisa menjual tubuhnya. Saat ini galeri itu sudah tumbuh besar dan menjadi satu-satunya galeri yang paling diakui di Bali karena karya patung yang masuk harus melalui seleksi dan pertimbangan yang teliti. Gubreg mencoba memahami ke mana kira-kira arah pembicaraan Kopag. keluarga besar ini kembali bisa hidup. Bahkan. dia terus mengelilingi studionya. Jero Melati tersenyum. Gubreg tahu tak ada yang diinginkan Kopag. Mendengar komentar itu.” Suara perempuan itu terdengar mirip perintah dan pemaksaan. Padahal kemiskinan kalau dihayati memiliki keindahan tersendiri.” suara Gubreg terdengar sangat hati-hati.

tahukah dia makna kecantikan? Gubreg menarik nafas memegang dadanya kuat-kuat. Ketika dia telanjang. Panggilan kehormatan untuk bangsawan Bali (Dimuat dalam Horison. apakah kuping tuanya tidak salah dengar? Bukankah Luh Srenggi adalah perempuan yang menyiapkan seluruh keperluan Kopag.. Kulitnya juga kulit kayu. Wajahnya juga rusak berat. kakinya pincang. dia lebih mirip makhluk yang mengerikan. matanya yang kiri bolong. Sebuah pisau pahat menembus dadanya yang tipis. Dia adalah perempuan tercantik. Saya 2. Maret 2000) . Hyang Widhi! Dewa apa yang ada dalam tubuh Kopag.?!” Gubreg seperti tercekik. Sadarkah dia. Tubuhnya benar-benar lekukan kayu. Gubreg.” Gubreg mengangkat wajahnya. ingin sekali dilihatnya wajah Kopag berseri. Kulitnya begitu kasar. “Aku sudah memiliki calon. dia hanya memiliki satu mata. Kau tahu. Perempuan itu telah mengasah tubuh laki-lakiku. “Aku telah menidurkan perempuan itu setiap malam.“Maaf Ratu. Luh Srenggi. membersihkan studionya menyiapkan makan.” “Ratu. ketika kujatuhkan tubuhku memasuki tubuhnya. Aneh! Wajah itu tetap seperti batu. Bahkan merekalah yang akan memilihkan calon istri untuk Ratu. Kali ini pilihanku tidak bisa diubah!” “Siapa?” “Luh Srenggi.” “Apa kata mereka. ada daging besar tumbuh di atasnya. Perempuan yang mengalahkan kecantikan kayu-kayuku. aku tenggelam dan habis.*** 117 1.. titiang juga sudah membicarakan dengan Jero dan kakak Ratu.” “Mereka setuju. dan mengambilkan pisau-pisau pahatnya? Perempuan itu bukan perempuan. punggungnya bongkok. tak ada sebuah pisau pun bisa menandingi ketajamannya.” Gubreg ambruk.

tetapi aku sudah membayangkan. “Aku kira sebentar lagi semua tubuh mereka akan menjadi batu. betapa mengerikan..” kata Jim.!” panggilku. Jim akan tersentak sendiri karena ia mafhum bahwa memfungsikan diri adalah sesuatu yang abstrak.. tergolek bagai barang tak berguna. Beberapa saat ia terdiam. ya seperti yang sudah kuduga. “Tak masuk akal. bukan rentang waktu yang panjang untuk menelusuri hubungan kami. Lalu ia bertanya bagaimana hal itu bisa terjadi. Berkali-kali ia ulangi pertanyaan tersebut. Ia dan keluarganya —sebelum kawin— memang pohon penelitianku. mengapa harus menjadi batu. “Jim!” ulangku. aku membayangkan Jim kembali tercungapcungap menceritakan keluarga Niru menjadi batu.” kata Jim seperti yang sudah kuduga. tetapi aku tak pemah menganggapnya sebagai sesuatu yang berasal dari luar diriku. “Niru telah mengantarkan aku ke jenjang karier seperti sekarang dan menjadi modal besar bagiku sampai diangkat menjadi profesor. padahal bagian terpenting dalam hidup adalah memfungsikan diri.” kata hatiku. Sampai pada kalimat tersebut. Lima belas tahun yang lalu. Janganjangan menjadi batu merupakan upaya memfungsikan diri juga. Sambil mengangkat gagang telepon itu.. Tak ada jawaban. mereka membunuh diri.” “Jim.” kata Jim datar.” simpul Jim. ditingkahi desah ketakutan dan keasingannya menghadapi kenyataan itu. menjadi batu membiarkan diri melakoni benda mati. 118 . “Kau kan tahu betapa Niru adalah bagian dari keluargaku juga. Tetapi manusia yang telah menjadi batu tidak akan dapat memfungsikan dirinya.. “Ya. “Oh.Menjadi Batu Oleh: Taufik Ikram Jamil Dinihari. Cepat-cepat ia mengatakan. Ketika ia masih bujang lagi dan kini punya anak bersusun paku. pertanyaan terakhir itu akan dijawab oleh Jim sendiri dengan mengatakan bahwa memang benarlah mereka manusia. “Tapi mengapa harus menjadi batu?” tanya Jim. “Ketika kutinggalkan sekejap tadi. Tapi mereka manusia kan?” Aku diam. “Pasti dari Jim. dan apa yang dapat dilakukan untuk membantu mereka.. hanya leher sampai kepala mereka saja yang belum menjadi batu. Aku takut. “Bagaimana caranya mereka menjadi batu?” lanjutnya.

ketakutannya terasa semakin besar.. Sesuatu yang sebenamya secara umum dinikmati tidak saja oleh Niru dan Suku Montai. aku merasa meneliti diriku sendiri. sebenarnya hampir tergolong primitif. “Kau dengar atau tidak?” “Teruskan..” Jim agak berteriak.. tetap memandu Jim di lapangan.. cahaya pelita sudah menyergap mukanya. lantas berkenalan dengan Niru. tetapi masyarakatnya terbelakang. Sayang. Ya.” “Aku takut. Hasil penelitian Jim di desa Niru sebenarnya tidaklah terlalu istimewa bagiku.. tut . barangkali disebabkan perhatian kami yang berbeda dan semua permasalahan di dalam penelitiannya sekaligus kualami sendiri dalam bentuk lain. menuju rumah sahabat kami tersebut. Niru masih bujang bedengkang waktu itu. dimulai dari puncak hidungnya yang tercacak. Niru dan aku diundang menghadiri acara tersebut. Tampaknya aku harus melakukan tindakan karena sudah tiga kali ia menelepon. Niru tak mau datang dengan alasan yang tidak jelas walaupun segala sesuatunya ditanggung oleh Jim. Tetapi belum sempat aku menyelidiki keberadaannya seperti tindakan apa yang diharapkannya dariku. Tentu saja aku tahu karena akulah yang membawa Jim pertama kali ke desa Niru. Ketika Jim dikukuhkan sebagai doktor di bidang yang ditelitinya yakni antropologi ekonomi.” kata Jim.. sangat takut. Dalam kerangka yang lebih kecil dan sederhana dapatlah disebutkan bahwa penelitian Jim menggambarkan bagaimana di desa Niru terdapat berbagai hal yang teramat luar biasa secara ekonomi. hubungan kami terputus. ... “Halo. Suku Montai berdampingan dengan hal-hal yang wah itu. namun jarak di antara keduanya sangat jauh seperti tak dapat diukur lagi secara metrik. tetapi oleh waktu.. Belum lagi pembangunan perkebunan besar-besaran yang tak terbayangkan sebelumnya.. aku menjadi perantara hubungan mereka berdua.. Sebentar ia tercegat di pintu dan sedikit saja ia menolak daun pintu dengan ujung telunjuk.. begitu orang menamakan asal Niru. tetapi hidup di tengah ladang minyak yang kaya raya dengan peralatan canggihnya. tut. Ketika Jim kembali ke negeri asalnya setelah tiga tahun menetap di desa Niru. tak lama setelah berkawan akrab dengan Jim. teruskan. 119 *** Dinihari. tetapi yang terdengar hanya tut .sehingga ketika aku menelitinya atau orang kampung sekalian. tetapi banyak orang lain lagi termasuk aku. Aku belum pernah setakut ini.... Cukup lama aku membiarkan gagang telepon melekap di telingaku dengan harapan Jim berbicara lagi. ia yang kawin dengan orang sekampungnya. Aku membayangkan saat ini Jim berlari dari warung telepon yang seingatku terletak sekitar dua kilometer dari rumah Niru kalau mungkin ia menelepon dari tempat itu. Hallo. Keringat sebesar jagung segera saja mengalir di tubuhnya. sekitar 150 km dari sini. Suku Montai..” Aku menarik napas. Mereka dalam keadaan yang tidak bisa membela diri terlebih lagi tidak punya sembarang pembela pun. Tak mengherankan kalau di antara keduanya terjalin hubungan antara pemandu dengan peneliti sampai di luar batas.

Jim pun sadar bahwa sesuatu telah terjadi pada keluarga ini. Leman. malah ia semakin gelisah. Ia mencangkung pada pipa minyak yang bergaris tengah sekitar 80 sentimeter dan membentang tak sampai 15 meter dari rumah Niru. Siah dan anak-anaknya ikut terlibat dalam pertemuan dua sahabat lama itu..” kata Jim lewat telepon beberapa jam lalu. ke pinggir hutan selatan.” kata Jim. padahal baru beberapa jam sebelumnya Jim dan Niru masih berbicara perkara biasa-biasa saja. menjelang dini hari mereka selalu berjalan ke luar. Kesimpulan menjadi batu dibuat Jim setelah ia melihat makin malam semakin banyak bagian tubuh Niru maupun anggota keluarganya yang menjadi batu. sebelum fajar menyingsing.” kata Niru. Jim kembali memutarkan badannya. “Tapi Niru. wajahnya pun terlihat berayun. turun ke tanah. Raut. Kaki sampai dada lelaki itu sudah membatu. menusuk-nusuk hati Jim. membuat pemandangan di dalam rumah ini bagaikan satu hamparan yang terasa amat asing. dan istrinya seperti tidak mengalami apa-apa. juga mampu menghidangkan suasana lain. “Jangan!” “Bontik?” “Jangan. Sesuatu yang sulit diterjemahkan kalau tidak berdiri pada bidang Niru maupun Jim. Ketika Niru menunjuk kaki anak-anak dan istrinya.. Matanya yang bundar memandang tubuhnya yang sudah membatu. Cahaya bulan sepenggal dan kerlip-kerlip bintang yang tersapu awan hitam tidak menimbulkan sembarang kesan elok di hatinya.Wajahnya kelihatan menyala karena butir-butir keringat seperti tersimbah cahaya pelita yang merah kekuning-kuningan. Langsung saja matanya menyergap Niru yang tergolek di sudut. tinggal mukanya yang ranum seperti tidak mengalami apa-apa. Terasa begitu cepat waktu berlalu. Tetapi mana mungkin aku mempertahankan ketidakpercayaan itu kalau aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana perlahan-lahan badan mereka berubah menjadi batu. “Aku panggil Tuk Batin ke sini. Jim memang mengatakan bahwa apa yang terjadi sekarang pada Niru dan keluarganya seperti tiba-tiba. Duduk saja di sini. Menengadah. “Atau Katik. mengajak Jim berbincang. Saat pertarna kali menelepon dini hari tadi. Jim terpelanting. enam anak kecil juga dalam keadaan demikian. Jim mengikuti arah mata itu dengan pandangan tanpa ia tahu apa maksudnya. anak-anak. Juga Siah istri Niru yang tergeletak dekat dapur. Kakinya tiba-tiba saja tertuntun kembali masuk ke dalam rumah Niru. Mengeluarkan kaki yang sudah menjadi batu. Jim tak tahu apa yang harus dilakukannya. Setelah berkali-kali mengajak berjalan ke luar yang dengan senyum ditolak Niru. 120 . semula aku tak percaya. lelaki itu akhimya mengeluarkan kakinya. . Sinar maupun cahaya dari maskapai minyak dan pabrik-pabrik sawit serta bedeng-bedengnya yang dipandang dari kegelapan kampung ini meskipun membuat hati mereka sayup. Berat.” Terdengar Niru ketawa kecil. dan. Angin berkibar. Tak jauh dari Niru. tetapi tak lama kemudian ia cepat menguasai. Aku memegang batu itu. Dulu. “Sungguh. Jim menyadari keberadaan Niru dan keluarganya seperti sekarang tak lama setelah ia mengajak Niru berjalan untuk makan angin di luar.

Cepat pula ia bertanya. sementara sekian pertanyaanku kepada Niru hanyalah sia-sia. “Sungguh aku tak dapat mengerti kalau menjadi batu sebagai suatu pilihan.. Ia hanya mau mengenang masa-masa lampau. Apalagi waktu itu. telepon masih terlentang.” “Ya. tapi nantilah .keras sebagaimana layaknya batu... *** Sampai menjelang subuh. dan. Ia sedikit pun tak mau menjawab pertanyaanku. Kudengar juga suara anakku mengerang.” “Bagaimana kau tahu?” Aku berdehem. Aku takut.” Apa yang dapat dilakukan dengan menjadi batu. “Kau percaya cerita ini?” “Percaya. aku tak mungkin berbohong. damar yang sulit dicari. Ia seperti duduk di ruang . Barangkali selama menunggu ini aku sempat tertidur dan terjaga karena suara batuk istriku. Kau tahu bagaimana batu kan?” kalimat Jim bertubitubi. Dari jendela. menceritakan ikan yang menghilang dari sungai. “Lantas. terdengar suaranya tersendat-sendat. tetapi hujatan Jim _ya.. Belum ada lagi panggilan dari Jim.. apa lagi yang dapat dikatakan Niru?” “Dan menjadi batu sebenarnya bukan pilihan kan? batu?” Tetapi mengapa mereka menjadi Ia akan 121 Aku ingin menjawab pertanyaan itu. Ya.. aku katakan sebagai hujatan_ tentang menjadi batu tersebut terus saja meluncur dari mulutnya... aku melihat bulan tergantung yang cahayanya pucat karena disambar cahaya merkuri di tengah jalan... dan bercerita tentang kayangan yang sudah hilang. Aku ingin mengatakan. tut . nanti saja.. Bayangan Jim menyeruak di antara cahaya remang-remang di dalam rumah ini. tiba-tiba saja sambungan telepon terputus dan aku hanya dapat mendengar suara tut ..” kata Jim dalam telepon sebentar tadi yang kembali terngiang-ngiang dalam telingaku.” “Kau percaya?” “Karena kau tak mungkin berbohong. “Bagaimana kau tahu?” desak Jim. Kendaraan mulai lewat di depan rumah..” sambung Jim. tapi aku yakin bahwa ia segera menelepon. soal-soal kemesraan.” “Dan kau mendengar bagaimana Niru terus berbicara seperti biasa. tut . “Ini sungguh amat menakutkan aku.

Tak ada perubahan. Tapi ia tidak meneruskan bacaannya. dan tanah yang kelihatan semakin 122 . Kalaupun ada perubahan. dan entah apa lagi. Aku agak terkejut karena hal ini di luar programnya semula. Katanya. sendok. membaca majalah berita yang kubeli sore tadi. “Mengapa kau tak pernah bercerita tentang hamparan batu yang berbentuk manusia dan peralatan hidupnya sehari-hari di sini?” tanya Jim suatu malam. ada dua hamparan batu-batuan seperti itu di sini. Konon. yang pernah kusaksikan beberapa kali. tetapi aku menawarkan diri untuk menemaninya sekedar basa-basi karena malam itu aku menunggu tamu. tak sedikit pun membacanya kecuali memandang gambar-gambar hamparan batu tersebut. Dini hari. pagi-pagi lagi Jim mengatakan akan pulang ke Tanah Airnya. Di desa itu sebagaimana diungkapkannya lewat telepon. Tanpa sengaja aku memandang gambar batubatu yang berbentuk manusia. bantal. Bau parfumnya menyengat sampai aku harus mendengus-denguskan hidung. Setahuku. Kakinya terkepang. limau. Tak ada tanggapan Jim terhadap jawabanku itu. Keesokannya. Ia melihat halaman majalah yang memuat tulisan itu dan menyodorkan kepadaku. Menyulut rokok sebatang dan menghisapnya dalam-dalam. seorang teman lama. Aku tak banyak tanya saat itu dan apa pula gunanya karena Jim tidak pemah dapat dihalangi. tilam. kelapa sawit di sana sudah menghasilkan sekian kali panen.tengah. lesung. kemudian kembali memandang majalah itu dan mencari nama penulisnya. ketika mataku sudah terlayang. ia akan berada di sini barang sepekan dalam urusan apa yang disebutnya sebagai mengecas baterai. tetapi baru tiga hari ia sudah merindukan keluarganya. Tak lama kemudian ia sudah keluar lagi dengan amat necis.” kata Jim seraya tidak lupa mengatakan bahwa ia sudah diangkat menjadi profesor. Tak diajaknya aku. “Aku ingin reuni di Montai. Pandangannya tidak lepas dari mataku meskipun aku sudah mengambil majalah tersebut sambil lewat saja. jalan yang lebar. baru Jim pulang dengan bau penuh bir. batu-batu tersebut adalah wujud dari tindakan sekelompok manusia yang tak mungkin lagi berbuat lain dalam menghadapi gelombang hidup terutama dalam menolak perintah raja. Sejak saat itu Jim tidak pernah lagi ke sini dan kabar mengenainya kudengar sekali-sekali. Seperti biasa ia hanya tersenyum kecil melihat kelakuanku itu sambil mengangkat bahu. mungkin tujuh tahun yang lalu. Sekarang batu-batu itu membesar dan konon pada suatu saat kelak akan memakan lahan sehingga mempersempit dan semakin mempersempit lahan yang ada. Sampailah beberapa hari lalu saat ia meneleponku dan menyatakan keinginannya untuk datang ke sini. kadang-kadang bergoyang-goyang sebagai tanda bahwa ia menyenangi bacaan itu. ia kemudian mengatakan ingin keluar. malahan masuk ke dalam kamar yang memang kusediakan untuknya kalau ia datang ke sini. Dari mata Jim aku tahu ia sebenamya berkali-kali melontarkan pertanyaan serupa. Niru maupun orang sedesanya tetap seperti dahulu. Di bandar udara Jim mengoceh banyak hal mengenai kedatangannya sekali ini terutama tentang penghormatannya atas Montai dan Niru khususnya yang mengantarkannya ke jenjang karier seperti sekarang. tentu terutama dengan Niru dan keluarganya. Ada juga batu berbentuk kapal. “Mengapa kau tak pernah cerita ada hamparan batu yang berbentuk manusia dan peralatan hidupnya sehari-hari di sini?” Sebagai jawabannya aku memandang langit-langit. Satu hamparan di pinggir pantai dan satu hamparan lagi di dalam sebuah goa di hutan lebat. Niatnya ke desa Niru dengan sendirinya batal walaupun aku sudah mengingatkannya. bahkan alat kelamin lelaki maupun perempuan.

Suara napas Jim yang kukenal segera menyambar telingaku. tanah yang dibelinya seluas dua hektar untuk Niru dan sejumlah orang sebagai tanda mata itu sudah berpindah tangan tanpa ganti rugi sepeser pun dan di atasnya telah berdiri berdegam sebuah hotel. bahkan kami di kota ini. Aku berniat sekali mengatakan hal ini kepadanya ketika ia pulang nanti. “Bagaimana aku dapat bertenang dan pulang dalam keadaan seperti ini?” “Ya. Ketika kutanyakan khabarnya. Perlu waktu khusus untuk mengatakannya kepada Jim.” Lama tidak ada jawaban dan aku terus-menerus memintanya untuk bertenang. Tak ada maksud apa-apa kecuali agar ia paham bahwa kami tidak pernah menyerah kepada keadaan. “Pulanglah dulu ke sini.. Persis saat azan subuh mulai berkumandang. sementara benakku membayangkan bahwa Jim akan mengabarkan kisah baru yang jauh lebih seru. Baiklah. setidak-tidaknya aku akan katakan sepatah dua kata tentang hal itu ketika Jim menelepon lagi yang kini sedang kutunggu-tunggu.” “Bertenang dan pulang?” Aku mengogam.” . payah.” kata Jim. dan tak henti-hentinya mengusap muka. memang sulit. “Sudahlah Jim. Niru hanya mengatakan: payah. Jim juga mengatakan. Bangunan-bangunan kilang minyak makin menjulang. Rumah atau lebih tepat dikatakan pondok itu pun sudah mundur sampai tujuh kali. tidak cukup hanya melalui telepon. Dari desah napasnya pula aku dapat meraba bagaimana Jim tercungap-cungap. sehingga makin terpuruk ke dalam hutan karena pengembangan ladang minyak dan perkebunan. 123 *** Ternyata penantianku tidak sia-sia. Aku akan menjemputmu.” “Kemudian membawa aku pulang?” “Ya. Waktu itu aku tak sempat mengatakan apa saja yang telah dilakukan Niru dan warga kampung itu. “Ketika kutanyakan hal ini. termasuk hotel dan warung telepon yang boleh dikatakan tidak begitu jauh dari rumah Niru. telepon berderak. bawa bertenang.tandus. menelan air liurnya beberapa kali. kendaraan tiada hentihentinya lalu-lalang di desa itu.. Jim menjawab dengan sedu-sedan.. Jim cukup mengatakan bahwa rumah Niru masih terbuat dari kulit kayu dan tidak memiliki listrik. Di sisi lain untuk menggambarkan keadaan tempat yang didiami Niru dan keluarganya. “Bertenang?” tanyanya kemudian. Persekitaran desa Niru semakin terang benderang dengan berbagai fasilitas.

. Tangan kanan menopang kepalanya. Tidak sekali dua ia tersampuk benda-benda yang tak sempat dilihatnya sehingga ia tersungkur ke tanah.. Ia berharap agar semuanya ini hanya mimpi kosong belaka. Sebaliknya belum sempat ia menyadari keadaan dirinya menerima kenyataan itu dengan hati jernih. Aku pergi ke rumah Tuk Batin. Ada yang sedang mencangkung. Tapi aku menyesal karena berkata seperti itu. ia dan keluarganya juga begitu. Ia menerangkan tentang bagaimana ia berlari dari satu rumah ke rumah lain dengan napas terengah-engah. tetapi semakin besar harapan itu bergumul dalam pikiran dan perasaannya. Ketika itu tanpa seizin Niru aku pergi ke rumah Bontik. Entah berapa kali Jim bolak-balik di antara satu rumah ke rumah lain yang sekaligus menyaksikan orang-orang sudah menjadi batu tanpa mengerti mengapa ia bertindak demikian. Pada beberapa rumah yang penghuninya tak dikenal Jim. sementara otaknya melayang entah ke mana.. sehingga alat indera tersebut seperti menyala dan melahirkan suasana yang sungguh sulit dilukiskan kata-kata.” Kalimat Jim terputus. kaki kirinya ingin ke belakang atau ke samping kanan maupun ke samping kiri. Bermacam-macam susunan orang-orang yang sudah menjadi batu itu. Walhasil ia harus mengeluarkan tenaga sedemikian banyaknya dengan sia-sia. ia meluncur pula ke rentangan yang menolak. sedangkan pinggang sampai kepalanya membuat garis 120 derajat. Ketika kakinya melangkah sesungguhnya tangannya hanya ingin berdiam. bahkan kadang-kadang terasa kalau kaki kanan ingin ke depan. Bontik. Tiga anak mereka yang lain berada di dalam rumah dengan berbagai macam pose. sementara tangan kiri melempai mengikuti bentuk pinggang. Lelaki ini beserta anggota keluarganya berada dalam rumah. “Ya.“Bagaimana aku dapat melakukan hal itu. Di antara rentangan sikap semacam itulah ia tergantung dan saling tarik-menarik. Tetapi aku melihat. ia melihat Niru yang sudah menjadi batu lebih dulu. Atap rumah yang terbuat dari daun nipah yang seharusnya menghalangi mata Niru memandang ke luar. Ketika ia sampai pada ujung rentangan menolak.. Cahaya bulan sepenggal yang masuk ke dalam rumah melalui lubang itu tepat menimpa mata Niru. Barangkali dipengaruhi oleh kedekatan hati. Bontik dan keluarganya juga sudah menjadi batu. kawan Niru sejak kecil dan cukup dikenal Jim. sedangkan istri dan tiga orang anaknya berada di belakang rumah. sedangkan istri dan anak-anaknya tergelimpang di halaman. Seolah-olah bagian-bagian tubuhnya bekerja sendiri-sendiri. ketika.. Untunglah Jim tidak menangkap kelalaian tersebut. semakin besarlah kesadarannya tentang kenyataan ini. orang yang menjadi batu terlihat di halaman itu pun dalam berbagai pose. Matanya memandang tembus ke langit. “Ketika kau melihat semua orang di desa itu menjadi batu?” aku memotong kalimat Jim. Kini mereka semuanya sudah menjadi batu. Begitu pula Tuk Batin yang terlihat duduk di bendul dengan muka tegang. Dari sinilah kemudian aku tahu bahwa semua penduduk desa ini sudah menjadi batu yang prosesnya sama dengan apa yang dialami Niru dan kusaksikan langsung. dengan cepat ia meluncur ke rentangan menerima kenyataan tersebut. dan entah macam mana lagi. bahkan menjadikannya sebagai titik awal untuk menceritakan pengalamannya yang lain menjelang subuh itu. tetapi ia 124 . Tetapi mata Niru. Tetapi Niru setengah duduk: kaki sampai pinggangnya sejajar dengan lantai kaki kanan menghimpit kaki kiri.” kata Jim. Luka pada beberapa bagian tubuhnya tak terasakan lagi. Ia merasa amat letih.. ternyata bocor. berdiri bercekak pinggang. salah seorang manusia yang menjadi batu di halaman.

terasa seperti jarum menusuk telingaku. “Kalau saja Jim tahu bahwa nanti malam.tidak dapat mengenal keletihan itu sehingga tidak mampu pula diatasinya. Di mana letak dirimu sebagai manusia?” Aku diam. aku juga meletakkan gagang telepon. keluargaku.” Jim marah besar. Dengan sedikit sisa kesadaran sebagai orang waras. hanya dengan menjadi batu saja kami dapat bertahan. kemudian menyandarkan tubuhku ke sandarannya sehingga aku benar-benar rebah. Ia seperti orang sasau --di antara gila dengan waras. “Tapi aku bertambah kecewa. September 1997) . Kau sudah mati. Pekikan itu pulalah yang seolah-olah mengantarkan kakinya melangkah ke warung telepon dan kembali menelepon aku. Kalau saja Jim tahu.*** 125 (Dimuat dalam Horison. selanjutnya ia memekik keras berkalikali. Tanpa merasa tersinggung sedikit pun. “Kau bangsat. taik kucing!” Jim menghempaskan gagang telepon. Entah apa yang dipekiknya. Kau sedikit pun tidak memiliki perasaan. Meraih kursi dan pelan-pelan meletakkan tongkeng di kursi. semuanya ini sudah direncanakan secara detil sejak dua tahun lalu sehingga aku mengetahui apa-apa saja yang dialaminya di desa Niru walaupun ia tidak menelepon. seolah-olah tidak ada kejadian apa-apa di sini. kita berbuat sesuatu menghadapi kenyataan ini. ia tak tahu. Memandang ke langit-langit. bertambah kecewa karena kau menyuruh aku pulang. aku berkata pelan. Bukan bermaksud menjemputku pulang. “Kemanusiaanmu sudah tak berguna. Seharusnya. Suaranya lantang berkumandang. giliranku.” Sungguh. dan para tetangga yang menjadi batu seperti sudah dialami sekian banyak warga sebelumnya. Ia kemudian terhenyak di anak tangga rumah Niru tanpa dapat membagi perasaan.

jumlah kami memang makin membesar. telah lenyap kami tangkap. Kami tak pernah tergoda menjadi petani atau pedagang. Seakan sia-sia kebesaran kami sebagai pemburu yang telah berabad-abad mengabdikan hidup dan peradaban kami hanya untuk berburu. tetapi kali ini. badak. Seluruh kekuatan dan pengalaman kami sebagai pemburu telah kami keluarkan sampai tandas. Setiap bulan hampir seratus anak kami lahir. Menjadi hutan lebat yang tumbuh dalam kepala mereka. Telah kami sibak semua palung lautan. ditangkup sunyi daun-daun yang mandi cahaya. Legenda kami adalah penaklukan puluhan binatang buruan. sebelum sampai ke telaga ini. Kami adalah bangsa pemburu yang besar. Sebagian dari kami langsung merebahkan tubuh atau bersandaran pada batang pohon dan gundukan batu. tetapi lebih untuk kebanggaan dan kehormatan. Gajah. Apalah arti kami bila tak lagi hidup sebagai pemburu. tetapi masih sanggup berlari 126 . buruan kami tetap saja melenggang bebas. tupai dan tikus. Kami seperti mengejar kilat. untuk memburu binatang-binatang. Maka mereka buru-buru menjauh pergi. Mereka sudah renta. Membuat kami cemas. Lagu-lagu kami adalah lagu-lagu perburuan. Inilah perjalanan terjauh dan terlelah kami. Kami sudah tahu bagaimana menyembelih wildebeest. betapa binatang-binatang di dunia ini perlahanlahan telah habis kami buru. sesekali meleleh oleh arus gelombang. Cerita-cerita penaklukan. rusa. Inilah pertama kali kami merasa begitu lelah. Hingga kami merasa benar-benar sendiri. Kami memandanginya dengan gamang. hanyut oleh pikiran kami. Siapakah yang tak tahu akan hal itu? Kami tak pernah gagal memburu sesuatu. Banyak di antara kami yang sudah berusia 7890 tahun. dari tahun ke tahun. nenek moyang dan anak cucu kami. Tak ada yang lebih terhormat bagi kami. Sampai kemudian kami menyadari. Telah kami jelajahi seluruh hutan. Membuat kami begitu merasa terhina. sejak kami masih dalam kandungan. Maklumlah. Sampai kelinci. setelah bertahun-tahun memburu buruan kami yang bergerak begitu cepat. Tetapi mungkin juga memang binatang-binatang itu sudah habis kami bunuhi. Angin bergegas pergi oleh kedatangan kami. melulurkan kesejukan pada lengan dan kaki yang bengkak. sementara orang-orang tua kami bagai tak bisa mati. serigala dan segala macamnya. Nenek moyang kami telah membentuk kami sebagai pemburu paling ulung. begitu tercium bau kami. Barangkali. bukan sebagai cara kami bertahan menghadapi hidup. melihat kehormatan kami akan goyah suatu ketika. Meletakkan semua senjata yang selama ini kami jinjing dan gendong. ular. mengantar tidur anak-anak kami. Kami beristirahat di pinggir telaga itu. binatangbinatang itu juga sudah terlalu hafal dengan kami.Para Pemburu Oleh: Agus Noor Purnama mengapung di telaga. Telah kami bongkar tiap lekuk pegunungan. macan. Kami mengembara dari satu benua ke benua lainnya. Setiap dari kami dibesarkan dalam belukar. Seperti juga semua makhluk yang ketakutan mendengar gemuruh kaki kami. Sebagian lagi menyempatkan diri membersihkan wajah terlebih dahulu. tapi tak gampang mati. selain menjadi seorang pemburu besar yang sanggup merobohkan gajah dengan satu gerakan.

Adakah yang lebih menyenangkan. Tapi sudah lama kami kesulitan menegakkan kehormatan macam itu.mengejar antelope. “Perburuan tak mungkin berhenti!” “Kita akan cepat renta bila sehari tak memburu apa pun!” “Takdir tak bisa dihentikan.” Dan para pesakitan itu pun kami lepas dengan upacara kehormatan. selain melakukan perburuan semacam ini? Mereka kami beri kehidupan sekaligus batas kematian. hingga pecah berantakan. . Anggap semua ini hanya permainan. tak hanya kami yang suka dengan permainan semacam itu. Kami membeli juga para penjahat yang telah divonis mati. Anak-anak kami pun nampaknya lebih suka dengan perburuan macam itu. dengan cara melarikan diri. Dan itu. seperti kami katakan tadi. Karena. Bahkan membuat kami lebih merasa sempurna sebagai pemburu. tapi manusia. daripada mati di tiang gantungan: tak lagi punya pilihan. banyak orang di luar suku kami. Tapi itu lebih baik bagi kalian. Semoga nasib baik bersama kalian.” “Lantas bagaimana?” “Apa pun yang terjadi kita mesti memburu sesuatu!” “Memburu apa?” Itu membuat kami terdiam. Tetapi kami tak bisa menolak. Mereka lebih menantang untuk kami taklukkan. orangorang besar di negara mereka. untuk ikut menikmati perburuan itu. baru kemudian kami memburu mereka. kemudian menghantam kepala binatang itu dengan kepalan tangan. perlahan-lahan. yang memang memiliki kebiasaan berburu seperti kami 127 . Inilah hidup yang sesungguhnya. sungguh. Kami iringi dengan lengkingan terompet dan juga dentuman meriam. Ketika kisah-kisah kami menjalar ke banyak negara. Kami tak lagi memburu binatang. Selamatkan kehidupanmu. Mula-mula. banyak di antara kami yang menolak. Sampai kemudian ide brilian terlontar. Maka kami pun membeli ratusan budak. puluhan kepala negara.. Mereka kami beri kesempatan untuk bebas. kalian masih punya kesempatan untuk memperpanjang kehidupan. Selamat jalan. Para bangsawan. Dan itulah kehormatan. mendatangi kami.. Lantas. sasaran perburuan yang menggairahkan. yang membuat kalian akan merasa memiliki harga sebagai seorang pesakitan. Mereka kami lepas ke tengah hutan. meski kami akan memburu kalian. Para penjahat itu. kami bunuh. membiarkan mereka lari dan menghilang. Jangan cemas. Kepada mereka kami tawarkan kebebasan. karena hal itu dianggap akan mengotori kemurnian darah pemburu kami. para bangsawan dan pengusaha besar. lari. Itu menjadikan kami begitu bahagia. untuk menggantikan binatang yang kini telah musnah. memang makhluk yang tak gampang menyerah. Kami akan memburu manusia. Memburu budak-budak itu lebih mengasyikkan daripada memburu binatang. Liat dan sigap. ketika dari banyak yang datang kepada kami itu adalah para jenderal. “Masuklah dalam hutan. kebiasaan baru tumbuh dalam kehidupan kami. Rupanya. semua binatang telah habis kami buru. Mati dalam perburuan ini lebih terhormat bagi kalian. Setiap detik adalah pertarungan. Menjadi tradisi. para raja. Banyak juga di antara kami yang mati dalam perkelahian. Meskipun kalian juga tak luput dari kematian.

terkadang. tak ada lagi kegairahan karena kemenangan. tetapi kami selalu dirundung sunyi. jangan sedih. Para pengusaha mensubsidi kami modal bermilyar-milyar. tetapi juga denting gelas dalam kehangatan pesta. dan kami tertawa bahagia. begitu melimpah buruan kami. “Kita harus melakukan sesuatu. Begitulah memang mestinya nasib penyair yang tak menulis syair pujapuji bagi keagungan kami. Malah sering para raja dan kepala negara memberi kemudahan kami dengan memberi lisensi untuk menghabisi para tokoh oposisi yang tak mereka sukai. yang telah menjadi sekelompok pemburu yang paling kuat. Kami terus memburu. menumpuk tengkorak kepala korban kami hingga menggunung sampai menyentuh awan. menjadi tak tertandingi. yang melintas bagai badai dan gelombang. seakan maut sudah menyentuh bibir orang tua itu. kami terus bergerak dari benua ke benua dari zaman ke zaman. Kami seperti kehilangan buruan yang mengasyikkan. Tak ada lagi yang berani menggertak kami. tetapi juga. Para raja dan kepala negara mempersilahkan kami untuk memilih rakyat mereka sebagai binatang buruan.” Gelas kami beradu. ketika kami memburu dan membantai orang-orang muslim di Bosnia. Perburuan bukan lagi perkara kebesaran dan kehormatan. Juga kaum intelektual yang selama ini mereka benci. Para jenderal menyediakan kami senjata-senjata paling mutakhir. sehingga permainan menjadi tak lagi begitu punya arti. ketika kami mengirim pasukan pemburu ke banyak negara untuk meluluhlantakkan apa saja. hingga pertarungan menjadi tak sepadan. yang sudah berumur 100 juta tahun lebih. Ah.. dengan dukungan dana yang melimpah. Kami perlahan-lahan meninggalkan cara hidup kami di hutan. Apalah arti semua itu bagi jiwa pemburu kami? Semua itu bukan lagi gairah petualangan dan tantangan. para demonstran untuk kami habisi. sendiri. Hingga kami tak lagi kekurangan buruan. ketika kami memburu ribuan orang Yahudi untuk kami kirim ke kamp konsentrasi. Jangan biarkan anak-anak kita menjadi pucat dan pasi. Suaranya sudah gemetar. Ketika kami menjarah perempuan dan membunuhi anak-anak. Kami bangun juga istana-istana. “Untuk apa mengumpulkan para kiai itu?” 128 . Di antara kemeriahan pesta. Kami menjadi kaum pemburu yang kian kokoh dan terhormat. Kami.dan memiliki lahan-lahan perburuan yang luas.. kami terus menuliskan sejarah kami yang agung. “Ini darah seorang penyair untukmu. dengan setiap malam tidur di ranjang yang bersih dan nyaman. Hidup pemburu agung! Kami pun menjadi kelompok pemburu yang besar. menggulung apa pun yang kami sukai. Jangan biarkan mereka menjadi lembek karena rasa sunyi ini. menyarankan kami agar mengumpulkan para kiai. ketika kami menembaki anak-anak Palestina. tempat kami berpesta setelah seharian berburu. mengijinkan tempat-tempat itu untuk kami kelola dan kembangkan sebagai ladang perburuan yang lebih menantang dan menyenangkan. Kami berdiri di puncak menara peradaban. Apakah arti kekuatan bila tak ada tantangan yang sepadan? Tak ada lagi yang sanggup melawan kami. Kami tak lagi hanya terbiasa dengan bunyi pedang.” Lalu seseorang yang paling tua di antara kami. melintasi gelombang waktu. Bahkan mereka menjanjikan kami lahan-lahan perburuan yang lebih luas. . pasokan senjata yang bagai anggur mengalir dalam gelas-gelas kami. Kami tak hanya punya kesempatan memburu para penjahat yang telah divonis mati. Itu sering membuat kami terusik sunyi. Karena kami sudah terlalu kuat. tetapi penaklukan yang membosankan. keisengan. tetapi kami bebas memilih siapa pun yang paling menyenangkan kami buru.

kenapa kami tak memburu malaikat? “Jibril! bagaimana kalau kita minta Jibril!” “Kami bersorai. kami akan membikin perhitungan sendiri. Apakah kalian akan shalat sepanjang hari? Apakah kalian akan berdoa dan mengaji? Apakah kalian akan menangkar atau menjebak Jibril dengan sebuah perangkap? Kami tak mau tahu dengan itu semua. tetapi masjid itu tak juga penuh. “kalian kami beri waktu satu bulan. katakan kepada kami.” tegas kami. Benar-benar masjid kecil yang tak terawat. Barisan kiai masih antri di depan masjid itu. “Kami ingin Jibril.” Lantas kami membiarkan satu persatu para kiai itu masuk masjid kecil itu. malaikat. membuat kami begitu ternganga. meski sesungguhnya heran. kapan kalian bisa menyediakan Jibril bagi kami?” Kami tatap wajah para kiai itu. kami segera mengumpulkan para kiai. Mereka kami datangkan dari semua penjuru. Ya.” Mereka. Apalagi ketika kami melihat sendiri masjid itu. Suruh mereka menyediakan malaikat untuk kita buru!” Kami terpukau oleh gagasan itu. “Baiklah. Panji perburuan berkibar.. “Kalian jangan bercanda!” teriak kami. Tetapi mereka menolak. . seperti barisan semut yang begitu tertib menuju lubang sarang mereka.” “Baiklah. Bila selama ini kalian tak bisa mendatangkan Jibril bagi kami. Kami turut kemauan mereka. para kiai itu. Membuat darah kami menggelembungkan jiwa pemburu kami.. sebelum maut menjemputku. bersulang. Pintu itu terbuka untuk menerima siapa pun masuk ke dalamnya.” “Apa hubungannya dengan para kiai itu?” “Kumpulkan mereka. ketika hampir separo dari jutaan kiai itu sudah masuk ke dalam masjid. Sekarang. dengan meminta kami mendatangkan Jibril. mencari kepastian dalam mata mereka. Seluruh bangunan itu terbuat dari pelepah kayu.” kata kami kepada mereka. Dan aku ingin.. Luasnya tak lebih dari lima kali lima tombak. berkelok-kelok mengikuti gigir bukit. Kami segera menghimpun topan. kalau perlu dengan paksa dan kekerasan. membangkitkan imajinasi kami. aku ingin menikmati perburuan yang paling menggairahkan. Jutaan kiai masuk ke dalam masjid yang bagi kami hanya cukup untuk tidur dua puluh orang. menyambut hari depan kami yang gilang gemilang. bagaimana cara kalian mendatangkan Jibril bagi kami. telah lapuk. itu 129 . dan meminta kami untuk membawa mereka ke sebuah kaki bukit di mana ada sebuah masjid kecil di pinggir hutan. Bagaimana tempat sekecil itu menampung jutaan kiai yang kami himpun dari seluruh penjuru ini. dari seluruh dunia. Kami segera mengeluarkan seluruh senjata kami. “Kalianlah yang bercanda. Dan tentu. Gairah menjalar. kami giring ke sebuah istana kami yang paling megah. anggur segera kami tuang dalam gelas.“Aku sudah mencium ajalku. “Kami tak mau tahu.. .

seperti daun yang melayang-layang itu.pun pasti sudah berhimpitan. Begitulah berkali-kali. Kami sudah cukup punya pengertian. Kami panggil namanya. Lantas kami tak bisa lagi sabar. orang kedua kami pun tak kembali. memperingatkan para kiai bahwa waktu sudah habis buat mereka. Segera kami kirim seseorang untuk menemui mereka. tetapi hanya gema dzikir membalas suara kami. sekaligus marah. tertelan dan lenyap. Pada saat itulah. Kami tak mau ditipu para kiai itu. Jibril. dengan cepat berlesatan ke arah selesat cahaya biru itu yang dengan cepat bergerak dengan sayap mengepak. 130 . Kami bakar masjid itu. di sana. Seperti batang-batang pohon yang bergoyang itu. Sampai kemudian semua kiai telah masuk dalam masjid itu. Sementara suara dzikir itu terus saja bergema. Kami panik. Dan. Namun orang itu tak kembali. hingga kayu-kayu bergemeretakan. Kami berteriak menyuruh para kiai itu keluar. luar biasa. roket dan basoka. tetapi tak kunjung keluar jua. Dan kami mendengar gema dzikir dari dalam sana. sepanjang hari sepanjang malam. Satu bulan lewat. takut mereka akan keluar dan meloloskan diri ketika kami tertidur. lenyap seketika. Kadang kami merasa ada yang menggemericik dalam hati kami karena gema itu. bagai masuk ke tabir ruang dan waktu pada dimensi lain. ya Allah. Tiba-tiba tubuh mereka hilang tak berbekas. Dan kami segera menyerbu. membuat kami tengadah ke puncak api. melihat impian kami sudah di depan mata. Kami terus berjaga. kami melihat selesat biru cahaya menatap kami. semua dari kami yang masuk ke dalam masjid itu. menyentuh langit. yang hanyut dibuai dzikir para kiai. bukan? Jangan salahkan kami. mengalun menidurkan rerumputan. menguap begitu cepat. membuat udara bergetar dan perasaan kami gemetar. gembira dan tak percaya. antara takjub dan panik. tak membiarkan seekor tikus lolos dari amatan kami. dengan sayap terentang sampai ujung paling jauh dari semesta. “Jibril!!” “Jibril!!” Seketika kami berteriak. Membuat kami tambah cemas menunggu. kini telah muncul di hadapan kami. dan api melahap cepat. setiap orang yang kami kirim untuk menjumpai para kiai. tetapi. kenapa kami malah bengong begitu? Maka. di pucuk api berkobar. berkobar dan segera kami lempar pada mesjid itu. masuk dalam masjid itu. Kami kirim utusan kembali. raib begitu saja. betapa memang inilah yang selama ini kami tunggu-tunggu. Namun dzikir itu masih kami dengar. utusan kami ini pun tak muncul lagi meski kami sudah menanti lebih lima hari. bersama angin dan embun. Gema itu melambung. di puncak kobaran api. tak pernah muncul kembali. itulah yang kami saksikan. dengan sigap kami segera meraih senjata-senjata kami. Membuat kami cemas. bagaimana mungkin? Tapi. kemudian kembali mengirim utusan untuk menemui para kiai di dalam masjid itu. Tapi seperti yang pertama dan kedua. jangan-jangan semua itu sihir belaka. anak panah. seseorang di antara kami berteriak. Tombak. Kami memagarbetis masjid itu. Apakah ini keajaiban yang dikirim bagi kami? “Buru!” Teriakan itu. Kami tak mau kecolongan. Tetapi seperti yang pertama. ketika para kiai itu tak juga muncul dari dalam masjid. desing senapan mesin. membumbung. Kemarahan kami menyalakan api di tangan. mendadak menyadarkan kami.

setelah bermacam pengalaman perburuan membuat kami jadi pemburu sejati. dan langsung melesat. 1995-1998 (Dongeng Buat Mas Danarto) (Dimuat dalam Horison. yang menyimpan bayangan bulan. Inilah buruan kami yang abadi. agar kami mampu meringkus Jibril. kami benar-benar tak pernah punya waktu istirahat. Ke mana pun Jibril melesat. melanjutkan pemburuan abadi kami. Tombak terus beterbangan. Kami tak punya waktu untuk memikirkan itu semua. Bertahun-tahun kami memburu. Sebagian besar dari kami kini benar-benar renta. perangkap telah kami pasang. Jiwa pemburu kami bergelora oleh gairah perburuan kali ini. meraih peralatan berburu kami. Setelah berabad-abad kami hidup sebagai pemburu.*** 131 Yogyakarta. jaring-jaring baja telah kami rentangkan. mengejar Jibril. kami sudah harus kembali pergi ketika pada bayangan bulan. “Ke sana!” seseorang dari kami berteriak. Banyak dari kami yang mati dalam perburuan ini. Membiarkan kaki kami koyak oleh duri. Dan memang. Kami tak mau kehilangan jejak. ranjauranjau telah kami tanam. hingga telah lama anak-anak kami tak lahir. Di seberang telaga sana. Karena kami harus terus mengejar Jibril. Januari 2000) . Inilah perburuan paling menakjubkan bagi kami. kami melihat buruan abadi kami. mengepakkan sayap-sayap cahaya-Nya. kami memburunya. Segera menghambur. kami lihat jejak cahaya. Ketika kami baru saja rebahan dan membasuh kelelahan kami di telaga itu pun. dan kami pun tak sempat menguburkannya.“Kejar!” Kami pun melesat. Kami tak sempat istirahat. Kami begitu sibuk memburu Jibril. Maka kami pun kembali bangkit. inilah sesungguh-sesungguhnya perburuan yang sejati. membiarkan rambut dan jenggot kami memanjang tak terawat. Sampai kami tiba di pinggir telaga ini. Kami tak pernah tidur di satu tempat. mengharap kesegaran akan membuat tenaga kami kembali muda. roket terus berlesatan.

dan lain sebagainya. dapat menduganya. Anak-anak remaja mengganti huruf pada Gang itu dengan k. apa pun namanya. Di sana. di jalanan yang sempit itu. sehingga menjadi Gank. di mana penduduk tinggal tumplek berdesakan. main galasin. Hotel Indonesia. semua orang mengenalnya sebagai Gang Haji Abdul Jalil. oleh tukang. anak-anak bermain gundu. Namun. yang bercampur-baur menjadi satu dengan penduduk asli Betawi. anak-anak menyibak ke tepi. seperti Taman Mini. main petak-umpet. Monas. untuk cepat dan mudahnya. atau melompat-lompat main engklek. 132 2 Di gang itulah aku dan teman-teman tumbuh dan dibesarkan. Kemudian mengumpul kembali memenuhi jalanan. Seakan. Kami telah lebur jadi satu: penghuni Gang Haji Abdul Jalil. Kadang-kadang. 3 Penghuni gang itu terdiri dari berbagai suku. main bola kaki. seperti setelah biduk lalu kiambang bertaut. main layangan. ada yang mengubahnya: Gank Haji Abdul Jackal. sehingga kami tak merasa lagi perbedaannya. berkejaran. beca terutama. Sementara gadia-gadis kecilnya duduk bersila main masakmasakan. Tak tahu siapa yang mengubahnya. 4 .Gank Oleh: Syahril Latif 1 Gang Haji Abdul Jalil adalah sebuah gang sempit yang terletak persis di depan Kuburan Karet yang terkenal itu. Tapi semua orang seperti sudah maklum. main congklak. Sebuah gang sempit yang tak berarti. yang terpaksa merayap pelan bagai keong. Apalah arti sebuah nama. setelah mobil berlalu. sehingga kau tidak akan menjumpai dalam kartu pos bergambar untuk promosi pariwisata. Dan apabila ada mobil lewat. disingkat saja menjadi Gang Jalil. Belakangan. siapa lagi kalau bukan salah seorang di antara kami. Tapi inilah gambaran kota yang sebenarnya. Dunia Fantasi Ancol.

sih? 133 6 Di sini dapat kau jumpai segala macam orang: tukang sol sepatu. pegawai negeri dan swasta. perawat dan lain sebagainya. “Yang di sebelahnya?” “Rumah pegawai Bea Cukai. Kok. 5 Sebagai gambaran kemiskinan. menjabat bagian basah. guru sekolah. dan tanya lagi. rumah-rumah. pelayan toko. berukuran kecil dan tak teratur bentuk dan susunannya. makelar. kami pun sederhana. tukang kayu. sopir. yang segera mengundang tamu atau teman kami yang datang berkunjung. montir. dosen. dengar-dengar bagian pembelian atau perizinan. bidan.Rata-rata.” “Lebih pantas lagi. semua kami miskin dan karenanya kami saling mengenal dan akrab satu sama lain. Kadang menumpang menjahit baju anak di rumah tetangga yang punya . Ada juga satu dua rumah gedung yang berpekarangan luas dan bertaman. ngurus hal orang lain. ibu-ibu kami saling pinjam garam atau korek api atau bumbu masakan kepada tetangga. pegawai negeri biasa saja.” begitu kami selalu menjelaskan. Tak tahulah. “Yang di seberangnya?” “Itu mah. pedagang kaki lima. tukang cukur. penjual nasi Padang dan Tegal. 7 Jika lagi kehabisan.” “Kok sama hebatnya?” “Maklum. Kadang-kadang mereka saling antar-mengantar sayuran atau makanan kecil. kenek.” kata mereka. satpam. tukang listrik. Dan tanya lagi. membuat kehadirannya bagaikan putri raja di tengah rakyat gembel. bertanya heran: “Rumah siapa yang cakep itu?” “Itu rumah pegawai pajak. “Pantas!” jawab mereka.” “Bagian apa?” “Tau.

Aunakum. Taanakum. Dan andaikata ada pompa air yang rusak. terdengar mengalun suara anak-anak mengeja Juz Amma dari madrasah: “Aanakum. Tiinakum. 134 9 Kurasa gang kami tak pernah sepi. melayang jauh dihantar angin siang. di saat warga sedang terkantuk-kantuk disengat panas Jakarta. Tsaunakum. anak-anak mereka sudah berbaikan kembali. tak bisa dirahasiakan. Tsaanakum. 8 Sesekali. lebih terkenal: gaple. Bainakum. tetangga lain akan cepat turun tangan memberikan bantuan perbaikan.mesin jahit. yang berantem. teriakan anak-anak bermain. Aromanya akan mengambang ke mana-mana. sungguh menitikkan air liur.. 10 Apa saja yang dimasak tetangga.. Biinakum. di luar pekarangan rumah. atau listrik yang korsleting. Yang paling cepat ketahuan. sementara ibu-ibu itu masih bersungut-sungut. Yang ini. Tsainakum. Iinakum. Taunakum. mengasyikkan. Atau juga. Begitulah cara ayah-ayah kami melepaskan lelah setelah seharian mencari nafkah membanting tulang. Uunakum. Tainakum. Anehnya. Tsuunakum . ke sepanjang gang. Tsiinakum. teriakan penjaja sayuran dan makanan. Dan lepas tengah hari. Tuunakum. ibu-ibu kami terlibat juga dalam pertengkaran kecil. mengantar kantuk. Buunakum. begitulah cara mereka membanting kesal ke atas meja gaple..” Ejaan itu mengalun dalam irama yang khas. Biasanya. Tak tahulah. boleh dikata selalu ada permainan domino. Baunakum. soal anak-anak. Ainakum. 12 . 11 Lepas Isya dan makan malam. Pada malam minggu. Baanakum. kalau ibumu menggoreng ikan asin. bisa-bisa berlangsung hingga beduk subuh. Macam-macamlah sumber kebisingan itu: radio atau kaset yang tak henti-hentinya distel.

Nampaknya kehadiran kami melegakan hati mereka. Sesekali kami larut juga dalam irama gambus. saling menenggang. Tony Handoko dan beberapa anak tertentu. kalau main gaple semalam suntuk. Menurut Ustadz Malik. dan yang lain segera menyorakinya. Najib. Tapi rasanya lebih intim dengan Hamzah. Sekali-sekali ada juga yang mencoba seriosa. Sekarang tidak. semua membuka matanya lebar-lebar. Sebentar mereka sudah dipanggil ibu mereka. ditingkah senda gurau dan gelak tawa tak berkeputusan. semua anak-anak Gang Haji Abdul Jalil adalah teman. menyanyi dan main gitar. Atau disusul adiknya disuruh pulang. Semua jenis lagu kami senang. Usia kami tak jauh beda. mulai dari dangdut. Kami yang muda-muda. mata itu bisa melotot terus sampai pagi. Heran. ikut hadir. Dulu ketika masih kecil. tanda setan sedang mengencinginya!” Tiba-tiba. kami saling menjaga. Di tengah pengajian sedang berlangsung. tapi tak kena: sumbang. Martin.Berbeda sedikit dengan hari-hari biasa. pop sampai keroncong. persis pengamen jalanan. kami yang muda-muda pun tak mau ketinggalan duduk menggerombol: ngobrol ngalor-ngidul. agaknya dangdut dan pop itulah. hampir sebaya. 15 Bagiku. 16 . 14 Sekali-sekali. sebagai basa-basi. sedikit kaget dan lantas tertawa. setengah menyindir: “Mata yang mengantuk kalau dibawa mendengar pengajian. ayah-ayah kami pada mengantuk. tak sampai larut. sekali sebulan pada petang Jumat. setengah melucu. Menertawakan siapa? 135 13 Jika yang tua-tua senang gaple. Kami menyebutnya ‘markas’. anak-anak cewek ikut nimbrung bersama kami. Tempatnya: gardu jaga siskamling. Tapi yang mendapat tempat di hati kami. Dan kalau bisa ingin berbuat lebih baik kepada yang lain. kami sering berantem. atau belagak memainkan musik jazz dengan gitarnya. orang tua-tua kami mengadakan pengajian di mesjid.

Di situlah ia bercokol. si Najiblah yang membuat kami semua merasa heran. Selangit. Soalnya setelah gagal sipenmaru. gerak tangan. Sejak jadi pemain teater. kalau dia lagi sendirian di teras rumahnya. biaya kuliah terlalu tinggi. Tapi Hamzah tidak marah. jalannya. “Maklum. Najib anak Ustadz Malik. Dan sekarang. Atau dikuburnya? Pokoknya lagu Barat melulu. dia sedang baca apa? George Bernard Shaw atau Hemingway atau Tolstoy atau Albert Camus atau Dokter Zhivagonya Boris Pasternak atau Thomas Elliot! Pokoknya: berat! 136 17 Kalau si Martin lain lagi. Agaknya ia tak bisa lagi mengecilkan suaranya. Maka dengan senjata ijazah SMA-nya diterobosnya rimba perkantoran kota Jakarta. ekspresi wajah dan lain sebagainya. nada suaranya agak dilantunkan bagaikan orang berdiri di atas panggung. Agaknya dangdut seperti sudah dilupakannya. guru ngaji di gang kami. Gayanya mirip-mirip Rendra. Tak acuh. Merasa lebih penting dan menonjol dari yang lain. bacaannya bukan komik lagi.Hamzah gitaris andalan kami. kalian tahu. seakan ia jauh dari kita. apakah dia masih bisa berbisik. Kadang-kadang ikut mentas ke kota-kota lain! 18 Kukira. bukan cerita silat lagi. Masuk kantor keluar kantor. Itu. Pokoknya. “Inggris. kayaknya bukan lagi Martin yang kami kenal selama ini: Martin yang lugu dan agak pemalu. gayanya overacting. disibukkan oleh latihan-latihan teaternya. deh. berat. Anak-anak hampir tak dapat menahan ketawa. Kalau ia bicara. sejak jadi mahasiswa Sastra Inggris paling getol nyanyi Inggris. cara tersenyum.” tambah yang lain. di luar jangkauan. ia tahu diri. maunya. Apalah yang dapat diharapkan dari pencarian ayahnya yang ustadz. Gaya bicaranya. Ia ikut salah satu kelompok teater yang sering mentas di TIM. ni yee?!” ejek anak-anak. Akhir-akhir ini ia agak jarang nongol di ‘markas’? Waktunya dihabiskannya di TIM. Mau melanjutkan ke Perguruan Tinggi Swasta. Tiba-tiba saja ia telah menjadi manusia aneh di tengah-tengah kami. tak mungkin. Akan hasil perburuannya itu. deh! Bayangin. benar-benar ia putus sekolah. Kami tak tahu pasti. bagaikan buku yang belum habis dibaca kita sudah .

akhirnya Najib mendapat juga apa yang dicarinya. rumah minum. Nah. Sejak itu kami kehilangan seorang teman kongkow. Satu-satunya perusahaan yang mau menerimanya adalah sebuah Pub. menguji keimanannya. sampai papanya reda dan terhenyak di kursi. Pokoknya. Setelah pernyataan pemberitahuan itu kepada papanya dan diberondong habis-habisan. Selanjutnya diberondongnya Tony dengan omelan tak berkeputusan. bagaikan disambar petir di siang bolong. pimpinan pesantren itu. ke Pesantren Bangil. Bekerja di bar itu dosa. bingung.tahu jalan ceritanya. Beberapa hari kemudian. Sampai kapan? Dan kami. Tony dan aku berangkat naik kereta api ke Jawa Timur. 137 19 Sebaliknya. Papanya sudah berangan-angan supaya Tony jadi akuntan dan akan mengirimnya ke Amerika. bersikeras pada papanya mau masuk pesantren.” pesan ayahnya. Papanya menyesalkan sangat keinginan Tony itu. Bahkan ia minta aku menemaninya selama seminggu di pesantren. Artinya. Kaget. Ayahnya Ustadz Malik tak tahu putranya bekerja di tempat haram itu. Pengasih dan Penyayang. dan semua orang di gang. Tony memintaku. Tony bungkem. dan ia tak mau jadi bahan tertawaan teman-temannya. Apakah ia suka atau tidak. Najib mulai bekerja di sana. . Lingkungannya tak memungkinkan. kalau itu diartikan secara harfiah: kerja. Sebenarnya. tapi dilakoninya terus. merunduk terus. Dan bahkan kini ia sudah tak shalat lagi. Teriak papanya: “Mau jadi apa kau?! Mau jadi santri miskin?!” Suaranya menggelegar sepanjang gang. Orang tak ingin menghancurkan perasaannya. Agaknya ia kalah. bersamaan dengan itu Allah ingin menguji Najib. Jelas Najib berbohong. dan tak ada tempo. Ia memerlukan teman dalam perjalanannya. sesuai menurut apa yang dikatakan Najib ketika suatu kali ayahnya bertanya. tak membantah sepatah pun. Najib merasa sangat terhimpit. setelah Najib ditest. tak alang kepalang. merasa berkewajiban menyimpan rahasia ini kepada Ustadz Malik. bagaikan rentetan tembakan senapan mesin sebagaimana yang kau lihat dalam film Rambo. kemudian ikut training untuk jadi Bartender. seperti musang. bukan main kagetnya sang papa. Papanya menganggap keputusan Tony itu benar-benar gila. atau kayak petasan gantung waktu sunatan. berang. tentu kau sudah dapat menebak. Karena Najib bekerja malam hari hingga subuh. kerja. kami. heran. Najib bekerja sebagai Satpam di sebuah perusahaan. jika Allah berkehendak memberi hidayah kepada hambanya. “Jangan lupa shalat. siapa sangka. Tapi Allah memang Maha Pemurah. Siang hari ia tidur. Dan ia tahu betul berbohong itu dosa. Untunglah hal itu diizinkan Pak Kiai. Tony Handoko yang agak ugal-ugalan itu. anak pegawai pajak yang gedongan itu. dan di mana mau shalat. Ketika hal itu disampaikan. Yang ia tahu.

. Saya percaya masih tersimpan benih-benih iman dalam dada papa. Sesuai dengan apa yang termaktub dalam Al-Quran. hanya mencari kesenangan dunia…. pengajian subversif. itu kata lain dari pada kerudung). kepadaku ia berkata: “Nanti sebentar papa akan sembuh juga. sebagaimana yang kita lihat di majalah-majalah atawa koran-koran. semoga Allah memberi papa taufiq dan hidayah. agar semua kami ditangkap. nampak kesal. Nah. dunia dan kesenangan melulu.. seakan dengan itu dapat dibeli semuanya: gengsi. Kini. menurut Ustadz Malik. anak-anak perempuanmu. Papa memang selalu begitu. apa pun namanya. surah Al-Ahzab ayat 59: “Hai. Aisah yang satu ini. Ia diminta ibunya pulang sebentar untuk menjenguk papanya. Saya hanya bisa berdoa. Tidak! Saya tidak akan pulang! Saya sudah bosan dengan suasana rumah!” Tony menarik nafas panjang. Engkaulah Yang Maha Tahu! Dan papa sampai hati akan mengadukan kelompok pengajian kami kepada yang berwajib. Dunia. Ya.” jawabnya pasti. saya bertanya: siapa yang sesat? Saya atau papa? Apa yang papa fikirkan hanya duit melulu . masak papa tega menuduh saya subversif. pengajian yang disusupi faham komunis.. kulihat air matanya menggenang. Ada lagi.” Pakaian yang menutup aurat. pimpinan Imam Hassan Al-Banna. teman kami juga. Ma. guru ngaji kami ditangkap! La hawla wa la quwwata illa bi 'l-Lah. Tapi Tony tak mau. istri-istri orang mu'min. Coba. Lanjutnya: “Kalau tidaklah karena takut dosa.. Sekarang sedang tersapu oleh gemerlapnya keindahan dunia 138 21 Sebenarnya. Tapi. saya dibilang sudah sesat? Dituduh mendapat pengajian yang sesat? . pada hari ketiga. Allah. Dan kesan pertama kita melihatnya. bukan?” “Tidak sekarang. “Itulah pakaian Muslimah yang sebenarnya. hampir menangis.. teman Maryam (nanti kalau ada tempo aku cerita padamu).. kesenangan . Begitu Surat Kilat Khusus yang kami terima. Ikut pengajian gelap. menjadi anak durhaka. yang suka “ekstrim” bukan Tony Handoko seorang. Maunya perintahnya saja yang mesti diturut.20 Sehari setelah keberangkatan Tony. Belakangan ada lagi yang menyebutnya pakaian wanita Ikhwanul Muslimin Mesir.. papanya jatuh sakit.. tapi miskin rohani.. Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu. dari ibu Tony. hampir saya tidak bisa memaafkan papa. martabat. sekarang pakai jilbab (itu istilah yang ngepop sekarang.” Aku mencoba melunakkan hatinya. tak lain tak bukan. Hendaklah mereka mengulurkan kain kerudung/jilbab mereka ke . anak buah fanatik pengikut Imam Khomeini. Kau lihatlah si Aisah.. Jelas ini fitnah! .… Apa dengan kekayaan itu dapat dibeli kebahagiaan akhirat? Papa sudah dipengaruhi oleh Dajjal yang bermata satu. Dan katanya: “Coba fikir. “Sekarang saya lagi kesal sama papa. persis seperti kaum wanita pasidaran Iran. Dan sebagaimana dikatakannya dalam surat kepada ibunya. Dalam batin. “Toh tidak apa pulang buat sebentar.

: suatu ketika Asma binti Abu Bakar masuk ke tempat Rasulullah sedang Asma memakai baju yang tipis (membayang tubuhnya).seluruh tubuh mereka. Aisah boleh bermantap-mantap. “Salah apa saya jika saya mengamalkan ajaran agama saya?! Toh. Kayaknya semua pakaian rok. Al A’raaf ayat 26 dan beberapa Hadis yang diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad! Pokoknya. Namun ia tetap dianggap melanggar. ia selalu berjilbab! Anak-anak yang iseng. lisan dan tulisan. “Dulu sebelum begini malah kau seorang modis. “Itu namanya. perancang busana. wanita yang telah sampai masa haid tidak boleh terlihat kecuali ini dan ini. Rezeki di tangan Allah. Tapi Aisah tak acuh saja. dan dosa yang dilakukan orang itu. Soalnya: jilbab yang kayak ninja itu. Semoga Allah mengampunkan ketidaktahuanku. walau warnanya sudah putih di atas dan abu-abu di bawah (sudah disesuaikan Aisah). dapat saya kutipkan sebuah Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Daud dari Aisyah r. ia berdosa dan aku pun berdosa. Dan siapa yang mau menjahitkan kepada saya? Terserahlah.” kataku pula. sama saja kita membagi dosa kepada yang lain. misalnya pada An Nur ayat 31. fikirku.. masih ada beberapa ayat dan hadis. kapan saja. bahwa negara menjamin kemerdekaan dan kebebasan setiap warga negara untuk memeluk suatu agama atau keper- 139 . sudah dibakar ludes! Atau dihanyutkan ke Kali Malang (tak jauh dari gang kami). Aisah mendapat kerepotan di sekolahnya (sebuah SMA Negeri di bilangan Kebayoran Baru). Aisah?” Suatu kali aku coba menduga kepadanya. Sebenarnya. Berkata mantap kepada kami anak-anak gang. baik yang maxi.” jawabnya. blus yang dulu. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal.” Mantap sekali ia. Oleh kepala sekolah. Dan dosaku dua kali lipat: dosa karena telah memberi yang salah. Aku tak tahu bagaimana kesudahannya. agar mereka tidak diganggu. Aisah. hal itu dijamin oleh Undang-Undang Dasar Empat Lima kita! Baca tuh pasal 29 ayat 2. di mana saja. Tapi lihatlah betapa cobaan yang dihadapinya.” katanya.. menjulukinya dengan “pakaian ninja”. Yang kutahu Aisah tetap tegar.” Dan dari Hadis Rasulullah Saw. kayaknya Aisah tak punya lagi barang sepotong pun baju model lain. sejak Aisah menjadi eskrim. “Itu waktu saya masih jahiliyah. midi.” “Kau ini aneh.. Garagara pakaian jilbab itulah. dengan ancaman sewaktu-waktu bisa dikeluarkan dari sekolah. “Apa pakaian-pakaian yang dulu itu sudah kau sedekahkan. tapi Saudara-saudara dapat mencarinya sendiri dalam Al-Quran. maaf. baju lengan panjang dan rok yang komprang kedodoran itu! Kepala Sekolah sudah memberi peringatan beberapa kali.a. apalagi mini. siapa yang mau saja. Sekarang siapa yang mau menjahitkan pakaian padamu kalau hanya jilbab melulu?” “Lupakanlah itu. maka Rasulullah melengah seraya berkata: “Hai Asma. Dan sejak itu. “Menyuruh orang membuka aurat. Dan Allah Maha Pengampun-Penyayang. ekstrim itu. ia dianggap melanggar peraturan seragam sekolah. barangkali.” dan beliau menunjuk kepada muka dan kedua telapak tangannya.

katanya sambil setengah berbisik. ‘kali... dong. Semua bertepuk kegirangan bagaikan anak-anak pramuka.. Apabila Aisah lewat di depan ‘markas’. belum merasa puas. ‘kali. “PKIiiiiiiii. Kan hanya orang-orang PKI yang sangat anti agama?” “Ya. plok plok plok plok plok plok plok... Aisah mengeluh: “Boleh jadi semua kita telah menjadi orang-orang munafik terhadap agama yang kita anut.cayaan dan untuk beribadah sebagaimana yang diajarkan oleh agama maupun kepercayaan itu! Nah. suka menggoda. mana yang lebih tinggi kedudukan hukumnya UUD 45 atau Peraturan Seragam Sekolah?!” “Jelas UUD 45. senang sekali. yang merokok itu. mengangkat bahu.. Aisah melanjutkan: “Itu tuh. Apakah ini tidak munafik namanya? Atau mungkin ada penamaan lain?” “Munafiiiik. Rupanya Aisah belum selesai. yang mabuk-mabukan itu.” Lagi-lagi kami keplok. membenarkan. yang terlibat narkotik itu.. anak-anak yang tadinya asyik-asyiknya menyanyi dangdut atau pop. ya (senyum. tak tanggung-tanggung! Tetapi sebaliknya. Begitu ia lewat. tertibkanlah siswa-siswa yang suka berantem itu. kalau mau ditertibkan juga. Kita curiga dengan berbagai prasangka.. aduh manisnya). suka becanda...” jawab kami spontan memberi semangat dan membenarkan Aisah. 140 22 Di mana pun.. plok plok plok. ini enggak ge-er. pengamalannya kita jegal. segera mengalihkan iramanya ke kasidahan: “Indung-indung kepala lindung Hujan di udik di sini mendung Anak siapa pakai kerudung Mata melirik kaki kesandung. Tiba-tiba seseorang memberi komando: “Tepuk pra-mu-ka!” Plok plok plok. tak pernah luput ia jadi godaan.” . Tilawatul Quran kita rayakan secara besar-besaran dengan biaya jutaan. yang suka keluyuran di jalanan atau ke disko pada jam-jam pelajaran! Ke sana alamat penertiban itu! Bukan kepada hak asasi orang?! Orang yang baik-baik seperti kita-kita ini lagi.!” teriak anak-anak serempak..!” tambah kami lagi. Mengembangkan kedua tangannya. Dan bertepuk tangan serempak..” celetuk kami. mencorongkan kedua telapak tangannya ke moncong: “Jangan-jangan kepala sekolah itu bekas PKI. dasar anak-anak.

kalian ini tak tahu aturan!” ujar yang lain belagak memarahi teman-temannya. Aku berhasil.” “O ya lupa.” “Anak-anak berengsek!” “Mereka cuma iseng. alimnya..” Dan macam-macam lagi.Aisah terus berlalu dengan senyum-senyum dikulum. Mereka menyingkir secara teratur.” 141 . persis kayak segerombolan anjing hendak berebut tulang.” Anak-anak pada sorak kegirangan.” “Sorangan wae?” “Mari. Kuatir mereka menggoda lebih jauh lagi. Mek!” Lalu kutarik Aisah ke toko kaset. “Tidak. “Ucapin salam dulu. “Wa'alaikum salam. “Waduh. Neng?” Dengan lembut Aisah menjawab. “Kau tidak diapa-apakan mereka?” tanyaku. kupanggil Aisah dengan suara lantang untuk mengagetkan anak-anak itu. Serombongan cowok SMA yang berpapasan dengannya menggoda Aisah dengan sikap agak kurang sopan. gue anterin. dong. buru-buru aku keluar. Aku sudah siap menghadapi segala kemungkinan. Mungkin. yuk?” “Ntar lu digampar bokapnya!” “Enggak apa asal gue dapat anaknya yang ca'em.. assalamu'alaikum. Sekilas kudengar. mengitarinya seakan hendak memangsa. “Ada cowoknya. Namun Aisah diam saja. “Wah. berkata: “Alangkah manisnya anak ini. dalam hati masingmasing kami. Jalan terus.?” 23 Suatu kali sedang aku asyik mentes kaset yang akan kubeli di sebuah toko di Benhil. kulihat Aisah berjalan seorang diri pulang sekolah.

Dan yang paling akhir anak orang kaya bermobil Baby Benz.. ampun. lain pula Maryam. Sejak itu ia dikenal secara luas. dan macam-macam acara lain. Bukankah salam itu doa. Cuekin aja!” “Dosa lho.. Hamzah belum pernah mengatakan secara terus terang. tiba-tiba seperti disunglap. Hamzah menaruh hati pada Maryam. main engklek. pemain film yang sedang in. maka terdengar bisik-bisik yang dikeraskan: “Baru lagi. melainkan kecantikannya yang membius itu. Sepantasnya kita mendoakan mereka pula. Gadis kecil yang kemarin-kemarin ini masih ingusan. “Tapi.. Maka sejak itu. Di lain waktu.. main loncat karet. yang artinya selamat dan sejahteralah anda. masih suka main congklak dengan teman-teman sebayanya. Kemudian pasangan anak muda itu pergi ke luar rumah untuk latihan menyanyi. Semua orang kagum padanya. ya ampun.” “Ya. ke restoran. geram. 142 24 Lain Aisah. Yang tercantik di gang kami.“Kurang ajar. Pokoknya selalu dengan cowok baru! Dan setiap kali Maryam dan padangannya lewat di depan ‘markas’. kalau berganti-ganti saja pemuda-pemuda luar datang berkunjung ke rumahnya. demikian menurut Hamzah.” kataku tak habis fikir pada Aisah yang satu ini. dari kuncup mekar menjadi bunga yang indah.” kataku. selalu dengan muka baru: penyanyi tenar ibukota. anak teater yang lagi ngepop. kenapa anak-anak gituan kau kasih hati?” “Kasih hati bagaimana?” “Salam mereka kau jawab. Bukan pada nyanyian. Dan. ada lagi yang mengajaknya pergi menonton. kami tak merasa heran.. ni yee?!” 25 Maryam memang cantik.. . pemain tenis yang lagi ngetop. Kukira. salam tak dijawab. Penampilan yang pertama mengejutkan banyak orang adalah ketika suatu kali ia ikut acara perkenalan penyanyi remaja di TV. Gadis kecil itu tumbuh jadi remaja yang amat cantik dan mempesona. Bahkan yang tercantik di ibukota republik ini. Dan Maryam sadar akan perubahan dirinya.

28 Dari bisik-bisik anak-anak cewek dapat kutangkap bahwa sebenarnya Maryam pun mencintai Hamzah. membesarkannya dalam kemiskinan yang berkepanjangan. yang ber-Baby Benz itu. yang tak mungkin dapat diraih kembali. 143 27 Tapi akhimya aku tahu juga. aku tak merasa betah lagi duduk lama-lama di ‘markas’ kami.“Tapi apalah arti kecantikan jika tidak disertai dengan ‘kematangan dan kedalaman’. Mungkin di malam-malam begini ia sedang mengetik puisi-puisi atau cerpen-cerpen. berani-berani takut. Dari bacaan berat mana pula Hamzah memperoleh ‘kematangan dan kedalaman’ itu. Memutuskan hidup jadi pengarang dan berhenti kuliah. 26 Suatu hari. ia ingin membahagiakan kedua orang tuanya. Dan terlebih dari semua itu. 29 Akhir-akhir ini. tempat di mana ia melarikan kepedihannya. Di antara kawan tak kulihat lagi Hamzah. Semoga hal itu menjadi tanda baktinya buat mereka yang telah bersusah payah. Dalam puisi-puisi dan cerpen-cerpennya dapat kutangkap kesepian hati yang dibawanya ke mana pun ia pergi. . Untuk itu ia siap berkorban. Sekarang ia bekerja di sebuah majalah. mungkin anak-anak lain tidak. Ia tak hendak dan berani menyatakan kepada ayah ibunya. berfilsafat. Hamzah mendadak pindah ke Rawamangun. Maryam seorang anak yang baik. ketika Maryam menyebarkan undangan perkawinannya dengan anak penguasa Real Estate. “Tidak!” jawabnya tegas. yang pergi membawa luka hatinya dalam kesepian di kamar indekosnya jauh di Rawamangun sana. Indekos di sebuah kamar yang sederhana. Namun perasaan ini disimpannya sendiri. aku tak tahu. Kali ini tampak serius dengan muka murung. Aku terperangah. seperti ada sesuatu yang terlepas dan hilang. seorang anak yang patuh. Dalam senda gurau dan nyanyian diam-diam menyelinap kesepian ke dalam hatiku. kutanyakan pada Hamzah apakah ia mencintai Maryam.” kata Hamzah pula.

Najib mungkin sedang mencampur minuman haram satu dengan yang lainnya. tertekan sedikit oleh perasaan rindu. Aku tak tahu sedang mentas di kota mana ia sekarang. 144 30 Suatu hari ayahku berkata dengan sedikit keras kepadaku: “Syamsu. nongkrong terus dengan bocah-bocah itu? Teman-teman sebayamu sudah pada bekerja! Contohlah mereka itu! Lagi pula. Masing-masing teman pergi membawa nasibnya sendiri-sendiri. Agustus 1990) . jauh dari keramaian kota. Batinnya tertekan.” 31 Malam hari ketika aku pulang dari mencari pekerjaan yang belum juga kudapatkan.*** (Dimuat dalam Horison. Namun ia tak bisa berbuat lain. Martin dan Hamzah. terpencil. Tony Handoko. Atau mungkin ia sedang larut dalam zikir yang dalam. Sedang mengapakah Martin sekarang? Lakon apakah yang sedang diperankannya sekarang? Hamlet tokoh yang selalu dibuai bimbang? Lama ia tak pulang. Ramainya masih seperti biasa.Tony Handoko mungkin sedang terbenam dalam kitab kuning bertuliskan Arab gundul. ayah sudah tak sanggup lagi membiayai sekolahmu. Nun jauh di desa Bangil. apakah kau tak merasa malu. sambil mengenang ayahnya sedang mengaji di rumah. aku selalu lewat di depan ‘markas’. Tiba-tiba aku merasa teramat sepi. Adik-adikmu masih banyak yang perlu ayah perhatikan. Tapi sudah tentu tak kulihat lagi di sana Najib.

Sam. Kita menikah pada 10 November dua puluh lima tahun yang lalu. dan mantan pacarku adalah istriku Ina. Padahal barang itu kami beli untuk menambah kebahagiaan istriku dan aku. “Hari itu ulang tahun perkawinan perak kita. Kuingat sekali. sebab kehadirannya merasa dikontrol oleh jam. Kami dulu mempertimbangkannya cukup lama untuk memutuskan di mana harus diletakkan jam yang sebesar itu. ya Sam?” ujar istriku suatu sore. Sore itu. Ina. bahwa mantan pacar istriku adalah aku. Orang yang kurang rasa humor mungkin heran. Tinggi jam itu setinggi tubuhku. aku dan Ina sedang duduk-duduk berdua sembari minum teh dan makan jeruk.” kataku. maka terdengarlah sebuah nyanyi. Nyanyian ini mengisi kalbu istriku dan kalbuku sendiri. “Betul. Bila loncengnya berbunyi. Kami ketawa bersama.” “Kalau begitu tinggal 4 hari lagi. . Mereka harus diberitahu. Kami suka mengulangi lelucon yang sama itu setiap ada bekas teman sekelas hadir.” kataku. siapa yang datang pada pesta kita itu?” “Mantan pacarmu. Jika ditaruh di ruang tamu. Ini karena ulah jam itu.” “Ingat enggak. kelak tamuku akan cepat pulang.” “Kamu tentu ingat tanggalnya. “Sebentar lagi kita akan merayakan ulang tahun perkawinan kita yang kedua puluh lima. Walaupun akhirnya mengesalkan. Istriku menjadi perempuan yang bawel. hanya untuk perkawinan perak itu saja kami berdua sangat sibuk. tetap saja aku mencoba memetik kenangan lama yang indah setelah jam Junghun itu mengisi ruang tengah rumah kami.Lonceng Oleh: Motinggo Busye 145 Jam dengan merk Junghun itu belakangan ini menyengsarakanku. “Juga mantan pacarmu. Tentu lelucon ini menambah semarak suami-istri. Sedangkan kami berdua membutuhkan tamu.” katanya.

Kadang sudah pergi kembali lagi ke toko sebagaimana terjadi pada hari itu. aku meremas jari tangan istriku. ketika uang dihitung. “Kita menemukan pilihan jam antik.” ujar istriku. Ke- 146 . dia menyanyikan satu bait saja. Kami justru menciptakan humor baru ketika harus ber-navy-navy. aku tak tahu dan tak perlu tahu. Maka kutinggalkan beberapa lembar di tasku agar kamu ikut membayar juga. Tapi irama lagu lonceng jam ini melebihi seluruh musik klasik kesukaan kami. Lalu.” kata istriku.Kami telah pergi ke Pasar Glodok untuk mencari sebuah barang yang bisa dipajang di rumah dan punya kesan abadi.” kataku. Istriku melotot setelah aku sebutkan harga yang diberitahukan pemilik toko jam itu. Kami meniru para pelaut yang suka bayar masing-masing bila makan di restoran. “Sebenarnya aku menguji apakah kau masih kikir. Terdengar satu nada indah mirip lagu yang menyentuh perasaan kami. Ketika pada seperempat jam.” Istriku telah dikunci tanpa alternatif. “Ini benar-benar abadi. Ketika kami lewati beberapa toko. “Tanyakan harganya. remasanku lebih kuat lagi. “Coba Nyonya cari di seluruh Glodok ini.” ujar istriku. Saat itu adalah pukul 00. secara mendadak dan serentak langkah kami berhenti. Kebiasaan ini bukan selalu buruk. kurang sedikit. Apa suami-suami yang lain di dunia ini juga seperti itu. Ketika loncengnya berbunyi 1 kali.00 pada hari 10 November. aku dan istriku berpelukan. Dia selama tiga hari kami tunggu berbunyi. Sam. Cuma saya yang jual merk Junghun ini. makin sering aku disuruh istriku dengan nada setengah memerintah. Ketika loncengnya berbunyi menyanyikan irama indah itu. Bertahun-tahun kami menikmati duduk berdua menunggu lonceng jam itu bernyanyi setiap seperempat jam. aku menggenapi kekurangan itu. Kebetulan kami berdua menyukai musik klasik. Di toko saya cuma tinggal satu ini.” ujar sang pemilik toko. Makin larut perkawinan kami. Kebiasaan istriku adalah sama dengan kebiasaan banyak perempuan di jagat ini: menawar terlalu rendah dan berlama-lama untuk jenis satu barang. kami menganut aliran navy-navy. Aku dan istriku saling menatap. “Merknya Junghun. Dari masa berpacaran dulu. Setelah dua tiga toko kami masuki. Sebagaimana biasa. "Merk ini nomor satu. Jam Junghun telah kami taruh di ruang tengah. Lonceng jam itu memberikan zat rohaniah pada diri kami. dan ini juga satu-satunya. Sam. Dan ketika gema 12 kali masih mendengung. Ketika setiba di rumah.” “Ya kurangilah separohnya.” Memang begitu. tak ada satu pun benda yang berkenan di hati kami berdua. istriku bilang.

Perkawinan kita 40 tahun tanpa anak dan cucu. ajaib sekali.” katanya. lalu menyetel jarum panjang dan jarum 147 . ”Si Aimah. Yang ada di sini adalah aku. aku dan Ina sudah berpelukan. kamu suka membisu. dan pada waktu satu jam.“ sambungnya. ketika aku harus berhenti sewaktu kita menikah sudah pasti ada seorang gadis yang senang. kamu dan jam dengan loncengnya itu. sama pula di perguruan tinggi.” Aku memilih diam. dan terutama karena adanya kamu.” Tetapi. “Tapi aku betah di rumah bukan karena lonceng jam ini. dan sama pula selesainya. Biasanya kalau jam itu mati. “Kita tak perlu bertengkar lagi. Jadi Ina cuma berdinas 1 tahun kerja saja. “Kalau kamu kawin sama Aimah. “Mungkin kamu betah di rumah karena lonceng ini. Dan inilah yang bikin aku marah dan kami bertengkar. jika ada dua orang menikah di satu ruang kerja. Orang yang sama sekelas di SMA. Tetapi pertanyaan itu agak aneh di telingaku.tika setengah jam. akan sama nasibnya jika melamar di kantor yang sama di bidang yang sama pula: jika menikah. Padahal dia amat mencintaimu. Padahal jam ini sudah 15 tahun di rumah kita. mungkin kamu sudah punya anak dan cucu. lonceng jam menyanyikan lagu itu. Ketika tiba tiga perempat jam.” ucapnya. Sam?” kata istriku. “Aku tahu. Sam. Sebelum empat bait lagu itu bergetar. yang perempuan harus mengalah menjadi penunggu rumah. Aku betah di rumah karena sudah memasuki pensiun. Peraturan kantor memang. dia menyanyikan dua bait. “Kenapa kamu tidak kawin lagi saja. “Kalau aku bicara soal si Aimah. Pernah juga istriku bertanya. empat bait komplit. aku bisa memperbaikinya. Ketika pertengkaran itu terjadi. “Kita tak pernah merasa tua oleh lonceng jam ini ya.” kata istriku.” kataku. Sam?” Makin tua dia masih pencemburu seperti dulu. tiga bait. Akhirnya aku bertengkar juga karena dia lagi-lagi menyebut nama Aimah.” kata istriku lagi. “Ya. yang perempuan harus diberhentikan dengan hormat. Yaitu menaikkan kerekan rantai tiga bandulan itu.” “Sudah gaek masih gombal.

” “Sudahlah. ahli pembetulan jam dan piano. Dia ini ahli jam generasi penerus ayahnya. orang di rumah itu mengatakan. Istriku senyum mencemoohinya. Tapi kenapa betulin jam saja sudah salah. Sam. Dia marah. jam ini berbunyi 36 kali. Ina. Sam. Dimulai dengan cekcok mulut lagi. “Itu logis saja.” “Sudah. diam kamu.” kataku. Dia tidak berbunyi 12 kali pada waktu pukul 12. bahwa “Ami Assegaf” sudah wafat. Bertahuntahun dia membuat kita berdua menikmati irama loncengnya yang pernah bernyanyi merdu.” kataku ketika memperkenalkan tukang arloji itu kepada Ina. Pukul 12 bunyinya 6 kali. Kali ini loncengnya berbunyi tidak cocok lagi dengan waktu. Dan istriku terus pula menertawakan kegagalanku walau tanpa perkataan “tolol”. Keringat membasahi bajunya. Aku kan tidak bilang kamu tolol.” kataku pada Ina. sekaligus menyebarkan bau ketiaknya di ruang tengah kami yang nyaman. Kamu makin tua makin cerewet. ada orang Arab di Tanah Abang. Dua tahun menjelang ulang tahun perkawinan emas kami. Menurut pemilik toko di Glodok itu. “Aku tak bertemu dengan orang Arab itu. namanya Mahboub Assegaf.” Aku mencari ahli jam. “Kau bilang dulu kamu menguasai ilmu listrik.” “Aku mau keluar. Bahkan mencak-mencak. Bahkan ngawur. Kita jual saja jam Junghun ini. “Tenang dulu. Ina. Anak muda itu bekerja keras. Kalau mau beli buah kurma dan kismis.00 tengah malam 10 November. Dia katakan. Jangan. “Oh si Aimah itu turunan Arab ya?” “Coba tenang. Bahkan dia mengenal Ami Mahboub Assegaf. kita tak boleh merusak kenangan yang diberikannya. ada dijual di sini. aku pergi ke Jatinegara. dan bunyinya harus tepat 12 kali pada pukul 00." 148 . Ketika aku tiba di rumah Arab itu. Kita beli yang baru. Tapi itu tidak berarti aku tak 'kan bertengkar lagi dengan Ina.” “Kamu makin tua makin tolol. Akhirnya dia berkata putus asa: “Maaf. Jangan jadi nenek sihir lagi. Dan aku gigih terus memperbaikinya.” kataku. Seorang tukang arloji kubawa ke rumahku. aku terus berusaha agar jam Junghun itu bisa menyanyi lagi. Ina. Istriku mendehem. "Jam ini penuh kenangan.” “Mau cari Aimah?” “Bawel kamu.” Aku mengalah.pendeknya untuk menyesuaikan waktu.

Dia mulai berlangganan dokter spesialis penyakit dalam.“Cukup. Ina. Nak. Memang dia gila. Manusia tidak boleh ditaklukkan oleh benda yang bermerk Junghun. sampai aku berhasil! Aku merayakan pesta emas 50 tahun perkawinan kami. saat itu istriku tidak mendengarnya. dan tak 'kan pernah mendengarnya. Suatu malam dia menjerit karena satu mimpi buruk. Ya. kurayakan pesta emas perkawinan itu seorang diri. Manusia harus mengalahkan benda mati ini. Sayang.00 jam itu bernyanyi empat bait komplit. Katanya. Tengah malam pukul 00. Kita jangan panik. September 1999) . “Sabar. lalu mendentingkan loncengnya 12 kali. Aku akan coba perbaiki sendiri. Istriku menyebut lagi perkataan “tolol” itu.” kataku yakin.*** 149 (Dimuat dalam Horison. Yang mulai menjadi korban jam Junghun adalah Ina. Ia menderita tekanan darah tinggi. jam gila itu berbunyi 120 kali. diiringi kemerduan lonceng jam Junghun yang amat sangat indah. Ini menambah semangatku.” kata istriku.

sedang kedua orang tuanya selalu sibuk dengan usaha dagang mereka. Dongeng-dongeng itu begitu indah dan memukau. Damarwulan. Dan setiap kali gelembung-gelembung sabun itu pecah dia merasakan satu kekecewaan seperti tergugah dari impian yang mempesonakan. Dengan hati-hati ditusuknya gelembung itu dengan ujung jarinya. Dan dia tak bisa mengerti kenapa orang tuanya meninggalkan Negeri Leluhur yang begitu mempesona. Aryo Jipang. satu gelembung tetap bergantung di ujung pipa rumput kering itu tak mau pergi. Persis seperti masa kanak-kanaknya di halaman belakang rumahnya di Noumea. Hanya secara kebetulan suatu hari salah seorang saudaranya begitu jengkel dengan pertanyaan yang selalu berulang-ulang memberikan jawaban yang cukup memuaskan. Sering satu atau dua jam merendam diri sambil mempermainkan buih-buih sabun yang memenuhi bath tub dia bisa merasakan kesendiriannya dan melupakan persoalan-persoalan yang menjerat perasan serta pemikiran. Buih-buih sabun itu semakin bertambah setiap kali dia berkecimpung. Dan dia begitu tertegun. Warna-warni pelangi terpantul dengan indahnya. Suatu kali. Ibu?” Bila ada waktu ibunya dengan tak bosan-bosan bercerita dongeng-dongeng Panji. Dia pikir bila gelembung ini terbang nanti bersama potret dirinya itu. Setiap pertanyaan yang dilontarkannya selalu lewat tanpa terjawab. Joko Tingkir. permainan dan impiannya justru mengukuhkan rasa sepi dan sendiri. “Di negeri leluhur kita. Juga nampak bayangan dirinya yang lucu. kau tak akan pernah merasa sepi atau sendiri. Ken Arok. Nak.Lelaki Tua dari Noumea Oleh: Waluya DS 150 Seperti biasanya untuk menghilangkan ketegangan urat-urat badannya lelaki tua itu mengambil bubble bath. Diamatinya dengan lebih teliti gelembung itu. Dengan hati-hati dihembusnya gelembung itu yang semakin membesar. Sutawijoyo. dia pasti akan bisa melihat rumah-rumah.” Begitu tutur ibunya suatu hari waktu dia merengek karena tak ada kawan bermain dan beberapa saudara tuanya tak ada di rumah. dengan pipa dari semacam rumput kering dia menghembus air embun dan belasan gelembung beterbangan dipermainkan angin. mungkin ada awan atau saudaranya yang lain di dalam gelembung itu. Ki Pemanahan. . bahkan juga bagaimana keramatnya Kreto Kencono Kanjeng Susuhunan. “Ceritakanlah negeri leluhur itu padaku. Diamatinya kedua telapak tangannya yang penuh dengan buih-buih sabun yang memantulkan warna-warni pelangi. pepohonan serta sungai-sungai dari angkasa. Tapi dia belum mau melepaskan gelembung itu karena dia takut potret dirinya itu nanti akan merasa sendiri dan sepi di angkasa. Sesekali ditiupnya buih-buih itu dan beberapa gelembung melayang berputar-putar.

“Rupanya dongeng-dongeng ibu telah begitu meracunimu. pendeta Belanda yang akhirnya membaptisnya sebagai orang Kristen telah membukakan lembaran baru dalam hidupnya.” “Tapi namaku bukan Rio. Lebih baik kau coba membina hidupmu di sini. Rio. bukan? Untuk menghindarkan hal-hal yang tidak di inginkan. bapak merasa tidak punya tempat dan hak. Lupakanlah dongeng-dongeng dan Negeri Leluhur itu. “Kau mau tahu jawabanku atau mau protes melulu?” Dia hanya mengangguk karena jawaban saudaranya terasa lebih penting daripada mempertengkarkan namanya. bapak melakukan usaha dagang bersama yang cukup berhasil. “Bagus. “Nah. itu lebih penting. Pertemuannya dengan Tuan van Stifhout. ada huru-hara yang dilakukan oleh kalangan tentara penjajah Belanda yang didalangi Tuan Sneevliet. Dengan salah seorang anggota jemaah gereja yang lain Babah Loo Cin Yong. Rio. Dia lebih senang dipanggil dengan nama sebenarnya yang lebih punya bobot karena nama Aryo mencerminkan darah bangsawan yang mengalir di tubuhnya. Salah satu di antaranya.” “Tapi itu hidupku sendiri.” “Namaku Aryo dan bukan Rio. bapak membawa kita untuk memulai hidup baru di Noumea. Kebanggaan yang baru kau tunjukkan itu tak ada artinya sekali di sini.” “Aku hanya ingin supaya kau tak kecewa nanti. 151 . Tentu hasil usaha dagang itu juga dipakai untuk membiayai kegiatan mereka. karena cintanya pada kita semua. apa kataku. Jangan kau biarkan angan-anganmu menggelembung dan menelan dirimu sendiri nanti. Kau hanya harus terima utuh. Sebagai keluarga bangsawan jadi Kristen dan punya usaha dagang dengan orang Cina terlalu memalukan keluarga.” protesnya. Setiap adat dan kebudayaan punya kelebihan dan kekurangan yang tak bisa dicomot di sana-sini. dia merasa terpenjara oleh adat dan kebudayaan yang lebih merupakan beban daripada usaha manusia untuk memuliakan hidupnya. Dan juga diberitakan bahwa usaha dagang bapak sebenarnya hanyalah usaha terselubung untuk memudahkan gerakan kader-kader Komunis. Kau sudah menunjukkan satu kemajuan ke arah pemikiran yang praktis dan realistis.” “Maksudmu?” “Dengan bapak kita di Negeri Leluhur dahulu. Banyak usaha dilakukan untuk mendepak bapak.” potongnya. Sebagai putra seorang pangeran yang dilahirkan oleh salah seorang selir. waktu itu kau masih dalam kandungan. Didesas-desuskan bahwa bapak ikut terlibat hanya karena pernah terlihat berbicara dengan Tuan Semaun yang merupakan kader Tuan Sneevliet. Orang selalu dengan gampang mencelupkan tangan untuk ikut mengeruhkan suasana.

bukan? Semua perayaan itu selalu menggodanya. “Tapi bukankah itu justru kelebihan kita?” belanya. Semua urusan ketatanegaraan sudah diatur oleh orang pribumi sendiri. Dengan melarikan diri bukankah ini justru memperkuat tuduhan yang sebenarnya.Pernah kudengar bapak sedang bicara pada ibu bahwa bapak tidak menyesal sama sekali meninggalkan Jawa. Beberapa tahun setelah kita menetap di Noumea. Dia merasa begitu bahagia bahwa ternyata dongeng ibunya bukan hanya omong kosong belaka. Lebih baik memulai satu kehidupan yang baru seperti nasehat saudaranya. orang-orang Perancis. Kalau kita tak mau tahu-menahu soal asal-usul 152 . Apalagi ketika dia tahu bahwa Sri Sultan menjabat wakil presiden. Orang Perancis datang dari Eropa dan dirinya pasti punya tanah asal. Memang tidak gampang memisahkan benang yang kusut. Betapa gembiranya ia ketika suatu hari sebuah kapal berlabuh dengan kelasi-kelasi yang bisa berbicara bahasa Jawa yang sedikit-sedikit dia bisa mengerti. orang-orang Kanak. di Noumea yang semasa bukan tempatnya. Hanyalah orang Kanak orang pribumi. Dan para kelasi itu bilang kapal ini akan jadi kapal pelatih bagi pelaut-pelaut Indonesia. sebuah nama yang pernah didengar dari dongeng ibunya. Para kelasi itu menjelaskan bahwa daerah ini hampir meliputi sebagian besar daerah Sumpah Palapa Gajah Mada. Dia merasa bangga ketika tahu bahwa tak ada pemerintah penjajahan lagi. Rio! Lupakanlah angan-anganmu itu. bapak dengar khabar bahwa orangorang Komunis atau yang dicurigai sebagai Komunis dibuang ke Digul oleh pemerintah penjajahan. Dia merasa tidak begitu akrab dengan nama Indonesia. Tapi ternyata punya pijaksana yang nyata bahwa keturunan Parikesit masih punya kekuasaan di pulau Jawa. dan dirinya begitu berbeda. Bahkan dia merasa beruntung mengambil keputusan sebelum tuduhan atas dirinya menjadi-jadi. Kenapa harus merisaukan martabat keluarga yang sebetulnya tidak dengan tulus menerima bapaknya sebagai bagian dari keluarga itu? Bukankah tanggung jawab bapaknya sebenarnya hanya pada keluarga mereka sendiri? Seharusnya bapaknya lebih baik tetap di Jawa untuk membuktikan bahwa dia tak ada hubungan sama sekali dengan kaum Komunis. Dan pulau Jawa hanyalah sebagian kecil dari Indonesia. Tiba-tiba dia merasa punya tugas yang harus diemban untuk mengembalikan kekuasaan mutlak Sri Sultan. namun dia hanya diam saja karena sudah berjanji tak akan bertanya-tanya lagi. tapi daerah Perancis Selatan. Kau kira orang-orang Jawa di sana tak mampu mengatasi tantangan hidup mereka dan memerlukan uluran tanganmu?” damprat saudaranya ketika dia merasa sebagai titisan Nabi Musa yang harus membawa orang-orang Jawa di Kaledonia kembali ke tanah leluhur. Sedang Ngayogyakarta Hadiningrat menjadi daerah istimewa di bawah kekuasaan Sri Sultan Hamengku Buwono. Kehidupan dan tata cara mereka tak ada yang berubah bukan? Lalu bagaimana dengan pendatang-pendatang Vietnam? Mereka mengirimkan uang dan senjata untuk melanjutkan perjuangan melawan kekuatan Komunis. Dia betul-betul merasa tersisih mencari tempat berpijak meskipun saat ini hanyalah dalam dongeng-dongeng dan kerinduan pada Ratu Adil. Kapal itu bernama Dewa Ruci. Kita semua punya hidup yang harus diurus di sini.” Jawaban saudaranya itu justru menimbulkan beberapa pertanyaan baru. Bagaimana kalau semua itu hanya tutur kata untuk menghiburnya saja? Tapi setiap kali melihat sekelilingnya. “Kau sudah gila. Tapi tak bisa di sini. Mungkin dongeng-dongeng dan riwayat bapaknya sebetulnya tak pernah ada. Daerah ini bukanlah daerah Pasifik. “Lihatlah orang-orang Perancis ke mana mereka berkiblat.

Tapi yang ada tinggallah tubuhnya yang harus ditunggu kerelaannya melepaskan dunia yang fana. Kau tahu satu-satunya kesalahan mereka justru karena mereka tidak berasal dari manamana. Akhir-akhir ini kami semua merasa begitu khawatir tentang kegilaanmu yang semakin parah. Dari seorang kawan dia mendengar bahwa di Monash ada seorang Profesor Yahudi yang ahli dalam bidang politik di Indonesia dan juga seorang Profesor Belanda yang ahli dalam masalah Mataram. Dia begitu tertegun membaca surat terakhir Dewi padanya: Jangan marah. Kata dokter otaknya sudah rusak karena kekurangan zat asam. dan jangan kau biarkan kegilaanmu itu berlarut-larut. Tumbuh harapannya suatu hari nanti Dewi akan bertemu dengan salah seorang pangeran dari Jawa dan mereka akan menurunkan Ratu Adil yang senantiasa dinantikan itu. Memang langkah pertama mewujudkan impiannya itu semakin kabur setelah Jatmiko. Dia merasa perlu pergi ke Melbourne untuk memberi beberapa petunjuk pada Dewi. Dengan melakukan hal-hal yang positif akan mengembangkan self esteemmu. Aku lebih menemukan arti serta diriku sendiri dengan belajar melukis di Victorian College of The Arts. Kami sadar menghadapi beban mental merawat Jatmiko yang mati tidak hidup pun tidak. Rio. Dia ditemukan dalam keadaan lumpuh. Tak ada seorang pun selain istrinya yang setia mencoba memahami jalan pikirannya. Dewi memang tumbuh menjadi wanita yang anggun semampai dengan tingkah yang lembut mempesona di samping otaknya yang cukup cemerlang. Sekali lagi gelembung-gelembung impiannya retak.kita dan hanya memikirkan hidup kita di sini saja. Mereka menjadi golongan minoritas dan kehilangan hak di tempat mereka sendiri. Jatmiko memang masih hidup. dari Profesor-profesor itu aku tak belajar apa-apa sama sekali. Kakek. Cobalah turun tangan bersama kami mengembangkan keluarga. Mungkin kami harus mengundang dokter jiwa untuk memeriksamu. anak satu-satunya mendapatkm kecelakaan ketika menyelam di laut. Dan pendapat tanpa diberi ujud nyata dalam perbuatan bagiku tak ada nilainya sama sekali. Rio. Mata inti dari kuliah-kuliah mereka bisa dengan gampang kudapatkan dari buku-buku. Tapi dia masih belum merasa bahwa impian itu sudah di luar jangkauannya. Untuk menjembati pertemuan Dewi dengan pangeran dari Jawa itu Dewi dikirimkannya ke Melbaourne untuk menggali ilmu di Universitas Monash.” “Bicaramu sudah begitu ngawur. Sadarlah. Dengarkan kami baik-baik. Apalagi masih harus menga-suh cucumu Dewi bukan soal yang gampang. Namun setelah beberapa tahun di Melbourne. 153 . kita tak akan jauh berbeda dengan orang Kanak. lewat surat-suratnya Dewi tidak pernah menyebutkan pengetahuan barunya soal Jawa. Soalnya setiap orang bisa punya pendapat. begitu berat. Rasa kehilangan Jatmiko bisa segera terobati karena sepenuhnya perhatiannya tertumpah pada Dewi yang kehilangan ibunya waktu dilahirkan.” Dia merasa usahanya membujuk sanak saudaranya sia-sia belaka.

Bukan salah Dewi kalau dia tidak mengerti rencanamu. Sedapat mungkin diusahakan menunjukkan sikap kebijaksanaan calon seorang eyang buyut. “Wah. Banyak garis bengkok yang masih bisa diluruskan pikirnya. Tapi mereka tidak pernah menyebutkam rencana kawin sama sekali. Kakek dan Nenek seperti sedang berbulan madu saja.” Dewi dengan wajah yang berseri-seri muncul di depan kamar ketika dia membuka pintu. “What a lovely surprise. Mungkin karena ada John. Dan peluang untuk ketemu dengan Sang Pangeran Jawa itu juga akan lebih besar.” bujuk dan peringatan istrinya yang hampir selama perkawinan mereka hanya selalu mengiyakan kehendaknya dan hampir tidak pernah menyatakan pendapat sendiri. “Kakek dan nenek menginap di hotel apa?” “Windsor di Spring Street.” goda Dewi walaupun dia tahu bahwa kakeknya selalu punya selera yang tinggi. Tanpa memberi khabar pada Dewi. Sejak kapan Dewi berbahasa Inggris pada mereka. langsung memberikan ciuman di kedua belah pipinya.” Sejauh ini dia masih merasa bisa mengontrol keadaan. Dia harus merasa tetap tawakal dan sabar. Sebelum mereka pergi. itu hotel yang mewah. Ini Rio dan Handayani.” jawabnya sambil memberikan nomor kamar mereka. ternyata dia masih bisa menahan diri dengan mengajak mereka makan bersama malam nanti. Melbourne terasa begitu teratur dan rapi. Dewi sedang menantikan kelahiran anak pertamanya! Merasa dirinya sebagai priyayi Jawa dia tak bisa menunjukkan perasaannya yang sebenarnya. 154 . Dia begitu senang bahwa Hotel Windsor adalah hotel yang mapan punya sentuhan kolonial. Tak ada angin. Di situ ada perguruan tinggi seni lukis dan sekaligus juga merupakan pusat kegiatan kesenian tradisionil Jawa yang adi luhung. “Untung tidak ke Southern Cross. dia dan istrinya menuju ke Australia. karena John harus memberi kuliah dalam waktu setengah jam lagi. Sedang kesan pertamanya seperti begitu formal dan konservatif. Rio.“Jangan tergesa-gesa marah. kakek dan nenekku. Setelah makan siang mereka menelpon Dewi yang tidak menyangka sama sekali bahwa kakek dan neneknya ada di Melbourne. Dia pikir kalau Dewi memang tertarik pada dunia seni mungkin lebih baik dikirim ke Yogyakarta. John. salah-salah kakek dan nenek bisa dikira turis dari Jepang. “I have a surprise for both of you too. tapi paling tidak pada mulanya Dewi seharusnya menyapa dalam bahasa Jawa.” Ya Allah ya Rabbi. Berada di Yogya pasti akan menghasilkan pengalaman langsung mengenal dan terlihat dalam tata cara adat istiadat Jawa. Tidak seperti hotel-hotel modern yang baru yang begitu trendi. Tapi kenalkan dulu. John ternyata memang calon sang ayah yang tinggal bersama Dewi selama dua tahun belakangan ini. tak ada mendung dan hujan tapi geledek segera menyambar. Setelah mendarat di lapangan terbang Tullamarine mereka langsung menuju Hotel Windsor di bilangan kota. Dewi bukan sebangsa serdadu yang hanya menjalankan perintah tanpa berpikir atau mengajukan pertanyaan. Tapi masalah berikutnya yang disampaikan oleh Dewi secara kalem itu menyambar seperti ledakan bom atom Perancis di Atol.

Sesaat kemudian dia berbalik menghadapi istrinya. Dia membaringkan dirinya di bath tub dengan hanya kepalanya yang menyembul keluar. Gemericik air mengingatkannya pada kolam hias di halaman depan rumahnya. Sekarang tidak pernah ada seorang pun yang mengganggunya. Lalu kita bisa dapat supper di Graund Floor untuk ngobrol sambil mendengarkan permainan piano. kau banyak sekali kokot bolot seperti kuli yang tidak pernah mandi. “Lebih baik kau mandi dulu. kau mau piyama atau ganti pakaian untuk nanti malam sekaligus?” tanya istrinya membangunkannya dari segala kenangan. pintu masuknya dari Little Collins. Dia tersenyum sendiri. lebih-lebih kalau kau mau mencoba sausages atau sate buaya sebagai entree. “Rio.” kata istrinya sambil memberinya sepasang pakaian yang bersih. Dia tidak bisa mengerti sama sekali bahwa Dewi bicara hamil di luar perkawinan tanpa rasa rikuh atau malu.” kata istrinya sambil menghampirinya. “Beri aku pakaian yang bersih. ingin dia menyebut istrinya Sembadra karena begitu bakti dan setia seperti istri Arjuna. masih nampak cukup tampan untuk seumurnya.” Istrinya hanya mengangguk dan cepat-cepat keluar karena mendengar bunyi telpon berdering. Biasanya bila sudah terlalu lama istrinya pasti masuk ke bathroom dengan membawa handuk yang bersih atau piyama. Dan aku begitu heran bahwa kau hanya tenang-tenang seolah-olah tak punya pendapat sendiri. “Rio kau dengarkan aku atau tidak?” Lama tak ada jawaban.” Dia tidak begitu mengacuhkan kata-kata istrinya dan sibuk mengenakan pakaiannya yang bersih. Dewi akan telpon dulu nanti waktu pulang dari periksa di ahli kandungan. Rio. “Kita bisa bicara dengan tenang nanti. aku kepingin jalan-jalan sebentar di Bourke Street. Dikeringkannya tubuhnya dengan handuk lalu ditaburinya dengan talek yang lembut baunya. Sebelum masuk ke bath tub dilihatnya bayangan tubuhnya di kaca. tidak terlalu panas dan campuran bubble bath cukup creamy dan kaya akan buih. Dari bathroom terdengar bunyi kran dibuka.” 155 . Sebentar lagi istrinya pasti akan membenahi. “Ya. Dihempaskannya badannya ke kasur dan langit-langit kamar seolah berputar.” ucap Dewi sebelum pergi. “Dewi yang baru saja telpon. “Mandi yang bersih.” Dia ingat ibunya selalu menegurnya bila ia terlalu lama bermain-main saja di bath tub. Air sudah kusiapkan semua. Dengan telanjang dia berjalan menyeberang kamar menuju ke bathroom. “Dia bilang kalau kita mau makan yang agak kerakyatan kita bisa ke Victoria Street. kita bisa ke Grill Room di basement. Tapi kalau kita kepingin makanan Barat dengan suasana yang tidak terlalu formal. Dalam hati dipujinya istrinya yang selalu dengan baik menyiapkan air untuknya. bahkan seperti bangga sekali.“Ya. ke restauran Vietnam. Rio.” Dia lepaskan semua pakaiannya dan dibiarkannya terpuruk di karpet.

Dia tidak menjawab dan istrinya pergi menelpon room service memesan sebotol anggur kesenangannya dan minta diberi dua gelas. Dia begitu geram mendengar kata-kata istrinya yang datar tapi cukup tajam. Aku tak mau bicara. Dibukanya pintu ketika pelayan datang membawa pesanan istrinya. Aku bicara dengan jujur seperti ini karena aku mencintaimu. 156 . Rio. “Kesalahanku kenapa aku tidak pernah berusaha mencari saudarasaudara bapakku di Jawa. Apakah kau anggap aku ini babu atau istrimu itu tidak soal bagiku. “Dewi! Dia. Kau boleh punya ukuran moral yang tinggi untuk hidupmu sendiri. Rio..” “Kau tahu. aku tak punya pendapat karena aku tidak tahu sama sekali soal Negeri Leluhur itu. “Kalau soal impian gilamu mengenai Negeri Leluhur itu terus terang saja aku tak punya. ya dia hamil.. “Sejak kapan kau ikut memusuhiku?” “Kau mau mendengarkan pendapatku atau hanya mau memancing pertengkaran saja?” Dia hanya melotot tak bisa percaya bahwa wanita yang sedang bicara di depannya adalah istrinya yang sudah bertahun-tahun hidup bersamanya.” “O. “Jangan kau anggap aku melawanmu.” Hening dan mereka berdua saling bertatapan. Ia adalah pengorbanan itu sendiri. “Aku mau pesan minuman. kau mau juga?” tanya istrinya.“Pendapat dalam hal apa?” tanya istrinya. Cinta yang tulus adalah cinta yang tanpa pamrih. Rio. Rio..” Dia menarik napas panjang dan melangkah menuju ke jendela sambil setengah berkata pada dirinya sendiri. dulu Dewi pasti kukirim ke sana. dia. Aku tidak peduli apakah kau mencintaiku atau tidak. Kuharap kita bisa berbicara secara lebih beradab. Namun ia mencoba menutupi keharuannya. itu. Anak yang dia kandung itu adalah buyut kita sendiri. Kalau aku tahu mereka.” potong istrinya.” Dia begitu tersentak ketika untuk pertama kalinya istrinya berani menegurnya. Rio. Tapi soal Dewi. “Kau tahu kenapa kita kemari!? Untuk apa kita ke Melbourne?” “Kau jangan membentakku seperti itu. kesalahanmu justru kenapa kau selalu bicara apa maumu saja dan tidak pernah memikirkan keinginan dan pikiran orang lain. Tapi kau tak boleh memaksakan ukuran itu untuk hidup orang lain.” Tiba-tiba dia tidak tahan melihat air mata meleleh di pipi istrinya. Meskipun keturunan orang Jawa aku hanyalah wong cilik keturunan kuli kontrak.

apa yang kita cari dalam hidup ini selain kebahagiaan? Bagiku yang lain-lain tidak soal selama Dewi merasa bahagia untuk dirinya sendiri.*** 157 (Dimuat dalam Horison. “Shall I open the bottle now. Pelayan itu tersenyum lebar menerima tip yang lumayan. Sir?” Dia hanya mengangguk dan pelayan itu membuka botol serta menuangkan anggur ke kedua gelas untuk dia dan istrinya.” Dia hanya mengangguk dan pelan-pelan terasa pundaknya yang berat menjadi ringan. Dia reguk anggur itu setelah si pelayan pergi. Maret 1990) . Istrinya memandangnya dengan pandangan tidak percaya. “Rio.Ditandatanganinya nota bon supaya bill itu dimasukkan dalam rekeningnya nanti.

Kuda-kuda kami berpacu dengan riang. “Pacu!” Orang-orang yang berada paling depan sebenamya tidak usah menunggu diperintah untuk memacu kudanya. Kami. Padang stepa diselimuti salju yang tipis. Bendera raksasa yang berkibar dan menyibak angin itu terlihat menggetarkan. Setelah hampir berminggu-minggu hanya merayapi jalan setapak di antara pohon-pohon dan semak belukar. melesat secepat-cepatnya bagaikan berpacu dengan angin dingin yang bertiup begitu kencang menggigilkan tulang. melesat dan menggebu. dan berteriak-teriak meluapkan kegembiraan kami. seolah-olah bahkan jiwa kami kalau bisa lepas dari belenggu badan. Kami menggebu begitu laju. “Pacu! Pacu! Pacu!” Kami semua berpacu sepanjang padang stepa yang terbuka sambil berteriak-teriak menuntaskan kegembiraan kami. seperti mengerti betapa jiwa kami telah lama begitu tertekan dalam perjalanan berat menempuh hutan yang rapat. . 10. berderap melaju menuju cakrawala. lepas dari kungkungan jurang dan tebing yang serba menjulang dan mencekam. Kuda-kuda kami menggebu. cuma inilah yang bisa kami lakukan. Seluruh tubuh kami terbungkus jubah bulu binatang yang tebal dan berat. dingin angin bagaikan mengiris wajah-wajah kami yang sebetulnya toh cuma tampak matanya saja. “Huuuu! Huuuuu! Huuuu!” Satu per satu penunggang kuda yang keluar dari hutan segera melaju. berpacu melawan angin. dengan tenaga baru yang seolah-olah begitu saja datang dari langit. padang yang terbuka itu bagaikan pelepasan yang lebih dari memadai untuk melampiaskan kerinduan kami akan kebebasan. 10. Kuda-kuda kami saling berpacu dengan perkasa. begitu juga tangan kami yang memegang kendali. dan umbul-umbul kini membuka jalan ke depan.000 pasukan berkuda.Tempat yang Terindah untuk Mati Oleh: Seno Gumira Ajidarma 158 Kami. gelap. Semuanya terbungkus. dan penuh dengan rintangan. Namun sekarang. Di hadapan kami kini terbentang padang stepa yang begitu luas bagaikan tiada bertepi. bendera. mendesing menuju kebebasan. Kami juga mengenakan topi dan sepatu dari kulit binatang berbulu tebal. bumi bergetar oleh derap pasukan yang melaju dan menggebu. akhirnya keluar dari hutan itu. Para pembawa panji. bahkan kuda-kuda itu sendiri bagaikan tidak lagi menunggu perintah untuk segera memacu diri mereka.000 pasukan berkuda.

Kami berpacu. apalah artinya kami? Kuda-kuda kami selalu mengerti apa yang kami inginkan. menancap kemerahan bagai kuil yang menanti penziarah dari segenap 159 . Kini kami semua sudah siap menempuh perjalanan yang terakhir. Langit yang tadi bagai tempurung raksasa membiru kini semburat merah terbakar. dan kuda-kuda kami tetap setia mengikuti sampai akhir tujuan. Kami tidak mengerti apa jadinya hidup kami tanpa kuda. Di telinga kami angin bersiut dan menderu. kini kami mengambil peluang untuk meraih kegembiraan. tapi kami tidak juga ingin berhenti. Semua ini tak bisa lancar tanpa kuda sepanjang pengembaraan. Matahari terasa betapa berat. dan mereka selalu memenuhi segala kehendak kami dengan memuaskan. Kami bersedia membayar segalanya untuk perasaan merdeka yang kami dapatkan. Kami bagaikan berpacu di atas permadani tanpa tepi. dan berpacu. Kami selalu bepergian. namun sampai sekarang tiada satu alasan pun bisa menghentikan kami. Kuda-kuda kami terus berpacu dengan laju.Kaki-kaki kuda kami bagaikan tak mengenal lelah. Selama berjam-jam kami akan berpacu dan kami akan tahu bahwa pemandangan ini tidak akan pernah berubah. yang kadang-kadang terdengar seperti sebuah percakapan. Burung-burung kondor beterbangan melingkar di langit mengincar pengembara yang sekarat kehausan ketika kami berpacu. dan kini kami berpacu di tengah padang tanpa tepi. Cahaya matahari menyiram padang. Setiap orang memacu kudanya ke cakrawala yang melingkar 360 derajat. dan segera lenyap di balik kaki langit. Langit hanya biru. bahkan perjalanan berminggu-minggu di dalam hutan yang melelahkan pun kami lakukan asalkan kami bisa mencapai tempat tujuan. berpacu. bahkan bisa lima tahun. kami mendaki celah-celah gunung. namun yang maknanya seperti selalu menghindari kepastian. Kami menyeberangi sungai. Begitu luasnya padang gurun ini sehingga kami merasa berjalan di tempat. dua. selalu berpindah. Benarkah seekor gajah menegakkan belalainya dan melengkingkan bunyi terompetnya nun entah di mana ketika kami berpacu? Seseorang mendayung perahu menuju matahari terbenam ketika kami berpacu. selalu bertualang. “Huuuuu! Huuuuuu! Huuuuuuu!” Kami berderap dan berpacu memburu matahari yang terbenam ke balik cakrawala. namun kami selalu berangkat kembali. Kami selalu berpindah sesuai dengan pergantian musim. Jangankan berpacu yang begitu menggembirakan. dan peredaran bintang. perjalanan angin. Seekor ikan salmon menangkap umpan dan tersendal pancing ke udara ketika kami berpacu. Hutan di belakang kami kini bagaikan titik-titik hitam. Tanpa kuda. Kami mengembara dan menjelajah segenap permukaan bumi untuk mencari suatu akhir. Padang stepa yang terbuka masih tidak memperlihatkan apa-apa kecuali hamparan rumput kering yang kelabu dengan polesan salju. perjalanan kami masih jauh lagi. berpacu dan berpacu. Kami terus-menerus berderap sepanjang padang. kami mengarungi gurun pasir. bagai berpacu dengan angin. Rumah kami sekarang adalah perjalanan itu sendiri. Kami tahu. Kuda-kuda memang lebih dari sekadar bagian hidup kami. Telinga kami semua penuh dengan desau. Sampai di manakah suatu perjalanan berakhir? Apakah mungkin suatu perjalanan berakhir? Apakah mesti suatu perjalanan berakhir? Sudah bertahun-tahun kami mengembara dan kami tidak pernah merasa yakin kapan suatu perjalanan bisa berakhir. Kuda-kuda kami masih terus berderap. surai kudakuda kami yang tebal melambai-lambai dengan megah dan seluruh gerak tubuh mereka bagaikan menari dengan indah. Apakah yang terjadi di tempat-tempat lain ketika kami berpacu? Panah seorang pemburu sedang melesat ke jantung seekor rusa ketika kami berpacu. Kami bisa berhenti dan menetap di suatu tempat untuk satu.

seolah-olah berhadapan dengan rembulan . Bila bulan yang perak itu muncul di langit malam. kami menyembah bumi. Kami siapkan kantung-kantung tidur dan selimut kami. orang-orang yang mengendarai kuda dengan tertunduk. Di setiap danau itu setiap 1. Di Lembah Sepuluh Rembulan inilah kami akan menunggu 100.. ketika kami akhirnya sampai ke lembah itu.penjuru bumi.000 pasukan berkuda. Ada sepuluh danau di lembah yang luas membentang itu dan seharusnya ada sepuluh rembulan mengapung di atas sepuluh danau. Namun. Langit masih membara. kami harus memburunya ke balik cakrawala. Kami menyembah langit. Di setiap api unggun masih tampak orang-orang membakar sisa-sisa daging perbekalan mereka dan mengunyahnya dengan lahap. "Maka sang raja pun jatuh cinta kepada wanita dari negeri seberang itu. Lembah Sepuluh Rembulan adalah suatu lembah gersang dengan dataran yang sangat luas. Kami memuja rembulan dan matahari.. dari lembah ke lembah. cahayanya dipantulkan kembali oleh permukaan danau yang diselimuti salju. dari bukit ke bukit. Kami. Kalau matahari itu menghilang di balik cakrawala. Kami mencintai keindahan seperti mencintai kehidupan itu sendiri. dan mendengarkan seseorang bercerita." Kami selalu membutuhkan cerita. Bukit-bukit batu yang menjulang dan membentuk lembah ini melindungi kami dari angin sehingga kami bisa menyalakan api unggun. *** Tempat itu dinamakan Lembah Sepuluh Rembulan. Beberapa orang masih minum susu hangat yang beraroma teh. sementara seorang nenek tua bersenandung dengan suara buruk tentang tanah air yang sudah mereka tinggalkan.bahkan rembulan seperti turun ke bumi hanya untuk mendengarkannya meniup seruling. dan anak-anak yang tidur dengan gelisah di dalam gerobak-gerobak penuh barang dan bahan makanan. menghadapi segenap rintangan alam maupun suku-suku musuh kami? Apakah rembulan mampu menangkap gelora semangat pengembaraan kami? Tak terhitung lagi berapa orang telah mati dan berapa bayi telah dilahirkan sepanjang perjalanan dari kampung ke kampung.000 orang dari kami berkemah. Ia meniup seruling sambil duduk di sebuah batu di atas tebing. Seseorang dari kami tampak meniup seruling di kejauhan itu. Kami berderap dan berpacu menuju matahari itu. menjadi bayang-bayang kehitaman yang melesat ke suatu arah. dan kuda. seruling.000 saudara-saudara kami. 10. betapa berat penderitaan suku kami sepanjang perjalanan mengarungi benua itu. Apakah rembulan bisa memahami. semenjak begitu banyak tahun yang telah lama berlalu. Ia meniup seruling di atas tebing. Tapi apakah rembulan mengerti arti lagu seruling itu? Seruling itu berkisah tentang riwayat kami yang panjang dengan bahasa kami sendiri.. 160 . Berkisah tentang kafilah panjang yang menyeberangi gurun. Kami membiarkan kuda kami menjilati lelehan salju dan merumput di sana-sini. musim dingin belum berakhir sehingga sepuluh danau itu masih menjadi dataran salju. betapa nun di sebuah benua yang jauh bertahun-tahun yang silam suku kami berkemas untuk sebuah perjalanan yang tak kami ketahui kapan akan berakhir? Apakah rembulan mengerti.

Betapa segala hal di muka bumi ini saling berkaitan. Sesekali tertutup awan. sementara di kejauhan terdengar gemerincing anting-anting dari daun telinga yang panjang itu dicuci. 161 *** Setahun kemudian seorang pengawal di atas tebing berteriak. tiada yang mendengkur sama sekali. sudah berabad-abad bentuk tenda kami tidak pernah berubah. bahkan ia menyeberangi samudera mahaluas. makin lama makin menghilang. Tenda-tenda kami adalah tenda yang besar dan hangat. Seruling itu mengingatkan kami kembali kepada kampung halaman leluhur kami yang sungainya tidak pernah membeku. Di Lembah Sepuluh Rembulan hanya terdengar desau angin. di mana bila senja tiba di tepi sungai akan terdengar derai tawa ceria gadis-gadis yang mandi.Apakah yang akan kami lakukan selama hari-hari penantian kami? Tidur tanpa tenda adalah suatu siksaan yang berat bagi kami. Kemudian. Kami sudah menempuh perjalanan yang panjang dan kini kami ingin tidur. Betapa selalu masa lalu berada dalam diri kami. akan membutuhkan tendatenda itu. Barangkali kami akan memanfaatkan waktu untuk berburu. karena musim dingin yang selalu berangin akan terus-menerus menguji ketabahan hati kami. dan orang tua. Kami pasrah. 10. Kemudian. ketika suara seruling itu lenyap ke balik malam barangkali kami masih mendengarnya di dalam mimpi-mimpi kami. Apabila 100. Rupa-rupanya bulan yang turun mendengarkan suara seruling mengangkasa kembali. Bertengger di atas sana. tapi juga karena kulit berbulunya yang tebal kami butuhkan untuk membuat tenda. Kami mengerti betapa angin akan mengembara ke segenap penjuru bumi. Suara-suara itu dibawa angin ke bukit-bukit di mana anak-anak gembala memainkan serulingnya sambil tiduran di atas kerbau -. Kadang kami tidak tahu apa yang harus kami perbuat.000 saudara-saudara kami tiba. tertidur dengan pulas. peniup seruling itu masih di sana.000 pasukan berkuda. Gemeretak api unggun segera berakhir. dengan latar belakang pegunungan yang menjulang megah. “Hooooiiiii! Mereka sudah datang!” . tinggal kesunyian di Lembah Sepuluh Rembulan. melanjutkan kerinduannya yang panjang akan kampung halaman kami yang terletak di sebuah dataran tinggi di tepi sungai. Maka terlihatlah gerak cahaya rembulan yang memantul di dinding-dinding batu. anak-anak. Tinggal bara api menyala diam-diam. dan kami menyukainya karena memang tidak pernah ingin kehilangan masa lalu kami yang semakin hari serasa semakin indah. Ketika kami semua bersiap tidur dan memandang bintang gemintang di langit. Di dalam tenda itu kami bisa memasak sekaligus menghangatkan diri kami.inikah sebabnya suara seruling itu membuat kami diam? Kami sedih. Kami. bukan hanya karena daging binatang buruan kami perlukan untuk menimbun perbekalan yang mulai menipis. menjelma gambar-gambar yang berkelebat dari masa lalu kami. Angin masih terus bertiup dan tak akan pemah berhenti. mereka yang sebagian terdiri dari wanita. menghubungkan kami dengan segenap unsur kehidupan.

Lebih banyak lagi yang berjalan kaki. Wajah-wajah mereka tampak lelah dan kuyu. Semua ini menggetarkan jiwa kami dan kami merasa betapa setiap detik dalam hidup kami sangat mempunyai arti. dan melakukan meditasi bersama dari malam sampai pagi di bawah 162 . Kami menyatu kembali dalam gairah kehidupan yang panas. Kami tahu hari-hari akan menjadi lebih berat. Ketika saudara-saudara kami melihat kami datang menyambut mereka. Dengan segera. langit bagai tenda raksasa berwarna ungu. dengan gerobak. Masing-masing dari kami kemudian berhenti dan berhadapan. Begitulah kami akan membaca puisi di tepi danau.000 orang lagi. Dengan perasaan yang sangat tidak sabar dan menggebu-gebu. seperti yang sudah-sudah. namun tiada akan ada satu pun halangan kini bagi kami untuk mengungkapkan sukacita kami. Mereka yang terdepan akhirnya bertemu muka dengan kami. langsung melompat ke atas kuda kami. Suku kami telah bersatu kembali di bawah langit dan bumi yang sama. kami menggebu menyambut 100.000 saudara-saudara kami yang masih merupakan sosok-sosok hitam di kaki langit itu. bergetar-getar dalam tiupan angin. kereta.Kami semua segera melompat ke atas kuda. Sosok-sosok hitam itu makin lama makin membesar. penuh dengan debu. Tiada yang lebih menggairahkan selain kehendak yang menggebu menjumpai orang-orang tercinta.000 saudara-saudara kami muncul dengan meyakinkan dari balik kaki langit. sebagian dari mereka yang mengendarai unta dan berkuda segera melesat ke depan ingin segera bertemu dengan kami. Mereka semua telah menempuh perjalanan yang panjang di jalan yang telah kami rintis. gajah dan unta. Sebagian yang lain malah langsung keluar dari celah lembah. “Akbar!" “Abdul!” Kami semua berpelukan dengan penuh rindu dan penuh dendam. memetik kecapi di puncak bukit. Senja itu langit yang ungu serasa begitu cerah. dan memacunya ke tempat-tempat yang tinggi. namun kami juga tahu hari-hari kami akan lebih menggembirakan. Angin begitu dingin. menari di atas perahu. dan umbul-umbul yang sama. Seperti apakah mereka kini? “Huuu! Huuuu! Huuuu!” Kaki-kaki kuda. Tak kurang dari 100. dan terbentanglah di hadapan kami pemandangan yang menggembirakan itu. Saudarasaudara kami masih merupakan sosok-sosok hitam yang seolah-olah berjalan di tempat. berderap dan berpacu. siap menempuh perjalanan untuk mati. Kemudian kami melihat panji. kami berlari-lari turun dari bukit. Tentulah jumlah mereka sudah tidak genap 100. pemandangan yang kami nantikan. Kami menggebu dengan perasaan rindu dan penuh dengan cinta. Rombongan yang terdepan itu masih menanti mereka yang terseok di belakang. seluruh pakaian mereka usang dan kelabu. namun betapa dari sinar mata mereka terpancar jiwa pasrah dan ikhlas. kami baru akan mengetahuinya nanti. bendera. Berkibar dengan megah. Kami semua turun dari kuda. Tentu ada yang mati dan lahir sepanjang perjalanan. Hari sudah menjelang senja.

Gajah-gajah yang kami bawa berbulu tebal. dan kini begitu kurus. Kami begitu siap untuk bahagia. Bahkan ketebalan es di atas danau itu mampu menahan beban gajah yang berjalan di atasnya. bisa melihat bagaimana sepuluh rembulan itu mengapung di atas sepuluh danau selama musim panas yang tetap saja dingin. Kami akan membagi arak dan anggur dan kami akan menuangkannya ke atas daging bakar yang merah berasap membangkitkan lapar. kami berjalan kembali ke Lembah Sepuluh Rembulan sambil menyenandungkan lagu syukur dari hati. dan begitu penurut sehingga kami sungguh berterima kasih dengan segala pengorbanan mereka dalam perjalanan kami. betapa tiada jarak lagi kini bagi kami. tapi kami menahan kegembiraan meluap kami sebagai bekal menahan penderitaan pada masa-masa yang akan datang. Kami menatap saudara-saudara kami yang baru tiba dan merasa sedih meskipun gembira. Adapun pasukan berkuda yang merintis jalan masih tetap berjumlah 10. Kami membagi diri kami berdasarkan pemukiman di sepuluh danau sehingga setiap 10. begitu juga unta dan kudakuda kami.000 orang. Kami yang telah tinggal di sini selama setahun. Dalam perjalanan itu 53 orang dari kami meninggal. dan kami menguburkannya di tengah jalan. 163 . sementara itu 53 bayi dilahirkan sehingga jumlah saudara-saudara kami yang baru datang itu tetap genap berjumlah 100. “Sarita!” “Maneka!” Mengapa kita bisa terus-menerus memikirkan seseorang meskipun kita berjarak begitu jauh dari seseorang itu dan telah berpisah begitu lama sehingga kadang-kadang sebenamya susah mempertahankan ingatan atas seseorang itu dari hari ke hari dalam suatu perjalanan yang terus-menerus berubah warna? Namun. Wanita dan anak-anak kami berambut kasar dan merah. Kami tahu kami akan menyanyi dan menari malam ini. Mereka begitu jinak. Kami mendirikan tenda bagi orang-orang yang sakit. Saudara-saudara kami yang 100.000 orang dari saudara-saudara kami yang baru tiba akan bergabung dengan setiap 1.000 orang dari pasukan berkuda kami. kami menyalurkan kebahagiaan kami dengan suatu cara yang hanya kami bisa melakukannya.000 orang. tapi siapakah yang akan bisa tampak terurus dalam perjalanan panjang. Saudarasaudara kami yang baru datang itu begitu lelah dan begitu kurus sehingga agaknya kami masih akan bertahan beberapa lama lagi di sini sebelum kelak berkemas dan berangkat kembali. Kini semuanya sudah berada di Lembah Sepuluh Rembulan. kami mengatur pengelompokan sesuai dengan asal-usul setiap keluarga di kampung kami. Maka begitulah kami segera bekerja begitu tiba di Lembah Sepuluh Rembulan. Betapa mereka begitu tabah. Semua orang tampak tak terurus. Kami semua menemukan masing-masing keluarga. jadi mereka hanya melihat sepuluh danau yang membeku. menyeberang dari benua ke benua hanya untuk selalu pergi dan tak akan pernah kembali? Kami terus-menerus saling berpelukan dengan jerit dan tangis yang makin menjadi-jadi. Langit memberkati kami. begitu mengerti. Kami akan membakar daging rusa dan kami akan memakannya sepuas hati.000 orang itu datang pada musim dingin. Paduan suara lagu kami dipantulkan kembali oleh dinding-dinding tebing dan semua ini hanya mengingatkan betapa kami sebagai manusia sungguh memiliki nilai yang hakiki.rembulan dan matahari. Kami tidak bermabukmabukan dan lupa daratan.

164 *** Sudah berbulan-bulan kami terus berjalan. mendaki gunung-gunung batu. 110. Kami jarang bercakap-cakap di antara kami karena hati kami sekarang hanya berisi penyerahan diri kepada kehidupan. bahkan mata mereka pun bagai menatap sesuatu yang penuh dengan pesona.000 orang dengan segala hewan peliharaan tidak pernah benar-benar saling terpisah. Kami.000 orang. 110. namun seperti tidak mendapat halangan jika berjalan di dalam hutan.000 orang. Mereka yang telah menjadi tua. Kami berjalan menapaki jalur di antara lembah. Ketika matahari terbenam kami semua beristirahat dan tidur. Begitulah kami berjalan. dan berjalan mengarungi gurun. khusyuk dan meyakinkan. Kami terus-menerus berjalan dengan hati yang terpaut kepada cahaya. Kadang-kadang perpisahan ini bisa sampai berharihari lamanya. dengan bayi di gendongan. Semua orang yang pergi mendahului mati dalam pelukan cahaya. Rombongan kami membentuk barisan yang panjang bila melewati celah yang curam. Kami semua. Dari atas tebing kami menoleh untuk terakhir kalinya ke Lembah Sepuluh Rembulan. jalanan setapak berlumut yang begitu licin dan terlalu sering memelesetkan. menempuh ngarai.000 orang.000 anak manusia terus-menerus melangkah. berjalan. lemah. berkemas dan bersiap melanjutkan perjalanan. Mata mereka mengatakannya. Ada semacam cahaya dari langit dalam hati yang terus-menerus bergerak setiap kali kami melangkah mendekatinya. sementara yang lain meneruskan perjalanan. Barangkali mereka juga melihat cahaya itu yang hanya bisa ditatap dengan mata hati di langit jiwa masing-masing yang mengerti dari mana hidup ini datang dan ke mana hidup ini pergi. Kadangkala tiba saatnya seorang wanita harus melahirkan di tengah jalan. kaki mereka yang besar menapak dengan lincah di jalan setapak dan keseimbangan gajah-gajah ini sangat baik dalam pendakian dinding-dinding yang curam. tapi kami rombongan 110. menembus badai. Ketika tiba musim panas. merayap di jurang yang curam. 110. dan menapaki gigir-gigirnya yang mengerikan. Pada musim semi danau masih membeku. Begitulah di antara kami kemudian ada yang meninggal dan kami pun segera menguburnya tanpa meninggalkan upacara yang diharuskan.Begitulah selama beberapa bulan yang tenang kami tinggal di Lembah Sepuluh Rembulan. Kami melihat sepuluh rembulan mengapung di atas sepuluh danau. Tentu mereka tahu jalan yang terbaik buat gajah sehingga kadang-kadang mereka harus memisahkan diri untuk bertemu lagi di suatu tempat lain. Sebelum matahari terbit kami sudah berangkat lagi. menyebar seperti semut bila tiba di padang terbentang. Kami. namun rerumputan menjadi lebih hijau. dan lumpuh kami naikkan ke atas gajah-gajah kami yang masih setia. kami semua. orang sakit dalam tanduan. 110. dan menyeberangi sungai. Bulan masih menggantung di langit. kuda dan unta melangkah pelan tapi pasti seperti doa yang diucapkan perlahan. maka sebagian dari kami pun berhenti mengurusnya. Kami berangkat pada pagi subuh. melangkah perlahan-lahan menapaki jalan yang telah dikodratkan bagi kami. Bayi-bayi seperti tahu diri untuk tidak menangis. dan hewan-hewan peliharaan yang tak boleh ditinggalkan. dan setiap orang yang melihatnya tersenyum dalam hati. Gajahgajah ini berbadan besar. Kami tidak pernah memacu kuda kami kecuali jika kami putuskan berhenti sebentar untuk berburu. Mereka yang mati .

Maka begitulah hidup kami berubah ketika mendadak kami semua harus berkemas mempersiapkan sebuah perjalanan yang belum bisa diketahui berapa lama dan kapan akan berakhir. 165 *** . Kami semua terpana dan terpesona dan merasa segala-galanya tiada berarti lagi selain keinginan untuk menuju sumber suara dan mimpi-mimpi itu. dengan kepastian bahwa jalan cahaya itu akan kami temukan.000 anak manusia. Kami melewati desa dan kota yang penduduknya melihat kami lewat bagai pawai panjang dari sebuah tontonan yang mengherankan. Tentu saja kami masih selalu teringat betapa pada awal keberangkatan segalanya terasa menggemparkan.dalam perjalanan ini sebenarnyalah mati dalam kebahagiaan.000 orang yang tadinya hidup tenteram di tepi sebuah sungai dengan latar belakang pegunungan biru yang menjulang bagai tempat persemayaman dewa-dewa dari suatu dunia entah di mana bagai negeri yang hanya ada dalam dongengan? Kami pergi meninggalkan kampung halaman kami dengan meninggalkan segala kebahagiaan yang telah kami dapatkan demi panggilan dari cahaya dalam mimpi-mimpi kami. Dari hari ke hari. terus-menerus berjalan. dunia yang kami impikan dari abad ke abad. Dalam kenangan kami masih tergambar dengan jelas betapa di tempattempat yang kami lewati pemandangan terpampang begitu indah sehingga kami kadangkala merasa terkecoh karena mengira inilah tempat yang kami rindukan. menuju sebuah dunia di alam sana yang hanya bisa dihayati setelah kematian. Itulah dunia yang kami rindukan. Kami. Kami semua bisa mengalami mimpi-mimpi yang sama dari malam ke malam yang penuh keanehan di mana bunyi genderang terdengar dari langit dan dari seberang sungai bagaikan terdengar paduan suara yang mengalun merdu dan menyejukkan. kami kemudian merasa terbimbing oleh tanda-tanda cahaya dalam jiwa kami yang penuh dengan keyakinan. meskipun matahari terbenam yang jingga itu begitu memukau di latar langit yang ungu. semakin banyak tanda-tanda dalam mimpi-mimpi malam kami dan betapa kami semua semakin merasa bahwa hanya dengan menuju tempat yang kami inginkan itulah terletak arti kehidupan kami. Arwah mereka membubung menyusuri cahaya. 110. sudah lama juga kami tidak menjumpai tempat pemukiman maupun binatang. Setelah bertahun-tahun menempuh perjalanan yang serasa alangkah panjang dari benua ke benua. Orang-orang tua di kampung mengatakan bahwa suku kami selalu mengalami hal-hal yang demikian semenjak abad-abad yang telah lama silam. Dunia kami memang berubah semenjak menerima tanda-tanda yang begitu memikat untuk diberi tanggapan. ini bukanlah tempat yang dimaksudkan dalam mimpi-mimpi kami tentang tempat yang terindah untuk menuju kematian karena tempat itu memang tidak terletak di muka bumi ini. menapak pelan. Sebegitu buruknyakah kehidupan sehingga kematian bisa menjadi impian terindah bagi 110. Dari gurun ke gurun rombongan kami berjalan. dari segala keinginan dan kehendak yang sejak lama terlukis di gua-gua leluhur kami yang begitu gelap di mana mereka merindukan cahaya keabadian. dari dongeng ke dongeng. Langit merah di kaki langit. masih terus-menerus berjalan di atas bumi yang fana. Kami melangkah. Namun kami tahu. Kami berangkat meninggalkan sebuah negeri di sebuah pulau yang segera menjadi kosong. Kami tak lagi mengerti apakah mimpi-mimpi kami merupakan warisan darah yang diturunkan ataukah memang datang dari langit malam yang penuh dengan khayalan.

Pastilah dunia ini begitu luas dan begitu penuh kemungkinan sehingga jalan cahaya dalam impian ternyata mampu menampung 110. Inilah pagi yang berembun dan berkabut yang perlahan-lahan berpendar menampakkan siapa berada di selatan dan siapa berada di utara. Semua orang mempersiapkan dirinya tanpa kata tanpa angan-angan tanpa pertanyaan karena semua ini telah mengisi jiwa dan pikiran kami selama melakukan perjalanan bertahun-tahun mengikuti cahaya di dalam langit jiwa kami. kami menikmati setiap detik dari saat-saat kebahagiaan kami yang fana. segala-galanya memutih. Gajah-gajah. memang langit yang ungu membiru dan menggelap di kaki langit masih seperti sesuatu yang terdapat di muka bumi tapi bukan langit yang ungu membiru dan menggelap di kaki langit masih seperti sesuatu yang terdapat di muka bumi.kami merasa saat-saat itu memang segera akan sampai. namun cahaya itu menembus dunia angan-angan kami sehingga segala sesuatu yang kami pandang dengan mata terbuka maupun tertutup berwarna putih. Garis cahaya yang meluncur sepanjang kaki langit melingkari kami. Hewan-hewan peliharaan kami pun seperti tampak mempersiapkan diri. mengambang. Kami merasa sangat berterima kasih kepada hewan-hewan peliharaan kami dan kami merasa lebih dari layak bisa membawanya membubung ke Negeri Cahaya. Tanpa diperintah setiap orang lantas melakukan semua persiapan untuk menanti saat itu. Tiada mega di langit -. Cahaya yang terang menyilaukan segera memutihkan dunia kami. Tiada suara yang menggelegar. kami telah melakukan perjalanan bersama cahaya ke suatu tempat yang tiada tertera dalam peta mana pun di muka bumi. memang masih seperti hamparan salju yang terpoles di sana-sini dengan hewan-hewan ternak berbulu tebal tapi bukan hamparan salju yang terpoles-poles di sana-sini dengan hewan-hewan ternak berbulu tebal. memang. seperti juga seluruh busana terbaik yang kami kenakan. tampak kuda-kuda kami yang perkasa menatap kami dengan pandangan seolah-olah mengerti tentang segala hal yang akan terjadi. panji. tibalah kami pada suatu pagi di mana kami setelah bangun dari tidur yang panjang merasa tidak usah berjalan ke mana-mana lagi. Kami hanya bisa menunduk dan merendahkan diri. Sembari berjalan kian kemari setelah mengenakan busana terbaik yang kami miliki. Kulit hewan peliharaan kami pun memutih. Dari balik kabut itu. dan pergi. Kami tahu semuanya akan pergi dan berlalu seperti juga berakhimya perjalanan kami yang terlalu sulit untuk bisa diceritakan dengan kata-kata. Maka langit pun terkuak dan kami terkesiap. Kami mencoba mengingat segala sesuatu yang berwarna dari kenangan dan mimpi-mimpi kami. Kami tetap menunduk dengan perasaan tercekat. dan kuda-kuda. hanya tegak di atas lutut kami. Langit ungu muda. memang. kulit 166 . Kemudian kabut menjadi semakin tipis. Memang masih seperti gunung-gemunung tapi bukan gunung-gemunung. sepatu.Kemudian. bendera dan umbul-umbul kami yang berwarna merah pun memutih. namun kami selalu mendapatkan gantinya. mereka pun banyak yang mati sepanjang perjalanan. Kami belum lagi mengerti kebahagiaan macam apakah yang masih bisa kami dapatkan lagi dalam kehidupan yang abadi. unta-unta. namun dada kami berdebar bagaikan terdengar suara yang menggelegar. Kami membasuh wajah dan telapak tangan kami dengan segantang air dari masing-masing perbekalan kami. Kami tahu betapa ketika kami menutup mata dan kemudian membukanya lagi. Kami menanak sarapan pagi kami dengan percakapan sesedikit mungkin dan kami makan perlahan-lahan tapi pasti untuk meyakinkan betapa kami akan menyambut saat-saat terbaik dalam hidup kami dengan perut terisi. Tubuh kami bergetar dengan hebat dan kami merasa kecut.000 orang seketika lengkap dengan hewan-hewan peliharaan dan itu pun ternyata belum apa-apa. namun kami melihat segalagalanya memutih diserap cahaya. Padang rumput memutih.

ditelan gua-gua kebahagiaan di atas awan. dalam penyucian cahaya berkilatan. Tiada lagi yang bisa kami lakukan selain meneruskan perjalanan. Begitulah rombongan kami. dari selatan sampai ke utara. atau meneruskan perjalanan? Setelah bertahun-tahun menjadi bagian dari suatu perjalanan panjang ke satu tujuan kurindukan diriku sendiri yang selalu berbisik perlahan-lahan. Semakin jauh aku berjalan. Tiada yang lebih berharga lagi selain keindahan dalam kematian. melihat-lihat pemandangan. Begitulah kami menyerahkan diri dengan segala dosa dalam tubuh dan jiwa untuk disucikan oleh cahaya itu sebelum kami berangkat ke akhir tujuan kami.999 anak cahaya. 110. kemudian tidak bisa saling melihat karena di sekitar kami hanya cahaya yang berdenyar-denyar menyilaukan membuat kami masing-masing untuk pertama kalinya merasa sangat sendiri setelah dari hari ke hari hampir selalu bersama-sama semenjak dilahirkan di kampung kami. tiada lagi debu mengepul. Tinggal aku sendirian. segalanya memutih lantas mengertap berkilauan seperti cahaya itu sendiri. 167 *** Kulihat di sepanjang langit. bangkit kembali dari tumpuan lutut kami dan kembali menaiki kuda-kuda kami menyusuri jalan cahaya di langit yang telah terhampar di hadapan kami. Sungguh semua ini terlalu menarik untuk ditinggalkan. Dari kelam ke kelam. Kulihat 109.999 anak cahaya melebur ke dalam cahaya gemerlapan. semakin aku terikat kepada kenangan. begitu pula kami jalani kodrat kehidupan kami dengan tulus dan penuh keyakinan dengan perasaan bahwa semua ini memang suatu anugerah yang terlalu menyenangkan. Kami berangkat melewati tujuh rembulan.dan rambut kami. dari cahaya ke cahaya. bayi menangis. Sudah begitu jauh aku berjalan. Kini kami semua telah menjadi anak cahaya yang memutih dan tidak saling mengenal perbedaan-perbedaan kami karena kami semua hanyalah anak-anak cahaya yang saling menyilaukan dan saling melupakan. Apakah aku harus berhenti. Barangkali ini memang tempat yang terindah untuk mati. Hanya zat yang hanya bisa merasa bahagia di jalan yang terindah menuju kematian. dengan segala derita dan pengabdian. Lantas kami alami bagaimana jiwa kami diluncurkan. Langit yang berlapis-lapis memeluk jiwa kami dan kami kemudian merasa mampu berada di segala arah. gua pelangi yang menyilaukan. betapa bisa cahaya kesaksian tiada melihat kebohongan? Kulihat satu per satu dari kami. Tiada lagi angin bertiup.*** . kuda-kuda berpacu. Aku melihat seribu cahaya berenang dan berkelebatan. tujuh matahari. menaiki kuda putih di atas awan. sendiri-sendiri maupun bersama rombongan. kelak-kelok labirin yang memusingkan. namun seperti juga air sungai dari sebuah sumber mata air di puncak gunung yang mengalir menuju lautan. dari barat sampai ke timur.000 anak manusia. dengan atau tanpa badan. dan suara seruling dari atas tebing pada malam bulan purnama. dan berdoa di dalam tujuh kuil di atas awan. kemah-kemah awan. Begitulah kami semua. secara serentak tanpa harus merasa berada di tempat yang berlain-lainan. 109. semakin aku merasa diriku bukan bagian dari rombongan. Tiada yang lebih penting lagi kini selain perjalanan menuju ketiadaan.

Maret-Juni 1996 (Dimuat dalam Horison.Ulaanbaatar . Juli 1996) 168 .Jakarta.

lalu menarik senyum sendirian.” gumamnya. Dari kejauhan ia berteriak dalam bahasa yang jauh daripada dikuasainya. senang. Beberapa meter di depannya berdiri Pak Marta yang menerima ucapan terima kasih Okayama itu. “Hay! Hay!” kata Okayama sambil lari-lari kecil. mengikuti anjuran Pak Marta. Nikmat benar dirasakannya menerawang. Ia senang mengikuti petunjuk Pak Marta. senang. tidak ikut terbang ke Jakarta. “Tetapi . bagusu-neh. melihat lautan itu dari tempat yang lebih dekat ke pantai. Sungguh. “Tempat ini bagus sekali.. Bukan tanah saya. Gembira sekali. “Bagusu-neh! Bagusu-neh!” ulangnya di depan Pak Marta. Wajahnya jadi cerah seperti langit yang ada di atasnya. Ia merasa benar-benar gembira. sambil mengibas-ngibaskan tangannya. ini bukan tanah saya. tetapi . membicarakannya.Enclave* Oleh: Ramadhan KH “Arigato gozaimasu! Arigato gozaimasu!” (Terima kasih! Terima kasih!).” Ia seperti mau menjelaskan kepada semua pihak. orang yang dirasakannya benar menjadi penolongnya di hari tua. Ini tanah Subarkah dan Michiko. bagus) sambil melambai-lambaikan tangannya. Seraya melangkah ia mereka-reka kembali rencananya yang sudah bermalam-malam bersama menantunya.” Pak Marta menganjurkan Okayama supaya melangkah lebih jauh. menyapu lautan yang biru dan mengikuti gelombang yang beruntun bergantian sampai ke pantai. tetapi sudah mulai dipelajarinya dengan tekun: “Bagusu-neh. kepada pepohonan dan binatang-binatang 169 . “Aaahh. Okayama-san mengucapkan kata-kata itu sambil membungkukkan badannya dalam-dalam.. Di sebuah onggokan ia berhenti. beberapa kali..” (Bagus.. Michiko. lalu menatap ke kejauhan. Dan tentu saja ia pernah merundingkannya juga dengan anaknya. Negeri ini indah sekali. “Massugu! Massugu! Maju lagi! Maju lagi! Ayo. ke sana lagi! Lihat dari sana. “Senang? Senang punya tanah ini?” tanya Pak Marta dalam bahasa Jepang. dengan perasaan haru dan suara hikmat ia lepaskan isi hatinya itu dengan tulus. sahabat besannya.” kata Okayama. Subarkah. mengikuti goresan kaki langit. yang kali ini tertinggal di Osaka. dari tepian yang lebih jauh. kepada penduduk di kampung itu.

orang menjual tanah dengan ukuran jengkalan. Ia merasa. uangnya bisa dipakai anaknya untuk membeli tanah di tepi pantai di daerah Sukabumi Selatan itu. Asal diurus. Waktu itu ia duduk di sekolah menengah di Bogor dan terkenal di antara sesama teman sekolahnya sebagai murid yang paling pintar bahasa Jepangnya. sekarang sudah ada rumah kecil yang masih sederhana. “Saya sekali lagi mesti mengucapkan terima kasih kepada Pak Marta-san. di hari tuanya. Michiko. pohon pisang. di tepi pantai di Sukabumi Selatan itu. melainkan milik anaknya dan menantunya. bahwa tanah itu bukan miliknya. “Semua tanaman bisa hidup di sini. untuk membeli tanah di kampung Sindanglaut. Sekarang. adalah disebabkan pengetahuannya bahwa di Jepang mustahil ia bisa membeli tanah seluas itu. tertawa lebar. bisa tentu bisa. Bakal jadi bagus. Lihat. Okayama sudah punya gambar bentuk rumah yang akan dibangunnya di atas tanah milik keturunannya itu. karena mahalnya. Tapi nanti rumah tua itu akan diganti dengan bangunan yang bagus. Tapi jangan minta pohon sakura tentunya. dicampur sedikit dengan tanah dari kebun saya di Cisaat. “Apa bunga anggrek bisa tumbuh di sini?” “Bisa. Di Jepang. Michiko.” jawab Pak Marta. kini merasa senang. pohon-pohon kelapa bagus-bagus di sini. Di atas tanah seluas satu hektar lebih milik Michiko itu. dengan kebunnya yang bagus. Sebuah rumah potongan Jepang dengan jendela-jendela dan atap 170 . sangat gembira. sang menantu yang juga ada di sana mendampingi sang mertua. di tepi Samudera Hindia yang elok itu. Bahwa Okayama-san. Nyonya Subarkah. bisa. Tanahnya. tanah itu atas nama istrinya. Bagus sekali tanah ini. melainkan karena mertuanya bisa mendapat kesibukan yang bakal disukainya: bercocok tanam. bisa hidup di sini. sejuta Yen sejengkal. karena uang yang dibelikan tanah itu adalah uang simpanannya. Bukan spesial karena istrinya jadi pemilik tanah itu di sana. Pak Marta mengajak bicara Okayama-san dalam bahasa Jepang.” jawab Pak Marta meyakinkan sambil menatap Okayama. sebegitu yang diperlukan Michiko. dan setiap kali berada di Sindanglaut untuk barang dua atau tiga bulan. Lihat itu. “Untuk siapa lagi uangku itu kalau bukan untuk Michiko (anak tunggalnya). bisa memiliki tanah seluas satu hektar lebih. Disebutnya di sini.yang ada di sana. Malahan terakhir sudah dicantumkan dalam sertifikatnya. diikuti oleh Okayama-san. Dan ia gembira. Hahahaha. Okayama yang sudah pensiun dan ditinggalkan istrinya meninggal tiga tahun yang lalu. bahasa Jepang) bisa tumbuh di sini?” “O. Juga Subarkah. di dalam surat-surat jual belinya.” Okayama pernah berpikir. pisang raja. pisang lumut. bahwa tanah itu milik Michiko. anak-anak saya akan mendirikan rumah di sini. Sebab itu ia berikan uang senilai empat puluh juta rupiah. Ia pun senang bisa membuat mertuanya gembira. anaknya. ia memilikinya juga. Bicaralah lagi Okayama-san dalam bahasanya. Tidak ada tanaman yang tidak bisa tumbuh di sini. pisang ambon. bukan meteran. sudah menolong anak-anak saya. Ia masih bisa berbicara dalam bahasa yang dulu pernah dikuasainya dengan benar selama jaman Jepang. Tetapi hati kecilnya tidak bisa membohonginya. pisang yang disukai Okayama-san. Kalau tidak terpatahkan oleh kekalahan Jepang dalam peperangan. Kalau terlaksana. punya rencana berlibur tiga kali dalam setahun. bahwa Subarkah menetapkan. apalagi di seputar Tokyo. kemungkinan besar ia sudah dikirimkan ke Negeri Sakura untuk melanjutkan sekolahnya. Apa pohon kaki (kesemek. pohon kesemek. sehingga mereka mendapatkan tanah ini.” Pak Marta tertawa.

Saya pernah dibawa oleh kenalan saya lewat di sana. karena ayah Subarkah masih ada. “Mengapa kamu tidak punya akal?” kata Okayama. “Pasti ia cantik sekali waktu mudanya.” kata Okayama-san kepada Kakutani-san yang juga mempunyai cukup uang simpanannya. kamu bisa dapatkan seorang.. Tinggal tidak berjauhan. Dan sewaktu Okayama sudah berada lagi di Osaka. Ia pun pernah bertemu dengan ibu Subarkah. waktu datang di Osaka. ya.. “Beneran. Apa sungguh begitu?” “Sungguh!” kata Okayama meyakinkan. Dan terkenang sampai sekarang. Cantik-cantik lho.” kata Kakutani dengan nada rendah. Cantik-cantik. bukan mimpi pagi. Dan gambaran itu buat Okayama sekarang.” Kakutani seperti kena goncangan yang membuat ia sadar. selain ada laut yang bagus. “dari tempat itu. Kebiasaan mereka pun baik-baik. bahwa wanita itu benar cantik walaupun sudah ada usia. Tetapi ia tidak punya keinginan lebih jauh. melihat binatang langka?” “Ya. seperti sudah tidak punya harapan. Di Kadupandak itu banyak sekali yang cantik. pemandangan seputar itu. besan Okayama. dengan nada suara seperti berhasrat. *** Okayama-san bersahabat kental dengan Kakutani-san.. bagaimana saya bisa membeli tanah di sana? Saya kan tidak punya menantu orang Indonesia.” 171 . Mereka sama-sama duda.. “Dan istimewa lagi. Saya pun waktu lewat di sana.potongan khas Jepang. Dan. atas nama siapa.” komentar Kakutani di dalam hatinya waktu ia pertama kali melihatnya. Kesukaan kamu kan masuk hutan. Hahaha! Dan. Rencananya pun sudah bisa mulai dilaksanakan. akan mengambil wanita Indonesia. dan sebagainya dan sebagainya. Sungguh! Kamu bisa bergairah lagi jika lewat di kampung itu. hahaha. merasa jadi muda kembali. badak yang terkenal. ada daerah yang masih dihuni oleh badak. di mana letaknya Sidanglaut itu... “Tapi. Itu sudah kebiasaan mereka.” cerita Okayama kepada Kakutani. Kalau saya seusiamu (--Kakutani lebih muda--). kita bisa lewat di sebuah kampung yang namanya Kadupandak. Kalau kita jalan ke Sindanglaut itu. segera ia bercerita kepada Kakutani bahwa ia baru saja membeli tanah di Indonesia. “Dan bagusnya. dengan uang yang sudah diperhitungkannya cukup. Ia ceritakan dengan terperinci sekali berapa harga tanah yang dibelinya.. dengan uangmu yang ada di bank sekarang. “Kamu kan belum punya istri lagi. bagusnya pemandangan di sana! Luar biasa! Pasti kamu pun akan suka. “Cantik-cantik?” Kakutani seperti mau tambah diyakinkan. Mereka tidak perlu kita ajar lagi supaya tinggal di rumah. saya akan kawin lagi.

” jawab Kakutani-san. pada mulanya.” kata Okayama. dan mau menerima kebiasaanku. Kakutani memperlihatkan seorang wanita yang lumayan cantiknya kepada Okayama. mengapa aku harus kikir dengan tidak memberikan uang kepadanya untuk bisa memiliki tanah yang luas dan bagus. Ia bisa menghapus apa yang sudah-sudah.” Kakutani menarik wajah bangga dan serius. “Kami akan kawin. Nampaknya agamanya kuat.” Kakutani sudah bisa melupakan apa yang telah terjadi dan dialami Nurseha sebelum ini. bagaimana?” tanya Okayama lagi setelah ia ingat pada tanah yang sudah diinjaknya bersama. Dan kamu yang mengatakan bahwa perempuan Indonesia itu bisa tinggal di rumah. tidak ceritakan bahwa Nurseha. saya akan belikan istri saya tanah yang itu. “Hanya meminta supaya saya masuk agamanya. Ia. dan sudah pergi ke Sindanglaut. dengan pemandangan yang indah seperti yang diceritakan Okayama? Aku pun tentu bisa menikmatinya. Waktu ada kesempatan berdua Kakutani dan Okayama. “Kapan akan nikah?” tanya Okayama-san. ditemukannya di sebuah panti pijat. Cuma keadaan ekonominya saja yang pernah membawa dia ke tempat panti pijat. Kalau istriku menyenangkan. Yang dipentingkannya hari depannya. ”Dan soal tanah itu. “Sesudah kami nikah. Malahan ini yang kedua kalinya sudah. bahwa ia sekarang sudah sebatang kara. bukan? Nulseha (--ia tidak bisa mengucapkan r--) sendiri sudah janji. cuma kalau bersama saya ia akan ke luar rumah. *** Saatnya pun tiba. “Ia berjanji.” kata Kakutani setelah didesak di mana mereka bertemu. Dan terbetik hasratnya: “Kalau istriku setia. Cepat sekali prosesnya. dan bisa membeli tanah yang luas. 172 . “Secepatnya. “Bagus. apa bisa ia sekarang tinggal di rumah?” tanya Okayama yang ragu. Dan saya sepakati.” Ia pun ingat.” kata Kakutani. di samping tanah Michiko.Kakutani jadi berpikir beneran. mengapa pula aku mesti simpan uang itu? Dengan uang cuma sebegitu mustahil aku bisa membeli tanah di negeriku sendiri ini. begitu nama perempuan yang dibawanya. Mereka berdua menginap di sebuah hotel di jalan Thamrin. Dan benar murah. bagus kalau begitu. Kakutani bercerita bahwa Nurseha memenuhi hasratnya dan tidak banyak permintaannya. Kakutani dan Okayama sudah ada di Jakarta. Tentu saja jadi. Itu kan benar bagus.” kata Kakutani kepada Okayama. “Jadi. “Kalau sudah begitu.

*** . “Bisa. di sana segala bisa diatur. Lautnya bagus. Tentu yang ukurannya luas yah. tapi sekarang sudah jadi istrinya.*** Benar juga. Kalau musim dingin di sini. Tetapi Kakutani-san merasa pintar juga. Pernikahan itu dilaksanakan di depan penghulu. “Mustahil aku bisa punya tanah sebagus itu dan seluas itu di negeriku sendiri.Indonesia. Kamu tidak akan bisa membeli tanah seluas itu dengan seluruh kekayaanmu yang kamu miliki di sini. Kakutani dan Nurseha melangsungkan perhelatan di Sukabumi. dan kamu merasa encok di sini. kita bisa tinggal di sana. Di sana kan selalu ada matahari. Percayalah. tergerak juga hatinya. Pasti bisa. Ia pun ingin memiliki tanah sebagus seperti yang diceritakan temannya. pemborong bangunan.” pikirnya. Sebab itu pula ia tak beralangan menceritakan tentang tanah yang dibelinya. Kanazawa-san. Apalagi di pagi hari. tak dirasakannya jauh. setelah Kakutani memenuhi syarat yang diminta oleh Nurseha dan keluarganya. Apalagi sekarang. bahwa kalau sampai ia dan suaminya bercerai. Tanah di Sindanglaut yang berdempetan dengan milik Michiko pun kemudian dibeli Nurseha atas namanya. Ia sudah menghitung.” 173 *** Di sebuah organisasi di kotanya. Pasti ada cara-caranya. “Benar murah. cerah langitnya. setelah ia membandingkan dengan harga tanah di negerinya. untuk usaha. “Tapi bagaimana kami bisa membeli tanah di sana?” tanya Kanazawa kepada teman akrabnya. bahwa ia nanti bisa berlibur di tempat yang bagus itu. ia merasa senang. dan uang rupiah tak akan bisa mengejar harga tanah. tempat ia menceritakan rahasia hidupnya. Dan ia pegang surat-surat tanah itu. Tidak lama setelah itu. segala di sana sudah terbuka. Soal jarak Jepang . atas nama Nurseha yang pernah ditemukannya di sebuah panti pijat. bahwa nilai tanah akan cepat naik. kamu akan senang tinggal di sana. atau di sore menuju senja. Nurseha merasa pintar. Kata orang di sana. Tetapi terbeli oleh Nurseha yang membuat surat janji. Kakutani punya sahabat akrab. Pantainya bagus.” kata Kakutani. di tepi pantai yang lautnya biru. kita bisa tinggal di sana semusim-semusim. Ia pun sudah beberapa kali membaca brosur-brosur tentang perjalanan ke Indonesia dan apa yang bisa dilihat di negeri di sebelah selatan itu. bagus sekali.” pikir Kakutani. “Aku akan sering saja berada di sana. Tetapi yang pasti lagi. Lebih luas daripada yang dimiliki Michiko dan lebih mahal harganya. uang senilai pembelian tanah itu akan dikembalikan. Kanazawa-san. dan gelombangnya amat memikat. Kita diajak oleh mereka untuk datang ke sana. disaksikan oleh Okayama.

orang Jepang itu dan memasukkan uang ke kantongnya sendiri lebih dari lumayan. Sebab itu ia cepat berkata kepada Okayama: “Kami bisa atur. Sudah dua kali ia pernah mengatur jual beli tanah dengan orang.” kata Kanazawa kepada Okayama dan Kakutani. seorang lagi yang lebih muda. Tanah itu tidak nempel pada pantai. Okayama dan Kakutani lalu mengajak bicara Kosasih yang sudah siap untuk membantu. Kosasih yang pernah membantu kedua orang itu dengan urusan tanah di sana. tapi sudah tidak terurus. Ia mengetahui.” pikirnya. ini orangnya yang bisa membantu kita.Kanazawa-san terbang bersama Kakutani dan Okayama ke Jakarta. terasa tak menentu. “Tidak jadi soal. “Apa yang tidak bisa dengan uang?” pikirnya.” kata Kosasih sambil menarik wajah senyum dan meyakinkan. Kosasih seperti bisa menangkap apa yang diinginkan oleh Kanazawa. “Ini. dibarengi oleh Kosasih dan dua orang kawannya. “Tak ada kesalahan saya. bahwa yang dikatakannya itu bisa jadi kenyataan. Tidak ada yang tidak bisa diatur di sini. Tetapi Kosasih. Tetapi terhalang oleh beberapa rumah kampung dari tanah Michiko. “Bagaimana cara membelinya?” tanya Kanazawa. tetapi keuntungan yang diperolehnya menghapus kegelisahannya itu. “Bapak ini. Ia pun yakin. tersenyum lebar. yang tempo hari mengatur pembelian tanah untuk Michiko dan Nurseha.” kata Okayama sambil memegang tangan Kosasih. Garnida. 174 . Orang kita-kita juga. sebenamya hati nuraninya pernah goyang. bisa diatur supaya jadi jalan ke pantai. bisa menolong kita.” kata Kakutani sambil menunjuk seorang laki-laki yang bekerja di Kecamatan di Sidanglaut. “Yang satu kali untuk menantunya bersama anaknya. Yang kedua kali untuk istrinya. Rumah-rumah kampung itu bisa dipindahkan. Ia merasa. “Tetapi hotel akan laku kalau menempel pada laut. Ia tentu saja senang. bahwa atasan-atasannya yang ada di Kecamatan dan di Kabupaten akan setuju.” kata Kosasih dengan menarik senyum lebar. Pak Kosasih. Ketiga orang Jepang itu pergi ke tanah bekas perkebunan kecil itu. Tanah yang menghalang-halangi itu. Dan akan dijual. bahwa kekurangan yang dirasakan oleh Kanazawa itu nanti bisa diatasi. bisa meyakinkan. Sah-sah saja. Sudah tergitik juga hati Kosasih oleh gambaran bahwa kali ini ia bisa beruntung banyak lagi. Ada kekurangan di tanah bekas perkebunan kecil itu yang terasa oleh Kanazawa-san.” pikirnya. Ramdan. Tetapi. sehamparan tanah yang ada di tepi laut itu digabungkan saja dengan tanah bekas perkebunan kecil itu. dengan kebutuhannya. Supaya nyambung jadi bagian tanah ini. Kanazawa-san takjub melihat daerah pantai Samudera Hindia itu. lewat Okayama yang sudah tambah pintar berbahasa Indonesia. ada sebidang tanah luas yang juga tidak jauh letaknya dari tanah Michiko. seorang yang lebih tua. Ia pun yakin dengan uang segala bisa beres. Tanah itu bekas perkebunan kecil. Kanazawa-san menginginkan membuat semacam hotel di sana. Lalu mereka pergi ke Sindanglaut. antara lahan ini dan laut.

175 *** Selang beberapa waktu. malahan di kantor Gubernuran. Dengan duit." kata Okayama. lalu ke arah Okayama. tak mengerti sepatah kata pun. karena bukan saja Okayama-san. Okayama-san. Sindanglaut mereka tuju. tapi harapan menyelinap di antara perasaannya. segala bahan yang diperlukannya sudah ia siapkan dari dan di negerinya. Kosasih mendengarkan saja. atas anjuran penasihatnya ia sudah menggaet orang di Jakarta penguasa penting. masih jauh lebih murah daripada jika harus membangun di negerinya. Dan bertambah lagi kericuhan di daerah itu. pikirnya. Takahashi-san dan . sudah mulai dengan membangun rumah yang mereka citacitakan. Maka pembangunan dimulai di daerah itu. “Ini jadinya proyek pembangunan.” Kata "pembangunan" itu melintas sejenak saja di kepalanya. Ia tidak kepalang bergerak. apa yang tidak bisa dibereskan di kampung ini. Orang-orang Jepang itu tidak tahu. Uang siluman tak jelas masuk ke kantong saku siapa. Soal tanah yang menghalang-halangi sudah terpecahkan. di kantor Kabupaten. Rencana bangunan hotel sudah siap. Ia menunggu kepastian. Tinggallah nanti ia mencari tukang-tukang yang bakal diperbantukan kepada arsitek Jepang yang bakal membangun rumahnya itu. Dan ia sudah jadi lebih pandai. ada Tanaka-san. asal benar bisa diatur begitu. Kanazawa-san nampak tenang-tenang saja. Beberapa orang pegawai Kabupaten Sukabumi pun ada di sekelilingnya. Kemudian kepalanya digerakkannya menghadap ke arah Kakutani. Subarkah. tapi menyebabkannya jadi merasa kuat. “Pasti bisa! Pasti bisa!” kata Kosasih kepada Kanazawa. tuan Kanazawa tertarik. Tanah yang menghalangi-halangi perkebunan kecil dengan laut itu pun sudah diatur oleh orang-orang di kantor Kecamatan. sehingga bisa dipakai untuk keperluan Kanazawa-san yang punya uang banyak. Ketiga orang Jepang itu mengangguk-angguk. “Ya. Kakutani-san pun langsung mengukur-ukur tanah yang akan dipakai untuk bangunan rumah yang bakal dihuni bersama Nurseha. Entah berapa ongkos memindahkan mereka yang sebenarnya. Kakutani-san dan Kanazawa-san sudah berada di Indonesia lagi. Lalu mereka berbicara dalam bahasa mereka. Kata pembangunan itu mengubah kesulitan yang tadi pernah mengganjal sebentar di hatinya.Ia berpikir lagi. Rumah tua sudah dibongkar. Penghuni beberapa rumah yang menghalang-halangi antara tanah Michiko dan Kanazawa pun sudah sepakat untuk pindah. melainkan ada Saito-san. Okayama yang sekali ini didampingi Michiko dan suaminya. Masing-masing mengatur kepemilikannya. Tiang-tiang baru sudah dipancangkan. meminta dukungan. Kanazawa-san dikerumuni oleh pegawai-pegawai dari Kecamatan Sindanglaut. Sebab memang setelah diperhitungkannya. Nampak sekali ada kesibukan di wilayah yang tadinya kampung itu. Kakutani-san dan Kanazawa-san yang membangun di sana. Mereka tidak membuang waktu.

176 *** Maka ramailah pembangunan di Sindanglaut. pikir mereka. keturunan mereka.beberapa lagi orang Jepang yang bukan saja tertarik. Bukan saja hatinya terganggu. Dan semua menghitung: tanah di Sindanglaut itu benar-benar jauh lebih murah dibandingkan dengan yang ada di Tokyo. *** Pak Marta datang di Sindanglaut. untuk ikut serta dalam pembangunan itu. Jangan ditanya asal usul tanah itu: tanah wakaf pun sudah berubah catatannya. Okahara-san sami mawon. Kosasih sudah punya rumah baru dan istri baru di Sukabumi dan keluyuran dengan mobil Suzuki yang paling mutakhir. Mereka seperti sudah berpikir. “Untuk siapa saja. gamang. Ia menjawab sendiri: Okayama-san adalah mertua Subarkah. karena rumahnya pun sudah tergusur. melainkan sudah mulai membangun di daerah yang tadinya masih ladang tegalan. Sampai-sampai bangunan yang seperti toko dan hotel pun disusun dan berbentuk bangunan Jepang. lalu ia sebentar merenung. istri. Orang-orang Jepang itu mendengar kemungkinan-kemungkinan itu dari mulut ke mulut. Untuk pihak yang pintar. Kebanyakan peralatan dan malahan bahan-bahannya pun didatangkan dari Jepang. yang bisa membelinya dan membangunnya. . Ia sudah bergabung dengan anak-anak pembesar di Jakarta. Anaka-san menempuh jalan yang juga tidak seberapa sulit dirasakannya. “Siapa yang salah?” pikirnya. Tinggallah Ramdan yang berjongkok menatap orang-orang yang sedang mengangkatangkat kayu dan besi itu dari kejauhan. atau yang di Osaka atau yang di Okinawa sekalipun. bahwa di kampung di tepi Samudera Hindia itu sudah berdiri satu daerah enclave. Ya. bahwa dunia ini untuk kita semua. Brosur-brosur pariwisata pun sampai pada mereka. Ia pun sudah mendengar kabar dari orang tua Subarkah. untuk semua penghuni bumi. Melangkah pun sudah sakit-sakitan. di atas tanah yang lebih dari dua ratus hektar. untuk kita. Kanazawa-san adalah pengusaha yang diajak datang untuk menanam modal. pikirnya. Di hatinya ia merasa tertinggal. Lebih dari duapuluh orang Jepang sudah membangun di daerah Sindanglaut itu. tetapi ia sudah tua. Dan mereka ingat pada beberapa kursi yang ada di sejumlah negara di luar negeri mereka yang sudah diduduki oleh bangsa mereka. Saito-san idem dito. sahabat kentalnya. Michiko adalah istri Subarkah. semua kedudukan pun bisa kita capai. sahabat dan pelbagai cara dan ilmu yang tak jelas duduk perkaranya_ memungkinkan rumah-rumah dan bangunan lainnya di sana berbentuk seperti di kampung asal mereka. Nurseha adalah istri Kakutani. daerah kantong Jepang.” pikir mereka. Sebab kebanyakan pemilik tanah itu _lewat menantu. Garnida sudah naik motor Honda yang paling diidam-idamkannya dan paling disenanginya. sawah musiman dan kebun terlantar itu.

orang tuanya. Dengan ragu. kamu sudah punya motor segala sekarang. Pak. Ia ingat. “Bagaimana perasaan Bapak melihat kampung ini sekarang?” tanya Pak Marta. “Wah. Mukanya pun nampak licin. “Duduklah di sini.” Ia tidak meneruskan ingatannya. Pak Marta. terutama kepada istri-istrinya. Hati kecilnya berbisik jujur. Pak. mobil Suzuki diparkirnya di halaman kantornya. Pak. ke lautan yang biru. ke ombak yang bergelombang. “Berapa umur Bapak?” tanya Pak Marta kepada Kosasih. ke langit yang bersih. Pakaiannya serba baru dan mencolok. Daerah ini mesti dibangun. Sementara itu Kosasih datang. “Pilihanku benar. mertua-mertuanya. “Alhamdulillah. tapi saya menolak. Ia arahkan tatapannya ke kejauhan. Tadinya saya mau dipindahkan ke Sukabumi. “Tempat ini bagus.. permulaannya amat sederhana. “Bapak bekerja di Kecamatan. Kelanjutannya jadi amat serius..” ajak Pak Marta kepada Ramdan. Sudah gemukan bentuk badannya dibanding dengan beberapa bulan yang lalu. orang tua itu. ke kaki langit. Bapak. Ia seperti menelannya. menyayat hati orang yang diajaknya bicara. kan?” kata Pak Marta. Tetapi.” Pak Marta cepat mengerti.” jawab Kosasih. Ia gundah. menjawab: “Entahlah. bangkit dan duduk di kursi. Ia sendiri diliputi beberapa pertanyaan yang tidak bisa dijawabnya sendiri. Percakapannya menunjukkan kegembiraan yang luar biasa. Pak Marta?!” kata Ramdan kepada Pak Marta yang duduk di kursi di depannya. “Ya. 177 . benar bagus.” kata Garnida. Dulu saya pernah benci kepada orang-orang Jepang itu. “Tidak mengalami jaman Jepang?” “Ah.. Di sini masih ada kursi. Ia menarik wajah gembira. anak-anaknya. terjepit antara sesal dan senang.” Ramdan mengikuti ajakan Pak Marta.“Tetapi siapa di daerah ini yang tidak tergusur. Ia sudah bisa membelikan mereka pelbagai barang modern yang biasa ditayangkan di televisi yang ia saksikan di rumahnya. “Jangan jongkok terus begitu. Kendaraannya.” kata Pak Marta. yah. bersih. Pak Marta tidak sanggup menatap wajah Ramdan yang sudah kurus dan keriput itu. Ia merasa berjasa.” Ia setengah membusungkan dada.” kata Pak Marta kepada Ramdan yang tetap jongkok di dekatnya.” Di tengah itu Garnida muncul dengan menaiki motornya. saya belum lahir waktu itu. Suara Ramdan terdengar melas sekali. Ramdan. “Di sini lebih menguntungkan.

” kata Garnida. rumah orang tuanya. mengikuti pihak yang menginginkan. Hasil kerja di sini?” tanya Pak Marta. detik ini. (Dimuat dalam Horison. *** 178 *) Enclave = Daerah kantong. Dan yang tua serta yang muda. Masing-masing dengan pikirannya sendiri. juga tidak pernah berkenalan dengan buku-buku tentang masa lampau. Suasana pun seperti direka untuk jadi demikian.“Maju yah. Sekali Garnida bertatapan muka dengan Ramdan. Tak ada jembatan penghubung yang mengaitkan pembicaraan serius di antara mereka. Pak. digusur. Sementara itu pembangunan di daerah enclave berjalan terus. September 1997) .” “Ya. Ramdan mengetahui silsilah pembelian motor itu. saat ini. Maka ia menyelip menyambung pembicaraan: “Rumahnya. Pak Kosasih membujuk kami. hari ini. Pak. sudah seperti kelelahan jika harus berpikir. Ia tidak menatap ke masa depan. Ia bicara sesungguhnya. Ia terhitung pemuda masa sekarang yang diusik oleh pelbagai tayangan barang jualan di layar kaca dan hanya memikirkan masa ini. Ia pindah ke kampung di balik bukit itu.

bertanya kepada istrinya: “Mana Iwan?” “Belum kelihatan. Pada suatu ketika. Dan bila orang memerlukan barang yang tidak nampak di situ. Bapaknya Iwan berpatungan dengan Pak Lurah. Sekarang setelah rezeki semakin deras datang. karena Pak RT seperti berbicara kepada dirinya sendiri. dia sering mendapat persenan keuntungan menjual tanah atau rumah di kawasan sana. Dia pikir. mendirikan usaha penjualan kayu. dua perempuan. Perempuan itu sibuk menghitung bungkusan gula pasir yang baru selesai dia timbang. Maka kantung-kantung plastik kecil lebih banyak terisi di rak-rak itu. Sudah tiga tahun bapaknya Iwan menjadi RT. karena anaknya lebih dari dua.” “Jum’atan apa tidak dia. Agustus 2000 Jati Diri Oleh: Nh Dini 179 Pak RT tergesa masuk. paving. Tetangga lebih banyak membeli kurang dari satu kilo. Kini masing-masing mengelompok. lebih dari tiga. Karena dekat dengan Pak Lurah.Horison. ditata di rak warung. Pak RT bukan kepala keluarga teladan. Lalu bapaknya Iwan menjadi terkenal sebagai makelar tanah dan rumah. dia bahkan semakin mengkhianati program pemerintah: dia ingin menambah dua atau tiga anak lagi. Kebetulan yang perempuan berada di tengahtengah. ubin. uang yang dia terima cukup untuk membeli sebuah rumah reyot di pinggir jalan. Satu on. semua keperluan MCK. buat apa rezeki kalau tidak untuk membangun keluarga besar! Padahal. Dia memang mahir mempengaruhi calon pembeli. Pak RT sanggup mencarikan. orang Jawa bilang: Sendang kapit pancuran. tidak jauh dari pasar Jatingaleh. Dua anak lelaki.1 . Iwan adalah sulung dari empat anak.” Istrinya tidak menanggapi. Semua tergantung pada komisi yang disepakati. setengah dan satu kilo-an. seperempat. tempat yang telah dia miliki itu sudah sangat pas.

Sore ketika kebanyakan keluarga berkumpul. Pintu-pintu bisa dipasang atau dicopot. Penduduk sekitar tetap banyak yang tidak mampu. PKK. jawabnya yang paling sering adalah “Saya harus ke pertemuan. Semua nampak bahagia. sehingga terang memantulkan cahaya hari. Dia bikin sebuah ruangan polos. Kini lantainya keramik putih berkilau.Ketika ayahnya menjadi RT.” 180 . semuanya berubah bagi Iwan. Tetapi tak satu pun anggota keluarganya memperhatikan. Lalu diteruskan: “Biar ibumu yang pergi. Di situ tikar digelar. di warung-warung kopi atau di kios rokok yang juga menyediakan minuman pembakar tenggorokan. Pak RT langsung membelinya.” Atau: “Muda-mudi itu harus ada yang mengarahkan. Rumah berganti ubin. nyaris menjadi anak jalanan. Pak RT masih mengurusi usahanya. dia bergegas mandi lalu pergi lagi memimpin pertemuan ini atau itu di salah satu ruangan kantor kelurahan. seluruh kepanjangan dinding tertutup bahan yang sama.orang tua lain. Dengan begitu. Adiknya yang terkecil delapan tahun. Bapak-bapak. Katanya. Atau bila tiba-tiba pulang sebelum pukul tujuh. selalu di kelurahan!” Anak-anaknya sangat hafal dengan jawaban Pak RT: “Di toko aku tidak menganggur! Aku mencari uang buat kalian! Buat kita!” Yuni. Jika ada tetangga yang usil bertanya mengapa dia begitu cepat pergi lagi keluar rumah. adik Iwan yang paling cerewet menginginkan ayahnya kadangkala datang ke sekolah mengambil rapor seperti orang tua. Dia merasa hidup lebih leluasa.” itulah jawaban Pak RT. Dan sejak ayahnya mempunyai kedudukan tersebut. menjadi bangsal aula cukup besar.” Iwan hidup di luar. Keluarga Pak RT kelihatan sejahtera. karena bisa berbuat apa pun sesuai kemauannya. Rokok yang dihisap bukan lagi merk dikenal. Tubuh Iwan kurus kering. Dia bebas. Bagian depan. sekaligus mengurusi muda-mudi kampung. “Aku tidak punya waktu. muda-mudi rapat di sini. Mak kalian dan aku tidak akan sering berada di luar. menjadi gadis kecil dan berani memprotes: “Bapak pergi-pergi terus! Kalau tidak di toko. Karena bapak itu jarang berada di rumah di saat Iwan pulang untuk makan siang. menggerombol bersama teman-teman sesama seragam SMU di perhentian bis. Dia baru lulus SLTP.” Adik Iwan sudah berangkat remaja. Ketika rumah di samping dijual. “Ini untuk pertemuan-pertemuan. Lalu dilengkapi meja-meja pendek. usia Iwan 16 tahun. sekaligus selalu repot di toko material bangunan. melainkan lintingan daun kering yang mampu membikin perasaan melayanglayang. Tapi mereka menyukai Pak RT yang selalu penuh pengabdian.

dilanjutkan dipasrahi membina kaum muda di sana. berjalan kaki menuju rumah yang terletak tidak jauh dari masjid. Kebetulan memang bapaknya Iwan sedang berpikir-pikir akan menambah sarana penataran pesanan yang semakin sering datang. selain buat keperluan toko. ada tetangga yang berani berkata. pembantu yang dua orang ditambah satu lagi. Di lain waktu. Kemudian. turut bersembahyang Jum’at di belakang ayahnya. Pada suatu siang. Buat sekolah. siapa saja yang berasal dari desa sama. Sambil makan. menawarkannya kepadanya. "Tidak usah baru. dia terkenal sebagai orang yang tidak tega. “Kamu sudah memperbaiki prestasimu di kelas? rapormu yang paling akhir jelek sekali. Kadang-kadang menjadi tiga jika saudara ibunya Iwan datang dari lereng gunung Sumbing. akan lebih mudah disewakan buah pindahan atau lainnya jika bak belakang selalu kelihatan bersih. dia ingat harus menanak nasi atau menjemur cucian. Beri aku modal. Sama seperti suaminya. bukan?” 181 .” Pak RT punya sebuah kijang. Sedangkan yang pertama. Untuk toko. Bapak dan ibu mabok dengan keberhasilan mencari uang. Kebanyakan penduduk di sana tidak seberuntung keluarga Pak RT. semula dia sediakan satu kendaraan bak terbuka.” Dan kalau itu sudah diberikan.” Ibunya Iwan baik hati. kendaraan yang kedua itu melulu hanya untuk mengangkut bahan-bahan kotor. Di mana-mana orang memerlukan kayu. “Apa kamu naik kelas nanti kok minta dibelikan kendaraan.” Ternyata dagangan itu pun berjalan lancar. Bisa dibayar dua kali. Yang terkumpul adalah ibu. Iwan sengaja memperlihatkan diri. Mereka pulang bersama. Ibunya Iwan tidak lupa menyumpalkan uang dua ribu ke dalam genggaman si tetangga. Pembantu itu bisa bertambah lagi di saat tetangga datang mengobrol. Selalu ada yang lewat. Kemenakan. Asal masih bagus jalannya. Pak. tiba-tiba.” suara Pak RT tidak bertanya. ada yang sampai hati menunjuk stoples di atas rak. Sekarang. Dan karena rezeki berlimpahan. Iwan mengeluarkan kalimat yang sejak beberapa pekan didiktekan teman-temannya. Kecil-kecilan saja. lalu singgah. sambil katanya: “Apa boleh minta tehnya? Buat satu kali cem-ceman2 saja. karena seorang kenalan terdesak kebutuhan uang. bahkan perangko. aku tidak perlu memngawasinya. Kali itu Iwan bahkan makan siang di meja keluarga.Di waktu itulah ibu Iwan berkata kepada suaminya. Sekarang anak-anak sudah besar. Aku ingin mencari uang sendiri. Yang dijajakan di warung bertambah: alatalat tulis. Mereka selalu kekurangan. Itulah salah satu sebab mengapa bapaknya Iwan menjadi RT. lalu membantu mengerjakan ini atau itu. “Kalau boleh. batu atau pasir. obat-obatan. ayah dan dua adiknya. Hanya kebutuhan rumah tangga sehari-hari. adik atau saudaranya ipar. Pasangan itu banyak menolong dan membantu penduduk sekitar. Orang terus membangun. meterai. Dia minta dibelikan kendaraan. minta gula dan kopinya saja sedikit. “Bikinkan aku warung. Tapi pekan kemarin dia tambah satu lagi.

kenyataan dan harapannya sudah begitu menyatu. Dan karena merasa permintaannya tidak bakal terpenuhi. Seusai sekolah.” kata Iwan lagi. Mana yang sungguh ada. tinggal aku yang belum punya kendaraan.. Kadang-kadang.. 182 . Baru saja membeli kendaraan lagi untuk tokonya.” begitu kata Herman. Tetapi pemanfaatannya sangat kecil. kita bisa cari uang.”. “Di kelas. Mereka tidak hanya melampiaskan nafsu mengatasi lawan dengan kecepatan. Sebetulnya merupakan kebanggaan penduduk ibu kota propinsi. Stadion Jatidiri besar.” kata kawan Iwan yang lain. “Kalau punya kendaraan sendiri.”. Sudut dan selinapan yang dekat pagar dibiarkan. Tetapi Pak RT tidak termakan oleh rayuan si anak. Karena dalam keseharian. “Sampeyan3 ini bagaimana! Punya anak lelaki. kendaraan umum selalu datang terlambat karena jalan macet.Rupanya si ayah masih ingat juga bahwa anak sulungnya mencetak empat angka di bawah sedang di catur wulan yang lalu. Karena badannya lebih tinggi dan besar dari anggota kelompok itu.. sehingga dia sendiri terjerat dalam khayalannya. Rumput ilalang bertumbuhan nyaris setinggi orang. sampai mobil-mobil dan kendaraan roda dua lain yang setengah rongsokan. di waktu malam.” dan yang disebut Khodir mengangguk-angguk. terjadi kebut-kebutan. semua teman Iwan sungkan kepada Khodir. Bisa turut berpacu di Jatidiri. “Kalau Khodir yang bawa kendaraanmu. temannya yang paling menonjol. tidak dimanja. Pak RT tidak pernah menunjukkan kepedulian tentang kehadirannya... Yang dia katakan tadi entah merupakan kebohongan yang keberapa kali yang dia ucapkan sejak pagi hari itu. Dia keluar masih mendengar omelan Mak terhadap suaminya. Di sana mereka juga menghambakan diri pada kemaksiatan berjudi. Lalu kita bisa bikin oplosan lain. berlanjut biasa. Lebihlebih menyuruhnya belajar. aku bisa mengantarkan Yuni setiap pagi. Iwan meninggalkan rumah sebelum keluarga selesai menyunyah pisang. kena hujan. Dia yang paling lama memiliki kendaraan. Di mana ada kegiatan berkelompok. barulah bagian-bagian tertentu dirapikan. Kebohongan memang sudah mendasari hidup Iwan. Karena Iwan semakin sering mengatakan hal yang hanya terjadi di kepalanya. Minta kendaraan saja. Di sanalah. “Benar. “Itu benar. ruwet menjadi satu. Teman-temannya menyuruh Iwan mengambil uang di warung Mak.” tiba-tiba si ibu ikut urun bicara. Hal ini agak mengejutkan Iwan. sehingga tanaman dan perdu liar berduri berdesakan menjadi sarang aneka binatang melata. Yang dia inginkan demikian. Jika pertandingan akan diselanggarakan di sana.” Iwan kelihatan tidak was-was mengenai angka-angka di rapornya. Anak-anak repot. Kini teman-teman itu menyulut api pemberontakan terhadap Pak RT: “Ayahmu kaya. Herman-lah yang mengepalai.. Padahal seharusnya kamu yang dibelikan kendaraan! Minta saja! Kalau kamu punya roda dua. atau mana yang dia harap ada. pasti kita menang. Dan dia tidak khawatir ayahnya akan menyelidiki kebenarannya. “Apa lagi ini nanti musim hujan.. Iwan termakan oleh gosokan itu. Lalu alur keseharian kembali seperti semula. menjadi kernet omprengan. Pemuda-pemuda tanggung memacu kendarasan mewah beroda empat atau dua. Aku mendapat resep baru dari tetangga yang datang dari gunungkidul. sulung.

“Kuberikan kepada Herman. menutup kancing baju. Mak turut masuk kamar. Mak bertanya mengapa mengambil uang sebanyak itu. Terakhir dia masukkan uang kemarin malam. Dia mau buka usaha. Tidak banyak. Sampul coklat masih ada tetapi kosong. Kalau ada keperluan sekolah bisa sepuluh atau dua puluh ribu. “Mau belajar bersama teman-teman. kasihan tidak punya modal. untuk apa uang itu. Hati Mak tenang. “Apa usaha temanmu?” “Bengkel kecil-kecilan. “Nanti kalau usahanya berjalan. jumlahnya mendekati tujuh ratus ribu. dadanya kerempeng. Alangkah terkejut dia melihat tulang iga Iwan yang mencuat.Hanya. tangannya mengulurkan satu lembar sepuluh ribuan. Diberikan kepada Mak. pagi Iwan dan Yuni disuruh mengambil uang sendiri di kotak di dalam laci. di muka sekolah. Mak lega. Tenang dan tanpa ragu Iwan menyahut. menggosok rambut dengan kain apa saja yang tersampir di sana. pada suatu pagi ketika Mak akan membuka warung. meneruskan bicaranya.” Lalu Iwan terburu-buru. “Ke mana?” Mak masih mengikuti. Rupanya baru kali itulah dia menyadari betapa kurusnya si sulung yang dia banggabanggakan.” Mak menghitung. Mak takut bicara kasar.” kata Iwan lagi. bersama tukang pompa ban. “Pasti Iwan yang mengambil!” kata Mak seorang diri. Tapi tidak apa-apa.000. karena si sulung sudah berlalu. Malahan mungkin dengan bunga. Dia mengira anaknya marah karena permintaannya ditolak Pak RT. Mak bertanya lembut. lalu akan mengenakan baju. Apa lagi. terkejut bukan kepalang karena uang yang dia selipkan di belakang stoples di rak paling atas hilang. “Ini sisanya. Iwan pergi untuk belajar di rumah kawannya. dia keluarkan gumpalan uang lusuh.” “Aku jajan bakso tadi. Di sana tentu disuguhi makanan. Tadi siang kamu juga tidak pulang makan. Herman akan mengembalikan. “Mau ke mana?” Mak bertanya. Paling-paling lima ribu. Rambutnya masih basah dan belum disisir. dia tunggu lagi sampai anak itu mandi. berhenti lalu katanya “Minta Rp 10.” Mak harus puas dengan jawaban tersebut.” Iwan menyahut. Mak tunggu anak sulung itu seharian. Baru muncul hampir petang. Mukamu pucat. “Makan dulu! Kamu kurus. Biasanya. sudah menyambar tas dan melangkah ke pintu kamar akan keluar. dua ratus ribu lebih sedikit. anaknya bawa 183 .” lalu dari saku celana seragam yang kembali dia pakai. Mak”. Besok pagi langsung ke sekolah. bahkan nyaris merayu si anak.

Iwan sendiri.” dan Mak itu hampir melepas lanjutan kalimat. Rupanya.” akhirnya itulah yang dikatakan Mak. Yang paling nampak adalah ibu Herman. tidak tahu bagaimana harus menjawab secara tepat. Banyak makanan dijajakan di malam begitu.uang. Mendengar itu. Kecuali Anda. Sejak si sulung lulus SLTP. Rabu sampai hari ini tidak kelihatan. menanggapi. Juga hadir dua guru. anak-anak mereka tidak naik kelas. Kami kira. Itu baik.. tidak nampak di sekolah sejak empat hari.” kata kepala sekolah. katanya. Sekarang. Dan yang sesungguhnya terjadi ialah. Mak berpikir. dia menganggapnya sudah besar. 184 . Ibunya Iwan. Kepala sekolah menemuinya bersama sekelompok orang tua lain di ruang tersendiri. bukan?” Mak kebingungan. kalau Iwan pulang makan. Pak RT tidak pernah menyuruh-nyuruh anak itu berbuat begini atau begitu. Khodir berkali-kali mangkir. Mak senang. Itu memang baik jika memang demikianlah kejadian yang sesungguhnya. dia memutuskan: “Sebaiknya ibu-ibu berbicara kepada anak-anak Anda. “Bukankah Herman membuka usaha di depan sekolah?" Ibu Iwan merasa perlu mengutarakan pengetahuannya. Herman sudah dua bulan tidak masuk.” Dan yang lebih-lebih mengejutkan para orang tua kedua teman Iwan. Katanya banyak tambahan pelajaran. “Dia berangkat sekolah setiap pagi. lebih baik mengetahui anaknya berada di rumah teman. maka kami memberi kelonggaran mengikuti tes untuk akhir catur wulan. Ketika kepala sekolah merasa sudah cukup mengorbankan waktunya untuk mereka. dua hari kemudian orang tua diminta datang mengambil rapor. Anak Ibu pulang ke rumah setiap hari. Maknya Iwan menjadi ragu. “Usaha apa?” hampir serempak mereka yang berada di sana bertanya. tapi Selasa. ibu-ibu akan melunasi uang sekolah sekarang. “Hari Senin masih masuk. Seperti biasa. ialah anak-anak mereka sudah setengah tahun tidak membayar uang sekolah. mandi atau untuk keperluan lain. ya dia pasrahkan saja ke bawah Lindungan Yang Maha Kuasa. “Kami menerima uang tes. Mak yang berangkat. Jadi Mak juga meniru suaminya. Sudah tahu sendiri apa yang harus dikerjakan.. bahwa Iwan mengambil uang banyak sekali dari warungnya untuk ‘dipinjamkan’ kepada temannya itu. Dengan suara terbata-bata.” istri Pak RT berkata membela anaknya. “Buka reparasi kecil-kecilan bersama tukang ban. Rapor anak-anak itu semakin lama semakin jelek. Seorang guru melihat ke buku catatan. Tetapi kalau anak itu tidak kelihatan. bisa jajan. Jangan sampai terlanjur mendapat pengaruh buruk dari jalanan. “Dia pulang sore. tidak keluyuran.

Pak RT orang yang sibuk. Pak RT tetap belum pernah terlambat mengikuti rapat kami!” “Sebetulnya malahan kami yang merepotkan Bu RT. Dan selalu ada yang menjawab. Walaupun tidak semua dari mereka itu aktif mengerjakan sesuatu guna membantu kelancaran organisasi kampung. Pak RT. Ini kami sudah mulai menikmati hidangan. tetapi semua tahu bahwa mengikuti pertemuan di rumah Pak RT tidak pernah rugi. “Anu 4. Mereka pulang berpeluang mengantongi paling sedikit satu pak kretek atau filter. ini kami sedang memperbincangkan berita yang didengar tukang rokok di depan Karangrejo. sesuai pilihan masing-masing. Padahal katanya.“Memang banyak ekstra kurikuler. selalu merepotkan ibu. saya juga dengar. Kami 185 . Kami semua tahu bahwa Pak RT pasti hadir meskipun kami harus menunggu. Begitu pula para pendatang.” sahut Pak RT. Gelasgelas itu diletakkan oleh pembantu di atas meja rendah yang berderet di tengah.” kata-kata lain yang dimaksudkan lebih manis terdengar dari pojok lain. juga selalu banyak makanan dan rokok.” seseorang menjelaskan. mengerti.” sahut seorang guru. Tergesagesa dia mandi dan melunasi tiga rekaat. “Apa beritanya sudah masuk koran atau televisi?” “Kok belum ada. “Bu! Tehnya ditambah!” Pembantu-pembantu meyorongkan ceret berisi tambahan minuman.” Disambut dari sisi lain: “Ya benar. Para pelayan sudah terdidik. “Maaf! Maaf! Saya terlambat!” kalimat itu selalu mengiringi masuknya Pak RT ke dalam ruangan. lalu mendongak ke arah dalam. Untuk beberapa saat terdengar pembicaraan. mulutnya mengunyah gorengan bergedel jagung penuh minyak. Tetapi saya jarang melihat Iwan mengikuti tambahan pelajaran itu. Kami minta maaf. pria-pria lajang atau yang telah berumah tangga tapi lebih suka menghindar dari kerepotan anak tak hentinya memasuki pintu di sebelah ruang tamu Pak RT.” “Ya. Selain di situ suasana cerah. mengelilingi tiga atau empat piring berisi kudapan. serunya. Ada sopir taksi yang dirampok katanya. masing-masing tamu sudah mendapat jatah teh manis.”tanggap Pak RT sambil menempatkan dirinya di atas tikar. lalu mengenakan baju berkerah dan sarung. Bu. sopir taksinya ditusuk pakai obeng. “Silahkan! Silahkan! Direruskan saja. Sementara itu orang mulai berdatangan memasuki ruang pertemuan. “Tidak apa-apa. Kaum muda lelaki dan perempuan. Petang itu Pak RT pulang setelah panggilan shalat Maghrib dikumandangkan. Tanpa menunggu lama.

Terdengar suara bebincang rendah. Penjual mi ayam pagi-pagi di depan toko saya yang cerita begitu. Rundingan yang disebut rapat pun dimulai. Mereka bersama Pak RT menikmati sate ayam dengan lontong kenyal. Pak RT membiarkan pintu terbuka. Yang lain-lain kabur!” “Ya. Itu biar diurus polisi!” kata seorang lelaki yang duduk tidak jauh dari pintu masuk. Satu kali menengok ke arah dalam rumah. kita tidak akan selesai sampai besok pagi. Dia kelihatan sibuk. seorang lagi duduk di belakang kemudi. Begitu nampak terpikat dia sehingga sejak melangkahkan kaki ke dalam rumah petang itu. Seorang di tengah-tengah halaman. menyumpalkannya di antara gigi besarnya. mereka santai menonton. Serius atau santai.” Pak RT mengambil satu bergedel lagi.” lelaki yang terdekat dengan pintu melongokkan kepala memberi salam. saya sendiri. 186 . Dua orang turun. Malam itu. Tetapi tidak jarang Pak RT menahan dua atau tiga tetangga. kemudian berhenti di depan rumah Pak RT. tiduran atau bersandar ke dinding. seorang di pagar. langsung menuju pintu yang terbuka. menariknya menjauhi pintu. Mereka makan dan berbicara.“Di mana kejadiannya?” Pak RT bertanya.” “Yang saya dengar. Televisi di sudut ruang dinyalakan. Mereka ngelantur mengobrol. “Selamat malam. Yang penting Pak RT tidak makan lagi. Sebuah jip memasuki kampung pukul sepuluh lebih sedikit. mengatakan gagasannya. tiga tamu belum meninggalkan ruang pertemuan. Satu kali bertanya kepada tukang becak. “Betul! Betul! Kalau tidak. Pak RT bangkit dari tikar. Dia juga belum diberitahu oleh istrinya bahwa Iwan tidak naik kelas atau pun mangkir sekolah pekan itu. “Ayo kita mulai membicarakan lapangan volly saja! Jangan ngurusi rampokan. Atau paling lambat setengah sepuluh. sementara kotak kaca dibiarkan terus menyiarkan tayangan yang dipilih. Mata bapak itu melirik ke kejauhan. Ada tiga lelaki lain. menemui si pendatang. “Bapak Rajiman?” “Ya. berbicara. tak satu kali pun ingat apakah dia sudah melihat anak sulungnya hari itu. Kelihatan kepala Pak RT tertegak. Pertemuan demikian diusahakan berakhir pukul sembilan. bakso atau sate. mengenai itu juga saya dengar. satu pelaku sudah diringkus. dekat sekali! Kok polisi tidak sampai ke sini ya. Bau daging bakar berbumbu memenuhi udara malam lembab.” sahut Pak RT. membantah. Dia menggandeng lengan orang yang baru datang. memanggil penjaja makanan apa saja: mi kopyok. “Di situ saja! Di dekat Jatidiri!” “Wah.” sahut suara lain.

” Lima menit berlalu sejak kedatangan tamu baru itu. Kamu dua pancuran. Tetapi nyatanya. Sumber air/telaga terletak di antara 2. Dia berlari ketika polisi menyelidiki kasus perampokan dan penusukan sopir taksi dinihari sebelumnya. Katanya singkat kepada tamunya yang baru menikmati daging sate. jelas terdengar bahwa waktu istirahat seisi rumah terganggu. Bukan untuk berbicara.. bahwa Khodir ditangkap di terminal Jatingaleh. Dia memanggil-manggil. . Dia adalah satu dari mereka yang selalu dibantu Pak RT supaya bisa hidup berkecukupan. kakinya ditembak. 4. Serse memberitahu bapaknya Iwan. Maka ketahuan bahwa dia membawa senjata tajam. Di sakunya terdapat bungkus rokok berisi lintingan ganja siap pakai. Biar pintu ditutup. Juga sebuah kotak korek api penuh butiran obat terlarang. saya harus pergi. Sesaat berlalu. langsung menuju ke rumah induk. Pak RT menyetir kendaraannya mengikuti jip keluar kampung. Silakan Anda pulang. Percakapan yang kacau menyusul perbantahan di antara penghuni. “Saya dan ibunya membanting tulang memutar otak untuk mencari uang.*** 187 1. “Saya tidak tahu apa maunya anak-anak ini!” kata Pak RT seperti kepada dirinya sendiri. Karena tidak mau berhenti sewaktu dipanggil. Nama Iwan disebut-sebut. Tugasnya malam itu adalah menemani Pak RT. Supaya mereka hidup layak.” Tetangga di sebelah Pak RT tidak berani mengeluarkan pendapat. bisa sekolah. sudah mengenakan celana panjang. Seorang tetangga duduk di sampingnya. Dia menawarkan diri menemani Pak RT ke kantor polisi. Khodir mengaku bahwa dia melakukan perampokan dibantu oleh Herman dan Iwan. Teh kental 3. Belum ketahuan pasti jenis apa.” Lalu Pak RT muncul di pintu.Dua menit kemudian Pak RT masuk kembali.. Pak RT harus memberitahu polisi alamat semua kenalan atau saudara yang mungkin dijadikan tempat bersembunyi kedua remaja itu. “Maaf. “Sudah hampir seminggu Gus Iwan tidak pulang. biasanya dipakai karena gugup atau sungkan . Kata tambahan dalam bahasa Jawa. Tiba-tiba ada suara pembantu lain yang lebih jelas.

jangan-jangan mereka justru tertawa di hati masing-masing! Di deretan depan kulihat adik-adikku. Ayah berkata. Tapi aku tahu hati mereka lebih cerah karena ayah sudah meninggal dunia. Maka bukitbukit kuburan seperti jadi lautan manusia. Namun di bagian kota lainnya langit digantungi mendung gelap dan bumi di bawahnya mungkin disiram hujan. Aku memandang khalayak. Walikota pun ikut berjubal di tengah khalayak dan kini di panas terik ia dengan takzim sedang menyampaikan pidato kematian yang panjang dan entah kapan habisnya. Tidak. Sebab yang paling merisaukan sebenarnya adalah saat-saat ayah bergulat di pembaringan. Dengan datangnya kematian ayah kami maka kesedihan besar pun berlalu bagi adik-adikku. Siapa tahu. “tapi sudah hilang sendiri!” . Aku menatap matahari. Ketika meninggal ia masih pimpinan beberapa yayasan.000 jiwa itu. Ganjilnya.” bilang ayah. Tubuh ayah yang gemuk seperti ulat itu terbaring sehat-sehat saja. sambil menepuk perut dan menitikkan airmata kesakitan. Namun ia adalah salah seorang tokoh masyarakat yang begitu dihormati di kota pantai yang berpenduduk sekitar 400. Pada hari pemakaman ayahku alam pun tidaklah adil. September 2000 Upacara Hitam Oleh: Abrar Yusra 188 Langit di atas kepalaku terpentang biru. Dan panas terik seolah membakar udara pantai. Lihatlah.Horison. Silau. katakanlah tidak memalukan — termasuk Aditi kecil. mengirimkan sinar matahari yang menerobos menyilaukan mata. Ayahku bukan pejabat atau tokoh politik. melawan penderitaan di hari-hari sekaratnya yang panjang. Masing-masing memasang muka dan pakaian berkabung yang sedemikian pantas. bagaikan organ-organ di dalam tubuhnya dipelintir tanpa ampun oleh tangan-tangan buas yang tak kelihatan. di bawah matahari silau para pelayat datang dari mana-mana untuk menghadiri pemakamannya. sewaktu-waktu dalam waktu pendek ayah pun berteriak-teriak dan tubuhnya menggelepar-gelepar melawan sakit. Gelap. silau juga. “Di sini. Masih berbayang di ingatanku bagaimana mulanya. Tapi apa peduliku. Sebaliknya justru merupakan permulaan bagi kesedihan besarku.

lalu mengerang-erang melepaskan kata-kata tak jelas yang berlepotan dari mulutnya. Seolah hanya diserang penyakit yang lucu. kapan saja di mana saja. Rencana untuk membawa ayah atau mendatangkan dukun ditolak ayah mentahmentah. Baru saja sekali enam hari. Ada yang ketawa sebab mendapati ayah biasa-biasa saja. Yang tinggal hanya para tetangga. Berita bahwa ayah sakit segera terbetik ke mana-mana. Siapa pun maklum bahwa kematian ayah memang tinggal soal waktu saja lagi. Lalu kami mendatangkan sendiri seorang dokter ke rumah di pinggiran kota. 189 . Sebab seperti semacam misteri. Mereka datang memang untuk sekedar menghibur atau menunjukkan rasa akrab pada kami tapi bukan menunggu atau mengharapkan kesembuhan si sakit. sehingga membuatnya capek. nyatanya serangan sakit demikian datang lagi lantas hilang lagi. “Masa panitia yayasan rumah sakit diobati dukun kampung?” Serangan penyakit aneh itu mulanya sekali dalam 20 hari. Ayah pun ragu apakah ia betul-betul sakit. tiba-tiba ayah menggelepar-gelepar dan berteriak-teriak keras kesakitan. Malam itu para pengunjung sudah pada pulang. serangan sakit itu datang sendiri dan hilang pula sendiri. Aku suka sikap terbuka para tetangga demikian. maka ayah tidak kami perkenankan keluar rumah sendiri. “Jangan.” kataku. Makin lama muka tua itu makin berkerumuk.Ayah malah mencoba tertawa. Kami anak-anak ayah tidak puas dengan hasil pemeriksaan dokter. Ya. Makin cekung dan sepi.” cemooh ayah tertawa. seolah ia sudah sembuh. Kami benar-benar kalang kabut. ketika sedang tidur atau lagi ngomong baik-baik. juga tanpa hasil apa pun. Tapi ayah merasa perlu mendatangi sendiri seorang dokter spesialis di pusat kota. makin sering saja. Dan sejak ayah mengalaminya di dalam mobil lalu ketika sedang berpidato. Nampaknya seperti untuk bersenang-senang. tak peduli sedang ada tamu atau tidak. “Lebih baiklah kalau ayah di rumah saja. Ayah sendiri sudah mulai menolak berbagai undangan rapat dan ceramah yang biasanya tak pernah dilakukannya. “Tak ada gejala penyakit apa-apa. perlu diobati atau tidak. Maka hidup ayah jadi aneh. di antaranya tanpa bersuara main halma atau main kartu. Tapi makin lama makin sering. Maka ayah kami bawa ke dokter spesialis yang lain dan tak ada hasilnya. Penyakit itu menganiaya ayah dengan semena-mena benar. Malah ayah bisa tertawa keras meskipun tubuhnya lebih kurus.“ kata dokter. Maka para pengunjung pun pada berdatangan ke rumah. Sesudah berlangsung beberapa bulan masih belum ada dokter yang mampu mengenal penyakit ayah. apalagi mengobatinya. Namun jika serangan penyakitnya datang. Ia lebih banyak tidur dan makin lama hanya terjaga bila rasa sakit menyerang lagi tanpa ampun. lalu sekali tiga hari! Kini sewaktu-waktu ayah bisa terserang rasa sakit.

“Harus kaulakukan sesuatu. tinggal tulang-tulang dibalut kulit keriput. ayah seperti memohon: “Biarkan aku mati. Keterlaluan penderitaan orang tua itu.Sudah larut dinihari. “Bagaimana beliau?” ia bertanya. Tak ada daya untuk melawan perkosaan penyakitnya. Aku di kamar tidur ayah dihinggapi perasaan aneh: aku serasa mau sinting karena ayah tak sembuh-sembuh juga. Seolah mau bilang apa pun akan kulakukan asal ayahku tak dizalimi penyakit yang misterius itu lagi. Maka aku berdoa untuk kematian ayahku. Seperti digerogoti setan. Dan di ruang tengah kedengaran tamu terakhir yang sebelumnya bersamaku menunggui ayah sedang menutup daun-daun jendela. Lalu ia bilang dengan suara tenang tapi terang. Nah. ampun!” Lalu dengan sisa-sisa tenaganya yang amat lemah. “Ampun. “Saya bisa membantumu. Tapi aku lebih kenal ayahmu sebab dulu kami pejuang gerilya yang harus mencari senjata dan bertempur. mati!” Maka ayahku menangis. seolah mataku dapat mengikuti atau membayangkan suatu makhluk tak dikenal bergedencak dalam tubuh ayah seperti seekor binatang liar seradak-seruduk di bawah selimut. Ia sudah melihat dengan mata kepala sendiri bahwa malam itu serangan sakit ayah paling menjadi-jadi. barangkali juga pingsan lagi. Itu seperti dongeng dari dunia dan zaman lain. Bagimu mungkin ia seseorang yang hebat. Sinar hidup dari matanya sudah padam! Aku serasa mau gila. “Kambuh lagi?” Aku mengangguk. Ia tersenyum. Termasuk berguru ilmu-ilmu kebatinan. maka: “Jangan!” rintih ayah tak jelas. Seolah raung itu pun menghabiskan cadangan tenaganya. si kakek itu lagi. Rasanya berdosa membiarkan ayah hidup eh sakit teraniaya demikian. Maka kudengar langkah-langkah memasuki pintu kamar. Yang geresehpeseh bahasa Inggeris. Nak!” suara si kakek lagi. Konon ia teman ayahku dulu. bahkan ilmuilmu hitam. Yah. Adik-adik sudah pada tidur. Tak tahan menyaksikan tubuh ringkih itu kembali menggelepargelepar. apakah harus menerima atau membantah kisahnya. Aku gemas kenapa ayah tidak mati-mati juga. “Kamu kenal siapa ayahmu. pemimpin masyarakat yang modern. Tak tahu aku. Tapi kematian rupanya tidaklah ditentukan oleh permintaan dan desakan seseorang. Hanya kematian yang mungkin mengakhiri penderitaannya. Setelah berbulan-bulan maka seakan baru benarbenar kusadari bahwa tubuh ayah yang gemuk seperti ulat itu kini sudah keropos seperti kepompong busuk. rupanya ia sudah selesai menutup jendela-jendela. 190 . punya mobil.” Aku menatapnya tak berdaya. Muka cekung ayah sudah menghitam. Segala cara kami lakukan untuk itu. ya ndak! Tahu apa itu ilmu hitam?” Aku hanya melongo. Ayahku meraung lagi. Seolah menampik hidup dan penderitaan.

bahkan paling terkutuk. cukuplah di sini kukatakan bahwa ilmu hitam terkutuk itu mengakibatkan maut pun menolak tubuh ayahku. Bahkan aku ingin seperti itu! Ternyata ayahku memperdayakan orang-orang yang mengaguminya dan menjahanamkan aku. Tapi itulah suatu kematian paling ganjil yang pernah kukenal. Sebelumnya aku selalu mengagumi ayahku dan membayangkannya sebagai tokoh yang terhormat. jika memang hanya itulah cara agar Si Hitam keluar dari tubuh ayahku — sesuai dengan persumpahan ayahku! Tak usahlah kukisahkan bagaimana dengan bantuan si kakek itu. betapa terkutuk. meskipun aku tak merasakannya! Dan ayah pun. itulah yang diseru dalam mantra-mantra dengan nama Si Bujang Hitam atau Si Anjing Hitam!” Panjang juga uraiannya. akhirnya menghembuskan nafas terakhir dengan tubuh capek berkeringat. seolah kulihat nyata_. atau kampak atau apa! Apakah Si Hitam mulai membuatku jahat? Maka matahari yang menyilaukan ini. Maka jalan terbaik bagimu. Tapi sejauh yang dapat kutangkap. Lalu ditambahkannya dengan suara tenang juga: “Si iblis itulah yang menzalimi beliau. Maka beliau akan meninggal dengan tenteram!” Ketika tubuh ringkih ayah menggelepar-gelepar lagi maka aku seolah benar-benar sedang dalam cengkeraman mimpi buruk. Maka Si Hitam jahat itu kini mendiami diriku. kami berhasil membebaskan ayah dari penderitaannya. betapa terkutuk! Ternyata aku tidak siap untuk itu. di tengah khalayak ramai yang memenuhi bukit-bukit kuburan jelaslah bahwa memang ayahku sudah meninggal dan dihormati penduduk kota selayaknya. sebab demikian firman Tuhan tentang iblis. upacara pemakaman dan khalayak ini pun kurasakan sebagai bagian dari takdirku yang terkutuk sebagai pewaris biang dosa ayahku. hina dan memalukan. benar-benar tidak adil dan menakutkan seperti mimpi buruk! Dalam hati aku menyumpahnyumpah karena aku kehilangan makna diriku sendiri.. yang berjuang dengan cara-cara terhormat. anaknya. justru tidak sedih atas kematian ayahku. Betapa terkutuk nasibku!*** 191 . Kematian adalah pantas dan wajar bagi setiap orang. Si Hitam sedang sewenang-wenang seradak-seruduk di sana. akan terus memperkosa ayahku. Seseorang yang memelihara ilmu hitam sebenarnya memelihara iblis dalam dirinya. kaupungut saja Si Hitam. yah.“Sederhananya ilmu iblis. Cara mati ayahku yang terkutuk itu hanya menjanjikan bahwa masa depanku tidaklah lebih dari pengulangan atau pelanjut kebusukan ayahku sendiri.! Kini di bawah matahari. Kalau aku tidak malu. malah sepertinya aku ingin mencincang-cincang mayatnya dengan pisau. apa pun artinya. serta mulut komat-kamit begitu lemah. Sebab kubayangkan. Tak dapat kubayangkan bahwa iblis itu. benar-benar iblis. Aku sendiri. yang sempat sadar pada detik-detik terakhir. Tapi Si Hitam terus bergedencak menyiksa ayahku yang terkapar tidak hidup dan tidak mati. Maka tanpa pikir lagi kukatakan pada si kakek bahwa aku mau memungut Si Hitam.. karena iblis yang dengan persumpahan bersarang dalam diri ayahku takkan mati-mati sampai hari kiamat. Sebab aku tak pernah membayangkan bahwa kematian ayahku harus kutebus dengan mewarisi keiblisan dan iblis ayahku dalam suatu upacara paling gila malam itu. _tidak. karena aku kasihan padanya! Dengan perasaan kosong kulihat mayat ayahku diturunkan ramai-ramai ke lubang kuburan gelap.

Aku merasa tubuhku ini bukan lagi rumah pribadiku. aku pontang-panting mencari cermin. Aku tidak bebas lagi bergerak. Setiap suara entah dari mana itu bergaung memenuhi kesumpekan ruang tubuhku. tiba-tiba aku tidak bisa yakin apakah cairan yang keluar dari seluruh tubuhku itu benar-benar darah atau air mata. Semua cermin yang kutemukan tidak bisa lagi dipergunakan. Tubuhku menjadi media ekspresi penghuninya yang bukan aku saja itu. dengan kekerasan atau tanpa kekerasan. bisa jadi telah dibangun kamar-kamar yang sadar atau tanpa sadar telah aku kontrakkan kepada entah apa dan siapa. mushola. Kesadaran itulah yang mendorongku untuk bercermin. Bila sudah mengetahuinya. gereja. setidaknya untuk mengetahui siapa saja penyatron ruang-ruang tubuhku yang sadar atau tanpa sadar sempat kukosongkan itu. mulutku. Tapi sering aku tiba-tiba asing dengan diri sendiri. bisa bergerak selain diperintah olehku. Tapi keinginan yang mencekam itu selalu membangun kelelahanku menjadi orang yang pantang menyerah.” kata suara entah dari mana yang selalu bergaung memenuhi kesumpekan ruang tubuhku ini. karena aku memang bukan seorang pemain sinetron atau drama. lidahku. menerjemahkan hati menjadi apa saja. Aku merasakan suatu kesakitan yang nikmat saat darah itu mengucur setetes demi setetes. Aku teringat masa kecil saat emosi telah memuncak aku melepaskannya dengan tangisan yang keras dan merasa tenang setelah tangis itu berhenti. Maka aku menemukan cermin itu saat keinginan yang sunyi itu menusuk-nusuk seluruh tubuhku dengan pisau cekamannya. Setiap tengah malam aku terbangun dan mencari-cari cermin. mataku. Aku toh bukan Dedi Mizwar yang biasa memerankan Naga Bonar atau apa dan siapa saja. Bukankah setiap hari aku menjadi aku. Ismail 192 “Bercerminlah dengan khusuk. Teringat kelegaan dari tangisan di waktu kecil itu. maka kamu akan melihat diri sendiri. tapi selalu berakhir dengan kelelahan. candi. Maka tanganku. menjadi diri sendiri. 1992 Menyiram Bunga di dalam Cermin Oleh: Yus R. Aku memasuki wc-wc umum. Dan begitu banyak keinginan yang tidak aku lakukan. Semua cermin telah retak dan pecah. Betapa sunyi keinginan ini. . Di dalamnya. aku ingin mengusirnya. hotel. berekspresi. Begitu banyak perilaku yang tidak bisa dimengerti mengapa pernah aku lakukan. kakiku.Jakarta. Seluruh anggota tubuhku mengalirkan darah. diskotik.

Aku tidak bisa membedakan suara keduanya. kesunyiaan. “Mau menyiram bunga?” tanya si penyiram itu sekali lagi. batang. air. Ada kuncup yang menjadi keindahan bunga mekar menjadi keresahan kelopakkelopak yang tanggal dan menjadi kesadaran kesementaraan. “Mau kamu mencoba menyiram bunga?” tanya si penyiram itu ketika aku begitu takjub dengan matanya. Aku menyusuri daun dan batang sambil mengingat kesakitan hutan yang ditebang dan di bakar. 193 *** PANGGIL apa saja maka aku akan menoleh. Bila bertemu denganku. daun. Aku selalu terkenang dengan sebuah lukisan (yang entah di mana dan kapan pernah aku lihat) tentang seseorang sedang menyiram bunga dengan latar belakang langit senja yang kemerahan. Eh. kesendirian. ketaksempurnaan. aku lupa dengan metamorfosa itu. Sejak kecil cita-citaku memang menanam bunga. Entah . Sampai aku sadar bahwa badai itu hadir di dalam tubuhku. Tapi begitu air jatuh dari gayungku. Tapi kesakitan itu pun aku rasakan menjadi kenikmatan yang tiada bandingannya. Namaku memang tidak jelas. Barangkali kesakitan dan kenikmatan adalah dua hal yang menempati satu ruang kesadaran. Perubahan keyakinan itu memang begitu menyakitkan. mengalir ke mana saja yang kumau. Aku tak pernah lupa bagaimana air menetes dari ujung daun. Tiba-tiba aku menyadari bahwa aku sebenarnya tidak perlu cermin. aku melihat berbagai metamorfosa menjadi warna-warna yang artinya tak terjangkau pengetahuan ilmu semiotikku. di mana saja. angin. Tapi ketidakjelasan itu merupakan kejelasanku. Dengan gembira aku mengangguk dan menghampiri. Lukisan penyiram bunga dengan latar belakang kemerahan langit senja yang entah di mana dan kapan pernah aku lihat itu terpantul kembali di setiap potret diri yang kulihat di mana-mana dan apa saja yang tiba-tiba kulihat sebagai cermin. kepapaan. Aku telah terbawa air. bagaimana angin bergurau dengan tangkai mawar. ketakberdayaan. tubuhku terpampang seperti jutaan potret dari yang beragam betuk dan rupa. dsb. Aku ingin merasakan lebih dalam getaran metamorfosa dari banyak hal itu. aku tak yakin. kepedihan. Aku meresap ke dalam tanah sambil mengingat hektaran hutan menjadi gurun tandus. Tubuhku telah terpantul di mana-mana. ini sebuah jeritan atau geraman dari dendam.Keraguan itu menjadikan aku merasa sekali waktu cairan yang keluar dari tubuhku itu benar-benar air mata dan di waktu lain benar-benar sebagai darah. Tapi bila ingin ngobrol menghabiskan malam atau menghabiskan waktu menjadi tanpa ukuran. Di matanya. kabut. temui saja aku di kebun bunga. Ada pucuk yang diam-diam menjadi kesegaran daun menjadi kelelahan daun kering dan menjadi cekaman musim gugur. Di tanah. semuanya menjadi silet-silet yang tanpa henti menoreh-noreh tubuhku. Kesedihan. mengobrak-abrik ruang-ruang tubuhku. bagaimana tanah menguapkan bau yang khas. Aku suka membicarakan apa saja dengan siapa saja. Dan begitu banyak lagi metamorfosa lainnya. Aku mendengar kesakitan hutan itu seperti jeritan badai yang terus berdebur. api. jangan ragu-ragu untuk menyapa. sampah. Aku banting-banting di tengah lautan yang kuciptakan sendiri.

Saat itulah aku yakin bahwa orang itu adalah angin.berapa lama aku pingsan. Pantai apakah ini? “Mau ikut denganku?” tanya seseorang dengan ransel besar di punggungnya yang mengingatkanku akan perjalanan yang panjang dan jauh. Kami tahu tempat-tempat itu pun akan menyediakan hidangan kesakitan-kesakitan lain begitu kami datang. Aku menyusulnya sambil berteriak. kami merasa begitu banyak tempat yang belum kami kunjungi. begitu lelah. “Aku ikut!” Kami mendaki bukit menuruni gunung masuk ke lembah menyusup ke lorong-lorong. Setiap kaki melangkah meninggalkan suatu tempat. Kamu bisa menamakan pantai apa saja sesukamu. kami merasa begitu banyak tempat yang belum kami kunjungi. Barangkali hidup memang pengembaraan itu sendiri seperti kata Seno Gumira Ajidarma dalam sebuah cerpennya yang kubaca di toko buku entah di daerah mana. Atau Pelabuhan Ratu. Aku merasa tubuh ini sakit-sakit. pergi dari tempat yang satu ke tempat yang lain sambil merasakan rasa sakit sendiri-sendiri. Kami tidak bisa membayangkan. Pantai Panjang juga bisa. berapa banyak kertas dan tinta yang akan kami habiskan bila setiap peristiwa dicatat. orang beransel besar itu terbang. bila seluruh peristiwa itu tercatat. “Kuta. Suara tangis terdengar di mana-mana. Benarkah ini pantai Kuta? Melihat dari tanda-tandanya aku merasa ini Pantai Panjang. 194 . aku dan angin. Barangkali benar bahwa nama-nama tempat tidak penting bagi seorang pengembara. berapa milyar pembaca yang akan sakit. karena tahu-tahu aku berada di pantai yang tenang dan pagi yang anggun. rasa sakit barangkali bagian dari hidup. Kami banyak menyaksikan beragam peristiwa di setiap tempat. Karena semua nama akan cocok dengan pantai ini. Kami seperti punya kesepakatan bahwa sebaiknya memang tidak dicatat dan dibicarakan. Maka kami. “Apa perlunya nama. Sungai-sungai mengalirkan air mata. Tidak bisa terbayangkan. karena hanya kita yang menghuni dunia ini. Bertahun-tahun kami mengembara. Air mata siapa lagi itu kalau bukan milik kita. Setiap kaki melangkah meninggalkan suatu tempat. Peristiwa-peristiwa itu memang penuh dengan darah dan rasa perih. Atau Pangandaran. Kami merasa peristiwa itulah yang lebih penting dibanding dengan nama-nama. “Ya.” Siapa sebenarnya orang ini? Orang gila atau makhluk angkasa luar? Karena aku diamkan cukup lama.” Beberapa jenak aku tercenung. Sepanjang sejarah.” Aku memandang orang yang aneh itu. Barangkali sepanjang hidup ini akan dihabiskan untuk mengembara. Barangkali merasakan kesakitan-kesakitan di tempat-tempat yang berbeda itu adalah hidup kami. “Pantai apakah ini?” Aku malah balik bertanya. Tapi kertas dan tinta itu bukanlah alasan yang tepat mengapa kami tidak mencatat. Tapi sayang kami tidak mencatat peristiwa-peristiwa itu. tapi kami tidak bisa tidak mengunjungi tempat-tempat itu.

kita tidak bisa tidak pergi.” Dan entah apa lagi yang diucapkan si penyiram bunga bermata penuh metamorfosa itu. Memandangnya sambil mencoba memahami kunyahan mulutnya aku merasa begitu dekat dengan ulat. Tapi aku tidak mengacuhkannya. “Mengapa tidak menyiram bunga lagi? Dengan menyiram. aku berada di sebuah taman yang entah bernama apa dan di mana. Aku sadar bahwa aku tidak seperti angin yang ditakdirkan sebagai pengembara. aku tak mau mengikuti pengembaraan yang melelahkan itu.. Eh. Kita tidak bisa merasa sakit dan perih. Atau aku pun adalah ulat? Ah. Aku lebih tertarik dengan matahari yang membuat langit memerah itu. Aku tak mau pergi dengan ulat seperti yang pernah kulakukan dengan air dan angin. Karena sakit dan perih adalah hidup kita.. Dia barangkali tidak sadar bahwa kepergianku dari taman itu pun adalah pengembaraan. Ingatlah. Aku berdiri dan pergi. Dan begitu terbangun. Saat kulihat ke sekeliling.. “Mengapa berhenti menyiram bunga?“ kata seseorang yang sebelumnya kukenal sebagai si penyiram bunga itu. aku yakin bahwa taman ini adalah lukisan yang terpantul di potret diri dari cermin-cermin itu. aku baru sadar di taman ini pun ada ulat yang terus-terusan memakan daun dan mengerek batang.*** 195 . kamu bisa pergi ke mana saja.Keyakinan itu terus berada di hatiku sampai rasa lelah dan sakit tidak bisa lagi aku tahan. Sinar lembutnya disambut hangat lebah-lebah yang tanpa lelah mencari madu dari bunga ke bunga. Aku pingsan entah berapa lama.

seperti kakekku. tidak heran. aku duduk di pinggir sungai dan memperhatikan patahan air yang mengalir menjauh ke arah Timur. Sementara kebanyakan anak-anak seusiaku menggerutu kalau harus ke mesjid untuk belajar Quran. karena aku tidak pernah melihat orang di seluruh daerah ini yang menyapanya tanpa harus mendongakkan kepalanya. aku malah senang melakukannya. tetapi aku ingat betul bahwa bila orang melihatku bersama kakekku. ia akan menyeka ujung hidungnya dengan jari telunjuknya. dengan tergesa-gesa menelan sarapanku. Aku yakin bahwa aku adalah cucu kesayangannnya. saat untuk diam. Mesjid. dan berlari untuk menyelam di sungai. dan bersembunyi di belakang hutan kecil rimbunan pohon akasia yang tebal. orang-orang tinggi dan kurus dengan janggut putih dan hidung tajam. Kakekku pasti juga luar biasa tinggi. tinggi dan langsing sepertinya. Aku menyayanginya dan akan membayangkan diriku. aku cepat menghafal Quran dan Syeh selalu memintaku untuk berdiri dan memperdengarkan ayat dari Sang Maha Pengampun kapan saja ia menerima tamu. Aku biasanya tahu saat kakek menginginkan aku tertawa. kecuali pada pagi hari. dan aku juga mencintai sungai itu. Ketika lelah berenang ke sana-ke mari. sungai.Horison. Segera setelah selesai membaca Quran pada pagi hari. aku dulu mencintai mesjid. kakekkulah yang akan membawaku ke mana pun ia pergi. Aku suka membiarkan khayalanku dan membayangkan sebuah suku raksasa tinggal di belakang hutan itu. aku akan melemparkan batu tulis kayuku dan melesat menuju ibuku. dan ladang itu — semua itu adalah hal-hal terpenting dalam kehidupan kami. Sebelum kakekku bisa menjawab pertanyaanku yang banyak. atau belum pernah kulihat kakekku memasuki rumah tanpa harus membungkukkan badan begitu rendahnya sehingga aku mengingat bagaimana sungai akan mengalir memutar di belakang hutan kecil pepohonan akasia. berjalan dengan langkah-langkah yang lebar. terasa lembut dan tebal dan putih seperti kain wol — belum pernah dalam hidupku aku menyaksikan sesuatu yang lebih putih atau lebih indah. Yang aneh adalah bahwa aku tidak pernah pergi bersama ayahku. Oktober 2000 Segenggam Kurma Oleh: Tayih Salih 196 Ketika itu aku pasti masih sangat muda. Aku tidak ingat tepatnya berapa umurku. mereka akan menepuk kepalaku dan mencubit pipiku — hal-hal yang mereka tidak lakukan pada kakekku. juga aku akan mengingat saat-saat ia berdoa dan akan membawakan untuknya sajadah dan mengisi tempat air untuk wudhunya tanpa perlu ia memintanya. karena sepupusepupuku adalah gerombolan anak yang bodoh dan aku — begitu kata orang — adalah anak yang pandai. yang akan menepuk kepala dan pipiku seperti yang mereka lakukan ketika melihatku bersama kakekku. pada saat aku sudah menjadi laki-laki dewasa. Sungguh. cepat seperti jin. Sebabnya. Ketika ia tidak . ketika aku ke mesjid untuk belajar Quran.

” dan dari cara kakek mengatakan kata itu aku merasa bahwa “perempuan” adalah sesuatu yang buruk sekali. “Kau lihat tanah yang ujungnya di padang pasir sampai ke tepi Sundai Nil? Ratusan feddans. yang kutahu itu adalah tempat bagi impian-impianku dan tempatku bermain. “Menurutku kakek tidak suka pada tetangga kita Masood?” Yang dijawabnya. “Orang itu culas dan aku tidak suka orang macam itu. “Kalian tidak ingin ke sana?” 197 . Masood.” Ini jadi berita untukku.” aku berkata pada diriku sendiri. Kakek tidak pernah tertawa. Posisinya berubah sekarang.” Aku berkata kepada kakek. dan aku bisa mengatakan lewat wajahnya bahwa ia tersentuh. anakku.” Memanfaatkan kakekku yang membisu. aku mengalihkan pandanganku darinya ke daerah yang luas yang tadi diterangkan oleh kata-katanya. Kau lihat semua pohon kurma itu? Dan pohon-pohon itu — sant. dan sayal? Semua ini jatuh ke pangkuan Masood.” kata Masood.” Aku tidak tahu mengapa aku merasakan ketakutan pada kata-kata kakekku — dan rasa kasihan kepada tetangga kami Masood. “Kami akan memanen kurma hari ini. semua pohon itu ataupun tanah hitam yang pecah-pecah ini. Aku bertanya pada kakek mengapa Masood menjual tanahnya. empat puluh tahun yang lalu semua ini menjadi milik Masood — dua pertiga dari semua itu sekarang menjadi milikku. “Ya. “Tidak satu feddan pun milikku ketika aku pertama kali menjejakkan kaki di desa ini.” Kakekku kemudian melanjutkan.memiliki kegiatan lain. Setiap kali ia kawin ia menjual satu atau dua feddan padaku. “Masood. “Apa sih orang culas itu?” Kakekku menundukkan kepalanya sejenak. “Perempuan. memandangi luasnya ladang. Aku sudah melakukan semua kecuali membersihkan pikiranku dari pikiran-pikiran yang berdesakan masuk ke kepalaku pada saat aku melihat laki-laki itu mendekati kami. sesudah menyentuh ujung hidungnya. kemudian. anakku. Masood saat itu adalah pemilik semua kekayaan ini. dan kakek dan aku saling bertukar pandangan. Suatu hari aku bertanya tentang tetangga kami. Aku ingin sekali kakek tidak melakukan apa yang dikatakannya! Aku ingat Masood menyanyi. “siapa yang memiliki pohon-pohon kurma itu. suaranya yang indah dan tawanya yang keras yang menyerupai suara air yang berdeguk. dan kupikir bahwa sebelum Allah memanggilku aku akan membeli sisanya yang sepertiga juga. diwarisi olehnya dari ayahnya. galabia-nya dengan lengan baju yang robek. keledainya yang lambat dan pelananya yang tak terpelihara. “Aku tidak peduli. karena kubayangkan bahwa tanah ini sudah menjadi milik kakek sejak Tuhan menciptakannya. penampilannya yang jorok.” Aku dengan cepat menghitung bahwa Masood pastinya sudah menikahi sekitar sembilan puluh perempuan. ia suka mendengarkan aku membacakan ayat Quran dengan suara penuh irama. Lalu kuingat tiga istrinya. Aku berkata pada kakekku. ia berkata. adalah lelaki yang doyan kawin. akasia.

mengumpulkan kurma dan memakan sebagian besarnya. Mousa si pemilik ladang di sebelah ladang kami sebelah Timur. jauh dari kerumunan orang banyak ia berdiri seolah itu bukan urusannya. dan berjalan menuju kantungkantung kurma. Mousa di pemilik ladang di sebelah ladang kami. Tiba-tiba kakek bangun.” Tak ada yang memperhatikan apa yang dikatakannya dan anak laki-laki itu terus duduk di puncak pohon kurma. tetapi biarpun aku kenal mereka semua. yang kuhitung ada tiga puluh. beberapa mengambil satu dua kurma untuk dimakan. dan dua laki-laki yang belum pernah kulihat sebelumnya. Aku mendengar bunyi siulan dan melihat kakek sudah jatuh tertidur. aku sudah mulai berpikir tentang kata-kata Masood “jantung kurma. Namun. Di sana ada begitu banyak orang. Aku melirik Masood dan menyaksikannya sedang mendekati kami dengan luar biasa perlahan. Kakek memberiku segenggam penuh. kecuali ia memasukkan potongan tangkai ke dalam mulutnya dan sedang mengunyahnya seperti orang membuat perutnya kenyang dengan makanan yang tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan mulut yang masih penuh. yang kemudian kukunyah. masing-masing orang tak dikenal itu mengambil 198 . menggarap cabang dengan sabitnya sampai rumpun kurma mulai jatuh seperti sesatu yang turun dari surga. Aku ingat ucapan Masood padaku ketika ia suatu kali melihatku mempermainkan cabang pohon kurma muda. seperti manusia. Aku melihat orang berdatangan dan menimbang kurma ke dalam wadah timbangan dan menuangnya ke dalam kantung-kantung. Kemudian aku menyaksikan mereka membagi kantung-kantung itu di antara mereka. “Pohon kurma.Walaupun begitu. lalu mengembalikannya. Hussein si pedagang mengambil sepuluh. Kurma-kurma dikumpulkan menjadi tumpukan yang tinggi. dan dua orang yang tak dikenal. aku punya banyak alasan untuk memperhatikan Masood. aku merasa bahwa ia tidak betul-betul menginginkan kakek hadir di sana. Kerumunan orang bubar. dengan cepat dan penuh tenaga. Ia menarik tanganku dan kami menuju ke tempat panen kurma milik Masood. Sekali ia meneriaki seorang anak laki-laki yang bertengger di puncak pohon kurma dan ia sudah mulai menggarap rumpunan kurma dengan sabitnya yang panjang dan tajam. sementara aku tetap berdiri. seperti seseorang yang ingin mundur tetapi kakinya memaksa maju. kecuali Hussein si pedagang. walaupun kenyataannya pohon-pohon kurma yang akan dipanen adalah miliknya. melompat di atas kakinya. Ketika sekali lagi aku memandang luasnya tanah yang membentang di hadapanku. Namun. Lalu aku perhatikan Masood tidak mengubah cara berdirinya. “Awas jangan sampai kau potong jantung kurmanya. Ia diikuti Hussein si pedagang. kakek melompat berdiri dan aku melihat matanya bersinar sesaat dengan kecerahan yang luar biasa. Mereka membentuk lingkaran di seputar kurma dan mulai memeriksanya. merasakan kebahagiaan dan penderitaan.” Aku membayangkan pohon kurma sebagai sesuatu yang punya perasaan.” Dan aku merasakan rasa malu di dalam diri yang tidak beralasan. aku melihat teman-temanku berkerumun seperti semut di seputar batang pohon kurma. anakku. Terkadang perhatiannya tersita pada bunyi rumpun besar kurma yang hancur terjatuh dari ketingggian. sesuatu yang memiliki jantung yang berdetak. Aku melihat Masood memenuhi kedua tangannya dengan kurma dan membawanya ke dekat hidungnya. Seseorang membawakan kakekku bangku yang ditutupi dengan penutup dari kulit sapi.

aku merasakan sakit yang teramat sangat di dadaku.*** Tayeb Salih (Al-Tayeb Salih). Ia pernah menjadi guru di Sudan. Aku mencapai tepi sungai di dekat belokan di belakang hutan kecil pohon akasia. Cerpen "Segenggam Kurma" ini diambil dari kumpulan tersebut. Mousa si pemilik ladang di sebelah ladang kami di sisi Timur mengambil lima. Aku merasa pada saat itu bahwa aku membencinya. dua orang asing itu membawa unta. 1997. yang kemudian bersama sejumlah cerpen Afrika lain dikumpulkan oleh Charles R. aku sedikit ragu. merasakan tanganku mengarah padanya seolah aku ingin menyentuh keliman pakaiannya.” kata kakekku kepada Masood. Salih mulai menulis tahun 1953. yang hanya berisi tiga cerpen baru terbit tahun 1968. namun sebentar kemudian ia bekerja di BBC sebagai perencana siaran drama dalam bahasa Arab. diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Denys Johnson-Davies. Kemudian. Aku mempercepat langkahku. Aku berlari ke kejauhan. Aku yang tak mengerti apa pun melihat kepada Masood dan menyaksikan matanya bergerak ke kanan dan ke kiri layaknya dua ekor kucing kecil yang tidak tahu jalan pulang ke rumah. kemudian melanjutkan perjalanan. Untuk alasan yang tak kuketahui. “Kita bicarakan itu nanti. Keluarganya adalah petani dan guru. Aku mendengarnya mengeluarkan suara di tenggorokannya seperti rintihan domba yang akan dijagal. tanpa tahu mengapa. Edinburg: Payback Press. ia pernah menyatakan bahwa ia masih merasa tinggal di sana mengembara ke mana-mana. 199 . yang kemudian dilanjutkannya di beberapa universitas di Inggris. Tentang desanya itu. “Kau masih berhutang lima puluh pound padaku.lima. aku meletakkan jariku ke dalam tenggorokanku dan memuntahkan kurma yang sudah kumakan. Mo-dern African Stories. Ia mendapatkan pendidikan tinggi di Universitas Khartoum. dan kakek mengambil lima. Larson dalam Under African Skies.” Hussein memanggil pembantu-pembantunya dan mereka menggiring keledai. Masa kecilnya dihabiskannya di desa itu. Mendengar kakekku memanggilku. Cerpen ini diterjemahkan oleh Sapardi Djoko Damono. tetapi kumpulan cerpennya yang pertama. sepertinya aku membawa di dalam diriku sebuah rahasia yang ingin kuhindari. dan kantung-kantung kurma itu dipunggah ke atas punggung binatang-binatang itu. Aku merasa mendekati Masood. dilahirkan pada tahun 1929 di desa Al-Debba di Sudan Tengah. Salah satu keledai mengeluarkan suara ringkikan yang membuat mulut unta-unta itu berbusa dan mengeluh ribut sekali.

Kupasang telinga. Kupandangi pintu. November 2000 Syahdan Pada Dahulu Kala Oleh: Nadine Gordimer 200 Seseorang telah memintaku untuk menyumbangkan sebuah antologi cerita anakanak. Lagi pula kaca rumahku tipis bagai lapisan embun. Orang itu mengatakan bahwa dalam suatu kongres/pameran buku/seminar yang diadakan baru-baru ini. sambil membayang-bayangkan sesuatu dalam kepala --bukannya melihat-. Bunyi berderit-derit bagai langkah kaki yang diseret satu demi satu di atas papan seolah membawa beban yang berat. aku dilatih agar jangan merasa takut atau terancam. Namun. Bunyi deritan itu hanya disebabkan perasaan yang tertekan. Aku menanti untuk mendengar kalau-kalau ada tanda yang menunjukkan bahwa kaki itu bergerak lagi dari satu kamar ke kamar lain. Aku tidak memiliki terali besi. Kutentramkan diri.Horison. . Anjing garang yang mengawal seorang duda tua dan koleksi jam antiknya telah dijerat sebelum ditikam oleh seorang buruh biasa yang telah di-PHK tanpa dibayar upahnya. Tak dapat aku menumpukan pendengaranku karena gangguan yang ada pada siang hari. Tak ada bobot manusia yang menekan di papan itu. Aku boleh menulis apa saja yang kuinginkan. Bunyi berderatderit itu bergema lagi. mudah pecah seperti gelas anggur. Tahun lalu.di dalam gelap. mengenalinya baik-baik sambil memilah-milah kemungkinan ancamannya. Kemarin malam aku terbangun tiba-tiba tanpa mengetahui apa yang mengejutkan diriku. tetapi degup jantungku tak menentu seperti menghantami jantungku. seorang pengarang telah menghimbau agar setiap penulis menulis sekurang-kurangnya satu cerita anak-anak. Kujawab bahwa aku tidak menulis cerita anak-anak. seorang perempuan telah dibunuh (kata orang) di siang bolong. Sebuah suara dalam diriku? Suatu bunyi. Terpikir olehku untuk mengiriminya selembar kartu pos untuk menyatakan bahwa aku tidak sepaham dengan pendapatnya. Kuteliti tiap bunyi yang paling perlahan sekalipun. Namun aku juga kini merasa cemas seperti orang-orang lain yang serba waspada. Tak ada pistol di bawah bantalku. Kupusatkan pendengaran.

dan seseorang pembantu rumah yang dapat dipercayai telah diikat dan dikunci 201 . Seluruh rumah bergetar sedikit dan menyebabkan batu. manakala mereka hendak memulai kehidupan yang bahagia untuk selama-lamanya. kayu. Sukar untuk mengasuransikan rumah. gas air mata dan senapan untuk mengusir mereka. kayu yang dibuat oleh para penambang pelarian Chopi dan Tsoinga yang pernah berada di bawah sana. bersama-sama dengan kawan-kawan yang sebaya dengannya. di bawahku. Sukar bagiku untuk mencari tempat guna mengistirahatkan pikiran dan tubuhku. dan anak-anak sekolah ditembaki polisi di kawasan pemukiman kulit hitam sana. Ada pula sebuah kolam renang yang berpagar untuk mengelakkan anaknya dan teman-teman mainnya agar tidak terjatuh ke dalam kolam dan mati lemas. tapi di luar kota. di dasar rumah ini. mereka telah dinasihati oleh seorang tukang sihir tua yang bijaksana. Degupan jantungku menurun seperti ayunan terakhir di atas zilofon. kecuali pembantu rumah tangga dan tukang kebun yang dapat dipercaya. lalu memaksa masuk. Namun. kerusakan akibat banjir. jauh dari pandangan dan pendengaran orang-orang di kawasan tepian kota besar. atau mungkin ada orang yang pernah dikubur di situ dengan batu nisan yang menyedihkan. tinggallah sepasang suami-istri yang saling menyayang serta hidup dengan penuh kebahagiaan. semen. tetapi pencurian banyak terjadi di kawasan tepian kota besar. saking cintanya. Namun sang istri masih merasa cemas kalau-kalau suatu hari nanti orang-orang ini akan turun ke jalan dan merusak papan bertuliskan DALAM LINDUNGAN KEAMANAN itu. diri mereka diasuransikan dari musibah kebakaran. mencegah kemungkinan perampokan. Mereka tergolong masyarakat yang diberi kemudahaan dalam pengobatan. atau mobil mereka dari kerusakan akibat kerusuhan. Oleh sebab itu. Merelakan diri tidur kembali. tak ada yang perlu dicemaskan. yang mungkin bertopeng hingga sulit diduga apakah ia orang kulit putih atau kulit hitam. Kerusuhan memang terjadi. Jadi. sang suami telah memasang pagar berlistrik. Di dalam sebuah rumah di pinggiran metropolitan. ucap sang suami pada istrinya. Siapa yang menurunkan tanda DALAM LINDUNGAN KEAMANAN itu dan akan membuka pintu pagar. Akupun bercerita pada diriku sendiri. Kerusuhan telah dapat ditanggulangi. mesti menyatakan niatnya dengan menekan tombol dan berbicara melalui alat penerima yang disambungkan ke rumah.Aku merasa ada di tengah-tengah tekanan itu. Mereka memiliki sebuah mobil dan sebuah trailer karavan yang digunakan untuk pergi berlibur. penggalian yang bertingkat-tingkat saat penambangan dan lorong jalanan tambang-tambang emas telah melongsorkan bebatuannya serta menyebabkan tanah ini jadi berongga. kisah dalam tidur. Jangan mengomel saja. anjing peliharaan mereka diberi peneng. Mereka memiliki seekor kucing dan seekor anjing yang amat disayangi anak kecil itu. Mereka memiliki seorang anak lelaki yang amat mereka cintai. serta seorang tukang kebun yang rajin. Anak kecil itu sungguh tertarik dengan alat tersebut dan menggunakannya sebagai walkie talkie dalam permainan polisi dan pencuri. dan kaca yang menyangga rumah menjadi longgar. juga karena bus-bus dibakar. Nun jauh di bawah kamarku. ia mungkin runtuh atau longsor 3000 kaki ke bawah. Jika ada permukaan yang bergetar. kolam renang. ucap sang suami. untuk menenangkan hati sang istri. di mana orang kulit hitam ditempatkan. yaitu ibu sang suami. Orang-orang itu dilarang masuk kawasan pinggiran kota besar. Rumah yang melingkupi tubuhku saat aku sedang tidur dibangun di atas bekas tanah pertambangan. Membuka pintu pagar. agar jangan mengambil siapapun di tepi jalan. Mereka mempunyai seorang pembantu rumah yang amat bisa dipercaya. dan perampokan. Tingkat tempat adanya runtuhan mungkin tak digunakan lagi. di sana ada polisi dan tentara. serta menjadi anggota siskamling di lingkungan itu yang memberi mereka sekeping papan pengumuman di pintu pagar betuliskan "Dalam Lindungan Keamanan". mobil-mobil dilempari batu. air bertetesan dari rekahannya. dalam perut bumi.

Si anak kecil pun mendapat pakaian orang angkasa dan sebuah buku cerita dongeng.di dalam almari oleh pencuri ketika ia diamanati untuk menjaga rumah majikannya. Tetapi pembantunya berkata bahwa mereka adalah para bandit yang akan mengikat dia dan menguncinya dalam lemari. Pembantu rumah pasangan suami istri dan anak kecil itu merasa sedih dengan nasib malang yang menimpa rekannya. Kau hanya membikin mereka jadi makin beringas dengan roti dan tehmu itu. mengambil peralatan elektronik seperti hi-fi. Setengahnya mendesak agar diambil bekerja: mencabut rumput. Dan sang suami pun membawa masuk sepeda roda tiga anaknya dari taman setiap malam karena jika rumah itu benar-benar selamat. Mereka mencari peluang kalau-kalau… . Sang istri tidak sampai hati melihat orang yang kelaparan. Sebuah kawasan tepi kota yang cantik jadi rusak oleh kehadiran mereka. tape recorder. seseorang mungkin masih dapat memanjat tembok atau pagar yang berlistrik itu untuk masuk ke dalam taman. Bunyinya dianggap biasa. Tetapi sang suami dan sang istri teringat akan peringatan agar jangan mengambil orang yang tak dikenal. dan berselang-seling di halamanhalaman rumah. bersipongang satu sama lain. pembantu rumah tersebut telah meminta majikannya untuk memasang terali pada pintu dan jendela rumah. benar ucapan pembantu itu. kucing itu pun menyentuh alarm dan membangunkan seisi rumah. bahkan berani istirahat sejenak untuk meminum wiski yang diambil dari dalam kabinet atau dari bar. mereka melihat pohonan dan langit melalui terali. kerugian besar hanya diketahui oleh pemiliknya saja. menunggu sang suami atau sang istri ke luar dari pintu pagar yang berlistrik itu. Tetapi. yaitu ibu sang suami. meskipun pada bulan purnama di musim 202 . ikuti nasehatnya. tibalah saat ketika banyak pembantu rumah dan tukang kebun yang tidak dapat dipercaya datang beramai-ramai memenuhi tepian kota besar itu. Mereka duduk dengan kaki terjuntai ke dahan pohonan yang bagai sebuah lorong hijau di jalan raya. dan jika kucing piaraan anak mereka coba memanjat masuk melalui ventilasi untuk menemaninya tidur pada waktu malam sebagaimana yang biasa ia lakukan. setiap minggu terdapat banyak berita tentang perampokan di siang bolong dan di malam yang sepi. meraung dan menjerit. Pencuri-pencuri itu tidak langsung menghargai apa yang telah diminum oleh mereka. akibat menganggur. membayar untuk tambahan batu bata sebagai hadiah Hari Natalnya kepada anak dan menantunya. Sebagian lagi meminta sedekah. televisi. Bunyi alarm yang nyaring. sama dengan bunyi katak menguak hingga tidak mencemaskan para pencuri untuk mengambil kesempatan dan menggergaji terali-terali besi. Ikutilah nasihatnya. atau apa saja. betul katanya. serta memasang alarm. Ia lalu menyuruh pembantu rumahnya mengantarkan roti dan teh. kalau begitu tembok itu sebaiknya ditinggikan lagi. Sang suami berkata. barang-barang berharga dan pakaian. kamera. Alarm tersebut nampaknya sering dijawab oleh alarm-alarm lain dari rumah-rumah lain yang disentuh oleh kucing piaraan mereka atau digigit tikus. Seperti biasa. Sebagian dari mereka meminum minuman keras dan mengotori jalan raya dengan botol-botol kosong. Kadang mereka tertidur di depan pagar pada siang hari. dengan tanggung jawab menjaga harta pasangan itu dan anak kecil mereka. Dan perempuan sihir tua yang bijak itu. ucap sang istri. serta kadang-kadang membongkar apa saja yang ada dalam lemari es jika merasa sangat lapar. lantas menerobos masuk. Akhirnya. Benar katamu. mengecat atap. bahkan pada waktu subuh. Perusahaan asuransi tidak membayar ganti rugi untuk sebuah minuman malta sekalipun. Maka pada setiap pintu dan jendela rumah yang didiami oleh mereka dengan penuh kebahagiaan buat selama-lamanya itu. radio. setelah dikunci rapatrapat dan alarm dinyalakan. Sang istri berkata. hingga akhirnya tidak diindahkan lagi oleh penduduk kawasan itu.

Kilau itu akan hilang nanti. Cahaya matahari memancar dan cahayanya menerpa mata pisau bergerigi yang mengelilingi rumah tersebut. lalu berkata. tidak pernah coba melanggar pagar keamanan itu. Pada suatu malam. menyilaukan. karena sejak hari itu. kucing mereka hanya tidur di kamar si anak dan bermain di taman saja. tidak mungkin. Setiap percobaan hanya akan menyebabkan darah keluar lebih banyak lagi. Sang suami berkata. Sedang anak lelaki mereka dan anjingnya berlari ke muka. Pada keesokan harinya. siapapun akan berpikir dua kali… dan mereka mulai menimbang nasihat yang tercatat di atas papan kecil yang dilekatkan di tembok. tajam bergerigi serta bercabang mata pisau. Masyarakat ingin keselamatan yang mutlak. kucing selalu melihat sebelum melompat. Ketika sang suami. sang suami dan istri membandingkan setiap bentuk yang paling berkesan. keduanya membuat keputusan untuk memilih sebuah bentuk yang paling baik saja. kemudian melompat dengan gerakan yang cantik dan mendarat dengan mengibasngibaskan ekornya ke dalam kawasan rumah. Separuh tembok dilekatkan dengan papan kecil yang ditulis dengan nama dan nomor telepon perusahaan yang bertanggung jawab memasang peralatan tersebut. Di sepanjang tembok. si anak beraksi seperti seorang putra raja yang gagah berani melepas dan 203 . sang istri dan anak lelaki mereka yang kecil tinggal bersama-sama dengan anjing dan kucing peliharaan mereka dengan penuh kebahagiaan buat selama-lamanya. Tembok putih itu dikotori oleh bekas jejak kucing dan di bagian luar tembok yang menghadap jalan terdapat bekas jejak dari tanah merah yang lebar seperti tapak sepatu yang tersarung di kaki penganggur-penganggur yang membuang waktu tanpa tujuan. tak mengapa. yaitu memasang pecahan kaca yang ditancapkan di atas semenan tembok dengan jerajak besi yang berujung tajam. sebuah keluarga sedang menikmati makan malam ketika kamar tidur di tingkat atas dibongkar. Dan sang istri menunggu hingga si anak kecil pergi bermain. Ada juga usaha untuk mencontoh kehalusan seni bangunan penjara berbentuk vila Spanyol (besi-besi tajam yang dicat merah jambu) dengan pasu-pasu berbentuk labu yang ditempel dengan lukisan klasik (besi-besi tajam yang panjangnya 12 inchi berlekak-lekuk dan bercat putih). berkali-kali. kulit makin terkoyak dan luka makin jadi dalam. Sang istri berkata. Sebuah pilihan yang murah. Sang suami berkata. mula-mula memanjat ke atas dengan kaki depannya di permukaan dinding tembok. Pasangan suami istri yang sedang berbincang tentang perampokan bersenjata terkini yang berlaku di pinggir kota itu telah diganggu oleh kemunculan kucing peliharaan anak mereka yang coba memanjat tembok setinggi tujuh kaki itu. Mereka benar. sekumpulan pekerja datang merentangkan gulungan berduri dan berpisau di sekeliling tembok rumah. berkilat. Ini semua menyulitkan orang untuk coba memanjat dan merangkak ke dalam gulungan itu tanpa dia tersangkut pada gulungan itu. mereka tidak lagi berhenti sejenak untuk menikmati keindahan pagar mawar di halaman yang kesemuanya kini tertutup di balik pagar serta temboktembok dengan peralatannya. Sama sekali tak ada jalan ke luar bagi mereka yang terlibat di situ. Sang suami. sang istri. saat mereka sedang berhenti di hadapan sebuah dinding tembok tanpa berkata-kata. terbentang gulungan besi yang keras. sang ibu membacakan sebuah kisah dongeng pada sang anak dari buku yang dihadiahkan oleh perempuan sihir tua yang bijak pada hari Natal.panas yang indah. Keesokan harinya. kuat dan sederhana. jangan cemas sayang. saya harap si kucing peka. Hubungi GIGI NAGA. mereka menjamin gulungan itu tahan karat. Sang istri terpesona memandangnya. dan selang beberapa minggu. ucap sang suami. Betul katamu. di mana tempat sang suami. yakni bentuk yang paling sederhana namun luhur yang direncanakan seperti bentuk kamp tahanan: tidak berbunga-bunga. sang istri dan anak kecil membawa anjing mereka berjalan-jalan di kawasan kediaman mereka. dan anak kecil mereka membuat pilihan menakjubkan. Semakin terkait.

dan Something Out There. Smith Commmonwealth Literature Award. Diterjemahkan oleh Agus dan Nikmah Sarjono 204 . kapak. pemotong kawat. dan tukang kebun yang menangis. dan sebagainya. Jump and Other Stories. dan anggota kehormatan American Academy and Institute of Art and Letters.*** Nadine Gordimer. Not dor Publication.membawa anak itu masuk ke dalam rumah. Ia menyusupkan diri ke dalam gulungan yang berkilat itu semuat-muat badannya. Selected Stories. Dalam pada itu. dan the Scottish Arts Council Neil M. 1923. Lalu tangannya.membabat duri-duri tebal untuk masuk ke istana dan mengecup sang puteri yang tidur serta menyadarkannya kembali. Kumpulan cerpennya antara lain Livingstone Companions. Tukang kebun yang rajin itu telah luka tangannya ketika mencoba menyelamatkan si anak. Pasangan pembantu rumah dan tukang kebunlah yang pertama kali melihat peristiwa itu. Dia seorang dosen tamu di Royal Society of Literature. sang istri.H. Kaitan yang pertama mengenai lututnya. lalu segera berlari mendapati si anak kecil dan menjerit bersamasama dengannya. A Soldier's Embrace. lahir di Transvaal. entah apa sebabnya (mungkin kucing. Datanglah kemudian sang suami dan sang istri dengan tergopoh menuju taman. pembantu rumah yang dipercayai yang tengah diserang histria. Mereka -sang suami. antara lain: Booker Prize. kepalanya. agaknya) alarm pun menggila di tengah-tengah jeritan mereka. Cerpenis dan novelis Afrika Selatan ini banyak mendapat penghargaan di bidang sastra. Nobel Sastra diraihnya pada tahun 1991. the W. Gunn Fellowship. Si anak membawa tangga ke tembok. Friday's Footprint. Ia menjerit kesakitan dan meronta semakin ke dalam gelungan itu. sementara si anak yang bermandi darah dikeluarkan dari gulungan dengan menggunakan gergaji.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->